Cara Mengimani Wujud Allah Ta’ala

Keimanan dengan wujud Allah merupakan salah satu dari bagian yang wajib diimani dari bagian rukun iman yang pertama, yaitu iman kepada Allah. Dijelaskan oleh Syekh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullah dalam Syarah Tsasalatul Ushul karya beliau,“Kadar wajib dari keimanan kepada Allah adalah iman tentang adanya wujud Allah dan bahwasanya Allah adalah Tuhan semesta alam yang berhak diibadahi dan memiliki berbagai nama dan sifat yang sempurna.” (Syarah Tsalatsatul Ushul Li Syaikh Al-‘Ushaimi, hal. 55)Demikian juga, hal yang sama disampaikan oleh Syekh Abdullah Al-Fauzan dalam Hushulul Ma’mul,“Iman kepada Allah mengandung empat unsur wajib, yaitu: 1) iman terhadap adanya Allah, 2) iman kepada rububiyah Allah, 3) iman kepada uluhiyah Allah, dan 4) iman bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna.” (Husulul Ma’mul Fii Syarhi Tsalatsatil Usul, hlm. 142)Oleh karena itu, jika seseorang mengaku beriman kepada Allah, haruslah terpenuhi dalam keyakinannya tentang empat hal di atas. Jika hilang salah satunya atau tidak terpenuhi, maka iman kepada Allah tidak sah.Seluruh manusia telah bersepakat, kecuali yang menyimpang, bahwasanya mengetahui adanya wujud Allah tidak dapat dicapai dengan cara melihat wujud-Nya tatkala kita di dunia. Hal ini berdasarkan firman Allah,وَلَمَّا جَاۤءَ مُوسَىٰ لِمِیقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِیۤ أَنظُرۡ إِلَیۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِی وَلَـٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِیۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكࣰّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقࣰاۚ فَلَمَّاۤ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ تُبۡتُ إِلَیۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.’ (Allah) berfirman, ‘Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.’ Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.’” (QS. Al-A’raf: 143)Selain dari ayat di atas, juga terdapat hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda,تَعَلَّمُوا أنَّهُ لَنْ يَرَى أحَدُ مِنْكُمْ رَبَّهُ حَتَّى يَمُوْتَ“Ketahuilah oleh kalian, bahwasanya salah seorang di antara kalian tidak akan dapat melihat Tuhannya sampai kalian meninggal (mati).” (HR. Muslim no. 169)Hadis di atas menceritakan bahwa mustahil bagi seorang hamba ketika masih hidup di dunia untuk melihat Allah Ta’ala. Oleh karena itu, cara (metode) untuk mengimani adanya (wujud) Allah bagi seorang hamba adalah melalui beberapa metode berikut ini.Baca Juga: Perbanyaklah Bersujud kepada Allah Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Mengetahui wujud Allah dengan cara sam’iyyat 2. Kedua: Mengetahui wujud Allah dengan dalil ilham 3. Ketiga: Mengetahui wujud Allah dengan melalui metode telaah akal (logika) 3.1. Telaah akal versi ahlussunnah waljamaah 3.1.1. Pertama: Dalil penciptaaan 3.1.2. Kedua: Dalil beragamnya dan berubah-ubahnya kondisi makhluk 3.1.3. Ketiga: Dalil kefakiran makhluk 3.1.4. Keempat: Dalil penciptaan yang sempurna Pertama: Mengetahui wujud Allah dengan cara sam’iyyatYaitu bergantung dengan adanya kabar dari wahyu. Kabar dari wahyu ini diperoleh melalui dakwah para nabi dan rasul. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala,وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)Pendapat pertama ini adalah jalan ahlussunnah waljamaah dalam menetapkan eksistensi wujud Tuhan. Akan tetapi, perlu digaris bawahi bahwa maksud mereka dalam hal ini hanyalah dalam aspek perincian. Mereka tidak memaksudkan pembatasan sahnya iman terhadap wujud Allah hanya berdasarkan dalil wahyu semata. Akan tetapi, mereka juga menetapkan bahwa ada dalil telaah akal yang telah menjadi fitrah bagi manusia, yaitu sengan cara tafakkur terkait penciptaan Allah. Dalil telaah akal/ logika ini menegaskan bahwa penciptaan dan pengaturan alam semesta yang begitu sempurna menunjukkan bahwa ada Tuhan yang Mahakuasa atas semua yang terjadi dan tercipta di alam semesta.Baca Juga:Wajibnya Mewujudkan Shalah (Kebaikan) dan Ishlah (Perbaikan)Kedua: Mengetahui wujud Allah dengan dalil ilhamDalil ilham ini akan dilakukan ketika seorang itu telah menjadi mukallaf (balig dan berakal). Dia harus mencari ilham pengetahuan tentang wujud Allah, bukan menggunakan dalil wahyu maupun dalil telaah akal (logika). Pendapat ini dipegang oleh kebanyakan dari kalangan sufi dan syi’ah. Cara untuk mendapatkan ilham pengetahuan yang sempurna, tingkat keyakinan bahwa Allah itu ada adalah dengan berpaling dari kesibukan-kesibukan dunia dan sangat perhatian terhadap zikir, riyadhah (dengan taat syariat dan perbaikan akhlak), penyucian hati, dan khalwat (menyendiri untuk fokus sibuk beribadah) sampai nanti turun ilham tersebut.Ketiga: Mengetahui wujud Allah dengan melalui metode telaah akal (logika)Dalil telaah akal ini terbagi menjadi dua, a) telaah akal versi ahlussunnah waljamaah; dan b) telaah akal versi para ulama kalam.Telaah akal versi ahlussunnah waljamaahAdapun telaah akal versi ahlussunnah dapat kita namai dengan telaah akal yang syar’i karena berdasarkan bukti-bukti logis mengenai wujud Allah, baik yang dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadis, maupun dengan cara tafakkur dan tadabbur pikiran terkait ayat-ayat Allah kauniyah (penciptaan makhluk). Salah satu contoh dalil telaah akal ini dalam Al-Qur’an adalah firman Allah,ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 191)Dalam ayat lain, Allah juga memerintahkan untuk memikirkan dan merenungi ayat-ayat kauniyyah Allah yang besar dari kerajaan alam semestanya,أَوَلَمۡ یَنظُرُوا۟ فِی مَلَكُوتِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَیۡءࣲ وَأَنۡ عَسَىٰۤ أَن یَكُونَ قَدِ ٱقۡتَرَبَ أَجَلُهُمۡۖ فَبِأَیِّ حَدِیثِۭ بَعۡدَهُۥ یُؤۡمِنُونَ“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya waktu (kebinasaan) mereka? Lalu berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai?” (QS. Al-A’raf: 185)Dalil telaah akal (logika) yang syar’i menurut ahlussunnah ini dapat berupa beberapa dalil-dalil turunan yang banyak, di antaranya:Pertama: Dalil penciptaaanDalil penciptaan ini berdasarkan bukti terciptanya makhluk setelah sebelumnya tidak ada dan merupakan bukti yang pasti adanya Yang Mahapencipta. Hal ini karena kaidah logika bahwa sesuatu yang dicipta itu pasti ada yang mencipta. Atau, keberadaan dan lenggengnya sesuatu yang dicipta itu bergantung kepada yang menciptakannya. Hal ini selaras dengan yang Allah Ta’ala firmankan agar orang-orang musyrik berpikir terkait penciptaan mereka,أَمۡ خُلِقُوا۟ مِنۡ غَیۡرِ شَیۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَـٰلِقُونَ“Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya terkait ayat di atas,وهذا استدلال عليهم، بأمر لا يمكنهم فيه إلا التسليم للحق، أو الخروج عن موجب العقل والدين، وبيان ذلك: أنهم منكرون لتوحيد الله، مكذبون لرسوله، وذلك مستلزم لإنكار أن الله خلقهم.وقد تقرر في العقل مع الشرع، أن الأمر لا يخلو من أحد ثلاثة أمور:إما أنهم خلقوا من غير شيء أي: لا خالق خلقهم، بل وجدوا من غير إيجاد ولا موجد، وهذا عين المحال.أم هم الخالقون لأنفسهم، وهذا أيضا محال، فإنه لا يتصور أن يوجدوا أنفسهمفإذا بطل [هذان] الأمران، وبان استحالتهما، تعين [القسم الثالث] أن الله الذي خلقهم، وإذا تعين ذلك، علم أن الله تعالى هو المعبود وحده، الذي لا تنبغي العبادة ولا تصلح إلا له تعالى.“Ayat tersebut adalah bukti (hujjah) atas mereka yang tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka kecuali hanya dengan menerima kebenaran ayat ini atau mereka memilih untuk keluar dari konsekuensi aksiomatis akal dan agama (bahwa mereka itu tercipta, bukan mencipta). Penjelasannya sebagai berikut,Ketika mereka (orang-orang musyrik) mengingkari ketauhidan Allah dan mendustakan rasul Allah, maka hal ini berkonsekuensi bahwasanya mereka mengingkari bahwa Allah telah menciptakan mereka (karena yang mencipta itulah yang berhak disembah).Telah terpatri dalam aksiomatis logika akal dan agama bahwasanya hakikat penciptaan makhluk itu tidak terlepas dari tiga kemungkinan:Pertama: Mereka (makhluk) tercipta tanpa ada yang mencipta sama sekali, maka tidak ada sang Pencipta yang menciptakan mereka (makhluk). Bahkan, mereka tercipta tanpa ada peristiwa penciptaan dan pelaku yang menciptakan mereka. Gambaran kemungkinan pertama ini nyata kemustahilannya.Kedua: Merekalah yang menciptakan diri mereka sendiri. Gambaran kedua ini juga mustahil karena tidak mungkin dapat dibayangkan bahwa mereka sendirilah yang menciptakan diri mereka sendiri.Jika dua kemungkinan gambaran di atas adalah batil (tertolak) dan telah jelas kemustahilannya, maka tersisalah  kemungkinan ketiga yaitu,Ketiga: Allahlah yang menciptakan mereka (para makhluk). Jika telah terbukti pilihan terakhir ini, maka berkonsekuensi tidak boleh tidak bahwa sesembahan yang benar (haq) adalah Allah semata yang seluruh ibadah tidak diperkenankan diserahkan dan tidak sah, kecuali hanya untuk Allah Ta’ala semata.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 781)Kedua: Dalil beragamnya dan berubah-ubahnya kondisi makhlukDalil ini merupakan salah satu bukti bahwa ada Yang Mahamengatur alam semesta ini dengan segala keberagaman dan berubah-ubahnya sifat dari makhluk. Salah satu uraian yang menarik dibawakan oleh Ibnul Qayyim tentang dalil ini. Beliau rahimahullah berkata,“Termasuk ayat-ayat (adanya Allah), adalah bumi ini dijadikan memiliki banyak jenis dan beragam sifat dan manfaat, padahal tanah-tanah tersebut berdekatan dan bersinggungan. Tanah yang ini lunak dan yang itu keras dan saling berdekatan dan bersinggungan. Tanah ini dapat ditumbuhi tanaman dan yang itu tidak dapat ditumbuhi tanaman juga saling berdekatan dan bersinggungan. Tanah yang ini adalah tanah liat dan bersinggungan dengan tanah berpasir. Tanah yang ini bersifat keras dan tanah yang itu lembek saling bersinggungan pula. … Tanah yang ini datar dan yang itu penuh dengan perbukitan dan gunung-gunung. Tanah yang ini tidak bisa gembur, kecuali dengan hujan. Dan ada tanah yang jika terkena hujan malah tidak gembur. Dan ada pula tanah yang tidak akan baik, kecuali jika diairi dengan air sungai. Maka Allah menurunkan hujan di tempat yang jauh lalu mengalir melewati sungai-sungai sehingga dapat menjangkau tanah tadi. Sungguh betapa indahnya dan cukup satu ayat dari ayat-ayat tadi menunjukkan bahwa Allah itu ada, yang sifat dan perbuatan-Nya sempurna, dan menunjukan atas kebenaran para rasul-Nya.”Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan tentang uraian yang semisal dengan berkata,“Siapa saja yang merenungkan ciptaan yang ada di bumi maupun di langit dan perbedaan bentuk, warna, karakter, fungsi, dan peletakannya pada ukuran dan kadar yang pas, maka akan mengetahui kekuatan Penciptanya dan sifat bijaksana, keilmuan, keteraturan, dan kebesaran kekuasaannya-Nya. Diceritakan dari Ar-Razi dari Imam Malik rahimahullah bahwasanya Harun Ar-Rasyid bertanya kepada Imam Malik tentang adanya wujud Allah. Maka, beliau menjawab dengan keberagaman bahasa, suara, dan nada intonasi manusia.Selain itu, diceritakan juga dari Imam Asy-Syafii bahwa beliau ditanya tentang adanya wujud Allah. Beliau rahimahullah menjawab, “Satu jenis daun tuut (satu jenis pohon) memiliki satu rasa. Apabila daun ini dimakan oleh ulat, maka akan keluar ibraisam (jenis sutra). Sedangkan jika dimakan oleh lebah, maka akan keluar madu. Sementara apabila dimakan oleh kambing, unta, dan hewan ternak, maka akan keluar berak dan kotoran. Kemudian, apabila dimakan oleh rusa, maka akan menghasilkan minyak kasturi. Padahal seluruh hasil tadi berasal dari satu jenis daun yang sama.”Ketiga: Dalil kefakiran makhlukSetiap makhluk tidak boleh tidak membutuhkan makhluk yang lain. Bahkan, layaknya menjadi syarat kehidupan di antara mereka. Kemudian setiap makhluk juga tidak dapat melakukan sesuatu dengan sendirinya. Melakukan sesuatu dengan sendirinya tanpa ada bantuan pihak lain merupakan kekhususan yang dimiliki oleh Allah. Oleh karena itu, adanya sifat butuhnya makhluk kepada sesuatu yang lain merupakan bukti bahwa ada Yang Mahakaya di antara semua makhluk yang ada. Hal ini dikarenakan tidak disebut fakir, kecuali ada yang Mahakaya yang menjadi tempat bergantung seluruh yang fakir. Allah Ta’ala berfirman,ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ“Allah tempat meminta segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas: 2)Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata,اللهُ الصَّمَدُ؛ أي: المقصود في جميع الحوائج؛ فأهل العالم العلوي والسفلي مفتقرون إليه غاية الافتقار، يسألونه حوائجهم، ويرغبون إليه في مهمَّاتهم؛ لأنه الكامل في أوصافه، العليم الذي قد كمل في علمه، الحليم الذي قد كمل في حلمه، الرحيم الذي كمل في رحمته، الذي وسعت رحمته كل شيء، وهكذا سائر أوصافه.“Allah adalah tempat bergantung seluruh makhluk, maksudnya adalah tempat bergantung seluruh makhluk dalam setiap hajat-hajat mereka. Maka, seluruh makhluk yang berada di langit dan di bumi membutuhkan Allah dengan kondisi sangat membutuhkan (pertolongan-Nya). Mereka (makhluk) meminta agar dilancarkan urusan-urusan mereka dan menggantungkan harapan kepada-Nya dalam perkara-perkara yang penting dari mereka. Semua ini karena Allah Mahasempurna dalam segala sifat-sifat-Nya. Dia adalah Yang Mahamengetahui yang sempurna pengetahuan-Nya. Dia adalah Yang Mahalembut yang sempurna kelembutan-Nya. Dia adalah Yang Maha Penyayang yang sempurna kasih sayang-Nya. Dia adalah yang Mahaluas rahmat-Nya, dan begitu pula sifat-sifat Allah yang lain.” (Taisiru Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 896-897)Baca Juga: Mungkinkah Manusia Melihat Malaikat dalam Wujudnya yang Asli?Keempat: Dalil penciptaan yang sempurnaAlam semesta dengan kebesaran dan kebagusannya itu cocok dengan keberadaan manusia. Alam semesta ini layaknya telah dipersiapkan untuk kelangsungan hidup dan eksistensi seluruh makhluk dengan sangat cocok dan pas. Maka, keselarasan dan kesesuaian dari alam semesta ini secara aksiomatis melahirkan keyakinan adanya Sang Pencipta dan kesempurnaan-Nya. Hal ini karena tidak mungkin adanya alam semesta yang sempurna penciptaannya ini terjadi hanya kebetulan dan tanpa kesengajaan saja. Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ۝  ٱلَّذِی جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَ ٰ⁠شࣰا وَٱلسَّمَاۤءَ بِنَاۤءࣰ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ رِزۡقࣰا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادࣰا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)Allah Ta’ala juga berfirman pada ayat lain,ٱلَّذِیۤ أَحۡسَنَ كُلَّ شَیۡءٍ خَلَقَهُۥۖ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَـٰنِ مِن طِینࣲ“Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.” (QS. As-Sajdah: 7)Itulah beberapa hal yang terkait dengan dalil-dalil yang paling terlihat dalam kehidupan kita terkait adanya wujud Allah. Oleh karena itu, semoga dari berbagai pelajaran di atas akan semakin menguatkan dan mengingatkan kita semuanya terkait pentingnya mengimani wujud Allah, berikut juga dengan seluruh sifat-sifat-Nya yang sempurna. Mengingat sangat penting pada hari ini dan zaman ini, banyak dari kalangan-kalangan yang memusuhi Islam mencoba untuk memasukkan karaguan ke dalam umat Islam mengenai kebenaran agama ini, bahkan membuat bingung tentang eksistensi wujud Allah sebagai Tuhan semesta alam. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:Pandemi: Kepastian Janji Allah dan Ujian bagi Orang-Orang SabarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diringkas dari Kitab Al-Fawaid Al-Masthurah karya Dr. Kamilah Al-Kawari, hlm. 21-32 cetakan Dar Ibnu Hazm.Referensi tambahan:Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syekh Abdurrahman As-Sa’di cetakan Dar Ibnu Hazm.Husulul Ma’mul Fii Syarhi Tsalatsatil Usul karya Syekh Dr. Abdullah Al-Fauzan cetakan Dar Ibnu Al-Jauzi.Syarah Tsalatsatul Ushul Li Syaikh Al-‘Ushaimi🔍 Situs Islam, Mengadu Kepada Allah, Allah Ada Dimana Mana, Syarah Kitab Tauhid Syaikh Utsaimin, Hadits Tentang AlamTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidiman kepada Allahkeutamaan tauhidmengenal tauhidTauhidtauhid rububiyahtauhid uluhiyyahtentang tauhid Asma’ wa Shifatwujud Allah

Cara Mengimani Wujud Allah Ta’ala

Keimanan dengan wujud Allah merupakan salah satu dari bagian yang wajib diimani dari bagian rukun iman yang pertama, yaitu iman kepada Allah. Dijelaskan oleh Syekh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullah dalam Syarah Tsasalatul Ushul karya beliau,“Kadar wajib dari keimanan kepada Allah adalah iman tentang adanya wujud Allah dan bahwasanya Allah adalah Tuhan semesta alam yang berhak diibadahi dan memiliki berbagai nama dan sifat yang sempurna.” (Syarah Tsalatsatul Ushul Li Syaikh Al-‘Ushaimi, hal. 55)Demikian juga, hal yang sama disampaikan oleh Syekh Abdullah Al-Fauzan dalam Hushulul Ma’mul,“Iman kepada Allah mengandung empat unsur wajib, yaitu: 1) iman terhadap adanya Allah, 2) iman kepada rububiyah Allah, 3) iman kepada uluhiyah Allah, dan 4) iman bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna.” (Husulul Ma’mul Fii Syarhi Tsalatsatil Usul, hlm. 142)Oleh karena itu, jika seseorang mengaku beriman kepada Allah, haruslah terpenuhi dalam keyakinannya tentang empat hal di atas. Jika hilang salah satunya atau tidak terpenuhi, maka iman kepada Allah tidak sah.Seluruh manusia telah bersepakat, kecuali yang menyimpang, bahwasanya mengetahui adanya wujud Allah tidak dapat dicapai dengan cara melihat wujud-Nya tatkala kita di dunia. Hal ini berdasarkan firman Allah,وَلَمَّا جَاۤءَ مُوسَىٰ لِمِیقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِیۤ أَنظُرۡ إِلَیۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِی وَلَـٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِیۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكࣰّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقࣰاۚ فَلَمَّاۤ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ تُبۡتُ إِلَیۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.’ (Allah) berfirman, ‘Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.’ Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.’” (QS. Al-A’raf: 143)Selain dari ayat di atas, juga terdapat hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda,تَعَلَّمُوا أنَّهُ لَنْ يَرَى أحَدُ مِنْكُمْ رَبَّهُ حَتَّى يَمُوْتَ“Ketahuilah oleh kalian, bahwasanya salah seorang di antara kalian tidak akan dapat melihat Tuhannya sampai kalian meninggal (mati).” (HR. Muslim no. 169)Hadis di atas menceritakan bahwa mustahil bagi seorang hamba ketika masih hidup di dunia untuk melihat Allah Ta’ala. Oleh karena itu, cara (metode) untuk mengimani adanya (wujud) Allah bagi seorang hamba adalah melalui beberapa metode berikut ini.Baca Juga: Perbanyaklah Bersujud kepada Allah Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Mengetahui wujud Allah dengan cara sam’iyyat 2. Kedua: Mengetahui wujud Allah dengan dalil ilham 3. Ketiga: Mengetahui wujud Allah dengan melalui metode telaah akal (logika) 3.1. Telaah akal versi ahlussunnah waljamaah 3.1.1. Pertama: Dalil penciptaaan 3.1.2. Kedua: Dalil beragamnya dan berubah-ubahnya kondisi makhluk 3.1.3. Ketiga: Dalil kefakiran makhluk 3.1.4. Keempat: Dalil penciptaan yang sempurna Pertama: Mengetahui wujud Allah dengan cara sam’iyyatYaitu bergantung dengan adanya kabar dari wahyu. Kabar dari wahyu ini diperoleh melalui dakwah para nabi dan rasul. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala,وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)Pendapat pertama ini adalah jalan ahlussunnah waljamaah dalam menetapkan eksistensi wujud Tuhan. Akan tetapi, perlu digaris bawahi bahwa maksud mereka dalam hal ini hanyalah dalam aspek perincian. Mereka tidak memaksudkan pembatasan sahnya iman terhadap wujud Allah hanya berdasarkan dalil wahyu semata. Akan tetapi, mereka juga menetapkan bahwa ada dalil telaah akal yang telah menjadi fitrah bagi manusia, yaitu sengan cara tafakkur terkait penciptaan Allah. Dalil telaah akal/ logika ini menegaskan bahwa penciptaan dan pengaturan alam semesta yang begitu sempurna menunjukkan bahwa ada Tuhan yang Mahakuasa atas semua yang terjadi dan tercipta di alam semesta.Baca Juga:Wajibnya Mewujudkan Shalah (Kebaikan) dan Ishlah (Perbaikan)Kedua: Mengetahui wujud Allah dengan dalil ilhamDalil ilham ini akan dilakukan ketika seorang itu telah menjadi mukallaf (balig dan berakal). Dia harus mencari ilham pengetahuan tentang wujud Allah, bukan menggunakan dalil wahyu maupun dalil telaah akal (logika). Pendapat ini dipegang oleh kebanyakan dari kalangan sufi dan syi’ah. Cara untuk mendapatkan ilham pengetahuan yang sempurna, tingkat keyakinan bahwa Allah itu ada adalah dengan berpaling dari kesibukan-kesibukan dunia dan sangat perhatian terhadap zikir, riyadhah (dengan taat syariat dan perbaikan akhlak), penyucian hati, dan khalwat (menyendiri untuk fokus sibuk beribadah) sampai nanti turun ilham tersebut.Ketiga: Mengetahui wujud Allah dengan melalui metode telaah akal (logika)Dalil telaah akal ini terbagi menjadi dua, a) telaah akal versi ahlussunnah waljamaah; dan b) telaah akal versi para ulama kalam.Telaah akal versi ahlussunnah waljamaahAdapun telaah akal versi ahlussunnah dapat kita namai dengan telaah akal yang syar’i karena berdasarkan bukti-bukti logis mengenai wujud Allah, baik yang dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadis, maupun dengan cara tafakkur dan tadabbur pikiran terkait ayat-ayat Allah kauniyah (penciptaan makhluk). Salah satu contoh dalil telaah akal ini dalam Al-Qur’an adalah firman Allah,ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 191)Dalam ayat lain, Allah juga memerintahkan untuk memikirkan dan merenungi ayat-ayat kauniyyah Allah yang besar dari kerajaan alam semestanya,أَوَلَمۡ یَنظُرُوا۟ فِی مَلَكُوتِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَیۡءࣲ وَأَنۡ عَسَىٰۤ أَن یَكُونَ قَدِ ٱقۡتَرَبَ أَجَلُهُمۡۖ فَبِأَیِّ حَدِیثِۭ بَعۡدَهُۥ یُؤۡمِنُونَ“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya waktu (kebinasaan) mereka? Lalu berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai?” (QS. Al-A’raf: 185)Dalil telaah akal (logika) yang syar’i menurut ahlussunnah ini dapat berupa beberapa dalil-dalil turunan yang banyak, di antaranya:Pertama: Dalil penciptaaanDalil penciptaan ini berdasarkan bukti terciptanya makhluk setelah sebelumnya tidak ada dan merupakan bukti yang pasti adanya Yang Mahapencipta. Hal ini karena kaidah logika bahwa sesuatu yang dicipta itu pasti ada yang mencipta. Atau, keberadaan dan lenggengnya sesuatu yang dicipta itu bergantung kepada yang menciptakannya. Hal ini selaras dengan yang Allah Ta’ala firmankan agar orang-orang musyrik berpikir terkait penciptaan mereka,أَمۡ خُلِقُوا۟ مِنۡ غَیۡرِ شَیۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَـٰلِقُونَ“Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya terkait ayat di atas,وهذا استدلال عليهم، بأمر لا يمكنهم فيه إلا التسليم للحق، أو الخروج عن موجب العقل والدين، وبيان ذلك: أنهم منكرون لتوحيد الله، مكذبون لرسوله، وذلك مستلزم لإنكار أن الله خلقهم.وقد تقرر في العقل مع الشرع، أن الأمر لا يخلو من أحد ثلاثة أمور:إما أنهم خلقوا من غير شيء أي: لا خالق خلقهم، بل وجدوا من غير إيجاد ولا موجد، وهذا عين المحال.أم هم الخالقون لأنفسهم، وهذا أيضا محال، فإنه لا يتصور أن يوجدوا أنفسهمفإذا بطل [هذان] الأمران، وبان استحالتهما، تعين [القسم الثالث] أن الله الذي خلقهم، وإذا تعين ذلك، علم أن الله تعالى هو المعبود وحده، الذي لا تنبغي العبادة ولا تصلح إلا له تعالى.“Ayat tersebut adalah bukti (hujjah) atas mereka yang tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka kecuali hanya dengan menerima kebenaran ayat ini atau mereka memilih untuk keluar dari konsekuensi aksiomatis akal dan agama (bahwa mereka itu tercipta, bukan mencipta). Penjelasannya sebagai berikut,Ketika mereka (orang-orang musyrik) mengingkari ketauhidan Allah dan mendustakan rasul Allah, maka hal ini berkonsekuensi bahwasanya mereka mengingkari bahwa Allah telah menciptakan mereka (karena yang mencipta itulah yang berhak disembah).Telah terpatri dalam aksiomatis logika akal dan agama bahwasanya hakikat penciptaan makhluk itu tidak terlepas dari tiga kemungkinan:Pertama: Mereka (makhluk) tercipta tanpa ada yang mencipta sama sekali, maka tidak ada sang Pencipta yang menciptakan mereka (makhluk). Bahkan, mereka tercipta tanpa ada peristiwa penciptaan dan pelaku yang menciptakan mereka. Gambaran kemungkinan pertama ini nyata kemustahilannya.Kedua: Merekalah yang menciptakan diri mereka sendiri. Gambaran kedua ini juga mustahil karena tidak mungkin dapat dibayangkan bahwa mereka sendirilah yang menciptakan diri mereka sendiri.Jika dua kemungkinan gambaran di atas adalah batil (tertolak) dan telah jelas kemustahilannya, maka tersisalah  kemungkinan ketiga yaitu,Ketiga: Allahlah yang menciptakan mereka (para makhluk). Jika telah terbukti pilihan terakhir ini, maka berkonsekuensi tidak boleh tidak bahwa sesembahan yang benar (haq) adalah Allah semata yang seluruh ibadah tidak diperkenankan diserahkan dan tidak sah, kecuali hanya untuk Allah Ta’ala semata.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 781)Kedua: Dalil beragamnya dan berubah-ubahnya kondisi makhlukDalil ini merupakan salah satu bukti bahwa ada Yang Mahamengatur alam semesta ini dengan segala keberagaman dan berubah-ubahnya sifat dari makhluk. Salah satu uraian yang menarik dibawakan oleh Ibnul Qayyim tentang dalil ini. Beliau rahimahullah berkata,“Termasuk ayat-ayat (adanya Allah), adalah bumi ini dijadikan memiliki banyak jenis dan beragam sifat dan manfaat, padahal tanah-tanah tersebut berdekatan dan bersinggungan. Tanah yang ini lunak dan yang itu keras dan saling berdekatan dan bersinggungan. Tanah ini dapat ditumbuhi tanaman dan yang itu tidak dapat ditumbuhi tanaman juga saling berdekatan dan bersinggungan. Tanah yang ini adalah tanah liat dan bersinggungan dengan tanah berpasir. Tanah yang ini bersifat keras dan tanah yang itu lembek saling bersinggungan pula. … Tanah yang ini datar dan yang itu penuh dengan perbukitan dan gunung-gunung. Tanah yang ini tidak bisa gembur, kecuali dengan hujan. Dan ada tanah yang jika terkena hujan malah tidak gembur. Dan ada pula tanah yang tidak akan baik, kecuali jika diairi dengan air sungai. Maka Allah menurunkan hujan di tempat yang jauh lalu mengalir melewati sungai-sungai sehingga dapat menjangkau tanah tadi. Sungguh betapa indahnya dan cukup satu ayat dari ayat-ayat tadi menunjukkan bahwa Allah itu ada, yang sifat dan perbuatan-Nya sempurna, dan menunjukan atas kebenaran para rasul-Nya.”Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan tentang uraian yang semisal dengan berkata,“Siapa saja yang merenungkan ciptaan yang ada di bumi maupun di langit dan perbedaan bentuk, warna, karakter, fungsi, dan peletakannya pada ukuran dan kadar yang pas, maka akan mengetahui kekuatan Penciptanya dan sifat bijaksana, keilmuan, keteraturan, dan kebesaran kekuasaannya-Nya. Diceritakan dari Ar-Razi dari Imam Malik rahimahullah bahwasanya Harun Ar-Rasyid bertanya kepada Imam Malik tentang adanya wujud Allah. Maka, beliau menjawab dengan keberagaman bahasa, suara, dan nada intonasi manusia.Selain itu, diceritakan juga dari Imam Asy-Syafii bahwa beliau ditanya tentang adanya wujud Allah. Beliau rahimahullah menjawab, “Satu jenis daun tuut (satu jenis pohon) memiliki satu rasa. Apabila daun ini dimakan oleh ulat, maka akan keluar ibraisam (jenis sutra). Sedangkan jika dimakan oleh lebah, maka akan keluar madu. Sementara apabila dimakan oleh kambing, unta, dan hewan ternak, maka akan keluar berak dan kotoran. Kemudian, apabila dimakan oleh rusa, maka akan menghasilkan minyak kasturi. Padahal seluruh hasil tadi berasal dari satu jenis daun yang sama.”Ketiga: Dalil kefakiran makhlukSetiap makhluk tidak boleh tidak membutuhkan makhluk yang lain. Bahkan, layaknya menjadi syarat kehidupan di antara mereka. Kemudian setiap makhluk juga tidak dapat melakukan sesuatu dengan sendirinya. Melakukan sesuatu dengan sendirinya tanpa ada bantuan pihak lain merupakan kekhususan yang dimiliki oleh Allah. Oleh karena itu, adanya sifat butuhnya makhluk kepada sesuatu yang lain merupakan bukti bahwa ada Yang Mahakaya di antara semua makhluk yang ada. Hal ini dikarenakan tidak disebut fakir, kecuali ada yang Mahakaya yang menjadi tempat bergantung seluruh yang fakir. Allah Ta’ala berfirman,ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ“Allah tempat meminta segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas: 2)Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata,اللهُ الصَّمَدُ؛ أي: المقصود في جميع الحوائج؛ فأهل العالم العلوي والسفلي مفتقرون إليه غاية الافتقار، يسألونه حوائجهم، ويرغبون إليه في مهمَّاتهم؛ لأنه الكامل في أوصافه، العليم الذي قد كمل في علمه، الحليم الذي قد كمل في حلمه، الرحيم الذي كمل في رحمته، الذي وسعت رحمته كل شيء، وهكذا سائر أوصافه.“Allah adalah tempat bergantung seluruh makhluk, maksudnya adalah tempat bergantung seluruh makhluk dalam setiap hajat-hajat mereka. Maka, seluruh makhluk yang berada di langit dan di bumi membutuhkan Allah dengan kondisi sangat membutuhkan (pertolongan-Nya). Mereka (makhluk) meminta agar dilancarkan urusan-urusan mereka dan menggantungkan harapan kepada-Nya dalam perkara-perkara yang penting dari mereka. Semua ini karena Allah Mahasempurna dalam segala sifat-sifat-Nya. Dia adalah Yang Mahamengetahui yang sempurna pengetahuan-Nya. Dia adalah Yang Mahalembut yang sempurna kelembutan-Nya. Dia adalah Yang Maha Penyayang yang sempurna kasih sayang-Nya. Dia adalah yang Mahaluas rahmat-Nya, dan begitu pula sifat-sifat Allah yang lain.” (Taisiru Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 896-897)Baca Juga: Mungkinkah Manusia Melihat Malaikat dalam Wujudnya yang Asli?Keempat: Dalil penciptaan yang sempurnaAlam semesta dengan kebesaran dan kebagusannya itu cocok dengan keberadaan manusia. Alam semesta ini layaknya telah dipersiapkan untuk kelangsungan hidup dan eksistensi seluruh makhluk dengan sangat cocok dan pas. Maka, keselarasan dan kesesuaian dari alam semesta ini secara aksiomatis melahirkan keyakinan adanya Sang Pencipta dan kesempurnaan-Nya. Hal ini karena tidak mungkin adanya alam semesta yang sempurna penciptaannya ini terjadi hanya kebetulan dan tanpa kesengajaan saja. Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ۝  ٱلَّذِی جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَ ٰ⁠شࣰا وَٱلسَّمَاۤءَ بِنَاۤءࣰ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ رِزۡقࣰا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادࣰا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)Allah Ta’ala juga berfirman pada ayat lain,ٱلَّذِیۤ أَحۡسَنَ كُلَّ شَیۡءٍ خَلَقَهُۥۖ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَـٰنِ مِن طِینࣲ“Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.” (QS. As-Sajdah: 7)Itulah beberapa hal yang terkait dengan dalil-dalil yang paling terlihat dalam kehidupan kita terkait adanya wujud Allah. Oleh karena itu, semoga dari berbagai pelajaran di atas akan semakin menguatkan dan mengingatkan kita semuanya terkait pentingnya mengimani wujud Allah, berikut juga dengan seluruh sifat-sifat-Nya yang sempurna. Mengingat sangat penting pada hari ini dan zaman ini, banyak dari kalangan-kalangan yang memusuhi Islam mencoba untuk memasukkan karaguan ke dalam umat Islam mengenai kebenaran agama ini, bahkan membuat bingung tentang eksistensi wujud Allah sebagai Tuhan semesta alam. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:Pandemi: Kepastian Janji Allah dan Ujian bagi Orang-Orang SabarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diringkas dari Kitab Al-Fawaid Al-Masthurah karya Dr. Kamilah Al-Kawari, hlm. 21-32 cetakan Dar Ibnu Hazm.Referensi tambahan:Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syekh Abdurrahman As-Sa’di cetakan Dar Ibnu Hazm.Husulul Ma’mul Fii Syarhi Tsalatsatil Usul karya Syekh Dr. Abdullah Al-Fauzan cetakan Dar Ibnu Al-Jauzi.Syarah Tsalatsatul Ushul Li Syaikh Al-‘Ushaimi🔍 Situs Islam, Mengadu Kepada Allah, Allah Ada Dimana Mana, Syarah Kitab Tauhid Syaikh Utsaimin, Hadits Tentang AlamTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidiman kepada Allahkeutamaan tauhidmengenal tauhidTauhidtauhid rububiyahtauhid uluhiyyahtentang tauhid Asma’ wa Shifatwujud Allah
Keimanan dengan wujud Allah merupakan salah satu dari bagian yang wajib diimani dari bagian rukun iman yang pertama, yaitu iman kepada Allah. Dijelaskan oleh Syekh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullah dalam Syarah Tsasalatul Ushul karya beliau,“Kadar wajib dari keimanan kepada Allah adalah iman tentang adanya wujud Allah dan bahwasanya Allah adalah Tuhan semesta alam yang berhak diibadahi dan memiliki berbagai nama dan sifat yang sempurna.” (Syarah Tsalatsatul Ushul Li Syaikh Al-‘Ushaimi, hal. 55)Demikian juga, hal yang sama disampaikan oleh Syekh Abdullah Al-Fauzan dalam Hushulul Ma’mul,“Iman kepada Allah mengandung empat unsur wajib, yaitu: 1) iman terhadap adanya Allah, 2) iman kepada rububiyah Allah, 3) iman kepada uluhiyah Allah, dan 4) iman bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna.” (Husulul Ma’mul Fii Syarhi Tsalatsatil Usul, hlm. 142)Oleh karena itu, jika seseorang mengaku beriman kepada Allah, haruslah terpenuhi dalam keyakinannya tentang empat hal di atas. Jika hilang salah satunya atau tidak terpenuhi, maka iman kepada Allah tidak sah.Seluruh manusia telah bersepakat, kecuali yang menyimpang, bahwasanya mengetahui adanya wujud Allah tidak dapat dicapai dengan cara melihat wujud-Nya tatkala kita di dunia. Hal ini berdasarkan firman Allah,وَلَمَّا جَاۤءَ مُوسَىٰ لِمِیقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِیۤ أَنظُرۡ إِلَیۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِی وَلَـٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِیۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكࣰّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقࣰاۚ فَلَمَّاۤ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ تُبۡتُ إِلَیۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.’ (Allah) berfirman, ‘Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.’ Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.’” (QS. Al-A’raf: 143)Selain dari ayat di atas, juga terdapat hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda,تَعَلَّمُوا أنَّهُ لَنْ يَرَى أحَدُ مِنْكُمْ رَبَّهُ حَتَّى يَمُوْتَ“Ketahuilah oleh kalian, bahwasanya salah seorang di antara kalian tidak akan dapat melihat Tuhannya sampai kalian meninggal (mati).” (HR. Muslim no. 169)Hadis di atas menceritakan bahwa mustahil bagi seorang hamba ketika masih hidup di dunia untuk melihat Allah Ta’ala. Oleh karena itu, cara (metode) untuk mengimani adanya (wujud) Allah bagi seorang hamba adalah melalui beberapa metode berikut ini.Baca Juga: Perbanyaklah Bersujud kepada Allah Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Mengetahui wujud Allah dengan cara sam’iyyat 2. Kedua: Mengetahui wujud Allah dengan dalil ilham 3. Ketiga: Mengetahui wujud Allah dengan melalui metode telaah akal (logika) 3.1. Telaah akal versi ahlussunnah waljamaah 3.1.1. Pertama: Dalil penciptaaan 3.1.2. Kedua: Dalil beragamnya dan berubah-ubahnya kondisi makhluk 3.1.3. Ketiga: Dalil kefakiran makhluk 3.1.4. Keempat: Dalil penciptaan yang sempurna Pertama: Mengetahui wujud Allah dengan cara sam’iyyatYaitu bergantung dengan adanya kabar dari wahyu. Kabar dari wahyu ini diperoleh melalui dakwah para nabi dan rasul. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala,وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)Pendapat pertama ini adalah jalan ahlussunnah waljamaah dalam menetapkan eksistensi wujud Tuhan. Akan tetapi, perlu digaris bawahi bahwa maksud mereka dalam hal ini hanyalah dalam aspek perincian. Mereka tidak memaksudkan pembatasan sahnya iman terhadap wujud Allah hanya berdasarkan dalil wahyu semata. Akan tetapi, mereka juga menetapkan bahwa ada dalil telaah akal yang telah menjadi fitrah bagi manusia, yaitu sengan cara tafakkur terkait penciptaan Allah. Dalil telaah akal/ logika ini menegaskan bahwa penciptaan dan pengaturan alam semesta yang begitu sempurna menunjukkan bahwa ada Tuhan yang Mahakuasa atas semua yang terjadi dan tercipta di alam semesta.Baca Juga:Wajibnya Mewujudkan Shalah (Kebaikan) dan Ishlah (Perbaikan)Kedua: Mengetahui wujud Allah dengan dalil ilhamDalil ilham ini akan dilakukan ketika seorang itu telah menjadi mukallaf (balig dan berakal). Dia harus mencari ilham pengetahuan tentang wujud Allah, bukan menggunakan dalil wahyu maupun dalil telaah akal (logika). Pendapat ini dipegang oleh kebanyakan dari kalangan sufi dan syi’ah. Cara untuk mendapatkan ilham pengetahuan yang sempurna, tingkat keyakinan bahwa Allah itu ada adalah dengan berpaling dari kesibukan-kesibukan dunia dan sangat perhatian terhadap zikir, riyadhah (dengan taat syariat dan perbaikan akhlak), penyucian hati, dan khalwat (menyendiri untuk fokus sibuk beribadah) sampai nanti turun ilham tersebut.Ketiga: Mengetahui wujud Allah dengan melalui metode telaah akal (logika)Dalil telaah akal ini terbagi menjadi dua, a) telaah akal versi ahlussunnah waljamaah; dan b) telaah akal versi para ulama kalam.Telaah akal versi ahlussunnah waljamaahAdapun telaah akal versi ahlussunnah dapat kita namai dengan telaah akal yang syar’i karena berdasarkan bukti-bukti logis mengenai wujud Allah, baik yang dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadis, maupun dengan cara tafakkur dan tadabbur pikiran terkait ayat-ayat Allah kauniyah (penciptaan makhluk). Salah satu contoh dalil telaah akal ini dalam Al-Qur’an adalah firman Allah,ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 191)Dalam ayat lain, Allah juga memerintahkan untuk memikirkan dan merenungi ayat-ayat kauniyyah Allah yang besar dari kerajaan alam semestanya,أَوَلَمۡ یَنظُرُوا۟ فِی مَلَكُوتِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَیۡءࣲ وَأَنۡ عَسَىٰۤ أَن یَكُونَ قَدِ ٱقۡتَرَبَ أَجَلُهُمۡۖ فَبِأَیِّ حَدِیثِۭ بَعۡدَهُۥ یُؤۡمِنُونَ“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya waktu (kebinasaan) mereka? Lalu berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai?” (QS. Al-A’raf: 185)Dalil telaah akal (logika) yang syar’i menurut ahlussunnah ini dapat berupa beberapa dalil-dalil turunan yang banyak, di antaranya:Pertama: Dalil penciptaaanDalil penciptaan ini berdasarkan bukti terciptanya makhluk setelah sebelumnya tidak ada dan merupakan bukti yang pasti adanya Yang Mahapencipta. Hal ini karena kaidah logika bahwa sesuatu yang dicipta itu pasti ada yang mencipta. Atau, keberadaan dan lenggengnya sesuatu yang dicipta itu bergantung kepada yang menciptakannya. Hal ini selaras dengan yang Allah Ta’ala firmankan agar orang-orang musyrik berpikir terkait penciptaan mereka,أَمۡ خُلِقُوا۟ مِنۡ غَیۡرِ شَیۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَـٰلِقُونَ“Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya terkait ayat di atas,وهذا استدلال عليهم، بأمر لا يمكنهم فيه إلا التسليم للحق، أو الخروج عن موجب العقل والدين، وبيان ذلك: أنهم منكرون لتوحيد الله، مكذبون لرسوله، وذلك مستلزم لإنكار أن الله خلقهم.وقد تقرر في العقل مع الشرع، أن الأمر لا يخلو من أحد ثلاثة أمور:إما أنهم خلقوا من غير شيء أي: لا خالق خلقهم، بل وجدوا من غير إيجاد ولا موجد، وهذا عين المحال.أم هم الخالقون لأنفسهم، وهذا أيضا محال، فإنه لا يتصور أن يوجدوا أنفسهمفإذا بطل [هذان] الأمران، وبان استحالتهما، تعين [القسم الثالث] أن الله الذي خلقهم، وإذا تعين ذلك، علم أن الله تعالى هو المعبود وحده، الذي لا تنبغي العبادة ولا تصلح إلا له تعالى.“Ayat tersebut adalah bukti (hujjah) atas mereka yang tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka kecuali hanya dengan menerima kebenaran ayat ini atau mereka memilih untuk keluar dari konsekuensi aksiomatis akal dan agama (bahwa mereka itu tercipta, bukan mencipta). Penjelasannya sebagai berikut,Ketika mereka (orang-orang musyrik) mengingkari ketauhidan Allah dan mendustakan rasul Allah, maka hal ini berkonsekuensi bahwasanya mereka mengingkari bahwa Allah telah menciptakan mereka (karena yang mencipta itulah yang berhak disembah).Telah terpatri dalam aksiomatis logika akal dan agama bahwasanya hakikat penciptaan makhluk itu tidak terlepas dari tiga kemungkinan:Pertama: Mereka (makhluk) tercipta tanpa ada yang mencipta sama sekali, maka tidak ada sang Pencipta yang menciptakan mereka (makhluk). Bahkan, mereka tercipta tanpa ada peristiwa penciptaan dan pelaku yang menciptakan mereka. Gambaran kemungkinan pertama ini nyata kemustahilannya.Kedua: Merekalah yang menciptakan diri mereka sendiri. Gambaran kedua ini juga mustahil karena tidak mungkin dapat dibayangkan bahwa mereka sendirilah yang menciptakan diri mereka sendiri.Jika dua kemungkinan gambaran di atas adalah batil (tertolak) dan telah jelas kemustahilannya, maka tersisalah  kemungkinan ketiga yaitu,Ketiga: Allahlah yang menciptakan mereka (para makhluk). Jika telah terbukti pilihan terakhir ini, maka berkonsekuensi tidak boleh tidak bahwa sesembahan yang benar (haq) adalah Allah semata yang seluruh ibadah tidak diperkenankan diserahkan dan tidak sah, kecuali hanya untuk Allah Ta’ala semata.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 781)Kedua: Dalil beragamnya dan berubah-ubahnya kondisi makhlukDalil ini merupakan salah satu bukti bahwa ada Yang Mahamengatur alam semesta ini dengan segala keberagaman dan berubah-ubahnya sifat dari makhluk. Salah satu uraian yang menarik dibawakan oleh Ibnul Qayyim tentang dalil ini. Beliau rahimahullah berkata,“Termasuk ayat-ayat (adanya Allah), adalah bumi ini dijadikan memiliki banyak jenis dan beragam sifat dan manfaat, padahal tanah-tanah tersebut berdekatan dan bersinggungan. Tanah yang ini lunak dan yang itu keras dan saling berdekatan dan bersinggungan. Tanah ini dapat ditumbuhi tanaman dan yang itu tidak dapat ditumbuhi tanaman juga saling berdekatan dan bersinggungan. Tanah yang ini adalah tanah liat dan bersinggungan dengan tanah berpasir. Tanah yang ini bersifat keras dan tanah yang itu lembek saling bersinggungan pula. … Tanah yang ini datar dan yang itu penuh dengan perbukitan dan gunung-gunung. Tanah yang ini tidak bisa gembur, kecuali dengan hujan. Dan ada tanah yang jika terkena hujan malah tidak gembur. Dan ada pula tanah yang tidak akan baik, kecuali jika diairi dengan air sungai. Maka Allah menurunkan hujan di tempat yang jauh lalu mengalir melewati sungai-sungai sehingga dapat menjangkau tanah tadi. Sungguh betapa indahnya dan cukup satu ayat dari ayat-ayat tadi menunjukkan bahwa Allah itu ada, yang sifat dan perbuatan-Nya sempurna, dan menunjukan atas kebenaran para rasul-Nya.”Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan tentang uraian yang semisal dengan berkata,“Siapa saja yang merenungkan ciptaan yang ada di bumi maupun di langit dan perbedaan bentuk, warna, karakter, fungsi, dan peletakannya pada ukuran dan kadar yang pas, maka akan mengetahui kekuatan Penciptanya dan sifat bijaksana, keilmuan, keteraturan, dan kebesaran kekuasaannya-Nya. Diceritakan dari Ar-Razi dari Imam Malik rahimahullah bahwasanya Harun Ar-Rasyid bertanya kepada Imam Malik tentang adanya wujud Allah. Maka, beliau menjawab dengan keberagaman bahasa, suara, dan nada intonasi manusia.Selain itu, diceritakan juga dari Imam Asy-Syafii bahwa beliau ditanya tentang adanya wujud Allah. Beliau rahimahullah menjawab, “Satu jenis daun tuut (satu jenis pohon) memiliki satu rasa. Apabila daun ini dimakan oleh ulat, maka akan keluar ibraisam (jenis sutra). Sedangkan jika dimakan oleh lebah, maka akan keluar madu. Sementara apabila dimakan oleh kambing, unta, dan hewan ternak, maka akan keluar berak dan kotoran. Kemudian, apabila dimakan oleh rusa, maka akan menghasilkan minyak kasturi. Padahal seluruh hasil tadi berasal dari satu jenis daun yang sama.”Ketiga: Dalil kefakiran makhlukSetiap makhluk tidak boleh tidak membutuhkan makhluk yang lain. Bahkan, layaknya menjadi syarat kehidupan di antara mereka. Kemudian setiap makhluk juga tidak dapat melakukan sesuatu dengan sendirinya. Melakukan sesuatu dengan sendirinya tanpa ada bantuan pihak lain merupakan kekhususan yang dimiliki oleh Allah. Oleh karena itu, adanya sifat butuhnya makhluk kepada sesuatu yang lain merupakan bukti bahwa ada Yang Mahakaya di antara semua makhluk yang ada. Hal ini dikarenakan tidak disebut fakir, kecuali ada yang Mahakaya yang menjadi tempat bergantung seluruh yang fakir. Allah Ta’ala berfirman,ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ“Allah tempat meminta segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas: 2)Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata,اللهُ الصَّمَدُ؛ أي: المقصود في جميع الحوائج؛ فأهل العالم العلوي والسفلي مفتقرون إليه غاية الافتقار، يسألونه حوائجهم، ويرغبون إليه في مهمَّاتهم؛ لأنه الكامل في أوصافه، العليم الذي قد كمل في علمه، الحليم الذي قد كمل في حلمه، الرحيم الذي كمل في رحمته، الذي وسعت رحمته كل شيء، وهكذا سائر أوصافه.“Allah adalah tempat bergantung seluruh makhluk, maksudnya adalah tempat bergantung seluruh makhluk dalam setiap hajat-hajat mereka. Maka, seluruh makhluk yang berada di langit dan di bumi membutuhkan Allah dengan kondisi sangat membutuhkan (pertolongan-Nya). Mereka (makhluk) meminta agar dilancarkan urusan-urusan mereka dan menggantungkan harapan kepada-Nya dalam perkara-perkara yang penting dari mereka. Semua ini karena Allah Mahasempurna dalam segala sifat-sifat-Nya. Dia adalah Yang Mahamengetahui yang sempurna pengetahuan-Nya. Dia adalah Yang Mahalembut yang sempurna kelembutan-Nya. Dia adalah Yang Maha Penyayang yang sempurna kasih sayang-Nya. Dia adalah yang Mahaluas rahmat-Nya, dan begitu pula sifat-sifat Allah yang lain.” (Taisiru Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 896-897)Baca Juga: Mungkinkah Manusia Melihat Malaikat dalam Wujudnya yang Asli?Keempat: Dalil penciptaan yang sempurnaAlam semesta dengan kebesaran dan kebagusannya itu cocok dengan keberadaan manusia. Alam semesta ini layaknya telah dipersiapkan untuk kelangsungan hidup dan eksistensi seluruh makhluk dengan sangat cocok dan pas. Maka, keselarasan dan kesesuaian dari alam semesta ini secara aksiomatis melahirkan keyakinan adanya Sang Pencipta dan kesempurnaan-Nya. Hal ini karena tidak mungkin adanya alam semesta yang sempurna penciptaannya ini terjadi hanya kebetulan dan tanpa kesengajaan saja. Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ۝  ٱلَّذِی جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَ ٰ⁠شࣰا وَٱلسَّمَاۤءَ بِنَاۤءࣰ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ رِزۡقࣰا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادࣰا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)Allah Ta’ala juga berfirman pada ayat lain,ٱلَّذِیۤ أَحۡسَنَ كُلَّ شَیۡءٍ خَلَقَهُۥۖ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَـٰنِ مِن طِینࣲ“Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.” (QS. As-Sajdah: 7)Itulah beberapa hal yang terkait dengan dalil-dalil yang paling terlihat dalam kehidupan kita terkait adanya wujud Allah. Oleh karena itu, semoga dari berbagai pelajaran di atas akan semakin menguatkan dan mengingatkan kita semuanya terkait pentingnya mengimani wujud Allah, berikut juga dengan seluruh sifat-sifat-Nya yang sempurna. Mengingat sangat penting pada hari ini dan zaman ini, banyak dari kalangan-kalangan yang memusuhi Islam mencoba untuk memasukkan karaguan ke dalam umat Islam mengenai kebenaran agama ini, bahkan membuat bingung tentang eksistensi wujud Allah sebagai Tuhan semesta alam. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:Pandemi: Kepastian Janji Allah dan Ujian bagi Orang-Orang SabarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diringkas dari Kitab Al-Fawaid Al-Masthurah karya Dr. Kamilah Al-Kawari, hlm. 21-32 cetakan Dar Ibnu Hazm.Referensi tambahan:Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syekh Abdurrahman As-Sa’di cetakan Dar Ibnu Hazm.Husulul Ma’mul Fii Syarhi Tsalatsatil Usul karya Syekh Dr. Abdullah Al-Fauzan cetakan Dar Ibnu Al-Jauzi.Syarah Tsalatsatul Ushul Li Syaikh Al-‘Ushaimi🔍 Situs Islam, Mengadu Kepada Allah, Allah Ada Dimana Mana, Syarah Kitab Tauhid Syaikh Utsaimin, Hadits Tentang AlamTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidiman kepada Allahkeutamaan tauhidmengenal tauhidTauhidtauhid rububiyahtauhid uluhiyyahtentang tauhid Asma’ wa Shifatwujud Allah


Keimanan dengan wujud Allah merupakan salah satu dari bagian yang wajib diimani dari bagian rukun iman yang pertama, yaitu iman kepada Allah. Dijelaskan oleh Syekh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullah dalam Syarah Tsasalatul Ushul karya beliau,“Kadar wajib dari keimanan kepada Allah adalah iman tentang adanya wujud Allah dan bahwasanya Allah adalah Tuhan semesta alam yang berhak diibadahi dan memiliki berbagai nama dan sifat yang sempurna.” (Syarah Tsalatsatul Ushul Li Syaikh Al-‘Ushaimi, hal. 55)Demikian juga, hal yang sama disampaikan oleh Syekh Abdullah Al-Fauzan dalam Hushulul Ma’mul,“Iman kepada Allah mengandung empat unsur wajib, yaitu: 1) iman terhadap adanya Allah, 2) iman kepada rububiyah Allah, 3) iman kepada uluhiyah Allah, dan 4) iman bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna.” (Husulul Ma’mul Fii Syarhi Tsalatsatil Usul, hlm. 142)Oleh karena itu, jika seseorang mengaku beriman kepada Allah, haruslah terpenuhi dalam keyakinannya tentang empat hal di atas. Jika hilang salah satunya atau tidak terpenuhi, maka iman kepada Allah tidak sah.Seluruh manusia telah bersepakat, kecuali yang menyimpang, bahwasanya mengetahui adanya wujud Allah tidak dapat dicapai dengan cara melihat wujud-Nya tatkala kita di dunia. Hal ini berdasarkan firman Allah,وَلَمَّا جَاۤءَ مُوسَىٰ لِمِیقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِیۤ أَنظُرۡ إِلَیۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِی وَلَـٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِیۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكࣰّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقࣰاۚ فَلَمَّاۤ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ تُبۡتُ إِلَیۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.’ (Allah) berfirman, ‘Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.’ Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.’” (QS. Al-A’raf: 143)Selain dari ayat di atas, juga terdapat hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda,تَعَلَّمُوا أنَّهُ لَنْ يَرَى أحَدُ مِنْكُمْ رَبَّهُ حَتَّى يَمُوْتَ“Ketahuilah oleh kalian, bahwasanya salah seorang di antara kalian tidak akan dapat melihat Tuhannya sampai kalian meninggal (mati).” (HR. Muslim no. 169)Hadis di atas menceritakan bahwa mustahil bagi seorang hamba ketika masih hidup di dunia untuk melihat Allah Ta’ala. Oleh karena itu, cara (metode) untuk mengimani adanya (wujud) Allah bagi seorang hamba adalah melalui beberapa metode berikut ini.Baca Juga: Perbanyaklah Bersujud kepada Allah Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Mengetahui wujud Allah dengan cara sam’iyyat 2. Kedua: Mengetahui wujud Allah dengan dalil ilham 3. Ketiga: Mengetahui wujud Allah dengan melalui metode telaah akal (logika) 3.1. Telaah akal versi ahlussunnah waljamaah 3.1.1. Pertama: Dalil penciptaaan 3.1.2. Kedua: Dalil beragamnya dan berubah-ubahnya kondisi makhluk 3.1.3. Ketiga: Dalil kefakiran makhluk 3.1.4. Keempat: Dalil penciptaan yang sempurna Pertama: Mengetahui wujud Allah dengan cara sam’iyyatYaitu bergantung dengan adanya kabar dari wahyu. Kabar dari wahyu ini diperoleh melalui dakwah para nabi dan rasul. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala,وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)Pendapat pertama ini adalah jalan ahlussunnah waljamaah dalam menetapkan eksistensi wujud Tuhan. Akan tetapi, perlu digaris bawahi bahwa maksud mereka dalam hal ini hanyalah dalam aspek perincian. Mereka tidak memaksudkan pembatasan sahnya iman terhadap wujud Allah hanya berdasarkan dalil wahyu semata. Akan tetapi, mereka juga menetapkan bahwa ada dalil telaah akal yang telah menjadi fitrah bagi manusia, yaitu sengan cara tafakkur terkait penciptaan Allah. Dalil telaah akal/ logika ini menegaskan bahwa penciptaan dan pengaturan alam semesta yang begitu sempurna menunjukkan bahwa ada Tuhan yang Mahakuasa atas semua yang terjadi dan tercipta di alam semesta.Baca Juga:Wajibnya Mewujudkan Shalah (Kebaikan) dan Ishlah (Perbaikan)Kedua: Mengetahui wujud Allah dengan dalil ilhamDalil ilham ini akan dilakukan ketika seorang itu telah menjadi mukallaf (balig dan berakal). Dia harus mencari ilham pengetahuan tentang wujud Allah, bukan menggunakan dalil wahyu maupun dalil telaah akal (logika). Pendapat ini dipegang oleh kebanyakan dari kalangan sufi dan syi’ah. Cara untuk mendapatkan ilham pengetahuan yang sempurna, tingkat keyakinan bahwa Allah itu ada adalah dengan berpaling dari kesibukan-kesibukan dunia dan sangat perhatian terhadap zikir, riyadhah (dengan taat syariat dan perbaikan akhlak), penyucian hati, dan khalwat (menyendiri untuk fokus sibuk beribadah) sampai nanti turun ilham tersebut.Ketiga: Mengetahui wujud Allah dengan melalui metode telaah akal (logika)Dalil telaah akal ini terbagi menjadi dua, a) telaah akal versi ahlussunnah waljamaah; dan b) telaah akal versi para ulama kalam.Telaah akal versi ahlussunnah waljamaahAdapun telaah akal versi ahlussunnah dapat kita namai dengan telaah akal yang syar’i karena berdasarkan bukti-bukti logis mengenai wujud Allah, baik yang dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadis, maupun dengan cara tafakkur dan tadabbur pikiran terkait ayat-ayat Allah kauniyah (penciptaan makhluk). Salah satu contoh dalil telaah akal ini dalam Al-Qur’an adalah firman Allah,ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 191)Dalam ayat lain, Allah juga memerintahkan untuk memikirkan dan merenungi ayat-ayat kauniyyah Allah yang besar dari kerajaan alam semestanya,أَوَلَمۡ یَنظُرُوا۟ فِی مَلَكُوتِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَیۡءࣲ وَأَنۡ عَسَىٰۤ أَن یَكُونَ قَدِ ٱقۡتَرَبَ أَجَلُهُمۡۖ فَبِأَیِّ حَدِیثِۭ بَعۡدَهُۥ یُؤۡمِنُونَ“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya waktu (kebinasaan) mereka? Lalu berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai?” (QS. Al-A’raf: 185)Dalil telaah akal (logika) yang syar’i menurut ahlussunnah ini dapat berupa beberapa dalil-dalil turunan yang banyak, di antaranya:Pertama: Dalil penciptaaanDalil penciptaan ini berdasarkan bukti terciptanya makhluk setelah sebelumnya tidak ada dan merupakan bukti yang pasti adanya Yang Mahapencipta. Hal ini karena kaidah logika bahwa sesuatu yang dicipta itu pasti ada yang mencipta. Atau, keberadaan dan lenggengnya sesuatu yang dicipta itu bergantung kepada yang menciptakannya. Hal ini selaras dengan yang Allah Ta’ala firmankan agar orang-orang musyrik berpikir terkait penciptaan mereka,أَمۡ خُلِقُوا۟ مِنۡ غَیۡرِ شَیۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَـٰلِقُونَ“Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya terkait ayat di atas,وهذا استدلال عليهم، بأمر لا يمكنهم فيه إلا التسليم للحق، أو الخروج عن موجب العقل والدين، وبيان ذلك: أنهم منكرون لتوحيد الله، مكذبون لرسوله، وذلك مستلزم لإنكار أن الله خلقهم.وقد تقرر في العقل مع الشرع، أن الأمر لا يخلو من أحد ثلاثة أمور:إما أنهم خلقوا من غير شيء أي: لا خالق خلقهم، بل وجدوا من غير إيجاد ولا موجد، وهذا عين المحال.أم هم الخالقون لأنفسهم، وهذا أيضا محال، فإنه لا يتصور أن يوجدوا أنفسهمفإذا بطل [هذان] الأمران، وبان استحالتهما، تعين [القسم الثالث] أن الله الذي خلقهم، وإذا تعين ذلك، علم أن الله تعالى هو المعبود وحده، الذي لا تنبغي العبادة ولا تصلح إلا له تعالى.“Ayat tersebut adalah bukti (hujjah) atas mereka yang tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka kecuali hanya dengan menerima kebenaran ayat ini atau mereka memilih untuk keluar dari konsekuensi aksiomatis akal dan agama (bahwa mereka itu tercipta, bukan mencipta). Penjelasannya sebagai berikut,Ketika mereka (orang-orang musyrik) mengingkari ketauhidan Allah dan mendustakan rasul Allah, maka hal ini berkonsekuensi bahwasanya mereka mengingkari bahwa Allah telah menciptakan mereka (karena yang mencipta itulah yang berhak disembah).Telah terpatri dalam aksiomatis logika akal dan agama bahwasanya hakikat penciptaan makhluk itu tidak terlepas dari tiga kemungkinan:Pertama: Mereka (makhluk) tercipta tanpa ada yang mencipta sama sekali, maka tidak ada sang Pencipta yang menciptakan mereka (makhluk). Bahkan, mereka tercipta tanpa ada peristiwa penciptaan dan pelaku yang menciptakan mereka. Gambaran kemungkinan pertama ini nyata kemustahilannya.Kedua: Merekalah yang menciptakan diri mereka sendiri. Gambaran kedua ini juga mustahil karena tidak mungkin dapat dibayangkan bahwa mereka sendirilah yang menciptakan diri mereka sendiri.Jika dua kemungkinan gambaran di atas adalah batil (tertolak) dan telah jelas kemustahilannya, maka tersisalah  kemungkinan ketiga yaitu,Ketiga: Allahlah yang menciptakan mereka (para makhluk). Jika telah terbukti pilihan terakhir ini, maka berkonsekuensi tidak boleh tidak bahwa sesembahan yang benar (haq) adalah Allah semata yang seluruh ibadah tidak diperkenankan diserahkan dan tidak sah, kecuali hanya untuk Allah Ta’ala semata.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 781)Kedua: Dalil beragamnya dan berubah-ubahnya kondisi makhlukDalil ini merupakan salah satu bukti bahwa ada Yang Mahamengatur alam semesta ini dengan segala keberagaman dan berubah-ubahnya sifat dari makhluk. Salah satu uraian yang menarik dibawakan oleh Ibnul Qayyim tentang dalil ini. Beliau rahimahullah berkata,“Termasuk ayat-ayat (adanya Allah), adalah bumi ini dijadikan memiliki banyak jenis dan beragam sifat dan manfaat, padahal tanah-tanah tersebut berdekatan dan bersinggungan. Tanah yang ini lunak dan yang itu keras dan saling berdekatan dan bersinggungan. Tanah ini dapat ditumbuhi tanaman dan yang itu tidak dapat ditumbuhi tanaman juga saling berdekatan dan bersinggungan. Tanah yang ini adalah tanah liat dan bersinggungan dengan tanah berpasir. Tanah yang ini bersifat keras dan tanah yang itu lembek saling bersinggungan pula. … Tanah yang ini datar dan yang itu penuh dengan perbukitan dan gunung-gunung. Tanah yang ini tidak bisa gembur, kecuali dengan hujan. Dan ada tanah yang jika terkena hujan malah tidak gembur. Dan ada pula tanah yang tidak akan baik, kecuali jika diairi dengan air sungai. Maka Allah menurunkan hujan di tempat yang jauh lalu mengalir melewati sungai-sungai sehingga dapat menjangkau tanah tadi. Sungguh betapa indahnya dan cukup satu ayat dari ayat-ayat tadi menunjukkan bahwa Allah itu ada, yang sifat dan perbuatan-Nya sempurna, dan menunjukan atas kebenaran para rasul-Nya.”Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan tentang uraian yang semisal dengan berkata,“Siapa saja yang merenungkan ciptaan yang ada di bumi maupun di langit dan perbedaan bentuk, warna, karakter, fungsi, dan peletakannya pada ukuran dan kadar yang pas, maka akan mengetahui kekuatan Penciptanya dan sifat bijaksana, keilmuan, keteraturan, dan kebesaran kekuasaannya-Nya. Diceritakan dari Ar-Razi dari Imam Malik rahimahullah bahwasanya Harun Ar-Rasyid bertanya kepada Imam Malik tentang adanya wujud Allah. Maka, beliau menjawab dengan keberagaman bahasa, suara, dan nada intonasi manusia.Selain itu, diceritakan juga dari Imam Asy-Syafii bahwa beliau ditanya tentang adanya wujud Allah. Beliau rahimahullah menjawab, “Satu jenis daun tuut (satu jenis pohon) memiliki satu rasa. Apabila daun ini dimakan oleh ulat, maka akan keluar ibraisam (jenis sutra). Sedangkan jika dimakan oleh lebah, maka akan keluar madu. Sementara apabila dimakan oleh kambing, unta, dan hewan ternak, maka akan keluar berak dan kotoran. Kemudian, apabila dimakan oleh rusa, maka akan menghasilkan minyak kasturi. Padahal seluruh hasil tadi berasal dari satu jenis daun yang sama.”Ketiga: Dalil kefakiran makhlukSetiap makhluk tidak boleh tidak membutuhkan makhluk yang lain. Bahkan, layaknya menjadi syarat kehidupan di antara mereka. Kemudian setiap makhluk juga tidak dapat melakukan sesuatu dengan sendirinya. Melakukan sesuatu dengan sendirinya tanpa ada bantuan pihak lain merupakan kekhususan yang dimiliki oleh Allah. Oleh karena itu, adanya sifat butuhnya makhluk kepada sesuatu yang lain merupakan bukti bahwa ada Yang Mahakaya di antara semua makhluk yang ada. Hal ini dikarenakan tidak disebut fakir, kecuali ada yang Mahakaya yang menjadi tempat bergantung seluruh yang fakir. Allah Ta’ala berfirman,ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ“Allah tempat meminta segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas: 2)Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata,اللهُ الصَّمَدُ؛ أي: المقصود في جميع الحوائج؛ فأهل العالم العلوي والسفلي مفتقرون إليه غاية الافتقار، يسألونه حوائجهم، ويرغبون إليه في مهمَّاتهم؛ لأنه الكامل في أوصافه، العليم الذي قد كمل في علمه، الحليم الذي قد كمل في حلمه، الرحيم الذي كمل في رحمته، الذي وسعت رحمته كل شيء، وهكذا سائر أوصافه.“Allah adalah tempat bergantung seluruh makhluk, maksudnya adalah tempat bergantung seluruh makhluk dalam setiap hajat-hajat mereka. Maka, seluruh makhluk yang berada di langit dan di bumi membutuhkan Allah dengan kondisi sangat membutuhkan (pertolongan-Nya). Mereka (makhluk) meminta agar dilancarkan urusan-urusan mereka dan menggantungkan harapan kepada-Nya dalam perkara-perkara yang penting dari mereka. Semua ini karena Allah Mahasempurna dalam segala sifat-sifat-Nya. Dia adalah Yang Mahamengetahui yang sempurna pengetahuan-Nya. Dia adalah Yang Mahalembut yang sempurna kelembutan-Nya. Dia adalah Yang Maha Penyayang yang sempurna kasih sayang-Nya. Dia adalah yang Mahaluas rahmat-Nya, dan begitu pula sifat-sifat Allah yang lain.” (Taisiru Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 896-897)Baca Juga: Mungkinkah Manusia Melihat Malaikat dalam Wujudnya yang Asli?Keempat: Dalil penciptaan yang sempurnaAlam semesta dengan kebesaran dan kebagusannya itu cocok dengan keberadaan manusia. Alam semesta ini layaknya telah dipersiapkan untuk kelangsungan hidup dan eksistensi seluruh makhluk dengan sangat cocok dan pas. Maka, keselarasan dan kesesuaian dari alam semesta ini secara aksiomatis melahirkan keyakinan adanya Sang Pencipta dan kesempurnaan-Nya. Hal ini karena tidak mungkin adanya alam semesta yang sempurna penciptaannya ini terjadi hanya kebetulan dan tanpa kesengajaan saja. Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ۝  ٱلَّذِی جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَ ٰ⁠شࣰا وَٱلسَّمَاۤءَ بِنَاۤءࣰ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ رِزۡقࣰا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادࣰا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)Allah Ta’ala juga berfirman pada ayat lain,ٱلَّذِیۤ أَحۡسَنَ كُلَّ شَیۡءٍ خَلَقَهُۥۖ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَـٰنِ مِن طِینࣲ“Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.” (QS. As-Sajdah: 7)Itulah beberapa hal yang terkait dengan dalil-dalil yang paling terlihat dalam kehidupan kita terkait adanya wujud Allah. Oleh karena itu, semoga dari berbagai pelajaran di atas akan semakin menguatkan dan mengingatkan kita semuanya terkait pentingnya mengimani wujud Allah, berikut juga dengan seluruh sifat-sifat-Nya yang sempurna. Mengingat sangat penting pada hari ini dan zaman ini, banyak dari kalangan-kalangan yang memusuhi Islam mencoba untuk memasukkan karaguan ke dalam umat Islam mengenai kebenaran agama ini, bahkan membuat bingung tentang eksistensi wujud Allah sebagai Tuhan semesta alam. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:Pandemi: Kepastian Janji Allah dan Ujian bagi Orang-Orang SabarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diringkas dari Kitab Al-Fawaid Al-Masthurah karya Dr. Kamilah Al-Kawari, hlm. 21-32 cetakan Dar Ibnu Hazm.Referensi tambahan:Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syekh Abdurrahman As-Sa’di cetakan Dar Ibnu Hazm.Husulul Ma’mul Fii Syarhi Tsalatsatil Usul karya Syekh Dr. Abdullah Al-Fauzan cetakan Dar Ibnu Al-Jauzi.Syarah Tsalatsatul Ushul Li Syaikh Al-‘Ushaimi🔍 Situs Islam, Mengadu Kepada Allah, Allah Ada Dimana Mana, Syarah Kitab Tauhid Syaikh Utsaimin, Hadits Tentang AlamTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidiman kepada Allahkeutamaan tauhidmengenal tauhidTauhidtauhid rububiyahtauhid uluhiyyahtentang tauhid Asma’ wa Shifatwujud Allah

Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1)

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Siapakah ahli tauhid itu? 2. Bahaya syirik 3. Mengapa syirik demikian ditakuti oleh ahli tauhid? 3.1. Syirik adalah dosa terbesar 3.2. Pelaku syirik besar tidak diampuni oleh Allah jika mati dalam kondisi belum bertobat dan pelakunya tersesat dengan kesesatan yang jauh sekali 3.3. Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi tidak bertaubat, maka gugurlah seluruh amalan ibadahnya 3.4. Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi belum bertobat, maka kekal selamanya di neraka 3.5. Syirik besar atau kecil, pelakunya diancam neraka Siapakah ahli tauhid itu?Setiap muslim dan muslimah yang sah keislamannya adalah ahli tauhid (orang yang bertauhid). Sehingga ahli tauhid itu sinonim dengan muslim dan muslimah. Hanya saja, kadar tauhid pada diri seorang muslim dan muslimah itu bertingkat-tingkat, ada yang sempurna, ada pula yang tidak. Dan setiap dosa yang diperbuat oleh seseorang itu bisa mengotori tauhid seseorang, bahkan bisa sampai meniadakannya.Bahaya syirikTauhid adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam kekhususan-Nya, yaitu perbuatan (rububiyyah) Allah, hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), serta nama dan sifat Allah (al-asma` was shifat).Sedangkan lawan dari tauhid adalah syirik. Syirik terbagi menjadi dua macam:Pertama: Syirik besar, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, serta al-asma` was shifat). Syirik besar termasuk pembatal keislaman (kekafiran). Sehingga, jika pelakunya tidak bertaubat sampai mati, maka ia kekal selamanya di neraka. Wal‘iyadzu billah.Kedua: Syirik kecil, yaitu segala yang dilarang dalam syariat yang dalam nash (dalil) disebut dengan nama syirik dan menjadi sarana yang menghantarkan kepada kesyirikan besar. Syirik kecil ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, karena tidak sampai ada unsur menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya. Namun, syirik kecil termasuk dalam dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar (dan setingkatnya).Jadi, syirik itu sangat berbahaya. Apabila itu syirik akbar, maka ia menggugurkan seluruh amal saleh pelakunya dan mengeluarkannya dari Islam. Adapun syirik kecil, meskipun hanya menggugurkan amal yang menyertainya dan tidak mengeluarkannya dari Islam, namun syirik kecil itu termasuk dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar (dan setingkatnya).Mengapa syirik demikian ditakuti oleh ahli tauhid? Syirik adalah dosa terbesarAllah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang terbesar.’”  (QS. Luqman: 13)Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ dalam kitab Tafsir-nya. Beliau rahimahullah berkata, “Yaitu kezaliman yang terbesar.” Pelaku syirik besar tidak diampuni oleh Allah jika mati dalam kondisi belum bertobat dan pelakunya tersesat dengan kesesatan yang jauh sekali Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan Allah (dengan sesuatu), maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.” (QS. An-Nisa’: 116)Maksud ayat ini adalah bahwa pelaku syirik besar itu tidak diampuni oleh Allah jika mati dalam kondisi belum bertobat darinya. Karena dalam surah Az-Zumar ayat 53, Allah Ta’ala berfirman bahwa Allah Ta’ala mengampuni semua dosa-dosa hamba-Nya jika ia bertaubat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا“Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini untuk orang yang bertobat sebelum ditutupnya pintu tobat.Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan? Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi tidak bertaubat, maka gugurlah seluruh amalan ibadahnya Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang merugi.'” (QS. Az-Zumar: 65)Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi belum bertobat, maka kekal selamanya di neraka Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ“Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن مَاتَ وهْوَ يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ“Barangsiapa mati dalam keadaan ia menyembah selain Allah, maka ia masuk ke dalam neraka.” (HR. Bukhari)Hadis ini menunjukkan ancaman yang menakutkan bagi pelaku syirik besar dengan menjelaskan akibat yang diperolehnya dan tempat kembali baginya. Bahwa barangsiapa yang menyembah, beribadah kepada selain Allah dan tidak bertobat sampai mati, maka ia masuk neraka dan kekal selamanya di dalamnya. Ini menunjukkan wajibnya kita takut terhadap syirik.Syirik besar atau kecil, pelakunya diancam nerakaDari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من لقي الله لا يشرك به شيئًا دخل الجنة، ومن لقيه يشرك به شيئًا دخل النار‏“Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan dia melakukan kesyirikan, maka dia akan masuk neraka.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan barangsiapa yang mati dengan membawa dosa syirik (baik besar maupun kecil), maka terancam masuk neraka (baik kekal ataupun tidak). Hal ini mengharuskan ahli tauhid untuk takut terhadap kesyirikan, apapun bentuknya, karena cakupan syirik di dalam hadis ini umum, yaitu baik syirik besar maupun syirik kecil.Ancaman masuk neraka bagi pelaku syirik adalah pelaku syirik besar kekal di neraka jika mati dalam kondisi belum bertobat. Adapun pelaku syirik kecil, jika masuk neraka, maka tidak kekal, bahkan ada kemungkinan Allah Ta’ala ampuni dosa pelakunya.[Bersambung]Baca Juga:Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah TauhidTidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah Tauhid***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Syirik, Bintang Pelajar Institute, Tanggungjawab Suami Dalam Islam, Wahabi Itu Apa, Tanda Tanda Terkena SihirTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid

Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1)

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Siapakah ahli tauhid itu? 2. Bahaya syirik 3. Mengapa syirik demikian ditakuti oleh ahli tauhid? 3.1. Syirik adalah dosa terbesar 3.2. Pelaku syirik besar tidak diampuni oleh Allah jika mati dalam kondisi belum bertobat dan pelakunya tersesat dengan kesesatan yang jauh sekali 3.3. Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi tidak bertaubat, maka gugurlah seluruh amalan ibadahnya 3.4. Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi belum bertobat, maka kekal selamanya di neraka 3.5. Syirik besar atau kecil, pelakunya diancam neraka Siapakah ahli tauhid itu?Setiap muslim dan muslimah yang sah keislamannya adalah ahli tauhid (orang yang bertauhid). Sehingga ahli tauhid itu sinonim dengan muslim dan muslimah. Hanya saja, kadar tauhid pada diri seorang muslim dan muslimah itu bertingkat-tingkat, ada yang sempurna, ada pula yang tidak. Dan setiap dosa yang diperbuat oleh seseorang itu bisa mengotori tauhid seseorang, bahkan bisa sampai meniadakannya.Bahaya syirikTauhid adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam kekhususan-Nya, yaitu perbuatan (rububiyyah) Allah, hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), serta nama dan sifat Allah (al-asma` was shifat).Sedangkan lawan dari tauhid adalah syirik. Syirik terbagi menjadi dua macam:Pertama: Syirik besar, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, serta al-asma` was shifat). Syirik besar termasuk pembatal keislaman (kekafiran). Sehingga, jika pelakunya tidak bertaubat sampai mati, maka ia kekal selamanya di neraka. Wal‘iyadzu billah.Kedua: Syirik kecil, yaitu segala yang dilarang dalam syariat yang dalam nash (dalil) disebut dengan nama syirik dan menjadi sarana yang menghantarkan kepada kesyirikan besar. Syirik kecil ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, karena tidak sampai ada unsur menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya. Namun, syirik kecil termasuk dalam dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar (dan setingkatnya).Jadi, syirik itu sangat berbahaya. Apabila itu syirik akbar, maka ia menggugurkan seluruh amal saleh pelakunya dan mengeluarkannya dari Islam. Adapun syirik kecil, meskipun hanya menggugurkan amal yang menyertainya dan tidak mengeluarkannya dari Islam, namun syirik kecil itu termasuk dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar (dan setingkatnya).Mengapa syirik demikian ditakuti oleh ahli tauhid? Syirik adalah dosa terbesarAllah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang terbesar.’”  (QS. Luqman: 13)Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ dalam kitab Tafsir-nya. Beliau rahimahullah berkata, “Yaitu kezaliman yang terbesar.” Pelaku syirik besar tidak diampuni oleh Allah jika mati dalam kondisi belum bertobat dan pelakunya tersesat dengan kesesatan yang jauh sekali Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan Allah (dengan sesuatu), maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.” (QS. An-Nisa’: 116)Maksud ayat ini adalah bahwa pelaku syirik besar itu tidak diampuni oleh Allah jika mati dalam kondisi belum bertobat darinya. Karena dalam surah Az-Zumar ayat 53, Allah Ta’ala berfirman bahwa Allah Ta’ala mengampuni semua dosa-dosa hamba-Nya jika ia bertaubat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا“Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini untuk orang yang bertobat sebelum ditutupnya pintu tobat.Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan? Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi tidak bertaubat, maka gugurlah seluruh amalan ibadahnya Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang merugi.'” (QS. Az-Zumar: 65)Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi belum bertobat, maka kekal selamanya di neraka Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ“Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن مَاتَ وهْوَ يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ“Barangsiapa mati dalam keadaan ia menyembah selain Allah, maka ia masuk ke dalam neraka.” (HR. Bukhari)Hadis ini menunjukkan ancaman yang menakutkan bagi pelaku syirik besar dengan menjelaskan akibat yang diperolehnya dan tempat kembali baginya. Bahwa barangsiapa yang menyembah, beribadah kepada selain Allah dan tidak bertobat sampai mati, maka ia masuk neraka dan kekal selamanya di dalamnya. Ini menunjukkan wajibnya kita takut terhadap syirik.Syirik besar atau kecil, pelakunya diancam nerakaDari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من لقي الله لا يشرك به شيئًا دخل الجنة، ومن لقيه يشرك به شيئًا دخل النار‏“Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan dia melakukan kesyirikan, maka dia akan masuk neraka.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan barangsiapa yang mati dengan membawa dosa syirik (baik besar maupun kecil), maka terancam masuk neraka (baik kekal ataupun tidak). Hal ini mengharuskan ahli tauhid untuk takut terhadap kesyirikan, apapun bentuknya, karena cakupan syirik di dalam hadis ini umum, yaitu baik syirik besar maupun syirik kecil.Ancaman masuk neraka bagi pelaku syirik adalah pelaku syirik besar kekal di neraka jika mati dalam kondisi belum bertobat. Adapun pelaku syirik kecil, jika masuk neraka, maka tidak kekal, bahkan ada kemungkinan Allah Ta’ala ampuni dosa pelakunya.[Bersambung]Baca Juga:Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah TauhidTidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah Tauhid***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Syirik, Bintang Pelajar Institute, Tanggungjawab Suami Dalam Islam, Wahabi Itu Apa, Tanda Tanda Terkena SihirTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid
Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Siapakah ahli tauhid itu? 2. Bahaya syirik 3. Mengapa syirik demikian ditakuti oleh ahli tauhid? 3.1. Syirik adalah dosa terbesar 3.2. Pelaku syirik besar tidak diampuni oleh Allah jika mati dalam kondisi belum bertobat dan pelakunya tersesat dengan kesesatan yang jauh sekali 3.3. Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi tidak bertaubat, maka gugurlah seluruh amalan ibadahnya 3.4. Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi belum bertobat, maka kekal selamanya di neraka 3.5. Syirik besar atau kecil, pelakunya diancam neraka Siapakah ahli tauhid itu?Setiap muslim dan muslimah yang sah keislamannya adalah ahli tauhid (orang yang bertauhid). Sehingga ahli tauhid itu sinonim dengan muslim dan muslimah. Hanya saja, kadar tauhid pada diri seorang muslim dan muslimah itu bertingkat-tingkat, ada yang sempurna, ada pula yang tidak. Dan setiap dosa yang diperbuat oleh seseorang itu bisa mengotori tauhid seseorang, bahkan bisa sampai meniadakannya.Bahaya syirikTauhid adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam kekhususan-Nya, yaitu perbuatan (rububiyyah) Allah, hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), serta nama dan sifat Allah (al-asma` was shifat).Sedangkan lawan dari tauhid adalah syirik. Syirik terbagi menjadi dua macam:Pertama: Syirik besar, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, serta al-asma` was shifat). Syirik besar termasuk pembatal keislaman (kekafiran). Sehingga, jika pelakunya tidak bertaubat sampai mati, maka ia kekal selamanya di neraka. Wal‘iyadzu billah.Kedua: Syirik kecil, yaitu segala yang dilarang dalam syariat yang dalam nash (dalil) disebut dengan nama syirik dan menjadi sarana yang menghantarkan kepada kesyirikan besar. Syirik kecil ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, karena tidak sampai ada unsur menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya. Namun, syirik kecil termasuk dalam dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar (dan setingkatnya).Jadi, syirik itu sangat berbahaya. Apabila itu syirik akbar, maka ia menggugurkan seluruh amal saleh pelakunya dan mengeluarkannya dari Islam. Adapun syirik kecil, meskipun hanya menggugurkan amal yang menyertainya dan tidak mengeluarkannya dari Islam, namun syirik kecil itu termasuk dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar (dan setingkatnya).Mengapa syirik demikian ditakuti oleh ahli tauhid? Syirik adalah dosa terbesarAllah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang terbesar.’”  (QS. Luqman: 13)Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ dalam kitab Tafsir-nya. Beliau rahimahullah berkata, “Yaitu kezaliman yang terbesar.” Pelaku syirik besar tidak diampuni oleh Allah jika mati dalam kondisi belum bertobat dan pelakunya tersesat dengan kesesatan yang jauh sekali Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan Allah (dengan sesuatu), maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.” (QS. An-Nisa’: 116)Maksud ayat ini adalah bahwa pelaku syirik besar itu tidak diampuni oleh Allah jika mati dalam kondisi belum bertobat darinya. Karena dalam surah Az-Zumar ayat 53, Allah Ta’ala berfirman bahwa Allah Ta’ala mengampuni semua dosa-dosa hamba-Nya jika ia bertaubat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا“Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini untuk orang yang bertobat sebelum ditutupnya pintu tobat.Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan? Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi tidak bertaubat, maka gugurlah seluruh amalan ibadahnya Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang merugi.'” (QS. Az-Zumar: 65)Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi belum bertobat, maka kekal selamanya di neraka Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ“Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن مَاتَ وهْوَ يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ“Barangsiapa mati dalam keadaan ia menyembah selain Allah, maka ia masuk ke dalam neraka.” (HR. Bukhari)Hadis ini menunjukkan ancaman yang menakutkan bagi pelaku syirik besar dengan menjelaskan akibat yang diperolehnya dan tempat kembali baginya. Bahwa barangsiapa yang menyembah, beribadah kepada selain Allah dan tidak bertobat sampai mati, maka ia masuk neraka dan kekal selamanya di dalamnya. Ini menunjukkan wajibnya kita takut terhadap syirik.Syirik besar atau kecil, pelakunya diancam nerakaDari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من لقي الله لا يشرك به شيئًا دخل الجنة، ومن لقيه يشرك به شيئًا دخل النار‏“Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan dia melakukan kesyirikan, maka dia akan masuk neraka.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan barangsiapa yang mati dengan membawa dosa syirik (baik besar maupun kecil), maka terancam masuk neraka (baik kekal ataupun tidak). Hal ini mengharuskan ahli tauhid untuk takut terhadap kesyirikan, apapun bentuknya, karena cakupan syirik di dalam hadis ini umum, yaitu baik syirik besar maupun syirik kecil.Ancaman masuk neraka bagi pelaku syirik adalah pelaku syirik besar kekal di neraka jika mati dalam kondisi belum bertobat. Adapun pelaku syirik kecil, jika masuk neraka, maka tidak kekal, bahkan ada kemungkinan Allah Ta’ala ampuni dosa pelakunya.[Bersambung]Baca Juga:Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah TauhidTidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah Tauhid***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Syirik, Bintang Pelajar Institute, Tanggungjawab Suami Dalam Islam, Wahabi Itu Apa, Tanda Tanda Terkena SihirTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid


Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Siapakah ahli tauhid itu? 2. Bahaya syirik 3. Mengapa syirik demikian ditakuti oleh ahli tauhid? 3.1. Syirik adalah dosa terbesar 3.2. Pelaku syirik besar tidak diampuni oleh Allah jika mati dalam kondisi belum bertobat dan pelakunya tersesat dengan kesesatan yang jauh sekali 3.3. Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi tidak bertaubat, maka gugurlah seluruh amalan ibadahnya 3.4. Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi belum bertobat, maka kekal selamanya di neraka 3.5. Syirik besar atau kecil, pelakunya diancam neraka Siapakah ahli tauhid itu?Setiap muslim dan muslimah yang sah keislamannya adalah ahli tauhid (orang yang bertauhid). Sehingga ahli tauhid itu sinonim dengan muslim dan muslimah. Hanya saja, kadar tauhid pada diri seorang muslim dan muslimah itu bertingkat-tingkat, ada yang sempurna, ada pula yang tidak. Dan setiap dosa yang diperbuat oleh seseorang itu bisa mengotori tauhid seseorang, bahkan bisa sampai meniadakannya.Bahaya syirikTauhid adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam kekhususan-Nya, yaitu perbuatan (rububiyyah) Allah, hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), serta nama dan sifat Allah (al-asma` was shifat).Sedangkan lawan dari tauhid adalah syirik. Syirik terbagi menjadi dua macam:Pertama: Syirik besar, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, serta al-asma` was shifat). Syirik besar termasuk pembatal keislaman (kekafiran). Sehingga, jika pelakunya tidak bertaubat sampai mati, maka ia kekal selamanya di neraka. Wal‘iyadzu billah.Kedua: Syirik kecil, yaitu segala yang dilarang dalam syariat yang dalam nash (dalil) disebut dengan nama syirik dan menjadi sarana yang menghantarkan kepada kesyirikan besar. Syirik kecil ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, karena tidak sampai ada unsur menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya. Namun, syirik kecil termasuk dalam dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar (dan setingkatnya).Jadi, syirik itu sangat berbahaya. Apabila itu syirik akbar, maka ia menggugurkan seluruh amal saleh pelakunya dan mengeluarkannya dari Islam. Adapun syirik kecil, meskipun hanya menggugurkan amal yang menyertainya dan tidak mengeluarkannya dari Islam, namun syirik kecil itu termasuk dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar (dan setingkatnya).Mengapa syirik demikian ditakuti oleh ahli tauhid? Syirik adalah dosa terbesarAllah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang terbesar.’”  (QS. Luqman: 13)Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ dalam kitab Tafsir-nya. Beliau rahimahullah berkata, “Yaitu kezaliman yang terbesar.” Pelaku syirik besar tidak diampuni oleh Allah jika mati dalam kondisi belum bertobat dan pelakunya tersesat dengan kesesatan yang jauh sekali Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan Allah (dengan sesuatu), maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.” (QS. An-Nisa’: 116)Maksud ayat ini adalah bahwa pelaku syirik besar itu tidak diampuni oleh Allah jika mati dalam kondisi belum bertobat darinya. Karena dalam surah Az-Zumar ayat 53, Allah Ta’ala berfirman bahwa Allah Ta’ala mengampuni semua dosa-dosa hamba-Nya jika ia bertaubat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا“Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini untuk orang yang bertobat sebelum ditutupnya pintu tobat.Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan? Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi tidak bertaubat, maka gugurlah seluruh amalan ibadahnya Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang merugi.'” (QS. Az-Zumar: 65)Pelaku syirik besar, apabila mati dalam kondisi belum bertobat, maka kekal selamanya di neraka Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ“Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن مَاتَ وهْوَ يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ“Barangsiapa mati dalam keadaan ia menyembah selain Allah, maka ia masuk ke dalam neraka.” (HR. Bukhari)Hadis ini menunjukkan ancaman yang menakutkan bagi pelaku syirik besar dengan menjelaskan akibat yang diperolehnya dan tempat kembali baginya. Bahwa barangsiapa yang menyembah, beribadah kepada selain Allah dan tidak bertobat sampai mati, maka ia masuk neraka dan kekal selamanya di dalamnya. Ini menunjukkan wajibnya kita takut terhadap syirik.Syirik besar atau kecil, pelakunya diancam nerakaDari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من لقي الله لا يشرك به شيئًا دخل الجنة، ومن لقيه يشرك به شيئًا دخل النار‏“Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan dia melakukan kesyirikan, maka dia akan masuk neraka.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan barangsiapa yang mati dengan membawa dosa syirik (baik besar maupun kecil), maka terancam masuk neraka (baik kekal ataupun tidak). Hal ini mengharuskan ahli tauhid untuk takut terhadap kesyirikan, apapun bentuknya, karena cakupan syirik di dalam hadis ini umum, yaitu baik syirik besar maupun syirik kecil.Ancaman masuk neraka bagi pelaku syirik adalah pelaku syirik besar kekal di neraka jika mati dalam kondisi belum bertobat. Adapun pelaku syirik kecil, jika masuk neraka, maka tidak kekal, bahkan ada kemungkinan Allah Ta’ala ampuni dosa pelakunya.[Bersambung]Baca Juga:Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah TauhidTidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah Tauhid***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Syirik, Bintang Pelajar Institute, Tanggungjawab Suami Dalam Islam, Wahabi Itu Apa, Tanda Tanda Terkena SihirTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid

Jaminan Surga Jika Kau Menjaga Keduanya – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Allah tidak menyukai perbuatan buruk.Oleh karena itu, hendaklah seorang Muslim bersungguh-sungguh, wahai Hamba-hamba Allah! Terdapat banyak perkara manusia yang berupa hubungan-hubungan.Hubungan seseorang dengan orang lain. Hendaklah seseorang memberi perhatian besar untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain,dengan kejujuran dan amanah. Juga menghindari gibah dan namimah.Serta berusaha untuk berintrospeksi diri sebelum berkata,karena manusia seringkali binasa akibat kalimat-kalimat dari lisannya. Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz,ketika beliau menjelaskan dan menyebutkan perkara Islam, hingga beliau bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan inti dari semua perkara itu?”Muadz menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda, “Kamu harus menjaga ini!” Seraya Nabi ‘alaihis shalatu wassalam memegang lisan beliau.Muadz bertanya, “Apakah kita akan dihukum disebabkan apa yang kita ucapkan?” Beliau menjawab, “Ah, kamu ini!Bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur—dalam riwayat lain: hidung tersungkur—karena akibat dari yang diucapkan lisan-lisan mereka?!” Dalam hadis lain, Nabi ‘alaihissalam bersabda—yakni beliau menujukan sabdanya kepada kaum Muslimin, “Barang siapa yang dapat memberiku jaminan untuk menjaga lisannyadan menjaga kemaluannya,maka aku menjamin baginya, ia akan masuk surga.” Yakni jika ia telah melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan menambahnya dengan ibadah-ibadah sunah,serta menjaga lisan dan kemaluannya. Lisannya tidak bergerak untuk mengucapkan ucapanyang tidak dicintai Allah dan ucapan yang tidak menimbulkan celaan,juga tidak menggunakan kemaluannya untuk hal yang tidak halal baginya. Ia berhati-hati seperti ini karena takut kepada Allah,dan karena berharap dapat meraih keridaan-Nya.Nabi bersabda, “… maka aku menjamin baginya, ia akan mendapat surga.”Juga balasan lainnya. ==== وَاللهُ لَا يُحِبُّ الْعَمَلَ الْمَشِيْنَ فَلْيَحْرِصِ الْمُسْلِمُ يَا عِبَادَ اللهِ هُنَاكَ أُمُوْرٌ عَلَاقَاتٌ عَلَاقَةُ الْمَرْءِ بِالنَّاسِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْإِنْسَانُ عَلَى إِحْسَانِ الْعَلَاقَةِ بِالنَّاسِ بِالصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ ثُمَّ تَجَنُّبَ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْحِرْصَ عَلَى أَنْ يُحَاسِبَ الْمَرْءُ نَفْسَهُ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِالْكَلَامِ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ كَثِيرًا مَا يَهْلِكُ بِكَلِمَاتِ اللِّسَانِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ وَهُو يَشْرَحُ لَهُ يَذْكُرُ لَهُ أَمْرَ الْإِسْلَامِ إِلَى أَنْ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى مِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قَالَ بَلَى قَالَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ هَذَا وَأَمْسَكَ النَّبِيُّ بِلِسَانِ نَفْسِهِ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيْمِ قَالَ مُعَاذٌ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ يَا رَسُولَ اللهِ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ بِأَلْسِنَتِنَا؟ قَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ وَفِي رِوَايَةٍ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ وَفِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ يَقُولُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَعْنِي يُخَاطِبُ الْمُسْلِمِينَ مَنْ يَضْمَنُ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ اللِّسَانِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ الْفَرْجِ أَضْمَنُ لَهُ الْجَنَّةَ يَعْنِي إِذَا أَدَّى الْفَرَائِضَ وَتَقَرَّ لِلنَّوَافِلِ وَحَفِظَ لِسَانَهُ وَفَرْجَهُ لَا يَتَحَرَّكُ هَذَا اللِّسَانُ بِكَلَامٍ لَا يُحِبُّهُ اللهُ وَلَا يَحْسُنُ مِنْهُ الْمُتَابَعَةُ وَلَا يَسْتَعْمِلُ هَذَا الْفَرْجَ بِمَا لَا يَحِلُّ لَهُ وَإِنَّمَا يَفْعَلُ هَذِهِ الصِّيَانَةَ مَخَافَةً مِنَ اللهِ وَرَغْبَةً فِي تَحْصِيلِ مَرْضَاتِهِ يَقُولُ الْمُصْطَفَى أَضْمَنُ لَهُ الْجَنَّةَ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jaminan Surga Jika Kau Menjaga Keduanya – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Allah tidak menyukai perbuatan buruk.Oleh karena itu, hendaklah seorang Muslim bersungguh-sungguh, wahai Hamba-hamba Allah! Terdapat banyak perkara manusia yang berupa hubungan-hubungan.Hubungan seseorang dengan orang lain. Hendaklah seseorang memberi perhatian besar untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain,dengan kejujuran dan amanah. Juga menghindari gibah dan namimah.Serta berusaha untuk berintrospeksi diri sebelum berkata,karena manusia seringkali binasa akibat kalimat-kalimat dari lisannya. Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz,ketika beliau menjelaskan dan menyebutkan perkara Islam, hingga beliau bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan inti dari semua perkara itu?”Muadz menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda, “Kamu harus menjaga ini!” Seraya Nabi ‘alaihis shalatu wassalam memegang lisan beliau.Muadz bertanya, “Apakah kita akan dihukum disebabkan apa yang kita ucapkan?” Beliau menjawab, “Ah, kamu ini!Bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur—dalam riwayat lain: hidung tersungkur—karena akibat dari yang diucapkan lisan-lisan mereka?!” Dalam hadis lain, Nabi ‘alaihissalam bersabda—yakni beliau menujukan sabdanya kepada kaum Muslimin, “Barang siapa yang dapat memberiku jaminan untuk menjaga lisannyadan menjaga kemaluannya,maka aku menjamin baginya, ia akan masuk surga.” Yakni jika ia telah melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan menambahnya dengan ibadah-ibadah sunah,serta menjaga lisan dan kemaluannya. Lisannya tidak bergerak untuk mengucapkan ucapanyang tidak dicintai Allah dan ucapan yang tidak menimbulkan celaan,juga tidak menggunakan kemaluannya untuk hal yang tidak halal baginya. Ia berhati-hati seperti ini karena takut kepada Allah,dan karena berharap dapat meraih keridaan-Nya.Nabi bersabda, “… maka aku menjamin baginya, ia akan mendapat surga.”Juga balasan lainnya. ==== وَاللهُ لَا يُحِبُّ الْعَمَلَ الْمَشِيْنَ فَلْيَحْرِصِ الْمُسْلِمُ يَا عِبَادَ اللهِ هُنَاكَ أُمُوْرٌ عَلَاقَاتٌ عَلَاقَةُ الْمَرْءِ بِالنَّاسِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْإِنْسَانُ عَلَى إِحْسَانِ الْعَلَاقَةِ بِالنَّاسِ بِالصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ ثُمَّ تَجَنُّبَ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْحِرْصَ عَلَى أَنْ يُحَاسِبَ الْمَرْءُ نَفْسَهُ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِالْكَلَامِ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ كَثِيرًا مَا يَهْلِكُ بِكَلِمَاتِ اللِّسَانِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ وَهُو يَشْرَحُ لَهُ يَذْكُرُ لَهُ أَمْرَ الْإِسْلَامِ إِلَى أَنْ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى مِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قَالَ بَلَى قَالَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ هَذَا وَأَمْسَكَ النَّبِيُّ بِلِسَانِ نَفْسِهِ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيْمِ قَالَ مُعَاذٌ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ يَا رَسُولَ اللهِ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ بِأَلْسِنَتِنَا؟ قَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ وَفِي رِوَايَةٍ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ وَفِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ يَقُولُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَعْنِي يُخَاطِبُ الْمُسْلِمِينَ مَنْ يَضْمَنُ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ اللِّسَانِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ الْفَرْجِ أَضْمَنُ لَهُ الْجَنَّةَ يَعْنِي إِذَا أَدَّى الْفَرَائِضَ وَتَقَرَّ لِلنَّوَافِلِ وَحَفِظَ لِسَانَهُ وَفَرْجَهُ لَا يَتَحَرَّكُ هَذَا اللِّسَانُ بِكَلَامٍ لَا يُحِبُّهُ اللهُ وَلَا يَحْسُنُ مِنْهُ الْمُتَابَعَةُ وَلَا يَسْتَعْمِلُ هَذَا الْفَرْجَ بِمَا لَا يَحِلُّ لَهُ وَإِنَّمَا يَفْعَلُ هَذِهِ الصِّيَانَةَ مَخَافَةً مِنَ اللهِ وَرَغْبَةً فِي تَحْصِيلِ مَرْضَاتِهِ يَقُولُ الْمُصْطَفَى أَضْمَنُ لَهُ الْجَنَّةَ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Allah tidak menyukai perbuatan buruk.Oleh karena itu, hendaklah seorang Muslim bersungguh-sungguh, wahai Hamba-hamba Allah! Terdapat banyak perkara manusia yang berupa hubungan-hubungan.Hubungan seseorang dengan orang lain. Hendaklah seseorang memberi perhatian besar untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain,dengan kejujuran dan amanah. Juga menghindari gibah dan namimah.Serta berusaha untuk berintrospeksi diri sebelum berkata,karena manusia seringkali binasa akibat kalimat-kalimat dari lisannya. Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz,ketika beliau menjelaskan dan menyebutkan perkara Islam, hingga beliau bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan inti dari semua perkara itu?”Muadz menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda, “Kamu harus menjaga ini!” Seraya Nabi ‘alaihis shalatu wassalam memegang lisan beliau.Muadz bertanya, “Apakah kita akan dihukum disebabkan apa yang kita ucapkan?” Beliau menjawab, “Ah, kamu ini!Bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur—dalam riwayat lain: hidung tersungkur—karena akibat dari yang diucapkan lisan-lisan mereka?!” Dalam hadis lain, Nabi ‘alaihissalam bersabda—yakni beliau menujukan sabdanya kepada kaum Muslimin, “Barang siapa yang dapat memberiku jaminan untuk menjaga lisannyadan menjaga kemaluannya,maka aku menjamin baginya, ia akan masuk surga.” Yakni jika ia telah melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan menambahnya dengan ibadah-ibadah sunah,serta menjaga lisan dan kemaluannya. Lisannya tidak bergerak untuk mengucapkan ucapanyang tidak dicintai Allah dan ucapan yang tidak menimbulkan celaan,juga tidak menggunakan kemaluannya untuk hal yang tidak halal baginya. Ia berhati-hati seperti ini karena takut kepada Allah,dan karena berharap dapat meraih keridaan-Nya.Nabi bersabda, “… maka aku menjamin baginya, ia akan mendapat surga.”Juga balasan lainnya. ==== وَاللهُ لَا يُحِبُّ الْعَمَلَ الْمَشِيْنَ فَلْيَحْرِصِ الْمُسْلِمُ يَا عِبَادَ اللهِ هُنَاكَ أُمُوْرٌ عَلَاقَاتٌ عَلَاقَةُ الْمَرْءِ بِالنَّاسِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْإِنْسَانُ عَلَى إِحْسَانِ الْعَلَاقَةِ بِالنَّاسِ بِالصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ ثُمَّ تَجَنُّبَ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْحِرْصَ عَلَى أَنْ يُحَاسِبَ الْمَرْءُ نَفْسَهُ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِالْكَلَامِ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ كَثِيرًا مَا يَهْلِكُ بِكَلِمَاتِ اللِّسَانِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ وَهُو يَشْرَحُ لَهُ يَذْكُرُ لَهُ أَمْرَ الْإِسْلَامِ إِلَى أَنْ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى مِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قَالَ بَلَى قَالَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ هَذَا وَأَمْسَكَ النَّبِيُّ بِلِسَانِ نَفْسِهِ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيْمِ قَالَ مُعَاذٌ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ يَا رَسُولَ اللهِ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ بِأَلْسِنَتِنَا؟ قَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ وَفِي رِوَايَةٍ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ وَفِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ يَقُولُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَعْنِي يُخَاطِبُ الْمُسْلِمِينَ مَنْ يَضْمَنُ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ اللِّسَانِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ الْفَرْجِ أَضْمَنُ لَهُ الْجَنَّةَ يَعْنِي إِذَا أَدَّى الْفَرَائِضَ وَتَقَرَّ لِلنَّوَافِلِ وَحَفِظَ لِسَانَهُ وَفَرْجَهُ لَا يَتَحَرَّكُ هَذَا اللِّسَانُ بِكَلَامٍ لَا يُحِبُّهُ اللهُ وَلَا يَحْسُنُ مِنْهُ الْمُتَابَعَةُ وَلَا يَسْتَعْمِلُ هَذَا الْفَرْجَ بِمَا لَا يَحِلُّ لَهُ وَإِنَّمَا يَفْعَلُ هَذِهِ الصِّيَانَةَ مَخَافَةً مِنَ اللهِ وَرَغْبَةً فِي تَحْصِيلِ مَرْضَاتِهِ يَقُولُ الْمُصْطَفَى أَضْمَنُ لَهُ الْجَنَّةَ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Allah tidak menyukai perbuatan buruk.Oleh karena itu, hendaklah seorang Muslim bersungguh-sungguh, wahai Hamba-hamba Allah! Terdapat banyak perkara manusia yang berupa hubungan-hubungan.Hubungan seseorang dengan orang lain. Hendaklah seseorang memberi perhatian besar untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain,dengan kejujuran dan amanah. Juga menghindari gibah dan namimah.Serta berusaha untuk berintrospeksi diri sebelum berkata,karena manusia seringkali binasa akibat kalimat-kalimat dari lisannya. Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz,ketika beliau menjelaskan dan menyebutkan perkara Islam, hingga beliau bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan inti dari semua perkara itu?”Muadz menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda, “Kamu harus menjaga ini!” Seraya Nabi ‘alaihis shalatu wassalam memegang lisan beliau.Muadz bertanya, “Apakah kita akan dihukum disebabkan apa yang kita ucapkan?” Beliau menjawab, “Ah, kamu ini!Bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur—dalam riwayat lain: hidung tersungkur—karena akibat dari yang diucapkan lisan-lisan mereka?!” Dalam hadis lain, Nabi ‘alaihissalam bersabda—yakni beliau menujukan sabdanya kepada kaum Muslimin, “Barang siapa yang dapat memberiku jaminan untuk menjaga lisannyadan menjaga kemaluannya,maka aku menjamin baginya, ia akan masuk surga.” Yakni jika ia telah melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan menambahnya dengan ibadah-ibadah sunah,serta menjaga lisan dan kemaluannya. Lisannya tidak bergerak untuk mengucapkan ucapanyang tidak dicintai Allah dan ucapan yang tidak menimbulkan celaan,juga tidak menggunakan kemaluannya untuk hal yang tidak halal baginya. Ia berhati-hati seperti ini karena takut kepada Allah,dan karena berharap dapat meraih keridaan-Nya.Nabi bersabda, “… maka aku menjamin baginya, ia akan mendapat surga.”Juga balasan lainnya. ==== وَاللهُ لَا يُحِبُّ الْعَمَلَ الْمَشِيْنَ فَلْيَحْرِصِ الْمُسْلِمُ يَا عِبَادَ اللهِ هُنَاكَ أُمُوْرٌ عَلَاقَاتٌ عَلَاقَةُ الْمَرْءِ بِالنَّاسِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْإِنْسَانُ عَلَى إِحْسَانِ الْعَلَاقَةِ بِالنَّاسِ بِالصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ ثُمَّ تَجَنُّبَ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْحِرْصَ عَلَى أَنْ يُحَاسِبَ الْمَرْءُ نَفْسَهُ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِالْكَلَامِ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ كَثِيرًا مَا يَهْلِكُ بِكَلِمَاتِ اللِّسَانِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ وَهُو يَشْرَحُ لَهُ يَذْكُرُ لَهُ أَمْرَ الْإِسْلَامِ إِلَى أَنْ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى مِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قَالَ بَلَى قَالَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ هَذَا وَأَمْسَكَ النَّبِيُّ بِلِسَانِ نَفْسِهِ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيْمِ قَالَ مُعَاذٌ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ يَا رَسُولَ اللهِ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ بِأَلْسِنَتِنَا؟ قَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ وَفِي رِوَايَةٍ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ وَفِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ يَقُولُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَعْنِي يُخَاطِبُ الْمُسْلِمِينَ مَنْ يَضْمَنُ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ اللِّسَانِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ الْفَرْجِ أَضْمَنُ لَهُ الْجَنَّةَ يَعْنِي إِذَا أَدَّى الْفَرَائِضَ وَتَقَرَّ لِلنَّوَافِلِ وَحَفِظَ لِسَانَهُ وَفَرْجَهُ لَا يَتَحَرَّكُ هَذَا اللِّسَانُ بِكَلَامٍ لَا يُحِبُّهُ اللهُ وَلَا يَحْسُنُ مِنْهُ الْمُتَابَعَةُ وَلَا يَسْتَعْمِلُ هَذَا الْفَرْجَ بِمَا لَا يَحِلُّ لَهُ وَإِنَّمَا يَفْعَلُ هَذِهِ الصِّيَانَةَ مَخَافَةً مِنَ اللهِ وَرَغْبَةً فِي تَحْصِيلِ مَرْضَاتِهِ يَقُولُ الْمُصْطَفَى أَضْمَنُ لَهُ الْجَنَّةَ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Peringatan dari Hal-Hal yang Menghapus Pahala Amal

Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain. Hal itu dikhawatirkan akan membuat (pahala) segala amalmu terhapus, sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Hujurat: 2)Di dalam ayat tersebut terdapat faedah ilmu:Petunjuk kepada hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ayat ini,وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ‘Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut.’(QS. Al-Mukminun: 60)”‘Aisyah bertanya, “Apakah mereka adalah orang-orang yang meminum khamr dan yang mencuri?”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan salat, dan bersedekah dalam keadaan takut bahwa amal-amal tersebut tidak diterima. Mereka adalah orang-orang yang berlomba-lomba di dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh beliau)Mengetahui apa-apa yang merusak amal pada saat melaksanakannya dan (mengetahui) apa-apa yang membatalkannya dan menghapusnya setelah pelaksanaannya merupakan di antara perkara yang sangat penting bagi seorang hamba untuk memperbaikinya dan bersemangat untuk mengamalkannya dan memperhatikannya. (Al-Wabil Ash-Shayyib, Ibnu Al-Qayyim rahimahullah)Ada riwayat sahih dari tiga orang sahabat. Pertama, Fadhalah bin ‘Ubaid sebagaimana di dalam kitab At-Taqwa karya Ibnu Abi Ad-Dunya. Kedua, Abu Ad-Darda’ sebagaimana di dalam Tafsir Ibnu Abi Hatim.  Ketiga, Abdullah bin Umar sebagaimana di dalam Tarikh Ibnu ‘Asakir. Semoga Allah meridai mereka semua. Mereka semua mengatakan, “Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima dariku satu ruku’ atau satu sujud ataupun satu sedekah, maka hal itu lebih aku cintai dari pada dunia dan isinya.” Lalu, membaca ayat,اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menambahkan di dalam asar yang dinukil dari beliau. Setelah beliau bersedekah satu dirham, beliau berkata, “Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima dariku satu sedekah atau satu sujud karena hal itu perkara gaib, maka hal itu lebih aku cintai daripada kematian.” Lalu, membaca ayat,اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Ya Tuhanku, masukkan aku (ke tempat dan keadaan apa saja) dengan cara yang benar, keluarkan (pula) aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(-ku).’” (QS. Al-Isra’: 80)“Shidq (benar) di dalam perkataan adalah lurusnya lisan di dalam perkataan seperti lurusnya bulir di atas tangkainya. Shidq (benar) di dalam perbuatan adalah lurusnya perbuatan di atas perintah dan mutaba’ah seperti lurusnya kepala di atas badan. Shidq (benar) di dalam keadaan adalah lurusnya amalan hati dan anggota badan di atas ikhlas dan pemaksimalan tenaga dan kemampuan. Maka dari itu, seorang hamba mengamalkan shidq (benar) dengan menyempurnakan hal-hal ini. Dan proses menegakkannya menjadi proses menjadi shiddiq (orang yang benar).” (Ibnu Al-Qayyim)Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta jangan batalkan amal-amalmu!” (QS. Muhammad: 33)Allahu a’lam.(Ditulis oleh Fadhilatusysyaikh Abdullah bin Shalih Al-‘Ubailan, 7-12-1443 H)Baca Juga:Definisi Iman Menurut Ahlus SunnahRincian Nama-Nama Malaikat dari Dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah***Penerjemah: Ahmad FardanArtikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Merebut Istri Orang, Amalan 10 Hari Dzulhijjah, Waktu Sholat Sunat Fajar, Jadwal Kajian Sunnah TangerangTags: amal ibadahAqidahaqidah islamfikih ibadahibadahkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampahalaSunnahTauhid

Peringatan dari Hal-Hal yang Menghapus Pahala Amal

Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain. Hal itu dikhawatirkan akan membuat (pahala) segala amalmu terhapus, sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Hujurat: 2)Di dalam ayat tersebut terdapat faedah ilmu:Petunjuk kepada hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ayat ini,وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ‘Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut.’(QS. Al-Mukminun: 60)”‘Aisyah bertanya, “Apakah mereka adalah orang-orang yang meminum khamr dan yang mencuri?”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan salat, dan bersedekah dalam keadaan takut bahwa amal-amal tersebut tidak diterima. Mereka adalah orang-orang yang berlomba-lomba di dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh beliau)Mengetahui apa-apa yang merusak amal pada saat melaksanakannya dan (mengetahui) apa-apa yang membatalkannya dan menghapusnya setelah pelaksanaannya merupakan di antara perkara yang sangat penting bagi seorang hamba untuk memperbaikinya dan bersemangat untuk mengamalkannya dan memperhatikannya. (Al-Wabil Ash-Shayyib, Ibnu Al-Qayyim rahimahullah)Ada riwayat sahih dari tiga orang sahabat. Pertama, Fadhalah bin ‘Ubaid sebagaimana di dalam kitab At-Taqwa karya Ibnu Abi Ad-Dunya. Kedua, Abu Ad-Darda’ sebagaimana di dalam Tafsir Ibnu Abi Hatim.  Ketiga, Abdullah bin Umar sebagaimana di dalam Tarikh Ibnu ‘Asakir. Semoga Allah meridai mereka semua. Mereka semua mengatakan, “Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima dariku satu ruku’ atau satu sujud ataupun satu sedekah, maka hal itu lebih aku cintai dari pada dunia dan isinya.” Lalu, membaca ayat,اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menambahkan di dalam asar yang dinukil dari beliau. Setelah beliau bersedekah satu dirham, beliau berkata, “Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima dariku satu sedekah atau satu sujud karena hal itu perkara gaib, maka hal itu lebih aku cintai daripada kematian.” Lalu, membaca ayat,اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Ya Tuhanku, masukkan aku (ke tempat dan keadaan apa saja) dengan cara yang benar, keluarkan (pula) aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(-ku).’” (QS. Al-Isra’: 80)“Shidq (benar) di dalam perkataan adalah lurusnya lisan di dalam perkataan seperti lurusnya bulir di atas tangkainya. Shidq (benar) di dalam perbuatan adalah lurusnya perbuatan di atas perintah dan mutaba’ah seperti lurusnya kepala di atas badan. Shidq (benar) di dalam keadaan adalah lurusnya amalan hati dan anggota badan di atas ikhlas dan pemaksimalan tenaga dan kemampuan. Maka dari itu, seorang hamba mengamalkan shidq (benar) dengan menyempurnakan hal-hal ini. Dan proses menegakkannya menjadi proses menjadi shiddiq (orang yang benar).” (Ibnu Al-Qayyim)Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta jangan batalkan amal-amalmu!” (QS. Muhammad: 33)Allahu a’lam.(Ditulis oleh Fadhilatusysyaikh Abdullah bin Shalih Al-‘Ubailan, 7-12-1443 H)Baca Juga:Definisi Iman Menurut Ahlus SunnahRincian Nama-Nama Malaikat dari Dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah***Penerjemah: Ahmad FardanArtikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Merebut Istri Orang, Amalan 10 Hari Dzulhijjah, Waktu Sholat Sunat Fajar, Jadwal Kajian Sunnah TangerangTags: amal ibadahAqidahaqidah islamfikih ibadahibadahkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampahalaSunnahTauhid
Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain. Hal itu dikhawatirkan akan membuat (pahala) segala amalmu terhapus, sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Hujurat: 2)Di dalam ayat tersebut terdapat faedah ilmu:Petunjuk kepada hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ayat ini,وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ‘Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut.’(QS. Al-Mukminun: 60)”‘Aisyah bertanya, “Apakah mereka adalah orang-orang yang meminum khamr dan yang mencuri?”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan salat, dan bersedekah dalam keadaan takut bahwa amal-amal tersebut tidak diterima. Mereka adalah orang-orang yang berlomba-lomba di dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh beliau)Mengetahui apa-apa yang merusak amal pada saat melaksanakannya dan (mengetahui) apa-apa yang membatalkannya dan menghapusnya setelah pelaksanaannya merupakan di antara perkara yang sangat penting bagi seorang hamba untuk memperbaikinya dan bersemangat untuk mengamalkannya dan memperhatikannya. (Al-Wabil Ash-Shayyib, Ibnu Al-Qayyim rahimahullah)Ada riwayat sahih dari tiga orang sahabat. Pertama, Fadhalah bin ‘Ubaid sebagaimana di dalam kitab At-Taqwa karya Ibnu Abi Ad-Dunya. Kedua, Abu Ad-Darda’ sebagaimana di dalam Tafsir Ibnu Abi Hatim.  Ketiga, Abdullah bin Umar sebagaimana di dalam Tarikh Ibnu ‘Asakir. Semoga Allah meridai mereka semua. Mereka semua mengatakan, “Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima dariku satu ruku’ atau satu sujud ataupun satu sedekah, maka hal itu lebih aku cintai dari pada dunia dan isinya.” Lalu, membaca ayat,اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menambahkan di dalam asar yang dinukil dari beliau. Setelah beliau bersedekah satu dirham, beliau berkata, “Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima dariku satu sedekah atau satu sujud karena hal itu perkara gaib, maka hal itu lebih aku cintai daripada kematian.” Lalu, membaca ayat,اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Ya Tuhanku, masukkan aku (ke tempat dan keadaan apa saja) dengan cara yang benar, keluarkan (pula) aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(-ku).’” (QS. Al-Isra’: 80)“Shidq (benar) di dalam perkataan adalah lurusnya lisan di dalam perkataan seperti lurusnya bulir di atas tangkainya. Shidq (benar) di dalam perbuatan adalah lurusnya perbuatan di atas perintah dan mutaba’ah seperti lurusnya kepala di atas badan. Shidq (benar) di dalam keadaan adalah lurusnya amalan hati dan anggota badan di atas ikhlas dan pemaksimalan tenaga dan kemampuan. Maka dari itu, seorang hamba mengamalkan shidq (benar) dengan menyempurnakan hal-hal ini. Dan proses menegakkannya menjadi proses menjadi shiddiq (orang yang benar).” (Ibnu Al-Qayyim)Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta jangan batalkan amal-amalmu!” (QS. Muhammad: 33)Allahu a’lam.(Ditulis oleh Fadhilatusysyaikh Abdullah bin Shalih Al-‘Ubailan, 7-12-1443 H)Baca Juga:Definisi Iman Menurut Ahlus SunnahRincian Nama-Nama Malaikat dari Dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah***Penerjemah: Ahmad FardanArtikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Merebut Istri Orang, Amalan 10 Hari Dzulhijjah, Waktu Sholat Sunat Fajar, Jadwal Kajian Sunnah TangerangTags: amal ibadahAqidahaqidah islamfikih ibadahibadahkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampahalaSunnahTauhid


Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain. Hal itu dikhawatirkan akan membuat (pahala) segala amalmu terhapus, sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Hujurat: 2)Di dalam ayat tersebut terdapat faedah ilmu:Petunjuk kepada hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ayat ini,وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ‘Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut.’(QS. Al-Mukminun: 60)”‘Aisyah bertanya, “Apakah mereka adalah orang-orang yang meminum khamr dan yang mencuri?”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan salat, dan bersedekah dalam keadaan takut bahwa amal-amal tersebut tidak diterima. Mereka adalah orang-orang yang berlomba-lomba di dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh beliau)Mengetahui apa-apa yang merusak amal pada saat melaksanakannya dan (mengetahui) apa-apa yang membatalkannya dan menghapusnya setelah pelaksanaannya merupakan di antara perkara yang sangat penting bagi seorang hamba untuk memperbaikinya dan bersemangat untuk mengamalkannya dan memperhatikannya. (Al-Wabil Ash-Shayyib, Ibnu Al-Qayyim rahimahullah)Ada riwayat sahih dari tiga orang sahabat. Pertama, Fadhalah bin ‘Ubaid sebagaimana di dalam kitab At-Taqwa karya Ibnu Abi Ad-Dunya. Kedua, Abu Ad-Darda’ sebagaimana di dalam Tafsir Ibnu Abi Hatim.  Ketiga, Abdullah bin Umar sebagaimana di dalam Tarikh Ibnu ‘Asakir. Semoga Allah meridai mereka semua. Mereka semua mengatakan, “Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima dariku satu ruku’ atau satu sujud ataupun satu sedekah, maka hal itu lebih aku cintai dari pada dunia dan isinya.” Lalu, membaca ayat,اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menambahkan di dalam asar yang dinukil dari beliau. Setelah beliau bersedekah satu dirham, beliau berkata, “Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima dariku satu sedekah atau satu sujud karena hal itu perkara gaib, maka hal itu lebih aku cintai daripada kematian.” Lalu, membaca ayat,اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Ya Tuhanku, masukkan aku (ke tempat dan keadaan apa saja) dengan cara yang benar, keluarkan (pula) aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(-ku).’” (QS. Al-Isra’: 80)“Shidq (benar) di dalam perkataan adalah lurusnya lisan di dalam perkataan seperti lurusnya bulir di atas tangkainya. Shidq (benar) di dalam perbuatan adalah lurusnya perbuatan di atas perintah dan mutaba’ah seperti lurusnya kepala di atas badan. Shidq (benar) di dalam keadaan adalah lurusnya amalan hati dan anggota badan di atas ikhlas dan pemaksimalan tenaga dan kemampuan. Maka dari itu, seorang hamba mengamalkan shidq (benar) dengan menyempurnakan hal-hal ini. Dan proses menegakkannya menjadi proses menjadi shiddiq (orang yang benar).” (Ibnu Al-Qayyim)Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta jangan batalkan amal-amalmu!” (QS. Muhammad: 33)Allahu a’lam.(Ditulis oleh Fadhilatusysyaikh Abdullah bin Shalih Al-‘Ubailan, 7-12-1443 H)Baca Juga:Definisi Iman Menurut Ahlus SunnahRincian Nama-Nama Malaikat dari Dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah***Penerjemah: Ahmad FardanArtikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Merebut Istri Orang, Amalan 10 Hari Dzulhijjah, Waktu Sholat Sunat Fajar, Jadwal Kajian Sunnah TangerangTags: amal ibadahAqidahaqidah islamfikih ibadahibadahkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampahalaSunnahTauhid

Bolehkah Wanita Haid Ikut Pengajian di Masjid?

Pertanyaan: Wanita yang sedang haid apakah boleh mengikuti pengajian di masjid? Mohon penjelasannya, jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala sayyidil mursalin, Muhammadin, wa alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Para fuqaha dari empat madzhab mengharamkan wanita haid berdiam diri di masjid, kecuali hanya sekedar lewat saja. Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. an-Nisa: 43) Sisi pendalilannya, dalam ayat ini orang yang sedang junub dilarang mendekati shalat dan mendekati masjid, kecuali sekedar lewat saja. Dan wanita haid diqiyaskan kepada orang yang junub. Sehingga wanita haid pun dilarang mendekati masjid kecuali sekedar lewat saja. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha: أنَّها كانت تُرجِّلُ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وهي حائِضٌ، وهو معتكِفٌ في المسجِدِ، وهي في حُجرَتِها، يُناوِلُها رأسَه “Aisyah pernah menyisir rambut Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika Aisyah sedang haid dan Nabi sedang i’tikaf di masjid. Aisyah berdiri dari kamarnya dan tangannya menjangkau kepala Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” (HR. al-Bukhari no. 2046, Muslim no. 297) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid boleh berdiam diri di masjid tentu Aisyah sudah masuk ke masjid untuk menyisiri rambut Nabi, tidak perlu bersusah-susah menjangkau kepala Nabi dari luar masjid.  Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, dan al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’. Namun para ulama yang lain seperti madzhab Zhahiriyah, demikian juga Al Muzanni dari Syafi’iyyah, demikian juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad, membolehkan wanita haid berdiam diri di masjid. Mereka mengatakan bahwa tidak ada dalil yang shahih dan sharih (tegas) yang melarang wanita haid berdiam diri di masjid. Ayat di atas dan hadits Aisyah tidaklah sharih pendalilannya. Dan hukum asalnya adalah bara’ah al-ashliyyah, tidak ada beban untuk menjauhi masjid kecuali terdapat dalil yang shahih dan sharih. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya yang sedang haid: فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي “Silakan engkau lakukan apa saja yang seharusnya dilakukan ketika berhaji, kecuali thawaf di Baitullah sampai engkau suci.” (HR. al-Bukhari no.305, Muslim no.1211) Sisi pendalilannya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam hanya mengecualikan thawaf saja. Sehingga amalan haji yang lainnya seperti sa’i, berdoa, berdzikir, dll di Baitullah tidaklah terlarang. Ini menunjukkan bahwa wanita haid boleh berdiam di masjid. Dalam hadits lain disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله و عليه و سلم: نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ. Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda padanya, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Aisyah berkata, “Sesungguhnya aku sedang haid”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim no. 298) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid tidak boleh masuk masjid atau hanya boleh sekedar lewat saja, tentu Nabi akan mengatakan, “tidak mengapa jika sekedar lewat” atau “tidak mengapa jika hanya sebentar”. Namun realitanya Nabi berkata, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Ini menunjukkan bahwa wanita haid tidak mengapa masuk masjid dan berdiam di dalamnya selama darah haidnya tidak mengotori masjid. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliau mengatakan: نعم يجوز لهن ذلك لأن الحيض لا يمنع امرأة من حضور مجالس العلم ولو كانت في المساجد لأن دخول المرأة المسجد في الوقت الذي لا يوجد دليل يمنع منه فهناك على العكس من ذلك ما يدل على الجواز ، ومن هذه الأدلة حديثان للسّيدة عائشة رضي الله تعالى عنها “Benar, boleh bagi wanita haid untuk menghadiri pengajian di masjid. Karena haid tidak menghalangi wanita untuk hadir di majelis ilmu walaupun di masjid. Karena masuknya wanita haid ke masjid tidak ada dalil yang melarangnya, bahkan yang ada adalah dalil yang menunjukkan bolehnya. Di antara dalilnya ada dua hadits dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha.” (Silsilah al-Huda wan Nur, no. 562) Kemudian beliau membawakan dua hadits di atas. Demikian juga hadits lain yang mendukung pendapat ini adalah hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata: أَنَّ وَلِيدَةً كَانَتْ سَوْدَاءَ لِحَيٍّ مِنَ العَرَبِ فَأَعْتَقُوهَا … فَجَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَتْ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي المَسْجِدِ أَوْ حِفْشٌ “Ada seorang budak wanita seorang ibu yang berkulit hitam milik salah satu kabilah pedalaman Arab, kemudian ia dibebaskan … kemudian ia datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan masuk Islam”. Aisyah berkata: “Ia memiliki tenda atau gubug di lingkungan masjid.” (HR. al-Bukhari no. 439) Sisi pendalilannya, tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan wanita tersebut untuk menjauhi masjid ketika ia haid. Dan juga tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mewanti-wanti para shahabiyah yang lain agar tidak mendekati masjid ketika sedang haid. Syaikh Khalid al-Mushlih juga menguatkan pendapat ini. Beliau menjelaskan dua syarat bolehnya wanita haid berdiam di masjid: “Wanita haid boleh masuk ke masjid jika ada kebutuhan, inilah pendapat yang lebih tepat. Karena terdapat dalam as-Shahih bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata pada ‘Aisyah, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Lalu ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya saya sedang haid”. Lalu Rasul shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Hal ini menunjukkan bahwa boleh saja bagi wanita haid untuk berdiam di masjid jika: (1) ada kebutuhan dan (2) darah haidnya tidak mengotori masjid. Demikian dua syarat yang mesti dipenuhi bagi wanita haid yang ingin masuk masjid.” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=GckNrogTbwY) Adapun hadits, لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ “Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haid dan orang yang junub.” (HR. Abu Daud no. 232) Hadits ini adalah hadits yang dha’if karena terdapat perawi bernama Jasrah bintu Dajjajah al -Amiriyyah. Ia perawi yang mudhtharib dalam periwayatannya, sehingga jumhur ulama hadits mendhaifkan hadits ini. Hadits ini didhaifkan oleh an-Nawawi, Ibnu Rajab, al-Baghawi, Syu’aib al-Arnauth, dan al-Albani. Wallahu a’lam, pendapat yang tampaknya lebih kuat adalah bolehnya wanita haid berdiam di masjid termasuk mengikuti pengajian di masjid. Namun dalam rangka ihtiyath (hati-hati), sebaiknya tidak berdiam di masjid kecuali ada kebutuhan saja. Ketika tidak ada kebutuhan, berusaha untuk menjauhi masjid. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kriteria Pemimpin Dalam Islam, Adakah Hukum Karma Dalam Islam, Cara Menghilangkan Kebiasaan Onani, Hukum Jima Dari Belakang, Macam Macam Kafarat, Niat Sholat Sunnah Jumat Visited 448 times, 1 visit(s) today Post Views: 506 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Wanita Haid Ikut Pengajian di Masjid?

Pertanyaan: Wanita yang sedang haid apakah boleh mengikuti pengajian di masjid? Mohon penjelasannya, jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala sayyidil mursalin, Muhammadin, wa alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Para fuqaha dari empat madzhab mengharamkan wanita haid berdiam diri di masjid, kecuali hanya sekedar lewat saja. Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. an-Nisa: 43) Sisi pendalilannya, dalam ayat ini orang yang sedang junub dilarang mendekati shalat dan mendekati masjid, kecuali sekedar lewat saja. Dan wanita haid diqiyaskan kepada orang yang junub. Sehingga wanita haid pun dilarang mendekati masjid kecuali sekedar lewat saja. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha: أنَّها كانت تُرجِّلُ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وهي حائِضٌ، وهو معتكِفٌ في المسجِدِ، وهي في حُجرَتِها، يُناوِلُها رأسَه “Aisyah pernah menyisir rambut Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika Aisyah sedang haid dan Nabi sedang i’tikaf di masjid. Aisyah berdiri dari kamarnya dan tangannya menjangkau kepala Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” (HR. al-Bukhari no. 2046, Muslim no. 297) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid boleh berdiam diri di masjid tentu Aisyah sudah masuk ke masjid untuk menyisiri rambut Nabi, tidak perlu bersusah-susah menjangkau kepala Nabi dari luar masjid.  Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, dan al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’. Namun para ulama yang lain seperti madzhab Zhahiriyah, demikian juga Al Muzanni dari Syafi’iyyah, demikian juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad, membolehkan wanita haid berdiam diri di masjid. Mereka mengatakan bahwa tidak ada dalil yang shahih dan sharih (tegas) yang melarang wanita haid berdiam diri di masjid. Ayat di atas dan hadits Aisyah tidaklah sharih pendalilannya. Dan hukum asalnya adalah bara’ah al-ashliyyah, tidak ada beban untuk menjauhi masjid kecuali terdapat dalil yang shahih dan sharih. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya yang sedang haid: فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي “Silakan engkau lakukan apa saja yang seharusnya dilakukan ketika berhaji, kecuali thawaf di Baitullah sampai engkau suci.” (HR. al-Bukhari no.305, Muslim no.1211) Sisi pendalilannya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam hanya mengecualikan thawaf saja. Sehingga amalan haji yang lainnya seperti sa’i, berdoa, berdzikir, dll di Baitullah tidaklah terlarang. Ini menunjukkan bahwa wanita haid boleh berdiam di masjid. Dalam hadits lain disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله و عليه و سلم: نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ. Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda padanya, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Aisyah berkata, “Sesungguhnya aku sedang haid”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim no. 298) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid tidak boleh masuk masjid atau hanya boleh sekedar lewat saja, tentu Nabi akan mengatakan, “tidak mengapa jika sekedar lewat” atau “tidak mengapa jika hanya sebentar”. Namun realitanya Nabi berkata, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Ini menunjukkan bahwa wanita haid tidak mengapa masuk masjid dan berdiam di dalamnya selama darah haidnya tidak mengotori masjid. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliau mengatakan: نعم يجوز لهن ذلك لأن الحيض لا يمنع امرأة من حضور مجالس العلم ولو كانت في المساجد لأن دخول المرأة المسجد في الوقت الذي لا يوجد دليل يمنع منه فهناك على العكس من ذلك ما يدل على الجواز ، ومن هذه الأدلة حديثان للسّيدة عائشة رضي الله تعالى عنها “Benar, boleh bagi wanita haid untuk menghadiri pengajian di masjid. Karena haid tidak menghalangi wanita untuk hadir di majelis ilmu walaupun di masjid. Karena masuknya wanita haid ke masjid tidak ada dalil yang melarangnya, bahkan yang ada adalah dalil yang menunjukkan bolehnya. Di antara dalilnya ada dua hadits dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha.” (Silsilah al-Huda wan Nur, no. 562) Kemudian beliau membawakan dua hadits di atas. Demikian juga hadits lain yang mendukung pendapat ini adalah hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata: أَنَّ وَلِيدَةً كَانَتْ سَوْدَاءَ لِحَيٍّ مِنَ العَرَبِ فَأَعْتَقُوهَا … فَجَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَتْ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي المَسْجِدِ أَوْ حِفْشٌ “Ada seorang budak wanita seorang ibu yang berkulit hitam milik salah satu kabilah pedalaman Arab, kemudian ia dibebaskan … kemudian ia datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan masuk Islam”. Aisyah berkata: “Ia memiliki tenda atau gubug di lingkungan masjid.” (HR. al-Bukhari no. 439) Sisi pendalilannya, tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan wanita tersebut untuk menjauhi masjid ketika ia haid. Dan juga tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mewanti-wanti para shahabiyah yang lain agar tidak mendekati masjid ketika sedang haid. Syaikh Khalid al-Mushlih juga menguatkan pendapat ini. Beliau menjelaskan dua syarat bolehnya wanita haid berdiam di masjid: “Wanita haid boleh masuk ke masjid jika ada kebutuhan, inilah pendapat yang lebih tepat. Karena terdapat dalam as-Shahih bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata pada ‘Aisyah, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Lalu ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya saya sedang haid”. Lalu Rasul shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Hal ini menunjukkan bahwa boleh saja bagi wanita haid untuk berdiam di masjid jika: (1) ada kebutuhan dan (2) darah haidnya tidak mengotori masjid. Demikian dua syarat yang mesti dipenuhi bagi wanita haid yang ingin masuk masjid.” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=GckNrogTbwY) Adapun hadits, لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ “Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haid dan orang yang junub.” (HR. Abu Daud no. 232) Hadits ini adalah hadits yang dha’if karena terdapat perawi bernama Jasrah bintu Dajjajah al -Amiriyyah. Ia perawi yang mudhtharib dalam periwayatannya, sehingga jumhur ulama hadits mendhaifkan hadits ini. Hadits ini didhaifkan oleh an-Nawawi, Ibnu Rajab, al-Baghawi, Syu’aib al-Arnauth, dan al-Albani. Wallahu a’lam, pendapat yang tampaknya lebih kuat adalah bolehnya wanita haid berdiam di masjid termasuk mengikuti pengajian di masjid. Namun dalam rangka ihtiyath (hati-hati), sebaiknya tidak berdiam di masjid kecuali ada kebutuhan saja. Ketika tidak ada kebutuhan, berusaha untuk menjauhi masjid. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kriteria Pemimpin Dalam Islam, Adakah Hukum Karma Dalam Islam, Cara Menghilangkan Kebiasaan Onani, Hukum Jima Dari Belakang, Macam Macam Kafarat, Niat Sholat Sunnah Jumat Visited 448 times, 1 visit(s) today Post Views: 506 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Wanita yang sedang haid apakah boleh mengikuti pengajian di masjid? Mohon penjelasannya, jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala sayyidil mursalin, Muhammadin, wa alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Para fuqaha dari empat madzhab mengharamkan wanita haid berdiam diri di masjid, kecuali hanya sekedar lewat saja. Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. an-Nisa: 43) Sisi pendalilannya, dalam ayat ini orang yang sedang junub dilarang mendekati shalat dan mendekati masjid, kecuali sekedar lewat saja. Dan wanita haid diqiyaskan kepada orang yang junub. Sehingga wanita haid pun dilarang mendekati masjid kecuali sekedar lewat saja. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha: أنَّها كانت تُرجِّلُ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وهي حائِضٌ، وهو معتكِفٌ في المسجِدِ، وهي في حُجرَتِها، يُناوِلُها رأسَه “Aisyah pernah menyisir rambut Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika Aisyah sedang haid dan Nabi sedang i’tikaf di masjid. Aisyah berdiri dari kamarnya dan tangannya menjangkau kepala Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” (HR. al-Bukhari no. 2046, Muslim no. 297) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid boleh berdiam diri di masjid tentu Aisyah sudah masuk ke masjid untuk menyisiri rambut Nabi, tidak perlu bersusah-susah menjangkau kepala Nabi dari luar masjid.  Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, dan al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’. Namun para ulama yang lain seperti madzhab Zhahiriyah, demikian juga Al Muzanni dari Syafi’iyyah, demikian juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad, membolehkan wanita haid berdiam diri di masjid. Mereka mengatakan bahwa tidak ada dalil yang shahih dan sharih (tegas) yang melarang wanita haid berdiam diri di masjid. Ayat di atas dan hadits Aisyah tidaklah sharih pendalilannya. Dan hukum asalnya adalah bara’ah al-ashliyyah, tidak ada beban untuk menjauhi masjid kecuali terdapat dalil yang shahih dan sharih. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya yang sedang haid: فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي “Silakan engkau lakukan apa saja yang seharusnya dilakukan ketika berhaji, kecuali thawaf di Baitullah sampai engkau suci.” (HR. al-Bukhari no.305, Muslim no.1211) Sisi pendalilannya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam hanya mengecualikan thawaf saja. Sehingga amalan haji yang lainnya seperti sa’i, berdoa, berdzikir, dll di Baitullah tidaklah terlarang. Ini menunjukkan bahwa wanita haid boleh berdiam di masjid. Dalam hadits lain disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله و عليه و سلم: نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ. Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda padanya, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Aisyah berkata, “Sesungguhnya aku sedang haid”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim no. 298) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid tidak boleh masuk masjid atau hanya boleh sekedar lewat saja, tentu Nabi akan mengatakan, “tidak mengapa jika sekedar lewat” atau “tidak mengapa jika hanya sebentar”. Namun realitanya Nabi berkata, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Ini menunjukkan bahwa wanita haid tidak mengapa masuk masjid dan berdiam di dalamnya selama darah haidnya tidak mengotori masjid. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliau mengatakan: نعم يجوز لهن ذلك لأن الحيض لا يمنع امرأة من حضور مجالس العلم ولو كانت في المساجد لأن دخول المرأة المسجد في الوقت الذي لا يوجد دليل يمنع منه فهناك على العكس من ذلك ما يدل على الجواز ، ومن هذه الأدلة حديثان للسّيدة عائشة رضي الله تعالى عنها “Benar, boleh bagi wanita haid untuk menghadiri pengajian di masjid. Karena haid tidak menghalangi wanita untuk hadir di majelis ilmu walaupun di masjid. Karena masuknya wanita haid ke masjid tidak ada dalil yang melarangnya, bahkan yang ada adalah dalil yang menunjukkan bolehnya. Di antara dalilnya ada dua hadits dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha.” (Silsilah al-Huda wan Nur, no. 562) Kemudian beliau membawakan dua hadits di atas. Demikian juga hadits lain yang mendukung pendapat ini adalah hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata: أَنَّ وَلِيدَةً كَانَتْ سَوْدَاءَ لِحَيٍّ مِنَ العَرَبِ فَأَعْتَقُوهَا … فَجَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَتْ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي المَسْجِدِ أَوْ حِفْشٌ “Ada seorang budak wanita seorang ibu yang berkulit hitam milik salah satu kabilah pedalaman Arab, kemudian ia dibebaskan … kemudian ia datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan masuk Islam”. Aisyah berkata: “Ia memiliki tenda atau gubug di lingkungan masjid.” (HR. al-Bukhari no. 439) Sisi pendalilannya, tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan wanita tersebut untuk menjauhi masjid ketika ia haid. Dan juga tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mewanti-wanti para shahabiyah yang lain agar tidak mendekati masjid ketika sedang haid. Syaikh Khalid al-Mushlih juga menguatkan pendapat ini. Beliau menjelaskan dua syarat bolehnya wanita haid berdiam di masjid: “Wanita haid boleh masuk ke masjid jika ada kebutuhan, inilah pendapat yang lebih tepat. Karena terdapat dalam as-Shahih bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata pada ‘Aisyah, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Lalu ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya saya sedang haid”. Lalu Rasul shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Hal ini menunjukkan bahwa boleh saja bagi wanita haid untuk berdiam di masjid jika: (1) ada kebutuhan dan (2) darah haidnya tidak mengotori masjid. Demikian dua syarat yang mesti dipenuhi bagi wanita haid yang ingin masuk masjid.” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=GckNrogTbwY) Adapun hadits, لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ “Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haid dan orang yang junub.” (HR. Abu Daud no. 232) Hadits ini adalah hadits yang dha’if karena terdapat perawi bernama Jasrah bintu Dajjajah al -Amiriyyah. Ia perawi yang mudhtharib dalam periwayatannya, sehingga jumhur ulama hadits mendhaifkan hadits ini. Hadits ini didhaifkan oleh an-Nawawi, Ibnu Rajab, al-Baghawi, Syu’aib al-Arnauth, dan al-Albani. Wallahu a’lam, pendapat yang tampaknya lebih kuat adalah bolehnya wanita haid berdiam di masjid termasuk mengikuti pengajian di masjid. Namun dalam rangka ihtiyath (hati-hati), sebaiknya tidak berdiam di masjid kecuali ada kebutuhan saja. Ketika tidak ada kebutuhan, berusaha untuk menjauhi masjid. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kriteria Pemimpin Dalam Islam, Adakah Hukum Karma Dalam Islam, Cara Menghilangkan Kebiasaan Onani, Hukum Jima Dari Belakang, Macam Macam Kafarat, Niat Sholat Sunnah Jumat Visited 448 times, 1 visit(s) today Post Views: 506 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1343115058&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Wanita yang sedang haid apakah boleh mengikuti pengajian di masjid? Mohon penjelasannya, jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala sayyidil mursalin, Muhammadin, wa alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Para fuqaha dari empat madzhab mengharamkan wanita haid berdiam diri di masjid, kecuali hanya sekedar lewat saja. Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. an-Nisa: 43) Sisi pendalilannya, dalam ayat ini orang yang sedang junub dilarang mendekati shalat dan mendekati masjid, kecuali sekedar lewat saja. Dan wanita haid diqiyaskan kepada orang yang junub. Sehingga wanita haid pun dilarang mendekati masjid kecuali sekedar lewat saja. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha: أنَّها كانت تُرجِّلُ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وهي حائِضٌ، وهو معتكِفٌ في المسجِدِ، وهي في حُجرَتِها، يُناوِلُها رأسَه “Aisyah pernah menyisir rambut Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika Aisyah sedang haid dan Nabi sedang i’tikaf di masjid. Aisyah berdiri dari kamarnya dan tangannya menjangkau kepala Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” (HR. al-Bukhari no. 2046, Muslim no. 297) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid boleh berdiam diri di masjid tentu Aisyah sudah masuk ke masjid untuk menyisiri rambut Nabi, tidak perlu bersusah-susah menjangkau kepala Nabi dari luar masjid.  Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, dan al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’. Namun para ulama yang lain seperti madzhab Zhahiriyah, demikian juga Al Muzanni dari Syafi’iyyah, demikian juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad, membolehkan wanita haid berdiam diri di masjid. Mereka mengatakan bahwa tidak ada dalil yang shahih dan sharih (tegas) yang melarang wanita haid berdiam diri di masjid. Ayat di atas dan hadits Aisyah tidaklah sharih pendalilannya. Dan hukum asalnya adalah bara’ah al-ashliyyah, tidak ada beban untuk menjauhi masjid kecuali terdapat dalil yang shahih dan sharih. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya yang sedang haid: فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي “Silakan engkau lakukan apa saja yang seharusnya dilakukan ketika berhaji, kecuali thawaf di Baitullah sampai engkau suci.” (HR. al-Bukhari no.305, Muslim no.1211) Sisi pendalilannya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam hanya mengecualikan thawaf saja. Sehingga amalan haji yang lainnya seperti sa’i, berdoa, berdzikir, dll di Baitullah tidaklah terlarang. Ini menunjukkan bahwa wanita haid boleh berdiam di masjid. Dalam hadits lain disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله و عليه و سلم: نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ. Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda padanya, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Aisyah berkata, “Sesungguhnya aku sedang haid”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim no. 298) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid tidak boleh masuk masjid atau hanya boleh sekedar lewat saja, tentu Nabi akan mengatakan, “tidak mengapa jika sekedar lewat” atau “tidak mengapa jika hanya sebentar”. Namun realitanya Nabi berkata, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Ini menunjukkan bahwa wanita haid tidak mengapa masuk masjid dan berdiam di dalamnya selama darah haidnya tidak mengotori masjid. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliau mengatakan: نعم يجوز لهن ذلك لأن الحيض لا يمنع امرأة من حضور مجالس العلم ولو كانت في المساجد لأن دخول المرأة المسجد في الوقت الذي لا يوجد دليل يمنع منه فهناك على العكس من ذلك ما يدل على الجواز ، ومن هذه الأدلة حديثان للسّيدة عائشة رضي الله تعالى عنها “Benar, boleh bagi wanita haid untuk menghadiri pengajian di masjid. Karena haid tidak menghalangi wanita untuk hadir di majelis ilmu walaupun di masjid. Karena masuknya wanita haid ke masjid tidak ada dalil yang melarangnya, bahkan yang ada adalah dalil yang menunjukkan bolehnya. Di antara dalilnya ada dua hadits dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha.” (Silsilah al-Huda wan Nur, no. 562) Kemudian beliau membawakan dua hadits di atas. Demikian juga hadits lain yang mendukung pendapat ini adalah hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata: أَنَّ وَلِيدَةً كَانَتْ سَوْدَاءَ لِحَيٍّ مِنَ العَرَبِ فَأَعْتَقُوهَا … فَجَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَتْ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي المَسْجِدِ أَوْ حِفْشٌ “Ada seorang budak wanita seorang ibu yang berkulit hitam milik salah satu kabilah pedalaman Arab, kemudian ia dibebaskan … kemudian ia datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan masuk Islam”. Aisyah berkata: “Ia memiliki tenda atau gubug di lingkungan masjid.” (HR. al-Bukhari no. 439) Sisi pendalilannya, tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan wanita tersebut untuk menjauhi masjid ketika ia haid. Dan juga tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mewanti-wanti para shahabiyah yang lain agar tidak mendekati masjid ketika sedang haid. Syaikh Khalid al-Mushlih juga menguatkan pendapat ini. Beliau menjelaskan dua syarat bolehnya wanita haid berdiam di masjid: “Wanita haid boleh masuk ke masjid jika ada kebutuhan, inilah pendapat yang lebih tepat. Karena terdapat dalam as-Shahih bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata pada ‘Aisyah, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Lalu ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya saya sedang haid”. Lalu Rasul shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Hal ini menunjukkan bahwa boleh saja bagi wanita haid untuk berdiam di masjid jika: (1) ada kebutuhan dan (2) darah haidnya tidak mengotori masjid. Demikian dua syarat yang mesti dipenuhi bagi wanita haid yang ingin masuk masjid.” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=GckNrogTbwY) Adapun hadits, لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ “Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haid dan orang yang junub.” (HR. Abu Daud no. 232) Hadits ini adalah hadits yang dha’if karena terdapat perawi bernama Jasrah bintu Dajjajah al -Amiriyyah. Ia perawi yang mudhtharib dalam periwayatannya, sehingga jumhur ulama hadits mendhaifkan hadits ini. Hadits ini didhaifkan oleh an-Nawawi, Ibnu Rajab, al-Baghawi, Syu’aib al-Arnauth, dan al-Albani. Wallahu a’lam, pendapat yang tampaknya lebih kuat adalah bolehnya wanita haid berdiam di masjid termasuk mengikuti pengajian di masjid. Namun dalam rangka ihtiyath (hati-hati), sebaiknya tidak berdiam di masjid kecuali ada kebutuhan saja. Ketika tidak ada kebutuhan, berusaha untuk menjauhi masjid. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kriteria Pemimpin Dalam Islam, Adakah Hukum Karma Dalam Islam, Cara Menghilangkan Kebiasaan Onani, Hukum Jima Dari Belakang, Macam Macam Kafarat, Niat Sholat Sunnah Jumat Visited 448 times, 1 visit(s) today Post Views: 506 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengenal Tauhid dan Syirik Lebih Dekat

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Apakah tauhid itu? 2. Cakupan tauhid 2.1. Pertama: Tauhid rububiyyah 3. Apakah syirik itu? 4. Kedudukan dan keutamaan tauhid 5. Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil? 6. Macam-macam syirik besar 6.1. Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah) 6.2. Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah) 6.3. Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat Allah 7. Macam-macam syirik kecil Apakah tauhid itu?Pengertian tauhid adalah sebagai berikut,إفراد الله سبحانه بما يَخْتَصُ به من الربوبية، والألوهية و الأسماء و الصفات“Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kekhususan-Nya, yaitu perbuatan (rububiyyah) Allah, hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), serta nama dan sifat Allah (al-asma` was-shifat).”Maksudnya adalah meyakini hal itu dan melaksanakan tuntutannya, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jadi, “mengesakan Allah” cakupannya adalah dengan hati dan anggota tubuh zahir (dengan keyakinan, ucapan, maupun perbuatan).Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka?Cakupan tauhidPertama: Tauhid rububiyyahإفراد الله بأفعاله“Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan kekhususan-Nya, seperti menciptakan makhluk, mengatur makhluk, memberi rezeki, memberi manfaat, menimpakan musibah/ keburukan, menghidupkan, mematikan, dan lainnya yang merupakan kekhususan Allah.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ“Segala pujian (kesempurnaan) hanya bagi Allah, Tuhan (Rabb) seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)Kedua: Tauhid uluhiyyahإفراد الله بالعبادة“Mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak diibadahi, tidak boleh mempersembahkan peribadahan kepada selain-Nya dalam bentuk ibadah lahiriah maupun yang batin, ucapan maupun perbuatan.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah sesembahan selain Allah.” (QS. An-Nahl: 36)Ketiga: Tauhid al-asma` was-shifatإفراد الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلى“Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, (yaitu dengan menetapkan seluruh nama dan sifat Allah dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dan tuntutannya, serta meniadakan kesamaan Allah dengan makhluk dalam nama dan sifat-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak bernama dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia (paling sempurna) dan meyakini selain Allah itu tidaklah berhak bernama dan bersifat dengannya.Dalil:Di antaranya adalah Allah berfirman,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى“Dan hanya milik Allahlah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al-A’raf: 180)Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhApakah syirik itu?Syirik ada dua macam:Pertama, syirik besar, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` dan shifat).Definisi di atas berdasarkan firman Allah Ta’ala,اِذْ نُسَوِّيْكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ“Karena kami mempersamakan kalian (berhala-berhala) dengan Tuhan seluruh makhluk.”  (QS. Asy-Syu’ara’: 98)Syirik besar ini mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dinamakan “besar”, karena adanya syirik yang di bawahnya, yang tingkat keburukannya tidak sampai sepertinya, yaitu syirik kecil.Contoh: berdoa kepada mayit dan ibadah isti’adzah (meminta perlindungan) kepada jin, ibadah pengaliran darah binatang (menyembelih) untuk makhluk halus.Kedua, syirik kecil, yaitu segala yang dilarang dalam syari’at sedangkan dalam nash disebut dengan nama syirik, dan menjadi sarana menghantarkan kepada kesyirikan besar.Syirik kecil ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena tidak sampai ada unsur menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` was-shifat).Contoh: memakai jimat dari benda-benda sepele seperti, gelang akar tertentu, tulang, cincin akik yang dibacakan mantra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من علق تميمة فقد أشرك“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat kalung manik-manik), maka ia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Imam Ahmad, sahih)Kedudukan dan keutamaan tauhidTauhid memiliki kedudukan yang tinggi dalam bangunan Islam dan keutamaan yang besar bagi pelakunya, di antaranya:Tauhid adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia.Tauhid adalah tujuan pengutusan para rasul ‘alaihish shalatu wassalam.Tauhid adalah perintah pertama.Tauhid adalah hak Allah terbesar.Tauhid adalah kewajiban dan perintah terbesar.Tauhid adalah hak Allah yang wajib ditunaikan.Lawan dari tauhid adalah dosa terbesar, yaitu syirik.Tauhid adalah materi dakwah pertama kali.Tauhid adalah dasar dan inti ajaran Islam.Tauhid adalah keimanan yang terbaik dan tertinggi.Ahli tauhid mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat.Ahli tauhid pasti masuk surga.Ahli tauhid pasti terbebas dari kekekalan di neraka.Timbangan tauhid mengalahkan timbangan langit dan bumi.Ahli tauhid berpeluang diampuni seluruh dosanya.Ahli tauhid yang sempurna masuk surga tanpa hisab tanpa azab.Ahli tauhid bahagia di dunia dan akhirat.Ahli tauhid diterima amal salehnya.Ahli tauhid mendapatkan syafa’at di akhirat.Ahli tauhid merdeka dari penghambaan kepada selain Allah.Ahli tauhid adalah sosok hamba Allah yang mengesakan-Nya subhanahu dalam kekhususan-Nya dan menghindari menyekutukan-Nya (syirik) dalam kekhususan-Nya, baik dalam keyakinan ucapan maupun perbuatan.Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil?Perbedaan syirik besar dan syirik kecil dapat terlihat dari beberapa tinjauan, yaitu:Diampuni atau tidaknyaPelaku syirik akbar tidak diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat. Adapun syirik kecil, ulama berselisih pendapat jika pelakunya meninggal tidak bertobat. Jumhur ulama berpendapat bahwa pelakunya tergantung kehendak Allah. Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pelakunya tidak diampuni, dan seandainya harus diazab, tidak kekal di neraka.Menggugurkan amal atau tidaknyaSyirik akbar mengugurkan seluruh amal saleh pelakunya, sedangkan syirik kecil hanya menggugurkan amal yang menyertainya.Mengeluarkan dari Islam atau tidaknyaSyirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam, sedangkan syirik kecil tidak.Kekal di neraka atau tidaknyaJika pelaku syirik akbar meninggal dunia, maka kekal selamanya di neraka, sedangkan syirik kecil tidak.Status dosanyaSyirik besar termasuk pembatal keislaman (kekafiran), sedangkan syirik kecil (secara jenis dan secara umum) termasuk dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar. Wallahu a’lam.Baca Juga: Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahMacam-macam syirik besarDitinjau dari sisi kekhususan Allah yang dilanggar, maka syirik besar terbagi menjadi tiga:Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang mampu menciptakan, atau menghidupkan, atau mematikan, atau memiliki sesuatu dengan kepemilikan mutlak, hakiki dan sempurna, atau mengatur alam semesta.Dalam masalah ucapanContoh:Mengingkari adanya Sang Pencipta dengan ucapan, baik dalam teori evolusi makhluk yang meyakini tidak ada pencipta, atau ucapan menyatunya Tuhan dengan makhluk, bahwa makhluk itulah Tuhan.Dalam masalah perbuatanContoh:Memakai jimat gelang dengan keyakinan bahwa gelang tersebut yang menyelamatkan dan menentukan nasib pemakainya dengan sendirinya, di luar kekuasaan Allah.Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang berhak ditaati dengan ketaatan yang mutlak sebagaimana ketaatan kepada Allah. Sehingga mengikuti dalam menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau sebaliknya sebagaimana dalam surah Asy-Syura ayat 21. Contoh lainnya, mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah, sebagaimana dalam surah Al-Baqarah ayat 165.Dalam masalah ucapanContoh:Berdoa kepada selain Allah, ibadah istighatsah kepada selain Allah, ibadah isti’adzah kepada jin atau “penunggu” pantai selatan.Dalam masalah perbuatanContoh:Salat atau sujud menyembah selain Allah, atau ritual menyembelih hewan untuk mengagungkan mayit/ jin, atau mempersembahkan ibadah nazar untuk selain Allah.Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat AllahDalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang tahu perkara gaib hakiki, atau meyakini ada selain Allah yang menyayangi makhluk sebagaimana kasih sayang Allah, yaitu mampu mengampuni dosa makhluk dan memasukkannya ke dalam surga.Dalam masalah ucapanContoh:Memberi nama selain Allah dengan nama khusus Allah disertai makna husna yang terkandung di dalamnya, seperti memberi nama patung dengan nama Allah yang husna: Al-Ahad, Ar-Rahman, dan Ash-Shamad.Dalam masalah perbuatanContoh:Mengagungkan diri dan menyombongkannya sebagaimana mengagungkan Allah serta mengajak orang lain untuk tunduk kepadanya secara mutlak, menggantungkan rasa harap, tawakal, dan takut kepadanya secara totalitas.Macam-macam syirik kecilDitinjau dari dengan apa syirik kecil dilakukan, maka syirik kecil terbagi menjadi tiga:Syirik kecil dalam keyakinanContoh:Pemakai jimat gelang yang meyakini bahwa Pencipta sebab adalah hanya Allah semata, namun jimat gelang itu diyakini hanya sebagai sebab yang hakikatnya bukan sebab (sebab palsu). Namun karena disangka sebagai sebab, hati pemakainya ada ketergantungan terhadap jimat tersebut. Berdasarkan dalil, hal ini divonis syirik, meski tingkatan syiriknya tidak sampai syirik besar.Syirik kecil dalam ucapanContoh:Bersumpah dengan nama selain Allah dikatakan syirik kecil. Hal ini karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan tidak sampai derajat syirik besar, hanya sebagai sarana penghantar kepada syirik besar.Syirik kecil dalam perbuatanContoh:Riya` yang sedikit dalam beribadah. Dikatakan syirik kecil karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan menjadi sarana menghantarkan kepada syirik besar.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ Baca Juga:Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam KesyirikanSyirik adalah Kezaliman Terbesar***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Sholat Pakai Masker, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438h, Ponpes Al Minhaj Bogor, Fungsi Ibadah Dalam IslamTags: amalan syirikAqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddosa besardosa syirikManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyirikTauhid

Mengenal Tauhid dan Syirik Lebih Dekat

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Apakah tauhid itu? 2. Cakupan tauhid 2.1. Pertama: Tauhid rububiyyah 3. Apakah syirik itu? 4. Kedudukan dan keutamaan tauhid 5. Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil? 6. Macam-macam syirik besar 6.1. Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah) 6.2. Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah) 6.3. Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat Allah 7. Macam-macam syirik kecil Apakah tauhid itu?Pengertian tauhid adalah sebagai berikut,إفراد الله سبحانه بما يَخْتَصُ به من الربوبية، والألوهية و الأسماء و الصفات“Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kekhususan-Nya, yaitu perbuatan (rububiyyah) Allah, hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), serta nama dan sifat Allah (al-asma` was-shifat).”Maksudnya adalah meyakini hal itu dan melaksanakan tuntutannya, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jadi, “mengesakan Allah” cakupannya adalah dengan hati dan anggota tubuh zahir (dengan keyakinan, ucapan, maupun perbuatan).Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka?Cakupan tauhidPertama: Tauhid rububiyyahإفراد الله بأفعاله“Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan kekhususan-Nya, seperti menciptakan makhluk, mengatur makhluk, memberi rezeki, memberi manfaat, menimpakan musibah/ keburukan, menghidupkan, mematikan, dan lainnya yang merupakan kekhususan Allah.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ“Segala pujian (kesempurnaan) hanya bagi Allah, Tuhan (Rabb) seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)Kedua: Tauhid uluhiyyahإفراد الله بالعبادة“Mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak diibadahi, tidak boleh mempersembahkan peribadahan kepada selain-Nya dalam bentuk ibadah lahiriah maupun yang batin, ucapan maupun perbuatan.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah sesembahan selain Allah.” (QS. An-Nahl: 36)Ketiga: Tauhid al-asma` was-shifatإفراد الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلى“Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, (yaitu dengan menetapkan seluruh nama dan sifat Allah dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dan tuntutannya, serta meniadakan kesamaan Allah dengan makhluk dalam nama dan sifat-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak bernama dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia (paling sempurna) dan meyakini selain Allah itu tidaklah berhak bernama dan bersifat dengannya.Dalil:Di antaranya adalah Allah berfirman,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى“Dan hanya milik Allahlah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al-A’raf: 180)Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhApakah syirik itu?Syirik ada dua macam:Pertama, syirik besar, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` dan shifat).Definisi di atas berdasarkan firman Allah Ta’ala,اِذْ نُسَوِّيْكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ“Karena kami mempersamakan kalian (berhala-berhala) dengan Tuhan seluruh makhluk.”  (QS. Asy-Syu’ara’: 98)Syirik besar ini mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dinamakan “besar”, karena adanya syirik yang di bawahnya, yang tingkat keburukannya tidak sampai sepertinya, yaitu syirik kecil.Contoh: berdoa kepada mayit dan ibadah isti’adzah (meminta perlindungan) kepada jin, ibadah pengaliran darah binatang (menyembelih) untuk makhluk halus.Kedua, syirik kecil, yaitu segala yang dilarang dalam syari’at sedangkan dalam nash disebut dengan nama syirik, dan menjadi sarana menghantarkan kepada kesyirikan besar.Syirik kecil ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena tidak sampai ada unsur menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` was-shifat).Contoh: memakai jimat dari benda-benda sepele seperti, gelang akar tertentu, tulang, cincin akik yang dibacakan mantra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من علق تميمة فقد أشرك“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat kalung manik-manik), maka ia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Imam Ahmad, sahih)Kedudukan dan keutamaan tauhidTauhid memiliki kedudukan yang tinggi dalam bangunan Islam dan keutamaan yang besar bagi pelakunya, di antaranya:Tauhid adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia.Tauhid adalah tujuan pengutusan para rasul ‘alaihish shalatu wassalam.Tauhid adalah perintah pertama.Tauhid adalah hak Allah terbesar.Tauhid adalah kewajiban dan perintah terbesar.Tauhid adalah hak Allah yang wajib ditunaikan.Lawan dari tauhid adalah dosa terbesar, yaitu syirik.Tauhid adalah materi dakwah pertama kali.Tauhid adalah dasar dan inti ajaran Islam.Tauhid adalah keimanan yang terbaik dan tertinggi.Ahli tauhid mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat.Ahli tauhid pasti masuk surga.Ahli tauhid pasti terbebas dari kekekalan di neraka.Timbangan tauhid mengalahkan timbangan langit dan bumi.Ahli tauhid berpeluang diampuni seluruh dosanya.Ahli tauhid yang sempurna masuk surga tanpa hisab tanpa azab.Ahli tauhid bahagia di dunia dan akhirat.Ahli tauhid diterima amal salehnya.Ahli tauhid mendapatkan syafa’at di akhirat.Ahli tauhid merdeka dari penghambaan kepada selain Allah.Ahli tauhid adalah sosok hamba Allah yang mengesakan-Nya subhanahu dalam kekhususan-Nya dan menghindari menyekutukan-Nya (syirik) dalam kekhususan-Nya, baik dalam keyakinan ucapan maupun perbuatan.Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil?Perbedaan syirik besar dan syirik kecil dapat terlihat dari beberapa tinjauan, yaitu:Diampuni atau tidaknyaPelaku syirik akbar tidak diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat. Adapun syirik kecil, ulama berselisih pendapat jika pelakunya meninggal tidak bertobat. Jumhur ulama berpendapat bahwa pelakunya tergantung kehendak Allah. Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pelakunya tidak diampuni, dan seandainya harus diazab, tidak kekal di neraka.Menggugurkan amal atau tidaknyaSyirik akbar mengugurkan seluruh amal saleh pelakunya, sedangkan syirik kecil hanya menggugurkan amal yang menyertainya.Mengeluarkan dari Islam atau tidaknyaSyirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam, sedangkan syirik kecil tidak.Kekal di neraka atau tidaknyaJika pelaku syirik akbar meninggal dunia, maka kekal selamanya di neraka, sedangkan syirik kecil tidak.Status dosanyaSyirik besar termasuk pembatal keislaman (kekafiran), sedangkan syirik kecil (secara jenis dan secara umum) termasuk dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar. Wallahu a’lam.Baca Juga: Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahMacam-macam syirik besarDitinjau dari sisi kekhususan Allah yang dilanggar, maka syirik besar terbagi menjadi tiga:Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang mampu menciptakan, atau menghidupkan, atau mematikan, atau memiliki sesuatu dengan kepemilikan mutlak, hakiki dan sempurna, atau mengatur alam semesta.Dalam masalah ucapanContoh:Mengingkari adanya Sang Pencipta dengan ucapan, baik dalam teori evolusi makhluk yang meyakini tidak ada pencipta, atau ucapan menyatunya Tuhan dengan makhluk, bahwa makhluk itulah Tuhan.Dalam masalah perbuatanContoh:Memakai jimat gelang dengan keyakinan bahwa gelang tersebut yang menyelamatkan dan menentukan nasib pemakainya dengan sendirinya, di luar kekuasaan Allah.Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang berhak ditaati dengan ketaatan yang mutlak sebagaimana ketaatan kepada Allah. Sehingga mengikuti dalam menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau sebaliknya sebagaimana dalam surah Asy-Syura ayat 21. Contoh lainnya, mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah, sebagaimana dalam surah Al-Baqarah ayat 165.Dalam masalah ucapanContoh:Berdoa kepada selain Allah, ibadah istighatsah kepada selain Allah, ibadah isti’adzah kepada jin atau “penunggu” pantai selatan.Dalam masalah perbuatanContoh:Salat atau sujud menyembah selain Allah, atau ritual menyembelih hewan untuk mengagungkan mayit/ jin, atau mempersembahkan ibadah nazar untuk selain Allah.Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat AllahDalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang tahu perkara gaib hakiki, atau meyakini ada selain Allah yang menyayangi makhluk sebagaimana kasih sayang Allah, yaitu mampu mengampuni dosa makhluk dan memasukkannya ke dalam surga.Dalam masalah ucapanContoh:Memberi nama selain Allah dengan nama khusus Allah disertai makna husna yang terkandung di dalamnya, seperti memberi nama patung dengan nama Allah yang husna: Al-Ahad, Ar-Rahman, dan Ash-Shamad.Dalam masalah perbuatanContoh:Mengagungkan diri dan menyombongkannya sebagaimana mengagungkan Allah serta mengajak orang lain untuk tunduk kepadanya secara mutlak, menggantungkan rasa harap, tawakal, dan takut kepadanya secara totalitas.Macam-macam syirik kecilDitinjau dari dengan apa syirik kecil dilakukan, maka syirik kecil terbagi menjadi tiga:Syirik kecil dalam keyakinanContoh:Pemakai jimat gelang yang meyakini bahwa Pencipta sebab adalah hanya Allah semata, namun jimat gelang itu diyakini hanya sebagai sebab yang hakikatnya bukan sebab (sebab palsu). Namun karena disangka sebagai sebab, hati pemakainya ada ketergantungan terhadap jimat tersebut. Berdasarkan dalil, hal ini divonis syirik, meski tingkatan syiriknya tidak sampai syirik besar.Syirik kecil dalam ucapanContoh:Bersumpah dengan nama selain Allah dikatakan syirik kecil. Hal ini karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan tidak sampai derajat syirik besar, hanya sebagai sarana penghantar kepada syirik besar.Syirik kecil dalam perbuatanContoh:Riya` yang sedikit dalam beribadah. Dikatakan syirik kecil karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan menjadi sarana menghantarkan kepada syirik besar.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ Baca Juga:Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam KesyirikanSyirik adalah Kezaliman Terbesar***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Sholat Pakai Masker, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438h, Ponpes Al Minhaj Bogor, Fungsi Ibadah Dalam IslamTags: amalan syirikAqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddosa besardosa syirikManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyirikTauhid
Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Apakah tauhid itu? 2. Cakupan tauhid 2.1. Pertama: Tauhid rububiyyah 3. Apakah syirik itu? 4. Kedudukan dan keutamaan tauhid 5. Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil? 6. Macam-macam syirik besar 6.1. Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah) 6.2. Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah) 6.3. Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat Allah 7. Macam-macam syirik kecil Apakah tauhid itu?Pengertian tauhid adalah sebagai berikut,إفراد الله سبحانه بما يَخْتَصُ به من الربوبية، والألوهية و الأسماء و الصفات“Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kekhususan-Nya, yaitu perbuatan (rububiyyah) Allah, hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), serta nama dan sifat Allah (al-asma` was-shifat).”Maksudnya adalah meyakini hal itu dan melaksanakan tuntutannya, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jadi, “mengesakan Allah” cakupannya adalah dengan hati dan anggota tubuh zahir (dengan keyakinan, ucapan, maupun perbuatan).Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka?Cakupan tauhidPertama: Tauhid rububiyyahإفراد الله بأفعاله“Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan kekhususan-Nya, seperti menciptakan makhluk, mengatur makhluk, memberi rezeki, memberi manfaat, menimpakan musibah/ keburukan, menghidupkan, mematikan, dan lainnya yang merupakan kekhususan Allah.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ“Segala pujian (kesempurnaan) hanya bagi Allah, Tuhan (Rabb) seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)Kedua: Tauhid uluhiyyahإفراد الله بالعبادة“Mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak diibadahi, tidak boleh mempersembahkan peribadahan kepada selain-Nya dalam bentuk ibadah lahiriah maupun yang batin, ucapan maupun perbuatan.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah sesembahan selain Allah.” (QS. An-Nahl: 36)Ketiga: Tauhid al-asma` was-shifatإفراد الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلى“Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, (yaitu dengan menetapkan seluruh nama dan sifat Allah dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dan tuntutannya, serta meniadakan kesamaan Allah dengan makhluk dalam nama dan sifat-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak bernama dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia (paling sempurna) dan meyakini selain Allah itu tidaklah berhak bernama dan bersifat dengannya.Dalil:Di antaranya adalah Allah berfirman,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى“Dan hanya milik Allahlah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al-A’raf: 180)Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhApakah syirik itu?Syirik ada dua macam:Pertama, syirik besar, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` dan shifat).Definisi di atas berdasarkan firman Allah Ta’ala,اِذْ نُسَوِّيْكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ“Karena kami mempersamakan kalian (berhala-berhala) dengan Tuhan seluruh makhluk.”  (QS. Asy-Syu’ara’: 98)Syirik besar ini mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dinamakan “besar”, karena adanya syirik yang di bawahnya, yang tingkat keburukannya tidak sampai sepertinya, yaitu syirik kecil.Contoh: berdoa kepada mayit dan ibadah isti’adzah (meminta perlindungan) kepada jin, ibadah pengaliran darah binatang (menyembelih) untuk makhluk halus.Kedua, syirik kecil, yaitu segala yang dilarang dalam syari’at sedangkan dalam nash disebut dengan nama syirik, dan menjadi sarana menghantarkan kepada kesyirikan besar.Syirik kecil ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena tidak sampai ada unsur menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` was-shifat).Contoh: memakai jimat dari benda-benda sepele seperti, gelang akar tertentu, tulang, cincin akik yang dibacakan mantra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من علق تميمة فقد أشرك“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat kalung manik-manik), maka ia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Imam Ahmad, sahih)Kedudukan dan keutamaan tauhidTauhid memiliki kedudukan yang tinggi dalam bangunan Islam dan keutamaan yang besar bagi pelakunya, di antaranya:Tauhid adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia.Tauhid adalah tujuan pengutusan para rasul ‘alaihish shalatu wassalam.Tauhid adalah perintah pertama.Tauhid adalah hak Allah terbesar.Tauhid adalah kewajiban dan perintah terbesar.Tauhid adalah hak Allah yang wajib ditunaikan.Lawan dari tauhid adalah dosa terbesar, yaitu syirik.Tauhid adalah materi dakwah pertama kali.Tauhid adalah dasar dan inti ajaran Islam.Tauhid adalah keimanan yang terbaik dan tertinggi.Ahli tauhid mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat.Ahli tauhid pasti masuk surga.Ahli tauhid pasti terbebas dari kekekalan di neraka.Timbangan tauhid mengalahkan timbangan langit dan bumi.Ahli tauhid berpeluang diampuni seluruh dosanya.Ahli tauhid yang sempurna masuk surga tanpa hisab tanpa azab.Ahli tauhid bahagia di dunia dan akhirat.Ahli tauhid diterima amal salehnya.Ahli tauhid mendapatkan syafa’at di akhirat.Ahli tauhid merdeka dari penghambaan kepada selain Allah.Ahli tauhid adalah sosok hamba Allah yang mengesakan-Nya subhanahu dalam kekhususan-Nya dan menghindari menyekutukan-Nya (syirik) dalam kekhususan-Nya, baik dalam keyakinan ucapan maupun perbuatan.Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil?Perbedaan syirik besar dan syirik kecil dapat terlihat dari beberapa tinjauan, yaitu:Diampuni atau tidaknyaPelaku syirik akbar tidak diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat. Adapun syirik kecil, ulama berselisih pendapat jika pelakunya meninggal tidak bertobat. Jumhur ulama berpendapat bahwa pelakunya tergantung kehendak Allah. Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pelakunya tidak diampuni, dan seandainya harus diazab, tidak kekal di neraka.Menggugurkan amal atau tidaknyaSyirik akbar mengugurkan seluruh amal saleh pelakunya, sedangkan syirik kecil hanya menggugurkan amal yang menyertainya.Mengeluarkan dari Islam atau tidaknyaSyirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam, sedangkan syirik kecil tidak.Kekal di neraka atau tidaknyaJika pelaku syirik akbar meninggal dunia, maka kekal selamanya di neraka, sedangkan syirik kecil tidak.Status dosanyaSyirik besar termasuk pembatal keislaman (kekafiran), sedangkan syirik kecil (secara jenis dan secara umum) termasuk dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar. Wallahu a’lam.Baca Juga: Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahMacam-macam syirik besarDitinjau dari sisi kekhususan Allah yang dilanggar, maka syirik besar terbagi menjadi tiga:Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang mampu menciptakan, atau menghidupkan, atau mematikan, atau memiliki sesuatu dengan kepemilikan mutlak, hakiki dan sempurna, atau mengatur alam semesta.Dalam masalah ucapanContoh:Mengingkari adanya Sang Pencipta dengan ucapan, baik dalam teori evolusi makhluk yang meyakini tidak ada pencipta, atau ucapan menyatunya Tuhan dengan makhluk, bahwa makhluk itulah Tuhan.Dalam masalah perbuatanContoh:Memakai jimat gelang dengan keyakinan bahwa gelang tersebut yang menyelamatkan dan menentukan nasib pemakainya dengan sendirinya, di luar kekuasaan Allah.Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang berhak ditaati dengan ketaatan yang mutlak sebagaimana ketaatan kepada Allah. Sehingga mengikuti dalam menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau sebaliknya sebagaimana dalam surah Asy-Syura ayat 21. Contoh lainnya, mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah, sebagaimana dalam surah Al-Baqarah ayat 165.Dalam masalah ucapanContoh:Berdoa kepada selain Allah, ibadah istighatsah kepada selain Allah, ibadah isti’adzah kepada jin atau “penunggu” pantai selatan.Dalam masalah perbuatanContoh:Salat atau sujud menyembah selain Allah, atau ritual menyembelih hewan untuk mengagungkan mayit/ jin, atau mempersembahkan ibadah nazar untuk selain Allah.Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat AllahDalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang tahu perkara gaib hakiki, atau meyakini ada selain Allah yang menyayangi makhluk sebagaimana kasih sayang Allah, yaitu mampu mengampuni dosa makhluk dan memasukkannya ke dalam surga.Dalam masalah ucapanContoh:Memberi nama selain Allah dengan nama khusus Allah disertai makna husna yang terkandung di dalamnya, seperti memberi nama patung dengan nama Allah yang husna: Al-Ahad, Ar-Rahman, dan Ash-Shamad.Dalam masalah perbuatanContoh:Mengagungkan diri dan menyombongkannya sebagaimana mengagungkan Allah serta mengajak orang lain untuk tunduk kepadanya secara mutlak, menggantungkan rasa harap, tawakal, dan takut kepadanya secara totalitas.Macam-macam syirik kecilDitinjau dari dengan apa syirik kecil dilakukan, maka syirik kecil terbagi menjadi tiga:Syirik kecil dalam keyakinanContoh:Pemakai jimat gelang yang meyakini bahwa Pencipta sebab adalah hanya Allah semata, namun jimat gelang itu diyakini hanya sebagai sebab yang hakikatnya bukan sebab (sebab palsu). Namun karena disangka sebagai sebab, hati pemakainya ada ketergantungan terhadap jimat tersebut. Berdasarkan dalil, hal ini divonis syirik, meski tingkatan syiriknya tidak sampai syirik besar.Syirik kecil dalam ucapanContoh:Bersumpah dengan nama selain Allah dikatakan syirik kecil. Hal ini karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan tidak sampai derajat syirik besar, hanya sebagai sarana penghantar kepada syirik besar.Syirik kecil dalam perbuatanContoh:Riya` yang sedikit dalam beribadah. Dikatakan syirik kecil karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan menjadi sarana menghantarkan kepada syirik besar.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ Baca Juga:Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam KesyirikanSyirik adalah Kezaliman Terbesar***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Sholat Pakai Masker, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438h, Ponpes Al Minhaj Bogor, Fungsi Ibadah Dalam IslamTags: amalan syirikAqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddosa besardosa syirikManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyirikTauhid


Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Apakah tauhid itu? 2. Cakupan tauhid 2.1. Pertama: Tauhid rububiyyah 3. Apakah syirik itu? 4. Kedudukan dan keutamaan tauhid 5. Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil? 6. Macam-macam syirik besar 6.1. Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah) 6.2. Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah) 6.3. Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat Allah 7. Macam-macam syirik kecil Apakah tauhid itu?Pengertian tauhid adalah sebagai berikut,إفراد الله سبحانه بما يَخْتَصُ به من الربوبية، والألوهية و الأسماء و الصفات“Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kekhususan-Nya, yaitu perbuatan (rububiyyah) Allah, hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), serta nama dan sifat Allah (al-asma` was-shifat).”Maksudnya adalah meyakini hal itu dan melaksanakan tuntutannya, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jadi, “mengesakan Allah” cakupannya adalah dengan hati dan anggota tubuh zahir (dengan keyakinan, ucapan, maupun perbuatan).Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka?Cakupan tauhidPertama: Tauhid rububiyyahإفراد الله بأفعاله“Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan kekhususan-Nya, seperti menciptakan makhluk, mengatur makhluk, memberi rezeki, memberi manfaat, menimpakan musibah/ keburukan, menghidupkan, mematikan, dan lainnya yang merupakan kekhususan Allah.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ“Segala pujian (kesempurnaan) hanya bagi Allah, Tuhan (Rabb) seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)Kedua: Tauhid uluhiyyahإفراد الله بالعبادة“Mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak diibadahi, tidak boleh mempersembahkan peribadahan kepada selain-Nya dalam bentuk ibadah lahiriah maupun yang batin, ucapan maupun perbuatan.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah sesembahan selain Allah.” (QS. An-Nahl: 36)Ketiga: Tauhid al-asma` was-shifatإفراد الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلى“Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, (yaitu dengan menetapkan seluruh nama dan sifat Allah dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dan tuntutannya, serta meniadakan kesamaan Allah dengan makhluk dalam nama dan sifat-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak bernama dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia (paling sempurna) dan meyakini selain Allah itu tidaklah berhak bernama dan bersifat dengannya.Dalil:Di antaranya adalah Allah berfirman,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى“Dan hanya milik Allahlah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al-A’raf: 180)Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhApakah syirik itu?Syirik ada dua macam:Pertama, syirik besar, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` dan shifat).Definisi di atas berdasarkan firman Allah Ta’ala,اِذْ نُسَوِّيْكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ“Karena kami mempersamakan kalian (berhala-berhala) dengan Tuhan seluruh makhluk.”  (QS. Asy-Syu’ara’: 98)Syirik besar ini mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dinamakan “besar”, karena adanya syirik yang di bawahnya, yang tingkat keburukannya tidak sampai sepertinya, yaitu syirik kecil.Contoh: berdoa kepada mayit dan ibadah isti’adzah (meminta perlindungan) kepada jin, ibadah pengaliran darah binatang (menyembelih) untuk makhluk halus.Kedua, syirik kecil, yaitu segala yang dilarang dalam syari’at sedangkan dalam nash disebut dengan nama syirik, dan menjadi sarana menghantarkan kepada kesyirikan besar.Syirik kecil ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena tidak sampai ada unsur menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` was-shifat).Contoh: memakai jimat dari benda-benda sepele seperti, gelang akar tertentu, tulang, cincin akik yang dibacakan mantra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من علق تميمة فقد أشرك“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat kalung manik-manik), maka ia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Imam Ahmad, sahih)Kedudukan dan keutamaan tauhidTauhid memiliki kedudukan yang tinggi dalam bangunan Islam dan keutamaan yang besar bagi pelakunya, di antaranya:Tauhid adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia.Tauhid adalah tujuan pengutusan para rasul ‘alaihish shalatu wassalam.Tauhid adalah perintah pertama.Tauhid adalah hak Allah terbesar.Tauhid adalah kewajiban dan perintah terbesar.Tauhid adalah hak Allah yang wajib ditunaikan.Lawan dari tauhid adalah dosa terbesar, yaitu syirik.Tauhid adalah materi dakwah pertama kali.Tauhid adalah dasar dan inti ajaran Islam.Tauhid adalah keimanan yang terbaik dan tertinggi.Ahli tauhid mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat.Ahli tauhid pasti masuk surga.Ahli tauhid pasti terbebas dari kekekalan di neraka.Timbangan tauhid mengalahkan timbangan langit dan bumi.Ahli tauhid berpeluang diampuni seluruh dosanya.Ahli tauhid yang sempurna masuk surga tanpa hisab tanpa azab.Ahli tauhid bahagia di dunia dan akhirat.Ahli tauhid diterima amal salehnya.Ahli tauhid mendapatkan syafa’at di akhirat.Ahli tauhid merdeka dari penghambaan kepada selain Allah.Ahli tauhid adalah sosok hamba Allah yang mengesakan-Nya subhanahu dalam kekhususan-Nya dan menghindari menyekutukan-Nya (syirik) dalam kekhususan-Nya, baik dalam keyakinan ucapan maupun perbuatan.Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil?Perbedaan syirik besar dan syirik kecil dapat terlihat dari beberapa tinjauan, yaitu:Diampuni atau tidaknyaPelaku syirik akbar tidak diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat. Adapun syirik kecil, ulama berselisih pendapat jika pelakunya meninggal tidak bertobat. Jumhur ulama berpendapat bahwa pelakunya tergantung kehendak Allah. Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pelakunya tidak diampuni, dan seandainya harus diazab, tidak kekal di neraka.Menggugurkan amal atau tidaknyaSyirik akbar mengugurkan seluruh amal saleh pelakunya, sedangkan syirik kecil hanya menggugurkan amal yang menyertainya.Mengeluarkan dari Islam atau tidaknyaSyirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam, sedangkan syirik kecil tidak.Kekal di neraka atau tidaknyaJika pelaku syirik akbar meninggal dunia, maka kekal selamanya di neraka, sedangkan syirik kecil tidak.Status dosanyaSyirik besar termasuk pembatal keislaman (kekafiran), sedangkan syirik kecil (secara jenis dan secara umum) termasuk dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar. Wallahu a’lam.Baca Juga: Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahMacam-macam syirik besarDitinjau dari sisi kekhususan Allah yang dilanggar, maka syirik besar terbagi menjadi tiga:Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang mampu menciptakan, atau menghidupkan, atau mematikan, atau memiliki sesuatu dengan kepemilikan mutlak, hakiki dan sempurna, atau mengatur alam semesta.Dalam masalah ucapanContoh:Mengingkari adanya Sang Pencipta dengan ucapan, baik dalam teori evolusi makhluk yang meyakini tidak ada pencipta, atau ucapan menyatunya Tuhan dengan makhluk, bahwa makhluk itulah Tuhan.Dalam masalah perbuatanContoh:Memakai jimat gelang dengan keyakinan bahwa gelang tersebut yang menyelamatkan dan menentukan nasib pemakainya dengan sendirinya, di luar kekuasaan Allah.Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang berhak ditaati dengan ketaatan yang mutlak sebagaimana ketaatan kepada Allah. Sehingga mengikuti dalam menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau sebaliknya sebagaimana dalam surah Asy-Syura ayat 21. Contoh lainnya, mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah, sebagaimana dalam surah Al-Baqarah ayat 165.Dalam masalah ucapanContoh:Berdoa kepada selain Allah, ibadah istighatsah kepada selain Allah, ibadah isti’adzah kepada jin atau “penunggu” pantai selatan.Dalam masalah perbuatanContoh:Salat atau sujud menyembah selain Allah, atau ritual menyembelih hewan untuk mengagungkan mayit/ jin, atau mempersembahkan ibadah nazar untuk selain Allah.Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat AllahDalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang tahu perkara gaib hakiki, atau meyakini ada selain Allah yang menyayangi makhluk sebagaimana kasih sayang Allah, yaitu mampu mengampuni dosa makhluk dan memasukkannya ke dalam surga.Dalam masalah ucapanContoh:Memberi nama selain Allah dengan nama khusus Allah disertai makna husna yang terkandung di dalamnya, seperti memberi nama patung dengan nama Allah yang husna: Al-Ahad, Ar-Rahman, dan Ash-Shamad.Dalam masalah perbuatanContoh:Mengagungkan diri dan menyombongkannya sebagaimana mengagungkan Allah serta mengajak orang lain untuk tunduk kepadanya secara mutlak, menggantungkan rasa harap, tawakal, dan takut kepadanya secara totalitas.Macam-macam syirik kecilDitinjau dari dengan apa syirik kecil dilakukan, maka syirik kecil terbagi menjadi tiga:Syirik kecil dalam keyakinanContoh:Pemakai jimat gelang yang meyakini bahwa Pencipta sebab adalah hanya Allah semata, namun jimat gelang itu diyakini hanya sebagai sebab yang hakikatnya bukan sebab (sebab palsu). Namun karena disangka sebagai sebab, hati pemakainya ada ketergantungan terhadap jimat tersebut. Berdasarkan dalil, hal ini divonis syirik, meski tingkatan syiriknya tidak sampai syirik besar.Syirik kecil dalam ucapanContoh:Bersumpah dengan nama selain Allah dikatakan syirik kecil. Hal ini karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan tidak sampai derajat syirik besar, hanya sebagai sarana penghantar kepada syirik besar.Syirik kecil dalam perbuatanContoh:Riya` yang sedikit dalam beribadah. Dikatakan syirik kecil karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan menjadi sarana menghantarkan kepada syirik besar.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ Baca Juga:Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam KesyirikanSyirik adalah Kezaliman Terbesar***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Sholat Pakai Masker, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438h, Ponpes Al Minhaj Bogor, Fungsi Ibadah Dalam IslamTags: amalan syirikAqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddosa besardosa syirikManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyirikTauhid

Tafsir al-Fatihah (7): Apa Makna Siratal Mustaqim? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah: 6)kemudian Allah menjelaskan maksud “jalan” ini dengan berfirman, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat … ” (QS. Al-Fatihah: 7)yakni yang aku inginkan dan aku maksud“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; …” (QS. Al-Fatihah: 7) Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka.Allah Tabāraka wa Ta’ālā telah menafsirkannya dalam surah an-Nisa:“Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul,mereka itulah orang-orang yang akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,dari kalangan para nabi, para Ṣiddīqīn,para syuhada, dan orang-orang saleh …” (QS. An-Nisa: 69) Merekalah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka,dan merekalah orang-orang yang mana seorang Muslim memintaagar bisa berada di atas metode dan jalan mereka,“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7) Artinya, “Aku tidak menginginkan jalan orang-orang yang dimurkaidan tidak mau jalan orang-orang yang sesat.”Tafsir yang terkenal adalah yang tersebut dalam sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi dan selainnya,bahwa orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi,dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani. Mereka adalah orang-orangyang Allah Tabāraka wa Ta’ālā memerintahkan kita untuk menjauhi jalan mereka,yaitu jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang tersesat. Orang-orang Yahudi dimurkai,karena mereka mengetahui kebenaran, akan tetapi meninggalkannya. Orang-orang Nasrani menjadi sesatkarena mereka tidak mengetahui kebenaran,akan tetapi juga tidak berupaya mencarinya. Penyebutan orang-orang yang dimurkai (Yahudi) didahulukan daripada orang-orang sesat (Nasrani),karena sangat parahnya kekufuran mereka. Kekafiran orang Yahudi lebih parah daripada kekafiran orang Nasrani,sebagaimana firman Allah Tabāraka wa Ta’ālā,“Sungguh kamu akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik,dan sungguh kamu akan dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata,‘Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.’” (QS. Al-Maidah: 82)Penyebutan Yahudi didahulukan juga karena mereka kaum yang lebih duludaripada Nasrani. Yahudi adalah kaum yang hidup di zaman Nabi Musa,sedangkan Nasrani adalah kaum yang hidup di zaman Nabi IsaSemoga selawat Allah dan salam-Nya terlimpah atas mereka berdua. Yahudi dan Nasrani semuanya berasal dari Bani Israil.Yahudi dan Nasrani sama-sama berasal dari Bani Israil.Musa adalah salah satu nabi Bani Israil,sebagaimana Isa juga salah satu nabi Bani Israil. Penyebutan Yahudi juga didahulukan,karena mereka adalah penduduk terdekat.Bangsa Arab, yang mana al-Quran ini diturunkan kepada mereka, mengenal Yahudi,tapi sedikit yang mengenal orang-orang Nasrani. Adapun mereka yang sering bersafar ke luar Madinah,ke Syam atau ke Yaman, mereka tahu Yahudi dan Nasrani,tetapi orang-orang yang tinggal bersama mereka adalah Yahudi,terutama di kota Madinah. Yahudi tinggal bersama merekadi Madinah, ada Bani an-Naḏīr, Bani Qainuqāʿ, dan Bani Quraiẓah. Penyebutan Yahudi didahulukan karena hal-hal tersebut—dan ilmu adalah milik Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Kemudian, disyariatkan bagi seseorang—terutama ketika salat—jika dia membaca surah ini hingga selesaiuntuk mengatakan: “Amin.”“Amin” artinya, “Kabulkan, ya Allah.”karena di dalamnya terkandung doa yang agung. Demikian. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ فَشَرَحَ هَذَا الصِّرَاطَ فَقَالَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ أَيْ أُرِيدُهُ أَقْصِدُ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ وَالصِّرَاطُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَسَّرَهَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي سُورَةِ النِّسَاءِ وَمَنْ يُّطِعِ اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ يَطْلُبُ الْمُسْلِمُ أَنْ يَكُونَ عَلَى طَرِيقَتِهِمْ وَصِرَاطِهِمْ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ أَي لَا أُرِيدُ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا أُرِيدُ طَرِيقَ الضَّالِّينَ وَالْمَشْهُورُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَأَنَّ الضَّالِّيْنَ هُمُ النَّصَارَى فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَمَرَنَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِأَنْ نَتَجَنَّبَ طَرِيقَهُمْ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَطَرِيقَ الضَّالِّينَ وَإِنَّمَا صَارَ الْيَهُودُ مَغْضُوبًا عَلَيْهِمْ لِأَنَّهُمْ عَرَفُوا الْحَقَّ وَتَرَكُوهُ وَالنَّصَارَى صَارُوا الضَّالِّيْنَ لِأَنَّهُمْ لَمْ يَعْرِفُوا الْحَقَّ وَلَكِنْ لَمْ يَطْلُبُوهُ أَيْضًا وَقَدَّمَ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ عَلَى الضَّالِّينَ لِشَنَاعَةِ كُفْرِهِمْ كُفْرُ الْيَهُودِ أَشَدُّ مِنْ كُفْرِ النَّصَارَى كَمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْدَمُ مِنَ النَّصَارَى الْيَهُودُ هُمُ الَّذِينَ كَانُوا فِي زَمَنِ مُوسَى وَالنَّصَارَى كَانُوا فِي زَمَنِ عِيسَى صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ… عَلَيْهِمَا وَالْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَمُوسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَعِيسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَذَلِكَ وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْرَبُ سَكَنًا فَالْعَرَبُ الَّذِي نَزَلَ فِيهِمْ هَذَا الْقُرْانُ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ لَكِنْ نَادِرٌ أَنْ يَعْرِفُوا النَّصَارَى الَّذِينَ يُسَافِرُونَ إِلَى خَارِجِ المَدِينَةِ إِلَى الشَّامِ وَإِلَى الْيَمَنِ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَكِنْ الَّذِينَ يَعِيشُونَ مَعَهُمُ الْيَهُودُ خَاصَّةً فِي الْمَدِينَةِ الْيَهُودُ يَعِيْشُونَ مَعَهُمْ فِي الْمَدِينَةِ بَنُو النَّضِيرِ وَبَنُو قَيْنُقَاعَ وَبَنُو قُرَيظَةَ فَقَدَّمَ الْيَهُودَ لِهَذَا الْأَمْرِ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ثُمَّ يُشْرَعُ لِلْإِنْسَانِ خَاصَّةً فِي الصَّلَاةِ إِذَا قَرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ وَخَتَمَهَا أَنْ يَقُولَ آمِينُ أَيْ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لِأَنَّهَا تَضَمَّنَتْ دُعَاءً عَظِيمًا نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tafsir al-Fatihah (7): Apa Makna Siratal Mustaqim? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah: 6)kemudian Allah menjelaskan maksud “jalan” ini dengan berfirman, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat … ” (QS. Al-Fatihah: 7)yakni yang aku inginkan dan aku maksud“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; …” (QS. Al-Fatihah: 7) Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka.Allah Tabāraka wa Ta’ālā telah menafsirkannya dalam surah an-Nisa:“Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul,mereka itulah orang-orang yang akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,dari kalangan para nabi, para Ṣiddīqīn,para syuhada, dan orang-orang saleh …” (QS. An-Nisa: 69) Merekalah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka,dan merekalah orang-orang yang mana seorang Muslim memintaagar bisa berada di atas metode dan jalan mereka,“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7) Artinya, “Aku tidak menginginkan jalan orang-orang yang dimurkaidan tidak mau jalan orang-orang yang sesat.”Tafsir yang terkenal adalah yang tersebut dalam sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi dan selainnya,bahwa orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi,dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani. Mereka adalah orang-orangyang Allah Tabāraka wa Ta’ālā memerintahkan kita untuk menjauhi jalan mereka,yaitu jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang tersesat. Orang-orang Yahudi dimurkai,karena mereka mengetahui kebenaran, akan tetapi meninggalkannya. Orang-orang Nasrani menjadi sesatkarena mereka tidak mengetahui kebenaran,akan tetapi juga tidak berupaya mencarinya. Penyebutan orang-orang yang dimurkai (Yahudi) didahulukan daripada orang-orang sesat (Nasrani),karena sangat parahnya kekufuran mereka. Kekafiran orang Yahudi lebih parah daripada kekafiran orang Nasrani,sebagaimana firman Allah Tabāraka wa Ta’ālā,“Sungguh kamu akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik,dan sungguh kamu akan dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata,‘Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.’” (QS. Al-Maidah: 82)Penyebutan Yahudi didahulukan juga karena mereka kaum yang lebih duludaripada Nasrani. Yahudi adalah kaum yang hidup di zaman Nabi Musa,sedangkan Nasrani adalah kaum yang hidup di zaman Nabi IsaSemoga selawat Allah dan salam-Nya terlimpah atas mereka berdua. Yahudi dan Nasrani semuanya berasal dari Bani Israil.Yahudi dan Nasrani sama-sama berasal dari Bani Israil.Musa adalah salah satu nabi Bani Israil,sebagaimana Isa juga salah satu nabi Bani Israil. Penyebutan Yahudi juga didahulukan,karena mereka adalah penduduk terdekat.Bangsa Arab, yang mana al-Quran ini diturunkan kepada mereka, mengenal Yahudi,tapi sedikit yang mengenal orang-orang Nasrani. Adapun mereka yang sering bersafar ke luar Madinah,ke Syam atau ke Yaman, mereka tahu Yahudi dan Nasrani,tetapi orang-orang yang tinggal bersama mereka adalah Yahudi,terutama di kota Madinah. Yahudi tinggal bersama merekadi Madinah, ada Bani an-Naḏīr, Bani Qainuqāʿ, dan Bani Quraiẓah. Penyebutan Yahudi didahulukan karena hal-hal tersebut—dan ilmu adalah milik Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Kemudian, disyariatkan bagi seseorang—terutama ketika salat—jika dia membaca surah ini hingga selesaiuntuk mengatakan: “Amin.”“Amin” artinya, “Kabulkan, ya Allah.”karena di dalamnya terkandung doa yang agung. Demikian. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ فَشَرَحَ هَذَا الصِّرَاطَ فَقَالَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ أَيْ أُرِيدُهُ أَقْصِدُ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ وَالصِّرَاطُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَسَّرَهَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي سُورَةِ النِّسَاءِ وَمَنْ يُّطِعِ اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ يَطْلُبُ الْمُسْلِمُ أَنْ يَكُونَ عَلَى طَرِيقَتِهِمْ وَصِرَاطِهِمْ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ أَي لَا أُرِيدُ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا أُرِيدُ طَرِيقَ الضَّالِّينَ وَالْمَشْهُورُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَأَنَّ الضَّالِّيْنَ هُمُ النَّصَارَى فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَمَرَنَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِأَنْ نَتَجَنَّبَ طَرِيقَهُمْ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَطَرِيقَ الضَّالِّينَ وَإِنَّمَا صَارَ الْيَهُودُ مَغْضُوبًا عَلَيْهِمْ لِأَنَّهُمْ عَرَفُوا الْحَقَّ وَتَرَكُوهُ وَالنَّصَارَى صَارُوا الضَّالِّيْنَ لِأَنَّهُمْ لَمْ يَعْرِفُوا الْحَقَّ وَلَكِنْ لَمْ يَطْلُبُوهُ أَيْضًا وَقَدَّمَ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ عَلَى الضَّالِّينَ لِشَنَاعَةِ كُفْرِهِمْ كُفْرُ الْيَهُودِ أَشَدُّ مِنْ كُفْرِ النَّصَارَى كَمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْدَمُ مِنَ النَّصَارَى الْيَهُودُ هُمُ الَّذِينَ كَانُوا فِي زَمَنِ مُوسَى وَالنَّصَارَى كَانُوا فِي زَمَنِ عِيسَى صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ… عَلَيْهِمَا وَالْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَمُوسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَعِيسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَذَلِكَ وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْرَبُ سَكَنًا فَالْعَرَبُ الَّذِي نَزَلَ فِيهِمْ هَذَا الْقُرْانُ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ لَكِنْ نَادِرٌ أَنْ يَعْرِفُوا النَّصَارَى الَّذِينَ يُسَافِرُونَ إِلَى خَارِجِ المَدِينَةِ إِلَى الشَّامِ وَإِلَى الْيَمَنِ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَكِنْ الَّذِينَ يَعِيشُونَ مَعَهُمُ الْيَهُودُ خَاصَّةً فِي الْمَدِينَةِ الْيَهُودُ يَعِيْشُونَ مَعَهُمْ فِي الْمَدِينَةِ بَنُو النَّضِيرِ وَبَنُو قَيْنُقَاعَ وَبَنُو قُرَيظَةَ فَقَدَّمَ الْيَهُودَ لِهَذَا الْأَمْرِ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ثُمَّ يُشْرَعُ لِلْإِنْسَانِ خَاصَّةً فِي الصَّلَاةِ إِذَا قَرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ وَخَتَمَهَا أَنْ يَقُولَ آمِينُ أَيْ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لِأَنَّهَا تَضَمَّنَتْ دُعَاءً عَظِيمًا نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah: 6)kemudian Allah menjelaskan maksud “jalan” ini dengan berfirman, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat … ” (QS. Al-Fatihah: 7)yakni yang aku inginkan dan aku maksud“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; …” (QS. Al-Fatihah: 7) Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka.Allah Tabāraka wa Ta’ālā telah menafsirkannya dalam surah an-Nisa:“Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul,mereka itulah orang-orang yang akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,dari kalangan para nabi, para Ṣiddīqīn,para syuhada, dan orang-orang saleh …” (QS. An-Nisa: 69) Merekalah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka,dan merekalah orang-orang yang mana seorang Muslim memintaagar bisa berada di atas metode dan jalan mereka,“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7) Artinya, “Aku tidak menginginkan jalan orang-orang yang dimurkaidan tidak mau jalan orang-orang yang sesat.”Tafsir yang terkenal adalah yang tersebut dalam sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi dan selainnya,bahwa orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi,dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani. Mereka adalah orang-orangyang Allah Tabāraka wa Ta’ālā memerintahkan kita untuk menjauhi jalan mereka,yaitu jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang tersesat. Orang-orang Yahudi dimurkai,karena mereka mengetahui kebenaran, akan tetapi meninggalkannya. Orang-orang Nasrani menjadi sesatkarena mereka tidak mengetahui kebenaran,akan tetapi juga tidak berupaya mencarinya. Penyebutan orang-orang yang dimurkai (Yahudi) didahulukan daripada orang-orang sesat (Nasrani),karena sangat parahnya kekufuran mereka. Kekafiran orang Yahudi lebih parah daripada kekafiran orang Nasrani,sebagaimana firman Allah Tabāraka wa Ta’ālā,“Sungguh kamu akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik,dan sungguh kamu akan dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata,‘Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.’” (QS. Al-Maidah: 82)Penyebutan Yahudi didahulukan juga karena mereka kaum yang lebih duludaripada Nasrani. Yahudi adalah kaum yang hidup di zaman Nabi Musa,sedangkan Nasrani adalah kaum yang hidup di zaman Nabi IsaSemoga selawat Allah dan salam-Nya terlimpah atas mereka berdua. Yahudi dan Nasrani semuanya berasal dari Bani Israil.Yahudi dan Nasrani sama-sama berasal dari Bani Israil.Musa adalah salah satu nabi Bani Israil,sebagaimana Isa juga salah satu nabi Bani Israil. Penyebutan Yahudi juga didahulukan,karena mereka adalah penduduk terdekat.Bangsa Arab, yang mana al-Quran ini diturunkan kepada mereka, mengenal Yahudi,tapi sedikit yang mengenal orang-orang Nasrani. Adapun mereka yang sering bersafar ke luar Madinah,ke Syam atau ke Yaman, mereka tahu Yahudi dan Nasrani,tetapi orang-orang yang tinggal bersama mereka adalah Yahudi,terutama di kota Madinah. Yahudi tinggal bersama merekadi Madinah, ada Bani an-Naḏīr, Bani Qainuqāʿ, dan Bani Quraiẓah. Penyebutan Yahudi didahulukan karena hal-hal tersebut—dan ilmu adalah milik Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Kemudian, disyariatkan bagi seseorang—terutama ketika salat—jika dia membaca surah ini hingga selesaiuntuk mengatakan: “Amin.”“Amin” artinya, “Kabulkan, ya Allah.”karena di dalamnya terkandung doa yang agung. Demikian. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ فَشَرَحَ هَذَا الصِّرَاطَ فَقَالَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ أَيْ أُرِيدُهُ أَقْصِدُ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ وَالصِّرَاطُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَسَّرَهَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي سُورَةِ النِّسَاءِ وَمَنْ يُّطِعِ اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ يَطْلُبُ الْمُسْلِمُ أَنْ يَكُونَ عَلَى طَرِيقَتِهِمْ وَصِرَاطِهِمْ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ أَي لَا أُرِيدُ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا أُرِيدُ طَرِيقَ الضَّالِّينَ وَالْمَشْهُورُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَأَنَّ الضَّالِّيْنَ هُمُ النَّصَارَى فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَمَرَنَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِأَنْ نَتَجَنَّبَ طَرِيقَهُمْ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَطَرِيقَ الضَّالِّينَ وَإِنَّمَا صَارَ الْيَهُودُ مَغْضُوبًا عَلَيْهِمْ لِأَنَّهُمْ عَرَفُوا الْحَقَّ وَتَرَكُوهُ وَالنَّصَارَى صَارُوا الضَّالِّيْنَ لِأَنَّهُمْ لَمْ يَعْرِفُوا الْحَقَّ وَلَكِنْ لَمْ يَطْلُبُوهُ أَيْضًا وَقَدَّمَ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ عَلَى الضَّالِّينَ لِشَنَاعَةِ كُفْرِهِمْ كُفْرُ الْيَهُودِ أَشَدُّ مِنْ كُفْرِ النَّصَارَى كَمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْدَمُ مِنَ النَّصَارَى الْيَهُودُ هُمُ الَّذِينَ كَانُوا فِي زَمَنِ مُوسَى وَالنَّصَارَى كَانُوا فِي زَمَنِ عِيسَى صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ… عَلَيْهِمَا وَالْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَمُوسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَعِيسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَذَلِكَ وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْرَبُ سَكَنًا فَالْعَرَبُ الَّذِي نَزَلَ فِيهِمْ هَذَا الْقُرْانُ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ لَكِنْ نَادِرٌ أَنْ يَعْرِفُوا النَّصَارَى الَّذِينَ يُسَافِرُونَ إِلَى خَارِجِ المَدِينَةِ إِلَى الشَّامِ وَإِلَى الْيَمَنِ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَكِنْ الَّذِينَ يَعِيشُونَ مَعَهُمُ الْيَهُودُ خَاصَّةً فِي الْمَدِينَةِ الْيَهُودُ يَعِيْشُونَ مَعَهُمْ فِي الْمَدِينَةِ بَنُو النَّضِيرِ وَبَنُو قَيْنُقَاعَ وَبَنُو قُرَيظَةَ فَقَدَّمَ الْيَهُودَ لِهَذَا الْأَمْرِ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ثُمَّ يُشْرَعُ لِلْإِنْسَانِ خَاصَّةً فِي الصَّلَاةِ إِذَا قَرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ وَخَتَمَهَا أَنْ يَقُولَ آمِينُ أَيْ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لِأَنَّهَا تَضَمَّنَتْ دُعَاءً عَظِيمًا نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah: 6)kemudian Allah menjelaskan maksud “jalan” ini dengan berfirman, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat … ” (QS. Al-Fatihah: 7)yakni yang aku inginkan dan aku maksud“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; …” (QS. Al-Fatihah: 7) Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka.Allah Tabāraka wa Ta’ālā telah menafsirkannya dalam surah an-Nisa:“Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul,mereka itulah orang-orang yang akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,dari kalangan para nabi, para Ṣiddīqīn,para syuhada, dan orang-orang saleh …” (QS. An-Nisa: 69) Merekalah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka,dan merekalah orang-orang yang mana seorang Muslim memintaagar bisa berada di atas metode dan jalan mereka,“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7) Artinya, “Aku tidak menginginkan jalan orang-orang yang dimurkaidan tidak mau jalan orang-orang yang sesat.”Tafsir yang terkenal adalah yang tersebut dalam sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi dan selainnya,bahwa orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi,dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani. Mereka adalah orang-orangyang Allah Tabāraka wa Ta’ālā memerintahkan kita untuk menjauhi jalan mereka,yaitu jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang tersesat. Orang-orang Yahudi dimurkai,karena mereka mengetahui kebenaran, akan tetapi meninggalkannya. Orang-orang Nasrani menjadi sesatkarena mereka tidak mengetahui kebenaran,akan tetapi juga tidak berupaya mencarinya. Penyebutan orang-orang yang dimurkai (Yahudi) didahulukan daripada orang-orang sesat (Nasrani),karena sangat parahnya kekufuran mereka. Kekafiran orang Yahudi lebih parah daripada kekafiran orang Nasrani,sebagaimana firman Allah Tabāraka wa Ta’ālā,“Sungguh kamu akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik,dan sungguh kamu akan dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata,‘Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.’” (QS. Al-Maidah: 82)Penyebutan Yahudi didahulukan juga karena mereka kaum yang lebih duludaripada Nasrani. Yahudi adalah kaum yang hidup di zaman Nabi Musa,sedangkan Nasrani adalah kaum yang hidup di zaman Nabi IsaSemoga selawat Allah dan salam-Nya terlimpah atas mereka berdua. Yahudi dan Nasrani semuanya berasal dari Bani Israil.Yahudi dan Nasrani sama-sama berasal dari Bani Israil.Musa adalah salah satu nabi Bani Israil,sebagaimana Isa juga salah satu nabi Bani Israil. Penyebutan Yahudi juga didahulukan,karena mereka adalah penduduk terdekat.Bangsa Arab, yang mana al-Quran ini diturunkan kepada mereka, mengenal Yahudi,tapi sedikit yang mengenal orang-orang Nasrani. Adapun mereka yang sering bersafar ke luar Madinah,ke Syam atau ke Yaman, mereka tahu Yahudi dan Nasrani,tetapi orang-orang yang tinggal bersama mereka adalah Yahudi,terutama di kota Madinah. Yahudi tinggal bersama merekadi Madinah, ada Bani an-Naḏīr, Bani Qainuqāʿ, dan Bani Quraiẓah. Penyebutan Yahudi didahulukan karena hal-hal tersebut—dan ilmu adalah milik Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Kemudian, disyariatkan bagi seseorang—terutama ketika salat—jika dia membaca surah ini hingga selesaiuntuk mengatakan: “Amin.”“Amin” artinya, “Kabulkan, ya Allah.”karena di dalamnya terkandung doa yang agung. Demikian. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ فَشَرَحَ هَذَا الصِّرَاطَ فَقَالَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ أَيْ أُرِيدُهُ أَقْصِدُ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ وَالصِّرَاطُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَسَّرَهَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي سُورَةِ النِّسَاءِ وَمَنْ يُّطِعِ اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ يَطْلُبُ الْمُسْلِمُ أَنْ يَكُونَ عَلَى طَرِيقَتِهِمْ وَصِرَاطِهِمْ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ أَي لَا أُرِيدُ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا أُرِيدُ طَرِيقَ الضَّالِّينَ وَالْمَشْهُورُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَأَنَّ الضَّالِّيْنَ هُمُ النَّصَارَى فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَمَرَنَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِأَنْ نَتَجَنَّبَ طَرِيقَهُمْ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَطَرِيقَ الضَّالِّينَ وَإِنَّمَا صَارَ الْيَهُودُ مَغْضُوبًا عَلَيْهِمْ لِأَنَّهُمْ عَرَفُوا الْحَقَّ وَتَرَكُوهُ وَالنَّصَارَى صَارُوا الضَّالِّيْنَ لِأَنَّهُمْ لَمْ يَعْرِفُوا الْحَقَّ وَلَكِنْ لَمْ يَطْلُبُوهُ أَيْضًا وَقَدَّمَ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ عَلَى الضَّالِّينَ لِشَنَاعَةِ كُفْرِهِمْ كُفْرُ الْيَهُودِ أَشَدُّ مِنْ كُفْرِ النَّصَارَى كَمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْدَمُ مِنَ النَّصَارَى الْيَهُودُ هُمُ الَّذِينَ كَانُوا فِي زَمَنِ مُوسَى وَالنَّصَارَى كَانُوا فِي زَمَنِ عِيسَى صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ… عَلَيْهِمَا وَالْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَمُوسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَعِيسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَذَلِكَ وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْرَبُ سَكَنًا فَالْعَرَبُ الَّذِي نَزَلَ فِيهِمْ هَذَا الْقُرْانُ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ لَكِنْ نَادِرٌ أَنْ يَعْرِفُوا النَّصَارَى الَّذِينَ يُسَافِرُونَ إِلَى خَارِجِ المَدِينَةِ إِلَى الشَّامِ وَإِلَى الْيَمَنِ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَكِنْ الَّذِينَ يَعِيشُونَ مَعَهُمُ الْيَهُودُ خَاصَّةً فِي الْمَدِينَةِ الْيَهُودُ يَعِيْشُونَ مَعَهُمْ فِي الْمَدِينَةِ بَنُو النَّضِيرِ وَبَنُو قَيْنُقَاعَ وَبَنُو قُرَيظَةَ فَقَدَّمَ الْيَهُودَ لِهَذَا الْأَمْرِ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ثُمَّ يُشْرَعُ لِلْإِنْسَانِ خَاصَّةً فِي الصَّلَاةِ إِذَا قَرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ وَخَتَمَهَا أَنْ يَقُولَ آمِينُ أَيْ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لِأَنَّهَا تَضَمَّنَتْ دُعَاءً عَظِيمًا نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cara Agar Husnul Khatimah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Husnul Khatimah adalah nikmat yang agung,sebagaimana disabdakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Semua amalan tergantung dengan akhirnya.” (HR. Bukhari) Jika seseorang wafat dalam keadaan Husnul Khatimah,ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ālā meridainya,dan bahwa ketika Allah Ta’ālā menutup hidupnya dengan kebaikan,Allah akan membangkitkannya di Hari Kiamat di atas keadaan yang agung ini,yaitu keadaan taat kepada-Nya Jalla wa ʿAlā. Baik, jika seseorang bertanya, “Bagaimana caranya agar saya mendapatkan Husnul Khatimah?”“Bagaimana saya bisa mati dalam keadaan yang baik,padahal kematian datang secara tiba-tiba?” “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok.Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bagian bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34) Kami katakan bahwa jika Anda ingin mati dalam keadaan yang baik,teruslah Anda berada di atas ketaatan kepada Allah,karena salah satu bentuk rahmat Allah Ta’ālā atas hamba-Nya,sungguh Allah Ta’ālā tidak akan membuat hamba-Nya yang beriman kecewa, jika dia beriman dan terus menerus melakukan ketaatan kepada Allah,dengan puasa, berzikir kepada Allah, dan salat,niscaya Allah Ta’ālā akan memuliakannya dengan mematikannya dalam keadaan tersebut. Itu sebabnya, ada ungkapan, dan ini bukanlah hadis,melainkan kata bijak yang terkenal,bahwa seorang hamba akan mati di atas kebiasaan hidupnya,seorang manusia akan mati di atas kebiasaan hidupnya. Jika Anda hidup dalam ketaatan kepada Allah, berzikir kepada-Nya,hati Anda terpaut dengan-Nya,ada cinta yang amat besar kepada-Nya dalam hati Anda,kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, mengagungkan-Nya, dan senantiasa ingat kepada-Nya,niscaya Allah Ta’ālā akan memberikan Husnul Khatimah kepada Anda. Anda akan wafat di atas kebiasaan hidup Anda.Inilah bentuk keadilan Allah Ta’ālā.Di sini Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seseorang akan dibangkitkan sebagaimana keadaannya ketika mati.” (HR. Muslim) Inilah salah satu ketetapan Allah Ta’ālā,dan ini akan terwujud dengan keikhlasan Anda kepada Allah,dan kejujuran Anda terhadap-Nya. Jujurlah Anda kepada Allah, bahwa Anda benar-benar hanya mengharap wajah-Nya. ==== حُسْنُ الْخَاتِمَةِ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ لِأَنَّهُ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ فَإِذَا مَاتَ الْعَبْدُ عَلَى خَاتِمَةٍ حَسَنَةٍ كَانَ هَذَا دَلِيلًا عَلَى رِضَا اللهِ تَعَالَى عَنْهُ وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى خَاتَمَ لَهُ بِالْحُسْنَى حَتَّى يَبْعَثَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى هَذِهِ الْحَالَةِ الْعَظِيمَةِ مِنْ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا طَيِّبٌ يَسْأَلُ سَائِلٌ يَقُولُ طَيِّبٌ كَيْفَ أُوَفَّقُ لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ؟ كَيْفَ أَمُوْتُ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ؟ وَالْمَوْتُ يَأْتِي الْإِنْسَانَ فَجْأَةً وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ نَقُولُ إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَمُوتَ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ دَاوِمْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ لِأَنَّ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى بِعَبْدِهِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى… لَا يَخْذُلُ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ الْمُؤْمِنُ مُسْتَمِرًّا عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَلَى صِيَامِهِ عَلَى ذِكْرٍ لِلهِ عَلَى صَلَاتِهِ فَاللهُ تَعَالَى يُكْرِمُهُ بِأَنْ يُمِيتَهُ عَلَى هَذِهِ الْحَالِ وَلِهَذَا قِيلَ وَهَذَا لَيْسَ بِحَدِيثٍ لَكِن هَذَا مِنَ الْحِكَمِ الْمَشْهُورَةِ يَمُوتُ الْعَبْدُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ إِذَا عِشْتَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ وَعَلَى ذِكْرِ اللهِ قَلْبُكَ مُعَلَّقٌ بِاللهِ فِي قَلْبِكَ مَحَبَّةٌ عَظِيمَةٌ لِلهِ وَشَوْقٌ لِلِقَاءِ اللهِ وَتَعْظِيمٌ لِلهِ دَائِمًا تَذْكُرُ اللهَ سَيُوَفِّقُكَ اللهُ تَعَالَى لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ سَتَمُوتُ عَلَى مَا عِشْتَ عَلَيْهِ هَذَا مِنْ عَدْلِ اللهِ تَعَالَى وَهُنَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ هَذِهِ مِنْ سُنَّةِ اللهِ تَعَالَى وَهَذَا يَكُونُ بِإِخْلَاَصِكَ لِلهِ وَصِدْقِكَ مَعَ اللهِ تَكُونُ صَادِقًا مَعَ اللهِ تَعَالَى فِي أَنَّكَ تُرِيدُ وَجْهَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cara Agar Husnul Khatimah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Husnul Khatimah adalah nikmat yang agung,sebagaimana disabdakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Semua amalan tergantung dengan akhirnya.” (HR. Bukhari) Jika seseorang wafat dalam keadaan Husnul Khatimah,ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ālā meridainya,dan bahwa ketika Allah Ta’ālā menutup hidupnya dengan kebaikan,Allah akan membangkitkannya di Hari Kiamat di atas keadaan yang agung ini,yaitu keadaan taat kepada-Nya Jalla wa ʿAlā. Baik, jika seseorang bertanya, “Bagaimana caranya agar saya mendapatkan Husnul Khatimah?”“Bagaimana saya bisa mati dalam keadaan yang baik,padahal kematian datang secara tiba-tiba?” “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok.Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bagian bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34) Kami katakan bahwa jika Anda ingin mati dalam keadaan yang baik,teruslah Anda berada di atas ketaatan kepada Allah,karena salah satu bentuk rahmat Allah Ta’ālā atas hamba-Nya,sungguh Allah Ta’ālā tidak akan membuat hamba-Nya yang beriman kecewa, jika dia beriman dan terus menerus melakukan ketaatan kepada Allah,dengan puasa, berzikir kepada Allah, dan salat,niscaya Allah Ta’ālā akan memuliakannya dengan mematikannya dalam keadaan tersebut. Itu sebabnya, ada ungkapan, dan ini bukanlah hadis,melainkan kata bijak yang terkenal,bahwa seorang hamba akan mati di atas kebiasaan hidupnya,seorang manusia akan mati di atas kebiasaan hidupnya. Jika Anda hidup dalam ketaatan kepada Allah, berzikir kepada-Nya,hati Anda terpaut dengan-Nya,ada cinta yang amat besar kepada-Nya dalam hati Anda,kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, mengagungkan-Nya, dan senantiasa ingat kepada-Nya,niscaya Allah Ta’ālā akan memberikan Husnul Khatimah kepada Anda. Anda akan wafat di atas kebiasaan hidup Anda.Inilah bentuk keadilan Allah Ta’ālā.Di sini Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seseorang akan dibangkitkan sebagaimana keadaannya ketika mati.” (HR. Muslim) Inilah salah satu ketetapan Allah Ta’ālā,dan ini akan terwujud dengan keikhlasan Anda kepada Allah,dan kejujuran Anda terhadap-Nya. Jujurlah Anda kepada Allah, bahwa Anda benar-benar hanya mengharap wajah-Nya. ==== حُسْنُ الْخَاتِمَةِ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ لِأَنَّهُ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ فَإِذَا مَاتَ الْعَبْدُ عَلَى خَاتِمَةٍ حَسَنَةٍ كَانَ هَذَا دَلِيلًا عَلَى رِضَا اللهِ تَعَالَى عَنْهُ وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى خَاتَمَ لَهُ بِالْحُسْنَى حَتَّى يَبْعَثَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى هَذِهِ الْحَالَةِ الْعَظِيمَةِ مِنْ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا طَيِّبٌ يَسْأَلُ سَائِلٌ يَقُولُ طَيِّبٌ كَيْفَ أُوَفَّقُ لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ؟ كَيْفَ أَمُوْتُ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ؟ وَالْمَوْتُ يَأْتِي الْإِنْسَانَ فَجْأَةً وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ نَقُولُ إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَمُوتَ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ دَاوِمْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ لِأَنَّ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى بِعَبْدِهِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى… لَا يَخْذُلُ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ الْمُؤْمِنُ مُسْتَمِرًّا عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَلَى صِيَامِهِ عَلَى ذِكْرٍ لِلهِ عَلَى صَلَاتِهِ فَاللهُ تَعَالَى يُكْرِمُهُ بِأَنْ يُمِيتَهُ عَلَى هَذِهِ الْحَالِ وَلِهَذَا قِيلَ وَهَذَا لَيْسَ بِحَدِيثٍ لَكِن هَذَا مِنَ الْحِكَمِ الْمَشْهُورَةِ يَمُوتُ الْعَبْدُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ إِذَا عِشْتَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ وَعَلَى ذِكْرِ اللهِ قَلْبُكَ مُعَلَّقٌ بِاللهِ فِي قَلْبِكَ مَحَبَّةٌ عَظِيمَةٌ لِلهِ وَشَوْقٌ لِلِقَاءِ اللهِ وَتَعْظِيمٌ لِلهِ دَائِمًا تَذْكُرُ اللهَ سَيُوَفِّقُكَ اللهُ تَعَالَى لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ سَتَمُوتُ عَلَى مَا عِشْتَ عَلَيْهِ هَذَا مِنْ عَدْلِ اللهِ تَعَالَى وَهُنَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ هَذِهِ مِنْ سُنَّةِ اللهِ تَعَالَى وَهَذَا يَكُونُ بِإِخْلَاَصِكَ لِلهِ وَصِدْقِكَ مَعَ اللهِ تَكُونُ صَادِقًا مَعَ اللهِ تَعَالَى فِي أَنَّكَ تُرِيدُ وَجْهَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Husnul Khatimah adalah nikmat yang agung,sebagaimana disabdakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Semua amalan tergantung dengan akhirnya.” (HR. Bukhari) Jika seseorang wafat dalam keadaan Husnul Khatimah,ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ālā meridainya,dan bahwa ketika Allah Ta’ālā menutup hidupnya dengan kebaikan,Allah akan membangkitkannya di Hari Kiamat di atas keadaan yang agung ini,yaitu keadaan taat kepada-Nya Jalla wa ʿAlā. Baik, jika seseorang bertanya, “Bagaimana caranya agar saya mendapatkan Husnul Khatimah?”“Bagaimana saya bisa mati dalam keadaan yang baik,padahal kematian datang secara tiba-tiba?” “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok.Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bagian bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34) Kami katakan bahwa jika Anda ingin mati dalam keadaan yang baik,teruslah Anda berada di atas ketaatan kepada Allah,karena salah satu bentuk rahmat Allah Ta’ālā atas hamba-Nya,sungguh Allah Ta’ālā tidak akan membuat hamba-Nya yang beriman kecewa, jika dia beriman dan terus menerus melakukan ketaatan kepada Allah,dengan puasa, berzikir kepada Allah, dan salat,niscaya Allah Ta’ālā akan memuliakannya dengan mematikannya dalam keadaan tersebut. Itu sebabnya, ada ungkapan, dan ini bukanlah hadis,melainkan kata bijak yang terkenal,bahwa seorang hamba akan mati di atas kebiasaan hidupnya,seorang manusia akan mati di atas kebiasaan hidupnya. Jika Anda hidup dalam ketaatan kepada Allah, berzikir kepada-Nya,hati Anda terpaut dengan-Nya,ada cinta yang amat besar kepada-Nya dalam hati Anda,kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, mengagungkan-Nya, dan senantiasa ingat kepada-Nya,niscaya Allah Ta’ālā akan memberikan Husnul Khatimah kepada Anda. Anda akan wafat di atas kebiasaan hidup Anda.Inilah bentuk keadilan Allah Ta’ālā.Di sini Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seseorang akan dibangkitkan sebagaimana keadaannya ketika mati.” (HR. Muslim) Inilah salah satu ketetapan Allah Ta’ālā,dan ini akan terwujud dengan keikhlasan Anda kepada Allah,dan kejujuran Anda terhadap-Nya. Jujurlah Anda kepada Allah, bahwa Anda benar-benar hanya mengharap wajah-Nya. ==== حُسْنُ الْخَاتِمَةِ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ لِأَنَّهُ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ فَإِذَا مَاتَ الْعَبْدُ عَلَى خَاتِمَةٍ حَسَنَةٍ كَانَ هَذَا دَلِيلًا عَلَى رِضَا اللهِ تَعَالَى عَنْهُ وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى خَاتَمَ لَهُ بِالْحُسْنَى حَتَّى يَبْعَثَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى هَذِهِ الْحَالَةِ الْعَظِيمَةِ مِنْ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا طَيِّبٌ يَسْأَلُ سَائِلٌ يَقُولُ طَيِّبٌ كَيْفَ أُوَفَّقُ لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ؟ كَيْفَ أَمُوْتُ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ؟ وَالْمَوْتُ يَأْتِي الْإِنْسَانَ فَجْأَةً وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ نَقُولُ إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَمُوتَ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ دَاوِمْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ لِأَنَّ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى بِعَبْدِهِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى… لَا يَخْذُلُ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ الْمُؤْمِنُ مُسْتَمِرًّا عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَلَى صِيَامِهِ عَلَى ذِكْرٍ لِلهِ عَلَى صَلَاتِهِ فَاللهُ تَعَالَى يُكْرِمُهُ بِأَنْ يُمِيتَهُ عَلَى هَذِهِ الْحَالِ وَلِهَذَا قِيلَ وَهَذَا لَيْسَ بِحَدِيثٍ لَكِن هَذَا مِنَ الْحِكَمِ الْمَشْهُورَةِ يَمُوتُ الْعَبْدُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ إِذَا عِشْتَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ وَعَلَى ذِكْرِ اللهِ قَلْبُكَ مُعَلَّقٌ بِاللهِ فِي قَلْبِكَ مَحَبَّةٌ عَظِيمَةٌ لِلهِ وَشَوْقٌ لِلِقَاءِ اللهِ وَتَعْظِيمٌ لِلهِ دَائِمًا تَذْكُرُ اللهَ سَيُوَفِّقُكَ اللهُ تَعَالَى لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ سَتَمُوتُ عَلَى مَا عِشْتَ عَلَيْهِ هَذَا مِنْ عَدْلِ اللهِ تَعَالَى وَهُنَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ هَذِهِ مِنْ سُنَّةِ اللهِ تَعَالَى وَهَذَا يَكُونُ بِإِخْلَاَصِكَ لِلهِ وَصِدْقِكَ مَعَ اللهِ تَكُونُ صَادِقًا مَعَ اللهِ تَعَالَى فِي أَنَّكَ تُرِيدُ وَجْهَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Husnul Khatimah adalah nikmat yang agung,sebagaimana disabdakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Semua amalan tergantung dengan akhirnya.” (HR. Bukhari) Jika seseorang wafat dalam keadaan Husnul Khatimah,ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ālā meridainya,dan bahwa ketika Allah Ta’ālā menutup hidupnya dengan kebaikan,Allah akan membangkitkannya di Hari Kiamat di atas keadaan yang agung ini,yaitu keadaan taat kepada-Nya Jalla wa ʿAlā. Baik, jika seseorang bertanya, “Bagaimana caranya agar saya mendapatkan Husnul Khatimah?”“Bagaimana saya bisa mati dalam keadaan yang baik,padahal kematian datang secara tiba-tiba?” “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok.Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bagian bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34) Kami katakan bahwa jika Anda ingin mati dalam keadaan yang baik,teruslah Anda berada di atas ketaatan kepada Allah,karena salah satu bentuk rahmat Allah Ta’ālā atas hamba-Nya,sungguh Allah Ta’ālā tidak akan membuat hamba-Nya yang beriman kecewa, jika dia beriman dan terus menerus melakukan ketaatan kepada Allah,dengan puasa, berzikir kepada Allah, dan salat,niscaya Allah Ta’ālā akan memuliakannya dengan mematikannya dalam keadaan tersebut. Itu sebabnya, ada ungkapan, dan ini bukanlah hadis,melainkan kata bijak yang terkenal,bahwa seorang hamba akan mati di atas kebiasaan hidupnya,seorang manusia akan mati di atas kebiasaan hidupnya. Jika Anda hidup dalam ketaatan kepada Allah, berzikir kepada-Nya,hati Anda terpaut dengan-Nya,ada cinta yang amat besar kepada-Nya dalam hati Anda,kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, mengagungkan-Nya, dan senantiasa ingat kepada-Nya,niscaya Allah Ta’ālā akan memberikan Husnul Khatimah kepada Anda. Anda akan wafat di atas kebiasaan hidup Anda.Inilah bentuk keadilan Allah Ta’ālā.Di sini Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seseorang akan dibangkitkan sebagaimana keadaannya ketika mati.” (HR. Muslim) Inilah salah satu ketetapan Allah Ta’ālā,dan ini akan terwujud dengan keikhlasan Anda kepada Allah,dan kejujuran Anda terhadap-Nya. Jujurlah Anda kepada Allah, bahwa Anda benar-benar hanya mengharap wajah-Nya. ==== حُسْنُ الْخَاتِمَةِ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ لِأَنَّهُ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ فَإِذَا مَاتَ الْعَبْدُ عَلَى خَاتِمَةٍ حَسَنَةٍ كَانَ هَذَا دَلِيلًا عَلَى رِضَا اللهِ تَعَالَى عَنْهُ وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى خَاتَمَ لَهُ بِالْحُسْنَى حَتَّى يَبْعَثَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى هَذِهِ الْحَالَةِ الْعَظِيمَةِ مِنْ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا طَيِّبٌ يَسْأَلُ سَائِلٌ يَقُولُ طَيِّبٌ كَيْفَ أُوَفَّقُ لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ؟ كَيْفَ أَمُوْتُ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ؟ وَالْمَوْتُ يَأْتِي الْإِنْسَانَ فَجْأَةً وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ نَقُولُ إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَمُوتَ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ دَاوِمْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ لِأَنَّ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى بِعَبْدِهِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى… لَا يَخْذُلُ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ الْمُؤْمِنُ مُسْتَمِرًّا عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَلَى صِيَامِهِ عَلَى ذِكْرٍ لِلهِ عَلَى صَلَاتِهِ فَاللهُ تَعَالَى يُكْرِمُهُ بِأَنْ يُمِيتَهُ عَلَى هَذِهِ الْحَالِ وَلِهَذَا قِيلَ وَهَذَا لَيْسَ بِحَدِيثٍ لَكِن هَذَا مِنَ الْحِكَمِ الْمَشْهُورَةِ يَمُوتُ الْعَبْدُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ إِذَا عِشْتَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ وَعَلَى ذِكْرِ اللهِ قَلْبُكَ مُعَلَّقٌ بِاللهِ فِي قَلْبِكَ مَحَبَّةٌ عَظِيمَةٌ لِلهِ وَشَوْقٌ لِلِقَاءِ اللهِ وَتَعْظِيمٌ لِلهِ دَائِمًا تَذْكُرُ اللهَ سَيُوَفِّقُكَ اللهُ تَعَالَى لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ سَتَمُوتُ عَلَى مَا عِشْتَ عَلَيْهِ هَذَا مِنْ عَدْلِ اللهِ تَعَالَى وَهُنَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ هَذِهِ مِنْ سُنَّةِ اللهِ تَعَالَى وَهَذَا يَكُونُ بِإِخْلَاَصِكَ لِلهِ وَصِدْقِكَ مَعَ اللهِ تَكُونُ صَادِقًا مَعَ اللهِ تَعَالَى فِي أَنَّكَ تُرِيدُ وَجْهَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Obat Was-was Setan dalam Salat – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Waswas ini asalnya dari setan.Dia berkata, “Aku salat, lalu mengulang al-Fatihah beberapa kali,atau mengulang tasyahud beberapa kali.”Ini dari setan! Oleh sebab itu, seseorang harus beristiazah dari setan yang terkutukdan berusaha membaca al-Fatihah sekali saja,atau membaca tasyahud sekali saja.Tidak perlu mengulang dan membaca lagi. Setan membisiki Anda,“Kamu tidak benar membacanya!”“Kamu salah baca!”“Kamu belum baca semua!”“Kamu baru baca sebagian!”Ini dari setan. Jadi, perbanyaklah beristiazah dari setan yang terkutuk,dan berdoalah kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā,agar meneguhkan hati Anda dan menjauhkan waswas tersebut. ==== هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ: أُصَلِّي وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ كَذَا مَرَّاتٍ أَوِ التَّشَهُّدَ كَذَا وَهَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ لَا بُدَّ الْإِنْسَانُ أَنْ يَسْتَعِيذَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَيَلْتَزِمَ بِأَنَّهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالتَّشَهُّدَ مَرَّةً وَاحِدَةً لَا يُعِيدُ لَا يُكَرِّرُ يَعْنِي الشَّيْطَانُ يَقُولُ لَكَ: مَا قَرَأْتَهَا صَحَّ قَرَأْتَهَا غَلَطٌ مَا قَرَأْتَهَا … مَا قَرَأْتَهَا كُلَّهَا قَرَأْتَهَا بَعْضَهَا هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِعَاذَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَادْعُ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُثَبِّتَ قَلْبَكَ وَيُبْعِدَ ذَلِكَ الْوَسَاوِسَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Obat Was-was Setan dalam Salat – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Waswas ini asalnya dari setan.Dia berkata, “Aku salat, lalu mengulang al-Fatihah beberapa kali,atau mengulang tasyahud beberapa kali.”Ini dari setan! Oleh sebab itu, seseorang harus beristiazah dari setan yang terkutukdan berusaha membaca al-Fatihah sekali saja,atau membaca tasyahud sekali saja.Tidak perlu mengulang dan membaca lagi. Setan membisiki Anda,“Kamu tidak benar membacanya!”“Kamu salah baca!”“Kamu belum baca semua!”“Kamu baru baca sebagian!”Ini dari setan. Jadi, perbanyaklah beristiazah dari setan yang terkutuk,dan berdoalah kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā,agar meneguhkan hati Anda dan menjauhkan waswas tersebut. ==== هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ: أُصَلِّي وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ كَذَا مَرَّاتٍ أَوِ التَّشَهُّدَ كَذَا وَهَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ لَا بُدَّ الْإِنْسَانُ أَنْ يَسْتَعِيذَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَيَلْتَزِمَ بِأَنَّهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالتَّشَهُّدَ مَرَّةً وَاحِدَةً لَا يُعِيدُ لَا يُكَرِّرُ يَعْنِي الشَّيْطَانُ يَقُولُ لَكَ: مَا قَرَأْتَهَا صَحَّ قَرَأْتَهَا غَلَطٌ مَا قَرَأْتَهَا … مَا قَرَأْتَهَا كُلَّهَا قَرَأْتَهَا بَعْضَهَا هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِعَاذَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَادْعُ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُثَبِّتَ قَلْبَكَ وَيُبْعِدَ ذَلِكَ الْوَسَاوِسَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Waswas ini asalnya dari setan.Dia berkata, “Aku salat, lalu mengulang al-Fatihah beberapa kali,atau mengulang tasyahud beberapa kali.”Ini dari setan! Oleh sebab itu, seseorang harus beristiazah dari setan yang terkutukdan berusaha membaca al-Fatihah sekali saja,atau membaca tasyahud sekali saja.Tidak perlu mengulang dan membaca lagi. Setan membisiki Anda,“Kamu tidak benar membacanya!”“Kamu salah baca!”“Kamu belum baca semua!”“Kamu baru baca sebagian!”Ini dari setan. Jadi, perbanyaklah beristiazah dari setan yang terkutuk,dan berdoalah kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā,agar meneguhkan hati Anda dan menjauhkan waswas tersebut. ==== هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ: أُصَلِّي وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ كَذَا مَرَّاتٍ أَوِ التَّشَهُّدَ كَذَا وَهَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ لَا بُدَّ الْإِنْسَانُ أَنْ يَسْتَعِيذَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَيَلْتَزِمَ بِأَنَّهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالتَّشَهُّدَ مَرَّةً وَاحِدَةً لَا يُعِيدُ لَا يُكَرِّرُ يَعْنِي الشَّيْطَانُ يَقُولُ لَكَ: مَا قَرَأْتَهَا صَحَّ قَرَأْتَهَا غَلَطٌ مَا قَرَأْتَهَا … مَا قَرَأْتَهَا كُلَّهَا قَرَأْتَهَا بَعْضَهَا هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِعَاذَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَادْعُ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُثَبِّتَ قَلْبَكَ وَيُبْعِدَ ذَلِكَ الْوَسَاوِسَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Waswas ini asalnya dari setan.Dia berkata, “Aku salat, lalu mengulang al-Fatihah beberapa kali,atau mengulang tasyahud beberapa kali.”Ini dari setan! Oleh sebab itu, seseorang harus beristiazah dari setan yang terkutukdan berusaha membaca al-Fatihah sekali saja,atau membaca tasyahud sekali saja.Tidak perlu mengulang dan membaca lagi. Setan membisiki Anda,“Kamu tidak benar membacanya!”“Kamu salah baca!”“Kamu belum baca semua!”“Kamu baru baca sebagian!”Ini dari setan. Jadi, perbanyaklah beristiazah dari setan yang terkutuk,dan berdoalah kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā,agar meneguhkan hati Anda dan menjauhkan waswas tersebut. ==== هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ: أُصَلِّي وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ كَذَا مَرَّاتٍ أَوِ التَّشَهُّدَ كَذَا وَهَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ لَا بُدَّ الْإِنْسَانُ أَنْ يَسْتَعِيذَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَيَلْتَزِمَ بِأَنَّهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالتَّشَهُّدَ مَرَّةً وَاحِدَةً لَا يُعِيدُ لَا يُكَرِّرُ يَعْنِي الشَّيْطَانُ يَقُولُ لَكَ: مَا قَرَأْتَهَا صَحَّ قَرَأْتَهَا غَلَطٌ مَا قَرَأْتَهَا … مَا قَرَأْتَهَا كُلَّهَا قَرَأْتَهَا بَعْضَهَا هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِعَاذَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَادْعُ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُثَبِّتَ قَلْبَكَ وَيُبْعِدَ ذَلِكَ الْوَسَاوِسَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Ajaran yang Lebih Sempurna daripada Stoikisme

Baru baru ini, istilah stoikisme populer di tengah-tengah masyarakat. Diperbincangkan dalam podcast-podcast yang sedang trending dan mulai dipraktikkan oleh sebagian besar anak muda. Sebuah konsep pemikiran yang ada sejak tahun 108 SM. Konsep ini mengajarkan bagaimana agar manusia mampu menjaga ketenangan dalam berfikir secara rasional. Tidak terlalu mempedulikan apa yang terjadi di luar kendali, serta berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.Konsep stoikisme mengajarkan tentang keyakinan terhadap apa yang dimiliki oleh diri sendiri kemudian berfokus padanya dan menjalani hidup dengan lebih tenang. Kemudian menyingkirkan pengaruh negatif yang datang dari luar kendali diri. Orang-orang stoikis tidak terlalu mempedulikan bagaimana penilaian manusia kepada diri mereka sehingga mereka hanya fokus melakukan apa yang mereka anggap baik bagi diri mereka.Orang-orang yang meyakini dan dianggap berhasil menerapkan konsep berpikir ini dalam kehidupan mereka mengakui bahwa cara pandang mereka dalam menjalani hidup menjadi berbeda karena mereka dapat menjadi lebih tenang dan lebih menikmati kehidupan mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya.Saudaraku, banyak manusia yang mengaku beriman tapi lebih meyakini konsep-konsep dari ajaran di luar Islam daripada ajaran-ajaran yang bersumber dari agamanya sendiri, meskipun pesan yang dibawa adalah sama, bahkan tidak sebaik dari ajaran Islam. Tidak sedikit umat Islam lebih condong mengikuti nasihat yang dianggap memiliki basis ilmiah daripada nasihat Islam sendiri yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Meskipun ia menyadari bahwa Al-Qur’an dan hadis itu sendiri adalah sains dan ilmiah. WaliyadzubillahPadahal, dalam Islam sendiri mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang lebih sempurna dari apa yang diajarkan oleh filsafat apapun yang ada di dunia ini. Dalam Islam, kita diajarkan tentang sebuah konsep mulia yang bernama “niat” yang merupakan pokok fundamental dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Islam mengajarkan agar niat itu dipersembahkan hanya untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala.Melakukan segala amalan berupa aktivitas mulai dari gerakan batin, fikiran, maupun segala hal yang dilakukan oleh fisik (anggota tubuh), dimulai dengan niat ikhlas untuk meraih keridaan Allah. Maka, apapun komentar, tanggapan, bahkan cemoohan dari manusia, tidak sedikit pun dapat mempengaruhi hal-hal yang kita lakukan yang diawali dengan niat ikhlas tersebut.Dan rasakanlah betapa ketenangan hidup yang kita inginkan. Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata,رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa tercapai.” Daftar Isi sembunyikan 1. Senang terhadap pujian manusia 2. Cercaan manusia dan keniscayaan 3. Kekeliruan niat, penyebab jauh dari Allah 4. Ikhlaskan amal dan niatmu! 5. Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlas Senang terhadap pujian manusiaSebagai manusia, perasaan senang atas pujian seseorang atas diri kita adalah hal yang manusiawi, asalkan tidak melangkahi batasan-batasan syariat yang telah ditetapkan baik dalam Al-Qur’an maupun sunah.Namun, sebagian manusia, setelah melakukan suatu tugas, kewajiban, ataupun pemberian kepada seseorang, ucapan ‘terima kasih’ adalah kalimat yang ditunggu-tunggu. Bahkan, oleh penganut konsep stoikisme sekali pun. Karena mereka tidak meletakkan niat suci dari prinsip itu kepada Zat Yang Mahamengetahui, yaitu Allah Ta’ala.Saudaraku, kadangkala kita mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain terhadap diri kita. Pujian dan sanjungan, bahkan cacian dan makian manusia sering menjadi tolak ukur kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Akhirnya, kita bekerja, beraktivitas, berbicara, berperilaku, bahkan beramal dan beribadah ditujukan untuk mendapatkan pengakuan berupa pujian dan sanjungan itu. WaliyadzubillahSesungguhnya kita menyadari bahwa amal ibadah sangat tergantung pada niat kita ketika hendak melaksanakannya. Karena pahala yang diberikan kepada seorang hamba yang melakukan suatu amal berdasarkan niat yang telah ia ikrarkan.Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)Namun, alih-alih menghadirkan niat lillah dalam melaksanakan segala hal baik urusan duniawi seperti bekerja ataupun menuntut ilmu, maupun urusan ukhrawi dalam bentuk mengerjakan berbagai amal ibadah, terkadang kita justru menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan akhir atas segala urusan tersebut.Akibatnya, kita sering dirundung masalah hingga bencana sebagai bentuk teguran dari Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya yang sedang ‘jauh’ dari-Nya. Padahal, jika saja segala urusan tersebut disandarkan atas niat untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, tentulah kebahagiaan yang akan diperoleh.Baca Juga:Imam Asy Syafi’i dan Ilmu Filsafat Cercaan manusia dan keniscayaanAdapun niat untuk mendapatkan pengakuan dari manusia dalam bentuk pujian, ataupun karena takut dari cercaan, maka apapun yang kita dapatkan setelahnya adalah suatu hal yang semu yang dapat berujung pada kekecewaan. Karena tidak ada orang yang dapat selamat dari cercaan manusia. Sesempurna apapun akhlaknya, semulia apapun perilakunya, dan sebaik apapun tingkah lakunya. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak luput dari cercaan dan celaan dari manusia (orang-orang kafir Quraisy).Nasihat dalam menyikapi keniscayaan cercaan manusia ini dapat kita ambil dari perkataan Ibnu Hazm rahimahullah yang berkata,مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka, maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawaatin Nufuus, hal. 17)Terlalu larut dengan penilaian manusia juga akan memperburuk keadaan pikiran dan batin kita. Sebab, bagaimanapun yang kita lakukan, tetap saja ada manusia yang menilai dari sudut pandang negatif. Semakin kita menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran kesuksesan dan keberhasilan, maka semakin dekat pula kita dengan kekecewaan. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,“إنّك لا تقدر أن ترضي النّاس كلَّهم، فأصلح ما بينك وبين الله ثمّ لا تبالي بالناس”“Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia.” (Tawaalii At-Taniis, hal. 168)Kita hanya perlu memperbaharui niat kita dalam setiap langkah dan aktivitas yang kita lakukan. Niat yang perlu tetap konsisten untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, apapun resiko yang kita hadapi. Bahkan, hingga ke titik resiko yang membahayakan diri kita pun, insya Allah kita akan tetap berada dalam perlindungan Allah Ta’ala, asalkan kita senantiasa menjaga batasan-batasan syariat Allah. Karena dengan menjaga batasan syariat tersebut, kita juga sedang menjaga Allah. Perhatikan hadis berikut ini.عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andai pun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad dalam kitab Al-Musnad, 1: 307)Baca Juga: Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu SinaKekeliruan niat, penyebab jauh dari AllahSeringnya berinteraksi dengan manusia dan menghabiskan waktu dalam kesibukan terhadap urusan duniawi perlahan tapi pasti akan menjauhkan kita dari Allah. Apalagi, kesibukan kita dalam urusan duniawi tersebut telah merenggut waktu-waktu terbaik kita dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.Kadangkala, kita selalu mencari alasan dan pembenaran dari dorongan hasrat duniawi yang terlalu sibuk untuk mendapatkan kesenangan yang semu. Atau yang lebih halus, dengan alasan demi mencari kehidupan yang layak, kemudian kesempatan beribadah (seperti solat duha, tahajud, membaca Al-Qur’an) kita tepis seenaknya, dengan berbagai alasan dan hati pun bergumam “Aku tidak sempat melakukannya, ya Allah.”Padahal, amal ibadah kepada Allah khususnya amalan-amalan sunah (an-nawafil) adalah kunci agar kita semakin dekat dengan-Nya. Dekatnya kita kepada Allah bahkan akan membuka pintu-pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Lantas, kenapa kita menghindarinya?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku, yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 6502)Baca Juga: Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Ikhlaskan amal dan niatmu!Ketika berada dalam suatu keadaan dimana hanya ada dua pilihan antara kesuksesan di mata manusia tapi harus melangkahi batasan syariat, atau bertekad memperoleh rida Allah meskipun mendapatkan celaan manusia. Pilihan manakah yang akan kita ambil?Fenomena terjebak dalam dua pilihan ini seringkali terjadi pada diri kita. Baik dalam memutuskan suatu perkara (cobaan bagi seorang pemimpin), maupun dalam melaksanakan suatu perintah (cobaan bagi yang dipimpin). Contoh konkrit, ketika seorang bos lebih memilih untuk tetap bekerjasama dengan pihak mitra untuk suatu project demi mendapatkan keuntungan besar. Padahal ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh untuk mendapatkan keuntungan itu mau tidak mau harus melanggar ketentuan syariat (seperti ribawi, gharar, dan sebagainya).Atau seorang anak buah yang mau tak mau harus menjalankan perintah bos-nya untuk tetap melanjutkan kerja sama tersebut padahal ia tahu bahwa yang akan dikerjakan adalah apa yang dilarang oleh syariat. Maka, dengan alasan kekhawatiran akan celaan manusia, atau kekhawatiran akan kehilangan rezeki, ia pun tetap melakukan pekerjaan itu.Hilanglah niat “mengerjakan segala hal untuk mendapatkan rida Allah”. Padahal Allah Sang Maha Penyayang akan senantiasa memberikan kita kecukupan selama kita tetap menjaga batasan-batasan agama ini. Perhatikanlah hadis berikut.عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِDari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Muawiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasihat untukku dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari rida Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari rida manusia, namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata kepada salah seorang murid beliau yang bernama Yunus bin Abdil A’la,لَوْ اجْتَهَدْتَ كُلَّ الْجُهْدِ عَلَى أَنْ تُرْضِيَ النَّاسَ كُلَّهُمْ فَلَا سَبِيْلَ، فَأَخْلِصْ عَمَلَكَ وَنِيَّتَكَ لِله عَزَّ وَجَلَّ.“Seandainya engkau bersungguh-sungguh semaksimal mungkin untuk membuat rida manusia seluruhnya, tidak akan mungkin bisa. Oleh karena itu maka ikhlaskanlah amal dan niatmu hanya untuk Allah Azza wa Jalla.” (Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 31)Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlasTelah jelas bagi kita bagaimana keadaan orang-orang yang mengedepankan hasrat untuk mendapatkan pengakuan dan pujian manusia. Mereka tidak akan mendapatkan apapun pada akhirnya, kecuali kekecewaan. Sebaliknya, niat yang selalu dipersembahkan untuk mendapatkan rida dari Allah Ta’ala akab berbuah manis, baik di dunia maupun akhirat.Maka, apakah alasan bagi kita untuk tidak mengikhlaskan niat hanya bagi Allah Ta’ala?Oleh karena itu, selain mengetahui balasan kebaikan yang didapat oleh orang-orang yang senantiasa mengikhlaskan niatnya lillah dalam setiap aktivitas, tutur kata, dan tingkah lakunya. Penting pula bagi kita, untuk mengetahui akibat yang lebih jauh bagi orang-orang yang mempersembahkan niatnya kepada selain Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Tidak ada sedikit pun arti suatu amalan tanpa menghadirkan niat lillah dalam setiap amalan tersebut. Apalah artinya suatu amalan yang dikerjakan dengan segala daya dan upaya, namun tanpa niat lillah, kemudian tidak mendapatkan apa pun dari pahala atas amalan tersebut.Oleh karenanya, amalan yang kita kerjakan dengan niat ikhlas untuk mendapatkan rida Allah (bukan rida manusia) adalah orang yang paling baik agamanya, serta buah dari keikhlasannya tersebut akan berujung pada balasan dengan sebaik-baik balasan dari Allah, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (QS. An-Nisa’: 125)Allah Ta’ala juga berfirman,فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Demikianlah sekelumit dari gambaran betapa ajaran agama mulia ini begitu sempurna dan sangat komprehensif. Ajaran yang meliputi segala lini kehidupan manusia. Baik dalam perkara duniawi, apalagi perkara ukhrawi. Oleh karenanya, selamilah lebih dalam ajaran agama mulia ini. Rasakan dan sadarilah bahwa lautan ilmu yang bersumber dari Allah Ta’ala sangatlah luas sehingga engkau akan berhenti berdecak kagum dengan segala pernak pernik sains dan teknologi yang dianggap menakjubkan itu. Karena akhirnya engkau menyadari bahwa semua itu berasal dari sumber yang sama, yaitu ilmu Allah Ta’ala yang tertera dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Solusi Hidup BahagiaPenulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Ulama Salafi, Hadis Riwayat Abu Hurairah, Arti Haleluya Dan SyalomTags: Aqidahaqidah islamarti Stoikismefilsafatfilsafat Stoikismenasihatnasihat islampaham Stoikismepengertianpengertian StoikismeStoikisme

Ajaran yang Lebih Sempurna daripada Stoikisme

Baru baru ini, istilah stoikisme populer di tengah-tengah masyarakat. Diperbincangkan dalam podcast-podcast yang sedang trending dan mulai dipraktikkan oleh sebagian besar anak muda. Sebuah konsep pemikiran yang ada sejak tahun 108 SM. Konsep ini mengajarkan bagaimana agar manusia mampu menjaga ketenangan dalam berfikir secara rasional. Tidak terlalu mempedulikan apa yang terjadi di luar kendali, serta berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.Konsep stoikisme mengajarkan tentang keyakinan terhadap apa yang dimiliki oleh diri sendiri kemudian berfokus padanya dan menjalani hidup dengan lebih tenang. Kemudian menyingkirkan pengaruh negatif yang datang dari luar kendali diri. Orang-orang stoikis tidak terlalu mempedulikan bagaimana penilaian manusia kepada diri mereka sehingga mereka hanya fokus melakukan apa yang mereka anggap baik bagi diri mereka.Orang-orang yang meyakini dan dianggap berhasil menerapkan konsep berpikir ini dalam kehidupan mereka mengakui bahwa cara pandang mereka dalam menjalani hidup menjadi berbeda karena mereka dapat menjadi lebih tenang dan lebih menikmati kehidupan mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya.Saudaraku, banyak manusia yang mengaku beriman tapi lebih meyakini konsep-konsep dari ajaran di luar Islam daripada ajaran-ajaran yang bersumber dari agamanya sendiri, meskipun pesan yang dibawa adalah sama, bahkan tidak sebaik dari ajaran Islam. Tidak sedikit umat Islam lebih condong mengikuti nasihat yang dianggap memiliki basis ilmiah daripada nasihat Islam sendiri yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Meskipun ia menyadari bahwa Al-Qur’an dan hadis itu sendiri adalah sains dan ilmiah. WaliyadzubillahPadahal, dalam Islam sendiri mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang lebih sempurna dari apa yang diajarkan oleh filsafat apapun yang ada di dunia ini. Dalam Islam, kita diajarkan tentang sebuah konsep mulia yang bernama “niat” yang merupakan pokok fundamental dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Islam mengajarkan agar niat itu dipersembahkan hanya untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala.Melakukan segala amalan berupa aktivitas mulai dari gerakan batin, fikiran, maupun segala hal yang dilakukan oleh fisik (anggota tubuh), dimulai dengan niat ikhlas untuk meraih keridaan Allah. Maka, apapun komentar, tanggapan, bahkan cemoohan dari manusia, tidak sedikit pun dapat mempengaruhi hal-hal yang kita lakukan yang diawali dengan niat ikhlas tersebut.Dan rasakanlah betapa ketenangan hidup yang kita inginkan. Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata,رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa tercapai.” Daftar Isi sembunyikan 1. Senang terhadap pujian manusia 2. Cercaan manusia dan keniscayaan 3. Kekeliruan niat, penyebab jauh dari Allah 4. Ikhlaskan amal dan niatmu! 5. Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlas Senang terhadap pujian manusiaSebagai manusia, perasaan senang atas pujian seseorang atas diri kita adalah hal yang manusiawi, asalkan tidak melangkahi batasan-batasan syariat yang telah ditetapkan baik dalam Al-Qur’an maupun sunah.Namun, sebagian manusia, setelah melakukan suatu tugas, kewajiban, ataupun pemberian kepada seseorang, ucapan ‘terima kasih’ adalah kalimat yang ditunggu-tunggu. Bahkan, oleh penganut konsep stoikisme sekali pun. Karena mereka tidak meletakkan niat suci dari prinsip itu kepada Zat Yang Mahamengetahui, yaitu Allah Ta’ala.Saudaraku, kadangkala kita mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain terhadap diri kita. Pujian dan sanjungan, bahkan cacian dan makian manusia sering menjadi tolak ukur kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Akhirnya, kita bekerja, beraktivitas, berbicara, berperilaku, bahkan beramal dan beribadah ditujukan untuk mendapatkan pengakuan berupa pujian dan sanjungan itu. WaliyadzubillahSesungguhnya kita menyadari bahwa amal ibadah sangat tergantung pada niat kita ketika hendak melaksanakannya. Karena pahala yang diberikan kepada seorang hamba yang melakukan suatu amal berdasarkan niat yang telah ia ikrarkan.Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)Namun, alih-alih menghadirkan niat lillah dalam melaksanakan segala hal baik urusan duniawi seperti bekerja ataupun menuntut ilmu, maupun urusan ukhrawi dalam bentuk mengerjakan berbagai amal ibadah, terkadang kita justru menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan akhir atas segala urusan tersebut.Akibatnya, kita sering dirundung masalah hingga bencana sebagai bentuk teguran dari Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya yang sedang ‘jauh’ dari-Nya. Padahal, jika saja segala urusan tersebut disandarkan atas niat untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, tentulah kebahagiaan yang akan diperoleh.Baca Juga:Imam Asy Syafi’i dan Ilmu Filsafat Cercaan manusia dan keniscayaanAdapun niat untuk mendapatkan pengakuan dari manusia dalam bentuk pujian, ataupun karena takut dari cercaan, maka apapun yang kita dapatkan setelahnya adalah suatu hal yang semu yang dapat berujung pada kekecewaan. Karena tidak ada orang yang dapat selamat dari cercaan manusia. Sesempurna apapun akhlaknya, semulia apapun perilakunya, dan sebaik apapun tingkah lakunya. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak luput dari cercaan dan celaan dari manusia (orang-orang kafir Quraisy).Nasihat dalam menyikapi keniscayaan cercaan manusia ini dapat kita ambil dari perkataan Ibnu Hazm rahimahullah yang berkata,مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka, maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawaatin Nufuus, hal. 17)Terlalu larut dengan penilaian manusia juga akan memperburuk keadaan pikiran dan batin kita. Sebab, bagaimanapun yang kita lakukan, tetap saja ada manusia yang menilai dari sudut pandang negatif. Semakin kita menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran kesuksesan dan keberhasilan, maka semakin dekat pula kita dengan kekecewaan. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,“إنّك لا تقدر أن ترضي النّاس كلَّهم، فأصلح ما بينك وبين الله ثمّ لا تبالي بالناس”“Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia.” (Tawaalii At-Taniis, hal. 168)Kita hanya perlu memperbaharui niat kita dalam setiap langkah dan aktivitas yang kita lakukan. Niat yang perlu tetap konsisten untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, apapun resiko yang kita hadapi. Bahkan, hingga ke titik resiko yang membahayakan diri kita pun, insya Allah kita akan tetap berada dalam perlindungan Allah Ta’ala, asalkan kita senantiasa menjaga batasan-batasan syariat Allah. Karena dengan menjaga batasan syariat tersebut, kita juga sedang menjaga Allah. Perhatikan hadis berikut ini.عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andai pun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad dalam kitab Al-Musnad, 1: 307)Baca Juga: Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu SinaKekeliruan niat, penyebab jauh dari AllahSeringnya berinteraksi dengan manusia dan menghabiskan waktu dalam kesibukan terhadap urusan duniawi perlahan tapi pasti akan menjauhkan kita dari Allah. Apalagi, kesibukan kita dalam urusan duniawi tersebut telah merenggut waktu-waktu terbaik kita dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.Kadangkala, kita selalu mencari alasan dan pembenaran dari dorongan hasrat duniawi yang terlalu sibuk untuk mendapatkan kesenangan yang semu. Atau yang lebih halus, dengan alasan demi mencari kehidupan yang layak, kemudian kesempatan beribadah (seperti solat duha, tahajud, membaca Al-Qur’an) kita tepis seenaknya, dengan berbagai alasan dan hati pun bergumam “Aku tidak sempat melakukannya, ya Allah.”Padahal, amal ibadah kepada Allah khususnya amalan-amalan sunah (an-nawafil) adalah kunci agar kita semakin dekat dengan-Nya. Dekatnya kita kepada Allah bahkan akan membuka pintu-pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Lantas, kenapa kita menghindarinya?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku, yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 6502)Baca Juga: Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Ikhlaskan amal dan niatmu!Ketika berada dalam suatu keadaan dimana hanya ada dua pilihan antara kesuksesan di mata manusia tapi harus melangkahi batasan syariat, atau bertekad memperoleh rida Allah meskipun mendapatkan celaan manusia. Pilihan manakah yang akan kita ambil?Fenomena terjebak dalam dua pilihan ini seringkali terjadi pada diri kita. Baik dalam memutuskan suatu perkara (cobaan bagi seorang pemimpin), maupun dalam melaksanakan suatu perintah (cobaan bagi yang dipimpin). Contoh konkrit, ketika seorang bos lebih memilih untuk tetap bekerjasama dengan pihak mitra untuk suatu project demi mendapatkan keuntungan besar. Padahal ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh untuk mendapatkan keuntungan itu mau tidak mau harus melanggar ketentuan syariat (seperti ribawi, gharar, dan sebagainya).Atau seorang anak buah yang mau tak mau harus menjalankan perintah bos-nya untuk tetap melanjutkan kerja sama tersebut padahal ia tahu bahwa yang akan dikerjakan adalah apa yang dilarang oleh syariat. Maka, dengan alasan kekhawatiran akan celaan manusia, atau kekhawatiran akan kehilangan rezeki, ia pun tetap melakukan pekerjaan itu.Hilanglah niat “mengerjakan segala hal untuk mendapatkan rida Allah”. Padahal Allah Sang Maha Penyayang akan senantiasa memberikan kita kecukupan selama kita tetap menjaga batasan-batasan agama ini. Perhatikanlah hadis berikut.عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِDari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Muawiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasihat untukku dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari rida Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari rida manusia, namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata kepada salah seorang murid beliau yang bernama Yunus bin Abdil A’la,لَوْ اجْتَهَدْتَ كُلَّ الْجُهْدِ عَلَى أَنْ تُرْضِيَ النَّاسَ كُلَّهُمْ فَلَا سَبِيْلَ، فَأَخْلِصْ عَمَلَكَ وَنِيَّتَكَ لِله عَزَّ وَجَلَّ.“Seandainya engkau bersungguh-sungguh semaksimal mungkin untuk membuat rida manusia seluruhnya, tidak akan mungkin bisa. Oleh karena itu maka ikhlaskanlah amal dan niatmu hanya untuk Allah Azza wa Jalla.” (Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 31)Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlasTelah jelas bagi kita bagaimana keadaan orang-orang yang mengedepankan hasrat untuk mendapatkan pengakuan dan pujian manusia. Mereka tidak akan mendapatkan apapun pada akhirnya, kecuali kekecewaan. Sebaliknya, niat yang selalu dipersembahkan untuk mendapatkan rida dari Allah Ta’ala akab berbuah manis, baik di dunia maupun akhirat.Maka, apakah alasan bagi kita untuk tidak mengikhlaskan niat hanya bagi Allah Ta’ala?Oleh karena itu, selain mengetahui balasan kebaikan yang didapat oleh orang-orang yang senantiasa mengikhlaskan niatnya lillah dalam setiap aktivitas, tutur kata, dan tingkah lakunya. Penting pula bagi kita, untuk mengetahui akibat yang lebih jauh bagi orang-orang yang mempersembahkan niatnya kepada selain Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Tidak ada sedikit pun arti suatu amalan tanpa menghadirkan niat lillah dalam setiap amalan tersebut. Apalah artinya suatu amalan yang dikerjakan dengan segala daya dan upaya, namun tanpa niat lillah, kemudian tidak mendapatkan apa pun dari pahala atas amalan tersebut.Oleh karenanya, amalan yang kita kerjakan dengan niat ikhlas untuk mendapatkan rida Allah (bukan rida manusia) adalah orang yang paling baik agamanya, serta buah dari keikhlasannya tersebut akan berujung pada balasan dengan sebaik-baik balasan dari Allah, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (QS. An-Nisa’: 125)Allah Ta’ala juga berfirman,فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Demikianlah sekelumit dari gambaran betapa ajaran agama mulia ini begitu sempurna dan sangat komprehensif. Ajaran yang meliputi segala lini kehidupan manusia. Baik dalam perkara duniawi, apalagi perkara ukhrawi. Oleh karenanya, selamilah lebih dalam ajaran agama mulia ini. Rasakan dan sadarilah bahwa lautan ilmu yang bersumber dari Allah Ta’ala sangatlah luas sehingga engkau akan berhenti berdecak kagum dengan segala pernak pernik sains dan teknologi yang dianggap menakjubkan itu. Karena akhirnya engkau menyadari bahwa semua itu berasal dari sumber yang sama, yaitu ilmu Allah Ta’ala yang tertera dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Solusi Hidup BahagiaPenulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Ulama Salafi, Hadis Riwayat Abu Hurairah, Arti Haleluya Dan SyalomTags: Aqidahaqidah islamarti Stoikismefilsafatfilsafat Stoikismenasihatnasihat islampaham Stoikismepengertianpengertian StoikismeStoikisme
Baru baru ini, istilah stoikisme populer di tengah-tengah masyarakat. Diperbincangkan dalam podcast-podcast yang sedang trending dan mulai dipraktikkan oleh sebagian besar anak muda. Sebuah konsep pemikiran yang ada sejak tahun 108 SM. Konsep ini mengajarkan bagaimana agar manusia mampu menjaga ketenangan dalam berfikir secara rasional. Tidak terlalu mempedulikan apa yang terjadi di luar kendali, serta berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.Konsep stoikisme mengajarkan tentang keyakinan terhadap apa yang dimiliki oleh diri sendiri kemudian berfokus padanya dan menjalani hidup dengan lebih tenang. Kemudian menyingkirkan pengaruh negatif yang datang dari luar kendali diri. Orang-orang stoikis tidak terlalu mempedulikan bagaimana penilaian manusia kepada diri mereka sehingga mereka hanya fokus melakukan apa yang mereka anggap baik bagi diri mereka.Orang-orang yang meyakini dan dianggap berhasil menerapkan konsep berpikir ini dalam kehidupan mereka mengakui bahwa cara pandang mereka dalam menjalani hidup menjadi berbeda karena mereka dapat menjadi lebih tenang dan lebih menikmati kehidupan mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya.Saudaraku, banyak manusia yang mengaku beriman tapi lebih meyakini konsep-konsep dari ajaran di luar Islam daripada ajaran-ajaran yang bersumber dari agamanya sendiri, meskipun pesan yang dibawa adalah sama, bahkan tidak sebaik dari ajaran Islam. Tidak sedikit umat Islam lebih condong mengikuti nasihat yang dianggap memiliki basis ilmiah daripada nasihat Islam sendiri yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Meskipun ia menyadari bahwa Al-Qur’an dan hadis itu sendiri adalah sains dan ilmiah. WaliyadzubillahPadahal, dalam Islam sendiri mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang lebih sempurna dari apa yang diajarkan oleh filsafat apapun yang ada di dunia ini. Dalam Islam, kita diajarkan tentang sebuah konsep mulia yang bernama “niat” yang merupakan pokok fundamental dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Islam mengajarkan agar niat itu dipersembahkan hanya untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala.Melakukan segala amalan berupa aktivitas mulai dari gerakan batin, fikiran, maupun segala hal yang dilakukan oleh fisik (anggota tubuh), dimulai dengan niat ikhlas untuk meraih keridaan Allah. Maka, apapun komentar, tanggapan, bahkan cemoohan dari manusia, tidak sedikit pun dapat mempengaruhi hal-hal yang kita lakukan yang diawali dengan niat ikhlas tersebut.Dan rasakanlah betapa ketenangan hidup yang kita inginkan. Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata,رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa tercapai.” Daftar Isi sembunyikan 1. Senang terhadap pujian manusia 2. Cercaan manusia dan keniscayaan 3. Kekeliruan niat, penyebab jauh dari Allah 4. Ikhlaskan amal dan niatmu! 5. Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlas Senang terhadap pujian manusiaSebagai manusia, perasaan senang atas pujian seseorang atas diri kita adalah hal yang manusiawi, asalkan tidak melangkahi batasan-batasan syariat yang telah ditetapkan baik dalam Al-Qur’an maupun sunah.Namun, sebagian manusia, setelah melakukan suatu tugas, kewajiban, ataupun pemberian kepada seseorang, ucapan ‘terima kasih’ adalah kalimat yang ditunggu-tunggu. Bahkan, oleh penganut konsep stoikisme sekali pun. Karena mereka tidak meletakkan niat suci dari prinsip itu kepada Zat Yang Mahamengetahui, yaitu Allah Ta’ala.Saudaraku, kadangkala kita mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain terhadap diri kita. Pujian dan sanjungan, bahkan cacian dan makian manusia sering menjadi tolak ukur kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Akhirnya, kita bekerja, beraktivitas, berbicara, berperilaku, bahkan beramal dan beribadah ditujukan untuk mendapatkan pengakuan berupa pujian dan sanjungan itu. WaliyadzubillahSesungguhnya kita menyadari bahwa amal ibadah sangat tergantung pada niat kita ketika hendak melaksanakannya. Karena pahala yang diberikan kepada seorang hamba yang melakukan suatu amal berdasarkan niat yang telah ia ikrarkan.Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)Namun, alih-alih menghadirkan niat lillah dalam melaksanakan segala hal baik urusan duniawi seperti bekerja ataupun menuntut ilmu, maupun urusan ukhrawi dalam bentuk mengerjakan berbagai amal ibadah, terkadang kita justru menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan akhir atas segala urusan tersebut.Akibatnya, kita sering dirundung masalah hingga bencana sebagai bentuk teguran dari Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya yang sedang ‘jauh’ dari-Nya. Padahal, jika saja segala urusan tersebut disandarkan atas niat untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, tentulah kebahagiaan yang akan diperoleh.Baca Juga:Imam Asy Syafi’i dan Ilmu Filsafat Cercaan manusia dan keniscayaanAdapun niat untuk mendapatkan pengakuan dari manusia dalam bentuk pujian, ataupun karena takut dari cercaan, maka apapun yang kita dapatkan setelahnya adalah suatu hal yang semu yang dapat berujung pada kekecewaan. Karena tidak ada orang yang dapat selamat dari cercaan manusia. Sesempurna apapun akhlaknya, semulia apapun perilakunya, dan sebaik apapun tingkah lakunya. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak luput dari cercaan dan celaan dari manusia (orang-orang kafir Quraisy).Nasihat dalam menyikapi keniscayaan cercaan manusia ini dapat kita ambil dari perkataan Ibnu Hazm rahimahullah yang berkata,مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka, maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawaatin Nufuus, hal. 17)Terlalu larut dengan penilaian manusia juga akan memperburuk keadaan pikiran dan batin kita. Sebab, bagaimanapun yang kita lakukan, tetap saja ada manusia yang menilai dari sudut pandang negatif. Semakin kita menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran kesuksesan dan keberhasilan, maka semakin dekat pula kita dengan kekecewaan. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,“إنّك لا تقدر أن ترضي النّاس كلَّهم، فأصلح ما بينك وبين الله ثمّ لا تبالي بالناس”“Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia.” (Tawaalii At-Taniis, hal. 168)Kita hanya perlu memperbaharui niat kita dalam setiap langkah dan aktivitas yang kita lakukan. Niat yang perlu tetap konsisten untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, apapun resiko yang kita hadapi. Bahkan, hingga ke titik resiko yang membahayakan diri kita pun, insya Allah kita akan tetap berada dalam perlindungan Allah Ta’ala, asalkan kita senantiasa menjaga batasan-batasan syariat Allah. Karena dengan menjaga batasan syariat tersebut, kita juga sedang menjaga Allah. Perhatikan hadis berikut ini.عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andai pun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad dalam kitab Al-Musnad, 1: 307)Baca Juga: Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu SinaKekeliruan niat, penyebab jauh dari AllahSeringnya berinteraksi dengan manusia dan menghabiskan waktu dalam kesibukan terhadap urusan duniawi perlahan tapi pasti akan menjauhkan kita dari Allah. Apalagi, kesibukan kita dalam urusan duniawi tersebut telah merenggut waktu-waktu terbaik kita dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.Kadangkala, kita selalu mencari alasan dan pembenaran dari dorongan hasrat duniawi yang terlalu sibuk untuk mendapatkan kesenangan yang semu. Atau yang lebih halus, dengan alasan demi mencari kehidupan yang layak, kemudian kesempatan beribadah (seperti solat duha, tahajud, membaca Al-Qur’an) kita tepis seenaknya, dengan berbagai alasan dan hati pun bergumam “Aku tidak sempat melakukannya, ya Allah.”Padahal, amal ibadah kepada Allah khususnya amalan-amalan sunah (an-nawafil) adalah kunci agar kita semakin dekat dengan-Nya. Dekatnya kita kepada Allah bahkan akan membuka pintu-pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Lantas, kenapa kita menghindarinya?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku, yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 6502)Baca Juga: Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Ikhlaskan amal dan niatmu!Ketika berada dalam suatu keadaan dimana hanya ada dua pilihan antara kesuksesan di mata manusia tapi harus melangkahi batasan syariat, atau bertekad memperoleh rida Allah meskipun mendapatkan celaan manusia. Pilihan manakah yang akan kita ambil?Fenomena terjebak dalam dua pilihan ini seringkali terjadi pada diri kita. Baik dalam memutuskan suatu perkara (cobaan bagi seorang pemimpin), maupun dalam melaksanakan suatu perintah (cobaan bagi yang dipimpin). Contoh konkrit, ketika seorang bos lebih memilih untuk tetap bekerjasama dengan pihak mitra untuk suatu project demi mendapatkan keuntungan besar. Padahal ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh untuk mendapatkan keuntungan itu mau tidak mau harus melanggar ketentuan syariat (seperti ribawi, gharar, dan sebagainya).Atau seorang anak buah yang mau tak mau harus menjalankan perintah bos-nya untuk tetap melanjutkan kerja sama tersebut padahal ia tahu bahwa yang akan dikerjakan adalah apa yang dilarang oleh syariat. Maka, dengan alasan kekhawatiran akan celaan manusia, atau kekhawatiran akan kehilangan rezeki, ia pun tetap melakukan pekerjaan itu.Hilanglah niat “mengerjakan segala hal untuk mendapatkan rida Allah”. Padahal Allah Sang Maha Penyayang akan senantiasa memberikan kita kecukupan selama kita tetap menjaga batasan-batasan agama ini. Perhatikanlah hadis berikut.عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِDari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Muawiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasihat untukku dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari rida Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari rida manusia, namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata kepada salah seorang murid beliau yang bernama Yunus bin Abdil A’la,لَوْ اجْتَهَدْتَ كُلَّ الْجُهْدِ عَلَى أَنْ تُرْضِيَ النَّاسَ كُلَّهُمْ فَلَا سَبِيْلَ، فَأَخْلِصْ عَمَلَكَ وَنِيَّتَكَ لِله عَزَّ وَجَلَّ.“Seandainya engkau bersungguh-sungguh semaksimal mungkin untuk membuat rida manusia seluruhnya, tidak akan mungkin bisa. Oleh karena itu maka ikhlaskanlah amal dan niatmu hanya untuk Allah Azza wa Jalla.” (Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 31)Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlasTelah jelas bagi kita bagaimana keadaan orang-orang yang mengedepankan hasrat untuk mendapatkan pengakuan dan pujian manusia. Mereka tidak akan mendapatkan apapun pada akhirnya, kecuali kekecewaan. Sebaliknya, niat yang selalu dipersembahkan untuk mendapatkan rida dari Allah Ta’ala akab berbuah manis, baik di dunia maupun akhirat.Maka, apakah alasan bagi kita untuk tidak mengikhlaskan niat hanya bagi Allah Ta’ala?Oleh karena itu, selain mengetahui balasan kebaikan yang didapat oleh orang-orang yang senantiasa mengikhlaskan niatnya lillah dalam setiap aktivitas, tutur kata, dan tingkah lakunya. Penting pula bagi kita, untuk mengetahui akibat yang lebih jauh bagi orang-orang yang mempersembahkan niatnya kepada selain Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Tidak ada sedikit pun arti suatu amalan tanpa menghadirkan niat lillah dalam setiap amalan tersebut. Apalah artinya suatu amalan yang dikerjakan dengan segala daya dan upaya, namun tanpa niat lillah, kemudian tidak mendapatkan apa pun dari pahala atas amalan tersebut.Oleh karenanya, amalan yang kita kerjakan dengan niat ikhlas untuk mendapatkan rida Allah (bukan rida manusia) adalah orang yang paling baik agamanya, serta buah dari keikhlasannya tersebut akan berujung pada balasan dengan sebaik-baik balasan dari Allah, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (QS. An-Nisa’: 125)Allah Ta’ala juga berfirman,فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Demikianlah sekelumit dari gambaran betapa ajaran agama mulia ini begitu sempurna dan sangat komprehensif. Ajaran yang meliputi segala lini kehidupan manusia. Baik dalam perkara duniawi, apalagi perkara ukhrawi. Oleh karenanya, selamilah lebih dalam ajaran agama mulia ini. Rasakan dan sadarilah bahwa lautan ilmu yang bersumber dari Allah Ta’ala sangatlah luas sehingga engkau akan berhenti berdecak kagum dengan segala pernak pernik sains dan teknologi yang dianggap menakjubkan itu. Karena akhirnya engkau menyadari bahwa semua itu berasal dari sumber yang sama, yaitu ilmu Allah Ta’ala yang tertera dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Solusi Hidup BahagiaPenulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Ulama Salafi, Hadis Riwayat Abu Hurairah, Arti Haleluya Dan SyalomTags: Aqidahaqidah islamarti Stoikismefilsafatfilsafat Stoikismenasihatnasihat islampaham Stoikismepengertianpengertian StoikismeStoikisme


Baru baru ini, istilah stoikisme populer di tengah-tengah masyarakat. Diperbincangkan dalam podcast-podcast yang sedang trending dan mulai dipraktikkan oleh sebagian besar anak muda. Sebuah konsep pemikiran yang ada sejak tahun 108 SM. Konsep ini mengajarkan bagaimana agar manusia mampu menjaga ketenangan dalam berfikir secara rasional. Tidak terlalu mempedulikan apa yang terjadi di luar kendali, serta berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.Konsep stoikisme mengajarkan tentang keyakinan terhadap apa yang dimiliki oleh diri sendiri kemudian berfokus padanya dan menjalani hidup dengan lebih tenang. Kemudian menyingkirkan pengaruh negatif yang datang dari luar kendali diri. Orang-orang stoikis tidak terlalu mempedulikan bagaimana penilaian manusia kepada diri mereka sehingga mereka hanya fokus melakukan apa yang mereka anggap baik bagi diri mereka.Orang-orang yang meyakini dan dianggap berhasil menerapkan konsep berpikir ini dalam kehidupan mereka mengakui bahwa cara pandang mereka dalam menjalani hidup menjadi berbeda karena mereka dapat menjadi lebih tenang dan lebih menikmati kehidupan mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya.Saudaraku, banyak manusia yang mengaku beriman tapi lebih meyakini konsep-konsep dari ajaran di luar Islam daripada ajaran-ajaran yang bersumber dari agamanya sendiri, meskipun pesan yang dibawa adalah sama, bahkan tidak sebaik dari ajaran Islam. Tidak sedikit umat Islam lebih condong mengikuti nasihat yang dianggap memiliki basis ilmiah daripada nasihat Islam sendiri yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Meskipun ia menyadari bahwa Al-Qur’an dan hadis itu sendiri adalah sains dan ilmiah. WaliyadzubillahPadahal, dalam Islam sendiri mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang lebih sempurna dari apa yang diajarkan oleh filsafat apapun yang ada di dunia ini. Dalam Islam, kita diajarkan tentang sebuah konsep mulia yang bernama “niat” yang merupakan pokok fundamental dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Islam mengajarkan agar niat itu dipersembahkan hanya untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala.Melakukan segala amalan berupa aktivitas mulai dari gerakan batin, fikiran, maupun segala hal yang dilakukan oleh fisik (anggota tubuh), dimulai dengan niat ikhlas untuk meraih keridaan Allah. Maka, apapun komentar, tanggapan, bahkan cemoohan dari manusia, tidak sedikit pun dapat mempengaruhi hal-hal yang kita lakukan yang diawali dengan niat ikhlas tersebut.Dan rasakanlah betapa ketenangan hidup yang kita inginkan. Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata,رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa tercapai.” Daftar Isi sembunyikan 1. Senang terhadap pujian manusia 2. Cercaan manusia dan keniscayaan 3. Kekeliruan niat, penyebab jauh dari Allah 4. Ikhlaskan amal dan niatmu! 5. Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlas Senang terhadap pujian manusiaSebagai manusia, perasaan senang atas pujian seseorang atas diri kita adalah hal yang manusiawi, asalkan tidak melangkahi batasan-batasan syariat yang telah ditetapkan baik dalam Al-Qur’an maupun sunah.Namun, sebagian manusia, setelah melakukan suatu tugas, kewajiban, ataupun pemberian kepada seseorang, ucapan ‘terima kasih’ adalah kalimat yang ditunggu-tunggu. Bahkan, oleh penganut konsep stoikisme sekali pun. Karena mereka tidak meletakkan niat suci dari prinsip itu kepada Zat Yang Mahamengetahui, yaitu Allah Ta’ala.Saudaraku, kadangkala kita mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain terhadap diri kita. Pujian dan sanjungan, bahkan cacian dan makian manusia sering menjadi tolak ukur kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Akhirnya, kita bekerja, beraktivitas, berbicara, berperilaku, bahkan beramal dan beribadah ditujukan untuk mendapatkan pengakuan berupa pujian dan sanjungan itu. WaliyadzubillahSesungguhnya kita menyadari bahwa amal ibadah sangat tergantung pada niat kita ketika hendak melaksanakannya. Karena pahala yang diberikan kepada seorang hamba yang melakukan suatu amal berdasarkan niat yang telah ia ikrarkan.Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)Namun, alih-alih menghadirkan niat lillah dalam melaksanakan segala hal baik urusan duniawi seperti bekerja ataupun menuntut ilmu, maupun urusan ukhrawi dalam bentuk mengerjakan berbagai amal ibadah, terkadang kita justru menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan akhir atas segala urusan tersebut.Akibatnya, kita sering dirundung masalah hingga bencana sebagai bentuk teguran dari Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya yang sedang ‘jauh’ dari-Nya. Padahal, jika saja segala urusan tersebut disandarkan atas niat untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, tentulah kebahagiaan yang akan diperoleh.Baca Juga:Imam Asy Syafi’i dan Ilmu Filsafat Cercaan manusia dan keniscayaanAdapun niat untuk mendapatkan pengakuan dari manusia dalam bentuk pujian, ataupun karena takut dari cercaan, maka apapun yang kita dapatkan setelahnya adalah suatu hal yang semu yang dapat berujung pada kekecewaan. Karena tidak ada orang yang dapat selamat dari cercaan manusia. Sesempurna apapun akhlaknya, semulia apapun perilakunya, dan sebaik apapun tingkah lakunya. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak luput dari cercaan dan celaan dari manusia (orang-orang kafir Quraisy).Nasihat dalam menyikapi keniscayaan cercaan manusia ini dapat kita ambil dari perkataan Ibnu Hazm rahimahullah yang berkata,مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka, maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawaatin Nufuus, hal. 17)Terlalu larut dengan penilaian manusia juga akan memperburuk keadaan pikiran dan batin kita. Sebab, bagaimanapun yang kita lakukan, tetap saja ada manusia yang menilai dari sudut pandang negatif. Semakin kita menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran kesuksesan dan keberhasilan, maka semakin dekat pula kita dengan kekecewaan. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,“إنّك لا تقدر أن ترضي النّاس كلَّهم، فأصلح ما بينك وبين الله ثمّ لا تبالي بالناس”“Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia.” (Tawaalii At-Taniis, hal. 168)Kita hanya perlu memperbaharui niat kita dalam setiap langkah dan aktivitas yang kita lakukan. Niat yang perlu tetap konsisten untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, apapun resiko yang kita hadapi. Bahkan, hingga ke titik resiko yang membahayakan diri kita pun, insya Allah kita akan tetap berada dalam perlindungan Allah Ta’ala, asalkan kita senantiasa menjaga batasan-batasan syariat Allah. Karena dengan menjaga batasan syariat tersebut, kita juga sedang menjaga Allah. Perhatikan hadis berikut ini.عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andai pun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad dalam kitab Al-Musnad, 1: 307)Baca Juga: Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu SinaKekeliruan niat, penyebab jauh dari AllahSeringnya berinteraksi dengan manusia dan menghabiskan waktu dalam kesibukan terhadap urusan duniawi perlahan tapi pasti akan menjauhkan kita dari Allah. Apalagi, kesibukan kita dalam urusan duniawi tersebut telah merenggut waktu-waktu terbaik kita dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.Kadangkala, kita selalu mencari alasan dan pembenaran dari dorongan hasrat duniawi yang terlalu sibuk untuk mendapatkan kesenangan yang semu. Atau yang lebih halus, dengan alasan demi mencari kehidupan yang layak, kemudian kesempatan beribadah (seperti solat duha, tahajud, membaca Al-Qur’an) kita tepis seenaknya, dengan berbagai alasan dan hati pun bergumam “Aku tidak sempat melakukannya, ya Allah.”Padahal, amal ibadah kepada Allah khususnya amalan-amalan sunah (an-nawafil) adalah kunci agar kita semakin dekat dengan-Nya. Dekatnya kita kepada Allah bahkan akan membuka pintu-pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Lantas, kenapa kita menghindarinya?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku, yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 6502)Baca Juga: Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Ikhlaskan amal dan niatmu!Ketika berada dalam suatu keadaan dimana hanya ada dua pilihan antara kesuksesan di mata manusia tapi harus melangkahi batasan syariat, atau bertekad memperoleh rida Allah meskipun mendapatkan celaan manusia. Pilihan manakah yang akan kita ambil?Fenomena terjebak dalam dua pilihan ini seringkali terjadi pada diri kita. Baik dalam memutuskan suatu perkara (cobaan bagi seorang pemimpin), maupun dalam melaksanakan suatu perintah (cobaan bagi yang dipimpin). Contoh konkrit, ketika seorang bos lebih memilih untuk tetap bekerjasama dengan pihak mitra untuk suatu project demi mendapatkan keuntungan besar. Padahal ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh untuk mendapatkan keuntungan itu mau tidak mau harus melanggar ketentuan syariat (seperti ribawi, gharar, dan sebagainya).Atau seorang anak buah yang mau tak mau harus menjalankan perintah bos-nya untuk tetap melanjutkan kerja sama tersebut padahal ia tahu bahwa yang akan dikerjakan adalah apa yang dilarang oleh syariat. Maka, dengan alasan kekhawatiran akan celaan manusia, atau kekhawatiran akan kehilangan rezeki, ia pun tetap melakukan pekerjaan itu.Hilanglah niat “mengerjakan segala hal untuk mendapatkan rida Allah”. Padahal Allah Sang Maha Penyayang akan senantiasa memberikan kita kecukupan selama kita tetap menjaga batasan-batasan agama ini. Perhatikanlah hadis berikut.عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِDari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Muawiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasihat untukku dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari rida Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari rida manusia, namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata kepada salah seorang murid beliau yang bernama Yunus bin Abdil A’la,لَوْ اجْتَهَدْتَ كُلَّ الْجُهْدِ عَلَى أَنْ تُرْضِيَ النَّاسَ كُلَّهُمْ فَلَا سَبِيْلَ، فَأَخْلِصْ عَمَلَكَ وَنِيَّتَكَ لِله عَزَّ وَجَلَّ.“Seandainya engkau bersungguh-sungguh semaksimal mungkin untuk membuat rida manusia seluruhnya, tidak akan mungkin bisa. Oleh karena itu maka ikhlaskanlah amal dan niatmu hanya untuk Allah Azza wa Jalla.” (Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 31)Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlasTelah jelas bagi kita bagaimana keadaan orang-orang yang mengedepankan hasrat untuk mendapatkan pengakuan dan pujian manusia. Mereka tidak akan mendapatkan apapun pada akhirnya, kecuali kekecewaan. Sebaliknya, niat yang selalu dipersembahkan untuk mendapatkan rida dari Allah Ta’ala akab berbuah manis, baik di dunia maupun akhirat.Maka, apakah alasan bagi kita untuk tidak mengikhlaskan niat hanya bagi Allah Ta’ala?Oleh karena itu, selain mengetahui balasan kebaikan yang didapat oleh orang-orang yang senantiasa mengikhlaskan niatnya lillah dalam setiap aktivitas, tutur kata, dan tingkah lakunya. Penting pula bagi kita, untuk mengetahui akibat yang lebih jauh bagi orang-orang yang mempersembahkan niatnya kepada selain Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Tidak ada sedikit pun arti suatu amalan tanpa menghadirkan niat lillah dalam setiap amalan tersebut. Apalah artinya suatu amalan yang dikerjakan dengan segala daya dan upaya, namun tanpa niat lillah, kemudian tidak mendapatkan apa pun dari pahala atas amalan tersebut.Oleh karenanya, amalan yang kita kerjakan dengan niat ikhlas untuk mendapatkan rida Allah (bukan rida manusia) adalah orang yang paling baik agamanya, serta buah dari keikhlasannya tersebut akan berujung pada balasan dengan sebaik-baik balasan dari Allah, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (QS. An-Nisa’: 125)Allah Ta’ala juga berfirman,فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Demikianlah sekelumit dari gambaran betapa ajaran agama mulia ini begitu sempurna dan sangat komprehensif. Ajaran yang meliputi segala lini kehidupan manusia. Baik dalam perkara duniawi, apalagi perkara ukhrawi. Oleh karenanya, selamilah lebih dalam ajaran agama mulia ini. Rasakan dan sadarilah bahwa lautan ilmu yang bersumber dari Allah Ta’ala sangatlah luas sehingga engkau akan berhenti berdecak kagum dengan segala pernak pernik sains dan teknologi yang dianggap menakjubkan itu. Karena akhirnya engkau menyadari bahwa semua itu berasal dari sumber yang sama, yaitu ilmu Allah Ta’ala yang tertera dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Solusi Hidup BahagiaPenulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Ulama Salafi, Hadis Riwayat Abu Hurairah, Arti Haleluya Dan SyalomTags: Aqidahaqidah islamarti Stoikismefilsafatfilsafat Stoikismenasihatnasihat islampaham Stoikismepengertianpengertian StoikismeStoikisme

Khotbah Jumat: Jangan Mudah Berkata Kotor

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, karena dengan ketakwaan, seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusan dan akan diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ * وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara perkara yang paling agung yang dibawa agama Islam terhadap kemanusiaan adalah akhlak yang mulia. Dan inilah salah satu tujuan diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بُعِثتُ لأُتَمِّمَ صالِحَ الأخْلاقِ“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad)Akhlak yang sempurna dan luhur inilah yang menjadi salah satu sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan pujian dari Allah Ta’ala. Sebuah pujian yang belum pernah Allah Ta’ala berikan kepada makhluk selainnya. Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)Dengan akhlak dan budi pekerti yang mulia inilah beliau bisa mengambil banyak hati manusia. Begitu banyak manusia yang akhirnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk Islam karena melihat akhlak beliau yang mulia ini. Betapa banyak kalimat dan kata-kata yang baik yang keluar dari mulut beliau sehingga dapat mengobati hati yang sedang sakit, meredakan fitnah, dan menyebabkan terjalinnya persahabatan dan persaudaraan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Hukum Menyampaikan Khotbah Jumat dengan Selain Bahasa ArabBegitu agung penggambaran Al-Qur’an terhadap perkataan yang baik, seakan-akan ia adalah tali penyambung antara bumi dan langit dan merupakan jalan untuk meraih keridaan Allah Sang Pemilik kenikmatan dan kemuliaan. Karena ucapan yang baik adalah buah dari ibadah kita dan hasil darinya. Allah Ta’ala berfirman,اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ * تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)Jemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala.Sebaliknya, ucapan yang kotor dan buruk merupakan salah satu perkara yang tidak disukai Allah Ta’ala. Tidaklah ia membuahkan sesuatu, melainkan permusuhan dan perpecahan, menjadi sebab rusaknya tali persaudaraan dan putusnya sebuah hubungan. Tak terhitung jumlahnya, putusnya hubungan orang tua dan anak dan hilangnya keharmonisan antara pasangan suami dan istri dikarenakan ucapan yang kotor dan buruk.Al-Qur’an telah menggambarkan perkataan yang kotor dan buruk ini bagaikan pohon yang buruk, pohon yang tidak memberikan manfaat serta kebaikan apapun bagi pemiliknya. Bahkan ia membuahkan keburukan dan kerusakan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ِۨاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim: 26)Setelah memberikan permisalan 2 pohon, Al-Qur’an memberi kita sinyal dan mengajarkan bahwa ucapan dan perkataan yang baik merupakan tanda jujurnya keimanan seseorang dan pertanda bahwa dirinya telah mencapai derajat rida Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ ࣖ“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)Baca Juga: Khotbah Jumat: Rasulullah Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh AlamMa’asyiral mukminin yang berbahagia,Ketahuilah sesungguhnya hasil dari ucapan yang baik adalah terjaganya rumah tangga. Jika seorang suami berkata dengan perkataan yang indah, maka bertambah pula kadar kecintaan dan kasih sayang antara suami dengan istrinya, semakin baik pula perlakuannya terhadap yang lain. Dan kapan pun seorang istri cerdas di dalam memilih kata, maka itu adalah pondasi untuk membangun rumah yang yang tenang lagi damai.Jika kita cermati dengan baik, akan kita dapati bahwa di antara sebab rusaknya hubungan suami istri adalah ucapan dan perkataan yang kotor lagi buruk. Kata-kata yang tidak disadari ternyata dapat menyebabkan rusaknya hubungan, kata-kata yang akhirnya dapat merusak keharmonisan dalam keluarga, kata-kata yang mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan. Hubungan yang biasanya dipenuhi dengan kasih sayang berubah dipenuhi dengan kekerasan dan sikap acuh tak acuh karena kata-kata kotor yang keluar dari mulut pelakunya. Padahal, Nabi hallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan petunjuk yang indah dalam perkara ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no.47)An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara, maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Sungguh menjaga ucapan serta tidak berkata kotor dan buruk merupakan salah satu perkara penting yang harus diperhatikan oleh para orang tua, ayah dan ibu. Karena anak-anak pastilah akan memperhatikan dan meniru ucapan orang tuanya. Saat engkau dapati ada anak yang memiliki tutur kata yang baik, ketahuilah bahwa itu adalah buah dan hasil dari apa yang ia dengar dari orangtuanya. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi setiap orang tua untuk memperhatikan tutur kata dan tingkah lakunya.Salah seorang ulama masa silam, Muqatil bin Muhammad Al-‘Ataki berkata, “Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim Al-Harbi. Maka, beliau bertanya kepada ayahku, ‘Mereka ini anak-anakmu?’ Ayahku menjawab, ‘Iya.’ (Maka), beliau berkata (kepada ayahku), ‘Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka.’” (Shifatush Shafwah, 2: 409)Seorang penyair juga pernah berkata dalam bait syairnya,الأم مدرسة إذا أعددتَها، أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق“Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Perbaikan akhlak (dan termasuk di dalamnya menjaga lisan kita dari perkataan kotor dan tidak pantas) merupakan kunci kesuksesan di dalam mendidik, baik itu pendidikan orang tua terhadap anaknya, pendidikan seorang guru terhadap murid-muridnya, ataupun pendidikan dan dakwah seorang ulama terhadap pengikutnya. Ada sebuah ungkapan Arab terkenal berbunyi,فاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ“Orang yang tidak punya sesuatu, tidak mungkin memberi sesuatu itu.”Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga lisan kita dari berucap dan berbicara dengan sesuatu yang kotor lagi buruk. Semoga Allah Ta’ala hiasi lisan kita ini dengan ucapan yang baik lagi indah. Karena lisan kita merupakan salah satu anggota badan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Serta tidaklah kita berucap melainkan pasti ada malaikat yang akan mencatatnya. Allah Ta’ala berfirman,مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Memuliakan Bulan Muharam Sesuai Petunjuk RasulullahKhotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Di Hari, Hukum Minum Air Kencing Unta, Ayat Alquran Untuk Pengobatan, Tata Cara Qiyamul LailTags: adabadab berbicaraAkhlakkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatmuamalahteks khutbah jumattema khutbah jumat

Khotbah Jumat: Jangan Mudah Berkata Kotor

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, karena dengan ketakwaan, seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusan dan akan diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ * وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara perkara yang paling agung yang dibawa agama Islam terhadap kemanusiaan adalah akhlak yang mulia. Dan inilah salah satu tujuan diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بُعِثتُ لأُتَمِّمَ صالِحَ الأخْلاقِ“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad)Akhlak yang sempurna dan luhur inilah yang menjadi salah satu sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan pujian dari Allah Ta’ala. Sebuah pujian yang belum pernah Allah Ta’ala berikan kepada makhluk selainnya. Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)Dengan akhlak dan budi pekerti yang mulia inilah beliau bisa mengambil banyak hati manusia. Begitu banyak manusia yang akhirnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk Islam karena melihat akhlak beliau yang mulia ini. Betapa banyak kalimat dan kata-kata yang baik yang keluar dari mulut beliau sehingga dapat mengobati hati yang sedang sakit, meredakan fitnah, dan menyebabkan terjalinnya persahabatan dan persaudaraan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Hukum Menyampaikan Khotbah Jumat dengan Selain Bahasa ArabBegitu agung penggambaran Al-Qur’an terhadap perkataan yang baik, seakan-akan ia adalah tali penyambung antara bumi dan langit dan merupakan jalan untuk meraih keridaan Allah Sang Pemilik kenikmatan dan kemuliaan. Karena ucapan yang baik adalah buah dari ibadah kita dan hasil darinya. Allah Ta’ala berfirman,اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ * تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)Jemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala.Sebaliknya, ucapan yang kotor dan buruk merupakan salah satu perkara yang tidak disukai Allah Ta’ala. Tidaklah ia membuahkan sesuatu, melainkan permusuhan dan perpecahan, menjadi sebab rusaknya tali persaudaraan dan putusnya sebuah hubungan. Tak terhitung jumlahnya, putusnya hubungan orang tua dan anak dan hilangnya keharmonisan antara pasangan suami dan istri dikarenakan ucapan yang kotor dan buruk.Al-Qur’an telah menggambarkan perkataan yang kotor dan buruk ini bagaikan pohon yang buruk, pohon yang tidak memberikan manfaat serta kebaikan apapun bagi pemiliknya. Bahkan ia membuahkan keburukan dan kerusakan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ِۨاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim: 26)Setelah memberikan permisalan 2 pohon, Al-Qur’an memberi kita sinyal dan mengajarkan bahwa ucapan dan perkataan yang baik merupakan tanda jujurnya keimanan seseorang dan pertanda bahwa dirinya telah mencapai derajat rida Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ ࣖ“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)Baca Juga: Khotbah Jumat: Rasulullah Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh AlamMa’asyiral mukminin yang berbahagia,Ketahuilah sesungguhnya hasil dari ucapan yang baik adalah terjaganya rumah tangga. Jika seorang suami berkata dengan perkataan yang indah, maka bertambah pula kadar kecintaan dan kasih sayang antara suami dengan istrinya, semakin baik pula perlakuannya terhadap yang lain. Dan kapan pun seorang istri cerdas di dalam memilih kata, maka itu adalah pondasi untuk membangun rumah yang yang tenang lagi damai.Jika kita cermati dengan baik, akan kita dapati bahwa di antara sebab rusaknya hubungan suami istri adalah ucapan dan perkataan yang kotor lagi buruk. Kata-kata yang tidak disadari ternyata dapat menyebabkan rusaknya hubungan, kata-kata yang akhirnya dapat merusak keharmonisan dalam keluarga, kata-kata yang mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan. Hubungan yang biasanya dipenuhi dengan kasih sayang berubah dipenuhi dengan kekerasan dan sikap acuh tak acuh karena kata-kata kotor yang keluar dari mulut pelakunya. Padahal, Nabi hallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan petunjuk yang indah dalam perkara ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no.47)An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara, maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Sungguh menjaga ucapan serta tidak berkata kotor dan buruk merupakan salah satu perkara penting yang harus diperhatikan oleh para orang tua, ayah dan ibu. Karena anak-anak pastilah akan memperhatikan dan meniru ucapan orang tuanya. Saat engkau dapati ada anak yang memiliki tutur kata yang baik, ketahuilah bahwa itu adalah buah dan hasil dari apa yang ia dengar dari orangtuanya. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi setiap orang tua untuk memperhatikan tutur kata dan tingkah lakunya.Salah seorang ulama masa silam, Muqatil bin Muhammad Al-‘Ataki berkata, “Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim Al-Harbi. Maka, beliau bertanya kepada ayahku, ‘Mereka ini anak-anakmu?’ Ayahku menjawab, ‘Iya.’ (Maka), beliau berkata (kepada ayahku), ‘Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka.’” (Shifatush Shafwah, 2: 409)Seorang penyair juga pernah berkata dalam bait syairnya,الأم مدرسة إذا أعددتَها، أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق“Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Perbaikan akhlak (dan termasuk di dalamnya menjaga lisan kita dari perkataan kotor dan tidak pantas) merupakan kunci kesuksesan di dalam mendidik, baik itu pendidikan orang tua terhadap anaknya, pendidikan seorang guru terhadap murid-muridnya, ataupun pendidikan dan dakwah seorang ulama terhadap pengikutnya. Ada sebuah ungkapan Arab terkenal berbunyi,فاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ“Orang yang tidak punya sesuatu, tidak mungkin memberi sesuatu itu.”Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga lisan kita dari berucap dan berbicara dengan sesuatu yang kotor lagi buruk. Semoga Allah Ta’ala hiasi lisan kita ini dengan ucapan yang baik lagi indah. Karena lisan kita merupakan salah satu anggota badan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Serta tidaklah kita berucap melainkan pasti ada malaikat yang akan mencatatnya. Allah Ta’ala berfirman,مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Memuliakan Bulan Muharam Sesuai Petunjuk RasulullahKhotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Di Hari, Hukum Minum Air Kencing Unta, Ayat Alquran Untuk Pengobatan, Tata Cara Qiyamul LailTags: adabadab berbicaraAkhlakkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatmuamalahteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, karena dengan ketakwaan, seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusan dan akan diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ * وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara perkara yang paling agung yang dibawa agama Islam terhadap kemanusiaan adalah akhlak yang mulia. Dan inilah salah satu tujuan diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بُعِثتُ لأُتَمِّمَ صالِحَ الأخْلاقِ“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad)Akhlak yang sempurna dan luhur inilah yang menjadi salah satu sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan pujian dari Allah Ta’ala. Sebuah pujian yang belum pernah Allah Ta’ala berikan kepada makhluk selainnya. Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)Dengan akhlak dan budi pekerti yang mulia inilah beliau bisa mengambil banyak hati manusia. Begitu banyak manusia yang akhirnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk Islam karena melihat akhlak beliau yang mulia ini. Betapa banyak kalimat dan kata-kata yang baik yang keluar dari mulut beliau sehingga dapat mengobati hati yang sedang sakit, meredakan fitnah, dan menyebabkan terjalinnya persahabatan dan persaudaraan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Hukum Menyampaikan Khotbah Jumat dengan Selain Bahasa ArabBegitu agung penggambaran Al-Qur’an terhadap perkataan yang baik, seakan-akan ia adalah tali penyambung antara bumi dan langit dan merupakan jalan untuk meraih keridaan Allah Sang Pemilik kenikmatan dan kemuliaan. Karena ucapan yang baik adalah buah dari ibadah kita dan hasil darinya. Allah Ta’ala berfirman,اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ * تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)Jemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala.Sebaliknya, ucapan yang kotor dan buruk merupakan salah satu perkara yang tidak disukai Allah Ta’ala. Tidaklah ia membuahkan sesuatu, melainkan permusuhan dan perpecahan, menjadi sebab rusaknya tali persaudaraan dan putusnya sebuah hubungan. Tak terhitung jumlahnya, putusnya hubungan orang tua dan anak dan hilangnya keharmonisan antara pasangan suami dan istri dikarenakan ucapan yang kotor dan buruk.Al-Qur’an telah menggambarkan perkataan yang kotor dan buruk ini bagaikan pohon yang buruk, pohon yang tidak memberikan manfaat serta kebaikan apapun bagi pemiliknya. Bahkan ia membuahkan keburukan dan kerusakan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ِۨاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim: 26)Setelah memberikan permisalan 2 pohon, Al-Qur’an memberi kita sinyal dan mengajarkan bahwa ucapan dan perkataan yang baik merupakan tanda jujurnya keimanan seseorang dan pertanda bahwa dirinya telah mencapai derajat rida Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ ࣖ“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)Baca Juga: Khotbah Jumat: Rasulullah Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh AlamMa’asyiral mukminin yang berbahagia,Ketahuilah sesungguhnya hasil dari ucapan yang baik adalah terjaganya rumah tangga. Jika seorang suami berkata dengan perkataan yang indah, maka bertambah pula kadar kecintaan dan kasih sayang antara suami dengan istrinya, semakin baik pula perlakuannya terhadap yang lain. Dan kapan pun seorang istri cerdas di dalam memilih kata, maka itu adalah pondasi untuk membangun rumah yang yang tenang lagi damai.Jika kita cermati dengan baik, akan kita dapati bahwa di antara sebab rusaknya hubungan suami istri adalah ucapan dan perkataan yang kotor lagi buruk. Kata-kata yang tidak disadari ternyata dapat menyebabkan rusaknya hubungan, kata-kata yang akhirnya dapat merusak keharmonisan dalam keluarga, kata-kata yang mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan. Hubungan yang biasanya dipenuhi dengan kasih sayang berubah dipenuhi dengan kekerasan dan sikap acuh tak acuh karena kata-kata kotor yang keluar dari mulut pelakunya. Padahal, Nabi hallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan petunjuk yang indah dalam perkara ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no.47)An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara, maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Sungguh menjaga ucapan serta tidak berkata kotor dan buruk merupakan salah satu perkara penting yang harus diperhatikan oleh para orang tua, ayah dan ibu. Karena anak-anak pastilah akan memperhatikan dan meniru ucapan orang tuanya. Saat engkau dapati ada anak yang memiliki tutur kata yang baik, ketahuilah bahwa itu adalah buah dan hasil dari apa yang ia dengar dari orangtuanya. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi setiap orang tua untuk memperhatikan tutur kata dan tingkah lakunya.Salah seorang ulama masa silam, Muqatil bin Muhammad Al-‘Ataki berkata, “Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim Al-Harbi. Maka, beliau bertanya kepada ayahku, ‘Mereka ini anak-anakmu?’ Ayahku menjawab, ‘Iya.’ (Maka), beliau berkata (kepada ayahku), ‘Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka.’” (Shifatush Shafwah, 2: 409)Seorang penyair juga pernah berkata dalam bait syairnya,الأم مدرسة إذا أعددتَها، أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق“Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Perbaikan akhlak (dan termasuk di dalamnya menjaga lisan kita dari perkataan kotor dan tidak pantas) merupakan kunci kesuksesan di dalam mendidik, baik itu pendidikan orang tua terhadap anaknya, pendidikan seorang guru terhadap murid-muridnya, ataupun pendidikan dan dakwah seorang ulama terhadap pengikutnya. Ada sebuah ungkapan Arab terkenal berbunyi,فاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ“Orang yang tidak punya sesuatu, tidak mungkin memberi sesuatu itu.”Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga lisan kita dari berucap dan berbicara dengan sesuatu yang kotor lagi buruk. Semoga Allah Ta’ala hiasi lisan kita ini dengan ucapan yang baik lagi indah. Karena lisan kita merupakan salah satu anggota badan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Serta tidaklah kita berucap melainkan pasti ada malaikat yang akan mencatatnya. Allah Ta’ala berfirman,مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Memuliakan Bulan Muharam Sesuai Petunjuk RasulullahKhotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Di Hari, Hukum Minum Air Kencing Unta, Ayat Alquran Untuk Pengobatan, Tata Cara Qiyamul LailTags: adabadab berbicaraAkhlakkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatmuamalahteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, karena dengan ketakwaan, seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusan dan akan diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ * وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara perkara yang paling agung yang dibawa agama Islam terhadap kemanusiaan adalah akhlak yang mulia. Dan inilah salah satu tujuan diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بُعِثتُ لأُتَمِّمَ صالِحَ الأخْلاقِ“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad)Akhlak yang sempurna dan luhur inilah yang menjadi salah satu sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan pujian dari Allah Ta’ala. Sebuah pujian yang belum pernah Allah Ta’ala berikan kepada makhluk selainnya. Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)Dengan akhlak dan budi pekerti yang mulia inilah beliau bisa mengambil banyak hati manusia. Begitu banyak manusia yang akhirnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk Islam karena melihat akhlak beliau yang mulia ini. Betapa banyak kalimat dan kata-kata yang baik yang keluar dari mulut beliau sehingga dapat mengobati hati yang sedang sakit, meredakan fitnah, dan menyebabkan terjalinnya persahabatan dan persaudaraan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Hukum Menyampaikan Khotbah Jumat dengan Selain Bahasa ArabBegitu agung penggambaran Al-Qur’an terhadap perkataan yang baik, seakan-akan ia adalah tali penyambung antara bumi dan langit dan merupakan jalan untuk meraih keridaan Allah Sang Pemilik kenikmatan dan kemuliaan. Karena ucapan yang baik adalah buah dari ibadah kita dan hasil darinya. Allah Ta’ala berfirman,اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ * تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)Jemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala.Sebaliknya, ucapan yang kotor dan buruk merupakan salah satu perkara yang tidak disukai Allah Ta’ala. Tidaklah ia membuahkan sesuatu, melainkan permusuhan dan perpecahan, menjadi sebab rusaknya tali persaudaraan dan putusnya sebuah hubungan. Tak terhitung jumlahnya, putusnya hubungan orang tua dan anak dan hilangnya keharmonisan antara pasangan suami dan istri dikarenakan ucapan yang kotor dan buruk.Al-Qur’an telah menggambarkan perkataan yang kotor dan buruk ini bagaikan pohon yang buruk, pohon yang tidak memberikan manfaat serta kebaikan apapun bagi pemiliknya. Bahkan ia membuahkan keburukan dan kerusakan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ِۨاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim: 26)Setelah memberikan permisalan 2 pohon, Al-Qur’an memberi kita sinyal dan mengajarkan bahwa ucapan dan perkataan yang baik merupakan tanda jujurnya keimanan seseorang dan pertanda bahwa dirinya telah mencapai derajat rida Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ ࣖ“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)Baca Juga: Khotbah Jumat: Rasulullah Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh AlamMa’asyiral mukminin yang berbahagia,Ketahuilah sesungguhnya hasil dari ucapan yang baik adalah terjaganya rumah tangga. Jika seorang suami berkata dengan perkataan yang indah, maka bertambah pula kadar kecintaan dan kasih sayang antara suami dengan istrinya, semakin baik pula perlakuannya terhadap yang lain. Dan kapan pun seorang istri cerdas di dalam memilih kata, maka itu adalah pondasi untuk membangun rumah yang yang tenang lagi damai.Jika kita cermati dengan baik, akan kita dapati bahwa di antara sebab rusaknya hubungan suami istri adalah ucapan dan perkataan yang kotor lagi buruk. Kata-kata yang tidak disadari ternyata dapat menyebabkan rusaknya hubungan, kata-kata yang akhirnya dapat merusak keharmonisan dalam keluarga, kata-kata yang mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan. Hubungan yang biasanya dipenuhi dengan kasih sayang berubah dipenuhi dengan kekerasan dan sikap acuh tak acuh karena kata-kata kotor yang keluar dari mulut pelakunya. Padahal, Nabi hallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan petunjuk yang indah dalam perkara ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no.47)An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara, maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Sungguh menjaga ucapan serta tidak berkata kotor dan buruk merupakan salah satu perkara penting yang harus diperhatikan oleh para orang tua, ayah dan ibu. Karena anak-anak pastilah akan memperhatikan dan meniru ucapan orang tuanya. Saat engkau dapati ada anak yang memiliki tutur kata yang baik, ketahuilah bahwa itu adalah buah dan hasil dari apa yang ia dengar dari orangtuanya. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi setiap orang tua untuk memperhatikan tutur kata dan tingkah lakunya.Salah seorang ulama masa silam, Muqatil bin Muhammad Al-‘Ataki berkata, “Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim Al-Harbi. Maka, beliau bertanya kepada ayahku, ‘Mereka ini anak-anakmu?’ Ayahku menjawab, ‘Iya.’ (Maka), beliau berkata (kepada ayahku), ‘Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka.’” (Shifatush Shafwah, 2: 409)Seorang penyair juga pernah berkata dalam bait syairnya,الأم مدرسة إذا أعددتَها، أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق“Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Perbaikan akhlak (dan termasuk di dalamnya menjaga lisan kita dari perkataan kotor dan tidak pantas) merupakan kunci kesuksesan di dalam mendidik, baik itu pendidikan orang tua terhadap anaknya, pendidikan seorang guru terhadap murid-muridnya, ataupun pendidikan dan dakwah seorang ulama terhadap pengikutnya. Ada sebuah ungkapan Arab terkenal berbunyi,فاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ“Orang yang tidak punya sesuatu, tidak mungkin memberi sesuatu itu.”Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga lisan kita dari berucap dan berbicara dengan sesuatu yang kotor lagi buruk. Semoga Allah Ta’ala hiasi lisan kita ini dengan ucapan yang baik lagi indah. Karena lisan kita merupakan salah satu anggota badan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Serta tidaklah kita berucap melainkan pasti ada malaikat yang akan mencatatnya. Allah Ta’ala berfirman,مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Memuliakan Bulan Muharam Sesuai Petunjuk RasulullahKhotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Di Hari, Hukum Minum Air Kencing Unta, Ayat Alquran Untuk Pengobatan, Tata Cara Qiyamul LailTags: adabadab berbicaraAkhlakkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatmuamalahteks khutbah jumattema khutbah jumat

Bulughul Maram – Shalat: Dalil-Dalil yang Membicarakan Manakah yang Termasuk Ayat Sajadah

https://open.spotify.com/episode/4DuenuEefFQwf9qc1LbVY0 Berikut adalah hadits-hadits yang membicarakan ayat sajadah yang disyariatkan sujud sahwi dalam shalat. Yuk kita kaji.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Ayat-Ayat Sajadah 2. Hadits 1/339 2.1. Faedah hadits 3. Hadits 2/340 3.1. Faedah hadits 4. Hadits 3/341 5. Hadits 4/342 5.1. Faedah hadits 6. Hadits 5/343 7. Hadits 6/344 7.1. Faedah hadits 8. Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an 8.1. Referensi   Ayat-Ayat Sajadah Hadits 1/339 ِعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَجَدْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي: {{إِذَاالسَّمَاءُ انْشَقَّتْ *}}، وَ{{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ}}، رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami sujud bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsewaktu membaca IDZASSAMAA-UN SYAQQOT dan IQRO’ BISMI ROBBIKA. (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 578, 108]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya sujud tilawah ketika ada sebab. Sujud tilawah ada dalam surah mufashshal (yang ayatnya pendek-pendek), seperti dalam surah Al-Insyiqaq dan surah Al-‘Alaq.   Hadits 2/340 ِعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: {{ص}} لَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ السُّجُودِ، وَقَدْ رَأَيْتُرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِيهَا، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Surah Shad bukanlah surah yang disunnahkan untuk sujud. Namun, aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud ketika membacanya.” (HR. Bukhari). [HR. Bukhari, no. 1069]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil mengenai disyariatkannya sujud ketika membaca surah Shad, tetapi tidak terlalu ditekankan seperti sujud ketika membaca ayat lainnya. Para ulama berselisih pendapat apakah surah Shad disyariatkan sujud tilawah ataukah sujud syukur. Sebagian ulama menganggap bahwa yang disyariatkan adalah sujud syukur, berarti hanya dilakukan di luar shalat. Inilah pendapat Syafiiyah dari dua pendapat yang ada dan pendapat madzhab Hambali. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa surah Shad disyariatkan sujud tilawah, sehingga dianjurkan di dalam maupun di luar shalat. Inilah pendapat dari ulama Malikiyyah, Hanafiyyah, dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafii. Pendapat yang terkuat menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, surah Shad disyariatkan sujud tilawah. Hal ini juga menjadi pendapat dari Syaikh As-Sa’di dan Syaikh Ibnu Baz. Sedangkan, Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berpendapat bahwa surah Shad itu dianjurkan sujud syukur, bukan sujud tilawah, sehingga tidaklah disyariatkan di dalam shalat.   Hadits 3/341 ِـ وَعَنْهُ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ بِالنَّجْمِ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sewaktu membaca surah An-Najm. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1071]   Hadits 4/342 ِوَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّجْمَ فَلَمْيَسْجُدْ فِيهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah membaca surah An-Najm di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi beliau tidak sujud waktu itu.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1072, 1073 dan Muslim, no. 577]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud tilawah disyariatkan ketika membaca surah An-Najm. Adapun hadits Zaid bin Tsabit tidak menunjukkan meninggalkan sujud secara keseluruhan ketika membaca surah An-Najm. Ketika itu Zaid bin Tsabit membaca surah An-Najm, lantas ia tidak sujud. Seandainya ia sujud tilawah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan ikut sujud pula. Sujud tilawah disunnahkan bagi orang yang membaca baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Hal ini tidak disyariatkan untuk orang yang junub dan mabuk karena keduanya tidaklah disyariatkan untuk membaca surah. Orang yang mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan ayat sajadah, hendaklah melakukan sujud tilawah walaupun yang membaca tidaklah sujud. Namun, jika yang membaca Al-Qur’an melakukan sujud tilawah, maka sangat dianjurkan yang mendengarkan melakukan sujud tilawah. Akan tetapi, jika yang membaca Al-Qur’an itu sedang tidak berada dalam shalat, sedangkan yang mendengarkan sedang shalat, maka tidak ada sujud tilawah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan sujud tilawah ketika sampai pada ayat sajadah dalam surah An-Najm, berarti beliau terkadang sujud tilawah, terkadang tidak. Inilah yang menjadi dalil bahwa sujud tilawah itu sunnah, bukan wajib.   Hadits 5/343 ِـ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ: فُضِّلَتْ سُورَةُ الحَجِّ بِسَجْدَتَيْنِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ فِي«المَرَاسِيْلِ». Dari Khalid bin Ma’dan rahimahullah, ia berkata, “Surah Al-Hajj diutamakan karena ada dua sujudnya (dua ayat sajadah).” (HR. Abu Daud dalam Al-Marasil) [HR. Abu Daud dalam Al-Marasil, 76]   Hadits 6/344 ِوَرَوَاهُ أَحْمَدُ، والتِّرْمِذِيُّ مَوْصُولاً مِنْ حَدِيثِ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، وَزَادَ: «فَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا، فَلاَيَقْرَأْهَا» وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi secara maushul (bersambung) dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir dengan tambahan, “Barangsiapa yang tidak sujud atasnya, maka janganlah membacanya.” (Sanad hadits ini dhaif). [HR. Ahmad, 28:593 dan Abu Daud, no. 1402. Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini dhaif].   Faedah hadits Surah Al-Hajj memiliki keisitimewaan dari surah lainnya, dalam satu surah ada dua ayat sajadah, yaitu surah Al-Hajj ayat 18 dan 77. Surah Al-Hajj ayat 77 terdapat perselisihan para ulama apakah termasuk ayat sajadah yang disyariatkan sujud tilawah ataukah bukan. Imam Malik, Syafii, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir menganggap ayat tersebut termasuk ayat sajadah. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:249. Ulama Syafiiyah menganggap bahwa sujud tilawah itu ada pada 14 tempat, di antaranya dua ayat dalam surah Al-Hajj. Sedangkan, surah Shad tidak disyariatkan sujud tilawah, tetapi sujud syukur.   Baca juga: Panduan Sujud Tilawah dari Manhajus Salikin   Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah adalah: Al-A’raf ayat 206 Ar-Ra’du ayat 15 An-Nahl ayat 49-50 Al-Isra’ ayat 107-109 Maryam ayat 58 Al-Hajj ayat 18 Al-Furqan ayat 60 An-Naml ayat 25-26 As-Sajdah ayat 15 Fushshilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah) Empat ayat yang termasuk ayat sajadah, tetapi masih diperselisihkan, dan masih ada dalil sahih yang mendukungnya, yaitu: Shaad ayat 24 An-Najm ayat 62 (ayat terakhir) Al-Insyiqaq ayat 20-21 Al-‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir) Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang menjelaskannya, yaitu surah Al-Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar. Lihat Shahih Fiqih As-Sunnah, 1:454-458. Baca juga: Ayat-Ayat Sajadah   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:239-250. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:553-563. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tauqifiyyah, 1:454-458. —   Diselesaikan 27 Muharram 1444 H, 25 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat sujud tilawah

Bulughul Maram – Shalat: Dalil-Dalil yang Membicarakan Manakah yang Termasuk Ayat Sajadah

https://open.spotify.com/episode/4DuenuEefFQwf9qc1LbVY0 Berikut adalah hadits-hadits yang membicarakan ayat sajadah yang disyariatkan sujud sahwi dalam shalat. Yuk kita kaji.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Ayat-Ayat Sajadah 2. Hadits 1/339 2.1. Faedah hadits 3. Hadits 2/340 3.1. Faedah hadits 4. Hadits 3/341 5. Hadits 4/342 5.1. Faedah hadits 6. Hadits 5/343 7. Hadits 6/344 7.1. Faedah hadits 8. Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an 8.1. Referensi   Ayat-Ayat Sajadah Hadits 1/339 ِعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَجَدْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي: {{إِذَاالسَّمَاءُ انْشَقَّتْ *}}، وَ{{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ}}، رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami sujud bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsewaktu membaca IDZASSAMAA-UN SYAQQOT dan IQRO’ BISMI ROBBIKA. (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 578, 108]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya sujud tilawah ketika ada sebab. Sujud tilawah ada dalam surah mufashshal (yang ayatnya pendek-pendek), seperti dalam surah Al-Insyiqaq dan surah Al-‘Alaq.   Hadits 2/340 ِعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: {{ص}} لَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ السُّجُودِ، وَقَدْ رَأَيْتُرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِيهَا، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Surah Shad bukanlah surah yang disunnahkan untuk sujud. Namun, aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud ketika membacanya.” (HR. Bukhari). [HR. Bukhari, no. 1069]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil mengenai disyariatkannya sujud ketika membaca surah Shad, tetapi tidak terlalu ditekankan seperti sujud ketika membaca ayat lainnya. Para ulama berselisih pendapat apakah surah Shad disyariatkan sujud tilawah ataukah sujud syukur. Sebagian ulama menganggap bahwa yang disyariatkan adalah sujud syukur, berarti hanya dilakukan di luar shalat. Inilah pendapat Syafiiyah dari dua pendapat yang ada dan pendapat madzhab Hambali. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa surah Shad disyariatkan sujud tilawah, sehingga dianjurkan di dalam maupun di luar shalat. Inilah pendapat dari ulama Malikiyyah, Hanafiyyah, dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafii. Pendapat yang terkuat menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, surah Shad disyariatkan sujud tilawah. Hal ini juga menjadi pendapat dari Syaikh As-Sa’di dan Syaikh Ibnu Baz. Sedangkan, Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berpendapat bahwa surah Shad itu dianjurkan sujud syukur, bukan sujud tilawah, sehingga tidaklah disyariatkan di dalam shalat.   Hadits 3/341 ِـ وَعَنْهُ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ بِالنَّجْمِ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sewaktu membaca surah An-Najm. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1071]   Hadits 4/342 ِوَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّجْمَ فَلَمْيَسْجُدْ فِيهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah membaca surah An-Najm di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi beliau tidak sujud waktu itu.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1072, 1073 dan Muslim, no. 577]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud tilawah disyariatkan ketika membaca surah An-Najm. Adapun hadits Zaid bin Tsabit tidak menunjukkan meninggalkan sujud secara keseluruhan ketika membaca surah An-Najm. Ketika itu Zaid bin Tsabit membaca surah An-Najm, lantas ia tidak sujud. Seandainya ia sujud tilawah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan ikut sujud pula. Sujud tilawah disunnahkan bagi orang yang membaca baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Hal ini tidak disyariatkan untuk orang yang junub dan mabuk karena keduanya tidaklah disyariatkan untuk membaca surah. Orang yang mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan ayat sajadah, hendaklah melakukan sujud tilawah walaupun yang membaca tidaklah sujud. Namun, jika yang membaca Al-Qur’an melakukan sujud tilawah, maka sangat dianjurkan yang mendengarkan melakukan sujud tilawah. Akan tetapi, jika yang membaca Al-Qur’an itu sedang tidak berada dalam shalat, sedangkan yang mendengarkan sedang shalat, maka tidak ada sujud tilawah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan sujud tilawah ketika sampai pada ayat sajadah dalam surah An-Najm, berarti beliau terkadang sujud tilawah, terkadang tidak. Inilah yang menjadi dalil bahwa sujud tilawah itu sunnah, bukan wajib.   Hadits 5/343 ِـ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ: فُضِّلَتْ سُورَةُ الحَجِّ بِسَجْدَتَيْنِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ فِي«المَرَاسِيْلِ». Dari Khalid bin Ma’dan rahimahullah, ia berkata, “Surah Al-Hajj diutamakan karena ada dua sujudnya (dua ayat sajadah).” (HR. Abu Daud dalam Al-Marasil) [HR. Abu Daud dalam Al-Marasil, 76]   Hadits 6/344 ِوَرَوَاهُ أَحْمَدُ، والتِّرْمِذِيُّ مَوْصُولاً مِنْ حَدِيثِ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، وَزَادَ: «فَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا، فَلاَيَقْرَأْهَا» وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi secara maushul (bersambung) dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir dengan tambahan, “Barangsiapa yang tidak sujud atasnya, maka janganlah membacanya.” (Sanad hadits ini dhaif). [HR. Ahmad, 28:593 dan Abu Daud, no. 1402. Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini dhaif].   Faedah hadits Surah Al-Hajj memiliki keisitimewaan dari surah lainnya, dalam satu surah ada dua ayat sajadah, yaitu surah Al-Hajj ayat 18 dan 77. Surah Al-Hajj ayat 77 terdapat perselisihan para ulama apakah termasuk ayat sajadah yang disyariatkan sujud tilawah ataukah bukan. Imam Malik, Syafii, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir menganggap ayat tersebut termasuk ayat sajadah. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:249. Ulama Syafiiyah menganggap bahwa sujud tilawah itu ada pada 14 tempat, di antaranya dua ayat dalam surah Al-Hajj. Sedangkan, surah Shad tidak disyariatkan sujud tilawah, tetapi sujud syukur.   Baca juga: Panduan Sujud Tilawah dari Manhajus Salikin   Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah adalah: Al-A’raf ayat 206 Ar-Ra’du ayat 15 An-Nahl ayat 49-50 Al-Isra’ ayat 107-109 Maryam ayat 58 Al-Hajj ayat 18 Al-Furqan ayat 60 An-Naml ayat 25-26 As-Sajdah ayat 15 Fushshilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah) Empat ayat yang termasuk ayat sajadah, tetapi masih diperselisihkan, dan masih ada dalil sahih yang mendukungnya, yaitu: Shaad ayat 24 An-Najm ayat 62 (ayat terakhir) Al-Insyiqaq ayat 20-21 Al-‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir) Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang menjelaskannya, yaitu surah Al-Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar. Lihat Shahih Fiqih As-Sunnah, 1:454-458. Baca juga: Ayat-Ayat Sajadah   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:239-250. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:553-563. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tauqifiyyah, 1:454-458. —   Diselesaikan 27 Muharram 1444 H, 25 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat sujud tilawah
https://open.spotify.com/episode/4DuenuEefFQwf9qc1LbVY0 Berikut adalah hadits-hadits yang membicarakan ayat sajadah yang disyariatkan sujud sahwi dalam shalat. Yuk kita kaji.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Ayat-Ayat Sajadah 2. Hadits 1/339 2.1. Faedah hadits 3. Hadits 2/340 3.1. Faedah hadits 4. Hadits 3/341 5. Hadits 4/342 5.1. Faedah hadits 6. Hadits 5/343 7. Hadits 6/344 7.1. Faedah hadits 8. Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an 8.1. Referensi   Ayat-Ayat Sajadah Hadits 1/339 ِعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَجَدْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي: {{إِذَاالسَّمَاءُ انْشَقَّتْ *}}، وَ{{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ}}، رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami sujud bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsewaktu membaca IDZASSAMAA-UN SYAQQOT dan IQRO’ BISMI ROBBIKA. (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 578, 108]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya sujud tilawah ketika ada sebab. Sujud tilawah ada dalam surah mufashshal (yang ayatnya pendek-pendek), seperti dalam surah Al-Insyiqaq dan surah Al-‘Alaq.   Hadits 2/340 ِعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: {{ص}} لَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ السُّجُودِ، وَقَدْ رَأَيْتُرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِيهَا، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Surah Shad bukanlah surah yang disunnahkan untuk sujud. Namun, aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud ketika membacanya.” (HR. Bukhari). [HR. Bukhari, no. 1069]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil mengenai disyariatkannya sujud ketika membaca surah Shad, tetapi tidak terlalu ditekankan seperti sujud ketika membaca ayat lainnya. Para ulama berselisih pendapat apakah surah Shad disyariatkan sujud tilawah ataukah sujud syukur. Sebagian ulama menganggap bahwa yang disyariatkan adalah sujud syukur, berarti hanya dilakukan di luar shalat. Inilah pendapat Syafiiyah dari dua pendapat yang ada dan pendapat madzhab Hambali. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa surah Shad disyariatkan sujud tilawah, sehingga dianjurkan di dalam maupun di luar shalat. Inilah pendapat dari ulama Malikiyyah, Hanafiyyah, dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafii. Pendapat yang terkuat menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, surah Shad disyariatkan sujud tilawah. Hal ini juga menjadi pendapat dari Syaikh As-Sa’di dan Syaikh Ibnu Baz. Sedangkan, Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berpendapat bahwa surah Shad itu dianjurkan sujud syukur, bukan sujud tilawah, sehingga tidaklah disyariatkan di dalam shalat.   Hadits 3/341 ِـ وَعَنْهُ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ بِالنَّجْمِ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sewaktu membaca surah An-Najm. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1071]   Hadits 4/342 ِوَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّجْمَ فَلَمْيَسْجُدْ فِيهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah membaca surah An-Najm di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi beliau tidak sujud waktu itu.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1072, 1073 dan Muslim, no. 577]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud tilawah disyariatkan ketika membaca surah An-Najm. Adapun hadits Zaid bin Tsabit tidak menunjukkan meninggalkan sujud secara keseluruhan ketika membaca surah An-Najm. Ketika itu Zaid bin Tsabit membaca surah An-Najm, lantas ia tidak sujud. Seandainya ia sujud tilawah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan ikut sujud pula. Sujud tilawah disunnahkan bagi orang yang membaca baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Hal ini tidak disyariatkan untuk orang yang junub dan mabuk karena keduanya tidaklah disyariatkan untuk membaca surah. Orang yang mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan ayat sajadah, hendaklah melakukan sujud tilawah walaupun yang membaca tidaklah sujud. Namun, jika yang membaca Al-Qur’an melakukan sujud tilawah, maka sangat dianjurkan yang mendengarkan melakukan sujud tilawah. Akan tetapi, jika yang membaca Al-Qur’an itu sedang tidak berada dalam shalat, sedangkan yang mendengarkan sedang shalat, maka tidak ada sujud tilawah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan sujud tilawah ketika sampai pada ayat sajadah dalam surah An-Najm, berarti beliau terkadang sujud tilawah, terkadang tidak. Inilah yang menjadi dalil bahwa sujud tilawah itu sunnah, bukan wajib.   Hadits 5/343 ِـ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ: فُضِّلَتْ سُورَةُ الحَجِّ بِسَجْدَتَيْنِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ فِي«المَرَاسِيْلِ». Dari Khalid bin Ma’dan rahimahullah, ia berkata, “Surah Al-Hajj diutamakan karena ada dua sujudnya (dua ayat sajadah).” (HR. Abu Daud dalam Al-Marasil) [HR. Abu Daud dalam Al-Marasil, 76]   Hadits 6/344 ِوَرَوَاهُ أَحْمَدُ، والتِّرْمِذِيُّ مَوْصُولاً مِنْ حَدِيثِ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، وَزَادَ: «فَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا، فَلاَيَقْرَأْهَا» وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi secara maushul (bersambung) dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir dengan tambahan, “Barangsiapa yang tidak sujud atasnya, maka janganlah membacanya.” (Sanad hadits ini dhaif). [HR. Ahmad, 28:593 dan Abu Daud, no. 1402. Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini dhaif].   Faedah hadits Surah Al-Hajj memiliki keisitimewaan dari surah lainnya, dalam satu surah ada dua ayat sajadah, yaitu surah Al-Hajj ayat 18 dan 77. Surah Al-Hajj ayat 77 terdapat perselisihan para ulama apakah termasuk ayat sajadah yang disyariatkan sujud tilawah ataukah bukan. Imam Malik, Syafii, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir menganggap ayat tersebut termasuk ayat sajadah. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:249. Ulama Syafiiyah menganggap bahwa sujud tilawah itu ada pada 14 tempat, di antaranya dua ayat dalam surah Al-Hajj. Sedangkan, surah Shad tidak disyariatkan sujud tilawah, tetapi sujud syukur.   Baca juga: Panduan Sujud Tilawah dari Manhajus Salikin   Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah adalah: Al-A’raf ayat 206 Ar-Ra’du ayat 15 An-Nahl ayat 49-50 Al-Isra’ ayat 107-109 Maryam ayat 58 Al-Hajj ayat 18 Al-Furqan ayat 60 An-Naml ayat 25-26 As-Sajdah ayat 15 Fushshilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah) Empat ayat yang termasuk ayat sajadah, tetapi masih diperselisihkan, dan masih ada dalil sahih yang mendukungnya, yaitu: Shaad ayat 24 An-Najm ayat 62 (ayat terakhir) Al-Insyiqaq ayat 20-21 Al-‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir) Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang menjelaskannya, yaitu surah Al-Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar. Lihat Shahih Fiqih As-Sunnah, 1:454-458. Baca juga: Ayat-Ayat Sajadah   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:239-250. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:553-563. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tauqifiyyah, 1:454-458. —   Diselesaikan 27 Muharram 1444 H, 25 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat sujud tilawah


https://open.spotify.com/episode/4DuenuEefFQwf9qc1LbVY0 Berikut adalah hadits-hadits yang membicarakan ayat sajadah yang disyariatkan sujud sahwi dalam shalat. Yuk kita kaji.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Ayat-Ayat Sajadah 2. Hadits 1/339 2.1. Faedah hadits 3. Hadits 2/340 3.1. Faedah hadits 4. Hadits 3/341 5. Hadits 4/342 5.1. Faedah hadits 6. Hadits 5/343 7. Hadits 6/344 7.1. Faedah hadits 8. Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an 8.1. Referensi   Ayat-Ayat Sajadah Hadits 1/339 ِعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَجَدْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي: {{إِذَاالسَّمَاءُ انْشَقَّتْ *}}، وَ{{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ}}، رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami sujud bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsewaktu membaca IDZASSAMAA-UN SYAQQOT dan IQRO’ BISMI ROBBIKA. (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 578, 108]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya sujud tilawah ketika ada sebab. Sujud tilawah ada dalam surah mufashshal (yang ayatnya pendek-pendek), seperti dalam surah Al-Insyiqaq dan surah Al-‘Alaq.   Hadits 2/340 ِعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: {{ص}} لَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ السُّجُودِ، وَقَدْ رَأَيْتُرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِيهَا، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Surah Shad bukanlah surah yang disunnahkan untuk sujud. Namun, aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud ketika membacanya.” (HR. Bukhari). [HR. Bukhari, no. 1069]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil mengenai disyariatkannya sujud ketika membaca surah Shad, tetapi tidak terlalu ditekankan seperti sujud ketika membaca ayat lainnya. Para ulama berselisih pendapat apakah surah Shad disyariatkan sujud tilawah ataukah sujud syukur. Sebagian ulama menganggap bahwa yang disyariatkan adalah sujud syukur, berarti hanya dilakukan di luar shalat. Inilah pendapat Syafiiyah dari dua pendapat yang ada dan pendapat madzhab Hambali. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa surah Shad disyariatkan sujud tilawah, sehingga dianjurkan di dalam maupun di luar shalat. Inilah pendapat dari ulama Malikiyyah, Hanafiyyah, dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafii. Pendapat yang terkuat menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, surah Shad disyariatkan sujud tilawah. Hal ini juga menjadi pendapat dari Syaikh As-Sa’di dan Syaikh Ibnu Baz. Sedangkan, Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berpendapat bahwa surah Shad itu dianjurkan sujud syukur, bukan sujud tilawah, sehingga tidaklah disyariatkan di dalam shalat.   Hadits 3/341 ِـ وَعَنْهُ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ بِالنَّجْمِ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sewaktu membaca surah An-Najm. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1071]   Hadits 4/342 ِوَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّجْمَ فَلَمْيَسْجُدْ فِيهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah membaca surah An-Najm di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi beliau tidak sujud waktu itu.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1072, 1073 dan Muslim, no. 577]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud tilawah disyariatkan ketika membaca surah An-Najm. Adapun hadits Zaid bin Tsabit tidak menunjukkan meninggalkan sujud secara keseluruhan ketika membaca surah An-Najm. Ketika itu Zaid bin Tsabit membaca surah An-Najm, lantas ia tidak sujud. Seandainya ia sujud tilawah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan ikut sujud pula. Sujud tilawah disunnahkan bagi orang yang membaca baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Hal ini tidak disyariatkan untuk orang yang junub dan mabuk karena keduanya tidaklah disyariatkan untuk membaca surah. Orang yang mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan ayat sajadah, hendaklah melakukan sujud tilawah walaupun yang membaca tidaklah sujud. Namun, jika yang membaca Al-Qur’an melakukan sujud tilawah, maka sangat dianjurkan yang mendengarkan melakukan sujud tilawah. Akan tetapi, jika yang membaca Al-Qur’an itu sedang tidak berada dalam shalat, sedangkan yang mendengarkan sedang shalat, maka tidak ada sujud tilawah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan sujud tilawah ketika sampai pada ayat sajadah dalam surah An-Najm, berarti beliau terkadang sujud tilawah, terkadang tidak. Inilah yang menjadi dalil bahwa sujud tilawah itu sunnah, bukan wajib.   Hadits 5/343 ِـ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ: فُضِّلَتْ سُورَةُ الحَجِّ بِسَجْدَتَيْنِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ فِي«المَرَاسِيْلِ». Dari Khalid bin Ma’dan rahimahullah, ia berkata, “Surah Al-Hajj diutamakan karena ada dua sujudnya (dua ayat sajadah).” (HR. Abu Daud dalam Al-Marasil) [HR. Abu Daud dalam Al-Marasil, 76]   Hadits 6/344 ِوَرَوَاهُ أَحْمَدُ، والتِّرْمِذِيُّ مَوْصُولاً مِنْ حَدِيثِ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، وَزَادَ: «فَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا، فَلاَيَقْرَأْهَا» وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi secara maushul (bersambung) dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir dengan tambahan, “Barangsiapa yang tidak sujud atasnya, maka janganlah membacanya.” (Sanad hadits ini dhaif). [HR. Ahmad, 28:593 dan Abu Daud, no. 1402. Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini dhaif].   Faedah hadits Surah Al-Hajj memiliki keisitimewaan dari surah lainnya, dalam satu surah ada dua ayat sajadah, yaitu surah Al-Hajj ayat 18 dan 77. Surah Al-Hajj ayat 77 terdapat perselisihan para ulama apakah termasuk ayat sajadah yang disyariatkan sujud tilawah ataukah bukan. Imam Malik, Syafii, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir menganggap ayat tersebut termasuk ayat sajadah. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:249. Ulama Syafiiyah menganggap bahwa sujud tilawah itu ada pada 14 tempat, di antaranya dua ayat dalam surah Al-Hajj. Sedangkan, surah Shad tidak disyariatkan sujud tilawah, tetapi sujud syukur.   Baca juga: Panduan Sujud Tilawah dari Manhajus Salikin   Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah adalah: Al-A’raf ayat 206 Ar-Ra’du ayat 15 An-Nahl ayat 49-50 Al-Isra’ ayat 107-109 Maryam ayat 58 Al-Hajj ayat 18 Al-Furqan ayat 60 An-Naml ayat 25-26 As-Sajdah ayat 15 Fushshilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah) Empat ayat yang termasuk ayat sajadah, tetapi masih diperselisihkan, dan masih ada dalil sahih yang mendukungnya, yaitu: Shaad ayat 24 An-Najm ayat 62 (ayat terakhir) Al-Insyiqaq ayat 20-21 Al-‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir) Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang menjelaskannya, yaitu surah Al-Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar. Lihat Shahih Fiqih As-Sunnah, 1:454-458. Baca juga: Ayat-Ayat Sajadah   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:239-250. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:553-563. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tauqifiyyah, 1:454-458. —   Diselesaikan 27 Muharram 1444 H, 25 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat sujud tilawah

Karamah Said bin Zaid yang Doanya Mustajab Hingga Seorang Wanita Zalim Celaka

Karamah kali ini dari Said bin Zaid, ia punya doa yang mustajab hingga seorang wanita menjadi buta dan meninggal dunia karena berbuat zalim pada Said.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1506 2. Karamah Said bin Zaid 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1506 Karamah Said bin Zaid   وعن عروة بن الزبير : أنَّ سعيد بن زيد بن عمرو بن نُفَيلٍ – رضي الله عنه – ، خَاصَمَتْهُ أَرْوَى بِنْتُ أوْسٍ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الحَكَمِ ، وادَّعَتْ أنَّهُ أخَذَ شَيْئاً مِنْ أرْضِهَا ، فَقَالَ سعيدٌ : أنا كُنْتُ آخُذُ شَيئاً مِنْ أرْضِهَا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – !؟ قَالَ : مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ؟ قَالَ : سَمِعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : (( مَنْ أخَذَ شِبْراً مِنَ الأرْضِ ظُلْماً ، طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أرْضِينَ )) فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ : لا أسْألُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا ، فَقَالَ سعيد : اللَّهُمَّ إنْ كَانَتْ كاذِبَةً ، فَأعْمِ بَصَرَها ، وَاقْتُلْهَا في أرْضِها ، قَالَ : فَما ماتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا ، وَبَيْنَما هِيَ تَمْشِي في أرْضِهَا إذ وَقَعَتْ في حُفْرَةٍ فَماتَتْ . متفق عَلَيْهِ . وفي روايةٍ لِمُسْلِمٍ عن محمد بن زيد بن عبد الله بن عُمَرَ بِمَعْنَاهُ ، وأنه رآها عَمْيَاءَ تَلْتَمِسُ الجُدُرَ تقولُ : أصابَتْنِي دَعْوَةُ سَعيدٍ ، وأنَّها مَرَّتْ عَلَى بِئرٍ في الدَّارِ الَّتي خَاصَمَتْهُ فِيهَا ، فَوَقَعَتْ فِيهَا ، وكانتْ قَبْرَها . Dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwasanya Said bin Zaid bin Amr bin Nufail radhiyallahu ‘anhu pernah dituntut oleh Arwa binti Aus radhiyallahu ‘anha kepada Marwan bin Al-Hakam dengan tuduhan bahwa Sa’id merampas sebagian tanahnya. Said berkata, “Aku telah mengambil sebagian tanahnya setelah aku mendengar sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Marwan berkata, “Apa yang telah Anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh.’” Marwan pun berkata, “Aku tidak akan meminta bukti lagi kepada Anda setelah itu.” Said lantas berkata, “Ya Allah, jika ia berdusta, maka butakanlah penglihatannya dan matikanlah ia di tanahnya.” ‘Urwah berkata, “Wanita itu ternyata mati setelah matanya buta. Yaitu, suatu ketika ia berjalan di tanahnya. Kemudian ia terjatuh ke dalam sebuah lubang dan seketika itu pula mati.” (Muttafaqun ‘alaih). Di dalam riwayat Muslim, dari Muhammad bin Zaid bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dengan kasus yang sama, yaitu bahwa Muhammad melihat Arwa dalam kondisi buta, berjalan meraba-raba tembok seraya berkata, “Doa Sa’id atasku telah dikabulkan.” Ia berjalan di dekat sumur di rumah yang dipersengketakannya, lalu ia jatuh ke dalamnya. Sumur itu pun menjadi kuburnya.   Baca juga: Kisah Said bin Zaid yang Doanya Mudah Terkabul   Faedah hadits Hadits ini “Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh” sudah diterangkan di hadits no. 206 dari kitab Riyadh Ash-Shalihin: Merampas tanah itu termasuk al-kabair (dosa besar). Siapa saja yang memiliki tanah, maka ia memiliki segala yang di bawahnya. Bumi itu tujuh lapis secara bersusun tak terpisah satu lapisan dari yang lain. Hadits ini memperingatkan akan tindakan zalim pada manusia dan mengambil haknya. Keutamaan Sa’id bin Zaid dan karamah yang dimilikinya dilihat dari beberapa hal yaitu:   Kegigihannya dalam berpegang dan mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengamalannya. Hal tersebut terlihat jelas melalui hadits yang ia riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah mencegah dirinya dari kezaliman. Ini menunjukkan sikap pemahamannya terhadap hukum yang telah diturunkan oleh Allah. Marwan bin Al-Hakam menerima riwayatnya, menunjukkan kedudukan Said yang tinggi dan terhormat. Terkabulnya doa Said terhadap perempuan yang zalim itu. Setelah peremuan itu buta matanya, Said datang kepada Marwan kemudian mengajaknya berkendaraan bersama orang-orang, hingga mereka pun melihat perempuan tersebut. Orang-orang mengatakan bahwa perempuan itu mengalami kebutaan dan ia jatuh ke dalam sumur kemudian mati.   7. Hadits ini menunjukkan bolehnya berhujjah dengan hadits Ahad (melalui jalur satu orang). Oleh karena itu, Marwan bin Al-Hakam tidak meminta bukti lain kepada Said ketika ia diberitahu tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 8. Peringatan agar jangan menyakiti ulama Rabbani, juru dakwah, orang-orang saleh, dan para wali Allah yang bertakwa. Baca juga: Merampas Harta Orang Lain   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:545-547.   – Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa terkabul karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah Said bin zaid

Karamah Said bin Zaid yang Doanya Mustajab Hingga Seorang Wanita Zalim Celaka

Karamah kali ini dari Said bin Zaid, ia punya doa yang mustajab hingga seorang wanita menjadi buta dan meninggal dunia karena berbuat zalim pada Said.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1506 2. Karamah Said bin Zaid 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1506 Karamah Said bin Zaid   وعن عروة بن الزبير : أنَّ سعيد بن زيد بن عمرو بن نُفَيلٍ – رضي الله عنه – ، خَاصَمَتْهُ أَرْوَى بِنْتُ أوْسٍ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الحَكَمِ ، وادَّعَتْ أنَّهُ أخَذَ شَيْئاً مِنْ أرْضِهَا ، فَقَالَ سعيدٌ : أنا كُنْتُ آخُذُ شَيئاً مِنْ أرْضِهَا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – !؟ قَالَ : مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ؟ قَالَ : سَمِعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : (( مَنْ أخَذَ شِبْراً مِنَ الأرْضِ ظُلْماً ، طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أرْضِينَ )) فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ : لا أسْألُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا ، فَقَالَ سعيد : اللَّهُمَّ إنْ كَانَتْ كاذِبَةً ، فَأعْمِ بَصَرَها ، وَاقْتُلْهَا في أرْضِها ، قَالَ : فَما ماتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا ، وَبَيْنَما هِيَ تَمْشِي في أرْضِهَا إذ وَقَعَتْ في حُفْرَةٍ فَماتَتْ . متفق عَلَيْهِ . وفي روايةٍ لِمُسْلِمٍ عن محمد بن زيد بن عبد الله بن عُمَرَ بِمَعْنَاهُ ، وأنه رآها عَمْيَاءَ تَلْتَمِسُ الجُدُرَ تقولُ : أصابَتْنِي دَعْوَةُ سَعيدٍ ، وأنَّها مَرَّتْ عَلَى بِئرٍ في الدَّارِ الَّتي خَاصَمَتْهُ فِيهَا ، فَوَقَعَتْ فِيهَا ، وكانتْ قَبْرَها . Dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwasanya Said bin Zaid bin Amr bin Nufail radhiyallahu ‘anhu pernah dituntut oleh Arwa binti Aus radhiyallahu ‘anha kepada Marwan bin Al-Hakam dengan tuduhan bahwa Sa’id merampas sebagian tanahnya. Said berkata, “Aku telah mengambil sebagian tanahnya setelah aku mendengar sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Marwan berkata, “Apa yang telah Anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh.’” Marwan pun berkata, “Aku tidak akan meminta bukti lagi kepada Anda setelah itu.” Said lantas berkata, “Ya Allah, jika ia berdusta, maka butakanlah penglihatannya dan matikanlah ia di tanahnya.” ‘Urwah berkata, “Wanita itu ternyata mati setelah matanya buta. Yaitu, suatu ketika ia berjalan di tanahnya. Kemudian ia terjatuh ke dalam sebuah lubang dan seketika itu pula mati.” (Muttafaqun ‘alaih). Di dalam riwayat Muslim, dari Muhammad bin Zaid bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dengan kasus yang sama, yaitu bahwa Muhammad melihat Arwa dalam kondisi buta, berjalan meraba-raba tembok seraya berkata, “Doa Sa’id atasku telah dikabulkan.” Ia berjalan di dekat sumur di rumah yang dipersengketakannya, lalu ia jatuh ke dalamnya. Sumur itu pun menjadi kuburnya.   Baca juga: Kisah Said bin Zaid yang Doanya Mudah Terkabul   Faedah hadits Hadits ini “Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh” sudah diterangkan di hadits no. 206 dari kitab Riyadh Ash-Shalihin: Merampas tanah itu termasuk al-kabair (dosa besar). Siapa saja yang memiliki tanah, maka ia memiliki segala yang di bawahnya. Bumi itu tujuh lapis secara bersusun tak terpisah satu lapisan dari yang lain. Hadits ini memperingatkan akan tindakan zalim pada manusia dan mengambil haknya. Keutamaan Sa’id bin Zaid dan karamah yang dimilikinya dilihat dari beberapa hal yaitu:   Kegigihannya dalam berpegang dan mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengamalannya. Hal tersebut terlihat jelas melalui hadits yang ia riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah mencegah dirinya dari kezaliman. Ini menunjukkan sikap pemahamannya terhadap hukum yang telah diturunkan oleh Allah. Marwan bin Al-Hakam menerima riwayatnya, menunjukkan kedudukan Said yang tinggi dan terhormat. Terkabulnya doa Said terhadap perempuan yang zalim itu. Setelah peremuan itu buta matanya, Said datang kepada Marwan kemudian mengajaknya berkendaraan bersama orang-orang, hingga mereka pun melihat perempuan tersebut. Orang-orang mengatakan bahwa perempuan itu mengalami kebutaan dan ia jatuh ke dalam sumur kemudian mati.   7. Hadits ini menunjukkan bolehnya berhujjah dengan hadits Ahad (melalui jalur satu orang). Oleh karena itu, Marwan bin Al-Hakam tidak meminta bukti lain kepada Said ketika ia diberitahu tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 8. Peringatan agar jangan menyakiti ulama Rabbani, juru dakwah, orang-orang saleh, dan para wali Allah yang bertakwa. Baca juga: Merampas Harta Orang Lain   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:545-547.   – Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa terkabul karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah Said bin zaid
Karamah kali ini dari Said bin Zaid, ia punya doa yang mustajab hingga seorang wanita menjadi buta dan meninggal dunia karena berbuat zalim pada Said.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1506 2. Karamah Said bin Zaid 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1506 Karamah Said bin Zaid   وعن عروة بن الزبير : أنَّ سعيد بن زيد بن عمرو بن نُفَيلٍ – رضي الله عنه – ، خَاصَمَتْهُ أَرْوَى بِنْتُ أوْسٍ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الحَكَمِ ، وادَّعَتْ أنَّهُ أخَذَ شَيْئاً مِنْ أرْضِهَا ، فَقَالَ سعيدٌ : أنا كُنْتُ آخُذُ شَيئاً مِنْ أرْضِهَا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – !؟ قَالَ : مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ؟ قَالَ : سَمِعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : (( مَنْ أخَذَ شِبْراً مِنَ الأرْضِ ظُلْماً ، طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أرْضِينَ )) فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ : لا أسْألُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا ، فَقَالَ سعيد : اللَّهُمَّ إنْ كَانَتْ كاذِبَةً ، فَأعْمِ بَصَرَها ، وَاقْتُلْهَا في أرْضِها ، قَالَ : فَما ماتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا ، وَبَيْنَما هِيَ تَمْشِي في أرْضِهَا إذ وَقَعَتْ في حُفْرَةٍ فَماتَتْ . متفق عَلَيْهِ . وفي روايةٍ لِمُسْلِمٍ عن محمد بن زيد بن عبد الله بن عُمَرَ بِمَعْنَاهُ ، وأنه رآها عَمْيَاءَ تَلْتَمِسُ الجُدُرَ تقولُ : أصابَتْنِي دَعْوَةُ سَعيدٍ ، وأنَّها مَرَّتْ عَلَى بِئرٍ في الدَّارِ الَّتي خَاصَمَتْهُ فِيهَا ، فَوَقَعَتْ فِيهَا ، وكانتْ قَبْرَها . Dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwasanya Said bin Zaid bin Amr bin Nufail radhiyallahu ‘anhu pernah dituntut oleh Arwa binti Aus radhiyallahu ‘anha kepada Marwan bin Al-Hakam dengan tuduhan bahwa Sa’id merampas sebagian tanahnya. Said berkata, “Aku telah mengambil sebagian tanahnya setelah aku mendengar sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Marwan berkata, “Apa yang telah Anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh.’” Marwan pun berkata, “Aku tidak akan meminta bukti lagi kepada Anda setelah itu.” Said lantas berkata, “Ya Allah, jika ia berdusta, maka butakanlah penglihatannya dan matikanlah ia di tanahnya.” ‘Urwah berkata, “Wanita itu ternyata mati setelah matanya buta. Yaitu, suatu ketika ia berjalan di tanahnya. Kemudian ia terjatuh ke dalam sebuah lubang dan seketika itu pula mati.” (Muttafaqun ‘alaih). Di dalam riwayat Muslim, dari Muhammad bin Zaid bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dengan kasus yang sama, yaitu bahwa Muhammad melihat Arwa dalam kondisi buta, berjalan meraba-raba tembok seraya berkata, “Doa Sa’id atasku telah dikabulkan.” Ia berjalan di dekat sumur di rumah yang dipersengketakannya, lalu ia jatuh ke dalamnya. Sumur itu pun menjadi kuburnya.   Baca juga: Kisah Said bin Zaid yang Doanya Mudah Terkabul   Faedah hadits Hadits ini “Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh” sudah diterangkan di hadits no. 206 dari kitab Riyadh Ash-Shalihin: Merampas tanah itu termasuk al-kabair (dosa besar). Siapa saja yang memiliki tanah, maka ia memiliki segala yang di bawahnya. Bumi itu tujuh lapis secara bersusun tak terpisah satu lapisan dari yang lain. Hadits ini memperingatkan akan tindakan zalim pada manusia dan mengambil haknya. Keutamaan Sa’id bin Zaid dan karamah yang dimilikinya dilihat dari beberapa hal yaitu:   Kegigihannya dalam berpegang dan mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengamalannya. Hal tersebut terlihat jelas melalui hadits yang ia riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah mencegah dirinya dari kezaliman. Ini menunjukkan sikap pemahamannya terhadap hukum yang telah diturunkan oleh Allah. Marwan bin Al-Hakam menerima riwayatnya, menunjukkan kedudukan Said yang tinggi dan terhormat. Terkabulnya doa Said terhadap perempuan yang zalim itu. Setelah peremuan itu buta matanya, Said datang kepada Marwan kemudian mengajaknya berkendaraan bersama orang-orang, hingga mereka pun melihat perempuan tersebut. Orang-orang mengatakan bahwa perempuan itu mengalami kebutaan dan ia jatuh ke dalam sumur kemudian mati.   7. Hadits ini menunjukkan bolehnya berhujjah dengan hadits Ahad (melalui jalur satu orang). Oleh karena itu, Marwan bin Al-Hakam tidak meminta bukti lain kepada Said ketika ia diberitahu tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 8. Peringatan agar jangan menyakiti ulama Rabbani, juru dakwah, orang-orang saleh, dan para wali Allah yang bertakwa. Baca juga: Merampas Harta Orang Lain   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:545-547.   – Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa terkabul karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah Said bin zaid


Karamah kali ini dari Said bin Zaid, ia punya doa yang mustajab hingga seorang wanita menjadi buta dan meninggal dunia karena berbuat zalim pada Said.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1506 2. Karamah Said bin Zaid 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1506 Karamah Said bin Zaid   وعن عروة بن الزبير : أنَّ سعيد بن زيد بن عمرو بن نُفَيلٍ – رضي الله عنه – ، خَاصَمَتْهُ أَرْوَى بِنْتُ أوْسٍ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الحَكَمِ ، وادَّعَتْ أنَّهُ أخَذَ شَيْئاً مِنْ أرْضِهَا ، فَقَالَ سعيدٌ : أنا كُنْتُ آخُذُ شَيئاً مِنْ أرْضِهَا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – !؟ قَالَ : مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ؟ قَالَ : سَمِعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : (( مَنْ أخَذَ شِبْراً مِنَ الأرْضِ ظُلْماً ، طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أرْضِينَ )) فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ : لا أسْألُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا ، فَقَالَ سعيد : اللَّهُمَّ إنْ كَانَتْ كاذِبَةً ، فَأعْمِ بَصَرَها ، وَاقْتُلْهَا في أرْضِها ، قَالَ : فَما ماتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا ، وَبَيْنَما هِيَ تَمْشِي في أرْضِهَا إذ وَقَعَتْ في حُفْرَةٍ فَماتَتْ . متفق عَلَيْهِ . وفي روايةٍ لِمُسْلِمٍ عن محمد بن زيد بن عبد الله بن عُمَرَ بِمَعْنَاهُ ، وأنه رآها عَمْيَاءَ تَلْتَمِسُ الجُدُرَ تقولُ : أصابَتْنِي دَعْوَةُ سَعيدٍ ، وأنَّها مَرَّتْ عَلَى بِئرٍ في الدَّارِ الَّتي خَاصَمَتْهُ فِيهَا ، فَوَقَعَتْ فِيهَا ، وكانتْ قَبْرَها . Dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwasanya Said bin Zaid bin Amr bin Nufail radhiyallahu ‘anhu pernah dituntut oleh Arwa binti Aus radhiyallahu ‘anha kepada Marwan bin Al-Hakam dengan tuduhan bahwa Sa’id merampas sebagian tanahnya. Said berkata, “Aku telah mengambil sebagian tanahnya setelah aku mendengar sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Marwan berkata, “Apa yang telah Anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh.’” Marwan pun berkata, “Aku tidak akan meminta bukti lagi kepada Anda setelah itu.” Said lantas berkata, “Ya Allah, jika ia berdusta, maka butakanlah penglihatannya dan matikanlah ia di tanahnya.” ‘Urwah berkata, “Wanita itu ternyata mati setelah matanya buta. Yaitu, suatu ketika ia berjalan di tanahnya. Kemudian ia terjatuh ke dalam sebuah lubang dan seketika itu pula mati.” (Muttafaqun ‘alaih). Di dalam riwayat Muslim, dari Muhammad bin Zaid bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dengan kasus yang sama, yaitu bahwa Muhammad melihat Arwa dalam kondisi buta, berjalan meraba-raba tembok seraya berkata, “Doa Sa’id atasku telah dikabulkan.” Ia berjalan di dekat sumur di rumah yang dipersengketakannya, lalu ia jatuh ke dalamnya. Sumur itu pun menjadi kuburnya.   Baca juga: Kisah Said bin Zaid yang Doanya Mudah Terkabul   Faedah hadits Hadits ini “Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh” sudah diterangkan di hadits no. 206 dari kitab Riyadh Ash-Shalihin: Merampas tanah itu termasuk al-kabair (dosa besar). Siapa saja yang memiliki tanah, maka ia memiliki segala yang di bawahnya. Bumi itu tujuh lapis secara bersusun tak terpisah satu lapisan dari yang lain. Hadits ini memperingatkan akan tindakan zalim pada manusia dan mengambil haknya. Keutamaan Sa’id bin Zaid dan karamah yang dimilikinya dilihat dari beberapa hal yaitu:   Kegigihannya dalam berpegang dan mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengamalannya. Hal tersebut terlihat jelas melalui hadits yang ia riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah mencegah dirinya dari kezaliman. Ini menunjukkan sikap pemahamannya terhadap hukum yang telah diturunkan oleh Allah. Marwan bin Al-Hakam menerima riwayatnya, menunjukkan kedudukan Said yang tinggi dan terhormat. Terkabulnya doa Said terhadap perempuan yang zalim itu. Setelah peremuan itu buta matanya, Said datang kepada Marwan kemudian mengajaknya berkendaraan bersama orang-orang, hingga mereka pun melihat perempuan tersebut. Orang-orang mengatakan bahwa perempuan itu mengalami kebutaan dan ia jatuh ke dalam sumur kemudian mati.   7. Hadits ini menunjukkan bolehnya berhujjah dengan hadits Ahad (melalui jalur satu orang). Oleh karena itu, Marwan bin Al-Hakam tidak meminta bukti lain kepada Said ketika ia diberitahu tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 8. Peringatan agar jangan menyakiti ulama Rabbani, juru dakwah, orang-orang saleh, dan para wali Allah yang bertakwa. Baca juga: Merampas Harta Orang Lain   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:545-547.   – Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa terkabul karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah Said bin zaid

Membongkar Trik para Dukun

Pertanyaan: Ada sebagian orang yang membongkar trik para dukun dan menyingkap kebohongan mereka. Bagaimana menyikapi fenomena ini? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam Kitabut Tauhid karya Syaikh Shalih al-Fauzan, disebutkan kisah Ibnu Taimiyah yang membongkar trik dukun Ahmadiyah Rifa’iyyah atau dikenal dengan sekte Bathaihiyyah yang mengaku kebal api. Disebutkan di sana: “Salah seorang Syaikh Bathaihiyyah berteriak, “Kami memiliki kesaktian ini dan itu”. Mereka mengaku memiliki keajaiban-keajaiban seperti tahan api dan lainnya, yang itu khusus dimiliki oleh sekte mereka. Maka Syaikhul Islam berkata, “Aku berkata kepada mereka dengan meninggikan suara dan dengan nada marah: Aku menantang semua orang Ahmadiyah di penjuru bumi yang mengaku tahan api, maka aku pun akan melakukan sebagaimana yang mereka lakukan. Siapa yang terbakar maka dia kalah dan baginya laknat Allah!”. Kemudian aku katakan, ”Namun syaratnya, sebelum dibakar harus dimandikan dahulu badannya dengan cuka dan air hangat”. Salah seorang umara’ dan sebagian orang bertanya kepadaku mengapa harus ada syarat tersebut? Aku berkata, “Karena mereka punya trik agar tahan api, yaitu mereka menggunakan minyak dari katak, kulit jeruk lemon, dan bubuk batu talek, untuk memperdayai orang-orang”. Kemudian orang-orang Bathaihiyyah itu pun mengklaim mampu melakukannya. Mereka berkata, “Aku dan engkau kita akan diselimuti oleh kain di tengah tanah lapang, setelah dilumuri oleh belerang!”. Aku berkata, “Ayo!”. Mereka pun lantas akan membuka gamis mereka bersiap melakukannya. Aku berkata, “Jangan dulu! Anda harus dimandikan dulu dengan cuka dan air hangat”. Kemudian mereka pun mulai tampak ragu seperti biasanya. Kemudian mereka berkata, “Siapa yang cinta kepada pemimpin maka tolong carikan kayu bayar!”. Aku berkata, “Ini akan menunda pertunjukkan dan mencerai-beraikan penonton, tidak akan tercapai apa yang dimaksud! Api sudah dinyalakan, mari kita masukan tangan kita ke api setelah dimandikan cuka dan air hangat, siapa yang terbakar maka ia mendapat laknat Allah dan kalah”. Ketika aku katakan demikian maka mereka pun mundur teratur.” (Majmu’ al-Fatawa, 11/446-465, dikutip dari Kitabut Tauhid lil Fauzan, hal. 37) Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa membongkar trik dukun boleh saja dan ada manfaatnya. Tapi perlu diperhatikan: 1. Membongkar trik dukun bukanlah hal yang jadi fokus utama. Yang jadi fokus utama adalah menyampaikan ilmu yang benar dari al-Quran dan as-Sunnah. Itulah yang jadi fokus para Nabi dan Rasul, serta para ulama seperti Ibnu Taimiyah. Beliau tidak sibuk membongkar trik para dukun. Allah ta’ala berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. al-Anbiya: 25) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda padanya, ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Maka hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (shalat), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki’.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19) Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “dari hadits yang mulia ini, dan juga barang siapa yang memperhatikan dakwah para Rasul yang disebutkan dalam al-Qur’an, dan juga barang siapa yang memperhatikan sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia dapat memahami manhaj dakwah ilallah. Dan ia akan memahami bahwa yang pertama didakwahkan kepada manusia adalah aqidah, yaitu mengajak mereka menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya, serta meninggalkan semua ibadah kepada selain Allah, sebagaimana makna Laa ilaaha illallah.” (Al-Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad, 17) 2. Dukun itu pendusta baik terbongkar atau tidak triknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa mereka tukang dusta, فَتَقُرُّهَا فِى أُذُنِ الْكَاهِنِ ، كَمَا تُقَرُّ الْقَارُورَةُ ، فَيَزِيدُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ “… setan-setan itu pun membisikkannya kabar-kabar langit pada telinga para dukun. Seperti meniupkan angin ke botol-botol. Lalu setan-setan itu pun menambahkan kabar-kabar tersebut dengan 100 kedustaan.” (HR. Bukhari no. 3288) 3. Datang ke dukun itu tetap kekufuran walaupun tidak terbongkar triknya dan walaupun ada pasiennya yang sembuh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ “Barang siapa yang mendatangi dukun atau mendatangi tukang ramal, kemudian ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9536, Abu Daud no. 3904, Tirmidzi no. 135, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5939) 4. Dukun terkadang memang menggunakan sihir yang berupa mantra serta buhul yang dibantu oleh setan. Sehingga tidak diketahui sebabnya.  Karena memang secara bahasa, sihir artinya kejadian yang samar penyebabnya.  السحر لغة: ما خفي ولطف سببه “Sihir secara bahasa artinya semua yang samar dan tidak jelas penyebabnya.” (Al-Qaulul Mufid, 1/489) Ahlussunnah meyakini adanya sihir sebagaimana ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir. Sehingga tidak semua dukun menggunakan trik, sebagiannya menggunakan sihir. Dan sihir ini adalah kekufuran dan dosa besar. Allah ta’ala berfirman:  يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ “Mereka (Harut dan Marut) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya ujian (bagimu), sebab itu janganlah kamu kufur’.” (QS. al-Baqarah: 102) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اجتنبوا السبعَ الموبقاتِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ، وما هن ؟ قال : الشركُ باللهِ ، والسحرُ ، وقتلُ النفسِ التي حرّم اللهُ إلا بالحقِّ ، وأكلُ الربا ، وأكلُ مالِ اليتيمِ ، والتولي يومَ الزحفِ ، وقذفُ المحصناتِ المؤمناتِ الغافلاتِ “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa saja itu? Rasulullah menjawab: berbuat syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, memakan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina.” (HR. Bukhari no. 2766, Muslim no. 89) Semoga jawaban ini bermanfaat. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Nurbuat Menurut Para Ulama, Tata Cara Sholat Istikharah, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Tata Cara Sholat Qodho Dan Qoshor, Wirid Untuk Ibu Hamil, Zikir Pagi Dan Petang Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 262

Membongkar Trik para Dukun

Pertanyaan: Ada sebagian orang yang membongkar trik para dukun dan menyingkap kebohongan mereka. Bagaimana menyikapi fenomena ini? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam Kitabut Tauhid karya Syaikh Shalih al-Fauzan, disebutkan kisah Ibnu Taimiyah yang membongkar trik dukun Ahmadiyah Rifa’iyyah atau dikenal dengan sekte Bathaihiyyah yang mengaku kebal api. Disebutkan di sana: “Salah seorang Syaikh Bathaihiyyah berteriak, “Kami memiliki kesaktian ini dan itu”. Mereka mengaku memiliki keajaiban-keajaiban seperti tahan api dan lainnya, yang itu khusus dimiliki oleh sekte mereka. Maka Syaikhul Islam berkata, “Aku berkata kepada mereka dengan meninggikan suara dan dengan nada marah: Aku menantang semua orang Ahmadiyah di penjuru bumi yang mengaku tahan api, maka aku pun akan melakukan sebagaimana yang mereka lakukan. Siapa yang terbakar maka dia kalah dan baginya laknat Allah!”. Kemudian aku katakan, ”Namun syaratnya, sebelum dibakar harus dimandikan dahulu badannya dengan cuka dan air hangat”. Salah seorang umara’ dan sebagian orang bertanya kepadaku mengapa harus ada syarat tersebut? Aku berkata, “Karena mereka punya trik agar tahan api, yaitu mereka menggunakan minyak dari katak, kulit jeruk lemon, dan bubuk batu talek, untuk memperdayai orang-orang”. Kemudian orang-orang Bathaihiyyah itu pun mengklaim mampu melakukannya. Mereka berkata, “Aku dan engkau kita akan diselimuti oleh kain di tengah tanah lapang, setelah dilumuri oleh belerang!”. Aku berkata, “Ayo!”. Mereka pun lantas akan membuka gamis mereka bersiap melakukannya. Aku berkata, “Jangan dulu! Anda harus dimandikan dulu dengan cuka dan air hangat”. Kemudian mereka pun mulai tampak ragu seperti biasanya. Kemudian mereka berkata, “Siapa yang cinta kepada pemimpin maka tolong carikan kayu bayar!”. Aku berkata, “Ini akan menunda pertunjukkan dan mencerai-beraikan penonton, tidak akan tercapai apa yang dimaksud! Api sudah dinyalakan, mari kita masukan tangan kita ke api setelah dimandikan cuka dan air hangat, siapa yang terbakar maka ia mendapat laknat Allah dan kalah”. Ketika aku katakan demikian maka mereka pun mundur teratur.” (Majmu’ al-Fatawa, 11/446-465, dikutip dari Kitabut Tauhid lil Fauzan, hal. 37) Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa membongkar trik dukun boleh saja dan ada manfaatnya. Tapi perlu diperhatikan: 1. Membongkar trik dukun bukanlah hal yang jadi fokus utama. Yang jadi fokus utama adalah menyampaikan ilmu yang benar dari al-Quran dan as-Sunnah. Itulah yang jadi fokus para Nabi dan Rasul, serta para ulama seperti Ibnu Taimiyah. Beliau tidak sibuk membongkar trik para dukun. Allah ta’ala berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. al-Anbiya: 25) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda padanya, ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Maka hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (shalat), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki’.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19) Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “dari hadits yang mulia ini, dan juga barang siapa yang memperhatikan dakwah para Rasul yang disebutkan dalam al-Qur’an, dan juga barang siapa yang memperhatikan sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia dapat memahami manhaj dakwah ilallah. Dan ia akan memahami bahwa yang pertama didakwahkan kepada manusia adalah aqidah, yaitu mengajak mereka menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya, serta meninggalkan semua ibadah kepada selain Allah, sebagaimana makna Laa ilaaha illallah.” (Al-Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad, 17) 2. Dukun itu pendusta baik terbongkar atau tidak triknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa mereka tukang dusta, فَتَقُرُّهَا فِى أُذُنِ الْكَاهِنِ ، كَمَا تُقَرُّ الْقَارُورَةُ ، فَيَزِيدُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ “… setan-setan itu pun membisikkannya kabar-kabar langit pada telinga para dukun. Seperti meniupkan angin ke botol-botol. Lalu setan-setan itu pun menambahkan kabar-kabar tersebut dengan 100 kedustaan.” (HR. Bukhari no. 3288) 3. Datang ke dukun itu tetap kekufuran walaupun tidak terbongkar triknya dan walaupun ada pasiennya yang sembuh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ “Barang siapa yang mendatangi dukun atau mendatangi tukang ramal, kemudian ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9536, Abu Daud no. 3904, Tirmidzi no. 135, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5939) 4. Dukun terkadang memang menggunakan sihir yang berupa mantra serta buhul yang dibantu oleh setan. Sehingga tidak diketahui sebabnya.  Karena memang secara bahasa, sihir artinya kejadian yang samar penyebabnya.  السحر لغة: ما خفي ولطف سببه “Sihir secara bahasa artinya semua yang samar dan tidak jelas penyebabnya.” (Al-Qaulul Mufid, 1/489) Ahlussunnah meyakini adanya sihir sebagaimana ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir. Sehingga tidak semua dukun menggunakan trik, sebagiannya menggunakan sihir. Dan sihir ini adalah kekufuran dan dosa besar. Allah ta’ala berfirman:  يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ “Mereka (Harut dan Marut) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya ujian (bagimu), sebab itu janganlah kamu kufur’.” (QS. al-Baqarah: 102) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اجتنبوا السبعَ الموبقاتِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ، وما هن ؟ قال : الشركُ باللهِ ، والسحرُ ، وقتلُ النفسِ التي حرّم اللهُ إلا بالحقِّ ، وأكلُ الربا ، وأكلُ مالِ اليتيمِ ، والتولي يومَ الزحفِ ، وقذفُ المحصناتِ المؤمناتِ الغافلاتِ “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa saja itu? Rasulullah menjawab: berbuat syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, memakan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina.” (HR. Bukhari no. 2766, Muslim no. 89) Semoga jawaban ini bermanfaat. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Nurbuat Menurut Para Ulama, Tata Cara Sholat Istikharah, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Tata Cara Sholat Qodho Dan Qoshor, Wirid Untuk Ibu Hamil, Zikir Pagi Dan Petang Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 262
Pertanyaan: Ada sebagian orang yang membongkar trik para dukun dan menyingkap kebohongan mereka. Bagaimana menyikapi fenomena ini? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam Kitabut Tauhid karya Syaikh Shalih al-Fauzan, disebutkan kisah Ibnu Taimiyah yang membongkar trik dukun Ahmadiyah Rifa’iyyah atau dikenal dengan sekte Bathaihiyyah yang mengaku kebal api. Disebutkan di sana: “Salah seorang Syaikh Bathaihiyyah berteriak, “Kami memiliki kesaktian ini dan itu”. Mereka mengaku memiliki keajaiban-keajaiban seperti tahan api dan lainnya, yang itu khusus dimiliki oleh sekte mereka. Maka Syaikhul Islam berkata, “Aku berkata kepada mereka dengan meninggikan suara dan dengan nada marah: Aku menantang semua orang Ahmadiyah di penjuru bumi yang mengaku tahan api, maka aku pun akan melakukan sebagaimana yang mereka lakukan. Siapa yang terbakar maka dia kalah dan baginya laknat Allah!”. Kemudian aku katakan, ”Namun syaratnya, sebelum dibakar harus dimandikan dahulu badannya dengan cuka dan air hangat”. Salah seorang umara’ dan sebagian orang bertanya kepadaku mengapa harus ada syarat tersebut? Aku berkata, “Karena mereka punya trik agar tahan api, yaitu mereka menggunakan minyak dari katak, kulit jeruk lemon, dan bubuk batu talek, untuk memperdayai orang-orang”. Kemudian orang-orang Bathaihiyyah itu pun mengklaim mampu melakukannya. Mereka berkata, “Aku dan engkau kita akan diselimuti oleh kain di tengah tanah lapang, setelah dilumuri oleh belerang!”. Aku berkata, “Ayo!”. Mereka pun lantas akan membuka gamis mereka bersiap melakukannya. Aku berkata, “Jangan dulu! Anda harus dimandikan dulu dengan cuka dan air hangat”. Kemudian mereka pun mulai tampak ragu seperti biasanya. Kemudian mereka berkata, “Siapa yang cinta kepada pemimpin maka tolong carikan kayu bayar!”. Aku berkata, “Ini akan menunda pertunjukkan dan mencerai-beraikan penonton, tidak akan tercapai apa yang dimaksud! Api sudah dinyalakan, mari kita masukan tangan kita ke api setelah dimandikan cuka dan air hangat, siapa yang terbakar maka ia mendapat laknat Allah dan kalah”. Ketika aku katakan demikian maka mereka pun mundur teratur.” (Majmu’ al-Fatawa, 11/446-465, dikutip dari Kitabut Tauhid lil Fauzan, hal. 37) Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa membongkar trik dukun boleh saja dan ada manfaatnya. Tapi perlu diperhatikan: 1. Membongkar trik dukun bukanlah hal yang jadi fokus utama. Yang jadi fokus utama adalah menyampaikan ilmu yang benar dari al-Quran dan as-Sunnah. Itulah yang jadi fokus para Nabi dan Rasul, serta para ulama seperti Ibnu Taimiyah. Beliau tidak sibuk membongkar trik para dukun. Allah ta’ala berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. al-Anbiya: 25) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda padanya, ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Maka hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (shalat), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki’.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19) Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “dari hadits yang mulia ini, dan juga barang siapa yang memperhatikan dakwah para Rasul yang disebutkan dalam al-Qur’an, dan juga barang siapa yang memperhatikan sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia dapat memahami manhaj dakwah ilallah. Dan ia akan memahami bahwa yang pertama didakwahkan kepada manusia adalah aqidah, yaitu mengajak mereka menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya, serta meninggalkan semua ibadah kepada selain Allah, sebagaimana makna Laa ilaaha illallah.” (Al-Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad, 17) 2. Dukun itu pendusta baik terbongkar atau tidak triknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa mereka tukang dusta, فَتَقُرُّهَا فِى أُذُنِ الْكَاهِنِ ، كَمَا تُقَرُّ الْقَارُورَةُ ، فَيَزِيدُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ “… setan-setan itu pun membisikkannya kabar-kabar langit pada telinga para dukun. Seperti meniupkan angin ke botol-botol. Lalu setan-setan itu pun menambahkan kabar-kabar tersebut dengan 100 kedustaan.” (HR. Bukhari no. 3288) 3. Datang ke dukun itu tetap kekufuran walaupun tidak terbongkar triknya dan walaupun ada pasiennya yang sembuh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ “Barang siapa yang mendatangi dukun atau mendatangi tukang ramal, kemudian ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9536, Abu Daud no. 3904, Tirmidzi no. 135, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5939) 4. Dukun terkadang memang menggunakan sihir yang berupa mantra serta buhul yang dibantu oleh setan. Sehingga tidak diketahui sebabnya.  Karena memang secara bahasa, sihir artinya kejadian yang samar penyebabnya.  السحر لغة: ما خفي ولطف سببه “Sihir secara bahasa artinya semua yang samar dan tidak jelas penyebabnya.” (Al-Qaulul Mufid, 1/489) Ahlussunnah meyakini adanya sihir sebagaimana ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir. Sehingga tidak semua dukun menggunakan trik, sebagiannya menggunakan sihir. Dan sihir ini adalah kekufuran dan dosa besar. Allah ta’ala berfirman:  يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ “Mereka (Harut dan Marut) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya ujian (bagimu), sebab itu janganlah kamu kufur’.” (QS. al-Baqarah: 102) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اجتنبوا السبعَ الموبقاتِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ، وما هن ؟ قال : الشركُ باللهِ ، والسحرُ ، وقتلُ النفسِ التي حرّم اللهُ إلا بالحقِّ ، وأكلُ الربا ، وأكلُ مالِ اليتيمِ ، والتولي يومَ الزحفِ ، وقذفُ المحصناتِ المؤمناتِ الغافلاتِ “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa saja itu? Rasulullah menjawab: berbuat syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, memakan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina.” (HR. Bukhari no. 2766, Muslim no. 89) Semoga jawaban ini bermanfaat. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Nurbuat Menurut Para Ulama, Tata Cara Sholat Istikharah, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Tata Cara Sholat Qodho Dan Qoshor, Wirid Untuk Ibu Hamil, Zikir Pagi Dan Petang Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 262


Pertanyaan: Ada sebagian orang yang membongkar trik para dukun dan menyingkap kebohongan mereka. Bagaimana menyikapi fenomena ini? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam Kitabut Tauhid karya Syaikh Shalih al-Fauzan, disebutkan kisah Ibnu Taimiyah yang membongkar trik dukun Ahmadiyah Rifa’iyyah atau dikenal dengan sekte Bathaihiyyah yang mengaku kebal api. Disebutkan di sana: “Salah seorang Syaikh Bathaihiyyah berteriak, “Kami memiliki kesaktian ini dan itu”. Mereka mengaku memiliki keajaiban-keajaiban seperti tahan api dan lainnya, yang itu khusus dimiliki oleh sekte mereka. Maka Syaikhul Islam berkata, “Aku berkata kepada mereka dengan meninggikan suara dan dengan nada marah: Aku menantang semua orang Ahmadiyah di penjuru bumi yang mengaku tahan api, maka aku pun akan melakukan sebagaimana yang mereka lakukan. Siapa yang terbakar maka dia kalah dan baginya laknat Allah!”. Kemudian aku katakan, ”Namun syaratnya, sebelum dibakar harus dimandikan dahulu badannya dengan cuka dan air hangat”. Salah seorang umara’ dan sebagian orang bertanya kepadaku mengapa harus ada syarat tersebut? Aku berkata, “Karena mereka punya trik agar tahan api, yaitu mereka menggunakan minyak dari katak, kulit jeruk lemon, dan bubuk batu talek, untuk memperdayai orang-orang”. Kemudian orang-orang Bathaihiyyah itu pun mengklaim mampu melakukannya. Mereka berkata, “Aku dan engkau kita akan diselimuti oleh kain di tengah tanah lapang, setelah dilumuri oleh belerang!”. Aku berkata, “Ayo!”. Mereka pun lantas akan membuka gamis mereka bersiap melakukannya. Aku berkata, “Jangan dulu! Anda harus dimandikan dulu dengan cuka dan air hangat”. Kemudian mereka pun mulai tampak ragu seperti biasanya. Kemudian mereka berkata, “Siapa yang cinta kepada pemimpin maka tolong carikan kayu bayar!”. Aku berkata, “Ini akan menunda pertunjukkan dan mencerai-beraikan penonton, tidak akan tercapai apa yang dimaksud! Api sudah dinyalakan, mari kita masukan tangan kita ke api setelah dimandikan cuka dan air hangat, siapa yang terbakar maka ia mendapat laknat Allah dan kalah”. Ketika aku katakan demikian maka mereka pun mundur teratur.” (Majmu’ al-Fatawa, 11/446-465, dikutip dari Kitabut Tauhid lil Fauzan, hal. 37) Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa membongkar trik dukun boleh saja dan ada manfaatnya. Tapi perlu diperhatikan: 1. Membongkar trik dukun bukanlah hal yang jadi fokus utama. Yang jadi fokus utama adalah menyampaikan ilmu yang benar dari al-Quran dan as-Sunnah. Itulah yang jadi fokus para Nabi dan Rasul, serta para ulama seperti Ibnu Taimiyah. Beliau tidak sibuk membongkar trik para dukun. Allah ta’ala berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. al-Anbiya: 25) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda padanya, ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Maka hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (shalat), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki’.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19) Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “dari hadits yang mulia ini, dan juga barang siapa yang memperhatikan dakwah para Rasul yang disebutkan dalam al-Qur’an, dan juga barang siapa yang memperhatikan sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia dapat memahami manhaj dakwah ilallah. Dan ia akan memahami bahwa yang pertama didakwahkan kepada manusia adalah aqidah, yaitu mengajak mereka menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya, serta meninggalkan semua ibadah kepada selain Allah, sebagaimana makna Laa ilaaha illallah.” (Al-Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad, 17) 2. Dukun itu pendusta baik terbongkar atau tidak triknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa mereka tukang dusta, فَتَقُرُّهَا فِى أُذُنِ الْكَاهِنِ ، كَمَا تُقَرُّ الْقَارُورَةُ ، فَيَزِيدُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ “… setan-setan itu pun membisikkannya kabar-kabar langit pada telinga para dukun. Seperti meniupkan angin ke botol-botol. Lalu setan-setan itu pun menambahkan kabar-kabar tersebut dengan 100 kedustaan.” (HR. Bukhari no. 3288) 3. Datang ke dukun itu tetap kekufuran walaupun tidak terbongkar triknya dan walaupun ada pasiennya yang sembuh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ “Barang siapa yang mendatangi dukun atau mendatangi tukang ramal, kemudian ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9536, Abu Daud no. 3904, Tirmidzi no. 135, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5939) 4. Dukun terkadang memang menggunakan sihir yang berupa mantra serta buhul yang dibantu oleh setan. Sehingga tidak diketahui sebabnya.  Karena memang secara bahasa, sihir artinya kejadian yang samar penyebabnya.  السحر لغة: ما خفي ولطف سببه “Sihir secara bahasa artinya semua yang samar dan tidak jelas penyebabnya.” (Al-Qaulul Mufid, 1/489) Ahlussunnah meyakini adanya sihir sebagaimana ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir. Sehingga tidak semua dukun menggunakan trik, sebagiannya menggunakan sihir. Dan sihir ini adalah kekufuran dan dosa besar. Allah ta’ala berfirman:  يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ “Mereka (Harut dan Marut) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya ujian (bagimu), sebab itu janganlah kamu kufur’.” (QS. al-Baqarah: 102) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اجتنبوا السبعَ الموبقاتِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ، وما هن ؟ قال : الشركُ باللهِ ، والسحرُ ، وقتلُ النفسِ التي حرّم اللهُ إلا بالحقِّ ، وأكلُ الربا ، وأكلُ مالِ اليتيمِ ، والتولي يومَ الزحفِ ، وقذفُ المحصناتِ المؤمناتِ الغافلاتِ “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa saja itu? Rasulullah menjawab: berbuat syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, memakan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina.” (HR. Bukhari no. 2766, Muslim no. 89) Semoga jawaban ini bermanfaat. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Nurbuat Menurut Para Ulama, Tata Cara Sholat Istikharah, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Tata Cara Sholat Qodho Dan Qoshor, Wirid Untuk Ibu Hamil, Zikir Pagi Dan Petang Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 262
Prev     Next