Kapan Keburukan Dicatat Pahala? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Jika ada seseorang yang bertekad melakukan keburukan (dosa),kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah,maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia bertekad melakukan keburukan, seperti ingin mencuri, ingin berzina,ingin meminum minuman keras, ingin durhaka kepada kedua orang tuanya,atau berniat tidak puasa wajib. Intinya ia bertekad melakukan keburukan. Namun, kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. ==== إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ يُرِيْدُ أَنْ يَسْرِقَ يَزْنِي يَشْرَبَ الخَمْرَ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ يَتْرُكَ صِيَامًا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ حَسَنَةٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kapan Keburukan Dicatat Pahala? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Jika ada seseorang yang bertekad melakukan keburukan (dosa),kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah,maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia bertekad melakukan keburukan, seperti ingin mencuri, ingin berzina,ingin meminum minuman keras, ingin durhaka kepada kedua orang tuanya,atau berniat tidak puasa wajib. Intinya ia bertekad melakukan keburukan. Namun, kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. ==== إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ يُرِيْدُ أَنْ يَسْرِقَ يَزْنِي يَشْرَبَ الخَمْرَ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ يَتْرُكَ صِيَامًا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ حَسَنَةٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Jika ada seseorang yang bertekad melakukan keburukan (dosa),kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah,maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia bertekad melakukan keburukan, seperti ingin mencuri, ingin berzina,ingin meminum minuman keras, ingin durhaka kepada kedua orang tuanya,atau berniat tidak puasa wajib. Intinya ia bertekad melakukan keburukan. Namun, kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. ==== إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ يُرِيْدُ أَنْ يَسْرِقَ يَزْنِي يَشْرَبَ الخَمْرَ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ يَتْرُكَ صِيَامًا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ حَسَنَةٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Jika ada seseorang yang bertekad melakukan keburukan (dosa),kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah,maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia bertekad melakukan keburukan, seperti ingin mencuri, ingin berzina,ingin meminum minuman keras, ingin durhaka kepada kedua orang tuanya,atau berniat tidak puasa wajib. Intinya ia bertekad melakukan keburukan. Namun, kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. ==== إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ يُرِيْدُ أَنْ يَسْرِقَ يَزْنِي يَشْرَبَ الخَمْرَ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ يَتْرُكَ صِيَامًا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ حَسَنَةٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Syaikh Bin Baz Menjelaskan Beberapa Ayat dan Hadis tentang Ketinggian Allah

علوه سبحانه وتعالى من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم د/ م أح سلمه الله. سلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد: فأشير إلى كتابكم الذي جاء فيه: نرجو من فضيلتكم توضيح معاني الآيات الكريمة التالية: بسم الله الرحمن الرحيم وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] والآية: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] والآية وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] والآية مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7] Dari Abdul ʿAziz bin Abdullah bin Baz kepada saudaraku yang mulia (dengan inisial) dr. MA. Semoga Allah memberinya keselamatan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  Kemudian, aku merujuk pada tulisan Anda, di mana Anda berkata: [Mulai kutipan pertanyaan]  “Wahai Syeikh yang mulia, kami ingin Anda menjelaskan makna ayat-ayat berikut: Bismillāhirraḥmānirraḥīm,  وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ   “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Kemudian,  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255) Kemudian,  وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Dan juga ayat: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allahlah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) وحديث الجارية الذي رواه مسلم حينما سألها رسول الله ﷺ وقال: أين الله؟ فقالت: في السماء، وقال لها: من أنا؟ قالت رسول الله قال الرسول ﷺ: أعتقها فإنها مؤمنة نرجو توضيح معاني هذه الآيات الكريمة، وتوضيح معنى حديث رسول الله ﷺ للجارية؟ Begitu juga hadis Jāriyah (budak wanita) yang diriwayatkan Imam Muslim ketika Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” Kami berharap penjelasan makna ayat-ayat yang mulia ini dan hadis dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam tersebut.” [Selesai kutipan pertanyaan] *** [Mulai jawaban Syaikh Bin Baz] وأفيدك بأن المعنى العام للآيات الكريمات والحديث النبوي الشريف هو الدلالة على عظمة الله سبحانه وتعالى وعلوه على خلقه وألوهيته لجميع الخلائق كلها، وإحاطة علمه وشموله لكل شيء كبيراً كان أو صغيراً سرًا أو علناً، وبيان قدرته على كل شيء، ونفي العجز عنه سبحانه وتعالى Aku jelaskan bahwa makna ayat-ayat yang agung dan hadis yang mulia ini secara umum adalah menunjukkan keagungan Allah Subḥānahu wa Ta’āla, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan uluhiyah-Nya atas semua makhluk, dan pengetahuan-Nya sempurna dan menyeluruh terhadap segala hal, baik yang besar atau yang kecil, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini juga menunjukkan kemampuan-Nya atas segala sesuatu dan meniadakan kelemahan dari-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. وأما المعنى الخاص لها فقوله تعالى: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ [البقرة:255] ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته، وقوله: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] أي لا يثقله ولا يكرثه حفظ السموات والأرض ومن فيهما ومن بينهما، بل ذلك سهل عليه يسير لديه، وهو القائم على كل نفس بما كسبت، الرقيب على جميع الأشياء فلا يعزب عنه شيء ولا يغيب عنه شيء، والأشياء كلها حقيرة بين يديه متواضعة ذليلة صغيرة بالنسبة إليه سبحانه، محتاجة وفقيرة إليه، وهو الغني الحميد الفعال لما يريد الذي لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، وهو القاهر لكل شيء الحسيب على كل شيء الرقيب العلي العظيم لا إله غيره ولا رب سواه، وقوله سبحانه: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] فيها الدلالة على أن المدعو الله في السماوات وفي الأرض، ويعبده ويوحده ويقر له بالإلهية من في السماوات ومن في الأرض، ويسمونه الله ويدعونه رغباً ورهباً إلا من كفر من الجن والإنس، وفيها الدلالة على سعة علم الله سبحانه واطلاعه على عباده وإحاطته بما يعملونه سواء كان سراً أو جهراً، فالسر والجهر عنده سواء سبحانه وتعالى، فهو يحصي على العباد جميع أعمالهم خيرها وشرها Adapun makna secara khusus dari firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ – البقرة : 255 “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,…” (QS. al-Baqarah: 255) menunjukkan besar dan luasnya kursi-Nya, sebagaimana juga menunjukkan keagungan penciptanya Subḥānahu wa Ta’āla, dan kesempurnaan kemampuan-Nya.  Kemudian, firman-Nya: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة : 255 “Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. al-Baqarah: 255) maksudnya bahwa pemeliharaan keduanya beserta apa yang ada di antara keduanya tidak memberatkan atau menyulitkan-Nya. Semua itu ringan dan mudah bagi-Nya. Dia-lah yang mengurusi semua yang bernyawa dan apa yang dilakukan dan melihat segala sesuatu, tidak ada yang terluput dan tersembunyi dari-Nya. Semua hal kecil di hadapan-Nya, rendah, hina, kecil, fakir, dan butuh terhadap-Nya. Dialah yang Mahakaya, Maha Terpuji, yang bisa melakukan apa pun yang Dia kehendaki, yang tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, akan tetapi makhluk-Nya yang akan ditanya. Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Mahatinggi, dan Mahaagung, yang tidak ada sesembahan selain Dia, dan tidak ada yang mengatur alam selain Dia.  Adapun firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla, وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ – الأنعام : 3 “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Dalam ayat ini terdapat bukti bahwa Allah adalah sesembahan, baik di langit dan bumi, diibadahi, diesakan, dan diakui ketuhanan-Nya oleh semua penduduk langit dan bumi. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat ini juga ada bukti keluasan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan pengawasan-Nya terhadap semua hamba-hamba-Nya dan pengetahuan-Nya tentang semua yang mereka kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sesuatu yang tersembunyi atau yang nampak sama saja bagi-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. Dia yang akan melakukan penghitungan semua amalan mereka yang baik dan yang buruk. وقوله سبحانه: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] معناها: أنه سبحانه هو إله من في السماء وإله من في الأرض يعبده أهلهما وكلهم خاضعون له أذلاء بين يديه إلا من غلبت عليه الشقاوة فكفر بالله ولم يؤمن به، وهو الحكيم في شرعه وقدره العليم بجميع أعمال عباده سبحانه Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ – الزخرف : 84 “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Maknanya, bahwa Dia Subḥānahu wa Ta’āla adalah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, penghuni keduanya seluruhnya menyembah-Nya dengan penuh ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya, kecuali mereka yang celaka dengan kufur terhadap Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dialah yang Mahabijaksana dalam syariat dan kekuatan-Nya dan Mahatahu semua perbuatan hamba-hamba Allah Subḥānahu wa Ta’āla. وقوله سبحانه وتعالى: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة:7] Adapun firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ – المجادلة : 7 “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) معناها: أنه مطلع سبحانه على جميع عباده أينما كانوا يسمع كلامهم وسرهم ونجواهم، ويعلم أعمالهم، ورسله من الملائكة الكرام والكاتبين الحفظة أيضا مع ذلك يكتبون ما يتناجون به مع علم الله به وسمعه كله.والمراد بالمعية المذكورة في هذه الآية عند أهل السنة والجماعة: معية علمه سبحانه وتعالى، فهو معهم بعلمه محيط بهم، وبصره نافذ فيهم، فهو سبحانه وتعالى مطلع على خلقه لا يغيب عنه من أمورهم شيء مع أنه سبحانه فوق جميع الخلق قد استوى على عرشه استواء يليق بجلاله وعظمته، لا يشابه خلقه في شيء من صفاته، كما قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى:11] ثم ينبئهم يوم القيامة بجميع الأعمال التي عملوها في الدنيا؛ لأنه سبحانه بكل شيء عليم، وبكل شيء محيط، عالم الغيب لا يعزب عن علمه مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين Artinya bahwa Allah melihat semua hamba-Nya, di mana pun mereka berada, dan Allah mendengar perkataan mereka yang lirih dan bisikan-bisikan mereka, mengetahui perbuatan mereka, dan utusan-Nya dari kalangan malaikat yang mulia, malaikat pencatat amal dan malaikat penjaga semuanya mencatat bisikan-bisikan mereka, meskipun demikian, Allah tahu dan mendengar perkataan mereka semua.  Adapun maksud kebersamaan Allah di sini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebersamaan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya serta pandangan-Nya yang selalu mengawasi mereka, melihat semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu pun urusan mereka terluput dari-Nya, meskipun Dia berada tinggi di atas semua makhluk-Nya dan bersemayam di atas arsy-Nya dengan cara bersemayam yang sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya. Sifat-sifat Allah tidak ada yang serupa sedikit pun dengan apa pun dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Kemudian, pada hari kiamat, Dia akan mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya semua amalan mereka yang telah mereka perbuat di dunia, karena Dia Subḥānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu dan Maha Mengilmui segala hal. Dia Mahatahu yang gaib dan tidak ada yang terluput dari-Nya semua perbuatan mereka, walaupun sekecil zarah yang terlempar di langit atau di bumi, ataupun yang lebih kecil dari itu, ataupun yang lebih besar, semuanya tertulis dalam sebuah kitab yang jelas. أما حديث الجارية التي أراد سيدها إعتاقها كفارة لما حصل منه من ضربها فقال لها النبي ﷺ: أين الله؟ قالت: في السماء. قال: من أنا؟ قالت: رسول الله قال: أعتقها فإنها مؤمنة. فإن فيه الدلالة على علو الله على خلقه، وأن الاعتراف بذلك وبرسالته ﷺ دليل على الإيمان. هذا هو المعنى الموجز لما سألت عنه، والواجب على المسلم أن يسلك في هذه الآيات وما في معناها من الأحاديث الصحيحة الدالة على أسماء الله وصفاته مسلك أهل السنة والجماعة وهو الإيمان بها، واعتقاد صحة ما دلت عليه وإثباته له سبحانه على الوجه اللائق به من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وهذا هو المسلك الصحيح الذي سلكه السلف الصالح واتفقوا عليه، كما يجب على المسلم الذي يريد السلامة لنفسه تجنيبها الوقوع فيما يغضب الله والعدول عن طريق أهل الضلال الذين يؤولون صفات الله أو ينفونها عنه سبحانه وتعالى عما يقول الظالمون والجاهلون علواً كبيرًا.ونرفق لك نسخة من (العقيدة الواسطية) لشيخ الإسلام ابن تيمية وشرحها للشيخ محمد خليل الهراس؛ لأن فيها بحثاً موسعاً في الموضوع الذي سألت عنه. ونسأل الله أن يرزق الجميع العلم النافع والعمل به، وأن يوفق الجميع لما يرضيه إنه سميع مجيب Adapun hadis Jāriyah yang ingin dimerdekakan oleh tuannya sebagai penebus kesalahannya yang telah memukulnya dan Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.”  Dalam hadis ini terdapat bukti ketinggian Allah di atas semua makhluk-Nya, dan pengakuan hal itu dan kenabian Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tanda keimanan. Inilah makna secara ringkas sebagaimana Anda tanyakan. Seorang muslim harus memahami ayat-ayat ini dan hadis-hadis sahih yang semakna dengannya yang menunjukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenaran makna yang dikandungnya, menetapkannya untuk-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya tanpa mengubahnya (taḥrīf), meniadakannya (ta’ṭīl), menjelaskan caranya (takyīf), ataupun menyamakannya dengan sesuatu (tamṯīl). Inilah metode yang tepat yang ditempuh ulama salaf dan mereka bersepakat di atasnya.  Seorang muslim yang menginginkan keselamatan atas dirinya dan dijauhkan dari kemurkaan Allah dan jalan orang-orang yang sesat yang menakwil sifat-sifat Allah atau meniadakannya dari Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim lagi bodoh dengan ucapan mereka yang penuh kesombongan.  Kemudian, kami sarankan untuk Anda matan kitab al-ʿAqīdah al-Wāsṭiyyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab penjelasannya karya syeikh Muhammad H̱alīl Harrās, karena di dalamnya terdapat penjelasan yang mendetail tentang pembahasan yang Anda tanyakan. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dan diberikan taufik kepada apa yang membuat-Nya rida. Sesungguhnya dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته[1]. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ ابن باز (1/135). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  [Syaikh Bin Baz] Sumber: Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwiʿah liš Šeiẖ Ibn Bāz (1/135) https://binbaz.org.sa/fatwas/17/علوه-سبحانه-وتعالى PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Ustadz Online, Dalil Perceraian, Suami Kerja Jauh Dari Istri, Ciri Wanita Ldii, Hari Valentine Menurut Islam, Setelah Masuk Neraka Bisa Masuk Surga Visited 136 times, 4 visit(s) today Post Views: 327 QRIS donasi Yufid

Syaikh Bin Baz Menjelaskan Beberapa Ayat dan Hadis tentang Ketinggian Allah

علوه سبحانه وتعالى من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم د/ م أح سلمه الله. سلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد: فأشير إلى كتابكم الذي جاء فيه: نرجو من فضيلتكم توضيح معاني الآيات الكريمة التالية: بسم الله الرحمن الرحيم وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] والآية: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] والآية وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] والآية مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7] Dari Abdul ʿAziz bin Abdullah bin Baz kepada saudaraku yang mulia (dengan inisial) dr. MA. Semoga Allah memberinya keselamatan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  Kemudian, aku merujuk pada tulisan Anda, di mana Anda berkata: [Mulai kutipan pertanyaan]  “Wahai Syeikh yang mulia, kami ingin Anda menjelaskan makna ayat-ayat berikut: Bismillāhirraḥmānirraḥīm,  وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ   “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Kemudian,  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255) Kemudian,  وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Dan juga ayat: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allahlah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) وحديث الجارية الذي رواه مسلم حينما سألها رسول الله ﷺ وقال: أين الله؟ فقالت: في السماء، وقال لها: من أنا؟ قالت رسول الله قال الرسول ﷺ: أعتقها فإنها مؤمنة نرجو توضيح معاني هذه الآيات الكريمة، وتوضيح معنى حديث رسول الله ﷺ للجارية؟ Begitu juga hadis Jāriyah (budak wanita) yang diriwayatkan Imam Muslim ketika Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” Kami berharap penjelasan makna ayat-ayat yang mulia ini dan hadis dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam tersebut.” [Selesai kutipan pertanyaan] *** [Mulai jawaban Syaikh Bin Baz] وأفيدك بأن المعنى العام للآيات الكريمات والحديث النبوي الشريف هو الدلالة على عظمة الله سبحانه وتعالى وعلوه على خلقه وألوهيته لجميع الخلائق كلها، وإحاطة علمه وشموله لكل شيء كبيراً كان أو صغيراً سرًا أو علناً، وبيان قدرته على كل شيء، ونفي العجز عنه سبحانه وتعالى Aku jelaskan bahwa makna ayat-ayat yang agung dan hadis yang mulia ini secara umum adalah menunjukkan keagungan Allah Subḥānahu wa Ta’āla, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan uluhiyah-Nya atas semua makhluk, dan pengetahuan-Nya sempurna dan menyeluruh terhadap segala hal, baik yang besar atau yang kecil, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini juga menunjukkan kemampuan-Nya atas segala sesuatu dan meniadakan kelemahan dari-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. وأما المعنى الخاص لها فقوله تعالى: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ [البقرة:255] ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته، وقوله: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] أي لا يثقله ولا يكرثه حفظ السموات والأرض ومن فيهما ومن بينهما، بل ذلك سهل عليه يسير لديه، وهو القائم على كل نفس بما كسبت، الرقيب على جميع الأشياء فلا يعزب عنه شيء ولا يغيب عنه شيء، والأشياء كلها حقيرة بين يديه متواضعة ذليلة صغيرة بالنسبة إليه سبحانه، محتاجة وفقيرة إليه، وهو الغني الحميد الفعال لما يريد الذي لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، وهو القاهر لكل شيء الحسيب على كل شيء الرقيب العلي العظيم لا إله غيره ولا رب سواه، وقوله سبحانه: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] فيها الدلالة على أن المدعو الله في السماوات وفي الأرض، ويعبده ويوحده ويقر له بالإلهية من في السماوات ومن في الأرض، ويسمونه الله ويدعونه رغباً ورهباً إلا من كفر من الجن والإنس، وفيها الدلالة على سعة علم الله سبحانه واطلاعه على عباده وإحاطته بما يعملونه سواء كان سراً أو جهراً، فالسر والجهر عنده سواء سبحانه وتعالى، فهو يحصي على العباد جميع أعمالهم خيرها وشرها Adapun makna secara khusus dari firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ – البقرة : 255 “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,…” (QS. al-Baqarah: 255) menunjukkan besar dan luasnya kursi-Nya, sebagaimana juga menunjukkan keagungan penciptanya Subḥānahu wa Ta’āla, dan kesempurnaan kemampuan-Nya.  Kemudian, firman-Nya: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة : 255 “Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. al-Baqarah: 255) maksudnya bahwa pemeliharaan keduanya beserta apa yang ada di antara keduanya tidak memberatkan atau menyulitkan-Nya. Semua itu ringan dan mudah bagi-Nya. Dia-lah yang mengurusi semua yang bernyawa dan apa yang dilakukan dan melihat segala sesuatu, tidak ada yang terluput dan tersembunyi dari-Nya. Semua hal kecil di hadapan-Nya, rendah, hina, kecil, fakir, dan butuh terhadap-Nya. Dialah yang Mahakaya, Maha Terpuji, yang bisa melakukan apa pun yang Dia kehendaki, yang tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, akan tetapi makhluk-Nya yang akan ditanya. Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Mahatinggi, dan Mahaagung, yang tidak ada sesembahan selain Dia, dan tidak ada yang mengatur alam selain Dia.  Adapun firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla, وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ – الأنعام : 3 “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Dalam ayat ini terdapat bukti bahwa Allah adalah sesembahan, baik di langit dan bumi, diibadahi, diesakan, dan diakui ketuhanan-Nya oleh semua penduduk langit dan bumi. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat ini juga ada bukti keluasan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan pengawasan-Nya terhadap semua hamba-hamba-Nya dan pengetahuan-Nya tentang semua yang mereka kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sesuatu yang tersembunyi atau yang nampak sama saja bagi-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. Dia yang akan melakukan penghitungan semua amalan mereka yang baik dan yang buruk. وقوله سبحانه: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] معناها: أنه سبحانه هو إله من في السماء وإله من في الأرض يعبده أهلهما وكلهم خاضعون له أذلاء بين يديه إلا من غلبت عليه الشقاوة فكفر بالله ولم يؤمن به، وهو الحكيم في شرعه وقدره العليم بجميع أعمال عباده سبحانه Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ – الزخرف : 84 “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Maknanya, bahwa Dia Subḥānahu wa Ta’āla adalah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, penghuni keduanya seluruhnya menyembah-Nya dengan penuh ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya, kecuali mereka yang celaka dengan kufur terhadap Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dialah yang Mahabijaksana dalam syariat dan kekuatan-Nya dan Mahatahu semua perbuatan hamba-hamba Allah Subḥānahu wa Ta’āla. وقوله سبحانه وتعالى: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة:7] Adapun firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ – المجادلة : 7 “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) معناها: أنه مطلع سبحانه على جميع عباده أينما كانوا يسمع كلامهم وسرهم ونجواهم، ويعلم أعمالهم، ورسله من الملائكة الكرام والكاتبين الحفظة أيضا مع ذلك يكتبون ما يتناجون به مع علم الله به وسمعه كله.والمراد بالمعية المذكورة في هذه الآية عند أهل السنة والجماعة: معية علمه سبحانه وتعالى، فهو معهم بعلمه محيط بهم، وبصره نافذ فيهم، فهو سبحانه وتعالى مطلع على خلقه لا يغيب عنه من أمورهم شيء مع أنه سبحانه فوق جميع الخلق قد استوى على عرشه استواء يليق بجلاله وعظمته، لا يشابه خلقه في شيء من صفاته، كما قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى:11] ثم ينبئهم يوم القيامة بجميع الأعمال التي عملوها في الدنيا؛ لأنه سبحانه بكل شيء عليم، وبكل شيء محيط، عالم الغيب لا يعزب عن علمه مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين Artinya bahwa Allah melihat semua hamba-Nya, di mana pun mereka berada, dan Allah mendengar perkataan mereka yang lirih dan bisikan-bisikan mereka, mengetahui perbuatan mereka, dan utusan-Nya dari kalangan malaikat yang mulia, malaikat pencatat amal dan malaikat penjaga semuanya mencatat bisikan-bisikan mereka, meskipun demikian, Allah tahu dan mendengar perkataan mereka semua.  Adapun maksud kebersamaan Allah di sini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebersamaan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya serta pandangan-Nya yang selalu mengawasi mereka, melihat semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu pun urusan mereka terluput dari-Nya, meskipun Dia berada tinggi di atas semua makhluk-Nya dan bersemayam di atas arsy-Nya dengan cara bersemayam yang sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya. Sifat-sifat Allah tidak ada yang serupa sedikit pun dengan apa pun dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Kemudian, pada hari kiamat, Dia akan mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya semua amalan mereka yang telah mereka perbuat di dunia, karena Dia Subḥānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu dan Maha Mengilmui segala hal. Dia Mahatahu yang gaib dan tidak ada yang terluput dari-Nya semua perbuatan mereka, walaupun sekecil zarah yang terlempar di langit atau di bumi, ataupun yang lebih kecil dari itu, ataupun yang lebih besar, semuanya tertulis dalam sebuah kitab yang jelas. أما حديث الجارية التي أراد سيدها إعتاقها كفارة لما حصل منه من ضربها فقال لها النبي ﷺ: أين الله؟ قالت: في السماء. قال: من أنا؟ قالت: رسول الله قال: أعتقها فإنها مؤمنة. فإن فيه الدلالة على علو الله على خلقه، وأن الاعتراف بذلك وبرسالته ﷺ دليل على الإيمان. هذا هو المعنى الموجز لما سألت عنه، والواجب على المسلم أن يسلك في هذه الآيات وما في معناها من الأحاديث الصحيحة الدالة على أسماء الله وصفاته مسلك أهل السنة والجماعة وهو الإيمان بها، واعتقاد صحة ما دلت عليه وإثباته له سبحانه على الوجه اللائق به من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وهذا هو المسلك الصحيح الذي سلكه السلف الصالح واتفقوا عليه، كما يجب على المسلم الذي يريد السلامة لنفسه تجنيبها الوقوع فيما يغضب الله والعدول عن طريق أهل الضلال الذين يؤولون صفات الله أو ينفونها عنه سبحانه وتعالى عما يقول الظالمون والجاهلون علواً كبيرًا.ونرفق لك نسخة من (العقيدة الواسطية) لشيخ الإسلام ابن تيمية وشرحها للشيخ محمد خليل الهراس؛ لأن فيها بحثاً موسعاً في الموضوع الذي سألت عنه. ونسأل الله أن يرزق الجميع العلم النافع والعمل به، وأن يوفق الجميع لما يرضيه إنه سميع مجيب Adapun hadis Jāriyah yang ingin dimerdekakan oleh tuannya sebagai penebus kesalahannya yang telah memukulnya dan Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.”  Dalam hadis ini terdapat bukti ketinggian Allah di atas semua makhluk-Nya, dan pengakuan hal itu dan kenabian Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tanda keimanan. Inilah makna secara ringkas sebagaimana Anda tanyakan. Seorang muslim harus memahami ayat-ayat ini dan hadis-hadis sahih yang semakna dengannya yang menunjukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenaran makna yang dikandungnya, menetapkannya untuk-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya tanpa mengubahnya (taḥrīf), meniadakannya (ta’ṭīl), menjelaskan caranya (takyīf), ataupun menyamakannya dengan sesuatu (tamṯīl). Inilah metode yang tepat yang ditempuh ulama salaf dan mereka bersepakat di atasnya.  Seorang muslim yang menginginkan keselamatan atas dirinya dan dijauhkan dari kemurkaan Allah dan jalan orang-orang yang sesat yang menakwil sifat-sifat Allah atau meniadakannya dari Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim lagi bodoh dengan ucapan mereka yang penuh kesombongan.  Kemudian, kami sarankan untuk Anda matan kitab al-ʿAqīdah al-Wāsṭiyyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab penjelasannya karya syeikh Muhammad H̱alīl Harrās, karena di dalamnya terdapat penjelasan yang mendetail tentang pembahasan yang Anda tanyakan. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dan diberikan taufik kepada apa yang membuat-Nya rida. Sesungguhnya dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته[1]. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ ابن باز (1/135). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  [Syaikh Bin Baz] Sumber: Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwiʿah liš Šeiẖ Ibn Bāz (1/135) https://binbaz.org.sa/fatwas/17/علوه-سبحانه-وتعالى PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Ustadz Online, Dalil Perceraian, Suami Kerja Jauh Dari Istri, Ciri Wanita Ldii, Hari Valentine Menurut Islam, Setelah Masuk Neraka Bisa Masuk Surga Visited 136 times, 4 visit(s) today Post Views: 327 QRIS donasi Yufid
علوه سبحانه وتعالى من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم د/ م أح سلمه الله. سلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد: فأشير إلى كتابكم الذي جاء فيه: نرجو من فضيلتكم توضيح معاني الآيات الكريمة التالية: بسم الله الرحمن الرحيم وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] والآية: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] والآية وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] والآية مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7] Dari Abdul ʿAziz bin Abdullah bin Baz kepada saudaraku yang mulia (dengan inisial) dr. MA. Semoga Allah memberinya keselamatan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  Kemudian, aku merujuk pada tulisan Anda, di mana Anda berkata: [Mulai kutipan pertanyaan]  “Wahai Syeikh yang mulia, kami ingin Anda menjelaskan makna ayat-ayat berikut: Bismillāhirraḥmānirraḥīm,  وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ   “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Kemudian,  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255) Kemudian,  وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Dan juga ayat: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allahlah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) وحديث الجارية الذي رواه مسلم حينما سألها رسول الله ﷺ وقال: أين الله؟ فقالت: في السماء، وقال لها: من أنا؟ قالت رسول الله قال الرسول ﷺ: أعتقها فإنها مؤمنة نرجو توضيح معاني هذه الآيات الكريمة، وتوضيح معنى حديث رسول الله ﷺ للجارية؟ Begitu juga hadis Jāriyah (budak wanita) yang diriwayatkan Imam Muslim ketika Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” Kami berharap penjelasan makna ayat-ayat yang mulia ini dan hadis dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam tersebut.” [Selesai kutipan pertanyaan] *** [Mulai jawaban Syaikh Bin Baz] وأفيدك بأن المعنى العام للآيات الكريمات والحديث النبوي الشريف هو الدلالة على عظمة الله سبحانه وتعالى وعلوه على خلقه وألوهيته لجميع الخلائق كلها، وإحاطة علمه وشموله لكل شيء كبيراً كان أو صغيراً سرًا أو علناً، وبيان قدرته على كل شيء، ونفي العجز عنه سبحانه وتعالى Aku jelaskan bahwa makna ayat-ayat yang agung dan hadis yang mulia ini secara umum adalah menunjukkan keagungan Allah Subḥānahu wa Ta’āla, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan uluhiyah-Nya atas semua makhluk, dan pengetahuan-Nya sempurna dan menyeluruh terhadap segala hal, baik yang besar atau yang kecil, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini juga menunjukkan kemampuan-Nya atas segala sesuatu dan meniadakan kelemahan dari-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. وأما المعنى الخاص لها فقوله تعالى: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ [البقرة:255] ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته، وقوله: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] أي لا يثقله ولا يكرثه حفظ السموات والأرض ومن فيهما ومن بينهما، بل ذلك سهل عليه يسير لديه، وهو القائم على كل نفس بما كسبت، الرقيب على جميع الأشياء فلا يعزب عنه شيء ولا يغيب عنه شيء، والأشياء كلها حقيرة بين يديه متواضعة ذليلة صغيرة بالنسبة إليه سبحانه، محتاجة وفقيرة إليه، وهو الغني الحميد الفعال لما يريد الذي لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، وهو القاهر لكل شيء الحسيب على كل شيء الرقيب العلي العظيم لا إله غيره ولا رب سواه، وقوله سبحانه: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] فيها الدلالة على أن المدعو الله في السماوات وفي الأرض، ويعبده ويوحده ويقر له بالإلهية من في السماوات ومن في الأرض، ويسمونه الله ويدعونه رغباً ورهباً إلا من كفر من الجن والإنس، وفيها الدلالة على سعة علم الله سبحانه واطلاعه على عباده وإحاطته بما يعملونه سواء كان سراً أو جهراً، فالسر والجهر عنده سواء سبحانه وتعالى، فهو يحصي على العباد جميع أعمالهم خيرها وشرها Adapun makna secara khusus dari firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ – البقرة : 255 “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,…” (QS. al-Baqarah: 255) menunjukkan besar dan luasnya kursi-Nya, sebagaimana juga menunjukkan keagungan penciptanya Subḥānahu wa Ta’āla, dan kesempurnaan kemampuan-Nya.  Kemudian, firman-Nya: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة : 255 “Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. al-Baqarah: 255) maksudnya bahwa pemeliharaan keduanya beserta apa yang ada di antara keduanya tidak memberatkan atau menyulitkan-Nya. Semua itu ringan dan mudah bagi-Nya. Dia-lah yang mengurusi semua yang bernyawa dan apa yang dilakukan dan melihat segala sesuatu, tidak ada yang terluput dan tersembunyi dari-Nya. Semua hal kecil di hadapan-Nya, rendah, hina, kecil, fakir, dan butuh terhadap-Nya. Dialah yang Mahakaya, Maha Terpuji, yang bisa melakukan apa pun yang Dia kehendaki, yang tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, akan tetapi makhluk-Nya yang akan ditanya. Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Mahatinggi, dan Mahaagung, yang tidak ada sesembahan selain Dia, dan tidak ada yang mengatur alam selain Dia.  Adapun firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla, وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ – الأنعام : 3 “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Dalam ayat ini terdapat bukti bahwa Allah adalah sesembahan, baik di langit dan bumi, diibadahi, diesakan, dan diakui ketuhanan-Nya oleh semua penduduk langit dan bumi. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat ini juga ada bukti keluasan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan pengawasan-Nya terhadap semua hamba-hamba-Nya dan pengetahuan-Nya tentang semua yang mereka kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sesuatu yang tersembunyi atau yang nampak sama saja bagi-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. Dia yang akan melakukan penghitungan semua amalan mereka yang baik dan yang buruk. وقوله سبحانه: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] معناها: أنه سبحانه هو إله من في السماء وإله من في الأرض يعبده أهلهما وكلهم خاضعون له أذلاء بين يديه إلا من غلبت عليه الشقاوة فكفر بالله ولم يؤمن به، وهو الحكيم في شرعه وقدره العليم بجميع أعمال عباده سبحانه Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ – الزخرف : 84 “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Maknanya, bahwa Dia Subḥānahu wa Ta’āla adalah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, penghuni keduanya seluruhnya menyembah-Nya dengan penuh ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya, kecuali mereka yang celaka dengan kufur terhadap Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dialah yang Mahabijaksana dalam syariat dan kekuatan-Nya dan Mahatahu semua perbuatan hamba-hamba Allah Subḥānahu wa Ta’āla. وقوله سبحانه وتعالى: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة:7] Adapun firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ – المجادلة : 7 “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) معناها: أنه مطلع سبحانه على جميع عباده أينما كانوا يسمع كلامهم وسرهم ونجواهم، ويعلم أعمالهم، ورسله من الملائكة الكرام والكاتبين الحفظة أيضا مع ذلك يكتبون ما يتناجون به مع علم الله به وسمعه كله.والمراد بالمعية المذكورة في هذه الآية عند أهل السنة والجماعة: معية علمه سبحانه وتعالى، فهو معهم بعلمه محيط بهم، وبصره نافذ فيهم، فهو سبحانه وتعالى مطلع على خلقه لا يغيب عنه من أمورهم شيء مع أنه سبحانه فوق جميع الخلق قد استوى على عرشه استواء يليق بجلاله وعظمته، لا يشابه خلقه في شيء من صفاته، كما قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى:11] ثم ينبئهم يوم القيامة بجميع الأعمال التي عملوها في الدنيا؛ لأنه سبحانه بكل شيء عليم، وبكل شيء محيط، عالم الغيب لا يعزب عن علمه مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين Artinya bahwa Allah melihat semua hamba-Nya, di mana pun mereka berada, dan Allah mendengar perkataan mereka yang lirih dan bisikan-bisikan mereka, mengetahui perbuatan mereka, dan utusan-Nya dari kalangan malaikat yang mulia, malaikat pencatat amal dan malaikat penjaga semuanya mencatat bisikan-bisikan mereka, meskipun demikian, Allah tahu dan mendengar perkataan mereka semua.  Adapun maksud kebersamaan Allah di sini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebersamaan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya serta pandangan-Nya yang selalu mengawasi mereka, melihat semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu pun urusan mereka terluput dari-Nya, meskipun Dia berada tinggi di atas semua makhluk-Nya dan bersemayam di atas arsy-Nya dengan cara bersemayam yang sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya. Sifat-sifat Allah tidak ada yang serupa sedikit pun dengan apa pun dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Kemudian, pada hari kiamat, Dia akan mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya semua amalan mereka yang telah mereka perbuat di dunia, karena Dia Subḥānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu dan Maha Mengilmui segala hal. Dia Mahatahu yang gaib dan tidak ada yang terluput dari-Nya semua perbuatan mereka, walaupun sekecil zarah yang terlempar di langit atau di bumi, ataupun yang lebih kecil dari itu, ataupun yang lebih besar, semuanya tertulis dalam sebuah kitab yang jelas. أما حديث الجارية التي أراد سيدها إعتاقها كفارة لما حصل منه من ضربها فقال لها النبي ﷺ: أين الله؟ قالت: في السماء. قال: من أنا؟ قالت: رسول الله قال: أعتقها فإنها مؤمنة. فإن فيه الدلالة على علو الله على خلقه، وأن الاعتراف بذلك وبرسالته ﷺ دليل على الإيمان. هذا هو المعنى الموجز لما سألت عنه، والواجب على المسلم أن يسلك في هذه الآيات وما في معناها من الأحاديث الصحيحة الدالة على أسماء الله وصفاته مسلك أهل السنة والجماعة وهو الإيمان بها، واعتقاد صحة ما دلت عليه وإثباته له سبحانه على الوجه اللائق به من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وهذا هو المسلك الصحيح الذي سلكه السلف الصالح واتفقوا عليه، كما يجب على المسلم الذي يريد السلامة لنفسه تجنيبها الوقوع فيما يغضب الله والعدول عن طريق أهل الضلال الذين يؤولون صفات الله أو ينفونها عنه سبحانه وتعالى عما يقول الظالمون والجاهلون علواً كبيرًا.ونرفق لك نسخة من (العقيدة الواسطية) لشيخ الإسلام ابن تيمية وشرحها للشيخ محمد خليل الهراس؛ لأن فيها بحثاً موسعاً في الموضوع الذي سألت عنه. ونسأل الله أن يرزق الجميع العلم النافع والعمل به، وأن يوفق الجميع لما يرضيه إنه سميع مجيب Adapun hadis Jāriyah yang ingin dimerdekakan oleh tuannya sebagai penebus kesalahannya yang telah memukulnya dan Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.”  Dalam hadis ini terdapat bukti ketinggian Allah di atas semua makhluk-Nya, dan pengakuan hal itu dan kenabian Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tanda keimanan. Inilah makna secara ringkas sebagaimana Anda tanyakan. Seorang muslim harus memahami ayat-ayat ini dan hadis-hadis sahih yang semakna dengannya yang menunjukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenaran makna yang dikandungnya, menetapkannya untuk-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya tanpa mengubahnya (taḥrīf), meniadakannya (ta’ṭīl), menjelaskan caranya (takyīf), ataupun menyamakannya dengan sesuatu (tamṯīl). Inilah metode yang tepat yang ditempuh ulama salaf dan mereka bersepakat di atasnya.  Seorang muslim yang menginginkan keselamatan atas dirinya dan dijauhkan dari kemurkaan Allah dan jalan orang-orang yang sesat yang menakwil sifat-sifat Allah atau meniadakannya dari Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim lagi bodoh dengan ucapan mereka yang penuh kesombongan.  Kemudian, kami sarankan untuk Anda matan kitab al-ʿAqīdah al-Wāsṭiyyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab penjelasannya karya syeikh Muhammad H̱alīl Harrās, karena di dalamnya terdapat penjelasan yang mendetail tentang pembahasan yang Anda tanyakan. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dan diberikan taufik kepada apa yang membuat-Nya rida. Sesungguhnya dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته[1]. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ ابن باز (1/135). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  [Syaikh Bin Baz] Sumber: Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwiʿah liš Šeiẖ Ibn Bāz (1/135) https://binbaz.org.sa/fatwas/17/علوه-سبحانه-وتعالى PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Ustadz Online, Dalil Perceraian, Suami Kerja Jauh Dari Istri, Ciri Wanita Ldii, Hari Valentine Menurut Islam, Setelah Masuk Neraka Bisa Masuk Surga Visited 136 times, 4 visit(s) today Post Views: 327 QRIS donasi Yufid


علوه سبحانه وتعالى من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم د/ م أح سلمه الله. سلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد: فأشير إلى كتابكم الذي جاء فيه: نرجو من فضيلتكم توضيح معاني الآيات الكريمة التالية: بسم الله الرحمن الرحيم وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] والآية: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] والآية وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] والآية مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7] Dari Abdul ʿAziz bin Abdullah bin Baz kepada saudaraku yang mulia (dengan inisial) dr. MA. Semoga Allah memberinya keselamatan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  Kemudian, aku merujuk pada tulisan Anda, di mana Anda berkata: [Mulai kutipan pertanyaan]  “Wahai Syeikh yang mulia, kami ingin Anda menjelaskan makna ayat-ayat berikut: Bismillāhirraḥmānirraḥīm,  وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ   “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Kemudian,  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255) Kemudian,  وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Dan juga ayat: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allahlah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) وحديث الجارية الذي رواه مسلم حينما سألها رسول الله ﷺ وقال: أين الله؟ فقالت: في السماء، وقال لها: من أنا؟ قالت رسول الله قال الرسول ﷺ: أعتقها فإنها مؤمنة نرجو توضيح معاني هذه الآيات الكريمة، وتوضيح معنى حديث رسول الله ﷺ للجارية؟ Begitu juga hadis Jāriyah (budak wanita) yang diriwayatkan Imam Muslim ketika Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” Kami berharap penjelasan makna ayat-ayat yang mulia ini dan hadis dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam tersebut.” [Selesai kutipan pertanyaan] *** [Mulai jawaban Syaikh Bin Baz] وأفيدك بأن المعنى العام للآيات الكريمات والحديث النبوي الشريف هو الدلالة على عظمة الله سبحانه وتعالى وعلوه على خلقه وألوهيته لجميع الخلائق كلها، وإحاطة علمه وشموله لكل شيء كبيراً كان أو صغيراً سرًا أو علناً، وبيان قدرته على كل شيء، ونفي العجز عنه سبحانه وتعالى Aku jelaskan bahwa makna ayat-ayat yang agung dan hadis yang mulia ini secara umum adalah menunjukkan keagungan Allah Subḥānahu wa Ta’āla, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan uluhiyah-Nya atas semua makhluk, dan pengetahuan-Nya sempurna dan menyeluruh terhadap segala hal, baik yang besar atau yang kecil, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini juga menunjukkan kemampuan-Nya atas segala sesuatu dan meniadakan kelemahan dari-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. وأما المعنى الخاص لها فقوله تعالى: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ [البقرة:255] ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته، وقوله: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] أي لا يثقله ولا يكرثه حفظ السموات والأرض ومن فيهما ومن بينهما، بل ذلك سهل عليه يسير لديه، وهو القائم على كل نفس بما كسبت، الرقيب على جميع الأشياء فلا يعزب عنه شيء ولا يغيب عنه شيء، والأشياء كلها حقيرة بين يديه متواضعة ذليلة صغيرة بالنسبة إليه سبحانه، محتاجة وفقيرة إليه، وهو الغني الحميد الفعال لما يريد الذي لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، وهو القاهر لكل شيء الحسيب على كل شيء الرقيب العلي العظيم لا إله غيره ولا رب سواه، وقوله سبحانه: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] فيها الدلالة على أن المدعو الله في السماوات وفي الأرض، ويعبده ويوحده ويقر له بالإلهية من في السماوات ومن في الأرض، ويسمونه الله ويدعونه رغباً ورهباً إلا من كفر من الجن والإنس، وفيها الدلالة على سعة علم الله سبحانه واطلاعه على عباده وإحاطته بما يعملونه سواء كان سراً أو جهراً، فالسر والجهر عنده سواء سبحانه وتعالى، فهو يحصي على العباد جميع أعمالهم خيرها وشرها Adapun makna secara khusus dari firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ – البقرة : 255 “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,…” (QS. al-Baqarah: 255) menunjukkan besar dan luasnya kursi-Nya, sebagaimana juga menunjukkan keagungan penciptanya Subḥānahu wa Ta’āla, dan kesempurnaan kemampuan-Nya.  Kemudian, firman-Nya: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة : 255 “Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. al-Baqarah: 255) maksudnya bahwa pemeliharaan keduanya beserta apa yang ada di antara keduanya tidak memberatkan atau menyulitkan-Nya. Semua itu ringan dan mudah bagi-Nya. Dia-lah yang mengurusi semua yang bernyawa dan apa yang dilakukan dan melihat segala sesuatu, tidak ada yang terluput dan tersembunyi dari-Nya. Semua hal kecil di hadapan-Nya, rendah, hina, kecil, fakir, dan butuh terhadap-Nya. Dialah yang Mahakaya, Maha Terpuji, yang bisa melakukan apa pun yang Dia kehendaki, yang tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, akan tetapi makhluk-Nya yang akan ditanya. Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Mahatinggi, dan Mahaagung, yang tidak ada sesembahan selain Dia, dan tidak ada yang mengatur alam selain Dia.  Adapun firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla, وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ – الأنعام : 3 “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Dalam ayat ini terdapat bukti bahwa Allah adalah sesembahan, baik di langit dan bumi, diibadahi, diesakan, dan diakui ketuhanan-Nya oleh semua penduduk langit dan bumi. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat ini juga ada bukti keluasan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan pengawasan-Nya terhadap semua hamba-hamba-Nya dan pengetahuan-Nya tentang semua yang mereka kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sesuatu yang tersembunyi atau yang nampak sama saja bagi-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. Dia yang akan melakukan penghitungan semua amalan mereka yang baik dan yang buruk. وقوله سبحانه: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] معناها: أنه سبحانه هو إله من في السماء وإله من في الأرض يعبده أهلهما وكلهم خاضعون له أذلاء بين يديه إلا من غلبت عليه الشقاوة فكفر بالله ولم يؤمن به، وهو الحكيم في شرعه وقدره العليم بجميع أعمال عباده سبحانه Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ – الزخرف : 84 “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Maknanya, bahwa Dia Subḥānahu wa Ta’āla adalah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, penghuni keduanya seluruhnya menyembah-Nya dengan penuh ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya, kecuali mereka yang celaka dengan kufur terhadap Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dialah yang Mahabijaksana dalam syariat dan kekuatan-Nya dan Mahatahu semua perbuatan hamba-hamba Allah Subḥānahu wa Ta’āla. وقوله سبحانه وتعالى: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة:7] Adapun firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ – المجادلة : 7 “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) معناها: أنه مطلع سبحانه على جميع عباده أينما كانوا يسمع كلامهم وسرهم ونجواهم، ويعلم أعمالهم، ورسله من الملائكة الكرام والكاتبين الحفظة أيضا مع ذلك يكتبون ما يتناجون به مع علم الله به وسمعه كله.والمراد بالمعية المذكورة في هذه الآية عند أهل السنة والجماعة: معية علمه سبحانه وتعالى، فهو معهم بعلمه محيط بهم، وبصره نافذ فيهم، فهو سبحانه وتعالى مطلع على خلقه لا يغيب عنه من أمورهم شيء مع أنه سبحانه فوق جميع الخلق قد استوى على عرشه استواء يليق بجلاله وعظمته، لا يشابه خلقه في شيء من صفاته، كما قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى:11] ثم ينبئهم يوم القيامة بجميع الأعمال التي عملوها في الدنيا؛ لأنه سبحانه بكل شيء عليم، وبكل شيء محيط، عالم الغيب لا يعزب عن علمه مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين Artinya bahwa Allah melihat semua hamba-Nya, di mana pun mereka berada, dan Allah mendengar perkataan mereka yang lirih dan bisikan-bisikan mereka, mengetahui perbuatan mereka, dan utusan-Nya dari kalangan malaikat yang mulia, malaikat pencatat amal dan malaikat penjaga semuanya mencatat bisikan-bisikan mereka, meskipun demikian, Allah tahu dan mendengar perkataan mereka semua.  Adapun maksud kebersamaan Allah di sini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebersamaan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya serta pandangan-Nya yang selalu mengawasi mereka, melihat semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu pun urusan mereka terluput dari-Nya, meskipun Dia berada tinggi di atas semua makhluk-Nya dan bersemayam di atas arsy-Nya dengan cara bersemayam yang sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya. Sifat-sifat Allah tidak ada yang serupa sedikit pun dengan apa pun dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Kemudian, pada hari kiamat, Dia akan mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya semua amalan mereka yang telah mereka perbuat di dunia, karena Dia Subḥānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu dan Maha Mengilmui segala hal. Dia Mahatahu yang gaib dan tidak ada yang terluput dari-Nya semua perbuatan mereka, walaupun sekecil zarah yang terlempar di langit atau di bumi, ataupun yang lebih kecil dari itu, ataupun yang lebih besar, semuanya tertulis dalam sebuah kitab yang jelas. أما حديث الجارية التي أراد سيدها إعتاقها كفارة لما حصل منه من ضربها فقال لها النبي ﷺ: أين الله؟ قالت: في السماء. قال: من أنا؟ قالت: رسول الله قال: أعتقها فإنها مؤمنة. فإن فيه الدلالة على علو الله على خلقه، وأن الاعتراف بذلك وبرسالته ﷺ دليل على الإيمان. هذا هو المعنى الموجز لما سألت عنه، والواجب على المسلم أن يسلك في هذه الآيات وما في معناها من الأحاديث الصحيحة الدالة على أسماء الله وصفاته مسلك أهل السنة والجماعة وهو الإيمان بها، واعتقاد صحة ما دلت عليه وإثباته له سبحانه على الوجه اللائق به من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وهذا هو المسلك الصحيح الذي سلكه السلف الصالح واتفقوا عليه، كما يجب على المسلم الذي يريد السلامة لنفسه تجنيبها الوقوع فيما يغضب الله والعدول عن طريق أهل الضلال الذين يؤولون صفات الله أو ينفونها عنه سبحانه وتعالى عما يقول الظالمون والجاهلون علواً كبيرًا.ونرفق لك نسخة من (العقيدة الواسطية) لشيخ الإسلام ابن تيمية وشرحها للشيخ محمد خليل الهراس؛ لأن فيها بحثاً موسعاً في الموضوع الذي سألت عنه. ونسأل الله أن يرزق الجميع العلم النافع والعمل به، وأن يوفق الجميع لما يرضيه إنه سميع مجيب Adapun hadis Jāriyah yang ingin dimerdekakan oleh tuannya sebagai penebus kesalahannya yang telah memukulnya dan Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.”  Dalam hadis ini terdapat bukti ketinggian Allah di atas semua makhluk-Nya, dan pengakuan hal itu dan kenabian Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tanda keimanan. Inilah makna secara ringkas sebagaimana Anda tanyakan. Seorang muslim harus memahami ayat-ayat ini dan hadis-hadis sahih yang semakna dengannya yang menunjukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenaran makna yang dikandungnya, menetapkannya untuk-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya tanpa mengubahnya (taḥrīf), meniadakannya (ta’ṭīl), menjelaskan caranya (takyīf), ataupun menyamakannya dengan sesuatu (tamṯīl). Inilah metode yang tepat yang ditempuh ulama salaf dan mereka bersepakat di atasnya.  Seorang muslim yang menginginkan keselamatan atas dirinya dan dijauhkan dari kemurkaan Allah dan jalan orang-orang yang sesat yang menakwil sifat-sifat Allah atau meniadakannya dari Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim lagi bodoh dengan ucapan mereka yang penuh kesombongan.  Kemudian, kami sarankan untuk Anda matan kitab al-ʿAqīdah al-Wāsṭiyyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab penjelasannya karya syeikh Muhammad H̱alīl Harrās, karena di dalamnya terdapat penjelasan yang mendetail tentang pembahasan yang Anda tanyakan. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dan diberikan taufik kepada apa yang membuat-Nya rida. Sesungguhnya dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته[1]. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ ابن باز (1/135). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  [Syaikh Bin Baz] Sumber: Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwiʿah liš Šeiẖ Ibn Bāz (1/135) https://binbaz.org.sa/fatwas/17/علوه-سبحانه-وتعالى PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Ustadz Online, Dalil Perceraian, Suami Kerja Jauh Dari Istri, Ciri Wanita Ldii, Hari Valentine Menurut Islam, Setelah Masuk Neraka Bisa Masuk Surga Visited 136 times, 4 visit(s) today Post Views: 327 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bolehkah Menggunakan Jimat dari Al-Quran?

حكم التميمة من القرآن س: ما حكم التميمة من القرآن ومن غيره؟ Pertanyaan: Apa Hukum Menggunakan Jimat dari al-Quran atau semisalnya? ج: أما التميمة من غير القرآن كالعظام والطلاسم والودع وشعر الذئب وما أشبه ذلك فهذه منكرة محرمة بالنص، لا يجوز تعليقها على الطفل ولا على غير الطفل؛ لقوله ﷺ: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية: من تعلق تميمة فقد أشرك Jawaban: Jika tamīmah (semacam jimat yang dilingkarkan di anggota badan) menggunakan selain al-Quran, seperti tulang, mantera, kerang, bulu serigala, dan yang semisalnya, semua ini adalah perbuatan mungkar dan terlarang secara tegas dalam nash syariat. Tidak boleh dikalungkan pada anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له “Barang siapa yang menggantungkan tamīmah, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: من تعلق تميمة فقد أشرك “Barang siapa yang menggantungkan tamimah, berarti telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad) أما إذا كانت من القرآن أو من دعوات معروفة طيبة، فهذه اختلف فيها العلماء، فقال بعضهم: يجوز تعليقها، ويروى هذا عن جماعة من السلف جعلوها كالقراءة على المريض Adapun jimat dari al-Quran atau dari doa-doa yang jelas baiknya, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian berkata bahwa hal itu ini boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ulama salaf dan menghukuminya seperti membacakan al-Quran untuk orang yang sakit. والقول الثاني: أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك وعملًا بالعموم؛ لأن الأحاديث المانعة من التمائم أحاديث عامة، لم تستثن شيئًا. والواجب: الأخذ بالعموم فلا يجوز شيء من التمائم أصلًا؛ لأن ذلك يفضي إلى تعليق غيرها والتباس الأمر Pendapat kedua menyatakan bahwa ini tidak boleh. Pendapat ini diketahui berasal dari Abdullah bin Mas’ud dan Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhum dan sebagian ulama klasik dan kontemporer. Mereka berkata bahwa menggunakan tamīmah tidak boleh, walaupun dengan al-Quran, untuk mengamalkan keumuman dalil dan membentengi dan mencegah munculnya bentuk-bentuk kesyirikan. Karena hadis-hadis yang melarang tamīmah adalah hadis yang umum yang tidak mengecualikan sesuatu pun. Menerapkan keumuman hadis adalah keharusan sehingga tidak boleh menggantungkan tamīmah dalam bentuk apa pun, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat dan mendorong mereka untuk menggunakan jimat lain. فوجب منع الجميع، وهذا هو الصواب لظهور دليله Jadi, semua harus dilarang dan inilah yang tepat karena jelasnya dalilnya.  فلو أجزنا التميمة من القرآن ومن الدعوات الطيبة لانفتح الباب وصار كل واحد يعلق ما شاء، فإذا أنكر عليه، قال: هذا من القرآن، أو هذه من الدعوات الطيبة، فينفتح الباب، ويتسع الخرق وتلبس التمائم كلها Jika kita membolehkan tamīmah dari al-Quran atau dari doa-doa yang baik, pasti akan terbuka pintu syirik dan setiap orang akan menggantungkan apa yang dia mau. Jika kemudian diingkari, dia akan berkata bahwa itu menggunakan al-Quran atau doa-doa yang baik. Dengan demikian, pintu kesyirikan akan terbuka dan lubangnya semakin besar hingga semua jenis jimat akhirnya digunakan. وهناك علة ثالثة وهي: أنها قد يدخل بها الخلاء ومواضع القذر، ومعلوم أن كلام الله ينزه عن ذلك، ولا يليق أن يدخل به الخلاء[1] مجموع فتاوى العلامة ابن باز  (1/ 51) Alasan ketiga, tamīmah seperti ini kadang dibawa masuk ke toilet atau tempat yang kotor, padahal sudah jelas bahwa firman Allah harus suci dari hal-hal demikian dan tidak pantas dibawa masuk ke toilet. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/8/حكم-التميمة-من-القران PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merokok Dalam Islam, Cara Mencintai Rasulullah, Hukum Perempuan Haid Masuk Masjid, Menikah Tanpa Wali, Jawaban Salam Untuk Non Muslim, Berapa Hari Puasa Bulan Rajab Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Menggunakan Jimat dari Al-Quran?

حكم التميمة من القرآن س: ما حكم التميمة من القرآن ومن غيره؟ Pertanyaan: Apa Hukum Menggunakan Jimat dari al-Quran atau semisalnya? ج: أما التميمة من غير القرآن كالعظام والطلاسم والودع وشعر الذئب وما أشبه ذلك فهذه منكرة محرمة بالنص، لا يجوز تعليقها على الطفل ولا على غير الطفل؛ لقوله ﷺ: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية: من تعلق تميمة فقد أشرك Jawaban: Jika tamīmah (semacam jimat yang dilingkarkan di anggota badan) menggunakan selain al-Quran, seperti tulang, mantera, kerang, bulu serigala, dan yang semisalnya, semua ini adalah perbuatan mungkar dan terlarang secara tegas dalam nash syariat. Tidak boleh dikalungkan pada anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له “Barang siapa yang menggantungkan tamīmah, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: من تعلق تميمة فقد أشرك “Barang siapa yang menggantungkan tamimah, berarti telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad) أما إذا كانت من القرآن أو من دعوات معروفة طيبة، فهذه اختلف فيها العلماء، فقال بعضهم: يجوز تعليقها، ويروى هذا عن جماعة من السلف جعلوها كالقراءة على المريض Adapun jimat dari al-Quran atau dari doa-doa yang jelas baiknya, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian berkata bahwa hal itu ini boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ulama salaf dan menghukuminya seperti membacakan al-Quran untuk orang yang sakit. والقول الثاني: أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك وعملًا بالعموم؛ لأن الأحاديث المانعة من التمائم أحاديث عامة، لم تستثن شيئًا. والواجب: الأخذ بالعموم فلا يجوز شيء من التمائم أصلًا؛ لأن ذلك يفضي إلى تعليق غيرها والتباس الأمر Pendapat kedua menyatakan bahwa ini tidak boleh. Pendapat ini diketahui berasal dari Abdullah bin Mas’ud dan Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhum dan sebagian ulama klasik dan kontemporer. Mereka berkata bahwa menggunakan tamīmah tidak boleh, walaupun dengan al-Quran, untuk mengamalkan keumuman dalil dan membentengi dan mencegah munculnya bentuk-bentuk kesyirikan. Karena hadis-hadis yang melarang tamīmah adalah hadis yang umum yang tidak mengecualikan sesuatu pun. Menerapkan keumuman hadis adalah keharusan sehingga tidak boleh menggantungkan tamīmah dalam bentuk apa pun, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat dan mendorong mereka untuk menggunakan jimat lain. فوجب منع الجميع، وهذا هو الصواب لظهور دليله Jadi, semua harus dilarang dan inilah yang tepat karena jelasnya dalilnya.  فلو أجزنا التميمة من القرآن ومن الدعوات الطيبة لانفتح الباب وصار كل واحد يعلق ما شاء، فإذا أنكر عليه، قال: هذا من القرآن، أو هذه من الدعوات الطيبة، فينفتح الباب، ويتسع الخرق وتلبس التمائم كلها Jika kita membolehkan tamīmah dari al-Quran atau dari doa-doa yang baik, pasti akan terbuka pintu syirik dan setiap orang akan menggantungkan apa yang dia mau. Jika kemudian diingkari, dia akan berkata bahwa itu menggunakan al-Quran atau doa-doa yang baik. Dengan demikian, pintu kesyirikan akan terbuka dan lubangnya semakin besar hingga semua jenis jimat akhirnya digunakan. وهناك علة ثالثة وهي: أنها قد يدخل بها الخلاء ومواضع القذر، ومعلوم أن كلام الله ينزه عن ذلك، ولا يليق أن يدخل به الخلاء[1] مجموع فتاوى العلامة ابن باز  (1/ 51) Alasan ketiga, tamīmah seperti ini kadang dibawa masuk ke toilet atau tempat yang kotor, padahal sudah jelas bahwa firman Allah harus suci dari hal-hal demikian dan tidak pantas dibawa masuk ke toilet. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/8/حكم-التميمة-من-القران PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merokok Dalam Islam, Cara Mencintai Rasulullah, Hukum Perempuan Haid Masuk Masjid, Menikah Tanpa Wali, Jawaban Salam Untuk Non Muslim, Berapa Hari Puasa Bulan Rajab Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid
حكم التميمة من القرآن س: ما حكم التميمة من القرآن ومن غيره؟ Pertanyaan: Apa Hukum Menggunakan Jimat dari al-Quran atau semisalnya? ج: أما التميمة من غير القرآن كالعظام والطلاسم والودع وشعر الذئب وما أشبه ذلك فهذه منكرة محرمة بالنص، لا يجوز تعليقها على الطفل ولا على غير الطفل؛ لقوله ﷺ: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية: من تعلق تميمة فقد أشرك Jawaban: Jika tamīmah (semacam jimat yang dilingkarkan di anggota badan) menggunakan selain al-Quran, seperti tulang, mantera, kerang, bulu serigala, dan yang semisalnya, semua ini adalah perbuatan mungkar dan terlarang secara tegas dalam nash syariat. Tidak boleh dikalungkan pada anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له “Barang siapa yang menggantungkan tamīmah, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: من تعلق تميمة فقد أشرك “Barang siapa yang menggantungkan tamimah, berarti telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad) أما إذا كانت من القرآن أو من دعوات معروفة طيبة، فهذه اختلف فيها العلماء، فقال بعضهم: يجوز تعليقها، ويروى هذا عن جماعة من السلف جعلوها كالقراءة على المريض Adapun jimat dari al-Quran atau dari doa-doa yang jelas baiknya, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian berkata bahwa hal itu ini boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ulama salaf dan menghukuminya seperti membacakan al-Quran untuk orang yang sakit. والقول الثاني: أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك وعملًا بالعموم؛ لأن الأحاديث المانعة من التمائم أحاديث عامة، لم تستثن شيئًا. والواجب: الأخذ بالعموم فلا يجوز شيء من التمائم أصلًا؛ لأن ذلك يفضي إلى تعليق غيرها والتباس الأمر Pendapat kedua menyatakan bahwa ini tidak boleh. Pendapat ini diketahui berasal dari Abdullah bin Mas’ud dan Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhum dan sebagian ulama klasik dan kontemporer. Mereka berkata bahwa menggunakan tamīmah tidak boleh, walaupun dengan al-Quran, untuk mengamalkan keumuman dalil dan membentengi dan mencegah munculnya bentuk-bentuk kesyirikan. Karena hadis-hadis yang melarang tamīmah adalah hadis yang umum yang tidak mengecualikan sesuatu pun. Menerapkan keumuman hadis adalah keharusan sehingga tidak boleh menggantungkan tamīmah dalam bentuk apa pun, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat dan mendorong mereka untuk menggunakan jimat lain. فوجب منع الجميع، وهذا هو الصواب لظهور دليله Jadi, semua harus dilarang dan inilah yang tepat karena jelasnya dalilnya.  فلو أجزنا التميمة من القرآن ومن الدعوات الطيبة لانفتح الباب وصار كل واحد يعلق ما شاء، فإذا أنكر عليه، قال: هذا من القرآن، أو هذه من الدعوات الطيبة، فينفتح الباب، ويتسع الخرق وتلبس التمائم كلها Jika kita membolehkan tamīmah dari al-Quran atau dari doa-doa yang baik, pasti akan terbuka pintu syirik dan setiap orang akan menggantungkan apa yang dia mau. Jika kemudian diingkari, dia akan berkata bahwa itu menggunakan al-Quran atau doa-doa yang baik. Dengan demikian, pintu kesyirikan akan terbuka dan lubangnya semakin besar hingga semua jenis jimat akhirnya digunakan. وهناك علة ثالثة وهي: أنها قد يدخل بها الخلاء ومواضع القذر، ومعلوم أن كلام الله ينزه عن ذلك، ولا يليق أن يدخل به الخلاء[1] مجموع فتاوى العلامة ابن باز  (1/ 51) Alasan ketiga, tamīmah seperti ini kadang dibawa masuk ke toilet atau tempat yang kotor, padahal sudah jelas bahwa firman Allah harus suci dari hal-hal demikian dan tidak pantas dibawa masuk ke toilet. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/8/حكم-التميمة-من-القران PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merokok Dalam Islam, Cara Mencintai Rasulullah, Hukum Perempuan Haid Masuk Masjid, Menikah Tanpa Wali, Jawaban Salam Untuk Non Muslim, Berapa Hari Puasa Bulan Rajab Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1365421672&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> حكم التميمة من القرآن س: ما حكم التميمة من القرآن ومن غيره؟ Pertanyaan: Apa Hukum Menggunakan Jimat dari al-Quran atau semisalnya? ج: أما التميمة من غير القرآن كالعظام والطلاسم والودع وشعر الذئب وما أشبه ذلك فهذه منكرة محرمة بالنص، لا يجوز تعليقها على الطفل ولا على غير الطفل؛ لقوله ﷺ: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية: من تعلق تميمة فقد أشرك Jawaban: Jika tamīmah (semacam jimat yang dilingkarkan di anggota badan) menggunakan selain al-Quran, seperti tulang, mantera, kerang, bulu serigala, dan yang semisalnya, semua ini adalah perbuatan mungkar dan terlarang secara tegas dalam nash syariat. Tidak boleh dikalungkan pada anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له “Barang siapa yang menggantungkan tamīmah, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: من تعلق تميمة فقد أشرك “Barang siapa yang menggantungkan tamimah, berarti telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad) أما إذا كانت من القرآن أو من دعوات معروفة طيبة، فهذه اختلف فيها العلماء، فقال بعضهم: يجوز تعليقها، ويروى هذا عن جماعة من السلف جعلوها كالقراءة على المريض Adapun jimat dari al-Quran atau dari doa-doa yang jelas baiknya, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian berkata bahwa hal itu ini boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ulama salaf dan menghukuminya seperti membacakan al-Quran untuk orang yang sakit. والقول الثاني: أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك وعملًا بالعموم؛ لأن الأحاديث المانعة من التمائم أحاديث عامة، لم تستثن شيئًا. والواجب: الأخذ بالعموم فلا يجوز شيء من التمائم أصلًا؛ لأن ذلك يفضي إلى تعليق غيرها والتباس الأمر Pendapat kedua menyatakan bahwa ini tidak boleh. Pendapat ini diketahui berasal dari Abdullah bin Mas’ud dan Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhum dan sebagian ulama klasik dan kontemporer. Mereka berkata bahwa menggunakan tamīmah tidak boleh, walaupun dengan al-Quran, untuk mengamalkan keumuman dalil dan membentengi dan mencegah munculnya bentuk-bentuk kesyirikan. Karena hadis-hadis yang melarang tamīmah adalah hadis yang umum yang tidak mengecualikan sesuatu pun. Menerapkan keumuman hadis adalah keharusan sehingga tidak boleh menggantungkan tamīmah dalam bentuk apa pun, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat dan mendorong mereka untuk menggunakan jimat lain. فوجب منع الجميع، وهذا هو الصواب لظهور دليله Jadi, semua harus dilarang dan inilah yang tepat karena jelasnya dalilnya.  فلو أجزنا التميمة من القرآن ومن الدعوات الطيبة لانفتح الباب وصار كل واحد يعلق ما شاء، فإذا أنكر عليه، قال: هذا من القرآن، أو هذه من الدعوات الطيبة، فينفتح الباب، ويتسع الخرق وتلبس التمائم كلها Jika kita membolehkan tamīmah dari al-Quran atau dari doa-doa yang baik, pasti akan terbuka pintu syirik dan setiap orang akan menggantungkan apa yang dia mau. Jika kemudian diingkari, dia akan berkata bahwa itu menggunakan al-Quran atau doa-doa yang baik. Dengan demikian, pintu kesyirikan akan terbuka dan lubangnya semakin besar hingga semua jenis jimat akhirnya digunakan. وهناك علة ثالثة وهي: أنها قد يدخل بها الخلاء ومواضع القذر، ومعلوم أن كلام الله ينزه عن ذلك، ولا يليق أن يدخل به الخلاء[1] مجموع فتاوى العلامة ابن باز  (1/ 51) Alasan ketiga, tamīmah seperti ini kadang dibawa masuk ke toilet atau tempat yang kotor, padahal sudah jelas bahwa firman Allah harus suci dari hal-hal demikian dan tidak pantas dibawa masuk ke toilet. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/8/حكم-التميمة-من-القران PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merokok Dalam Islam, Cara Mencintai Rasulullah, Hukum Perempuan Haid Masuk Masjid, Menikah Tanpa Wali, Jawaban Salam Untuk Non Muslim, Berapa Hari Puasa Bulan Rajab Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bahaya Mendahului Allah dan Rasul – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Hadirin yang mulia, di antara hal yang paling berbahaya adalah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Yaitu dengan mengucapkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah,atau mengamalkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikanlah hal ini baik-baik, dalam ayat pertama dari surat al-Hujurat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Makna firman Allah, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya …”yakni janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ahli tafsir tentang makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu dalam perkara akidah dan iman hingga Allah mengatakannya,dan janganlah kalian melakukan sesuatu dalam perkara ibadah dan amal hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam celaannya terhadap orang-orang setelah kepergian para Nabi,yakni para penerus yang buruk yang ada setelah kepergian para Nabi. Nabi menyifati mereka dengan pelanggaran ini. Beliau bersabda, “Lalu setelah mereka ada para penerusyang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.” Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.Oleh sebab itu, seorang muslim harus mampu menguasai diri sepenuhnya,dalam setiap perkataan dan perbuatannya, setiap ilmu dan amalnya, dan setiap keyakinan dan ibadahnya. Ia mengendalikan dirinya dengan kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101) ==== مَعَاشِرَ الْكِرَامِ كَانَ مِنْ أَخْطَرِ الْأُمُورِ التَّقَدُّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ بِأَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ يَعْمَلَ تَدَيُّنًا وَتَقَرُّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا لَمْ يَأْتِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَتَأَمَّلْ فِي هَذَا الْآيَةَ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْحُجُرَاتِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ أَيْ لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ هَذَا حَاصِلُ كَلَامِ الْمُفَسِّرِيْنَ فِي مَعْنَى الْآيَةِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ لَا تَقُولُوا أَيْ فِي بَابِ الْعَقِيدَةِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى يَقُولَ أَيْ اللهُ لَا تَفْعَلُوا أَيْ فِي بَابِ الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ حَتَّى يَأْمُرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ وَلِهَذَا فِي ذَمِّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْخُلُوفِ خُلُوفِ الشَّرِّ الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَفَهُمْ بِهَذِهِ الْمُخَالَفَةِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ يَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ وَلِهَذَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ ضَابِطًا نَفْسَهُ تَمَامًا فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ فِي عَقِيدَتِهِ وَعِبَادَتِهِ ضَابِطًا نَفْسَهُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bahaya Mendahului Allah dan Rasul – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Hadirin yang mulia, di antara hal yang paling berbahaya adalah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Yaitu dengan mengucapkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah,atau mengamalkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikanlah hal ini baik-baik, dalam ayat pertama dari surat al-Hujurat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Makna firman Allah, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya …”yakni janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ahli tafsir tentang makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu dalam perkara akidah dan iman hingga Allah mengatakannya,dan janganlah kalian melakukan sesuatu dalam perkara ibadah dan amal hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam celaannya terhadap orang-orang setelah kepergian para Nabi,yakni para penerus yang buruk yang ada setelah kepergian para Nabi. Nabi menyifati mereka dengan pelanggaran ini. Beliau bersabda, “Lalu setelah mereka ada para penerusyang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.” Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.Oleh sebab itu, seorang muslim harus mampu menguasai diri sepenuhnya,dalam setiap perkataan dan perbuatannya, setiap ilmu dan amalnya, dan setiap keyakinan dan ibadahnya. Ia mengendalikan dirinya dengan kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101) ==== مَعَاشِرَ الْكِرَامِ كَانَ مِنْ أَخْطَرِ الْأُمُورِ التَّقَدُّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ بِأَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ يَعْمَلَ تَدَيُّنًا وَتَقَرُّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا لَمْ يَأْتِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَتَأَمَّلْ فِي هَذَا الْآيَةَ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْحُجُرَاتِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ أَيْ لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ هَذَا حَاصِلُ كَلَامِ الْمُفَسِّرِيْنَ فِي مَعْنَى الْآيَةِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ لَا تَقُولُوا أَيْ فِي بَابِ الْعَقِيدَةِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى يَقُولَ أَيْ اللهُ لَا تَفْعَلُوا أَيْ فِي بَابِ الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ حَتَّى يَأْمُرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ وَلِهَذَا فِي ذَمِّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْخُلُوفِ خُلُوفِ الشَّرِّ الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَفَهُمْ بِهَذِهِ الْمُخَالَفَةِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ يَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ وَلِهَذَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ ضَابِطًا نَفْسَهُ تَمَامًا فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ فِي عَقِيدَتِهِ وَعِبَادَتِهِ ضَابِطًا نَفْسَهُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Hadirin yang mulia, di antara hal yang paling berbahaya adalah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Yaitu dengan mengucapkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah,atau mengamalkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikanlah hal ini baik-baik, dalam ayat pertama dari surat al-Hujurat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Makna firman Allah, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya …”yakni janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ahli tafsir tentang makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu dalam perkara akidah dan iman hingga Allah mengatakannya,dan janganlah kalian melakukan sesuatu dalam perkara ibadah dan amal hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam celaannya terhadap orang-orang setelah kepergian para Nabi,yakni para penerus yang buruk yang ada setelah kepergian para Nabi. Nabi menyifati mereka dengan pelanggaran ini. Beliau bersabda, “Lalu setelah mereka ada para penerusyang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.” Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.Oleh sebab itu, seorang muslim harus mampu menguasai diri sepenuhnya,dalam setiap perkataan dan perbuatannya, setiap ilmu dan amalnya, dan setiap keyakinan dan ibadahnya. Ia mengendalikan dirinya dengan kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101) ==== مَعَاشِرَ الْكِرَامِ كَانَ مِنْ أَخْطَرِ الْأُمُورِ التَّقَدُّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ بِأَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ يَعْمَلَ تَدَيُّنًا وَتَقَرُّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا لَمْ يَأْتِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَتَأَمَّلْ فِي هَذَا الْآيَةَ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْحُجُرَاتِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ أَيْ لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ هَذَا حَاصِلُ كَلَامِ الْمُفَسِّرِيْنَ فِي مَعْنَى الْآيَةِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ لَا تَقُولُوا أَيْ فِي بَابِ الْعَقِيدَةِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى يَقُولَ أَيْ اللهُ لَا تَفْعَلُوا أَيْ فِي بَابِ الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ حَتَّى يَأْمُرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ وَلِهَذَا فِي ذَمِّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْخُلُوفِ خُلُوفِ الشَّرِّ الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَفَهُمْ بِهَذِهِ الْمُخَالَفَةِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ يَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ وَلِهَذَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ ضَابِطًا نَفْسَهُ تَمَامًا فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ فِي عَقِيدَتِهِ وَعِبَادَتِهِ ضَابِطًا نَفْسَهُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Hadirin yang mulia, di antara hal yang paling berbahaya adalah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Yaitu dengan mengucapkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah,atau mengamalkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikanlah hal ini baik-baik, dalam ayat pertama dari surat al-Hujurat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Makna firman Allah, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya …”yakni janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ahli tafsir tentang makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu dalam perkara akidah dan iman hingga Allah mengatakannya,dan janganlah kalian melakukan sesuatu dalam perkara ibadah dan amal hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam celaannya terhadap orang-orang setelah kepergian para Nabi,yakni para penerus yang buruk yang ada setelah kepergian para Nabi. Nabi menyifati mereka dengan pelanggaran ini. Beliau bersabda, “Lalu setelah mereka ada para penerusyang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.” Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.Oleh sebab itu, seorang muslim harus mampu menguasai diri sepenuhnya,dalam setiap perkataan dan perbuatannya, setiap ilmu dan amalnya, dan setiap keyakinan dan ibadahnya. Ia mengendalikan dirinya dengan kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101) ==== مَعَاشِرَ الْكِرَامِ كَانَ مِنْ أَخْطَرِ الْأُمُورِ التَّقَدُّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ بِأَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ يَعْمَلَ تَدَيُّنًا وَتَقَرُّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا لَمْ يَأْتِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَتَأَمَّلْ فِي هَذَا الْآيَةَ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْحُجُرَاتِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ أَيْ لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ هَذَا حَاصِلُ كَلَامِ الْمُفَسِّرِيْنَ فِي مَعْنَى الْآيَةِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ لَا تَقُولُوا أَيْ فِي بَابِ الْعَقِيدَةِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى يَقُولَ أَيْ اللهُ لَا تَفْعَلُوا أَيْ فِي بَابِ الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ حَتَّى يَأْمُرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ وَلِهَذَا فِي ذَمِّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْخُلُوفِ خُلُوفِ الشَّرِّ الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَفَهُمْ بِهَذِهِ الْمُخَالَفَةِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ يَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ وَلِهَذَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ ضَابِطًا نَفْسَهُ تَمَامًا فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ فِي عَقِيدَتِهِ وَعِبَادَتِهِ ضَابِطًا نَفْسَهُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Baca al-Waqiah Tiap Malam Takkan Miskin? – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Bagaimana tingkat kesahihan hadis, “Barang siapa yang membaca surat al-Waqiah tiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan”?Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya, akan tetapi hadisnya dhaif. Hadis ini dhaif (lemah).Utsman bin Affan, Khalifah ketiga,pernah menjenguk Ibnu Mas’ud saat sakit di akhir hayatnya.Lalu Utsman menawarkan kepadanya, “Maukah kami memberimu pemberian ini?”Ibnu Mas’ud menjawab bahwa ia tidak menginginkannya. Utsman pun bertanya tentang apa yang ia keluhkan? Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosaku.”“Lalu apa yang kamu inginkan?” Ia menjawab, “Aku menginginkan rahmat Rabbku.”Ibnu Mas’ud mengeluhkan dosa-dosanya dan menginginkan rahmat Rabbnya.Utsman bertanya, “Maukah kami memberimu?” Dalam beberapa riwayat, Ibnu Mas’ud menjawab, “Kamu tidak memberiku semasa hidup, lalu mau memberiku setelah aku mati?”Utsman berkata, “Bisa untuk putri-putrimu setelah wafatmu.”Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku telah mewasiatkan putri-putriku untuk membaca surah al-Waqiah,dan sungguh siapa yang membaca surat al-Waqiah setiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan.” Namun hadis ini dhaif (lemah).Apakah dapat dikatakan bahwa antara Utsman dan Ibnu Mas’ud ada perselisihan,karena Utsman tidak memberinya pemberian semasa hidupnya?Ibnu Mas’ud pada usia lebih dari 70 tahun,sedangkan Utsman bin Affan telah menjadi Khalifah kaum Muslimin. Utsman pernah menawarkannya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Ibnu Mas’ud orang miskin, sedangkan Utsman seorang Khalifah. Khalifah Utsman bertanya kepadanya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Jadi, tidak ada perselisihan di antara mereka. Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Wahai para pemuda, siapa yang mampu maka menikahlah! …’”Beliau tidak bersabda, “Wahai para orang tua, siapa yang mampu maka menikahlah!”Tapi beliau bersabda, “Wahai para pemuda, …” Karena menikahkan wanita muda dengan lelaki tua mengandung kezaliman,kecuali jika wanita itu rela, dan lelaki tua itu memiliki hal yang dapat menutupi kekurangannya,dan ia masih memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menikah,maka banyak contohnya dalam hal ini. Namun kebanyakannya, lelaki tua akan berakhir pada menzalimi wanita muda itu.Kesimpulannya, hadis tentang membaca surah al-Waqiah ini dhaif menurut para ulama. ==== مَا صِحَّةُ حَدِيثِ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ هَذَا مَرْوِيٌّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ الْخَلِيفَةُ الْمَعْرُوفُ الرَّاشِدُ الثَّالِثُ زَارَ ابْنَ مَسْعُودٍ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ فَقَالَ لَهُ أَلَا نُعْطِيْكَ مِنْ هَذَا الْعَطَاءِ؟ فَقَالَ إِنَّهُ لَا يُرِيدُهُ وَسَأَلَهُ عَمَّا يَشْتَكِي قَالَ أَشْتَكِي ذُنُوبِي وَمَاذَا تَشْتَهِي؟ قَال أَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّي يَشْتَكِي ذُنُوبَهُ وَيَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّهِ فَقَالَ أَلَا نُعْطِيكَ؟ فَقَالَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ مَنَعْتَنِي فِي الْحَيَاةِ وَتُعْطِينِي بَعْدَ الْمَمَاتِ؟ قَالَ يَكُونُ لِبَنَاتِكَ مِنْ بَعْدِكَ قَال بَنَاتِي أَوْصَيْتُهُنَّ بِقِرَاءَةِ سُورَةِ الْوَاقِعَةِ فَإِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ لَكِنَّ الْخَبَرَ ضَعِيفٌ الْخَبَرُ ضَعِيفٌ هَلْ يُقَالُ إِنَّ بَيْنَ عُثْمَانَ وَبَيْنَ ابْنِ مَسْعُودٍ خِلَافٌ؟ بِحَيْثُ مَنَعَهُ الْعَطَاءَ فِي دُنْيَاهُ؟ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوْقَ السَّبْعِينَ مِنَ الْعُمْرِ وَعُثْمَان بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَلِيفَةُ الْمُسْلِمِينَ يَقُولُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقِيرٌ وَهَذَا الْخَلِيفَةُ يَقُولُ لَهُ الْخَلِيفَةُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ؟ يَعْنِي مَا بَيْنَهُمْ خِلَافٌ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَا قَالَ يَا مَعْشَرَ الشُّيُوخِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ يَقُولُ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ لِأَنَّ فِي تَزْوِيجِ الصَّغِيرَةِ لِلْكَبِيرِ ظُلْمًا أَمَّا إِلَّا إِذَا رَضِيَتْ وَكَانَ فِي هَذَا الْكَبِيرِ مَا يَجْبُرُ هَذَا النَّقْصَ وَفِيْهِ قُوَّةٌ وَقُدْرَةٌ عَلَى الْبَاءَةِ فَالْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةٌ مِنْ هَذَا النَّوْعِ لَكِنْ فِي الْغَالِبِ أَنَّ الشَّيْخَ مَآلُهُ إِلَى ظُلْمِ هَذِهِ الصَّغِيرَةِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Baca al-Waqiah Tiap Malam Takkan Miskin? – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Bagaimana tingkat kesahihan hadis, “Barang siapa yang membaca surat al-Waqiah tiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan”?Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya, akan tetapi hadisnya dhaif. Hadis ini dhaif (lemah).Utsman bin Affan, Khalifah ketiga,pernah menjenguk Ibnu Mas’ud saat sakit di akhir hayatnya.Lalu Utsman menawarkan kepadanya, “Maukah kami memberimu pemberian ini?”Ibnu Mas’ud menjawab bahwa ia tidak menginginkannya. Utsman pun bertanya tentang apa yang ia keluhkan? Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosaku.”“Lalu apa yang kamu inginkan?” Ia menjawab, “Aku menginginkan rahmat Rabbku.”Ibnu Mas’ud mengeluhkan dosa-dosanya dan menginginkan rahmat Rabbnya.Utsman bertanya, “Maukah kami memberimu?” Dalam beberapa riwayat, Ibnu Mas’ud menjawab, “Kamu tidak memberiku semasa hidup, lalu mau memberiku setelah aku mati?”Utsman berkata, “Bisa untuk putri-putrimu setelah wafatmu.”Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku telah mewasiatkan putri-putriku untuk membaca surah al-Waqiah,dan sungguh siapa yang membaca surat al-Waqiah setiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan.” Namun hadis ini dhaif (lemah).Apakah dapat dikatakan bahwa antara Utsman dan Ibnu Mas’ud ada perselisihan,karena Utsman tidak memberinya pemberian semasa hidupnya?Ibnu Mas’ud pada usia lebih dari 70 tahun,sedangkan Utsman bin Affan telah menjadi Khalifah kaum Muslimin. Utsman pernah menawarkannya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Ibnu Mas’ud orang miskin, sedangkan Utsman seorang Khalifah. Khalifah Utsman bertanya kepadanya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Jadi, tidak ada perselisihan di antara mereka. Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Wahai para pemuda, siapa yang mampu maka menikahlah! …’”Beliau tidak bersabda, “Wahai para orang tua, siapa yang mampu maka menikahlah!”Tapi beliau bersabda, “Wahai para pemuda, …” Karena menikahkan wanita muda dengan lelaki tua mengandung kezaliman,kecuali jika wanita itu rela, dan lelaki tua itu memiliki hal yang dapat menutupi kekurangannya,dan ia masih memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menikah,maka banyak contohnya dalam hal ini. Namun kebanyakannya, lelaki tua akan berakhir pada menzalimi wanita muda itu.Kesimpulannya, hadis tentang membaca surah al-Waqiah ini dhaif menurut para ulama. ==== مَا صِحَّةُ حَدِيثِ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ هَذَا مَرْوِيٌّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ الْخَلِيفَةُ الْمَعْرُوفُ الرَّاشِدُ الثَّالِثُ زَارَ ابْنَ مَسْعُودٍ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ فَقَالَ لَهُ أَلَا نُعْطِيْكَ مِنْ هَذَا الْعَطَاءِ؟ فَقَالَ إِنَّهُ لَا يُرِيدُهُ وَسَأَلَهُ عَمَّا يَشْتَكِي قَالَ أَشْتَكِي ذُنُوبِي وَمَاذَا تَشْتَهِي؟ قَال أَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّي يَشْتَكِي ذُنُوبَهُ وَيَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّهِ فَقَالَ أَلَا نُعْطِيكَ؟ فَقَالَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ مَنَعْتَنِي فِي الْحَيَاةِ وَتُعْطِينِي بَعْدَ الْمَمَاتِ؟ قَالَ يَكُونُ لِبَنَاتِكَ مِنْ بَعْدِكَ قَال بَنَاتِي أَوْصَيْتُهُنَّ بِقِرَاءَةِ سُورَةِ الْوَاقِعَةِ فَإِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ لَكِنَّ الْخَبَرَ ضَعِيفٌ الْخَبَرُ ضَعِيفٌ هَلْ يُقَالُ إِنَّ بَيْنَ عُثْمَانَ وَبَيْنَ ابْنِ مَسْعُودٍ خِلَافٌ؟ بِحَيْثُ مَنَعَهُ الْعَطَاءَ فِي دُنْيَاهُ؟ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوْقَ السَّبْعِينَ مِنَ الْعُمْرِ وَعُثْمَان بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَلِيفَةُ الْمُسْلِمِينَ يَقُولُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقِيرٌ وَهَذَا الْخَلِيفَةُ يَقُولُ لَهُ الْخَلِيفَةُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ؟ يَعْنِي مَا بَيْنَهُمْ خِلَافٌ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَا قَالَ يَا مَعْشَرَ الشُّيُوخِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ يَقُولُ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ لِأَنَّ فِي تَزْوِيجِ الصَّغِيرَةِ لِلْكَبِيرِ ظُلْمًا أَمَّا إِلَّا إِذَا رَضِيَتْ وَكَانَ فِي هَذَا الْكَبِيرِ مَا يَجْبُرُ هَذَا النَّقْصَ وَفِيْهِ قُوَّةٌ وَقُدْرَةٌ عَلَى الْبَاءَةِ فَالْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةٌ مِنْ هَذَا النَّوْعِ لَكِنْ فِي الْغَالِبِ أَنَّ الشَّيْخَ مَآلُهُ إِلَى ظُلْمِ هَذِهِ الصَّغِيرَةِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Bagaimana tingkat kesahihan hadis, “Barang siapa yang membaca surat al-Waqiah tiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan”?Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya, akan tetapi hadisnya dhaif. Hadis ini dhaif (lemah).Utsman bin Affan, Khalifah ketiga,pernah menjenguk Ibnu Mas’ud saat sakit di akhir hayatnya.Lalu Utsman menawarkan kepadanya, “Maukah kami memberimu pemberian ini?”Ibnu Mas’ud menjawab bahwa ia tidak menginginkannya. Utsman pun bertanya tentang apa yang ia keluhkan? Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosaku.”“Lalu apa yang kamu inginkan?” Ia menjawab, “Aku menginginkan rahmat Rabbku.”Ibnu Mas’ud mengeluhkan dosa-dosanya dan menginginkan rahmat Rabbnya.Utsman bertanya, “Maukah kami memberimu?” Dalam beberapa riwayat, Ibnu Mas’ud menjawab, “Kamu tidak memberiku semasa hidup, lalu mau memberiku setelah aku mati?”Utsman berkata, “Bisa untuk putri-putrimu setelah wafatmu.”Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku telah mewasiatkan putri-putriku untuk membaca surah al-Waqiah,dan sungguh siapa yang membaca surat al-Waqiah setiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan.” Namun hadis ini dhaif (lemah).Apakah dapat dikatakan bahwa antara Utsman dan Ibnu Mas’ud ada perselisihan,karena Utsman tidak memberinya pemberian semasa hidupnya?Ibnu Mas’ud pada usia lebih dari 70 tahun,sedangkan Utsman bin Affan telah menjadi Khalifah kaum Muslimin. Utsman pernah menawarkannya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Ibnu Mas’ud orang miskin, sedangkan Utsman seorang Khalifah. Khalifah Utsman bertanya kepadanya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Jadi, tidak ada perselisihan di antara mereka. Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Wahai para pemuda, siapa yang mampu maka menikahlah! …’”Beliau tidak bersabda, “Wahai para orang tua, siapa yang mampu maka menikahlah!”Tapi beliau bersabda, “Wahai para pemuda, …” Karena menikahkan wanita muda dengan lelaki tua mengandung kezaliman,kecuali jika wanita itu rela, dan lelaki tua itu memiliki hal yang dapat menutupi kekurangannya,dan ia masih memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menikah,maka banyak contohnya dalam hal ini. Namun kebanyakannya, lelaki tua akan berakhir pada menzalimi wanita muda itu.Kesimpulannya, hadis tentang membaca surah al-Waqiah ini dhaif menurut para ulama. ==== مَا صِحَّةُ حَدِيثِ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ هَذَا مَرْوِيٌّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ الْخَلِيفَةُ الْمَعْرُوفُ الرَّاشِدُ الثَّالِثُ زَارَ ابْنَ مَسْعُودٍ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ فَقَالَ لَهُ أَلَا نُعْطِيْكَ مِنْ هَذَا الْعَطَاءِ؟ فَقَالَ إِنَّهُ لَا يُرِيدُهُ وَسَأَلَهُ عَمَّا يَشْتَكِي قَالَ أَشْتَكِي ذُنُوبِي وَمَاذَا تَشْتَهِي؟ قَال أَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّي يَشْتَكِي ذُنُوبَهُ وَيَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّهِ فَقَالَ أَلَا نُعْطِيكَ؟ فَقَالَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ مَنَعْتَنِي فِي الْحَيَاةِ وَتُعْطِينِي بَعْدَ الْمَمَاتِ؟ قَالَ يَكُونُ لِبَنَاتِكَ مِنْ بَعْدِكَ قَال بَنَاتِي أَوْصَيْتُهُنَّ بِقِرَاءَةِ سُورَةِ الْوَاقِعَةِ فَإِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ لَكِنَّ الْخَبَرَ ضَعِيفٌ الْخَبَرُ ضَعِيفٌ هَلْ يُقَالُ إِنَّ بَيْنَ عُثْمَانَ وَبَيْنَ ابْنِ مَسْعُودٍ خِلَافٌ؟ بِحَيْثُ مَنَعَهُ الْعَطَاءَ فِي دُنْيَاهُ؟ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوْقَ السَّبْعِينَ مِنَ الْعُمْرِ وَعُثْمَان بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَلِيفَةُ الْمُسْلِمِينَ يَقُولُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقِيرٌ وَهَذَا الْخَلِيفَةُ يَقُولُ لَهُ الْخَلِيفَةُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ؟ يَعْنِي مَا بَيْنَهُمْ خِلَافٌ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَا قَالَ يَا مَعْشَرَ الشُّيُوخِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ يَقُولُ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ لِأَنَّ فِي تَزْوِيجِ الصَّغِيرَةِ لِلْكَبِيرِ ظُلْمًا أَمَّا إِلَّا إِذَا رَضِيَتْ وَكَانَ فِي هَذَا الْكَبِيرِ مَا يَجْبُرُ هَذَا النَّقْصَ وَفِيْهِ قُوَّةٌ وَقُدْرَةٌ عَلَى الْبَاءَةِ فَالْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةٌ مِنْ هَذَا النَّوْعِ لَكِنْ فِي الْغَالِبِ أَنَّ الشَّيْخَ مَآلُهُ إِلَى ظُلْمِ هَذِهِ الصَّغِيرَةِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Bagaimana tingkat kesahihan hadis, “Barang siapa yang membaca surat al-Waqiah tiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan”?Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya, akan tetapi hadisnya dhaif. Hadis ini dhaif (lemah).Utsman bin Affan, Khalifah ketiga,pernah menjenguk Ibnu Mas’ud saat sakit di akhir hayatnya.Lalu Utsman menawarkan kepadanya, “Maukah kami memberimu pemberian ini?”Ibnu Mas’ud menjawab bahwa ia tidak menginginkannya. Utsman pun bertanya tentang apa yang ia keluhkan? Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosaku.”“Lalu apa yang kamu inginkan?” Ia menjawab, “Aku menginginkan rahmat Rabbku.”Ibnu Mas’ud mengeluhkan dosa-dosanya dan menginginkan rahmat Rabbnya.Utsman bertanya, “Maukah kami memberimu?” Dalam beberapa riwayat, Ibnu Mas’ud menjawab, “Kamu tidak memberiku semasa hidup, lalu mau memberiku setelah aku mati?”Utsman berkata, “Bisa untuk putri-putrimu setelah wafatmu.”Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku telah mewasiatkan putri-putriku untuk membaca surah al-Waqiah,dan sungguh siapa yang membaca surat al-Waqiah setiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan.” Namun hadis ini dhaif (lemah).Apakah dapat dikatakan bahwa antara Utsman dan Ibnu Mas’ud ada perselisihan,karena Utsman tidak memberinya pemberian semasa hidupnya?Ibnu Mas’ud pada usia lebih dari 70 tahun,sedangkan Utsman bin Affan telah menjadi Khalifah kaum Muslimin. Utsman pernah menawarkannya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Ibnu Mas’ud orang miskin, sedangkan Utsman seorang Khalifah. Khalifah Utsman bertanya kepadanya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Jadi, tidak ada perselisihan di antara mereka. Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Wahai para pemuda, siapa yang mampu maka menikahlah! …’”Beliau tidak bersabda, “Wahai para orang tua, siapa yang mampu maka menikahlah!”Tapi beliau bersabda, “Wahai para pemuda, …” Karena menikahkan wanita muda dengan lelaki tua mengandung kezaliman,kecuali jika wanita itu rela, dan lelaki tua itu memiliki hal yang dapat menutupi kekurangannya,dan ia masih memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menikah,maka banyak contohnya dalam hal ini. Namun kebanyakannya, lelaki tua akan berakhir pada menzalimi wanita muda itu.Kesimpulannya, hadis tentang membaca surah al-Waqiah ini dhaif menurut para ulama. ==== مَا صِحَّةُ حَدِيثِ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ هَذَا مَرْوِيٌّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ الْخَلِيفَةُ الْمَعْرُوفُ الرَّاشِدُ الثَّالِثُ زَارَ ابْنَ مَسْعُودٍ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ فَقَالَ لَهُ أَلَا نُعْطِيْكَ مِنْ هَذَا الْعَطَاءِ؟ فَقَالَ إِنَّهُ لَا يُرِيدُهُ وَسَأَلَهُ عَمَّا يَشْتَكِي قَالَ أَشْتَكِي ذُنُوبِي وَمَاذَا تَشْتَهِي؟ قَال أَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّي يَشْتَكِي ذُنُوبَهُ وَيَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّهِ فَقَالَ أَلَا نُعْطِيكَ؟ فَقَالَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ مَنَعْتَنِي فِي الْحَيَاةِ وَتُعْطِينِي بَعْدَ الْمَمَاتِ؟ قَالَ يَكُونُ لِبَنَاتِكَ مِنْ بَعْدِكَ قَال بَنَاتِي أَوْصَيْتُهُنَّ بِقِرَاءَةِ سُورَةِ الْوَاقِعَةِ فَإِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ لَكِنَّ الْخَبَرَ ضَعِيفٌ الْخَبَرُ ضَعِيفٌ هَلْ يُقَالُ إِنَّ بَيْنَ عُثْمَانَ وَبَيْنَ ابْنِ مَسْعُودٍ خِلَافٌ؟ بِحَيْثُ مَنَعَهُ الْعَطَاءَ فِي دُنْيَاهُ؟ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوْقَ السَّبْعِينَ مِنَ الْعُمْرِ وَعُثْمَان بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَلِيفَةُ الْمُسْلِمِينَ يَقُولُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقِيرٌ وَهَذَا الْخَلِيفَةُ يَقُولُ لَهُ الْخَلِيفَةُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ؟ يَعْنِي مَا بَيْنَهُمْ خِلَافٌ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَا قَالَ يَا مَعْشَرَ الشُّيُوخِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ يَقُولُ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ لِأَنَّ فِي تَزْوِيجِ الصَّغِيرَةِ لِلْكَبِيرِ ظُلْمًا أَمَّا إِلَّا إِذَا رَضِيَتْ وَكَانَ فِي هَذَا الْكَبِيرِ مَا يَجْبُرُ هَذَا النَّقْصَ وَفِيْهِ قُوَّةٌ وَقُدْرَةٌ عَلَى الْبَاءَةِ فَالْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةٌ مِنْ هَذَا النَّوْعِ لَكِنْ فِي الْغَالِبِ أَنَّ الشَّيْخَ مَآلُهُ إِلَى ظُلْمِ هَذِهِ الصَّغِيرَةِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jalan Menuju Cinta Allah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Allah berfirman: “… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” (HR. Bukhari) Jadi, jalan menuju cinta Allah adalah dengan Anda bersungguh-sungguhmelakukan ibadah-ibadah sunah, setelah menyempurnakan yang wajib.“… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” Ini menunjukkan kepada kita, bahwa bersungguh-sungguhdalam ibadah sunah adalah salah satu tanda cinta seorang hamba kepada Tuhannya,karena balasan akan serupa dengan perbuatannya. Allah berfirman, “… hingga Aku mencintainya, …”karena seorang hamba yang mencintai Tuhannya,ia bersungguh-sungguh meraih rida-Nya dan melakukan ibadah sunah,dia melawan nafsunya untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah wajibkan baginya. Ini menunjukkan betapa besar cintanya kepada Tuhannya,karena salah satu tabiat manusia adalah menyibukkan diri dengan sesuatu yang dicintainya,dan menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang disukainya. Jadi, jika Anda dapati diri Anda bersemangat dalam melakukan ibadah-ibadah sunah,ini adalah tanda keselamatan hati Anda,dan cinta Anda kepada Allah, itulah mengapa Dia berfirman: “… hingga Aku mencintainya, …”Inilah balasannya. Inilah kenapa, orang yang menginginkan cinta Allah Ta’ālā,hendaknya dia mengerjakan ibadah sunah dan bersemangat melakukannya.“Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah Salat Malam.” (HR. Muslim) Ini adalah salah satu amal ibadah yang paling agung yang akan mengantarkan seorang hamba pada kecintaan Allah,karena sesuatu yang paling didambakan orang yang mencintaadalah menyendiri dengan yang dia cintai, dan menikmati khalwat bersamanya dan berbicara dengannya,dan Salat Malam adalah kebahagiaan orang yang sedang mencintai-Nyadan surga bagi orang yang merindukan-Nya,karena Allah Ta’ālā turun ke langit dunia, ketika sepertiga malam yang terakhir tersisa,dan berfirman, “Adakah orang yang berdoa untuk Aku kabulkan baginya?Adakah orang yang meminta untuk Aku berikan padanya?Adakah yang memohon ampun untuk aku ampuni dia?” (HR. Ibnu Abi Syaibah) Anda salat ketika tidak ada seorang pun yang melihat Anda,dan menyendiri dengan Zat yang Anda cintai,ketika Allah dekat dengan Anda. Anda bermunajat kepada-Nya dalam salat Anda,dan memperpanjang sujud Anda di hadapan-Nya.“Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.” (HR. Muslim) Betapa banyak dalam salat ini terkandung nilai-nilai keimanan,kedekatan dan cinta kepada Allah, serta kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya. ===== قَالَ: وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ فَطَرِيقُ مَحَبَّةِ اللهِ هُوَ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ عَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ بَعْدَ إِتْقَانِ الْمَفْرُوضَاتِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مُجَاهَدَةَ النَّفْسِ عَلَى النَّوَافِلِ هَذَا مِنْ عَلَامَاتِ مَحَبَّةِ الْعَبْدِ رَبِّهِ لِأَنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ قَالَ: حتَّى أُحِبَّهُ لِأَنَّ الْعَبْدَ أَحَبَّ رَبَّهُ فَجَاهَدَ نَفْسَهُ عَلَى مَرْضَاتِهِ وَعَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَلَى أُمُورٍ مَا فَرَضَهَا اللهُ عَلَيْهِ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى شِدَّةِ مَحَبَّتِهِ لِلهِ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ مِنْ طَبْعِهِ أَنَّهُ يَنْشَغِلُ بِمَا يُحِبُّ وَيَقْضِي وَقْتَهُ فِيمَا يُحِبُّ فَإِذَا وَجَدْتَ مِنْ نَفْسِكَ إِقْبَالًا عَلَى النَّوَافِلِ فَهَذَا مِنْ عَلَامَاتِ سَلَمَةِ قَلْبِكُمْ وَمَحَبَّتِكَ لِلهِ وَلِهَذَا قَالَ: حَتَّى أُحِبَّهُ هَذَا جَزَاؤُهُ وَلِهَذَا مَنْ أَرَادَ مَحَبَّةَ اللهِ تَعَالَى فَعَلَيْهِ بِالنَّوَافِلِ يُقْبِلُ عَلَى النَّوَافِلِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُوْصِلُ الْعَبْدَ إِلَى مَحَبَّةِ اللهِ لِأَنَّ أَحَبَّ شَيْءٍ عِنْدَ الْمُحِبِّ أَنْ يَخْلُو بِمَحْبُوبِهِ وَيَتَلَذَّذُ بِمُنَاجَاتِهِ وَالْخَلْوَةِ بِهِ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ هِيَ أُنْسُ الْمُحِبِّينَ وَجَنَّةُ الْمُشْتَاقِّيْنَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ وَيَقُوْلُ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأُسْتُجِيبَ لَهُ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ تَقُومُ مَا يَرَاهُ أَحَدٌ تَخْلُو بِمَحْبُوبِكَ وَاللهُ قَرِيبٌ مِنْكَ وَتُنَاجِيهِ فِي صَلَاتِكَ وَتُطِيلُ سُجُودَكَ بَيْنَ يَدَيْهِ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِن رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَكَمْ فِي هَذِهِ الصَّلَاةِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْقُرْبِ مِنَ اللهِ وَمَحَبَّةِ اللهِ وَالشَّوْقِ لِلِقَائِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jalan Menuju Cinta Allah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Allah berfirman: “… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” (HR. Bukhari) Jadi, jalan menuju cinta Allah adalah dengan Anda bersungguh-sungguhmelakukan ibadah-ibadah sunah, setelah menyempurnakan yang wajib.“… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” Ini menunjukkan kepada kita, bahwa bersungguh-sungguhdalam ibadah sunah adalah salah satu tanda cinta seorang hamba kepada Tuhannya,karena balasan akan serupa dengan perbuatannya. Allah berfirman, “… hingga Aku mencintainya, …”karena seorang hamba yang mencintai Tuhannya,ia bersungguh-sungguh meraih rida-Nya dan melakukan ibadah sunah,dia melawan nafsunya untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah wajibkan baginya. Ini menunjukkan betapa besar cintanya kepada Tuhannya,karena salah satu tabiat manusia adalah menyibukkan diri dengan sesuatu yang dicintainya,dan menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang disukainya. Jadi, jika Anda dapati diri Anda bersemangat dalam melakukan ibadah-ibadah sunah,ini adalah tanda keselamatan hati Anda,dan cinta Anda kepada Allah, itulah mengapa Dia berfirman: “… hingga Aku mencintainya, …”Inilah balasannya. Inilah kenapa, orang yang menginginkan cinta Allah Ta’ālā,hendaknya dia mengerjakan ibadah sunah dan bersemangat melakukannya.“Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah Salat Malam.” (HR. Muslim) Ini adalah salah satu amal ibadah yang paling agung yang akan mengantarkan seorang hamba pada kecintaan Allah,karena sesuatu yang paling didambakan orang yang mencintaadalah menyendiri dengan yang dia cintai, dan menikmati khalwat bersamanya dan berbicara dengannya,dan Salat Malam adalah kebahagiaan orang yang sedang mencintai-Nyadan surga bagi orang yang merindukan-Nya,karena Allah Ta’ālā turun ke langit dunia, ketika sepertiga malam yang terakhir tersisa,dan berfirman, “Adakah orang yang berdoa untuk Aku kabulkan baginya?Adakah orang yang meminta untuk Aku berikan padanya?Adakah yang memohon ampun untuk aku ampuni dia?” (HR. Ibnu Abi Syaibah) Anda salat ketika tidak ada seorang pun yang melihat Anda,dan menyendiri dengan Zat yang Anda cintai,ketika Allah dekat dengan Anda. Anda bermunajat kepada-Nya dalam salat Anda,dan memperpanjang sujud Anda di hadapan-Nya.“Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.” (HR. Muslim) Betapa banyak dalam salat ini terkandung nilai-nilai keimanan,kedekatan dan cinta kepada Allah, serta kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya. ===== قَالَ: وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ فَطَرِيقُ مَحَبَّةِ اللهِ هُوَ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ عَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ بَعْدَ إِتْقَانِ الْمَفْرُوضَاتِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مُجَاهَدَةَ النَّفْسِ عَلَى النَّوَافِلِ هَذَا مِنْ عَلَامَاتِ مَحَبَّةِ الْعَبْدِ رَبِّهِ لِأَنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ قَالَ: حتَّى أُحِبَّهُ لِأَنَّ الْعَبْدَ أَحَبَّ رَبَّهُ فَجَاهَدَ نَفْسَهُ عَلَى مَرْضَاتِهِ وَعَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَلَى أُمُورٍ مَا فَرَضَهَا اللهُ عَلَيْهِ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى شِدَّةِ مَحَبَّتِهِ لِلهِ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ مِنْ طَبْعِهِ أَنَّهُ يَنْشَغِلُ بِمَا يُحِبُّ وَيَقْضِي وَقْتَهُ فِيمَا يُحِبُّ فَإِذَا وَجَدْتَ مِنْ نَفْسِكَ إِقْبَالًا عَلَى النَّوَافِلِ فَهَذَا مِنْ عَلَامَاتِ سَلَمَةِ قَلْبِكُمْ وَمَحَبَّتِكَ لِلهِ وَلِهَذَا قَالَ: حَتَّى أُحِبَّهُ هَذَا جَزَاؤُهُ وَلِهَذَا مَنْ أَرَادَ مَحَبَّةَ اللهِ تَعَالَى فَعَلَيْهِ بِالنَّوَافِلِ يُقْبِلُ عَلَى النَّوَافِلِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُوْصِلُ الْعَبْدَ إِلَى مَحَبَّةِ اللهِ لِأَنَّ أَحَبَّ شَيْءٍ عِنْدَ الْمُحِبِّ أَنْ يَخْلُو بِمَحْبُوبِهِ وَيَتَلَذَّذُ بِمُنَاجَاتِهِ وَالْخَلْوَةِ بِهِ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ هِيَ أُنْسُ الْمُحِبِّينَ وَجَنَّةُ الْمُشْتَاقِّيْنَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ وَيَقُوْلُ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأُسْتُجِيبَ لَهُ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ تَقُومُ مَا يَرَاهُ أَحَدٌ تَخْلُو بِمَحْبُوبِكَ وَاللهُ قَرِيبٌ مِنْكَ وَتُنَاجِيهِ فِي صَلَاتِكَ وَتُطِيلُ سُجُودَكَ بَيْنَ يَدَيْهِ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِن رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَكَمْ فِي هَذِهِ الصَّلَاةِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْقُرْبِ مِنَ اللهِ وَمَحَبَّةِ اللهِ وَالشَّوْقِ لِلِقَائِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Allah berfirman: “… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” (HR. Bukhari) Jadi, jalan menuju cinta Allah adalah dengan Anda bersungguh-sungguhmelakukan ibadah-ibadah sunah, setelah menyempurnakan yang wajib.“… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” Ini menunjukkan kepada kita, bahwa bersungguh-sungguhdalam ibadah sunah adalah salah satu tanda cinta seorang hamba kepada Tuhannya,karena balasan akan serupa dengan perbuatannya. Allah berfirman, “… hingga Aku mencintainya, …”karena seorang hamba yang mencintai Tuhannya,ia bersungguh-sungguh meraih rida-Nya dan melakukan ibadah sunah,dia melawan nafsunya untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah wajibkan baginya. Ini menunjukkan betapa besar cintanya kepada Tuhannya,karena salah satu tabiat manusia adalah menyibukkan diri dengan sesuatu yang dicintainya,dan menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang disukainya. Jadi, jika Anda dapati diri Anda bersemangat dalam melakukan ibadah-ibadah sunah,ini adalah tanda keselamatan hati Anda,dan cinta Anda kepada Allah, itulah mengapa Dia berfirman: “… hingga Aku mencintainya, …”Inilah balasannya. Inilah kenapa, orang yang menginginkan cinta Allah Ta’ālā,hendaknya dia mengerjakan ibadah sunah dan bersemangat melakukannya.“Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah Salat Malam.” (HR. Muslim) Ini adalah salah satu amal ibadah yang paling agung yang akan mengantarkan seorang hamba pada kecintaan Allah,karena sesuatu yang paling didambakan orang yang mencintaadalah menyendiri dengan yang dia cintai, dan menikmati khalwat bersamanya dan berbicara dengannya,dan Salat Malam adalah kebahagiaan orang yang sedang mencintai-Nyadan surga bagi orang yang merindukan-Nya,karena Allah Ta’ālā turun ke langit dunia, ketika sepertiga malam yang terakhir tersisa,dan berfirman, “Adakah orang yang berdoa untuk Aku kabulkan baginya?Adakah orang yang meminta untuk Aku berikan padanya?Adakah yang memohon ampun untuk aku ampuni dia?” (HR. Ibnu Abi Syaibah) Anda salat ketika tidak ada seorang pun yang melihat Anda,dan menyendiri dengan Zat yang Anda cintai,ketika Allah dekat dengan Anda. Anda bermunajat kepada-Nya dalam salat Anda,dan memperpanjang sujud Anda di hadapan-Nya.“Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.” (HR. Muslim) Betapa banyak dalam salat ini terkandung nilai-nilai keimanan,kedekatan dan cinta kepada Allah, serta kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya. ===== قَالَ: وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ فَطَرِيقُ مَحَبَّةِ اللهِ هُوَ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ عَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ بَعْدَ إِتْقَانِ الْمَفْرُوضَاتِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مُجَاهَدَةَ النَّفْسِ عَلَى النَّوَافِلِ هَذَا مِنْ عَلَامَاتِ مَحَبَّةِ الْعَبْدِ رَبِّهِ لِأَنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ قَالَ: حتَّى أُحِبَّهُ لِأَنَّ الْعَبْدَ أَحَبَّ رَبَّهُ فَجَاهَدَ نَفْسَهُ عَلَى مَرْضَاتِهِ وَعَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَلَى أُمُورٍ مَا فَرَضَهَا اللهُ عَلَيْهِ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى شِدَّةِ مَحَبَّتِهِ لِلهِ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ مِنْ طَبْعِهِ أَنَّهُ يَنْشَغِلُ بِمَا يُحِبُّ وَيَقْضِي وَقْتَهُ فِيمَا يُحِبُّ فَإِذَا وَجَدْتَ مِنْ نَفْسِكَ إِقْبَالًا عَلَى النَّوَافِلِ فَهَذَا مِنْ عَلَامَاتِ سَلَمَةِ قَلْبِكُمْ وَمَحَبَّتِكَ لِلهِ وَلِهَذَا قَالَ: حَتَّى أُحِبَّهُ هَذَا جَزَاؤُهُ وَلِهَذَا مَنْ أَرَادَ مَحَبَّةَ اللهِ تَعَالَى فَعَلَيْهِ بِالنَّوَافِلِ يُقْبِلُ عَلَى النَّوَافِلِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُوْصِلُ الْعَبْدَ إِلَى مَحَبَّةِ اللهِ لِأَنَّ أَحَبَّ شَيْءٍ عِنْدَ الْمُحِبِّ أَنْ يَخْلُو بِمَحْبُوبِهِ وَيَتَلَذَّذُ بِمُنَاجَاتِهِ وَالْخَلْوَةِ بِهِ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ هِيَ أُنْسُ الْمُحِبِّينَ وَجَنَّةُ الْمُشْتَاقِّيْنَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ وَيَقُوْلُ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأُسْتُجِيبَ لَهُ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ تَقُومُ مَا يَرَاهُ أَحَدٌ تَخْلُو بِمَحْبُوبِكَ وَاللهُ قَرِيبٌ مِنْكَ وَتُنَاجِيهِ فِي صَلَاتِكَ وَتُطِيلُ سُجُودَكَ بَيْنَ يَدَيْهِ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِن رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَكَمْ فِي هَذِهِ الصَّلَاةِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْقُرْبِ مِنَ اللهِ وَمَحَبَّةِ اللهِ وَالشَّوْقِ لِلِقَائِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Allah berfirman: “… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” (HR. Bukhari) Jadi, jalan menuju cinta Allah adalah dengan Anda bersungguh-sungguhmelakukan ibadah-ibadah sunah, setelah menyempurnakan yang wajib.“… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” Ini menunjukkan kepada kita, bahwa bersungguh-sungguhdalam ibadah sunah adalah salah satu tanda cinta seorang hamba kepada Tuhannya,karena balasan akan serupa dengan perbuatannya. Allah berfirman, “… hingga Aku mencintainya, …”karena seorang hamba yang mencintai Tuhannya,ia bersungguh-sungguh meraih rida-Nya dan melakukan ibadah sunah,dia melawan nafsunya untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah wajibkan baginya. Ini menunjukkan betapa besar cintanya kepada Tuhannya,karena salah satu tabiat manusia adalah menyibukkan diri dengan sesuatu yang dicintainya,dan menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang disukainya. Jadi, jika Anda dapati diri Anda bersemangat dalam melakukan ibadah-ibadah sunah,ini adalah tanda keselamatan hati Anda,dan cinta Anda kepada Allah, itulah mengapa Dia berfirman: “… hingga Aku mencintainya, …”Inilah balasannya. Inilah kenapa, orang yang menginginkan cinta Allah Ta’ālā,hendaknya dia mengerjakan ibadah sunah dan bersemangat melakukannya.“Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah Salat Malam.” (HR. Muslim) Ini adalah salah satu amal ibadah yang paling agung yang akan mengantarkan seorang hamba pada kecintaan Allah,karena sesuatu yang paling didambakan orang yang mencintaadalah menyendiri dengan yang dia cintai, dan menikmati khalwat bersamanya dan berbicara dengannya,dan Salat Malam adalah kebahagiaan orang yang sedang mencintai-Nyadan surga bagi orang yang merindukan-Nya,karena Allah Ta’ālā turun ke langit dunia, ketika sepertiga malam yang terakhir tersisa,dan berfirman, “Adakah orang yang berdoa untuk Aku kabulkan baginya?Adakah orang yang meminta untuk Aku berikan padanya?Adakah yang memohon ampun untuk aku ampuni dia?” (HR. Ibnu Abi Syaibah) Anda salat ketika tidak ada seorang pun yang melihat Anda,dan menyendiri dengan Zat yang Anda cintai,ketika Allah dekat dengan Anda. Anda bermunajat kepada-Nya dalam salat Anda,dan memperpanjang sujud Anda di hadapan-Nya.“Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.” (HR. Muslim) Betapa banyak dalam salat ini terkandung nilai-nilai keimanan,kedekatan dan cinta kepada Allah, serta kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya. ===== قَالَ: وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ فَطَرِيقُ مَحَبَّةِ اللهِ هُوَ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ عَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ بَعْدَ إِتْقَانِ الْمَفْرُوضَاتِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مُجَاهَدَةَ النَّفْسِ عَلَى النَّوَافِلِ هَذَا مِنْ عَلَامَاتِ مَحَبَّةِ الْعَبْدِ رَبِّهِ لِأَنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ قَالَ: حتَّى أُحِبَّهُ لِأَنَّ الْعَبْدَ أَحَبَّ رَبَّهُ فَجَاهَدَ نَفْسَهُ عَلَى مَرْضَاتِهِ وَعَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَلَى أُمُورٍ مَا فَرَضَهَا اللهُ عَلَيْهِ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى شِدَّةِ مَحَبَّتِهِ لِلهِ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ مِنْ طَبْعِهِ أَنَّهُ يَنْشَغِلُ بِمَا يُحِبُّ وَيَقْضِي وَقْتَهُ فِيمَا يُحِبُّ فَإِذَا وَجَدْتَ مِنْ نَفْسِكَ إِقْبَالًا عَلَى النَّوَافِلِ فَهَذَا مِنْ عَلَامَاتِ سَلَمَةِ قَلْبِكُمْ وَمَحَبَّتِكَ لِلهِ وَلِهَذَا قَالَ: حَتَّى أُحِبَّهُ هَذَا جَزَاؤُهُ وَلِهَذَا مَنْ أَرَادَ مَحَبَّةَ اللهِ تَعَالَى فَعَلَيْهِ بِالنَّوَافِلِ يُقْبِلُ عَلَى النَّوَافِلِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُوْصِلُ الْعَبْدَ إِلَى مَحَبَّةِ اللهِ لِأَنَّ أَحَبَّ شَيْءٍ عِنْدَ الْمُحِبِّ أَنْ يَخْلُو بِمَحْبُوبِهِ وَيَتَلَذَّذُ بِمُنَاجَاتِهِ وَالْخَلْوَةِ بِهِ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ هِيَ أُنْسُ الْمُحِبِّينَ وَجَنَّةُ الْمُشْتَاقِّيْنَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ وَيَقُوْلُ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأُسْتُجِيبَ لَهُ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ تَقُومُ مَا يَرَاهُ أَحَدٌ تَخْلُو بِمَحْبُوبِكَ وَاللهُ قَرِيبٌ مِنْكَ وَتُنَاجِيهِ فِي صَلَاتِكَ وَتُطِيلُ سُجُودَكَ بَيْنَ يَدَيْهِ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِن رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَكَمْ فِي هَذِهِ الصَّلَاةِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْقُرْبِ مِنَ اللهِ وَمَحَبَّةِ اللهِ وَالشَّوْقِ لِلِقَائِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Apakah Jin atau Setan Bisa Terbakar dengan Dibacakan Al-Qur’an?

Pertanyaan: Apakah benar bahwa jika seseorang kesurupan jin, lalu dibacakan Al-Qur’an kepadanya, lalu jin di dalam tubuhnya akan mati terbakar? Bukankah di surat Al Jin disebutkan bahwa jin bisa mendengar Al-Qur’an. Andaikan jin itu terbakar, bagaimana mengetahui dengan pasti bahwa jin tersebut mati terbakar? Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Benar bahwa di dalam surat al-Jin disebutkan bahwa para jin mendengarkan al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman: قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (QS. al-Jin: 1) Maka tidak benar jika dikatakan bahwa jin secara mutlak akan terbakar jika mendengarkan al-Qur’an. Karena buktinya jin yang disebutkan dalam ayat ini tidak terbakar. Dan kita juga meyakini bahwa jin itu bisa mati sebagaimana manusia bisa mati. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: أعوذُ بِعزَّتِكَ الَّذي لا إلهَ إلَّا أنتّ [ أنْ تُضِلَّنِي ، أنتَ الحيُّ ] ، الَّذي لا يَموتُ ، و الجِنُّ و الإنْسُ يَموتُونَ “Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu ya Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, dari kesesatan. Engkau Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no.7383, Muslim no.2717) Namun, tentang mengobati kesurupan jin dengan dibacakan al-Qur’an kemudian diklaim bahwa jinnya terbakar karena bacaan al-Qur’an tersebut, ini adalah kesimpulan atau pendapat sebagian ulama. Contohnya dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan: فائدة من الشنواني: ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر “Ada faedah dari asy-Syanwani, ia berkata: berdasarkan pengalaman, cara membakar jin adalah dengan membacakan adzan di telinga orang yang kesurupan sebanyak 7x. Lalu dibacakan surat al-Fatihah 7x, mu’awwidzatain (an-Nas dan al-Falaq), ayat Kursi, surat ath-Thariq, dan akhir surat al-Hasyr.” Namun perkara terbakarnya jin ini adalah perkara ghaib, yang pada dasarnya semua perkara ghaib hanya bisa diketahui oleh dalil. Andaikan ada jin yang mengatakan ia terbakar atau temannya terbakar pun, ini kabar yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Syaikh al-Albani pernah ditanya, “apakah terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih bahwa al-Qur’an bisa membakar jin? Demikian juga jin yang merasuki manusia jika ia diperintahkan untuk keluar dan ia tidak mau keluar, apakah boleh membakarnya dengan membacakan al-Qur’an?”. Beliau menjawab: لا أعلم شيئًا من هذا في السنة أن تلاوة القرآن تحرق الجنِّيَّ المتلبِّس بإنسان ، لكن الذي نعلمه أن القرآن الكريم كما قال رب العالمين : (( فيه شفاء للناس )) ، وهو (( شفاء لما في الصدور )) ، وقد جاء في بعض الأحاديث في ” مسند الإمام أحمد ” وفي غيره أنَّ النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – مرَّ بامرأة وعندها – أو ولها – ولدٌ مصابٌ باللَّمم – أي : بالجنون – ، فقرأ عليه النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – بعض الآيات القرآنية فكأنما نشط من عقال ، وسافر النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – وتابع طريقه ، ثم لما رجع ومرَّ بالمرأة فسألها عن ولدها ؟ قالت : والحمد لله لا يزال كما تركته بعد أن شُفِيَ “Saya tidak mengetahui sama sekali dari hadits-hadits Nabi bahwa membacakan al-Qur’an bisa membakar jin yang merasuki seorang manusia. Namun yang kami ketahui adalah bahwa al-Qur’anul Karim adalah sebagaimana firmannya Rabb semesta alam (yang artinya): “Di dalam al-Qur’an ada penyembuh bagi manusia” (QS. an-Nahl: 69). Dan juga (yang artinya): “Al-Qur’an adalah penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada” (QS. Yunus: 57). Dan terdapat dalam sebagian hadits di Musnad Ahmad dan yang lainnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati wanita yang anaknya terkena penyakit lamam (gila). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat al-Qur’an, lalu serta merta anak tersebut langsung sembuh dan berakal kembali. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan safarnya dan mengikuti jalur perjalanannya. Kemudian ketika beliau kembali dan melewati rumah wanita tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali tentang anaknya? Wanita tadi menjawab: Alhamdulillah anakku tetap sehat sebagaimana kondisinya ketika terakhir bertemu denganmu”. فهذا ثابت في السنة أن القرآن يفيد في إخراج الجنِّي المتلبِّس بالإنسان ، وهذا حديث شاهد على ذلك ، ثم إن بعض الأئمة الصادقين في اتباعهم لسنة النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – كانوا يستنُّون به في محاولتهم لإخراج الجنِّ المتلبِّس بالإنسان ، وعلى رأس هؤلاء شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله – ؛ فقد كان معروفًا في زمانه بأنه إذا قرأ على المصروع شيئًا من آيات الله – تبارك وتعالى – قام في الحال وكأنما لم يمسَّه الشيطان ، فقراءة القرآن تُفيد إلى هذا المجال ، أما أنُّو القرآن يحرق الجنِّي فهذا شيء ما سمعت به ولا عرفته ، ولا أظنُّه أنه يمكن أن يصح “Inilah yang ada dalam hadits-hadits. Yaitu bahwasanya al-Qur’an bisa bermanfaat untuk mengeluarkan jin yang merasuki seorang manusia. Hadits di atas adalah dalil atas hal ini. Kemudian para ulama yang jujur dalam mengikuti sunnah Nabi pun mereka mengikuti cara Nabi ini dalam upaya mengeluarkan jin yang merasuki manusia. Di antara pemimpin para ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau dikenal di zamannya, bahwa jika ada orang kesurupan lalu dibacakan ayat al-Qur’an oleh beliau maka orang yang kesurupan tadi langsung sembuh seketika seperti tidak pernah kesurupan sama sekali. Maka membacakan ayat al-Qur’an itu bisa memberi manfaat dalam hal ini. Adapun meniatkan membaca al-Qur’an untuk membakar jin, ini perkara yang belum pernah aku dengar (dari hadits) dan belum aku ketahui (dalilnya). Dan aku menyangka ini perkara yang tidak benar adanya.” (Fatawa Jiddah, no. 16) Oleh karena itu, mengenai terbakarnya jin karena bacaan al-Qur’an, sikap yang terbaik adalah tawaqquf, tidak meyakininya dan juga tidak menafikannya. Karena ini adalah perkara ghaib yang Allah tutup dari pandangan mata dan akal kita. Kecuali ada dalil yang menyebutkannya.  Namun mengenai mengobati orang yang kesurupan dengan membacakan al-Qur’an kepadanya, ini perkara yang shahih dan bisa bermanfaat untuk menyembuhkannya. Hal ini berdasarkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Nafsu Wanita Dalam Islam, Cincin Khitbah, Hukum Menyusu Pada Istri, Hukum Shalat Jama, Posisi Imam, Kubah Masjid Nabawi Madinah Visited 609 times, 1 visit(s) today Post Views: 463 QRIS donasi Yufid

Apakah Jin atau Setan Bisa Terbakar dengan Dibacakan Al-Qur’an?

Pertanyaan: Apakah benar bahwa jika seseorang kesurupan jin, lalu dibacakan Al-Qur’an kepadanya, lalu jin di dalam tubuhnya akan mati terbakar? Bukankah di surat Al Jin disebutkan bahwa jin bisa mendengar Al-Qur’an. Andaikan jin itu terbakar, bagaimana mengetahui dengan pasti bahwa jin tersebut mati terbakar? Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Benar bahwa di dalam surat al-Jin disebutkan bahwa para jin mendengarkan al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman: قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (QS. al-Jin: 1) Maka tidak benar jika dikatakan bahwa jin secara mutlak akan terbakar jika mendengarkan al-Qur’an. Karena buktinya jin yang disebutkan dalam ayat ini tidak terbakar. Dan kita juga meyakini bahwa jin itu bisa mati sebagaimana manusia bisa mati. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: أعوذُ بِعزَّتِكَ الَّذي لا إلهَ إلَّا أنتّ [ أنْ تُضِلَّنِي ، أنتَ الحيُّ ] ، الَّذي لا يَموتُ ، و الجِنُّ و الإنْسُ يَموتُونَ “Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu ya Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, dari kesesatan. Engkau Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no.7383, Muslim no.2717) Namun, tentang mengobati kesurupan jin dengan dibacakan al-Qur’an kemudian diklaim bahwa jinnya terbakar karena bacaan al-Qur’an tersebut, ini adalah kesimpulan atau pendapat sebagian ulama. Contohnya dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan: فائدة من الشنواني: ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر “Ada faedah dari asy-Syanwani, ia berkata: berdasarkan pengalaman, cara membakar jin adalah dengan membacakan adzan di telinga orang yang kesurupan sebanyak 7x. Lalu dibacakan surat al-Fatihah 7x, mu’awwidzatain (an-Nas dan al-Falaq), ayat Kursi, surat ath-Thariq, dan akhir surat al-Hasyr.” Namun perkara terbakarnya jin ini adalah perkara ghaib, yang pada dasarnya semua perkara ghaib hanya bisa diketahui oleh dalil. Andaikan ada jin yang mengatakan ia terbakar atau temannya terbakar pun, ini kabar yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Syaikh al-Albani pernah ditanya, “apakah terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih bahwa al-Qur’an bisa membakar jin? Demikian juga jin yang merasuki manusia jika ia diperintahkan untuk keluar dan ia tidak mau keluar, apakah boleh membakarnya dengan membacakan al-Qur’an?”. Beliau menjawab: لا أعلم شيئًا من هذا في السنة أن تلاوة القرآن تحرق الجنِّيَّ المتلبِّس بإنسان ، لكن الذي نعلمه أن القرآن الكريم كما قال رب العالمين : (( فيه شفاء للناس )) ، وهو (( شفاء لما في الصدور )) ، وقد جاء في بعض الأحاديث في ” مسند الإمام أحمد ” وفي غيره أنَّ النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – مرَّ بامرأة وعندها – أو ولها – ولدٌ مصابٌ باللَّمم – أي : بالجنون – ، فقرأ عليه النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – بعض الآيات القرآنية فكأنما نشط من عقال ، وسافر النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – وتابع طريقه ، ثم لما رجع ومرَّ بالمرأة فسألها عن ولدها ؟ قالت : والحمد لله لا يزال كما تركته بعد أن شُفِيَ “Saya tidak mengetahui sama sekali dari hadits-hadits Nabi bahwa membacakan al-Qur’an bisa membakar jin yang merasuki seorang manusia. Namun yang kami ketahui adalah bahwa al-Qur’anul Karim adalah sebagaimana firmannya Rabb semesta alam (yang artinya): “Di dalam al-Qur’an ada penyembuh bagi manusia” (QS. an-Nahl: 69). Dan juga (yang artinya): “Al-Qur’an adalah penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada” (QS. Yunus: 57). Dan terdapat dalam sebagian hadits di Musnad Ahmad dan yang lainnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati wanita yang anaknya terkena penyakit lamam (gila). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat al-Qur’an, lalu serta merta anak tersebut langsung sembuh dan berakal kembali. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan safarnya dan mengikuti jalur perjalanannya. Kemudian ketika beliau kembali dan melewati rumah wanita tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali tentang anaknya? Wanita tadi menjawab: Alhamdulillah anakku tetap sehat sebagaimana kondisinya ketika terakhir bertemu denganmu”. فهذا ثابت في السنة أن القرآن يفيد في إخراج الجنِّي المتلبِّس بالإنسان ، وهذا حديث شاهد على ذلك ، ثم إن بعض الأئمة الصادقين في اتباعهم لسنة النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – كانوا يستنُّون به في محاولتهم لإخراج الجنِّ المتلبِّس بالإنسان ، وعلى رأس هؤلاء شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله – ؛ فقد كان معروفًا في زمانه بأنه إذا قرأ على المصروع شيئًا من آيات الله – تبارك وتعالى – قام في الحال وكأنما لم يمسَّه الشيطان ، فقراءة القرآن تُفيد إلى هذا المجال ، أما أنُّو القرآن يحرق الجنِّي فهذا شيء ما سمعت به ولا عرفته ، ولا أظنُّه أنه يمكن أن يصح “Inilah yang ada dalam hadits-hadits. Yaitu bahwasanya al-Qur’an bisa bermanfaat untuk mengeluarkan jin yang merasuki seorang manusia. Hadits di atas adalah dalil atas hal ini. Kemudian para ulama yang jujur dalam mengikuti sunnah Nabi pun mereka mengikuti cara Nabi ini dalam upaya mengeluarkan jin yang merasuki manusia. Di antara pemimpin para ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau dikenal di zamannya, bahwa jika ada orang kesurupan lalu dibacakan ayat al-Qur’an oleh beliau maka orang yang kesurupan tadi langsung sembuh seketika seperti tidak pernah kesurupan sama sekali. Maka membacakan ayat al-Qur’an itu bisa memberi manfaat dalam hal ini. Adapun meniatkan membaca al-Qur’an untuk membakar jin, ini perkara yang belum pernah aku dengar (dari hadits) dan belum aku ketahui (dalilnya). Dan aku menyangka ini perkara yang tidak benar adanya.” (Fatawa Jiddah, no. 16) Oleh karena itu, mengenai terbakarnya jin karena bacaan al-Qur’an, sikap yang terbaik adalah tawaqquf, tidak meyakininya dan juga tidak menafikannya. Karena ini adalah perkara ghaib yang Allah tutup dari pandangan mata dan akal kita. Kecuali ada dalil yang menyebutkannya.  Namun mengenai mengobati orang yang kesurupan dengan membacakan al-Qur’an kepadanya, ini perkara yang shahih dan bisa bermanfaat untuk menyembuhkannya. Hal ini berdasarkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Nafsu Wanita Dalam Islam, Cincin Khitbah, Hukum Menyusu Pada Istri, Hukum Shalat Jama, Posisi Imam, Kubah Masjid Nabawi Madinah Visited 609 times, 1 visit(s) today Post Views: 463 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apakah benar bahwa jika seseorang kesurupan jin, lalu dibacakan Al-Qur’an kepadanya, lalu jin di dalam tubuhnya akan mati terbakar? Bukankah di surat Al Jin disebutkan bahwa jin bisa mendengar Al-Qur’an. Andaikan jin itu terbakar, bagaimana mengetahui dengan pasti bahwa jin tersebut mati terbakar? Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Benar bahwa di dalam surat al-Jin disebutkan bahwa para jin mendengarkan al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman: قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (QS. al-Jin: 1) Maka tidak benar jika dikatakan bahwa jin secara mutlak akan terbakar jika mendengarkan al-Qur’an. Karena buktinya jin yang disebutkan dalam ayat ini tidak terbakar. Dan kita juga meyakini bahwa jin itu bisa mati sebagaimana manusia bisa mati. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: أعوذُ بِعزَّتِكَ الَّذي لا إلهَ إلَّا أنتّ [ أنْ تُضِلَّنِي ، أنتَ الحيُّ ] ، الَّذي لا يَموتُ ، و الجِنُّ و الإنْسُ يَموتُونَ “Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu ya Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, dari kesesatan. Engkau Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no.7383, Muslim no.2717) Namun, tentang mengobati kesurupan jin dengan dibacakan al-Qur’an kemudian diklaim bahwa jinnya terbakar karena bacaan al-Qur’an tersebut, ini adalah kesimpulan atau pendapat sebagian ulama. Contohnya dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan: فائدة من الشنواني: ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر “Ada faedah dari asy-Syanwani, ia berkata: berdasarkan pengalaman, cara membakar jin adalah dengan membacakan adzan di telinga orang yang kesurupan sebanyak 7x. Lalu dibacakan surat al-Fatihah 7x, mu’awwidzatain (an-Nas dan al-Falaq), ayat Kursi, surat ath-Thariq, dan akhir surat al-Hasyr.” Namun perkara terbakarnya jin ini adalah perkara ghaib, yang pada dasarnya semua perkara ghaib hanya bisa diketahui oleh dalil. Andaikan ada jin yang mengatakan ia terbakar atau temannya terbakar pun, ini kabar yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Syaikh al-Albani pernah ditanya, “apakah terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih bahwa al-Qur’an bisa membakar jin? Demikian juga jin yang merasuki manusia jika ia diperintahkan untuk keluar dan ia tidak mau keluar, apakah boleh membakarnya dengan membacakan al-Qur’an?”. Beliau menjawab: لا أعلم شيئًا من هذا في السنة أن تلاوة القرآن تحرق الجنِّيَّ المتلبِّس بإنسان ، لكن الذي نعلمه أن القرآن الكريم كما قال رب العالمين : (( فيه شفاء للناس )) ، وهو (( شفاء لما في الصدور )) ، وقد جاء في بعض الأحاديث في ” مسند الإمام أحمد ” وفي غيره أنَّ النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – مرَّ بامرأة وعندها – أو ولها – ولدٌ مصابٌ باللَّمم – أي : بالجنون – ، فقرأ عليه النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – بعض الآيات القرآنية فكأنما نشط من عقال ، وسافر النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – وتابع طريقه ، ثم لما رجع ومرَّ بالمرأة فسألها عن ولدها ؟ قالت : والحمد لله لا يزال كما تركته بعد أن شُفِيَ “Saya tidak mengetahui sama sekali dari hadits-hadits Nabi bahwa membacakan al-Qur’an bisa membakar jin yang merasuki seorang manusia. Namun yang kami ketahui adalah bahwa al-Qur’anul Karim adalah sebagaimana firmannya Rabb semesta alam (yang artinya): “Di dalam al-Qur’an ada penyembuh bagi manusia” (QS. an-Nahl: 69). Dan juga (yang artinya): “Al-Qur’an adalah penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada” (QS. Yunus: 57). Dan terdapat dalam sebagian hadits di Musnad Ahmad dan yang lainnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati wanita yang anaknya terkena penyakit lamam (gila). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat al-Qur’an, lalu serta merta anak tersebut langsung sembuh dan berakal kembali. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan safarnya dan mengikuti jalur perjalanannya. Kemudian ketika beliau kembali dan melewati rumah wanita tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali tentang anaknya? Wanita tadi menjawab: Alhamdulillah anakku tetap sehat sebagaimana kondisinya ketika terakhir bertemu denganmu”. فهذا ثابت في السنة أن القرآن يفيد في إخراج الجنِّي المتلبِّس بالإنسان ، وهذا حديث شاهد على ذلك ، ثم إن بعض الأئمة الصادقين في اتباعهم لسنة النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – كانوا يستنُّون به في محاولتهم لإخراج الجنِّ المتلبِّس بالإنسان ، وعلى رأس هؤلاء شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله – ؛ فقد كان معروفًا في زمانه بأنه إذا قرأ على المصروع شيئًا من آيات الله – تبارك وتعالى – قام في الحال وكأنما لم يمسَّه الشيطان ، فقراءة القرآن تُفيد إلى هذا المجال ، أما أنُّو القرآن يحرق الجنِّي فهذا شيء ما سمعت به ولا عرفته ، ولا أظنُّه أنه يمكن أن يصح “Inilah yang ada dalam hadits-hadits. Yaitu bahwasanya al-Qur’an bisa bermanfaat untuk mengeluarkan jin yang merasuki seorang manusia. Hadits di atas adalah dalil atas hal ini. Kemudian para ulama yang jujur dalam mengikuti sunnah Nabi pun mereka mengikuti cara Nabi ini dalam upaya mengeluarkan jin yang merasuki manusia. Di antara pemimpin para ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau dikenal di zamannya, bahwa jika ada orang kesurupan lalu dibacakan ayat al-Qur’an oleh beliau maka orang yang kesurupan tadi langsung sembuh seketika seperti tidak pernah kesurupan sama sekali. Maka membacakan ayat al-Qur’an itu bisa memberi manfaat dalam hal ini. Adapun meniatkan membaca al-Qur’an untuk membakar jin, ini perkara yang belum pernah aku dengar (dari hadits) dan belum aku ketahui (dalilnya). Dan aku menyangka ini perkara yang tidak benar adanya.” (Fatawa Jiddah, no. 16) Oleh karena itu, mengenai terbakarnya jin karena bacaan al-Qur’an, sikap yang terbaik adalah tawaqquf, tidak meyakininya dan juga tidak menafikannya. Karena ini adalah perkara ghaib yang Allah tutup dari pandangan mata dan akal kita. Kecuali ada dalil yang menyebutkannya.  Namun mengenai mengobati orang yang kesurupan dengan membacakan al-Qur’an kepadanya, ini perkara yang shahih dan bisa bermanfaat untuk menyembuhkannya. Hal ini berdasarkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Nafsu Wanita Dalam Islam, Cincin Khitbah, Hukum Menyusu Pada Istri, Hukum Shalat Jama, Posisi Imam, Kubah Masjid Nabawi Madinah Visited 609 times, 1 visit(s) today Post Views: 463 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1365421561&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Apakah benar bahwa jika seseorang kesurupan jin, lalu dibacakan Al-Qur’an kepadanya, lalu jin di dalam tubuhnya akan mati terbakar? Bukankah di surat Al Jin disebutkan bahwa jin bisa mendengar Al-Qur’an. Andaikan jin itu terbakar, bagaimana mengetahui dengan pasti bahwa jin tersebut mati terbakar? Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Benar bahwa di dalam surat al-Jin disebutkan bahwa para jin mendengarkan al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman: قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (QS. al-Jin: 1) Maka tidak benar jika dikatakan bahwa jin secara mutlak akan terbakar jika mendengarkan al-Qur’an. Karena buktinya jin yang disebutkan dalam ayat ini tidak terbakar. Dan kita juga meyakini bahwa jin itu bisa mati sebagaimana manusia bisa mati. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: أعوذُ بِعزَّتِكَ الَّذي لا إلهَ إلَّا أنتّ [ أنْ تُضِلَّنِي ، أنتَ الحيُّ ] ، الَّذي لا يَموتُ ، و الجِنُّ و الإنْسُ يَموتُونَ “Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu ya Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, dari kesesatan. Engkau Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no.7383, Muslim no.2717) Namun, tentang mengobati kesurupan jin dengan dibacakan al-Qur’an kemudian diklaim bahwa jinnya terbakar karena bacaan al-Qur’an tersebut, ini adalah kesimpulan atau pendapat sebagian ulama. Contohnya dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan: فائدة من الشنواني: ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر “Ada faedah dari asy-Syanwani, ia berkata: berdasarkan pengalaman, cara membakar jin adalah dengan membacakan adzan di telinga orang yang kesurupan sebanyak 7x. Lalu dibacakan surat al-Fatihah 7x, mu’awwidzatain (an-Nas dan al-Falaq), ayat Kursi, surat ath-Thariq, dan akhir surat al-Hasyr.” Namun perkara terbakarnya jin ini adalah perkara ghaib, yang pada dasarnya semua perkara ghaib hanya bisa diketahui oleh dalil. Andaikan ada jin yang mengatakan ia terbakar atau temannya terbakar pun, ini kabar yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Syaikh al-Albani pernah ditanya, “apakah terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih bahwa al-Qur’an bisa membakar jin? Demikian juga jin yang merasuki manusia jika ia diperintahkan untuk keluar dan ia tidak mau keluar, apakah boleh membakarnya dengan membacakan al-Qur’an?”. Beliau menjawab: لا أعلم شيئًا من هذا في السنة أن تلاوة القرآن تحرق الجنِّيَّ المتلبِّس بإنسان ، لكن الذي نعلمه أن القرآن الكريم كما قال رب العالمين : (( فيه شفاء للناس )) ، وهو (( شفاء لما في الصدور )) ، وقد جاء في بعض الأحاديث في ” مسند الإمام أحمد ” وفي غيره أنَّ النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – مرَّ بامرأة وعندها – أو ولها – ولدٌ مصابٌ باللَّمم – أي : بالجنون – ، فقرأ عليه النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – بعض الآيات القرآنية فكأنما نشط من عقال ، وسافر النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – وتابع طريقه ، ثم لما رجع ومرَّ بالمرأة فسألها عن ولدها ؟ قالت : والحمد لله لا يزال كما تركته بعد أن شُفِيَ “Saya tidak mengetahui sama sekali dari hadits-hadits Nabi bahwa membacakan al-Qur’an bisa membakar jin yang merasuki seorang manusia. Namun yang kami ketahui adalah bahwa al-Qur’anul Karim adalah sebagaimana firmannya Rabb semesta alam (yang artinya): “Di dalam al-Qur’an ada penyembuh bagi manusia” (QS. an-Nahl: 69). Dan juga (yang artinya): “Al-Qur’an adalah penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada” (QS. Yunus: 57). Dan terdapat dalam sebagian hadits di Musnad Ahmad dan yang lainnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati wanita yang anaknya terkena penyakit lamam (gila). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat al-Qur’an, lalu serta merta anak tersebut langsung sembuh dan berakal kembali. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan safarnya dan mengikuti jalur perjalanannya. Kemudian ketika beliau kembali dan melewati rumah wanita tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali tentang anaknya? Wanita tadi menjawab: Alhamdulillah anakku tetap sehat sebagaimana kondisinya ketika terakhir bertemu denganmu”. فهذا ثابت في السنة أن القرآن يفيد في إخراج الجنِّي المتلبِّس بالإنسان ، وهذا حديث شاهد على ذلك ، ثم إن بعض الأئمة الصادقين في اتباعهم لسنة النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – كانوا يستنُّون به في محاولتهم لإخراج الجنِّ المتلبِّس بالإنسان ، وعلى رأس هؤلاء شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله – ؛ فقد كان معروفًا في زمانه بأنه إذا قرأ على المصروع شيئًا من آيات الله – تبارك وتعالى – قام في الحال وكأنما لم يمسَّه الشيطان ، فقراءة القرآن تُفيد إلى هذا المجال ، أما أنُّو القرآن يحرق الجنِّي فهذا شيء ما سمعت به ولا عرفته ، ولا أظنُّه أنه يمكن أن يصح “Inilah yang ada dalam hadits-hadits. Yaitu bahwasanya al-Qur’an bisa bermanfaat untuk mengeluarkan jin yang merasuki seorang manusia. Hadits di atas adalah dalil atas hal ini. Kemudian para ulama yang jujur dalam mengikuti sunnah Nabi pun mereka mengikuti cara Nabi ini dalam upaya mengeluarkan jin yang merasuki manusia. Di antara pemimpin para ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau dikenal di zamannya, bahwa jika ada orang kesurupan lalu dibacakan ayat al-Qur’an oleh beliau maka orang yang kesurupan tadi langsung sembuh seketika seperti tidak pernah kesurupan sama sekali. Maka membacakan ayat al-Qur’an itu bisa memberi manfaat dalam hal ini. Adapun meniatkan membaca al-Qur’an untuk membakar jin, ini perkara yang belum pernah aku dengar (dari hadits) dan belum aku ketahui (dalilnya). Dan aku menyangka ini perkara yang tidak benar adanya.” (Fatawa Jiddah, no. 16) Oleh karena itu, mengenai terbakarnya jin karena bacaan al-Qur’an, sikap yang terbaik adalah tawaqquf, tidak meyakininya dan juga tidak menafikannya. Karena ini adalah perkara ghaib yang Allah tutup dari pandangan mata dan akal kita. Kecuali ada dalil yang menyebutkannya.  Namun mengenai mengobati orang yang kesurupan dengan membacakan al-Qur’an kepadanya, ini perkara yang shahih dan bisa bermanfaat untuk menyembuhkannya. Hal ini berdasarkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Nafsu Wanita Dalam Islam, Cincin Khitbah, Hukum Menyusu Pada Istri, Hukum Shalat Jama, Posisi Imam, Kubah Masjid Nabawi Madinah Visited 609 times, 1 visit(s) today Post Views: 463 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Arti al-Matsalul A’la di Surah Ar-Rum Ayat ke-28

Pertanyaan: قوله سبحانه : ( وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْض ِ) هل المثل يعني الشبيه ؟ Firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla:  وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Dan bagi-Nya sifat yang tinggi di langit dan di bumi.” (QS. ar-Rum: 28) Apakah ‘al-maṯal’ di sini berarti yang semisal? Jawaban: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد : فمعنى (المثل الأعلى): أي الوصف الأعلى من كل الوجوه ، فهو سبحانه الموصوف بالكمال المطلق من كل الوجوه ، كما قال سبحانه : ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ) ( الشورى : 11) وقال سبحانه : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1 ) اللَّه الصَّمَدُ(2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) ( الإخلاص ) والله ولي التوفيق Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya senantiasa terlimpah untuk Rasulullah.  Kemudian, bahwa makna al-Maṯal al-Aʿlā (الْمَثَلُ الْأَعْلَى) adalah sifat yang tinggi dari semua sisinya. Jadi Allah Subḥānahu wa Ta’āla disifati dengan kesempurnaan mutlak dari semua sisi, sebagaimana dalam firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Juga firman-Nya: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  “Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.’” (QS. al-Ikhlas: 1 – 4) Hanya Allah yang memiliki taufik. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/22871/معنى-قوله-تعالى-وله-المثل-الاعلى https://islamqa.info/ar/downloads/answers/22871 PDF Sumber Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Aqiqah Setelah Dewasa Konsultasi Islam, Perbedaan Ruh Dan Nyawa, Cara Memuaskan Isteri, Doa Anak Saleh, Wanita Nafsu, Al Quran Diturunkan Visited 32 times, 1 visit(s) today Post Views: 336 QRIS donasi Yufid

Arti al-Matsalul A’la di Surah Ar-Rum Ayat ke-28

Pertanyaan: قوله سبحانه : ( وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْض ِ) هل المثل يعني الشبيه ؟ Firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla:  وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Dan bagi-Nya sifat yang tinggi di langit dan di bumi.” (QS. ar-Rum: 28) Apakah ‘al-maṯal’ di sini berarti yang semisal? Jawaban: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد : فمعنى (المثل الأعلى): أي الوصف الأعلى من كل الوجوه ، فهو سبحانه الموصوف بالكمال المطلق من كل الوجوه ، كما قال سبحانه : ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ) ( الشورى : 11) وقال سبحانه : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1 ) اللَّه الصَّمَدُ(2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) ( الإخلاص ) والله ولي التوفيق Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya senantiasa terlimpah untuk Rasulullah.  Kemudian, bahwa makna al-Maṯal al-Aʿlā (الْمَثَلُ الْأَعْلَى) adalah sifat yang tinggi dari semua sisinya. Jadi Allah Subḥānahu wa Ta’āla disifati dengan kesempurnaan mutlak dari semua sisi, sebagaimana dalam firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Juga firman-Nya: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  “Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.’” (QS. al-Ikhlas: 1 – 4) Hanya Allah yang memiliki taufik. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/22871/معنى-قوله-تعالى-وله-المثل-الاعلى https://islamqa.info/ar/downloads/answers/22871 PDF Sumber Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Aqiqah Setelah Dewasa Konsultasi Islam, Perbedaan Ruh Dan Nyawa, Cara Memuaskan Isteri, Doa Anak Saleh, Wanita Nafsu, Al Quran Diturunkan Visited 32 times, 1 visit(s) today Post Views: 336 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: قوله سبحانه : ( وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْض ِ) هل المثل يعني الشبيه ؟ Firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla:  وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Dan bagi-Nya sifat yang tinggi di langit dan di bumi.” (QS. ar-Rum: 28) Apakah ‘al-maṯal’ di sini berarti yang semisal? Jawaban: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد : فمعنى (المثل الأعلى): أي الوصف الأعلى من كل الوجوه ، فهو سبحانه الموصوف بالكمال المطلق من كل الوجوه ، كما قال سبحانه : ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ) ( الشورى : 11) وقال سبحانه : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1 ) اللَّه الصَّمَدُ(2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) ( الإخلاص ) والله ولي التوفيق Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya senantiasa terlimpah untuk Rasulullah.  Kemudian, bahwa makna al-Maṯal al-Aʿlā (الْمَثَلُ الْأَعْلَى) adalah sifat yang tinggi dari semua sisinya. Jadi Allah Subḥānahu wa Ta’āla disifati dengan kesempurnaan mutlak dari semua sisi, sebagaimana dalam firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Juga firman-Nya: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  “Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.’” (QS. al-Ikhlas: 1 – 4) Hanya Allah yang memiliki taufik. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/22871/معنى-قوله-تعالى-وله-المثل-الاعلى https://islamqa.info/ar/downloads/answers/22871 PDF Sumber Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Aqiqah Setelah Dewasa Konsultasi Islam, Perbedaan Ruh Dan Nyawa, Cara Memuaskan Isteri, Doa Anak Saleh, Wanita Nafsu, Al Quran Diturunkan Visited 32 times, 1 visit(s) today Post Views: 336 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1383261085&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: قوله سبحانه : ( وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْض ِ) هل المثل يعني الشبيه ؟ Firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla:  وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Dan bagi-Nya sifat yang tinggi di langit dan di bumi.” (QS. ar-Rum: 28) Apakah ‘al-maṯal’ di sini berarti yang semisal? Jawaban: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد : فمعنى (المثل الأعلى): أي الوصف الأعلى من كل الوجوه ، فهو سبحانه الموصوف بالكمال المطلق من كل الوجوه ، كما قال سبحانه : ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ) ( الشورى : 11) وقال سبحانه : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1 ) اللَّه الصَّمَدُ(2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) ( الإخلاص ) والله ولي التوفيق Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya senantiasa terlimpah untuk Rasulullah.  Kemudian, bahwa makna al-Maṯal al-Aʿlā (الْمَثَلُ الْأَعْلَى) adalah sifat yang tinggi dari semua sisinya. Jadi Allah Subḥānahu wa Ta’āla disifati dengan kesempurnaan mutlak dari semua sisi, sebagaimana dalam firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Juga firman-Nya: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  “Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.’” (QS. al-Ikhlas: 1 – 4) Hanya Allah yang memiliki taufik. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/22871/معنى-قوله-تعالى-وله-المثل-الاعلى https://islamqa.info/ar/downloads/answers/22871 PDF Sumber Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Aqiqah Setelah Dewasa Konsultasi Islam, Perbedaan Ruh Dan Nyawa, Cara Memuaskan Isteri, Doa Anak Saleh, Wanita Nafsu, Al Quran Diturunkan Visited 32 times, 1 visit(s) today Post Views: 336 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hukum Sate Kelinci dan Sate Kuda

Pertanyaan: Apa hukum makan sate kelinci dan sate kuda? Mohon penjelasannya. Jazakumullah khairan. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Daging kelinci hukumnya halal menurut ulama 4 madzhab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat memakan daging kelinci. Berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: أنْفَجْنَا أرْنَبًا ونَحْنُ بمَرِّ الظَّهْرَانِ، فَسَعَى القَوْمُ فَلَغِبُوا، فأخَذْتُهَا فَجِئْتُ بهَا إلى أبِي طَلْحَةَ، فَذَبَحَهَا فَبَعَثَ بوَرِكَيْهَا – أوْ قالَ: بفَخِذَيْهَا – إلى النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَقَبِلَهَا “Kami pernah mengejar seekor kelinci di Marr az-Zhahran. Dan banyak orang juga yang mencoba mengejarnya, sampai mereka kelelahan. Namun aku (Anas) mendapatkannya. Kemudian aku membawa kelinci tersebut kepada Abu Thalhah, dan ia pun menyembelihnya. Kemudian Abu Thalhah membawakan bagian bokong atau bagian paha dari kelinci tersebut (yang sudah dimasak) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau pun menerimanya.” (HR. Bukhari no. 5489, 5535, 2572, Muslim no.1953) Dari Marwan bin Shafwan radhiyallahu’anhu, ia berkata: أصَّدتُ أرنبينِ فذبحتُهُما بِمروةٍ، فسأَلتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ عنهما فأمرَني بأَكْلِهِما “Aku berburu dua ekor kelinci, lalu aku sembelih di Marwah. Aku pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kedua kelinci tersebut. Beliau memerintahkan aku untuk memakannya.” (HR. Abu Daud no.2822, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: وَأَكْل الْأَرْنَب حَلَال عِنْد مَالِك وَأَبِي حَنِيفَة وَالشَّافِعِيّ وَأَحْمَد وَالْعُلَمَاء كَافَّة , إِلَّا مَا حُكِيَ عَنْ عَبْد اللَّه بْن عَمْرو بْن الْعَاصِ وَابْن أَبِي لَيْلَى أَنَّهُمَا كَرِهَاهَا . دَلِيل الْجُمْهُور هَذَا الْحَدِيث مَعَ أَحَادِيث مِثْله , وَلَمْ يَثْبُت فِي النَّهْي عَنْهَا شَيْء “Memakan kelinci hukumnya halal menurut Imam Malik, Abu Hanifah, asy-Syafi’i, Imam Ahmad, dan para ulama yang lain. Namun memang ternukil riwayat dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash dan Ibnu Abi Layla bahwa mereka berdua memakruhkan daging kelinci. Namun dalil jumhur adalah hadits ini dan hadits-hadits yang semisalnya. Dan tidak terdapat dalil yang melarangnya sedikitpun.” (Syarah Shahih Muslim, 13/104-105) Demikian juga daging kuda hukum memakannya halal menurut jumhur ulama. Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, نَهَى رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَومَ خَيْبَرَ عن لُحُومِ الحُمُرِ الأهْلِيَّةِ، ورَخَّصَ في الخَيْلِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari perang Khaibar melarang untuk memakan daging keledai jinak dan membolehkan untuk memakan daging kuda.” (HR. Bukhari no.4219, Muslim no.1941) Dan juga hadits dari Asma’ binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ذَبَحْنَا علَى عَهْدِ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَرَسًا، ونَحْنُ بالمَدِينَةِ، فأكَلْنَاهُ “Dahulu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup kami biasa menyembelih kuda. Ketika itu kami di Madinah. Dan kami pun memakan dagingnya.” (HR. Bukhari no. 5510, 5511, 5512, 5519, Muslim no. 1942) Adapun hadits: نَهَى رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عن لُحومِ الخيلِ ، والبغالِ ، والحَميرِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan daging kuda, bighal, dan keledai.” (HR. Ibnu Majah no.628) Hadits ini disepakati kelemahannya oleh para ulama hadits. An-Nawawi rahimahullah berkata: اتفق العلماء من أئمة الحديث وغيرهم على أنه حديث ضعيف وقال بعضهم هو منسوخ “Para ulama hadits dan selain mereka sepakat tentang kelemahan hadits ini. Sebagian mereka mengatakan: mansukh.” (Syarah Shahih Muslim, 13/95) Kesimpulannya, sate kelinci dan sate kuda hukumnya halal untuk memakannya. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Islam Adalah, Kitab Injil Menggunakan Bahasa, Cara Mengqodho Sholat Subuh, Pengertian Sholat Qodho, Shalat Istiharah, Cara Menghafal Cepat Menurut Islam Visited 195 times, 1 visit(s) today Post Views: 638 QRIS donasi Yufid

Hukum Sate Kelinci dan Sate Kuda

Pertanyaan: Apa hukum makan sate kelinci dan sate kuda? Mohon penjelasannya. Jazakumullah khairan. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Daging kelinci hukumnya halal menurut ulama 4 madzhab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat memakan daging kelinci. Berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: أنْفَجْنَا أرْنَبًا ونَحْنُ بمَرِّ الظَّهْرَانِ، فَسَعَى القَوْمُ فَلَغِبُوا، فأخَذْتُهَا فَجِئْتُ بهَا إلى أبِي طَلْحَةَ، فَذَبَحَهَا فَبَعَثَ بوَرِكَيْهَا – أوْ قالَ: بفَخِذَيْهَا – إلى النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَقَبِلَهَا “Kami pernah mengejar seekor kelinci di Marr az-Zhahran. Dan banyak orang juga yang mencoba mengejarnya, sampai mereka kelelahan. Namun aku (Anas) mendapatkannya. Kemudian aku membawa kelinci tersebut kepada Abu Thalhah, dan ia pun menyembelihnya. Kemudian Abu Thalhah membawakan bagian bokong atau bagian paha dari kelinci tersebut (yang sudah dimasak) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau pun menerimanya.” (HR. Bukhari no. 5489, 5535, 2572, Muslim no.1953) Dari Marwan bin Shafwan radhiyallahu’anhu, ia berkata: أصَّدتُ أرنبينِ فذبحتُهُما بِمروةٍ، فسأَلتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ عنهما فأمرَني بأَكْلِهِما “Aku berburu dua ekor kelinci, lalu aku sembelih di Marwah. Aku pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kedua kelinci tersebut. Beliau memerintahkan aku untuk memakannya.” (HR. Abu Daud no.2822, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: وَأَكْل الْأَرْنَب حَلَال عِنْد مَالِك وَأَبِي حَنِيفَة وَالشَّافِعِيّ وَأَحْمَد وَالْعُلَمَاء كَافَّة , إِلَّا مَا حُكِيَ عَنْ عَبْد اللَّه بْن عَمْرو بْن الْعَاصِ وَابْن أَبِي لَيْلَى أَنَّهُمَا كَرِهَاهَا . دَلِيل الْجُمْهُور هَذَا الْحَدِيث مَعَ أَحَادِيث مِثْله , وَلَمْ يَثْبُت فِي النَّهْي عَنْهَا شَيْء “Memakan kelinci hukumnya halal menurut Imam Malik, Abu Hanifah, asy-Syafi’i, Imam Ahmad, dan para ulama yang lain. Namun memang ternukil riwayat dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash dan Ibnu Abi Layla bahwa mereka berdua memakruhkan daging kelinci. Namun dalil jumhur adalah hadits ini dan hadits-hadits yang semisalnya. Dan tidak terdapat dalil yang melarangnya sedikitpun.” (Syarah Shahih Muslim, 13/104-105) Demikian juga daging kuda hukum memakannya halal menurut jumhur ulama. Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, نَهَى رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَومَ خَيْبَرَ عن لُحُومِ الحُمُرِ الأهْلِيَّةِ، ورَخَّصَ في الخَيْلِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari perang Khaibar melarang untuk memakan daging keledai jinak dan membolehkan untuk memakan daging kuda.” (HR. Bukhari no.4219, Muslim no.1941) Dan juga hadits dari Asma’ binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ذَبَحْنَا علَى عَهْدِ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَرَسًا، ونَحْنُ بالمَدِينَةِ، فأكَلْنَاهُ “Dahulu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup kami biasa menyembelih kuda. Ketika itu kami di Madinah. Dan kami pun memakan dagingnya.” (HR. Bukhari no. 5510, 5511, 5512, 5519, Muslim no. 1942) Adapun hadits: نَهَى رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عن لُحومِ الخيلِ ، والبغالِ ، والحَميرِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan daging kuda, bighal, dan keledai.” (HR. Ibnu Majah no.628) Hadits ini disepakati kelemahannya oleh para ulama hadits. An-Nawawi rahimahullah berkata: اتفق العلماء من أئمة الحديث وغيرهم على أنه حديث ضعيف وقال بعضهم هو منسوخ “Para ulama hadits dan selain mereka sepakat tentang kelemahan hadits ini. Sebagian mereka mengatakan: mansukh.” (Syarah Shahih Muslim, 13/95) Kesimpulannya, sate kelinci dan sate kuda hukumnya halal untuk memakannya. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Islam Adalah, Kitab Injil Menggunakan Bahasa, Cara Mengqodho Sholat Subuh, Pengertian Sholat Qodho, Shalat Istiharah, Cara Menghafal Cepat Menurut Islam Visited 195 times, 1 visit(s) today Post Views: 638 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apa hukum makan sate kelinci dan sate kuda? Mohon penjelasannya. Jazakumullah khairan. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Daging kelinci hukumnya halal menurut ulama 4 madzhab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat memakan daging kelinci. Berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: أنْفَجْنَا أرْنَبًا ونَحْنُ بمَرِّ الظَّهْرَانِ، فَسَعَى القَوْمُ فَلَغِبُوا، فأخَذْتُهَا فَجِئْتُ بهَا إلى أبِي طَلْحَةَ، فَذَبَحَهَا فَبَعَثَ بوَرِكَيْهَا – أوْ قالَ: بفَخِذَيْهَا – إلى النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَقَبِلَهَا “Kami pernah mengejar seekor kelinci di Marr az-Zhahran. Dan banyak orang juga yang mencoba mengejarnya, sampai mereka kelelahan. Namun aku (Anas) mendapatkannya. Kemudian aku membawa kelinci tersebut kepada Abu Thalhah, dan ia pun menyembelihnya. Kemudian Abu Thalhah membawakan bagian bokong atau bagian paha dari kelinci tersebut (yang sudah dimasak) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau pun menerimanya.” (HR. Bukhari no. 5489, 5535, 2572, Muslim no.1953) Dari Marwan bin Shafwan radhiyallahu’anhu, ia berkata: أصَّدتُ أرنبينِ فذبحتُهُما بِمروةٍ، فسأَلتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ عنهما فأمرَني بأَكْلِهِما “Aku berburu dua ekor kelinci, lalu aku sembelih di Marwah. Aku pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kedua kelinci tersebut. Beliau memerintahkan aku untuk memakannya.” (HR. Abu Daud no.2822, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: وَأَكْل الْأَرْنَب حَلَال عِنْد مَالِك وَأَبِي حَنِيفَة وَالشَّافِعِيّ وَأَحْمَد وَالْعُلَمَاء كَافَّة , إِلَّا مَا حُكِيَ عَنْ عَبْد اللَّه بْن عَمْرو بْن الْعَاصِ وَابْن أَبِي لَيْلَى أَنَّهُمَا كَرِهَاهَا . دَلِيل الْجُمْهُور هَذَا الْحَدِيث مَعَ أَحَادِيث مِثْله , وَلَمْ يَثْبُت فِي النَّهْي عَنْهَا شَيْء “Memakan kelinci hukumnya halal menurut Imam Malik, Abu Hanifah, asy-Syafi’i, Imam Ahmad, dan para ulama yang lain. Namun memang ternukil riwayat dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash dan Ibnu Abi Layla bahwa mereka berdua memakruhkan daging kelinci. Namun dalil jumhur adalah hadits ini dan hadits-hadits yang semisalnya. Dan tidak terdapat dalil yang melarangnya sedikitpun.” (Syarah Shahih Muslim, 13/104-105) Demikian juga daging kuda hukum memakannya halal menurut jumhur ulama. Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, نَهَى رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَومَ خَيْبَرَ عن لُحُومِ الحُمُرِ الأهْلِيَّةِ، ورَخَّصَ في الخَيْلِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari perang Khaibar melarang untuk memakan daging keledai jinak dan membolehkan untuk memakan daging kuda.” (HR. Bukhari no.4219, Muslim no.1941) Dan juga hadits dari Asma’ binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ذَبَحْنَا علَى عَهْدِ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَرَسًا، ونَحْنُ بالمَدِينَةِ، فأكَلْنَاهُ “Dahulu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup kami biasa menyembelih kuda. Ketika itu kami di Madinah. Dan kami pun memakan dagingnya.” (HR. Bukhari no. 5510, 5511, 5512, 5519, Muslim no. 1942) Adapun hadits: نَهَى رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عن لُحومِ الخيلِ ، والبغالِ ، والحَميرِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan daging kuda, bighal, dan keledai.” (HR. Ibnu Majah no.628) Hadits ini disepakati kelemahannya oleh para ulama hadits. An-Nawawi rahimahullah berkata: اتفق العلماء من أئمة الحديث وغيرهم على أنه حديث ضعيف وقال بعضهم هو منسوخ “Para ulama hadits dan selain mereka sepakat tentang kelemahan hadits ini. Sebagian mereka mengatakan: mansukh.” (Syarah Shahih Muslim, 13/95) Kesimpulannya, sate kelinci dan sate kuda hukumnya halal untuk memakannya. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Islam Adalah, Kitab Injil Menggunakan Bahasa, Cara Mengqodho Sholat Subuh, Pengertian Sholat Qodho, Shalat Istiharah, Cara Menghafal Cepat Menurut Islam Visited 195 times, 1 visit(s) today Post Views: 638 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1340607202&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Apa hukum makan sate kelinci dan sate kuda? Mohon penjelasannya. Jazakumullah khairan. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Daging kelinci hukumnya halal menurut ulama 4 madzhab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat memakan daging kelinci. Berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: أنْفَجْنَا أرْنَبًا ونَحْنُ بمَرِّ الظَّهْرَانِ، فَسَعَى القَوْمُ فَلَغِبُوا، فأخَذْتُهَا فَجِئْتُ بهَا إلى أبِي طَلْحَةَ، فَذَبَحَهَا فَبَعَثَ بوَرِكَيْهَا – أوْ قالَ: بفَخِذَيْهَا – إلى النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَقَبِلَهَا “Kami pernah mengejar seekor kelinci di Marr az-Zhahran. Dan banyak orang juga yang mencoba mengejarnya, sampai mereka kelelahan. Namun aku (Anas) mendapatkannya. Kemudian aku membawa kelinci tersebut kepada Abu Thalhah, dan ia pun menyembelihnya. Kemudian Abu Thalhah membawakan bagian bokong atau bagian paha dari kelinci tersebut (yang sudah dimasak) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau pun menerimanya.” (HR. Bukhari no. 5489, 5535, 2572, Muslim no.1953) Dari Marwan bin Shafwan radhiyallahu’anhu, ia berkata: أصَّدتُ أرنبينِ فذبحتُهُما بِمروةٍ، فسأَلتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ عنهما فأمرَني بأَكْلِهِما “Aku berburu dua ekor kelinci, lalu aku sembelih di Marwah. Aku pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kedua kelinci tersebut. Beliau memerintahkan aku untuk memakannya.” (HR. Abu Daud no.2822, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: وَأَكْل الْأَرْنَب حَلَال عِنْد مَالِك وَأَبِي حَنِيفَة وَالشَّافِعِيّ وَأَحْمَد وَالْعُلَمَاء كَافَّة , إِلَّا مَا حُكِيَ عَنْ عَبْد اللَّه بْن عَمْرو بْن الْعَاصِ وَابْن أَبِي لَيْلَى أَنَّهُمَا كَرِهَاهَا . دَلِيل الْجُمْهُور هَذَا الْحَدِيث مَعَ أَحَادِيث مِثْله , وَلَمْ يَثْبُت فِي النَّهْي عَنْهَا شَيْء “Memakan kelinci hukumnya halal menurut Imam Malik, Abu Hanifah, asy-Syafi’i, Imam Ahmad, dan para ulama yang lain. Namun memang ternukil riwayat dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash dan Ibnu Abi Layla bahwa mereka berdua memakruhkan daging kelinci. Namun dalil jumhur adalah hadits ini dan hadits-hadits yang semisalnya. Dan tidak terdapat dalil yang melarangnya sedikitpun.” (Syarah Shahih Muslim, 13/104-105) Demikian juga daging kuda hukum memakannya halal menurut jumhur ulama. Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, نَهَى رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَومَ خَيْبَرَ عن لُحُومِ الحُمُرِ الأهْلِيَّةِ، ورَخَّصَ في الخَيْلِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari perang Khaibar melarang untuk memakan daging keledai jinak dan membolehkan untuk memakan daging kuda.” (HR. Bukhari no.4219, Muslim no.1941) Dan juga hadits dari Asma’ binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ذَبَحْنَا علَى عَهْدِ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَرَسًا، ونَحْنُ بالمَدِينَةِ، فأكَلْنَاهُ “Dahulu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup kami biasa menyembelih kuda. Ketika itu kami di Madinah. Dan kami pun memakan dagingnya.” (HR. Bukhari no. 5510, 5511, 5512, 5519, Muslim no. 1942) Adapun hadits: نَهَى رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عن لُحومِ الخيلِ ، والبغالِ ، والحَميرِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan daging kuda, bighal, dan keledai.” (HR. Ibnu Majah no.628) Hadits ini disepakati kelemahannya oleh para ulama hadits. An-Nawawi rahimahullah berkata: اتفق العلماء من أئمة الحديث وغيرهم على أنه حديث ضعيف وقال بعضهم هو منسوخ “Para ulama hadits dan selain mereka sepakat tentang kelemahan hadits ini. Sebagian mereka mengatakan: mansukh.” (Syarah Shahih Muslim, 13/95) Kesimpulannya, sate kelinci dan sate kuda hukumnya halal untuk memakannya. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Islam Adalah, Kitab Injil Menggunakan Bahasa, Cara Mengqodho Sholat Subuh, Pengertian Sholat Qodho, Shalat Istiharah, Cara Menghafal Cepat Menurut Islam Visited 195 times, 1 visit(s) today Post Views: 638 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Fatwa Ulama: Ketika Meninggalkan Rukun Salat

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Apakah hukum meninggalkan rukun salat?Jawaban:Jika meninggalkan rukun salat secara sengaja, maka salatnya batal. Salat menjadi batal karena semata-mata meninggalkan rukun salat (dengan sengaja, pent.). Adapun jika meninggalkan rukun salat karena lupa, maka dia harus kembali ke posisi rukun salat yang terlupa tersebut. Misalnya, seseorang lupa ruku’, kemudian dia (langsung) sujud ketika selesai membaca bacaan salat (ketika berdiri). Dia baru ingat ketika sujud kalau dia belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri (lagi), kemudian ruku’, kemudian menyempurnakan salatnya. Wajib baginya untuk kembali ke rukun salat yang dia tinggalkan tersebut (karena lupa, pent.), selama dia belum sampai ke rukun yang dia lupa tersebut pada rakaat kedua (rakaat berikutnya). Adapun jika sudah sampai ke rukun yang terlupa tersebut pada rakaat kedua (misalnya baru ingat kalau di rakaat pertama belum ruku’,  pent.), maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat sebelumnya yang dia meninggalkan rukun salat (karena lupa, pent.).(Contoh), seandainya dia (lupa) tidak ruku’, lalu bersujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua, kemudian ingat kalau belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri dan ruku’. Kemudian dia meneruskan salat dan menyempurnakannya. Adapun ketika dia tidak ingat kalau tidak ruku’ kecuali setelah dia ruku’ pada rakaat berikutnya, maka rakat kedua (rakaat berikutnya) tersebut statusnya adalah menggantikan rakaat sebelumnya yang dia lupa tidak ruku’.Demikian pula, jika seseorang lupa belum sujud kedua, kemudian dia langsung berdiri setelah sujud pertama. Ketika dia membaca (surat), dia ingat kalau dia belum sujud kedua dan juga belum duduk di antara dua sujud, maka wajib baginya untuk kembali lagi untuk duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kedua, dan menyempurnakan salatnya. Bahkan, seandainya dia tidak ingat kalau dia lupa belum sujud kedua dan belum duduk di antara dua sujud kecuali setelah ruku’ (di rakaat berikutnya), maka wajib baginya untuk turun, duduk di antara dua sujud,  dan sujud, lalu meneruskan salatnya. Adapun kalau dia tidak ingat belum sujud kedua di rakaat pertama kecuali setelah dia sampai pada duduk di antara dua sujud di rakaat kedua, maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat pertama, sehingga dia dianggap baru mendapatkan satu rakaat.Dan pada semua kondisi lupa mengerjakan rukun salat, atau dalam semua kondisi yang kami sebutkan di atas sebagai contoh, wajib baginya untuk sujud sahwi, karena adanya “tambahan” dalam salat dengan perbuatan tersebut. Sehingga sujud sahwi dilakukan setelah salam. Hal ini karena jika sujud sahwi dilakukan karena adanya tambahan, maka tempatnya adalah setelah salam sebagaimana ditunjukkan oleh sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atJeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat Sunnah***@Rumah Kasongan, 30 Muharram 1444/ 28 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 182-183, pertanyaan no. 97.🔍 Birrul Walidain, Ketika Sakit Dalam Islam, Doa Qunut Witir Berjamaah, Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Ceramah Singkat Tentang Wanita SholehahTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih shalatpanduan shalatrukun shalatShalatshalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat

Fatwa Ulama: Ketika Meninggalkan Rukun Salat

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Apakah hukum meninggalkan rukun salat?Jawaban:Jika meninggalkan rukun salat secara sengaja, maka salatnya batal. Salat menjadi batal karena semata-mata meninggalkan rukun salat (dengan sengaja, pent.). Adapun jika meninggalkan rukun salat karena lupa, maka dia harus kembali ke posisi rukun salat yang terlupa tersebut. Misalnya, seseorang lupa ruku’, kemudian dia (langsung) sujud ketika selesai membaca bacaan salat (ketika berdiri). Dia baru ingat ketika sujud kalau dia belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri (lagi), kemudian ruku’, kemudian menyempurnakan salatnya. Wajib baginya untuk kembali ke rukun salat yang dia tinggalkan tersebut (karena lupa, pent.), selama dia belum sampai ke rukun yang dia lupa tersebut pada rakaat kedua (rakaat berikutnya). Adapun jika sudah sampai ke rukun yang terlupa tersebut pada rakaat kedua (misalnya baru ingat kalau di rakaat pertama belum ruku’,  pent.), maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat sebelumnya yang dia meninggalkan rukun salat (karena lupa, pent.).(Contoh), seandainya dia (lupa) tidak ruku’, lalu bersujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua, kemudian ingat kalau belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri dan ruku’. Kemudian dia meneruskan salat dan menyempurnakannya. Adapun ketika dia tidak ingat kalau tidak ruku’ kecuali setelah dia ruku’ pada rakaat berikutnya, maka rakat kedua (rakaat berikutnya) tersebut statusnya adalah menggantikan rakaat sebelumnya yang dia lupa tidak ruku’.Demikian pula, jika seseorang lupa belum sujud kedua, kemudian dia langsung berdiri setelah sujud pertama. Ketika dia membaca (surat), dia ingat kalau dia belum sujud kedua dan juga belum duduk di antara dua sujud, maka wajib baginya untuk kembali lagi untuk duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kedua, dan menyempurnakan salatnya. Bahkan, seandainya dia tidak ingat kalau dia lupa belum sujud kedua dan belum duduk di antara dua sujud kecuali setelah ruku’ (di rakaat berikutnya), maka wajib baginya untuk turun, duduk di antara dua sujud,  dan sujud, lalu meneruskan salatnya. Adapun kalau dia tidak ingat belum sujud kedua di rakaat pertama kecuali setelah dia sampai pada duduk di antara dua sujud di rakaat kedua, maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat pertama, sehingga dia dianggap baru mendapatkan satu rakaat.Dan pada semua kondisi lupa mengerjakan rukun salat, atau dalam semua kondisi yang kami sebutkan di atas sebagai contoh, wajib baginya untuk sujud sahwi, karena adanya “tambahan” dalam salat dengan perbuatan tersebut. Sehingga sujud sahwi dilakukan setelah salam. Hal ini karena jika sujud sahwi dilakukan karena adanya tambahan, maka tempatnya adalah setelah salam sebagaimana ditunjukkan oleh sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atJeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat Sunnah***@Rumah Kasongan, 30 Muharram 1444/ 28 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 182-183, pertanyaan no. 97.🔍 Birrul Walidain, Ketika Sakit Dalam Islam, Doa Qunut Witir Berjamaah, Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Ceramah Singkat Tentang Wanita SholehahTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih shalatpanduan shalatrukun shalatShalatshalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Apakah hukum meninggalkan rukun salat?Jawaban:Jika meninggalkan rukun salat secara sengaja, maka salatnya batal. Salat menjadi batal karena semata-mata meninggalkan rukun salat (dengan sengaja, pent.). Adapun jika meninggalkan rukun salat karena lupa, maka dia harus kembali ke posisi rukun salat yang terlupa tersebut. Misalnya, seseorang lupa ruku’, kemudian dia (langsung) sujud ketika selesai membaca bacaan salat (ketika berdiri). Dia baru ingat ketika sujud kalau dia belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri (lagi), kemudian ruku’, kemudian menyempurnakan salatnya. Wajib baginya untuk kembali ke rukun salat yang dia tinggalkan tersebut (karena lupa, pent.), selama dia belum sampai ke rukun yang dia lupa tersebut pada rakaat kedua (rakaat berikutnya). Adapun jika sudah sampai ke rukun yang terlupa tersebut pada rakaat kedua (misalnya baru ingat kalau di rakaat pertama belum ruku’,  pent.), maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat sebelumnya yang dia meninggalkan rukun salat (karena lupa, pent.).(Contoh), seandainya dia (lupa) tidak ruku’, lalu bersujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua, kemudian ingat kalau belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri dan ruku’. Kemudian dia meneruskan salat dan menyempurnakannya. Adapun ketika dia tidak ingat kalau tidak ruku’ kecuali setelah dia ruku’ pada rakaat berikutnya, maka rakat kedua (rakaat berikutnya) tersebut statusnya adalah menggantikan rakaat sebelumnya yang dia lupa tidak ruku’.Demikian pula, jika seseorang lupa belum sujud kedua, kemudian dia langsung berdiri setelah sujud pertama. Ketika dia membaca (surat), dia ingat kalau dia belum sujud kedua dan juga belum duduk di antara dua sujud, maka wajib baginya untuk kembali lagi untuk duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kedua, dan menyempurnakan salatnya. Bahkan, seandainya dia tidak ingat kalau dia lupa belum sujud kedua dan belum duduk di antara dua sujud kecuali setelah ruku’ (di rakaat berikutnya), maka wajib baginya untuk turun, duduk di antara dua sujud,  dan sujud, lalu meneruskan salatnya. Adapun kalau dia tidak ingat belum sujud kedua di rakaat pertama kecuali setelah dia sampai pada duduk di antara dua sujud di rakaat kedua, maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat pertama, sehingga dia dianggap baru mendapatkan satu rakaat.Dan pada semua kondisi lupa mengerjakan rukun salat, atau dalam semua kondisi yang kami sebutkan di atas sebagai contoh, wajib baginya untuk sujud sahwi, karena adanya “tambahan” dalam salat dengan perbuatan tersebut. Sehingga sujud sahwi dilakukan setelah salam. Hal ini karena jika sujud sahwi dilakukan karena adanya tambahan, maka tempatnya adalah setelah salam sebagaimana ditunjukkan oleh sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atJeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat Sunnah***@Rumah Kasongan, 30 Muharram 1444/ 28 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 182-183, pertanyaan no. 97.🔍 Birrul Walidain, Ketika Sakit Dalam Islam, Doa Qunut Witir Berjamaah, Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Ceramah Singkat Tentang Wanita SholehahTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih shalatpanduan shalatrukun shalatShalatshalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Apakah hukum meninggalkan rukun salat?Jawaban:Jika meninggalkan rukun salat secara sengaja, maka salatnya batal. Salat menjadi batal karena semata-mata meninggalkan rukun salat (dengan sengaja, pent.). Adapun jika meninggalkan rukun salat karena lupa, maka dia harus kembali ke posisi rukun salat yang terlupa tersebut. Misalnya, seseorang lupa ruku’, kemudian dia (langsung) sujud ketika selesai membaca bacaan salat (ketika berdiri). Dia baru ingat ketika sujud kalau dia belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri (lagi), kemudian ruku’, kemudian menyempurnakan salatnya. Wajib baginya untuk kembali ke rukun salat yang dia tinggalkan tersebut (karena lupa, pent.), selama dia belum sampai ke rukun yang dia lupa tersebut pada rakaat kedua (rakaat berikutnya). Adapun jika sudah sampai ke rukun yang terlupa tersebut pada rakaat kedua (misalnya baru ingat kalau di rakaat pertama belum ruku’,  pent.), maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat sebelumnya yang dia meninggalkan rukun salat (karena lupa, pent.).(Contoh), seandainya dia (lupa) tidak ruku’, lalu bersujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua, kemudian ingat kalau belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri dan ruku’. Kemudian dia meneruskan salat dan menyempurnakannya. Adapun ketika dia tidak ingat kalau tidak ruku’ kecuali setelah dia ruku’ pada rakaat berikutnya, maka rakat kedua (rakaat berikutnya) tersebut statusnya adalah menggantikan rakaat sebelumnya yang dia lupa tidak ruku’.Demikian pula, jika seseorang lupa belum sujud kedua, kemudian dia langsung berdiri setelah sujud pertama. Ketika dia membaca (surat), dia ingat kalau dia belum sujud kedua dan juga belum duduk di antara dua sujud, maka wajib baginya untuk kembali lagi untuk duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kedua, dan menyempurnakan salatnya. Bahkan, seandainya dia tidak ingat kalau dia lupa belum sujud kedua dan belum duduk di antara dua sujud kecuali setelah ruku’ (di rakaat berikutnya), maka wajib baginya untuk turun, duduk di antara dua sujud,  dan sujud, lalu meneruskan salatnya. Adapun kalau dia tidak ingat belum sujud kedua di rakaat pertama kecuali setelah dia sampai pada duduk di antara dua sujud di rakaat kedua, maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat pertama, sehingga dia dianggap baru mendapatkan satu rakaat.Dan pada semua kondisi lupa mengerjakan rukun salat, atau dalam semua kondisi yang kami sebutkan di atas sebagai contoh, wajib baginya untuk sujud sahwi, karena adanya “tambahan” dalam salat dengan perbuatan tersebut. Sehingga sujud sahwi dilakukan setelah salam. Hal ini karena jika sujud sahwi dilakukan karena adanya tambahan, maka tempatnya adalah setelah salam sebagaimana ditunjukkan oleh sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atJeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat Sunnah***@Rumah Kasongan, 30 Muharram 1444/ 28 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 182-183, pertanyaan no. 97.🔍 Birrul Walidain, Ketika Sakit Dalam Islam, Doa Qunut Witir Berjamaah, Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Ceramah Singkat Tentang Wanita SholehahTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih shalatpanduan shalatrukun shalatShalatshalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat

Cara Shalat Berjamaah di Rumah dengan Keluarga – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Ia bertanya: “Terkadang aku shalat dengan ayahku di rumah,agar ayahku dapat meraih pahala shalat berjamaah. Apakah yang aku lakukan ini benar?”Ya, yang kamu lakukan benar. Tapi jangan juga melewatkan shalat jamaah (di masjid)Jangan lewatkan shalat berjamaah (di masjid). Kamu dapat mendirikan shalat dengan ayahmu sebelum iqamah, dan meniatkannya sebagai shalat sunah bagimu.Jadi, kamu shalat dengan ayahmu terlebih dahulu sebagai shalat sunah, lalu kamu dapat pergi untuk shalat berjamaah di masjid. Bisa juga kamu katakan kepada ayahmu, “Tunggu saya sebentar.” Lalu kamu pergi shalat berjamaah di masjid, kemudian kamu pulang untuk shalat dengan ayahmu sebagai shalat sunah. Jadi, jangan selalu atau sering melewatkan shalat berjamaahdengan tidak pergi ke masjid. Jangan seperti itu!Tapi shalatlah bersama ayahmu, lalu pergilah ke masjid. Lakukan keduanya.Semoga Allah Tabaraka wa Ta’ala memberkahimu dan memberkahi baktimu kepada ayahmu. ==== يَقُولُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أُصَلِّي مَعَ وَالِدِيْ فِي الْبَيْتِ لِيَنَالَ وَالِدِي أَجْرَ الْجَمَاعَةِ فَهَلْ فِعْلِيْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ صَحِيحٌ فِعْلُكَ وَلَكِنْ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ فَإِمَّا أَنْ تُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ قَبْلَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَتَنْوِي أَنَّهَا نَافِلَةٌ لَكَ فَتُصَلِّي مَعَهُ نَافِلَةً ثُمَّ تَذْهَبُ وَتُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَوْ تَقُولُ لِوَالِدِكَ اِنْتَظِرْنِي فَتَذْهَبُ تُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ تَأْتِي وَتُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ نَافِلَةً لَا تُفَوِّتْ الصَّلَاةَ دَائِمًا أَوْ غَالِبًا لَا تَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا صَلِّ مَعَ وَالِدِكَ وَاذْهَبْ إِلَى الْمَسْجِدِ اِفْعَلِ الْأَمْرَيْنِ وَعَسَى اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُبَارِكَ فِيكَ وَفِي بِرِّكَ لِوَالِدِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cara Shalat Berjamaah di Rumah dengan Keluarga – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Ia bertanya: “Terkadang aku shalat dengan ayahku di rumah,agar ayahku dapat meraih pahala shalat berjamaah. Apakah yang aku lakukan ini benar?”Ya, yang kamu lakukan benar. Tapi jangan juga melewatkan shalat jamaah (di masjid)Jangan lewatkan shalat berjamaah (di masjid). Kamu dapat mendirikan shalat dengan ayahmu sebelum iqamah, dan meniatkannya sebagai shalat sunah bagimu.Jadi, kamu shalat dengan ayahmu terlebih dahulu sebagai shalat sunah, lalu kamu dapat pergi untuk shalat berjamaah di masjid. Bisa juga kamu katakan kepada ayahmu, “Tunggu saya sebentar.” Lalu kamu pergi shalat berjamaah di masjid, kemudian kamu pulang untuk shalat dengan ayahmu sebagai shalat sunah. Jadi, jangan selalu atau sering melewatkan shalat berjamaahdengan tidak pergi ke masjid. Jangan seperti itu!Tapi shalatlah bersama ayahmu, lalu pergilah ke masjid. Lakukan keduanya.Semoga Allah Tabaraka wa Ta’ala memberkahimu dan memberkahi baktimu kepada ayahmu. ==== يَقُولُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أُصَلِّي مَعَ وَالِدِيْ فِي الْبَيْتِ لِيَنَالَ وَالِدِي أَجْرَ الْجَمَاعَةِ فَهَلْ فِعْلِيْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ صَحِيحٌ فِعْلُكَ وَلَكِنْ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ فَإِمَّا أَنْ تُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ قَبْلَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَتَنْوِي أَنَّهَا نَافِلَةٌ لَكَ فَتُصَلِّي مَعَهُ نَافِلَةً ثُمَّ تَذْهَبُ وَتُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَوْ تَقُولُ لِوَالِدِكَ اِنْتَظِرْنِي فَتَذْهَبُ تُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ تَأْتِي وَتُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ نَافِلَةً لَا تُفَوِّتْ الصَّلَاةَ دَائِمًا أَوْ غَالِبًا لَا تَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا صَلِّ مَعَ وَالِدِكَ وَاذْهَبْ إِلَى الْمَسْجِدِ اِفْعَلِ الْأَمْرَيْنِ وَعَسَى اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُبَارِكَ فِيكَ وَفِي بِرِّكَ لِوَالِدِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ia bertanya: “Terkadang aku shalat dengan ayahku di rumah,agar ayahku dapat meraih pahala shalat berjamaah. Apakah yang aku lakukan ini benar?”Ya, yang kamu lakukan benar. Tapi jangan juga melewatkan shalat jamaah (di masjid)Jangan lewatkan shalat berjamaah (di masjid). Kamu dapat mendirikan shalat dengan ayahmu sebelum iqamah, dan meniatkannya sebagai shalat sunah bagimu.Jadi, kamu shalat dengan ayahmu terlebih dahulu sebagai shalat sunah, lalu kamu dapat pergi untuk shalat berjamaah di masjid. Bisa juga kamu katakan kepada ayahmu, “Tunggu saya sebentar.” Lalu kamu pergi shalat berjamaah di masjid, kemudian kamu pulang untuk shalat dengan ayahmu sebagai shalat sunah. Jadi, jangan selalu atau sering melewatkan shalat berjamaahdengan tidak pergi ke masjid. Jangan seperti itu!Tapi shalatlah bersama ayahmu, lalu pergilah ke masjid. Lakukan keduanya.Semoga Allah Tabaraka wa Ta’ala memberkahimu dan memberkahi baktimu kepada ayahmu. ==== يَقُولُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أُصَلِّي مَعَ وَالِدِيْ فِي الْبَيْتِ لِيَنَالَ وَالِدِي أَجْرَ الْجَمَاعَةِ فَهَلْ فِعْلِيْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ صَحِيحٌ فِعْلُكَ وَلَكِنْ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ فَإِمَّا أَنْ تُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ قَبْلَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَتَنْوِي أَنَّهَا نَافِلَةٌ لَكَ فَتُصَلِّي مَعَهُ نَافِلَةً ثُمَّ تَذْهَبُ وَتُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَوْ تَقُولُ لِوَالِدِكَ اِنْتَظِرْنِي فَتَذْهَبُ تُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ تَأْتِي وَتُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ نَافِلَةً لَا تُفَوِّتْ الصَّلَاةَ دَائِمًا أَوْ غَالِبًا لَا تَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا صَلِّ مَعَ وَالِدِكَ وَاذْهَبْ إِلَى الْمَسْجِدِ اِفْعَلِ الْأَمْرَيْنِ وَعَسَى اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُبَارِكَ فِيكَ وَفِي بِرِّكَ لِوَالِدِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ia bertanya: “Terkadang aku shalat dengan ayahku di rumah,agar ayahku dapat meraih pahala shalat berjamaah. Apakah yang aku lakukan ini benar?”Ya, yang kamu lakukan benar. Tapi jangan juga melewatkan shalat jamaah (di masjid)Jangan lewatkan shalat berjamaah (di masjid). Kamu dapat mendirikan shalat dengan ayahmu sebelum iqamah, dan meniatkannya sebagai shalat sunah bagimu.Jadi, kamu shalat dengan ayahmu terlebih dahulu sebagai shalat sunah, lalu kamu dapat pergi untuk shalat berjamaah di masjid. Bisa juga kamu katakan kepada ayahmu, “Tunggu saya sebentar.” Lalu kamu pergi shalat berjamaah di masjid, kemudian kamu pulang untuk shalat dengan ayahmu sebagai shalat sunah. Jadi, jangan selalu atau sering melewatkan shalat berjamaahdengan tidak pergi ke masjid. Jangan seperti itu!Tapi shalatlah bersama ayahmu, lalu pergilah ke masjid. Lakukan keduanya.Semoga Allah Tabaraka wa Ta’ala memberkahimu dan memberkahi baktimu kepada ayahmu. ==== يَقُولُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أُصَلِّي مَعَ وَالِدِيْ فِي الْبَيْتِ لِيَنَالَ وَالِدِي أَجْرَ الْجَمَاعَةِ فَهَلْ فِعْلِيْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ صَحِيحٌ فِعْلُكَ وَلَكِنْ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ فَإِمَّا أَنْ تُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ قَبْلَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَتَنْوِي أَنَّهَا نَافِلَةٌ لَكَ فَتُصَلِّي مَعَهُ نَافِلَةً ثُمَّ تَذْهَبُ وَتُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَوْ تَقُولُ لِوَالِدِكَ اِنْتَظِرْنِي فَتَذْهَبُ تُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ تَأْتِي وَتُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ نَافِلَةً لَا تُفَوِّتْ الصَّلَاةَ دَائِمًا أَوْ غَالِبًا لَا تَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا صَلِّ مَعَ وَالِدِكَ وَاذْهَبْ إِلَى الْمَسْجِدِ اِفْعَلِ الْأَمْرَيْنِ وَعَسَى اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُبَارِكَ فِيكَ وَفِي بِرِّكَ لِوَالِدِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tidak Salat Bertahun-tahun Wajibkah Diqada? – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

Bagaimana hukum orang yang dulunya tidak salat,kemudian bertobat, lalu istikamah,apakah ia harus mengqada semua salat yang dia tinggalkandi masa-masa sebelumnya? Pendapat yang tepat, dia tidak berkewajiban mengqadanya.Apabila dia bertobat kepada Allah,cukup baginya menjaga salatnya di masa-masa berikutnya.Adapun sebelum tobat, dia adalah orang kafir. Barang siapa yang meninggalkan salat dengan sengaja, maka ia kafir,sebagaimana sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“(Pemisah) antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan salat.” (HR. At-Tirmidzi) Saat masih meninggalkan salat, dia adalah orang kafir.Ketika bertobat, maka dia masuk Islam lagi,dan ia harus menjaga salatnya di masa-masa berikutnya. ==== مَا حُكْمُ مَنْ كَانَ لَا يُصَلِّي ثُمَّ تَابَ وَاسْتَقَامَ هَلْ عَلَيْهِ أَنْ يَقْضِيَ الصَّلَوَاتِ الَّتِي فَاتَتْهُ فِي السَّنَوَاتِ الْمَاضِيَةِ؟ الصَّحِيحُ أَنَّهُ لَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنَّمَا إِذَا تَابَ إِلَى اللهِ يُحَافِظُ عَلَى الصَّلَوَاتِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ وَأَمَّا قَبْلَ التَّوْبَةِ هُوَ كَافِرٌ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا كَفَرَ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ كَانَ فِي تَرْكِهِ لِلصَّلَاةِ كَافِرًا فَلَمَّا تَابَ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ مِنْ جَدِيدٍ فَيُحَافِظُ عَلَى الصَّلَاةِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tidak Salat Bertahun-tahun Wajibkah Diqada? – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

Bagaimana hukum orang yang dulunya tidak salat,kemudian bertobat, lalu istikamah,apakah ia harus mengqada semua salat yang dia tinggalkandi masa-masa sebelumnya? Pendapat yang tepat, dia tidak berkewajiban mengqadanya.Apabila dia bertobat kepada Allah,cukup baginya menjaga salatnya di masa-masa berikutnya.Adapun sebelum tobat, dia adalah orang kafir. Barang siapa yang meninggalkan salat dengan sengaja, maka ia kafir,sebagaimana sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“(Pemisah) antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan salat.” (HR. At-Tirmidzi) Saat masih meninggalkan salat, dia adalah orang kafir.Ketika bertobat, maka dia masuk Islam lagi,dan ia harus menjaga salatnya di masa-masa berikutnya. ==== مَا حُكْمُ مَنْ كَانَ لَا يُصَلِّي ثُمَّ تَابَ وَاسْتَقَامَ هَلْ عَلَيْهِ أَنْ يَقْضِيَ الصَّلَوَاتِ الَّتِي فَاتَتْهُ فِي السَّنَوَاتِ الْمَاضِيَةِ؟ الصَّحِيحُ أَنَّهُ لَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنَّمَا إِذَا تَابَ إِلَى اللهِ يُحَافِظُ عَلَى الصَّلَوَاتِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ وَأَمَّا قَبْلَ التَّوْبَةِ هُوَ كَافِرٌ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا كَفَرَ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ كَانَ فِي تَرْكِهِ لِلصَّلَاةِ كَافِرًا فَلَمَّا تَابَ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ مِنْ جَدِيدٍ فَيُحَافِظُ عَلَى الصَّلَاةِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Bagaimana hukum orang yang dulunya tidak salat,kemudian bertobat, lalu istikamah,apakah ia harus mengqada semua salat yang dia tinggalkandi masa-masa sebelumnya? Pendapat yang tepat, dia tidak berkewajiban mengqadanya.Apabila dia bertobat kepada Allah,cukup baginya menjaga salatnya di masa-masa berikutnya.Adapun sebelum tobat, dia adalah orang kafir. Barang siapa yang meninggalkan salat dengan sengaja, maka ia kafir,sebagaimana sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“(Pemisah) antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan salat.” (HR. At-Tirmidzi) Saat masih meninggalkan salat, dia adalah orang kafir.Ketika bertobat, maka dia masuk Islam lagi,dan ia harus menjaga salatnya di masa-masa berikutnya. ==== مَا حُكْمُ مَنْ كَانَ لَا يُصَلِّي ثُمَّ تَابَ وَاسْتَقَامَ هَلْ عَلَيْهِ أَنْ يَقْضِيَ الصَّلَوَاتِ الَّتِي فَاتَتْهُ فِي السَّنَوَاتِ الْمَاضِيَةِ؟ الصَّحِيحُ أَنَّهُ لَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنَّمَا إِذَا تَابَ إِلَى اللهِ يُحَافِظُ عَلَى الصَّلَوَاتِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ وَأَمَّا قَبْلَ التَّوْبَةِ هُوَ كَافِرٌ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا كَفَرَ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ كَانَ فِي تَرْكِهِ لِلصَّلَاةِ كَافِرًا فَلَمَّا تَابَ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ مِنْ جَدِيدٍ فَيُحَافِظُ عَلَى الصَّلَاةِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Bagaimana hukum orang yang dulunya tidak salat,kemudian bertobat, lalu istikamah,apakah ia harus mengqada semua salat yang dia tinggalkandi masa-masa sebelumnya? Pendapat yang tepat, dia tidak berkewajiban mengqadanya.Apabila dia bertobat kepada Allah,cukup baginya menjaga salatnya di masa-masa berikutnya.Adapun sebelum tobat, dia adalah orang kafir. Barang siapa yang meninggalkan salat dengan sengaja, maka ia kafir,sebagaimana sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“(Pemisah) antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan salat.” (HR. At-Tirmidzi) Saat masih meninggalkan salat, dia adalah orang kafir.Ketika bertobat, maka dia masuk Islam lagi,dan ia harus menjaga salatnya di masa-masa berikutnya. ==== مَا حُكْمُ مَنْ كَانَ لَا يُصَلِّي ثُمَّ تَابَ وَاسْتَقَامَ هَلْ عَلَيْهِ أَنْ يَقْضِيَ الصَّلَوَاتِ الَّتِي فَاتَتْهُ فِي السَّنَوَاتِ الْمَاضِيَةِ؟ الصَّحِيحُ أَنَّهُ لَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنَّمَا إِذَا تَابَ إِلَى اللهِ يُحَافِظُ عَلَى الصَّلَوَاتِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ وَأَمَّا قَبْلَ التَّوْبَةِ هُوَ كَافِرٌ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا كَفَرَ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ كَانَ فِي تَرْكِهِ لِلصَّلَاةِ كَافِرًا فَلَمَّا تَابَ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ مِنْ جَدِيدٍ فَيُحَافِظُ عَلَى الصَّلَاةِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Apa Hukumnya Mengadakan Penggalangan Dana atau Open Donasi?

Pertanyaan: Di internet sedang ramai dibicarakan tentang hukum open donasi. Jadi, sebenarnya bagaimana hukumnya? Bolehkah kita menggalang donasi untuk pembangunan masjid atau untuk menyediakan prasarana dakwah? Demikian juga menggalang donasi untuk saudara yang sedang sakit atau terkena musibah, apakah dibolehkan? Ada yang mengatakan bahwa ini bentuk mengemis dan minta-minta yang terlarang. Mohon faedahnya, jazakumullah khairan. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Bedakan Antara Dua Hal Perlu dibedakan antara meminta untuk kepentingan sendiri dengan meminta untuk kepentingan orang lain. Jika penggalangan dana atau open donasi itu adalah untuk kepentingan pribadi atau untuk memperkaya diri, maka inilah yang terlarang. Ulama ijma bahwa meminta-minta jika bukan dalam keadaan darurat maka haram hukumnya.  Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya.” (HR. Bukhari no.1474, Muslim no.1040 ) Dari Auf bin Malik al-Asyja’i radhiyallahu ’anhu beliau berkata, قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا “Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-minta kepada orang lain sedikit pun’.” (HR. Muslim no. 1043) Dari Hubsyi bin Junaadah radhiyallahu ’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barang siapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api.” (HR. Ahmad no. 17508, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 802) An-Nawawi rahimahullah mengatakan: مَقْصُودُ الْبَابِ وَأَحَادِيثِهِ النَّهْيُ عَنِ السُّؤَالِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ “Maksud dari bab ini dan hadits-hadits yang ada di dalamnya adalah larangan meminta-minta. Ulama sepakat hukumnya terlarang jika tidak dalam keadaan darurat.” (Syarah Shahih Muslim, 7/127) Larangan meminta-minta yang dimaksud dalam hadits-hadits adalah jika untuk kepentingan pribadi atau memperkaya diri sendiri. Qayd (kriteria) ini jelas sekali disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ “Barang siapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak harta, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya.” (HR. Muslim no. 1041) Dalam riwayat lain, dari Hubsyi bin Junaadah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ “Barang siapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Maka silakan pilih sendiri, kurangilah meminta-minta atau perbanyaklah.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir no. 3504, dalam sanadnya terdapat kelemahan, namun dengan adanya syawahid terangkat menjadi shahih li ghairihi) Oleh karena itu al-‘Aini rahimahullah mengatakan: من سَأَلَ النَّاس لأجل التكثر فَهُوَ مَذْمُوم “Barang siapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri itulah yang tercela.” (Umdatul Qari, 9/56) Oleh karena itu, kalau kita perhatikan dalam hadits-hadits larangan meminta-minta, dikecualikan orang sangat-sangat fakir dan sangat berkebutuhan. Sebagaimana dalam hadits Hubsyi bin Junadah dalam Musnad Ahmad di atas. Demikian juga dalam hadits Samurah bin Jundub radhiallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa.” (HR. at-Tirmidzi no. 681, ia berkata: “hasan shahih”) Karena orang yang fakir atau orang yang dalam kondisi darurat, tentu tidak ada tujuan untuk menumpuk harta. Jelas tujuan mereka adalah untuk menutupi kefakiran dan kebutuhannya. Sehingga orang yang demikian tidak dilarang untuk minta-minta. Adapun open donasi atau penggalangan dana, tidak ada sama sekali tujuan untuk memperkaya diri para panitia penggalang dana. Mereka melakukan penggalangan dana untuk kepentingan orang lain atau untuk kepentingan kaum muslimin. Sehingga tidak termasuk dalam cakupan hadits-hadits larangan meminta-minta. Justru jelas kegiatan penggalangan dana itu masuk dalam keumuman dalil-dalil tentang perintah untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Allah ta’ala berfirman: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “Saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah saling tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran.” (QS. al-Maidah: 2) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: وَاللَّهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كانَ العَبْدُ في عَوْنِ أَخِيهِ “Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia senantiasa menolong saudaranya.” (HR. Muslim no.2699) Bahkan terdapat beberapa hadits yang mengisyaratkan bolehnya menyerukan orang-orang untuk membantu saudaranya yang kesusahan. Dari Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: اصنَعوا لآلِ جَعفرٍ طعامًا فقَدْ أتاهم ما يشغَلُهم أو أمرٌ يشغَلُهم “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far. Karena telah datang perkara yang menyibukkan mereka (yaitu kematian salah seorang keluarga).” (HR. Ibnu Majah no.1316, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah) Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: أُصِيبَ رَجُلٌ في عَهْدِ رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ في ثِمَارٍ ابْتَاعَهَا، فَكَثُرَ دَيْنُهُ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: تَصَدَّقُوا عليه، فَتَصَدَّقَ النَّاسُ عليه، فَلَمْ يَبْلُغْ ذلكَ وَفَاءَ دَيْنِهِ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ لِغُرَمَائِهِ: خُذُوا ما وَجَدْتُمْ، وَليسَ لَكُمْ إلَّا ذلكَ “Seorang laki-laki mendapat musibah pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait dengan buah yang telah dibelinya, sehingga hutangnya menjadi banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Bersedekahlah kalian kepadanya”. Lantas orang-orang bersedekah kepadanya, akan tetapi (harta sedekah itu) belum mencapai jumlah untuk melunasi hutangnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda kepada orang-orang yang dihutanginya: “Ambillah apa yang kalian dapatkan dan kalian tidak berhak mengambil lebih dari itu.” (HR. Muslim no. 1556) Maka penggalangan dana untuk memperbaiki jalan, untuk membantu biaya pengobatan orang yang sakit dan tidak mampu, untuk membangun masjid, untuk menyediakan prasarana dakwah, membangun pondok pesantren, untuk membantu korban bencana alam, dll. Ini semua masuk dalam bab at ta’awun ‘alal birri wat taqwa (tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) dan terdapat contohnya dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Penyelewengan Donasi Itu Bentuk Tidak Amanah Kita tidak pungkiri ada oknum-oknum para penggalang dana yang melakukan penipuan dan kecurangan. Mereka menampakkan kepada masyarakat bahwa sedang menggalang dana untuk kepentingan orang lain atau umum, namun ternyata untuk memperkaya diri mereka. Ini jelas keharamannya. Dari Khaulah al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Ada beberapa orang yang membelanjakan harta Allah di jalan yang tidak benar, maka hukuman bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118) Ibnu ‘Allan menjelaskan makna “harta Allah di jalan yang tidak benar” maksudnya: يتصرفون في أموال المسلمين بالباطل “Membelanjakan harta kaum muslimin di jalan yang batil.” (Dalilul Falihin) Kita juga tidak pungkiri ada oknum-oknum para penggalang dana yang tidak amanah. Niat mereka baik dan mereka juga menyalurkan dana kepada yang membutuhkan, namun mereka ambil sebagian dana untuk diri mereka. Ini juga merupakan kekeliruan. Dan ini butuh pembahasan fikih tersendiri mengenai “upah” bagi para penyalur donasi. Adanya dua macam kekeliruan dari oknum ini tidak lantas membuat aktivitas penggalangan dana itu haram seluruhnya. Fatwa para Ulama Para ulama besar membolehkan open donasi atau penggalangan dana untuk kepentingan kaum muslimin.  Fatwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz  Soal: “Kami memiliki kotak infak untuk kemaslahatan masjid. Ada orang khusus yang memutarkan kotak ini di tengah-tengah shaf sebelum shalat dimulai. Terkhusus di hari Jum’at. Apa hukum perbuatan ini? Karena telah diketahui bahwa jama’ah mendapati sedikit kesulitan dengan adanya hal tersebut”. Syaikh menjawab: “Perbuatan ini tidak tepat. Karena berarti ia ketika meminta jama’ah untuk menyumbang, ia telah mengganggu para jama’ah. Yaitu dengan ia memutari shaf hingga para jama’ah memberikan sesuatu dalam kotak ini untuk kemaslahatan masjid. Andaikan ini ditinggalkan, itu lebih baik. Dan ini perkara yang longgar. Imam bisa berkata: “Masjid ini sedang membutuhkan bantuan anda!”. Maka ini tidak mengapa. Karena ini adalah upaya kebaikan.” (Sumber: https://www.binbaz.org.sa/mat/16368) Perhatikan, dalam fatwa ini beliau menjelaskan bahwa jika imam masjid mengumumkan bahwa masjid sedang butuh dana dan butuh bantuan donasi, maka ini tidak mengapa. Fatwa asy-Syaikh Dr. Sulaiman ar-Ruhaili Soal: Apa hukum mengumpulkan donasi setelah shalat Jum’at untuk mencukupi kebutuhan masjid? Jawaban: Jika memang membutuhkan bantuan masyarakat untuk kemaslahatan masjid, tanpa menyibukkan mereka sehingga tidak bisa mendengarkan khutbah Jum’at, dan tidak dijadikan kebiasaan, maka tidak mengapa. Adapun menyibukkan orang-orang dengan menaruh kotak infak yang diputar di tengah para jama’ah, kemudian dikatakan: “jika anda tidak bersedekah, maka anda harus geser kotaknya ke sebelah”, kita katakan yang seperti ini tidak diperbolehkan. Tidak boleh menyibukkan orang-orang untuk memindahkan kotak amal, sehingga tidak bisa mendengarkan khutbah. Ini tidak diperbolehkan, hukumnya haram. Demikian juga jika menjadikan hal ini sebagai syi’ar dari shalat Jum’at. Sang imam akan menunggu dan berkata: “Wahai kaum muslimin, bersedekahlah untuk masjid! Berinfaklah di jalan Allah”. Ini tidak semestinya dilakukan. Adapun kadang-kadang menggalang dana, terlebih lagi jika memang ada sebabnya, semisal ada banyaknya tagihan, masjid belum bisa membayar listrik dan tidak ada yang menanggungnya, maka tidak mengapa melakukan penggalangan dana setelah shalat, namun jangan terus-menerus. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=cRSXIkEuZII) Fatwa Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i Soal: Sebagian imam masjid menggalang donasi untuk kemaslahatan masjid di Chechnya, Bosnia dan Herzegovina. Dan mereka menyalurkan donasinya melalui yayasan-yayasan yang bisa menyampaikannya ke Chechnya, Bosnia dan Herzegovina. Apa hukum penggalangan donasi melalui yayasan seperti ini, lebih lagi jika tempat penyalurannya sudah diketahui? Jawaban: Jika bisa dipercaya dan yayasan tersebut bisa dipercaya, maka ini perbuatan yang baik. Maka hukumnya boleh sebagaimana yang dilakukan sebagian saudara kita di Najd –semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan– mereka menggalang dana untuk Bosnia dan Herzegovina. Dan mereka mengatakan: “kami tidak menggalang dana untuk mendirikan negara Islam di sana, namun para korban yang menderita dan untuk para wanita yang tersingkap auratnya sehingga kami bisa membelikan mereka hijab.” Jadi jika bisa dipercaya, maka demikianlah hukumnya (boleh). Adapun jika mereka menyebutkan (donasi akan diserahkan pada) mudir di suatu yayasan Bosnia, atau perwakilan yayasan di Herzegovina, lalu mengajak orang untuk berdonasi untuk Bosnia dan Herzegovina dan akan diserahkan melalui mudir yayasan atau perwakilan yayasan (maka jangan lakukan). Yang lebih baik, jika seseorang punya harta (untuk berdonasi) hendaknya ia kirimkan kepada utusan khusus yang ada di sana sehingga si utusan ini bisa menyampaikan donasinya kepada keluarganya sendiri atau kepada para ikhwah yang bisa dipercaya, yang bukan termasuk aktivis hizbiyyun. Di Najd dan di Qashim, yang pada ikhwah ini punya perhatian pada urusan Islam dan kaum muslimin dan mereka mengumpulkan donasi di sana. Yang penting, ketahuilah perbuatan orang-orang hizbiyyin tersebut. Dari mana hizb (ormas) mereka bisa berdiri? Seorang Syaikh diberi fasilitas mobil agar bisa ikut pemilu. Dari mana dana untuk beli mobil ini? Yang lainnya, butuh untuk membangun kantor ormas. Yang lainnya, butuh untuk menikahkan ini dan itu. Dari mana dana-dana ini berasal? (Sumber: https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2577). Dalam fatwa ini jelas asy-Syaikh Muqbil bin Hadi membolehkan penggalangan dana. Yang beliau larang adalah penggalangan dana untuk tujuan mendukung hizbiyyun. Akhir kata, walaupun open donasi atau penggalangan dana itu dibolehkan, tetap saja tidak boleh bermudah-mudah dalam menggalang dana dan penggalangan dana tidak boleh menimbulkan kerusakan. Sehingga di antara adab dalam menggalang dana: Dilakukan hanya ketika sangat dibutuhkan. Niat ikhlas mengharap wajah Allah dalam menggalang dana, tujuannya untuk membantu orang lain atau menunjang kemaslahatan umat. Amanah dalam menyalurkan dana, tidak melakukan kecurangan, khianat, dan kelalaian. Dilakukan dengan cara yang elegan dan penuh wibawa, tidak menghinakan diri, memelas, dan memaksa. Tidak menggunakan cara-cara yang menjatuhkan wibawa para da’i dan umat Muslim, seperti menggalang dana dengan menggunakan musik dan acara-acara yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tidak menimbulkan gangguan pada orang lain. Tidak menimbulkan kecurigaan pada diri para donatur dan umat. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Khasiat Kitab Stambul, Apa Arti Dari Islam, Tata Cara Mengubur Ari Ari Bayi, Hukum Suami Melarang Istri Bertemu Orang Tuanya, Hujan Dalam Al Quran, Menikah Muda Sambil Kuliah Visited 1,674 times, 1 visit(s) today Post Views: 651 QRIS donasi Yufid

Apa Hukumnya Mengadakan Penggalangan Dana atau Open Donasi?

Pertanyaan: Di internet sedang ramai dibicarakan tentang hukum open donasi. Jadi, sebenarnya bagaimana hukumnya? Bolehkah kita menggalang donasi untuk pembangunan masjid atau untuk menyediakan prasarana dakwah? Demikian juga menggalang donasi untuk saudara yang sedang sakit atau terkena musibah, apakah dibolehkan? Ada yang mengatakan bahwa ini bentuk mengemis dan minta-minta yang terlarang. Mohon faedahnya, jazakumullah khairan. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Bedakan Antara Dua Hal Perlu dibedakan antara meminta untuk kepentingan sendiri dengan meminta untuk kepentingan orang lain. Jika penggalangan dana atau open donasi itu adalah untuk kepentingan pribadi atau untuk memperkaya diri, maka inilah yang terlarang. Ulama ijma bahwa meminta-minta jika bukan dalam keadaan darurat maka haram hukumnya.  Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya.” (HR. Bukhari no.1474, Muslim no.1040 ) Dari Auf bin Malik al-Asyja’i radhiyallahu ’anhu beliau berkata, قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا “Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-minta kepada orang lain sedikit pun’.” (HR. Muslim no. 1043) Dari Hubsyi bin Junaadah radhiyallahu ’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barang siapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api.” (HR. Ahmad no. 17508, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 802) An-Nawawi rahimahullah mengatakan: مَقْصُودُ الْبَابِ وَأَحَادِيثِهِ النَّهْيُ عَنِ السُّؤَالِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ “Maksud dari bab ini dan hadits-hadits yang ada di dalamnya adalah larangan meminta-minta. Ulama sepakat hukumnya terlarang jika tidak dalam keadaan darurat.” (Syarah Shahih Muslim, 7/127) Larangan meminta-minta yang dimaksud dalam hadits-hadits adalah jika untuk kepentingan pribadi atau memperkaya diri sendiri. Qayd (kriteria) ini jelas sekali disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ “Barang siapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak harta, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya.” (HR. Muslim no. 1041) Dalam riwayat lain, dari Hubsyi bin Junaadah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ “Barang siapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Maka silakan pilih sendiri, kurangilah meminta-minta atau perbanyaklah.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir no. 3504, dalam sanadnya terdapat kelemahan, namun dengan adanya syawahid terangkat menjadi shahih li ghairihi) Oleh karena itu al-‘Aini rahimahullah mengatakan: من سَأَلَ النَّاس لأجل التكثر فَهُوَ مَذْمُوم “Barang siapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri itulah yang tercela.” (Umdatul Qari, 9/56) Oleh karena itu, kalau kita perhatikan dalam hadits-hadits larangan meminta-minta, dikecualikan orang sangat-sangat fakir dan sangat berkebutuhan. Sebagaimana dalam hadits Hubsyi bin Junadah dalam Musnad Ahmad di atas. Demikian juga dalam hadits Samurah bin Jundub radhiallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa.” (HR. at-Tirmidzi no. 681, ia berkata: “hasan shahih”) Karena orang yang fakir atau orang yang dalam kondisi darurat, tentu tidak ada tujuan untuk menumpuk harta. Jelas tujuan mereka adalah untuk menutupi kefakiran dan kebutuhannya. Sehingga orang yang demikian tidak dilarang untuk minta-minta. Adapun open donasi atau penggalangan dana, tidak ada sama sekali tujuan untuk memperkaya diri para panitia penggalang dana. Mereka melakukan penggalangan dana untuk kepentingan orang lain atau untuk kepentingan kaum muslimin. Sehingga tidak termasuk dalam cakupan hadits-hadits larangan meminta-minta. Justru jelas kegiatan penggalangan dana itu masuk dalam keumuman dalil-dalil tentang perintah untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Allah ta’ala berfirman: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “Saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah saling tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran.” (QS. al-Maidah: 2) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: وَاللَّهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كانَ العَبْدُ في عَوْنِ أَخِيهِ “Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia senantiasa menolong saudaranya.” (HR. Muslim no.2699) Bahkan terdapat beberapa hadits yang mengisyaratkan bolehnya menyerukan orang-orang untuk membantu saudaranya yang kesusahan. Dari Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: اصنَعوا لآلِ جَعفرٍ طعامًا فقَدْ أتاهم ما يشغَلُهم أو أمرٌ يشغَلُهم “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far. Karena telah datang perkara yang menyibukkan mereka (yaitu kematian salah seorang keluarga).” (HR. Ibnu Majah no.1316, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah) Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: أُصِيبَ رَجُلٌ في عَهْدِ رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ في ثِمَارٍ ابْتَاعَهَا، فَكَثُرَ دَيْنُهُ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: تَصَدَّقُوا عليه، فَتَصَدَّقَ النَّاسُ عليه، فَلَمْ يَبْلُغْ ذلكَ وَفَاءَ دَيْنِهِ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ لِغُرَمَائِهِ: خُذُوا ما وَجَدْتُمْ، وَليسَ لَكُمْ إلَّا ذلكَ “Seorang laki-laki mendapat musibah pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait dengan buah yang telah dibelinya, sehingga hutangnya menjadi banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Bersedekahlah kalian kepadanya”. Lantas orang-orang bersedekah kepadanya, akan tetapi (harta sedekah itu) belum mencapai jumlah untuk melunasi hutangnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda kepada orang-orang yang dihutanginya: “Ambillah apa yang kalian dapatkan dan kalian tidak berhak mengambil lebih dari itu.” (HR. Muslim no. 1556) Maka penggalangan dana untuk memperbaiki jalan, untuk membantu biaya pengobatan orang yang sakit dan tidak mampu, untuk membangun masjid, untuk menyediakan prasarana dakwah, membangun pondok pesantren, untuk membantu korban bencana alam, dll. Ini semua masuk dalam bab at ta’awun ‘alal birri wat taqwa (tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) dan terdapat contohnya dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Penyelewengan Donasi Itu Bentuk Tidak Amanah Kita tidak pungkiri ada oknum-oknum para penggalang dana yang melakukan penipuan dan kecurangan. Mereka menampakkan kepada masyarakat bahwa sedang menggalang dana untuk kepentingan orang lain atau umum, namun ternyata untuk memperkaya diri mereka. Ini jelas keharamannya. Dari Khaulah al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Ada beberapa orang yang membelanjakan harta Allah di jalan yang tidak benar, maka hukuman bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118) Ibnu ‘Allan menjelaskan makna “harta Allah di jalan yang tidak benar” maksudnya: يتصرفون في أموال المسلمين بالباطل “Membelanjakan harta kaum muslimin di jalan yang batil.” (Dalilul Falihin) Kita juga tidak pungkiri ada oknum-oknum para penggalang dana yang tidak amanah. Niat mereka baik dan mereka juga menyalurkan dana kepada yang membutuhkan, namun mereka ambil sebagian dana untuk diri mereka. Ini juga merupakan kekeliruan. Dan ini butuh pembahasan fikih tersendiri mengenai “upah” bagi para penyalur donasi. Adanya dua macam kekeliruan dari oknum ini tidak lantas membuat aktivitas penggalangan dana itu haram seluruhnya. Fatwa para Ulama Para ulama besar membolehkan open donasi atau penggalangan dana untuk kepentingan kaum muslimin.  Fatwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz  Soal: “Kami memiliki kotak infak untuk kemaslahatan masjid. Ada orang khusus yang memutarkan kotak ini di tengah-tengah shaf sebelum shalat dimulai. Terkhusus di hari Jum’at. Apa hukum perbuatan ini? Karena telah diketahui bahwa jama’ah mendapati sedikit kesulitan dengan adanya hal tersebut”. Syaikh menjawab: “Perbuatan ini tidak tepat. Karena berarti ia ketika meminta jama’ah untuk menyumbang, ia telah mengganggu para jama’ah. Yaitu dengan ia memutari shaf hingga para jama’ah memberikan sesuatu dalam kotak ini untuk kemaslahatan masjid. Andaikan ini ditinggalkan, itu lebih baik. Dan ini perkara yang longgar. Imam bisa berkata: “Masjid ini sedang membutuhkan bantuan anda!”. Maka ini tidak mengapa. Karena ini adalah upaya kebaikan.” (Sumber: https://www.binbaz.org.sa/mat/16368) Perhatikan, dalam fatwa ini beliau menjelaskan bahwa jika imam masjid mengumumkan bahwa masjid sedang butuh dana dan butuh bantuan donasi, maka ini tidak mengapa. Fatwa asy-Syaikh Dr. Sulaiman ar-Ruhaili Soal: Apa hukum mengumpulkan donasi setelah shalat Jum’at untuk mencukupi kebutuhan masjid? Jawaban: Jika memang membutuhkan bantuan masyarakat untuk kemaslahatan masjid, tanpa menyibukkan mereka sehingga tidak bisa mendengarkan khutbah Jum’at, dan tidak dijadikan kebiasaan, maka tidak mengapa. Adapun menyibukkan orang-orang dengan menaruh kotak infak yang diputar di tengah para jama’ah, kemudian dikatakan: “jika anda tidak bersedekah, maka anda harus geser kotaknya ke sebelah”, kita katakan yang seperti ini tidak diperbolehkan. Tidak boleh menyibukkan orang-orang untuk memindahkan kotak amal, sehingga tidak bisa mendengarkan khutbah. Ini tidak diperbolehkan, hukumnya haram. Demikian juga jika menjadikan hal ini sebagai syi’ar dari shalat Jum’at. Sang imam akan menunggu dan berkata: “Wahai kaum muslimin, bersedekahlah untuk masjid! Berinfaklah di jalan Allah”. Ini tidak semestinya dilakukan. Adapun kadang-kadang menggalang dana, terlebih lagi jika memang ada sebabnya, semisal ada banyaknya tagihan, masjid belum bisa membayar listrik dan tidak ada yang menanggungnya, maka tidak mengapa melakukan penggalangan dana setelah shalat, namun jangan terus-menerus. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=cRSXIkEuZII) Fatwa Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i Soal: Sebagian imam masjid menggalang donasi untuk kemaslahatan masjid di Chechnya, Bosnia dan Herzegovina. Dan mereka menyalurkan donasinya melalui yayasan-yayasan yang bisa menyampaikannya ke Chechnya, Bosnia dan Herzegovina. Apa hukum penggalangan donasi melalui yayasan seperti ini, lebih lagi jika tempat penyalurannya sudah diketahui? Jawaban: Jika bisa dipercaya dan yayasan tersebut bisa dipercaya, maka ini perbuatan yang baik. Maka hukumnya boleh sebagaimana yang dilakukan sebagian saudara kita di Najd –semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan– mereka menggalang dana untuk Bosnia dan Herzegovina. Dan mereka mengatakan: “kami tidak menggalang dana untuk mendirikan negara Islam di sana, namun para korban yang menderita dan untuk para wanita yang tersingkap auratnya sehingga kami bisa membelikan mereka hijab.” Jadi jika bisa dipercaya, maka demikianlah hukumnya (boleh). Adapun jika mereka menyebutkan (donasi akan diserahkan pada) mudir di suatu yayasan Bosnia, atau perwakilan yayasan di Herzegovina, lalu mengajak orang untuk berdonasi untuk Bosnia dan Herzegovina dan akan diserahkan melalui mudir yayasan atau perwakilan yayasan (maka jangan lakukan). Yang lebih baik, jika seseorang punya harta (untuk berdonasi) hendaknya ia kirimkan kepada utusan khusus yang ada di sana sehingga si utusan ini bisa menyampaikan donasinya kepada keluarganya sendiri atau kepada para ikhwah yang bisa dipercaya, yang bukan termasuk aktivis hizbiyyun. Di Najd dan di Qashim, yang pada ikhwah ini punya perhatian pada urusan Islam dan kaum muslimin dan mereka mengumpulkan donasi di sana. Yang penting, ketahuilah perbuatan orang-orang hizbiyyin tersebut. Dari mana hizb (ormas) mereka bisa berdiri? Seorang Syaikh diberi fasilitas mobil agar bisa ikut pemilu. Dari mana dana untuk beli mobil ini? Yang lainnya, butuh untuk membangun kantor ormas. Yang lainnya, butuh untuk menikahkan ini dan itu. Dari mana dana-dana ini berasal? (Sumber: https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2577). Dalam fatwa ini jelas asy-Syaikh Muqbil bin Hadi membolehkan penggalangan dana. Yang beliau larang adalah penggalangan dana untuk tujuan mendukung hizbiyyun. Akhir kata, walaupun open donasi atau penggalangan dana itu dibolehkan, tetap saja tidak boleh bermudah-mudah dalam menggalang dana dan penggalangan dana tidak boleh menimbulkan kerusakan. Sehingga di antara adab dalam menggalang dana: Dilakukan hanya ketika sangat dibutuhkan. Niat ikhlas mengharap wajah Allah dalam menggalang dana, tujuannya untuk membantu orang lain atau menunjang kemaslahatan umat. Amanah dalam menyalurkan dana, tidak melakukan kecurangan, khianat, dan kelalaian. Dilakukan dengan cara yang elegan dan penuh wibawa, tidak menghinakan diri, memelas, dan memaksa. Tidak menggunakan cara-cara yang menjatuhkan wibawa para da’i dan umat Muslim, seperti menggalang dana dengan menggunakan musik dan acara-acara yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tidak menimbulkan gangguan pada orang lain. Tidak menimbulkan kecurigaan pada diri para donatur dan umat. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Khasiat Kitab Stambul, Apa Arti Dari Islam, Tata Cara Mengubur Ari Ari Bayi, Hukum Suami Melarang Istri Bertemu Orang Tuanya, Hujan Dalam Al Quran, Menikah Muda Sambil Kuliah Visited 1,674 times, 1 visit(s) today Post Views: 651 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Di internet sedang ramai dibicarakan tentang hukum open donasi. Jadi, sebenarnya bagaimana hukumnya? Bolehkah kita menggalang donasi untuk pembangunan masjid atau untuk menyediakan prasarana dakwah? Demikian juga menggalang donasi untuk saudara yang sedang sakit atau terkena musibah, apakah dibolehkan? Ada yang mengatakan bahwa ini bentuk mengemis dan minta-minta yang terlarang. Mohon faedahnya, jazakumullah khairan. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Bedakan Antara Dua Hal Perlu dibedakan antara meminta untuk kepentingan sendiri dengan meminta untuk kepentingan orang lain. Jika penggalangan dana atau open donasi itu adalah untuk kepentingan pribadi atau untuk memperkaya diri, maka inilah yang terlarang. Ulama ijma bahwa meminta-minta jika bukan dalam keadaan darurat maka haram hukumnya.  Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya.” (HR. Bukhari no.1474, Muslim no.1040 ) Dari Auf bin Malik al-Asyja’i radhiyallahu ’anhu beliau berkata, قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا “Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-minta kepada orang lain sedikit pun’.” (HR. Muslim no. 1043) Dari Hubsyi bin Junaadah radhiyallahu ’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barang siapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api.” (HR. Ahmad no. 17508, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 802) An-Nawawi rahimahullah mengatakan: مَقْصُودُ الْبَابِ وَأَحَادِيثِهِ النَّهْيُ عَنِ السُّؤَالِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ “Maksud dari bab ini dan hadits-hadits yang ada di dalamnya adalah larangan meminta-minta. Ulama sepakat hukumnya terlarang jika tidak dalam keadaan darurat.” (Syarah Shahih Muslim, 7/127) Larangan meminta-minta yang dimaksud dalam hadits-hadits adalah jika untuk kepentingan pribadi atau memperkaya diri sendiri. Qayd (kriteria) ini jelas sekali disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ “Barang siapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak harta, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya.” (HR. Muslim no. 1041) Dalam riwayat lain, dari Hubsyi bin Junaadah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ “Barang siapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Maka silakan pilih sendiri, kurangilah meminta-minta atau perbanyaklah.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir no. 3504, dalam sanadnya terdapat kelemahan, namun dengan adanya syawahid terangkat menjadi shahih li ghairihi) Oleh karena itu al-‘Aini rahimahullah mengatakan: من سَأَلَ النَّاس لأجل التكثر فَهُوَ مَذْمُوم “Barang siapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri itulah yang tercela.” (Umdatul Qari, 9/56) Oleh karena itu, kalau kita perhatikan dalam hadits-hadits larangan meminta-minta, dikecualikan orang sangat-sangat fakir dan sangat berkebutuhan. Sebagaimana dalam hadits Hubsyi bin Junadah dalam Musnad Ahmad di atas. Demikian juga dalam hadits Samurah bin Jundub radhiallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa.” (HR. at-Tirmidzi no. 681, ia berkata: “hasan shahih”) Karena orang yang fakir atau orang yang dalam kondisi darurat, tentu tidak ada tujuan untuk menumpuk harta. Jelas tujuan mereka adalah untuk menutupi kefakiran dan kebutuhannya. Sehingga orang yang demikian tidak dilarang untuk minta-minta. Adapun open donasi atau penggalangan dana, tidak ada sama sekali tujuan untuk memperkaya diri para panitia penggalang dana. Mereka melakukan penggalangan dana untuk kepentingan orang lain atau untuk kepentingan kaum muslimin. Sehingga tidak termasuk dalam cakupan hadits-hadits larangan meminta-minta. Justru jelas kegiatan penggalangan dana itu masuk dalam keumuman dalil-dalil tentang perintah untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Allah ta’ala berfirman: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “Saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah saling tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran.” (QS. al-Maidah: 2) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: وَاللَّهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كانَ العَبْدُ في عَوْنِ أَخِيهِ “Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia senantiasa menolong saudaranya.” (HR. Muslim no.2699) Bahkan terdapat beberapa hadits yang mengisyaratkan bolehnya menyerukan orang-orang untuk membantu saudaranya yang kesusahan. Dari Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: اصنَعوا لآلِ جَعفرٍ طعامًا فقَدْ أتاهم ما يشغَلُهم أو أمرٌ يشغَلُهم “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far. Karena telah datang perkara yang menyibukkan mereka (yaitu kematian salah seorang keluarga).” (HR. Ibnu Majah no.1316, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah) Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: أُصِيبَ رَجُلٌ في عَهْدِ رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ في ثِمَارٍ ابْتَاعَهَا، فَكَثُرَ دَيْنُهُ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: تَصَدَّقُوا عليه، فَتَصَدَّقَ النَّاسُ عليه، فَلَمْ يَبْلُغْ ذلكَ وَفَاءَ دَيْنِهِ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ لِغُرَمَائِهِ: خُذُوا ما وَجَدْتُمْ، وَليسَ لَكُمْ إلَّا ذلكَ “Seorang laki-laki mendapat musibah pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait dengan buah yang telah dibelinya, sehingga hutangnya menjadi banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Bersedekahlah kalian kepadanya”. Lantas orang-orang bersedekah kepadanya, akan tetapi (harta sedekah itu) belum mencapai jumlah untuk melunasi hutangnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda kepada orang-orang yang dihutanginya: “Ambillah apa yang kalian dapatkan dan kalian tidak berhak mengambil lebih dari itu.” (HR. Muslim no. 1556) Maka penggalangan dana untuk memperbaiki jalan, untuk membantu biaya pengobatan orang yang sakit dan tidak mampu, untuk membangun masjid, untuk menyediakan prasarana dakwah, membangun pondok pesantren, untuk membantu korban bencana alam, dll. Ini semua masuk dalam bab at ta’awun ‘alal birri wat taqwa (tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) dan terdapat contohnya dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Penyelewengan Donasi Itu Bentuk Tidak Amanah Kita tidak pungkiri ada oknum-oknum para penggalang dana yang melakukan penipuan dan kecurangan. Mereka menampakkan kepada masyarakat bahwa sedang menggalang dana untuk kepentingan orang lain atau umum, namun ternyata untuk memperkaya diri mereka. Ini jelas keharamannya. Dari Khaulah al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Ada beberapa orang yang membelanjakan harta Allah di jalan yang tidak benar, maka hukuman bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118) Ibnu ‘Allan menjelaskan makna “harta Allah di jalan yang tidak benar” maksudnya: يتصرفون في أموال المسلمين بالباطل “Membelanjakan harta kaum muslimin di jalan yang batil.” (Dalilul Falihin) Kita juga tidak pungkiri ada oknum-oknum para penggalang dana yang tidak amanah. Niat mereka baik dan mereka juga menyalurkan dana kepada yang membutuhkan, namun mereka ambil sebagian dana untuk diri mereka. Ini juga merupakan kekeliruan. Dan ini butuh pembahasan fikih tersendiri mengenai “upah” bagi para penyalur donasi. Adanya dua macam kekeliruan dari oknum ini tidak lantas membuat aktivitas penggalangan dana itu haram seluruhnya. Fatwa para Ulama Para ulama besar membolehkan open donasi atau penggalangan dana untuk kepentingan kaum muslimin.  Fatwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz  Soal: “Kami memiliki kotak infak untuk kemaslahatan masjid. Ada orang khusus yang memutarkan kotak ini di tengah-tengah shaf sebelum shalat dimulai. Terkhusus di hari Jum’at. Apa hukum perbuatan ini? Karena telah diketahui bahwa jama’ah mendapati sedikit kesulitan dengan adanya hal tersebut”. Syaikh menjawab: “Perbuatan ini tidak tepat. Karena berarti ia ketika meminta jama’ah untuk menyumbang, ia telah mengganggu para jama’ah. Yaitu dengan ia memutari shaf hingga para jama’ah memberikan sesuatu dalam kotak ini untuk kemaslahatan masjid. Andaikan ini ditinggalkan, itu lebih baik. Dan ini perkara yang longgar. Imam bisa berkata: “Masjid ini sedang membutuhkan bantuan anda!”. Maka ini tidak mengapa. Karena ini adalah upaya kebaikan.” (Sumber: https://www.binbaz.org.sa/mat/16368) Perhatikan, dalam fatwa ini beliau menjelaskan bahwa jika imam masjid mengumumkan bahwa masjid sedang butuh dana dan butuh bantuan donasi, maka ini tidak mengapa. Fatwa asy-Syaikh Dr. Sulaiman ar-Ruhaili Soal: Apa hukum mengumpulkan donasi setelah shalat Jum’at untuk mencukupi kebutuhan masjid? Jawaban: Jika memang membutuhkan bantuan masyarakat untuk kemaslahatan masjid, tanpa menyibukkan mereka sehingga tidak bisa mendengarkan khutbah Jum’at, dan tidak dijadikan kebiasaan, maka tidak mengapa. Adapun menyibukkan orang-orang dengan menaruh kotak infak yang diputar di tengah para jama’ah, kemudian dikatakan: “jika anda tidak bersedekah, maka anda harus geser kotaknya ke sebelah”, kita katakan yang seperti ini tidak diperbolehkan. Tidak boleh menyibukkan orang-orang untuk memindahkan kotak amal, sehingga tidak bisa mendengarkan khutbah. Ini tidak diperbolehkan, hukumnya haram. Demikian juga jika menjadikan hal ini sebagai syi’ar dari shalat Jum’at. Sang imam akan menunggu dan berkata: “Wahai kaum muslimin, bersedekahlah untuk masjid! Berinfaklah di jalan Allah”. Ini tidak semestinya dilakukan. Adapun kadang-kadang menggalang dana, terlebih lagi jika memang ada sebabnya, semisal ada banyaknya tagihan, masjid belum bisa membayar listrik dan tidak ada yang menanggungnya, maka tidak mengapa melakukan penggalangan dana setelah shalat, namun jangan terus-menerus. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=cRSXIkEuZII) Fatwa Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i Soal: Sebagian imam masjid menggalang donasi untuk kemaslahatan masjid di Chechnya, Bosnia dan Herzegovina. Dan mereka menyalurkan donasinya melalui yayasan-yayasan yang bisa menyampaikannya ke Chechnya, Bosnia dan Herzegovina. Apa hukum penggalangan donasi melalui yayasan seperti ini, lebih lagi jika tempat penyalurannya sudah diketahui? Jawaban: Jika bisa dipercaya dan yayasan tersebut bisa dipercaya, maka ini perbuatan yang baik. Maka hukumnya boleh sebagaimana yang dilakukan sebagian saudara kita di Najd –semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan– mereka menggalang dana untuk Bosnia dan Herzegovina. Dan mereka mengatakan: “kami tidak menggalang dana untuk mendirikan negara Islam di sana, namun para korban yang menderita dan untuk para wanita yang tersingkap auratnya sehingga kami bisa membelikan mereka hijab.” Jadi jika bisa dipercaya, maka demikianlah hukumnya (boleh). Adapun jika mereka menyebutkan (donasi akan diserahkan pada) mudir di suatu yayasan Bosnia, atau perwakilan yayasan di Herzegovina, lalu mengajak orang untuk berdonasi untuk Bosnia dan Herzegovina dan akan diserahkan melalui mudir yayasan atau perwakilan yayasan (maka jangan lakukan). Yang lebih baik, jika seseorang punya harta (untuk berdonasi) hendaknya ia kirimkan kepada utusan khusus yang ada di sana sehingga si utusan ini bisa menyampaikan donasinya kepada keluarganya sendiri atau kepada para ikhwah yang bisa dipercaya, yang bukan termasuk aktivis hizbiyyun. Di Najd dan di Qashim, yang pada ikhwah ini punya perhatian pada urusan Islam dan kaum muslimin dan mereka mengumpulkan donasi di sana. Yang penting, ketahuilah perbuatan orang-orang hizbiyyin tersebut. Dari mana hizb (ormas) mereka bisa berdiri? Seorang Syaikh diberi fasilitas mobil agar bisa ikut pemilu. Dari mana dana untuk beli mobil ini? Yang lainnya, butuh untuk membangun kantor ormas. Yang lainnya, butuh untuk menikahkan ini dan itu. Dari mana dana-dana ini berasal? (Sumber: https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2577). Dalam fatwa ini jelas asy-Syaikh Muqbil bin Hadi membolehkan penggalangan dana. Yang beliau larang adalah penggalangan dana untuk tujuan mendukung hizbiyyun. Akhir kata, walaupun open donasi atau penggalangan dana itu dibolehkan, tetap saja tidak boleh bermudah-mudah dalam menggalang dana dan penggalangan dana tidak boleh menimbulkan kerusakan. Sehingga di antara adab dalam menggalang dana: Dilakukan hanya ketika sangat dibutuhkan. Niat ikhlas mengharap wajah Allah dalam menggalang dana, tujuannya untuk membantu orang lain atau menunjang kemaslahatan umat. Amanah dalam menyalurkan dana, tidak melakukan kecurangan, khianat, dan kelalaian. Dilakukan dengan cara yang elegan dan penuh wibawa, tidak menghinakan diri, memelas, dan memaksa. Tidak menggunakan cara-cara yang menjatuhkan wibawa para da’i dan umat Muslim, seperti menggalang dana dengan menggunakan musik dan acara-acara yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tidak menimbulkan gangguan pada orang lain. Tidak menimbulkan kecurigaan pada diri para donatur dan umat. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Khasiat Kitab Stambul, Apa Arti Dari Islam, Tata Cara Mengubur Ari Ari Bayi, Hukum Suami Melarang Istri Bertemu Orang Tuanya, Hujan Dalam Al Quran, Menikah Muda Sambil Kuliah Visited 1,674 times, 1 visit(s) today Post Views: 651 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Di internet sedang ramai dibicarakan tentang hukum open donasi. Jadi, sebenarnya bagaimana hukumnya? Bolehkah kita menggalang donasi untuk pembangunan masjid atau untuk menyediakan prasarana dakwah? Demikian juga menggalang donasi untuk saudara yang sedang sakit atau terkena musibah, apakah dibolehkan? Ada yang mengatakan bahwa ini bentuk mengemis dan minta-minta yang terlarang. Mohon faedahnya, jazakumullah khairan. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Bedakan Antara Dua Hal Perlu dibedakan antara meminta untuk kepentingan sendiri dengan meminta untuk kepentingan orang lain. Jika penggalangan dana atau open donasi itu adalah untuk kepentingan pribadi atau untuk memperkaya diri, maka inilah yang terlarang. Ulama ijma bahwa meminta-minta jika bukan dalam keadaan darurat maka haram hukumnya.  Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya.” (HR. Bukhari no.1474, Muslim no.1040 ) Dari Auf bin Malik al-Asyja’i radhiyallahu ’anhu beliau berkata, قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا “Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-minta kepada orang lain sedikit pun’.” (HR. Muslim no. 1043) Dari Hubsyi bin Junaadah radhiyallahu ’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barang siapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api.” (HR. Ahmad no. 17508, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 802) An-Nawawi rahimahullah mengatakan: مَقْصُودُ الْبَابِ وَأَحَادِيثِهِ النَّهْيُ عَنِ السُّؤَالِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ “Maksud dari bab ini dan hadits-hadits yang ada di dalamnya adalah larangan meminta-minta. Ulama sepakat hukumnya terlarang jika tidak dalam keadaan darurat.” (Syarah Shahih Muslim, 7/127) Larangan meminta-minta yang dimaksud dalam hadits-hadits adalah jika untuk kepentingan pribadi atau memperkaya diri sendiri. Qayd (kriteria) ini jelas sekali disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ “Barang siapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak harta, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya.” (HR. Muslim no. 1041) Dalam riwayat lain, dari Hubsyi bin Junaadah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ “Barang siapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Maka silakan pilih sendiri, kurangilah meminta-minta atau perbanyaklah.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir no. 3504, dalam sanadnya terdapat kelemahan, namun dengan adanya syawahid terangkat menjadi shahih li ghairihi) Oleh karena itu al-‘Aini rahimahullah mengatakan: من سَأَلَ النَّاس لأجل التكثر فَهُوَ مَذْمُوم “Barang siapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri itulah yang tercela.” (Umdatul Qari, 9/56) Oleh karena itu, kalau kita perhatikan dalam hadits-hadits larangan meminta-minta, dikecualikan orang sangat-sangat fakir dan sangat berkebutuhan. Sebagaimana dalam hadits Hubsyi bin Junadah dalam Musnad Ahmad di atas. Demikian juga dalam hadits Samurah bin Jundub radhiallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa.” (HR. at-Tirmidzi no. 681, ia berkata: “hasan shahih”) Karena orang yang fakir atau orang yang dalam kondisi darurat, tentu tidak ada tujuan untuk menumpuk harta. Jelas tujuan mereka adalah untuk menutupi kefakiran dan kebutuhannya. Sehingga orang yang demikian tidak dilarang untuk minta-minta. Adapun open donasi atau penggalangan dana, tidak ada sama sekali tujuan untuk memperkaya diri para panitia penggalang dana. Mereka melakukan penggalangan dana untuk kepentingan orang lain atau untuk kepentingan kaum muslimin. Sehingga tidak termasuk dalam cakupan hadits-hadits larangan meminta-minta. Justru jelas kegiatan penggalangan dana itu masuk dalam keumuman dalil-dalil tentang perintah untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Allah ta’ala berfirman: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “Saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah saling tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran.” (QS. al-Maidah: 2) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: وَاللَّهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كانَ العَبْدُ في عَوْنِ أَخِيهِ “Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia senantiasa menolong saudaranya.” (HR. Muslim no.2699) Bahkan terdapat beberapa hadits yang mengisyaratkan bolehnya menyerukan orang-orang untuk membantu saudaranya yang kesusahan. Dari Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: اصنَعوا لآلِ جَعفرٍ طعامًا فقَدْ أتاهم ما يشغَلُهم أو أمرٌ يشغَلُهم “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far. Karena telah datang perkara yang menyibukkan mereka (yaitu kematian salah seorang keluarga).” (HR. Ibnu Majah no.1316, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah) Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: أُصِيبَ رَجُلٌ في عَهْدِ رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ في ثِمَارٍ ابْتَاعَهَا، فَكَثُرَ دَيْنُهُ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: تَصَدَّقُوا عليه، فَتَصَدَّقَ النَّاسُ عليه، فَلَمْ يَبْلُغْ ذلكَ وَفَاءَ دَيْنِهِ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ لِغُرَمَائِهِ: خُذُوا ما وَجَدْتُمْ، وَليسَ لَكُمْ إلَّا ذلكَ “Seorang laki-laki mendapat musibah pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait dengan buah yang telah dibelinya, sehingga hutangnya menjadi banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Bersedekahlah kalian kepadanya”. Lantas orang-orang bersedekah kepadanya, akan tetapi (harta sedekah itu) belum mencapai jumlah untuk melunasi hutangnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda kepada orang-orang yang dihutanginya: “Ambillah apa yang kalian dapatkan dan kalian tidak berhak mengambil lebih dari itu.” (HR. Muslim no. 1556) Maka penggalangan dana untuk memperbaiki jalan, untuk membantu biaya pengobatan orang yang sakit dan tidak mampu, untuk membangun masjid, untuk menyediakan prasarana dakwah, membangun pondok pesantren, untuk membantu korban bencana alam, dll. Ini semua masuk dalam bab at ta’awun ‘alal birri wat taqwa (tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) dan terdapat contohnya dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Penyelewengan Donasi Itu Bentuk Tidak Amanah Kita tidak pungkiri ada oknum-oknum para penggalang dana yang melakukan penipuan dan kecurangan. Mereka menampakkan kepada masyarakat bahwa sedang menggalang dana untuk kepentingan orang lain atau umum, namun ternyata untuk memperkaya diri mereka. Ini jelas keharamannya. Dari Khaulah al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Ada beberapa orang yang membelanjakan harta Allah di jalan yang tidak benar, maka hukuman bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118) Ibnu ‘Allan menjelaskan makna “harta Allah di jalan yang tidak benar” maksudnya: يتصرفون في أموال المسلمين بالباطل “Membelanjakan harta kaum muslimin di jalan yang batil.” (Dalilul Falihin) Kita juga tidak pungkiri ada oknum-oknum para penggalang dana yang tidak amanah. Niat mereka baik dan mereka juga menyalurkan dana kepada yang membutuhkan, namun mereka ambil sebagian dana untuk diri mereka. Ini juga merupakan kekeliruan. Dan ini butuh pembahasan fikih tersendiri mengenai “upah” bagi para penyalur donasi. Adanya dua macam kekeliruan dari oknum ini tidak lantas membuat aktivitas penggalangan dana itu haram seluruhnya. Fatwa para Ulama Para ulama besar membolehkan open donasi atau penggalangan dana untuk kepentingan kaum muslimin.  Fatwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz  Soal: “Kami memiliki kotak infak untuk kemaslahatan masjid. Ada orang khusus yang memutarkan kotak ini di tengah-tengah shaf sebelum shalat dimulai. Terkhusus di hari Jum’at. Apa hukum perbuatan ini? Karena telah diketahui bahwa jama’ah mendapati sedikit kesulitan dengan adanya hal tersebut”. Syaikh menjawab: “Perbuatan ini tidak tepat. Karena berarti ia ketika meminta jama’ah untuk menyumbang, ia telah mengganggu para jama’ah. Yaitu dengan ia memutari shaf hingga para jama’ah memberikan sesuatu dalam kotak ini untuk kemaslahatan masjid. Andaikan ini ditinggalkan, itu lebih baik. Dan ini perkara yang longgar. Imam bisa berkata: “Masjid ini sedang membutuhkan bantuan anda!”. Maka ini tidak mengapa. Karena ini adalah upaya kebaikan.” (Sumber: https://www.binbaz.org.sa/mat/16368) Perhatikan, dalam fatwa ini beliau menjelaskan bahwa jika imam masjid mengumumkan bahwa masjid sedang butuh dana dan butuh bantuan donasi, maka ini tidak mengapa. Fatwa asy-Syaikh Dr. Sulaiman ar-Ruhaili Soal: Apa hukum mengumpulkan donasi setelah shalat Jum’at untuk mencukupi kebutuhan masjid? Jawaban: Jika memang membutuhkan bantuan masyarakat untuk kemaslahatan masjid, tanpa menyibukkan mereka sehingga tidak bisa mendengarkan khutbah Jum’at, dan tidak dijadikan kebiasaan, maka tidak mengapa. Adapun menyibukkan orang-orang dengan menaruh kotak infak yang diputar di tengah para jama’ah, kemudian dikatakan: “jika anda tidak bersedekah, maka anda harus geser kotaknya ke sebelah”, kita katakan yang seperti ini tidak diperbolehkan. Tidak boleh menyibukkan orang-orang untuk memindahkan kotak amal, sehingga tidak bisa mendengarkan khutbah. Ini tidak diperbolehkan, hukumnya haram. Demikian juga jika menjadikan hal ini sebagai syi’ar dari shalat Jum’at. Sang imam akan menunggu dan berkata: “Wahai kaum muslimin, bersedekahlah untuk masjid! Berinfaklah di jalan Allah”. Ini tidak semestinya dilakukan. Adapun kadang-kadang menggalang dana, terlebih lagi jika memang ada sebabnya, semisal ada banyaknya tagihan, masjid belum bisa membayar listrik dan tidak ada yang menanggungnya, maka tidak mengapa melakukan penggalangan dana setelah shalat, namun jangan terus-menerus. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=cRSXIkEuZII) Fatwa Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i Soal: Sebagian imam masjid menggalang donasi untuk kemaslahatan masjid di Chechnya, Bosnia dan Herzegovina. Dan mereka menyalurkan donasinya melalui yayasan-yayasan yang bisa menyampaikannya ke Chechnya, Bosnia dan Herzegovina. Apa hukum penggalangan donasi melalui yayasan seperti ini, lebih lagi jika tempat penyalurannya sudah diketahui? Jawaban: Jika bisa dipercaya dan yayasan tersebut bisa dipercaya, maka ini perbuatan yang baik. Maka hukumnya boleh sebagaimana yang dilakukan sebagian saudara kita di Najd –semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan– mereka menggalang dana untuk Bosnia dan Herzegovina. Dan mereka mengatakan: “kami tidak menggalang dana untuk mendirikan negara Islam di sana, namun para korban yang menderita dan untuk para wanita yang tersingkap auratnya sehingga kami bisa membelikan mereka hijab.” Jadi jika bisa dipercaya, maka demikianlah hukumnya (boleh). Adapun jika mereka menyebutkan (donasi akan diserahkan pada) mudir di suatu yayasan Bosnia, atau perwakilan yayasan di Herzegovina, lalu mengajak orang untuk berdonasi untuk Bosnia dan Herzegovina dan akan diserahkan melalui mudir yayasan atau perwakilan yayasan (maka jangan lakukan). Yang lebih baik, jika seseorang punya harta (untuk berdonasi) hendaknya ia kirimkan kepada utusan khusus yang ada di sana sehingga si utusan ini bisa menyampaikan donasinya kepada keluarganya sendiri atau kepada para ikhwah yang bisa dipercaya, yang bukan termasuk aktivis hizbiyyun. Di Najd dan di Qashim, yang pada ikhwah ini punya perhatian pada urusan Islam dan kaum muslimin dan mereka mengumpulkan donasi di sana. Yang penting, ketahuilah perbuatan orang-orang hizbiyyin tersebut. Dari mana hizb (ormas) mereka bisa berdiri? Seorang Syaikh diberi fasilitas mobil agar bisa ikut pemilu. Dari mana dana untuk beli mobil ini? Yang lainnya, butuh untuk membangun kantor ormas. Yang lainnya, butuh untuk menikahkan ini dan itu. Dari mana dana-dana ini berasal? (Sumber: https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2577). Dalam fatwa ini jelas asy-Syaikh Muqbil bin Hadi membolehkan penggalangan dana. Yang beliau larang adalah penggalangan dana untuk tujuan mendukung hizbiyyun. Akhir kata, walaupun open donasi atau penggalangan dana itu dibolehkan, tetap saja tidak boleh bermudah-mudah dalam menggalang dana dan penggalangan dana tidak boleh menimbulkan kerusakan. Sehingga di antara adab dalam menggalang dana: Dilakukan hanya ketika sangat dibutuhkan. Niat ikhlas mengharap wajah Allah dalam menggalang dana, tujuannya untuk membantu orang lain atau menunjang kemaslahatan umat. Amanah dalam menyalurkan dana, tidak melakukan kecurangan, khianat, dan kelalaian. Dilakukan dengan cara yang elegan dan penuh wibawa, tidak menghinakan diri, memelas, dan memaksa. Tidak menggunakan cara-cara yang menjatuhkan wibawa para da’i dan umat Muslim, seperti menggalang dana dengan menggunakan musik dan acara-acara yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tidak menimbulkan gangguan pada orang lain. Tidak menimbulkan kecurigaan pada diri para donatur dan umat. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Khasiat Kitab Stambul, Apa Arti Dari Islam, Tata Cara Mengubur Ari Ari Bayi, Hukum Suami Melarang Istri Bertemu Orang Tuanya, Hujan Dalam Al Quran, Menikah Muda Sambil Kuliah Visited 1,674 times, 1 visit(s) today Post Views: 651 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hati-hati Istidraj! – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Jika kamu mendapati Allah ‘Azza wa Jalla tetap memberi kenikmatan kepada seorang hamba yang selalu bermaksiat,maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj, sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makna istidraj sebagaimana yang diungkapkan para ulama adalahbahwa Allah Ta’ala mendekatkan seseorang kepada azab, sedikit demi sedikit,seperti yang Dia firmankan, “Maka serahkanlah (hai Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran), Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44) Allah Ta’ala mendekatkannya kepada azab tanpa ia sadari,ketika ia lalai, abai, dan terlena dari bersyukur atas nikmat-nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44) Yang dimaksud dengan kegembiraan dalam ayat ini adalah kegembiraan karena sombong dan ingkar terhadap nikmat-nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. ==== وَإِذَا رَأَيْتَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنْعِمُ عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعْصِيَتِهِ فَاعْلَمْ أَنَّ ذَلِكَ اسْتِدْرَاجٌ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعْنَى الْاِسْتِدْرَاجِ كَمَا يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُدْنِيْهِ مِنَ الْعَذَابِ دَرَجَةً دَرَجَةً كَمَا قَالَ فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ فَيُدْنِيْهِ اللهُ تَعَالَى إِلَى الْعَذَابِ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ لَمَّا فَرَّطَ وَأَهْمَلَ وَقَصَّرَ فِي شُكْرِ نِعَمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ تَعَالَى فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ وَالْفَرَحُ هُنَا هُوَ فَرَحُ الْأَشَرِ وَالْبَطَرِ بِنِعَمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Hati-hati Istidraj! – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Jika kamu mendapati Allah ‘Azza wa Jalla tetap memberi kenikmatan kepada seorang hamba yang selalu bermaksiat,maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj, sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makna istidraj sebagaimana yang diungkapkan para ulama adalahbahwa Allah Ta’ala mendekatkan seseorang kepada azab, sedikit demi sedikit,seperti yang Dia firmankan, “Maka serahkanlah (hai Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran), Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44) Allah Ta’ala mendekatkannya kepada azab tanpa ia sadari,ketika ia lalai, abai, dan terlena dari bersyukur atas nikmat-nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44) Yang dimaksud dengan kegembiraan dalam ayat ini adalah kegembiraan karena sombong dan ingkar terhadap nikmat-nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. ==== وَإِذَا رَأَيْتَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنْعِمُ عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعْصِيَتِهِ فَاعْلَمْ أَنَّ ذَلِكَ اسْتِدْرَاجٌ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعْنَى الْاِسْتِدْرَاجِ كَمَا يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُدْنِيْهِ مِنَ الْعَذَابِ دَرَجَةً دَرَجَةً كَمَا قَالَ فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ فَيُدْنِيْهِ اللهُ تَعَالَى إِلَى الْعَذَابِ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ لَمَّا فَرَّطَ وَأَهْمَلَ وَقَصَّرَ فِي شُكْرِ نِعَمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ تَعَالَى فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ وَالْفَرَحُ هُنَا هُوَ فَرَحُ الْأَشَرِ وَالْبَطَرِ بِنِعَمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Jika kamu mendapati Allah ‘Azza wa Jalla tetap memberi kenikmatan kepada seorang hamba yang selalu bermaksiat,maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj, sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makna istidraj sebagaimana yang diungkapkan para ulama adalahbahwa Allah Ta’ala mendekatkan seseorang kepada azab, sedikit demi sedikit,seperti yang Dia firmankan, “Maka serahkanlah (hai Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran), Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44) Allah Ta’ala mendekatkannya kepada azab tanpa ia sadari,ketika ia lalai, abai, dan terlena dari bersyukur atas nikmat-nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44) Yang dimaksud dengan kegembiraan dalam ayat ini adalah kegembiraan karena sombong dan ingkar terhadap nikmat-nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. ==== وَإِذَا رَأَيْتَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنْعِمُ عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعْصِيَتِهِ فَاعْلَمْ أَنَّ ذَلِكَ اسْتِدْرَاجٌ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعْنَى الْاِسْتِدْرَاجِ كَمَا يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُدْنِيْهِ مِنَ الْعَذَابِ دَرَجَةً دَرَجَةً كَمَا قَالَ فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ فَيُدْنِيْهِ اللهُ تَعَالَى إِلَى الْعَذَابِ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ لَمَّا فَرَّطَ وَأَهْمَلَ وَقَصَّرَ فِي شُكْرِ نِعَمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ تَعَالَى فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ وَالْفَرَحُ هُنَا هُوَ فَرَحُ الْأَشَرِ وَالْبَطَرِ بِنِعَمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Jika kamu mendapati Allah ‘Azza wa Jalla tetap memberi kenikmatan kepada seorang hamba yang selalu bermaksiat,maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj, sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makna istidraj sebagaimana yang diungkapkan para ulama adalahbahwa Allah Ta’ala mendekatkan seseorang kepada azab, sedikit demi sedikit,seperti yang Dia firmankan, “Maka serahkanlah (hai Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran), Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44) Allah Ta’ala mendekatkannya kepada azab tanpa ia sadari,ketika ia lalai, abai, dan terlena dari bersyukur atas nikmat-nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44) Yang dimaksud dengan kegembiraan dalam ayat ini adalah kegembiraan karena sombong dan ingkar terhadap nikmat-nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. ==== وَإِذَا رَأَيْتَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنْعِمُ عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعْصِيَتِهِ فَاعْلَمْ أَنَّ ذَلِكَ اسْتِدْرَاجٌ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعْنَى الْاِسْتِدْرَاجِ كَمَا يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُدْنِيْهِ مِنَ الْعَذَابِ دَرَجَةً دَرَجَةً كَمَا قَالَ فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ فَيُدْنِيْهِ اللهُ تَعَالَى إِلَى الْعَذَابِ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ لَمَّا فَرَّطَ وَأَهْمَلَ وَقَصَّرَ فِي شُكْرِ نِعَمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ تَعَالَى فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ وَالْفَرَحُ هُنَا هُوَ فَرَحُ الْأَشَرِ وَالْبَطَرِ بِنِعَمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Prev     Next