Hukum Puasa di Pertengahan Sya’ban – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Setelah itu, beliau membahas masalah lain,tentang orang yang tidak berpuasa di bulan Syaban seluruhnya,dan juga tidak memiliki kebiasaan berpuasadi hari tertentu secara rutin di bulan Syaban hingga pertengahan bulan Syaban. Dia menyebutkan bahwa puasa tersebut hukumnya makruh,berdasarkan hadis ini, yaitu hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab Sunan:“Jika sudah pertengahan bulan Syaban, maka janganlah kalian berpuasa.” Hadis ini telah dikritisi oleh beberapa ulama Hafiz senior,seperti Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah ar-Razi,Abu Dawud al-Sijistani, dan selain mereka,dan yang lebih tepat bahwa hadis ini lemah dan tidak sahih. Jika ada yang berkata bahwa hadis ini diriwayatkan melalui jalur ʿAllāʾ bin Abdurrahman,dari ayahnya, dari Abu Hurairah,sedangkan Imam Muslim meriwayatkan hadis dari jalur ini,sehingga hadis adalah hadis sahih menurut syarat Muslim. Bagaimana menjawabnya?Silakan, Muhammad!Bagus!Bahwa hadis ini berasal dari jalur riwayat yang diabaikan oleh Muslim,sedangkan jalur-jalur riwayat yang hadisnya diabaikan,maka tidak bisa dikatakan sesuai dengan syarat Muslim. Buktinya, bersamaan dengan dibutuhkanya hadis ini dalam bab ini,namun Muslim berpaling dari hadis ini,karena pengarang kitab Sahih, jika berpaling dari suatu hadis,padahal itu perlu disebutkan dalam bab tersebut,itu adalah isyarat bahwa hadis itu bermasalah! Apalagi jika berasal dari jalur riwayat yang diabaikan.Jadi, hadis ini adalah hadis lemah dan tidak sahih,sehingga kesimpulannya: TIDAK MAKRUH berpuasa setelah pertengahan bulan Syaban. Adapun yang TERLARANG adalah mendahului Ramadan dengan puasasehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang menjalankan kebiasaan puasanya, maka itu boleh baginya, adapun jika tidak demikianmaka hal itu terlarang, menurut dua pendapat yang ada:pendapat pertama makruh dan kedua haram. Dan yang benar—dan Allah lebih mengetahui—adalah haramnya mendahului puasa Ramadandengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa, sebagaimana telah dijelaskan dalam pelajaran kitab Maqāṣid as-Ṣaum karya Abu Muhammad bin Abdussalam,yang merupakan salah satu pelajaran dari program di hari pertama. ==== ثُمَّ أَوْرَدَ بَعْدَ ذَلِكَ مَسْأَلَةً أُخْرَى فِيمَنْ لَمْ يَصُمْ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ عَادَةٌ بِصِيَامِ أَيَّامٍ مُعْتَادَةٍ مِنْ شَعْبَانَ وَانْتَصَفَ شَعْبَانُ فَذَكَرَ أَنَّهُ يُكْرَهُ الصَّوْمُ فِيهِ لِأَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ وَهُوَ حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَ أَصْحَابِ السُّنَنِ إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا وَهَذَا الْحَدِيثُ قَدِ اسْتَنْكَرَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ الْكِبَارِ كَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَأَبِي زُرْعَةَ الرَّازِيِّ وَأَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيِّ فِي آخَرِينَ وَهُوَ الْأَشْبَهُ أَنَّ هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَإِذَا قَالَ الْقَائِلُ إِنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رِوَايَةِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ أَخْرَجَ مُسْلِمٌ هَذِهِ النُّسْخَةَ فَيَكُونُ هَذَا الْحَدِيثُ صَحِيحًا عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ فَمَا الْجَوَابُ؟ نَعَمْ يَا مُحَمَّدُ أَحْسَنْتَ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ نُسْخَةٍ انْتَقَى مُسْلِمٌ مِنْهَا وَمَا كَانَ مِنَ النُّسَخِ الَّتِي يُنْتَقَى مِنْهَا حَدِيثٌ لَا يُقَالُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَالدَّلِيلُ هُوَ أَنْ هَذَا الْحَدِيثَ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي بَابِهِ فَإِنَّ مُسْلِمًا أَعْرَضَ عَنْهُ وَصَاحِبُ الصَّحِيحِ إِذَا أَعْرَضَ عَنْ حَدِيثٍ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي الْبَابِ فَإِنَّهُ يُشِيرُ إِلَى تَعْلِيلِهِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا صَارَ فِي نُسْخَةٍ يَنْتَقِي مِنْهَا فَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَلَا يُكْرَهُ الصِّيَامُ بَعْدَ انْتِصَافِ شَهْرِ شَعْبَانَ وَإِنَّمَا الْمَنْهِيُّ عَنْهُ هُوَ تَقَدُّمُ صَوْمِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ يَصُومُ عَادَةً فَلَهُ ذَلِكَ وَأَمَّا مَا عَدَا ذَلِكَ فَمَنْهِيٌّ عَنْهُ عَلَى قَوْلَيْنِ اثْنَيْنِ أَحَدُهُمَا الْكَرَاهَةُ وَالثَّانِي التَّحْرِيمُ وَصَحِيحٌ وَاللهُ أَعْلَمُ هُوَ الْقَوْلُ بِتَحْرِيمِ تَقَدُّمِ شَهْرِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ لِمَنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ عَادَةٌ كَمَا تَقَدَّمَ تَقْرِيرُهُ فِي دَرْسِ مَقَاصِدِ الصَّوْمِ لِأَبِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ هُوَ أَحَدُ دُرُوسِ بَرْنَامَجِ الْيَوْمِ الْوَاحِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Hukum Puasa di Pertengahan Sya’ban – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Setelah itu, beliau membahas masalah lain,tentang orang yang tidak berpuasa di bulan Syaban seluruhnya,dan juga tidak memiliki kebiasaan berpuasadi hari tertentu secara rutin di bulan Syaban hingga pertengahan bulan Syaban. Dia menyebutkan bahwa puasa tersebut hukumnya makruh,berdasarkan hadis ini, yaitu hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab Sunan:“Jika sudah pertengahan bulan Syaban, maka janganlah kalian berpuasa.” Hadis ini telah dikritisi oleh beberapa ulama Hafiz senior,seperti Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah ar-Razi,Abu Dawud al-Sijistani, dan selain mereka,dan yang lebih tepat bahwa hadis ini lemah dan tidak sahih. Jika ada yang berkata bahwa hadis ini diriwayatkan melalui jalur ʿAllāʾ bin Abdurrahman,dari ayahnya, dari Abu Hurairah,sedangkan Imam Muslim meriwayatkan hadis dari jalur ini,sehingga hadis adalah hadis sahih menurut syarat Muslim. Bagaimana menjawabnya?Silakan, Muhammad!Bagus!Bahwa hadis ini berasal dari jalur riwayat yang diabaikan oleh Muslim,sedangkan jalur-jalur riwayat yang hadisnya diabaikan,maka tidak bisa dikatakan sesuai dengan syarat Muslim. Buktinya, bersamaan dengan dibutuhkanya hadis ini dalam bab ini,namun Muslim berpaling dari hadis ini,karena pengarang kitab Sahih, jika berpaling dari suatu hadis,padahal itu perlu disebutkan dalam bab tersebut,itu adalah isyarat bahwa hadis itu bermasalah! Apalagi jika berasal dari jalur riwayat yang diabaikan.Jadi, hadis ini adalah hadis lemah dan tidak sahih,sehingga kesimpulannya: TIDAK MAKRUH berpuasa setelah pertengahan bulan Syaban. Adapun yang TERLARANG adalah mendahului Ramadan dengan puasasehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang menjalankan kebiasaan puasanya, maka itu boleh baginya, adapun jika tidak demikianmaka hal itu terlarang, menurut dua pendapat yang ada:pendapat pertama makruh dan kedua haram. Dan yang benar—dan Allah lebih mengetahui—adalah haramnya mendahului puasa Ramadandengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa, sebagaimana telah dijelaskan dalam pelajaran kitab Maqāṣid as-Ṣaum karya Abu Muhammad bin Abdussalam,yang merupakan salah satu pelajaran dari program di hari pertama. ==== ثُمَّ أَوْرَدَ بَعْدَ ذَلِكَ مَسْأَلَةً أُخْرَى فِيمَنْ لَمْ يَصُمْ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ عَادَةٌ بِصِيَامِ أَيَّامٍ مُعْتَادَةٍ مِنْ شَعْبَانَ وَانْتَصَفَ شَعْبَانُ فَذَكَرَ أَنَّهُ يُكْرَهُ الصَّوْمُ فِيهِ لِأَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ وَهُوَ حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَ أَصْحَابِ السُّنَنِ إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا وَهَذَا الْحَدِيثُ قَدِ اسْتَنْكَرَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ الْكِبَارِ كَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَأَبِي زُرْعَةَ الرَّازِيِّ وَأَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيِّ فِي آخَرِينَ وَهُوَ الْأَشْبَهُ أَنَّ هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَإِذَا قَالَ الْقَائِلُ إِنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رِوَايَةِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ أَخْرَجَ مُسْلِمٌ هَذِهِ النُّسْخَةَ فَيَكُونُ هَذَا الْحَدِيثُ صَحِيحًا عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ فَمَا الْجَوَابُ؟ نَعَمْ يَا مُحَمَّدُ أَحْسَنْتَ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ نُسْخَةٍ انْتَقَى مُسْلِمٌ مِنْهَا وَمَا كَانَ مِنَ النُّسَخِ الَّتِي يُنْتَقَى مِنْهَا حَدِيثٌ لَا يُقَالُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَالدَّلِيلُ هُوَ أَنْ هَذَا الْحَدِيثَ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي بَابِهِ فَإِنَّ مُسْلِمًا أَعْرَضَ عَنْهُ وَصَاحِبُ الصَّحِيحِ إِذَا أَعْرَضَ عَنْ حَدِيثٍ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي الْبَابِ فَإِنَّهُ يُشِيرُ إِلَى تَعْلِيلِهِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا صَارَ فِي نُسْخَةٍ يَنْتَقِي مِنْهَا فَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَلَا يُكْرَهُ الصِّيَامُ بَعْدَ انْتِصَافِ شَهْرِ شَعْبَانَ وَإِنَّمَا الْمَنْهِيُّ عَنْهُ هُوَ تَقَدُّمُ صَوْمِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ يَصُومُ عَادَةً فَلَهُ ذَلِكَ وَأَمَّا مَا عَدَا ذَلِكَ فَمَنْهِيٌّ عَنْهُ عَلَى قَوْلَيْنِ اثْنَيْنِ أَحَدُهُمَا الْكَرَاهَةُ وَالثَّانِي التَّحْرِيمُ وَصَحِيحٌ وَاللهُ أَعْلَمُ هُوَ الْقَوْلُ بِتَحْرِيمِ تَقَدُّمِ شَهْرِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ لِمَنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ عَادَةٌ كَمَا تَقَدَّمَ تَقْرِيرُهُ فِي دَرْسِ مَقَاصِدِ الصَّوْمِ لِأَبِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ هُوَ أَحَدُ دُرُوسِ بَرْنَامَجِ الْيَوْمِ الْوَاحِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Setelah itu, beliau membahas masalah lain,tentang orang yang tidak berpuasa di bulan Syaban seluruhnya,dan juga tidak memiliki kebiasaan berpuasadi hari tertentu secara rutin di bulan Syaban hingga pertengahan bulan Syaban. Dia menyebutkan bahwa puasa tersebut hukumnya makruh,berdasarkan hadis ini, yaitu hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab Sunan:“Jika sudah pertengahan bulan Syaban, maka janganlah kalian berpuasa.” Hadis ini telah dikritisi oleh beberapa ulama Hafiz senior,seperti Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah ar-Razi,Abu Dawud al-Sijistani, dan selain mereka,dan yang lebih tepat bahwa hadis ini lemah dan tidak sahih. Jika ada yang berkata bahwa hadis ini diriwayatkan melalui jalur ʿAllāʾ bin Abdurrahman,dari ayahnya, dari Abu Hurairah,sedangkan Imam Muslim meriwayatkan hadis dari jalur ini,sehingga hadis adalah hadis sahih menurut syarat Muslim. Bagaimana menjawabnya?Silakan, Muhammad!Bagus!Bahwa hadis ini berasal dari jalur riwayat yang diabaikan oleh Muslim,sedangkan jalur-jalur riwayat yang hadisnya diabaikan,maka tidak bisa dikatakan sesuai dengan syarat Muslim. Buktinya, bersamaan dengan dibutuhkanya hadis ini dalam bab ini,namun Muslim berpaling dari hadis ini,karena pengarang kitab Sahih, jika berpaling dari suatu hadis,padahal itu perlu disebutkan dalam bab tersebut,itu adalah isyarat bahwa hadis itu bermasalah! Apalagi jika berasal dari jalur riwayat yang diabaikan.Jadi, hadis ini adalah hadis lemah dan tidak sahih,sehingga kesimpulannya: TIDAK MAKRUH berpuasa setelah pertengahan bulan Syaban. Adapun yang TERLARANG adalah mendahului Ramadan dengan puasasehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang menjalankan kebiasaan puasanya, maka itu boleh baginya, adapun jika tidak demikianmaka hal itu terlarang, menurut dua pendapat yang ada:pendapat pertama makruh dan kedua haram. Dan yang benar—dan Allah lebih mengetahui—adalah haramnya mendahului puasa Ramadandengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa, sebagaimana telah dijelaskan dalam pelajaran kitab Maqāṣid as-Ṣaum karya Abu Muhammad bin Abdussalam,yang merupakan salah satu pelajaran dari program di hari pertama. ==== ثُمَّ أَوْرَدَ بَعْدَ ذَلِكَ مَسْأَلَةً أُخْرَى فِيمَنْ لَمْ يَصُمْ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ عَادَةٌ بِصِيَامِ أَيَّامٍ مُعْتَادَةٍ مِنْ شَعْبَانَ وَانْتَصَفَ شَعْبَانُ فَذَكَرَ أَنَّهُ يُكْرَهُ الصَّوْمُ فِيهِ لِأَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ وَهُوَ حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَ أَصْحَابِ السُّنَنِ إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا وَهَذَا الْحَدِيثُ قَدِ اسْتَنْكَرَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ الْكِبَارِ كَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَأَبِي زُرْعَةَ الرَّازِيِّ وَأَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيِّ فِي آخَرِينَ وَهُوَ الْأَشْبَهُ أَنَّ هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَإِذَا قَالَ الْقَائِلُ إِنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رِوَايَةِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ أَخْرَجَ مُسْلِمٌ هَذِهِ النُّسْخَةَ فَيَكُونُ هَذَا الْحَدِيثُ صَحِيحًا عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ فَمَا الْجَوَابُ؟ نَعَمْ يَا مُحَمَّدُ أَحْسَنْتَ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ نُسْخَةٍ انْتَقَى مُسْلِمٌ مِنْهَا وَمَا كَانَ مِنَ النُّسَخِ الَّتِي يُنْتَقَى مِنْهَا حَدِيثٌ لَا يُقَالُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَالدَّلِيلُ هُوَ أَنْ هَذَا الْحَدِيثَ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي بَابِهِ فَإِنَّ مُسْلِمًا أَعْرَضَ عَنْهُ وَصَاحِبُ الصَّحِيحِ إِذَا أَعْرَضَ عَنْ حَدِيثٍ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي الْبَابِ فَإِنَّهُ يُشِيرُ إِلَى تَعْلِيلِهِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا صَارَ فِي نُسْخَةٍ يَنْتَقِي مِنْهَا فَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَلَا يُكْرَهُ الصِّيَامُ بَعْدَ انْتِصَافِ شَهْرِ شَعْبَانَ وَإِنَّمَا الْمَنْهِيُّ عَنْهُ هُوَ تَقَدُّمُ صَوْمِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ يَصُومُ عَادَةً فَلَهُ ذَلِكَ وَأَمَّا مَا عَدَا ذَلِكَ فَمَنْهِيٌّ عَنْهُ عَلَى قَوْلَيْنِ اثْنَيْنِ أَحَدُهُمَا الْكَرَاهَةُ وَالثَّانِي التَّحْرِيمُ وَصَحِيحٌ وَاللهُ أَعْلَمُ هُوَ الْقَوْلُ بِتَحْرِيمِ تَقَدُّمِ شَهْرِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ لِمَنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ عَادَةٌ كَمَا تَقَدَّمَ تَقْرِيرُهُ فِي دَرْسِ مَقَاصِدِ الصَّوْمِ لِأَبِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ هُوَ أَحَدُ دُرُوسِ بَرْنَامَجِ الْيَوْمِ الْوَاحِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Setelah itu, beliau membahas masalah lain,tentang orang yang tidak berpuasa di bulan Syaban seluruhnya,dan juga tidak memiliki kebiasaan berpuasadi hari tertentu secara rutin di bulan Syaban hingga pertengahan bulan Syaban. Dia menyebutkan bahwa puasa tersebut hukumnya makruh,berdasarkan hadis ini, yaitu hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab Sunan:“Jika sudah pertengahan bulan Syaban, maka janganlah kalian berpuasa.” Hadis ini telah dikritisi oleh beberapa ulama Hafiz senior,seperti Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah ar-Razi,Abu Dawud al-Sijistani, dan selain mereka,dan yang lebih tepat bahwa hadis ini lemah dan tidak sahih. Jika ada yang berkata bahwa hadis ini diriwayatkan melalui jalur ʿAllāʾ bin Abdurrahman,dari ayahnya, dari Abu Hurairah,sedangkan Imam Muslim meriwayatkan hadis dari jalur ini,sehingga hadis adalah hadis sahih menurut syarat Muslim. Bagaimana menjawabnya?Silakan, Muhammad!Bagus!Bahwa hadis ini berasal dari jalur riwayat yang diabaikan oleh Muslim,sedangkan jalur-jalur riwayat yang hadisnya diabaikan,maka tidak bisa dikatakan sesuai dengan syarat Muslim. Buktinya, bersamaan dengan dibutuhkanya hadis ini dalam bab ini,namun Muslim berpaling dari hadis ini,karena pengarang kitab Sahih, jika berpaling dari suatu hadis,padahal itu perlu disebutkan dalam bab tersebut,itu adalah isyarat bahwa hadis itu bermasalah! Apalagi jika berasal dari jalur riwayat yang diabaikan.Jadi, hadis ini adalah hadis lemah dan tidak sahih,sehingga kesimpulannya: TIDAK MAKRUH berpuasa setelah pertengahan bulan Syaban. Adapun yang TERLARANG adalah mendahului Ramadan dengan puasasehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang menjalankan kebiasaan puasanya, maka itu boleh baginya, adapun jika tidak demikianmaka hal itu terlarang, menurut dua pendapat yang ada:pendapat pertama makruh dan kedua haram. Dan yang benar—dan Allah lebih mengetahui—adalah haramnya mendahului puasa Ramadandengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa, sebagaimana telah dijelaskan dalam pelajaran kitab Maqāṣid as-Ṣaum karya Abu Muhammad bin Abdussalam,yang merupakan salah satu pelajaran dari program di hari pertama. ==== ثُمَّ أَوْرَدَ بَعْدَ ذَلِكَ مَسْأَلَةً أُخْرَى فِيمَنْ لَمْ يَصُمْ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ عَادَةٌ بِصِيَامِ أَيَّامٍ مُعْتَادَةٍ مِنْ شَعْبَانَ وَانْتَصَفَ شَعْبَانُ فَذَكَرَ أَنَّهُ يُكْرَهُ الصَّوْمُ فِيهِ لِأَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ وَهُوَ حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَ أَصْحَابِ السُّنَنِ إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا وَهَذَا الْحَدِيثُ قَدِ اسْتَنْكَرَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ الْكِبَارِ كَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَأَبِي زُرْعَةَ الرَّازِيِّ وَأَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيِّ فِي آخَرِينَ وَهُوَ الْأَشْبَهُ أَنَّ هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَإِذَا قَالَ الْقَائِلُ إِنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رِوَايَةِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ أَخْرَجَ مُسْلِمٌ هَذِهِ النُّسْخَةَ فَيَكُونُ هَذَا الْحَدِيثُ صَحِيحًا عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ فَمَا الْجَوَابُ؟ نَعَمْ يَا مُحَمَّدُ أَحْسَنْتَ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ نُسْخَةٍ انْتَقَى مُسْلِمٌ مِنْهَا وَمَا كَانَ مِنَ النُّسَخِ الَّتِي يُنْتَقَى مِنْهَا حَدِيثٌ لَا يُقَالُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَالدَّلِيلُ هُوَ أَنْ هَذَا الْحَدِيثَ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي بَابِهِ فَإِنَّ مُسْلِمًا أَعْرَضَ عَنْهُ وَصَاحِبُ الصَّحِيحِ إِذَا أَعْرَضَ عَنْ حَدِيثٍ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي الْبَابِ فَإِنَّهُ يُشِيرُ إِلَى تَعْلِيلِهِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا صَارَ فِي نُسْخَةٍ يَنْتَقِي مِنْهَا فَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَلَا يُكْرَهُ الصِّيَامُ بَعْدَ انْتِصَافِ شَهْرِ شَعْبَانَ وَإِنَّمَا الْمَنْهِيُّ عَنْهُ هُوَ تَقَدُّمُ صَوْمِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ يَصُومُ عَادَةً فَلَهُ ذَلِكَ وَأَمَّا مَا عَدَا ذَلِكَ فَمَنْهِيٌّ عَنْهُ عَلَى قَوْلَيْنِ اثْنَيْنِ أَحَدُهُمَا الْكَرَاهَةُ وَالثَّانِي التَّحْرِيمُ وَصَحِيحٌ وَاللهُ أَعْلَمُ هُوَ الْقَوْلُ بِتَحْرِيمِ تَقَدُّمِ شَهْرِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ لِمَنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ عَادَةٌ كَمَا تَقَدَّمَ تَقْرِيرُهُ فِي دَرْسِ مَقَاصِدِ الصَّوْمِ لِأَبِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ هُوَ أَحَدُ دُرُوسِ بَرْنَامَجِ الْيَوْمِ الْوَاحِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kapan Kiamat? – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat: ‘Kapan terjadinya?’” (QS. Al-A’raf: 187). Mereka selalu menanyakan hari kiamat.Mereka sering sekali bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat. Ketika Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan kiamat terjadi?”Beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Oleh sebab itu, Allah berfirman kepada beliau, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat, …” dalam banyak ayat dalam al-Quran.Mereka datang kepada Nabi untuk menanyakannya, dan beliau menjawab, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk itu?” Yakni yang seharusnya ditanyakan adalah “Apa yang harus dipersiapkan seseorang untuk menghadapi kiamat?” Adapun pertanyaan, “Kapan kiamat terjadi?” (tidak seharusnya ditanyakan) Dulu beliau melihat mereka dan orang paling muda dari mereka, seraya menjawab, “Dia tidak akan datang waktunya hingga datang kiamat kalian.”Ada kiamat tersendiri bagimu, dan kiamatmu ini adalah hal yang pastiyang tidak diragukan kedatangannya, yaitu kematian. Setiap manusia akan didatangi kiamatnya, maka lihatlah kiamatmu sendiri, jangan lihat Kiamat Kubra (kiamat alam semesta). Karena waktu Kiamat Kubra telah disembunyikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar menyembunyikannya, bahkan Dia berfirman, “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, dan hampir-hampir …” Apa?“… hampir-hampir Aku sembunyikan waktunya.” Para mufassir berkata, yakni hampir saja Aku sembunyikan dari diri-Ku sendiri, menurut beberapa pendapat dari makna ayat ini. “Untuk apa kamu menyebutkan kapan waktunya.” (QS. An-Nazi’at: 43). Ia bukan urusan dan kepentinganmu untuk menyebutkan kiamat dan waktu terjadinya.Namun kepentinganmu adalah “Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat).” Yakni bukan urusan kita sekarang menanyakan waktu kiamat. Namun kepentingan kita apa, wahai Saudara-saudara?Yakni merasa takut kepada hari kiamat dan tanya jawab yang ada saat hari kiamat,serta menyiapkan jawaban yang benar untuk pertanyaan itu. ==== قَالَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا دَائِمًا يَسْأَلُونَ عَنِ السَّاعَةِ وَكَثِيرًا مَا يَسْأَلُونَ النَّبِيَّ عَنِ السَّاعَةِ لَمَّا سَأَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ فَلَمَّا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا المَسْؤُولُ عَنْهَا أَعْلَمُ مِنَ السَّائِلِ وَلِهَذَا يَقُولُ اللهِ لَهُ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ فِي عِدَّةِ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَانُوا يَأْتُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ مَاذَا أَعْدَدْتَ؟ يَعْنِي كَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ السُّؤَالُ عَمَّ يُعِدُّ الْإِنْسَانُ لِلسَّاعَةِ أَمَّا مَتَى تَأْتِي السَّاعَةُ وَكَانَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَإِلَى أَصْغَرِهِم يَقُولُ لَنْ يَأْتِيَ هَذَا أَجَلُهُ حَتَّى تَقُومَ قِيَامَتُكُمْ هَذَا فِيهِ قِيَامَةٌ خَاصَّةٌ بِكَ أَنْتَ وَقِيَامَتُكَ هِيَ الْيَقِينُ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ وَهُوَ الْمَوْتُ كُلُّ إِنْسَانٍ سَتَكُونُ قِيَامَتُهُ فَانْظُرْ أَنْتَ إِلَى قِيَامَتِكَ لَا تَنْظُرِ الْقِيَامَةَ الْكُبْرَى هَذَا أَمْرٌ أَخْفَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَشَدَّدَ فِي إِخْفَائِهِ حَتَّى قَالَ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ مَاذَا؟ أَكَادُ أُخْفِيْهَا قَالَ الْمُفَسِّرُونَ أَكَادُ أُخْفِيْهَا عَنْ نَفْسِي فِي بَعْضِ مَا قِيلَ حَوْل مَعْنَى هَذِهِ الْآيَةِ فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا هِيَ لَيْسَ شَأْنُكَ وَلَا مُهِمَّتُكَ أَنْ تَذْكُرَ السَّاعَةَ وَتَتَحَدَّثَ عَنْ قِيَامِهَا وَإِنَّمَا مُهِمَّتُكَ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا إِذًا لَيْسَتْ مُهِمَّتُنَا الْآنَ أَنْ نَسْأَلَ عَنِ السَّاعَةِ وَإِنَّمَا الْمُهِمَّةُ مَا الْمُهِمَّةُ يَا إِخْوَانُ أَنْ يَخْشَى الْإِنْسَانُ السَّاعَةَ وَمَا يَكُونُ فِي السَّاعَةِ مِنَ السُّؤَالِ وَالْجَوَابِ وَيُعِدُّ لِهَذَا السُّؤَالِ جَوَابًا صَوَابًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kapan Kiamat? – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat: ‘Kapan terjadinya?’” (QS. Al-A’raf: 187). Mereka selalu menanyakan hari kiamat.Mereka sering sekali bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat. Ketika Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan kiamat terjadi?”Beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Oleh sebab itu, Allah berfirman kepada beliau, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat, …” dalam banyak ayat dalam al-Quran.Mereka datang kepada Nabi untuk menanyakannya, dan beliau menjawab, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk itu?” Yakni yang seharusnya ditanyakan adalah “Apa yang harus dipersiapkan seseorang untuk menghadapi kiamat?” Adapun pertanyaan, “Kapan kiamat terjadi?” (tidak seharusnya ditanyakan) Dulu beliau melihat mereka dan orang paling muda dari mereka, seraya menjawab, “Dia tidak akan datang waktunya hingga datang kiamat kalian.”Ada kiamat tersendiri bagimu, dan kiamatmu ini adalah hal yang pastiyang tidak diragukan kedatangannya, yaitu kematian. Setiap manusia akan didatangi kiamatnya, maka lihatlah kiamatmu sendiri, jangan lihat Kiamat Kubra (kiamat alam semesta). Karena waktu Kiamat Kubra telah disembunyikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar menyembunyikannya, bahkan Dia berfirman, “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, dan hampir-hampir …” Apa?“… hampir-hampir Aku sembunyikan waktunya.” Para mufassir berkata, yakni hampir saja Aku sembunyikan dari diri-Ku sendiri, menurut beberapa pendapat dari makna ayat ini. “Untuk apa kamu menyebutkan kapan waktunya.” (QS. An-Nazi’at: 43). Ia bukan urusan dan kepentinganmu untuk menyebutkan kiamat dan waktu terjadinya.Namun kepentinganmu adalah “Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat).” Yakni bukan urusan kita sekarang menanyakan waktu kiamat. Namun kepentingan kita apa, wahai Saudara-saudara?Yakni merasa takut kepada hari kiamat dan tanya jawab yang ada saat hari kiamat,serta menyiapkan jawaban yang benar untuk pertanyaan itu. ==== قَالَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا دَائِمًا يَسْأَلُونَ عَنِ السَّاعَةِ وَكَثِيرًا مَا يَسْأَلُونَ النَّبِيَّ عَنِ السَّاعَةِ لَمَّا سَأَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ فَلَمَّا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا المَسْؤُولُ عَنْهَا أَعْلَمُ مِنَ السَّائِلِ وَلِهَذَا يَقُولُ اللهِ لَهُ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ فِي عِدَّةِ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَانُوا يَأْتُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ مَاذَا أَعْدَدْتَ؟ يَعْنِي كَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ السُّؤَالُ عَمَّ يُعِدُّ الْإِنْسَانُ لِلسَّاعَةِ أَمَّا مَتَى تَأْتِي السَّاعَةُ وَكَانَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَإِلَى أَصْغَرِهِم يَقُولُ لَنْ يَأْتِيَ هَذَا أَجَلُهُ حَتَّى تَقُومَ قِيَامَتُكُمْ هَذَا فِيهِ قِيَامَةٌ خَاصَّةٌ بِكَ أَنْتَ وَقِيَامَتُكَ هِيَ الْيَقِينُ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ وَهُوَ الْمَوْتُ كُلُّ إِنْسَانٍ سَتَكُونُ قِيَامَتُهُ فَانْظُرْ أَنْتَ إِلَى قِيَامَتِكَ لَا تَنْظُرِ الْقِيَامَةَ الْكُبْرَى هَذَا أَمْرٌ أَخْفَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَشَدَّدَ فِي إِخْفَائِهِ حَتَّى قَالَ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ مَاذَا؟ أَكَادُ أُخْفِيْهَا قَالَ الْمُفَسِّرُونَ أَكَادُ أُخْفِيْهَا عَنْ نَفْسِي فِي بَعْضِ مَا قِيلَ حَوْل مَعْنَى هَذِهِ الْآيَةِ فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا هِيَ لَيْسَ شَأْنُكَ وَلَا مُهِمَّتُكَ أَنْ تَذْكُرَ السَّاعَةَ وَتَتَحَدَّثَ عَنْ قِيَامِهَا وَإِنَّمَا مُهِمَّتُكَ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا إِذًا لَيْسَتْ مُهِمَّتُنَا الْآنَ أَنْ نَسْأَلَ عَنِ السَّاعَةِ وَإِنَّمَا الْمُهِمَّةُ مَا الْمُهِمَّةُ يَا إِخْوَانُ أَنْ يَخْشَى الْإِنْسَانُ السَّاعَةَ وَمَا يَكُونُ فِي السَّاعَةِ مِنَ السُّؤَالِ وَالْجَوَابِ وَيُعِدُّ لِهَذَا السُّؤَالِ جَوَابًا صَوَابًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat: ‘Kapan terjadinya?’” (QS. Al-A’raf: 187). Mereka selalu menanyakan hari kiamat.Mereka sering sekali bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat. Ketika Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan kiamat terjadi?”Beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Oleh sebab itu, Allah berfirman kepada beliau, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat, …” dalam banyak ayat dalam al-Quran.Mereka datang kepada Nabi untuk menanyakannya, dan beliau menjawab, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk itu?” Yakni yang seharusnya ditanyakan adalah “Apa yang harus dipersiapkan seseorang untuk menghadapi kiamat?” Adapun pertanyaan, “Kapan kiamat terjadi?” (tidak seharusnya ditanyakan) Dulu beliau melihat mereka dan orang paling muda dari mereka, seraya menjawab, “Dia tidak akan datang waktunya hingga datang kiamat kalian.”Ada kiamat tersendiri bagimu, dan kiamatmu ini adalah hal yang pastiyang tidak diragukan kedatangannya, yaitu kematian. Setiap manusia akan didatangi kiamatnya, maka lihatlah kiamatmu sendiri, jangan lihat Kiamat Kubra (kiamat alam semesta). Karena waktu Kiamat Kubra telah disembunyikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar menyembunyikannya, bahkan Dia berfirman, “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, dan hampir-hampir …” Apa?“… hampir-hampir Aku sembunyikan waktunya.” Para mufassir berkata, yakni hampir saja Aku sembunyikan dari diri-Ku sendiri, menurut beberapa pendapat dari makna ayat ini. “Untuk apa kamu menyebutkan kapan waktunya.” (QS. An-Nazi’at: 43). Ia bukan urusan dan kepentinganmu untuk menyebutkan kiamat dan waktu terjadinya.Namun kepentinganmu adalah “Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat).” Yakni bukan urusan kita sekarang menanyakan waktu kiamat. Namun kepentingan kita apa, wahai Saudara-saudara?Yakni merasa takut kepada hari kiamat dan tanya jawab yang ada saat hari kiamat,serta menyiapkan jawaban yang benar untuk pertanyaan itu. ==== قَالَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا دَائِمًا يَسْأَلُونَ عَنِ السَّاعَةِ وَكَثِيرًا مَا يَسْأَلُونَ النَّبِيَّ عَنِ السَّاعَةِ لَمَّا سَأَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ فَلَمَّا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا المَسْؤُولُ عَنْهَا أَعْلَمُ مِنَ السَّائِلِ وَلِهَذَا يَقُولُ اللهِ لَهُ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ فِي عِدَّةِ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَانُوا يَأْتُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ مَاذَا أَعْدَدْتَ؟ يَعْنِي كَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ السُّؤَالُ عَمَّ يُعِدُّ الْإِنْسَانُ لِلسَّاعَةِ أَمَّا مَتَى تَأْتِي السَّاعَةُ وَكَانَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَإِلَى أَصْغَرِهِم يَقُولُ لَنْ يَأْتِيَ هَذَا أَجَلُهُ حَتَّى تَقُومَ قِيَامَتُكُمْ هَذَا فِيهِ قِيَامَةٌ خَاصَّةٌ بِكَ أَنْتَ وَقِيَامَتُكَ هِيَ الْيَقِينُ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ وَهُوَ الْمَوْتُ كُلُّ إِنْسَانٍ سَتَكُونُ قِيَامَتُهُ فَانْظُرْ أَنْتَ إِلَى قِيَامَتِكَ لَا تَنْظُرِ الْقِيَامَةَ الْكُبْرَى هَذَا أَمْرٌ أَخْفَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَشَدَّدَ فِي إِخْفَائِهِ حَتَّى قَالَ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ مَاذَا؟ أَكَادُ أُخْفِيْهَا قَالَ الْمُفَسِّرُونَ أَكَادُ أُخْفِيْهَا عَنْ نَفْسِي فِي بَعْضِ مَا قِيلَ حَوْل مَعْنَى هَذِهِ الْآيَةِ فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا هِيَ لَيْسَ شَأْنُكَ وَلَا مُهِمَّتُكَ أَنْ تَذْكُرَ السَّاعَةَ وَتَتَحَدَّثَ عَنْ قِيَامِهَا وَإِنَّمَا مُهِمَّتُكَ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا إِذًا لَيْسَتْ مُهِمَّتُنَا الْآنَ أَنْ نَسْأَلَ عَنِ السَّاعَةِ وَإِنَّمَا الْمُهِمَّةُ مَا الْمُهِمَّةُ يَا إِخْوَانُ أَنْ يَخْشَى الْإِنْسَانُ السَّاعَةَ وَمَا يَكُونُ فِي السَّاعَةِ مِنَ السُّؤَالِ وَالْجَوَابِ وَيُعِدُّ لِهَذَا السُّؤَالِ جَوَابًا صَوَابًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat: ‘Kapan terjadinya?’” (QS. Al-A’raf: 187). Mereka selalu menanyakan hari kiamat.Mereka sering sekali bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat. Ketika Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan kiamat terjadi?”Beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Oleh sebab itu, Allah berfirman kepada beliau, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat, …” dalam banyak ayat dalam al-Quran.Mereka datang kepada Nabi untuk menanyakannya, dan beliau menjawab, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk itu?” Yakni yang seharusnya ditanyakan adalah “Apa yang harus dipersiapkan seseorang untuk menghadapi kiamat?” Adapun pertanyaan, “Kapan kiamat terjadi?” (tidak seharusnya ditanyakan) Dulu beliau melihat mereka dan orang paling muda dari mereka, seraya menjawab, “Dia tidak akan datang waktunya hingga datang kiamat kalian.”Ada kiamat tersendiri bagimu, dan kiamatmu ini adalah hal yang pastiyang tidak diragukan kedatangannya, yaitu kematian. Setiap manusia akan didatangi kiamatnya, maka lihatlah kiamatmu sendiri, jangan lihat Kiamat Kubra (kiamat alam semesta). Karena waktu Kiamat Kubra telah disembunyikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar menyembunyikannya, bahkan Dia berfirman, “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, dan hampir-hampir …” Apa?“… hampir-hampir Aku sembunyikan waktunya.” Para mufassir berkata, yakni hampir saja Aku sembunyikan dari diri-Ku sendiri, menurut beberapa pendapat dari makna ayat ini. “Untuk apa kamu menyebutkan kapan waktunya.” (QS. An-Nazi’at: 43). Ia bukan urusan dan kepentinganmu untuk menyebutkan kiamat dan waktu terjadinya.Namun kepentinganmu adalah “Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat).” Yakni bukan urusan kita sekarang menanyakan waktu kiamat. Namun kepentingan kita apa, wahai Saudara-saudara?Yakni merasa takut kepada hari kiamat dan tanya jawab yang ada saat hari kiamat,serta menyiapkan jawaban yang benar untuk pertanyaan itu. ==== قَالَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا دَائِمًا يَسْأَلُونَ عَنِ السَّاعَةِ وَكَثِيرًا مَا يَسْأَلُونَ النَّبِيَّ عَنِ السَّاعَةِ لَمَّا سَأَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ فَلَمَّا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا المَسْؤُولُ عَنْهَا أَعْلَمُ مِنَ السَّائِلِ وَلِهَذَا يَقُولُ اللهِ لَهُ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ فِي عِدَّةِ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَانُوا يَأْتُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ مَاذَا أَعْدَدْتَ؟ يَعْنِي كَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ السُّؤَالُ عَمَّ يُعِدُّ الْإِنْسَانُ لِلسَّاعَةِ أَمَّا مَتَى تَأْتِي السَّاعَةُ وَكَانَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَإِلَى أَصْغَرِهِم يَقُولُ لَنْ يَأْتِيَ هَذَا أَجَلُهُ حَتَّى تَقُومَ قِيَامَتُكُمْ هَذَا فِيهِ قِيَامَةٌ خَاصَّةٌ بِكَ أَنْتَ وَقِيَامَتُكَ هِيَ الْيَقِينُ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ وَهُوَ الْمَوْتُ كُلُّ إِنْسَانٍ سَتَكُونُ قِيَامَتُهُ فَانْظُرْ أَنْتَ إِلَى قِيَامَتِكَ لَا تَنْظُرِ الْقِيَامَةَ الْكُبْرَى هَذَا أَمْرٌ أَخْفَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَشَدَّدَ فِي إِخْفَائِهِ حَتَّى قَالَ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ مَاذَا؟ أَكَادُ أُخْفِيْهَا قَالَ الْمُفَسِّرُونَ أَكَادُ أُخْفِيْهَا عَنْ نَفْسِي فِي بَعْضِ مَا قِيلَ حَوْل مَعْنَى هَذِهِ الْآيَةِ فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا هِيَ لَيْسَ شَأْنُكَ وَلَا مُهِمَّتُكَ أَنْ تَذْكُرَ السَّاعَةَ وَتَتَحَدَّثَ عَنْ قِيَامِهَا وَإِنَّمَا مُهِمَّتُكَ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا إِذًا لَيْسَتْ مُهِمَّتُنَا الْآنَ أَنْ نَسْأَلَ عَنِ السَّاعَةِ وَإِنَّمَا الْمُهِمَّةُ مَا الْمُهِمَّةُ يَا إِخْوَانُ أَنْ يَخْشَى الْإِنْسَانُ السَّاعَةَ وَمَا يَكُونُ فِي السَّاعَةِ مِنَ السُّؤَالِ وَالْجَوَابِ وَيُعِدُّ لِهَذَا السُّؤَالِ جَوَابًا صَوَابًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman Fitnah

Dengan nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Selawat dan salam serta keberkahan semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, para sahabat, dan pengikut setia beliau. Amma ba’du.Sesungguhnya di antara perkara paling agung yang seharusnya mendapatkan perhatian di zaman ini, wahai saudara-saudara sekalian, ialah hendaknya seorang insan beribadah kepada Allah Rabbnya Tabaraka Wa Ta’ala di atas bayyinah (bukti). Allah Ta’ala berfirman,أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَیِّنَةࣲ مِّن رَّبِّهِۦ “Apakah seorang yang berada di atas bayyinah/ bukti yang berasal dari Rabbnya …” (QS. Muhammad: 14)Dan hendaknya dia berada di atas nur (cahaya). Allah Ta’ala berfirman,أَوَمَن كَانَ مَیۡتࣰا فَأَحۡیَیۡنَـٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورࣰا یَمۡشِی بِهِۦ فِی ٱلنَّاسِ“Apakah orang yang dahulunya mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dia (dengan iman) dan Kami jadikan untuknya cahaya sehingga dia bisa berjalan di tengah manusia…” (QS. Al-An’am: 122)Demikian pula, hendaknya dia beragama di atas bashirah (hujjah yang nyata). Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ“Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…’” (QS. Yusuf: 108)Maka, al-bayyinah, nur, dan bashirah ini termasuk perkara yang dapat membantu insan dalam menjalani kehidupan ini agar tetap di atas jalan yang lurus, dan tegar di atasnya sampai mati.Kebutuhan terhadap hal ini di masa sekarang ini, wahai saudara-saudara sekalian, yang mana banyak hal menjadi rancu/ tercampur aduk dan di masa ini juga terjadi keterasingan/ ghurbah dalam beragama, sebagaimana apa yang memang telah dikehendaki oleh Allah. Maka, hal ini termasuk perkara yang paling penting yang harus diperhatikan dan termasuk sebab paling utama untuk bisa tegar dalam beragama.Baca Juga: Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiMakna-makna ini berporos pada beberapa poin penting;Pertama: ilmuKedua: keyakinanKetiga: tsabat/ keteguhanSeorang akan bisa berada di atas bayyinah, di atas nur, dan bashirah apabila dia memadukan ketiga poin di atas.Pertama, hendaklah dia beragama dengan landasan ilmu. Yaitu dia beribadah kepada Allah dengan dasar ilmu. Tidaklah dia melakukan atau meninggalkan suatu hal yang berkaitan dengan keyakinan atau ibadah (amalan), melainkan benar-benar berada di atas pondasi ilmu yang orisinil bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikuti pemahaman para sahabat dan salafus shalih.Yang kedua, hendaklah dia termasuk orang yang memiliki keyakinan yang kuat, dan ini termasuk perkara yang paling penting dimiliki di zaman ini. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوا۟“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)Pada zaman ini faktor-faktor yang memalingkan dari keyakinan itu sangat banyak. Hal-hal yang mendatangkan keraguan juga merebak. Maka, seyogyanya menjadi suatu hal yang paling harus dikejar di masa ini adalah dengan anda meyakini dengan kuat perkara-perkara yang wajib diyakini. Ini termasuk pondasi bagi anda yang harus anda pegang teguh dalam hidup.Yang ketiga, hendaklah anda tegar di atas kebenaran ini sampai mati, perkara ini/ urusan dunia ini dekat/ tidak jauh. Dan hidup ini (di dunia) hanya sebentar. Maksud perkara ini dekat, yaitu kita pasti akan meninggalkan dunia ini.Maka, kami berpesan dengan sangat agar kita tetap tegar. Janganlah jadi orang yang terpedaya sebagaimana orang-orang lain telah terpedaya sehingga dia pun berpaling dari jalan yang benar dan meninggalkan petunjuk yang Allah berikan kepadanya.Faktor-faktor yang membelokkan dari keteguhan di zaman ini sangat banyak dan hal-hal yang membuat lalai/ terlena itu lebih banyak lagi. Maka, perkara yang hendaknya kita selalu saling berwasiat dengannya wahai saudaraku yang tercinta adalah agar kita harus perhatian dalam hal ini. Yaitu agar kita selalu memperhatikan hal ilmu, perhatian dalam hal keyakinan, dan perhatian dalam hal keteguhan dalam beragama.Adapun lawan dari ilmu adalah kebodohan. Lawan yang merusak keyakinan adalah berbagai macam syubhat. Faktor yang menggerogoti keteguhan adalah fitnah syahwat. Oleh sebab itu, hendaknya kita cerdik dan cermat menggunakan akal sehat untuk memahami keadaan diri anda sendiri maupun keadaan yang ada pada orang lain.Dengan melihat banyaknya orang yang berguguran dari jalan yang lurus, maka hal ini menjadi faktor yang mendorong untuk seseorang itu semakin merasa khawatir. Dia merasa takut kalau-kalau dirinya jatuh dalam kesesatan sebagaimana orang lain yang telah jatuh di dalamnya. Hal ini juga semakin membuat dirinya semakin bersandar kepada Allah agar Allah selalu membimbing hatinya dan meneguhkannya.Karena permasalahan ini sungguh besar dan bukan bersandar kepada daya dan kekuatan atau ilmu dan ijazah yang anda miliki, juga tidak bersandar kepada jabatan, dan kedudukan yang telah anda gapai. Tidak, demi Allah. Urusan ini tidak lain bertumpu semata-mata pada karunia dari Allah, Rabb alam semesta ini. Selain itu, maka hatinya juga semakin besar bergantung kepada Allah. Hendaknya dia bersikap jujur kepada Allah, maka bergembiralah dengan kebaikan yang telah Allah janjikan.Allah berfirman,فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ“Adapun orang yang memberi dan bertakwa, serta membenarkan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya kemudahan/ kebaikan.” (QS. Al-Lail: 1-7)Baca Juga: Awas, Jangan Kau Dekati Fitnah!Apabila dia jujur kepada Allah niscaya Allah pun akan bersikap jujur kepadanya, artinya Allah akan membantu urusannya. Barangsiapa yang datang kepada Allah dengan berjalan kaki, maka Allah akan datang kepadanya dengan berjalan cepat.Maka, kita meminta pertolongan kepada Allah, saling membantu dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kebenaran. Barangsiapa yang memiliki suatu bentuk kebaikan, memiliki ilmu atau mendapati suatu kebenaran, berpegang dengan sunnah, maka hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam menjelaskannya kepada manusia.Hal ini perlu dilakukan dengan serius.Di sisi lain, ada sebagian orang yang saleh/baik, tetapi menjauhi kenyataan ini. Ketika melihat pertempuran yang begitu dahsyat antara kebenaran dan kebatilan, antara kekafiran dan keimanan, antara sunnah dan bid’ah yang begitu sengit, maka dia pun hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Maka, hal ini muncul dari kelemahan iman dan termasuk bentuk kedunguan yang seharusnya dijauhi oleh penimba ilmu dan orang yang telah Allah beri taufik kepadanya untuk berjalan di atas jalan ahlus sunnah wal jama’ah.Berdakwah ilallah, saling menasihati dalam kebenaran. Ini termasuk perkara penting untuk selalu kita perhatikan di zaman ini. Apabila hal ini menjadi perkara penting di masa silam, maka demi Allah, hal ini di masa ini semakin penting dan lebih ditekankan.Saya memohon kepada Allah untuk meneguhkan diri saya dan kalian di atas kebenaran ini dan semoga Allah mencurahkan taufik kepada kita untuk mengikuti kebenaran dan memberikan kemudahan bagi kita untuk beramal dengan apa-apa yang mendatangkan keridaan-Nya. Wallahu a’lam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikutnya dan segenap para sahabatnya.Disampaikan oleh Syekh Prof. Dr. Shalih Sindi hafizhahullah, guru besar ilmu akidah di Universitas Islam Madinah, saat berceramah Kuwait, 18 Muharrram 1444. Video ini diupload 17 Agustus 2022 di tautan berikut.Baca Juga:Mengenal Hempher Dan Fitnahnya Terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul WahabMakna Fitnah Dalam Al-Qur’an***Penerjemah: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Durhaka Kepada Ibu, Apa Itu Wali, Cara Berdzikir Yang Benar, Keutamaan Umroh RamadhanTags: Aqidahaqidah islamfitnah syahwatfitnah syubhatistiqomahkeutamaan istiqomahkiat istiqomahnasihatnasihat islamzaman fitnah

Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman Fitnah

Dengan nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Selawat dan salam serta keberkahan semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, para sahabat, dan pengikut setia beliau. Amma ba’du.Sesungguhnya di antara perkara paling agung yang seharusnya mendapatkan perhatian di zaman ini, wahai saudara-saudara sekalian, ialah hendaknya seorang insan beribadah kepada Allah Rabbnya Tabaraka Wa Ta’ala di atas bayyinah (bukti). Allah Ta’ala berfirman,أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَیِّنَةࣲ مِّن رَّبِّهِۦ “Apakah seorang yang berada di atas bayyinah/ bukti yang berasal dari Rabbnya …” (QS. Muhammad: 14)Dan hendaknya dia berada di atas nur (cahaya). Allah Ta’ala berfirman,أَوَمَن كَانَ مَیۡتࣰا فَأَحۡیَیۡنَـٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورࣰا یَمۡشِی بِهِۦ فِی ٱلنَّاسِ“Apakah orang yang dahulunya mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dia (dengan iman) dan Kami jadikan untuknya cahaya sehingga dia bisa berjalan di tengah manusia…” (QS. Al-An’am: 122)Demikian pula, hendaknya dia beragama di atas bashirah (hujjah yang nyata). Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ“Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…’” (QS. Yusuf: 108)Maka, al-bayyinah, nur, dan bashirah ini termasuk perkara yang dapat membantu insan dalam menjalani kehidupan ini agar tetap di atas jalan yang lurus, dan tegar di atasnya sampai mati.Kebutuhan terhadap hal ini di masa sekarang ini, wahai saudara-saudara sekalian, yang mana banyak hal menjadi rancu/ tercampur aduk dan di masa ini juga terjadi keterasingan/ ghurbah dalam beragama, sebagaimana apa yang memang telah dikehendaki oleh Allah. Maka, hal ini termasuk perkara yang paling penting yang harus diperhatikan dan termasuk sebab paling utama untuk bisa tegar dalam beragama.Baca Juga: Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiMakna-makna ini berporos pada beberapa poin penting;Pertama: ilmuKedua: keyakinanKetiga: tsabat/ keteguhanSeorang akan bisa berada di atas bayyinah, di atas nur, dan bashirah apabila dia memadukan ketiga poin di atas.Pertama, hendaklah dia beragama dengan landasan ilmu. Yaitu dia beribadah kepada Allah dengan dasar ilmu. Tidaklah dia melakukan atau meninggalkan suatu hal yang berkaitan dengan keyakinan atau ibadah (amalan), melainkan benar-benar berada di atas pondasi ilmu yang orisinil bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikuti pemahaman para sahabat dan salafus shalih.Yang kedua, hendaklah dia termasuk orang yang memiliki keyakinan yang kuat, dan ini termasuk perkara yang paling penting dimiliki di zaman ini. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوا۟“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)Pada zaman ini faktor-faktor yang memalingkan dari keyakinan itu sangat banyak. Hal-hal yang mendatangkan keraguan juga merebak. Maka, seyogyanya menjadi suatu hal yang paling harus dikejar di masa ini adalah dengan anda meyakini dengan kuat perkara-perkara yang wajib diyakini. Ini termasuk pondasi bagi anda yang harus anda pegang teguh dalam hidup.Yang ketiga, hendaklah anda tegar di atas kebenaran ini sampai mati, perkara ini/ urusan dunia ini dekat/ tidak jauh. Dan hidup ini (di dunia) hanya sebentar. Maksud perkara ini dekat, yaitu kita pasti akan meninggalkan dunia ini.Maka, kami berpesan dengan sangat agar kita tetap tegar. Janganlah jadi orang yang terpedaya sebagaimana orang-orang lain telah terpedaya sehingga dia pun berpaling dari jalan yang benar dan meninggalkan petunjuk yang Allah berikan kepadanya.Faktor-faktor yang membelokkan dari keteguhan di zaman ini sangat banyak dan hal-hal yang membuat lalai/ terlena itu lebih banyak lagi. Maka, perkara yang hendaknya kita selalu saling berwasiat dengannya wahai saudaraku yang tercinta adalah agar kita harus perhatian dalam hal ini. Yaitu agar kita selalu memperhatikan hal ilmu, perhatian dalam hal keyakinan, dan perhatian dalam hal keteguhan dalam beragama.Adapun lawan dari ilmu adalah kebodohan. Lawan yang merusak keyakinan adalah berbagai macam syubhat. Faktor yang menggerogoti keteguhan adalah fitnah syahwat. Oleh sebab itu, hendaknya kita cerdik dan cermat menggunakan akal sehat untuk memahami keadaan diri anda sendiri maupun keadaan yang ada pada orang lain.Dengan melihat banyaknya orang yang berguguran dari jalan yang lurus, maka hal ini menjadi faktor yang mendorong untuk seseorang itu semakin merasa khawatir. Dia merasa takut kalau-kalau dirinya jatuh dalam kesesatan sebagaimana orang lain yang telah jatuh di dalamnya. Hal ini juga semakin membuat dirinya semakin bersandar kepada Allah agar Allah selalu membimbing hatinya dan meneguhkannya.Karena permasalahan ini sungguh besar dan bukan bersandar kepada daya dan kekuatan atau ilmu dan ijazah yang anda miliki, juga tidak bersandar kepada jabatan, dan kedudukan yang telah anda gapai. Tidak, demi Allah. Urusan ini tidak lain bertumpu semata-mata pada karunia dari Allah, Rabb alam semesta ini. Selain itu, maka hatinya juga semakin besar bergantung kepada Allah. Hendaknya dia bersikap jujur kepada Allah, maka bergembiralah dengan kebaikan yang telah Allah janjikan.Allah berfirman,فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ“Adapun orang yang memberi dan bertakwa, serta membenarkan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya kemudahan/ kebaikan.” (QS. Al-Lail: 1-7)Baca Juga: Awas, Jangan Kau Dekati Fitnah!Apabila dia jujur kepada Allah niscaya Allah pun akan bersikap jujur kepadanya, artinya Allah akan membantu urusannya. Barangsiapa yang datang kepada Allah dengan berjalan kaki, maka Allah akan datang kepadanya dengan berjalan cepat.Maka, kita meminta pertolongan kepada Allah, saling membantu dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kebenaran. Barangsiapa yang memiliki suatu bentuk kebaikan, memiliki ilmu atau mendapati suatu kebenaran, berpegang dengan sunnah, maka hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam menjelaskannya kepada manusia.Hal ini perlu dilakukan dengan serius.Di sisi lain, ada sebagian orang yang saleh/baik, tetapi menjauhi kenyataan ini. Ketika melihat pertempuran yang begitu dahsyat antara kebenaran dan kebatilan, antara kekafiran dan keimanan, antara sunnah dan bid’ah yang begitu sengit, maka dia pun hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Maka, hal ini muncul dari kelemahan iman dan termasuk bentuk kedunguan yang seharusnya dijauhi oleh penimba ilmu dan orang yang telah Allah beri taufik kepadanya untuk berjalan di atas jalan ahlus sunnah wal jama’ah.Berdakwah ilallah, saling menasihati dalam kebenaran. Ini termasuk perkara penting untuk selalu kita perhatikan di zaman ini. Apabila hal ini menjadi perkara penting di masa silam, maka demi Allah, hal ini di masa ini semakin penting dan lebih ditekankan.Saya memohon kepada Allah untuk meneguhkan diri saya dan kalian di atas kebenaran ini dan semoga Allah mencurahkan taufik kepada kita untuk mengikuti kebenaran dan memberikan kemudahan bagi kita untuk beramal dengan apa-apa yang mendatangkan keridaan-Nya. Wallahu a’lam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikutnya dan segenap para sahabatnya.Disampaikan oleh Syekh Prof. Dr. Shalih Sindi hafizhahullah, guru besar ilmu akidah di Universitas Islam Madinah, saat berceramah Kuwait, 18 Muharrram 1444. Video ini diupload 17 Agustus 2022 di tautan berikut.Baca Juga:Mengenal Hempher Dan Fitnahnya Terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul WahabMakna Fitnah Dalam Al-Qur’an***Penerjemah: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Durhaka Kepada Ibu, Apa Itu Wali, Cara Berdzikir Yang Benar, Keutamaan Umroh RamadhanTags: Aqidahaqidah islamfitnah syahwatfitnah syubhatistiqomahkeutamaan istiqomahkiat istiqomahnasihatnasihat islamzaman fitnah
Dengan nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Selawat dan salam serta keberkahan semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, para sahabat, dan pengikut setia beliau. Amma ba’du.Sesungguhnya di antara perkara paling agung yang seharusnya mendapatkan perhatian di zaman ini, wahai saudara-saudara sekalian, ialah hendaknya seorang insan beribadah kepada Allah Rabbnya Tabaraka Wa Ta’ala di atas bayyinah (bukti). Allah Ta’ala berfirman,أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَیِّنَةࣲ مِّن رَّبِّهِۦ “Apakah seorang yang berada di atas bayyinah/ bukti yang berasal dari Rabbnya …” (QS. Muhammad: 14)Dan hendaknya dia berada di atas nur (cahaya). Allah Ta’ala berfirman,أَوَمَن كَانَ مَیۡتࣰا فَأَحۡیَیۡنَـٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورࣰا یَمۡشِی بِهِۦ فِی ٱلنَّاسِ“Apakah orang yang dahulunya mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dia (dengan iman) dan Kami jadikan untuknya cahaya sehingga dia bisa berjalan di tengah manusia…” (QS. Al-An’am: 122)Demikian pula, hendaknya dia beragama di atas bashirah (hujjah yang nyata). Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ“Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…’” (QS. Yusuf: 108)Maka, al-bayyinah, nur, dan bashirah ini termasuk perkara yang dapat membantu insan dalam menjalani kehidupan ini agar tetap di atas jalan yang lurus, dan tegar di atasnya sampai mati.Kebutuhan terhadap hal ini di masa sekarang ini, wahai saudara-saudara sekalian, yang mana banyak hal menjadi rancu/ tercampur aduk dan di masa ini juga terjadi keterasingan/ ghurbah dalam beragama, sebagaimana apa yang memang telah dikehendaki oleh Allah. Maka, hal ini termasuk perkara yang paling penting yang harus diperhatikan dan termasuk sebab paling utama untuk bisa tegar dalam beragama.Baca Juga: Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiMakna-makna ini berporos pada beberapa poin penting;Pertama: ilmuKedua: keyakinanKetiga: tsabat/ keteguhanSeorang akan bisa berada di atas bayyinah, di atas nur, dan bashirah apabila dia memadukan ketiga poin di atas.Pertama, hendaklah dia beragama dengan landasan ilmu. Yaitu dia beribadah kepada Allah dengan dasar ilmu. Tidaklah dia melakukan atau meninggalkan suatu hal yang berkaitan dengan keyakinan atau ibadah (amalan), melainkan benar-benar berada di atas pondasi ilmu yang orisinil bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikuti pemahaman para sahabat dan salafus shalih.Yang kedua, hendaklah dia termasuk orang yang memiliki keyakinan yang kuat, dan ini termasuk perkara yang paling penting dimiliki di zaman ini. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوا۟“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)Pada zaman ini faktor-faktor yang memalingkan dari keyakinan itu sangat banyak. Hal-hal yang mendatangkan keraguan juga merebak. Maka, seyogyanya menjadi suatu hal yang paling harus dikejar di masa ini adalah dengan anda meyakini dengan kuat perkara-perkara yang wajib diyakini. Ini termasuk pondasi bagi anda yang harus anda pegang teguh dalam hidup.Yang ketiga, hendaklah anda tegar di atas kebenaran ini sampai mati, perkara ini/ urusan dunia ini dekat/ tidak jauh. Dan hidup ini (di dunia) hanya sebentar. Maksud perkara ini dekat, yaitu kita pasti akan meninggalkan dunia ini.Maka, kami berpesan dengan sangat agar kita tetap tegar. Janganlah jadi orang yang terpedaya sebagaimana orang-orang lain telah terpedaya sehingga dia pun berpaling dari jalan yang benar dan meninggalkan petunjuk yang Allah berikan kepadanya.Faktor-faktor yang membelokkan dari keteguhan di zaman ini sangat banyak dan hal-hal yang membuat lalai/ terlena itu lebih banyak lagi. Maka, perkara yang hendaknya kita selalu saling berwasiat dengannya wahai saudaraku yang tercinta adalah agar kita harus perhatian dalam hal ini. Yaitu agar kita selalu memperhatikan hal ilmu, perhatian dalam hal keyakinan, dan perhatian dalam hal keteguhan dalam beragama.Adapun lawan dari ilmu adalah kebodohan. Lawan yang merusak keyakinan adalah berbagai macam syubhat. Faktor yang menggerogoti keteguhan adalah fitnah syahwat. Oleh sebab itu, hendaknya kita cerdik dan cermat menggunakan akal sehat untuk memahami keadaan diri anda sendiri maupun keadaan yang ada pada orang lain.Dengan melihat banyaknya orang yang berguguran dari jalan yang lurus, maka hal ini menjadi faktor yang mendorong untuk seseorang itu semakin merasa khawatir. Dia merasa takut kalau-kalau dirinya jatuh dalam kesesatan sebagaimana orang lain yang telah jatuh di dalamnya. Hal ini juga semakin membuat dirinya semakin bersandar kepada Allah agar Allah selalu membimbing hatinya dan meneguhkannya.Karena permasalahan ini sungguh besar dan bukan bersandar kepada daya dan kekuatan atau ilmu dan ijazah yang anda miliki, juga tidak bersandar kepada jabatan, dan kedudukan yang telah anda gapai. Tidak, demi Allah. Urusan ini tidak lain bertumpu semata-mata pada karunia dari Allah, Rabb alam semesta ini. Selain itu, maka hatinya juga semakin besar bergantung kepada Allah. Hendaknya dia bersikap jujur kepada Allah, maka bergembiralah dengan kebaikan yang telah Allah janjikan.Allah berfirman,فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ“Adapun orang yang memberi dan bertakwa, serta membenarkan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya kemudahan/ kebaikan.” (QS. Al-Lail: 1-7)Baca Juga: Awas, Jangan Kau Dekati Fitnah!Apabila dia jujur kepada Allah niscaya Allah pun akan bersikap jujur kepadanya, artinya Allah akan membantu urusannya. Barangsiapa yang datang kepada Allah dengan berjalan kaki, maka Allah akan datang kepadanya dengan berjalan cepat.Maka, kita meminta pertolongan kepada Allah, saling membantu dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kebenaran. Barangsiapa yang memiliki suatu bentuk kebaikan, memiliki ilmu atau mendapati suatu kebenaran, berpegang dengan sunnah, maka hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam menjelaskannya kepada manusia.Hal ini perlu dilakukan dengan serius.Di sisi lain, ada sebagian orang yang saleh/baik, tetapi menjauhi kenyataan ini. Ketika melihat pertempuran yang begitu dahsyat antara kebenaran dan kebatilan, antara kekafiran dan keimanan, antara sunnah dan bid’ah yang begitu sengit, maka dia pun hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Maka, hal ini muncul dari kelemahan iman dan termasuk bentuk kedunguan yang seharusnya dijauhi oleh penimba ilmu dan orang yang telah Allah beri taufik kepadanya untuk berjalan di atas jalan ahlus sunnah wal jama’ah.Berdakwah ilallah, saling menasihati dalam kebenaran. Ini termasuk perkara penting untuk selalu kita perhatikan di zaman ini. Apabila hal ini menjadi perkara penting di masa silam, maka demi Allah, hal ini di masa ini semakin penting dan lebih ditekankan.Saya memohon kepada Allah untuk meneguhkan diri saya dan kalian di atas kebenaran ini dan semoga Allah mencurahkan taufik kepada kita untuk mengikuti kebenaran dan memberikan kemudahan bagi kita untuk beramal dengan apa-apa yang mendatangkan keridaan-Nya. Wallahu a’lam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikutnya dan segenap para sahabatnya.Disampaikan oleh Syekh Prof. Dr. Shalih Sindi hafizhahullah, guru besar ilmu akidah di Universitas Islam Madinah, saat berceramah Kuwait, 18 Muharrram 1444. Video ini diupload 17 Agustus 2022 di tautan berikut.Baca Juga:Mengenal Hempher Dan Fitnahnya Terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul WahabMakna Fitnah Dalam Al-Qur’an***Penerjemah: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Durhaka Kepada Ibu, Apa Itu Wali, Cara Berdzikir Yang Benar, Keutamaan Umroh RamadhanTags: Aqidahaqidah islamfitnah syahwatfitnah syubhatistiqomahkeutamaan istiqomahkiat istiqomahnasihatnasihat islamzaman fitnah


Dengan nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Selawat dan salam serta keberkahan semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, para sahabat, dan pengikut setia beliau. Amma ba’du.Sesungguhnya di antara perkara paling agung yang seharusnya mendapatkan perhatian di zaman ini, wahai saudara-saudara sekalian, ialah hendaknya seorang insan beribadah kepada Allah Rabbnya Tabaraka Wa Ta’ala di atas bayyinah (bukti). Allah Ta’ala berfirman,أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَیِّنَةࣲ مِّن رَّبِّهِۦ “Apakah seorang yang berada di atas bayyinah/ bukti yang berasal dari Rabbnya …” (QS. Muhammad: 14)Dan hendaknya dia berada di atas nur (cahaya). Allah Ta’ala berfirman,أَوَمَن كَانَ مَیۡتࣰا فَأَحۡیَیۡنَـٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورࣰا یَمۡشِی بِهِۦ فِی ٱلنَّاسِ“Apakah orang yang dahulunya mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dia (dengan iman) dan Kami jadikan untuknya cahaya sehingga dia bisa berjalan di tengah manusia…” (QS. Al-An’am: 122)Demikian pula, hendaknya dia beragama di atas bashirah (hujjah yang nyata). Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ“Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…’” (QS. Yusuf: 108)Maka, al-bayyinah, nur, dan bashirah ini termasuk perkara yang dapat membantu insan dalam menjalani kehidupan ini agar tetap di atas jalan yang lurus, dan tegar di atasnya sampai mati.Kebutuhan terhadap hal ini di masa sekarang ini, wahai saudara-saudara sekalian, yang mana banyak hal menjadi rancu/ tercampur aduk dan di masa ini juga terjadi keterasingan/ ghurbah dalam beragama, sebagaimana apa yang memang telah dikehendaki oleh Allah. Maka, hal ini termasuk perkara yang paling penting yang harus diperhatikan dan termasuk sebab paling utama untuk bisa tegar dalam beragama.Baca Juga: Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiMakna-makna ini berporos pada beberapa poin penting;Pertama: ilmuKedua: keyakinanKetiga: tsabat/ keteguhanSeorang akan bisa berada di atas bayyinah, di atas nur, dan bashirah apabila dia memadukan ketiga poin di atas.Pertama, hendaklah dia beragama dengan landasan ilmu. Yaitu dia beribadah kepada Allah dengan dasar ilmu. Tidaklah dia melakukan atau meninggalkan suatu hal yang berkaitan dengan keyakinan atau ibadah (amalan), melainkan benar-benar berada di atas pondasi ilmu yang orisinil bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikuti pemahaman para sahabat dan salafus shalih.Yang kedua, hendaklah dia termasuk orang yang memiliki keyakinan yang kuat, dan ini termasuk perkara yang paling penting dimiliki di zaman ini. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوا۟“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)Pada zaman ini faktor-faktor yang memalingkan dari keyakinan itu sangat banyak. Hal-hal yang mendatangkan keraguan juga merebak. Maka, seyogyanya menjadi suatu hal yang paling harus dikejar di masa ini adalah dengan anda meyakini dengan kuat perkara-perkara yang wajib diyakini. Ini termasuk pondasi bagi anda yang harus anda pegang teguh dalam hidup.Yang ketiga, hendaklah anda tegar di atas kebenaran ini sampai mati, perkara ini/ urusan dunia ini dekat/ tidak jauh. Dan hidup ini (di dunia) hanya sebentar. Maksud perkara ini dekat, yaitu kita pasti akan meninggalkan dunia ini.Maka, kami berpesan dengan sangat agar kita tetap tegar. Janganlah jadi orang yang terpedaya sebagaimana orang-orang lain telah terpedaya sehingga dia pun berpaling dari jalan yang benar dan meninggalkan petunjuk yang Allah berikan kepadanya.Faktor-faktor yang membelokkan dari keteguhan di zaman ini sangat banyak dan hal-hal yang membuat lalai/ terlena itu lebih banyak lagi. Maka, perkara yang hendaknya kita selalu saling berwasiat dengannya wahai saudaraku yang tercinta adalah agar kita harus perhatian dalam hal ini. Yaitu agar kita selalu memperhatikan hal ilmu, perhatian dalam hal keyakinan, dan perhatian dalam hal keteguhan dalam beragama.Adapun lawan dari ilmu adalah kebodohan. Lawan yang merusak keyakinan adalah berbagai macam syubhat. Faktor yang menggerogoti keteguhan adalah fitnah syahwat. Oleh sebab itu, hendaknya kita cerdik dan cermat menggunakan akal sehat untuk memahami keadaan diri anda sendiri maupun keadaan yang ada pada orang lain.Dengan melihat banyaknya orang yang berguguran dari jalan yang lurus, maka hal ini menjadi faktor yang mendorong untuk seseorang itu semakin merasa khawatir. Dia merasa takut kalau-kalau dirinya jatuh dalam kesesatan sebagaimana orang lain yang telah jatuh di dalamnya. Hal ini juga semakin membuat dirinya semakin bersandar kepada Allah agar Allah selalu membimbing hatinya dan meneguhkannya.Karena permasalahan ini sungguh besar dan bukan bersandar kepada daya dan kekuatan atau ilmu dan ijazah yang anda miliki, juga tidak bersandar kepada jabatan, dan kedudukan yang telah anda gapai. Tidak, demi Allah. Urusan ini tidak lain bertumpu semata-mata pada karunia dari Allah, Rabb alam semesta ini. Selain itu, maka hatinya juga semakin besar bergantung kepada Allah. Hendaknya dia bersikap jujur kepada Allah, maka bergembiralah dengan kebaikan yang telah Allah janjikan.Allah berfirman,فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ“Adapun orang yang memberi dan bertakwa, serta membenarkan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya kemudahan/ kebaikan.” (QS. Al-Lail: 1-7)Baca Juga: Awas, Jangan Kau Dekati Fitnah!Apabila dia jujur kepada Allah niscaya Allah pun akan bersikap jujur kepadanya, artinya Allah akan membantu urusannya. Barangsiapa yang datang kepada Allah dengan berjalan kaki, maka Allah akan datang kepadanya dengan berjalan cepat.Maka, kita meminta pertolongan kepada Allah, saling membantu dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kebenaran. Barangsiapa yang memiliki suatu bentuk kebaikan, memiliki ilmu atau mendapati suatu kebenaran, berpegang dengan sunnah, maka hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam menjelaskannya kepada manusia.Hal ini perlu dilakukan dengan serius.Di sisi lain, ada sebagian orang yang saleh/baik, tetapi menjauhi kenyataan ini. Ketika melihat pertempuran yang begitu dahsyat antara kebenaran dan kebatilan, antara kekafiran dan keimanan, antara sunnah dan bid’ah yang begitu sengit, maka dia pun hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Maka, hal ini muncul dari kelemahan iman dan termasuk bentuk kedunguan yang seharusnya dijauhi oleh penimba ilmu dan orang yang telah Allah beri taufik kepadanya untuk berjalan di atas jalan ahlus sunnah wal jama’ah.Berdakwah ilallah, saling menasihati dalam kebenaran. Ini termasuk perkara penting untuk selalu kita perhatikan di zaman ini. Apabila hal ini menjadi perkara penting di masa silam, maka demi Allah, hal ini di masa ini semakin penting dan lebih ditekankan.Saya memohon kepada Allah untuk meneguhkan diri saya dan kalian di atas kebenaran ini dan semoga Allah mencurahkan taufik kepada kita untuk mengikuti kebenaran dan memberikan kemudahan bagi kita untuk beramal dengan apa-apa yang mendatangkan keridaan-Nya. Wallahu a’lam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikutnya dan segenap para sahabatnya.Disampaikan oleh Syekh Prof. Dr. Shalih Sindi hafizhahullah, guru besar ilmu akidah di Universitas Islam Madinah, saat berceramah Kuwait, 18 Muharrram 1444. Video ini diupload 17 Agustus 2022 di tautan berikut.Baca Juga:Mengenal Hempher Dan Fitnahnya Terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul WahabMakna Fitnah Dalam Al-Qur’an***Penerjemah: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Durhaka Kepada Ibu, Apa Itu Wali, Cara Berdzikir Yang Benar, Keutamaan Umroh RamadhanTags: Aqidahaqidah islamfitnah syahwatfitnah syubhatistiqomahkeutamaan istiqomahkiat istiqomahnasihatnasihat islamzaman fitnah

Fatwa Ulama: Hukum Menyampaikan Khotbah Jumat dengan Selain Bahasa Arab

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Apakah hukum (menyampaikan) khotbah Jumat dengan selain bahasa Arab?Jawaban:Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah bahwa tidak boleh bagi khatib salat Jumat untuk menyampaikan khotbah dengan menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh jemaah yang hadir. Jika jamaah tersebut misalnya bukan orang Arab, dan tidak memahami bahasa Arab, maka khatib menyampaikan khotbah dengan bahasa yang mereka pahami. Karena khotbah adalah wasilah (sarana) untuk menyampaikan penjelasan kepada mereka. Maksud (tujuan) dari khotbah Jumat adalah menjelaskan batasan-batasan (hukum) Allah kepada manusia, memberikan nasihat, dan memberikan petunjuk kepada mereka. Kecuali ayat-ayat Al-Qur’an yang wajib disampaikan dengan bahasa Arab, kemudian diterjemahkan dengan bahasa setempat.Dalil bahwa wajib bagi khatib untuk menyampaikan khotbah dengan bahasa jemaah yang hadir adalah firman Allah Ta’ala,وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya. Supaya dia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 4)Maka, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa sarana untuk menyampaikan penjelasan (petunjuk) hanyalah dengan menggunakan bahasa yang dipahami oleh jemaah (kaum) yang hadir.Baca Juga:Sunnah Menghadapkan Wajah ke Arah Khatib Shalat JumatHukum Shalat Jumat Dua Gelombang***@Rumah Kasongan, 22 Muharram 1444/ 20 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 473-474, pertanyaan no. 324.🔍 Situs Islam, Dalil Memuliakan Tamu, Sunnah Islam, Dakwah Gambar, Pengertian Fiqih Menurut Para UlamaTags: fikihfikih khutbah jumatkhotibkhutbah jumatmateri khutbah jumatpanduan khutbah jumatshalat jumattata cara khutbah jumattema khutbah jumattuntunan khutbah jumat

Fatwa Ulama: Hukum Menyampaikan Khotbah Jumat dengan Selain Bahasa Arab

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Apakah hukum (menyampaikan) khotbah Jumat dengan selain bahasa Arab?Jawaban:Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah bahwa tidak boleh bagi khatib salat Jumat untuk menyampaikan khotbah dengan menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh jemaah yang hadir. Jika jamaah tersebut misalnya bukan orang Arab, dan tidak memahami bahasa Arab, maka khatib menyampaikan khotbah dengan bahasa yang mereka pahami. Karena khotbah adalah wasilah (sarana) untuk menyampaikan penjelasan kepada mereka. Maksud (tujuan) dari khotbah Jumat adalah menjelaskan batasan-batasan (hukum) Allah kepada manusia, memberikan nasihat, dan memberikan petunjuk kepada mereka. Kecuali ayat-ayat Al-Qur’an yang wajib disampaikan dengan bahasa Arab, kemudian diterjemahkan dengan bahasa setempat.Dalil bahwa wajib bagi khatib untuk menyampaikan khotbah dengan bahasa jemaah yang hadir adalah firman Allah Ta’ala,وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya. Supaya dia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 4)Maka, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa sarana untuk menyampaikan penjelasan (petunjuk) hanyalah dengan menggunakan bahasa yang dipahami oleh jemaah (kaum) yang hadir.Baca Juga:Sunnah Menghadapkan Wajah ke Arah Khatib Shalat JumatHukum Shalat Jumat Dua Gelombang***@Rumah Kasongan, 22 Muharram 1444/ 20 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 473-474, pertanyaan no. 324.🔍 Situs Islam, Dalil Memuliakan Tamu, Sunnah Islam, Dakwah Gambar, Pengertian Fiqih Menurut Para UlamaTags: fikihfikih khutbah jumatkhotibkhutbah jumatmateri khutbah jumatpanduan khutbah jumatshalat jumattata cara khutbah jumattema khutbah jumattuntunan khutbah jumat
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Apakah hukum (menyampaikan) khotbah Jumat dengan selain bahasa Arab?Jawaban:Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah bahwa tidak boleh bagi khatib salat Jumat untuk menyampaikan khotbah dengan menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh jemaah yang hadir. Jika jamaah tersebut misalnya bukan orang Arab, dan tidak memahami bahasa Arab, maka khatib menyampaikan khotbah dengan bahasa yang mereka pahami. Karena khotbah adalah wasilah (sarana) untuk menyampaikan penjelasan kepada mereka. Maksud (tujuan) dari khotbah Jumat adalah menjelaskan batasan-batasan (hukum) Allah kepada manusia, memberikan nasihat, dan memberikan petunjuk kepada mereka. Kecuali ayat-ayat Al-Qur’an yang wajib disampaikan dengan bahasa Arab, kemudian diterjemahkan dengan bahasa setempat.Dalil bahwa wajib bagi khatib untuk menyampaikan khotbah dengan bahasa jemaah yang hadir adalah firman Allah Ta’ala,وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya. Supaya dia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 4)Maka, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa sarana untuk menyampaikan penjelasan (petunjuk) hanyalah dengan menggunakan bahasa yang dipahami oleh jemaah (kaum) yang hadir.Baca Juga:Sunnah Menghadapkan Wajah ke Arah Khatib Shalat JumatHukum Shalat Jumat Dua Gelombang***@Rumah Kasongan, 22 Muharram 1444/ 20 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 473-474, pertanyaan no. 324.🔍 Situs Islam, Dalil Memuliakan Tamu, Sunnah Islam, Dakwah Gambar, Pengertian Fiqih Menurut Para UlamaTags: fikihfikih khutbah jumatkhotibkhutbah jumatmateri khutbah jumatpanduan khutbah jumatshalat jumattata cara khutbah jumattema khutbah jumattuntunan khutbah jumat


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Apakah hukum (menyampaikan) khotbah Jumat dengan selain bahasa Arab?Jawaban:Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah bahwa tidak boleh bagi khatib salat Jumat untuk menyampaikan khotbah dengan menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh jemaah yang hadir. Jika jamaah tersebut misalnya bukan orang Arab, dan tidak memahami bahasa Arab, maka khatib menyampaikan khotbah dengan bahasa yang mereka pahami. Karena khotbah adalah wasilah (sarana) untuk menyampaikan penjelasan kepada mereka. Maksud (tujuan) dari khotbah Jumat adalah menjelaskan batasan-batasan (hukum) Allah kepada manusia, memberikan nasihat, dan memberikan petunjuk kepada mereka. Kecuali ayat-ayat Al-Qur’an yang wajib disampaikan dengan bahasa Arab, kemudian diterjemahkan dengan bahasa setempat.Dalil bahwa wajib bagi khatib untuk menyampaikan khotbah dengan bahasa jemaah yang hadir adalah firman Allah Ta’ala,وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya. Supaya dia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 4)Maka, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa sarana untuk menyampaikan penjelasan (petunjuk) hanyalah dengan menggunakan bahasa yang dipahami oleh jemaah (kaum) yang hadir.Baca Juga:Sunnah Menghadapkan Wajah ke Arah Khatib Shalat JumatHukum Shalat Jumat Dua Gelombang***@Rumah Kasongan, 22 Muharram 1444/ 20 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 473-474, pertanyaan no. 324.🔍 Situs Islam, Dalil Memuliakan Tamu, Sunnah Islam, Dakwah Gambar, Pengertian Fiqih Menurut Para UlamaTags: fikihfikih khutbah jumatkhotibkhutbah jumatmateri khutbah jumatpanduan khutbah jumatshalat jumattata cara khutbah jumattema khutbah jumattuntunan khutbah jumat

Apakah Rambut yang Rontok Harus Dikubur?

Pertanyaan: Izin bertanya ustadz. Apakah rambut rontok wanita termasuk aurat? Apabila iya, bagaimana perlakuan bagi rambut yang rontok tersebut? Jawaban: Alhamdulillahi was shalatu was salamu ‘ala Rasulillahi wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man saara ‘ala nahjihi ila yaumil qiyamati. Amma ba’du. Sebagian ulama mewajibkan atau menganjurkan untuk mengubur atau menyembunyikan rambut rontok wanita. Terdapat sebuah hadits dalam masalah ini, dari Qabishah bin Dzuaib radhiyallahu’anhu, diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ادفِنوا شُعورَكم وأظفارَكم ودماءَكم لا يلعبُ بها سَحَرةُ بني آدمَ “Kuburlah rambut-rambut kalian, kuku-kuku kalian, serta darah-darah kalian! Agar para tukang sihir dari kalangan Bani Adam tidak mempermainkan rambut, kuku dan darah tersebut.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam al-Majruhin (2/498), namun beliau mengatakan: “Dalam sanadnya terdapat al-Yaman bin ‘Adi, ia sering keliru namun tidak parah kekeliruannya. Haditsnya tidak bisa menjadi hujjah jika bersendirian.” Sehingga hadits ini dha’if. Hadits ini juga didhaifkan oleh adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal (4/460). Juga terdapat riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah: وَقَالَ مُهَنَّا: سَأَلْت أَحْمَدَ عَنْ الرَّجُلِ يَأْخُذُ مِنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ أَيَدْفِنُهُ أَمْ يُلْقِيهِ؟ قَالَ: يَدْفِنُهُ، قُلْت: بَلَغَك فِيهِ شَيْءٌ؟ قَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَدْفِنُهُ. وَرُوِّينَا عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ أَمَرَ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ، وَقَالَ: لَا يَتَلَاعَبُ بِهِ سَحَرَةُ بَنِي آدَمَ “Muhanna berkata, “aku bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang memotong rambutnya dan kukunya, apakah sebaiknya dikubur atau dibuang saja?” Imam Ahmad menjawab, “sebaiknya dikubur”. Muhanna bertanya lagi, “apakah ada dalilnya?” Imam Ahmad menjawab, “Ibnu Umar biasa melakukan mengubur rambut dan kukunya.” Dan juga diriwayatkan dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku, dan beliau berkata, “Agar para tukang sihir dari kalangan Bani Adam tidak mempermainkan rambut tersebut.”.” (Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, 1/66). Hadits yang beliau bawakan telah kita jelaskan kelemahannya. Adapun atsar dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu dalam masalah ini belum kami dapati sanadnya dan informasi validitasnya. Maka wallahu a’lam, pendapat yang nampaknya lebih tepat, tidak wajib dan tidak dianjurkan untuk menguburkan karena tidak ada dalil yang mendasarinya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang hal ini, beliau mengatakan: ليس لهذا أصل، ولا حرج أن تلقى هذه الأشياء في القمامة، سواء كانت من الشعر أو من الأظفار كل ذلك لا حرج فيه، مع القمامة أو في أرض تدفن فكل ذلك لا بأس به “Anjuran ini (mengubur rambut dan kuku) adalah perkara yang tidak ada asalnya. Tidak mengapa membuang rambut dan kuku wanita di tempat sampah, ini semua tidak mengapa. Baik tempat sampah yang ada di atas tanah atau yang dikubur dengan tanah, ini semua tidak mengapa.” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/13122) Namun andaikan seseorang ingin menguburkan rambut dan kukunya pun tidak terlarang. Selama tidak dianggap bagian dari agama atau perkara yang afdhal, sedangkan tidak ada dalil shahih yang mendasarinya. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Zina Hati, Hari Baik Pernikahan Menurut Islam, Ya Juj Ma Juj Adalah, Sujud Shalat, Lafadz Ijab Qabul Nikah, Tulisan Innalillahi Yang Benar Visited 1,135 times, 5 visit(s) today Post Views: 708 QRIS donasi Yufid

Apakah Rambut yang Rontok Harus Dikubur?

Pertanyaan: Izin bertanya ustadz. Apakah rambut rontok wanita termasuk aurat? Apabila iya, bagaimana perlakuan bagi rambut yang rontok tersebut? Jawaban: Alhamdulillahi was shalatu was salamu ‘ala Rasulillahi wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man saara ‘ala nahjihi ila yaumil qiyamati. Amma ba’du. Sebagian ulama mewajibkan atau menganjurkan untuk mengubur atau menyembunyikan rambut rontok wanita. Terdapat sebuah hadits dalam masalah ini, dari Qabishah bin Dzuaib radhiyallahu’anhu, diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ادفِنوا شُعورَكم وأظفارَكم ودماءَكم لا يلعبُ بها سَحَرةُ بني آدمَ “Kuburlah rambut-rambut kalian, kuku-kuku kalian, serta darah-darah kalian! Agar para tukang sihir dari kalangan Bani Adam tidak mempermainkan rambut, kuku dan darah tersebut.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam al-Majruhin (2/498), namun beliau mengatakan: “Dalam sanadnya terdapat al-Yaman bin ‘Adi, ia sering keliru namun tidak parah kekeliruannya. Haditsnya tidak bisa menjadi hujjah jika bersendirian.” Sehingga hadits ini dha’if. Hadits ini juga didhaifkan oleh adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal (4/460). Juga terdapat riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah: وَقَالَ مُهَنَّا: سَأَلْت أَحْمَدَ عَنْ الرَّجُلِ يَأْخُذُ مِنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ أَيَدْفِنُهُ أَمْ يُلْقِيهِ؟ قَالَ: يَدْفِنُهُ، قُلْت: بَلَغَك فِيهِ شَيْءٌ؟ قَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَدْفِنُهُ. وَرُوِّينَا عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ أَمَرَ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ، وَقَالَ: لَا يَتَلَاعَبُ بِهِ سَحَرَةُ بَنِي آدَمَ “Muhanna berkata, “aku bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang memotong rambutnya dan kukunya, apakah sebaiknya dikubur atau dibuang saja?” Imam Ahmad menjawab, “sebaiknya dikubur”. Muhanna bertanya lagi, “apakah ada dalilnya?” Imam Ahmad menjawab, “Ibnu Umar biasa melakukan mengubur rambut dan kukunya.” Dan juga diriwayatkan dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku, dan beliau berkata, “Agar para tukang sihir dari kalangan Bani Adam tidak mempermainkan rambut tersebut.”.” (Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, 1/66). Hadits yang beliau bawakan telah kita jelaskan kelemahannya. Adapun atsar dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu dalam masalah ini belum kami dapati sanadnya dan informasi validitasnya. Maka wallahu a’lam, pendapat yang nampaknya lebih tepat, tidak wajib dan tidak dianjurkan untuk menguburkan karena tidak ada dalil yang mendasarinya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang hal ini, beliau mengatakan: ليس لهذا أصل، ولا حرج أن تلقى هذه الأشياء في القمامة، سواء كانت من الشعر أو من الأظفار كل ذلك لا حرج فيه، مع القمامة أو في أرض تدفن فكل ذلك لا بأس به “Anjuran ini (mengubur rambut dan kuku) adalah perkara yang tidak ada asalnya. Tidak mengapa membuang rambut dan kuku wanita di tempat sampah, ini semua tidak mengapa. Baik tempat sampah yang ada di atas tanah atau yang dikubur dengan tanah, ini semua tidak mengapa.” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/13122) Namun andaikan seseorang ingin menguburkan rambut dan kukunya pun tidak terlarang. Selama tidak dianggap bagian dari agama atau perkara yang afdhal, sedangkan tidak ada dalil shahih yang mendasarinya. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Zina Hati, Hari Baik Pernikahan Menurut Islam, Ya Juj Ma Juj Adalah, Sujud Shalat, Lafadz Ijab Qabul Nikah, Tulisan Innalillahi Yang Benar Visited 1,135 times, 5 visit(s) today Post Views: 708 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Izin bertanya ustadz. Apakah rambut rontok wanita termasuk aurat? Apabila iya, bagaimana perlakuan bagi rambut yang rontok tersebut? Jawaban: Alhamdulillahi was shalatu was salamu ‘ala Rasulillahi wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man saara ‘ala nahjihi ila yaumil qiyamati. Amma ba’du. Sebagian ulama mewajibkan atau menganjurkan untuk mengubur atau menyembunyikan rambut rontok wanita. Terdapat sebuah hadits dalam masalah ini, dari Qabishah bin Dzuaib radhiyallahu’anhu, diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ادفِنوا شُعورَكم وأظفارَكم ودماءَكم لا يلعبُ بها سَحَرةُ بني آدمَ “Kuburlah rambut-rambut kalian, kuku-kuku kalian, serta darah-darah kalian! Agar para tukang sihir dari kalangan Bani Adam tidak mempermainkan rambut, kuku dan darah tersebut.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam al-Majruhin (2/498), namun beliau mengatakan: “Dalam sanadnya terdapat al-Yaman bin ‘Adi, ia sering keliru namun tidak parah kekeliruannya. Haditsnya tidak bisa menjadi hujjah jika bersendirian.” Sehingga hadits ini dha’if. Hadits ini juga didhaifkan oleh adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal (4/460). Juga terdapat riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah: وَقَالَ مُهَنَّا: سَأَلْت أَحْمَدَ عَنْ الرَّجُلِ يَأْخُذُ مِنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ أَيَدْفِنُهُ أَمْ يُلْقِيهِ؟ قَالَ: يَدْفِنُهُ، قُلْت: بَلَغَك فِيهِ شَيْءٌ؟ قَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَدْفِنُهُ. وَرُوِّينَا عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ أَمَرَ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ، وَقَالَ: لَا يَتَلَاعَبُ بِهِ سَحَرَةُ بَنِي آدَمَ “Muhanna berkata, “aku bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang memotong rambutnya dan kukunya, apakah sebaiknya dikubur atau dibuang saja?” Imam Ahmad menjawab, “sebaiknya dikubur”. Muhanna bertanya lagi, “apakah ada dalilnya?” Imam Ahmad menjawab, “Ibnu Umar biasa melakukan mengubur rambut dan kukunya.” Dan juga diriwayatkan dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku, dan beliau berkata, “Agar para tukang sihir dari kalangan Bani Adam tidak mempermainkan rambut tersebut.”.” (Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, 1/66). Hadits yang beliau bawakan telah kita jelaskan kelemahannya. Adapun atsar dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu dalam masalah ini belum kami dapati sanadnya dan informasi validitasnya. Maka wallahu a’lam, pendapat yang nampaknya lebih tepat, tidak wajib dan tidak dianjurkan untuk menguburkan karena tidak ada dalil yang mendasarinya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang hal ini, beliau mengatakan: ليس لهذا أصل، ولا حرج أن تلقى هذه الأشياء في القمامة، سواء كانت من الشعر أو من الأظفار كل ذلك لا حرج فيه، مع القمامة أو في أرض تدفن فكل ذلك لا بأس به “Anjuran ini (mengubur rambut dan kuku) adalah perkara yang tidak ada asalnya. Tidak mengapa membuang rambut dan kuku wanita di tempat sampah, ini semua tidak mengapa. Baik tempat sampah yang ada di atas tanah atau yang dikubur dengan tanah, ini semua tidak mengapa.” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/13122) Namun andaikan seseorang ingin menguburkan rambut dan kukunya pun tidak terlarang. Selama tidak dianggap bagian dari agama atau perkara yang afdhal, sedangkan tidak ada dalil shahih yang mendasarinya. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Zina Hati, Hari Baik Pernikahan Menurut Islam, Ya Juj Ma Juj Adalah, Sujud Shalat, Lafadz Ijab Qabul Nikah, Tulisan Innalillahi Yang Benar Visited 1,135 times, 5 visit(s) today Post Views: 708 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1339851901&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Izin bertanya ustadz. Apakah rambut rontok wanita termasuk aurat? Apabila iya, bagaimana perlakuan bagi rambut yang rontok tersebut? Jawaban: Alhamdulillahi was shalatu was salamu ‘ala Rasulillahi wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man saara ‘ala nahjihi ila yaumil qiyamati. Amma ba’du. Sebagian ulama mewajibkan atau menganjurkan untuk mengubur atau menyembunyikan rambut rontok wanita. Terdapat sebuah hadits dalam masalah ini, dari Qabishah bin Dzuaib radhiyallahu’anhu, diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ادفِنوا شُعورَكم وأظفارَكم ودماءَكم لا يلعبُ بها سَحَرةُ بني آدمَ “Kuburlah rambut-rambut kalian, kuku-kuku kalian, serta darah-darah kalian! Agar para tukang sihir dari kalangan Bani Adam tidak mempermainkan rambut, kuku dan darah tersebut.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam al-Majruhin (2/498), namun beliau mengatakan: “Dalam sanadnya terdapat al-Yaman bin ‘Adi, ia sering keliru namun tidak parah kekeliruannya. Haditsnya tidak bisa menjadi hujjah jika bersendirian.” Sehingga hadits ini dha’if. Hadits ini juga didhaifkan oleh adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal (4/460). Juga terdapat riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah: وَقَالَ مُهَنَّا: سَأَلْت أَحْمَدَ عَنْ الرَّجُلِ يَأْخُذُ مِنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ أَيَدْفِنُهُ أَمْ يُلْقِيهِ؟ قَالَ: يَدْفِنُهُ، قُلْت: بَلَغَك فِيهِ شَيْءٌ؟ قَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَدْفِنُهُ. وَرُوِّينَا عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ أَمَرَ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ، وَقَالَ: لَا يَتَلَاعَبُ بِهِ سَحَرَةُ بَنِي آدَمَ “Muhanna berkata, “aku bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang memotong rambutnya dan kukunya, apakah sebaiknya dikubur atau dibuang saja?” Imam Ahmad menjawab, “sebaiknya dikubur”. Muhanna bertanya lagi, “apakah ada dalilnya?” Imam Ahmad menjawab, “Ibnu Umar biasa melakukan mengubur rambut dan kukunya.” Dan juga diriwayatkan dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku, dan beliau berkata, “Agar para tukang sihir dari kalangan Bani Adam tidak mempermainkan rambut tersebut.”.” (Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, 1/66). Hadits yang beliau bawakan telah kita jelaskan kelemahannya. Adapun atsar dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu dalam masalah ini belum kami dapati sanadnya dan informasi validitasnya. Maka wallahu a’lam, pendapat yang nampaknya lebih tepat, tidak wajib dan tidak dianjurkan untuk menguburkan karena tidak ada dalil yang mendasarinya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang hal ini, beliau mengatakan: ليس لهذا أصل، ولا حرج أن تلقى هذه الأشياء في القمامة، سواء كانت من الشعر أو من الأظفار كل ذلك لا حرج فيه، مع القمامة أو في أرض تدفن فكل ذلك لا بأس به “Anjuran ini (mengubur rambut dan kuku) adalah perkara yang tidak ada asalnya. Tidak mengapa membuang rambut dan kuku wanita di tempat sampah, ini semua tidak mengapa. Baik tempat sampah yang ada di atas tanah atau yang dikubur dengan tanah, ini semua tidak mengapa.” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/13122) Namun andaikan seseorang ingin menguburkan rambut dan kukunya pun tidak terlarang. Selama tidak dianggap bagian dari agama atau perkara yang afdhal, sedangkan tidak ada dalil shahih yang mendasarinya. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Zina Hati, Hari Baik Pernikahan Menurut Islam, Ya Juj Ma Juj Adalah, Sujud Shalat, Lafadz Ijab Qabul Nikah, Tulisan Innalillahi Yang Benar Visited 1,135 times, 5 visit(s) today Post Views: 708 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Tafsir al-Fatihah (6): Ihdinas Siratal Mustaqim – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)“Tunjukilah kami, …” dikatakan bahwa maknanya, “Teguhkan kami di atas jalan yang lurus.” Disebutkan juga bahwa “Tunjukilah kami, …” maknanya “Tambahkan pada kami hidayah.”Ini diucapkan oleh orang yang belum mendapat petunjukdan orang yang sudah mendapat petunjuk. Jika seseorang berkata,“Kenapa orang yang telah mendapat petunjuk berkata, ‘Tunjukilah kami …’”?Misalnya, Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,atau kita semua ketika salat,tidaklah kita datang dan salat di masjid yang agung inikecuali memohon hidayah. Kita berdoa dalam salat kita,“Tunjukilah kami jalan yang lurus, …” (QS. Al-Fatihah: 6)Jadi, kita tidak datangkecuali kita adalah orang yang mendapat petunjuk—dan segala puji dan karunia bagi Allah. Lalu mengapa kita berdoa, “Tunjukilah kami?”Dijawab, “Tambahkan hidayah pada kami.”Para ulama berkata: “Tunjukilah kami, maksudnya tambahkan hidayah pada kami,atau teguhkan kami di atas hidayah.” Dua makna ini benar.Sebagian ulama lain mengatakan,“Karena seseorang terus-menerus beramal,yang mana setiap amalan membutuhkan hidayah.”Kita sekarang membutuhkan hidayah. Tadi ketika salat,kita membutuhkan hidayah.Kemudian setelah kita meninggalkan tempat yang diberkahi ini,kita membutuhkan hidayah. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika seseorang memperbanyakmembaca surah yang penuh berkah inidan senantiasa berkata, “Tunjukilah kami. Tunjukilah kami. Tunjukilah kami.”Maksudnya, untuk waktu yang yang akan datang dan seterusnya. Semua makna-makna ini benar.Adapun aṣ-Ṣirāṭ, maknanya adalah aṭ-Ṭarīq (Jalan).Orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭ—sebagaimana dikatakan—hingga terkumpul padanya enam hal.Jika jalan tersebut memiliki enam hal ini,maka orang Arab akan berkata, “Ini adalah Ṣirāṭ.” Jadi, tidak semua jalan disebut Ṣirāṭ oleh orang Arab.Di sini ada tiga versi qiraah:Aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad,as-Sirāṭ dengan huruf sin,dan aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad yang masuk ke huruf zai. Seperti yang kami katakan, orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭhingga terkumpul padanya enam hal:(1) Jalan tersebut harus jelas,(2) harus sudah ditentukan,(3) harus mengantarkan pada tujuan,(4) harus luas,(5) merupakan jalan yang paling dekat,(6) dan harus lurus.Ya, jalannya harus lurus. Inilah enam sifat yang apabila semuanya terkumpul pada sebuah jalanmaka orang Arab akan menyebutnya Ṣirāṭ.Allah mengatakan, “Jalan yang lurus,”agar diperhatikan karakteristiknya yang paling utama. Ini masuk dalam kaidah “Menghubungkan Sesuatu Khusus dengan Sesuatu yang Umum”agar diperhatikan karakteristik utama jalan ini,yaitu bahwa jalan ini lurus. Semoga Allah meneguhkan kami dan kalian semua di atasnya.Ini adalah permintaan dari orang-orang yang berimankepada Tuhan mereka Tabāraka wa Ta’ālā,agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus ini. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اِهْدِنَا قِيلَ ثَبِّتْنَا عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ وَقِيلَ اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً وَهَذَا يَقُولُهُ مَنْ لَمْ يَكُنْ مُهْتَدِيًا مَنْ كَانَ مُهْتَدِيًا إِذْ يَقُولُ قَائِلٌ كَيْفَ يَقُولُ الْمُهْتَدِي: اِهْدِنَا؟ كَالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ نَحْنُ عِنْدَمَا نُصَلِّي نَحْنُ مَا جِئْنَا نُصَلِّي فِي هَذَا الْبَيْتِ الْعَظِيمِ إِلَّا طَلَبًا لِلْهِدَايَةِ وَنَقُولُ فِي صَلَاتِنَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ إِذَنْ نَحْنُ مَا جِئْنَا إِلَّا وَنَحْنُ مُهْتَدُونَ وَلِلهِ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ فَلِمَاذَا نَقُولُ: اِهْدِنَا ؟ قَالَ: زِدْنَا هِدَايَةً قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ: اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً أَوْ ثَبِّتْنَا عَلَى الْهِدَايَةِ وَالْمَعْنَيَانِ صَحِيحَانِ وَقَالَ آخَرُونَ بَلْ لَمَّا كَانَ الْإِنْسَانُ دَائِمًا فِي عَمَلٍ وَكُلُّ عَمَلٍ يَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ فَنَحْنُ الْآنَ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَقَبْلَ قَلِيلٍ فِي الصَّلَاةِ كُنَّا مُحْتَاجِيْنَ إِلَى هِدَايَةٍ وَبَعْدَ أَنْ نَخْرُجَ مِنْ هَذَا الْمَكَانِ الْمُبَارَكِ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَلِذَا نَاسَبَ أَنْ… يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ قِرَاءَةِ هَذِهِ السُّورَةِ الْمُبَارَكَةِ وَأَنْ يَقُولَ دَائِمًا: اِهْدِنَا اِهْدِنَا اِهْدِنَا أَيْ لِمَا سَيَأْتِي وَهَكَذَا وَكُلُّ الْمَعَانِي هَذَا هَذِهِ صَحِيحَةٌ وَالصِّرَاطُ هُوَ الطَّرِيقُ وَالْعَرَبُ لَا تُسَمِّي الطَّرِيقَ صِرَاطًا كَمَا يُقَالُ حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ سِتَّةُ أُمُورٍ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَلَيْسَ كُلُّ طَرِيقٍ تُسَمِّيهِ الْعَرَبُ صِرَاطًا وَفِيهَا ثَلَاثُ قِرَاءَاتٍ الصِّرَاطُ بِالصَّادِ وَالسِّرَاطُ بِالسِّينِ وَالصِّرَاطُ وَهِيَ الصَّادُ مَشْمُومَ الزَّايِ وَكَمَا قُلْنَا لَا تُسَمِّي الْعَرَبُ الطَّرِيقَ صِرَاطًا حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيه سِتَّةُ أُمُورٍ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ وَاضِحًا وَأَنْ يَكُونَ مُتَعَيِّنًا وَأَنْ يَكُونَ مُوْصِلًا لِلْمَقْصُودِ وَأَنْ يَكُونَ وَاسِعًا وَأَنْ يَكُونَ أَقْرَبَ طَرِيقٍ وَيَكُونُ مُسْتَقِيمًا نَعَمْ وَأَنْ يَكُونَ مُسْتَقِيمًا هَذِهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَإِنَّمَا قَالَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِهِ وَهُوَ مِنْ بَابِ عَطْفِ الْخَاصِّ عَلَى الْعَامِّ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِ هَذَا الصِّرَاطِ وَهُوَ أَنَّهُ مُسْتَقِيمٌ ثَبَّتَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ عَلَيْهِ وَهَذَا طَلَبٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِرَبِّهِمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يَهْدِيَهُمْ إِلَى هَذَا الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tafsir al-Fatihah (6): Ihdinas Siratal Mustaqim – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)“Tunjukilah kami, …” dikatakan bahwa maknanya, “Teguhkan kami di atas jalan yang lurus.” Disebutkan juga bahwa “Tunjukilah kami, …” maknanya “Tambahkan pada kami hidayah.”Ini diucapkan oleh orang yang belum mendapat petunjukdan orang yang sudah mendapat petunjuk. Jika seseorang berkata,“Kenapa orang yang telah mendapat petunjuk berkata, ‘Tunjukilah kami …’”?Misalnya, Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,atau kita semua ketika salat,tidaklah kita datang dan salat di masjid yang agung inikecuali memohon hidayah. Kita berdoa dalam salat kita,“Tunjukilah kami jalan yang lurus, …” (QS. Al-Fatihah: 6)Jadi, kita tidak datangkecuali kita adalah orang yang mendapat petunjuk—dan segala puji dan karunia bagi Allah. Lalu mengapa kita berdoa, “Tunjukilah kami?”Dijawab, “Tambahkan hidayah pada kami.”Para ulama berkata: “Tunjukilah kami, maksudnya tambahkan hidayah pada kami,atau teguhkan kami di atas hidayah.” Dua makna ini benar.Sebagian ulama lain mengatakan,“Karena seseorang terus-menerus beramal,yang mana setiap amalan membutuhkan hidayah.”Kita sekarang membutuhkan hidayah. Tadi ketika salat,kita membutuhkan hidayah.Kemudian setelah kita meninggalkan tempat yang diberkahi ini,kita membutuhkan hidayah. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika seseorang memperbanyakmembaca surah yang penuh berkah inidan senantiasa berkata, “Tunjukilah kami. Tunjukilah kami. Tunjukilah kami.”Maksudnya, untuk waktu yang yang akan datang dan seterusnya. Semua makna-makna ini benar.Adapun aṣ-Ṣirāṭ, maknanya adalah aṭ-Ṭarīq (Jalan).Orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭ—sebagaimana dikatakan—hingga terkumpul padanya enam hal.Jika jalan tersebut memiliki enam hal ini,maka orang Arab akan berkata, “Ini adalah Ṣirāṭ.” Jadi, tidak semua jalan disebut Ṣirāṭ oleh orang Arab.Di sini ada tiga versi qiraah:Aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad,as-Sirāṭ dengan huruf sin,dan aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad yang masuk ke huruf zai. Seperti yang kami katakan, orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭhingga terkumpul padanya enam hal:(1) Jalan tersebut harus jelas,(2) harus sudah ditentukan,(3) harus mengantarkan pada tujuan,(4) harus luas,(5) merupakan jalan yang paling dekat,(6) dan harus lurus.Ya, jalannya harus lurus. Inilah enam sifat yang apabila semuanya terkumpul pada sebuah jalanmaka orang Arab akan menyebutnya Ṣirāṭ.Allah mengatakan, “Jalan yang lurus,”agar diperhatikan karakteristiknya yang paling utama. Ini masuk dalam kaidah “Menghubungkan Sesuatu Khusus dengan Sesuatu yang Umum”agar diperhatikan karakteristik utama jalan ini,yaitu bahwa jalan ini lurus. Semoga Allah meneguhkan kami dan kalian semua di atasnya.Ini adalah permintaan dari orang-orang yang berimankepada Tuhan mereka Tabāraka wa Ta’ālā,agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus ini. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اِهْدِنَا قِيلَ ثَبِّتْنَا عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ وَقِيلَ اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً وَهَذَا يَقُولُهُ مَنْ لَمْ يَكُنْ مُهْتَدِيًا مَنْ كَانَ مُهْتَدِيًا إِذْ يَقُولُ قَائِلٌ كَيْفَ يَقُولُ الْمُهْتَدِي: اِهْدِنَا؟ كَالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ نَحْنُ عِنْدَمَا نُصَلِّي نَحْنُ مَا جِئْنَا نُصَلِّي فِي هَذَا الْبَيْتِ الْعَظِيمِ إِلَّا طَلَبًا لِلْهِدَايَةِ وَنَقُولُ فِي صَلَاتِنَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ إِذَنْ نَحْنُ مَا جِئْنَا إِلَّا وَنَحْنُ مُهْتَدُونَ وَلِلهِ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ فَلِمَاذَا نَقُولُ: اِهْدِنَا ؟ قَالَ: زِدْنَا هِدَايَةً قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ: اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً أَوْ ثَبِّتْنَا عَلَى الْهِدَايَةِ وَالْمَعْنَيَانِ صَحِيحَانِ وَقَالَ آخَرُونَ بَلْ لَمَّا كَانَ الْإِنْسَانُ دَائِمًا فِي عَمَلٍ وَكُلُّ عَمَلٍ يَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ فَنَحْنُ الْآنَ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَقَبْلَ قَلِيلٍ فِي الصَّلَاةِ كُنَّا مُحْتَاجِيْنَ إِلَى هِدَايَةٍ وَبَعْدَ أَنْ نَخْرُجَ مِنْ هَذَا الْمَكَانِ الْمُبَارَكِ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَلِذَا نَاسَبَ أَنْ… يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ قِرَاءَةِ هَذِهِ السُّورَةِ الْمُبَارَكَةِ وَأَنْ يَقُولَ دَائِمًا: اِهْدِنَا اِهْدِنَا اِهْدِنَا أَيْ لِمَا سَيَأْتِي وَهَكَذَا وَكُلُّ الْمَعَانِي هَذَا هَذِهِ صَحِيحَةٌ وَالصِّرَاطُ هُوَ الطَّرِيقُ وَالْعَرَبُ لَا تُسَمِّي الطَّرِيقَ صِرَاطًا كَمَا يُقَالُ حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ سِتَّةُ أُمُورٍ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَلَيْسَ كُلُّ طَرِيقٍ تُسَمِّيهِ الْعَرَبُ صِرَاطًا وَفِيهَا ثَلَاثُ قِرَاءَاتٍ الصِّرَاطُ بِالصَّادِ وَالسِّرَاطُ بِالسِّينِ وَالصِّرَاطُ وَهِيَ الصَّادُ مَشْمُومَ الزَّايِ وَكَمَا قُلْنَا لَا تُسَمِّي الْعَرَبُ الطَّرِيقَ صِرَاطًا حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيه سِتَّةُ أُمُورٍ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ وَاضِحًا وَأَنْ يَكُونَ مُتَعَيِّنًا وَأَنْ يَكُونَ مُوْصِلًا لِلْمَقْصُودِ وَأَنْ يَكُونَ وَاسِعًا وَأَنْ يَكُونَ أَقْرَبَ طَرِيقٍ وَيَكُونُ مُسْتَقِيمًا نَعَمْ وَأَنْ يَكُونَ مُسْتَقِيمًا هَذِهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَإِنَّمَا قَالَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِهِ وَهُوَ مِنْ بَابِ عَطْفِ الْخَاصِّ عَلَى الْعَامِّ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِ هَذَا الصِّرَاطِ وَهُوَ أَنَّهُ مُسْتَقِيمٌ ثَبَّتَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ عَلَيْهِ وَهَذَا طَلَبٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِرَبِّهِمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يَهْدِيَهُمْ إِلَى هَذَا الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)“Tunjukilah kami, …” dikatakan bahwa maknanya, “Teguhkan kami di atas jalan yang lurus.” Disebutkan juga bahwa “Tunjukilah kami, …” maknanya “Tambahkan pada kami hidayah.”Ini diucapkan oleh orang yang belum mendapat petunjukdan orang yang sudah mendapat petunjuk. Jika seseorang berkata,“Kenapa orang yang telah mendapat petunjuk berkata, ‘Tunjukilah kami …’”?Misalnya, Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,atau kita semua ketika salat,tidaklah kita datang dan salat di masjid yang agung inikecuali memohon hidayah. Kita berdoa dalam salat kita,“Tunjukilah kami jalan yang lurus, …” (QS. Al-Fatihah: 6)Jadi, kita tidak datangkecuali kita adalah orang yang mendapat petunjuk—dan segala puji dan karunia bagi Allah. Lalu mengapa kita berdoa, “Tunjukilah kami?”Dijawab, “Tambahkan hidayah pada kami.”Para ulama berkata: “Tunjukilah kami, maksudnya tambahkan hidayah pada kami,atau teguhkan kami di atas hidayah.” Dua makna ini benar.Sebagian ulama lain mengatakan,“Karena seseorang terus-menerus beramal,yang mana setiap amalan membutuhkan hidayah.”Kita sekarang membutuhkan hidayah. Tadi ketika salat,kita membutuhkan hidayah.Kemudian setelah kita meninggalkan tempat yang diberkahi ini,kita membutuhkan hidayah. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika seseorang memperbanyakmembaca surah yang penuh berkah inidan senantiasa berkata, “Tunjukilah kami. Tunjukilah kami. Tunjukilah kami.”Maksudnya, untuk waktu yang yang akan datang dan seterusnya. Semua makna-makna ini benar.Adapun aṣ-Ṣirāṭ, maknanya adalah aṭ-Ṭarīq (Jalan).Orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭ—sebagaimana dikatakan—hingga terkumpul padanya enam hal.Jika jalan tersebut memiliki enam hal ini,maka orang Arab akan berkata, “Ini adalah Ṣirāṭ.” Jadi, tidak semua jalan disebut Ṣirāṭ oleh orang Arab.Di sini ada tiga versi qiraah:Aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad,as-Sirāṭ dengan huruf sin,dan aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad yang masuk ke huruf zai. Seperti yang kami katakan, orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭhingga terkumpul padanya enam hal:(1) Jalan tersebut harus jelas,(2) harus sudah ditentukan,(3) harus mengantarkan pada tujuan,(4) harus luas,(5) merupakan jalan yang paling dekat,(6) dan harus lurus.Ya, jalannya harus lurus. Inilah enam sifat yang apabila semuanya terkumpul pada sebuah jalanmaka orang Arab akan menyebutnya Ṣirāṭ.Allah mengatakan, “Jalan yang lurus,”agar diperhatikan karakteristiknya yang paling utama. Ini masuk dalam kaidah “Menghubungkan Sesuatu Khusus dengan Sesuatu yang Umum”agar diperhatikan karakteristik utama jalan ini,yaitu bahwa jalan ini lurus. Semoga Allah meneguhkan kami dan kalian semua di atasnya.Ini adalah permintaan dari orang-orang yang berimankepada Tuhan mereka Tabāraka wa Ta’ālā,agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus ini. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اِهْدِنَا قِيلَ ثَبِّتْنَا عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ وَقِيلَ اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً وَهَذَا يَقُولُهُ مَنْ لَمْ يَكُنْ مُهْتَدِيًا مَنْ كَانَ مُهْتَدِيًا إِذْ يَقُولُ قَائِلٌ كَيْفَ يَقُولُ الْمُهْتَدِي: اِهْدِنَا؟ كَالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ نَحْنُ عِنْدَمَا نُصَلِّي نَحْنُ مَا جِئْنَا نُصَلِّي فِي هَذَا الْبَيْتِ الْعَظِيمِ إِلَّا طَلَبًا لِلْهِدَايَةِ وَنَقُولُ فِي صَلَاتِنَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ إِذَنْ نَحْنُ مَا جِئْنَا إِلَّا وَنَحْنُ مُهْتَدُونَ وَلِلهِ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ فَلِمَاذَا نَقُولُ: اِهْدِنَا ؟ قَالَ: زِدْنَا هِدَايَةً قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ: اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً أَوْ ثَبِّتْنَا عَلَى الْهِدَايَةِ وَالْمَعْنَيَانِ صَحِيحَانِ وَقَالَ آخَرُونَ بَلْ لَمَّا كَانَ الْإِنْسَانُ دَائِمًا فِي عَمَلٍ وَكُلُّ عَمَلٍ يَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ فَنَحْنُ الْآنَ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَقَبْلَ قَلِيلٍ فِي الصَّلَاةِ كُنَّا مُحْتَاجِيْنَ إِلَى هِدَايَةٍ وَبَعْدَ أَنْ نَخْرُجَ مِنْ هَذَا الْمَكَانِ الْمُبَارَكِ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَلِذَا نَاسَبَ أَنْ… يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ قِرَاءَةِ هَذِهِ السُّورَةِ الْمُبَارَكَةِ وَأَنْ يَقُولَ دَائِمًا: اِهْدِنَا اِهْدِنَا اِهْدِنَا أَيْ لِمَا سَيَأْتِي وَهَكَذَا وَكُلُّ الْمَعَانِي هَذَا هَذِهِ صَحِيحَةٌ وَالصِّرَاطُ هُوَ الطَّرِيقُ وَالْعَرَبُ لَا تُسَمِّي الطَّرِيقَ صِرَاطًا كَمَا يُقَالُ حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ سِتَّةُ أُمُورٍ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَلَيْسَ كُلُّ طَرِيقٍ تُسَمِّيهِ الْعَرَبُ صِرَاطًا وَفِيهَا ثَلَاثُ قِرَاءَاتٍ الصِّرَاطُ بِالصَّادِ وَالسِّرَاطُ بِالسِّينِ وَالصِّرَاطُ وَهِيَ الصَّادُ مَشْمُومَ الزَّايِ وَكَمَا قُلْنَا لَا تُسَمِّي الْعَرَبُ الطَّرِيقَ صِرَاطًا حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيه سِتَّةُ أُمُورٍ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ وَاضِحًا وَأَنْ يَكُونَ مُتَعَيِّنًا وَأَنْ يَكُونَ مُوْصِلًا لِلْمَقْصُودِ وَأَنْ يَكُونَ وَاسِعًا وَأَنْ يَكُونَ أَقْرَبَ طَرِيقٍ وَيَكُونُ مُسْتَقِيمًا نَعَمْ وَأَنْ يَكُونَ مُسْتَقِيمًا هَذِهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَإِنَّمَا قَالَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِهِ وَهُوَ مِنْ بَابِ عَطْفِ الْخَاصِّ عَلَى الْعَامِّ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِ هَذَا الصِّرَاطِ وَهُوَ أَنَّهُ مُسْتَقِيمٌ ثَبَّتَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ عَلَيْهِ وَهَذَا طَلَبٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِرَبِّهِمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يَهْدِيَهُمْ إِلَى هَذَا الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)“Tunjukilah kami, …” dikatakan bahwa maknanya, “Teguhkan kami di atas jalan yang lurus.” Disebutkan juga bahwa “Tunjukilah kami, …” maknanya “Tambahkan pada kami hidayah.”Ini diucapkan oleh orang yang belum mendapat petunjukdan orang yang sudah mendapat petunjuk. Jika seseorang berkata,“Kenapa orang yang telah mendapat petunjuk berkata, ‘Tunjukilah kami …’”?Misalnya, Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,atau kita semua ketika salat,tidaklah kita datang dan salat di masjid yang agung inikecuali memohon hidayah. Kita berdoa dalam salat kita,“Tunjukilah kami jalan yang lurus, …” (QS. Al-Fatihah: 6)Jadi, kita tidak datangkecuali kita adalah orang yang mendapat petunjuk—dan segala puji dan karunia bagi Allah. Lalu mengapa kita berdoa, “Tunjukilah kami?”Dijawab, “Tambahkan hidayah pada kami.”Para ulama berkata: “Tunjukilah kami, maksudnya tambahkan hidayah pada kami,atau teguhkan kami di atas hidayah.” Dua makna ini benar.Sebagian ulama lain mengatakan,“Karena seseorang terus-menerus beramal,yang mana setiap amalan membutuhkan hidayah.”Kita sekarang membutuhkan hidayah. Tadi ketika salat,kita membutuhkan hidayah.Kemudian setelah kita meninggalkan tempat yang diberkahi ini,kita membutuhkan hidayah. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika seseorang memperbanyakmembaca surah yang penuh berkah inidan senantiasa berkata, “Tunjukilah kami. Tunjukilah kami. Tunjukilah kami.”Maksudnya, untuk waktu yang yang akan datang dan seterusnya. Semua makna-makna ini benar.Adapun aṣ-Ṣirāṭ, maknanya adalah aṭ-Ṭarīq (Jalan).Orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭ—sebagaimana dikatakan—hingga terkumpul padanya enam hal.Jika jalan tersebut memiliki enam hal ini,maka orang Arab akan berkata, “Ini adalah Ṣirāṭ.” Jadi, tidak semua jalan disebut Ṣirāṭ oleh orang Arab.Di sini ada tiga versi qiraah:Aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad,as-Sirāṭ dengan huruf sin,dan aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad yang masuk ke huruf zai. Seperti yang kami katakan, orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭhingga terkumpul padanya enam hal:(1) Jalan tersebut harus jelas,(2) harus sudah ditentukan,(3) harus mengantarkan pada tujuan,(4) harus luas,(5) merupakan jalan yang paling dekat,(6) dan harus lurus.Ya, jalannya harus lurus. Inilah enam sifat yang apabila semuanya terkumpul pada sebuah jalanmaka orang Arab akan menyebutnya Ṣirāṭ.Allah mengatakan, “Jalan yang lurus,”agar diperhatikan karakteristiknya yang paling utama. Ini masuk dalam kaidah “Menghubungkan Sesuatu Khusus dengan Sesuatu yang Umum”agar diperhatikan karakteristik utama jalan ini,yaitu bahwa jalan ini lurus. Semoga Allah meneguhkan kami dan kalian semua di atasnya.Ini adalah permintaan dari orang-orang yang berimankepada Tuhan mereka Tabāraka wa Ta’ālā,agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus ini. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اِهْدِنَا قِيلَ ثَبِّتْنَا عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ وَقِيلَ اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً وَهَذَا يَقُولُهُ مَنْ لَمْ يَكُنْ مُهْتَدِيًا مَنْ كَانَ مُهْتَدِيًا إِذْ يَقُولُ قَائِلٌ كَيْفَ يَقُولُ الْمُهْتَدِي: اِهْدِنَا؟ كَالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ نَحْنُ عِنْدَمَا نُصَلِّي نَحْنُ مَا جِئْنَا نُصَلِّي فِي هَذَا الْبَيْتِ الْعَظِيمِ إِلَّا طَلَبًا لِلْهِدَايَةِ وَنَقُولُ فِي صَلَاتِنَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ إِذَنْ نَحْنُ مَا جِئْنَا إِلَّا وَنَحْنُ مُهْتَدُونَ وَلِلهِ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ فَلِمَاذَا نَقُولُ: اِهْدِنَا ؟ قَالَ: زِدْنَا هِدَايَةً قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ: اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً أَوْ ثَبِّتْنَا عَلَى الْهِدَايَةِ وَالْمَعْنَيَانِ صَحِيحَانِ وَقَالَ آخَرُونَ بَلْ لَمَّا كَانَ الْإِنْسَانُ دَائِمًا فِي عَمَلٍ وَكُلُّ عَمَلٍ يَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ فَنَحْنُ الْآنَ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَقَبْلَ قَلِيلٍ فِي الصَّلَاةِ كُنَّا مُحْتَاجِيْنَ إِلَى هِدَايَةٍ وَبَعْدَ أَنْ نَخْرُجَ مِنْ هَذَا الْمَكَانِ الْمُبَارَكِ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَلِذَا نَاسَبَ أَنْ… يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ قِرَاءَةِ هَذِهِ السُّورَةِ الْمُبَارَكَةِ وَأَنْ يَقُولَ دَائِمًا: اِهْدِنَا اِهْدِنَا اِهْدِنَا أَيْ لِمَا سَيَأْتِي وَهَكَذَا وَكُلُّ الْمَعَانِي هَذَا هَذِهِ صَحِيحَةٌ وَالصِّرَاطُ هُوَ الطَّرِيقُ وَالْعَرَبُ لَا تُسَمِّي الطَّرِيقَ صِرَاطًا كَمَا يُقَالُ حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ سِتَّةُ أُمُورٍ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَلَيْسَ كُلُّ طَرِيقٍ تُسَمِّيهِ الْعَرَبُ صِرَاطًا وَفِيهَا ثَلَاثُ قِرَاءَاتٍ الصِّرَاطُ بِالصَّادِ وَالسِّرَاطُ بِالسِّينِ وَالصِّرَاطُ وَهِيَ الصَّادُ مَشْمُومَ الزَّايِ وَكَمَا قُلْنَا لَا تُسَمِّي الْعَرَبُ الطَّرِيقَ صِرَاطًا حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيه سِتَّةُ أُمُورٍ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ وَاضِحًا وَأَنْ يَكُونَ مُتَعَيِّنًا وَأَنْ يَكُونَ مُوْصِلًا لِلْمَقْصُودِ وَأَنْ يَكُونَ وَاسِعًا وَأَنْ يَكُونَ أَقْرَبَ طَرِيقٍ وَيَكُونُ مُسْتَقِيمًا نَعَمْ وَأَنْ يَكُونَ مُسْتَقِيمًا هَذِهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَإِنَّمَا قَالَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِهِ وَهُوَ مِنْ بَابِ عَطْفِ الْخَاصِّ عَلَى الْعَامِّ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِ هَذَا الصِّرَاطِ وَهُوَ أَنَّهُ مُسْتَقِيمٌ ثَبَّتَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ عَلَيْهِ وَهَذَا طَلَبٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِرَبِّهِمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يَهْدِيَهُمْ إِلَى هَذَا الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bulughul Maram – Shalat: Banyak Lupa, Cukup Sujud Sahwi Hanya Dua Kali Sujud

Banyak lupa, yang tepat hanya cukup dua kali sujud untuk sujud sahwi.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Banyak Lupa, Cukup Sujud Sahwi Hanya Dua Kali Sujud 2. Hadits 9/338 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Banyak Lupa, Cukup Sujud Sahwi Hanya Dua Kali Sujud Hadits 9/338 ِ عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَابْنُ مَاجَهْ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap lupa (dalam shalat) itu diganti dengan sujud setelah salam.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dengan sanad yang dhaif). [HR. Abu Daud, no. 1038; Ibnu Majah, no. 1219. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata bahwa sanad hadits ini dhaif].   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud sahwi itu berbilang dengan berbilangnya lupa di dalam shalat. Setiap sahwu (lupa atau kekeliruan) ada dua kali sujud untuk sujud sahwi. Namun, hadits ini dhaif. Hadits ini menyelisihi hadits yang lain tentang sujud sahwi yang menunjukkan bahwa meskipun “sahwu” yang dilakukan itu banyak, sujud sahwi tidaklah berbilang, hanya dua kali sujud saja. Ada ulama yang berpandangan bahwa sujud sahwi itu sesudah salam, ada juga yang berpendapat bahwa sujud sahwi itu sebelum salam, dan ada yang memberikan rincian sesudah ataukah sebelum salam. Sujud sahwi itu menambal segala macam lupa di dalam shalat.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:236-238. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:551-552. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Ragu dalam Shalat, Sujud Sahwi Sebelum ataukah Bakda Salam? Bulughul Maram – Shalat: Lupanya Makmum Ditanggung Imam —   Diselesaikan 24 Muharram 1444 H, 22 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat bulughul maram sujud sahwi fikih lupa shalat berjamaah shalat jamaah sujud sahwi

Bulughul Maram – Shalat: Banyak Lupa, Cukup Sujud Sahwi Hanya Dua Kali Sujud

Banyak lupa, yang tepat hanya cukup dua kali sujud untuk sujud sahwi.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Banyak Lupa, Cukup Sujud Sahwi Hanya Dua Kali Sujud 2. Hadits 9/338 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Banyak Lupa, Cukup Sujud Sahwi Hanya Dua Kali Sujud Hadits 9/338 ِ عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَابْنُ مَاجَهْ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap lupa (dalam shalat) itu diganti dengan sujud setelah salam.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dengan sanad yang dhaif). [HR. Abu Daud, no. 1038; Ibnu Majah, no. 1219. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata bahwa sanad hadits ini dhaif].   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud sahwi itu berbilang dengan berbilangnya lupa di dalam shalat. Setiap sahwu (lupa atau kekeliruan) ada dua kali sujud untuk sujud sahwi. Namun, hadits ini dhaif. Hadits ini menyelisihi hadits yang lain tentang sujud sahwi yang menunjukkan bahwa meskipun “sahwu” yang dilakukan itu banyak, sujud sahwi tidaklah berbilang, hanya dua kali sujud saja. Ada ulama yang berpandangan bahwa sujud sahwi itu sesudah salam, ada juga yang berpendapat bahwa sujud sahwi itu sebelum salam, dan ada yang memberikan rincian sesudah ataukah sebelum salam. Sujud sahwi itu menambal segala macam lupa di dalam shalat.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:236-238. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:551-552. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Ragu dalam Shalat, Sujud Sahwi Sebelum ataukah Bakda Salam? Bulughul Maram – Shalat: Lupanya Makmum Ditanggung Imam —   Diselesaikan 24 Muharram 1444 H, 22 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat bulughul maram sujud sahwi fikih lupa shalat berjamaah shalat jamaah sujud sahwi
Banyak lupa, yang tepat hanya cukup dua kali sujud untuk sujud sahwi.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Banyak Lupa, Cukup Sujud Sahwi Hanya Dua Kali Sujud 2. Hadits 9/338 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Banyak Lupa, Cukup Sujud Sahwi Hanya Dua Kali Sujud Hadits 9/338 ِ عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَابْنُ مَاجَهْ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap lupa (dalam shalat) itu diganti dengan sujud setelah salam.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dengan sanad yang dhaif). [HR. Abu Daud, no. 1038; Ibnu Majah, no. 1219. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata bahwa sanad hadits ini dhaif].   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud sahwi itu berbilang dengan berbilangnya lupa di dalam shalat. Setiap sahwu (lupa atau kekeliruan) ada dua kali sujud untuk sujud sahwi. Namun, hadits ini dhaif. Hadits ini menyelisihi hadits yang lain tentang sujud sahwi yang menunjukkan bahwa meskipun “sahwu” yang dilakukan itu banyak, sujud sahwi tidaklah berbilang, hanya dua kali sujud saja. Ada ulama yang berpandangan bahwa sujud sahwi itu sesudah salam, ada juga yang berpendapat bahwa sujud sahwi itu sebelum salam, dan ada yang memberikan rincian sesudah ataukah sebelum salam. Sujud sahwi itu menambal segala macam lupa di dalam shalat.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:236-238. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:551-552. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Ragu dalam Shalat, Sujud Sahwi Sebelum ataukah Bakda Salam? Bulughul Maram – Shalat: Lupanya Makmum Ditanggung Imam —   Diselesaikan 24 Muharram 1444 H, 22 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat bulughul maram sujud sahwi fikih lupa shalat berjamaah shalat jamaah sujud sahwi


Banyak lupa, yang tepat hanya cukup dua kali sujud untuk sujud sahwi.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Banyak Lupa, Cukup Sujud Sahwi Hanya Dua Kali Sujud 2. Hadits 9/338 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Banyak Lupa, Cukup Sujud Sahwi Hanya Dua Kali Sujud Hadits 9/338 ِ عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَابْنُ مَاجَهْ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap lupa (dalam shalat) itu diganti dengan sujud setelah salam.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dengan sanad yang dhaif). [HR. Abu Daud, no. 1038; Ibnu Majah, no. 1219. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata bahwa sanad hadits ini dhaif].   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud sahwi itu berbilang dengan berbilangnya lupa di dalam shalat. Setiap sahwu (lupa atau kekeliruan) ada dua kali sujud untuk sujud sahwi. Namun, hadits ini dhaif. Hadits ini menyelisihi hadits yang lain tentang sujud sahwi yang menunjukkan bahwa meskipun “sahwu” yang dilakukan itu banyak, sujud sahwi tidaklah berbilang, hanya dua kali sujud saja. Ada ulama yang berpandangan bahwa sujud sahwi itu sesudah salam, ada juga yang berpendapat bahwa sujud sahwi itu sebelum salam, dan ada yang memberikan rincian sesudah ataukah sebelum salam. Sujud sahwi itu menambal segala macam lupa di dalam shalat.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:236-238. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:551-552. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Ragu dalam Shalat, Sujud Sahwi Sebelum ataukah Bakda Salam? Bulughul Maram – Shalat: Lupanya Makmum Ditanggung Imam —   Diselesaikan 24 Muharram 1444 H, 22 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat bulughul maram sujud sahwi fikih lupa shalat berjamaah shalat jamaah sujud sahwi

Fatwa Ulama: Kapan Mengucapkan “Ash-Shalatu Khairun Minan Naum”?

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Kalimat “ash-shalatu khairun minan naum” (Mendirikan salat itu lebih baik daripda tidur) apakah diucapkan saat azan pertama (azan awaal) ataukah pada saat azan kedua (azan tsani)?Jawaban:Kalimat “ash-shalaatu khairun minan naum” itu diucapkan di azan pertama (azan awwal) sebagaimana terdapat penjelasannya di hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,فإذا أذنت أذان الصبح الأول فقل : الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ“Jika azan pertama salat subuh dikumandangkan, maka ucapkanlah ‘ash-shalatu khairun minan naum.’” (HR. Abu Dawud no. 500 dan An-Nasa’i no. 633)(Berdasarkan hadis di atas), kalimat tersebut diucapkan pada saat azan pertama, bukan azan kedua.Akan tetapi, wajib untuk diketahui apakah maksud dari azan pertama sebagaimana dalam hadis? Azan pertama adalah azan yang dikumandangkan setelah masuknya waktu salat subuh. Sedangkan yang dimaksud dengan azan kedua (azan tsani) adalah ikamah. Hal ini karena ikamah juga disebut sebagai azan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ“Ada salat (yang didirikan) di antara dua azan.” (HR. Bukhari no. 624 dan Muslim no. 838)“Dua azan” yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah azan dan ikamah.Di dalam Shahih Bukhari disebutkan, “Sesungguhnya Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu menambahkan azan ketiga untuk salat jumat.”Jika demikian, maka azan pertama yang diperintahkan kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu untuk mengumandangkan “ash-shalaatu khairun minan naum” adalah azan untuk salat subuh (yaitu setelah masuknya waktu salat subuh, pent.).Adapun azan sebelum terbit fajar bukanlah azan untuk saat subuh. Manusia menyebutnya sebagai azan di akhir malam sebagai azan awwal untuk salat subuh. Sedangkan pada hakikatnya, azan tersebut bukanlah azan untuk mendirikan salat subuh. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، لِيَرْجِعَ قَائِمَكُمْ وَيُوقِظَ نَائِمَكُمْ“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan saat masih malam untuk mengingatkan orang yang sedang salat dari kalian (agar bersahur atau istirahat mempersiapkan salat subuh, pent.) dan membangunkan orang yang sedang tidur dari kalian (untuk bersahur atau salat malam, pent.).” (HR. Bukhari no. 621 dan Muslim no. 1093)Baca Juga: Hukum Adzan dan Iqamah untuk Orang yang Shalat SendirianMaksudnya, agar orang-orang yang masih tidur bisa bangun dan makan sahur, dan agar orang yang masih salat malam untuk istirahat dan makan sahur.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda kepada Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ“Jika waktu salat tiba, maka hendaklah salah satu di antara kalian mengumandangkan azan.” (HR. Bukhari no. 628 dan Muslim no. 674)Telah diketahui bahwa waktu salat subuh tidaklah tiba, kecuali setelah terbitnya fajar. Dengan demikian, maka azan yang dikumandangkan sebelum terbit fajar bukanlah azan untuk salat subuh. Sehingga apa yang dipraktikkan oleh masyarakat saat ini, yaitu kalimat “ash-shalatu khairun minan naum” yang diucapkan pada saat azan subuh, inilah praktik yang benar. Adapun orang-orang yang menyangka bahwa yang dimaksud dengan azan awal sebagaimana di dalam hadis adalah azan sebelum terbit fajar, maka hal itu tidak perlu diperhatikan.Sebagian orang berkata, dalil bahwa yang dimaksud adalah azan di akhir malam (sebelum terbit fajar, pent.) agar orang-orang itu bangun untuk mendirikan salat sunah. Sehingga dikumandangkanlah kalimat “ash-shalatu khairun minan naum”. Kata “khairun” (lebih baik) itu menunjukkan perkara yang lebih utama (lebih afdal) (artinya, menunjukkan perkara sunah, yaitu salat malam; dan bukan perkara wajib, yaitu salat subuh, pent.).Maka kami katakan bahwa kata “khairun” itu bisa dimaksudkan untuk perkara yang wajib yang paling wajib. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Shaf: 10-11)Padahal, ayat itu berkaitan dengan keimanan (yang wajib).Allah Ta’ala juga berfirman tentang salat jumat,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumuah: 9)Oleh karena itu, kata “lebih baik” itu bisa berupa perkara yang wajib dan bisa berupa perkara yang sunah.Baca Juga:Berdoa Antara Adzan dan IqamahLarangan Keluar dari Masjid setelah Adzan Dikumandangkan***@Rumah Kasongan, 21 Muharram 1444/ 19 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 342-345, pertanyaan no. 198.🔍 Rukun Shalat, Hukum Jual Beli Online Dropship, Agar Dicintai Allah, Mazhab Imam Bukhari, Tulisan Walimatul UrsyTags: adzanadzan subuhfikihfikih ibadahkeutamaan adzanpanduan adzansyiar islamtata cara adzantuntunan adzan

Fatwa Ulama: Kapan Mengucapkan “Ash-Shalatu Khairun Minan Naum”?

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Kalimat “ash-shalatu khairun minan naum” (Mendirikan salat itu lebih baik daripda tidur) apakah diucapkan saat azan pertama (azan awaal) ataukah pada saat azan kedua (azan tsani)?Jawaban:Kalimat “ash-shalaatu khairun minan naum” itu diucapkan di azan pertama (azan awwal) sebagaimana terdapat penjelasannya di hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,فإذا أذنت أذان الصبح الأول فقل : الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ“Jika azan pertama salat subuh dikumandangkan, maka ucapkanlah ‘ash-shalatu khairun minan naum.’” (HR. Abu Dawud no. 500 dan An-Nasa’i no. 633)(Berdasarkan hadis di atas), kalimat tersebut diucapkan pada saat azan pertama, bukan azan kedua.Akan tetapi, wajib untuk diketahui apakah maksud dari azan pertama sebagaimana dalam hadis? Azan pertama adalah azan yang dikumandangkan setelah masuknya waktu salat subuh. Sedangkan yang dimaksud dengan azan kedua (azan tsani) adalah ikamah. Hal ini karena ikamah juga disebut sebagai azan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ“Ada salat (yang didirikan) di antara dua azan.” (HR. Bukhari no. 624 dan Muslim no. 838)“Dua azan” yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah azan dan ikamah.Di dalam Shahih Bukhari disebutkan, “Sesungguhnya Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu menambahkan azan ketiga untuk salat jumat.”Jika demikian, maka azan pertama yang diperintahkan kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu untuk mengumandangkan “ash-shalaatu khairun minan naum” adalah azan untuk salat subuh (yaitu setelah masuknya waktu salat subuh, pent.).Adapun azan sebelum terbit fajar bukanlah azan untuk saat subuh. Manusia menyebutnya sebagai azan di akhir malam sebagai azan awwal untuk salat subuh. Sedangkan pada hakikatnya, azan tersebut bukanlah azan untuk mendirikan salat subuh. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، لِيَرْجِعَ قَائِمَكُمْ وَيُوقِظَ نَائِمَكُمْ“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan saat masih malam untuk mengingatkan orang yang sedang salat dari kalian (agar bersahur atau istirahat mempersiapkan salat subuh, pent.) dan membangunkan orang yang sedang tidur dari kalian (untuk bersahur atau salat malam, pent.).” (HR. Bukhari no. 621 dan Muslim no. 1093)Baca Juga: Hukum Adzan dan Iqamah untuk Orang yang Shalat SendirianMaksudnya, agar orang-orang yang masih tidur bisa bangun dan makan sahur, dan agar orang yang masih salat malam untuk istirahat dan makan sahur.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda kepada Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ“Jika waktu salat tiba, maka hendaklah salah satu di antara kalian mengumandangkan azan.” (HR. Bukhari no. 628 dan Muslim no. 674)Telah diketahui bahwa waktu salat subuh tidaklah tiba, kecuali setelah terbitnya fajar. Dengan demikian, maka azan yang dikumandangkan sebelum terbit fajar bukanlah azan untuk salat subuh. Sehingga apa yang dipraktikkan oleh masyarakat saat ini, yaitu kalimat “ash-shalatu khairun minan naum” yang diucapkan pada saat azan subuh, inilah praktik yang benar. Adapun orang-orang yang menyangka bahwa yang dimaksud dengan azan awal sebagaimana di dalam hadis adalah azan sebelum terbit fajar, maka hal itu tidak perlu diperhatikan.Sebagian orang berkata, dalil bahwa yang dimaksud adalah azan di akhir malam (sebelum terbit fajar, pent.) agar orang-orang itu bangun untuk mendirikan salat sunah. Sehingga dikumandangkanlah kalimat “ash-shalatu khairun minan naum”. Kata “khairun” (lebih baik) itu menunjukkan perkara yang lebih utama (lebih afdal) (artinya, menunjukkan perkara sunah, yaitu salat malam; dan bukan perkara wajib, yaitu salat subuh, pent.).Maka kami katakan bahwa kata “khairun” itu bisa dimaksudkan untuk perkara yang wajib yang paling wajib. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Shaf: 10-11)Padahal, ayat itu berkaitan dengan keimanan (yang wajib).Allah Ta’ala juga berfirman tentang salat jumat,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumuah: 9)Oleh karena itu, kata “lebih baik” itu bisa berupa perkara yang wajib dan bisa berupa perkara yang sunah.Baca Juga:Berdoa Antara Adzan dan IqamahLarangan Keluar dari Masjid setelah Adzan Dikumandangkan***@Rumah Kasongan, 21 Muharram 1444/ 19 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 342-345, pertanyaan no. 198.🔍 Rukun Shalat, Hukum Jual Beli Online Dropship, Agar Dicintai Allah, Mazhab Imam Bukhari, Tulisan Walimatul UrsyTags: adzanadzan subuhfikihfikih ibadahkeutamaan adzanpanduan adzansyiar islamtata cara adzantuntunan adzan
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Kalimat “ash-shalatu khairun minan naum” (Mendirikan salat itu lebih baik daripda tidur) apakah diucapkan saat azan pertama (azan awaal) ataukah pada saat azan kedua (azan tsani)?Jawaban:Kalimat “ash-shalaatu khairun minan naum” itu diucapkan di azan pertama (azan awwal) sebagaimana terdapat penjelasannya di hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,فإذا أذنت أذان الصبح الأول فقل : الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ“Jika azan pertama salat subuh dikumandangkan, maka ucapkanlah ‘ash-shalatu khairun minan naum.’” (HR. Abu Dawud no. 500 dan An-Nasa’i no. 633)(Berdasarkan hadis di atas), kalimat tersebut diucapkan pada saat azan pertama, bukan azan kedua.Akan tetapi, wajib untuk diketahui apakah maksud dari azan pertama sebagaimana dalam hadis? Azan pertama adalah azan yang dikumandangkan setelah masuknya waktu salat subuh. Sedangkan yang dimaksud dengan azan kedua (azan tsani) adalah ikamah. Hal ini karena ikamah juga disebut sebagai azan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ“Ada salat (yang didirikan) di antara dua azan.” (HR. Bukhari no. 624 dan Muslim no. 838)“Dua azan” yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah azan dan ikamah.Di dalam Shahih Bukhari disebutkan, “Sesungguhnya Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu menambahkan azan ketiga untuk salat jumat.”Jika demikian, maka azan pertama yang diperintahkan kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu untuk mengumandangkan “ash-shalaatu khairun minan naum” adalah azan untuk salat subuh (yaitu setelah masuknya waktu salat subuh, pent.).Adapun azan sebelum terbit fajar bukanlah azan untuk saat subuh. Manusia menyebutnya sebagai azan di akhir malam sebagai azan awwal untuk salat subuh. Sedangkan pada hakikatnya, azan tersebut bukanlah azan untuk mendirikan salat subuh. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، لِيَرْجِعَ قَائِمَكُمْ وَيُوقِظَ نَائِمَكُمْ“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan saat masih malam untuk mengingatkan orang yang sedang salat dari kalian (agar bersahur atau istirahat mempersiapkan salat subuh, pent.) dan membangunkan orang yang sedang tidur dari kalian (untuk bersahur atau salat malam, pent.).” (HR. Bukhari no. 621 dan Muslim no. 1093)Baca Juga: Hukum Adzan dan Iqamah untuk Orang yang Shalat SendirianMaksudnya, agar orang-orang yang masih tidur bisa bangun dan makan sahur, dan agar orang yang masih salat malam untuk istirahat dan makan sahur.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda kepada Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ“Jika waktu salat tiba, maka hendaklah salah satu di antara kalian mengumandangkan azan.” (HR. Bukhari no. 628 dan Muslim no. 674)Telah diketahui bahwa waktu salat subuh tidaklah tiba, kecuali setelah terbitnya fajar. Dengan demikian, maka azan yang dikumandangkan sebelum terbit fajar bukanlah azan untuk salat subuh. Sehingga apa yang dipraktikkan oleh masyarakat saat ini, yaitu kalimat “ash-shalatu khairun minan naum” yang diucapkan pada saat azan subuh, inilah praktik yang benar. Adapun orang-orang yang menyangka bahwa yang dimaksud dengan azan awal sebagaimana di dalam hadis adalah azan sebelum terbit fajar, maka hal itu tidak perlu diperhatikan.Sebagian orang berkata, dalil bahwa yang dimaksud adalah azan di akhir malam (sebelum terbit fajar, pent.) agar orang-orang itu bangun untuk mendirikan salat sunah. Sehingga dikumandangkanlah kalimat “ash-shalatu khairun minan naum”. Kata “khairun” (lebih baik) itu menunjukkan perkara yang lebih utama (lebih afdal) (artinya, menunjukkan perkara sunah, yaitu salat malam; dan bukan perkara wajib, yaitu salat subuh, pent.).Maka kami katakan bahwa kata “khairun” itu bisa dimaksudkan untuk perkara yang wajib yang paling wajib. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Shaf: 10-11)Padahal, ayat itu berkaitan dengan keimanan (yang wajib).Allah Ta’ala juga berfirman tentang salat jumat,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumuah: 9)Oleh karena itu, kata “lebih baik” itu bisa berupa perkara yang wajib dan bisa berupa perkara yang sunah.Baca Juga:Berdoa Antara Adzan dan IqamahLarangan Keluar dari Masjid setelah Adzan Dikumandangkan***@Rumah Kasongan, 21 Muharram 1444/ 19 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 342-345, pertanyaan no. 198.🔍 Rukun Shalat, Hukum Jual Beli Online Dropship, Agar Dicintai Allah, Mazhab Imam Bukhari, Tulisan Walimatul UrsyTags: adzanadzan subuhfikihfikih ibadahkeutamaan adzanpanduan adzansyiar islamtata cara adzantuntunan adzan


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Kalimat “ash-shalatu khairun minan naum” (Mendirikan salat itu lebih baik daripda tidur) apakah diucapkan saat azan pertama (azan awaal) ataukah pada saat azan kedua (azan tsani)?Jawaban:Kalimat “ash-shalaatu khairun minan naum” itu diucapkan di azan pertama (azan awwal) sebagaimana terdapat penjelasannya di hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,فإذا أذنت أذان الصبح الأول فقل : الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ“Jika azan pertama salat subuh dikumandangkan, maka ucapkanlah ‘ash-shalatu khairun minan naum.’” (HR. Abu Dawud no. 500 dan An-Nasa’i no. 633)(Berdasarkan hadis di atas), kalimat tersebut diucapkan pada saat azan pertama, bukan azan kedua.Akan tetapi, wajib untuk diketahui apakah maksud dari azan pertama sebagaimana dalam hadis? Azan pertama adalah azan yang dikumandangkan setelah masuknya waktu salat subuh. Sedangkan yang dimaksud dengan azan kedua (azan tsani) adalah ikamah. Hal ini karena ikamah juga disebut sebagai azan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ“Ada salat (yang didirikan) di antara dua azan.” (HR. Bukhari no. 624 dan Muslim no. 838)“Dua azan” yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah azan dan ikamah.Di dalam Shahih Bukhari disebutkan, “Sesungguhnya Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu menambahkan azan ketiga untuk salat jumat.”Jika demikian, maka azan pertama yang diperintahkan kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu untuk mengumandangkan “ash-shalaatu khairun minan naum” adalah azan untuk salat subuh (yaitu setelah masuknya waktu salat subuh, pent.).Adapun azan sebelum terbit fajar bukanlah azan untuk saat subuh. Manusia menyebutnya sebagai azan di akhir malam sebagai azan awwal untuk salat subuh. Sedangkan pada hakikatnya, azan tersebut bukanlah azan untuk mendirikan salat subuh. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، لِيَرْجِعَ قَائِمَكُمْ وَيُوقِظَ نَائِمَكُمْ“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan saat masih malam untuk mengingatkan orang yang sedang salat dari kalian (agar bersahur atau istirahat mempersiapkan salat subuh, pent.) dan membangunkan orang yang sedang tidur dari kalian (untuk bersahur atau salat malam, pent.).” (HR. Bukhari no. 621 dan Muslim no. 1093)Baca Juga: Hukum Adzan dan Iqamah untuk Orang yang Shalat SendirianMaksudnya, agar orang-orang yang masih tidur bisa bangun dan makan sahur, dan agar orang yang masih salat malam untuk istirahat dan makan sahur.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda kepada Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ“Jika waktu salat tiba, maka hendaklah salah satu di antara kalian mengumandangkan azan.” (HR. Bukhari no. 628 dan Muslim no. 674)Telah diketahui bahwa waktu salat subuh tidaklah tiba, kecuali setelah terbitnya fajar. Dengan demikian, maka azan yang dikumandangkan sebelum terbit fajar bukanlah azan untuk salat subuh. Sehingga apa yang dipraktikkan oleh masyarakat saat ini, yaitu kalimat “ash-shalatu khairun minan naum” yang diucapkan pada saat azan subuh, inilah praktik yang benar. Adapun orang-orang yang menyangka bahwa yang dimaksud dengan azan awal sebagaimana di dalam hadis adalah azan sebelum terbit fajar, maka hal itu tidak perlu diperhatikan.Sebagian orang berkata, dalil bahwa yang dimaksud adalah azan di akhir malam (sebelum terbit fajar, pent.) agar orang-orang itu bangun untuk mendirikan salat sunah. Sehingga dikumandangkanlah kalimat “ash-shalatu khairun minan naum”. Kata “khairun” (lebih baik) itu menunjukkan perkara yang lebih utama (lebih afdal) (artinya, menunjukkan perkara sunah, yaitu salat malam; dan bukan perkara wajib, yaitu salat subuh, pent.).Maka kami katakan bahwa kata “khairun” itu bisa dimaksudkan untuk perkara yang wajib yang paling wajib. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Shaf: 10-11)Padahal, ayat itu berkaitan dengan keimanan (yang wajib).Allah Ta’ala juga berfirman tentang salat jumat,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumuah: 9)Oleh karena itu, kata “lebih baik” itu bisa berupa perkara yang wajib dan bisa berupa perkara yang sunah.Baca Juga:Berdoa Antara Adzan dan IqamahLarangan Keluar dari Masjid setelah Adzan Dikumandangkan***@Rumah Kasongan, 21 Muharram 1444/ 19 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 342-345, pertanyaan no. 198.🔍 Rukun Shalat, Hukum Jual Beli Online Dropship, Agar Dicintai Allah, Mazhab Imam Bukhari, Tulisan Walimatul UrsyTags: adzanadzan subuhfikihfikih ibadahkeutamaan adzanpanduan adzansyiar islamtata cara adzantuntunan adzan

Istilah “Ramadhan Karim” Benarkah? – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Istilah “Ramadhan Karim” Benarkah? – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Sifat-sifat yang digunakan untuk menyifati bulan Ramadan ada dua jenis: PERTAMA: Sifat-sifat yang terdapat dalam nash-nash syariat. Contoh: penyifatan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang diberkahi (Ramadan Mubarok), atau bulan penuh rahmat (Syahru ar-Rahmah). Sifat-sifat ini digunakan untuk menyifati Ramadan dalam nash-nash syariat. KEDUA: Sifat-sifat yang tidak terdapat dalam nash-nash syariat. Dan sifat-sifat ini, jika maknanya benar, maka boleh diucapkan, namun jika maknanya tidak benar, maka tidak boleh diucapkan. Oleh karena itu, ketika Anda dapati sifat-sifat yang tidak terdapat dalam nash-nash syariat, yang digunakan untuk menyifati Ramadan, maka telitilah kebenaran maknanya, jika maknanya benar, maka boleh digunakan untuk menyifati bulan Ramadan, namun jika maknanya keliru, maka tidak boleh digunakan. Dan di antara ucapan yang tersebar luas di masyarakat tentang bulan Ramadan: “Ramadan Karim” (Ramadan bulan mulia). Dan sifat ini (Karim) tidak digunakan dalam teks-teks syariat untuk menyifati Ramadan. Menggunakan sifat ini (Karim) untuk menyifati Ramadan, memiliki dua kemungkinan makna: Pertama, bahwa kata tersebut adalah Fa’īl yang bermakna Ismi al-Maf’ūl yang artinya “dimuliakan”. Dan yang kedua, kata tersebut adalah Fa’īl yang bermakna Ismi al-Fā’il yang artinya “memuliakan”, sehingga makna pertama berarti “Ramadan bulan yang diagungkan”. Makna ini benar. Dan makna kedua berarti “bulan yang melimpahkan kebaikan pada orang lain”, dan ini makna yang keliru, karena Ramadan adalah waktu yang tidak bisa melakukan perbuatan dengan sendirinya, karena Ramadan adalah waktu yang Allah jadikan padanya segala hal yang Dia kehendaki. Sehingga jika orang berilmu yang mengucapkannya, maka yang dia maksud adalah makna pertama, bahwa Ramadan adalah “bulan yang dimuliakan”, yakni bulan yang memiliki kedudukan yang agung di sisi Allah subḥānahu wa ta’alā. Dan di antara keagungannya adalah yang terdapat dalam firman Allah ta’alā: “Bulan Ramadan yang padanya di turunkan Al-Quran, …” (QS. Al-Baqarah: 185), hingga akhir ayat. ====================================================================================================== وَالْأَوْصَافُ الَّتِي يُوْصَفُ بِهَا شَهْرُ رَمَضَانَ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا الْأَوْصَافُ الْوَارِدَةُ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ كَأَنْ يُوْصَفَ بِأَنَّهُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ أَوْ أَنَّهُ شَهْرُ الرَّحْمَةِ وَهَذِهِ الْمَعَانِي ثَابِتَةٌ لَهُ فِي الشَّرْعِ وَالْآخَرُ أَوْصَافٌ لَمْ يُوْصَفْ بِهَا فِي خِطَابِ الشَّرْعِ فَهَذِهِ الْأَوْصَافُ إِذَا صَحَّتْ مَعَانِيهَا جَازَ الْخَبَرُ بِهَا وَإِذَا لَمْ تَصِحَّ مَعَانِيهَا لَمْ يَجُزِ الْخَبَرُ بِهَا فَمَتَى رَأَيْتَ شَيْئًا زَائِدًا عَنِ الْوَارِدِ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ فِي صِفَةِ رَمَضَانَ فَتَحَقَّقْ مِنْ صِحَّةِ مَعْنَاهُ فَإِذَا كَانَ مَعْنَاهُ صَحِيحًا سَاغَ الْخَبَرُ بِهِ عَنْ رَمَضَانَ وَإِذَا كَانَ مَعْنَاهُ بَاطِلًا لَمْ يَصِحَّ إِطْلَاقُهُ وَصْفًا لَهُ وَمِنَ الْمَشْهُورِ فِي كَلَامِ النَّاسِ قَوْلُهُمْ عَنْ رَمَضَانَ شَهْرٌ كَرِيمٌ وَهَذِهِ الصِّفَةُ لَيْسَتْ مِمَّا وَرَدَتْ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ نَعْتُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِهِ وَإِطْلَاقُهَا عَلَيْهِ لَهُ مَوْرِدَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّهُ فَعِيلٌ بِمَعْنَى اسْمِ الْمَفْعُولِ أَيْ مُكْرَمٌ وَالْآخَرُ أَنَّهُ فَعِيلٌ بِمَعْنَى اسْمِ الْفَاعِلِ أَيْ مُكْرِمٌ فَعَلَى الْأَوَّلِ يَكُونُ شَهْرًا مُعَظَّمًا وَهَذَا صَحِيحٌ وَعَلَى الثَّانِي يَكُونُ مُتَفَضِّلًا عَلَى غَيْرِهِ بِالْإِكْرَامِ وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ فَإِنَّهُ زَمَانٌ لَا يَسْتَقِلُّ بِفِعْلٍ وَهُوَ ظَرْفٌ بِمَا يَجْعَلُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مِمَّا يَشَاءُ وَمَنْ أَطْلَقَهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يُرِيدُ الْمَعْنَى الْأَوَّلَ أَنَّهُ شَهْرٌ مُكْرَمٌ أَيْ لَهُ كَرَامَةٌ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْهَا الْوَارِدُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Istilah “Ramadhan Karim” Benarkah? – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Istilah “Ramadhan Karim” Benarkah? – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Sifat-sifat yang digunakan untuk menyifati bulan Ramadan ada dua jenis: PERTAMA: Sifat-sifat yang terdapat dalam nash-nash syariat. Contoh: penyifatan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang diberkahi (Ramadan Mubarok), atau bulan penuh rahmat (Syahru ar-Rahmah). Sifat-sifat ini digunakan untuk menyifati Ramadan dalam nash-nash syariat. KEDUA: Sifat-sifat yang tidak terdapat dalam nash-nash syariat. Dan sifat-sifat ini, jika maknanya benar, maka boleh diucapkan, namun jika maknanya tidak benar, maka tidak boleh diucapkan. Oleh karena itu, ketika Anda dapati sifat-sifat yang tidak terdapat dalam nash-nash syariat, yang digunakan untuk menyifati Ramadan, maka telitilah kebenaran maknanya, jika maknanya benar, maka boleh digunakan untuk menyifati bulan Ramadan, namun jika maknanya keliru, maka tidak boleh digunakan. Dan di antara ucapan yang tersebar luas di masyarakat tentang bulan Ramadan: “Ramadan Karim” (Ramadan bulan mulia). Dan sifat ini (Karim) tidak digunakan dalam teks-teks syariat untuk menyifati Ramadan. Menggunakan sifat ini (Karim) untuk menyifati Ramadan, memiliki dua kemungkinan makna: Pertama, bahwa kata tersebut adalah Fa’īl yang bermakna Ismi al-Maf’ūl yang artinya “dimuliakan”. Dan yang kedua, kata tersebut adalah Fa’īl yang bermakna Ismi al-Fā’il yang artinya “memuliakan”, sehingga makna pertama berarti “Ramadan bulan yang diagungkan”. Makna ini benar. Dan makna kedua berarti “bulan yang melimpahkan kebaikan pada orang lain”, dan ini makna yang keliru, karena Ramadan adalah waktu yang tidak bisa melakukan perbuatan dengan sendirinya, karena Ramadan adalah waktu yang Allah jadikan padanya segala hal yang Dia kehendaki. Sehingga jika orang berilmu yang mengucapkannya, maka yang dia maksud adalah makna pertama, bahwa Ramadan adalah “bulan yang dimuliakan”, yakni bulan yang memiliki kedudukan yang agung di sisi Allah subḥānahu wa ta’alā. Dan di antara keagungannya adalah yang terdapat dalam firman Allah ta’alā: “Bulan Ramadan yang padanya di turunkan Al-Quran, …” (QS. Al-Baqarah: 185), hingga akhir ayat. ====================================================================================================== وَالْأَوْصَافُ الَّتِي يُوْصَفُ بِهَا شَهْرُ رَمَضَانَ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا الْأَوْصَافُ الْوَارِدَةُ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ كَأَنْ يُوْصَفَ بِأَنَّهُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ أَوْ أَنَّهُ شَهْرُ الرَّحْمَةِ وَهَذِهِ الْمَعَانِي ثَابِتَةٌ لَهُ فِي الشَّرْعِ وَالْآخَرُ أَوْصَافٌ لَمْ يُوْصَفْ بِهَا فِي خِطَابِ الشَّرْعِ فَهَذِهِ الْأَوْصَافُ إِذَا صَحَّتْ مَعَانِيهَا جَازَ الْخَبَرُ بِهَا وَإِذَا لَمْ تَصِحَّ مَعَانِيهَا لَمْ يَجُزِ الْخَبَرُ بِهَا فَمَتَى رَأَيْتَ شَيْئًا زَائِدًا عَنِ الْوَارِدِ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ فِي صِفَةِ رَمَضَانَ فَتَحَقَّقْ مِنْ صِحَّةِ مَعْنَاهُ فَإِذَا كَانَ مَعْنَاهُ صَحِيحًا سَاغَ الْخَبَرُ بِهِ عَنْ رَمَضَانَ وَإِذَا كَانَ مَعْنَاهُ بَاطِلًا لَمْ يَصِحَّ إِطْلَاقُهُ وَصْفًا لَهُ وَمِنَ الْمَشْهُورِ فِي كَلَامِ النَّاسِ قَوْلُهُمْ عَنْ رَمَضَانَ شَهْرٌ كَرِيمٌ وَهَذِهِ الصِّفَةُ لَيْسَتْ مِمَّا وَرَدَتْ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ نَعْتُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِهِ وَإِطْلَاقُهَا عَلَيْهِ لَهُ مَوْرِدَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّهُ فَعِيلٌ بِمَعْنَى اسْمِ الْمَفْعُولِ أَيْ مُكْرَمٌ وَالْآخَرُ أَنَّهُ فَعِيلٌ بِمَعْنَى اسْمِ الْفَاعِلِ أَيْ مُكْرِمٌ فَعَلَى الْأَوَّلِ يَكُونُ شَهْرًا مُعَظَّمًا وَهَذَا صَحِيحٌ وَعَلَى الثَّانِي يَكُونُ مُتَفَضِّلًا عَلَى غَيْرِهِ بِالْإِكْرَامِ وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ فَإِنَّهُ زَمَانٌ لَا يَسْتَقِلُّ بِفِعْلٍ وَهُوَ ظَرْفٌ بِمَا يَجْعَلُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مِمَّا يَشَاءُ وَمَنْ أَطْلَقَهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يُرِيدُ الْمَعْنَى الْأَوَّلَ أَنَّهُ شَهْرٌ مُكْرَمٌ أَيْ لَهُ كَرَامَةٌ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْهَا الْوَارِدُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Istilah “Ramadhan Karim” Benarkah? – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Sifat-sifat yang digunakan untuk menyifati bulan Ramadan ada dua jenis: PERTAMA: Sifat-sifat yang terdapat dalam nash-nash syariat. Contoh: penyifatan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang diberkahi (Ramadan Mubarok), atau bulan penuh rahmat (Syahru ar-Rahmah). Sifat-sifat ini digunakan untuk menyifati Ramadan dalam nash-nash syariat. KEDUA: Sifat-sifat yang tidak terdapat dalam nash-nash syariat. Dan sifat-sifat ini, jika maknanya benar, maka boleh diucapkan, namun jika maknanya tidak benar, maka tidak boleh diucapkan. Oleh karena itu, ketika Anda dapati sifat-sifat yang tidak terdapat dalam nash-nash syariat, yang digunakan untuk menyifati Ramadan, maka telitilah kebenaran maknanya, jika maknanya benar, maka boleh digunakan untuk menyifati bulan Ramadan, namun jika maknanya keliru, maka tidak boleh digunakan. Dan di antara ucapan yang tersebar luas di masyarakat tentang bulan Ramadan: “Ramadan Karim” (Ramadan bulan mulia). Dan sifat ini (Karim) tidak digunakan dalam teks-teks syariat untuk menyifati Ramadan. Menggunakan sifat ini (Karim) untuk menyifati Ramadan, memiliki dua kemungkinan makna: Pertama, bahwa kata tersebut adalah Fa’īl yang bermakna Ismi al-Maf’ūl yang artinya “dimuliakan”. Dan yang kedua, kata tersebut adalah Fa’īl yang bermakna Ismi al-Fā’il yang artinya “memuliakan”, sehingga makna pertama berarti “Ramadan bulan yang diagungkan”. Makna ini benar. Dan makna kedua berarti “bulan yang melimpahkan kebaikan pada orang lain”, dan ini makna yang keliru, karena Ramadan adalah waktu yang tidak bisa melakukan perbuatan dengan sendirinya, karena Ramadan adalah waktu yang Allah jadikan padanya segala hal yang Dia kehendaki. Sehingga jika orang berilmu yang mengucapkannya, maka yang dia maksud adalah makna pertama, bahwa Ramadan adalah “bulan yang dimuliakan”, yakni bulan yang memiliki kedudukan yang agung di sisi Allah subḥānahu wa ta’alā. Dan di antara keagungannya adalah yang terdapat dalam firman Allah ta’alā: “Bulan Ramadan yang padanya di turunkan Al-Quran, …” (QS. Al-Baqarah: 185), hingga akhir ayat. ====================================================================================================== وَالْأَوْصَافُ الَّتِي يُوْصَفُ بِهَا شَهْرُ رَمَضَانَ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا الْأَوْصَافُ الْوَارِدَةُ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ كَأَنْ يُوْصَفَ بِأَنَّهُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ أَوْ أَنَّهُ شَهْرُ الرَّحْمَةِ وَهَذِهِ الْمَعَانِي ثَابِتَةٌ لَهُ فِي الشَّرْعِ وَالْآخَرُ أَوْصَافٌ لَمْ يُوْصَفْ بِهَا فِي خِطَابِ الشَّرْعِ فَهَذِهِ الْأَوْصَافُ إِذَا صَحَّتْ مَعَانِيهَا جَازَ الْخَبَرُ بِهَا وَإِذَا لَمْ تَصِحَّ مَعَانِيهَا لَمْ يَجُزِ الْخَبَرُ بِهَا فَمَتَى رَأَيْتَ شَيْئًا زَائِدًا عَنِ الْوَارِدِ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ فِي صِفَةِ رَمَضَانَ فَتَحَقَّقْ مِنْ صِحَّةِ مَعْنَاهُ فَإِذَا كَانَ مَعْنَاهُ صَحِيحًا سَاغَ الْخَبَرُ بِهِ عَنْ رَمَضَانَ وَإِذَا كَانَ مَعْنَاهُ بَاطِلًا لَمْ يَصِحَّ إِطْلَاقُهُ وَصْفًا لَهُ وَمِنَ الْمَشْهُورِ فِي كَلَامِ النَّاسِ قَوْلُهُمْ عَنْ رَمَضَانَ شَهْرٌ كَرِيمٌ وَهَذِهِ الصِّفَةُ لَيْسَتْ مِمَّا وَرَدَتْ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ نَعْتُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِهِ وَإِطْلَاقُهَا عَلَيْهِ لَهُ مَوْرِدَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّهُ فَعِيلٌ بِمَعْنَى اسْمِ الْمَفْعُولِ أَيْ مُكْرَمٌ وَالْآخَرُ أَنَّهُ فَعِيلٌ بِمَعْنَى اسْمِ الْفَاعِلِ أَيْ مُكْرِمٌ فَعَلَى الْأَوَّلِ يَكُونُ شَهْرًا مُعَظَّمًا وَهَذَا صَحِيحٌ وَعَلَى الثَّانِي يَكُونُ مُتَفَضِّلًا عَلَى غَيْرِهِ بِالْإِكْرَامِ وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ فَإِنَّهُ زَمَانٌ لَا يَسْتَقِلُّ بِفِعْلٍ وَهُوَ ظَرْفٌ بِمَا يَجْعَلُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مِمَّا يَشَاءُ وَمَنْ أَطْلَقَهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يُرِيدُ الْمَعْنَى الْأَوَّلَ أَنَّهُ شَهْرٌ مُكْرَمٌ أَيْ لَهُ كَرَامَةٌ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْهَا الْوَارِدُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Istilah “Ramadhan Karim” Benarkah? – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Sifat-sifat yang digunakan untuk menyifati bulan Ramadan ada dua jenis: PERTAMA: Sifat-sifat yang terdapat dalam nash-nash syariat. Contoh: penyifatan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang diberkahi (Ramadan Mubarok), atau bulan penuh rahmat (Syahru ar-Rahmah). Sifat-sifat ini digunakan untuk menyifati Ramadan dalam nash-nash syariat. KEDUA: Sifat-sifat yang tidak terdapat dalam nash-nash syariat. Dan sifat-sifat ini, jika maknanya benar, maka boleh diucapkan, namun jika maknanya tidak benar, maka tidak boleh diucapkan. Oleh karena itu, ketika Anda dapati sifat-sifat yang tidak terdapat dalam nash-nash syariat, yang digunakan untuk menyifati Ramadan, maka telitilah kebenaran maknanya, jika maknanya benar, maka boleh digunakan untuk menyifati bulan Ramadan, namun jika maknanya keliru, maka tidak boleh digunakan. Dan di antara ucapan yang tersebar luas di masyarakat tentang bulan Ramadan: “Ramadan Karim” (Ramadan bulan mulia). Dan sifat ini (Karim) tidak digunakan dalam teks-teks syariat untuk menyifati Ramadan. Menggunakan sifat ini (Karim) untuk menyifati Ramadan, memiliki dua kemungkinan makna: Pertama, bahwa kata tersebut adalah Fa’īl yang bermakna Ismi al-Maf’ūl yang artinya “dimuliakan”. Dan yang kedua, kata tersebut adalah Fa’īl yang bermakna Ismi al-Fā’il yang artinya “memuliakan”, sehingga makna pertama berarti “Ramadan bulan yang diagungkan”. Makna ini benar. Dan makna kedua berarti “bulan yang melimpahkan kebaikan pada orang lain”, dan ini makna yang keliru, karena Ramadan adalah waktu yang tidak bisa melakukan perbuatan dengan sendirinya, karena Ramadan adalah waktu yang Allah jadikan padanya segala hal yang Dia kehendaki. Sehingga jika orang berilmu yang mengucapkannya, maka yang dia maksud adalah makna pertama, bahwa Ramadan adalah “bulan yang dimuliakan”, yakni bulan yang memiliki kedudukan yang agung di sisi Allah subḥānahu wa ta’alā. Dan di antara keagungannya adalah yang terdapat dalam firman Allah ta’alā: “Bulan Ramadan yang padanya di turunkan Al-Quran, …” (QS. Al-Baqarah: 185), hingga akhir ayat. ====================================================================================================== وَالْأَوْصَافُ الَّتِي يُوْصَفُ بِهَا شَهْرُ رَمَضَانَ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا الْأَوْصَافُ الْوَارِدَةُ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ كَأَنْ يُوْصَفَ بِأَنَّهُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ أَوْ أَنَّهُ شَهْرُ الرَّحْمَةِ وَهَذِهِ الْمَعَانِي ثَابِتَةٌ لَهُ فِي الشَّرْعِ وَالْآخَرُ أَوْصَافٌ لَمْ يُوْصَفْ بِهَا فِي خِطَابِ الشَّرْعِ فَهَذِهِ الْأَوْصَافُ إِذَا صَحَّتْ مَعَانِيهَا جَازَ الْخَبَرُ بِهَا وَإِذَا لَمْ تَصِحَّ مَعَانِيهَا لَمْ يَجُزِ الْخَبَرُ بِهَا فَمَتَى رَأَيْتَ شَيْئًا زَائِدًا عَنِ الْوَارِدِ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ فِي صِفَةِ رَمَضَانَ فَتَحَقَّقْ مِنْ صِحَّةِ مَعْنَاهُ فَإِذَا كَانَ مَعْنَاهُ صَحِيحًا سَاغَ الْخَبَرُ بِهِ عَنْ رَمَضَانَ وَإِذَا كَانَ مَعْنَاهُ بَاطِلًا لَمْ يَصِحَّ إِطْلَاقُهُ وَصْفًا لَهُ وَمِنَ الْمَشْهُورِ فِي كَلَامِ النَّاسِ قَوْلُهُمْ عَنْ رَمَضَانَ شَهْرٌ كَرِيمٌ وَهَذِهِ الصِّفَةُ لَيْسَتْ مِمَّا وَرَدَتْ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ نَعْتُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِهِ وَإِطْلَاقُهَا عَلَيْهِ لَهُ مَوْرِدَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّهُ فَعِيلٌ بِمَعْنَى اسْمِ الْمَفْعُولِ أَيْ مُكْرَمٌ وَالْآخَرُ أَنَّهُ فَعِيلٌ بِمَعْنَى اسْمِ الْفَاعِلِ أَيْ مُكْرِمٌ فَعَلَى الْأَوَّلِ يَكُونُ شَهْرًا مُعَظَّمًا وَهَذَا صَحِيحٌ وَعَلَى الثَّانِي يَكُونُ مُتَفَضِّلًا عَلَى غَيْرِهِ بِالْإِكْرَامِ وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ فَإِنَّهُ زَمَانٌ لَا يَسْتَقِلُّ بِفِعْلٍ وَهُوَ ظَرْفٌ بِمَا يَجْعَلُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مِمَّا يَشَاءُ وَمَنْ أَطْلَقَهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يُرِيدُ الْمَعْنَى الْأَوَّلَ أَنَّهُ شَهْرٌ مُكْرَمٌ أَيْ لَهُ كَرَامَةٌ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْهَا الْوَارِدُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bolehkah Akikah dengan Menyembelih Sapi?

Pertanyaan: Izin bertanya, kalau akikah apa harus dengan kambing? Dan apa boleh diganti dengan sapi?  (Ardi Ard) Jawaban: Alhamdulillahi was shalatu was salamu ‘ala Rasulillahi wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man saara ‘ala nahjihi ila yaumil qiyamati. Amma ba’du. Jumhur ulama dari 4 madzhab fikih mengatakan sah akikah dengan menyembelih sapi atau unta. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (30/279) disebutkan:  يجزئ في العقيقة الجنس الذي يجزئ في الأضحية , وهو الأنعام من إبل وبقر وغنم , ولا يجزئ غيرها , وهذا متفق عليه بين الحنفية والشافعية والحنابلة , وهو أرجح القولين عند المالكية “Sah akikah dengan jenis hewan ternak yang bisa digunakan untuk kurban. Yaitu unta, sapi, dan kambing. Namun tidak sah jika selainnya. Ini pendapat yang disepakati oleh madzhab Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah. Dan ini pendapat yang rajih dari dua pendapat yang ada di madzhab Malikiyyah.” Pendapat ini juga yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Namun beliau berdua mengatakan bahwa akikah dengan kambing itu lebih utama. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumthi’ (7/424) mengatakan, في العقيقة فالشاة أفضل من البعير الكامل ؛ لأنها التي وردت بها السنة ، فتكون أفضل من الإبل “Dalam akikah, maka yang lebih utama adalah menyembelih kambing daripada unta yang sempurna. Karena itulah yang terdapat dalam sunnah. Maka kambing lebih utama daripada unta (dalam akikah).” Sebagaimana dalam hadits Amr bin Syu’aib radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ “Siapa yang memiliki anak yang baru lahir ia ingin melakukan akikah, maka lakukanlah. Jika anaknya laki-laki maka sembelihlah dua ekor kambing yang mencukupi dan jika anaknya perempuan maka sembelihlah satu kambing.” (HR. Abu Daud no.2842, dihasankan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merangsang Diri Sendiri Dalam Islam, Tanggapan Ulama Tentang Ustad Danu, Puasa Sunah Bulan Rajab, Nabi Yahudi, Doa Kuat Hafalan, Kultum Terbaik Visited 428 times, 1 visit(s) today Post Views: 534 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Akikah dengan Menyembelih Sapi?

Pertanyaan: Izin bertanya, kalau akikah apa harus dengan kambing? Dan apa boleh diganti dengan sapi?  (Ardi Ard) Jawaban: Alhamdulillahi was shalatu was salamu ‘ala Rasulillahi wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man saara ‘ala nahjihi ila yaumil qiyamati. Amma ba’du. Jumhur ulama dari 4 madzhab fikih mengatakan sah akikah dengan menyembelih sapi atau unta. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (30/279) disebutkan:  يجزئ في العقيقة الجنس الذي يجزئ في الأضحية , وهو الأنعام من إبل وبقر وغنم , ولا يجزئ غيرها , وهذا متفق عليه بين الحنفية والشافعية والحنابلة , وهو أرجح القولين عند المالكية “Sah akikah dengan jenis hewan ternak yang bisa digunakan untuk kurban. Yaitu unta, sapi, dan kambing. Namun tidak sah jika selainnya. Ini pendapat yang disepakati oleh madzhab Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah. Dan ini pendapat yang rajih dari dua pendapat yang ada di madzhab Malikiyyah.” Pendapat ini juga yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Namun beliau berdua mengatakan bahwa akikah dengan kambing itu lebih utama. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumthi’ (7/424) mengatakan, في العقيقة فالشاة أفضل من البعير الكامل ؛ لأنها التي وردت بها السنة ، فتكون أفضل من الإبل “Dalam akikah, maka yang lebih utama adalah menyembelih kambing daripada unta yang sempurna. Karena itulah yang terdapat dalam sunnah. Maka kambing lebih utama daripada unta (dalam akikah).” Sebagaimana dalam hadits Amr bin Syu’aib radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ “Siapa yang memiliki anak yang baru lahir ia ingin melakukan akikah, maka lakukanlah. Jika anaknya laki-laki maka sembelihlah dua ekor kambing yang mencukupi dan jika anaknya perempuan maka sembelihlah satu kambing.” (HR. Abu Daud no.2842, dihasankan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merangsang Diri Sendiri Dalam Islam, Tanggapan Ulama Tentang Ustad Danu, Puasa Sunah Bulan Rajab, Nabi Yahudi, Doa Kuat Hafalan, Kultum Terbaik Visited 428 times, 1 visit(s) today Post Views: 534 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Izin bertanya, kalau akikah apa harus dengan kambing? Dan apa boleh diganti dengan sapi?  (Ardi Ard) Jawaban: Alhamdulillahi was shalatu was salamu ‘ala Rasulillahi wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man saara ‘ala nahjihi ila yaumil qiyamati. Amma ba’du. Jumhur ulama dari 4 madzhab fikih mengatakan sah akikah dengan menyembelih sapi atau unta. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (30/279) disebutkan:  يجزئ في العقيقة الجنس الذي يجزئ في الأضحية , وهو الأنعام من إبل وبقر وغنم , ولا يجزئ غيرها , وهذا متفق عليه بين الحنفية والشافعية والحنابلة , وهو أرجح القولين عند المالكية “Sah akikah dengan jenis hewan ternak yang bisa digunakan untuk kurban. Yaitu unta, sapi, dan kambing. Namun tidak sah jika selainnya. Ini pendapat yang disepakati oleh madzhab Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah. Dan ini pendapat yang rajih dari dua pendapat yang ada di madzhab Malikiyyah.” Pendapat ini juga yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Namun beliau berdua mengatakan bahwa akikah dengan kambing itu lebih utama. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumthi’ (7/424) mengatakan, في العقيقة فالشاة أفضل من البعير الكامل ؛ لأنها التي وردت بها السنة ، فتكون أفضل من الإبل “Dalam akikah, maka yang lebih utama adalah menyembelih kambing daripada unta yang sempurna. Karena itulah yang terdapat dalam sunnah. Maka kambing lebih utama daripada unta (dalam akikah).” Sebagaimana dalam hadits Amr bin Syu’aib radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ “Siapa yang memiliki anak yang baru lahir ia ingin melakukan akikah, maka lakukanlah. Jika anaknya laki-laki maka sembelihlah dua ekor kambing yang mencukupi dan jika anaknya perempuan maka sembelihlah satu kambing.” (HR. Abu Daud no.2842, dihasankan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merangsang Diri Sendiri Dalam Islam, Tanggapan Ulama Tentang Ustad Danu, Puasa Sunah Bulan Rajab, Nabi Yahudi, Doa Kuat Hafalan, Kultum Terbaik Visited 428 times, 1 visit(s) today Post Views: 534 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1339852021&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Izin bertanya, kalau akikah apa harus dengan kambing? Dan apa boleh diganti dengan sapi?  (Ardi Ard) Jawaban: Alhamdulillahi was shalatu was salamu ‘ala Rasulillahi wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man saara ‘ala nahjihi ila yaumil qiyamati. Amma ba’du. Jumhur ulama dari 4 madzhab fikih mengatakan sah akikah dengan menyembelih sapi atau unta. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (30/279) disebutkan:  يجزئ في العقيقة الجنس الذي يجزئ في الأضحية , وهو الأنعام من إبل وبقر وغنم , ولا يجزئ غيرها , وهذا متفق عليه بين الحنفية والشافعية والحنابلة , وهو أرجح القولين عند المالكية “Sah akikah dengan jenis hewan ternak yang bisa digunakan untuk kurban. Yaitu unta, sapi, dan kambing. Namun tidak sah jika selainnya. Ini pendapat yang disepakati oleh madzhab Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah. Dan ini pendapat yang rajih dari dua pendapat yang ada di madzhab Malikiyyah.” Pendapat ini juga yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Namun beliau berdua mengatakan bahwa akikah dengan kambing itu lebih utama. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumthi’ (7/424) mengatakan, في العقيقة فالشاة أفضل من البعير الكامل ؛ لأنها التي وردت بها السنة ، فتكون أفضل من الإبل “Dalam akikah, maka yang lebih utama adalah menyembelih kambing daripada unta yang sempurna. Karena itulah yang terdapat dalam sunnah. Maka kambing lebih utama daripada unta (dalam akikah).” Sebagaimana dalam hadits Amr bin Syu’aib radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ “Siapa yang memiliki anak yang baru lahir ia ingin melakukan akikah, maka lakukanlah. Jika anaknya laki-laki maka sembelihlah dua ekor kambing yang mencukupi dan jika anaknya perempuan maka sembelihlah satu kambing.” (HR. Abu Daud no.2842, dihasankan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merangsang Diri Sendiri Dalam Islam, Tanggapan Ulama Tentang Ustad Danu, Puasa Sunah Bulan Rajab, Nabi Yahudi, Doa Kuat Hafalan, Kultum Terbaik Visited 428 times, 1 visit(s) today Post Views: 534 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Istigfar dan Tobat Kunci Pembuka Rezeki

Istigfar dan tobat adalah di antara amalan penting yang bisa menjadi kunci pembuka rezeki bagi hamba. Keterangan mengenai hal ini banyak ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadis. Tentu saja ini berlaku bagi mereka yang bersungguh-sungguh dan benar dalam mengamalkannya. Daftar Isi sembunyikan 1. Hakikat istigfar dan tobat 2. Dalil-dalil Al-Qur’an bahwa istigfar dan tobat adalah kunci-kunci rezeki 3. Dalil dari hadis mengenai keutamaan istigfar Hakikat istigfar dan tobat Banyak orang menyangka bahwa istigfar dan tobat hanya sekadar di lisan saja. Ketika ada seseorang yang mengucapkan kalimat “astaghfirullah wa atuubu ilaihi“ hanya di lisan saja, maka tidak ada dampak kalimat tersebut di hati dan tidak pula ada dampak pada amal perbuatannya. Hal yang demikian ini adalah perbuatan orang yang dusta dan tidak jujur dalam istigfar dan tobatnya.Para ulama telah menjelaskan hakikat istigfar dan tobat. Ar-Rhagib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Tobat secara syariat adalah meninggalkan maksiat karena jeleknya perbuatan tersebut, menyesal telah melakukannya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan berupaya memperbaiki amalan yang ditinggalkan jika memungkinkan. Jika terkumpul empat hal ini, maka syarat tobatnya telah sempura.“An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Tobat wajib dilakukan untuk setiap dosa. Jika maksiat yang dilakukan adalah antara hamba dengan Allah dan tidak terkait dengan hak manusia yang lain, maka ada tiga syarat yang harus terpenuhi:Pertama: Meninggalkan maksiat tersebut.Kedua: Menyesal atas perbuatannya.Ketiga: Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.Jika tidak ada salah satu saja dari tiga syarat di atas, maka tobatnya tidak sah. Adapun jika maksiatnya berkaitan dengan hak orang lain, maka ada tambahan syarat keempat selain tiga syarat di atas. Yaitu, dia harus menunaikan hak saudaranya yang terzalimi tersebut. Jika berupa harta atau yang semisal, maka harus mengembalikannya. Jika  berupaya merendahkan orang lain, maka dengan menyebut kebaikannya dan meminta maaf kepadanya. Jika berupa perbuatan ghibah, maka harus meminta halal darinya.“Sedangkan mengenai istigfar, Ar-Rhagib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Perbuatan istigfar dilakukan dengan perkataan dan perbuatan. Allah Ta’ala berfirman,اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.“ (QS. Nuh: 10)Mereka tidak diperintahkan untuk meminta ampunan dengan lisan saja, namun dengan lisan dan sekaligus dengan perbuatan. Dikatakan bahwa istigfar yang dilakukan hanya dengan lisan tanpa amalan perbuatan adalah perbuatan dusta dan tidak jujur.Baca Juga: Mengapa Ada Yang Mati Kelaparan Padahal Rezeki Sudah Dijamin?Dalil-dalil Al-Qur’an bahwa istigfar dan tobat adalah kunci-kunci rezekiTerdapat banyak dalil dari Al-Qur’an maupun hadis yang menunjukkan bahwa istigfar dan tobat merupakan sebab-sebab turunnya rezeki. Di antara dalil Al-Qur’an adalah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً“Maka, aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu! Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.“ (QS. Nuh: 10-12)Dalam ayat di atas, terdapat penjelasan terwujudnya hal-hal berikut dengan sebab istigfar:Pertama: Ampunan Allah terhadap dosa-dosa.Kedua: Turunnya hujan yang bergantian terus menerus.Ketiga: Allah akan memperbanyak harta dan anak-anak.Keempat: Allah akan menjadikan kebun-kebun.Kelima: Allah akan menjadikan sungai-sungai yang mengalir.Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Dalam ayat ini dan juga dalam ayat di surah Hud menunjukkan bahwa istigfar akan menyebakan turunnya rezeki dan hujan.“Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya, “Jika kalian bertobat kepada Allah dan beristigfar kepada-Nya, niscaya Allah akan menganugerahkan banyak rezeki kepada kalian dan menurunkan hujan dari keberkahan langit dan menumbuhkan dari keberkahan bumi, menumbuhkan pertanian, menambah harta dan anak-anak, menjadikan kebun dengan aneka buahnya, dan mengalirkan sungai-sungai di antaranya.“Al-Qurtubi rahimahullah menyebutkan bahwa ada yang mengadu kepada Imam Hasan Al-Bashri karena belum punya anak. Maka beliau berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“ Ada pula yang mengadu kepada beliau perihal kemisiknan yang dialaminya. Maka beliau pun juga berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“ Ada pula yang menghadap kepada beliau dan minta didoakan agar banyak anak. Maka, beliau pun berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“ Ada pula yang meminta kepada beliau agar kebunnya bisa menjadi subur. Maka beliau pun berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“Mendengar hal ini Rabi’ bin Shabih berkata, “Telah datang kepadamu orang yang mengadu dengan berbagai permasalahan yang berbeda, engkau memerintahkan mereka semua untuk beristigfar.” Hasan Al-Bashri menjawab, “Ini bukan sekedar jawaban dariku. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman dalam surah Nuh,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً“Maka, aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu! Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.“ (QS. Nuh: 10-12)Allahu akbar! Betapa agung dan betapa banyak  buah manis dari istigfar! Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang beristigfar dan menganugerahkan kepada kita buah manis darinya baik di dunia maupun di akhirat.Dalil lain dari Al-Qur’an adalah tentang kisah ajakan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya untuk beristigfar yang disebutkan dalam firman Allah,وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْاْ مُجْرِمِينَ“Dan (dia berkata), “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud: 52)Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai tafsir ayat ini, “Kemudian Allah memerintahkan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya untuk istighar yang dengannya bisa menghapus dosa-dosa terdahulu. Barangsiapa yang melakukannya, maka Allah akan mempermudah rezekinya dan mempermudah urusannya serta akan menjaganya.“Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula,وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Hud: 3)Dalam ayat yang mulia ini, terdapat janji dari Allah berupa kenikmatan yang baik bagi orang yang beristigfar dan bertaubat. Yang dimaksud dengan firman Allah (يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً) adalah Allah akan memberikan keutamaan kepada kalian berupa rezeki dan kelapangan sebagaimana ini merupakan penjelasan ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyalllahu ‘anhu.Baca Juga: Mengapa Mencari Rezeki Yang Haram Padahal Rezeki Telah Dijamin?Dalil dari hadis mengenai keutamaan istigfarAdapun dalil dari hadis yang menunjukkan bahwa istigfar dan tobat merupakan kunci rezeki adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”“Barangsiapa memperbanyak istigfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, sahih)Dalam hadis yang mulia ini, Nabi mengabarkan ada tiga buah manis bagi orang yang banyak beristigfar. Salah satunya adalah rezeki dari Allah Ar-Razzaq yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Maka, orang yang mengharapkan rezeki, hendaknya dia memperbanyak istigfar dengan perkataan dan perbuatannya. Namun, sayangnya kebanyakan istigfar hanyalah di lisan tanpa diiringi dengan amalan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang dimudahkan untuk senantiasa memperbanyak tobat dan istigfar.Baca Juga:Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap RezekiJangan Khawatirkan Rezekimu***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Miftaahu Ar-Rizqi fii Dhaui Al-Kitab wa As-Sunnah karya Dr. Fadhl Ilahi🔍 Dukhan, Laporan Kegiatan Qurban, Definisi Agama Islam, Materi Fiqih Wanita, Ustadz Ammi Nur Baits WahabiTags: istighfarkeutamaan istifgfarkeutamaan taubatmencari rezekinasihatnasihat islampintu rezekirezekiTaubat

Istigfar dan Tobat Kunci Pembuka Rezeki

Istigfar dan tobat adalah di antara amalan penting yang bisa menjadi kunci pembuka rezeki bagi hamba. Keterangan mengenai hal ini banyak ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadis. Tentu saja ini berlaku bagi mereka yang bersungguh-sungguh dan benar dalam mengamalkannya. Daftar Isi sembunyikan 1. Hakikat istigfar dan tobat 2. Dalil-dalil Al-Qur’an bahwa istigfar dan tobat adalah kunci-kunci rezeki 3. Dalil dari hadis mengenai keutamaan istigfar Hakikat istigfar dan tobat Banyak orang menyangka bahwa istigfar dan tobat hanya sekadar di lisan saja. Ketika ada seseorang yang mengucapkan kalimat “astaghfirullah wa atuubu ilaihi“ hanya di lisan saja, maka tidak ada dampak kalimat tersebut di hati dan tidak pula ada dampak pada amal perbuatannya. Hal yang demikian ini adalah perbuatan orang yang dusta dan tidak jujur dalam istigfar dan tobatnya.Para ulama telah menjelaskan hakikat istigfar dan tobat. Ar-Rhagib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Tobat secara syariat adalah meninggalkan maksiat karena jeleknya perbuatan tersebut, menyesal telah melakukannya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan berupaya memperbaiki amalan yang ditinggalkan jika memungkinkan. Jika terkumpul empat hal ini, maka syarat tobatnya telah sempura.“An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Tobat wajib dilakukan untuk setiap dosa. Jika maksiat yang dilakukan adalah antara hamba dengan Allah dan tidak terkait dengan hak manusia yang lain, maka ada tiga syarat yang harus terpenuhi:Pertama: Meninggalkan maksiat tersebut.Kedua: Menyesal atas perbuatannya.Ketiga: Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.Jika tidak ada salah satu saja dari tiga syarat di atas, maka tobatnya tidak sah. Adapun jika maksiatnya berkaitan dengan hak orang lain, maka ada tambahan syarat keempat selain tiga syarat di atas. Yaitu, dia harus menunaikan hak saudaranya yang terzalimi tersebut. Jika berupa harta atau yang semisal, maka harus mengembalikannya. Jika  berupaya merendahkan orang lain, maka dengan menyebut kebaikannya dan meminta maaf kepadanya. Jika berupa perbuatan ghibah, maka harus meminta halal darinya.“Sedangkan mengenai istigfar, Ar-Rhagib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Perbuatan istigfar dilakukan dengan perkataan dan perbuatan. Allah Ta’ala berfirman,اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.“ (QS. Nuh: 10)Mereka tidak diperintahkan untuk meminta ampunan dengan lisan saja, namun dengan lisan dan sekaligus dengan perbuatan. Dikatakan bahwa istigfar yang dilakukan hanya dengan lisan tanpa amalan perbuatan adalah perbuatan dusta dan tidak jujur.Baca Juga: Mengapa Ada Yang Mati Kelaparan Padahal Rezeki Sudah Dijamin?Dalil-dalil Al-Qur’an bahwa istigfar dan tobat adalah kunci-kunci rezekiTerdapat banyak dalil dari Al-Qur’an maupun hadis yang menunjukkan bahwa istigfar dan tobat merupakan sebab-sebab turunnya rezeki. Di antara dalil Al-Qur’an adalah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً“Maka, aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu! Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.“ (QS. Nuh: 10-12)Dalam ayat di atas, terdapat penjelasan terwujudnya hal-hal berikut dengan sebab istigfar:Pertama: Ampunan Allah terhadap dosa-dosa.Kedua: Turunnya hujan yang bergantian terus menerus.Ketiga: Allah akan memperbanyak harta dan anak-anak.Keempat: Allah akan menjadikan kebun-kebun.Kelima: Allah akan menjadikan sungai-sungai yang mengalir.Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Dalam ayat ini dan juga dalam ayat di surah Hud menunjukkan bahwa istigfar akan menyebakan turunnya rezeki dan hujan.“Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya, “Jika kalian bertobat kepada Allah dan beristigfar kepada-Nya, niscaya Allah akan menganugerahkan banyak rezeki kepada kalian dan menurunkan hujan dari keberkahan langit dan menumbuhkan dari keberkahan bumi, menumbuhkan pertanian, menambah harta dan anak-anak, menjadikan kebun dengan aneka buahnya, dan mengalirkan sungai-sungai di antaranya.“Al-Qurtubi rahimahullah menyebutkan bahwa ada yang mengadu kepada Imam Hasan Al-Bashri karena belum punya anak. Maka beliau berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“ Ada pula yang mengadu kepada beliau perihal kemisiknan yang dialaminya. Maka beliau pun juga berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“ Ada pula yang menghadap kepada beliau dan minta didoakan agar banyak anak. Maka, beliau pun berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“ Ada pula yang meminta kepada beliau agar kebunnya bisa menjadi subur. Maka beliau pun berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“Mendengar hal ini Rabi’ bin Shabih berkata, “Telah datang kepadamu orang yang mengadu dengan berbagai permasalahan yang berbeda, engkau memerintahkan mereka semua untuk beristigfar.” Hasan Al-Bashri menjawab, “Ini bukan sekedar jawaban dariku. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman dalam surah Nuh,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً“Maka, aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu! Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.“ (QS. Nuh: 10-12)Allahu akbar! Betapa agung dan betapa banyak  buah manis dari istigfar! Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang beristigfar dan menganugerahkan kepada kita buah manis darinya baik di dunia maupun di akhirat.Dalil lain dari Al-Qur’an adalah tentang kisah ajakan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya untuk beristigfar yang disebutkan dalam firman Allah,وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْاْ مُجْرِمِينَ“Dan (dia berkata), “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud: 52)Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai tafsir ayat ini, “Kemudian Allah memerintahkan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya untuk istighar yang dengannya bisa menghapus dosa-dosa terdahulu. Barangsiapa yang melakukannya, maka Allah akan mempermudah rezekinya dan mempermudah urusannya serta akan menjaganya.“Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula,وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Hud: 3)Dalam ayat yang mulia ini, terdapat janji dari Allah berupa kenikmatan yang baik bagi orang yang beristigfar dan bertaubat. Yang dimaksud dengan firman Allah (يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً) adalah Allah akan memberikan keutamaan kepada kalian berupa rezeki dan kelapangan sebagaimana ini merupakan penjelasan ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyalllahu ‘anhu.Baca Juga: Mengapa Mencari Rezeki Yang Haram Padahal Rezeki Telah Dijamin?Dalil dari hadis mengenai keutamaan istigfarAdapun dalil dari hadis yang menunjukkan bahwa istigfar dan tobat merupakan kunci rezeki adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”“Barangsiapa memperbanyak istigfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, sahih)Dalam hadis yang mulia ini, Nabi mengabarkan ada tiga buah manis bagi orang yang banyak beristigfar. Salah satunya adalah rezeki dari Allah Ar-Razzaq yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Maka, orang yang mengharapkan rezeki, hendaknya dia memperbanyak istigfar dengan perkataan dan perbuatannya. Namun, sayangnya kebanyakan istigfar hanyalah di lisan tanpa diiringi dengan amalan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang dimudahkan untuk senantiasa memperbanyak tobat dan istigfar.Baca Juga:Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap RezekiJangan Khawatirkan Rezekimu***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Miftaahu Ar-Rizqi fii Dhaui Al-Kitab wa As-Sunnah karya Dr. Fadhl Ilahi🔍 Dukhan, Laporan Kegiatan Qurban, Definisi Agama Islam, Materi Fiqih Wanita, Ustadz Ammi Nur Baits WahabiTags: istighfarkeutamaan istifgfarkeutamaan taubatmencari rezekinasihatnasihat islampintu rezekirezekiTaubat
Istigfar dan tobat adalah di antara amalan penting yang bisa menjadi kunci pembuka rezeki bagi hamba. Keterangan mengenai hal ini banyak ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadis. Tentu saja ini berlaku bagi mereka yang bersungguh-sungguh dan benar dalam mengamalkannya. Daftar Isi sembunyikan 1. Hakikat istigfar dan tobat 2. Dalil-dalil Al-Qur’an bahwa istigfar dan tobat adalah kunci-kunci rezeki 3. Dalil dari hadis mengenai keutamaan istigfar Hakikat istigfar dan tobat Banyak orang menyangka bahwa istigfar dan tobat hanya sekadar di lisan saja. Ketika ada seseorang yang mengucapkan kalimat “astaghfirullah wa atuubu ilaihi“ hanya di lisan saja, maka tidak ada dampak kalimat tersebut di hati dan tidak pula ada dampak pada amal perbuatannya. Hal yang demikian ini adalah perbuatan orang yang dusta dan tidak jujur dalam istigfar dan tobatnya.Para ulama telah menjelaskan hakikat istigfar dan tobat. Ar-Rhagib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Tobat secara syariat adalah meninggalkan maksiat karena jeleknya perbuatan tersebut, menyesal telah melakukannya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan berupaya memperbaiki amalan yang ditinggalkan jika memungkinkan. Jika terkumpul empat hal ini, maka syarat tobatnya telah sempura.“An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Tobat wajib dilakukan untuk setiap dosa. Jika maksiat yang dilakukan adalah antara hamba dengan Allah dan tidak terkait dengan hak manusia yang lain, maka ada tiga syarat yang harus terpenuhi:Pertama: Meninggalkan maksiat tersebut.Kedua: Menyesal atas perbuatannya.Ketiga: Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.Jika tidak ada salah satu saja dari tiga syarat di atas, maka tobatnya tidak sah. Adapun jika maksiatnya berkaitan dengan hak orang lain, maka ada tambahan syarat keempat selain tiga syarat di atas. Yaitu, dia harus menunaikan hak saudaranya yang terzalimi tersebut. Jika berupa harta atau yang semisal, maka harus mengembalikannya. Jika  berupaya merendahkan orang lain, maka dengan menyebut kebaikannya dan meminta maaf kepadanya. Jika berupa perbuatan ghibah, maka harus meminta halal darinya.“Sedangkan mengenai istigfar, Ar-Rhagib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Perbuatan istigfar dilakukan dengan perkataan dan perbuatan. Allah Ta’ala berfirman,اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.“ (QS. Nuh: 10)Mereka tidak diperintahkan untuk meminta ampunan dengan lisan saja, namun dengan lisan dan sekaligus dengan perbuatan. Dikatakan bahwa istigfar yang dilakukan hanya dengan lisan tanpa amalan perbuatan adalah perbuatan dusta dan tidak jujur.Baca Juga: Mengapa Ada Yang Mati Kelaparan Padahal Rezeki Sudah Dijamin?Dalil-dalil Al-Qur’an bahwa istigfar dan tobat adalah kunci-kunci rezekiTerdapat banyak dalil dari Al-Qur’an maupun hadis yang menunjukkan bahwa istigfar dan tobat merupakan sebab-sebab turunnya rezeki. Di antara dalil Al-Qur’an adalah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً“Maka, aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu! Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.“ (QS. Nuh: 10-12)Dalam ayat di atas, terdapat penjelasan terwujudnya hal-hal berikut dengan sebab istigfar:Pertama: Ampunan Allah terhadap dosa-dosa.Kedua: Turunnya hujan yang bergantian terus menerus.Ketiga: Allah akan memperbanyak harta dan anak-anak.Keempat: Allah akan menjadikan kebun-kebun.Kelima: Allah akan menjadikan sungai-sungai yang mengalir.Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Dalam ayat ini dan juga dalam ayat di surah Hud menunjukkan bahwa istigfar akan menyebakan turunnya rezeki dan hujan.“Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya, “Jika kalian bertobat kepada Allah dan beristigfar kepada-Nya, niscaya Allah akan menganugerahkan banyak rezeki kepada kalian dan menurunkan hujan dari keberkahan langit dan menumbuhkan dari keberkahan bumi, menumbuhkan pertanian, menambah harta dan anak-anak, menjadikan kebun dengan aneka buahnya, dan mengalirkan sungai-sungai di antaranya.“Al-Qurtubi rahimahullah menyebutkan bahwa ada yang mengadu kepada Imam Hasan Al-Bashri karena belum punya anak. Maka beliau berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“ Ada pula yang mengadu kepada beliau perihal kemisiknan yang dialaminya. Maka beliau pun juga berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“ Ada pula yang menghadap kepada beliau dan minta didoakan agar banyak anak. Maka, beliau pun berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“ Ada pula yang meminta kepada beliau agar kebunnya bisa menjadi subur. Maka beliau pun berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“Mendengar hal ini Rabi’ bin Shabih berkata, “Telah datang kepadamu orang yang mengadu dengan berbagai permasalahan yang berbeda, engkau memerintahkan mereka semua untuk beristigfar.” Hasan Al-Bashri menjawab, “Ini bukan sekedar jawaban dariku. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman dalam surah Nuh,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً“Maka, aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu! Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.“ (QS. Nuh: 10-12)Allahu akbar! Betapa agung dan betapa banyak  buah manis dari istigfar! Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang beristigfar dan menganugerahkan kepada kita buah manis darinya baik di dunia maupun di akhirat.Dalil lain dari Al-Qur’an adalah tentang kisah ajakan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya untuk beristigfar yang disebutkan dalam firman Allah,وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْاْ مُجْرِمِينَ“Dan (dia berkata), “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud: 52)Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai tafsir ayat ini, “Kemudian Allah memerintahkan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya untuk istighar yang dengannya bisa menghapus dosa-dosa terdahulu. Barangsiapa yang melakukannya, maka Allah akan mempermudah rezekinya dan mempermudah urusannya serta akan menjaganya.“Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula,وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Hud: 3)Dalam ayat yang mulia ini, terdapat janji dari Allah berupa kenikmatan yang baik bagi orang yang beristigfar dan bertaubat. Yang dimaksud dengan firman Allah (يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً) adalah Allah akan memberikan keutamaan kepada kalian berupa rezeki dan kelapangan sebagaimana ini merupakan penjelasan ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyalllahu ‘anhu.Baca Juga: Mengapa Mencari Rezeki Yang Haram Padahal Rezeki Telah Dijamin?Dalil dari hadis mengenai keutamaan istigfarAdapun dalil dari hadis yang menunjukkan bahwa istigfar dan tobat merupakan kunci rezeki adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”“Barangsiapa memperbanyak istigfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, sahih)Dalam hadis yang mulia ini, Nabi mengabarkan ada tiga buah manis bagi orang yang banyak beristigfar. Salah satunya adalah rezeki dari Allah Ar-Razzaq yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Maka, orang yang mengharapkan rezeki, hendaknya dia memperbanyak istigfar dengan perkataan dan perbuatannya. Namun, sayangnya kebanyakan istigfar hanyalah di lisan tanpa diiringi dengan amalan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang dimudahkan untuk senantiasa memperbanyak tobat dan istigfar.Baca Juga:Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap RezekiJangan Khawatirkan Rezekimu***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Miftaahu Ar-Rizqi fii Dhaui Al-Kitab wa As-Sunnah karya Dr. Fadhl Ilahi🔍 Dukhan, Laporan Kegiatan Qurban, Definisi Agama Islam, Materi Fiqih Wanita, Ustadz Ammi Nur Baits WahabiTags: istighfarkeutamaan istifgfarkeutamaan taubatmencari rezekinasihatnasihat islampintu rezekirezekiTaubat


Istigfar dan tobat adalah di antara amalan penting yang bisa menjadi kunci pembuka rezeki bagi hamba. Keterangan mengenai hal ini banyak ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadis. Tentu saja ini berlaku bagi mereka yang bersungguh-sungguh dan benar dalam mengamalkannya. Daftar Isi sembunyikan 1. Hakikat istigfar dan tobat 2. Dalil-dalil Al-Qur’an bahwa istigfar dan tobat adalah kunci-kunci rezeki 3. Dalil dari hadis mengenai keutamaan istigfar Hakikat istigfar dan tobat Banyak orang menyangka bahwa istigfar dan tobat hanya sekadar di lisan saja. Ketika ada seseorang yang mengucapkan kalimat “astaghfirullah wa atuubu ilaihi“ hanya di lisan saja, maka tidak ada dampak kalimat tersebut di hati dan tidak pula ada dampak pada amal perbuatannya. Hal yang demikian ini adalah perbuatan orang yang dusta dan tidak jujur dalam istigfar dan tobatnya.Para ulama telah menjelaskan hakikat istigfar dan tobat. Ar-Rhagib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Tobat secara syariat adalah meninggalkan maksiat karena jeleknya perbuatan tersebut, menyesal telah melakukannya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan berupaya memperbaiki amalan yang ditinggalkan jika memungkinkan. Jika terkumpul empat hal ini, maka syarat tobatnya telah sempura.“An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Tobat wajib dilakukan untuk setiap dosa. Jika maksiat yang dilakukan adalah antara hamba dengan Allah dan tidak terkait dengan hak manusia yang lain, maka ada tiga syarat yang harus terpenuhi:Pertama: Meninggalkan maksiat tersebut.Kedua: Menyesal atas perbuatannya.Ketiga: Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.Jika tidak ada salah satu saja dari tiga syarat di atas, maka tobatnya tidak sah. Adapun jika maksiatnya berkaitan dengan hak orang lain, maka ada tambahan syarat keempat selain tiga syarat di atas. Yaitu, dia harus menunaikan hak saudaranya yang terzalimi tersebut. Jika berupa harta atau yang semisal, maka harus mengembalikannya. Jika  berupaya merendahkan orang lain, maka dengan menyebut kebaikannya dan meminta maaf kepadanya. Jika berupa perbuatan ghibah, maka harus meminta halal darinya.“Sedangkan mengenai istigfar, Ar-Rhagib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Perbuatan istigfar dilakukan dengan perkataan dan perbuatan. Allah Ta’ala berfirman,اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.“ (QS. Nuh: 10)Mereka tidak diperintahkan untuk meminta ampunan dengan lisan saja, namun dengan lisan dan sekaligus dengan perbuatan. Dikatakan bahwa istigfar yang dilakukan hanya dengan lisan tanpa amalan perbuatan adalah perbuatan dusta dan tidak jujur.Baca Juga: Mengapa Ada Yang Mati Kelaparan Padahal Rezeki Sudah Dijamin?Dalil-dalil Al-Qur’an bahwa istigfar dan tobat adalah kunci-kunci rezekiTerdapat banyak dalil dari Al-Qur’an maupun hadis yang menunjukkan bahwa istigfar dan tobat merupakan sebab-sebab turunnya rezeki. Di antara dalil Al-Qur’an adalah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً“Maka, aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu! Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.“ (QS. Nuh: 10-12)Dalam ayat di atas, terdapat penjelasan terwujudnya hal-hal berikut dengan sebab istigfar:Pertama: Ampunan Allah terhadap dosa-dosa.Kedua: Turunnya hujan yang bergantian terus menerus.Ketiga: Allah akan memperbanyak harta dan anak-anak.Keempat: Allah akan menjadikan kebun-kebun.Kelima: Allah akan menjadikan sungai-sungai yang mengalir.Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Dalam ayat ini dan juga dalam ayat di surah Hud menunjukkan bahwa istigfar akan menyebakan turunnya rezeki dan hujan.“Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya, “Jika kalian bertobat kepada Allah dan beristigfar kepada-Nya, niscaya Allah akan menganugerahkan banyak rezeki kepada kalian dan menurunkan hujan dari keberkahan langit dan menumbuhkan dari keberkahan bumi, menumbuhkan pertanian, menambah harta dan anak-anak, menjadikan kebun dengan aneka buahnya, dan mengalirkan sungai-sungai di antaranya.“Al-Qurtubi rahimahullah menyebutkan bahwa ada yang mengadu kepada Imam Hasan Al-Bashri karena belum punya anak. Maka beliau berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“ Ada pula yang mengadu kepada beliau perihal kemisiknan yang dialaminya. Maka beliau pun juga berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“ Ada pula yang menghadap kepada beliau dan minta didoakan agar banyak anak. Maka, beliau pun berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“ Ada pula yang meminta kepada beliau agar kebunnya bisa menjadi subur. Maka beliau pun berkata, “Istigfarlah kepada Allah!“Mendengar hal ini Rabi’ bin Shabih berkata, “Telah datang kepadamu orang yang mengadu dengan berbagai permasalahan yang berbeda, engkau memerintahkan mereka semua untuk beristigfar.” Hasan Al-Bashri menjawab, “Ini bukan sekedar jawaban dariku. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman dalam surah Nuh,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً“Maka, aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu! Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.“ (QS. Nuh: 10-12)Allahu akbar! Betapa agung dan betapa banyak  buah manis dari istigfar! Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang beristigfar dan menganugerahkan kepada kita buah manis darinya baik di dunia maupun di akhirat.Dalil lain dari Al-Qur’an adalah tentang kisah ajakan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya untuk beristigfar yang disebutkan dalam firman Allah,وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْاْ مُجْرِمِينَ“Dan (dia berkata), “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud: 52)Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai tafsir ayat ini, “Kemudian Allah memerintahkan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya untuk istighar yang dengannya bisa menghapus dosa-dosa terdahulu. Barangsiapa yang melakukannya, maka Allah akan mempermudah rezekinya dan mempermudah urusannya serta akan menjaganya.“Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula,وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Hud: 3)Dalam ayat yang mulia ini, terdapat janji dari Allah berupa kenikmatan yang baik bagi orang yang beristigfar dan bertaubat. Yang dimaksud dengan firman Allah (يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً) adalah Allah akan memberikan keutamaan kepada kalian berupa rezeki dan kelapangan sebagaimana ini merupakan penjelasan ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyalllahu ‘anhu.Baca Juga: Mengapa Mencari Rezeki Yang Haram Padahal Rezeki Telah Dijamin?Dalil dari hadis mengenai keutamaan istigfarAdapun dalil dari hadis yang menunjukkan bahwa istigfar dan tobat merupakan kunci rezeki adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”“Barangsiapa memperbanyak istigfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, sahih)Dalam hadis yang mulia ini, Nabi mengabarkan ada tiga buah manis bagi orang yang banyak beristigfar. Salah satunya adalah rezeki dari Allah Ar-Razzaq yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Maka, orang yang mengharapkan rezeki, hendaknya dia memperbanyak istigfar dengan perkataan dan perbuatannya. Namun, sayangnya kebanyakan istigfar hanyalah di lisan tanpa diiringi dengan amalan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang dimudahkan untuk senantiasa memperbanyak tobat dan istigfar.Baca Juga:Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap RezekiJangan Khawatirkan Rezekimu***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Miftaahu Ar-Rizqi fii Dhaui Al-Kitab wa As-Sunnah karya Dr. Fadhl Ilahi🔍 Dukhan, Laporan Kegiatan Qurban, Definisi Agama Islam, Materi Fiqih Wanita, Ustadz Ammi Nur Baits WahabiTags: istighfarkeutamaan istifgfarkeutamaan taubatmencari rezekinasihatnasihat islampintu rezekirezekiTaubat

Benarkah Laki-laki Wajib Shalat Jamaah – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama

Benarkah Laki-laki Wajib Shalat Jamaah – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama Pertanyaannya yang kedua: “Apa hukum shalat berjamaah, apakah ia Wajib, Sunnah, Fardhu Kifayah, atau Fardhu ‘Ain?” Shalat berjamaah bagi kaum laki-laki, hukumnya Fardhu ‘Ain, berdasarkan pendapat yang benar, sama seperti hukum Shalat Jumat. Beberapa ulama berpendapat hukumnya Fardhu Kifayah, dan sebagian ulama lain berpendapat ia Sunnah. Namun dua pendapat ini kurang kuat. Dan pendapat yang benar, hukumnya Fardhu ‘Ain, wajib setiap lelaki yang mukallaf (baligh dan berakal). Wajib bagi mereka untuk shalat berjamaah di masjid, di rumah-rumah Allah Azza wa Jalla. Berdasarkan banyak dalil, di antaranya firman Allah, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43) Firman-Nya ini menetapkan dengan kata, “Dan rukuklah!” Maksudnya adalah: “Shalatlah bersama orang-orang!” (yaitu shalat secara berjamaah). Dan Allah juga berfirman, “Jika kamu di antara mereka, lalu kamu mendirikan shalat bersama mereka, maka hendaklah sebagian mereka shalat besertamu dengan menyandang senjata.” (QS. An-Nisa’: 102) Jika shalat berjamaah itu wajib dikerjakan saat keadaan takut (perang), maka kewajibannya saat aman lebih utama. Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mendengar azan, lalu ia tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali jika ada uzur.” Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku telah bertekad menyuruh shalat agar didirikan dan menyuruh orang untuk menjadi imam, lalu aku pergi dengan para lelaki yang membawa kayu bakar menuju para lelaki yang tidak hadir shalat jamaah, agar aku membakar rumah mereka.” (HR. Bukhari & Muslim) Hadits ini disepakati keshahihannya. Dan juga hadits Imam Muslim, dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada lelaki buta berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Apakah ada keringanan bagiku untuk shalat di rumahku?” Nabi bersabda, “Apa kamu dapat mendengar adzan?” Ia menjawab, “Iya.” Maka Nabi bersabda, “Maka penuhi panggilan itu!” Jika orang yang buta, yang rumahnya jauh dan tidak ada orang yang menuntunnya, tetap harus memenuhi panggilan azan, maka kewajiban atas orang yang sehat dan dapat melihat (tidak buta) lebih utama. Dan jika Nabi bertekad membakar rumah orang-orang yang tidak ikut shalat berjamaah, maka itu menunjukkan bahwa ketidak-ikutsertaan mereka (dalam shalat jamaah) adalah kebatilan dan kemungkaran, sehingga mereka layak mendapat hukuman. Diriwayatkan dari Nabi ‘alaihisshalatu wassalam, “Kalaulah tidak karena wanita dan anak-anak ada dalam rumah mereka, niscaya aku membakar rumah mereka.” Inilah pendapat yang benar. Kita memohon kepada Allah agar memberi petunjuk kaum muslimin. Sebenarnya, tidak shalat berjamaah itu adalah musibah yang banyak sekali orang yang terjerumus ke dalamnya. Dan terkadang terjerumus juga orang yang berilmu. Dan musibah ini wajib untuk dihindari, karena orang berilmu dan penuntut ilmu adalah panutan. Sehingga mereka wajib untuk takut kepada Allah, dan bergegas dalam menjalankan kewajiban dari Allah, agar mereka menjadi contoh bagi murid dan tetangga mereka, serta orang-orang lainnya. ====================================================================================================== سُؤَالُهُ الثَّانِي مَا حُكْمُ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ هَلْ هِيَ وَاجِبَةٌ أَمْ سَنَةٌ أَمْ فَرْضُ كِفَايَةٍ أَمْ فَرْضُ عَيْنٍ؟ الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ فِي حَقِّ الرِّجَالِ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَى الصَّحِيحِ كَالْجُمُعَةِ وَقَالَ قَوْمٌ أَنَّهَا فَرْضُ كِفَايَةٍ وَقَالَ قَوْمٌ أَنَّهَا سُنَّةٌ وَلَكِنَّهُمَا قَوْلَانِ مَرْجُوْحَانِ وَالصَّوَابُ أَنَّهَا فَرْضٌ عَلَى الْأَعْيَانِ عَلَى الرِّجَالِ الْمُكَلَّفِينَ يَجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يُصَلُّوا فِيْ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسَاجِدِ فِي بُيُوتِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ فَقَرَّرَ قَوْلُهُ وَارْكَعُوا دَلَّ ذَلِكَ عَلَى الْمُرَادِ صَلُّوْا مَعَ النَّاسِ وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ إِذَا وَجَبَتِ الْجَمَاعَةُ فِي الْخَوْفِ فَفِي الْأَمْنِ مِنْ بَابِ أَوْلَى وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا بِعُذْرٍ قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى رِجَالٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ مُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ وَلِمَا ثَبَتَ فِي مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا أَعْمَى قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يُلَائِمُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَهَلْ لِي رُخْصَةٌ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي؟ قَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ فَإِذَا كَانَ أَعْمَى بَعِيدُ الدَّارِ لَيْسَ لَهُ قَائِدٌ يُلَائِمُهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يُجِيبَ فَالصَّحِيحُ الْبَصِيْرُ مِنْ بَابِ أَوْلَى وَإِذَا كَانَ هَمَّ بِإِحْرَاقِ الْمُتَخَلِّفِيْنَ إحْرَاقُ بُيُوتِ الْمُتَخَلِّفِيْنَ أَنْ يَدُلَّ عَلَى أَنَّ تَخَلُّفَهُم بَاطِلٌ وَمُنْكَرٌ يَسْتَحِقُّونَ عَلَيْهِم عُقُوبَةً وَيُرْوَى عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ لَوْلَا مَا فِي بُيُوتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالذُّرِّيَّةِ لَحَرَّقْتُهَا عَلَيْهِمْ هَذَا هُوَ الصَّوَابُ نَعَم نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَهْدِيَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي الْحَقِيقَةِ أَنَّ التَّخَلُّفَ عَنِ الْجَمَاعَةِ مُصِيبَةٌ قَدْ وَقَعَ فِيهَا جَمْعٌ غَفِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَقَدْ تَقَعُ مِمَّنْ يُنْسَبُ إِلَى الْعِلْمِ وَهَذِهِ الْمَصَائِبُ يَجِبُ الْحَذَرُ مِنْهَا فَإِنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ وَطُلَّابَ الْعِلْمِ قُدْوَةٌ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يَخَافُوا اللهَ وَأَنْ يُسَارِعُوا إِلَى مَا أَوْجَبَ اللهُ حَتَّى يَتَأَسَّى بِهِمْ تَلَامِيْذُهُمْ وَجِيرَانُهُمْ وَغَيْرُهُمْ   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Benarkah Laki-laki Wajib Shalat Jamaah – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama

Benarkah Laki-laki Wajib Shalat Jamaah – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama Pertanyaannya yang kedua: “Apa hukum shalat berjamaah, apakah ia Wajib, Sunnah, Fardhu Kifayah, atau Fardhu ‘Ain?” Shalat berjamaah bagi kaum laki-laki, hukumnya Fardhu ‘Ain, berdasarkan pendapat yang benar, sama seperti hukum Shalat Jumat. Beberapa ulama berpendapat hukumnya Fardhu Kifayah, dan sebagian ulama lain berpendapat ia Sunnah. Namun dua pendapat ini kurang kuat. Dan pendapat yang benar, hukumnya Fardhu ‘Ain, wajib setiap lelaki yang mukallaf (baligh dan berakal). Wajib bagi mereka untuk shalat berjamaah di masjid, di rumah-rumah Allah Azza wa Jalla. Berdasarkan banyak dalil, di antaranya firman Allah, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43) Firman-Nya ini menetapkan dengan kata, “Dan rukuklah!” Maksudnya adalah: “Shalatlah bersama orang-orang!” (yaitu shalat secara berjamaah). Dan Allah juga berfirman, “Jika kamu di antara mereka, lalu kamu mendirikan shalat bersama mereka, maka hendaklah sebagian mereka shalat besertamu dengan menyandang senjata.” (QS. An-Nisa’: 102) Jika shalat berjamaah itu wajib dikerjakan saat keadaan takut (perang), maka kewajibannya saat aman lebih utama. Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mendengar azan, lalu ia tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali jika ada uzur.” Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku telah bertekad menyuruh shalat agar didirikan dan menyuruh orang untuk menjadi imam, lalu aku pergi dengan para lelaki yang membawa kayu bakar menuju para lelaki yang tidak hadir shalat jamaah, agar aku membakar rumah mereka.” (HR. Bukhari & Muslim) Hadits ini disepakati keshahihannya. Dan juga hadits Imam Muslim, dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada lelaki buta berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Apakah ada keringanan bagiku untuk shalat di rumahku?” Nabi bersabda, “Apa kamu dapat mendengar adzan?” Ia menjawab, “Iya.” Maka Nabi bersabda, “Maka penuhi panggilan itu!” Jika orang yang buta, yang rumahnya jauh dan tidak ada orang yang menuntunnya, tetap harus memenuhi panggilan azan, maka kewajiban atas orang yang sehat dan dapat melihat (tidak buta) lebih utama. Dan jika Nabi bertekad membakar rumah orang-orang yang tidak ikut shalat berjamaah, maka itu menunjukkan bahwa ketidak-ikutsertaan mereka (dalam shalat jamaah) adalah kebatilan dan kemungkaran, sehingga mereka layak mendapat hukuman. Diriwayatkan dari Nabi ‘alaihisshalatu wassalam, “Kalaulah tidak karena wanita dan anak-anak ada dalam rumah mereka, niscaya aku membakar rumah mereka.” Inilah pendapat yang benar. Kita memohon kepada Allah agar memberi petunjuk kaum muslimin. Sebenarnya, tidak shalat berjamaah itu adalah musibah yang banyak sekali orang yang terjerumus ke dalamnya. Dan terkadang terjerumus juga orang yang berilmu. Dan musibah ini wajib untuk dihindari, karena orang berilmu dan penuntut ilmu adalah panutan. Sehingga mereka wajib untuk takut kepada Allah, dan bergegas dalam menjalankan kewajiban dari Allah, agar mereka menjadi contoh bagi murid dan tetangga mereka, serta orang-orang lainnya. ====================================================================================================== سُؤَالُهُ الثَّانِي مَا حُكْمُ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ هَلْ هِيَ وَاجِبَةٌ أَمْ سَنَةٌ أَمْ فَرْضُ كِفَايَةٍ أَمْ فَرْضُ عَيْنٍ؟ الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ فِي حَقِّ الرِّجَالِ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَى الصَّحِيحِ كَالْجُمُعَةِ وَقَالَ قَوْمٌ أَنَّهَا فَرْضُ كِفَايَةٍ وَقَالَ قَوْمٌ أَنَّهَا سُنَّةٌ وَلَكِنَّهُمَا قَوْلَانِ مَرْجُوْحَانِ وَالصَّوَابُ أَنَّهَا فَرْضٌ عَلَى الْأَعْيَانِ عَلَى الرِّجَالِ الْمُكَلَّفِينَ يَجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يُصَلُّوا فِيْ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسَاجِدِ فِي بُيُوتِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ فَقَرَّرَ قَوْلُهُ وَارْكَعُوا دَلَّ ذَلِكَ عَلَى الْمُرَادِ صَلُّوْا مَعَ النَّاسِ وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ إِذَا وَجَبَتِ الْجَمَاعَةُ فِي الْخَوْفِ فَفِي الْأَمْنِ مِنْ بَابِ أَوْلَى وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا بِعُذْرٍ قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى رِجَالٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ مُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ وَلِمَا ثَبَتَ فِي مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا أَعْمَى قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يُلَائِمُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَهَلْ لِي رُخْصَةٌ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي؟ قَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ فَإِذَا كَانَ أَعْمَى بَعِيدُ الدَّارِ لَيْسَ لَهُ قَائِدٌ يُلَائِمُهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يُجِيبَ فَالصَّحِيحُ الْبَصِيْرُ مِنْ بَابِ أَوْلَى وَإِذَا كَانَ هَمَّ بِإِحْرَاقِ الْمُتَخَلِّفِيْنَ إحْرَاقُ بُيُوتِ الْمُتَخَلِّفِيْنَ أَنْ يَدُلَّ عَلَى أَنَّ تَخَلُّفَهُم بَاطِلٌ وَمُنْكَرٌ يَسْتَحِقُّونَ عَلَيْهِم عُقُوبَةً وَيُرْوَى عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ لَوْلَا مَا فِي بُيُوتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالذُّرِّيَّةِ لَحَرَّقْتُهَا عَلَيْهِمْ هَذَا هُوَ الصَّوَابُ نَعَم نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَهْدِيَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي الْحَقِيقَةِ أَنَّ التَّخَلُّفَ عَنِ الْجَمَاعَةِ مُصِيبَةٌ قَدْ وَقَعَ فِيهَا جَمْعٌ غَفِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَقَدْ تَقَعُ مِمَّنْ يُنْسَبُ إِلَى الْعِلْمِ وَهَذِهِ الْمَصَائِبُ يَجِبُ الْحَذَرُ مِنْهَا فَإِنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ وَطُلَّابَ الْعِلْمِ قُدْوَةٌ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يَخَافُوا اللهَ وَأَنْ يُسَارِعُوا إِلَى مَا أَوْجَبَ اللهُ حَتَّى يَتَأَسَّى بِهِمْ تَلَامِيْذُهُمْ وَجِيرَانُهُمْ وَغَيْرُهُمْ   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Benarkah Laki-laki Wajib Shalat Jamaah – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama Pertanyaannya yang kedua: “Apa hukum shalat berjamaah, apakah ia Wajib, Sunnah, Fardhu Kifayah, atau Fardhu ‘Ain?” Shalat berjamaah bagi kaum laki-laki, hukumnya Fardhu ‘Ain, berdasarkan pendapat yang benar, sama seperti hukum Shalat Jumat. Beberapa ulama berpendapat hukumnya Fardhu Kifayah, dan sebagian ulama lain berpendapat ia Sunnah. Namun dua pendapat ini kurang kuat. Dan pendapat yang benar, hukumnya Fardhu ‘Ain, wajib setiap lelaki yang mukallaf (baligh dan berakal). Wajib bagi mereka untuk shalat berjamaah di masjid, di rumah-rumah Allah Azza wa Jalla. Berdasarkan banyak dalil, di antaranya firman Allah, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43) Firman-Nya ini menetapkan dengan kata, “Dan rukuklah!” Maksudnya adalah: “Shalatlah bersama orang-orang!” (yaitu shalat secara berjamaah). Dan Allah juga berfirman, “Jika kamu di antara mereka, lalu kamu mendirikan shalat bersama mereka, maka hendaklah sebagian mereka shalat besertamu dengan menyandang senjata.” (QS. An-Nisa’: 102) Jika shalat berjamaah itu wajib dikerjakan saat keadaan takut (perang), maka kewajibannya saat aman lebih utama. Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mendengar azan, lalu ia tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali jika ada uzur.” Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku telah bertekad menyuruh shalat agar didirikan dan menyuruh orang untuk menjadi imam, lalu aku pergi dengan para lelaki yang membawa kayu bakar menuju para lelaki yang tidak hadir shalat jamaah, agar aku membakar rumah mereka.” (HR. Bukhari & Muslim) Hadits ini disepakati keshahihannya. Dan juga hadits Imam Muslim, dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada lelaki buta berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Apakah ada keringanan bagiku untuk shalat di rumahku?” Nabi bersabda, “Apa kamu dapat mendengar adzan?” Ia menjawab, “Iya.” Maka Nabi bersabda, “Maka penuhi panggilan itu!” Jika orang yang buta, yang rumahnya jauh dan tidak ada orang yang menuntunnya, tetap harus memenuhi panggilan azan, maka kewajiban atas orang yang sehat dan dapat melihat (tidak buta) lebih utama. Dan jika Nabi bertekad membakar rumah orang-orang yang tidak ikut shalat berjamaah, maka itu menunjukkan bahwa ketidak-ikutsertaan mereka (dalam shalat jamaah) adalah kebatilan dan kemungkaran, sehingga mereka layak mendapat hukuman. Diriwayatkan dari Nabi ‘alaihisshalatu wassalam, “Kalaulah tidak karena wanita dan anak-anak ada dalam rumah mereka, niscaya aku membakar rumah mereka.” Inilah pendapat yang benar. Kita memohon kepada Allah agar memberi petunjuk kaum muslimin. Sebenarnya, tidak shalat berjamaah itu adalah musibah yang banyak sekali orang yang terjerumus ke dalamnya. Dan terkadang terjerumus juga orang yang berilmu. Dan musibah ini wajib untuk dihindari, karena orang berilmu dan penuntut ilmu adalah panutan. Sehingga mereka wajib untuk takut kepada Allah, dan bergegas dalam menjalankan kewajiban dari Allah, agar mereka menjadi contoh bagi murid dan tetangga mereka, serta orang-orang lainnya. ====================================================================================================== سُؤَالُهُ الثَّانِي مَا حُكْمُ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ هَلْ هِيَ وَاجِبَةٌ أَمْ سَنَةٌ أَمْ فَرْضُ كِفَايَةٍ أَمْ فَرْضُ عَيْنٍ؟ الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ فِي حَقِّ الرِّجَالِ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَى الصَّحِيحِ كَالْجُمُعَةِ وَقَالَ قَوْمٌ أَنَّهَا فَرْضُ كِفَايَةٍ وَقَالَ قَوْمٌ أَنَّهَا سُنَّةٌ وَلَكِنَّهُمَا قَوْلَانِ مَرْجُوْحَانِ وَالصَّوَابُ أَنَّهَا فَرْضٌ عَلَى الْأَعْيَانِ عَلَى الرِّجَالِ الْمُكَلَّفِينَ يَجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يُصَلُّوا فِيْ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسَاجِدِ فِي بُيُوتِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ فَقَرَّرَ قَوْلُهُ وَارْكَعُوا دَلَّ ذَلِكَ عَلَى الْمُرَادِ صَلُّوْا مَعَ النَّاسِ وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ إِذَا وَجَبَتِ الْجَمَاعَةُ فِي الْخَوْفِ فَفِي الْأَمْنِ مِنْ بَابِ أَوْلَى وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا بِعُذْرٍ قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى رِجَالٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ مُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ وَلِمَا ثَبَتَ فِي مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا أَعْمَى قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يُلَائِمُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَهَلْ لِي رُخْصَةٌ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي؟ قَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ فَإِذَا كَانَ أَعْمَى بَعِيدُ الدَّارِ لَيْسَ لَهُ قَائِدٌ يُلَائِمُهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يُجِيبَ فَالصَّحِيحُ الْبَصِيْرُ مِنْ بَابِ أَوْلَى وَإِذَا كَانَ هَمَّ بِإِحْرَاقِ الْمُتَخَلِّفِيْنَ إحْرَاقُ بُيُوتِ الْمُتَخَلِّفِيْنَ أَنْ يَدُلَّ عَلَى أَنَّ تَخَلُّفَهُم بَاطِلٌ وَمُنْكَرٌ يَسْتَحِقُّونَ عَلَيْهِم عُقُوبَةً وَيُرْوَى عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ لَوْلَا مَا فِي بُيُوتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالذُّرِّيَّةِ لَحَرَّقْتُهَا عَلَيْهِمْ هَذَا هُوَ الصَّوَابُ نَعَم نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَهْدِيَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي الْحَقِيقَةِ أَنَّ التَّخَلُّفَ عَنِ الْجَمَاعَةِ مُصِيبَةٌ قَدْ وَقَعَ فِيهَا جَمْعٌ غَفِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَقَدْ تَقَعُ مِمَّنْ يُنْسَبُ إِلَى الْعِلْمِ وَهَذِهِ الْمَصَائِبُ يَجِبُ الْحَذَرُ مِنْهَا فَإِنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ وَطُلَّابَ الْعِلْمِ قُدْوَةٌ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يَخَافُوا اللهَ وَأَنْ يُسَارِعُوا إِلَى مَا أَوْجَبَ اللهُ حَتَّى يَتَأَسَّى بِهِمْ تَلَامِيْذُهُمْ وَجِيرَانُهُمْ وَغَيْرُهُمْ   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Benarkah Laki-laki Wajib Shalat Jamaah – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama Pertanyaannya yang kedua: “Apa hukum shalat berjamaah, apakah ia Wajib, Sunnah, Fardhu Kifayah, atau Fardhu ‘Ain?” Shalat berjamaah bagi kaum laki-laki, hukumnya Fardhu ‘Ain, berdasarkan pendapat yang benar, sama seperti hukum Shalat Jumat. Beberapa ulama berpendapat hukumnya Fardhu Kifayah, dan sebagian ulama lain berpendapat ia Sunnah. Namun dua pendapat ini kurang kuat. Dan pendapat yang benar, hukumnya Fardhu ‘Ain, wajib setiap lelaki yang mukallaf (baligh dan berakal). Wajib bagi mereka untuk shalat berjamaah di masjid, di rumah-rumah Allah Azza wa Jalla. Berdasarkan banyak dalil, di antaranya firman Allah, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43) Firman-Nya ini menetapkan dengan kata, “Dan rukuklah!” Maksudnya adalah: “Shalatlah bersama orang-orang!” (yaitu shalat secara berjamaah). Dan Allah juga berfirman, “Jika kamu di antara mereka, lalu kamu mendirikan shalat bersama mereka, maka hendaklah sebagian mereka shalat besertamu dengan menyandang senjata.” (QS. An-Nisa’: 102) Jika shalat berjamaah itu wajib dikerjakan saat keadaan takut (perang), maka kewajibannya saat aman lebih utama. Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mendengar azan, lalu ia tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali jika ada uzur.” Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku telah bertekad menyuruh shalat agar didirikan dan menyuruh orang untuk menjadi imam, lalu aku pergi dengan para lelaki yang membawa kayu bakar menuju para lelaki yang tidak hadir shalat jamaah, agar aku membakar rumah mereka.” (HR. Bukhari & Muslim) Hadits ini disepakati keshahihannya. Dan juga hadits Imam Muslim, dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada lelaki buta berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Apakah ada keringanan bagiku untuk shalat di rumahku?” Nabi bersabda, “Apa kamu dapat mendengar adzan?” Ia menjawab, “Iya.” Maka Nabi bersabda, “Maka penuhi panggilan itu!” Jika orang yang buta, yang rumahnya jauh dan tidak ada orang yang menuntunnya, tetap harus memenuhi panggilan azan, maka kewajiban atas orang yang sehat dan dapat melihat (tidak buta) lebih utama. Dan jika Nabi bertekad membakar rumah orang-orang yang tidak ikut shalat berjamaah, maka itu menunjukkan bahwa ketidak-ikutsertaan mereka (dalam shalat jamaah) adalah kebatilan dan kemungkaran, sehingga mereka layak mendapat hukuman. Diriwayatkan dari Nabi ‘alaihisshalatu wassalam, “Kalaulah tidak karena wanita dan anak-anak ada dalam rumah mereka, niscaya aku membakar rumah mereka.” Inilah pendapat yang benar. Kita memohon kepada Allah agar memberi petunjuk kaum muslimin. Sebenarnya, tidak shalat berjamaah itu adalah musibah yang banyak sekali orang yang terjerumus ke dalamnya. Dan terkadang terjerumus juga orang yang berilmu. Dan musibah ini wajib untuk dihindari, karena orang berilmu dan penuntut ilmu adalah panutan. Sehingga mereka wajib untuk takut kepada Allah, dan bergegas dalam menjalankan kewajiban dari Allah, agar mereka menjadi contoh bagi murid dan tetangga mereka, serta orang-orang lainnya. ====================================================================================================== سُؤَالُهُ الثَّانِي مَا حُكْمُ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ هَلْ هِيَ وَاجِبَةٌ أَمْ سَنَةٌ أَمْ فَرْضُ كِفَايَةٍ أَمْ فَرْضُ عَيْنٍ؟ الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ فِي حَقِّ الرِّجَالِ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَى الصَّحِيحِ كَالْجُمُعَةِ وَقَالَ قَوْمٌ أَنَّهَا فَرْضُ كِفَايَةٍ وَقَالَ قَوْمٌ أَنَّهَا سُنَّةٌ وَلَكِنَّهُمَا قَوْلَانِ مَرْجُوْحَانِ وَالصَّوَابُ أَنَّهَا فَرْضٌ عَلَى الْأَعْيَانِ عَلَى الرِّجَالِ الْمُكَلَّفِينَ يَجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يُصَلُّوا فِيْ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسَاجِدِ فِي بُيُوتِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ فَقَرَّرَ قَوْلُهُ وَارْكَعُوا دَلَّ ذَلِكَ عَلَى الْمُرَادِ صَلُّوْا مَعَ النَّاسِ وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ إِذَا وَجَبَتِ الْجَمَاعَةُ فِي الْخَوْفِ فَفِي الْأَمْنِ مِنْ بَابِ أَوْلَى وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا بِعُذْرٍ قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى رِجَالٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ مُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ وَلِمَا ثَبَتَ فِي مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا أَعْمَى قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يُلَائِمُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَهَلْ لِي رُخْصَةٌ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي؟ قَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ فَإِذَا كَانَ أَعْمَى بَعِيدُ الدَّارِ لَيْسَ لَهُ قَائِدٌ يُلَائِمُهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يُجِيبَ فَالصَّحِيحُ الْبَصِيْرُ مِنْ بَابِ أَوْلَى وَإِذَا كَانَ هَمَّ بِإِحْرَاقِ الْمُتَخَلِّفِيْنَ إحْرَاقُ بُيُوتِ الْمُتَخَلِّفِيْنَ أَنْ يَدُلَّ عَلَى أَنَّ تَخَلُّفَهُم بَاطِلٌ وَمُنْكَرٌ يَسْتَحِقُّونَ عَلَيْهِم عُقُوبَةً وَيُرْوَى عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ لَوْلَا مَا فِي بُيُوتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالذُّرِّيَّةِ لَحَرَّقْتُهَا عَلَيْهِمْ هَذَا هُوَ الصَّوَابُ نَعَم نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَهْدِيَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي الْحَقِيقَةِ أَنَّ التَّخَلُّفَ عَنِ الْجَمَاعَةِ مُصِيبَةٌ قَدْ وَقَعَ فِيهَا جَمْعٌ غَفِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَقَدْ تَقَعُ مِمَّنْ يُنْسَبُ إِلَى الْعِلْمِ وَهَذِهِ الْمَصَائِبُ يَجِبُ الْحَذَرُ مِنْهَا فَإِنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ وَطُلَّابَ الْعِلْمِ قُدْوَةٌ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يَخَافُوا اللهَ وَأَنْ يُسَارِعُوا إِلَى مَا أَوْجَبَ اللهُ حَتَّى يَتَأَسَّى بِهِمْ تَلَامِيْذُهُمْ وَجِيرَانُهُمْ وَغَيْرُهُمْ   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tafsir al-Fatihah (5): Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’inu – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Hanya kepada-Mu kami menyembahdan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Objeknya didahulukan dari predikatnyauntuk menekankan perhatian dan pembatasan. “Hanya kepada-Mu kami menyembah…,” artinya kami tidak menyembah kecuali Engkau.“… dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan,” artinya kami tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Mu. Ibadah didahulukan daripada istianah (permohonan pertolongan),karena ibadah adalah tujuan,sedangkan istianah adalah wasilah.Kami katakan bahwa ibadah adalah tujuan,karena Allah Jalla wa ʿAlā berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia,melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56) Adapun kita beristianah agar Allah menolong kita dalam beribadah.Jadi, ibadah adalah tujuan.Ia adalah maksud akhir. Oleh karena itu, ia didahulukan karena penting.“Hanya kepada-Mu kami menyembahdan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5) Ibadah artinya segala sesuatu yang Allah cintai,baik berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun batin.Adapun istianah adalah meminta pertolongankepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā. ==== إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِیَّاكَ نَسْتَعِینُ قَدَّمَ الْمَفْعُولَ عَلَى الْفِعْلِ لِلْاِهْتِمَامِ وَالْحَصْرِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ أَيْ لَا نَعْبُدُ إِلَّا أَنْتَ وَإِیَّاكَ نَسْتَعِيْنُ لَا نَسْتَعِينُ إِلَّا بِكَ وَقَدَّمَ الْعِبَادَةَ عَلَى الْاِسْتِعَانَةِ لِأَنَّ الْعِبَادَةَ غَايَةٌ وَالْاِسْتِعَانَةَ وَسِيلَةٌ وَقُلْنَا أَنَّ الْعِبَادَةَ غَايَةٌ لِأَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا يَقُولُ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ وَإِنَّمَا نَسْتَعِينُ بِاللهِ لِيُعِينَنَا عَلَى الْعِبَادَةِ فَالْعِبَادَةُ هِيَ الْمَقْصِدُ فَهِيَ الْمَطْلُوبُ الْأَخِيرُ فَلِذَلِكَ قُدِّمَتْ لِلْأَهَمِّيَّةِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ وَالْعِبَادَةُ هِيَ كُلُّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ وَالْاِسْتِعَانَةُ هِيَ طَلَبُ الْعَوْنِ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tafsir al-Fatihah (5): Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’inu – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Hanya kepada-Mu kami menyembahdan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Objeknya didahulukan dari predikatnyauntuk menekankan perhatian dan pembatasan. “Hanya kepada-Mu kami menyembah…,” artinya kami tidak menyembah kecuali Engkau.“… dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan,” artinya kami tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Mu. Ibadah didahulukan daripada istianah (permohonan pertolongan),karena ibadah adalah tujuan,sedangkan istianah adalah wasilah.Kami katakan bahwa ibadah adalah tujuan,karena Allah Jalla wa ʿAlā berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia,melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56) Adapun kita beristianah agar Allah menolong kita dalam beribadah.Jadi, ibadah adalah tujuan.Ia adalah maksud akhir. Oleh karena itu, ia didahulukan karena penting.“Hanya kepada-Mu kami menyembahdan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5) Ibadah artinya segala sesuatu yang Allah cintai,baik berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun batin.Adapun istianah adalah meminta pertolongankepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā. ==== إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِیَّاكَ نَسْتَعِینُ قَدَّمَ الْمَفْعُولَ عَلَى الْفِعْلِ لِلْاِهْتِمَامِ وَالْحَصْرِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ أَيْ لَا نَعْبُدُ إِلَّا أَنْتَ وَإِیَّاكَ نَسْتَعِيْنُ لَا نَسْتَعِينُ إِلَّا بِكَ وَقَدَّمَ الْعِبَادَةَ عَلَى الْاِسْتِعَانَةِ لِأَنَّ الْعِبَادَةَ غَايَةٌ وَالْاِسْتِعَانَةَ وَسِيلَةٌ وَقُلْنَا أَنَّ الْعِبَادَةَ غَايَةٌ لِأَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا يَقُولُ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ وَإِنَّمَا نَسْتَعِينُ بِاللهِ لِيُعِينَنَا عَلَى الْعِبَادَةِ فَالْعِبَادَةُ هِيَ الْمَقْصِدُ فَهِيَ الْمَطْلُوبُ الْأَخِيرُ فَلِذَلِكَ قُدِّمَتْ لِلْأَهَمِّيَّةِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ وَالْعِبَادَةُ هِيَ كُلُّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ وَالْاِسْتِعَانَةُ هِيَ طَلَبُ الْعَوْنِ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
“Hanya kepada-Mu kami menyembahdan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Objeknya didahulukan dari predikatnyauntuk menekankan perhatian dan pembatasan. “Hanya kepada-Mu kami menyembah…,” artinya kami tidak menyembah kecuali Engkau.“… dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan,” artinya kami tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Mu. Ibadah didahulukan daripada istianah (permohonan pertolongan),karena ibadah adalah tujuan,sedangkan istianah adalah wasilah.Kami katakan bahwa ibadah adalah tujuan,karena Allah Jalla wa ʿAlā berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia,melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56) Adapun kita beristianah agar Allah menolong kita dalam beribadah.Jadi, ibadah adalah tujuan.Ia adalah maksud akhir. Oleh karena itu, ia didahulukan karena penting.“Hanya kepada-Mu kami menyembahdan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5) Ibadah artinya segala sesuatu yang Allah cintai,baik berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun batin.Adapun istianah adalah meminta pertolongankepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā. ==== إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِیَّاكَ نَسْتَعِینُ قَدَّمَ الْمَفْعُولَ عَلَى الْفِعْلِ لِلْاِهْتِمَامِ وَالْحَصْرِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ أَيْ لَا نَعْبُدُ إِلَّا أَنْتَ وَإِیَّاكَ نَسْتَعِيْنُ لَا نَسْتَعِينُ إِلَّا بِكَ وَقَدَّمَ الْعِبَادَةَ عَلَى الْاِسْتِعَانَةِ لِأَنَّ الْعِبَادَةَ غَايَةٌ وَالْاِسْتِعَانَةَ وَسِيلَةٌ وَقُلْنَا أَنَّ الْعِبَادَةَ غَايَةٌ لِأَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا يَقُولُ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ وَإِنَّمَا نَسْتَعِينُ بِاللهِ لِيُعِينَنَا عَلَى الْعِبَادَةِ فَالْعِبَادَةُ هِيَ الْمَقْصِدُ فَهِيَ الْمَطْلُوبُ الْأَخِيرُ فَلِذَلِكَ قُدِّمَتْ لِلْأَهَمِّيَّةِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ وَالْعِبَادَةُ هِيَ كُلُّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ وَالْاِسْتِعَانَةُ هِيَ طَلَبُ الْعَوْنِ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


“Hanya kepada-Mu kami menyembahdan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Objeknya didahulukan dari predikatnyauntuk menekankan perhatian dan pembatasan. “Hanya kepada-Mu kami menyembah…,” artinya kami tidak menyembah kecuali Engkau.“… dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan,” artinya kami tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Mu. Ibadah didahulukan daripada istianah (permohonan pertolongan),karena ibadah adalah tujuan,sedangkan istianah adalah wasilah.Kami katakan bahwa ibadah adalah tujuan,karena Allah Jalla wa ʿAlā berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia,melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56) Adapun kita beristianah agar Allah menolong kita dalam beribadah.Jadi, ibadah adalah tujuan.Ia adalah maksud akhir. Oleh karena itu, ia didahulukan karena penting.“Hanya kepada-Mu kami menyembahdan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5) Ibadah artinya segala sesuatu yang Allah cintai,baik berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun batin.Adapun istianah adalah meminta pertolongankepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā. ==== إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِیَّاكَ نَسْتَعِینُ قَدَّمَ الْمَفْعُولَ عَلَى الْفِعْلِ لِلْاِهْتِمَامِ وَالْحَصْرِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ أَيْ لَا نَعْبُدُ إِلَّا أَنْتَ وَإِیَّاكَ نَسْتَعِيْنُ لَا نَسْتَعِينُ إِلَّا بِكَ وَقَدَّمَ الْعِبَادَةَ عَلَى الْاِسْتِعَانَةِ لِأَنَّ الْعِبَادَةَ غَايَةٌ وَالْاِسْتِعَانَةَ وَسِيلَةٌ وَقُلْنَا أَنَّ الْعِبَادَةَ غَايَةٌ لِأَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا يَقُولُ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ وَإِنَّمَا نَسْتَعِينُ بِاللهِ لِيُعِينَنَا عَلَى الْعِبَادَةِ فَالْعِبَادَةُ هِيَ الْمَقْصِدُ فَهِيَ الْمَطْلُوبُ الْأَخِيرُ فَلِذَلِكَ قُدِّمَتْ لِلْأَهَمِّيَّةِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ وَالْعِبَادَةُ هِيَ كُلُّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ وَالْاِسْتِعَانَةُ هِيَ طَلَبُ الْعَوْنِ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Khutbah Jumat: Yuk Shalat Berjamaah di Masjid Selama Tidak Ada Uzur!

Yuk shalat berjamaah di masjid selama tidak ada uzur!   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Berbagai hal terkait hukum shalat berjamaah dalam tinjauan madzhab Syafii 1.2. Shalat berjamaah di masjid dalam madzhab Syafii 2. Khutbah Kedua 3. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala berfirman, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43) Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya bahwa ayat ini memerintahkan untuk m mengerjakan shalat secara lahir dan batin. Warka’uu ma’ar rooki’iin, rukuklah bersama orang yang rukuk. Maksudnya, shalatlah bersama dengan orang-orang yang shalat. Ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat berjamaah dan menunjukkan wajibnya. Rukuk juga di sini mewakili shalat, menunjukkan bahwa rukuk adalah rukun shalat dan menunjukkan wajibnya rukuk di dalam shalat. Mengenai keutamaan shalat berjamaah disebutkan dalam  hadits, صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً “Shalat berjamaah lebih baik dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650) Setiap muslim boleh mendirikan shalat berjamaah di mana saja, asalkan di tempat yang suci, baik di rumah, di padang pasir, maupun di masjid. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:171. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan seorang pun dari Rasul-Rasul sebelumku, yaitu: وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا  “dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk tayammum).” (HR. Bukhari, no. 438 dan Muslim, no. 521, 523) Shalat berjamaah di masjid lebih utama daripada shalat berjamaah di selain masjid. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:171. Masjid yang dimaksud di sini adalah tempat diselenggarakannya shalat secara rutin di dalamnya. Lihat Shalah Al-Mu’min, 2:561. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ ، فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ في بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوبَةَ “Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781). Alasan shalat berjamaah yang afdal adalah di masjid, yaitu: Masjid adalah tempat yang mulia dan suci.  Shalat di masjid berarti menampakkan syiar Islam dan banyak jamaah.   Maka dalam keadaan aman tanpa ada uzur, Imam An-Nawawi (w. 676 H) menjelaskan,  إِذَا صَلَّى الرَّجُلُ فِي بَيْتِهِ بِرَفِيقِهِ، أَوْ زَوْجَتِهِ، أَوْ وَلَدِهِ، حَازَ فَضِيلَةَ الْجَمَاعَةِ، لَكِنَّهَا فِي الْمَسْجِدِ أَفْضَلُ. وَحَيْثُ كَانَ الْجَمْعُ مِنَ الْمَسَاجِدِ أَكْثَرَ فَهُوَ أَفْضَل Ketika seorang laki-laki shalat di rumah bersama temannya, atau istrinya, atau anaknya, maka ia tetap memperolah keutamaan berjamaah. Akan tetapi, jika dilakukan di masjid, itu lebih utama. Ingatlah bahwa jamaah semakin banyak di masjid, itu tentu afdal. (Raudhah Ath-Thalibin, 1:238)   Berbagai hal terkait hukum shalat berjamaah dalam tinjauan madzhab Syafii Shalat berjamaah dalam shalat Jumat dihukumi fardhu ‘ain. Shalat Jumat tidak boleh dikerjakan seorang diri. Shalat berjamaah itu dihukumi fardhu kifayah menurut pendapat al-ashah, berlaku untuk laki-laki dan mukim. Maksud fardhu kifayah berarti di negeri atau tempat tersebut ada syiar shalat berjamaah. Jika masyarakat menyepakati bahwa shalat berjamaah cukup di rumah saja, sehingga tidak tampak syiar shalat berjamaah, maka kewajiban shalat berjamaah ini belum dianggap cukup. Shalat berjamaah untuk wanita juga disyariatkan, tetapi tidak ditekankan, tidak seperti pria. Shalat berjamaah bagi wanita boleh dilakukan di masjid ataukah di rumah. Namun, shalat berjamaah bagi wanita di rumah, itu lebih afdal. Shalat berjamaah tidaklah diwajibkan bagi musafir. Mereka bisa memilih shalat dengan berjamaah ataukah sendirian (munfarid). Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii karya Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily, 1:405-406.   Shalat berjamaah di masjid dalam madzhab Syafii Hukum shalat berjamaah di masjid adalah fardhu kifayah karena shalat di masjid itu syiar. Jika sudah ada sebagian yang menegakkannya, maka kewajiban yang lain gugur. Yang lainnya bisa mengerjakan shalat berjamaah di rumah ataukah memilih shalat munfarid (sendirian). Shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki lebih utama daripada shalat berjamaah di rumah, di pasar, di tempat tertentu. Karena ada hadits yang menunjukkan utamanya berjalan ke masjid. Masjid juga adalah tempat yang mulia dan suci, juga lebih menampakkan syiar berjamaah. Shalat berjamaah di masjid yang lebih banyak jamaahnya lebih afdal daripada shalat di masjid yang sedikit jamaahnya. Begitu pula, shalat di rumah yang lebih banyak jamaahnya lebih afdal daripada yang sedikit jamaahnya. Karena shalat berjamaah yang jamaahnya lebih banyak lebih afdal dibanding dengan yang jamaahnya sedikit. Hal ini dikecualikan: (1) shalat berjamaah di masjid walau sedikit jamaah lebih afdal dari shalat berjamaah di rumah yang banyak jamaah, (2) shalat berjamaah di masjid terdekat lebih afdal daripada shalat berjamaah di masjid yang banyak jamaah, (3) shalat berjamaah wanita di rumah lebih afdal daripada shalat berjamaah di masjid. Imam Nawawi rahimahullah berkata, لاَ رُخْصَةَ فِي تَرْكِ الجَمَاعَةِ سَوَاءٌ قُلْنَا سُنَّةٌ أَوْ فَرْضُ كِفَايَةٍ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ عَامٍ أَوْ خَاصٍ “Tidak ada keringanan meninggalkan shalat berjamaah, baik kita memilih pendapat shalat berjamaah itu sunnah ataukah fardhu kifayah. Boleh meninggalkan shalat berjamaah ketika ada uzur secara umum atau pun khusus.” (Raudhah Ath-Thalibin, 1:240) Kita boleh meninggalkan shalat berjamaah jika ada uzur. Apa saja uzur dalam shalat berjamaah sehingga boleh tidak ke masjid?   Pertama: Uzur umum Uzur ini berlaku bagi setiap orang. Contohnya adalah hujan, tetapi disyaratkan adanya masyaqqah (kesulitan). Kedua: Uzur khusus Sakit Sangat lapar atau haus Ingin buang hajat Takut akan terkena mudarat Makan sesuatu yang menimbulkan bau tidak enak yang mesti dihilangkan terlebih dahulu Takut ketinggalan rombongan ketika safar Keadaan sangat kantuk karena menunggu shalat berjamaah Menyelamatkan orang yang butuh untuk segera ditolong Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:410-412 Baca juga: Uzur Tidak Menghadiri Shalat Berjamaah Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 21 Muharram 1444 H, 19 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download   Tagscara shalat berjamaah hukum shalat berjamaah hukum shalat jamaah khutbah jumat shalat berjamaah shalat jamaah uzur shalat uzur shalat berjamaah

Khutbah Jumat: Yuk Shalat Berjamaah di Masjid Selama Tidak Ada Uzur!

Yuk shalat berjamaah di masjid selama tidak ada uzur!   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Berbagai hal terkait hukum shalat berjamaah dalam tinjauan madzhab Syafii 1.2. Shalat berjamaah di masjid dalam madzhab Syafii 2. Khutbah Kedua 3. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala berfirman, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43) Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya bahwa ayat ini memerintahkan untuk m mengerjakan shalat secara lahir dan batin. Warka’uu ma’ar rooki’iin, rukuklah bersama orang yang rukuk. Maksudnya, shalatlah bersama dengan orang-orang yang shalat. Ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat berjamaah dan menunjukkan wajibnya. Rukuk juga di sini mewakili shalat, menunjukkan bahwa rukuk adalah rukun shalat dan menunjukkan wajibnya rukuk di dalam shalat. Mengenai keutamaan shalat berjamaah disebutkan dalam  hadits, صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً “Shalat berjamaah lebih baik dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650) Setiap muslim boleh mendirikan shalat berjamaah di mana saja, asalkan di tempat yang suci, baik di rumah, di padang pasir, maupun di masjid. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:171. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan seorang pun dari Rasul-Rasul sebelumku, yaitu: وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا  “dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk tayammum).” (HR. Bukhari, no. 438 dan Muslim, no. 521, 523) Shalat berjamaah di masjid lebih utama daripada shalat berjamaah di selain masjid. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:171. Masjid yang dimaksud di sini adalah tempat diselenggarakannya shalat secara rutin di dalamnya. Lihat Shalah Al-Mu’min, 2:561. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ ، فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ في بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوبَةَ “Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781). Alasan shalat berjamaah yang afdal adalah di masjid, yaitu: Masjid adalah tempat yang mulia dan suci.  Shalat di masjid berarti menampakkan syiar Islam dan banyak jamaah.   Maka dalam keadaan aman tanpa ada uzur, Imam An-Nawawi (w. 676 H) menjelaskan,  إِذَا صَلَّى الرَّجُلُ فِي بَيْتِهِ بِرَفِيقِهِ، أَوْ زَوْجَتِهِ، أَوْ وَلَدِهِ، حَازَ فَضِيلَةَ الْجَمَاعَةِ، لَكِنَّهَا فِي الْمَسْجِدِ أَفْضَلُ. وَحَيْثُ كَانَ الْجَمْعُ مِنَ الْمَسَاجِدِ أَكْثَرَ فَهُوَ أَفْضَل Ketika seorang laki-laki shalat di rumah bersama temannya, atau istrinya, atau anaknya, maka ia tetap memperolah keutamaan berjamaah. Akan tetapi, jika dilakukan di masjid, itu lebih utama. Ingatlah bahwa jamaah semakin banyak di masjid, itu tentu afdal. (Raudhah Ath-Thalibin, 1:238)   Berbagai hal terkait hukum shalat berjamaah dalam tinjauan madzhab Syafii Shalat berjamaah dalam shalat Jumat dihukumi fardhu ‘ain. Shalat Jumat tidak boleh dikerjakan seorang diri. Shalat berjamaah itu dihukumi fardhu kifayah menurut pendapat al-ashah, berlaku untuk laki-laki dan mukim. Maksud fardhu kifayah berarti di negeri atau tempat tersebut ada syiar shalat berjamaah. Jika masyarakat menyepakati bahwa shalat berjamaah cukup di rumah saja, sehingga tidak tampak syiar shalat berjamaah, maka kewajiban shalat berjamaah ini belum dianggap cukup. Shalat berjamaah untuk wanita juga disyariatkan, tetapi tidak ditekankan, tidak seperti pria. Shalat berjamaah bagi wanita boleh dilakukan di masjid ataukah di rumah. Namun, shalat berjamaah bagi wanita di rumah, itu lebih afdal. Shalat berjamaah tidaklah diwajibkan bagi musafir. Mereka bisa memilih shalat dengan berjamaah ataukah sendirian (munfarid). Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii karya Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily, 1:405-406.   Shalat berjamaah di masjid dalam madzhab Syafii Hukum shalat berjamaah di masjid adalah fardhu kifayah karena shalat di masjid itu syiar. Jika sudah ada sebagian yang menegakkannya, maka kewajiban yang lain gugur. Yang lainnya bisa mengerjakan shalat berjamaah di rumah ataukah memilih shalat munfarid (sendirian). Shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki lebih utama daripada shalat berjamaah di rumah, di pasar, di tempat tertentu. Karena ada hadits yang menunjukkan utamanya berjalan ke masjid. Masjid juga adalah tempat yang mulia dan suci, juga lebih menampakkan syiar berjamaah. Shalat berjamaah di masjid yang lebih banyak jamaahnya lebih afdal daripada shalat di masjid yang sedikit jamaahnya. Begitu pula, shalat di rumah yang lebih banyak jamaahnya lebih afdal daripada yang sedikit jamaahnya. Karena shalat berjamaah yang jamaahnya lebih banyak lebih afdal dibanding dengan yang jamaahnya sedikit. Hal ini dikecualikan: (1) shalat berjamaah di masjid walau sedikit jamaah lebih afdal dari shalat berjamaah di rumah yang banyak jamaah, (2) shalat berjamaah di masjid terdekat lebih afdal daripada shalat berjamaah di masjid yang banyak jamaah, (3) shalat berjamaah wanita di rumah lebih afdal daripada shalat berjamaah di masjid. Imam Nawawi rahimahullah berkata, لاَ رُخْصَةَ فِي تَرْكِ الجَمَاعَةِ سَوَاءٌ قُلْنَا سُنَّةٌ أَوْ فَرْضُ كِفَايَةٍ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ عَامٍ أَوْ خَاصٍ “Tidak ada keringanan meninggalkan shalat berjamaah, baik kita memilih pendapat shalat berjamaah itu sunnah ataukah fardhu kifayah. Boleh meninggalkan shalat berjamaah ketika ada uzur secara umum atau pun khusus.” (Raudhah Ath-Thalibin, 1:240) Kita boleh meninggalkan shalat berjamaah jika ada uzur. Apa saja uzur dalam shalat berjamaah sehingga boleh tidak ke masjid?   Pertama: Uzur umum Uzur ini berlaku bagi setiap orang. Contohnya adalah hujan, tetapi disyaratkan adanya masyaqqah (kesulitan). Kedua: Uzur khusus Sakit Sangat lapar atau haus Ingin buang hajat Takut akan terkena mudarat Makan sesuatu yang menimbulkan bau tidak enak yang mesti dihilangkan terlebih dahulu Takut ketinggalan rombongan ketika safar Keadaan sangat kantuk karena menunggu shalat berjamaah Menyelamatkan orang yang butuh untuk segera ditolong Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:410-412 Baca juga: Uzur Tidak Menghadiri Shalat Berjamaah Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 21 Muharram 1444 H, 19 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download   Tagscara shalat berjamaah hukum shalat berjamaah hukum shalat jamaah khutbah jumat shalat berjamaah shalat jamaah uzur shalat uzur shalat berjamaah
Yuk shalat berjamaah di masjid selama tidak ada uzur!   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Berbagai hal terkait hukum shalat berjamaah dalam tinjauan madzhab Syafii 1.2. Shalat berjamaah di masjid dalam madzhab Syafii 2. Khutbah Kedua 3. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala berfirman, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43) Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya bahwa ayat ini memerintahkan untuk m mengerjakan shalat secara lahir dan batin. Warka’uu ma’ar rooki’iin, rukuklah bersama orang yang rukuk. Maksudnya, shalatlah bersama dengan orang-orang yang shalat. Ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat berjamaah dan menunjukkan wajibnya. Rukuk juga di sini mewakili shalat, menunjukkan bahwa rukuk adalah rukun shalat dan menunjukkan wajibnya rukuk di dalam shalat. Mengenai keutamaan shalat berjamaah disebutkan dalam  hadits, صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً “Shalat berjamaah lebih baik dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650) Setiap muslim boleh mendirikan shalat berjamaah di mana saja, asalkan di tempat yang suci, baik di rumah, di padang pasir, maupun di masjid. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:171. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan seorang pun dari Rasul-Rasul sebelumku, yaitu: وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا  “dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk tayammum).” (HR. Bukhari, no. 438 dan Muslim, no. 521, 523) Shalat berjamaah di masjid lebih utama daripada shalat berjamaah di selain masjid. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:171. Masjid yang dimaksud di sini adalah tempat diselenggarakannya shalat secara rutin di dalamnya. Lihat Shalah Al-Mu’min, 2:561. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ ، فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ في بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوبَةَ “Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781). Alasan shalat berjamaah yang afdal adalah di masjid, yaitu: Masjid adalah tempat yang mulia dan suci.  Shalat di masjid berarti menampakkan syiar Islam dan banyak jamaah.   Maka dalam keadaan aman tanpa ada uzur, Imam An-Nawawi (w. 676 H) menjelaskan,  إِذَا صَلَّى الرَّجُلُ فِي بَيْتِهِ بِرَفِيقِهِ، أَوْ زَوْجَتِهِ، أَوْ وَلَدِهِ، حَازَ فَضِيلَةَ الْجَمَاعَةِ، لَكِنَّهَا فِي الْمَسْجِدِ أَفْضَلُ. وَحَيْثُ كَانَ الْجَمْعُ مِنَ الْمَسَاجِدِ أَكْثَرَ فَهُوَ أَفْضَل Ketika seorang laki-laki shalat di rumah bersama temannya, atau istrinya, atau anaknya, maka ia tetap memperolah keutamaan berjamaah. Akan tetapi, jika dilakukan di masjid, itu lebih utama. Ingatlah bahwa jamaah semakin banyak di masjid, itu tentu afdal. (Raudhah Ath-Thalibin, 1:238)   Berbagai hal terkait hukum shalat berjamaah dalam tinjauan madzhab Syafii Shalat berjamaah dalam shalat Jumat dihukumi fardhu ‘ain. Shalat Jumat tidak boleh dikerjakan seorang diri. Shalat berjamaah itu dihukumi fardhu kifayah menurut pendapat al-ashah, berlaku untuk laki-laki dan mukim. Maksud fardhu kifayah berarti di negeri atau tempat tersebut ada syiar shalat berjamaah. Jika masyarakat menyepakati bahwa shalat berjamaah cukup di rumah saja, sehingga tidak tampak syiar shalat berjamaah, maka kewajiban shalat berjamaah ini belum dianggap cukup. Shalat berjamaah untuk wanita juga disyariatkan, tetapi tidak ditekankan, tidak seperti pria. Shalat berjamaah bagi wanita boleh dilakukan di masjid ataukah di rumah. Namun, shalat berjamaah bagi wanita di rumah, itu lebih afdal. Shalat berjamaah tidaklah diwajibkan bagi musafir. Mereka bisa memilih shalat dengan berjamaah ataukah sendirian (munfarid). Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii karya Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily, 1:405-406.   Shalat berjamaah di masjid dalam madzhab Syafii Hukum shalat berjamaah di masjid adalah fardhu kifayah karena shalat di masjid itu syiar. Jika sudah ada sebagian yang menegakkannya, maka kewajiban yang lain gugur. Yang lainnya bisa mengerjakan shalat berjamaah di rumah ataukah memilih shalat munfarid (sendirian). Shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki lebih utama daripada shalat berjamaah di rumah, di pasar, di tempat tertentu. Karena ada hadits yang menunjukkan utamanya berjalan ke masjid. Masjid juga adalah tempat yang mulia dan suci, juga lebih menampakkan syiar berjamaah. Shalat berjamaah di masjid yang lebih banyak jamaahnya lebih afdal daripada shalat di masjid yang sedikit jamaahnya. Begitu pula, shalat di rumah yang lebih banyak jamaahnya lebih afdal daripada yang sedikit jamaahnya. Karena shalat berjamaah yang jamaahnya lebih banyak lebih afdal dibanding dengan yang jamaahnya sedikit. Hal ini dikecualikan: (1) shalat berjamaah di masjid walau sedikit jamaah lebih afdal dari shalat berjamaah di rumah yang banyak jamaah, (2) shalat berjamaah di masjid terdekat lebih afdal daripada shalat berjamaah di masjid yang banyak jamaah, (3) shalat berjamaah wanita di rumah lebih afdal daripada shalat berjamaah di masjid. Imam Nawawi rahimahullah berkata, لاَ رُخْصَةَ فِي تَرْكِ الجَمَاعَةِ سَوَاءٌ قُلْنَا سُنَّةٌ أَوْ فَرْضُ كِفَايَةٍ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ عَامٍ أَوْ خَاصٍ “Tidak ada keringanan meninggalkan shalat berjamaah, baik kita memilih pendapat shalat berjamaah itu sunnah ataukah fardhu kifayah. Boleh meninggalkan shalat berjamaah ketika ada uzur secara umum atau pun khusus.” (Raudhah Ath-Thalibin, 1:240) Kita boleh meninggalkan shalat berjamaah jika ada uzur. Apa saja uzur dalam shalat berjamaah sehingga boleh tidak ke masjid?   Pertama: Uzur umum Uzur ini berlaku bagi setiap orang. Contohnya adalah hujan, tetapi disyaratkan adanya masyaqqah (kesulitan). Kedua: Uzur khusus Sakit Sangat lapar atau haus Ingin buang hajat Takut akan terkena mudarat Makan sesuatu yang menimbulkan bau tidak enak yang mesti dihilangkan terlebih dahulu Takut ketinggalan rombongan ketika safar Keadaan sangat kantuk karena menunggu shalat berjamaah Menyelamatkan orang yang butuh untuk segera ditolong Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:410-412 Baca juga: Uzur Tidak Menghadiri Shalat Berjamaah Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 21 Muharram 1444 H, 19 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download   Tagscara shalat berjamaah hukum shalat berjamaah hukum shalat jamaah khutbah jumat shalat berjamaah shalat jamaah uzur shalat uzur shalat berjamaah


Yuk shalat berjamaah di masjid selama tidak ada uzur!   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Berbagai hal terkait hukum shalat berjamaah dalam tinjauan madzhab Syafii 1.2. Shalat berjamaah di masjid dalam madzhab Syafii 2. Khutbah Kedua 3. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala berfirman, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43) Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya bahwa ayat ini memerintahkan untuk m mengerjakan shalat secara lahir dan batin. Warka’uu ma’ar rooki’iin, rukuklah bersama orang yang rukuk. Maksudnya, shalatlah bersama dengan orang-orang yang shalat. Ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat berjamaah dan menunjukkan wajibnya. Rukuk juga di sini mewakili shalat, menunjukkan bahwa rukuk adalah rukun shalat dan menunjukkan wajibnya rukuk di dalam shalat. Mengenai keutamaan shalat berjamaah disebutkan dalam  hadits, صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً “Shalat berjamaah lebih baik dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650) Setiap muslim boleh mendirikan shalat berjamaah di mana saja, asalkan di tempat yang suci, baik di rumah, di padang pasir, maupun di masjid. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:171. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan seorang pun dari Rasul-Rasul sebelumku, yaitu: وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا  “dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk tayammum).” (HR. Bukhari, no. 438 dan Muslim, no. 521, 523) Shalat berjamaah di masjid lebih utama daripada shalat berjamaah di selain masjid. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:171. Masjid yang dimaksud di sini adalah tempat diselenggarakannya shalat secara rutin di dalamnya. Lihat Shalah Al-Mu’min, 2:561. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ ، فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ في بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوبَةَ “Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781). Alasan shalat berjamaah yang afdal adalah di masjid, yaitu: Masjid adalah tempat yang mulia dan suci.  Shalat di masjid berarti menampakkan syiar Islam dan banyak jamaah.   Maka dalam keadaan aman tanpa ada uzur, Imam An-Nawawi (w. 676 H) menjelaskan,  إِذَا صَلَّى الرَّجُلُ فِي بَيْتِهِ بِرَفِيقِهِ، أَوْ زَوْجَتِهِ، أَوْ وَلَدِهِ، حَازَ فَضِيلَةَ الْجَمَاعَةِ، لَكِنَّهَا فِي الْمَسْجِدِ أَفْضَلُ. وَحَيْثُ كَانَ الْجَمْعُ مِنَ الْمَسَاجِدِ أَكْثَرَ فَهُوَ أَفْضَل Ketika seorang laki-laki shalat di rumah bersama temannya, atau istrinya, atau anaknya, maka ia tetap memperolah keutamaan berjamaah. Akan tetapi, jika dilakukan di masjid, itu lebih utama. Ingatlah bahwa jamaah semakin banyak di masjid, itu tentu afdal. (Raudhah Ath-Thalibin, 1:238)   Berbagai hal terkait hukum shalat berjamaah dalam tinjauan madzhab Syafii Shalat berjamaah dalam shalat Jumat dihukumi fardhu ‘ain. Shalat Jumat tidak boleh dikerjakan seorang diri. Shalat berjamaah itu dihukumi fardhu kifayah menurut pendapat al-ashah, berlaku untuk laki-laki dan mukim. Maksud fardhu kifayah berarti di negeri atau tempat tersebut ada syiar shalat berjamaah. Jika masyarakat menyepakati bahwa shalat berjamaah cukup di rumah saja, sehingga tidak tampak syiar shalat berjamaah, maka kewajiban shalat berjamaah ini belum dianggap cukup. Shalat berjamaah untuk wanita juga disyariatkan, tetapi tidak ditekankan, tidak seperti pria. Shalat berjamaah bagi wanita boleh dilakukan di masjid ataukah di rumah. Namun, shalat berjamaah bagi wanita di rumah, itu lebih afdal. Shalat berjamaah tidaklah diwajibkan bagi musafir. Mereka bisa memilih shalat dengan berjamaah ataukah sendirian (munfarid). Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii karya Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily, 1:405-406.   Shalat berjamaah di masjid dalam madzhab Syafii Hukum shalat berjamaah di masjid adalah fardhu kifayah karena shalat di masjid itu syiar. Jika sudah ada sebagian yang menegakkannya, maka kewajiban yang lain gugur. Yang lainnya bisa mengerjakan shalat berjamaah di rumah ataukah memilih shalat munfarid (sendirian). Shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki lebih utama daripada shalat berjamaah di rumah, di pasar, di tempat tertentu. Karena ada hadits yang menunjukkan utamanya berjalan ke masjid. Masjid juga adalah tempat yang mulia dan suci, juga lebih menampakkan syiar berjamaah. Shalat berjamaah di masjid yang lebih banyak jamaahnya lebih afdal daripada shalat di masjid yang sedikit jamaahnya. Begitu pula, shalat di rumah yang lebih banyak jamaahnya lebih afdal daripada yang sedikit jamaahnya. Karena shalat berjamaah yang jamaahnya lebih banyak lebih afdal dibanding dengan yang jamaahnya sedikit. Hal ini dikecualikan: (1) shalat berjamaah di masjid walau sedikit jamaah lebih afdal dari shalat berjamaah di rumah yang banyak jamaah, (2) shalat berjamaah di masjid terdekat lebih afdal daripada shalat berjamaah di masjid yang banyak jamaah, (3) shalat berjamaah wanita di rumah lebih afdal daripada shalat berjamaah di masjid. Imam Nawawi rahimahullah berkata, لاَ رُخْصَةَ فِي تَرْكِ الجَمَاعَةِ سَوَاءٌ قُلْنَا سُنَّةٌ أَوْ فَرْضُ كِفَايَةٍ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ عَامٍ أَوْ خَاصٍ “Tidak ada keringanan meninggalkan shalat berjamaah, baik kita memilih pendapat shalat berjamaah itu sunnah ataukah fardhu kifayah. Boleh meninggalkan shalat berjamaah ketika ada uzur secara umum atau pun khusus.” (Raudhah Ath-Thalibin, 1:240) Kita boleh meninggalkan shalat berjamaah jika ada uzur. Apa saja uzur dalam shalat berjamaah sehingga boleh tidak ke masjid?   Pertama: Uzur umum Uzur ini berlaku bagi setiap orang. Contohnya adalah hujan, tetapi disyaratkan adanya masyaqqah (kesulitan). Kedua: Uzur khusus Sakit Sangat lapar atau haus Ingin buang hajat Takut akan terkena mudarat Makan sesuatu yang menimbulkan bau tidak enak yang mesti dihilangkan terlebih dahulu Takut ketinggalan rombongan ketika safar Keadaan sangat kantuk karena menunggu shalat berjamaah Menyelamatkan orang yang butuh untuk segera ditolong Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:410-412 Baca juga: Uzur Tidak Menghadiri Shalat Berjamaah Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 21 Muharram 1444 H, 19 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download   Tagscara shalat berjamaah hukum shalat berjamaah hukum shalat jamaah khutbah jumat shalat berjamaah shalat jamaah uzur shalat uzur shalat berjamaah
Prev     Next