Bolehkah Memohon Rahmat dan Ampunan untuk Orang yang Tidak Salat Semasa Hidupnya?

حكم من ترك الصلاة تهاونا وكسلا ومات على ذلك السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: جدتي كانت لا تصلي تهاونا وكسلا ، ولكنها كانت تؤمن بالله ورسوله فهل يجوز لي أن اترحم عليها وأن اعتمر عنها ؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Nenek saya dahulu tidak salat karena malas dan menyepelekannya tetapi dia beriman kepada Allah dan Rasulullah, bolehkan saya memohonkan rahmat untuknya dan umrah untuknya?” الاحابة لا الذي لا يصلي وعنده عقله وتفكيره يترك الصلاة فهذا ليس بمسلم، ليس بمسلم، والنبي ﷺ ( العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر ) Jawaban: Tidak boleh. Orang yang tidak salat, padahal dia berakal dan bisa berpikir, tapi meninggalkan salat, dia bukanlah seorang muslim. Dia bukan seorang muslim, karena Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر “Batas pemisah antara kami (orang muslim) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad) [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18252 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Gadai Motor, Surat Taklik, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Cara Bertemu Khodam, Cara Mengatasi Putus Cinta Dalam Islam, Mimpi Diganggu Makhluk Halus Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 253 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Memohon Rahmat dan Ampunan untuk Orang yang Tidak Salat Semasa Hidupnya?

حكم من ترك الصلاة تهاونا وكسلا ومات على ذلك السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: جدتي كانت لا تصلي تهاونا وكسلا ، ولكنها كانت تؤمن بالله ورسوله فهل يجوز لي أن اترحم عليها وأن اعتمر عنها ؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Nenek saya dahulu tidak salat karena malas dan menyepelekannya tetapi dia beriman kepada Allah dan Rasulullah, bolehkan saya memohonkan rahmat untuknya dan umrah untuknya?” الاحابة لا الذي لا يصلي وعنده عقله وتفكيره يترك الصلاة فهذا ليس بمسلم، ليس بمسلم، والنبي ﷺ ( العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر ) Jawaban: Tidak boleh. Orang yang tidak salat, padahal dia berakal dan bisa berpikir, tapi meninggalkan salat, dia bukanlah seorang muslim. Dia bukan seorang muslim, karena Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر “Batas pemisah antara kami (orang muslim) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad) [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18252 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Gadai Motor, Surat Taklik, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Cara Bertemu Khodam, Cara Mengatasi Putus Cinta Dalam Islam, Mimpi Diganggu Makhluk Halus Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 253 QRIS donasi Yufid
حكم من ترك الصلاة تهاونا وكسلا ومات على ذلك السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: جدتي كانت لا تصلي تهاونا وكسلا ، ولكنها كانت تؤمن بالله ورسوله فهل يجوز لي أن اترحم عليها وأن اعتمر عنها ؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Nenek saya dahulu tidak salat karena malas dan menyepelekannya tetapi dia beriman kepada Allah dan Rasulullah, bolehkan saya memohonkan rahmat untuknya dan umrah untuknya?” الاحابة لا الذي لا يصلي وعنده عقله وتفكيره يترك الصلاة فهذا ليس بمسلم، ليس بمسلم، والنبي ﷺ ( العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر ) Jawaban: Tidak boleh. Orang yang tidak salat, padahal dia berakal dan bisa berpikir, tapi meninggalkan salat, dia bukanlah seorang muslim. Dia bukan seorang muslim, karena Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر “Batas pemisah antara kami (orang muslim) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad) [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18252 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Gadai Motor, Surat Taklik, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Cara Bertemu Khodam, Cara Mengatasi Putus Cinta Dalam Islam, Mimpi Diganggu Makhluk Halus Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 253 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1357098286&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> حكم من ترك الصلاة تهاونا وكسلا ومات على ذلك السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: جدتي كانت لا تصلي تهاونا وكسلا ، ولكنها كانت تؤمن بالله ورسوله فهل يجوز لي أن اترحم عليها وأن اعتمر عنها ؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Nenek saya dahulu tidak salat karena malas dan menyepelekannya tetapi dia beriman kepada Allah dan Rasulullah, bolehkan saya memohonkan rahmat untuknya dan umrah untuknya?” الاحابة لا الذي لا يصلي وعنده عقله وتفكيره يترك الصلاة فهذا ليس بمسلم، ليس بمسلم، والنبي ﷺ ( العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر ) Jawaban: Tidak boleh. Orang yang tidak salat, padahal dia berakal dan bisa berpikir, tapi meninggalkan salat, dia bukanlah seorang muslim. Dia bukan seorang muslim, karena Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر “Batas pemisah antara kami (orang muslim) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad) [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18252 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Gadai Motor, Surat Taklik, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Cara Bertemu Khodam, Cara Mengatasi Putus Cinta Dalam Islam, Mimpi Diganggu Makhluk Halus Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 253 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Penjelasan Hadits tentang Memukul Anak

Pertanyaan: Saya ingin bertanya tentang hadits: مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika usianya 7 tahun. Dan pukullah mereka ketika usianya 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud) Apakah hadits ini menunjukkan bolehnya memukul anak jika tidak mau shalat? Atau bagaimana pemahaman yang benar? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Hadits tersebut adalah hadits yang shahih, diriwayatkan dari kakeknya Amr bin Syu’aib radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud. Dan benar bahwa hadits ini merupakan dalil bolehnya memukul anak yang enggan shalat. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: وَالاِسْتِدْلاَل بِهِ وَاضِحٌ، لأَِنَّهُ يَتَنَاوَل الصَّبِيَّ وَالصَّبِيَّةَ فِي الأَْمْرِ بِالصَّلاَةِ وَالضَّرْبِ عَلَيْهَا “Pendalilan dari hadits ini sangat jelas, tentang wajibnya memerintahkan anak untuk shalat dan bolehnya memukul mereka, karena lafadz hadits ini mencakup anak laki-laki dan anak perempuan.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, 3/11) Namun perihal memukul anak dalam masalah ini terdapat kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan dengan baik, tidak boleh serampangan. Di antaranya: 1. Tujuan memukul adalah untuk mendidik. Dibolehkannya memukul anak oleh syariat adalah sebagai salah satu metode untuk mendidik anak dan amar makruf nahi mungkar. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.” (QS. at-Tahrim: 6) Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi membuat judul bab: باب وجوب أمره أهله وأولاده المميزين وسائر من في رعيته بطاعة الله تعالى ونهيهم عن المخالفة وتأديبهم ومنعهم من ارتكاب مَنْهِيٍّ عَنْهُ “Bab wajib (bagi seorang suami) untuk memerintahkan istri dan anak-anaknya yang sudah mumayyiz serta semua orang yang ada dalam tanggung jawabnya untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah ta’ala dan melarang mereka dari semua penyimpangan serta wajib mengatur mereka serta mencegah mereka terhadap hal-hal yang dilarang agama.” Maka tidak boleh memukul anak dalam rangka untuk menumpahkan emosi semata. Ini adalah bentuk kezaliman kepada anak yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah orang yang bertanggung jawab. Setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah orang yang bertanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang lelaki bertanggung jawab terhadap keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari no. 893, Muslim no.1829) 2. Hendaknya pukulan merupakan langkah terakhir, utamakan cara yang lemah lembut. Al-Izz bin Abdissalam rahimahullah menjelaskan: وَمَهْمَا حَصَل التَّأْدِيبُ بِالأَْخَفِّ مِنَ الأَْفْعَال وَالأَْقْوَال، لَمْ يُعْدَل إِلَى الأَْغْلَظِ، إِذْ هُوَ مَفْسَدَةٌ لاَ فَائِدَةَ فِيهِ، لِحُصُول الْغَرَضِ بِمَا دُوْنَهُ “Ketika pengajaran kepada anak sudah tercapai dengan cara-cara yang ringan baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka tidak boleh beralih kepada cara yang keras. Karena itu akan memberikan kerusakan yang tidak ada faedahnya. Karena dengan cara-cara yang ringan pun sudah tercapai tujuannya tanpa cara yang keras.” (Qawa’idul Ahkam, 2/75) Maka jika anak enggan shalat, tidak boleh langsung dipukul. Melainkan lebih dahulu diajak dengan lemah lembut, persuasif, dan kata-kata yang baik. Pukulan adalah alternatif yang paling terakhir. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فإنَّ الرِّفْقَ لم يكُنْ في شَيءٍ قَطُّ إلَّا زانَه، ولا نُزِعَ من شَيءٍ قَطُّ إلَّا شانَه “Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya.” (HR. Abu Daud no.4808, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud) 3. Bolehnya memukul adalah jika ada sangkaan kuat akan menghasilkan suatu maslahat. Al-Izz bin Abdissalam juga menjelaskan: إِنَّمَا جَازَ لِكَوْنِهِ وَسِيلَةً إِلَى مَصْلَحَةِ التَّأْدِيبِ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُل التَّأْدِيبُ بِهِ، سَقَطَ الضَّرْبُ … لأَِنَّ الْوَسَائِل تَسْقُطُ بِسُقُوطِ الْمَقَاصِدِ “Sesungguhnya dibolehkannya memukul anak adalah sebagai sarana pengajaran. Jika pengajaran tidak tercapai dengan cara pukulan, maka gugurlah kebolehan untuk memukul … karena sarana itu gugur jika tujuannya gugur.” (Qawa’idul Ahkam, 1/102) Maka jika orang tua mengetahui bahwa si anak tidak akan jera jika dipukul, orang tua tidak boleh memukul, namun harus menggunakan cara lain yang bisa mencapai maksud. Demikian juga tidak boleh memukul anak jika ada sangkaan kuat bahwa si anak akan kabur. Karena dalam keadaan ini maslahat pengajaran tidak akan tercapai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah mengatakan: ثُمَّ مَحَلُّ مَا ذَكَرَ مِنْ وُجُوبِ الضَّرْبِ مَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ هَرَبُهُ وَضَيَاعُهُ ، فَإِنْ تَرَتَّبَ عَلَيْهِ ذَلِكَ تَرَكَهُ “Kemudian terkait apa yang kami jelaskan tentang kewajiban memukul anak (yang enggan shalat) itu selama tidak membuat sang anak lari atau kabur. Jika bisa menyebabkan demikian, maka tidak boleh memukul.” (Tuhfatul Muhtaj, 1/449) 4. Pukulan tidak boleh sampai melukai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas, beliau menjelaskan: أَيْ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَوْ لَمْ يُفِدْ إلَّا بِمُبَرِّحٍ تَرَكَهُ “Maksudnya adalah pukulan yang tidak melukai. Jika tidak mempan kecuali dengan pukulan yang melukai, maka tidak boleh memukul sama sekali.” (Hasyiyatul Jamal, 1/289) Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah disebutkan: كَذَلِكَ يُشْتَرَطُ فِي الضَّرْبِ عِنْدَ مَشْرُوعِيَّةِ اللُّجُوءِ إِلَيْهِ أَنْ يَغْلِبَ عَلَى الظَّنِّ تَحْقِيقُهُ لِلْمَصْلَحَةِ الْمَرْجُوَّةِ مِنْهُ، وَأَنْ يَكُونَ غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلاَ شَاقٍّ، وَأَنْ يَتَوَقَّى فِيهِ الْوَجْهَ وَالْمَوَاضِعَ الْمُهْلِكَةَ “Bolehnya memukul anak dipersyaratkan ada sangkaan kuat bahwa akan tercapai maslahat yang diinginkan dan pukulannya bukan pukulan yang melukai atau berat bagi sang anak, dan wajib menghindari memukul wajah dan anggota badan yang rawan.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 45/71) Sebagaimana juga disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إذا ضرَب أحَدُكم فليتَّقِ الوَجْهَ “Jika kalian memukul, maka jauhi wajah.” (HR. Abu Daud no.4493. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Demikian juga tidak boleh memukul kepala, kemaluan, perut, atau anggota badan yang rawan lainnya. Demikian juga tidak boleh memukul sampai merusak fisik, tidak boleh mencolok mata, tidak boleh menggunakan api, mencekik, semua ini adalah cara-cara yang diharamkan dan tidak diperbolehkan sama sekali. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad I/313 no.2867, dan Ibnu Majah no.2431, dihasankan oleh an-Nawawi dalam al-Arba’in no. 32) 5. Tidak boleh memukul anak ketika akal anak kurang sempurna, seperti ketika ia sedang emosi, sedang menangis. Ibnu Najim rahimahullah menjelaskan: يَنْبَغِي أَنْ يُلْحَقُ بِهِ مَا إذَا ضَرَبَتْ الْوَلَدَ الَّذِي لَا يَعْقِلُ عِنْدَ بُكَائِهِ “Dan hendaknya diperhatikan satu syarat lagi, yaitu ketika seorang ibu memukul anaknya, hendaknya tidak ketika sang anak tidak bisa berpikir sempurna, seperti ketika ia sedang menangis.” (Al-Bahrur Raiq, 5/53) Karena memukul anak di saat akalnya kurang sempurna, membuat ia tidak bisa memahami maksud dari pengajaran yang diinginkan, sehingga tidak akan tercapai maslahat yang diharapkan.  Demikian beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam masalah memukul anak yang hendaknya diperhatikan oleh setiap orang tua dan para pendidik.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Huruf Arab Allah, Kapan Waktu Shalat Fajar, Minum Sebelum Idul Adha, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, Ilmu Tenaga Dalam Alhikmah, Zikir Qolbu Visited 690 times, 1 visit(s) today Post Views: 514 QRIS donasi Yufid

Penjelasan Hadits tentang Memukul Anak

Pertanyaan: Saya ingin bertanya tentang hadits: مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika usianya 7 tahun. Dan pukullah mereka ketika usianya 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud) Apakah hadits ini menunjukkan bolehnya memukul anak jika tidak mau shalat? Atau bagaimana pemahaman yang benar? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Hadits tersebut adalah hadits yang shahih, diriwayatkan dari kakeknya Amr bin Syu’aib radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud. Dan benar bahwa hadits ini merupakan dalil bolehnya memukul anak yang enggan shalat. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: وَالاِسْتِدْلاَل بِهِ وَاضِحٌ، لأَِنَّهُ يَتَنَاوَل الصَّبِيَّ وَالصَّبِيَّةَ فِي الأَْمْرِ بِالصَّلاَةِ وَالضَّرْبِ عَلَيْهَا “Pendalilan dari hadits ini sangat jelas, tentang wajibnya memerintahkan anak untuk shalat dan bolehnya memukul mereka, karena lafadz hadits ini mencakup anak laki-laki dan anak perempuan.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, 3/11) Namun perihal memukul anak dalam masalah ini terdapat kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan dengan baik, tidak boleh serampangan. Di antaranya: 1. Tujuan memukul adalah untuk mendidik. Dibolehkannya memukul anak oleh syariat adalah sebagai salah satu metode untuk mendidik anak dan amar makruf nahi mungkar. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.” (QS. at-Tahrim: 6) Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi membuat judul bab: باب وجوب أمره أهله وأولاده المميزين وسائر من في رعيته بطاعة الله تعالى ونهيهم عن المخالفة وتأديبهم ومنعهم من ارتكاب مَنْهِيٍّ عَنْهُ “Bab wajib (bagi seorang suami) untuk memerintahkan istri dan anak-anaknya yang sudah mumayyiz serta semua orang yang ada dalam tanggung jawabnya untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah ta’ala dan melarang mereka dari semua penyimpangan serta wajib mengatur mereka serta mencegah mereka terhadap hal-hal yang dilarang agama.” Maka tidak boleh memukul anak dalam rangka untuk menumpahkan emosi semata. Ini adalah bentuk kezaliman kepada anak yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah orang yang bertanggung jawab. Setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah orang yang bertanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang lelaki bertanggung jawab terhadap keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari no. 893, Muslim no.1829) 2. Hendaknya pukulan merupakan langkah terakhir, utamakan cara yang lemah lembut. Al-Izz bin Abdissalam rahimahullah menjelaskan: وَمَهْمَا حَصَل التَّأْدِيبُ بِالأَْخَفِّ مِنَ الأَْفْعَال وَالأَْقْوَال، لَمْ يُعْدَل إِلَى الأَْغْلَظِ، إِذْ هُوَ مَفْسَدَةٌ لاَ فَائِدَةَ فِيهِ، لِحُصُول الْغَرَضِ بِمَا دُوْنَهُ “Ketika pengajaran kepada anak sudah tercapai dengan cara-cara yang ringan baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka tidak boleh beralih kepada cara yang keras. Karena itu akan memberikan kerusakan yang tidak ada faedahnya. Karena dengan cara-cara yang ringan pun sudah tercapai tujuannya tanpa cara yang keras.” (Qawa’idul Ahkam, 2/75) Maka jika anak enggan shalat, tidak boleh langsung dipukul. Melainkan lebih dahulu diajak dengan lemah lembut, persuasif, dan kata-kata yang baik. Pukulan adalah alternatif yang paling terakhir. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فإنَّ الرِّفْقَ لم يكُنْ في شَيءٍ قَطُّ إلَّا زانَه، ولا نُزِعَ من شَيءٍ قَطُّ إلَّا شانَه “Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya.” (HR. Abu Daud no.4808, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud) 3. Bolehnya memukul adalah jika ada sangkaan kuat akan menghasilkan suatu maslahat. Al-Izz bin Abdissalam juga menjelaskan: إِنَّمَا جَازَ لِكَوْنِهِ وَسِيلَةً إِلَى مَصْلَحَةِ التَّأْدِيبِ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُل التَّأْدِيبُ بِهِ، سَقَطَ الضَّرْبُ … لأَِنَّ الْوَسَائِل تَسْقُطُ بِسُقُوطِ الْمَقَاصِدِ “Sesungguhnya dibolehkannya memukul anak adalah sebagai sarana pengajaran. Jika pengajaran tidak tercapai dengan cara pukulan, maka gugurlah kebolehan untuk memukul … karena sarana itu gugur jika tujuannya gugur.” (Qawa’idul Ahkam, 1/102) Maka jika orang tua mengetahui bahwa si anak tidak akan jera jika dipukul, orang tua tidak boleh memukul, namun harus menggunakan cara lain yang bisa mencapai maksud. Demikian juga tidak boleh memukul anak jika ada sangkaan kuat bahwa si anak akan kabur. Karena dalam keadaan ini maslahat pengajaran tidak akan tercapai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah mengatakan: ثُمَّ مَحَلُّ مَا ذَكَرَ مِنْ وُجُوبِ الضَّرْبِ مَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ هَرَبُهُ وَضَيَاعُهُ ، فَإِنْ تَرَتَّبَ عَلَيْهِ ذَلِكَ تَرَكَهُ “Kemudian terkait apa yang kami jelaskan tentang kewajiban memukul anak (yang enggan shalat) itu selama tidak membuat sang anak lari atau kabur. Jika bisa menyebabkan demikian, maka tidak boleh memukul.” (Tuhfatul Muhtaj, 1/449) 4. Pukulan tidak boleh sampai melukai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas, beliau menjelaskan: أَيْ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَوْ لَمْ يُفِدْ إلَّا بِمُبَرِّحٍ تَرَكَهُ “Maksudnya adalah pukulan yang tidak melukai. Jika tidak mempan kecuali dengan pukulan yang melukai, maka tidak boleh memukul sama sekali.” (Hasyiyatul Jamal, 1/289) Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah disebutkan: كَذَلِكَ يُشْتَرَطُ فِي الضَّرْبِ عِنْدَ مَشْرُوعِيَّةِ اللُّجُوءِ إِلَيْهِ أَنْ يَغْلِبَ عَلَى الظَّنِّ تَحْقِيقُهُ لِلْمَصْلَحَةِ الْمَرْجُوَّةِ مِنْهُ، وَأَنْ يَكُونَ غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلاَ شَاقٍّ، وَأَنْ يَتَوَقَّى فِيهِ الْوَجْهَ وَالْمَوَاضِعَ الْمُهْلِكَةَ “Bolehnya memukul anak dipersyaratkan ada sangkaan kuat bahwa akan tercapai maslahat yang diinginkan dan pukulannya bukan pukulan yang melukai atau berat bagi sang anak, dan wajib menghindari memukul wajah dan anggota badan yang rawan.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 45/71) Sebagaimana juga disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إذا ضرَب أحَدُكم فليتَّقِ الوَجْهَ “Jika kalian memukul, maka jauhi wajah.” (HR. Abu Daud no.4493. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Demikian juga tidak boleh memukul kepala, kemaluan, perut, atau anggota badan yang rawan lainnya. Demikian juga tidak boleh memukul sampai merusak fisik, tidak boleh mencolok mata, tidak boleh menggunakan api, mencekik, semua ini adalah cara-cara yang diharamkan dan tidak diperbolehkan sama sekali. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad I/313 no.2867, dan Ibnu Majah no.2431, dihasankan oleh an-Nawawi dalam al-Arba’in no. 32) 5. Tidak boleh memukul anak ketika akal anak kurang sempurna, seperti ketika ia sedang emosi, sedang menangis. Ibnu Najim rahimahullah menjelaskan: يَنْبَغِي أَنْ يُلْحَقُ بِهِ مَا إذَا ضَرَبَتْ الْوَلَدَ الَّذِي لَا يَعْقِلُ عِنْدَ بُكَائِهِ “Dan hendaknya diperhatikan satu syarat lagi, yaitu ketika seorang ibu memukul anaknya, hendaknya tidak ketika sang anak tidak bisa berpikir sempurna, seperti ketika ia sedang menangis.” (Al-Bahrur Raiq, 5/53) Karena memukul anak di saat akalnya kurang sempurna, membuat ia tidak bisa memahami maksud dari pengajaran yang diinginkan, sehingga tidak akan tercapai maslahat yang diharapkan.  Demikian beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam masalah memukul anak yang hendaknya diperhatikan oleh setiap orang tua dan para pendidik.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Huruf Arab Allah, Kapan Waktu Shalat Fajar, Minum Sebelum Idul Adha, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, Ilmu Tenaga Dalam Alhikmah, Zikir Qolbu Visited 690 times, 1 visit(s) today Post Views: 514 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Saya ingin bertanya tentang hadits: مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika usianya 7 tahun. Dan pukullah mereka ketika usianya 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud) Apakah hadits ini menunjukkan bolehnya memukul anak jika tidak mau shalat? Atau bagaimana pemahaman yang benar? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Hadits tersebut adalah hadits yang shahih, diriwayatkan dari kakeknya Amr bin Syu’aib radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud. Dan benar bahwa hadits ini merupakan dalil bolehnya memukul anak yang enggan shalat. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: وَالاِسْتِدْلاَل بِهِ وَاضِحٌ، لأَِنَّهُ يَتَنَاوَل الصَّبِيَّ وَالصَّبِيَّةَ فِي الأَْمْرِ بِالصَّلاَةِ وَالضَّرْبِ عَلَيْهَا “Pendalilan dari hadits ini sangat jelas, tentang wajibnya memerintahkan anak untuk shalat dan bolehnya memukul mereka, karena lafadz hadits ini mencakup anak laki-laki dan anak perempuan.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, 3/11) Namun perihal memukul anak dalam masalah ini terdapat kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan dengan baik, tidak boleh serampangan. Di antaranya: 1. Tujuan memukul adalah untuk mendidik. Dibolehkannya memukul anak oleh syariat adalah sebagai salah satu metode untuk mendidik anak dan amar makruf nahi mungkar. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.” (QS. at-Tahrim: 6) Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi membuat judul bab: باب وجوب أمره أهله وأولاده المميزين وسائر من في رعيته بطاعة الله تعالى ونهيهم عن المخالفة وتأديبهم ومنعهم من ارتكاب مَنْهِيٍّ عَنْهُ “Bab wajib (bagi seorang suami) untuk memerintahkan istri dan anak-anaknya yang sudah mumayyiz serta semua orang yang ada dalam tanggung jawabnya untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah ta’ala dan melarang mereka dari semua penyimpangan serta wajib mengatur mereka serta mencegah mereka terhadap hal-hal yang dilarang agama.” Maka tidak boleh memukul anak dalam rangka untuk menumpahkan emosi semata. Ini adalah bentuk kezaliman kepada anak yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah orang yang bertanggung jawab. Setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah orang yang bertanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang lelaki bertanggung jawab terhadap keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari no. 893, Muslim no.1829) 2. Hendaknya pukulan merupakan langkah terakhir, utamakan cara yang lemah lembut. Al-Izz bin Abdissalam rahimahullah menjelaskan: وَمَهْمَا حَصَل التَّأْدِيبُ بِالأَْخَفِّ مِنَ الأَْفْعَال وَالأَْقْوَال، لَمْ يُعْدَل إِلَى الأَْغْلَظِ، إِذْ هُوَ مَفْسَدَةٌ لاَ فَائِدَةَ فِيهِ، لِحُصُول الْغَرَضِ بِمَا دُوْنَهُ “Ketika pengajaran kepada anak sudah tercapai dengan cara-cara yang ringan baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka tidak boleh beralih kepada cara yang keras. Karena itu akan memberikan kerusakan yang tidak ada faedahnya. Karena dengan cara-cara yang ringan pun sudah tercapai tujuannya tanpa cara yang keras.” (Qawa’idul Ahkam, 2/75) Maka jika anak enggan shalat, tidak boleh langsung dipukul. Melainkan lebih dahulu diajak dengan lemah lembut, persuasif, dan kata-kata yang baik. Pukulan adalah alternatif yang paling terakhir. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فإنَّ الرِّفْقَ لم يكُنْ في شَيءٍ قَطُّ إلَّا زانَه، ولا نُزِعَ من شَيءٍ قَطُّ إلَّا شانَه “Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya.” (HR. Abu Daud no.4808, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud) 3. Bolehnya memukul adalah jika ada sangkaan kuat akan menghasilkan suatu maslahat. Al-Izz bin Abdissalam juga menjelaskan: إِنَّمَا جَازَ لِكَوْنِهِ وَسِيلَةً إِلَى مَصْلَحَةِ التَّأْدِيبِ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُل التَّأْدِيبُ بِهِ، سَقَطَ الضَّرْبُ … لأَِنَّ الْوَسَائِل تَسْقُطُ بِسُقُوطِ الْمَقَاصِدِ “Sesungguhnya dibolehkannya memukul anak adalah sebagai sarana pengajaran. Jika pengajaran tidak tercapai dengan cara pukulan, maka gugurlah kebolehan untuk memukul … karena sarana itu gugur jika tujuannya gugur.” (Qawa’idul Ahkam, 1/102) Maka jika orang tua mengetahui bahwa si anak tidak akan jera jika dipukul, orang tua tidak boleh memukul, namun harus menggunakan cara lain yang bisa mencapai maksud. Demikian juga tidak boleh memukul anak jika ada sangkaan kuat bahwa si anak akan kabur. Karena dalam keadaan ini maslahat pengajaran tidak akan tercapai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah mengatakan: ثُمَّ مَحَلُّ مَا ذَكَرَ مِنْ وُجُوبِ الضَّرْبِ مَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ هَرَبُهُ وَضَيَاعُهُ ، فَإِنْ تَرَتَّبَ عَلَيْهِ ذَلِكَ تَرَكَهُ “Kemudian terkait apa yang kami jelaskan tentang kewajiban memukul anak (yang enggan shalat) itu selama tidak membuat sang anak lari atau kabur. Jika bisa menyebabkan demikian, maka tidak boleh memukul.” (Tuhfatul Muhtaj, 1/449) 4. Pukulan tidak boleh sampai melukai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas, beliau menjelaskan: أَيْ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَوْ لَمْ يُفِدْ إلَّا بِمُبَرِّحٍ تَرَكَهُ “Maksudnya adalah pukulan yang tidak melukai. Jika tidak mempan kecuali dengan pukulan yang melukai, maka tidak boleh memukul sama sekali.” (Hasyiyatul Jamal, 1/289) Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah disebutkan: كَذَلِكَ يُشْتَرَطُ فِي الضَّرْبِ عِنْدَ مَشْرُوعِيَّةِ اللُّجُوءِ إِلَيْهِ أَنْ يَغْلِبَ عَلَى الظَّنِّ تَحْقِيقُهُ لِلْمَصْلَحَةِ الْمَرْجُوَّةِ مِنْهُ، وَأَنْ يَكُونَ غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلاَ شَاقٍّ، وَأَنْ يَتَوَقَّى فِيهِ الْوَجْهَ وَالْمَوَاضِعَ الْمُهْلِكَةَ “Bolehnya memukul anak dipersyaratkan ada sangkaan kuat bahwa akan tercapai maslahat yang diinginkan dan pukulannya bukan pukulan yang melukai atau berat bagi sang anak, dan wajib menghindari memukul wajah dan anggota badan yang rawan.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 45/71) Sebagaimana juga disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إذا ضرَب أحَدُكم فليتَّقِ الوَجْهَ “Jika kalian memukul, maka jauhi wajah.” (HR. Abu Daud no.4493. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Demikian juga tidak boleh memukul kepala, kemaluan, perut, atau anggota badan yang rawan lainnya. Demikian juga tidak boleh memukul sampai merusak fisik, tidak boleh mencolok mata, tidak boleh menggunakan api, mencekik, semua ini adalah cara-cara yang diharamkan dan tidak diperbolehkan sama sekali. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad I/313 no.2867, dan Ibnu Majah no.2431, dihasankan oleh an-Nawawi dalam al-Arba’in no. 32) 5. Tidak boleh memukul anak ketika akal anak kurang sempurna, seperti ketika ia sedang emosi, sedang menangis. Ibnu Najim rahimahullah menjelaskan: يَنْبَغِي أَنْ يُلْحَقُ بِهِ مَا إذَا ضَرَبَتْ الْوَلَدَ الَّذِي لَا يَعْقِلُ عِنْدَ بُكَائِهِ “Dan hendaknya diperhatikan satu syarat lagi, yaitu ketika seorang ibu memukul anaknya, hendaknya tidak ketika sang anak tidak bisa berpikir sempurna, seperti ketika ia sedang menangis.” (Al-Bahrur Raiq, 5/53) Karena memukul anak di saat akalnya kurang sempurna, membuat ia tidak bisa memahami maksud dari pengajaran yang diinginkan, sehingga tidak akan tercapai maslahat yang diharapkan.  Demikian beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam masalah memukul anak yang hendaknya diperhatikan oleh setiap orang tua dan para pendidik.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Huruf Arab Allah, Kapan Waktu Shalat Fajar, Minum Sebelum Idul Adha, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, Ilmu Tenaga Dalam Alhikmah, Zikir Qolbu Visited 690 times, 1 visit(s) today Post Views: 514 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1357098484&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Saya ingin bertanya tentang hadits: مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika usianya 7 tahun. Dan pukullah mereka ketika usianya 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud) Apakah hadits ini menunjukkan bolehnya memukul anak jika tidak mau shalat? Atau bagaimana pemahaman yang benar? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Hadits tersebut adalah hadits yang shahih, diriwayatkan dari kakeknya Amr bin Syu’aib radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud. Dan benar bahwa hadits ini merupakan dalil bolehnya memukul anak yang enggan shalat. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: وَالاِسْتِدْلاَل بِهِ وَاضِحٌ، لأَِنَّهُ يَتَنَاوَل الصَّبِيَّ وَالصَّبِيَّةَ فِي الأَْمْرِ بِالصَّلاَةِ وَالضَّرْبِ عَلَيْهَا “Pendalilan dari hadits ini sangat jelas, tentang wajibnya memerintahkan anak untuk shalat dan bolehnya memukul mereka, karena lafadz hadits ini mencakup anak laki-laki dan anak perempuan.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, 3/11) Namun perihal memukul anak dalam masalah ini terdapat kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan dengan baik, tidak boleh serampangan. Di antaranya: 1. Tujuan memukul adalah untuk mendidik. Dibolehkannya memukul anak oleh syariat adalah sebagai salah satu metode untuk mendidik anak dan amar makruf nahi mungkar. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.” (QS. at-Tahrim: 6) Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi membuat judul bab: باب وجوب أمره أهله وأولاده المميزين وسائر من في رعيته بطاعة الله تعالى ونهيهم عن المخالفة وتأديبهم ومنعهم من ارتكاب مَنْهِيٍّ عَنْهُ “Bab wajib (bagi seorang suami) untuk memerintahkan istri dan anak-anaknya yang sudah mumayyiz serta semua orang yang ada dalam tanggung jawabnya untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah ta’ala dan melarang mereka dari semua penyimpangan serta wajib mengatur mereka serta mencegah mereka terhadap hal-hal yang dilarang agama.” Maka tidak boleh memukul anak dalam rangka untuk menumpahkan emosi semata. Ini adalah bentuk kezaliman kepada anak yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah orang yang bertanggung jawab. Setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah orang yang bertanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang lelaki bertanggung jawab terhadap keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari no. 893, Muslim no.1829) 2. Hendaknya pukulan merupakan langkah terakhir, utamakan cara yang lemah lembut. Al-Izz bin Abdissalam rahimahullah menjelaskan: وَمَهْمَا حَصَل التَّأْدِيبُ بِالأَْخَفِّ مِنَ الأَْفْعَال وَالأَْقْوَال، لَمْ يُعْدَل إِلَى الأَْغْلَظِ، إِذْ هُوَ مَفْسَدَةٌ لاَ فَائِدَةَ فِيهِ، لِحُصُول الْغَرَضِ بِمَا دُوْنَهُ “Ketika pengajaran kepada anak sudah tercapai dengan cara-cara yang ringan baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka tidak boleh beralih kepada cara yang keras. Karena itu akan memberikan kerusakan yang tidak ada faedahnya. Karena dengan cara-cara yang ringan pun sudah tercapai tujuannya tanpa cara yang keras.” (Qawa’idul Ahkam, 2/75) Maka jika anak enggan shalat, tidak boleh langsung dipukul. Melainkan lebih dahulu diajak dengan lemah lembut, persuasif, dan kata-kata yang baik. Pukulan adalah alternatif yang paling terakhir. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فإنَّ الرِّفْقَ لم يكُنْ في شَيءٍ قَطُّ إلَّا زانَه، ولا نُزِعَ من شَيءٍ قَطُّ إلَّا شانَه “Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya.” (HR. Abu Daud no.4808, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud) 3. Bolehnya memukul adalah jika ada sangkaan kuat akan menghasilkan suatu maslahat. Al-Izz bin Abdissalam juga menjelaskan: إِنَّمَا جَازَ لِكَوْنِهِ وَسِيلَةً إِلَى مَصْلَحَةِ التَّأْدِيبِ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُل التَّأْدِيبُ بِهِ، سَقَطَ الضَّرْبُ … لأَِنَّ الْوَسَائِل تَسْقُطُ بِسُقُوطِ الْمَقَاصِدِ “Sesungguhnya dibolehkannya memukul anak adalah sebagai sarana pengajaran. Jika pengajaran tidak tercapai dengan cara pukulan, maka gugurlah kebolehan untuk memukul … karena sarana itu gugur jika tujuannya gugur.” (Qawa’idul Ahkam, 1/102) Maka jika orang tua mengetahui bahwa si anak tidak akan jera jika dipukul, orang tua tidak boleh memukul, namun harus menggunakan cara lain yang bisa mencapai maksud. Demikian juga tidak boleh memukul anak jika ada sangkaan kuat bahwa si anak akan kabur. Karena dalam keadaan ini maslahat pengajaran tidak akan tercapai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah mengatakan: ثُمَّ مَحَلُّ مَا ذَكَرَ مِنْ وُجُوبِ الضَّرْبِ مَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ هَرَبُهُ وَضَيَاعُهُ ، فَإِنْ تَرَتَّبَ عَلَيْهِ ذَلِكَ تَرَكَهُ “Kemudian terkait apa yang kami jelaskan tentang kewajiban memukul anak (yang enggan shalat) itu selama tidak membuat sang anak lari atau kabur. Jika bisa menyebabkan demikian, maka tidak boleh memukul.” (Tuhfatul Muhtaj, 1/449) 4. Pukulan tidak boleh sampai melukai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas, beliau menjelaskan: أَيْ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَوْ لَمْ يُفِدْ إلَّا بِمُبَرِّحٍ تَرَكَهُ “Maksudnya adalah pukulan yang tidak melukai. Jika tidak mempan kecuali dengan pukulan yang melukai, maka tidak boleh memukul sama sekali.” (Hasyiyatul Jamal, 1/289) Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah disebutkan: كَذَلِكَ يُشْتَرَطُ فِي الضَّرْبِ عِنْدَ مَشْرُوعِيَّةِ اللُّجُوءِ إِلَيْهِ أَنْ يَغْلِبَ عَلَى الظَّنِّ تَحْقِيقُهُ لِلْمَصْلَحَةِ الْمَرْجُوَّةِ مِنْهُ، وَأَنْ يَكُونَ غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلاَ شَاقٍّ، وَأَنْ يَتَوَقَّى فِيهِ الْوَجْهَ وَالْمَوَاضِعَ الْمُهْلِكَةَ “Bolehnya memukul anak dipersyaratkan ada sangkaan kuat bahwa akan tercapai maslahat yang diinginkan dan pukulannya bukan pukulan yang melukai atau berat bagi sang anak, dan wajib menghindari memukul wajah dan anggota badan yang rawan.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 45/71) Sebagaimana juga disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إذا ضرَب أحَدُكم فليتَّقِ الوَجْهَ “Jika kalian memukul, maka jauhi wajah.” (HR. Abu Daud no.4493. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Demikian juga tidak boleh memukul kepala, kemaluan, perut, atau anggota badan yang rawan lainnya. Demikian juga tidak boleh memukul sampai merusak fisik, tidak boleh mencolok mata, tidak boleh menggunakan api, mencekik, semua ini adalah cara-cara yang diharamkan dan tidak diperbolehkan sama sekali. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad I/313 no.2867, dan Ibnu Majah no.2431, dihasankan oleh an-Nawawi dalam al-Arba’in no. 32) 5. Tidak boleh memukul anak ketika akal anak kurang sempurna, seperti ketika ia sedang emosi, sedang menangis. Ibnu Najim rahimahullah menjelaskan: يَنْبَغِي أَنْ يُلْحَقُ بِهِ مَا إذَا ضَرَبَتْ الْوَلَدَ الَّذِي لَا يَعْقِلُ عِنْدَ بُكَائِهِ “Dan hendaknya diperhatikan satu syarat lagi, yaitu ketika seorang ibu memukul anaknya, hendaknya tidak ketika sang anak tidak bisa berpikir sempurna, seperti ketika ia sedang menangis.” (Al-Bahrur Raiq, 5/53) Karena memukul anak di saat akalnya kurang sempurna, membuat ia tidak bisa memahami maksud dari pengajaran yang diinginkan, sehingga tidak akan tercapai maslahat yang diharapkan.  Demikian beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam masalah memukul anak yang hendaknya diperhatikan oleh setiap orang tua dan para pendidik.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Huruf Arab Allah, Kapan Waktu Shalat Fajar, Minum Sebelum Idul Adha, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, Ilmu Tenaga Dalam Alhikmah, Zikir Qolbu Visited 690 times, 1 visit(s) today Post Views: 514 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Keutamaan Berzikir (Mengingat Allah) di Setiap Keadaan

Allah Ta’ala berfirman,اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an). Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan-perbuatan fahisyah (keji) dan munkar. Dan sungguh, dzikrullah (mengingat Allah) itu lebih besar (keutamaannya dibanding ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-’Ankabut: 45)(Di antara faedah ilmu pada ayat di atas antara lain) bahwa merutinkan zikir kepada Allah di setiap keadaan adalah amalan yang paling utama. Ia sempurna dengan sendirinya, dan (ibadah) yang lain tidak akan sempurna tanpanya.At-Tirmidzi rahimahullah telah meriwayatkan dan menshahihkan (hadis),عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ: «لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»“Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku akan sesuatu yang aku (bisa selalu) berpegang dengannya. (Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, ‘(Hendaknya) lisanmu sentiasa basah (rathban) dengan dzikrullah (berdzikir kepada Allah).’”[1] (HR. At-Tirmidzi)Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam “rathban” (رطبا – basah) adalah isyarat (kiasan) kepada banyaknya zikir, yang ini adalah sebab sempurnanya kehidupan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ“… Dan tidak sesuatu yang basah dan tidak yang kering …” (QS. Al-An’am: 59)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,لَعَلَّهُ يُخفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا“Semoga ini dapat meringankan (azab) bagi mereka berdua selama belum mengering.”[2]Karena itu, zikir akan naik dengan sendirinya tanpa butuh untuk dinaikkan. Tidak seperti amal-amal lainnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه“… kepada-Nya-lah naik kalimat-kalimat yang baik (al-kalim ath-thayyib). Dan amal saleh dinaikkan-Nya …” (QS. Fathir: 10)Manusia yang mendapat porsi terbesar dari selawatnya Allah dan para malaikat-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, adalah yang paling banyak zikirnya kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi dan petang hari. Dialah yang berselawat (memberi rahmat) kepadamu dan malaikat-malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 41-43)Baca Juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirAl-Baihaqi rahimahullah dalam kitab Ad-Dala-il dan Al-Hakim telah meriwayatkan dari Sulaim bin ‘Amir bahwa ada seorang lelaki yang datang menemui Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Kemudian dia berkata,إني رأيت في منامي أن الملائكة تصلي عليك كلما دخلت وكلما خرجت وكلما قمت وكلما جلست“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, para malaikat berselawat kepadamu setiap engkau masuk, keluar, berdiri, dan duduk.”قَالَ: وأنتم لو شئتم صلّت عليكم الملائكة ثم قرأ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (الآيات)(Abu Umamah) menimpali, “… dan kamu, jika kamu mau, para malaikat (juga bisa) berselawat kepadamu.” Kemudian beliau membaca, “Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya…” (QS. Al-Ahzab: 41-43)[3]Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam menjelaskan keutamaan Adz-Dzikr,أنه يؤمن العبد من الحسرة يوم القيامة. فإن كل مجلس لا يذكر العبد فيه ربه تعالى كان عليه حسرة وترة يوم القيامة.“Sesungguhnya hal itu mengamankan seorang hamba dari penyesalan (kerugian) di hari kiamat. Karena sesungguhnya setiap majelis yang tidak disebutkan di dalamnya dzikrullah, akan menjadi penyesalan yang terus menerus di hari kiamat.”[4](Riwayat) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,“من عجِز منكم عن الليل أن يكابدَه، وبخل بالمال أن ينفقَه، وجَبُنَ عن العدو أن يجاهده؛ فليكثر ذكر الله”.“Barangsiapa di antara kalian yang lemah (tidak mampu) terhadap malam untuk menghidupkannya (berdiri salat malam dan bertilawah), bakhil terhadap harta untuk menafkahkannya, pengecut terhadap musuh untuk berjihad melawannya, hendaknya ia memperbanyak dzikrullah.” (Hadis ini) diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dan disahihkan oleh Al-Albani, secara marfu’  diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Bazzaar.[5] Terdapat pula keterangan yang semisal, mauquf[6] dari Ibnu Mas’ud dan Abu Darda radhiyallahu ‘anhum.Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ، فَقَالَ: «سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyusuri jalan kota Makkah. Lalu, beliau melewati suatu gunung (bukit) yang dinamakan, ‘Jumdaan’. Kemudian beliau bersabda, ‘Teruslah berjalan! Ini adalah Jumdan. Para Al-Mufarriduun telah mendahului (menang).’ (Para sahabat) bertanya, ‘Apakah Al-Mufarriduun itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Yaitu) laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (berzikir).’”[7]Baca Juga: Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’atTujuan dari segala macam ibadah adalah untuk mengingat Allah.يَعْنِي هُمْ فِي جَمِيعِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ يَذْكُرُونَ اللَّهَ وَيَكُونُ إِسْلَامُهُمْ وَإِيمَانُهُمْ وَقُنُوتُهُمْ وَصِدْقُهُمْ وَصَبْرُهُمْ وَخُشُوعُهُمْ وَصَدَقَتُهُمْ وَصَوْمُهُمْ بِنِيَّةٍ صَادِقَةٍ لِلَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى فِي أَكْثَرِ الْمَوَاضِعِ حَيْثُ ذكر الذكر قرنه بالكثرة هاهنا، وفي قوله بعد هذايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً [الْأَحْزَابِ: 41]وَقَالَ مِنْ قَبْلُ:لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً [الأحزاب:21]لِأَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ الْأَفْعَالِ الْبَدَنِيَّةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ أَوْ عُسْرٌ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ أَكْلُهُ وَشُرْبُهُ وَتَحْصِيلُ مَأْكُولِهِ وَمَشْرُوبِهِ يَمْنَعُهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ دَائِمًا بِالصَّلَاةِ وَلَكِنْ لَا مَانِعَ لَهُ مِنْ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى وَهُوَ آكِلٌ وَيَذْكُرَهُ وَهُوَ شَارِبٌ أَوْ مَاشٍ أَوْ بَائِعٌ أَوْ شَارٍ، وَإِلَى هَذَا أَشَارَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى:الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ [آلِ عِمْرَانَ: 191]“Yakni, mereka pada setiap keadaannya (senantiasa) mengingat Allah. Keislaman, keimanan, qunut, jujur, sabar, khusyuk, sedekah, hingga puasa mereka adalah dengan niat yang jujur karena Allah. Ketahuilah, bahwasanya Allah Ta’ala dalam beberapa ayat ketika menyebutkan “zikir”, (Allah) menggandengkannya dengan memperbanyaknya. Misal pada firman-Nya mengenai ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).Dia berfirman juga sebelumnya, لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir, dan banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Karena memperbanyak dari amalan-amalan badani adalah tidak mungkin atau sulit. Karena sesungguhnya manusia itu makannya, minumnya, dan proses mendapat makanan dan minumannya akan menghalanginya untuk bisa terus-menerus salat. Akan tetapi, tidak ada halangan baginya untuk dapat berzikir kepada Allah Ta’ala padahal ia sedang makan. Ia bisa berzikir kepada-Nya ketika ia minum, berjalan, atau berjual beli. Allah Ta’ala mengisyaratkan hal ini pada firman-Nya,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ“Orang-orang yang berzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)(Selesai kutipan dari At-Tafsir Al-Kabir.)[8]Allah Ta’ala berfirman,إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah aalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)Wallahu a’lam.Fadhilah Asy-Syaikh Abdullah bin Shalih Al-’Obailan hafizhahullah ta’ala wa nafa’anaa bi-’ilmihBaca Juga:Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Thawaf dan Sa’i Itu Untuk Berdzikir, Bukan Perkataan Selainnya***Penerjemah: Muhammad Fadhli, S.T.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat Sunan At-Tirmidzi, tahqiq dan ta’liq Syakir, Bab Keterangan tentang Keutamaan Dzikir, hal. 457, no. 3375, Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (w. 279 H), https://al-maktaba.org/book/33754/5569#p1[2] Konteks hadis ini adalah mengenai ancaman siksa kubur akibat air kencing dan gibah. Lihat hadis no. 5088 di Shahih Al-Jami’ https://al-maktaba.org/book/21659/9219 , Sunan An-Nasa’i 31[3] Lihat Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain karya Al-Hakim hal. 453, https://al-maktaba.org/book/2266/3712 dan Dala’il An-Nubuwwah karya Al-Baihaqi hal. 25, https://al-maktaba.org/book/13115/3896[4] Lihat Al-Waabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Ath-Thayyib karya Ibnul Qayyim hal. 44, https://al-maktaba.org/book/216/40[5] Lihat Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Nashiruddin Al-Albani, hal. 205, https://al-maktaba.org/book/32968/837[6] Mauquf adalah khabar yang disandarkan pada sahabat dan tidak berstatus marfu’. Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/1581-taisir-musthalah-hadits-9-khabar.html[7] Lihat Shahih Muslim Bab Motivasi untuk Berdzikir kepada Allah Ta’ala, hal. 2062, karya Imam Muslim https://al-maktaba.org/book/33760/8050#p1[8] Lihat Tafsir Ar-Razi, At-Tafsir Al-Kabir, hal. 169, Surat Al-Ahzab, Fakhruddin Abu Abdullah Muhammad bin Umar Ar-Razi (w. 606 H) https://al-maktaba.org/book/23635/4575#p3🔍 Birrul Walidain, Sholat Berjamaah Berdua, Sakit Ya Allah, Gen Halilintar Aliran Sesat, Jomblo Menurut IslamTags: amalan dzikirDzikirfikih dzikirkeutamaan dzikirmengingat Allahnasihatnasihat islampanduan dzikirtata cara dzikirtuntunan dzikir

Keutamaan Berzikir (Mengingat Allah) di Setiap Keadaan

Allah Ta’ala berfirman,اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an). Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan-perbuatan fahisyah (keji) dan munkar. Dan sungguh, dzikrullah (mengingat Allah) itu lebih besar (keutamaannya dibanding ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-’Ankabut: 45)(Di antara faedah ilmu pada ayat di atas antara lain) bahwa merutinkan zikir kepada Allah di setiap keadaan adalah amalan yang paling utama. Ia sempurna dengan sendirinya, dan (ibadah) yang lain tidak akan sempurna tanpanya.At-Tirmidzi rahimahullah telah meriwayatkan dan menshahihkan (hadis),عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ: «لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»“Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku akan sesuatu yang aku (bisa selalu) berpegang dengannya. (Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, ‘(Hendaknya) lisanmu sentiasa basah (rathban) dengan dzikrullah (berdzikir kepada Allah).’”[1] (HR. At-Tirmidzi)Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam “rathban” (رطبا – basah) adalah isyarat (kiasan) kepada banyaknya zikir, yang ini adalah sebab sempurnanya kehidupan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ“… Dan tidak sesuatu yang basah dan tidak yang kering …” (QS. Al-An’am: 59)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,لَعَلَّهُ يُخفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا“Semoga ini dapat meringankan (azab) bagi mereka berdua selama belum mengering.”[2]Karena itu, zikir akan naik dengan sendirinya tanpa butuh untuk dinaikkan. Tidak seperti amal-amal lainnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه“… kepada-Nya-lah naik kalimat-kalimat yang baik (al-kalim ath-thayyib). Dan amal saleh dinaikkan-Nya …” (QS. Fathir: 10)Manusia yang mendapat porsi terbesar dari selawatnya Allah dan para malaikat-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, adalah yang paling banyak zikirnya kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi dan petang hari. Dialah yang berselawat (memberi rahmat) kepadamu dan malaikat-malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 41-43)Baca Juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirAl-Baihaqi rahimahullah dalam kitab Ad-Dala-il dan Al-Hakim telah meriwayatkan dari Sulaim bin ‘Amir bahwa ada seorang lelaki yang datang menemui Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Kemudian dia berkata,إني رأيت في منامي أن الملائكة تصلي عليك كلما دخلت وكلما خرجت وكلما قمت وكلما جلست“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, para malaikat berselawat kepadamu setiap engkau masuk, keluar, berdiri, dan duduk.”قَالَ: وأنتم لو شئتم صلّت عليكم الملائكة ثم قرأ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (الآيات)(Abu Umamah) menimpali, “… dan kamu, jika kamu mau, para malaikat (juga bisa) berselawat kepadamu.” Kemudian beliau membaca, “Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya…” (QS. Al-Ahzab: 41-43)[3]Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam menjelaskan keutamaan Adz-Dzikr,أنه يؤمن العبد من الحسرة يوم القيامة. فإن كل مجلس لا يذكر العبد فيه ربه تعالى كان عليه حسرة وترة يوم القيامة.“Sesungguhnya hal itu mengamankan seorang hamba dari penyesalan (kerugian) di hari kiamat. Karena sesungguhnya setiap majelis yang tidak disebutkan di dalamnya dzikrullah, akan menjadi penyesalan yang terus menerus di hari kiamat.”[4](Riwayat) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,“من عجِز منكم عن الليل أن يكابدَه، وبخل بالمال أن ينفقَه، وجَبُنَ عن العدو أن يجاهده؛ فليكثر ذكر الله”.“Barangsiapa di antara kalian yang lemah (tidak mampu) terhadap malam untuk menghidupkannya (berdiri salat malam dan bertilawah), bakhil terhadap harta untuk menafkahkannya, pengecut terhadap musuh untuk berjihad melawannya, hendaknya ia memperbanyak dzikrullah.” (Hadis ini) diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dan disahihkan oleh Al-Albani, secara marfu’  diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Bazzaar.[5] Terdapat pula keterangan yang semisal, mauquf[6] dari Ibnu Mas’ud dan Abu Darda radhiyallahu ‘anhum.Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ، فَقَالَ: «سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyusuri jalan kota Makkah. Lalu, beliau melewati suatu gunung (bukit) yang dinamakan, ‘Jumdaan’. Kemudian beliau bersabda, ‘Teruslah berjalan! Ini adalah Jumdan. Para Al-Mufarriduun telah mendahului (menang).’ (Para sahabat) bertanya, ‘Apakah Al-Mufarriduun itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Yaitu) laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (berzikir).’”[7]Baca Juga: Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’atTujuan dari segala macam ibadah adalah untuk mengingat Allah.يَعْنِي هُمْ فِي جَمِيعِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ يَذْكُرُونَ اللَّهَ وَيَكُونُ إِسْلَامُهُمْ وَإِيمَانُهُمْ وَقُنُوتُهُمْ وَصِدْقُهُمْ وَصَبْرُهُمْ وَخُشُوعُهُمْ وَصَدَقَتُهُمْ وَصَوْمُهُمْ بِنِيَّةٍ صَادِقَةٍ لِلَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى فِي أَكْثَرِ الْمَوَاضِعِ حَيْثُ ذكر الذكر قرنه بالكثرة هاهنا، وفي قوله بعد هذايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً [الْأَحْزَابِ: 41]وَقَالَ مِنْ قَبْلُ:لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً [الأحزاب:21]لِأَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ الْأَفْعَالِ الْبَدَنِيَّةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ أَوْ عُسْرٌ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ أَكْلُهُ وَشُرْبُهُ وَتَحْصِيلُ مَأْكُولِهِ وَمَشْرُوبِهِ يَمْنَعُهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ دَائِمًا بِالصَّلَاةِ وَلَكِنْ لَا مَانِعَ لَهُ مِنْ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى وَهُوَ آكِلٌ وَيَذْكُرَهُ وَهُوَ شَارِبٌ أَوْ مَاشٍ أَوْ بَائِعٌ أَوْ شَارٍ، وَإِلَى هَذَا أَشَارَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى:الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ [آلِ عِمْرَانَ: 191]“Yakni, mereka pada setiap keadaannya (senantiasa) mengingat Allah. Keislaman, keimanan, qunut, jujur, sabar, khusyuk, sedekah, hingga puasa mereka adalah dengan niat yang jujur karena Allah. Ketahuilah, bahwasanya Allah Ta’ala dalam beberapa ayat ketika menyebutkan “zikir”, (Allah) menggandengkannya dengan memperbanyaknya. Misal pada firman-Nya mengenai ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).Dia berfirman juga sebelumnya, لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir, dan banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Karena memperbanyak dari amalan-amalan badani adalah tidak mungkin atau sulit. Karena sesungguhnya manusia itu makannya, minumnya, dan proses mendapat makanan dan minumannya akan menghalanginya untuk bisa terus-menerus salat. Akan tetapi, tidak ada halangan baginya untuk dapat berzikir kepada Allah Ta’ala padahal ia sedang makan. Ia bisa berzikir kepada-Nya ketika ia minum, berjalan, atau berjual beli. Allah Ta’ala mengisyaratkan hal ini pada firman-Nya,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ“Orang-orang yang berzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)(Selesai kutipan dari At-Tafsir Al-Kabir.)[8]Allah Ta’ala berfirman,إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah aalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)Wallahu a’lam.Fadhilah Asy-Syaikh Abdullah bin Shalih Al-’Obailan hafizhahullah ta’ala wa nafa’anaa bi-’ilmihBaca Juga:Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Thawaf dan Sa’i Itu Untuk Berdzikir, Bukan Perkataan Selainnya***Penerjemah: Muhammad Fadhli, S.T.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat Sunan At-Tirmidzi, tahqiq dan ta’liq Syakir, Bab Keterangan tentang Keutamaan Dzikir, hal. 457, no. 3375, Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (w. 279 H), https://al-maktaba.org/book/33754/5569#p1[2] Konteks hadis ini adalah mengenai ancaman siksa kubur akibat air kencing dan gibah. Lihat hadis no. 5088 di Shahih Al-Jami’ https://al-maktaba.org/book/21659/9219 , Sunan An-Nasa’i 31[3] Lihat Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain karya Al-Hakim hal. 453, https://al-maktaba.org/book/2266/3712 dan Dala’il An-Nubuwwah karya Al-Baihaqi hal. 25, https://al-maktaba.org/book/13115/3896[4] Lihat Al-Waabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Ath-Thayyib karya Ibnul Qayyim hal. 44, https://al-maktaba.org/book/216/40[5] Lihat Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Nashiruddin Al-Albani, hal. 205, https://al-maktaba.org/book/32968/837[6] Mauquf adalah khabar yang disandarkan pada sahabat dan tidak berstatus marfu’. Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/1581-taisir-musthalah-hadits-9-khabar.html[7] Lihat Shahih Muslim Bab Motivasi untuk Berdzikir kepada Allah Ta’ala, hal. 2062, karya Imam Muslim https://al-maktaba.org/book/33760/8050#p1[8] Lihat Tafsir Ar-Razi, At-Tafsir Al-Kabir, hal. 169, Surat Al-Ahzab, Fakhruddin Abu Abdullah Muhammad bin Umar Ar-Razi (w. 606 H) https://al-maktaba.org/book/23635/4575#p3🔍 Birrul Walidain, Sholat Berjamaah Berdua, Sakit Ya Allah, Gen Halilintar Aliran Sesat, Jomblo Menurut IslamTags: amalan dzikirDzikirfikih dzikirkeutamaan dzikirmengingat Allahnasihatnasihat islampanduan dzikirtata cara dzikirtuntunan dzikir
Allah Ta’ala berfirman,اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an). Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan-perbuatan fahisyah (keji) dan munkar. Dan sungguh, dzikrullah (mengingat Allah) itu lebih besar (keutamaannya dibanding ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-’Ankabut: 45)(Di antara faedah ilmu pada ayat di atas antara lain) bahwa merutinkan zikir kepada Allah di setiap keadaan adalah amalan yang paling utama. Ia sempurna dengan sendirinya, dan (ibadah) yang lain tidak akan sempurna tanpanya.At-Tirmidzi rahimahullah telah meriwayatkan dan menshahihkan (hadis),عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ: «لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»“Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku akan sesuatu yang aku (bisa selalu) berpegang dengannya. (Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, ‘(Hendaknya) lisanmu sentiasa basah (rathban) dengan dzikrullah (berdzikir kepada Allah).’”[1] (HR. At-Tirmidzi)Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam “rathban” (رطبا – basah) adalah isyarat (kiasan) kepada banyaknya zikir, yang ini adalah sebab sempurnanya kehidupan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ“… Dan tidak sesuatu yang basah dan tidak yang kering …” (QS. Al-An’am: 59)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,لَعَلَّهُ يُخفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا“Semoga ini dapat meringankan (azab) bagi mereka berdua selama belum mengering.”[2]Karena itu, zikir akan naik dengan sendirinya tanpa butuh untuk dinaikkan. Tidak seperti amal-amal lainnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه“… kepada-Nya-lah naik kalimat-kalimat yang baik (al-kalim ath-thayyib). Dan amal saleh dinaikkan-Nya …” (QS. Fathir: 10)Manusia yang mendapat porsi terbesar dari selawatnya Allah dan para malaikat-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, adalah yang paling banyak zikirnya kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi dan petang hari. Dialah yang berselawat (memberi rahmat) kepadamu dan malaikat-malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 41-43)Baca Juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirAl-Baihaqi rahimahullah dalam kitab Ad-Dala-il dan Al-Hakim telah meriwayatkan dari Sulaim bin ‘Amir bahwa ada seorang lelaki yang datang menemui Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Kemudian dia berkata,إني رأيت في منامي أن الملائكة تصلي عليك كلما دخلت وكلما خرجت وكلما قمت وكلما جلست“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, para malaikat berselawat kepadamu setiap engkau masuk, keluar, berdiri, dan duduk.”قَالَ: وأنتم لو شئتم صلّت عليكم الملائكة ثم قرأ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (الآيات)(Abu Umamah) menimpali, “… dan kamu, jika kamu mau, para malaikat (juga bisa) berselawat kepadamu.” Kemudian beliau membaca, “Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya…” (QS. Al-Ahzab: 41-43)[3]Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam menjelaskan keutamaan Adz-Dzikr,أنه يؤمن العبد من الحسرة يوم القيامة. فإن كل مجلس لا يذكر العبد فيه ربه تعالى كان عليه حسرة وترة يوم القيامة.“Sesungguhnya hal itu mengamankan seorang hamba dari penyesalan (kerugian) di hari kiamat. Karena sesungguhnya setiap majelis yang tidak disebutkan di dalamnya dzikrullah, akan menjadi penyesalan yang terus menerus di hari kiamat.”[4](Riwayat) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,“من عجِز منكم عن الليل أن يكابدَه، وبخل بالمال أن ينفقَه، وجَبُنَ عن العدو أن يجاهده؛ فليكثر ذكر الله”.“Barangsiapa di antara kalian yang lemah (tidak mampu) terhadap malam untuk menghidupkannya (berdiri salat malam dan bertilawah), bakhil terhadap harta untuk menafkahkannya, pengecut terhadap musuh untuk berjihad melawannya, hendaknya ia memperbanyak dzikrullah.” (Hadis ini) diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dan disahihkan oleh Al-Albani, secara marfu’  diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Bazzaar.[5] Terdapat pula keterangan yang semisal, mauquf[6] dari Ibnu Mas’ud dan Abu Darda radhiyallahu ‘anhum.Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ، فَقَالَ: «سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyusuri jalan kota Makkah. Lalu, beliau melewati suatu gunung (bukit) yang dinamakan, ‘Jumdaan’. Kemudian beliau bersabda, ‘Teruslah berjalan! Ini adalah Jumdan. Para Al-Mufarriduun telah mendahului (menang).’ (Para sahabat) bertanya, ‘Apakah Al-Mufarriduun itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Yaitu) laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (berzikir).’”[7]Baca Juga: Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’atTujuan dari segala macam ibadah adalah untuk mengingat Allah.يَعْنِي هُمْ فِي جَمِيعِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ يَذْكُرُونَ اللَّهَ وَيَكُونُ إِسْلَامُهُمْ وَإِيمَانُهُمْ وَقُنُوتُهُمْ وَصِدْقُهُمْ وَصَبْرُهُمْ وَخُشُوعُهُمْ وَصَدَقَتُهُمْ وَصَوْمُهُمْ بِنِيَّةٍ صَادِقَةٍ لِلَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى فِي أَكْثَرِ الْمَوَاضِعِ حَيْثُ ذكر الذكر قرنه بالكثرة هاهنا، وفي قوله بعد هذايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً [الْأَحْزَابِ: 41]وَقَالَ مِنْ قَبْلُ:لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً [الأحزاب:21]لِأَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ الْأَفْعَالِ الْبَدَنِيَّةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ أَوْ عُسْرٌ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ أَكْلُهُ وَشُرْبُهُ وَتَحْصِيلُ مَأْكُولِهِ وَمَشْرُوبِهِ يَمْنَعُهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ دَائِمًا بِالصَّلَاةِ وَلَكِنْ لَا مَانِعَ لَهُ مِنْ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى وَهُوَ آكِلٌ وَيَذْكُرَهُ وَهُوَ شَارِبٌ أَوْ مَاشٍ أَوْ بَائِعٌ أَوْ شَارٍ، وَإِلَى هَذَا أَشَارَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى:الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ [آلِ عِمْرَانَ: 191]“Yakni, mereka pada setiap keadaannya (senantiasa) mengingat Allah. Keislaman, keimanan, qunut, jujur, sabar, khusyuk, sedekah, hingga puasa mereka adalah dengan niat yang jujur karena Allah. Ketahuilah, bahwasanya Allah Ta’ala dalam beberapa ayat ketika menyebutkan “zikir”, (Allah) menggandengkannya dengan memperbanyaknya. Misal pada firman-Nya mengenai ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).Dia berfirman juga sebelumnya, لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir, dan banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Karena memperbanyak dari amalan-amalan badani adalah tidak mungkin atau sulit. Karena sesungguhnya manusia itu makannya, minumnya, dan proses mendapat makanan dan minumannya akan menghalanginya untuk bisa terus-menerus salat. Akan tetapi, tidak ada halangan baginya untuk dapat berzikir kepada Allah Ta’ala padahal ia sedang makan. Ia bisa berzikir kepada-Nya ketika ia minum, berjalan, atau berjual beli. Allah Ta’ala mengisyaratkan hal ini pada firman-Nya,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ“Orang-orang yang berzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)(Selesai kutipan dari At-Tafsir Al-Kabir.)[8]Allah Ta’ala berfirman,إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah aalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)Wallahu a’lam.Fadhilah Asy-Syaikh Abdullah bin Shalih Al-’Obailan hafizhahullah ta’ala wa nafa’anaa bi-’ilmihBaca Juga:Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Thawaf dan Sa’i Itu Untuk Berdzikir, Bukan Perkataan Selainnya***Penerjemah: Muhammad Fadhli, S.T.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat Sunan At-Tirmidzi, tahqiq dan ta’liq Syakir, Bab Keterangan tentang Keutamaan Dzikir, hal. 457, no. 3375, Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (w. 279 H), https://al-maktaba.org/book/33754/5569#p1[2] Konteks hadis ini adalah mengenai ancaman siksa kubur akibat air kencing dan gibah. Lihat hadis no. 5088 di Shahih Al-Jami’ https://al-maktaba.org/book/21659/9219 , Sunan An-Nasa’i 31[3] Lihat Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain karya Al-Hakim hal. 453, https://al-maktaba.org/book/2266/3712 dan Dala’il An-Nubuwwah karya Al-Baihaqi hal. 25, https://al-maktaba.org/book/13115/3896[4] Lihat Al-Waabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Ath-Thayyib karya Ibnul Qayyim hal. 44, https://al-maktaba.org/book/216/40[5] Lihat Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Nashiruddin Al-Albani, hal. 205, https://al-maktaba.org/book/32968/837[6] Mauquf adalah khabar yang disandarkan pada sahabat dan tidak berstatus marfu’. Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/1581-taisir-musthalah-hadits-9-khabar.html[7] Lihat Shahih Muslim Bab Motivasi untuk Berdzikir kepada Allah Ta’ala, hal. 2062, karya Imam Muslim https://al-maktaba.org/book/33760/8050#p1[8] Lihat Tafsir Ar-Razi, At-Tafsir Al-Kabir, hal. 169, Surat Al-Ahzab, Fakhruddin Abu Abdullah Muhammad bin Umar Ar-Razi (w. 606 H) https://al-maktaba.org/book/23635/4575#p3🔍 Birrul Walidain, Sholat Berjamaah Berdua, Sakit Ya Allah, Gen Halilintar Aliran Sesat, Jomblo Menurut IslamTags: amalan dzikirDzikirfikih dzikirkeutamaan dzikirmengingat Allahnasihatnasihat islampanduan dzikirtata cara dzikirtuntunan dzikir


Allah Ta’ala berfirman,اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an). Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan-perbuatan fahisyah (keji) dan munkar. Dan sungguh, dzikrullah (mengingat Allah) itu lebih besar (keutamaannya dibanding ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-’Ankabut: 45)(Di antara faedah ilmu pada ayat di atas antara lain) bahwa merutinkan zikir kepada Allah di setiap keadaan adalah amalan yang paling utama. Ia sempurna dengan sendirinya, dan (ibadah) yang lain tidak akan sempurna tanpanya.At-Tirmidzi rahimahullah telah meriwayatkan dan menshahihkan (hadis),عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ: «لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»“Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku akan sesuatu yang aku (bisa selalu) berpegang dengannya. (Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, ‘(Hendaknya) lisanmu sentiasa basah (rathban) dengan dzikrullah (berdzikir kepada Allah).’”[1] (HR. At-Tirmidzi)Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam “rathban” (رطبا – basah) adalah isyarat (kiasan) kepada banyaknya zikir, yang ini adalah sebab sempurnanya kehidupan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ“… Dan tidak sesuatu yang basah dan tidak yang kering …” (QS. Al-An’am: 59)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,لَعَلَّهُ يُخفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا“Semoga ini dapat meringankan (azab) bagi mereka berdua selama belum mengering.”[2]Karena itu, zikir akan naik dengan sendirinya tanpa butuh untuk dinaikkan. Tidak seperti amal-amal lainnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه“… kepada-Nya-lah naik kalimat-kalimat yang baik (al-kalim ath-thayyib). Dan amal saleh dinaikkan-Nya …” (QS. Fathir: 10)Manusia yang mendapat porsi terbesar dari selawatnya Allah dan para malaikat-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, adalah yang paling banyak zikirnya kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi dan petang hari. Dialah yang berselawat (memberi rahmat) kepadamu dan malaikat-malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 41-43)Baca Juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirAl-Baihaqi rahimahullah dalam kitab Ad-Dala-il dan Al-Hakim telah meriwayatkan dari Sulaim bin ‘Amir bahwa ada seorang lelaki yang datang menemui Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Kemudian dia berkata,إني رأيت في منامي أن الملائكة تصلي عليك كلما دخلت وكلما خرجت وكلما قمت وكلما جلست“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, para malaikat berselawat kepadamu setiap engkau masuk, keluar, berdiri, dan duduk.”قَالَ: وأنتم لو شئتم صلّت عليكم الملائكة ثم قرأ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (الآيات)(Abu Umamah) menimpali, “… dan kamu, jika kamu mau, para malaikat (juga bisa) berselawat kepadamu.” Kemudian beliau membaca, “Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya…” (QS. Al-Ahzab: 41-43)[3]Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam menjelaskan keutamaan Adz-Dzikr,أنه يؤمن العبد من الحسرة يوم القيامة. فإن كل مجلس لا يذكر العبد فيه ربه تعالى كان عليه حسرة وترة يوم القيامة.“Sesungguhnya hal itu mengamankan seorang hamba dari penyesalan (kerugian) di hari kiamat. Karena sesungguhnya setiap majelis yang tidak disebutkan di dalamnya dzikrullah, akan menjadi penyesalan yang terus menerus di hari kiamat.”[4](Riwayat) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,“من عجِز منكم عن الليل أن يكابدَه، وبخل بالمال أن ينفقَه، وجَبُنَ عن العدو أن يجاهده؛ فليكثر ذكر الله”.“Barangsiapa di antara kalian yang lemah (tidak mampu) terhadap malam untuk menghidupkannya (berdiri salat malam dan bertilawah), bakhil terhadap harta untuk menafkahkannya, pengecut terhadap musuh untuk berjihad melawannya, hendaknya ia memperbanyak dzikrullah.” (Hadis ini) diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dan disahihkan oleh Al-Albani, secara marfu’  diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Bazzaar.[5] Terdapat pula keterangan yang semisal, mauquf[6] dari Ibnu Mas’ud dan Abu Darda radhiyallahu ‘anhum.Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ، فَقَالَ: «سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyusuri jalan kota Makkah. Lalu, beliau melewati suatu gunung (bukit) yang dinamakan, ‘Jumdaan’. Kemudian beliau bersabda, ‘Teruslah berjalan! Ini adalah Jumdan. Para Al-Mufarriduun telah mendahului (menang).’ (Para sahabat) bertanya, ‘Apakah Al-Mufarriduun itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Yaitu) laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (berzikir).’”[7]Baca Juga: Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’atTujuan dari segala macam ibadah adalah untuk mengingat Allah.يَعْنِي هُمْ فِي جَمِيعِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ يَذْكُرُونَ اللَّهَ وَيَكُونُ إِسْلَامُهُمْ وَإِيمَانُهُمْ وَقُنُوتُهُمْ وَصِدْقُهُمْ وَصَبْرُهُمْ وَخُشُوعُهُمْ وَصَدَقَتُهُمْ وَصَوْمُهُمْ بِنِيَّةٍ صَادِقَةٍ لِلَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى فِي أَكْثَرِ الْمَوَاضِعِ حَيْثُ ذكر الذكر قرنه بالكثرة هاهنا، وفي قوله بعد هذايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً [الْأَحْزَابِ: 41]وَقَالَ مِنْ قَبْلُ:لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً [الأحزاب:21]لِأَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ الْأَفْعَالِ الْبَدَنِيَّةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ أَوْ عُسْرٌ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ أَكْلُهُ وَشُرْبُهُ وَتَحْصِيلُ مَأْكُولِهِ وَمَشْرُوبِهِ يَمْنَعُهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ دَائِمًا بِالصَّلَاةِ وَلَكِنْ لَا مَانِعَ لَهُ مِنْ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى وَهُوَ آكِلٌ وَيَذْكُرَهُ وَهُوَ شَارِبٌ أَوْ مَاشٍ أَوْ بَائِعٌ أَوْ شَارٍ، وَإِلَى هَذَا أَشَارَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى:الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ [آلِ عِمْرَانَ: 191]“Yakni, mereka pada setiap keadaannya (senantiasa) mengingat Allah. Keislaman, keimanan, qunut, jujur, sabar, khusyuk, sedekah, hingga puasa mereka adalah dengan niat yang jujur karena Allah. Ketahuilah, bahwasanya Allah Ta’ala dalam beberapa ayat ketika menyebutkan “zikir”, (Allah) menggandengkannya dengan memperbanyaknya. Misal pada firman-Nya mengenai ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).Dia berfirman juga sebelumnya, لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir, dan banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Karena memperbanyak dari amalan-amalan badani adalah tidak mungkin atau sulit. Karena sesungguhnya manusia itu makannya, minumnya, dan proses mendapat makanan dan minumannya akan menghalanginya untuk bisa terus-menerus salat. Akan tetapi, tidak ada halangan baginya untuk dapat berzikir kepada Allah Ta’ala padahal ia sedang makan. Ia bisa berzikir kepada-Nya ketika ia minum, berjalan, atau berjual beli. Allah Ta’ala mengisyaratkan hal ini pada firman-Nya,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ“Orang-orang yang berzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)(Selesai kutipan dari At-Tafsir Al-Kabir.)[8]Allah Ta’ala berfirman,إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah aalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)Wallahu a’lam.Fadhilah Asy-Syaikh Abdullah bin Shalih Al-’Obailan hafizhahullah ta’ala wa nafa’anaa bi-’ilmihBaca Juga:Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Thawaf dan Sa’i Itu Untuk Berdzikir, Bukan Perkataan Selainnya***Penerjemah: Muhammad Fadhli, S.T.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat Sunan At-Tirmidzi, tahqiq dan ta’liq Syakir, Bab Keterangan tentang Keutamaan Dzikir, hal. 457, no. 3375, Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (w. 279 H), https://al-maktaba.org/book/33754/5569#p1[2] Konteks hadis ini adalah mengenai ancaman siksa kubur akibat air kencing dan gibah. Lihat hadis no. 5088 di Shahih Al-Jami’ https://al-maktaba.org/book/21659/9219 , Sunan An-Nasa’i 31[3] Lihat Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain karya Al-Hakim hal. 453, https://al-maktaba.org/book/2266/3712 dan Dala’il An-Nubuwwah karya Al-Baihaqi hal. 25, https://al-maktaba.org/book/13115/3896[4] Lihat Al-Waabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Ath-Thayyib karya Ibnul Qayyim hal. 44, https://al-maktaba.org/book/216/40[5] Lihat Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Nashiruddin Al-Albani, hal. 205, https://al-maktaba.org/book/32968/837[6] Mauquf adalah khabar yang disandarkan pada sahabat dan tidak berstatus marfu’. Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/1581-taisir-musthalah-hadits-9-khabar.html[7] Lihat Shahih Muslim Bab Motivasi untuk Berdzikir kepada Allah Ta’ala, hal. 2062, karya Imam Muslim https://al-maktaba.org/book/33760/8050#p1[8] Lihat Tafsir Ar-Razi, At-Tafsir Al-Kabir, hal. 169, Surat Al-Ahzab, Fakhruddin Abu Abdullah Muhammad bin Umar Ar-Razi (w. 606 H) https://al-maktaba.org/book/23635/4575#p3🔍 Birrul Walidain, Sholat Berjamaah Berdua, Sakit Ya Allah, Gen Halilintar Aliran Sesat, Jomblo Menurut IslamTags: amalan dzikirDzikirfikih dzikirkeutamaan dzikirmengingat Allahnasihatnasihat islampanduan dzikirtata cara dzikirtuntunan dzikir

Kisah Taubatnya Imam Fudhail bin Iyadh – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

al-Fudhail bin Iyadh, seorang imam dari generasi tabi’in.Dahulu beliau menjalani 40 tahun hidupnya sebagai salah seorang penjahat besar. Termasuk penjahat besar, karena beliau dahulu adalah seorang begal,dan dahulu semua kafilah perjalanan takut padanya.Hingga beliau menginjak usia 40 tahun. Pada suatu malam,ia mendatangi sebuah rumah—sebagaimana yang disebutkan dalam biografi beliau di kitab Siyar A’lam an-Nubala dan lainnya.Ia mendatangi sebuah rumah. Ia memanjat pagar rumah itu, seperti biasa untuk menjalankan aksi kejahatannya.Saat ia sedang memanjat pagar rumah,ternyata pemilik rumah ketika itu sedang membaca al-Quran, surat al-Hadid,dan sampai pada firman Allah, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang berimanuntuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab pada mereka, kemudian berlalu masa yang panjang, hingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)al-Fudhail mendengar ayat ini, sehingga ayat ini meresap ke dalam hatinya.Meresap ke dalam hatinya,dan benar-benar tersentuh olehnya saat itu juga, dan ia segera menjawab ayat itu, “Sudah datang waktunya!”Ia menjawab pertanyaan, “Belumkah datang waktunya?” dengan jawaban, “Sudah!”Yakni telah datang waktu tunduknya hati untuk mengingat Allah. Lalu ia turun dari pagar, dan berjanji pada dirinya untuk berhijrah ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga meninggal dunia. Dan beliau pun pergi ke kota Makkah. Satu ayat dapat mengubah jalan hidupnya,dari kejahatan menjadi salah satu ahli ibadah,dan salah satu orang saleh. Saat itu juga beliau berkemas-kemas dan pergi ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkannya. Dan di kota Makkah beliau mendatangi para ulama dan ahli hadits,beliau menimba ilmu, mempelajari fiqih, dan menghafal hadits-hadits dari mereka.Dan tidaklah kamu saat ini membuka salah satu kitab tafsir, fiqih, hadits, atau kitab lainnya, kecuali kamu pasti mendapati banyak riwayat dari Imam ini, “Imam al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, …”Satu ayat saja dapat mengubah hidupnya! Oleh sebab itu, hendaklah seseorang menghayati,dalam urusan penyakitnya, sakitnya, dan masalahnya,dan mulai mengobati dirinya dengan al-Quran. Mengobati dirinya dengan al-Quran, sebagai contoh, jika ada orang yang mendapat ujian.Sebagian orang mengeluh dari—semisal—matanya yang suka jelalatan,dan jiwanya selalu ingin memandang wanita,dan terkadang ia pergi ke tempat-tempat yang banyak wanita di sana untuk melihat mereka. Dia diuji dengan ujian seperti ini,dan terjadi banyak gejolak jiwa, yang dirinya terus berusaha melawan agar dapat terbebas darinya.Maka, sembuhkanlah dirimu dengan ayat al-Quran! “Katakanlah kepada para lelaki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka…Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”“… yang demikian itu lebih suci bagi mereka, Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30) Hendaklah ia mengulang-ulang ayat ini, dan menghayatinya, serta berusaha agar sampai ke dalam hatinya.Dan jika ayat itu sampai ke dalam hatinya, maka ia akan mendapat kesembuhan. Seluruh masalah (hati) timbul akibat tidak sampainya al-Quran ke dalam hati.Namun jika al-Quran telah sampai ke dalam hati, maka kesembuhannya dapat diraih. Maka hendaklah ia mulai berusaha melatih dirinya, hingga al-Quran dapat sampai ke dalam hatinya. ==== الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ مِنْ أَئِمَّةِ التَّابِعِينَ أَمْضَى أَرْبَعِينَ سَنَةً مِنْ حَيَاتِهِ وَهُوَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ كَانَ قَاطِعَ طَرِيقٍ وَكَانَتِ الْقَافِلَةُ بِكَامِلِهَا تَخَافُهُ إِلَى أَنْ بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ وَلَيْلَةٌ مِنَ اللَّيَالِي أَتَى إِلَى بَيْتٍ كَمَا ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَغَيْرِهِ أَتَى إِلَى بَيْتٍ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ عَلَى عَادَتِهِ فِي إِجْرَامِهِ وَعُدْوَانِهِ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ وَهُو يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ إِذَا بِصَاحِبِ الْبَيْتِ كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فِي سُورَةِ الْحَدِيدِ وَصَلَ إِلَى قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُ كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ سَمِعَ الْفُضَيْلُ هَذِهِ الْآيَةَ وَدَخَلَتْ قَلْبَهُ دَخَلَتْ قَلْبَهُ وَتَأَثَّرَ مِنْ لَحْظَتِهِ تَأَثُّرًا عَظِيمًا وَقَالَ فِي سَاعَتِهِ بَلَى أَجَاب أَلَمْ يَأْنِ؟ قَالَ بَلَى يَعْنِي جَاءَ الْوَقْتُ الَّذِي تَخْشَعُ فِيهِ الْقُلُوبُ لِذِكْرِ اللهِ وَنَزَلَ وَعَاهَدَ نَفْسَهُ أَنْ يُهَاجِرَ إِلَى مَكَّةَ وَأَنْ يَبْقَى فِيهَا عَابِدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَى أَنْ يَمُوتَ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ آيَةٌ وَاحِدَةٌ حَوَّلَتْ مَسَارَهُ مِنْ إِجْرَامٍ إِلَى عَابِدٍ مِنَ الْعُبَّادِ وَصَالِحٍ مِنَ الصَّالِحِينَ وَمِنْ سَاعَتِهِ بَدَأَ يُرَتِّبُ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ وَبَقِيَ فِيهَا عَابِدًا إِلَى أَنْ تَوَفَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي مَكَّةَ يَأْتِي الْعُلَمَاءَ وَالْمُحَدِّثِينَ وَيَتَلَقَّى عَنْهُمُ الْعِلْمَ وَيَأْخُذُ عَنْهُمُ الْفِقْهَ وَيَحْفَظُ مِنْهُمُ الْأَحَادِيثَ وَلَا تَفْتَحُ الْآنَ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ التَّفْسِيرِ أَوْ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ أَوِ الْحَدِيثِ أَوْ غَيْرِهَا إِلَّا وَتَجِدُ النُّقُولَ الْعَظِيمَةَ عَنْ هَذَا الْإِمَامِ قَالَ الْإِمَامُ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ آيَةٌ وَاحِدَةٌ غَيَّرَتْ حَيَاتَهُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي أَمْرَاضِهِ فِي أَسْقَامِهِ فِي مَشَاكِلِهِ وَيَبْدَأُ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ مَثَلًا إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُبْتَلًى بَعْضُ النَّاسِ يَشْتَكِي مِنْ أَنَّهُ مَثَلًا نَظَرُهُ يَزِيْغُ وَلَهُ نَفْسٌ تَتَطَلَّعُ لِلنَّظَرِ لِلنِّسَاءِ وَرُبَّمَا يَقْصِدُ أَمَاكِنَ فِيهَا النِّسَاءُ لِلنَّظَرِ هُوَ مُبْتَلَى بِهَذَا وَتَتَحَرَّكُ فِيهِ أُمُورٌ هُوَ فِي صِرَاعٍ مَعَ نَفْسِهِ فِي الْخَلَاصِ مِنْهَا دَاوِ نَفْسَكَ بِالْآيَةِ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ يُكَرِّرُهَا الْإِنْسَانُ وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيُحَاوِلُ أَنْ تَصِلَ إِلَى قَلْبِهِ إِذَا وَصَلَتْ إِلَى قَلْبِهِ حَصَلَ الشِّفَاءُ الْمَشَاكِلُ كُلُّهَا تَأْتِي بِسَبَبِ عَدَمِ وُصُولِ الْقُرْآنِ لِلْقَلْبِ إِذَا وَصَلَ الْقُرْآنُ لِلْقَلْبِ حَصَلَ الشِّفَاءُ فَيَبْدَأُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ حَتَّى يَصِلَ الْقُرْآنُ إِلَى قَلْبِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kisah Taubatnya Imam Fudhail bin Iyadh – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

al-Fudhail bin Iyadh, seorang imam dari generasi tabi’in.Dahulu beliau menjalani 40 tahun hidupnya sebagai salah seorang penjahat besar. Termasuk penjahat besar, karena beliau dahulu adalah seorang begal,dan dahulu semua kafilah perjalanan takut padanya.Hingga beliau menginjak usia 40 tahun. Pada suatu malam,ia mendatangi sebuah rumah—sebagaimana yang disebutkan dalam biografi beliau di kitab Siyar A’lam an-Nubala dan lainnya.Ia mendatangi sebuah rumah. Ia memanjat pagar rumah itu, seperti biasa untuk menjalankan aksi kejahatannya.Saat ia sedang memanjat pagar rumah,ternyata pemilik rumah ketika itu sedang membaca al-Quran, surat al-Hadid,dan sampai pada firman Allah, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang berimanuntuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab pada mereka, kemudian berlalu masa yang panjang, hingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)al-Fudhail mendengar ayat ini, sehingga ayat ini meresap ke dalam hatinya.Meresap ke dalam hatinya,dan benar-benar tersentuh olehnya saat itu juga, dan ia segera menjawab ayat itu, “Sudah datang waktunya!”Ia menjawab pertanyaan, “Belumkah datang waktunya?” dengan jawaban, “Sudah!”Yakni telah datang waktu tunduknya hati untuk mengingat Allah. Lalu ia turun dari pagar, dan berjanji pada dirinya untuk berhijrah ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga meninggal dunia. Dan beliau pun pergi ke kota Makkah. Satu ayat dapat mengubah jalan hidupnya,dari kejahatan menjadi salah satu ahli ibadah,dan salah satu orang saleh. Saat itu juga beliau berkemas-kemas dan pergi ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkannya. Dan di kota Makkah beliau mendatangi para ulama dan ahli hadits,beliau menimba ilmu, mempelajari fiqih, dan menghafal hadits-hadits dari mereka.Dan tidaklah kamu saat ini membuka salah satu kitab tafsir, fiqih, hadits, atau kitab lainnya, kecuali kamu pasti mendapati banyak riwayat dari Imam ini, “Imam al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, …”Satu ayat saja dapat mengubah hidupnya! Oleh sebab itu, hendaklah seseorang menghayati,dalam urusan penyakitnya, sakitnya, dan masalahnya,dan mulai mengobati dirinya dengan al-Quran. Mengobati dirinya dengan al-Quran, sebagai contoh, jika ada orang yang mendapat ujian.Sebagian orang mengeluh dari—semisal—matanya yang suka jelalatan,dan jiwanya selalu ingin memandang wanita,dan terkadang ia pergi ke tempat-tempat yang banyak wanita di sana untuk melihat mereka. Dia diuji dengan ujian seperti ini,dan terjadi banyak gejolak jiwa, yang dirinya terus berusaha melawan agar dapat terbebas darinya.Maka, sembuhkanlah dirimu dengan ayat al-Quran! “Katakanlah kepada para lelaki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka…Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”“… yang demikian itu lebih suci bagi mereka, Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30) Hendaklah ia mengulang-ulang ayat ini, dan menghayatinya, serta berusaha agar sampai ke dalam hatinya.Dan jika ayat itu sampai ke dalam hatinya, maka ia akan mendapat kesembuhan. Seluruh masalah (hati) timbul akibat tidak sampainya al-Quran ke dalam hati.Namun jika al-Quran telah sampai ke dalam hati, maka kesembuhannya dapat diraih. Maka hendaklah ia mulai berusaha melatih dirinya, hingga al-Quran dapat sampai ke dalam hatinya. ==== الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ مِنْ أَئِمَّةِ التَّابِعِينَ أَمْضَى أَرْبَعِينَ سَنَةً مِنْ حَيَاتِهِ وَهُوَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ كَانَ قَاطِعَ طَرِيقٍ وَكَانَتِ الْقَافِلَةُ بِكَامِلِهَا تَخَافُهُ إِلَى أَنْ بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ وَلَيْلَةٌ مِنَ اللَّيَالِي أَتَى إِلَى بَيْتٍ كَمَا ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَغَيْرِهِ أَتَى إِلَى بَيْتٍ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ عَلَى عَادَتِهِ فِي إِجْرَامِهِ وَعُدْوَانِهِ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ وَهُو يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ إِذَا بِصَاحِبِ الْبَيْتِ كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فِي سُورَةِ الْحَدِيدِ وَصَلَ إِلَى قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُ كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ سَمِعَ الْفُضَيْلُ هَذِهِ الْآيَةَ وَدَخَلَتْ قَلْبَهُ دَخَلَتْ قَلْبَهُ وَتَأَثَّرَ مِنْ لَحْظَتِهِ تَأَثُّرًا عَظِيمًا وَقَالَ فِي سَاعَتِهِ بَلَى أَجَاب أَلَمْ يَأْنِ؟ قَالَ بَلَى يَعْنِي جَاءَ الْوَقْتُ الَّذِي تَخْشَعُ فِيهِ الْقُلُوبُ لِذِكْرِ اللهِ وَنَزَلَ وَعَاهَدَ نَفْسَهُ أَنْ يُهَاجِرَ إِلَى مَكَّةَ وَأَنْ يَبْقَى فِيهَا عَابِدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَى أَنْ يَمُوتَ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ آيَةٌ وَاحِدَةٌ حَوَّلَتْ مَسَارَهُ مِنْ إِجْرَامٍ إِلَى عَابِدٍ مِنَ الْعُبَّادِ وَصَالِحٍ مِنَ الصَّالِحِينَ وَمِنْ سَاعَتِهِ بَدَأَ يُرَتِّبُ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ وَبَقِيَ فِيهَا عَابِدًا إِلَى أَنْ تَوَفَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي مَكَّةَ يَأْتِي الْعُلَمَاءَ وَالْمُحَدِّثِينَ وَيَتَلَقَّى عَنْهُمُ الْعِلْمَ وَيَأْخُذُ عَنْهُمُ الْفِقْهَ وَيَحْفَظُ مِنْهُمُ الْأَحَادِيثَ وَلَا تَفْتَحُ الْآنَ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ التَّفْسِيرِ أَوْ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ أَوِ الْحَدِيثِ أَوْ غَيْرِهَا إِلَّا وَتَجِدُ النُّقُولَ الْعَظِيمَةَ عَنْ هَذَا الْإِمَامِ قَالَ الْإِمَامُ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ آيَةٌ وَاحِدَةٌ غَيَّرَتْ حَيَاتَهُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي أَمْرَاضِهِ فِي أَسْقَامِهِ فِي مَشَاكِلِهِ وَيَبْدَأُ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ مَثَلًا إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُبْتَلًى بَعْضُ النَّاسِ يَشْتَكِي مِنْ أَنَّهُ مَثَلًا نَظَرُهُ يَزِيْغُ وَلَهُ نَفْسٌ تَتَطَلَّعُ لِلنَّظَرِ لِلنِّسَاءِ وَرُبَّمَا يَقْصِدُ أَمَاكِنَ فِيهَا النِّسَاءُ لِلنَّظَرِ هُوَ مُبْتَلَى بِهَذَا وَتَتَحَرَّكُ فِيهِ أُمُورٌ هُوَ فِي صِرَاعٍ مَعَ نَفْسِهِ فِي الْخَلَاصِ مِنْهَا دَاوِ نَفْسَكَ بِالْآيَةِ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ يُكَرِّرُهَا الْإِنْسَانُ وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيُحَاوِلُ أَنْ تَصِلَ إِلَى قَلْبِهِ إِذَا وَصَلَتْ إِلَى قَلْبِهِ حَصَلَ الشِّفَاءُ الْمَشَاكِلُ كُلُّهَا تَأْتِي بِسَبَبِ عَدَمِ وُصُولِ الْقُرْآنِ لِلْقَلْبِ إِذَا وَصَلَ الْقُرْآنُ لِلْقَلْبِ حَصَلَ الشِّفَاءُ فَيَبْدَأُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ حَتَّى يَصِلَ الْقُرْآنُ إِلَى قَلْبِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
al-Fudhail bin Iyadh, seorang imam dari generasi tabi’in.Dahulu beliau menjalani 40 tahun hidupnya sebagai salah seorang penjahat besar. Termasuk penjahat besar, karena beliau dahulu adalah seorang begal,dan dahulu semua kafilah perjalanan takut padanya.Hingga beliau menginjak usia 40 tahun. Pada suatu malam,ia mendatangi sebuah rumah—sebagaimana yang disebutkan dalam biografi beliau di kitab Siyar A’lam an-Nubala dan lainnya.Ia mendatangi sebuah rumah. Ia memanjat pagar rumah itu, seperti biasa untuk menjalankan aksi kejahatannya.Saat ia sedang memanjat pagar rumah,ternyata pemilik rumah ketika itu sedang membaca al-Quran, surat al-Hadid,dan sampai pada firman Allah, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang berimanuntuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab pada mereka, kemudian berlalu masa yang panjang, hingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)al-Fudhail mendengar ayat ini, sehingga ayat ini meresap ke dalam hatinya.Meresap ke dalam hatinya,dan benar-benar tersentuh olehnya saat itu juga, dan ia segera menjawab ayat itu, “Sudah datang waktunya!”Ia menjawab pertanyaan, “Belumkah datang waktunya?” dengan jawaban, “Sudah!”Yakni telah datang waktu tunduknya hati untuk mengingat Allah. Lalu ia turun dari pagar, dan berjanji pada dirinya untuk berhijrah ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga meninggal dunia. Dan beliau pun pergi ke kota Makkah. Satu ayat dapat mengubah jalan hidupnya,dari kejahatan menjadi salah satu ahli ibadah,dan salah satu orang saleh. Saat itu juga beliau berkemas-kemas dan pergi ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkannya. Dan di kota Makkah beliau mendatangi para ulama dan ahli hadits,beliau menimba ilmu, mempelajari fiqih, dan menghafal hadits-hadits dari mereka.Dan tidaklah kamu saat ini membuka salah satu kitab tafsir, fiqih, hadits, atau kitab lainnya, kecuali kamu pasti mendapati banyak riwayat dari Imam ini, “Imam al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, …”Satu ayat saja dapat mengubah hidupnya! Oleh sebab itu, hendaklah seseorang menghayati,dalam urusan penyakitnya, sakitnya, dan masalahnya,dan mulai mengobati dirinya dengan al-Quran. Mengobati dirinya dengan al-Quran, sebagai contoh, jika ada orang yang mendapat ujian.Sebagian orang mengeluh dari—semisal—matanya yang suka jelalatan,dan jiwanya selalu ingin memandang wanita,dan terkadang ia pergi ke tempat-tempat yang banyak wanita di sana untuk melihat mereka. Dia diuji dengan ujian seperti ini,dan terjadi banyak gejolak jiwa, yang dirinya terus berusaha melawan agar dapat terbebas darinya.Maka, sembuhkanlah dirimu dengan ayat al-Quran! “Katakanlah kepada para lelaki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka…Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”“… yang demikian itu lebih suci bagi mereka, Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30) Hendaklah ia mengulang-ulang ayat ini, dan menghayatinya, serta berusaha agar sampai ke dalam hatinya.Dan jika ayat itu sampai ke dalam hatinya, maka ia akan mendapat kesembuhan. Seluruh masalah (hati) timbul akibat tidak sampainya al-Quran ke dalam hati.Namun jika al-Quran telah sampai ke dalam hati, maka kesembuhannya dapat diraih. Maka hendaklah ia mulai berusaha melatih dirinya, hingga al-Quran dapat sampai ke dalam hatinya. ==== الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ مِنْ أَئِمَّةِ التَّابِعِينَ أَمْضَى أَرْبَعِينَ سَنَةً مِنْ حَيَاتِهِ وَهُوَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ كَانَ قَاطِعَ طَرِيقٍ وَكَانَتِ الْقَافِلَةُ بِكَامِلِهَا تَخَافُهُ إِلَى أَنْ بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ وَلَيْلَةٌ مِنَ اللَّيَالِي أَتَى إِلَى بَيْتٍ كَمَا ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَغَيْرِهِ أَتَى إِلَى بَيْتٍ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ عَلَى عَادَتِهِ فِي إِجْرَامِهِ وَعُدْوَانِهِ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ وَهُو يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ إِذَا بِصَاحِبِ الْبَيْتِ كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فِي سُورَةِ الْحَدِيدِ وَصَلَ إِلَى قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُ كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ سَمِعَ الْفُضَيْلُ هَذِهِ الْآيَةَ وَدَخَلَتْ قَلْبَهُ دَخَلَتْ قَلْبَهُ وَتَأَثَّرَ مِنْ لَحْظَتِهِ تَأَثُّرًا عَظِيمًا وَقَالَ فِي سَاعَتِهِ بَلَى أَجَاب أَلَمْ يَأْنِ؟ قَالَ بَلَى يَعْنِي جَاءَ الْوَقْتُ الَّذِي تَخْشَعُ فِيهِ الْقُلُوبُ لِذِكْرِ اللهِ وَنَزَلَ وَعَاهَدَ نَفْسَهُ أَنْ يُهَاجِرَ إِلَى مَكَّةَ وَأَنْ يَبْقَى فِيهَا عَابِدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَى أَنْ يَمُوتَ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ آيَةٌ وَاحِدَةٌ حَوَّلَتْ مَسَارَهُ مِنْ إِجْرَامٍ إِلَى عَابِدٍ مِنَ الْعُبَّادِ وَصَالِحٍ مِنَ الصَّالِحِينَ وَمِنْ سَاعَتِهِ بَدَأَ يُرَتِّبُ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ وَبَقِيَ فِيهَا عَابِدًا إِلَى أَنْ تَوَفَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي مَكَّةَ يَأْتِي الْعُلَمَاءَ وَالْمُحَدِّثِينَ وَيَتَلَقَّى عَنْهُمُ الْعِلْمَ وَيَأْخُذُ عَنْهُمُ الْفِقْهَ وَيَحْفَظُ مِنْهُمُ الْأَحَادِيثَ وَلَا تَفْتَحُ الْآنَ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ التَّفْسِيرِ أَوْ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ أَوِ الْحَدِيثِ أَوْ غَيْرِهَا إِلَّا وَتَجِدُ النُّقُولَ الْعَظِيمَةَ عَنْ هَذَا الْإِمَامِ قَالَ الْإِمَامُ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ آيَةٌ وَاحِدَةٌ غَيَّرَتْ حَيَاتَهُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي أَمْرَاضِهِ فِي أَسْقَامِهِ فِي مَشَاكِلِهِ وَيَبْدَأُ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ مَثَلًا إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُبْتَلًى بَعْضُ النَّاسِ يَشْتَكِي مِنْ أَنَّهُ مَثَلًا نَظَرُهُ يَزِيْغُ وَلَهُ نَفْسٌ تَتَطَلَّعُ لِلنَّظَرِ لِلنِّسَاءِ وَرُبَّمَا يَقْصِدُ أَمَاكِنَ فِيهَا النِّسَاءُ لِلنَّظَرِ هُوَ مُبْتَلَى بِهَذَا وَتَتَحَرَّكُ فِيهِ أُمُورٌ هُوَ فِي صِرَاعٍ مَعَ نَفْسِهِ فِي الْخَلَاصِ مِنْهَا دَاوِ نَفْسَكَ بِالْآيَةِ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ يُكَرِّرُهَا الْإِنْسَانُ وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيُحَاوِلُ أَنْ تَصِلَ إِلَى قَلْبِهِ إِذَا وَصَلَتْ إِلَى قَلْبِهِ حَصَلَ الشِّفَاءُ الْمَشَاكِلُ كُلُّهَا تَأْتِي بِسَبَبِ عَدَمِ وُصُولِ الْقُرْآنِ لِلْقَلْبِ إِذَا وَصَلَ الْقُرْآنُ لِلْقَلْبِ حَصَلَ الشِّفَاءُ فَيَبْدَأُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ حَتَّى يَصِلَ الْقُرْآنُ إِلَى قَلْبِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


al-Fudhail bin Iyadh, seorang imam dari generasi tabi’in.Dahulu beliau menjalani 40 tahun hidupnya sebagai salah seorang penjahat besar. Termasuk penjahat besar, karena beliau dahulu adalah seorang begal,dan dahulu semua kafilah perjalanan takut padanya.Hingga beliau menginjak usia 40 tahun. Pada suatu malam,ia mendatangi sebuah rumah—sebagaimana yang disebutkan dalam biografi beliau di kitab Siyar A’lam an-Nubala dan lainnya.Ia mendatangi sebuah rumah. Ia memanjat pagar rumah itu, seperti biasa untuk menjalankan aksi kejahatannya.Saat ia sedang memanjat pagar rumah,ternyata pemilik rumah ketika itu sedang membaca al-Quran, surat al-Hadid,dan sampai pada firman Allah, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang berimanuntuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab pada mereka, kemudian berlalu masa yang panjang, hingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)al-Fudhail mendengar ayat ini, sehingga ayat ini meresap ke dalam hatinya.Meresap ke dalam hatinya,dan benar-benar tersentuh olehnya saat itu juga, dan ia segera menjawab ayat itu, “Sudah datang waktunya!”Ia menjawab pertanyaan, “Belumkah datang waktunya?” dengan jawaban, “Sudah!”Yakni telah datang waktu tunduknya hati untuk mengingat Allah. Lalu ia turun dari pagar, dan berjanji pada dirinya untuk berhijrah ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga meninggal dunia. Dan beliau pun pergi ke kota Makkah. Satu ayat dapat mengubah jalan hidupnya,dari kejahatan menjadi salah satu ahli ibadah,dan salah satu orang saleh. Saat itu juga beliau berkemas-kemas dan pergi ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkannya. Dan di kota Makkah beliau mendatangi para ulama dan ahli hadits,beliau menimba ilmu, mempelajari fiqih, dan menghafal hadits-hadits dari mereka.Dan tidaklah kamu saat ini membuka salah satu kitab tafsir, fiqih, hadits, atau kitab lainnya, kecuali kamu pasti mendapati banyak riwayat dari Imam ini, “Imam al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, …”Satu ayat saja dapat mengubah hidupnya! Oleh sebab itu, hendaklah seseorang menghayati,dalam urusan penyakitnya, sakitnya, dan masalahnya,dan mulai mengobati dirinya dengan al-Quran. Mengobati dirinya dengan al-Quran, sebagai contoh, jika ada orang yang mendapat ujian.Sebagian orang mengeluh dari—semisal—matanya yang suka jelalatan,dan jiwanya selalu ingin memandang wanita,dan terkadang ia pergi ke tempat-tempat yang banyak wanita di sana untuk melihat mereka. Dia diuji dengan ujian seperti ini,dan terjadi banyak gejolak jiwa, yang dirinya terus berusaha melawan agar dapat terbebas darinya.Maka, sembuhkanlah dirimu dengan ayat al-Quran! “Katakanlah kepada para lelaki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka…Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”“… yang demikian itu lebih suci bagi mereka, Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30) Hendaklah ia mengulang-ulang ayat ini, dan menghayatinya, serta berusaha agar sampai ke dalam hatinya.Dan jika ayat itu sampai ke dalam hatinya, maka ia akan mendapat kesembuhan. Seluruh masalah (hati) timbul akibat tidak sampainya al-Quran ke dalam hati.Namun jika al-Quran telah sampai ke dalam hati, maka kesembuhannya dapat diraih. Maka hendaklah ia mulai berusaha melatih dirinya, hingga al-Quran dapat sampai ke dalam hatinya. ==== الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ مِنْ أَئِمَّةِ التَّابِعِينَ أَمْضَى أَرْبَعِينَ سَنَةً مِنْ حَيَاتِهِ وَهُوَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ كَانَ قَاطِعَ طَرِيقٍ وَكَانَتِ الْقَافِلَةُ بِكَامِلِهَا تَخَافُهُ إِلَى أَنْ بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ وَلَيْلَةٌ مِنَ اللَّيَالِي أَتَى إِلَى بَيْتٍ كَمَا ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَغَيْرِهِ أَتَى إِلَى بَيْتٍ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ عَلَى عَادَتِهِ فِي إِجْرَامِهِ وَعُدْوَانِهِ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ وَهُو يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ إِذَا بِصَاحِبِ الْبَيْتِ كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فِي سُورَةِ الْحَدِيدِ وَصَلَ إِلَى قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُ كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ سَمِعَ الْفُضَيْلُ هَذِهِ الْآيَةَ وَدَخَلَتْ قَلْبَهُ دَخَلَتْ قَلْبَهُ وَتَأَثَّرَ مِنْ لَحْظَتِهِ تَأَثُّرًا عَظِيمًا وَقَالَ فِي سَاعَتِهِ بَلَى أَجَاب أَلَمْ يَأْنِ؟ قَالَ بَلَى يَعْنِي جَاءَ الْوَقْتُ الَّذِي تَخْشَعُ فِيهِ الْقُلُوبُ لِذِكْرِ اللهِ وَنَزَلَ وَعَاهَدَ نَفْسَهُ أَنْ يُهَاجِرَ إِلَى مَكَّةَ وَأَنْ يَبْقَى فِيهَا عَابِدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَى أَنْ يَمُوتَ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ آيَةٌ وَاحِدَةٌ حَوَّلَتْ مَسَارَهُ مِنْ إِجْرَامٍ إِلَى عَابِدٍ مِنَ الْعُبَّادِ وَصَالِحٍ مِنَ الصَّالِحِينَ وَمِنْ سَاعَتِهِ بَدَأَ يُرَتِّبُ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ وَبَقِيَ فِيهَا عَابِدًا إِلَى أَنْ تَوَفَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي مَكَّةَ يَأْتِي الْعُلَمَاءَ وَالْمُحَدِّثِينَ وَيَتَلَقَّى عَنْهُمُ الْعِلْمَ وَيَأْخُذُ عَنْهُمُ الْفِقْهَ وَيَحْفَظُ مِنْهُمُ الْأَحَادِيثَ وَلَا تَفْتَحُ الْآنَ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ التَّفْسِيرِ أَوْ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ أَوِ الْحَدِيثِ أَوْ غَيْرِهَا إِلَّا وَتَجِدُ النُّقُولَ الْعَظِيمَةَ عَنْ هَذَا الْإِمَامِ قَالَ الْإِمَامُ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ آيَةٌ وَاحِدَةٌ غَيَّرَتْ حَيَاتَهُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي أَمْرَاضِهِ فِي أَسْقَامِهِ فِي مَشَاكِلِهِ وَيَبْدَأُ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ مَثَلًا إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُبْتَلًى بَعْضُ النَّاسِ يَشْتَكِي مِنْ أَنَّهُ مَثَلًا نَظَرُهُ يَزِيْغُ وَلَهُ نَفْسٌ تَتَطَلَّعُ لِلنَّظَرِ لِلنِّسَاءِ وَرُبَّمَا يَقْصِدُ أَمَاكِنَ فِيهَا النِّسَاءُ لِلنَّظَرِ هُوَ مُبْتَلَى بِهَذَا وَتَتَحَرَّكُ فِيهِ أُمُورٌ هُوَ فِي صِرَاعٍ مَعَ نَفْسِهِ فِي الْخَلَاصِ مِنْهَا دَاوِ نَفْسَكَ بِالْآيَةِ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ يُكَرِّرُهَا الْإِنْسَانُ وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيُحَاوِلُ أَنْ تَصِلَ إِلَى قَلْبِهِ إِذَا وَصَلَتْ إِلَى قَلْبِهِ حَصَلَ الشِّفَاءُ الْمَشَاكِلُ كُلُّهَا تَأْتِي بِسَبَبِ عَدَمِ وُصُولِ الْقُرْآنِ لِلْقَلْبِ إِذَا وَصَلَ الْقُرْآنُ لِلْقَلْبِ حَصَلَ الشِّفَاءُ فَيَبْدَأُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ حَتَّى يَصِلَ الْقُرْآنُ إِلَى قَلْبِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jalan Kebahagiaan Dunia Akhirat

Sesungguhnya ilmu adalah perkara yang paling utama untuk diminta oleh seorang hamba. Telah diketahui bahwa meraih kebahagiaan yang tiada terputus adalah perkara yang sangat penting. Sementara manusia diciptakan untuk hidup di dunia. Dan tidak mungkin mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, kecuali dengan menaati Allah dan ittiba’/ mengikuti petunjuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Dan hal ini tidak bisa tercapai, kecuali dengan landasan ilmu. Sebagaimana firman Allah,فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ“Maka, ketahuilah bahwa tidak ada ilah/ sesembahan yang benar, selain Allah. Maka, minta ampunlah atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19)Allah memulai dengan ilmu karena istigfar ini sejatinya mencakup segala bentuk amalan. Allah meletakkan (perintah) istigfar setelah (perintah) berilmu. Oleh sebab itu, Imam Bukhari rahimahullah membuat bab tentang ayat ini dalam kitab Sahih-nya dengan mengatakan, “Bab ilmu sebelum ucapan dan amalan berdasarkan firman Allah…” (lalu beliau membawakan ayat ini). Sesungguhnya ini perkara yang nyata dan jelas. Allah Ta’ala mengutus para rasul dengan membawa ilmu yang diwahyukan kepada mereka.Baca Juga: Apakah Aku Benar-Benar Bahagia?Dan tidak ada kebahagiaan bagi seseorang, kecuali dengan ittiba‘ kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena sesungguhnya kebahagiaan bukanlah dengan menggapai berbagai kesenangan dunia, atau menggapai kedudukan (jabatan), harta, syahwat, dan lain sebagainya. Ini semua akan sirna. Seolah-olah ia tidak pernah ada sebelumnya.Sesungguhnya kebahagiaan sejati adalah dengan mewujudkan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Pertama, manusia akan bahagia di dunia dalam bentuk merasakan kelezatan dan ketentraman dalam hubungannya (ibadah) dengan Allah dengan rasa tunduk, rasa takut, rasa harap, dan inabah. Sehingga hatinya pun menjadi hidup dengan kehidupan yang hakiki.Oleh karena itu, para sahabat -semoga Allah meridai mereka- apabila mendengar suatu kalimat (nasihat) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kalimat itu memberikan bekas dalam kehidupan, amal, dan jalan hidup mereka.Mereka mempelajari ilmu dan amal sekaligus. Karena mereka adalah orang Arab dan wahyu turun dengan bahasa mereka (bahasa Arab). Sehingga, cukup bagi mereka hanya dengan mendengar kalimat (nasihat itu), mereka bisa memahami dan mengerti apa yang ditunjukkan olehnya (kandungannya). Karena itulah, mereka menjadi sosok para pengemban ilmu yang mumpuni -semoga Allah meridai mereka-.(Cuplikan faidah dari Syekh Prof. Dr. Abdullah Al-Ghunaiman hafizhahullah, salah seorang ulama senior di Arab Saudi)Baca Juga:Solusi Hidup BahagiaCelaka atau Bahagia?***Penerjemah: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id Sumber: https://youtu.be/CcP_MWTGobY🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Apakah Ipar Termasuk Mahram, Ajaran Tauhid Adalah, Mencari Kesalahan Orang Lain Untuk Menutupi Kesalahan Sendiri, Fungsi RuqyahTags: adabakhiratAkhlakalam akhiratAqidahaqidah islambahagiabahagia di akhiratbahagia di duniahidup bahagiaindahnya surgakebahagiaankeutamaan tauhidnasihatnasihat islamsurgaTauhid

Jalan Kebahagiaan Dunia Akhirat

Sesungguhnya ilmu adalah perkara yang paling utama untuk diminta oleh seorang hamba. Telah diketahui bahwa meraih kebahagiaan yang tiada terputus adalah perkara yang sangat penting. Sementara manusia diciptakan untuk hidup di dunia. Dan tidak mungkin mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, kecuali dengan menaati Allah dan ittiba’/ mengikuti petunjuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Dan hal ini tidak bisa tercapai, kecuali dengan landasan ilmu. Sebagaimana firman Allah,فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ“Maka, ketahuilah bahwa tidak ada ilah/ sesembahan yang benar, selain Allah. Maka, minta ampunlah atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19)Allah memulai dengan ilmu karena istigfar ini sejatinya mencakup segala bentuk amalan. Allah meletakkan (perintah) istigfar setelah (perintah) berilmu. Oleh sebab itu, Imam Bukhari rahimahullah membuat bab tentang ayat ini dalam kitab Sahih-nya dengan mengatakan, “Bab ilmu sebelum ucapan dan amalan berdasarkan firman Allah…” (lalu beliau membawakan ayat ini). Sesungguhnya ini perkara yang nyata dan jelas. Allah Ta’ala mengutus para rasul dengan membawa ilmu yang diwahyukan kepada mereka.Baca Juga: Apakah Aku Benar-Benar Bahagia?Dan tidak ada kebahagiaan bagi seseorang, kecuali dengan ittiba‘ kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena sesungguhnya kebahagiaan bukanlah dengan menggapai berbagai kesenangan dunia, atau menggapai kedudukan (jabatan), harta, syahwat, dan lain sebagainya. Ini semua akan sirna. Seolah-olah ia tidak pernah ada sebelumnya.Sesungguhnya kebahagiaan sejati adalah dengan mewujudkan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Pertama, manusia akan bahagia di dunia dalam bentuk merasakan kelezatan dan ketentraman dalam hubungannya (ibadah) dengan Allah dengan rasa tunduk, rasa takut, rasa harap, dan inabah. Sehingga hatinya pun menjadi hidup dengan kehidupan yang hakiki.Oleh karena itu, para sahabat -semoga Allah meridai mereka- apabila mendengar suatu kalimat (nasihat) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kalimat itu memberikan bekas dalam kehidupan, amal, dan jalan hidup mereka.Mereka mempelajari ilmu dan amal sekaligus. Karena mereka adalah orang Arab dan wahyu turun dengan bahasa mereka (bahasa Arab). Sehingga, cukup bagi mereka hanya dengan mendengar kalimat (nasihat itu), mereka bisa memahami dan mengerti apa yang ditunjukkan olehnya (kandungannya). Karena itulah, mereka menjadi sosok para pengemban ilmu yang mumpuni -semoga Allah meridai mereka-.(Cuplikan faidah dari Syekh Prof. Dr. Abdullah Al-Ghunaiman hafizhahullah, salah seorang ulama senior di Arab Saudi)Baca Juga:Solusi Hidup BahagiaCelaka atau Bahagia?***Penerjemah: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id Sumber: https://youtu.be/CcP_MWTGobY🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Apakah Ipar Termasuk Mahram, Ajaran Tauhid Adalah, Mencari Kesalahan Orang Lain Untuk Menutupi Kesalahan Sendiri, Fungsi RuqyahTags: adabakhiratAkhlakalam akhiratAqidahaqidah islambahagiabahagia di akhiratbahagia di duniahidup bahagiaindahnya surgakebahagiaankeutamaan tauhidnasihatnasihat islamsurgaTauhid
Sesungguhnya ilmu adalah perkara yang paling utama untuk diminta oleh seorang hamba. Telah diketahui bahwa meraih kebahagiaan yang tiada terputus adalah perkara yang sangat penting. Sementara manusia diciptakan untuk hidup di dunia. Dan tidak mungkin mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, kecuali dengan menaati Allah dan ittiba’/ mengikuti petunjuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Dan hal ini tidak bisa tercapai, kecuali dengan landasan ilmu. Sebagaimana firman Allah,فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ“Maka, ketahuilah bahwa tidak ada ilah/ sesembahan yang benar, selain Allah. Maka, minta ampunlah atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19)Allah memulai dengan ilmu karena istigfar ini sejatinya mencakup segala bentuk amalan. Allah meletakkan (perintah) istigfar setelah (perintah) berilmu. Oleh sebab itu, Imam Bukhari rahimahullah membuat bab tentang ayat ini dalam kitab Sahih-nya dengan mengatakan, “Bab ilmu sebelum ucapan dan amalan berdasarkan firman Allah…” (lalu beliau membawakan ayat ini). Sesungguhnya ini perkara yang nyata dan jelas. Allah Ta’ala mengutus para rasul dengan membawa ilmu yang diwahyukan kepada mereka.Baca Juga: Apakah Aku Benar-Benar Bahagia?Dan tidak ada kebahagiaan bagi seseorang, kecuali dengan ittiba‘ kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena sesungguhnya kebahagiaan bukanlah dengan menggapai berbagai kesenangan dunia, atau menggapai kedudukan (jabatan), harta, syahwat, dan lain sebagainya. Ini semua akan sirna. Seolah-olah ia tidak pernah ada sebelumnya.Sesungguhnya kebahagiaan sejati adalah dengan mewujudkan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Pertama, manusia akan bahagia di dunia dalam bentuk merasakan kelezatan dan ketentraman dalam hubungannya (ibadah) dengan Allah dengan rasa tunduk, rasa takut, rasa harap, dan inabah. Sehingga hatinya pun menjadi hidup dengan kehidupan yang hakiki.Oleh karena itu, para sahabat -semoga Allah meridai mereka- apabila mendengar suatu kalimat (nasihat) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kalimat itu memberikan bekas dalam kehidupan, amal, dan jalan hidup mereka.Mereka mempelajari ilmu dan amal sekaligus. Karena mereka adalah orang Arab dan wahyu turun dengan bahasa mereka (bahasa Arab). Sehingga, cukup bagi mereka hanya dengan mendengar kalimat (nasihat itu), mereka bisa memahami dan mengerti apa yang ditunjukkan olehnya (kandungannya). Karena itulah, mereka menjadi sosok para pengemban ilmu yang mumpuni -semoga Allah meridai mereka-.(Cuplikan faidah dari Syekh Prof. Dr. Abdullah Al-Ghunaiman hafizhahullah, salah seorang ulama senior di Arab Saudi)Baca Juga:Solusi Hidup BahagiaCelaka atau Bahagia?***Penerjemah: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id Sumber: https://youtu.be/CcP_MWTGobY🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Apakah Ipar Termasuk Mahram, Ajaran Tauhid Adalah, Mencari Kesalahan Orang Lain Untuk Menutupi Kesalahan Sendiri, Fungsi RuqyahTags: adabakhiratAkhlakalam akhiratAqidahaqidah islambahagiabahagia di akhiratbahagia di duniahidup bahagiaindahnya surgakebahagiaankeutamaan tauhidnasihatnasihat islamsurgaTauhid


Sesungguhnya ilmu adalah perkara yang paling utama untuk diminta oleh seorang hamba. Telah diketahui bahwa meraih kebahagiaan yang tiada terputus adalah perkara yang sangat penting. Sementara manusia diciptakan untuk hidup di dunia. Dan tidak mungkin mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, kecuali dengan menaati Allah dan ittiba’/ mengikuti petunjuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Dan hal ini tidak bisa tercapai, kecuali dengan landasan ilmu. Sebagaimana firman Allah,فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ“Maka, ketahuilah bahwa tidak ada ilah/ sesembahan yang benar, selain Allah. Maka, minta ampunlah atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19)Allah memulai dengan ilmu karena istigfar ini sejatinya mencakup segala bentuk amalan. Allah meletakkan (perintah) istigfar setelah (perintah) berilmu. Oleh sebab itu, Imam Bukhari rahimahullah membuat bab tentang ayat ini dalam kitab Sahih-nya dengan mengatakan, “Bab ilmu sebelum ucapan dan amalan berdasarkan firman Allah…” (lalu beliau membawakan ayat ini). Sesungguhnya ini perkara yang nyata dan jelas. Allah Ta’ala mengutus para rasul dengan membawa ilmu yang diwahyukan kepada mereka.Baca Juga: Apakah Aku Benar-Benar Bahagia?Dan tidak ada kebahagiaan bagi seseorang, kecuali dengan ittiba‘ kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena sesungguhnya kebahagiaan bukanlah dengan menggapai berbagai kesenangan dunia, atau menggapai kedudukan (jabatan), harta, syahwat, dan lain sebagainya. Ini semua akan sirna. Seolah-olah ia tidak pernah ada sebelumnya.Sesungguhnya kebahagiaan sejati adalah dengan mewujudkan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Pertama, manusia akan bahagia di dunia dalam bentuk merasakan kelezatan dan ketentraman dalam hubungannya (ibadah) dengan Allah dengan rasa tunduk, rasa takut, rasa harap, dan inabah. Sehingga hatinya pun menjadi hidup dengan kehidupan yang hakiki.Oleh karena itu, para sahabat -semoga Allah meridai mereka- apabila mendengar suatu kalimat (nasihat) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kalimat itu memberikan bekas dalam kehidupan, amal, dan jalan hidup mereka.Mereka mempelajari ilmu dan amal sekaligus. Karena mereka adalah orang Arab dan wahyu turun dengan bahasa mereka (bahasa Arab). Sehingga, cukup bagi mereka hanya dengan mendengar kalimat (nasihat itu), mereka bisa memahami dan mengerti apa yang ditunjukkan olehnya (kandungannya). Karena itulah, mereka menjadi sosok para pengemban ilmu yang mumpuni -semoga Allah meridai mereka-.(Cuplikan faidah dari Syekh Prof. Dr. Abdullah Al-Ghunaiman hafizhahullah, salah seorang ulama senior di Arab Saudi)Baca Juga:Solusi Hidup BahagiaCelaka atau Bahagia?***Penerjemah: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id Sumber: https://youtu.be/CcP_MWTGobY🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Apakah Ipar Termasuk Mahram, Ajaran Tauhid Adalah, Mencari Kesalahan Orang Lain Untuk Menutupi Kesalahan Sendiri, Fungsi RuqyahTags: adabakhiratAkhlakalam akhiratAqidahaqidah islambahagiabahagia di akhiratbahagia di duniahidup bahagiaindahnya surgakebahagiaankeutamaan tauhidnasihatnasihat islamsurgaTauhid

Jika Kau Ingin Lezatnya al-Quran – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Jika kalian ingin merasakan kenikmatan saat membaca al-Quran,dan jika kalian ingin mendapatkan manfaat agung ketika membaca al-Quran, maka bacalah dengan memahami maknanya,dan tadaburilah dengan akal dan dalil,hingga kalian dapat memetik buah yang diharapkan dari kitabullah ‘Azza wa Jalla,dan hingga kalian dapat meraih keberkahan yang agung. Hal ini telah disebutkan olehAbu Abdurrahman as-Sulami, seorang tabi’in yang mulia rahimahullah,yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengajarkan kitabullah ‘Azza wa Jalla,yang mana beliau hidup dari kekhalifahan Utsman hingga kepemimpinan al-Hajjaj di kota Kufah,dalam keadaan mengajarkan al-Quran kepada orang lain. Abu Ishaq as-Sabi’i mengatakan bahwa Abu Abdurrahman melakukan itu selama 40 tahun.Abu Abdurrahman rahimahullah berkata, “Telah berkata kepada kami para guru yang dahulu mengajarkan al-Quran kepada kami,yaitu Abdullah bin Mas’ud dan Utsman bin Affan, bahwa jika mereka meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 10 ayat al-Quran,maka mereka tidak melanjutkan ke ayat selanjutnya sebelum mereka mempelajarinya dan menguasai ilmu dan amalnya. Sehingga mereka mengatakan, ‘Maka kami mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.’”Hafalkanlah riwayat ini, wahai saudara-saudaraku, karena ini adalah manhajnya!Kami mempelajari al-Quran dari sisi lafaznya,dan ilmu, dari sisi pemahamannya,serta amal, dari sisi penerapannya. Dan dengan demikianlah dapat diraih kenikmatan yang agung dari al-Quran,yang tidak ada kenikmatan yang menandinginya, wahai saudara-saudaraku.Al-Quran dapat mendatangkan kenikmatan, wahai saudara-saudaraku!Al-Quran dapat mendatangkan kebahagian dalam hati. Al-Quran dapat mendatangkan ketentraman ke dalam jiwa.Namun, itu tidak dapat diraih dengan sempurna,kecuali dengan membacanya sesuai dengan manhaj yang lurus ini.Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit (yang ada) dalam dada,dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 57 – 58)Mereka bergembira. Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu pergi membagi unta zakat bersama pelayannya,saat pelayannya melihat unta-unta itu, ia takjub dan berkata, “Inilah karunia dan rahmat Allah!”Umar pun menimpali, “Kamu salah! Karunia dan rahmat Allah adalah al-Quran.” Lalu Umar membaca ayat tersebut.Dan makna (كَذَبْتَ) dalam bahasa penduduk negeri Hijaz adalah “Kamu salah!”Inilah karunia dan rahmat Allah, saudara-saudara!Kebahagiaan dan kesenangan hanya dapat diraih dengan membaca kitabullah ‘Azza wa Jalla. Maka saudara-saudaraku, kita harus kembali kepada manhaj yang lurus ini,dan berusaha melawan hawa nafsu kita dalam melakukannya.Harus dengan berjihad melawan hawa nafsu. Perkara-perkara besar tidak dapat kita raih hanya dengan angan-angan, saudara-saudara!Tidak pula dengan usaha ringan, apa adanya! Namun hanya dapat diraihdengan “Adakah yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 32) Tsabit al-Bunani berkata, “Aku berusaha melawan nafsuku untuk al-Quran selama 20 tahun,lalu aku dapat merasakan kenikmatannya 20 tahun setelah itu.” Kenikmatannya tidak dapat diraih begitu saja! Namun, setiap orang harus mengerahkan usahanya,melawan hawa nafsunya, dan memohon pertolongan kepada Rabbnya,serta berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan berdoalah dengan beberapa doa (yang berkaitan dengan hal ini), wahai saudara-saudaraku! ==== إِذَا أَرَدْتُمُ اللَّذَّةَ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَأَرَدْتُمُ الْفَوَائِدَ الْعَظِيمَةَ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فَاقْرَؤُوْهُ بِالْمَعْنَى وَتَدَبَّرُوْهُ بِالْعُقُولِ وَالنُّقُولِ حَتَّى تَحْصُلَ الثَّمَرَةُ الْمَرْجُوَّةُ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحَتَّى تَحْصُلَ الْبَرَكَةُ الْعَظِيمَةُ وَقَدْ ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ التَّابِعِيُّ الْجَلِيلُ رَحِمَهُ اللهُ وَالَّذِي قَضَى مُعْظَمَ عُمُرِهِ فِي تَعْلِيمِ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ مَكَثَ مِنْ خِلَافَةِ عُثْمَانَ إِلَى أَمْرَةِ الْحَجَّاجِ فِي الْكُوفَةِ يَقُولُ أَبُو إِسْحَاقَ السَّبِيعِيُّ مَكَثَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَحِمَهُ اللهُ حَدَّثَنَا أَصْحَابُنَا الَّذِينَ كَانُوا يُقْرِئُوْنَنَا لِلْقُرْآنَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَخَذُوا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يَتَجَاوَزُوْهُنَّ حَتَّى يَتَعَلَّمُوْهُنَّ وَمَا فِيهِنَّ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ قَالُوا فَتَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا احْفَظُوا هَذَا الْأَثَرَ يَا إِخَوَانُ فَهُوَ الْمَنْهَجُ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ لَفْظًا وَالْعِلْمَ فَهْمًا وَالْعَمَلَ تَطْبِيْقًا وَبِالتَّالِيْ تَحْصُلُ لَذَّةُ الْقُرْآنِ الْعَظِيمَةُ وَالَّتِي لَا تُدَانِيْهَا يَا إِخَوَانُ لَذَّةٌ لِلْقُرْآنِ لَذَّةٌ يَا إِخَوَانُ لِلْقُرْآن فَرْحَةٌ فِي الْقُلُوبِ لِلْقُرْآنِ طُمَأْنِينَةٌ فِي النُّفُوسِ لَكِنَّهَا لَا تَحْصُلُ كَامِلَةً إِلَّا بِقِرَاءَتِهِ عَلَى هَذَا الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ بِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ يَفْرَحُونَ لَمَّا خَرَجَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقْسِمُ إِبِلَ الصَّدَقَةِ وَكَانَ مَعَهُ غُلَامٌ لَهُ فَلَمَّا رَأَى هَالَتْهُ فَقَالَ هَذَا فَضْلُ اللهِ وَرَحْمَتُهُ قَالَ عُمَرُ كَذَبْتَ فَضْلُ اللهِ وَرَحْمَتُهُ الْقُرْآنُ وَتَلَا الآيَةَ وَمَعْنَى كَذَبْتَ فِي لُغَةِ أَهْلِ الْحِجَازِ أَخْطَأْتَ هَذَا فَضْلُ اللهِ وَرَحْمَتُهُ يَا إِخْوَانُ وَإِنَّمَا الْفَرْحَةُ وَالْبَهْجَةُ بِقِرَاءَةِ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَعَلَيْنَا يَا إِخَوَانُ أَنْ نَرْجِعَ إِلَى هَذَا الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ وَنُجَاهِدَ أَنْفُسَنَا عَلَيْهِ لاَ بُدَّ مِنَ الْجِهَادِ جِهَادِ النَّفْسِ الْأُمُورُ الْكِبَارُ لَا تَأْتِي بِالْأَمَانِي يَا إِخَوَانُ وَلَا بِالْجُهُودِ الْيَسِيرَةِ السَّهْلَةِ لَا وَإِنَّمَا تَأْتِي بِـ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ يَقُولُ ثَابِتٌ البُنَانِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِي عَلَى الْقُرْآنِ عِشْرِينَ سَنَةً وَوَجَدْتُ لَذَّتَهُ عِشْرِينَ سَنَةً مَا جَاءَتِ اللَّذَّةُ بَيْنَ عَشِيَّةٍ وَضُحَاهَا لَكِنَّ الْإِنْسَانَ يَبْذُلُ الْجُهْدَ وَيُجَاهِدُ النَّفْسَ وَيَسْتَعِينُ بِرَبِّهِ وَيَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَادْعُوا بِبَعْضِ الْأَدْعِيَةِ يَا إِخَوَانُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jika Kau Ingin Lezatnya al-Quran – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Jika kalian ingin merasakan kenikmatan saat membaca al-Quran,dan jika kalian ingin mendapatkan manfaat agung ketika membaca al-Quran, maka bacalah dengan memahami maknanya,dan tadaburilah dengan akal dan dalil,hingga kalian dapat memetik buah yang diharapkan dari kitabullah ‘Azza wa Jalla,dan hingga kalian dapat meraih keberkahan yang agung. Hal ini telah disebutkan olehAbu Abdurrahman as-Sulami, seorang tabi’in yang mulia rahimahullah,yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengajarkan kitabullah ‘Azza wa Jalla,yang mana beliau hidup dari kekhalifahan Utsman hingga kepemimpinan al-Hajjaj di kota Kufah,dalam keadaan mengajarkan al-Quran kepada orang lain. Abu Ishaq as-Sabi’i mengatakan bahwa Abu Abdurrahman melakukan itu selama 40 tahun.Abu Abdurrahman rahimahullah berkata, “Telah berkata kepada kami para guru yang dahulu mengajarkan al-Quran kepada kami,yaitu Abdullah bin Mas’ud dan Utsman bin Affan, bahwa jika mereka meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 10 ayat al-Quran,maka mereka tidak melanjutkan ke ayat selanjutnya sebelum mereka mempelajarinya dan menguasai ilmu dan amalnya. Sehingga mereka mengatakan, ‘Maka kami mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.’”Hafalkanlah riwayat ini, wahai saudara-saudaraku, karena ini adalah manhajnya!Kami mempelajari al-Quran dari sisi lafaznya,dan ilmu, dari sisi pemahamannya,serta amal, dari sisi penerapannya. Dan dengan demikianlah dapat diraih kenikmatan yang agung dari al-Quran,yang tidak ada kenikmatan yang menandinginya, wahai saudara-saudaraku.Al-Quran dapat mendatangkan kenikmatan, wahai saudara-saudaraku!Al-Quran dapat mendatangkan kebahagian dalam hati. Al-Quran dapat mendatangkan ketentraman ke dalam jiwa.Namun, itu tidak dapat diraih dengan sempurna,kecuali dengan membacanya sesuai dengan manhaj yang lurus ini.Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit (yang ada) dalam dada,dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 57 – 58)Mereka bergembira. Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu pergi membagi unta zakat bersama pelayannya,saat pelayannya melihat unta-unta itu, ia takjub dan berkata, “Inilah karunia dan rahmat Allah!”Umar pun menimpali, “Kamu salah! Karunia dan rahmat Allah adalah al-Quran.” Lalu Umar membaca ayat tersebut.Dan makna (كَذَبْتَ) dalam bahasa penduduk negeri Hijaz adalah “Kamu salah!”Inilah karunia dan rahmat Allah, saudara-saudara!Kebahagiaan dan kesenangan hanya dapat diraih dengan membaca kitabullah ‘Azza wa Jalla. Maka saudara-saudaraku, kita harus kembali kepada manhaj yang lurus ini,dan berusaha melawan hawa nafsu kita dalam melakukannya.Harus dengan berjihad melawan hawa nafsu. Perkara-perkara besar tidak dapat kita raih hanya dengan angan-angan, saudara-saudara!Tidak pula dengan usaha ringan, apa adanya! Namun hanya dapat diraihdengan “Adakah yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 32) Tsabit al-Bunani berkata, “Aku berusaha melawan nafsuku untuk al-Quran selama 20 tahun,lalu aku dapat merasakan kenikmatannya 20 tahun setelah itu.” Kenikmatannya tidak dapat diraih begitu saja! Namun, setiap orang harus mengerahkan usahanya,melawan hawa nafsunya, dan memohon pertolongan kepada Rabbnya,serta berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan berdoalah dengan beberapa doa (yang berkaitan dengan hal ini), wahai saudara-saudaraku! ==== إِذَا أَرَدْتُمُ اللَّذَّةَ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَأَرَدْتُمُ الْفَوَائِدَ الْعَظِيمَةَ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فَاقْرَؤُوْهُ بِالْمَعْنَى وَتَدَبَّرُوْهُ بِالْعُقُولِ وَالنُّقُولِ حَتَّى تَحْصُلَ الثَّمَرَةُ الْمَرْجُوَّةُ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحَتَّى تَحْصُلَ الْبَرَكَةُ الْعَظِيمَةُ وَقَدْ ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ التَّابِعِيُّ الْجَلِيلُ رَحِمَهُ اللهُ وَالَّذِي قَضَى مُعْظَمَ عُمُرِهِ فِي تَعْلِيمِ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ مَكَثَ مِنْ خِلَافَةِ عُثْمَانَ إِلَى أَمْرَةِ الْحَجَّاجِ فِي الْكُوفَةِ يَقُولُ أَبُو إِسْحَاقَ السَّبِيعِيُّ مَكَثَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَحِمَهُ اللهُ حَدَّثَنَا أَصْحَابُنَا الَّذِينَ كَانُوا يُقْرِئُوْنَنَا لِلْقُرْآنَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَخَذُوا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يَتَجَاوَزُوْهُنَّ حَتَّى يَتَعَلَّمُوْهُنَّ وَمَا فِيهِنَّ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ قَالُوا فَتَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا احْفَظُوا هَذَا الْأَثَرَ يَا إِخَوَانُ فَهُوَ الْمَنْهَجُ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ لَفْظًا وَالْعِلْمَ فَهْمًا وَالْعَمَلَ تَطْبِيْقًا وَبِالتَّالِيْ تَحْصُلُ لَذَّةُ الْقُرْآنِ الْعَظِيمَةُ وَالَّتِي لَا تُدَانِيْهَا يَا إِخَوَانُ لَذَّةٌ لِلْقُرْآنِ لَذَّةٌ يَا إِخَوَانُ لِلْقُرْآن فَرْحَةٌ فِي الْقُلُوبِ لِلْقُرْآنِ طُمَأْنِينَةٌ فِي النُّفُوسِ لَكِنَّهَا لَا تَحْصُلُ كَامِلَةً إِلَّا بِقِرَاءَتِهِ عَلَى هَذَا الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ بِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ يَفْرَحُونَ لَمَّا خَرَجَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقْسِمُ إِبِلَ الصَّدَقَةِ وَكَانَ مَعَهُ غُلَامٌ لَهُ فَلَمَّا رَأَى هَالَتْهُ فَقَالَ هَذَا فَضْلُ اللهِ وَرَحْمَتُهُ قَالَ عُمَرُ كَذَبْتَ فَضْلُ اللهِ وَرَحْمَتُهُ الْقُرْآنُ وَتَلَا الآيَةَ وَمَعْنَى كَذَبْتَ فِي لُغَةِ أَهْلِ الْحِجَازِ أَخْطَأْتَ هَذَا فَضْلُ اللهِ وَرَحْمَتُهُ يَا إِخْوَانُ وَإِنَّمَا الْفَرْحَةُ وَالْبَهْجَةُ بِقِرَاءَةِ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَعَلَيْنَا يَا إِخَوَانُ أَنْ نَرْجِعَ إِلَى هَذَا الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ وَنُجَاهِدَ أَنْفُسَنَا عَلَيْهِ لاَ بُدَّ مِنَ الْجِهَادِ جِهَادِ النَّفْسِ الْأُمُورُ الْكِبَارُ لَا تَأْتِي بِالْأَمَانِي يَا إِخَوَانُ وَلَا بِالْجُهُودِ الْيَسِيرَةِ السَّهْلَةِ لَا وَإِنَّمَا تَأْتِي بِـ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ يَقُولُ ثَابِتٌ البُنَانِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِي عَلَى الْقُرْآنِ عِشْرِينَ سَنَةً وَوَجَدْتُ لَذَّتَهُ عِشْرِينَ سَنَةً مَا جَاءَتِ اللَّذَّةُ بَيْنَ عَشِيَّةٍ وَضُحَاهَا لَكِنَّ الْإِنْسَانَ يَبْذُلُ الْجُهْدَ وَيُجَاهِدُ النَّفْسَ وَيَسْتَعِينُ بِرَبِّهِ وَيَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَادْعُوا بِبَعْضِ الْأَدْعِيَةِ يَا إِخَوَانُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Jika kalian ingin merasakan kenikmatan saat membaca al-Quran,dan jika kalian ingin mendapatkan manfaat agung ketika membaca al-Quran, maka bacalah dengan memahami maknanya,dan tadaburilah dengan akal dan dalil,hingga kalian dapat memetik buah yang diharapkan dari kitabullah ‘Azza wa Jalla,dan hingga kalian dapat meraih keberkahan yang agung. Hal ini telah disebutkan olehAbu Abdurrahman as-Sulami, seorang tabi’in yang mulia rahimahullah,yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengajarkan kitabullah ‘Azza wa Jalla,yang mana beliau hidup dari kekhalifahan Utsman hingga kepemimpinan al-Hajjaj di kota Kufah,dalam keadaan mengajarkan al-Quran kepada orang lain. Abu Ishaq as-Sabi’i mengatakan bahwa Abu Abdurrahman melakukan itu selama 40 tahun.Abu Abdurrahman rahimahullah berkata, “Telah berkata kepada kami para guru yang dahulu mengajarkan al-Quran kepada kami,yaitu Abdullah bin Mas’ud dan Utsman bin Affan, bahwa jika mereka meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 10 ayat al-Quran,maka mereka tidak melanjutkan ke ayat selanjutnya sebelum mereka mempelajarinya dan menguasai ilmu dan amalnya. Sehingga mereka mengatakan, ‘Maka kami mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.’”Hafalkanlah riwayat ini, wahai saudara-saudaraku, karena ini adalah manhajnya!Kami mempelajari al-Quran dari sisi lafaznya,dan ilmu, dari sisi pemahamannya,serta amal, dari sisi penerapannya. Dan dengan demikianlah dapat diraih kenikmatan yang agung dari al-Quran,yang tidak ada kenikmatan yang menandinginya, wahai saudara-saudaraku.Al-Quran dapat mendatangkan kenikmatan, wahai saudara-saudaraku!Al-Quran dapat mendatangkan kebahagian dalam hati. Al-Quran dapat mendatangkan ketentraman ke dalam jiwa.Namun, itu tidak dapat diraih dengan sempurna,kecuali dengan membacanya sesuai dengan manhaj yang lurus ini.Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit (yang ada) dalam dada,dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 57 – 58)Mereka bergembira. Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu pergi membagi unta zakat bersama pelayannya,saat pelayannya melihat unta-unta itu, ia takjub dan berkata, “Inilah karunia dan rahmat Allah!”Umar pun menimpali, “Kamu salah! Karunia dan rahmat Allah adalah al-Quran.” Lalu Umar membaca ayat tersebut.Dan makna (كَذَبْتَ) dalam bahasa penduduk negeri Hijaz adalah “Kamu salah!”Inilah karunia dan rahmat Allah, saudara-saudara!Kebahagiaan dan kesenangan hanya dapat diraih dengan membaca kitabullah ‘Azza wa Jalla. Maka saudara-saudaraku, kita harus kembali kepada manhaj yang lurus ini,dan berusaha melawan hawa nafsu kita dalam melakukannya.Harus dengan berjihad melawan hawa nafsu. Perkara-perkara besar tidak dapat kita raih hanya dengan angan-angan, saudara-saudara!Tidak pula dengan usaha ringan, apa adanya! Namun hanya dapat diraihdengan “Adakah yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 32) Tsabit al-Bunani berkata, “Aku berusaha melawan nafsuku untuk al-Quran selama 20 tahun,lalu aku dapat merasakan kenikmatannya 20 tahun setelah itu.” Kenikmatannya tidak dapat diraih begitu saja! Namun, setiap orang harus mengerahkan usahanya,melawan hawa nafsunya, dan memohon pertolongan kepada Rabbnya,serta berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan berdoalah dengan beberapa doa (yang berkaitan dengan hal ini), wahai saudara-saudaraku! ==== إِذَا أَرَدْتُمُ اللَّذَّةَ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَأَرَدْتُمُ الْفَوَائِدَ الْعَظِيمَةَ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فَاقْرَؤُوْهُ بِالْمَعْنَى وَتَدَبَّرُوْهُ بِالْعُقُولِ وَالنُّقُولِ حَتَّى تَحْصُلَ الثَّمَرَةُ الْمَرْجُوَّةُ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحَتَّى تَحْصُلَ الْبَرَكَةُ الْعَظِيمَةُ وَقَدْ ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ التَّابِعِيُّ الْجَلِيلُ رَحِمَهُ اللهُ وَالَّذِي قَضَى مُعْظَمَ عُمُرِهِ فِي تَعْلِيمِ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ مَكَثَ مِنْ خِلَافَةِ عُثْمَانَ إِلَى أَمْرَةِ الْحَجَّاجِ فِي الْكُوفَةِ يَقُولُ أَبُو إِسْحَاقَ السَّبِيعِيُّ مَكَثَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَحِمَهُ اللهُ حَدَّثَنَا أَصْحَابُنَا الَّذِينَ كَانُوا يُقْرِئُوْنَنَا لِلْقُرْآنَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَخَذُوا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يَتَجَاوَزُوْهُنَّ حَتَّى يَتَعَلَّمُوْهُنَّ وَمَا فِيهِنَّ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ قَالُوا فَتَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا احْفَظُوا هَذَا الْأَثَرَ يَا إِخَوَانُ فَهُوَ الْمَنْهَجُ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ لَفْظًا وَالْعِلْمَ فَهْمًا وَالْعَمَلَ تَطْبِيْقًا وَبِالتَّالِيْ تَحْصُلُ لَذَّةُ الْقُرْآنِ الْعَظِيمَةُ وَالَّتِي لَا تُدَانِيْهَا يَا إِخَوَانُ لَذَّةٌ لِلْقُرْآنِ لَذَّةٌ يَا إِخَوَانُ لِلْقُرْآن فَرْحَةٌ فِي الْقُلُوبِ لِلْقُرْآنِ طُمَأْنِينَةٌ فِي النُّفُوسِ لَكِنَّهَا لَا تَحْصُلُ كَامِلَةً إِلَّا بِقِرَاءَتِهِ عَلَى هَذَا الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ بِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ يَفْرَحُونَ لَمَّا خَرَجَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقْسِمُ إِبِلَ الصَّدَقَةِ وَكَانَ مَعَهُ غُلَامٌ لَهُ فَلَمَّا رَأَى هَالَتْهُ فَقَالَ هَذَا فَضْلُ اللهِ وَرَحْمَتُهُ قَالَ عُمَرُ كَذَبْتَ فَضْلُ اللهِ وَرَحْمَتُهُ الْقُرْآنُ وَتَلَا الآيَةَ وَمَعْنَى كَذَبْتَ فِي لُغَةِ أَهْلِ الْحِجَازِ أَخْطَأْتَ هَذَا فَضْلُ اللهِ وَرَحْمَتُهُ يَا إِخْوَانُ وَإِنَّمَا الْفَرْحَةُ وَالْبَهْجَةُ بِقِرَاءَةِ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَعَلَيْنَا يَا إِخَوَانُ أَنْ نَرْجِعَ إِلَى هَذَا الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ وَنُجَاهِدَ أَنْفُسَنَا عَلَيْهِ لاَ بُدَّ مِنَ الْجِهَادِ جِهَادِ النَّفْسِ الْأُمُورُ الْكِبَارُ لَا تَأْتِي بِالْأَمَانِي يَا إِخَوَانُ وَلَا بِالْجُهُودِ الْيَسِيرَةِ السَّهْلَةِ لَا وَإِنَّمَا تَأْتِي بِـ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ يَقُولُ ثَابِتٌ البُنَانِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِي عَلَى الْقُرْآنِ عِشْرِينَ سَنَةً وَوَجَدْتُ لَذَّتَهُ عِشْرِينَ سَنَةً مَا جَاءَتِ اللَّذَّةُ بَيْنَ عَشِيَّةٍ وَضُحَاهَا لَكِنَّ الْإِنْسَانَ يَبْذُلُ الْجُهْدَ وَيُجَاهِدُ النَّفْسَ وَيَسْتَعِينُ بِرَبِّهِ وَيَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَادْعُوا بِبَعْضِ الْأَدْعِيَةِ يَا إِخَوَانُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Jika kalian ingin merasakan kenikmatan saat membaca al-Quran,dan jika kalian ingin mendapatkan manfaat agung ketika membaca al-Quran, maka bacalah dengan memahami maknanya,dan tadaburilah dengan akal dan dalil,hingga kalian dapat memetik buah yang diharapkan dari kitabullah ‘Azza wa Jalla,dan hingga kalian dapat meraih keberkahan yang agung. Hal ini telah disebutkan olehAbu Abdurrahman as-Sulami, seorang tabi’in yang mulia rahimahullah,yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengajarkan kitabullah ‘Azza wa Jalla,yang mana beliau hidup dari kekhalifahan Utsman hingga kepemimpinan al-Hajjaj di kota Kufah,dalam keadaan mengajarkan al-Quran kepada orang lain. Abu Ishaq as-Sabi’i mengatakan bahwa Abu Abdurrahman melakukan itu selama 40 tahun.Abu Abdurrahman rahimahullah berkata, “Telah berkata kepada kami para guru yang dahulu mengajarkan al-Quran kepada kami,yaitu Abdullah bin Mas’ud dan Utsman bin Affan, bahwa jika mereka meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 10 ayat al-Quran,maka mereka tidak melanjutkan ke ayat selanjutnya sebelum mereka mempelajarinya dan menguasai ilmu dan amalnya. Sehingga mereka mengatakan, ‘Maka kami mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.’”Hafalkanlah riwayat ini, wahai saudara-saudaraku, karena ini adalah manhajnya!Kami mempelajari al-Quran dari sisi lafaznya,dan ilmu, dari sisi pemahamannya,serta amal, dari sisi penerapannya. Dan dengan demikianlah dapat diraih kenikmatan yang agung dari al-Quran,yang tidak ada kenikmatan yang menandinginya, wahai saudara-saudaraku.Al-Quran dapat mendatangkan kenikmatan, wahai saudara-saudaraku!Al-Quran dapat mendatangkan kebahagian dalam hati. Al-Quran dapat mendatangkan ketentraman ke dalam jiwa.Namun, itu tidak dapat diraih dengan sempurna,kecuali dengan membacanya sesuai dengan manhaj yang lurus ini.Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit (yang ada) dalam dada,dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 57 – 58)Mereka bergembira. Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu pergi membagi unta zakat bersama pelayannya,saat pelayannya melihat unta-unta itu, ia takjub dan berkata, “Inilah karunia dan rahmat Allah!”Umar pun menimpali, “Kamu salah! Karunia dan rahmat Allah adalah al-Quran.” Lalu Umar membaca ayat tersebut.Dan makna (كَذَبْتَ) dalam bahasa penduduk negeri Hijaz adalah “Kamu salah!”Inilah karunia dan rahmat Allah, saudara-saudara!Kebahagiaan dan kesenangan hanya dapat diraih dengan membaca kitabullah ‘Azza wa Jalla. Maka saudara-saudaraku, kita harus kembali kepada manhaj yang lurus ini,dan berusaha melawan hawa nafsu kita dalam melakukannya.Harus dengan berjihad melawan hawa nafsu. Perkara-perkara besar tidak dapat kita raih hanya dengan angan-angan, saudara-saudara!Tidak pula dengan usaha ringan, apa adanya! Namun hanya dapat diraihdengan “Adakah yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 32) Tsabit al-Bunani berkata, “Aku berusaha melawan nafsuku untuk al-Quran selama 20 tahun,lalu aku dapat merasakan kenikmatannya 20 tahun setelah itu.” Kenikmatannya tidak dapat diraih begitu saja! Namun, setiap orang harus mengerahkan usahanya,melawan hawa nafsunya, dan memohon pertolongan kepada Rabbnya,serta berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan berdoalah dengan beberapa doa (yang berkaitan dengan hal ini), wahai saudara-saudaraku! ==== إِذَا أَرَدْتُمُ اللَّذَّةَ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَأَرَدْتُمُ الْفَوَائِدَ الْعَظِيمَةَ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فَاقْرَؤُوْهُ بِالْمَعْنَى وَتَدَبَّرُوْهُ بِالْعُقُولِ وَالنُّقُولِ حَتَّى تَحْصُلَ الثَّمَرَةُ الْمَرْجُوَّةُ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحَتَّى تَحْصُلَ الْبَرَكَةُ الْعَظِيمَةُ وَقَدْ ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ التَّابِعِيُّ الْجَلِيلُ رَحِمَهُ اللهُ وَالَّذِي قَضَى مُعْظَمَ عُمُرِهِ فِي تَعْلِيمِ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ مَكَثَ مِنْ خِلَافَةِ عُثْمَانَ إِلَى أَمْرَةِ الْحَجَّاجِ فِي الْكُوفَةِ يَقُولُ أَبُو إِسْحَاقَ السَّبِيعِيُّ مَكَثَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَحِمَهُ اللهُ حَدَّثَنَا أَصْحَابُنَا الَّذِينَ كَانُوا يُقْرِئُوْنَنَا لِلْقُرْآنَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَخَذُوا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يَتَجَاوَزُوْهُنَّ حَتَّى يَتَعَلَّمُوْهُنَّ وَمَا فِيهِنَّ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ قَالُوا فَتَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا احْفَظُوا هَذَا الْأَثَرَ يَا إِخَوَانُ فَهُوَ الْمَنْهَجُ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ لَفْظًا وَالْعِلْمَ فَهْمًا وَالْعَمَلَ تَطْبِيْقًا وَبِالتَّالِيْ تَحْصُلُ لَذَّةُ الْقُرْآنِ الْعَظِيمَةُ وَالَّتِي لَا تُدَانِيْهَا يَا إِخَوَانُ لَذَّةٌ لِلْقُرْآنِ لَذَّةٌ يَا إِخَوَانُ لِلْقُرْآن فَرْحَةٌ فِي الْقُلُوبِ لِلْقُرْآنِ طُمَأْنِينَةٌ فِي النُّفُوسِ لَكِنَّهَا لَا تَحْصُلُ كَامِلَةً إِلَّا بِقِرَاءَتِهِ عَلَى هَذَا الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ بِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ يَفْرَحُونَ لَمَّا خَرَجَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقْسِمُ إِبِلَ الصَّدَقَةِ وَكَانَ مَعَهُ غُلَامٌ لَهُ فَلَمَّا رَأَى هَالَتْهُ فَقَالَ هَذَا فَضْلُ اللهِ وَرَحْمَتُهُ قَالَ عُمَرُ كَذَبْتَ فَضْلُ اللهِ وَرَحْمَتُهُ الْقُرْآنُ وَتَلَا الآيَةَ وَمَعْنَى كَذَبْتَ فِي لُغَةِ أَهْلِ الْحِجَازِ أَخْطَأْتَ هَذَا فَضْلُ اللهِ وَرَحْمَتُهُ يَا إِخْوَانُ وَإِنَّمَا الْفَرْحَةُ وَالْبَهْجَةُ بِقِرَاءَةِ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَعَلَيْنَا يَا إِخَوَانُ أَنْ نَرْجِعَ إِلَى هَذَا الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ وَنُجَاهِدَ أَنْفُسَنَا عَلَيْهِ لاَ بُدَّ مِنَ الْجِهَادِ جِهَادِ النَّفْسِ الْأُمُورُ الْكِبَارُ لَا تَأْتِي بِالْأَمَانِي يَا إِخَوَانُ وَلَا بِالْجُهُودِ الْيَسِيرَةِ السَّهْلَةِ لَا وَإِنَّمَا تَأْتِي بِـ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ يَقُولُ ثَابِتٌ البُنَانِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِي عَلَى الْقُرْآنِ عِشْرِينَ سَنَةً وَوَجَدْتُ لَذَّتَهُ عِشْرِينَ سَنَةً مَا جَاءَتِ اللَّذَّةُ بَيْنَ عَشِيَّةٍ وَضُحَاهَا لَكِنَّ الْإِنْسَانَ يَبْذُلُ الْجُهْدَ وَيُجَاهِدُ النَّفْسَ وَيَسْتَعِينُ بِرَبِّهِ وَيَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَادْعُوا بِبَعْضِ الْأَدْعِيَةِ يَا إِخَوَانُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Sikap Mukmin yang Bijak di Saat Naiknya Harga BBM

Akhir-akhir ini, kita sedang dihadapkan pada krisis ekonomi yang cukup pelik. Mulai dari tersebarnya wabah Covid-19 yang telah memakan banyak korban, hingga berimbas pada ketidakstabilan harga-harga bahan pokok di pasaran. Dari minyak goreng yang tiba-tiba menghilang dari peredaran, lalu harganya melambung tinggi, hingga cabai yang harga per kilonya melampaui harga daging sapi. Yang terbaru, ketetapan pemerintah untuk memotong subsidi BBM yang mengakibatkan harga pertalite, pertamax, dan solar naik fantastis.Kekhawatiran akan tingginya biaya hidup, ketakutan akan keterbatasan, dan kerisauan dalam hati, terkadang muncul di hati manusia. Tentu saja hal tersebut merupakan perkara yang lumrah, bahkan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun. Saat terjadi lonjakan harga di pasaran, para sahabat merasa berat dan mengadukannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Para sahabat berkata, يا رسولَ اللَّهِ ، غلا السِّعرُ فسعِّر لَنا “Wahai Rasulullah, harga-harga menjadi mahal. Tetapkanlah harga untuk kami?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللَّهَ هوَ المسعِّرُ القابضُ الباسطُ الرَّازقُ ، وإنِّي لأرجو أن ألقَى اللَّهَ وليسَ أحدٌ منكُم يطالبُني بمَظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ“Sesungguhnya Allah yang pantas menaikkan dan menurunkan harga, Dia-lah yang membatasi dan melapangkan rezeki. Aku harap dapat berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kalian yang menuntutku soal kezaliman dalam darah (nyawa) dan harta.” (HR. Abu Dawud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, Ibnu Majah no. 2200 dan Ahmad no. 14057)Melambungnya harga-harga di pasaran merupakan salah satu perkara penting yang harus diperhatikan oleh setiap kaum muslimin, terlebih lagi pada zaman sekarang, di mana hal tersebut sangat mempengaruhi kehidupan kebanyakan manusia. Tingginya harga-harga di pasaran seringkali akan meningkatkan angka kriminalitas dan kemiskinan pada sebuah masyarakat. Karenanya untuk menyelesaikan problem ini dibutuhkan solusi yang cerdas lagi tepat untuk menyelesaikannya.Baca Juga: Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda Daftar Isi sembunyikan 1. Islam adalah agama yang sempurna 2. Kesulitan yang menimpa seseorang, bisa jadi karena dosa dan maksiat yang ia lakukan 3. Solusi syariat saat menghadapi kenaikan harga 3.1. Pertama: Membiasakan diri untuk senantiasa bertakwa dan menguatkan keimanan 3.2. Kedua: Memperbanyak istigfar dan bertobat 3.3. Ketiga: Saling bahu membahu di antara masyarakat 3.4. Keempat: Melatih diri untuk senantiasa rida dan bersyukur atas setiap rezeki yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kita 3.5. Kelima: Hidup sederhana dan menjauhkan diri dari pemborosan dan bermewah-mewahan Islam adalah agama yang sempurnaIslam yang sempurna ini telah Allah tetapkan sebagai syariat yang mencakup setiap aspek kehidupan manusia. Tidaklah ada sebuah permasalahan yang butuh untuk diselesaikan dan dipecahkan, kecuali agama Islam telah memberikan jawaban ataupun petunjuknya, baik itu di dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الإِسْلامَ دِيناً“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)Merupakan kewajiban bagi setiap mukmin untuk mengembalikan seluruh permasalahannya kepada syariat Islam yang mulia ini, tak terkecuali saat menghadapi situasi naiknya harga BBM. Untuk menghilangkan kekhawatiran yang ada dan menyelesaikannya permasalahan ini, kita perlu kembali melihat beberapa firman Allah Ta’ala serta sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, mempelajari kembali solusi-solusi yang ditawarkan oleh syariat, bukan dengan mengeluh, berdebat, mencari kambing hitam, apalagi berdemo.Baca Juga: Kenaikan Harga Dalam Hadits NabiKesulitan yang menimpa seseorang, bisa jadi karena dosa dan maksiat yang ia lakukanSeorang mukmin harus yakin, bahwa apa yang terjadi di bumi ini, baik itu kejadian yang baik maupun yang buruk, termasuk di dalamnya naiknya harga BBM, semuanya terjadi atas izin Allah dan kehendak-Nya. Sebagaimana perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,فالغلاء بارتفاع اﻷسعار ، والرخص بانخفاضها هما من جملة الحوادث التي لا خالق لها إلا الله وحده ، ولا يكون شيء منها إلا بمشيئته وقدرته“Harga yang menjadi mahal karena melambungnya harga-harga serta menjadi murah karena turunnya harga-harga merupakan suatu kejadian yang tidak ada yang menciptakannya, melainkan Allah Ta’ala semata. Tidaklah hal itu terjadi, kecuali karena kehendak dan keinginan Allah.” (Majmu’ Fatawa, 8: 519)Hanya saja perlu kita ketahui bahwa terkadang Allah Ta’ala menjadikan perbuatan dan perilaku hamba-Nya sebagai sebab atas terjadinya sesuatu sebagaimana Allah jadikan pedang yang dihunuskan seorang pembunuh sebagai sebab atas matinya seseorang. Begitu pula naiknya harga-harga di pasaran yang dirasakan oleh semua orang, bisa jadi sebabnya adalah dosa-dosa yang dilakukan oleh umat manusia. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ“Dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 79)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,يا مَعْشَرَ المهاجرينَ ! خِصالٌ خَمْسٌ إذا ابتُلِيتُمْ بهِنَّ ، وأعوذُ باللهِ أن تُدْرِكُوهُنَّ : لم تَظْهَرِ الفاحشةُ في قومٍ قَطُّ ؛ حتى يُعْلِنُوا بها ؛ إلا فَشَا فيهِمُ الطاعونُ والأوجاعُ التي لم تَكُنْ مَضَتْ في أسلافِهِم الذين مَضَوْا ، ولم يَنْقُصُوا المِكْيالَ والميزانَ إِلَّا أُخِذُوا بالسِّنِينَ وشِدَّةِ المُؤْنَةِ ، وجَوْرِ السلطانِ عليهم ، ولم يَمْنَعُوا زكاةَ أموالِهم إلا مُنِعُوا القَطْرَ من السماءِ ، ولولا البهائمُ لم يُمْطَرُوا ، ولم يَنْقُضُوا عهدَ اللهِ وعهدَ رسولِه إلا سَلَّطَ اللهُ عليهم عَدُوَّهم من غيرِهم ، فأَخَذوا بعضَ ما كان في أَيْدِيهِم ، وما لم تَحْكُمْ أئمتُهم بكتابِ اللهِ عَزَّ وجَلَّ ويَتَخَيَّرُوا فيما أَنْزَلَ اللهُ إلا جعل اللهُ بأسَهم بينَهم“Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara yang akan datangkan bencana berat, aku meminta perlindungan kepada Allah semoga tidak menimpa kalian. (Pertama), tidaklah maksiat dan zina menjamur di tengah suatu kaum melainkan mereka akan ditimpa penyakit thaun dan kelaparan mematikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. (Kedua), tidaklah mereka curang dalam takaran dan timbangan dagang, melainkan akan ditimpa kemarau dan paceklik berkepanjangan hingga hidup mereka menderita serta mereka dipimpin penguasa yang zalim. (Ketiga), tidaklah mereka enggan membayar zakat harta mereka, melainkan langit akan berhenti meneteskan air (hujan) untuk mereka. Jikalau bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberikan hujan. (Keempat), tidaklah mereka meninggalkan agama Allah Ta’ala dan rasul-Nya, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh-musuh mereka. Kekuasaan dan kenikmatan mereka dirampas oleh musuh-musuh mereka. Dan (kelima), tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Dia akan menjadikan rasa takut di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019, Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath no. 4671 dan Al-Hakim no. 8623)Bisa jadi, kesusahan yang sedang menimpa kita, naiknya harga BBM yang memberatkan kita dan musibah-musibah lainnya yang kita hadapi, sebabnya adalah dosa-dosa kita, kezaliman kita, dan kurang perhatiannya kita terhadap agama Islam yang mulia ini.Solusi syariat saat menghadapi kenaikan hargaAda beberapa solusi yang ditawarkan oleh syariat Islam sehingga kaum muslimin yang sedang mengalami kesulitan karena naiknya harga barang-barang di pasaran, dapat menghadapinya dan bertahan di dalamnya:Pertama: Membiasakan diri untuk senantiasa bertakwa dan menguatkan keimananDalilnya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)Dengan beriman dan bertakwa, seorang mukmin akan dimudahkan urusannya, diberikan solusi dan jalan keluar serta dilapangkan rezekinya dari arah yang tidak ia sangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)Kedua: Memperbanyak istigfar dan bertobatHal ini berlaku bagi siapa pun. Syariat istigfar dan tobat tidak hanya bagi mereka yang baru bermaksiat saja. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang jelas-jelas kita tahu telah diampuni dosa-dosanya saja senantiasa memperbanyak istigfar, meminta ampun kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan keutamaan istigfar,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Mahapengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12)Baca Juga: Alhamdulillah Harga BBM NaikKetiga: Saling bahu membahu di antara masyarakatMereka yang diberikan keluasan harta oleh Allah Ta’ala, maka tidak melupakan saudaranya yang kurang mampu. Mengeluarkan zakat, bersedekah, dan membantu orang-orang yang tidak mampu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من كان معه فضل ظهر فليعد به على من لا ظهر له و من كان له فضل من زاد فليعد به على من لا زاد له“Barangsiapa yang memiliki kendaraan lebih, hendaknya memberikan pada orang yang tidak memiliki kendaraan. Barangsiapa yang memiliki kelebihan bekal, hendaknya memberikan pada orang yang tidak mempunyai bekal.” (HR. Muslim no. 1728)Hadis ini mengajarkan kita untuk bersedekah dan berbuat baik kepada orang lain, serta berlomba-lomba di dalam memenuhi kebutuhan mereka.Allah Ta’ala berfirman di dalam sebuah hadis qudsi, menjelaskan balasan bagi mereka yang menginfakkan hartanya,يا ابن آدم أَنفق أُنفق عليك“Berinfaklah, niscaya engkau akan diberi nafkah (oleh Allah Ta’ala).” (HR. Bukhari no. 4684, 7411 dan Muslim no. 993)Keempat: Melatih diri untuk senantiasa rida dan bersyukur atas setiap rezeki yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kitaNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وارض بما قسم الله لك تكن أغنى الناس“Relalah dengan apa yang telah Allah bagikan untukmu, niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya.” (HR. Tirmidzi no. 2305, Ibnu Majah no. 4217. dan Ahmad no. 8095)Kelima: Hidup sederhana dan menjauhkan diri dari pemborosan dan bermewah-mewahanAllah Ta’ala berfirman,وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan setiap urusan kita, memberikan kita jalan keluar dari setiap musibah dan kesulitan yang kita hadapi dan memberikan kita rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Pelajaran Berharga Dari Imam BukhariTak Lebih Berharga dari Sehelai Sayap Nyamuk!***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Memakai Cadar, Hukum Keluar Mani, Pengertian Nikmat, Fadilah Ayat Kursi, Arti IstikharahTags: Aqidahaqidah islamBBMbbm naikcara bertawakalkenaikan BBMkenaikan hargakeutamaan sabarkeutamaan tawakalkiat sabarnasihatnasihat islamsabartakwaTawakal

Sikap Mukmin yang Bijak di Saat Naiknya Harga BBM

Akhir-akhir ini, kita sedang dihadapkan pada krisis ekonomi yang cukup pelik. Mulai dari tersebarnya wabah Covid-19 yang telah memakan banyak korban, hingga berimbas pada ketidakstabilan harga-harga bahan pokok di pasaran. Dari minyak goreng yang tiba-tiba menghilang dari peredaran, lalu harganya melambung tinggi, hingga cabai yang harga per kilonya melampaui harga daging sapi. Yang terbaru, ketetapan pemerintah untuk memotong subsidi BBM yang mengakibatkan harga pertalite, pertamax, dan solar naik fantastis.Kekhawatiran akan tingginya biaya hidup, ketakutan akan keterbatasan, dan kerisauan dalam hati, terkadang muncul di hati manusia. Tentu saja hal tersebut merupakan perkara yang lumrah, bahkan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun. Saat terjadi lonjakan harga di pasaran, para sahabat merasa berat dan mengadukannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Para sahabat berkata, يا رسولَ اللَّهِ ، غلا السِّعرُ فسعِّر لَنا “Wahai Rasulullah, harga-harga menjadi mahal. Tetapkanlah harga untuk kami?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللَّهَ هوَ المسعِّرُ القابضُ الباسطُ الرَّازقُ ، وإنِّي لأرجو أن ألقَى اللَّهَ وليسَ أحدٌ منكُم يطالبُني بمَظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ“Sesungguhnya Allah yang pantas menaikkan dan menurunkan harga, Dia-lah yang membatasi dan melapangkan rezeki. Aku harap dapat berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kalian yang menuntutku soal kezaliman dalam darah (nyawa) dan harta.” (HR. Abu Dawud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, Ibnu Majah no. 2200 dan Ahmad no. 14057)Melambungnya harga-harga di pasaran merupakan salah satu perkara penting yang harus diperhatikan oleh setiap kaum muslimin, terlebih lagi pada zaman sekarang, di mana hal tersebut sangat mempengaruhi kehidupan kebanyakan manusia. Tingginya harga-harga di pasaran seringkali akan meningkatkan angka kriminalitas dan kemiskinan pada sebuah masyarakat. Karenanya untuk menyelesaikan problem ini dibutuhkan solusi yang cerdas lagi tepat untuk menyelesaikannya.Baca Juga: Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda Daftar Isi sembunyikan 1. Islam adalah agama yang sempurna 2. Kesulitan yang menimpa seseorang, bisa jadi karena dosa dan maksiat yang ia lakukan 3. Solusi syariat saat menghadapi kenaikan harga 3.1. Pertama: Membiasakan diri untuk senantiasa bertakwa dan menguatkan keimanan 3.2. Kedua: Memperbanyak istigfar dan bertobat 3.3. Ketiga: Saling bahu membahu di antara masyarakat 3.4. Keempat: Melatih diri untuk senantiasa rida dan bersyukur atas setiap rezeki yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kita 3.5. Kelima: Hidup sederhana dan menjauhkan diri dari pemborosan dan bermewah-mewahan Islam adalah agama yang sempurnaIslam yang sempurna ini telah Allah tetapkan sebagai syariat yang mencakup setiap aspek kehidupan manusia. Tidaklah ada sebuah permasalahan yang butuh untuk diselesaikan dan dipecahkan, kecuali agama Islam telah memberikan jawaban ataupun petunjuknya, baik itu di dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الإِسْلامَ دِيناً“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)Merupakan kewajiban bagi setiap mukmin untuk mengembalikan seluruh permasalahannya kepada syariat Islam yang mulia ini, tak terkecuali saat menghadapi situasi naiknya harga BBM. Untuk menghilangkan kekhawatiran yang ada dan menyelesaikannya permasalahan ini, kita perlu kembali melihat beberapa firman Allah Ta’ala serta sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, mempelajari kembali solusi-solusi yang ditawarkan oleh syariat, bukan dengan mengeluh, berdebat, mencari kambing hitam, apalagi berdemo.Baca Juga: Kenaikan Harga Dalam Hadits NabiKesulitan yang menimpa seseorang, bisa jadi karena dosa dan maksiat yang ia lakukanSeorang mukmin harus yakin, bahwa apa yang terjadi di bumi ini, baik itu kejadian yang baik maupun yang buruk, termasuk di dalamnya naiknya harga BBM, semuanya terjadi atas izin Allah dan kehendak-Nya. Sebagaimana perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,فالغلاء بارتفاع اﻷسعار ، والرخص بانخفاضها هما من جملة الحوادث التي لا خالق لها إلا الله وحده ، ولا يكون شيء منها إلا بمشيئته وقدرته“Harga yang menjadi mahal karena melambungnya harga-harga serta menjadi murah karena turunnya harga-harga merupakan suatu kejadian yang tidak ada yang menciptakannya, melainkan Allah Ta’ala semata. Tidaklah hal itu terjadi, kecuali karena kehendak dan keinginan Allah.” (Majmu’ Fatawa, 8: 519)Hanya saja perlu kita ketahui bahwa terkadang Allah Ta’ala menjadikan perbuatan dan perilaku hamba-Nya sebagai sebab atas terjadinya sesuatu sebagaimana Allah jadikan pedang yang dihunuskan seorang pembunuh sebagai sebab atas matinya seseorang. Begitu pula naiknya harga-harga di pasaran yang dirasakan oleh semua orang, bisa jadi sebabnya adalah dosa-dosa yang dilakukan oleh umat manusia. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ“Dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 79)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,يا مَعْشَرَ المهاجرينَ ! خِصالٌ خَمْسٌ إذا ابتُلِيتُمْ بهِنَّ ، وأعوذُ باللهِ أن تُدْرِكُوهُنَّ : لم تَظْهَرِ الفاحشةُ في قومٍ قَطُّ ؛ حتى يُعْلِنُوا بها ؛ إلا فَشَا فيهِمُ الطاعونُ والأوجاعُ التي لم تَكُنْ مَضَتْ في أسلافِهِم الذين مَضَوْا ، ولم يَنْقُصُوا المِكْيالَ والميزانَ إِلَّا أُخِذُوا بالسِّنِينَ وشِدَّةِ المُؤْنَةِ ، وجَوْرِ السلطانِ عليهم ، ولم يَمْنَعُوا زكاةَ أموالِهم إلا مُنِعُوا القَطْرَ من السماءِ ، ولولا البهائمُ لم يُمْطَرُوا ، ولم يَنْقُضُوا عهدَ اللهِ وعهدَ رسولِه إلا سَلَّطَ اللهُ عليهم عَدُوَّهم من غيرِهم ، فأَخَذوا بعضَ ما كان في أَيْدِيهِم ، وما لم تَحْكُمْ أئمتُهم بكتابِ اللهِ عَزَّ وجَلَّ ويَتَخَيَّرُوا فيما أَنْزَلَ اللهُ إلا جعل اللهُ بأسَهم بينَهم“Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara yang akan datangkan bencana berat, aku meminta perlindungan kepada Allah semoga tidak menimpa kalian. (Pertama), tidaklah maksiat dan zina menjamur di tengah suatu kaum melainkan mereka akan ditimpa penyakit thaun dan kelaparan mematikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. (Kedua), tidaklah mereka curang dalam takaran dan timbangan dagang, melainkan akan ditimpa kemarau dan paceklik berkepanjangan hingga hidup mereka menderita serta mereka dipimpin penguasa yang zalim. (Ketiga), tidaklah mereka enggan membayar zakat harta mereka, melainkan langit akan berhenti meneteskan air (hujan) untuk mereka. Jikalau bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberikan hujan. (Keempat), tidaklah mereka meninggalkan agama Allah Ta’ala dan rasul-Nya, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh-musuh mereka. Kekuasaan dan kenikmatan mereka dirampas oleh musuh-musuh mereka. Dan (kelima), tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Dia akan menjadikan rasa takut di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019, Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath no. 4671 dan Al-Hakim no. 8623)Bisa jadi, kesusahan yang sedang menimpa kita, naiknya harga BBM yang memberatkan kita dan musibah-musibah lainnya yang kita hadapi, sebabnya adalah dosa-dosa kita, kezaliman kita, dan kurang perhatiannya kita terhadap agama Islam yang mulia ini.Solusi syariat saat menghadapi kenaikan hargaAda beberapa solusi yang ditawarkan oleh syariat Islam sehingga kaum muslimin yang sedang mengalami kesulitan karena naiknya harga barang-barang di pasaran, dapat menghadapinya dan bertahan di dalamnya:Pertama: Membiasakan diri untuk senantiasa bertakwa dan menguatkan keimananDalilnya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)Dengan beriman dan bertakwa, seorang mukmin akan dimudahkan urusannya, diberikan solusi dan jalan keluar serta dilapangkan rezekinya dari arah yang tidak ia sangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)Kedua: Memperbanyak istigfar dan bertobatHal ini berlaku bagi siapa pun. Syariat istigfar dan tobat tidak hanya bagi mereka yang baru bermaksiat saja. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang jelas-jelas kita tahu telah diampuni dosa-dosanya saja senantiasa memperbanyak istigfar, meminta ampun kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan keutamaan istigfar,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Mahapengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12)Baca Juga: Alhamdulillah Harga BBM NaikKetiga: Saling bahu membahu di antara masyarakatMereka yang diberikan keluasan harta oleh Allah Ta’ala, maka tidak melupakan saudaranya yang kurang mampu. Mengeluarkan zakat, bersedekah, dan membantu orang-orang yang tidak mampu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من كان معه فضل ظهر فليعد به على من لا ظهر له و من كان له فضل من زاد فليعد به على من لا زاد له“Barangsiapa yang memiliki kendaraan lebih, hendaknya memberikan pada orang yang tidak memiliki kendaraan. Barangsiapa yang memiliki kelebihan bekal, hendaknya memberikan pada orang yang tidak mempunyai bekal.” (HR. Muslim no. 1728)Hadis ini mengajarkan kita untuk bersedekah dan berbuat baik kepada orang lain, serta berlomba-lomba di dalam memenuhi kebutuhan mereka.Allah Ta’ala berfirman di dalam sebuah hadis qudsi, menjelaskan balasan bagi mereka yang menginfakkan hartanya,يا ابن آدم أَنفق أُنفق عليك“Berinfaklah, niscaya engkau akan diberi nafkah (oleh Allah Ta’ala).” (HR. Bukhari no. 4684, 7411 dan Muslim no. 993)Keempat: Melatih diri untuk senantiasa rida dan bersyukur atas setiap rezeki yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kitaNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وارض بما قسم الله لك تكن أغنى الناس“Relalah dengan apa yang telah Allah bagikan untukmu, niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya.” (HR. Tirmidzi no. 2305, Ibnu Majah no. 4217. dan Ahmad no. 8095)Kelima: Hidup sederhana dan menjauhkan diri dari pemborosan dan bermewah-mewahanAllah Ta’ala berfirman,وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan setiap urusan kita, memberikan kita jalan keluar dari setiap musibah dan kesulitan yang kita hadapi dan memberikan kita rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Pelajaran Berharga Dari Imam BukhariTak Lebih Berharga dari Sehelai Sayap Nyamuk!***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Memakai Cadar, Hukum Keluar Mani, Pengertian Nikmat, Fadilah Ayat Kursi, Arti IstikharahTags: Aqidahaqidah islamBBMbbm naikcara bertawakalkenaikan BBMkenaikan hargakeutamaan sabarkeutamaan tawakalkiat sabarnasihatnasihat islamsabartakwaTawakal
Akhir-akhir ini, kita sedang dihadapkan pada krisis ekonomi yang cukup pelik. Mulai dari tersebarnya wabah Covid-19 yang telah memakan banyak korban, hingga berimbas pada ketidakstabilan harga-harga bahan pokok di pasaran. Dari minyak goreng yang tiba-tiba menghilang dari peredaran, lalu harganya melambung tinggi, hingga cabai yang harga per kilonya melampaui harga daging sapi. Yang terbaru, ketetapan pemerintah untuk memotong subsidi BBM yang mengakibatkan harga pertalite, pertamax, dan solar naik fantastis.Kekhawatiran akan tingginya biaya hidup, ketakutan akan keterbatasan, dan kerisauan dalam hati, terkadang muncul di hati manusia. Tentu saja hal tersebut merupakan perkara yang lumrah, bahkan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun. Saat terjadi lonjakan harga di pasaran, para sahabat merasa berat dan mengadukannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Para sahabat berkata, يا رسولَ اللَّهِ ، غلا السِّعرُ فسعِّر لَنا “Wahai Rasulullah, harga-harga menjadi mahal. Tetapkanlah harga untuk kami?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللَّهَ هوَ المسعِّرُ القابضُ الباسطُ الرَّازقُ ، وإنِّي لأرجو أن ألقَى اللَّهَ وليسَ أحدٌ منكُم يطالبُني بمَظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ“Sesungguhnya Allah yang pantas menaikkan dan menurunkan harga, Dia-lah yang membatasi dan melapangkan rezeki. Aku harap dapat berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kalian yang menuntutku soal kezaliman dalam darah (nyawa) dan harta.” (HR. Abu Dawud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, Ibnu Majah no. 2200 dan Ahmad no. 14057)Melambungnya harga-harga di pasaran merupakan salah satu perkara penting yang harus diperhatikan oleh setiap kaum muslimin, terlebih lagi pada zaman sekarang, di mana hal tersebut sangat mempengaruhi kehidupan kebanyakan manusia. Tingginya harga-harga di pasaran seringkali akan meningkatkan angka kriminalitas dan kemiskinan pada sebuah masyarakat. Karenanya untuk menyelesaikan problem ini dibutuhkan solusi yang cerdas lagi tepat untuk menyelesaikannya.Baca Juga: Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda Daftar Isi sembunyikan 1. Islam adalah agama yang sempurna 2. Kesulitan yang menimpa seseorang, bisa jadi karena dosa dan maksiat yang ia lakukan 3. Solusi syariat saat menghadapi kenaikan harga 3.1. Pertama: Membiasakan diri untuk senantiasa bertakwa dan menguatkan keimanan 3.2. Kedua: Memperbanyak istigfar dan bertobat 3.3. Ketiga: Saling bahu membahu di antara masyarakat 3.4. Keempat: Melatih diri untuk senantiasa rida dan bersyukur atas setiap rezeki yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kita 3.5. Kelima: Hidup sederhana dan menjauhkan diri dari pemborosan dan bermewah-mewahan Islam adalah agama yang sempurnaIslam yang sempurna ini telah Allah tetapkan sebagai syariat yang mencakup setiap aspek kehidupan manusia. Tidaklah ada sebuah permasalahan yang butuh untuk diselesaikan dan dipecahkan, kecuali agama Islam telah memberikan jawaban ataupun petunjuknya, baik itu di dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الإِسْلامَ دِيناً“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)Merupakan kewajiban bagi setiap mukmin untuk mengembalikan seluruh permasalahannya kepada syariat Islam yang mulia ini, tak terkecuali saat menghadapi situasi naiknya harga BBM. Untuk menghilangkan kekhawatiran yang ada dan menyelesaikannya permasalahan ini, kita perlu kembali melihat beberapa firman Allah Ta’ala serta sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, mempelajari kembali solusi-solusi yang ditawarkan oleh syariat, bukan dengan mengeluh, berdebat, mencari kambing hitam, apalagi berdemo.Baca Juga: Kenaikan Harga Dalam Hadits NabiKesulitan yang menimpa seseorang, bisa jadi karena dosa dan maksiat yang ia lakukanSeorang mukmin harus yakin, bahwa apa yang terjadi di bumi ini, baik itu kejadian yang baik maupun yang buruk, termasuk di dalamnya naiknya harga BBM, semuanya terjadi atas izin Allah dan kehendak-Nya. Sebagaimana perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,فالغلاء بارتفاع اﻷسعار ، والرخص بانخفاضها هما من جملة الحوادث التي لا خالق لها إلا الله وحده ، ولا يكون شيء منها إلا بمشيئته وقدرته“Harga yang menjadi mahal karena melambungnya harga-harga serta menjadi murah karena turunnya harga-harga merupakan suatu kejadian yang tidak ada yang menciptakannya, melainkan Allah Ta’ala semata. Tidaklah hal itu terjadi, kecuali karena kehendak dan keinginan Allah.” (Majmu’ Fatawa, 8: 519)Hanya saja perlu kita ketahui bahwa terkadang Allah Ta’ala menjadikan perbuatan dan perilaku hamba-Nya sebagai sebab atas terjadinya sesuatu sebagaimana Allah jadikan pedang yang dihunuskan seorang pembunuh sebagai sebab atas matinya seseorang. Begitu pula naiknya harga-harga di pasaran yang dirasakan oleh semua orang, bisa jadi sebabnya adalah dosa-dosa yang dilakukan oleh umat manusia. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ“Dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 79)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,يا مَعْشَرَ المهاجرينَ ! خِصالٌ خَمْسٌ إذا ابتُلِيتُمْ بهِنَّ ، وأعوذُ باللهِ أن تُدْرِكُوهُنَّ : لم تَظْهَرِ الفاحشةُ في قومٍ قَطُّ ؛ حتى يُعْلِنُوا بها ؛ إلا فَشَا فيهِمُ الطاعونُ والأوجاعُ التي لم تَكُنْ مَضَتْ في أسلافِهِم الذين مَضَوْا ، ولم يَنْقُصُوا المِكْيالَ والميزانَ إِلَّا أُخِذُوا بالسِّنِينَ وشِدَّةِ المُؤْنَةِ ، وجَوْرِ السلطانِ عليهم ، ولم يَمْنَعُوا زكاةَ أموالِهم إلا مُنِعُوا القَطْرَ من السماءِ ، ولولا البهائمُ لم يُمْطَرُوا ، ولم يَنْقُضُوا عهدَ اللهِ وعهدَ رسولِه إلا سَلَّطَ اللهُ عليهم عَدُوَّهم من غيرِهم ، فأَخَذوا بعضَ ما كان في أَيْدِيهِم ، وما لم تَحْكُمْ أئمتُهم بكتابِ اللهِ عَزَّ وجَلَّ ويَتَخَيَّرُوا فيما أَنْزَلَ اللهُ إلا جعل اللهُ بأسَهم بينَهم“Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara yang akan datangkan bencana berat, aku meminta perlindungan kepada Allah semoga tidak menimpa kalian. (Pertama), tidaklah maksiat dan zina menjamur di tengah suatu kaum melainkan mereka akan ditimpa penyakit thaun dan kelaparan mematikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. (Kedua), tidaklah mereka curang dalam takaran dan timbangan dagang, melainkan akan ditimpa kemarau dan paceklik berkepanjangan hingga hidup mereka menderita serta mereka dipimpin penguasa yang zalim. (Ketiga), tidaklah mereka enggan membayar zakat harta mereka, melainkan langit akan berhenti meneteskan air (hujan) untuk mereka. Jikalau bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberikan hujan. (Keempat), tidaklah mereka meninggalkan agama Allah Ta’ala dan rasul-Nya, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh-musuh mereka. Kekuasaan dan kenikmatan mereka dirampas oleh musuh-musuh mereka. Dan (kelima), tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Dia akan menjadikan rasa takut di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019, Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath no. 4671 dan Al-Hakim no. 8623)Bisa jadi, kesusahan yang sedang menimpa kita, naiknya harga BBM yang memberatkan kita dan musibah-musibah lainnya yang kita hadapi, sebabnya adalah dosa-dosa kita, kezaliman kita, dan kurang perhatiannya kita terhadap agama Islam yang mulia ini.Solusi syariat saat menghadapi kenaikan hargaAda beberapa solusi yang ditawarkan oleh syariat Islam sehingga kaum muslimin yang sedang mengalami kesulitan karena naiknya harga barang-barang di pasaran, dapat menghadapinya dan bertahan di dalamnya:Pertama: Membiasakan diri untuk senantiasa bertakwa dan menguatkan keimananDalilnya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)Dengan beriman dan bertakwa, seorang mukmin akan dimudahkan urusannya, diberikan solusi dan jalan keluar serta dilapangkan rezekinya dari arah yang tidak ia sangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)Kedua: Memperbanyak istigfar dan bertobatHal ini berlaku bagi siapa pun. Syariat istigfar dan tobat tidak hanya bagi mereka yang baru bermaksiat saja. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang jelas-jelas kita tahu telah diampuni dosa-dosanya saja senantiasa memperbanyak istigfar, meminta ampun kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan keutamaan istigfar,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Mahapengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12)Baca Juga: Alhamdulillah Harga BBM NaikKetiga: Saling bahu membahu di antara masyarakatMereka yang diberikan keluasan harta oleh Allah Ta’ala, maka tidak melupakan saudaranya yang kurang mampu. Mengeluarkan zakat, bersedekah, dan membantu orang-orang yang tidak mampu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من كان معه فضل ظهر فليعد به على من لا ظهر له و من كان له فضل من زاد فليعد به على من لا زاد له“Barangsiapa yang memiliki kendaraan lebih, hendaknya memberikan pada orang yang tidak memiliki kendaraan. Barangsiapa yang memiliki kelebihan bekal, hendaknya memberikan pada orang yang tidak mempunyai bekal.” (HR. Muslim no. 1728)Hadis ini mengajarkan kita untuk bersedekah dan berbuat baik kepada orang lain, serta berlomba-lomba di dalam memenuhi kebutuhan mereka.Allah Ta’ala berfirman di dalam sebuah hadis qudsi, menjelaskan balasan bagi mereka yang menginfakkan hartanya,يا ابن آدم أَنفق أُنفق عليك“Berinfaklah, niscaya engkau akan diberi nafkah (oleh Allah Ta’ala).” (HR. Bukhari no. 4684, 7411 dan Muslim no. 993)Keempat: Melatih diri untuk senantiasa rida dan bersyukur atas setiap rezeki yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kitaNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وارض بما قسم الله لك تكن أغنى الناس“Relalah dengan apa yang telah Allah bagikan untukmu, niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya.” (HR. Tirmidzi no. 2305, Ibnu Majah no. 4217. dan Ahmad no. 8095)Kelima: Hidup sederhana dan menjauhkan diri dari pemborosan dan bermewah-mewahanAllah Ta’ala berfirman,وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan setiap urusan kita, memberikan kita jalan keluar dari setiap musibah dan kesulitan yang kita hadapi dan memberikan kita rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Pelajaran Berharga Dari Imam BukhariTak Lebih Berharga dari Sehelai Sayap Nyamuk!***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Memakai Cadar, Hukum Keluar Mani, Pengertian Nikmat, Fadilah Ayat Kursi, Arti IstikharahTags: Aqidahaqidah islamBBMbbm naikcara bertawakalkenaikan BBMkenaikan hargakeutamaan sabarkeutamaan tawakalkiat sabarnasihatnasihat islamsabartakwaTawakal


Akhir-akhir ini, kita sedang dihadapkan pada krisis ekonomi yang cukup pelik. Mulai dari tersebarnya wabah Covid-19 yang telah memakan banyak korban, hingga berimbas pada ketidakstabilan harga-harga bahan pokok di pasaran. Dari minyak goreng yang tiba-tiba menghilang dari peredaran, lalu harganya melambung tinggi, hingga cabai yang harga per kilonya melampaui harga daging sapi. Yang terbaru, ketetapan pemerintah untuk memotong subsidi BBM yang mengakibatkan harga pertalite, pertamax, dan solar naik fantastis.Kekhawatiran akan tingginya biaya hidup, ketakutan akan keterbatasan, dan kerisauan dalam hati, terkadang muncul di hati manusia. Tentu saja hal tersebut merupakan perkara yang lumrah, bahkan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun. Saat terjadi lonjakan harga di pasaran, para sahabat merasa berat dan mengadukannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Para sahabat berkata, يا رسولَ اللَّهِ ، غلا السِّعرُ فسعِّر لَنا “Wahai Rasulullah, harga-harga menjadi mahal. Tetapkanlah harga untuk kami?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللَّهَ هوَ المسعِّرُ القابضُ الباسطُ الرَّازقُ ، وإنِّي لأرجو أن ألقَى اللَّهَ وليسَ أحدٌ منكُم يطالبُني بمَظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ“Sesungguhnya Allah yang pantas menaikkan dan menurunkan harga, Dia-lah yang membatasi dan melapangkan rezeki. Aku harap dapat berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kalian yang menuntutku soal kezaliman dalam darah (nyawa) dan harta.” (HR. Abu Dawud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, Ibnu Majah no. 2200 dan Ahmad no. 14057)Melambungnya harga-harga di pasaran merupakan salah satu perkara penting yang harus diperhatikan oleh setiap kaum muslimin, terlebih lagi pada zaman sekarang, di mana hal tersebut sangat mempengaruhi kehidupan kebanyakan manusia. Tingginya harga-harga di pasaran seringkali akan meningkatkan angka kriminalitas dan kemiskinan pada sebuah masyarakat. Karenanya untuk menyelesaikan problem ini dibutuhkan solusi yang cerdas lagi tepat untuk menyelesaikannya.Baca Juga: Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda Daftar Isi sembunyikan 1. Islam adalah agama yang sempurna 2. Kesulitan yang menimpa seseorang, bisa jadi karena dosa dan maksiat yang ia lakukan 3. Solusi syariat saat menghadapi kenaikan harga 3.1. Pertama: Membiasakan diri untuk senantiasa bertakwa dan menguatkan keimanan 3.2. Kedua: Memperbanyak istigfar dan bertobat 3.3. Ketiga: Saling bahu membahu di antara masyarakat 3.4. Keempat: Melatih diri untuk senantiasa rida dan bersyukur atas setiap rezeki yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kita 3.5. Kelima: Hidup sederhana dan menjauhkan diri dari pemborosan dan bermewah-mewahan Islam adalah agama yang sempurnaIslam yang sempurna ini telah Allah tetapkan sebagai syariat yang mencakup setiap aspek kehidupan manusia. Tidaklah ada sebuah permasalahan yang butuh untuk diselesaikan dan dipecahkan, kecuali agama Islam telah memberikan jawaban ataupun petunjuknya, baik itu di dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الإِسْلامَ دِيناً“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)Merupakan kewajiban bagi setiap mukmin untuk mengembalikan seluruh permasalahannya kepada syariat Islam yang mulia ini, tak terkecuali saat menghadapi situasi naiknya harga BBM. Untuk menghilangkan kekhawatiran yang ada dan menyelesaikannya permasalahan ini, kita perlu kembali melihat beberapa firman Allah Ta’ala serta sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, mempelajari kembali solusi-solusi yang ditawarkan oleh syariat, bukan dengan mengeluh, berdebat, mencari kambing hitam, apalagi berdemo.Baca Juga: Kenaikan Harga Dalam Hadits NabiKesulitan yang menimpa seseorang, bisa jadi karena dosa dan maksiat yang ia lakukanSeorang mukmin harus yakin, bahwa apa yang terjadi di bumi ini, baik itu kejadian yang baik maupun yang buruk, termasuk di dalamnya naiknya harga BBM, semuanya terjadi atas izin Allah dan kehendak-Nya. Sebagaimana perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,فالغلاء بارتفاع اﻷسعار ، والرخص بانخفاضها هما من جملة الحوادث التي لا خالق لها إلا الله وحده ، ولا يكون شيء منها إلا بمشيئته وقدرته“Harga yang menjadi mahal karena melambungnya harga-harga serta menjadi murah karena turunnya harga-harga merupakan suatu kejadian yang tidak ada yang menciptakannya, melainkan Allah Ta’ala semata. Tidaklah hal itu terjadi, kecuali karena kehendak dan keinginan Allah.” (Majmu’ Fatawa, 8: 519)Hanya saja perlu kita ketahui bahwa terkadang Allah Ta’ala menjadikan perbuatan dan perilaku hamba-Nya sebagai sebab atas terjadinya sesuatu sebagaimana Allah jadikan pedang yang dihunuskan seorang pembunuh sebagai sebab atas matinya seseorang. Begitu pula naiknya harga-harga di pasaran yang dirasakan oleh semua orang, bisa jadi sebabnya adalah dosa-dosa yang dilakukan oleh umat manusia. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ“Dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 79)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,يا مَعْشَرَ المهاجرينَ ! خِصالٌ خَمْسٌ إذا ابتُلِيتُمْ بهِنَّ ، وأعوذُ باللهِ أن تُدْرِكُوهُنَّ : لم تَظْهَرِ الفاحشةُ في قومٍ قَطُّ ؛ حتى يُعْلِنُوا بها ؛ إلا فَشَا فيهِمُ الطاعونُ والأوجاعُ التي لم تَكُنْ مَضَتْ في أسلافِهِم الذين مَضَوْا ، ولم يَنْقُصُوا المِكْيالَ والميزانَ إِلَّا أُخِذُوا بالسِّنِينَ وشِدَّةِ المُؤْنَةِ ، وجَوْرِ السلطانِ عليهم ، ولم يَمْنَعُوا زكاةَ أموالِهم إلا مُنِعُوا القَطْرَ من السماءِ ، ولولا البهائمُ لم يُمْطَرُوا ، ولم يَنْقُضُوا عهدَ اللهِ وعهدَ رسولِه إلا سَلَّطَ اللهُ عليهم عَدُوَّهم من غيرِهم ، فأَخَذوا بعضَ ما كان في أَيْدِيهِم ، وما لم تَحْكُمْ أئمتُهم بكتابِ اللهِ عَزَّ وجَلَّ ويَتَخَيَّرُوا فيما أَنْزَلَ اللهُ إلا جعل اللهُ بأسَهم بينَهم“Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara yang akan datangkan bencana berat, aku meminta perlindungan kepada Allah semoga tidak menimpa kalian. (Pertama), tidaklah maksiat dan zina menjamur di tengah suatu kaum melainkan mereka akan ditimpa penyakit thaun dan kelaparan mematikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. (Kedua), tidaklah mereka curang dalam takaran dan timbangan dagang, melainkan akan ditimpa kemarau dan paceklik berkepanjangan hingga hidup mereka menderita serta mereka dipimpin penguasa yang zalim. (Ketiga), tidaklah mereka enggan membayar zakat harta mereka, melainkan langit akan berhenti meneteskan air (hujan) untuk mereka. Jikalau bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberikan hujan. (Keempat), tidaklah mereka meninggalkan agama Allah Ta’ala dan rasul-Nya, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh-musuh mereka. Kekuasaan dan kenikmatan mereka dirampas oleh musuh-musuh mereka. Dan (kelima), tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Dia akan menjadikan rasa takut di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019, Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath no. 4671 dan Al-Hakim no. 8623)Bisa jadi, kesusahan yang sedang menimpa kita, naiknya harga BBM yang memberatkan kita dan musibah-musibah lainnya yang kita hadapi, sebabnya adalah dosa-dosa kita, kezaliman kita, dan kurang perhatiannya kita terhadap agama Islam yang mulia ini.Solusi syariat saat menghadapi kenaikan hargaAda beberapa solusi yang ditawarkan oleh syariat Islam sehingga kaum muslimin yang sedang mengalami kesulitan karena naiknya harga barang-barang di pasaran, dapat menghadapinya dan bertahan di dalamnya:Pertama: Membiasakan diri untuk senantiasa bertakwa dan menguatkan keimananDalilnya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)Dengan beriman dan bertakwa, seorang mukmin akan dimudahkan urusannya, diberikan solusi dan jalan keluar serta dilapangkan rezekinya dari arah yang tidak ia sangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)Kedua: Memperbanyak istigfar dan bertobatHal ini berlaku bagi siapa pun. Syariat istigfar dan tobat tidak hanya bagi mereka yang baru bermaksiat saja. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang jelas-jelas kita tahu telah diampuni dosa-dosanya saja senantiasa memperbanyak istigfar, meminta ampun kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan keutamaan istigfar,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Mahapengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12)Baca Juga: Alhamdulillah Harga BBM NaikKetiga: Saling bahu membahu di antara masyarakatMereka yang diberikan keluasan harta oleh Allah Ta’ala, maka tidak melupakan saudaranya yang kurang mampu. Mengeluarkan zakat, bersedekah, dan membantu orang-orang yang tidak mampu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من كان معه فضل ظهر فليعد به على من لا ظهر له و من كان له فضل من زاد فليعد به على من لا زاد له“Barangsiapa yang memiliki kendaraan lebih, hendaknya memberikan pada orang yang tidak memiliki kendaraan. Barangsiapa yang memiliki kelebihan bekal, hendaknya memberikan pada orang yang tidak mempunyai bekal.” (HR. Muslim no. 1728)Hadis ini mengajarkan kita untuk bersedekah dan berbuat baik kepada orang lain, serta berlomba-lomba di dalam memenuhi kebutuhan mereka.Allah Ta’ala berfirman di dalam sebuah hadis qudsi, menjelaskan balasan bagi mereka yang menginfakkan hartanya,يا ابن آدم أَنفق أُنفق عليك“Berinfaklah, niscaya engkau akan diberi nafkah (oleh Allah Ta’ala).” (HR. Bukhari no. 4684, 7411 dan Muslim no. 993)Keempat: Melatih diri untuk senantiasa rida dan bersyukur atas setiap rezeki yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kitaNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وارض بما قسم الله لك تكن أغنى الناس“Relalah dengan apa yang telah Allah bagikan untukmu, niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya.” (HR. Tirmidzi no. 2305, Ibnu Majah no. 4217. dan Ahmad no. 8095)Kelima: Hidup sederhana dan menjauhkan diri dari pemborosan dan bermewah-mewahanAllah Ta’ala berfirman,وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan setiap urusan kita, memberikan kita jalan keluar dari setiap musibah dan kesulitan yang kita hadapi dan memberikan kita rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Pelajaran Berharga Dari Imam BukhariTak Lebih Berharga dari Sehelai Sayap Nyamuk!***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Memakai Cadar, Hukum Keluar Mani, Pengertian Nikmat, Fadilah Ayat Kursi, Arti IstikharahTags: Aqidahaqidah islamBBMbbm naikcara bertawakalkenaikan BBMkenaikan hargakeutamaan sabarkeutamaan tawakalkiat sabarnasihatnasihat islamsabartakwaTawakal

Matan Taqrib: Sebab dan Cara Tayamum

Apa saja sebab dan bagaimanakah cara tayamum yang sesuai tuntunan? Matan Taqrib (Matan Abu Syuja’) kali ini akan mengulas lebih jauh. Semoga menjadi ilmu yang manfaat.   Daftar Isi tutup 1. Syarat Tayamum 1.1. Pertama: Ada uzur, baik karena safar atau sakit. 1.2. Kedua: Masuk waktu shalat. 1.3. Ketiga: Mencari air. 1.4. Keempat: Ada air, tetapi ada uzur untuk menggunakannya dan membutuhkan air setelah mencarinya. 1.5. Kelima: Tersedia tanah yang suci yang mengandung debu. Jika bercampur dengan kapur atau pasir, maka tidak cukup. 1.6. Referensi: Syarat Tayamum Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan, وَشَرَائِطُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: وُجُوْدُ العُذْرِ بِسَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ، وَدُخُوْلُ وَقْتِ الصَّلاَةِ، وَطَلَبُ الماَءِ، وَتَعَذُّرُ اِسْتِعْمَالِهِ وَإِعْوَازُهُ بَعْدَ الطَّلَبِ، وَ التُّرَابُ الطَّاهِرُ الَّذِي لَهُ غُبَارٌ فَإِنْ خَالَطَهُ جِصٌّ أَوْ رَمْلٌ لَمْ يُجْزِ. Syarat tayamum ada lima, yaitu: Ada uzur, baik karena safar atau sakit. Masuk waktu shalat. Telah berusaha mencari air, tetapi tidak memperolehnya. Ada air, tetapi ada uzur untuk menggunakannya dan membutuhkan air setelah mencarinya. Tersedia tanah yang suci yang mengandung debu. Jika bercampur dengan kapur atau pasir, maka tidak cukup.   Pertama: Ada uzur, baik karena safar atau sakit. Allah Ta’ala berfirman, وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu.” (QS. An-Nisa’: 43) Karena kebanyakan musafir, mereka tidak mendapati air, atau mendapati air, tetapi hanya sedikit yang cukup untuk diminum oleh si musafir atau untuk diminum oleh hewan yang dimuliakan seperti hewan yang ia tunggangi. Catatan: Jika ada air, tetapi bila digunakan akan jatuh sakit atau membuat sakit bertambah parah sebagaimana saran dari dokter atau pengalamannya, maka dibolehkan tayamum walaupun ada air. Hal ini dinamakan uzur syar’i.   Kedua: Masuk waktu shalat. Karena tayamum adalah darurat dan tidak ada darurat sebelum masuk waktu shalat. Jika seseorang tayamum untuk shalat Shubuh sebelum waktu Shubuh masuk, maka tayamumnya harus diulangi setelah waktu Shubuh masuk.   Ketiga: Mencari air. Air dinyatakan tidak ada bila melihat empat keadaan: Jika YAKIN air tidak ada, maka boleh tayamum tanpa mesti mencari air. Jika RAGU-RAGU atau SANGKAAN KUAT adanya air, maka hendaklah mencari air di sekitarnya dengan kadar jarak AL-GHAUTS (sekitar 144 meter) dari setiap penjuru. Jika sudah dicari, lantas tidak mendapati air, maka boleh tayamum. Jika YAKIN air itu ada, maka air wajib dicari dalam kadar jarak AL-QURB (sekitar 2,57 KM). Jika YAKIN air itu ada lebih dari jarak AL-QURB, berarti yang yang disebut AL-BU’DU, boleh tayamum, tanpa mesti pergi ke air tersebut. Catatan: Disunnahkan untuk yang bertayamum mengakhirkan waktu shalat jika memang sangat yakin kalau air aka nada pada akhir waktu shalat. Jika seseorang tayamum dan sudah masuk shalat, kemudian ia melihat adanya air, kalau memang ia berada di daerah yang secara yakin air itu tidak ada (seperti di padang pasir), maka ia tetap menyelesaikan shalat dan shalatnya tak perlu diulangi. Namun, jika ia berada di daerah yang secara yakin air itu banyak (daerah subur), ia mesti keluar dari shalat dan wajib untuk berwudhu. Jika seseorang khawatir pada dirinya di tengah mencari ada bahaya yang menimpa dirinya, maka ia tidak harus mencari dan tayamum tetap sah.   Keempat: Ada air, tetapi ada uzur untuk menggunakannya dan membutuhkan air setelah mencarinya. Jika takut pada hewan buas, khawatir berpisah dari rombongan, takut pada perampok, maka tidak wajib mencari air. Jika memang membutuhkan air untuk minum, maka tidak wajib berwudhu dan cukup dengan tayamum. Catatan: Jika mendapati air dan ingin membelinya, maka tidak wajib membeli lebih dari upah semisal (tsaman al-mitsl). Tayamum tetap sah jika memang air harus dibeli dengan harga di atas dari harga normal.   Kelima: Tersedia tanah yang suci yang mengandung debu. Jika bercampur dengan kapur atau pasir, maka tidak cukup. Debu yang najis tidak sah untuk tayamum. Debu yang bercampur dengan pasir atau kapur juga tidak sah digunakan untuk tayamum. Debu yang sudah digunakan untuk tayamum, maka dianggap mustakmal, tidak bisa digunakan lagi untuk tayamum kedua kalinya. Baca juga: Mengenai Shaid yang Suci   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Bajuri. Penerbit Dar Al-Minhaj. — Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara tayamum matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah sebab tayamum tayamum

Matan Taqrib: Sebab dan Cara Tayamum

Apa saja sebab dan bagaimanakah cara tayamum yang sesuai tuntunan? Matan Taqrib (Matan Abu Syuja’) kali ini akan mengulas lebih jauh. Semoga menjadi ilmu yang manfaat.   Daftar Isi tutup 1. Syarat Tayamum 1.1. Pertama: Ada uzur, baik karena safar atau sakit. 1.2. Kedua: Masuk waktu shalat. 1.3. Ketiga: Mencari air. 1.4. Keempat: Ada air, tetapi ada uzur untuk menggunakannya dan membutuhkan air setelah mencarinya. 1.5. Kelima: Tersedia tanah yang suci yang mengandung debu. Jika bercampur dengan kapur atau pasir, maka tidak cukup. 1.6. Referensi: Syarat Tayamum Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan, وَشَرَائِطُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: وُجُوْدُ العُذْرِ بِسَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ، وَدُخُوْلُ وَقْتِ الصَّلاَةِ، وَطَلَبُ الماَءِ، وَتَعَذُّرُ اِسْتِعْمَالِهِ وَإِعْوَازُهُ بَعْدَ الطَّلَبِ، وَ التُّرَابُ الطَّاهِرُ الَّذِي لَهُ غُبَارٌ فَإِنْ خَالَطَهُ جِصٌّ أَوْ رَمْلٌ لَمْ يُجْزِ. Syarat tayamum ada lima, yaitu: Ada uzur, baik karena safar atau sakit. Masuk waktu shalat. Telah berusaha mencari air, tetapi tidak memperolehnya. Ada air, tetapi ada uzur untuk menggunakannya dan membutuhkan air setelah mencarinya. Tersedia tanah yang suci yang mengandung debu. Jika bercampur dengan kapur atau pasir, maka tidak cukup.   Pertama: Ada uzur, baik karena safar atau sakit. Allah Ta’ala berfirman, وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu.” (QS. An-Nisa’: 43) Karena kebanyakan musafir, mereka tidak mendapati air, atau mendapati air, tetapi hanya sedikit yang cukup untuk diminum oleh si musafir atau untuk diminum oleh hewan yang dimuliakan seperti hewan yang ia tunggangi. Catatan: Jika ada air, tetapi bila digunakan akan jatuh sakit atau membuat sakit bertambah parah sebagaimana saran dari dokter atau pengalamannya, maka dibolehkan tayamum walaupun ada air. Hal ini dinamakan uzur syar’i.   Kedua: Masuk waktu shalat. Karena tayamum adalah darurat dan tidak ada darurat sebelum masuk waktu shalat. Jika seseorang tayamum untuk shalat Shubuh sebelum waktu Shubuh masuk, maka tayamumnya harus diulangi setelah waktu Shubuh masuk.   Ketiga: Mencari air. Air dinyatakan tidak ada bila melihat empat keadaan: Jika YAKIN air tidak ada, maka boleh tayamum tanpa mesti mencari air. Jika RAGU-RAGU atau SANGKAAN KUAT adanya air, maka hendaklah mencari air di sekitarnya dengan kadar jarak AL-GHAUTS (sekitar 144 meter) dari setiap penjuru. Jika sudah dicari, lantas tidak mendapati air, maka boleh tayamum. Jika YAKIN air itu ada, maka air wajib dicari dalam kadar jarak AL-QURB (sekitar 2,57 KM). Jika YAKIN air itu ada lebih dari jarak AL-QURB, berarti yang yang disebut AL-BU’DU, boleh tayamum, tanpa mesti pergi ke air tersebut. Catatan: Disunnahkan untuk yang bertayamum mengakhirkan waktu shalat jika memang sangat yakin kalau air aka nada pada akhir waktu shalat. Jika seseorang tayamum dan sudah masuk shalat, kemudian ia melihat adanya air, kalau memang ia berada di daerah yang secara yakin air itu tidak ada (seperti di padang pasir), maka ia tetap menyelesaikan shalat dan shalatnya tak perlu diulangi. Namun, jika ia berada di daerah yang secara yakin air itu banyak (daerah subur), ia mesti keluar dari shalat dan wajib untuk berwudhu. Jika seseorang khawatir pada dirinya di tengah mencari ada bahaya yang menimpa dirinya, maka ia tidak harus mencari dan tayamum tetap sah.   Keempat: Ada air, tetapi ada uzur untuk menggunakannya dan membutuhkan air setelah mencarinya. Jika takut pada hewan buas, khawatir berpisah dari rombongan, takut pada perampok, maka tidak wajib mencari air. Jika memang membutuhkan air untuk minum, maka tidak wajib berwudhu dan cukup dengan tayamum. Catatan: Jika mendapati air dan ingin membelinya, maka tidak wajib membeli lebih dari upah semisal (tsaman al-mitsl). Tayamum tetap sah jika memang air harus dibeli dengan harga di atas dari harga normal.   Kelima: Tersedia tanah yang suci yang mengandung debu. Jika bercampur dengan kapur atau pasir, maka tidak cukup. Debu yang najis tidak sah untuk tayamum. Debu yang bercampur dengan pasir atau kapur juga tidak sah digunakan untuk tayamum. Debu yang sudah digunakan untuk tayamum, maka dianggap mustakmal, tidak bisa digunakan lagi untuk tayamum kedua kalinya. Baca juga: Mengenai Shaid yang Suci   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Bajuri. Penerbit Dar Al-Minhaj. — Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara tayamum matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah sebab tayamum tayamum
Apa saja sebab dan bagaimanakah cara tayamum yang sesuai tuntunan? Matan Taqrib (Matan Abu Syuja’) kali ini akan mengulas lebih jauh. Semoga menjadi ilmu yang manfaat.   Daftar Isi tutup 1. Syarat Tayamum 1.1. Pertama: Ada uzur, baik karena safar atau sakit. 1.2. Kedua: Masuk waktu shalat. 1.3. Ketiga: Mencari air. 1.4. Keempat: Ada air, tetapi ada uzur untuk menggunakannya dan membutuhkan air setelah mencarinya. 1.5. Kelima: Tersedia tanah yang suci yang mengandung debu. Jika bercampur dengan kapur atau pasir, maka tidak cukup. 1.6. Referensi: Syarat Tayamum Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan, وَشَرَائِطُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: وُجُوْدُ العُذْرِ بِسَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ، وَدُخُوْلُ وَقْتِ الصَّلاَةِ، وَطَلَبُ الماَءِ، وَتَعَذُّرُ اِسْتِعْمَالِهِ وَإِعْوَازُهُ بَعْدَ الطَّلَبِ، وَ التُّرَابُ الطَّاهِرُ الَّذِي لَهُ غُبَارٌ فَإِنْ خَالَطَهُ جِصٌّ أَوْ رَمْلٌ لَمْ يُجْزِ. Syarat tayamum ada lima, yaitu: Ada uzur, baik karena safar atau sakit. Masuk waktu shalat. Telah berusaha mencari air, tetapi tidak memperolehnya. Ada air, tetapi ada uzur untuk menggunakannya dan membutuhkan air setelah mencarinya. Tersedia tanah yang suci yang mengandung debu. Jika bercampur dengan kapur atau pasir, maka tidak cukup.   Pertama: Ada uzur, baik karena safar atau sakit. Allah Ta’ala berfirman, وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu.” (QS. An-Nisa’: 43) Karena kebanyakan musafir, mereka tidak mendapati air, atau mendapati air, tetapi hanya sedikit yang cukup untuk diminum oleh si musafir atau untuk diminum oleh hewan yang dimuliakan seperti hewan yang ia tunggangi. Catatan: Jika ada air, tetapi bila digunakan akan jatuh sakit atau membuat sakit bertambah parah sebagaimana saran dari dokter atau pengalamannya, maka dibolehkan tayamum walaupun ada air. Hal ini dinamakan uzur syar’i.   Kedua: Masuk waktu shalat. Karena tayamum adalah darurat dan tidak ada darurat sebelum masuk waktu shalat. Jika seseorang tayamum untuk shalat Shubuh sebelum waktu Shubuh masuk, maka tayamumnya harus diulangi setelah waktu Shubuh masuk.   Ketiga: Mencari air. Air dinyatakan tidak ada bila melihat empat keadaan: Jika YAKIN air tidak ada, maka boleh tayamum tanpa mesti mencari air. Jika RAGU-RAGU atau SANGKAAN KUAT adanya air, maka hendaklah mencari air di sekitarnya dengan kadar jarak AL-GHAUTS (sekitar 144 meter) dari setiap penjuru. Jika sudah dicari, lantas tidak mendapati air, maka boleh tayamum. Jika YAKIN air itu ada, maka air wajib dicari dalam kadar jarak AL-QURB (sekitar 2,57 KM). Jika YAKIN air itu ada lebih dari jarak AL-QURB, berarti yang yang disebut AL-BU’DU, boleh tayamum, tanpa mesti pergi ke air tersebut. Catatan: Disunnahkan untuk yang bertayamum mengakhirkan waktu shalat jika memang sangat yakin kalau air aka nada pada akhir waktu shalat. Jika seseorang tayamum dan sudah masuk shalat, kemudian ia melihat adanya air, kalau memang ia berada di daerah yang secara yakin air itu tidak ada (seperti di padang pasir), maka ia tetap menyelesaikan shalat dan shalatnya tak perlu diulangi. Namun, jika ia berada di daerah yang secara yakin air itu banyak (daerah subur), ia mesti keluar dari shalat dan wajib untuk berwudhu. Jika seseorang khawatir pada dirinya di tengah mencari ada bahaya yang menimpa dirinya, maka ia tidak harus mencari dan tayamum tetap sah.   Keempat: Ada air, tetapi ada uzur untuk menggunakannya dan membutuhkan air setelah mencarinya. Jika takut pada hewan buas, khawatir berpisah dari rombongan, takut pada perampok, maka tidak wajib mencari air. Jika memang membutuhkan air untuk minum, maka tidak wajib berwudhu dan cukup dengan tayamum. Catatan: Jika mendapati air dan ingin membelinya, maka tidak wajib membeli lebih dari upah semisal (tsaman al-mitsl). Tayamum tetap sah jika memang air harus dibeli dengan harga di atas dari harga normal.   Kelima: Tersedia tanah yang suci yang mengandung debu. Jika bercampur dengan kapur atau pasir, maka tidak cukup. Debu yang najis tidak sah untuk tayamum. Debu yang bercampur dengan pasir atau kapur juga tidak sah digunakan untuk tayamum. Debu yang sudah digunakan untuk tayamum, maka dianggap mustakmal, tidak bisa digunakan lagi untuk tayamum kedua kalinya. Baca juga: Mengenai Shaid yang Suci   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Bajuri. Penerbit Dar Al-Minhaj. — Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara tayamum matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah sebab tayamum tayamum


Apa saja sebab dan bagaimanakah cara tayamum yang sesuai tuntunan? Matan Taqrib (Matan Abu Syuja’) kali ini akan mengulas lebih jauh. Semoga menjadi ilmu yang manfaat.   Daftar Isi tutup 1. Syarat Tayamum 1.1. Pertama: Ada uzur, baik karena safar atau sakit. 1.2. Kedua: Masuk waktu shalat. 1.3. Ketiga: Mencari air. 1.4. Keempat: Ada air, tetapi ada uzur untuk menggunakannya dan membutuhkan air setelah mencarinya. 1.5. Kelima: Tersedia tanah yang suci yang mengandung debu. Jika bercampur dengan kapur atau pasir, maka tidak cukup. 1.6. Referensi: Syarat Tayamum Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan, وَشَرَائِطُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: وُجُوْدُ العُذْرِ بِسَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ، وَدُخُوْلُ وَقْتِ الصَّلاَةِ، وَطَلَبُ الماَءِ، وَتَعَذُّرُ اِسْتِعْمَالِهِ وَإِعْوَازُهُ بَعْدَ الطَّلَبِ، وَ التُّرَابُ الطَّاهِرُ الَّذِي لَهُ غُبَارٌ فَإِنْ خَالَطَهُ جِصٌّ أَوْ رَمْلٌ لَمْ يُجْزِ. Syarat tayamum ada lima, yaitu: Ada uzur, baik karena safar atau sakit. Masuk waktu shalat. Telah berusaha mencari air, tetapi tidak memperolehnya. Ada air, tetapi ada uzur untuk menggunakannya dan membutuhkan air setelah mencarinya. Tersedia tanah yang suci yang mengandung debu. Jika bercampur dengan kapur atau pasir, maka tidak cukup.   Pertama: Ada uzur, baik karena safar atau sakit. Allah Ta’ala berfirman, وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu.” (QS. An-Nisa’: 43) Karena kebanyakan musafir, mereka tidak mendapati air, atau mendapati air, tetapi hanya sedikit yang cukup untuk diminum oleh si musafir atau untuk diminum oleh hewan yang dimuliakan seperti hewan yang ia tunggangi. Catatan: Jika ada air, tetapi bila digunakan akan jatuh sakit atau membuat sakit bertambah parah sebagaimana saran dari dokter atau pengalamannya, maka dibolehkan tayamum walaupun ada air. Hal ini dinamakan uzur syar’i.   Kedua: Masuk waktu shalat. Karena tayamum adalah darurat dan tidak ada darurat sebelum masuk waktu shalat. Jika seseorang tayamum untuk shalat Shubuh sebelum waktu Shubuh masuk, maka tayamumnya harus diulangi setelah waktu Shubuh masuk.   Ketiga: Mencari air. Air dinyatakan tidak ada bila melihat empat keadaan: Jika YAKIN air tidak ada, maka boleh tayamum tanpa mesti mencari air. Jika RAGU-RAGU atau SANGKAAN KUAT adanya air, maka hendaklah mencari air di sekitarnya dengan kadar jarak AL-GHAUTS (sekitar 144 meter) dari setiap penjuru. Jika sudah dicari, lantas tidak mendapati air, maka boleh tayamum. Jika YAKIN air itu ada, maka air wajib dicari dalam kadar jarak AL-QURB (sekitar 2,57 KM). Jika YAKIN air itu ada lebih dari jarak AL-QURB, berarti yang yang disebut AL-BU’DU, boleh tayamum, tanpa mesti pergi ke air tersebut. Catatan: Disunnahkan untuk yang bertayamum mengakhirkan waktu shalat jika memang sangat yakin kalau air aka nada pada akhir waktu shalat. Jika seseorang tayamum dan sudah masuk shalat, kemudian ia melihat adanya air, kalau memang ia berada di daerah yang secara yakin air itu tidak ada (seperti di padang pasir), maka ia tetap menyelesaikan shalat dan shalatnya tak perlu diulangi. Namun, jika ia berada di daerah yang secara yakin air itu banyak (daerah subur), ia mesti keluar dari shalat dan wajib untuk berwudhu. Jika seseorang khawatir pada dirinya di tengah mencari ada bahaya yang menimpa dirinya, maka ia tidak harus mencari dan tayamum tetap sah.   Keempat: Ada air, tetapi ada uzur untuk menggunakannya dan membutuhkan air setelah mencarinya. Jika takut pada hewan buas, khawatir berpisah dari rombongan, takut pada perampok, maka tidak wajib mencari air. Jika memang membutuhkan air untuk minum, maka tidak wajib berwudhu dan cukup dengan tayamum. Catatan: Jika mendapati air dan ingin membelinya, maka tidak wajib membeli lebih dari upah semisal (tsaman al-mitsl). Tayamum tetap sah jika memang air harus dibeli dengan harga di atas dari harga normal.   Kelima: Tersedia tanah yang suci yang mengandung debu. Jika bercampur dengan kapur atau pasir, maka tidak cukup. Debu yang najis tidak sah untuk tayamum. Debu yang bercampur dengan pasir atau kapur juga tidak sah digunakan untuk tayamum. Debu yang sudah digunakan untuk tayamum, maka dianggap mustakmal, tidak bisa digunakan lagi untuk tayamum kedua kalinya. Baca juga: Mengenai Shaid yang Suci   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Bajuri. Penerbit Dar Al-Minhaj. — Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara tayamum matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah sebab tayamum tayamum

2 Syarat Bolehnya Mengqada Salat Rawatib – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Dia bertanya, “Apakah disyariatkanuntuk mengqada Salat Sunah Rawatibdan kapan batas waktu untuk mengqadanya?” Jawabnya: “Ya.”Barang siapa yang terlewat mengerjakan Salat Sunah Rawatib,dia boleh mengqadanya dengan dua syarat: [Pertama]Dia sudah rutin melakukannya.Adapun orang yang tidak rutin melakukannya, kemudian dia ingin mengqadanya,maka dia tidak berhak melakukannya secara syariat. [Kedua]Hal itu terjadi bukan karena dia melalaikannya.Artinya, dia tidak menyengaja meninggalkannya, lalu menyesalinya,sehingga ingin menyempurnakannya. Jadi, hanya jika disebabkan sesuatu yang di luar kendalinya.Dia bisa mengqadanya sebelum masuk waktu salat berikutnya.Jika dia tidak ingat kecuali ketika masuk waktu salat berikutnya,maka dia tetap boleh mengerjakannya. ==== يَقُولُ هَلْ يُشْرَعُ قَضَاءُ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ وَمَا آخِرُ وَقْتِ قَضَائِهَا؟ الْجَوَابُ: نَعَمْ مَنْ فَاتَهُ شَيْءٌ مِنَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ يَقْضِيهِ بِشَرْطَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ مُعْتَادًا فِعْلَهَا فَأَمَّا مَنْ لَمْ يَعْتَدْ فِعْلَهَا ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ أَهْلًا لِذَلِكَ فِي الشَّرْعِ وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ بِغَيْرِ تَفْرِيطٍ مِنْهُ أَيْ لَا يَتَعَمَّدُ تَرْكَهُ ثُمَّ يَنْدَمُ وَيُرِيدُ أَنْ يَسْتَدْرِكَهُ وَإِنَّمَا يُغْلَبُ عَلَى ذَلِكَ غَلَبَةً وَيَقْضِيهَا قَبْلَ دُخُولِ وَقْتِ الصَّلَاةِ الثَّانِيَةِ فَإِنْ لَمْ يَذْكُرْهَا إِلَّا مَعَ دُخُولِ الصَّلَاةِ الثَّانِيَةِ فَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا أَيْضًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

2 Syarat Bolehnya Mengqada Salat Rawatib – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Dia bertanya, “Apakah disyariatkanuntuk mengqada Salat Sunah Rawatibdan kapan batas waktu untuk mengqadanya?” Jawabnya: “Ya.”Barang siapa yang terlewat mengerjakan Salat Sunah Rawatib,dia boleh mengqadanya dengan dua syarat: [Pertama]Dia sudah rutin melakukannya.Adapun orang yang tidak rutin melakukannya, kemudian dia ingin mengqadanya,maka dia tidak berhak melakukannya secara syariat. [Kedua]Hal itu terjadi bukan karena dia melalaikannya.Artinya, dia tidak menyengaja meninggalkannya, lalu menyesalinya,sehingga ingin menyempurnakannya. Jadi, hanya jika disebabkan sesuatu yang di luar kendalinya.Dia bisa mengqadanya sebelum masuk waktu salat berikutnya.Jika dia tidak ingat kecuali ketika masuk waktu salat berikutnya,maka dia tetap boleh mengerjakannya. ==== يَقُولُ هَلْ يُشْرَعُ قَضَاءُ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ وَمَا آخِرُ وَقْتِ قَضَائِهَا؟ الْجَوَابُ: نَعَمْ مَنْ فَاتَهُ شَيْءٌ مِنَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ يَقْضِيهِ بِشَرْطَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ مُعْتَادًا فِعْلَهَا فَأَمَّا مَنْ لَمْ يَعْتَدْ فِعْلَهَا ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ أَهْلًا لِذَلِكَ فِي الشَّرْعِ وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ بِغَيْرِ تَفْرِيطٍ مِنْهُ أَيْ لَا يَتَعَمَّدُ تَرْكَهُ ثُمَّ يَنْدَمُ وَيُرِيدُ أَنْ يَسْتَدْرِكَهُ وَإِنَّمَا يُغْلَبُ عَلَى ذَلِكَ غَلَبَةً وَيَقْضِيهَا قَبْلَ دُخُولِ وَقْتِ الصَّلَاةِ الثَّانِيَةِ فَإِنْ لَمْ يَذْكُرْهَا إِلَّا مَعَ دُخُولِ الصَّلَاةِ الثَّانِيَةِ فَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا أَيْضًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Dia bertanya, “Apakah disyariatkanuntuk mengqada Salat Sunah Rawatibdan kapan batas waktu untuk mengqadanya?” Jawabnya: “Ya.”Barang siapa yang terlewat mengerjakan Salat Sunah Rawatib,dia boleh mengqadanya dengan dua syarat: [Pertama]Dia sudah rutin melakukannya.Adapun orang yang tidak rutin melakukannya, kemudian dia ingin mengqadanya,maka dia tidak berhak melakukannya secara syariat. [Kedua]Hal itu terjadi bukan karena dia melalaikannya.Artinya, dia tidak menyengaja meninggalkannya, lalu menyesalinya,sehingga ingin menyempurnakannya. Jadi, hanya jika disebabkan sesuatu yang di luar kendalinya.Dia bisa mengqadanya sebelum masuk waktu salat berikutnya.Jika dia tidak ingat kecuali ketika masuk waktu salat berikutnya,maka dia tetap boleh mengerjakannya. ==== يَقُولُ هَلْ يُشْرَعُ قَضَاءُ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ وَمَا آخِرُ وَقْتِ قَضَائِهَا؟ الْجَوَابُ: نَعَمْ مَنْ فَاتَهُ شَيْءٌ مِنَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ يَقْضِيهِ بِشَرْطَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ مُعْتَادًا فِعْلَهَا فَأَمَّا مَنْ لَمْ يَعْتَدْ فِعْلَهَا ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ أَهْلًا لِذَلِكَ فِي الشَّرْعِ وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ بِغَيْرِ تَفْرِيطٍ مِنْهُ أَيْ لَا يَتَعَمَّدُ تَرْكَهُ ثُمَّ يَنْدَمُ وَيُرِيدُ أَنْ يَسْتَدْرِكَهُ وَإِنَّمَا يُغْلَبُ عَلَى ذَلِكَ غَلَبَةً وَيَقْضِيهَا قَبْلَ دُخُولِ وَقْتِ الصَّلَاةِ الثَّانِيَةِ فَإِنْ لَمْ يَذْكُرْهَا إِلَّا مَعَ دُخُولِ الصَّلَاةِ الثَّانِيَةِ فَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا أَيْضًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Dia bertanya, “Apakah disyariatkanuntuk mengqada Salat Sunah Rawatibdan kapan batas waktu untuk mengqadanya?” Jawabnya: “Ya.”Barang siapa yang terlewat mengerjakan Salat Sunah Rawatib,dia boleh mengqadanya dengan dua syarat: [Pertama]Dia sudah rutin melakukannya.Adapun orang yang tidak rutin melakukannya, kemudian dia ingin mengqadanya,maka dia tidak berhak melakukannya secara syariat. [Kedua]Hal itu terjadi bukan karena dia melalaikannya.Artinya, dia tidak menyengaja meninggalkannya, lalu menyesalinya,sehingga ingin menyempurnakannya. Jadi, hanya jika disebabkan sesuatu yang di luar kendalinya.Dia bisa mengqadanya sebelum masuk waktu salat berikutnya.Jika dia tidak ingat kecuali ketika masuk waktu salat berikutnya,maka dia tetap boleh mengerjakannya. ==== يَقُولُ هَلْ يُشْرَعُ قَضَاءُ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ وَمَا آخِرُ وَقْتِ قَضَائِهَا؟ الْجَوَابُ: نَعَمْ مَنْ فَاتَهُ شَيْءٌ مِنَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ يَقْضِيهِ بِشَرْطَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ مُعْتَادًا فِعْلَهَا فَأَمَّا مَنْ لَمْ يَعْتَدْ فِعْلَهَا ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ أَهْلًا لِذَلِكَ فِي الشَّرْعِ وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ بِغَيْرِ تَفْرِيطٍ مِنْهُ أَيْ لَا يَتَعَمَّدُ تَرْكَهُ ثُمَّ يَنْدَمُ وَيُرِيدُ أَنْ يَسْتَدْرِكَهُ وَإِنَّمَا يُغْلَبُ عَلَى ذَلِكَ غَلَبَةً وَيَقْضِيهَا قَبْلَ دُخُولِ وَقْتِ الصَّلَاةِ الثَّانِيَةِ فَإِنْ لَمْ يَذْكُرْهَا إِلَّا مَعَ دُخُولِ الصَّلَاةِ الثَّانِيَةِ فَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا أَيْضًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Rahasia Strategi Nabi Musa vs Penyihir Fir’aun – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Ini berdasarkan klaim si raja zalim, Fir’aun,yang berkata, “Apakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu, wahai Musa? Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu …”“Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu.”Yakni sihir yang kamu datangkan itu akan kami datangkan pula sihir tandingannya. “Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu, maka buatlah suatu perjanjian untuk pertemuan antara kami dan kamu,yang kami dan kamu tidak akan menyalahi perjanjian itu, di suatu tempat yang terbuka.” (QS. Thaha: 57 – 58) Fir’aun meminta penetapan waktudan tempat agar mereka dapat berkumpul di sana.Sehingga Nabi Musa dapat datang membawa mukjizat-mukjizat yang ia milikiyang diklaim Fir’aun sebagai salah satu bentuk sihir. Fir’aun juga datangdengan sihir yang dia klaim sebagai sihir yang dibawa oleh Nabi Musa ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu. Fir’aun berkata, “Buatlah perjanjian antara kami dan kamu, yang tidak akan dilanggar oleh kami dan juga dirimudi tempat yang terbuka.” Yakni kita bertemu di tempat yang telah diketahui dengan jelas,tanah lapang yang luas,sehingga seluruh orang yang datang dapat menyaksikan pertarungan. Seluruh orang yang datang dapat menyaksikan pertarungan.Tanah lapang yang luas, orang yang hadir di tempat itu dapat menyaksikan pertarungan.Tetapkan pada kami perjanjian pasti dan waktu tertentu, agar kita bertemu di sana. Maka Nabi Musa ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu memilih hari raya.Mengapa?Beliau ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu memilih hari raya, karena itu adalah hari ketikasemua orang beristirahat dari pekerjaan merekadan libur dari kesibukan, urusan, pekerjaan, dan tugas mereka, dan lain sebagainya. Sehingga orang-orang dapat berkumpul dengan jumlah sebanyak mungkin.Oleh sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ilham kepada Nabi-Nyaagar mengatakan, “Perjanjian kalian (dengan aku) adalah pada hari berhias (hari raya) dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada waktu Duha (pagi hari).” (QS. Thaha: 59) Jadi, perjanjiannya adalah pada hari raya,dan hari raya adalah hari untuk berhias.Nabi Musa memilih kapan? Waktu Duha. Beliau memilih waktu Duha,dan waktu Duha adalah permulaan cerahnya cahaya siang hari,sehingga segala perkara dapat terlihat jelas. Sihir—sebagaimana yang disebutkan para ulama rahimahumullah—kekuatannya ada pada malam hari. Kebanyakan pekerjaan para penyihir dilakukan di malam hari,dan jika keadaan menuntut penyihir untuk melakukan amalan sihir di siang hari,maka ia pasti akan memilih ruangan yang gelap,dan juga akan menyalakan kemenyan dan dupa. Jadi, kekuatan sihir ada di malam hari.Nabi Musa ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu memilih waktu cerahnya siang.Beliau memilih waktu ini agar seluruh orang yang hadir di tempat itudapat melihat dan menyaksikan dengan benar-benar jelas. ==== هَذَا بِزَعْمِ هَذَا الطَّاغِيَةِ فِرْعَوْنَ قَالَ أَجِئْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ أَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يَا مُوسَى؟ فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسحْرٍ مِثْلِهِ فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسحْرٍ مِثْلِهِ هَذَا السِّحْرُ الَّذِي جِئْتَ بِهِ سَنَأْتِيْكَ بِسِحْرٍ مُمَاثِلٍ لَهُ فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسحْرٍ مِثْلِهِ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنْتَ مَكَانًا سُوَى طَلَبَ تَحْدِيدَ وَقْتٍ وَمَكَانٍ يَجْتَمِعُونَ فِيهِ بِحَيْثُ يَأْتِي مُوسَى بِهَذِهِ الْآيَاتِ الَّتِي مَعَهُ وَالَّتِي يَزْعُمُ فِرْعَوْنُ أَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ ضُرُوبِ السِّحْرِ وَيَأْتِي فِرْعَوْنُ بِالسِّحْرِ الَّذِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مُمَاثِلٌ لِهَذَا الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ قَالَ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنْتَ مَكَانًا سُوَى أَي نَجْتَمِعُ فِي مَكَانٍ مَعْلَمٍ وَاضِحٍ أَرْضٍ مُسْتَوِيَةٍ مُنْبَسِطَةٍ بِحَيْث كُلُّ مَنْ حَضَرَ يُشَاهِدُ النِّزَالَ بِحَيْث كُلُّ مَنْ حَضَرَ يُشَاهِدُ النِّزَالَ أَرْضٌ مُسْتَوِيَةٌ مُنْبَسِطَةٌ فَمَنْ حَضَرَ إِلَى الْمَكَانِ أَيْضًا يُشَاهِدُ النِّزَالَ وَحَدِّدْ لَنَا مَوْعِدًا مُعَيَّنًا وَوَقْتًا مُحَدَّدًا نَجْتَمِعُ فِيهِ فَاخْتَارَ مُوسَى عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ يَوْمَ الْعِيدِ لِمَاذَا؟ اخْتَارَ عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ يَوْمَ الْعِيدِ لِأَنَّهُ يَوْمٌ يَتَفَرَّغُ فِيهِ جَمِيعُ النَّاسِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَيَتَخَلَّوْا مِنْ أَشْغَالِهِمْ وَشُؤُوْنِهِمْ وَأَعْمَالِهِم وَوَظَائِفِهِمْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ بِحَيْثُ يَجْتَمِعُ أَكْبَرُ عَدَدٍ مُمْكِنٍ مِنَ النَّاسِ وَلِهَذَا أَلْهَمَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَبِيَّهُ أَنْ قَالَ مَوْعِدُكُم يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى الْمَوْعِدُ يَوْمُ الْعِيدِ وَيَوْمُ الْعِيدِ هُوَ يَوْمُ الزِّينَةِ وَاخْتَارَ مَاذَا؟ وَقْتَ الضُّحَى اخْتَارَ وَقْتَ الضُّحَى وَوَقْتُ الضُّحَى هُو بِدَايَةُ وَضَحِ النَّهَارِ بِحَيْثُ يَكُونُ كُلُّ الْأُمُورِ وَاضِحَةً وَالسِّحْرُ كَمَا ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ سُلْطَانُهُ فِي اللَّيْلِ وَأَكْثَرُ عَمَلِ السَّحَرَةِ وَأَغْلَبُهُ فِي اللَّيْلِ وَإِذَا اسْتَدْعَى الْمَقَامُ مِنْ سَاحِرٍ أَنْ يَتَعَاطَى سِحْرًا فِي النَّهَارِ فَإِنَّهُ يَخْتَارُ غُرْفَةً مُظْلِمَةً وَيُشْعِلُهَا أَيْضًا بِالْأَبْخِرَةِ وَالْأَدْخِنَةِ فَسُلْطَانُ السِّحْرِ بِاللَّيْلِ اخْتَارَ مُوسَى عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَضَحَ النَّهَارِ اخْتَارَ هَذَا الْوَقْتَ حَتَّى يَتَمَكَّنَ كُلُّ مَنْ حَضَرَ إِلَى هَذَا الْمَكَانِ مِنَ الْمُعَايَنَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ بِتَمَامِ الْوُضُوحِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Rahasia Strategi Nabi Musa vs Penyihir Fir’aun – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Ini berdasarkan klaim si raja zalim, Fir’aun,yang berkata, “Apakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu, wahai Musa? Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu …”“Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu.”Yakni sihir yang kamu datangkan itu akan kami datangkan pula sihir tandingannya. “Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu, maka buatlah suatu perjanjian untuk pertemuan antara kami dan kamu,yang kami dan kamu tidak akan menyalahi perjanjian itu, di suatu tempat yang terbuka.” (QS. Thaha: 57 – 58) Fir’aun meminta penetapan waktudan tempat agar mereka dapat berkumpul di sana.Sehingga Nabi Musa dapat datang membawa mukjizat-mukjizat yang ia milikiyang diklaim Fir’aun sebagai salah satu bentuk sihir. Fir’aun juga datangdengan sihir yang dia klaim sebagai sihir yang dibawa oleh Nabi Musa ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu. Fir’aun berkata, “Buatlah perjanjian antara kami dan kamu, yang tidak akan dilanggar oleh kami dan juga dirimudi tempat yang terbuka.” Yakni kita bertemu di tempat yang telah diketahui dengan jelas,tanah lapang yang luas,sehingga seluruh orang yang datang dapat menyaksikan pertarungan. Seluruh orang yang datang dapat menyaksikan pertarungan.Tanah lapang yang luas, orang yang hadir di tempat itu dapat menyaksikan pertarungan.Tetapkan pada kami perjanjian pasti dan waktu tertentu, agar kita bertemu di sana. Maka Nabi Musa ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu memilih hari raya.Mengapa?Beliau ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu memilih hari raya, karena itu adalah hari ketikasemua orang beristirahat dari pekerjaan merekadan libur dari kesibukan, urusan, pekerjaan, dan tugas mereka, dan lain sebagainya. Sehingga orang-orang dapat berkumpul dengan jumlah sebanyak mungkin.Oleh sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ilham kepada Nabi-Nyaagar mengatakan, “Perjanjian kalian (dengan aku) adalah pada hari berhias (hari raya) dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada waktu Duha (pagi hari).” (QS. Thaha: 59) Jadi, perjanjiannya adalah pada hari raya,dan hari raya adalah hari untuk berhias.Nabi Musa memilih kapan? Waktu Duha. Beliau memilih waktu Duha,dan waktu Duha adalah permulaan cerahnya cahaya siang hari,sehingga segala perkara dapat terlihat jelas. Sihir—sebagaimana yang disebutkan para ulama rahimahumullah—kekuatannya ada pada malam hari. Kebanyakan pekerjaan para penyihir dilakukan di malam hari,dan jika keadaan menuntut penyihir untuk melakukan amalan sihir di siang hari,maka ia pasti akan memilih ruangan yang gelap,dan juga akan menyalakan kemenyan dan dupa. Jadi, kekuatan sihir ada di malam hari.Nabi Musa ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu memilih waktu cerahnya siang.Beliau memilih waktu ini agar seluruh orang yang hadir di tempat itudapat melihat dan menyaksikan dengan benar-benar jelas. ==== هَذَا بِزَعْمِ هَذَا الطَّاغِيَةِ فِرْعَوْنَ قَالَ أَجِئْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ أَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يَا مُوسَى؟ فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسحْرٍ مِثْلِهِ فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسحْرٍ مِثْلِهِ هَذَا السِّحْرُ الَّذِي جِئْتَ بِهِ سَنَأْتِيْكَ بِسِحْرٍ مُمَاثِلٍ لَهُ فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسحْرٍ مِثْلِهِ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنْتَ مَكَانًا سُوَى طَلَبَ تَحْدِيدَ وَقْتٍ وَمَكَانٍ يَجْتَمِعُونَ فِيهِ بِحَيْثُ يَأْتِي مُوسَى بِهَذِهِ الْآيَاتِ الَّتِي مَعَهُ وَالَّتِي يَزْعُمُ فِرْعَوْنُ أَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ ضُرُوبِ السِّحْرِ وَيَأْتِي فِرْعَوْنُ بِالسِّحْرِ الَّذِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مُمَاثِلٌ لِهَذَا الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ قَالَ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنْتَ مَكَانًا سُوَى أَي نَجْتَمِعُ فِي مَكَانٍ مَعْلَمٍ وَاضِحٍ أَرْضٍ مُسْتَوِيَةٍ مُنْبَسِطَةٍ بِحَيْث كُلُّ مَنْ حَضَرَ يُشَاهِدُ النِّزَالَ بِحَيْث كُلُّ مَنْ حَضَرَ يُشَاهِدُ النِّزَالَ أَرْضٌ مُسْتَوِيَةٌ مُنْبَسِطَةٌ فَمَنْ حَضَرَ إِلَى الْمَكَانِ أَيْضًا يُشَاهِدُ النِّزَالَ وَحَدِّدْ لَنَا مَوْعِدًا مُعَيَّنًا وَوَقْتًا مُحَدَّدًا نَجْتَمِعُ فِيهِ فَاخْتَارَ مُوسَى عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ يَوْمَ الْعِيدِ لِمَاذَا؟ اخْتَارَ عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ يَوْمَ الْعِيدِ لِأَنَّهُ يَوْمٌ يَتَفَرَّغُ فِيهِ جَمِيعُ النَّاسِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَيَتَخَلَّوْا مِنْ أَشْغَالِهِمْ وَشُؤُوْنِهِمْ وَأَعْمَالِهِم وَوَظَائِفِهِمْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ بِحَيْثُ يَجْتَمِعُ أَكْبَرُ عَدَدٍ مُمْكِنٍ مِنَ النَّاسِ وَلِهَذَا أَلْهَمَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَبِيَّهُ أَنْ قَالَ مَوْعِدُكُم يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى الْمَوْعِدُ يَوْمُ الْعِيدِ وَيَوْمُ الْعِيدِ هُوَ يَوْمُ الزِّينَةِ وَاخْتَارَ مَاذَا؟ وَقْتَ الضُّحَى اخْتَارَ وَقْتَ الضُّحَى وَوَقْتُ الضُّحَى هُو بِدَايَةُ وَضَحِ النَّهَارِ بِحَيْثُ يَكُونُ كُلُّ الْأُمُورِ وَاضِحَةً وَالسِّحْرُ كَمَا ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ سُلْطَانُهُ فِي اللَّيْلِ وَأَكْثَرُ عَمَلِ السَّحَرَةِ وَأَغْلَبُهُ فِي اللَّيْلِ وَإِذَا اسْتَدْعَى الْمَقَامُ مِنْ سَاحِرٍ أَنْ يَتَعَاطَى سِحْرًا فِي النَّهَارِ فَإِنَّهُ يَخْتَارُ غُرْفَةً مُظْلِمَةً وَيُشْعِلُهَا أَيْضًا بِالْأَبْخِرَةِ وَالْأَدْخِنَةِ فَسُلْطَانُ السِّحْرِ بِاللَّيْلِ اخْتَارَ مُوسَى عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَضَحَ النَّهَارِ اخْتَارَ هَذَا الْوَقْتَ حَتَّى يَتَمَكَّنَ كُلُّ مَنْ حَضَرَ إِلَى هَذَا الْمَكَانِ مِنَ الْمُعَايَنَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ بِتَمَامِ الْوُضُوحِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ini berdasarkan klaim si raja zalim, Fir’aun,yang berkata, “Apakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu, wahai Musa? Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu …”“Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu.”Yakni sihir yang kamu datangkan itu akan kami datangkan pula sihir tandingannya. “Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu, maka buatlah suatu perjanjian untuk pertemuan antara kami dan kamu,yang kami dan kamu tidak akan menyalahi perjanjian itu, di suatu tempat yang terbuka.” (QS. Thaha: 57 – 58) Fir’aun meminta penetapan waktudan tempat agar mereka dapat berkumpul di sana.Sehingga Nabi Musa dapat datang membawa mukjizat-mukjizat yang ia milikiyang diklaim Fir’aun sebagai salah satu bentuk sihir. Fir’aun juga datangdengan sihir yang dia klaim sebagai sihir yang dibawa oleh Nabi Musa ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu. Fir’aun berkata, “Buatlah perjanjian antara kami dan kamu, yang tidak akan dilanggar oleh kami dan juga dirimudi tempat yang terbuka.” Yakni kita bertemu di tempat yang telah diketahui dengan jelas,tanah lapang yang luas,sehingga seluruh orang yang datang dapat menyaksikan pertarungan. Seluruh orang yang datang dapat menyaksikan pertarungan.Tanah lapang yang luas, orang yang hadir di tempat itu dapat menyaksikan pertarungan.Tetapkan pada kami perjanjian pasti dan waktu tertentu, agar kita bertemu di sana. Maka Nabi Musa ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu memilih hari raya.Mengapa?Beliau ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu memilih hari raya, karena itu adalah hari ketikasemua orang beristirahat dari pekerjaan merekadan libur dari kesibukan, urusan, pekerjaan, dan tugas mereka, dan lain sebagainya. Sehingga orang-orang dapat berkumpul dengan jumlah sebanyak mungkin.Oleh sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ilham kepada Nabi-Nyaagar mengatakan, “Perjanjian kalian (dengan aku) adalah pada hari berhias (hari raya) dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada waktu Duha (pagi hari).” (QS. Thaha: 59) Jadi, perjanjiannya adalah pada hari raya,dan hari raya adalah hari untuk berhias.Nabi Musa memilih kapan? Waktu Duha. Beliau memilih waktu Duha,dan waktu Duha adalah permulaan cerahnya cahaya siang hari,sehingga segala perkara dapat terlihat jelas. Sihir—sebagaimana yang disebutkan para ulama rahimahumullah—kekuatannya ada pada malam hari. Kebanyakan pekerjaan para penyihir dilakukan di malam hari,dan jika keadaan menuntut penyihir untuk melakukan amalan sihir di siang hari,maka ia pasti akan memilih ruangan yang gelap,dan juga akan menyalakan kemenyan dan dupa. Jadi, kekuatan sihir ada di malam hari.Nabi Musa ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu memilih waktu cerahnya siang.Beliau memilih waktu ini agar seluruh orang yang hadir di tempat itudapat melihat dan menyaksikan dengan benar-benar jelas. ==== هَذَا بِزَعْمِ هَذَا الطَّاغِيَةِ فِرْعَوْنَ قَالَ أَجِئْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ أَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يَا مُوسَى؟ فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسحْرٍ مِثْلِهِ فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسحْرٍ مِثْلِهِ هَذَا السِّحْرُ الَّذِي جِئْتَ بِهِ سَنَأْتِيْكَ بِسِحْرٍ مُمَاثِلٍ لَهُ فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسحْرٍ مِثْلِهِ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنْتَ مَكَانًا سُوَى طَلَبَ تَحْدِيدَ وَقْتٍ وَمَكَانٍ يَجْتَمِعُونَ فِيهِ بِحَيْثُ يَأْتِي مُوسَى بِهَذِهِ الْآيَاتِ الَّتِي مَعَهُ وَالَّتِي يَزْعُمُ فِرْعَوْنُ أَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ ضُرُوبِ السِّحْرِ وَيَأْتِي فِرْعَوْنُ بِالسِّحْرِ الَّذِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مُمَاثِلٌ لِهَذَا الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ قَالَ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنْتَ مَكَانًا سُوَى أَي نَجْتَمِعُ فِي مَكَانٍ مَعْلَمٍ وَاضِحٍ أَرْضٍ مُسْتَوِيَةٍ مُنْبَسِطَةٍ بِحَيْث كُلُّ مَنْ حَضَرَ يُشَاهِدُ النِّزَالَ بِحَيْث كُلُّ مَنْ حَضَرَ يُشَاهِدُ النِّزَالَ أَرْضٌ مُسْتَوِيَةٌ مُنْبَسِطَةٌ فَمَنْ حَضَرَ إِلَى الْمَكَانِ أَيْضًا يُشَاهِدُ النِّزَالَ وَحَدِّدْ لَنَا مَوْعِدًا مُعَيَّنًا وَوَقْتًا مُحَدَّدًا نَجْتَمِعُ فِيهِ فَاخْتَارَ مُوسَى عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ يَوْمَ الْعِيدِ لِمَاذَا؟ اخْتَارَ عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ يَوْمَ الْعِيدِ لِأَنَّهُ يَوْمٌ يَتَفَرَّغُ فِيهِ جَمِيعُ النَّاسِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَيَتَخَلَّوْا مِنْ أَشْغَالِهِمْ وَشُؤُوْنِهِمْ وَأَعْمَالِهِم وَوَظَائِفِهِمْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ بِحَيْثُ يَجْتَمِعُ أَكْبَرُ عَدَدٍ مُمْكِنٍ مِنَ النَّاسِ وَلِهَذَا أَلْهَمَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَبِيَّهُ أَنْ قَالَ مَوْعِدُكُم يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى الْمَوْعِدُ يَوْمُ الْعِيدِ وَيَوْمُ الْعِيدِ هُوَ يَوْمُ الزِّينَةِ وَاخْتَارَ مَاذَا؟ وَقْتَ الضُّحَى اخْتَارَ وَقْتَ الضُّحَى وَوَقْتُ الضُّحَى هُو بِدَايَةُ وَضَحِ النَّهَارِ بِحَيْثُ يَكُونُ كُلُّ الْأُمُورِ وَاضِحَةً وَالسِّحْرُ كَمَا ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ سُلْطَانُهُ فِي اللَّيْلِ وَأَكْثَرُ عَمَلِ السَّحَرَةِ وَأَغْلَبُهُ فِي اللَّيْلِ وَإِذَا اسْتَدْعَى الْمَقَامُ مِنْ سَاحِرٍ أَنْ يَتَعَاطَى سِحْرًا فِي النَّهَارِ فَإِنَّهُ يَخْتَارُ غُرْفَةً مُظْلِمَةً وَيُشْعِلُهَا أَيْضًا بِالْأَبْخِرَةِ وَالْأَدْخِنَةِ فَسُلْطَانُ السِّحْرِ بِاللَّيْلِ اخْتَارَ مُوسَى عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَضَحَ النَّهَارِ اخْتَارَ هَذَا الْوَقْتَ حَتَّى يَتَمَكَّنَ كُلُّ مَنْ حَضَرَ إِلَى هَذَا الْمَكَانِ مِنَ الْمُعَايَنَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ بِتَمَامِ الْوُضُوحِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ini berdasarkan klaim si raja zalim, Fir’aun,yang berkata, “Apakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu, wahai Musa? Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu …”“Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu.”Yakni sihir yang kamu datangkan itu akan kami datangkan pula sihir tandingannya. “Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu, maka buatlah suatu perjanjian untuk pertemuan antara kami dan kamu,yang kami dan kamu tidak akan menyalahi perjanjian itu, di suatu tempat yang terbuka.” (QS. Thaha: 57 – 58) Fir’aun meminta penetapan waktudan tempat agar mereka dapat berkumpul di sana.Sehingga Nabi Musa dapat datang membawa mukjizat-mukjizat yang ia milikiyang diklaim Fir’aun sebagai salah satu bentuk sihir. Fir’aun juga datangdengan sihir yang dia klaim sebagai sihir yang dibawa oleh Nabi Musa ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu. Fir’aun berkata, “Buatlah perjanjian antara kami dan kamu, yang tidak akan dilanggar oleh kami dan juga dirimudi tempat yang terbuka.” Yakni kita bertemu di tempat yang telah diketahui dengan jelas,tanah lapang yang luas,sehingga seluruh orang yang datang dapat menyaksikan pertarungan. Seluruh orang yang datang dapat menyaksikan pertarungan.Tanah lapang yang luas, orang yang hadir di tempat itu dapat menyaksikan pertarungan.Tetapkan pada kami perjanjian pasti dan waktu tertentu, agar kita bertemu di sana. Maka Nabi Musa ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu memilih hari raya.Mengapa?Beliau ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu memilih hari raya, karena itu adalah hari ketikasemua orang beristirahat dari pekerjaan merekadan libur dari kesibukan, urusan, pekerjaan, dan tugas mereka, dan lain sebagainya. Sehingga orang-orang dapat berkumpul dengan jumlah sebanyak mungkin.Oleh sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ilham kepada Nabi-Nyaagar mengatakan, “Perjanjian kalian (dengan aku) adalah pada hari berhias (hari raya) dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada waktu Duha (pagi hari).” (QS. Thaha: 59) Jadi, perjanjiannya adalah pada hari raya,dan hari raya adalah hari untuk berhias.Nabi Musa memilih kapan? Waktu Duha. Beliau memilih waktu Duha,dan waktu Duha adalah permulaan cerahnya cahaya siang hari,sehingga segala perkara dapat terlihat jelas. Sihir—sebagaimana yang disebutkan para ulama rahimahumullah—kekuatannya ada pada malam hari. Kebanyakan pekerjaan para penyihir dilakukan di malam hari,dan jika keadaan menuntut penyihir untuk melakukan amalan sihir di siang hari,maka ia pasti akan memilih ruangan yang gelap,dan juga akan menyalakan kemenyan dan dupa. Jadi, kekuatan sihir ada di malam hari.Nabi Musa ‘alaihi shalawatullahi wa salamuhu memilih waktu cerahnya siang.Beliau memilih waktu ini agar seluruh orang yang hadir di tempat itudapat melihat dan menyaksikan dengan benar-benar jelas. ==== هَذَا بِزَعْمِ هَذَا الطَّاغِيَةِ فِرْعَوْنَ قَالَ أَجِئْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ أَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يَا مُوسَى؟ فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسحْرٍ مِثْلِهِ فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسحْرٍ مِثْلِهِ هَذَا السِّحْرُ الَّذِي جِئْتَ بِهِ سَنَأْتِيْكَ بِسِحْرٍ مُمَاثِلٍ لَهُ فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسحْرٍ مِثْلِهِ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنْتَ مَكَانًا سُوَى طَلَبَ تَحْدِيدَ وَقْتٍ وَمَكَانٍ يَجْتَمِعُونَ فِيهِ بِحَيْثُ يَأْتِي مُوسَى بِهَذِهِ الْآيَاتِ الَّتِي مَعَهُ وَالَّتِي يَزْعُمُ فِرْعَوْنُ أَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ ضُرُوبِ السِّحْرِ وَيَأْتِي فِرْعَوْنُ بِالسِّحْرِ الَّذِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مُمَاثِلٌ لِهَذَا الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ قَالَ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنْتَ مَكَانًا سُوَى أَي نَجْتَمِعُ فِي مَكَانٍ مَعْلَمٍ وَاضِحٍ أَرْضٍ مُسْتَوِيَةٍ مُنْبَسِطَةٍ بِحَيْث كُلُّ مَنْ حَضَرَ يُشَاهِدُ النِّزَالَ بِحَيْث كُلُّ مَنْ حَضَرَ يُشَاهِدُ النِّزَالَ أَرْضٌ مُسْتَوِيَةٌ مُنْبَسِطَةٌ فَمَنْ حَضَرَ إِلَى الْمَكَانِ أَيْضًا يُشَاهِدُ النِّزَالَ وَحَدِّدْ لَنَا مَوْعِدًا مُعَيَّنًا وَوَقْتًا مُحَدَّدًا نَجْتَمِعُ فِيهِ فَاخْتَارَ مُوسَى عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ يَوْمَ الْعِيدِ لِمَاذَا؟ اخْتَارَ عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ يَوْمَ الْعِيدِ لِأَنَّهُ يَوْمٌ يَتَفَرَّغُ فِيهِ جَمِيعُ النَّاسِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَيَتَخَلَّوْا مِنْ أَشْغَالِهِمْ وَشُؤُوْنِهِمْ وَأَعْمَالِهِم وَوَظَائِفِهِمْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ بِحَيْثُ يَجْتَمِعُ أَكْبَرُ عَدَدٍ مُمْكِنٍ مِنَ النَّاسِ وَلِهَذَا أَلْهَمَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَبِيَّهُ أَنْ قَالَ مَوْعِدُكُم يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى الْمَوْعِدُ يَوْمُ الْعِيدِ وَيَوْمُ الْعِيدِ هُوَ يَوْمُ الزِّينَةِ وَاخْتَارَ مَاذَا؟ وَقْتَ الضُّحَى اخْتَارَ وَقْتَ الضُّحَى وَوَقْتُ الضُّحَى هُو بِدَايَةُ وَضَحِ النَّهَارِ بِحَيْثُ يَكُونُ كُلُّ الْأُمُورِ وَاضِحَةً وَالسِّحْرُ كَمَا ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ سُلْطَانُهُ فِي اللَّيْلِ وَأَكْثَرُ عَمَلِ السَّحَرَةِ وَأَغْلَبُهُ فِي اللَّيْلِ وَإِذَا اسْتَدْعَى الْمَقَامُ مِنْ سَاحِرٍ أَنْ يَتَعَاطَى سِحْرًا فِي النَّهَارِ فَإِنَّهُ يَخْتَارُ غُرْفَةً مُظْلِمَةً وَيُشْعِلُهَا أَيْضًا بِالْأَبْخِرَةِ وَالْأَدْخِنَةِ فَسُلْطَانُ السِّحْرِ بِاللَّيْلِ اخْتَارَ مُوسَى عَلَيْهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَضَحَ النَّهَارِ اخْتَارَ هَذَا الْوَقْتَ حَتَّى يَتَمَكَّنَ كُلُّ مَنْ حَضَرَ إِلَى هَذَا الْمَكَانِ مِنَ الْمُعَايَنَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ بِتَمَامِ الْوُضُوحِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin Abdillah), Jenazahnya Awet Setelah Enam Bulan

Pelajaran berikut tentang karamah adalah dari ‘Abdullah yaitu ayah dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah, jenazahnya awet setelah enam bulan dimakamkan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1507 2. Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1507 Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : لَمَّا حَضَرَتْ أُحُدٌ دعَانِي أَبي من اللَّيلِ فَقَالَ : مَا أُرَاني إِلاَّ مَقْتُولاً في أوْلِ مَنْ يُقْتَلُ من أصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، وإنِّي لا أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، وإنَّ عَلَيَّ دَيْناً فَاقْضِ ، وَاسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْراً ، فَأصْبَحْنَا ، فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ ، وَدَفَنْتُ مَعَهُ آخَرَ في قَبْرِهِ ، ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أنْ أتْرُكَهُ مَعَ آخَرَ ، فَاسْتَخْرَجْتُهُ بَعْدَ سِتَّةِ أشْهُرٍ ، فإذا هُوَ كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ غَيْرَ أُذنِهِ ، فَجَعَلْتُهُ في قَبْرٍ عَلَى حِدَةٍ . رَوَاهُ البُخَارِي . Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Keitka perang Uhud tiba, ayah memanggilku pada malam hari. Ia berkata, “Aku kira diriku sebagai orang pertama yang gugur dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang paling mulia yang aku tinggalkan daripadamu setelah diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku juga mempunyai utang. Oleh karena itu, bayarlah. Aku berpesan agar engkau berbuat baik kepada saudara-saudara perempuanmu.” Keesokan harinya, ternyata ayahku adalah orang pertama yang gugur. Aku pun memakamkannya bersama yang lain di dalam kuburnya. Namun, hatiku merasa tidak tenang, karena ayahku dikuburkan bersama orang lain dalam satu liang. Maka dari itu, aku mengeluarkannya setelah enam bulan berikutnya. Ternyata, aku mendapati jasadnya masih sama seperti semula ketika aku meletakkannya, kecuali telinganya. Kemudian, aku menguburkannya sendirian dalam satu lian.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, 3:214-215]   Faedah hadits Kemuliaan dan karamah dari ‘Abdullah, ayah Jabir, pada saat memberitahu anaknya bahwsanya ia akan menjadi orang yang pertama gugur di antara sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karamah lainnya tampak ketika ia dikeluarkan dari kubur setelah enam bulan, di mana kondisi fisiknya tetap seperti ketika pertama kali ia diletakkan di dalamnya. Bimbingan terhadap anak agar taat dan berbakti kepada orang tuanya, khususnya sepeninggal mereka. Untuk membantu terwujudnya hal tersebut, dapat dilakukan dengan memberitahu kedudukan mereka di hati orang tua. Besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengutamakan beliau daripada diri, keluarga, dan anak-anak mereka. Keutamaan Jabir bin ‘Abdullah karena mengamalkan wasiat ayahnya, yakni membayarkan utangnya setelah kematiannya. Diperbolehkan mengeluarkan mayat dari kubur apabila hal itu mengandung maslahat. Diperbolehkan melimpahkan wasiat kepada salah seorang ahli waris untuk mengurus ahli waris lainnya apabila kondisi menuntut demikian.   Baca juga: Ortu Membagi Harta Waris Sebelum Meninggal Dunia   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:547.   – Ditulis saat hujan turun di Jogja, 11 Safar 1444 H, 8 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsJabir bin Abdillah jenazah karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah

Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin Abdillah), Jenazahnya Awet Setelah Enam Bulan

Pelajaran berikut tentang karamah adalah dari ‘Abdullah yaitu ayah dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah, jenazahnya awet setelah enam bulan dimakamkan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1507 2. Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1507 Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : لَمَّا حَضَرَتْ أُحُدٌ دعَانِي أَبي من اللَّيلِ فَقَالَ : مَا أُرَاني إِلاَّ مَقْتُولاً في أوْلِ مَنْ يُقْتَلُ من أصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، وإنِّي لا أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، وإنَّ عَلَيَّ دَيْناً فَاقْضِ ، وَاسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْراً ، فَأصْبَحْنَا ، فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ ، وَدَفَنْتُ مَعَهُ آخَرَ في قَبْرِهِ ، ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أنْ أتْرُكَهُ مَعَ آخَرَ ، فَاسْتَخْرَجْتُهُ بَعْدَ سِتَّةِ أشْهُرٍ ، فإذا هُوَ كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ غَيْرَ أُذنِهِ ، فَجَعَلْتُهُ في قَبْرٍ عَلَى حِدَةٍ . رَوَاهُ البُخَارِي . Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Keitka perang Uhud tiba, ayah memanggilku pada malam hari. Ia berkata, “Aku kira diriku sebagai orang pertama yang gugur dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang paling mulia yang aku tinggalkan daripadamu setelah diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku juga mempunyai utang. Oleh karena itu, bayarlah. Aku berpesan agar engkau berbuat baik kepada saudara-saudara perempuanmu.” Keesokan harinya, ternyata ayahku adalah orang pertama yang gugur. Aku pun memakamkannya bersama yang lain di dalam kuburnya. Namun, hatiku merasa tidak tenang, karena ayahku dikuburkan bersama orang lain dalam satu liang. Maka dari itu, aku mengeluarkannya setelah enam bulan berikutnya. Ternyata, aku mendapati jasadnya masih sama seperti semula ketika aku meletakkannya, kecuali telinganya. Kemudian, aku menguburkannya sendirian dalam satu lian.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, 3:214-215]   Faedah hadits Kemuliaan dan karamah dari ‘Abdullah, ayah Jabir, pada saat memberitahu anaknya bahwsanya ia akan menjadi orang yang pertama gugur di antara sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karamah lainnya tampak ketika ia dikeluarkan dari kubur setelah enam bulan, di mana kondisi fisiknya tetap seperti ketika pertama kali ia diletakkan di dalamnya. Bimbingan terhadap anak agar taat dan berbakti kepada orang tuanya, khususnya sepeninggal mereka. Untuk membantu terwujudnya hal tersebut, dapat dilakukan dengan memberitahu kedudukan mereka di hati orang tua. Besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengutamakan beliau daripada diri, keluarga, dan anak-anak mereka. Keutamaan Jabir bin ‘Abdullah karena mengamalkan wasiat ayahnya, yakni membayarkan utangnya setelah kematiannya. Diperbolehkan mengeluarkan mayat dari kubur apabila hal itu mengandung maslahat. Diperbolehkan melimpahkan wasiat kepada salah seorang ahli waris untuk mengurus ahli waris lainnya apabila kondisi menuntut demikian.   Baca juga: Ortu Membagi Harta Waris Sebelum Meninggal Dunia   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:547.   – Ditulis saat hujan turun di Jogja, 11 Safar 1444 H, 8 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsJabir bin Abdillah jenazah karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah
Pelajaran berikut tentang karamah adalah dari ‘Abdullah yaitu ayah dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah, jenazahnya awet setelah enam bulan dimakamkan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1507 2. Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1507 Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : لَمَّا حَضَرَتْ أُحُدٌ دعَانِي أَبي من اللَّيلِ فَقَالَ : مَا أُرَاني إِلاَّ مَقْتُولاً في أوْلِ مَنْ يُقْتَلُ من أصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، وإنِّي لا أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، وإنَّ عَلَيَّ دَيْناً فَاقْضِ ، وَاسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْراً ، فَأصْبَحْنَا ، فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ ، وَدَفَنْتُ مَعَهُ آخَرَ في قَبْرِهِ ، ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أنْ أتْرُكَهُ مَعَ آخَرَ ، فَاسْتَخْرَجْتُهُ بَعْدَ سِتَّةِ أشْهُرٍ ، فإذا هُوَ كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ غَيْرَ أُذنِهِ ، فَجَعَلْتُهُ في قَبْرٍ عَلَى حِدَةٍ . رَوَاهُ البُخَارِي . Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Keitka perang Uhud tiba, ayah memanggilku pada malam hari. Ia berkata, “Aku kira diriku sebagai orang pertama yang gugur dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang paling mulia yang aku tinggalkan daripadamu setelah diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku juga mempunyai utang. Oleh karena itu, bayarlah. Aku berpesan agar engkau berbuat baik kepada saudara-saudara perempuanmu.” Keesokan harinya, ternyata ayahku adalah orang pertama yang gugur. Aku pun memakamkannya bersama yang lain di dalam kuburnya. Namun, hatiku merasa tidak tenang, karena ayahku dikuburkan bersama orang lain dalam satu liang. Maka dari itu, aku mengeluarkannya setelah enam bulan berikutnya. Ternyata, aku mendapati jasadnya masih sama seperti semula ketika aku meletakkannya, kecuali telinganya. Kemudian, aku menguburkannya sendirian dalam satu lian.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, 3:214-215]   Faedah hadits Kemuliaan dan karamah dari ‘Abdullah, ayah Jabir, pada saat memberitahu anaknya bahwsanya ia akan menjadi orang yang pertama gugur di antara sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karamah lainnya tampak ketika ia dikeluarkan dari kubur setelah enam bulan, di mana kondisi fisiknya tetap seperti ketika pertama kali ia diletakkan di dalamnya. Bimbingan terhadap anak agar taat dan berbakti kepada orang tuanya, khususnya sepeninggal mereka. Untuk membantu terwujudnya hal tersebut, dapat dilakukan dengan memberitahu kedudukan mereka di hati orang tua. Besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengutamakan beliau daripada diri, keluarga, dan anak-anak mereka. Keutamaan Jabir bin ‘Abdullah karena mengamalkan wasiat ayahnya, yakni membayarkan utangnya setelah kematiannya. Diperbolehkan mengeluarkan mayat dari kubur apabila hal itu mengandung maslahat. Diperbolehkan melimpahkan wasiat kepada salah seorang ahli waris untuk mengurus ahli waris lainnya apabila kondisi menuntut demikian.   Baca juga: Ortu Membagi Harta Waris Sebelum Meninggal Dunia   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:547.   – Ditulis saat hujan turun di Jogja, 11 Safar 1444 H, 8 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsJabir bin Abdillah jenazah karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah


Pelajaran berikut tentang karamah adalah dari ‘Abdullah yaitu ayah dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah, jenazahnya awet setelah enam bulan dimakamkan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1507 2. Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1507 Karamah dari Abdullah (Ayah Jabir bin ‘Abdullah) وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : لَمَّا حَضَرَتْ أُحُدٌ دعَانِي أَبي من اللَّيلِ فَقَالَ : مَا أُرَاني إِلاَّ مَقْتُولاً في أوْلِ مَنْ يُقْتَلُ من أصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، وإنِّي لا أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، وإنَّ عَلَيَّ دَيْناً فَاقْضِ ، وَاسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْراً ، فَأصْبَحْنَا ، فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ ، وَدَفَنْتُ مَعَهُ آخَرَ في قَبْرِهِ ، ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أنْ أتْرُكَهُ مَعَ آخَرَ ، فَاسْتَخْرَجْتُهُ بَعْدَ سِتَّةِ أشْهُرٍ ، فإذا هُوَ كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ غَيْرَ أُذنِهِ ، فَجَعَلْتُهُ في قَبْرٍ عَلَى حِدَةٍ . رَوَاهُ البُخَارِي . Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Keitka perang Uhud tiba, ayah memanggilku pada malam hari. Ia berkata, “Aku kira diriku sebagai orang pertama yang gugur dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang paling mulia yang aku tinggalkan daripadamu setelah diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku juga mempunyai utang. Oleh karena itu, bayarlah. Aku berpesan agar engkau berbuat baik kepada saudara-saudara perempuanmu.” Keesokan harinya, ternyata ayahku adalah orang pertama yang gugur. Aku pun memakamkannya bersama yang lain di dalam kuburnya. Namun, hatiku merasa tidak tenang, karena ayahku dikuburkan bersama orang lain dalam satu liang. Maka dari itu, aku mengeluarkannya setelah enam bulan berikutnya. Ternyata, aku mendapati jasadnya masih sama seperti semula ketika aku meletakkannya, kecuali telinganya. Kemudian, aku menguburkannya sendirian dalam satu lian.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, 3:214-215]   Faedah hadits Kemuliaan dan karamah dari ‘Abdullah, ayah Jabir, pada saat memberitahu anaknya bahwsanya ia akan menjadi orang yang pertama gugur di antara sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karamah lainnya tampak ketika ia dikeluarkan dari kubur setelah enam bulan, di mana kondisi fisiknya tetap seperti ketika pertama kali ia diletakkan di dalamnya. Bimbingan terhadap anak agar taat dan berbakti kepada orang tuanya, khususnya sepeninggal mereka. Untuk membantu terwujudnya hal tersebut, dapat dilakukan dengan memberitahu kedudukan mereka di hati orang tua. Besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengutamakan beliau daripada diri, keluarga, dan anak-anak mereka. Keutamaan Jabir bin ‘Abdullah karena mengamalkan wasiat ayahnya, yakni membayarkan utangnya setelah kematiannya. Diperbolehkan mengeluarkan mayat dari kubur apabila hal itu mengandung maslahat. Diperbolehkan melimpahkan wasiat kepada salah seorang ahli waris untuk mengurus ahli waris lainnya apabila kondisi menuntut demikian.   Baca juga: Ortu Membagi Harta Waris Sebelum Meninggal Dunia   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:547.   – Ditulis saat hujan turun di Jogja, 11 Safar 1444 H, 8 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsJabir bin Abdillah jenazah karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah

Teks Khotbah Jumat: Mohonlah Perlindungan Hanya kepada Allah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaanlah seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”. (QS. At-Talaq: 4)Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Akhir-akhir ini jagat maya dihebohkan dengan ramainya dunia perdukunan. Sebuah fenomena jamak di negeri Indonesia ini. Sungguh miris, negeri yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam ini seringkali masih mempercayai dukun, peramal, “orang pintar”, dan lain sebagainya di dalam menyelesaikan dan memecahkan permasalahannya. Meminta perlindungan kepada mereka, mengenakan jimat, dan menggantungkan nasib kepada kejadian serta fenomena yang terjadi baik di langit maupun di bumi.Padahal. Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencontohkan hal semacam itu! Beliau adalah hamba yang paling besar rasa butuhnya terhadap Allah Ta’ala, hamba yang paling takut terhadap Rabbnya, hamba yang selalu menggantungkan dirinya dan menyandarkan urusannya hanya kepada Allah Ta’ala satu-satunya. Beliau jauh dari kesyirikan, sama sekali tidak pernah meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah Ta’ala. Isti’adzah (meminta perlindungan) pada hal-hal yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala merupakan salah satu ibadah yang harus kita tujukan hanya kepada Allah satu-satunya. Bahkan Isti’adzah merupakan salah satu ibadah yang paling mulia. Allah Ta’ala jadikan ia sebagai salah satu perwujudan dan tolak ukur tauhid uluhiyyah seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia.’” (QS. An-Naas: 1-3)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Baca Juga: Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaSetelah mengetahui bahwa isti’adzah merupakan salah satu bentuk ibadah, maka kita dilarang untuk memintanya kepada selain Allah Ta’ala, baik itu jin, dukun, “orang pintar”, tukang sihir, ataupun yang semisal dengannya. Kita juga dilarang berlindung dari malapetaka ataupun marabahaya dengan melafalkan jampi-jampi, ucapan yang tidak diketahui maknanya, ataupun bentuk-bentuk kalimat lain yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, meminta perlindungan kepada makhluk dalam hal-hal yang di luar batas kemampuan dan kapasitas mereka maka sesungguhnya itu termasuk kesyirikan.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Barangsiapa yang meminta perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah Ta’ala pada hal-hal yang yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala, maka sungguh apa yang ia lakukan tersebut hanya akan menambah kesesatan, kesulitan, dan dosa bagi pelakunya. Allah Ta’ala berfirman,وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS. Al-Jinn: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Qotadah rahimahullah berkata,فَزادُوهُمْ رَهَقاً أَيْ إِثْمًا وَازْدَادَتِ الْجِنُّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ جَرَاءَةً“Fazaaduhum rahaqaa, yaitu: manusia semakin berdosa dan para jin semakin berani kepada manusia.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jika kita benar-benar yakin bahwa Allah Ta’ala adalah Sang Pencipta, Sesembahan kita, dan Tuhan satu-satunya, tentu kita tidak akan pernah ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada selain-Nya di dalam perkara yang tidak ada seorang makhluk pun mampu mengatasinya, kecuali Allah Ta’ala. Tidak ada tempat lain untuk mengadu atas setiap kesulitan yang menimpa kita, kecuali kepada-Nya. Tidak ada tempat bergantung dan berlindung saat datangnya keadaan sulit dan menakutkan, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya terjatuhnya seseorang ke dalam isti’adzah kepada selain Allah Ta’ala merupakan tanda lemahnya keyakinan dan keimanan kita kepada Allah Ta’ala.Jemaah yang berbahagia.Sesungguhnya di antara perkara buruk yang diri kita sangatlah diperintahkan untuk meminta perlindungan darinya adalah bisikan, godaan, dan tipu daya setan beserta bala tentaranya, termasuk di dalamnya adalah para dukun, peramal, dan tukang sihir yang bekerja sama dengan para setan di dalam mengelabui dan menipu manusia.Perintah ber-isti’adzah dari setan ini bahkan diperintahkan untuk dilakukan di banyak kondisi. Ketika membaca Al-Qur’an, ketika marah, ketika masuk kamar mandi, dan saat mendapati mimpi buruk.Ketahuilah wahai saudaraku, meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan setan akan menyelamatkan kita dari tipu daya mereka. Di dalam merealisasikannya akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya memerangi mereka dan kesadaran penuh perihal busuknya tipu daya mereka. Kesadaran ini merupakan salah satu karakteristik orang-orang yang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنْ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf: 201)أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Baca Juga: “Masya Allah” Kapan Diucapkan?Allah Ta’ala telah memerintahkan dan menekankan kita untuk senantiasa ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada-Nya di banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنْ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 20)Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.’” (QS. Al-Mu’minun: 97-98)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan para sahabatnya untuk senantiasa ber-isti’adzah, memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Wahai Nabi, ajarkan kepadaku apa yang harus aku lafazkan jika telah masuk waktu pagi atau telah masuk waktu sore.” Maka, Nabi pun menjawab,يَا أَبَا بَكْرٍ! قُلِ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَرَكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ“Wahai Abu Bakar, ucapkanlah, ‘Ya Allah, Zat Pencipta langit dan bumi, Zat yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, tidak ada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Engkau, Zat yang menguasai segala sesuatu dan yang merajainya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku berbuat kejelekan pada diriku atau aku mendorongnya kepada seorang muslim.’” (HR. Tirmidzi no. 3529)Doa meminta perlindungan yang lainnya juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada istri tercinta beliau, Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,للَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ…“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.” (HR. Thabrani, 2: 252 dan At-Thayalisi no. 822. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Albani dalam kitabnya Shahih Al-Jaami’)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dalam perlindungan Allah Ta’ala.Rutinkanlah untuk selalu membaca Al-Muawwidzatain, (surat Al-Falaq dan surat An-Naas), sebagaimana yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu,قُل: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، حِينَ تُمْسِي، وَحِينَ تُصْبِحُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ؛ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ“Bacalah: Qul huwaAllahu Ahad dan Al-Muawwidzatain (Al-Falaq, An-Naas) saat masuk waktu sore dan saat masuk waktu pagi, niscaya semua itu akan mencukupkanmu dari segala hal.” (HR. Abu Dawud no. 5082)Tidak ada satu pun dari kaum muslimin yang tidak butuh kepada 2 surat ini. Keduanya memiliki pengaruh besar untuk menangkal sihir, penyakit ‘ain, dan setiap keburukan yang ada di bumi ini. Kebutuhan manusia untuk selalu ber-isti’adzah, meminta perlindungan dengan kedua surat ini, lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi diri kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin dari segala macam marabahaya, baik itu yang ditimbulkan oleh setan dan bala tentaranya ataupun yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Semoga kita semua termasuk dari salah satu hamba Allah yang hanya meminta pertolongan dan meminta perlindungan hanya kepada-Nya, menjadi hamba Allah Ta’ala yang lisannya senantiasa basah karena berzikir, ber-isti’adzah kepada Allah Ta’ala.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Manusia Itu Lemah Sedangkan Allah Maha BesarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tuma’ninah, Hadist Tentang Takwa, Biografi Ustadz Firanda Andirja, Bangsa Yahudi Dalam Al QuranTags: Aqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamkeutamaan tauhidkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatTauhidteks khutbah jumattema khutbah jumat

Teks Khotbah Jumat: Mohonlah Perlindungan Hanya kepada Allah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaanlah seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”. (QS. At-Talaq: 4)Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Akhir-akhir ini jagat maya dihebohkan dengan ramainya dunia perdukunan. Sebuah fenomena jamak di negeri Indonesia ini. Sungguh miris, negeri yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam ini seringkali masih mempercayai dukun, peramal, “orang pintar”, dan lain sebagainya di dalam menyelesaikan dan memecahkan permasalahannya. Meminta perlindungan kepada mereka, mengenakan jimat, dan menggantungkan nasib kepada kejadian serta fenomena yang terjadi baik di langit maupun di bumi.Padahal. Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencontohkan hal semacam itu! Beliau adalah hamba yang paling besar rasa butuhnya terhadap Allah Ta’ala, hamba yang paling takut terhadap Rabbnya, hamba yang selalu menggantungkan dirinya dan menyandarkan urusannya hanya kepada Allah Ta’ala satu-satunya. Beliau jauh dari kesyirikan, sama sekali tidak pernah meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah Ta’ala. Isti’adzah (meminta perlindungan) pada hal-hal yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala merupakan salah satu ibadah yang harus kita tujukan hanya kepada Allah satu-satunya. Bahkan Isti’adzah merupakan salah satu ibadah yang paling mulia. Allah Ta’ala jadikan ia sebagai salah satu perwujudan dan tolak ukur tauhid uluhiyyah seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia.’” (QS. An-Naas: 1-3)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Baca Juga: Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaSetelah mengetahui bahwa isti’adzah merupakan salah satu bentuk ibadah, maka kita dilarang untuk memintanya kepada selain Allah Ta’ala, baik itu jin, dukun, “orang pintar”, tukang sihir, ataupun yang semisal dengannya. Kita juga dilarang berlindung dari malapetaka ataupun marabahaya dengan melafalkan jampi-jampi, ucapan yang tidak diketahui maknanya, ataupun bentuk-bentuk kalimat lain yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, meminta perlindungan kepada makhluk dalam hal-hal yang di luar batas kemampuan dan kapasitas mereka maka sesungguhnya itu termasuk kesyirikan.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Barangsiapa yang meminta perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah Ta’ala pada hal-hal yang yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala, maka sungguh apa yang ia lakukan tersebut hanya akan menambah kesesatan, kesulitan, dan dosa bagi pelakunya. Allah Ta’ala berfirman,وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS. Al-Jinn: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Qotadah rahimahullah berkata,فَزادُوهُمْ رَهَقاً أَيْ إِثْمًا وَازْدَادَتِ الْجِنُّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ جَرَاءَةً“Fazaaduhum rahaqaa, yaitu: manusia semakin berdosa dan para jin semakin berani kepada manusia.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jika kita benar-benar yakin bahwa Allah Ta’ala adalah Sang Pencipta, Sesembahan kita, dan Tuhan satu-satunya, tentu kita tidak akan pernah ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada selain-Nya di dalam perkara yang tidak ada seorang makhluk pun mampu mengatasinya, kecuali Allah Ta’ala. Tidak ada tempat lain untuk mengadu atas setiap kesulitan yang menimpa kita, kecuali kepada-Nya. Tidak ada tempat bergantung dan berlindung saat datangnya keadaan sulit dan menakutkan, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya terjatuhnya seseorang ke dalam isti’adzah kepada selain Allah Ta’ala merupakan tanda lemahnya keyakinan dan keimanan kita kepada Allah Ta’ala.Jemaah yang berbahagia.Sesungguhnya di antara perkara buruk yang diri kita sangatlah diperintahkan untuk meminta perlindungan darinya adalah bisikan, godaan, dan tipu daya setan beserta bala tentaranya, termasuk di dalamnya adalah para dukun, peramal, dan tukang sihir yang bekerja sama dengan para setan di dalam mengelabui dan menipu manusia.Perintah ber-isti’adzah dari setan ini bahkan diperintahkan untuk dilakukan di banyak kondisi. Ketika membaca Al-Qur’an, ketika marah, ketika masuk kamar mandi, dan saat mendapati mimpi buruk.Ketahuilah wahai saudaraku, meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan setan akan menyelamatkan kita dari tipu daya mereka. Di dalam merealisasikannya akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya memerangi mereka dan kesadaran penuh perihal busuknya tipu daya mereka. Kesadaran ini merupakan salah satu karakteristik orang-orang yang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنْ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf: 201)أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Baca Juga: “Masya Allah” Kapan Diucapkan?Allah Ta’ala telah memerintahkan dan menekankan kita untuk senantiasa ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada-Nya di banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنْ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 20)Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.’” (QS. Al-Mu’minun: 97-98)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan para sahabatnya untuk senantiasa ber-isti’adzah, memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Wahai Nabi, ajarkan kepadaku apa yang harus aku lafazkan jika telah masuk waktu pagi atau telah masuk waktu sore.” Maka, Nabi pun menjawab,يَا أَبَا بَكْرٍ! قُلِ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَرَكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ“Wahai Abu Bakar, ucapkanlah, ‘Ya Allah, Zat Pencipta langit dan bumi, Zat yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, tidak ada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Engkau, Zat yang menguasai segala sesuatu dan yang merajainya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku berbuat kejelekan pada diriku atau aku mendorongnya kepada seorang muslim.’” (HR. Tirmidzi no. 3529)Doa meminta perlindungan yang lainnya juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada istri tercinta beliau, Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,للَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ…“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.” (HR. Thabrani, 2: 252 dan At-Thayalisi no. 822. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Albani dalam kitabnya Shahih Al-Jaami’)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dalam perlindungan Allah Ta’ala.Rutinkanlah untuk selalu membaca Al-Muawwidzatain, (surat Al-Falaq dan surat An-Naas), sebagaimana yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu,قُل: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، حِينَ تُمْسِي، وَحِينَ تُصْبِحُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ؛ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ“Bacalah: Qul huwaAllahu Ahad dan Al-Muawwidzatain (Al-Falaq, An-Naas) saat masuk waktu sore dan saat masuk waktu pagi, niscaya semua itu akan mencukupkanmu dari segala hal.” (HR. Abu Dawud no. 5082)Tidak ada satu pun dari kaum muslimin yang tidak butuh kepada 2 surat ini. Keduanya memiliki pengaruh besar untuk menangkal sihir, penyakit ‘ain, dan setiap keburukan yang ada di bumi ini. Kebutuhan manusia untuk selalu ber-isti’adzah, meminta perlindungan dengan kedua surat ini, lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi diri kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin dari segala macam marabahaya, baik itu yang ditimbulkan oleh setan dan bala tentaranya ataupun yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Semoga kita semua termasuk dari salah satu hamba Allah yang hanya meminta pertolongan dan meminta perlindungan hanya kepada-Nya, menjadi hamba Allah Ta’ala yang lisannya senantiasa basah karena berzikir, ber-isti’adzah kepada Allah Ta’ala.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Manusia Itu Lemah Sedangkan Allah Maha BesarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tuma’ninah, Hadist Tentang Takwa, Biografi Ustadz Firanda Andirja, Bangsa Yahudi Dalam Al QuranTags: Aqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamkeutamaan tauhidkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatTauhidteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaanlah seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”. (QS. At-Talaq: 4)Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Akhir-akhir ini jagat maya dihebohkan dengan ramainya dunia perdukunan. Sebuah fenomena jamak di negeri Indonesia ini. Sungguh miris, negeri yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam ini seringkali masih mempercayai dukun, peramal, “orang pintar”, dan lain sebagainya di dalam menyelesaikan dan memecahkan permasalahannya. Meminta perlindungan kepada mereka, mengenakan jimat, dan menggantungkan nasib kepada kejadian serta fenomena yang terjadi baik di langit maupun di bumi.Padahal. Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencontohkan hal semacam itu! Beliau adalah hamba yang paling besar rasa butuhnya terhadap Allah Ta’ala, hamba yang paling takut terhadap Rabbnya, hamba yang selalu menggantungkan dirinya dan menyandarkan urusannya hanya kepada Allah Ta’ala satu-satunya. Beliau jauh dari kesyirikan, sama sekali tidak pernah meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah Ta’ala. Isti’adzah (meminta perlindungan) pada hal-hal yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala merupakan salah satu ibadah yang harus kita tujukan hanya kepada Allah satu-satunya. Bahkan Isti’adzah merupakan salah satu ibadah yang paling mulia. Allah Ta’ala jadikan ia sebagai salah satu perwujudan dan tolak ukur tauhid uluhiyyah seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia.’” (QS. An-Naas: 1-3)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Baca Juga: Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaSetelah mengetahui bahwa isti’adzah merupakan salah satu bentuk ibadah, maka kita dilarang untuk memintanya kepada selain Allah Ta’ala, baik itu jin, dukun, “orang pintar”, tukang sihir, ataupun yang semisal dengannya. Kita juga dilarang berlindung dari malapetaka ataupun marabahaya dengan melafalkan jampi-jampi, ucapan yang tidak diketahui maknanya, ataupun bentuk-bentuk kalimat lain yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, meminta perlindungan kepada makhluk dalam hal-hal yang di luar batas kemampuan dan kapasitas mereka maka sesungguhnya itu termasuk kesyirikan.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Barangsiapa yang meminta perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah Ta’ala pada hal-hal yang yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala, maka sungguh apa yang ia lakukan tersebut hanya akan menambah kesesatan, kesulitan, dan dosa bagi pelakunya. Allah Ta’ala berfirman,وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS. Al-Jinn: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Qotadah rahimahullah berkata,فَزادُوهُمْ رَهَقاً أَيْ إِثْمًا وَازْدَادَتِ الْجِنُّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ جَرَاءَةً“Fazaaduhum rahaqaa, yaitu: manusia semakin berdosa dan para jin semakin berani kepada manusia.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jika kita benar-benar yakin bahwa Allah Ta’ala adalah Sang Pencipta, Sesembahan kita, dan Tuhan satu-satunya, tentu kita tidak akan pernah ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada selain-Nya di dalam perkara yang tidak ada seorang makhluk pun mampu mengatasinya, kecuali Allah Ta’ala. Tidak ada tempat lain untuk mengadu atas setiap kesulitan yang menimpa kita, kecuali kepada-Nya. Tidak ada tempat bergantung dan berlindung saat datangnya keadaan sulit dan menakutkan, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya terjatuhnya seseorang ke dalam isti’adzah kepada selain Allah Ta’ala merupakan tanda lemahnya keyakinan dan keimanan kita kepada Allah Ta’ala.Jemaah yang berbahagia.Sesungguhnya di antara perkara buruk yang diri kita sangatlah diperintahkan untuk meminta perlindungan darinya adalah bisikan, godaan, dan tipu daya setan beserta bala tentaranya, termasuk di dalamnya adalah para dukun, peramal, dan tukang sihir yang bekerja sama dengan para setan di dalam mengelabui dan menipu manusia.Perintah ber-isti’adzah dari setan ini bahkan diperintahkan untuk dilakukan di banyak kondisi. Ketika membaca Al-Qur’an, ketika marah, ketika masuk kamar mandi, dan saat mendapati mimpi buruk.Ketahuilah wahai saudaraku, meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan setan akan menyelamatkan kita dari tipu daya mereka. Di dalam merealisasikannya akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya memerangi mereka dan kesadaran penuh perihal busuknya tipu daya mereka. Kesadaran ini merupakan salah satu karakteristik orang-orang yang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنْ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf: 201)أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Baca Juga: “Masya Allah” Kapan Diucapkan?Allah Ta’ala telah memerintahkan dan menekankan kita untuk senantiasa ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada-Nya di banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنْ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 20)Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.’” (QS. Al-Mu’minun: 97-98)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan para sahabatnya untuk senantiasa ber-isti’adzah, memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Wahai Nabi, ajarkan kepadaku apa yang harus aku lafazkan jika telah masuk waktu pagi atau telah masuk waktu sore.” Maka, Nabi pun menjawab,يَا أَبَا بَكْرٍ! قُلِ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَرَكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ“Wahai Abu Bakar, ucapkanlah, ‘Ya Allah, Zat Pencipta langit dan bumi, Zat yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, tidak ada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Engkau, Zat yang menguasai segala sesuatu dan yang merajainya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku berbuat kejelekan pada diriku atau aku mendorongnya kepada seorang muslim.’” (HR. Tirmidzi no. 3529)Doa meminta perlindungan yang lainnya juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada istri tercinta beliau, Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,للَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ…“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.” (HR. Thabrani, 2: 252 dan At-Thayalisi no. 822. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Albani dalam kitabnya Shahih Al-Jaami’)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dalam perlindungan Allah Ta’ala.Rutinkanlah untuk selalu membaca Al-Muawwidzatain, (surat Al-Falaq dan surat An-Naas), sebagaimana yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu,قُل: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، حِينَ تُمْسِي، وَحِينَ تُصْبِحُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ؛ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ“Bacalah: Qul huwaAllahu Ahad dan Al-Muawwidzatain (Al-Falaq, An-Naas) saat masuk waktu sore dan saat masuk waktu pagi, niscaya semua itu akan mencukupkanmu dari segala hal.” (HR. Abu Dawud no. 5082)Tidak ada satu pun dari kaum muslimin yang tidak butuh kepada 2 surat ini. Keduanya memiliki pengaruh besar untuk menangkal sihir, penyakit ‘ain, dan setiap keburukan yang ada di bumi ini. Kebutuhan manusia untuk selalu ber-isti’adzah, meminta perlindungan dengan kedua surat ini, lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi diri kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin dari segala macam marabahaya, baik itu yang ditimbulkan oleh setan dan bala tentaranya ataupun yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Semoga kita semua termasuk dari salah satu hamba Allah yang hanya meminta pertolongan dan meminta perlindungan hanya kepada-Nya, menjadi hamba Allah Ta’ala yang lisannya senantiasa basah karena berzikir, ber-isti’adzah kepada Allah Ta’ala.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Manusia Itu Lemah Sedangkan Allah Maha BesarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tuma’ninah, Hadist Tentang Takwa, Biografi Ustadz Firanda Andirja, Bangsa Yahudi Dalam Al QuranTags: Aqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamkeutamaan tauhidkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatTauhidteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaanlah seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”. (QS. At-Talaq: 4)Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Akhir-akhir ini jagat maya dihebohkan dengan ramainya dunia perdukunan. Sebuah fenomena jamak di negeri Indonesia ini. Sungguh miris, negeri yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam ini seringkali masih mempercayai dukun, peramal, “orang pintar”, dan lain sebagainya di dalam menyelesaikan dan memecahkan permasalahannya. Meminta perlindungan kepada mereka, mengenakan jimat, dan menggantungkan nasib kepada kejadian serta fenomena yang terjadi baik di langit maupun di bumi.Padahal. Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencontohkan hal semacam itu! Beliau adalah hamba yang paling besar rasa butuhnya terhadap Allah Ta’ala, hamba yang paling takut terhadap Rabbnya, hamba yang selalu menggantungkan dirinya dan menyandarkan urusannya hanya kepada Allah Ta’ala satu-satunya. Beliau jauh dari kesyirikan, sama sekali tidak pernah meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah Ta’ala. Isti’adzah (meminta perlindungan) pada hal-hal yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala merupakan salah satu ibadah yang harus kita tujukan hanya kepada Allah satu-satunya. Bahkan Isti’adzah merupakan salah satu ibadah yang paling mulia. Allah Ta’ala jadikan ia sebagai salah satu perwujudan dan tolak ukur tauhid uluhiyyah seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia.’” (QS. An-Naas: 1-3)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Baca Juga: Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaSetelah mengetahui bahwa isti’adzah merupakan salah satu bentuk ibadah, maka kita dilarang untuk memintanya kepada selain Allah Ta’ala, baik itu jin, dukun, “orang pintar”, tukang sihir, ataupun yang semisal dengannya. Kita juga dilarang berlindung dari malapetaka ataupun marabahaya dengan melafalkan jampi-jampi, ucapan yang tidak diketahui maknanya, ataupun bentuk-bentuk kalimat lain yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, meminta perlindungan kepada makhluk dalam hal-hal yang di luar batas kemampuan dan kapasitas mereka maka sesungguhnya itu termasuk kesyirikan.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Barangsiapa yang meminta perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah Ta’ala pada hal-hal yang yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala, maka sungguh apa yang ia lakukan tersebut hanya akan menambah kesesatan, kesulitan, dan dosa bagi pelakunya. Allah Ta’ala berfirman,وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS. Al-Jinn: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Qotadah rahimahullah berkata,فَزادُوهُمْ رَهَقاً أَيْ إِثْمًا وَازْدَادَتِ الْجِنُّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ جَرَاءَةً“Fazaaduhum rahaqaa, yaitu: manusia semakin berdosa dan para jin semakin berani kepada manusia.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jika kita benar-benar yakin bahwa Allah Ta’ala adalah Sang Pencipta, Sesembahan kita, dan Tuhan satu-satunya, tentu kita tidak akan pernah ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada selain-Nya di dalam perkara yang tidak ada seorang makhluk pun mampu mengatasinya, kecuali Allah Ta’ala. Tidak ada tempat lain untuk mengadu atas setiap kesulitan yang menimpa kita, kecuali kepada-Nya. Tidak ada tempat bergantung dan berlindung saat datangnya keadaan sulit dan menakutkan, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya terjatuhnya seseorang ke dalam isti’adzah kepada selain Allah Ta’ala merupakan tanda lemahnya keyakinan dan keimanan kita kepada Allah Ta’ala.Jemaah yang berbahagia.Sesungguhnya di antara perkara buruk yang diri kita sangatlah diperintahkan untuk meminta perlindungan darinya adalah bisikan, godaan, dan tipu daya setan beserta bala tentaranya, termasuk di dalamnya adalah para dukun, peramal, dan tukang sihir yang bekerja sama dengan para setan di dalam mengelabui dan menipu manusia.Perintah ber-isti’adzah dari setan ini bahkan diperintahkan untuk dilakukan di banyak kondisi. Ketika membaca Al-Qur’an, ketika marah, ketika masuk kamar mandi, dan saat mendapati mimpi buruk.Ketahuilah wahai saudaraku, meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan setan akan menyelamatkan kita dari tipu daya mereka. Di dalam merealisasikannya akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya memerangi mereka dan kesadaran penuh perihal busuknya tipu daya mereka. Kesadaran ini merupakan salah satu karakteristik orang-orang yang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنْ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf: 201)أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Baca Juga: “Masya Allah” Kapan Diucapkan?Allah Ta’ala telah memerintahkan dan menekankan kita untuk senantiasa ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada-Nya di banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنْ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 20)Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.’” (QS. Al-Mu’minun: 97-98)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan para sahabatnya untuk senantiasa ber-isti’adzah, memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Wahai Nabi, ajarkan kepadaku apa yang harus aku lafazkan jika telah masuk waktu pagi atau telah masuk waktu sore.” Maka, Nabi pun menjawab,يَا أَبَا بَكْرٍ! قُلِ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَرَكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ“Wahai Abu Bakar, ucapkanlah, ‘Ya Allah, Zat Pencipta langit dan bumi, Zat yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, tidak ada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Engkau, Zat yang menguasai segala sesuatu dan yang merajainya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku berbuat kejelekan pada diriku atau aku mendorongnya kepada seorang muslim.’” (HR. Tirmidzi no. 3529)Doa meminta perlindungan yang lainnya juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada istri tercinta beliau, Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,للَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ…“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.” (HR. Thabrani, 2: 252 dan At-Thayalisi no. 822. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Albani dalam kitabnya Shahih Al-Jaami’)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dalam perlindungan Allah Ta’ala.Rutinkanlah untuk selalu membaca Al-Muawwidzatain, (surat Al-Falaq dan surat An-Naas), sebagaimana yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu,قُل: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، حِينَ تُمْسِي، وَحِينَ تُصْبِحُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ؛ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ“Bacalah: Qul huwaAllahu Ahad dan Al-Muawwidzatain (Al-Falaq, An-Naas) saat masuk waktu sore dan saat masuk waktu pagi, niscaya semua itu akan mencukupkanmu dari segala hal.” (HR. Abu Dawud no. 5082)Tidak ada satu pun dari kaum muslimin yang tidak butuh kepada 2 surat ini. Keduanya memiliki pengaruh besar untuk menangkal sihir, penyakit ‘ain, dan setiap keburukan yang ada di bumi ini. Kebutuhan manusia untuk selalu ber-isti’adzah, meminta perlindungan dengan kedua surat ini, lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi diri kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin dari segala macam marabahaya, baik itu yang ditimbulkan oleh setan dan bala tentaranya ataupun yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Semoga kita semua termasuk dari salah satu hamba Allah yang hanya meminta pertolongan dan meminta perlindungan hanya kepada-Nya, menjadi hamba Allah Ta’ala yang lisannya senantiasa basah karena berzikir, ber-isti’adzah kepada Allah Ta’ala.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Manusia Itu Lemah Sedangkan Allah Maha BesarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tuma’ninah, Hadist Tentang Takwa, Biografi Ustadz Firanda Andirja, Bangsa Yahudi Dalam Al QuranTags: Aqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamkeutamaan tauhidkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatTauhidteks khutbah jumattema khutbah jumat

Kecemburuan Allah – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,“Sesungguhnya Allah itu cemburu,dan kecemburuan Allah ketika seseorang melakukanapa yang Allah haramkan.” (Muttafaqun ‘alaihi) Ini juga termasuk salah satu hadis penting dalam bab pengawasan Allah,Seseorang harus mengingat ketika hawa nafsunya membisikkan godaanuntuk bermaksiat, melakukan dosa, atau menjerumuskan diri ke dalam perbuatan salah,karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala cemburu. Maka hendaklah ia berhati-hati dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya,agar ia tidak mendapat kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Karena Allah cemburu jika perkara-perkara haram-Nya dilanggardan saat larangan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dikerjakan. Oleh sebab itu,Terdapat hadis shahih dari Nabi ‘alaihis shalatu wassalam saat beliau berkhutbah di hadapan orang-orang,saat Shalat Kusuf (Shalat Gerhana),beliau bersabda, “Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu punyang lebih pencemburu daripada Allah …”“Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu pun yang lebih pencemburu daripada Allah,yaitu ketika hamba-Nya yang laki-laki berzina atau hamba-Nya yang perempuan berzina.” (Muttafaqun ‘alaih) Beliau menyampaikan ini untuk memberi peringatan dari zinadan mengingatkan tentang kecemburuanyang merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala,bahwa tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah ‘Azza wa Jalla ketika perkara-perkara haram-Nya dilanggar. Dan ini adalah kewajiban setiap muslim untuk senantiasa mengingatnya.Saat hawa nafsunya membisikkan godaan padanya, hendaklah ia mengingatkecemburuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ia menjadi takut dan tunduk kepada Allah, serta merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’aladalam setiap gerak-geriknya,dan senantiasa dalam keadaan siaga penuh,serta menjauhkan diri dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya. ==== حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَهَذَا أَيْضًا مِنْ جُمْلَةِ الْأَحَادِيثِ النَّافِعَةِ فِي بَابِ الْمُرَاقَبَةِ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ بِمَعْصِيَةٍ أَوْ مُقَارَفَةِ ذَنْبٍ أَوْ وُقُوعٍ فِي خَطِيئَةٍ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَغَارُ فَلْيَحْذَرْ مِنَ الذُّنُوبِ وَمُقَارَفَتِهَا حَتَّى لَا يَبُوءَ بِغَضَبِ اللهِ وَسَخَطِهِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَاللهُ يَغَارُ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَأَنْ يُفْعَلَ مَا نَهَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَلِهَذَا صَحَّ فِي الْحَدِيثِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عِنْدَمَا خَطَبَ النَّاسَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ قَالَ ذَلِكَ مُحَذِّرًا مِنَ الزِّنَا وَمُذَكِّرًا بِالْغَيْرَةِ الَّتِي هِيَ صِفَةٌ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّهُ لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنْهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَهَذَا الْوَاجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتَذَكَّرَ ذَلِكَ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَذَكَّرَ غَيْرَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَخْشَى اللهَ وَيَخَافُ اللهَ وَيُرَاقِبُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَرَكَاتِهِ وَسَكَنَاتِهِ وَيَكُونُ فِي أَشَدِّ الْحَذَرِ وَالْمُجَانَبَةِ لِلذُّنُوبِ وَالْوُقُوعِ فِيهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kecemburuan Allah – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,“Sesungguhnya Allah itu cemburu,dan kecemburuan Allah ketika seseorang melakukanapa yang Allah haramkan.” (Muttafaqun ‘alaihi) Ini juga termasuk salah satu hadis penting dalam bab pengawasan Allah,Seseorang harus mengingat ketika hawa nafsunya membisikkan godaanuntuk bermaksiat, melakukan dosa, atau menjerumuskan diri ke dalam perbuatan salah,karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala cemburu. Maka hendaklah ia berhati-hati dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya,agar ia tidak mendapat kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Karena Allah cemburu jika perkara-perkara haram-Nya dilanggardan saat larangan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dikerjakan. Oleh sebab itu,Terdapat hadis shahih dari Nabi ‘alaihis shalatu wassalam saat beliau berkhutbah di hadapan orang-orang,saat Shalat Kusuf (Shalat Gerhana),beliau bersabda, “Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu punyang lebih pencemburu daripada Allah …”“Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu pun yang lebih pencemburu daripada Allah,yaitu ketika hamba-Nya yang laki-laki berzina atau hamba-Nya yang perempuan berzina.” (Muttafaqun ‘alaih) Beliau menyampaikan ini untuk memberi peringatan dari zinadan mengingatkan tentang kecemburuanyang merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala,bahwa tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah ‘Azza wa Jalla ketika perkara-perkara haram-Nya dilanggar. Dan ini adalah kewajiban setiap muslim untuk senantiasa mengingatnya.Saat hawa nafsunya membisikkan godaan padanya, hendaklah ia mengingatkecemburuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ia menjadi takut dan tunduk kepada Allah, serta merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’aladalam setiap gerak-geriknya,dan senantiasa dalam keadaan siaga penuh,serta menjauhkan diri dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya. ==== حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَهَذَا أَيْضًا مِنْ جُمْلَةِ الْأَحَادِيثِ النَّافِعَةِ فِي بَابِ الْمُرَاقَبَةِ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ بِمَعْصِيَةٍ أَوْ مُقَارَفَةِ ذَنْبٍ أَوْ وُقُوعٍ فِي خَطِيئَةٍ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَغَارُ فَلْيَحْذَرْ مِنَ الذُّنُوبِ وَمُقَارَفَتِهَا حَتَّى لَا يَبُوءَ بِغَضَبِ اللهِ وَسَخَطِهِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَاللهُ يَغَارُ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَأَنْ يُفْعَلَ مَا نَهَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَلِهَذَا صَحَّ فِي الْحَدِيثِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عِنْدَمَا خَطَبَ النَّاسَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ قَالَ ذَلِكَ مُحَذِّرًا مِنَ الزِّنَا وَمُذَكِّرًا بِالْغَيْرَةِ الَّتِي هِيَ صِفَةٌ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّهُ لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنْهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَهَذَا الْوَاجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتَذَكَّرَ ذَلِكَ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَذَكَّرَ غَيْرَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَخْشَى اللهَ وَيَخَافُ اللهَ وَيُرَاقِبُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَرَكَاتِهِ وَسَكَنَاتِهِ وَيَكُونُ فِي أَشَدِّ الْحَذَرِ وَالْمُجَانَبَةِ لِلذُّنُوبِ وَالْوُقُوعِ فِيهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,“Sesungguhnya Allah itu cemburu,dan kecemburuan Allah ketika seseorang melakukanapa yang Allah haramkan.” (Muttafaqun ‘alaihi) Ini juga termasuk salah satu hadis penting dalam bab pengawasan Allah,Seseorang harus mengingat ketika hawa nafsunya membisikkan godaanuntuk bermaksiat, melakukan dosa, atau menjerumuskan diri ke dalam perbuatan salah,karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala cemburu. Maka hendaklah ia berhati-hati dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya,agar ia tidak mendapat kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Karena Allah cemburu jika perkara-perkara haram-Nya dilanggardan saat larangan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dikerjakan. Oleh sebab itu,Terdapat hadis shahih dari Nabi ‘alaihis shalatu wassalam saat beliau berkhutbah di hadapan orang-orang,saat Shalat Kusuf (Shalat Gerhana),beliau bersabda, “Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu punyang lebih pencemburu daripada Allah …”“Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu pun yang lebih pencemburu daripada Allah,yaitu ketika hamba-Nya yang laki-laki berzina atau hamba-Nya yang perempuan berzina.” (Muttafaqun ‘alaih) Beliau menyampaikan ini untuk memberi peringatan dari zinadan mengingatkan tentang kecemburuanyang merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala,bahwa tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah ‘Azza wa Jalla ketika perkara-perkara haram-Nya dilanggar. Dan ini adalah kewajiban setiap muslim untuk senantiasa mengingatnya.Saat hawa nafsunya membisikkan godaan padanya, hendaklah ia mengingatkecemburuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ia menjadi takut dan tunduk kepada Allah, serta merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’aladalam setiap gerak-geriknya,dan senantiasa dalam keadaan siaga penuh,serta menjauhkan diri dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya. ==== حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَهَذَا أَيْضًا مِنْ جُمْلَةِ الْأَحَادِيثِ النَّافِعَةِ فِي بَابِ الْمُرَاقَبَةِ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ بِمَعْصِيَةٍ أَوْ مُقَارَفَةِ ذَنْبٍ أَوْ وُقُوعٍ فِي خَطِيئَةٍ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَغَارُ فَلْيَحْذَرْ مِنَ الذُّنُوبِ وَمُقَارَفَتِهَا حَتَّى لَا يَبُوءَ بِغَضَبِ اللهِ وَسَخَطِهِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَاللهُ يَغَارُ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَأَنْ يُفْعَلَ مَا نَهَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَلِهَذَا صَحَّ فِي الْحَدِيثِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عِنْدَمَا خَطَبَ النَّاسَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ قَالَ ذَلِكَ مُحَذِّرًا مِنَ الزِّنَا وَمُذَكِّرًا بِالْغَيْرَةِ الَّتِي هِيَ صِفَةٌ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّهُ لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنْهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَهَذَا الْوَاجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتَذَكَّرَ ذَلِكَ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَذَكَّرَ غَيْرَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَخْشَى اللهَ وَيَخَافُ اللهَ وَيُرَاقِبُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَرَكَاتِهِ وَسَكَنَاتِهِ وَيَكُونُ فِي أَشَدِّ الْحَذَرِ وَالْمُجَانَبَةِ لِلذُّنُوبِ وَالْوُقُوعِ فِيهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,“Sesungguhnya Allah itu cemburu,dan kecemburuan Allah ketika seseorang melakukanapa yang Allah haramkan.” (Muttafaqun ‘alaihi) Ini juga termasuk salah satu hadis penting dalam bab pengawasan Allah,Seseorang harus mengingat ketika hawa nafsunya membisikkan godaanuntuk bermaksiat, melakukan dosa, atau menjerumuskan diri ke dalam perbuatan salah,karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala cemburu. Maka hendaklah ia berhati-hati dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya,agar ia tidak mendapat kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Karena Allah cemburu jika perkara-perkara haram-Nya dilanggardan saat larangan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dikerjakan. Oleh sebab itu,Terdapat hadis shahih dari Nabi ‘alaihis shalatu wassalam saat beliau berkhutbah di hadapan orang-orang,saat Shalat Kusuf (Shalat Gerhana),beliau bersabda, “Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu punyang lebih pencemburu daripada Allah …”“Wahai umat Muhammad, demi Allah! Tidak ada satu pun yang lebih pencemburu daripada Allah,yaitu ketika hamba-Nya yang laki-laki berzina atau hamba-Nya yang perempuan berzina.” (Muttafaqun ‘alaih) Beliau menyampaikan ini untuk memberi peringatan dari zinadan mengingatkan tentang kecemburuanyang merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala,bahwa tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah ‘Azza wa Jalla ketika perkara-perkara haram-Nya dilanggar. Dan ini adalah kewajiban setiap muslim untuk senantiasa mengingatnya.Saat hawa nafsunya membisikkan godaan padanya, hendaklah ia mengingatkecemburuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ia menjadi takut dan tunduk kepada Allah, serta merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’aladalam setiap gerak-geriknya,dan senantiasa dalam keadaan siaga penuh,serta menjauhkan diri dari segala dosa dan dari terjerumus ke dalamnya. ==== حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَهَذَا أَيْضًا مِنْ جُمْلَةِ الْأَحَادِيثِ النَّافِعَةِ فِي بَابِ الْمُرَاقَبَةِ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ بِمَعْصِيَةٍ أَوْ مُقَارَفَةِ ذَنْبٍ أَوْ وُقُوعٍ فِي خَطِيئَةٍ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَغَارُ فَلْيَحْذَرْ مِنَ الذُّنُوبِ وَمُقَارَفَتِهَا حَتَّى لَا يَبُوءَ بِغَضَبِ اللهِ وَسَخَطِهِ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَاللهُ يَغَارُ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَأَنْ يُفْعَلَ مَا نَهَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَلِهَذَا صَحَّ فِي الْحَدِيثِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عِنْدَمَا خَطَبَ النَّاسَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ قَالَ ذَلِكَ مُحَذِّرًا مِنَ الزِّنَا وَمُذَكِّرًا بِالْغَيْرَةِ الَّتِي هِيَ صِفَةٌ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّهُ لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنْهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُهُ وَهَذَا الْوَاجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتَذَكَّرَ ذَلِكَ عِنْدَمَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَذَكَّرَ غَيْرَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَخْشَى اللهَ وَيَخَافُ اللهَ وَيُرَاقِبُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَرَكَاتِهِ وَسَكَنَاتِهِ وَيَكُونُ فِي أَشَدِّ الْحَذَرِ وَالْمُجَانَبَةِ لِلذُّنُوبِ وَالْوُقُوعِ فِيهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

5 Waktu Doa Mustajab Setiap Hari – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Wahai Saudaraku, termasuk juga dengan seseorang berusaha mencari waktu-waktu ijabahdan waktu serta kesempatan yang utama. Sungguh, hidup seluruhnya adalah kesempatan,dan orang yang mendapat taufik adalah orang yang memanfaatkan kesempatan tersebut. [PERTAMA]Di antara waktu-waktu ijabah adalah di hari Jumat.Waktu tersebut diharapkan ada setelah Salat Asar,sebagaimana yang beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sabdakan, “Hari Jumat terdiri dari dua belas jam,di antara itu ada satu jam, yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu ituketika sedang meminta kepada Allah sesuatukecuali Dia akan memberikannya.Carilah waktu itu di penghujung Asar—atau di jam terakhir di penghujung Asar.” (HR. Abu Dawud) Diriwayatkan juga atau disebutkan bahwa jam tersebutadalah waktu antara duduknya khatibhingga dia beranjak dari salatnya, sebagaimana disebutkan dalam atsar dari Abu Burdahdan juga yang diriwayatkan dan sahih dari beliau secara Marfūʿ dan Mauqūf.Bagaimanapun itu, hendaknya seseorang berusaha mencari waktu itu,karena itu adalah waktu yang agung. Abdullah bin Salam pernah berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“Kami dapati dalam Kitab Allah—maksudnya Taurat—bahwa di hari Jumat ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu itu ketika sedang meminta kepada Allah sesuatu kecuali Dia akan memberikannya, …”Dia bertanya kepada beliau tentang waktu tersebut, lalu beliau memberitahunya,bahwa itu berada di penghujung hari. [KEDUA]Termasuk waktu ijabah juga adalah doa setelah azan.Setelah muazin selesai mengumandangkan azanjawablah azan tersebut lalu berselawatlah untuk Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,dan jika Anda selesai membaca zikir setelah azan yang warid (sesuai sunah), maka berdoalah. Ini adalah waktu yang tidak boleh kita lalaikan.Seseorang berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Sungguh, para muazin telah mengungguli kami.” Nabi bersabda, “Hendaknya kamu mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan,lalu berdoalah, niscaya doa itu diperkenankan bagi Anda.” Meskipun demikian, wahai Saudara-saudaraku, hal itu tidak terjadikecuali bagi orang yang mengikuti muazin,yakni selama dia menjawab muazin. Jika kita di rumah, Saudara-saudara—hanya Allah tempat meminta pertolongan—jarang sekali kita bisa menjawab muazin karena lisan kita sibuk bicara sendiri. Oleh karena ini, seandainya seseorang pergi ke masjid lebih awalsebelum azan dikumandangkan, lalu menjawab muazin,lalu berdoa setelah azan, sungguh waktu tersebutadalah waktu yang berkah dan agung, serta sangat mungkin diijabahi. [KETIGA]Waktu antara azan dan ikamah juga waktu yang utama dan diberkahi.Namun, kita sering terlambatuntuk hadir ke masjid hingga batas waktu ikamah —hanya Allah tempat meminta pertolongan—padahal ada riwayat sahih dari beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallambahwa beliau bersabda, “Doa antara azan dan ikamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) [KEEMPAT]Demikian pula doa ketika sedang sujud (dalam salat).Ketika Anda sedang sujud, wahai Hamba Allah,berdoalah, khusyuklah, bersungguh-sungguhlah, dan merengeklah!Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Tuhan. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa,karena doa tersebut sangat layak dikabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim) [KELIMA]Di antara waktu-waktu ijabah dan yang paling agung,yang mana kita tidak mendapatkan waktu itu secara leluasa di setiap harinya,yaitu di sepertiga malam yang terakhir. Sungguh waktu itu adalah waktu yang penuh berkah,waktu kelalaian dan saat ketika orang-orang tertidur,saat di mana Tuhan yang Mahadermawan turundan menawarkan kebaikan, kedermawanan, keutamaan, dan karunia. “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya,barang siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya,dan barang siapa yang meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuninya.” (HR. Abu Dawud) Manusia ketika itu mungkin sedang begadang dan melakukan kesia-siaanatau sedang dalam tidurnya.Adapun orang yang mendapat taufik, dia akan bergegas, berwudu,lalu berdoa dan merendahkan dirikepada Allah ʿAzza wa Jalla, lalu mengutarakan hajat-hajatnya,karena saat itu adalah waktu yang penuh berkah dan saat yang agung. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,“Doa apa yang paling didengar Allah?”Beliau menjawab, “Di sepertiga malam yang terakhirdan di akhir salat-salat yang wajib.” (HR. At-Tirmizi)Sepertiga malam yang terakhir,Ini adalah waktu yang penuh berkah lagi agung, Saudara-saudara. Itu adalah salah satu waktu ijabahyang sangat mungkin diijabahi.Anda salat, sedangkan orang-orang sedang tidur. Anda berdoa, sedangkan orang-orang sedang lalai,dan Anda sampaikan hajat-hajat Anda kepada Zat yang Mahakaya,Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih,Yang sedang menawarkan kemurahan dan kedermawanan-Nya. ==== وَمِنْهَا يَا إِخْوَانِي أَنْ يَتَلَمَّسَ الْإِنْسَانُ سَاعَاتِ الْإِجَابَةِ وَالْأَوْقَاتِ الْفَاضِلَةَ وَالْفُرَصَ فَإِنَّ الْحَيَاةَ فُرَصٌ وَالْمُوَفَّقُ مَنْ يَنْتَهِزُ هَذِهِ الْفُرَصَ وَمِنْهَا سَاعَةُ الْإِجَابَةِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَتُرَجَّى هَذِهِ السَّاعَةُ إِمَّا بَعْدَ الْعَصْرِ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً مِنْهَا سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ فَالْتَمِسُوهَا فِي آخِرِ الْعَصْرِ أَوْ آخِرِ سَاعَةٍ مِنَ الْعَصْرِ وَرُوِيَ أَوْ وَرَدَ أَنَّ هَذِهِ السَّاعَةَ مَا بَيْنَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ وَانْصِرَافِهِ مِنَ الصَّلَاةِ كَمَا وَرَدَ فِي أَثَرِ أَبِي بُرْدَةَ وَالَّذِي وَرَدَ عَنْهُ وَثَبَتَ عَنْهُ مَرْفُوعًا وَمَوْقُوفًا وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْإِنْسَانُ يَتَلَمَّسُ هَذِهِ السَّاعَةَ لِأَنَّهَا سَاعَةٌ عَظِيمَةٌ قَدْ قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلَامٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً إِنَّنَا نَجِدُ فِي كِتَابِ اللهِ يَعْنِي التَّوْرَاةَ أَنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ وَسَأَلَهُ عَنْ هَذِهِ السَّاعَةِ فَأَخْبَرَهُ أَنَّهَا فِي آخِرِ النَّهَارِ وَمِنَ الْأَوْقَاتِ أَيْضًا … الدُّعَاءُ بَعْدَ الْأَذَانِ فَبَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْأَذَانِ وَتُجِيبَ الْمُؤَذِّنَ وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفْرُغَ مِنَ الذِّكْرِ الْوَارِدِ تَدْعُو وَهَذَا وَقْتٌ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهُ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤَذِّنِيْنَ يَفْضُلُونَنَا قَالَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ ادْعُ يُسْتَجَابُ لَكَ وَلَكِنْ يَا إِخْوَانِي مَعَ هَذَا لَا يَحْصُلُ إِلَّا لِمَنْ يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ وَمَتَى يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ إِنْ كُنَّا فِي الْبُيُوتِ فَاللهُ الْمُسْتَعَانُ يَا إِخْوَانُ قَلَّ أَنْ نُتَابِعَ الْمُؤَذِّنَ وَاللِّسَانُ يَتَحَدَّثُ عَنْ نَفْسِهِ لِهَذَا لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ مُبَكِّرًا قُبَيْلَ الْأَذَانِ وَأَجَابَ الْمُؤَذِّنَ وَدَعَا بَعْدَ الْأَذَانِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَقْتٌ عَظِيمٌ وَمَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ أَيْضًا بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ فَاضِلٌ وَمُبَارَكٌ وَيَحْصُلُ تَأَخُّرُنَا كَثِيرًا عَنِ الْحُضُورِ إِلَى الْمَسَاجِدِ إِلَى حَدِّ الْإِقَامَةِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ وَقَدْ وَرَدَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَالدُّعَاءُ حَالَ السُّجُودِ أَيْضًا إِذَا كُنْتَ سَاجِدًا يَا عَبْدَ اللهِ فَادْعُ وَتَضَرَّعْ وَاجْتَهِدْ وَأَلِحَّ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِيهِ فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ وَمِنْ أَوْقَاتٍ وَمِنْ أَعْظَمِ الْأَوْقَاتِ مَا نَحْنُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ فِي أَوْسَعِ أَوْقَاتِهِ وَهُوَ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتُ غَفْلَةٍ وَقْتٌ يَنَامُ فِيهِ النَّاسُ وَوَقْتٌ يَنْزِلُ فِيهِ الرَّبُّ الْكَرِيمُ فَيَعْرِضُ الْجُودَ وَالْكَرَمَ وَالْفَضْلَ وَالْعَطَاءَ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ إِمَّا فِي سَهَرِهِ وَلَهْوِهِ وَإِمَّا فِي نَوْمِهِ فَإِذَا هَبَّ الْمُوَفَّقُ وَتَوَضَّأَ وَدَعَا وَتَضَرَّعَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَرَضَ حَاجَاتِهِ فَإِنَّ الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتٌ عَظِيمٌ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَأَدْبَارُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ هَذَا الْوَقْتُ الْمُبَارَكُ الْعَظِيمُ يَا إِخْوَانُ وَهُوَ مِنْ أَوْقَاتِ الدُّعَاءِ الَّتِي هِيَ مَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ تَقُومُ وَالنَّاسَ نَائِمُونَ وَتَدْعُو وَالنَّاسَ غَافِلُونَ وَتَعْرِضُ حَاجَاتِكَ عَلَى الْغَنِيِّ الْكَرِيمِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَعْرِضُ وَكَرَمَهُ وَجُودَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

5 Waktu Doa Mustajab Setiap Hari – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Wahai Saudaraku, termasuk juga dengan seseorang berusaha mencari waktu-waktu ijabahdan waktu serta kesempatan yang utama. Sungguh, hidup seluruhnya adalah kesempatan,dan orang yang mendapat taufik adalah orang yang memanfaatkan kesempatan tersebut. [PERTAMA]Di antara waktu-waktu ijabah adalah di hari Jumat.Waktu tersebut diharapkan ada setelah Salat Asar,sebagaimana yang beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sabdakan, “Hari Jumat terdiri dari dua belas jam,di antara itu ada satu jam, yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu ituketika sedang meminta kepada Allah sesuatukecuali Dia akan memberikannya.Carilah waktu itu di penghujung Asar—atau di jam terakhir di penghujung Asar.” (HR. Abu Dawud) Diriwayatkan juga atau disebutkan bahwa jam tersebutadalah waktu antara duduknya khatibhingga dia beranjak dari salatnya, sebagaimana disebutkan dalam atsar dari Abu Burdahdan juga yang diriwayatkan dan sahih dari beliau secara Marfūʿ dan Mauqūf.Bagaimanapun itu, hendaknya seseorang berusaha mencari waktu itu,karena itu adalah waktu yang agung. Abdullah bin Salam pernah berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“Kami dapati dalam Kitab Allah—maksudnya Taurat—bahwa di hari Jumat ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu itu ketika sedang meminta kepada Allah sesuatu kecuali Dia akan memberikannya, …”Dia bertanya kepada beliau tentang waktu tersebut, lalu beliau memberitahunya,bahwa itu berada di penghujung hari. [KEDUA]Termasuk waktu ijabah juga adalah doa setelah azan.Setelah muazin selesai mengumandangkan azanjawablah azan tersebut lalu berselawatlah untuk Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,dan jika Anda selesai membaca zikir setelah azan yang warid (sesuai sunah), maka berdoalah. Ini adalah waktu yang tidak boleh kita lalaikan.Seseorang berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Sungguh, para muazin telah mengungguli kami.” Nabi bersabda, “Hendaknya kamu mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan,lalu berdoalah, niscaya doa itu diperkenankan bagi Anda.” Meskipun demikian, wahai Saudara-saudaraku, hal itu tidak terjadikecuali bagi orang yang mengikuti muazin,yakni selama dia menjawab muazin. Jika kita di rumah, Saudara-saudara—hanya Allah tempat meminta pertolongan—jarang sekali kita bisa menjawab muazin karena lisan kita sibuk bicara sendiri. Oleh karena ini, seandainya seseorang pergi ke masjid lebih awalsebelum azan dikumandangkan, lalu menjawab muazin,lalu berdoa setelah azan, sungguh waktu tersebutadalah waktu yang berkah dan agung, serta sangat mungkin diijabahi. [KETIGA]Waktu antara azan dan ikamah juga waktu yang utama dan diberkahi.Namun, kita sering terlambatuntuk hadir ke masjid hingga batas waktu ikamah —hanya Allah tempat meminta pertolongan—padahal ada riwayat sahih dari beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallambahwa beliau bersabda, “Doa antara azan dan ikamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) [KEEMPAT]Demikian pula doa ketika sedang sujud (dalam salat).Ketika Anda sedang sujud, wahai Hamba Allah,berdoalah, khusyuklah, bersungguh-sungguhlah, dan merengeklah!Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Tuhan. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa,karena doa tersebut sangat layak dikabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim) [KELIMA]Di antara waktu-waktu ijabah dan yang paling agung,yang mana kita tidak mendapatkan waktu itu secara leluasa di setiap harinya,yaitu di sepertiga malam yang terakhir. Sungguh waktu itu adalah waktu yang penuh berkah,waktu kelalaian dan saat ketika orang-orang tertidur,saat di mana Tuhan yang Mahadermawan turundan menawarkan kebaikan, kedermawanan, keutamaan, dan karunia. “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya,barang siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya,dan barang siapa yang meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuninya.” (HR. Abu Dawud) Manusia ketika itu mungkin sedang begadang dan melakukan kesia-siaanatau sedang dalam tidurnya.Adapun orang yang mendapat taufik, dia akan bergegas, berwudu,lalu berdoa dan merendahkan dirikepada Allah ʿAzza wa Jalla, lalu mengutarakan hajat-hajatnya,karena saat itu adalah waktu yang penuh berkah dan saat yang agung. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,“Doa apa yang paling didengar Allah?”Beliau menjawab, “Di sepertiga malam yang terakhirdan di akhir salat-salat yang wajib.” (HR. At-Tirmizi)Sepertiga malam yang terakhir,Ini adalah waktu yang penuh berkah lagi agung, Saudara-saudara. Itu adalah salah satu waktu ijabahyang sangat mungkin diijabahi.Anda salat, sedangkan orang-orang sedang tidur. Anda berdoa, sedangkan orang-orang sedang lalai,dan Anda sampaikan hajat-hajat Anda kepada Zat yang Mahakaya,Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih,Yang sedang menawarkan kemurahan dan kedermawanan-Nya. ==== وَمِنْهَا يَا إِخْوَانِي أَنْ يَتَلَمَّسَ الْإِنْسَانُ سَاعَاتِ الْإِجَابَةِ وَالْأَوْقَاتِ الْفَاضِلَةَ وَالْفُرَصَ فَإِنَّ الْحَيَاةَ فُرَصٌ وَالْمُوَفَّقُ مَنْ يَنْتَهِزُ هَذِهِ الْفُرَصَ وَمِنْهَا سَاعَةُ الْإِجَابَةِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَتُرَجَّى هَذِهِ السَّاعَةُ إِمَّا بَعْدَ الْعَصْرِ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً مِنْهَا سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ فَالْتَمِسُوهَا فِي آخِرِ الْعَصْرِ أَوْ آخِرِ سَاعَةٍ مِنَ الْعَصْرِ وَرُوِيَ أَوْ وَرَدَ أَنَّ هَذِهِ السَّاعَةَ مَا بَيْنَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ وَانْصِرَافِهِ مِنَ الصَّلَاةِ كَمَا وَرَدَ فِي أَثَرِ أَبِي بُرْدَةَ وَالَّذِي وَرَدَ عَنْهُ وَثَبَتَ عَنْهُ مَرْفُوعًا وَمَوْقُوفًا وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْإِنْسَانُ يَتَلَمَّسُ هَذِهِ السَّاعَةَ لِأَنَّهَا سَاعَةٌ عَظِيمَةٌ قَدْ قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلَامٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً إِنَّنَا نَجِدُ فِي كِتَابِ اللهِ يَعْنِي التَّوْرَاةَ أَنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ وَسَأَلَهُ عَنْ هَذِهِ السَّاعَةِ فَأَخْبَرَهُ أَنَّهَا فِي آخِرِ النَّهَارِ وَمِنَ الْأَوْقَاتِ أَيْضًا … الدُّعَاءُ بَعْدَ الْأَذَانِ فَبَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْأَذَانِ وَتُجِيبَ الْمُؤَذِّنَ وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفْرُغَ مِنَ الذِّكْرِ الْوَارِدِ تَدْعُو وَهَذَا وَقْتٌ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهُ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤَذِّنِيْنَ يَفْضُلُونَنَا قَالَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ ادْعُ يُسْتَجَابُ لَكَ وَلَكِنْ يَا إِخْوَانِي مَعَ هَذَا لَا يَحْصُلُ إِلَّا لِمَنْ يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ وَمَتَى يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ إِنْ كُنَّا فِي الْبُيُوتِ فَاللهُ الْمُسْتَعَانُ يَا إِخْوَانُ قَلَّ أَنْ نُتَابِعَ الْمُؤَذِّنَ وَاللِّسَانُ يَتَحَدَّثُ عَنْ نَفْسِهِ لِهَذَا لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ مُبَكِّرًا قُبَيْلَ الْأَذَانِ وَأَجَابَ الْمُؤَذِّنَ وَدَعَا بَعْدَ الْأَذَانِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَقْتٌ عَظِيمٌ وَمَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ أَيْضًا بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ فَاضِلٌ وَمُبَارَكٌ وَيَحْصُلُ تَأَخُّرُنَا كَثِيرًا عَنِ الْحُضُورِ إِلَى الْمَسَاجِدِ إِلَى حَدِّ الْإِقَامَةِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ وَقَدْ وَرَدَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَالدُّعَاءُ حَالَ السُّجُودِ أَيْضًا إِذَا كُنْتَ سَاجِدًا يَا عَبْدَ اللهِ فَادْعُ وَتَضَرَّعْ وَاجْتَهِدْ وَأَلِحَّ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِيهِ فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ وَمِنْ أَوْقَاتٍ وَمِنْ أَعْظَمِ الْأَوْقَاتِ مَا نَحْنُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ فِي أَوْسَعِ أَوْقَاتِهِ وَهُوَ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتُ غَفْلَةٍ وَقْتٌ يَنَامُ فِيهِ النَّاسُ وَوَقْتٌ يَنْزِلُ فِيهِ الرَّبُّ الْكَرِيمُ فَيَعْرِضُ الْجُودَ وَالْكَرَمَ وَالْفَضْلَ وَالْعَطَاءَ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ إِمَّا فِي سَهَرِهِ وَلَهْوِهِ وَإِمَّا فِي نَوْمِهِ فَإِذَا هَبَّ الْمُوَفَّقُ وَتَوَضَّأَ وَدَعَا وَتَضَرَّعَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَرَضَ حَاجَاتِهِ فَإِنَّ الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتٌ عَظِيمٌ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَأَدْبَارُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ هَذَا الْوَقْتُ الْمُبَارَكُ الْعَظِيمُ يَا إِخْوَانُ وَهُوَ مِنْ أَوْقَاتِ الدُّعَاءِ الَّتِي هِيَ مَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ تَقُومُ وَالنَّاسَ نَائِمُونَ وَتَدْعُو وَالنَّاسَ غَافِلُونَ وَتَعْرِضُ حَاجَاتِكَ عَلَى الْغَنِيِّ الْكَرِيمِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَعْرِضُ وَكَرَمَهُ وَجُودَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Wahai Saudaraku, termasuk juga dengan seseorang berusaha mencari waktu-waktu ijabahdan waktu serta kesempatan yang utama. Sungguh, hidup seluruhnya adalah kesempatan,dan orang yang mendapat taufik adalah orang yang memanfaatkan kesempatan tersebut. [PERTAMA]Di antara waktu-waktu ijabah adalah di hari Jumat.Waktu tersebut diharapkan ada setelah Salat Asar,sebagaimana yang beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sabdakan, “Hari Jumat terdiri dari dua belas jam,di antara itu ada satu jam, yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu ituketika sedang meminta kepada Allah sesuatukecuali Dia akan memberikannya.Carilah waktu itu di penghujung Asar—atau di jam terakhir di penghujung Asar.” (HR. Abu Dawud) Diriwayatkan juga atau disebutkan bahwa jam tersebutadalah waktu antara duduknya khatibhingga dia beranjak dari salatnya, sebagaimana disebutkan dalam atsar dari Abu Burdahdan juga yang diriwayatkan dan sahih dari beliau secara Marfūʿ dan Mauqūf.Bagaimanapun itu, hendaknya seseorang berusaha mencari waktu itu,karena itu adalah waktu yang agung. Abdullah bin Salam pernah berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“Kami dapati dalam Kitab Allah—maksudnya Taurat—bahwa di hari Jumat ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu itu ketika sedang meminta kepada Allah sesuatu kecuali Dia akan memberikannya, …”Dia bertanya kepada beliau tentang waktu tersebut, lalu beliau memberitahunya,bahwa itu berada di penghujung hari. [KEDUA]Termasuk waktu ijabah juga adalah doa setelah azan.Setelah muazin selesai mengumandangkan azanjawablah azan tersebut lalu berselawatlah untuk Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,dan jika Anda selesai membaca zikir setelah azan yang warid (sesuai sunah), maka berdoalah. Ini adalah waktu yang tidak boleh kita lalaikan.Seseorang berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Sungguh, para muazin telah mengungguli kami.” Nabi bersabda, “Hendaknya kamu mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan,lalu berdoalah, niscaya doa itu diperkenankan bagi Anda.” Meskipun demikian, wahai Saudara-saudaraku, hal itu tidak terjadikecuali bagi orang yang mengikuti muazin,yakni selama dia menjawab muazin. Jika kita di rumah, Saudara-saudara—hanya Allah tempat meminta pertolongan—jarang sekali kita bisa menjawab muazin karena lisan kita sibuk bicara sendiri. Oleh karena ini, seandainya seseorang pergi ke masjid lebih awalsebelum azan dikumandangkan, lalu menjawab muazin,lalu berdoa setelah azan, sungguh waktu tersebutadalah waktu yang berkah dan agung, serta sangat mungkin diijabahi. [KETIGA]Waktu antara azan dan ikamah juga waktu yang utama dan diberkahi.Namun, kita sering terlambatuntuk hadir ke masjid hingga batas waktu ikamah —hanya Allah tempat meminta pertolongan—padahal ada riwayat sahih dari beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallambahwa beliau bersabda, “Doa antara azan dan ikamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) [KEEMPAT]Demikian pula doa ketika sedang sujud (dalam salat).Ketika Anda sedang sujud, wahai Hamba Allah,berdoalah, khusyuklah, bersungguh-sungguhlah, dan merengeklah!Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Tuhan. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa,karena doa tersebut sangat layak dikabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim) [KELIMA]Di antara waktu-waktu ijabah dan yang paling agung,yang mana kita tidak mendapatkan waktu itu secara leluasa di setiap harinya,yaitu di sepertiga malam yang terakhir. Sungguh waktu itu adalah waktu yang penuh berkah,waktu kelalaian dan saat ketika orang-orang tertidur,saat di mana Tuhan yang Mahadermawan turundan menawarkan kebaikan, kedermawanan, keutamaan, dan karunia. “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya,barang siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya,dan barang siapa yang meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuninya.” (HR. Abu Dawud) Manusia ketika itu mungkin sedang begadang dan melakukan kesia-siaanatau sedang dalam tidurnya.Adapun orang yang mendapat taufik, dia akan bergegas, berwudu,lalu berdoa dan merendahkan dirikepada Allah ʿAzza wa Jalla, lalu mengutarakan hajat-hajatnya,karena saat itu adalah waktu yang penuh berkah dan saat yang agung. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,“Doa apa yang paling didengar Allah?”Beliau menjawab, “Di sepertiga malam yang terakhirdan di akhir salat-salat yang wajib.” (HR. At-Tirmizi)Sepertiga malam yang terakhir,Ini adalah waktu yang penuh berkah lagi agung, Saudara-saudara. Itu adalah salah satu waktu ijabahyang sangat mungkin diijabahi.Anda salat, sedangkan orang-orang sedang tidur. Anda berdoa, sedangkan orang-orang sedang lalai,dan Anda sampaikan hajat-hajat Anda kepada Zat yang Mahakaya,Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih,Yang sedang menawarkan kemurahan dan kedermawanan-Nya. ==== وَمِنْهَا يَا إِخْوَانِي أَنْ يَتَلَمَّسَ الْإِنْسَانُ سَاعَاتِ الْإِجَابَةِ وَالْأَوْقَاتِ الْفَاضِلَةَ وَالْفُرَصَ فَإِنَّ الْحَيَاةَ فُرَصٌ وَالْمُوَفَّقُ مَنْ يَنْتَهِزُ هَذِهِ الْفُرَصَ وَمِنْهَا سَاعَةُ الْإِجَابَةِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَتُرَجَّى هَذِهِ السَّاعَةُ إِمَّا بَعْدَ الْعَصْرِ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً مِنْهَا سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ فَالْتَمِسُوهَا فِي آخِرِ الْعَصْرِ أَوْ آخِرِ سَاعَةٍ مِنَ الْعَصْرِ وَرُوِيَ أَوْ وَرَدَ أَنَّ هَذِهِ السَّاعَةَ مَا بَيْنَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ وَانْصِرَافِهِ مِنَ الصَّلَاةِ كَمَا وَرَدَ فِي أَثَرِ أَبِي بُرْدَةَ وَالَّذِي وَرَدَ عَنْهُ وَثَبَتَ عَنْهُ مَرْفُوعًا وَمَوْقُوفًا وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْإِنْسَانُ يَتَلَمَّسُ هَذِهِ السَّاعَةَ لِأَنَّهَا سَاعَةٌ عَظِيمَةٌ قَدْ قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلَامٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً إِنَّنَا نَجِدُ فِي كِتَابِ اللهِ يَعْنِي التَّوْرَاةَ أَنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ وَسَأَلَهُ عَنْ هَذِهِ السَّاعَةِ فَأَخْبَرَهُ أَنَّهَا فِي آخِرِ النَّهَارِ وَمِنَ الْأَوْقَاتِ أَيْضًا … الدُّعَاءُ بَعْدَ الْأَذَانِ فَبَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْأَذَانِ وَتُجِيبَ الْمُؤَذِّنَ وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفْرُغَ مِنَ الذِّكْرِ الْوَارِدِ تَدْعُو وَهَذَا وَقْتٌ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهُ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤَذِّنِيْنَ يَفْضُلُونَنَا قَالَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ ادْعُ يُسْتَجَابُ لَكَ وَلَكِنْ يَا إِخْوَانِي مَعَ هَذَا لَا يَحْصُلُ إِلَّا لِمَنْ يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ وَمَتَى يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ إِنْ كُنَّا فِي الْبُيُوتِ فَاللهُ الْمُسْتَعَانُ يَا إِخْوَانُ قَلَّ أَنْ نُتَابِعَ الْمُؤَذِّنَ وَاللِّسَانُ يَتَحَدَّثُ عَنْ نَفْسِهِ لِهَذَا لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ مُبَكِّرًا قُبَيْلَ الْأَذَانِ وَأَجَابَ الْمُؤَذِّنَ وَدَعَا بَعْدَ الْأَذَانِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَقْتٌ عَظِيمٌ وَمَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ أَيْضًا بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ فَاضِلٌ وَمُبَارَكٌ وَيَحْصُلُ تَأَخُّرُنَا كَثِيرًا عَنِ الْحُضُورِ إِلَى الْمَسَاجِدِ إِلَى حَدِّ الْإِقَامَةِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ وَقَدْ وَرَدَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَالدُّعَاءُ حَالَ السُّجُودِ أَيْضًا إِذَا كُنْتَ سَاجِدًا يَا عَبْدَ اللهِ فَادْعُ وَتَضَرَّعْ وَاجْتَهِدْ وَأَلِحَّ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِيهِ فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ وَمِنْ أَوْقَاتٍ وَمِنْ أَعْظَمِ الْأَوْقَاتِ مَا نَحْنُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ فِي أَوْسَعِ أَوْقَاتِهِ وَهُوَ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتُ غَفْلَةٍ وَقْتٌ يَنَامُ فِيهِ النَّاسُ وَوَقْتٌ يَنْزِلُ فِيهِ الرَّبُّ الْكَرِيمُ فَيَعْرِضُ الْجُودَ وَالْكَرَمَ وَالْفَضْلَ وَالْعَطَاءَ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ إِمَّا فِي سَهَرِهِ وَلَهْوِهِ وَإِمَّا فِي نَوْمِهِ فَإِذَا هَبَّ الْمُوَفَّقُ وَتَوَضَّأَ وَدَعَا وَتَضَرَّعَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَرَضَ حَاجَاتِهِ فَإِنَّ الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتٌ عَظِيمٌ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَأَدْبَارُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ هَذَا الْوَقْتُ الْمُبَارَكُ الْعَظِيمُ يَا إِخْوَانُ وَهُوَ مِنْ أَوْقَاتِ الدُّعَاءِ الَّتِي هِيَ مَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ تَقُومُ وَالنَّاسَ نَائِمُونَ وَتَدْعُو وَالنَّاسَ غَافِلُونَ وَتَعْرِضُ حَاجَاتِكَ عَلَى الْغَنِيِّ الْكَرِيمِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَعْرِضُ وَكَرَمَهُ وَجُودَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Wahai Saudaraku, termasuk juga dengan seseorang berusaha mencari waktu-waktu ijabahdan waktu serta kesempatan yang utama. Sungguh, hidup seluruhnya adalah kesempatan,dan orang yang mendapat taufik adalah orang yang memanfaatkan kesempatan tersebut. [PERTAMA]Di antara waktu-waktu ijabah adalah di hari Jumat.Waktu tersebut diharapkan ada setelah Salat Asar,sebagaimana yang beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sabdakan, “Hari Jumat terdiri dari dua belas jam,di antara itu ada satu jam, yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu ituketika sedang meminta kepada Allah sesuatukecuali Dia akan memberikannya.Carilah waktu itu di penghujung Asar—atau di jam terakhir di penghujung Asar.” (HR. Abu Dawud) Diriwayatkan juga atau disebutkan bahwa jam tersebutadalah waktu antara duduknya khatibhingga dia beranjak dari salatnya, sebagaimana disebutkan dalam atsar dari Abu Burdahdan juga yang diriwayatkan dan sahih dari beliau secara Marfūʿ dan Mauqūf.Bagaimanapun itu, hendaknya seseorang berusaha mencari waktu itu,karena itu adalah waktu yang agung. Abdullah bin Salam pernah berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“Kami dapati dalam Kitab Allah—maksudnya Taurat—bahwa di hari Jumat ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba tepat berada di waktu itu ketika sedang meminta kepada Allah sesuatu kecuali Dia akan memberikannya, …”Dia bertanya kepada beliau tentang waktu tersebut, lalu beliau memberitahunya,bahwa itu berada di penghujung hari. [KEDUA]Termasuk waktu ijabah juga adalah doa setelah azan.Setelah muazin selesai mengumandangkan azanjawablah azan tersebut lalu berselawatlah untuk Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,dan jika Anda selesai membaca zikir setelah azan yang warid (sesuai sunah), maka berdoalah. Ini adalah waktu yang tidak boleh kita lalaikan.Seseorang berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Sungguh, para muazin telah mengungguli kami.” Nabi bersabda, “Hendaknya kamu mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan,lalu berdoalah, niscaya doa itu diperkenankan bagi Anda.” Meskipun demikian, wahai Saudara-saudaraku, hal itu tidak terjadikecuali bagi orang yang mengikuti muazin,yakni selama dia menjawab muazin. Jika kita di rumah, Saudara-saudara—hanya Allah tempat meminta pertolongan—jarang sekali kita bisa menjawab muazin karena lisan kita sibuk bicara sendiri. Oleh karena ini, seandainya seseorang pergi ke masjid lebih awalsebelum azan dikumandangkan, lalu menjawab muazin,lalu berdoa setelah azan, sungguh waktu tersebutadalah waktu yang berkah dan agung, serta sangat mungkin diijabahi. [KETIGA]Waktu antara azan dan ikamah juga waktu yang utama dan diberkahi.Namun, kita sering terlambatuntuk hadir ke masjid hingga batas waktu ikamah —hanya Allah tempat meminta pertolongan—padahal ada riwayat sahih dari beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallambahwa beliau bersabda, “Doa antara azan dan ikamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) [KEEMPAT]Demikian pula doa ketika sedang sujud (dalam salat).Ketika Anda sedang sujud, wahai Hamba Allah,berdoalah, khusyuklah, bersungguh-sungguhlah, dan merengeklah!Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Tuhan. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa,karena doa tersebut sangat layak dikabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim) [KELIMA]Di antara waktu-waktu ijabah dan yang paling agung,yang mana kita tidak mendapatkan waktu itu secara leluasa di setiap harinya,yaitu di sepertiga malam yang terakhir. Sungguh waktu itu adalah waktu yang penuh berkah,waktu kelalaian dan saat ketika orang-orang tertidur,saat di mana Tuhan yang Mahadermawan turundan menawarkan kebaikan, kedermawanan, keutamaan, dan karunia. “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya,barang siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya,dan barang siapa yang meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuninya.” (HR. Abu Dawud) Manusia ketika itu mungkin sedang begadang dan melakukan kesia-siaanatau sedang dalam tidurnya.Adapun orang yang mendapat taufik, dia akan bergegas, berwudu,lalu berdoa dan merendahkan dirikepada Allah ʿAzza wa Jalla, lalu mengutarakan hajat-hajatnya,karena saat itu adalah waktu yang penuh berkah dan saat yang agung. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,“Doa apa yang paling didengar Allah?”Beliau menjawab, “Di sepertiga malam yang terakhirdan di akhir salat-salat yang wajib.” (HR. At-Tirmizi)Sepertiga malam yang terakhir,Ini adalah waktu yang penuh berkah lagi agung, Saudara-saudara. Itu adalah salah satu waktu ijabahyang sangat mungkin diijabahi.Anda salat, sedangkan orang-orang sedang tidur. Anda berdoa, sedangkan orang-orang sedang lalai,dan Anda sampaikan hajat-hajat Anda kepada Zat yang Mahakaya,Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih,Yang sedang menawarkan kemurahan dan kedermawanan-Nya. ==== وَمِنْهَا يَا إِخْوَانِي أَنْ يَتَلَمَّسَ الْإِنْسَانُ سَاعَاتِ الْإِجَابَةِ وَالْأَوْقَاتِ الْفَاضِلَةَ وَالْفُرَصَ فَإِنَّ الْحَيَاةَ فُرَصٌ وَالْمُوَفَّقُ مَنْ يَنْتَهِزُ هَذِهِ الْفُرَصَ وَمِنْهَا سَاعَةُ الْإِجَابَةِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَتُرَجَّى هَذِهِ السَّاعَةُ إِمَّا بَعْدَ الْعَصْرِ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً مِنْهَا سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ فَالْتَمِسُوهَا فِي آخِرِ الْعَصْرِ أَوْ آخِرِ سَاعَةٍ مِنَ الْعَصْرِ وَرُوِيَ أَوْ وَرَدَ أَنَّ هَذِهِ السَّاعَةَ مَا بَيْنَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ وَانْصِرَافِهِ مِنَ الصَّلَاةِ كَمَا وَرَدَ فِي أَثَرِ أَبِي بُرْدَةَ وَالَّذِي وَرَدَ عَنْهُ وَثَبَتَ عَنْهُ مَرْفُوعًا وَمَوْقُوفًا وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْإِنْسَانُ يَتَلَمَّسُ هَذِهِ السَّاعَةَ لِأَنَّهَا سَاعَةٌ عَظِيمَةٌ قَدْ قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلَامٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً إِنَّنَا نَجِدُ فِي كِتَابِ اللهِ يَعْنِي التَّوْرَاةَ أَنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ وَسَأَلَهُ عَنْ هَذِهِ السَّاعَةِ فَأَخْبَرَهُ أَنَّهَا فِي آخِرِ النَّهَارِ وَمِنَ الْأَوْقَاتِ أَيْضًا … الدُّعَاءُ بَعْدَ الْأَذَانِ فَبَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْأَذَانِ وَتُجِيبَ الْمُؤَذِّنَ وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفْرُغَ مِنَ الذِّكْرِ الْوَارِدِ تَدْعُو وَهَذَا وَقْتٌ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهُ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤَذِّنِيْنَ يَفْضُلُونَنَا قَالَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ ادْعُ يُسْتَجَابُ لَكَ وَلَكِنْ يَا إِخْوَانِي مَعَ هَذَا لَا يَحْصُلُ إِلَّا لِمَنْ يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ وَمَتَى يُتَابِعُ الْمُؤَذِّنَ إِنْ كُنَّا فِي الْبُيُوتِ فَاللهُ الْمُسْتَعَانُ يَا إِخْوَانُ قَلَّ أَنْ نُتَابِعَ الْمُؤَذِّنَ وَاللِّسَانُ يَتَحَدَّثُ عَنْ نَفْسِهِ لِهَذَا لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ مُبَكِّرًا قُبَيْلَ الْأَذَانِ وَأَجَابَ الْمُؤَذِّنَ وَدَعَا بَعْدَ الْأَذَانِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَقْتٌ عَظِيمٌ وَمَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ أَيْضًا بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ فَاضِلٌ وَمُبَارَكٌ وَيَحْصُلُ تَأَخُّرُنَا كَثِيرًا عَنِ الْحُضُورِ إِلَى الْمَسَاجِدِ إِلَى حَدِّ الْإِقَامَةِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ وَقَدْ وَرَدَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَالدُّعَاءُ حَالَ السُّجُودِ أَيْضًا إِذَا كُنْتَ سَاجِدًا يَا عَبْدَ اللهِ فَادْعُ وَتَضَرَّعْ وَاجْتَهِدْ وَأَلِحَّ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِيهِ فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ وَمِنْ أَوْقَاتٍ وَمِنْ أَعْظَمِ الْأَوْقَاتِ مَا نَحْنُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ فِي أَوْسَعِ أَوْقَاتِهِ وَهُوَ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنَّ هَذَا الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتُ غَفْلَةٍ وَقْتٌ يَنَامُ فِيهِ النَّاسُ وَوَقْتٌ يَنْزِلُ فِيهِ الرَّبُّ الْكَرِيمُ فَيَعْرِضُ الْجُودَ وَالْكَرَمَ وَالْفَضْلَ وَالْعَطَاءَ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ إِمَّا فِي سَهَرِهِ وَلَهْوِهِ وَإِمَّا فِي نَوْمِهِ فَإِذَا هَبَّ الْمُوَفَّقُ وَتَوَضَّأَ وَدَعَا وَتَضَرَّعَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَرَضَ حَاجَاتِهِ فَإِنَّ الْوَقْتَ وَقْتٌ مُبَارَكٌ وَوَقْتٌ عَظِيمٌ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَأَدْبَارُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ هَذَا الْوَقْتُ الْمُبَارَكُ الْعَظِيمُ يَا إِخْوَانُ وَهُوَ مِنْ أَوْقَاتِ الدُّعَاءِ الَّتِي هِيَ مَظِنَّةٌ لِلْإِجَابَةِ تَقُومُ وَالنَّاسَ نَائِمُونَ وَتَدْعُو وَالنَّاسَ غَافِلُونَ وَتَعْرِضُ حَاجَاتِكَ عَلَى الْغَنِيِّ الْكَرِيمِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَعْرِضُ وَكَرَمَهُ وَجُودَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Prev     Next