Bolehkah Menyapa dengan Anggukan atau Isyarat?

Pertanyaan: Jika bertemu orang di jalan, bolehkah menyapanya hanya dengan anggukan atau isyarat tangan tanpa mengucapkan salam?  Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Terdapat hadits yang melarang memberi salam hanya dengan isyarat tanpa ucapan salam. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا تسلِّموا تسليمَ اليهودِ فإنَّ تسليمَهم بالرءوسِ والأكفِّ والإشارةِ “Janganlah kalian memberi salam seperti orang-orang Yahudi. Karena salam mereka adalah dengan anggukan kepala, telapak tangan, dan isyarat.” (HR. an-Nasa’i no.10100. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/16) mengatakan: “sanadnya jayyid”) Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ليس منَّا من تشبَّه بغيرِنا لا تشبَّهوا باليهودِ ولا بالنَّصارَى فإنَّ تسليمَ اليهودِ الإشارةُ بالأصابعِ وإنَّ تسليمَ النَّصارَى بالأكُفِّ “Bukan golongan kami, orang yang menyerupakan diri dengan kaum lain. Jangan kalian menyerupakan diri kalian terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena salamnya orang Yahudi adalah dengan isyarat tangan. Dan salamnya orang Nasrani adalah dengan isyarat telapak tangan.” (HR. at-Tirmidzi (5/56), dihasankan al-Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi) Namun terdapat hadits lain yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi salam dengan isyarat. Dari Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anha, ia berkata: أَلْوَى النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بيدِهِ إلى النِّساءِ بِالسلامِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berisyarat dengan tangan kepada para wanita untuk memberikan salam.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no.767. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Adabil Mufrad) Para ulama berbeda pendapat dalam mengkompromikan hadits-hadits di atas. An-Nasa’i dan an-Nawawi mengatakan bahwa larangan yang ada dalam hadits Jabir adalah bernilai makruh tanzih, tidak sampai haram. Karena menimbang hadits Asma’ di atas yang menunjukkan bolehnya memberi salam dengan isyarat. An-Nasa’i dalam Sunan-nya membuat judul bab: كراهية التسليم بالأكف والرؤوس والإشارة “Makruhnya memberi salam dengan telapak tangan, atau kepala, atau isyarat.” Sebagian ulama Syafi’iyyah juga mengatakan bahwa memberi salam dengan isyarat termasuk khilaful aula, tidak sampai haram. Namun pendapat yang lebih rajih dalam masalah ini adalah pendapat ulama yang mengharamkan secara mutlak memberi salam dengan isyarat, kecuali dibarengi dengan ucapan juga. Karena ada larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau menyatakan perbuatan ini sebagai tasyabbuh terhadap orang kafir. Dan karena hadits Asma’ di atas terdapat keterangan dalam riwayat lainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membarenginya dengan ucapan salam juga. Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anha mengatakan: مرَّ علينا النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في نِسوَةٍ، فسلَّم علينا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati kami para wanita, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR. Abu Daud no. 5204, dihasankan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrij Sunan Abu Daud) Bahkan an-Nawawi sendiri mengatakan: “Hadits riwayat at-Tirmidzi dari Asma’ bin Yazid, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati masjid pada suatu hari. Ketika itu beberapa orang wanita sedang duduk-duduk. Maka Rasulullah pun memberi salam dengan berisyarat. At-Tirmidzi mengatakan: hadits ini hasan. Hadits ini dibawa kepada kemungkinan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara lafadz salam dan isyarat. Ini ditunjukkan dalam riwayat lain dalam Sunan Abu Daud, bahwa Asma’ mengatakan: lalu beliau (Rasulullah) mengucapkan salam kepada kami.” (Al-Adzkar, 1/547) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Tidak boleh memberi salam hanya dengan isyarat. Yang sesuai sunnah adalah dengan ucapan salam, baik ketika memulai salam atau ketika membalas salam. Adapun salam dengan sekedar isyarat, ini tidak boleh. Karena ini menyerupai ciri khas sebagian orang kafir. Dan juga ini menyelisihi syariat Allah. Namun jika memberi isyarat kepada seorang Muslim ketika memberi salam, agar ia paham (bahwa kita memberi salam), karena jaraknya jauh, maka ini tidak mengapa. Karena terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya hal ini. Demikian juga ketika seseorang sedang dalam keadaan shalat, maka ia boleh membalas salam dengan isyarat. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majalah al-Buhuts al-Islamiyah, juz 38 hal. 136) Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Tidak boleh seseorang mencukupkan dengan memberi isyarat saja. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut. Namun jika seseorang yang ingin disapa itu jaraknya jauh, atau ia tuli, hendaknya menggabungkan antara isyarat dan ucapan salam. Adapun jika sekedar isyarat saja, tidak boleh. Dari sini, kita ketahui ada tiga keadaan: Pertama, mencukupkan dengan isyarat saja, ini tidak boleh. Kedua, mencukupkan dengan ucapan salam saja, ini boleh bahkan ini hukum asalnya. Ketiga, menggabungkan antara isyarat dan ucapan salam. Ini dilakukan jika ada sebabnya. Seperti ketika yang disapa itu jauh jaraknya atau ia tidak bisa mendengar, maka gabungkan antara isyarat dan ucapan salam.” (Liqa’ Babil Maftuh, 145/24) Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Konsultasi Islam Rumah Tangga, Cara Mengubur Ari Ari Bayi, Hukum Implan Gigi Dalam Islam, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Cara Shalat Jama Qashar, Asal Usul Tuhan Visited 143 times, 1 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Menyapa dengan Anggukan atau Isyarat?

Pertanyaan: Jika bertemu orang di jalan, bolehkah menyapanya hanya dengan anggukan atau isyarat tangan tanpa mengucapkan salam?  Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Terdapat hadits yang melarang memberi salam hanya dengan isyarat tanpa ucapan salam. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا تسلِّموا تسليمَ اليهودِ فإنَّ تسليمَهم بالرءوسِ والأكفِّ والإشارةِ “Janganlah kalian memberi salam seperti orang-orang Yahudi. Karena salam mereka adalah dengan anggukan kepala, telapak tangan, dan isyarat.” (HR. an-Nasa’i no.10100. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/16) mengatakan: “sanadnya jayyid”) Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ليس منَّا من تشبَّه بغيرِنا لا تشبَّهوا باليهودِ ولا بالنَّصارَى فإنَّ تسليمَ اليهودِ الإشارةُ بالأصابعِ وإنَّ تسليمَ النَّصارَى بالأكُفِّ “Bukan golongan kami, orang yang menyerupakan diri dengan kaum lain. Jangan kalian menyerupakan diri kalian terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena salamnya orang Yahudi adalah dengan isyarat tangan. Dan salamnya orang Nasrani adalah dengan isyarat telapak tangan.” (HR. at-Tirmidzi (5/56), dihasankan al-Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi) Namun terdapat hadits lain yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi salam dengan isyarat. Dari Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anha, ia berkata: أَلْوَى النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بيدِهِ إلى النِّساءِ بِالسلامِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berisyarat dengan tangan kepada para wanita untuk memberikan salam.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no.767. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Adabil Mufrad) Para ulama berbeda pendapat dalam mengkompromikan hadits-hadits di atas. An-Nasa’i dan an-Nawawi mengatakan bahwa larangan yang ada dalam hadits Jabir adalah bernilai makruh tanzih, tidak sampai haram. Karena menimbang hadits Asma’ di atas yang menunjukkan bolehnya memberi salam dengan isyarat. An-Nasa’i dalam Sunan-nya membuat judul bab: كراهية التسليم بالأكف والرؤوس والإشارة “Makruhnya memberi salam dengan telapak tangan, atau kepala, atau isyarat.” Sebagian ulama Syafi’iyyah juga mengatakan bahwa memberi salam dengan isyarat termasuk khilaful aula, tidak sampai haram. Namun pendapat yang lebih rajih dalam masalah ini adalah pendapat ulama yang mengharamkan secara mutlak memberi salam dengan isyarat, kecuali dibarengi dengan ucapan juga. Karena ada larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau menyatakan perbuatan ini sebagai tasyabbuh terhadap orang kafir. Dan karena hadits Asma’ di atas terdapat keterangan dalam riwayat lainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membarenginya dengan ucapan salam juga. Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anha mengatakan: مرَّ علينا النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في نِسوَةٍ، فسلَّم علينا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati kami para wanita, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR. Abu Daud no. 5204, dihasankan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrij Sunan Abu Daud) Bahkan an-Nawawi sendiri mengatakan: “Hadits riwayat at-Tirmidzi dari Asma’ bin Yazid, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati masjid pada suatu hari. Ketika itu beberapa orang wanita sedang duduk-duduk. Maka Rasulullah pun memberi salam dengan berisyarat. At-Tirmidzi mengatakan: hadits ini hasan. Hadits ini dibawa kepada kemungkinan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara lafadz salam dan isyarat. Ini ditunjukkan dalam riwayat lain dalam Sunan Abu Daud, bahwa Asma’ mengatakan: lalu beliau (Rasulullah) mengucapkan salam kepada kami.” (Al-Adzkar, 1/547) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Tidak boleh memberi salam hanya dengan isyarat. Yang sesuai sunnah adalah dengan ucapan salam, baik ketika memulai salam atau ketika membalas salam. Adapun salam dengan sekedar isyarat, ini tidak boleh. Karena ini menyerupai ciri khas sebagian orang kafir. Dan juga ini menyelisihi syariat Allah. Namun jika memberi isyarat kepada seorang Muslim ketika memberi salam, agar ia paham (bahwa kita memberi salam), karena jaraknya jauh, maka ini tidak mengapa. Karena terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya hal ini. Demikian juga ketika seseorang sedang dalam keadaan shalat, maka ia boleh membalas salam dengan isyarat. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majalah al-Buhuts al-Islamiyah, juz 38 hal. 136) Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Tidak boleh seseorang mencukupkan dengan memberi isyarat saja. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut. Namun jika seseorang yang ingin disapa itu jaraknya jauh, atau ia tuli, hendaknya menggabungkan antara isyarat dan ucapan salam. Adapun jika sekedar isyarat saja, tidak boleh. Dari sini, kita ketahui ada tiga keadaan: Pertama, mencukupkan dengan isyarat saja, ini tidak boleh. Kedua, mencukupkan dengan ucapan salam saja, ini boleh bahkan ini hukum asalnya. Ketiga, menggabungkan antara isyarat dan ucapan salam. Ini dilakukan jika ada sebabnya. Seperti ketika yang disapa itu jauh jaraknya atau ia tidak bisa mendengar, maka gabungkan antara isyarat dan ucapan salam.” (Liqa’ Babil Maftuh, 145/24) Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Konsultasi Islam Rumah Tangga, Cara Mengubur Ari Ari Bayi, Hukum Implan Gigi Dalam Islam, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Cara Shalat Jama Qashar, Asal Usul Tuhan Visited 143 times, 1 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Jika bertemu orang di jalan, bolehkah menyapanya hanya dengan anggukan atau isyarat tangan tanpa mengucapkan salam?  Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Terdapat hadits yang melarang memberi salam hanya dengan isyarat tanpa ucapan salam. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا تسلِّموا تسليمَ اليهودِ فإنَّ تسليمَهم بالرءوسِ والأكفِّ والإشارةِ “Janganlah kalian memberi salam seperti orang-orang Yahudi. Karena salam mereka adalah dengan anggukan kepala, telapak tangan, dan isyarat.” (HR. an-Nasa’i no.10100. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/16) mengatakan: “sanadnya jayyid”) Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ليس منَّا من تشبَّه بغيرِنا لا تشبَّهوا باليهودِ ولا بالنَّصارَى فإنَّ تسليمَ اليهودِ الإشارةُ بالأصابعِ وإنَّ تسليمَ النَّصارَى بالأكُفِّ “Bukan golongan kami, orang yang menyerupakan diri dengan kaum lain. Jangan kalian menyerupakan diri kalian terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena salamnya orang Yahudi adalah dengan isyarat tangan. Dan salamnya orang Nasrani adalah dengan isyarat telapak tangan.” (HR. at-Tirmidzi (5/56), dihasankan al-Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi) Namun terdapat hadits lain yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi salam dengan isyarat. Dari Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anha, ia berkata: أَلْوَى النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بيدِهِ إلى النِّساءِ بِالسلامِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berisyarat dengan tangan kepada para wanita untuk memberikan salam.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no.767. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Adabil Mufrad) Para ulama berbeda pendapat dalam mengkompromikan hadits-hadits di atas. An-Nasa’i dan an-Nawawi mengatakan bahwa larangan yang ada dalam hadits Jabir adalah bernilai makruh tanzih, tidak sampai haram. Karena menimbang hadits Asma’ di atas yang menunjukkan bolehnya memberi salam dengan isyarat. An-Nasa’i dalam Sunan-nya membuat judul bab: كراهية التسليم بالأكف والرؤوس والإشارة “Makruhnya memberi salam dengan telapak tangan, atau kepala, atau isyarat.” Sebagian ulama Syafi’iyyah juga mengatakan bahwa memberi salam dengan isyarat termasuk khilaful aula, tidak sampai haram. Namun pendapat yang lebih rajih dalam masalah ini adalah pendapat ulama yang mengharamkan secara mutlak memberi salam dengan isyarat, kecuali dibarengi dengan ucapan juga. Karena ada larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau menyatakan perbuatan ini sebagai tasyabbuh terhadap orang kafir. Dan karena hadits Asma’ di atas terdapat keterangan dalam riwayat lainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membarenginya dengan ucapan salam juga. Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anha mengatakan: مرَّ علينا النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في نِسوَةٍ، فسلَّم علينا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati kami para wanita, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR. Abu Daud no. 5204, dihasankan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrij Sunan Abu Daud) Bahkan an-Nawawi sendiri mengatakan: “Hadits riwayat at-Tirmidzi dari Asma’ bin Yazid, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati masjid pada suatu hari. Ketika itu beberapa orang wanita sedang duduk-duduk. Maka Rasulullah pun memberi salam dengan berisyarat. At-Tirmidzi mengatakan: hadits ini hasan. Hadits ini dibawa kepada kemungkinan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara lafadz salam dan isyarat. Ini ditunjukkan dalam riwayat lain dalam Sunan Abu Daud, bahwa Asma’ mengatakan: lalu beliau (Rasulullah) mengucapkan salam kepada kami.” (Al-Adzkar, 1/547) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Tidak boleh memberi salam hanya dengan isyarat. Yang sesuai sunnah adalah dengan ucapan salam, baik ketika memulai salam atau ketika membalas salam. Adapun salam dengan sekedar isyarat, ini tidak boleh. Karena ini menyerupai ciri khas sebagian orang kafir. Dan juga ini menyelisihi syariat Allah. Namun jika memberi isyarat kepada seorang Muslim ketika memberi salam, agar ia paham (bahwa kita memberi salam), karena jaraknya jauh, maka ini tidak mengapa. Karena terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya hal ini. Demikian juga ketika seseorang sedang dalam keadaan shalat, maka ia boleh membalas salam dengan isyarat. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majalah al-Buhuts al-Islamiyah, juz 38 hal. 136) Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Tidak boleh seseorang mencukupkan dengan memberi isyarat saja. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut. Namun jika seseorang yang ingin disapa itu jaraknya jauh, atau ia tuli, hendaknya menggabungkan antara isyarat dan ucapan salam. Adapun jika sekedar isyarat saja, tidak boleh. Dari sini, kita ketahui ada tiga keadaan: Pertama, mencukupkan dengan isyarat saja, ini tidak boleh. Kedua, mencukupkan dengan ucapan salam saja, ini boleh bahkan ini hukum asalnya. Ketiga, menggabungkan antara isyarat dan ucapan salam. Ini dilakukan jika ada sebabnya. Seperti ketika yang disapa itu jauh jaraknya atau ia tidak bisa mendengar, maka gabungkan antara isyarat dan ucapan salam.” (Liqa’ Babil Maftuh, 145/24) Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Konsultasi Islam Rumah Tangga, Cara Mengubur Ari Ari Bayi, Hukum Implan Gigi Dalam Islam, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Cara Shalat Jama Qashar, Asal Usul Tuhan Visited 143 times, 1 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Jika bertemu orang di jalan, bolehkah menyapanya hanya dengan anggukan atau isyarat tangan tanpa mengucapkan salam?  Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Terdapat hadits yang melarang memberi salam hanya dengan isyarat tanpa ucapan salam. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا تسلِّموا تسليمَ اليهودِ فإنَّ تسليمَهم بالرءوسِ والأكفِّ والإشارةِ “Janganlah kalian memberi salam seperti orang-orang Yahudi. Karena salam mereka adalah dengan anggukan kepala, telapak tangan, dan isyarat.” (HR. an-Nasa’i no.10100. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/16) mengatakan: “sanadnya jayyid”) Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ليس منَّا من تشبَّه بغيرِنا لا تشبَّهوا باليهودِ ولا بالنَّصارَى فإنَّ تسليمَ اليهودِ الإشارةُ بالأصابعِ وإنَّ تسليمَ النَّصارَى بالأكُفِّ “Bukan golongan kami, orang yang menyerupakan diri dengan kaum lain. Jangan kalian menyerupakan diri kalian terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena salamnya orang Yahudi adalah dengan isyarat tangan. Dan salamnya orang Nasrani adalah dengan isyarat telapak tangan.” (HR. at-Tirmidzi (5/56), dihasankan al-Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi) Namun terdapat hadits lain yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi salam dengan isyarat. Dari Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anha, ia berkata: أَلْوَى النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بيدِهِ إلى النِّساءِ بِالسلامِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berisyarat dengan tangan kepada para wanita untuk memberikan salam.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no.767. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Adabil Mufrad) Para ulama berbeda pendapat dalam mengkompromikan hadits-hadits di atas. An-Nasa’i dan an-Nawawi mengatakan bahwa larangan yang ada dalam hadits Jabir adalah bernilai makruh tanzih, tidak sampai haram. Karena menimbang hadits Asma’ di atas yang menunjukkan bolehnya memberi salam dengan isyarat. An-Nasa’i dalam Sunan-nya membuat judul bab: كراهية التسليم بالأكف والرؤوس والإشارة “Makruhnya memberi salam dengan telapak tangan, atau kepala, atau isyarat.” Sebagian ulama Syafi’iyyah juga mengatakan bahwa memberi salam dengan isyarat termasuk khilaful aula, tidak sampai haram. Namun pendapat yang lebih rajih dalam masalah ini adalah pendapat ulama yang mengharamkan secara mutlak memberi salam dengan isyarat, kecuali dibarengi dengan ucapan juga. Karena ada larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau menyatakan perbuatan ini sebagai tasyabbuh terhadap orang kafir. Dan karena hadits Asma’ di atas terdapat keterangan dalam riwayat lainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membarenginya dengan ucapan salam juga. Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anha mengatakan: مرَّ علينا النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في نِسوَةٍ، فسلَّم علينا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati kami para wanita, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR. Abu Daud no. 5204, dihasankan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrij Sunan Abu Daud) Bahkan an-Nawawi sendiri mengatakan: “Hadits riwayat at-Tirmidzi dari Asma’ bin Yazid, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati masjid pada suatu hari. Ketika itu beberapa orang wanita sedang duduk-duduk. Maka Rasulullah pun memberi salam dengan berisyarat. At-Tirmidzi mengatakan: hadits ini hasan. Hadits ini dibawa kepada kemungkinan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara lafadz salam dan isyarat. Ini ditunjukkan dalam riwayat lain dalam Sunan Abu Daud, bahwa Asma’ mengatakan: lalu beliau (Rasulullah) mengucapkan salam kepada kami.” (Al-Adzkar, 1/547) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Tidak boleh memberi salam hanya dengan isyarat. Yang sesuai sunnah adalah dengan ucapan salam, baik ketika memulai salam atau ketika membalas salam. Adapun salam dengan sekedar isyarat, ini tidak boleh. Karena ini menyerupai ciri khas sebagian orang kafir. Dan juga ini menyelisihi syariat Allah. Namun jika memberi isyarat kepada seorang Muslim ketika memberi salam, agar ia paham (bahwa kita memberi salam), karena jaraknya jauh, maka ini tidak mengapa. Karena terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya hal ini. Demikian juga ketika seseorang sedang dalam keadaan shalat, maka ia boleh membalas salam dengan isyarat. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majalah al-Buhuts al-Islamiyah, juz 38 hal. 136) Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Tidak boleh seseorang mencukupkan dengan memberi isyarat saja. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut. Namun jika seseorang yang ingin disapa itu jaraknya jauh, atau ia tuli, hendaknya menggabungkan antara isyarat dan ucapan salam. Adapun jika sekedar isyarat saja, tidak boleh. Dari sini, kita ketahui ada tiga keadaan: Pertama, mencukupkan dengan isyarat saja, ini tidak boleh. Kedua, mencukupkan dengan ucapan salam saja, ini boleh bahkan ini hukum asalnya. Ketiga, menggabungkan antara isyarat dan ucapan salam. Ini dilakukan jika ada sebabnya. Seperti ketika yang disapa itu jauh jaraknya atau ia tidak bisa mendengar, maka gabungkan antara isyarat dan ucapan salam.” (Liqa’ Babil Maftuh, 145/24) Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Konsultasi Islam Rumah Tangga, Cara Mengubur Ari Ari Bayi, Hukum Implan Gigi Dalam Islam, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Cara Shalat Jama Qashar, Asal Usul Tuhan Visited 143 times, 1 visit(s) today Post Views: 428 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Orang yang Dibenamkan ke Perut Bumi karena Isbal

الألبسة التي فيها الإسبال السؤال: الإسبال في الإزار، والثياب؟ Pertanyaan: Apakah isbal (pakaian yang menjulur melebihi mata kaki) hanya pada sarung dan baju? الجواب: كله، السراويل، والإزار ،والقميص، والبشت كله يجب أن تكون فوق الكعب، لا تنزل عن الكعب، ولا ينبغي للعاقل أن يغتر بهؤلاء المساكين الذين تساهلوا في هذه الأمور في هذا المنكر. Jawaban: Semuanya, celana, sarung, baju dan jubah, semuanya harus di atas mata kaki dan tidak boleh menjulur di bawahnya. Orang yang berakal tidak selayaknya terpedaya dengan orang-orang yang bermudah-mudahan dalam masalah yang mungkar ini. وإذا كان يفعله تكبرًا، وبطرًا فإثمه أكبر -والعياذ بالله- وصارت المصيبة أعظم، أما إذا فعله تساهلًا، وقلة مبالاة، وهو محرم، ومنكر، ولكن أقل ممن يفعله تكبرًا. Jika dia melakukannya karena sombong dan angkuh maka dosanya lebih besar -kita berlindung kepada Allah dari hal itu- dan akan menjadi musibah yang lebih besar. Namun jika dia melakukannya karena bermudah-mudahan dan sedikitnya perhatian terhadapnya, ini tetap haram dan mungkar, namun lebih kecil dosanya dari pada orang yang melakukannya karena sombong. فالغالب أن الذي يجر ثيابه إنما يجرها تكبرًا، وتعاظمًا في نفسه، وفي الحديث الصحيح يقول ﷺ: بينما رجل فيما مضى قبلنا يمشي ببرديه، يختال ببردين، قد أعجبته نفسه؛خسف الله به الأرض، فهو يتجلجل فيها إلى يوم القيامة نعوذ بالله.. إذا لبس الثياب الجميلة، وجعل يسحبها، يبتلى بالكبر، والعجب بنفسه، ويظن أنه ليس فوقه أحد، فصار في عجب، وتكبر، وشر، فالواجب عليه أن يحذر ذلك، وأن يتواضع لله، وأن يحذر هذا المنكر، وتكون ثيابه من نصاف الساق إلى الكعب. Umumnya, orang menjulurkan pakaiannya ini disebabkan kesombongannya dan merasa besar memandang dirinya.  Dalam sebuah hadis yang sahih Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  بينما رجل فيما مضى قبلنا يمشي ببرديه يختال ببردين قد أعجبته نفسه، خسف الله به الأرض، فهو يتجلجل فيها إلى يوم القيامة “Ada seseorang di zaman sebelum kita, ketika dia berjalan dengan jubahnya merasa bangga dan takjub dengan dirinya. Tiba-tiba Allah tenggelamkan dia ke dalam bumi dan meronta-ronta di sana hingga hari kiamat nanti.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.  Jika seseorang mengenakan pakaian yang indah kemudian mulai menyeretnya pada kesombongan dan takjub dengan dirinya sendiri, hingga menyangka bahwa tidak ada yang lebih baik darinya, hingga dia terjatuh dalam kesombongan, bangga dengan dirinya dan keburukan, maka dia wajib waspada. Dia harus merendahkan hati karena Allah, berhati-hati dengan kemungkaran ini, dan menjadikan pakaiannya menjulur sampai di tengah betis atau di atas mata kaki. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/1651/الالبسة-التي-فيها-الاسبال PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Punahnya Dinosaurus Menurut Islam, Kisah Nabi Sam Un, Haramkah Sulam Alis, Undangan Khitanan Anak, Dzikir Setelah Shalat Sesuai Sunnah, Menata Hati Dalam Islam Visited 86 times, 1 visit(s) today Post Views: 380 QRIS donasi Yufid

Orang yang Dibenamkan ke Perut Bumi karena Isbal

الألبسة التي فيها الإسبال السؤال: الإسبال في الإزار، والثياب؟ Pertanyaan: Apakah isbal (pakaian yang menjulur melebihi mata kaki) hanya pada sarung dan baju? الجواب: كله، السراويل، والإزار ،والقميص، والبشت كله يجب أن تكون فوق الكعب، لا تنزل عن الكعب، ولا ينبغي للعاقل أن يغتر بهؤلاء المساكين الذين تساهلوا في هذه الأمور في هذا المنكر. Jawaban: Semuanya, celana, sarung, baju dan jubah, semuanya harus di atas mata kaki dan tidak boleh menjulur di bawahnya. Orang yang berakal tidak selayaknya terpedaya dengan orang-orang yang bermudah-mudahan dalam masalah yang mungkar ini. وإذا كان يفعله تكبرًا، وبطرًا فإثمه أكبر -والعياذ بالله- وصارت المصيبة أعظم، أما إذا فعله تساهلًا، وقلة مبالاة، وهو محرم، ومنكر، ولكن أقل ممن يفعله تكبرًا. Jika dia melakukannya karena sombong dan angkuh maka dosanya lebih besar -kita berlindung kepada Allah dari hal itu- dan akan menjadi musibah yang lebih besar. Namun jika dia melakukannya karena bermudah-mudahan dan sedikitnya perhatian terhadapnya, ini tetap haram dan mungkar, namun lebih kecil dosanya dari pada orang yang melakukannya karena sombong. فالغالب أن الذي يجر ثيابه إنما يجرها تكبرًا، وتعاظمًا في نفسه، وفي الحديث الصحيح يقول ﷺ: بينما رجل فيما مضى قبلنا يمشي ببرديه، يختال ببردين، قد أعجبته نفسه؛خسف الله به الأرض، فهو يتجلجل فيها إلى يوم القيامة نعوذ بالله.. إذا لبس الثياب الجميلة، وجعل يسحبها، يبتلى بالكبر، والعجب بنفسه، ويظن أنه ليس فوقه أحد، فصار في عجب، وتكبر، وشر، فالواجب عليه أن يحذر ذلك، وأن يتواضع لله، وأن يحذر هذا المنكر، وتكون ثيابه من نصاف الساق إلى الكعب. Umumnya, orang menjulurkan pakaiannya ini disebabkan kesombongannya dan merasa besar memandang dirinya.  Dalam sebuah hadis yang sahih Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  بينما رجل فيما مضى قبلنا يمشي ببرديه يختال ببردين قد أعجبته نفسه، خسف الله به الأرض، فهو يتجلجل فيها إلى يوم القيامة “Ada seseorang di zaman sebelum kita, ketika dia berjalan dengan jubahnya merasa bangga dan takjub dengan dirinya. Tiba-tiba Allah tenggelamkan dia ke dalam bumi dan meronta-ronta di sana hingga hari kiamat nanti.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.  Jika seseorang mengenakan pakaian yang indah kemudian mulai menyeretnya pada kesombongan dan takjub dengan dirinya sendiri, hingga menyangka bahwa tidak ada yang lebih baik darinya, hingga dia terjatuh dalam kesombongan, bangga dengan dirinya dan keburukan, maka dia wajib waspada. Dia harus merendahkan hati karena Allah, berhati-hati dengan kemungkaran ini, dan menjadikan pakaiannya menjulur sampai di tengah betis atau di atas mata kaki. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/1651/الالبسة-التي-فيها-الاسبال PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Punahnya Dinosaurus Menurut Islam, Kisah Nabi Sam Un, Haramkah Sulam Alis, Undangan Khitanan Anak, Dzikir Setelah Shalat Sesuai Sunnah, Menata Hati Dalam Islam Visited 86 times, 1 visit(s) today Post Views: 380 QRIS donasi Yufid
الألبسة التي فيها الإسبال السؤال: الإسبال في الإزار، والثياب؟ Pertanyaan: Apakah isbal (pakaian yang menjulur melebihi mata kaki) hanya pada sarung dan baju? الجواب: كله، السراويل، والإزار ،والقميص، والبشت كله يجب أن تكون فوق الكعب، لا تنزل عن الكعب، ولا ينبغي للعاقل أن يغتر بهؤلاء المساكين الذين تساهلوا في هذه الأمور في هذا المنكر. Jawaban: Semuanya, celana, sarung, baju dan jubah, semuanya harus di atas mata kaki dan tidak boleh menjulur di bawahnya. Orang yang berakal tidak selayaknya terpedaya dengan orang-orang yang bermudah-mudahan dalam masalah yang mungkar ini. وإذا كان يفعله تكبرًا، وبطرًا فإثمه أكبر -والعياذ بالله- وصارت المصيبة أعظم، أما إذا فعله تساهلًا، وقلة مبالاة، وهو محرم، ومنكر، ولكن أقل ممن يفعله تكبرًا. Jika dia melakukannya karena sombong dan angkuh maka dosanya lebih besar -kita berlindung kepada Allah dari hal itu- dan akan menjadi musibah yang lebih besar. Namun jika dia melakukannya karena bermudah-mudahan dan sedikitnya perhatian terhadapnya, ini tetap haram dan mungkar, namun lebih kecil dosanya dari pada orang yang melakukannya karena sombong. فالغالب أن الذي يجر ثيابه إنما يجرها تكبرًا، وتعاظمًا في نفسه، وفي الحديث الصحيح يقول ﷺ: بينما رجل فيما مضى قبلنا يمشي ببرديه، يختال ببردين، قد أعجبته نفسه؛خسف الله به الأرض، فهو يتجلجل فيها إلى يوم القيامة نعوذ بالله.. إذا لبس الثياب الجميلة، وجعل يسحبها، يبتلى بالكبر، والعجب بنفسه، ويظن أنه ليس فوقه أحد، فصار في عجب، وتكبر، وشر، فالواجب عليه أن يحذر ذلك، وأن يتواضع لله، وأن يحذر هذا المنكر، وتكون ثيابه من نصاف الساق إلى الكعب. Umumnya, orang menjulurkan pakaiannya ini disebabkan kesombongannya dan merasa besar memandang dirinya.  Dalam sebuah hadis yang sahih Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  بينما رجل فيما مضى قبلنا يمشي ببرديه يختال ببردين قد أعجبته نفسه، خسف الله به الأرض، فهو يتجلجل فيها إلى يوم القيامة “Ada seseorang di zaman sebelum kita, ketika dia berjalan dengan jubahnya merasa bangga dan takjub dengan dirinya. Tiba-tiba Allah tenggelamkan dia ke dalam bumi dan meronta-ronta di sana hingga hari kiamat nanti.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.  Jika seseorang mengenakan pakaian yang indah kemudian mulai menyeretnya pada kesombongan dan takjub dengan dirinya sendiri, hingga menyangka bahwa tidak ada yang lebih baik darinya, hingga dia terjatuh dalam kesombongan, bangga dengan dirinya dan keburukan, maka dia wajib waspada. Dia harus merendahkan hati karena Allah, berhati-hati dengan kemungkaran ini, dan menjadikan pakaiannya menjulur sampai di tengah betis atau di atas mata kaki. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/1651/الالبسة-التي-فيها-الاسبال PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Punahnya Dinosaurus Menurut Islam, Kisah Nabi Sam Un, Haramkah Sulam Alis, Undangan Khitanan Anak, Dzikir Setelah Shalat Sesuai Sunnah, Menata Hati Dalam Islam Visited 86 times, 1 visit(s) today Post Views: 380 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1382105245&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> الألبسة التي فيها الإسبال السؤال: الإسبال في الإزار، والثياب؟ Pertanyaan: Apakah isbal (pakaian yang menjulur melebihi mata kaki) hanya pada sarung dan baju? الجواب: كله، السراويل، والإزار ،والقميص، والبشت كله يجب أن تكون فوق الكعب، لا تنزل عن الكعب، ولا ينبغي للعاقل أن يغتر بهؤلاء المساكين الذين تساهلوا في هذه الأمور في هذا المنكر. Jawaban: Semuanya, celana, sarung, baju dan jubah, semuanya harus di atas mata kaki dan tidak boleh menjulur di bawahnya. Orang yang berakal tidak selayaknya terpedaya dengan orang-orang yang bermudah-mudahan dalam masalah yang mungkar ini. وإذا كان يفعله تكبرًا، وبطرًا فإثمه أكبر -والعياذ بالله- وصارت المصيبة أعظم، أما إذا فعله تساهلًا، وقلة مبالاة، وهو محرم، ومنكر، ولكن أقل ممن يفعله تكبرًا. Jika dia melakukannya karena sombong dan angkuh maka dosanya lebih besar -kita berlindung kepada Allah dari hal itu- dan akan menjadi musibah yang lebih besar. Namun jika dia melakukannya karena bermudah-mudahan dan sedikitnya perhatian terhadapnya, ini tetap haram dan mungkar, namun lebih kecil dosanya dari pada orang yang melakukannya karena sombong. فالغالب أن الذي يجر ثيابه إنما يجرها تكبرًا، وتعاظمًا في نفسه، وفي الحديث الصحيح يقول ﷺ: بينما رجل فيما مضى قبلنا يمشي ببرديه، يختال ببردين، قد أعجبته نفسه؛خسف الله به الأرض، فهو يتجلجل فيها إلى يوم القيامة نعوذ بالله.. إذا لبس الثياب الجميلة، وجعل يسحبها، يبتلى بالكبر، والعجب بنفسه، ويظن أنه ليس فوقه أحد، فصار في عجب، وتكبر، وشر، فالواجب عليه أن يحذر ذلك، وأن يتواضع لله، وأن يحذر هذا المنكر، وتكون ثيابه من نصاف الساق إلى الكعب. Umumnya, orang menjulurkan pakaiannya ini disebabkan kesombongannya dan merasa besar memandang dirinya.  Dalam sebuah hadis yang sahih Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  بينما رجل فيما مضى قبلنا يمشي ببرديه يختال ببردين قد أعجبته نفسه، خسف الله به الأرض، فهو يتجلجل فيها إلى يوم القيامة “Ada seseorang di zaman sebelum kita, ketika dia berjalan dengan jubahnya merasa bangga dan takjub dengan dirinya. Tiba-tiba Allah tenggelamkan dia ke dalam bumi dan meronta-ronta di sana hingga hari kiamat nanti.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.  Jika seseorang mengenakan pakaian yang indah kemudian mulai menyeretnya pada kesombongan dan takjub dengan dirinya sendiri, hingga menyangka bahwa tidak ada yang lebih baik darinya, hingga dia terjatuh dalam kesombongan, bangga dengan dirinya dan keburukan, maka dia wajib waspada. Dia harus merendahkan hati karena Allah, berhati-hati dengan kemungkaran ini, dan menjadikan pakaiannya menjulur sampai di tengah betis atau di atas mata kaki. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/1651/الالبسة-التي-فيها-الاسبال PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Punahnya Dinosaurus Menurut Islam, Kisah Nabi Sam Un, Haramkah Sulam Alis, Undangan Khitanan Anak, Dzikir Setelah Shalat Sesuai Sunnah, Menata Hati Dalam Islam Visited 86 times, 1 visit(s) today Post Views: 380 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Perbanyak Doa Ini di Zaman Fitnah Ini – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dalam bab ini, ada hadis lain darinya, yang menyebutkanbahwa dahulu Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sering berdoa,YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” Lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami sudah beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa.Apakah engkau masih khawatir terhadap kami?” Beliau bersabda, “Ya, karena hati berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah,dan Dia bolak-balikkan sekehendak-Nya.” (HR. Tirmizi)Hadis ini adalah salah satu hadis agung dalam bab ini,yaitu bab rasa takut. Para sahabat—semoga Allah meridai mereka—berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Kami sudah beriman kepada engkau dan dengan apa yang engkau bawa.Apakah engkau masih khawatir terhadap kami?” Maksudnya, padahal kami sungguh telah beriman kepada engkau dan dengan apa yang engkau bawa.Lalu beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya,karena sungguh hati berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah,dan Dia bolak-balikkan sekehendak-Nya.” (HR. Tirmizi) Dalam sebagian hadis disebutkan, “Jika Dia berkehendak akan diluruskan,dan jika Dia berkehendak akan disesatkan.” (HR. Ibnu Majah)Inilah doa yang dahulu paling sering Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam baca:YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.”Doa ini sangat agung. Wahai orang-orang beriman, sudah selayaknya kita menjaganya (rutin membacanya),dan benar-benar memperhatikannya.YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” Terlebih lagi, kita hidup di zaman inidi mana fitnah begitu banyak tersebar, demi Allah, kita dalam bahaya,kita dalam bahaya yang sangat besar! Namun, jika seseorang menyerahkan urusannya kepada Allah,senantiasa berlindung kepada-Nya, dan jujur terhadap-Nya dalam doanya,niscaya Allah Jalla wa ʿAlā akan mudahkan baginya pintu-pintu taufik,kesuksesan, keselamatan, dan kesehatan,yang akan mengantarkan seorang hamba pada keberuntungan dengan izin Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Maka, itulah salah satu doa yang paling sering dipanjatkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam:YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” Adapun salah satu doa dalam al-Quran:ROBBANAA LAA TUJIGH QULUUBANAA“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati kami,BA’DA IDZ HADAITANAA WAHAB LANAA MIL LADUNKA ROHMAHsetelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu,INNAKA ANTAL WAHHAABsesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran: 8)Baiklah. ==== وَفِيهِ أَيْضًا عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ: آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ قَالَ: نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ أَحَادِيثَ عَظِيمَةٍ فِي هَذَا الْبَابِ بَابِ الْخَوْفِ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ يَعْنِي وَقَدْ آمَنَّا بِكَ وَآمَنَّا بِمَا جِئْتَ بِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ: فَإِنْ شَاءَ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ أَزَاغَهُ وَكَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَهَذِهِ الدَّعْوَةُ دَعْوَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا يَنْبَغِي مَعَاشِرَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ نُحَافِظَ عَلَيْهَا وَأَنْ نَعْتَنِيَ بِهَا عِنَايَةً عَظِيمَةً يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ لِأَنَّنَا خَاصَّةً فِي هَذَا الزَّمَانِ مَعَ كَثْرَةِ الْفِتَنِ وَاللهِ عَلَى خَطَرٍ عَلَى خَطَرٍ عَظِيمٍ جِدًّا لَكِنْ إِذَا فَوَّضَ الْإِنْسَانُ أَمْرَهُ إِلَى اللهِ وَأَكْثَرَ اللُّجُوءَ إِلَى اللهِ وَصَدَقَ مَعَ اللهِ فِي الدُّعَاءِ يَسَّرَ لَهُ جَلَّ وَعَلَا مِن أَبْوَابِ التَّوْفِيقِ وَالنَّجَاةِ وَالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ مَا تَكُونُ بِهِ نَجَاةُ الْعَبْدِ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَكَانَ مِنْ أَكْثَرِ دُعَاءِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَمِنَ الْأَدْعِيَةِ فِي الْقُرْآنِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Perbanyak Doa Ini di Zaman Fitnah Ini – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dalam bab ini, ada hadis lain darinya, yang menyebutkanbahwa dahulu Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sering berdoa,YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” Lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami sudah beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa.Apakah engkau masih khawatir terhadap kami?” Beliau bersabda, “Ya, karena hati berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah,dan Dia bolak-balikkan sekehendak-Nya.” (HR. Tirmizi)Hadis ini adalah salah satu hadis agung dalam bab ini,yaitu bab rasa takut. Para sahabat—semoga Allah meridai mereka—berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Kami sudah beriman kepada engkau dan dengan apa yang engkau bawa.Apakah engkau masih khawatir terhadap kami?” Maksudnya, padahal kami sungguh telah beriman kepada engkau dan dengan apa yang engkau bawa.Lalu beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya,karena sungguh hati berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah,dan Dia bolak-balikkan sekehendak-Nya.” (HR. Tirmizi) Dalam sebagian hadis disebutkan, “Jika Dia berkehendak akan diluruskan,dan jika Dia berkehendak akan disesatkan.” (HR. Ibnu Majah)Inilah doa yang dahulu paling sering Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam baca:YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.”Doa ini sangat agung. Wahai orang-orang beriman, sudah selayaknya kita menjaganya (rutin membacanya),dan benar-benar memperhatikannya.YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” Terlebih lagi, kita hidup di zaman inidi mana fitnah begitu banyak tersebar, demi Allah, kita dalam bahaya,kita dalam bahaya yang sangat besar! Namun, jika seseorang menyerahkan urusannya kepada Allah,senantiasa berlindung kepada-Nya, dan jujur terhadap-Nya dalam doanya,niscaya Allah Jalla wa ʿAlā akan mudahkan baginya pintu-pintu taufik,kesuksesan, keselamatan, dan kesehatan,yang akan mengantarkan seorang hamba pada keberuntungan dengan izin Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Maka, itulah salah satu doa yang paling sering dipanjatkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam:YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” Adapun salah satu doa dalam al-Quran:ROBBANAA LAA TUJIGH QULUUBANAA“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati kami,BA’DA IDZ HADAITANAA WAHAB LANAA MIL LADUNKA ROHMAHsetelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu,INNAKA ANTAL WAHHAABsesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran: 8)Baiklah. ==== وَفِيهِ أَيْضًا عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ: آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ قَالَ: نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ أَحَادِيثَ عَظِيمَةٍ فِي هَذَا الْبَابِ بَابِ الْخَوْفِ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ يَعْنِي وَقَدْ آمَنَّا بِكَ وَآمَنَّا بِمَا جِئْتَ بِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ: فَإِنْ شَاءَ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ أَزَاغَهُ وَكَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَهَذِهِ الدَّعْوَةُ دَعْوَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا يَنْبَغِي مَعَاشِرَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ نُحَافِظَ عَلَيْهَا وَأَنْ نَعْتَنِيَ بِهَا عِنَايَةً عَظِيمَةً يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ لِأَنَّنَا خَاصَّةً فِي هَذَا الزَّمَانِ مَعَ كَثْرَةِ الْفِتَنِ وَاللهِ عَلَى خَطَرٍ عَلَى خَطَرٍ عَظِيمٍ جِدًّا لَكِنْ إِذَا فَوَّضَ الْإِنْسَانُ أَمْرَهُ إِلَى اللهِ وَأَكْثَرَ اللُّجُوءَ إِلَى اللهِ وَصَدَقَ مَعَ اللهِ فِي الدُّعَاءِ يَسَّرَ لَهُ جَلَّ وَعَلَا مِن أَبْوَابِ التَّوْفِيقِ وَالنَّجَاةِ وَالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ مَا تَكُونُ بِهِ نَجَاةُ الْعَبْدِ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَكَانَ مِنْ أَكْثَرِ دُعَاءِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَمِنَ الْأَدْعِيَةِ فِي الْقُرْآنِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Dalam bab ini, ada hadis lain darinya, yang menyebutkanbahwa dahulu Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sering berdoa,YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” Lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami sudah beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa.Apakah engkau masih khawatir terhadap kami?” Beliau bersabda, “Ya, karena hati berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah,dan Dia bolak-balikkan sekehendak-Nya.” (HR. Tirmizi)Hadis ini adalah salah satu hadis agung dalam bab ini,yaitu bab rasa takut. Para sahabat—semoga Allah meridai mereka—berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Kami sudah beriman kepada engkau dan dengan apa yang engkau bawa.Apakah engkau masih khawatir terhadap kami?” Maksudnya, padahal kami sungguh telah beriman kepada engkau dan dengan apa yang engkau bawa.Lalu beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya,karena sungguh hati berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah,dan Dia bolak-balikkan sekehendak-Nya.” (HR. Tirmizi) Dalam sebagian hadis disebutkan, “Jika Dia berkehendak akan diluruskan,dan jika Dia berkehendak akan disesatkan.” (HR. Ibnu Majah)Inilah doa yang dahulu paling sering Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam baca:YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.”Doa ini sangat agung. Wahai orang-orang beriman, sudah selayaknya kita menjaganya (rutin membacanya),dan benar-benar memperhatikannya.YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” Terlebih lagi, kita hidup di zaman inidi mana fitnah begitu banyak tersebar, demi Allah, kita dalam bahaya,kita dalam bahaya yang sangat besar! Namun, jika seseorang menyerahkan urusannya kepada Allah,senantiasa berlindung kepada-Nya, dan jujur terhadap-Nya dalam doanya,niscaya Allah Jalla wa ʿAlā akan mudahkan baginya pintu-pintu taufik,kesuksesan, keselamatan, dan kesehatan,yang akan mengantarkan seorang hamba pada keberuntungan dengan izin Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Maka, itulah salah satu doa yang paling sering dipanjatkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam:YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” Adapun salah satu doa dalam al-Quran:ROBBANAA LAA TUJIGH QULUUBANAA“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati kami,BA’DA IDZ HADAITANAA WAHAB LANAA MIL LADUNKA ROHMAHsetelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu,INNAKA ANTAL WAHHAABsesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran: 8)Baiklah. ==== وَفِيهِ أَيْضًا عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ: آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ قَالَ: نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ أَحَادِيثَ عَظِيمَةٍ فِي هَذَا الْبَابِ بَابِ الْخَوْفِ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ يَعْنِي وَقَدْ آمَنَّا بِكَ وَآمَنَّا بِمَا جِئْتَ بِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ: فَإِنْ شَاءَ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ أَزَاغَهُ وَكَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَهَذِهِ الدَّعْوَةُ دَعْوَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا يَنْبَغِي مَعَاشِرَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ نُحَافِظَ عَلَيْهَا وَأَنْ نَعْتَنِيَ بِهَا عِنَايَةً عَظِيمَةً يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ لِأَنَّنَا خَاصَّةً فِي هَذَا الزَّمَانِ مَعَ كَثْرَةِ الْفِتَنِ وَاللهِ عَلَى خَطَرٍ عَلَى خَطَرٍ عَظِيمٍ جِدًّا لَكِنْ إِذَا فَوَّضَ الْإِنْسَانُ أَمْرَهُ إِلَى اللهِ وَأَكْثَرَ اللُّجُوءَ إِلَى اللهِ وَصَدَقَ مَعَ اللهِ فِي الدُّعَاءِ يَسَّرَ لَهُ جَلَّ وَعَلَا مِن أَبْوَابِ التَّوْفِيقِ وَالنَّجَاةِ وَالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ مَا تَكُونُ بِهِ نَجَاةُ الْعَبْدِ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَكَانَ مِنْ أَكْثَرِ دُعَاءِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَمِنَ الْأَدْعِيَةِ فِي الْقُرْآنِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Dalam bab ini, ada hadis lain darinya, yang menyebutkanbahwa dahulu Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sering berdoa,YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” Lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami sudah beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa.Apakah engkau masih khawatir terhadap kami?” Beliau bersabda, “Ya, karena hati berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah,dan Dia bolak-balikkan sekehendak-Nya.” (HR. Tirmizi)Hadis ini adalah salah satu hadis agung dalam bab ini,yaitu bab rasa takut. Para sahabat—semoga Allah meridai mereka—berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Kami sudah beriman kepada engkau dan dengan apa yang engkau bawa.Apakah engkau masih khawatir terhadap kami?” Maksudnya, padahal kami sungguh telah beriman kepada engkau dan dengan apa yang engkau bawa.Lalu beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya,karena sungguh hati berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah,dan Dia bolak-balikkan sekehendak-Nya.” (HR. Tirmizi) Dalam sebagian hadis disebutkan, “Jika Dia berkehendak akan diluruskan,dan jika Dia berkehendak akan disesatkan.” (HR. Ibnu Majah)Inilah doa yang dahulu paling sering Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam baca:YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.”Doa ini sangat agung. Wahai orang-orang beriman, sudah selayaknya kita menjaganya (rutin membacanya),dan benar-benar memperhatikannya.YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” Terlebih lagi, kita hidup di zaman inidi mana fitnah begitu banyak tersebar, demi Allah, kita dalam bahaya,kita dalam bahaya yang sangat besar! Namun, jika seseorang menyerahkan urusannya kepada Allah,senantiasa berlindung kepada-Nya, dan jujur terhadap-Nya dalam doanya,niscaya Allah Jalla wa ʿAlā akan mudahkan baginya pintu-pintu taufik,kesuksesan, keselamatan, dan kesehatan,yang akan mengantarkan seorang hamba pada keberuntungan dengan izin Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Maka, itulah salah satu doa yang paling sering dipanjatkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam:YA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” Adapun salah satu doa dalam al-Quran:ROBBANAA LAA TUJIGH QULUUBANAA“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati kami,BA’DA IDZ HADAITANAA WAHAB LANAA MIL LADUNKA ROHMAHsetelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu,INNAKA ANTAL WAHHAABsesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran: 8)Baiklah. ==== وَفِيهِ أَيْضًا عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ: آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ قَالَ: نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ أَحَادِيثَ عَظِيمَةٍ فِي هَذَا الْبَابِ بَابِ الْخَوْفِ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ يَعْنِي وَقَدْ آمَنَّا بِكَ وَآمَنَّا بِمَا جِئْتَ بِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ: فَإِنْ شَاءَ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ أَزَاغَهُ وَكَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَهَذِهِ الدَّعْوَةُ دَعْوَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا يَنْبَغِي مَعَاشِرَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ نُحَافِظَ عَلَيْهَا وَأَنْ نَعْتَنِيَ بِهَا عِنَايَةً عَظِيمَةً يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ لِأَنَّنَا خَاصَّةً فِي هَذَا الزَّمَانِ مَعَ كَثْرَةِ الْفِتَنِ وَاللهِ عَلَى خَطَرٍ عَلَى خَطَرٍ عَظِيمٍ جِدًّا لَكِنْ إِذَا فَوَّضَ الْإِنْسَانُ أَمْرَهُ إِلَى اللهِ وَأَكْثَرَ اللُّجُوءَ إِلَى اللهِ وَصَدَقَ مَعَ اللهِ فِي الدُّعَاءِ يَسَّرَ لَهُ جَلَّ وَعَلَا مِن أَبْوَابِ التَّوْفِيقِ وَالنَّجَاةِ وَالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ مَا تَكُونُ بِهِ نَجَاةُ الْعَبْدِ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَكَانَ مِنْ أَكْثَرِ دُعَاءِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَمِنَ الْأَدْعِيَةِ فِي الْقُرْآنِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bersiaplah untuk Hari Itu – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Untuk hari semacam ini, maka persiapkanlah!Persiapannya adalah dengan memperbaiki amal,agar ia menjadi penghibur bagi seseorang di alam kuburnya,serta kebahagiaan, ketenangan, dan penyejuk mata baginya. Juga dengan menjauhi amal buruk, agar tidak menjadisesuatu yang menyakiti dan nasib buruk dalam kuburnya.Beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Untuk hari semacam ini, maka persiapkan!” (HR. Ibnu Majah)Untuk hari semacam ini, yang akan menimpa setiap dari kalian,maka siapkan persiapan khusus untuk hari seperti ini,yaitu hari di mana seorang hamba meninggalkan dunia dan menuju akhirat. Dunianya dengan segala tetek bengeknya telah selesai,lalu pergi menuju akhirat.Untuk hari semacam ini, maka persiapkanlah! Jadi, orang-orang yang menjadi sebab dipaparkannya hadis-hadis ini oleh Ibnul Qayyim,yaitu mereka yang hanya bergantung pada sisi prasangka baik kepada Allah saja dengan terus melakukan dosa dan maksiat,mereka harus melihat hadis-hadis seperti ini,sembari berusaha mempersiapkan persiapannya. Perhatikan di sini, sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“… maka persiapkanlah!”Ketika seseorang bertanya kepada Nabi, “Kapan hari Kiamat terjadi?”Beliau bersabda, “Apa yang sudah kamu persiapkan untuk hari tersebut?” (HR. Muslim) Jadi, harus mempersiapkan,tidak cukup hanya bergantung dengan prasangka baik kepada Allah saja.Seseorang harus mempersiapkan persiapan khusus untuk hari tersebut. “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa,dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS. Al-Baqarah: 197) ==== لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا وَالْإِعْدَادُ يَكُونُ بِإِصْلَاحِ الْعَمَلِ حَتَّى يَكُوْنَ مُؤْنِسًا لِلْمَرْءِ فِي قَبْرِهِ سُرُورًا وَرَاحَةً وَقُرَّةَ عَيْنٍ لَهُ وَأَنْ يُجَانِبَ الْعَمَلَ السَّيِّءَ حَتَّى لَا يَكُوْنَ أَذًى عَلَيْهِ وَشُؤْمًا فِي قَبْرِهِ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ الَّذِي سَيَنْزِلُ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْكُمْ فَأَعِدُّوا الْعُدَّةَ لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ يَوْمًا يَكُوْنُ الْعَبْدُ فِي انْقِضَاءٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ انْتَهَى الدُّنْيَا بِكُلِّ تَفَاصِيلِهَا وَأَقْبَلَ عَلَى الْآخِرَةِ فَلِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا إِذَنْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يَسُوقُ ابْنُ الْقَيِّمِ هَذِهِ الأَحَادِيثَ مِنْ أَجْلِهِمْ وَهُمْ مَنْ يَتَّكِلُونَ عَلَى جَانِبِ حُسْنِ الظَّنِّ مَعَ الْإِقَامَةِ عَلَى الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي يَجِبُ أَنْ يَنْظُرُوا فِي مِثْلِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَأَنْ يَعْمَلُوا عَلَى إِعْدَادِ الْعُدَّةَ وَتَأَمَّلُوا هُنَا قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعِدُّوا وَلَمَّا قَالَ لَهُ رَجُلٌ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ لَا بُدَّ مِنْ عُدَّةٍ مَا يَكْفِي الْاِتِّكَالُ عَلَى حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ لَا بُدَّ أَنْ يُعِدَّ لِذَلِكَ الْيَوْمِ عُدَّتَهُ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْأَلْبَابِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bersiaplah untuk Hari Itu – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Untuk hari semacam ini, maka persiapkanlah!Persiapannya adalah dengan memperbaiki amal,agar ia menjadi penghibur bagi seseorang di alam kuburnya,serta kebahagiaan, ketenangan, dan penyejuk mata baginya. Juga dengan menjauhi amal buruk, agar tidak menjadisesuatu yang menyakiti dan nasib buruk dalam kuburnya.Beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Untuk hari semacam ini, maka persiapkan!” (HR. Ibnu Majah)Untuk hari semacam ini, yang akan menimpa setiap dari kalian,maka siapkan persiapan khusus untuk hari seperti ini,yaitu hari di mana seorang hamba meninggalkan dunia dan menuju akhirat. Dunianya dengan segala tetek bengeknya telah selesai,lalu pergi menuju akhirat.Untuk hari semacam ini, maka persiapkanlah! Jadi, orang-orang yang menjadi sebab dipaparkannya hadis-hadis ini oleh Ibnul Qayyim,yaitu mereka yang hanya bergantung pada sisi prasangka baik kepada Allah saja dengan terus melakukan dosa dan maksiat,mereka harus melihat hadis-hadis seperti ini,sembari berusaha mempersiapkan persiapannya. Perhatikan di sini, sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“… maka persiapkanlah!”Ketika seseorang bertanya kepada Nabi, “Kapan hari Kiamat terjadi?”Beliau bersabda, “Apa yang sudah kamu persiapkan untuk hari tersebut?” (HR. Muslim) Jadi, harus mempersiapkan,tidak cukup hanya bergantung dengan prasangka baik kepada Allah saja.Seseorang harus mempersiapkan persiapan khusus untuk hari tersebut. “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa,dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS. Al-Baqarah: 197) ==== لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا وَالْإِعْدَادُ يَكُونُ بِإِصْلَاحِ الْعَمَلِ حَتَّى يَكُوْنَ مُؤْنِسًا لِلْمَرْءِ فِي قَبْرِهِ سُرُورًا وَرَاحَةً وَقُرَّةَ عَيْنٍ لَهُ وَأَنْ يُجَانِبَ الْعَمَلَ السَّيِّءَ حَتَّى لَا يَكُوْنَ أَذًى عَلَيْهِ وَشُؤْمًا فِي قَبْرِهِ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ الَّذِي سَيَنْزِلُ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْكُمْ فَأَعِدُّوا الْعُدَّةَ لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ يَوْمًا يَكُوْنُ الْعَبْدُ فِي انْقِضَاءٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ انْتَهَى الدُّنْيَا بِكُلِّ تَفَاصِيلِهَا وَأَقْبَلَ عَلَى الْآخِرَةِ فَلِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا إِذَنْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يَسُوقُ ابْنُ الْقَيِّمِ هَذِهِ الأَحَادِيثَ مِنْ أَجْلِهِمْ وَهُمْ مَنْ يَتَّكِلُونَ عَلَى جَانِبِ حُسْنِ الظَّنِّ مَعَ الْإِقَامَةِ عَلَى الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي يَجِبُ أَنْ يَنْظُرُوا فِي مِثْلِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَأَنْ يَعْمَلُوا عَلَى إِعْدَادِ الْعُدَّةَ وَتَأَمَّلُوا هُنَا قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعِدُّوا وَلَمَّا قَالَ لَهُ رَجُلٌ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ لَا بُدَّ مِنْ عُدَّةٍ مَا يَكْفِي الْاِتِّكَالُ عَلَى حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ لَا بُدَّ أَنْ يُعِدَّ لِذَلِكَ الْيَوْمِ عُدَّتَهُ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْأَلْبَابِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Untuk hari semacam ini, maka persiapkanlah!Persiapannya adalah dengan memperbaiki amal,agar ia menjadi penghibur bagi seseorang di alam kuburnya,serta kebahagiaan, ketenangan, dan penyejuk mata baginya. Juga dengan menjauhi amal buruk, agar tidak menjadisesuatu yang menyakiti dan nasib buruk dalam kuburnya.Beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Untuk hari semacam ini, maka persiapkan!” (HR. Ibnu Majah)Untuk hari semacam ini, yang akan menimpa setiap dari kalian,maka siapkan persiapan khusus untuk hari seperti ini,yaitu hari di mana seorang hamba meninggalkan dunia dan menuju akhirat. Dunianya dengan segala tetek bengeknya telah selesai,lalu pergi menuju akhirat.Untuk hari semacam ini, maka persiapkanlah! Jadi, orang-orang yang menjadi sebab dipaparkannya hadis-hadis ini oleh Ibnul Qayyim,yaitu mereka yang hanya bergantung pada sisi prasangka baik kepada Allah saja dengan terus melakukan dosa dan maksiat,mereka harus melihat hadis-hadis seperti ini,sembari berusaha mempersiapkan persiapannya. Perhatikan di sini, sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“… maka persiapkanlah!”Ketika seseorang bertanya kepada Nabi, “Kapan hari Kiamat terjadi?”Beliau bersabda, “Apa yang sudah kamu persiapkan untuk hari tersebut?” (HR. Muslim) Jadi, harus mempersiapkan,tidak cukup hanya bergantung dengan prasangka baik kepada Allah saja.Seseorang harus mempersiapkan persiapan khusus untuk hari tersebut. “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa,dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS. Al-Baqarah: 197) ==== لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا وَالْإِعْدَادُ يَكُونُ بِإِصْلَاحِ الْعَمَلِ حَتَّى يَكُوْنَ مُؤْنِسًا لِلْمَرْءِ فِي قَبْرِهِ سُرُورًا وَرَاحَةً وَقُرَّةَ عَيْنٍ لَهُ وَأَنْ يُجَانِبَ الْعَمَلَ السَّيِّءَ حَتَّى لَا يَكُوْنَ أَذًى عَلَيْهِ وَشُؤْمًا فِي قَبْرِهِ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ الَّذِي سَيَنْزِلُ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْكُمْ فَأَعِدُّوا الْعُدَّةَ لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ يَوْمًا يَكُوْنُ الْعَبْدُ فِي انْقِضَاءٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ انْتَهَى الدُّنْيَا بِكُلِّ تَفَاصِيلِهَا وَأَقْبَلَ عَلَى الْآخِرَةِ فَلِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا إِذَنْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يَسُوقُ ابْنُ الْقَيِّمِ هَذِهِ الأَحَادِيثَ مِنْ أَجْلِهِمْ وَهُمْ مَنْ يَتَّكِلُونَ عَلَى جَانِبِ حُسْنِ الظَّنِّ مَعَ الْإِقَامَةِ عَلَى الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي يَجِبُ أَنْ يَنْظُرُوا فِي مِثْلِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَأَنْ يَعْمَلُوا عَلَى إِعْدَادِ الْعُدَّةَ وَتَأَمَّلُوا هُنَا قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعِدُّوا وَلَمَّا قَالَ لَهُ رَجُلٌ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ لَا بُدَّ مِنْ عُدَّةٍ مَا يَكْفِي الْاِتِّكَالُ عَلَى حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ لَا بُدَّ أَنْ يُعِدَّ لِذَلِكَ الْيَوْمِ عُدَّتَهُ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْأَلْبَابِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Untuk hari semacam ini, maka persiapkanlah!Persiapannya adalah dengan memperbaiki amal,agar ia menjadi penghibur bagi seseorang di alam kuburnya,serta kebahagiaan, ketenangan, dan penyejuk mata baginya. Juga dengan menjauhi amal buruk, agar tidak menjadisesuatu yang menyakiti dan nasib buruk dalam kuburnya.Beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Untuk hari semacam ini, maka persiapkan!” (HR. Ibnu Majah)Untuk hari semacam ini, yang akan menimpa setiap dari kalian,maka siapkan persiapan khusus untuk hari seperti ini,yaitu hari di mana seorang hamba meninggalkan dunia dan menuju akhirat. Dunianya dengan segala tetek bengeknya telah selesai,lalu pergi menuju akhirat.Untuk hari semacam ini, maka persiapkanlah! Jadi, orang-orang yang menjadi sebab dipaparkannya hadis-hadis ini oleh Ibnul Qayyim,yaitu mereka yang hanya bergantung pada sisi prasangka baik kepada Allah saja dengan terus melakukan dosa dan maksiat,mereka harus melihat hadis-hadis seperti ini,sembari berusaha mempersiapkan persiapannya. Perhatikan di sini, sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“… maka persiapkanlah!”Ketika seseorang bertanya kepada Nabi, “Kapan hari Kiamat terjadi?”Beliau bersabda, “Apa yang sudah kamu persiapkan untuk hari tersebut?” (HR. Muslim) Jadi, harus mempersiapkan,tidak cukup hanya bergantung dengan prasangka baik kepada Allah saja.Seseorang harus mempersiapkan persiapan khusus untuk hari tersebut. “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa,dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS. Al-Baqarah: 197) ==== لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا وَالْإِعْدَادُ يَكُونُ بِإِصْلَاحِ الْعَمَلِ حَتَّى يَكُوْنَ مُؤْنِسًا لِلْمَرْءِ فِي قَبْرِهِ سُرُورًا وَرَاحَةً وَقُرَّةَ عَيْنٍ لَهُ وَأَنْ يُجَانِبَ الْعَمَلَ السَّيِّءَ حَتَّى لَا يَكُوْنَ أَذًى عَلَيْهِ وَشُؤْمًا فِي قَبْرِهِ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ الَّذِي سَيَنْزِلُ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْكُمْ فَأَعِدُّوا الْعُدَّةَ لِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ يَوْمًا يَكُوْنُ الْعَبْدُ فِي انْقِضَاءٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ انْتَهَى الدُّنْيَا بِكُلِّ تَفَاصِيلِهَا وَأَقْبَلَ عَلَى الْآخِرَةِ فَلِمِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَعِدُّوا إِذَنْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يَسُوقُ ابْنُ الْقَيِّمِ هَذِهِ الأَحَادِيثَ مِنْ أَجْلِهِمْ وَهُمْ مَنْ يَتَّكِلُونَ عَلَى جَانِبِ حُسْنِ الظَّنِّ مَعَ الْإِقَامَةِ عَلَى الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي يَجِبُ أَنْ يَنْظُرُوا فِي مِثْلِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَأَنْ يَعْمَلُوا عَلَى إِعْدَادِ الْعُدَّةَ وَتَأَمَّلُوا هُنَا قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعِدُّوا وَلَمَّا قَالَ لَهُ رَجُلٌ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ لَا بُدَّ مِنْ عُدَّةٍ مَا يَكْفِي الْاِتِّكَالُ عَلَى حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ لَا بُدَّ أَنْ يُعِدَّ لِذَلِكَ الْيَوْمِ عُدَّتَهُ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْأَلْبَابِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Sunah Berdiri di Bawah Hujan

حكم كشف الجسم والتعرض للمطر ليصيبه الماء السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: إذا نزل المطر وأنا داخل البيت، أو داخل السيارة وأردت أعرض جسمي للمطر هل يجب ذلك ؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini berkata, “Jika hujan turun dan aku sedang di dalam rumah atau mobil, kemudian aku ingin keluar agar badanku terkena hujan, apakah hal tersebut boleh?” الاحابة ايه نعم كان ﷺ يخرج إلى المطر ويتركه ينزل على جسمه الشريف وعلى رأسه ويقول: ( إنه حديث عهد بربه ) يعني المطر. Jawaban: Iya. Dahulu Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam keluar menuju hujan dan membiarkan air hujan membasahi jasad dan kepala beliau yang mulia, kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya ini (yakni hujan ini) baru saja Allah ciptakan.” (HR. Muslim no. 898) [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18247 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Sedekah Kepada Orang Tua, Kehidupan Setelah Mati Menurut Islam, Kutukan Ibu Kepada Anaknya, Shalat Masbuk, Doa Nubuat, Apa Itu Zaman Azali Visited 138 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 QRIS donasi Yufid

Sunah Berdiri di Bawah Hujan

حكم كشف الجسم والتعرض للمطر ليصيبه الماء السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: إذا نزل المطر وأنا داخل البيت، أو داخل السيارة وأردت أعرض جسمي للمطر هل يجب ذلك ؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini berkata, “Jika hujan turun dan aku sedang di dalam rumah atau mobil, kemudian aku ingin keluar agar badanku terkena hujan, apakah hal tersebut boleh?” الاحابة ايه نعم كان ﷺ يخرج إلى المطر ويتركه ينزل على جسمه الشريف وعلى رأسه ويقول: ( إنه حديث عهد بربه ) يعني المطر. Jawaban: Iya. Dahulu Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam keluar menuju hujan dan membiarkan air hujan membasahi jasad dan kepala beliau yang mulia, kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya ini (yakni hujan ini) baru saja Allah ciptakan.” (HR. Muslim no. 898) [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18247 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Sedekah Kepada Orang Tua, Kehidupan Setelah Mati Menurut Islam, Kutukan Ibu Kepada Anaknya, Shalat Masbuk, Doa Nubuat, Apa Itu Zaman Azali Visited 138 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 QRIS donasi Yufid
حكم كشف الجسم والتعرض للمطر ليصيبه الماء السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: إذا نزل المطر وأنا داخل البيت، أو داخل السيارة وأردت أعرض جسمي للمطر هل يجب ذلك ؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini berkata, “Jika hujan turun dan aku sedang di dalam rumah atau mobil, kemudian aku ingin keluar agar badanku terkena hujan, apakah hal tersebut boleh?” الاحابة ايه نعم كان ﷺ يخرج إلى المطر ويتركه ينزل على جسمه الشريف وعلى رأسه ويقول: ( إنه حديث عهد بربه ) يعني المطر. Jawaban: Iya. Dahulu Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam keluar menuju hujan dan membiarkan air hujan membasahi jasad dan kepala beliau yang mulia, kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya ini (yakni hujan ini) baru saja Allah ciptakan.” (HR. Muslim no. 898) [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18247 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Sedekah Kepada Orang Tua, Kehidupan Setelah Mati Menurut Islam, Kutukan Ibu Kepada Anaknya, Shalat Masbuk, Doa Nubuat, Apa Itu Zaman Azali Visited 138 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1382105350&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> حكم كشف الجسم والتعرض للمطر ليصيبه الماء السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: إذا نزل المطر وأنا داخل البيت، أو داخل السيارة وأردت أعرض جسمي للمطر هل يجب ذلك ؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini berkata, “Jika hujan turun dan aku sedang di dalam rumah atau mobil, kemudian aku ingin keluar agar badanku terkena hujan, apakah hal tersebut boleh?” الاحابة ايه نعم كان ﷺ يخرج إلى المطر ويتركه ينزل على جسمه الشريف وعلى رأسه ويقول: ( إنه حديث عهد بربه ) يعني المطر. Jawaban: Iya. Dahulu Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam keluar menuju hujan dan membiarkan air hujan membasahi jasad dan kepala beliau yang mulia, kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya ini (yakni hujan ini) baru saja Allah ciptakan.” (HR. Muslim no. 898) [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18247 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Sedekah Kepada Orang Tua, Kehidupan Setelah Mati Menurut Islam, Kutukan Ibu Kepada Anaknya, Shalat Masbuk, Doa Nubuat, Apa Itu Zaman Azali Visited 138 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Satu Faedah Kau Berbuat Baik – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Ia bertanya, “Apa faedah amal-amal kebaikan,jika aku tidak akan dapat masuk surga kecuali dengan rahmat Allah?” Pertama-tama, amal yang paling agung adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.Tanpa amal kebaikan ini, kamu tidak akan dapat masuk surga. Amal paling agung adalah syahadat tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah.Dan tidak ada seorang pun yang dapat masuk surga tanpanya.Inilah sebab untuk dapat masuk surga. Adapun amal-amal kebaikan lain adalah untuk meninggikan derajat di surga dan agar tidak masuk neraka. Karena memang ada sebagian kaum Muslimin yang akan langsung masuk surga,sedangkan sebagian lainnya akan terlambat masuk surga, yakni setelah ia masuk neraka terlebih dahuludan setelah mendapat azab atas kemaksiatan yang telah ia lakukan di dunia ini,lalu setelah itu ia baru bisa masuk surga. Inilah keutamaan amal-amal kebaikan, yaitu untuk meninggikan derajat (di surga) dan menyelamatkan dari neraka. Wallahu al-Musta’an. ==== يَقُولُ مَا فَائِدَةُ الْحَسَنَاتِ إِذَا لَنْ أَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا بِرَحْمَةِ اللهِ أَوَّلًا أَعْظَمُ حَسَنَةٍ هِيَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَهَذِه الْحَسَنَةُ لَن تَدْخُلَ الْجَنَّةَ بِدُونِهَا أَبَدًا أَعْظَمُ حَسَنَةٍ هِيَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَلَن يَدْخُلَ أَحَدٌ الْجَنَّةَ بِدُونِهَا فَهَذِهِ هِيَ سَبَبُ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَأَمَّا بَاقِي الْحَسَنَاتِ لِرَفْعِ الدَّرَجَاتِ فِي الْجَنَّةِ وَعَدَمِ الدُّخُولِ فِي النَّارِ لِأَنَّ بَعْضَ الْمُسْلِمِينَ نَعَم يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ دُخُولًا أَوَّلِيًّا وَآخَرُونَ يَدْخُلُونَ دُخُولًا مَآلِيًّا أَيْ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ وَيُعَذَّبَ عَلَى مَا أَتَاهُ مِنَ الْمَعَاصِي فِي هَذِهِ الدُّنْيَا ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ فَهَذَا فَضْلُ الْحَسَنَاتِ رَفْعُ الدَّرَجَاتِ وَالنَّجَاةُ مِنَ النَّارِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Satu Faedah Kau Berbuat Baik – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Ia bertanya, “Apa faedah amal-amal kebaikan,jika aku tidak akan dapat masuk surga kecuali dengan rahmat Allah?” Pertama-tama, amal yang paling agung adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.Tanpa amal kebaikan ini, kamu tidak akan dapat masuk surga. Amal paling agung adalah syahadat tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah.Dan tidak ada seorang pun yang dapat masuk surga tanpanya.Inilah sebab untuk dapat masuk surga. Adapun amal-amal kebaikan lain adalah untuk meninggikan derajat di surga dan agar tidak masuk neraka. Karena memang ada sebagian kaum Muslimin yang akan langsung masuk surga,sedangkan sebagian lainnya akan terlambat masuk surga, yakni setelah ia masuk neraka terlebih dahuludan setelah mendapat azab atas kemaksiatan yang telah ia lakukan di dunia ini,lalu setelah itu ia baru bisa masuk surga. Inilah keutamaan amal-amal kebaikan, yaitu untuk meninggikan derajat (di surga) dan menyelamatkan dari neraka. Wallahu al-Musta’an. ==== يَقُولُ مَا فَائِدَةُ الْحَسَنَاتِ إِذَا لَنْ أَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا بِرَحْمَةِ اللهِ أَوَّلًا أَعْظَمُ حَسَنَةٍ هِيَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَهَذِه الْحَسَنَةُ لَن تَدْخُلَ الْجَنَّةَ بِدُونِهَا أَبَدًا أَعْظَمُ حَسَنَةٍ هِيَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَلَن يَدْخُلَ أَحَدٌ الْجَنَّةَ بِدُونِهَا فَهَذِهِ هِيَ سَبَبُ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَأَمَّا بَاقِي الْحَسَنَاتِ لِرَفْعِ الدَّرَجَاتِ فِي الْجَنَّةِ وَعَدَمِ الدُّخُولِ فِي النَّارِ لِأَنَّ بَعْضَ الْمُسْلِمِينَ نَعَم يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ دُخُولًا أَوَّلِيًّا وَآخَرُونَ يَدْخُلُونَ دُخُولًا مَآلِيًّا أَيْ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ وَيُعَذَّبَ عَلَى مَا أَتَاهُ مِنَ الْمَعَاصِي فِي هَذِهِ الدُّنْيَا ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ فَهَذَا فَضْلُ الْحَسَنَاتِ رَفْعُ الدَّرَجَاتِ وَالنَّجَاةُ مِنَ النَّارِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ia bertanya, “Apa faedah amal-amal kebaikan,jika aku tidak akan dapat masuk surga kecuali dengan rahmat Allah?” Pertama-tama, amal yang paling agung adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.Tanpa amal kebaikan ini, kamu tidak akan dapat masuk surga. Amal paling agung adalah syahadat tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah.Dan tidak ada seorang pun yang dapat masuk surga tanpanya.Inilah sebab untuk dapat masuk surga. Adapun amal-amal kebaikan lain adalah untuk meninggikan derajat di surga dan agar tidak masuk neraka. Karena memang ada sebagian kaum Muslimin yang akan langsung masuk surga,sedangkan sebagian lainnya akan terlambat masuk surga, yakni setelah ia masuk neraka terlebih dahuludan setelah mendapat azab atas kemaksiatan yang telah ia lakukan di dunia ini,lalu setelah itu ia baru bisa masuk surga. Inilah keutamaan amal-amal kebaikan, yaitu untuk meninggikan derajat (di surga) dan menyelamatkan dari neraka. Wallahu al-Musta’an. ==== يَقُولُ مَا فَائِدَةُ الْحَسَنَاتِ إِذَا لَنْ أَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا بِرَحْمَةِ اللهِ أَوَّلًا أَعْظَمُ حَسَنَةٍ هِيَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَهَذِه الْحَسَنَةُ لَن تَدْخُلَ الْجَنَّةَ بِدُونِهَا أَبَدًا أَعْظَمُ حَسَنَةٍ هِيَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَلَن يَدْخُلَ أَحَدٌ الْجَنَّةَ بِدُونِهَا فَهَذِهِ هِيَ سَبَبُ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَأَمَّا بَاقِي الْحَسَنَاتِ لِرَفْعِ الدَّرَجَاتِ فِي الْجَنَّةِ وَعَدَمِ الدُّخُولِ فِي النَّارِ لِأَنَّ بَعْضَ الْمُسْلِمِينَ نَعَم يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ دُخُولًا أَوَّلِيًّا وَآخَرُونَ يَدْخُلُونَ دُخُولًا مَآلِيًّا أَيْ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ وَيُعَذَّبَ عَلَى مَا أَتَاهُ مِنَ الْمَعَاصِي فِي هَذِهِ الدُّنْيَا ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ فَهَذَا فَضْلُ الْحَسَنَاتِ رَفْعُ الدَّرَجَاتِ وَالنَّجَاةُ مِنَ النَّارِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ia bertanya, “Apa faedah amal-amal kebaikan,jika aku tidak akan dapat masuk surga kecuali dengan rahmat Allah?” Pertama-tama, amal yang paling agung adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.Tanpa amal kebaikan ini, kamu tidak akan dapat masuk surga. Amal paling agung adalah syahadat tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah.Dan tidak ada seorang pun yang dapat masuk surga tanpanya.Inilah sebab untuk dapat masuk surga. Adapun amal-amal kebaikan lain adalah untuk meninggikan derajat di surga dan agar tidak masuk neraka. Karena memang ada sebagian kaum Muslimin yang akan langsung masuk surga,sedangkan sebagian lainnya akan terlambat masuk surga, yakni setelah ia masuk neraka terlebih dahuludan setelah mendapat azab atas kemaksiatan yang telah ia lakukan di dunia ini,lalu setelah itu ia baru bisa masuk surga. Inilah keutamaan amal-amal kebaikan, yaitu untuk meninggikan derajat (di surga) dan menyelamatkan dari neraka. Wallahu al-Musta’an. ==== يَقُولُ مَا فَائِدَةُ الْحَسَنَاتِ إِذَا لَنْ أَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا بِرَحْمَةِ اللهِ أَوَّلًا أَعْظَمُ حَسَنَةٍ هِيَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَهَذِه الْحَسَنَةُ لَن تَدْخُلَ الْجَنَّةَ بِدُونِهَا أَبَدًا أَعْظَمُ حَسَنَةٍ هِيَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَلَن يَدْخُلَ أَحَدٌ الْجَنَّةَ بِدُونِهَا فَهَذِهِ هِيَ سَبَبُ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَأَمَّا بَاقِي الْحَسَنَاتِ لِرَفْعِ الدَّرَجَاتِ فِي الْجَنَّةِ وَعَدَمِ الدُّخُولِ فِي النَّارِ لِأَنَّ بَعْضَ الْمُسْلِمِينَ نَعَم يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ دُخُولًا أَوَّلِيًّا وَآخَرُونَ يَدْخُلُونَ دُخُولًا مَآلِيًّا أَيْ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ وَيُعَذَّبَ عَلَى مَا أَتَاهُ مِنَ الْمَعَاصِي فِي هَذِهِ الدُّنْيَا ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ فَهَذَا فَضْلُ الْحَسَنَاتِ رَفْعُ الدَّرَجَاتِ وَالنَّجَاةُ مِنَ النَّارِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Apa Maksud Setan Putus Asa Disembah di Jazirah Arab? – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Dia berkata, pertanyaan ini sangat penting,yakni tentang hadis yang telah kami sebutkan, “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah di Jazirah Arabsehingga kemudian hanya rela untuk menebar permusuhan,padahal di sana ada syirik besar, yakni, sebelum masa dakwah sang imam reformis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab),ada syirik besar,ada yang menyembah batu,ada yang menyembah pohon,ada yang menyembah para wali dan orang saleh,serta kuburan di jazirah Arab.” Jadi, keadaan setan yang berputus asa itu adalah berdasarkan prasangkanya.Setan menyangka bahwa setelah ada banyak penaklukandan Islam tersebar luas, sudah! Setan tidak mungkin disembah lagi. Islam kuat, setelah Fatẖu Makkah, Islam kuat,hingga masa setelahnya, hingga wafatnya beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Islam berada di puncak kekuatannya hingga terbayang oleh setanbahwa dia tidak akan mungkin disembah setelah itu,sehingga dia mencukupkan dengan target yang lebih rendah, yaitu menebar permusuhan. Namun, apakah prasangkanya itu sesuai dengan kenyataanatau menyelisihi realita?Jadi, yang muncul darinya sebenarnya adalah prasangka atau bayangan?Karena realita menunjukkan yang sebaliknya. Jadi, lebih tepatnya, kita katakan bahwa setan membayangkanbahwa dia tidak akan disembah di jazirah Arab ini.Kesedihan dan penyesalannya terhadap itu membuatnyaputus asa dan kepayahan untuk bisa disembah. Akan tetapi, apakah dia berhenti? Tidak berhenti!“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fatir: 6) Jadi, dia tetaplah musuh hingga hari Kiamat.Seseorang berkata, “Demi Allah, kita tidak takut lagi kemusyrikan!Saatnya mengurangi dakwah tauhid.” Tidak! Tauhid adalah modal utamadan mendakwahkannya adalah jalan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamdan jalan orang-orang yang mengikuti beliau,karena amalan apa pun tidak akan sahtanpa tauhid, amalan apapun tidak akan sah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik),tetapi Dia mengampuni dosa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48) “Sungguh, jika engkau berbuat syirik, niscaya akan gugur amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65)Tidak mungkin ada amalan yang diterima, bagaimanapun keadaannya,kecuali setelah seseorang merealisasikan tauhid. ==== يَقُولُ هَذَا السُّؤَالُ مُهِمٌّ جِدًّا يَعْنِي فِي الْحَدِيثِ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ إِنَّ الشَّيْطَانَ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَرَضِيَ بَعْدَ ذَلِكَ بِالتَّحْرِيشِ قَدْ وُجِدَ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ يَعْنِي قُبَيلَ دَعْوَةِ الْإِمَامِ الْمُجَدِّدِ وُجِدَ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ وَوُجِدَ مَنْ يَعْبُدُ الْأَحْجَارَ وَوُجِدَ مَنْ يَعْبُدُ الْأَشْجَارَ وَوُجِدَ مَنْ يَعْبُدُ الْأَوْلِيَاءَ وَالصَّالِحِينَ وَالْقُبُورَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَكَوْنُ الشَّيْطَانِ أَيِسَ هَذَا عَلَى حَدِّ ظَنِّهِ وَظَنَّ أَنَّهُ بَعْدَ أَنْ فُتِحَتَ الْفُتُوحُ وَانْتَشَرَ الْإِسْلَامُ أَنَّهُ خَلَاصٌ لَمْ يُعْبَدْ الْإِسْلَامُ قَوِيٌّ بَعْدَ الْفَتْحِ قَوِيٌّ وَبَعْدَ ذَلِكَ مَا يَلِي الْفَتْحَ إِلَى وَفَاتِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَارَ فِي غَايَةِ الْقُوَّةِ فَخُيِّلَ لِلشَّيْطَانِ أَنَّهُ لَنْ يُعْبَدَ بَعْدَ ذَلِكَ فَصَارَ يَقْنَعُ بِالدُّونِ بِالتَّحْرِيشِ لَكِنْ هَلْ ظَنُّهُ طَابَقَ الْوَاقِعَ أَوْ خَالَفَ الْوَاقِعَ؟ وَهَلْ يَكُونُ حِينَئِذٍ ظَنٌّ أَوْ وَهْمٌ مِنْهُ؟ لِأَنَّ الْوَاقِعَ يَشْهَدُ عَلَى خِلَافِ ظَنِّهِ الْأَدَقُّ أَنْ نَقُولَ تَوَهَّمَ أَنَّهُ لَنْ يُعْبَدَ فِي هَذِهِ الْجَزِيرَةِ وَأَوْصَلَهُ حَسْرَتُهُ وَنَدَمُهُ عَلَى ذَلِكَ إِلَى أَنْ أَيِسَ وَاسْتَحْسَرَ أَنْ يُعْبَدَ لَكِنْ هَلْ تَرَكَ؟ مَا تَرَكَ إِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا فَهُوَ عَدُوٌّ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ فَيَقُولُ: وَاللهِ مَا أَخْشَانَا الشِّرْكَ وَبَدَأَ التَّهْوِينُ مِنَ الدَّعْوَةِ إِلَى التَّوْحِيدِ لَا! التَّوْحِيدُ رَأْسُ الْمَالِ وَالدَّعْوَةُ إِلَيْهِ سَبِيلُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَسَبِيلُ مَنِ اتَّبَعَهُ لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ أَيُّ عَمَلٍ مِنَ الْأَعْمَالِ بِدُونِ تَوْحِيدٍ لَا يَصِحُّ أَيُّ عَمَلٍ إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ مَا فِي عَمَلٍ يُمْكِنُ أَنْ يُقْبَلَ بِحَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ إِلَّا بَعْدَ تَحْقِيقِ التَّوْحِيدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Apa Maksud Setan Putus Asa Disembah di Jazirah Arab? – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Dia berkata, pertanyaan ini sangat penting,yakni tentang hadis yang telah kami sebutkan, “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah di Jazirah Arabsehingga kemudian hanya rela untuk menebar permusuhan,padahal di sana ada syirik besar, yakni, sebelum masa dakwah sang imam reformis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab),ada syirik besar,ada yang menyembah batu,ada yang menyembah pohon,ada yang menyembah para wali dan orang saleh,serta kuburan di jazirah Arab.” Jadi, keadaan setan yang berputus asa itu adalah berdasarkan prasangkanya.Setan menyangka bahwa setelah ada banyak penaklukandan Islam tersebar luas, sudah! Setan tidak mungkin disembah lagi. Islam kuat, setelah Fatẖu Makkah, Islam kuat,hingga masa setelahnya, hingga wafatnya beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Islam berada di puncak kekuatannya hingga terbayang oleh setanbahwa dia tidak akan mungkin disembah setelah itu,sehingga dia mencukupkan dengan target yang lebih rendah, yaitu menebar permusuhan. Namun, apakah prasangkanya itu sesuai dengan kenyataanatau menyelisihi realita?Jadi, yang muncul darinya sebenarnya adalah prasangka atau bayangan?Karena realita menunjukkan yang sebaliknya. Jadi, lebih tepatnya, kita katakan bahwa setan membayangkanbahwa dia tidak akan disembah di jazirah Arab ini.Kesedihan dan penyesalannya terhadap itu membuatnyaputus asa dan kepayahan untuk bisa disembah. Akan tetapi, apakah dia berhenti? Tidak berhenti!“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fatir: 6) Jadi, dia tetaplah musuh hingga hari Kiamat.Seseorang berkata, “Demi Allah, kita tidak takut lagi kemusyrikan!Saatnya mengurangi dakwah tauhid.” Tidak! Tauhid adalah modal utamadan mendakwahkannya adalah jalan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamdan jalan orang-orang yang mengikuti beliau,karena amalan apa pun tidak akan sahtanpa tauhid, amalan apapun tidak akan sah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik),tetapi Dia mengampuni dosa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48) “Sungguh, jika engkau berbuat syirik, niscaya akan gugur amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65)Tidak mungkin ada amalan yang diterima, bagaimanapun keadaannya,kecuali setelah seseorang merealisasikan tauhid. ==== يَقُولُ هَذَا السُّؤَالُ مُهِمٌّ جِدًّا يَعْنِي فِي الْحَدِيثِ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ إِنَّ الشَّيْطَانَ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَرَضِيَ بَعْدَ ذَلِكَ بِالتَّحْرِيشِ قَدْ وُجِدَ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ يَعْنِي قُبَيلَ دَعْوَةِ الْإِمَامِ الْمُجَدِّدِ وُجِدَ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ وَوُجِدَ مَنْ يَعْبُدُ الْأَحْجَارَ وَوُجِدَ مَنْ يَعْبُدُ الْأَشْجَارَ وَوُجِدَ مَنْ يَعْبُدُ الْأَوْلِيَاءَ وَالصَّالِحِينَ وَالْقُبُورَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَكَوْنُ الشَّيْطَانِ أَيِسَ هَذَا عَلَى حَدِّ ظَنِّهِ وَظَنَّ أَنَّهُ بَعْدَ أَنْ فُتِحَتَ الْفُتُوحُ وَانْتَشَرَ الْإِسْلَامُ أَنَّهُ خَلَاصٌ لَمْ يُعْبَدْ الْإِسْلَامُ قَوِيٌّ بَعْدَ الْفَتْحِ قَوِيٌّ وَبَعْدَ ذَلِكَ مَا يَلِي الْفَتْحَ إِلَى وَفَاتِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَارَ فِي غَايَةِ الْقُوَّةِ فَخُيِّلَ لِلشَّيْطَانِ أَنَّهُ لَنْ يُعْبَدَ بَعْدَ ذَلِكَ فَصَارَ يَقْنَعُ بِالدُّونِ بِالتَّحْرِيشِ لَكِنْ هَلْ ظَنُّهُ طَابَقَ الْوَاقِعَ أَوْ خَالَفَ الْوَاقِعَ؟ وَهَلْ يَكُونُ حِينَئِذٍ ظَنٌّ أَوْ وَهْمٌ مِنْهُ؟ لِأَنَّ الْوَاقِعَ يَشْهَدُ عَلَى خِلَافِ ظَنِّهِ الْأَدَقُّ أَنْ نَقُولَ تَوَهَّمَ أَنَّهُ لَنْ يُعْبَدَ فِي هَذِهِ الْجَزِيرَةِ وَأَوْصَلَهُ حَسْرَتُهُ وَنَدَمُهُ عَلَى ذَلِكَ إِلَى أَنْ أَيِسَ وَاسْتَحْسَرَ أَنْ يُعْبَدَ لَكِنْ هَلْ تَرَكَ؟ مَا تَرَكَ إِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا فَهُوَ عَدُوٌّ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ فَيَقُولُ: وَاللهِ مَا أَخْشَانَا الشِّرْكَ وَبَدَأَ التَّهْوِينُ مِنَ الدَّعْوَةِ إِلَى التَّوْحِيدِ لَا! التَّوْحِيدُ رَأْسُ الْمَالِ وَالدَّعْوَةُ إِلَيْهِ سَبِيلُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَسَبِيلُ مَنِ اتَّبَعَهُ لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ أَيُّ عَمَلٍ مِنَ الْأَعْمَالِ بِدُونِ تَوْحِيدٍ لَا يَصِحُّ أَيُّ عَمَلٍ إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ مَا فِي عَمَلٍ يُمْكِنُ أَنْ يُقْبَلَ بِحَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ إِلَّا بَعْدَ تَحْقِيقِ التَّوْحِيدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Dia berkata, pertanyaan ini sangat penting,yakni tentang hadis yang telah kami sebutkan, “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah di Jazirah Arabsehingga kemudian hanya rela untuk menebar permusuhan,padahal di sana ada syirik besar, yakni, sebelum masa dakwah sang imam reformis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab),ada syirik besar,ada yang menyembah batu,ada yang menyembah pohon,ada yang menyembah para wali dan orang saleh,serta kuburan di jazirah Arab.” Jadi, keadaan setan yang berputus asa itu adalah berdasarkan prasangkanya.Setan menyangka bahwa setelah ada banyak penaklukandan Islam tersebar luas, sudah! Setan tidak mungkin disembah lagi. Islam kuat, setelah Fatẖu Makkah, Islam kuat,hingga masa setelahnya, hingga wafatnya beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Islam berada di puncak kekuatannya hingga terbayang oleh setanbahwa dia tidak akan mungkin disembah setelah itu,sehingga dia mencukupkan dengan target yang lebih rendah, yaitu menebar permusuhan. Namun, apakah prasangkanya itu sesuai dengan kenyataanatau menyelisihi realita?Jadi, yang muncul darinya sebenarnya adalah prasangka atau bayangan?Karena realita menunjukkan yang sebaliknya. Jadi, lebih tepatnya, kita katakan bahwa setan membayangkanbahwa dia tidak akan disembah di jazirah Arab ini.Kesedihan dan penyesalannya terhadap itu membuatnyaputus asa dan kepayahan untuk bisa disembah. Akan tetapi, apakah dia berhenti? Tidak berhenti!“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fatir: 6) Jadi, dia tetaplah musuh hingga hari Kiamat.Seseorang berkata, “Demi Allah, kita tidak takut lagi kemusyrikan!Saatnya mengurangi dakwah tauhid.” Tidak! Tauhid adalah modal utamadan mendakwahkannya adalah jalan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamdan jalan orang-orang yang mengikuti beliau,karena amalan apa pun tidak akan sahtanpa tauhid, amalan apapun tidak akan sah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik),tetapi Dia mengampuni dosa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48) “Sungguh, jika engkau berbuat syirik, niscaya akan gugur amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65)Tidak mungkin ada amalan yang diterima, bagaimanapun keadaannya,kecuali setelah seseorang merealisasikan tauhid. ==== يَقُولُ هَذَا السُّؤَالُ مُهِمٌّ جِدًّا يَعْنِي فِي الْحَدِيثِ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ إِنَّ الشَّيْطَانَ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَرَضِيَ بَعْدَ ذَلِكَ بِالتَّحْرِيشِ قَدْ وُجِدَ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ يَعْنِي قُبَيلَ دَعْوَةِ الْإِمَامِ الْمُجَدِّدِ وُجِدَ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ وَوُجِدَ مَنْ يَعْبُدُ الْأَحْجَارَ وَوُجِدَ مَنْ يَعْبُدُ الْأَشْجَارَ وَوُجِدَ مَنْ يَعْبُدُ الْأَوْلِيَاءَ وَالصَّالِحِينَ وَالْقُبُورَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَكَوْنُ الشَّيْطَانِ أَيِسَ هَذَا عَلَى حَدِّ ظَنِّهِ وَظَنَّ أَنَّهُ بَعْدَ أَنْ فُتِحَتَ الْفُتُوحُ وَانْتَشَرَ الْإِسْلَامُ أَنَّهُ خَلَاصٌ لَمْ يُعْبَدْ الْإِسْلَامُ قَوِيٌّ بَعْدَ الْفَتْحِ قَوِيٌّ وَبَعْدَ ذَلِكَ مَا يَلِي الْفَتْحَ إِلَى وَفَاتِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَارَ فِي غَايَةِ الْقُوَّةِ فَخُيِّلَ لِلشَّيْطَانِ أَنَّهُ لَنْ يُعْبَدَ بَعْدَ ذَلِكَ فَصَارَ يَقْنَعُ بِالدُّونِ بِالتَّحْرِيشِ لَكِنْ هَلْ ظَنُّهُ طَابَقَ الْوَاقِعَ أَوْ خَالَفَ الْوَاقِعَ؟ وَهَلْ يَكُونُ حِينَئِذٍ ظَنٌّ أَوْ وَهْمٌ مِنْهُ؟ لِأَنَّ الْوَاقِعَ يَشْهَدُ عَلَى خِلَافِ ظَنِّهِ الْأَدَقُّ أَنْ نَقُولَ تَوَهَّمَ أَنَّهُ لَنْ يُعْبَدَ فِي هَذِهِ الْجَزِيرَةِ وَأَوْصَلَهُ حَسْرَتُهُ وَنَدَمُهُ عَلَى ذَلِكَ إِلَى أَنْ أَيِسَ وَاسْتَحْسَرَ أَنْ يُعْبَدَ لَكِنْ هَلْ تَرَكَ؟ مَا تَرَكَ إِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا فَهُوَ عَدُوٌّ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ فَيَقُولُ: وَاللهِ مَا أَخْشَانَا الشِّرْكَ وَبَدَأَ التَّهْوِينُ مِنَ الدَّعْوَةِ إِلَى التَّوْحِيدِ لَا! التَّوْحِيدُ رَأْسُ الْمَالِ وَالدَّعْوَةُ إِلَيْهِ سَبِيلُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَسَبِيلُ مَنِ اتَّبَعَهُ لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ أَيُّ عَمَلٍ مِنَ الْأَعْمَالِ بِدُونِ تَوْحِيدٍ لَا يَصِحُّ أَيُّ عَمَلٍ إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ مَا فِي عَمَلٍ يُمْكِنُ أَنْ يُقْبَلَ بِحَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ إِلَّا بَعْدَ تَحْقِيقِ التَّوْحِيدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Dia berkata, pertanyaan ini sangat penting,yakni tentang hadis yang telah kami sebutkan, “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah di Jazirah Arabsehingga kemudian hanya rela untuk menebar permusuhan,padahal di sana ada syirik besar, yakni, sebelum masa dakwah sang imam reformis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab),ada syirik besar,ada yang menyembah batu,ada yang menyembah pohon,ada yang menyembah para wali dan orang saleh,serta kuburan di jazirah Arab.” Jadi, keadaan setan yang berputus asa itu adalah berdasarkan prasangkanya.Setan menyangka bahwa setelah ada banyak penaklukandan Islam tersebar luas, sudah! Setan tidak mungkin disembah lagi. Islam kuat, setelah Fatẖu Makkah, Islam kuat,hingga masa setelahnya, hingga wafatnya beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Islam berada di puncak kekuatannya hingga terbayang oleh setanbahwa dia tidak akan mungkin disembah setelah itu,sehingga dia mencukupkan dengan target yang lebih rendah, yaitu menebar permusuhan. Namun, apakah prasangkanya itu sesuai dengan kenyataanatau menyelisihi realita?Jadi, yang muncul darinya sebenarnya adalah prasangka atau bayangan?Karena realita menunjukkan yang sebaliknya. Jadi, lebih tepatnya, kita katakan bahwa setan membayangkanbahwa dia tidak akan disembah di jazirah Arab ini.Kesedihan dan penyesalannya terhadap itu membuatnyaputus asa dan kepayahan untuk bisa disembah. Akan tetapi, apakah dia berhenti? Tidak berhenti!“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fatir: 6) Jadi, dia tetaplah musuh hingga hari Kiamat.Seseorang berkata, “Demi Allah, kita tidak takut lagi kemusyrikan!Saatnya mengurangi dakwah tauhid.” Tidak! Tauhid adalah modal utamadan mendakwahkannya adalah jalan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamdan jalan orang-orang yang mengikuti beliau,karena amalan apa pun tidak akan sahtanpa tauhid, amalan apapun tidak akan sah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik),tetapi Dia mengampuni dosa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48) “Sungguh, jika engkau berbuat syirik, niscaya akan gugur amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65)Tidak mungkin ada amalan yang diterima, bagaimanapun keadaannya,kecuali setelah seseorang merealisasikan tauhid. ==== يَقُولُ هَذَا السُّؤَالُ مُهِمٌّ جِدًّا يَعْنِي فِي الْحَدِيثِ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ إِنَّ الشَّيْطَانَ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَرَضِيَ بَعْدَ ذَلِكَ بِالتَّحْرِيشِ قَدْ وُجِدَ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ يَعْنِي قُبَيلَ دَعْوَةِ الْإِمَامِ الْمُجَدِّدِ وُجِدَ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ وَوُجِدَ مَنْ يَعْبُدُ الْأَحْجَارَ وَوُجِدَ مَنْ يَعْبُدُ الْأَشْجَارَ وَوُجِدَ مَنْ يَعْبُدُ الْأَوْلِيَاءَ وَالصَّالِحِينَ وَالْقُبُورَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَكَوْنُ الشَّيْطَانِ أَيِسَ هَذَا عَلَى حَدِّ ظَنِّهِ وَظَنَّ أَنَّهُ بَعْدَ أَنْ فُتِحَتَ الْفُتُوحُ وَانْتَشَرَ الْإِسْلَامُ أَنَّهُ خَلَاصٌ لَمْ يُعْبَدْ الْإِسْلَامُ قَوِيٌّ بَعْدَ الْفَتْحِ قَوِيٌّ وَبَعْدَ ذَلِكَ مَا يَلِي الْفَتْحَ إِلَى وَفَاتِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَارَ فِي غَايَةِ الْقُوَّةِ فَخُيِّلَ لِلشَّيْطَانِ أَنَّهُ لَنْ يُعْبَدَ بَعْدَ ذَلِكَ فَصَارَ يَقْنَعُ بِالدُّونِ بِالتَّحْرِيشِ لَكِنْ هَلْ ظَنُّهُ طَابَقَ الْوَاقِعَ أَوْ خَالَفَ الْوَاقِعَ؟ وَهَلْ يَكُونُ حِينَئِذٍ ظَنٌّ أَوْ وَهْمٌ مِنْهُ؟ لِأَنَّ الْوَاقِعَ يَشْهَدُ عَلَى خِلَافِ ظَنِّهِ الْأَدَقُّ أَنْ نَقُولَ تَوَهَّمَ أَنَّهُ لَنْ يُعْبَدَ فِي هَذِهِ الْجَزِيرَةِ وَأَوْصَلَهُ حَسْرَتُهُ وَنَدَمُهُ عَلَى ذَلِكَ إِلَى أَنْ أَيِسَ وَاسْتَحْسَرَ أَنْ يُعْبَدَ لَكِنْ هَلْ تَرَكَ؟ مَا تَرَكَ إِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا فَهُوَ عَدُوٌّ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ فَيَقُولُ: وَاللهِ مَا أَخْشَانَا الشِّرْكَ وَبَدَأَ التَّهْوِينُ مِنَ الدَّعْوَةِ إِلَى التَّوْحِيدِ لَا! التَّوْحِيدُ رَأْسُ الْمَالِ وَالدَّعْوَةُ إِلَيْهِ سَبِيلُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَسَبِيلُ مَنِ اتَّبَعَهُ لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ أَيُّ عَمَلٍ مِنَ الْأَعْمَالِ بِدُونِ تَوْحِيدٍ لَا يَصِحُّ أَيُّ عَمَلٍ إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ مَا فِي عَمَلٍ يُمْكِنُ أَنْ يُقْبَلَ بِحَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ إِلَّا بَعْدَ تَحْقِيقِ التَّوْحِيدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kombinasi Zikir dan Syukur

Allah Ta’ala berfirman,فَٱذۡكُرُونِیۤ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُوا۟ لِی وَلَا تَكۡفُرُونِ”Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut,Allah Ta’ala memerintahkan untuk berzikir kepada-Nya, dan menjanjikan balasan yang terbesar karenanya. Balasan itu ialah Allah akan mengingat orang yang mengingat-Nya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya melalui lisan Rasul-Nya, “Barangsiapa yang mengingat-Ku dalam dirinya sendiri, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa yang mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingat-Nya di perkumpulan yang lebih baik dari mereka.”Zikir kepada Allah Ta’ala yang paling utama adalah dengan menyesuaikan isi hati dengan zikir yang diucapkan oleh lisan. Itulah zikir yang dapat membuahkan pengenalan kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, dan pahala yang melimpah dari-Nya. Zikir adalah bagian terpenting dari syukur. Oleh sebab itu, Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian sesudahnya Allah memerintahkan untuk bersyukur secara umum. Allah Ta’ala berfirman,فَٱذۡكُرُونِیۤ”Maka, bersyukurlah kepada-Ku.”Yaitu, bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat ini yang telah Aku karuniakan kepada kalian dan atas berbagai macam bencana (musibah) yang telah Aku singkirkan sehingga tidak menimpa kalian.Syukur direalisasikan dalam bentuk pengakuan di dalam hati atas segala macam nikmat yang diberikan, dengan lisan dalam bentuk zikir dan pujian, dan diwujudkan oleh anggota badan dalam bentuk amal ketaatan kepada Allah, tunduk kepada perintah-Nya, serta dengan menjauhi larangan-Nya. Dengan syukur, nikmat yang sudah ada akan tetap terpelihara, dan nikmat yang luput akan kembali bertambah. Allah Ta’ala berfirman, لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ”Sungguh, jika kalian bersyukur (kepada-Ku), Aku pasti akan menambahkan nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)Disebutkannya perintah untuk bersyukur setelah penyebutan berbagai macam nikmat diniyah yang berupa ilmu, penyucian akhlak, dan taufik untuk beramal. Maka, itu menjelaskan bahwa sesungguhnya nikmat diniyah adalah nikmat yang paling agung. Bahkan, itulah nikmat yang sesungguhnya. Apabila nikmat yang lain lenyap, nikmat tersebut masih tetap ada. Sudah selayaknya setiap orang yang telah mendapatkan taufik (dari Allah) untuk berilmu atau beramal untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat itu. Hal itu supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan juga, supaya lenyap perasaan ujub (kagum diri) dari diri mereka. Dengan demikian, mereka akan terus disibukkan dengan bersyukur.Karena lawan dari syukur adalah ingkar (kufur), maka Allah pun melarang melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَكۡفُرُونِ”Dan janganlah kalian kufur.”Yang dimaksud dengan kata kufur di sini adalah yang menjadi lawan dari kata syukur. Maka dari itu, berarti kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan menentangnya, tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih luas daripada itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran. Pengingkaran yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti oleh berbagai macam perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari yang berupa kemusyrikan sampai yang ada di bawah-bawahnya. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 74)Baca Juga:Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirMenyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’at***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Penyakit 'ain Adalah, Husnul Khuluq, Taqlid Adalah, Doa Setelah Takbiratul IhramTags: do'aDzikirfikih dzikirkeutamaan dzikirkeutamaan syukurnasihatnasihat islampanduan dzikirsyukurtata cara dzikirtuntunan dzikir

Kombinasi Zikir dan Syukur

Allah Ta’ala berfirman,فَٱذۡكُرُونِیۤ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُوا۟ لِی وَلَا تَكۡفُرُونِ”Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut,Allah Ta’ala memerintahkan untuk berzikir kepada-Nya, dan menjanjikan balasan yang terbesar karenanya. Balasan itu ialah Allah akan mengingat orang yang mengingat-Nya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya melalui lisan Rasul-Nya, “Barangsiapa yang mengingat-Ku dalam dirinya sendiri, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa yang mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingat-Nya di perkumpulan yang lebih baik dari mereka.”Zikir kepada Allah Ta’ala yang paling utama adalah dengan menyesuaikan isi hati dengan zikir yang diucapkan oleh lisan. Itulah zikir yang dapat membuahkan pengenalan kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, dan pahala yang melimpah dari-Nya. Zikir adalah bagian terpenting dari syukur. Oleh sebab itu, Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian sesudahnya Allah memerintahkan untuk bersyukur secara umum. Allah Ta’ala berfirman,فَٱذۡكُرُونِیۤ”Maka, bersyukurlah kepada-Ku.”Yaitu, bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat ini yang telah Aku karuniakan kepada kalian dan atas berbagai macam bencana (musibah) yang telah Aku singkirkan sehingga tidak menimpa kalian.Syukur direalisasikan dalam bentuk pengakuan di dalam hati atas segala macam nikmat yang diberikan, dengan lisan dalam bentuk zikir dan pujian, dan diwujudkan oleh anggota badan dalam bentuk amal ketaatan kepada Allah, tunduk kepada perintah-Nya, serta dengan menjauhi larangan-Nya. Dengan syukur, nikmat yang sudah ada akan tetap terpelihara, dan nikmat yang luput akan kembali bertambah. Allah Ta’ala berfirman, لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ”Sungguh, jika kalian bersyukur (kepada-Ku), Aku pasti akan menambahkan nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)Disebutkannya perintah untuk bersyukur setelah penyebutan berbagai macam nikmat diniyah yang berupa ilmu, penyucian akhlak, dan taufik untuk beramal. Maka, itu menjelaskan bahwa sesungguhnya nikmat diniyah adalah nikmat yang paling agung. Bahkan, itulah nikmat yang sesungguhnya. Apabila nikmat yang lain lenyap, nikmat tersebut masih tetap ada. Sudah selayaknya setiap orang yang telah mendapatkan taufik (dari Allah) untuk berilmu atau beramal untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat itu. Hal itu supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan juga, supaya lenyap perasaan ujub (kagum diri) dari diri mereka. Dengan demikian, mereka akan terus disibukkan dengan bersyukur.Karena lawan dari syukur adalah ingkar (kufur), maka Allah pun melarang melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَكۡفُرُونِ”Dan janganlah kalian kufur.”Yang dimaksud dengan kata kufur di sini adalah yang menjadi lawan dari kata syukur. Maka dari itu, berarti kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan menentangnya, tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih luas daripada itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran. Pengingkaran yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti oleh berbagai macam perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari yang berupa kemusyrikan sampai yang ada di bawah-bawahnya. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 74)Baca Juga:Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirMenyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’at***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Penyakit 'ain Adalah, Husnul Khuluq, Taqlid Adalah, Doa Setelah Takbiratul IhramTags: do'aDzikirfikih dzikirkeutamaan dzikirkeutamaan syukurnasihatnasihat islampanduan dzikirsyukurtata cara dzikirtuntunan dzikir
Allah Ta’ala berfirman,فَٱذۡكُرُونِیۤ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُوا۟ لِی وَلَا تَكۡفُرُونِ”Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut,Allah Ta’ala memerintahkan untuk berzikir kepada-Nya, dan menjanjikan balasan yang terbesar karenanya. Balasan itu ialah Allah akan mengingat orang yang mengingat-Nya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya melalui lisan Rasul-Nya, “Barangsiapa yang mengingat-Ku dalam dirinya sendiri, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa yang mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingat-Nya di perkumpulan yang lebih baik dari mereka.”Zikir kepada Allah Ta’ala yang paling utama adalah dengan menyesuaikan isi hati dengan zikir yang diucapkan oleh lisan. Itulah zikir yang dapat membuahkan pengenalan kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, dan pahala yang melimpah dari-Nya. Zikir adalah bagian terpenting dari syukur. Oleh sebab itu, Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian sesudahnya Allah memerintahkan untuk bersyukur secara umum. Allah Ta’ala berfirman,فَٱذۡكُرُونِیۤ”Maka, bersyukurlah kepada-Ku.”Yaitu, bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat ini yang telah Aku karuniakan kepada kalian dan atas berbagai macam bencana (musibah) yang telah Aku singkirkan sehingga tidak menimpa kalian.Syukur direalisasikan dalam bentuk pengakuan di dalam hati atas segala macam nikmat yang diberikan, dengan lisan dalam bentuk zikir dan pujian, dan diwujudkan oleh anggota badan dalam bentuk amal ketaatan kepada Allah, tunduk kepada perintah-Nya, serta dengan menjauhi larangan-Nya. Dengan syukur, nikmat yang sudah ada akan tetap terpelihara, dan nikmat yang luput akan kembali bertambah. Allah Ta’ala berfirman, لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ”Sungguh, jika kalian bersyukur (kepada-Ku), Aku pasti akan menambahkan nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)Disebutkannya perintah untuk bersyukur setelah penyebutan berbagai macam nikmat diniyah yang berupa ilmu, penyucian akhlak, dan taufik untuk beramal. Maka, itu menjelaskan bahwa sesungguhnya nikmat diniyah adalah nikmat yang paling agung. Bahkan, itulah nikmat yang sesungguhnya. Apabila nikmat yang lain lenyap, nikmat tersebut masih tetap ada. Sudah selayaknya setiap orang yang telah mendapatkan taufik (dari Allah) untuk berilmu atau beramal untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat itu. Hal itu supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan juga, supaya lenyap perasaan ujub (kagum diri) dari diri mereka. Dengan demikian, mereka akan terus disibukkan dengan bersyukur.Karena lawan dari syukur adalah ingkar (kufur), maka Allah pun melarang melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَكۡفُرُونِ”Dan janganlah kalian kufur.”Yang dimaksud dengan kata kufur di sini adalah yang menjadi lawan dari kata syukur. Maka dari itu, berarti kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan menentangnya, tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih luas daripada itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran. Pengingkaran yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti oleh berbagai macam perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari yang berupa kemusyrikan sampai yang ada di bawah-bawahnya. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 74)Baca Juga:Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirMenyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’at***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Penyakit 'ain Adalah, Husnul Khuluq, Taqlid Adalah, Doa Setelah Takbiratul IhramTags: do'aDzikirfikih dzikirkeutamaan dzikirkeutamaan syukurnasihatnasihat islampanduan dzikirsyukurtata cara dzikirtuntunan dzikir


Allah Ta’ala berfirman,فَٱذۡكُرُونِیۤ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُوا۟ لِی وَلَا تَكۡفُرُونِ”Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut,Allah Ta’ala memerintahkan untuk berzikir kepada-Nya, dan menjanjikan balasan yang terbesar karenanya. Balasan itu ialah Allah akan mengingat orang yang mengingat-Nya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya melalui lisan Rasul-Nya, “Barangsiapa yang mengingat-Ku dalam dirinya sendiri, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa yang mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingat-Nya di perkumpulan yang lebih baik dari mereka.”Zikir kepada Allah Ta’ala yang paling utama adalah dengan menyesuaikan isi hati dengan zikir yang diucapkan oleh lisan. Itulah zikir yang dapat membuahkan pengenalan kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, dan pahala yang melimpah dari-Nya. Zikir adalah bagian terpenting dari syukur. Oleh sebab itu, Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian sesudahnya Allah memerintahkan untuk bersyukur secara umum. Allah Ta’ala berfirman,فَٱذۡكُرُونِیۤ”Maka, bersyukurlah kepada-Ku.”Yaitu, bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat ini yang telah Aku karuniakan kepada kalian dan atas berbagai macam bencana (musibah) yang telah Aku singkirkan sehingga tidak menimpa kalian.Syukur direalisasikan dalam bentuk pengakuan di dalam hati atas segala macam nikmat yang diberikan, dengan lisan dalam bentuk zikir dan pujian, dan diwujudkan oleh anggota badan dalam bentuk amal ketaatan kepada Allah, tunduk kepada perintah-Nya, serta dengan menjauhi larangan-Nya. Dengan syukur, nikmat yang sudah ada akan tetap terpelihara, dan nikmat yang luput akan kembali bertambah. Allah Ta’ala berfirman, لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ”Sungguh, jika kalian bersyukur (kepada-Ku), Aku pasti akan menambahkan nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)Disebutkannya perintah untuk bersyukur setelah penyebutan berbagai macam nikmat diniyah yang berupa ilmu, penyucian akhlak, dan taufik untuk beramal. Maka, itu menjelaskan bahwa sesungguhnya nikmat diniyah adalah nikmat yang paling agung. Bahkan, itulah nikmat yang sesungguhnya. Apabila nikmat yang lain lenyap, nikmat tersebut masih tetap ada. Sudah selayaknya setiap orang yang telah mendapatkan taufik (dari Allah) untuk berilmu atau beramal untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat itu. Hal itu supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan juga, supaya lenyap perasaan ujub (kagum diri) dari diri mereka. Dengan demikian, mereka akan terus disibukkan dengan bersyukur.Karena lawan dari syukur adalah ingkar (kufur), maka Allah pun melarang melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَكۡفُرُونِ”Dan janganlah kalian kufur.”Yang dimaksud dengan kata kufur di sini adalah yang menjadi lawan dari kata syukur. Maka dari itu, berarti kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan menentangnya, tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih luas daripada itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran. Pengingkaran yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti oleh berbagai macam perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari yang berupa kemusyrikan sampai yang ada di bawah-bawahnya. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 74)Baca Juga:Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirMenyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’at***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Penyakit 'ain Adalah, Husnul Khuluq, Taqlid Adalah, Doa Setelah Takbiratul IhramTags: do'aDzikirfikih dzikirkeutamaan dzikirkeutamaan syukurnasihatnasihat islampanduan dzikirsyukurtata cara dzikirtuntunan dzikir

Bolehkah Ziarah ke Kuburan Ulama tanpa Bermaksud Ibadah?

حكم زيارة قبور الصالحين بقصد الزيارة لا العبادة السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: هل تجوز زيارة قبور الصالحين بقصد الزيارة لا لقصد العبادة كبعض العلماء؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini bertanya, “Apakah boleh ziarah kuburan orang saleh, seperti kuburan para ulama, dengan maksud berziarah dan bukan untuk beribadah kepada penghuninya?” الاحابة لا يزار إلا لأجل السلام عليه والدعاء له، بهذا القصد Jawaban: Kuburan tidak dikunjungi, kecuali untuk mengucapkan salam kepada penghuninya dan mendoakan kebaikan untuk mereka, hanya itu tujuannya. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18244 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Jawab Agama, Bacaan Surat Shalat Witir 3 Rakaat, Memperdalam Ilmu Agama Islam, Potong Rambut Bayi, Hukum Meninggalkan Shalat Jumat Visited 12 times, 1 visit(s) today Post Views: 271 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Ziarah ke Kuburan Ulama tanpa Bermaksud Ibadah?

حكم زيارة قبور الصالحين بقصد الزيارة لا العبادة السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: هل تجوز زيارة قبور الصالحين بقصد الزيارة لا لقصد العبادة كبعض العلماء؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini bertanya, “Apakah boleh ziarah kuburan orang saleh, seperti kuburan para ulama, dengan maksud berziarah dan bukan untuk beribadah kepada penghuninya?” الاحابة لا يزار إلا لأجل السلام عليه والدعاء له، بهذا القصد Jawaban: Kuburan tidak dikunjungi, kecuali untuk mengucapkan salam kepada penghuninya dan mendoakan kebaikan untuk mereka, hanya itu tujuannya. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18244 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Jawab Agama, Bacaan Surat Shalat Witir 3 Rakaat, Memperdalam Ilmu Agama Islam, Potong Rambut Bayi, Hukum Meninggalkan Shalat Jumat Visited 12 times, 1 visit(s) today Post Views: 271 QRIS donasi Yufid
حكم زيارة قبور الصالحين بقصد الزيارة لا العبادة السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: هل تجوز زيارة قبور الصالحين بقصد الزيارة لا لقصد العبادة كبعض العلماء؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini bertanya, “Apakah boleh ziarah kuburan orang saleh, seperti kuburan para ulama, dengan maksud berziarah dan bukan untuk beribadah kepada penghuninya?” الاحابة لا يزار إلا لأجل السلام عليه والدعاء له، بهذا القصد Jawaban: Kuburan tidak dikunjungi, kecuali untuk mengucapkan salam kepada penghuninya dan mendoakan kebaikan untuk mereka, hanya itu tujuannya. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18244 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Jawab Agama, Bacaan Surat Shalat Witir 3 Rakaat, Memperdalam Ilmu Agama Islam, Potong Rambut Bayi, Hukum Meninggalkan Shalat Jumat Visited 12 times, 1 visit(s) today Post Views: 271 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1382104891&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> حكم زيارة قبور الصالحين بقصد الزيارة لا العبادة السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: هل تجوز زيارة قبور الصالحين بقصد الزيارة لا لقصد العبادة كبعض العلماء؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini bertanya, “Apakah boleh ziarah kuburan orang saleh, seperti kuburan para ulama, dengan maksud berziarah dan bukan untuk beribadah kepada penghuninya?” الاحابة لا يزار إلا لأجل السلام عليه والدعاء له، بهذا القصد Jawaban: Kuburan tidak dikunjungi, kecuali untuk mengucapkan salam kepada penghuninya dan mendoakan kebaikan untuk mereka, hanya itu tujuannya. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18244 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Jawab Agama, Bacaan Surat Shalat Witir 3 Rakaat, Memperdalam Ilmu Agama Islam, Potong Rambut Bayi, Hukum Meninggalkan Shalat Jumat Visited 12 times, 1 visit(s) today Post Views: 271 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengembangkan Dakwah di Zaman Fitnah

Bismillah.Salah satu tugas utama para pengikut setia Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mengajak manusia kepada tauhid, mengesakan Allah dalam hal ibadah.Hal ini telah termuat dengan indah di dalam Kitabullah. Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ وَسُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَاۤ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ“Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Dan Mahasuci Allah, aku sama sekali bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)Mendakwahkan Islam, mengajak kepada tauhid, merangkul umat manusia untuk kembali menyadari dan mewujudkan hakikat tujuan hidup mereka adalah tugas yang sangat mulia. Sebab, dengan mengikuti petunjuk Allah dan bimbingan Rasul-Nya, maka manusia akan berbahagia. Sebaliknya, dengan berpaling dari agama dan loyal kepada perusak agama, akan menjerumuskan bani Adam ke dalam jurang kehinaan dan kehancuran.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Benar, bahwa ibadah kepada Allah tidak terbatas dalam bentuk salat, puasa, atau berhaji dan membayar zakat. Akan tetapi, ibadah mencakup segala ucapan dan perbuatan yang mendatangkan keridaan Allah dan kecintaan-Nya. Ibadah yang dimurnikan kepada Allah dan berlepas diri dari penghambaan kepada selain-Nya.Dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Keadilan yang paling tinggi adalah menegakkan ‘ubudiyah kepada Allah dan menjauhi syirik kepada-Nya. Sementara mempersekutukan Allah dalam hal ibadah adalah bentuk kezaliman yang paling berat dan paling jahat. Karena itulah para rasul di sepanjang zaman mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah.Baca Juga: Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1)Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Sebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa thaghut meliputi segala perkara yang membuat manusia melampaui batas dalam bentuk sesembahan, orang yang diikuti, atau sosok yang dipatuhi. Sehingga thaghut bisa berupa dukun dan paranormal. Selain itu, pembesarnya thaghut adalah iblis. Mengingkari thaghut adalah bagian dari keimanan yang tidak boleh dipisahkan.Saudaraku yang dirahmati Allah, hari-hari ini kita hidup di zaman yang penuh dengan berbagai tipuan dan kepalsuan. Orang yang mengajak kepada kebenaran digelari sebagai pemecah-belah persatuan dan penyeru kesesatan. Orang yang mengajak kepada penyimpangan justru dielu-elukan dan dijadikan sebagai sosok panutan dan idola masyarakat. Pada masa-masa semacam ini, maka tidak ada yang lebih utama bagi seorang muslim, selain menegakkan ibadah kepada Allah dan menunaikan nasihat kepada manusia dengan beramar makruf dan nahi mungkar.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3)Baca Juga: Fikih Dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Dijelaskan oleh para ulama bahwa saling menasihati dalam kebenaran menjadi terapi dan perisai untuk menghadapi berbagai bentuk fitnah syubhat (kerancuan pemahaman). Sedangkan saling menasihati dalam kesabaran adalah terapi dan perisai untuk menghadapi fitnah syahwat (godaan terhadap keharaman).Agama Islam yang mulia ini memberikan rambu-rambu yang jelas kepada kita dalam hal apa kita saling bekerjasama, yaitu dalam kebaikan dan takwa. Dalam hal apa kita memerintahkan dan mengajak manusia, yaitu dalam hal ketaatan dan amal saleh. Dalam hal apa kita melarang manusia, yaitu dari segala bentuk kemungkaran dan kerusakan dalam agama. Karena itulah, belajar tentang ilmu agama menjadi pintu gerbang kebaikan dan kemajuan kaum muslimin. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Para ulama kita telah menjelaskan bahwa ilmu agama menjadi sebuah perkara yang sangat tinggi dan mulia. Karena ia menjadi sarana dan pondasi untuk bertakwa kepada Allah. Ketika Allah memuji para ulama bukanlah karena mereka memiliki kecerdasan atau nilai akademik yang tinggi di mata manusia, tetapi justru disebabkan karena kualitas rasa takut mereka kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ “Sesungguhnya yang paling merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir: 28) Setiap orang yang dengan ilmunya membuat dia semakin takut kepada Allah maka dialah yang layak disebut sebagai ‘alim (ulama).Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Bukanlah ilmu itu dengan memperbanyak riwayat, akan tetapi ilmu yang sejati adalah tumbuhnya rasa takut kepada Allah.” Oleh karena itu, kita jumpai para sahabat nabi radhiyallahu ’anhum tumbuh menjadi generasi terbaik umat ini karena kedalaman ilmu dan kebersihan hatinya dalam mengabdi kepada Allah.Al-Auza’i rahimahullah -seorang ahli hadis dan ahli fikih besar- mengatakan, “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak-jejak para salaf (sahabat nabi), meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal manusia atau tokoh kesesatan, walaupun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan (kalimat-kalimat) yang indah dan menawan.”Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan? Daftar Isi sembunyikan 1. Agungnya kalimat tauhid 2. Konsekuensi kalimat tauhid Agungnya kalimat tauhidKalimat lailahaillallah adalah kalimat yang sangat ringan diucapkan dengan lisan, namun memiliki bobot yang sangat agung. Karena pada hakikatnya, ia merupakan intisari ajaran Islam. Akan tetapi, tentu saja kalimat ini bukan sekedar ucapan tanpa makna dan tanpa konsekuensi yang harus dijalankan. (lihat Syarh Tafsir Kalimat At-Tauhid oleh Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 5)Ada yang berkata kepada Al-Hasan, “Sebagian orang mengatakan, ‘Barangsiapa mengucapkan lailahaillallah, maka dia pasti masuk surga.?” Maka, Al-Hasan menjawab, “Barangsiapa yang mengucapkan lailahaillallah, kemudian dia menunaikan konsekuensi dan kewajiban darinya maka dia pasti masuk surga.” (lihat Kitab At-Tauhid; Risalah Kalimat al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha oleh Ibnu Rajab, hal. 40)Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih rahimahullah, “Bukankah lailahaillallah adalah kunci surga?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi, tidaklah suatu kunci melainkan memiliki gerigi-gerigi. Apabila kamu datang dengan membawa kunci yang memiliki gerigi-gerigi itu, maka dibukakanlah (surga) untukmu. Jika tidak, maka ia tidak akan dibukakan untukmu.” (lihat Kitab At-Tauhid; Risalah Kalimat Al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha, hal. 40)Allah Ta’ala berfirman,شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلۡعِلۡمِ قَاۤىِٕمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ“Allah bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahanyang benar), selain Dia, dan (bersaksi pula) para malaikat serta orang-orang yang berilmu, demi tegaknya keadilan. Tiada ilah (yang benar) selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Ali ‘Imran: 18)Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini mengandung penetapan hakikat tauhid dan bantahan bagi seluruh kelompok sesat. Ia mengandung persaksian yang paling mulia, paling agung, paling adil, dan paling jujur, yang berasal dari semulia-mulia saksi terhadap sesuatu perkara yang paling mulia untuk dipersaksikan.” (lihat Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 90 cet. Al-Maktab Al-Islami)Makna persaksian ini adalah bahwa Allah mengabarkan, menerangkan, memberitahukan, menetapkan, dan memutuskan bahwa segala sesuatu selain-Nya bukanlah ilah/sesembahan (yang benar) dan bahwasanya penuhanan segala sesuatu selain-Nya adalah kebatilan yang paling batil. Menetapkan hal itu (ilahiyah pada selain Allah adalah kezaliman yang paling zalim. Dengan demikian, tidak ada yang berhak untuk disembah, kecuali Dia, sebagaimana tidak layak sifat ilahiyah disematkan kepada selain-Nya. Konsekuensi hal ini adalah perintah untuk menjadikan Allah semata sebagai ilah dan larangan mengangkat selain-Nya sebagai sesembahan lain bersama-Nya (lihat At-Tafsir Al-Qayyim, hal. 178 oleh Ibnul Qayyim rahimahullah)Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau menuturkan bahwa tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke negeri Yaman, maka beliau berpesan kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok orang dari kalangan Ahli Kitab, maka jadikanlah perkara pertama yang kamu serukan kepada mereka adalah syahadat lailahaillallah.” Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan lailahaillallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa bagian iman yang paling utama adalah tauhid yang hukumnya wajib ‘ain atas setiap orang. Dan itulah perkara yang tidaklah dianggap sah (benar) cabang-cabang iman yang lain, kecuali setelah sahnya hal ini (tauhid).” (lihat Syarh Muslim, 2: 88)Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan akidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.” (lihat Ia’nat Al-Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid, 1: 17; cet. Mu’assasah Ar-Risalah)Baca Juga: Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah TauhidKonsekuensi kalimat tauhidSyahadat lailahaillallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud (sesembahan) yang benar, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Karena ilah bermakna ma’luh (sesembahan), sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud (beribadah). Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan lailaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan (setelah keimanan di dalam hati) bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. (lihat Fatawa Arkan Al-Islam hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)Orang yang mengucapkan lailahaillallah harus melaksanakan konsekuensinya, yaitu beribadah kepada Allah, tidak berbuat syirik, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai amalan yang bisa memasukkan ke dalam surga. Maka beliau menjawab, “Kamu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kamu mendirikan salat wajib, zakat yang telah difardukan, dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)Kalimat lailahaillallah mengandung konsekuensi tidak mengangkat ilah/sesembahan selain Allah. Sementara ilah adalah Zat yang ditaati dan tidak didurhakai, yang dilandasi dengan perasaan takut, dan pengagungan kepada-Nya. Zat yang menjadi tumpuan rasa cinta dan takut, tawakal, permohonan, dan doa. Dan ini semuanya tidak pantas dipersembahkan, kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Barangsiapa yang mempersekutukan makhluk dengan Allah dalam masalah-masalah ini (yang ia merupakan kekhususan ilahiyah), maka hal itu merusak keikhlasan dan kemurnian tauhidnya. Dan di dalam dirinya terdapat bentuk penghambaan kepada makhluk sesuai dengan kadar ketergantungan hati kepada selain-Nya. Dan ini semuanya termasuk cabang kemusyrikan (lihat Kitab At-Tauhid; Risalah Kalimat Al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha, hal. 49-50)Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Syahadat dengan lisan saja tidak cukup. Buktinya adalah kaum munafik juga mempersaksikan keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi, mereka hanya bersaksi dengan lisan mereka. Mereka mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka yakini di dalam hati mereka. Oleh sebab itu, ucapan itu tidak bermanfaat bagi mereka…” (lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hal. 23 cet. Dar Tsurayya)Kalimat lailahaillallah tidak cukup hanya diucapkan, tanpa ada keyakinan dan pelaksanaan terhadap kandungan dan konsekuensinya. Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik,إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ فِی ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِیرًا“Sesungguhnya, orang-orang munafik itu berada di dalam kerak paling bawah dari neraka Jahannam, dan kamu tidak akan mendapati penolong bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 145)Allah Ta’ala juga berfirman,إِذَا جَاۤءَكَ ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ قَالُوا۟ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ یَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ لَكَـٰذِبُونَ“Apabila datang kepadamu orang-orang munafik seraya mengatakan, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya. Dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1)Seorang yang mengucapkan lailahaillallah harus melandasi syahadatnya dengan keikhlasan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan lailahaillallah karena (ikhlas) mencari wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu’anhu)Seorang yang mengucapkan lailahaillallah pun harus melandasi syahadatnya dengan keyakinan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Allah dan bahwsanya aku (Muhammad) adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah dengan membawa dua persaksian ini tanpa keragu-raguan lalu dihalangi masuk surga.” (HR. Muslim)Oleh sebab itu, para ulama menerangkan bahwa untuk mewujudkan lailahaillallah di dalam kehidupan kita, harus terpenuhi hal-hal sebagai berikut:Pertama, mengucapkannya.Kedua, mengetahui maknanya.Ketiga, meyakini kandungannya.Mengamalkan kandungan dan konsekuensinya, yaitu beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Membela orang yang menegakkan tauhid dan memusuhi orang-orang yang menyimpang dan menentangnya. (lihat Syarh Tafsir Kalimat At-Tauhid, hal. 11 dan 16)Syekh Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya memperhatikan perkara tauhid adalah prioritas yang paling utama dan kewajiban yang paling wajib. Sementara meninggalkan dan berpaling darinya atau berpaling dari mempelajarinya merupakan bencana terbesar yang melanda. Oleh karenanya, menjadi kewajiban setiap hamba untuk mempelajarinya dan mempelajari hal-hal yang membatalkan, meniadakan atau menguranginya. Demikian pula wajib baginya untuk mempelajari perkara apa saja yang bisa merusak atau menodainya.” (lihat Asy-Syarh Al-Mujaz, hal. 8)Betapa pun beraneka ragam umat manusia dan berbeda-beda problematika mereka, sesungguhnya dakwah kepada tauhid adalah yang paling pokok. Sama saja apakah masalah yang menimpa mereka dalam hal perekonomian sebagaimana yang dialami penduduk Madyan (kaum Nabi Syu’aib ‘alaihis salam) atau dalam hal akhlak sebagaimana yang menimpa kaum Nabi Luth ‘alaihis salam. Bahkan, meskipun masalah yang mereka hadapi adalah dalam hal perpolitikan! Sebab realitanya, umat para nabi terdahulu itu (pada umumnya) tidak diterapkan pada mereka hukum-hukum Allah oleh para penguasa mereka. Tauhid tetap menjadi prioritas yang paling utama! (lihat Sittu Duror min Ushuli Ahli al-Atsar oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah, hal. 18-19)Semoga kumpulan tulisan dan catatan ringkas ini bermanfaat bagi kami dan segenap kaum muslimin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah Inilah Dakwah Para Utusan Allah ***Yogyakarta, awal-awal bulan Shafar 1444 HKantor Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari YogyakartaPenulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Syirik, Tamimah, Arti Ilmu Tasawuf, Menjaga Perasaan Wanita, Materi Tauhid PdfTags: Aqidahcara berdakwahdakwahdakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidfikih dakwahkeutamaan dakwahkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhidzaman fitnah

Mengembangkan Dakwah di Zaman Fitnah

Bismillah.Salah satu tugas utama para pengikut setia Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mengajak manusia kepada tauhid, mengesakan Allah dalam hal ibadah.Hal ini telah termuat dengan indah di dalam Kitabullah. Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ وَسُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَاۤ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ“Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Dan Mahasuci Allah, aku sama sekali bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)Mendakwahkan Islam, mengajak kepada tauhid, merangkul umat manusia untuk kembali menyadari dan mewujudkan hakikat tujuan hidup mereka adalah tugas yang sangat mulia. Sebab, dengan mengikuti petunjuk Allah dan bimbingan Rasul-Nya, maka manusia akan berbahagia. Sebaliknya, dengan berpaling dari agama dan loyal kepada perusak agama, akan menjerumuskan bani Adam ke dalam jurang kehinaan dan kehancuran.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Benar, bahwa ibadah kepada Allah tidak terbatas dalam bentuk salat, puasa, atau berhaji dan membayar zakat. Akan tetapi, ibadah mencakup segala ucapan dan perbuatan yang mendatangkan keridaan Allah dan kecintaan-Nya. Ibadah yang dimurnikan kepada Allah dan berlepas diri dari penghambaan kepada selain-Nya.Dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Keadilan yang paling tinggi adalah menegakkan ‘ubudiyah kepada Allah dan menjauhi syirik kepada-Nya. Sementara mempersekutukan Allah dalam hal ibadah adalah bentuk kezaliman yang paling berat dan paling jahat. Karena itulah para rasul di sepanjang zaman mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah.Baca Juga: Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1)Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Sebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa thaghut meliputi segala perkara yang membuat manusia melampaui batas dalam bentuk sesembahan, orang yang diikuti, atau sosok yang dipatuhi. Sehingga thaghut bisa berupa dukun dan paranormal. Selain itu, pembesarnya thaghut adalah iblis. Mengingkari thaghut adalah bagian dari keimanan yang tidak boleh dipisahkan.Saudaraku yang dirahmati Allah, hari-hari ini kita hidup di zaman yang penuh dengan berbagai tipuan dan kepalsuan. Orang yang mengajak kepada kebenaran digelari sebagai pemecah-belah persatuan dan penyeru kesesatan. Orang yang mengajak kepada penyimpangan justru dielu-elukan dan dijadikan sebagai sosok panutan dan idola masyarakat. Pada masa-masa semacam ini, maka tidak ada yang lebih utama bagi seorang muslim, selain menegakkan ibadah kepada Allah dan menunaikan nasihat kepada manusia dengan beramar makruf dan nahi mungkar.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3)Baca Juga: Fikih Dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Dijelaskan oleh para ulama bahwa saling menasihati dalam kebenaran menjadi terapi dan perisai untuk menghadapi berbagai bentuk fitnah syubhat (kerancuan pemahaman). Sedangkan saling menasihati dalam kesabaran adalah terapi dan perisai untuk menghadapi fitnah syahwat (godaan terhadap keharaman).Agama Islam yang mulia ini memberikan rambu-rambu yang jelas kepada kita dalam hal apa kita saling bekerjasama, yaitu dalam kebaikan dan takwa. Dalam hal apa kita memerintahkan dan mengajak manusia, yaitu dalam hal ketaatan dan amal saleh. Dalam hal apa kita melarang manusia, yaitu dari segala bentuk kemungkaran dan kerusakan dalam agama. Karena itulah, belajar tentang ilmu agama menjadi pintu gerbang kebaikan dan kemajuan kaum muslimin. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Para ulama kita telah menjelaskan bahwa ilmu agama menjadi sebuah perkara yang sangat tinggi dan mulia. Karena ia menjadi sarana dan pondasi untuk bertakwa kepada Allah. Ketika Allah memuji para ulama bukanlah karena mereka memiliki kecerdasan atau nilai akademik yang tinggi di mata manusia, tetapi justru disebabkan karena kualitas rasa takut mereka kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ “Sesungguhnya yang paling merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir: 28) Setiap orang yang dengan ilmunya membuat dia semakin takut kepada Allah maka dialah yang layak disebut sebagai ‘alim (ulama).Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Bukanlah ilmu itu dengan memperbanyak riwayat, akan tetapi ilmu yang sejati adalah tumbuhnya rasa takut kepada Allah.” Oleh karena itu, kita jumpai para sahabat nabi radhiyallahu ’anhum tumbuh menjadi generasi terbaik umat ini karena kedalaman ilmu dan kebersihan hatinya dalam mengabdi kepada Allah.Al-Auza’i rahimahullah -seorang ahli hadis dan ahli fikih besar- mengatakan, “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak-jejak para salaf (sahabat nabi), meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal manusia atau tokoh kesesatan, walaupun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan (kalimat-kalimat) yang indah dan menawan.”Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan? Daftar Isi sembunyikan 1. Agungnya kalimat tauhid 2. Konsekuensi kalimat tauhid Agungnya kalimat tauhidKalimat lailahaillallah adalah kalimat yang sangat ringan diucapkan dengan lisan, namun memiliki bobot yang sangat agung. Karena pada hakikatnya, ia merupakan intisari ajaran Islam. Akan tetapi, tentu saja kalimat ini bukan sekedar ucapan tanpa makna dan tanpa konsekuensi yang harus dijalankan. (lihat Syarh Tafsir Kalimat At-Tauhid oleh Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 5)Ada yang berkata kepada Al-Hasan, “Sebagian orang mengatakan, ‘Barangsiapa mengucapkan lailahaillallah, maka dia pasti masuk surga.?” Maka, Al-Hasan menjawab, “Barangsiapa yang mengucapkan lailahaillallah, kemudian dia menunaikan konsekuensi dan kewajiban darinya maka dia pasti masuk surga.” (lihat Kitab At-Tauhid; Risalah Kalimat al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha oleh Ibnu Rajab, hal. 40)Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih rahimahullah, “Bukankah lailahaillallah adalah kunci surga?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi, tidaklah suatu kunci melainkan memiliki gerigi-gerigi. Apabila kamu datang dengan membawa kunci yang memiliki gerigi-gerigi itu, maka dibukakanlah (surga) untukmu. Jika tidak, maka ia tidak akan dibukakan untukmu.” (lihat Kitab At-Tauhid; Risalah Kalimat Al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha, hal. 40)Allah Ta’ala berfirman,شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلۡعِلۡمِ قَاۤىِٕمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ“Allah bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahanyang benar), selain Dia, dan (bersaksi pula) para malaikat serta orang-orang yang berilmu, demi tegaknya keadilan. Tiada ilah (yang benar) selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Ali ‘Imran: 18)Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini mengandung penetapan hakikat tauhid dan bantahan bagi seluruh kelompok sesat. Ia mengandung persaksian yang paling mulia, paling agung, paling adil, dan paling jujur, yang berasal dari semulia-mulia saksi terhadap sesuatu perkara yang paling mulia untuk dipersaksikan.” (lihat Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 90 cet. Al-Maktab Al-Islami)Makna persaksian ini adalah bahwa Allah mengabarkan, menerangkan, memberitahukan, menetapkan, dan memutuskan bahwa segala sesuatu selain-Nya bukanlah ilah/sesembahan (yang benar) dan bahwasanya penuhanan segala sesuatu selain-Nya adalah kebatilan yang paling batil. Menetapkan hal itu (ilahiyah pada selain Allah adalah kezaliman yang paling zalim. Dengan demikian, tidak ada yang berhak untuk disembah, kecuali Dia, sebagaimana tidak layak sifat ilahiyah disematkan kepada selain-Nya. Konsekuensi hal ini adalah perintah untuk menjadikan Allah semata sebagai ilah dan larangan mengangkat selain-Nya sebagai sesembahan lain bersama-Nya (lihat At-Tafsir Al-Qayyim, hal. 178 oleh Ibnul Qayyim rahimahullah)Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau menuturkan bahwa tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke negeri Yaman, maka beliau berpesan kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok orang dari kalangan Ahli Kitab, maka jadikanlah perkara pertama yang kamu serukan kepada mereka adalah syahadat lailahaillallah.” Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan lailahaillallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa bagian iman yang paling utama adalah tauhid yang hukumnya wajib ‘ain atas setiap orang. Dan itulah perkara yang tidaklah dianggap sah (benar) cabang-cabang iman yang lain, kecuali setelah sahnya hal ini (tauhid).” (lihat Syarh Muslim, 2: 88)Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan akidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.” (lihat Ia’nat Al-Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid, 1: 17; cet. Mu’assasah Ar-Risalah)Baca Juga: Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah TauhidKonsekuensi kalimat tauhidSyahadat lailahaillallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud (sesembahan) yang benar, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Karena ilah bermakna ma’luh (sesembahan), sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud (beribadah). Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan lailaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan (setelah keimanan di dalam hati) bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. (lihat Fatawa Arkan Al-Islam hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)Orang yang mengucapkan lailahaillallah harus melaksanakan konsekuensinya, yaitu beribadah kepada Allah, tidak berbuat syirik, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai amalan yang bisa memasukkan ke dalam surga. Maka beliau menjawab, “Kamu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kamu mendirikan salat wajib, zakat yang telah difardukan, dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)Kalimat lailahaillallah mengandung konsekuensi tidak mengangkat ilah/sesembahan selain Allah. Sementara ilah adalah Zat yang ditaati dan tidak didurhakai, yang dilandasi dengan perasaan takut, dan pengagungan kepada-Nya. Zat yang menjadi tumpuan rasa cinta dan takut, tawakal, permohonan, dan doa. Dan ini semuanya tidak pantas dipersembahkan, kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Barangsiapa yang mempersekutukan makhluk dengan Allah dalam masalah-masalah ini (yang ia merupakan kekhususan ilahiyah), maka hal itu merusak keikhlasan dan kemurnian tauhidnya. Dan di dalam dirinya terdapat bentuk penghambaan kepada makhluk sesuai dengan kadar ketergantungan hati kepada selain-Nya. Dan ini semuanya termasuk cabang kemusyrikan (lihat Kitab At-Tauhid; Risalah Kalimat Al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha, hal. 49-50)Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Syahadat dengan lisan saja tidak cukup. Buktinya adalah kaum munafik juga mempersaksikan keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi, mereka hanya bersaksi dengan lisan mereka. Mereka mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka yakini di dalam hati mereka. Oleh sebab itu, ucapan itu tidak bermanfaat bagi mereka…” (lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hal. 23 cet. Dar Tsurayya)Kalimat lailahaillallah tidak cukup hanya diucapkan, tanpa ada keyakinan dan pelaksanaan terhadap kandungan dan konsekuensinya. Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik,إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ فِی ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِیرًا“Sesungguhnya, orang-orang munafik itu berada di dalam kerak paling bawah dari neraka Jahannam, dan kamu tidak akan mendapati penolong bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 145)Allah Ta’ala juga berfirman,إِذَا جَاۤءَكَ ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ قَالُوا۟ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ یَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ لَكَـٰذِبُونَ“Apabila datang kepadamu orang-orang munafik seraya mengatakan, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya. Dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1)Seorang yang mengucapkan lailahaillallah harus melandasi syahadatnya dengan keikhlasan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan lailahaillallah karena (ikhlas) mencari wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu’anhu)Seorang yang mengucapkan lailahaillallah pun harus melandasi syahadatnya dengan keyakinan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Allah dan bahwsanya aku (Muhammad) adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah dengan membawa dua persaksian ini tanpa keragu-raguan lalu dihalangi masuk surga.” (HR. Muslim)Oleh sebab itu, para ulama menerangkan bahwa untuk mewujudkan lailahaillallah di dalam kehidupan kita, harus terpenuhi hal-hal sebagai berikut:Pertama, mengucapkannya.Kedua, mengetahui maknanya.Ketiga, meyakini kandungannya.Mengamalkan kandungan dan konsekuensinya, yaitu beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Membela orang yang menegakkan tauhid dan memusuhi orang-orang yang menyimpang dan menentangnya. (lihat Syarh Tafsir Kalimat At-Tauhid, hal. 11 dan 16)Syekh Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya memperhatikan perkara tauhid adalah prioritas yang paling utama dan kewajiban yang paling wajib. Sementara meninggalkan dan berpaling darinya atau berpaling dari mempelajarinya merupakan bencana terbesar yang melanda. Oleh karenanya, menjadi kewajiban setiap hamba untuk mempelajarinya dan mempelajari hal-hal yang membatalkan, meniadakan atau menguranginya. Demikian pula wajib baginya untuk mempelajari perkara apa saja yang bisa merusak atau menodainya.” (lihat Asy-Syarh Al-Mujaz, hal. 8)Betapa pun beraneka ragam umat manusia dan berbeda-beda problematika mereka, sesungguhnya dakwah kepada tauhid adalah yang paling pokok. Sama saja apakah masalah yang menimpa mereka dalam hal perekonomian sebagaimana yang dialami penduduk Madyan (kaum Nabi Syu’aib ‘alaihis salam) atau dalam hal akhlak sebagaimana yang menimpa kaum Nabi Luth ‘alaihis salam. Bahkan, meskipun masalah yang mereka hadapi adalah dalam hal perpolitikan! Sebab realitanya, umat para nabi terdahulu itu (pada umumnya) tidak diterapkan pada mereka hukum-hukum Allah oleh para penguasa mereka. Tauhid tetap menjadi prioritas yang paling utama! (lihat Sittu Duror min Ushuli Ahli al-Atsar oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah, hal. 18-19)Semoga kumpulan tulisan dan catatan ringkas ini bermanfaat bagi kami dan segenap kaum muslimin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah Inilah Dakwah Para Utusan Allah ***Yogyakarta, awal-awal bulan Shafar 1444 HKantor Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari YogyakartaPenulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Syirik, Tamimah, Arti Ilmu Tasawuf, Menjaga Perasaan Wanita, Materi Tauhid PdfTags: Aqidahcara berdakwahdakwahdakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidfikih dakwahkeutamaan dakwahkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhidzaman fitnah
Bismillah.Salah satu tugas utama para pengikut setia Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mengajak manusia kepada tauhid, mengesakan Allah dalam hal ibadah.Hal ini telah termuat dengan indah di dalam Kitabullah. Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ وَسُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَاۤ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ“Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Dan Mahasuci Allah, aku sama sekali bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)Mendakwahkan Islam, mengajak kepada tauhid, merangkul umat manusia untuk kembali menyadari dan mewujudkan hakikat tujuan hidup mereka adalah tugas yang sangat mulia. Sebab, dengan mengikuti petunjuk Allah dan bimbingan Rasul-Nya, maka manusia akan berbahagia. Sebaliknya, dengan berpaling dari agama dan loyal kepada perusak agama, akan menjerumuskan bani Adam ke dalam jurang kehinaan dan kehancuran.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Benar, bahwa ibadah kepada Allah tidak terbatas dalam bentuk salat, puasa, atau berhaji dan membayar zakat. Akan tetapi, ibadah mencakup segala ucapan dan perbuatan yang mendatangkan keridaan Allah dan kecintaan-Nya. Ibadah yang dimurnikan kepada Allah dan berlepas diri dari penghambaan kepada selain-Nya.Dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Keadilan yang paling tinggi adalah menegakkan ‘ubudiyah kepada Allah dan menjauhi syirik kepada-Nya. Sementara mempersekutukan Allah dalam hal ibadah adalah bentuk kezaliman yang paling berat dan paling jahat. Karena itulah para rasul di sepanjang zaman mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah.Baca Juga: Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1)Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Sebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa thaghut meliputi segala perkara yang membuat manusia melampaui batas dalam bentuk sesembahan, orang yang diikuti, atau sosok yang dipatuhi. Sehingga thaghut bisa berupa dukun dan paranormal. Selain itu, pembesarnya thaghut adalah iblis. Mengingkari thaghut adalah bagian dari keimanan yang tidak boleh dipisahkan.Saudaraku yang dirahmati Allah, hari-hari ini kita hidup di zaman yang penuh dengan berbagai tipuan dan kepalsuan. Orang yang mengajak kepada kebenaran digelari sebagai pemecah-belah persatuan dan penyeru kesesatan. Orang yang mengajak kepada penyimpangan justru dielu-elukan dan dijadikan sebagai sosok panutan dan idola masyarakat. Pada masa-masa semacam ini, maka tidak ada yang lebih utama bagi seorang muslim, selain menegakkan ibadah kepada Allah dan menunaikan nasihat kepada manusia dengan beramar makruf dan nahi mungkar.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3)Baca Juga: Fikih Dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Dijelaskan oleh para ulama bahwa saling menasihati dalam kebenaran menjadi terapi dan perisai untuk menghadapi berbagai bentuk fitnah syubhat (kerancuan pemahaman). Sedangkan saling menasihati dalam kesabaran adalah terapi dan perisai untuk menghadapi fitnah syahwat (godaan terhadap keharaman).Agama Islam yang mulia ini memberikan rambu-rambu yang jelas kepada kita dalam hal apa kita saling bekerjasama, yaitu dalam kebaikan dan takwa. Dalam hal apa kita memerintahkan dan mengajak manusia, yaitu dalam hal ketaatan dan amal saleh. Dalam hal apa kita melarang manusia, yaitu dari segala bentuk kemungkaran dan kerusakan dalam agama. Karena itulah, belajar tentang ilmu agama menjadi pintu gerbang kebaikan dan kemajuan kaum muslimin. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Para ulama kita telah menjelaskan bahwa ilmu agama menjadi sebuah perkara yang sangat tinggi dan mulia. Karena ia menjadi sarana dan pondasi untuk bertakwa kepada Allah. Ketika Allah memuji para ulama bukanlah karena mereka memiliki kecerdasan atau nilai akademik yang tinggi di mata manusia, tetapi justru disebabkan karena kualitas rasa takut mereka kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ “Sesungguhnya yang paling merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir: 28) Setiap orang yang dengan ilmunya membuat dia semakin takut kepada Allah maka dialah yang layak disebut sebagai ‘alim (ulama).Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Bukanlah ilmu itu dengan memperbanyak riwayat, akan tetapi ilmu yang sejati adalah tumbuhnya rasa takut kepada Allah.” Oleh karena itu, kita jumpai para sahabat nabi radhiyallahu ’anhum tumbuh menjadi generasi terbaik umat ini karena kedalaman ilmu dan kebersihan hatinya dalam mengabdi kepada Allah.Al-Auza’i rahimahullah -seorang ahli hadis dan ahli fikih besar- mengatakan, “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak-jejak para salaf (sahabat nabi), meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal manusia atau tokoh kesesatan, walaupun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan (kalimat-kalimat) yang indah dan menawan.”Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan? Daftar Isi sembunyikan 1. Agungnya kalimat tauhid 2. Konsekuensi kalimat tauhid Agungnya kalimat tauhidKalimat lailahaillallah adalah kalimat yang sangat ringan diucapkan dengan lisan, namun memiliki bobot yang sangat agung. Karena pada hakikatnya, ia merupakan intisari ajaran Islam. Akan tetapi, tentu saja kalimat ini bukan sekedar ucapan tanpa makna dan tanpa konsekuensi yang harus dijalankan. (lihat Syarh Tafsir Kalimat At-Tauhid oleh Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 5)Ada yang berkata kepada Al-Hasan, “Sebagian orang mengatakan, ‘Barangsiapa mengucapkan lailahaillallah, maka dia pasti masuk surga.?” Maka, Al-Hasan menjawab, “Barangsiapa yang mengucapkan lailahaillallah, kemudian dia menunaikan konsekuensi dan kewajiban darinya maka dia pasti masuk surga.” (lihat Kitab At-Tauhid; Risalah Kalimat al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha oleh Ibnu Rajab, hal. 40)Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih rahimahullah, “Bukankah lailahaillallah adalah kunci surga?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi, tidaklah suatu kunci melainkan memiliki gerigi-gerigi. Apabila kamu datang dengan membawa kunci yang memiliki gerigi-gerigi itu, maka dibukakanlah (surga) untukmu. Jika tidak, maka ia tidak akan dibukakan untukmu.” (lihat Kitab At-Tauhid; Risalah Kalimat Al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha, hal. 40)Allah Ta’ala berfirman,شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلۡعِلۡمِ قَاۤىِٕمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ“Allah bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahanyang benar), selain Dia, dan (bersaksi pula) para malaikat serta orang-orang yang berilmu, demi tegaknya keadilan. Tiada ilah (yang benar) selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Ali ‘Imran: 18)Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini mengandung penetapan hakikat tauhid dan bantahan bagi seluruh kelompok sesat. Ia mengandung persaksian yang paling mulia, paling agung, paling adil, dan paling jujur, yang berasal dari semulia-mulia saksi terhadap sesuatu perkara yang paling mulia untuk dipersaksikan.” (lihat Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 90 cet. Al-Maktab Al-Islami)Makna persaksian ini adalah bahwa Allah mengabarkan, menerangkan, memberitahukan, menetapkan, dan memutuskan bahwa segala sesuatu selain-Nya bukanlah ilah/sesembahan (yang benar) dan bahwasanya penuhanan segala sesuatu selain-Nya adalah kebatilan yang paling batil. Menetapkan hal itu (ilahiyah pada selain Allah adalah kezaliman yang paling zalim. Dengan demikian, tidak ada yang berhak untuk disembah, kecuali Dia, sebagaimana tidak layak sifat ilahiyah disematkan kepada selain-Nya. Konsekuensi hal ini adalah perintah untuk menjadikan Allah semata sebagai ilah dan larangan mengangkat selain-Nya sebagai sesembahan lain bersama-Nya (lihat At-Tafsir Al-Qayyim, hal. 178 oleh Ibnul Qayyim rahimahullah)Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau menuturkan bahwa tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke negeri Yaman, maka beliau berpesan kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok orang dari kalangan Ahli Kitab, maka jadikanlah perkara pertama yang kamu serukan kepada mereka adalah syahadat lailahaillallah.” Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan lailahaillallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa bagian iman yang paling utama adalah tauhid yang hukumnya wajib ‘ain atas setiap orang. Dan itulah perkara yang tidaklah dianggap sah (benar) cabang-cabang iman yang lain, kecuali setelah sahnya hal ini (tauhid).” (lihat Syarh Muslim, 2: 88)Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan akidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.” (lihat Ia’nat Al-Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid, 1: 17; cet. Mu’assasah Ar-Risalah)Baca Juga: Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah TauhidKonsekuensi kalimat tauhidSyahadat lailahaillallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud (sesembahan) yang benar, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Karena ilah bermakna ma’luh (sesembahan), sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud (beribadah). Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan lailaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan (setelah keimanan di dalam hati) bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. (lihat Fatawa Arkan Al-Islam hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)Orang yang mengucapkan lailahaillallah harus melaksanakan konsekuensinya, yaitu beribadah kepada Allah, tidak berbuat syirik, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai amalan yang bisa memasukkan ke dalam surga. Maka beliau menjawab, “Kamu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kamu mendirikan salat wajib, zakat yang telah difardukan, dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)Kalimat lailahaillallah mengandung konsekuensi tidak mengangkat ilah/sesembahan selain Allah. Sementara ilah adalah Zat yang ditaati dan tidak didurhakai, yang dilandasi dengan perasaan takut, dan pengagungan kepada-Nya. Zat yang menjadi tumpuan rasa cinta dan takut, tawakal, permohonan, dan doa. Dan ini semuanya tidak pantas dipersembahkan, kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Barangsiapa yang mempersekutukan makhluk dengan Allah dalam masalah-masalah ini (yang ia merupakan kekhususan ilahiyah), maka hal itu merusak keikhlasan dan kemurnian tauhidnya. Dan di dalam dirinya terdapat bentuk penghambaan kepada makhluk sesuai dengan kadar ketergantungan hati kepada selain-Nya. Dan ini semuanya termasuk cabang kemusyrikan (lihat Kitab At-Tauhid; Risalah Kalimat Al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha, hal. 49-50)Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Syahadat dengan lisan saja tidak cukup. Buktinya adalah kaum munafik juga mempersaksikan keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi, mereka hanya bersaksi dengan lisan mereka. Mereka mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka yakini di dalam hati mereka. Oleh sebab itu, ucapan itu tidak bermanfaat bagi mereka…” (lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hal. 23 cet. Dar Tsurayya)Kalimat lailahaillallah tidak cukup hanya diucapkan, tanpa ada keyakinan dan pelaksanaan terhadap kandungan dan konsekuensinya. Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik,إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ فِی ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِیرًا“Sesungguhnya, orang-orang munafik itu berada di dalam kerak paling bawah dari neraka Jahannam, dan kamu tidak akan mendapati penolong bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 145)Allah Ta’ala juga berfirman,إِذَا جَاۤءَكَ ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ قَالُوا۟ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ یَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ لَكَـٰذِبُونَ“Apabila datang kepadamu orang-orang munafik seraya mengatakan, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya. Dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1)Seorang yang mengucapkan lailahaillallah harus melandasi syahadatnya dengan keikhlasan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan lailahaillallah karena (ikhlas) mencari wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu’anhu)Seorang yang mengucapkan lailahaillallah pun harus melandasi syahadatnya dengan keyakinan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Allah dan bahwsanya aku (Muhammad) adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah dengan membawa dua persaksian ini tanpa keragu-raguan lalu dihalangi masuk surga.” (HR. Muslim)Oleh sebab itu, para ulama menerangkan bahwa untuk mewujudkan lailahaillallah di dalam kehidupan kita, harus terpenuhi hal-hal sebagai berikut:Pertama, mengucapkannya.Kedua, mengetahui maknanya.Ketiga, meyakini kandungannya.Mengamalkan kandungan dan konsekuensinya, yaitu beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Membela orang yang menegakkan tauhid dan memusuhi orang-orang yang menyimpang dan menentangnya. (lihat Syarh Tafsir Kalimat At-Tauhid, hal. 11 dan 16)Syekh Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya memperhatikan perkara tauhid adalah prioritas yang paling utama dan kewajiban yang paling wajib. Sementara meninggalkan dan berpaling darinya atau berpaling dari mempelajarinya merupakan bencana terbesar yang melanda. Oleh karenanya, menjadi kewajiban setiap hamba untuk mempelajarinya dan mempelajari hal-hal yang membatalkan, meniadakan atau menguranginya. Demikian pula wajib baginya untuk mempelajari perkara apa saja yang bisa merusak atau menodainya.” (lihat Asy-Syarh Al-Mujaz, hal. 8)Betapa pun beraneka ragam umat manusia dan berbeda-beda problematika mereka, sesungguhnya dakwah kepada tauhid adalah yang paling pokok. Sama saja apakah masalah yang menimpa mereka dalam hal perekonomian sebagaimana yang dialami penduduk Madyan (kaum Nabi Syu’aib ‘alaihis salam) atau dalam hal akhlak sebagaimana yang menimpa kaum Nabi Luth ‘alaihis salam. Bahkan, meskipun masalah yang mereka hadapi adalah dalam hal perpolitikan! Sebab realitanya, umat para nabi terdahulu itu (pada umumnya) tidak diterapkan pada mereka hukum-hukum Allah oleh para penguasa mereka. Tauhid tetap menjadi prioritas yang paling utama! (lihat Sittu Duror min Ushuli Ahli al-Atsar oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah, hal. 18-19)Semoga kumpulan tulisan dan catatan ringkas ini bermanfaat bagi kami dan segenap kaum muslimin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah Inilah Dakwah Para Utusan Allah ***Yogyakarta, awal-awal bulan Shafar 1444 HKantor Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari YogyakartaPenulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Syirik, Tamimah, Arti Ilmu Tasawuf, Menjaga Perasaan Wanita, Materi Tauhid PdfTags: Aqidahcara berdakwahdakwahdakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidfikih dakwahkeutamaan dakwahkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhidzaman fitnah


Bismillah.Salah satu tugas utama para pengikut setia Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mengajak manusia kepada tauhid, mengesakan Allah dalam hal ibadah.Hal ini telah termuat dengan indah di dalam Kitabullah. Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ وَسُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَاۤ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ“Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Dan Mahasuci Allah, aku sama sekali bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)Mendakwahkan Islam, mengajak kepada tauhid, merangkul umat manusia untuk kembali menyadari dan mewujudkan hakikat tujuan hidup mereka adalah tugas yang sangat mulia. Sebab, dengan mengikuti petunjuk Allah dan bimbingan Rasul-Nya, maka manusia akan berbahagia. Sebaliknya, dengan berpaling dari agama dan loyal kepada perusak agama, akan menjerumuskan bani Adam ke dalam jurang kehinaan dan kehancuran.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Benar, bahwa ibadah kepada Allah tidak terbatas dalam bentuk salat, puasa, atau berhaji dan membayar zakat. Akan tetapi, ibadah mencakup segala ucapan dan perbuatan yang mendatangkan keridaan Allah dan kecintaan-Nya. Ibadah yang dimurnikan kepada Allah dan berlepas diri dari penghambaan kepada selain-Nya.Dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Keadilan yang paling tinggi adalah menegakkan ‘ubudiyah kepada Allah dan menjauhi syirik kepada-Nya. Sementara mempersekutukan Allah dalam hal ibadah adalah bentuk kezaliman yang paling berat dan paling jahat. Karena itulah para rasul di sepanjang zaman mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah.Baca Juga: Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1)Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Sebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa thaghut meliputi segala perkara yang membuat manusia melampaui batas dalam bentuk sesembahan, orang yang diikuti, atau sosok yang dipatuhi. Sehingga thaghut bisa berupa dukun dan paranormal. Selain itu, pembesarnya thaghut adalah iblis. Mengingkari thaghut adalah bagian dari keimanan yang tidak boleh dipisahkan.Saudaraku yang dirahmati Allah, hari-hari ini kita hidup di zaman yang penuh dengan berbagai tipuan dan kepalsuan. Orang yang mengajak kepada kebenaran digelari sebagai pemecah-belah persatuan dan penyeru kesesatan. Orang yang mengajak kepada penyimpangan justru dielu-elukan dan dijadikan sebagai sosok panutan dan idola masyarakat. Pada masa-masa semacam ini, maka tidak ada yang lebih utama bagi seorang muslim, selain menegakkan ibadah kepada Allah dan menunaikan nasihat kepada manusia dengan beramar makruf dan nahi mungkar.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3)Baca Juga: Fikih Dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Dijelaskan oleh para ulama bahwa saling menasihati dalam kebenaran menjadi terapi dan perisai untuk menghadapi berbagai bentuk fitnah syubhat (kerancuan pemahaman). Sedangkan saling menasihati dalam kesabaran adalah terapi dan perisai untuk menghadapi fitnah syahwat (godaan terhadap keharaman).Agama Islam yang mulia ini memberikan rambu-rambu yang jelas kepada kita dalam hal apa kita saling bekerjasama, yaitu dalam kebaikan dan takwa. Dalam hal apa kita memerintahkan dan mengajak manusia, yaitu dalam hal ketaatan dan amal saleh. Dalam hal apa kita melarang manusia, yaitu dari segala bentuk kemungkaran dan kerusakan dalam agama. Karena itulah, belajar tentang ilmu agama menjadi pintu gerbang kebaikan dan kemajuan kaum muslimin. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Para ulama kita telah menjelaskan bahwa ilmu agama menjadi sebuah perkara yang sangat tinggi dan mulia. Karena ia menjadi sarana dan pondasi untuk bertakwa kepada Allah. Ketika Allah memuji para ulama bukanlah karena mereka memiliki kecerdasan atau nilai akademik yang tinggi di mata manusia, tetapi justru disebabkan karena kualitas rasa takut mereka kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ “Sesungguhnya yang paling merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir: 28) Setiap orang yang dengan ilmunya membuat dia semakin takut kepada Allah maka dialah yang layak disebut sebagai ‘alim (ulama).Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Bukanlah ilmu itu dengan memperbanyak riwayat, akan tetapi ilmu yang sejati adalah tumbuhnya rasa takut kepada Allah.” Oleh karena itu, kita jumpai para sahabat nabi radhiyallahu ’anhum tumbuh menjadi generasi terbaik umat ini karena kedalaman ilmu dan kebersihan hatinya dalam mengabdi kepada Allah.Al-Auza’i rahimahullah -seorang ahli hadis dan ahli fikih besar- mengatakan, “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak-jejak para salaf (sahabat nabi), meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal manusia atau tokoh kesesatan, walaupun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan (kalimat-kalimat) yang indah dan menawan.”Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan? Daftar Isi sembunyikan 1. Agungnya kalimat tauhid 2. Konsekuensi kalimat tauhid Agungnya kalimat tauhidKalimat lailahaillallah adalah kalimat yang sangat ringan diucapkan dengan lisan, namun memiliki bobot yang sangat agung. Karena pada hakikatnya, ia merupakan intisari ajaran Islam. Akan tetapi, tentu saja kalimat ini bukan sekedar ucapan tanpa makna dan tanpa konsekuensi yang harus dijalankan. (lihat Syarh Tafsir Kalimat At-Tauhid oleh Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 5)Ada yang berkata kepada Al-Hasan, “Sebagian orang mengatakan, ‘Barangsiapa mengucapkan lailahaillallah, maka dia pasti masuk surga.?” Maka, Al-Hasan menjawab, “Barangsiapa yang mengucapkan lailahaillallah, kemudian dia menunaikan konsekuensi dan kewajiban darinya maka dia pasti masuk surga.” (lihat Kitab At-Tauhid; Risalah Kalimat al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha oleh Ibnu Rajab, hal. 40)Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih rahimahullah, “Bukankah lailahaillallah adalah kunci surga?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi, tidaklah suatu kunci melainkan memiliki gerigi-gerigi. Apabila kamu datang dengan membawa kunci yang memiliki gerigi-gerigi itu, maka dibukakanlah (surga) untukmu. Jika tidak, maka ia tidak akan dibukakan untukmu.” (lihat Kitab At-Tauhid; Risalah Kalimat Al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha, hal. 40)Allah Ta’ala berfirman,شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلۡعِلۡمِ قَاۤىِٕمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ“Allah bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahanyang benar), selain Dia, dan (bersaksi pula) para malaikat serta orang-orang yang berilmu, demi tegaknya keadilan. Tiada ilah (yang benar) selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Ali ‘Imran: 18)Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini mengandung penetapan hakikat tauhid dan bantahan bagi seluruh kelompok sesat. Ia mengandung persaksian yang paling mulia, paling agung, paling adil, dan paling jujur, yang berasal dari semulia-mulia saksi terhadap sesuatu perkara yang paling mulia untuk dipersaksikan.” (lihat Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 90 cet. Al-Maktab Al-Islami)Makna persaksian ini adalah bahwa Allah mengabarkan, menerangkan, memberitahukan, menetapkan, dan memutuskan bahwa segala sesuatu selain-Nya bukanlah ilah/sesembahan (yang benar) dan bahwasanya penuhanan segala sesuatu selain-Nya adalah kebatilan yang paling batil. Menetapkan hal itu (ilahiyah pada selain Allah adalah kezaliman yang paling zalim. Dengan demikian, tidak ada yang berhak untuk disembah, kecuali Dia, sebagaimana tidak layak sifat ilahiyah disematkan kepada selain-Nya. Konsekuensi hal ini adalah perintah untuk menjadikan Allah semata sebagai ilah dan larangan mengangkat selain-Nya sebagai sesembahan lain bersama-Nya (lihat At-Tafsir Al-Qayyim, hal. 178 oleh Ibnul Qayyim rahimahullah)Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau menuturkan bahwa tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke negeri Yaman, maka beliau berpesan kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok orang dari kalangan Ahli Kitab, maka jadikanlah perkara pertama yang kamu serukan kepada mereka adalah syahadat lailahaillallah.” Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan lailahaillallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa bagian iman yang paling utama adalah tauhid yang hukumnya wajib ‘ain atas setiap orang. Dan itulah perkara yang tidaklah dianggap sah (benar) cabang-cabang iman yang lain, kecuali setelah sahnya hal ini (tauhid).” (lihat Syarh Muslim, 2: 88)Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan akidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.” (lihat Ia’nat Al-Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid, 1: 17; cet. Mu’assasah Ar-Risalah)Baca Juga: Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah TauhidKonsekuensi kalimat tauhidSyahadat lailahaillallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud (sesembahan) yang benar, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Karena ilah bermakna ma’luh (sesembahan), sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud (beribadah). Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan lailaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan (setelah keimanan di dalam hati) bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. (lihat Fatawa Arkan Al-Islam hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)Orang yang mengucapkan lailahaillallah harus melaksanakan konsekuensinya, yaitu beribadah kepada Allah, tidak berbuat syirik, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai amalan yang bisa memasukkan ke dalam surga. Maka beliau menjawab, “Kamu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kamu mendirikan salat wajib, zakat yang telah difardukan, dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)Kalimat lailahaillallah mengandung konsekuensi tidak mengangkat ilah/sesembahan selain Allah. Sementara ilah adalah Zat yang ditaati dan tidak didurhakai, yang dilandasi dengan perasaan takut, dan pengagungan kepada-Nya. Zat yang menjadi tumpuan rasa cinta dan takut, tawakal, permohonan, dan doa. Dan ini semuanya tidak pantas dipersembahkan, kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Barangsiapa yang mempersekutukan makhluk dengan Allah dalam masalah-masalah ini (yang ia merupakan kekhususan ilahiyah), maka hal itu merusak keikhlasan dan kemurnian tauhidnya. Dan di dalam dirinya terdapat bentuk penghambaan kepada makhluk sesuai dengan kadar ketergantungan hati kepada selain-Nya. Dan ini semuanya termasuk cabang kemusyrikan (lihat Kitab At-Tauhid; Risalah Kalimat Al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha, hal. 49-50)Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Syahadat dengan lisan saja tidak cukup. Buktinya adalah kaum munafik juga mempersaksikan keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi, mereka hanya bersaksi dengan lisan mereka. Mereka mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka yakini di dalam hati mereka. Oleh sebab itu, ucapan itu tidak bermanfaat bagi mereka…” (lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hal. 23 cet. Dar Tsurayya)Kalimat lailahaillallah tidak cukup hanya diucapkan, tanpa ada keyakinan dan pelaksanaan terhadap kandungan dan konsekuensinya. Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik,إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ فِی ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِیرًا“Sesungguhnya, orang-orang munafik itu berada di dalam kerak paling bawah dari neraka Jahannam, dan kamu tidak akan mendapati penolong bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 145)Allah Ta’ala juga berfirman,إِذَا جَاۤءَكَ ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ قَالُوا۟ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ یَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ لَكَـٰذِبُونَ“Apabila datang kepadamu orang-orang munafik seraya mengatakan, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya. Dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1)Seorang yang mengucapkan lailahaillallah harus melandasi syahadatnya dengan keikhlasan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan lailahaillallah karena (ikhlas) mencari wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu’anhu)Seorang yang mengucapkan lailahaillallah pun harus melandasi syahadatnya dengan keyakinan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Allah dan bahwsanya aku (Muhammad) adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah dengan membawa dua persaksian ini tanpa keragu-raguan lalu dihalangi masuk surga.” (HR. Muslim)Oleh sebab itu, para ulama menerangkan bahwa untuk mewujudkan lailahaillallah di dalam kehidupan kita, harus terpenuhi hal-hal sebagai berikut:Pertama, mengucapkannya.Kedua, mengetahui maknanya.Ketiga, meyakini kandungannya.Mengamalkan kandungan dan konsekuensinya, yaitu beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Membela orang yang menegakkan tauhid dan memusuhi orang-orang yang menyimpang dan menentangnya. (lihat Syarh Tafsir Kalimat At-Tauhid, hal. 11 dan 16)Syekh Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya memperhatikan perkara tauhid adalah prioritas yang paling utama dan kewajiban yang paling wajib. Sementara meninggalkan dan berpaling darinya atau berpaling dari mempelajarinya merupakan bencana terbesar yang melanda. Oleh karenanya, menjadi kewajiban setiap hamba untuk mempelajarinya dan mempelajari hal-hal yang membatalkan, meniadakan atau menguranginya. Demikian pula wajib baginya untuk mempelajari perkara apa saja yang bisa merusak atau menodainya.” (lihat Asy-Syarh Al-Mujaz, hal. 8)Betapa pun beraneka ragam umat manusia dan berbeda-beda problematika mereka, sesungguhnya dakwah kepada tauhid adalah yang paling pokok. Sama saja apakah masalah yang menimpa mereka dalam hal perekonomian sebagaimana yang dialami penduduk Madyan (kaum Nabi Syu’aib ‘alaihis salam) atau dalam hal akhlak sebagaimana yang menimpa kaum Nabi Luth ‘alaihis salam. Bahkan, meskipun masalah yang mereka hadapi adalah dalam hal perpolitikan! Sebab realitanya, umat para nabi terdahulu itu (pada umumnya) tidak diterapkan pada mereka hukum-hukum Allah oleh para penguasa mereka. Tauhid tetap menjadi prioritas yang paling utama! (lihat Sittu Duror min Ushuli Ahli al-Atsar oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah, hal. 18-19)Semoga kumpulan tulisan dan catatan ringkas ini bermanfaat bagi kami dan segenap kaum muslimin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah Inilah Dakwah Para Utusan Allah ***Yogyakarta, awal-awal bulan Shafar 1444 HKantor Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari YogyakartaPenulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Syirik, Tamimah, Arti Ilmu Tasawuf, Menjaga Perasaan Wanita, Materi Tauhid PdfTags: Aqidahcara berdakwahdakwahdakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidfikih dakwahkeutamaan dakwahkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhidzaman fitnah

Fatwa Ulama: Ketika Ragu Apakah Terlupa Salah Satu Rukun Salat

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Hal itu jika dia yakin meninggalkan salah satu rukun salat (baca fatwa sebelumnya di sini). Akan tetapi, bagaimana jika dia ragu-ragu (apakah betul sudah melakukan rukun salat atau belum), apakah yang harus dia perbuat?Jawaban:Jika ragu-ragu apakah terlupa salah satu rukun salat, maka terdapat tiga kondisi (keadaan).(Kondisi pertama) jika keraguan itu hanya waham (wahm) semata, tidak ada hakikatnya (tidak riil), maka tidak perlu diperhatikan (tidak teranggap). Dia terus melanjutkan salatnya seakan-akan keraguan tersebut tidak terjadi.(Kondisi kedua) jika keraguan tersebut sering dia alami, sebagaimana yang dijumpai pada orang yang sering mengalami was-was, -kami meminta kepada Allah keselamatan untuk kami dan untuk kalian-, maka dia juga tidak perlu memperhatikannya. Akan tetapi, dia terus melanjutkan salatnya sampai dia selesai dari salatnya. Walaupun dalam kondisi dia merasa ada kekurangan dalam salatnya, maka hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Atau keraguan tersebut muncul selesai salat, maka dalam kondisi ini juga tidak perlu dianggap dan diperhatikan, selama dia tidak yakin telah meninggalkan rukun salat. Adapun jika terjadi keraguan di tengah-tengah salat, maka para ulama mengatakan, “Siapa saja yang ragu apakah terlupa salah satu rukun salat, maka seperti meninggalkan (belum melakukan) rukun salat tersebut.”Baca Juga: Hukum Mengqodo Shalat Sunah Rawatib(Kondisi ketiga) jika mengalami keraguan di tengah-tengah salat, dan keraguan tersebut betul-betul riil (hakiki), bukan karena waham atau was-was, misalnya dia sedang sujud dan ketika itu dia ragu apakah sudah rukuk atau belum, maka kita katakan, “Berdirilah dan kemudian rukuklah.” Hal ini karena hukum asalnya, dia belum rukuk. Kecuali terdapat sangkaan kuat bahwa dia telah rukuk. Karena menurut pendapat yang benar, jika dia memiliki sangkaan kuat bahwa telah rukuk, maka sangkaan kuat inilah yang dimenangkan (teranggap). Akan tetapi, dia hendaknya melakukan sujud sahwi setelah mengucapkan salam.Sujud sahwi adalah perkara yang penting. Hendaknya kaum muslimin mengetahuinya, lebih-lebih imam salat. Akan tetapi, banyak di antara imam salat yang tidak mengetahuinya. Hal ini tidak seharusnya terjadi dari orang semisal mereka. Menjadi kewajiban atas setiap mukmin untuk mengetahui batasan-batasan dari syariat yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Shalat adalah Kebutuhan KitaHukum Shalat Tidak Menghadap ke Arah Kiblat***@Rumah Kasongan, 14 Shafar 1444/ 11 September 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 183-184, pertanyaan no. 98.🔍 Mahram, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Orang Serakah Harta Warisan, Buah Surga Yang Ada Di Dunia, Dalil Naqli Tentang DakwahTags: fatwaFatwa Ulamafikih shalatpanduan shalatrukun shalatShalatshalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat

Fatwa Ulama: Ketika Ragu Apakah Terlupa Salah Satu Rukun Salat

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Hal itu jika dia yakin meninggalkan salah satu rukun salat (baca fatwa sebelumnya di sini). Akan tetapi, bagaimana jika dia ragu-ragu (apakah betul sudah melakukan rukun salat atau belum), apakah yang harus dia perbuat?Jawaban:Jika ragu-ragu apakah terlupa salah satu rukun salat, maka terdapat tiga kondisi (keadaan).(Kondisi pertama) jika keraguan itu hanya waham (wahm) semata, tidak ada hakikatnya (tidak riil), maka tidak perlu diperhatikan (tidak teranggap). Dia terus melanjutkan salatnya seakan-akan keraguan tersebut tidak terjadi.(Kondisi kedua) jika keraguan tersebut sering dia alami, sebagaimana yang dijumpai pada orang yang sering mengalami was-was, -kami meminta kepada Allah keselamatan untuk kami dan untuk kalian-, maka dia juga tidak perlu memperhatikannya. Akan tetapi, dia terus melanjutkan salatnya sampai dia selesai dari salatnya. Walaupun dalam kondisi dia merasa ada kekurangan dalam salatnya, maka hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Atau keraguan tersebut muncul selesai salat, maka dalam kondisi ini juga tidak perlu dianggap dan diperhatikan, selama dia tidak yakin telah meninggalkan rukun salat. Adapun jika terjadi keraguan di tengah-tengah salat, maka para ulama mengatakan, “Siapa saja yang ragu apakah terlupa salah satu rukun salat, maka seperti meninggalkan (belum melakukan) rukun salat tersebut.”Baca Juga: Hukum Mengqodo Shalat Sunah Rawatib(Kondisi ketiga) jika mengalami keraguan di tengah-tengah salat, dan keraguan tersebut betul-betul riil (hakiki), bukan karena waham atau was-was, misalnya dia sedang sujud dan ketika itu dia ragu apakah sudah rukuk atau belum, maka kita katakan, “Berdirilah dan kemudian rukuklah.” Hal ini karena hukum asalnya, dia belum rukuk. Kecuali terdapat sangkaan kuat bahwa dia telah rukuk. Karena menurut pendapat yang benar, jika dia memiliki sangkaan kuat bahwa telah rukuk, maka sangkaan kuat inilah yang dimenangkan (teranggap). Akan tetapi, dia hendaknya melakukan sujud sahwi setelah mengucapkan salam.Sujud sahwi adalah perkara yang penting. Hendaknya kaum muslimin mengetahuinya, lebih-lebih imam salat. Akan tetapi, banyak di antara imam salat yang tidak mengetahuinya. Hal ini tidak seharusnya terjadi dari orang semisal mereka. Menjadi kewajiban atas setiap mukmin untuk mengetahui batasan-batasan dari syariat yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Shalat adalah Kebutuhan KitaHukum Shalat Tidak Menghadap ke Arah Kiblat***@Rumah Kasongan, 14 Shafar 1444/ 11 September 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 183-184, pertanyaan no. 98.🔍 Mahram, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Orang Serakah Harta Warisan, Buah Surga Yang Ada Di Dunia, Dalil Naqli Tentang DakwahTags: fatwaFatwa Ulamafikih shalatpanduan shalatrukun shalatShalatshalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Hal itu jika dia yakin meninggalkan salah satu rukun salat (baca fatwa sebelumnya di sini). Akan tetapi, bagaimana jika dia ragu-ragu (apakah betul sudah melakukan rukun salat atau belum), apakah yang harus dia perbuat?Jawaban:Jika ragu-ragu apakah terlupa salah satu rukun salat, maka terdapat tiga kondisi (keadaan).(Kondisi pertama) jika keraguan itu hanya waham (wahm) semata, tidak ada hakikatnya (tidak riil), maka tidak perlu diperhatikan (tidak teranggap). Dia terus melanjutkan salatnya seakan-akan keraguan tersebut tidak terjadi.(Kondisi kedua) jika keraguan tersebut sering dia alami, sebagaimana yang dijumpai pada orang yang sering mengalami was-was, -kami meminta kepada Allah keselamatan untuk kami dan untuk kalian-, maka dia juga tidak perlu memperhatikannya. Akan tetapi, dia terus melanjutkan salatnya sampai dia selesai dari salatnya. Walaupun dalam kondisi dia merasa ada kekurangan dalam salatnya, maka hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Atau keraguan tersebut muncul selesai salat, maka dalam kondisi ini juga tidak perlu dianggap dan diperhatikan, selama dia tidak yakin telah meninggalkan rukun salat. Adapun jika terjadi keraguan di tengah-tengah salat, maka para ulama mengatakan, “Siapa saja yang ragu apakah terlupa salah satu rukun salat, maka seperti meninggalkan (belum melakukan) rukun salat tersebut.”Baca Juga: Hukum Mengqodo Shalat Sunah Rawatib(Kondisi ketiga) jika mengalami keraguan di tengah-tengah salat, dan keraguan tersebut betul-betul riil (hakiki), bukan karena waham atau was-was, misalnya dia sedang sujud dan ketika itu dia ragu apakah sudah rukuk atau belum, maka kita katakan, “Berdirilah dan kemudian rukuklah.” Hal ini karena hukum asalnya, dia belum rukuk. Kecuali terdapat sangkaan kuat bahwa dia telah rukuk. Karena menurut pendapat yang benar, jika dia memiliki sangkaan kuat bahwa telah rukuk, maka sangkaan kuat inilah yang dimenangkan (teranggap). Akan tetapi, dia hendaknya melakukan sujud sahwi setelah mengucapkan salam.Sujud sahwi adalah perkara yang penting. Hendaknya kaum muslimin mengetahuinya, lebih-lebih imam salat. Akan tetapi, banyak di antara imam salat yang tidak mengetahuinya. Hal ini tidak seharusnya terjadi dari orang semisal mereka. Menjadi kewajiban atas setiap mukmin untuk mengetahui batasan-batasan dari syariat yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Shalat adalah Kebutuhan KitaHukum Shalat Tidak Menghadap ke Arah Kiblat***@Rumah Kasongan, 14 Shafar 1444/ 11 September 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 183-184, pertanyaan no. 98.🔍 Mahram, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Orang Serakah Harta Warisan, Buah Surga Yang Ada Di Dunia, Dalil Naqli Tentang DakwahTags: fatwaFatwa Ulamafikih shalatpanduan shalatrukun shalatShalatshalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Hal itu jika dia yakin meninggalkan salah satu rukun salat (baca fatwa sebelumnya di sini). Akan tetapi, bagaimana jika dia ragu-ragu (apakah betul sudah melakukan rukun salat atau belum), apakah yang harus dia perbuat?Jawaban:Jika ragu-ragu apakah terlupa salah satu rukun salat, maka terdapat tiga kondisi (keadaan).(Kondisi pertama) jika keraguan itu hanya waham (wahm) semata, tidak ada hakikatnya (tidak riil), maka tidak perlu diperhatikan (tidak teranggap). Dia terus melanjutkan salatnya seakan-akan keraguan tersebut tidak terjadi.(Kondisi kedua) jika keraguan tersebut sering dia alami, sebagaimana yang dijumpai pada orang yang sering mengalami was-was, -kami meminta kepada Allah keselamatan untuk kami dan untuk kalian-, maka dia juga tidak perlu memperhatikannya. Akan tetapi, dia terus melanjutkan salatnya sampai dia selesai dari salatnya. Walaupun dalam kondisi dia merasa ada kekurangan dalam salatnya, maka hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Atau keraguan tersebut muncul selesai salat, maka dalam kondisi ini juga tidak perlu dianggap dan diperhatikan, selama dia tidak yakin telah meninggalkan rukun salat. Adapun jika terjadi keraguan di tengah-tengah salat, maka para ulama mengatakan, “Siapa saja yang ragu apakah terlupa salah satu rukun salat, maka seperti meninggalkan (belum melakukan) rukun salat tersebut.”Baca Juga: Hukum Mengqodo Shalat Sunah Rawatib(Kondisi ketiga) jika mengalami keraguan di tengah-tengah salat, dan keraguan tersebut betul-betul riil (hakiki), bukan karena waham atau was-was, misalnya dia sedang sujud dan ketika itu dia ragu apakah sudah rukuk atau belum, maka kita katakan, “Berdirilah dan kemudian rukuklah.” Hal ini karena hukum asalnya, dia belum rukuk. Kecuali terdapat sangkaan kuat bahwa dia telah rukuk. Karena menurut pendapat yang benar, jika dia memiliki sangkaan kuat bahwa telah rukuk, maka sangkaan kuat inilah yang dimenangkan (teranggap). Akan tetapi, dia hendaknya melakukan sujud sahwi setelah mengucapkan salam.Sujud sahwi adalah perkara yang penting. Hendaknya kaum muslimin mengetahuinya, lebih-lebih imam salat. Akan tetapi, banyak di antara imam salat yang tidak mengetahuinya. Hal ini tidak seharusnya terjadi dari orang semisal mereka. Menjadi kewajiban atas setiap mukmin untuk mengetahui batasan-batasan dari syariat yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Shalat adalah Kebutuhan KitaHukum Shalat Tidak Menghadap ke Arah Kiblat***@Rumah Kasongan, 14 Shafar 1444/ 11 September 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 183-184, pertanyaan no. 98.🔍 Mahram, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Orang Serakah Harta Warisan, Buah Surga Yang Ada Di Dunia, Dalil Naqli Tentang DakwahTags: fatwaFatwa Ulamafikih shalatpanduan shalatrukun shalatShalatshalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat

Makna Kalimat Tauhid “Lailahaillallah”

Menjelang kematian Abu Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat menginginkan kebaikan bagi pamannya itu mengatakan, “Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘lailahaillallah.’ Sebuah kalimat yang akan kujadikan pembela bagimu di sisi Allah.” (HR. Bukhari). Namun, ternyata pamannya enggan dan tetap memilih agama Abdul Muthallib, yaitu memuja berhala. Sehingga pupuslah sudah harapan Nabi untuk menyelamatkan pamannya dari siksa neraka.Saudaraku, kalimat syahadat ini sudah sangat kita kenal. Setiap hari kita mendengar panggilan azan dan kalimat ini selalu diulang-ulang. Namun sayang, masih banyak saudara kita yang belum memahami makna kalimat ini dengan benar. Contohnya, mereka memaknai bahwa lailahaillallah artinya tidak ada pencipta selain Allah. Pada hakikatnya, pernyataan tidak ada pencipta selain Allah adalah sesuatu yang benar. Kita tidak memungkirinya sama sekali. Namun, itu bukanlah makna dari lailahaillallah. Kok bisa demikian? Coba perhatikan bagaimana jawaban orang-orang musyrik dahulu ketika ditanya tentang pencipta mereka, pencipta langit dan bumi, pemberi rezeki kepada mereka dari langit dan bumi, mereka menjawab, “Allah”.Allah Ta’ala berfirman,وَلَىِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ لَیَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ یُؤۡفَكُونَ“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta yang menundukkan matahari dan bulan?’ Pasti mereka menjawab, ‘Allah’. Maka, mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran).” (QS. Al-Ankabut: 61)Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ مَن یَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن یَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَمَن یُخۡرِجُ ٱلۡحَیَّ مِنَ ٱلۡمَیِّتِ وَیُخۡرِجُ ٱلۡمَیِّتَ مِنَ ٱلۡحَیِّ وَمَن یُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَیَقُولُونَ ٱللَّهُۚ”Katakanlah, ‘Siapakah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.‘” (QS. Yunus: 31)Baca Juga: Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid Hal itu menunjukkan bahwa sekedar mengakui pencipta alam ini hanya Allah belumlah memasukkan seseorang ke dalam Islam. Padahal, kita mengetahui bersama bahwa yang menjadi kunci masuk ke dalam Islam adalah kalimat syahadat ini. Kalaulah makna syahadat hanya semacam itu saja, niscaya orang-orang kafir dahulu tidak perlu diperangi oleh Nabi. Kita juga ingat, dahulu ketika mengutus sahabatnya Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke Yaman untuk berdakwah, beliau berpesan, “Jadikanlah seruan yang pertama kali kamu sampaikan syahadat lailahaillallah dan Muhammad rasulullah …” (HR. Bukhari dan Muslim)Lalu, apakah makna kalimat yang mulia ini? Maknanya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama yaitu la ma’buda bihaqqin illallah (tidak ada sesembahan yang benar selain Allah). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,ذَ ٰ⁠لِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا یَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ“Demikian itulah, karena hanya Allahlah (sesembahan) yang hak, sedangkan segala sesuatu yang disembah selain-Nya adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62)Sehingga, kalimat ini menuntut kita untuk menyembah hanya kepada Allah Ta’ala dan mengingkari segala sesembahan selain-Nya. Entah itu malaikat, nabi, orang saleh, jin, matahari, pohon, apalagi batu.Oleh sebab itu, orang yang mengucapkan lailahaillallah harus meyakini bahwa segala bentuk ibadah, entah itu salat, puasa, nazar, sembelihan, meminta perlindungan dan keselamatan, dan lain sebagainya, hanya boleh ditujukan kepada Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan di dalam ayat,وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa’: 36)Orang yang beribadah kepada selain Allah, pada hakikatnya dia telah melanggar larangan Allah yang paling besar ini. Akibat dari melanggar larangan ini, Allah akan menghukumnya di dalam neraka selama-lamanya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, maka sungguh Allah haramkan surga baginya. Dan tempat kembalinya adalah neraka…” (QS. Al-Maa’idah: 72)Dengan demikian, sudah semestinya seorang muslim yang mengikrarkan syahadat ini memahami bahwa kunci keselamatan dan kebahagiaan hidupnya adalah dengan melaksanakan kandungan kalimat ini dengan sungguh-sungguh. Yaitu mempersembahkan segala bentuk ibadah, penghinaan diri, ketundukan, serta pengagungan yang dilandasi kecintaan yang paling dalam kepada Rabb alam semesta saja. Bukan kepada makhluk yang memang tidak menguasai kemanfaatan dan kemudharatan walaupun setipis kulit ari, apalagi menghidupkan dan mematikan. Alangkah malang dan mengenaskan, nasib para pemuja selain-Nya. Allahu waliyyut taufiq.Baca Juga:Keutamaan dan Urgensi TauhidMenyelami Makna Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Pakaian Islam, Hadits Pahala Membaca Al Quran, Hafizhahullah Arab, Doa Doa MustajabahTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkalimat tauhidkeutamaan tauhidkonsekuensi tauhidmakna tauhidmanhaj salafTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Makna Kalimat Tauhid “Lailahaillallah”

Menjelang kematian Abu Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat menginginkan kebaikan bagi pamannya itu mengatakan, “Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘lailahaillallah.’ Sebuah kalimat yang akan kujadikan pembela bagimu di sisi Allah.” (HR. Bukhari). Namun, ternyata pamannya enggan dan tetap memilih agama Abdul Muthallib, yaitu memuja berhala. Sehingga pupuslah sudah harapan Nabi untuk menyelamatkan pamannya dari siksa neraka.Saudaraku, kalimat syahadat ini sudah sangat kita kenal. Setiap hari kita mendengar panggilan azan dan kalimat ini selalu diulang-ulang. Namun sayang, masih banyak saudara kita yang belum memahami makna kalimat ini dengan benar. Contohnya, mereka memaknai bahwa lailahaillallah artinya tidak ada pencipta selain Allah. Pada hakikatnya, pernyataan tidak ada pencipta selain Allah adalah sesuatu yang benar. Kita tidak memungkirinya sama sekali. Namun, itu bukanlah makna dari lailahaillallah. Kok bisa demikian? Coba perhatikan bagaimana jawaban orang-orang musyrik dahulu ketika ditanya tentang pencipta mereka, pencipta langit dan bumi, pemberi rezeki kepada mereka dari langit dan bumi, mereka menjawab, “Allah”.Allah Ta’ala berfirman,وَلَىِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ لَیَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ یُؤۡفَكُونَ“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta yang menundukkan matahari dan bulan?’ Pasti mereka menjawab, ‘Allah’. Maka, mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran).” (QS. Al-Ankabut: 61)Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ مَن یَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن یَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَمَن یُخۡرِجُ ٱلۡحَیَّ مِنَ ٱلۡمَیِّتِ وَیُخۡرِجُ ٱلۡمَیِّتَ مِنَ ٱلۡحَیِّ وَمَن یُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَیَقُولُونَ ٱللَّهُۚ”Katakanlah, ‘Siapakah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.‘” (QS. Yunus: 31)Baca Juga: Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid Hal itu menunjukkan bahwa sekedar mengakui pencipta alam ini hanya Allah belumlah memasukkan seseorang ke dalam Islam. Padahal, kita mengetahui bersama bahwa yang menjadi kunci masuk ke dalam Islam adalah kalimat syahadat ini. Kalaulah makna syahadat hanya semacam itu saja, niscaya orang-orang kafir dahulu tidak perlu diperangi oleh Nabi. Kita juga ingat, dahulu ketika mengutus sahabatnya Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke Yaman untuk berdakwah, beliau berpesan, “Jadikanlah seruan yang pertama kali kamu sampaikan syahadat lailahaillallah dan Muhammad rasulullah …” (HR. Bukhari dan Muslim)Lalu, apakah makna kalimat yang mulia ini? Maknanya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama yaitu la ma’buda bihaqqin illallah (tidak ada sesembahan yang benar selain Allah). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,ذَ ٰ⁠لِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا یَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ“Demikian itulah, karena hanya Allahlah (sesembahan) yang hak, sedangkan segala sesuatu yang disembah selain-Nya adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62)Sehingga, kalimat ini menuntut kita untuk menyembah hanya kepada Allah Ta’ala dan mengingkari segala sesembahan selain-Nya. Entah itu malaikat, nabi, orang saleh, jin, matahari, pohon, apalagi batu.Oleh sebab itu, orang yang mengucapkan lailahaillallah harus meyakini bahwa segala bentuk ibadah, entah itu salat, puasa, nazar, sembelihan, meminta perlindungan dan keselamatan, dan lain sebagainya, hanya boleh ditujukan kepada Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan di dalam ayat,وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa’: 36)Orang yang beribadah kepada selain Allah, pada hakikatnya dia telah melanggar larangan Allah yang paling besar ini. Akibat dari melanggar larangan ini, Allah akan menghukumnya di dalam neraka selama-lamanya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, maka sungguh Allah haramkan surga baginya. Dan tempat kembalinya adalah neraka…” (QS. Al-Maa’idah: 72)Dengan demikian, sudah semestinya seorang muslim yang mengikrarkan syahadat ini memahami bahwa kunci keselamatan dan kebahagiaan hidupnya adalah dengan melaksanakan kandungan kalimat ini dengan sungguh-sungguh. Yaitu mempersembahkan segala bentuk ibadah, penghinaan diri, ketundukan, serta pengagungan yang dilandasi kecintaan yang paling dalam kepada Rabb alam semesta saja. Bukan kepada makhluk yang memang tidak menguasai kemanfaatan dan kemudharatan walaupun setipis kulit ari, apalagi menghidupkan dan mematikan. Alangkah malang dan mengenaskan, nasib para pemuja selain-Nya. Allahu waliyyut taufiq.Baca Juga:Keutamaan dan Urgensi TauhidMenyelami Makna Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Pakaian Islam, Hadits Pahala Membaca Al Quran, Hafizhahullah Arab, Doa Doa MustajabahTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkalimat tauhidkeutamaan tauhidkonsekuensi tauhidmakna tauhidmanhaj salafTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah
Menjelang kematian Abu Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat menginginkan kebaikan bagi pamannya itu mengatakan, “Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘lailahaillallah.’ Sebuah kalimat yang akan kujadikan pembela bagimu di sisi Allah.” (HR. Bukhari). Namun, ternyata pamannya enggan dan tetap memilih agama Abdul Muthallib, yaitu memuja berhala. Sehingga pupuslah sudah harapan Nabi untuk menyelamatkan pamannya dari siksa neraka.Saudaraku, kalimat syahadat ini sudah sangat kita kenal. Setiap hari kita mendengar panggilan azan dan kalimat ini selalu diulang-ulang. Namun sayang, masih banyak saudara kita yang belum memahami makna kalimat ini dengan benar. Contohnya, mereka memaknai bahwa lailahaillallah artinya tidak ada pencipta selain Allah. Pada hakikatnya, pernyataan tidak ada pencipta selain Allah adalah sesuatu yang benar. Kita tidak memungkirinya sama sekali. Namun, itu bukanlah makna dari lailahaillallah. Kok bisa demikian? Coba perhatikan bagaimana jawaban orang-orang musyrik dahulu ketika ditanya tentang pencipta mereka, pencipta langit dan bumi, pemberi rezeki kepada mereka dari langit dan bumi, mereka menjawab, “Allah”.Allah Ta’ala berfirman,وَلَىِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ لَیَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ یُؤۡفَكُونَ“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta yang menundukkan matahari dan bulan?’ Pasti mereka menjawab, ‘Allah’. Maka, mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran).” (QS. Al-Ankabut: 61)Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ مَن یَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن یَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَمَن یُخۡرِجُ ٱلۡحَیَّ مِنَ ٱلۡمَیِّتِ وَیُخۡرِجُ ٱلۡمَیِّتَ مِنَ ٱلۡحَیِّ وَمَن یُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَیَقُولُونَ ٱللَّهُۚ”Katakanlah, ‘Siapakah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.‘” (QS. Yunus: 31)Baca Juga: Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid Hal itu menunjukkan bahwa sekedar mengakui pencipta alam ini hanya Allah belumlah memasukkan seseorang ke dalam Islam. Padahal, kita mengetahui bersama bahwa yang menjadi kunci masuk ke dalam Islam adalah kalimat syahadat ini. Kalaulah makna syahadat hanya semacam itu saja, niscaya orang-orang kafir dahulu tidak perlu diperangi oleh Nabi. Kita juga ingat, dahulu ketika mengutus sahabatnya Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke Yaman untuk berdakwah, beliau berpesan, “Jadikanlah seruan yang pertama kali kamu sampaikan syahadat lailahaillallah dan Muhammad rasulullah …” (HR. Bukhari dan Muslim)Lalu, apakah makna kalimat yang mulia ini? Maknanya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama yaitu la ma’buda bihaqqin illallah (tidak ada sesembahan yang benar selain Allah). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,ذَ ٰ⁠لِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا یَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ“Demikian itulah, karena hanya Allahlah (sesembahan) yang hak, sedangkan segala sesuatu yang disembah selain-Nya adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62)Sehingga, kalimat ini menuntut kita untuk menyembah hanya kepada Allah Ta’ala dan mengingkari segala sesembahan selain-Nya. Entah itu malaikat, nabi, orang saleh, jin, matahari, pohon, apalagi batu.Oleh sebab itu, orang yang mengucapkan lailahaillallah harus meyakini bahwa segala bentuk ibadah, entah itu salat, puasa, nazar, sembelihan, meminta perlindungan dan keselamatan, dan lain sebagainya, hanya boleh ditujukan kepada Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan di dalam ayat,وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa’: 36)Orang yang beribadah kepada selain Allah, pada hakikatnya dia telah melanggar larangan Allah yang paling besar ini. Akibat dari melanggar larangan ini, Allah akan menghukumnya di dalam neraka selama-lamanya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, maka sungguh Allah haramkan surga baginya. Dan tempat kembalinya adalah neraka…” (QS. Al-Maa’idah: 72)Dengan demikian, sudah semestinya seorang muslim yang mengikrarkan syahadat ini memahami bahwa kunci keselamatan dan kebahagiaan hidupnya adalah dengan melaksanakan kandungan kalimat ini dengan sungguh-sungguh. Yaitu mempersembahkan segala bentuk ibadah, penghinaan diri, ketundukan, serta pengagungan yang dilandasi kecintaan yang paling dalam kepada Rabb alam semesta saja. Bukan kepada makhluk yang memang tidak menguasai kemanfaatan dan kemudharatan walaupun setipis kulit ari, apalagi menghidupkan dan mematikan. Alangkah malang dan mengenaskan, nasib para pemuja selain-Nya. Allahu waliyyut taufiq.Baca Juga:Keutamaan dan Urgensi TauhidMenyelami Makna Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Pakaian Islam, Hadits Pahala Membaca Al Quran, Hafizhahullah Arab, Doa Doa MustajabahTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkalimat tauhidkeutamaan tauhidkonsekuensi tauhidmakna tauhidmanhaj salafTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah


Menjelang kematian Abu Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat menginginkan kebaikan bagi pamannya itu mengatakan, “Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘lailahaillallah.’ Sebuah kalimat yang akan kujadikan pembela bagimu di sisi Allah.” (HR. Bukhari). Namun, ternyata pamannya enggan dan tetap memilih agama Abdul Muthallib, yaitu memuja berhala. Sehingga pupuslah sudah harapan Nabi untuk menyelamatkan pamannya dari siksa neraka.Saudaraku, kalimat syahadat ini sudah sangat kita kenal. Setiap hari kita mendengar panggilan azan dan kalimat ini selalu diulang-ulang. Namun sayang, masih banyak saudara kita yang belum memahami makna kalimat ini dengan benar. Contohnya, mereka memaknai bahwa lailahaillallah artinya tidak ada pencipta selain Allah. Pada hakikatnya, pernyataan tidak ada pencipta selain Allah adalah sesuatu yang benar. Kita tidak memungkirinya sama sekali. Namun, itu bukanlah makna dari lailahaillallah. Kok bisa demikian? Coba perhatikan bagaimana jawaban orang-orang musyrik dahulu ketika ditanya tentang pencipta mereka, pencipta langit dan bumi, pemberi rezeki kepada mereka dari langit dan bumi, mereka menjawab, “Allah”.Allah Ta’ala berfirman,وَلَىِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ لَیَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ یُؤۡفَكُونَ“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta yang menundukkan matahari dan bulan?’ Pasti mereka menjawab, ‘Allah’. Maka, mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran).” (QS. Al-Ankabut: 61)Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ مَن یَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن یَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَمَن یُخۡرِجُ ٱلۡحَیَّ مِنَ ٱلۡمَیِّتِ وَیُخۡرِجُ ٱلۡمَیِّتَ مِنَ ٱلۡحَیِّ وَمَن یُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَیَقُولُونَ ٱللَّهُۚ”Katakanlah, ‘Siapakah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.‘” (QS. Yunus: 31)Baca Juga: Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid Hal itu menunjukkan bahwa sekedar mengakui pencipta alam ini hanya Allah belumlah memasukkan seseorang ke dalam Islam. Padahal, kita mengetahui bersama bahwa yang menjadi kunci masuk ke dalam Islam adalah kalimat syahadat ini. Kalaulah makna syahadat hanya semacam itu saja, niscaya orang-orang kafir dahulu tidak perlu diperangi oleh Nabi. Kita juga ingat, dahulu ketika mengutus sahabatnya Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke Yaman untuk berdakwah, beliau berpesan, “Jadikanlah seruan yang pertama kali kamu sampaikan syahadat lailahaillallah dan Muhammad rasulullah …” (HR. Bukhari dan Muslim)Lalu, apakah makna kalimat yang mulia ini? Maknanya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama yaitu la ma’buda bihaqqin illallah (tidak ada sesembahan yang benar selain Allah). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,ذَ ٰ⁠لِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا یَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ“Demikian itulah, karena hanya Allahlah (sesembahan) yang hak, sedangkan segala sesuatu yang disembah selain-Nya adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62)Sehingga, kalimat ini menuntut kita untuk menyembah hanya kepada Allah Ta’ala dan mengingkari segala sesembahan selain-Nya. Entah itu malaikat, nabi, orang saleh, jin, matahari, pohon, apalagi batu.Oleh sebab itu, orang yang mengucapkan lailahaillallah harus meyakini bahwa segala bentuk ibadah, entah itu salat, puasa, nazar, sembelihan, meminta perlindungan dan keselamatan, dan lain sebagainya, hanya boleh ditujukan kepada Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan di dalam ayat,وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa’: 36)Orang yang beribadah kepada selain Allah, pada hakikatnya dia telah melanggar larangan Allah yang paling besar ini. Akibat dari melanggar larangan ini, Allah akan menghukumnya di dalam neraka selama-lamanya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, maka sungguh Allah haramkan surga baginya. Dan tempat kembalinya adalah neraka…” (QS. Al-Maa’idah: 72)Dengan demikian, sudah semestinya seorang muslim yang mengikrarkan syahadat ini memahami bahwa kunci keselamatan dan kebahagiaan hidupnya adalah dengan melaksanakan kandungan kalimat ini dengan sungguh-sungguh. Yaitu mempersembahkan segala bentuk ibadah, penghinaan diri, ketundukan, serta pengagungan yang dilandasi kecintaan yang paling dalam kepada Rabb alam semesta saja. Bukan kepada makhluk yang memang tidak menguasai kemanfaatan dan kemudharatan walaupun setipis kulit ari, apalagi menghidupkan dan mematikan. Alangkah malang dan mengenaskan, nasib para pemuja selain-Nya. Allahu waliyyut taufiq.Baca Juga:Keutamaan dan Urgensi TauhidMenyelami Makna Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Pakaian Islam, Hadits Pahala Membaca Al Quran, Hafizhahullah Arab, Doa Doa MustajabahTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkalimat tauhidkeutamaan tauhidkonsekuensi tauhidmakna tauhidmanhaj salafTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Fatwa Ulama: Pengertian “Wajib Salat”

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatus syaikh, engkau telah menjelaskan kepada kami tentang tata cara dan rukun-rukun salat. Kami ingin engkau juga menjelaskan, apa itu “wajib salat”?Jawaban:Wajib salat adalah perkataan atau perbuatan yang jika ditinggalkan secara sengaja, maka salat menjadi batal. Jika dia meninggalkannya karena lupa, maka harus diganti dengan sujud sahwi [1]. Di antara wajib salat adalah takbir selain takbiratul ihram, takbir-takbir tersebut termasuk dalam wajib salat. Adapun takbiratul ihram termasuk salah satu rukun salat. Salat tidak sah tanpa melakukan takbiratul ihram. Dikecualikan dari takbir-takbir (yang termasuk wajib salat selain takbiratul ihram) adalah takbir untuk rukuk. Jika ada seorang makmum (terlambat mendatangi) salat jemaah, maka dia melakukan takbiratul ihram dalam kondisi berdiri tegak. Ketika ingin menyusul rukuk, maka takbir (untuk rukuk) ketika itu hukumnya sunah untuk orang tersebut. Demikianlah yang ditegaskan oleh para ahli fikih (fuqaha) rahimahumullah.Baca Juga: Jika Haidh Datang dan Belum Shalat WajibDi antara wajib salat adalah (mengucapkan) tasbih ketika rukuk dan sujud. Ketika rukuk mengucapkan,سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيْمِ“Subhaana robbiyal ‘azhim.”(Maha suci Rabbku yang Mahaagung)Dan ketika sujud mengucapkan.سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى“Subhaan robbiyal a’la.”(Maha suci Rabbku yang Mahatinggi)Termasuk wajib salat adalah tasyahud awal dan duduk tasyahud awal. Termasuk dalam wajib salat juga adalah mengucapkan tasmi’ dan tahmid. (Tasmi’) yaitu mengucapkan,سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ“Sami’allahu liman hamidahu.”(Allah mendengar orang yang memuji-Nya).(Adapun tahmid) yaitu mengucapkan,رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ“Rabbana walakal hamdu”(Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji)ketika dalam posisi berdiri setelah rukuk, bagi imam dan orang yang salat sendirian (munfarid). Adapun makmum, maka dia (hanya) mengucapkan,رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ“Rabbana walakal hamdu”(Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji)ketika bangkit dari rukuk. [2]Inilah wajib salat yang jika seseorang meninggalkannya secara sengaja, maka salatnya batal. Jika dia meninggalkannya karena lupa, maka salatnya tetap sah, akan tetapi diganti dengan sujud sahwi. Hal ini berdasarkan hadis dari ‘Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam langsung berdiri setelah sujud di rakaat kedua dan tidak duduk tasyahud awal ketika sedang mendirikan salat zuhur. Ketika salat selesai, para sahabat sedang menunggu beliau mengucapkan salam, beliau sujud (sahwi) dua kali kemudian mengucapkan salam. (HR. Bukhari no. 1224, 1225 dan Muslim no. 570) [3]Baca Juga:Jeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat SunnahHaruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?***@Rumah Kasongan, 15 Shafar 1444/ 12 September 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Bedakanlah dengan ketika meninggalkan rukun salat karena yakin kalau lupa, sebagaimana pembahasan di tautan ini.[2] Sehingga, makmum hanya mengucapkan tahmid saja, tanpa mengucapkan tasmi’.[3] Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 185-186, pertanyaan no. 100.🔍 Hadits Tentang Bid'ah, Di Hari, Dosa Ibu Yang Meninggalkan Anaknya, Trinitas Allah, Doa Setelah Sholat RawatibTags: fatwaFatwa Ulamafikih shalatkeutamaan shalatnasihatnasihat islampanduan shalatshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalatwajib shalat

Fatwa Ulama: Pengertian “Wajib Salat”

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatus syaikh, engkau telah menjelaskan kepada kami tentang tata cara dan rukun-rukun salat. Kami ingin engkau juga menjelaskan, apa itu “wajib salat”?Jawaban:Wajib salat adalah perkataan atau perbuatan yang jika ditinggalkan secara sengaja, maka salat menjadi batal. Jika dia meninggalkannya karena lupa, maka harus diganti dengan sujud sahwi [1]. Di antara wajib salat adalah takbir selain takbiratul ihram, takbir-takbir tersebut termasuk dalam wajib salat. Adapun takbiratul ihram termasuk salah satu rukun salat. Salat tidak sah tanpa melakukan takbiratul ihram. Dikecualikan dari takbir-takbir (yang termasuk wajib salat selain takbiratul ihram) adalah takbir untuk rukuk. Jika ada seorang makmum (terlambat mendatangi) salat jemaah, maka dia melakukan takbiratul ihram dalam kondisi berdiri tegak. Ketika ingin menyusul rukuk, maka takbir (untuk rukuk) ketika itu hukumnya sunah untuk orang tersebut. Demikianlah yang ditegaskan oleh para ahli fikih (fuqaha) rahimahumullah.Baca Juga: Jika Haidh Datang dan Belum Shalat WajibDi antara wajib salat adalah (mengucapkan) tasbih ketika rukuk dan sujud. Ketika rukuk mengucapkan,سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيْمِ“Subhaana robbiyal ‘azhim.”(Maha suci Rabbku yang Mahaagung)Dan ketika sujud mengucapkan.سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى“Subhaan robbiyal a’la.”(Maha suci Rabbku yang Mahatinggi)Termasuk wajib salat adalah tasyahud awal dan duduk tasyahud awal. Termasuk dalam wajib salat juga adalah mengucapkan tasmi’ dan tahmid. (Tasmi’) yaitu mengucapkan,سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ“Sami’allahu liman hamidahu.”(Allah mendengar orang yang memuji-Nya).(Adapun tahmid) yaitu mengucapkan,رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ“Rabbana walakal hamdu”(Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji)ketika dalam posisi berdiri setelah rukuk, bagi imam dan orang yang salat sendirian (munfarid). Adapun makmum, maka dia (hanya) mengucapkan,رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ“Rabbana walakal hamdu”(Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji)ketika bangkit dari rukuk. [2]Inilah wajib salat yang jika seseorang meninggalkannya secara sengaja, maka salatnya batal. Jika dia meninggalkannya karena lupa, maka salatnya tetap sah, akan tetapi diganti dengan sujud sahwi. Hal ini berdasarkan hadis dari ‘Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam langsung berdiri setelah sujud di rakaat kedua dan tidak duduk tasyahud awal ketika sedang mendirikan salat zuhur. Ketika salat selesai, para sahabat sedang menunggu beliau mengucapkan salam, beliau sujud (sahwi) dua kali kemudian mengucapkan salam. (HR. Bukhari no. 1224, 1225 dan Muslim no. 570) [3]Baca Juga:Jeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat SunnahHaruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?***@Rumah Kasongan, 15 Shafar 1444/ 12 September 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Bedakanlah dengan ketika meninggalkan rukun salat karena yakin kalau lupa, sebagaimana pembahasan di tautan ini.[2] Sehingga, makmum hanya mengucapkan tahmid saja, tanpa mengucapkan tasmi’.[3] Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 185-186, pertanyaan no. 100.🔍 Hadits Tentang Bid'ah, Di Hari, Dosa Ibu Yang Meninggalkan Anaknya, Trinitas Allah, Doa Setelah Sholat RawatibTags: fatwaFatwa Ulamafikih shalatkeutamaan shalatnasihatnasihat islampanduan shalatshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalatwajib shalat
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatus syaikh, engkau telah menjelaskan kepada kami tentang tata cara dan rukun-rukun salat. Kami ingin engkau juga menjelaskan, apa itu “wajib salat”?Jawaban:Wajib salat adalah perkataan atau perbuatan yang jika ditinggalkan secara sengaja, maka salat menjadi batal. Jika dia meninggalkannya karena lupa, maka harus diganti dengan sujud sahwi [1]. Di antara wajib salat adalah takbir selain takbiratul ihram, takbir-takbir tersebut termasuk dalam wajib salat. Adapun takbiratul ihram termasuk salah satu rukun salat. Salat tidak sah tanpa melakukan takbiratul ihram. Dikecualikan dari takbir-takbir (yang termasuk wajib salat selain takbiratul ihram) adalah takbir untuk rukuk. Jika ada seorang makmum (terlambat mendatangi) salat jemaah, maka dia melakukan takbiratul ihram dalam kondisi berdiri tegak. Ketika ingin menyusul rukuk, maka takbir (untuk rukuk) ketika itu hukumnya sunah untuk orang tersebut. Demikianlah yang ditegaskan oleh para ahli fikih (fuqaha) rahimahumullah.Baca Juga: Jika Haidh Datang dan Belum Shalat WajibDi antara wajib salat adalah (mengucapkan) tasbih ketika rukuk dan sujud. Ketika rukuk mengucapkan,سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيْمِ“Subhaana robbiyal ‘azhim.”(Maha suci Rabbku yang Mahaagung)Dan ketika sujud mengucapkan.سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى“Subhaan robbiyal a’la.”(Maha suci Rabbku yang Mahatinggi)Termasuk wajib salat adalah tasyahud awal dan duduk tasyahud awal. Termasuk dalam wajib salat juga adalah mengucapkan tasmi’ dan tahmid. (Tasmi’) yaitu mengucapkan,سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ“Sami’allahu liman hamidahu.”(Allah mendengar orang yang memuji-Nya).(Adapun tahmid) yaitu mengucapkan,رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ“Rabbana walakal hamdu”(Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji)ketika dalam posisi berdiri setelah rukuk, bagi imam dan orang yang salat sendirian (munfarid). Adapun makmum, maka dia (hanya) mengucapkan,رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ“Rabbana walakal hamdu”(Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji)ketika bangkit dari rukuk. [2]Inilah wajib salat yang jika seseorang meninggalkannya secara sengaja, maka salatnya batal. Jika dia meninggalkannya karena lupa, maka salatnya tetap sah, akan tetapi diganti dengan sujud sahwi. Hal ini berdasarkan hadis dari ‘Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam langsung berdiri setelah sujud di rakaat kedua dan tidak duduk tasyahud awal ketika sedang mendirikan salat zuhur. Ketika salat selesai, para sahabat sedang menunggu beliau mengucapkan salam, beliau sujud (sahwi) dua kali kemudian mengucapkan salam. (HR. Bukhari no. 1224, 1225 dan Muslim no. 570) [3]Baca Juga:Jeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat SunnahHaruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?***@Rumah Kasongan, 15 Shafar 1444/ 12 September 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Bedakanlah dengan ketika meninggalkan rukun salat karena yakin kalau lupa, sebagaimana pembahasan di tautan ini.[2] Sehingga, makmum hanya mengucapkan tahmid saja, tanpa mengucapkan tasmi’.[3] Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 185-186, pertanyaan no. 100.🔍 Hadits Tentang Bid'ah, Di Hari, Dosa Ibu Yang Meninggalkan Anaknya, Trinitas Allah, Doa Setelah Sholat RawatibTags: fatwaFatwa Ulamafikih shalatkeutamaan shalatnasihatnasihat islampanduan shalatshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalatwajib shalat


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatus syaikh, engkau telah menjelaskan kepada kami tentang tata cara dan rukun-rukun salat. Kami ingin engkau juga menjelaskan, apa itu “wajib salat”?Jawaban:Wajib salat adalah perkataan atau perbuatan yang jika ditinggalkan secara sengaja, maka salat menjadi batal. Jika dia meninggalkannya karena lupa, maka harus diganti dengan sujud sahwi [1]. Di antara wajib salat adalah takbir selain takbiratul ihram, takbir-takbir tersebut termasuk dalam wajib salat. Adapun takbiratul ihram termasuk salah satu rukun salat. Salat tidak sah tanpa melakukan takbiratul ihram. Dikecualikan dari takbir-takbir (yang termasuk wajib salat selain takbiratul ihram) adalah takbir untuk rukuk. Jika ada seorang makmum (terlambat mendatangi) salat jemaah, maka dia melakukan takbiratul ihram dalam kondisi berdiri tegak. Ketika ingin menyusul rukuk, maka takbir (untuk rukuk) ketika itu hukumnya sunah untuk orang tersebut. Demikianlah yang ditegaskan oleh para ahli fikih (fuqaha) rahimahumullah.Baca Juga: Jika Haidh Datang dan Belum Shalat WajibDi antara wajib salat adalah (mengucapkan) tasbih ketika rukuk dan sujud. Ketika rukuk mengucapkan,سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيْمِ“Subhaana robbiyal ‘azhim.”(Maha suci Rabbku yang Mahaagung)Dan ketika sujud mengucapkan.سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى“Subhaan robbiyal a’la.”(Maha suci Rabbku yang Mahatinggi)Termasuk wajib salat adalah tasyahud awal dan duduk tasyahud awal. Termasuk dalam wajib salat juga adalah mengucapkan tasmi’ dan tahmid. (Tasmi’) yaitu mengucapkan,سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ“Sami’allahu liman hamidahu.”(Allah mendengar orang yang memuji-Nya).(Adapun tahmid) yaitu mengucapkan,رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ“Rabbana walakal hamdu”(Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji)ketika dalam posisi berdiri setelah rukuk, bagi imam dan orang yang salat sendirian (munfarid). Adapun makmum, maka dia (hanya) mengucapkan,رَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ“Rabbana walakal hamdu”(Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji)ketika bangkit dari rukuk. [2]Inilah wajib salat yang jika seseorang meninggalkannya secara sengaja, maka salatnya batal. Jika dia meninggalkannya karena lupa, maka salatnya tetap sah, akan tetapi diganti dengan sujud sahwi. Hal ini berdasarkan hadis dari ‘Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam langsung berdiri setelah sujud di rakaat kedua dan tidak duduk tasyahud awal ketika sedang mendirikan salat zuhur. Ketika salat selesai, para sahabat sedang menunggu beliau mengucapkan salam, beliau sujud (sahwi) dua kali kemudian mengucapkan salam. (HR. Bukhari no. 1224, 1225 dan Muslim no. 570) [3]Baca Juga:Jeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat SunnahHaruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?***@Rumah Kasongan, 15 Shafar 1444/ 12 September 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Bedakanlah dengan ketika meninggalkan rukun salat karena yakin kalau lupa, sebagaimana pembahasan di tautan ini.[2] Sehingga, makmum hanya mengucapkan tahmid saja, tanpa mengucapkan tasmi’.[3] Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 185-186, pertanyaan no. 100.🔍 Hadits Tentang Bid'ah, Di Hari, Dosa Ibu Yang Meninggalkan Anaknya, Trinitas Allah, Doa Setelah Sholat RawatibTags: fatwaFatwa Ulamafikih shalatkeutamaan shalatnasihatnasihat islampanduan shalatshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalatwajib shalat

Khasiat Kurma Ajwa (Kurma Madinah) dari Hadits Nabi

Salah satu keutamaan kota Madinah adalah Allah memberikan sisi keberkahan.   Daftar Isi tutup 1. Keutamaan Kurma Madinah 2. Khasiat Kurma   Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ سَمَّى المَدِيْنَةَ طَابَةً “Sesungguhnya Allah menyebutkan kota Madinah dengannama: THOBAH (Thayyibah).” (HR. Muslim, no. 1385)   Keutamaan Kurma Madinah Mengenai keutamaan kurma Madinah disebutkan dalam hadits dari Sa’d bin Abi Waqqash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَكَلَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِمَّا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا حِينَ يُصْبِحُ لَمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ حَتَّى يُمْسِىَ “Siapa yang makan tujuh butir kurma yang berasal dari Madinah ketika pagi, maka racun-racun tidak akan membahayakannya sampai sore.” (HR. Muslim, no. 5459).   Khasiat Kurma Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa kurma itu bisa menguatkan (menajamkan) penglihatan dan sangat mujarab. Dan sangat mujarab jika digunakan berbuka sebelum lainnya. Itu kata Ibnul Qayyim.  Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhobbi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ, فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ, فَإِنَّهُ طَهُورٌ “Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan tamr (kurma kering). Jika tidak dapati kurma, maka berbukalah dengan air karena air itu mensucikan.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, An Nasai, Tirmidzi, dan Imam Ahmad. Hadits ini disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim) Alasannya, kita bisa ambil pelajaran jika di pagi hari ketika baru bangun tidur sebelum mengkonsumsi lainnya, lalu memakan 7 butir kurma, maka dapat mengatasi sihir dan racun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ “Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwa, maka ia tidak akan terkena racun dan sihir pada hari itu.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5779 dan Muslim, no. 2047).  Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah bahwa yang dimaksud kurma ajwa di sini hanyalah sebagai contoh (permisalan). Manfaat kurma yang disebutkan dalam hadits tadi sebenarnya berlaku untuk seluruh kurma (bukan hanya kurma ajwa). Inilah yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dari perkataan gurunya. Baca juga: Pelajaran dari Buka Puasa dengan Kurma Kesimpulannya, kurma yang dimaksud dapat mengatasi racun dan sihir adalah kurma secara umum, walau memang kurma yang utama adalah kurma dari kota Nabi, Madinah. — Madinah Kota Nabi, 18 Safar 1444 H, 15 September 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskota madinah kurma kurma ajwa kurma buka puasa kurma madinah madinah

Khasiat Kurma Ajwa (Kurma Madinah) dari Hadits Nabi

Salah satu keutamaan kota Madinah adalah Allah memberikan sisi keberkahan.   Daftar Isi tutup 1. Keutamaan Kurma Madinah 2. Khasiat Kurma   Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ سَمَّى المَدِيْنَةَ طَابَةً “Sesungguhnya Allah menyebutkan kota Madinah dengannama: THOBAH (Thayyibah).” (HR. Muslim, no. 1385)   Keutamaan Kurma Madinah Mengenai keutamaan kurma Madinah disebutkan dalam hadits dari Sa’d bin Abi Waqqash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَكَلَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِمَّا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا حِينَ يُصْبِحُ لَمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ حَتَّى يُمْسِىَ “Siapa yang makan tujuh butir kurma yang berasal dari Madinah ketika pagi, maka racun-racun tidak akan membahayakannya sampai sore.” (HR. Muslim, no. 5459).   Khasiat Kurma Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa kurma itu bisa menguatkan (menajamkan) penglihatan dan sangat mujarab. Dan sangat mujarab jika digunakan berbuka sebelum lainnya. Itu kata Ibnul Qayyim.  Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhobbi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ, فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ, فَإِنَّهُ طَهُورٌ “Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan tamr (kurma kering). Jika tidak dapati kurma, maka berbukalah dengan air karena air itu mensucikan.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, An Nasai, Tirmidzi, dan Imam Ahmad. Hadits ini disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim) Alasannya, kita bisa ambil pelajaran jika di pagi hari ketika baru bangun tidur sebelum mengkonsumsi lainnya, lalu memakan 7 butir kurma, maka dapat mengatasi sihir dan racun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ “Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwa, maka ia tidak akan terkena racun dan sihir pada hari itu.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5779 dan Muslim, no. 2047).  Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah bahwa yang dimaksud kurma ajwa di sini hanyalah sebagai contoh (permisalan). Manfaat kurma yang disebutkan dalam hadits tadi sebenarnya berlaku untuk seluruh kurma (bukan hanya kurma ajwa). Inilah yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dari perkataan gurunya. Baca juga: Pelajaran dari Buka Puasa dengan Kurma Kesimpulannya, kurma yang dimaksud dapat mengatasi racun dan sihir adalah kurma secara umum, walau memang kurma yang utama adalah kurma dari kota Nabi, Madinah. — Madinah Kota Nabi, 18 Safar 1444 H, 15 September 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskota madinah kurma kurma ajwa kurma buka puasa kurma madinah madinah
Salah satu keutamaan kota Madinah adalah Allah memberikan sisi keberkahan.   Daftar Isi tutup 1. Keutamaan Kurma Madinah 2. Khasiat Kurma   Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ سَمَّى المَدِيْنَةَ طَابَةً “Sesungguhnya Allah menyebutkan kota Madinah dengannama: THOBAH (Thayyibah).” (HR. Muslim, no. 1385)   Keutamaan Kurma Madinah Mengenai keutamaan kurma Madinah disebutkan dalam hadits dari Sa’d bin Abi Waqqash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَكَلَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِمَّا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا حِينَ يُصْبِحُ لَمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ حَتَّى يُمْسِىَ “Siapa yang makan tujuh butir kurma yang berasal dari Madinah ketika pagi, maka racun-racun tidak akan membahayakannya sampai sore.” (HR. Muslim, no. 5459).   Khasiat Kurma Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa kurma itu bisa menguatkan (menajamkan) penglihatan dan sangat mujarab. Dan sangat mujarab jika digunakan berbuka sebelum lainnya. Itu kata Ibnul Qayyim.  Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhobbi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ, فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ, فَإِنَّهُ طَهُورٌ “Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan tamr (kurma kering). Jika tidak dapati kurma, maka berbukalah dengan air karena air itu mensucikan.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, An Nasai, Tirmidzi, dan Imam Ahmad. Hadits ini disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim) Alasannya, kita bisa ambil pelajaran jika di pagi hari ketika baru bangun tidur sebelum mengkonsumsi lainnya, lalu memakan 7 butir kurma, maka dapat mengatasi sihir dan racun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ “Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwa, maka ia tidak akan terkena racun dan sihir pada hari itu.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5779 dan Muslim, no. 2047).  Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah bahwa yang dimaksud kurma ajwa di sini hanyalah sebagai contoh (permisalan). Manfaat kurma yang disebutkan dalam hadits tadi sebenarnya berlaku untuk seluruh kurma (bukan hanya kurma ajwa). Inilah yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dari perkataan gurunya. Baca juga: Pelajaran dari Buka Puasa dengan Kurma Kesimpulannya, kurma yang dimaksud dapat mengatasi racun dan sihir adalah kurma secara umum, walau memang kurma yang utama adalah kurma dari kota Nabi, Madinah. — Madinah Kota Nabi, 18 Safar 1444 H, 15 September 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskota madinah kurma kurma ajwa kurma buka puasa kurma madinah madinah


Salah satu keutamaan kota Madinah adalah Allah memberikan sisi keberkahan.   Daftar Isi tutup 1. Keutamaan Kurma Madinah 2. Khasiat Kurma   Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ سَمَّى المَدِيْنَةَ طَابَةً “Sesungguhnya Allah menyebutkan kota Madinah dengannama: THOBAH (Thayyibah).” (HR. Muslim, no. 1385)   Keutamaan Kurma Madinah Mengenai keutamaan kurma Madinah disebutkan dalam hadits dari Sa’d bin Abi Waqqash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَكَلَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِمَّا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا حِينَ يُصْبِحُ لَمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ حَتَّى يُمْسِىَ “Siapa yang makan tujuh butir kurma yang berasal dari Madinah ketika pagi, maka racun-racun tidak akan membahayakannya sampai sore.” (HR. Muslim, no. 5459).   Khasiat Kurma Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa kurma itu bisa menguatkan (menajamkan) penglihatan dan sangat mujarab. Dan sangat mujarab jika digunakan berbuka sebelum lainnya. Itu kata Ibnul Qayyim.  Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhobbi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ, فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ, فَإِنَّهُ طَهُورٌ “Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan tamr (kurma kering). Jika tidak dapati kurma, maka berbukalah dengan air karena air itu mensucikan.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, An Nasai, Tirmidzi, dan Imam Ahmad. Hadits ini disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim) Alasannya, kita bisa ambil pelajaran jika di pagi hari ketika baru bangun tidur sebelum mengkonsumsi lainnya, lalu memakan 7 butir kurma, maka dapat mengatasi sihir dan racun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ “Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwa, maka ia tidak akan terkena racun dan sihir pada hari itu.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5779 dan Muslim, no. 2047).  Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah bahwa yang dimaksud kurma ajwa di sini hanyalah sebagai contoh (permisalan). Manfaat kurma yang disebutkan dalam hadits tadi sebenarnya berlaku untuk seluruh kurma (bukan hanya kurma ajwa). Inilah yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dari perkataan gurunya. Baca juga: Pelajaran dari Buka Puasa dengan Kurma Kesimpulannya, kurma yang dimaksud dapat mengatasi racun dan sihir adalah kurma secara umum, walau memang kurma yang utama adalah kurma dari kota Nabi, Madinah. — Madinah Kota Nabi, 18 Safar 1444 H, 15 September 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskota madinah kurma kurma ajwa kurma buka puasa kurma madinah madinah
Prev     Next