Memahami Lebih Dalam Takbir Mutlak dan Muqayyad pada Hari Raya

Apa itu takbir mutlak dan muqayyad pada hari raya? Berikut tinjauannya dari berbagai kitab fikih Syafii. Daftar Isi tutup 1. Takbir Muqayyad dan Takbir Mutlak 2. Kapan Membaca Takbir Selesai Shalat, Apakah Dzikir Bakda Shalat Dahulu ataukah Takbir? 3. Beberapa Catatan tentang Takbir Mutlak dan Muqayyad 4. Ringkasan Takbir Mutlak dan Muqayyad 4.1. Referensi: Takbir Muqayyad dan Takbir Mutlak   Takbir hari raya itu ada dua macam: (1) takbir muqayyad, (2) takbir mutlak atau mursal. Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir mutlak atau mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan tempat dan waktu. Takbir mutlak adalah takbir yang dibaca di rumah, masjid, jalan, pada malam dan siang. Takbir hari raya adalah syiar kaum muslimin sehingga disyariatkan dikeraskan suara. Takbir mutlak disunnahkan diucapkan pada Idulfitri dan Iduladha. Awal waktu takbir mutlak adalah dari tenggelamnya matahari pada malam Id, kemudian berakhir saat imam memulai shalat Id. Sedangkan orang yang berhaji, syiarnya adalah membaca talbiyah pada malam Iduladha. Dalil bertakbir pada Idulfitri adalah firman Allah Ta’ala, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185) Takbir pada Iduladha disamakan dengan takbir Idulfitri. Namun, takbir malam Idulfitri lebih ditekankan daripada malam Iduladha. Takbir muqayyad (ketika bakda shalat) tidak disunnahkan pada malam Idulfitri, menurut pendapat ashah. Karena tidak ada hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini. Takbir muqayyad disunnahkan setelah shalat terkait Iduladha, ada ijmak (kata sepakat ulama) dalam hal ini. Takbir muqayyad ini dimulai dari Shubuh hari Arafah hingga Ashar hari tasyrik terakhir. Ada dalil dari ‘Umar, ‘Ali, dan Ibnu ‘Abbas tentang hal ini. Takbir muqayyad disunnahkan diucapkan setelah selesai shalat, baik shalat ada-an (shalat yang dikerjakan pada waktunya), maupun shalat yang luput, baik shalat fardhu maupun nadzar, baik shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat sunnah muqayyad, atau shalat sunnah yang punya sebab seperti shalat tahiyatul masjid. Karena takbir itu syiar yang terkait dengan waktu. Tidak perlu bertakbir setelah sujud tilawah dan sujud syukur karena keduanya bukan termasuk shalat. Begitu pula tidak perlu bertakbir di luar hari-hari yang disyariatkannya takbir muqayyad untuk shalat fai’tah, shalat yang luput jika diqadha’. Takbir muqayyad hanya khusus pada lima hari (hari Arafah, Iduladha, tiga hari tasyrik). Jika lupa bertakbir muqayyad bakda shalat, takbir tersebut tetap dilakukan, walau ada jeda waktu yang lama bakda shalat menurut pendapat ashah (paling kuat). Lihat bahasa dalam Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:558-559. Di antara dalil yang mensyariatkan takbir pada hari raya adalah firman Allah Ta’ala, إِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah.” (QS. Al-Baqarah: 200) وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ “supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) Lihat penyebutan dalil-dalil ini dalam Al-Bayaan fii Madzhab Al-Imam Asy-Syafii karya Imam Al-‘Amrani, 2:657. Baca juga: Dalil tentang Takbir Muqayyad dari Shubuh Hari Arafah   Kapan Membaca Takbir Selesai Shalat, Apakah Dzikir Bakda Shalat Dahulu ataukah Takbir?   Penggabungan antara dzikir bakda shalat dan takbir muqayyad bakda shalat baiknya digabungkan. Ulama Syafiiyah belakangan menyatakan bahwa takbir muqayyad bakda shalat lebih didahulukan daripada dzikir bakda shalat. Maksudnya adalah jika waktunya takbir muqayyad, maka bakda shalat yang dilakukan adalah takbir dahulu, lalu membaca dzikir bakda shalat. Dalam Hasyiyah Al-Bujairimi (3:2156) disebutkan, ﻭَﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺗَﺄْﺧِﻴْﺮُ اﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ ﻋَﻦْ ﺃَﺫْﻛَﺎﺭ ِاﻟﺼَّﻼَﺓِ ﺑِﺨِﻼَﻑِ اﻟﻤُﻘَﻴَّﺪِ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳُﻘَﺪِّﻣُﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ، ﻭَﻣِﻦَ اﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ اﻟﺘَّﻜْﺒِﻴْﺮُ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﻋِﻴْﺪِ اﻟﻔِﻄْﺮِ ﺧَﻠْﻒَ اﻟﺼَّﻠَﻮَاﺕِ ِﻷَﻥَّ اﻟﻔِﻄْﺮَ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴْﻪِ ﻣُﻘَﻴَّﺪٌ. “Sebaiknya takbir mursal diakhirkan setelah dzikir bakda shalat. Hal ini berbeda dengan takbir muqayyad yang didahulukan sebelum dzikir bakda shalat. Yang termasuk takbir mursal adalah takbir pada malam Idulfitri setelah shalat lima waktu. Perlu diingat bahwa Idulfitri tidak memiliki takbir muqayyad.” Hal ini berbeda dengan takbir mutlak yang diakhirkan setelah membaca dzikir bakda shalat. Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin berkata, وَهَذَا التَّكْبِيْرُ المُرْسَلُ المُطْلَقُ إِذْ لاَ يَتَقَيَّدُ بِصَلاَةٍ وَلاَ غَيْرِهَا وَيُسَنُّ تَأْخِيْرُهُ عَنْ أَذْكَارِهَا “Takbir ini dinamakan takbir mursal mutlak yang tidak terkait dengan shalat dan selainnya. Takbir ini disunnahkan diakhirkan dari dzikir bakda shalat.” (Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah (Busyral Kariim bi Syarh Masa’il At-Ta’liim), hlm. 441)   Beberapa Catatan tentang Takbir Mutlak dan Muqayyad   Makmum yang masbuk tidaklah bertakbir melainkan setelah selesai menunaikan shalatnya. Karena takbir yang dimaksud dilakukan bakda shalat. Jika imam melakukan takbir pada waktunya, tetapi tidak dianggap oleh makmum atau imam meninggalkan takbir pada waktu yang dianggap oleh makmum, menurut pendapat ashah, makmum tetap mengikuti apa yang ia yakini dalam hal bertakbir ataukah tidak bertakbir. Makmum tidak perlu mencocoki imam. Karena mengikuti imam itu terputus dengan salamnya imam. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:560. Takbir hari raya ini dengan menjaharkan suara untuk laki-laki sebagai bentuk syiar. Adapun selain laki-laki (untuk perempuan dan khuntsa–yang berkelamin ganda–), maka tidaklah dengan mengeraskan suara. Jika tidak ada laki-laki bukan mahram, takbir tetap dibaca, tetapi lebih pelan dari laki-laki. Lihat Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah (Busyral Kariim bi Syarh Masa’il At-Ta’liim), hlm. 440. Takbir terkait Iduladha dilakukan dalam lima hari (hari Arafah, Iduladha, tiga hari tasyrik), termasuk di dalamnya adalah takbir pada malam Id. Pada malam Id, takbir setelah shalat tetap dianjurkan. Ditinjau dari takbir tersebut dibaca bakda shalat, maka disebut takbir muqayyad. Namun, ditinjau dari takbir tersebut dibaca pada malam Id, maka disebut takbir mursal atau mutlak. Lihat Hasyiyah Al-Baajuuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 2:198.   Ringkasan Takbir Mutlak dan Muqayyad   TAKBIR MUTLAK/MURSAL TAKBIR MUQAYYAD Takbir mutlak atau mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan tempat dan waktu, dibaca di rumah, masjid, jalan, pada malam dan siang. Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat, baik berlaku pada shalat fardhu, shalat sunnah, shalat ada’an (pada waktunya), shalat qadha’, shalat jenazah. Terkait Idulfitri dan Iduladha Terkait Iduladha saja. Waktunya: dari tenggelam matahari pada malam Id hingga takbiratul ihram shalat Id. Waktunya: – Untuk selain yang berhaji, waktunya adalah dari Shubuh pada hari Arafah hingga ‘Ashar pada hari tasyrik terakhir, berarti selama lima hari. – Untuk yang berhaji, waktunya adalah dari Zhuhur pada hari Iduladha (karena inilah awal shalat di Mina) hingga waktu Shubuh pada hari tasyrik terakhir (karena inilah shalat terakhir di Mina). Diakhirkan setelah dzikir bakda shalat. Didahulukan sebelum dzikir bakda shalat. Takbir mutlak pada Idulfitri lebih afdal dari Iduladha. Takbir muqayyad lebih afdal daripada takbir mutlak karena takbir muqayyad mengikuti shalat.   Lihat Ifaadah Ar-Raaghibiina bi Syarh wa Adillah Minhaaj Ath-Thalibiin, 1:494-496; Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:558-559; Hasyiyah Al-Baajuuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 2:194-198.   Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berbuah amal saleh. Hanya Allah yang beri taufik dan hidayah. Baca juga: Inilah Lafaz Takbir Hari Raya   Referensi: Al-Bayaan fii Madzhab Al-Imam Asy-Syafii. Cetakan keempat, Tahun 1435 H. Abul Husain Yahya bin Abil Khair Saalim Al-‘Amrani Asy-Syafii Al-Yamani. Penerbit Dar Al-Minhaaj. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Hasyiyah Al-Baajuuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Baajuuri. Penerbit Dar Al-Minhaj. Hasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Iqnaa’ fii Halli Alfaazh Abi Syuja’ lii Al-Khathiib Asy-Syirbiniy. Tahqiq dan Dhabth Alfaazhahu: Sa’id Al-Manduh. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Penerbit Anwar Al-Azhar. Ifaadah Ar-Raaghibiina bi Syarh wa Adillah Minhaaj Ath-Thalibiin.  Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Syaikh Prof. Dr. Musthafa Dib Al-Bugha. Penerbit Dar Al-Musthafa. Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah (Busyral Kariim bi Syarh Masa’il At-Ta’liim). Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin. Penerbit Dar ‘Umar bin Al-Khatthab.   – Selesai disusun pada hari Arafah, 9 Dzulhijjah 1443 H, 9 Juli 2022 Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara takbir takbir takbir hari arafah takbir hari raya takbiran

Memahami Lebih Dalam Takbir Mutlak dan Muqayyad pada Hari Raya

Apa itu takbir mutlak dan muqayyad pada hari raya? Berikut tinjauannya dari berbagai kitab fikih Syafii. Daftar Isi tutup 1. Takbir Muqayyad dan Takbir Mutlak 2. Kapan Membaca Takbir Selesai Shalat, Apakah Dzikir Bakda Shalat Dahulu ataukah Takbir? 3. Beberapa Catatan tentang Takbir Mutlak dan Muqayyad 4. Ringkasan Takbir Mutlak dan Muqayyad 4.1. Referensi: Takbir Muqayyad dan Takbir Mutlak   Takbir hari raya itu ada dua macam: (1) takbir muqayyad, (2) takbir mutlak atau mursal. Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir mutlak atau mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan tempat dan waktu. Takbir mutlak adalah takbir yang dibaca di rumah, masjid, jalan, pada malam dan siang. Takbir hari raya adalah syiar kaum muslimin sehingga disyariatkan dikeraskan suara. Takbir mutlak disunnahkan diucapkan pada Idulfitri dan Iduladha. Awal waktu takbir mutlak adalah dari tenggelamnya matahari pada malam Id, kemudian berakhir saat imam memulai shalat Id. Sedangkan orang yang berhaji, syiarnya adalah membaca talbiyah pada malam Iduladha. Dalil bertakbir pada Idulfitri adalah firman Allah Ta’ala, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185) Takbir pada Iduladha disamakan dengan takbir Idulfitri. Namun, takbir malam Idulfitri lebih ditekankan daripada malam Iduladha. Takbir muqayyad (ketika bakda shalat) tidak disunnahkan pada malam Idulfitri, menurut pendapat ashah. Karena tidak ada hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini. Takbir muqayyad disunnahkan setelah shalat terkait Iduladha, ada ijmak (kata sepakat ulama) dalam hal ini. Takbir muqayyad ini dimulai dari Shubuh hari Arafah hingga Ashar hari tasyrik terakhir. Ada dalil dari ‘Umar, ‘Ali, dan Ibnu ‘Abbas tentang hal ini. Takbir muqayyad disunnahkan diucapkan setelah selesai shalat, baik shalat ada-an (shalat yang dikerjakan pada waktunya), maupun shalat yang luput, baik shalat fardhu maupun nadzar, baik shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat sunnah muqayyad, atau shalat sunnah yang punya sebab seperti shalat tahiyatul masjid. Karena takbir itu syiar yang terkait dengan waktu. Tidak perlu bertakbir setelah sujud tilawah dan sujud syukur karena keduanya bukan termasuk shalat. Begitu pula tidak perlu bertakbir di luar hari-hari yang disyariatkannya takbir muqayyad untuk shalat fai’tah, shalat yang luput jika diqadha’. Takbir muqayyad hanya khusus pada lima hari (hari Arafah, Iduladha, tiga hari tasyrik). Jika lupa bertakbir muqayyad bakda shalat, takbir tersebut tetap dilakukan, walau ada jeda waktu yang lama bakda shalat menurut pendapat ashah (paling kuat). Lihat bahasa dalam Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:558-559. Di antara dalil yang mensyariatkan takbir pada hari raya adalah firman Allah Ta’ala, إِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah.” (QS. Al-Baqarah: 200) وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ “supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) Lihat penyebutan dalil-dalil ini dalam Al-Bayaan fii Madzhab Al-Imam Asy-Syafii karya Imam Al-‘Amrani, 2:657. Baca juga: Dalil tentang Takbir Muqayyad dari Shubuh Hari Arafah   Kapan Membaca Takbir Selesai Shalat, Apakah Dzikir Bakda Shalat Dahulu ataukah Takbir?   Penggabungan antara dzikir bakda shalat dan takbir muqayyad bakda shalat baiknya digabungkan. Ulama Syafiiyah belakangan menyatakan bahwa takbir muqayyad bakda shalat lebih didahulukan daripada dzikir bakda shalat. Maksudnya adalah jika waktunya takbir muqayyad, maka bakda shalat yang dilakukan adalah takbir dahulu, lalu membaca dzikir bakda shalat. Dalam Hasyiyah Al-Bujairimi (3:2156) disebutkan, ﻭَﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺗَﺄْﺧِﻴْﺮُ اﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ ﻋَﻦْ ﺃَﺫْﻛَﺎﺭ ِاﻟﺼَّﻼَﺓِ ﺑِﺨِﻼَﻑِ اﻟﻤُﻘَﻴَّﺪِ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳُﻘَﺪِّﻣُﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ، ﻭَﻣِﻦَ اﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ اﻟﺘَّﻜْﺒِﻴْﺮُ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﻋِﻴْﺪِ اﻟﻔِﻄْﺮِ ﺧَﻠْﻒَ اﻟﺼَّﻠَﻮَاﺕِ ِﻷَﻥَّ اﻟﻔِﻄْﺮَ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴْﻪِ ﻣُﻘَﻴَّﺪٌ. “Sebaiknya takbir mursal diakhirkan setelah dzikir bakda shalat. Hal ini berbeda dengan takbir muqayyad yang didahulukan sebelum dzikir bakda shalat. Yang termasuk takbir mursal adalah takbir pada malam Idulfitri setelah shalat lima waktu. Perlu diingat bahwa Idulfitri tidak memiliki takbir muqayyad.” Hal ini berbeda dengan takbir mutlak yang diakhirkan setelah membaca dzikir bakda shalat. Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin berkata, وَهَذَا التَّكْبِيْرُ المُرْسَلُ المُطْلَقُ إِذْ لاَ يَتَقَيَّدُ بِصَلاَةٍ وَلاَ غَيْرِهَا وَيُسَنُّ تَأْخِيْرُهُ عَنْ أَذْكَارِهَا “Takbir ini dinamakan takbir mursal mutlak yang tidak terkait dengan shalat dan selainnya. Takbir ini disunnahkan diakhirkan dari dzikir bakda shalat.” (Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah (Busyral Kariim bi Syarh Masa’il At-Ta’liim), hlm. 441)   Beberapa Catatan tentang Takbir Mutlak dan Muqayyad   Makmum yang masbuk tidaklah bertakbir melainkan setelah selesai menunaikan shalatnya. Karena takbir yang dimaksud dilakukan bakda shalat. Jika imam melakukan takbir pada waktunya, tetapi tidak dianggap oleh makmum atau imam meninggalkan takbir pada waktu yang dianggap oleh makmum, menurut pendapat ashah, makmum tetap mengikuti apa yang ia yakini dalam hal bertakbir ataukah tidak bertakbir. Makmum tidak perlu mencocoki imam. Karena mengikuti imam itu terputus dengan salamnya imam. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:560. Takbir hari raya ini dengan menjaharkan suara untuk laki-laki sebagai bentuk syiar. Adapun selain laki-laki (untuk perempuan dan khuntsa–yang berkelamin ganda–), maka tidaklah dengan mengeraskan suara. Jika tidak ada laki-laki bukan mahram, takbir tetap dibaca, tetapi lebih pelan dari laki-laki. Lihat Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah (Busyral Kariim bi Syarh Masa’il At-Ta’liim), hlm. 440. Takbir terkait Iduladha dilakukan dalam lima hari (hari Arafah, Iduladha, tiga hari tasyrik), termasuk di dalamnya adalah takbir pada malam Id. Pada malam Id, takbir setelah shalat tetap dianjurkan. Ditinjau dari takbir tersebut dibaca bakda shalat, maka disebut takbir muqayyad. Namun, ditinjau dari takbir tersebut dibaca pada malam Id, maka disebut takbir mursal atau mutlak. Lihat Hasyiyah Al-Baajuuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 2:198.   Ringkasan Takbir Mutlak dan Muqayyad   TAKBIR MUTLAK/MURSAL TAKBIR MUQAYYAD Takbir mutlak atau mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan tempat dan waktu, dibaca di rumah, masjid, jalan, pada malam dan siang. Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat, baik berlaku pada shalat fardhu, shalat sunnah, shalat ada’an (pada waktunya), shalat qadha’, shalat jenazah. Terkait Idulfitri dan Iduladha Terkait Iduladha saja. Waktunya: dari tenggelam matahari pada malam Id hingga takbiratul ihram shalat Id. Waktunya: – Untuk selain yang berhaji, waktunya adalah dari Shubuh pada hari Arafah hingga ‘Ashar pada hari tasyrik terakhir, berarti selama lima hari. – Untuk yang berhaji, waktunya adalah dari Zhuhur pada hari Iduladha (karena inilah awal shalat di Mina) hingga waktu Shubuh pada hari tasyrik terakhir (karena inilah shalat terakhir di Mina). Diakhirkan setelah dzikir bakda shalat. Didahulukan sebelum dzikir bakda shalat. Takbir mutlak pada Idulfitri lebih afdal dari Iduladha. Takbir muqayyad lebih afdal daripada takbir mutlak karena takbir muqayyad mengikuti shalat.   Lihat Ifaadah Ar-Raaghibiina bi Syarh wa Adillah Minhaaj Ath-Thalibiin, 1:494-496; Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:558-559; Hasyiyah Al-Baajuuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 2:194-198.   Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berbuah amal saleh. Hanya Allah yang beri taufik dan hidayah. Baca juga: Inilah Lafaz Takbir Hari Raya   Referensi: Al-Bayaan fii Madzhab Al-Imam Asy-Syafii. Cetakan keempat, Tahun 1435 H. Abul Husain Yahya bin Abil Khair Saalim Al-‘Amrani Asy-Syafii Al-Yamani. Penerbit Dar Al-Minhaaj. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Hasyiyah Al-Baajuuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Baajuuri. Penerbit Dar Al-Minhaj. Hasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Iqnaa’ fii Halli Alfaazh Abi Syuja’ lii Al-Khathiib Asy-Syirbiniy. Tahqiq dan Dhabth Alfaazhahu: Sa’id Al-Manduh. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Penerbit Anwar Al-Azhar. Ifaadah Ar-Raaghibiina bi Syarh wa Adillah Minhaaj Ath-Thalibiin.  Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Syaikh Prof. Dr. Musthafa Dib Al-Bugha. Penerbit Dar Al-Musthafa. Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah (Busyral Kariim bi Syarh Masa’il At-Ta’liim). Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin. Penerbit Dar ‘Umar bin Al-Khatthab.   – Selesai disusun pada hari Arafah, 9 Dzulhijjah 1443 H, 9 Juli 2022 Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara takbir takbir takbir hari arafah takbir hari raya takbiran
Apa itu takbir mutlak dan muqayyad pada hari raya? Berikut tinjauannya dari berbagai kitab fikih Syafii. Daftar Isi tutup 1. Takbir Muqayyad dan Takbir Mutlak 2. Kapan Membaca Takbir Selesai Shalat, Apakah Dzikir Bakda Shalat Dahulu ataukah Takbir? 3. Beberapa Catatan tentang Takbir Mutlak dan Muqayyad 4. Ringkasan Takbir Mutlak dan Muqayyad 4.1. Referensi: Takbir Muqayyad dan Takbir Mutlak   Takbir hari raya itu ada dua macam: (1) takbir muqayyad, (2) takbir mutlak atau mursal. Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir mutlak atau mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan tempat dan waktu. Takbir mutlak adalah takbir yang dibaca di rumah, masjid, jalan, pada malam dan siang. Takbir hari raya adalah syiar kaum muslimin sehingga disyariatkan dikeraskan suara. Takbir mutlak disunnahkan diucapkan pada Idulfitri dan Iduladha. Awal waktu takbir mutlak adalah dari tenggelamnya matahari pada malam Id, kemudian berakhir saat imam memulai shalat Id. Sedangkan orang yang berhaji, syiarnya adalah membaca talbiyah pada malam Iduladha. Dalil bertakbir pada Idulfitri adalah firman Allah Ta’ala, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185) Takbir pada Iduladha disamakan dengan takbir Idulfitri. Namun, takbir malam Idulfitri lebih ditekankan daripada malam Iduladha. Takbir muqayyad (ketika bakda shalat) tidak disunnahkan pada malam Idulfitri, menurut pendapat ashah. Karena tidak ada hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini. Takbir muqayyad disunnahkan setelah shalat terkait Iduladha, ada ijmak (kata sepakat ulama) dalam hal ini. Takbir muqayyad ini dimulai dari Shubuh hari Arafah hingga Ashar hari tasyrik terakhir. Ada dalil dari ‘Umar, ‘Ali, dan Ibnu ‘Abbas tentang hal ini. Takbir muqayyad disunnahkan diucapkan setelah selesai shalat, baik shalat ada-an (shalat yang dikerjakan pada waktunya), maupun shalat yang luput, baik shalat fardhu maupun nadzar, baik shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat sunnah muqayyad, atau shalat sunnah yang punya sebab seperti shalat tahiyatul masjid. Karena takbir itu syiar yang terkait dengan waktu. Tidak perlu bertakbir setelah sujud tilawah dan sujud syukur karena keduanya bukan termasuk shalat. Begitu pula tidak perlu bertakbir di luar hari-hari yang disyariatkannya takbir muqayyad untuk shalat fai’tah, shalat yang luput jika diqadha’. Takbir muqayyad hanya khusus pada lima hari (hari Arafah, Iduladha, tiga hari tasyrik). Jika lupa bertakbir muqayyad bakda shalat, takbir tersebut tetap dilakukan, walau ada jeda waktu yang lama bakda shalat menurut pendapat ashah (paling kuat). Lihat bahasa dalam Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:558-559. Di antara dalil yang mensyariatkan takbir pada hari raya adalah firman Allah Ta’ala, إِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah.” (QS. Al-Baqarah: 200) وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ “supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) Lihat penyebutan dalil-dalil ini dalam Al-Bayaan fii Madzhab Al-Imam Asy-Syafii karya Imam Al-‘Amrani, 2:657. Baca juga: Dalil tentang Takbir Muqayyad dari Shubuh Hari Arafah   Kapan Membaca Takbir Selesai Shalat, Apakah Dzikir Bakda Shalat Dahulu ataukah Takbir?   Penggabungan antara dzikir bakda shalat dan takbir muqayyad bakda shalat baiknya digabungkan. Ulama Syafiiyah belakangan menyatakan bahwa takbir muqayyad bakda shalat lebih didahulukan daripada dzikir bakda shalat. Maksudnya adalah jika waktunya takbir muqayyad, maka bakda shalat yang dilakukan adalah takbir dahulu, lalu membaca dzikir bakda shalat. Dalam Hasyiyah Al-Bujairimi (3:2156) disebutkan, ﻭَﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺗَﺄْﺧِﻴْﺮُ اﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ ﻋَﻦْ ﺃَﺫْﻛَﺎﺭ ِاﻟﺼَّﻼَﺓِ ﺑِﺨِﻼَﻑِ اﻟﻤُﻘَﻴَّﺪِ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳُﻘَﺪِّﻣُﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ، ﻭَﻣِﻦَ اﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ اﻟﺘَّﻜْﺒِﻴْﺮُ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﻋِﻴْﺪِ اﻟﻔِﻄْﺮِ ﺧَﻠْﻒَ اﻟﺼَّﻠَﻮَاﺕِ ِﻷَﻥَّ اﻟﻔِﻄْﺮَ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴْﻪِ ﻣُﻘَﻴَّﺪٌ. “Sebaiknya takbir mursal diakhirkan setelah dzikir bakda shalat. Hal ini berbeda dengan takbir muqayyad yang didahulukan sebelum dzikir bakda shalat. Yang termasuk takbir mursal adalah takbir pada malam Idulfitri setelah shalat lima waktu. Perlu diingat bahwa Idulfitri tidak memiliki takbir muqayyad.” Hal ini berbeda dengan takbir mutlak yang diakhirkan setelah membaca dzikir bakda shalat. Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin berkata, وَهَذَا التَّكْبِيْرُ المُرْسَلُ المُطْلَقُ إِذْ لاَ يَتَقَيَّدُ بِصَلاَةٍ وَلاَ غَيْرِهَا وَيُسَنُّ تَأْخِيْرُهُ عَنْ أَذْكَارِهَا “Takbir ini dinamakan takbir mursal mutlak yang tidak terkait dengan shalat dan selainnya. Takbir ini disunnahkan diakhirkan dari dzikir bakda shalat.” (Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah (Busyral Kariim bi Syarh Masa’il At-Ta’liim), hlm. 441)   Beberapa Catatan tentang Takbir Mutlak dan Muqayyad   Makmum yang masbuk tidaklah bertakbir melainkan setelah selesai menunaikan shalatnya. Karena takbir yang dimaksud dilakukan bakda shalat. Jika imam melakukan takbir pada waktunya, tetapi tidak dianggap oleh makmum atau imam meninggalkan takbir pada waktu yang dianggap oleh makmum, menurut pendapat ashah, makmum tetap mengikuti apa yang ia yakini dalam hal bertakbir ataukah tidak bertakbir. Makmum tidak perlu mencocoki imam. Karena mengikuti imam itu terputus dengan salamnya imam. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:560. Takbir hari raya ini dengan menjaharkan suara untuk laki-laki sebagai bentuk syiar. Adapun selain laki-laki (untuk perempuan dan khuntsa–yang berkelamin ganda–), maka tidaklah dengan mengeraskan suara. Jika tidak ada laki-laki bukan mahram, takbir tetap dibaca, tetapi lebih pelan dari laki-laki. Lihat Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah (Busyral Kariim bi Syarh Masa’il At-Ta’liim), hlm. 440. Takbir terkait Iduladha dilakukan dalam lima hari (hari Arafah, Iduladha, tiga hari tasyrik), termasuk di dalamnya adalah takbir pada malam Id. Pada malam Id, takbir setelah shalat tetap dianjurkan. Ditinjau dari takbir tersebut dibaca bakda shalat, maka disebut takbir muqayyad. Namun, ditinjau dari takbir tersebut dibaca pada malam Id, maka disebut takbir mursal atau mutlak. Lihat Hasyiyah Al-Baajuuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 2:198.   Ringkasan Takbir Mutlak dan Muqayyad   TAKBIR MUTLAK/MURSAL TAKBIR MUQAYYAD Takbir mutlak atau mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan tempat dan waktu, dibaca di rumah, masjid, jalan, pada malam dan siang. Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat, baik berlaku pada shalat fardhu, shalat sunnah, shalat ada’an (pada waktunya), shalat qadha’, shalat jenazah. Terkait Idulfitri dan Iduladha Terkait Iduladha saja. Waktunya: dari tenggelam matahari pada malam Id hingga takbiratul ihram shalat Id. Waktunya: – Untuk selain yang berhaji, waktunya adalah dari Shubuh pada hari Arafah hingga ‘Ashar pada hari tasyrik terakhir, berarti selama lima hari. – Untuk yang berhaji, waktunya adalah dari Zhuhur pada hari Iduladha (karena inilah awal shalat di Mina) hingga waktu Shubuh pada hari tasyrik terakhir (karena inilah shalat terakhir di Mina). Diakhirkan setelah dzikir bakda shalat. Didahulukan sebelum dzikir bakda shalat. Takbir mutlak pada Idulfitri lebih afdal dari Iduladha. Takbir muqayyad lebih afdal daripada takbir mutlak karena takbir muqayyad mengikuti shalat.   Lihat Ifaadah Ar-Raaghibiina bi Syarh wa Adillah Minhaaj Ath-Thalibiin, 1:494-496; Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:558-559; Hasyiyah Al-Baajuuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 2:194-198.   Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berbuah amal saleh. Hanya Allah yang beri taufik dan hidayah. Baca juga: Inilah Lafaz Takbir Hari Raya   Referensi: Al-Bayaan fii Madzhab Al-Imam Asy-Syafii. Cetakan keempat, Tahun 1435 H. Abul Husain Yahya bin Abil Khair Saalim Al-‘Amrani Asy-Syafii Al-Yamani. Penerbit Dar Al-Minhaaj. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Hasyiyah Al-Baajuuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Baajuuri. Penerbit Dar Al-Minhaj. Hasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Iqnaa’ fii Halli Alfaazh Abi Syuja’ lii Al-Khathiib Asy-Syirbiniy. Tahqiq dan Dhabth Alfaazhahu: Sa’id Al-Manduh. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Penerbit Anwar Al-Azhar. Ifaadah Ar-Raaghibiina bi Syarh wa Adillah Minhaaj Ath-Thalibiin.  Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Syaikh Prof. Dr. Musthafa Dib Al-Bugha. Penerbit Dar Al-Musthafa. Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah (Busyral Kariim bi Syarh Masa’il At-Ta’liim). Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin. Penerbit Dar ‘Umar bin Al-Khatthab.   – Selesai disusun pada hari Arafah, 9 Dzulhijjah 1443 H, 9 Juli 2022 Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara takbir takbir takbir hari arafah takbir hari raya takbiran


Apa itu takbir mutlak dan muqayyad pada hari raya? Berikut tinjauannya dari berbagai kitab fikih Syafii. Daftar Isi tutup 1. Takbir Muqayyad dan Takbir Mutlak 2. Kapan Membaca Takbir Selesai Shalat, Apakah Dzikir Bakda Shalat Dahulu ataukah Takbir? 3. Beberapa Catatan tentang Takbir Mutlak dan Muqayyad 4. Ringkasan Takbir Mutlak dan Muqayyad 4.1. Referensi: Takbir Muqayyad dan Takbir Mutlak   Takbir hari raya itu ada dua macam: (1) takbir muqayyad, (2) takbir mutlak atau mursal. Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir mutlak atau mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan tempat dan waktu. Takbir mutlak adalah takbir yang dibaca di rumah, masjid, jalan, pada malam dan siang. Takbir hari raya adalah syiar kaum muslimin sehingga disyariatkan dikeraskan suara. Takbir mutlak disunnahkan diucapkan pada Idulfitri dan Iduladha. Awal waktu takbir mutlak adalah dari tenggelamnya matahari pada malam Id, kemudian berakhir saat imam memulai shalat Id. Sedangkan orang yang berhaji, syiarnya adalah membaca talbiyah pada malam Iduladha. Dalil bertakbir pada Idulfitri adalah firman Allah Ta’ala, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185) Takbir pada Iduladha disamakan dengan takbir Idulfitri. Namun, takbir malam Idulfitri lebih ditekankan daripada malam Iduladha. Takbir muqayyad (ketika bakda shalat) tidak disunnahkan pada malam Idulfitri, menurut pendapat ashah. Karena tidak ada hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini. Takbir muqayyad disunnahkan setelah shalat terkait Iduladha, ada ijmak (kata sepakat ulama) dalam hal ini. Takbir muqayyad ini dimulai dari Shubuh hari Arafah hingga Ashar hari tasyrik terakhir. Ada dalil dari ‘Umar, ‘Ali, dan Ibnu ‘Abbas tentang hal ini. Takbir muqayyad disunnahkan diucapkan setelah selesai shalat, baik shalat ada-an (shalat yang dikerjakan pada waktunya), maupun shalat yang luput, baik shalat fardhu maupun nadzar, baik shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat sunnah muqayyad, atau shalat sunnah yang punya sebab seperti shalat tahiyatul masjid. Karena takbir itu syiar yang terkait dengan waktu. Tidak perlu bertakbir setelah sujud tilawah dan sujud syukur karena keduanya bukan termasuk shalat. Begitu pula tidak perlu bertakbir di luar hari-hari yang disyariatkannya takbir muqayyad untuk shalat fai’tah, shalat yang luput jika diqadha’. Takbir muqayyad hanya khusus pada lima hari (hari Arafah, Iduladha, tiga hari tasyrik). Jika lupa bertakbir muqayyad bakda shalat, takbir tersebut tetap dilakukan, walau ada jeda waktu yang lama bakda shalat menurut pendapat ashah (paling kuat). Lihat bahasa dalam Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:558-559. Di antara dalil yang mensyariatkan takbir pada hari raya adalah firman Allah Ta’ala, إِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah.” (QS. Al-Baqarah: 200) وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ “supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) Lihat penyebutan dalil-dalil ini dalam Al-Bayaan fii Madzhab Al-Imam Asy-Syafii karya Imam Al-‘Amrani, 2:657. Baca juga: Dalil tentang Takbir Muqayyad dari Shubuh Hari Arafah   Kapan Membaca Takbir Selesai Shalat, Apakah Dzikir Bakda Shalat Dahulu ataukah Takbir?   Penggabungan antara dzikir bakda shalat dan takbir muqayyad bakda shalat baiknya digabungkan. Ulama Syafiiyah belakangan menyatakan bahwa takbir muqayyad bakda shalat lebih didahulukan daripada dzikir bakda shalat. Maksudnya adalah jika waktunya takbir muqayyad, maka bakda shalat yang dilakukan adalah takbir dahulu, lalu membaca dzikir bakda shalat. Dalam Hasyiyah Al-Bujairimi (3:2156) disebutkan, ﻭَﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺗَﺄْﺧِﻴْﺮُ اﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ ﻋَﻦْ ﺃَﺫْﻛَﺎﺭ ِاﻟﺼَّﻼَﺓِ ﺑِﺨِﻼَﻑِ اﻟﻤُﻘَﻴَّﺪِ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳُﻘَﺪِّﻣُﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ، ﻭَﻣِﻦَ اﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ اﻟﺘَّﻜْﺒِﻴْﺮُ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﻋِﻴْﺪِ اﻟﻔِﻄْﺮِ ﺧَﻠْﻒَ اﻟﺼَّﻠَﻮَاﺕِ ِﻷَﻥَّ اﻟﻔِﻄْﺮَ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴْﻪِ ﻣُﻘَﻴَّﺪٌ. “Sebaiknya takbir mursal diakhirkan setelah dzikir bakda shalat. Hal ini berbeda dengan takbir muqayyad yang didahulukan sebelum dzikir bakda shalat. Yang termasuk takbir mursal adalah takbir pada malam Idulfitri setelah shalat lima waktu. Perlu diingat bahwa Idulfitri tidak memiliki takbir muqayyad.” Hal ini berbeda dengan takbir mutlak yang diakhirkan setelah membaca dzikir bakda shalat. Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin berkata, وَهَذَا التَّكْبِيْرُ المُرْسَلُ المُطْلَقُ إِذْ لاَ يَتَقَيَّدُ بِصَلاَةٍ وَلاَ غَيْرِهَا وَيُسَنُّ تَأْخِيْرُهُ عَنْ أَذْكَارِهَا “Takbir ini dinamakan takbir mursal mutlak yang tidak terkait dengan shalat dan selainnya. Takbir ini disunnahkan diakhirkan dari dzikir bakda shalat.” (Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah (Busyral Kariim bi Syarh Masa’il At-Ta’liim), hlm. 441)   Beberapa Catatan tentang Takbir Mutlak dan Muqayyad   Makmum yang masbuk tidaklah bertakbir melainkan setelah selesai menunaikan shalatnya. Karena takbir yang dimaksud dilakukan bakda shalat. Jika imam melakukan takbir pada waktunya, tetapi tidak dianggap oleh makmum atau imam meninggalkan takbir pada waktu yang dianggap oleh makmum, menurut pendapat ashah, makmum tetap mengikuti apa yang ia yakini dalam hal bertakbir ataukah tidak bertakbir. Makmum tidak perlu mencocoki imam. Karena mengikuti imam itu terputus dengan salamnya imam. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:560. Takbir hari raya ini dengan menjaharkan suara untuk laki-laki sebagai bentuk syiar. Adapun selain laki-laki (untuk perempuan dan khuntsa–yang berkelamin ganda–), maka tidaklah dengan mengeraskan suara. Jika tidak ada laki-laki bukan mahram, takbir tetap dibaca, tetapi lebih pelan dari laki-laki. Lihat Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah (Busyral Kariim bi Syarh Masa’il At-Ta’liim), hlm. 440. Takbir terkait Iduladha dilakukan dalam lima hari (hari Arafah, Iduladha, tiga hari tasyrik), termasuk di dalamnya adalah takbir pada malam Id. Pada malam Id, takbir setelah shalat tetap dianjurkan. Ditinjau dari takbir tersebut dibaca bakda shalat, maka disebut takbir muqayyad. Namun, ditinjau dari takbir tersebut dibaca pada malam Id, maka disebut takbir mursal atau mutlak. Lihat Hasyiyah Al-Baajuuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 2:198.   Ringkasan Takbir Mutlak dan Muqayyad   TAKBIR MUTLAK/MURSAL TAKBIR MUQAYYAD Takbir mutlak atau mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan tempat dan waktu, dibaca di rumah, masjid, jalan, pada malam dan siang. Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat, baik berlaku pada shalat fardhu, shalat sunnah, shalat ada’an (pada waktunya), shalat qadha’, shalat jenazah. Terkait Idulfitri dan Iduladha Terkait Iduladha saja. Waktunya: dari tenggelam matahari pada malam Id hingga takbiratul ihram shalat Id. Waktunya: – Untuk selain yang berhaji, waktunya adalah dari Shubuh pada hari Arafah hingga ‘Ashar pada hari tasyrik terakhir, berarti selama lima hari. – Untuk yang berhaji, waktunya adalah dari Zhuhur pada hari Iduladha (karena inilah awal shalat di Mina) hingga waktu Shubuh pada hari tasyrik terakhir (karena inilah shalat terakhir di Mina). Diakhirkan setelah dzikir bakda shalat. Didahulukan sebelum dzikir bakda shalat. Takbir mutlak pada Idulfitri lebih afdal dari Iduladha. Takbir muqayyad lebih afdal daripada takbir mutlak karena takbir muqayyad mengikuti shalat.   Lihat Ifaadah Ar-Raaghibiina bi Syarh wa Adillah Minhaaj Ath-Thalibiin, 1:494-496; Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:558-559; Hasyiyah Al-Baajuuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 2:194-198.   Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berbuah amal saleh. Hanya Allah yang beri taufik dan hidayah. Baca juga: Inilah Lafaz Takbir Hari Raya   Referensi: Al-Bayaan fii Madzhab Al-Imam Asy-Syafii. Cetakan keempat, Tahun 1435 H. Abul Husain Yahya bin Abil Khair Saalim Al-‘Amrani Asy-Syafii Al-Yamani. Penerbit Dar Al-Minhaaj. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Hasyiyah Al-Baajuuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Baajuuri. Penerbit Dar Al-Minhaj. Hasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Iqnaa’ fii Halli Alfaazh Abi Syuja’ lii Al-Khathiib Asy-Syirbiniy. Tahqiq dan Dhabth Alfaazhahu: Sa’id Al-Manduh. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Penerbit Anwar Al-Azhar. Ifaadah Ar-Raaghibiina bi Syarh wa Adillah Minhaaj Ath-Thalibiin.  Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Syaikh Prof. Dr. Musthafa Dib Al-Bugha. Penerbit Dar Al-Musthafa. Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah (Busyral Kariim bi Syarh Masa’il At-Ta’liim). Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin. Penerbit Dar ‘Umar bin Al-Khatthab.   – Selesai disusun pada hari Arafah, 9 Dzulhijjah 1443 H, 9 Juli 2022 Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara takbir takbir takbir hari arafah takbir hari raya takbiran

Doa Ruqyah Penyembuh Penyakit dengan Al-Fatihah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Doa Ruqyah Penyembuh Penyakit dengan Al-Fatihah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis rahimahullah menyebutkan hadits yang agung ini, yaitu hadits riwayat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, tentang kisah sekelompok sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang safar dan melewati suatu kaum, lalu mereka meminta agar dapat singgah bertamu pada kaum itu, tetapi mereka menolak. Lalu pemuka kaum itu tersengat hewan berbisa, sehingga kaum itu mengejar para sahabat Nabi yang mulia ‘alaihis shalatu wassalam, dan menceritakan bahwa pemimpin mereka tersengat, dan telah menempuh segala cara untuk mengobatinya, akan tetapi, itu semua tidak dapat menyembuhkannya. Karena itu, mereka mendatangi para sahabat Nabi tersebut, dan meminta jikalau mereka memiliki obat, maka seorang dari mereka berkata, “Ya, demi Allah, aku adalah peruqyah; aku dapat meruqyah.” “Demi Allah aku dapat meruqyah. Namun, kami telah meminta kalian agar kami dapat bertamu, tetapi kalian enggan menerima kami.” Pada akhirnya, seorang sahabat itu meruqyahnya dengan bacaan surat al-Fatihah saja, lalu pemimpin kaum itu dapat terbangun, seakan-akan terlepas dari ikatan, dan tidak tertimpa sesuatu apa pun. Lihatlah kesembuhan yang cepat ini! Dengan wasilah pengobatan ini, yang sebenarnya racun hewan yang mengalir di tubuhnya itu dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia, dapat menjadikannya meninggal dunia. Racunnya dapat mengalir ke jantung, sehingga itu dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia. Pemimpin kaum itu dapat berdiri, seakan-akan ia terlepas dari ikatan. Seakan-akan ia terlepas dari ikatan. Sahabat ini meruqyahnya dengan surat al-Fatihah saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan tahukah kamu bahwa itu adalah ruqyah?!” Ini menunjukkan bahwa ruqyah dengan bacaan al-Fatihah adalah hal yang paling agung untuk pengobatan bermacam-macam penyakit. Oleh sebab itu, surat al-Fatihah disebut juga dengan asy-Syafiyah (penyembuh) atau asy-Syifa’ (kesembuhan), berdasarkan hadits yang agung ini. Demikian. ====================================================================================================== ذَكَرَ رَحِمَهُ اللهُ هَذَا الْحَدِيثَ الْعَظِيْمَ حَدِيثَ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي قِصَّةِ النَّفَرِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِينَ مَرُّوا بِقَوْمٍ وَطَلَبُوا أَنْ يُضَيِّفُوْهُمْ فَأَبَوْا ثُمَّ لُدِغَ سَيِّدُ الْقَوْمِ ثُمَّ لَحِقُوا بِهَؤُلَاءِ النّفَرِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ الْكَرِيمِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَذَكَرُوا لَهُمْ أَنَّ سَيِّدَهُمْ لُدِغَ وَأَنَّهُم سَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لَا يَنْفَعُهُ شَيْءٌ فَأَتَوْا إِلَى هَؤُلَاءِ وَطَلَبُوا مِنْهُمْ إِنْ كَانَ عِنْدَهُمْ شَيْءٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ نَعَمْ وَاللهِ إِنِّي لَرَاقٍ أَرْقِي وَاللهِ إِنِّي لَأَرْقِي وَلَكِنْ لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُوْنَا الْحَاصِلُ أَنَّهُ رَقَاهُ بِالْفَاتِحَةِ فَقَطْ فَقَامَ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ يَعْنِي مَا يَشْتَكِي مِنْ شَيْءٍ فَانْظُرِ الشِّفَاءَ الْعَاجِلَ مِنْ هَذَا الدَّوَاءِ الَّذِي قَدْ يُفْضِي سَرَيَانِ سُمِّ ذَوَاتِ السُّمُومِ إِلَى أَنْ يَمُوتَ الْإِنْسَانُ إِلَى أَنْ يَمُوتَ يَسْرِي السُّمُّ إِلَى أَنْ يَصِلَ الْقَلْبَ وَقَدْ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ بِسَبَبِهِ فَقَامَ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَقَطْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ وَهَذَا فِيهِ أَنَّ الرُّقْيَةَ بِالْفَاتِحَةِ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ فِي بَابِ الِْاسْتِشْفَاءِ لِلْأَمْرَاضِ الْمُتَنَوِّعَةِ وَلِهَذَا تُسَمَّى الشَّافِيَةَ أَوِ الشِّفَاءَ أَخْذًا مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ الْعَظِيمِ نَعَمْ    

Doa Ruqyah Penyembuh Penyakit dengan Al-Fatihah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Doa Ruqyah Penyembuh Penyakit dengan Al-Fatihah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis rahimahullah menyebutkan hadits yang agung ini, yaitu hadits riwayat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, tentang kisah sekelompok sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang safar dan melewati suatu kaum, lalu mereka meminta agar dapat singgah bertamu pada kaum itu, tetapi mereka menolak. Lalu pemuka kaum itu tersengat hewan berbisa, sehingga kaum itu mengejar para sahabat Nabi yang mulia ‘alaihis shalatu wassalam, dan menceritakan bahwa pemimpin mereka tersengat, dan telah menempuh segala cara untuk mengobatinya, akan tetapi, itu semua tidak dapat menyembuhkannya. Karena itu, mereka mendatangi para sahabat Nabi tersebut, dan meminta jikalau mereka memiliki obat, maka seorang dari mereka berkata, “Ya, demi Allah, aku adalah peruqyah; aku dapat meruqyah.” “Demi Allah aku dapat meruqyah. Namun, kami telah meminta kalian agar kami dapat bertamu, tetapi kalian enggan menerima kami.” Pada akhirnya, seorang sahabat itu meruqyahnya dengan bacaan surat al-Fatihah saja, lalu pemimpin kaum itu dapat terbangun, seakan-akan terlepas dari ikatan, dan tidak tertimpa sesuatu apa pun. Lihatlah kesembuhan yang cepat ini! Dengan wasilah pengobatan ini, yang sebenarnya racun hewan yang mengalir di tubuhnya itu dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia, dapat menjadikannya meninggal dunia. Racunnya dapat mengalir ke jantung, sehingga itu dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia. Pemimpin kaum itu dapat berdiri, seakan-akan ia terlepas dari ikatan. Seakan-akan ia terlepas dari ikatan. Sahabat ini meruqyahnya dengan surat al-Fatihah saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan tahukah kamu bahwa itu adalah ruqyah?!” Ini menunjukkan bahwa ruqyah dengan bacaan al-Fatihah adalah hal yang paling agung untuk pengobatan bermacam-macam penyakit. Oleh sebab itu, surat al-Fatihah disebut juga dengan asy-Syafiyah (penyembuh) atau asy-Syifa’ (kesembuhan), berdasarkan hadits yang agung ini. Demikian. ====================================================================================================== ذَكَرَ رَحِمَهُ اللهُ هَذَا الْحَدِيثَ الْعَظِيْمَ حَدِيثَ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي قِصَّةِ النَّفَرِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِينَ مَرُّوا بِقَوْمٍ وَطَلَبُوا أَنْ يُضَيِّفُوْهُمْ فَأَبَوْا ثُمَّ لُدِغَ سَيِّدُ الْقَوْمِ ثُمَّ لَحِقُوا بِهَؤُلَاءِ النّفَرِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ الْكَرِيمِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَذَكَرُوا لَهُمْ أَنَّ سَيِّدَهُمْ لُدِغَ وَأَنَّهُم سَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لَا يَنْفَعُهُ شَيْءٌ فَأَتَوْا إِلَى هَؤُلَاءِ وَطَلَبُوا مِنْهُمْ إِنْ كَانَ عِنْدَهُمْ شَيْءٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ نَعَمْ وَاللهِ إِنِّي لَرَاقٍ أَرْقِي وَاللهِ إِنِّي لَأَرْقِي وَلَكِنْ لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُوْنَا الْحَاصِلُ أَنَّهُ رَقَاهُ بِالْفَاتِحَةِ فَقَطْ فَقَامَ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ يَعْنِي مَا يَشْتَكِي مِنْ شَيْءٍ فَانْظُرِ الشِّفَاءَ الْعَاجِلَ مِنْ هَذَا الدَّوَاءِ الَّذِي قَدْ يُفْضِي سَرَيَانِ سُمِّ ذَوَاتِ السُّمُومِ إِلَى أَنْ يَمُوتَ الْإِنْسَانُ إِلَى أَنْ يَمُوتَ يَسْرِي السُّمُّ إِلَى أَنْ يَصِلَ الْقَلْبَ وَقَدْ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ بِسَبَبِهِ فَقَامَ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَقَطْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ وَهَذَا فِيهِ أَنَّ الرُّقْيَةَ بِالْفَاتِحَةِ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ فِي بَابِ الِْاسْتِشْفَاءِ لِلْأَمْرَاضِ الْمُتَنَوِّعَةِ وَلِهَذَا تُسَمَّى الشَّافِيَةَ أَوِ الشِّفَاءَ أَخْذًا مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ الْعَظِيمِ نَعَمْ    
Doa Ruqyah Penyembuh Penyakit dengan Al-Fatihah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis rahimahullah menyebutkan hadits yang agung ini, yaitu hadits riwayat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, tentang kisah sekelompok sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang safar dan melewati suatu kaum, lalu mereka meminta agar dapat singgah bertamu pada kaum itu, tetapi mereka menolak. Lalu pemuka kaum itu tersengat hewan berbisa, sehingga kaum itu mengejar para sahabat Nabi yang mulia ‘alaihis shalatu wassalam, dan menceritakan bahwa pemimpin mereka tersengat, dan telah menempuh segala cara untuk mengobatinya, akan tetapi, itu semua tidak dapat menyembuhkannya. Karena itu, mereka mendatangi para sahabat Nabi tersebut, dan meminta jikalau mereka memiliki obat, maka seorang dari mereka berkata, “Ya, demi Allah, aku adalah peruqyah; aku dapat meruqyah.” “Demi Allah aku dapat meruqyah. Namun, kami telah meminta kalian agar kami dapat bertamu, tetapi kalian enggan menerima kami.” Pada akhirnya, seorang sahabat itu meruqyahnya dengan bacaan surat al-Fatihah saja, lalu pemimpin kaum itu dapat terbangun, seakan-akan terlepas dari ikatan, dan tidak tertimpa sesuatu apa pun. Lihatlah kesembuhan yang cepat ini! Dengan wasilah pengobatan ini, yang sebenarnya racun hewan yang mengalir di tubuhnya itu dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia, dapat menjadikannya meninggal dunia. Racunnya dapat mengalir ke jantung, sehingga itu dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia. Pemimpin kaum itu dapat berdiri, seakan-akan ia terlepas dari ikatan. Seakan-akan ia terlepas dari ikatan. Sahabat ini meruqyahnya dengan surat al-Fatihah saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan tahukah kamu bahwa itu adalah ruqyah?!” Ini menunjukkan bahwa ruqyah dengan bacaan al-Fatihah adalah hal yang paling agung untuk pengobatan bermacam-macam penyakit. Oleh sebab itu, surat al-Fatihah disebut juga dengan asy-Syafiyah (penyembuh) atau asy-Syifa’ (kesembuhan), berdasarkan hadits yang agung ini. Demikian. ====================================================================================================== ذَكَرَ رَحِمَهُ اللهُ هَذَا الْحَدِيثَ الْعَظِيْمَ حَدِيثَ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي قِصَّةِ النَّفَرِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِينَ مَرُّوا بِقَوْمٍ وَطَلَبُوا أَنْ يُضَيِّفُوْهُمْ فَأَبَوْا ثُمَّ لُدِغَ سَيِّدُ الْقَوْمِ ثُمَّ لَحِقُوا بِهَؤُلَاءِ النّفَرِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ الْكَرِيمِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَذَكَرُوا لَهُمْ أَنَّ سَيِّدَهُمْ لُدِغَ وَأَنَّهُم سَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لَا يَنْفَعُهُ شَيْءٌ فَأَتَوْا إِلَى هَؤُلَاءِ وَطَلَبُوا مِنْهُمْ إِنْ كَانَ عِنْدَهُمْ شَيْءٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ نَعَمْ وَاللهِ إِنِّي لَرَاقٍ أَرْقِي وَاللهِ إِنِّي لَأَرْقِي وَلَكِنْ لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُوْنَا الْحَاصِلُ أَنَّهُ رَقَاهُ بِالْفَاتِحَةِ فَقَطْ فَقَامَ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ يَعْنِي مَا يَشْتَكِي مِنْ شَيْءٍ فَانْظُرِ الشِّفَاءَ الْعَاجِلَ مِنْ هَذَا الدَّوَاءِ الَّذِي قَدْ يُفْضِي سَرَيَانِ سُمِّ ذَوَاتِ السُّمُومِ إِلَى أَنْ يَمُوتَ الْإِنْسَانُ إِلَى أَنْ يَمُوتَ يَسْرِي السُّمُّ إِلَى أَنْ يَصِلَ الْقَلْبَ وَقَدْ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ بِسَبَبِهِ فَقَامَ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَقَطْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ وَهَذَا فِيهِ أَنَّ الرُّقْيَةَ بِالْفَاتِحَةِ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ فِي بَابِ الِْاسْتِشْفَاءِ لِلْأَمْرَاضِ الْمُتَنَوِّعَةِ وَلِهَذَا تُسَمَّى الشَّافِيَةَ أَوِ الشِّفَاءَ أَخْذًا مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ الْعَظِيمِ نَعَمْ    


Doa Ruqyah Penyembuh Penyakit dengan Al-Fatihah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis rahimahullah menyebutkan hadits yang agung ini, yaitu hadits riwayat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, tentang kisah sekelompok sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang safar dan melewati suatu kaum, lalu mereka meminta agar dapat singgah bertamu pada kaum itu, tetapi mereka menolak. Lalu pemuka kaum itu tersengat hewan berbisa, sehingga kaum itu mengejar para sahabat Nabi yang mulia ‘alaihis shalatu wassalam, dan menceritakan bahwa pemimpin mereka tersengat, dan telah menempuh segala cara untuk mengobatinya, akan tetapi, itu semua tidak dapat menyembuhkannya. Karena itu, mereka mendatangi para sahabat Nabi tersebut, dan meminta jikalau mereka memiliki obat, maka seorang dari mereka berkata, “Ya, demi Allah, aku adalah peruqyah; aku dapat meruqyah.” “Demi Allah aku dapat meruqyah. Namun, kami telah meminta kalian agar kami dapat bertamu, tetapi kalian enggan menerima kami.” Pada akhirnya, seorang sahabat itu meruqyahnya dengan bacaan surat al-Fatihah saja, lalu pemimpin kaum itu dapat terbangun, seakan-akan terlepas dari ikatan, dan tidak tertimpa sesuatu apa pun. Lihatlah kesembuhan yang cepat ini! Dengan wasilah pengobatan ini, yang sebenarnya racun hewan yang mengalir di tubuhnya itu dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia, dapat menjadikannya meninggal dunia. Racunnya dapat mengalir ke jantung, sehingga itu dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia. Pemimpin kaum itu dapat berdiri, seakan-akan ia terlepas dari ikatan. Seakan-akan ia terlepas dari ikatan. Sahabat ini meruqyahnya dengan surat al-Fatihah saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan tahukah kamu bahwa itu adalah ruqyah?!” Ini menunjukkan bahwa ruqyah dengan bacaan al-Fatihah adalah hal yang paling agung untuk pengobatan bermacam-macam penyakit. Oleh sebab itu, surat al-Fatihah disebut juga dengan asy-Syafiyah (penyembuh) atau asy-Syifa’ (kesembuhan), berdasarkan hadits yang agung ini. Demikian. ====================================================================================================== ذَكَرَ رَحِمَهُ اللهُ هَذَا الْحَدِيثَ الْعَظِيْمَ حَدِيثَ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي قِصَّةِ النَّفَرِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِينَ مَرُّوا بِقَوْمٍ وَطَلَبُوا أَنْ يُضَيِّفُوْهُمْ فَأَبَوْا ثُمَّ لُدِغَ سَيِّدُ الْقَوْمِ ثُمَّ لَحِقُوا بِهَؤُلَاءِ النّفَرِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ الْكَرِيمِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَذَكَرُوا لَهُمْ أَنَّ سَيِّدَهُمْ لُدِغَ وَأَنَّهُم سَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لَا يَنْفَعُهُ شَيْءٌ فَأَتَوْا إِلَى هَؤُلَاءِ وَطَلَبُوا مِنْهُمْ إِنْ كَانَ عِنْدَهُمْ شَيْءٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ نَعَمْ وَاللهِ إِنِّي لَرَاقٍ أَرْقِي وَاللهِ إِنِّي لَأَرْقِي وَلَكِنْ لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُوْنَا الْحَاصِلُ أَنَّهُ رَقَاهُ بِالْفَاتِحَةِ فَقَطْ فَقَامَ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ يَعْنِي مَا يَشْتَكِي مِنْ شَيْءٍ فَانْظُرِ الشِّفَاءَ الْعَاجِلَ مِنْ هَذَا الدَّوَاءِ الَّذِي قَدْ يُفْضِي سَرَيَانِ سُمِّ ذَوَاتِ السُّمُومِ إِلَى أَنْ يَمُوتَ الْإِنْسَانُ إِلَى أَنْ يَمُوتَ يَسْرِي السُّمُّ إِلَى أَنْ يَصِلَ الْقَلْبَ وَقَدْ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ بِسَبَبِهِ فَقَامَ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ كَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَقَطْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ وَهَذَا فِيهِ أَنَّ الرُّقْيَةَ بِالْفَاتِحَةِ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ فِي بَابِ الِْاسْتِشْفَاءِ لِلْأَمْرَاضِ الْمُتَنَوِّعَةِ وَلِهَذَا تُسَمَّى الشَّافِيَةَ أَوِ الشِّفَاءَ أَخْذًا مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ الْعَظِيمِ نَعَمْ    

Bolehkah Niat Mandi Sekaligus Wudhu? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Bolehkah Niat Mandi Sekaligus Wudhu? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama “Apakah aku boleh mandi sekaligus meniatkan wudhu?” Ini pertanyaan pertama, dan pertanyaan kedua yaitu: “Aku berwudhu dalam keadaan telanjang (apakah itu boleh?)” Demikianlah pertanyaannya. Adapun jawaban untuk pertanyaan pertama, sunahnya adalah: Sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau senantiasa berwudhu sebelum mandi. Beliau senantiasa berwudhu sebelum mandi. Ini adalah sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berwudhu, baik itu sebelum mandi junub, mandi Shalat Jum’at, atau lainnya. Beliau memulai dengan wudhu, setelah itu beliau mandi. Begitu juga sebelum mandi untuk ihram atau mandi lainnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wudhu dulu sebelum mandi. Ini adalah sunah, yaitu seseorang berwudhu dulu sebelum mandi. Namun jika ia mandi tanpa berwudhu sebelumnya, apakah ia harus berwudhu setelah mandi? Dalam hal ini ada perinciannya. Jika mandi yang dilakukan itu adalah mandi yang disyariatkan, seperti mandi junub, mandi untuk Shalat Jum’at, mandi untuk ihram, atau mandi untuk Shalat Id. Yakni mandi yang diperintahkan, baik itu diperintahkan dalam bentuk wajib atau mustahab (anjuran), maka para ulama berpendapat bahwa mandi ini sudah cukup, tanpa perlu berwudhu juga. Ia tidak perlu berwudhu lagi, karena mandi itu sudah cukup baginya. Masalahnya adalah jika mandi yang dilakukan bukan mandi yang disyariatkan, yakni mandi itu tidak diperintahkan dalam bentuk wajib atau mustahab. Sebagai contoh, jika ada orang yang selesai bermain bola, atau selesai keluar rumah, seperti di hari-hari ini yang hujan, atau keluar rumah sore hari dan pulang dalam keadaan berkeringat, lalu ia ingin berenang untuk mandi agar dapat membersihkan keringat itu. Orang ini jika mandi dan ia meniatkan selain mandinya untuk menghilangkan keringat, juga agar sekaligus berwudhu untuk shalat, apakah wudhunya itu sah? Apakah ia boleh mendirikan shalat dengan wudhu dan mandi tersebut, atau itu tidak sah? Sebenarnya dalam masalah ini, mayoritas ulama tidak berpendapat bahwa itu sah baginya. Mereka berkata bahwa ia tetap harus berwudhu, baik itu sebelum atau sesudah mandi, karena pada dasarnya mandinya itu bukan mandi yang disyariatkan. Itu bukan mandi wajib dan bukan pula mandi sunah. Mandi itu disebut dengan mandi untuk kebersihan, untuk menghilangkan keringat, atau bisa juga kita katakan mandi untuk kesenangan saja. Baik? Ulama berpendapat bahwa mandi itu tidak dapat menggantikan wudhu. Inilah pendapat mayoritas ulama. Meskipun diriku lebih condong pada pendapat bahwa selama ia telah berniat untuk sekaligus berwudhu maka itu telah cukup baginya. Ilmu yang benar hanya di sisi Allah Jalla wa ‘Ala. Namun yang lebih aman adalah dengan tetap berwudhu, baik itu berwudhu sebelum atau setelah mandi. Pertanyaan kedua: hukum berwudhu dalam keadaan telanjang. Insya Allah Ta’ala tidak ada masalah dengan itu (boleh). Demikian. ====================================================================================================== هَلْ يَجُوزُ لِي أَنْ أَسْتَحِمَّ وَأَنْوِي نِيَّةَ الْوُضُوءِ؟ هَذَا السُّؤَالُ الْأَوَّلُ السُّؤَالُ الثَّانِي الَّذِي هُوَ أَنِّي أَتَوَضَّأُ وَأَنَا عَارِيُ الْجَسَدِ هَذَا هُوَ السُّؤَالُ هُوَ بِالنِّسْبَةِ لِلسُّؤَالِ الْأَوَّلِ وَهُوَ السُّنَّةُ سُنَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ الْاِسْتِحْمَامِ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ الْاِسْتِحْمَامِ هَذِهِ سُنَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَضَّأُ سَوَاءً الْجَنَابَةُ أَوِ الْجُمُعَةُ أَوْ غَيْرُهَا كَانَ يَتَوَضَّأُ ابْتِدَاءً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَحِمُّ لِلْإِحْرَامِ أَيْ أَيُّ غُسْلٍ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ هِيَ السَّنَةُ الْإِنْسَانُ يَتَوَضَّأَ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ لَكِنْ إِذَا اغْتَسَلَ دُونَ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَهَلْ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فِيهِ تَفْصِيلٌ إِذَا كَانَ هَذَا الْغُسْلُ غُسْلًا مَشْرُوعًا كَغُسْلِ جَنَابَةٍ غُسْلِ جُمُعَةٍ غُسْلِ إِحْرَامٍ غُسْلٍ لِلْعِيدِ يَعْنِي شَيْءٌ مَأْمُورٌ بِهِ سَوَاءٌ كَانَ مَأْمُورٌ بِهِ أَمْرَ الْإِيْجَابِ أَوْ أَمْرَ الْاسْتِحْبَابِ فَقَالُوا هَذَا الْغُسْلُ يَكْفِي عَنِ الْوُضُوءِ يُغْنِي عَنِ الْوُضُوءِ وَمَا يَحْتَاجُ أَنَّهُ يَتَوَضَّأُ وَإِنَّمَا يَكْفِيهِ هَذَا الْغُسْلُ الإِشْكَالِيَّةُ هِيَ إِذَا كَانَ هَذَا الْغُسْلُ لَيْسَ غُسْلًا مَشْرُوْعًا يَعْنِي لَا مَأْمُورَ بِهِ وُجُوبًا وَلَا مَأْمُورَ بِهِ اسْتِحْبَابًا مِثْلُ وَاحِدٍ لَعِبَ كُرَةً مَثَلًا أَوْ خَرَجَ يَمْشِي مِثْلَ هَذِهِ الأَيَّامِ هَذِهِ رُطُوبَةٌ مَثَلًا أَوْ مَشَى الْعَصْرَ مَثَلًا وَرَجَعَ مُعَرِّقًا مَثَلًا وَيُرِيدُ أَنْ يَأْخُذَ مَثَلًا سَبُوحٌ لِيَغْتَسِلَ حَتَّى يُذْهِبَ عَنْهُ هَذَا الْعَرَقَ فَهَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا اغْتَسَلَ وَفِي نِيَّتِهِ أَنَّهُ كَمَا أَنَّهُ يُزِيلُ الْعَرَقَ أَنَّهُ يَكُونُ مُتَوَضِّئًا لِلصَّلَاةِ فَهَلْ يَصِحُّ وُضُوءُهُ؟ وَهَلْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ بِهَذَا الْوُضُوءِ بِهَذَا الْغُسْلِ أَوْ لَا يَصِحُّ لَهُ ذَلِكَ؟ حَقِيقَةً يَعْنِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَرَوْنَ أَنَّهُ يَصِحُّ لَهُ ذَلِكَ يَقُولُ لَا بُدَّ أَنْ يَتَوَضَّأَ إِمَّا قَبْلَ الْغُسْلِ وَإِمَّا بَعْدَ الْغُسْلِ لِأَنَّ هَذَا الْغُسْلَ غَيْرُ مَشْرُوعٍ أَصْلًا لَا هُوَ وَاجِبٌ وَلَا هُوَ مُسْتَحَبٌّ هَذَا غُسْلٌ يُسَمُّونَهُ غَسْلَ التَّنَظُّفِ غُسْلٌ عَلَى الْعَرَقِ غَسْلُ التَّرَفُّهِ لِنَقُولُ طَيِّبٌ يَقُولُ لَا يُغْنِي عَنِ الْوُضُوءِ هَذَا قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ حَقِيقَةً وَإِنْ كَانَتِ النَّفْسُ تَمِيْلُ إِلَى أَنَّهُ طَالَمَا أَنَّهُ نَوَى أَنْ يَتَوَضَّأَ فَإِنَّهُ يَكْفِيهِ هَذَا وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَالْأَحْوَطُ أَنْ يَتَوَضَّأَ سَوَاءٌ قَبْلَ الْغُسْلِ أَوْ بَعْدَ الْغُسْلِ الثَّانِي أَنْ يَتَوَضَّأَ وَهُوَ عَارٍ مَا يَضُرُّ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مَا فِيهِ بَأْسٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى نَعَم  

Bolehkah Niat Mandi Sekaligus Wudhu? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Bolehkah Niat Mandi Sekaligus Wudhu? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama “Apakah aku boleh mandi sekaligus meniatkan wudhu?” Ini pertanyaan pertama, dan pertanyaan kedua yaitu: “Aku berwudhu dalam keadaan telanjang (apakah itu boleh?)” Demikianlah pertanyaannya. Adapun jawaban untuk pertanyaan pertama, sunahnya adalah: Sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau senantiasa berwudhu sebelum mandi. Beliau senantiasa berwudhu sebelum mandi. Ini adalah sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berwudhu, baik itu sebelum mandi junub, mandi Shalat Jum’at, atau lainnya. Beliau memulai dengan wudhu, setelah itu beliau mandi. Begitu juga sebelum mandi untuk ihram atau mandi lainnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wudhu dulu sebelum mandi. Ini adalah sunah, yaitu seseorang berwudhu dulu sebelum mandi. Namun jika ia mandi tanpa berwudhu sebelumnya, apakah ia harus berwudhu setelah mandi? Dalam hal ini ada perinciannya. Jika mandi yang dilakukan itu adalah mandi yang disyariatkan, seperti mandi junub, mandi untuk Shalat Jum’at, mandi untuk ihram, atau mandi untuk Shalat Id. Yakni mandi yang diperintahkan, baik itu diperintahkan dalam bentuk wajib atau mustahab (anjuran), maka para ulama berpendapat bahwa mandi ini sudah cukup, tanpa perlu berwudhu juga. Ia tidak perlu berwudhu lagi, karena mandi itu sudah cukup baginya. Masalahnya adalah jika mandi yang dilakukan bukan mandi yang disyariatkan, yakni mandi itu tidak diperintahkan dalam bentuk wajib atau mustahab. Sebagai contoh, jika ada orang yang selesai bermain bola, atau selesai keluar rumah, seperti di hari-hari ini yang hujan, atau keluar rumah sore hari dan pulang dalam keadaan berkeringat, lalu ia ingin berenang untuk mandi agar dapat membersihkan keringat itu. Orang ini jika mandi dan ia meniatkan selain mandinya untuk menghilangkan keringat, juga agar sekaligus berwudhu untuk shalat, apakah wudhunya itu sah? Apakah ia boleh mendirikan shalat dengan wudhu dan mandi tersebut, atau itu tidak sah? Sebenarnya dalam masalah ini, mayoritas ulama tidak berpendapat bahwa itu sah baginya. Mereka berkata bahwa ia tetap harus berwudhu, baik itu sebelum atau sesudah mandi, karena pada dasarnya mandinya itu bukan mandi yang disyariatkan. Itu bukan mandi wajib dan bukan pula mandi sunah. Mandi itu disebut dengan mandi untuk kebersihan, untuk menghilangkan keringat, atau bisa juga kita katakan mandi untuk kesenangan saja. Baik? Ulama berpendapat bahwa mandi itu tidak dapat menggantikan wudhu. Inilah pendapat mayoritas ulama. Meskipun diriku lebih condong pada pendapat bahwa selama ia telah berniat untuk sekaligus berwudhu maka itu telah cukup baginya. Ilmu yang benar hanya di sisi Allah Jalla wa ‘Ala. Namun yang lebih aman adalah dengan tetap berwudhu, baik itu berwudhu sebelum atau setelah mandi. Pertanyaan kedua: hukum berwudhu dalam keadaan telanjang. Insya Allah Ta’ala tidak ada masalah dengan itu (boleh). Demikian. ====================================================================================================== هَلْ يَجُوزُ لِي أَنْ أَسْتَحِمَّ وَأَنْوِي نِيَّةَ الْوُضُوءِ؟ هَذَا السُّؤَالُ الْأَوَّلُ السُّؤَالُ الثَّانِي الَّذِي هُوَ أَنِّي أَتَوَضَّأُ وَأَنَا عَارِيُ الْجَسَدِ هَذَا هُوَ السُّؤَالُ هُوَ بِالنِّسْبَةِ لِلسُّؤَالِ الْأَوَّلِ وَهُوَ السُّنَّةُ سُنَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ الْاِسْتِحْمَامِ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ الْاِسْتِحْمَامِ هَذِهِ سُنَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَضَّأُ سَوَاءً الْجَنَابَةُ أَوِ الْجُمُعَةُ أَوْ غَيْرُهَا كَانَ يَتَوَضَّأُ ابْتِدَاءً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَحِمُّ لِلْإِحْرَامِ أَيْ أَيُّ غُسْلٍ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ هِيَ السَّنَةُ الْإِنْسَانُ يَتَوَضَّأَ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ لَكِنْ إِذَا اغْتَسَلَ دُونَ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَهَلْ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فِيهِ تَفْصِيلٌ إِذَا كَانَ هَذَا الْغُسْلُ غُسْلًا مَشْرُوعًا كَغُسْلِ جَنَابَةٍ غُسْلِ جُمُعَةٍ غُسْلِ إِحْرَامٍ غُسْلٍ لِلْعِيدِ يَعْنِي شَيْءٌ مَأْمُورٌ بِهِ سَوَاءٌ كَانَ مَأْمُورٌ بِهِ أَمْرَ الْإِيْجَابِ أَوْ أَمْرَ الْاسْتِحْبَابِ فَقَالُوا هَذَا الْغُسْلُ يَكْفِي عَنِ الْوُضُوءِ يُغْنِي عَنِ الْوُضُوءِ وَمَا يَحْتَاجُ أَنَّهُ يَتَوَضَّأُ وَإِنَّمَا يَكْفِيهِ هَذَا الْغُسْلُ الإِشْكَالِيَّةُ هِيَ إِذَا كَانَ هَذَا الْغُسْلُ لَيْسَ غُسْلًا مَشْرُوْعًا يَعْنِي لَا مَأْمُورَ بِهِ وُجُوبًا وَلَا مَأْمُورَ بِهِ اسْتِحْبَابًا مِثْلُ وَاحِدٍ لَعِبَ كُرَةً مَثَلًا أَوْ خَرَجَ يَمْشِي مِثْلَ هَذِهِ الأَيَّامِ هَذِهِ رُطُوبَةٌ مَثَلًا أَوْ مَشَى الْعَصْرَ مَثَلًا وَرَجَعَ مُعَرِّقًا مَثَلًا وَيُرِيدُ أَنْ يَأْخُذَ مَثَلًا سَبُوحٌ لِيَغْتَسِلَ حَتَّى يُذْهِبَ عَنْهُ هَذَا الْعَرَقَ فَهَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا اغْتَسَلَ وَفِي نِيَّتِهِ أَنَّهُ كَمَا أَنَّهُ يُزِيلُ الْعَرَقَ أَنَّهُ يَكُونُ مُتَوَضِّئًا لِلصَّلَاةِ فَهَلْ يَصِحُّ وُضُوءُهُ؟ وَهَلْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ بِهَذَا الْوُضُوءِ بِهَذَا الْغُسْلِ أَوْ لَا يَصِحُّ لَهُ ذَلِكَ؟ حَقِيقَةً يَعْنِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَرَوْنَ أَنَّهُ يَصِحُّ لَهُ ذَلِكَ يَقُولُ لَا بُدَّ أَنْ يَتَوَضَّأَ إِمَّا قَبْلَ الْغُسْلِ وَإِمَّا بَعْدَ الْغُسْلِ لِأَنَّ هَذَا الْغُسْلَ غَيْرُ مَشْرُوعٍ أَصْلًا لَا هُوَ وَاجِبٌ وَلَا هُوَ مُسْتَحَبٌّ هَذَا غُسْلٌ يُسَمُّونَهُ غَسْلَ التَّنَظُّفِ غُسْلٌ عَلَى الْعَرَقِ غَسْلُ التَّرَفُّهِ لِنَقُولُ طَيِّبٌ يَقُولُ لَا يُغْنِي عَنِ الْوُضُوءِ هَذَا قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ حَقِيقَةً وَإِنْ كَانَتِ النَّفْسُ تَمِيْلُ إِلَى أَنَّهُ طَالَمَا أَنَّهُ نَوَى أَنْ يَتَوَضَّأَ فَإِنَّهُ يَكْفِيهِ هَذَا وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَالْأَحْوَطُ أَنْ يَتَوَضَّأَ سَوَاءٌ قَبْلَ الْغُسْلِ أَوْ بَعْدَ الْغُسْلِ الثَّانِي أَنْ يَتَوَضَّأَ وَهُوَ عَارٍ مَا يَضُرُّ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مَا فِيهِ بَأْسٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى نَعَم  
Bolehkah Niat Mandi Sekaligus Wudhu? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama “Apakah aku boleh mandi sekaligus meniatkan wudhu?” Ini pertanyaan pertama, dan pertanyaan kedua yaitu: “Aku berwudhu dalam keadaan telanjang (apakah itu boleh?)” Demikianlah pertanyaannya. Adapun jawaban untuk pertanyaan pertama, sunahnya adalah: Sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau senantiasa berwudhu sebelum mandi. Beliau senantiasa berwudhu sebelum mandi. Ini adalah sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berwudhu, baik itu sebelum mandi junub, mandi Shalat Jum’at, atau lainnya. Beliau memulai dengan wudhu, setelah itu beliau mandi. Begitu juga sebelum mandi untuk ihram atau mandi lainnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wudhu dulu sebelum mandi. Ini adalah sunah, yaitu seseorang berwudhu dulu sebelum mandi. Namun jika ia mandi tanpa berwudhu sebelumnya, apakah ia harus berwudhu setelah mandi? Dalam hal ini ada perinciannya. Jika mandi yang dilakukan itu adalah mandi yang disyariatkan, seperti mandi junub, mandi untuk Shalat Jum’at, mandi untuk ihram, atau mandi untuk Shalat Id. Yakni mandi yang diperintahkan, baik itu diperintahkan dalam bentuk wajib atau mustahab (anjuran), maka para ulama berpendapat bahwa mandi ini sudah cukup, tanpa perlu berwudhu juga. Ia tidak perlu berwudhu lagi, karena mandi itu sudah cukup baginya. Masalahnya adalah jika mandi yang dilakukan bukan mandi yang disyariatkan, yakni mandi itu tidak diperintahkan dalam bentuk wajib atau mustahab. Sebagai contoh, jika ada orang yang selesai bermain bola, atau selesai keluar rumah, seperti di hari-hari ini yang hujan, atau keluar rumah sore hari dan pulang dalam keadaan berkeringat, lalu ia ingin berenang untuk mandi agar dapat membersihkan keringat itu. Orang ini jika mandi dan ia meniatkan selain mandinya untuk menghilangkan keringat, juga agar sekaligus berwudhu untuk shalat, apakah wudhunya itu sah? Apakah ia boleh mendirikan shalat dengan wudhu dan mandi tersebut, atau itu tidak sah? Sebenarnya dalam masalah ini, mayoritas ulama tidak berpendapat bahwa itu sah baginya. Mereka berkata bahwa ia tetap harus berwudhu, baik itu sebelum atau sesudah mandi, karena pada dasarnya mandinya itu bukan mandi yang disyariatkan. Itu bukan mandi wajib dan bukan pula mandi sunah. Mandi itu disebut dengan mandi untuk kebersihan, untuk menghilangkan keringat, atau bisa juga kita katakan mandi untuk kesenangan saja. Baik? Ulama berpendapat bahwa mandi itu tidak dapat menggantikan wudhu. Inilah pendapat mayoritas ulama. Meskipun diriku lebih condong pada pendapat bahwa selama ia telah berniat untuk sekaligus berwudhu maka itu telah cukup baginya. Ilmu yang benar hanya di sisi Allah Jalla wa ‘Ala. Namun yang lebih aman adalah dengan tetap berwudhu, baik itu berwudhu sebelum atau setelah mandi. Pertanyaan kedua: hukum berwudhu dalam keadaan telanjang. Insya Allah Ta’ala tidak ada masalah dengan itu (boleh). Demikian. ====================================================================================================== هَلْ يَجُوزُ لِي أَنْ أَسْتَحِمَّ وَأَنْوِي نِيَّةَ الْوُضُوءِ؟ هَذَا السُّؤَالُ الْأَوَّلُ السُّؤَالُ الثَّانِي الَّذِي هُوَ أَنِّي أَتَوَضَّأُ وَأَنَا عَارِيُ الْجَسَدِ هَذَا هُوَ السُّؤَالُ هُوَ بِالنِّسْبَةِ لِلسُّؤَالِ الْأَوَّلِ وَهُوَ السُّنَّةُ سُنَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ الْاِسْتِحْمَامِ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ الْاِسْتِحْمَامِ هَذِهِ سُنَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَضَّأُ سَوَاءً الْجَنَابَةُ أَوِ الْجُمُعَةُ أَوْ غَيْرُهَا كَانَ يَتَوَضَّأُ ابْتِدَاءً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَحِمُّ لِلْإِحْرَامِ أَيْ أَيُّ غُسْلٍ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ هِيَ السَّنَةُ الْإِنْسَانُ يَتَوَضَّأَ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ لَكِنْ إِذَا اغْتَسَلَ دُونَ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَهَلْ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فِيهِ تَفْصِيلٌ إِذَا كَانَ هَذَا الْغُسْلُ غُسْلًا مَشْرُوعًا كَغُسْلِ جَنَابَةٍ غُسْلِ جُمُعَةٍ غُسْلِ إِحْرَامٍ غُسْلٍ لِلْعِيدِ يَعْنِي شَيْءٌ مَأْمُورٌ بِهِ سَوَاءٌ كَانَ مَأْمُورٌ بِهِ أَمْرَ الْإِيْجَابِ أَوْ أَمْرَ الْاسْتِحْبَابِ فَقَالُوا هَذَا الْغُسْلُ يَكْفِي عَنِ الْوُضُوءِ يُغْنِي عَنِ الْوُضُوءِ وَمَا يَحْتَاجُ أَنَّهُ يَتَوَضَّأُ وَإِنَّمَا يَكْفِيهِ هَذَا الْغُسْلُ الإِشْكَالِيَّةُ هِيَ إِذَا كَانَ هَذَا الْغُسْلُ لَيْسَ غُسْلًا مَشْرُوْعًا يَعْنِي لَا مَأْمُورَ بِهِ وُجُوبًا وَلَا مَأْمُورَ بِهِ اسْتِحْبَابًا مِثْلُ وَاحِدٍ لَعِبَ كُرَةً مَثَلًا أَوْ خَرَجَ يَمْشِي مِثْلَ هَذِهِ الأَيَّامِ هَذِهِ رُطُوبَةٌ مَثَلًا أَوْ مَشَى الْعَصْرَ مَثَلًا وَرَجَعَ مُعَرِّقًا مَثَلًا وَيُرِيدُ أَنْ يَأْخُذَ مَثَلًا سَبُوحٌ لِيَغْتَسِلَ حَتَّى يُذْهِبَ عَنْهُ هَذَا الْعَرَقَ فَهَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا اغْتَسَلَ وَفِي نِيَّتِهِ أَنَّهُ كَمَا أَنَّهُ يُزِيلُ الْعَرَقَ أَنَّهُ يَكُونُ مُتَوَضِّئًا لِلصَّلَاةِ فَهَلْ يَصِحُّ وُضُوءُهُ؟ وَهَلْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ بِهَذَا الْوُضُوءِ بِهَذَا الْغُسْلِ أَوْ لَا يَصِحُّ لَهُ ذَلِكَ؟ حَقِيقَةً يَعْنِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَرَوْنَ أَنَّهُ يَصِحُّ لَهُ ذَلِكَ يَقُولُ لَا بُدَّ أَنْ يَتَوَضَّأَ إِمَّا قَبْلَ الْغُسْلِ وَإِمَّا بَعْدَ الْغُسْلِ لِأَنَّ هَذَا الْغُسْلَ غَيْرُ مَشْرُوعٍ أَصْلًا لَا هُوَ وَاجِبٌ وَلَا هُوَ مُسْتَحَبٌّ هَذَا غُسْلٌ يُسَمُّونَهُ غَسْلَ التَّنَظُّفِ غُسْلٌ عَلَى الْعَرَقِ غَسْلُ التَّرَفُّهِ لِنَقُولُ طَيِّبٌ يَقُولُ لَا يُغْنِي عَنِ الْوُضُوءِ هَذَا قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ حَقِيقَةً وَإِنْ كَانَتِ النَّفْسُ تَمِيْلُ إِلَى أَنَّهُ طَالَمَا أَنَّهُ نَوَى أَنْ يَتَوَضَّأَ فَإِنَّهُ يَكْفِيهِ هَذَا وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَالْأَحْوَطُ أَنْ يَتَوَضَّأَ سَوَاءٌ قَبْلَ الْغُسْلِ أَوْ بَعْدَ الْغُسْلِ الثَّانِي أَنْ يَتَوَضَّأَ وَهُوَ عَارٍ مَا يَضُرُّ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مَا فِيهِ بَأْسٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى نَعَم  


Bolehkah Niat Mandi Sekaligus Wudhu? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama “Apakah aku boleh mandi sekaligus meniatkan wudhu?” Ini pertanyaan pertama, dan pertanyaan kedua yaitu: “Aku berwudhu dalam keadaan telanjang (apakah itu boleh?)” Demikianlah pertanyaannya. Adapun jawaban untuk pertanyaan pertama, sunahnya adalah: Sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau senantiasa berwudhu sebelum mandi. Beliau senantiasa berwudhu sebelum mandi. Ini adalah sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berwudhu, baik itu sebelum mandi junub, mandi Shalat Jum’at, atau lainnya. Beliau memulai dengan wudhu, setelah itu beliau mandi. Begitu juga sebelum mandi untuk ihram atau mandi lainnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wudhu dulu sebelum mandi. Ini adalah sunah, yaitu seseorang berwudhu dulu sebelum mandi. Namun jika ia mandi tanpa berwudhu sebelumnya, apakah ia harus berwudhu setelah mandi? Dalam hal ini ada perinciannya. Jika mandi yang dilakukan itu adalah mandi yang disyariatkan, seperti mandi junub, mandi untuk Shalat Jum’at, mandi untuk ihram, atau mandi untuk Shalat Id. Yakni mandi yang diperintahkan, baik itu diperintahkan dalam bentuk wajib atau mustahab (anjuran), maka para ulama berpendapat bahwa mandi ini sudah cukup, tanpa perlu berwudhu juga. Ia tidak perlu berwudhu lagi, karena mandi itu sudah cukup baginya. Masalahnya adalah jika mandi yang dilakukan bukan mandi yang disyariatkan, yakni mandi itu tidak diperintahkan dalam bentuk wajib atau mustahab. Sebagai contoh, jika ada orang yang selesai bermain bola, atau selesai keluar rumah, seperti di hari-hari ini yang hujan, atau keluar rumah sore hari dan pulang dalam keadaan berkeringat, lalu ia ingin berenang untuk mandi agar dapat membersihkan keringat itu. Orang ini jika mandi dan ia meniatkan selain mandinya untuk menghilangkan keringat, juga agar sekaligus berwudhu untuk shalat, apakah wudhunya itu sah? Apakah ia boleh mendirikan shalat dengan wudhu dan mandi tersebut, atau itu tidak sah? Sebenarnya dalam masalah ini, mayoritas ulama tidak berpendapat bahwa itu sah baginya. Mereka berkata bahwa ia tetap harus berwudhu, baik itu sebelum atau sesudah mandi, karena pada dasarnya mandinya itu bukan mandi yang disyariatkan. Itu bukan mandi wajib dan bukan pula mandi sunah. Mandi itu disebut dengan mandi untuk kebersihan, untuk menghilangkan keringat, atau bisa juga kita katakan mandi untuk kesenangan saja. Baik? Ulama berpendapat bahwa mandi itu tidak dapat menggantikan wudhu. Inilah pendapat mayoritas ulama. Meskipun diriku lebih condong pada pendapat bahwa selama ia telah berniat untuk sekaligus berwudhu maka itu telah cukup baginya. Ilmu yang benar hanya di sisi Allah Jalla wa ‘Ala. Namun yang lebih aman adalah dengan tetap berwudhu, baik itu berwudhu sebelum atau setelah mandi. Pertanyaan kedua: hukum berwudhu dalam keadaan telanjang. Insya Allah Ta’ala tidak ada masalah dengan itu (boleh). Demikian. ====================================================================================================== هَلْ يَجُوزُ لِي أَنْ أَسْتَحِمَّ وَأَنْوِي نِيَّةَ الْوُضُوءِ؟ هَذَا السُّؤَالُ الْأَوَّلُ السُّؤَالُ الثَّانِي الَّذِي هُوَ أَنِّي أَتَوَضَّأُ وَأَنَا عَارِيُ الْجَسَدِ هَذَا هُوَ السُّؤَالُ هُوَ بِالنِّسْبَةِ لِلسُّؤَالِ الْأَوَّلِ وَهُوَ السُّنَّةُ سُنَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ الْاِسْتِحْمَامِ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ الْاِسْتِحْمَامِ هَذِهِ سُنَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَضَّأُ سَوَاءً الْجَنَابَةُ أَوِ الْجُمُعَةُ أَوْ غَيْرُهَا كَانَ يَتَوَضَّأُ ابْتِدَاءً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَحِمُّ لِلْإِحْرَامِ أَيْ أَيُّ غُسْلٍ كَانَ يَتَوَضَّأُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ هِيَ السَّنَةُ الْإِنْسَانُ يَتَوَضَّأَ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ لَكِنْ إِذَا اغْتَسَلَ دُونَ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَهَلْ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فِيهِ تَفْصِيلٌ إِذَا كَانَ هَذَا الْغُسْلُ غُسْلًا مَشْرُوعًا كَغُسْلِ جَنَابَةٍ غُسْلِ جُمُعَةٍ غُسْلِ إِحْرَامٍ غُسْلٍ لِلْعِيدِ يَعْنِي شَيْءٌ مَأْمُورٌ بِهِ سَوَاءٌ كَانَ مَأْمُورٌ بِهِ أَمْرَ الْإِيْجَابِ أَوْ أَمْرَ الْاسْتِحْبَابِ فَقَالُوا هَذَا الْغُسْلُ يَكْفِي عَنِ الْوُضُوءِ يُغْنِي عَنِ الْوُضُوءِ وَمَا يَحْتَاجُ أَنَّهُ يَتَوَضَّأُ وَإِنَّمَا يَكْفِيهِ هَذَا الْغُسْلُ الإِشْكَالِيَّةُ هِيَ إِذَا كَانَ هَذَا الْغُسْلُ لَيْسَ غُسْلًا مَشْرُوْعًا يَعْنِي لَا مَأْمُورَ بِهِ وُجُوبًا وَلَا مَأْمُورَ بِهِ اسْتِحْبَابًا مِثْلُ وَاحِدٍ لَعِبَ كُرَةً مَثَلًا أَوْ خَرَجَ يَمْشِي مِثْلَ هَذِهِ الأَيَّامِ هَذِهِ رُطُوبَةٌ مَثَلًا أَوْ مَشَى الْعَصْرَ مَثَلًا وَرَجَعَ مُعَرِّقًا مَثَلًا وَيُرِيدُ أَنْ يَأْخُذَ مَثَلًا سَبُوحٌ لِيَغْتَسِلَ حَتَّى يُذْهِبَ عَنْهُ هَذَا الْعَرَقَ فَهَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا اغْتَسَلَ وَفِي نِيَّتِهِ أَنَّهُ كَمَا أَنَّهُ يُزِيلُ الْعَرَقَ أَنَّهُ يَكُونُ مُتَوَضِّئًا لِلصَّلَاةِ فَهَلْ يَصِحُّ وُضُوءُهُ؟ وَهَلْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ بِهَذَا الْوُضُوءِ بِهَذَا الْغُسْلِ أَوْ لَا يَصِحُّ لَهُ ذَلِكَ؟ حَقِيقَةً يَعْنِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَرَوْنَ أَنَّهُ يَصِحُّ لَهُ ذَلِكَ يَقُولُ لَا بُدَّ أَنْ يَتَوَضَّأَ إِمَّا قَبْلَ الْغُسْلِ وَإِمَّا بَعْدَ الْغُسْلِ لِأَنَّ هَذَا الْغُسْلَ غَيْرُ مَشْرُوعٍ أَصْلًا لَا هُوَ وَاجِبٌ وَلَا هُوَ مُسْتَحَبٌّ هَذَا غُسْلٌ يُسَمُّونَهُ غَسْلَ التَّنَظُّفِ غُسْلٌ عَلَى الْعَرَقِ غَسْلُ التَّرَفُّهِ لِنَقُولُ طَيِّبٌ يَقُولُ لَا يُغْنِي عَنِ الْوُضُوءِ هَذَا قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ حَقِيقَةً وَإِنْ كَانَتِ النَّفْسُ تَمِيْلُ إِلَى أَنَّهُ طَالَمَا أَنَّهُ نَوَى أَنْ يَتَوَضَّأَ فَإِنَّهُ يَكْفِيهِ هَذَا وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَالْأَحْوَطُ أَنْ يَتَوَضَّأَ سَوَاءٌ قَبْلَ الْغُسْلِ أَوْ بَعْدَ الْغُسْلِ الثَّانِي أَنْ يَتَوَضَّأَ وَهُوَ عَارٍ مَا يَضُرُّ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مَا فِيهِ بَأْسٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى نَعَم  

Naskah Khutbah Idul Adha 2022 Paling Berkesan: Hikmah dari Ibadah Qurban dan Haji

Apa saja hikmah dari ibadah qurban dan haji? Ini adalah dua ibadah yang dilaksanakan pada Iduladha hingga hari tasyrik. Moga kita bisa mengambil pelajaran berharga di dalamnya.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2022: 4. Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2021:   Khutbah Pertama   اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضَ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ .وقال ايضا : وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah … Pertama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13) Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa dan bukan dilihat dari kemulian leluhur kalian.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:723) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi mulia, suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Hadirin rahimakumullah, Ibadah qurban adalah ibadah yang dilakukan dalam rangka taqarrub kepada Allah dengan menyembelih unta, sapi, atau kambing pada hari Iduladha dan tiga hari tasyrik. Ibadah qurban adalah ibadah yang berawal dari sejarah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mendapatkan perintah untuk mengorbankan putranya, Ismail, dengan cara disembelih. Berbekal keimanan yang tinggi, Nabi Ibrahim pun melaksanakan perintah yang disampaikan Allah melalui sebuah mimpi. Namun, sebelum Nabi Ibrahim menyembelih Ismail, malaikat membawa seekor domba dari surga sebagai ganti untuk disembelih. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaffaat: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaaffaat: 102) Apa hikmah yang ditarik dari ibadah qurban? Qurban adalah bentuk taqarrub (pendekatan) diri kepada Allah. Qurban dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan. Qurban itu bentuk berbagi dengan keluarga, teman, dan orang miskin. Qurban itu untuk menguatkan persaudaraan dalam masyarakat muslim dan tolong menolong dengan sesama. Qurban itu bisa menghapus dosa dan mendapatkan ganjaran yang besar. Baca juga: Keutamaan dan Hikmah Ibadah Qurban   Karena qurban adalah ibadah (taqarrub kepada Allah), hendaklah memenuhi aturan-aturan yang sudah diajarkan dalam syariat Islam. Pertama: Hewan yang diqurbankan adalah unta, sapi, atau kambing yang telah memenuhi kriteria umur. Untuk umur minimal qurban, unta adalah lima tahun, sapi adalah dua tahun, kambing adalah satu tahun (atau dua tahun menurut madzhab Syafii). Kedua: Hewan qurban harus terhindar dari cacat yang mengurangi daging atau sesuatu yang dimakan seperti buta sebelah, sakit, pincang, sangat kurus, terpotong telinga, hingga telinga tidak ada sama sekali. Tak masalah bila tanduk hewan qurban tidak ada, terpotong, atau retak. Namun, sebaik-baik qurban adalah yang sempurna yaitu yang berwarna putih, bertanduk, dan jantan seperti hewan yang dijadikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk qurban. Ketiga: Menyembelih qurban pada waktu yang telah ditetapkan yaitu setelah shalat Iduladha dan dua khutbah hingga sebelum tenggelam matahari pada 13 Dzulhijjah (hari tasyrik terakhir). Keempat: Harus memenuhi empat rukun penyembelihan: Dzaabih, orang yang menyembelih: Islam atau ahli kitab. Madzbuuh, yang disembelih: hidup dan halal dimakan. Aalah, alat penyembelihan: merupakan alat pemotong, bisa terbuat dari kaca atau kayu, bukan tulang, gigi, atau kuku. Dzabh, yaitu aktivitas yang menghalalkan hewan yang disembelih, yaitu menyembelih pada halq (leher atas), di mana syarat minimalnya adalah terpotongnya dua saluran, yaitu saluran nafas (hulquum) dan saluran makan (marii’). Kelima: Berbuat baik kepada hewan ketika menyembelih seperti menyembelih dengan pisau yang sangat tajam sehingga cepat disembelih, tidak mengasah pisau di hadapan hewan qurban, dan tidak menyembelih hewan di hadapan kawan-kawannya yang belum disembelih. Keenam: Hewan yang akan disembelih dibaringkan ke sisi kiri, lalu dihadapkan ke arah kiblat, lalu si penyembelih menginjak bagian leher hewan sambil bagian kepala dipegang, lalu si penyembelih dianjurkan pula menghadap kiblat. Ketujuh: Membaca bismillah dan takbir, paling minimal adalah dengan bacaan BISMILLAH WALLAHU AKBAR. Kedelapan: Berdoa kepada Allah agar amalan qurban dari shahibul qurban diterima dengan bacaan: ALLOHUMMA HADZIHI MINKA WA ILAIKA FATAQOBBAL MINNII ATAU MIN (disebutkan nama) (artinya: Ya Allah, ini adalah dari-Mu, untuk-Mu, terimalah qurban dariku atau dari …). Kesembilan: Hasil qurban disunnahkan dicicipi oleh shahibul qurban, lalu sisanya bisa sebagai sedekah kepada fakir miskin dalam bentuk daging mentah yang masih segar, dan sisanya dibagi sebagai hadiah untuk kerabat, tetangga, dan teman. Kesepuluh: Hasil qurban tidak boleh dijual termasuk kulitnya. Tukang jagal hendaklah diberi upah yang layak, tetapi tidak boleh upah jagal hanya murni diambil dari hasil qurban. Baca juga: Panduan Qurban   اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah, Ibadah selanjutnya yang identik dengan hari raya Iduladha adalah ibadah haji ke Tanah Suci. Ibadah haji merupakan kewajiban bagi kita umat Islam yang memiliki kemampuan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 97, وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97) Ibadah haji adalah ibadah dengan fisik dan harta. Adapaun ibadah shalat dan puasa adalah ibadah dengan fisik kita. Sedangkan, zakat adalah ibadah dengan harta kita. Karena ibadah haji melibatkan harta dan fisik, maka tentu yang diwajibkan adalah orang-orang yang mampu saja. Mereka yang sudah wajib untuk berhaji adalah: beragama Islam, baligh, berakal, merdeka, dan memiliki kemampuan. Kemampuan yang dimaksud adalah: (1) memiliki bekal dan kendaraan (di mana hartanya bisa memenuhi utangnya dan beban nafkah keluarga saat pergi hingga kembali dari berhaji), (2) aman di perjalanan, (3) mampu untuk melakukan perjalanan. Dalam ibadah haji para jamaah melakukan rangkaian ibadah sebagai upaya membersihkan diri dari dosa seraya mengharapkan ampunan, rahmat, dan ridha Allah. Dalam hadits disebutkan, مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Siapa yang berhaji karena Allah lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari, no. 1521). Orang yang berhaji juga melatih kesabaran dengan kedisiplinan rangkaian ibadah sekaligus melupakan urusan dunia yang sering membuat hati manusia lalai mengingat Allah. Dengan hanya mengenakan kain ihram berwarna putih, para jamaah haji diingatkan dengan kain kafan ciri khas dari kematian yang pasti akan datang kepada setiap yang bernyawa. Kita berasal dari Allah dan hanya kepada-Nyalah kita akan kembali. Kita pasti akan berpisah dengan semua yang kita cintai dan berpisah dengan yang mencintai kita. Semua akan kembali kepada Sang pemilik yang hakiki, Allah. Dalam ibadah haji, jamaah juga melakukan ibadah lainnya seperti Thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dan melakukan lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah yang dinamakan dengan Sai. Dalam ibadah ini para jamaah berdoa untuk senantiasa mendapatkan pertolongan Allah dan perlindungan dari dosa yang timbul dari hawa nafsu dan godaan Setan. Ibadah thawaf dan sai memiliki makna yang mendalam agar kita senantiasa berusaha tanpa henti dan berhijrah melalui bentuk aktivitas berlari untuk meraih kemuliaan dengan berserah diri kepada Allah. Dengan senantiasa membersihkan hati dari sifat yang tercela, kita harus menanamkan tekad untuk mencapai puncak kesucian. اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah, Allah Ta’ala telah menjanjikan Surga-Nya kepada umat Islam yang melaksanakan haji dengan niat tulus karena Allah dan dapat meraih predikat mabrur. وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349). Haji mabrur adalah haji yang diikuti kebaikan setelah berhaji. Baca juga: Enam Keutamaan Ibadah Haji Karena besarnya pahala haji dan banyak memori yang terkenang di sana, banyak yang rindu kembali ke sana, minimal dengan berumrah. Allah Ta’ala berfirman, فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepadanya.” (QS. Ibrahim: 37). Ada ulama yang mengatakan bahwa orang yang sudah ke Makkah, akan rindu kembali ke sana setiap tahunnya. اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Hadirin rahimahi wa rahimakumullah, Ibadah haji dan qurban ini memiliki kesamaan di antaranya adalah meninggalkan larangan tertentu. Selama berihram, orang yang berhaji tidak boleh memotong kuku dan rambut. Begitu pula, sejak masuk 1 Dzulhijjah, orang yang berqurban dimakruhkan (makruh tanzih) pula memotong kuku dan rambut. Ibadah haji dan qurban juga dilakukan melihat dari kemampuan harta. Tentu saja, harta yang dikeluarkan akan diberi ganti yang lebih baik. Tinggal kita saja yakin ataukah tidak. مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ “Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (QS. Al-Hadid: 11). Ketika mendengar ayat ini, Abud Dahdaa’ begitu yakin akan janji Allah, hingga ia bersedekah dengan 600 pohon kurma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun terkagum dengan Abud Dahdaa hingga bersabda, “Begitu banyak pohon kurma untuk Abu Dahdaa di surga. Akar dari tanaman tersebut adalah mutiara dan yaqut (sejenis batu mulia).” (Riwayat ini adalah riwayat yang sahih, dikeluarkan oleh Abdu bin Humaid dalam Muntakhob dan Ibnu Hibban dalam Mawarid Zhoma’an). Baca juga: Kisah Abud Dahdaa Ketika Bersedekah dengan 600 Pohon Kurma   اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Ya Allah, berikanlah kami kemudahan untuk berqurban pada tahun ini, serta terimalah amalan kami. Ya Allah, berikanlah kami semua untuk segera hadir di tanah suci yang kami rindukan untuk berhaji, atau minimal berumrah. Ya Allah, berkahilah rezeki kepada kami semua. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِى اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.     Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2022: “Hikmah dari Ibadah Qurban dan Haji”   Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2021: “Pasrah kepada Allah di Masa Sulit”   – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 9 Dzulhijjah 1443 H, Malam Sabtu Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfikih haji haji mampu haji panduan haji panduan qurban qurban

Naskah Khutbah Idul Adha 2022 Paling Berkesan: Hikmah dari Ibadah Qurban dan Haji

Apa saja hikmah dari ibadah qurban dan haji? Ini adalah dua ibadah yang dilaksanakan pada Iduladha hingga hari tasyrik. Moga kita bisa mengambil pelajaran berharga di dalamnya.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2022: 4. Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2021:   Khutbah Pertama   اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضَ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ .وقال ايضا : وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah … Pertama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13) Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa dan bukan dilihat dari kemulian leluhur kalian.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:723) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi mulia, suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Hadirin rahimakumullah, Ibadah qurban adalah ibadah yang dilakukan dalam rangka taqarrub kepada Allah dengan menyembelih unta, sapi, atau kambing pada hari Iduladha dan tiga hari tasyrik. Ibadah qurban adalah ibadah yang berawal dari sejarah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mendapatkan perintah untuk mengorbankan putranya, Ismail, dengan cara disembelih. Berbekal keimanan yang tinggi, Nabi Ibrahim pun melaksanakan perintah yang disampaikan Allah melalui sebuah mimpi. Namun, sebelum Nabi Ibrahim menyembelih Ismail, malaikat membawa seekor domba dari surga sebagai ganti untuk disembelih. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaffaat: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaaffaat: 102) Apa hikmah yang ditarik dari ibadah qurban? Qurban adalah bentuk taqarrub (pendekatan) diri kepada Allah. Qurban dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan. Qurban itu bentuk berbagi dengan keluarga, teman, dan orang miskin. Qurban itu untuk menguatkan persaudaraan dalam masyarakat muslim dan tolong menolong dengan sesama. Qurban itu bisa menghapus dosa dan mendapatkan ganjaran yang besar. Baca juga: Keutamaan dan Hikmah Ibadah Qurban   Karena qurban adalah ibadah (taqarrub kepada Allah), hendaklah memenuhi aturan-aturan yang sudah diajarkan dalam syariat Islam. Pertama: Hewan yang diqurbankan adalah unta, sapi, atau kambing yang telah memenuhi kriteria umur. Untuk umur minimal qurban, unta adalah lima tahun, sapi adalah dua tahun, kambing adalah satu tahun (atau dua tahun menurut madzhab Syafii). Kedua: Hewan qurban harus terhindar dari cacat yang mengurangi daging atau sesuatu yang dimakan seperti buta sebelah, sakit, pincang, sangat kurus, terpotong telinga, hingga telinga tidak ada sama sekali. Tak masalah bila tanduk hewan qurban tidak ada, terpotong, atau retak. Namun, sebaik-baik qurban adalah yang sempurna yaitu yang berwarna putih, bertanduk, dan jantan seperti hewan yang dijadikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk qurban. Ketiga: Menyembelih qurban pada waktu yang telah ditetapkan yaitu setelah shalat Iduladha dan dua khutbah hingga sebelum tenggelam matahari pada 13 Dzulhijjah (hari tasyrik terakhir). Keempat: Harus memenuhi empat rukun penyembelihan: Dzaabih, orang yang menyembelih: Islam atau ahli kitab. Madzbuuh, yang disembelih: hidup dan halal dimakan. Aalah, alat penyembelihan: merupakan alat pemotong, bisa terbuat dari kaca atau kayu, bukan tulang, gigi, atau kuku. Dzabh, yaitu aktivitas yang menghalalkan hewan yang disembelih, yaitu menyembelih pada halq (leher atas), di mana syarat minimalnya adalah terpotongnya dua saluran, yaitu saluran nafas (hulquum) dan saluran makan (marii’). Kelima: Berbuat baik kepada hewan ketika menyembelih seperti menyembelih dengan pisau yang sangat tajam sehingga cepat disembelih, tidak mengasah pisau di hadapan hewan qurban, dan tidak menyembelih hewan di hadapan kawan-kawannya yang belum disembelih. Keenam: Hewan yang akan disembelih dibaringkan ke sisi kiri, lalu dihadapkan ke arah kiblat, lalu si penyembelih menginjak bagian leher hewan sambil bagian kepala dipegang, lalu si penyembelih dianjurkan pula menghadap kiblat. Ketujuh: Membaca bismillah dan takbir, paling minimal adalah dengan bacaan BISMILLAH WALLAHU AKBAR. Kedelapan: Berdoa kepada Allah agar amalan qurban dari shahibul qurban diterima dengan bacaan: ALLOHUMMA HADZIHI MINKA WA ILAIKA FATAQOBBAL MINNII ATAU MIN (disebutkan nama) (artinya: Ya Allah, ini adalah dari-Mu, untuk-Mu, terimalah qurban dariku atau dari …). Kesembilan: Hasil qurban disunnahkan dicicipi oleh shahibul qurban, lalu sisanya bisa sebagai sedekah kepada fakir miskin dalam bentuk daging mentah yang masih segar, dan sisanya dibagi sebagai hadiah untuk kerabat, tetangga, dan teman. Kesepuluh: Hasil qurban tidak boleh dijual termasuk kulitnya. Tukang jagal hendaklah diberi upah yang layak, tetapi tidak boleh upah jagal hanya murni diambil dari hasil qurban. Baca juga: Panduan Qurban   اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah, Ibadah selanjutnya yang identik dengan hari raya Iduladha adalah ibadah haji ke Tanah Suci. Ibadah haji merupakan kewajiban bagi kita umat Islam yang memiliki kemampuan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 97, وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97) Ibadah haji adalah ibadah dengan fisik dan harta. Adapaun ibadah shalat dan puasa adalah ibadah dengan fisik kita. Sedangkan, zakat adalah ibadah dengan harta kita. Karena ibadah haji melibatkan harta dan fisik, maka tentu yang diwajibkan adalah orang-orang yang mampu saja. Mereka yang sudah wajib untuk berhaji adalah: beragama Islam, baligh, berakal, merdeka, dan memiliki kemampuan. Kemampuan yang dimaksud adalah: (1) memiliki bekal dan kendaraan (di mana hartanya bisa memenuhi utangnya dan beban nafkah keluarga saat pergi hingga kembali dari berhaji), (2) aman di perjalanan, (3) mampu untuk melakukan perjalanan. Dalam ibadah haji para jamaah melakukan rangkaian ibadah sebagai upaya membersihkan diri dari dosa seraya mengharapkan ampunan, rahmat, dan ridha Allah. Dalam hadits disebutkan, مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Siapa yang berhaji karena Allah lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari, no. 1521). Orang yang berhaji juga melatih kesabaran dengan kedisiplinan rangkaian ibadah sekaligus melupakan urusan dunia yang sering membuat hati manusia lalai mengingat Allah. Dengan hanya mengenakan kain ihram berwarna putih, para jamaah haji diingatkan dengan kain kafan ciri khas dari kematian yang pasti akan datang kepada setiap yang bernyawa. Kita berasal dari Allah dan hanya kepada-Nyalah kita akan kembali. Kita pasti akan berpisah dengan semua yang kita cintai dan berpisah dengan yang mencintai kita. Semua akan kembali kepada Sang pemilik yang hakiki, Allah. Dalam ibadah haji, jamaah juga melakukan ibadah lainnya seperti Thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dan melakukan lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah yang dinamakan dengan Sai. Dalam ibadah ini para jamaah berdoa untuk senantiasa mendapatkan pertolongan Allah dan perlindungan dari dosa yang timbul dari hawa nafsu dan godaan Setan. Ibadah thawaf dan sai memiliki makna yang mendalam agar kita senantiasa berusaha tanpa henti dan berhijrah melalui bentuk aktivitas berlari untuk meraih kemuliaan dengan berserah diri kepada Allah. Dengan senantiasa membersihkan hati dari sifat yang tercela, kita harus menanamkan tekad untuk mencapai puncak kesucian. اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah, Allah Ta’ala telah menjanjikan Surga-Nya kepada umat Islam yang melaksanakan haji dengan niat tulus karena Allah dan dapat meraih predikat mabrur. وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349). Haji mabrur adalah haji yang diikuti kebaikan setelah berhaji. Baca juga: Enam Keutamaan Ibadah Haji Karena besarnya pahala haji dan banyak memori yang terkenang di sana, banyak yang rindu kembali ke sana, minimal dengan berumrah. Allah Ta’ala berfirman, فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepadanya.” (QS. Ibrahim: 37). Ada ulama yang mengatakan bahwa orang yang sudah ke Makkah, akan rindu kembali ke sana setiap tahunnya. اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Hadirin rahimahi wa rahimakumullah, Ibadah haji dan qurban ini memiliki kesamaan di antaranya adalah meninggalkan larangan tertentu. Selama berihram, orang yang berhaji tidak boleh memotong kuku dan rambut. Begitu pula, sejak masuk 1 Dzulhijjah, orang yang berqurban dimakruhkan (makruh tanzih) pula memotong kuku dan rambut. Ibadah haji dan qurban juga dilakukan melihat dari kemampuan harta. Tentu saja, harta yang dikeluarkan akan diberi ganti yang lebih baik. Tinggal kita saja yakin ataukah tidak. مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ “Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (QS. Al-Hadid: 11). Ketika mendengar ayat ini, Abud Dahdaa’ begitu yakin akan janji Allah, hingga ia bersedekah dengan 600 pohon kurma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun terkagum dengan Abud Dahdaa hingga bersabda, “Begitu banyak pohon kurma untuk Abu Dahdaa di surga. Akar dari tanaman tersebut adalah mutiara dan yaqut (sejenis batu mulia).” (Riwayat ini adalah riwayat yang sahih, dikeluarkan oleh Abdu bin Humaid dalam Muntakhob dan Ibnu Hibban dalam Mawarid Zhoma’an). Baca juga: Kisah Abud Dahdaa Ketika Bersedekah dengan 600 Pohon Kurma   اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Ya Allah, berikanlah kami kemudahan untuk berqurban pada tahun ini, serta terimalah amalan kami. Ya Allah, berikanlah kami semua untuk segera hadir di tanah suci yang kami rindukan untuk berhaji, atau minimal berumrah. Ya Allah, berkahilah rezeki kepada kami semua. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِى اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.     Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2022: “Hikmah dari Ibadah Qurban dan Haji”   Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2021: “Pasrah kepada Allah di Masa Sulit”   – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 9 Dzulhijjah 1443 H, Malam Sabtu Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfikih haji haji mampu haji panduan haji panduan qurban qurban
Apa saja hikmah dari ibadah qurban dan haji? Ini adalah dua ibadah yang dilaksanakan pada Iduladha hingga hari tasyrik. Moga kita bisa mengambil pelajaran berharga di dalamnya.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2022: 4. Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2021:   Khutbah Pertama   اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضَ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ .وقال ايضا : وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah … Pertama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13) Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa dan bukan dilihat dari kemulian leluhur kalian.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:723) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi mulia, suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Hadirin rahimakumullah, Ibadah qurban adalah ibadah yang dilakukan dalam rangka taqarrub kepada Allah dengan menyembelih unta, sapi, atau kambing pada hari Iduladha dan tiga hari tasyrik. Ibadah qurban adalah ibadah yang berawal dari sejarah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mendapatkan perintah untuk mengorbankan putranya, Ismail, dengan cara disembelih. Berbekal keimanan yang tinggi, Nabi Ibrahim pun melaksanakan perintah yang disampaikan Allah melalui sebuah mimpi. Namun, sebelum Nabi Ibrahim menyembelih Ismail, malaikat membawa seekor domba dari surga sebagai ganti untuk disembelih. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaffaat: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaaffaat: 102) Apa hikmah yang ditarik dari ibadah qurban? Qurban adalah bentuk taqarrub (pendekatan) diri kepada Allah. Qurban dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan. Qurban itu bentuk berbagi dengan keluarga, teman, dan orang miskin. Qurban itu untuk menguatkan persaudaraan dalam masyarakat muslim dan tolong menolong dengan sesama. Qurban itu bisa menghapus dosa dan mendapatkan ganjaran yang besar. Baca juga: Keutamaan dan Hikmah Ibadah Qurban   Karena qurban adalah ibadah (taqarrub kepada Allah), hendaklah memenuhi aturan-aturan yang sudah diajarkan dalam syariat Islam. Pertama: Hewan yang diqurbankan adalah unta, sapi, atau kambing yang telah memenuhi kriteria umur. Untuk umur minimal qurban, unta adalah lima tahun, sapi adalah dua tahun, kambing adalah satu tahun (atau dua tahun menurut madzhab Syafii). Kedua: Hewan qurban harus terhindar dari cacat yang mengurangi daging atau sesuatu yang dimakan seperti buta sebelah, sakit, pincang, sangat kurus, terpotong telinga, hingga telinga tidak ada sama sekali. Tak masalah bila tanduk hewan qurban tidak ada, terpotong, atau retak. Namun, sebaik-baik qurban adalah yang sempurna yaitu yang berwarna putih, bertanduk, dan jantan seperti hewan yang dijadikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk qurban. Ketiga: Menyembelih qurban pada waktu yang telah ditetapkan yaitu setelah shalat Iduladha dan dua khutbah hingga sebelum tenggelam matahari pada 13 Dzulhijjah (hari tasyrik terakhir). Keempat: Harus memenuhi empat rukun penyembelihan: Dzaabih, orang yang menyembelih: Islam atau ahli kitab. Madzbuuh, yang disembelih: hidup dan halal dimakan. Aalah, alat penyembelihan: merupakan alat pemotong, bisa terbuat dari kaca atau kayu, bukan tulang, gigi, atau kuku. Dzabh, yaitu aktivitas yang menghalalkan hewan yang disembelih, yaitu menyembelih pada halq (leher atas), di mana syarat minimalnya adalah terpotongnya dua saluran, yaitu saluran nafas (hulquum) dan saluran makan (marii’). Kelima: Berbuat baik kepada hewan ketika menyembelih seperti menyembelih dengan pisau yang sangat tajam sehingga cepat disembelih, tidak mengasah pisau di hadapan hewan qurban, dan tidak menyembelih hewan di hadapan kawan-kawannya yang belum disembelih. Keenam: Hewan yang akan disembelih dibaringkan ke sisi kiri, lalu dihadapkan ke arah kiblat, lalu si penyembelih menginjak bagian leher hewan sambil bagian kepala dipegang, lalu si penyembelih dianjurkan pula menghadap kiblat. Ketujuh: Membaca bismillah dan takbir, paling minimal adalah dengan bacaan BISMILLAH WALLAHU AKBAR. Kedelapan: Berdoa kepada Allah agar amalan qurban dari shahibul qurban diterima dengan bacaan: ALLOHUMMA HADZIHI MINKA WA ILAIKA FATAQOBBAL MINNII ATAU MIN (disebutkan nama) (artinya: Ya Allah, ini adalah dari-Mu, untuk-Mu, terimalah qurban dariku atau dari …). Kesembilan: Hasil qurban disunnahkan dicicipi oleh shahibul qurban, lalu sisanya bisa sebagai sedekah kepada fakir miskin dalam bentuk daging mentah yang masih segar, dan sisanya dibagi sebagai hadiah untuk kerabat, tetangga, dan teman. Kesepuluh: Hasil qurban tidak boleh dijual termasuk kulitnya. Tukang jagal hendaklah diberi upah yang layak, tetapi tidak boleh upah jagal hanya murni diambil dari hasil qurban. Baca juga: Panduan Qurban   اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah, Ibadah selanjutnya yang identik dengan hari raya Iduladha adalah ibadah haji ke Tanah Suci. Ibadah haji merupakan kewajiban bagi kita umat Islam yang memiliki kemampuan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 97, وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97) Ibadah haji adalah ibadah dengan fisik dan harta. Adapaun ibadah shalat dan puasa adalah ibadah dengan fisik kita. Sedangkan, zakat adalah ibadah dengan harta kita. Karena ibadah haji melibatkan harta dan fisik, maka tentu yang diwajibkan adalah orang-orang yang mampu saja. Mereka yang sudah wajib untuk berhaji adalah: beragama Islam, baligh, berakal, merdeka, dan memiliki kemampuan. Kemampuan yang dimaksud adalah: (1) memiliki bekal dan kendaraan (di mana hartanya bisa memenuhi utangnya dan beban nafkah keluarga saat pergi hingga kembali dari berhaji), (2) aman di perjalanan, (3) mampu untuk melakukan perjalanan. Dalam ibadah haji para jamaah melakukan rangkaian ibadah sebagai upaya membersihkan diri dari dosa seraya mengharapkan ampunan, rahmat, dan ridha Allah. Dalam hadits disebutkan, مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Siapa yang berhaji karena Allah lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari, no. 1521). Orang yang berhaji juga melatih kesabaran dengan kedisiplinan rangkaian ibadah sekaligus melupakan urusan dunia yang sering membuat hati manusia lalai mengingat Allah. Dengan hanya mengenakan kain ihram berwarna putih, para jamaah haji diingatkan dengan kain kafan ciri khas dari kematian yang pasti akan datang kepada setiap yang bernyawa. Kita berasal dari Allah dan hanya kepada-Nyalah kita akan kembali. Kita pasti akan berpisah dengan semua yang kita cintai dan berpisah dengan yang mencintai kita. Semua akan kembali kepada Sang pemilik yang hakiki, Allah. Dalam ibadah haji, jamaah juga melakukan ibadah lainnya seperti Thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dan melakukan lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah yang dinamakan dengan Sai. Dalam ibadah ini para jamaah berdoa untuk senantiasa mendapatkan pertolongan Allah dan perlindungan dari dosa yang timbul dari hawa nafsu dan godaan Setan. Ibadah thawaf dan sai memiliki makna yang mendalam agar kita senantiasa berusaha tanpa henti dan berhijrah melalui bentuk aktivitas berlari untuk meraih kemuliaan dengan berserah diri kepada Allah. Dengan senantiasa membersihkan hati dari sifat yang tercela, kita harus menanamkan tekad untuk mencapai puncak kesucian. اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah, Allah Ta’ala telah menjanjikan Surga-Nya kepada umat Islam yang melaksanakan haji dengan niat tulus karena Allah dan dapat meraih predikat mabrur. وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349). Haji mabrur adalah haji yang diikuti kebaikan setelah berhaji. Baca juga: Enam Keutamaan Ibadah Haji Karena besarnya pahala haji dan banyak memori yang terkenang di sana, banyak yang rindu kembali ke sana, minimal dengan berumrah. Allah Ta’ala berfirman, فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepadanya.” (QS. Ibrahim: 37). Ada ulama yang mengatakan bahwa orang yang sudah ke Makkah, akan rindu kembali ke sana setiap tahunnya. اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Hadirin rahimahi wa rahimakumullah, Ibadah haji dan qurban ini memiliki kesamaan di antaranya adalah meninggalkan larangan tertentu. Selama berihram, orang yang berhaji tidak boleh memotong kuku dan rambut. Begitu pula, sejak masuk 1 Dzulhijjah, orang yang berqurban dimakruhkan (makruh tanzih) pula memotong kuku dan rambut. Ibadah haji dan qurban juga dilakukan melihat dari kemampuan harta. Tentu saja, harta yang dikeluarkan akan diberi ganti yang lebih baik. Tinggal kita saja yakin ataukah tidak. مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ “Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (QS. Al-Hadid: 11). Ketika mendengar ayat ini, Abud Dahdaa’ begitu yakin akan janji Allah, hingga ia bersedekah dengan 600 pohon kurma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun terkagum dengan Abud Dahdaa hingga bersabda, “Begitu banyak pohon kurma untuk Abu Dahdaa di surga. Akar dari tanaman tersebut adalah mutiara dan yaqut (sejenis batu mulia).” (Riwayat ini adalah riwayat yang sahih, dikeluarkan oleh Abdu bin Humaid dalam Muntakhob dan Ibnu Hibban dalam Mawarid Zhoma’an). Baca juga: Kisah Abud Dahdaa Ketika Bersedekah dengan 600 Pohon Kurma   اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Ya Allah, berikanlah kami kemudahan untuk berqurban pada tahun ini, serta terimalah amalan kami. Ya Allah, berikanlah kami semua untuk segera hadir di tanah suci yang kami rindukan untuk berhaji, atau minimal berumrah. Ya Allah, berkahilah rezeki kepada kami semua. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِى اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.     Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2022: “Hikmah dari Ibadah Qurban dan Haji”   Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2021: “Pasrah kepada Allah di Masa Sulit”   – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 9 Dzulhijjah 1443 H, Malam Sabtu Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfikih haji haji mampu haji panduan haji panduan qurban qurban


Apa saja hikmah dari ibadah qurban dan haji? Ini adalah dua ibadah yang dilaksanakan pada Iduladha hingga hari tasyrik. Moga kita bisa mengambil pelajaran berharga di dalamnya.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2022: 4. Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2021:   Khutbah Pertama   اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضَ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ .وقال ايضا : وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah … Pertama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13) Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa dan bukan dilihat dari kemulian leluhur kalian.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:723) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi mulia, suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Hadirin rahimakumullah, Ibadah qurban adalah ibadah yang dilakukan dalam rangka taqarrub kepada Allah dengan menyembelih unta, sapi, atau kambing pada hari Iduladha dan tiga hari tasyrik. Ibadah qurban adalah ibadah yang berawal dari sejarah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mendapatkan perintah untuk mengorbankan putranya, Ismail, dengan cara disembelih. Berbekal keimanan yang tinggi, Nabi Ibrahim pun melaksanakan perintah yang disampaikan Allah melalui sebuah mimpi. Namun, sebelum Nabi Ibrahim menyembelih Ismail, malaikat membawa seekor domba dari surga sebagai ganti untuk disembelih. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaffaat: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaaffaat: 102) Apa hikmah yang ditarik dari ibadah qurban? Qurban adalah bentuk taqarrub (pendekatan) diri kepada Allah. Qurban dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan. Qurban itu bentuk berbagi dengan keluarga, teman, dan orang miskin. Qurban itu untuk menguatkan persaudaraan dalam masyarakat muslim dan tolong menolong dengan sesama. Qurban itu bisa menghapus dosa dan mendapatkan ganjaran yang besar. Baca juga: Keutamaan dan Hikmah Ibadah Qurban   Karena qurban adalah ibadah (taqarrub kepada Allah), hendaklah memenuhi aturan-aturan yang sudah diajarkan dalam syariat Islam. Pertama: Hewan yang diqurbankan adalah unta, sapi, atau kambing yang telah memenuhi kriteria umur. Untuk umur minimal qurban, unta adalah lima tahun, sapi adalah dua tahun, kambing adalah satu tahun (atau dua tahun menurut madzhab Syafii). Kedua: Hewan qurban harus terhindar dari cacat yang mengurangi daging atau sesuatu yang dimakan seperti buta sebelah, sakit, pincang, sangat kurus, terpotong telinga, hingga telinga tidak ada sama sekali. Tak masalah bila tanduk hewan qurban tidak ada, terpotong, atau retak. Namun, sebaik-baik qurban adalah yang sempurna yaitu yang berwarna putih, bertanduk, dan jantan seperti hewan yang dijadikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk qurban. Ketiga: Menyembelih qurban pada waktu yang telah ditetapkan yaitu setelah shalat Iduladha dan dua khutbah hingga sebelum tenggelam matahari pada 13 Dzulhijjah (hari tasyrik terakhir). Keempat: Harus memenuhi empat rukun penyembelihan: Dzaabih, orang yang menyembelih: Islam atau ahli kitab. Madzbuuh, yang disembelih: hidup dan halal dimakan. Aalah, alat penyembelihan: merupakan alat pemotong, bisa terbuat dari kaca atau kayu, bukan tulang, gigi, atau kuku. Dzabh, yaitu aktivitas yang menghalalkan hewan yang disembelih, yaitu menyembelih pada halq (leher atas), di mana syarat minimalnya adalah terpotongnya dua saluran, yaitu saluran nafas (hulquum) dan saluran makan (marii’). Kelima: Berbuat baik kepada hewan ketika menyembelih seperti menyembelih dengan pisau yang sangat tajam sehingga cepat disembelih, tidak mengasah pisau di hadapan hewan qurban, dan tidak menyembelih hewan di hadapan kawan-kawannya yang belum disembelih. Keenam: Hewan yang akan disembelih dibaringkan ke sisi kiri, lalu dihadapkan ke arah kiblat, lalu si penyembelih menginjak bagian leher hewan sambil bagian kepala dipegang, lalu si penyembelih dianjurkan pula menghadap kiblat. Ketujuh: Membaca bismillah dan takbir, paling minimal adalah dengan bacaan BISMILLAH WALLAHU AKBAR. Kedelapan: Berdoa kepada Allah agar amalan qurban dari shahibul qurban diterima dengan bacaan: ALLOHUMMA HADZIHI MINKA WA ILAIKA FATAQOBBAL MINNII ATAU MIN (disebutkan nama) (artinya: Ya Allah, ini adalah dari-Mu, untuk-Mu, terimalah qurban dariku atau dari …). Kesembilan: Hasil qurban disunnahkan dicicipi oleh shahibul qurban, lalu sisanya bisa sebagai sedekah kepada fakir miskin dalam bentuk daging mentah yang masih segar, dan sisanya dibagi sebagai hadiah untuk kerabat, tetangga, dan teman. Kesepuluh: Hasil qurban tidak boleh dijual termasuk kulitnya. Tukang jagal hendaklah diberi upah yang layak, tetapi tidak boleh upah jagal hanya murni diambil dari hasil qurban. Baca juga: Panduan Qurban   اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah, Ibadah selanjutnya yang identik dengan hari raya Iduladha adalah ibadah haji ke Tanah Suci. Ibadah haji merupakan kewajiban bagi kita umat Islam yang memiliki kemampuan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 97, وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97) Ibadah haji adalah ibadah dengan fisik dan harta. Adapaun ibadah shalat dan puasa adalah ibadah dengan fisik kita. Sedangkan, zakat adalah ibadah dengan harta kita. Karena ibadah haji melibatkan harta dan fisik, maka tentu yang diwajibkan adalah orang-orang yang mampu saja. Mereka yang sudah wajib untuk berhaji adalah: beragama Islam, baligh, berakal, merdeka, dan memiliki kemampuan. Kemampuan yang dimaksud adalah: (1) memiliki bekal dan kendaraan (di mana hartanya bisa memenuhi utangnya dan beban nafkah keluarga saat pergi hingga kembali dari berhaji), (2) aman di perjalanan, (3) mampu untuk melakukan perjalanan. Dalam ibadah haji para jamaah melakukan rangkaian ibadah sebagai upaya membersihkan diri dari dosa seraya mengharapkan ampunan, rahmat, dan ridha Allah. Dalam hadits disebutkan, مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Siapa yang berhaji karena Allah lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari, no. 1521). Orang yang berhaji juga melatih kesabaran dengan kedisiplinan rangkaian ibadah sekaligus melupakan urusan dunia yang sering membuat hati manusia lalai mengingat Allah. Dengan hanya mengenakan kain ihram berwarna putih, para jamaah haji diingatkan dengan kain kafan ciri khas dari kematian yang pasti akan datang kepada setiap yang bernyawa. Kita berasal dari Allah dan hanya kepada-Nyalah kita akan kembali. Kita pasti akan berpisah dengan semua yang kita cintai dan berpisah dengan yang mencintai kita. Semua akan kembali kepada Sang pemilik yang hakiki, Allah. Dalam ibadah haji, jamaah juga melakukan ibadah lainnya seperti Thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dan melakukan lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah yang dinamakan dengan Sai. Dalam ibadah ini para jamaah berdoa untuk senantiasa mendapatkan pertolongan Allah dan perlindungan dari dosa yang timbul dari hawa nafsu dan godaan Setan. Ibadah thawaf dan sai memiliki makna yang mendalam agar kita senantiasa berusaha tanpa henti dan berhijrah melalui bentuk aktivitas berlari untuk meraih kemuliaan dengan berserah diri kepada Allah. Dengan senantiasa membersihkan hati dari sifat yang tercela, kita harus menanamkan tekad untuk mencapai puncak kesucian. اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah, Allah Ta’ala telah menjanjikan Surga-Nya kepada umat Islam yang melaksanakan haji dengan niat tulus karena Allah dan dapat meraih predikat mabrur. وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349). Haji mabrur adalah haji yang diikuti kebaikan setelah berhaji. Baca juga: Enam Keutamaan Ibadah Haji Karena besarnya pahala haji dan banyak memori yang terkenang di sana, banyak yang rindu kembali ke sana, minimal dengan berumrah. Allah Ta’ala berfirman, فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepadanya.” (QS. Ibrahim: 37). Ada ulama yang mengatakan bahwa orang yang sudah ke Makkah, akan rindu kembali ke sana setiap tahunnya. اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Hadirin rahimahi wa rahimakumullah, Ibadah haji dan qurban ini memiliki kesamaan di antaranya adalah meninggalkan larangan tertentu. Selama berihram, orang yang berhaji tidak boleh memotong kuku dan rambut. Begitu pula, sejak masuk 1 Dzulhijjah, orang yang berqurban dimakruhkan (makruh tanzih) pula memotong kuku dan rambut. Ibadah haji dan qurban juga dilakukan melihat dari kemampuan harta. Tentu saja, harta yang dikeluarkan akan diberi ganti yang lebih baik. Tinggal kita saja yakin ataukah tidak. مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ “Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (QS. Al-Hadid: 11). Ketika mendengar ayat ini, Abud Dahdaa’ begitu yakin akan janji Allah, hingga ia bersedekah dengan 600 pohon kurma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun terkagum dengan Abud Dahdaa hingga bersabda, “Begitu banyak pohon kurma untuk Abu Dahdaa di surga. Akar dari tanaman tersebut adalah mutiara dan yaqut (sejenis batu mulia).” (Riwayat ini adalah riwayat yang sahih, dikeluarkan oleh Abdu bin Humaid dalam Muntakhob dan Ibnu Hibban dalam Mawarid Zhoma’an). Baca juga: Kisah Abud Dahdaa Ketika Bersedekah dengan 600 Pohon Kurma   اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ Ya Allah, berikanlah kami kemudahan untuk berqurban pada tahun ini, serta terimalah amalan kami. Ya Allah, berikanlah kami semua untuk segera hadir di tanah suci yang kami rindukan untuk berhaji, atau minimal berumrah. Ya Allah, berkahilah rezeki kepada kami semua. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِى اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.     Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2022: “Hikmah dari Ibadah Qurban dan Haji”   Silakan Unduh Naskah Khutbah Iduladha 2021: “Pasrah kepada Allah di Masa Sulit”   – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 9 Dzulhijjah 1443 H, Malam Sabtu Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfikih haji haji mampu haji panduan haji panduan qurban qurban

Setelah Mandi Junub, Apakah Perlu Berwudu Lagi?

Seseorang yang telah selesai dari mandi junub, maka telah mencukupkannya dari berwudu. Dengan kata lain, ia tidak perlu berwudu lagi setelahnya. Allah Ta’ala berfirman,وإن كنتم جنبا فاطهروا“Jika kamu junub, maka mandilah.” (QS. Al-Ma’idah: 6)Allah Ta’ala tidak memerintahkan untuk orang yang junub, kecuali mandi. Hal itu menunjukkan bahwa mandi junub tersebut mencukupkannya dari berwudu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda kepada Ummu Salamah saat ia bertanya kepadanya tentang tata cara menyucikan diri dari junub,إنما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات ثم تفيضين الماء على سائر جسدك فتطهرين“Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah seluruh tubuhmu dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)Di dalam hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak memerintahkannya untuk berwudu.Alasan lainnya, hadas kecil (pembatal-pembatal wudu) masuk dan mengikuti hadas besar (yang mewajibkan mandi). Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يتوضأ بعد الغسل“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berwudu setelah selesai mandi.” (HR. Tirmidzi no. 107, Ibnu Majah no. 579, An-Nasa’i no. 252, dan Ahmad no. 24389)Baca Juga: Hukum Tidur dalam Keadaan JunubDalam sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan,سُئِلَ عَنِ الْوُضُوءِ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فَقَالَ:وَأَيُّ وُضُوءٍ أَعَمُّ مِنَ الْغُسْلِ؟Beliau ditanya mengenai wudu setelah mandi. Lalu, beliau menjawab, “Lantas wudu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah)Hadis riwayat Ibnu Umar tersebut menjelaskan bahwa kedudukan mandi lebih umum (besar) dari pada wudu. Artinya, ketika seorang telah melakukan mandi junub, itu sekaligus telah mencakup wudu.Salah seorang ulama, Abu Bakr Ibnu Al-Araby rahimahullah menegaskan tidak adanya perselisihan ulama bahwa wudu sudah masuk dan tercakup ke dalam mandi junub (mandi besar).Syekh ‘Utsaimin rahimahullah di dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan,“Mandi, kalau niatnya untuk menyucikan diri dari janabah, maka itu mencukupkannya dari wudu berdasarkan firman Allah Ta’ala, ‘Jika kamu junub, maka mandilah.’ Sehingga, ketika seseorang dalam kondisi junub, kemudian ia berendam dan menenggelamkan dirinya ke dalam bak besar, sungai, atau yang semisal dengannya disertai niat menyucikan diri dari janabahnya, sedang ia juga berkumur-kumur, dan memasukkan airnya ke hidung, maka telah terangkat darinya hadas kecil dan hadas besar. Karena Allah Ta’ala tidaklah mewajibkan kepada orang yang sedang dalam kondisi junub, kecuali mandi besar saja, yaitu dengan cara mengalirkan air dengan menyeluruh ke seluruh badannya. Walaupun yang lebih utama adalah seseorang yang yang sedang mandi dari janabah memulai mandinya dengan berwudu. Hal inilah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di mana beliau menyuci kemaluannya setelah menyuci kedua telapak tangannya. Kemudian setelah itu, ia berwudu sebagaimana wudunya ketika hendak salat. Barulah kemudian menuangkan air ke atas kepalanya. Setelah beliau yakin air telah merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.”Hanya saja ada 2 permasalahan penting terkait wudu setelah mandi junub yang harus kita perhatikan.Baca Juga: Hukum yang Berkaitan dengan Kondisi Junub Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Apakah hukum di atas berlaku juga untuk mandi sunah pada hari Jumat atau mandi biasa? 2. Kedua: Bagaimana dengan mereka yang melakukan pembatal wudu saat sedang mandi junub? Pertama: Apakah hukum di atas berlaku juga untuk mandi sunah pada hari Jumat atau mandi biasa?Mandi sunah pada hari Jumat dan mandi untuk sekedar membersihkan diri atau mendinginkan badan tidaklah mencukupi dan tidak bisa menggugurkan kewajiban berwudu. Oleh karena itu, jika ada seseorang yang mandi dengan niat membersihkan diri atau niat untuk mandi sunah, namun ia tidak berniat untuk menyucikan diri dari hadas kecil dan kemudian ia mencuci anggota wudu secara berurutan di dalam mandinya, maka ia tetap harus mengulang wudunya setelah mandi.Al-Kharsyi rahimahullah di dalam Syarh Mukhtasar Khalil mengatakan,فإن اقتصر المتطهر على الغسل دون الوضوء أجزأه ، وهذا في الغسل الواجب، أما غيره فلا يجزئ عن الوضوء، ولا بد من الوضوء إذا أراد الصلاة“Jika seseorang yang sedang bersuci (dari hadas besar) hanya mencukupkan diri dengan mandi tanpa wudu, maka hal tersebut telah mencukupinya. Hal ini hanya berlaku jika mandinya tersebut adalah mandi wajib (mandi dari janabah). Adapun (mandi-mandi) yang lain, maka itu tidak bisa mencukupi dan tidak bisa menggugurkan kewajiban wudu. Ia masih diharuskan untuk berwudu ketika hendak melaksanakan salat.”Syekh Bin Baaz rahimahullah di dalam Majmu’ Fatawa beliau juga memberikan tambahan penjelasan,“Adapun jika tujuan mandinya selain hal tersebut, seperti mandi Jumat, mandi untuk bersuci, dan mendinginkan tubuh, maka mandi tersebut tidak bisa menggugurkan kewajiban wudu, walaupun ia meniatkannya. Karena tidak adanya “at-tartiib” (berurutan ketika wudu) di dalamnya. Padahal hal tersebut merupakan salah satu kewajiban di dalam berwudu. Dan (alasan lainnya adalah) tidak adanya bersuci dari hadas besar yang otomatis akan mengikutsertakan bersuci dari hadas kecil hanya dengan niat sebagaimana di dalam perkara mandi junub.”Kedua: Bagaimana dengan mereka yang melakukan pembatal wudu saat sedang mandi junub?Jika orang yang sedang mandi junub melakukan pembatal-pembatal wudu, baik itu buang air kecil, buang air besar, kentut, atau menyentuh kemaluan (menurut pendapat yang rajih), maka ia tidak perlu mengulang mandinya. Hanya saja, wajib baginya untuk mengulang wudu setelah ia menyelesaikan mandinya dan akan melakukan ibadah yang mewajibkan wudu.Syekh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan di dalam Majmu’ Fatawa,ولا يجب عليه أن يتوضأ بعد الغسل ، إلا إذا حصل ناقض من نواقض الوضوء أثناء الغسل أو بعده، فيجب عليه أن يتوضأ للصلاة، وأما إذا لم يحدث فإن غسله من الجنابة يجزئ عن الوضوء سواء توضأ قبل الغسل أم لم يتوضأ“Tidak wajib baginya untuk berwudu selepas mandi, kecuali jika ia melakukan pembatal-pembatal wudu di pertengahan mandinya atau ketika telah selesai darinya, barulah ia diwajibkan untuk berwudu kembali. Adapun jika ia tidak berhadas (tidak melakukan pembatal wudu tatkala mandi), maka mandinya tersebut telah mencukupi dan menggugurkan kewajiban wudu. Hukumnya sama, apakah ia telah berwudu sebelum mandinya ataupun tidak.”Beliau rahimahullah juga menambahkan,خروج الريح من نواقض الوضوء لا من نواقض الغسل، وعليه، فمن لمس فرجه أو تبول أو أخرج ريحا أثناء غسله فإنه يتم غسله، ويتوضأ بعده .“Kentut adalah pembatal wudu dan bukan pembatal mandi. Oleh karenanya, siapa saja yang menyentuh kemaluannya, kencing, atau kentut di tengah mandinya, maka ia cukup menyempurnakan mandinya saja (tidak perlu mengulangnya), dan ia harus berwudu setelahnya.”Oleh karenanya, saat hendak mandi besar, dan kita tidak menginginkan untuk mengulang wudu setelahnya, hendaknya ia menuntaskan seluruh hajatnya sebelum memulai prosesi mandinya. Bahkan, membersihkan kemaluan (yang berarti menyentuh kemaluan) sebelum memulai mandi merupakan salah satu sunah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana di dalam hadis, قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِMaimunah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu, beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali dua kali atau tiga kali. Lalu, dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu, beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu, beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian, beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu, beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)Wallahu A’lam Bisshowaab.Baca Juga:Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Fatwa Ulama: Dalam Kondisi Junub, Namun Air Hanya Sedikit, Harus Bagaimana?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-Utsaimin.Majmu’ Fatawa wa Maqaalaati As-Syaikh Ibnu Baaz.🔍 Tawakal, Hadist Tentang Berjilbab, Makanan Sehat Ala Rasulullah, Ayat Larangan Memilih Pemimpin Kafir, Materi KurbanTags: fikih mandi besarfikih mandi junubfikih mandi wajibjunubkeutamaan wudhumandi besarmandi wajibmenjaga wudhuWudhu

Setelah Mandi Junub, Apakah Perlu Berwudu Lagi?

Seseorang yang telah selesai dari mandi junub, maka telah mencukupkannya dari berwudu. Dengan kata lain, ia tidak perlu berwudu lagi setelahnya. Allah Ta’ala berfirman,وإن كنتم جنبا فاطهروا“Jika kamu junub, maka mandilah.” (QS. Al-Ma’idah: 6)Allah Ta’ala tidak memerintahkan untuk orang yang junub, kecuali mandi. Hal itu menunjukkan bahwa mandi junub tersebut mencukupkannya dari berwudu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda kepada Ummu Salamah saat ia bertanya kepadanya tentang tata cara menyucikan diri dari junub,إنما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات ثم تفيضين الماء على سائر جسدك فتطهرين“Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah seluruh tubuhmu dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)Di dalam hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak memerintahkannya untuk berwudu.Alasan lainnya, hadas kecil (pembatal-pembatal wudu) masuk dan mengikuti hadas besar (yang mewajibkan mandi). Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يتوضأ بعد الغسل“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berwudu setelah selesai mandi.” (HR. Tirmidzi no. 107, Ibnu Majah no. 579, An-Nasa’i no. 252, dan Ahmad no. 24389)Baca Juga: Hukum Tidur dalam Keadaan JunubDalam sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan,سُئِلَ عَنِ الْوُضُوءِ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فَقَالَ:وَأَيُّ وُضُوءٍ أَعَمُّ مِنَ الْغُسْلِ؟Beliau ditanya mengenai wudu setelah mandi. Lalu, beliau menjawab, “Lantas wudu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah)Hadis riwayat Ibnu Umar tersebut menjelaskan bahwa kedudukan mandi lebih umum (besar) dari pada wudu. Artinya, ketika seorang telah melakukan mandi junub, itu sekaligus telah mencakup wudu.Salah seorang ulama, Abu Bakr Ibnu Al-Araby rahimahullah menegaskan tidak adanya perselisihan ulama bahwa wudu sudah masuk dan tercakup ke dalam mandi junub (mandi besar).Syekh ‘Utsaimin rahimahullah di dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan,“Mandi, kalau niatnya untuk menyucikan diri dari janabah, maka itu mencukupkannya dari wudu berdasarkan firman Allah Ta’ala, ‘Jika kamu junub, maka mandilah.’ Sehingga, ketika seseorang dalam kondisi junub, kemudian ia berendam dan menenggelamkan dirinya ke dalam bak besar, sungai, atau yang semisal dengannya disertai niat menyucikan diri dari janabahnya, sedang ia juga berkumur-kumur, dan memasukkan airnya ke hidung, maka telah terangkat darinya hadas kecil dan hadas besar. Karena Allah Ta’ala tidaklah mewajibkan kepada orang yang sedang dalam kondisi junub, kecuali mandi besar saja, yaitu dengan cara mengalirkan air dengan menyeluruh ke seluruh badannya. Walaupun yang lebih utama adalah seseorang yang yang sedang mandi dari janabah memulai mandinya dengan berwudu. Hal inilah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di mana beliau menyuci kemaluannya setelah menyuci kedua telapak tangannya. Kemudian setelah itu, ia berwudu sebagaimana wudunya ketika hendak salat. Barulah kemudian menuangkan air ke atas kepalanya. Setelah beliau yakin air telah merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.”Hanya saja ada 2 permasalahan penting terkait wudu setelah mandi junub yang harus kita perhatikan.Baca Juga: Hukum yang Berkaitan dengan Kondisi Junub Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Apakah hukum di atas berlaku juga untuk mandi sunah pada hari Jumat atau mandi biasa? 2. Kedua: Bagaimana dengan mereka yang melakukan pembatal wudu saat sedang mandi junub? Pertama: Apakah hukum di atas berlaku juga untuk mandi sunah pada hari Jumat atau mandi biasa?Mandi sunah pada hari Jumat dan mandi untuk sekedar membersihkan diri atau mendinginkan badan tidaklah mencukupi dan tidak bisa menggugurkan kewajiban berwudu. Oleh karena itu, jika ada seseorang yang mandi dengan niat membersihkan diri atau niat untuk mandi sunah, namun ia tidak berniat untuk menyucikan diri dari hadas kecil dan kemudian ia mencuci anggota wudu secara berurutan di dalam mandinya, maka ia tetap harus mengulang wudunya setelah mandi.Al-Kharsyi rahimahullah di dalam Syarh Mukhtasar Khalil mengatakan,فإن اقتصر المتطهر على الغسل دون الوضوء أجزأه ، وهذا في الغسل الواجب، أما غيره فلا يجزئ عن الوضوء، ولا بد من الوضوء إذا أراد الصلاة“Jika seseorang yang sedang bersuci (dari hadas besar) hanya mencukupkan diri dengan mandi tanpa wudu, maka hal tersebut telah mencukupinya. Hal ini hanya berlaku jika mandinya tersebut adalah mandi wajib (mandi dari janabah). Adapun (mandi-mandi) yang lain, maka itu tidak bisa mencukupi dan tidak bisa menggugurkan kewajiban wudu. Ia masih diharuskan untuk berwudu ketika hendak melaksanakan salat.”Syekh Bin Baaz rahimahullah di dalam Majmu’ Fatawa beliau juga memberikan tambahan penjelasan,“Adapun jika tujuan mandinya selain hal tersebut, seperti mandi Jumat, mandi untuk bersuci, dan mendinginkan tubuh, maka mandi tersebut tidak bisa menggugurkan kewajiban wudu, walaupun ia meniatkannya. Karena tidak adanya “at-tartiib” (berurutan ketika wudu) di dalamnya. Padahal hal tersebut merupakan salah satu kewajiban di dalam berwudu. Dan (alasan lainnya adalah) tidak adanya bersuci dari hadas besar yang otomatis akan mengikutsertakan bersuci dari hadas kecil hanya dengan niat sebagaimana di dalam perkara mandi junub.”Kedua: Bagaimana dengan mereka yang melakukan pembatal wudu saat sedang mandi junub?Jika orang yang sedang mandi junub melakukan pembatal-pembatal wudu, baik itu buang air kecil, buang air besar, kentut, atau menyentuh kemaluan (menurut pendapat yang rajih), maka ia tidak perlu mengulang mandinya. Hanya saja, wajib baginya untuk mengulang wudu setelah ia menyelesaikan mandinya dan akan melakukan ibadah yang mewajibkan wudu.Syekh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan di dalam Majmu’ Fatawa,ولا يجب عليه أن يتوضأ بعد الغسل ، إلا إذا حصل ناقض من نواقض الوضوء أثناء الغسل أو بعده، فيجب عليه أن يتوضأ للصلاة، وأما إذا لم يحدث فإن غسله من الجنابة يجزئ عن الوضوء سواء توضأ قبل الغسل أم لم يتوضأ“Tidak wajib baginya untuk berwudu selepas mandi, kecuali jika ia melakukan pembatal-pembatal wudu di pertengahan mandinya atau ketika telah selesai darinya, barulah ia diwajibkan untuk berwudu kembali. Adapun jika ia tidak berhadas (tidak melakukan pembatal wudu tatkala mandi), maka mandinya tersebut telah mencukupi dan menggugurkan kewajiban wudu. Hukumnya sama, apakah ia telah berwudu sebelum mandinya ataupun tidak.”Beliau rahimahullah juga menambahkan,خروج الريح من نواقض الوضوء لا من نواقض الغسل، وعليه، فمن لمس فرجه أو تبول أو أخرج ريحا أثناء غسله فإنه يتم غسله، ويتوضأ بعده .“Kentut adalah pembatal wudu dan bukan pembatal mandi. Oleh karenanya, siapa saja yang menyentuh kemaluannya, kencing, atau kentut di tengah mandinya, maka ia cukup menyempurnakan mandinya saja (tidak perlu mengulangnya), dan ia harus berwudu setelahnya.”Oleh karenanya, saat hendak mandi besar, dan kita tidak menginginkan untuk mengulang wudu setelahnya, hendaknya ia menuntaskan seluruh hajatnya sebelum memulai prosesi mandinya. Bahkan, membersihkan kemaluan (yang berarti menyentuh kemaluan) sebelum memulai mandi merupakan salah satu sunah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana di dalam hadis, قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِMaimunah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu, beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali dua kali atau tiga kali. Lalu, dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu, beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu, beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian, beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu, beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)Wallahu A’lam Bisshowaab.Baca Juga:Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Fatwa Ulama: Dalam Kondisi Junub, Namun Air Hanya Sedikit, Harus Bagaimana?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-Utsaimin.Majmu’ Fatawa wa Maqaalaati As-Syaikh Ibnu Baaz.🔍 Tawakal, Hadist Tentang Berjilbab, Makanan Sehat Ala Rasulullah, Ayat Larangan Memilih Pemimpin Kafir, Materi KurbanTags: fikih mandi besarfikih mandi junubfikih mandi wajibjunubkeutamaan wudhumandi besarmandi wajibmenjaga wudhuWudhu
Seseorang yang telah selesai dari mandi junub, maka telah mencukupkannya dari berwudu. Dengan kata lain, ia tidak perlu berwudu lagi setelahnya. Allah Ta’ala berfirman,وإن كنتم جنبا فاطهروا“Jika kamu junub, maka mandilah.” (QS. Al-Ma’idah: 6)Allah Ta’ala tidak memerintahkan untuk orang yang junub, kecuali mandi. Hal itu menunjukkan bahwa mandi junub tersebut mencukupkannya dari berwudu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda kepada Ummu Salamah saat ia bertanya kepadanya tentang tata cara menyucikan diri dari junub,إنما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات ثم تفيضين الماء على سائر جسدك فتطهرين“Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah seluruh tubuhmu dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)Di dalam hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak memerintahkannya untuk berwudu.Alasan lainnya, hadas kecil (pembatal-pembatal wudu) masuk dan mengikuti hadas besar (yang mewajibkan mandi). Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يتوضأ بعد الغسل“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berwudu setelah selesai mandi.” (HR. Tirmidzi no. 107, Ibnu Majah no. 579, An-Nasa’i no. 252, dan Ahmad no. 24389)Baca Juga: Hukum Tidur dalam Keadaan JunubDalam sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan,سُئِلَ عَنِ الْوُضُوءِ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فَقَالَ:وَأَيُّ وُضُوءٍ أَعَمُّ مِنَ الْغُسْلِ؟Beliau ditanya mengenai wudu setelah mandi. Lalu, beliau menjawab, “Lantas wudu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah)Hadis riwayat Ibnu Umar tersebut menjelaskan bahwa kedudukan mandi lebih umum (besar) dari pada wudu. Artinya, ketika seorang telah melakukan mandi junub, itu sekaligus telah mencakup wudu.Salah seorang ulama, Abu Bakr Ibnu Al-Araby rahimahullah menegaskan tidak adanya perselisihan ulama bahwa wudu sudah masuk dan tercakup ke dalam mandi junub (mandi besar).Syekh ‘Utsaimin rahimahullah di dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan,“Mandi, kalau niatnya untuk menyucikan diri dari janabah, maka itu mencukupkannya dari wudu berdasarkan firman Allah Ta’ala, ‘Jika kamu junub, maka mandilah.’ Sehingga, ketika seseorang dalam kondisi junub, kemudian ia berendam dan menenggelamkan dirinya ke dalam bak besar, sungai, atau yang semisal dengannya disertai niat menyucikan diri dari janabahnya, sedang ia juga berkumur-kumur, dan memasukkan airnya ke hidung, maka telah terangkat darinya hadas kecil dan hadas besar. Karena Allah Ta’ala tidaklah mewajibkan kepada orang yang sedang dalam kondisi junub, kecuali mandi besar saja, yaitu dengan cara mengalirkan air dengan menyeluruh ke seluruh badannya. Walaupun yang lebih utama adalah seseorang yang yang sedang mandi dari janabah memulai mandinya dengan berwudu. Hal inilah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di mana beliau menyuci kemaluannya setelah menyuci kedua telapak tangannya. Kemudian setelah itu, ia berwudu sebagaimana wudunya ketika hendak salat. Barulah kemudian menuangkan air ke atas kepalanya. Setelah beliau yakin air telah merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.”Hanya saja ada 2 permasalahan penting terkait wudu setelah mandi junub yang harus kita perhatikan.Baca Juga: Hukum yang Berkaitan dengan Kondisi Junub Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Apakah hukum di atas berlaku juga untuk mandi sunah pada hari Jumat atau mandi biasa? 2. Kedua: Bagaimana dengan mereka yang melakukan pembatal wudu saat sedang mandi junub? Pertama: Apakah hukum di atas berlaku juga untuk mandi sunah pada hari Jumat atau mandi biasa?Mandi sunah pada hari Jumat dan mandi untuk sekedar membersihkan diri atau mendinginkan badan tidaklah mencukupi dan tidak bisa menggugurkan kewajiban berwudu. Oleh karena itu, jika ada seseorang yang mandi dengan niat membersihkan diri atau niat untuk mandi sunah, namun ia tidak berniat untuk menyucikan diri dari hadas kecil dan kemudian ia mencuci anggota wudu secara berurutan di dalam mandinya, maka ia tetap harus mengulang wudunya setelah mandi.Al-Kharsyi rahimahullah di dalam Syarh Mukhtasar Khalil mengatakan,فإن اقتصر المتطهر على الغسل دون الوضوء أجزأه ، وهذا في الغسل الواجب، أما غيره فلا يجزئ عن الوضوء، ولا بد من الوضوء إذا أراد الصلاة“Jika seseorang yang sedang bersuci (dari hadas besar) hanya mencukupkan diri dengan mandi tanpa wudu, maka hal tersebut telah mencukupinya. Hal ini hanya berlaku jika mandinya tersebut adalah mandi wajib (mandi dari janabah). Adapun (mandi-mandi) yang lain, maka itu tidak bisa mencukupi dan tidak bisa menggugurkan kewajiban wudu. Ia masih diharuskan untuk berwudu ketika hendak melaksanakan salat.”Syekh Bin Baaz rahimahullah di dalam Majmu’ Fatawa beliau juga memberikan tambahan penjelasan,“Adapun jika tujuan mandinya selain hal tersebut, seperti mandi Jumat, mandi untuk bersuci, dan mendinginkan tubuh, maka mandi tersebut tidak bisa menggugurkan kewajiban wudu, walaupun ia meniatkannya. Karena tidak adanya “at-tartiib” (berurutan ketika wudu) di dalamnya. Padahal hal tersebut merupakan salah satu kewajiban di dalam berwudu. Dan (alasan lainnya adalah) tidak adanya bersuci dari hadas besar yang otomatis akan mengikutsertakan bersuci dari hadas kecil hanya dengan niat sebagaimana di dalam perkara mandi junub.”Kedua: Bagaimana dengan mereka yang melakukan pembatal wudu saat sedang mandi junub?Jika orang yang sedang mandi junub melakukan pembatal-pembatal wudu, baik itu buang air kecil, buang air besar, kentut, atau menyentuh kemaluan (menurut pendapat yang rajih), maka ia tidak perlu mengulang mandinya. Hanya saja, wajib baginya untuk mengulang wudu setelah ia menyelesaikan mandinya dan akan melakukan ibadah yang mewajibkan wudu.Syekh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan di dalam Majmu’ Fatawa,ولا يجب عليه أن يتوضأ بعد الغسل ، إلا إذا حصل ناقض من نواقض الوضوء أثناء الغسل أو بعده، فيجب عليه أن يتوضأ للصلاة، وأما إذا لم يحدث فإن غسله من الجنابة يجزئ عن الوضوء سواء توضأ قبل الغسل أم لم يتوضأ“Tidak wajib baginya untuk berwudu selepas mandi, kecuali jika ia melakukan pembatal-pembatal wudu di pertengahan mandinya atau ketika telah selesai darinya, barulah ia diwajibkan untuk berwudu kembali. Adapun jika ia tidak berhadas (tidak melakukan pembatal wudu tatkala mandi), maka mandinya tersebut telah mencukupi dan menggugurkan kewajiban wudu. Hukumnya sama, apakah ia telah berwudu sebelum mandinya ataupun tidak.”Beliau rahimahullah juga menambahkan,خروج الريح من نواقض الوضوء لا من نواقض الغسل، وعليه، فمن لمس فرجه أو تبول أو أخرج ريحا أثناء غسله فإنه يتم غسله، ويتوضأ بعده .“Kentut adalah pembatal wudu dan bukan pembatal mandi. Oleh karenanya, siapa saja yang menyentuh kemaluannya, kencing, atau kentut di tengah mandinya, maka ia cukup menyempurnakan mandinya saja (tidak perlu mengulangnya), dan ia harus berwudu setelahnya.”Oleh karenanya, saat hendak mandi besar, dan kita tidak menginginkan untuk mengulang wudu setelahnya, hendaknya ia menuntaskan seluruh hajatnya sebelum memulai prosesi mandinya. Bahkan, membersihkan kemaluan (yang berarti menyentuh kemaluan) sebelum memulai mandi merupakan salah satu sunah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana di dalam hadis, قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِMaimunah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu, beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali dua kali atau tiga kali. Lalu, dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu, beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu, beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian, beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu, beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)Wallahu A’lam Bisshowaab.Baca Juga:Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Fatwa Ulama: Dalam Kondisi Junub, Namun Air Hanya Sedikit, Harus Bagaimana?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-Utsaimin.Majmu’ Fatawa wa Maqaalaati As-Syaikh Ibnu Baaz.🔍 Tawakal, Hadist Tentang Berjilbab, Makanan Sehat Ala Rasulullah, Ayat Larangan Memilih Pemimpin Kafir, Materi KurbanTags: fikih mandi besarfikih mandi junubfikih mandi wajibjunubkeutamaan wudhumandi besarmandi wajibmenjaga wudhuWudhu


Seseorang yang telah selesai dari mandi junub, maka telah mencukupkannya dari berwudu. Dengan kata lain, ia tidak perlu berwudu lagi setelahnya. Allah Ta’ala berfirman,وإن كنتم جنبا فاطهروا“Jika kamu junub, maka mandilah.” (QS. Al-Ma’idah: 6)Allah Ta’ala tidak memerintahkan untuk orang yang junub, kecuali mandi. Hal itu menunjukkan bahwa mandi junub tersebut mencukupkannya dari berwudu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda kepada Ummu Salamah saat ia bertanya kepadanya tentang tata cara menyucikan diri dari junub,إنما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات ثم تفيضين الماء على سائر جسدك فتطهرين“Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah seluruh tubuhmu dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)Di dalam hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak memerintahkannya untuk berwudu.Alasan lainnya, hadas kecil (pembatal-pembatal wudu) masuk dan mengikuti hadas besar (yang mewajibkan mandi). Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يتوضأ بعد الغسل“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berwudu setelah selesai mandi.” (HR. Tirmidzi no. 107, Ibnu Majah no. 579, An-Nasa’i no. 252, dan Ahmad no. 24389)Baca Juga: Hukum Tidur dalam Keadaan JunubDalam sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan,سُئِلَ عَنِ الْوُضُوءِ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فَقَالَ:وَأَيُّ وُضُوءٍ أَعَمُّ مِنَ الْغُسْلِ؟Beliau ditanya mengenai wudu setelah mandi. Lalu, beliau menjawab, “Lantas wudu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah)Hadis riwayat Ibnu Umar tersebut menjelaskan bahwa kedudukan mandi lebih umum (besar) dari pada wudu. Artinya, ketika seorang telah melakukan mandi junub, itu sekaligus telah mencakup wudu.Salah seorang ulama, Abu Bakr Ibnu Al-Araby rahimahullah menegaskan tidak adanya perselisihan ulama bahwa wudu sudah masuk dan tercakup ke dalam mandi junub (mandi besar).Syekh ‘Utsaimin rahimahullah di dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan,“Mandi, kalau niatnya untuk menyucikan diri dari janabah, maka itu mencukupkannya dari wudu berdasarkan firman Allah Ta’ala, ‘Jika kamu junub, maka mandilah.’ Sehingga, ketika seseorang dalam kondisi junub, kemudian ia berendam dan menenggelamkan dirinya ke dalam bak besar, sungai, atau yang semisal dengannya disertai niat menyucikan diri dari janabahnya, sedang ia juga berkumur-kumur, dan memasukkan airnya ke hidung, maka telah terangkat darinya hadas kecil dan hadas besar. Karena Allah Ta’ala tidaklah mewajibkan kepada orang yang sedang dalam kondisi junub, kecuali mandi besar saja, yaitu dengan cara mengalirkan air dengan menyeluruh ke seluruh badannya. Walaupun yang lebih utama adalah seseorang yang yang sedang mandi dari janabah memulai mandinya dengan berwudu. Hal inilah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di mana beliau menyuci kemaluannya setelah menyuci kedua telapak tangannya. Kemudian setelah itu, ia berwudu sebagaimana wudunya ketika hendak salat. Barulah kemudian menuangkan air ke atas kepalanya. Setelah beliau yakin air telah merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.”Hanya saja ada 2 permasalahan penting terkait wudu setelah mandi junub yang harus kita perhatikan.Baca Juga: Hukum yang Berkaitan dengan Kondisi Junub Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Apakah hukum di atas berlaku juga untuk mandi sunah pada hari Jumat atau mandi biasa? 2. Kedua: Bagaimana dengan mereka yang melakukan pembatal wudu saat sedang mandi junub? Pertama: Apakah hukum di atas berlaku juga untuk mandi sunah pada hari Jumat atau mandi biasa?Mandi sunah pada hari Jumat dan mandi untuk sekedar membersihkan diri atau mendinginkan badan tidaklah mencukupi dan tidak bisa menggugurkan kewajiban berwudu. Oleh karena itu, jika ada seseorang yang mandi dengan niat membersihkan diri atau niat untuk mandi sunah, namun ia tidak berniat untuk menyucikan diri dari hadas kecil dan kemudian ia mencuci anggota wudu secara berurutan di dalam mandinya, maka ia tetap harus mengulang wudunya setelah mandi.Al-Kharsyi rahimahullah di dalam Syarh Mukhtasar Khalil mengatakan,فإن اقتصر المتطهر على الغسل دون الوضوء أجزأه ، وهذا في الغسل الواجب، أما غيره فلا يجزئ عن الوضوء، ولا بد من الوضوء إذا أراد الصلاة“Jika seseorang yang sedang bersuci (dari hadas besar) hanya mencukupkan diri dengan mandi tanpa wudu, maka hal tersebut telah mencukupinya. Hal ini hanya berlaku jika mandinya tersebut adalah mandi wajib (mandi dari janabah). Adapun (mandi-mandi) yang lain, maka itu tidak bisa mencukupi dan tidak bisa menggugurkan kewajiban wudu. Ia masih diharuskan untuk berwudu ketika hendak melaksanakan salat.”Syekh Bin Baaz rahimahullah di dalam Majmu’ Fatawa beliau juga memberikan tambahan penjelasan,“Adapun jika tujuan mandinya selain hal tersebut, seperti mandi Jumat, mandi untuk bersuci, dan mendinginkan tubuh, maka mandi tersebut tidak bisa menggugurkan kewajiban wudu, walaupun ia meniatkannya. Karena tidak adanya “at-tartiib” (berurutan ketika wudu) di dalamnya. Padahal hal tersebut merupakan salah satu kewajiban di dalam berwudu. Dan (alasan lainnya adalah) tidak adanya bersuci dari hadas besar yang otomatis akan mengikutsertakan bersuci dari hadas kecil hanya dengan niat sebagaimana di dalam perkara mandi junub.”Kedua: Bagaimana dengan mereka yang melakukan pembatal wudu saat sedang mandi junub?Jika orang yang sedang mandi junub melakukan pembatal-pembatal wudu, baik itu buang air kecil, buang air besar, kentut, atau menyentuh kemaluan (menurut pendapat yang rajih), maka ia tidak perlu mengulang mandinya. Hanya saja, wajib baginya untuk mengulang wudu setelah ia menyelesaikan mandinya dan akan melakukan ibadah yang mewajibkan wudu.Syekh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan di dalam Majmu’ Fatawa,ولا يجب عليه أن يتوضأ بعد الغسل ، إلا إذا حصل ناقض من نواقض الوضوء أثناء الغسل أو بعده، فيجب عليه أن يتوضأ للصلاة، وأما إذا لم يحدث فإن غسله من الجنابة يجزئ عن الوضوء سواء توضأ قبل الغسل أم لم يتوضأ“Tidak wajib baginya untuk berwudu selepas mandi, kecuali jika ia melakukan pembatal-pembatal wudu di pertengahan mandinya atau ketika telah selesai darinya, barulah ia diwajibkan untuk berwudu kembali. Adapun jika ia tidak berhadas (tidak melakukan pembatal wudu tatkala mandi), maka mandinya tersebut telah mencukupi dan menggugurkan kewajiban wudu. Hukumnya sama, apakah ia telah berwudu sebelum mandinya ataupun tidak.”Beliau rahimahullah juga menambahkan,خروج الريح من نواقض الوضوء لا من نواقض الغسل، وعليه، فمن لمس فرجه أو تبول أو أخرج ريحا أثناء غسله فإنه يتم غسله، ويتوضأ بعده .“Kentut adalah pembatal wudu dan bukan pembatal mandi. Oleh karenanya, siapa saja yang menyentuh kemaluannya, kencing, atau kentut di tengah mandinya, maka ia cukup menyempurnakan mandinya saja (tidak perlu mengulangnya), dan ia harus berwudu setelahnya.”Oleh karenanya, saat hendak mandi besar, dan kita tidak menginginkan untuk mengulang wudu setelahnya, hendaknya ia menuntaskan seluruh hajatnya sebelum memulai prosesi mandinya. Bahkan, membersihkan kemaluan (yang berarti menyentuh kemaluan) sebelum memulai mandi merupakan salah satu sunah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana di dalam hadis, قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِMaimunah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu, beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali dua kali atau tiga kali. Lalu, dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu, beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu, beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian, beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu, beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)Wallahu A’lam Bisshowaab.Baca Juga:Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Fatwa Ulama: Dalam Kondisi Junub, Namun Air Hanya Sedikit, Harus Bagaimana?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-Utsaimin.Majmu’ Fatawa wa Maqaalaati As-Syaikh Ibnu Baaz.🔍 Tawakal, Hadist Tentang Berjilbab, Makanan Sehat Ala Rasulullah, Ayat Larangan Memilih Pemimpin Kafir, Materi KurbanTags: fikih mandi besarfikih mandi junubfikih mandi wajibjunubkeutamaan wudhumandi besarmandi wajibmenjaga wudhuWudhu

Khotbah Jumat: Memaknai Kembali Ibadah Haji

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena sesungguhnya ketakwaan kepada Allah merupakan kunci dan pondasi kebahagiaan dan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (QS. At-Talaq: 4)Ketahuilah wahai saudaraku, beribadah dan beramal adalah hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya. Di dalam perkara ibadah, kita dituntut untuk menjalankannya dan menaatinya walaupun kita tidak mengetahui rahasia dan hikmahnya. Akan tetapi, itu bukan menjadi penghalang bahwa bisa saja sebagian hikmah dan rahasia tersebut akan diketahui ketika melaksanakannya.Di antara buah dan hasil dari sebuah amal ibadah adalah perbaikan akhlak. Akhlak yang baik akan membentuk pribadi muslim yang mulia, sehingga cahaya dan keindahan Islam ini terpancar dan tersebar di bumi Allah yang luas ini.Di antara syiar dan identitas agama Islam adalah ibadah haji. Bagi seorang muslim, haji merupakan sekolah yang penuh akan faedah dan pelajaran. Suatu permisalan yang sempurna akan pelatihan bagi jiwa dan pembentukan karakter bagi seorang muslim. Bagaimana tidak? Haji merupakan ibadah sekali seumur hidup, penyempurna agama, dan penutup rukun Islam. Pada musim haji inilah Allah Ta’ala turunkan ayat,اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah:3)Ibadah haji merupakan simbol persatuan dan tolong menolong. Tidak ada bedanya antara si kaya dan si miskin. Karena semuanya berpenampilan sama dan diperintahkan untuk melakukan prosesi ibadah yang sama. Apa yang membedakan di antara mereka? Takwa kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala. Sungguh di dalam ibadah haji terdapat banyak sekali keutamaan dan dampak positif, baik yang bermanfaat bagi kejiwaan kita maupun yang bermanfaat untuk perekonomian kita. Allah berfirman,وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ   لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan oleh-Nya kepada mereka berupa hewan ternak. Maka, makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 27-28)Ma’asyiral Muslimin, jemaah yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Untuk mencapai derajat yang tinggi dan sukses di dalam menjalankan ibadah haji ini, ada beberapa hal yang selayaknya diperhatikan seorang muslim, terkhusus bagi mereka yang akan melaksanakannya:Pertama: Haji merupakan dedikasi penuh seorang hamba untuk Rabb-Nya. Oleh karenanya, sebelum melaksanakannya, hendaknya ia bertobat kepada Allah dengan tobat yang jujur, berlepas diri dari segala macam kemaksiatan, baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Serta meminta pihak yang teraniaya untuk menghalalkan (memaafkan) perlakuan buruk yang pernah dilakukan kepadanya atau memberi kesempatan untuk membalas dengan perbuatan yang sepadan dan mengembalikan hak-hak kepada para pemiliknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Barangsiapa pernah berbuat zalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaknya meminta orang tersebut menghalalkan dirinya dari perbuatan aniaya tersebut hari ini, sebelum datang hari tidak ada uang dinar dan dirham. Apabila ia memiliki amal saleh, maka akan diambil amal saleh darinya sebanding dengan perbuatan kezalimannya. Apabila tidak memiliki amal saleh, maka akan diambilkan dosa saudaranya dan dilimpahkan kepada dirinya.” (HR. al-Bukhari no. 2269)Kedua: Berusaha dan bersemangat untuk berangkat haji dengan harta dan bekal yang halal, tidak mengandung syubhat atau bahkan keharaman. Karena harta yang haram akan mengurangi keberkahan, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa berhaji dengan harta yang haram akan membuat haji kita tidak sah sehingga tidak menggugurkan kewajiban.Namun, pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah pendapat jumhur ulama bahwa berhaji dengan uang dan harta haram tetap sah dan menggugurkan kewajiban. Akan tetapi, pelakunya tetap berdosa karena menggunakan dan memanfaatkan harta yang haram. Sebagaimana yang disebutkan oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah, salah satu ulama bermazhab syafi’i,إذا حج بمال حرام، أوراكباً دابة مغصوبة أثم وصح حجه، وأجزأه عندنا، وبه قال أبو حنيفة ومالك والعبدري، وبه قال أكثر الفقهاء، وقال أحمد: لا يجزئه، ودليلنا أن الحج أفعال مخصوصة، والتحريم لمعنى خارج عنها“Orang yang berhaji dengan harta haram atau naik kendaraan hasil merampas, maka dia berdosa dan hajinya sah serta telah menggugurkan kewajiban menurut kami. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Malik, Al-Abdari, dan pendapat mayoritas ulama. Sementara Imam Ahmad mengatakan, “Hajinya tidak sah.” Alasan kami (Syafiiyah), bahwa haji merupakan amalan khusus. Sementara haramnya harta, itu faktor luar.”  (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 7: 62)Ketiga: Orang yang hendak melaksanakan haji hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik. Tidak merasa lebih tinggi dari saudara semuslimnya hanya karena memiliki kedudukan, pangkat, ataupun banyaknya harta. Meluruskan niatnya, bahwa tujuan satu-satunya ia berhaji adalah mengharapkan wajah Allah Ta’ala dan surga-Nya serta mengharapkan agar Allah Ta’ala menghapuskan dosa-dosanya. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Keempat: Saat melaksanakannya, seorang muslim dituntut untuk berlemah lembut dan mengasihi saudara muslim lainnya, berusaha untuk membuat nyaman saudaranya, serta menghindarkan diri dari mengganggu dan menyakiti mereka. Lihatlah bagaimana Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu agar memperhatikan orang-orang yang lemah di saat berhaji,يا عمرُ إنكَ رجلٌ قويٌّ لا تزاحِم على الحَجَرِ فتؤذِيَ الضعيفَ إنْ وجدتَّ خَلْوَةً فاستَلِمْهُ وإلا فاسْتَقْبِلْهُ فهَلِّلْ وَكَبِّرْ“Wahai Umar, kamu adalah lelaki yang kuat. Maka janganlah berdesakan di Hajar Aswad, karena akan menyakiti orang yang lemah. Jika kamu mendapati (hajar aswad) kosong, ciumlah dia. Dan jika tidak, menghadaplah kearahnya sambil bertahlil dan bertakbir.” (HR. Ahmad no. 190 dan At-Thabari dalam Musnad Ibnu Abbas no. 106)Kelima: Sepulangnya dari tanah suci, orang yang telah melaksanakan haji hendaknya berhati-hati dari berbicara dan menjawab pertanyaan tanpa ada landasan ilmu. Merasa sudah pintar dan paham akan agama, lalu ia bermudah-mudahan di dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Padahal jelas ia bukan orang yang berhak untuk berfatwa atau bahkan ia sama sekali bukan orang yang ahli di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ : 36)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا“Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim No. 2674)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Ibadah haji ke Baitullah Al-Haram walaupun ia berada di urutan terakhir pada hadis rukun Islam, namun sesungguhnya ia mencakup semua aspek peribadatan. Terkandung di dalamnya unsur rohani sebagaimana di dalam salat. Terkandung juga kesabaran dan rasa berat sebagaimana di dalam ibadah puasa. Diperlukan usaha dan harta sebagaimana dalam perkara zakat. Sungguh seakan-akan ibadah haji ini merupakan bentuk latihan untuk semua macam peribadatan. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan pahala dan balasan yang besar bagi siapa yang mampu melaksanakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ“Siapa yang berhaji ke Ka’bah, lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521)Jika saja mereka yang berangkat haji tidak mendapatkan sesuatu kecuali hal ini, maka itu sudah cukup. Nikmat mana lagi yang lebih besar dari terhapusnya dosa-dosa dan dibukanya lembaran baru untuk kita. Untuk memperoleh keutamaan ini, wajib baginya untuk menghindarkan diri dari terjatuh ke dalam kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian orang yang berhaji, baik itu menyibukkan diri dengan keluar masuk pusat perbelanjaan tanpa ada kebutuhan dan hanya menghabiskan waktu saja, atau bahkan bermudah-mudahan dalam perkara salat dan meninggalkan salat jemaah.Jemaah yang berbahagia. Marilah kita berdoa semoga Allah Ta’ala menerima ibadah haji seluruh kaum muslimin, menjadikan haji mereka haji yang mabrur, haji yang menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa mereka. Dan semoga Allah Ta’ala memberikan kesempatan bagi yang belum berhaji untuk bisa berhaji ke tanah haram. Menunaikan kewajiban yang Allah tuliskan ini dengan perasaan yang penuh kegembiraan dan pengagungan akan syiar Islam yang mulia ini. Amiin Yaa Rabbal Aalamiin.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Doa Dalam Al Quran Dan Hadist, Makanan Sehat Ala Rasulullah, Salam Agama Kristen, Profil Ustadz Firanda AndirjaTags: Hajihikmah ibadah hajiibadah hajikhutbah jumatmateri khutbah jumatnaskah khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Khotbah Jumat: Memaknai Kembali Ibadah Haji

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena sesungguhnya ketakwaan kepada Allah merupakan kunci dan pondasi kebahagiaan dan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (QS. At-Talaq: 4)Ketahuilah wahai saudaraku, beribadah dan beramal adalah hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya. Di dalam perkara ibadah, kita dituntut untuk menjalankannya dan menaatinya walaupun kita tidak mengetahui rahasia dan hikmahnya. Akan tetapi, itu bukan menjadi penghalang bahwa bisa saja sebagian hikmah dan rahasia tersebut akan diketahui ketika melaksanakannya.Di antara buah dan hasil dari sebuah amal ibadah adalah perbaikan akhlak. Akhlak yang baik akan membentuk pribadi muslim yang mulia, sehingga cahaya dan keindahan Islam ini terpancar dan tersebar di bumi Allah yang luas ini.Di antara syiar dan identitas agama Islam adalah ibadah haji. Bagi seorang muslim, haji merupakan sekolah yang penuh akan faedah dan pelajaran. Suatu permisalan yang sempurna akan pelatihan bagi jiwa dan pembentukan karakter bagi seorang muslim. Bagaimana tidak? Haji merupakan ibadah sekali seumur hidup, penyempurna agama, dan penutup rukun Islam. Pada musim haji inilah Allah Ta’ala turunkan ayat,اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah:3)Ibadah haji merupakan simbol persatuan dan tolong menolong. Tidak ada bedanya antara si kaya dan si miskin. Karena semuanya berpenampilan sama dan diperintahkan untuk melakukan prosesi ibadah yang sama. Apa yang membedakan di antara mereka? Takwa kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala. Sungguh di dalam ibadah haji terdapat banyak sekali keutamaan dan dampak positif, baik yang bermanfaat bagi kejiwaan kita maupun yang bermanfaat untuk perekonomian kita. Allah berfirman,وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ   لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan oleh-Nya kepada mereka berupa hewan ternak. Maka, makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 27-28)Ma’asyiral Muslimin, jemaah yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Untuk mencapai derajat yang tinggi dan sukses di dalam menjalankan ibadah haji ini, ada beberapa hal yang selayaknya diperhatikan seorang muslim, terkhusus bagi mereka yang akan melaksanakannya:Pertama: Haji merupakan dedikasi penuh seorang hamba untuk Rabb-Nya. Oleh karenanya, sebelum melaksanakannya, hendaknya ia bertobat kepada Allah dengan tobat yang jujur, berlepas diri dari segala macam kemaksiatan, baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Serta meminta pihak yang teraniaya untuk menghalalkan (memaafkan) perlakuan buruk yang pernah dilakukan kepadanya atau memberi kesempatan untuk membalas dengan perbuatan yang sepadan dan mengembalikan hak-hak kepada para pemiliknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Barangsiapa pernah berbuat zalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaknya meminta orang tersebut menghalalkan dirinya dari perbuatan aniaya tersebut hari ini, sebelum datang hari tidak ada uang dinar dan dirham. Apabila ia memiliki amal saleh, maka akan diambil amal saleh darinya sebanding dengan perbuatan kezalimannya. Apabila tidak memiliki amal saleh, maka akan diambilkan dosa saudaranya dan dilimpahkan kepada dirinya.” (HR. al-Bukhari no. 2269)Kedua: Berusaha dan bersemangat untuk berangkat haji dengan harta dan bekal yang halal, tidak mengandung syubhat atau bahkan keharaman. Karena harta yang haram akan mengurangi keberkahan, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa berhaji dengan harta yang haram akan membuat haji kita tidak sah sehingga tidak menggugurkan kewajiban.Namun, pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah pendapat jumhur ulama bahwa berhaji dengan uang dan harta haram tetap sah dan menggugurkan kewajiban. Akan tetapi, pelakunya tetap berdosa karena menggunakan dan memanfaatkan harta yang haram. Sebagaimana yang disebutkan oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah, salah satu ulama bermazhab syafi’i,إذا حج بمال حرام، أوراكباً دابة مغصوبة أثم وصح حجه، وأجزأه عندنا، وبه قال أبو حنيفة ومالك والعبدري، وبه قال أكثر الفقهاء، وقال أحمد: لا يجزئه، ودليلنا أن الحج أفعال مخصوصة، والتحريم لمعنى خارج عنها“Orang yang berhaji dengan harta haram atau naik kendaraan hasil merampas, maka dia berdosa dan hajinya sah serta telah menggugurkan kewajiban menurut kami. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Malik, Al-Abdari, dan pendapat mayoritas ulama. Sementara Imam Ahmad mengatakan, “Hajinya tidak sah.” Alasan kami (Syafiiyah), bahwa haji merupakan amalan khusus. Sementara haramnya harta, itu faktor luar.”  (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 7: 62)Ketiga: Orang yang hendak melaksanakan haji hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik. Tidak merasa lebih tinggi dari saudara semuslimnya hanya karena memiliki kedudukan, pangkat, ataupun banyaknya harta. Meluruskan niatnya, bahwa tujuan satu-satunya ia berhaji adalah mengharapkan wajah Allah Ta’ala dan surga-Nya serta mengharapkan agar Allah Ta’ala menghapuskan dosa-dosanya. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Keempat: Saat melaksanakannya, seorang muslim dituntut untuk berlemah lembut dan mengasihi saudara muslim lainnya, berusaha untuk membuat nyaman saudaranya, serta menghindarkan diri dari mengganggu dan menyakiti mereka. Lihatlah bagaimana Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu agar memperhatikan orang-orang yang lemah di saat berhaji,يا عمرُ إنكَ رجلٌ قويٌّ لا تزاحِم على الحَجَرِ فتؤذِيَ الضعيفَ إنْ وجدتَّ خَلْوَةً فاستَلِمْهُ وإلا فاسْتَقْبِلْهُ فهَلِّلْ وَكَبِّرْ“Wahai Umar, kamu adalah lelaki yang kuat. Maka janganlah berdesakan di Hajar Aswad, karena akan menyakiti orang yang lemah. Jika kamu mendapati (hajar aswad) kosong, ciumlah dia. Dan jika tidak, menghadaplah kearahnya sambil bertahlil dan bertakbir.” (HR. Ahmad no. 190 dan At-Thabari dalam Musnad Ibnu Abbas no. 106)Kelima: Sepulangnya dari tanah suci, orang yang telah melaksanakan haji hendaknya berhati-hati dari berbicara dan menjawab pertanyaan tanpa ada landasan ilmu. Merasa sudah pintar dan paham akan agama, lalu ia bermudah-mudahan di dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Padahal jelas ia bukan orang yang berhak untuk berfatwa atau bahkan ia sama sekali bukan orang yang ahli di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ : 36)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا“Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim No. 2674)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Ibadah haji ke Baitullah Al-Haram walaupun ia berada di urutan terakhir pada hadis rukun Islam, namun sesungguhnya ia mencakup semua aspek peribadatan. Terkandung di dalamnya unsur rohani sebagaimana di dalam salat. Terkandung juga kesabaran dan rasa berat sebagaimana di dalam ibadah puasa. Diperlukan usaha dan harta sebagaimana dalam perkara zakat. Sungguh seakan-akan ibadah haji ini merupakan bentuk latihan untuk semua macam peribadatan. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan pahala dan balasan yang besar bagi siapa yang mampu melaksanakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ“Siapa yang berhaji ke Ka’bah, lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521)Jika saja mereka yang berangkat haji tidak mendapatkan sesuatu kecuali hal ini, maka itu sudah cukup. Nikmat mana lagi yang lebih besar dari terhapusnya dosa-dosa dan dibukanya lembaran baru untuk kita. Untuk memperoleh keutamaan ini, wajib baginya untuk menghindarkan diri dari terjatuh ke dalam kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian orang yang berhaji, baik itu menyibukkan diri dengan keluar masuk pusat perbelanjaan tanpa ada kebutuhan dan hanya menghabiskan waktu saja, atau bahkan bermudah-mudahan dalam perkara salat dan meninggalkan salat jemaah.Jemaah yang berbahagia. Marilah kita berdoa semoga Allah Ta’ala menerima ibadah haji seluruh kaum muslimin, menjadikan haji mereka haji yang mabrur, haji yang menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa mereka. Dan semoga Allah Ta’ala memberikan kesempatan bagi yang belum berhaji untuk bisa berhaji ke tanah haram. Menunaikan kewajiban yang Allah tuliskan ini dengan perasaan yang penuh kegembiraan dan pengagungan akan syiar Islam yang mulia ini. Amiin Yaa Rabbal Aalamiin.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Doa Dalam Al Quran Dan Hadist, Makanan Sehat Ala Rasulullah, Salam Agama Kristen, Profil Ustadz Firanda AndirjaTags: Hajihikmah ibadah hajiibadah hajikhutbah jumatmateri khutbah jumatnaskah khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena sesungguhnya ketakwaan kepada Allah merupakan kunci dan pondasi kebahagiaan dan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (QS. At-Talaq: 4)Ketahuilah wahai saudaraku, beribadah dan beramal adalah hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya. Di dalam perkara ibadah, kita dituntut untuk menjalankannya dan menaatinya walaupun kita tidak mengetahui rahasia dan hikmahnya. Akan tetapi, itu bukan menjadi penghalang bahwa bisa saja sebagian hikmah dan rahasia tersebut akan diketahui ketika melaksanakannya.Di antara buah dan hasil dari sebuah amal ibadah adalah perbaikan akhlak. Akhlak yang baik akan membentuk pribadi muslim yang mulia, sehingga cahaya dan keindahan Islam ini terpancar dan tersebar di bumi Allah yang luas ini.Di antara syiar dan identitas agama Islam adalah ibadah haji. Bagi seorang muslim, haji merupakan sekolah yang penuh akan faedah dan pelajaran. Suatu permisalan yang sempurna akan pelatihan bagi jiwa dan pembentukan karakter bagi seorang muslim. Bagaimana tidak? Haji merupakan ibadah sekali seumur hidup, penyempurna agama, dan penutup rukun Islam. Pada musim haji inilah Allah Ta’ala turunkan ayat,اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah:3)Ibadah haji merupakan simbol persatuan dan tolong menolong. Tidak ada bedanya antara si kaya dan si miskin. Karena semuanya berpenampilan sama dan diperintahkan untuk melakukan prosesi ibadah yang sama. Apa yang membedakan di antara mereka? Takwa kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala. Sungguh di dalam ibadah haji terdapat banyak sekali keutamaan dan dampak positif, baik yang bermanfaat bagi kejiwaan kita maupun yang bermanfaat untuk perekonomian kita. Allah berfirman,وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ   لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan oleh-Nya kepada mereka berupa hewan ternak. Maka, makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 27-28)Ma’asyiral Muslimin, jemaah yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Untuk mencapai derajat yang tinggi dan sukses di dalam menjalankan ibadah haji ini, ada beberapa hal yang selayaknya diperhatikan seorang muslim, terkhusus bagi mereka yang akan melaksanakannya:Pertama: Haji merupakan dedikasi penuh seorang hamba untuk Rabb-Nya. Oleh karenanya, sebelum melaksanakannya, hendaknya ia bertobat kepada Allah dengan tobat yang jujur, berlepas diri dari segala macam kemaksiatan, baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Serta meminta pihak yang teraniaya untuk menghalalkan (memaafkan) perlakuan buruk yang pernah dilakukan kepadanya atau memberi kesempatan untuk membalas dengan perbuatan yang sepadan dan mengembalikan hak-hak kepada para pemiliknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Barangsiapa pernah berbuat zalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaknya meminta orang tersebut menghalalkan dirinya dari perbuatan aniaya tersebut hari ini, sebelum datang hari tidak ada uang dinar dan dirham. Apabila ia memiliki amal saleh, maka akan diambil amal saleh darinya sebanding dengan perbuatan kezalimannya. Apabila tidak memiliki amal saleh, maka akan diambilkan dosa saudaranya dan dilimpahkan kepada dirinya.” (HR. al-Bukhari no. 2269)Kedua: Berusaha dan bersemangat untuk berangkat haji dengan harta dan bekal yang halal, tidak mengandung syubhat atau bahkan keharaman. Karena harta yang haram akan mengurangi keberkahan, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa berhaji dengan harta yang haram akan membuat haji kita tidak sah sehingga tidak menggugurkan kewajiban.Namun, pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah pendapat jumhur ulama bahwa berhaji dengan uang dan harta haram tetap sah dan menggugurkan kewajiban. Akan tetapi, pelakunya tetap berdosa karena menggunakan dan memanfaatkan harta yang haram. Sebagaimana yang disebutkan oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah, salah satu ulama bermazhab syafi’i,إذا حج بمال حرام، أوراكباً دابة مغصوبة أثم وصح حجه، وأجزأه عندنا، وبه قال أبو حنيفة ومالك والعبدري، وبه قال أكثر الفقهاء، وقال أحمد: لا يجزئه، ودليلنا أن الحج أفعال مخصوصة، والتحريم لمعنى خارج عنها“Orang yang berhaji dengan harta haram atau naik kendaraan hasil merampas, maka dia berdosa dan hajinya sah serta telah menggugurkan kewajiban menurut kami. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Malik, Al-Abdari, dan pendapat mayoritas ulama. Sementara Imam Ahmad mengatakan, “Hajinya tidak sah.” Alasan kami (Syafiiyah), bahwa haji merupakan amalan khusus. Sementara haramnya harta, itu faktor luar.”  (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 7: 62)Ketiga: Orang yang hendak melaksanakan haji hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik. Tidak merasa lebih tinggi dari saudara semuslimnya hanya karena memiliki kedudukan, pangkat, ataupun banyaknya harta. Meluruskan niatnya, bahwa tujuan satu-satunya ia berhaji adalah mengharapkan wajah Allah Ta’ala dan surga-Nya serta mengharapkan agar Allah Ta’ala menghapuskan dosa-dosanya. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Keempat: Saat melaksanakannya, seorang muslim dituntut untuk berlemah lembut dan mengasihi saudara muslim lainnya, berusaha untuk membuat nyaman saudaranya, serta menghindarkan diri dari mengganggu dan menyakiti mereka. Lihatlah bagaimana Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu agar memperhatikan orang-orang yang lemah di saat berhaji,يا عمرُ إنكَ رجلٌ قويٌّ لا تزاحِم على الحَجَرِ فتؤذِيَ الضعيفَ إنْ وجدتَّ خَلْوَةً فاستَلِمْهُ وإلا فاسْتَقْبِلْهُ فهَلِّلْ وَكَبِّرْ“Wahai Umar, kamu adalah lelaki yang kuat. Maka janganlah berdesakan di Hajar Aswad, karena akan menyakiti orang yang lemah. Jika kamu mendapati (hajar aswad) kosong, ciumlah dia. Dan jika tidak, menghadaplah kearahnya sambil bertahlil dan bertakbir.” (HR. Ahmad no. 190 dan At-Thabari dalam Musnad Ibnu Abbas no. 106)Kelima: Sepulangnya dari tanah suci, orang yang telah melaksanakan haji hendaknya berhati-hati dari berbicara dan menjawab pertanyaan tanpa ada landasan ilmu. Merasa sudah pintar dan paham akan agama, lalu ia bermudah-mudahan di dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Padahal jelas ia bukan orang yang berhak untuk berfatwa atau bahkan ia sama sekali bukan orang yang ahli di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ : 36)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا“Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim No. 2674)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Ibadah haji ke Baitullah Al-Haram walaupun ia berada di urutan terakhir pada hadis rukun Islam, namun sesungguhnya ia mencakup semua aspek peribadatan. Terkandung di dalamnya unsur rohani sebagaimana di dalam salat. Terkandung juga kesabaran dan rasa berat sebagaimana di dalam ibadah puasa. Diperlukan usaha dan harta sebagaimana dalam perkara zakat. Sungguh seakan-akan ibadah haji ini merupakan bentuk latihan untuk semua macam peribadatan. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan pahala dan balasan yang besar bagi siapa yang mampu melaksanakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ“Siapa yang berhaji ke Ka’bah, lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521)Jika saja mereka yang berangkat haji tidak mendapatkan sesuatu kecuali hal ini, maka itu sudah cukup. Nikmat mana lagi yang lebih besar dari terhapusnya dosa-dosa dan dibukanya lembaran baru untuk kita. Untuk memperoleh keutamaan ini, wajib baginya untuk menghindarkan diri dari terjatuh ke dalam kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian orang yang berhaji, baik itu menyibukkan diri dengan keluar masuk pusat perbelanjaan tanpa ada kebutuhan dan hanya menghabiskan waktu saja, atau bahkan bermudah-mudahan dalam perkara salat dan meninggalkan salat jemaah.Jemaah yang berbahagia. Marilah kita berdoa semoga Allah Ta’ala menerima ibadah haji seluruh kaum muslimin, menjadikan haji mereka haji yang mabrur, haji yang menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa mereka. Dan semoga Allah Ta’ala memberikan kesempatan bagi yang belum berhaji untuk bisa berhaji ke tanah haram. Menunaikan kewajiban yang Allah tuliskan ini dengan perasaan yang penuh kegembiraan dan pengagungan akan syiar Islam yang mulia ini. Amiin Yaa Rabbal Aalamiin.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Doa Dalam Al Quran Dan Hadist, Makanan Sehat Ala Rasulullah, Salam Agama Kristen, Profil Ustadz Firanda AndirjaTags: Hajihikmah ibadah hajiibadah hajikhutbah jumatmateri khutbah jumatnaskah khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena sesungguhnya ketakwaan kepada Allah merupakan kunci dan pondasi kebahagiaan dan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (QS. At-Talaq: 4)Ketahuilah wahai saudaraku, beribadah dan beramal adalah hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya. Di dalam perkara ibadah, kita dituntut untuk menjalankannya dan menaatinya walaupun kita tidak mengetahui rahasia dan hikmahnya. Akan tetapi, itu bukan menjadi penghalang bahwa bisa saja sebagian hikmah dan rahasia tersebut akan diketahui ketika melaksanakannya.Di antara buah dan hasil dari sebuah amal ibadah adalah perbaikan akhlak. Akhlak yang baik akan membentuk pribadi muslim yang mulia, sehingga cahaya dan keindahan Islam ini terpancar dan tersebar di bumi Allah yang luas ini.Di antara syiar dan identitas agama Islam adalah ibadah haji. Bagi seorang muslim, haji merupakan sekolah yang penuh akan faedah dan pelajaran. Suatu permisalan yang sempurna akan pelatihan bagi jiwa dan pembentukan karakter bagi seorang muslim. Bagaimana tidak? Haji merupakan ibadah sekali seumur hidup, penyempurna agama, dan penutup rukun Islam. Pada musim haji inilah Allah Ta’ala turunkan ayat,اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah:3)Ibadah haji merupakan simbol persatuan dan tolong menolong. Tidak ada bedanya antara si kaya dan si miskin. Karena semuanya berpenampilan sama dan diperintahkan untuk melakukan prosesi ibadah yang sama. Apa yang membedakan di antara mereka? Takwa kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala. Sungguh di dalam ibadah haji terdapat banyak sekali keutamaan dan dampak positif, baik yang bermanfaat bagi kejiwaan kita maupun yang bermanfaat untuk perekonomian kita. Allah berfirman,وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ   لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan oleh-Nya kepada mereka berupa hewan ternak. Maka, makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 27-28)Ma’asyiral Muslimin, jemaah yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Untuk mencapai derajat yang tinggi dan sukses di dalam menjalankan ibadah haji ini, ada beberapa hal yang selayaknya diperhatikan seorang muslim, terkhusus bagi mereka yang akan melaksanakannya:Pertama: Haji merupakan dedikasi penuh seorang hamba untuk Rabb-Nya. Oleh karenanya, sebelum melaksanakannya, hendaknya ia bertobat kepada Allah dengan tobat yang jujur, berlepas diri dari segala macam kemaksiatan, baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Serta meminta pihak yang teraniaya untuk menghalalkan (memaafkan) perlakuan buruk yang pernah dilakukan kepadanya atau memberi kesempatan untuk membalas dengan perbuatan yang sepadan dan mengembalikan hak-hak kepada para pemiliknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Barangsiapa pernah berbuat zalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaknya meminta orang tersebut menghalalkan dirinya dari perbuatan aniaya tersebut hari ini, sebelum datang hari tidak ada uang dinar dan dirham. Apabila ia memiliki amal saleh, maka akan diambil amal saleh darinya sebanding dengan perbuatan kezalimannya. Apabila tidak memiliki amal saleh, maka akan diambilkan dosa saudaranya dan dilimpahkan kepada dirinya.” (HR. al-Bukhari no. 2269)Kedua: Berusaha dan bersemangat untuk berangkat haji dengan harta dan bekal yang halal, tidak mengandung syubhat atau bahkan keharaman. Karena harta yang haram akan mengurangi keberkahan, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa berhaji dengan harta yang haram akan membuat haji kita tidak sah sehingga tidak menggugurkan kewajiban.Namun, pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah pendapat jumhur ulama bahwa berhaji dengan uang dan harta haram tetap sah dan menggugurkan kewajiban. Akan tetapi, pelakunya tetap berdosa karena menggunakan dan memanfaatkan harta yang haram. Sebagaimana yang disebutkan oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah, salah satu ulama bermazhab syafi’i,إذا حج بمال حرام، أوراكباً دابة مغصوبة أثم وصح حجه، وأجزأه عندنا، وبه قال أبو حنيفة ومالك والعبدري، وبه قال أكثر الفقهاء، وقال أحمد: لا يجزئه، ودليلنا أن الحج أفعال مخصوصة، والتحريم لمعنى خارج عنها“Orang yang berhaji dengan harta haram atau naik kendaraan hasil merampas, maka dia berdosa dan hajinya sah serta telah menggugurkan kewajiban menurut kami. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Malik, Al-Abdari, dan pendapat mayoritas ulama. Sementara Imam Ahmad mengatakan, “Hajinya tidak sah.” Alasan kami (Syafiiyah), bahwa haji merupakan amalan khusus. Sementara haramnya harta, itu faktor luar.”  (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 7: 62)Ketiga: Orang yang hendak melaksanakan haji hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik. Tidak merasa lebih tinggi dari saudara semuslimnya hanya karena memiliki kedudukan, pangkat, ataupun banyaknya harta. Meluruskan niatnya, bahwa tujuan satu-satunya ia berhaji adalah mengharapkan wajah Allah Ta’ala dan surga-Nya serta mengharapkan agar Allah Ta’ala menghapuskan dosa-dosanya. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Keempat: Saat melaksanakannya, seorang muslim dituntut untuk berlemah lembut dan mengasihi saudara muslim lainnya, berusaha untuk membuat nyaman saudaranya, serta menghindarkan diri dari mengganggu dan menyakiti mereka. Lihatlah bagaimana Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu agar memperhatikan orang-orang yang lemah di saat berhaji,يا عمرُ إنكَ رجلٌ قويٌّ لا تزاحِم على الحَجَرِ فتؤذِيَ الضعيفَ إنْ وجدتَّ خَلْوَةً فاستَلِمْهُ وإلا فاسْتَقْبِلْهُ فهَلِّلْ وَكَبِّرْ“Wahai Umar, kamu adalah lelaki yang kuat. Maka janganlah berdesakan di Hajar Aswad, karena akan menyakiti orang yang lemah. Jika kamu mendapati (hajar aswad) kosong, ciumlah dia. Dan jika tidak, menghadaplah kearahnya sambil bertahlil dan bertakbir.” (HR. Ahmad no. 190 dan At-Thabari dalam Musnad Ibnu Abbas no. 106)Kelima: Sepulangnya dari tanah suci, orang yang telah melaksanakan haji hendaknya berhati-hati dari berbicara dan menjawab pertanyaan tanpa ada landasan ilmu. Merasa sudah pintar dan paham akan agama, lalu ia bermudah-mudahan di dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Padahal jelas ia bukan orang yang berhak untuk berfatwa atau bahkan ia sama sekali bukan orang yang ahli di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ : 36)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا“Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim No. 2674)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Ibadah haji ke Baitullah Al-Haram walaupun ia berada di urutan terakhir pada hadis rukun Islam, namun sesungguhnya ia mencakup semua aspek peribadatan. Terkandung di dalamnya unsur rohani sebagaimana di dalam salat. Terkandung juga kesabaran dan rasa berat sebagaimana di dalam ibadah puasa. Diperlukan usaha dan harta sebagaimana dalam perkara zakat. Sungguh seakan-akan ibadah haji ini merupakan bentuk latihan untuk semua macam peribadatan. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan pahala dan balasan yang besar bagi siapa yang mampu melaksanakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ“Siapa yang berhaji ke Ka’bah, lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521)Jika saja mereka yang berangkat haji tidak mendapatkan sesuatu kecuali hal ini, maka itu sudah cukup. Nikmat mana lagi yang lebih besar dari terhapusnya dosa-dosa dan dibukanya lembaran baru untuk kita. Untuk memperoleh keutamaan ini, wajib baginya untuk menghindarkan diri dari terjatuh ke dalam kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian orang yang berhaji, baik itu menyibukkan diri dengan keluar masuk pusat perbelanjaan tanpa ada kebutuhan dan hanya menghabiskan waktu saja, atau bahkan bermudah-mudahan dalam perkara salat dan meninggalkan salat jemaah.Jemaah yang berbahagia. Marilah kita berdoa semoga Allah Ta’ala menerima ibadah haji seluruh kaum muslimin, menjadikan haji mereka haji yang mabrur, haji yang menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa mereka. Dan semoga Allah Ta’ala memberikan kesempatan bagi yang belum berhaji untuk bisa berhaji ke tanah haram. Menunaikan kewajiban yang Allah tuliskan ini dengan perasaan yang penuh kegembiraan dan pengagungan akan syiar Islam yang mulia ini. Amiin Yaa Rabbal Aalamiin.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Doa Dalam Al Quran Dan Hadist, Makanan Sehat Ala Rasulullah, Salam Agama Kristen, Profil Ustadz Firanda AndirjaTags: Hajihikmah ibadah hajiibadah hajikhutbah jumatmateri khutbah jumatnaskah khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Cara Menghitung Zakat Keluarga

Cara Menghitung Zakat Keluarga Pertanyaan: Ustadz, jika suami istri hartanya bercampur, bagaimana ya cara menghitung zakat Malnya? Terimakasih jazakallah khairan atas penjelasannya Ustadz Jawaban: Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, wa ba’du. Pertama, hukum harta suami istri bercampur. Pada asalnya boleh selama keduanya saling ridha. Dalilnya adalah ayat tentang bolehnya istri memberikan mahar kepada suami. وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۗ فَاِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـًٔا مَّرِيْۤـًٔا “Berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.” (QS. an-Nisa’: 4) Mahar adalah harta istri, namun suami boleh menikmatinya jika istri memberikan dengan sukarela. Artinya ini menunjukkan harta istri atau suami boleh dinikmati pasangannya selama saling ridha. Kedua, cara menzakati harta suami istri yang bercampur. Zakatnya tidak bisa digabungkan, karena: [1] kaidah dalam zakat (dhowabit fiqh): الخلطة غير معتبرة في الزكاة في غير السائمة “Mencampur harta untuk menghitung nisab zakat hanya berlaku pada zakat ternak, tidak berlaku pada selain zakat ternak.” Sebagaimana keterangan di dalam kitab Aujazul Masalik (Kitab fiqh Mazhab Maliki), فان اختلطوا في غْيْرِ السّائِمَةْ، كالذَّهبِ والفِضَّةِ، والزُّرُوعِ والثِّمارِ وعُرُوضِ التِّجارَةِ، لم تؤثر خلطتهم شيئا، وكان حُكْمُهم حُكْمَ المُنْفَرِدِين. وهذا قولُ أكْثَرِ أهلِ العلمِ. “Jika harta selain ternak bercampur, seperti zakat emas, perak, pertanian, perdagangan, gabungan harta dari jenis-jenis harta tersebut tidak dianggap dalam penunaian zakat. Sehingga zakat pada komoditi-komoditi tersebut dihitung layaknya zakat sendiri-sendiri; tidak digabung. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama.” (Sumber: Aujazul Masaalik 9/540) [2] syariat menghargai kepemilikan, sehingga harta suami milik suami, harta istri tetap milik istri. Dalilnya ayat tentang warisan suami dan istri, di mana kepemilikan mereka dibatasi ketika pasangannya meninggal dunia. لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَۖ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ اَوْ كَثُرَ ۗ نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًا “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (QS. an-Nisa’: 7) Artinya tidak ada istilah harta istri milik suami atau harta suami milik istri. Sehingga cara perhitungan zakat harta suami istri atau keluarga yang digabung (mal musytarak) adalah, dihitung sendiri-sendiri. Harta suami dihitung sendiri dan harta istri dihitung sendiri. Contoh kasus: Sepasang suami istri memiliki tabungan sebesar 100 juta, dengan rincian 10 juta milik istri, 90 juta milik suami. Dan uang tersebut telah mengendap di rekening selama satu tahun, sehingga bisa disebut telah mencapai haul. Secara hitungan nisab harta istri sebenarnya tidak menanggung kewajiban zakat, karena belum sampai nisab (nisab emas: seharga 85 gr emas murni). Maka tidak boleh digabung dengan harta suami dalam menunaikan zakat. Harta suami zakatnya sendiri, harta istri juga sendiri. Pada kasus ini yang berkewajiban zakat adalah suami. Sehingga 2,5% kadar zakat dikeluarkan dari 90 juta milik suami saja. Atau contoh yang lain agar lebih jelas, suami istri memiliki tabungan sebesar 90 juta, dengan rincian 40 juta milik istri, 50 juta milik suami. Uang itu telah mengendap selama satu tahun (sudah haul). Jika dihitung zakat masing-masing, maka jumlah harta masing-masing suami istri belum sampai nisab zakat mal (nisab emas). Agar dapat menunaikan zakat, maka keduanya sepakat untuk digabungkan, sehingga harta mereka telah sampai nisab. Ini tidak boleh. Yang benar: tidak perlu digabungkan, keduanya tidak menanggung kewajiban zakat. Karena harta mereka masing-masing belum sampai nisab. Wallahu a’lam bishawab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Sholat Di Kereta, Kodok Halal Atau Haram, Niat Shalat Syuruq, Menghilangkan Kebiasaan Onami, Doa Agar Orang Segan Kepada Kita, Doa Ayat Sajadah Visited 109 times, 1 visit(s) today Post Views: 315 QRIS donasi Yufid

Cara Menghitung Zakat Keluarga

Cara Menghitung Zakat Keluarga Pertanyaan: Ustadz, jika suami istri hartanya bercampur, bagaimana ya cara menghitung zakat Malnya? Terimakasih jazakallah khairan atas penjelasannya Ustadz Jawaban: Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, wa ba’du. Pertama, hukum harta suami istri bercampur. Pada asalnya boleh selama keduanya saling ridha. Dalilnya adalah ayat tentang bolehnya istri memberikan mahar kepada suami. وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۗ فَاِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـًٔا مَّرِيْۤـًٔا “Berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.” (QS. an-Nisa’: 4) Mahar adalah harta istri, namun suami boleh menikmatinya jika istri memberikan dengan sukarela. Artinya ini menunjukkan harta istri atau suami boleh dinikmati pasangannya selama saling ridha. Kedua, cara menzakati harta suami istri yang bercampur. Zakatnya tidak bisa digabungkan, karena: [1] kaidah dalam zakat (dhowabit fiqh): الخلطة غير معتبرة في الزكاة في غير السائمة “Mencampur harta untuk menghitung nisab zakat hanya berlaku pada zakat ternak, tidak berlaku pada selain zakat ternak.” Sebagaimana keterangan di dalam kitab Aujazul Masalik (Kitab fiqh Mazhab Maliki), فان اختلطوا في غْيْرِ السّائِمَةْ، كالذَّهبِ والفِضَّةِ، والزُّرُوعِ والثِّمارِ وعُرُوضِ التِّجارَةِ، لم تؤثر خلطتهم شيئا، وكان حُكْمُهم حُكْمَ المُنْفَرِدِين. وهذا قولُ أكْثَرِ أهلِ العلمِ. “Jika harta selain ternak bercampur, seperti zakat emas, perak, pertanian, perdagangan, gabungan harta dari jenis-jenis harta tersebut tidak dianggap dalam penunaian zakat. Sehingga zakat pada komoditi-komoditi tersebut dihitung layaknya zakat sendiri-sendiri; tidak digabung. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama.” (Sumber: Aujazul Masaalik 9/540) [2] syariat menghargai kepemilikan, sehingga harta suami milik suami, harta istri tetap milik istri. Dalilnya ayat tentang warisan suami dan istri, di mana kepemilikan mereka dibatasi ketika pasangannya meninggal dunia. لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَۖ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ اَوْ كَثُرَ ۗ نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًا “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (QS. an-Nisa’: 7) Artinya tidak ada istilah harta istri milik suami atau harta suami milik istri. Sehingga cara perhitungan zakat harta suami istri atau keluarga yang digabung (mal musytarak) adalah, dihitung sendiri-sendiri. Harta suami dihitung sendiri dan harta istri dihitung sendiri. Contoh kasus: Sepasang suami istri memiliki tabungan sebesar 100 juta, dengan rincian 10 juta milik istri, 90 juta milik suami. Dan uang tersebut telah mengendap di rekening selama satu tahun, sehingga bisa disebut telah mencapai haul. Secara hitungan nisab harta istri sebenarnya tidak menanggung kewajiban zakat, karena belum sampai nisab (nisab emas: seharga 85 gr emas murni). Maka tidak boleh digabung dengan harta suami dalam menunaikan zakat. Harta suami zakatnya sendiri, harta istri juga sendiri. Pada kasus ini yang berkewajiban zakat adalah suami. Sehingga 2,5% kadar zakat dikeluarkan dari 90 juta milik suami saja. Atau contoh yang lain agar lebih jelas, suami istri memiliki tabungan sebesar 90 juta, dengan rincian 40 juta milik istri, 50 juta milik suami. Uang itu telah mengendap selama satu tahun (sudah haul). Jika dihitung zakat masing-masing, maka jumlah harta masing-masing suami istri belum sampai nisab zakat mal (nisab emas). Agar dapat menunaikan zakat, maka keduanya sepakat untuk digabungkan, sehingga harta mereka telah sampai nisab. Ini tidak boleh. Yang benar: tidak perlu digabungkan, keduanya tidak menanggung kewajiban zakat. Karena harta mereka masing-masing belum sampai nisab. Wallahu a’lam bishawab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Sholat Di Kereta, Kodok Halal Atau Haram, Niat Shalat Syuruq, Menghilangkan Kebiasaan Onami, Doa Agar Orang Segan Kepada Kita, Doa Ayat Sajadah Visited 109 times, 1 visit(s) today Post Views: 315 QRIS donasi Yufid
Cara Menghitung Zakat Keluarga Pertanyaan: Ustadz, jika suami istri hartanya bercampur, bagaimana ya cara menghitung zakat Malnya? Terimakasih jazakallah khairan atas penjelasannya Ustadz Jawaban: Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, wa ba’du. Pertama, hukum harta suami istri bercampur. Pada asalnya boleh selama keduanya saling ridha. Dalilnya adalah ayat tentang bolehnya istri memberikan mahar kepada suami. وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۗ فَاِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـًٔا مَّرِيْۤـًٔا “Berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.” (QS. an-Nisa’: 4) Mahar adalah harta istri, namun suami boleh menikmatinya jika istri memberikan dengan sukarela. Artinya ini menunjukkan harta istri atau suami boleh dinikmati pasangannya selama saling ridha. Kedua, cara menzakati harta suami istri yang bercampur. Zakatnya tidak bisa digabungkan, karena: [1] kaidah dalam zakat (dhowabit fiqh): الخلطة غير معتبرة في الزكاة في غير السائمة “Mencampur harta untuk menghitung nisab zakat hanya berlaku pada zakat ternak, tidak berlaku pada selain zakat ternak.” Sebagaimana keterangan di dalam kitab Aujazul Masalik (Kitab fiqh Mazhab Maliki), فان اختلطوا في غْيْرِ السّائِمَةْ، كالذَّهبِ والفِضَّةِ، والزُّرُوعِ والثِّمارِ وعُرُوضِ التِّجارَةِ، لم تؤثر خلطتهم شيئا، وكان حُكْمُهم حُكْمَ المُنْفَرِدِين. وهذا قولُ أكْثَرِ أهلِ العلمِ. “Jika harta selain ternak bercampur, seperti zakat emas, perak, pertanian, perdagangan, gabungan harta dari jenis-jenis harta tersebut tidak dianggap dalam penunaian zakat. Sehingga zakat pada komoditi-komoditi tersebut dihitung layaknya zakat sendiri-sendiri; tidak digabung. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama.” (Sumber: Aujazul Masaalik 9/540) [2] syariat menghargai kepemilikan, sehingga harta suami milik suami, harta istri tetap milik istri. Dalilnya ayat tentang warisan suami dan istri, di mana kepemilikan mereka dibatasi ketika pasangannya meninggal dunia. لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَۖ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ اَوْ كَثُرَ ۗ نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًا “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (QS. an-Nisa’: 7) Artinya tidak ada istilah harta istri milik suami atau harta suami milik istri. Sehingga cara perhitungan zakat harta suami istri atau keluarga yang digabung (mal musytarak) adalah, dihitung sendiri-sendiri. Harta suami dihitung sendiri dan harta istri dihitung sendiri. Contoh kasus: Sepasang suami istri memiliki tabungan sebesar 100 juta, dengan rincian 10 juta milik istri, 90 juta milik suami. Dan uang tersebut telah mengendap di rekening selama satu tahun, sehingga bisa disebut telah mencapai haul. Secara hitungan nisab harta istri sebenarnya tidak menanggung kewajiban zakat, karena belum sampai nisab (nisab emas: seharga 85 gr emas murni). Maka tidak boleh digabung dengan harta suami dalam menunaikan zakat. Harta suami zakatnya sendiri, harta istri juga sendiri. Pada kasus ini yang berkewajiban zakat adalah suami. Sehingga 2,5% kadar zakat dikeluarkan dari 90 juta milik suami saja. Atau contoh yang lain agar lebih jelas, suami istri memiliki tabungan sebesar 90 juta, dengan rincian 40 juta milik istri, 50 juta milik suami. Uang itu telah mengendap selama satu tahun (sudah haul). Jika dihitung zakat masing-masing, maka jumlah harta masing-masing suami istri belum sampai nisab zakat mal (nisab emas). Agar dapat menunaikan zakat, maka keduanya sepakat untuk digabungkan, sehingga harta mereka telah sampai nisab. Ini tidak boleh. Yang benar: tidak perlu digabungkan, keduanya tidak menanggung kewajiban zakat. Karena harta mereka masing-masing belum sampai nisab. Wallahu a’lam bishawab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Sholat Di Kereta, Kodok Halal Atau Haram, Niat Shalat Syuruq, Menghilangkan Kebiasaan Onami, Doa Agar Orang Segan Kepada Kita, Doa Ayat Sajadah Visited 109 times, 1 visit(s) today Post Views: 315 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1344155860&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Cara Menghitung Zakat Keluarga Pertanyaan: Ustadz, jika suami istri hartanya bercampur, bagaimana ya cara menghitung zakat Malnya? Terimakasih jazakallah khairan atas penjelasannya Ustadz Jawaban: Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, wa ba’du. Pertama, hukum harta suami istri bercampur. Pada asalnya boleh selama keduanya saling ridha. Dalilnya adalah ayat tentang bolehnya istri memberikan mahar kepada suami. وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۗ فَاِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـًٔا مَّرِيْۤـًٔا “Berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.” (QS. an-Nisa’: 4) Mahar adalah harta istri, namun suami boleh menikmatinya jika istri memberikan dengan sukarela. Artinya ini menunjukkan harta istri atau suami boleh dinikmati pasangannya selama saling ridha. Kedua, cara menzakati harta suami istri yang bercampur. Zakatnya tidak bisa digabungkan, karena: [1] kaidah dalam zakat (dhowabit fiqh): الخلطة غير معتبرة في الزكاة في غير السائمة “Mencampur harta untuk menghitung nisab zakat hanya berlaku pada zakat ternak, tidak berlaku pada selain zakat ternak.” Sebagaimana keterangan di dalam kitab Aujazul Masalik (Kitab fiqh Mazhab Maliki), فان اختلطوا في غْيْرِ السّائِمَةْ، كالذَّهبِ والفِضَّةِ، والزُّرُوعِ والثِّمارِ وعُرُوضِ التِّجارَةِ، لم تؤثر خلطتهم شيئا، وكان حُكْمُهم حُكْمَ المُنْفَرِدِين. وهذا قولُ أكْثَرِ أهلِ العلمِ. “Jika harta selain ternak bercampur, seperti zakat emas, perak, pertanian, perdagangan, gabungan harta dari jenis-jenis harta tersebut tidak dianggap dalam penunaian zakat. Sehingga zakat pada komoditi-komoditi tersebut dihitung layaknya zakat sendiri-sendiri; tidak digabung. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama.” (Sumber: Aujazul Masaalik 9/540) [2] syariat menghargai kepemilikan, sehingga harta suami milik suami, harta istri tetap milik istri. Dalilnya ayat tentang warisan suami dan istri, di mana kepemilikan mereka dibatasi ketika pasangannya meninggal dunia. لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَۖ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ اَوْ كَثُرَ ۗ نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًا “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (QS. an-Nisa’: 7) Artinya tidak ada istilah harta istri milik suami atau harta suami milik istri. Sehingga cara perhitungan zakat harta suami istri atau keluarga yang digabung (mal musytarak) adalah, dihitung sendiri-sendiri. Harta suami dihitung sendiri dan harta istri dihitung sendiri. Contoh kasus: Sepasang suami istri memiliki tabungan sebesar 100 juta, dengan rincian 10 juta milik istri, 90 juta milik suami. Dan uang tersebut telah mengendap di rekening selama satu tahun, sehingga bisa disebut telah mencapai haul. Secara hitungan nisab harta istri sebenarnya tidak menanggung kewajiban zakat, karena belum sampai nisab (nisab emas: seharga 85 gr emas murni). Maka tidak boleh digabung dengan harta suami dalam menunaikan zakat. Harta suami zakatnya sendiri, harta istri juga sendiri. Pada kasus ini yang berkewajiban zakat adalah suami. Sehingga 2,5% kadar zakat dikeluarkan dari 90 juta milik suami saja. Atau contoh yang lain agar lebih jelas, suami istri memiliki tabungan sebesar 90 juta, dengan rincian 40 juta milik istri, 50 juta milik suami. Uang itu telah mengendap selama satu tahun (sudah haul). Jika dihitung zakat masing-masing, maka jumlah harta masing-masing suami istri belum sampai nisab zakat mal (nisab emas). Agar dapat menunaikan zakat, maka keduanya sepakat untuk digabungkan, sehingga harta mereka telah sampai nisab. Ini tidak boleh. Yang benar: tidak perlu digabungkan, keduanya tidak menanggung kewajiban zakat. Karena harta mereka masing-masing belum sampai nisab. Wallahu a’lam bishawab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Sholat Di Kereta, Kodok Halal Atau Haram, Niat Shalat Syuruq, Menghilangkan Kebiasaan Onami, Doa Agar Orang Segan Kepada Kita, Doa Ayat Sajadah Visited 109 times, 1 visit(s) today Post Views: 315 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Boleh Niatan Qurban untuk Mayit (Orang yang Telah Meninggal Dunia)

Bolehkah niatan qurban untuk orang yang telah meninggal dunia? Ada dua pendapat dalam hal ini yaitu yang membolehkan secara mutlak dan yang membolehkan jika ada wasiat. Imam Nawawi rahimahullah berkata, وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ، وَلَا عَنْ الْمَيِّتِ إذَا لَمْ يُوصِ بِهَا “Tidak sah qurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula qurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk qurban tersebut.”[1] Dalil dari pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala, وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).[2] Pendapat yang sama dinyatakan pula oleh penulis Kifayah Al-Akhyar, Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al-Hishni, di mana ia berkata, وَلاَ يَجُوْزُ عَنِ الميِّتِ عَلَى الأَصَحِّ إِلاَّ أَنْ يُوْصَى بِهَا “Tidak boleh qurban itu diniatkan atas nama mayit menurut pendapat yang paling kuat dari pendapat ulama Syafi’iyah. Dibolehkan hanya ketika ada wasiat.”[3] Namun, ada pendapat lain yang dinukil dalam Al-Majmu’, لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ بِغَيْرِإذْنِهِ لَمْ يَقَعْ عَنْهُ (وَأَمَّا) التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ فَقَدْ أَطْلَقَ أَبُوالْحَسَنِ الْعَبَّادِيُّ جَوَازَهَا لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَالصَّدَقَةُ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُ هُوَتَصِلُ إلَيْهِ بِالْإِجْمَاعِ “Seandainya seseorang berkurban untuk orang lain tanpa seizinnya maka tidak bisa. Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia maka Abu Al-Hasan Al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah. Padahal, sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijmak para ulama.”[4] Di kalangan mazhab Syafii sendiri pandangan yang pertama dianggap sebagai pandangan yang lebih sahih (ashah) dan dianut oleh mayoritas ulama dari kalangan mazhab Syafii. Pendapat kedua adalah pendapat mayoritas ulama madzhab sebagaimana disebutkan dalam Ensiklopedia Fikih,  إِذَا أَوْصَى الْمَيِّتُ بِالتَّضْحِيَةِ عَنْهُ، أَوْ وَقَفَ وَقْفًا لِذَلِكَ جَازَ بِالاِتِّفَاقِ. فَإِنْ كَانَتْ وَاجِبَةً بِالنَّذْرِ وَغَيْرِهِ وَجَبَ عَلَى الْوَارِثِ إِنْفَاذُ ذَلِكَ. أَمَّا إِذَا لَمْ يُوصِ بِهَافَأَرَادَ الْوَارِثُ أَوْ غَيْرُهُ أَنْ يُضَحِّيَ عَنْهُ مِنْ مَال نَفْسِهِ، فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى جَوَازِ التَّضْحِيَةِ عَنْهُ، إِلاَّ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ أَجَازُوا ذَلِكَ مَعَ الْكَرَاهَةِ. وَإِنَّمَا أَجَازُوهُ لِأَنَّ الْمَوْتَ لاَ يَمْنَعُ التَّقَرُّبَ عَنِ الْمَيِّتِ كَمَا فِي الصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ “Adapun jika (orang yang telah meninggal dunia) belum pernah berwasiat untuk qurban kemudian ahli waris atau orang lain menunaikan qurban orang yang telah meninggal dunia tersebut dari hartanya sendiri, maka menurut pendapat dalam madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hambali memperbolehkannya. Hanya saja menurut mazhab Malikiyyah boleh, tetapi makruh. Alasan mereka adalah karena kematian tidak bisa menghalangi orang yang meninggal dunia untuk ber-taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah sebagaimana dalam sedekah dan ibadah haji.”[5] Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’ penah diajukan pertanyaan, “Bolehkah niatan qurban untuk mayit?” Jawaban para ulama Al-Lajnah, “Para ulama sepakat, hal itu masih disyariatkan karena sisi asalnya termasuk sedekah jariyah. Sehingga boleh berniat qurban untuk mayit. Dalil yang melatarbelakangi hal ini adalah hadits umum, إِذَا مَاتَ اِبْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ “Jika manusia meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.”[6] Berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunia termasuk bagian dari sedekah jariyah. Di dalamnya terdapat manfaat untuk orang yang berqurban, untuk mayit dan yang lainnya.[7] Semoga menjadi ilmu yang manfaat.   Catatan kaki: [1] Minhaj Ath-Thalibin, 3:333. [2] Mughni Al-Muhtaj, 4:390. [3] Kifayah Al-Akhyar, hlm. 579. [4] Lihat Al-Majmu’, 8:406. [5] Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 5:106-107. [6] HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Al-Bukhari dalam Adab Al-Mufrad, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. [7] Pertanyaan nomor dua, dari fatwa nomor 1474, ditandatangani oleh ketua Al-Lajnah saat itu: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz. Baca Juga: Menghadiahkan Pahala Bacaan Al Qur’an untuk Mayit Kirim Pahala Al Fatihah Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, Penerbit Muassasah Al-Amirah Al-‘Anud. Kifayah Al-Akhyar fi Halli Ghayah Al-Ikhtishar. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al-Hishniy Al-Husaini Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Penerbit Dar Al-Minhaj. Minhaj Ath-Thalibin. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Tahqiq dan Ta’liq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Haddad. Penerbit Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah. Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj. Cetakan keempat, tahun 1431 H. Muhammad bin Al-Khatib Asy-Syarbini. Penerbit Dar Al-Ma’rifah. — Direvisi ulang di Solo, 7 Dzulhijjah 1443 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshukum qurban niat panduan qurban qurban atas nama orang meninggal dunia qurban mayit

Boleh Niatan Qurban untuk Mayit (Orang yang Telah Meninggal Dunia)

Bolehkah niatan qurban untuk orang yang telah meninggal dunia? Ada dua pendapat dalam hal ini yaitu yang membolehkan secara mutlak dan yang membolehkan jika ada wasiat. Imam Nawawi rahimahullah berkata, وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ، وَلَا عَنْ الْمَيِّتِ إذَا لَمْ يُوصِ بِهَا “Tidak sah qurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula qurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk qurban tersebut.”[1] Dalil dari pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala, وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).[2] Pendapat yang sama dinyatakan pula oleh penulis Kifayah Al-Akhyar, Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al-Hishni, di mana ia berkata, وَلاَ يَجُوْزُ عَنِ الميِّتِ عَلَى الأَصَحِّ إِلاَّ أَنْ يُوْصَى بِهَا “Tidak boleh qurban itu diniatkan atas nama mayit menurut pendapat yang paling kuat dari pendapat ulama Syafi’iyah. Dibolehkan hanya ketika ada wasiat.”[3] Namun, ada pendapat lain yang dinukil dalam Al-Majmu’, لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ بِغَيْرِإذْنِهِ لَمْ يَقَعْ عَنْهُ (وَأَمَّا) التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ فَقَدْ أَطْلَقَ أَبُوالْحَسَنِ الْعَبَّادِيُّ جَوَازَهَا لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَالصَّدَقَةُ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُ هُوَتَصِلُ إلَيْهِ بِالْإِجْمَاعِ “Seandainya seseorang berkurban untuk orang lain tanpa seizinnya maka tidak bisa. Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia maka Abu Al-Hasan Al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah. Padahal, sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijmak para ulama.”[4] Di kalangan mazhab Syafii sendiri pandangan yang pertama dianggap sebagai pandangan yang lebih sahih (ashah) dan dianut oleh mayoritas ulama dari kalangan mazhab Syafii. Pendapat kedua adalah pendapat mayoritas ulama madzhab sebagaimana disebutkan dalam Ensiklopedia Fikih,  إِذَا أَوْصَى الْمَيِّتُ بِالتَّضْحِيَةِ عَنْهُ، أَوْ وَقَفَ وَقْفًا لِذَلِكَ جَازَ بِالاِتِّفَاقِ. فَإِنْ كَانَتْ وَاجِبَةً بِالنَّذْرِ وَغَيْرِهِ وَجَبَ عَلَى الْوَارِثِ إِنْفَاذُ ذَلِكَ. أَمَّا إِذَا لَمْ يُوصِ بِهَافَأَرَادَ الْوَارِثُ أَوْ غَيْرُهُ أَنْ يُضَحِّيَ عَنْهُ مِنْ مَال نَفْسِهِ، فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى جَوَازِ التَّضْحِيَةِ عَنْهُ، إِلاَّ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ أَجَازُوا ذَلِكَ مَعَ الْكَرَاهَةِ. وَإِنَّمَا أَجَازُوهُ لِأَنَّ الْمَوْتَ لاَ يَمْنَعُ التَّقَرُّبَ عَنِ الْمَيِّتِ كَمَا فِي الصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ “Adapun jika (orang yang telah meninggal dunia) belum pernah berwasiat untuk qurban kemudian ahli waris atau orang lain menunaikan qurban orang yang telah meninggal dunia tersebut dari hartanya sendiri, maka menurut pendapat dalam madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hambali memperbolehkannya. Hanya saja menurut mazhab Malikiyyah boleh, tetapi makruh. Alasan mereka adalah karena kematian tidak bisa menghalangi orang yang meninggal dunia untuk ber-taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah sebagaimana dalam sedekah dan ibadah haji.”[5] Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’ penah diajukan pertanyaan, “Bolehkah niatan qurban untuk mayit?” Jawaban para ulama Al-Lajnah, “Para ulama sepakat, hal itu masih disyariatkan karena sisi asalnya termasuk sedekah jariyah. Sehingga boleh berniat qurban untuk mayit. Dalil yang melatarbelakangi hal ini adalah hadits umum, إِذَا مَاتَ اِبْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ “Jika manusia meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.”[6] Berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunia termasuk bagian dari sedekah jariyah. Di dalamnya terdapat manfaat untuk orang yang berqurban, untuk mayit dan yang lainnya.[7] Semoga menjadi ilmu yang manfaat.   Catatan kaki: [1] Minhaj Ath-Thalibin, 3:333. [2] Mughni Al-Muhtaj, 4:390. [3] Kifayah Al-Akhyar, hlm. 579. [4] Lihat Al-Majmu’, 8:406. [5] Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 5:106-107. [6] HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Al-Bukhari dalam Adab Al-Mufrad, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. [7] Pertanyaan nomor dua, dari fatwa nomor 1474, ditandatangani oleh ketua Al-Lajnah saat itu: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz. Baca Juga: Menghadiahkan Pahala Bacaan Al Qur’an untuk Mayit Kirim Pahala Al Fatihah Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, Penerbit Muassasah Al-Amirah Al-‘Anud. Kifayah Al-Akhyar fi Halli Ghayah Al-Ikhtishar. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al-Hishniy Al-Husaini Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Penerbit Dar Al-Minhaj. Minhaj Ath-Thalibin. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Tahqiq dan Ta’liq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Haddad. Penerbit Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah. Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj. Cetakan keempat, tahun 1431 H. Muhammad bin Al-Khatib Asy-Syarbini. Penerbit Dar Al-Ma’rifah. — Direvisi ulang di Solo, 7 Dzulhijjah 1443 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshukum qurban niat panduan qurban qurban atas nama orang meninggal dunia qurban mayit
Bolehkah niatan qurban untuk orang yang telah meninggal dunia? Ada dua pendapat dalam hal ini yaitu yang membolehkan secara mutlak dan yang membolehkan jika ada wasiat. Imam Nawawi rahimahullah berkata, وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ، وَلَا عَنْ الْمَيِّتِ إذَا لَمْ يُوصِ بِهَا “Tidak sah qurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula qurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk qurban tersebut.”[1] Dalil dari pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala, وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).[2] Pendapat yang sama dinyatakan pula oleh penulis Kifayah Al-Akhyar, Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al-Hishni, di mana ia berkata, وَلاَ يَجُوْزُ عَنِ الميِّتِ عَلَى الأَصَحِّ إِلاَّ أَنْ يُوْصَى بِهَا “Tidak boleh qurban itu diniatkan atas nama mayit menurut pendapat yang paling kuat dari pendapat ulama Syafi’iyah. Dibolehkan hanya ketika ada wasiat.”[3] Namun, ada pendapat lain yang dinukil dalam Al-Majmu’, لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ بِغَيْرِإذْنِهِ لَمْ يَقَعْ عَنْهُ (وَأَمَّا) التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ فَقَدْ أَطْلَقَ أَبُوالْحَسَنِ الْعَبَّادِيُّ جَوَازَهَا لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَالصَّدَقَةُ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُ هُوَتَصِلُ إلَيْهِ بِالْإِجْمَاعِ “Seandainya seseorang berkurban untuk orang lain tanpa seizinnya maka tidak bisa. Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia maka Abu Al-Hasan Al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah. Padahal, sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijmak para ulama.”[4] Di kalangan mazhab Syafii sendiri pandangan yang pertama dianggap sebagai pandangan yang lebih sahih (ashah) dan dianut oleh mayoritas ulama dari kalangan mazhab Syafii. Pendapat kedua adalah pendapat mayoritas ulama madzhab sebagaimana disebutkan dalam Ensiklopedia Fikih,  إِذَا أَوْصَى الْمَيِّتُ بِالتَّضْحِيَةِ عَنْهُ، أَوْ وَقَفَ وَقْفًا لِذَلِكَ جَازَ بِالاِتِّفَاقِ. فَإِنْ كَانَتْ وَاجِبَةً بِالنَّذْرِ وَغَيْرِهِ وَجَبَ عَلَى الْوَارِثِ إِنْفَاذُ ذَلِكَ. أَمَّا إِذَا لَمْ يُوصِ بِهَافَأَرَادَ الْوَارِثُ أَوْ غَيْرُهُ أَنْ يُضَحِّيَ عَنْهُ مِنْ مَال نَفْسِهِ، فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى جَوَازِ التَّضْحِيَةِ عَنْهُ، إِلاَّ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ أَجَازُوا ذَلِكَ مَعَ الْكَرَاهَةِ. وَإِنَّمَا أَجَازُوهُ لِأَنَّ الْمَوْتَ لاَ يَمْنَعُ التَّقَرُّبَ عَنِ الْمَيِّتِ كَمَا فِي الصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ “Adapun jika (orang yang telah meninggal dunia) belum pernah berwasiat untuk qurban kemudian ahli waris atau orang lain menunaikan qurban orang yang telah meninggal dunia tersebut dari hartanya sendiri, maka menurut pendapat dalam madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hambali memperbolehkannya. Hanya saja menurut mazhab Malikiyyah boleh, tetapi makruh. Alasan mereka adalah karena kematian tidak bisa menghalangi orang yang meninggal dunia untuk ber-taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah sebagaimana dalam sedekah dan ibadah haji.”[5] Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’ penah diajukan pertanyaan, “Bolehkah niatan qurban untuk mayit?” Jawaban para ulama Al-Lajnah, “Para ulama sepakat, hal itu masih disyariatkan karena sisi asalnya termasuk sedekah jariyah. Sehingga boleh berniat qurban untuk mayit. Dalil yang melatarbelakangi hal ini adalah hadits umum, إِذَا مَاتَ اِبْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ “Jika manusia meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.”[6] Berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunia termasuk bagian dari sedekah jariyah. Di dalamnya terdapat manfaat untuk orang yang berqurban, untuk mayit dan yang lainnya.[7] Semoga menjadi ilmu yang manfaat.   Catatan kaki: [1] Minhaj Ath-Thalibin, 3:333. [2] Mughni Al-Muhtaj, 4:390. [3] Kifayah Al-Akhyar, hlm. 579. [4] Lihat Al-Majmu’, 8:406. [5] Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 5:106-107. [6] HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Al-Bukhari dalam Adab Al-Mufrad, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. [7] Pertanyaan nomor dua, dari fatwa nomor 1474, ditandatangani oleh ketua Al-Lajnah saat itu: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz. Baca Juga: Menghadiahkan Pahala Bacaan Al Qur’an untuk Mayit Kirim Pahala Al Fatihah Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, Penerbit Muassasah Al-Amirah Al-‘Anud. Kifayah Al-Akhyar fi Halli Ghayah Al-Ikhtishar. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al-Hishniy Al-Husaini Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Penerbit Dar Al-Minhaj. Minhaj Ath-Thalibin. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Tahqiq dan Ta’liq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Haddad. Penerbit Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah. Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj. Cetakan keempat, tahun 1431 H. Muhammad bin Al-Khatib Asy-Syarbini. Penerbit Dar Al-Ma’rifah. — Direvisi ulang di Solo, 7 Dzulhijjah 1443 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshukum qurban niat panduan qurban qurban atas nama orang meninggal dunia qurban mayit


Bolehkah niatan qurban untuk orang yang telah meninggal dunia? Ada dua pendapat dalam hal ini yaitu yang membolehkan secara mutlak dan yang membolehkan jika ada wasiat. Imam Nawawi rahimahullah berkata, وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ، وَلَا عَنْ الْمَيِّتِ إذَا لَمْ يُوصِ بِهَا “Tidak sah qurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula qurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk qurban tersebut.”[1] Dalil dari pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala, وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).[2] Pendapat yang sama dinyatakan pula oleh penulis Kifayah Al-Akhyar, Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al-Hishni, di mana ia berkata, وَلاَ يَجُوْزُ عَنِ الميِّتِ عَلَى الأَصَحِّ إِلاَّ أَنْ يُوْصَى بِهَا “Tidak boleh qurban itu diniatkan atas nama mayit menurut pendapat yang paling kuat dari pendapat ulama Syafi’iyah. Dibolehkan hanya ketika ada wasiat.”[3] Namun, ada pendapat lain yang dinukil dalam Al-Majmu’, لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ بِغَيْرِإذْنِهِ لَمْ يَقَعْ عَنْهُ (وَأَمَّا) التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ فَقَدْ أَطْلَقَ أَبُوالْحَسَنِ الْعَبَّادِيُّ جَوَازَهَا لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَالصَّدَقَةُ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُ هُوَتَصِلُ إلَيْهِ بِالْإِجْمَاعِ “Seandainya seseorang berkurban untuk orang lain tanpa seizinnya maka tidak bisa. Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia maka Abu Al-Hasan Al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah. Padahal, sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijmak para ulama.”[4] Di kalangan mazhab Syafii sendiri pandangan yang pertama dianggap sebagai pandangan yang lebih sahih (ashah) dan dianut oleh mayoritas ulama dari kalangan mazhab Syafii. Pendapat kedua adalah pendapat mayoritas ulama madzhab sebagaimana disebutkan dalam Ensiklopedia Fikih,  إِذَا أَوْصَى الْمَيِّتُ بِالتَّضْحِيَةِ عَنْهُ، أَوْ وَقَفَ وَقْفًا لِذَلِكَ جَازَ بِالاِتِّفَاقِ. فَإِنْ كَانَتْ وَاجِبَةً بِالنَّذْرِ وَغَيْرِهِ وَجَبَ عَلَى الْوَارِثِ إِنْفَاذُ ذَلِكَ. أَمَّا إِذَا لَمْ يُوصِ بِهَافَأَرَادَ الْوَارِثُ أَوْ غَيْرُهُ أَنْ يُضَحِّيَ عَنْهُ مِنْ مَال نَفْسِهِ، فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى جَوَازِ التَّضْحِيَةِ عَنْهُ، إِلاَّ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ أَجَازُوا ذَلِكَ مَعَ الْكَرَاهَةِ. وَإِنَّمَا أَجَازُوهُ لِأَنَّ الْمَوْتَ لاَ يَمْنَعُ التَّقَرُّبَ عَنِ الْمَيِّتِ كَمَا فِي الصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ “Adapun jika (orang yang telah meninggal dunia) belum pernah berwasiat untuk qurban kemudian ahli waris atau orang lain menunaikan qurban orang yang telah meninggal dunia tersebut dari hartanya sendiri, maka menurut pendapat dalam madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hambali memperbolehkannya. Hanya saja menurut mazhab Malikiyyah boleh, tetapi makruh. Alasan mereka adalah karena kematian tidak bisa menghalangi orang yang meninggal dunia untuk ber-taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah sebagaimana dalam sedekah dan ibadah haji.”[5] Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’ penah diajukan pertanyaan, “Bolehkah niatan qurban untuk mayit?” Jawaban para ulama Al-Lajnah, “Para ulama sepakat, hal itu masih disyariatkan karena sisi asalnya termasuk sedekah jariyah. Sehingga boleh berniat qurban untuk mayit. Dalil yang melatarbelakangi hal ini adalah hadits umum, إِذَا مَاتَ اِبْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ “Jika manusia meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.”[6] Berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunia termasuk bagian dari sedekah jariyah. Di dalamnya terdapat manfaat untuk orang yang berqurban, untuk mayit dan yang lainnya.[7] Semoga menjadi ilmu yang manfaat.   Catatan kaki: [1] Minhaj Ath-Thalibin, 3:333. [2] Mughni Al-Muhtaj, 4:390. [3] Kifayah Al-Akhyar, hlm. 579. [4] Lihat Al-Majmu’, 8:406. [5] Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 5:106-107. [6] HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Al-Bukhari dalam Adab Al-Mufrad, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. [7] Pertanyaan nomor dua, dari fatwa nomor 1474, ditandatangani oleh ketua Al-Lajnah saat itu: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz. Baca Juga: Menghadiahkan Pahala Bacaan Al Qur’an untuk Mayit Kirim Pahala Al Fatihah Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, Penerbit Muassasah Al-Amirah Al-‘Anud. Kifayah Al-Akhyar fi Halli Ghayah Al-Ikhtishar. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al-Hishniy Al-Husaini Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Penerbit Dar Al-Minhaj. Minhaj Ath-Thalibin. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Tahqiq dan Ta’liq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Haddad. Penerbit Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah. Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj. Cetakan keempat, tahun 1431 H. Muhammad bin Al-Khatib Asy-Syarbini. Penerbit Dar Al-Ma’rifah. — Direvisi ulang di Solo, 7 Dzulhijjah 1443 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshukum qurban niat panduan qurban qurban atas nama orang meninggal dunia qurban mayit

Penyemangat Menuntut Ilmu di Usia Muda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Penyemangat Menuntut Ilmu di Usia Muda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Seseorang tidak akan sampai ke puncak, sebagaimana para ulama besar, kecuali jika ia bersegera menuntut ilmu di usia muda. Kita akan membahasnya sebentar lagi, bahwa Imam al-Bukhari ketika meriwayatkan dari para gurunya hadis-hadis dengan sanad 3 perawi ini saat beliau berusia 20 tahun atau kurang dari itu, atau juga 1 hingga 2 tahun lebih dari itu. Seluruh guru Imam al-Bukhari itu telah wafat pada permulaan tahun 210 Hijriyah, dan ada juga yang wafat beberapa waktu sebelum atau setelah itu. Kalian ketahui sendiri bahwa Imam al-Bukhari lahir pada tahun 194 setelah hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan ini menunjukkan bahwa beliau menuntut ilmu di usia muda. Semakin seseorang bersegera menuntut ilmu, dan berusaha meraihnya, serta berusaha mendatangi para ulama ketika ia masih muda, maka itu akan menjadi sebab keberkahan ilmunya, dan taufik Allah ‘Azza wa Jalla yang diberikan untuk orang itu. Oleh sebab itu, ada hadis yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memberinya pemahaman agama.” Seorang ulama mengatakan, “Jika kamu melihat seorang pemuda yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu, dan terus mengikuti majelis-majelisnya, serta fokus mengikuti kajiannya, maka ketahuilah bahwa Allah telah menghendaki kebaikan baginya, bahkan ia termasuk sebaik-baik manusia.” Jadi, ketinggian derajat dalam ilmu ada titik perantaranya, yaitu dimulai dengan dorongan menuntut ilmu di masa muda dan mempelajari ilmu-ilmu dasar dulu. Namun, ada perbedaan antara masa menuntut ilmu dan masa mengajarkannya, serta belajar hanya ingin menang, berdebat, dan riya, tentu ini adalah perkara yang berbeda. Namun yang harus dilakukan seseorang adalah belajar dahulu, dan jika telah dibutuhkan untuk mengajarkannya, ia pun mengajarkannya. ====================================================================================================== لَا يَصِلُ الْمَرْءُ لِلْعُلُوِّ وَأَعْنِي بِذَلِكَ عِنْدَ مُتَقَدِّمِ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَّا إِذَا كَانَ قَدْ بَكَّرَ فِي الطَّلَبِ وَسَيَمُرُّ مَعَنَا بَعْدَ قَلِيلٍ أَنَّ شُيُوخَ الْبُخَارِيِّ الَّذِينَ رَوَى عَنْهُمْ هَذِهِ الثُلَاثِيَّاتِ رَوَى عَنْهُمْ وَهُوَ فِي الْعِشْرِينَ مِنْ عُمُرِهِ أَوْ دُونَ ذَلِكَ أَوْ بَعْدَ ذَلِكَ بِسَنَةٍ أَوْ سَنَتَيْنِ فَكُلُّهُمُ قَدْ تُوُفِّيَ فِي أَوَّلِ الْمِائَتَيْنِ وَعَشْرَةَ يَزِيدُوْنَ أَوْ يَنْقُصُونَ قَلِيلًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ الْبُخَارِيَّ وُلِدَ سَنَةَ مِئَةٍ وَأَرْبَعَةٍ وَتِسْعِيْنَ مِنْ هِجْرَةِ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى تَبْكِيرِ الْعِلْمِ وَكُلَّمَا بَكَّرَ الْمَرْءُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَسَعَى فِي تَحْصِيلِهِ وَإِدْرَاكِ أَهْلِهِ فِي عَصْرٍ مُبَكِّرٍ مِنْ عُمُرِهِ وَزَمَانٍ مُبَكِّرٍ مِنْ عُمُرِهِ كَانَ ذَلِكَ سَبَبًا فِي بَرَكَةِ الْعِلْمِ وَتَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِذَلِكَ الرَّجُلِ لِذَلِكَ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ وَإِذَا رَأَيْتَ الشَّابَّ مَعْنِيًّا بِالْعِلْمِ يَتَتَبَّعُ حِلَقَهُ وَيَنْظُرُ فِي دَرْسِهِ فَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَرَادَ بِهِ خَيْرًا بَلْ إِنَّهُ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ فِي الْعُلُوِّ نُكْتَةً وَهُو الْحَثُّ عَلَى طَلَبِ الْعِلْمِ فِي حَدَاثَةِ السِّنِّ وَصِغَرِ الْعِلْمِ وَفَرْقٌ بَيْنَ طَلَبِ الْعِلْمِ وَالتَّصَدُّرِ لَهُ وَطَلَبِ الْغَلَبَةِ وَالْمُجَادَلَةِ وَالْمُرَاءَاةِ فَذَاكَ أَمْرٌ آخَرُ وَإِنَّمَا الْمَرْءُ يَنَالُ الْعِلْمَ فِي أَوَّلِهِ فَإِذَا احْتِيجَ إِلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ بَذَلَهُ  

Penyemangat Menuntut Ilmu di Usia Muda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Penyemangat Menuntut Ilmu di Usia Muda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Seseorang tidak akan sampai ke puncak, sebagaimana para ulama besar, kecuali jika ia bersegera menuntut ilmu di usia muda. Kita akan membahasnya sebentar lagi, bahwa Imam al-Bukhari ketika meriwayatkan dari para gurunya hadis-hadis dengan sanad 3 perawi ini saat beliau berusia 20 tahun atau kurang dari itu, atau juga 1 hingga 2 tahun lebih dari itu. Seluruh guru Imam al-Bukhari itu telah wafat pada permulaan tahun 210 Hijriyah, dan ada juga yang wafat beberapa waktu sebelum atau setelah itu. Kalian ketahui sendiri bahwa Imam al-Bukhari lahir pada tahun 194 setelah hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan ini menunjukkan bahwa beliau menuntut ilmu di usia muda. Semakin seseorang bersegera menuntut ilmu, dan berusaha meraihnya, serta berusaha mendatangi para ulama ketika ia masih muda, maka itu akan menjadi sebab keberkahan ilmunya, dan taufik Allah ‘Azza wa Jalla yang diberikan untuk orang itu. Oleh sebab itu, ada hadis yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memberinya pemahaman agama.” Seorang ulama mengatakan, “Jika kamu melihat seorang pemuda yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu, dan terus mengikuti majelis-majelisnya, serta fokus mengikuti kajiannya, maka ketahuilah bahwa Allah telah menghendaki kebaikan baginya, bahkan ia termasuk sebaik-baik manusia.” Jadi, ketinggian derajat dalam ilmu ada titik perantaranya, yaitu dimulai dengan dorongan menuntut ilmu di masa muda dan mempelajari ilmu-ilmu dasar dulu. Namun, ada perbedaan antara masa menuntut ilmu dan masa mengajarkannya, serta belajar hanya ingin menang, berdebat, dan riya, tentu ini adalah perkara yang berbeda. Namun yang harus dilakukan seseorang adalah belajar dahulu, dan jika telah dibutuhkan untuk mengajarkannya, ia pun mengajarkannya. ====================================================================================================== لَا يَصِلُ الْمَرْءُ لِلْعُلُوِّ وَأَعْنِي بِذَلِكَ عِنْدَ مُتَقَدِّمِ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَّا إِذَا كَانَ قَدْ بَكَّرَ فِي الطَّلَبِ وَسَيَمُرُّ مَعَنَا بَعْدَ قَلِيلٍ أَنَّ شُيُوخَ الْبُخَارِيِّ الَّذِينَ رَوَى عَنْهُمْ هَذِهِ الثُلَاثِيَّاتِ رَوَى عَنْهُمْ وَهُوَ فِي الْعِشْرِينَ مِنْ عُمُرِهِ أَوْ دُونَ ذَلِكَ أَوْ بَعْدَ ذَلِكَ بِسَنَةٍ أَوْ سَنَتَيْنِ فَكُلُّهُمُ قَدْ تُوُفِّيَ فِي أَوَّلِ الْمِائَتَيْنِ وَعَشْرَةَ يَزِيدُوْنَ أَوْ يَنْقُصُونَ قَلِيلًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ الْبُخَارِيَّ وُلِدَ سَنَةَ مِئَةٍ وَأَرْبَعَةٍ وَتِسْعِيْنَ مِنْ هِجْرَةِ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى تَبْكِيرِ الْعِلْمِ وَكُلَّمَا بَكَّرَ الْمَرْءُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَسَعَى فِي تَحْصِيلِهِ وَإِدْرَاكِ أَهْلِهِ فِي عَصْرٍ مُبَكِّرٍ مِنْ عُمُرِهِ وَزَمَانٍ مُبَكِّرٍ مِنْ عُمُرِهِ كَانَ ذَلِكَ سَبَبًا فِي بَرَكَةِ الْعِلْمِ وَتَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِذَلِكَ الرَّجُلِ لِذَلِكَ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ وَإِذَا رَأَيْتَ الشَّابَّ مَعْنِيًّا بِالْعِلْمِ يَتَتَبَّعُ حِلَقَهُ وَيَنْظُرُ فِي دَرْسِهِ فَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَرَادَ بِهِ خَيْرًا بَلْ إِنَّهُ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ فِي الْعُلُوِّ نُكْتَةً وَهُو الْحَثُّ عَلَى طَلَبِ الْعِلْمِ فِي حَدَاثَةِ السِّنِّ وَصِغَرِ الْعِلْمِ وَفَرْقٌ بَيْنَ طَلَبِ الْعِلْمِ وَالتَّصَدُّرِ لَهُ وَطَلَبِ الْغَلَبَةِ وَالْمُجَادَلَةِ وَالْمُرَاءَاةِ فَذَاكَ أَمْرٌ آخَرُ وَإِنَّمَا الْمَرْءُ يَنَالُ الْعِلْمَ فِي أَوَّلِهِ فَإِذَا احْتِيجَ إِلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ بَذَلَهُ  
Penyemangat Menuntut Ilmu di Usia Muda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Seseorang tidak akan sampai ke puncak, sebagaimana para ulama besar, kecuali jika ia bersegera menuntut ilmu di usia muda. Kita akan membahasnya sebentar lagi, bahwa Imam al-Bukhari ketika meriwayatkan dari para gurunya hadis-hadis dengan sanad 3 perawi ini saat beliau berusia 20 tahun atau kurang dari itu, atau juga 1 hingga 2 tahun lebih dari itu. Seluruh guru Imam al-Bukhari itu telah wafat pada permulaan tahun 210 Hijriyah, dan ada juga yang wafat beberapa waktu sebelum atau setelah itu. Kalian ketahui sendiri bahwa Imam al-Bukhari lahir pada tahun 194 setelah hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan ini menunjukkan bahwa beliau menuntut ilmu di usia muda. Semakin seseorang bersegera menuntut ilmu, dan berusaha meraihnya, serta berusaha mendatangi para ulama ketika ia masih muda, maka itu akan menjadi sebab keberkahan ilmunya, dan taufik Allah ‘Azza wa Jalla yang diberikan untuk orang itu. Oleh sebab itu, ada hadis yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memberinya pemahaman agama.” Seorang ulama mengatakan, “Jika kamu melihat seorang pemuda yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu, dan terus mengikuti majelis-majelisnya, serta fokus mengikuti kajiannya, maka ketahuilah bahwa Allah telah menghendaki kebaikan baginya, bahkan ia termasuk sebaik-baik manusia.” Jadi, ketinggian derajat dalam ilmu ada titik perantaranya, yaitu dimulai dengan dorongan menuntut ilmu di masa muda dan mempelajari ilmu-ilmu dasar dulu. Namun, ada perbedaan antara masa menuntut ilmu dan masa mengajarkannya, serta belajar hanya ingin menang, berdebat, dan riya, tentu ini adalah perkara yang berbeda. Namun yang harus dilakukan seseorang adalah belajar dahulu, dan jika telah dibutuhkan untuk mengajarkannya, ia pun mengajarkannya. ====================================================================================================== لَا يَصِلُ الْمَرْءُ لِلْعُلُوِّ وَأَعْنِي بِذَلِكَ عِنْدَ مُتَقَدِّمِ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَّا إِذَا كَانَ قَدْ بَكَّرَ فِي الطَّلَبِ وَسَيَمُرُّ مَعَنَا بَعْدَ قَلِيلٍ أَنَّ شُيُوخَ الْبُخَارِيِّ الَّذِينَ رَوَى عَنْهُمْ هَذِهِ الثُلَاثِيَّاتِ رَوَى عَنْهُمْ وَهُوَ فِي الْعِشْرِينَ مِنْ عُمُرِهِ أَوْ دُونَ ذَلِكَ أَوْ بَعْدَ ذَلِكَ بِسَنَةٍ أَوْ سَنَتَيْنِ فَكُلُّهُمُ قَدْ تُوُفِّيَ فِي أَوَّلِ الْمِائَتَيْنِ وَعَشْرَةَ يَزِيدُوْنَ أَوْ يَنْقُصُونَ قَلِيلًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ الْبُخَارِيَّ وُلِدَ سَنَةَ مِئَةٍ وَأَرْبَعَةٍ وَتِسْعِيْنَ مِنْ هِجْرَةِ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى تَبْكِيرِ الْعِلْمِ وَكُلَّمَا بَكَّرَ الْمَرْءُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَسَعَى فِي تَحْصِيلِهِ وَإِدْرَاكِ أَهْلِهِ فِي عَصْرٍ مُبَكِّرٍ مِنْ عُمُرِهِ وَزَمَانٍ مُبَكِّرٍ مِنْ عُمُرِهِ كَانَ ذَلِكَ سَبَبًا فِي بَرَكَةِ الْعِلْمِ وَتَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِذَلِكَ الرَّجُلِ لِذَلِكَ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ وَإِذَا رَأَيْتَ الشَّابَّ مَعْنِيًّا بِالْعِلْمِ يَتَتَبَّعُ حِلَقَهُ وَيَنْظُرُ فِي دَرْسِهِ فَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَرَادَ بِهِ خَيْرًا بَلْ إِنَّهُ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ فِي الْعُلُوِّ نُكْتَةً وَهُو الْحَثُّ عَلَى طَلَبِ الْعِلْمِ فِي حَدَاثَةِ السِّنِّ وَصِغَرِ الْعِلْمِ وَفَرْقٌ بَيْنَ طَلَبِ الْعِلْمِ وَالتَّصَدُّرِ لَهُ وَطَلَبِ الْغَلَبَةِ وَالْمُجَادَلَةِ وَالْمُرَاءَاةِ فَذَاكَ أَمْرٌ آخَرُ وَإِنَّمَا الْمَرْءُ يَنَالُ الْعِلْمَ فِي أَوَّلِهِ فَإِذَا احْتِيجَ إِلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ بَذَلَهُ  


Penyemangat Menuntut Ilmu di Usia Muda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Seseorang tidak akan sampai ke puncak, sebagaimana para ulama besar, kecuali jika ia bersegera menuntut ilmu di usia muda. Kita akan membahasnya sebentar lagi, bahwa Imam al-Bukhari ketika meriwayatkan dari para gurunya hadis-hadis dengan sanad 3 perawi ini saat beliau berusia 20 tahun atau kurang dari itu, atau juga 1 hingga 2 tahun lebih dari itu. Seluruh guru Imam al-Bukhari itu telah wafat pada permulaan tahun 210 Hijriyah, dan ada juga yang wafat beberapa waktu sebelum atau setelah itu. Kalian ketahui sendiri bahwa Imam al-Bukhari lahir pada tahun 194 setelah hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan ini menunjukkan bahwa beliau menuntut ilmu di usia muda. Semakin seseorang bersegera menuntut ilmu, dan berusaha meraihnya, serta berusaha mendatangi para ulama ketika ia masih muda, maka itu akan menjadi sebab keberkahan ilmunya, dan taufik Allah ‘Azza wa Jalla yang diberikan untuk orang itu. Oleh sebab itu, ada hadis yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memberinya pemahaman agama.” Seorang ulama mengatakan, “Jika kamu melihat seorang pemuda yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu, dan terus mengikuti majelis-majelisnya, serta fokus mengikuti kajiannya, maka ketahuilah bahwa Allah telah menghendaki kebaikan baginya, bahkan ia termasuk sebaik-baik manusia.” Jadi, ketinggian derajat dalam ilmu ada titik perantaranya, yaitu dimulai dengan dorongan menuntut ilmu di masa muda dan mempelajari ilmu-ilmu dasar dulu. Namun, ada perbedaan antara masa menuntut ilmu dan masa mengajarkannya, serta belajar hanya ingin menang, berdebat, dan riya, tentu ini adalah perkara yang berbeda. Namun yang harus dilakukan seseorang adalah belajar dahulu, dan jika telah dibutuhkan untuk mengajarkannya, ia pun mengajarkannya. ====================================================================================================== لَا يَصِلُ الْمَرْءُ لِلْعُلُوِّ وَأَعْنِي بِذَلِكَ عِنْدَ مُتَقَدِّمِ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَّا إِذَا كَانَ قَدْ بَكَّرَ فِي الطَّلَبِ وَسَيَمُرُّ مَعَنَا بَعْدَ قَلِيلٍ أَنَّ شُيُوخَ الْبُخَارِيِّ الَّذِينَ رَوَى عَنْهُمْ هَذِهِ الثُلَاثِيَّاتِ رَوَى عَنْهُمْ وَهُوَ فِي الْعِشْرِينَ مِنْ عُمُرِهِ أَوْ دُونَ ذَلِكَ أَوْ بَعْدَ ذَلِكَ بِسَنَةٍ أَوْ سَنَتَيْنِ فَكُلُّهُمُ قَدْ تُوُفِّيَ فِي أَوَّلِ الْمِائَتَيْنِ وَعَشْرَةَ يَزِيدُوْنَ أَوْ يَنْقُصُونَ قَلِيلًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ الْبُخَارِيَّ وُلِدَ سَنَةَ مِئَةٍ وَأَرْبَعَةٍ وَتِسْعِيْنَ مِنْ هِجْرَةِ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى تَبْكِيرِ الْعِلْمِ وَكُلَّمَا بَكَّرَ الْمَرْءُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَسَعَى فِي تَحْصِيلِهِ وَإِدْرَاكِ أَهْلِهِ فِي عَصْرٍ مُبَكِّرٍ مِنْ عُمُرِهِ وَزَمَانٍ مُبَكِّرٍ مِنْ عُمُرِهِ كَانَ ذَلِكَ سَبَبًا فِي بَرَكَةِ الْعِلْمِ وَتَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِذَلِكَ الرَّجُلِ لِذَلِكَ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ وَإِذَا رَأَيْتَ الشَّابَّ مَعْنِيًّا بِالْعِلْمِ يَتَتَبَّعُ حِلَقَهُ وَيَنْظُرُ فِي دَرْسِهِ فَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَرَادَ بِهِ خَيْرًا بَلْ إِنَّهُ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ فِي الْعُلُوِّ نُكْتَةً وَهُو الْحَثُّ عَلَى طَلَبِ الْعِلْمِ فِي حَدَاثَةِ السِّنِّ وَصِغَرِ الْعِلْمِ وَفَرْقٌ بَيْنَ طَلَبِ الْعِلْمِ وَالتَّصَدُّرِ لَهُ وَطَلَبِ الْغَلَبَةِ وَالْمُجَادَلَةِ وَالْمُرَاءَاةِ فَذَاكَ أَمْرٌ آخَرُ وَإِنَّمَا الْمَرْءُ يَنَالُ الْعِلْمَ فِي أَوَّلِهِ فَإِذَا احْتِيجَ إِلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ بَذَلَهُ  

Haruskah Shalat Sunah 2 Rakaat Setelah Azan? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Haruskah Shalat Sunah 2 Rakaat Setelah Azan? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Aku mendatangi masjid dan melakukan Shalat Tahiyatul Masjid, setelah itu dikumandangkan azan. Apakah aku wajib shalat dua rakaat lagi? Tidak. Apakah wajib? Tidak wajib bagimu. Namun jika itu sebelum Shalat Zuhur dan Subuh, maka ada Shalat Sunah Qabliyah. Sebelum Shalat Zuhur dan Subuh. Adapun jika itu sebelum Shalat Maghrib atau Isya, maka dianjurkan bagimu shalat 2 rakaat. Demikian juga dianjurkan sebelum Shalat Asar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di antara setiap azan dan iqamah terdapat shalat sunah.” Jika kamu tidak mengerjakannya, maka insya Allah tidak mengapa, karena tidak wajib. ====================================================================================================== أَتَيْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَلَّيْتُ تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ وَبَعْدَهَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ هَلْ يَجِبُ عَلَيَّ أَنْ أُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ أَمْ لَا؟ لَا، يَجِبُ؟ مَا يَجِبُ عَلَيْكَ لَكِنْ إِذَا كَانَتْ صَلَاةُ الظُّهْرِ أَوْ صَلَاةُ الْفَجْرِ فَهُنَاكَ سُنَّةٌ قَبْلِيَّةٌ لِلظُّهْرِ وَالْفَجْرِ أَمَّا إِذَا كَانَتْ صَلَاةُ الْمَغْرِبِ أَوْ صَلَاةُ الْعِشَاءِ فَيُسْتَحَبُّ لَكَ وَالْعَصْرُ يُسْتَحَبُّ لَكَ لِعُمُومِ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ وَإِنْ مَا صَلَّيْتَ مَا عَلَيْكَ شَيْءٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى لَكِنْ لَا يَجِبُ عَلَيْكَ  

Haruskah Shalat Sunah 2 Rakaat Setelah Azan? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Haruskah Shalat Sunah 2 Rakaat Setelah Azan? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Aku mendatangi masjid dan melakukan Shalat Tahiyatul Masjid, setelah itu dikumandangkan azan. Apakah aku wajib shalat dua rakaat lagi? Tidak. Apakah wajib? Tidak wajib bagimu. Namun jika itu sebelum Shalat Zuhur dan Subuh, maka ada Shalat Sunah Qabliyah. Sebelum Shalat Zuhur dan Subuh. Adapun jika itu sebelum Shalat Maghrib atau Isya, maka dianjurkan bagimu shalat 2 rakaat. Demikian juga dianjurkan sebelum Shalat Asar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di antara setiap azan dan iqamah terdapat shalat sunah.” Jika kamu tidak mengerjakannya, maka insya Allah tidak mengapa, karena tidak wajib. ====================================================================================================== أَتَيْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَلَّيْتُ تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ وَبَعْدَهَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ هَلْ يَجِبُ عَلَيَّ أَنْ أُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ أَمْ لَا؟ لَا، يَجِبُ؟ مَا يَجِبُ عَلَيْكَ لَكِنْ إِذَا كَانَتْ صَلَاةُ الظُّهْرِ أَوْ صَلَاةُ الْفَجْرِ فَهُنَاكَ سُنَّةٌ قَبْلِيَّةٌ لِلظُّهْرِ وَالْفَجْرِ أَمَّا إِذَا كَانَتْ صَلَاةُ الْمَغْرِبِ أَوْ صَلَاةُ الْعِشَاءِ فَيُسْتَحَبُّ لَكَ وَالْعَصْرُ يُسْتَحَبُّ لَكَ لِعُمُومِ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ وَإِنْ مَا صَلَّيْتَ مَا عَلَيْكَ شَيْءٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى لَكِنْ لَا يَجِبُ عَلَيْكَ  
Haruskah Shalat Sunah 2 Rakaat Setelah Azan? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Aku mendatangi masjid dan melakukan Shalat Tahiyatul Masjid, setelah itu dikumandangkan azan. Apakah aku wajib shalat dua rakaat lagi? Tidak. Apakah wajib? Tidak wajib bagimu. Namun jika itu sebelum Shalat Zuhur dan Subuh, maka ada Shalat Sunah Qabliyah. Sebelum Shalat Zuhur dan Subuh. Adapun jika itu sebelum Shalat Maghrib atau Isya, maka dianjurkan bagimu shalat 2 rakaat. Demikian juga dianjurkan sebelum Shalat Asar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di antara setiap azan dan iqamah terdapat shalat sunah.” Jika kamu tidak mengerjakannya, maka insya Allah tidak mengapa, karena tidak wajib. ====================================================================================================== أَتَيْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَلَّيْتُ تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ وَبَعْدَهَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ هَلْ يَجِبُ عَلَيَّ أَنْ أُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ أَمْ لَا؟ لَا، يَجِبُ؟ مَا يَجِبُ عَلَيْكَ لَكِنْ إِذَا كَانَتْ صَلَاةُ الظُّهْرِ أَوْ صَلَاةُ الْفَجْرِ فَهُنَاكَ سُنَّةٌ قَبْلِيَّةٌ لِلظُّهْرِ وَالْفَجْرِ أَمَّا إِذَا كَانَتْ صَلَاةُ الْمَغْرِبِ أَوْ صَلَاةُ الْعِشَاءِ فَيُسْتَحَبُّ لَكَ وَالْعَصْرُ يُسْتَحَبُّ لَكَ لِعُمُومِ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ وَإِنْ مَا صَلَّيْتَ مَا عَلَيْكَ شَيْءٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى لَكِنْ لَا يَجِبُ عَلَيْكَ  


Haruskah Shalat Sunah 2 Rakaat Setelah Azan? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Aku mendatangi masjid dan melakukan Shalat Tahiyatul Masjid, setelah itu dikumandangkan azan. Apakah aku wajib shalat dua rakaat lagi? Tidak. Apakah wajib? Tidak wajib bagimu. Namun jika itu sebelum Shalat Zuhur dan Subuh, maka ada Shalat Sunah Qabliyah. Sebelum Shalat Zuhur dan Subuh. Adapun jika itu sebelum Shalat Maghrib atau Isya, maka dianjurkan bagimu shalat 2 rakaat. Demikian juga dianjurkan sebelum Shalat Asar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di antara setiap azan dan iqamah terdapat shalat sunah.” Jika kamu tidak mengerjakannya, maka insya Allah tidak mengapa, karena tidak wajib. ====================================================================================================== أَتَيْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَلَّيْتُ تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ وَبَعْدَهَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ هَلْ يَجِبُ عَلَيَّ أَنْ أُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ أَمْ لَا؟ لَا، يَجِبُ؟ مَا يَجِبُ عَلَيْكَ لَكِنْ إِذَا كَانَتْ صَلَاةُ الظُّهْرِ أَوْ صَلَاةُ الْفَجْرِ فَهُنَاكَ سُنَّةٌ قَبْلِيَّةٌ لِلظُّهْرِ وَالْفَجْرِ أَمَّا إِذَا كَانَتْ صَلَاةُ الْمَغْرِبِ أَوْ صَلَاةُ الْعِشَاءِ فَيُسْتَحَبُّ لَكَ وَالْعَصْرُ يُسْتَحَبُّ لَكَ لِعُمُومِ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ وَإِنْ مَا صَلَّيْتَ مَا عَلَيْكَ شَيْءٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى لَكِنْ لَا يَجِبُ عَلَيْكَ  

Waktu yang Ideal Berhubungan Badan Suami-Istri

Kita pernah membahas salah satu pendapat ulama mengenai waktu yang disunahkan untuk berhubungan intim, yaitu di hari Jumat sebelum salat Jumat di artikel berikut ini.Selain itu, ada waktu berhubungan badan suami-istri yang biasa dilakukan dan menjadi kebiasaan para ulama dan orang salih. Yaitu di tiga “waktu aurat”, di mana anak-anak yang sudah tamyiz harus meminta izin terlebih dahulu jika ingin masuk kamar kedua orang tuanya.Tiga waktu aurat tersebut adalah:Pertama, sebelum subuh.Kedua, ketika siang hari, waktu istirahat dan menanggalkan pakaian.Ketiga, setelah salat isya.Sebagaimana ayat berikut,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِيينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu: (1) sebelum salat subuh; (2) ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di waktu zuhur; dan (3) sesudah salat isya. (Itulah) tiga waktu aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.” (QS. An-Nur: 58)As-Sudi rahimahullah menjelaskan bahwa para sahabat biasa mendatangi istri mereka di tiga waktu ini. Beliau rahimahullah berkata, كان أناس من الصحابة ، رضي الله عنهم ، يحبون أن يواقعوا نساءهم في هذه الساعات ليغتسلوا ثم يخرجوا إلى الصلاة ، فأمرهم الله أن يأمروا المملوكين والغلمان ألا يدخلوا عليهم في تلك الساعات إلا بإذن“Para sahabat radhiyallahu ‘anhum biasa mendatangi istri mereka pada waktu ini (waktu aurat). Mereka mandi, lalu menuju salat. Allah perintahkan para budak dan anak-anak agar tidak masuk ke kamar pada waktu tersebut, kecuali dengan izin.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)Demikian juga salah satu waktu berhubungan badan suami-istri yang pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu di waktu sepertiga akhir malam setelah salat tahajud.‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ ثُمَّ يَقُومُ، فَإِذَا كَانَ مِنَ السَّحَرِ أَوْتَرَ، ثُمَّ أَتَى فِرَاشَهُ، فَإِذَا كَانَ لَهُ حَاجَةٌ أَلَمَّ بِأَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الْأَذَانَ وَثَبَ، فَإِنْ كَانَ جُنُبًا أَفَاضَ عَلَيْهِ مِنَ الْمَاءِ، وَإِلَّا تَوَضَّأَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di awal malam, kemudian bangun tahajud. Jika sudah memasuki waktu sahur, beliau salat witir. Kemudian kembali ke tempat tidur. Jika beliau ada keinginan, beliau mendatangi istrinya. Apabila beliau mendengar azan, beliau langsung bangun. Jika dalam kondisi junub, beliau mandi besar. Jika tidak junub, beliau hanya berwudu kemudian keluar menuju salat jemaah.” (HR. an-Nasai)Demikian, semoga tulisan singkat ini bermanfaat.Baca Juga:Berapa Frekuensi Berhubungan Intim Suami-Istri Menurut Syariat?Suami Menolak Ajakan Istri Berhubungan Intim Apakah Berdosa?***@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Hukum Sunat, Puasa 10 Hari Pertama Dzulhijjah, Dalil Tentang Bulan Ramadhan, Apa Yang Dimaksud Dengan TasawufTags: fikih hubungan intimfikih jimakhubungan intimhubungan suami istriKeluargakewajiban istrikewajiban suaminasihatnasihat islampernikahanrumah tanggawaktu hubungan intim

Waktu yang Ideal Berhubungan Badan Suami-Istri

Kita pernah membahas salah satu pendapat ulama mengenai waktu yang disunahkan untuk berhubungan intim, yaitu di hari Jumat sebelum salat Jumat di artikel berikut ini.Selain itu, ada waktu berhubungan badan suami-istri yang biasa dilakukan dan menjadi kebiasaan para ulama dan orang salih. Yaitu di tiga “waktu aurat”, di mana anak-anak yang sudah tamyiz harus meminta izin terlebih dahulu jika ingin masuk kamar kedua orang tuanya.Tiga waktu aurat tersebut adalah:Pertama, sebelum subuh.Kedua, ketika siang hari, waktu istirahat dan menanggalkan pakaian.Ketiga, setelah salat isya.Sebagaimana ayat berikut,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِيينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu: (1) sebelum salat subuh; (2) ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di waktu zuhur; dan (3) sesudah salat isya. (Itulah) tiga waktu aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.” (QS. An-Nur: 58)As-Sudi rahimahullah menjelaskan bahwa para sahabat biasa mendatangi istri mereka di tiga waktu ini. Beliau rahimahullah berkata, كان أناس من الصحابة ، رضي الله عنهم ، يحبون أن يواقعوا نساءهم في هذه الساعات ليغتسلوا ثم يخرجوا إلى الصلاة ، فأمرهم الله أن يأمروا المملوكين والغلمان ألا يدخلوا عليهم في تلك الساعات إلا بإذن“Para sahabat radhiyallahu ‘anhum biasa mendatangi istri mereka pada waktu ini (waktu aurat). Mereka mandi, lalu menuju salat. Allah perintahkan para budak dan anak-anak agar tidak masuk ke kamar pada waktu tersebut, kecuali dengan izin.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)Demikian juga salah satu waktu berhubungan badan suami-istri yang pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu di waktu sepertiga akhir malam setelah salat tahajud.‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ ثُمَّ يَقُومُ، فَإِذَا كَانَ مِنَ السَّحَرِ أَوْتَرَ، ثُمَّ أَتَى فِرَاشَهُ، فَإِذَا كَانَ لَهُ حَاجَةٌ أَلَمَّ بِأَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الْأَذَانَ وَثَبَ، فَإِنْ كَانَ جُنُبًا أَفَاضَ عَلَيْهِ مِنَ الْمَاءِ، وَإِلَّا تَوَضَّأَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di awal malam, kemudian bangun tahajud. Jika sudah memasuki waktu sahur, beliau salat witir. Kemudian kembali ke tempat tidur. Jika beliau ada keinginan, beliau mendatangi istrinya. Apabila beliau mendengar azan, beliau langsung bangun. Jika dalam kondisi junub, beliau mandi besar. Jika tidak junub, beliau hanya berwudu kemudian keluar menuju salat jemaah.” (HR. an-Nasai)Demikian, semoga tulisan singkat ini bermanfaat.Baca Juga:Berapa Frekuensi Berhubungan Intim Suami-Istri Menurut Syariat?Suami Menolak Ajakan Istri Berhubungan Intim Apakah Berdosa?***@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Hukum Sunat, Puasa 10 Hari Pertama Dzulhijjah, Dalil Tentang Bulan Ramadhan, Apa Yang Dimaksud Dengan TasawufTags: fikih hubungan intimfikih jimakhubungan intimhubungan suami istriKeluargakewajiban istrikewajiban suaminasihatnasihat islampernikahanrumah tanggawaktu hubungan intim
Kita pernah membahas salah satu pendapat ulama mengenai waktu yang disunahkan untuk berhubungan intim, yaitu di hari Jumat sebelum salat Jumat di artikel berikut ini.Selain itu, ada waktu berhubungan badan suami-istri yang biasa dilakukan dan menjadi kebiasaan para ulama dan orang salih. Yaitu di tiga “waktu aurat”, di mana anak-anak yang sudah tamyiz harus meminta izin terlebih dahulu jika ingin masuk kamar kedua orang tuanya.Tiga waktu aurat tersebut adalah:Pertama, sebelum subuh.Kedua, ketika siang hari, waktu istirahat dan menanggalkan pakaian.Ketiga, setelah salat isya.Sebagaimana ayat berikut,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِيينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu: (1) sebelum salat subuh; (2) ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di waktu zuhur; dan (3) sesudah salat isya. (Itulah) tiga waktu aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.” (QS. An-Nur: 58)As-Sudi rahimahullah menjelaskan bahwa para sahabat biasa mendatangi istri mereka di tiga waktu ini. Beliau rahimahullah berkata, كان أناس من الصحابة ، رضي الله عنهم ، يحبون أن يواقعوا نساءهم في هذه الساعات ليغتسلوا ثم يخرجوا إلى الصلاة ، فأمرهم الله أن يأمروا المملوكين والغلمان ألا يدخلوا عليهم في تلك الساعات إلا بإذن“Para sahabat radhiyallahu ‘anhum biasa mendatangi istri mereka pada waktu ini (waktu aurat). Mereka mandi, lalu menuju salat. Allah perintahkan para budak dan anak-anak agar tidak masuk ke kamar pada waktu tersebut, kecuali dengan izin.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)Demikian juga salah satu waktu berhubungan badan suami-istri yang pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu di waktu sepertiga akhir malam setelah salat tahajud.‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ ثُمَّ يَقُومُ، فَإِذَا كَانَ مِنَ السَّحَرِ أَوْتَرَ، ثُمَّ أَتَى فِرَاشَهُ، فَإِذَا كَانَ لَهُ حَاجَةٌ أَلَمَّ بِأَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الْأَذَانَ وَثَبَ، فَإِنْ كَانَ جُنُبًا أَفَاضَ عَلَيْهِ مِنَ الْمَاءِ، وَإِلَّا تَوَضَّأَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di awal malam, kemudian bangun tahajud. Jika sudah memasuki waktu sahur, beliau salat witir. Kemudian kembali ke tempat tidur. Jika beliau ada keinginan, beliau mendatangi istrinya. Apabila beliau mendengar azan, beliau langsung bangun. Jika dalam kondisi junub, beliau mandi besar. Jika tidak junub, beliau hanya berwudu kemudian keluar menuju salat jemaah.” (HR. an-Nasai)Demikian, semoga tulisan singkat ini bermanfaat.Baca Juga:Berapa Frekuensi Berhubungan Intim Suami-Istri Menurut Syariat?Suami Menolak Ajakan Istri Berhubungan Intim Apakah Berdosa?***@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Hukum Sunat, Puasa 10 Hari Pertama Dzulhijjah, Dalil Tentang Bulan Ramadhan, Apa Yang Dimaksud Dengan TasawufTags: fikih hubungan intimfikih jimakhubungan intimhubungan suami istriKeluargakewajiban istrikewajiban suaminasihatnasihat islampernikahanrumah tanggawaktu hubungan intim


Kita pernah membahas salah satu pendapat ulama mengenai waktu yang disunahkan untuk berhubungan intim, yaitu di hari Jumat sebelum salat Jumat di artikel berikut ini.Selain itu, ada waktu berhubungan badan suami-istri yang biasa dilakukan dan menjadi kebiasaan para ulama dan orang salih. Yaitu di tiga “waktu aurat”, di mana anak-anak yang sudah tamyiz harus meminta izin terlebih dahulu jika ingin masuk kamar kedua orang tuanya.Tiga waktu aurat tersebut adalah:Pertama, sebelum subuh.Kedua, ketika siang hari, waktu istirahat dan menanggalkan pakaian.Ketiga, setelah salat isya.Sebagaimana ayat berikut,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِيينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu: (1) sebelum salat subuh; (2) ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di waktu zuhur; dan (3) sesudah salat isya. (Itulah) tiga waktu aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.” (QS. An-Nur: 58)As-Sudi rahimahullah menjelaskan bahwa para sahabat biasa mendatangi istri mereka di tiga waktu ini. Beliau rahimahullah berkata, كان أناس من الصحابة ، رضي الله عنهم ، يحبون أن يواقعوا نساءهم في هذه الساعات ليغتسلوا ثم يخرجوا إلى الصلاة ، فأمرهم الله أن يأمروا المملوكين والغلمان ألا يدخلوا عليهم في تلك الساعات إلا بإذن“Para sahabat radhiyallahu ‘anhum biasa mendatangi istri mereka pada waktu ini (waktu aurat). Mereka mandi, lalu menuju salat. Allah perintahkan para budak dan anak-anak agar tidak masuk ke kamar pada waktu tersebut, kecuali dengan izin.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)Demikian juga salah satu waktu berhubungan badan suami-istri yang pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu di waktu sepertiga akhir malam setelah salat tahajud.‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ ثُمَّ يَقُومُ، فَإِذَا كَانَ مِنَ السَّحَرِ أَوْتَرَ، ثُمَّ أَتَى فِرَاشَهُ، فَإِذَا كَانَ لَهُ حَاجَةٌ أَلَمَّ بِأَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الْأَذَانَ وَثَبَ، فَإِنْ كَانَ جُنُبًا أَفَاضَ عَلَيْهِ مِنَ الْمَاءِ، وَإِلَّا تَوَضَّأَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di awal malam, kemudian bangun tahajud. Jika sudah memasuki waktu sahur, beliau salat witir. Kemudian kembali ke tempat tidur. Jika beliau ada keinginan, beliau mendatangi istrinya. Apabila beliau mendengar azan, beliau langsung bangun. Jika dalam kondisi junub, beliau mandi besar. Jika tidak junub, beliau hanya berwudu kemudian keluar menuju salat jemaah.” (HR. an-Nasai)Demikian, semoga tulisan singkat ini bermanfaat.Baca Juga:Berapa Frekuensi Berhubungan Intim Suami-Istri Menurut Syariat?Suami Menolak Ajakan Istri Berhubungan Intim Apakah Berdosa?***@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Hukum Sunat, Puasa 10 Hari Pertama Dzulhijjah, Dalil Tentang Bulan Ramadhan, Apa Yang Dimaksud Dengan TasawufTags: fikih hubungan intimfikih jimakhubungan intimhubungan suami istriKeluargakewajiban istrikewajiban suaminasihatnasihat islampernikahanrumah tanggawaktu hubungan intim

Ketika Istri Dilarang Suaminya untuk Menghafalkan al-Quran

Ketika Istri Dilarang Suaminya untuk Menghafalkan al-Quran Pertanyaan: صديقتي مشاركة بحلقة تحفيظ قرآن عن طريق الجوال ، والحمدلله مستمرة ، مشكلتها مع زوجها ، أنها لما تختلي بنفسها لمدة ساعه لمراجعة القرآن ، يقول : لست راض عنك ، مع أنها لم تقصر بحقه ، ولا بحقوق أبنائه ، وتختار الوقت بعد ما تنهي جميع الأشغال ، ومع ذلك يقول : لست راض عنك ، فما حكم استمرارها بحفظ القرآن ؟ Temanku, seorang wanita, ikut dalam sebuah halaqah hafalan al-Qur’an melalui ponsel, alhamdulillah masih berjalan. Masalahnya ada pada suaminya. Istrinya meminta waktu satu jam untuk mengulang hafalan al-Qur’an, akan tetapi suaminya berkata, “Aku tidak rida denganmu!” padahal istrinya tidak melalaikan hak suami dan anak-anaknya karena dia meluangkan waktu setelah menyelesaikan semua kewajibannya. Namun, suaminya tetap berkata, “Aku tidak rida denganmu!” Bagaimana hukumnya jika dia melanjutkan menghafal al-Qur’an? *** ملخص الجواب يجوز للزوجة أن تحفظ القرآن وتراجعه مع رفض الزوج ذلك ما دامت لا تقصر في أداء حقوقه ؛ إذ ليس للزوج أن يمنعها من ذلك ، ولكن إن أمرها الزوج بترك ذلك حال وجوده في المنزل فقط ؛ لرغبته في الجلوس معها وقتا أطول أو نحو ذلك ، فحينها ينبغي عليها إن تطيعه وتؤجل المراجعة لوقت غيابه عن المنزل أو وقت نومه وراحته أو نحو ذلك. Ringkasan Jawaban: Boleh bagi istri menghafal al-Qur’an dan memurajaahnya walaupun suaminya melarang selama dia tidak lalai dalam menunaikan hak-hak suaminya karena suami tidak berhak melarangnya menghafal. Namun, jika suami hanya menyuruhnya untuk tidak melakukannya saat dia di rumah saja karena dia ingin bersamanya lebih lama atau karena hal lain, maka dia harus mematuhinya dan menunda murajaahnya hingga suaminya pergi dari rumah atau ketika sudah tidur atau beristirahat atau waktu lainnya. Jawaban: الحمد لله أولاً يجب على المرأة طاعة زوجها ؛ لما له من حق القوامة عليها ، قال تعالى : الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ   النساء/34. Segala puji hanya bagi Allah. Pertama-tama, bahwa seorang istri wajib menaati suaminya, karena suami punya hak kepemimpinan atasnya, Allah taʿalā berfirman,  الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ- النساء: ٣٤  “Para lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa’: 34) قال ابن كثير رحمه الله : ” وقال علي بن أبي طلحة عن ابن عباس : ( الرجال قوامون على النساء ) . يعني : أمراء عليهن ، أي : تطيعه فيما أمرها الله به من طاعته ، وطاعته أن تكون محسنة لأهله ، حافظة لماله. وكذا قال مقاتل والسدي والضحاك ” انتهى من ” تفسير ابن كثير ” (2/293). Ibnu Katsir raẖimahullahu taʿalā berkata, “Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas bahwa “Para lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa’: 34) maksudnya adalah pemimpin atas mereka yang harus ditaati, karena Allah yang memerintahkan para wanita untuk mematuhinya, dan ketaatan kepadanya adalah dengan berbuat baik dengan keluarganya dan menjaga hartanya. Muqatil, as-Sudi dan aḍ-Ḍaḥāk juga berkata demikian.” Selesai kutipan dari Tafsir Ibnu Katsir (2/293) ويستثنى من وجوب طاعة المرأة لزوجها أمران : الأمر الأول : أن يترتب على طاعته الوقوع في المعصية ، إما بترك واجب أو فعل محرم ، ففي هذه الحال لا يجوز للمرأة طاعة زوجها ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم :  لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ  رواه البخاري ( 6830 ) ، ومسلم ( 1840 ) Ada dua hal yang dikecualikan dalam hal ketaatan istri pada suaminya: Pertama, jika menaatinya membuat seorang istri terjatuh dalam kemaksiatan, baik dengan meninggalkan kewajiban ataupun melakukan perbuatan haram. Dalam hal ini, dia tidak boleh menaati suaminya, sebagaimana sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam,  لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari 6830 dan Muslim 1840) الثانية : أن يترتب على طاعة الزوج حصول الضرر على المرأة ، أو تضييع لحقوقها ، ففي هذه الحال لا يجب عليها طاعة زوجها ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم:  لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ  رواه ابن ماجة (2340) وصححه الألباني في “صحيح ابن ماجة”. وينظر جواب السؤال رقم : (97125​).​ Kedua, jika menaati suami bisa mendatangkan bahaya bagi istri atau mengurangi hak-haknya. Dalam keadaan ini dia tidak wajib mentaati suaminya, sebagaimana sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, لا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ “Tidak boleh mencelakai diri sendiri atau orang lain.” (HR. Ibnu Majah 2340 dan disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih Ibnu Majah) Lihat juga jawaban pertanyaan nomor 97125. ثانيا: من حقوق المرأة على زوجها أن يعينها على طاعة الله تعالى ، وأن لا يمنعها من فعل ما يقربها من ربها ما دام لا يؤثر ذلك على حقه عليها ، ومن ذلك أن يتركها تتعبد لله تعالى بحفظ كتاب الله ومراجعته. وقد روى البخاري (900) ، ومسلم (442) أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :   لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ . Kedua, bahwa di antara hak istri atas suaminya adalah bahwa suami harus membantunya dalam ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan tidak melarangnya berbuat apa yang bisa mendekatkannya kepada Tuhannya selama hal tersebut tidak melalaikan kewajibannya terhadap suaminya. Di antaranya, dengan membiarkannya beribadah kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla dengan menghafal al-Qur’an dan memurajaahnya.  Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (900) dan Muslim (433) bahwa Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ “Janganlah kalian melarang hamba-hamba wanita Allah dari masjid-masjid-Nya.” قال الحافظ ابن رجب: ” الزوج منهيٌ عن منعها إذا استأذنته ، وهذا لا بد من تقييده بما إذا لم يخف فتنةً أو ضرراً . وقد أنكر ابن عمر على ابنه لما قال له : “والله لنمنعهن” ، أشد الأنكار ، وسبه ، وقال له : تسمعني أقول : قال رسول الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وتقول : لنمنعهن؟! ” انتهى من “فتح الباري” لابن رجب (8/ 53). al-H̱āfiḏ Ibnu Rajab berkata, “Suami tidak boleh melarang mereka jika mereka sudah meminta izin (ke masjid), akan tetapi dengan syarat tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah atau bahaya baginya.  Ibnu Umar pernah mengingkari anaknya dengan keras dan mencelanya ketika dia berkata, “Demi Allah, aku akan melarang mereka!”  Ibnu Umar berkata, “Kamu dengar aku berkata, ‘Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian.’ Kamu malah berkata ‘aku akan melarang mereka!’” Selesai kutipan dari Fatḥu al-Bārī karya Ibnu Rajab (8/53) وجاء في فتاوى “اللجنة الدائمة” (7/332) : ” يجوز للمرأة المسلمة أن تصلي في المساجد ، وليس لزوجها إذا استأذنته أن يمنعها من ذلك، ما دامت مستترة ، ولا يبدو من بدنها شيء مما يحرم نظر الأجانب إليه ؛ لما رواه ابْنَ عُمَرَ قال : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ( إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ )…” انتهى. Dalam kompilasi fatwa al-Lajnah ad-Da’imah (7/332) disebutkan bahwa seorang wanita muslimah boleh salat di masjid, dan suaminya tidak boleh melarangnya jika dia sudah meminta izin selama dia menutup auratnya dan tidak menampakkan bagian tubuhnya yang terlarang untuk dilihat orang asing. Ini berdasarkan hadis riwayat Ibnu Umar, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ ‘Jika istri-istri kalian meminta izin untuk ke masjid maka izinkan mereka.’” Selesai kutipan. هذا مع ما فيه من خروجها من البيت ، وانتظارها إقامة الصلاة ، وقد تطول مدة ذلك؛ ولا شك أن حفظ المرأة للقرآن في بيتها، أو اشتغالها بما ينفعها من علم ، أو ذكر ، أو عبادة : أولى بأن ينهى الرجل عن منعها منه ، بعد أن لا تفرط فيما يجب من حقه ، وحق أولاده. Hal ini mengharuskan wanita keluar dari rumah dan menunggu waktu iqamah yang terkadang lama. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ketika dia menghafal al-Quran di rumah, sibuk dengan ilmu yang bermanfaat, zikir, atau ibadah lain, maka lebih layak bagi suami untuk dilarang melarang istrinya, selama istrinya tidak melalaikan hak suami dan anak-anaknya. وليعلم الزوج أن حفظ زوجته لكتاب الله تعالى سيعود بالبركة على البيت ومن فيه ، وبالنفع على أولاده ؛ لأن الأطفال غالبا يتعلمون ويحفظون من حفظ أمهم ، وهذا سيوفر على الزوج جهدا كبيرا في تعليم أولاده القرآن ، إذ تكون الزوجة قد تكفلت بهذا. Hendaknya suami mengetahui bahwa jika istrinya menghafalkan al-Qur’an akan mendatangkan berkah untuk rumahnya beserta penghuninya dan bermanfaat untuk anak-anaknya karena mereka biasanya akan belajar dan menghafal al-Qur’an dari ibunya. Ini juga sangat meringankan kewajiban suami untuk mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anaknya, karena istrinya sudah melakukannya. ويعود بالنفع على الزوج أيضًا ؛ إذ إن تعلم القرآن وفهمه يزيد من الإيمان ، وتتعلم المرأة منه أحكام الدين ، وإذا زاد إيمان المرأة وعرفت أحكام دينها ؛ زاد حرصها على طاعة زوجها ، وحسن تبعلها ومعاشرتها له ؛ لعلمها أن ذلك من طاعة الله تعالى. Ini juga membawa manfaat bagi suami, karena jika istrinya mempelajari dan memahami al-Qur’an, maka akan menambah imannya, dan istrinya pun dapat mempelajari hukum-hukum agama dari al-Qur’an. Apabila seorang istri meningkat imannya dan paham hukum-hukum agama, tentu akan semakin bersungguh-sungguh dalam menaati suaminya, menjalankan kewajibannya dan mempergaulinya dengan baik, karena dia mengerti bahwa itu adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. ولكن ربما لا يقصد الزوج منع زوجته من حفظ القرآن ومراجعته بالكلية ، وإنما يقصد منعها من ذلك حال وجوده في المنزل فقط ؛ لأنه يريد أن يجلس معها وقتا أطول أو نحو ذلك ، فحينها ينبغي عليها أن توازن بين حاجة الزوج إلى زوجته ، وحاجته إلى الأنس بها ، فتطيعه وتؤجل مراجعة القرآن لوقت غيابه عن المنزل ، أو وقت نومه وراحته ، أو نحو ذلك. Namun, mungkin juga suami tersebut tidak bermaksud melarangnya menghafal dan murajaah al-Quran secara total, akan tetapi hanya ketika dia berada di rumah saja, karena dia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamanya, dan lain sebagainya. Jika demikian, sepatutnya dia mempertimbangkan kebutuhan suaminya terhadap istrinya dan kasih sayang darinya, sehingga dia harus menaatinya dan menunda murajaahnya, yaitu ketika dia sedang tidak berada di rumah, sedang tidur, istirahat, atau lain sebagainya. وإذا قدر أنه لا حاجة بالزوج إلى زوجته في وقت ما ، وكانت تعلم أن انشغالها هذا الوقت يغضبه ، أو يثير مشكلة في البيت ، فالذي ننصحها به أن تكون حكيمة في إدارة بيتها ، والترفق بزوجها ، ولا تعين الشيطان عليه ؛ فتجعل ذلك الوقت إلى ما لا بد لها من عمله في بيتها ، ومراعاة أولادها ، وحق زوجها ، ليكون وقتها فارغا ، إذا خرج زوجها لعمله ، أو حاجات الرجل خارج بيته : تفرغ هي لكتاب ربها ، فتقرأ ، وتراجع ، وتحفظ ، من دون إثارة مشكلات ، ولا تعكير لصفو البيت ، ولا إعانة للشيطان على أهله . وقد قال الله تعالى، منبها لعباده على أهمية الحكمة في الأمر كله :  يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ  البقرة/269. والله تعالى أعلم. Andaikata seorang suami sedang tidak membutuhkan istrinya pada waktu tertentu, dan istri tahu bahwa jika dia sibuk sendiri pada waktu tersebut akan membuat suami marah atau menimbulkan masalah dalam rumah tangga, maka kami nasihatkan agar dia lebih bijak untuk mengurus rumah tangganya, berlemah lembut kepada suami, dan tidak membantu setan menjerumuskan suaminya. Hendaknya dia gunakan waktunya untuk apa yang telah jadi kewajibannya untuk mengurus rumah, menjaga anak-anak, dan melayani suaminya.  Ketika istri memiliki waktu luang, misalkan suami sudah berangkat kerja atau keluar untuk urusan-urusan lain, silakan dia membuka al-Qur’an, membaca, murajaah dan menghafalnya tanpa harus menimbulkan masalah dalam rumah tangga, mengganggu keharmonisan di dalamnya, ataupun membantu setan menjerumuskan suaminya. Sebagaimana firman Allah yang menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya tentang pentingnya kebijaksanaan dalam segala urusan,  يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ – البقرة: ٢٦٩  “Allah memberikan kebijaksanaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan barang siapa diberikan kebijaksanaan, sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak, dan tidak ada yang memikirkannya kecuali orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 269) Allahua’lam. Sumber: هل يلزمها طاعة زوجها إذا أمرها بعدم مراجعة القرآن حال وجوده في المنزل ؟ https://islamqa.info/ar/downloads/answers/290885 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Gambar Alquran, Binatang Surga, Tafsir Mimpi Melihat Kalimah Allah, Aqidah Ahlussunnah, Pada Tanggal Berapa Alquran Diturunkan, Doa Menyambut Bulan Puasa Visited 128 times, 1 visit(s) today Post Views: 487 QRIS donasi Yufid

Ketika Istri Dilarang Suaminya untuk Menghafalkan al-Quran

Ketika Istri Dilarang Suaminya untuk Menghafalkan al-Quran Pertanyaan: صديقتي مشاركة بحلقة تحفيظ قرآن عن طريق الجوال ، والحمدلله مستمرة ، مشكلتها مع زوجها ، أنها لما تختلي بنفسها لمدة ساعه لمراجعة القرآن ، يقول : لست راض عنك ، مع أنها لم تقصر بحقه ، ولا بحقوق أبنائه ، وتختار الوقت بعد ما تنهي جميع الأشغال ، ومع ذلك يقول : لست راض عنك ، فما حكم استمرارها بحفظ القرآن ؟ Temanku, seorang wanita, ikut dalam sebuah halaqah hafalan al-Qur’an melalui ponsel, alhamdulillah masih berjalan. Masalahnya ada pada suaminya. Istrinya meminta waktu satu jam untuk mengulang hafalan al-Qur’an, akan tetapi suaminya berkata, “Aku tidak rida denganmu!” padahal istrinya tidak melalaikan hak suami dan anak-anaknya karena dia meluangkan waktu setelah menyelesaikan semua kewajibannya. Namun, suaminya tetap berkata, “Aku tidak rida denganmu!” Bagaimana hukumnya jika dia melanjutkan menghafal al-Qur’an? *** ملخص الجواب يجوز للزوجة أن تحفظ القرآن وتراجعه مع رفض الزوج ذلك ما دامت لا تقصر في أداء حقوقه ؛ إذ ليس للزوج أن يمنعها من ذلك ، ولكن إن أمرها الزوج بترك ذلك حال وجوده في المنزل فقط ؛ لرغبته في الجلوس معها وقتا أطول أو نحو ذلك ، فحينها ينبغي عليها إن تطيعه وتؤجل المراجعة لوقت غيابه عن المنزل أو وقت نومه وراحته أو نحو ذلك. Ringkasan Jawaban: Boleh bagi istri menghafal al-Qur’an dan memurajaahnya walaupun suaminya melarang selama dia tidak lalai dalam menunaikan hak-hak suaminya karena suami tidak berhak melarangnya menghafal. Namun, jika suami hanya menyuruhnya untuk tidak melakukannya saat dia di rumah saja karena dia ingin bersamanya lebih lama atau karena hal lain, maka dia harus mematuhinya dan menunda murajaahnya hingga suaminya pergi dari rumah atau ketika sudah tidur atau beristirahat atau waktu lainnya. Jawaban: الحمد لله أولاً يجب على المرأة طاعة زوجها ؛ لما له من حق القوامة عليها ، قال تعالى : الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ   النساء/34. Segala puji hanya bagi Allah. Pertama-tama, bahwa seorang istri wajib menaati suaminya, karena suami punya hak kepemimpinan atasnya, Allah taʿalā berfirman,  الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ- النساء: ٣٤  “Para lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa’: 34) قال ابن كثير رحمه الله : ” وقال علي بن أبي طلحة عن ابن عباس : ( الرجال قوامون على النساء ) . يعني : أمراء عليهن ، أي : تطيعه فيما أمرها الله به من طاعته ، وطاعته أن تكون محسنة لأهله ، حافظة لماله. وكذا قال مقاتل والسدي والضحاك ” انتهى من ” تفسير ابن كثير ” (2/293). Ibnu Katsir raẖimahullahu taʿalā berkata, “Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas bahwa “Para lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa’: 34) maksudnya adalah pemimpin atas mereka yang harus ditaati, karena Allah yang memerintahkan para wanita untuk mematuhinya, dan ketaatan kepadanya adalah dengan berbuat baik dengan keluarganya dan menjaga hartanya. Muqatil, as-Sudi dan aḍ-Ḍaḥāk juga berkata demikian.” Selesai kutipan dari Tafsir Ibnu Katsir (2/293) ويستثنى من وجوب طاعة المرأة لزوجها أمران : الأمر الأول : أن يترتب على طاعته الوقوع في المعصية ، إما بترك واجب أو فعل محرم ، ففي هذه الحال لا يجوز للمرأة طاعة زوجها ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم :  لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ  رواه البخاري ( 6830 ) ، ومسلم ( 1840 ) Ada dua hal yang dikecualikan dalam hal ketaatan istri pada suaminya: Pertama, jika menaatinya membuat seorang istri terjatuh dalam kemaksiatan, baik dengan meninggalkan kewajiban ataupun melakukan perbuatan haram. Dalam hal ini, dia tidak boleh menaati suaminya, sebagaimana sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam,  لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari 6830 dan Muslim 1840) الثانية : أن يترتب على طاعة الزوج حصول الضرر على المرأة ، أو تضييع لحقوقها ، ففي هذه الحال لا يجب عليها طاعة زوجها ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم:  لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ  رواه ابن ماجة (2340) وصححه الألباني في “صحيح ابن ماجة”. وينظر جواب السؤال رقم : (97125​).​ Kedua, jika menaati suami bisa mendatangkan bahaya bagi istri atau mengurangi hak-haknya. Dalam keadaan ini dia tidak wajib mentaati suaminya, sebagaimana sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, لا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ “Tidak boleh mencelakai diri sendiri atau orang lain.” (HR. Ibnu Majah 2340 dan disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih Ibnu Majah) Lihat juga jawaban pertanyaan nomor 97125. ثانيا: من حقوق المرأة على زوجها أن يعينها على طاعة الله تعالى ، وأن لا يمنعها من فعل ما يقربها من ربها ما دام لا يؤثر ذلك على حقه عليها ، ومن ذلك أن يتركها تتعبد لله تعالى بحفظ كتاب الله ومراجعته. وقد روى البخاري (900) ، ومسلم (442) أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :   لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ . Kedua, bahwa di antara hak istri atas suaminya adalah bahwa suami harus membantunya dalam ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan tidak melarangnya berbuat apa yang bisa mendekatkannya kepada Tuhannya selama hal tersebut tidak melalaikan kewajibannya terhadap suaminya. Di antaranya, dengan membiarkannya beribadah kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla dengan menghafal al-Qur’an dan memurajaahnya.  Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (900) dan Muslim (433) bahwa Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ “Janganlah kalian melarang hamba-hamba wanita Allah dari masjid-masjid-Nya.” قال الحافظ ابن رجب: ” الزوج منهيٌ عن منعها إذا استأذنته ، وهذا لا بد من تقييده بما إذا لم يخف فتنةً أو ضرراً . وقد أنكر ابن عمر على ابنه لما قال له : “والله لنمنعهن” ، أشد الأنكار ، وسبه ، وقال له : تسمعني أقول : قال رسول الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وتقول : لنمنعهن؟! ” انتهى من “فتح الباري” لابن رجب (8/ 53). al-H̱āfiḏ Ibnu Rajab berkata, “Suami tidak boleh melarang mereka jika mereka sudah meminta izin (ke masjid), akan tetapi dengan syarat tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah atau bahaya baginya.  Ibnu Umar pernah mengingkari anaknya dengan keras dan mencelanya ketika dia berkata, “Demi Allah, aku akan melarang mereka!”  Ibnu Umar berkata, “Kamu dengar aku berkata, ‘Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian.’ Kamu malah berkata ‘aku akan melarang mereka!’” Selesai kutipan dari Fatḥu al-Bārī karya Ibnu Rajab (8/53) وجاء في فتاوى “اللجنة الدائمة” (7/332) : ” يجوز للمرأة المسلمة أن تصلي في المساجد ، وليس لزوجها إذا استأذنته أن يمنعها من ذلك، ما دامت مستترة ، ولا يبدو من بدنها شيء مما يحرم نظر الأجانب إليه ؛ لما رواه ابْنَ عُمَرَ قال : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ( إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ )…” انتهى. Dalam kompilasi fatwa al-Lajnah ad-Da’imah (7/332) disebutkan bahwa seorang wanita muslimah boleh salat di masjid, dan suaminya tidak boleh melarangnya jika dia sudah meminta izin selama dia menutup auratnya dan tidak menampakkan bagian tubuhnya yang terlarang untuk dilihat orang asing. Ini berdasarkan hadis riwayat Ibnu Umar, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ ‘Jika istri-istri kalian meminta izin untuk ke masjid maka izinkan mereka.’” Selesai kutipan. هذا مع ما فيه من خروجها من البيت ، وانتظارها إقامة الصلاة ، وقد تطول مدة ذلك؛ ولا شك أن حفظ المرأة للقرآن في بيتها، أو اشتغالها بما ينفعها من علم ، أو ذكر ، أو عبادة : أولى بأن ينهى الرجل عن منعها منه ، بعد أن لا تفرط فيما يجب من حقه ، وحق أولاده. Hal ini mengharuskan wanita keluar dari rumah dan menunggu waktu iqamah yang terkadang lama. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ketika dia menghafal al-Quran di rumah, sibuk dengan ilmu yang bermanfaat, zikir, atau ibadah lain, maka lebih layak bagi suami untuk dilarang melarang istrinya, selama istrinya tidak melalaikan hak suami dan anak-anaknya. وليعلم الزوج أن حفظ زوجته لكتاب الله تعالى سيعود بالبركة على البيت ومن فيه ، وبالنفع على أولاده ؛ لأن الأطفال غالبا يتعلمون ويحفظون من حفظ أمهم ، وهذا سيوفر على الزوج جهدا كبيرا في تعليم أولاده القرآن ، إذ تكون الزوجة قد تكفلت بهذا. Hendaknya suami mengetahui bahwa jika istrinya menghafalkan al-Qur’an akan mendatangkan berkah untuk rumahnya beserta penghuninya dan bermanfaat untuk anak-anaknya karena mereka biasanya akan belajar dan menghafal al-Qur’an dari ibunya. Ini juga sangat meringankan kewajiban suami untuk mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anaknya, karena istrinya sudah melakukannya. ويعود بالنفع على الزوج أيضًا ؛ إذ إن تعلم القرآن وفهمه يزيد من الإيمان ، وتتعلم المرأة منه أحكام الدين ، وإذا زاد إيمان المرأة وعرفت أحكام دينها ؛ زاد حرصها على طاعة زوجها ، وحسن تبعلها ومعاشرتها له ؛ لعلمها أن ذلك من طاعة الله تعالى. Ini juga membawa manfaat bagi suami, karena jika istrinya mempelajari dan memahami al-Qur’an, maka akan menambah imannya, dan istrinya pun dapat mempelajari hukum-hukum agama dari al-Qur’an. Apabila seorang istri meningkat imannya dan paham hukum-hukum agama, tentu akan semakin bersungguh-sungguh dalam menaati suaminya, menjalankan kewajibannya dan mempergaulinya dengan baik, karena dia mengerti bahwa itu adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. ولكن ربما لا يقصد الزوج منع زوجته من حفظ القرآن ومراجعته بالكلية ، وإنما يقصد منعها من ذلك حال وجوده في المنزل فقط ؛ لأنه يريد أن يجلس معها وقتا أطول أو نحو ذلك ، فحينها ينبغي عليها أن توازن بين حاجة الزوج إلى زوجته ، وحاجته إلى الأنس بها ، فتطيعه وتؤجل مراجعة القرآن لوقت غيابه عن المنزل ، أو وقت نومه وراحته ، أو نحو ذلك. Namun, mungkin juga suami tersebut tidak bermaksud melarangnya menghafal dan murajaah al-Quran secara total, akan tetapi hanya ketika dia berada di rumah saja, karena dia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamanya, dan lain sebagainya. Jika demikian, sepatutnya dia mempertimbangkan kebutuhan suaminya terhadap istrinya dan kasih sayang darinya, sehingga dia harus menaatinya dan menunda murajaahnya, yaitu ketika dia sedang tidak berada di rumah, sedang tidur, istirahat, atau lain sebagainya. وإذا قدر أنه لا حاجة بالزوج إلى زوجته في وقت ما ، وكانت تعلم أن انشغالها هذا الوقت يغضبه ، أو يثير مشكلة في البيت ، فالذي ننصحها به أن تكون حكيمة في إدارة بيتها ، والترفق بزوجها ، ولا تعين الشيطان عليه ؛ فتجعل ذلك الوقت إلى ما لا بد لها من عمله في بيتها ، ومراعاة أولادها ، وحق زوجها ، ليكون وقتها فارغا ، إذا خرج زوجها لعمله ، أو حاجات الرجل خارج بيته : تفرغ هي لكتاب ربها ، فتقرأ ، وتراجع ، وتحفظ ، من دون إثارة مشكلات ، ولا تعكير لصفو البيت ، ولا إعانة للشيطان على أهله . وقد قال الله تعالى، منبها لعباده على أهمية الحكمة في الأمر كله :  يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ  البقرة/269. والله تعالى أعلم. Andaikata seorang suami sedang tidak membutuhkan istrinya pada waktu tertentu, dan istri tahu bahwa jika dia sibuk sendiri pada waktu tersebut akan membuat suami marah atau menimbulkan masalah dalam rumah tangga, maka kami nasihatkan agar dia lebih bijak untuk mengurus rumah tangganya, berlemah lembut kepada suami, dan tidak membantu setan menjerumuskan suaminya. Hendaknya dia gunakan waktunya untuk apa yang telah jadi kewajibannya untuk mengurus rumah, menjaga anak-anak, dan melayani suaminya.  Ketika istri memiliki waktu luang, misalkan suami sudah berangkat kerja atau keluar untuk urusan-urusan lain, silakan dia membuka al-Qur’an, membaca, murajaah dan menghafalnya tanpa harus menimbulkan masalah dalam rumah tangga, mengganggu keharmonisan di dalamnya, ataupun membantu setan menjerumuskan suaminya. Sebagaimana firman Allah yang menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya tentang pentingnya kebijaksanaan dalam segala urusan,  يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ – البقرة: ٢٦٩  “Allah memberikan kebijaksanaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan barang siapa diberikan kebijaksanaan, sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak, dan tidak ada yang memikirkannya kecuali orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 269) Allahua’lam. Sumber: هل يلزمها طاعة زوجها إذا أمرها بعدم مراجعة القرآن حال وجوده في المنزل ؟ https://islamqa.info/ar/downloads/answers/290885 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Gambar Alquran, Binatang Surga, Tafsir Mimpi Melihat Kalimah Allah, Aqidah Ahlussunnah, Pada Tanggal Berapa Alquran Diturunkan, Doa Menyambut Bulan Puasa Visited 128 times, 1 visit(s) today Post Views: 487 QRIS donasi Yufid
Ketika Istri Dilarang Suaminya untuk Menghafalkan al-Quran Pertanyaan: صديقتي مشاركة بحلقة تحفيظ قرآن عن طريق الجوال ، والحمدلله مستمرة ، مشكلتها مع زوجها ، أنها لما تختلي بنفسها لمدة ساعه لمراجعة القرآن ، يقول : لست راض عنك ، مع أنها لم تقصر بحقه ، ولا بحقوق أبنائه ، وتختار الوقت بعد ما تنهي جميع الأشغال ، ومع ذلك يقول : لست راض عنك ، فما حكم استمرارها بحفظ القرآن ؟ Temanku, seorang wanita, ikut dalam sebuah halaqah hafalan al-Qur’an melalui ponsel, alhamdulillah masih berjalan. Masalahnya ada pada suaminya. Istrinya meminta waktu satu jam untuk mengulang hafalan al-Qur’an, akan tetapi suaminya berkata, “Aku tidak rida denganmu!” padahal istrinya tidak melalaikan hak suami dan anak-anaknya karena dia meluangkan waktu setelah menyelesaikan semua kewajibannya. Namun, suaminya tetap berkata, “Aku tidak rida denganmu!” Bagaimana hukumnya jika dia melanjutkan menghafal al-Qur’an? *** ملخص الجواب يجوز للزوجة أن تحفظ القرآن وتراجعه مع رفض الزوج ذلك ما دامت لا تقصر في أداء حقوقه ؛ إذ ليس للزوج أن يمنعها من ذلك ، ولكن إن أمرها الزوج بترك ذلك حال وجوده في المنزل فقط ؛ لرغبته في الجلوس معها وقتا أطول أو نحو ذلك ، فحينها ينبغي عليها إن تطيعه وتؤجل المراجعة لوقت غيابه عن المنزل أو وقت نومه وراحته أو نحو ذلك. Ringkasan Jawaban: Boleh bagi istri menghafal al-Qur’an dan memurajaahnya walaupun suaminya melarang selama dia tidak lalai dalam menunaikan hak-hak suaminya karena suami tidak berhak melarangnya menghafal. Namun, jika suami hanya menyuruhnya untuk tidak melakukannya saat dia di rumah saja karena dia ingin bersamanya lebih lama atau karena hal lain, maka dia harus mematuhinya dan menunda murajaahnya hingga suaminya pergi dari rumah atau ketika sudah tidur atau beristirahat atau waktu lainnya. Jawaban: الحمد لله أولاً يجب على المرأة طاعة زوجها ؛ لما له من حق القوامة عليها ، قال تعالى : الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ   النساء/34. Segala puji hanya bagi Allah. Pertama-tama, bahwa seorang istri wajib menaati suaminya, karena suami punya hak kepemimpinan atasnya, Allah taʿalā berfirman,  الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ- النساء: ٣٤  “Para lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa’: 34) قال ابن كثير رحمه الله : ” وقال علي بن أبي طلحة عن ابن عباس : ( الرجال قوامون على النساء ) . يعني : أمراء عليهن ، أي : تطيعه فيما أمرها الله به من طاعته ، وطاعته أن تكون محسنة لأهله ، حافظة لماله. وكذا قال مقاتل والسدي والضحاك ” انتهى من ” تفسير ابن كثير ” (2/293). Ibnu Katsir raẖimahullahu taʿalā berkata, “Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas bahwa “Para lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa’: 34) maksudnya adalah pemimpin atas mereka yang harus ditaati, karena Allah yang memerintahkan para wanita untuk mematuhinya, dan ketaatan kepadanya adalah dengan berbuat baik dengan keluarganya dan menjaga hartanya. Muqatil, as-Sudi dan aḍ-Ḍaḥāk juga berkata demikian.” Selesai kutipan dari Tafsir Ibnu Katsir (2/293) ويستثنى من وجوب طاعة المرأة لزوجها أمران : الأمر الأول : أن يترتب على طاعته الوقوع في المعصية ، إما بترك واجب أو فعل محرم ، ففي هذه الحال لا يجوز للمرأة طاعة زوجها ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم :  لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ  رواه البخاري ( 6830 ) ، ومسلم ( 1840 ) Ada dua hal yang dikecualikan dalam hal ketaatan istri pada suaminya: Pertama, jika menaatinya membuat seorang istri terjatuh dalam kemaksiatan, baik dengan meninggalkan kewajiban ataupun melakukan perbuatan haram. Dalam hal ini, dia tidak boleh menaati suaminya, sebagaimana sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam,  لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari 6830 dan Muslim 1840) الثانية : أن يترتب على طاعة الزوج حصول الضرر على المرأة ، أو تضييع لحقوقها ، ففي هذه الحال لا يجب عليها طاعة زوجها ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم:  لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ  رواه ابن ماجة (2340) وصححه الألباني في “صحيح ابن ماجة”. وينظر جواب السؤال رقم : (97125​).​ Kedua, jika menaati suami bisa mendatangkan bahaya bagi istri atau mengurangi hak-haknya. Dalam keadaan ini dia tidak wajib mentaati suaminya, sebagaimana sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, لا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ “Tidak boleh mencelakai diri sendiri atau orang lain.” (HR. Ibnu Majah 2340 dan disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih Ibnu Majah) Lihat juga jawaban pertanyaan nomor 97125. ثانيا: من حقوق المرأة على زوجها أن يعينها على طاعة الله تعالى ، وأن لا يمنعها من فعل ما يقربها من ربها ما دام لا يؤثر ذلك على حقه عليها ، ومن ذلك أن يتركها تتعبد لله تعالى بحفظ كتاب الله ومراجعته. وقد روى البخاري (900) ، ومسلم (442) أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :   لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ . Kedua, bahwa di antara hak istri atas suaminya adalah bahwa suami harus membantunya dalam ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan tidak melarangnya berbuat apa yang bisa mendekatkannya kepada Tuhannya selama hal tersebut tidak melalaikan kewajibannya terhadap suaminya. Di antaranya, dengan membiarkannya beribadah kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla dengan menghafal al-Qur’an dan memurajaahnya.  Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (900) dan Muslim (433) bahwa Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ “Janganlah kalian melarang hamba-hamba wanita Allah dari masjid-masjid-Nya.” قال الحافظ ابن رجب: ” الزوج منهيٌ عن منعها إذا استأذنته ، وهذا لا بد من تقييده بما إذا لم يخف فتنةً أو ضرراً . وقد أنكر ابن عمر على ابنه لما قال له : “والله لنمنعهن” ، أشد الأنكار ، وسبه ، وقال له : تسمعني أقول : قال رسول الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وتقول : لنمنعهن؟! ” انتهى من “فتح الباري” لابن رجب (8/ 53). al-H̱āfiḏ Ibnu Rajab berkata, “Suami tidak boleh melarang mereka jika mereka sudah meminta izin (ke masjid), akan tetapi dengan syarat tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah atau bahaya baginya.  Ibnu Umar pernah mengingkari anaknya dengan keras dan mencelanya ketika dia berkata, “Demi Allah, aku akan melarang mereka!”  Ibnu Umar berkata, “Kamu dengar aku berkata, ‘Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian.’ Kamu malah berkata ‘aku akan melarang mereka!’” Selesai kutipan dari Fatḥu al-Bārī karya Ibnu Rajab (8/53) وجاء في فتاوى “اللجنة الدائمة” (7/332) : ” يجوز للمرأة المسلمة أن تصلي في المساجد ، وليس لزوجها إذا استأذنته أن يمنعها من ذلك، ما دامت مستترة ، ولا يبدو من بدنها شيء مما يحرم نظر الأجانب إليه ؛ لما رواه ابْنَ عُمَرَ قال : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ( إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ )…” انتهى. Dalam kompilasi fatwa al-Lajnah ad-Da’imah (7/332) disebutkan bahwa seorang wanita muslimah boleh salat di masjid, dan suaminya tidak boleh melarangnya jika dia sudah meminta izin selama dia menutup auratnya dan tidak menampakkan bagian tubuhnya yang terlarang untuk dilihat orang asing. Ini berdasarkan hadis riwayat Ibnu Umar, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ ‘Jika istri-istri kalian meminta izin untuk ke masjid maka izinkan mereka.’” Selesai kutipan. هذا مع ما فيه من خروجها من البيت ، وانتظارها إقامة الصلاة ، وقد تطول مدة ذلك؛ ولا شك أن حفظ المرأة للقرآن في بيتها، أو اشتغالها بما ينفعها من علم ، أو ذكر ، أو عبادة : أولى بأن ينهى الرجل عن منعها منه ، بعد أن لا تفرط فيما يجب من حقه ، وحق أولاده. Hal ini mengharuskan wanita keluar dari rumah dan menunggu waktu iqamah yang terkadang lama. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ketika dia menghafal al-Quran di rumah, sibuk dengan ilmu yang bermanfaat, zikir, atau ibadah lain, maka lebih layak bagi suami untuk dilarang melarang istrinya, selama istrinya tidak melalaikan hak suami dan anak-anaknya. وليعلم الزوج أن حفظ زوجته لكتاب الله تعالى سيعود بالبركة على البيت ومن فيه ، وبالنفع على أولاده ؛ لأن الأطفال غالبا يتعلمون ويحفظون من حفظ أمهم ، وهذا سيوفر على الزوج جهدا كبيرا في تعليم أولاده القرآن ، إذ تكون الزوجة قد تكفلت بهذا. Hendaknya suami mengetahui bahwa jika istrinya menghafalkan al-Qur’an akan mendatangkan berkah untuk rumahnya beserta penghuninya dan bermanfaat untuk anak-anaknya karena mereka biasanya akan belajar dan menghafal al-Qur’an dari ibunya. Ini juga sangat meringankan kewajiban suami untuk mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anaknya, karena istrinya sudah melakukannya. ويعود بالنفع على الزوج أيضًا ؛ إذ إن تعلم القرآن وفهمه يزيد من الإيمان ، وتتعلم المرأة منه أحكام الدين ، وإذا زاد إيمان المرأة وعرفت أحكام دينها ؛ زاد حرصها على طاعة زوجها ، وحسن تبعلها ومعاشرتها له ؛ لعلمها أن ذلك من طاعة الله تعالى. Ini juga membawa manfaat bagi suami, karena jika istrinya mempelajari dan memahami al-Qur’an, maka akan menambah imannya, dan istrinya pun dapat mempelajari hukum-hukum agama dari al-Qur’an. Apabila seorang istri meningkat imannya dan paham hukum-hukum agama, tentu akan semakin bersungguh-sungguh dalam menaati suaminya, menjalankan kewajibannya dan mempergaulinya dengan baik, karena dia mengerti bahwa itu adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. ولكن ربما لا يقصد الزوج منع زوجته من حفظ القرآن ومراجعته بالكلية ، وإنما يقصد منعها من ذلك حال وجوده في المنزل فقط ؛ لأنه يريد أن يجلس معها وقتا أطول أو نحو ذلك ، فحينها ينبغي عليها أن توازن بين حاجة الزوج إلى زوجته ، وحاجته إلى الأنس بها ، فتطيعه وتؤجل مراجعة القرآن لوقت غيابه عن المنزل ، أو وقت نومه وراحته ، أو نحو ذلك. Namun, mungkin juga suami tersebut tidak bermaksud melarangnya menghafal dan murajaah al-Quran secara total, akan tetapi hanya ketika dia berada di rumah saja, karena dia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamanya, dan lain sebagainya. Jika demikian, sepatutnya dia mempertimbangkan kebutuhan suaminya terhadap istrinya dan kasih sayang darinya, sehingga dia harus menaatinya dan menunda murajaahnya, yaitu ketika dia sedang tidak berada di rumah, sedang tidur, istirahat, atau lain sebagainya. وإذا قدر أنه لا حاجة بالزوج إلى زوجته في وقت ما ، وكانت تعلم أن انشغالها هذا الوقت يغضبه ، أو يثير مشكلة في البيت ، فالذي ننصحها به أن تكون حكيمة في إدارة بيتها ، والترفق بزوجها ، ولا تعين الشيطان عليه ؛ فتجعل ذلك الوقت إلى ما لا بد لها من عمله في بيتها ، ومراعاة أولادها ، وحق زوجها ، ليكون وقتها فارغا ، إذا خرج زوجها لعمله ، أو حاجات الرجل خارج بيته : تفرغ هي لكتاب ربها ، فتقرأ ، وتراجع ، وتحفظ ، من دون إثارة مشكلات ، ولا تعكير لصفو البيت ، ولا إعانة للشيطان على أهله . وقد قال الله تعالى، منبها لعباده على أهمية الحكمة في الأمر كله :  يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ  البقرة/269. والله تعالى أعلم. Andaikata seorang suami sedang tidak membutuhkan istrinya pada waktu tertentu, dan istri tahu bahwa jika dia sibuk sendiri pada waktu tersebut akan membuat suami marah atau menimbulkan masalah dalam rumah tangga, maka kami nasihatkan agar dia lebih bijak untuk mengurus rumah tangganya, berlemah lembut kepada suami, dan tidak membantu setan menjerumuskan suaminya. Hendaknya dia gunakan waktunya untuk apa yang telah jadi kewajibannya untuk mengurus rumah, menjaga anak-anak, dan melayani suaminya.  Ketika istri memiliki waktu luang, misalkan suami sudah berangkat kerja atau keluar untuk urusan-urusan lain, silakan dia membuka al-Qur’an, membaca, murajaah dan menghafalnya tanpa harus menimbulkan masalah dalam rumah tangga, mengganggu keharmonisan di dalamnya, ataupun membantu setan menjerumuskan suaminya. Sebagaimana firman Allah yang menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya tentang pentingnya kebijaksanaan dalam segala urusan,  يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ – البقرة: ٢٦٩  “Allah memberikan kebijaksanaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan barang siapa diberikan kebijaksanaan, sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak, dan tidak ada yang memikirkannya kecuali orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 269) Allahua’lam. Sumber: هل يلزمها طاعة زوجها إذا أمرها بعدم مراجعة القرآن حال وجوده في المنزل ؟ https://islamqa.info/ar/downloads/answers/290885 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Gambar Alquran, Binatang Surga, Tafsir Mimpi Melihat Kalimah Allah, Aqidah Ahlussunnah, Pada Tanggal Berapa Alquran Diturunkan, Doa Menyambut Bulan Puasa Visited 128 times, 1 visit(s) today Post Views: 487 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1390824286&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Ketika Istri Dilarang Suaminya untuk Menghafalkan al-Quran Pertanyaan: صديقتي مشاركة بحلقة تحفيظ قرآن عن طريق الجوال ، والحمدلله مستمرة ، مشكلتها مع زوجها ، أنها لما تختلي بنفسها لمدة ساعه لمراجعة القرآن ، يقول : لست راض عنك ، مع أنها لم تقصر بحقه ، ولا بحقوق أبنائه ، وتختار الوقت بعد ما تنهي جميع الأشغال ، ومع ذلك يقول : لست راض عنك ، فما حكم استمرارها بحفظ القرآن ؟ Temanku, seorang wanita, ikut dalam sebuah halaqah hafalan al-Qur’an melalui ponsel, alhamdulillah masih berjalan. Masalahnya ada pada suaminya. Istrinya meminta waktu satu jam untuk mengulang hafalan al-Qur’an, akan tetapi suaminya berkata, “Aku tidak rida denganmu!” padahal istrinya tidak melalaikan hak suami dan anak-anaknya karena dia meluangkan waktu setelah menyelesaikan semua kewajibannya. Namun, suaminya tetap berkata, “Aku tidak rida denganmu!” Bagaimana hukumnya jika dia melanjutkan menghafal al-Qur’an? *** ملخص الجواب يجوز للزوجة أن تحفظ القرآن وتراجعه مع رفض الزوج ذلك ما دامت لا تقصر في أداء حقوقه ؛ إذ ليس للزوج أن يمنعها من ذلك ، ولكن إن أمرها الزوج بترك ذلك حال وجوده في المنزل فقط ؛ لرغبته في الجلوس معها وقتا أطول أو نحو ذلك ، فحينها ينبغي عليها إن تطيعه وتؤجل المراجعة لوقت غيابه عن المنزل أو وقت نومه وراحته أو نحو ذلك. Ringkasan Jawaban: Boleh bagi istri menghafal al-Qur’an dan memurajaahnya walaupun suaminya melarang selama dia tidak lalai dalam menunaikan hak-hak suaminya karena suami tidak berhak melarangnya menghafal. Namun, jika suami hanya menyuruhnya untuk tidak melakukannya saat dia di rumah saja karena dia ingin bersamanya lebih lama atau karena hal lain, maka dia harus mematuhinya dan menunda murajaahnya hingga suaminya pergi dari rumah atau ketika sudah tidur atau beristirahat atau waktu lainnya. Jawaban: الحمد لله أولاً يجب على المرأة طاعة زوجها ؛ لما له من حق القوامة عليها ، قال تعالى : الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ   النساء/34. Segala puji hanya bagi Allah. Pertama-tama, bahwa seorang istri wajib menaati suaminya, karena suami punya hak kepemimpinan atasnya, Allah taʿalā berfirman,  الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ- النساء: ٣٤  “Para lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa’: 34) قال ابن كثير رحمه الله : ” وقال علي بن أبي طلحة عن ابن عباس : ( الرجال قوامون على النساء ) . يعني : أمراء عليهن ، أي : تطيعه فيما أمرها الله به من طاعته ، وطاعته أن تكون محسنة لأهله ، حافظة لماله. وكذا قال مقاتل والسدي والضحاك ” انتهى من ” تفسير ابن كثير ” (2/293). Ibnu Katsir raẖimahullahu taʿalā berkata, “Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas bahwa “Para lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa’: 34) maksudnya adalah pemimpin atas mereka yang harus ditaati, karena Allah yang memerintahkan para wanita untuk mematuhinya, dan ketaatan kepadanya adalah dengan berbuat baik dengan keluarganya dan menjaga hartanya. Muqatil, as-Sudi dan aḍ-Ḍaḥāk juga berkata demikian.” Selesai kutipan dari Tafsir Ibnu Katsir (2/293) ويستثنى من وجوب طاعة المرأة لزوجها أمران : الأمر الأول : أن يترتب على طاعته الوقوع في المعصية ، إما بترك واجب أو فعل محرم ، ففي هذه الحال لا يجوز للمرأة طاعة زوجها ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم :  لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ  رواه البخاري ( 6830 ) ، ومسلم ( 1840 ) Ada dua hal yang dikecualikan dalam hal ketaatan istri pada suaminya: Pertama, jika menaatinya membuat seorang istri terjatuh dalam kemaksiatan, baik dengan meninggalkan kewajiban ataupun melakukan perbuatan haram. Dalam hal ini, dia tidak boleh menaati suaminya, sebagaimana sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam,  لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari 6830 dan Muslim 1840) الثانية : أن يترتب على طاعة الزوج حصول الضرر على المرأة ، أو تضييع لحقوقها ، ففي هذه الحال لا يجب عليها طاعة زوجها ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم:  لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ  رواه ابن ماجة (2340) وصححه الألباني في “صحيح ابن ماجة”. وينظر جواب السؤال رقم : (97125​).​ Kedua, jika menaati suami bisa mendatangkan bahaya bagi istri atau mengurangi hak-haknya. Dalam keadaan ini dia tidak wajib mentaati suaminya, sebagaimana sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, لا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ “Tidak boleh mencelakai diri sendiri atau orang lain.” (HR. Ibnu Majah 2340 dan disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih Ibnu Majah) Lihat juga jawaban pertanyaan nomor 97125. ثانيا: من حقوق المرأة على زوجها أن يعينها على طاعة الله تعالى ، وأن لا يمنعها من فعل ما يقربها من ربها ما دام لا يؤثر ذلك على حقه عليها ، ومن ذلك أن يتركها تتعبد لله تعالى بحفظ كتاب الله ومراجعته. وقد روى البخاري (900) ، ومسلم (442) أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :   لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ . Kedua, bahwa di antara hak istri atas suaminya adalah bahwa suami harus membantunya dalam ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan tidak melarangnya berbuat apa yang bisa mendekatkannya kepada Tuhannya selama hal tersebut tidak melalaikan kewajibannya terhadap suaminya. Di antaranya, dengan membiarkannya beribadah kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla dengan menghafal al-Qur’an dan memurajaahnya.  Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (900) dan Muslim (433) bahwa Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ “Janganlah kalian melarang hamba-hamba wanita Allah dari masjid-masjid-Nya.” قال الحافظ ابن رجب: ” الزوج منهيٌ عن منعها إذا استأذنته ، وهذا لا بد من تقييده بما إذا لم يخف فتنةً أو ضرراً . وقد أنكر ابن عمر على ابنه لما قال له : “والله لنمنعهن” ، أشد الأنكار ، وسبه ، وقال له : تسمعني أقول : قال رسول الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وتقول : لنمنعهن؟! ” انتهى من “فتح الباري” لابن رجب (8/ 53). al-H̱āfiḏ Ibnu Rajab berkata, “Suami tidak boleh melarang mereka jika mereka sudah meminta izin (ke masjid), akan tetapi dengan syarat tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah atau bahaya baginya.  Ibnu Umar pernah mengingkari anaknya dengan keras dan mencelanya ketika dia berkata, “Demi Allah, aku akan melarang mereka!”  Ibnu Umar berkata, “Kamu dengar aku berkata, ‘Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian.’ Kamu malah berkata ‘aku akan melarang mereka!’” Selesai kutipan dari Fatḥu al-Bārī karya Ibnu Rajab (8/53) وجاء في فتاوى “اللجنة الدائمة” (7/332) : ” يجوز للمرأة المسلمة أن تصلي في المساجد ، وليس لزوجها إذا استأذنته أن يمنعها من ذلك، ما دامت مستترة ، ولا يبدو من بدنها شيء مما يحرم نظر الأجانب إليه ؛ لما رواه ابْنَ عُمَرَ قال : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ( إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ )…” انتهى. Dalam kompilasi fatwa al-Lajnah ad-Da’imah (7/332) disebutkan bahwa seorang wanita muslimah boleh salat di masjid, dan suaminya tidak boleh melarangnya jika dia sudah meminta izin selama dia menutup auratnya dan tidak menampakkan bagian tubuhnya yang terlarang untuk dilihat orang asing. Ini berdasarkan hadis riwayat Ibnu Umar, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ ‘Jika istri-istri kalian meminta izin untuk ke masjid maka izinkan mereka.’” Selesai kutipan. هذا مع ما فيه من خروجها من البيت ، وانتظارها إقامة الصلاة ، وقد تطول مدة ذلك؛ ولا شك أن حفظ المرأة للقرآن في بيتها، أو اشتغالها بما ينفعها من علم ، أو ذكر ، أو عبادة : أولى بأن ينهى الرجل عن منعها منه ، بعد أن لا تفرط فيما يجب من حقه ، وحق أولاده. Hal ini mengharuskan wanita keluar dari rumah dan menunggu waktu iqamah yang terkadang lama. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ketika dia menghafal al-Quran di rumah, sibuk dengan ilmu yang bermanfaat, zikir, atau ibadah lain, maka lebih layak bagi suami untuk dilarang melarang istrinya, selama istrinya tidak melalaikan hak suami dan anak-anaknya. وليعلم الزوج أن حفظ زوجته لكتاب الله تعالى سيعود بالبركة على البيت ومن فيه ، وبالنفع على أولاده ؛ لأن الأطفال غالبا يتعلمون ويحفظون من حفظ أمهم ، وهذا سيوفر على الزوج جهدا كبيرا في تعليم أولاده القرآن ، إذ تكون الزوجة قد تكفلت بهذا. Hendaknya suami mengetahui bahwa jika istrinya menghafalkan al-Qur’an akan mendatangkan berkah untuk rumahnya beserta penghuninya dan bermanfaat untuk anak-anaknya karena mereka biasanya akan belajar dan menghafal al-Qur’an dari ibunya. Ini juga sangat meringankan kewajiban suami untuk mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anaknya, karena istrinya sudah melakukannya. ويعود بالنفع على الزوج أيضًا ؛ إذ إن تعلم القرآن وفهمه يزيد من الإيمان ، وتتعلم المرأة منه أحكام الدين ، وإذا زاد إيمان المرأة وعرفت أحكام دينها ؛ زاد حرصها على طاعة زوجها ، وحسن تبعلها ومعاشرتها له ؛ لعلمها أن ذلك من طاعة الله تعالى. Ini juga membawa manfaat bagi suami, karena jika istrinya mempelajari dan memahami al-Qur’an, maka akan menambah imannya, dan istrinya pun dapat mempelajari hukum-hukum agama dari al-Qur’an. Apabila seorang istri meningkat imannya dan paham hukum-hukum agama, tentu akan semakin bersungguh-sungguh dalam menaati suaminya, menjalankan kewajibannya dan mempergaulinya dengan baik, karena dia mengerti bahwa itu adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. ولكن ربما لا يقصد الزوج منع زوجته من حفظ القرآن ومراجعته بالكلية ، وإنما يقصد منعها من ذلك حال وجوده في المنزل فقط ؛ لأنه يريد أن يجلس معها وقتا أطول أو نحو ذلك ، فحينها ينبغي عليها أن توازن بين حاجة الزوج إلى زوجته ، وحاجته إلى الأنس بها ، فتطيعه وتؤجل مراجعة القرآن لوقت غيابه عن المنزل ، أو وقت نومه وراحته ، أو نحو ذلك. Namun, mungkin juga suami tersebut tidak bermaksud melarangnya menghafal dan murajaah al-Quran secara total, akan tetapi hanya ketika dia berada di rumah saja, karena dia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamanya, dan lain sebagainya. Jika demikian, sepatutnya dia mempertimbangkan kebutuhan suaminya terhadap istrinya dan kasih sayang darinya, sehingga dia harus menaatinya dan menunda murajaahnya, yaitu ketika dia sedang tidak berada di rumah, sedang tidur, istirahat, atau lain sebagainya. وإذا قدر أنه لا حاجة بالزوج إلى زوجته في وقت ما ، وكانت تعلم أن انشغالها هذا الوقت يغضبه ، أو يثير مشكلة في البيت ، فالذي ننصحها به أن تكون حكيمة في إدارة بيتها ، والترفق بزوجها ، ولا تعين الشيطان عليه ؛ فتجعل ذلك الوقت إلى ما لا بد لها من عمله في بيتها ، ومراعاة أولادها ، وحق زوجها ، ليكون وقتها فارغا ، إذا خرج زوجها لعمله ، أو حاجات الرجل خارج بيته : تفرغ هي لكتاب ربها ، فتقرأ ، وتراجع ، وتحفظ ، من دون إثارة مشكلات ، ولا تعكير لصفو البيت ، ولا إعانة للشيطان على أهله . وقد قال الله تعالى، منبها لعباده على أهمية الحكمة في الأمر كله :  يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ  البقرة/269. والله تعالى أعلم. Andaikata seorang suami sedang tidak membutuhkan istrinya pada waktu tertentu, dan istri tahu bahwa jika dia sibuk sendiri pada waktu tersebut akan membuat suami marah atau menimbulkan masalah dalam rumah tangga, maka kami nasihatkan agar dia lebih bijak untuk mengurus rumah tangganya, berlemah lembut kepada suami, dan tidak membantu setan menjerumuskan suaminya. Hendaknya dia gunakan waktunya untuk apa yang telah jadi kewajibannya untuk mengurus rumah, menjaga anak-anak, dan melayani suaminya.  Ketika istri memiliki waktu luang, misalkan suami sudah berangkat kerja atau keluar untuk urusan-urusan lain, silakan dia membuka al-Qur’an, membaca, murajaah dan menghafalnya tanpa harus menimbulkan masalah dalam rumah tangga, mengganggu keharmonisan di dalamnya, ataupun membantu setan menjerumuskan suaminya. Sebagaimana firman Allah yang menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya tentang pentingnya kebijaksanaan dalam segala urusan,  يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ – البقرة: ٢٦٩  “Allah memberikan kebijaksanaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan barang siapa diberikan kebijaksanaan, sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak, dan tidak ada yang memikirkannya kecuali orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 269) Allahua’lam. Sumber: هل يلزمها طاعة زوجها إذا أمرها بعدم مراجعة القرآن حال وجوده في المنزل ؟ https://islamqa.info/ar/downloads/answers/290885 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Gambar Alquran, Binatang Surga, Tafsir Mimpi Melihat Kalimah Allah, Aqidah Ahlussunnah, Pada Tanggal Berapa Alquran Diturunkan, Doa Menyambut Bulan Puasa Visited 128 times, 1 visit(s) today Post Views: 487 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bolehkah Berhubungan Badan di Kamar Mandi?

Salah satu romantisme yang bisa jadi ditinggalkan oleh banyak suami-istri adalah mandi bersama. Hal ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan istri-istri beliau. Sebagaimana yang diceritakan oleh ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,قَالَتْ عَائِشَةُ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.‘Aisyah berkata, “Aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi bersama dalam suatu wadah yang sama, sedangkan kami berdua dalam keadaan junub.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa mandi bareng suami-istri itu hukumnya boleh saja. Beliau rahimahullah berkata,أما تطهير الرجل والمرأة من إناء واحد، فهو جائز بإجماع المسلمين“Adapun bersuci (mandi bersama) suami dan istri dalam satu wadah, hukumnya boleh berdasarkan ijma’ kaum muslimin.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 4)Bisa jadi saat mandi bareng bersama istri muncul keinginan untuk berhubungan badan dan bisa jadi nafsu saat itu tidak terkontrol sehingga terjadi hubungan badan di kamar mandi. Bagaimana hukum terkait hal ini?Ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa berhubungan intim di kamar mandi hendaknya dijauhi. Syekh Khalid Al-Muslih menukil pendapat Ibnu Muflih rahimahullah,“ويجتنب الجماع في الحمام”،“Hendaknya menghindari berhubungan badan dengan istri di kamar mandi.” (sumber: https://almosleh.com/ar/16624)Perbuatan tersebut dihindari karena kamar mandi adalah tempat berkumpulnya setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ، فَإِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ“Sesungguhnya kamar mandi (toilet) itu didatangi setan. Jika kalian masuk kamar mandi/toilet, maka bacalah,Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khaba’its.‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.’” (HR. Abu Daud)Baca Juga: Berapa Frekuensi Berhubungan Intim Suami-Istri Menurut Syariat?Ada juga ulama yang berpendapat bolehnya dengan ketentuan tertentu. Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menjelaskan,نعم يجوز أن يجامع الرجل زوجته بدون غطاء ، كما أنه يجوز أن يجامعها في دورة المياه ، ولكن سيترتب عليه مخالفة السنة في عدم ذكر الله قبل ذلك“Boleh berhubungan badan tanpa penutup sebagaimana diperbolehkan juga berhubungan badan di kamar mandi. Akan tetapi, berkonsekuensi akan menyelisihi sunah, yaitu tidak menyebut nama Allah sebelumnya (yaitu, tidak membaca doa jimak, pent).” (Fatawa Sual wa Jawab no. 21195)Demikian juga fatwa dari Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih,فيجوز للزوج جماع زوجته في الحمام، وإن كان الأولى تجنب ذلك لمنافاته للآداب، ولكونه ليس محلا للإتيان بالدعاء المأثور قبل الجماع“Boleh berhubungan badan suami-istri di kamar mandi, meskipun yang lebih utama menghindarinya karena akan bertentangan dengan beberapa adabnya. Kamar mandi bukan tempat yang layak untuk membaca doa sebelum jimak.” (Fatwa no. 134807)Dalam hal ini kami memilih pendapat ulama yang membolehkan apabila benar-benar terpaksa (tidak bisa mengontrol diri) semisal ketika mandi bersama lalu suami-istri saling bernafsu. Apabila mampu, hendaknya pindah dari kamar mandi semisal menuju kamar dan semisalnya.Hendaknya membaca doa sebelum masuk kamar mandi dan doa jimak di luar kamar mandi sebentar.Doa masuk kamar mandi,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِAllahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khaba’its.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)Membaca basmalah sangat penting karena akan melindungi aurat manusia dari setan.Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الخَلاَءَ، أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ“Penghalang antara pandangan mata jin dan aurat bani Adam ketika ia masuk toilet adalah dengan membaca ‘bismillah’.” (HR. At-Tirmidzi)Baca Juga:Suami Menolak Ajakan Istri Berhubungan Intim Apakah Berdosa?Fatwa Ulama: Bolehkah Suami-Istri Mengabadikan Hubungan Intim Dengan Foto?Demikian, semoga bermanfaat.***@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Pelajaran Al Qur An, Hadis Ihsan, Qunut Tarawih Pada Malam Keberapa, Hukum Makan Sambil BerdiriTags: fikih hubungan intimfikih hubungan usami istrifikih jimakhubungan badanhubungan intimhubungan suami istriistrijimakpernikahanrumah tanggasuami

Bolehkah Berhubungan Badan di Kamar Mandi?

Salah satu romantisme yang bisa jadi ditinggalkan oleh banyak suami-istri adalah mandi bersama. Hal ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan istri-istri beliau. Sebagaimana yang diceritakan oleh ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,قَالَتْ عَائِشَةُ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.‘Aisyah berkata, “Aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi bersama dalam suatu wadah yang sama, sedangkan kami berdua dalam keadaan junub.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa mandi bareng suami-istri itu hukumnya boleh saja. Beliau rahimahullah berkata,أما تطهير الرجل والمرأة من إناء واحد، فهو جائز بإجماع المسلمين“Adapun bersuci (mandi bersama) suami dan istri dalam satu wadah, hukumnya boleh berdasarkan ijma’ kaum muslimin.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 4)Bisa jadi saat mandi bareng bersama istri muncul keinginan untuk berhubungan badan dan bisa jadi nafsu saat itu tidak terkontrol sehingga terjadi hubungan badan di kamar mandi. Bagaimana hukum terkait hal ini?Ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa berhubungan intim di kamar mandi hendaknya dijauhi. Syekh Khalid Al-Muslih menukil pendapat Ibnu Muflih rahimahullah,“ويجتنب الجماع في الحمام”،“Hendaknya menghindari berhubungan badan dengan istri di kamar mandi.” (sumber: https://almosleh.com/ar/16624)Perbuatan tersebut dihindari karena kamar mandi adalah tempat berkumpulnya setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ، فَإِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ“Sesungguhnya kamar mandi (toilet) itu didatangi setan. Jika kalian masuk kamar mandi/toilet, maka bacalah,Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khaba’its.‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.’” (HR. Abu Daud)Baca Juga: Berapa Frekuensi Berhubungan Intim Suami-Istri Menurut Syariat?Ada juga ulama yang berpendapat bolehnya dengan ketentuan tertentu. Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menjelaskan,نعم يجوز أن يجامع الرجل زوجته بدون غطاء ، كما أنه يجوز أن يجامعها في دورة المياه ، ولكن سيترتب عليه مخالفة السنة في عدم ذكر الله قبل ذلك“Boleh berhubungan badan tanpa penutup sebagaimana diperbolehkan juga berhubungan badan di kamar mandi. Akan tetapi, berkonsekuensi akan menyelisihi sunah, yaitu tidak menyebut nama Allah sebelumnya (yaitu, tidak membaca doa jimak, pent).” (Fatawa Sual wa Jawab no. 21195)Demikian juga fatwa dari Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih,فيجوز للزوج جماع زوجته في الحمام، وإن كان الأولى تجنب ذلك لمنافاته للآداب، ولكونه ليس محلا للإتيان بالدعاء المأثور قبل الجماع“Boleh berhubungan badan suami-istri di kamar mandi, meskipun yang lebih utama menghindarinya karena akan bertentangan dengan beberapa adabnya. Kamar mandi bukan tempat yang layak untuk membaca doa sebelum jimak.” (Fatwa no. 134807)Dalam hal ini kami memilih pendapat ulama yang membolehkan apabila benar-benar terpaksa (tidak bisa mengontrol diri) semisal ketika mandi bersama lalu suami-istri saling bernafsu. Apabila mampu, hendaknya pindah dari kamar mandi semisal menuju kamar dan semisalnya.Hendaknya membaca doa sebelum masuk kamar mandi dan doa jimak di luar kamar mandi sebentar.Doa masuk kamar mandi,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِAllahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khaba’its.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)Membaca basmalah sangat penting karena akan melindungi aurat manusia dari setan.Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الخَلاَءَ، أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ“Penghalang antara pandangan mata jin dan aurat bani Adam ketika ia masuk toilet adalah dengan membaca ‘bismillah’.” (HR. At-Tirmidzi)Baca Juga:Suami Menolak Ajakan Istri Berhubungan Intim Apakah Berdosa?Fatwa Ulama: Bolehkah Suami-Istri Mengabadikan Hubungan Intim Dengan Foto?Demikian, semoga bermanfaat.***@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Pelajaran Al Qur An, Hadis Ihsan, Qunut Tarawih Pada Malam Keberapa, Hukum Makan Sambil BerdiriTags: fikih hubungan intimfikih hubungan usami istrifikih jimakhubungan badanhubungan intimhubungan suami istriistrijimakpernikahanrumah tanggasuami
Salah satu romantisme yang bisa jadi ditinggalkan oleh banyak suami-istri adalah mandi bersama. Hal ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan istri-istri beliau. Sebagaimana yang diceritakan oleh ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,قَالَتْ عَائِشَةُ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.‘Aisyah berkata, “Aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi bersama dalam suatu wadah yang sama, sedangkan kami berdua dalam keadaan junub.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa mandi bareng suami-istri itu hukumnya boleh saja. Beliau rahimahullah berkata,أما تطهير الرجل والمرأة من إناء واحد، فهو جائز بإجماع المسلمين“Adapun bersuci (mandi bersama) suami dan istri dalam satu wadah, hukumnya boleh berdasarkan ijma’ kaum muslimin.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 4)Bisa jadi saat mandi bareng bersama istri muncul keinginan untuk berhubungan badan dan bisa jadi nafsu saat itu tidak terkontrol sehingga terjadi hubungan badan di kamar mandi. Bagaimana hukum terkait hal ini?Ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa berhubungan intim di kamar mandi hendaknya dijauhi. Syekh Khalid Al-Muslih menukil pendapat Ibnu Muflih rahimahullah,“ويجتنب الجماع في الحمام”،“Hendaknya menghindari berhubungan badan dengan istri di kamar mandi.” (sumber: https://almosleh.com/ar/16624)Perbuatan tersebut dihindari karena kamar mandi adalah tempat berkumpulnya setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ، فَإِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ“Sesungguhnya kamar mandi (toilet) itu didatangi setan. Jika kalian masuk kamar mandi/toilet, maka bacalah,Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khaba’its.‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.’” (HR. Abu Daud)Baca Juga: Berapa Frekuensi Berhubungan Intim Suami-Istri Menurut Syariat?Ada juga ulama yang berpendapat bolehnya dengan ketentuan tertentu. Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menjelaskan,نعم يجوز أن يجامع الرجل زوجته بدون غطاء ، كما أنه يجوز أن يجامعها في دورة المياه ، ولكن سيترتب عليه مخالفة السنة في عدم ذكر الله قبل ذلك“Boleh berhubungan badan tanpa penutup sebagaimana diperbolehkan juga berhubungan badan di kamar mandi. Akan tetapi, berkonsekuensi akan menyelisihi sunah, yaitu tidak menyebut nama Allah sebelumnya (yaitu, tidak membaca doa jimak, pent).” (Fatawa Sual wa Jawab no. 21195)Demikian juga fatwa dari Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih,فيجوز للزوج جماع زوجته في الحمام، وإن كان الأولى تجنب ذلك لمنافاته للآداب، ولكونه ليس محلا للإتيان بالدعاء المأثور قبل الجماع“Boleh berhubungan badan suami-istri di kamar mandi, meskipun yang lebih utama menghindarinya karena akan bertentangan dengan beberapa adabnya. Kamar mandi bukan tempat yang layak untuk membaca doa sebelum jimak.” (Fatwa no. 134807)Dalam hal ini kami memilih pendapat ulama yang membolehkan apabila benar-benar terpaksa (tidak bisa mengontrol diri) semisal ketika mandi bersama lalu suami-istri saling bernafsu. Apabila mampu, hendaknya pindah dari kamar mandi semisal menuju kamar dan semisalnya.Hendaknya membaca doa sebelum masuk kamar mandi dan doa jimak di luar kamar mandi sebentar.Doa masuk kamar mandi,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِAllahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khaba’its.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)Membaca basmalah sangat penting karena akan melindungi aurat manusia dari setan.Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الخَلاَءَ، أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ“Penghalang antara pandangan mata jin dan aurat bani Adam ketika ia masuk toilet adalah dengan membaca ‘bismillah’.” (HR. At-Tirmidzi)Baca Juga:Suami Menolak Ajakan Istri Berhubungan Intim Apakah Berdosa?Fatwa Ulama: Bolehkah Suami-Istri Mengabadikan Hubungan Intim Dengan Foto?Demikian, semoga bermanfaat.***@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Pelajaran Al Qur An, Hadis Ihsan, Qunut Tarawih Pada Malam Keberapa, Hukum Makan Sambil BerdiriTags: fikih hubungan intimfikih hubungan usami istrifikih jimakhubungan badanhubungan intimhubungan suami istriistrijimakpernikahanrumah tanggasuami


Salah satu romantisme yang bisa jadi ditinggalkan oleh banyak suami-istri adalah mandi bersama. Hal ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan istri-istri beliau. Sebagaimana yang diceritakan oleh ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,قَالَتْ عَائِشَةُ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.‘Aisyah berkata, “Aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi bersama dalam suatu wadah yang sama, sedangkan kami berdua dalam keadaan junub.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa mandi bareng suami-istri itu hukumnya boleh saja. Beliau rahimahullah berkata,أما تطهير الرجل والمرأة من إناء واحد، فهو جائز بإجماع المسلمين“Adapun bersuci (mandi bersama) suami dan istri dalam satu wadah, hukumnya boleh berdasarkan ijma’ kaum muslimin.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 4)Bisa jadi saat mandi bareng bersama istri muncul keinginan untuk berhubungan badan dan bisa jadi nafsu saat itu tidak terkontrol sehingga terjadi hubungan badan di kamar mandi. Bagaimana hukum terkait hal ini?Ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa berhubungan intim di kamar mandi hendaknya dijauhi. Syekh Khalid Al-Muslih menukil pendapat Ibnu Muflih rahimahullah,“ويجتنب الجماع في الحمام”،“Hendaknya menghindari berhubungan badan dengan istri di kamar mandi.” (sumber: https://almosleh.com/ar/16624)Perbuatan tersebut dihindari karena kamar mandi adalah tempat berkumpulnya setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ، فَإِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ“Sesungguhnya kamar mandi (toilet) itu didatangi setan. Jika kalian masuk kamar mandi/toilet, maka bacalah,Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khaba’its.‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.’” (HR. Abu Daud)Baca Juga: Berapa Frekuensi Berhubungan Intim Suami-Istri Menurut Syariat?Ada juga ulama yang berpendapat bolehnya dengan ketentuan tertentu. Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menjelaskan,نعم يجوز أن يجامع الرجل زوجته بدون غطاء ، كما أنه يجوز أن يجامعها في دورة المياه ، ولكن سيترتب عليه مخالفة السنة في عدم ذكر الله قبل ذلك“Boleh berhubungan badan tanpa penutup sebagaimana diperbolehkan juga berhubungan badan di kamar mandi. Akan tetapi, berkonsekuensi akan menyelisihi sunah, yaitu tidak menyebut nama Allah sebelumnya (yaitu, tidak membaca doa jimak, pent).” (Fatawa Sual wa Jawab no. 21195)Demikian juga fatwa dari Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih,فيجوز للزوج جماع زوجته في الحمام، وإن كان الأولى تجنب ذلك لمنافاته للآداب، ولكونه ليس محلا للإتيان بالدعاء المأثور قبل الجماع“Boleh berhubungan badan suami-istri di kamar mandi, meskipun yang lebih utama menghindarinya karena akan bertentangan dengan beberapa adabnya. Kamar mandi bukan tempat yang layak untuk membaca doa sebelum jimak.” (Fatwa no. 134807)Dalam hal ini kami memilih pendapat ulama yang membolehkan apabila benar-benar terpaksa (tidak bisa mengontrol diri) semisal ketika mandi bersama lalu suami-istri saling bernafsu. Apabila mampu, hendaknya pindah dari kamar mandi semisal menuju kamar dan semisalnya.Hendaknya membaca doa sebelum masuk kamar mandi dan doa jimak di luar kamar mandi sebentar.Doa masuk kamar mandi,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِAllahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khaba’its.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)Membaca basmalah sangat penting karena akan melindungi aurat manusia dari setan.Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الخَلاَءَ، أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ“Penghalang antara pandangan mata jin dan aurat bani Adam ketika ia masuk toilet adalah dengan membaca ‘bismillah’.” (HR. At-Tirmidzi)Baca Juga:Suami Menolak Ajakan Istri Berhubungan Intim Apakah Berdosa?Fatwa Ulama: Bolehkah Suami-Istri Mengabadikan Hubungan Intim Dengan Foto?Demikian, semoga bermanfaat.***@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Pelajaran Al Qur An, Hadis Ihsan, Qunut Tarawih Pada Malam Keberapa, Hukum Makan Sambil BerdiriTags: fikih hubungan intimfikih hubungan usami istrifikih jimakhubungan badanhubungan intimhubungan suami istriistrijimakpernikahanrumah tanggasuami

Mengapa Orang Sombong Tidak Masuk Surga? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Mengapa Orang Sombong Tidak Masuk Surga? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Bersikap sombong haram hukumnya “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sungguh kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37) Bersikap sombong hukumnya haram. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah.” Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah pakaian-Ku. Barangsiapa yang menyaingi-Ku dengannya, maka Aku akan memasukkannya ke dalam neraka.” Jadi, sikap sombong haram dilakukan di dunia dan di surga. Al-Kibriya’ (kesombongan atau keagungan) adalah salah satu sifat Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah al-Mutakabbir (Mahasombong atau Maha Memiliki segala Keagungan) Yang boleh bersikap sombong hanya yang berhak untuk sombong, dan tidak ada yang berhak untuk itu kecuali Allah Jalla wa ‘Ala. Oleh sebab itulah Allah disebut sebagai al-Mutakabbir. Sedangkan selain Allah tidak berhak untuk menyombongkan diri, siapa pun itu. Selain Allah tidak berhak untuk sombong. Apa yang mau disombongkan?! Terlebih lagi manusia, apa yang mau ia sombongkan?! Sebagaimana dikatakan, “Digigit kutu merasa sakit, dan dapat mati hanya karena tersedak makanan.” Lalu apa yang dapat ia sombongkan?! Ia keluar dua kali dari lubang kencing selama hidupnya; keluar dari ayahnya dan dari ibunya. Apa yang mau ia sombongkan?! Allah Tabaraka wa Ta’ala menjauhkan Iblis dari rahmat-Nya. Dari sinilah ia disebut Iblis, karena ia terputus dari rahmat Allah Tabaraka wa Ta’ala, karena ia sombong dan enggan menjalankan perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sungguh kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf: 13) Ditetapkanlah dari Allah Tabaraka wa Ta’ala hukum yang bertentangan dengan tujuannya untuk sombong. Iblis berbuat sombong sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikannya hina dina. ====================================================================================================== الْكِبْرُ مُحَرَّمٌ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا الْكِبْرُ مُحَرَّمٌ وَلِذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ وَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعِزَّةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي شَيْئًا مِنْهَا أَدْخَلْتُهُ النَّارَ فَالْكِبْرُ مُحَرَّمٌ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْجَنَّةِ وَالْكِبْرِيَاءُ صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِ اللهِ وَاللهُ هُوَ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالَّذِي يَتَكَبَّرُ مَنْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ وَلَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ جَلَّ وَعَلَا لِذَلِكَ تُسَمَّى بِالْمُتَكَبِّرِ أَمَّا غَيْرُ اللهِ فَلَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ يَتَكَبَّرَ أَيًّا كَانَ لَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ يَتَكَبَّرَ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ خَاصَّةً ابْنُ آدَمَ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ كَمَا قَالُوا تُؤْذِيْهِ بَقَّةٌ وَتَقْتُلُهُ شَرْقَةٌ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ خَرَجَ مِنْ مَخْرَجِ الْبَوْلِ مَرَّتَيْنِ فِي حَيَاتِهِ مِنْ أَبِيهِ وَمِنْ أُمِّهِ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ فَاللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى طَرَدَ إِبْلِيسَ مِنْ رَحْمَتِهِ وَمِنْهُ سُمِّيَ إِبْلِيسَ أَيْ الْمُبْلِسُ الْآيِسُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِأَنَّهُ تَكَبَّرَ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِيْنَ فَجَاءَ الْحُكْمُ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ بِنَقِيضِ قَصْدِهِ تَكَبَّرَ جَعَلَهُ صَاغِرًا ذَلِيلًا حَقِيرًا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  

Mengapa Orang Sombong Tidak Masuk Surga? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Mengapa Orang Sombong Tidak Masuk Surga? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Bersikap sombong haram hukumnya “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sungguh kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37) Bersikap sombong hukumnya haram. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah.” Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah pakaian-Ku. Barangsiapa yang menyaingi-Ku dengannya, maka Aku akan memasukkannya ke dalam neraka.” Jadi, sikap sombong haram dilakukan di dunia dan di surga. Al-Kibriya’ (kesombongan atau keagungan) adalah salah satu sifat Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah al-Mutakabbir (Mahasombong atau Maha Memiliki segala Keagungan) Yang boleh bersikap sombong hanya yang berhak untuk sombong, dan tidak ada yang berhak untuk itu kecuali Allah Jalla wa ‘Ala. Oleh sebab itulah Allah disebut sebagai al-Mutakabbir. Sedangkan selain Allah tidak berhak untuk menyombongkan diri, siapa pun itu. Selain Allah tidak berhak untuk sombong. Apa yang mau disombongkan?! Terlebih lagi manusia, apa yang mau ia sombongkan?! Sebagaimana dikatakan, “Digigit kutu merasa sakit, dan dapat mati hanya karena tersedak makanan.” Lalu apa yang dapat ia sombongkan?! Ia keluar dua kali dari lubang kencing selama hidupnya; keluar dari ayahnya dan dari ibunya. Apa yang mau ia sombongkan?! Allah Tabaraka wa Ta’ala menjauhkan Iblis dari rahmat-Nya. Dari sinilah ia disebut Iblis, karena ia terputus dari rahmat Allah Tabaraka wa Ta’ala, karena ia sombong dan enggan menjalankan perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sungguh kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf: 13) Ditetapkanlah dari Allah Tabaraka wa Ta’ala hukum yang bertentangan dengan tujuannya untuk sombong. Iblis berbuat sombong sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikannya hina dina. ====================================================================================================== الْكِبْرُ مُحَرَّمٌ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا الْكِبْرُ مُحَرَّمٌ وَلِذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ وَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعِزَّةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي شَيْئًا مِنْهَا أَدْخَلْتُهُ النَّارَ فَالْكِبْرُ مُحَرَّمٌ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْجَنَّةِ وَالْكِبْرِيَاءُ صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِ اللهِ وَاللهُ هُوَ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالَّذِي يَتَكَبَّرُ مَنْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ وَلَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ جَلَّ وَعَلَا لِذَلِكَ تُسَمَّى بِالْمُتَكَبِّرِ أَمَّا غَيْرُ اللهِ فَلَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ يَتَكَبَّرَ أَيًّا كَانَ لَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ يَتَكَبَّرَ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ خَاصَّةً ابْنُ آدَمَ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ كَمَا قَالُوا تُؤْذِيْهِ بَقَّةٌ وَتَقْتُلُهُ شَرْقَةٌ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ خَرَجَ مِنْ مَخْرَجِ الْبَوْلِ مَرَّتَيْنِ فِي حَيَاتِهِ مِنْ أَبِيهِ وَمِنْ أُمِّهِ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ فَاللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى طَرَدَ إِبْلِيسَ مِنْ رَحْمَتِهِ وَمِنْهُ سُمِّيَ إِبْلِيسَ أَيْ الْمُبْلِسُ الْآيِسُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِأَنَّهُ تَكَبَّرَ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِيْنَ فَجَاءَ الْحُكْمُ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ بِنَقِيضِ قَصْدِهِ تَكَبَّرَ جَعَلَهُ صَاغِرًا ذَلِيلًا حَقِيرًا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  
Mengapa Orang Sombong Tidak Masuk Surga? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Bersikap sombong haram hukumnya “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sungguh kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37) Bersikap sombong hukumnya haram. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah.” Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah pakaian-Ku. Barangsiapa yang menyaingi-Ku dengannya, maka Aku akan memasukkannya ke dalam neraka.” Jadi, sikap sombong haram dilakukan di dunia dan di surga. Al-Kibriya’ (kesombongan atau keagungan) adalah salah satu sifat Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah al-Mutakabbir (Mahasombong atau Maha Memiliki segala Keagungan) Yang boleh bersikap sombong hanya yang berhak untuk sombong, dan tidak ada yang berhak untuk itu kecuali Allah Jalla wa ‘Ala. Oleh sebab itulah Allah disebut sebagai al-Mutakabbir. Sedangkan selain Allah tidak berhak untuk menyombongkan diri, siapa pun itu. Selain Allah tidak berhak untuk sombong. Apa yang mau disombongkan?! Terlebih lagi manusia, apa yang mau ia sombongkan?! Sebagaimana dikatakan, “Digigit kutu merasa sakit, dan dapat mati hanya karena tersedak makanan.” Lalu apa yang dapat ia sombongkan?! Ia keluar dua kali dari lubang kencing selama hidupnya; keluar dari ayahnya dan dari ibunya. Apa yang mau ia sombongkan?! Allah Tabaraka wa Ta’ala menjauhkan Iblis dari rahmat-Nya. Dari sinilah ia disebut Iblis, karena ia terputus dari rahmat Allah Tabaraka wa Ta’ala, karena ia sombong dan enggan menjalankan perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sungguh kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf: 13) Ditetapkanlah dari Allah Tabaraka wa Ta’ala hukum yang bertentangan dengan tujuannya untuk sombong. Iblis berbuat sombong sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikannya hina dina. ====================================================================================================== الْكِبْرُ مُحَرَّمٌ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا الْكِبْرُ مُحَرَّمٌ وَلِذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ وَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعِزَّةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي شَيْئًا مِنْهَا أَدْخَلْتُهُ النَّارَ فَالْكِبْرُ مُحَرَّمٌ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْجَنَّةِ وَالْكِبْرِيَاءُ صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِ اللهِ وَاللهُ هُوَ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالَّذِي يَتَكَبَّرُ مَنْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ وَلَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ جَلَّ وَعَلَا لِذَلِكَ تُسَمَّى بِالْمُتَكَبِّرِ أَمَّا غَيْرُ اللهِ فَلَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ يَتَكَبَّرَ أَيًّا كَانَ لَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ يَتَكَبَّرَ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ خَاصَّةً ابْنُ آدَمَ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ كَمَا قَالُوا تُؤْذِيْهِ بَقَّةٌ وَتَقْتُلُهُ شَرْقَةٌ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ خَرَجَ مِنْ مَخْرَجِ الْبَوْلِ مَرَّتَيْنِ فِي حَيَاتِهِ مِنْ أَبِيهِ وَمِنْ أُمِّهِ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ فَاللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى طَرَدَ إِبْلِيسَ مِنْ رَحْمَتِهِ وَمِنْهُ سُمِّيَ إِبْلِيسَ أَيْ الْمُبْلِسُ الْآيِسُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِأَنَّهُ تَكَبَّرَ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِيْنَ فَجَاءَ الْحُكْمُ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ بِنَقِيضِ قَصْدِهِ تَكَبَّرَ جَعَلَهُ صَاغِرًا ذَلِيلًا حَقِيرًا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  


Mengapa Orang Sombong Tidak Masuk Surga? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Bersikap sombong haram hukumnya “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sungguh kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37) Bersikap sombong hukumnya haram. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah.” Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah pakaian-Ku. Barangsiapa yang menyaingi-Ku dengannya, maka Aku akan memasukkannya ke dalam neraka.” Jadi, sikap sombong haram dilakukan di dunia dan di surga. Al-Kibriya’ (kesombongan atau keagungan) adalah salah satu sifat Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah al-Mutakabbir (Mahasombong atau Maha Memiliki segala Keagungan) Yang boleh bersikap sombong hanya yang berhak untuk sombong, dan tidak ada yang berhak untuk itu kecuali Allah Jalla wa ‘Ala. Oleh sebab itulah Allah disebut sebagai al-Mutakabbir. Sedangkan selain Allah tidak berhak untuk menyombongkan diri, siapa pun itu. Selain Allah tidak berhak untuk sombong. Apa yang mau disombongkan?! Terlebih lagi manusia, apa yang mau ia sombongkan?! Sebagaimana dikatakan, “Digigit kutu merasa sakit, dan dapat mati hanya karena tersedak makanan.” Lalu apa yang dapat ia sombongkan?! Ia keluar dua kali dari lubang kencing selama hidupnya; keluar dari ayahnya dan dari ibunya. Apa yang mau ia sombongkan?! Allah Tabaraka wa Ta’ala menjauhkan Iblis dari rahmat-Nya. Dari sinilah ia disebut Iblis, karena ia terputus dari rahmat Allah Tabaraka wa Ta’ala, karena ia sombong dan enggan menjalankan perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sungguh kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf: 13) Ditetapkanlah dari Allah Tabaraka wa Ta’ala hukum yang bertentangan dengan tujuannya untuk sombong. Iblis berbuat sombong sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikannya hina dina. ====================================================================================================== الْكِبْرُ مُحَرَّمٌ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا الْكِبْرُ مُحَرَّمٌ وَلِذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ وَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعِزَّةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي شَيْئًا مِنْهَا أَدْخَلْتُهُ النَّارَ فَالْكِبْرُ مُحَرَّمٌ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْجَنَّةِ وَالْكِبْرِيَاءُ صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِ اللهِ وَاللهُ هُوَ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالَّذِي يَتَكَبَّرُ مَنْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ وَلَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ جَلَّ وَعَلَا لِذَلِكَ تُسَمَّى بِالْمُتَكَبِّرِ أَمَّا غَيْرُ اللهِ فَلَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ يَتَكَبَّرَ أَيًّا كَانَ لَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ يَتَكَبَّرَ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ خَاصَّةً ابْنُ آدَمَ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ كَمَا قَالُوا تُؤْذِيْهِ بَقَّةٌ وَتَقْتُلُهُ شَرْقَةٌ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ خَرَجَ مِنْ مَخْرَجِ الْبَوْلِ مَرَّتَيْنِ فِي حَيَاتِهِ مِنْ أَبِيهِ وَمِنْ أُمِّهِ يَتَكَبَّرُ عَلَى مَاذَا؟ فَاللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى طَرَدَ إِبْلِيسَ مِنْ رَحْمَتِهِ وَمِنْهُ سُمِّيَ إِبْلِيسَ أَيْ الْمُبْلِسُ الْآيِسُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِأَنَّهُ تَكَبَّرَ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِيْنَ فَجَاءَ الْحُكْمُ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ بِنَقِيضِ قَصْدِهِ تَكَبَّرَ جَعَلَهُ صَاغِرًا ذَلِيلًا حَقِيرًا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  
Prev     Next