Penting: Niat dan Ilmu dalam Ibadah – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Ilmu adalah syarat untuk segala amalan. Oleh sebab itu, amalan tidak sah tanpa adanya ilmu. Oleh karena itu, Allah Jalla wa ʿAlā berfirman: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu …” (QS. Muhammad: 19) Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata:“Dia memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.” Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa ilmu menjadi syarat keabsahan setiap ibadah, karena keabsahan ibadah terikat dengan dua syarat: Syarat pertama, ibadah itu harus ikhlas karena Allah Jalla wa ʿAlā. Adapun syarat kedua, ia harus benar sesuai dengan apa yang Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam perintahkan. Inilah makna firman Allah Jalla wa ʿAlā “… untuk menguji kalian, siapa yang paling baik amalnya di antara kalian.” (QS. Al-Mulk: 2) Ibnu Abi ad-Dunya meriwayatkan dengan sanad yang sahih dalam kitab al-Ikhlāṣ, bahwa al-Fudhail bin ʿIyāḍ—semoga Allah merahmatinya—ketika membaca ayat ini, beliau mengatakan, “Amalan yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar.” Sungguh suatu amalan jika tanpa keikhlasan, maka tidak akan diterima. Begitu juga apabila tidak sesuai dengan sunah Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka tidak akan diterima. Penjelasannya, bahwa ilmu tentang yang benar dan sunah Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, serta penjabaran beliau tentang perintah-perintah syariat tidak akan mungkin diketahui kecuali jika seseorang mengetahui syariat Allah ʿAzza wa Jalla,mengerti batasan-batasan-Nya, dan memahami fikih terkait apa yang Allah ʿAzza wa Jalla perintahkan. Jadi, ilmu tentang Allah ʿAzza wa Jalla dan pengetahuan tentang hukum-hukum-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā merupakan syarat semua ibadah. Inilah maksud perkataan sebagian ulama bahwa ibadah jika dilakukan oleh orang berilmu maka pahalanya akan lebih besar daripada jika dilakukan oleh selainnya, karena orang berilmu mengetahui sunah-sunahnya lalu melakukannya,dan memahami perkara-perkara yang makruh dan terlarang, lalu menyengaja menjauhinya. Adapun yang tidak berilmu, mungkin sudah kebiasaannya melakukan yang terlarang, mungkin melakukan suatu perintah sekadar karena sudah terbiasa,atau mungkin tidak melakukan larangan sekadar karena rutinitasnya,sehingga dia tidak mendapatkan pahala walaupun meninggalkannya,karena pahala tergantung pada niat, padahal niat, sebagaimana dinyatakan oleh imam Syafi’i dan diikuti oleh para ulama, bahwa niat itu mengikuti ilmu, sehingga jika Anda tidak tahu bahwa perbuatan ini diperintahkan atau perbuatan itu terlarang, maka Anda tidak akan diberi pahala, kecuali jika Anda mengetahuinya. ==== أَنَّ الْعِلْمَ شَرْطٌ لِلْعَمَلِ جَمِيعًافَلَا يَصِحُّ عَمَلٌ بِدُونِ عِلْمٍ بِهِ وَلِذَلِكَ قَالَ رَبُّنَا جَلَّ وَعَلَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَبَدَأَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الْعِلْمَ شَرْطٌ لِكُلِّ عِبَادَةٍ صَحِيحَةٍ إِذْ لَا بُدَّ لِصِحَّةِ الْعِبَادَةِ مِنْ قَيْدَيْنِ الْقَيْدُ الْأَوَّلُ أَنْ تَكُونُ خَالِصَةً لِلهِ جَلَّ وَعَلَا وَالْقَيْدُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ صَحِيحَةً حَسْبَمَا أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا هُوَ مَعْنَى قَوْلِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا رَوَى ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا فِي كِتَابِ الْإِخْلَاصِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ أَنَّ الْفُضِيلَ بْنَ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَمَّا قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ قَالَ: أَحْسَنُ الْعَمَلِ أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا لَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا لَمْ يَكُنْ صَوَابًا عَلَى سُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُقْبَلْ وَبَيَانُ ذَلِكَ أَنَّ مَعْرِفَةَ الصَّوَابِ وَمَعْرِفَةَ سُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيَانَهُ لِلْأَوَامِرِ الشَّرْعِيَّةِ لَا يُمْكِنُ أَنْ تُعْرَفَ إِلَّا إِذَا كَانَ الْمَرْءُ عَالِمًا بِشَرْعِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَالِمًا بِحُدُودِهِ عَارِفًا بِفِقْهِ مَا أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ إِذَنْ فَإِنَّ الْعِلْمَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْعِلْمَ بِأَحْكَامِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَرْطٌ لِلْعِبَادَاتِ كُلِّهَا وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ إِنَّ الْعِبَادَةَ إِذَا فَعَلَهَا الْعَالِمُ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ عَلَيْهَا أَعْظَمَ مِنْ فِعْلِ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْعَالِمَ يَكُونُ عَالِمًا بِكُلِّ سُنَّةٍ مِنْ سُنَنِهَا فَيَأْتِيَهَا وَعَالِمٌ بِكُلِّ أَمْرٍ مِنَ الْمَكْرُوهَاتِ وَالْمَمْنُوعَاتِ فَيَجْتَنِبُهُ قَصْدًا وَأَمَّا غَيْرُهُ فَرُبَّمَا فَعَلَ هَذَا الْمَمْنُوعَ عَادَةً فَرُبَّمَا عَمَلَ هَذَا الْمَأْمُورَ عَادَةً وَرُبَّمَا انْكَفَّ عَنْ هَذَا الْمَنْهِيِّ عَنْهَا عَادَةً فَلَا يُؤْجَرُ عَلَى مُجَرَّدِ الْاِنْكِفَافِ إِذِ الْأَجْرُ مَبْنِيٌّ عَلَى نِيَّةٍ وَالنِّيَّةُ كَمَا قَرَّرَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ وَتَبِعَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ النِّيَّةَ تَبَعٌ لِلْعِلْمِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ مَأْمُورٌ بِهِ أَوْ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ فَإِنَّكَ لَا تُؤْجَرُ إِلَّا إِذَا كُنْتَ كَذَلِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Penting: Niat dan Ilmu dalam Ibadah – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Ilmu adalah syarat untuk segala amalan. Oleh sebab itu, amalan tidak sah tanpa adanya ilmu. Oleh karena itu, Allah Jalla wa ʿAlā berfirman: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu …” (QS. Muhammad: 19) Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata:“Dia memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.” Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa ilmu menjadi syarat keabsahan setiap ibadah, karena keabsahan ibadah terikat dengan dua syarat: Syarat pertama, ibadah itu harus ikhlas karena Allah Jalla wa ʿAlā. Adapun syarat kedua, ia harus benar sesuai dengan apa yang Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam perintahkan. Inilah makna firman Allah Jalla wa ʿAlā “… untuk menguji kalian, siapa yang paling baik amalnya di antara kalian.” (QS. Al-Mulk: 2) Ibnu Abi ad-Dunya meriwayatkan dengan sanad yang sahih dalam kitab al-Ikhlāṣ, bahwa al-Fudhail bin ʿIyāḍ—semoga Allah merahmatinya—ketika membaca ayat ini, beliau mengatakan, “Amalan yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar.” Sungguh suatu amalan jika tanpa keikhlasan, maka tidak akan diterima. Begitu juga apabila tidak sesuai dengan sunah Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka tidak akan diterima. Penjelasannya, bahwa ilmu tentang yang benar dan sunah Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, serta penjabaran beliau tentang perintah-perintah syariat tidak akan mungkin diketahui kecuali jika seseorang mengetahui syariat Allah ʿAzza wa Jalla,mengerti batasan-batasan-Nya, dan memahami fikih terkait apa yang Allah ʿAzza wa Jalla perintahkan. Jadi, ilmu tentang Allah ʿAzza wa Jalla dan pengetahuan tentang hukum-hukum-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā merupakan syarat semua ibadah. Inilah maksud perkataan sebagian ulama bahwa ibadah jika dilakukan oleh orang berilmu maka pahalanya akan lebih besar daripada jika dilakukan oleh selainnya, karena orang berilmu mengetahui sunah-sunahnya lalu melakukannya,dan memahami perkara-perkara yang makruh dan terlarang, lalu menyengaja menjauhinya. Adapun yang tidak berilmu, mungkin sudah kebiasaannya melakukan yang terlarang, mungkin melakukan suatu perintah sekadar karena sudah terbiasa,atau mungkin tidak melakukan larangan sekadar karena rutinitasnya,sehingga dia tidak mendapatkan pahala walaupun meninggalkannya,karena pahala tergantung pada niat, padahal niat, sebagaimana dinyatakan oleh imam Syafi’i dan diikuti oleh para ulama, bahwa niat itu mengikuti ilmu, sehingga jika Anda tidak tahu bahwa perbuatan ini diperintahkan atau perbuatan itu terlarang, maka Anda tidak akan diberi pahala, kecuali jika Anda mengetahuinya. ==== أَنَّ الْعِلْمَ شَرْطٌ لِلْعَمَلِ جَمِيعًافَلَا يَصِحُّ عَمَلٌ بِدُونِ عِلْمٍ بِهِ وَلِذَلِكَ قَالَ رَبُّنَا جَلَّ وَعَلَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَبَدَأَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الْعِلْمَ شَرْطٌ لِكُلِّ عِبَادَةٍ صَحِيحَةٍ إِذْ لَا بُدَّ لِصِحَّةِ الْعِبَادَةِ مِنْ قَيْدَيْنِ الْقَيْدُ الْأَوَّلُ أَنْ تَكُونُ خَالِصَةً لِلهِ جَلَّ وَعَلَا وَالْقَيْدُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ صَحِيحَةً حَسْبَمَا أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا هُوَ مَعْنَى قَوْلِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا رَوَى ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا فِي كِتَابِ الْإِخْلَاصِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ أَنَّ الْفُضِيلَ بْنَ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَمَّا قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ قَالَ: أَحْسَنُ الْعَمَلِ أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا لَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا لَمْ يَكُنْ صَوَابًا عَلَى سُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُقْبَلْ وَبَيَانُ ذَلِكَ أَنَّ مَعْرِفَةَ الصَّوَابِ وَمَعْرِفَةَ سُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيَانَهُ لِلْأَوَامِرِ الشَّرْعِيَّةِ لَا يُمْكِنُ أَنْ تُعْرَفَ إِلَّا إِذَا كَانَ الْمَرْءُ عَالِمًا بِشَرْعِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَالِمًا بِحُدُودِهِ عَارِفًا بِفِقْهِ مَا أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ إِذَنْ فَإِنَّ الْعِلْمَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْعِلْمَ بِأَحْكَامِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَرْطٌ لِلْعِبَادَاتِ كُلِّهَا وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ إِنَّ الْعِبَادَةَ إِذَا فَعَلَهَا الْعَالِمُ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ عَلَيْهَا أَعْظَمَ مِنْ فِعْلِ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْعَالِمَ يَكُونُ عَالِمًا بِكُلِّ سُنَّةٍ مِنْ سُنَنِهَا فَيَأْتِيَهَا وَعَالِمٌ بِكُلِّ أَمْرٍ مِنَ الْمَكْرُوهَاتِ وَالْمَمْنُوعَاتِ فَيَجْتَنِبُهُ قَصْدًا وَأَمَّا غَيْرُهُ فَرُبَّمَا فَعَلَ هَذَا الْمَمْنُوعَ عَادَةً فَرُبَّمَا عَمَلَ هَذَا الْمَأْمُورَ عَادَةً وَرُبَّمَا انْكَفَّ عَنْ هَذَا الْمَنْهِيِّ عَنْهَا عَادَةً فَلَا يُؤْجَرُ عَلَى مُجَرَّدِ الْاِنْكِفَافِ إِذِ الْأَجْرُ مَبْنِيٌّ عَلَى نِيَّةٍ وَالنِّيَّةُ كَمَا قَرَّرَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ وَتَبِعَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ النِّيَّةَ تَبَعٌ لِلْعِلْمِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ مَأْمُورٌ بِهِ أَوْ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ فَإِنَّكَ لَا تُؤْجَرُ إِلَّا إِذَا كُنْتَ كَذَلِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ilmu adalah syarat untuk segala amalan. Oleh sebab itu, amalan tidak sah tanpa adanya ilmu. Oleh karena itu, Allah Jalla wa ʿAlā berfirman: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu …” (QS. Muhammad: 19) Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata:“Dia memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.” Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa ilmu menjadi syarat keabsahan setiap ibadah, karena keabsahan ibadah terikat dengan dua syarat: Syarat pertama, ibadah itu harus ikhlas karena Allah Jalla wa ʿAlā. Adapun syarat kedua, ia harus benar sesuai dengan apa yang Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam perintahkan. Inilah makna firman Allah Jalla wa ʿAlā “… untuk menguji kalian, siapa yang paling baik amalnya di antara kalian.” (QS. Al-Mulk: 2) Ibnu Abi ad-Dunya meriwayatkan dengan sanad yang sahih dalam kitab al-Ikhlāṣ, bahwa al-Fudhail bin ʿIyāḍ—semoga Allah merahmatinya—ketika membaca ayat ini, beliau mengatakan, “Amalan yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar.” Sungguh suatu amalan jika tanpa keikhlasan, maka tidak akan diterima. Begitu juga apabila tidak sesuai dengan sunah Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka tidak akan diterima. Penjelasannya, bahwa ilmu tentang yang benar dan sunah Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, serta penjabaran beliau tentang perintah-perintah syariat tidak akan mungkin diketahui kecuali jika seseorang mengetahui syariat Allah ʿAzza wa Jalla,mengerti batasan-batasan-Nya, dan memahami fikih terkait apa yang Allah ʿAzza wa Jalla perintahkan. Jadi, ilmu tentang Allah ʿAzza wa Jalla dan pengetahuan tentang hukum-hukum-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā merupakan syarat semua ibadah. Inilah maksud perkataan sebagian ulama bahwa ibadah jika dilakukan oleh orang berilmu maka pahalanya akan lebih besar daripada jika dilakukan oleh selainnya, karena orang berilmu mengetahui sunah-sunahnya lalu melakukannya,dan memahami perkara-perkara yang makruh dan terlarang, lalu menyengaja menjauhinya. Adapun yang tidak berilmu, mungkin sudah kebiasaannya melakukan yang terlarang, mungkin melakukan suatu perintah sekadar karena sudah terbiasa,atau mungkin tidak melakukan larangan sekadar karena rutinitasnya,sehingga dia tidak mendapatkan pahala walaupun meninggalkannya,karena pahala tergantung pada niat, padahal niat, sebagaimana dinyatakan oleh imam Syafi’i dan diikuti oleh para ulama, bahwa niat itu mengikuti ilmu, sehingga jika Anda tidak tahu bahwa perbuatan ini diperintahkan atau perbuatan itu terlarang, maka Anda tidak akan diberi pahala, kecuali jika Anda mengetahuinya. ==== أَنَّ الْعِلْمَ شَرْطٌ لِلْعَمَلِ جَمِيعًافَلَا يَصِحُّ عَمَلٌ بِدُونِ عِلْمٍ بِهِ وَلِذَلِكَ قَالَ رَبُّنَا جَلَّ وَعَلَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَبَدَأَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الْعِلْمَ شَرْطٌ لِكُلِّ عِبَادَةٍ صَحِيحَةٍ إِذْ لَا بُدَّ لِصِحَّةِ الْعِبَادَةِ مِنْ قَيْدَيْنِ الْقَيْدُ الْأَوَّلُ أَنْ تَكُونُ خَالِصَةً لِلهِ جَلَّ وَعَلَا وَالْقَيْدُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ صَحِيحَةً حَسْبَمَا أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا هُوَ مَعْنَى قَوْلِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا رَوَى ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا فِي كِتَابِ الْإِخْلَاصِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ أَنَّ الْفُضِيلَ بْنَ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَمَّا قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ قَالَ: أَحْسَنُ الْعَمَلِ أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا لَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا لَمْ يَكُنْ صَوَابًا عَلَى سُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُقْبَلْ وَبَيَانُ ذَلِكَ أَنَّ مَعْرِفَةَ الصَّوَابِ وَمَعْرِفَةَ سُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيَانَهُ لِلْأَوَامِرِ الشَّرْعِيَّةِ لَا يُمْكِنُ أَنْ تُعْرَفَ إِلَّا إِذَا كَانَ الْمَرْءُ عَالِمًا بِشَرْعِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَالِمًا بِحُدُودِهِ عَارِفًا بِفِقْهِ مَا أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ إِذَنْ فَإِنَّ الْعِلْمَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْعِلْمَ بِأَحْكَامِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَرْطٌ لِلْعِبَادَاتِ كُلِّهَا وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ إِنَّ الْعِبَادَةَ إِذَا فَعَلَهَا الْعَالِمُ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ عَلَيْهَا أَعْظَمَ مِنْ فِعْلِ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْعَالِمَ يَكُونُ عَالِمًا بِكُلِّ سُنَّةٍ مِنْ سُنَنِهَا فَيَأْتِيَهَا وَعَالِمٌ بِكُلِّ أَمْرٍ مِنَ الْمَكْرُوهَاتِ وَالْمَمْنُوعَاتِ فَيَجْتَنِبُهُ قَصْدًا وَأَمَّا غَيْرُهُ فَرُبَّمَا فَعَلَ هَذَا الْمَمْنُوعَ عَادَةً فَرُبَّمَا عَمَلَ هَذَا الْمَأْمُورَ عَادَةً وَرُبَّمَا انْكَفَّ عَنْ هَذَا الْمَنْهِيِّ عَنْهَا عَادَةً فَلَا يُؤْجَرُ عَلَى مُجَرَّدِ الْاِنْكِفَافِ إِذِ الْأَجْرُ مَبْنِيٌّ عَلَى نِيَّةٍ وَالنِّيَّةُ كَمَا قَرَّرَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ وَتَبِعَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ النِّيَّةَ تَبَعٌ لِلْعِلْمِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ مَأْمُورٌ بِهِ أَوْ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ فَإِنَّكَ لَا تُؤْجَرُ إِلَّا إِذَا كُنْتَ كَذَلِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ilmu adalah syarat untuk segala amalan. Oleh sebab itu, amalan tidak sah tanpa adanya ilmu. Oleh karena itu, Allah Jalla wa ʿAlā berfirman: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu …” (QS. Muhammad: 19) Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata:“Dia memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.” Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa ilmu menjadi syarat keabsahan setiap ibadah, karena keabsahan ibadah terikat dengan dua syarat: Syarat pertama, ibadah itu harus ikhlas karena Allah Jalla wa ʿAlā. Adapun syarat kedua, ia harus benar sesuai dengan apa yang Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam perintahkan. Inilah makna firman Allah Jalla wa ʿAlā “… untuk menguji kalian, siapa yang paling baik amalnya di antara kalian.” (QS. Al-Mulk: 2) Ibnu Abi ad-Dunya meriwayatkan dengan sanad yang sahih dalam kitab al-Ikhlāṣ, bahwa al-Fudhail bin ʿIyāḍ—semoga Allah merahmatinya—ketika membaca ayat ini, beliau mengatakan, “Amalan yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar.” Sungguh suatu amalan jika tanpa keikhlasan, maka tidak akan diterima. Begitu juga apabila tidak sesuai dengan sunah Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka tidak akan diterima. Penjelasannya, bahwa ilmu tentang yang benar dan sunah Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, serta penjabaran beliau tentang perintah-perintah syariat tidak akan mungkin diketahui kecuali jika seseorang mengetahui syariat Allah ʿAzza wa Jalla,mengerti batasan-batasan-Nya, dan memahami fikih terkait apa yang Allah ʿAzza wa Jalla perintahkan. Jadi, ilmu tentang Allah ʿAzza wa Jalla dan pengetahuan tentang hukum-hukum-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā merupakan syarat semua ibadah. Inilah maksud perkataan sebagian ulama bahwa ibadah jika dilakukan oleh orang berilmu maka pahalanya akan lebih besar daripada jika dilakukan oleh selainnya, karena orang berilmu mengetahui sunah-sunahnya lalu melakukannya,dan memahami perkara-perkara yang makruh dan terlarang, lalu menyengaja menjauhinya. Adapun yang tidak berilmu, mungkin sudah kebiasaannya melakukan yang terlarang, mungkin melakukan suatu perintah sekadar karena sudah terbiasa,atau mungkin tidak melakukan larangan sekadar karena rutinitasnya,sehingga dia tidak mendapatkan pahala walaupun meninggalkannya,karena pahala tergantung pada niat, padahal niat, sebagaimana dinyatakan oleh imam Syafi’i dan diikuti oleh para ulama, bahwa niat itu mengikuti ilmu, sehingga jika Anda tidak tahu bahwa perbuatan ini diperintahkan atau perbuatan itu terlarang, maka Anda tidak akan diberi pahala, kecuali jika Anda mengetahuinya. ==== أَنَّ الْعِلْمَ شَرْطٌ لِلْعَمَلِ جَمِيعًافَلَا يَصِحُّ عَمَلٌ بِدُونِ عِلْمٍ بِهِ وَلِذَلِكَ قَالَ رَبُّنَا جَلَّ وَعَلَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَبَدَأَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الْعِلْمَ شَرْطٌ لِكُلِّ عِبَادَةٍ صَحِيحَةٍ إِذْ لَا بُدَّ لِصِحَّةِ الْعِبَادَةِ مِنْ قَيْدَيْنِ الْقَيْدُ الْأَوَّلُ أَنْ تَكُونُ خَالِصَةً لِلهِ جَلَّ وَعَلَا وَالْقَيْدُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ صَحِيحَةً حَسْبَمَا أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا هُوَ مَعْنَى قَوْلِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا رَوَى ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا فِي كِتَابِ الْإِخْلَاصِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ أَنَّ الْفُضِيلَ بْنَ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَمَّا قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ قَالَ: أَحْسَنُ الْعَمَلِ أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا لَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا لَمْ يَكُنْ صَوَابًا عَلَى سُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُقْبَلْ وَبَيَانُ ذَلِكَ أَنَّ مَعْرِفَةَ الصَّوَابِ وَمَعْرِفَةَ سُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيَانَهُ لِلْأَوَامِرِ الشَّرْعِيَّةِ لَا يُمْكِنُ أَنْ تُعْرَفَ إِلَّا إِذَا كَانَ الْمَرْءُ عَالِمًا بِشَرْعِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَالِمًا بِحُدُودِهِ عَارِفًا بِفِقْهِ مَا أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ إِذَنْ فَإِنَّ الْعِلْمَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْعِلْمَ بِأَحْكَامِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَرْطٌ لِلْعِبَادَاتِ كُلِّهَا وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ إِنَّ الْعِبَادَةَ إِذَا فَعَلَهَا الْعَالِمُ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ عَلَيْهَا أَعْظَمَ مِنْ فِعْلِ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْعَالِمَ يَكُونُ عَالِمًا بِكُلِّ سُنَّةٍ مِنْ سُنَنِهَا فَيَأْتِيَهَا وَعَالِمٌ بِكُلِّ أَمْرٍ مِنَ الْمَكْرُوهَاتِ وَالْمَمْنُوعَاتِ فَيَجْتَنِبُهُ قَصْدًا وَأَمَّا غَيْرُهُ فَرُبَّمَا فَعَلَ هَذَا الْمَمْنُوعَ عَادَةً فَرُبَّمَا عَمَلَ هَذَا الْمَأْمُورَ عَادَةً وَرُبَّمَا انْكَفَّ عَنْ هَذَا الْمَنْهِيِّ عَنْهَا عَادَةً فَلَا يُؤْجَرُ عَلَى مُجَرَّدِ الْاِنْكِفَافِ إِذِ الْأَجْرُ مَبْنِيٌّ عَلَى نِيَّةٍ وَالنِّيَّةُ كَمَا قَرَّرَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ وَتَبِعَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ النِّيَّةَ تَبَعٌ لِلْعِلْمِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ مَأْمُورٌ بِهِ أَوْ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ فَإِنَّكَ لَا تُؤْجَرُ إِلَّا إِذَا كُنْتَ كَذَلِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kebutuhan Pokok yang Terlupakan

Bismillah.Kebutuhan Manusia terhadap Ilmu AgamaKehidupan manusia di muka bumi tidak lepas dari berbagai kebutuhan. Dari sejak kecil kita sudah diajari mengenai hal-hal yang menjadi kebutuhan pokok manusia di dunia ini. Di antaranya adalah kebutuhan sandang (pakaian), pangan (makanan), papan (tempat tinggal), dan lain sebagainya.Namun, satu hal yang jarang kita dengar dan kita baca adalah kebutuhan pokok yang menjadi asas kebahagiaan dan keselamatan insan, yaitu ilmu agama.Mengapa kebutuhan manusia kepada ilmu disebut sebagai kebutuhan pokok, bahkan menjadi asas kebahagiaan? Jawabannya ada di dalam firman Allah,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Jawabannya juga ada di dalam firman Allah,وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)Jawabannya juga ada di dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Intinya adalah manusia tidak akan bisa hidup dengan benar dan meraih keselamatan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan beribadah kepada Allah. Sementara ibadah kepada Allah tidak bisa tidak harus dilandasi dengan ilmu agama. Oleh sebab itu, kebutuhan kepada ilmu agama ini jauh lebih penting dan mendesak daripada kebutuhan yang lainnya.Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu itu dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”Manusia akan bisa selamat dari kesesatan di dunia dan azab akhirat apabila ia memahami ilmu agama dan mengamalkannya. Hal ini telah diisyaratkan dalam firman Allah,فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ“Maka, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)Ilmu agama ini adalah kebutuhan pokok yang tidak boleh dikesampingkan atau diremehkan. Karenanya Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Sahih-nya dengan judul ‘Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan‘. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa setiap ucapan dan perbuatan yang tidak dilandasi dengan ilmu, maka ia akan menyimpang dari kebenaran.Terlebih lagi setiap kali salat, kita berdoa kepada Allah dalam setiap rakaat meminta hidayah kepada-Nya agar bisa meniti jalan yang lurus atau shirathal mustaqim. Sementara yang dimaksud jalan lurus itu adalah mengenali kebenaran dan mengamalkannya sebagaimana dijelaskan oleh seorang ahli tafsir masa kini, Syekh As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya. Hal ini semakin jelas menunjukkan kepada kita bahwa tanpa ilmu, manusia akan terjerumus dalam berbagai penyimpangan dan kesesatan. Oleh sebab itu, setiap hari seusai salat subuh kita diajari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berdoa meminta ilmu yang bermanfaat.Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Hakikat Ilmu yang BermanfaatHasan Al-Bashri berkata, “Ahli ilmu itu adalah yang amalnya sesuai dengan ilmunya. Barangsiapa amalnya menyelisihi ilmunya, maka itulah periwayat kabar berita di mana dia mendengar sesuatu lalu dia pun mengatakannya.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 248)Ada seorang perempuan berkata kepada Asy-Sya’bi, “Wahai orang yang ‘alim/ berilmu, berikanlah fatwa kepadaku.” Maka, beliau pun menjawab, “Sesungguhnya orang yang ‘alim adalah yang takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 166)Ar-Rabi’ bin Anas mengatakan, “Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah Ta’ala, maka sesungguhnya dia bukanlah seorang yang ‘alim/ berilmu.” Mujahid juga mengatakan, “Sesungguhnya orang yang benar-benar ‘alim ialah yang senantiasa merasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 166)Masruq berkata, “Cukuplah menjadi tanda keilmuan seorang tatkala dia merasa takut kepada Allah. Dan cukuplah menjadi tanda kebodohan seorang apabila dia merasa ujub dengan amalnya.” (lihat Min A’lam As-Salaf, 1: 23)Imam Al-Barbahari berkata, “Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- sesungguhnya ilmu bukanlah dengan memperbanyak riwayat dan kitab. Sesungguhnya orang berilmu adalah yang mengikuti ilmu dan sunah, meskipun ilmu dan kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia adalah penganut bid’ah, meskipun ilmu/ wawasan dan bukunya banyak.” (lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 163)Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu yang tertancap di dalam hati dan ilmu yang sekedar berhenti di lisan. Ilmu yang tertancap di hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya berhenti di lisan itu merupakan hujjah/ bukti bagi Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” (lihat Al-Iman, takhrij Al-Albani, hal. 22)Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Dahulu ibuku berpesan kepadaku, ‘Wahai anakku! Janganlah kamu menuntut ilmu, kecuali jika kamu berniat mengamalkannya. Kalau tidak, maka ia akan menjadi bencana bagimu di hari kiamat.’” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 579)Malik bin Dinar berkata, “Barangsiapa menimba ilmu untuk beramal, maka Allah akan berikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menimba ilmu bukan untuk beramal, maka semakin banyak ilmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 575-576)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal, namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah Al-Fatihah, hal. 25)Oleh sebab itu, setiap hari di dalam salat kita memohon kepada Allah agar diberikan hidayah menuju jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang diberikan nikmat. Di mana mereka itu adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka dia termasuk golongan yang dimurkai. Adapun orang yang beramal tanpa ilmu, maka dia termasuk golongan orang yang sesat. Hal ini menunjukkan bahwasanya untuk bisa beramal dan beribadah dengan benar dibutuhkan ilmu. Sehingga dengan cara itulah seorang insan akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus/ shirathal mustaqim. (lihat Minhatul Malik Al-Jalil, 1: 227)Oleh sebab itu, kita dapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang bersemangat untuk menimba ilmu sekaligus mengamalkannya. Tidaklah mereka melewati sekitar sepuluh ayat, melainkan mereka berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya. Mereka berkata, “Maka kami mempelajari ilmu dan amal secara bersama-sama.” (lihat Al-‘Ilmu, Wasa’iluhu wa Tsimaaruhu oleh Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, hal. 19)Semoga Allah beri taufik kepada kita semuanya.Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Manusia Luar Angkasa Menurut Al Quran, Bukti Bahwa Allah Itu Ada Menurut Islam, Ciri Ciri Wanita Sholeha, Negara Israel Dalam Al QuranTags: Aqidahaqidah islambelajar aqidahbelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampentingnya tauhidTauhid

Kebutuhan Pokok yang Terlupakan

Bismillah.Kebutuhan Manusia terhadap Ilmu AgamaKehidupan manusia di muka bumi tidak lepas dari berbagai kebutuhan. Dari sejak kecil kita sudah diajari mengenai hal-hal yang menjadi kebutuhan pokok manusia di dunia ini. Di antaranya adalah kebutuhan sandang (pakaian), pangan (makanan), papan (tempat tinggal), dan lain sebagainya.Namun, satu hal yang jarang kita dengar dan kita baca adalah kebutuhan pokok yang menjadi asas kebahagiaan dan keselamatan insan, yaitu ilmu agama.Mengapa kebutuhan manusia kepada ilmu disebut sebagai kebutuhan pokok, bahkan menjadi asas kebahagiaan? Jawabannya ada di dalam firman Allah,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Jawabannya juga ada di dalam firman Allah,وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)Jawabannya juga ada di dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Intinya adalah manusia tidak akan bisa hidup dengan benar dan meraih keselamatan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan beribadah kepada Allah. Sementara ibadah kepada Allah tidak bisa tidak harus dilandasi dengan ilmu agama. Oleh sebab itu, kebutuhan kepada ilmu agama ini jauh lebih penting dan mendesak daripada kebutuhan yang lainnya.Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu itu dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”Manusia akan bisa selamat dari kesesatan di dunia dan azab akhirat apabila ia memahami ilmu agama dan mengamalkannya. Hal ini telah diisyaratkan dalam firman Allah,فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ“Maka, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)Ilmu agama ini adalah kebutuhan pokok yang tidak boleh dikesampingkan atau diremehkan. Karenanya Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Sahih-nya dengan judul ‘Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan‘. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa setiap ucapan dan perbuatan yang tidak dilandasi dengan ilmu, maka ia akan menyimpang dari kebenaran.Terlebih lagi setiap kali salat, kita berdoa kepada Allah dalam setiap rakaat meminta hidayah kepada-Nya agar bisa meniti jalan yang lurus atau shirathal mustaqim. Sementara yang dimaksud jalan lurus itu adalah mengenali kebenaran dan mengamalkannya sebagaimana dijelaskan oleh seorang ahli tafsir masa kini, Syekh As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya. Hal ini semakin jelas menunjukkan kepada kita bahwa tanpa ilmu, manusia akan terjerumus dalam berbagai penyimpangan dan kesesatan. Oleh sebab itu, setiap hari seusai salat subuh kita diajari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berdoa meminta ilmu yang bermanfaat.Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Hakikat Ilmu yang BermanfaatHasan Al-Bashri berkata, “Ahli ilmu itu adalah yang amalnya sesuai dengan ilmunya. Barangsiapa amalnya menyelisihi ilmunya, maka itulah periwayat kabar berita di mana dia mendengar sesuatu lalu dia pun mengatakannya.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 248)Ada seorang perempuan berkata kepada Asy-Sya’bi, “Wahai orang yang ‘alim/ berilmu, berikanlah fatwa kepadaku.” Maka, beliau pun menjawab, “Sesungguhnya orang yang ‘alim adalah yang takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 166)Ar-Rabi’ bin Anas mengatakan, “Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah Ta’ala, maka sesungguhnya dia bukanlah seorang yang ‘alim/ berilmu.” Mujahid juga mengatakan, “Sesungguhnya orang yang benar-benar ‘alim ialah yang senantiasa merasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 166)Masruq berkata, “Cukuplah menjadi tanda keilmuan seorang tatkala dia merasa takut kepada Allah. Dan cukuplah menjadi tanda kebodohan seorang apabila dia merasa ujub dengan amalnya.” (lihat Min A’lam As-Salaf, 1: 23)Imam Al-Barbahari berkata, “Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- sesungguhnya ilmu bukanlah dengan memperbanyak riwayat dan kitab. Sesungguhnya orang berilmu adalah yang mengikuti ilmu dan sunah, meskipun ilmu dan kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia adalah penganut bid’ah, meskipun ilmu/ wawasan dan bukunya banyak.” (lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 163)Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu yang tertancap di dalam hati dan ilmu yang sekedar berhenti di lisan. Ilmu yang tertancap di hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya berhenti di lisan itu merupakan hujjah/ bukti bagi Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” (lihat Al-Iman, takhrij Al-Albani, hal. 22)Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Dahulu ibuku berpesan kepadaku, ‘Wahai anakku! Janganlah kamu menuntut ilmu, kecuali jika kamu berniat mengamalkannya. Kalau tidak, maka ia akan menjadi bencana bagimu di hari kiamat.’” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 579)Malik bin Dinar berkata, “Barangsiapa menimba ilmu untuk beramal, maka Allah akan berikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menimba ilmu bukan untuk beramal, maka semakin banyak ilmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 575-576)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal, namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah Al-Fatihah, hal. 25)Oleh sebab itu, setiap hari di dalam salat kita memohon kepada Allah agar diberikan hidayah menuju jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang diberikan nikmat. Di mana mereka itu adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka dia termasuk golongan yang dimurkai. Adapun orang yang beramal tanpa ilmu, maka dia termasuk golongan orang yang sesat. Hal ini menunjukkan bahwasanya untuk bisa beramal dan beribadah dengan benar dibutuhkan ilmu. Sehingga dengan cara itulah seorang insan akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus/ shirathal mustaqim. (lihat Minhatul Malik Al-Jalil, 1: 227)Oleh sebab itu, kita dapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang bersemangat untuk menimba ilmu sekaligus mengamalkannya. Tidaklah mereka melewati sekitar sepuluh ayat, melainkan mereka berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya. Mereka berkata, “Maka kami mempelajari ilmu dan amal secara bersama-sama.” (lihat Al-‘Ilmu, Wasa’iluhu wa Tsimaaruhu oleh Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, hal. 19)Semoga Allah beri taufik kepada kita semuanya.Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Manusia Luar Angkasa Menurut Al Quran, Bukti Bahwa Allah Itu Ada Menurut Islam, Ciri Ciri Wanita Sholeha, Negara Israel Dalam Al QuranTags: Aqidahaqidah islambelajar aqidahbelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampentingnya tauhidTauhid
Bismillah.Kebutuhan Manusia terhadap Ilmu AgamaKehidupan manusia di muka bumi tidak lepas dari berbagai kebutuhan. Dari sejak kecil kita sudah diajari mengenai hal-hal yang menjadi kebutuhan pokok manusia di dunia ini. Di antaranya adalah kebutuhan sandang (pakaian), pangan (makanan), papan (tempat tinggal), dan lain sebagainya.Namun, satu hal yang jarang kita dengar dan kita baca adalah kebutuhan pokok yang menjadi asas kebahagiaan dan keselamatan insan, yaitu ilmu agama.Mengapa kebutuhan manusia kepada ilmu disebut sebagai kebutuhan pokok, bahkan menjadi asas kebahagiaan? Jawabannya ada di dalam firman Allah,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Jawabannya juga ada di dalam firman Allah,وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)Jawabannya juga ada di dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Intinya adalah manusia tidak akan bisa hidup dengan benar dan meraih keselamatan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan beribadah kepada Allah. Sementara ibadah kepada Allah tidak bisa tidak harus dilandasi dengan ilmu agama. Oleh sebab itu, kebutuhan kepada ilmu agama ini jauh lebih penting dan mendesak daripada kebutuhan yang lainnya.Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu itu dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”Manusia akan bisa selamat dari kesesatan di dunia dan azab akhirat apabila ia memahami ilmu agama dan mengamalkannya. Hal ini telah diisyaratkan dalam firman Allah,فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ“Maka, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)Ilmu agama ini adalah kebutuhan pokok yang tidak boleh dikesampingkan atau diremehkan. Karenanya Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Sahih-nya dengan judul ‘Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan‘. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa setiap ucapan dan perbuatan yang tidak dilandasi dengan ilmu, maka ia akan menyimpang dari kebenaran.Terlebih lagi setiap kali salat, kita berdoa kepada Allah dalam setiap rakaat meminta hidayah kepada-Nya agar bisa meniti jalan yang lurus atau shirathal mustaqim. Sementara yang dimaksud jalan lurus itu adalah mengenali kebenaran dan mengamalkannya sebagaimana dijelaskan oleh seorang ahli tafsir masa kini, Syekh As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya. Hal ini semakin jelas menunjukkan kepada kita bahwa tanpa ilmu, manusia akan terjerumus dalam berbagai penyimpangan dan kesesatan. Oleh sebab itu, setiap hari seusai salat subuh kita diajari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berdoa meminta ilmu yang bermanfaat.Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Hakikat Ilmu yang BermanfaatHasan Al-Bashri berkata, “Ahli ilmu itu adalah yang amalnya sesuai dengan ilmunya. Barangsiapa amalnya menyelisihi ilmunya, maka itulah periwayat kabar berita di mana dia mendengar sesuatu lalu dia pun mengatakannya.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 248)Ada seorang perempuan berkata kepada Asy-Sya’bi, “Wahai orang yang ‘alim/ berilmu, berikanlah fatwa kepadaku.” Maka, beliau pun menjawab, “Sesungguhnya orang yang ‘alim adalah yang takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 166)Ar-Rabi’ bin Anas mengatakan, “Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah Ta’ala, maka sesungguhnya dia bukanlah seorang yang ‘alim/ berilmu.” Mujahid juga mengatakan, “Sesungguhnya orang yang benar-benar ‘alim ialah yang senantiasa merasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 166)Masruq berkata, “Cukuplah menjadi tanda keilmuan seorang tatkala dia merasa takut kepada Allah. Dan cukuplah menjadi tanda kebodohan seorang apabila dia merasa ujub dengan amalnya.” (lihat Min A’lam As-Salaf, 1: 23)Imam Al-Barbahari berkata, “Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- sesungguhnya ilmu bukanlah dengan memperbanyak riwayat dan kitab. Sesungguhnya orang berilmu adalah yang mengikuti ilmu dan sunah, meskipun ilmu dan kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia adalah penganut bid’ah, meskipun ilmu/ wawasan dan bukunya banyak.” (lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 163)Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu yang tertancap di dalam hati dan ilmu yang sekedar berhenti di lisan. Ilmu yang tertancap di hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya berhenti di lisan itu merupakan hujjah/ bukti bagi Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” (lihat Al-Iman, takhrij Al-Albani, hal. 22)Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Dahulu ibuku berpesan kepadaku, ‘Wahai anakku! Janganlah kamu menuntut ilmu, kecuali jika kamu berniat mengamalkannya. Kalau tidak, maka ia akan menjadi bencana bagimu di hari kiamat.’” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 579)Malik bin Dinar berkata, “Barangsiapa menimba ilmu untuk beramal, maka Allah akan berikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menimba ilmu bukan untuk beramal, maka semakin banyak ilmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 575-576)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal, namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah Al-Fatihah, hal. 25)Oleh sebab itu, setiap hari di dalam salat kita memohon kepada Allah agar diberikan hidayah menuju jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang diberikan nikmat. Di mana mereka itu adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka dia termasuk golongan yang dimurkai. Adapun orang yang beramal tanpa ilmu, maka dia termasuk golongan orang yang sesat. Hal ini menunjukkan bahwasanya untuk bisa beramal dan beribadah dengan benar dibutuhkan ilmu. Sehingga dengan cara itulah seorang insan akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus/ shirathal mustaqim. (lihat Minhatul Malik Al-Jalil, 1: 227)Oleh sebab itu, kita dapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang bersemangat untuk menimba ilmu sekaligus mengamalkannya. Tidaklah mereka melewati sekitar sepuluh ayat, melainkan mereka berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya. Mereka berkata, “Maka kami mempelajari ilmu dan amal secara bersama-sama.” (lihat Al-‘Ilmu, Wasa’iluhu wa Tsimaaruhu oleh Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, hal. 19)Semoga Allah beri taufik kepada kita semuanya.Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Manusia Luar Angkasa Menurut Al Quran, Bukti Bahwa Allah Itu Ada Menurut Islam, Ciri Ciri Wanita Sholeha, Negara Israel Dalam Al QuranTags: Aqidahaqidah islambelajar aqidahbelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampentingnya tauhidTauhid


Bismillah.Kebutuhan Manusia terhadap Ilmu AgamaKehidupan manusia di muka bumi tidak lepas dari berbagai kebutuhan. Dari sejak kecil kita sudah diajari mengenai hal-hal yang menjadi kebutuhan pokok manusia di dunia ini. Di antaranya adalah kebutuhan sandang (pakaian), pangan (makanan), papan (tempat tinggal), dan lain sebagainya.Namun, satu hal yang jarang kita dengar dan kita baca adalah kebutuhan pokok yang menjadi asas kebahagiaan dan keselamatan insan, yaitu ilmu agama.Mengapa kebutuhan manusia kepada ilmu disebut sebagai kebutuhan pokok, bahkan menjadi asas kebahagiaan? Jawabannya ada di dalam firman Allah,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Jawabannya juga ada di dalam firman Allah,وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)Jawabannya juga ada di dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Intinya adalah manusia tidak akan bisa hidup dengan benar dan meraih keselamatan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan beribadah kepada Allah. Sementara ibadah kepada Allah tidak bisa tidak harus dilandasi dengan ilmu agama. Oleh sebab itu, kebutuhan kepada ilmu agama ini jauh lebih penting dan mendesak daripada kebutuhan yang lainnya.Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu itu dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”Manusia akan bisa selamat dari kesesatan di dunia dan azab akhirat apabila ia memahami ilmu agama dan mengamalkannya. Hal ini telah diisyaratkan dalam firman Allah,فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ“Maka, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)Ilmu agama ini adalah kebutuhan pokok yang tidak boleh dikesampingkan atau diremehkan. Karenanya Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Sahih-nya dengan judul ‘Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan‘. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa setiap ucapan dan perbuatan yang tidak dilandasi dengan ilmu, maka ia akan menyimpang dari kebenaran.Terlebih lagi setiap kali salat, kita berdoa kepada Allah dalam setiap rakaat meminta hidayah kepada-Nya agar bisa meniti jalan yang lurus atau shirathal mustaqim. Sementara yang dimaksud jalan lurus itu adalah mengenali kebenaran dan mengamalkannya sebagaimana dijelaskan oleh seorang ahli tafsir masa kini, Syekh As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya. Hal ini semakin jelas menunjukkan kepada kita bahwa tanpa ilmu, manusia akan terjerumus dalam berbagai penyimpangan dan kesesatan. Oleh sebab itu, setiap hari seusai salat subuh kita diajari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berdoa meminta ilmu yang bermanfaat.Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Hakikat Ilmu yang BermanfaatHasan Al-Bashri berkata, “Ahli ilmu itu adalah yang amalnya sesuai dengan ilmunya. Barangsiapa amalnya menyelisihi ilmunya, maka itulah periwayat kabar berita di mana dia mendengar sesuatu lalu dia pun mengatakannya.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 248)Ada seorang perempuan berkata kepada Asy-Sya’bi, “Wahai orang yang ‘alim/ berilmu, berikanlah fatwa kepadaku.” Maka, beliau pun menjawab, “Sesungguhnya orang yang ‘alim adalah yang takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 166)Ar-Rabi’ bin Anas mengatakan, “Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah Ta’ala, maka sesungguhnya dia bukanlah seorang yang ‘alim/ berilmu.” Mujahid juga mengatakan, “Sesungguhnya orang yang benar-benar ‘alim ialah yang senantiasa merasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 166)Masruq berkata, “Cukuplah menjadi tanda keilmuan seorang tatkala dia merasa takut kepada Allah. Dan cukuplah menjadi tanda kebodohan seorang apabila dia merasa ujub dengan amalnya.” (lihat Min A’lam As-Salaf, 1: 23)Imam Al-Barbahari berkata, “Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- sesungguhnya ilmu bukanlah dengan memperbanyak riwayat dan kitab. Sesungguhnya orang berilmu adalah yang mengikuti ilmu dan sunah, meskipun ilmu dan kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia adalah penganut bid’ah, meskipun ilmu/ wawasan dan bukunya banyak.” (lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 163)Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu yang tertancap di dalam hati dan ilmu yang sekedar berhenti di lisan. Ilmu yang tertancap di hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya berhenti di lisan itu merupakan hujjah/ bukti bagi Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” (lihat Al-Iman, takhrij Al-Albani, hal. 22)Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Dahulu ibuku berpesan kepadaku, ‘Wahai anakku! Janganlah kamu menuntut ilmu, kecuali jika kamu berniat mengamalkannya. Kalau tidak, maka ia akan menjadi bencana bagimu di hari kiamat.’” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 579)Malik bin Dinar berkata, “Barangsiapa menimba ilmu untuk beramal, maka Allah akan berikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menimba ilmu bukan untuk beramal, maka semakin banyak ilmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 575-576)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal, namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah Al-Fatihah, hal. 25)Oleh sebab itu, setiap hari di dalam salat kita memohon kepada Allah agar diberikan hidayah menuju jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang diberikan nikmat. Di mana mereka itu adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka dia termasuk golongan yang dimurkai. Adapun orang yang beramal tanpa ilmu, maka dia termasuk golongan orang yang sesat. Hal ini menunjukkan bahwasanya untuk bisa beramal dan beribadah dengan benar dibutuhkan ilmu. Sehingga dengan cara itulah seorang insan akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus/ shirathal mustaqim. (lihat Minhatul Malik Al-Jalil, 1: 227)Oleh sebab itu, kita dapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang bersemangat untuk menimba ilmu sekaligus mengamalkannya. Tidaklah mereka melewati sekitar sepuluh ayat, melainkan mereka berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya. Mereka berkata, “Maka kami mempelajari ilmu dan amal secara bersama-sama.” (lihat Al-‘Ilmu, Wasa’iluhu wa Tsimaaruhu oleh Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, hal. 19)Semoga Allah beri taufik kepada kita semuanya.Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Manusia Luar Angkasa Menurut Al Quran, Bukti Bahwa Allah Itu Ada Menurut Islam, Ciri Ciri Wanita Sholeha, Negara Israel Dalam Al QuranTags: Aqidahaqidah islambelajar aqidahbelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampentingnya tauhidTauhid

Mengungkapkan Perasaan Supaya Lega?

Pertanyaan: Saya mau bertanya bagaimana hukumnya menyatakan perasaan kepada lawan jenis (bukan untuk mengajak pacaran) akan tetapi saat belum siap untuk menikah, tujuannya hanya agar lega saja apakah diperbolehkan? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Seorang lelaki mengungkapkan perasaan suka kepada wanita yang bukan mahram, bukan dengan maksud untuk menikahinya, perbuatan seperti ini tidak diperbolehkan. Demikian juga sebaliknya, wanita yang mengungkapkan perasaan suka kepada lelaki yang bukan mahram, tidak diperbolehkan. Karena: Pertama, ini termasuk merendahkan suara yang dilarang di dalam al-Qur’an. Karena ketika seorang wanita mengatakan “aku suka padamu” kepada orang lelaki, tentu akan timbul sesuatu dalam hatinya. Padahal Allah ta’ala berfirman: يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفاً “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. al-Ahzab: 32) Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini: “’janganlah kamu menundukkan suara‘, as-Suddi dan para ulama yang lain menyatakan, maksudnya adalah melembut-lembutkan perkataan ketika berbicara dengan lelaki. Oleh karena itu Allah berfirman ‘Sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya‘ maksudnya hatinya menjadi rusak.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/409) Ucapan “aku cinta kamu” atau “aku suka padamu” ini juga merupakan ucapan-ucapan yang semestinya dilontarkan kepada suami. Ibnu Katsir juga mengatakan ketika menjelaskan ayat di atas: “Maksudnya: janganlah para wanita berbicara kepada lelaki nonmahram seperti berbicara kepada suaminya sendiri.” (Tafsir Ibnu Katsir, 11/150) Kedua, menyatakan demikian tidak akan membuat lega, justru akan semakin membuat kasmaran, semakin galau, dan semakin terfitnah oleh lawan jenis. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ “Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) terhadap wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096, Muslim no. 2740) Kedua, jika sang akhwat berniat sekedar menyatakan perasaan, namun kemudian si ikhwan ternyata mengiyakan atau menyatakan perasaan yang sama, padahal mereka tidak siap nikah, yang terjadi adalah pacaran. Dan pacaran itu jelas keharamannya. Ketiga, adanya keinginan untuk menyatakan seperti itu, ini indikasi bahwa sang akhwat sudah terfitnah dan dikhawatirkan sudah terjerumus pada zina hati. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالةَ ، فزنا العينِ النظرُ ، وزنا اللسانِ المنطقُ ، والنفسُ تتمنى وتشتهي ، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه “Sesungguhnya Allah telah menakdirkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan (terhadap lawan jenis), dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya.” (HR. al-Bukhari no. 6243) Maka hendaknya bertaubat kepada Allah karena telah terjerumus pada zina hati. Solusinya,  * Jika sudah siap menikah, maka mintalah sang ikhwan untuk melamar segera. * Jika belum siap nikah maka putuskan segala hubungan dan interaksi untuk menjauhkan diri dari fitnah. Sibukkan diri dengan menuntut ilmu agama dan cari teman-teman yang jauh dari pembicaraan soal lawan jenis dan soal pacaran. Dan jagalah pandangan terhadap lawan jenis. Renungkan hadis berikut: أَنَّ عَلِيًّا ، قَالَ : سَأَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قَالَ : ” أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٌ لِلنِّسَاءِ ؟ ” فَلَمْ أَدْرِ مَا أَقُولُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِفَاطِمَةَ ، فَقَالَتْ : أَلا قُلْتَ لَهُ : خَيْرٌ لِلنِّسَاءِ أَنْ لا يَرَيْنَ الرِّجَالَ وَلا يَرَوْنَهُنَّ ، قَالَ : فَذَكَرْتُ قَوْلَ فَاطِمَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ” إِنَّهَا بِضْعَةٌ مِنِّي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا “ “Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ‘apa yang paling baik bagi wanita?’. Lalu Ali tidak tahu harus menjawab apa. Ia pun menceritakannya kepada Fatimah. Fatimah pun berkata: ‘katakanlah kepada beliau, yang paling baik bagi wanita adalah mereka tidak melihat para lelaki dan para lelaki tidak melihat mereka‘. Maka aku (Ali) sampaikan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda: ‘sungguh Fatimah adalah bagian dari diriku, semoga Allah meridhoinya‘.” (HR. Ibnu Abid Dunya dalam al-‘Iyal no. 409, semua perawinya tsiqah) Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Perbedaan Jin Dan Setan, Cara Mengatasi Masalah Rumah Tangga Secara Islam, Bahasa Arab Surga, Ibu Hamil Melayat Menurut Islam, Urutan Memotong Kuku Sesuai Sunnah, Puasa Taubat Visited 1,712 times, 11 visit(s) today Post Views: 748 QRIS donasi Yufid

Mengungkapkan Perasaan Supaya Lega?

Pertanyaan: Saya mau bertanya bagaimana hukumnya menyatakan perasaan kepada lawan jenis (bukan untuk mengajak pacaran) akan tetapi saat belum siap untuk menikah, tujuannya hanya agar lega saja apakah diperbolehkan? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Seorang lelaki mengungkapkan perasaan suka kepada wanita yang bukan mahram, bukan dengan maksud untuk menikahinya, perbuatan seperti ini tidak diperbolehkan. Demikian juga sebaliknya, wanita yang mengungkapkan perasaan suka kepada lelaki yang bukan mahram, tidak diperbolehkan. Karena: Pertama, ini termasuk merendahkan suara yang dilarang di dalam al-Qur’an. Karena ketika seorang wanita mengatakan “aku suka padamu” kepada orang lelaki, tentu akan timbul sesuatu dalam hatinya. Padahal Allah ta’ala berfirman: يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفاً “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. al-Ahzab: 32) Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini: “’janganlah kamu menundukkan suara‘, as-Suddi dan para ulama yang lain menyatakan, maksudnya adalah melembut-lembutkan perkataan ketika berbicara dengan lelaki. Oleh karena itu Allah berfirman ‘Sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya‘ maksudnya hatinya menjadi rusak.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/409) Ucapan “aku cinta kamu” atau “aku suka padamu” ini juga merupakan ucapan-ucapan yang semestinya dilontarkan kepada suami. Ibnu Katsir juga mengatakan ketika menjelaskan ayat di atas: “Maksudnya: janganlah para wanita berbicara kepada lelaki nonmahram seperti berbicara kepada suaminya sendiri.” (Tafsir Ibnu Katsir, 11/150) Kedua, menyatakan demikian tidak akan membuat lega, justru akan semakin membuat kasmaran, semakin galau, dan semakin terfitnah oleh lawan jenis. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ “Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) terhadap wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096, Muslim no. 2740) Kedua, jika sang akhwat berniat sekedar menyatakan perasaan, namun kemudian si ikhwan ternyata mengiyakan atau menyatakan perasaan yang sama, padahal mereka tidak siap nikah, yang terjadi adalah pacaran. Dan pacaran itu jelas keharamannya. Ketiga, adanya keinginan untuk menyatakan seperti itu, ini indikasi bahwa sang akhwat sudah terfitnah dan dikhawatirkan sudah terjerumus pada zina hati. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالةَ ، فزنا العينِ النظرُ ، وزنا اللسانِ المنطقُ ، والنفسُ تتمنى وتشتهي ، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه “Sesungguhnya Allah telah menakdirkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan (terhadap lawan jenis), dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya.” (HR. al-Bukhari no. 6243) Maka hendaknya bertaubat kepada Allah karena telah terjerumus pada zina hati. Solusinya,  * Jika sudah siap menikah, maka mintalah sang ikhwan untuk melamar segera. * Jika belum siap nikah maka putuskan segala hubungan dan interaksi untuk menjauhkan diri dari fitnah. Sibukkan diri dengan menuntut ilmu agama dan cari teman-teman yang jauh dari pembicaraan soal lawan jenis dan soal pacaran. Dan jagalah pandangan terhadap lawan jenis. Renungkan hadis berikut: أَنَّ عَلِيًّا ، قَالَ : سَأَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قَالَ : ” أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٌ لِلنِّسَاءِ ؟ ” فَلَمْ أَدْرِ مَا أَقُولُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِفَاطِمَةَ ، فَقَالَتْ : أَلا قُلْتَ لَهُ : خَيْرٌ لِلنِّسَاءِ أَنْ لا يَرَيْنَ الرِّجَالَ وَلا يَرَوْنَهُنَّ ، قَالَ : فَذَكَرْتُ قَوْلَ فَاطِمَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ” إِنَّهَا بِضْعَةٌ مِنِّي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا “ “Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ‘apa yang paling baik bagi wanita?’. Lalu Ali tidak tahu harus menjawab apa. Ia pun menceritakannya kepada Fatimah. Fatimah pun berkata: ‘katakanlah kepada beliau, yang paling baik bagi wanita adalah mereka tidak melihat para lelaki dan para lelaki tidak melihat mereka‘. Maka aku (Ali) sampaikan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda: ‘sungguh Fatimah adalah bagian dari diriku, semoga Allah meridhoinya‘.” (HR. Ibnu Abid Dunya dalam al-‘Iyal no. 409, semua perawinya tsiqah) Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Perbedaan Jin Dan Setan, Cara Mengatasi Masalah Rumah Tangga Secara Islam, Bahasa Arab Surga, Ibu Hamil Melayat Menurut Islam, Urutan Memotong Kuku Sesuai Sunnah, Puasa Taubat Visited 1,712 times, 11 visit(s) today Post Views: 748 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Saya mau bertanya bagaimana hukumnya menyatakan perasaan kepada lawan jenis (bukan untuk mengajak pacaran) akan tetapi saat belum siap untuk menikah, tujuannya hanya agar lega saja apakah diperbolehkan? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Seorang lelaki mengungkapkan perasaan suka kepada wanita yang bukan mahram, bukan dengan maksud untuk menikahinya, perbuatan seperti ini tidak diperbolehkan. Demikian juga sebaliknya, wanita yang mengungkapkan perasaan suka kepada lelaki yang bukan mahram, tidak diperbolehkan. Karena: Pertama, ini termasuk merendahkan suara yang dilarang di dalam al-Qur’an. Karena ketika seorang wanita mengatakan “aku suka padamu” kepada orang lelaki, tentu akan timbul sesuatu dalam hatinya. Padahal Allah ta’ala berfirman: يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفاً “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. al-Ahzab: 32) Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini: “’janganlah kamu menundukkan suara‘, as-Suddi dan para ulama yang lain menyatakan, maksudnya adalah melembut-lembutkan perkataan ketika berbicara dengan lelaki. Oleh karena itu Allah berfirman ‘Sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya‘ maksudnya hatinya menjadi rusak.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/409) Ucapan “aku cinta kamu” atau “aku suka padamu” ini juga merupakan ucapan-ucapan yang semestinya dilontarkan kepada suami. Ibnu Katsir juga mengatakan ketika menjelaskan ayat di atas: “Maksudnya: janganlah para wanita berbicara kepada lelaki nonmahram seperti berbicara kepada suaminya sendiri.” (Tafsir Ibnu Katsir, 11/150) Kedua, menyatakan demikian tidak akan membuat lega, justru akan semakin membuat kasmaran, semakin galau, dan semakin terfitnah oleh lawan jenis. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ “Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) terhadap wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096, Muslim no. 2740) Kedua, jika sang akhwat berniat sekedar menyatakan perasaan, namun kemudian si ikhwan ternyata mengiyakan atau menyatakan perasaan yang sama, padahal mereka tidak siap nikah, yang terjadi adalah pacaran. Dan pacaran itu jelas keharamannya. Ketiga, adanya keinginan untuk menyatakan seperti itu, ini indikasi bahwa sang akhwat sudah terfitnah dan dikhawatirkan sudah terjerumus pada zina hati. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالةَ ، فزنا العينِ النظرُ ، وزنا اللسانِ المنطقُ ، والنفسُ تتمنى وتشتهي ، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه “Sesungguhnya Allah telah menakdirkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan (terhadap lawan jenis), dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya.” (HR. al-Bukhari no. 6243) Maka hendaknya bertaubat kepada Allah karena telah terjerumus pada zina hati. Solusinya,  * Jika sudah siap menikah, maka mintalah sang ikhwan untuk melamar segera. * Jika belum siap nikah maka putuskan segala hubungan dan interaksi untuk menjauhkan diri dari fitnah. Sibukkan diri dengan menuntut ilmu agama dan cari teman-teman yang jauh dari pembicaraan soal lawan jenis dan soal pacaran. Dan jagalah pandangan terhadap lawan jenis. Renungkan hadis berikut: أَنَّ عَلِيًّا ، قَالَ : سَأَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قَالَ : ” أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٌ لِلنِّسَاءِ ؟ ” فَلَمْ أَدْرِ مَا أَقُولُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِفَاطِمَةَ ، فَقَالَتْ : أَلا قُلْتَ لَهُ : خَيْرٌ لِلنِّسَاءِ أَنْ لا يَرَيْنَ الرِّجَالَ وَلا يَرَوْنَهُنَّ ، قَالَ : فَذَكَرْتُ قَوْلَ فَاطِمَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ” إِنَّهَا بِضْعَةٌ مِنِّي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا “ “Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ‘apa yang paling baik bagi wanita?’. Lalu Ali tidak tahu harus menjawab apa. Ia pun menceritakannya kepada Fatimah. Fatimah pun berkata: ‘katakanlah kepada beliau, yang paling baik bagi wanita adalah mereka tidak melihat para lelaki dan para lelaki tidak melihat mereka‘. Maka aku (Ali) sampaikan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda: ‘sungguh Fatimah adalah bagian dari diriku, semoga Allah meridhoinya‘.” (HR. Ibnu Abid Dunya dalam al-‘Iyal no. 409, semua perawinya tsiqah) Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Perbedaan Jin Dan Setan, Cara Mengatasi Masalah Rumah Tangga Secara Islam, Bahasa Arab Surga, Ibu Hamil Melayat Menurut Islam, Urutan Memotong Kuku Sesuai Sunnah, Puasa Taubat Visited 1,712 times, 11 visit(s) today Post Views: 748 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1343118658&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Saya mau bertanya bagaimana hukumnya menyatakan perasaan kepada lawan jenis (bukan untuk mengajak pacaran) akan tetapi saat belum siap untuk menikah, tujuannya hanya agar lega saja apakah diperbolehkan? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Seorang lelaki mengungkapkan perasaan suka kepada wanita yang bukan mahram, bukan dengan maksud untuk menikahinya, perbuatan seperti ini tidak diperbolehkan. Demikian juga sebaliknya, wanita yang mengungkapkan perasaan suka kepada lelaki yang bukan mahram, tidak diperbolehkan. Karena: Pertama, ini termasuk merendahkan suara yang dilarang di dalam al-Qur’an. Karena ketika seorang wanita mengatakan “aku suka padamu” kepada orang lelaki, tentu akan timbul sesuatu dalam hatinya. Padahal Allah ta’ala berfirman: يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفاً “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. al-Ahzab: 32) Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini: “’janganlah kamu menundukkan suara‘, as-Suddi dan para ulama yang lain menyatakan, maksudnya adalah melembut-lembutkan perkataan ketika berbicara dengan lelaki. Oleh karena itu Allah berfirman ‘Sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya‘ maksudnya hatinya menjadi rusak.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/409) Ucapan “aku cinta kamu” atau “aku suka padamu” ini juga merupakan ucapan-ucapan yang semestinya dilontarkan kepada suami. Ibnu Katsir juga mengatakan ketika menjelaskan ayat di atas: “Maksudnya: janganlah para wanita berbicara kepada lelaki nonmahram seperti berbicara kepada suaminya sendiri.” (Tafsir Ibnu Katsir, 11/150) Kedua, menyatakan demikian tidak akan membuat lega, justru akan semakin membuat kasmaran, semakin galau, dan semakin terfitnah oleh lawan jenis. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ “Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) terhadap wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096, Muslim no. 2740) Kedua, jika sang akhwat berniat sekedar menyatakan perasaan, namun kemudian si ikhwan ternyata mengiyakan atau menyatakan perasaan yang sama, padahal mereka tidak siap nikah, yang terjadi adalah pacaran. Dan pacaran itu jelas keharamannya. Ketiga, adanya keinginan untuk menyatakan seperti itu, ini indikasi bahwa sang akhwat sudah terfitnah dan dikhawatirkan sudah terjerumus pada zina hati. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالةَ ، فزنا العينِ النظرُ ، وزنا اللسانِ المنطقُ ، والنفسُ تتمنى وتشتهي ، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه “Sesungguhnya Allah telah menakdirkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan (terhadap lawan jenis), dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya.” (HR. al-Bukhari no. 6243) Maka hendaknya bertaubat kepada Allah karena telah terjerumus pada zina hati. Solusinya,  * Jika sudah siap menikah, maka mintalah sang ikhwan untuk melamar segera. * Jika belum siap nikah maka putuskan segala hubungan dan interaksi untuk menjauhkan diri dari fitnah. Sibukkan diri dengan menuntut ilmu agama dan cari teman-teman yang jauh dari pembicaraan soal lawan jenis dan soal pacaran. Dan jagalah pandangan terhadap lawan jenis. Renungkan hadis berikut: أَنَّ عَلِيًّا ، قَالَ : سَأَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قَالَ : ” أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٌ لِلنِّسَاءِ ؟ ” فَلَمْ أَدْرِ مَا أَقُولُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِفَاطِمَةَ ، فَقَالَتْ : أَلا قُلْتَ لَهُ : خَيْرٌ لِلنِّسَاءِ أَنْ لا يَرَيْنَ الرِّجَالَ وَلا يَرَوْنَهُنَّ ، قَالَ : فَذَكَرْتُ قَوْلَ فَاطِمَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ” إِنَّهَا بِضْعَةٌ مِنِّي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا “ “Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ‘apa yang paling baik bagi wanita?’. Lalu Ali tidak tahu harus menjawab apa. Ia pun menceritakannya kepada Fatimah. Fatimah pun berkata: ‘katakanlah kepada beliau, yang paling baik bagi wanita adalah mereka tidak melihat para lelaki dan para lelaki tidak melihat mereka‘. Maka aku (Ali) sampaikan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda: ‘sungguh Fatimah adalah bagian dari diriku, semoga Allah meridhoinya‘.” (HR. Ibnu Abid Dunya dalam al-‘Iyal no. 409, semua perawinya tsiqah) Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Perbedaan Jin Dan Setan, Cara Mengatasi Masalah Rumah Tangga Secara Islam, Bahasa Arab Surga, Ibu Hamil Melayat Menurut Islam, Urutan Memotong Kuku Sesuai Sunnah, Puasa Taubat Visited 1,712 times, 11 visit(s) today Post Views: 748 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Pedoman Puasa di Bulan Muharam

Daftar Isi sembunyikan 1. Hukum berpuasa sebulan penuh di dalamnya 2. Puasa Asyura 3. Haruskah berpuasa pada hari Tasu’a (tanggal 9 Muharam) dan pada tanggal 11? Kita telah memasuki salah satu bulan haram/ suci yang telah Allah Ta’ala abadikan di dalam Al-Qur’an, kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ الشُّهور عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)Keempat bulan ini, namanya telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan di dalam hadisnya,إنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الذي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ“Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Di antara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan: Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, kemudian bulan Rajab suku Mudhar antara Jumadilakhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 4406 dan Muslim no. 1679)Ketahuilah wahai saudaraku, berpuasa di bulan suci Muharam ini merupakan salah satu puasa sunah yang paling utama. Karena Nabi telah menetapkan keutamaannya serta menekankan umatnya untuk mengamalkannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharam. Sedangkan salat yang paling utama setelah (salat) fardu adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,أفضل الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ ““Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut dengan ‘Muharam’.” (HR. Nasa’i di dalam Al-Kubra no. 2916 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 4: 291).Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya “Lathaif Al-Ma’arif” mengatakan,“Nabi memberi nama Muharam dengan ‘Bulan Allah’, penisbatan bulan tersebut kepada Allah menunjukkan kemulian dan keutamaannya. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menisbatkan kepada diri-Nya, kecuali makhluk-makhluk yang khusus dan tertentu sebagaimana Ia menisbatkan Nabi Muhammad, Ishak, Yakub dan nabi-nabi yang lain kepada penghambaan terhadap diri-Nya. Sebagaimana juga Allah Ta’ala menisbatkatkan ka’bah dan unta Nabi Shalih kepada-Nya. Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah yang Allah khususkan penisbatannya kepada diri-Nya, sehingga pengkhususan bulan Allah Muharam ini dengan amalan yang Allah sandarkan kepada diri-Nya dan khusus bagi-Nya, yaitu puasa, sangatlah cocok dan tepat.”Perihal berpuasa di dalam bulan Muharam ini, secara umum ada 2 pembahasan:Baca Juga: Hadis-Hadis Lemah Dan Palsu Tentang Keutamaan Hari ke-10 Muharram Hukum berpuasa sebulan penuh di dalamnyaPara ulama berselisih pendapat terkait maksud hadis,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharam.” (HR. Muslim no. 1163)Apakah maksudnya berpuasa selama sebulan penuh, ataukah di mayoritas harinya saja dan tidak seluruhnya?Pemahaman tekstual hadis di atas –wallahu a’lam- menunjukkan keutamaan berpuasa di bulan Muharam selama sebulan penuh. Sehingga sebagian ulama membolehkan berpuasa sunah sebulan penuh pada bulan Muharam. Di antaranya adalah Syekh Utsaimin dan Syekh Binbaz rahimahumallah di dalam fatwa mereka.Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa hadis di atas maksudnya adalah memperbanyak puasa pada mayoritas hari di bulan Muharam dan bukan seluruhnya. Hal ini berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,ما رأيتُ رسولَ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم استكمَلَ صيامَ شَهرٍ قَطُّ إلَّا رمضانَ، وما رأيتُه في شهرٍ أكثَرَ منه صيامًا في شعبانَ“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa pada suatu bulan daripada puasa di bulan Syakban.” (HR. Bukhari no. 1969, Muslim no. 1156, Abu Dawud no. 2434, sedangkan teks hadis di atas merupakan lafaz yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 25195)Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan di dalam kitabnya “Lathaif Al-Ma’arif”,أنه أفضل شهر تطوع بصيامه كاملًا بعد رمضان“Bahwasanya (bulan Muharam) merupakan bulan paling utama yang diperbolehkan seorang muslim untuk berpuasa sunah sebulan penuh setelah bulan Ramadan.”Para ulama menjelaskan bahwa Nabi tidak memperbanyak puasa di bulan Muharam karena adanya uzur atau karena Nabi tidak mengetahui keutamaan memperbanyak puasa di bulan ini, kecuali pada akhir masa kehidupan beliau.Baca Juga: Mengapa Dinamakan Bulan Muharram?Puasa AsyuraHari Asyura adalah hari di mana Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam beserta kaumnya dan hari di mana Allah menenggelamkan Firaun beserta bala tentaranya. Oleh karenanya, Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun juga berpuasa. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata,“Rasulullah sampai ke kota Madinah dan mendapati Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka, mereka ditanya tentang hal tersebut. Mereka pun menjawab, ‘Ini adalah hari di mana Allah Ta’ala memenangkan Nabi Musa dan Bani Israil atas Firaun. Oleh karenanya, kami berpuasa padanya sebagai bentuk pengagungan.’ Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,نحن أَولى بموسى منكم، فأمَرَ بصيامِه“Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.” Nabi kemudian memerintahkan umatnya untuk berpuasa di hari itu. (HR. Bukhari no. 4680 dan Muslim no. 1130)Puasa Nabi pada hari Asyura melalui 4 tahapan dan keadaan:Pertama: Nabi melakukan puasa tersebut di Makkah. Akan tetapi, tidak memerintahkan umatnya untuk melakukannya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كانت عاشوراءُ يومًا تصومُه قُرَيشٌ في الجاهليةِ، وكان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يصومُه، فلمَّا قَدِمَ المدينةَ صامه وأمر الناسَ بصيامِه، فلمَّا نزلت فريضةُ شهرِ رمضانَ كان رمضانُ هو الذي يصومُه، فترك صومَ عاشوراءَ، فمن شاء صامه، ومن شاء أفطر“Dulu, Asyura merupakan hari di mana orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah. Dan Nabi pun berpuasa pada hari tersebut. Lalu, ketika beliau tiba di Madinah, beliau pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan manusia agar berpuasa pada hari itu. Ketika turun kewajiban berpuasa Ramadan, maka Ramadan menjadi bulan di mana beliau berpuasa. Beliau meninggalkan puasa Asyura. Karena itu, barang siapa ingin berpuasa hari itu (hari Asyura), maka silakan ia berpuasa. Dan barang siapa yang ingin tidak berpuasa, maka silakan saja.” (HR. Bukhari no. 4504, Muslim no. 1125, Abu Dawud no. 2442 dan Tirmidzi no. 753)Kedua: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah sampai ke Madinah dan melihat ahli kitab berpuasa di hari Asyura dalam rangka menghormatinya, maka beliau pun berpuasa dan menyuruh umatnya untuk berpuasa juga. Bahkan, Nabi sangat menekankan dan memotivasi umatnya untuk berpuasa di hari Asyura, sampai-sampai anak kecil pun dilatih dan disertakan dalam puasa tersebut.Ketiga: Ketika syariat puasa Ramadan telah diperintahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa Asyura sebagaimana di dalam riwayat Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ عاشوراءَ يومٌ من أيَّامِ اللهِ، فمن شاء صامه، ومن شاء تركه“Sesungguhnya Asyura merupakan salah satu hari di antara hari-hari milik Allah Ta’ala. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Dan barangsiapa yang ingin tidak berpuasa, silakan tidak berpuasa.” (HR. Muslim no. 1126)Keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di akhir hayatnya berkeinginan untuk tidak berpuasa hanya pada hari Asyura saja. Akan tetapi, digabungkan dengan hari lainnya (tanggal 9 Muharam) sebagai bentuk menyelisihi puasa ahli Kitab. Sebagaimana yang dikisahkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,“Ketika Rasulullah puasa Asyura lalu memerintahkan para sahabatnya untuk ikut berpuasa, para sahabat mengatakan kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani!’ Maka, Nabi mengatakan, ‘Kalau begitu tahun depan insyaAllah kita akan berpuasa pada tanggal 9 juga.’”Ibnu Abbas mengatakan, “Belum datang tahun depan tersebut, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia.” (HR. Abu Dawud no. 2445).Berpuasa pada hari Asyura keutamaannya telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَه“Dan puasa hari Asyura saya berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa) tahun sebelumnya.” (HR. Muslim no. 1162)Baca Juga: 11 Amalan Bid’ah di Bulan MuharramHaruskah berpuasa pada hari Tasu’a (tanggal 9 Muharam) dan pada tanggal 11?Seorang muslim yang berpuasa pada hari Asyura ini, meskipun tidak dibarengi dengan berpuasa pada pada hari sebelumnya (tanggal sembilan), maka ia akan mendapatkan ganjaran yang besar ini, dan hal tersebut tidaklah dibenci. Berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengatakan makruhnya hal tersebut. Adapun jika ia gabungkan dengan puasa pada hari sebelumnya, maka tentu itu lebih utama sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لَئِنْ بَقِيتُ أو لئِنْ عِشْتُ إلى قابلٍ لأصومَنَّ التاسِعَ“Seandainya umurku sampai tahun depan atau aku masih hidup, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan (tasyu’a).” (HR. Muslim no. 1134 dan Ibnu Majah no. 1736 dan lafaz ini merupakan lafaznya)Adapun hadis-hadis yang menyebutkan tentang berpuasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, atau bolehnya memilih sehari sebelumnya atau sesudahnya, maka tidak benar jika dimarfu’kan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan ibadah sifatnya tauqifiyyah. Tidak boleh dilakukan, kecuali jika ada dalilnya.Hanya saja kita perlu bersikap lemah lembut terhadap mereka yang berpendapat adanya berpuasa setelah Asyura, karena telah datang asar sahih berupa ucapan Ibnu ‘Abbas dalam masalah ini. Oleh karenanya, mereka yang berpuasa Asyura dengan sehari sebelumnya, serta sehari setelahnya, dan mereka yang mencukupkan puasa Asyura dan sehari setelahnya, maka tidak boleh dicemooh dan dicela.Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Amalan di Bulan MuharramBanyak Puasa di Bulan Muharram, Adakah Tuntunan?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: muslim.or.id Referensi:Lathoif Al-Ma’arif karya Ibnu RajabKarya tulis Syekh Doktor Nahhar Al-Utaiby hafidzhahullah berjudul “Ahkaamu Syahrillahi Al-Muharrami”, yang diterbitkan di website dorar.net.🔍 Dukhan, Sejarah Berdirinya Syiah, Makna Surat Al Ashr, Perkataan Sahabat Nabi, Semua Kehendak AllahTags: amalan dibulan muharrambulan muharrambulan sucifikih puasakeutamaan muharramkeutamaan puasaMuharramnasihatnasihat islampanduan puasapuasa di bulan muharrampuasa sunnah

Pedoman Puasa di Bulan Muharam

Daftar Isi sembunyikan 1. Hukum berpuasa sebulan penuh di dalamnya 2. Puasa Asyura 3. Haruskah berpuasa pada hari Tasu’a (tanggal 9 Muharam) dan pada tanggal 11? Kita telah memasuki salah satu bulan haram/ suci yang telah Allah Ta’ala abadikan di dalam Al-Qur’an, kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ الشُّهور عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)Keempat bulan ini, namanya telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan di dalam hadisnya,إنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الذي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ“Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Di antara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan: Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, kemudian bulan Rajab suku Mudhar antara Jumadilakhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 4406 dan Muslim no. 1679)Ketahuilah wahai saudaraku, berpuasa di bulan suci Muharam ini merupakan salah satu puasa sunah yang paling utama. Karena Nabi telah menetapkan keutamaannya serta menekankan umatnya untuk mengamalkannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharam. Sedangkan salat yang paling utama setelah (salat) fardu adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,أفضل الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ ““Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut dengan ‘Muharam’.” (HR. Nasa’i di dalam Al-Kubra no. 2916 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 4: 291).Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya “Lathaif Al-Ma’arif” mengatakan,“Nabi memberi nama Muharam dengan ‘Bulan Allah’, penisbatan bulan tersebut kepada Allah menunjukkan kemulian dan keutamaannya. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menisbatkan kepada diri-Nya, kecuali makhluk-makhluk yang khusus dan tertentu sebagaimana Ia menisbatkan Nabi Muhammad, Ishak, Yakub dan nabi-nabi yang lain kepada penghambaan terhadap diri-Nya. Sebagaimana juga Allah Ta’ala menisbatkatkan ka’bah dan unta Nabi Shalih kepada-Nya. Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah yang Allah khususkan penisbatannya kepada diri-Nya, sehingga pengkhususan bulan Allah Muharam ini dengan amalan yang Allah sandarkan kepada diri-Nya dan khusus bagi-Nya, yaitu puasa, sangatlah cocok dan tepat.”Perihal berpuasa di dalam bulan Muharam ini, secara umum ada 2 pembahasan:Baca Juga: Hadis-Hadis Lemah Dan Palsu Tentang Keutamaan Hari ke-10 Muharram Hukum berpuasa sebulan penuh di dalamnyaPara ulama berselisih pendapat terkait maksud hadis,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharam.” (HR. Muslim no. 1163)Apakah maksudnya berpuasa selama sebulan penuh, ataukah di mayoritas harinya saja dan tidak seluruhnya?Pemahaman tekstual hadis di atas –wallahu a’lam- menunjukkan keutamaan berpuasa di bulan Muharam selama sebulan penuh. Sehingga sebagian ulama membolehkan berpuasa sunah sebulan penuh pada bulan Muharam. Di antaranya adalah Syekh Utsaimin dan Syekh Binbaz rahimahumallah di dalam fatwa mereka.Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa hadis di atas maksudnya adalah memperbanyak puasa pada mayoritas hari di bulan Muharam dan bukan seluruhnya. Hal ini berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,ما رأيتُ رسولَ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم استكمَلَ صيامَ شَهرٍ قَطُّ إلَّا رمضانَ، وما رأيتُه في شهرٍ أكثَرَ منه صيامًا في شعبانَ“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa pada suatu bulan daripada puasa di bulan Syakban.” (HR. Bukhari no. 1969, Muslim no. 1156, Abu Dawud no. 2434, sedangkan teks hadis di atas merupakan lafaz yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 25195)Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan di dalam kitabnya “Lathaif Al-Ma’arif”,أنه أفضل شهر تطوع بصيامه كاملًا بعد رمضان“Bahwasanya (bulan Muharam) merupakan bulan paling utama yang diperbolehkan seorang muslim untuk berpuasa sunah sebulan penuh setelah bulan Ramadan.”Para ulama menjelaskan bahwa Nabi tidak memperbanyak puasa di bulan Muharam karena adanya uzur atau karena Nabi tidak mengetahui keutamaan memperbanyak puasa di bulan ini, kecuali pada akhir masa kehidupan beliau.Baca Juga: Mengapa Dinamakan Bulan Muharram?Puasa AsyuraHari Asyura adalah hari di mana Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam beserta kaumnya dan hari di mana Allah menenggelamkan Firaun beserta bala tentaranya. Oleh karenanya, Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun juga berpuasa. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata,“Rasulullah sampai ke kota Madinah dan mendapati Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka, mereka ditanya tentang hal tersebut. Mereka pun menjawab, ‘Ini adalah hari di mana Allah Ta’ala memenangkan Nabi Musa dan Bani Israil atas Firaun. Oleh karenanya, kami berpuasa padanya sebagai bentuk pengagungan.’ Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,نحن أَولى بموسى منكم، فأمَرَ بصيامِه“Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.” Nabi kemudian memerintahkan umatnya untuk berpuasa di hari itu. (HR. Bukhari no. 4680 dan Muslim no. 1130)Puasa Nabi pada hari Asyura melalui 4 tahapan dan keadaan:Pertama: Nabi melakukan puasa tersebut di Makkah. Akan tetapi, tidak memerintahkan umatnya untuk melakukannya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كانت عاشوراءُ يومًا تصومُه قُرَيشٌ في الجاهليةِ، وكان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يصومُه، فلمَّا قَدِمَ المدينةَ صامه وأمر الناسَ بصيامِه، فلمَّا نزلت فريضةُ شهرِ رمضانَ كان رمضانُ هو الذي يصومُه، فترك صومَ عاشوراءَ، فمن شاء صامه، ومن شاء أفطر“Dulu, Asyura merupakan hari di mana orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah. Dan Nabi pun berpuasa pada hari tersebut. Lalu, ketika beliau tiba di Madinah, beliau pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan manusia agar berpuasa pada hari itu. Ketika turun kewajiban berpuasa Ramadan, maka Ramadan menjadi bulan di mana beliau berpuasa. Beliau meninggalkan puasa Asyura. Karena itu, barang siapa ingin berpuasa hari itu (hari Asyura), maka silakan ia berpuasa. Dan barang siapa yang ingin tidak berpuasa, maka silakan saja.” (HR. Bukhari no. 4504, Muslim no. 1125, Abu Dawud no. 2442 dan Tirmidzi no. 753)Kedua: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah sampai ke Madinah dan melihat ahli kitab berpuasa di hari Asyura dalam rangka menghormatinya, maka beliau pun berpuasa dan menyuruh umatnya untuk berpuasa juga. Bahkan, Nabi sangat menekankan dan memotivasi umatnya untuk berpuasa di hari Asyura, sampai-sampai anak kecil pun dilatih dan disertakan dalam puasa tersebut.Ketiga: Ketika syariat puasa Ramadan telah diperintahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa Asyura sebagaimana di dalam riwayat Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ عاشوراءَ يومٌ من أيَّامِ اللهِ، فمن شاء صامه، ومن شاء تركه“Sesungguhnya Asyura merupakan salah satu hari di antara hari-hari milik Allah Ta’ala. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Dan barangsiapa yang ingin tidak berpuasa, silakan tidak berpuasa.” (HR. Muslim no. 1126)Keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di akhir hayatnya berkeinginan untuk tidak berpuasa hanya pada hari Asyura saja. Akan tetapi, digabungkan dengan hari lainnya (tanggal 9 Muharam) sebagai bentuk menyelisihi puasa ahli Kitab. Sebagaimana yang dikisahkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,“Ketika Rasulullah puasa Asyura lalu memerintahkan para sahabatnya untuk ikut berpuasa, para sahabat mengatakan kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani!’ Maka, Nabi mengatakan, ‘Kalau begitu tahun depan insyaAllah kita akan berpuasa pada tanggal 9 juga.’”Ibnu Abbas mengatakan, “Belum datang tahun depan tersebut, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia.” (HR. Abu Dawud no. 2445).Berpuasa pada hari Asyura keutamaannya telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَه“Dan puasa hari Asyura saya berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa) tahun sebelumnya.” (HR. Muslim no. 1162)Baca Juga: 11 Amalan Bid’ah di Bulan MuharramHaruskah berpuasa pada hari Tasu’a (tanggal 9 Muharam) dan pada tanggal 11?Seorang muslim yang berpuasa pada hari Asyura ini, meskipun tidak dibarengi dengan berpuasa pada pada hari sebelumnya (tanggal sembilan), maka ia akan mendapatkan ganjaran yang besar ini, dan hal tersebut tidaklah dibenci. Berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengatakan makruhnya hal tersebut. Adapun jika ia gabungkan dengan puasa pada hari sebelumnya, maka tentu itu lebih utama sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لَئِنْ بَقِيتُ أو لئِنْ عِشْتُ إلى قابلٍ لأصومَنَّ التاسِعَ“Seandainya umurku sampai tahun depan atau aku masih hidup, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan (tasyu’a).” (HR. Muslim no. 1134 dan Ibnu Majah no. 1736 dan lafaz ini merupakan lafaznya)Adapun hadis-hadis yang menyebutkan tentang berpuasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, atau bolehnya memilih sehari sebelumnya atau sesudahnya, maka tidak benar jika dimarfu’kan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan ibadah sifatnya tauqifiyyah. Tidak boleh dilakukan, kecuali jika ada dalilnya.Hanya saja kita perlu bersikap lemah lembut terhadap mereka yang berpendapat adanya berpuasa setelah Asyura, karena telah datang asar sahih berupa ucapan Ibnu ‘Abbas dalam masalah ini. Oleh karenanya, mereka yang berpuasa Asyura dengan sehari sebelumnya, serta sehari setelahnya, dan mereka yang mencukupkan puasa Asyura dan sehari setelahnya, maka tidak boleh dicemooh dan dicela.Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Amalan di Bulan MuharramBanyak Puasa di Bulan Muharram, Adakah Tuntunan?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: muslim.or.id Referensi:Lathoif Al-Ma’arif karya Ibnu RajabKarya tulis Syekh Doktor Nahhar Al-Utaiby hafidzhahullah berjudul “Ahkaamu Syahrillahi Al-Muharrami”, yang diterbitkan di website dorar.net.🔍 Dukhan, Sejarah Berdirinya Syiah, Makna Surat Al Ashr, Perkataan Sahabat Nabi, Semua Kehendak AllahTags: amalan dibulan muharrambulan muharrambulan sucifikih puasakeutamaan muharramkeutamaan puasaMuharramnasihatnasihat islampanduan puasapuasa di bulan muharrampuasa sunnah
Daftar Isi sembunyikan 1. Hukum berpuasa sebulan penuh di dalamnya 2. Puasa Asyura 3. Haruskah berpuasa pada hari Tasu’a (tanggal 9 Muharam) dan pada tanggal 11? Kita telah memasuki salah satu bulan haram/ suci yang telah Allah Ta’ala abadikan di dalam Al-Qur’an, kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ الشُّهور عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)Keempat bulan ini, namanya telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan di dalam hadisnya,إنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الذي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ“Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Di antara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan: Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, kemudian bulan Rajab suku Mudhar antara Jumadilakhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 4406 dan Muslim no. 1679)Ketahuilah wahai saudaraku, berpuasa di bulan suci Muharam ini merupakan salah satu puasa sunah yang paling utama. Karena Nabi telah menetapkan keutamaannya serta menekankan umatnya untuk mengamalkannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharam. Sedangkan salat yang paling utama setelah (salat) fardu adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,أفضل الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ ““Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut dengan ‘Muharam’.” (HR. Nasa’i di dalam Al-Kubra no. 2916 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 4: 291).Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya “Lathaif Al-Ma’arif” mengatakan,“Nabi memberi nama Muharam dengan ‘Bulan Allah’, penisbatan bulan tersebut kepada Allah menunjukkan kemulian dan keutamaannya. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menisbatkan kepada diri-Nya, kecuali makhluk-makhluk yang khusus dan tertentu sebagaimana Ia menisbatkan Nabi Muhammad, Ishak, Yakub dan nabi-nabi yang lain kepada penghambaan terhadap diri-Nya. Sebagaimana juga Allah Ta’ala menisbatkatkan ka’bah dan unta Nabi Shalih kepada-Nya. Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah yang Allah khususkan penisbatannya kepada diri-Nya, sehingga pengkhususan bulan Allah Muharam ini dengan amalan yang Allah sandarkan kepada diri-Nya dan khusus bagi-Nya, yaitu puasa, sangatlah cocok dan tepat.”Perihal berpuasa di dalam bulan Muharam ini, secara umum ada 2 pembahasan:Baca Juga: Hadis-Hadis Lemah Dan Palsu Tentang Keutamaan Hari ke-10 Muharram Hukum berpuasa sebulan penuh di dalamnyaPara ulama berselisih pendapat terkait maksud hadis,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharam.” (HR. Muslim no. 1163)Apakah maksudnya berpuasa selama sebulan penuh, ataukah di mayoritas harinya saja dan tidak seluruhnya?Pemahaman tekstual hadis di atas –wallahu a’lam- menunjukkan keutamaan berpuasa di bulan Muharam selama sebulan penuh. Sehingga sebagian ulama membolehkan berpuasa sunah sebulan penuh pada bulan Muharam. Di antaranya adalah Syekh Utsaimin dan Syekh Binbaz rahimahumallah di dalam fatwa mereka.Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa hadis di atas maksudnya adalah memperbanyak puasa pada mayoritas hari di bulan Muharam dan bukan seluruhnya. Hal ini berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,ما رأيتُ رسولَ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم استكمَلَ صيامَ شَهرٍ قَطُّ إلَّا رمضانَ، وما رأيتُه في شهرٍ أكثَرَ منه صيامًا في شعبانَ“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa pada suatu bulan daripada puasa di bulan Syakban.” (HR. Bukhari no. 1969, Muslim no. 1156, Abu Dawud no. 2434, sedangkan teks hadis di atas merupakan lafaz yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 25195)Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan di dalam kitabnya “Lathaif Al-Ma’arif”,أنه أفضل شهر تطوع بصيامه كاملًا بعد رمضان“Bahwasanya (bulan Muharam) merupakan bulan paling utama yang diperbolehkan seorang muslim untuk berpuasa sunah sebulan penuh setelah bulan Ramadan.”Para ulama menjelaskan bahwa Nabi tidak memperbanyak puasa di bulan Muharam karena adanya uzur atau karena Nabi tidak mengetahui keutamaan memperbanyak puasa di bulan ini, kecuali pada akhir masa kehidupan beliau.Baca Juga: Mengapa Dinamakan Bulan Muharram?Puasa AsyuraHari Asyura adalah hari di mana Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam beserta kaumnya dan hari di mana Allah menenggelamkan Firaun beserta bala tentaranya. Oleh karenanya, Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun juga berpuasa. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata,“Rasulullah sampai ke kota Madinah dan mendapati Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka, mereka ditanya tentang hal tersebut. Mereka pun menjawab, ‘Ini adalah hari di mana Allah Ta’ala memenangkan Nabi Musa dan Bani Israil atas Firaun. Oleh karenanya, kami berpuasa padanya sebagai bentuk pengagungan.’ Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,نحن أَولى بموسى منكم، فأمَرَ بصيامِه“Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.” Nabi kemudian memerintahkan umatnya untuk berpuasa di hari itu. (HR. Bukhari no. 4680 dan Muslim no. 1130)Puasa Nabi pada hari Asyura melalui 4 tahapan dan keadaan:Pertama: Nabi melakukan puasa tersebut di Makkah. Akan tetapi, tidak memerintahkan umatnya untuk melakukannya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كانت عاشوراءُ يومًا تصومُه قُرَيشٌ في الجاهليةِ، وكان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يصومُه، فلمَّا قَدِمَ المدينةَ صامه وأمر الناسَ بصيامِه، فلمَّا نزلت فريضةُ شهرِ رمضانَ كان رمضانُ هو الذي يصومُه، فترك صومَ عاشوراءَ، فمن شاء صامه، ومن شاء أفطر“Dulu, Asyura merupakan hari di mana orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah. Dan Nabi pun berpuasa pada hari tersebut. Lalu, ketika beliau tiba di Madinah, beliau pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan manusia agar berpuasa pada hari itu. Ketika turun kewajiban berpuasa Ramadan, maka Ramadan menjadi bulan di mana beliau berpuasa. Beliau meninggalkan puasa Asyura. Karena itu, barang siapa ingin berpuasa hari itu (hari Asyura), maka silakan ia berpuasa. Dan barang siapa yang ingin tidak berpuasa, maka silakan saja.” (HR. Bukhari no. 4504, Muslim no. 1125, Abu Dawud no. 2442 dan Tirmidzi no. 753)Kedua: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah sampai ke Madinah dan melihat ahli kitab berpuasa di hari Asyura dalam rangka menghormatinya, maka beliau pun berpuasa dan menyuruh umatnya untuk berpuasa juga. Bahkan, Nabi sangat menekankan dan memotivasi umatnya untuk berpuasa di hari Asyura, sampai-sampai anak kecil pun dilatih dan disertakan dalam puasa tersebut.Ketiga: Ketika syariat puasa Ramadan telah diperintahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa Asyura sebagaimana di dalam riwayat Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ عاشوراءَ يومٌ من أيَّامِ اللهِ، فمن شاء صامه، ومن شاء تركه“Sesungguhnya Asyura merupakan salah satu hari di antara hari-hari milik Allah Ta’ala. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Dan barangsiapa yang ingin tidak berpuasa, silakan tidak berpuasa.” (HR. Muslim no. 1126)Keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di akhir hayatnya berkeinginan untuk tidak berpuasa hanya pada hari Asyura saja. Akan tetapi, digabungkan dengan hari lainnya (tanggal 9 Muharam) sebagai bentuk menyelisihi puasa ahli Kitab. Sebagaimana yang dikisahkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,“Ketika Rasulullah puasa Asyura lalu memerintahkan para sahabatnya untuk ikut berpuasa, para sahabat mengatakan kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani!’ Maka, Nabi mengatakan, ‘Kalau begitu tahun depan insyaAllah kita akan berpuasa pada tanggal 9 juga.’”Ibnu Abbas mengatakan, “Belum datang tahun depan tersebut, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia.” (HR. Abu Dawud no. 2445).Berpuasa pada hari Asyura keutamaannya telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَه“Dan puasa hari Asyura saya berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa) tahun sebelumnya.” (HR. Muslim no. 1162)Baca Juga: 11 Amalan Bid’ah di Bulan MuharramHaruskah berpuasa pada hari Tasu’a (tanggal 9 Muharam) dan pada tanggal 11?Seorang muslim yang berpuasa pada hari Asyura ini, meskipun tidak dibarengi dengan berpuasa pada pada hari sebelumnya (tanggal sembilan), maka ia akan mendapatkan ganjaran yang besar ini, dan hal tersebut tidaklah dibenci. Berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengatakan makruhnya hal tersebut. Adapun jika ia gabungkan dengan puasa pada hari sebelumnya, maka tentu itu lebih utama sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لَئِنْ بَقِيتُ أو لئِنْ عِشْتُ إلى قابلٍ لأصومَنَّ التاسِعَ“Seandainya umurku sampai tahun depan atau aku masih hidup, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan (tasyu’a).” (HR. Muslim no. 1134 dan Ibnu Majah no. 1736 dan lafaz ini merupakan lafaznya)Adapun hadis-hadis yang menyebutkan tentang berpuasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, atau bolehnya memilih sehari sebelumnya atau sesudahnya, maka tidak benar jika dimarfu’kan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan ibadah sifatnya tauqifiyyah. Tidak boleh dilakukan, kecuali jika ada dalilnya.Hanya saja kita perlu bersikap lemah lembut terhadap mereka yang berpendapat adanya berpuasa setelah Asyura, karena telah datang asar sahih berupa ucapan Ibnu ‘Abbas dalam masalah ini. Oleh karenanya, mereka yang berpuasa Asyura dengan sehari sebelumnya, serta sehari setelahnya, dan mereka yang mencukupkan puasa Asyura dan sehari setelahnya, maka tidak boleh dicemooh dan dicela.Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Amalan di Bulan MuharramBanyak Puasa di Bulan Muharram, Adakah Tuntunan?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: muslim.or.id Referensi:Lathoif Al-Ma’arif karya Ibnu RajabKarya tulis Syekh Doktor Nahhar Al-Utaiby hafidzhahullah berjudul “Ahkaamu Syahrillahi Al-Muharrami”, yang diterbitkan di website dorar.net.🔍 Dukhan, Sejarah Berdirinya Syiah, Makna Surat Al Ashr, Perkataan Sahabat Nabi, Semua Kehendak AllahTags: amalan dibulan muharrambulan muharrambulan sucifikih puasakeutamaan muharramkeutamaan puasaMuharramnasihatnasihat islampanduan puasapuasa di bulan muharrampuasa sunnah


Daftar Isi sembunyikan 1. Hukum berpuasa sebulan penuh di dalamnya 2. Puasa Asyura 3. Haruskah berpuasa pada hari Tasu’a (tanggal 9 Muharam) dan pada tanggal 11? Kita telah memasuki salah satu bulan haram/ suci yang telah Allah Ta’ala abadikan di dalam Al-Qur’an, kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ الشُّهور عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)Keempat bulan ini, namanya telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan di dalam hadisnya,إنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الذي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ“Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Di antara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan: Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, kemudian bulan Rajab suku Mudhar antara Jumadilakhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 4406 dan Muslim no. 1679)Ketahuilah wahai saudaraku, berpuasa di bulan suci Muharam ini merupakan salah satu puasa sunah yang paling utama. Karena Nabi telah menetapkan keutamaannya serta menekankan umatnya untuk mengamalkannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharam. Sedangkan salat yang paling utama setelah (salat) fardu adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,أفضل الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ ““Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut dengan ‘Muharam’.” (HR. Nasa’i di dalam Al-Kubra no. 2916 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 4: 291).Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya “Lathaif Al-Ma’arif” mengatakan,“Nabi memberi nama Muharam dengan ‘Bulan Allah’, penisbatan bulan tersebut kepada Allah menunjukkan kemulian dan keutamaannya. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menisbatkan kepada diri-Nya, kecuali makhluk-makhluk yang khusus dan tertentu sebagaimana Ia menisbatkan Nabi Muhammad, Ishak, Yakub dan nabi-nabi yang lain kepada penghambaan terhadap diri-Nya. Sebagaimana juga Allah Ta’ala menisbatkatkan ka’bah dan unta Nabi Shalih kepada-Nya. Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah yang Allah khususkan penisbatannya kepada diri-Nya, sehingga pengkhususan bulan Allah Muharam ini dengan amalan yang Allah sandarkan kepada diri-Nya dan khusus bagi-Nya, yaitu puasa, sangatlah cocok dan tepat.”Perihal berpuasa di dalam bulan Muharam ini, secara umum ada 2 pembahasan:Baca Juga: Hadis-Hadis Lemah Dan Palsu Tentang Keutamaan Hari ke-10 Muharram Hukum berpuasa sebulan penuh di dalamnyaPara ulama berselisih pendapat terkait maksud hadis,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharam.” (HR. Muslim no. 1163)Apakah maksudnya berpuasa selama sebulan penuh, ataukah di mayoritas harinya saja dan tidak seluruhnya?Pemahaman tekstual hadis di atas –wallahu a’lam- menunjukkan keutamaan berpuasa di bulan Muharam selama sebulan penuh. Sehingga sebagian ulama membolehkan berpuasa sunah sebulan penuh pada bulan Muharam. Di antaranya adalah Syekh Utsaimin dan Syekh Binbaz rahimahumallah di dalam fatwa mereka.Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa hadis di atas maksudnya adalah memperbanyak puasa pada mayoritas hari di bulan Muharam dan bukan seluruhnya. Hal ini berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,ما رأيتُ رسولَ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم استكمَلَ صيامَ شَهرٍ قَطُّ إلَّا رمضانَ، وما رأيتُه في شهرٍ أكثَرَ منه صيامًا في شعبانَ“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa pada suatu bulan daripada puasa di bulan Syakban.” (HR. Bukhari no. 1969, Muslim no. 1156, Abu Dawud no. 2434, sedangkan teks hadis di atas merupakan lafaz yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 25195)Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan di dalam kitabnya “Lathaif Al-Ma’arif”,أنه أفضل شهر تطوع بصيامه كاملًا بعد رمضان“Bahwasanya (bulan Muharam) merupakan bulan paling utama yang diperbolehkan seorang muslim untuk berpuasa sunah sebulan penuh setelah bulan Ramadan.”Para ulama menjelaskan bahwa Nabi tidak memperbanyak puasa di bulan Muharam karena adanya uzur atau karena Nabi tidak mengetahui keutamaan memperbanyak puasa di bulan ini, kecuali pada akhir masa kehidupan beliau.Baca Juga: Mengapa Dinamakan Bulan Muharram?Puasa AsyuraHari Asyura adalah hari di mana Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam beserta kaumnya dan hari di mana Allah menenggelamkan Firaun beserta bala tentaranya. Oleh karenanya, Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun juga berpuasa. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata,“Rasulullah sampai ke kota Madinah dan mendapati Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka, mereka ditanya tentang hal tersebut. Mereka pun menjawab, ‘Ini adalah hari di mana Allah Ta’ala memenangkan Nabi Musa dan Bani Israil atas Firaun. Oleh karenanya, kami berpuasa padanya sebagai bentuk pengagungan.’ Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,نحن أَولى بموسى منكم، فأمَرَ بصيامِه“Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.” Nabi kemudian memerintahkan umatnya untuk berpuasa di hari itu. (HR. Bukhari no. 4680 dan Muslim no. 1130)Puasa Nabi pada hari Asyura melalui 4 tahapan dan keadaan:Pertama: Nabi melakukan puasa tersebut di Makkah. Akan tetapi, tidak memerintahkan umatnya untuk melakukannya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كانت عاشوراءُ يومًا تصومُه قُرَيشٌ في الجاهليةِ، وكان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يصومُه، فلمَّا قَدِمَ المدينةَ صامه وأمر الناسَ بصيامِه، فلمَّا نزلت فريضةُ شهرِ رمضانَ كان رمضانُ هو الذي يصومُه، فترك صومَ عاشوراءَ، فمن شاء صامه، ومن شاء أفطر“Dulu, Asyura merupakan hari di mana orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah. Dan Nabi pun berpuasa pada hari tersebut. Lalu, ketika beliau tiba di Madinah, beliau pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan manusia agar berpuasa pada hari itu. Ketika turun kewajiban berpuasa Ramadan, maka Ramadan menjadi bulan di mana beliau berpuasa. Beliau meninggalkan puasa Asyura. Karena itu, barang siapa ingin berpuasa hari itu (hari Asyura), maka silakan ia berpuasa. Dan barang siapa yang ingin tidak berpuasa, maka silakan saja.” (HR. Bukhari no. 4504, Muslim no. 1125, Abu Dawud no. 2442 dan Tirmidzi no. 753)Kedua: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah sampai ke Madinah dan melihat ahli kitab berpuasa di hari Asyura dalam rangka menghormatinya, maka beliau pun berpuasa dan menyuruh umatnya untuk berpuasa juga. Bahkan, Nabi sangat menekankan dan memotivasi umatnya untuk berpuasa di hari Asyura, sampai-sampai anak kecil pun dilatih dan disertakan dalam puasa tersebut.Ketiga: Ketika syariat puasa Ramadan telah diperintahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa Asyura sebagaimana di dalam riwayat Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ عاشوراءَ يومٌ من أيَّامِ اللهِ، فمن شاء صامه، ومن شاء تركه“Sesungguhnya Asyura merupakan salah satu hari di antara hari-hari milik Allah Ta’ala. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Dan barangsiapa yang ingin tidak berpuasa, silakan tidak berpuasa.” (HR. Muslim no. 1126)Keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di akhir hayatnya berkeinginan untuk tidak berpuasa hanya pada hari Asyura saja. Akan tetapi, digabungkan dengan hari lainnya (tanggal 9 Muharam) sebagai bentuk menyelisihi puasa ahli Kitab. Sebagaimana yang dikisahkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,“Ketika Rasulullah puasa Asyura lalu memerintahkan para sahabatnya untuk ikut berpuasa, para sahabat mengatakan kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani!’ Maka, Nabi mengatakan, ‘Kalau begitu tahun depan insyaAllah kita akan berpuasa pada tanggal 9 juga.’”Ibnu Abbas mengatakan, “Belum datang tahun depan tersebut, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia.” (HR. Abu Dawud no. 2445).Berpuasa pada hari Asyura keutamaannya telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَه“Dan puasa hari Asyura saya berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa) tahun sebelumnya.” (HR. Muslim no. 1162)Baca Juga: 11 Amalan Bid’ah di Bulan MuharramHaruskah berpuasa pada hari Tasu’a (tanggal 9 Muharam) dan pada tanggal 11?Seorang muslim yang berpuasa pada hari Asyura ini, meskipun tidak dibarengi dengan berpuasa pada pada hari sebelumnya (tanggal sembilan), maka ia akan mendapatkan ganjaran yang besar ini, dan hal tersebut tidaklah dibenci. Berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengatakan makruhnya hal tersebut. Adapun jika ia gabungkan dengan puasa pada hari sebelumnya, maka tentu itu lebih utama sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لَئِنْ بَقِيتُ أو لئِنْ عِشْتُ إلى قابلٍ لأصومَنَّ التاسِعَ“Seandainya umurku sampai tahun depan atau aku masih hidup, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan (tasyu’a).” (HR. Muslim no. 1134 dan Ibnu Majah no. 1736 dan lafaz ini merupakan lafaznya)Adapun hadis-hadis yang menyebutkan tentang berpuasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, atau bolehnya memilih sehari sebelumnya atau sesudahnya, maka tidak benar jika dimarfu’kan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan ibadah sifatnya tauqifiyyah. Tidak boleh dilakukan, kecuali jika ada dalilnya.Hanya saja kita perlu bersikap lemah lembut terhadap mereka yang berpendapat adanya berpuasa setelah Asyura, karena telah datang asar sahih berupa ucapan Ibnu ‘Abbas dalam masalah ini. Oleh karenanya, mereka yang berpuasa Asyura dengan sehari sebelumnya, serta sehari setelahnya, dan mereka yang mencukupkan puasa Asyura dan sehari setelahnya, maka tidak boleh dicemooh dan dicela.Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Amalan di Bulan MuharramBanyak Puasa di Bulan Muharram, Adakah Tuntunan?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: muslim.or.id Referensi:Lathoif Al-Ma’arif karya Ibnu RajabKarya tulis Syekh Doktor Nahhar Al-Utaiby hafidzhahullah berjudul “Ahkaamu Syahrillahi Al-Muharrami”, yang diterbitkan di website dorar.net.🔍 Dukhan, Sejarah Berdirinya Syiah, Makna Surat Al Ashr, Perkataan Sahabat Nabi, Semua Kehendak AllahTags: amalan dibulan muharrambulan muharrambulan sucifikih puasakeutamaan muharramkeutamaan puasaMuharramnasihatnasihat islampanduan puasapuasa di bulan muharrampuasa sunnah

Islam Melarang Terorisme

Terorisme artinya menebarkan teror dan ketakutan di tengah masyarakat, dalam hal ini masyarakat kita yang mayoritas muslim, jelas hal ini tercela dan terlarang dalam Islam. Karena syariat Islam itu datang untuk memberikan maslahah (kemanfaatan) dan mencegah mafsadah (kerusakan). Selain itu, di antara tujuan-tujuan dari syariat dalam Islam adalah menjaga agama, jiwa, akal, nasab, harta, dan kehormatan. Sedangkan terorisme jelas-jelas menimbulkan banyak kerusakan, hilangnya rasa aman, serta hilang harta, dan nyawa kaum muslimin. Allah ta’ala berfirman: إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. al-Maidah: 33) Ayat ini berbicara tentang terorisme. Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan tentang ayat ini: “Huruf أَوْ (atau) di sini berfungsi untuk menunjukkan urutan. (Teroris) yang hanya membunuh, hukumannya adalah dibunuh. (Teroris) yang membunuh dan merampas harta hukumannya dibunuh lalu disalib. (Teroris) yang hanya merampas harta dan tidak membunuh, hukumannya potong tangan. Dan (teroris) yang hanya membuat teror (tidak membunuh dan merampas harta) hukumannya diasingkan dari negerinya.” Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam Minhajus Salikin menjelaskan ayat ini: “Yang dimaksud ayat ini adalah orang-orang yang mengganggu masyarakat dengan perampokan, perampasan, atau pembunuhan. Bila mereka membunuh dan merampas harta, hukumannya dibunuh dan disalib. Bila mereka hanya membunuh, diputuskan hukuman mati. Bila mereka hanya merampas harta, hukumannya dipotong tangan kanan dan kaki kiri. Bila mereka hanya membuat teror, hukumannya diasingkan dari negerinya.” Selain itu, jika kita telisik, sejatinya banyak sekali ajaran syariat yang dilanggar oleh seorang teroris di tengah masyarakat Islam. Antara lain: Pertama, jelas mereka telah melanggar hadis dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  لا ضررَ ولا ضرارَ “Janganlah kalian membahayakan dan saling merugikan” (HR. Ibnu Majah no.1910, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah). Kedua, mereka juga menyebabkan hilangnya banyak nyawa kaum muslimin. Padahal hadis dari Abdullah bin ‘ِAmr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  لزوالُ الدُّنيا أَهْوَنُ عندَ اللَّهِ مِن قتلِ رَجُلٍ مُسلمٍ “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. at-Tirmidzi 1395, an-Nasa’i no.3998, dishahihkan al-Albani dalam Shahih an-Nasa’i) Ketiga, kaum Muslimin yang tidak menjadi korban pun merasa takut dan terteror dengan adanya aksi-aksi mereka. Padahal bukan muslim dan mukmin sejati, jika ia membuat kaum muslimin merasa tidak aman dan tidak tenang. Dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Seorang Muslim yang sejati adalah orang yang manusia yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Ahmad 11/137, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.549) Keempat, cabang iman yang terendah adalah mencegah kemudaratan terhadap muslim yang lain, walaupun berupa gangguan di tengah jalan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  الإِيمانُ بضْعٌ وسَبْعُونَ، أوْ بضْعٌ وسِتُّونَ، شُعْبَةً، فأفْضَلُها قَوْلُ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وأَدْناها إماطَةُ الأذَى عَنِ الطَّرِيقِ، والْحَياءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمانِ “Iman itu ada enam puluh sekian cabang. Yang tertinggi adalah kalimat laa ilaaha illallah. Yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim no. 35) Lalu bagaimana mungkin seorang yang mengaku beriman malah menaruh bom di jalan dan di tempat-tempat yang terdapat banyak orang? Kelima, mereka telah melanggar larangan mengganggu orang kafir mu’ahad dan orang kafir musta’man. Kafir mu’ahad adalah yang sedang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling menyerang. Sementara kafir musta’man adalah yang masuk ke negeri muslim lalu dijamin keamanannya oleh penguasa Muslim. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: من قتل مُعاهَدًا لم يَرَحْ رائحةَ الجنَّةِ ، وإنَّ ريحَها توجدُ من مسيرةِ أربعين عامًا “Barang siapa yang membunuh orang kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium wangi surga. Padahal wanginya tercium dari jarak 40 tahun.” (HR. Bukhari no. 3166) Jadi syariat Islam mengatur ada orang kafir yang wajib diperangi dan ada yang terlarang untuk diperangi. Keenam, jihad adalah ibadah yang agung. Oleh karena itu, yang namanya ibadah harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jihad yang tidak sesuai dengan tuntunan, maka sejatinya bukanlah jihad yang syar’i. Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ’anhu pernah berkata kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, أرأيت رجلا خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فقتل أيدخل الجنة؟ فقال أبو موسى: نعم. فقال له حذيفة: لا. إن خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فأصاب أمر الله فقتل دخل الجنة “Apakah menurutmu orang yang keluar dengan pedangnya untuk berperang dengan mengharap ridha Allah, lalu terbunuh, ia akan masuk surga?” Abu Musa menjawab, ‘Ya’. Hudzaifah lalu berkata kepadanya, ‘Tidak demikian. Jika ia keluar lalu berperang dengan pedangnya dengan mengharap ridha Allah dan menaati aturan Allah, lalu terbunuh, barulah ia masuk surga‘.” (HR. Sa’id bin Manshur dalam Sunan-nya, sanadnya shahih) Maka jihad yang syar’i itu ada aturan-aturannya. Dan salah satu tuntunan jihad adalah dilakukan bersama ulil amri (pemerintah). Disebutkan dalam matan al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Imam ath-Thahawi, والحج والجهاد ماضيان مع أولي الأمر من المسلمين‏:‏ برهم وفاجرهم “Haji dan jihad itu terus ada (sampai hari kiamat). Dilakukan bersama ulil amri kaum Muslimin, baik mereka orang shalih maupun orang fajir (ahli maksiat).” Sedangkan apa yang dilakukan oleh para teroris yang berkedok jihad, jauh sekali dari amalan jihad yang dituntunkan oleh Islam. Dengan demikian, jelaslah bahwasanya Islam melarang terorisme dan terorisme yang dilakukan sebagian orang dengan kedok jihad itu jauh sekali dari tuntunan Islam dan Islam berlepas diri dari mereka.  Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Agar Terhindar Dari Masalah, Dzikir Agar Masalah Cepat Selesai, Doa Datang Dari Umroh, Doa Penghancur Sihir, Keluar Darah Coklat Seminggu Sebelum Haid, Bacaan Sholat Dzuhur Yang Benar Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 258 QRIS donasi Yufid

Islam Melarang Terorisme

Terorisme artinya menebarkan teror dan ketakutan di tengah masyarakat, dalam hal ini masyarakat kita yang mayoritas muslim, jelas hal ini tercela dan terlarang dalam Islam. Karena syariat Islam itu datang untuk memberikan maslahah (kemanfaatan) dan mencegah mafsadah (kerusakan). Selain itu, di antara tujuan-tujuan dari syariat dalam Islam adalah menjaga agama, jiwa, akal, nasab, harta, dan kehormatan. Sedangkan terorisme jelas-jelas menimbulkan banyak kerusakan, hilangnya rasa aman, serta hilang harta, dan nyawa kaum muslimin. Allah ta’ala berfirman: إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. al-Maidah: 33) Ayat ini berbicara tentang terorisme. Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan tentang ayat ini: “Huruf أَوْ (atau) di sini berfungsi untuk menunjukkan urutan. (Teroris) yang hanya membunuh, hukumannya adalah dibunuh. (Teroris) yang membunuh dan merampas harta hukumannya dibunuh lalu disalib. (Teroris) yang hanya merampas harta dan tidak membunuh, hukumannya potong tangan. Dan (teroris) yang hanya membuat teror (tidak membunuh dan merampas harta) hukumannya diasingkan dari negerinya.” Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam Minhajus Salikin menjelaskan ayat ini: “Yang dimaksud ayat ini adalah orang-orang yang mengganggu masyarakat dengan perampokan, perampasan, atau pembunuhan. Bila mereka membunuh dan merampas harta, hukumannya dibunuh dan disalib. Bila mereka hanya membunuh, diputuskan hukuman mati. Bila mereka hanya merampas harta, hukumannya dipotong tangan kanan dan kaki kiri. Bila mereka hanya membuat teror, hukumannya diasingkan dari negerinya.” Selain itu, jika kita telisik, sejatinya banyak sekali ajaran syariat yang dilanggar oleh seorang teroris di tengah masyarakat Islam. Antara lain: Pertama, jelas mereka telah melanggar hadis dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  لا ضررَ ولا ضرارَ “Janganlah kalian membahayakan dan saling merugikan” (HR. Ibnu Majah no.1910, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah). Kedua, mereka juga menyebabkan hilangnya banyak nyawa kaum muslimin. Padahal hadis dari Abdullah bin ‘ِAmr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  لزوالُ الدُّنيا أَهْوَنُ عندَ اللَّهِ مِن قتلِ رَجُلٍ مُسلمٍ “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. at-Tirmidzi 1395, an-Nasa’i no.3998, dishahihkan al-Albani dalam Shahih an-Nasa’i) Ketiga, kaum Muslimin yang tidak menjadi korban pun merasa takut dan terteror dengan adanya aksi-aksi mereka. Padahal bukan muslim dan mukmin sejati, jika ia membuat kaum muslimin merasa tidak aman dan tidak tenang. Dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Seorang Muslim yang sejati adalah orang yang manusia yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Ahmad 11/137, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.549) Keempat, cabang iman yang terendah adalah mencegah kemudaratan terhadap muslim yang lain, walaupun berupa gangguan di tengah jalan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  الإِيمانُ بضْعٌ وسَبْعُونَ، أوْ بضْعٌ وسِتُّونَ، شُعْبَةً، فأفْضَلُها قَوْلُ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وأَدْناها إماطَةُ الأذَى عَنِ الطَّرِيقِ، والْحَياءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمانِ “Iman itu ada enam puluh sekian cabang. Yang tertinggi adalah kalimat laa ilaaha illallah. Yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim no. 35) Lalu bagaimana mungkin seorang yang mengaku beriman malah menaruh bom di jalan dan di tempat-tempat yang terdapat banyak orang? Kelima, mereka telah melanggar larangan mengganggu orang kafir mu’ahad dan orang kafir musta’man. Kafir mu’ahad adalah yang sedang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling menyerang. Sementara kafir musta’man adalah yang masuk ke negeri muslim lalu dijamin keamanannya oleh penguasa Muslim. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: من قتل مُعاهَدًا لم يَرَحْ رائحةَ الجنَّةِ ، وإنَّ ريحَها توجدُ من مسيرةِ أربعين عامًا “Barang siapa yang membunuh orang kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium wangi surga. Padahal wanginya tercium dari jarak 40 tahun.” (HR. Bukhari no. 3166) Jadi syariat Islam mengatur ada orang kafir yang wajib diperangi dan ada yang terlarang untuk diperangi. Keenam, jihad adalah ibadah yang agung. Oleh karena itu, yang namanya ibadah harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jihad yang tidak sesuai dengan tuntunan, maka sejatinya bukanlah jihad yang syar’i. Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ’anhu pernah berkata kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, أرأيت رجلا خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فقتل أيدخل الجنة؟ فقال أبو موسى: نعم. فقال له حذيفة: لا. إن خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فأصاب أمر الله فقتل دخل الجنة “Apakah menurutmu orang yang keluar dengan pedangnya untuk berperang dengan mengharap ridha Allah, lalu terbunuh, ia akan masuk surga?” Abu Musa menjawab, ‘Ya’. Hudzaifah lalu berkata kepadanya, ‘Tidak demikian. Jika ia keluar lalu berperang dengan pedangnya dengan mengharap ridha Allah dan menaati aturan Allah, lalu terbunuh, barulah ia masuk surga‘.” (HR. Sa’id bin Manshur dalam Sunan-nya, sanadnya shahih) Maka jihad yang syar’i itu ada aturan-aturannya. Dan salah satu tuntunan jihad adalah dilakukan bersama ulil amri (pemerintah). Disebutkan dalam matan al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Imam ath-Thahawi, والحج والجهاد ماضيان مع أولي الأمر من المسلمين‏:‏ برهم وفاجرهم “Haji dan jihad itu terus ada (sampai hari kiamat). Dilakukan bersama ulil amri kaum Muslimin, baik mereka orang shalih maupun orang fajir (ahli maksiat).” Sedangkan apa yang dilakukan oleh para teroris yang berkedok jihad, jauh sekali dari amalan jihad yang dituntunkan oleh Islam. Dengan demikian, jelaslah bahwasanya Islam melarang terorisme dan terorisme yang dilakukan sebagian orang dengan kedok jihad itu jauh sekali dari tuntunan Islam dan Islam berlepas diri dari mereka.  Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Agar Terhindar Dari Masalah, Dzikir Agar Masalah Cepat Selesai, Doa Datang Dari Umroh, Doa Penghancur Sihir, Keluar Darah Coklat Seminggu Sebelum Haid, Bacaan Sholat Dzuhur Yang Benar Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 258 QRIS donasi Yufid
Terorisme artinya menebarkan teror dan ketakutan di tengah masyarakat, dalam hal ini masyarakat kita yang mayoritas muslim, jelas hal ini tercela dan terlarang dalam Islam. Karena syariat Islam itu datang untuk memberikan maslahah (kemanfaatan) dan mencegah mafsadah (kerusakan). Selain itu, di antara tujuan-tujuan dari syariat dalam Islam adalah menjaga agama, jiwa, akal, nasab, harta, dan kehormatan. Sedangkan terorisme jelas-jelas menimbulkan banyak kerusakan, hilangnya rasa aman, serta hilang harta, dan nyawa kaum muslimin. Allah ta’ala berfirman: إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. al-Maidah: 33) Ayat ini berbicara tentang terorisme. Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan tentang ayat ini: “Huruf أَوْ (atau) di sini berfungsi untuk menunjukkan urutan. (Teroris) yang hanya membunuh, hukumannya adalah dibunuh. (Teroris) yang membunuh dan merampas harta hukumannya dibunuh lalu disalib. (Teroris) yang hanya merampas harta dan tidak membunuh, hukumannya potong tangan. Dan (teroris) yang hanya membuat teror (tidak membunuh dan merampas harta) hukumannya diasingkan dari negerinya.” Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam Minhajus Salikin menjelaskan ayat ini: “Yang dimaksud ayat ini adalah orang-orang yang mengganggu masyarakat dengan perampokan, perampasan, atau pembunuhan. Bila mereka membunuh dan merampas harta, hukumannya dibunuh dan disalib. Bila mereka hanya membunuh, diputuskan hukuman mati. Bila mereka hanya merampas harta, hukumannya dipotong tangan kanan dan kaki kiri. Bila mereka hanya membuat teror, hukumannya diasingkan dari negerinya.” Selain itu, jika kita telisik, sejatinya banyak sekali ajaran syariat yang dilanggar oleh seorang teroris di tengah masyarakat Islam. Antara lain: Pertama, jelas mereka telah melanggar hadis dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  لا ضررَ ولا ضرارَ “Janganlah kalian membahayakan dan saling merugikan” (HR. Ibnu Majah no.1910, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah). Kedua, mereka juga menyebabkan hilangnya banyak nyawa kaum muslimin. Padahal hadis dari Abdullah bin ‘ِAmr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  لزوالُ الدُّنيا أَهْوَنُ عندَ اللَّهِ مِن قتلِ رَجُلٍ مُسلمٍ “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. at-Tirmidzi 1395, an-Nasa’i no.3998, dishahihkan al-Albani dalam Shahih an-Nasa’i) Ketiga, kaum Muslimin yang tidak menjadi korban pun merasa takut dan terteror dengan adanya aksi-aksi mereka. Padahal bukan muslim dan mukmin sejati, jika ia membuat kaum muslimin merasa tidak aman dan tidak tenang. Dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Seorang Muslim yang sejati adalah orang yang manusia yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Ahmad 11/137, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.549) Keempat, cabang iman yang terendah adalah mencegah kemudaratan terhadap muslim yang lain, walaupun berupa gangguan di tengah jalan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  الإِيمانُ بضْعٌ وسَبْعُونَ، أوْ بضْعٌ وسِتُّونَ، شُعْبَةً، فأفْضَلُها قَوْلُ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وأَدْناها إماطَةُ الأذَى عَنِ الطَّرِيقِ، والْحَياءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمانِ “Iman itu ada enam puluh sekian cabang. Yang tertinggi adalah kalimat laa ilaaha illallah. Yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim no. 35) Lalu bagaimana mungkin seorang yang mengaku beriman malah menaruh bom di jalan dan di tempat-tempat yang terdapat banyak orang? Kelima, mereka telah melanggar larangan mengganggu orang kafir mu’ahad dan orang kafir musta’man. Kafir mu’ahad adalah yang sedang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling menyerang. Sementara kafir musta’man adalah yang masuk ke negeri muslim lalu dijamin keamanannya oleh penguasa Muslim. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: من قتل مُعاهَدًا لم يَرَحْ رائحةَ الجنَّةِ ، وإنَّ ريحَها توجدُ من مسيرةِ أربعين عامًا “Barang siapa yang membunuh orang kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium wangi surga. Padahal wanginya tercium dari jarak 40 tahun.” (HR. Bukhari no. 3166) Jadi syariat Islam mengatur ada orang kafir yang wajib diperangi dan ada yang terlarang untuk diperangi. Keenam, jihad adalah ibadah yang agung. Oleh karena itu, yang namanya ibadah harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jihad yang tidak sesuai dengan tuntunan, maka sejatinya bukanlah jihad yang syar’i. Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ’anhu pernah berkata kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, أرأيت رجلا خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فقتل أيدخل الجنة؟ فقال أبو موسى: نعم. فقال له حذيفة: لا. إن خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فأصاب أمر الله فقتل دخل الجنة “Apakah menurutmu orang yang keluar dengan pedangnya untuk berperang dengan mengharap ridha Allah, lalu terbunuh, ia akan masuk surga?” Abu Musa menjawab, ‘Ya’. Hudzaifah lalu berkata kepadanya, ‘Tidak demikian. Jika ia keluar lalu berperang dengan pedangnya dengan mengharap ridha Allah dan menaati aturan Allah, lalu terbunuh, barulah ia masuk surga‘.” (HR. Sa’id bin Manshur dalam Sunan-nya, sanadnya shahih) Maka jihad yang syar’i itu ada aturan-aturannya. Dan salah satu tuntunan jihad adalah dilakukan bersama ulil amri (pemerintah). Disebutkan dalam matan al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Imam ath-Thahawi, والحج والجهاد ماضيان مع أولي الأمر من المسلمين‏:‏ برهم وفاجرهم “Haji dan jihad itu terus ada (sampai hari kiamat). Dilakukan bersama ulil amri kaum Muslimin, baik mereka orang shalih maupun orang fajir (ahli maksiat).” Sedangkan apa yang dilakukan oleh para teroris yang berkedok jihad, jauh sekali dari amalan jihad yang dituntunkan oleh Islam. Dengan demikian, jelaslah bahwasanya Islam melarang terorisme dan terorisme yang dilakukan sebagian orang dengan kedok jihad itu jauh sekali dari tuntunan Islam dan Islam berlepas diri dari mereka.  Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Agar Terhindar Dari Masalah, Dzikir Agar Masalah Cepat Selesai, Doa Datang Dari Umroh, Doa Penghancur Sihir, Keluar Darah Coklat Seminggu Sebelum Haid, Bacaan Sholat Dzuhur Yang Benar Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 258 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1340607478&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Terorisme artinya menebarkan teror dan ketakutan di tengah masyarakat, dalam hal ini masyarakat kita yang mayoritas muslim, jelas hal ini tercela dan terlarang dalam Islam. Karena syariat Islam itu datang untuk memberikan maslahah (kemanfaatan) dan mencegah mafsadah (kerusakan). Selain itu, di antara tujuan-tujuan dari syariat dalam Islam adalah menjaga agama, jiwa, akal, nasab, harta, dan kehormatan. Sedangkan terorisme jelas-jelas menimbulkan banyak kerusakan, hilangnya rasa aman, serta hilang harta, dan nyawa kaum muslimin. Allah ta’ala berfirman: إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. al-Maidah: 33) Ayat ini berbicara tentang terorisme. Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan tentang ayat ini: “Huruf أَوْ (atau) di sini berfungsi untuk menunjukkan urutan. (Teroris) yang hanya membunuh, hukumannya adalah dibunuh. (Teroris) yang membunuh dan merampas harta hukumannya dibunuh lalu disalib. (Teroris) yang hanya merampas harta dan tidak membunuh, hukumannya potong tangan. Dan (teroris) yang hanya membuat teror (tidak membunuh dan merampas harta) hukumannya diasingkan dari negerinya.” Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam Minhajus Salikin menjelaskan ayat ini: “Yang dimaksud ayat ini adalah orang-orang yang mengganggu masyarakat dengan perampokan, perampasan, atau pembunuhan. Bila mereka membunuh dan merampas harta, hukumannya dibunuh dan disalib. Bila mereka hanya membunuh, diputuskan hukuman mati. Bila mereka hanya merampas harta, hukumannya dipotong tangan kanan dan kaki kiri. Bila mereka hanya membuat teror, hukumannya diasingkan dari negerinya.” Selain itu, jika kita telisik, sejatinya banyak sekali ajaran syariat yang dilanggar oleh seorang teroris di tengah masyarakat Islam. Antara lain: Pertama, jelas mereka telah melanggar hadis dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  لا ضررَ ولا ضرارَ “Janganlah kalian membahayakan dan saling merugikan” (HR. Ibnu Majah no.1910, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah). Kedua, mereka juga menyebabkan hilangnya banyak nyawa kaum muslimin. Padahal hadis dari Abdullah bin ‘ِAmr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  لزوالُ الدُّنيا أَهْوَنُ عندَ اللَّهِ مِن قتلِ رَجُلٍ مُسلمٍ “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. at-Tirmidzi 1395, an-Nasa’i no.3998, dishahihkan al-Albani dalam Shahih an-Nasa’i) Ketiga, kaum Muslimin yang tidak menjadi korban pun merasa takut dan terteror dengan adanya aksi-aksi mereka. Padahal bukan muslim dan mukmin sejati, jika ia membuat kaum muslimin merasa tidak aman dan tidak tenang. Dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Seorang Muslim yang sejati adalah orang yang manusia yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Ahmad 11/137, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.549) Keempat, cabang iman yang terendah adalah mencegah kemudaratan terhadap muslim yang lain, walaupun berupa gangguan di tengah jalan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  الإِيمانُ بضْعٌ وسَبْعُونَ، أوْ بضْعٌ وسِتُّونَ، شُعْبَةً، فأفْضَلُها قَوْلُ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وأَدْناها إماطَةُ الأذَى عَنِ الطَّرِيقِ، والْحَياءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمانِ “Iman itu ada enam puluh sekian cabang. Yang tertinggi adalah kalimat laa ilaaha illallah. Yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim no. 35) Lalu bagaimana mungkin seorang yang mengaku beriman malah menaruh bom di jalan dan di tempat-tempat yang terdapat banyak orang? Kelima, mereka telah melanggar larangan mengganggu orang kafir mu’ahad dan orang kafir musta’man. Kafir mu’ahad adalah yang sedang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling menyerang. Sementara kafir musta’man adalah yang masuk ke negeri muslim lalu dijamin keamanannya oleh penguasa Muslim. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: من قتل مُعاهَدًا لم يَرَحْ رائحةَ الجنَّةِ ، وإنَّ ريحَها توجدُ من مسيرةِ أربعين عامًا “Barang siapa yang membunuh orang kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium wangi surga. Padahal wanginya tercium dari jarak 40 tahun.” (HR. Bukhari no. 3166) Jadi syariat Islam mengatur ada orang kafir yang wajib diperangi dan ada yang terlarang untuk diperangi. Keenam, jihad adalah ibadah yang agung. Oleh karena itu, yang namanya ibadah harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jihad yang tidak sesuai dengan tuntunan, maka sejatinya bukanlah jihad yang syar’i. Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ’anhu pernah berkata kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, أرأيت رجلا خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فقتل أيدخل الجنة؟ فقال أبو موسى: نعم. فقال له حذيفة: لا. إن خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فأصاب أمر الله فقتل دخل الجنة “Apakah menurutmu orang yang keluar dengan pedangnya untuk berperang dengan mengharap ridha Allah, lalu terbunuh, ia akan masuk surga?” Abu Musa menjawab, ‘Ya’. Hudzaifah lalu berkata kepadanya, ‘Tidak demikian. Jika ia keluar lalu berperang dengan pedangnya dengan mengharap ridha Allah dan menaati aturan Allah, lalu terbunuh, barulah ia masuk surga‘.” (HR. Sa’id bin Manshur dalam Sunan-nya, sanadnya shahih) Maka jihad yang syar’i itu ada aturan-aturannya. Dan salah satu tuntunan jihad adalah dilakukan bersama ulil amri (pemerintah). Disebutkan dalam matan al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Imam ath-Thahawi, والحج والجهاد ماضيان مع أولي الأمر من المسلمين‏:‏ برهم وفاجرهم “Haji dan jihad itu terus ada (sampai hari kiamat). Dilakukan bersama ulil amri kaum Muslimin, baik mereka orang shalih maupun orang fajir (ahli maksiat).” Sedangkan apa yang dilakukan oleh para teroris yang berkedok jihad, jauh sekali dari amalan jihad yang dituntunkan oleh Islam. Dengan demikian, jelaslah bahwasanya Islam melarang terorisme dan terorisme yang dilakukan sebagian orang dengan kedok jihad itu jauh sekali dari tuntunan Islam dan Islam berlepas diri dari mereka.  Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Agar Terhindar Dari Masalah, Dzikir Agar Masalah Cepat Selesai, Doa Datang Dari Umroh, Doa Penghancur Sihir, Keluar Darah Coklat Seminggu Sebelum Haid, Bacaan Sholat Dzuhur Yang Benar Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 258 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bolehkah Wanita Menjadi Ketua Kelas atau Kepala Sekolah?

Pertanyaan: Bismillah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz, bolehkah seorang perempuan menjadi ketua kelas saat kuliah, karena yang saya ketahui perempuan tidak boleh menjadi pemimpin? Jazakallahu khayran. (Hasriani) Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Terdapat hadis yang melarang wanita menjadi pemimpin dalam urusan pemerintahan. Dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الجَمَلِ، لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً “Sungguh di hari-hari peristiwa Perang Jamal ada satu kalimat (hadis) yang bermanfaat bagiku, yaitu apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sampai di Persia, rakyat Persia menyerahkan kekuasaan pada putri dari Kisra, beliau bersabda: “tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (rakyat) mereka pada wanita”.” (HR. al-Bukhari no.4425, no.7099) Para ulama mengatakan, yang dimaksud hadis ini adalah urusan pemerintahan dan peradilan. Al-Mulla Ali al-Qari rahimahullah menjelaskan: “amrohum di sini maksudnya urusan pemerintahan mereka. Dalam Syarhus Sunnah disebutkan, tidak baik jika wanita menjadi pemimpin dalam pemerintahan ataupun qadhi (hakim). Karena kedua posisi ini membutuhkan seringnya keluar untuk menegakkan urusan-urusan kaum Muslimin. Padahal wanita itu adalah aurat, tidak baik demikian. Dan juga wanita memiliki kekurangan, sedangkan qadhi itu termasuk posisi yang membutuhkan kesempurnaan, tidak bisa melakukannya kecuali lelaki yang sempurna (tidak semua lelaki, pent-).” (Mirqatul Mafatih, 6/2406) Al-Lajnah ad-Daimah menyebutkan, “Dalil as-Sunah, maqashid asy-syari’ah, ijma serta realita menunjukkan bahwa wanita tidak boleh memegang kepemimpinan pemerintahan atau kepemimpinan peradilan. Berdasarkan keumuman hadis Abu Bakrah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sampai di Persia, dan rakyat Persia menyerahkan kekuasaan pada putri dari Kisra, beliau bersabda: “tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (rakyat) mereka pada wanita”.” (Fatawa al-Lajnah, 17/13). Sehingga larangan dan ancaman ini tidak berlaku untuk kepemimpinan dalam ruang lingkup yang terbatas seperti menjadi ketua kelas, menjadi kepala sekolah, menjadi kepala rumah sakit, dan semisalnya.  Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: فالأصلُ اُشتراكُ المكلَّفين مِن الرِّجَال والنِّساء في الأحكام ؛ إلا ما قام الدَّليلُ عليه ، مثل : الولاية العامة ، كالإمارة ، والقضاء ، وما أشبهه ، فهي خاصَّة بالرِّجال ، لكن قد تتولَّى المرأةُ إمارةً محدودة ، كما لو سافرت مع نساء وصارت أميرتهنَّ في السَّفر ، وكمديرة المدرسة ، وما أشبه ذلك “Hukum asalnya, aturan syariat berlaku sama antara laki-laki dan wanita, kecuali yang terdapat dalil yang membedakannya. Contohnya dalam masalah kepemimpinan yang bersifat umum seperti di pemerintahan, peradilan, dan semisalnya. Maka ini semua khusus untuk laki-laki. Namun wanita boleh menjadi pemimpin dalam ruang lingkup terbatas. Seperti jika sekelompok wanita sedang safar, kemudian salah satunya menjadi pemimpin safar. Seperti juga kepala sekolah, atau semisalnya.” (Asy-Syarhul Mumthi, 3/218) Di dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah (7/93-94) disebutkan: ومن الولايات التي يصح أن تسند إلى الأنثى : الشهادة والوصاية ونظارة الوقف ، قال ابن عابدين : تصلح المرأة ناظرة للوقف ووصية ليتيم وشاهدة “Di antara kepemimpinan yang dibolehkan bagi wanita adalah dalam bidang persaksian, wasiat, dan pengurusan wakaf. Ibnu Abidin mengatakan: Wanita boleh menjadi pengurus wakaf, pemegang wasiat harta anak yatim, dan menjadi saksi.” Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: إذا تولت المرأة إدارة مدرسة، أو إدارة مستشفى للنساء خاصة، أو ما أشبه؛ فلا بأس في ذلك “Jika orang wanita menjadi kepala sekolah, atau kepala rumah sakit khusus wanita, atau semisalnya, ini tidak mengapa.” (Mauqi Ibnu Baz, https://binbaz.org.sa/pearls/531) Sehingga tidak mengapa seorang wanita menjadi ketua kelas, kepala sekolah, kepala kantor, dan semisalnya yang ruang lingkupnya terbatas. Tentu saja dengan syarat tidak menimbulkan fitnah (godaan) dan kerusakan seperti berduaan dengan lawan jenis, ikhtilath, tabarruj, dan semisalnya. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Memakai Behel, Pertanyaan Tentang Nikah Siri, Doa Untuk Anak Yatim, Sukma Manusia Ada Berapa, Merapikan Alis Tebal, Cerita Valentine Day Visited 8 times, 1 visit(s) today Post Views: 262 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Wanita Menjadi Ketua Kelas atau Kepala Sekolah?

Pertanyaan: Bismillah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz, bolehkah seorang perempuan menjadi ketua kelas saat kuliah, karena yang saya ketahui perempuan tidak boleh menjadi pemimpin? Jazakallahu khayran. (Hasriani) Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Terdapat hadis yang melarang wanita menjadi pemimpin dalam urusan pemerintahan. Dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الجَمَلِ، لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً “Sungguh di hari-hari peristiwa Perang Jamal ada satu kalimat (hadis) yang bermanfaat bagiku, yaitu apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sampai di Persia, rakyat Persia menyerahkan kekuasaan pada putri dari Kisra, beliau bersabda: “tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (rakyat) mereka pada wanita”.” (HR. al-Bukhari no.4425, no.7099) Para ulama mengatakan, yang dimaksud hadis ini adalah urusan pemerintahan dan peradilan. Al-Mulla Ali al-Qari rahimahullah menjelaskan: “amrohum di sini maksudnya urusan pemerintahan mereka. Dalam Syarhus Sunnah disebutkan, tidak baik jika wanita menjadi pemimpin dalam pemerintahan ataupun qadhi (hakim). Karena kedua posisi ini membutuhkan seringnya keluar untuk menegakkan urusan-urusan kaum Muslimin. Padahal wanita itu adalah aurat, tidak baik demikian. Dan juga wanita memiliki kekurangan, sedangkan qadhi itu termasuk posisi yang membutuhkan kesempurnaan, tidak bisa melakukannya kecuali lelaki yang sempurna (tidak semua lelaki, pent-).” (Mirqatul Mafatih, 6/2406) Al-Lajnah ad-Daimah menyebutkan, “Dalil as-Sunah, maqashid asy-syari’ah, ijma serta realita menunjukkan bahwa wanita tidak boleh memegang kepemimpinan pemerintahan atau kepemimpinan peradilan. Berdasarkan keumuman hadis Abu Bakrah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sampai di Persia, dan rakyat Persia menyerahkan kekuasaan pada putri dari Kisra, beliau bersabda: “tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (rakyat) mereka pada wanita”.” (Fatawa al-Lajnah, 17/13). Sehingga larangan dan ancaman ini tidak berlaku untuk kepemimpinan dalam ruang lingkup yang terbatas seperti menjadi ketua kelas, menjadi kepala sekolah, menjadi kepala rumah sakit, dan semisalnya.  Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: فالأصلُ اُشتراكُ المكلَّفين مِن الرِّجَال والنِّساء في الأحكام ؛ إلا ما قام الدَّليلُ عليه ، مثل : الولاية العامة ، كالإمارة ، والقضاء ، وما أشبهه ، فهي خاصَّة بالرِّجال ، لكن قد تتولَّى المرأةُ إمارةً محدودة ، كما لو سافرت مع نساء وصارت أميرتهنَّ في السَّفر ، وكمديرة المدرسة ، وما أشبه ذلك “Hukum asalnya, aturan syariat berlaku sama antara laki-laki dan wanita, kecuali yang terdapat dalil yang membedakannya. Contohnya dalam masalah kepemimpinan yang bersifat umum seperti di pemerintahan, peradilan, dan semisalnya. Maka ini semua khusus untuk laki-laki. Namun wanita boleh menjadi pemimpin dalam ruang lingkup terbatas. Seperti jika sekelompok wanita sedang safar, kemudian salah satunya menjadi pemimpin safar. Seperti juga kepala sekolah, atau semisalnya.” (Asy-Syarhul Mumthi, 3/218) Di dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah (7/93-94) disebutkan: ومن الولايات التي يصح أن تسند إلى الأنثى : الشهادة والوصاية ونظارة الوقف ، قال ابن عابدين : تصلح المرأة ناظرة للوقف ووصية ليتيم وشاهدة “Di antara kepemimpinan yang dibolehkan bagi wanita adalah dalam bidang persaksian, wasiat, dan pengurusan wakaf. Ibnu Abidin mengatakan: Wanita boleh menjadi pengurus wakaf, pemegang wasiat harta anak yatim, dan menjadi saksi.” Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: إذا تولت المرأة إدارة مدرسة، أو إدارة مستشفى للنساء خاصة، أو ما أشبه؛ فلا بأس في ذلك “Jika orang wanita menjadi kepala sekolah, atau kepala rumah sakit khusus wanita, atau semisalnya, ini tidak mengapa.” (Mauqi Ibnu Baz, https://binbaz.org.sa/pearls/531) Sehingga tidak mengapa seorang wanita menjadi ketua kelas, kepala sekolah, kepala kantor, dan semisalnya yang ruang lingkupnya terbatas. Tentu saja dengan syarat tidak menimbulkan fitnah (godaan) dan kerusakan seperti berduaan dengan lawan jenis, ikhtilath, tabarruj, dan semisalnya. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Memakai Behel, Pertanyaan Tentang Nikah Siri, Doa Untuk Anak Yatim, Sukma Manusia Ada Berapa, Merapikan Alis Tebal, Cerita Valentine Day Visited 8 times, 1 visit(s) today Post Views: 262 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Bismillah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz, bolehkah seorang perempuan menjadi ketua kelas saat kuliah, karena yang saya ketahui perempuan tidak boleh menjadi pemimpin? Jazakallahu khayran. (Hasriani) Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Terdapat hadis yang melarang wanita menjadi pemimpin dalam urusan pemerintahan. Dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الجَمَلِ، لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً “Sungguh di hari-hari peristiwa Perang Jamal ada satu kalimat (hadis) yang bermanfaat bagiku, yaitu apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sampai di Persia, rakyat Persia menyerahkan kekuasaan pada putri dari Kisra, beliau bersabda: “tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (rakyat) mereka pada wanita”.” (HR. al-Bukhari no.4425, no.7099) Para ulama mengatakan, yang dimaksud hadis ini adalah urusan pemerintahan dan peradilan. Al-Mulla Ali al-Qari rahimahullah menjelaskan: “amrohum di sini maksudnya urusan pemerintahan mereka. Dalam Syarhus Sunnah disebutkan, tidak baik jika wanita menjadi pemimpin dalam pemerintahan ataupun qadhi (hakim). Karena kedua posisi ini membutuhkan seringnya keluar untuk menegakkan urusan-urusan kaum Muslimin. Padahal wanita itu adalah aurat, tidak baik demikian. Dan juga wanita memiliki kekurangan, sedangkan qadhi itu termasuk posisi yang membutuhkan kesempurnaan, tidak bisa melakukannya kecuali lelaki yang sempurna (tidak semua lelaki, pent-).” (Mirqatul Mafatih, 6/2406) Al-Lajnah ad-Daimah menyebutkan, “Dalil as-Sunah, maqashid asy-syari’ah, ijma serta realita menunjukkan bahwa wanita tidak boleh memegang kepemimpinan pemerintahan atau kepemimpinan peradilan. Berdasarkan keumuman hadis Abu Bakrah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sampai di Persia, dan rakyat Persia menyerahkan kekuasaan pada putri dari Kisra, beliau bersabda: “tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (rakyat) mereka pada wanita”.” (Fatawa al-Lajnah, 17/13). Sehingga larangan dan ancaman ini tidak berlaku untuk kepemimpinan dalam ruang lingkup yang terbatas seperti menjadi ketua kelas, menjadi kepala sekolah, menjadi kepala rumah sakit, dan semisalnya.  Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: فالأصلُ اُشتراكُ المكلَّفين مِن الرِّجَال والنِّساء في الأحكام ؛ إلا ما قام الدَّليلُ عليه ، مثل : الولاية العامة ، كالإمارة ، والقضاء ، وما أشبهه ، فهي خاصَّة بالرِّجال ، لكن قد تتولَّى المرأةُ إمارةً محدودة ، كما لو سافرت مع نساء وصارت أميرتهنَّ في السَّفر ، وكمديرة المدرسة ، وما أشبه ذلك “Hukum asalnya, aturan syariat berlaku sama antara laki-laki dan wanita, kecuali yang terdapat dalil yang membedakannya. Contohnya dalam masalah kepemimpinan yang bersifat umum seperti di pemerintahan, peradilan, dan semisalnya. Maka ini semua khusus untuk laki-laki. Namun wanita boleh menjadi pemimpin dalam ruang lingkup terbatas. Seperti jika sekelompok wanita sedang safar, kemudian salah satunya menjadi pemimpin safar. Seperti juga kepala sekolah, atau semisalnya.” (Asy-Syarhul Mumthi, 3/218) Di dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah (7/93-94) disebutkan: ومن الولايات التي يصح أن تسند إلى الأنثى : الشهادة والوصاية ونظارة الوقف ، قال ابن عابدين : تصلح المرأة ناظرة للوقف ووصية ليتيم وشاهدة “Di antara kepemimpinan yang dibolehkan bagi wanita adalah dalam bidang persaksian, wasiat, dan pengurusan wakaf. Ibnu Abidin mengatakan: Wanita boleh menjadi pengurus wakaf, pemegang wasiat harta anak yatim, dan menjadi saksi.” Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: إذا تولت المرأة إدارة مدرسة، أو إدارة مستشفى للنساء خاصة، أو ما أشبه؛ فلا بأس في ذلك “Jika orang wanita menjadi kepala sekolah, atau kepala rumah sakit khusus wanita, atau semisalnya, ini tidak mengapa.” (Mauqi Ibnu Baz, https://binbaz.org.sa/pearls/531) Sehingga tidak mengapa seorang wanita menjadi ketua kelas, kepala sekolah, kepala kantor, dan semisalnya yang ruang lingkupnya terbatas. Tentu saja dengan syarat tidak menimbulkan fitnah (godaan) dan kerusakan seperti berduaan dengan lawan jenis, ikhtilath, tabarruj, dan semisalnya. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Memakai Behel, Pertanyaan Tentang Nikah Siri, Doa Untuk Anak Yatim, Sukma Manusia Ada Berapa, Merapikan Alis Tebal, Cerita Valentine Day Visited 8 times, 1 visit(s) today Post Views: 262 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1343118184&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Bismillah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz, bolehkah seorang perempuan menjadi ketua kelas saat kuliah, karena yang saya ketahui perempuan tidak boleh menjadi pemimpin? Jazakallahu khayran. (Hasriani) Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Terdapat hadis yang melarang wanita menjadi pemimpin dalam urusan pemerintahan. Dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الجَمَلِ، لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً “Sungguh di hari-hari peristiwa Perang Jamal ada satu kalimat (hadis) yang bermanfaat bagiku, yaitu apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sampai di Persia, rakyat Persia menyerahkan kekuasaan pada putri dari Kisra, beliau bersabda: “tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (rakyat) mereka pada wanita”.” (HR. al-Bukhari no.4425, no.7099) Para ulama mengatakan, yang dimaksud hadis ini adalah urusan pemerintahan dan peradilan. Al-Mulla Ali al-Qari rahimahullah menjelaskan: “amrohum di sini maksudnya urusan pemerintahan mereka. Dalam Syarhus Sunnah disebutkan, tidak baik jika wanita menjadi pemimpin dalam pemerintahan ataupun qadhi (hakim). Karena kedua posisi ini membutuhkan seringnya keluar untuk menegakkan urusan-urusan kaum Muslimin. Padahal wanita itu adalah aurat, tidak baik demikian. Dan juga wanita memiliki kekurangan, sedangkan qadhi itu termasuk posisi yang membutuhkan kesempurnaan, tidak bisa melakukannya kecuali lelaki yang sempurna (tidak semua lelaki, pent-).” (Mirqatul Mafatih, 6/2406) Al-Lajnah ad-Daimah menyebutkan, “Dalil as-Sunah, maqashid asy-syari’ah, ijma serta realita menunjukkan bahwa wanita tidak boleh memegang kepemimpinan pemerintahan atau kepemimpinan peradilan. Berdasarkan keumuman hadis Abu Bakrah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sampai di Persia, dan rakyat Persia menyerahkan kekuasaan pada putri dari Kisra, beliau bersabda: “tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (rakyat) mereka pada wanita”.” (Fatawa al-Lajnah, 17/13). Sehingga larangan dan ancaman ini tidak berlaku untuk kepemimpinan dalam ruang lingkup yang terbatas seperti menjadi ketua kelas, menjadi kepala sekolah, menjadi kepala rumah sakit, dan semisalnya.  Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: فالأصلُ اُشتراكُ المكلَّفين مِن الرِّجَال والنِّساء في الأحكام ؛ إلا ما قام الدَّليلُ عليه ، مثل : الولاية العامة ، كالإمارة ، والقضاء ، وما أشبهه ، فهي خاصَّة بالرِّجال ، لكن قد تتولَّى المرأةُ إمارةً محدودة ، كما لو سافرت مع نساء وصارت أميرتهنَّ في السَّفر ، وكمديرة المدرسة ، وما أشبه ذلك “Hukum asalnya, aturan syariat berlaku sama antara laki-laki dan wanita, kecuali yang terdapat dalil yang membedakannya. Contohnya dalam masalah kepemimpinan yang bersifat umum seperti di pemerintahan, peradilan, dan semisalnya. Maka ini semua khusus untuk laki-laki. Namun wanita boleh menjadi pemimpin dalam ruang lingkup terbatas. Seperti jika sekelompok wanita sedang safar, kemudian salah satunya menjadi pemimpin safar. Seperti juga kepala sekolah, atau semisalnya.” (Asy-Syarhul Mumthi, 3/218) Di dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah (7/93-94) disebutkan: ومن الولايات التي يصح أن تسند إلى الأنثى : الشهادة والوصاية ونظارة الوقف ، قال ابن عابدين : تصلح المرأة ناظرة للوقف ووصية ليتيم وشاهدة “Di antara kepemimpinan yang dibolehkan bagi wanita adalah dalam bidang persaksian, wasiat, dan pengurusan wakaf. Ibnu Abidin mengatakan: Wanita boleh menjadi pengurus wakaf, pemegang wasiat harta anak yatim, dan menjadi saksi.” Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: إذا تولت المرأة إدارة مدرسة، أو إدارة مستشفى للنساء خاصة، أو ما أشبه؛ فلا بأس في ذلك “Jika orang wanita menjadi kepala sekolah, atau kepala rumah sakit khusus wanita, atau semisalnya, ini tidak mengapa.” (Mauqi Ibnu Baz, https://binbaz.org.sa/pearls/531) Sehingga tidak mengapa seorang wanita menjadi ketua kelas, kepala sekolah, kepala kantor, dan semisalnya yang ruang lingkupnya terbatas. Tentu saja dengan syarat tidak menimbulkan fitnah (godaan) dan kerusakan seperti berduaan dengan lawan jenis, ikhtilath, tabarruj, dan semisalnya. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Memakai Behel, Pertanyaan Tentang Nikah Siri, Doa Untuk Anak Yatim, Sukma Manusia Ada Berapa, Merapikan Alis Tebal, Cerita Valentine Day Visited 8 times, 1 visit(s) today Post Views: 262 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Ketika Kematian Disembelih

Daftar Isi sembunyikan 1. Hadis mengenai disembelihnya kematian 2. Memahami makna hadis dengan benar 3. Faedah hadis Hadis mengenai disembelihnya kematian Dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحٍ فَيُنَادِي بِهِ مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ! فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقًوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ, وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ, ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ وَكُلُّهْمْ قَدْ رَآهُ فَيُذْبَحُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يَقُوْلُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ“Kematian didatangkan dalam bentuk kambing berkulit hitam putih. Lalu, ada penyeru yang memanggil, ‘Wahai penduduk surga!’ Mereka menengok dan melihat. Penyeru itu berkata, ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya, itu adalah kematian.’ Mereka semua telah melihatnya. Kemudian penyeru memanggil, ‘Wahai penduduk neraka!’ Mereka menengok dan melihat. Penyeru itu berkata, ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya, itu adalah kematian.’ Mereka semua telah melihatnya. Kemudian kematian disembelih di antara surga dan neraka. Lalu penyeru  berkata, ‘Wahai penduduk surga, kekekalan dan tiada lagi kematian setelahnya, dan wahai penduduk neraka, kekekalan dan tiada lagi  kematian setelahnya.’“ (HR. Bukhari dan Muslim)Baca Juga: Memperingatkan Neraka tapi Malah Masuk NerakaMemahami makna hadis dengan benar Banyak manusia merasa bingung dengan makna hadis ini. Karena kematian adalah hal abstrak dan penyembelihan tidak bisa dilakukan untuk hal yang sifatnya abstrak. Penyembelihan hanya bisa dilakukan untuk benda yang berwujud, sementara kematian tidak ada wujudnya. Dengan demikian, bagaimana caranya kematian bisa disembelih?Terdapat beberapa penjelasan dalam memahami hadis ini untuk menjawab hal yang dianggap membingungkan tersebut:Pertama: Ada yang mengatakan bahwa yang dimaskud kematian dalam hadis di atas adalah malaikat maut. Sehingga yang disembelih bukanlah kematian, akan tetapi malaikat maut.Kedua: Ada yang memberi penilaian dhaif terhadap hadis di atas. Ini adalah pekataan sekte Mu’tazilah.Ketiga: Ada yang menjelaskan bahwa yang dimaksud menyembelih di sini hanya makna kiasan, bukan menyembelih dalam arti sebenarnya karena hal yang abstrak tidak bisa disembelih.Keempat: Allah mengubah kematian yang merupakan hal abstrak menjadi bentuk konkret yang berwujud, kemudian disembelih. Penyembelihan yang dilakukan berkaitan dengan kematian yang telah berubah bentuk dari abstrak menjadi konkret dan memiliki wujud.Tiga penjelasan pertama tidaklah tepat. Penjelasan yang paling benar adalah penjelasan yang terakhir. Sebagian ulama memberikan penjelasan tambahan bahwa kematian pada asalnya adalah merupakan jasad yang berwujud yang bisa dikenali oleh orang yang telah meninggal. Oleh karena itu, penduduk surga dan penduduk neraka mengenalnya. Ketika ditanyakan kepada mereka , “Apakah kalian mengenal ini?“ Para penduduk surga dan neraka manjawab, “Ya, kami mengenalnya.” Bagi mereka, wujud kematian pada saat itu bukan sesuatu yang aneh dan asing sehingga mereka bisa mengenalinya.Ada benda-benda yang tidak bisa kita lihat saat ini. Jin adalah jism (memiliki wujud), namun kita tidak bisa melihatnya. Begitu juga ruh adalah jism, namun kita tidak dapat melihatnya. Oleh karena itu, bukan perkara yang aneh dan asing jika orang yang sudah meninggal bisa melihat kematian dalam bentuk jism, sementara kita saat ini tidak bisa melihatnya.Baca Juga: Memperingatkan Neraka tapi Malah Masuk NerakaFaedah hadisDi antara faedah hadis yang mulia di atas adalah:Pertama: Wajib memahami makna hadis sesuai zahirnya, tanpa melakukan takwil dengan menyelewengkan maknanya.Kedua: Allah MahaKuasa atas segala sesuatu, termasuk menjadikan kematian bisa disembelih di akhirat kelak.Ketiga: Penduduk surga dan neraka akan kekal karena setelah itu tidak akan ada lagi kematianKeempat: Hadis di atas menjadi dalil tentang keabadian surga dan neraka.Kelima: Seorang mukmin hendaknya mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat dengan banyak beramal salehBaca Juga:Memiliki Rasa Takut dan Khawatir dengan Siksa NerakaMeraih Surga dan Menjauh dari Neraka dengan Ilmu Syar’i***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-‘Uquud Adz-Dzahabiyyah ‘alaa Maqaasid Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah karya Syekh Dr. Sulthon bin ‘Abdirrahman Al-‘Umairi🔍 Pengertian Iman, Sesajen Menurut Islam, Hukum Mendengarkan Alquran Sambil Bekerja, Mengucapkan Ulang Tahun Dalam Islam, Warna Dalam IslamTags: akhiratalam akhiratAqidahaqidah islamkekal di nerakakekal di surgakematiannasihatnasihat islamnerakasurgaTauhid

Ketika Kematian Disembelih

Daftar Isi sembunyikan 1. Hadis mengenai disembelihnya kematian 2. Memahami makna hadis dengan benar 3. Faedah hadis Hadis mengenai disembelihnya kematian Dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحٍ فَيُنَادِي بِهِ مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ! فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقًوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ, وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ, ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ وَكُلُّهْمْ قَدْ رَآهُ فَيُذْبَحُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يَقُوْلُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ“Kematian didatangkan dalam bentuk kambing berkulit hitam putih. Lalu, ada penyeru yang memanggil, ‘Wahai penduduk surga!’ Mereka menengok dan melihat. Penyeru itu berkata, ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya, itu adalah kematian.’ Mereka semua telah melihatnya. Kemudian penyeru memanggil, ‘Wahai penduduk neraka!’ Mereka menengok dan melihat. Penyeru itu berkata, ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya, itu adalah kematian.’ Mereka semua telah melihatnya. Kemudian kematian disembelih di antara surga dan neraka. Lalu penyeru  berkata, ‘Wahai penduduk surga, kekekalan dan tiada lagi kematian setelahnya, dan wahai penduduk neraka, kekekalan dan tiada lagi  kematian setelahnya.’“ (HR. Bukhari dan Muslim)Baca Juga: Memperingatkan Neraka tapi Malah Masuk NerakaMemahami makna hadis dengan benar Banyak manusia merasa bingung dengan makna hadis ini. Karena kematian adalah hal abstrak dan penyembelihan tidak bisa dilakukan untuk hal yang sifatnya abstrak. Penyembelihan hanya bisa dilakukan untuk benda yang berwujud, sementara kematian tidak ada wujudnya. Dengan demikian, bagaimana caranya kematian bisa disembelih?Terdapat beberapa penjelasan dalam memahami hadis ini untuk menjawab hal yang dianggap membingungkan tersebut:Pertama: Ada yang mengatakan bahwa yang dimaskud kematian dalam hadis di atas adalah malaikat maut. Sehingga yang disembelih bukanlah kematian, akan tetapi malaikat maut.Kedua: Ada yang memberi penilaian dhaif terhadap hadis di atas. Ini adalah pekataan sekte Mu’tazilah.Ketiga: Ada yang menjelaskan bahwa yang dimaksud menyembelih di sini hanya makna kiasan, bukan menyembelih dalam arti sebenarnya karena hal yang abstrak tidak bisa disembelih.Keempat: Allah mengubah kematian yang merupakan hal abstrak menjadi bentuk konkret yang berwujud, kemudian disembelih. Penyembelihan yang dilakukan berkaitan dengan kematian yang telah berubah bentuk dari abstrak menjadi konkret dan memiliki wujud.Tiga penjelasan pertama tidaklah tepat. Penjelasan yang paling benar adalah penjelasan yang terakhir. Sebagian ulama memberikan penjelasan tambahan bahwa kematian pada asalnya adalah merupakan jasad yang berwujud yang bisa dikenali oleh orang yang telah meninggal. Oleh karena itu, penduduk surga dan penduduk neraka mengenalnya. Ketika ditanyakan kepada mereka , “Apakah kalian mengenal ini?“ Para penduduk surga dan neraka manjawab, “Ya, kami mengenalnya.” Bagi mereka, wujud kematian pada saat itu bukan sesuatu yang aneh dan asing sehingga mereka bisa mengenalinya.Ada benda-benda yang tidak bisa kita lihat saat ini. Jin adalah jism (memiliki wujud), namun kita tidak bisa melihatnya. Begitu juga ruh adalah jism, namun kita tidak dapat melihatnya. Oleh karena itu, bukan perkara yang aneh dan asing jika orang yang sudah meninggal bisa melihat kematian dalam bentuk jism, sementara kita saat ini tidak bisa melihatnya.Baca Juga: Memperingatkan Neraka tapi Malah Masuk NerakaFaedah hadisDi antara faedah hadis yang mulia di atas adalah:Pertama: Wajib memahami makna hadis sesuai zahirnya, tanpa melakukan takwil dengan menyelewengkan maknanya.Kedua: Allah MahaKuasa atas segala sesuatu, termasuk menjadikan kematian bisa disembelih di akhirat kelak.Ketiga: Penduduk surga dan neraka akan kekal karena setelah itu tidak akan ada lagi kematianKeempat: Hadis di atas menjadi dalil tentang keabadian surga dan neraka.Kelima: Seorang mukmin hendaknya mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat dengan banyak beramal salehBaca Juga:Memiliki Rasa Takut dan Khawatir dengan Siksa NerakaMeraih Surga dan Menjauh dari Neraka dengan Ilmu Syar’i***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-‘Uquud Adz-Dzahabiyyah ‘alaa Maqaasid Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah karya Syekh Dr. Sulthon bin ‘Abdirrahman Al-‘Umairi🔍 Pengertian Iman, Sesajen Menurut Islam, Hukum Mendengarkan Alquran Sambil Bekerja, Mengucapkan Ulang Tahun Dalam Islam, Warna Dalam IslamTags: akhiratalam akhiratAqidahaqidah islamkekal di nerakakekal di surgakematiannasihatnasihat islamnerakasurgaTauhid
Daftar Isi sembunyikan 1. Hadis mengenai disembelihnya kematian 2. Memahami makna hadis dengan benar 3. Faedah hadis Hadis mengenai disembelihnya kematian Dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحٍ فَيُنَادِي بِهِ مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ! فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقًوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ, وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ, ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ وَكُلُّهْمْ قَدْ رَآهُ فَيُذْبَحُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يَقُوْلُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ“Kematian didatangkan dalam bentuk kambing berkulit hitam putih. Lalu, ada penyeru yang memanggil, ‘Wahai penduduk surga!’ Mereka menengok dan melihat. Penyeru itu berkata, ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya, itu adalah kematian.’ Mereka semua telah melihatnya. Kemudian penyeru memanggil, ‘Wahai penduduk neraka!’ Mereka menengok dan melihat. Penyeru itu berkata, ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya, itu adalah kematian.’ Mereka semua telah melihatnya. Kemudian kematian disembelih di antara surga dan neraka. Lalu penyeru  berkata, ‘Wahai penduduk surga, kekekalan dan tiada lagi kematian setelahnya, dan wahai penduduk neraka, kekekalan dan tiada lagi  kematian setelahnya.’“ (HR. Bukhari dan Muslim)Baca Juga: Memperingatkan Neraka tapi Malah Masuk NerakaMemahami makna hadis dengan benar Banyak manusia merasa bingung dengan makna hadis ini. Karena kematian adalah hal abstrak dan penyembelihan tidak bisa dilakukan untuk hal yang sifatnya abstrak. Penyembelihan hanya bisa dilakukan untuk benda yang berwujud, sementara kematian tidak ada wujudnya. Dengan demikian, bagaimana caranya kematian bisa disembelih?Terdapat beberapa penjelasan dalam memahami hadis ini untuk menjawab hal yang dianggap membingungkan tersebut:Pertama: Ada yang mengatakan bahwa yang dimaskud kematian dalam hadis di atas adalah malaikat maut. Sehingga yang disembelih bukanlah kematian, akan tetapi malaikat maut.Kedua: Ada yang memberi penilaian dhaif terhadap hadis di atas. Ini adalah pekataan sekte Mu’tazilah.Ketiga: Ada yang menjelaskan bahwa yang dimaksud menyembelih di sini hanya makna kiasan, bukan menyembelih dalam arti sebenarnya karena hal yang abstrak tidak bisa disembelih.Keempat: Allah mengubah kematian yang merupakan hal abstrak menjadi bentuk konkret yang berwujud, kemudian disembelih. Penyembelihan yang dilakukan berkaitan dengan kematian yang telah berubah bentuk dari abstrak menjadi konkret dan memiliki wujud.Tiga penjelasan pertama tidaklah tepat. Penjelasan yang paling benar adalah penjelasan yang terakhir. Sebagian ulama memberikan penjelasan tambahan bahwa kematian pada asalnya adalah merupakan jasad yang berwujud yang bisa dikenali oleh orang yang telah meninggal. Oleh karena itu, penduduk surga dan penduduk neraka mengenalnya. Ketika ditanyakan kepada mereka , “Apakah kalian mengenal ini?“ Para penduduk surga dan neraka manjawab, “Ya, kami mengenalnya.” Bagi mereka, wujud kematian pada saat itu bukan sesuatu yang aneh dan asing sehingga mereka bisa mengenalinya.Ada benda-benda yang tidak bisa kita lihat saat ini. Jin adalah jism (memiliki wujud), namun kita tidak bisa melihatnya. Begitu juga ruh adalah jism, namun kita tidak dapat melihatnya. Oleh karena itu, bukan perkara yang aneh dan asing jika orang yang sudah meninggal bisa melihat kematian dalam bentuk jism, sementara kita saat ini tidak bisa melihatnya.Baca Juga: Memperingatkan Neraka tapi Malah Masuk NerakaFaedah hadisDi antara faedah hadis yang mulia di atas adalah:Pertama: Wajib memahami makna hadis sesuai zahirnya, tanpa melakukan takwil dengan menyelewengkan maknanya.Kedua: Allah MahaKuasa atas segala sesuatu, termasuk menjadikan kematian bisa disembelih di akhirat kelak.Ketiga: Penduduk surga dan neraka akan kekal karena setelah itu tidak akan ada lagi kematianKeempat: Hadis di atas menjadi dalil tentang keabadian surga dan neraka.Kelima: Seorang mukmin hendaknya mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat dengan banyak beramal salehBaca Juga:Memiliki Rasa Takut dan Khawatir dengan Siksa NerakaMeraih Surga dan Menjauh dari Neraka dengan Ilmu Syar’i***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-‘Uquud Adz-Dzahabiyyah ‘alaa Maqaasid Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah karya Syekh Dr. Sulthon bin ‘Abdirrahman Al-‘Umairi🔍 Pengertian Iman, Sesajen Menurut Islam, Hukum Mendengarkan Alquran Sambil Bekerja, Mengucapkan Ulang Tahun Dalam Islam, Warna Dalam IslamTags: akhiratalam akhiratAqidahaqidah islamkekal di nerakakekal di surgakematiannasihatnasihat islamnerakasurgaTauhid


Daftar Isi sembunyikan 1. Hadis mengenai disembelihnya kematian 2. Memahami makna hadis dengan benar 3. Faedah hadis Hadis mengenai disembelihnya kematian Dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحٍ فَيُنَادِي بِهِ مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ! فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقًوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ, وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ, ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ وَكُلُّهْمْ قَدْ رَآهُ فَيُذْبَحُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يَقُوْلُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ“Kematian didatangkan dalam bentuk kambing berkulit hitam putih. Lalu, ada penyeru yang memanggil, ‘Wahai penduduk surga!’ Mereka menengok dan melihat. Penyeru itu berkata, ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya, itu adalah kematian.’ Mereka semua telah melihatnya. Kemudian penyeru memanggil, ‘Wahai penduduk neraka!’ Mereka menengok dan melihat. Penyeru itu berkata, ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya, itu adalah kematian.’ Mereka semua telah melihatnya. Kemudian kematian disembelih di antara surga dan neraka. Lalu penyeru  berkata, ‘Wahai penduduk surga, kekekalan dan tiada lagi kematian setelahnya, dan wahai penduduk neraka, kekekalan dan tiada lagi  kematian setelahnya.’“ (HR. Bukhari dan Muslim)Baca Juga: Memperingatkan Neraka tapi Malah Masuk NerakaMemahami makna hadis dengan benar Banyak manusia merasa bingung dengan makna hadis ini. Karena kematian adalah hal abstrak dan penyembelihan tidak bisa dilakukan untuk hal yang sifatnya abstrak. Penyembelihan hanya bisa dilakukan untuk benda yang berwujud, sementara kematian tidak ada wujudnya. Dengan demikian, bagaimana caranya kematian bisa disembelih?Terdapat beberapa penjelasan dalam memahami hadis ini untuk menjawab hal yang dianggap membingungkan tersebut:Pertama: Ada yang mengatakan bahwa yang dimaskud kematian dalam hadis di atas adalah malaikat maut. Sehingga yang disembelih bukanlah kematian, akan tetapi malaikat maut.Kedua: Ada yang memberi penilaian dhaif terhadap hadis di atas. Ini adalah pekataan sekte Mu’tazilah.Ketiga: Ada yang menjelaskan bahwa yang dimaksud menyembelih di sini hanya makna kiasan, bukan menyembelih dalam arti sebenarnya karena hal yang abstrak tidak bisa disembelih.Keempat: Allah mengubah kematian yang merupakan hal abstrak menjadi bentuk konkret yang berwujud, kemudian disembelih. Penyembelihan yang dilakukan berkaitan dengan kematian yang telah berubah bentuk dari abstrak menjadi konkret dan memiliki wujud.Tiga penjelasan pertama tidaklah tepat. Penjelasan yang paling benar adalah penjelasan yang terakhir. Sebagian ulama memberikan penjelasan tambahan bahwa kematian pada asalnya adalah merupakan jasad yang berwujud yang bisa dikenali oleh orang yang telah meninggal. Oleh karena itu, penduduk surga dan penduduk neraka mengenalnya. Ketika ditanyakan kepada mereka , “Apakah kalian mengenal ini?“ Para penduduk surga dan neraka manjawab, “Ya, kami mengenalnya.” Bagi mereka, wujud kematian pada saat itu bukan sesuatu yang aneh dan asing sehingga mereka bisa mengenalinya.Ada benda-benda yang tidak bisa kita lihat saat ini. Jin adalah jism (memiliki wujud), namun kita tidak bisa melihatnya. Begitu juga ruh adalah jism, namun kita tidak dapat melihatnya. Oleh karena itu, bukan perkara yang aneh dan asing jika orang yang sudah meninggal bisa melihat kematian dalam bentuk jism, sementara kita saat ini tidak bisa melihatnya.Baca Juga: Memperingatkan Neraka tapi Malah Masuk NerakaFaedah hadisDi antara faedah hadis yang mulia di atas adalah:Pertama: Wajib memahami makna hadis sesuai zahirnya, tanpa melakukan takwil dengan menyelewengkan maknanya.Kedua: Allah MahaKuasa atas segala sesuatu, termasuk menjadikan kematian bisa disembelih di akhirat kelak.Ketiga: Penduduk surga dan neraka akan kekal karena setelah itu tidak akan ada lagi kematianKeempat: Hadis di atas menjadi dalil tentang keabadian surga dan neraka.Kelima: Seorang mukmin hendaknya mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat dengan banyak beramal salehBaca Juga:Memiliki Rasa Takut dan Khawatir dengan Siksa NerakaMeraih Surga dan Menjauh dari Neraka dengan Ilmu Syar’i***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-‘Uquud Adz-Dzahabiyyah ‘alaa Maqaasid Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah karya Syekh Dr. Sulthon bin ‘Abdirrahman Al-‘Umairi🔍 Pengertian Iman, Sesajen Menurut Islam, Hukum Mendengarkan Alquran Sambil Bekerja, Mengucapkan Ulang Tahun Dalam Islam, Warna Dalam IslamTags: akhiratalam akhiratAqidahaqidah islamkekal di nerakakekal di surgakematiannasihatnasihat islamnerakasurgaTauhid

Tidur yang Membatalkan Wudhu – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Ada hadis sahih dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mata adalah pengikat dubur, barang siapa tertidur hendaknya dia berwudu.” (HR. Ahmad) Ini menunjukkan bahwa tidur membatalkan wudu. Baiklah, tidur termasuk dalam makna ‘segala sesuatu yang menghilangkan kesadaran’, sebagaimana gila dan pingsan. Begitu juga yang semakna dengan keduanya, seperti mabuk, mabuk dan pengaruh anestesi total. Begitu juga epilepsi. Semuanya termasuk pembatal-pembatal wudu. Karena jika seseorang kehilangan kesadarannya, maka dia tidak bisa mengontrol tempat keluarnya kentut (dubur), sehingga barangkali dia sudah kentut. Sehingga, saat inilah “prasangka” didudukkan pada posisi “yakin”. Syariat ini memposisikan prasangka pada tingkat yakin dalam beberapa masalah, dan ini salah satunya. Hilangnya kesadaran ini membatalkan wudu, sebagaimana terdapat dalam banyak hadis, walaupun ada pengecualian berdasarkan dalil sahih, bahwa para sahabat—semoga Allah meridai mereka semua— dahulu mereka di masjid menunggu Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hingga tertunduk kepala mereka (terlelap sejenak karena mengantuk), namun, ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam datang, mereka berdiri dan salat bersama Nabi, tanpa mengulangi wudu mereka. Ini menunjukkan pada kita, bahwa terlelap sejenak tidak membatalkan wudu. Bagaimana kita membedakan antara terlelap sejenak dengan tidur nyenyak? Para ulama berkata, “Prinsipnya, bahwa perbedaan antara keduanya adalah adanya kesadaran atau tidak.” Dari sisi maknanya, inilah standar dasarnya. Tapi pengertian ini sulit diterapkan, kenapa? Karena sebagian orang mungkin tidur berjam-jam, namun ia tidak menyadari bahwa dia telah tidur selama itu. Aku ingat seseorang yang selalu aku ceritakan kisahnya, dan dia mendapat ganjaran pahala, karena kisahnya diceritakan. Dia pernah tertidur, kemudian bangun, dan menyangka bahwa dia hanya tidur selama beberapa menit saja. Bahkan ketika melihat jam, dia berkata, “Aku hanya tidur kurang dari lima menit.” Dia berkata, “Aku tidak terbangun dari tidur, kecuali karena satu hal, yaitu karena aku lapar.” Dia berkata, “Ketika aku beranjak dan masuk rumah menemui ibuku, aku menyadari, ternyata aku tertidur sehari lebih lima menit.” Seperti ini kebanyakan dialami anak muda yang masih belia umurnya, mereka yang mampu tidur nyenyak selama itu. Adapun orang yang sudah tua, tidak akan bisa nyenyak seperti itu. Intinya, apa yang disebutkan oleh sebagian ulama, bahwa yang membatalkan wudu adalah ketika dia benar-benar kehilangan kesadarannya, sehingga tidak mengetahui apa pun, tapi seseorang terkadang tidak tahu, dia menyangka bahwa dia masih dalam keadaan sadar, padahal telah hilang kesadarannya. Oleh sebab itu, yang mudah diterapkan adalah perkataan ulama, bahwa kita melihat posisi tidurnya: (1) jika dia tidur dalam posisi berbaring, atau duduk bertelekan pada sesuatu, atau dalam posisi sujud, maka posisi tidur seperti ini menyebabkan wudunya batal. Adapun jika dia tidur dalam keadaan berdiri, atau posisi semisalnya yang tidak memungkinkan baginya untuk tidur nyenyak, karena jika nyenyak pasti terjatuh, maka ini tidak membatalkan wudu, karena jika dia tidur nyenyak pasti terjatuh. Jika tidak jatuh, itu menandakan kalau tidurnya tidak membatalkan wudu. ==== وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ نَاقِضٌ لِلْوُضُوءِ طَيِّبٌ النَّوْمُ فِيهِ مَعْنَى كُلُّ زَوَالِ الْعَقْلِ كَالْجُنُونِ وَالْإِغْمَاءِ وَمِثْلُهُ أَيْضًا نَحْوُ مُلْحَقٌ بِأَحَدِهِمَا كَالسُّكْرِ فَإِنَّ السُّكْرَ وَالْبَنْجَ الْمُذْهَبَ بِالْعَقْلِ … وَمِثْلُهُ الصَّرْعُ كُلُّهَا تَكُونُ مِنْ نَوَاقِضِ الْوُضُوءِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا ذَهَبَ عَقْلُهُ لَمْ يَتَحَكَّمْ بِمَخْرَجِ الرِّيحِ مِنْهُ فَرُبَّمَا خَرَجَتِ الرِّيْحُ مِنْهُ وَحِيْنَئِذٍ نُزِّلَتِ الْمَظِنَّةُ مَنْزِلَةَ الْمَئِنَّةِ وَالشَّرْعُ يُنَزِّلُ الْمَظِنَّةَ مَنْزَلَةَ الْمَئِنَّةِ فِي مَسَائِلَ وَمِنْهَا هَذَا هَذَا زَوَالُ الْعَقْلِ جَاءَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّرِيحَةُ فِي نَقْضِ الْوُضُوءِ بِهِ إِلَّا أَنَّ هُنَاكَ اِسْتِثْنَاءً فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ كَانُوا فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَخْفِقُ رُؤُوسُهُمْ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا حَضَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامُوا فَصَلَّوْا مَعَهُ وَلَمْ يُعِيدُوا وُضُوءَهُمْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ الْيَسِيرَ لَيْسَ بِنَاقِضٍ لِلْوُضُوءِ وَكَيْفَ نُفَرِّقُ بَيْنَ النَّوْمِ الْيَسِيرِ وَالنَّوْمِ الْكَثِيرِ؟ وَقَالُوا: الْأَصْلُ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا بِالْإِدْرَاكِ وَعَدَمِهِ هَذَا هُوَ الْأَصْلُ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى وَلَكِنَّ ذَلِكَ غَيْرُ مُنْضَبِطٍ لِمَ؟ لِأَنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ يَنَامُ سَاعَاتٍ طِوَالًا وَلَا يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ نَامَ فِي تِلْكَ السَّاعَاتِ الطِّوَالِ وَأَذْكُرُ شَخْصًا وَدَائِمًا أُخْبِرُ بِقِصَّتِهِ وَلَهُ الْأَجْرُ بِذِكْرِ قِصَّتِهِ أَنَّهُ نَامَ فَاسْتَيْقَظَ فَظَنَّ أَنَّهُ لَمْ يَنَمْ إِلَّا دَقَائِقَ مَعْدُودَةً حَتَّى أَنَّهُ نَظَرَ فِي السَّاعَةِ فَيَقُولُ: مَا نِمْتُ إِلَّا أَقَلَّ مِنْ خَمْسِ دَقَائِقَ يَقُولُ: لَمْ أَسْتَيْقِظْ مِنْ نَفْسِيْ إِلَّا شَيْئًا وَاحِدًا أَنَّنِي قَدْ جُعْتُ يَقُولُ: فَلَمَّا ذَهَبْتُ وَدَخَلْتُ الدَّارَ عِنْدَ وَالِدَتِي فَإِذَا بِي قَدْ نِمْتُ يَوْمًا وَخَمْسَ دَقَائِقَ وَهَذَا غَالِبًا فِي الشَّبَابِ صِغَارِ السِّنِّ هُمُ الَّذِينَ يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يَنَامُوا هَذَا النَّوْمَ الطَوِيْلَ كِبَارُ السِّنِّ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْاِسْتِغْرَاقَ فِي النَّوْمِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ مَا ذَكَرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَنَّ النَّاقِضَ هُوَ الَّذِي يَغِيبُ الْمَرْءُ فِيهِ عَنْ وَعْيِهِ تَمَامًا وَلَا يُدْرِكُ هُوَ قَدْ لَا يَعْلَمُ هُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ لَمْ يَغِبْ عَقْلُهُ وَقَدْ غَابَ عَقْلُهُ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَضْبُوطَ كَلَامُ فُقَهَاءِنَا أَنَّنَا نَنْظُرُ لِلْهَيْئَةِ فَإِنْ كَانَ قَدْ نَامَ مُضْطَجِعًا أَوْ مُتَّكِئًا بِأَنْ يَكُونَ مُسْتَنِدًا عَلَى شَيْءٍ أَوْ سَاجِدًا فَإِنَّهُ يَكُونُ نَاقِضًا وَأَمَّا إِنْ نَامَ وَاقِفًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مِنَ الْهَيْئَاتِ الَّتِي لَا يَكُونُ فِيهَا النَّوْمُ مُتَمَكِّنًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ سَقَطَ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ نَاقِضًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ مِنَ النَّوْمِ سَقَطَ وَلَمْ يَسْقُطْ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِنَاقِضٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tidur yang Membatalkan Wudhu – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Ada hadis sahih dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mata adalah pengikat dubur, barang siapa tertidur hendaknya dia berwudu.” (HR. Ahmad) Ini menunjukkan bahwa tidur membatalkan wudu. Baiklah, tidur termasuk dalam makna ‘segala sesuatu yang menghilangkan kesadaran’, sebagaimana gila dan pingsan. Begitu juga yang semakna dengan keduanya, seperti mabuk, mabuk dan pengaruh anestesi total. Begitu juga epilepsi. Semuanya termasuk pembatal-pembatal wudu. Karena jika seseorang kehilangan kesadarannya, maka dia tidak bisa mengontrol tempat keluarnya kentut (dubur), sehingga barangkali dia sudah kentut. Sehingga, saat inilah “prasangka” didudukkan pada posisi “yakin”. Syariat ini memposisikan prasangka pada tingkat yakin dalam beberapa masalah, dan ini salah satunya. Hilangnya kesadaran ini membatalkan wudu, sebagaimana terdapat dalam banyak hadis, walaupun ada pengecualian berdasarkan dalil sahih, bahwa para sahabat—semoga Allah meridai mereka semua— dahulu mereka di masjid menunggu Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hingga tertunduk kepala mereka (terlelap sejenak karena mengantuk), namun, ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam datang, mereka berdiri dan salat bersama Nabi, tanpa mengulangi wudu mereka. Ini menunjukkan pada kita, bahwa terlelap sejenak tidak membatalkan wudu. Bagaimana kita membedakan antara terlelap sejenak dengan tidur nyenyak? Para ulama berkata, “Prinsipnya, bahwa perbedaan antara keduanya adalah adanya kesadaran atau tidak.” Dari sisi maknanya, inilah standar dasarnya. Tapi pengertian ini sulit diterapkan, kenapa? Karena sebagian orang mungkin tidur berjam-jam, namun ia tidak menyadari bahwa dia telah tidur selama itu. Aku ingat seseorang yang selalu aku ceritakan kisahnya, dan dia mendapat ganjaran pahala, karena kisahnya diceritakan. Dia pernah tertidur, kemudian bangun, dan menyangka bahwa dia hanya tidur selama beberapa menit saja. Bahkan ketika melihat jam, dia berkata, “Aku hanya tidur kurang dari lima menit.” Dia berkata, “Aku tidak terbangun dari tidur, kecuali karena satu hal, yaitu karena aku lapar.” Dia berkata, “Ketika aku beranjak dan masuk rumah menemui ibuku, aku menyadari, ternyata aku tertidur sehari lebih lima menit.” Seperti ini kebanyakan dialami anak muda yang masih belia umurnya, mereka yang mampu tidur nyenyak selama itu. Adapun orang yang sudah tua, tidak akan bisa nyenyak seperti itu. Intinya, apa yang disebutkan oleh sebagian ulama, bahwa yang membatalkan wudu adalah ketika dia benar-benar kehilangan kesadarannya, sehingga tidak mengetahui apa pun, tapi seseorang terkadang tidak tahu, dia menyangka bahwa dia masih dalam keadaan sadar, padahal telah hilang kesadarannya. Oleh sebab itu, yang mudah diterapkan adalah perkataan ulama, bahwa kita melihat posisi tidurnya: (1) jika dia tidur dalam posisi berbaring, atau duduk bertelekan pada sesuatu, atau dalam posisi sujud, maka posisi tidur seperti ini menyebabkan wudunya batal. Adapun jika dia tidur dalam keadaan berdiri, atau posisi semisalnya yang tidak memungkinkan baginya untuk tidur nyenyak, karena jika nyenyak pasti terjatuh, maka ini tidak membatalkan wudu, karena jika dia tidur nyenyak pasti terjatuh. Jika tidak jatuh, itu menandakan kalau tidurnya tidak membatalkan wudu. ==== وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ نَاقِضٌ لِلْوُضُوءِ طَيِّبٌ النَّوْمُ فِيهِ مَعْنَى كُلُّ زَوَالِ الْعَقْلِ كَالْجُنُونِ وَالْإِغْمَاءِ وَمِثْلُهُ أَيْضًا نَحْوُ مُلْحَقٌ بِأَحَدِهِمَا كَالسُّكْرِ فَإِنَّ السُّكْرَ وَالْبَنْجَ الْمُذْهَبَ بِالْعَقْلِ … وَمِثْلُهُ الصَّرْعُ كُلُّهَا تَكُونُ مِنْ نَوَاقِضِ الْوُضُوءِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا ذَهَبَ عَقْلُهُ لَمْ يَتَحَكَّمْ بِمَخْرَجِ الرِّيحِ مِنْهُ فَرُبَّمَا خَرَجَتِ الرِّيْحُ مِنْهُ وَحِيْنَئِذٍ نُزِّلَتِ الْمَظِنَّةُ مَنْزِلَةَ الْمَئِنَّةِ وَالشَّرْعُ يُنَزِّلُ الْمَظِنَّةَ مَنْزَلَةَ الْمَئِنَّةِ فِي مَسَائِلَ وَمِنْهَا هَذَا هَذَا زَوَالُ الْعَقْلِ جَاءَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّرِيحَةُ فِي نَقْضِ الْوُضُوءِ بِهِ إِلَّا أَنَّ هُنَاكَ اِسْتِثْنَاءً فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ كَانُوا فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَخْفِقُ رُؤُوسُهُمْ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا حَضَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامُوا فَصَلَّوْا مَعَهُ وَلَمْ يُعِيدُوا وُضُوءَهُمْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ الْيَسِيرَ لَيْسَ بِنَاقِضٍ لِلْوُضُوءِ وَكَيْفَ نُفَرِّقُ بَيْنَ النَّوْمِ الْيَسِيرِ وَالنَّوْمِ الْكَثِيرِ؟ وَقَالُوا: الْأَصْلُ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا بِالْإِدْرَاكِ وَعَدَمِهِ هَذَا هُوَ الْأَصْلُ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى وَلَكِنَّ ذَلِكَ غَيْرُ مُنْضَبِطٍ لِمَ؟ لِأَنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ يَنَامُ سَاعَاتٍ طِوَالًا وَلَا يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ نَامَ فِي تِلْكَ السَّاعَاتِ الطِّوَالِ وَأَذْكُرُ شَخْصًا وَدَائِمًا أُخْبِرُ بِقِصَّتِهِ وَلَهُ الْأَجْرُ بِذِكْرِ قِصَّتِهِ أَنَّهُ نَامَ فَاسْتَيْقَظَ فَظَنَّ أَنَّهُ لَمْ يَنَمْ إِلَّا دَقَائِقَ مَعْدُودَةً حَتَّى أَنَّهُ نَظَرَ فِي السَّاعَةِ فَيَقُولُ: مَا نِمْتُ إِلَّا أَقَلَّ مِنْ خَمْسِ دَقَائِقَ يَقُولُ: لَمْ أَسْتَيْقِظْ مِنْ نَفْسِيْ إِلَّا شَيْئًا وَاحِدًا أَنَّنِي قَدْ جُعْتُ يَقُولُ: فَلَمَّا ذَهَبْتُ وَدَخَلْتُ الدَّارَ عِنْدَ وَالِدَتِي فَإِذَا بِي قَدْ نِمْتُ يَوْمًا وَخَمْسَ دَقَائِقَ وَهَذَا غَالِبًا فِي الشَّبَابِ صِغَارِ السِّنِّ هُمُ الَّذِينَ يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يَنَامُوا هَذَا النَّوْمَ الطَوِيْلَ كِبَارُ السِّنِّ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْاِسْتِغْرَاقَ فِي النَّوْمِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ مَا ذَكَرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَنَّ النَّاقِضَ هُوَ الَّذِي يَغِيبُ الْمَرْءُ فِيهِ عَنْ وَعْيِهِ تَمَامًا وَلَا يُدْرِكُ هُوَ قَدْ لَا يَعْلَمُ هُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ لَمْ يَغِبْ عَقْلُهُ وَقَدْ غَابَ عَقْلُهُ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَضْبُوطَ كَلَامُ فُقَهَاءِنَا أَنَّنَا نَنْظُرُ لِلْهَيْئَةِ فَإِنْ كَانَ قَدْ نَامَ مُضْطَجِعًا أَوْ مُتَّكِئًا بِأَنْ يَكُونَ مُسْتَنِدًا عَلَى شَيْءٍ أَوْ سَاجِدًا فَإِنَّهُ يَكُونُ نَاقِضًا وَأَمَّا إِنْ نَامَ وَاقِفًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مِنَ الْهَيْئَاتِ الَّتِي لَا يَكُونُ فِيهَا النَّوْمُ مُتَمَكِّنًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ سَقَطَ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ نَاقِضًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ مِنَ النَّوْمِ سَقَطَ وَلَمْ يَسْقُطْ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِنَاقِضٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ada hadis sahih dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mata adalah pengikat dubur, barang siapa tertidur hendaknya dia berwudu.” (HR. Ahmad) Ini menunjukkan bahwa tidur membatalkan wudu. Baiklah, tidur termasuk dalam makna ‘segala sesuatu yang menghilangkan kesadaran’, sebagaimana gila dan pingsan. Begitu juga yang semakna dengan keduanya, seperti mabuk, mabuk dan pengaruh anestesi total. Begitu juga epilepsi. Semuanya termasuk pembatal-pembatal wudu. Karena jika seseorang kehilangan kesadarannya, maka dia tidak bisa mengontrol tempat keluarnya kentut (dubur), sehingga barangkali dia sudah kentut. Sehingga, saat inilah “prasangka” didudukkan pada posisi “yakin”. Syariat ini memposisikan prasangka pada tingkat yakin dalam beberapa masalah, dan ini salah satunya. Hilangnya kesadaran ini membatalkan wudu, sebagaimana terdapat dalam banyak hadis, walaupun ada pengecualian berdasarkan dalil sahih, bahwa para sahabat—semoga Allah meridai mereka semua— dahulu mereka di masjid menunggu Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hingga tertunduk kepala mereka (terlelap sejenak karena mengantuk), namun, ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam datang, mereka berdiri dan salat bersama Nabi, tanpa mengulangi wudu mereka. Ini menunjukkan pada kita, bahwa terlelap sejenak tidak membatalkan wudu. Bagaimana kita membedakan antara terlelap sejenak dengan tidur nyenyak? Para ulama berkata, “Prinsipnya, bahwa perbedaan antara keduanya adalah adanya kesadaran atau tidak.” Dari sisi maknanya, inilah standar dasarnya. Tapi pengertian ini sulit diterapkan, kenapa? Karena sebagian orang mungkin tidur berjam-jam, namun ia tidak menyadari bahwa dia telah tidur selama itu. Aku ingat seseorang yang selalu aku ceritakan kisahnya, dan dia mendapat ganjaran pahala, karena kisahnya diceritakan. Dia pernah tertidur, kemudian bangun, dan menyangka bahwa dia hanya tidur selama beberapa menit saja. Bahkan ketika melihat jam, dia berkata, “Aku hanya tidur kurang dari lima menit.” Dia berkata, “Aku tidak terbangun dari tidur, kecuali karena satu hal, yaitu karena aku lapar.” Dia berkata, “Ketika aku beranjak dan masuk rumah menemui ibuku, aku menyadari, ternyata aku tertidur sehari lebih lima menit.” Seperti ini kebanyakan dialami anak muda yang masih belia umurnya, mereka yang mampu tidur nyenyak selama itu. Adapun orang yang sudah tua, tidak akan bisa nyenyak seperti itu. Intinya, apa yang disebutkan oleh sebagian ulama, bahwa yang membatalkan wudu adalah ketika dia benar-benar kehilangan kesadarannya, sehingga tidak mengetahui apa pun, tapi seseorang terkadang tidak tahu, dia menyangka bahwa dia masih dalam keadaan sadar, padahal telah hilang kesadarannya. Oleh sebab itu, yang mudah diterapkan adalah perkataan ulama, bahwa kita melihat posisi tidurnya: (1) jika dia tidur dalam posisi berbaring, atau duduk bertelekan pada sesuatu, atau dalam posisi sujud, maka posisi tidur seperti ini menyebabkan wudunya batal. Adapun jika dia tidur dalam keadaan berdiri, atau posisi semisalnya yang tidak memungkinkan baginya untuk tidur nyenyak, karena jika nyenyak pasti terjatuh, maka ini tidak membatalkan wudu, karena jika dia tidur nyenyak pasti terjatuh. Jika tidak jatuh, itu menandakan kalau tidurnya tidak membatalkan wudu. ==== وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ نَاقِضٌ لِلْوُضُوءِ طَيِّبٌ النَّوْمُ فِيهِ مَعْنَى كُلُّ زَوَالِ الْعَقْلِ كَالْجُنُونِ وَالْإِغْمَاءِ وَمِثْلُهُ أَيْضًا نَحْوُ مُلْحَقٌ بِأَحَدِهِمَا كَالسُّكْرِ فَإِنَّ السُّكْرَ وَالْبَنْجَ الْمُذْهَبَ بِالْعَقْلِ … وَمِثْلُهُ الصَّرْعُ كُلُّهَا تَكُونُ مِنْ نَوَاقِضِ الْوُضُوءِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا ذَهَبَ عَقْلُهُ لَمْ يَتَحَكَّمْ بِمَخْرَجِ الرِّيحِ مِنْهُ فَرُبَّمَا خَرَجَتِ الرِّيْحُ مِنْهُ وَحِيْنَئِذٍ نُزِّلَتِ الْمَظِنَّةُ مَنْزِلَةَ الْمَئِنَّةِ وَالشَّرْعُ يُنَزِّلُ الْمَظِنَّةَ مَنْزَلَةَ الْمَئِنَّةِ فِي مَسَائِلَ وَمِنْهَا هَذَا هَذَا زَوَالُ الْعَقْلِ جَاءَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّرِيحَةُ فِي نَقْضِ الْوُضُوءِ بِهِ إِلَّا أَنَّ هُنَاكَ اِسْتِثْنَاءً فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ كَانُوا فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَخْفِقُ رُؤُوسُهُمْ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا حَضَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامُوا فَصَلَّوْا مَعَهُ وَلَمْ يُعِيدُوا وُضُوءَهُمْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ الْيَسِيرَ لَيْسَ بِنَاقِضٍ لِلْوُضُوءِ وَكَيْفَ نُفَرِّقُ بَيْنَ النَّوْمِ الْيَسِيرِ وَالنَّوْمِ الْكَثِيرِ؟ وَقَالُوا: الْأَصْلُ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا بِالْإِدْرَاكِ وَعَدَمِهِ هَذَا هُوَ الْأَصْلُ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى وَلَكِنَّ ذَلِكَ غَيْرُ مُنْضَبِطٍ لِمَ؟ لِأَنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ يَنَامُ سَاعَاتٍ طِوَالًا وَلَا يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ نَامَ فِي تِلْكَ السَّاعَاتِ الطِّوَالِ وَأَذْكُرُ شَخْصًا وَدَائِمًا أُخْبِرُ بِقِصَّتِهِ وَلَهُ الْأَجْرُ بِذِكْرِ قِصَّتِهِ أَنَّهُ نَامَ فَاسْتَيْقَظَ فَظَنَّ أَنَّهُ لَمْ يَنَمْ إِلَّا دَقَائِقَ مَعْدُودَةً حَتَّى أَنَّهُ نَظَرَ فِي السَّاعَةِ فَيَقُولُ: مَا نِمْتُ إِلَّا أَقَلَّ مِنْ خَمْسِ دَقَائِقَ يَقُولُ: لَمْ أَسْتَيْقِظْ مِنْ نَفْسِيْ إِلَّا شَيْئًا وَاحِدًا أَنَّنِي قَدْ جُعْتُ يَقُولُ: فَلَمَّا ذَهَبْتُ وَدَخَلْتُ الدَّارَ عِنْدَ وَالِدَتِي فَإِذَا بِي قَدْ نِمْتُ يَوْمًا وَخَمْسَ دَقَائِقَ وَهَذَا غَالِبًا فِي الشَّبَابِ صِغَارِ السِّنِّ هُمُ الَّذِينَ يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يَنَامُوا هَذَا النَّوْمَ الطَوِيْلَ كِبَارُ السِّنِّ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْاِسْتِغْرَاقَ فِي النَّوْمِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ مَا ذَكَرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَنَّ النَّاقِضَ هُوَ الَّذِي يَغِيبُ الْمَرْءُ فِيهِ عَنْ وَعْيِهِ تَمَامًا وَلَا يُدْرِكُ هُوَ قَدْ لَا يَعْلَمُ هُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ لَمْ يَغِبْ عَقْلُهُ وَقَدْ غَابَ عَقْلُهُ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَضْبُوطَ كَلَامُ فُقَهَاءِنَا أَنَّنَا نَنْظُرُ لِلْهَيْئَةِ فَإِنْ كَانَ قَدْ نَامَ مُضْطَجِعًا أَوْ مُتَّكِئًا بِأَنْ يَكُونَ مُسْتَنِدًا عَلَى شَيْءٍ أَوْ سَاجِدًا فَإِنَّهُ يَكُونُ نَاقِضًا وَأَمَّا إِنْ نَامَ وَاقِفًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مِنَ الْهَيْئَاتِ الَّتِي لَا يَكُونُ فِيهَا النَّوْمُ مُتَمَكِّنًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ سَقَطَ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ نَاقِضًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ مِنَ النَّوْمِ سَقَطَ وَلَمْ يَسْقُطْ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِنَاقِضٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ada hadis sahih dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mata adalah pengikat dubur, barang siapa tertidur hendaknya dia berwudu.” (HR. Ahmad) Ini menunjukkan bahwa tidur membatalkan wudu. Baiklah, tidur termasuk dalam makna ‘segala sesuatu yang menghilangkan kesadaran’, sebagaimana gila dan pingsan. Begitu juga yang semakna dengan keduanya, seperti mabuk, mabuk dan pengaruh anestesi total. Begitu juga epilepsi. Semuanya termasuk pembatal-pembatal wudu. Karena jika seseorang kehilangan kesadarannya, maka dia tidak bisa mengontrol tempat keluarnya kentut (dubur), sehingga barangkali dia sudah kentut. Sehingga, saat inilah “prasangka” didudukkan pada posisi “yakin”. Syariat ini memposisikan prasangka pada tingkat yakin dalam beberapa masalah, dan ini salah satunya. Hilangnya kesadaran ini membatalkan wudu, sebagaimana terdapat dalam banyak hadis, walaupun ada pengecualian berdasarkan dalil sahih, bahwa para sahabat—semoga Allah meridai mereka semua— dahulu mereka di masjid menunggu Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hingga tertunduk kepala mereka (terlelap sejenak karena mengantuk), namun, ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam datang, mereka berdiri dan salat bersama Nabi, tanpa mengulangi wudu mereka. Ini menunjukkan pada kita, bahwa terlelap sejenak tidak membatalkan wudu. Bagaimana kita membedakan antara terlelap sejenak dengan tidur nyenyak? Para ulama berkata, “Prinsipnya, bahwa perbedaan antara keduanya adalah adanya kesadaran atau tidak.” Dari sisi maknanya, inilah standar dasarnya. Tapi pengertian ini sulit diterapkan, kenapa? Karena sebagian orang mungkin tidur berjam-jam, namun ia tidak menyadari bahwa dia telah tidur selama itu. Aku ingat seseorang yang selalu aku ceritakan kisahnya, dan dia mendapat ganjaran pahala, karena kisahnya diceritakan. Dia pernah tertidur, kemudian bangun, dan menyangka bahwa dia hanya tidur selama beberapa menit saja. Bahkan ketika melihat jam, dia berkata, “Aku hanya tidur kurang dari lima menit.” Dia berkata, “Aku tidak terbangun dari tidur, kecuali karena satu hal, yaitu karena aku lapar.” Dia berkata, “Ketika aku beranjak dan masuk rumah menemui ibuku, aku menyadari, ternyata aku tertidur sehari lebih lima menit.” Seperti ini kebanyakan dialami anak muda yang masih belia umurnya, mereka yang mampu tidur nyenyak selama itu. Adapun orang yang sudah tua, tidak akan bisa nyenyak seperti itu. Intinya, apa yang disebutkan oleh sebagian ulama, bahwa yang membatalkan wudu adalah ketika dia benar-benar kehilangan kesadarannya, sehingga tidak mengetahui apa pun, tapi seseorang terkadang tidak tahu, dia menyangka bahwa dia masih dalam keadaan sadar, padahal telah hilang kesadarannya. Oleh sebab itu, yang mudah diterapkan adalah perkataan ulama, bahwa kita melihat posisi tidurnya: (1) jika dia tidur dalam posisi berbaring, atau duduk bertelekan pada sesuatu, atau dalam posisi sujud, maka posisi tidur seperti ini menyebabkan wudunya batal. Adapun jika dia tidur dalam keadaan berdiri, atau posisi semisalnya yang tidak memungkinkan baginya untuk tidur nyenyak, karena jika nyenyak pasti terjatuh, maka ini tidak membatalkan wudu, karena jika dia tidur nyenyak pasti terjatuh. Jika tidak jatuh, itu menandakan kalau tidurnya tidak membatalkan wudu. ==== وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ نَاقِضٌ لِلْوُضُوءِ طَيِّبٌ النَّوْمُ فِيهِ مَعْنَى كُلُّ زَوَالِ الْعَقْلِ كَالْجُنُونِ وَالْإِغْمَاءِ وَمِثْلُهُ أَيْضًا نَحْوُ مُلْحَقٌ بِأَحَدِهِمَا كَالسُّكْرِ فَإِنَّ السُّكْرَ وَالْبَنْجَ الْمُذْهَبَ بِالْعَقْلِ … وَمِثْلُهُ الصَّرْعُ كُلُّهَا تَكُونُ مِنْ نَوَاقِضِ الْوُضُوءِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا ذَهَبَ عَقْلُهُ لَمْ يَتَحَكَّمْ بِمَخْرَجِ الرِّيحِ مِنْهُ فَرُبَّمَا خَرَجَتِ الرِّيْحُ مِنْهُ وَحِيْنَئِذٍ نُزِّلَتِ الْمَظِنَّةُ مَنْزِلَةَ الْمَئِنَّةِ وَالشَّرْعُ يُنَزِّلُ الْمَظِنَّةَ مَنْزَلَةَ الْمَئِنَّةِ فِي مَسَائِلَ وَمِنْهَا هَذَا هَذَا زَوَالُ الْعَقْلِ جَاءَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّرِيحَةُ فِي نَقْضِ الْوُضُوءِ بِهِ إِلَّا أَنَّ هُنَاكَ اِسْتِثْنَاءً فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ كَانُوا فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَخْفِقُ رُؤُوسُهُمْ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا حَضَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامُوا فَصَلَّوْا مَعَهُ وَلَمْ يُعِيدُوا وُضُوءَهُمْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ الْيَسِيرَ لَيْسَ بِنَاقِضٍ لِلْوُضُوءِ وَكَيْفَ نُفَرِّقُ بَيْنَ النَّوْمِ الْيَسِيرِ وَالنَّوْمِ الْكَثِيرِ؟ وَقَالُوا: الْأَصْلُ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا بِالْإِدْرَاكِ وَعَدَمِهِ هَذَا هُوَ الْأَصْلُ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى وَلَكِنَّ ذَلِكَ غَيْرُ مُنْضَبِطٍ لِمَ؟ لِأَنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ يَنَامُ سَاعَاتٍ طِوَالًا وَلَا يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ نَامَ فِي تِلْكَ السَّاعَاتِ الطِّوَالِ وَأَذْكُرُ شَخْصًا وَدَائِمًا أُخْبِرُ بِقِصَّتِهِ وَلَهُ الْأَجْرُ بِذِكْرِ قِصَّتِهِ أَنَّهُ نَامَ فَاسْتَيْقَظَ فَظَنَّ أَنَّهُ لَمْ يَنَمْ إِلَّا دَقَائِقَ مَعْدُودَةً حَتَّى أَنَّهُ نَظَرَ فِي السَّاعَةِ فَيَقُولُ: مَا نِمْتُ إِلَّا أَقَلَّ مِنْ خَمْسِ دَقَائِقَ يَقُولُ: لَمْ أَسْتَيْقِظْ مِنْ نَفْسِيْ إِلَّا شَيْئًا وَاحِدًا أَنَّنِي قَدْ جُعْتُ يَقُولُ: فَلَمَّا ذَهَبْتُ وَدَخَلْتُ الدَّارَ عِنْدَ وَالِدَتِي فَإِذَا بِي قَدْ نِمْتُ يَوْمًا وَخَمْسَ دَقَائِقَ وَهَذَا غَالِبًا فِي الشَّبَابِ صِغَارِ السِّنِّ هُمُ الَّذِينَ يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يَنَامُوا هَذَا النَّوْمَ الطَوِيْلَ كِبَارُ السِّنِّ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْاِسْتِغْرَاقَ فِي النَّوْمِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ مَا ذَكَرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَنَّ النَّاقِضَ هُوَ الَّذِي يَغِيبُ الْمَرْءُ فِيهِ عَنْ وَعْيِهِ تَمَامًا وَلَا يُدْرِكُ هُوَ قَدْ لَا يَعْلَمُ هُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ لَمْ يَغِبْ عَقْلُهُ وَقَدْ غَابَ عَقْلُهُ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَضْبُوطَ كَلَامُ فُقَهَاءِنَا أَنَّنَا نَنْظُرُ لِلْهَيْئَةِ فَإِنْ كَانَ قَدْ نَامَ مُضْطَجِعًا أَوْ مُتَّكِئًا بِأَنْ يَكُونَ مُسْتَنِدًا عَلَى شَيْءٍ أَوْ سَاجِدًا فَإِنَّهُ يَكُونُ نَاقِضًا وَأَمَّا إِنْ نَامَ وَاقِفًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مِنَ الْهَيْئَاتِ الَّتِي لَا يَكُونُ فِيهَا النَّوْمُ مُتَمَكِّنًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ سَقَطَ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ نَاقِضًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ مِنَ النَّوْمِ سَقَطَ وَلَمْ يَسْقُطْ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِنَاقِضٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cinta: Antara yang Syar’i, Haram, dan Mubah (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 2) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil tentang cinta 1.1. Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta? 1.2. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram? 1.3. Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai? 1.4. Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadah 1.5. Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat Dalil-dalil tentang cinta Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta?Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Dalam surah Al-Baqarah ayat 165 ini terdapat patokan syirik besar dalam cinta, yaitu mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Yang dimaksud adalah cinta yang mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri. Inilah cinta ibadah. Ini berarti mencintai selain Allah dengan jenis cinta ibadah. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram?Allah Ta’ala  berfirman,قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah: 24)Surah At-Taubah ayat 24 ini menunjukkan wajibnya mendahulukan kecintaan kepada Allah dan kepada segala yang dicintai oleh Allah di atas kecintaan kepada selain itu semua. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman. Cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk (yaitu cinta tabiat/ naluri, cinta karena kasih sayang atau yang didasari rasa hormat, dan cinta kepada hobi/ kegemaran/ kesukaan yang halal) ini berubah menjadi haram jika mengakibatkan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.Baca Juga: Rasa Cinta, Takut dan Berharap kepada Allah Ta’ala Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai?Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah berikut ini menunjukkan bahwa yang wajib dicintai tertinggi di antara seluruh makhluk adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبَّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين“Tidak sempurna keimanan wajib salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, orangtunya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang melebihi seluruh makhluk lainnya adalah bagian dari kesempurnaan keimanan yang wajib. Konsekuensinya adalah jika seseorang mencintai diri sendiri/ anak/ orang tua melebihi kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berdosa, namun tidak sampai kafir. Adapun jika tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali, maka ini kekafiran karena tidak ada dasar keimanan pada pelakunya.Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadahDiriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار“Ada tiga perkara yang barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara tersebut, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, (2) mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia darinya, sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah ini menunjukkan bahwa barangsiapa terpenuhi tiga perkara yang disebutkan dalam hadis tersebut, maka akan merasakan lezatnya iman dan ibadah ketaatan kepada Allah sehingga tegar dalam menghadapi kesulitan dan musibah dalam ketaatan kepada Allah.Tiga perkara itu adalah:Pertama: Mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi selain keduanya.Kedua: Mencintai manusia hanya karena Allah.Ketiga: Benci terjatuh ke dalam kedalam kekafiran.Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhiratAllah Ta’ala  berfirman,اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.” (QS. Al-Baqarah: 166)Surah Al-Baqarah ayat 166 menunjukkan kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat. Sebaliknya, kecintaan karena Allah akan langgeng dari dunia sampai akhirat. Dalilnya adalah surah Az-Zukhruf ayat 67.Allah Ta’ala  berfirman,اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ “Teman-teman yang sangat dicintai pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Perekat Terkuat Antara Suami Dan Isteri Bukanlah Cinta, Tapi AgamaBeberapa Bentuk Cinta dan Loyalitas (Wala’) kepada Orang Kafir yang Terlarang***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tundukan Pandanganmu, Teks Renungan Malam Tentang Kematian, Sholat Sunah Sebelum Magrib, Risalah Puasa RamadhanTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid

Cinta: Antara yang Syar’i, Haram, dan Mubah (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 2) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil tentang cinta 1.1. Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta? 1.2. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram? 1.3. Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai? 1.4. Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadah 1.5. Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat Dalil-dalil tentang cinta Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta?Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Dalam surah Al-Baqarah ayat 165 ini terdapat patokan syirik besar dalam cinta, yaitu mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Yang dimaksud adalah cinta yang mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri. Inilah cinta ibadah. Ini berarti mencintai selain Allah dengan jenis cinta ibadah. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram?Allah Ta’ala  berfirman,قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah: 24)Surah At-Taubah ayat 24 ini menunjukkan wajibnya mendahulukan kecintaan kepada Allah dan kepada segala yang dicintai oleh Allah di atas kecintaan kepada selain itu semua. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman. Cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk (yaitu cinta tabiat/ naluri, cinta karena kasih sayang atau yang didasari rasa hormat, dan cinta kepada hobi/ kegemaran/ kesukaan yang halal) ini berubah menjadi haram jika mengakibatkan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.Baca Juga: Rasa Cinta, Takut dan Berharap kepada Allah Ta’ala Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai?Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah berikut ini menunjukkan bahwa yang wajib dicintai tertinggi di antara seluruh makhluk adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبَّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين“Tidak sempurna keimanan wajib salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, orangtunya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang melebihi seluruh makhluk lainnya adalah bagian dari kesempurnaan keimanan yang wajib. Konsekuensinya adalah jika seseorang mencintai diri sendiri/ anak/ orang tua melebihi kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berdosa, namun tidak sampai kafir. Adapun jika tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali, maka ini kekafiran karena tidak ada dasar keimanan pada pelakunya.Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadahDiriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار“Ada tiga perkara yang barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara tersebut, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, (2) mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia darinya, sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah ini menunjukkan bahwa barangsiapa terpenuhi tiga perkara yang disebutkan dalam hadis tersebut, maka akan merasakan lezatnya iman dan ibadah ketaatan kepada Allah sehingga tegar dalam menghadapi kesulitan dan musibah dalam ketaatan kepada Allah.Tiga perkara itu adalah:Pertama: Mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi selain keduanya.Kedua: Mencintai manusia hanya karena Allah.Ketiga: Benci terjatuh ke dalam kedalam kekafiran.Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhiratAllah Ta’ala  berfirman,اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.” (QS. Al-Baqarah: 166)Surah Al-Baqarah ayat 166 menunjukkan kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat. Sebaliknya, kecintaan karena Allah akan langgeng dari dunia sampai akhirat. Dalilnya adalah surah Az-Zukhruf ayat 67.Allah Ta’ala  berfirman,اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ “Teman-teman yang sangat dicintai pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Perekat Terkuat Antara Suami Dan Isteri Bukanlah Cinta, Tapi AgamaBeberapa Bentuk Cinta dan Loyalitas (Wala’) kepada Orang Kafir yang Terlarang***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tundukan Pandanganmu, Teks Renungan Malam Tentang Kematian, Sholat Sunah Sebelum Magrib, Risalah Puasa RamadhanTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 2) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil tentang cinta 1.1. Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta? 1.2. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram? 1.3. Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai? 1.4. Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadah 1.5. Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat Dalil-dalil tentang cinta Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta?Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Dalam surah Al-Baqarah ayat 165 ini terdapat patokan syirik besar dalam cinta, yaitu mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Yang dimaksud adalah cinta yang mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri. Inilah cinta ibadah. Ini berarti mencintai selain Allah dengan jenis cinta ibadah. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram?Allah Ta’ala  berfirman,قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah: 24)Surah At-Taubah ayat 24 ini menunjukkan wajibnya mendahulukan kecintaan kepada Allah dan kepada segala yang dicintai oleh Allah di atas kecintaan kepada selain itu semua. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman. Cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk (yaitu cinta tabiat/ naluri, cinta karena kasih sayang atau yang didasari rasa hormat, dan cinta kepada hobi/ kegemaran/ kesukaan yang halal) ini berubah menjadi haram jika mengakibatkan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.Baca Juga: Rasa Cinta, Takut dan Berharap kepada Allah Ta’ala Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai?Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah berikut ini menunjukkan bahwa yang wajib dicintai tertinggi di antara seluruh makhluk adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبَّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين“Tidak sempurna keimanan wajib salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, orangtunya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang melebihi seluruh makhluk lainnya adalah bagian dari kesempurnaan keimanan yang wajib. Konsekuensinya adalah jika seseorang mencintai diri sendiri/ anak/ orang tua melebihi kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berdosa, namun tidak sampai kafir. Adapun jika tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali, maka ini kekafiran karena tidak ada dasar keimanan pada pelakunya.Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadahDiriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار“Ada tiga perkara yang barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara tersebut, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, (2) mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia darinya, sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah ini menunjukkan bahwa barangsiapa terpenuhi tiga perkara yang disebutkan dalam hadis tersebut, maka akan merasakan lezatnya iman dan ibadah ketaatan kepada Allah sehingga tegar dalam menghadapi kesulitan dan musibah dalam ketaatan kepada Allah.Tiga perkara itu adalah:Pertama: Mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi selain keduanya.Kedua: Mencintai manusia hanya karena Allah.Ketiga: Benci terjatuh ke dalam kedalam kekafiran.Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhiratAllah Ta’ala  berfirman,اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.” (QS. Al-Baqarah: 166)Surah Al-Baqarah ayat 166 menunjukkan kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat. Sebaliknya, kecintaan karena Allah akan langgeng dari dunia sampai akhirat. Dalilnya adalah surah Az-Zukhruf ayat 67.Allah Ta’ala  berfirman,اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ “Teman-teman yang sangat dicintai pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Perekat Terkuat Antara Suami Dan Isteri Bukanlah Cinta, Tapi AgamaBeberapa Bentuk Cinta dan Loyalitas (Wala’) kepada Orang Kafir yang Terlarang***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tundukan Pandanganmu, Teks Renungan Malam Tentang Kematian, Sholat Sunah Sebelum Magrib, Risalah Puasa RamadhanTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 2) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil tentang cinta 1.1. Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta? 1.2. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram? 1.3. Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai? 1.4. Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadah 1.5. Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat Dalil-dalil tentang cinta Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta?Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Dalam surah Al-Baqarah ayat 165 ini terdapat patokan syirik besar dalam cinta, yaitu mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Yang dimaksud adalah cinta yang mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri. Inilah cinta ibadah. Ini berarti mencintai selain Allah dengan jenis cinta ibadah. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram?Allah Ta’ala  berfirman,قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah: 24)Surah At-Taubah ayat 24 ini menunjukkan wajibnya mendahulukan kecintaan kepada Allah dan kepada segala yang dicintai oleh Allah di atas kecintaan kepada selain itu semua. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman. Cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk (yaitu cinta tabiat/ naluri, cinta karena kasih sayang atau yang didasari rasa hormat, dan cinta kepada hobi/ kegemaran/ kesukaan yang halal) ini berubah menjadi haram jika mengakibatkan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.Baca Juga: Rasa Cinta, Takut dan Berharap kepada Allah Ta’ala Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai?Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah berikut ini menunjukkan bahwa yang wajib dicintai tertinggi di antara seluruh makhluk adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبَّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين“Tidak sempurna keimanan wajib salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, orangtunya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang melebihi seluruh makhluk lainnya adalah bagian dari kesempurnaan keimanan yang wajib. Konsekuensinya adalah jika seseorang mencintai diri sendiri/ anak/ orang tua melebihi kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berdosa, namun tidak sampai kafir. Adapun jika tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali, maka ini kekafiran karena tidak ada dasar keimanan pada pelakunya.Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadahDiriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار“Ada tiga perkara yang barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara tersebut, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, (2) mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia darinya, sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah ini menunjukkan bahwa barangsiapa terpenuhi tiga perkara yang disebutkan dalam hadis tersebut, maka akan merasakan lezatnya iman dan ibadah ketaatan kepada Allah sehingga tegar dalam menghadapi kesulitan dan musibah dalam ketaatan kepada Allah.Tiga perkara itu adalah:Pertama: Mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi selain keduanya.Kedua: Mencintai manusia hanya karena Allah.Ketiga: Benci terjatuh ke dalam kedalam kekafiran.Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhiratAllah Ta’ala  berfirman,اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.” (QS. Al-Baqarah: 166)Surah Al-Baqarah ayat 166 menunjukkan kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat. Sebaliknya, kecintaan karena Allah akan langgeng dari dunia sampai akhirat. Dalilnya adalah surah Az-Zukhruf ayat 67.Allah Ta’ala  berfirman,اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ “Teman-teman yang sangat dicintai pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Perekat Terkuat Antara Suami Dan Isteri Bukanlah Cinta, Tapi AgamaBeberapa Bentuk Cinta dan Loyalitas (Wala’) kepada Orang Kafir yang Terlarang***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tundukan Pandanganmu, Teks Renungan Malam Tentang Kematian, Sholat Sunah Sebelum Magrib, Risalah Puasa RamadhanTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid

Hukum Menggambar Makhluk Hidup yang Sangat Kecil

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya jika menggambar/membuat animasi DNA atau sel? Apakah tidak boleh dan dihukumi sama dengan menggambar makhluk?  (Mario Teguh Satria) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Menggambar makhluk bernyawa hukum asalnya haram. Dan hadis Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ “Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar (makhluk bernyawa)” (HR. Bukhari no. 5950, Muslim no.2109). Dan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: قال اللهُ عزَّ وجلَّ : ومن أظلم ممن ذهبَ يخلقُ كخَلْقي ، فلْيَخْلُقوا ذرَّةً ، أو : لِيخْلُقوا حبَّةً ، أو شعيرةً “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku?’. Maka buatlah gambar biji, atau bibit tanaman atau gandum” (HR. Bukhari no.7559, Muslim no.2111). Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata: وفي الحديث دليل على تحريم التصوير “Dalam hadis ini terdapat dalil tentang terlarangnya tashwir (menggambar makhluk bernyawa)” (Fathul Baari, 1/525). An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: قال أصحابنا وغيرهم من العلماء: تصوير صورة الحيوان حرام شديد التحريم، وهو من الكبائر لأنه متوعد عليه بهذا الوعيد الشديد المذكور في الأحاديث وسواء صنعه بما يمتهن أو بغيره فصنعته حرام بكل حال لأن فيه مضاهاة لخلق الله تعالى “Ulama mazhab kami (Syafi’iyyah) dan para ulama lain mengatakan: menggambar hewan hukumnya haram dengan keharaman yang sangat berat. Ia merupakan dosa besar, karena termasuk dosa yang diancam dengan ancaman yang berat, yang disebutkan dalam hadis-hadis. Baik gambar tersebut adalah gambar yang dihinakan ataukah bukan. Maka membuat gambar tersebut hukumnya haram apapun alasannya. Karena dalam membuat gambar, terdapat unsur menandingi ciptaan Allah ta’ala” (Syarah Shahih Muslim, 14/82). Adapun menggambar makhluk bernyawa yang sangat kecil seperti bakteri, kuman, DNA, sel, dan semisalnya, ada kelonggaran dalam hal ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid mengatakan: لا حرج في تصوير الكائنات الحية الدقيقة (البكتيريا والفيروسات) واستعمال هذه الصور في ملصق إشهاري لمختبر، ولغيره؛ لأن صور ذوات الأرواح إذا لم تتضح فيها المعالم، من عين وأنف وفم، لا تدخل في الصور المحرمة؛ لعدم المضاهاة.  وعدم وضوح المعالم إما أن يكون لصغر الصورة، بحيث لا تبدو تفاصيلها للناظر، وإما أن تكون مطموسة المعالم من أصلها وقد نص فقهاء الحنفية على أن الصورة الصغيرة التي لا تتبين ملامحها، لا تكره الصلاة مع وجودها “Tidak mengapa menggambar makhluk hidup yang mikroskopis seperti bakteri dan virus. Dan tidak mengapa menggunakan gambar ini di poster edukasi atau di tempat lainnya. Karena gambar seperti dalam kasus ini tidak nampak jelas bagian-bagian tubuhnya sebagai makhluk bernyawa. Ia tidak memiliki mata, hidung, dan mulut. Sehingga tidak masuk dalam kategori gambar yang diharamkan, karena tidak ada unsur mudhahat (menandingi ciptaan Allah).  Dan juga tidak terlalu jelas bagian-bagian tubuhnya, dikarenakan ia terlalu kecil. Sehingga tidak nampak jelas bagian-bagiannya bagi orang yang melihatnya. Atau bisa jadi gambar tersebut ada bagian yang dihapus dari bentuk aslinya. Para ulama Hanafiyah menegaskan bahwa gambar yang sangat kecil yang tidak jelas detail-detail tubuhnya, maka tidak dimakruhkan untuk shalat dengan keberadaan gambar seperti itu” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 311263). Namun andaikan gambar atau animasi ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip manusia atau binatang, semisal memiliki wajah, mata, tangan, kaki, dan semisalnya, maka tidak diperbolehkan menggambarnya. Karena pada hakikatnya ini sama seperti menggambar manusia dan hewan. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: فالشريعة لا تفرِّق بين متماثلين البتَّة ، ولا تسوِّي بين مختلفين ، ولا تحرِّم شيئاً لمفسدة ، وتبيح ما مفسدته مساوية لما حرَّمته ، ولا تبيح شيئاً لمصلحة ، وتحرِّم ما مصلحته مساوية لما أباحته البتة ، ولا يوجد فيما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم شيء من ذلك البتة “Syariat tidak akan pernah membedakan antara dua hal yang serupa. Dan tidak akan menyamakan antara dua hal yang berbeda. Tidak akan mengharamkan sesuatu yang merusak, namun membolehkan sesuatu yang lain yang sifat merusaknya sama. Tidak membolehkan sesuatu yang maslahat namun mengharamkan sesuatu dengan maslahat yang sama. Tidak akan ada ajaran dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam yang demikian” (Bada’iul Fawaid, 3/663). Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Islam Suami Tidak Bisa Memuaskan Istri, Imam Mahdi Sudah Ada, Ayat Ruqyah Rumah, Doa Agar Cepat Menikah Dengan Orang Yang Diharapkan, Amalan Ruqyah Visited 148 times, 1 visit(s) today Post Views: 421 QRIS donasi Yufid

Hukum Menggambar Makhluk Hidup yang Sangat Kecil

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya jika menggambar/membuat animasi DNA atau sel? Apakah tidak boleh dan dihukumi sama dengan menggambar makhluk?  (Mario Teguh Satria) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Menggambar makhluk bernyawa hukum asalnya haram. Dan hadis Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ “Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar (makhluk bernyawa)” (HR. Bukhari no. 5950, Muslim no.2109). Dan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: قال اللهُ عزَّ وجلَّ : ومن أظلم ممن ذهبَ يخلقُ كخَلْقي ، فلْيَخْلُقوا ذرَّةً ، أو : لِيخْلُقوا حبَّةً ، أو شعيرةً “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku?’. Maka buatlah gambar biji, atau bibit tanaman atau gandum” (HR. Bukhari no.7559, Muslim no.2111). Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata: وفي الحديث دليل على تحريم التصوير “Dalam hadis ini terdapat dalil tentang terlarangnya tashwir (menggambar makhluk bernyawa)” (Fathul Baari, 1/525). An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: قال أصحابنا وغيرهم من العلماء: تصوير صورة الحيوان حرام شديد التحريم، وهو من الكبائر لأنه متوعد عليه بهذا الوعيد الشديد المذكور في الأحاديث وسواء صنعه بما يمتهن أو بغيره فصنعته حرام بكل حال لأن فيه مضاهاة لخلق الله تعالى “Ulama mazhab kami (Syafi’iyyah) dan para ulama lain mengatakan: menggambar hewan hukumnya haram dengan keharaman yang sangat berat. Ia merupakan dosa besar, karena termasuk dosa yang diancam dengan ancaman yang berat, yang disebutkan dalam hadis-hadis. Baik gambar tersebut adalah gambar yang dihinakan ataukah bukan. Maka membuat gambar tersebut hukumnya haram apapun alasannya. Karena dalam membuat gambar, terdapat unsur menandingi ciptaan Allah ta’ala” (Syarah Shahih Muslim, 14/82). Adapun menggambar makhluk bernyawa yang sangat kecil seperti bakteri, kuman, DNA, sel, dan semisalnya, ada kelonggaran dalam hal ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid mengatakan: لا حرج في تصوير الكائنات الحية الدقيقة (البكتيريا والفيروسات) واستعمال هذه الصور في ملصق إشهاري لمختبر، ولغيره؛ لأن صور ذوات الأرواح إذا لم تتضح فيها المعالم، من عين وأنف وفم، لا تدخل في الصور المحرمة؛ لعدم المضاهاة.  وعدم وضوح المعالم إما أن يكون لصغر الصورة، بحيث لا تبدو تفاصيلها للناظر، وإما أن تكون مطموسة المعالم من أصلها وقد نص فقهاء الحنفية على أن الصورة الصغيرة التي لا تتبين ملامحها، لا تكره الصلاة مع وجودها “Tidak mengapa menggambar makhluk hidup yang mikroskopis seperti bakteri dan virus. Dan tidak mengapa menggunakan gambar ini di poster edukasi atau di tempat lainnya. Karena gambar seperti dalam kasus ini tidak nampak jelas bagian-bagian tubuhnya sebagai makhluk bernyawa. Ia tidak memiliki mata, hidung, dan mulut. Sehingga tidak masuk dalam kategori gambar yang diharamkan, karena tidak ada unsur mudhahat (menandingi ciptaan Allah).  Dan juga tidak terlalu jelas bagian-bagian tubuhnya, dikarenakan ia terlalu kecil. Sehingga tidak nampak jelas bagian-bagiannya bagi orang yang melihatnya. Atau bisa jadi gambar tersebut ada bagian yang dihapus dari bentuk aslinya. Para ulama Hanafiyah menegaskan bahwa gambar yang sangat kecil yang tidak jelas detail-detail tubuhnya, maka tidak dimakruhkan untuk shalat dengan keberadaan gambar seperti itu” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 311263). Namun andaikan gambar atau animasi ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip manusia atau binatang, semisal memiliki wajah, mata, tangan, kaki, dan semisalnya, maka tidak diperbolehkan menggambarnya. Karena pada hakikatnya ini sama seperti menggambar manusia dan hewan. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: فالشريعة لا تفرِّق بين متماثلين البتَّة ، ولا تسوِّي بين مختلفين ، ولا تحرِّم شيئاً لمفسدة ، وتبيح ما مفسدته مساوية لما حرَّمته ، ولا تبيح شيئاً لمصلحة ، وتحرِّم ما مصلحته مساوية لما أباحته البتة ، ولا يوجد فيما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم شيء من ذلك البتة “Syariat tidak akan pernah membedakan antara dua hal yang serupa. Dan tidak akan menyamakan antara dua hal yang berbeda. Tidak akan mengharamkan sesuatu yang merusak, namun membolehkan sesuatu yang lain yang sifat merusaknya sama. Tidak membolehkan sesuatu yang maslahat namun mengharamkan sesuatu dengan maslahat yang sama. Tidak akan ada ajaran dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam yang demikian” (Bada’iul Fawaid, 3/663). Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Islam Suami Tidak Bisa Memuaskan Istri, Imam Mahdi Sudah Ada, Ayat Ruqyah Rumah, Doa Agar Cepat Menikah Dengan Orang Yang Diharapkan, Amalan Ruqyah Visited 148 times, 1 visit(s) today Post Views: 421 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Bagaimana hukumnya jika menggambar/membuat animasi DNA atau sel? Apakah tidak boleh dan dihukumi sama dengan menggambar makhluk?  (Mario Teguh Satria) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Menggambar makhluk bernyawa hukum asalnya haram. Dan hadis Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ “Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar (makhluk bernyawa)” (HR. Bukhari no. 5950, Muslim no.2109). Dan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: قال اللهُ عزَّ وجلَّ : ومن أظلم ممن ذهبَ يخلقُ كخَلْقي ، فلْيَخْلُقوا ذرَّةً ، أو : لِيخْلُقوا حبَّةً ، أو شعيرةً “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku?’. Maka buatlah gambar biji, atau bibit tanaman atau gandum” (HR. Bukhari no.7559, Muslim no.2111). Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata: وفي الحديث دليل على تحريم التصوير “Dalam hadis ini terdapat dalil tentang terlarangnya tashwir (menggambar makhluk bernyawa)” (Fathul Baari, 1/525). An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: قال أصحابنا وغيرهم من العلماء: تصوير صورة الحيوان حرام شديد التحريم، وهو من الكبائر لأنه متوعد عليه بهذا الوعيد الشديد المذكور في الأحاديث وسواء صنعه بما يمتهن أو بغيره فصنعته حرام بكل حال لأن فيه مضاهاة لخلق الله تعالى “Ulama mazhab kami (Syafi’iyyah) dan para ulama lain mengatakan: menggambar hewan hukumnya haram dengan keharaman yang sangat berat. Ia merupakan dosa besar, karena termasuk dosa yang diancam dengan ancaman yang berat, yang disebutkan dalam hadis-hadis. Baik gambar tersebut adalah gambar yang dihinakan ataukah bukan. Maka membuat gambar tersebut hukumnya haram apapun alasannya. Karena dalam membuat gambar, terdapat unsur menandingi ciptaan Allah ta’ala” (Syarah Shahih Muslim, 14/82). Adapun menggambar makhluk bernyawa yang sangat kecil seperti bakteri, kuman, DNA, sel, dan semisalnya, ada kelonggaran dalam hal ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid mengatakan: لا حرج في تصوير الكائنات الحية الدقيقة (البكتيريا والفيروسات) واستعمال هذه الصور في ملصق إشهاري لمختبر، ولغيره؛ لأن صور ذوات الأرواح إذا لم تتضح فيها المعالم، من عين وأنف وفم، لا تدخل في الصور المحرمة؛ لعدم المضاهاة.  وعدم وضوح المعالم إما أن يكون لصغر الصورة، بحيث لا تبدو تفاصيلها للناظر، وإما أن تكون مطموسة المعالم من أصلها وقد نص فقهاء الحنفية على أن الصورة الصغيرة التي لا تتبين ملامحها، لا تكره الصلاة مع وجودها “Tidak mengapa menggambar makhluk hidup yang mikroskopis seperti bakteri dan virus. Dan tidak mengapa menggunakan gambar ini di poster edukasi atau di tempat lainnya. Karena gambar seperti dalam kasus ini tidak nampak jelas bagian-bagian tubuhnya sebagai makhluk bernyawa. Ia tidak memiliki mata, hidung, dan mulut. Sehingga tidak masuk dalam kategori gambar yang diharamkan, karena tidak ada unsur mudhahat (menandingi ciptaan Allah).  Dan juga tidak terlalu jelas bagian-bagian tubuhnya, dikarenakan ia terlalu kecil. Sehingga tidak nampak jelas bagian-bagiannya bagi orang yang melihatnya. Atau bisa jadi gambar tersebut ada bagian yang dihapus dari bentuk aslinya. Para ulama Hanafiyah menegaskan bahwa gambar yang sangat kecil yang tidak jelas detail-detail tubuhnya, maka tidak dimakruhkan untuk shalat dengan keberadaan gambar seperti itu” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 311263). Namun andaikan gambar atau animasi ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip manusia atau binatang, semisal memiliki wajah, mata, tangan, kaki, dan semisalnya, maka tidak diperbolehkan menggambarnya. Karena pada hakikatnya ini sama seperti menggambar manusia dan hewan. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: فالشريعة لا تفرِّق بين متماثلين البتَّة ، ولا تسوِّي بين مختلفين ، ولا تحرِّم شيئاً لمفسدة ، وتبيح ما مفسدته مساوية لما حرَّمته ، ولا تبيح شيئاً لمصلحة ، وتحرِّم ما مصلحته مساوية لما أباحته البتة ، ولا يوجد فيما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم شيء من ذلك البتة “Syariat tidak akan pernah membedakan antara dua hal yang serupa. Dan tidak akan menyamakan antara dua hal yang berbeda. Tidak akan mengharamkan sesuatu yang merusak, namun membolehkan sesuatu yang lain yang sifat merusaknya sama. Tidak membolehkan sesuatu yang maslahat namun mengharamkan sesuatu dengan maslahat yang sama. Tidak akan ada ajaran dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam yang demikian” (Bada’iul Fawaid, 3/663). Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Islam Suami Tidak Bisa Memuaskan Istri, Imam Mahdi Sudah Ada, Ayat Ruqyah Rumah, Doa Agar Cepat Menikah Dengan Orang Yang Diharapkan, Amalan Ruqyah Visited 148 times, 1 visit(s) today Post Views: 421 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1339853395&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Bagaimana hukumnya jika menggambar/membuat animasi DNA atau sel? Apakah tidak boleh dan dihukumi sama dengan menggambar makhluk?  (Mario Teguh Satria) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Menggambar makhluk bernyawa hukum asalnya haram. Dan hadis Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ “Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar (makhluk bernyawa)” (HR. Bukhari no. 5950, Muslim no.2109). Dan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: قال اللهُ عزَّ وجلَّ : ومن أظلم ممن ذهبَ يخلقُ كخَلْقي ، فلْيَخْلُقوا ذرَّةً ، أو : لِيخْلُقوا حبَّةً ، أو شعيرةً “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku?’. Maka buatlah gambar biji, atau bibit tanaman atau gandum” (HR. Bukhari no.7559, Muslim no.2111). Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata: وفي الحديث دليل على تحريم التصوير “Dalam hadis ini terdapat dalil tentang terlarangnya tashwir (menggambar makhluk bernyawa)” (Fathul Baari, 1/525). An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: قال أصحابنا وغيرهم من العلماء: تصوير صورة الحيوان حرام شديد التحريم، وهو من الكبائر لأنه متوعد عليه بهذا الوعيد الشديد المذكور في الأحاديث وسواء صنعه بما يمتهن أو بغيره فصنعته حرام بكل حال لأن فيه مضاهاة لخلق الله تعالى “Ulama mazhab kami (Syafi’iyyah) dan para ulama lain mengatakan: menggambar hewan hukumnya haram dengan keharaman yang sangat berat. Ia merupakan dosa besar, karena termasuk dosa yang diancam dengan ancaman yang berat, yang disebutkan dalam hadis-hadis. Baik gambar tersebut adalah gambar yang dihinakan ataukah bukan. Maka membuat gambar tersebut hukumnya haram apapun alasannya. Karena dalam membuat gambar, terdapat unsur menandingi ciptaan Allah ta’ala” (Syarah Shahih Muslim, 14/82). Adapun menggambar makhluk bernyawa yang sangat kecil seperti bakteri, kuman, DNA, sel, dan semisalnya, ada kelonggaran dalam hal ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid mengatakan: لا حرج في تصوير الكائنات الحية الدقيقة (البكتيريا والفيروسات) واستعمال هذه الصور في ملصق إشهاري لمختبر، ولغيره؛ لأن صور ذوات الأرواح إذا لم تتضح فيها المعالم، من عين وأنف وفم، لا تدخل في الصور المحرمة؛ لعدم المضاهاة.  وعدم وضوح المعالم إما أن يكون لصغر الصورة، بحيث لا تبدو تفاصيلها للناظر، وإما أن تكون مطموسة المعالم من أصلها وقد نص فقهاء الحنفية على أن الصورة الصغيرة التي لا تتبين ملامحها، لا تكره الصلاة مع وجودها “Tidak mengapa menggambar makhluk hidup yang mikroskopis seperti bakteri dan virus. Dan tidak mengapa menggunakan gambar ini di poster edukasi atau di tempat lainnya. Karena gambar seperti dalam kasus ini tidak nampak jelas bagian-bagian tubuhnya sebagai makhluk bernyawa. Ia tidak memiliki mata, hidung, dan mulut. Sehingga tidak masuk dalam kategori gambar yang diharamkan, karena tidak ada unsur mudhahat (menandingi ciptaan Allah).  Dan juga tidak terlalu jelas bagian-bagian tubuhnya, dikarenakan ia terlalu kecil. Sehingga tidak nampak jelas bagian-bagiannya bagi orang yang melihatnya. Atau bisa jadi gambar tersebut ada bagian yang dihapus dari bentuk aslinya. Para ulama Hanafiyah menegaskan bahwa gambar yang sangat kecil yang tidak jelas detail-detail tubuhnya, maka tidak dimakruhkan untuk shalat dengan keberadaan gambar seperti itu” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 311263). Namun andaikan gambar atau animasi ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip manusia atau binatang, semisal memiliki wajah, mata, tangan, kaki, dan semisalnya, maka tidak diperbolehkan menggambarnya. Karena pada hakikatnya ini sama seperti menggambar manusia dan hewan. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: فالشريعة لا تفرِّق بين متماثلين البتَّة ، ولا تسوِّي بين مختلفين ، ولا تحرِّم شيئاً لمفسدة ، وتبيح ما مفسدته مساوية لما حرَّمته ، ولا تبيح شيئاً لمصلحة ، وتحرِّم ما مصلحته مساوية لما أباحته البتة ، ولا يوجد فيما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم شيء من ذلك البتة “Syariat tidak akan pernah membedakan antara dua hal yang serupa. Dan tidak akan menyamakan antara dua hal yang berbeda. Tidak akan mengharamkan sesuatu yang merusak, namun membolehkan sesuatu yang lain yang sifat merusaknya sama. Tidak membolehkan sesuatu yang maslahat namun mengharamkan sesuatu dengan maslahat yang sama. Tidak akan ada ajaran dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam yang demikian” (Bada’iul Fawaid, 3/663). Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Islam Suami Tidak Bisa Memuaskan Istri, Imam Mahdi Sudah Ada, Ayat Ruqyah Rumah, Doa Agar Cepat Menikah Dengan Orang Yang Diharapkan, Amalan Ruqyah Visited 148 times, 1 visit(s) today Post Views: 421 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Tanda Akhir Zaman: Ilmu Agama Hilang karena Ulama Wafat – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, pengetahuan tentang baca tulis akan semakin banyak, dan buku (tulisan) juga semakin banyak. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, bahwa di akhir zaman, al-Quran tidak akan diangkat, namun ia akan tetap ada menyertai manusia. Akan tetapi, Nabi menjelaskan, bahwa ilmu agama (tentang al-Quran dan Sunnah) akan semakin berkurang. Ilmu agama akan semakin berkurang, karena hilangnya ilmu agama disebabkan wafatnya orang yang berilmu. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, ilmu agama akan diangkat dengan diwafatkannya para ulama, sehingga manusia mengangkat orang-orang bodoh yang mereka kira sebagai para ulama, padahal mereka sebenarnya bukan ulama. Lalu orang-orang bodoh itu memberi fatwa, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan, karena tidak berilmu. ==== بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يَكْثُرُ مَعْرِفَةُ الْقِرَاءَةِ وَالْكِتَابَةِ وَتَكْثُرُ الْكُتُبُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ لَن يُرْفَعَ سَيَبْقَى الْقُرْآنُ مَوْجُودًا بَيْنَ ظَهْرَانَيِ النَّاسِ وَلَكِنَّهُ بَيَّنَ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ لِأَنَّ الْعِلْمَ إِنَّمَا يَكُونُ ذَهَابُهُ بِذَهَابِ أَهْلِهِ وَلِذَلِكَ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يُقْبَضُ الْعِلْمُ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ فَيَتَّخِذُ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالًا يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ عُلَمَاءُ وَلَيْسُوا كَذَلِكَ فَيُفْتُونَ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ بِغَيْرِ عِلْمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tanda Akhir Zaman: Ilmu Agama Hilang karena Ulama Wafat – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, pengetahuan tentang baca tulis akan semakin banyak, dan buku (tulisan) juga semakin banyak. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, bahwa di akhir zaman, al-Quran tidak akan diangkat, namun ia akan tetap ada menyertai manusia. Akan tetapi, Nabi menjelaskan, bahwa ilmu agama (tentang al-Quran dan Sunnah) akan semakin berkurang. Ilmu agama akan semakin berkurang, karena hilangnya ilmu agama disebabkan wafatnya orang yang berilmu. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, ilmu agama akan diangkat dengan diwafatkannya para ulama, sehingga manusia mengangkat orang-orang bodoh yang mereka kira sebagai para ulama, padahal mereka sebenarnya bukan ulama. Lalu orang-orang bodoh itu memberi fatwa, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan, karena tidak berilmu. ==== بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يَكْثُرُ مَعْرِفَةُ الْقِرَاءَةِ وَالْكِتَابَةِ وَتَكْثُرُ الْكُتُبُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ لَن يُرْفَعَ سَيَبْقَى الْقُرْآنُ مَوْجُودًا بَيْنَ ظَهْرَانَيِ النَّاسِ وَلَكِنَّهُ بَيَّنَ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ لِأَنَّ الْعِلْمَ إِنَّمَا يَكُونُ ذَهَابُهُ بِذَهَابِ أَهْلِهِ وَلِذَلِكَ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يُقْبَضُ الْعِلْمُ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ فَيَتَّخِذُ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالًا يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ عُلَمَاءُ وَلَيْسُوا كَذَلِكَ فَيُفْتُونَ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ بِغَيْرِ عِلْمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, pengetahuan tentang baca tulis akan semakin banyak, dan buku (tulisan) juga semakin banyak. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, bahwa di akhir zaman, al-Quran tidak akan diangkat, namun ia akan tetap ada menyertai manusia. Akan tetapi, Nabi menjelaskan, bahwa ilmu agama (tentang al-Quran dan Sunnah) akan semakin berkurang. Ilmu agama akan semakin berkurang, karena hilangnya ilmu agama disebabkan wafatnya orang yang berilmu. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, ilmu agama akan diangkat dengan diwafatkannya para ulama, sehingga manusia mengangkat orang-orang bodoh yang mereka kira sebagai para ulama, padahal mereka sebenarnya bukan ulama. Lalu orang-orang bodoh itu memberi fatwa, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan, karena tidak berilmu. ==== بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يَكْثُرُ مَعْرِفَةُ الْقِرَاءَةِ وَالْكِتَابَةِ وَتَكْثُرُ الْكُتُبُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ لَن يُرْفَعَ سَيَبْقَى الْقُرْآنُ مَوْجُودًا بَيْنَ ظَهْرَانَيِ النَّاسِ وَلَكِنَّهُ بَيَّنَ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ لِأَنَّ الْعِلْمَ إِنَّمَا يَكُونُ ذَهَابُهُ بِذَهَابِ أَهْلِهِ وَلِذَلِكَ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يُقْبَضُ الْعِلْمُ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ فَيَتَّخِذُ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالًا يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ عُلَمَاءُ وَلَيْسُوا كَذَلِكَ فَيُفْتُونَ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ بِغَيْرِ عِلْمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, pengetahuan tentang baca tulis akan semakin banyak, dan buku (tulisan) juga semakin banyak. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, bahwa di akhir zaman, al-Quran tidak akan diangkat, namun ia akan tetap ada menyertai manusia. Akan tetapi, Nabi menjelaskan, bahwa ilmu agama (tentang al-Quran dan Sunnah) akan semakin berkurang. Ilmu agama akan semakin berkurang, karena hilangnya ilmu agama disebabkan wafatnya orang yang berilmu. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, ilmu agama akan diangkat dengan diwafatkannya para ulama, sehingga manusia mengangkat orang-orang bodoh yang mereka kira sebagai para ulama, padahal mereka sebenarnya bukan ulama. Lalu orang-orang bodoh itu memberi fatwa, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan, karena tidak berilmu. ==== بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يَكْثُرُ مَعْرِفَةُ الْقِرَاءَةِ وَالْكِتَابَةِ وَتَكْثُرُ الْكُتُبُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ لَن يُرْفَعَ سَيَبْقَى الْقُرْآنُ مَوْجُودًا بَيْنَ ظَهْرَانَيِ النَّاسِ وَلَكِنَّهُ بَيَّنَ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ لِأَنَّ الْعِلْمَ إِنَّمَا يَكُونُ ذَهَابُهُ بِذَهَابِ أَهْلِهِ وَلِذَلِكَ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يُقْبَضُ الْعِلْمُ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ فَيَتَّخِذُ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالًا يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ عُلَمَاءُ وَلَيْسُوا كَذَلِكَ فَيُفْتُونَ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ بِغَيْرِ عِلْمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Ikut Asuransi yang Dibayarkan Perusahaan

Pertanyaan: Apakah boleh BPJS dibayarkan oleh perusahaan dari gaji karyawan? (Alfan Zain) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam fatwa ringkas berikut ini Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili hafizhahullah memberikan rincian mengenai hukum mengikuti asuransi kesehatan. Beliau menjelaskan rinciannya sebagai berikut: Pertama, jika tujuan perusahaan asuransi adalah untuk mencari untung, maka ini ta’min tijari (asuransi komersial) yang hukumnya haram. Karena termasuk memakan harta orang lain secara batil dan juga termasuk gharar. Tidak boleh ikut serta di dalamnya, kecuali: 1. Asuransi yang dipaksakan oleh pemerintah. Maka boleh mendaftar karena terpaksa, dan boleh membayar. Namun haram bagi pemerintah untuk melakukan pemaksaan. Dan bagi nasabah, ia hanya boleh mengambil biaya asuransi sebatas jumlah premi yang sudah pernah disetorkan saja. 2. Asuransi yang dibayarkan oleh perusahaan. Maka boleh bagi karyawan untuk menggunakan fasilitas berobat dengannya, karena ia tidak melakukan asuransi karena perusahaan yang melakukannya. Sedangkan karyawan hanya menuntut hak berupa tunjangan kesehatan. 3. Ketika biaya pengobatan terlalu besar, dan seorang yang sakit tidak sanggup membayarnya kecuali dengan asuransi. Dan dalam keadaan ini hendaknya ia niatkan membayar sesuai dengan jumlah premi yang sudah pernah disetorkan. Jika jumlah yang pernah disetorkan lebih kecil dari biaya pengobatannya, maka ia niatkan setoran-setoran premi bulan selanjutnya untuk menutupi biaya pengobatannya. Kedua, jika perusahaan asuransi tidak bermaksud mencari keuntungan sama sekali namun berniat untuk saling membantu satu sama lain, maka ini ta’min ta’awuni (asuransi tolong-menolong). Ini hukumnya boleh. Penjelasan lengkapnya bisa disimak di video berikut: Berdasarkan penjelasan di atas, maka boleh mengikuti dan menggunakan dana asuransi yang preminya dibayarkan oleh perusahaan. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Mimpi Setelah Shalat Istikharah, Baca Alquran Saat Haid, Tidur Arah Kiblat, Menghisap Zakar Suami, Dzikir Petang Sesuai Sunnah, Pakai Celana Ketat Visited 261 times, 1 visit(s) today Post Views: 332 QRIS donasi Yufid

Ikut Asuransi yang Dibayarkan Perusahaan

Pertanyaan: Apakah boleh BPJS dibayarkan oleh perusahaan dari gaji karyawan? (Alfan Zain) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam fatwa ringkas berikut ini Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili hafizhahullah memberikan rincian mengenai hukum mengikuti asuransi kesehatan. Beliau menjelaskan rinciannya sebagai berikut: Pertama, jika tujuan perusahaan asuransi adalah untuk mencari untung, maka ini ta’min tijari (asuransi komersial) yang hukumnya haram. Karena termasuk memakan harta orang lain secara batil dan juga termasuk gharar. Tidak boleh ikut serta di dalamnya, kecuali: 1. Asuransi yang dipaksakan oleh pemerintah. Maka boleh mendaftar karena terpaksa, dan boleh membayar. Namun haram bagi pemerintah untuk melakukan pemaksaan. Dan bagi nasabah, ia hanya boleh mengambil biaya asuransi sebatas jumlah premi yang sudah pernah disetorkan saja. 2. Asuransi yang dibayarkan oleh perusahaan. Maka boleh bagi karyawan untuk menggunakan fasilitas berobat dengannya, karena ia tidak melakukan asuransi karena perusahaan yang melakukannya. Sedangkan karyawan hanya menuntut hak berupa tunjangan kesehatan. 3. Ketika biaya pengobatan terlalu besar, dan seorang yang sakit tidak sanggup membayarnya kecuali dengan asuransi. Dan dalam keadaan ini hendaknya ia niatkan membayar sesuai dengan jumlah premi yang sudah pernah disetorkan. Jika jumlah yang pernah disetorkan lebih kecil dari biaya pengobatannya, maka ia niatkan setoran-setoran premi bulan selanjutnya untuk menutupi biaya pengobatannya. Kedua, jika perusahaan asuransi tidak bermaksud mencari keuntungan sama sekali namun berniat untuk saling membantu satu sama lain, maka ini ta’min ta’awuni (asuransi tolong-menolong). Ini hukumnya boleh. Penjelasan lengkapnya bisa disimak di video berikut: Berdasarkan penjelasan di atas, maka boleh mengikuti dan menggunakan dana asuransi yang preminya dibayarkan oleh perusahaan. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Mimpi Setelah Shalat Istikharah, Baca Alquran Saat Haid, Tidur Arah Kiblat, Menghisap Zakar Suami, Dzikir Petang Sesuai Sunnah, Pakai Celana Ketat Visited 261 times, 1 visit(s) today Post Views: 332 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apakah boleh BPJS dibayarkan oleh perusahaan dari gaji karyawan? (Alfan Zain) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam fatwa ringkas berikut ini Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili hafizhahullah memberikan rincian mengenai hukum mengikuti asuransi kesehatan. Beliau menjelaskan rinciannya sebagai berikut: Pertama, jika tujuan perusahaan asuransi adalah untuk mencari untung, maka ini ta’min tijari (asuransi komersial) yang hukumnya haram. Karena termasuk memakan harta orang lain secara batil dan juga termasuk gharar. Tidak boleh ikut serta di dalamnya, kecuali: 1. Asuransi yang dipaksakan oleh pemerintah. Maka boleh mendaftar karena terpaksa, dan boleh membayar. Namun haram bagi pemerintah untuk melakukan pemaksaan. Dan bagi nasabah, ia hanya boleh mengambil biaya asuransi sebatas jumlah premi yang sudah pernah disetorkan saja. 2. Asuransi yang dibayarkan oleh perusahaan. Maka boleh bagi karyawan untuk menggunakan fasilitas berobat dengannya, karena ia tidak melakukan asuransi karena perusahaan yang melakukannya. Sedangkan karyawan hanya menuntut hak berupa tunjangan kesehatan. 3. Ketika biaya pengobatan terlalu besar, dan seorang yang sakit tidak sanggup membayarnya kecuali dengan asuransi. Dan dalam keadaan ini hendaknya ia niatkan membayar sesuai dengan jumlah premi yang sudah pernah disetorkan. Jika jumlah yang pernah disetorkan lebih kecil dari biaya pengobatannya, maka ia niatkan setoran-setoran premi bulan selanjutnya untuk menutupi biaya pengobatannya. Kedua, jika perusahaan asuransi tidak bermaksud mencari keuntungan sama sekali namun berniat untuk saling membantu satu sama lain, maka ini ta’min ta’awuni (asuransi tolong-menolong). Ini hukumnya boleh. Penjelasan lengkapnya bisa disimak di video berikut: Berdasarkan penjelasan di atas, maka boleh mengikuti dan menggunakan dana asuransi yang preminya dibayarkan oleh perusahaan. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Mimpi Setelah Shalat Istikharah, Baca Alquran Saat Haid, Tidur Arah Kiblat, Menghisap Zakar Suami, Dzikir Petang Sesuai Sunnah, Pakai Celana Ketat Visited 261 times, 1 visit(s) today Post Views: 332 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1340607271&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Apakah boleh BPJS dibayarkan oleh perusahaan dari gaji karyawan? (Alfan Zain) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam fatwa ringkas berikut ini Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili hafizhahullah memberikan rincian mengenai hukum mengikuti asuransi kesehatan. Beliau menjelaskan rinciannya sebagai berikut: Pertama, jika tujuan perusahaan asuransi adalah untuk mencari untung, maka ini ta’min tijari (asuransi komersial) yang hukumnya haram. Karena termasuk memakan harta orang lain secara batil dan juga termasuk gharar. Tidak boleh ikut serta di dalamnya, kecuali: 1. Asuransi yang dipaksakan oleh pemerintah. Maka boleh mendaftar karena terpaksa, dan boleh membayar. Namun haram bagi pemerintah untuk melakukan pemaksaan. Dan bagi nasabah, ia hanya boleh mengambil biaya asuransi sebatas jumlah premi yang sudah pernah disetorkan saja. 2. Asuransi yang dibayarkan oleh perusahaan. Maka boleh bagi karyawan untuk menggunakan fasilitas berobat dengannya, karena ia tidak melakukan asuransi karena perusahaan yang melakukannya. Sedangkan karyawan hanya menuntut hak berupa tunjangan kesehatan. 3. Ketika biaya pengobatan terlalu besar, dan seorang yang sakit tidak sanggup membayarnya kecuali dengan asuransi. Dan dalam keadaan ini hendaknya ia niatkan membayar sesuai dengan jumlah premi yang sudah pernah disetorkan. Jika jumlah yang pernah disetorkan lebih kecil dari biaya pengobatannya, maka ia niatkan setoran-setoran premi bulan selanjutnya untuk menutupi biaya pengobatannya. Kedua, jika perusahaan asuransi tidak bermaksud mencari keuntungan sama sekali namun berniat untuk saling membantu satu sama lain, maka ini ta’min ta’awuni (asuransi tolong-menolong). Ini hukumnya boleh. Penjelasan lengkapnya bisa disimak di video berikut: <iframe title="حكم التأمين الطبي ( تفصيل جميل جدا) / فضيلة الشيخ سليمان الرحيلي حفظه الله" width="616" height="347" src="https://www.youtube.com/embed/_RGixoLpEp0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe> Berdasarkan penjelasan di atas, maka boleh mengikuti dan menggunakan dana asuransi yang preminya dibayarkan oleh perusahaan. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Mimpi Setelah Shalat Istikharah, Baca Alquran Saat Haid, Tidur Arah Kiblat, Menghisap Zakar Suami, Dzikir Petang Sesuai Sunnah, Pakai Celana Ketat Visited 261 times, 1 visit(s) today Post Views: 332 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 1)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam cinta 2. Jenis pertama: cinta yang syar’i 2.1. Mahabbatullah (mencintai Allah) 2.2. Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallam 2.3. Mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah 3. Jenis kedua: cinta yang haram 3.1. Syirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah) 3.2. Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya) 4. Jenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk Macam-macam cintaTerdapat tiga macam cinta, yaitu cinta yang syar’i, cinta yang haram, dan cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk.Jenis pertama: cinta yang syar’iMahabbatullah (mencintai Allah)Mahabbatullah (mencintai Allah) merupakan kewajiban yang paling wajib. Kedudukan mahabbatullah adalah sebagai dasar agama Islam. Hal ini bisa ditinjau dari:Pertama, pendorong segala bentuk amal ibadah seorang hamba adalah cinta Allah Ta’ala, cinta pahala-Nya, dan cinta (ingin) selamat dari neraka. Bahkan, dua rukun ibadah hati yang lainnya, yaitu takut dan harap, dasarnya adalah cinta kepada Allah. Karena orang yang berharap kepada Allah saat beribadah, hakikatnya berharap sesuatu yang dicintainya, berupa keridaan-Nya dan pahala-Nya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah, hakikatnya adalah takut kepada Tuhan yang dicintainya dengan puncak kecintaan, dan takut kehilangan sesuatu yang dicintainya, berupa keselamatan dari siksa-Nya.Tawakal, inabah, tobat, dan ibadah lainnya, sumbernya adalah cinta kepada Allah Ta’ala dan tuntutannya, yaitu cinta kepada rida-Nya dan cinta kepada pahala-Nya, serta ingin selamat dari siksa-Nya.Kedua, setiap peribadahan pastilah dipersembahkan kepada Tuhan yang paling dicintainya dengan puncak kesempurnaan sehingga Dia diagungkan dan ditaati secara mutlak.Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallamDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini hukumnya wajib. Tidak sempurna keimanan wajib seorang hamba tanpa mencintai beliau melebihi mencintai diri sendiri dan seluruh makhluk.Mencintai seluruh yang dicintai oleh AllahDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, yaitu mencintai para rasul dan nabi lainnya ‘alaihimush shalatu was-salamu, orang saleh, dan mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, baik berupa syari’at Allah, ucapan baik, perbuatan baik (amalan saleh), orang saleh, waktu dan tempat baik, dan seluruh yang dicintai-Nya.Cinta syar’i berupa mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah adalah al-hubbu fillah (cinta di jalan ketaatan kepada Allah) dan al-hubbu lillah (cinta karena Allah). Atau disebut juga mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai segala yang dicintai Allah).Cinta syar’i mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah ini mengikuti “dasar dari seluruh cinta”, yaitu mahabbatullah. Sehingga mahabbatullah adalah sebagai dasar dari seluruh cinta lainnya.Kecintaan kita terhadap sesuatu selain Allah mengikuti kecintaan Allah terhadap sesuatu tersebut. Semakin besar kecintaan Allah kepada sesuatu, maka tertuntut semakin besar pula kecintaan kita kepada sesuatu tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin besar kebencian Allah kepada sesuatu, maka semakin besar pula kebencian kita kepada sesuatu tersebut.Ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah berkata dalam Jami’ul Ulum wal-Hikam, karya Ibnu Rajab rahimahullah,لو رأيت رجلا يظهر خيرا ، ويسر شرا ، أحببته عليه ، آجرك الله على حبك الخير ، ولو رأيت رجلا يظهر شرا ، ويسر خيرا بغضته عليه ، آجرك الله على بغضك الشر“Seandainya anda melihat seseorang menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan, lalu anda mencintainya karena kebaikannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kecintaanmu kepada kebaikannya.Sebaliknya, seandainya anda melihat seseorang menampakkan keburukan dan menyembunyikan kebaikan, lalu anda membencinya karena keburukannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kebencianmu kepada keburukannya.”Jenis kedua: cinta yang haramSyirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah)Ini adalah cinta ibadah yang ditujukan kepada selain Allah, atau disebut juga al-mahabbah ma’allah. Mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah adalah syirik dalam cinta. Jadi, patokan syirik besar dalam ibadah cinta adalah mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Cinta jenis syirik besar ini menghancurkan dasar tauhid dan dasar iman seseorang, sehingga pelakunya kafir. Karena jika masuk dalam kategori cinta ibadah, lalu cinta tersebut ditujukan kepada Allah saja, maka bernilai tauhid. Dan jika ditujukan selain Allah, maka bernilai syirik besar. Ciri cinta yang merupakan ibadah adalah mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) dan puncak ketundukan dan ketaatan kepada yang disembah, diibadahi, dan dicintai.Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya)Cinta yang haram ini merusak kesempurnaan iman/ tauhid yang wajib sehingga berdosa. Namun, tidak sampai derajat kafir karena tidak menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang tidak sampai tingkatan syirik besar (atau setingkatnya), namun berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman, baik karena asal cintanya itu diharamkan atau asal cintanya itu mubah, namun menjerumuskan ke dalam dosa.Baca Juga: Doa Terbaik untuk Anak TercintaJenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhlukTerdapat beberapa contoh cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk, misalnya:Pertama, cinta tabiat atau naluri, seperti suka makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, dan semacamnya.Kedua, cinta karena kasih sayang atau didasari rasa hormat, seperti cinta kepada orangtua, guru, anak, dan semacamnya,Ketiga, cinta kepada hobi, kegemaran, atau kesukaan yang halal. Contohnya, cinta kepada pekerjaan, bisnis, hobi, dan semacamnya.Cinta yang diperbolehkan ini bisa berubah menjadi haram jika mengakibatkan seseorang meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.[Bersambung]Baca Juga:Cinta Tanah Air adalah Tabiat dan Fitrah ManusiaKumpulan Artikel Tentang Cinta dan Pernikahan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Nabi Danial, Jalan Hijrah, Hadits Tentang Silaturrahim, Muslimah QuranTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid

Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 1)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam cinta 2. Jenis pertama: cinta yang syar’i 2.1. Mahabbatullah (mencintai Allah) 2.2. Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallam 2.3. Mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah 3. Jenis kedua: cinta yang haram 3.1. Syirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah) 3.2. Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya) 4. Jenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk Macam-macam cintaTerdapat tiga macam cinta, yaitu cinta yang syar’i, cinta yang haram, dan cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk.Jenis pertama: cinta yang syar’iMahabbatullah (mencintai Allah)Mahabbatullah (mencintai Allah) merupakan kewajiban yang paling wajib. Kedudukan mahabbatullah adalah sebagai dasar agama Islam. Hal ini bisa ditinjau dari:Pertama, pendorong segala bentuk amal ibadah seorang hamba adalah cinta Allah Ta’ala, cinta pahala-Nya, dan cinta (ingin) selamat dari neraka. Bahkan, dua rukun ibadah hati yang lainnya, yaitu takut dan harap, dasarnya adalah cinta kepada Allah. Karena orang yang berharap kepada Allah saat beribadah, hakikatnya berharap sesuatu yang dicintainya, berupa keridaan-Nya dan pahala-Nya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah, hakikatnya adalah takut kepada Tuhan yang dicintainya dengan puncak kecintaan, dan takut kehilangan sesuatu yang dicintainya, berupa keselamatan dari siksa-Nya.Tawakal, inabah, tobat, dan ibadah lainnya, sumbernya adalah cinta kepada Allah Ta’ala dan tuntutannya, yaitu cinta kepada rida-Nya dan cinta kepada pahala-Nya, serta ingin selamat dari siksa-Nya.Kedua, setiap peribadahan pastilah dipersembahkan kepada Tuhan yang paling dicintainya dengan puncak kesempurnaan sehingga Dia diagungkan dan ditaati secara mutlak.Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallamDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini hukumnya wajib. Tidak sempurna keimanan wajib seorang hamba tanpa mencintai beliau melebihi mencintai diri sendiri dan seluruh makhluk.Mencintai seluruh yang dicintai oleh AllahDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, yaitu mencintai para rasul dan nabi lainnya ‘alaihimush shalatu was-salamu, orang saleh, dan mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, baik berupa syari’at Allah, ucapan baik, perbuatan baik (amalan saleh), orang saleh, waktu dan tempat baik, dan seluruh yang dicintai-Nya.Cinta syar’i berupa mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah adalah al-hubbu fillah (cinta di jalan ketaatan kepada Allah) dan al-hubbu lillah (cinta karena Allah). Atau disebut juga mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai segala yang dicintai Allah).Cinta syar’i mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah ini mengikuti “dasar dari seluruh cinta”, yaitu mahabbatullah. Sehingga mahabbatullah adalah sebagai dasar dari seluruh cinta lainnya.Kecintaan kita terhadap sesuatu selain Allah mengikuti kecintaan Allah terhadap sesuatu tersebut. Semakin besar kecintaan Allah kepada sesuatu, maka tertuntut semakin besar pula kecintaan kita kepada sesuatu tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin besar kebencian Allah kepada sesuatu, maka semakin besar pula kebencian kita kepada sesuatu tersebut.Ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah berkata dalam Jami’ul Ulum wal-Hikam, karya Ibnu Rajab rahimahullah,لو رأيت رجلا يظهر خيرا ، ويسر شرا ، أحببته عليه ، آجرك الله على حبك الخير ، ولو رأيت رجلا يظهر شرا ، ويسر خيرا بغضته عليه ، آجرك الله على بغضك الشر“Seandainya anda melihat seseorang menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan, lalu anda mencintainya karena kebaikannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kecintaanmu kepada kebaikannya.Sebaliknya, seandainya anda melihat seseorang menampakkan keburukan dan menyembunyikan kebaikan, lalu anda membencinya karena keburukannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kebencianmu kepada keburukannya.”Jenis kedua: cinta yang haramSyirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah)Ini adalah cinta ibadah yang ditujukan kepada selain Allah, atau disebut juga al-mahabbah ma’allah. Mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah adalah syirik dalam cinta. Jadi, patokan syirik besar dalam ibadah cinta adalah mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Cinta jenis syirik besar ini menghancurkan dasar tauhid dan dasar iman seseorang, sehingga pelakunya kafir. Karena jika masuk dalam kategori cinta ibadah, lalu cinta tersebut ditujukan kepada Allah saja, maka bernilai tauhid. Dan jika ditujukan selain Allah, maka bernilai syirik besar. Ciri cinta yang merupakan ibadah adalah mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) dan puncak ketundukan dan ketaatan kepada yang disembah, diibadahi, dan dicintai.Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya)Cinta yang haram ini merusak kesempurnaan iman/ tauhid yang wajib sehingga berdosa. Namun, tidak sampai derajat kafir karena tidak menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang tidak sampai tingkatan syirik besar (atau setingkatnya), namun berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman, baik karena asal cintanya itu diharamkan atau asal cintanya itu mubah, namun menjerumuskan ke dalam dosa.Baca Juga: Doa Terbaik untuk Anak TercintaJenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhlukTerdapat beberapa contoh cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk, misalnya:Pertama, cinta tabiat atau naluri, seperti suka makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, dan semacamnya.Kedua, cinta karena kasih sayang atau didasari rasa hormat, seperti cinta kepada orangtua, guru, anak, dan semacamnya,Ketiga, cinta kepada hobi, kegemaran, atau kesukaan yang halal. Contohnya, cinta kepada pekerjaan, bisnis, hobi, dan semacamnya.Cinta yang diperbolehkan ini bisa berubah menjadi haram jika mengakibatkan seseorang meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.[Bersambung]Baca Juga:Cinta Tanah Air adalah Tabiat dan Fitrah ManusiaKumpulan Artikel Tentang Cinta dan Pernikahan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Nabi Danial, Jalan Hijrah, Hadits Tentang Silaturrahim, Muslimah QuranTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 1)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam cinta 2. Jenis pertama: cinta yang syar’i 2.1. Mahabbatullah (mencintai Allah) 2.2. Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallam 2.3. Mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah 3. Jenis kedua: cinta yang haram 3.1. Syirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah) 3.2. Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya) 4. Jenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk Macam-macam cintaTerdapat tiga macam cinta, yaitu cinta yang syar’i, cinta yang haram, dan cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk.Jenis pertama: cinta yang syar’iMahabbatullah (mencintai Allah)Mahabbatullah (mencintai Allah) merupakan kewajiban yang paling wajib. Kedudukan mahabbatullah adalah sebagai dasar agama Islam. Hal ini bisa ditinjau dari:Pertama, pendorong segala bentuk amal ibadah seorang hamba adalah cinta Allah Ta’ala, cinta pahala-Nya, dan cinta (ingin) selamat dari neraka. Bahkan, dua rukun ibadah hati yang lainnya, yaitu takut dan harap, dasarnya adalah cinta kepada Allah. Karena orang yang berharap kepada Allah saat beribadah, hakikatnya berharap sesuatu yang dicintainya, berupa keridaan-Nya dan pahala-Nya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah, hakikatnya adalah takut kepada Tuhan yang dicintainya dengan puncak kecintaan, dan takut kehilangan sesuatu yang dicintainya, berupa keselamatan dari siksa-Nya.Tawakal, inabah, tobat, dan ibadah lainnya, sumbernya adalah cinta kepada Allah Ta’ala dan tuntutannya, yaitu cinta kepada rida-Nya dan cinta kepada pahala-Nya, serta ingin selamat dari siksa-Nya.Kedua, setiap peribadahan pastilah dipersembahkan kepada Tuhan yang paling dicintainya dengan puncak kesempurnaan sehingga Dia diagungkan dan ditaati secara mutlak.Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallamDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini hukumnya wajib. Tidak sempurna keimanan wajib seorang hamba tanpa mencintai beliau melebihi mencintai diri sendiri dan seluruh makhluk.Mencintai seluruh yang dicintai oleh AllahDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, yaitu mencintai para rasul dan nabi lainnya ‘alaihimush shalatu was-salamu, orang saleh, dan mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, baik berupa syari’at Allah, ucapan baik, perbuatan baik (amalan saleh), orang saleh, waktu dan tempat baik, dan seluruh yang dicintai-Nya.Cinta syar’i berupa mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah adalah al-hubbu fillah (cinta di jalan ketaatan kepada Allah) dan al-hubbu lillah (cinta karena Allah). Atau disebut juga mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai segala yang dicintai Allah).Cinta syar’i mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah ini mengikuti “dasar dari seluruh cinta”, yaitu mahabbatullah. Sehingga mahabbatullah adalah sebagai dasar dari seluruh cinta lainnya.Kecintaan kita terhadap sesuatu selain Allah mengikuti kecintaan Allah terhadap sesuatu tersebut. Semakin besar kecintaan Allah kepada sesuatu, maka tertuntut semakin besar pula kecintaan kita kepada sesuatu tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin besar kebencian Allah kepada sesuatu, maka semakin besar pula kebencian kita kepada sesuatu tersebut.Ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah berkata dalam Jami’ul Ulum wal-Hikam, karya Ibnu Rajab rahimahullah,لو رأيت رجلا يظهر خيرا ، ويسر شرا ، أحببته عليه ، آجرك الله على حبك الخير ، ولو رأيت رجلا يظهر شرا ، ويسر خيرا بغضته عليه ، آجرك الله على بغضك الشر“Seandainya anda melihat seseorang menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan, lalu anda mencintainya karena kebaikannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kecintaanmu kepada kebaikannya.Sebaliknya, seandainya anda melihat seseorang menampakkan keburukan dan menyembunyikan kebaikan, lalu anda membencinya karena keburukannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kebencianmu kepada keburukannya.”Jenis kedua: cinta yang haramSyirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah)Ini adalah cinta ibadah yang ditujukan kepada selain Allah, atau disebut juga al-mahabbah ma’allah. Mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah adalah syirik dalam cinta. Jadi, patokan syirik besar dalam ibadah cinta adalah mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Cinta jenis syirik besar ini menghancurkan dasar tauhid dan dasar iman seseorang, sehingga pelakunya kafir. Karena jika masuk dalam kategori cinta ibadah, lalu cinta tersebut ditujukan kepada Allah saja, maka bernilai tauhid. Dan jika ditujukan selain Allah, maka bernilai syirik besar. Ciri cinta yang merupakan ibadah adalah mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) dan puncak ketundukan dan ketaatan kepada yang disembah, diibadahi, dan dicintai.Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya)Cinta yang haram ini merusak kesempurnaan iman/ tauhid yang wajib sehingga berdosa. Namun, tidak sampai derajat kafir karena tidak menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang tidak sampai tingkatan syirik besar (atau setingkatnya), namun berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman, baik karena asal cintanya itu diharamkan atau asal cintanya itu mubah, namun menjerumuskan ke dalam dosa.Baca Juga: Doa Terbaik untuk Anak TercintaJenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhlukTerdapat beberapa contoh cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk, misalnya:Pertama, cinta tabiat atau naluri, seperti suka makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, dan semacamnya.Kedua, cinta karena kasih sayang atau didasari rasa hormat, seperti cinta kepada orangtua, guru, anak, dan semacamnya,Ketiga, cinta kepada hobi, kegemaran, atau kesukaan yang halal. Contohnya, cinta kepada pekerjaan, bisnis, hobi, dan semacamnya.Cinta yang diperbolehkan ini bisa berubah menjadi haram jika mengakibatkan seseorang meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.[Bersambung]Baca Juga:Cinta Tanah Air adalah Tabiat dan Fitrah ManusiaKumpulan Artikel Tentang Cinta dan Pernikahan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Nabi Danial, Jalan Hijrah, Hadits Tentang Silaturrahim, Muslimah QuranTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 1)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam cinta 2. Jenis pertama: cinta yang syar’i 2.1. Mahabbatullah (mencintai Allah) 2.2. Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallam 2.3. Mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah 3. Jenis kedua: cinta yang haram 3.1. Syirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah) 3.2. Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya) 4. Jenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk Macam-macam cintaTerdapat tiga macam cinta, yaitu cinta yang syar’i, cinta yang haram, dan cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk.Jenis pertama: cinta yang syar’iMahabbatullah (mencintai Allah)Mahabbatullah (mencintai Allah) merupakan kewajiban yang paling wajib. Kedudukan mahabbatullah adalah sebagai dasar agama Islam. Hal ini bisa ditinjau dari:Pertama, pendorong segala bentuk amal ibadah seorang hamba adalah cinta Allah Ta’ala, cinta pahala-Nya, dan cinta (ingin) selamat dari neraka. Bahkan, dua rukun ibadah hati yang lainnya, yaitu takut dan harap, dasarnya adalah cinta kepada Allah. Karena orang yang berharap kepada Allah saat beribadah, hakikatnya berharap sesuatu yang dicintainya, berupa keridaan-Nya dan pahala-Nya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah, hakikatnya adalah takut kepada Tuhan yang dicintainya dengan puncak kecintaan, dan takut kehilangan sesuatu yang dicintainya, berupa keselamatan dari siksa-Nya.Tawakal, inabah, tobat, dan ibadah lainnya, sumbernya adalah cinta kepada Allah Ta’ala dan tuntutannya, yaitu cinta kepada rida-Nya dan cinta kepada pahala-Nya, serta ingin selamat dari siksa-Nya.Kedua, setiap peribadahan pastilah dipersembahkan kepada Tuhan yang paling dicintainya dengan puncak kesempurnaan sehingga Dia diagungkan dan ditaati secara mutlak.Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallamDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini hukumnya wajib. Tidak sempurna keimanan wajib seorang hamba tanpa mencintai beliau melebihi mencintai diri sendiri dan seluruh makhluk.Mencintai seluruh yang dicintai oleh AllahDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, yaitu mencintai para rasul dan nabi lainnya ‘alaihimush shalatu was-salamu, orang saleh, dan mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, baik berupa syari’at Allah, ucapan baik, perbuatan baik (amalan saleh), orang saleh, waktu dan tempat baik, dan seluruh yang dicintai-Nya.Cinta syar’i berupa mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah adalah al-hubbu fillah (cinta di jalan ketaatan kepada Allah) dan al-hubbu lillah (cinta karena Allah). Atau disebut juga mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai segala yang dicintai Allah).Cinta syar’i mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah ini mengikuti “dasar dari seluruh cinta”, yaitu mahabbatullah. Sehingga mahabbatullah adalah sebagai dasar dari seluruh cinta lainnya.Kecintaan kita terhadap sesuatu selain Allah mengikuti kecintaan Allah terhadap sesuatu tersebut. Semakin besar kecintaan Allah kepada sesuatu, maka tertuntut semakin besar pula kecintaan kita kepada sesuatu tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin besar kebencian Allah kepada sesuatu, maka semakin besar pula kebencian kita kepada sesuatu tersebut.Ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah berkata dalam Jami’ul Ulum wal-Hikam, karya Ibnu Rajab rahimahullah,لو رأيت رجلا يظهر خيرا ، ويسر شرا ، أحببته عليه ، آجرك الله على حبك الخير ، ولو رأيت رجلا يظهر شرا ، ويسر خيرا بغضته عليه ، آجرك الله على بغضك الشر“Seandainya anda melihat seseorang menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan, lalu anda mencintainya karena kebaikannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kecintaanmu kepada kebaikannya.Sebaliknya, seandainya anda melihat seseorang menampakkan keburukan dan menyembunyikan kebaikan, lalu anda membencinya karena keburukannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kebencianmu kepada keburukannya.”Jenis kedua: cinta yang haramSyirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah)Ini adalah cinta ibadah yang ditujukan kepada selain Allah, atau disebut juga al-mahabbah ma’allah. Mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah adalah syirik dalam cinta. Jadi, patokan syirik besar dalam ibadah cinta adalah mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Cinta jenis syirik besar ini menghancurkan dasar tauhid dan dasar iman seseorang, sehingga pelakunya kafir. Karena jika masuk dalam kategori cinta ibadah, lalu cinta tersebut ditujukan kepada Allah saja, maka bernilai tauhid. Dan jika ditujukan selain Allah, maka bernilai syirik besar. Ciri cinta yang merupakan ibadah adalah mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) dan puncak ketundukan dan ketaatan kepada yang disembah, diibadahi, dan dicintai.Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya)Cinta yang haram ini merusak kesempurnaan iman/ tauhid yang wajib sehingga berdosa. Namun, tidak sampai derajat kafir karena tidak menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang tidak sampai tingkatan syirik besar (atau setingkatnya), namun berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman, baik karena asal cintanya itu diharamkan atau asal cintanya itu mubah, namun menjerumuskan ke dalam dosa.Baca Juga: Doa Terbaik untuk Anak TercintaJenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhlukTerdapat beberapa contoh cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk, misalnya:Pertama, cinta tabiat atau naluri, seperti suka makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, dan semacamnya.Kedua, cinta karena kasih sayang atau didasari rasa hormat, seperti cinta kepada orangtua, guru, anak, dan semacamnya,Ketiga, cinta kepada hobi, kegemaran, atau kesukaan yang halal. Contohnya, cinta kepada pekerjaan, bisnis, hobi, dan semacamnya.Cinta yang diperbolehkan ini bisa berubah menjadi haram jika mengakibatkan seseorang meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.[Bersambung]Baca Juga:Cinta Tanah Air adalah Tabiat dan Fitrah ManusiaKumpulan Artikel Tentang Cinta dan Pernikahan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Nabi Danial, Jalan Hijrah, Hadits Tentang Silaturrahim, Muslimah QuranTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid

Kerabat yang Wajib Disambung Silaturahim – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda. Penanya berkata, “Wahai Guru kami yang terhormat, apa batasan kerabatyang wajib disambung silaturahminya dengan mereka?” Kerabat adalah semua orang yang bertemu hubungan darahnya dengan Anda. Jika Anda dan mereka punya kekerabatan dari jalur kedua orang tua Anda,maka mereka termasuk kerabat. Namun sebagian kerabat lebih dekat dari sebagian lainnya. Saudara kandung lebih dekat daripada sepupu,dan sepupu lebih dekat daripada cucunya paman,atau pamannya ayah, begitu seterusnya, sebagaimana telah dikenal dalam syariat kita. Semakin seseorang dekat pertaliannyadengan ayah atau ibu Anda dalam jalur kekerabatannya,maka dia termasuk kerabat. Kerabat tidak memiliki batasan terjauh. Jika seseorang luas kelebihannya dan merata kedermawanannya,hendaknya dia berusaha untuk menjangkau sejauh mungkin kerabatnyayang membutuhkan bantuannya yang masih termasuk kerabatnya. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ يَقُولُ: شَيْخُنَا الْفَاضِلُ مَا هُوَ حُدُودٌ… مَا هِيَ حُدُودُ الْأَقَارِبِ الَّتِي يَجِبُ صِلَتُهُمْ… أَوِ الَّتِي تَجِبُ صِلَتُهُمْ؟ اَلْأَقَارِبُ كُلُّ مَنْ تَجْمَعُ مَعَكَ أَنْتُمْ وَإِيَّاهُمْ قَرَابَةٌ لِوَالِدَيْكَ فَهُمْ مِنْ ذَوِي الْقُرْبَى وَبَعْضُهُمْ أَقْرَبُ مِنْ بَعْضٍ الْإِخْوَةُ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَمِّ وَأَبْنَاءُ الْعَمِّ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ أَبْنَاءِهِ أَوْ عَمِّ الْأَبِ وَهَكَذَا… كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ مِنْ شَرِيعَتِنَا فَكُلَّمَا كَانَ الْوَاحِدُ أَقْرَبُ إِلَى أَبِيكَ أَوْ أُمِّكَ قَرَابَةً فَهُوَ مِنْ أَقَارِبَ وَلَا حَدَّ لِأَقْصَاهَا مَنْ كَانَ لَهُ … نَقُولُ… فَضْلُهُ وَاسِعٌ وَجُودُهُ فِيهِ شُمُولٌ فَلْيَحْرِصْ عَلَى أَنْ يَشْمَلَ أَقْصَى الْأَقَارِبِ مِمَّنْ يَحْتَاجُونَ إِلَى بِرِّهِ مِنْ ذَوِي قَرَابَتِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kerabat yang Wajib Disambung Silaturahim – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda. Penanya berkata, “Wahai Guru kami yang terhormat, apa batasan kerabatyang wajib disambung silaturahminya dengan mereka?” Kerabat adalah semua orang yang bertemu hubungan darahnya dengan Anda. Jika Anda dan mereka punya kekerabatan dari jalur kedua orang tua Anda,maka mereka termasuk kerabat. Namun sebagian kerabat lebih dekat dari sebagian lainnya. Saudara kandung lebih dekat daripada sepupu,dan sepupu lebih dekat daripada cucunya paman,atau pamannya ayah, begitu seterusnya, sebagaimana telah dikenal dalam syariat kita. Semakin seseorang dekat pertaliannyadengan ayah atau ibu Anda dalam jalur kekerabatannya,maka dia termasuk kerabat. Kerabat tidak memiliki batasan terjauh. Jika seseorang luas kelebihannya dan merata kedermawanannya,hendaknya dia berusaha untuk menjangkau sejauh mungkin kerabatnyayang membutuhkan bantuannya yang masih termasuk kerabatnya. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ يَقُولُ: شَيْخُنَا الْفَاضِلُ مَا هُوَ حُدُودٌ… مَا هِيَ حُدُودُ الْأَقَارِبِ الَّتِي يَجِبُ صِلَتُهُمْ… أَوِ الَّتِي تَجِبُ صِلَتُهُمْ؟ اَلْأَقَارِبُ كُلُّ مَنْ تَجْمَعُ مَعَكَ أَنْتُمْ وَإِيَّاهُمْ قَرَابَةٌ لِوَالِدَيْكَ فَهُمْ مِنْ ذَوِي الْقُرْبَى وَبَعْضُهُمْ أَقْرَبُ مِنْ بَعْضٍ الْإِخْوَةُ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَمِّ وَأَبْنَاءُ الْعَمِّ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ أَبْنَاءِهِ أَوْ عَمِّ الْأَبِ وَهَكَذَا… كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ مِنْ شَرِيعَتِنَا فَكُلَّمَا كَانَ الْوَاحِدُ أَقْرَبُ إِلَى أَبِيكَ أَوْ أُمِّكَ قَرَابَةً فَهُوَ مِنْ أَقَارِبَ وَلَا حَدَّ لِأَقْصَاهَا مَنْ كَانَ لَهُ … نَقُولُ… فَضْلُهُ وَاسِعٌ وَجُودُهُ فِيهِ شُمُولٌ فَلْيَحْرِصْ عَلَى أَنْ يَشْمَلَ أَقْصَى الْأَقَارِبِ مِمَّنْ يَحْتَاجُونَ إِلَى بِرِّهِ مِنْ ذَوِي قَرَابَتِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda. Penanya berkata, “Wahai Guru kami yang terhormat, apa batasan kerabatyang wajib disambung silaturahminya dengan mereka?” Kerabat adalah semua orang yang bertemu hubungan darahnya dengan Anda. Jika Anda dan mereka punya kekerabatan dari jalur kedua orang tua Anda,maka mereka termasuk kerabat. Namun sebagian kerabat lebih dekat dari sebagian lainnya. Saudara kandung lebih dekat daripada sepupu,dan sepupu lebih dekat daripada cucunya paman,atau pamannya ayah, begitu seterusnya, sebagaimana telah dikenal dalam syariat kita. Semakin seseorang dekat pertaliannyadengan ayah atau ibu Anda dalam jalur kekerabatannya,maka dia termasuk kerabat. Kerabat tidak memiliki batasan terjauh. Jika seseorang luas kelebihannya dan merata kedermawanannya,hendaknya dia berusaha untuk menjangkau sejauh mungkin kerabatnyayang membutuhkan bantuannya yang masih termasuk kerabatnya. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ يَقُولُ: شَيْخُنَا الْفَاضِلُ مَا هُوَ حُدُودٌ… مَا هِيَ حُدُودُ الْأَقَارِبِ الَّتِي يَجِبُ صِلَتُهُمْ… أَوِ الَّتِي تَجِبُ صِلَتُهُمْ؟ اَلْأَقَارِبُ كُلُّ مَنْ تَجْمَعُ مَعَكَ أَنْتُمْ وَإِيَّاهُمْ قَرَابَةٌ لِوَالِدَيْكَ فَهُمْ مِنْ ذَوِي الْقُرْبَى وَبَعْضُهُمْ أَقْرَبُ مِنْ بَعْضٍ الْإِخْوَةُ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَمِّ وَأَبْنَاءُ الْعَمِّ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ أَبْنَاءِهِ أَوْ عَمِّ الْأَبِ وَهَكَذَا… كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ مِنْ شَرِيعَتِنَا فَكُلَّمَا كَانَ الْوَاحِدُ أَقْرَبُ إِلَى أَبِيكَ أَوْ أُمِّكَ قَرَابَةً فَهُوَ مِنْ أَقَارِبَ وَلَا حَدَّ لِأَقْصَاهَا مَنْ كَانَ لَهُ … نَقُولُ… فَضْلُهُ وَاسِعٌ وَجُودُهُ فِيهِ شُمُولٌ فَلْيَحْرِصْ عَلَى أَنْ يَشْمَلَ أَقْصَى الْأَقَارِبِ مِمَّنْ يَحْتَاجُونَ إِلَى بِرِّهِ مِنْ ذَوِي قَرَابَتِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda. Penanya berkata, “Wahai Guru kami yang terhormat, apa batasan kerabatyang wajib disambung silaturahminya dengan mereka?” Kerabat adalah semua orang yang bertemu hubungan darahnya dengan Anda. Jika Anda dan mereka punya kekerabatan dari jalur kedua orang tua Anda,maka mereka termasuk kerabat. Namun sebagian kerabat lebih dekat dari sebagian lainnya. Saudara kandung lebih dekat daripada sepupu,dan sepupu lebih dekat daripada cucunya paman,atau pamannya ayah, begitu seterusnya, sebagaimana telah dikenal dalam syariat kita. Semakin seseorang dekat pertaliannyadengan ayah atau ibu Anda dalam jalur kekerabatannya,maka dia termasuk kerabat. Kerabat tidak memiliki batasan terjauh. Jika seseorang luas kelebihannya dan merata kedermawanannya,hendaknya dia berusaha untuk menjangkau sejauh mungkin kerabatnyayang membutuhkan bantuannya yang masih termasuk kerabatnya. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ يَقُولُ: شَيْخُنَا الْفَاضِلُ مَا هُوَ حُدُودٌ… مَا هِيَ حُدُودُ الْأَقَارِبِ الَّتِي يَجِبُ صِلَتُهُمْ… أَوِ الَّتِي تَجِبُ صِلَتُهُمْ؟ اَلْأَقَارِبُ كُلُّ مَنْ تَجْمَعُ مَعَكَ أَنْتُمْ وَإِيَّاهُمْ قَرَابَةٌ لِوَالِدَيْكَ فَهُمْ مِنْ ذَوِي الْقُرْبَى وَبَعْضُهُمْ أَقْرَبُ مِنْ بَعْضٍ الْإِخْوَةُ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَمِّ وَأَبْنَاءُ الْعَمِّ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ أَبْنَاءِهِ أَوْ عَمِّ الْأَبِ وَهَكَذَا… كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ مِنْ شَرِيعَتِنَا فَكُلَّمَا كَانَ الْوَاحِدُ أَقْرَبُ إِلَى أَبِيكَ أَوْ أُمِّكَ قَرَابَةً فَهُوَ مِنْ أَقَارِبَ وَلَا حَدَّ لِأَقْصَاهَا مَنْ كَانَ لَهُ … نَقُولُ… فَضْلُهُ وَاسِعٌ وَجُودُهُ فِيهِ شُمُولٌ فَلْيَحْرِصْ عَلَى أَنْ يَشْمَلَ أَقْصَى الْأَقَارِبِ مِمَّنْ يَحْتَاجُونَ إِلَى بِرِّهِ مِنْ ذَوِي قَرَابَتِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Prev     Next