Inilah Ilmu Bermanfaat yang Sebenarnya – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Saya hendak menyebutkan satu hal yang berkaitan dengan menuntut ilmu.Karena saya kira banyak orang yang menyukai ilmu.Ilmu yang hakiki dan bermanfaatadalah dengan memahami firman Allah Jalla wa ‘Aladan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebut dengan ilmu hakiki.Seluruh ilmu yang bermanfaatdalam perkara agama,sesungguhnya diambildari pemahaman terhadap kitab Allah Jalla wa ‘Ala dan pemahaman terhadap sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama sejak dahulu,di antara perkataan yang diriwayatkan dari Imam asy-Syafi’ibahwa ia berkata, “Ilmu adalah apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya,juga apa yang dikatakan oleh para sahabat. Mereka adalah para pemberi peringatan. Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat ahli fikih.”Ibnu al-Qayyim juga berkata dalam kitabnya, an-Nuniyah: “Ilmu adalah apa yang dikatakan Allah dan disabdakan Rasul-Nya, juga yang dikatakan para sahabat. Mereka adalah pemberi penjelasan.Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat si fulan.” Yakni ilmu hakiki yang dapat bermanfaat bagimudalam perjalananmu, tidurmu,terjagamu, dan seluruh urusanmu,adalah dengan memahami firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, penuntut ilmu hendaklah berusaha keras.Siapa saja yang ingin meraih ilmu,harus banyak menelaah hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad,dan memerintahkan beliau untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diwahyukan kepadanya. Banyak penjelasan al-Quran hanya dapat diketahui melalui Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== أُحِبُّ أَنْ أَذْكُرَ شَيْئًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِتَحْصِيلِ الْعِلْمِ لِأَنَّهُ أَظُنُّ فِيهِ عَدَدٌ مِنَ النَّاسِ يُحِبُّونَ الْعِلْمَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ النَّافِعُ هُوَ أَنْ يَفْهَمَ الْإِنْسَانُ كَلَامَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ وَجَمِيعُ الْعُلُومِ النَّافِعَةِ فِي أَمْرِ الدِّينِ إِنَّمَا تُؤْخَذُ مِنْ فَهْمِ كِتَابِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَفَهْمِ كَلَامِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعُلَمَاءُ مِنْ قَدِيمِ الزَّمَانِ مِمَّا يُرْوَى عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَقُولُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ قَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التَّنْبِيْهِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فَقِيهٍ وَيَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ النُّوْنِيَّةُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ وَقَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التِّبْيَانِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فُلَانٍ أَيْ أَنَّ الْعِلْمَ الْحَقِيقِيَّ الَّذِي يَنْفَعُكَ فِي مَسِيرِكَ وَنَوْمِكَ وَصَحْوَتِكَ وَسَائِرِ أُمُورِكَ أَنْ تَفْهَمَ كَلَامَ اللهِ وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُحَصِّلَ الْعِلْمَ أَنْ يُكْثِرَ مُرَاجَعَةَ أَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ الْقُرْآنَ وَأَمَرَهُ أَنْ يُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِمْ وَكَثِيرٌ مِنَ الْبَيَانِ إِنَّمَا يُعْرَفُ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Inilah Ilmu Bermanfaat yang Sebenarnya – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Saya hendak menyebutkan satu hal yang berkaitan dengan menuntut ilmu.Karena saya kira banyak orang yang menyukai ilmu.Ilmu yang hakiki dan bermanfaatadalah dengan memahami firman Allah Jalla wa ‘Aladan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebut dengan ilmu hakiki.Seluruh ilmu yang bermanfaatdalam perkara agama,sesungguhnya diambildari pemahaman terhadap kitab Allah Jalla wa ‘Ala dan pemahaman terhadap sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama sejak dahulu,di antara perkataan yang diriwayatkan dari Imam asy-Syafi’ibahwa ia berkata, “Ilmu adalah apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya,juga apa yang dikatakan oleh para sahabat. Mereka adalah para pemberi peringatan. Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat ahli fikih.”Ibnu al-Qayyim juga berkata dalam kitabnya, an-Nuniyah: “Ilmu adalah apa yang dikatakan Allah dan disabdakan Rasul-Nya, juga yang dikatakan para sahabat. Mereka adalah pemberi penjelasan.Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat si fulan.” Yakni ilmu hakiki yang dapat bermanfaat bagimudalam perjalananmu, tidurmu,terjagamu, dan seluruh urusanmu,adalah dengan memahami firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, penuntut ilmu hendaklah berusaha keras.Siapa saja yang ingin meraih ilmu,harus banyak menelaah hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad,dan memerintahkan beliau untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diwahyukan kepadanya. Banyak penjelasan al-Quran hanya dapat diketahui melalui Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== أُحِبُّ أَنْ أَذْكُرَ شَيْئًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِتَحْصِيلِ الْعِلْمِ لِأَنَّهُ أَظُنُّ فِيهِ عَدَدٌ مِنَ النَّاسِ يُحِبُّونَ الْعِلْمَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ النَّافِعُ هُوَ أَنْ يَفْهَمَ الْإِنْسَانُ كَلَامَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ وَجَمِيعُ الْعُلُومِ النَّافِعَةِ فِي أَمْرِ الدِّينِ إِنَّمَا تُؤْخَذُ مِنْ فَهْمِ كِتَابِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَفَهْمِ كَلَامِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعُلَمَاءُ مِنْ قَدِيمِ الزَّمَانِ مِمَّا يُرْوَى عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَقُولُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ قَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التَّنْبِيْهِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فَقِيهٍ وَيَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ النُّوْنِيَّةُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ وَقَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التِّبْيَانِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فُلَانٍ أَيْ أَنَّ الْعِلْمَ الْحَقِيقِيَّ الَّذِي يَنْفَعُكَ فِي مَسِيرِكَ وَنَوْمِكَ وَصَحْوَتِكَ وَسَائِرِ أُمُورِكَ أَنْ تَفْهَمَ كَلَامَ اللهِ وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُحَصِّلَ الْعِلْمَ أَنْ يُكْثِرَ مُرَاجَعَةَ أَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ الْقُرْآنَ وَأَمَرَهُ أَنْ يُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِمْ وَكَثِيرٌ مِنَ الْبَيَانِ إِنَّمَا يُعْرَفُ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Saya hendak menyebutkan satu hal yang berkaitan dengan menuntut ilmu.Karena saya kira banyak orang yang menyukai ilmu.Ilmu yang hakiki dan bermanfaatadalah dengan memahami firman Allah Jalla wa ‘Aladan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebut dengan ilmu hakiki.Seluruh ilmu yang bermanfaatdalam perkara agama,sesungguhnya diambildari pemahaman terhadap kitab Allah Jalla wa ‘Ala dan pemahaman terhadap sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama sejak dahulu,di antara perkataan yang diriwayatkan dari Imam asy-Syafi’ibahwa ia berkata, “Ilmu adalah apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya,juga apa yang dikatakan oleh para sahabat. Mereka adalah para pemberi peringatan. Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat ahli fikih.”Ibnu al-Qayyim juga berkata dalam kitabnya, an-Nuniyah: “Ilmu adalah apa yang dikatakan Allah dan disabdakan Rasul-Nya, juga yang dikatakan para sahabat. Mereka adalah pemberi penjelasan.Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat si fulan.” Yakni ilmu hakiki yang dapat bermanfaat bagimudalam perjalananmu, tidurmu,terjagamu, dan seluruh urusanmu,adalah dengan memahami firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, penuntut ilmu hendaklah berusaha keras.Siapa saja yang ingin meraih ilmu,harus banyak menelaah hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad,dan memerintahkan beliau untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diwahyukan kepadanya. Banyak penjelasan al-Quran hanya dapat diketahui melalui Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== أُحِبُّ أَنْ أَذْكُرَ شَيْئًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِتَحْصِيلِ الْعِلْمِ لِأَنَّهُ أَظُنُّ فِيهِ عَدَدٌ مِنَ النَّاسِ يُحِبُّونَ الْعِلْمَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ النَّافِعُ هُوَ أَنْ يَفْهَمَ الْإِنْسَانُ كَلَامَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ وَجَمِيعُ الْعُلُومِ النَّافِعَةِ فِي أَمْرِ الدِّينِ إِنَّمَا تُؤْخَذُ مِنْ فَهْمِ كِتَابِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَفَهْمِ كَلَامِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعُلَمَاءُ مِنْ قَدِيمِ الزَّمَانِ مِمَّا يُرْوَى عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَقُولُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ قَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التَّنْبِيْهِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فَقِيهٍ وَيَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ النُّوْنِيَّةُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ وَقَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التِّبْيَانِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فُلَانٍ أَيْ أَنَّ الْعِلْمَ الْحَقِيقِيَّ الَّذِي يَنْفَعُكَ فِي مَسِيرِكَ وَنَوْمِكَ وَصَحْوَتِكَ وَسَائِرِ أُمُورِكَ أَنْ تَفْهَمَ كَلَامَ اللهِ وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُحَصِّلَ الْعِلْمَ أَنْ يُكْثِرَ مُرَاجَعَةَ أَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ الْقُرْآنَ وَأَمَرَهُ أَنْ يُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِمْ وَكَثِيرٌ مِنَ الْبَيَانِ إِنَّمَا يُعْرَفُ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Saya hendak menyebutkan satu hal yang berkaitan dengan menuntut ilmu.Karena saya kira banyak orang yang menyukai ilmu.Ilmu yang hakiki dan bermanfaatadalah dengan memahami firman Allah Jalla wa ‘Aladan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebut dengan ilmu hakiki.Seluruh ilmu yang bermanfaatdalam perkara agama,sesungguhnya diambildari pemahaman terhadap kitab Allah Jalla wa ‘Ala dan pemahaman terhadap sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama sejak dahulu,di antara perkataan yang diriwayatkan dari Imam asy-Syafi’ibahwa ia berkata, “Ilmu adalah apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya,juga apa yang dikatakan oleh para sahabat. Mereka adalah para pemberi peringatan. Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat ahli fikih.”Ibnu al-Qayyim juga berkata dalam kitabnya, an-Nuniyah: “Ilmu adalah apa yang dikatakan Allah dan disabdakan Rasul-Nya, juga yang dikatakan para sahabat. Mereka adalah pemberi penjelasan.Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat si fulan.” Yakni ilmu hakiki yang dapat bermanfaat bagimudalam perjalananmu, tidurmu,terjagamu, dan seluruh urusanmu,adalah dengan memahami firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, penuntut ilmu hendaklah berusaha keras.Siapa saja yang ingin meraih ilmu,harus banyak menelaah hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad,dan memerintahkan beliau untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diwahyukan kepadanya. Banyak penjelasan al-Quran hanya dapat diketahui melalui Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== أُحِبُّ أَنْ أَذْكُرَ شَيْئًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِتَحْصِيلِ الْعِلْمِ لِأَنَّهُ أَظُنُّ فِيهِ عَدَدٌ مِنَ النَّاسِ يُحِبُّونَ الْعِلْمَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ النَّافِعُ هُوَ أَنْ يَفْهَمَ الْإِنْسَانُ كَلَامَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ وَجَمِيعُ الْعُلُومِ النَّافِعَةِ فِي أَمْرِ الدِّينِ إِنَّمَا تُؤْخَذُ مِنْ فَهْمِ كِتَابِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَفَهْمِ كَلَامِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعُلَمَاءُ مِنْ قَدِيمِ الزَّمَانِ مِمَّا يُرْوَى عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَقُولُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ قَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التَّنْبِيْهِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فَقِيهٍ وَيَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ النُّوْنِيَّةُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ وَقَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التِّبْيَانِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فُلَانٍ أَيْ أَنَّ الْعِلْمَ الْحَقِيقِيَّ الَّذِي يَنْفَعُكَ فِي مَسِيرِكَ وَنَوْمِكَ وَصَحْوَتِكَ وَسَائِرِ أُمُورِكَ أَنْ تَفْهَمَ كَلَامَ اللهِ وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُحَصِّلَ الْعِلْمَ أَنْ يُكْثِرَ مُرَاجَعَةَ أَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ الْقُرْآنَ وَأَمَرَهُ أَنْ يُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِمْ وَكَثِيرٌ مِنَ الْبَيَانِ إِنَّمَا يُعْرَفُ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Setelah Wudhu, Menginjak Tanah, Apakah Batal?

Pertanyaan: Apakah benar bahwa orang yang sudah wudhu lalu kakinya kotor lagi karena menginjak tanah maka wudhunya batal dan harus diulang? Karena teman saya ada yang mengatakan demikian. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu, sama sekali tidak membatalkan wudhu. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menginjak atau menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Padahal kaidah fiqhiyyah yang disebutkan para ulama: الأصل بقاء ماكان على ماكان “Pada asalnya, hukum yang sudah ditetapkan itu tetap berlaku”. Maka jika seseorang sudah berwudhu, ia dihukumi suci dan tidak batal wudhu. Kecuali terdapat dalil yang menunjukkan batalnya wudhu. Sedangkan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Pembatal-pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil syar’i bukan akal atau perasaan.  Sehingga, menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu tidaklah membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb mengatakan: أما إذا كان الشخص متوضئا, ثم لصق تراب على قدمه بعد الوضوء, فهذا لا يؤثر على وضوئه “Adapun jika seseorang sudah berwudhu, lalu setelah itu tanah menempel di kakinya, ini tidak mempengaruhi keabsahan wudhu sama sekali.” (Fatwa Dewan Islamweb no.267847) Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah al-Muyassarah (1/117-126), Syaikh Husain al-Awaisyah hafizhahullah menyebutkan bahwa pembatal wudhu ada lima: Al-kharij min sabilain (keluar sesuatu dari qubul dan dubur), baik berupa air seni, air besar (feses), mani, madzi, darah istihadhah, atau kentut. Hilangnya akal. Menyentuh farji (kemaluan) dengan syahwat. Makan daging unta. Tidur nyenyak. Pembatal wudhu berbeda dengan qadzarah. Qadzarah artinya kotoran, yaitu semua yang dianggap kotor atau tidak bersih oleh manusia; lawan kata dari bersih. Tidak semua yang dianggap kotor oleh manusia itu adalah najis, hadats, dan membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb.net menyatakan: فالقذر اسم لما تعافه النفس وتكرهه نجساً كان أو غير نجس، فالقذر إذن أعم من النجس مطلقاً. “Al-Qadzar adalah istilah untuk semua yang tidak disukai oleh jiwa, baik itu berupa najis ataupun bukan najis. Maka qadzar itu lebih umum dari najis.” (Fatwa Dewan Islamweb no. 132530) Najis, hadats, dan pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil-dalil. Adapun kotoran secara umum, statusnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu adalah suci dalam pandangan syariat. Kaidah fiqih mengatakan: والأصل في أشيائنا الطهارة *** والأرض والثياب والحجارة “Hukum asal segala benda yang ada di (bumi) kita adalah suci, demikian juga tanah, pakaian, dan batu.” (Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah as-Sa’diyah) Maka kotoran dibagi menjadi dua: Kotoran yang bukan najis, semisal tanah, debu, noda makanan, noda cat, dan semisalnya. Statusnya asalnya suci dalam pandangan syariat, kecuali sudah tercampur dan didominasi oleh zat lain yang termasuk najis. Demikian juga terkena benda-benda tersebut bukan pembatal wudhu karena tidak terdapat dalil bahwa mereka dapat membatalkan wudhu. Maka tidak benar sikap sebagian orang yang merasa wudhunya batal karena ia menginjak tanah. Kotoran yang merupakan najis, yaitu kotoran yang ditetapkan syariat sebagai najis, seperti kotoran manusia (feses), air seni, madzi, bangkai, air liur anjing, babi, dll. Meski demikian, kotoran yang statusnya suci bukan najis dalam syariat, bukan berarti seorang muslim bermudah-mudahan terhadapnya. Di antara adab yang baik bagi seorang muslim adalah senantiasa menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Bukan adab yang baik jika seorang muslim berpenampilan kumal, kotor, pakaiannya penuh noda, rumahnya pun kotor, sampah berceceran, walaupun tidak terdapat najis. Ini bukan adab yang baik. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ اللهَ جميلٌ يحبُّ الجمالَ “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim no.91) Maka orang yang sudah berwudhu untuk shalat, lalu badannya terkena tanah, hendaknya tetap dibersihkan sebagai bentuk menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Adapun wudhunya tetap sah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bertanya, Sunnah Nabi Minum Air Selepas Bangun Tidur, Apakah Flek Coklat Boleh Puasa, Abdulah Taslim, Lafadz Akad Nikah Arab, Poso Weton Visited 458 times, 1 visit(s) today Post Views: 585 QRIS donasi Yufid

Setelah Wudhu, Menginjak Tanah, Apakah Batal?

Pertanyaan: Apakah benar bahwa orang yang sudah wudhu lalu kakinya kotor lagi karena menginjak tanah maka wudhunya batal dan harus diulang? Karena teman saya ada yang mengatakan demikian. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu, sama sekali tidak membatalkan wudhu. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menginjak atau menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Padahal kaidah fiqhiyyah yang disebutkan para ulama: الأصل بقاء ماكان على ماكان “Pada asalnya, hukum yang sudah ditetapkan itu tetap berlaku”. Maka jika seseorang sudah berwudhu, ia dihukumi suci dan tidak batal wudhu. Kecuali terdapat dalil yang menunjukkan batalnya wudhu. Sedangkan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Pembatal-pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil syar’i bukan akal atau perasaan.  Sehingga, menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu tidaklah membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb mengatakan: أما إذا كان الشخص متوضئا, ثم لصق تراب على قدمه بعد الوضوء, فهذا لا يؤثر على وضوئه “Adapun jika seseorang sudah berwudhu, lalu setelah itu tanah menempel di kakinya, ini tidak mempengaruhi keabsahan wudhu sama sekali.” (Fatwa Dewan Islamweb no.267847) Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah al-Muyassarah (1/117-126), Syaikh Husain al-Awaisyah hafizhahullah menyebutkan bahwa pembatal wudhu ada lima: Al-kharij min sabilain (keluar sesuatu dari qubul dan dubur), baik berupa air seni, air besar (feses), mani, madzi, darah istihadhah, atau kentut. Hilangnya akal. Menyentuh farji (kemaluan) dengan syahwat. Makan daging unta. Tidur nyenyak. Pembatal wudhu berbeda dengan qadzarah. Qadzarah artinya kotoran, yaitu semua yang dianggap kotor atau tidak bersih oleh manusia; lawan kata dari bersih. Tidak semua yang dianggap kotor oleh manusia itu adalah najis, hadats, dan membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb.net menyatakan: فالقذر اسم لما تعافه النفس وتكرهه نجساً كان أو غير نجس، فالقذر إذن أعم من النجس مطلقاً. “Al-Qadzar adalah istilah untuk semua yang tidak disukai oleh jiwa, baik itu berupa najis ataupun bukan najis. Maka qadzar itu lebih umum dari najis.” (Fatwa Dewan Islamweb no. 132530) Najis, hadats, dan pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil-dalil. Adapun kotoran secara umum, statusnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu adalah suci dalam pandangan syariat. Kaidah fiqih mengatakan: والأصل في أشيائنا الطهارة *** والأرض والثياب والحجارة “Hukum asal segala benda yang ada di (bumi) kita adalah suci, demikian juga tanah, pakaian, dan batu.” (Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah as-Sa’diyah) Maka kotoran dibagi menjadi dua: Kotoran yang bukan najis, semisal tanah, debu, noda makanan, noda cat, dan semisalnya. Statusnya asalnya suci dalam pandangan syariat, kecuali sudah tercampur dan didominasi oleh zat lain yang termasuk najis. Demikian juga terkena benda-benda tersebut bukan pembatal wudhu karena tidak terdapat dalil bahwa mereka dapat membatalkan wudhu. Maka tidak benar sikap sebagian orang yang merasa wudhunya batal karena ia menginjak tanah. Kotoran yang merupakan najis, yaitu kotoran yang ditetapkan syariat sebagai najis, seperti kotoran manusia (feses), air seni, madzi, bangkai, air liur anjing, babi, dll. Meski demikian, kotoran yang statusnya suci bukan najis dalam syariat, bukan berarti seorang muslim bermudah-mudahan terhadapnya. Di antara adab yang baik bagi seorang muslim adalah senantiasa menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Bukan adab yang baik jika seorang muslim berpenampilan kumal, kotor, pakaiannya penuh noda, rumahnya pun kotor, sampah berceceran, walaupun tidak terdapat najis. Ini bukan adab yang baik. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ اللهَ جميلٌ يحبُّ الجمالَ “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim no.91) Maka orang yang sudah berwudhu untuk shalat, lalu badannya terkena tanah, hendaknya tetap dibersihkan sebagai bentuk menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Adapun wudhunya tetap sah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bertanya, Sunnah Nabi Minum Air Selepas Bangun Tidur, Apakah Flek Coklat Boleh Puasa, Abdulah Taslim, Lafadz Akad Nikah Arab, Poso Weton Visited 458 times, 1 visit(s) today Post Views: 585 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apakah benar bahwa orang yang sudah wudhu lalu kakinya kotor lagi karena menginjak tanah maka wudhunya batal dan harus diulang? Karena teman saya ada yang mengatakan demikian. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu, sama sekali tidak membatalkan wudhu. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menginjak atau menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Padahal kaidah fiqhiyyah yang disebutkan para ulama: الأصل بقاء ماكان على ماكان “Pada asalnya, hukum yang sudah ditetapkan itu tetap berlaku”. Maka jika seseorang sudah berwudhu, ia dihukumi suci dan tidak batal wudhu. Kecuali terdapat dalil yang menunjukkan batalnya wudhu. Sedangkan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Pembatal-pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil syar’i bukan akal atau perasaan.  Sehingga, menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu tidaklah membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb mengatakan: أما إذا كان الشخص متوضئا, ثم لصق تراب على قدمه بعد الوضوء, فهذا لا يؤثر على وضوئه “Adapun jika seseorang sudah berwudhu, lalu setelah itu tanah menempel di kakinya, ini tidak mempengaruhi keabsahan wudhu sama sekali.” (Fatwa Dewan Islamweb no.267847) Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah al-Muyassarah (1/117-126), Syaikh Husain al-Awaisyah hafizhahullah menyebutkan bahwa pembatal wudhu ada lima: Al-kharij min sabilain (keluar sesuatu dari qubul dan dubur), baik berupa air seni, air besar (feses), mani, madzi, darah istihadhah, atau kentut. Hilangnya akal. Menyentuh farji (kemaluan) dengan syahwat. Makan daging unta. Tidur nyenyak. Pembatal wudhu berbeda dengan qadzarah. Qadzarah artinya kotoran, yaitu semua yang dianggap kotor atau tidak bersih oleh manusia; lawan kata dari bersih. Tidak semua yang dianggap kotor oleh manusia itu adalah najis, hadats, dan membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb.net menyatakan: فالقذر اسم لما تعافه النفس وتكرهه نجساً كان أو غير نجس، فالقذر إذن أعم من النجس مطلقاً. “Al-Qadzar adalah istilah untuk semua yang tidak disukai oleh jiwa, baik itu berupa najis ataupun bukan najis. Maka qadzar itu lebih umum dari najis.” (Fatwa Dewan Islamweb no. 132530) Najis, hadats, dan pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil-dalil. Adapun kotoran secara umum, statusnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu adalah suci dalam pandangan syariat. Kaidah fiqih mengatakan: والأصل في أشيائنا الطهارة *** والأرض والثياب والحجارة “Hukum asal segala benda yang ada di (bumi) kita adalah suci, demikian juga tanah, pakaian, dan batu.” (Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah as-Sa’diyah) Maka kotoran dibagi menjadi dua: Kotoran yang bukan najis, semisal tanah, debu, noda makanan, noda cat, dan semisalnya. Statusnya asalnya suci dalam pandangan syariat, kecuali sudah tercampur dan didominasi oleh zat lain yang termasuk najis. Demikian juga terkena benda-benda tersebut bukan pembatal wudhu karena tidak terdapat dalil bahwa mereka dapat membatalkan wudhu. Maka tidak benar sikap sebagian orang yang merasa wudhunya batal karena ia menginjak tanah. Kotoran yang merupakan najis, yaitu kotoran yang ditetapkan syariat sebagai najis, seperti kotoran manusia (feses), air seni, madzi, bangkai, air liur anjing, babi, dll. Meski demikian, kotoran yang statusnya suci bukan najis dalam syariat, bukan berarti seorang muslim bermudah-mudahan terhadapnya. Di antara adab yang baik bagi seorang muslim adalah senantiasa menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Bukan adab yang baik jika seorang muslim berpenampilan kumal, kotor, pakaiannya penuh noda, rumahnya pun kotor, sampah berceceran, walaupun tidak terdapat najis. Ini bukan adab yang baik. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ اللهَ جميلٌ يحبُّ الجمالَ “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim no.91) Maka orang yang sudah berwudhu untuk shalat, lalu badannya terkena tanah, hendaknya tetap dibersihkan sebagai bentuk menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Adapun wudhunya tetap sah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bertanya, Sunnah Nabi Minum Air Selepas Bangun Tidur, Apakah Flek Coklat Boleh Puasa, Abdulah Taslim, Lafadz Akad Nikah Arab, Poso Weton Visited 458 times, 1 visit(s) today Post Views: 585 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1378587964&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Apakah benar bahwa orang yang sudah wudhu lalu kakinya kotor lagi karena menginjak tanah maka wudhunya batal dan harus diulang? Karena teman saya ada yang mengatakan demikian. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu, sama sekali tidak membatalkan wudhu. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menginjak atau menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Padahal kaidah fiqhiyyah yang disebutkan para ulama: الأصل بقاء ماكان على ماكان “Pada asalnya, hukum yang sudah ditetapkan itu tetap berlaku”. Maka jika seseorang sudah berwudhu, ia dihukumi suci dan tidak batal wudhu. Kecuali terdapat dalil yang menunjukkan batalnya wudhu. Sedangkan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Pembatal-pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil syar’i bukan akal atau perasaan.  Sehingga, menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu tidaklah membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb mengatakan: أما إذا كان الشخص متوضئا, ثم لصق تراب على قدمه بعد الوضوء, فهذا لا يؤثر على وضوئه “Adapun jika seseorang sudah berwudhu, lalu setelah itu tanah menempel di kakinya, ini tidak mempengaruhi keabsahan wudhu sama sekali.” (Fatwa Dewan Islamweb no.267847) Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah al-Muyassarah (1/117-126), Syaikh Husain al-Awaisyah hafizhahullah menyebutkan bahwa pembatal wudhu ada lima: Al-kharij min sabilain (keluar sesuatu dari qubul dan dubur), baik berupa air seni, air besar (feses), mani, madzi, darah istihadhah, atau kentut. Hilangnya akal. Menyentuh farji (kemaluan) dengan syahwat. Makan daging unta. Tidur nyenyak. Pembatal wudhu berbeda dengan qadzarah. Qadzarah artinya kotoran, yaitu semua yang dianggap kotor atau tidak bersih oleh manusia; lawan kata dari bersih. Tidak semua yang dianggap kotor oleh manusia itu adalah najis, hadats, dan membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb.net menyatakan: فالقذر اسم لما تعافه النفس وتكرهه نجساً كان أو غير نجس، فالقذر إذن أعم من النجس مطلقاً. “Al-Qadzar adalah istilah untuk semua yang tidak disukai oleh jiwa, baik itu berupa najis ataupun bukan najis. Maka qadzar itu lebih umum dari najis.” (Fatwa Dewan Islamweb no. 132530) Najis, hadats, dan pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil-dalil. Adapun kotoran secara umum, statusnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu adalah suci dalam pandangan syariat. Kaidah fiqih mengatakan: والأصل في أشيائنا الطهارة *** والأرض والثياب والحجارة “Hukum asal segala benda yang ada di (bumi) kita adalah suci, demikian juga tanah, pakaian, dan batu.” (Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah as-Sa’diyah) Maka kotoran dibagi menjadi dua: Kotoran yang bukan najis, semisal tanah, debu, noda makanan, noda cat, dan semisalnya. Statusnya asalnya suci dalam pandangan syariat, kecuali sudah tercampur dan didominasi oleh zat lain yang termasuk najis. Demikian juga terkena benda-benda tersebut bukan pembatal wudhu karena tidak terdapat dalil bahwa mereka dapat membatalkan wudhu. Maka tidak benar sikap sebagian orang yang merasa wudhunya batal karena ia menginjak tanah. Kotoran yang merupakan najis, yaitu kotoran yang ditetapkan syariat sebagai najis, seperti kotoran manusia (feses), air seni, madzi, bangkai, air liur anjing, babi, dll. Meski demikian, kotoran yang statusnya suci bukan najis dalam syariat, bukan berarti seorang muslim bermudah-mudahan terhadapnya. Di antara adab yang baik bagi seorang muslim adalah senantiasa menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Bukan adab yang baik jika seorang muslim berpenampilan kumal, kotor, pakaiannya penuh noda, rumahnya pun kotor, sampah berceceran, walaupun tidak terdapat najis. Ini bukan adab yang baik. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ اللهَ جميلٌ يحبُّ الجمالَ “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim no.91) Maka orang yang sudah berwudhu untuk shalat, lalu badannya terkena tanah, hendaknya tetap dibersihkan sebagai bentuk menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Adapun wudhunya tetap sah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bertanya, Sunnah Nabi Minum Air Selepas Bangun Tidur, Apakah Flek Coklat Boleh Puasa, Abdulah Taslim, Lafadz Akad Nikah Arab, Poso Weton Visited 458 times, 1 visit(s) today Post Views: 585 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Berkorban untuk “Konten” demi Mengejar Popularitas

Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi orang terkenal. Berbagai cara pun dilakukannya. Mulai dari mempertontonkan kemampuannya, memposting rutinitas kesehariannya, hingga membuat konten adegan berbahaya. Ada yang sampai mengorbankan nyawanya. Sebagai contoh, pernah ada dua remaja melompat ke tengah jalan. Satu dari sisi kanan, satu lagi dari sisi kiri. Secara bersamaan, sebuah truk melintas dan tabrakan tak terhindarkan. Satu remaja selamat, sedangkan satunya meninggal tertabrak truk tersebut. Untuk apa itu semua? Hanya untuk konten, supaya terkenal. Daftar Isi sembunyikan 1. Berkorban untuk “konten” 2. Beratnya menjadi orang terkenal 3. Allah mencintai hamba yang khafiy 4. Terkenal di dunia vs. Terkenal di langit 5. Saat ketenaran tak berguna di hari hisab Berkorban untuk “konten”Tak jarang orang melakukan adegan berbahaya untuk dijadikan konten di media sosial miliknya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menarik perhatian netizen sehingga ia menjadi viral. Ya, rasa takut dengan resiko dari perbuatannya itu telah terkalahkan dengan keinganannya untuk menjadi viral. Tak jarang yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Padahal dalam Islam diajarkan untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan.عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺقَالَ: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ)حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي المُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺفَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا(Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh berbuat dharar dan tidak boleh dhirar.”  (Hadis hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ dari Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi hadis ini memiliki jalur-jalur yang saling menguatkan)Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan dharar dan dhirar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dharar adalah kemudaratan yang terjadi tanpa niat, sedangkan dhirar adalah kemudaratan yang terjadi dengan niat (dalam keadaan mengetahui). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan keduanya (baik “dharar” ataupun “dhirar”), dan dhirar lebih parah karena kemudaratan tersebut terjadi dengan niat. (Ta’liqat ‘Ala Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 107)Baca Juga: Menyebarkan Rahasia Ranjang di Sosial Media dan Testimoni Obat KuatBeratnya menjadi orang terkenalTanpa disadari, sebenarnya menjadi orang terkenal itu berat. Orang yang dikenal banyak manusia akan lebih susah menjaga keikhlasannya dibandingkan dengan orang yang biasa-biasa saja di mata manusia. Ketenaran seringkali membuai seseorang sehingga terlena dari mengingat Allah Ta’ala. Ibadah dan amal saleh yang dikerjakannya pun terkadang menjadi tidak ikhlas untuk Allah Ta’ala semata, melainkan supaya diketahui orang-orang yang mengenalnya. Sedangkan menjaga keikhlasan itu sangatlah berat. Sufyan Ats-Tsauri berkata,مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَنْقَلِبُ عَلَيَّ“Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.” (Jami’ul ‘Ulum Wal-Hikam, 1: 70)Basyr bin Al-Harits Al-Hafiy mengatakan,لا أعلم رجلا أحب أن يعرف إلا ذهب دينه فافتضح. مااتقى الله من أحب الشهرة. لا يجد حلاوة الاخرة رجل يحب أن يعرفه الناس“Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar, kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang. Silakan jika ketenaran yang dicari. Orang yang ingin mencari ketenaran sungguh ia kurang bertakwa pada Allah. Orang yang ingin tenar tidak akan mendapatkan kelezatan di akhirat.” (Ta’thirul Anfas, hal. 284)Allah mencintai hamba yang khafiyBukankah salah satu alasan seseorang ingin terkenal adalah supaya dilihat, dibanggakan, dianggap penting, dan dicintai manusia? Sudah selayaknya seorang hamba lebih menginginkan untuk dicintai Allah Ta’ala daripada dicintai manusia. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai orang yang tidak berambisi untuk menjadi orang terkenal. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ“Sungguh, Allah mencintai hamba-Nya yang bertakwa, al-ghaniy (merasa cukup dari manusia dan bersandar hanya kepada Allah), al-khafiy (tersembunyi dan tidak suka mengusahakan diri untuk terkenal).” (HR. Muslim no. 2965 dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan;الخفي: هو الذي لا يظهر نفسه، ولا يهتم أن يظهر عند الناس، أو يشار إليه بالبنان، أو يتحدث الناس عنه“Al-khafiy yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.” (Syarah Riyadush Shalihin, 3: 511)Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaTerkenal di dunia vs. Terkenal di langitOrang terkenal di dunia akan ‘dilihat’ oleh manusia, dijadikan bahan perbincangan dan ‘diperhatikan’ oleh banyak orang. Hal itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi orang tersebut. Namun perlu diingat, keterkenalan di dunia tidak dibawa sampai akhirat nanti. Kalau selama di dunia mungkin orang-orang akan peduli dan dengan sukarela membantunya jika ada permasalahan, namun kelak di akhirat orang akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Seorang raja di dunia dan seorang rakyat jelata akan diperlakukan sama, tergantung dengan amalannya di dunia, bukan tergantung keterkenalannya di dunia. Semua pujian dan like-nya di media sosial tak lagi berguna.Berbeda dengan orang yang terkenal di langit, yakni di kalangan malaikat. Orang yang terkenal di langit akan didoakan oleh malaikat. Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa di antara orang yang terkenal di langit adalah orang yang senantiasa berzikir mengucapkan kalimat tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa ilaaha illallah) dan tahmid (Alhamdulillaah) (di riwayat lain disebutkan pula kalimat takbir (Allahu Akbar)). Dari an-Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ مما تذكرون من جلالِ اللهِ : التَّسبيحَ والتهليلَ والتحميدَ ، ينعطِفْنَ حولَ العرشِ ،  لهن دويٍّ كدويِّ النحلِ ، تُذَكِّرُ بصاحبها ، أما يحبُّ أحدُكم أن يكونَ له – أو لا يزالُ له – من يُذكِّرُ به“Sesungguhnya di antara (kalimat zikir) yang kalian ucapkan dari keagungan Allah seperti tasbih, tahlil, dan tahmid akan berputar mengelilingi ‘Arsy, dan mengeluarkan dengungan seperti suara lebah karena menyebut-nyebut nama orang yang mengucapkan kalimat zikir tersebut. Tidakkah suka seorang di antara kalian membacanya, atau senantiasa akan disebut namanya oleh kalimat zikir itu?” (HR. Ibnu Majah no. 3809, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 3358 dan Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1568)Tidakkah kita lebih bahagia saat nama kita tak asing dan harum di langit, dikenal Allah Ta’ala sehingga saat menghadap Allah Ta’ala kelak nama kita sudah dikenal?Saat ketenaran tak berguna di hari hisabKelak, manusia akan menghadap Allah Ta’ala sendiri, walaupun semasa di dunia ia menjadi orang terkenal dan selalu didampingi banyak orang.ما مِنكُم أحَدٌ إلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ ليسَ بيْنَهُ وبيْنَهُ تُرْجُمانٌ، فَيَنْظُرُ أيْمَنَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ مِن عَمَلِهِ، ويَنْظُرُ أشْأَمَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ، ويَنْظُرُ بيْنَ يَدَيْهِ فلا يَرَى إلَّا النَّارَ تِلْقاءَ وجْهِهِ، فاتَّقُوا النَّارَ ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ“Tidak ada seorang pun dari kalian, kecuali nanti akan diajak bicara oleh Rabbnya, tanpa ada seorang penerjemah antara dia dengan Rabbnya. Lalu, ia memandang ke arah kanannya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Ia juga memandang ke arah kirinya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Dan ia memandang ke depannya, namun ia tidak melihat kecuali neraka di hadapan wajahnya. Maka, jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan bersedekah sepotong belahan kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cukuplah peringatan akan hari hisab mengingatkan kita bahwa ketenaran di dunia tidaklah membantunya kelak di hari hisab. Bahkan, ketenaran yang akhirnya membuatnya riya’ bisa menyebabkan ia menjadi orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis sahih,“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, hingga dipanggil seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku terbunuh mati syahid.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, Engkau telah berdusta. Engkau berperang agar disebut sebagai seorang pejuang dan sebutan itu pun sudah engkau dapatkan.”Kemudian orang tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.(Yang kedua) seorang pria yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya dan mampu membaca (serta menghafal) Al-Qur’an. Dia dipanggil (untuk dihisab) dengan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya. Dia pun mengakuinya. Ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia menjawab, “Aku telah menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan aku membaca (dan menghafal) Al-Qur’an.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau menuntut ilmu agar disebut sebagai alim ulama. Engkau membaca (dan menghafal) agar disebut qari’, dan gelar itu sudah engkau dapatkan.”Kemudian pria tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.Dan orang (yang ketiga yang didahulukan hisabnya pada hari kiamat) adalah seorang yang Allah Ta’ala melapangkan kehidupan baginya dan mengaruniainya semua jenis harta kekayaan. Dia dipanggil (untuk dihisab) seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Tidak ada satu pun dari jalan yang Engkau inginkan untuk diinfakkan padanya kecuali telah aku infakkan semua demi Engkau, ya Allah!”Allah Ta’ala  pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau lakukan itu semua agar engkau disebut sebagai dermawan, dan sebutan itu sudah engkau dapatkan.”Lalu diperintahkan agar dia diseret secara tengkurap kemudian dilemparkan ke api neraka.”(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa istikamah, ikhlas melakukan amalan karena Allah Ta’ala.Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media SosialBijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial***Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Kisah Imam Bukhari, Kisah Nabi Zulkarnain, Hadis Tentang Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak, Hukum Menabung EmasTags: adabadab IslamAkhlakakhlak islamAqidahaqidah islamkontenmedia sosialnasihat'nasihat islampopularitassosial media

Berkorban untuk “Konten” demi Mengejar Popularitas

Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi orang terkenal. Berbagai cara pun dilakukannya. Mulai dari mempertontonkan kemampuannya, memposting rutinitas kesehariannya, hingga membuat konten adegan berbahaya. Ada yang sampai mengorbankan nyawanya. Sebagai contoh, pernah ada dua remaja melompat ke tengah jalan. Satu dari sisi kanan, satu lagi dari sisi kiri. Secara bersamaan, sebuah truk melintas dan tabrakan tak terhindarkan. Satu remaja selamat, sedangkan satunya meninggal tertabrak truk tersebut. Untuk apa itu semua? Hanya untuk konten, supaya terkenal. Daftar Isi sembunyikan 1. Berkorban untuk “konten” 2. Beratnya menjadi orang terkenal 3. Allah mencintai hamba yang khafiy 4. Terkenal di dunia vs. Terkenal di langit 5. Saat ketenaran tak berguna di hari hisab Berkorban untuk “konten”Tak jarang orang melakukan adegan berbahaya untuk dijadikan konten di media sosial miliknya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menarik perhatian netizen sehingga ia menjadi viral. Ya, rasa takut dengan resiko dari perbuatannya itu telah terkalahkan dengan keinganannya untuk menjadi viral. Tak jarang yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Padahal dalam Islam diajarkan untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan.عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺقَالَ: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ)حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي المُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺفَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا(Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh berbuat dharar dan tidak boleh dhirar.”  (Hadis hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ dari Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi hadis ini memiliki jalur-jalur yang saling menguatkan)Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan dharar dan dhirar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dharar adalah kemudaratan yang terjadi tanpa niat, sedangkan dhirar adalah kemudaratan yang terjadi dengan niat (dalam keadaan mengetahui). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan keduanya (baik “dharar” ataupun “dhirar”), dan dhirar lebih parah karena kemudaratan tersebut terjadi dengan niat. (Ta’liqat ‘Ala Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 107)Baca Juga: Menyebarkan Rahasia Ranjang di Sosial Media dan Testimoni Obat KuatBeratnya menjadi orang terkenalTanpa disadari, sebenarnya menjadi orang terkenal itu berat. Orang yang dikenal banyak manusia akan lebih susah menjaga keikhlasannya dibandingkan dengan orang yang biasa-biasa saja di mata manusia. Ketenaran seringkali membuai seseorang sehingga terlena dari mengingat Allah Ta’ala. Ibadah dan amal saleh yang dikerjakannya pun terkadang menjadi tidak ikhlas untuk Allah Ta’ala semata, melainkan supaya diketahui orang-orang yang mengenalnya. Sedangkan menjaga keikhlasan itu sangatlah berat. Sufyan Ats-Tsauri berkata,مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَنْقَلِبُ عَلَيَّ“Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.” (Jami’ul ‘Ulum Wal-Hikam, 1: 70)Basyr bin Al-Harits Al-Hafiy mengatakan,لا أعلم رجلا أحب أن يعرف إلا ذهب دينه فافتضح. مااتقى الله من أحب الشهرة. لا يجد حلاوة الاخرة رجل يحب أن يعرفه الناس“Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar, kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang. Silakan jika ketenaran yang dicari. Orang yang ingin mencari ketenaran sungguh ia kurang bertakwa pada Allah. Orang yang ingin tenar tidak akan mendapatkan kelezatan di akhirat.” (Ta’thirul Anfas, hal. 284)Allah mencintai hamba yang khafiyBukankah salah satu alasan seseorang ingin terkenal adalah supaya dilihat, dibanggakan, dianggap penting, dan dicintai manusia? Sudah selayaknya seorang hamba lebih menginginkan untuk dicintai Allah Ta’ala daripada dicintai manusia. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai orang yang tidak berambisi untuk menjadi orang terkenal. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ“Sungguh, Allah mencintai hamba-Nya yang bertakwa, al-ghaniy (merasa cukup dari manusia dan bersandar hanya kepada Allah), al-khafiy (tersembunyi dan tidak suka mengusahakan diri untuk terkenal).” (HR. Muslim no. 2965 dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan;الخفي: هو الذي لا يظهر نفسه، ولا يهتم أن يظهر عند الناس، أو يشار إليه بالبنان، أو يتحدث الناس عنه“Al-khafiy yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.” (Syarah Riyadush Shalihin, 3: 511)Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaTerkenal di dunia vs. Terkenal di langitOrang terkenal di dunia akan ‘dilihat’ oleh manusia, dijadikan bahan perbincangan dan ‘diperhatikan’ oleh banyak orang. Hal itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi orang tersebut. Namun perlu diingat, keterkenalan di dunia tidak dibawa sampai akhirat nanti. Kalau selama di dunia mungkin orang-orang akan peduli dan dengan sukarela membantunya jika ada permasalahan, namun kelak di akhirat orang akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Seorang raja di dunia dan seorang rakyat jelata akan diperlakukan sama, tergantung dengan amalannya di dunia, bukan tergantung keterkenalannya di dunia. Semua pujian dan like-nya di media sosial tak lagi berguna.Berbeda dengan orang yang terkenal di langit, yakni di kalangan malaikat. Orang yang terkenal di langit akan didoakan oleh malaikat. Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa di antara orang yang terkenal di langit adalah orang yang senantiasa berzikir mengucapkan kalimat tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa ilaaha illallah) dan tahmid (Alhamdulillaah) (di riwayat lain disebutkan pula kalimat takbir (Allahu Akbar)). Dari an-Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ مما تذكرون من جلالِ اللهِ : التَّسبيحَ والتهليلَ والتحميدَ ، ينعطِفْنَ حولَ العرشِ ،  لهن دويٍّ كدويِّ النحلِ ، تُذَكِّرُ بصاحبها ، أما يحبُّ أحدُكم أن يكونَ له – أو لا يزالُ له – من يُذكِّرُ به“Sesungguhnya di antara (kalimat zikir) yang kalian ucapkan dari keagungan Allah seperti tasbih, tahlil, dan tahmid akan berputar mengelilingi ‘Arsy, dan mengeluarkan dengungan seperti suara lebah karena menyebut-nyebut nama orang yang mengucapkan kalimat zikir tersebut. Tidakkah suka seorang di antara kalian membacanya, atau senantiasa akan disebut namanya oleh kalimat zikir itu?” (HR. Ibnu Majah no. 3809, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 3358 dan Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1568)Tidakkah kita lebih bahagia saat nama kita tak asing dan harum di langit, dikenal Allah Ta’ala sehingga saat menghadap Allah Ta’ala kelak nama kita sudah dikenal?Saat ketenaran tak berguna di hari hisabKelak, manusia akan menghadap Allah Ta’ala sendiri, walaupun semasa di dunia ia menjadi orang terkenal dan selalu didampingi banyak orang.ما مِنكُم أحَدٌ إلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ ليسَ بيْنَهُ وبيْنَهُ تُرْجُمانٌ، فَيَنْظُرُ أيْمَنَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ مِن عَمَلِهِ، ويَنْظُرُ أشْأَمَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ، ويَنْظُرُ بيْنَ يَدَيْهِ فلا يَرَى إلَّا النَّارَ تِلْقاءَ وجْهِهِ، فاتَّقُوا النَّارَ ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ“Tidak ada seorang pun dari kalian, kecuali nanti akan diajak bicara oleh Rabbnya, tanpa ada seorang penerjemah antara dia dengan Rabbnya. Lalu, ia memandang ke arah kanannya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Ia juga memandang ke arah kirinya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Dan ia memandang ke depannya, namun ia tidak melihat kecuali neraka di hadapan wajahnya. Maka, jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan bersedekah sepotong belahan kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cukuplah peringatan akan hari hisab mengingatkan kita bahwa ketenaran di dunia tidaklah membantunya kelak di hari hisab. Bahkan, ketenaran yang akhirnya membuatnya riya’ bisa menyebabkan ia menjadi orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis sahih,“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, hingga dipanggil seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku terbunuh mati syahid.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, Engkau telah berdusta. Engkau berperang agar disebut sebagai seorang pejuang dan sebutan itu pun sudah engkau dapatkan.”Kemudian orang tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.(Yang kedua) seorang pria yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya dan mampu membaca (serta menghafal) Al-Qur’an. Dia dipanggil (untuk dihisab) dengan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya. Dia pun mengakuinya. Ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia menjawab, “Aku telah menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan aku membaca (dan menghafal) Al-Qur’an.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau menuntut ilmu agar disebut sebagai alim ulama. Engkau membaca (dan menghafal) agar disebut qari’, dan gelar itu sudah engkau dapatkan.”Kemudian pria tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.Dan orang (yang ketiga yang didahulukan hisabnya pada hari kiamat) adalah seorang yang Allah Ta’ala melapangkan kehidupan baginya dan mengaruniainya semua jenis harta kekayaan. Dia dipanggil (untuk dihisab) seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Tidak ada satu pun dari jalan yang Engkau inginkan untuk diinfakkan padanya kecuali telah aku infakkan semua demi Engkau, ya Allah!”Allah Ta’ala  pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau lakukan itu semua agar engkau disebut sebagai dermawan, dan sebutan itu sudah engkau dapatkan.”Lalu diperintahkan agar dia diseret secara tengkurap kemudian dilemparkan ke api neraka.”(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa istikamah, ikhlas melakukan amalan karena Allah Ta’ala.Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media SosialBijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial***Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Kisah Imam Bukhari, Kisah Nabi Zulkarnain, Hadis Tentang Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak, Hukum Menabung EmasTags: adabadab IslamAkhlakakhlak islamAqidahaqidah islamkontenmedia sosialnasihat'nasihat islampopularitassosial media
Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi orang terkenal. Berbagai cara pun dilakukannya. Mulai dari mempertontonkan kemampuannya, memposting rutinitas kesehariannya, hingga membuat konten adegan berbahaya. Ada yang sampai mengorbankan nyawanya. Sebagai contoh, pernah ada dua remaja melompat ke tengah jalan. Satu dari sisi kanan, satu lagi dari sisi kiri. Secara bersamaan, sebuah truk melintas dan tabrakan tak terhindarkan. Satu remaja selamat, sedangkan satunya meninggal tertabrak truk tersebut. Untuk apa itu semua? Hanya untuk konten, supaya terkenal. Daftar Isi sembunyikan 1. Berkorban untuk “konten” 2. Beratnya menjadi orang terkenal 3. Allah mencintai hamba yang khafiy 4. Terkenal di dunia vs. Terkenal di langit 5. Saat ketenaran tak berguna di hari hisab Berkorban untuk “konten”Tak jarang orang melakukan adegan berbahaya untuk dijadikan konten di media sosial miliknya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menarik perhatian netizen sehingga ia menjadi viral. Ya, rasa takut dengan resiko dari perbuatannya itu telah terkalahkan dengan keinganannya untuk menjadi viral. Tak jarang yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Padahal dalam Islam diajarkan untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan.عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺقَالَ: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ)حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي المُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺفَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا(Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh berbuat dharar dan tidak boleh dhirar.”  (Hadis hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ dari Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi hadis ini memiliki jalur-jalur yang saling menguatkan)Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan dharar dan dhirar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dharar adalah kemudaratan yang terjadi tanpa niat, sedangkan dhirar adalah kemudaratan yang terjadi dengan niat (dalam keadaan mengetahui). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan keduanya (baik “dharar” ataupun “dhirar”), dan dhirar lebih parah karena kemudaratan tersebut terjadi dengan niat. (Ta’liqat ‘Ala Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 107)Baca Juga: Menyebarkan Rahasia Ranjang di Sosial Media dan Testimoni Obat KuatBeratnya menjadi orang terkenalTanpa disadari, sebenarnya menjadi orang terkenal itu berat. Orang yang dikenal banyak manusia akan lebih susah menjaga keikhlasannya dibandingkan dengan orang yang biasa-biasa saja di mata manusia. Ketenaran seringkali membuai seseorang sehingga terlena dari mengingat Allah Ta’ala. Ibadah dan amal saleh yang dikerjakannya pun terkadang menjadi tidak ikhlas untuk Allah Ta’ala semata, melainkan supaya diketahui orang-orang yang mengenalnya. Sedangkan menjaga keikhlasan itu sangatlah berat. Sufyan Ats-Tsauri berkata,مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَنْقَلِبُ عَلَيَّ“Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.” (Jami’ul ‘Ulum Wal-Hikam, 1: 70)Basyr bin Al-Harits Al-Hafiy mengatakan,لا أعلم رجلا أحب أن يعرف إلا ذهب دينه فافتضح. مااتقى الله من أحب الشهرة. لا يجد حلاوة الاخرة رجل يحب أن يعرفه الناس“Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar, kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang. Silakan jika ketenaran yang dicari. Orang yang ingin mencari ketenaran sungguh ia kurang bertakwa pada Allah. Orang yang ingin tenar tidak akan mendapatkan kelezatan di akhirat.” (Ta’thirul Anfas, hal. 284)Allah mencintai hamba yang khafiyBukankah salah satu alasan seseorang ingin terkenal adalah supaya dilihat, dibanggakan, dianggap penting, dan dicintai manusia? Sudah selayaknya seorang hamba lebih menginginkan untuk dicintai Allah Ta’ala daripada dicintai manusia. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai orang yang tidak berambisi untuk menjadi orang terkenal. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ“Sungguh, Allah mencintai hamba-Nya yang bertakwa, al-ghaniy (merasa cukup dari manusia dan bersandar hanya kepada Allah), al-khafiy (tersembunyi dan tidak suka mengusahakan diri untuk terkenal).” (HR. Muslim no. 2965 dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan;الخفي: هو الذي لا يظهر نفسه، ولا يهتم أن يظهر عند الناس، أو يشار إليه بالبنان، أو يتحدث الناس عنه“Al-khafiy yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.” (Syarah Riyadush Shalihin, 3: 511)Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaTerkenal di dunia vs. Terkenal di langitOrang terkenal di dunia akan ‘dilihat’ oleh manusia, dijadikan bahan perbincangan dan ‘diperhatikan’ oleh banyak orang. Hal itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi orang tersebut. Namun perlu diingat, keterkenalan di dunia tidak dibawa sampai akhirat nanti. Kalau selama di dunia mungkin orang-orang akan peduli dan dengan sukarela membantunya jika ada permasalahan, namun kelak di akhirat orang akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Seorang raja di dunia dan seorang rakyat jelata akan diperlakukan sama, tergantung dengan amalannya di dunia, bukan tergantung keterkenalannya di dunia. Semua pujian dan like-nya di media sosial tak lagi berguna.Berbeda dengan orang yang terkenal di langit, yakni di kalangan malaikat. Orang yang terkenal di langit akan didoakan oleh malaikat. Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa di antara orang yang terkenal di langit adalah orang yang senantiasa berzikir mengucapkan kalimat tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa ilaaha illallah) dan tahmid (Alhamdulillaah) (di riwayat lain disebutkan pula kalimat takbir (Allahu Akbar)). Dari an-Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ مما تذكرون من جلالِ اللهِ : التَّسبيحَ والتهليلَ والتحميدَ ، ينعطِفْنَ حولَ العرشِ ،  لهن دويٍّ كدويِّ النحلِ ، تُذَكِّرُ بصاحبها ، أما يحبُّ أحدُكم أن يكونَ له – أو لا يزالُ له – من يُذكِّرُ به“Sesungguhnya di antara (kalimat zikir) yang kalian ucapkan dari keagungan Allah seperti tasbih, tahlil, dan tahmid akan berputar mengelilingi ‘Arsy, dan mengeluarkan dengungan seperti suara lebah karena menyebut-nyebut nama orang yang mengucapkan kalimat zikir tersebut. Tidakkah suka seorang di antara kalian membacanya, atau senantiasa akan disebut namanya oleh kalimat zikir itu?” (HR. Ibnu Majah no. 3809, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 3358 dan Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1568)Tidakkah kita lebih bahagia saat nama kita tak asing dan harum di langit, dikenal Allah Ta’ala sehingga saat menghadap Allah Ta’ala kelak nama kita sudah dikenal?Saat ketenaran tak berguna di hari hisabKelak, manusia akan menghadap Allah Ta’ala sendiri, walaupun semasa di dunia ia menjadi orang terkenal dan selalu didampingi banyak orang.ما مِنكُم أحَدٌ إلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ ليسَ بيْنَهُ وبيْنَهُ تُرْجُمانٌ، فَيَنْظُرُ أيْمَنَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ مِن عَمَلِهِ، ويَنْظُرُ أشْأَمَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ، ويَنْظُرُ بيْنَ يَدَيْهِ فلا يَرَى إلَّا النَّارَ تِلْقاءَ وجْهِهِ، فاتَّقُوا النَّارَ ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ“Tidak ada seorang pun dari kalian, kecuali nanti akan diajak bicara oleh Rabbnya, tanpa ada seorang penerjemah antara dia dengan Rabbnya. Lalu, ia memandang ke arah kanannya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Ia juga memandang ke arah kirinya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Dan ia memandang ke depannya, namun ia tidak melihat kecuali neraka di hadapan wajahnya. Maka, jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan bersedekah sepotong belahan kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cukuplah peringatan akan hari hisab mengingatkan kita bahwa ketenaran di dunia tidaklah membantunya kelak di hari hisab. Bahkan, ketenaran yang akhirnya membuatnya riya’ bisa menyebabkan ia menjadi orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis sahih,“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, hingga dipanggil seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku terbunuh mati syahid.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, Engkau telah berdusta. Engkau berperang agar disebut sebagai seorang pejuang dan sebutan itu pun sudah engkau dapatkan.”Kemudian orang tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.(Yang kedua) seorang pria yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya dan mampu membaca (serta menghafal) Al-Qur’an. Dia dipanggil (untuk dihisab) dengan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya. Dia pun mengakuinya. Ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia menjawab, “Aku telah menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan aku membaca (dan menghafal) Al-Qur’an.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau menuntut ilmu agar disebut sebagai alim ulama. Engkau membaca (dan menghafal) agar disebut qari’, dan gelar itu sudah engkau dapatkan.”Kemudian pria tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.Dan orang (yang ketiga yang didahulukan hisabnya pada hari kiamat) adalah seorang yang Allah Ta’ala melapangkan kehidupan baginya dan mengaruniainya semua jenis harta kekayaan. Dia dipanggil (untuk dihisab) seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Tidak ada satu pun dari jalan yang Engkau inginkan untuk diinfakkan padanya kecuali telah aku infakkan semua demi Engkau, ya Allah!”Allah Ta’ala  pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau lakukan itu semua agar engkau disebut sebagai dermawan, dan sebutan itu sudah engkau dapatkan.”Lalu diperintahkan agar dia diseret secara tengkurap kemudian dilemparkan ke api neraka.”(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa istikamah, ikhlas melakukan amalan karena Allah Ta’ala.Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media SosialBijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial***Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Kisah Imam Bukhari, Kisah Nabi Zulkarnain, Hadis Tentang Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak, Hukum Menabung EmasTags: adabadab IslamAkhlakakhlak islamAqidahaqidah islamkontenmedia sosialnasihat'nasihat islampopularitassosial media


Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi orang terkenal. Berbagai cara pun dilakukannya. Mulai dari mempertontonkan kemampuannya, memposting rutinitas kesehariannya, hingga membuat konten adegan berbahaya. Ada yang sampai mengorbankan nyawanya. Sebagai contoh, pernah ada dua remaja melompat ke tengah jalan. Satu dari sisi kanan, satu lagi dari sisi kiri. Secara bersamaan, sebuah truk melintas dan tabrakan tak terhindarkan. Satu remaja selamat, sedangkan satunya meninggal tertabrak truk tersebut. Untuk apa itu semua? Hanya untuk konten, supaya terkenal. Daftar Isi sembunyikan 1. Berkorban untuk “konten” 2. Beratnya menjadi orang terkenal 3. Allah mencintai hamba yang khafiy 4. Terkenal di dunia vs. Terkenal di langit 5. Saat ketenaran tak berguna di hari hisab Berkorban untuk “konten”Tak jarang orang melakukan adegan berbahaya untuk dijadikan konten di media sosial miliknya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menarik perhatian netizen sehingga ia menjadi viral. Ya, rasa takut dengan resiko dari perbuatannya itu telah terkalahkan dengan keinganannya untuk menjadi viral. Tak jarang yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Padahal dalam Islam diajarkan untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan.عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺقَالَ: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ)حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي المُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺفَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا(Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh berbuat dharar dan tidak boleh dhirar.”  (Hadis hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ dari Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi hadis ini memiliki jalur-jalur yang saling menguatkan)Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan dharar dan dhirar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dharar adalah kemudaratan yang terjadi tanpa niat, sedangkan dhirar adalah kemudaratan yang terjadi dengan niat (dalam keadaan mengetahui). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan keduanya (baik “dharar” ataupun “dhirar”), dan dhirar lebih parah karena kemudaratan tersebut terjadi dengan niat. (Ta’liqat ‘Ala Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 107)Baca Juga: Menyebarkan Rahasia Ranjang di Sosial Media dan Testimoni Obat KuatBeratnya menjadi orang terkenalTanpa disadari, sebenarnya menjadi orang terkenal itu berat. Orang yang dikenal banyak manusia akan lebih susah menjaga keikhlasannya dibandingkan dengan orang yang biasa-biasa saja di mata manusia. Ketenaran seringkali membuai seseorang sehingga terlena dari mengingat Allah Ta’ala. Ibadah dan amal saleh yang dikerjakannya pun terkadang menjadi tidak ikhlas untuk Allah Ta’ala semata, melainkan supaya diketahui orang-orang yang mengenalnya. Sedangkan menjaga keikhlasan itu sangatlah berat. Sufyan Ats-Tsauri berkata,مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَنْقَلِبُ عَلَيَّ“Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.” (Jami’ul ‘Ulum Wal-Hikam, 1: 70)Basyr bin Al-Harits Al-Hafiy mengatakan,لا أعلم رجلا أحب أن يعرف إلا ذهب دينه فافتضح. مااتقى الله من أحب الشهرة. لا يجد حلاوة الاخرة رجل يحب أن يعرفه الناس“Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar, kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang. Silakan jika ketenaran yang dicari. Orang yang ingin mencari ketenaran sungguh ia kurang bertakwa pada Allah. Orang yang ingin tenar tidak akan mendapatkan kelezatan di akhirat.” (Ta’thirul Anfas, hal. 284)Allah mencintai hamba yang khafiyBukankah salah satu alasan seseorang ingin terkenal adalah supaya dilihat, dibanggakan, dianggap penting, dan dicintai manusia? Sudah selayaknya seorang hamba lebih menginginkan untuk dicintai Allah Ta’ala daripada dicintai manusia. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai orang yang tidak berambisi untuk menjadi orang terkenal. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ“Sungguh, Allah mencintai hamba-Nya yang bertakwa, al-ghaniy (merasa cukup dari manusia dan bersandar hanya kepada Allah), al-khafiy (tersembunyi dan tidak suka mengusahakan diri untuk terkenal).” (HR. Muslim no. 2965 dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan;الخفي: هو الذي لا يظهر نفسه، ولا يهتم أن يظهر عند الناس، أو يشار إليه بالبنان، أو يتحدث الناس عنه“Al-khafiy yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.” (Syarah Riyadush Shalihin, 3: 511)Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaTerkenal di dunia vs. Terkenal di langitOrang terkenal di dunia akan ‘dilihat’ oleh manusia, dijadikan bahan perbincangan dan ‘diperhatikan’ oleh banyak orang. Hal itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi orang tersebut. Namun perlu diingat, keterkenalan di dunia tidak dibawa sampai akhirat nanti. Kalau selama di dunia mungkin orang-orang akan peduli dan dengan sukarela membantunya jika ada permasalahan, namun kelak di akhirat orang akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Seorang raja di dunia dan seorang rakyat jelata akan diperlakukan sama, tergantung dengan amalannya di dunia, bukan tergantung keterkenalannya di dunia. Semua pujian dan like-nya di media sosial tak lagi berguna.Berbeda dengan orang yang terkenal di langit, yakni di kalangan malaikat. Orang yang terkenal di langit akan didoakan oleh malaikat. Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa di antara orang yang terkenal di langit adalah orang yang senantiasa berzikir mengucapkan kalimat tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa ilaaha illallah) dan tahmid (Alhamdulillaah) (di riwayat lain disebutkan pula kalimat takbir (Allahu Akbar)). Dari an-Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ مما تذكرون من جلالِ اللهِ : التَّسبيحَ والتهليلَ والتحميدَ ، ينعطِفْنَ حولَ العرشِ ،  لهن دويٍّ كدويِّ النحلِ ، تُذَكِّرُ بصاحبها ، أما يحبُّ أحدُكم أن يكونَ له – أو لا يزالُ له – من يُذكِّرُ به“Sesungguhnya di antara (kalimat zikir) yang kalian ucapkan dari keagungan Allah seperti tasbih, tahlil, dan tahmid akan berputar mengelilingi ‘Arsy, dan mengeluarkan dengungan seperti suara lebah karena menyebut-nyebut nama orang yang mengucapkan kalimat zikir tersebut. Tidakkah suka seorang di antara kalian membacanya, atau senantiasa akan disebut namanya oleh kalimat zikir itu?” (HR. Ibnu Majah no. 3809, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 3358 dan Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1568)Tidakkah kita lebih bahagia saat nama kita tak asing dan harum di langit, dikenal Allah Ta’ala sehingga saat menghadap Allah Ta’ala kelak nama kita sudah dikenal?Saat ketenaran tak berguna di hari hisabKelak, manusia akan menghadap Allah Ta’ala sendiri, walaupun semasa di dunia ia menjadi orang terkenal dan selalu didampingi banyak orang.ما مِنكُم أحَدٌ إلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ ليسَ بيْنَهُ وبيْنَهُ تُرْجُمانٌ، فَيَنْظُرُ أيْمَنَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ مِن عَمَلِهِ، ويَنْظُرُ أشْأَمَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ، ويَنْظُرُ بيْنَ يَدَيْهِ فلا يَرَى إلَّا النَّارَ تِلْقاءَ وجْهِهِ، فاتَّقُوا النَّارَ ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ“Tidak ada seorang pun dari kalian, kecuali nanti akan diajak bicara oleh Rabbnya, tanpa ada seorang penerjemah antara dia dengan Rabbnya. Lalu, ia memandang ke arah kanannya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Ia juga memandang ke arah kirinya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Dan ia memandang ke depannya, namun ia tidak melihat kecuali neraka di hadapan wajahnya. Maka, jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan bersedekah sepotong belahan kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cukuplah peringatan akan hari hisab mengingatkan kita bahwa ketenaran di dunia tidaklah membantunya kelak di hari hisab. Bahkan, ketenaran yang akhirnya membuatnya riya’ bisa menyebabkan ia menjadi orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis sahih,“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, hingga dipanggil seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku terbunuh mati syahid.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, Engkau telah berdusta. Engkau berperang agar disebut sebagai seorang pejuang dan sebutan itu pun sudah engkau dapatkan.”Kemudian orang tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.(Yang kedua) seorang pria yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya dan mampu membaca (serta menghafal) Al-Qur’an. Dia dipanggil (untuk dihisab) dengan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya. Dia pun mengakuinya. Ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia menjawab, “Aku telah menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan aku membaca (dan menghafal) Al-Qur’an.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau menuntut ilmu agar disebut sebagai alim ulama. Engkau membaca (dan menghafal) agar disebut qari’, dan gelar itu sudah engkau dapatkan.”Kemudian pria tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.Dan orang (yang ketiga yang didahulukan hisabnya pada hari kiamat) adalah seorang yang Allah Ta’ala melapangkan kehidupan baginya dan mengaruniainya semua jenis harta kekayaan. Dia dipanggil (untuk dihisab) seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Tidak ada satu pun dari jalan yang Engkau inginkan untuk diinfakkan padanya kecuali telah aku infakkan semua demi Engkau, ya Allah!”Allah Ta’ala  pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau lakukan itu semua agar engkau disebut sebagai dermawan, dan sebutan itu sudah engkau dapatkan.”Lalu diperintahkan agar dia diseret secara tengkurap kemudian dilemparkan ke api neraka.”(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa istikamah, ikhlas melakukan amalan karena Allah Ta’ala.Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media SosialBijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial***Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Kisah Imam Bukhari, Kisah Nabi Zulkarnain, Hadis Tentang Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak, Hukum Menabung EmasTags: adabadab IslamAkhlakakhlak islamAqidahaqidah islamkontenmedia sosialnasihat'nasihat islampopularitassosial media

Bulughul Maram – Shalat: Inilah Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam

Inilah keutamaan shalat sunnah rawatib dalam sehari semalam. Semoga Allah berikan keberkahan waktu bagi kita untuk menjaganya.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam 2. Hadits 7/356 2.1. Hadits 8/357 2.2. Faedah hadits 2.3. Referensi: Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam Hadits 7/356 عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَكْعَةً فِي يَومٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِي رِوَايَةٍ: «تَطَوُّعاً». Dari Ummu Habibah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa melakukan shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” (HR. Muslim. Dalam suatu riwayat disebut, “Shalat tathawwu’, shalat sunnah”).  [HR. Muslim, no. 728, 101]   Hadits 8/357 وَلِلتِّرْمِذِي نَحْوُهُ، وَزَادَ: «أَربَعاً قَبلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ». Menurut riwayat At-Tirmidzi ada hadits yang semisal dengannya dengan tambahan, “Empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh.” [HR. Tirmidzi, no. 415 dan An-Nasai, 3:262]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan besarnya pahala bagi orang yang mengerjakan shalat sehari semalam sebanyak 12 rakaat. Amalan ini menjadi sebab masuk surga dan selamat dari neraka, tentu dengan mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram pula. Dua belas rakaat yang dimaksud adalah: empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh. Sebagaimana hal ini dirinci dalam hadits riwayat An-Nasai dan Tirmidzi. Itulah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ibnu ‘Umar. Maka di sini terlihat bergabunglah antara qaul (ucapan) dan fi’il (perbuatan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika 12 rakaat rawatib digabung dengan 11 rakaat shalat malam dan 17 rakaat shalat fardhu, maka dalam sehari dikerjakan 40 rakaat. Siapa yang menjaganya, maka dia memiliki kebaikan dan keutamaan yang banyak, ini tentu dianugerahkan pada yang cepat memenuhi panggilan dan membuka pintu ketika diketuk rutin setiap sehari semalam 40 kali. Shalat sunnah (tathawwu’) ada dua macam: yang disunnahkan berjamaah dan yang disunnahkan tidak berjamaah; ada yang masuk dalam shalat sunnah rawatib, ada yang bukan rawatib. Shalat rawatib ada dua macam: shalat rawatib muakkad dan shalat rawatib ghairu muakkad seperti empat rakaat qabliyah ‘Ashar.     Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad Qadha Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh Merutinkan Shalat Sunnah Rawatib   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:274-276. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:584-586.   —   Diselesaikan pada Selasa Sore, 6 Rabiul Akhir 1444 H, 1 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat rawatib shalat shubuh shalat sunnah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tathawwu' sunnah fajar waktu shalat shubuh

Bulughul Maram – Shalat: Inilah Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam

Inilah keutamaan shalat sunnah rawatib dalam sehari semalam. Semoga Allah berikan keberkahan waktu bagi kita untuk menjaganya.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam 2. Hadits 7/356 2.1. Hadits 8/357 2.2. Faedah hadits 2.3. Referensi: Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam Hadits 7/356 عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَكْعَةً فِي يَومٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِي رِوَايَةٍ: «تَطَوُّعاً». Dari Ummu Habibah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa melakukan shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” (HR. Muslim. Dalam suatu riwayat disebut, “Shalat tathawwu’, shalat sunnah”).  [HR. Muslim, no. 728, 101]   Hadits 8/357 وَلِلتِّرْمِذِي نَحْوُهُ، وَزَادَ: «أَربَعاً قَبلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ». Menurut riwayat At-Tirmidzi ada hadits yang semisal dengannya dengan tambahan, “Empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh.” [HR. Tirmidzi, no. 415 dan An-Nasai, 3:262]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan besarnya pahala bagi orang yang mengerjakan shalat sehari semalam sebanyak 12 rakaat. Amalan ini menjadi sebab masuk surga dan selamat dari neraka, tentu dengan mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram pula. Dua belas rakaat yang dimaksud adalah: empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh. Sebagaimana hal ini dirinci dalam hadits riwayat An-Nasai dan Tirmidzi. Itulah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ibnu ‘Umar. Maka di sini terlihat bergabunglah antara qaul (ucapan) dan fi’il (perbuatan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika 12 rakaat rawatib digabung dengan 11 rakaat shalat malam dan 17 rakaat shalat fardhu, maka dalam sehari dikerjakan 40 rakaat. Siapa yang menjaganya, maka dia memiliki kebaikan dan keutamaan yang banyak, ini tentu dianugerahkan pada yang cepat memenuhi panggilan dan membuka pintu ketika diketuk rutin setiap sehari semalam 40 kali. Shalat sunnah (tathawwu’) ada dua macam: yang disunnahkan berjamaah dan yang disunnahkan tidak berjamaah; ada yang masuk dalam shalat sunnah rawatib, ada yang bukan rawatib. Shalat rawatib ada dua macam: shalat rawatib muakkad dan shalat rawatib ghairu muakkad seperti empat rakaat qabliyah ‘Ashar.     Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad Qadha Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh Merutinkan Shalat Sunnah Rawatib   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:274-276. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:584-586.   —   Diselesaikan pada Selasa Sore, 6 Rabiul Akhir 1444 H, 1 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat rawatib shalat shubuh shalat sunnah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tathawwu' sunnah fajar waktu shalat shubuh
Inilah keutamaan shalat sunnah rawatib dalam sehari semalam. Semoga Allah berikan keberkahan waktu bagi kita untuk menjaganya.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam 2. Hadits 7/356 2.1. Hadits 8/357 2.2. Faedah hadits 2.3. Referensi: Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam Hadits 7/356 عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَكْعَةً فِي يَومٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِي رِوَايَةٍ: «تَطَوُّعاً». Dari Ummu Habibah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa melakukan shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” (HR. Muslim. Dalam suatu riwayat disebut, “Shalat tathawwu’, shalat sunnah”).  [HR. Muslim, no. 728, 101]   Hadits 8/357 وَلِلتِّرْمِذِي نَحْوُهُ، وَزَادَ: «أَربَعاً قَبلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ». Menurut riwayat At-Tirmidzi ada hadits yang semisal dengannya dengan tambahan, “Empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh.” [HR. Tirmidzi, no. 415 dan An-Nasai, 3:262]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan besarnya pahala bagi orang yang mengerjakan shalat sehari semalam sebanyak 12 rakaat. Amalan ini menjadi sebab masuk surga dan selamat dari neraka, tentu dengan mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram pula. Dua belas rakaat yang dimaksud adalah: empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh. Sebagaimana hal ini dirinci dalam hadits riwayat An-Nasai dan Tirmidzi. Itulah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ibnu ‘Umar. Maka di sini terlihat bergabunglah antara qaul (ucapan) dan fi’il (perbuatan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika 12 rakaat rawatib digabung dengan 11 rakaat shalat malam dan 17 rakaat shalat fardhu, maka dalam sehari dikerjakan 40 rakaat. Siapa yang menjaganya, maka dia memiliki kebaikan dan keutamaan yang banyak, ini tentu dianugerahkan pada yang cepat memenuhi panggilan dan membuka pintu ketika diketuk rutin setiap sehari semalam 40 kali. Shalat sunnah (tathawwu’) ada dua macam: yang disunnahkan berjamaah dan yang disunnahkan tidak berjamaah; ada yang masuk dalam shalat sunnah rawatib, ada yang bukan rawatib. Shalat rawatib ada dua macam: shalat rawatib muakkad dan shalat rawatib ghairu muakkad seperti empat rakaat qabliyah ‘Ashar.     Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad Qadha Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh Merutinkan Shalat Sunnah Rawatib   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:274-276. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:584-586.   —   Diselesaikan pada Selasa Sore, 6 Rabiul Akhir 1444 H, 1 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat rawatib shalat shubuh shalat sunnah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tathawwu' sunnah fajar waktu shalat shubuh


Inilah keutamaan shalat sunnah rawatib dalam sehari semalam. Semoga Allah berikan keberkahan waktu bagi kita untuk menjaganya.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam 2. Hadits 7/356 2.1. Hadits 8/357 2.2. Faedah hadits 2.3. Referensi: Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam Hadits 7/356 عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَكْعَةً فِي يَومٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِي رِوَايَةٍ: «تَطَوُّعاً». Dari Ummu Habibah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa melakukan shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” (HR. Muslim. Dalam suatu riwayat disebut, “Shalat tathawwu’, shalat sunnah”).  [HR. Muslim, no. 728, 101]   Hadits 8/357 وَلِلتِّرْمِذِي نَحْوُهُ، وَزَادَ: «أَربَعاً قَبلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ». Menurut riwayat At-Tirmidzi ada hadits yang semisal dengannya dengan tambahan, “Empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh.” [HR. Tirmidzi, no. 415 dan An-Nasai, 3:262]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan besarnya pahala bagi orang yang mengerjakan shalat sehari semalam sebanyak 12 rakaat. Amalan ini menjadi sebab masuk surga dan selamat dari neraka, tentu dengan mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram pula. Dua belas rakaat yang dimaksud adalah: empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh. Sebagaimana hal ini dirinci dalam hadits riwayat An-Nasai dan Tirmidzi. Itulah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ibnu ‘Umar. Maka di sini terlihat bergabunglah antara qaul (ucapan) dan fi’il (perbuatan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika 12 rakaat rawatib digabung dengan 11 rakaat shalat malam dan 17 rakaat shalat fardhu, maka dalam sehari dikerjakan 40 rakaat. Siapa yang menjaganya, maka dia memiliki kebaikan dan keutamaan yang banyak, ini tentu dianugerahkan pada yang cepat memenuhi panggilan dan membuka pintu ketika diketuk rutin setiap sehari semalam 40 kali. Shalat sunnah (tathawwu’) ada dua macam: yang disunnahkan berjamaah dan yang disunnahkan tidak berjamaah; ada yang masuk dalam shalat sunnah rawatib, ada yang bukan rawatib. Shalat rawatib ada dua macam: shalat rawatib muakkad dan shalat rawatib ghairu muakkad seperti empat rakaat qabliyah ‘Ashar.     Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad Qadha Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh Merutinkan Shalat Sunnah Rawatib   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:274-276. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:584-586.   —   Diselesaikan pada Selasa Sore, 6 Rabiul Akhir 1444 H, 1 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat rawatib shalat shubuh shalat sunnah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tathawwu' sunnah fajar waktu shalat shubuh

Nama para Istri dan Anak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam

Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Pak ustadz, mohon ilmunya tentang nama-nama para istri dan anak Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Agar kita lebih mengenal keluarga beliau. Terima kasih sebelumnya. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Semoga Allah ta’ala merahmati setiap muslim yang bersemangat untuk mengenal Nabinya shallallahu’alaihi wa sallam.  Adapun, nama istri-istri Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang disepakati ulama adalah sebagai berikut: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu’anha. Saudah binti Zam’ah radhiyallahu’anha. ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anha. Hafshah binti Umar radhiyallahu’anha. Zainab binti Khuzaimah radhiyallahu’anha. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah al-Makhzumiyyah radhiyallahu’anha. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan radhiyallahu’anha. Juwairiyyah binti al-Harits radhiyallahu’anha, aslinya bernama Barrah, namun diganti oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjadi Juwairiyyah. Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah radhiyallahu’anha. Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab radhiyallahu’anha. Zainab binti Jahsy radhiyallahu’anha. Para ulama berbeda pendapat mengenai Raihanah binti Zaid an-Nadhriyyah, apakah termasuk istri ataukah budak Rasulullah. Namun sebelas nama-nama shahabiyah pada daftar nama sebelumnya di atas adalah yang sudah ma’ruf digolongkan ke dalam deretan istri-istri beliau. Adapun beberapa shahabiyah yang dilamar oleh Rasulullah namun belum dinikahi, serta para shahabiyah yang menawarkan diri kepada Rasulullah dan tidak dinikahi, yang semacam ini ada empat atau lima orang. Sebagian orang ada yang mengatakan mencapai tiga puluh orang wanita. Para ulama yang dikenal sebagai pakar sirah Rasulullah tidak ada yang mengenal pendapat ini (bahwa istri Nabi mencapai 30 orang). Bahkan para ulama mengingkari pendapat ini. Adapun yang ma’ruf adalah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada al-Juniyyah untuk menikahinya. Ketika dilamar oleh Rasulullah, al-Juniyyah malah berlindung dari Rasulullah (menyatakan keengganan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menghindarinya dan tidak menikahinya. Demikian juga al-Kalbiyah. Juga shahabiyah yang antara pinggang dan tulang rusuk belakangnya ada bercak putih di kulitnya, tidak dinikahi oleh Rasulullah. Juga shahabiyah yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah lalu Rasulullah menikahkan dia dengan orang lain dengan mahar hafalan Qur’an. Inilah beberapa kisah yang dapat diterima riwayatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad (1/79) karya Ibnul Qayyim. Adapun anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, jumlah anak-anak beliau ada tujuh orang. Tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan. Berikut ini rinciannya: Al-Qasim, beliau adalah anak yang namanya dijadikan kun-yah oleh Nabi, sehingga Nabi juga dipanggil dengan nama Abul Qasim shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid al-Qurasyiah radhiyallahu’anha. Abdullah, beliau dijuluki juga dengan ath-Thahir dan ath-Thayyib. Ibunya juga Khadijah radhiyallahu’anha. Ibrahim, beliau adalah anak bungsu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Mariyah al-Qibthiyyah radhiyallahu’anha. Ketiga anak-anak lelaki beliau ini semuanya wafat ketika masih kecil, semoga Allah meridhai mereka semua. Zainab radhiyallahu’anha. Beliau adalah putri sulung Nabi. Di masa jahiliyah beliau menikah dengan Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ dan memiliki anak bernama Umamah. Umamah dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Fatimah radhiyallahu’anha. Ruqayyah radhiyallahu’anha. Beliau menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu. Ummu Kultsum radhiyallahu’anha. Beliau juga menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu, sehingga Utsman digelari dengan julukan Dzun Nurraini (pemilik dua cahaya) karena menikah dengan dua putri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Fathimah radhiallahu’anha, beliau adalah anak yang paling dicintai Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Semua anak-anak perempuan beliau ini lahir dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha. Sehingga semua anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha kecuali Ibrahim radhiyallahu’anhu, karena ia dari rahim Mariyah al-Qibthiyyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak memiliki keturunan lagi dari istri-istri beliau yang lain. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga memiliki anak-anak tiri, yaitu: Hind bin Abi Halah radhiallahu’anhu.  Al-Harits bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Ath-Thahir bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Halah bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Az-Zubair bin Abu Halah radhiallahu’anhu. Mereka berlima adalah putra dari Khadijah binti Khuwailid dari pernikahannya dengan Abu Halah bin Zurarah at-Taimi, suami pertama Khadijah. Zainab binti Abu Salamah radhiallahu’anhu. Putri dari Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah dari pernikahannya dengan Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad radhiallahu’anhu. Ini yang kami ketahui dari nama-nama istri dan putra-putri Nabi shallallahu’alahi wa sallam. Wallahu a’lam bis shawab. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: Dewan Fatwa Islamweb no. 25481 dan 1699, dengan beberapa penambahan. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Pertanyaan Tentang Zakat, Puasa Tanpa Mandi Wajib, Arti Mimpi Lagi Sholat, Menelan Dahak Saat Puasa, Masjid Imam Ahmad Bin Hanbal Bogor, Web Paytren Visited 3,040 times, 1 visit(s) today Post Views: 670 QRIS donasi Yufid

Nama para Istri dan Anak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam

Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Pak ustadz, mohon ilmunya tentang nama-nama para istri dan anak Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Agar kita lebih mengenal keluarga beliau. Terima kasih sebelumnya. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Semoga Allah ta’ala merahmati setiap muslim yang bersemangat untuk mengenal Nabinya shallallahu’alaihi wa sallam.  Adapun, nama istri-istri Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang disepakati ulama adalah sebagai berikut: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu’anha. Saudah binti Zam’ah radhiyallahu’anha. ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anha. Hafshah binti Umar radhiyallahu’anha. Zainab binti Khuzaimah radhiyallahu’anha. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah al-Makhzumiyyah radhiyallahu’anha. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan radhiyallahu’anha. Juwairiyyah binti al-Harits radhiyallahu’anha, aslinya bernama Barrah, namun diganti oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjadi Juwairiyyah. Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah radhiyallahu’anha. Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab radhiyallahu’anha. Zainab binti Jahsy radhiyallahu’anha. Para ulama berbeda pendapat mengenai Raihanah binti Zaid an-Nadhriyyah, apakah termasuk istri ataukah budak Rasulullah. Namun sebelas nama-nama shahabiyah pada daftar nama sebelumnya di atas adalah yang sudah ma’ruf digolongkan ke dalam deretan istri-istri beliau. Adapun beberapa shahabiyah yang dilamar oleh Rasulullah namun belum dinikahi, serta para shahabiyah yang menawarkan diri kepada Rasulullah dan tidak dinikahi, yang semacam ini ada empat atau lima orang. Sebagian orang ada yang mengatakan mencapai tiga puluh orang wanita. Para ulama yang dikenal sebagai pakar sirah Rasulullah tidak ada yang mengenal pendapat ini (bahwa istri Nabi mencapai 30 orang). Bahkan para ulama mengingkari pendapat ini. Adapun yang ma’ruf adalah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada al-Juniyyah untuk menikahinya. Ketika dilamar oleh Rasulullah, al-Juniyyah malah berlindung dari Rasulullah (menyatakan keengganan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menghindarinya dan tidak menikahinya. Demikian juga al-Kalbiyah. Juga shahabiyah yang antara pinggang dan tulang rusuk belakangnya ada bercak putih di kulitnya, tidak dinikahi oleh Rasulullah. Juga shahabiyah yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah lalu Rasulullah menikahkan dia dengan orang lain dengan mahar hafalan Qur’an. Inilah beberapa kisah yang dapat diterima riwayatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad (1/79) karya Ibnul Qayyim. Adapun anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, jumlah anak-anak beliau ada tujuh orang. Tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan. Berikut ini rinciannya: Al-Qasim, beliau adalah anak yang namanya dijadikan kun-yah oleh Nabi, sehingga Nabi juga dipanggil dengan nama Abul Qasim shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid al-Qurasyiah radhiyallahu’anha. Abdullah, beliau dijuluki juga dengan ath-Thahir dan ath-Thayyib. Ibunya juga Khadijah radhiyallahu’anha. Ibrahim, beliau adalah anak bungsu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Mariyah al-Qibthiyyah radhiyallahu’anha. Ketiga anak-anak lelaki beliau ini semuanya wafat ketika masih kecil, semoga Allah meridhai mereka semua. Zainab radhiyallahu’anha. Beliau adalah putri sulung Nabi. Di masa jahiliyah beliau menikah dengan Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ dan memiliki anak bernama Umamah. Umamah dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Fatimah radhiyallahu’anha. Ruqayyah radhiyallahu’anha. Beliau menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu. Ummu Kultsum radhiyallahu’anha. Beliau juga menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu, sehingga Utsman digelari dengan julukan Dzun Nurraini (pemilik dua cahaya) karena menikah dengan dua putri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Fathimah radhiallahu’anha, beliau adalah anak yang paling dicintai Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Semua anak-anak perempuan beliau ini lahir dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha. Sehingga semua anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha kecuali Ibrahim radhiyallahu’anhu, karena ia dari rahim Mariyah al-Qibthiyyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak memiliki keturunan lagi dari istri-istri beliau yang lain. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga memiliki anak-anak tiri, yaitu: Hind bin Abi Halah radhiallahu’anhu.  Al-Harits bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Ath-Thahir bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Halah bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Az-Zubair bin Abu Halah radhiallahu’anhu. Mereka berlima adalah putra dari Khadijah binti Khuwailid dari pernikahannya dengan Abu Halah bin Zurarah at-Taimi, suami pertama Khadijah. Zainab binti Abu Salamah radhiallahu’anhu. Putri dari Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah dari pernikahannya dengan Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad radhiallahu’anhu. Ini yang kami ketahui dari nama-nama istri dan putra-putri Nabi shallallahu’alahi wa sallam. Wallahu a’lam bis shawab. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: Dewan Fatwa Islamweb no. 25481 dan 1699, dengan beberapa penambahan. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Pertanyaan Tentang Zakat, Puasa Tanpa Mandi Wajib, Arti Mimpi Lagi Sholat, Menelan Dahak Saat Puasa, Masjid Imam Ahmad Bin Hanbal Bogor, Web Paytren Visited 3,040 times, 1 visit(s) today Post Views: 670 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Pak ustadz, mohon ilmunya tentang nama-nama para istri dan anak Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Agar kita lebih mengenal keluarga beliau. Terima kasih sebelumnya. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Semoga Allah ta’ala merahmati setiap muslim yang bersemangat untuk mengenal Nabinya shallallahu’alaihi wa sallam.  Adapun, nama istri-istri Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang disepakati ulama adalah sebagai berikut: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu’anha. Saudah binti Zam’ah radhiyallahu’anha. ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anha. Hafshah binti Umar radhiyallahu’anha. Zainab binti Khuzaimah radhiyallahu’anha. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah al-Makhzumiyyah radhiyallahu’anha. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan radhiyallahu’anha. Juwairiyyah binti al-Harits radhiyallahu’anha, aslinya bernama Barrah, namun diganti oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjadi Juwairiyyah. Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah radhiyallahu’anha. Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab radhiyallahu’anha. Zainab binti Jahsy radhiyallahu’anha. Para ulama berbeda pendapat mengenai Raihanah binti Zaid an-Nadhriyyah, apakah termasuk istri ataukah budak Rasulullah. Namun sebelas nama-nama shahabiyah pada daftar nama sebelumnya di atas adalah yang sudah ma’ruf digolongkan ke dalam deretan istri-istri beliau. Adapun beberapa shahabiyah yang dilamar oleh Rasulullah namun belum dinikahi, serta para shahabiyah yang menawarkan diri kepada Rasulullah dan tidak dinikahi, yang semacam ini ada empat atau lima orang. Sebagian orang ada yang mengatakan mencapai tiga puluh orang wanita. Para ulama yang dikenal sebagai pakar sirah Rasulullah tidak ada yang mengenal pendapat ini (bahwa istri Nabi mencapai 30 orang). Bahkan para ulama mengingkari pendapat ini. Adapun yang ma’ruf adalah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada al-Juniyyah untuk menikahinya. Ketika dilamar oleh Rasulullah, al-Juniyyah malah berlindung dari Rasulullah (menyatakan keengganan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menghindarinya dan tidak menikahinya. Demikian juga al-Kalbiyah. Juga shahabiyah yang antara pinggang dan tulang rusuk belakangnya ada bercak putih di kulitnya, tidak dinikahi oleh Rasulullah. Juga shahabiyah yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah lalu Rasulullah menikahkan dia dengan orang lain dengan mahar hafalan Qur’an. Inilah beberapa kisah yang dapat diterima riwayatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad (1/79) karya Ibnul Qayyim. Adapun anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, jumlah anak-anak beliau ada tujuh orang. Tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan. Berikut ini rinciannya: Al-Qasim, beliau adalah anak yang namanya dijadikan kun-yah oleh Nabi, sehingga Nabi juga dipanggil dengan nama Abul Qasim shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid al-Qurasyiah radhiyallahu’anha. Abdullah, beliau dijuluki juga dengan ath-Thahir dan ath-Thayyib. Ibunya juga Khadijah radhiyallahu’anha. Ibrahim, beliau adalah anak bungsu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Mariyah al-Qibthiyyah radhiyallahu’anha. Ketiga anak-anak lelaki beliau ini semuanya wafat ketika masih kecil, semoga Allah meridhai mereka semua. Zainab radhiyallahu’anha. Beliau adalah putri sulung Nabi. Di masa jahiliyah beliau menikah dengan Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ dan memiliki anak bernama Umamah. Umamah dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Fatimah radhiyallahu’anha. Ruqayyah radhiyallahu’anha. Beliau menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu. Ummu Kultsum radhiyallahu’anha. Beliau juga menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu, sehingga Utsman digelari dengan julukan Dzun Nurraini (pemilik dua cahaya) karena menikah dengan dua putri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Fathimah radhiallahu’anha, beliau adalah anak yang paling dicintai Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Semua anak-anak perempuan beliau ini lahir dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha. Sehingga semua anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha kecuali Ibrahim radhiyallahu’anhu, karena ia dari rahim Mariyah al-Qibthiyyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak memiliki keturunan lagi dari istri-istri beliau yang lain. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga memiliki anak-anak tiri, yaitu: Hind bin Abi Halah radhiallahu’anhu.  Al-Harits bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Ath-Thahir bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Halah bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Az-Zubair bin Abu Halah radhiallahu’anhu. Mereka berlima adalah putra dari Khadijah binti Khuwailid dari pernikahannya dengan Abu Halah bin Zurarah at-Taimi, suami pertama Khadijah. Zainab binti Abu Salamah radhiallahu’anhu. Putri dari Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah dari pernikahannya dengan Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad radhiallahu’anhu. Ini yang kami ketahui dari nama-nama istri dan putra-putri Nabi shallallahu’alahi wa sallam. Wallahu a’lam bis shawab. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: Dewan Fatwa Islamweb no. 25481 dan 1699, dengan beberapa penambahan. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Pertanyaan Tentang Zakat, Puasa Tanpa Mandi Wajib, Arti Mimpi Lagi Sholat, Menelan Dahak Saat Puasa, Masjid Imam Ahmad Bin Hanbal Bogor, Web Paytren Visited 3,040 times, 1 visit(s) today Post Views: 670 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1378587661&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Pak ustadz, mohon ilmunya tentang nama-nama para istri dan anak Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Agar kita lebih mengenal keluarga beliau. Terima kasih sebelumnya. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Semoga Allah ta’ala merahmati setiap muslim yang bersemangat untuk mengenal Nabinya shallallahu’alaihi wa sallam.  Adapun, nama istri-istri Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang disepakati ulama adalah sebagai berikut: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu’anha. Saudah binti Zam’ah radhiyallahu’anha. ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anha. Hafshah binti Umar radhiyallahu’anha. Zainab binti Khuzaimah radhiyallahu’anha. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah al-Makhzumiyyah radhiyallahu’anha. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan radhiyallahu’anha. Juwairiyyah binti al-Harits radhiyallahu’anha, aslinya bernama Barrah, namun diganti oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjadi Juwairiyyah. Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah radhiyallahu’anha. Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab radhiyallahu’anha. Zainab binti Jahsy radhiyallahu’anha. Para ulama berbeda pendapat mengenai Raihanah binti Zaid an-Nadhriyyah, apakah termasuk istri ataukah budak Rasulullah. Namun sebelas nama-nama shahabiyah pada daftar nama sebelumnya di atas adalah yang sudah ma’ruf digolongkan ke dalam deretan istri-istri beliau. Adapun beberapa shahabiyah yang dilamar oleh Rasulullah namun belum dinikahi, serta para shahabiyah yang menawarkan diri kepada Rasulullah dan tidak dinikahi, yang semacam ini ada empat atau lima orang. Sebagian orang ada yang mengatakan mencapai tiga puluh orang wanita. Para ulama yang dikenal sebagai pakar sirah Rasulullah tidak ada yang mengenal pendapat ini (bahwa istri Nabi mencapai 30 orang). Bahkan para ulama mengingkari pendapat ini. Adapun yang ma’ruf adalah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada al-Juniyyah untuk menikahinya. Ketika dilamar oleh Rasulullah, al-Juniyyah malah berlindung dari Rasulullah (menyatakan keengganan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menghindarinya dan tidak menikahinya. Demikian juga al-Kalbiyah. Juga shahabiyah yang antara pinggang dan tulang rusuk belakangnya ada bercak putih di kulitnya, tidak dinikahi oleh Rasulullah. Juga shahabiyah yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah lalu Rasulullah menikahkan dia dengan orang lain dengan mahar hafalan Qur’an. Inilah beberapa kisah yang dapat diterima riwayatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad (1/79) karya Ibnul Qayyim. Adapun anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, jumlah anak-anak beliau ada tujuh orang. Tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan. Berikut ini rinciannya: Al-Qasim, beliau adalah anak yang namanya dijadikan kun-yah oleh Nabi, sehingga Nabi juga dipanggil dengan nama Abul Qasim shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid al-Qurasyiah radhiyallahu’anha. Abdullah, beliau dijuluki juga dengan ath-Thahir dan ath-Thayyib. Ibunya juga Khadijah radhiyallahu’anha. Ibrahim, beliau adalah anak bungsu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Mariyah al-Qibthiyyah radhiyallahu’anha. Ketiga anak-anak lelaki beliau ini semuanya wafat ketika masih kecil, semoga Allah meridhai mereka semua. Zainab radhiyallahu’anha. Beliau adalah putri sulung Nabi. Di masa jahiliyah beliau menikah dengan Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ dan memiliki anak bernama Umamah. Umamah dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Fatimah radhiyallahu’anha. Ruqayyah radhiyallahu’anha. Beliau menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu. Ummu Kultsum radhiyallahu’anha. Beliau juga menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu, sehingga Utsman digelari dengan julukan Dzun Nurraini (pemilik dua cahaya) karena menikah dengan dua putri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Fathimah radhiallahu’anha, beliau adalah anak yang paling dicintai Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Semua anak-anak perempuan beliau ini lahir dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha. Sehingga semua anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha kecuali Ibrahim radhiyallahu’anhu, karena ia dari rahim Mariyah al-Qibthiyyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak memiliki keturunan lagi dari istri-istri beliau yang lain. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga memiliki anak-anak tiri, yaitu: Hind bin Abi Halah radhiallahu’anhu.  Al-Harits bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Ath-Thahir bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Halah bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Az-Zubair bin Abu Halah radhiallahu’anhu. Mereka berlima adalah putra dari Khadijah binti Khuwailid dari pernikahannya dengan Abu Halah bin Zurarah at-Taimi, suami pertama Khadijah. Zainab binti Abu Salamah radhiallahu’anhu. Putri dari Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah dari pernikahannya dengan Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad radhiallahu’anhu. Ini yang kami ketahui dari nama-nama istri dan putra-putri Nabi shallallahu’alahi wa sallam. Wallahu a’lam bis shawab. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: Dewan Fatwa Islamweb no. 25481 dan 1699, dengan beberapa penambahan. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Pertanyaan Tentang Zakat, Puasa Tanpa Mandi Wajib, Arti Mimpi Lagi Sholat, Menelan Dahak Saat Puasa, Masjid Imam Ahmad Bin Hanbal Bogor, Web Paytren Visited 3,040 times, 1 visit(s) today Post Views: 670 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Pembagian Tauhid Menurut Para Ulama Ahlusunah (Bag. 2)

Daftar Isi sembunyikan 1. Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap Allah 1.1. Tauhid al-’ilmi 1.2. Tauhid al-’amali 2. Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) 2.1. Tauhid al-qaul al-’ilmi 2.2. Tauhid al-’amali al-iradi 3. Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H) 3.1. Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat 3.2. Tauhid al-mathlab wa al-qashdi 4. Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H) 4.1. Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi 4.2. Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap AllahSetelah dipaparkan pembagian tauhid menjadi tiga jenis, maka di antara para ulama ada yang membagi tauhid ini ke dalam dua jenis saja dengan menimbang sudut pandang kewajiban bertauhid seorang hamba terhadap Allah. Para ulama ahlusunah pada abad yang lebih lalu, yaitu sekitar abad 7 H, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah, lebih banyak membagi tauhid ini kepada dua jenis saja. Pembagian ke dalam dua jenis tauhid ini akan berkumpul pada klasifikasi berikut, yaitu, 1) tauhid al-‘ilmi dan 2) tauhid al-‘amali. Adapun penjelasan definisi ringkas dari kedua jenis tauhid tersebut sebagai berikut.Tauhid al-’ilmiTauhid al-’ilmi adalah tauhid yang yang berisi kewajiban dari syariat kepada mukalaf untuk berilmu dan beriman dengan makna-makna rububiyyah dan sifat-sifat Allah yang sempurna. Maka, dapat disimpulkan bahwa pada tauhid jenis ini berkumpul dua jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid asma wa sifat.Tauhid al-’amaliTauhid al-’amali adalah tauhid yang berisi kewajiban syariat terhadap mukalaf untuk beramal dengan beribadah kepada Allah dan larangan untuk berbuat syirik. (Al-Fawaid Al-Masturah, 1: 52-53)Setelah masa beliau berdua sampai zaman kontemporer ini, terdapat para ulama yang membagi tauhid ke dalam dua jenis, tetapi memiliki penamaan yang berbeda dengan beliau berdua. Berikut rincian pembagian tauhid menjadi dua jenis dengan sudut pandang kewajiban hamba terhadap Allah menurut berbagai pandangan para ulama.Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H)Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam satu kitab yang beliau tulis, yaitu Ash-Shafadiyah, menerangkan tentang tauhid ilahiah itu ada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-qaul al-’amali dan b) tauhid al-’amali al-iradi. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,والتوحيد الذي جاءتْ به الرسل ونزلتْ به الكُتب هو توحيد الإلهية، وهو أن يعبد الله وحده لَا شريكَ له، وهو متضَمِّنٌ لشيئينِ، أحدهما: القول العلْميّ ، وهو إثباتُ صفاتِ الكمالِ، وتنزِيهه عن النقائصِ، وتنزيهه عن أنْ يمَاثِلَه أحدٌ في شيئ من صفاته، فلا يوصَفُ بنقْصٍ بحالٍ، ولا يماثله أحدٌ في الكمال، كما قال تعالى: (قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ۝  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ۝  لَمۡ یَلِدۡ وَلَمۡ یُولَدۡ ۝  وَلَمۡ یَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ)، فالصّمدية تُثبت له الكمال، والأحدية تنفي مماثلَه شيئ له في ذلك، كما بسطنا ذلك في غير هذا الموضع.والتوحيد العَملي الإرادي أن يعبد إلا إياه، فلا يدعو إلا إياه ولا يتوكل إلّا عليه، ولا يخاف إلا إياه، ولا يرجو إلا أياه، ويكون الدين كله لله، قال تعالى: (قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡكَـٰفِرُونَ ۝  لَاۤ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  وَلَاۤ أَنَا۠ عَابِدࣱ مَّا عَبَدتُّمۡ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  لَكُمۡ دِینُكُمۡ وَلِیَ دِینِ). وهذا التوحيد يتضمنُ أنّ اللهَ خالق كلِّ شيئٍ  وربه ومليكه لا شريك له في المُلكِ.“Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan yang terkandung dalam kitab-kitab Allah adalah tauhid ilahiah. Tauhid ilahiah adalah seorang hamba beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Tauhid ilahiah mengandung dua unsur, yaitu:Baca Juga: Tauhid dan KecintaanTauhid al-qaul al-’ilmiTauhid ini memiliki makna penetapan bagi Allah sifat-sifat yang sempurna, menyucikan Allah dari kekurangan-kekurangan, dan menyucikan Allah dari segala sesuatu yang menyerupai atau menyaingi-Nya dalam sifat-sifat Allah. Maka dari itu, Allah tidak disifati sedikit pun dengan kekurangan dan tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya dalam kesempurnaan. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan, “Katakanlah (Muhammad), bahwa Allah adalah Esa. Allah adalah Zat tempat bergantung seluruh makhluk-Nya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan Dia (Allah) tidak ada sesuatu apa pun yang sebanding (semisal) dengan-Nya. Maka, sifat Ash-Shamadiyah yang dimiliki Allah mengandung makna bahwa Allah memiliki kesempurnaan dari segala sisi. Sementara sifat Al-Ahadiyah menegasikan keserupaan sesuatu apa pun terhadap Allah dalam aspek kesempurnaan-Nya sebagaimana yang telah kami jelaskan pada tempat lain.Tauhid al-’amali al-iradiTauhid ini memiliki makna bahwa seorang hamba tidak mengerjakan ibadah, kecuali hanya untuk Allah semata.  Maka, nantinya ia tidak akan berdoa kecuali kepada Allah, tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah, tidak takut kecuali hanya kepada Allah, dan tidak berharap kecuali hanya pada Allah. Sehingga seluruh agamanya (ibadahnya) hanya untuk Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian tidak menyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan (sekali-kali) menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian juga tidak akan menyembah apa yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” Tauhid jenis ini terkandung makna bahwa Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu, Allah adalah Tuhan seluruh alam, Sang Pemilik jagad semesta, dan tidak ada suatu serikat pun yang bersama Allah.” (Ash-Shafadiyah, 2: 228-229)Baca Juga: Makna Kalimat Tauhid “Lailahaillallah”Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H)Ibnul Qayyim rahimahullah juga memiliki pembagian tauhid yang hampir sama dengan gurunya (Ibnu Taimiyyah) dengan membagi tauhid menjadi dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan b) tauhid al-mathlab wa al-qashdu. Pada kesempatan yang sama, Ibnul Qayyim juga menyebutkan nama lain dari dua jenis tauhid tersebut. Ibnul Qayyim menyampaikan pembagian tauhid ini dalam kitab Madarijus Salikin ketika membahas pembagian tauhid yang sebelumnya dipaparkan pembagian tauhid menurut berbagai firqah dalam Islam maupun luar Islam. Adapun beliau rahimahullah berkata,وأمّا التوحيدُ الذي دعتْ رسل الله، نزلتْ بهِ كُتُبُ فوَرَاءَ ذلك كلِّهِ وهو نوعان، تَوْحيدٌ في المعْرفة والإثْباتِ، وتوحيدٌ في المطْلبِ والقصْدفالأوّل: هو حقيقةُ ذاتِ الرّبِّ تعالى، وأسماءه، وصفاته، وأفْعالِه، وعُلُوِّه، فوق سمواتِهِ على عرْشِهِ، وتكلُّمِهِ بِكُتُبِه، وتكْلميهِ لِمنْ شاء منْ عِبادهِ، وإثْبات عمومِ قضاءِهِ، وقَدَره، وحُكْمه، وقد أفصح القرآنُ عن هذا النوعِ جِدَّ الإفصَاحِكما في أوّل سورةِ الحديد، وسورة طه، وآخر سورة الحشْر، وأوَّلُ سورة (تنزيل) السجدة، وأوّل سورة آل عمران، وسورة الإخلاصِ بكمالها، وغير ذلك.النوع الثاني: مِثْلُ ما تضمّنتْهُ سورة: قل يأيها الكافرون)، وقوله: (قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم)، الآية وأوَّلُ سورة سورة (تنزيل الكتاب) وآخِرِها، وأوَّلِ سورة يونس ووسطِها وآخِرِها، وأوّلِ سورةِ الأعراف وآخِرُها، وجُمْلة سورة الأنعامِ وغالبِ سور القرآنِ، بل كلُّ سورةٍ في القرآن فهي متضمنة لنَوعي التوحيدِ.بل نقول قولًا كليًا: إنّ كلَّ آية في القرآن فهي متضمةٌ للتوحيدِ، شاهدةٌ بِهِ، داعيةٌ إليهِ، فإنّ القرآنَ: إمّا خَبَرٌ عن اللهِ، وأسمائه، وصفاته، وأفعالِهِ، فهو التوحيد العلميالخبري، وإمّا دعوةٌ إلى عبادته وحده لا شريك له، وخَلْعُ كلّ ما يُعبدُ من دونِهِ، فهو التوحيد الإراديّ الطلبي، وإمّا أمرٌ ونهيٌ، وإلْزامٌ بطاعته في نهيِهِ وأمره، فهي حقوق التوحيد ومكمَّلاته، وإمّا خبرٌ عَنْ كرامة الله لِأهل توحيده وطاعَتِهِ، وما فعل بهم في الدنيا وما يُكرمُهم به في الآخرة، فهو جزاء توحيده، وإمّا خبر عن أهل الشِرْك، وما فعل بهم في الدنيا من النكال، وما يَحُلُّ بهم في العُقبى من العذاب، فهو خبر عمّنْ خرج عن حكم التوحيد.“Adapun tauhid yang didakwahkan oleh para rasul Allah dan yang dikandung oleh seluruh kitab-kitab Allah terdapat dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan 2) tauhid al-mathlab wa al-qashdu.Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbatTauhid yang pertama ini berisi tentang pembahasan hakikat Zat Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, ketinggian Allah di atas langit-langit, yaitu di atas ‘Arsy-Nya, perkataan-perkataan Allah dalam semua kitab-kitab-Nya, pembicaraan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya, penetapan atas seluruh kekuasaan, takdir, dan hukum yang ditetapkan oleh-Nya. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an tentang tauhid ini dengan sangat fasih. Bukti-bukti tauhid ini tergambar pada awal surah Al-Hadid, surah Thaha, akhir dari surah Al-Hasyr, awal dari surah As-Sajdah, akhir surah Ali-Imran, surah Al-Ikhlas seluruhnya, dan lain-lain.Tauhid al-mathlab wa al-qashdiTauhid ini adalah semisal yang dikandung dalam surah Al-Kafirun, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir ,.. ”, juga firman Allah, “Katakanlah (Muhammad), wahai ahlul kitab, marilah kita sama-sama menuju satu seruan (tauhid) yang sama antara kami dengan kalian..”, ayat awal dalam surah Az-Zumar dan bagian akhirnya, awal surah Yunus, bagian tengah, dan akhirnya, awal surah Al-A’raf dan bagian akhirnya, sebagian dari surah Al-An’am, dan kebanyakan dari kandungan surah-surah dalam Al-Qur’an. Bahkan, setiap surah dalam Al-Qur’an berisi dua jenis tauhid di atas.Maka, dapat kita disimpulkan secara global, bahwasanya setiap ayat dalam Al-Qur’an pasti mengandung, menjadi saksi kebenaran ajaran tauhid, serta mengajak untuk bertauhid. Hal ini karena Al-Qur’an isinya tidak lepas dari beberapa hal berikut, yaitu:Pertama, kabar terkait Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah tauhid (jenis pertama) yaitu tauhid al-’ilmi wa al-khabari.Kedua, perintah untuk beribadah kepada Allah semata tanpa dan tidak menyekutukan-Nya, serta membebaskan dari seluruh peribadahan kepada selain Allah. Tauhid ini (jenis kedua) disebut dengan tauhid al-iradi ath-thalabi.Ketiga, syariat perintah dan larangan. Isi dari syariat ini adalah kewajiban menaati Allah dalam perintah dan larangan-Nya. Dua hal ini adalah hak-hak tauhid (yang harus ditunaikan hamba) dan penyempurna tauhid.Keempat, kabar berupa karamah Allah kepada ahli tauhid dan ahli ketaatan, apa yang diperbuat oleh mereka di dunia, dan akhir yang akan mereka dapat berupa pemuliaan dari Allah di akhirat.Kelima, kabar tentang ahli kesyirikan, apa yang mereka perbuat di dunia dari kezaliman, dan akhir yang akan menimpa mereka berupa azab. Isi yang kelima ini adalah kabar dari orang-orang yang telah keluar dari tauhid.” (Madariju As-Salikin baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in/1099)Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H)Al-Hafidz Al-Hakami memiliki nazam yang cukup masyhur yang membahas tema akidah ahlusunah waljamaah. Nazam ini juga disyarah oleh beliau sendiri dalam kitab Ma’arijul Qabul. Beliau dalam nazam dan syarahnya membagi jenis tauhid kepada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi dan 2) tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi. Beliau rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau,التوحيد نوعانالأوَّلُ: التوحيد العِلْمي الخَبَري الإعْتقَادي المتضمِّنُ إثباتَ صفاتِ الكَمال للهِ عزَّ وجلّ وتنزيههُ عن التشْبيهِ والتَمْثيلِ ووتنزيههُ عن صِفات النقصِ، وهو توحيد الربوبيّة.الثاني: التوحيدُ الطّلَبِي القصْدي الإرَادي، وهو عبادةُ الله تعالى وحْده لا شريك له وتجْريد محَبَّته، والإخْلاص له وخوفه ورَجاؤُه والتوكُّل عليه بالرضا به ربًّا وإلهًا ووليا، وأن لا يجعل له عَدْلًا في شيئ من الأشياء، وهو توحيد الألوهية.“Tauhid ada dua macam, yaitu:Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadiYang pertama, tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi adalah tauhid yang terkandung di dalamnya penetapan sifat-sifat sempurna bagi Allah ‘Azza Wajalla dan penyucian Allah dari segala bentuk penyerupaan dan penyamaan Allah (terhadap makhluk), serta penyucian Allah dari segala sifat kurang. Tauhid ini sama dengan tauhid rububiyyah dan asma’ wa sifat.Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Yang kedua, tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi adalah yang berisi tentang perintah untuk beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, memurnikan kecintaan, keikhlasan, rasa takut, rasa harap, dan tawakal kepada-Nya dengan penuh rida bahwa Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah dan Yang Mahapelindung, serta tidak menjadikan sekutu bagi-Nya dalam satu pun bentuk peribadahan. Tauhid ini sama dengan tauhid uluhiyah.” (Ma’ariju Al-Qabul, 1: 121)Baca Juga:Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan TauhidMengenal Tauhid dan Syirik Lebih Dekat***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-Kawariy, Kamilah. 2019 M. Al-Fawaid Al-Masthurah Fii Halli Alfadzi Kitabi A’lami As-Sunnah Al-Manshurah. Beriut: Dar Ibnu Hazm.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. 2011 M. Ash-Shafadiyah. Riyadh: Dar Al-Fadhilah.Al-Hakami, Hafiz bin Ahmad. Ma’ariju Al-Qabul Bi Syarhi Sullam Al-Wushul Ila ‘Ilmi Al-Ushul Fi At-Tauhid. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Al-Jauziyah, Muhammad bin Abu Bakr bin Al-Qayyim. Madariju As-Salikin Baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in. Al-Azhar: Dar Al-’Alamiyah.🔍 Tawakal, Berdoalah, Minal Aid, Cara Mandi Janabat, Nafkah AnakTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islambelajar tauhidibadahkeutamaan tauhidManhajmanhaj slafnasihatnasihat islamTauhid

Pembagian Tauhid Menurut Para Ulama Ahlusunah (Bag. 2)

Daftar Isi sembunyikan 1. Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap Allah 1.1. Tauhid al-’ilmi 1.2. Tauhid al-’amali 2. Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) 2.1. Tauhid al-qaul al-’ilmi 2.2. Tauhid al-’amali al-iradi 3. Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H) 3.1. Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat 3.2. Tauhid al-mathlab wa al-qashdi 4. Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H) 4.1. Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi 4.2. Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap AllahSetelah dipaparkan pembagian tauhid menjadi tiga jenis, maka di antara para ulama ada yang membagi tauhid ini ke dalam dua jenis saja dengan menimbang sudut pandang kewajiban bertauhid seorang hamba terhadap Allah. Para ulama ahlusunah pada abad yang lebih lalu, yaitu sekitar abad 7 H, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah, lebih banyak membagi tauhid ini kepada dua jenis saja. Pembagian ke dalam dua jenis tauhid ini akan berkumpul pada klasifikasi berikut, yaitu, 1) tauhid al-‘ilmi dan 2) tauhid al-‘amali. Adapun penjelasan definisi ringkas dari kedua jenis tauhid tersebut sebagai berikut.Tauhid al-’ilmiTauhid al-’ilmi adalah tauhid yang yang berisi kewajiban dari syariat kepada mukalaf untuk berilmu dan beriman dengan makna-makna rububiyyah dan sifat-sifat Allah yang sempurna. Maka, dapat disimpulkan bahwa pada tauhid jenis ini berkumpul dua jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid asma wa sifat.Tauhid al-’amaliTauhid al-’amali adalah tauhid yang berisi kewajiban syariat terhadap mukalaf untuk beramal dengan beribadah kepada Allah dan larangan untuk berbuat syirik. (Al-Fawaid Al-Masturah, 1: 52-53)Setelah masa beliau berdua sampai zaman kontemporer ini, terdapat para ulama yang membagi tauhid ke dalam dua jenis, tetapi memiliki penamaan yang berbeda dengan beliau berdua. Berikut rincian pembagian tauhid menjadi dua jenis dengan sudut pandang kewajiban hamba terhadap Allah menurut berbagai pandangan para ulama.Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H)Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam satu kitab yang beliau tulis, yaitu Ash-Shafadiyah, menerangkan tentang tauhid ilahiah itu ada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-qaul al-’amali dan b) tauhid al-’amali al-iradi. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,والتوحيد الذي جاءتْ به الرسل ونزلتْ به الكُتب هو توحيد الإلهية، وهو أن يعبد الله وحده لَا شريكَ له، وهو متضَمِّنٌ لشيئينِ، أحدهما: القول العلْميّ ، وهو إثباتُ صفاتِ الكمالِ، وتنزِيهه عن النقائصِ، وتنزيهه عن أنْ يمَاثِلَه أحدٌ في شيئ من صفاته، فلا يوصَفُ بنقْصٍ بحالٍ، ولا يماثله أحدٌ في الكمال، كما قال تعالى: (قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ۝  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ۝  لَمۡ یَلِدۡ وَلَمۡ یُولَدۡ ۝  وَلَمۡ یَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ)، فالصّمدية تُثبت له الكمال، والأحدية تنفي مماثلَه شيئ له في ذلك، كما بسطنا ذلك في غير هذا الموضع.والتوحيد العَملي الإرادي أن يعبد إلا إياه، فلا يدعو إلا إياه ولا يتوكل إلّا عليه، ولا يخاف إلا إياه، ولا يرجو إلا أياه، ويكون الدين كله لله، قال تعالى: (قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡكَـٰفِرُونَ ۝  لَاۤ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  وَلَاۤ أَنَا۠ عَابِدࣱ مَّا عَبَدتُّمۡ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  لَكُمۡ دِینُكُمۡ وَلِیَ دِینِ). وهذا التوحيد يتضمنُ أنّ اللهَ خالق كلِّ شيئٍ  وربه ومليكه لا شريك له في المُلكِ.“Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan yang terkandung dalam kitab-kitab Allah adalah tauhid ilahiah. Tauhid ilahiah adalah seorang hamba beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Tauhid ilahiah mengandung dua unsur, yaitu:Baca Juga: Tauhid dan KecintaanTauhid al-qaul al-’ilmiTauhid ini memiliki makna penetapan bagi Allah sifat-sifat yang sempurna, menyucikan Allah dari kekurangan-kekurangan, dan menyucikan Allah dari segala sesuatu yang menyerupai atau menyaingi-Nya dalam sifat-sifat Allah. Maka dari itu, Allah tidak disifati sedikit pun dengan kekurangan dan tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya dalam kesempurnaan. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan, “Katakanlah (Muhammad), bahwa Allah adalah Esa. Allah adalah Zat tempat bergantung seluruh makhluk-Nya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan Dia (Allah) tidak ada sesuatu apa pun yang sebanding (semisal) dengan-Nya. Maka, sifat Ash-Shamadiyah yang dimiliki Allah mengandung makna bahwa Allah memiliki kesempurnaan dari segala sisi. Sementara sifat Al-Ahadiyah menegasikan keserupaan sesuatu apa pun terhadap Allah dalam aspek kesempurnaan-Nya sebagaimana yang telah kami jelaskan pada tempat lain.Tauhid al-’amali al-iradiTauhid ini memiliki makna bahwa seorang hamba tidak mengerjakan ibadah, kecuali hanya untuk Allah semata.  Maka, nantinya ia tidak akan berdoa kecuali kepada Allah, tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah, tidak takut kecuali hanya kepada Allah, dan tidak berharap kecuali hanya pada Allah. Sehingga seluruh agamanya (ibadahnya) hanya untuk Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian tidak menyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan (sekali-kali) menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian juga tidak akan menyembah apa yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” Tauhid jenis ini terkandung makna bahwa Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu, Allah adalah Tuhan seluruh alam, Sang Pemilik jagad semesta, dan tidak ada suatu serikat pun yang bersama Allah.” (Ash-Shafadiyah, 2: 228-229)Baca Juga: Makna Kalimat Tauhid “Lailahaillallah”Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H)Ibnul Qayyim rahimahullah juga memiliki pembagian tauhid yang hampir sama dengan gurunya (Ibnu Taimiyyah) dengan membagi tauhid menjadi dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan b) tauhid al-mathlab wa al-qashdu. Pada kesempatan yang sama, Ibnul Qayyim juga menyebutkan nama lain dari dua jenis tauhid tersebut. Ibnul Qayyim menyampaikan pembagian tauhid ini dalam kitab Madarijus Salikin ketika membahas pembagian tauhid yang sebelumnya dipaparkan pembagian tauhid menurut berbagai firqah dalam Islam maupun luar Islam. Adapun beliau rahimahullah berkata,وأمّا التوحيدُ الذي دعتْ رسل الله، نزلتْ بهِ كُتُبُ فوَرَاءَ ذلك كلِّهِ وهو نوعان، تَوْحيدٌ في المعْرفة والإثْباتِ، وتوحيدٌ في المطْلبِ والقصْدفالأوّل: هو حقيقةُ ذاتِ الرّبِّ تعالى، وأسماءه، وصفاته، وأفْعالِه، وعُلُوِّه، فوق سمواتِهِ على عرْشِهِ، وتكلُّمِهِ بِكُتُبِه، وتكْلميهِ لِمنْ شاء منْ عِبادهِ، وإثْبات عمومِ قضاءِهِ، وقَدَره، وحُكْمه، وقد أفصح القرآنُ عن هذا النوعِ جِدَّ الإفصَاحِكما في أوّل سورةِ الحديد، وسورة طه، وآخر سورة الحشْر، وأوَّلُ سورة (تنزيل) السجدة، وأوّل سورة آل عمران، وسورة الإخلاصِ بكمالها، وغير ذلك.النوع الثاني: مِثْلُ ما تضمّنتْهُ سورة: قل يأيها الكافرون)، وقوله: (قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم)، الآية وأوَّلُ سورة سورة (تنزيل الكتاب) وآخِرِها، وأوَّلِ سورة يونس ووسطِها وآخِرِها، وأوّلِ سورةِ الأعراف وآخِرُها، وجُمْلة سورة الأنعامِ وغالبِ سور القرآنِ، بل كلُّ سورةٍ في القرآن فهي متضمنة لنَوعي التوحيدِ.بل نقول قولًا كليًا: إنّ كلَّ آية في القرآن فهي متضمةٌ للتوحيدِ، شاهدةٌ بِهِ، داعيةٌ إليهِ، فإنّ القرآنَ: إمّا خَبَرٌ عن اللهِ، وأسمائه، وصفاته، وأفعالِهِ، فهو التوحيد العلميالخبري، وإمّا دعوةٌ إلى عبادته وحده لا شريك له، وخَلْعُ كلّ ما يُعبدُ من دونِهِ، فهو التوحيد الإراديّ الطلبي، وإمّا أمرٌ ونهيٌ، وإلْزامٌ بطاعته في نهيِهِ وأمره، فهي حقوق التوحيد ومكمَّلاته، وإمّا خبرٌ عَنْ كرامة الله لِأهل توحيده وطاعَتِهِ، وما فعل بهم في الدنيا وما يُكرمُهم به في الآخرة، فهو جزاء توحيده، وإمّا خبر عن أهل الشِرْك، وما فعل بهم في الدنيا من النكال، وما يَحُلُّ بهم في العُقبى من العذاب، فهو خبر عمّنْ خرج عن حكم التوحيد.“Adapun tauhid yang didakwahkan oleh para rasul Allah dan yang dikandung oleh seluruh kitab-kitab Allah terdapat dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan 2) tauhid al-mathlab wa al-qashdu.Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbatTauhid yang pertama ini berisi tentang pembahasan hakikat Zat Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, ketinggian Allah di atas langit-langit, yaitu di atas ‘Arsy-Nya, perkataan-perkataan Allah dalam semua kitab-kitab-Nya, pembicaraan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya, penetapan atas seluruh kekuasaan, takdir, dan hukum yang ditetapkan oleh-Nya. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an tentang tauhid ini dengan sangat fasih. Bukti-bukti tauhid ini tergambar pada awal surah Al-Hadid, surah Thaha, akhir dari surah Al-Hasyr, awal dari surah As-Sajdah, akhir surah Ali-Imran, surah Al-Ikhlas seluruhnya, dan lain-lain.Tauhid al-mathlab wa al-qashdiTauhid ini adalah semisal yang dikandung dalam surah Al-Kafirun, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir ,.. ”, juga firman Allah, “Katakanlah (Muhammad), wahai ahlul kitab, marilah kita sama-sama menuju satu seruan (tauhid) yang sama antara kami dengan kalian..”, ayat awal dalam surah Az-Zumar dan bagian akhirnya, awal surah Yunus, bagian tengah, dan akhirnya, awal surah Al-A’raf dan bagian akhirnya, sebagian dari surah Al-An’am, dan kebanyakan dari kandungan surah-surah dalam Al-Qur’an. Bahkan, setiap surah dalam Al-Qur’an berisi dua jenis tauhid di atas.Maka, dapat kita disimpulkan secara global, bahwasanya setiap ayat dalam Al-Qur’an pasti mengandung, menjadi saksi kebenaran ajaran tauhid, serta mengajak untuk bertauhid. Hal ini karena Al-Qur’an isinya tidak lepas dari beberapa hal berikut, yaitu:Pertama, kabar terkait Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah tauhid (jenis pertama) yaitu tauhid al-’ilmi wa al-khabari.Kedua, perintah untuk beribadah kepada Allah semata tanpa dan tidak menyekutukan-Nya, serta membebaskan dari seluruh peribadahan kepada selain Allah. Tauhid ini (jenis kedua) disebut dengan tauhid al-iradi ath-thalabi.Ketiga, syariat perintah dan larangan. Isi dari syariat ini adalah kewajiban menaati Allah dalam perintah dan larangan-Nya. Dua hal ini adalah hak-hak tauhid (yang harus ditunaikan hamba) dan penyempurna tauhid.Keempat, kabar berupa karamah Allah kepada ahli tauhid dan ahli ketaatan, apa yang diperbuat oleh mereka di dunia, dan akhir yang akan mereka dapat berupa pemuliaan dari Allah di akhirat.Kelima, kabar tentang ahli kesyirikan, apa yang mereka perbuat di dunia dari kezaliman, dan akhir yang akan menimpa mereka berupa azab. Isi yang kelima ini adalah kabar dari orang-orang yang telah keluar dari tauhid.” (Madariju As-Salikin baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in/1099)Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H)Al-Hafidz Al-Hakami memiliki nazam yang cukup masyhur yang membahas tema akidah ahlusunah waljamaah. Nazam ini juga disyarah oleh beliau sendiri dalam kitab Ma’arijul Qabul. Beliau dalam nazam dan syarahnya membagi jenis tauhid kepada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi dan 2) tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi. Beliau rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau,التوحيد نوعانالأوَّلُ: التوحيد العِلْمي الخَبَري الإعْتقَادي المتضمِّنُ إثباتَ صفاتِ الكَمال للهِ عزَّ وجلّ وتنزيههُ عن التشْبيهِ والتَمْثيلِ ووتنزيههُ عن صِفات النقصِ، وهو توحيد الربوبيّة.الثاني: التوحيدُ الطّلَبِي القصْدي الإرَادي، وهو عبادةُ الله تعالى وحْده لا شريك له وتجْريد محَبَّته، والإخْلاص له وخوفه ورَجاؤُه والتوكُّل عليه بالرضا به ربًّا وإلهًا ووليا، وأن لا يجعل له عَدْلًا في شيئ من الأشياء، وهو توحيد الألوهية.“Tauhid ada dua macam, yaitu:Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadiYang pertama, tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi adalah tauhid yang terkandung di dalamnya penetapan sifat-sifat sempurna bagi Allah ‘Azza Wajalla dan penyucian Allah dari segala bentuk penyerupaan dan penyamaan Allah (terhadap makhluk), serta penyucian Allah dari segala sifat kurang. Tauhid ini sama dengan tauhid rububiyyah dan asma’ wa sifat.Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Yang kedua, tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi adalah yang berisi tentang perintah untuk beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, memurnikan kecintaan, keikhlasan, rasa takut, rasa harap, dan tawakal kepada-Nya dengan penuh rida bahwa Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah dan Yang Mahapelindung, serta tidak menjadikan sekutu bagi-Nya dalam satu pun bentuk peribadahan. Tauhid ini sama dengan tauhid uluhiyah.” (Ma’ariju Al-Qabul, 1: 121)Baca Juga:Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan TauhidMengenal Tauhid dan Syirik Lebih Dekat***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-Kawariy, Kamilah. 2019 M. Al-Fawaid Al-Masthurah Fii Halli Alfadzi Kitabi A’lami As-Sunnah Al-Manshurah. Beriut: Dar Ibnu Hazm.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. 2011 M. Ash-Shafadiyah. Riyadh: Dar Al-Fadhilah.Al-Hakami, Hafiz bin Ahmad. Ma’ariju Al-Qabul Bi Syarhi Sullam Al-Wushul Ila ‘Ilmi Al-Ushul Fi At-Tauhid. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Al-Jauziyah, Muhammad bin Abu Bakr bin Al-Qayyim. Madariju As-Salikin Baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in. Al-Azhar: Dar Al-’Alamiyah.🔍 Tawakal, Berdoalah, Minal Aid, Cara Mandi Janabat, Nafkah AnakTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islambelajar tauhidibadahkeutamaan tauhidManhajmanhaj slafnasihatnasihat islamTauhid
Daftar Isi sembunyikan 1. Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap Allah 1.1. Tauhid al-’ilmi 1.2. Tauhid al-’amali 2. Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) 2.1. Tauhid al-qaul al-’ilmi 2.2. Tauhid al-’amali al-iradi 3. Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H) 3.1. Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat 3.2. Tauhid al-mathlab wa al-qashdi 4. Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H) 4.1. Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi 4.2. Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap AllahSetelah dipaparkan pembagian tauhid menjadi tiga jenis, maka di antara para ulama ada yang membagi tauhid ini ke dalam dua jenis saja dengan menimbang sudut pandang kewajiban bertauhid seorang hamba terhadap Allah. Para ulama ahlusunah pada abad yang lebih lalu, yaitu sekitar abad 7 H, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah, lebih banyak membagi tauhid ini kepada dua jenis saja. Pembagian ke dalam dua jenis tauhid ini akan berkumpul pada klasifikasi berikut, yaitu, 1) tauhid al-‘ilmi dan 2) tauhid al-‘amali. Adapun penjelasan definisi ringkas dari kedua jenis tauhid tersebut sebagai berikut.Tauhid al-’ilmiTauhid al-’ilmi adalah tauhid yang yang berisi kewajiban dari syariat kepada mukalaf untuk berilmu dan beriman dengan makna-makna rububiyyah dan sifat-sifat Allah yang sempurna. Maka, dapat disimpulkan bahwa pada tauhid jenis ini berkumpul dua jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid asma wa sifat.Tauhid al-’amaliTauhid al-’amali adalah tauhid yang berisi kewajiban syariat terhadap mukalaf untuk beramal dengan beribadah kepada Allah dan larangan untuk berbuat syirik. (Al-Fawaid Al-Masturah, 1: 52-53)Setelah masa beliau berdua sampai zaman kontemporer ini, terdapat para ulama yang membagi tauhid ke dalam dua jenis, tetapi memiliki penamaan yang berbeda dengan beliau berdua. Berikut rincian pembagian tauhid menjadi dua jenis dengan sudut pandang kewajiban hamba terhadap Allah menurut berbagai pandangan para ulama.Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H)Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam satu kitab yang beliau tulis, yaitu Ash-Shafadiyah, menerangkan tentang tauhid ilahiah itu ada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-qaul al-’amali dan b) tauhid al-’amali al-iradi. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,والتوحيد الذي جاءتْ به الرسل ونزلتْ به الكُتب هو توحيد الإلهية، وهو أن يعبد الله وحده لَا شريكَ له، وهو متضَمِّنٌ لشيئينِ، أحدهما: القول العلْميّ ، وهو إثباتُ صفاتِ الكمالِ، وتنزِيهه عن النقائصِ، وتنزيهه عن أنْ يمَاثِلَه أحدٌ في شيئ من صفاته، فلا يوصَفُ بنقْصٍ بحالٍ، ولا يماثله أحدٌ في الكمال، كما قال تعالى: (قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ۝  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ۝  لَمۡ یَلِدۡ وَلَمۡ یُولَدۡ ۝  وَلَمۡ یَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ)، فالصّمدية تُثبت له الكمال، والأحدية تنفي مماثلَه شيئ له في ذلك، كما بسطنا ذلك في غير هذا الموضع.والتوحيد العَملي الإرادي أن يعبد إلا إياه، فلا يدعو إلا إياه ولا يتوكل إلّا عليه، ولا يخاف إلا إياه، ولا يرجو إلا أياه، ويكون الدين كله لله، قال تعالى: (قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡكَـٰفِرُونَ ۝  لَاۤ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  وَلَاۤ أَنَا۠ عَابِدࣱ مَّا عَبَدتُّمۡ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  لَكُمۡ دِینُكُمۡ وَلِیَ دِینِ). وهذا التوحيد يتضمنُ أنّ اللهَ خالق كلِّ شيئٍ  وربه ومليكه لا شريك له في المُلكِ.“Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan yang terkandung dalam kitab-kitab Allah adalah tauhid ilahiah. Tauhid ilahiah adalah seorang hamba beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Tauhid ilahiah mengandung dua unsur, yaitu:Baca Juga: Tauhid dan KecintaanTauhid al-qaul al-’ilmiTauhid ini memiliki makna penetapan bagi Allah sifat-sifat yang sempurna, menyucikan Allah dari kekurangan-kekurangan, dan menyucikan Allah dari segala sesuatu yang menyerupai atau menyaingi-Nya dalam sifat-sifat Allah. Maka dari itu, Allah tidak disifati sedikit pun dengan kekurangan dan tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya dalam kesempurnaan. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan, “Katakanlah (Muhammad), bahwa Allah adalah Esa. Allah adalah Zat tempat bergantung seluruh makhluk-Nya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan Dia (Allah) tidak ada sesuatu apa pun yang sebanding (semisal) dengan-Nya. Maka, sifat Ash-Shamadiyah yang dimiliki Allah mengandung makna bahwa Allah memiliki kesempurnaan dari segala sisi. Sementara sifat Al-Ahadiyah menegasikan keserupaan sesuatu apa pun terhadap Allah dalam aspek kesempurnaan-Nya sebagaimana yang telah kami jelaskan pada tempat lain.Tauhid al-’amali al-iradiTauhid ini memiliki makna bahwa seorang hamba tidak mengerjakan ibadah, kecuali hanya untuk Allah semata.  Maka, nantinya ia tidak akan berdoa kecuali kepada Allah, tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah, tidak takut kecuali hanya kepada Allah, dan tidak berharap kecuali hanya pada Allah. Sehingga seluruh agamanya (ibadahnya) hanya untuk Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian tidak menyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan (sekali-kali) menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian juga tidak akan menyembah apa yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” Tauhid jenis ini terkandung makna bahwa Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu, Allah adalah Tuhan seluruh alam, Sang Pemilik jagad semesta, dan tidak ada suatu serikat pun yang bersama Allah.” (Ash-Shafadiyah, 2: 228-229)Baca Juga: Makna Kalimat Tauhid “Lailahaillallah”Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H)Ibnul Qayyim rahimahullah juga memiliki pembagian tauhid yang hampir sama dengan gurunya (Ibnu Taimiyyah) dengan membagi tauhid menjadi dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan b) tauhid al-mathlab wa al-qashdu. Pada kesempatan yang sama, Ibnul Qayyim juga menyebutkan nama lain dari dua jenis tauhid tersebut. Ibnul Qayyim menyampaikan pembagian tauhid ini dalam kitab Madarijus Salikin ketika membahas pembagian tauhid yang sebelumnya dipaparkan pembagian tauhid menurut berbagai firqah dalam Islam maupun luar Islam. Adapun beliau rahimahullah berkata,وأمّا التوحيدُ الذي دعتْ رسل الله، نزلتْ بهِ كُتُبُ فوَرَاءَ ذلك كلِّهِ وهو نوعان، تَوْحيدٌ في المعْرفة والإثْباتِ، وتوحيدٌ في المطْلبِ والقصْدفالأوّل: هو حقيقةُ ذاتِ الرّبِّ تعالى، وأسماءه، وصفاته، وأفْعالِه، وعُلُوِّه، فوق سمواتِهِ على عرْشِهِ، وتكلُّمِهِ بِكُتُبِه، وتكْلميهِ لِمنْ شاء منْ عِبادهِ، وإثْبات عمومِ قضاءِهِ، وقَدَره، وحُكْمه، وقد أفصح القرآنُ عن هذا النوعِ جِدَّ الإفصَاحِكما في أوّل سورةِ الحديد، وسورة طه، وآخر سورة الحشْر، وأوَّلُ سورة (تنزيل) السجدة، وأوّل سورة آل عمران، وسورة الإخلاصِ بكمالها، وغير ذلك.النوع الثاني: مِثْلُ ما تضمّنتْهُ سورة: قل يأيها الكافرون)، وقوله: (قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم)، الآية وأوَّلُ سورة سورة (تنزيل الكتاب) وآخِرِها، وأوَّلِ سورة يونس ووسطِها وآخِرِها، وأوّلِ سورةِ الأعراف وآخِرُها، وجُمْلة سورة الأنعامِ وغالبِ سور القرآنِ، بل كلُّ سورةٍ في القرآن فهي متضمنة لنَوعي التوحيدِ.بل نقول قولًا كليًا: إنّ كلَّ آية في القرآن فهي متضمةٌ للتوحيدِ، شاهدةٌ بِهِ، داعيةٌ إليهِ، فإنّ القرآنَ: إمّا خَبَرٌ عن اللهِ، وأسمائه، وصفاته، وأفعالِهِ، فهو التوحيد العلميالخبري، وإمّا دعوةٌ إلى عبادته وحده لا شريك له، وخَلْعُ كلّ ما يُعبدُ من دونِهِ، فهو التوحيد الإراديّ الطلبي، وإمّا أمرٌ ونهيٌ، وإلْزامٌ بطاعته في نهيِهِ وأمره، فهي حقوق التوحيد ومكمَّلاته، وإمّا خبرٌ عَنْ كرامة الله لِأهل توحيده وطاعَتِهِ، وما فعل بهم في الدنيا وما يُكرمُهم به في الآخرة، فهو جزاء توحيده، وإمّا خبر عن أهل الشِرْك، وما فعل بهم في الدنيا من النكال، وما يَحُلُّ بهم في العُقبى من العذاب، فهو خبر عمّنْ خرج عن حكم التوحيد.“Adapun tauhid yang didakwahkan oleh para rasul Allah dan yang dikandung oleh seluruh kitab-kitab Allah terdapat dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan 2) tauhid al-mathlab wa al-qashdu.Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbatTauhid yang pertama ini berisi tentang pembahasan hakikat Zat Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, ketinggian Allah di atas langit-langit, yaitu di atas ‘Arsy-Nya, perkataan-perkataan Allah dalam semua kitab-kitab-Nya, pembicaraan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya, penetapan atas seluruh kekuasaan, takdir, dan hukum yang ditetapkan oleh-Nya. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an tentang tauhid ini dengan sangat fasih. Bukti-bukti tauhid ini tergambar pada awal surah Al-Hadid, surah Thaha, akhir dari surah Al-Hasyr, awal dari surah As-Sajdah, akhir surah Ali-Imran, surah Al-Ikhlas seluruhnya, dan lain-lain.Tauhid al-mathlab wa al-qashdiTauhid ini adalah semisal yang dikandung dalam surah Al-Kafirun, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir ,.. ”, juga firman Allah, “Katakanlah (Muhammad), wahai ahlul kitab, marilah kita sama-sama menuju satu seruan (tauhid) yang sama antara kami dengan kalian..”, ayat awal dalam surah Az-Zumar dan bagian akhirnya, awal surah Yunus, bagian tengah, dan akhirnya, awal surah Al-A’raf dan bagian akhirnya, sebagian dari surah Al-An’am, dan kebanyakan dari kandungan surah-surah dalam Al-Qur’an. Bahkan, setiap surah dalam Al-Qur’an berisi dua jenis tauhid di atas.Maka, dapat kita disimpulkan secara global, bahwasanya setiap ayat dalam Al-Qur’an pasti mengandung, menjadi saksi kebenaran ajaran tauhid, serta mengajak untuk bertauhid. Hal ini karena Al-Qur’an isinya tidak lepas dari beberapa hal berikut, yaitu:Pertama, kabar terkait Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah tauhid (jenis pertama) yaitu tauhid al-’ilmi wa al-khabari.Kedua, perintah untuk beribadah kepada Allah semata tanpa dan tidak menyekutukan-Nya, serta membebaskan dari seluruh peribadahan kepada selain Allah. Tauhid ini (jenis kedua) disebut dengan tauhid al-iradi ath-thalabi.Ketiga, syariat perintah dan larangan. Isi dari syariat ini adalah kewajiban menaati Allah dalam perintah dan larangan-Nya. Dua hal ini adalah hak-hak tauhid (yang harus ditunaikan hamba) dan penyempurna tauhid.Keempat, kabar berupa karamah Allah kepada ahli tauhid dan ahli ketaatan, apa yang diperbuat oleh mereka di dunia, dan akhir yang akan mereka dapat berupa pemuliaan dari Allah di akhirat.Kelima, kabar tentang ahli kesyirikan, apa yang mereka perbuat di dunia dari kezaliman, dan akhir yang akan menimpa mereka berupa azab. Isi yang kelima ini adalah kabar dari orang-orang yang telah keluar dari tauhid.” (Madariju As-Salikin baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in/1099)Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H)Al-Hafidz Al-Hakami memiliki nazam yang cukup masyhur yang membahas tema akidah ahlusunah waljamaah. Nazam ini juga disyarah oleh beliau sendiri dalam kitab Ma’arijul Qabul. Beliau dalam nazam dan syarahnya membagi jenis tauhid kepada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi dan 2) tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi. Beliau rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau,التوحيد نوعانالأوَّلُ: التوحيد العِلْمي الخَبَري الإعْتقَادي المتضمِّنُ إثباتَ صفاتِ الكَمال للهِ عزَّ وجلّ وتنزيههُ عن التشْبيهِ والتَمْثيلِ ووتنزيههُ عن صِفات النقصِ، وهو توحيد الربوبيّة.الثاني: التوحيدُ الطّلَبِي القصْدي الإرَادي، وهو عبادةُ الله تعالى وحْده لا شريك له وتجْريد محَبَّته، والإخْلاص له وخوفه ورَجاؤُه والتوكُّل عليه بالرضا به ربًّا وإلهًا ووليا، وأن لا يجعل له عَدْلًا في شيئ من الأشياء، وهو توحيد الألوهية.“Tauhid ada dua macam, yaitu:Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadiYang pertama, tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi adalah tauhid yang terkandung di dalamnya penetapan sifat-sifat sempurna bagi Allah ‘Azza Wajalla dan penyucian Allah dari segala bentuk penyerupaan dan penyamaan Allah (terhadap makhluk), serta penyucian Allah dari segala sifat kurang. Tauhid ini sama dengan tauhid rububiyyah dan asma’ wa sifat.Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Yang kedua, tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi adalah yang berisi tentang perintah untuk beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, memurnikan kecintaan, keikhlasan, rasa takut, rasa harap, dan tawakal kepada-Nya dengan penuh rida bahwa Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah dan Yang Mahapelindung, serta tidak menjadikan sekutu bagi-Nya dalam satu pun bentuk peribadahan. Tauhid ini sama dengan tauhid uluhiyah.” (Ma’ariju Al-Qabul, 1: 121)Baca Juga:Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan TauhidMengenal Tauhid dan Syirik Lebih Dekat***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-Kawariy, Kamilah. 2019 M. Al-Fawaid Al-Masthurah Fii Halli Alfadzi Kitabi A’lami As-Sunnah Al-Manshurah. Beriut: Dar Ibnu Hazm.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. 2011 M. Ash-Shafadiyah. Riyadh: Dar Al-Fadhilah.Al-Hakami, Hafiz bin Ahmad. Ma’ariju Al-Qabul Bi Syarhi Sullam Al-Wushul Ila ‘Ilmi Al-Ushul Fi At-Tauhid. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Al-Jauziyah, Muhammad bin Abu Bakr bin Al-Qayyim. Madariju As-Salikin Baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in. Al-Azhar: Dar Al-’Alamiyah.🔍 Tawakal, Berdoalah, Minal Aid, Cara Mandi Janabat, Nafkah AnakTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islambelajar tauhidibadahkeutamaan tauhidManhajmanhaj slafnasihatnasihat islamTauhid


Daftar Isi sembunyikan 1. Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap Allah 1.1. Tauhid al-’ilmi 1.2. Tauhid al-’amali 2. Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) 2.1. Tauhid al-qaul al-’ilmi 2.2. Tauhid al-’amali al-iradi 3. Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H) 3.1. Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat 3.2. Tauhid al-mathlab wa al-qashdi 4. Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H) 4.1. Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi 4.2. Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap AllahSetelah dipaparkan pembagian tauhid menjadi tiga jenis, maka di antara para ulama ada yang membagi tauhid ini ke dalam dua jenis saja dengan menimbang sudut pandang kewajiban bertauhid seorang hamba terhadap Allah. Para ulama ahlusunah pada abad yang lebih lalu, yaitu sekitar abad 7 H, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah, lebih banyak membagi tauhid ini kepada dua jenis saja. Pembagian ke dalam dua jenis tauhid ini akan berkumpul pada klasifikasi berikut, yaitu, 1) tauhid al-‘ilmi dan 2) tauhid al-‘amali. Adapun penjelasan definisi ringkas dari kedua jenis tauhid tersebut sebagai berikut.Tauhid al-’ilmiTauhid al-’ilmi adalah tauhid yang yang berisi kewajiban dari syariat kepada mukalaf untuk berilmu dan beriman dengan makna-makna rububiyyah dan sifat-sifat Allah yang sempurna. Maka, dapat disimpulkan bahwa pada tauhid jenis ini berkumpul dua jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid asma wa sifat.Tauhid al-’amaliTauhid al-’amali adalah tauhid yang berisi kewajiban syariat terhadap mukalaf untuk beramal dengan beribadah kepada Allah dan larangan untuk berbuat syirik. (Al-Fawaid Al-Masturah, 1: 52-53)Setelah masa beliau berdua sampai zaman kontemporer ini, terdapat para ulama yang membagi tauhid ke dalam dua jenis, tetapi memiliki penamaan yang berbeda dengan beliau berdua. Berikut rincian pembagian tauhid menjadi dua jenis dengan sudut pandang kewajiban hamba terhadap Allah menurut berbagai pandangan para ulama.Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H)Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam satu kitab yang beliau tulis, yaitu Ash-Shafadiyah, menerangkan tentang tauhid ilahiah itu ada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-qaul al-’amali dan b) tauhid al-’amali al-iradi. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,والتوحيد الذي جاءتْ به الرسل ونزلتْ به الكُتب هو توحيد الإلهية، وهو أن يعبد الله وحده لَا شريكَ له، وهو متضَمِّنٌ لشيئينِ، أحدهما: القول العلْميّ ، وهو إثباتُ صفاتِ الكمالِ، وتنزِيهه عن النقائصِ، وتنزيهه عن أنْ يمَاثِلَه أحدٌ في شيئ من صفاته، فلا يوصَفُ بنقْصٍ بحالٍ، ولا يماثله أحدٌ في الكمال، كما قال تعالى: (قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ۝  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ۝  لَمۡ یَلِدۡ وَلَمۡ یُولَدۡ ۝  وَلَمۡ یَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ)، فالصّمدية تُثبت له الكمال، والأحدية تنفي مماثلَه شيئ له في ذلك، كما بسطنا ذلك في غير هذا الموضع.والتوحيد العَملي الإرادي أن يعبد إلا إياه، فلا يدعو إلا إياه ولا يتوكل إلّا عليه، ولا يخاف إلا إياه، ولا يرجو إلا أياه، ويكون الدين كله لله، قال تعالى: (قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡكَـٰفِرُونَ ۝  لَاۤ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  وَلَاۤ أَنَا۠ عَابِدࣱ مَّا عَبَدتُّمۡ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  لَكُمۡ دِینُكُمۡ وَلِیَ دِینِ). وهذا التوحيد يتضمنُ أنّ اللهَ خالق كلِّ شيئٍ  وربه ومليكه لا شريك له في المُلكِ.“Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan yang terkandung dalam kitab-kitab Allah adalah tauhid ilahiah. Tauhid ilahiah adalah seorang hamba beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Tauhid ilahiah mengandung dua unsur, yaitu:Baca Juga: Tauhid dan KecintaanTauhid al-qaul al-’ilmiTauhid ini memiliki makna penetapan bagi Allah sifat-sifat yang sempurna, menyucikan Allah dari kekurangan-kekurangan, dan menyucikan Allah dari segala sesuatu yang menyerupai atau menyaingi-Nya dalam sifat-sifat Allah. Maka dari itu, Allah tidak disifati sedikit pun dengan kekurangan dan tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya dalam kesempurnaan. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan, “Katakanlah (Muhammad), bahwa Allah adalah Esa. Allah adalah Zat tempat bergantung seluruh makhluk-Nya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan Dia (Allah) tidak ada sesuatu apa pun yang sebanding (semisal) dengan-Nya. Maka, sifat Ash-Shamadiyah yang dimiliki Allah mengandung makna bahwa Allah memiliki kesempurnaan dari segala sisi. Sementara sifat Al-Ahadiyah menegasikan keserupaan sesuatu apa pun terhadap Allah dalam aspek kesempurnaan-Nya sebagaimana yang telah kami jelaskan pada tempat lain.Tauhid al-’amali al-iradiTauhid ini memiliki makna bahwa seorang hamba tidak mengerjakan ibadah, kecuali hanya untuk Allah semata.  Maka, nantinya ia tidak akan berdoa kecuali kepada Allah, tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah, tidak takut kecuali hanya kepada Allah, dan tidak berharap kecuali hanya pada Allah. Sehingga seluruh agamanya (ibadahnya) hanya untuk Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian tidak menyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan (sekali-kali) menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian juga tidak akan menyembah apa yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” Tauhid jenis ini terkandung makna bahwa Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu, Allah adalah Tuhan seluruh alam, Sang Pemilik jagad semesta, dan tidak ada suatu serikat pun yang bersama Allah.” (Ash-Shafadiyah, 2: 228-229)Baca Juga: Makna Kalimat Tauhid “Lailahaillallah”Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H)Ibnul Qayyim rahimahullah juga memiliki pembagian tauhid yang hampir sama dengan gurunya (Ibnu Taimiyyah) dengan membagi tauhid menjadi dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan b) tauhid al-mathlab wa al-qashdu. Pada kesempatan yang sama, Ibnul Qayyim juga menyebutkan nama lain dari dua jenis tauhid tersebut. Ibnul Qayyim menyampaikan pembagian tauhid ini dalam kitab Madarijus Salikin ketika membahas pembagian tauhid yang sebelumnya dipaparkan pembagian tauhid menurut berbagai firqah dalam Islam maupun luar Islam. Adapun beliau rahimahullah berkata,وأمّا التوحيدُ الذي دعتْ رسل الله، نزلتْ بهِ كُتُبُ فوَرَاءَ ذلك كلِّهِ وهو نوعان، تَوْحيدٌ في المعْرفة والإثْباتِ، وتوحيدٌ في المطْلبِ والقصْدفالأوّل: هو حقيقةُ ذاتِ الرّبِّ تعالى، وأسماءه، وصفاته، وأفْعالِه، وعُلُوِّه، فوق سمواتِهِ على عرْشِهِ، وتكلُّمِهِ بِكُتُبِه، وتكْلميهِ لِمنْ شاء منْ عِبادهِ، وإثْبات عمومِ قضاءِهِ، وقَدَره، وحُكْمه، وقد أفصح القرآنُ عن هذا النوعِ جِدَّ الإفصَاحِكما في أوّل سورةِ الحديد، وسورة طه، وآخر سورة الحشْر، وأوَّلُ سورة (تنزيل) السجدة، وأوّل سورة آل عمران، وسورة الإخلاصِ بكمالها، وغير ذلك.النوع الثاني: مِثْلُ ما تضمّنتْهُ سورة: قل يأيها الكافرون)، وقوله: (قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم)، الآية وأوَّلُ سورة سورة (تنزيل الكتاب) وآخِرِها، وأوَّلِ سورة يونس ووسطِها وآخِرِها، وأوّلِ سورةِ الأعراف وآخِرُها، وجُمْلة سورة الأنعامِ وغالبِ سور القرآنِ، بل كلُّ سورةٍ في القرآن فهي متضمنة لنَوعي التوحيدِ.بل نقول قولًا كليًا: إنّ كلَّ آية في القرآن فهي متضمةٌ للتوحيدِ، شاهدةٌ بِهِ، داعيةٌ إليهِ، فإنّ القرآنَ: إمّا خَبَرٌ عن اللهِ، وأسمائه، وصفاته، وأفعالِهِ، فهو التوحيد العلميالخبري، وإمّا دعوةٌ إلى عبادته وحده لا شريك له، وخَلْعُ كلّ ما يُعبدُ من دونِهِ، فهو التوحيد الإراديّ الطلبي، وإمّا أمرٌ ونهيٌ، وإلْزامٌ بطاعته في نهيِهِ وأمره، فهي حقوق التوحيد ومكمَّلاته، وإمّا خبرٌ عَنْ كرامة الله لِأهل توحيده وطاعَتِهِ، وما فعل بهم في الدنيا وما يُكرمُهم به في الآخرة، فهو جزاء توحيده، وإمّا خبر عن أهل الشِرْك، وما فعل بهم في الدنيا من النكال، وما يَحُلُّ بهم في العُقبى من العذاب، فهو خبر عمّنْ خرج عن حكم التوحيد.“Adapun tauhid yang didakwahkan oleh para rasul Allah dan yang dikandung oleh seluruh kitab-kitab Allah terdapat dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan 2) tauhid al-mathlab wa al-qashdu.Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbatTauhid yang pertama ini berisi tentang pembahasan hakikat Zat Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, ketinggian Allah di atas langit-langit, yaitu di atas ‘Arsy-Nya, perkataan-perkataan Allah dalam semua kitab-kitab-Nya, pembicaraan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya, penetapan atas seluruh kekuasaan, takdir, dan hukum yang ditetapkan oleh-Nya. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an tentang tauhid ini dengan sangat fasih. Bukti-bukti tauhid ini tergambar pada awal surah Al-Hadid, surah Thaha, akhir dari surah Al-Hasyr, awal dari surah As-Sajdah, akhir surah Ali-Imran, surah Al-Ikhlas seluruhnya, dan lain-lain.Tauhid al-mathlab wa al-qashdiTauhid ini adalah semisal yang dikandung dalam surah Al-Kafirun, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir ,.. ”, juga firman Allah, “Katakanlah (Muhammad), wahai ahlul kitab, marilah kita sama-sama menuju satu seruan (tauhid) yang sama antara kami dengan kalian..”, ayat awal dalam surah Az-Zumar dan bagian akhirnya, awal surah Yunus, bagian tengah, dan akhirnya, awal surah Al-A’raf dan bagian akhirnya, sebagian dari surah Al-An’am, dan kebanyakan dari kandungan surah-surah dalam Al-Qur’an. Bahkan, setiap surah dalam Al-Qur’an berisi dua jenis tauhid di atas.Maka, dapat kita disimpulkan secara global, bahwasanya setiap ayat dalam Al-Qur’an pasti mengandung, menjadi saksi kebenaran ajaran tauhid, serta mengajak untuk bertauhid. Hal ini karena Al-Qur’an isinya tidak lepas dari beberapa hal berikut, yaitu:Pertama, kabar terkait Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah tauhid (jenis pertama) yaitu tauhid al-’ilmi wa al-khabari.Kedua, perintah untuk beribadah kepada Allah semata tanpa dan tidak menyekutukan-Nya, serta membebaskan dari seluruh peribadahan kepada selain Allah. Tauhid ini (jenis kedua) disebut dengan tauhid al-iradi ath-thalabi.Ketiga, syariat perintah dan larangan. Isi dari syariat ini adalah kewajiban menaati Allah dalam perintah dan larangan-Nya. Dua hal ini adalah hak-hak tauhid (yang harus ditunaikan hamba) dan penyempurna tauhid.Keempat, kabar berupa karamah Allah kepada ahli tauhid dan ahli ketaatan, apa yang diperbuat oleh mereka di dunia, dan akhir yang akan mereka dapat berupa pemuliaan dari Allah di akhirat.Kelima, kabar tentang ahli kesyirikan, apa yang mereka perbuat di dunia dari kezaliman, dan akhir yang akan menimpa mereka berupa azab. Isi yang kelima ini adalah kabar dari orang-orang yang telah keluar dari tauhid.” (Madariju As-Salikin baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in/1099)Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H)Al-Hafidz Al-Hakami memiliki nazam yang cukup masyhur yang membahas tema akidah ahlusunah waljamaah. Nazam ini juga disyarah oleh beliau sendiri dalam kitab Ma’arijul Qabul. Beliau dalam nazam dan syarahnya membagi jenis tauhid kepada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi dan 2) tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi. Beliau rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau,التوحيد نوعانالأوَّلُ: التوحيد العِلْمي الخَبَري الإعْتقَادي المتضمِّنُ إثباتَ صفاتِ الكَمال للهِ عزَّ وجلّ وتنزيههُ عن التشْبيهِ والتَمْثيلِ ووتنزيههُ عن صِفات النقصِ، وهو توحيد الربوبيّة.الثاني: التوحيدُ الطّلَبِي القصْدي الإرَادي، وهو عبادةُ الله تعالى وحْده لا شريك له وتجْريد محَبَّته، والإخْلاص له وخوفه ورَجاؤُه والتوكُّل عليه بالرضا به ربًّا وإلهًا ووليا، وأن لا يجعل له عَدْلًا في شيئ من الأشياء، وهو توحيد الألوهية.“Tauhid ada dua macam, yaitu:Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadiYang pertama, tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi adalah tauhid yang terkandung di dalamnya penetapan sifat-sifat sempurna bagi Allah ‘Azza Wajalla dan penyucian Allah dari segala bentuk penyerupaan dan penyamaan Allah (terhadap makhluk), serta penyucian Allah dari segala sifat kurang. Tauhid ini sama dengan tauhid rububiyyah dan asma’ wa sifat.Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Yang kedua, tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi adalah yang berisi tentang perintah untuk beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, memurnikan kecintaan, keikhlasan, rasa takut, rasa harap, dan tawakal kepada-Nya dengan penuh rida bahwa Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah dan Yang Mahapelindung, serta tidak menjadikan sekutu bagi-Nya dalam satu pun bentuk peribadahan. Tauhid ini sama dengan tauhid uluhiyah.” (Ma’ariju Al-Qabul, 1: 121)Baca Juga:Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan TauhidMengenal Tauhid dan Syirik Lebih Dekat***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-Kawariy, Kamilah. 2019 M. Al-Fawaid Al-Masthurah Fii Halli Alfadzi Kitabi A’lami As-Sunnah Al-Manshurah. Beriut: Dar Ibnu Hazm.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. 2011 M. Ash-Shafadiyah. Riyadh: Dar Al-Fadhilah.Al-Hakami, Hafiz bin Ahmad. Ma’ariju Al-Qabul Bi Syarhi Sullam Al-Wushul Ila ‘Ilmi Al-Ushul Fi At-Tauhid. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Al-Jauziyah, Muhammad bin Abu Bakr bin Al-Qayyim. Madariju As-Salikin Baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in. Al-Azhar: Dar Al-’Alamiyah.🔍 Tawakal, Berdoalah, Minal Aid, Cara Mandi Janabat, Nafkah AnakTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islambelajar tauhidibadahkeutamaan tauhidManhajmanhaj slafnasihatnasihat islamTauhid

Bayangkan: Seperti Inilah Cara Minumnya Penduduk Neraka – Sy Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

فَشَارِبُوْنَ شُرْبَatau (شَرْبَ)atau (شِرْبَ).Ini adalah tiga dialek dalam kata ini. Seperti dalam ayat lainnya:(لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ)Sedangkan (شَرْبٌ) dengan huruf syin berharakat fathah, maknanya adalah sekelompok orang yang sedang minum sesuatu. Mereka disebut dengan (شَرْبٌ)Adapun (الشُّرْبُ) adalah bentuk masdar (kata dasar) dari kata kerja (شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا). “Ia meminum air”, dan kata dasarnya (شَرْبًا) dan (شُرْبًا).Dikatakan, huruf syin (ش) dengan harakat fathah dan dhammah adalah kata dasar. Ibnu Malik rahimahullah mengatakan, “Kata (فَعْلٌ) adalah wazan kata dasar dari fi’il muta’addidari fi’il tsulatsi (terdiri dari tiga huruf dasar), seperti kata (رَدَّ رَدًّا).”Bentuk asal kata masdarnya adalah dengan fathah. Adapun (الشُّرْبُ) adalah isim masdar. Dalam kata ini dikatakan bahwa keduanya adalah masdar, (شَرِبَ شًرْبًا وَشُرْبًا)Dengan huruf syin (ش) yang berharakat fathah dan dhammah adalah masdar.Yakni Ibnu Katsir, Ibnu ‘Amir, Abu Amr, dan al-Kisa’i membaca ayat ini dengan harakat fathah,Sedangkan perawi qiraat lainnya membacanya dengan harakat dhammah. Sedangkan kata (الْهِيْم) berarti unta yang sangat kehausan.Makna asalnya adalah unta yang berjalan tersesat tanpa tahu arah tujuandi padang pasir, tanah lapang, dan daerah gersang tak berpenghuni. Unta itu berjalan tanpa arah tujuan sehingga mengakibatkannya sangat kehausan.Ketika unta itu sampai ke sumber air, ia minum sebanyak-banyaknya.Oleh sebab itu dikatakan, makna kata (الْهِيْم) yakni unta yang sangat kehausan. ==== فَشَارِبُوْنَ شُرْبَ أَوْ شَرْبَ أَوْ شِرْبَ هَذِهِ الثَّلَاثُ اللُّغَاتُ فِي هَذِهِ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ وَشَرْبٌ بِفَتْحِ الشِّينِ هُمُ الْجَمَاعَةُ الشُّرَّابُ الَّذِيْنَ يَشْرَبُوْنَ يُقَالُ لَهُمْ شَرْبٌ وَالشُّرْبُ يُقَالُ الْمَصْدَرُ شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا شَرِبَ الْمَاءَ وَسَيَشْرَبُهُ شَرْبًا وَشُرْبًا يَقُولُ بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ وَابْنُ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ فَعْلٌ قِيَاسُ الْمَصْدَرِ الْمُعَدَّى مِنْ ذِي ثَلَاثَةٍ كَرَدَّ رَدًّا الْأَصْلُ الْفَتْحُ فِي الْمَصْدَرِ وَالشُّرْبُ اسْمُ الْمَصْدَرِ وَهُنَا يَقُولُ كِلَاهُمَا مَصْدَرٌ شَرِبَ شَرْبًا وَشُرْبًا بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ يَعْنِي بِالْفَتْحِ قَرَأَ ابْنُ كَثِيرٍ وَابْنُ عَامِرٍ وَأَبُو عَمْرٍو وَالْكِسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ قَرَؤُوْا بِالضَّمِّ شُرْبٌ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ الْأَصْلُ فِيهَا أَنَّهَا الْإِبِلُ الْهَائِمَةُ عَلَى وَجْهِهَا فِي الصَّحَارِي وَالْبَرَارِيِّ وَالْقِفَارِ هَائِمَةٌ عَلَى وَجْهِهَا وَيَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ الْعَطَشُ الشَّدِيدُ فَإِذَا وَصِلَتْ إِلَى الْمَاءِ شَرِبَتْ شُرْبًا كَثِيرًا وَلِذَا قَالَ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bayangkan: Seperti Inilah Cara Minumnya Penduduk Neraka – Sy Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

فَشَارِبُوْنَ شُرْبَatau (شَرْبَ)atau (شِرْبَ).Ini adalah tiga dialek dalam kata ini. Seperti dalam ayat lainnya:(لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ)Sedangkan (شَرْبٌ) dengan huruf syin berharakat fathah, maknanya adalah sekelompok orang yang sedang minum sesuatu. Mereka disebut dengan (شَرْبٌ)Adapun (الشُّرْبُ) adalah bentuk masdar (kata dasar) dari kata kerja (شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا). “Ia meminum air”, dan kata dasarnya (شَرْبًا) dan (شُرْبًا).Dikatakan, huruf syin (ش) dengan harakat fathah dan dhammah adalah kata dasar. Ibnu Malik rahimahullah mengatakan, “Kata (فَعْلٌ) adalah wazan kata dasar dari fi’il muta’addidari fi’il tsulatsi (terdiri dari tiga huruf dasar), seperti kata (رَدَّ رَدًّا).”Bentuk asal kata masdarnya adalah dengan fathah. Adapun (الشُّرْبُ) adalah isim masdar. Dalam kata ini dikatakan bahwa keduanya adalah masdar, (شَرِبَ شًرْبًا وَشُرْبًا)Dengan huruf syin (ش) yang berharakat fathah dan dhammah adalah masdar.Yakni Ibnu Katsir, Ibnu ‘Amir, Abu Amr, dan al-Kisa’i membaca ayat ini dengan harakat fathah,Sedangkan perawi qiraat lainnya membacanya dengan harakat dhammah. Sedangkan kata (الْهِيْم) berarti unta yang sangat kehausan.Makna asalnya adalah unta yang berjalan tersesat tanpa tahu arah tujuandi padang pasir, tanah lapang, dan daerah gersang tak berpenghuni. Unta itu berjalan tanpa arah tujuan sehingga mengakibatkannya sangat kehausan.Ketika unta itu sampai ke sumber air, ia minum sebanyak-banyaknya.Oleh sebab itu dikatakan, makna kata (الْهِيْم) yakni unta yang sangat kehausan. ==== فَشَارِبُوْنَ شُرْبَ أَوْ شَرْبَ أَوْ شِرْبَ هَذِهِ الثَّلَاثُ اللُّغَاتُ فِي هَذِهِ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ وَشَرْبٌ بِفَتْحِ الشِّينِ هُمُ الْجَمَاعَةُ الشُّرَّابُ الَّذِيْنَ يَشْرَبُوْنَ يُقَالُ لَهُمْ شَرْبٌ وَالشُّرْبُ يُقَالُ الْمَصْدَرُ شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا شَرِبَ الْمَاءَ وَسَيَشْرَبُهُ شَرْبًا وَشُرْبًا يَقُولُ بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ وَابْنُ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ فَعْلٌ قِيَاسُ الْمَصْدَرِ الْمُعَدَّى مِنْ ذِي ثَلَاثَةٍ كَرَدَّ رَدًّا الْأَصْلُ الْفَتْحُ فِي الْمَصْدَرِ وَالشُّرْبُ اسْمُ الْمَصْدَرِ وَهُنَا يَقُولُ كِلَاهُمَا مَصْدَرٌ شَرِبَ شَرْبًا وَشُرْبًا بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ يَعْنِي بِالْفَتْحِ قَرَأَ ابْنُ كَثِيرٍ وَابْنُ عَامِرٍ وَأَبُو عَمْرٍو وَالْكِسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ قَرَؤُوْا بِالضَّمِّ شُرْبٌ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ الْأَصْلُ فِيهَا أَنَّهَا الْإِبِلُ الْهَائِمَةُ عَلَى وَجْهِهَا فِي الصَّحَارِي وَالْبَرَارِيِّ وَالْقِفَارِ هَائِمَةٌ عَلَى وَجْهِهَا وَيَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ الْعَطَشُ الشَّدِيدُ فَإِذَا وَصِلَتْ إِلَى الْمَاءِ شَرِبَتْ شُرْبًا كَثِيرًا وَلِذَا قَالَ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
فَشَارِبُوْنَ شُرْبَatau (شَرْبَ)atau (شِرْبَ).Ini adalah tiga dialek dalam kata ini. Seperti dalam ayat lainnya:(لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ)Sedangkan (شَرْبٌ) dengan huruf syin berharakat fathah, maknanya adalah sekelompok orang yang sedang minum sesuatu. Mereka disebut dengan (شَرْبٌ)Adapun (الشُّرْبُ) adalah bentuk masdar (kata dasar) dari kata kerja (شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا). “Ia meminum air”, dan kata dasarnya (شَرْبًا) dan (شُرْبًا).Dikatakan, huruf syin (ش) dengan harakat fathah dan dhammah adalah kata dasar. Ibnu Malik rahimahullah mengatakan, “Kata (فَعْلٌ) adalah wazan kata dasar dari fi’il muta’addidari fi’il tsulatsi (terdiri dari tiga huruf dasar), seperti kata (رَدَّ رَدًّا).”Bentuk asal kata masdarnya adalah dengan fathah. Adapun (الشُّرْبُ) adalah isim masdar. Dalam kata ini dikatakan bahwa keduanya adalah masdar, (شَرِبَ شًرْبًا وَشُرْبًا)Dengan huruf syin (ش) yang berharakat fathah dan dhammah adalah masdar.Yakni Ibnu Katsir, Ibnu ‘Amir, Abu Amr, dan al-Kisa’i membaca ayat ini dengan harakat fathah,Sedangkan perawi qiraat lainnya membacanya dengan harakat dhammah. Sedangkan kata (الْهِيْم) berarti unta yang sangat kehausan.Makna asalnya adalah unta yang berjalan tersesat tanpa tahu arah tujuandi padang pasir, tanah lapang, dan daerah gersang tak berpenghuni. Unta itu berjalan tanpa arah tujuan sehingga mengakibatkannya sangat kehausan.Ketika unta itu sampai ke sumber air, ia minum sebanyak-banyaknya.Oleh sebab itu dikatakan, makna kata (الْهِيْم) yakni unta yang sangat kehausan. ==== فَشَارِبُوْنَ شُرْبَ أَوْ شَرْبَ أَوْ شِرْبَ هَذِهِ الثَّلَاثُ اللُّغَاتُ فِي هَذِهِ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ وَشَرْبٌ بِفَتْحِ الشِّينِ هُمُ الْجَمَاعَةُ الشُّرَّابُ الَّذِيْنَ يَشْرَبُوْنَ يُقَالُ لَهُمْ شَرْبٌ وَالشُّرْبُ يُقَالُ الْمَصْدَرُ شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا شَرِبَ الْمَاءَ وَسَيَشْرَبُهُ شَرْبًا وَشُرْبًا يَقُولُ بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ وَابْنُ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ فَعْلٌ قِيَاسُ الْمَصْدَرِ الْمُعَدَّى مِنْ ذِي ثَلَاثَةٍ كَرَدَّ رَدًّا الْأَصْلُ الْفَتْحُ فِي الْمَصْدَرِ وَالشُّرْبُ اسْمُ الْمَصْدَرِ وَهُنَا يَقُولُ كِلَاهُمَا مَصْدَرٌ شَرِبَ شَرْبًا وَشُرْبًا بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ يَعْنِي بِالْفَتْحِ قَرَأَ ابْنُ كَثِيرٍ وَابْنُ عَامِرٍ وَأَبُو عَمْرٍو وَالْكِسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ قَرَؤُوْا بِالضَّمِّ شُرْبٌ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ الْأَصْلُ فِيهَا أَنَّهَا الْإِبِلُ الْهَائِمَةُ عَلَى وَجْهِهَا فِي الصَّحَارِي وَالْبَرَارِيِّ وَالْقِفَارِ هَائِمَةٌ عَلَى وَجْهِهَا وَيَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ الْعَطَشُ الشَّدِيدُ فَإِذَا وَصِلَتْ إِلَى الْمَاءِ شَرِبَتْ شُرْبًا كَثِيرًا وَلِذَا قَالَ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


فَشَارِبُوْنَ شُرْبَatau (شَرْبَ)atau (شِرْبَ).Ini adalah tiga dialek dalam kata ini. Seperti dalam ayat lainnya:(لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ)Sedangkan (شَرْبٌ) dengan huruf syin berharakat fathah, maknanya adalah sekelompok orang yang sedang minum sesuatu. Mereka disebut dengan (شَرْبٌ)Adapun (الشُّرْبُ) adalah bentuk masdar (kata dasar) dari kata kerja (شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا). “Ia meminum air”, dan kata dasarnya (شَرْبًا) dan (شُرْبًا).Dikatakan, huruf syin (ش) dengan harakat fathah dan dhammah adalah kata dasar. Ibnu Malik rahimahullah mengatakan, “Kata (فَعْلٌ) adalah wazan kata dasar dari fi’il muta’addidari fi’il tsulatsi (terdiri dari tiga huruf dasar), seperti kata (رَدَّ رَدًّا).”Bentuk asal kata masdarnya adalah dengan fathah. Adapun (الشُّرْبُ) adalah isim masdar. Dalam kata ini dikatakan bahwa keduanya adalah masdar, (شَرِبَ شًرْبًا وَشُرْبًا)Dengan huruf syin (ش) yang berharakat fathah dan dhammah adalah masdar.Yakni Ibnu Katsir, Ibnu ‘Amir, Abu Amr, dan al-Kisa’i membaca ayat ini dengan harakat fathah,Sedangkan perawi qiraat lainnya membacanya dengan harakat dhammah. Sedangkan kata (الْهِيْم) berarti unta yang sangat kehausan.Makna asalnya adalah unta yang berjalan tersesat tanpa tahu arah tujuandi padang pasir, tanah lapang, dan daerah gersang tak berpenghuni. Unta itu berjalan tanpa arah tujuan sehingga mengakibatkannya sangat kehausan.Ketika unta itu sampai ke sumber air, ia minum sebanyak-banyaknya.Oleh sebab itu dikatakan, makna kata (الْهِيْم) yakni unta yang sangat kehausan. ==== فَشَارِبُوْنَ شُرْبَ أَوْ شَرْبَ أَوْ شِرْبَ هَذِهِ الثَّلَاثُ اللُّغَاتُ فِي هَذِهِ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ وَشَرْبٌ بِفَتْحِ الشِّينِ هُمُ الْجَمَاعَةُ الشُّرَّابُ الَّذِيْنَ يَشْرَبُوْنَ يُقَالُ لَهُمْ شَرْبٌ وَالشُّرْبُ يُقَالُ الْمَصْدَرُ شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا شَرِبَ الْمَاءَ وَسَيَشْرَبُهُ شَرْبًا وَشُرْبًا يَقُولُ بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ وَابْنُ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ فَعْلٌ قِيَاسُ الْمَصْدَرِ الْمُعَدَّى مِنْ ذِي ثَلَاثَةٍ كَرَدَّ رَدًّا الْأَصْلُ الْفَتْحُ فِي الْمَصْدَرِ وَالشُّرْبُ اسْمُ الْمَصْدَرِ وَهُنَا يَقُولُ كِلَاهُمَا مَصْدَرٌ شَرِبَ شَرْبًا وَشُرْبًا بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ يَعْنِي بِالْفَتْحِ قَرَأَ ابْنُ كَثِيرٍ وَابْنُ عَامِرٍ وَأَبُو عَمْرٍو وَالْكِسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ قَرَؤُوْا بِالضَّمِّ شُرْبٌ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ الْأَصْلُ فِيهَا أَنَّهَا الْإِبِلُ الْهَائِمَةُ عَلَى وَجْهِهَا فِي الصَّحَارِي وَالْبَرَارِيِّ وَالْقِفَارِ هَائِمَةٌ عَلَى وَجْهِهَا وَيَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ الْعَطَشُ الشَّدِيدُ فَإِذَا وَصِلَتْ إِلَى الْمَاءِ شَرِبَتْ شُرْبًا كَثِيرًا وَلِذَا قَالَ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Sebab Terbesar Mengapa Sahabat Generasi Terbaik – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Dahulu para sahabattidak melewati sepuluh ayat al-Quranhingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.Ikatan antara sahabat dengan al-Quranadalah salah satu sebab utama keunggulan mereka. Mengapa para sahabat menjadi generasi terbaik dan paling mulia?Karena mereka memiliki ikatan dan pengagungan terhadap al-Quranyang tidak dimiliki orang lain,di samping karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka. Tidak diragukan bahwa Nabi bersama mereka adalah sebab terbesarnya,selain itu juga karena ikatan mereka dengan al-Quran.Mereka tidak melewati sepuluh ayat hingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka menadaburi al-Qurandengan tadabur yang membuahkan amal.Urwah bin az-Zubair berkata,“Aku berkata kepada nenekku, Asma’ binti Abu Bakar,bagaimana keadaan para sahabat Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamsaat dibacakan al-Quran kepada mereka?”Dia menjawab, “Mereka seperti yang Allah sifatkan pada mereka;mata mereka berlinang air mata dan badan mereka gemetar.” Fakta ini jelas tergambardalam kisah dan biografi mereka.Abu Bakar—semoga Allah meridainya—ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,“Perintahkan Abu Bakar untuk salat mengimami orang-orang.” Yakni, di akhir hayat beliau saat menderita sakit menjelang kematiannya.Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah,sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Jika dia membaca al-Quran, dia akan menangis,hingga orang-orang tidak mengerti bacaannya. Suruh Umar saja!”Meskipun ucapannya ini sebenarnya punya maksud lain.Namun ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar.Ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar,yakni jika dia membaca al-Quran,dia menangis dan tidak bisa menguasai dirinya. Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Tentu saja yang dimaksud oleh Aisyah—semoga Allah meridainya—bahwa dia tidak ingin Abu Bakar mengimami orang-orangsetelah Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, karena jika ada seseorang yang menonjol lalu seseorang datang setelahnya,maka orang-orang akan cenderung dengan yang datang setelahnya tersebut.Jadi, dia tidak ingin ayahnya yang jadi imam.Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memahami maksudnya,lantas Nabi bersabda, “Kalian itu seperti wanita-wanita di zaman Yusuf! Suruh Abu Bakar salat mengimami orang-orang!”Namun, intinya bahwa Abu Bakar sudah terkenal demikian,hampir-hampir tidak dimengerti bacaan al-Qurannyakarena sering menangis. Begitu juga Umar—semoga Allah meridainya—dan sahabat yang lain juga begitu,sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang lain.Mereka memiliki ikatan yang luar biasa dengan al-Quran ini. ===== وَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَتَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا وَارْتِبَاطُ الصَّحَابَةِ بِالْقُرْآنِ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ تَمَيُّزِهِمْ لِمَاذَا كَانَ الصَّحَابَةُ هُمْ خَيْرُ الْقُرُونِ وَهُمْ أَفْضَلُ الْقُرُونِ؟ لِأَنَّ عِنْدَهُمْ مِنَ الْارْتِبَاطِ بِالْقُرْآنِ وَالتَّعْظِيمِ مَا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِهِمْ مَعَ كَوْنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَيْنَ ظَهْرَانِيهِمْ فَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا يَعْنِي سَبَبٌ كَبِيرٌ لَكِنْ أَيْضًا ارْتِبَاطُهُمْ بِالْقُرَآنِ كَانُوا لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَهُمْ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ تَدَبُّرًا يُثْمِرُ الْعَمَلَ قَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ قُلْتُ لِجَدَّتِي أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ كَيْفَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ؟ قَالَتْ: كَانُوْا كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُودُهُمْ وَهَذَا أَمْرٌ ظَاهِرٌ فِي سِيَرِهِمْ وَتَرَاجِمِهِمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ لَمَّا مَرِضَ مَرَضَ الْمَوْتِ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيْفٌ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ بَكَى فَلَا يَعْرِفُ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ فَمُرْ عُمَرَ وَكَانَ لَهَا مَقْصِدٌ آخَرُ يَعْنِي لَكِنَّ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ كَانَ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يَبْكِي وَلَا يَمْلِكُ نَفْسَهُ فَكَانَ رَجُلًا بَكَّاءً طَبْعًا كَانَ مَقْصُودُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا تُرِيدُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ يَؤُمُّ النَّاسَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّهُ إِذَا كَانَ هُنَاكَ إِنْسَانٌ مُتَمَيِّزٌ وَأَتَى وَاحِدٌ بَعْدَهُ النَّاسُ اسْتَهَلَّ فِي الَّذِي بَعْدَهُ فَتُرِيدُ مَا يَكُونُ أَبُوهَا فَفَهِمَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَصْدَهَا وَقَالَ: إِنَّكُنَّ صُوَيْحَبَاتُ يُوسُفَ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيَؤُمَّ النَّاسَ لَكِنَّ الشَّاهِدَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ عُرِفَ عَنْهُ هَذَا لَا تَكَادُ تُعْرَفُ قِرَاءَتُهُ لِلْقُرْآنِ مِنْ كَثْرَةِ الْبُكَاءِ وَهَكَذَا عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَهَكَذَا أَيْضًا بَقِيَّةُ أَصْحَابٍ بَقِيَّةُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوْا عَلَى ارْتِبَاطٍ عَظِيمٍ بِهَذَا الْقُرْآنِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Sebab Terbesar Mengapa Sahabat Generasi Terbaik – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Dahulu para sahabattidak melewati sepuluh ayat al-Quranhingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.Ikatan antara sahabat dengan al-Quranadalah salah satu sebab utama keunggulan mereka. Mengapa para sahabat menjadi generasi terbaik dan paling mulia?Karena mereka memiliki ikatan dan pengagungan terhadap al-Quranyang tidak dimiliki orang lain,di samping karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka. Tidak diragukan bahwa Nabi bersama mereka adalah sebab terbesarnya,selain itu juga karena ikatan mereka dengan al-Quran.Mereka tidak melewati sepuluh ayat hingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka menadaburi al-Qurandengan tadabur yang membuahkan amal.Urwah bin az-Zubair berkata,“Aku berkata kepada nenekku, Asma’ binti Abu Bakar,bagaimana keadaan para sahabat Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamsaat dibacakan al-Quran kepada mereka?”Dia menjawab, “Mereka seperti yang Allah sifatkan pada mereka;mata mereka berlinang air mata dan badan mereka gemetar.” Fakta ini jelas tergambardalam kisah dan biografi mereka.Abu Bakar—semoga Allah meridainya—ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,“Perintahkan Abu Bakar untuk salat mengimami orang-orang.” Yakni, di akhir hayat beliau saat menderita sakit menjelang kematiannya.Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah,sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Jika dia membaca al-Quran, dia akan menangis,hingga orang-orang tidak mengerti bacaannya. Suruh Umar saja!”Meskipun ucapannya ini sebenarnya punya maksud lain.Namun ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar.Ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar,yakni jika dia membaca al-Quran,dia menangis dan tidak bisa menguasai dirinya. Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Tentu saja yang dimaksud oleh Aisyah—semoga Allah meridainya—bahwa dia tidak ingin Abu Bakar mengimami orang-orangsetelah Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, karena jika ada seseorang yang menonjol lalu seseorang datang setelahnya,maka orang-orang akan cenderung dengan yang datang setelahnya tersebut.Jadi, dia tidak ingin ayahnya yang jadi imam.Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memahami maksudnya,lantas Nabi bersabda, “Kalian itu seperti wanita-wanita di zaman Yusuf! Suruh Abu Bakar salat mengimami orang-orang!”Namun, intinya bahwa Abu Bakar sudah terkenal demikian,hampir-hampir tidak dimengerti bacaan al-Qurannyakarena sering menangis. Begitu juga Umar—semoga Allah meridainya—dan sahabat yang lain juga begitu,sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang lain.Mereka memiliki ikatan yang luar biasa dengan al-Quran ini. ===== وَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَتَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا وَارْتِبَاطُ الصَّحَابَةِ بِالْقُرْآنِ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ تَمَيُّزِهِمْ لِمَاذَا كَانَ الصَّحَابَةُ هُمْ خَيْرُ الْقُرُونِ وَهُمْ أَفْضَلُ الْقُرُونِ؟ لِأَنَّ عِنْدَهُمْ مِنَ الْارْتِبَاطِ بِالْقُرْآنِ وَالتَّعْظِيمِ مَا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِهِمْ مَعَ كَوْنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَيْنَ ظَهْرَانِيهِمْ فَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا يَعْنِي سَبَبٌ كَبِيرٌ لَكِنْ أَيْضًا ارْتِبَاطُهُمْ بِالْقُرَآنِ كَانُوا لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَهُمْ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ تَدَبُّرًا يُثْمِرُ الْعَمَلَ قَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ قُلْتُ لِجَدَّتِي أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ كَيْفَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ؟ قَالَتْ: كَانُوْا كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُودُهُمْ وَهَذَا أَمْرٌ ظَاهِرٌ فِي سِيَرِهِمْ وَتَرَاجِمِهِمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ لَمَّا مَرِضَ مَرَضَ الْمَوْتِ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيْفٌ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ بَكَى فَلَا يَعْرِفُ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ فَمُرْ عُمَرَ وَكَانَ لَهَا مَقْصِدٌ آخَرُ يَعْنِي لَكِنَّ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ كَانَ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يَبْكِي وَلَا يَمْلِكُ نَفْسَهُ فَكَانَ رَجُلًا بَكَّاءً طَبْعًا كَانَ مَقْصُودُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا تُرِيدُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ يَؤُمُّ النَّاسَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّهُ إِذَا كَانَ هُنَاكَ إِنْسَانٌ مُتَمَيِّزٌ وَأَتَى وَاحِدٌ بَعْدَهُ النَّاسُ اسْتَهَلَّ فِي الَّذِي بَعْدَهُ فَتُرِيدُ مَا يَكُونُ أَبُوهَا فَفَهِمَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَصْدَهَا وَقَالَ: إِنَّكُنَّ صُوَيْحَبَاتُ يُوسُفَ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيَؤُمَّ النَّاسَ لَكِنَّ الشَّاهِدَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ عُرِفَ عَنْهُ هَذَا لَا تَكَادُ تُعْرَفُ قِرَاءَتُهُ لِلْقُرْآنِ مِنْ كَثْرَةِ الْبُكَاءِ وَهَكَذَا عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَهَكَذَا أَيْضًا بَقِيَّةُ أَصْحَابٍ بَقِيَّةُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوْا عَلَى ارْتِبَاطٍ عَظِيمٍ بِهَذَا الْقُرْآنِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Dahulu para sahabattidak melewati sepuluh ayat al-Quranhingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.Ikatan antara sahabat dengan al-Quranadalah salah satu sebab utama keunggulan mereka. Mengapa para sahabat menjadi generasi terbaik dan paling mulia?Karena mereka memiliki ikatan dan pengagungan terhadap al-Quranyang tidak dimiliki orang lain,di samping karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka. Tidak diragukan bahwa Nabi bersama mereka adalah sebab terbesarnya,selain itu juga karena ikatan mereka dengan al-Quran.Mereka tidak melewati sepuluh ayat hingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka menadaburi al-Qurandengan tadabur yang membuahkan amal.Urwah bin az-Zubair berkata,“Aku berkata kepada nenekku, Asma’ binti Abu Bakar,bagaimana keadaan para sahabat Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamsaat dibacakan al-Quran kepada mereka?”Dia menjawab, “Mereka seperti yang Allah sifatkan pada mereka;mata mereka berlinang air mata dan badan mereka gemetar.” Fakta ini jelas tergambardalam kisah dan biografi mereka.Abu Bakar—semoga Allah meridainya—ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,“Perintahkan Abu Bakar untuk salat mengimami orang-orang.” Yakni, di akhir hayat beliau saat menderita sakit menjelang kematiannya.Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah,sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Jika dia membaca al-Quran, dia akan menangis,hingga orang-orang tidak mengerti bacaannya. Suruh Umar saja!”Meskipun ucapannya ini sebenarnya punya maksud lain.Namun ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar.Ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar,yakni jika dia membaca al-Quran,dia menangis dan tidak bisa menguasai dirinya. Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Tentu saja yang dimaksud oleh Aisyah—semoga Allah meridainya—bahwa dia tidak ingin Abu Bakar mengimami orang-orangsetelah Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, karena jika ada seseorang yang menonjol lalu seseorang datang setelahnya,maka orang-orang akan cenderung dengan yang datang setelahnya tersebut.Jadi, dia tidak ingin ayahnya yang jadi imam.Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memahami maksudnya,lantas Nabi bersabda, “Kalian itu seperti wanita-wanita di zaman Yusuf! Suruh Abu Bakar salat mengimami orang-orang!”Namun, intinya bahwa Abu Bakar sudah terkenal demikian,hampir-hampir tidak dimengerti bacaan al-Qurannyakarena sering menangis. Begitu juga Umar—semoga Allah meridainya—dan sahabat yang lain juga begitu,sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang lain.Mereka memiliki ikatan yang luar biasa dengan al-Quran ini. ===== وَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَتَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا وَارْتِبَاطُ الصَّحَابَةِ بِالْقُرْآنِ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ تَمَيُّزِهِمْ لِمَاذَا كَانَ الصَّحَابَةُ هُمْ خَيْرُ الْقُرُونِ وَهُمْ أَفْضَلُ الْقُرُونِ؟ لِأَنَّ عِنْدَهُمْ مِنَ الْارْتِبَاطِ بِالْقُرْآنِ وَالتَّعْظِيمِ مَا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِهِمْ مَعَ كَوْنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَيْنَ ظَهْرَانِيهِمْ فَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا يَعْنِي سَبَبٌ كَبِيرٌ لَكِنْ أَيْضًا ارْتِبَاطُهُمْ بِالْقُرَآنِ كَانُوا لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَهُمْ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ تَدَبُّرًا يُثْمِرُ الْعَمَلَ قَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ قُلْتُ لِجَدَّتِي أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ كَيْفَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ؟ قَالَتْ: كَانُوْا كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُودُهُمْ وَهَذَا أَمْرٌ ظَاهِرٌ فِي سِيَرِهِمْ وَتَرَاجِمِهِمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ لَمَّا مَرِضَ مَرَضَ الْمَوْتِ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيْفٌ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ بَكَى فَلَا يَعْرِفُ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ فَمُرْ عُمَرَ وَكَانَ لَهَا مَقْصِدٌ آخَرُ يَعْنِي لَكِنَّ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ كَانَ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يَبْكِي وَلَا يَمْلِكُ نَفْسَهُ فَكَانَ رَجُلًا بَكَّاءً طَبْعًا كَانَ مَقْصُودُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا تُرِيدُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ يَؤُمُّ النَّاسَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّهُ إِذَا كَانَ هُنَاكَ إِنْسَانٌ مُتَمَيِّزٌ وَأَتَى وَاحِدٌ بَعْدَهُ النَّاسُ اسْتَهَلَّ فِي الَّذِي بَعْدَهُ فَتُرِيدُ مَا يَكُونُ أَبُوهَا فَفَهِمَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَصْدَهَا وَقَالَ: إِنَّكُنَّ صُوَيْحَبَاتُ يُوسُفَ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيَؤُمَّ النَّاسَ لَكِنَّ الشَّاهِدَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ عُرِفَ عَنْهُ هَذَا لَا تَكَادُ تُعْرَفُ قِرَاءَتُهُ لِلْقُرْآنِ مِنْ كَثْرَةِ الْبُكَاءِ وَهَكَذَا عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَهَكَذَا أَيْضًا بَقِيَّةُ أَصْحَابٍ بَقِيَّةُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوْا عَلَى ارْتِبَاطٍ عَظِيمٍ بِهَذَا الْقُرْآنِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Dahulu para sahabattidak melewati sepuluh ayat al-Quranhingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.Ikatan antara sahabat dengan al-Quranadalah salah satu sebab utama keunggulan mereka. Mengapa para sahabat menjadi generasi terbaik dan paling mulia?Karena mereka memiliki ikatan dan pengagungan terhadap al-Quranyang tidak dimiliki orang lain,di samping karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka. Tidak diragukan bahwa Nabi bersama mereka adalah sebab terbesarnya,selain itu juga karena ikatan mereka dengan al-Quran.Mereka tidak melewati sepuluh ayat hingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka menadaburi al-Qurandengan tadabur yang membuahkan amal.Urwah bin az-Zubair berkata,“Aku berkata kepada nenekku, Asma’ binti Abu Bakar,bagaimana keadaan para sahabat Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamsaat dibacakan al-Quran kepada mereka?”Dia menjawab, “Mereka seperti yang Allah sifatkan pada mereka;mata mereka berlinang air mata dan badan mereka gemetar.” Fakta ini jelas tergambardalam kisah dan biografi mereka.Abu Bakar—semoga Allah meridainya—ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,“Perintahkan Abu Bakar untuk salat mengimami orang-orang.” Yakni, di akhir hayat beliau saat menderita sakit menjelang kematiannya.Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah,sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Jika dia membaca al-Quran, dia akan menangis,hingga orang-orang tidak mengerti bacaannya. Suruh Umar saja!”Meskipun ucapannya ini sebenarnya punya maksud lain.Namun ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar.Ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar,yakni jika dia membaca al-Quran,dia menangis dan tidak bisa menguasai dirinya. Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Tentu saja yang dimaksud oleh Aisyah—semoga Allah meridainya—bahwa dia tidak ingin Abu Bakar mengimami orang-orangsetelah Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, karena jika ada seseorang yang menonjol lalu seseorang datang setelahnya,maka orang-orang akan cenderung dengan yang datang setelahnya tersebut.Jadi, dia tidak ingin ayahnya yang jadi imam.Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memahami maksudnya,lantas Nabi bersabda, “Kalian itu seperti wanita-wanita di zaman Yusuf! Suruh Abu Bakar salat mengimami orang-orang!”Namun, intinya bahwa Abu Bakar sudah terkenal demikian,hampir-hampir tidak dimengerti bacaan al-Qurannyakarena sering menangis. Begitu juga Umar—semoga Allah meridainya—dan sahabat yang lain juga begitu,sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang lain.Mereka memiliki ikatan yang luar biasa dengan al-Quran ini. ===== وَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَتَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا وَارْتِبَاطُ الصَّحَابَةِ بِالْقُرْآنِ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ تَمَيُّزِهِمْ لِمَاذَا كَانَ الصَّحَابَةُ هُمْ خَيْرُ الْقُرُونِ وَهُمْ أَفْضَلُ الْقُرُونِ؟ لِأَنَّ عِنْدَهُمْ مِنَ الْارْتِبَاطِ بِالْقُرْآنِ وَالتَّعْظِيمِ مَا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِهِمْ مَعَ كَوْنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَيْنَ ظَهْرَانِيهِمْ فَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا يَعْنِي سَبَبٌ كَبِيرٌ لَكِنْ أَيْضًا ارْتِبَاطُهُمْ بِالْقُرَآنِ كَانُوا لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَهُمْ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ تَدَبُّرًا يُثْمِرُ الْعَمَلَ قَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ قُلْتُ لِجَدَّتِي أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ كَيْفَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ؟ قَالَتْ: كَانُوْا كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُودُهُمْ وَهَذَا أَمْرٌ ظَاهِرٌ فِي سِيَرِهِمْ وَتَرَاجِمِهِمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ لَمَّا مَرِضَ مَرَضَ الْمَوْتِ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيْفٌ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ بَكَى فَلَا يَعْرِفُ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ فَمُرْ عُمَرَ وَكَانَ لَهَا مَقْصِدٌ آخَرُ يَعْنِي لَكِنَّ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ كَانَ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يَبْكِي وَلَا يَمْلِكُ نَفْسَهُ فَكَانَ رَجُلًا بَكَّاءً طَبْعًا كَانَ مَقْصُودُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا تُرِيدُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ يَؤُمُّ النَّاسَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّهُ إِذَا كَانَ هُنَاكَ إِنْسَانٌ مُتَمَيِّزٌ وَأَتَى وَاحِدٌ بَعْدَهُ النَّاسُ اسْتَهَلَّ فِي الَّذِي بَعْدَهُ فَتُرِيدُ مَا يَكُونُ أَبُوهَا فَفَهِمَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَصْدَهَا وَقَالَ: إِنَّكُنَّ صُوَيْحَبَاتُ يُوسُفَ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيَؤُمَّ النَّاسَ لَكِنَّ الشَّاهِدَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ عُرِفَ عَنْهُ هَذَا لَا تَكَادُ تُعْرَفُ قِرَاءَتُهُ لِلْقُرْآنِ مِنْ كَثْرَةِ الْبُكَاءِ وَهَكَذَا عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَهَكَذَا أَيْضًا بَقِيَّةُ أَصْحَابٍ بَقِيَّةُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوْا عَلَى ارْتِبَاطٍ عَظِيمٍ بِهَذَا الْقُرْآنِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bagaimana Warna Rambut Nabi Muhammad? – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Ia meriwayatkan, “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dengan sanad sahih, dari Tsabit, dari Anas,Anas berkata, “Tidak ada uban di kepala dan jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamkecuali 17 atau 18 helai uban saja.” Tujuh belas atau delapan belas helai uban.Sedangkan dalam riwayat hadis (pertama tadi), “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Tidak terdapat perselisihan di antara keduanya. Adapun dalam riwayat lain yang menafikan adanya ubanmaka yang dimaksud adalah penafian banyaknya uban, bukan penafian ada tidaknya.Baik. Oleh karenanya, terdapat riwayat sahih dari Anas radhiyallahu ‘anhu,Anas berkata, “Allah tidak membuatnya terlihat jelek dengan uban.” Yakni uban yang terlihat jelas, yang dianggap jelek oleh beberapa kalangan.Tidak diragukan lagi bahwa uban adalah sesuatu yang jelek menurut banyak orang.Terlebih lagi menurut kaum wanita. Namun saat Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Surat Hud dan surat-surat semisalnya membuatku beruban.” Maksudnya bukan uban yang terlihat jelas?Pertama, hadis ini dikenal para ulama sebagai hadis mudhtharib, jadi hadis ini lemah. Meskipun Ibnu Hajar dapat mentarjihkan sebagian hadis dari sebagian riwayat lainnyadan menghilangkan idhthirabnya, serta dinaikkan derajatnya oleh beberapa ulama ke derajat hasan. Jadi, uban di sini dapat memiliki arti harfiah atau maknawi.Uban selain bisa bermakna rambut yang putih, bisa juga bermakna kelemahan fisik.Tidak harus bermakna uban. Dalam riwayat sahih dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak dijadikan Allah terlihat jelek dengan uban.Lalu dalam akhir hadis Said dari Rabi’ah yang telah diisyaratkan sebelumnya dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan bahwa Rabi’ah berkata, “Lalu aku melihat sebagian rambut beliau, dan ternyata warnanya merah …”Yakni yang membenarkan Nabi memiliki uban, memandang maksudnya adalah rambut-rambut merah ini. Ya, (Ia melanjutkan), “… Kemudian aku menanyakan tentang itu. Lalu dijawab, ‘Memerah karena terkena minyak wangi.’”Dari sini, dapat dipahami maksud dari penafian uban.Diriwayatkan juga dalam al-Mustadrak dari jalur Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dan ia dikenal memiliki masalah dalam hafalannya.Ya, Abdullah bin Muhammad bin Aqil dikenal hafalannya buruk.Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi memakai semir rambut?Karena aku melihat sebagian rambut beliau berwarna (tidak hitam).” Anas menjawab, “Rambut yang berwarna itukarena minyak wangi yang dipakai pada rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Itulah yang mengubah warnanya.” Bisa jadi Rabi’ah juga bertanya kepada Anas tentang itu.Sekarang terdapat perbedaan antara riwayat-riwayat ini, antara yang menafikan dan yang menetapkan adanya uban. Ulama yang menafikannya menggunakan riwayat itu untuk makna menafikan uban secara harfiah, atau uban yang banyak dan jelas terlihat.Sedangkan ulama yang menetapkan adanya uban, menetapkan adanya beberapa helai uban saja yang tidak setiap orang dapat melihatnya. Sebagian orang mungkin tidak dapat melihatnya jika jumlahnya hanya dua puluhan, tidak melihatnya dengan jelas.Atau ulama yang menafikannya dengan mengambil hukum mayoritasnya.Penetapan dan penafian ini bisa jadi juga bermuara kepada satu hal yang sama. Rambut-rambut Nabi yang berwarna merah ini,bagi orang yang menetapkannya sebagai ubankarena ia berubah dari warna hitamnya. Sedangkan yang tidak menganggapnya sebagai uban mengatakan karena rambut itu berubah warna akibat minyak wangi,bukan akibat perubahan warna dari hitam ke putih sebagaimana uban pada umumnya. قَوْلُهُ وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ أَخْرَجَ ابْنُ سَعْدٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَا كَانَ فِي رَأْسِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِحْيَتِهِ إِلَّا سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ وَالْحَدِيثُ وَلَيْسَ بِرَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ يَعْنِي لَا اخْتِلَافَ مَا فِيْهِ الِاخْتِلَافُ وَأَمَّا مَا جَاءَ مِنْ نَفْيِ الشَّيْبِ فِي رِوَايَةٍ فَالْمُرَادُ بِهِ نَفْيُ كَثْرَتِهِ لَا أَصْلُهُ نَعَمْ وَمِنْ ثَمَّ صَحَّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ يَعْنِي الشَّيْبُ الْوَاضِحُ الَّذِي يُسْتَقْذَرُ عِنْدَ بَعْضِ الْفِئَاتِ لَا شَكَّ أَنَّهُ الشَّيْبُ شَينٌ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ لَا سِيَّمَا النِّسَاءُ لَكِنْ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا فَمَاذَا أَرَادَ بِهَا لَيْسَ الْمُرَادُ الشَّيْبَ الْوَاضِحَ الظَّاهِرَ؟ أَوَّلًا الْحَدِيثُ مَعْرُوفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مُضْطَرِبٌ فَهُوَ ضَعِيفٌ وَإِنْ كَانَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ تَمَكَّنَ مِنْ تَرْجِيحِ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عَلَى بَعْضٍ وَنَفَى عَنْهُ الِاضْطِرَابَ وَرَقَّاهُ بَعْضُهُمْ إِلَى الْحُسْنِ فَالشَّيْبُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ حِسِّيًّا أَوْ مَعْنَوِيًّا وَالشَّيْبُ كَمَا يَكُونُ بِبَيَاضِ الشَّعْرِ يَكُونُ أَيْضًا بِانْهِدَادِ الْجِسْمِ يَعْنِي ضَعْفٍ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ شَيْبٌ ثَبَتَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ وَجَاءَ بَعْدَ حَدِيثِ سَعِيدٍ عَنْ رَبِيعَةَ الْمُشَارِ إِلَيْهِ سَابِقًا عِنْدَ الْبُخَارِيِّ قَالَ رَبِيعَةُ فَرَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ يَعْنِي مَنْ أَثْبَتَ الشَّيْبَ رَأَى هَذِهِ الشَّعَرَاتِ الْحُمُرَ نَعَمْ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنَ الطِّيبِ وَهُنَا يَتَّجِهُ النَّفْيَ نَعَمْ وَفِي الْمُسْتَدْرَكِ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ وَمَعْرُوفٌ أَنَّهُ فِي حِفْظِهِ شَيْءٌ نَعَمْ سَيِّئُ الْحِفْظِ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ مَعْرُوفٌ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ لِأَنَسٍ هَلْ خَضَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ قَدْ لَوَّنَ فَقَالَ إِنَّ هَذَا الَّذِي لَوَّنَ مِنَ الطِّيبِ الَّذِي كَانَ يُطَيَّبُ بِهِ شَعْرُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ الَّذِي غَيَّرَ لَوْنَهُ وَلَعَلَّ رَبِيعَةَ سَأَلَ أَنَسًا عَنْ ذَلِكَ أَيْضًا الْآنَ فِيهِ اخْتِلَافٌ بَيْنَ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ بَيْنَ نَفْيِ شَيْبٍ وَبَيْنَ إِثْبَاتِهِ مَنْ نَفَاهُ نَفَى بِذَلِكَ الشَّيْبَ الْحَقِيقِيَّ أَوِ الْكَثِيرَ الْوَاضِحَ مَنْ أَثْبَتَهُ أَثْبَتَ شُعَيْرَاتٍ لَا تَبِيْنُ لِجَمِيْعِ النَّاسِ يُمْكِنُ بَعْضُ النَّاسِ مَا تَبِيْنُ لَهُ إِذَا كَانَ الْعَدَدُ مِنَ الْعِشْرِينَ مَا يَبِيْنُ لَوْنُهُ نَعَمْ أَوْ حَكَمَ عَلَى الْغَالِبِ مَنْ نَفَى وَأَيْضًا قَدْ يَرِدُ النَّفْيُ وَالْإِثْبَاتُ إِلَى جِهَةٍ وَاحِدَةٍ هَذِهِ الشَّعَرَاتُ الْحُمُرُ مَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا شَيْبٌ لِأَنَّهَا مُتَغَيِّرَةٌ عَنِ السَّوَادِ وَمَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا لَيْسَتْ بِشَيْبٍ قَالَ إِنَّ تَغَيُّرَهَا بِسَبَبِ الطَّيِّبِ لَا بِسَبَبِ تَغَيُّرِ انْتِقَالِ الشَّيْبِ الشَّعْرِ مِنَ السَّوَادِ إِلَى الْبَيَاضِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ فِي الشَّيْبِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bagaimana Warna Rambut Nabi Muhammad? – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Ia meriwayatkan, “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dengan sanad sahih, dari Tsabit, dari Anas,Anas berkata, “Tidak ada uban di kepala dan jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamkecuali 17 atau 18 helai uban saja.” Tujuh belas atau delapan belas helai uban.Sedangkan dalam riwayat hadis (pertama tadi), “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Tidak terdapat perselisihan di antara keduanya. Adapun dalam riwayat lain yang menafikan adanya ubanmaka yang dimaksud adalah penafian banyaknya uban, bukan penafian ada tidaknya.Baik. Oleh karenanya, terdapat riwayat sahih dari Anas radhiyallahu ‘anhu,Anas berkata, “Allah tidak membuatnya terlihat jelek dengan uban.” Yakni uban yang terlihat jelas, yang dianggap jelek oleh beberapa kalangan.Tidak diragukan lagi bahwa uban adalah sesuatu yang jelek menurut banyak orang.Terlebih lagi menurut kaum wanita. Namun saat Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Surat Hud dan surat-surat semisalnya membuatku beruban.” Maksudnya bukan uban yang terlihat jelas?Pertama, hadis ini dikenal para ulama sebagai hadis mudhtharib, jadi hadis ini lemah. Meskipun Ibnu Hajar dapat mentarjihkan sebagian hadis dari sebagian riwayat lainnyadan menghilangkan idhthirabnya, serta dinaikkan derajatnya oleh beberapa ulama ke derajat hasan. Jadi, uban di sini dapat memiliki arti harfiah atau maknawi.Uban selain bisa bermakna rambut yang putih, bisa juga bermakna kelemahan fisik.Tidak harus bermakna uban. Dalam riwayat sahih dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak dijadikan Allah terlihat jelek dengan uban.Lalu dalam akhir hadis Said dari Rabi’ah yang telah diisyaratkan sebelumnya dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan bahwa Rabi’ah berkata, “Lalu aku melihat sebagian rambut beliau, dan ternyata warnanya merah …”Yakni yang membenarkan Nabi memiliki uban, memandang maksudnya adalah rambut-rambut merah ini. Ya, (Ia melanjutkan), “… Kemudian aku menanyakan tentang itu. Lalu dijawab, ‘Memerah karena terkena minyak wangi.’”Dari sini, dapat dipahami maksud dari penafian uban.Diriwayatkan juga dalam al-Mustadrak dari jalur Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dan ia dikenal memiliki masalah dalam hafalannya.Ya, Abdullah bin Muhammad bin Aqil dikenal hafalannya buruk.Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi memakai semir rambut?Karena aku melihat sebagian rambut beliau berwarna (tidak hitam).” Anas menjawab, “Rambut yang berwarna itukarena minyak wangi yang dipakai pada rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Itulah yang mengubah warnanya.” Bisa jadi Rabi’ah juga bertanya kepada Anas tentang itu.Sekarang terdapat perbedaan antara riwayat-riwayat ini, antara yang menafikan dan yang menetapkan adanya uban. Ulama yang menafikannya menggunakan riwayat itu untuk makna menafikan uban secara harfiah, atau uban yang banyak dan jelas terlihat.Sedangkan ulama yang menetapkan adanya uban, menetapkan adanya beberapa helai uban saja yang tidak setiap orang dapat melihatnya. Sebagian orang mungkin tidak dapat melihatnya jika jumlahnya hanya dua puluhan, tidak melihatnya dengan jelas.Atau ulama yang menafikannya dengan mengambil hukum mayoritasnya.Penetapan dan penafian ini bisa jadi juga bermuara kepada satu hal yang sama. Rambut-rambut Nabi yang berwarna merah ini,bagi orang yang menetapkannya sebagai ubankarena ia berubah dari warna hitamnya. Sedangkan yang tidak menganggapnya sebagai uban mengatakan karena rambut itu berubah warna akibat minyak wangi,bukan akibat perubahan warna dari hitam ke putih sebagaimana uban pada umumnya. قَوْلُهُ وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ أَخْرَجَ ابْنُ سَعْدٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَا كَانَ فِي رَأْسِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِحْيَتِهِ إِلَّا سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ وَالْحَدِيثُ وَلَيْسَ بِرَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ يَعْنِي لَا اخْتِلَافَ مَا فِيْهِ الِاخْتِلَافُ وَأَمَّا مَا جَاءَ مِنْ نَفْيِ الشَّيْبِ فِي رِوَايَةٍ فَالْمُرَادُ بِهِ نَفْيُ كَثْرَتِهِ لَا أَصْلُهُ نَعَمْ وَمِنْ ثَمَّ صَحَّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ يَعْنِي الشَّيْبُ الْوَاضِحُ الَّذِي يُسْتَقْذَرُ عِنْدَ بَعْضِ الْفِئَاتِ لَا شَكَّ أَنَّهُ الشَّيْبُ شَينٌ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ لَا سِيَّمَا النِّسَاءُ لَكِنْ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا فَمَاذَا أَرَادَ بِهَا لَيْسَ الْمُرَادُ الشَّيْبَ الْوَاضِحَ الظَّاهِرَ؟ أَوَّلًا الْحَدِيثُ مَعْرُوفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مُضْطَرِبٌ فَهُوَ ضَعِيفٌ وَإِنْ كَانَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ تَمَكَّنَ مِنْ تَرْجِيحِ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عَلَى بَعْضٍ وَنَفَى عَنْهُ الِاضْطِرَابَ وَرَقَّاهُ بَعْضُهُمْ إِلَى الْحُسْنِ فَالشَّيْبُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ حِسِّيًّا أَوْ مَعْنَوِيًّا وَالشَّيْبُ كَمَا يَكُونُ بِبَيَاضِ الشَّعْرِ يَكُونُ أَيْضًا بِانْهِدَادِ الْجِسْمِ يَعْنِي ضَعْفٍ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ شَيْبٌ ثَبَتَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ وَجَاءَ بَعْدَ حَدِيثِ سَعِيدٍ عَنْ رَبِيعَةَ الْمُشَارِ إِلَيْهِ سَابِقًا عِنْدَ الْبُخَارِيِّ قَالَ رَبِيعَةُ فَرَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ يَعْنِي مَنْ أَثْبَتَ الشَّيْبَ رَأَى هَذِهِ الشَّعَرَاتِ الْحُمُرَ نَعَمْ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنَ الطِّيبِ وَهُنَا يَتَّجِهُ النَّفْيَ نَعَمْ وَفِي الْمُسْتَدْرَكِ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ وَمَعْرُوفٌ أَنَّهُ فِي حِفْظِهِ شَيْءٌ نَعَمْ سَيِّئُ الْحِفْظِ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ مَعْرُوفٌ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ لِأَنَسٍ هَلْ خَضَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ قَدْ لَوَّنَ فَقَالَ إِنَّ هَذَا الَّذِي لَوَّنَ مِنَ الطِّيبِ الَّذِي كَانَ يُطَيَّبُ بِهِ شَعْرُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ الَّذِي غَيَّرَ لَوْنَهُ وَلَعَلَّ رَبِيعَةَ سَأَلَ أَنَسًا عَنْ ذَلِكَ أَيْضًا الْآنَ فِيهِ اخْتِلَافٌ بَيْنَ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ بَيْنَ نَفْيِ شَيْبٍ وَبَيْنَ إِثْبَاتِهِ مَنْ نَفَاهُ نَفَى بِذَلِكَ الشَّيْبَ الْحَقِيقِيَّ أَوِ الْكَثِيرَ الْوَاضِحَ مَنْ أَثْبَتَهُ أَثْبَتَ شُعَيْرَاتٍ لَا تَبِيْنُ لِجَمِيْعِ النَّاسِ يُمْكِنُ بَعْضُ النَّاسِ مَا تَبِيْنُ لَهُ إِذَا كَانَ الْعَدَدُ مِنَ الْعِشْرِينَ مَا يَبِيْنُ لَوْنُهُ نَعَمْ أَوْ حَكَمَ عَلَى الْغَالِبِ مَنْ نَفَى وَأَيْضًا قَدْ يَرِدُ النَّفْيُ وَالْإِثْبَاتُ إِلَى جِهَةٍ وَاحِدَةٍ هَذِهِ الشَّعَرَاتُ الْحُمُرُ مَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا شَيْبٌ لِأَنَّهَا مُتَغَيِّرَةٌ عَنِ السَّوَادِ وَمَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا لَيْسَتْ بِشَيْبٍ قَالَ إِنَّ تَغَيُّرَهَا بِسَبَبِ الطَّيِّبِ لَا بِسَبَبِ تَغَيُّرِ انْتِقَالِ الشَّيْبِ الشَّعْرِ مِنَ السَّوَادِ إِلَى الْبَيَاضِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ فِي الشَّيْبِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ia meriwayatkan, “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dengan sanad sahih, dari Tsabit, dari Anas,Anas berkata, “Tidak ada uban di kepala dan jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamkecuali 17 atau 18 helai uban saja.” Tujuh belas atau delapan belas helai uban.Sedangkan dalam riwayat hadis (pertama tadi), “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Tidak terdapat perselisihan di antara keduanya. Adapun dalam riwayat lain yang menafikan adanya ubanmaka yang dimaksud adalah penafian banyaknya uban, bukan penafian ada tidaknya.Baik. Oleh karenanya, terdapat riwayat sahih dari Anas radhiyallahu ‘anhu,Anas berkata, “Allah tidak membuatnya terlihat jelek dengan uban.” Yakni uban yang terlihat jelas, yang dianggap jelek oleh beberapa kalangan.Tidak diragukan lagi bahwa uban adalah sesuatu yang jelek menurut banyak orang.Terlebih lagi menurut kaum wanita. Namun saat Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Surat Hud dan surat-surat semisalnya membuatku beruban.” Maksudnya bukan uban yang terlihat jelas?Pertama, hadis ini dikenal para ulama sebagai hadis mudhtharib, jadi hadis ini lemah. Meskipun Ibnu Hajar dapat mentarjihkan sebagian hadis dari sebagian riwayat lainnyadan menghilangkan idhthirabnya, serta dinaikkan derajatnya oleh beberapa ulama ke derajat hasan. Jadi, uban di sini dapat memiliki arti harfiah atau maknawi.Uban selain bisa bermakna rambut yang putih, bisa juga bermakna kelemahan fisik.Tidak harus bermakna uban. Dalam riwayat sahih dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak dijadikan Allah terlihat jelek dengan uban.Lalu dalam akhir hadis Said dari Rabi’ah yang telah diisyaratkan sebelumnya dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan bahwa Rabi’ah berkata, “Lalu aku melihat sebagian rambut beliau, dan ternyata warnanya merah …”Yakni yang membenarkan Nabi memiliki uban, memandang maksudnya adalah rambut-rambut merah ini. Ya, (Ia melanjutkan), “… Kemudian aku menanyakan tentang itu. Lalu dijawab, ‘Memerah karena terkena minyak wangi.’”Dari sini, dapat dipahami maksud dari penafian uban.Diriwayatkan juga dalam al-Mustadrak dari jalur Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dan ia dikenal memiliki masalah dalam hafalannya.Ya, Abdullah bin Muhammad bin Aqil dikenal hafalannya buruk.Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi memakai semir rambut?Karena aku melihat sebagian rambut beliau berwarna (tidak hitam).” Anas menjawab, “Rambut yang berwarna itukarena minyak wangi yang dipakai pada rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Itulah yang mengubah warnanya.” Bisa jadi Rabi’ah juga bertanya kepada Anas tentang itu.Sekarang terdapat perbedaan antara riwayat-riwayat ini, antara yang menafikan dan yang menetapkan adanya uban. Ulama yang menafikannya menggunakan riwayat itu untuk makna menafikan uban secara harfiah, atau uban yang banyak dan jelas terlihat.Sedangkan ulama yang menetapkan adanya uban, menetapkan adanya beberapa helai uban saja yang tidak setiap orang dapat melihatnya. Sebagian orang mungkin tidak dapat melihatnya jika jumlahnya hanya dua puluhan, tidak melihatnya dengan jelas.Atau ulama yang menafikannya dengan mengambil hukum mayoritasnya.Penetapan dan penafian ini bisa jadi juga bermuara kepada satu hal yang sama. Rambut-rambut Nabi yang berwarna merah ini,bagi orang yang menetapkannya sebagai ubankarena ia berubah dari warna hitamnya. Sedangkan yang tidak menganggapnya sebagai uban mengatakan karena rambut itu berubah warna akibat minyak wangi,bukan akibat perubahan warna dari hitam ke putih sebagaimana uban pada umumnya. قَوْلُهُ وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ أَخْرَجَ ابْنُ سَعْدٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَا كَانَ فِي رَأْسِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِحْيَتِهِ إِلَّا سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ وَالْحَدِيثُ وَلَيْسَ بِرَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ يَعْنِي لَا اخْتِلَافَ مَا فِيْهِ الِاخْتِلَافُ وَأَمَّا مَا جَاءَ مِنْ نَفْيِ الشَّيْبِ فِي رِوَايَةٍ فَالْمُرَادُ بِهِ نَفْيُ كَثْرَتِهِ لَا أَصْلُهُ نَعَمْ وَمِنْ ثَمَّ صَحَّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ يَعْنِي الشَّيْبُ الْوَاضِحُ الَّذِي يُسْتَقْذَرُ عِنْدَ بَعْضِ الْفِئَاتِ لَا شَكَّ أَنَّهُ الشَّيْبُ شَينٌ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ لَا سِيَّمَا النِّسَاءُ لَكِنْ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا فَمَاذَا أَرَادَ بِهَا لَيْسَ الْمُرَادُ الشَّيْبَ الْوَاضِحَ الظَّاهِرَ؟ أَوَّلًا الْحَدِيثُ مَعْرُوفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مُضْطَرِبٌ فَهُوَ ضَعِيفٌ وَإِنْ كَانَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ تَمَكَّنَ مِنْ تَرْجِيحِ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عَلَى بَعْضٍ وَنَفَى عَنْهُ الِاضْطِرَابَ وَرَقَّاهُ بَعْضُهُمْ إِلَى الْحُسْنِ فَالشَّيْبُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ حِسِّيًّا أَوْ مَعْنَوِيًّا وَالشَّيْبُ كَمَا يَكُونُ بِبَيَاضِ الشَّعْرِ يَكُونُ أَيْضًا بِانْهِدَادِ الْجِسْمِ يَعْنِي ضَعْفٍ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ شَيْبٌ ثَبَتَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ وَجَاءَ بَعْدَ حَدِيثِ سَعِيدٍ عَنْ رَبِيعَةَ الْمُشَارِ إِلَيْهِ سَابِقًا عِنْدَ الْبُخَارِيِّ قَالَ رَبِيعَةُ فَرَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ يَعْنِي مَنْ أَثْبَتَ الشَّيْبَ رَأَى هَذِهِ الشَّعَرَاتِ الْحُمُرَ نَعَمْ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنَ الطِّيبِ وَهُنَا يَتَّجِهُ النَّفْيَ نَعَمْ وَفِي الْمُسْتَدْرَكِ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ وَمَعْرُوفٌ أَنَّهُ فِي حِفْظِهِ شَيْءٌ نَعَمْ سَيِّئُ الْحِفْظِ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ مَعْرُوفٌ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ لِأَنَسٍ هَلْ خَضَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ قَدْ لَوَّنَ فَقَالَ إِنَّ هَذَا الَّذِي لَوَّنَ مِنَ الطِّيبِ الَّذِي كَانَ يُطَيَّبُ بِهِ شَعْرُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ الَّذِي غَيَّرَ لَوْنَهُ وَلَعَلَّ رَبِيعَةَ سَأَلَ أَنَسًا عَنْ ذَلِكَ أَيْضًا الْآنَ فِيهِ اخْتِلَافٌ بَيْنَ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ بَيْنَ نَفْيِ شَيْبٍ وَبَيْنَ إِثْبَاتِهِ مَنْ نَفَاهُ نَفَى بِذَلِكَ الشَّيْبَ الْحَقِيقِيَّ أَوِ الْكَثِيرَ الْوَاضِحَ مَنْ أَثْبَتَهُ أَثْبَتَ شُعَيْرَاتٍ لَا تَبِيْنُ لِجَمِيْعِ النَّاسِ يُمْكِنُ بَعْضُ النَّاسِ مَا تَبِيْنُ لَهُ إِذَا كَانَ الْعَدَدُ مِنَ الْعِشْرِينَ مَا يَبِيْنُ لَوْنُهُ نَعَمْ أَوْ حَكَمَ عَلَى الْغَالِبِ مَنْ نَفَى وَأَيْضًا قَدْ يَرِدُ النَّفْيُ وَالْإِثْبَاتُ إِلَى جِهَةٍ وَاحِدَةٍ هَذِهِ الشَّعَرَاتُ الْحُمُرُ مَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا شَيْبٌ لِأَنَّهَا مُتَغَيِّرَةٌ عَنِ السَّوَادِ وَمَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا لَيْسَتْ بِشَيْبٍ قَالَ إِنَّ تَغَيُّرَهَا بِسَبَبِ الطَّيِّبِ لَا بِسَبَبِ تَغَيُّرِ انْتِقَالِ الشَّيْبِ الشَّعْرِ مِنَ السَّوَادِ إِلَى الْبَيَاضِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ فِي الشَّيْبِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ia meriwayatkan, “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dengan sanad sahih, dari Tsabit, dari Anas,Anas berkata, “Tidak ada uban di kepala dan jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamkecuali 17 atau 18 helai uban saja.” Tujuh belas atau delapan belas helai uban.Sedangkan dalam riwayat hadis (pertama tadi), “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Tidak terdapat perselisihan di antara keduanya. Adapun dalam riwayat lain yang menafikan adanya ubanmaka yang dimaksud adalah penafian banyaknya uban, bukan penafian ada tidaknya.Baik. Oleh karenanya, terdapat riwayat sahih dari Anas radhiyallahu ‘anhu,Anas berkata, “Allah tidak membuatnya terlihat jelek dengan uban.” Yakni uban yang terlihat jelas, yang dianggap jelek oleh beberapa kalangan.Tidak diragukan lagi bahwa uban adalah sesuatu yang jelek menurut banyak orang.Terlebih lagi menurut kaum wanita. Namun saat Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Surat Hud dan surat-surat semisalnya membuatku beruban.” Maksudnya bukan uban yang terlihat jelas?Pertama, hadis ini dikenal para ulama sebagai hadis mudhtharib, jadi hadis ini lemah. Meskipun Ibnu Hajar dapat mentarjihkan sebagian hadis dari sebagian riwayat lainnyadan menghilangkan idhthirabnya, serta dinaikkan derajatnya oleh beberapa ulama ke derajat hasan. Jadi, uban di sini dapat memiliki arti harfiah atau maknawi.Uban selain bisa bermakna rambut yang putih, bisa juga bermakna kelemahan fisik.Tidak harus bermakna uban. Dalam riwayat sahih dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak dijadikan Allah terlihat jelek dengan uban.Lalu dalam akhir hadis Said dari Rabi’ah yang telah diisyaratkan sebelumnya dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan bahwa Rabi’ah berkata, “Lalu aku melihat sebagian rambut beliau, dan ternyata warnanya merah …”Yakni yang membenarkan Nabi memiliki uban, memandang maksudnya adalah rambut-rambut merah ini. Ya, (Ia melanjutkan), “… Kemudian aku menanyakan tentang itu. Lalu dijawab, ‘Memerah karena terkena minyak wangi.’”Dari sini, dapat dipahami maksud dari penafian uban.Diriwayatkan juga dalam al-Mustadrak dari jalur Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dan ia dikenal memiliki masalah dalam hafalannya.Ya, Abdullah bin Muhammad bin Aqil dikenal hafalannya buruk.Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi memakai semir rambut?Karena aku melihat sebagian rambut beliau berwarna (tidak hitam).” Anas menjawab, “Rambut yang berwarna itukarena minyak wangi yang dipakai pada rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Itulah yang mengubah warnanya.” Bisa jadi Rabi’ah juga bertanya kepada Anas tentang itu.Sekarang terdapat perbedaan antara riwayat-riwayat ini, antara yang menafikan dan yang menetapkan adanya uban. Ulama yang menafikannya menggunakan riwayat itu untuk makna menafikan uban secara harfiah, atau uban yang banyak dan jelas terlihat.Sedangkan ulama yang menetapkan adanya uban, menetapkan adanya beberapa helai uban saja yang tidak setiap orang dapat melihatnya. Sebagian orang mungkin tidak dapat melihatnya jika jumlahnya hanya dua puluhan, tidak melihatnya dengan jelas.Atau ulama yang menafikannya dengan mengambil hukum mayoritasnya.Penetapan dan penafian ini bisa jadi juga bermuara kepada satu hal yang sama. Rambut-rambut Nabi yang berwarna merah ini,bagi orang yang menetapkannya sebagai ubankarena ia berubah dari warna hitamnya. Sedangkan yang tidak menganggapnya sebagai uban mengatakan karena rambut itu berubah warna akibat minyak wangi,bukan akibat perubahan warna dari hitam ke putih sebagaimana uban pada umumnya. قَوْلُهُ وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ أَخْرَجَ ابْنُ سَعْدٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَا كَانَ فِي رَأْسِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِحْيَتِهِ إِلَّا سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ وَالْحَدِيثُ وَلَيْسَ بِرَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ يَعْنِي لَا اخْتِلَافَ مَا فِيْهِ الِاخْتِلَافُ وَأَمَّا مَا جَاءَ مِنْ نَفْيِ الشَّيْبِ فِي رِوَايَةٍ فَالْمُرَادُ بِهِ نَفْيُ كَثْرَتِهِ لَا أَصْلُهُ نَعَمْ وَمِنْ ثَمَّ صَحَّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ يَعْنِي الشَّيْبُ الْوَاضِحُ الَّذِي يُسْتَقْذَرُ عِنْدَ بَعْضِ الْفِئَاتِ لَا شَكَّ أَنَّهُ الشَّيْبُ شَينٌ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ لَا سِيَّمَا النِّسَاءُ لَكِنْ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا فَمَاذَا أَرَادَ بِهَا لَيْسَ الْمُرَادُ الشَّيْبَ الْوَاضِحَ الظَّاهِرَ؟ أَوَّلًا الْحَدِيثُ مَعْرُوفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مُضْطَرِبٌ فَهُوَ ضَعِيفٌ وَإِنْ كَانَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ تَمَكَّنَ مِنْ تَرْجِيحِ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عَلَى بَعْضٍ وَنَفَى عَنْهُ الِاضْطِرَابَ وَرَقَّاهُ بَعْضُهُمْ إِلَى الْحُسْنِ فَالشَّيْبُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ حِسِّيًّا أَوْ مَعْنَوِيًّا وَالشَّيْبُ كَمَا يَكُونُ بِبَيَاضِ الشَّعْرِ يَكُونُ أَيْضًا بِانْهِدَادِ الْجِسْمِ يَعْنِي ضَعْفٍ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ شَيْبٌ ثَبَتَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ وَجَاءَ بَعْدَ حَدِيثِ سَعِيدٍ عَنْ رَبِيعَةَ الْمُشَارِ إِلَيْهِ سَابِقًا عِنْدَ الْبُخَارِيِّ قَالَ رَبِيعَةُ فَرَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ يَعْنِي مَنْ أَثْبَتَ الشَّيْبَ رَأَى هَذِهِ الشَّعَرَاتِ الْحُمُرَ نَعَمْ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنَ الطِّيبِ وَهُنَا يَتَّجِهُ النَّفْيَ نَعَمْ وَفِي الْمُسْتَدْرَكِ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ وَمَعْرُوفٌ أَنَّهُ فِي حِفْظِهِ شَيْءٌ نَعَمْ سَيِّئُ الْحِفْظِ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ مَعْرُوفٌ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ لِأَنَسٍ هَلْ خَضَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ قَدْ لَوَّنَ فَقَالَ إِنَّ هَذَا الَّذِي لَوَّنَ مِنَ الطِّيبِ الَّذِي كَانَ يُطَيَّبُ بِهِ شَعْرُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ الَّذِي غَيَّرَ لَوْنَهُ وَلَعَلَّ رَبِيعَةَ سَأَلَ أَنَسًا عَنْ ذَلِكَ أَيْضًا الْآنَ فِيهِ اخْتِلَافٌ بَيْنَ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ بَيْنَ نَفْيِ شَيْبٍ وَبَيْنَ إِثْبَاتِهِ مَنْ نَفَاهُ نَفَى بِذَلِكَ الشَّيْبَ الْحَقِيقِيَّ أَوِ الْكَثِيرَ الْوَاضِحَ مَنْ أَثْبَتَهُ أَثْبَتَ شُعَيْرَاتٍ لَا تَبِيْنُ لِجَمِيْعِ النَّاسِ يُمْكِنُ بَعْضُ النَّاسِ مَا تَبِيْنُ لَهُ إِذَا كَانَ الْعَدَدُ مِنَ الْعِشْرِينَ مَا يَبِيْنُ لَوْنُهُ نَعَمْ أَوْ حَكَمَ عَلَى الْغَالِبِ مَنْ نَفَى وَأَيْضًا قَدْ يَرِدُ النَّفْيُ وَالْإِثْبَاتُ إِلَى جِهَةٍ وَاحِدَةٍ هَذِهِ الشَّعَرَاتُ الْحُمُرُ مَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا شَيْبٌ لِأَنَّهَا مُتَغَيِّرَةٌ عَنِ السَّوَادِ وَمَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا لَيْسَتْ بِشَيْبٍ قَالَ إِنَّ تَغَيُّرَهَا بِسَبَبِ الطَّيِّبِ لَا بِسَبَبِ تَغَيُّرِ انْتِقَالِ الشَّيْبِ الشَّعْرِ مِنَ السَّوَادِ إِلَى الْبَيَاضِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ فِي الشَّيْبِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Siapa yang Disebut sebagai Ahlul Bid’ah?

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Secara umum, semua pelaku bid’ah disebut sebagai ahlul bid’ah. Namun secara khusus, yang dimaksud ahlul bid’ah adalah para penyeru kebid’ahan, para tokoh-tokohnya, dan para pelakunya di saat sedang melakukan kebid’ahan. Merekalah ahlul bid’ah yang perlu diwaspadai dan disikapi dengan keras. Adapun orang awam yang ikut-ikutan melakukan bid’ah maka mereka tidak dijauhi dan tidak disikapi dengan keras. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: الداعي إلى البدعة مستحق العقوبة باتفاق المسلمين… ولو قدر أنه لا يستحق العقوبة أو لا يمكن عقوبته، فلابد من بيان بدعته والتحذير منها، فإن هذا من جملة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر الذي أمر الله به ورسوله “Para da’i penyeru kebid’ahan layak untuk dijatuhkan hukum kepada mereka, berdasarkan kesepakatan ulama … andaikan tidak mampu untuk menjatuhkan hukuman kepada mereka maka wajib untuk menjelaskan kebid’ahan mereka dan mentahdzir mereka. Dan ini termasuk dalam amar ma’ruf nahi mungkar yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.” (Majmu’ al-Fatawa, 35/413) Al-Qarafi rahimahullah mengatakan: قال بعض العلماء: استثني من الغيبة ست صور… الرابعة: أرباب البدع والتصانيف المضلة ينبغي أن يشهر الناس فسادها وعيبها وأنهم على غير الصواب، ليحذرها الناس الضعفاء فلا يقعوا فيها، وينفر عن تلك المفاسد ما أمكن، بشرط أن لا يتعدى فيها الصدق ولا يفتري على أهلها من الفسوق والفواحش ما لم يفعلوه، بل يقتصر على ما فيهم من المنفرات خاصة “Para ulama mengatakan bahwa ghibah dikecualikan pada enam keadaan: … yang keempat: tokoh-tokoh kebid’ahan dan para penulis-penulis buku yang menyesatkan yang sudah tersebar di tengah manusia tentang kerusakan mereka dan aib mereka. Dan sudah tersebar bahwa mereka tidak di atas kebenaran. (Mereka boleh dighibahi) agar masyarakat awam tidak terjerumus dalam kebid’ahan dan menjauh dari kerusakan mereka sebisa mungkin. Dengan syarat tidak boleh berlebihan dan tidak membuat kedustaan dengan menuduh mereka melakukan kefasikan atau dosa besar yang tidak mereka lakukan. Namun cukupkan pada perkara kebid’ahan yang harus dihindari saja.” (Al-Furuq, 8/261) Adapun orang-orang awam, demikian juga orang-orang yang jatuh pada kebid’ahan karena ijtihad, atau karena terpengaruh bukan bersengaja, atau orang shalih yang tergelincir, maka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah.  Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah karya Syaikh Dr. Ahmad bin Abdul Aziz al-Hulaibi. Disebutkan di sana beberapa kaidah: Kaidah pertama: memberikan udzur kepada orang shalih dan ulama mujtahid yang terjerumus kepada kebid’ahan karena ijtihad. Dan membawa perkataan mereka kepada kemungkinan yang benar. Kaidah kedua: tidak menyesatkan ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya baik dalam masalah aqidah maupun masalah fikih, serta tidak menyesatkan atau mengkafirkannya. Kaidah ketiga: memberi udzur kepada ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya bukan berarti setuju kepada kekeliruannya dan kebid’ahannya. Bahkan tetap wajib mengingkarinya selama memungkinkan dengan tetap memperhatikan adab-adab. Kaidah keempat: tidak menghukumi orang yang terjerumus pada kebid’ahan sebagai ahlul ahwa dan ahlul bid’ah, serta tidak memusuhi mereka, kecuali kebid’ahan yang mereka lakukan sangat masyhur dan berat menurut para ulama (Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah, hal 67-82). Pada sebuah kesempatan, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah ditanya: “Di antara para penuntut ilmu/santri terdapat perbedaan mengenai definisi mubtadi’ (ahlul bid’ah). Sebagian mereka mengatakan mubtadi’ adalah orang yang mengatakan atau melakukan kebid’ahan, meskipun ia belum paham. Sebagian yang lain berkata bahwa mubtadi’ itu pelaku bid’ah yang sudah dipahamkan bahwa yang dilakukannya adalah bid’ah. Sebagian lagi ada yang membedakan apakah pelaku bid’ah itu ulama mujtahid yang mempelopori kebid’ahan ataukah bukan ulama mujtahid. Dari beberapa pengertian ini kadang timbul vonis bahwa Ibnu Hajar al-Asqalani atau an-Nawawi adalah mubtadi’ tanpa toleransi sedikit pun kepada mereka. Kami meminta kejelasan dari anda yang memiliki pemahaman yang mendalam dalam permasalahan ini. Semoga Allah membalas kebaikan anda.” Beliau menjawab: Pertama, seorang penuntut ilmu agama yang masih pemula atau juga orang awam hendaknya tidak menyibukkan dirinya dalam memvonis seseorang itu mubtadi’ atau seseorang itu fasik. Karena hal ini sangat berbahaya bagi orang yang tidak memiliki ilmu agama yang mendalam tentang masalah ini. Selain itu, menyibukkan diri dalam memvonis mubtadi’ atau fasik akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Maka yang semestinya menjadi kesibukan para penuntut ilmu yang masih pemula atau orang awam adalah: menuntut ilmu agama, dan menahan lisan mereka dari hal-hal yang tidak memberikan faedah bagi mereka. Bahkan menyibukkan diri dalam memvonis tersebut akan menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun bagi yang lain. Kedua, bid’ah adalah perkara yang diada-adakan dalam urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda beliau: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Siapa saja yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini (agama), yang tidak diajarkan oleh agama, maka tertolak.” (HR. Bukhari no.167, dari jalan ‘Aisyah radhiallahu’anha) Jika seseorang berbuat bid’ah karena tidak paham, maka ia dimaafkan karena ketidaktahuannya tersebut dan tidak dihukumi sebagai mubtadi’, namun perbuatannya disebut sebagai perbuatan bid’ah. Ketiga, ulama yang berbuat kesalahan ijtihad berupa ta’wil (sifat-sifat Allah), sebagaimana Ibnu Hajar al-Asqalani dan an-Nawawi yang telah menta’wil beberapa sifat Allah, mereka berdua tidak dihukumi mubtadi’. Camkan baik-baik, mereka berdua telah berbuat kesalahan dalam hal tersebut, namun kita memohonkan ampunan Allah untuk keduanya karena mengingat perjuangan mereka berdua dalam mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka berdua adalah imam besar yang terpercaya dikalangan para ulama. (Muntaqa Fatawa al-Fauzan Jilid 2, fatwa no.181, asy-Syamilah) Contoh zallatul fuqaha adalah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Auza’i mengatakan, نتجنب من قول أهل العراق خمسا ، ومن قول أهل الحجاز خمسا …  فذكر من قول أهل العراق : شرب المسكر ، ومن قول أهل الحجاز : استماع الملاهي، والمتعة بالنساء “Jauhilah 5 pendapat Ahlul Iraq dan 5 pendapat Ahlul Hijaz (Madinah termasuk Hijaz)! Di antara pendapat Ahlul Iraq yang dijauhi adalah pembolehan minuman yang memabukkan. Di antara pendapat Ahlul Hijaz yang dijauhi adalah membolehkan alat musik dan nikah mut’ah.” (Siyar A’lamin Nubala, 7/131) Bagi yang sudah pernah membaca kitab Syarhus Sunnah al-Barbahari tentu sudah mengetahui perkataan Ibnul Mubarak rahimahullah, لا تأخذوا عن أهل الكوفة في الرفض شيئاً ولا عن أهل الشام في السيف شيئاً، ولا عن أهل البصرة في القدر شيئاً، ولا عن أهل خراسان في الإرجاء شيئاً، ولا عن أهل مكة في الصرف شيئاً، ولا عن أهل المدينة في الغناء، لا تأخذوا عنهم في هذه الأشياء شيئاً “Jangan ambil pendapat Ahlul Kufah tentang syiah Rafidhah sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlus Syam tentang pemberontakan sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Bashrah tentang takdir sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Khurasan tentang irja‘ sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlu Makkah tentang transaksi sharf sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Madinah tentang musik sama sekali! Jangan ambil pendapat mereka dalam masalah-masalah ini sama sekali!” Ulama-ulama tersebut keliru dan pendapatnya tidak boleh diikuti, namun mereka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Ta Aruf Yang Benar, Hukum Shalat Tarawih Sendiri, Ashbahan Iran, Doa Setelah Tahajud Dan Witir, Bagaimanakah Bilangan Rakaat Salat Tarawih, Bilal Sholat Tarawih Visited 459 times, 1 visit(s) today Post Views: 503 QRIS donasi Yufid

Siapa yang Disebut sebagai Ahlul Bid’ah?

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Secara umum, semua pelaku bid’ah disebut sebagai ahlul bid’ah. Namun secara khusus, yang dimaksud ahlul bid’ah adalah para penyeru kebid’ahan, para tokoh-tokohnya, dan para pelakunya di saat sedang melakukan kebid’ahan. Merekalah ahlul bid’ah yang perlu diwaspadai dan disikapi dengan keras. Adapun orang awam yang ikut-ikutan melakukan bid’ah maka mereka tidak dijauhi dan tidak disikapi dengan keras. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: الداعي إلى البدعة مستحق العقوبة باتفاق المسلمين… ولو قدر أنه لا يستحق العقوبة أو لا يمكن عقوبته، فلابد من بيان بدعته والتحذير منها، فإن هذا من جملة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر الذي أمر الله به ورسوله “Para da’i penyeru kebid’ahan layak untuk dijatuhkan hukum kepada mereka, berdasarkan kesepakatan ulama … andaikan tidak mampu untuk menjatuhkan hukuman kepada mereka maka wajib untuk menjelaskan kebid’ahan mereka dan mentahdzir mereka. Dan ini termasuk dalam amar ma’ruf nahi mungkar yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.” (Majmu’ al-Fatawa, 35/413) Al-Qarafi rahimahullah mengatakan: قال بعض العلماء: استثني من الغيبة ست صور… الرابعة: أرباب البدع والتصانيف المضلة ينبغي أن يشهر الناس فسادها وعيبها وأنهم على غير الصواب، ليحذرها الناس الضعفاء فلا يقعوا فيها، وينفر عن تلك المفاسد ما أمكن، بشرط أن لا يتعدى فيها الصدق ولا يفتري على أهلها من الفسوق والفواحش ما لم يفعلوه، بل يقتصر على ما فيهم من المنفرات خاصة “Para ulama mengatakan bahwa ghibah dikecualikan pada enam keadaan: … yang keempat: tokoh-tokoh kebid’ahan dan para penulis-penulis buku yang menyesatkan yang sudah tersebar di tengah manusia tentang kerusakan mereka dan aib mereka. Dan sudah tersebar bahwa mereka tidak di atas kebenaran. (Mereka boleh dighibahi) agar masyarakat awam tidak terjerumus dalam kebid’ahan dan menjauh dari kerusakan mereka sebisa mungkin. Dengan syarat tidak boleh berlebihan dan tidak membuat kedustaan dengan menuduh mereka melakukan kefasikan atau dosa besar yang tidak mereka lakukan. Namun cukupkan pada perkara kebid’ahan yang harus dihindari saja.” (Al-Furuq, 8/261) Adapun orang-orang awam, demikian juga orang-orang yang jatuh pada kebid’ahan karena ijtihad, atau karena terpengaruh bukan bersengaja, atau orang shalih yang tergelincir, maka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah.  Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah karya Syaikh Dr. Ahmad bin Abdul Aziz al-Hulaibi. Disebutkan di sana beberapa kaidah: Kaidah pertama: memberikan udzur kepada orang shalih dan ulama mujtahid yang terjerumus kepada kebid’ahan karena ijtihad. Dan membawa perkataan mereka kepada kemungkinan yang benar. Kaidah kedua: tidak menyesatkan ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya baik dalam masalah aqidah maupun masalah fikih, serta tidak menyesatkan atau mengkafirkannya. Kaidah ketiga: memberi udzur kepada ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya bukan berarti setuju kepada kekeliruannya dan kebid’ahannya. Bahkan tetap wajib mengingkarinya selama memungkinkan dengan tetap memperhatikan adab-adab. Kaidah keempat: tidak menghukumi orang yang terjerumus pada kebid’ahan sebagai ahlul ahwa dan ahlul bid’ah, serta tidak memusuhi mereka, kecuali kebid’ahan yang mereka lakukan sangat masyhur dan berat menurut para ulama (Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah, hal 67-82). Pada sebuah kesempatan, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah ditanya: “Di antara para penuntut ilmu/santri terdapat perbedaan mengenai definisi mubtadi’ (ahlul bid’ah). Sebagian mereka mengatakan mubtadi’ adalah orang yang mengatakan atau melakukan kebid’ahan, meskipun ia belum paham. Sebagian yang lain berkata bahwa mubtadi’ itu pelaku bid’ah yang sudah dipahamkan bahwa yang dilakukannya adalah bid’ah. Sebagian lagi ada yang membedakan apakah pelaku bid’ah itu ulama mujtahid yang mempelopori kebid’ahan ataukah bukan ulama mujtahid. Dari beberapa pengertian ini kadang timbul vonis bahwa Ibnu Hajar al-Asqalani atau an-Nawawi adalah mubtadi’ tanpa toleransi sedikit pun kepada mereka. Kami meminta kejelasan dari anda yang memiliki pemahaman yang mendalam dalam permasalahan ini. Semoga Allah membalas kebaikan anda.” Beliau menjawab: Pertama, seorang penuntut ilmu agama yang masih pemula atau juga orang awam hendaknya tidak menyibukkan dirinya dalam memvonis seseorang itu mubtadi’ atau seseorang itu fasik. Karena hal ini sangat berbahaya bagi orang yang tidak memiliki ilmu agama yang mendalam tentang masalah ini. Selain itu, menyibukkan diri dalam memvonis mubtadi’ atau fasik akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Maka yang semestinya menjadi kesibukan para penuntut ilmu yang masih pemula atau orang awam adalah: menuntut ilmu agama, dan menahan lisan mereka dari hal-hal yang tidak memberikan faedah bagi mereka. Bahkan menyibukkan diri dalam memvonis tersebut akan menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun bagi yang lain. Kedua, bid’ah adalah perkara yang diada-adakan dalam urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda beliau: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Siapa saja yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini (agama), yang tidak diajarkan oleh agama, maka tertolak.” (HR. Bukhari no.167, dari jalan ‘Aisyah radhiallahu’anha) Jika seseorang berbuat bid’ah karena tidak paham, maka ia dimaafkan karena ketidaktahuannya tersebut dan tidak dihukumi sebagai mubtadi’, namun perbuatannya disebut sebagai perbuatan bid’ah. Ketiga, ulama yang berbuat kesalahan ijtihad berupa ta’wil (sifat-sifat Allah), sebagaimana Ibnu Hajar al-Asqalani dan an-Nawawi yang telah menta’wil beberapa sifat Allah, mereka berdua tidak dihukumi mubtadi’. Camkan baik-baik, mereka berdua telah berbuat kesalahan dalam hal tersebut, namun kita memohonkan ampunan Allah untuk keduanya karena mengingat perjuangan mereka berdua dalam mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka berdua adalah imam besar yang terpercaya dikalangan para ulama. (Muntaqa Fatawa al-Fauzan Jilid 2, fatwa no.181, asy-Syamilah) Contoh zallatul fuqaha adalah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Auza’i mengatakan, نتجنب من قول أهل العراق خمسا ، ومن قول أهل الحجاز خمسا …  فذكر من قول أهل العراق : شرب المسكر ، ومن قول أهل الحجاز : استماع الملاهي، والمتعة بالنساء “Jauhilah 5 pendapat Ahlul Iraq dan 5 pendapat Ahlul Hijaz (Madinah termasuk Hijaz)! Di antara pendapat Ahlul Iraq yang dijauhi adalah pembolehan minuman yang memabukkan. Di antara pendapat Ahlul Hijaz yang dijauhi adalah membolehkan alat musik dan nikah mut’ah.” (Siyar A’lamin Nubala, 7/131) Bagi yang sudah pernah membaca kitab Syarhus Sunnah al-Barbahari tentu sudah mengetahui perkataan Ibnul Mubarak rahimahullah, لا تأخذوا عن أهل الكوفة في الرفض شيئاً ولا عن أهل الشام في السيف شيئاً، ولا عن أهل البصرة في القدر شيئاً، ولا عن أهل خراسان في الإرجاء شيئاً، ولا عن أهل مكة في الصرف شيئاً، ولا عن أهل المدينة في الغناء، لا تأخذوا عنهم في هذه الأشياء شيئاً “Jangan ambil pendapat Ahlul Kufah tentang syiah Rafidhah sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlus Syam tentang pemberontakan sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Bashrah tentang takdir sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Khurasan tentang irja‘ sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlu Makkah tentang transaksi sharf sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Madinah tentang musik sama sekali! Jangan ambil pendapat mereka dalam masalah-masalah ini sama sekali!” Ulama-ulama tersebut keliru dan pendapatnya tidak boleh diikuti, namun mereka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Ta Aruf Yang Benar, Hukum Shalat Tarawih Sendiri, Ashbahan Iran, Doa Setelah Tahajud Dan Witir, Bagaimanakah Bilangan Rakaat Salat Tarawih, Bilal Sholat Tarawih Visited 459 times, 1 visit(s) today Post Views: 503 QRIS donasi Yufid
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Secara umum, semua pelaku bid’ah disebut sebagai ahlul bid’ah. Namun secara khusus, yang dimaksud ahlul bid’ah adalah para penyeru kebid’ahan, para tokoh-tokohnya, dan para pelakunya di saat sedang melakukan kebid’ahan. Merekalah ahlul bid’ah yang perlu diwaspadai dan disikapi dengan keras. Adapun orang awam yang ikut-ikutan melakukan bid’ah maka mereka tidak dijauhi dan tidak disikapi dengan keras. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: الداعي إلى البدعة مستحق العقوبة باتفاق المسلمين… ولو قدر أنه لا يستحق العقوبة أو لا يمكن عقوبته، فلابد من بيان بدعته والتحذير منها، فإن هذا من جملة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر الذي أمر الله به ورسوله “Para da’i penyeru kebid’ahan layak untuk dijatuhkan hukum kepada mereka, berdasarkan kesepakatan ulama … andaikan tidak mampu untuk menjatuhkan hukuman kepada mereka maka wajib untuk menjelaskan kebid’ahan mereka dan mentahdzir mereka. Dan ini termasuk dalam amar ma’ruf nahi mungkar yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.” (Majmu’ al-Fatawa, 35/413) Al-Qarafi rahimahullah mengatakan: قال بعض العلماء: استثني من الغيبة ست صور… الرابعة: أرباب البدع والتصانيف المضلة ينبغي أن يشهر الناس فسادها وعيبها وأنهم على غير الصواب، ليحذرها الناس الضعفاء فلا يقعوا فيها، وينفر عن تلك المفاسد ما أمكن، بشرط أن لا يتعدى فيها الصدق ولا يفتري على أهلها من الفسوق والفواحش ما لم يفعلوه، بل يقتصر على ما فيهم من المنفرات خاصة “Para ulama mengatakan bahwa ghibah dikecualikan pada enam keadaan: … yang keempat: tokoh-tokoh kebid’ahan dan para penulis-penulis buku yang menyesatkan yang sudah tersebar di tengah manusia tentang kerusakan mereka dan aib mereka. Dan sudah tersebar bahwa mereka tidak di atas kebenaran. (Mereka boleh dighibahi) agar masyarakat awam tidak terjerumus dalam kebid’ahan dan menjauh dari kerusakan mereka sebisa mungkin. Dengan syarat tidak boleh berlebihan dan tidak membuat kedustaan dengan menuduh mereka melakukan kefasikan atau dosa besar yang tidak mereka lakukan. Namun cukupkan pada perkara kebid’ahan yang harus dihindari saja.” (Al-Furuq, 8/261) Adapun orang-orang awam, demikian juga orang-orang yang jatuh pada kebid’ahan karena ijtihad, atau karena terpengaruh bukan bersengaja, atau orang shalih yang tergelincir, maka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah.  Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah karya Syaikh Dr. Ahmad bin Abdul Aziz al-Hulaibi. Disebutkan di sana beberapa kaidah: Kaidah pertama: memberikan udzur kepada orang shalih dan ulama mujtahid yang terjerumus kepada kebid’ahan karena ijtihad. Dan membawa perkataan mereka kepada kemungkinan yang benar. Kaidah kedua: tidak menyesatkan ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya baik dalam masalah aqidah maupun masalah fikih, serta tidak menyesatkan atau mengkafirkannya. Kaidah ketiga: memberi udzur kepada ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya bukan berarti setuju kepada kekeliruannya dan kebid’ahannya. Bahkan tetap wajib mengingkarinya selama memungkinkan dengan tetap memperhatikan adab-adab. Kaidah keempat: tidak menghukumi orang yang terjerumus pada kebid’ahan sebagai ahlul ahwa dan ahlul bid’ah, serta tidak memusuhi mereka, kecuali kebid’ahan yang mereka lakukan sangat masyhur dan berat menurut para ulama (Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah, hal 67-82). Pada sebuah kesempatan, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah ditanya: “Di antara para penuntut ilmu/santri terdapat perbedaan mengenai definisi mubtadi’ (ahlul bid’ah). Sebagian mereka mengatakan mubtadi’ adalah orang yang mengatakan atau melakukan kebid’ahan, meskipun ia belum paham. Sebagian yang lain berkata bahwa mubtadi’ itu pelaku bid’ah yang sudah dipahamkan bahwa yang dilakukannya adalah bid’ah. Sebagian lagi ada yang membedakan apakah pelaku bid’ah itu ulama mujtahid yang mempelopori kebid’ahan ataukah bukan ulama mujtahid. Dari beberapa pengertian ini kadang timbul vonis bahwa Ibnu Hajar al-Asqalani atau an-Nawawi adalah mubtadi’ tanpa toleransi sedikit pun kepada mereka. Kami meminta kejelasan dari anda yang memiliki pemahaman yang mendalam dalam permasalahan ini. Semoga Allah membalas kebaikan anda.” Beliau menjawab: Pertama, seorang penuntut ilmu agama yang masih pemula atau juga orang awam hendaknya tidak menyibukkan dirinya dalam memvonis seseorang itu mubtadi’ atau seseorang itu fasik. Karena hal ini sangat berbahaya bagi orang yang tidak memiliki ilmu agama yang mendalam tentang masalah ini. Selain itu, menyibukkan diri dalam memvonis mubtadi’ atau fasik akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Maka yang semestinya menjadi kesibukan para penuntut ilmu yang masih pemula atau orang awam adalah: menuntut ilmu agama, dan menahan lisan mereka dari hal-hal yang tidak memberikan faedah bagi mereka. Bahkan menyibukkan diri dalam memvonis tersebut akan menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun bagi yang lain. Kedua, bid’ah adalah perkara yang diada-adakan dalam urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda beliau: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Siapa saja yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini (agama), yang tidak diajarkan oleh agama, maka tertolak.” (HR. Bukhari no.167, dari jalan ‘Aisyah radhiallahu’anha) Jika seseorang berbuat bid’ah karena tidak paham, maka ia dimaafkan karena ketidaktahuannya tersebut dan tidak dihukumi sebagai mubtadi’, namun perbuatannya disebut sebagai perbuatan bid’ah. Ketiga, ulama yang berbuat kesalahan ijtihad berupa ta’wil (sifat-sifat Allah), sebagaimana Ibnu Hajar al-Asqalani dan an-Nawawi yang telah menta’wil beberapa sifat Allah, mereka berdua tidak dihukumi mubtadi’. Camkan baik-baik, mereka berdua telah berbuat kesalahan dalam hal tersebut, namun kita memohonkan ampunan Allah untuk keduanya karena mengingat perjuangan mereka berdua dalam mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka berdua adalah imam besar yang terpercaya dikalangan para ulama. (Muntaqa Fatawa al-Fauzan Jilid 2, fatwa no.181, asy-Syamilah) Contoh zallatul fuqaha adalah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Auza’i mengatakan, نتجنب من قول أهل العراق خمسا ، ومن قول أهل الحجاز خمسا …  فذكر من قول أهل العراق : شرب المسكر ، ومن قول أهل الحجاز : استماع الملاهي، والمتعة بالنساء “Jauhilah 5 pendapat Ahlul Iraq dan 5 pendapat Ahlul Hijaz (Madinah termasuk Hijaz)! Di antara pendapat Ahlul Iraq yang dijauhi adalah pembolehan minuman yang memabukkan. Di antara pendapat Ahlul Hijaz yang dijauhi adalah membolehkan alat musik dan nikah mut’ah.” (Siyar A’lamin Nubala, 7/131) Bagi yang sudah pernah membaca kitab Syarhus Sunnah al-Barbahari tentu sudah mengetahui perkataan Ibnul Mubarak rahimahullah, لا تأخذوا عن أهل الكوفة في الرفض شيئاً ولا عن أهل الشام في السيف شيئاً، ولا عن أهل البصرة في القدر شيئاً، ولا عن أهل خراسان في الإرجاء شيئاً، ولا عن أهل مكة في الصرف شيئاً، ولا عن أهل المدينة في الغناء، لا تأخذوا عنهم في هذه الأشياء شيئاً “Jangan ambil pendapat Ahlul Kufah tentang syiah Rafidhah sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlus Syam tentang pemberontakan sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Bashrah tentang takdir sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Khurasan tentang irja‘ sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlu Makkah tentang transaksi sharf sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Madinah tentang musik sama sekali! Jangan ambil pendapat mereka dalam masalah-masalah ini sama sekali!” Ulama-ulama tersebut keliru dan pendapatnya tidak boleh diikuti, namun mereka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Ta Aruf Yang Benar, Hukum Shalat Tarawih Sendiri, Ashbahan Iran, Doa Setelah Tahajud Dan Witir, Bagaimanakah Bilangan Rakaat Salat Tarawih, Bilal Sholat Tarawih Visited 459 times, 1 visit(s) today Post Views: 503 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1378588123&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Secara umum, semua pelaku bid’ah disebut sebagai ahlul bid’ah. Namun secara khusus, yang dimaksud ahlul bid’ah adalah para penyeru kebid’ahan, para tokoh-tokohnya, dan para pelakunya di saat sedang melakukan kebid’ahan. Merekalah ahlul bid’ah yang perlu diwaspadai dan disikapi dengan keras. Adapun orang awam yang ikut-ikutan melakukan bid’ah maka mereka tidak dijauhi dan tidak disikapi dengan keras. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: الداعي إلى البدعة مستحق العقوبة باتفاق المسلمين… ولو قدر أنه لا يستحق العقوبة أو لا يمكن عقوبته، فلابد من بيان بدعته والتحذير منها، فإن هذا من جملة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر الذي أمر الله به ورسوله “Para da’i penyeru kebid’ahan layak untuk dijatuhkan hukum kepada mereka, berdasarkan kesepakatan ulama … andaikan tidak mampu untuk menjatuhkan hukuman kepada mereka maka wajib untuk menjelaskan kebid’ahan mereka dan mentahdzir mereka. Dan ini termasuk dalam amar ma’ruf nahi mungkar yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.” (Majmu’ al-Fatawa, 35/413) Al-Qarafi rahimahullah mengatakan: قال بعض العلماء: استثني من الغيبة ست صور… الرابعة: أرباب البدع والتصانيف المضلة ينبغي أن يشهر الناس فسادها وعيبها وأنهم على غير الصواب، ليحذرها الناس الضعفاء فلا يقعوا فيها، وينفر عن تلك المفاسد ما أمكن، بشرط أن لا يتعدى فيها الصدق ولا يفتري على أهلها من الفسوق والفواحش ما لم يفعلوه، بل يقتصر على ما فيهم من المنفرات خاصة “Para ulama mengatakan bahwa ghibah dikecualikan pada enam keadaan: … yang keempat: tokoh-tokoh kebid’ahan dan para penulis-penulis buku yang menyesatkan yang sudah tersebar di tengah manusia tentang kerusakan mereka dan aib mereka. Dan sudah tersebar bahwa mereka tidak di atas kebenaran. (Mereka boleh dighibahi) agar masyarakat awam tidak terjerumus dalam kebid’ahan dan menjauh dari kerusakan mereka sebisa mungkin. Dengan syarat tidak boleh berlebihan dan tidak membuat kedustaan dengan menuduh mereka melakukan kefasikan atau dosa besar yang tidak mereka lakukan. Namun cukupkan pada perkara kebid’ahan yang harus dihindari saja.” (Al-Furuq, 8/261) Adapun orang-orang awam, demikian juga orang-orang yang jatuh pada kebid’ahan karena ijtihad, atau karena terpengaruh bukan bersengaja, atau orang shalih yang tergelincir, maka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah.  Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah karya Syaikh Dr. Ahmad bin Abdul Aziz al-Hulaibi. Disebutkan di sana beberapa kaidah: Kaidah pertama: memberikan udzur kepada orang shalih dan ulama mujtahid yang terjerumus kepada kebid’ahan karena ijtihad. Dan membawa perkataan mereka kepada kemungkinan yang benar. Kaidah kedua: tidak menyesatkan ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya baik dalam masalah aqidah maupun masalah fikih, serta tidak menyesatkan atau mengkafirkannya. Kaidah ketiga: memberi udzur kepada ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya bukan berarti setuju kepada kekeliruannya dan kebid’ahannya. Bahkan tetap wajib mengingkarinya selama memungkinkan dengan tetap memperhatikan adab-adab. Kaidah keempat: tidak menghukumi orang yang terjerumus pada kebid’ahan sebagai ahlul ahwa dan ahlul bid’ah, serta tidak memusuhi mereka, kecuali kebid’ahan yang mereka lakukan sangat masyhur dan berat menurut para ulama (Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah, hal 67-82). Pada sebuah kesempatan, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah ditanya: “Di antara para penuntut ilmu/santri terdapat perbedaan mengenai definisi mubtadi’ (ahlul bid’ah). Sebagian mereka mengatakan mubtadi’ adalah orang yang mengatakan atau melakukan kebid’ahan, meskipun ia belum paham. Sebagian yang lain berkata bahwa mubtadi’ itu pelaku bid’ah yang sudah dipahamkan bahwa yang dilakukannya adalah bid’ah. Sebagian lagi ada yang membedakan apakah pelaku bid’ah itu ulama mujtahid yang mempelopori kebid’ahan ataukah bukan ulama mujtahid. Dari beberapa pengertian ini kadang timbul vonis bahwa Ibnu Hajar al-Asqalani atau an-Nawawi adalah mubtadi’ tanpa toleransi sedikit pun kepada mereka. Kami meminta kejelasan dari anda yang memiliki pemahaman yang mendalam dalam permasalahan ini. Semoga Allah membalas kebaikan anda.” Beliau menjawab: Pertama, seorang penuntut ilmu agama yang masih pemula atau juga orang awam hendaknya tidak menyibukkan dirinya dalam memvonis seseorang itu mubtadi’ atau seseorang itu fasik. Karena hal ini sangat berbahaya bagi orang yang tidak memiliki ilmu agama yang mendalam tentang masalah ini. Selain itu, menyibukkan diri dalam memvonis mubtadi’ atau fasik akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Maka yang semestinya menjadi kesibukan para penuntut ilmu yang masih pemula atau orang awam adalah: menuntut ilmu agama, dan menahan lisan mereka dari hal-hal yang tidak memberikan faedah bagi mereka. Bahkan menyibukkan diri dalam memvonis tersebut akan menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun bagi yang lain. Kedua, bid’ah adalah perkara yang diada-adakan dalam urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda beliau: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Siapa saja yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini (agama), yang tidak diajarkan oleh agama, maka tertolak.” (HR. Bukhari no.167, dari jalan ‘Aisyah radhiallahu’anha) Jika seseorang berbuat bid’ah karena tidak paham, maka ia dimaafkan karena ketidaktahuannya tersebut dan tidak dihukumi sebagai mubtadi’, namun perbuatannya disebut sebagai perbuatan bid’ah. Ketiga, ulama yang berbuat kesalahan ijtihad berupa ta’wil (sifat-sifat Allah), sebagaimana Ibnu Hajar al-Asqalani dan an-Nawawi yang telah menta’wil beberapa sifat Allah, mereka berdua tidak dihukumi mubtadi’. Camkan baik-baik, mereka berdua telah berbuat kesalahan dalam hal tersebut, namun kita memohonkan ampunan Allah untuk keduanya karena mengingat perjuangan mereka berdua dalam mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka berdua adalah imam besar yang terpercaya dikalangan para ulama. (Muntaqa Fatawa al-Fauzan Jilid 2, fatwa no.181, asy-Syamilah) Contoh zallatul fuqaha adalah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Auza’i mengatakan, نتجنب من قول أهل العراق خمسا ، ومن قول أهل الحجاز خمسا …  فذكر من قول أهل العراق : شرب المسكر ، ومن قول أهل الحجاز : استماع الملاهي، والمتعة بالنساء “Jauhilah 5 pendapat Ahlul Iraq dan 5 pendapat Ahlul Hijaz (Madinah termasuk Hijaz)! Di antara pendapat Ahlul Iraq yang dijauhi adalah pembolehan minuman yang memabukkan. Di antara pendapat Ahlul Hijaz yang dijauhi adalah membolehkan alat musik dan nikah mut’ah.” (Siyar A’lamin Nubala, 7/131) Bagi yang sudah pernah membaca kitab Syarhus Sunnah al-Barbahari tentu sudah mengetahui perkataan Ibnul Mubarak rahimahullah, لا تأخذوا عن أهل الكوفة في الرفض شيئاً ولا عن أهل الشام في السيف شيئاً، ولا عن أهل البصرة في القدر شيئاً، ولا عن أهل خراسان في الإرجاء شيئاً، ولا عن أهل مكة في الصرف شيئاً، ولا عن أهل المدينة في الغناء، لا تأخذوا عنهم في هذه الأشياء شيئاً “Jangan ambil pendapat Ahlul Kufah tentang syiah Rafidhah sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlus Syam tentang pemberontakan sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Bashrah tentang takdir sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Khurasan tentang irja‘ sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlu Makkah tentang transaksi sharf sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Madinah tentang musik sama sekali! Jangan ambil pendapat mereka dalam masalah-masalah ini sama sekali!” Ulama-ulama tersebut keliru dan pendapatnya tidak boleh diikuti, namun mereka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Ta Aruf Yang Benar, Hukum Shalat Tarawih Sendiri, Ashbahan Iran, Doa Setelah Tahajud Dan Witir, Bagaimanakah Bilangan Rakaat Salat Tarawih, Bilal Sholat Tarawih Visited 459 times, 1 visit(s) today Post Views: 503 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Teks Khotbah Jumat: Kabar Gembira bagi Mereka yang Menjaga Salat Subuh

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk menjaga dan mengerjakan salat wajib pada waktunya masing-masing. Allah Ta’ala berfirman,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ“Peliharalah semua salat dan salat wustha (salat Asar). Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)Di dalam sebuah hadis, Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata,سَأَلْتُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها“Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal apakah yang paling dicintai oleh Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Salat pada waktunya.” (HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 85)Jemaah yang semoga senantiasa berusaha menunaikan salat pada waktunya.Jika memperhatikan dan mengamati kondisi masjid-masjid kaum muslimin di zaman ini, maka akan kita dapati adanya penurunan kualitas dalam hal salat berjemaah. Lebih parahnya, penurunan dan keteledoran ini juga sering terjadi pada salat yang paling utama di sisi Allah Ta’ala, yaitu salat Subuh di hari Jum’at dan salat Subuh di waktu lainnya, padahal Nabi pernah bersabda,أَفْضَلُ الصَّلواتِ عندَ اللهِ صَلاةُ الصُّبحِ يومَ الجُمُعةِ في جَماعَةٍ“Salat yang paling utama di sisi Allah adalah salat Subuh hari Jumat secara berjemaah.” (HR. Abu Nuaim di dalam Hilyatu Al-Auliya’ 7: 207 dan Al-Baihaqi di dalam Syu’ab A-Imaan no. 3045, disahihkan Syekh Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1119)Nabi shallallahu alaihi wasallam juga bersabda,وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لَأَتَوْهُما ولو حَبْوًا.“Seandainya mereka mengetahui apa yang terkandung dalam salat ‘atamah (yakni salat Isya) dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 625 dan Muslim no. 1914)Jemaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,Begitu banyak kabar gembira dan keutamaan yang Allah Ta’ala dan Nabi-Nya berikan dan khususkan bagi mereka yang menjaga salat Subuh pada waktunya, baik itu berjemaah bagi laki-laki ataupun di rumah masing-masing bagi perempuan.Mereka yang senantiasa melaksanakan salat Subuh adalah orang-orang pilihan yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala untuk melakukan kebaikan. Mereka menjawab panggilan Allah ini dengan penuh pengharapan akan pahala dan keutamaan. Mereka itulah orang-orang yang cocok dan sesuai dengan kriteria mukmin yang Allah Ta’ala sebutkan di dalam firman-Nya,فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ * رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ * لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ“(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat), (mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.” (QS. An-Nur: 36-38)Baca Juga: Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atWahai mereka yang istikamah melaksanakan salat Subuh, bergembiralah engkau dengan pahala besar yang sedang menantimu, serta kebaikan dan rezeki yang akan selalu mengikutimu!Bergembiralah wahai kaum muslimin sekalian, jika kita termasuk orang-orang yang menjaga salat Subuh pada waktunya, sesungguhnya para malaikat akan menyaksikan kita. Allah Ta’ala berfirman,أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا“Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra: 78)Dalam riwayat Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ باللَّيْلِ ومَلَائِكَةٌ بالنَّهَارِ، ويَجْتَمِعُونَ في صَلَاةِ الفَجْرِ وصَلَاةِ العَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمْ وهو أعْلَمُ بهِمْ: كيفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فيَقولونَ: تَرَكْنَاهُمْ وهُمْ يُصَلُّونَ، وأَتَيْنَاهُمْ وهُمْ يُصَلُّونَ.“Para Malaikat di malam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat salat Subuh dan salat Asar. Kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (menuju Allah). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui tentang keadaan para hamba-Nya, ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat kalian tinggalkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan salat, dan kami mendatangi mereka juga sedang dalam keadaan sedang salat.’ (HR. Bukhari no. 555 dan Muslim no. 632)Sungguh merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, saat para malaikat bersaksi di hadapan Allah Ta’ala untuk kita, bergembiralah dengan kebaikan yang diiringi dengan kebaikan ini.Bergembiralah saudara-saudaraku sekalian, jika kita termasuk salah satu hamba yang melaksanakan salat Subuh secara berjemaah, karena pahalanya seperti salat tahajud sepanjang malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن صَلَّى العِشَاءَ في جَمَاعَةٍ فَكَأنَّما قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَن صَلَّى الصُّبْحَ في جَمَاعَةٍ فَكَأنَّما صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ“Barangsiapa yang salat Isya berjemaah, maka seolah-olah dia telah salat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang salat Subuh berjemaah, maka seolah-olah dia telah salat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)Baca Juga: Jeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat SunnahHanya dengan beberapa menit melaksanakan salat Subuh, Allah Ta’ala akan menuliskan bagi kita pahala salat semalam suntuk sedang kita di malam itu terlelap di atas kasur-kasur kita. Sungguh keutamaan yang besar dari Allah Ta’ala untuk mereka yang melaksanakan salat Subuh secara berjemaah.أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Sungguh begitu banyak kabar gembira dan keutamaan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang yang melaksanakan salat Subuh, menandakan bahwa salat Subuh ini merupakan perkara krusial bagi seorang muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan memberikan jaminan surga bagi siapa saja yang melaksanakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ“Barangsiapa yang mengerjakan salat bardain (yaitu salat Subuh dan Asar), maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, bukan hanya dalam aspek akhirat saja, salat Subuh bahkan memiliki pengaruh besar terhadap rasa semangat seseorang di hari tersebut. Dengan melaksanakannya, tubuh seseorang akan menjadi segar dan bersemangat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutkan,“Setan mengikatkan tiga ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika dia sedang tidur. Pada tiap ikatannya, setan membisikkan, ‘Malam masih lama, maka lanjutkanlah tidurmu!’ Jika orang itu bangun lalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla (membaca doa), maka terlepaslah satu ikatan. Jika (setelah bangun) dia berwudu, maka terlepaslah ikatan kedua. Jika setelah itu dia menunaikan salat, maka semua ikatan itu pun terlepas, sehingga dia menyongsong pagi hari dengan ceria, penuh semangat. Namun, jika tidak demikian, maka dia akan memasuki waktu pagi hari dengan jiwa yang jelek dan malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)Jemaah yang senantiasa dilindungi Allah Ta’ala,Yang terakhir, seorang hamba yang bangun untuk melaksanakan salat Subuh di pagi hari, ia berkesempatan untuk melaksanakan salat sunah dua rakaat yang keutamaannya melebihi dunia ini dan seisinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,رَكْعَتَا الفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَما فِيهَا“Dua rakaat (sebelum salat) fajar (Subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)Sungguh, sebuah keutamaan besar yang hanya bisa diraih oleh mereka yang bangun dini hari untuk melaksanakan salat Subuh.Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk bisa bangun di pagi hari dan melaksanakan salat Subuh ini secara berjemaah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan diri kita untuk melaksanakan salat Subuh yang penuh kemuliaan ini.Ya Allah, mudahkanlah kami dan keluarga kami untuk menjalankan perintah-Mu, jauhkanlah diri kami dan keluarga kami dari api neraka yang azabnya pedih.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca Juga:Haruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?Hukum Shalat Sunnah Dua Raka’at Ihram***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Zodiak Menurut Islam, 3 Pembagian Bulan Ramadhan, Arti Ar Rahman Asmaul Husna, Keutamaan SolawatTags: judul khutbah jumatkeutamaan shalatkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamshalat sunnahshalat wajibteks khutbah jumattema khutbah jumat

Teks Khotbah Jumat: Kabar Gembira bagi Mereka yang Menjaga Salat Subuh

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk menjaga dan mengerjakan salat wajib pada waktunya masing-masing. Allah Ta’ala berfirman,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ“Peliharalah semua salat dan salat wustha (salat Asar). Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)Di dalam sebuah hadis, Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata,سَأَلْتُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها“Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal apakah yang paling dicintai oleh Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Salat pada waktunya.” (HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 85)Jemaah yang semoga senantiasa berusaha menunaikan salat pada waktunya.Jika memperhatikan dan mengamati kondisi masjid-masjid kaum muslimin di zaman ini, maka akan kita dapati adanya penurunan kualitas dalam hal salat berjemaah. Lebih parahnya, penurunan dan keteledoran ini juga sering terjadi pada salat yang paling utama di sisi Allah Ta’ala, yaitu salat Subuh di hari Jum’at dan salat Subuh di waktu lainnya, padahal Nabi pernah bersabda,أَفْضَلُ الصَّلواتِ عندَ اللهِ صَلاةُ الصُّبحِ يومَ الجُمُعةِ في جَماعَةٍ“Salat yang paling utama di sisi Allah adalah salat Subuh hari Jumat secara berjemaah.” (HR. Abu Nuaim di dalam Hilyatu Al-Auliya’ 7: 207 dan Al-Baihaqi di dalam Syu’ab A-Imaan no. 3045, disahihkan Syekh Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1119)Nabi shallallahu alaihi wasallam juga bersabda,وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لَأَتَوْهُما ولو حَبْوًا.“Seandainya mereka mengetahui apa yang terkandung dalam salat ‘atamah (yakni salat Isya) dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 625 dan Muslim no. 1914)Jemaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,Begitu banyak kabar gembira dan keutamaan yang Allah Ta’ala dan Nabi-Nya berikan dan khususkan bagi mereka yang menjaga salat Subuh pada waktunya, baik itu berjemaah bagi laki-laki ataupun di rumah masing-masing bagi perempuan.Mereka yang senantiasa melaksanakan salat Subuh adalah orang-orang pilihan yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala untuk melakukan kebaikan. Mereka menjawab panggilan Allah ini dengan penuh pengharapan akan pahala dan keutamaan. Mereka itulah orang-orang yang cocok dan sesuai dengan kriteria mukmin yang Allah Ta’ala sebutkan di dalam firman-Nya,فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ * رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ * لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ“(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat), (mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.” (QS. An-Nur: 36-38)Baca Juga: Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atWahai mereka yang istikamah melaksanakan salat Subuh, bergembiralah engkau dengan pahala besar yang sedang menantimu, serta kebaikan dan rezeki yang akan selalu mengikutimu!Bergembiralah wahai kaum muslimin sekalian, jika kita termasuk orang-orang yang menjaga salat Subuh pada waktunya, sesungguhnya para malaikat akan menyaksikan kita. Allah Ta’ala berfirman,أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا“Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra: 78)Dalam riwayat Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ باللَّيْلِ ومَلَائِكَةٌ بالنَّهَارِ، ويَجْتَمِعُونَ في صَلَاةِ الفَجْرِ وصَلَاةِ العَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمْ وهو أعْلَمُ بهِمْ: كيفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فيَقولونَ: تَرَكْنَاهُمْ وهُمْ يُصَلُّونَ، وأَتَيْنَاهُمْ وهُمْ يُصَلُّونَ.“Para Malaikat di malam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat salat Subuh dan salat Asar. Kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (menuju Allah). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui tentang keadaan para hamba-Nya, ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat kalian tinggalkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan salat, dan kami mendatangi mereka juga sedang dalam keadaan sedang salat.’ (HR. Bukhari no. 555 dan Muslim no. 632)Sungguh merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, saat para malaikat bersaksi di hadapan Allah Ta’ala untuk kita, bergembiralah dengan kebaikan yang diiringi dengan kebaikan ini.Bergembiralah saudara-saudaraku sekalian, jika kita termasuk salah satu hamba yang melaksanakan salat Subuh secara berjemaah, karena pahalanya seperti salat tahajud sepanjang malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن صَلَّى العِشَاءَ في جَمَاعَةٍ فَكَأنَّما قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَن صَلَّى الصُّبْحَ في جَمَاعَةٍ فَكَأنَّما صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ“Barangsiapa yang salat Isya berjemaah, maka seolah-olah dia telah salat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang salat Subuh berjemaah, maka seolah-olah dia telah salat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)Baca Juga: Jeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat SunnahHanya dengan beberapa menit melaksanakan salat Subuh, Allah Ta’ala akan menuliskan bagi kita pahala salat semalam suntuk sedang kita di malam itu terlelap di atas kasur-kasur kita. Sungguh keutamaan yang besar dari Allah Ta’ala untuk mereka yang melaksanakan salat Subuh secara berjemaah.أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Sungguh begitu banyak kabar gembira dan keutamaan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang yang melaksanakan salat Subuh, menandakan bahwa salat Subuh ini merupakan perkara krusial bagi seorang muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan memberikan jaminan surga bagi siapa saja yang melaksanakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ“Barangsiapa yang mengerjakan salat bardain (yaitu salat Subuh dan Asar), maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, bukan hanya dalam aspek akhirat saja, salat Subuh bahkan memiliki pengaruh besar terhadap rasa semangat seseorang di hari tersebut. Dengan melaksanakannya, tubuh seseorang akan menjadi segar dan bersemangat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutkan,“Setan mengikatkan tiga ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika dia sedang tidur. Pada tiap ikatannya, setan membisikkan, ‘Malam masih lama, maka lanjutkanlah tidurmu!’ Jika orang itu bangun lalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla (membaca doa), maka terlepaslah satu ikatan. Jika (setelah bangun) dia berwudu, maka terlepaslah ikatan kedua. Jika setelah itu dia menunaikan salat, maka semua ikatan itu pun terlepas, sehingga dia menyongsong pagi hari dengan ceria, penuh semangat. Namun, jika tidak demikian, maka dia akan memasuki waktu pagi hari dengan jiwa yang jelek dan malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)Jemaah yang senantiasa dilindungi Allah Ta’ala,Yang terakhir, seorang hamba yang bangun untuk melaksanakan salat Subuh di pagi hari, ia berkesempatan untuk melaksanakan salat sunah dua rakaat yang keutamaannya melebihi dunia ini dan seisinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,رَكْعَتَا الفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَما فِيهَا“Dua rakaat (sebelum salat) fajar (Subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)Sungguh, sebuah keutamaan besar yang hanya bisa diraih oleh mereka yang bangun dini hari untuk melaksanakan salat Subuh.Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk bisa bangun di pagi hari dan melaksanakan salat Subuh ini secara berjemaah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan diri kita untuk melaksanakan salat Subuh yang penuh kemuliaan ini.Ya Allah, mudahkanlah kami dan keluarga kami untuk menjalankan perintah-Mu, jauhkanlah diri kami dan keluarga kami dari api neraka yang azabnya pedih.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca Juga:Haruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?Hukum Shalat Sunnah Dua Raka’at Ihram***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Zodiak Menurut Islam, 3 Pembagian Bulan Ramadhan, Arti Ar Rahman Asmaul Husna, Keutamaan SolawatTags: judul khutbah jumatkeutamaan shalatkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamshalat sunnahshalat wajibteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk menjaga dan mengerjakan salat wajib pada waktunya masing-masing. Allah Ta’ala berfirman,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ“Peliharalah semua salat dan salat wustha (salat Asar). Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)Di dalam sebuah hadis, Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata,سَأَلْتُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها“Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal apakah yang paling dicintai oleh Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Salat pada waktunya.” (HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 85)Jemaah yang semoga senantiasa berusaha menunaikan salat pada waktunya.Jika memperhatikan dan mengamati kondisi masjid-masjid kaum muslimin di zaman ini, maka akan kita dapati adanya penurunan kualitas dalam hal salat berjemaah. Lebih parahnya, penurunan dan keteledoran ini juga sering terjadi pada salat yang paling utama di sisi Allah Ta’ala, yaitu salat Subuh di hari Jum’at dan salat Subuh di waktu lainnya, padahal Nabi pernah bersabda,أَفْضَلُ الصَّلواتِ عندَ اللهِ صَلاةُ الصُّبحِ يومَ الجُمُعةِ في جَماعَةٍ“Salat yang paling utama di sisi Allah adalah salat Subuh hari Jumat secara berjemaah.” (HR. Abu Nuaim di dalam Hilyatu Al-Auliya’ 7: 207 dan Al-Baihaqi di dalam Syu’ab A-Imaan no. 3045, disahihkan Syekh Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1119)Nabi shallallahu alaihi wasallam juga bersabda,وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لَأَتَوْهُما ولو حَبْوًا.“Seandainya mereka mengetahui apa yang terkandung dalam salat ‘atamah (yakni salat Isya) dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 625 dan Muslim no. 1914)Jemaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,Begitu banyak kabar gembira dan keutamaan yang Allah Ta’ala dan Nabi-Nya berikan dan khususkan bagi mereka yang menjaga salat Subuh pada waktunya, baik itu berjemaah bagi laki-laki ataupun di rumah masing-masing bagi perempuan.Mereka yang senantiasa melaksanakan salat Subuh adalah orang-orang pilihan yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala untuk melakukan kebaikan. Mereka menjawab panggilan Allah ini dengan penuh pengharapan akan pahala dan keutamaan. Mereka itulah orang-orang yang cocok dan sesuai dengan kriteria mukmin yang Allah Ta’ala sebutkan di dalam firman-Nya,فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ * رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ * لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ“(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat), (mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.” (QS. An-Nur: 36-38)Baca Juga: Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atWahai mereka yang istikamah melaksanakan salat Subuh, bergembiralah engkau dengan pahala besar yang sedang menantimu, serta kebaikan dan rezeki yang akan selalu mengikutimu!Bergembiralah wahai kaum muslimin sekalian, jika kita termasuk orang-orang yang menjaga salat Subuh pada waktunya, sesungguhnya para malaikat akan menyaksikan kita. Allah Ta’ala berfirman,أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا“Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra: 78)Dalam riwayat Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ باللَّيْلِ ومَلَائِكَةٌ بالنَّهَارِ، ويَجْتَمِعُونَ في صَلَاةِ الفَجْرِ وصَلَاةِ العَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمْ وهو أعْلَمُ بهِمْ: كيفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فيَقولونَ: تَرَكْنَاهُمْ وهُمْ يُصَلُّونَ، وأَتَيْنَاهُمْ وهُمْ يُصَلُّونَ.“Para Malaikat di malam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat salat Subuh dan salat Asar. Kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (menuju Allah). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui tentang keadaan para hamba-Nya, ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat kalian tinggalkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan salat, dan kami mendatangi mereka juga sedang dalam keadaan sedang salat.’ (HR. Bukhari no. 555 dan Muslim no. 632)Sungguh merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, saat para malaikat bersaksi di hadapan Allah Ta’ala untuk kita, bergembiralah dengan kebaikan yang diiringi dengan kebaikan ini.Bergembiralah saudara-saudaraku sekalian, jika kita termasuk salah satu hamba yang melaksanakan salat Subuh secara berjemaah, karena pahalanya seperti salat tahajud sepanjang malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن صَلَّى العِشَاءَ في جَمَاعَةٍ فَكَأنَّما قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَن صَلَّى الصُّبْحَ في جَمَاعَةٍ فَكَأنَّما صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ“Barangsiapa yang salat Isya berjemaah, maka seolah-olah dia telah salat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang salat Subuh berjemaah, maka seolah-olah dia telah salat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)Baca Juga: Jeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat SunnahHanya dengan beberapa menit melaksanakan salat Subuh, Allah Ta’ala akan menuliskan bagi kita pahala salat semalam suntuk sedang kita di malam itu terlelap di atas kasur-kasur kita. Sungguh keutamaan yang besar dari Allah Ta’ala untuk mereka yang melaksanakan salat Subuh secara berjemaah.أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Sungguh begitu banyak kabar gembira dan keutamaan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang yang melaksanakan salat Subuh, menandakan bahwa salat Subuh ini merupakan perkara krusial bagi seorang muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan memberikan jaminan surga bagi siapa saja yang melaksanakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ“Barangsiapa yang mengerjakan salat bardain (yaitu salat Subuh dan Asar), maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, bukan hanya dalam aspek akhirat saja, salat Subuh bahkan memiliki pengaruh besar terhadap rasa semangat seseorang di hari tersebut. Dengan melaksanakannya, tubuh seseorang akan menjadi segar dan bersemangat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutkan,“Setan mengikatkan tiga ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika dia sedang tidur. Pada tiap ikatannya, setan membisikkan, ‘Malam masih lama, maka lanjutkanlah tidurmu!’ Jika orang itu bangun lalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla (membaca doa), maka terlepaslah satu ikatan. Jika (setelah bangun) dia berwudu, maka terlepaslah ikatan kedua. Jika setelah itu dia menunaikan salat, maka semua ikatan itu pun terlepas, sehingga dia menyongsong pagi hari dengan ceria, penuh semangat. Namun, jika tidak demikian, maka dia akan memasuki waktu pagi hari dengan jiwa yang jelek dan malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)Jemaah yang senantiasa dilindungi Allah Ta’ala,Yang terakhir, seorang hamba yang bangun untuk melaksanakan salat Subuh di pagi hari, ia berkesempatan untuk melaksanakan salat sunah dua rakaat yang keutamaannya melebihi dunia ini dan seisinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,رَكْعَتَا الفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَما فِيهَا“Dua rakaat (sebelum salat) fajar (Subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)Sungguh, sebuah keutamaan besar yang hanya bisa diraih oleh mereka yang bangun dini hari untuk melaksanakan salat Subuh.Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk bisa bangun di pagi hari dan melaksanakan salat Subuh ini secara berjemaah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan diri kita untuk melaksanakan salat Subuh yang penuh kemuliaan ini.Ya Allah, mudahkanlah kami dan keluarga kami untuk menjalankan perintah-Mu, jauhkanlah diri kami dan keluarga kami dari api neraka yang azabnya pedih.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca Juga:Haruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?Hukum Shalat Sunnah Dua Raka’at Ihram***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Zodiak Menurut Islam, 3 Pembagian Bulan Ramadhan, Arti Ar Rahman Asmaul Husna, Keutamaan SolawatTags: judul khutbah jumatkeutamaan shalatkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamshalat sunnahshalat wajibteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk menjaga dan mengerjakan salat wajib pada waktunya masing-masing. Allah Ta’ala berfirman,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ“Peliharalah semua salat dan salat wustha (salat Asar). Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)Di dalam sebuah hadis, Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata,سَأَلْتُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها“Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal apakah yang paling dicintai oleh Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Salat pada waktunya.” (HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 85)Jemaah yang semoga senantiasa berusaha menunaikan salat pada waktunya.Jika memperhatikan dan mengamati kondisi masjid-masjid kaum muslimin di zaman ini, maka akan kita dapati adanya penurunan kualitas dalam hal salat berjemaah. Lebih parahnya, penurunan dan keteledoran ini juga sering terjadi pada salat yang paling utama di sisi Allah Ta’ala, yaitu salat Subuh di hari Jum’at dan salat Subuh di waktu lainnya, padahal Nabi pernah bersabda,أَفْضَلُ الصَّلواتِ عندَ اللهِ صَلاةُ الصُّبحِ يومَ الجُمُعةِ في جَماعَةٍ“Salat yang paling utama di sisi Allah adalah salat Subuh hari Jumat secara berjemaah.” (HR. Abu Nuaim di dalam Hilyatu Al-Auliya’ 7: 207 dan Al-Baihaqi di dalam Syu’ab A-Imaan no. 3045, disahihkan Syekh Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1119)Nabi shallallahu alaihi wasallam juga bersabda,وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لَأَتَوْهُما ولو حَبْوًا.“Seandainya mereka mengetahui apa yang terkandung dalam salat ‘atamah (yakni salat Isya) dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 625 dan Muslim no. 1914)Jemaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,Begitu banyak kabar gembira dan keutamaan yang Allah Ta’ala dan Nabi-Nya berikan dan khususkan bagi mereka yang menjaga salat Subuh pada waktunya, baik itu berjemaah bagi laki-laki ataupun di rumah masing-masing bagi perempuan.Mereka yang senantiasa melaksanakan salat Subuh adalah orang-orang pilihan yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala untuk melakukan kebaikan. Mereka menjawab panggilan Allah ini dengan penuh pengharapan akan pahala dan keutamaan. Mereka itulah orang-orang yang cocok dan sesuai dengan kriteria mukmin yang Allah Ta’ala sebutkan di dalam firman-Nya,فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ * رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ * لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ“(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat), (mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.” (QS. An-Nur: 36-38)Baca Juga: Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atWahai mereka yang istikamah melaksanakan salat Subuh, bergembiralah engkau dengan pahala besar yang sedang menantimu, serta kebaikan dan rezeki yang akan selalu mengikutimu!Bergembiralah wahai kaum muslimin sekalian, jika kita termasuk orang-orang yang menjaga salat Subuh pada waktunya, sesungguhnya para malaikat akan menyaksikan kita. Allah Ta’ala berfirman,أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا“Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra: 78)Dalam riwayat Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ باللَّيْلِ ومَلَائِكَةٌ بالنَّهَارِ، ويَجْتَمِعُونَ في صَلَاةِ الفَجْرِ وصَلَاةِ العَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمْ وهو أعْلَمُ بهِمْ: كيفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فيَقولونَ: تَرَكْنَاهُمْ وهُمْ يُصَلُّونَ، وأَتَيْنَاهُمْ وهُمْ يُصَلُّونَ.“Para Malaikat di malam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat salat Subuh dan salat Asar. Kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (menuju Allah). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui tentang keadaan para hamba-Nya, ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat kalian tinggalkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan salat, dan kami mendatangi mereka juga sedang dalam keadaan sedang salat.’ (HR. Bukhari no. 555 dan Muslim no. 632)Sungguh merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, saat para malaikat bersaksi di hadapan Allah Ta’ala untuk kita, bergembiralah dengan kebaikan yang diiringi dengan kebaikan ini.Bergembiralah saudara-saudaraku sekalian, jika kita termasuk salah satu hamba yang melaksanakan salat Subuh secara berjemaah, karena pahalanya seperti salat tahajud sepanjang malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن صَلَّى العِشَاءَ في جَمَاعَةٍ فَكَأنَّما قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَن صَلَّى الصُّبْحَ في جَمَاعَةٍ فَكَأنَّما صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ“Barangsiapa yang salat Isya berjemaah, maka seolah-olah dia telah salat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang salat Subuh berjemaah, maka seolah-olah dia telah salat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)Baca Juga: Jeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat SunnahHanya dengan beberapa menit melaksanakan salat Subuh, Allah Ta’ala akan menuliskan bagi kita pahala salat semalam suntuk sedang kita di malam itu terlelap di atas kasur-kasur kita. Sungguh keutamaan yang besar dari Allah Ta’ala untuk mereka yang melaksanakan salat Subuh secara berjemaah.أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Sungguh begitu banyak kabar gembira dan keutamaan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang yang melaksanakan salat Subuh, menandakan bahwa salat Subuh ini merupakan perkara krusial bagi seorang muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan memberikan jaminan surga bagi siapa saja yang melaksanakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ“Barangsiapa yang mengerjakan salat bardain (yaitu salat Subuh dan Asar), maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, bukan hanya dalam aspek akhirat saja, salat Subuh bahkan memiliki pengaruh besar terhadap rasa semangat seseorang di hari tersebut. Dengan melaksanakannya, tubuh seseorang akan menjadi segar dan bersemangat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutkan,“Setan mengikatkan tiga ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika dia sedang tidur. Pada tiap ikatannya, setan membisikkan, ‘Malam masih lama, maka lanjutkanlah tidurmu!’ Jika orang itu bangun lalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla (membaca doa), maka terlepaslah satu ikatan. Jika (setelah bangun) dia berwudu, maka terlepaslah ikatan kedua. Jika setelah itu dia menunaikan salat, maka semua ikatan itu pun terlepas, sehingga dia menyongsong pagi hari dengan ceria, penuh semangat. Namun, jika tidak demikian, maka dia akan memasuki waktu pagi hari dengan jiwa yang jelek dan malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)Jemaah yang senantiasa dilindungi Allah Ta’ala,Yang terakhir, seorang hamba yang bangun untuk melaksanakan salat Subuh di pagi hari, ia berkesempatan untuk melaksanakan salat sunah dua rakaat yang keutamaannya melebihi dunia ini dan seisinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,رَكْعَتَا الفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَما فِيهَا“Dua rakaat (sebelum salat) fajar (Subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)Sungguh, sebuah keutamaan besar yang hanya bisa diraih oleh mereka yang bangun dini hari untuk melaksanakan salat Subuh.Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk bisa bangun di pagi hari dan melaksanakan salat Subuh ini secara berjemaah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan diri kita untuk melaksanakan salat Subuh yang penuh kemuliaan ini.Ya Allah, mudahkanlah kami dan keluarga kami untuk menjalankan perintah-Mu, jauhkanlah diri kami dan keluarga kami dari api neraka yang azabnya pedih.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca Juga:Haruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?Hukum Shalat Sunnah Dua Raka’at Ihram***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Zodiak Menurut Islam, 3 Pembagian Bulan Ramadhan, Arti Ar Rahman Asmaul Husna, Keutamaan SolawatTags: judul khutbah jumatkeutamaan shalatkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamshalat sunnahshalat wajibteks khutbah jumattema khutbah jumat

Hadis “Allah Menghalangi Tobat Pelaku Bid’ah”

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath (4202), beliau berkata,حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْفَرْغَانِيُّ قَالَ: نا هَارُونُ بْنُ مُوسَى الْفَرْوِيُّ قَالَ: نا أَبُو ضَمْرَةَ أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ»Ali bin Abdullah Al-Farghani menuturkan kepadaku, ia berkata, Harun bin Musa Al-Farwi telah menuturkan kepadaku, Abu Dhamrah Anas bin ‘Iyadh telah menuturkan kepadaku, dari Humaid bin Ath-Thawil, dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah.”Demikian juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (9011) dan Al-Harawi dalam Dzammul Kalam (5/153) dengan sanad yang berporos pada Harun bin Musa.Adapun rincian kualitas perawi hadis di atas adalah sebagai berikut:Pertama: Harun bin Musa Al-Farwi.Dikatakan oleh Ad-Daruquthni, ”Ia tsiqah, dan ayahnya juga tsiqah.” Abu Hatim mengatakan, “Ia adalah Syekh.” Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat. Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia shaduq.” Ibnu Hajar mengatakan, “Laa ba’sa bihi.” Dari sini bisa disimpulkan bahwa Harun bin Musa adalah perawi yang tsiqah.Kedua: Abu Dhamrah Anas bin ‘Iyadh.Ibnu Hajar mengatakan, “Ia tsiqah.” Yahya bin Ma’in mengatakan, “Ia tsiqah.” Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia tsiqah dan sangat pemurah dengan ilmunya.” Ali bin Madini mengatakan, “Ia penduduk Madinah, dan menurut kami ia tsiqah.”Ketiga: Humaid bin Abi Humaid Ath-Thawil.Ibnu Hajar berkata, “Ia masyhur dikenal sebagai perawi tsiqah yang digunakan sebagai hujjah, namun terkadang melakukan tadlis terhadap hadisnya Anas.” Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia tsiqah, namun melakukan tadlis dari Anas.” Al-Bukhari mengatakan, “Terkadang ia melakukan tadlis.” Yahya bin Ma’in berkata, “Ia tsiqah.”Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa’id mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dan para perawinya adalah perawi Ash-Shahih, kecuali Harun bin Musa. Namun, ia adalah perawi yang tsiqah.” (Majma’ Az-Zawaid, 10/189). Semua perawi hadis ini tsiqah, hanya saja yang menjadi masalah dalam riwayat ini, Humaid dikenal melakukan tadlis terhadap hadisnya Anas. Dan hadis ini diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’ anhu.Terdapat syahid untuk hadis ini, yaitu dari hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (50),حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مَنْصُورٍ الْحَنَّاطُ، عَنْ أَبِي زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ»Abdullah bin Sa’id menuturkan kepada kami, ia berkata, Bisyr bin Manshur Al-Hannath menuturkan kepada kami, dari Abu Zaid, dari Abul Mughirah, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’ anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Ta’ala enggan menerima amalan dari pelaku bid’ah sampai ia bertobat.”Baca Juga: Bantahan Telak Bagi Pelaku Bid’ahBisyr bin Manshur dan Abu Zaid adalah perawi yang majhul. Adapun Abul Mughirah Al-Qawwas di-tsiqah-kan oleh Ibnu Ma’in. Sehingga riwayat ini bisa menjadi syahid untuk riwayat dari Anas bin Malik di atas.Terdapat jalan lain, diriwayatkan Ishaq bin Rahuwaih dalam Musnad-nya (398), beliau berkata,أَخْبَرَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ الْقُشَيْرِيُّ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ الْعَلَاءِ، عَنْ أَنَسٍ، يَرْفَعُهُ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ، عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ»Baqiyyah bin Al-Walid telah menyampaikan kepadaku, Muhammad bin Al-Qusyairi telah menuturkan kepadaku, dari Humaid bin Al-‘Ala dari Anas, secara marfu, “Sesungguhnya Allah menghalangi tobat dari pelaku semua kebid’ahan.”Rincian kualitas perawi hadis di atas adalah sebagai berikut:Pertama: Baqiyyah bin Al-Walid.Dikatakan oleh Abu Bakar Al-Baihaqi, “Para ulama sepakat bahwa Baqiyyah bukan hujjah.” Abu Hatim berkata, “Ia ditulis hadisnya, namun tidak menjadi hujjah.” Ibnu Hajar mengatakan, “Shaduq, banyak melakukan tadlis dari perawi lemah.”Kedua: Muhammad bin Abdirrahman Al-Qusyairi.Ibnu Hajar mengatakan, “Para ulama menganggap dia pendusta.” Abu Hatim berkata, “Ia matrukul hadits, bahkan terhadap memalsukan hadits.” Ad-Daruquthni berkata, “Majhul, matrukul hadits.”Ketiga: Humaid bin Al-Ala, Abu Hatim Ar-Razi berkata, “Ia shalihul hadits.” Al-Azdi mengatakan, “Tidah sahih hadisnya.”Sehingga riwayat adalah riwayat yang parah kelemahannya tidak bisa menjadi mutaba’ah terhadap riwayat yang pertama (dari Ath-Thabarani). Namun, riwayat Ibnu Abbas di atas sudah bisa menjadi syahid bagi riwayat dari Anas bin Malik. Sehingga hadis ini minimalnya hasan.Al-Mundziri dalam At-Targhib wat-Tarhib, menyebutkan hadis ini,وَعَن أنس بن مَالك رَضِي الله عَنهُ قَالَ قَالَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم إِن الله حجب التَّوْبَة عَن كل صَاحب بِدعَة حَتَّى يدع بدعتهDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya.”Kemudian Al-Mundziri mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dan sanadnya hasan. Dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abi Ashim dalam kitab As-Sunnah dari hadisnya Ibnu Abbas.” (At-Targhib wat-Tarhib, 1/45 – 46)Baca Juga:Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaYang menarik di sini, Al-Mundziri menyebutkan tambahan “sampai ia meninggalkan bid’ahnya.” Kemungkinan Al-Mundziri menyebutkan lafaz dari manuskrip Mu’jam Al-Ausath yang lain, atau beliau menggabungkan riwayat Anas dan riwayat Ibnu Abbas.Selain oleh Al-Mundziri, hadis ini juga dihasankan oleh As-Safarini dalam Lawa’ih Al-Anwar (1/203). Dan bahkan disahihkan oleh Al-Haitami dalam Az-Zawajir (1/99), juga oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (54).Makna HadisSebagian ulama seperti Adz-Dzahabi menganggap hadis ini mungkar. Karena menurut beliau ada kelemahan dalam sanadnya dan maknanya bertentangan dengan dalil-dalil lain yang menunjukkan diterima tobat pelaku dosa. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki.” (QS. An Nisa: 4)Ayat ini menunjukkan semua dosa selain syirik pasti akan diampuni oleh Allah walaupun ia mati dalam keadaan belum bertobat. Apalagi jika pelakunya bertobat sebelum matinya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ ، وَبِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ“Sungguh, Allah meluaskan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima tobat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah meluaskan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat dari hamba yang bermaksiat di malam hari.” (HR. Muslim no. 7165)Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ“Sungguh Allah menerima tobat hamba-Nya selama belum yu-ghor-ghir.” (HR. At-Tirmidzi no. 3880. Ia berkata, “Hadis ini hasan gharib.” Di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)Adapun mengenai kelemahan hadis ini, telah kami jelaskan di atas, dan kesimpulannya hadis ini hasan. Sehingga sebagian ulama memang berdalil dengan hadis ini untuk mengatakan bahwa pelaku bid’ah (yang mendakwahkan ke-bid’ah-an) tidak diterima tobatnya.Adapun klaim mungkar dari sisi makna, sebagaimana diklaim oleh Adz-Dzahabi, ini dijelaskan sebagian ulama bahwa pelaku bid’ah tetap bisa diterima tobatnya karena hadis merupakan wa’id (ancaman), bukan berarti menutup peluang diterimanya tobat. Sehingga hadis ini tidak bertentangan dengan dalil-dalil lain.As-Safarini rahimahullah dalam kitab Ghiza’ul Albab mengatakan,“Ibnu Aqil dalam kitab Al-Irsyad mengatakan bahwa jika pelaku bid’ah mendakwahkan bid’ah-nya kemudian ia menyesal atas apa yang ia lakukan, tapi sudah banyak orang yang sesat melalui sebabnya, negeri terpecah belah, banyak orang meninggal, maka tobatnya tetap diterima selama ia memenuhi syarat-syarat tobat. Allah tetap mungkin akan mengampuni dan menerima tobatnya. Dan Allah akan hapuskan dosa-dosa orang yang telah ia sesatkan. Allah merahmatinya dan merahmati mereka. Ini pendapat mayoritas ulama.Berbeda dengan pendapat sebagian ulama dari murid-murid Imam Ahmad, di antaranya Abu Ishaq bin Syaqila, demikian juga pendapat Ar-Rabi’ bin Nafi’, yaitu bahwasanya pelaku bid’ah tidak diterima tobatnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau menguatkan pendapat yang mengatakan diterimanya tobat pelaku bid’ah sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan hadis.Adapun makna hadis, dikatakan oleh Al-Qadhi, ‘Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad tentang hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ‘Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah.’ Dihalangi tobat dalam hadis ini, apa maknanya? Imam Ahmad menjawab. ‘Maknanya ia tidak mendapat taufik, tidak dimudahkan untuk bertobat.’ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Karena keyakinan bid’ah yang ada padanya, membuat ia tidak bisa melihat secara sempurna pada dalil yang bertentangan dengan keyakinannya. Sehingga ia tidak mengetahui kebenaran.Oleh karena itulah, para salaf dahulu mengatakan, ‘Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat.’ Abu Ayyub As-Sijistasni dan ulama yang lain mengatakan, ‘Ahlul bid’ah sulit untuk kembali.’ Beliau juga mengatakan, ‘Keyakinan bid’ah yang telah lama bercokol dalam hatinya dan telah lama ia ketahui, membuat ia terhalangi dari tobat. Sehingga membutuhkan pengetahuan, ilmu, dan dalil yang kadarnya semisal itu (agar bertobat).'” (Ghiza’ul Albab, 2/456)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,فهو من باب الوعيد والتحذير نسأل الله العافية مثل ما قال ﷺ في المدينة: من أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه صرفا ولا عدلا هذا من باب الوعيد وإلا فمن تاب تاب الله عليه.Hadis ini termasuk dalam bab wa’id (ancaman) dan tahdzir (peringatan), semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita. Ini semisal dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kota Madinah, “Siapa yang membuat bid’ah di Madinah, atau membela pelaku bid’ah di Madinah, maka baginya laknat Allah, laknat Malaikat, dan laknat seluruh manusia, tidak diterima semua amal ibadahnya.” Ini juga berupa ancaman. Namun, Allah tetap akan menerima tobatnya pelaku bid’ah yang bertobat. (Syarah Fadhlul Islam)Sebagaimana kaidah dalam bab wa’id, bahwa pelaku perbuatan yang diancam ia bisa jadi diazab neraka karena sebab amalan tersebut. Namun, bisa jadi ia terhalangi dari azab karena adanya tobat atau adanya uzur. Syekh Ibnu Baz contohkan pelaku bid’ah di kota Madinah, bukan berarti pasti semua pelaku bid’ah di kota Madinah terkena laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Namun, mereka diancam mendapatkan laknat, kecuali ada uzur seperti jahil atau pelakunya bertobat.Syekh Shalih bin Abdillah Al-Ushaimi hafizhahullah juga menjelaskan, “Betapa beracunnya dan betapa bahayanya bid’ah terhadap pelakunya. Yaitu Allah Ta’ala menghalangi tobatnya pelaku bid’ah, sehingga ia tidak berkeinginan untuk bertobat. Bukan maksudnya pelaku bid’ah itu tidak diterima tobatnya. Namun, maksudnya sangat sulit bagi mereka untuk bertobat. Karena keburukan bid’ah dan hawa nafsu itu menempel kuat di hati, sehingga hampir-hampir pelakunya enggan untuk bertobat.” (Syarah Fadhlul Islam, hal. 51)Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita semua dari segala bentuk ke-bid’ah-an.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.Baca Juga:Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering Dilupakan11 Amalan Bid’ah di Bulan Muharram ***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Birrul Walidain, Dalil Ruqyah, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Hal Hal Yang Diharamkan Dalam Islam, Pamali Tidur Saat MaghribTags: ahli bid'ahamalan bid'ahfaidah hadistsfikihfikih taubatHaditsibadah bid'ahnasihatnasihat islampelaku bid'ahsyarah haditsTaubat

Hadis “Allah Menghalangi Tobat Pelaku Bid’ah”

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath (4202), beliau berkata,حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْفَرْغَانِيُّ قَالَ: نا هَارُونُ بْنُ مُوسَى الْفَرْوِيُّ قَالَ: نا أَبُو ضَمْرَةَ أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ»Ali bin Abdullah Al-Farghani menuturkan kepadaku, ia berkata, Harun bin Musa Al-Farwi telah menuturkan kepadaku, Abu Dhamrah Anas bin ‘Iyadh telah menuturkan kepadaku, dari Humaid bin Ath-Thawil, dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah.”Demikian juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (9011) dan Al-Harawi dalam Dzammul Kalam (5/153) dengan sanad yang berporos pada Harun bin Musa.Adapun rincian kualitas perawi hadis di atas adalah sebagai berikut:Pertama: Harun bin Musa Al-Farwi.Dikatakan oleh Ad-Daruquthni, ”Ia tsiqah, dan ayahnya juga tsiqah.” Abu Hatim mengatakan, “Ia adalah Syekh.” Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat. Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia shaduq.” Ibnu Hajar mengatakan, “Laa ba’sa bihi.” Dari sini bisa disimpulkan bahwa Harun bin Musa adalah perawi yang tsiqah.Kedua: Abu Dhamrah Anas bin ‘Iyadh.Ibnu Hajar mengatakan, “Ia tsiqah.” Yahya bin Ma’in mengatakan, “Ia tsiqah.” Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia tsiqah dan sangat pemurah dengan ilmunya.” Ali bin Madini mengatakan, “Ia penduduk Madinah, dan menurut kami ia tsiqah.”Ketiga: Humaid bin Abi Humaid Ath-Thawil.Ibnu Hajar berkata, “Ia masyhur dikenal sebagai perawi tsiqah yang digunakan sebagai hujjah, namun terkadang melakukan tadlis terhadap hadisnya Anas.” Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia tsiqah, namun melakukan tadlis dari Anas.” Al-Bukhari mengatakan, “Terkadang ia melakukan tadlis.” Yahya bin Ma’in berkata, “Ia tsiqah.”Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa’id mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dan para perawinya adalah perawi Ash-Shahih, kecuali Harun bin Musa. Namun, ia adalah perawi yang tsiqah.” (Majma’ Az-Zawaid, 10/189). Semua perawi hadis ini tsiqah, hanya saja yang menjadi masalah dalam riwayat ini, Humaid dikenal melakukan tadlis terhadap hadisnya Anas. Dan hadis ini diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’ anhu.Terdapat syahid untuk hadis ini, yaitu dari hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (50),حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مَنْصُورٍ الْحَنَّاطُ، عَنْ أَبِي زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ»Abdullah bin Sa’id menuturkan kepada kami, ia berkata, Bisyr bin Manshur Al-Hannath menuturkan kepada kami, dari Abu Zaid, dari Abul Mughirah, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’ anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Ta’ala enggan menerima amalan dari pelaku bid’ah sampai ia bertobat.”Baca Juga: Bantahan Telak Bagi Pelaku Bid’ahBisyr bin Manshur dan Abu Zaid adalah perawi yang majhul. Adapun Abul Mughirah Al-Qawwas di-tsiqah-kan oleh Ibnu Ma’in. Sehingga riwayat ini bisa menjadi syahid untuk riwayat dari Anas bin Malik di atas.Terdapat jalan lain, diriwayatkan Ishaq bin Rahuwaih dalam Musnad-nya (398), beliau berkata,أَخْبَرَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ الْقُشَيْرِيُّ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ الْعَلَاءِ، عَنْ أَنَسٍ، يَرْفَعُهُ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ، عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ»Baqiyyah bin Al-Walid telah menyampaikan kepadaku, Muhammad bin Al-Qusyairi telah menuturkan kepadaku, dari Humaid bin Al-‘Ala dari Anas, secara marfu, “Sesungguhnya Allah menghalangi tobat dari pelaku semua kebid’ahan.”Rincian kualitas perawi hadis di atas adalah sebagai berikut:Pertama: Baqiyyah bin Al-Walid.Dikatakan oleh Abu Bakar Al-Baihaqi, “Para ulama sepakat bahwa Baqiyyah bukan hujjah.” Abu Hatim berkata, “Ia ditulis hadisnya, namun tidak menjadi hujjah.” Ibnu Hajar mengatakan, “Shaduq, banyak melakukan tadlis dari perawi lemah.”Kedua: Muhammad bin Abdirrahman Al-Qusyairi.Ibnu Hajar mengatakan, “Para ulama menganggap dia pendusta.” Abu Hatim berkata, “Ia matrukul hadits, bahkan terhadap memalsukan hadits.” Ad-Daruquthni berkata, “Majhul, matrukul hadits.”Ketiga: Humaid bin Al-Ala, Abu Hatim Ar-Razi berkata, “Ia shalihul hadits.” Al-Azdi mengatakan, “Tidah sahih hadisnya.”Sehingga riwayat adalah riwayat yang parah kelemahannya tidak bisa menjadi mutaba’ah terhadap riwayat yang pertama (dari Ath-Thabarani). Namun, riwayat Ibnu Abbas di atas sudah bisa menjadi syahid bagi riwayat dari Anas bin Malik. Sehingga hadis ini minimalnya hasan.Al-Mundziri dalam At-Targhib wat-Tarhib, menyebutkan hadis ini,وَعَن أنس بن مَالك رَضِي الله عَنهُ قَالَ قَالَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم إِن الله حجب التَّوْبَة عَن كل صَاحب بِدعَة حَتَّى يدع بدعتهDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya.”Kemudian Al-Mundziri mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dan sanadnya hasan. Dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abi Ashim dalam kitab As-Sunnah dari hadisnya Ibnu Abbas.” (At-Targhib wat-Tarhib, 1/45 – 46)Baca Juga:Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaYang menarik di sini, Al-Mundziri menyebutkan tambahan “sampai ia meninggalkan bid’ahnya.” Kemungkinan Al-Mundziri menyebutkan lafaz dari manuskrip Mu’jam Al-Ausath yang lain, atau beliau menggabungkan riwayat Anas dan riwayat Ibnu Abbas.Selain oleh Al-Mundziri, hadis ini juga dihasankan oleh As-Safarini dalam Lawa’ih Al-Anwar (1/203). Dan bahkan disahihkan oleh Al-Haitami dalam Az-Zawajir (1/99), juga oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (54).Makna HadisSebagian ulama seperti Adz-Dzahabi menganggap hadis ini mungkar. Karena menurut beliau ada kelemahan dalam sanadnya dan maknanya bertentangan dengan dalil-dalil lain yang menunjukkan diterima tobat pelaku dosa. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki.” (QS. An Nisa: 4)Ayat ini menunjukkan semua dosa selain syirik pasti akan diampuni oleh Allah walaupun ia mati dalam keadaan belum bertobat. Apalagi jika pelakunya bertobat sebelum matinya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ ، وَبِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ“Sungguh, Allah meluaskan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima tobat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah meluaskan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat dari hamba yang bermaksiat di malam hari.” (HR. Muslim no. 7165)Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ“Sungguh Allah menerima tobat hamba-Nya selama belum yu-ghor-ghir.” (HR. At-Tirmidzi no. 3880. Ia berkata, “Hadis ini hasan gharib.” Di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)Adapun mengenai kelemahan hadis ini, telah kami jelaskan di atas, dan kesimpulannya hadis ini hasan. Sehingga sebagian ulama memang berdalil dengan hadis ini untuk mengatakan bahwa pelaku bid’ah (yang mendakwahkan ke-bid’ah-an) tidak diterima tobatnya.Adapun klaim mungkar dari sisi makna, sebagaimana diklaim oleh Adz-Dzahabi, ini dijelaskan sebagian ulama bahwa pelaku bid’ah tetap bisa diterima tobatnya karena hadis merupakan wa’id (ancaman), bukan berarti menutup peluang diterimanya tobat. Sehingga hadis ini tidak bertentangan dengan dalil-dalil lain.As-Safarini rahimahullah dalam kitab Ghiza’ul Albab mengatakan,“Ibnu Aqil dalam kitab Al-Irsyad mengatakan bahwa jika pelaku bid’ah mendakwahkan bid’ah-nya kemudian ia menyesal atas apa yang ia lakukan, tapi sudah banyak orang yang sesat melalui sebabnya, negeri terpecah belah, banyak orang meninggal, maka tobatnya tetap diterima selama ia memenuhi syarat-syarat tobat. Allah tetap mungkin akan mengampuni dan menerima tobatnya. Dan Allah akan hapuskan dosa-dosa orang yang telah ia sesatkan. Allah merahmatinya dan merahmati mereka. Ini pendapat mayoritas ulama.Berbeda dengan pendapat sebagian ulama dari murid-murid Imam Ahmad, di antaranya Abu Ishaq bin Syaqila, demikian juga pendapat Ar-Rabi’ bin Nafi’, yaitu bahwasanya pelaku bid’ah tidak diterima tobatnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau menguatkan pendapat yang mengatakan diterimanya tobat pelaku bid’ah sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan hadis.Adapun makna hadis, dikatakan oleh Al-Qadhi, ‘Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad tentang hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ‘Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah.’ Dihalangi tobat dalam hadis ini, apa maknanya? Imam Ahmad menjawab. ‘Maknanya ia tidak mendapat taufik, tidak dimudahkan untuk bertobat.’ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Karena keyakinan bid’ah yang ada padanya, membuat ia tidak bisa melihat secara sempurna pada dalil yang bertentangan dengan keyakinannya. Sehingga ia tidak mengetahui kebenaran.Oleh karena itulah, para salaf dahulu mengatakan, ‘Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat.’ Abu Ayyub As-Sijistasni dan ulama yang lain mengatakan, ‘Ahlul bid’ah sulit untuk kembali.’ Beliau juga mengatakan, ‘Keyakinan bid’ah yang telah lama bercokol dalam hatinya dan telah lama ia ketahui, membuat ia terhalangi dari tobat. Sehingga membutuhkan pengetahuan, ilmu, dan dalil yang kadarnya semisal itu (agar bertobat).'” (Ghiza’ul Albab, 2/456)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,فهو من باب الوعيد والتحذير نسأل الله العافية مثل ما قال ﷺ في المدينة: من أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه صرفا ولا عدلا هذا من باب الوعيد وإلا فمن تاب تاب الله عليه.Hadis ini termasuk dalam bab wa’id (ancaman) dan tahdzir (peringatan), semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita. Ini semisal dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kota Madinah, “Siapa yang membuat bid’ah di Madinah, atau membela pelaku bid’ah di Madinah, maka baginya laknat Allah, laknat Malaikat, dan laknat seluruh manusia, tidak diterima semua amal ibadahnya.” Ini juga berupa ancaman. Namun, Allah tetap akan menerima tobatnya pelaku bid’ah yang bertobat. (Syarah Fadhlul Islam)Sebagaimana kaidah dalam bab wa’id, bahwa pelaku perbuatan yang diancam ia bisa jadi diazab neraka karena sebab amalan tersebut. Namun, bisa jadi ia terhalangi dari azab karena adanya tobat atau adanya uzur. Syekh Ibnu Baz contohkan pelaku bid’ah di kota Madinah, bukan berarti pasti semua pelaku bid’ah di kota Madinah terkena laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Namun, mereka diancam mendapatkan laknat, kecuali ada uzur seperti jahil atau pelakunya bertobat.Syekh Shalih bin Abdillah Al-Ushaimi hafizhahullah juga menjelaskan, “Betapa beracunnya dan betapa bahayanya bid’ah terhadap pelakunya. Yaitu Allah Ta’ala menghalangi tobatnya pelaku bid’ah, sehingga ia tidak berkeinginan untuk bertobat. Bukan maksudnya pelaku bid’ah itu tidak diterima tobatnya. Namun, maksudnya sangat sulit bagi mereka untuk bertobat. Karena keburukan bid’ah dan hawa nafsu itu menempel kuat di hati, sehingga hampir-hampir pelakunya enggan untuk bertobat.” (Syarah Fadhlul Islam, hal. 51)Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita semua dari segala bentuk ke-bid’ah-an.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.Baca Juga:Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering Dilupakan11 Amalan Bid’ah di Bulan Muharram ***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Birrul Walidain, Dalil Ruqyah, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Hal Hal Yang Diharamkan Dalam Islam, Pamali Tidur Saat MaghribTags: ahli bid'ahamalan bid'ahfaidah hadistsfikihfikih taubatHaditsibadah bid'ahnasihatnasihat islampelaku bid'ahsyarah haditsTaubat
Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath (4202), beliau berkata,حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْفَرْغَانِيُّ قَالَ: نا هَارُونُ بْنُ مُوسَى الْفَرْوِيُّ قَالَ: نا أَبُو ضَمْرَةَ أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ»Ali bin Abdullah Al-Farghani menuturkan kepadaku, ia berkata, Harun bin Musa Al-Farwi telah menuturkan kepadaku, Abu Dhamrah Anas bin ‘Iyadh telah menuturkan kepadaku, dari Humaid bin Ath-Thawil, dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah.”Demikian juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (9011) dan Al-Harawi dalam Dzammul Kalam (5/153) dengan sanad yang berporos pada Harun bin Musa.Adapun rincian kualitas perawi hadis di atas adalah sebagai berikut:Pertama: Harun bin Musa Al-Farwi.Dikatakan oleh Ad-Daruquthni, ”Ia tsiqah, dan ayahnya juga tsiqah.” Abu Hatim mengatakan, “Ia adalah Syekh.” Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat. Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia shaduq.” Ibnu Hajar mengatakan, “Laa ba’sa bihi.” Dari sini bisa disimpulkan bahwa Harun bin Musa adalah perawi yang tsiqah.Kedua: Abu Dhamrah Anas bin ‘Iyadh.Ibnu Hajar mengatakan, “Ia tsiqah.” Yahya bin Ma’in mengatakan, “Ia tsiqah.” Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia tsiqah dan sangat pemurah dengan ilmunya.” Ali bin Madini mengatakan, “Ia penduduk Madinah, dan menurut kami ia tsiqah.”Ketiga: Humaid bin Abi Humaid Ath-Thawil.Ibnu Hajar berkata, “Ia masyhur dikenal sebagai perawi tsiqah yang digunakan sebagai hujjah, namun terkadang melakukan tadlis terhadap hadisnya Anas.” Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia tsiqah, namun melakukan tadlis dari Anas.” Al-Bukhari mengatakan, “Terkadang ia melakukan tadlis.” Yahya bin Ma’in berkata, “Ia tsiqah.”Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa’id mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dan para perawinya adalah perawi Ash-Shahih, kecuali Harun bin Musa. Namun, ia adalah perawi yang tsiqah.” (Majma’ Az-Zawaid, 10/189). Semua perawi hadis ini tsiqah, hanya saja yang menjadi masalah dalam riwayat ini, Humaid dikenal melakukan tadlis terhadap hadisnya Anas. Dan hadis ini diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’ anhu.Terdapat syahid untuk hadis ini, yaitu dari hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (50),حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مَنْصُورٍ الْحَنَّاطُ، عَنْ أَبِي زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ»Abdullah bin Sa’id menuturkan kepada kami, ia berkata, Bisyr bin Manshur Al-Hannath menuturkan kepada kami, dari Abu Zaid, dari Abul Mughirah, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’ anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Ta’ala enggan menerima amalan dari pelaku bid’ah sampai ia bertobat.”Baca Juga: Bantahan Telak Bagi Pelaku Bid’ahBisyr bin Manshur dan Abu Zaid adalah perawi yang majhul. Adapun Abul Mughirah Al-Qawwas di-tsiqah-kan oleh Ibnu Ma’in. Sehingga riwayat ini bisa menjadi syahid untuk riwayat dari Anas bin Malik di atas.Terdapat jalan lain, diriwayatkan Ishaq bin Rahuwaih dalam Musnad-nya (398), beliau berkata,أَخْبَرَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ الْقُشَيْرِيُّ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ الْعَلَاءِ، عَنْ أَنَسٍ، يَرْفَعُهُ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ، عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ»Baqiyyah bin Al-Walid telah menyampaikan kepadaku, Muhammad bin Al-Qusyairi telah menuturkan kepadaku, dari Humaid bin Al-‘Ala dari Anas, secara marfu, “Sesungguhnya Allah menghalangi tobat dari pelaku semua kebid’ahan.”Rincian kualitas perawi hadis di atas adalah sebagai berikut:Pertama: Baqiyyah bin Al-Walid.Dikatakan oleh Abu Bakar Al-Baihaqi, “Para ulama sepakat bahwa Baqiyyah bukan hujjah.” Abu Hatim berkata, “Ia ditulis hadisnya, namun tidak menjadi hujjah.” Ibnu Hajar mengatakan, “Shaduq, banyak melakukan tadlis dari perawi lemah.”Kedua: Muhammad bin Abdirrahman Al-Qusyairi.Ibnu Hajar mengatakan, “Para ulama menganggap dia pendusta.” Abu Hatim berkata, “Ia matrukul hadits, bahkan terhadap memalsukan hadits.” Ad-Daruquthni berkata, “Majhul, matrukul hadits.”Ketiga: Humaid bin Al-Ala, Abu Hatim Ar-Razi berkata, “Ia shalihul hadits.” Al-Azdi mengatakan, “Tidah sahih hadisnya.”Sehingga riwayat adalah riwayat yang parah kelemahannya tidak bisa menjadi mutaba’ah terhadap riwayat yang pertama (dari Ath-Thabarani). Namun, riwayat Ibnu Abbas di atas sudah bisa menjadi syahid bagi riwayat dari Anas bin Malik. Sehingga hadis ini minimalnya hasan.Al-Mundziri dalam At-Targhib wat-Tarhib, menyebutkan hadis ini,وَعَن أنس بن مَالك رَضِي الله عَنهُ قَالَ قَالَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم إِن الله حجب التَّوْبَة عَن كل صَاحب بِدعَة حَتَّى يدع بدعتهDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya.”Kemudian Al-Mundziri mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dan sanadnya hasan. Dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abi Ashim dalam kitab As-Sunnah dari hadisnya Ibnu Abbas.” (At-Targhib wat-Tarhib, 1/45 – 46)Baca Juga:Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaYang menarik di sini, Al-Mundziri menyebutkan tambahan “sampai ia meninggalkan bid’ahnya.” Kemungkinan Al-Mundziri menyebutkan lafaz dari manuskrip Mu’jam Al-Ausath yang lain, atau beliau menggabungkan riwayat Anas dan riwayat Ibnu Abbas.Selain oleh Al-Mundziri, hadis ini juga dihasankan oleh As-Safarini dalam Lawa’ih Al-Anwar (1/203). Dan bahkan disahihkan oleh Al-Haitami dalam Az-Zawajir (1/99), juga oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (54).Makna HadisSebagian ulama seperti Adz-Dzahabi menganggap hadis ini mungkar. Karena menurut beliau ada kelemahan dalam sanadnya dan maknanya bertentangan dengan dalil-dalil lain yang menunjukkan diterima tobat pelaku dosa. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki.” (QS. An Nisa: 4)Ayat ini menunjukkan semua dosa selain syirik pasti akan diampuni oleh Allah walaupun ia mati dalam keadaan belum bertobat. Apalagi jika pelakunya bertobat sebelum matinya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ ، وَبِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ“Sungguh, Allah meluaskan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima tobat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah meluaskan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat dari hamba yang bermaksiat di malam hari.” (HR. Muslim no. 7165)Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ“Sungguh Allah menerima tobat hamba-Nya selama belum yu-ghor-ghir.” (HR. At-Tirmidzi no. 3880. Ia berkata, “Hadis ini hasan gharib.” Di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)Adapun mengenai kelemahan hadis ini, telah kami jelaskan di atas, dan kesimpulannya hadis ini hasan. Sehingga sebagian ulama memang berdalil dengan hadis ini untuk mengatakan bahwa pelaku bid’ah (yang mendakwahkan ke-bid’ah-an) tidak diterima tobatnya.Adapun klaim mungkar dari sisi makna, sebagaimana diklaim oleh Adz-Dzahabi, ini dijelaskan sebagian ulama bahwa pelaku bid’ah tetap bisa diterima tobatnya karena hadis merupakan wa’id (ancaman), bukan berarti menutup peluang diterimanya tobat. Sehingga hadis ini tidak bertentangan dengan dalil-dalil lain.As-Safarini rahimahullah dalam kitab Ghiza’ul Albab mengatakan,“Ibnu Aqil dalam kitab Al-Irsyad mengatakan bahwa jika pelaku bid’ah mendakwahkan bid’ah-nya kemudian ia menyesal atas apa yang ia lakukan, tapi sudah banyak orang yang sesat melalui sebabnya, negeri terpecah belah, banyak orang meninggal, maka tobatnya tetap diterima selama ia memenuhi syarat-syarat tobat. Allah tetap mungkin akan mengampuni dan menerima tobatnya. Dan Allah akan hapuskan dosa-dosa orang yang telah ia sesatkan. Allah merahmatinya dan merahmati mereka. Ini pendapat mayoritas ulama.Berbeda dengan pendapat sebagian ulama dari murid-murid Imam Ahmad, di antaranya Abu Ishaq bin Syaqila, demikian juga pendapat Ar-Rabi’ bin Nafi’, yaitu bahwasanya pelaku bid’ah tidak diterima tobatnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau menguatkan pendapat yang mengatakan diterimanya tobat pelaku bid’ah sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan hadis.Adapun makna hadis, dikatakan oleh Al-Qadhi, ‘Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad tentang hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ‘Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah.’ Dihalangi tobat dalam hadis ini, apa maknanya? Imam Ahmad menjawab. ‘Maknanya ia tidak mendapat taufik, tidak dimudahkan untuk bertobat.’ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Karena keyakinan bid’ah yang ada padanya, membuat ia tidak bisa melihat secara sempurna pada dalil yang bertentangan dengan keyakinannya. Sehingga ia tidak mengetahui kebenaran.Oleh karena itulah, para salaf dahulu mengatakan, ‘Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat.’ Abu Ayyub As-Sijistasni dan ulama yang lain mengatakan, ‘Ahlul bid’ah sulit untuk kembali.’ Beliau juga mengatakan, ‘Keyakinan bid’ah yang telah lama bercokol dalam hatinya dan telah lama ia ketahui, membuat ia terhalangi dari tobat. Sehingga membutuhkan pengetahuan, ilmu, dan dalil yang kadarnya semisal itu (agar bertobat).'” (Ghiza’ul Albab, 2/456)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,فهو من باب الوعيد والتحذير نسأل الله العافية مثل ما قال ﷺ في المدينة: من أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه صرفا ولا عدلا هذا من باب الوعيد وإلا فمن تاب تاب الله عليه.Hadis ini termasuk dalam bab wa’id (ancaman) dan tahdzir (peringatan), semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita. Ini semisal dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kota Madinah, “Siapa yang membuat bid’ah di Madinah, atau membela pelaku bid’ah di Madinah, maka baginya laknat Allah, laknat Malaikat, dan laknat seluruh manusia, tidak diterima semua amal ibadahnya.” Ini juga berupa ancaman. Namun, Allah tetap akan menerima tobatnya pelaku bid’ah yang bertobat. (Syarah Fadhlul Islam)Sebagaimana kaidah dalam bab wa’id, bahwa pelaku perbuatan yang diancam ia bisa jadi diazab neraka karena sebab amalan tersebut. Namun, bisa jadi ia terhalangi dari azab karena adanya tobat atau adanya uzur. Syekh Ibnu Baz contohkan pelaku bid’ah di kota Madinah, bukan berarti pasti semua pelaku bid’ah di kota Madinah terkena laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Namun, mereka diancam mendapatkan laknat, kecuali ada uzur seperti jahil atau pelakunya bertobat.Syekh Shalih bin Abdillah Al-Ushaimi hafizhahullah juga menjelaskan, “Betapa beracunnya dan betapa bahayanya bid’ah terhadap pelakunya. Yaitu Allah Ta’ala menghalangi tobatnya pelaku bid’ah, sehingga ia tidak berkeinginan untuk bertobat. Bukan maksudnya pelaku bid’ah itu tidak diterima tobatnya. Namun, maksudnya sangat sulit bagi mereka untuk bertobat. Karena keburukan bid’ah dan hawa nafsu itu menempel kuat di hati, sehingga hampir-hampir pelakunya enggan untuk bertobat.” (Syarah Fadhlul Islam, hal. 51)Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita semua dari segala bentuk ke-bid’ah-an.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.Baca Juga:Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering Dilupakan11 Amalan Bid’ah di Bulan Muharram ***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Birrul Walidain, Dalil Ruqyah, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Hal Hal Yang Diharamkan Dalam Islam, Pamali Tidur Saat MaghribTags: ahli bid'ahamalan bid'ahfaidah hadistsfikihfikih taubatHaditsibadah bid'ahnasihatnasihat islampelaku bid'ahsyarah haditsTaubat


Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath (4202), beliau berkata,حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْفَرْغَانِيُّ قَالَ: نا هَارُونُ بْنُ مُوسَى الْفَرْوِيُّ قَالَ: نا أَبُو ضَمْرَةَ أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ»Ali bin Abdullah Al-Farghani menuturkan kepadaku, ia berkata, Harun bin Musa Al-Farwi telah menuturkan kepadaku, Abu Dhamrah Anas bin ‘Iyadh telah menuturkan kepadaku, dari Humaid bin Ath-Thawil, dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah.”Demikian juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (9011) dan Al-Harawi dalam Dzammul Kalam (5/153) dengan sanad yang berporos pada Harun bin Musa.Adapun rincian kualitas perawi hadis di atas adalah sebagai berikut:Pertama: Harun bin Musa Al-Farwi.Dikatakan oleh Ad-Daruquthni, ”Ia tsiqah, dan ayahnya juga tsiqah.” Abu Hatim mengatakan, “Ia adalah Syekh.” Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat. Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia shaduq.” Ibnu Hajar mengatakan, “Laa ba’sa bihi.” Dari sini bisa disimpulkan bahwa Harun bin Musa adalah perawi yang tsiqah.Kedua: Abu Dhamrah Anas bin ‘Iyadh.Ibnu Hajar mengatakan, “Ia tsiqah.” Yahya bin Ma’in mengatakan, “Ia tsiqah.” Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia tsiqah dan sangat pemurah dengan ilmunya.” Ali bin Madini mengatakan, “Ia penduduk Madinah, dan menurut kami ia tsiqah.”Ketiga: Humaid bin Abi Humaid Ath-Thawil.Ibnu Hajar berkata, “Ia masyhur dikenal sebagai perawi tsiqah yang digunakan sebagai hujjah, namun terkadang melakukan tadlis terhadap hadisnya Anas.” Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia tsiqah, namun melakukan tadlis dari Anas.” Al-Bukhari mengatakan, “Terkadang ia melakukan tadlis.” Yahya bin Ma’in berkata, “Ia tsiqah.”Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa’id mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dan para perawinya adalah perawi Ash-Shahih, kecuali Harun bin Musa. Namun, ia adalah perawi yang tsiqah.” (Majma’ Az-Zawaid, 10/189). Semua perawi hadis ini tsiqah, hanya saja yang menjadi masalah dalam riwayat ini, Humaid dikenal melakukan tadlis terhadap hadisnya Anas. Dan hadis ini diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’ anhu.Terdapat syahid untuk hadis ini, yaitu dari hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (50),حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مَنْصُورٍ الْحَنَّاطُ، عَنْ أَبِي زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ»Abdullah bin Sa’id menuturkan kepada kami, ia berkata, Bisyr bin Manshur Al-Hannath menuturkan kepada kami, dari Abu Zaid, dari Abul Mughirah, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’ anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Ta’ala enggan menerima amalan dari pelaku bid’ah sampai ia bertobat.”Baca Juga: Bantahan Telak Bagi Pelaku Bid’ahBisyr bin Manshur dan Abu Zaid adalah perawi yang majhul. Adapun Abul Mughirah Al-Qawwas di-tsiqah-kan oleh Ibnu Ma’in. Sehingga riwayat ini bisa menjadi syahid untuk riwayat dari Anas bin Malik di atas.Terdapat jalan lain, diriwayatkan Ishaq bin Rahuwaih dalam Musnad-nya (398), beliau berkata,أَخْبَرَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ الْقُشَيْرِيُّ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ الْعَلَاءِ، عَنْ أَنَسٍ، يَرْفَعُهُ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ، عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ»Baqiyyah bin Al-Walid telah menyampaikan kepadaku, Muhammad bin Al-Qusyairi telah menuturkan kepadaku, dari Humaid bin Al-‘Ala dari Anas, secara marfu, “Sesungguhnya Allah menghalangi tobat dari pelaku semua kebid’ahan.”Rincian kualitas perawi hadis di atas adalah sebagai berikut:Pertama: Baqiyyah bin Al-Walid.Dikatakan oleh Abu Bakar Al-Baihaqi, “Para ulama sepakat bahwa Baqiyyah bukan hujjah.” Abu Hatim berkata, “Ia ditulis hadisnya, namun tidak menjadi hujjah.” Ibnu Hajar mengatakan, “Shaduq, banyak melakukan tadlis dari perawi lemah.”Kedua: Muhammad bin Abdirrahman Al-Qusyairi.Ibnu Hajar mengatakan, “Para ulama menganggap dia pendusta.” Abu Hatim berkata, “Ia matrukul hadits, bahkan terhadap memalsukan hadits.” Ad-Daruquthni berkata, “Majhul, matrukul hadits.”Ketiga: Humaid bin Al-Ala, Abu Hatim Ar-Razi berkata, “Ia shalihul hadits.” Al-Azdi mengatakan, “Tidah sahih hadisnya.”Sehingga riwayat adalah riwayat yang parah kelemahannya tidak bisa menjadi mutaba’ah terhadap riwayat yang pertama (dari Ath-Thabarani). Namun, riwayat Ibnu Abbas di atas sudah bisa menjadi syahid bagi riwayat dari Anas bin Malik. Sehingga hadis ini minimalnya hasan.Al-Mundziri dalam At-Targhib wat-Tarhib, menyebutkan hadis ini,وَعَن أنس بن مَالك رَضِي الله عَنهُ قَالَ قَالَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم إِن الله حجب التَّوْبَة عَن كل صَاحب بِدعَة حَتَّى يدع بدعتهDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya.”Kemudian Al-Mundziri mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dan sanadnya hasan. Dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abi Ashim dalam kitab As-Sunnah dari hadisnya Ibnu Abbas.” (At-Targhib wat-Tarhib, 1/45 – 46)Baca Juga:Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaYang menarik di sini, Al-Mundziri menyebutkan tambahan “sampai ia meninggalkan bid’ahnya.” Kemungkinan Al-Mundziri menyebutkan lafaz dari manuskrip Mu’jam Al-Ausath yang lain, atau beliau menggabungkan riwayat Anas dan riwayat Ibnu Abbas.Selain oleh Al-Mundziri, hadis ini juga dihasankan oleh As-Safarini dalam Lawa’ih Al-Anwar (1/203). Dan bahkan disahihkan oleh Al-Haitami dalam Az-Zawajir (1/99), juga oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (54).Makna HadisSebagian ulama seperti Adz-Dzahabi menganggap hadis ini mungkar. Karena menurut beliau ada kelemahan dalam sanadnya dan maknanya bertentangan dengan dalil-dalil lain yang menunjukkan diterima tobat pelaku dosa. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki.” (QS. An Nisa: 4)Ayat ini menunjukkan semua dosa selain syirik pasti akan diampuni oleh Allah walaupun ia mati dalam keadaan belum bertobat. Apalagi jika pelakunya bertobat sebelum matinya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ ، وَبِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ“Sungguh, Allah meluaskan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima tobat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah meluaskan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat dari hamba yang bermaksiat di malam hari.” (HR. Muslim no. 7165)Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ“Sungguh Allah menerima tobat hamba-Nya selama belum yu-ghor-ghir.” (HR. At-Tirmidzi no. 3880. Ia berkata, “Hadis ini hasan gharib.” Di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)Adapun mengenai kelemahan hadis ini, telah kami jelaskan di atas, dan kesimpulannya hadis ini hasan. Sehingga sebagian ulama memang berdalil dengan hadis ini untuk mengatakan bahwa pelaku bid’ah (yang mendakwahkan ke-bid’ah-an) tidak diterima tobatnya.Adapun klaim mungkar dari sisi makna, sebagaimana diklaim oleh Adz-Dzahabi, ini dijelaskan sebagian ulama bahwa pelaku bid’ah tetap bisa diterima tobatnya karena hadis merupakan wa’id (ancaman), bukan berarti menutup peluang diterimanya tobat. Sehingga hadis ini tidak bertentangan dengan dalil-dalil lain.As-Safarini rahimahullah dalam kitab Ghiza’ul Albab mengatakan,“Ibnu Aqil dalam kitab Al-Irsyad mengatakan bahwa jika pelaku bid’ah mendakwahkan bid’ah-nya kemudian ia menyesal atas apa yang ia lakukan, tapi sudah banyak orang yang sesat melalui sebabnya, negeri terpecah belah, banyak orang meninggal, maka tobatnya tetap diterima selama ia memenuhi syarat-syarat tobat. Allah tetap mungkin akan mengampuni dan menerima tobatnya. Dan Allah akan hapuskan dosa-dosa orang yang telah ia sesatkan. Allah merahmatinya dan merahmati mereka. Ini pendapat mayoritas ulama.Berbeda dengan pendapat sebagian ulama dari murid-murid Imam Ahmad, di antaranya Abu Ishaq bin Syaqila, demikian juga pendapat Ar-Rabi’ bin Nafi’, yaitu bahwasanya pelaku bid’ah tidak diterima tobatnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau menguatkan pendapat yang mengatakan diterimanya tobat pelaku bid’ah sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan hadis.Adapun makna hadis, dikatakan oleh Al-Qadhi, ‘Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad tentang hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ‘Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah.’ Dihalangi tobat dalam hadis ini, apa maknanya? Imam Ahmad menjawab. ‘Maknanya ia tidak mendapat taufik, tidak dimudahkan untuk bertobat.’ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Karena keyakinan bid’ah yang ada padanya, membuat ia tidak bisa melihat secara sempurna pada dalil yang bertentangan dengan keyakinannya. Sehingga ia tidak mengetahui kebenaran.Oleh karena itulah, para salaf dahulu mengatakan, ‘Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat.’ Abu Ayyub As-Sijistasni dan ulama yang lain mengatakan, ‘Ahlul bid’ah sulit untuk kembali.’ Beliau juga mengatakan, ‘Keyakinan bid’ah yang telah lama bercokol dalam hatinya dan telah lama ia ketahui, membuat ia terhalangi dari tobat. Sehingga membutuhkan pengetahuan, ilmu, dan dalil yang kadarnya semisal itu (agar bertobat).'” (Ghiza’ul Albab, 2/456)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,فهو من باب الوعيد والتحذير نسأل الله العافية مثل ما قال ﷺ في المدينة: من أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه صرفا ولا عدلا هذا من باب الوعيد وإلا فمن تاب تاب الله عليه.Hadis ini termasuk dalam bab wa’id (ancaman) dan tahdzir (peringatan), semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita. Ini semisal dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kota Madinah, “Siapa yang membuat bid’ah di Madinah, atau membela pelaku bid’ah di Madinah, maka baginya laknat Allah, laknat Malaikat, dan laknat seluruh manusia, tidak diterima semua amal ibadahnya.” Ini juga berupa ancaman. Namun, Allah tetap akan menerima tobatnya pelaku bid’ah yang bertobat. (Syarah Fadhlul Islam)Sebagaimana kaidah dalam bab wa’id, bahwa pelaku perbuatan yang diancam ia bisa jadi diazab neraka karena sebab amalan tersebut. Namun, bisa jadi ia terhalangi dari azab karena adanya tobat atau adanya uzur. Syekh Ibnu Baz contohkan pelaku bid’ah di kota Madinah, bukan berarti pasti semua pelaku bid’ah di kota Madinah terkena laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Namun, mereka diancam mendapatkan laknat, kecuali ada uzur seperti jahil atau pelakunya bertobat.Syekh Shalih bin Abdillah Al-Ushaimi hafizhahullah juga menjelaskan, “Betapa beracunnya dan betapa bahayanya bid’ah terhadap pelakunya. Yaitu Allah Ta’ala menghalangi tobatnya pelaku bid’ah, sehingga ia tidak berkeinginan untuk bertobat. Bukan maksudnya pelaku bid’ah itu tidak diterima tobatnya. Namun, maksudnya sangat sulit bagi mereka untuk bertobat. Karena keburukan bid’ah dan hawa nafsu itu menempel kuat di hati, sehingga hampir-hampir pelakunya enggan untuk bertobat.” (Syarah Fadhlul Islam, hal. 51)Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita semua dari segala bentuk ke-bid’ah-an.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.Baca Juga:Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering Dilupakan11 Amalan Bid’ah di Bulan Muharram ***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Birrul Walidain, Dalil Ruqyah, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Hal Hal Yang Diharamkan Dalam Islam, Pamali Tidur Saat MaghribTags: ahli bid'ahamalan bid'ahfaidah hadistsfikihfikih taubatHaditsibadah bid'ahnasihatnasihat islampelaku bid'ahsyarah haditsTaubat

Awas Pintu Masuk Setan Ini – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Saudara-saudara, marah adalah bara api di dalam hati,yang disulut oleh setan, dan ia juga menambah nyala dan kobarannya,agar bara api itu membakar hati dan merusak amalan,bahkan bisa jadi dapat menghilangkan nyawa. Kesempatan ini bukanlah untuk bercerita.Namun, untuk menyampaikan kabar dari Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Saudara-saudara, para ulama telah menyebutkan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada seorang sahabat yang meminta wasiat beliau, maka beliau bersabda, “Jangan marah!”“Jangan marah!”Wasiat ini bukanlah larangan terhadap kemarahan yang ada dalam hati. Karena yang ada dalam hati pasti menghinggapi setiap orang.Karena orang yang tidak dipancing kemarahannya, tetapi ia malah marah, maka terdapat kekurangan pada akal dan kehormatan dirinya. Namun, yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pengaruh rasa marah,yaitu dengan menahan anggota badannya, maka ia tidak berbuat zalim dengan lisannya, dan tidak melukai dengan jari jemarinya,serta tidak mendengki dengan hatinya, sehingga ia memendam kebencian.Namun, ia mendoakan yang baik,dan memaafkan orang yang menzaliminya atas apa yang ia rasakan dalam hatinya. Dan ini tidaklah menghalangi seseorang untuk meminta qisas, karena itu tidak bertentangan dengan kemarahan.Kemarahan yang ada dalam hati sudah menjadi ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla, dan berada di luar kendali seorang hamba. Maksud dari pembahasan ini—kita kembali pada pembahasan—bahwa kemarahan itu, wahai Saudara-saudara, adalah bara api dalam hati yang disukai oleh setan. Kemarahan adalah api, dan setan juga api, karena ia tercipta dari api.Oleh sebab itu, salah satu pintu paling besar bagi setan untuk menggoda manusia adalah kemarahan. Tidaklah seorang suami menceraikan istrinya kecuali kemarahan adalah sebabnya, bahkan itu sebab perceraian yang paling besar.Diriwayatkan dalam hadis bahwa Iblis mendirikan singgasananya. Iblis mendirikan singgasananya, kemudian para prajuritnya mendatanginya.Kemudian Iblis bertanya kepada setiap pasukannya, “Apa yang sudah kamu lakukan?”Prajurit pertama menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia berzina.” Iblis berkata, “Kamu tidak melakukan apa pun, ia besok pasti bertaubat.” Lalu Iblis bertanya kepada prajurit kedua, “Apa yang sudah kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia mencuri.”Iblis berkata, “Kamu tidak melakukan apa pun, ia besok pasti bertaubat.” Prajurit ketiga datang, lalu ditanya Iblis, “Apa yang sudah kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia menceraikan istrinya.”Maka Iblis berkata, “Bagus, bagus!” Lalu Iblis mendudukkannya di sisinya. Hal ini karena Iblis tahu bahwa kemarahan adalah yang menyebabkan perceraian itu,dan ia tahu bahwa perceraian seorang suami dengan istrinyaadalah salah satu sebab terbesar yang merusak hati seorang suami,dan merusak hati sang istri, lalu setelah itu akan merusak akhlak anak-anaknya,sehingga merusak seluruh masyarakat. Dan ini dapat kita bahas di kesempatan lain. Jadi, maksud dari hal ini, wahai Saudara-saudara,bahwa seseorang saat berpuasa hendaklah mendidik dirinya,untuk mengendalikan kemarahan dan melatih kesabaran,dengan begitu godaan dari setan akan melemah. Dan ini merupakan salah satu makna dari hadis, bahwa setan-setan dibelenggu pada bulan Ramadan,karena setan tidak menemukan bara api yang dapat ia sulut,dan tidak mendapatkan sebab yang bisa ia jadikan sebagai pintu untuk menjalankan godaannya,dan tidak ada sebab untuk menjerumuskan seseorang ke dalam kebinasaan. Maka Saudara-saudara, bulan yang agung ini,dan hari-hari berpuasanya setiap hamba ini,merupakan sebab untuk seseorang dapat melatih diri, agar dapat bersabar. Dan barang siapa dapat bersabar,maka ia telah mendapatkan sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bulan Ramadan adalah bulan kesabaran,dan seseorang hendaklah berusaha mendapatkan sifat ini.Jika ia berhasil mendapatkannya, maka ia akan mendapatkan sifat terpuji lainnya setelah itu. ==== الْغَضَبُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هُوَ جَمْرَةٌ فِي الْقَلْبِ يُشْعِلُهَا الشَّيْطَانُ وَيَزِيدُهَا ذَكَاءً وَيَزِيدُهَا تَوْرِيَةً لِكَي تَحْرِقَ الْقَلْبَ وَتُفْسِدَ الْعَمَلَ بَلْ لَرُبَّمَا وَقَدْ أَذْهَبَتِ النَّفْسَ وَلَيْسَ الْمَقَامُ مَقَامَ قَصَصٍ وَإِنَّمَا الْمَقَامُ إِخْبَارٌ عَنِ اللهِ وَعَنْ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ فِي وَصِيَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَمَا اسْتَوْصَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ لَا تَغْضَبْ لَا تَغْضَبْ هَذِهِ الْوَصِيَّةُ لَيْسَتْ نَهْيًا عَمَّا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ إِذْ مَا فِي الْقَلْبِ طَارِئٌ عَلَى كُلِّ امْرِئٍ فَإِنَّ مَنْ لَمْ يُسْتَغْضَبْ فَيَغْضَبُ فَإِنَّهُ نَقْصٌ فِي عَقْلِهِ وَفِي مُرُوءَتِهِ وَإِنَّمَا الَّذِي نَهَى عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ أَثَرُ الْغَضَبِ وَهُوَ كَفُّ الْجَوَارِحِ فَلَا يَعْتَدِي بِلِسَانِهِ وَلَا يَجْرَحُ بِبَنَانِهِ وَلَا يَحْقِدُ بِقَلْبِهِ فَيَجْمَعُ ضَغِيْنَةً وَإِنَّمَا يَدْعُو وَيُبَرِّئُ ظَالِمَهُ وَالْمُعْتَدِي عَلَيْهِ فِيمَا فِي قَلْبِهِ وَلَا يَمْنَعُ ذَلِكَ مِنَ الْاِقْتِصَاصِ فَإِنَّهُ لَا يُنَافِي الْغَضَبَ وَمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ فَإِنَّهُ مِنْ وَضْعِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَ بِإِرَادَةِ الْعَبْدِ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ نَرْجِعُ لِكَلَامِنَا أَنَّ الْغَضَبَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ شُعْلَةٌ فِي الْقَلْبِ يُحِبُّهَا الشَّيْطَانُ فَهِيَ نَارٌ وَالشَّيْطَانُ مِنْ نَارٍ خُلِقَ مِنْ نَارٍ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْغَضَبُ مَا طَلَّقَ رَجُلٌ امْرَأَتَهُ إِلَّا وَكَانَ الْغَضَبُ سَبَبًا بَلْ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الطَّلَاقِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَنْصِبُ عَرْشَهُ يَنْصِبُ عَرْشَهُ فَيَأْتِيْهِ جُنْدُهُ فَيَقُولُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ جُنْدِهِ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ الْأَوَّلُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى زَنَا قَالَ لَمْ تَفْعَلْ شَيْئًا غَدًا يَتُوبُ ثُمَّ يَأْتِي الثَّانِي مِنْ جُنْدِهِ فَيَقُولُ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى سَرَقَ قَالَ مَا فَعَلْتَ شَيْئًا غَدًا يَتُوبُ فَيَأْتِي الثَّالِثُ فَيَقُولُ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى طَلَّقَ زَوْجَتَهُ وَفَارَقَهَا فَيَقُولُ أَنْتَ أَنْتَ فَيُجْلِسُهُ بِجَانِبِهِ لِعِلْمِ الشَّيْطَانِ أَنَّ الْغَضَبَ هُوَ سَبَبُ ذَلِكَ وَأَنَّ فِرَاقَ الْمَرْءِ لِزَوْجِهِ أَنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُفْسِدُ عَلَى الْمَرْءِ قَلْبَهُ وَتُفْسِدُ عَلَى الزَّوْجِ قَلْبَهَا وَتُفْسِدُ عَلَى الْأَبْنَاءِ بَعْدَ ذَلِكَ أَفْعَالَهُمْ فَتُؤَثِّرُ فِي الْمُجْتَمَعِ كُلِّهِ وَالْحَدِيثُ لَهُ مَقَامٌ آخَرُ إِذًا الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أَنَّ الْمَرْأَةَ فِي الصِّيَامِ يُؤَدِّبُ نَفْسَهُ عَلَى تَرْكِ الْغَضَبِ وَاكْتِسَابِ الْحِلْمِ فَحِينَئِذٍ يَضْعُفُ دَاعِي الشَّيْطَانِ وَهَذَا مِنَ الْمَعَانِي فِي أَنَّ الشَّيَاطِينَ تُغَلُّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَإِنَّهَا لَا تَجِدُ النَّارَ الَّتِي تُذْكِيْهَا وَلَا تَجِدُ السَّبَبَ الَّذِي تَجْعَلُهُ مَدْخَلًا لِأَفْعَالِهَا وَلَا يَكُونُ سَبَبًا لِإِيْرَادِ الْمَرْءِ الْمَهَالِكَ إِذًا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هَذَا الشَّهْرُ الْعَظِيْمُ وَهَذِهِ الْأَيَّامُ الَّتِي يَصُومُهَا الْعَبْدُ هِيَ سَبَبٌ لِتَرْوِيْضِ الْمَرْءِ لِاكْتِسَابِهِ الْحِلْمَ وَمَنِ اكْتَسَبَ الْحِلْمَ فَقَدِ اكْتَسَبَ صِفَةً يُحِبُّهَا اللهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَهْرُ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْحِلْمِ وَالْمَرْءُ يَسْعَى لِاكْتِسَابِ هَذِهِ الصِّفَةِ فَإِذَا اكْتَسَبَهَا جَاءَ مَا بَعْدَهَا تَبَعٌ لَهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Awas Pintu Masuk Setan Ini – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Saudara-saudara, marah adalah bara api di dalam hati,yang disulut oleh setan, dan ia juga menambah nyala dan kobarannya,agar bara api itu membakar hati dan merusak amalan,bahkan bisa jadi dapat menghilangkan nyawa. Kesempatan ini bukanlah untuk bercerita.Namun, untuk menyampaikan kabar dari Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Saudara-saudara, para ulama telah menyebutkan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada seorang sahabat yang meminta wasiat beliau, maka beliau bersabda, “Jangan marah!”“Jangan marah!”Wasiat ini bukanlah larangan terhadap kemarahan yang ada dalam hati. Karena yang ada dalam hati pasti menghinggapi setiap orang.Karena orang yang tidak dipancing kemarahannya, tetapi ia malah marah, maka terdapat kekurangan pada akal dan kehormatan dirinya. Namun, yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pengaruh rasa marah,yaitu dengan menahan anggota badannya, maka ia tidak berbuat zalim dengan lisannya, dan tidak melukai dengan jari jemarinya,serta tidak mendengki dengan hatinya, sehingga ia memendam kebencian.Namun, ia mendoakan yang baik,dan memaafkan orang yang menzaliminya atas apa yang ia rasakan dalam hatinya. Dan ini tidaklah menghalangi seseorang untuk meminta qisas, karena itu tidak bertentangan dengan kemarahan.Kemarahan yang ada dalam hati sudah menjadi ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla, dan berada di luar kendali seorang hamba. Maksud dari pembahasan ini—kita kembali pada pembahasan—bahwa kemarahan itu, wahai Saudara-saudara, adalah bara api dalam hati yang disukai oleh setan. Kemarahan adalah api, dan setan juga api, karena ia tercipta dari api.Oleh sebab itu, salah satu pintu paling besar bagi setan untuk menggoda manusia adalah kemarahan. Tidaklah seorang suami menceraikan istrinya kecuali kemarahan adalah sebabnya, bahkan itu sebab perceraian yang paling besar.Diriwayatkan dalam hadis bahwa Iblis mendirikan singgasananya. Iblis mendirikan singgasananya, kemudian para prajuritnya mendatanginya.Kemudian Iblis bertanya kepada setiap pasukannya, “Apa yang sudah kamu lakukan?”Prajurit pertama menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia berzina.” Iblis berkata, “Kamu tidak melakukan apa pun, ia besok pasti bertaubat.” Lalu Iblis bertanya kepada prajurit kedua, “Apa yang sudah kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia mencuri.”Iblis berkata, “Kamu tidak melakukan apa pun, ia besok pasti bertaubat.” Prajurit ketiga datang, lalu ditanya Iblis, “Apa yang sudah kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia menceraikan istrinya.”Maka Iblis berkata, “Bagus, bagus!” Lalu Iblis mendudukkannya di sisinya. Hal ini karena Iblis tahu bahwa kemarahan adalah yang menyebabkan perceraian itu,dan ia tahu bahwa perceraian seorang suami dengan istrinyaadalah salah satu sebab terbesar yang merusak hati seorang suami,dan merusak hati sang istri, lalu setelah itu akan merusak akhlak anak-anaknya,sehingga merusak seluruh masyarakat. Dan ini dapat kita bahas di kesempatan lain. Jadi, maksud dari hal ini, wahai Saudara-saudara,bahwa seseorang saat berpuasa hendaklah mendidik dirinya,untuk mengendalikan kemarahan dan melatih kesabaran,dengan begitu godaan dari setan akan melemah. Dan ini merupakan salah satu makna dari hadis, bahwa setan-setan dibelenggu pada bulan Ramadan,karena setan tidak menemukan bara api yang dapat ia sulut,dan tidak mendapatkan sebab yang bisa ia jadikan sebagai pintu untuk menjalankan godaannya,dan tidak ada sebab untuk menjerumuskan seseorang ke dalam kebinasaan. Maka Saudara-saudara, bulan yang agung ini,dan hari-hari berpuasanya setiap hamba ini,merupakan sebab untuk seseorang dapat melatih diri, agar dapat bersabar. Dan barang siapa dapat bersabar,maka ia telah mendapatkan sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bulan Ramadan adalah bulan kesabaran,dan seseorang hendaklah berusaha mendapatkan sifat ini.Jika ia berhasil mendapatkannya, maka ia akan mendapatkan sifat terpuji lainnya setelah itu. ==== الْغَضَبُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هُوَ جَمْرَةٌ فِي الْقَلْبِ يُشْعِلُهَا الشَّيْطَانُ وَيَزِيدُهَا ذَكَاءً وَيَزِيدُهَا تَوْرِيَةً لِكَي تَحْرِقَ الْقَلْبَ وَتُفْسِدَ الْعَمَلَ بَلْ لَرُبَّمَا وَقَدْ أَذْهَبَتِ النَّفْسَ وَلَيْسَ الْمَقَامُ مَقَامَ قَصَصٍ وَإِنَّمَا الْمَقَامُ إِخْبَارٌ عَنِ اللهِ وَعَنْ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ فِي وَصِيَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَمَا اسْتَوْصَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ لَا تَغْضَبْ لَا تَغْضَبْ هَذِهِ الْوَصِيَّةُ لَيْسَتْ نَهْيًا عَمَّا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ إِذْ مَا فِي الْقَلْبِ طَارِئٌ عَلَى كُلِّ امْرِئٍ فَإِنَّ مَنْ لَمْ يُسْتَغْضَبْ فَيَغْضَبُ فَإِنَّهُ نَقْصٌ فِي عَقْلِهِ وَفِي مُرُوءَتِهِ وَإِنَّمَا الَّذِي نَهَى عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ أَثَرُ الْغَضَبِ وَهُوَ كَفُّ الْجَوَارِحِ فَلَا يَعْتَدِي بِلِسَانِهِ وَلَا يَجْرَحُ بِبَنَانِهِ وَلَا يَحْقِدُ بِقَلْبِهِ فَيَجْمَعُ ضَغِيْنَةً وَإِنَّمَا يَدْعُو وَيُبَرِّئُ ظَالِمَهُ وَالْمُعْتَدِي عَلَيْهِ فِيمَا فِي قَلْبِهِ وَلَا يَمْنَعُ ذَلِكَ مِنَ الْاِقْتِصَاصِ فَإِنَّهُ لَا يُنَافِي الْغَضَبَ وَمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ فَإِنَّهُ مِنْ وَضْعِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَ بِإِرَادَةِ الْعَبْدِ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ نَرْجِعُ لِكَلَامِنَا أَنَّ الْغَضَبَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ شُعْلَةٌ فِي الْقَلْبِ يُحِبُّهَا الشَّيْطَانُ فَهِيَ نَارٌ وَالشَّيْطَانُ مِنْ نَارٍ خُلِقَ مِنْ نَارٍ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْغَضَبُ مَا طَلَّقَ رَجُلٌ امْرَأَتَهُ إِلَّا وَكَانَ الْغَضَبُ سَبَبًا بَلْ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الطَّلَاقِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَنْصِبُ عَرْشَهُ يَنْصِبُ عَرْشَهُ فَيَأْتِيْهِ جُنْدُهُ فَيَقُولُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ جُنْدِهِ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ الْأَوَّلُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى زَنَا قَالَ لَمْ تَفْعَلْ شَيْئًا غَدًا يَتُوبُ ثُمَّ يَأْتِي الثَّانِي مِنْ جُنْدِهِ فَيَقُولُ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى سَرَقَ قَالَ مَا فَعَلْتَ شَيْئًا غَدًا يَتُوبُ فَيَأْتِي الثَّالِثُ فَيَقُولُ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى طَلَّقَ زَوْجَتَهُ وَفَارَقَهَا فَيَقُولُ أَنْتَ أَنْتَ فَيُجْلِسُهُ بِجَانِبِهِ لِعِلْمِ الشَّيْطَانِ أَنَّ الْغَضَبَ هُوَ سَبَبُ ذَلِكَ وَأَنَّ فِرَاقَ الْمَرْءِ لِزَوْجِهِ أَنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُفْسِدُ عَلَى الْمَرْءِ قَلْبَهُ وَتُفْسِدُ عَلَى الزَّوْجِ قَلْبَهَا وَتُفْسِدُ عَلَى الْأَبْنَاءِ بَعْدَ ذَلِكَ أَفْعَالَهُمْ فَتُؤَثِّرُ فِي الْمُجْتَمَعِ كُلِّهِ وَالْحَدِيثُ لَهُ مَقَامٌ آخَرُ إِذًا الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أَنَّ الْمَرْأَةَ فِي الصِّيَامِ يُؤَدِّبُ نَفْسَهُ عَلَى تَرْكِ الْغَضَبِ وَاكْتِسَابِ الْحِلْمِ فَحِينَئِذٍ يَضْعُفُ دَاعِي الشَّيْطَانِ وَهَذَا مِنَ الْمَعَانِي فِي أَنَّ الشَّيَاطِينَ تُغَلُّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَإِنَّهَا لَا تَجِدُ النَّارَ الَّتِي تُذْكِيْهَا وَلَا تَجِدُ السَّبَبَ الَّذِي تَجْعَلُهُ مَدْخَلًا لِأَفْعَالِهَا وَلَا يَكُونُ سَبَبًا لِإِيْرَادِ الْمَرْءِ الْمَهَالِكَ إِذًا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هَذَا الشَّهْرُ الْعَظِيْمُ وَهَذِهِ الْأَيَّامُ الَّتِي يَصُومُهَا الْعَبْدُ هِيَ سَبَبٌ لِتَرْوِيْضِ الْمَرْءِ لِاكْتِسَابِهِ الْحِلْمَ وَمَنِ اكْتَسَبَ الْحِلْمَ فَقَدِ اكْتَسَبَ صِفَةً يُحِبُّهَا اللهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَهْرُ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْحِلْمِ وَالْمَرْءُ يَسْعَى لِاكْتِسَابِ هَذِهِ الصِّفَةِ فَإِذَا اكْتَسَبَهَا جَاءَ مَا بَعْدَهَا تَبَعٌ لَهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Saudara-saudara, marah adalah bara api di dalam hati,yang disulut oleh setan, dan ia juga menambah nyala dan kobarannya,agar bara api itu membakar hati dan merusak amalan,bahkan bisa jadi dapat menghilangkan nyawa. Kesempatan ini bukanlah untuk bercerita.Namun, untuk menyampaikan kabar dari Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Saudara-saudara, para ulama telah menyebutkan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada seorang sahabat yang meminta wasiat beliau, maka beliau bersabda, “Jangan marah!”“Jangan marah!”Wasiat ini bukanlah larangan terhadap kemarahan yang ada dalam hati. Karena yang ada dalam hati pasti menghinggapi setiap orang.Karena orang yang tidak dipancing kemarahannya, tetapi ia malah marah, maka terdapat kekurangan pada akal dan kehormatan dirinya. Namun, yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pengaruh rasa marah,yaitu dengan menahan anggota badannya, maka ia tidak berbuat zalim dengan lisannya, dan tidak melukai dengan jari jemarinya,serta tidak mendengki dengan hatinya, sehingga ia memendam kebencian.Namun, ia mendoakan yang baik,dan memaafkan orang yang menzaliminya atas apa yang ia rasakan dalam hatinya. Dan ini tidaklah menghalangi seseorang untuk meminta qisas, karena itu tidak bertentangan dengan kemarahan.Kemarahan yang ada dalam hati sudah menjadi ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla, dan berada di luar kendali seorang hamba. Maksud dari pembahasan ini—kita kembali pada pembahasan—bahwa kemarahan itu, wahai Saudara-saudara, adalah bara api dalam hati yang disukai oleh setan. Kemarahan adalah api, dan setan juga api, karena ia tercipta dari api.Oleh sebab itu, salah satu pintu paling besar bagi setan untuk menggoda manusia adalah kemarahan. Tidaklah seorang suami menceraikan istrinya kecuali kemarahan adalah sebabnya, bahkan itu sebab perceraian yang paling besar.Diriwayatkan dalam hadis bahwa Iblis mendirikan singgasananya. Iblis mendirikan singgasananya, kemudian para prajuritnya mendatanginya.Kemudian Iblis bertanya kepada setiap pasukannya, “Apa yang sudah kamu lakukan?”Prajurit pertama menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia berzina.” Iblis berkata, “Kamu tidak melakukan apa pun, ia besok pasti bertaubat.” Lalu Iblis bertanya kepada prajurit kedua, “Apa yang sudah kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia mencuri.”Iblis berkata, “Kamu tidak melakukan apa pun, ia besok pasti bertaubat.” Prajurit ketiga datang, lalu ditanya Iblis, “Apa yang sudah kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia menceraikan istrinya.”Maka Iblis berkata, “Bagus, bagus!” Lalu Iblis mendudukkannya di sisinya. Hal ini karena Iblis tahu bahwa kemarahan adalah yang menyebabkan perceraian itu,dan ia tahu bahwa perceraian seorang suami dengan istrinyaadalah salah satu sebab terbesar yang merusak hati seorang suami,dan merusak hati sang istri, lalu setelah itu akan merusak akhlak anak-anaknya,sehingga merusak seluruh masyarakat. Dan ini dapat kita bahas di kesempatan lain. Jadi, maksud dari hal ini, wahai Saudara-saudara,bahwa seseorang saat berpuasa hendaklah mendidik dirinya,untuk mengendalikan kemarahan dan melatih kesabaran,dengan begitu godaan dari setan akan melemah. Dan ini merupakan salah satu makna dari hadis, bahwa setan-setan dibelenggu pada bulan Ramadan,karena setan tidak menemukan bara api yang dapat ia sulut,dan tidak mendapatkan sebab yang bisa ia jadikan sebagai pintu untuk menjalankan godaannya,dan tidak ada sebab untuk menjerumuskan seseorang ke dalam kebinasaan. Maka Saudara-saudara, bulan yang agung ini,dan hari-hari berpuasanya setiap hamba ini,merupakan sebab untuk seseorang dapat melatih diri, agar dapat bersabar. Dan barang siapa dapat bersabar,maka ia telah mendapatkan sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bulan Ramadan adalah bulan kesabaran,dan seseorang hendaklah berusaha mendapatkan sifat ini.Jika ia berhasil mendapatkannya, maka ia akan mendapatkan sifat terpuji lainnya setelah itu. ==== الْغَضَبُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هُوَ جَمْرَةٌ فِي الْقَلْبِ يُشْعِلُهَا الشَّيْطَانُ وَيَزِيدُهَا ذَكَاءً وَيَزِيدُهَا تَوْرِيَةً لِكَي تَحْرِقَ الْقَلْبَ وَتُفْسِدَ الْعَمَلَ بَلْ لَرُبَّمَا وَقَدْ أَذْهَبَتِ النَّفْسَ وَلَيْسَ الْمَقَامُ مَقَامَ قَصَصٍ وَإِنَّمَا الْمَقَامُ إِخْبَارٌ عَنِ اللهِ وَعَنْ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ فِي وَصِيَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَمَا اسْتَوْصَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ لَا تَغْضَبْ لَا تَغْضَبْ هَذِهِ الْوَصِيَّةُ لَيْسَتْ نَهْيًا عَمَّا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ إِذْ مَا فِي الْقَلْبِ طَارِئٌ عَلَى كُلِّ امْرِئٍ فَإِنَّ مَنْ لَمْ يُسْتَغْضَبْ فَيَغْضَبُ فَإِنَّهُ نَقْصٌ فِي عَقْلِهِ وَفِي مُرُوءَتِهِ وَإِنَّمَا الَّذِي نَهَى عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ أَثَرُ الْغَضَبِ وَهُوَ كَفُّ الْجَوَارِحِ فَلَا يَعْتَدِي بِلِسَانِهِ وَلَا يَجْرَحُ بِبَنَانِهِ وَلَا يَحْقِدُ بِقَلْبِهِ فَيَجْمَعُ ضَغِيْنَةً وَإِنَّمَا يَدْعُو وَيُبَرِّئُ ظَالِمَهُ وَالْمُعْتَدِي عَلَيْهِ فِيمَا فِي قَلْبِهِ وَلَا يَمْنَعُ ذَلِكَ مِنَ الْاِقْتِصَاصِ فَإِنَّهُ لَا يُنَافِي الْغَضَبَ وَمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ فَإِنَّهُ مِنْ وَضْعِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَ بِإِرَادَةِ الْعَبْدِ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ نَرْجِعُ لِكَلَامِنَا أَنَّ الْغَضَبَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ شُعْلَةٌ فِي الْقَلْبِ يُحِبُّهَا الشَّيْطَانُ فَهِيَ نَارٌ وَالشَّيْطَانُ مِنْ نَارٍ خُلِقَ مِنْ نَارٍ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْغَضَبُ مَا طَلَّقَ رَجُلٌ امْرَأَتَهُ إِلَّا وَكَانَ الْغَضَبُ سَبَبًا بَلْ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الطَّلَاقِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَنْصِبُ عَرْشَهُ يَنْصِبُ عَرْشَهُ فَيَأْتِيْهِ جُنْدُهُ فَيَقُولُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ جُنْدِهِ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ الْأَوَّلُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى زَنَا قَالَ لَمْ تَفْعَلْ شَيْئًا غَدًا يَتُوبُ ثُمَّ يَأْتِي الثَّانِي مِنْ جُنْدِهِ فَيَقُولُ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى سَرَقَ قَالَ مَا فَعَلْتَ شَيْئًا غَدًا يَتُوبُ فَيَأْتِي الثَّالِثُ فَيَقُولُ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى طَلَّقَ زَوْجَتَهُ وَفَارَقَهَا فَيَقُولُ أَنْتَ أَنْتَ فَيُجْلِسُهُ بِجَانِبِهِ لِعِلْمِ الشَّيْطَانِ أَنَّ الْغَضَبَ هُوَ سَبَبُ ذَلِكَ وَأَنَّ فِرَاقَ الْمَرْءِ لِزَوْجِهِ أَنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُفْسِدُ عَلَى الْمَرْءِ قَلْبَهُ وَتُفْسِدُ عَلَى الزَّوْجِ قَلْبَهَا وَتُفْسِدُ عَلَى الْأَبْنَاءِ بَعْدَ ذَلِكَ أَفْعَالَهُمْ فَتُؤَثِّرُ فِي الْمُجْتَمَعِ كُلِّهِ وَالْحَدِيثُ لَهُ مَقَامٌ آخَرُ إِذًا الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أَنَّ الْمَرْأَةَ فِي الصِّيَامِ يُؤَدِّبُ نَفْسَهُ عَلَى تَرْكِ الْغَضَبِ وَاكْتِسَابِ الْحِلْمِ فَحِينَئِذٍ يَضْعُفُ دَاعِي الشَّيْطَانِ وَهَذَا مِنَ الْمَعَانِي فِي أَنَّ الشَّيَاطِينَ تُغَلُّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَإِنَّهَا لَا تَجِدُ النَّارَ الَّتِي تُذْكِيْهَا وَلَا تَجِدُ السَّبَبَ الَّذِي تَجْعَلُهُ مَدْخَلًا لِأَفْعَالِهَا وَلَا يَكُونُ سَبَبًا لِإِيْرَادِ الْمَرْءِ الْمَهَالِكَ إِذًا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هَذَا الشَّهْرُ الْعَظِيْمُ وَهَذِهِ الْأَيَّامُ الَّتِي يَصُومُهَا الْعَبْدُ هِيَ سَبَبٌ لِتَرْوِيْضِ الْمَرْءِ لِاكْتِسَابِهِ الْحِلْمَ وَمَنِ اكْتَسَبَ الْحِلْمَ فَقَدِ اكْتَسَبَ صِفَةً يُحِبُّهَا اللهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَهْرُ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْحِلْمِ وَالْمَرْءُ يَسْعَى لِاكْتِسَابِ هَذِهِ الصِّفَةِ فَإِذَا اكْتَسَبَهَا جَاءَ مَا بَعْدَهَا تَبَعٌ لَهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Saudara-saudara, marah adalah bara api di dalam hati,yang disulut oleh setan, dan ia juga menambah nyala dan kobarannya,agar bara api itu membakar hati dan merusak amalan,bahkan bisa jadi dapat menghilangkan nyawa. Kesempatan ini bukanlah untuk bercerita.Namun, untuk menyampaikan kabar dari Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Saudara-saudara, para ulama telah menyebutkan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada seorang sahabat yang meminta wasiat beliau, maka beliau bersabda, “Jangan marah!”“Jangan marah!”Wasiat ini bukanlah larangan terhadap kemarahan yang ada dalam hati. Karena yang ada dalam hati pasti menghinggapi setiap orang.Karena orang yang tidak dipancing kemarahannya, tetapi ia malah marah, maka terdapat kekurangan pada akal dan kehormatan dirinya. Namun, yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pengaruh rasa marah,yaitu dengan menahan anggota badannya, maka ia tidak berbuat zalim dengan lisannya, dan tidak melukai dengan jari jemarinya,serta tidak mendengki dengan hatinya, sehingga ia memendam kebencian.Namun, ia mendoakan yang baik,dan memaafkan orang yang menzaliminya atas apa yang ia rasakan dalam hatinya. Dan ini tidaklah menghalangi seseorang untuk meminta qisas, karena itu tidak bertentangan dengan kemarahan.Kemarahan yang ada dalam hati sudah menjadi ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla, dan berada di luar kendali seorang hamba. Maksud dari pembahasan ini—kita kembali pada pembahasan—bahwa kemarahan itu, wahai Saudara-saudara, adalah bara api dalam hati yang disukai oleh setan. Kemarahan adalah api, dan setan juga api, karena ia tercipta dari api.Oleh sebab itu, salah satu pintu paling besar bagi setan untuk menggoda manusia adalah kemarahan. Tidaklah seorang suami menceraikan istrinya kecuali kemarahan adalah sebabnya, bahkan itu sebab perceraian yang paling besar.Diriwayatkan dalam hadis bahwa Iblis mendirikan singgasananya. Iblis mendirikan singgasananya, kemudian para prajuritnya mendatanginya.Kemudian Iblis bertanya kepada setiap pasukannya, “Apa yang sudah kamu lakukan?”Prajurit pertama menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia berzina.” Iblis berkata, “Kamu tidak melakukan apa pun, ia besok pasti bertaubat.” Lalu Iblis bertanya kepada prajurit kedua, “Apa yang sudah kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia mencuri.”Iblis berkata, “Kamu tidak melakukan apa pun, ia besok pasti bertaubat.” Prajurit ketiga datang, lalu ditanya Iblis, “Apa yang sudah kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia menceraikan istrinya.”Maka Iblis berkata, “Bagus, bagus!” Lalu Iblis mendudukkannya di sisinya. Hal ini karena Iblis tahu bahwa kemarahan adalah yang menyebabkan perceraian itu,dan ia tahu bahwa perceraian seorang suami dengan istrinyaadalah salah satu sebab terbesar yang merusak hati seorang suami,dan merusak hati sang istri, lalu setelah itu akan merusak akhlak anak-anaknya,sehingga merusak seluruh masyarakat. Dan ini dapat kita bahas di kesempatan lain. Jadi, maksud dari hal ini, wahai Saudara-saudara,bahwa seseorang saat berpuasa hendaklah mendidik dirinya,untuk mengendalikan kemarahan dan melatih kesabaran,dengan begitu godaan dari setan akan melemah. Dan ini merupakan salah satu makna dari hadis, bahwa setan-setan dibelenggu pada bulan Ramadan,karena setan tidak menemukan bara api yang dapat ia sulut,dan tidak mendapatkan sebab yang bisa ia jadikan sebagai pintu untuk menjalankan godaannya,dan tidak ada sebab untuk menjerumuskan seseorang ke dalam kebinasaan. Maka Saudara-saudara, bulan yang agung ini,dan hari-hari berpuasanya setiap hamba ini,merupakan sebab untuk seseorang dapat melatih diri, agar dapat bersabar. Dan barang siapa dapat bersabar,maka ia telah mendapatkan sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bulan Ramadan adalah bulan kesabaran,dan seseorang hendaklah berusaha mendapatkan sifat ini.Jika ia berhasil mendapatkannya, maka ia akan mendapatkan sifat terpuji lainnya setelah itu. ==== الْغَضَبُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هُوَ جَمْرَةٌ فِي الْقَلْبِ يُشْعِلُهَا الشَّيْطَانُ وَيَزِيدُهَا ذَكَاءً وَيَزِيدُهَا تَوْرِيَةً لِكَي تَحْرِقَ الْقَلْبَ وَتُفْسِدَ الْعَمَلَ بَلْ لَرُبَّمَا وَقَدْ أَذْهَبَتِ النَّفْسَ وَلَيْسَ الْمَقَامُ مَقَامَ قَصَصٍ وَإِنَّمَا الْمَقَامُ إِخْبَارٌ عَنِ اللهِ وَعَنْ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ فِي وَصِيَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَمَا اسْتَوْصَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ لَا تَغْضَبْ لَا تَغْضَبْ هَذِهِ الْوَصِيَّةُ لَيْسَتْ نَهْيًا عَمَّا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ إِذْ مَا فِي الْقَلْبِ طَارِئٌ عَلَى كُلِّ امْرِئٍ فَإِنَّ مَنْ لَمْ يُسْتَغْضَبْ فَيَغْضَبُ فَإِنَّهُ نَقْصٌ فِي عَقْلِهِ وَفِي مُرُوءَتِهِ وَإِنَّمَا الَّذِي نَهَى عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ أَثَرُ الْغَضَبِ وَهُوَ كَفُّ الْجَوَارِحِ فَلَا يَعْتَدِي بِلِسَانِهِ وَلَا يَجْرَحُ بِبَنَانِهِ وَلَا يَحْقِدُ بِقَلْبِهِ فَيَجْمَعُ ضَغِيْنَةً وَإِنَّمَا يَدْعُو وَيُبَرِّئُ ظَالِمَهُ وَالْمُعْتَدِي عَلَيْهِ فِيمَا فِي قَلْبِهِ وَلَا يَمْنَعُ ذَلِكَ مِنَ الْاِقْتِصَاصِ فَإِنَّهُ لَا يُنَافِي الْغَضَبَ وَمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ فَإِنَّهُ مِنْ وَضْعِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَ بِإِرَادَةِ الْعَبْدِ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ نَرْجِعُ لِكَلَامِنَا أَنَّ الْغَضَبَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ شُعْلَةٌ فِي الْقَلْبِ يُحِبُّهَا الشَّيْطَانُ فَهِيَ نَارٌ وَالشَّيْطَانُ مِنْ نَارٍ خُلِقَ مِنْ نَارٍ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْغَضَبُ مَا طَلَّقَ رَجُلٌ امْرَأَتَهُ إِلَّا وَكَانَ الْغَضَبُ سَبَبًا بَلْ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الطَّلَاقِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَنْصِبُ عَرْشَهُ يَنْصِبُ عَرْشَهُ فَيَأْتِيْهِ جُنْدُهُ فَيَقُولُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ جُنْدِهِ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ الْأَوَّلُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى زَنَا قَالَ لَمْ تَفْعَلْ شَيْئًا غَدًا يَتُوبُ ثُمَّ يَأْتِي الثَّانِي مِنْ جُنْدِهِ فَيَقُولُ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى سَرَقَ قَالَ مَا فَعَلْتَ شَيْئًا غَدًا يَتُوبُ فَيَأْتِي الثَّالِثُ فَيَقُولُ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى طَلَّقَ زَوْجَتَهُ وَفَارَقَهَا فَيَقُولُ أَنْتَ أَنْتَ فَيُجْلِسُهُ بِجَانِبِهِ لِعِلْمِ الشَّيْطَانِ أَنَّ الْغَضَبَ هُوَ سَبَبُ ذَلِكَ وَأَنَّ فِرَاقَ الْمَرْءِ لِزَوْجِهِ أَنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُفْسِدُ عَلَى الْمَرْءِ قَلْبَهُ وَتُفْسِدُ عَلَى الزَّوْجِ قَلْبَهَا وَتُفْسِدُ عَلَى الْأَبْنَاءِ بَعْدَ ذَلِكَ أَفْعَالَهُمْ فَتُؤَثِّرُ فِي الْمُجْتَمَعِ كُلِّهِ وَالْحَدِيثُ لَهُ مَقَامٌ آخَرُ إِذًا الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أَنَّ الْمَرْأَةَ فِي الصِّيَامِ يُؤَدِّبُ نَفْسَهُ عَلَى تَرْكِ الْغَضَبِ وَاكْتِسَابِ الْحِلْمِ فَحِينَئِذٍ يَضْعُفُ دَاعِي الشَّيْطَانِ وَهَذَا مِنَ الْمَعَانِي فِي أَنَّ الشَّيَاطِينَ تُغَلُّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَإِنَّهَا لَا تَجِدُ النَّارَ الَّتِي تُذْكِيْهَا وَلَا تَجِدُ السَّبَبَ الَّذِي تَجْعَلُهُ مَدْخَلًا لِأَفْعَالِهَا وَلَا يَكُونُ سَبَبًا لِإِيْرَادِ الْمَرْءِ الْمَهَالِكَ إِذًا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هَذَا الشَّهْرُ الْعَظِيْمُ وَهَذِهِ الْأَيَّامُ الَّتِي يَصُومُهَا الْعَبْدُ هِيَ سَبَبٌ لِتَرْوِيْضِ الْمَرْءِ لِاكْتِسَابِهِ الْحِلْمَ وَمَنِ اكْتَسَبَ الْحِلْمَ فَقَدِ اكْتَسَبَ صِفَةً يُحِبُّهَا اللهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَهْرُ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْحِلْمِ وَالْمَرْءُ يَسْعَى لِاكْتِسَابِ هَذِهِ الصِّفَةِ فَإِذَا اكْتَسَبَهَا جَاءَ مَا بَعْدَهَا تَبَعٌ لَهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cara Beriman dengan Kitab-kitab Terdahulu – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Penanya ini bertanya:“Bagaimana cara menyelaraskan keimanan kepada kitab-kitab suci terdahulu,padahal diketahui kitab-kitab itu telah diubah?Apakah ada larangan membaca kitab-kitab suci terdahulu untuk menelaahnya?” Tidak ada pertentangan antara keimanan kepada kitab-kitab itu,kepada wujud dan turunnya kitab-kitab suci terdahulu itudan antara keadaannya yang telah mengalami pengubahan. Iman kepada kitab-kitab itu yakni dengan kita mengimani bahwa Allah Jalla wa ‘Ala telah menurunkan Taurat,Injil, Zabur,dan Suhuf-Suhuf Ibrahim. Kita mengimani bahwa Allah telah menurunkannya.Namun, kita tidak mengimani bahwa kitab-kitab itu sekarang tetap asli sebagaimana yang Allah turunkan,tetapi umat-umat pemilik kitab-kitab itu telah mengubahnyaserta telah menyia-nyiakannya. Karena umat-umat sebelum kitadibebani untuk menjaga sendiri kitab-kitab Allah.Yakni penjagaan atas keasliannya dibebankan kepada mereka sendiri. Sedangkan kita, Allah Jalla wa ‘Ala telah menjamin akan menjaga al-Quran.Oleh karena itu, al-Quran tetap terjaga sebagaimana diturunkan.Al-Quran tidak mengalami pemalsuan dan pengubahan. Jika ada orang yang mengklaim al-Quran telah diubah,maka ucapannya itu batil, sama sekali tidak benar.Demikian. ==== وَهَذَا سَائِلٌ يَسْأَلُ يَقُولُ كَيْفَ الْجَمْعُ بَيْنَ الْإِيْمَانِ بِالْكُتُبِ السَّابِقَةِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّهَا بُدِّلَتْ وَحُرِّفَتْ وَهَلْ هُنَاكَ مَحْظُورٌ فِي قِرَاءَةِ الْكُتُبِ السَّابِقَةِ مِنْ أَجْلِ الِْاطِّلَاعِ؟ لَا مُنَافَاةَ بَيْنَ الْإِيمَانِ بِالْكُتُبِ بِوُجُودِ وَنُزُولِ هَذِهِ الْكُتُبِ السَّابِقَةِ وَبَيْنَ تَحْرِيفِهَا الْإِيمَانُ بِهَا نُؤْمِنُ بِأَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَالزَّبُورَ وَصُحُفَ إِبْرَاهِيمَ نُؤْمِنُ بِأَنَّ اللهَ أَنْزَلَهَا لَكِنْ لَا نُؤْمِنُ بِأَنَّهَا بَاقِيَةٌ كَمَا أَنْزَلَ اللهُ بَلْ حَرَّفَهَا أَهْلُهَا وَعَبَثُوْا بِهَا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا كَانُوا مُسْتَحْفَظِيْنَ عَلَى كُتُبِ اللهِ أَيْ أَنَّ حِفْظَهَا جُعِلَ إِلَيْهِمْ أَمَّا نَحْنُ فَقَدْ تَكَفَّلَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَلِذَلِكَ فَالْقُرْآنُ مَحْفُوظٌ كَمَا أُنْزِلَ وَلَمْ يُحَرَّفْ وَلَمْ يُبَدَّلْ وَمَنِ ادَّعَى بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَكَلَامُهُ بَاطِلٌ لَا صِحَّةَ لَهُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cara Beriman dengan Kitab-kitab Terdahulu – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Penanya ini bertanya:“Bagaimana cara menyelaraskan keimanan kepada kitab-kitab suci terdahulu,padahal diketahui kitab-kitab itu telah diubah?Apakah ada larangan membaca kitab-kitab suci terdahulu untuk menelaahnya?” Tidak ada pertentangan antara keimanan kepada kitab-kitab itu,kepada wujud dan turunnya kitab-kitab suci terdahulu itudan antara keadaannya yang telah mengalami pengubahan. Iman kepada kitab-kitab itu yakni dengan kita mengimani bahwa Allah Jalla wa ‘Ala telah menurunkan Taurat,Injil, Zabur,dan Suhuf-Suhuf Ibrahim. Kita mengimani bahwa Allah telah menurunkannya.Namun, kita tidak mengimani bahwa kitab-kitab itu sekarang tetap asli sebagaimana yang Allah turunkan,tetapi umat-umat pemilik kitab-kitab itu telah mengubahnyaserta telah menyia-nyiakannya. Karena umat-umat sebelum kitadibebani untuk menjaga sendiri kitab-kitab Allah.Yakni penjagaan atas keasliannya dibebankan kepada mereka sendiri. Sedangkan kita, Allah Jalla wa ‘Ala telah menjamin akan menjaga al-Quran.Oleh karena itu, al-Quran tetap terjaga sebagaimana diturunkan.Al-Quran tidak mengalami pemalsuan dan pengubahan. Jika ada orang yang mengklaim al-Quran telah diubah,maka ucapannya itu batil, sama sekali tidak benar.Demikian. ==== وَهَذَا سَائِلٌ يَسْأَلُ يَقُولُ كَيْفَ الْجَمْعُ بَيْنَ الْإِيْمَانِ بِالْكُتُبِ السَّابِقَةِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّهَا بُدِّلَتْ وَحُرِّفَتْ وَهَلْ هُنَاكَ مَحْظُورٌ فِي قِرَاءَةِ الْكُتُبِ السَّابِقَةِ مِنْ أَجْلِ الِْاطِّلَاعِ؟ لَا مُنَافَاةَ بَيْنَ الْإِيمَانِ بِالْكُتُبِ بِوُجُودِ وَنُزُولِ هَذِهِ الْكُتُبِ السَّابِقَةِ وَبَيْنَ تَحْرِيفِهَا الْإِيمَانُ بِهَا نُؤْمِنُ بِأَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَالزَّبُورَ وَصُحُفَ إِبْرَاهِيمَ نُؤْمِنُ بِأَنَّ اللهَ أَنْزَلَهَا لَكِنْ لَا نُؤْمِنُ بِأَنَّهَا بَاقِيَةٌ كَمَا أَنْزَلَ اللهُ بَلْ حَرَّفَهَا أَهْلُهَا وَعَبَثُوْا بِهَا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا كَانُوا مُسْتَحْفَظِيْنَ عَلَى كُتُبِ اللهِ أَيْ أَنَّ حِفْظَهَا جُعِلَ إِلَيْهِمْ أَمَّا نَحْنُ فَقَدْ تَكَفَّلَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَلِذَلِكَ فَالْقُرْآنُ مَحْفُوظٌ كَمَا أُنْزِلَ وَلَمْ يُحَرَّفْ وَلَمْ يُبَدَّلْ وَمَنِ ادَّعَى بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَكَلَامُهُ بَاطِلٌ لَا صِحَّةَ لَهُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Penanya ini bertanya:“Bagaimana cara menyelaraskan keimanan kepada kitab-kitab suci terdahulu,padahal diketahui kitab-kitab itu telah diubah?Apakah ada larangan membaca kitab-kitab suci terdahulu untuk menelaahnya?” Tidak ada pertentangan antara keimanan kepada kitab-kitab itu,kepada wujud dan turunnya kitab-kitab suci terdahulu itudan antara keadaannya yang telah mengalami pengubahan. Iman kepada kitab-kitab itu yakni dengan kita mengimani bahwa Allah Jalla wa ‘Ala telah menurunkan Taurat,Injil, Zabur,dan Suhuf-Suhuf Ibrahim. Kita mengimani bahwa Allah telah menurunkannya.Namun, kita tidak mengimani bahwa kitab-kitab itu sekarang tetap asli sebagaimana yang Allah turunkan,tetapi umat-umat pemilik kitab-kitab itu telah mengubahnyaserta telah menyia-nyiakannya. Karena umat-umat sebelum kitadibebani untuk menjaga sendiri kitab-kitab Allah.Yakni penjagaan atas keasliannya dibebankan kepada mereka sendiri. Sedangkan kita, Allah Jalla wa ‘Ala telah menjamin akan menjaga al-Quran.Oleh karena itu, al-Quran tetap terjaga sebagaimana diturunkan.Al-Quran tidak mengalami pemalsuan dan pengubahan. Jika ada orang yang mengklaim al-Quran telah diubah,maka ucapannya itu batil, sama sekali tidak benar.Demikian. ==== وَهَذَا سَائِلٌ يَسْأَلُ يَقُولُ كَيْفَ الْجَمْعُ بَيْنَ الْإِيْمَانِ بِالْكُتُبِ السَّابِقَةِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّهَا بُدِّلَتْ وَحُرِّفَتْ وَهَلْ هُنَاكَ مَحْظُورٌ فِي قِرَاءَةِ الْكُتُبِ السَّابِقَةِ مِنْ أَجْلِ الِْاطِّلَاعِ؟ لَا مُنَافَاةَ بَيْنَ الْإِيمَانِ بِالْكُتُبِ بِوُجُودِ وَنُزُولِ هَذِهِ الْكُتُبِ السَّابِقَةِ وَبَيْنَ تَحْرِيفِهَا الْإِيمَانُ بِهَا نُؤْمِنُ بِأَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَالزَّبُورَ وَصُحُفَ إِبْرَاهِيمَ نُؤْمِنُ بِأَنَّ اللهَ أَنْزَلَهَا لَكِنْ لَا نُؤْمِنُ بِأَنَّهَا بَاقِيَةٌ كَمَا أَنْزَلَ اللهُ بَلْ حَرَّفَهَا أَهْلُهَا وَعَبَثُوْا بِهَا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا كَانُوا مُسْتَحْفَظِيْنَ عَلَى كُتُبِ اللهِ أَيْ أَنَّ حِفْظَهَا جُعِلَ إِلَيْهِمْ أَمَّا نَحْنُ فَقَدْ تَكَفَّلَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَلِذَلِكَ فَالْقُرْآنُ مَحْفُوظٌ كَمَا أُنْزِلَ وَلَمْ يُحَرَّفْ وَلَمْ يُبَدَّلْ وَمَنِ ادَّعَى بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَكَلَامُهُ بَاطِلٌ لَا صِحَّةَ لَهُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Penanya ini bertanya:“Bagaimana cara menyelaraskan keimanan kepada kitab-kitab suci terdahulu,padahal diketahui kitab-kitab itu telah diubah?Apakah ada larangan membaca kitab-kitab suci terdahulu untuk menelaahnya?” Tidak ada pertentangan antara keimanan kepada kitab-kitab itu,kepada wujud dan turunnya kitab-kitab suci terdahulu itudan antara keadaannya yang telah mengalami pengubahan. Iman kepada kitab-kitab itu yakni dengan kita mengimani bahwa Allah Jalla wa ‘Ala telah menurunkan Taurat,Injil, Zabur,dan Suhuf-Suhuf Ibrahim. Kita mengimani bahwa Allah telah menurunkannya.Namun, kita tidak mengimani bahwa kitab-kitab itu sekarang tetap asli sebagaimana yang Allah turunkan,tetapi umat-umat pemilik kitab-kitab itu telah mengubahnyaserta telah menyia-nyiakannya. Karena umat-umat sebelum kitadibebani untuk menjaga sendiri kitab-kitab Allah.Yakni penjagaan atas keasliannya dibebankan kepada mereka sendiri. Sedangkan kita, Allah Jalla wa ‘Ala telah menjamin akan menjaga al-Quran.Oleh karena itu, al-Quran tetap terjaga sebagaimana diturunkan.Al-Quran tidak mengalami pemalsuan dan pengubahan. Jika ada orang yang mengklaim al-Quran telah diubah,maka ucapannya itu batil, sama sekali tidak benar.Demikian. ==== وَهَذَا سَائِلٌ يَسْأَلُ يَقُولُ كَيْفَ الْجَمْعُ بَيْنَ الْإِيْمَانِ بِالْكُتُبِ السَّابِقَةِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّهَا بُدِّلَتْ وَحُرِّفَتْ وَهَلْ هُنَاكَ مَحْظُورٌ فِي قِرَاءَةِ الْكُتُبِ السَّابِقَةِ مِنْ أَجْلِ الِْاطِّلَاعِ؟ لَا مُنَافَاةَ بَيْنَ الْإِيمَانِ بِالْكُتُبِ بِوُجُودِ وَنُزُولِ هَذِهِ الْكُتُبِ السَّابِقَةِ وَبَيْنَ تَحْرِيفِهَا الْإِيمَانُ بِهَا نُؤْمِنُ بِأَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَالزَّبُورَ وَصُحُفَ إِبْرَاهِيمَ نُؤْمِنُ بِأَنَّ اللهَ أَنْزَلَهَا لَكِنْ لَا نُؤْمِنُ بِأَنَّهَا بَاقِيَةٌ كَمَا أَنْزَلَ اللهُ بَلْ حَرَّفَهَا أَهْلُهَا وَعَبَثُوْا بِهَا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا كَانُوا مُسْتَحْفَظِيْنَ عَلَى كُتُبِ اللهِ أَيْ أَنَّ حِفْظَهَا جُعِلَ إِلَيْهِمْ أَمَّا نَحْنُ فَقَدْ تَكَفَّلَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَلِذَلِكَ فَالْقُرْآنُ مَحْفُوظٌ كَمَا أُنْزِلَ وَلَمْ يُحَرَّفْ وَلَمْ يُبَدَّلْ وَمَنِ ادَّعَى بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَكَلَامُهُ بَاطِلٌ لَا صِحَّةَ لَهُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Prev     Next