Bacaan Zikir Pagi Hari

Daftar Isi ToggleKeutamaan zikirBacaan zikir pagiPertamaKeduaKetigaKeempatKelimaKeenamKetujuhKedelapanKesembilanKesepuluhKesebelasKedua belasKetiga belasKeempat belasKelima belasKeenam belasKetujuh belasKedelapan belasWaktu zikir pagiKeutamaan zikirZikir merupakan suatu amalan yang Allah perintahkan agar kita senantiasa mengerjakannya. Di antara bacaan zikir yang sebaiknya kita rutinkan adalah bacaan zikir pagi. Waktu pagi merupakan salah satu waktu yang Allah perintahkan untuk berzikir, sebagaimana firman Allah Ta’ala, يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا وسبحوه بكرة وأصيلا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kalian kepada-Nya di waktu pagi dan sore.” (QS. Al-Ahzab: 40-41)Allah Ta’ala juga berfirman,فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ“Bertasbihlah kepada Allah di waktu petang dan di waktu pagi.” (QS. Ar-Rum: 18)Senantiasa berzikir juga merupakan suatu hal yang Rasulullah ajarkan kepada para sahabat, sebagaimana sabda beliau shallallahu ’alayhi wa sallam,لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ“Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim merutinkan zikir, khususnya zikir pagi pada setiap harinya.Bacaan zikir pagiZikir pagi merupakan kumpulan bacaan zikir dari hadis maupun Al-Qur’an yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ajarkan untuk dibaca pada setiap pagi. Bacaan zikir pagi adalah,PertamaMembaca Ayat kursi,اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ“Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) tidur. Milik-Nyalah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”KeduaMembaca doa,أَصْبَحْنا عَلَى فِطْرَةِ الإسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إبْرَاهِيمَ حَنِيفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَAṢBAHNAA ‘ALAA FIṬRATIL–ISLAAM, WA ‘ALAA KALIMATIL-IKHLAAṢ, WA ‘ALAA DIINI NABIYYINAA MUHAMMADIN ṢALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, WA ‘ALAA MILLATI ABIINAA IBRAAHIIMA ḤANIIFAN MUSLIMAN WA MAA KAANA MINAL-MUSYRIKIIN.“Kami berada di waktu pagi di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama Nabi kami Muhammad ﷺ, dan di atas millah (ajaran) bapak kami Ibrahim yang lurus, seorang muslim, dan beliau tidak termasuk dari golongan orang-orang musyrik.” (HR. Ahmad)KetigaMembaca 3x do’a,رَضيتُ بِاللهِ رَبَّاً وَبِالإسْلامِ ديناً وَبِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم نَبِيّاًRADIITU BILLAAHI RABBAN WA BIL-ISLAAMI DIINAN WA BI-MUHAMMADIN SALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM NABIYYAN“Aku rida terhadap Allah sebagai Rabb, terhadap Islam sebagai agama, dan terhadap Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagai Nabi.” (Diriwayatkan oleh Ashabu As-Sunnan)KeempatMembaca doa,اللهم إني أسألك علماً نافعاً، ورزقاً طيباً، وعملاً متقبلاًALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI‘AN, WA RIZQAN ṬAYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQABBALAN“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)KelimaMembaca doa,اللّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنا وَبِكَ أَمْسَينا، وَبِكَ نَحْيا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورALLAAHUMMA BIKA AṢBAḤNAA WA BIKA AMSAINAA, WA BIKA NAḤYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAYKA AN-NUSYUUR“Ya Allah, dengan-Mu kami berada di waktu pagi, dan dengan-Mu kami berada di waktu petang. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati, dan kepada-Mu kebangkitan (kami).” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)KeenamMembaca doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU, LAA SYARIIKA LAHU, LAHU AL-MULKU, WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAY’IN QADIIR“Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan, milik-Nyalah pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Thabrani)KetujuhMembaca doa,يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍYAA ḤAYYU YAA QAYYUUMU, BIRAḤMATIKA ASTAGHIITSU, AṢLIḤ LII SYA’NII KULLAHU, WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII ṬARFATA ‘AIN“Wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata.”KedelapanMembaca doa,اللّهمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إلهَ إلاّ أَنْتَ، خَلَقْتَني وَأَنا عَبْدُك، وَأَنا عَلى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْت، أَعوذُبِكَ مِنْ شَرِّ ما صَنَعْت، أَبوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبوءُ بِذَنْبي فَاغْفِرْ لي فَإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنوبَ إِلاّ أَنْتَALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANAA ‘ABDUKA, WA ANAA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA‘DIKA MASTATHA‘TU, A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA‘TU, ABUU’U LAKA BINI‘MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU’U BIDZANBII FAGHFIR LII FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ-DZUNUUBA ILLAA ANTA“Wahai Allah, Engkau adalah tuhanku, tida ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang kepada janji-Mu dan perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari)KesembilanMembaca doa,أَصْبَحْنا وَأَصْبَحَ المُلْكُ لله وَالحَمدُ لله، لا إلهَ إلاّ اللّهُ وَحدَهُ لا شَريكَ لهُ، لهُ المُلكُ ولهُ الحَمْد، وهُوَ على كلّ شَيءٍ قدير، رَبِّ أسْأَلُكَ خَيرَ ما في هذا اليوم وَخَيرَ ما بَعْدَه، وَأَعوذُ بِكَ مِنْ شرِّ ما في هذا اليوم وَشَرِّ ما بَعْدَه، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسوءِ الْكِبَر، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنْ عَذابٍ في النّارِ وَعَذابٍ في القَبْرAṢHBAḤNAA WA AṢHBAḤAL-MULKU LILLAAHI WAL-ḤAMDU LILLAAH, LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHU AL-MULKU WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR. RABBI AS’ALUKA KHAIRA MAA FII HAADZAL-YAUMI WA KHAIRA MAA BA‘DAH, WA A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA FII HAADZAL-YAUMI WA SYARRI MAA BA‘DAH. RABBI A‘UUDZU BIKA MINAL-KASALI WA SUU’IL-KIBARI, RABBI A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIN FIN-NAARI WA ‘ADZAABIN FIL-QABR“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu kebaikan pada hari ini dan kebaikan setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pada hari ini dan kejelekan setelahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan dari keburukan di masa tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan dari azab kubur.” (HR. Muslim)KesepuluhMembaca doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FID-DUNYAA WAL-AAKHIRAH, ALLAAHUMMA AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FII DIINII WA DUNYAA-YA WA AHLII WA MAALII. ALLAAHUMMAS-TUR ‘AURAATII, WA AAMIN RAU‘AATII, WAḤFAZHNĪ MIN BAINI YADAYYA, WA MIN KHALFII, WA ‘AN YAMIINII, WA ‘AN SYIMAALII, WA MIN FAUQII, WA A‘UUDZU BIKA AN UGHTAALA MIN TAḤTII“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan berilah rasa aman dari ketakutanku. Jagalah aku dari depan, dari belakang, dari sebelah kanan, dari sebelah kiri, dan dari atasku. Dan aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak diserang dari bawahku.” (HR. Abu Dawud)KesebelasMembaca 3x doa,بِسمِ اللهِ الذي لا يَضُرُّ مَعَ اسمِهِ شَيءٌ في الأرْضِ وَلا في السّماءِ وَهوَ السّميعُ العَليمBISMILLAAHILLADZII LAA YADHURRU MA‘AS-MIHI SYAI’UN FIL-ARDHI WA LAA FIS-SAMAA’I WA HUWA AS-SAMII‘UL-‘ALIIM“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)Kedua belasMembaca 3x doa,سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِSUBHAANALLAAHI ‘ADADA KHALQIHI, SUBHAANALLAAHI RIDHAA NAFSIHI, SUBHAANALLAAHI ZINATA ‘ARSYIHI, SUBHAANALLAAHI MIDAADA KALIMAATIHI“Maha Suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya, Maha Suci Allah (dengan) keridaan diri-Nya, Maha Suci Allah seberat timbangan ‘Arsy-Nya, Maha Suci Allah sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-kalimat-Nya.” (HR. Muslim)Ketiga belasMembaca 3x doa,اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BADANII, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII SAM‘II, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BASHARII, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MINAL-KUFRI WAL-FAQRI, ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL-QABRI, LAA ILAAHA ILLAA ANTA“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku; ya Allah, selamatkanlah pendengaranku; ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Dawud)Keempat belasMembaca 3x surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas.Kelima belasMembaca 4x doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَALLAAHUMMA INNII ASHBAHTU USY-HIDUKA WA USY-HIDU HAMALATA ‘ARSYIKA WA MALAA-IKATAKA WA JAMII‘A KHALQIKA ANNAKA ANTA-LLAAHU WAHDAKA LAA SYARIIKA LAKA WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUKA WA RASUULUKA“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan-Mu, mempersaksikan para pemikul ‘Arsy-Mu, malaikat-malaikat-Mu, dan seluruh makhluk-Mu bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu.” (HR. Abu Dawud)Keenam belasMembaca 10x doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU, LAA SYARIIKA LAH, LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU, YUHYII WA YUMIITU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Ibnu Hibban)Ketujuh belasMembaca 100x zikir,سبحان الله وبحمدهSUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIH“Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya.” (HR. Muslim)Kedelapan belasMembaca 100x zikir,أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH“Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”Itulah di antara zikir-zikir yang bisa kita baca di pagi hari. Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama di waktu-waktu yang dianjurkan seperti pada pagi hari.Waktu zikir pagiSetelah kita ketahui bacaan-bacaan zikir pagi yang perlu dibaca, kita juga perlu tahu kapan bacaan zikir pagi ini sebaiknya dibaca. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang kapan waktu zikir pagi, beliau menjawab,قبل الظهر من طلوع الفجر إلى الظهر“Sebelum zuhur, (yaitu) dari terbitnya fajar (waktu subuh) hingga waktu zuhur.”Baca juga: Zikir Petang***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:https://www.islamweb.nethttps://binbaz.org.sa

Bacaan Zikir Pagi Hari

Daftar Isi ToggleKeutamaan zikirBacaan zikir pagiPertamaKeduaKetigaKeempatKelimaKeenamKetujuhKedelapanKesembilanKesepuluhKesebelasKedua belasKetiga belasKeempat belasKelima belasKeenam belasKetujuh belasKedelapan belasWaktu zikir pagiKeutamaan zikirZikir merupakan suatu amalan yang Allah perintahkan agar kita senantiasa mengerjakannya. Di antara bacaan zikir yang sebaiknya kita rutinkan adalah bacaan zikir pagi. Waktu pagi merupakan salah satu waktu yang Allah perintahkan untuk berzikir, sebagaimana firman Allah Ta’ala, يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا وسبحوه بكرة وأصيلا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kalian kepada-Nya di waktu pagi dan sore.” (QS. Al-Ahzab: 40-41)Allah Ta’ala juga berfirman,فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ“Bertasbihlah kepada Allah di waktu petang dan di waktu pagi.” (QS. Ar-Rum: 18)Senantiasa berzikir juga merupakan suatu hal yang Rasulullah ajarkan kepada para sahabat, sebagaimana sabda beliau shallallahu ’alayhi wa sallam,لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ“Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim merutinkan zikir, khususnya zikir pagi pada setiap harinya.Bacaan zikir pagiZikir pagi merupakan kumpulan bacaan zikir dari hadis maupun Al-Qur’an yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ajarkan untuk dibaca pada setiap pagi. Bacaan zikir pagi adalah,PertamaMembaca Ayat kursi,اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ“Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) tidur. Milik-Nyalah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”KeduaMembaca doa,أَصْبَحْنا عَلَى فِطْرَةِ الإسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إبْرَاهِيمَ حَنِيفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَAṢBAHNAA ‘ALAA FIṬRATIL–ISLAAM, WA ‘ALAA KALIMATIL-IKHLAAṢ, WA ‘ALAA DIINI NABIYYINAA MUHAMMADIN ṢALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, WA ‘ALAA MILLATI ABIINAA IBRAAHIIMA ḤANIIFAN MUSLIMAN WA MAA KAANA MINAL-MUSYRIKIIN.“Kami berada di waktu pagi di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama Nabi kami Muhammad ﷺ, dan di atas millah (ajaran) bapak kami Ibrahim yang lurus, seorang muslim, dan beliau tidak termasuk dari golongan orang-orang musyrik.” (HR. Ahmad)KetigaMembaca 3x do’a,رَضيتُ بِاللهِ رَبَّاً وَبِالإسْلامِ ديناً وَبِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم نَبِيّاًRADIITU BILLAAHI RABBAN WA BIL-ISLAAMI DIINAN WA BI-MUHAMMADIN SALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM NABIYYAN“Aku rida terhadap Allah sebagai Rabb, terhadap Islam sebagai agama, dan terhadap Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagai Nabi.” (Diriwayatkan oleh Ashabu As-Sunnan)KeempatMembaca doa,اللهم إني أسألك علماً نافعاً، ورزقاً طيباً، وعملاً متقبلاًALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI‘AN, WA RIZQAN ṬAYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQABBALAN“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)KelimaMembaca doa,اللّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنا وَبِكَ أَمْسَينا، وَبِكَ نَحْيا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورALLAAHUMMA BIKA AṢBAḤNAA WA BIKA AMSAINAA, WA BIKA NAḤYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAYKA AN-NUSYUUR“Ya Allah, dengan-Mu kami berada di waktu pagi, dan dengan-Mu kami berada di waktu petang. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati, dan kepada-Mu kebangkitan (kami).” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)KeenamMembaca doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU, LAA SYARIIKA LAHU, LAHU AL-MULKU, WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAY’IN QADIIR“Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan, milik-Nyalah pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Thabrani)KetujuhMembaca doa,يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍYAA ḤAYYU YAA QAYYUUMU, BIRAḤMATIKA ASTAGHIITSU, AṢLIḤ LII SYA’NII KULLAHU, WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII ṬARFATA ‘AIN“Wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata.”KedelapanMembaca doa,اللّهمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إلهَ إلاّ أَنْتَ، خَلَقْتَني وَأَنا عَبْدُك، وَأَنا عَلى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْت، أَعوذُبِكَ مِنْ شَرِّ ما صَنَعْت، أَبوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبوءُ بِذَنْبي فَاغْفِرْ لي فَإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنوبَ إِلاّ أَنْتَALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANAA ‘ABDUKA, WA ANAA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA‘DIKA MASTATHA‘TU, A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA‘TU, ABUU’U LAKA BINI‘MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU’U BIDZANBII FAGHFIR LII FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ-DZUNUUBA ILLAA ANTA“Wahai Allah, Engkau adalah tuhanku, tida ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang kepada janji-Mu dan perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari)KesembilanMembaca doa,أَصْبَحْنا وَأَصْبَحَ المُلْكُ لله وَالحَمدُ لله، لا إلهَ إلاّ اللّهُ وَحدَهُ لا شَريكَ لهُ، لهُ المُلكُ ولهُ الحَمْد، وهُوَ على كلّ شَيءٍ قدير، رَبِّ أسْأَلُكَ خَيرَ ما في هذا اليوم وَخَيرَ ما بَعْدَه، وَأَعوذُ بِكَ مِنْ شرِّ ما في هذا اليوم وَشَرِّ ما بَعْدَه، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسوءِ الْكِبَر، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنْ عَذابٍ في النّارِ وَعَذابٍ في القَبْرAṢHBAḤNAA WA AṢHBAḤAL-MULKU LILLAAHI WAL-ḤAMDU LILLAAH, LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHU AL-MULKU WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR. RABBI AS’ALUKA KHAIRA MAA FII HAADZAL-YAUMI WA KHAIRA MAA BA‘DAH, WA A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA FII HAADZAL-YAUMI WA SYARRI MAA BA‘DAH. RABBI A‘UUDZU BIKA MINAL-KASALI WA SUU’IL-KIBARI, RABBI A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIN FIN-NAARI WA ‘ADZAABIN FIL-QABR“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu kebaikan pada hari ini dan kebaikan setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pada hari ini dan kejelekan setelahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan dari keburukan di masa tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan dari azab kubur.” (HR. Muslim)KesepuluhMembaca doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FID-DUNYAA WAL-AAKHIRAH, ALLAAHUMMA AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FII DIINII WA DUNYAA-YA WA AHLII WA MAALII. ALLAAHUMMAS-TUR ‘AURAATII, WA AAMIN RAU‘AATII, WAḤFAZHNĪ MIN BAINI YADAYYA, WA MIN KHALFII, WA ‘AN YAMIINII, WA ‘AN SYIMAALII, WA MIN FAUQII, WA A‘UUDZU BIKA AN UGHTAALA MIN TAḤTII“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan berilah rasa aman dari ketakutanku. Jagalah aku dari depan, dari belakang, dari sebelah kanan, dari sebelah kiri, dan dari atasku. Dan aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak diserang dari bawahku.” (HR. Abu Dawud)KesebelasMembaca 3x doa,بِسمِ اللهِ الذي لا يَضُرُّ مَعَ اسمِهِ شَيءٌ في الأرْضِ وَلا في السّماءِ وَهوَ السّميعُ العَليمBISMILLAAHILLADZII LAA YADHURRU MA‘AS-MIHI SYAI’UN FIL-ARDHI WA LAA FIS-SAMAA’I WA HUWA AS-SAMII‘UL-‘ALIIM“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)Kedua belasMembaca 3x doa,سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِSUBHAANALLAAHI ‘ADADA KHALQIHI, SUBHAANALLAAHI RIDHAA NAFSIHI, SUBHAANALLAAHI ZINATA ‘ARSYIHI, SUBHAANALLAAHI MIDAADA KALIMAATIHI“Maha Suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya, Maha Suci Allah (dengan) keridaan diri-Nya, Maha Suci Allah seberat timbangan ‘Arsy-Nya, Maha Suci Allah sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-kalimat-Nya.” (HR. Muslim)Ketiga belasMembaca 3x doa,اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BADANII, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII SAM‘II, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BASHARII, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MINAL-KUFRI WAL-FAQRI, ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL-QABRI, LAA ILAAHA ILLAA ANTA“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku; ya Allah, selamatkanlah pendengaranku; ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Dawud)Keempat belasMembaca 3x surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas.Kelima belasMembaca 4x doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَALLAAHUMMA INNII ASHBAHTU USY-HIDUKA WA USY-HIDU HAMALATA ‘ARSYIKA WA MALAA-IKATAKA WA JAMII‘A KHALQIKA ANNAKA ANTA-LLAAHU WAHDAKA LAA SYARIIKA LAKA WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUKA WA RASUULUKA“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan-Mu, mempersaksikan para pemikul ‘Arsy-Mu, malaikat-malaikat-Mu, dan seluruh makhluk-Mu bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu.” (HR. Abu Dawud)Keenam belasMembaca 10x doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU, LAA SYARIIKA LAH, LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU, YUHYII WA YUMIITU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Ibnu Hibban)Ketujuh belasMembaca 100x zikir,سبحان الله وبحمدهSUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIH“Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya.” (HR. Muslim)Kedelapan belasMembaca 100x zikir,أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH“Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”Itulah di antara zikir-zikir yang bisa kita baca di pagi hari. Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama di waktu-waktu yang dianjurkan seperti pada pagi hari.Waktu zikir pagiSetelah kita ketahui bacaan-bacaan zikir pagi yang perlu dibaca, kita juga perlu tahu kapan bacaan zikir pagi ini sebaiknya dibaca. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang kapan waktu zikir pagi, beliau menjawab,قبل الظهر من طلوع الفجر إلى الظهر“Sebelum zuhur, (yaitu) dari terbitnya fajar (waktu subuh) hingga waktu zuhur.”Baca juga: Zikir Petang***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:https://www.islamweb.nethttps://binbaz.org.sa
Daftar Isi ToggleKeutamaan zikirBacaan zikir pagiPertamaKeduaKetigaKeempatKelimaKeenamKetujuhKedelapanKesembilanKesepuluhKesebelasKedua belasKetiga belasKeempat belasKelima belasKeenam belasKetujuh belasKedelapan belasWaktu zikir pagiKeutamaan zikirZikir merupakan suatu amalan yang Allah perintahkan agar kita senantiasa mengerjakannya. Di antara bacaan zikir yang sebaiknya kita rutinkan adalah bacaan zikir pagi. Waktu pagi merupakan salah satu waktu yang Allah perintahkan untuk berzikir, sebagaimana firman Allah Ta’ala, يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا وسبحوه بكرة وأصيلا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kalian kepada-Nya di waktu pagi dan sore.” (QS. Al-Ahzab: 40-41)Allah Ta’ala juga berfirman,فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ“Bertasbihlah kepada Allah di waktu petang dan di waktu pagi.” (QS. Ar-Rum: 18)Senantiasa berzikir juga merupakan suatu hal yang Rasulullah ajarkan kepada para sahabat, sebagaimana sabda beliau shallallahu ’alayhi wa sallam,لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ“Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim merutinkan zikir, khususnya zikir pagi pada setiap harinya.Bacaan zikir pagiZikir pagi merupakan kumpulan bacaan zikir dari hadis maupun Al-Qur’an yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ajarkan untuk dibaca pada setiap pagi. Bacaan zikir pagi adalah,PertamaMembaca Ayat kursi,اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ“Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) tidur. Milik-Nyalah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”KeduaMembaca doa,أَصْبَحْنا عَلَى فِطْرَةِ الإسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إبْرَاهِيمَ حَنِيفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَAṢBAHNAA ‘ALAA FIṬRATIL–ISLAAM, WA ‘ALAA KALIMATIL-IKHLAAṢ, WA ‘ALAA DIINI NABIYYINAA MUHAMMADIN ṢALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, WA ‘ALAA MILLATI ABIINAA IBRAAHIIMA ḤANIIFAN MUSLIMAN WA MAA KAANA MINAL-MUSYRIKIIN.“Kami berada di waktu pagi di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama Nabi kami Muhammad ﷺ, dan di atas millah (ajaran) bapak kami Ibrahim yang lurus, seorang muslim, dan beliau tidak termasuk dari golongan orang-orang musyrik.” (HR. Ahmad)KetigaMembaca 3x do’a,رَضيتُ بِاللهِ رَبَّاً وَبِالإسْلامِ ديناً وَبِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم نَبِيّاًRADIITU BILLAAHI RABBAN WA BIL-ISLAAMI DIINAN WA BI-MUHAMMADIN SALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM NABIYYAN“Aku rida terhadap Allah sebagai Rabb, terhadap Islam sebagai agama, dan terhadap Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagai Nabi.” (Diriwayatkan oleh Ashabu As-Sunnan)KeempatMembaca doa,اللهم إني أسألك علماً نافعاً، ورزقاً طيباً، وعملاً متقبلاًALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI‘AN, WA RIZQAN ṬAYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQABBALAN“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)KelimaMembaca doa,اللّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنا وَبِكَ أَمْسَينا، وَبِكَ نَحْيا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورALLAAHUMMA BIKA AṢBAḤNAA WA BIKA AMSAINAA, WA BIKA NAḤYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAYKA AN-NUSYUUR“Ya Allah, dengan-Mu kami berada di waktu pagi, dan dengan-Mu kami berada di waktu petang. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati, dan kepada-Mu kebangkitan (kami).” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)KeenamMembaca doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU, LAA SYARIIKA LAHU, LAHU AL-MULKU, WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAY’IN QADIIR“Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan, milik-Nyalah pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Thabrani)KetujuhMembaca doa,يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍYAA ḤAYYU YAA QAYYUUMU, BIRAḤMATIKA ASTAGHIITSU, AṢLIḤ LII SYA’NII KULLAHU, WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII ṬARFATA ‘AIN“Wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata.”KedelapanMembaca doa,اللّهمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إلهَ إلاّ أَنْتَ، خَلَقْتَني وَأَنا عَبْدُك، وَأَنا عَلى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْت، أَعوذُبِكَ مِنْ شَرِّ ما صَنَعْت، أَبوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبوءُ بِذَنْبي فَاغْفِرْ لي فَإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنوبَ إِلاّ أَنْتَALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANAA ‘ABDUKA, WA ANAA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA‘DIKA MASTATHA‘TU, A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA‘TU, ABUU’U LAKA BINI‘MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU’U BIDZANBII FAGHFIR LII FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ-DZUNUUBA ILLAA ANTA“Wahai Allah, Engkau adalah tuhanku, tida ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang kepada janji-Mu dan perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari)KesembilanMembaca doa,أَصْبَحْنا وَأَصْبَحَ المُلْكُ لله وَالحَمدُ لله، لا إلهَ إلاّ اللّهُ وَحدَهُ لا شَريكَ لهُ، لهُ المُلكُ ولهُ الحَمْد، وهُوَ على كلّ شَيءٍ قدير، رَبِّ أسْأَلُكَ خَيرَ ما في هذا اليوم وَخَيرَ ما بَعْدَه، وَأَعوذُ بِكَ مِنْ شرِّ ما في هذا اليوم وَشَرِّ ما بَعْدَه، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسوءِ الْكِبَر، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنْ عَذابٍ في النّارِ وَعَذابٍ في القَبْرAṢHBAḤNAA WA AṢHBAḤAL-MULKU LILLAAHI WAL-ḤAMDU LILLAAH, LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHU AL-MULKU WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR. RABBI AS’ALUKA KHAIRA MAA FII HAADZAL-YAUMI WA KHAIRA MAA BA‘DAH, WA A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA FII HAADZAL-YAUMI WA SYARRI MAA BA‘DAH. RABBI A‘UUDZU BIKA MINAL-KASALI WA SUU’IL-KIBARI, RABBI A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIN FIN-NAARI WA ‘ADZAABIN FIL-QABR“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu kebaikan pada hari ini dan kebaikan setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pada hari ini dan kejelekan setelahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan dari keburukan di masa tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan dari azab kubur.” (HR. Muslim)KesepuluhMembaca doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FID-DUNYAA WAL-AAKHIRAH, ALLAAHUMMA AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FII DIINII WA DUNYAA-YA WA AHLII WA MAALII. ALLAAHUMMAS-TUR ‘AURAATII, WA AAMIN RAU‘AATII, WAḤFAZHNĪ MIN BAINI YADAYYA, WA MIN KHALFII, WA ‘AN YAMIINII, WA ‘AN SYIMAALII, WA MIN FAUQII, WA A‘UUDZU BIKA AN UGHTAALA MIN TAḤTII“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan berilah rasa aman dari ketakutanku. Jagalah aku dari depan, dari belakang, dari sebelah kanan, dari sebelah kiri, dan dari atasku. Dan aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak diserang dari bawahku.” (HR. Abu Dawud)KesebelasMembaca 3x doa,بِسمِ اللهِ الذي لا يَضُرُّ مَعَ اسمِهِ شَيءٌ في الأرْضِ وَلا في السّماءِ وَهوَ السّميعُ العَليمBISMILLAAHILLADZII LAA YADHURRU MA‘AS-MIHI SYAI’UN FIL-ARDHI WA LAA FIS-SAMAA’I WA HUWA AS-SAMII‘UL-‘ALIIM“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)Kedua belasMembaca 3x doa,سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِSUBHAANALLAAHI ‘ADADA KHALQIHI, SUBHAANALLAAHI RIDHAA NAFSIHI, SUBHAANALLAAHI ZINATA ‘ARSYIHI, SUBHAANALLAAHI MIDAADA KALIMAATIHI“Maha Suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya, Maha Suci Allah (dengan) keridaan diri-Nya, Maha Suci Allah seberat timbangan ‘Arsy-Nya, Maha Suci Allah sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-kalimat-Nya.” (HR. Muslim)Ketiga belasMembaca 3x doa,اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BADANII, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII SAM‘II, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BASHARII, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MINAL-KUFRI WAL-FAQRI, ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL-QABRI, LAA ILAAHA ILLAA ANTA“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku; ya Allah, selamatkanlah pendengaranku; ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Dawud)Keempat belasMembaca 3x surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas.Kelima belasMembaca 4x doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَALLAAHUMMA INNII ASHBAHTU USY-HIDUKA WA USY-HIDU HAMALATA ‘ARSYIKA WA MALAA-IKATAKA WA JAMII‘A KHALQIKA ANNAKA ANTA-LLAAHU WAHDAKA LAA SYARIIKA LAKA WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUKA WA RASUULUKA“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan-Mu, mempersaksikan para pemikul ‘Arsy-Mu, malaikat-malaikat-Mu, dan seluruh makhluk-Mu bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu.” (HR. Abu Dawud)Keenam belasMembaca 10x doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU, LAA SYARIIKA LAH, LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU, YUHYII WA YUMIITU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Ibnu Hibban)Ketujuh belasMembaca 100x zikir,سبحان الله وبحمدهSUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIH“Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya.” (HR. Muslim)Kedelapan belasMembaca 100x zikir,أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH“Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”Itulah di antara zikir-zikir yang bisa kita baca di pagi hari. Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama di waktu-waktu yang dianjurkan seperti pada pagi hari.Waktu zikir pagiSetelah kita ketahui bacaan-bacaan zikir pagi yang perlu dibaca, kita juga perlu tahu kapan bacaan zikir pagi ini sebaiknya dibaca. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang kapan waktu zikir pagi, beliau menjawab,قبل الظهر من طلوع الفجر إلى الظهر“Sebelum zuhur, (yaitu) dari terbitnya fajar (waktu subuh) hingga waktu zuhur.”Baca juga: Zikir Petang***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:https://www.islamweb.nethttps://binbaz.org.sa


Daftar Isi ToggleKeutamaan zikirBacaan zikir pagiPertamaKeduaKetigaKeempatKelimaKeenamKetujuhKedelapanKesembilanKesepuluhKesebelasKedua belasKetiga belasKeempat belasKelima belasKeenam belasKetujuh belasKedelapan belasWaktu zikir pagiKeutamaan zikirZikir merupakan suatu amalan yang Allah perintahkan agar kita senantiasa mengerjakannya. Di antara bacaan zikir yang sebaiknya kita rutinkan adalah bacaan zikir pagi. Waktu pagi merupakan salah satu waktu yang Allah perintahkan untuk berzikir, sebagaimana firman Allah Ta’ala, يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا وسبحوه بكرة وأصيلا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kalian kepada-Nya di waktu pagi dan sore.” (QS. Al-Ahzab: 40-41)Allah Ta’ala juga berfirman,فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ“Bertasbihlah kepada Allah di waktu petang dan di waktu pagi.” (QS. Ar-Rum: 18)Senantiasa berzikir juga merupakan suatu hal yang Rasulullah ajarkan kepada para sahabat, sebagaimana sabda beliau shallallahu ’alayhi wa sallam,لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ“Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim merutinkan zikir, khususnya zikir pagi pada setiap harinya.Bacaan zikir pagiZikir pagi merupakan kumpulan bacaan zikir dari hadis maupun Al-Qur’an yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ajarkan untuk dibaca pada setiap pagi. Bacaan zikir pagi adalah,PertamaMembaca Ayat kursi,اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ“Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) tidur. Milik-Nyalah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”KeduaMembaca doa,أَصْبَحْنا عَلَى فِطْرَةِ الإسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إبْرَاهِيمَ حَنِيفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَAṢBAHNAA ‘ALAA FIṬRATIL–ISLAAM, WA ‘ALAA KALIMATIL-IKHLAAṢ, WA ‘ALAA DIINI NABIYYINAA MUHAMMADIN ṢALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, WA ‘ALAA MILLATI ABIINAA IBRAAHIIMA ḤANIIFAN MUSLIMAN WA MAA KAANA MINAL-MUSYRIKIIN.“Kami berada di waktu pagi di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama Nabi kami Muhammad ﷺ, dan di atas millah (ajaran) bapak kami Ibrahim yang lurus, seorang muslim, dan beliau tidak termasuk dari golongan orang-orang musyrik.” (HR. Ahmad)KetigaMembaca 3x do’a,رَضيتُ بِاللهِ رَبَّاً وَبِالإسْلامِ ديناً وَبِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم نَبِيّاًRADIITU BILLAAHI RABBAN WA BIL-ISLAAMI DIINAN WA BI-MUHAMMADIN SALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM NABIYYAN“Aku rida terhadap Allah sebagai Rabb, terhadap Islam sebagai agama, dan terhadap Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagai Nabi.” (Diriwayatkan oleh Ashabu As-Sunnan)KeempatMembaca doa,اللهم إني أسألك علماً نافعاً، ورزقاً طيباً، وعملاً متقبلاًALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI‘AN, WA RIZQAN ṬAYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQABBALAN“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)KelimaMembaca doa,اللّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنا وَبِكَ أَمْسَينا، وَبِكَ نَحْيا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورALLAAHUMMA BIKA AṢBAḤNAA WA BIKA AMSAINAA, WA BIKA NAḤYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAYKA AN-NUSYUUR“Ya Allah, dengan-Mu kami berada di waktu pagi, dan dengan-Mu kami berada di waktu petang. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati, dan kepada-Mu kebangkitan (kami).” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)KeenamMembaca doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU, LAA SYARIIKA LAHU, LAHU AL-MULKU, WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAY’IN QADIIR“Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan, milik-Nyalah pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Thabrani)KetujuhMembaca doa,يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍYAA ḤAYYU YAA QAYYUUMU, BIRAḤMATIKA ASTAGHIITSU, AṢLIḤ LII SYA’NII KULLAHU, WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII ṬARFATA ‘AIN“Wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata.”KedelapanMembaca doa,اللّهمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إلهَ إلاّ أَنْتَ، خَلَقْتَني وَأَنا عَبْدُك، وَأَنا عَلى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْت، أَعوذُبِكَ مِنْ شَرِّ ما صَنَعْت، أَبوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبوءُ بِذَنْبي فَاغْفِرْ لي فَإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنوبَ إِلاّ أَنْتَALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANAA ‘ABDUKA, WA ANAA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA‘DIKA MASTATHA‘TU, A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA‘TU, ABUU’U LAKA BINI‘MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU’U BIDZANBII FAGHFIR LII FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ-DZUNUUBA ILLAA ANTA“Wahai Allah, Engkau adalah tuhanku, tida ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang kepada janji-Mu dan perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari)KesembilanMembaca doa,أَصْبَحْنا وَأَصْبَحَ المُلْكُ لله وَالحَمدُ لله، لا إلهَ إلاّ اللّهُ وَحدَهُ لا شَريكَ لهُ، لهُ المُلكُ ولهُ الحَمْد، وهُوَ على كلّ شَيءٍ قدير، رَبِّ أسْأَلُكَ خَيرَ ما في هذا اليوم وَخَيرَ ما بَعْدَه، وَأَعوذُ بِكَ مِنْ شرِّ ما في هذا اليوم وَشَرِّ ما بَعْدَه، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسوءِ الْكِبَر، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنْ عَذابٍ في النّارِ وَعَذابٍ في القَبْرAṢHBAḤNAA WA AṢHBAḤAL-MULKU LILLAAHI WAL-ḤAMDU LILLAAH, LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHU AL-MULKU WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR. RABBI AS’ALUKA KHAIRA MAA FII HAADZAL-YAUMI WA KHAIRA MAA BA‘DAH, WA A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA FII HAADZAL-YAUMI WA SYARRI MAA BA‘DAH. RABBI A‘UUDZU BIKA MINAL-KASALI WA SUU’IL-KIBARI, RABBI A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIN FIN-NAARI WA ‘ADZAABIN FIL-QABR“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu kebaikan pada hari ini dan kebaikan setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pada hari ini dan kejelekan setelahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan dari keburukan di masa tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan dari azab kubur.” (HR. Muslim)KesepuluhMembaca doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FID-DUNYAA WAL-AAKHIRAH, ALLAAHUMMA AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FII DIINII WA DUNYAA-YA WA AHLII WA MAALII. ALLAAHUMMAS-TUR ‘AURAATII, WA AAMIN RAU‘AATII, WAḤFAZHNĪ MIN BAINI YADAYYA, WA MIN KHALFII, WA ‘AN YAMIINII, WA ‘AN SYIMAALII, WA MIN FAUQII, WA A‘UUDZU BIKA AN UGHTAALA MIN TAḤTII“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan berilah rasa aman dari ketakutanku. Jagalah aku dari depan, dari belakang, dari sebelah kanan, dari sebelah kiri, dan dari atasku. Dan aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak diserang dari bawahku.” (HR. Abu Dawud)KesebelasMembaca 3x doa,بِسمِ اللهِ الذي لا يَضُرُّ مَعَ اسمِهِ شَيءٌ في الأرْضِ وَلا في السّماءِ وَهوَ السّميعُ العَليمBISMILLAAHILLADZII LAA YADHURRU MA‘AS-MIHI SYAI’UN FIL-ARDHI WA LAA FIS-SAMAA’I WA HUWA AS-SAMII‘UL-‘ALIIM“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)Kedua belasMembaca 3x doa,سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِSUBHAANALLAAHI ‘ADADA KHALQIHI, SUBHAANALLAAHI RIDHAA NAFSIHI, SUBHAANALLAAHI ZINATA ‘ARSYIHI, SUBHAANALLAAHI MIDAADA KALIMAATIHI“Maha Suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya, Maha Suci Allah (dengan) keridaan diri-Nya, Maha Suci Allah seberat timbangan ‘Arsy-Nya, Maha Suci Allah sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-kalimat-Nya.” (HR. Muslim)Ketiga belasMembaca 3x doa,اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BADANII, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII SAM‘II, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BASHARII, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MINAL-KUFRI WAL-FAQRI, ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL-QABRI, LAA ILAAHA ILLAA ANTA“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku; ya Allah, selamatkanlah pendengaranku; ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Dawud)Keempat belasMembaca 3x surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas.Kelima belasMembaca 4x doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَALLAAHUMMA INNII ASHBAHTU USY-HIDUKA WA USY-HIDU HAMALATA ‘ARSYIKA WA MALAA-IKATAKA WA JAMII‘A KHALQIKA ANNAKA ANTA-LLAAHU WAHDAKA LAA SYARIIKA LAKA WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUKA WA RASUULUKA“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan-Mu, mempersaksikan para pemikul ‘Arsy-Mu, malaikat-malaikat-Mu, dan seluruh makhluk-Mu bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu.” (HR. Abu Dawud)Keenam belasMembaca 10x doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU, LAA SYARIIKA LAH, LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU, YUHYII WA YUMIITU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Ibnu Hibban)Ketujuh belasMembaca 100x zikir,سبحان الله وبحمدهSUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIH“Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya.” (HR. Muslim)Kedelapan belasMembaca 100x zikir,أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH“Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”Itulah di antara zikir-zikir yang bisa kita baca di pagi hari. Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama di waktu-waktu yang dianjurkan seperti pada pagi hari.Waktu zikir pagiSetelah kita ketahui bacaan-bacaan zikir pagi yang perlu dibaca, kita juga perlu tahu kapan bacaan zikir pagi ini sebaiknya dibaca. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang kapan waktu zikir pagi, beliau menjawab,قبل الظهر من طلوع الفجر إلى الظهر“Sebelum zuhur, (yaitu) dari terbitnya fajar (waktu subuh) hingga waktu zuhur.”Baca juga: Zikir Petang***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:https://www.islamweb.nethttps://binbaz.org.sa

Orang Buta Pun Wajib Berjamaah di Masjid, Bagaimana dengan Kita yang Sehat?

Dulu para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memiliki semangat yang sangat besar untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Bahkan ada seorang lelaki dari mereka yang sedang sakit lalu ia dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia bisa berdiri di barisan shaf. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: Sungguh, saya pernah melihat kami (para Sahabat), tidak ada yang absen dari shalat berjamaah di masjid, kecuali orang munafik yang jelas-jelas kemunafikannya.” Pada masa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, para Sahabat mengetahui orang-orang munafik melalui absennya mereka dari shalat berjamaah di masjid tanpa uzur. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: “Dulu ada seorang lelaki yang didatangkan, dipapah oleh dua orang, hingga ia berdiri di barisan shaf.” Maksudnya, orang itu dalam keadaan sakit dan memiliki uzur untuk tidak ikut berjamaah di masjid. Namun ia tetap bersikeras melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Sampai-sampai ia harus dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia dibariskan di shaf. Karena para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memahami agungnya kedudukan shalat berjamaah di masjid. Karena itu, ada seorang buta yang datang kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, meminta keringanan agar diperbolehkan shalat di rumahnya, karena ia tidak memiliki orang yang bisa menuntunnya ke masjid. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau mendengar seruan ‘Hayya ‘alash-shalāh, hayya ‘alal-falāh’?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, penuhilah panggilan itu!” Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Aku tidak menemukan uzur bagimu.” Maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan kepada orang buta ini yang tidak memiliki penuntun ke masjid. Maka bagaimana menurutmu dengan orang yang sehat, bisa melihat, dan mampu?! Oleh sebab itu, saudara-saudara! Hendaklah kita bersemangat untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu pernah menulis surat kepada para gubernurnya: “Perkara terpenting bagi kalian di sisiku adalah shalat. Siapa yang menjaganya, berarti ia telah menjaga agamanya. Adapun siapa yang melalaikannya, maka terhadap perkara lain ia pasti lebih melalaikannya.” ===== كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عِنْدَهُمْ حِرْصٌ شَدِيدٌ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَكُونُ مَرِيضًا وَيُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ يُعَضَّدُ لَهُ بَيْنَ اثْنَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَقُولُ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا يَعْنِي الصَّحَابَةَ وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا أَيْ عَنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ كَانُوا يَعْرِفُونَ الْمُنَافِقِينَ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّخَلُّفِ عَنْ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ بِغَيْرِ عُذْرٍ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَعْنِي يَكُونُ مَرِيضًا وَمَعْذُورًا بِتَرْكِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا أَنَّهُ يُصِرُّ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ لِدَرَجَةِ أَنَّهُ يُهَادَى يَعْنِي يُعَضَّدُ لَهُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ لِعِلْمِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بِعَظِيمِ شَأْنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ أَعْمَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فِي أَنْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ لِكَوْنِهِ لَا يَجِدُ قَائِدًا مُلَائِمًا يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ جَاءَ فِي رِوَايَةٍ فَإِنِّي لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً فَلَمْ يُرَخِّصِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِهَذَا الْأَعْمَى الَّذِي لَيْسَ لَهُ قَائِدٌ يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَمَا بَالُكَ بِالصَّحِيحِ الْمُبْصِرِ الْقَادِرِ فَيَنْبَغِي أَيُّهَا الإِخْوَةُ أَنْ نَحْرِصَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى وُلَاتِهِ فَقَالَ إِنَّ أَهَمَّ أُمُورِكُمْ عِنْدِي الصَّلَاةُ فَمَنْ حَفِظَهَا فَقَدْ حَفِظَ دِيْنَهُ وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ

Orang Buta Pun Wajib Berjamaah di Masjid, Bagaimana dengan Kita yang Sehat?

Dulu para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memiliki semangat yang sangat besar untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Bahkan ada seorang lelaki dari mereka yang sedang sakit lalu ia dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia bisa berdiri di barisan shaf. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: Sungguh, saya pernah melihat kami (para Sahabat), tidak ada yang absen dari shalat berjamaah di masjid, kecuali orang munafik yang jelas-jelas kemunafikannya.” Pada masa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, para Sahabat mengetahui orang-orang munafik melalui absennya mereka dari shalat berjamaah di masjid tanpa uzur. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: “Dulu ada seorang lelaki yang didatangkan, dipapah oleh dua orang, hingga ia berdiri di barisan shaf.” Maksudnya, orang itu dalam keadaan sakit dan memiliki uzur untuk tidak ikut berjamaah di masjid. Namun ia tetap bersikeras melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Sampai-sampai ia harus dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia dibariskan di shaf. Karena para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memahami agungnya kedudukan shalat berjamaah di masjid. Karena itu, ada seorang buta yang datang kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, meminta keringanan agar diperbolehkan shalat di rumahnya, karena ia tidak memiliki orang yang bisa menuntunnya ke masjid. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau mendengar seruan ‘Hayya ‘alash-shalāh, hayya ‘alal-falāh’?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, penuhilah panggilan itu!” Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Aku tidak menemukan uzur bagimu.” Maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan kepada orang buta ini yang tidak memiliki penuntun ke masjid. Maka bagaimana menurutmu dengan orang yang sehat, bisa melihat, dan mampu?! Oleh sebab itu, saudara-saudara! Hendaklah kita bersemangat untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu pernah menulis surat kepada para gubernurnya: “Perkara terpenting bagi kalian di sisiku adalah shalat. Siapa yang menjaganya, berarti ia telah menjaga agamanya. Adapun siapa yang melalaikannya, maka terhadap perkara lain ia pasti lebih melalaikannya.” ===== كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عِنْدَهُمْ حِرْصٌ شَدِيدٌ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَكُونُ مَرِيضًا وَيُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ يُعَضَّدُ لَهُ بَيْنَ اثْنَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَقُولُ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا يَعْنِي الصَّحَابَةَ وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا أَيْ عَنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ كَانُوا يَعْرِفُونَ الْمُنَافِقِينَ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّخَلُّفِ عَنْ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ بِغَيْرِ عُذْرٍ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَعْنِي يَكُونُ مَرِيضًا وَمَعْذُورًا بِتَرْكِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا أَنَّهُ يُصِرُّ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ لِدَرَجَةِ أَنَّهُ يُهَادَى يَعْنِي يُعَضَّدُ لَهُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ لِعِلْمِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بِعَظِيمِ شَأْنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ أَعْمَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فِي أَنْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ لِكَوْنِهِ لَا يَجِدُ قَائِدًا مُلَائِمًا يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ جَاءَ فِي رِوَايَةٍ فَإِنِّي لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً فَلَمْ يُرَخِّصِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِهَذَا الْأَعْمَى الَّذِي لَيْسَ لَهُ قَائِدٌ يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَمَا بَالُكَ بِالصَّحِيحِ الْمُبْصِرِ الْقَادِرِ فَيَنْبَغِي أَيُّهَا الإِخْوَةُ أَنْ نَحْرِصَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى وُلَاتِهِ فَقَالَ إِنَّ أَهَمَّ أُمُورِكُمْ عِنْدِي الصَّلَاةُ فَمَنْ حَفِظَهَا فَقَدْ حَفِظَ دِيْنَهُ وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ
Dulu para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memiliki semangat yang sangat besar untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Bahkan ada seorang lelaki dari mereka yang sedang sakit lalu ia dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia bisa berdiri di barisan shaf. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: Sungguh, saya pernah melihat kami (para Sahabat), tidak ada yang absen dari shalat berjamaah di masjid, kecuali orang munafik yang jelas-jelas kemunafikannya.” Pada masa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, para Sahabat mengetahui orang-orang munafik melalui absennya mereka dari shalat berjamaah di masjid tanpa uzur. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: “Dulu ada seorang lelaki yang didatangkan, dipapah oleh dua orang, hingga ia berdiri di barisan shaf.” Maksudnya, orang itu dalam keadaan sakit dan memiliki uzur untuk tidak ikut berjamaah di masjid. Namun ia tetap bersikeras melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Sampai-sampai ia harus dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia dibariskan di shaf. Karena para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memahami agungnya kedudukan shalat berjamaah di masjid. Karena itu, ada seorang buta yang datang kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, meminta keringanan agar diperbolehkan shalat di rumahnya, karena ia tidak memiliki orang yang bisa menuntunnya ke masjid. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau mendengar seruan ‘Hayya ‘alash-shalāh, hayya ‘alal-falāh’?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, penuhilah panggilan itu!” Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Aku tidak menemukan uzur bagimu.” Maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan kepada orang buta ini yang tidak memiliki penuntun ke masjid. Maka bagaimana menurutmu dengan orang yang sehat, bisa melihat, dan mampu?! Oleh sebab itu, saudara-saudara! Hendaklah kita bersemangat untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu pernah menulis surat kepada para gubernurnya: “Perkara terpenting bagi kalian di sisiku adalah shalat. Siapa yang menjaganya, berarti ia telah menjaga agamanya. Adapun siapa yang melalaikannya, maka terhadap perkara lain ia pasti lebih melalaikannya.” ===== كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عِنْدَهُمْ حِرْصٌ شَدِيدٌ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَكُونُ مَرِيضًا وَيُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ يُعَضَّدُ لَهُ بَيْنَ اثْنَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَقُولُ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا يَعْنِي الصَّحَابَةَ وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا أَيْ عَنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ كَانُوا يَعْرِفُونَ الْمُنَافِقِينَ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّخَلُّفِ عَنْ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ بِغَيْرِ عُذْرٍ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَعْنِي يَكُونُ مَرِيضًا وَمَعْذُورًا بِتَرْكِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا أَنَّهُ يُصِرُّ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ لِدَرَجَةِ أَنَّهُ يُهَادَى يَعْنِي يُعَضَّدُ لَهُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ لِعِلْمِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بِعَظِيمِ شَأْنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ أَعْمَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فِي أَنْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ لِكَوْنِهِ لَا يَجِدُ قَائِدًا مُلَائِمًا يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ جَاءَ فِي رِوَايَةٍ فَإِنِّي لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً فَلَمْ يُرَخِّصِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِهَذَا الْأَعْمَى الَّذِي لَيْسَ لَهُ قَائِدٌ يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَمَا بَالُكَ بِالصَّحِيحِ الْمُبْصِرِ الْقَادِرِ فَيَنْبَغِي أَيُّهَا الإِخْوَةُ أَنْ نَحْرِصَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى وُلَاتِهِ فَقَالَ إِنَّ أَهَمَّ أُمُورِكُمْ عِنْدِي الصَّلَاةُ فَمَنْ حَفِظَهَا فَقَدْ حَفِظَ دِيْنَهُ وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ


Dulu para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memiliki semangat yang sangat besar untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Bahkan ada seorang lelaki dari mereka yang sedang sakit lalu ia dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia bisa berdiri di barisan shaf. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: Sungguh, saya pernah melihat kami (para Sahabat), tidak ada yang absen dari shalat berjamaah di masjid, kecuali orang munafik yang jelas-jelas kemunafikannya.” Pada masa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, para Sahabat mengetahui orang-orang munafik melalui absennya mereka dari shalat berjamaah di masjid tanpa uzur. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: “Dulu ada seorang lelaki yang didatangkan, dipapah oleh dua orang, hingga ia berdiri di barisan shaf.” Maksudnya, orang itu dalam keadaan sakit dan memiliki uzur untuk tidak ikut berjamaah di masjid. Namun ia tetap bersikeras melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Sampai-sampai ia harus dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia dibariskan di shaf. Karena para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memahami agungnya kedudukan shalat berjamaah di masjid. Karena itu, ada seorang buta yang datang kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, meminta keringanan agar diperbolehkan shalat di rumahnya, karena ia tidak memiliki orang yang bisa menuntunnya ke masjid. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau mendengar seruan ‘Hayya ‘alash-shalāh, hayya ‘alal-falāh’?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, penuhilah panggilan itu!” Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Aku tidak menemukan uzur bagimu.” Maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan kepada orang buta ini yang tidak memiliki penuntun ke masjid. Maka bagaimana menurutmu dengan orang yang sehat, bisa melihat, dan mampu?! Oleh sebab itu, saudara-saudara! Hendaklah kita bersemangat untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu pernah menulis surat kepada para gubernurnya: “Perkara terpenting bagi kalian di sisiku adalah shalat. Siapa yang menjaganya, berarti ia telah menjaga agamanya. Adapun siapa yang melalaikannya, maka terhadap perkara lain ia pasti lebih melalaikannya.” ===== كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عِنْدَهُمْ حِرْصٌ شَدِيدٌ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَكُونُ مَرِيضًا وَيُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ يُعَضَّدُ لَهُ بَيْنَ اثْنَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَقُولُ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا يَعْنِي الصَّحَابَةَ وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا أَيْ عَنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ كَانُوا يَعْرِفُونَ الْمُنَافِقِينَ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّخَلُّفِ عَنْ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ بِغَيْرِ عُذْرٍ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَعْنِي يَكُونُ مَرِيضًا وَمَعْذُورًا بِتَرْكِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا أَنَّهُ يُصِرُّ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ لِدَرَجَةِ أَنَّهُ يُهَادَى يَعْنِي يُعَضَّدُ لَهُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ لِعِلْمِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بِعَظِيمِ شَأْنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ أَعْمَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فِي أَنْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ لِكَوْنِهِ لَا يَجِدُ قَائِدًا مُلَائِمًا يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ جَاءَ فِي رِوَايَةٍ فَإِنِّي لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً فَلَمْ يُرَخِّصِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِهَذَا الْأَعْمَى الَّذِي لَيْسَ لَهُ قَائِدٌ يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَمَا بَالُكَ بِالصَّحِيحِ الْمُبْصِرِ الْقَادِرِ فَيَنْبَغِي أَيُّهَا الإِخْوَةُ أَنْ نَحْرِصَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى وُلَاتِهِ فَقَالَ إِنَّ أَهَمَّ أُمُورِكُمْ عِنْدِي الصَّلَاةُ فَمَنْ حَفِظَهَا فَقَدْ حَفِظَ دِيْنَهُ وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ

Sebab Penjajahan Y4HUD1 & Solusi untuk P4L3STIN4 – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Wahai hamba-hamba Allah! Kita wajib mengetahui bahwa agresi bangsa Yahudi terhadap Masjid Al-Aqsa dan tanah Palestina, serta terhadap kaum Muslimin di Palestina, bukanlah sekadar sengketa tanah, tetapi kita harus menyadari bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam. Perkara ini seharusnya mengusik pikiran setiap Muslim. Palestina adalah negeri para Nabi. Di sana terdapat masjid ketiga di antara tiga masjid yang diagungkan. Di sanalah tempat isra Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Di sanalah kiblat pertama kaum Muslimin. Tidak ada yang memiliki hak atasnya kecuali Islam dan kaum Muslimin. “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, yang diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-A’raf: 128) Merupakan kewajiban kita, wahai hamba-hamba Allah, untuk mengerti bahwa dominasi kelompok hina dan terlaknat ini, serta penguasaan mereka terhadap kaum Muslimin, tidak lain hanyalah karena dosa, maksiat, dan berpalingnya banyak kaum Muslimin dari agama mereka. Padahal itulah sumber kejayaan, keberhasilan, dan kemuliaan mereka, di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ālā berfirman (yang artinya): “Dan musibah apa pun yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30) Maka, wahai hamba-hamba Allah, kita harus kembali dengan penuh ketulusan dan dengan sebaik-baiknya taubat kepada Allah Jalla wa ‘Alā, yang dengannya iman diperbaiki dan hubungan dengan Ar-Rahman terjalin, ketaatan dan kebaikan dijaga, serta kefasikan dan kemaksiatan dijauhi dengan penuh kewaspadaan, sehingga kaum Mukminin dapat meraih kemuliaan, kekuasaan, kemenangan, dan pertolongan. Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian jujur kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā dalam berdoa, karena seorang Mukmin, dalam setiap keadaannya dan seluruh kondisinya, baik saat sempit maupun lapang, saat suka maupun duka, tiada tempat kembali baginya selain hanya kepada Allah, tiada pula tempat perlindungan baginya selain hanya kepada Tuhan, Penguasa, dan Pemiliknya, dengan menghadap kepada-Nya dengan doa. ===== عِبَادَ اللهَ يَجِبُ عَلَينَا يَجِبُ عَلَينَا أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ عُدْوَانَ الْيَهُودِ عَلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى وَعَلَى أَرْضِ فِلِسْطِينَ وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي فِلِسْطِينَ لَيْسَ مُجَرَّدَ نِزَاعٍ عَلَى أَرْضٍ وَأَنْ نُدْرِكَ أَنَّ قَضِيَّةَ فِلِسْطِينَ قَضِيِّةٌ إِسْلَامِيَّةٌ يَجِبُ أَنْ يُؤَرِّقَ أَمْرُهَا بَالَ كُلِّ مُسْلِمٍ فَفِلِسْطِينُ بَلَدُ الأَنْبِيَاءِ وَفِيهَا ثَالِثُ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَهِيَ مَسْرَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهَا قِبْلَةُ الْمُسْلِمِينَ الْأُولَى وَلَيْسَ لِأَحِدٍ فِيهَا حَقٌّ إِلَّا الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ وَيَجِبُ عَلَينَا عِبَادَ اللهِ أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ تَغَلُّبَ هَذِهِ الشِرْذِمَةِ الْمَرْذُولَةِ وَالْفِئَةِ الْمَخْذُولَةِ وَتَسَلُّطَهُم عَلَى الْمُسْلِمِينَ إِنَّمَا هُوَ بِسَبَبِ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي وَإِعْرَاضِ كَثِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَنْ دِينِهِم الَّذِي هُوَ سَبَبُ عِزِّهِمْ وَفَلَاحِهِمْ وَرِفْعَتِهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ فَلَابُدَّ عِبَادَ اللهَ لَا بُدَّ مِنْ عَودَةٍ صَادِقِةٍ وَأَوبَةٍ حَمِيدَةٍ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا فِيهَا تَصْحِيحٌ لِلْإِيمَانِ وَسِيلَةٌ بِالرَّحْمَنِ وَحِفَاظٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْإِحْسَانِ وَبُعْدٌ وَحَذَرٌ مِنَ الْفُسُوقِ وَالْعِصْيَانِ لِيَنَالَ الْمُؤْمِنُونَ بِذَلِكَ الْعِزَّةَ وَالتَّمْكِينَ وَالنَّصْرَ وَالتَّأْيِيدَ وَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالصِّدْقِ مَعَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّعَاءِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَجَمِيعِ شُؤُونِهِ فِي شِدَّتِهِ وَرَخَائِهِ وَسَرَّائِهِ وَضَرَّائِهِ لَا مَفْزَعَ لَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ وَلَا مَلْجَأَ لَهُ إِلَّا إِلَى رَبِِّهِ وَسَيِّدِهِ وَمَوْلَاهُ يَتَوَجَّهُ إِلَيهِ بِالدُّعَاءِ

Sebab Penjajahan Y4HUD1 & Solusi untuk P4L3STIN4 – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Wahai hamba-hamba Allah! Kita wajib mengetahui bahwa agresi bangsa Yahudi terhadap Masjid Al-Aqsa dan tanah Palestina, serta terhadap kaum Muslimin di Palestina, bukanlah sekadar sengketa tanah, tetapi kita harus menyadari bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam. Perkara ini seharusnya mengusik pikiran setiap Muslim. Palestina adalah negeri para Nabi. Di sana terdapat masjid ketiga di antara tiga masjid yang diagungkan. Di sanalah tempat isra Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Di sanalah kiblat pertama kaum Muslimin. Tidak ada yang memiliki hak atasnya kecuali Islam dan kaum Muslimin. “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, yang diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-A’raf: 128) Merupakan kewajiban kita, wahai hamba-hamba Allah, untuk mengerti bahwa dominasi kelompok hina dan terlaknat ini, serta penguasaan mereka terhadap kaum Muslimin, tidak lain hanyalah karena dosa, maksiat, dan berpalingnya banyak kaum Muslimin dari agama mereka. Padahal itulah sumber kejayaan, keberhasilan, dan kemuliaan mereka, di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ālā berfirman (yang artinya): “Dan musibah apa pun yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30) Maka, wahai hamba-hamba Allah, kita harus kembali dengan penuh ketulusan dan dengan sebaik-baiknya taubat kepada Allah Jalla wa ‘Alā, yang dengannya iman diperbaiki dan hubungan dengan Ar-Rahman terjalin, ketaatan dan kebaikan dijaga, serta kefasikan dan kemaksiatan dijauhi dengan penuh kewaspadaan, sehingga kaum Mukminin dapat meraih kemuliaan, kekuasaan, kemenangan, dan pertolongan. Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian jujur kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā dalam berdoa, karena seorang Mukmin, dalam setiap keadaannya dan seluruh kondisinya, baik saat sempit maupun lapang, saat suka maupun duka, tiada tempat kembali baginya selain hanya kepada Allah, tiada pula tempat perlindungan baginya selain hanya kepada Tuhan, Penguasa, dan Pemiliknya, dengan menghadap kepada-Nya dengan doa. ===== عِبَادَ اللهَ يَجِبُ عَلَينَا يَجِبُ عَلَينَا أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ عُدْوَانَ الْيَهُودِ عَلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى وَعَلَى أَرْضِ فِلِسْطِينَ وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي فِلِسْطِينَ لَيْسَ مُجَرَّدَ نِزَاعٍ عَلَى أَرْضٍ وَأَنْ نُدْرِكَ أَنَّ قَضِيَّةَ فِلِسْطِينَ قَضِيِّةٌ إِسْلَامِيَّةٌ يَجِبُ أَنْ يُؤَرِّقَ أَمْرُهَا بَالَ كُلِّ مُسْلِمٍ فَفِلِسْطِينُ بَلَدُ الأَنْبِيَاءِ وَفِيهَا ثَالِثُ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَهِيَ مَسْرَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهَا قِبْلَةُ الْمُسْلِمِينَ الْأُولَى وَلَيْسَ لِأَحِدٍ فِيهَا حَقٌّ إِلَّا الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ وَيَجِبُ عَلَينَا عِبَادَ اللهِ أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ تَغَلُّبَ هَذِهِ الشِرْذِمَةِ الْمَرْذُولَةِ وَالْفِئَةِ الْمَخْذُولَةِ وَتَسَلُّطَهُم عَلَى الْمُسْلِمِينَ إِنَّمَا هُوَ بِسَبَبِ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي وَإِعْرَاضِ كَثِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَنْ دِينِهِم الَّذِي هُوَ سَبَبُ عِزِّهِمْ وَفَلَاحِهِمْ وَرِفْعَتِهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ فَلَابُدَّ عِبَادَ اللهَ لَا بُدَّ مِنْ عَودَةٍ صَادِقِةٍ وَأَوبَةٍ حَمِيدَةٍ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا فِيهَا تَصْحِيحٌ لِلْإِيمَانِ وَسِيلَةٌ بِالرَّحْمَنِ وَحِفَاظٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْإِحْسَانِ وَبُعْدٌ وَحَذَرٌ مِنَ الْفُسُوقِ وَالْعِصْيَانِ لِيَنَالَ الْمُؤْمِنُونَ بِذَلِكَ الْعِزَّةَ وَالتَّمْكِينَ وَالنَّصْرَ وَالتَّأْيِيدَ وَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالصِّدْقِ مَعَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّعَاءِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَجَمِيعِ شُؤُونِهِ فِي شِدَّتِهِ وَرَخَائِهِ وَسَرَّائِهِ وَضَرَّائِهِ لَا مَفْزَعَ لَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ وَلَا مَلْجَأَ لَهُ إِلَّا إِلَى رَبِِّهِ وَسَيِّدِهِ وَمَوْلَاهُ يَتَوَجَّهُ إِلَيهِ بِالدُّعَاءِ
Wahai hamba-hamba Allah! Kita wajib mengetahui bahwa agresi bangsa Yahudi terhadap Masjid Al-Aqsa dan tanah Palestina, serta terhadap kaum Muslimin di Palestina, bukanlah sekadar sengketa tanah, tetapi kita harus menyadari bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam. Perkara ini seharusnya mengusik pikiran setiap Muslim. Palestina adalah negeri para Nabi. Di sana terdapat masjid ketiga di antara tiga masjid yang diagungkan. Di sanalah tempat isra Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Di sanalah kiblat pertama kaum Muslimin. Tidak ada yang memiliki hak atasnya kecuali Islam dan kaum Muslimin. “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, yang diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-A’raf: 128) Merupakan kewajiban kita, wahai hamba-hamba Allah, untuk mengerti bahwa dominasi kelompok hina dan terlaknat ini, serta penguasaan mereka terhadap kaum Muslimin, tidak lain hanyalah karena dosa, maksiat, dan berpalingnya banyak kaum Muslimin dari agama mereka. Padahal itulah sumber kejayaan, keberhasilan, dan kemuliaan mereka, di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ālā berfirman (yang artinya): “Dan musibah apa pun yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30) Maka, wahai hamba-hamba Allah, kita harus kembali dengan penuh ketulusan dan dengan sebaik-baiknya taubat kepada Allah Jalla wa ‘Alā, yang dengannya iman diperbaiki dan hubungan dengan Ar-Rahman terjalin, ketaatan dan kebaikan dijaga, serta kefasikan dan kemaksiatan dijauhi dengan penuh kewaspadaan, sehingga kaum Mukminin dapat meraih kemuliaan, kekuasaan, kemenangan, dan pertolongan. Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian jujur kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā dalam berdoa, karena seorang Mukmin, dalam setiap keadaannya dan seluruh kondisinya, baik saat sempit maupun lapang, saat suka maupun duka, tiada tempat kembali baginya selain hanya kepada Allah, tiada pula tempat perlindungan baginya selain hanya kepada Tuhan, Penguasa, dan Pemiliknya, dengan menghadap kepada-Nya dengan doa. ===== عِبَادَ اللهَ يَجِبُ عَلَينَا يَجِبُ عَلَينَا أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ عُدْوَانَ الْيَهُودِ عَلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى وَعَلَى أَرْضِ فِلِسْطِينَ وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي فِلِسْطِينَ لَيْسَ مُجَرَّدَ نِزَاعٍ عَلَى أَرْضٍ وَأَنْ نُدْرِكَ أَنَّ قَضِيَّةَ فِلِسْطِينَ قَضِيِّةٌ إِسْلَامِيَّةٌ يَجِبُ أَنْ يُؤَرِّقَ أَمْرُهَا بَالَ كُلِّ مُسْلِمٍ فَفِلِسْطِينُ بَلَدُ الأَنْبِيَاءِ وَفِيهَا ثَالِثُ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَهِيَ مَسْرَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهَا قِبْلَةُ الْمُسْلِمِينَ الْأُولَى وَلَيْسَ لِأَحِدٍ فِيهَا حَقٌّ إِلَّا الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ وَيَجِبُ عَلَينَا عِبَادَ اللهِ أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ تَغَلُّبَ هَذِهِ الشِرْذِمَةِ الْمَرْذُولَةِ وَالْفِئَةِ الْمَخْذُولَةِ وَتَسَلُّطَهُم عَلَى الْمُسْلِمِينَ إِنَّمَا هُوَ بِسَبَبِ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي وَإِعْرَاضِ كَثِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَنْ دِينِهِم الَّذِي هُوَ سَبَبُ عِزِّهِمْ وَفَلَاحِهِمْ وَرِفْعَتِهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ فَلَابُدَّ عِبَادَ اللهَ لَا بُدَّ مِنْ عَودَةٍ صَادِقِةٍ وَأَوبَةٍ حَمِيدَةٍ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا فِيهَا تَصْحِيحٌ لِلْإِيمَانِ وَسِيلَةٌ بِالرَّحْمَنِ وَحِفَاظٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْإِحْسَانِ وَبُعْدٌ وَحَذَرٌ مِنَ الْفُسُوقِ وَالْعِصْيَانِ لِيَنَالَ الْمُؤْمِنُونَ بِذَلِكَ الْعِزَّةَ وَالتَّمْكِينَ وَالنَّصْرَ وَالتَّأْيِيدَ وَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالصِّدْقِ مَعَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّعَاءِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَجَمِيعِ شُؤُونِهِ فِي شِدَّتِهِ وَرَخَائِهِ وَسَرَّائِهِ وَضَرَّائِهِ لَا مَفْزَعَ لَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ وَلَا مَلْجَأَ لَهُ إِلَّا إِلَى رَبِِّهِ وَسَيِّدِهِ وَمَوْلَاهُ يَتَوَجَّهُ إِلَيهِ بِالدُّعَاءِ


Wahai hamba-hamba Allah! Kita wajib mengetahui bahwa agresi bangsa Yahudi terhadap Masjid Al-Aqsa dan tanah Palestina, serta terhadap kaum Muslimin di Palestina, bukanlah sekadar sengketa tanah, tetapi kita harus menyadari bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam. Perkara ini seharusnya mengusik pikiran setiap Muslim. Palestina adalah negeri para Nabi. Di sana terdapat masjid ketiga di antara tiga masjid yang diagungkan. Di sanalah tempat isra Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Di sanalah kiblat pertama kaum Muslimin. Tidak ada yang memiliki hak atasnya kecuali Islam dan kaum Muslimin. “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, yang diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-A’raf: 128) Merupakan kewajiban kita, wahai hamba-hamba Allah, untuk mengerti bahwa dominasi kelompok hina dan terlaknat ini, serta penguasaan mereka terhadap kaum Muslimin, tidak lain hanyalah karena dosa, maksiat, dan berpalingnya banyak kaum Muslimin dari agama mereka. Padahal itulah sumber kejayaan, keberhasilan, dan kemuliaan mereka, di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ālā berfirman (yang artinya): “Dan musibah apa pun yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30) Maka, wahai hamba-hamba Allah, kita harus kembali dengan penuh ketulusan dan dengan sebaik-baiknya taubat kepada Allah Jalla wa ‘Alā, yang dengannya iman diperbaiki dan hubungan dengan Ar-Rahman terjalin, ketaatan dan kebaikan dijaga, serta kefasikan dan kemaksiatan dijauhi dengan penuh kewaspadaan, sehingga kaum Mukminin dapat meraih kemuliaan, kekuasaan, kemenangan, dan pertolongan. Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian jujur kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā dalam berdoa, karena seorang Mukmin, dalam setiap keadaannya dan seluruh kondisinya, baik saat sempit maupun lapang, saat suka maupun duka, tiada tempat kembali baginya selain hanya kepada Allah, tiada pula tempat perlindungan baginya selain hanya kepada Tuhan, Penguasa, dan Pemiliknya, dengan menghadap kepada-Nya dengan doa. ===== عِبَادَ اللهَ يَجِبُ عَلَينَا يَجِبُ عَلَينَا أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ عُدْوَانَ الْيَهُودِ عَلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى وَعَلَى أَرْضِ فِلِسْطِينَ وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي فِلِسْطِينَ لَيْسَ مُجَرَّدَ نِزَاعٍ عَلَى أَرْضٍ وَأَنْ نُدْرِكَ أَنَّ قَضِيَّةَ فِلِسْطِينَ قَضِيِّةٌ إِسْلَامِيَّةٌ يَجِبُ أَنْ يُؤَرِّقَ أَمْرُهَا بَالَ كُلِّ مُسْلِمٍ فَفِلِسْطِينُ بَلَدُ الأَنْبِيَاءِ وَفِيهَا ثَالِثُ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَهِيَ مَسْرَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهَا قِبْلَةُ الْمُسْلِمِينَ الْأُولَى وَلَيْسَ لِأَحِدٍ فِيهَا حَقٌّ إِلَّا الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ وَيَجِبُ عَلَينَا عِبَادَ اللهِ أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ تَغَلُّبَ هَذِهِ الشِرْذِمَةِ الْمَرْذُولَةِ وَالْفِئَةِ الْمَخْذُولَةِ وَتَسَلُّطَهُم عَلَى الْمُسْلِمِينَ إِنَّمَا هُوَ بِسَبَبِ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي وَإِعْرَاضِ كَثِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَنْ دِينِهِم الَّذِي هُوَ سَبَبُ عِزِّهِمْ وَفَلَاحِهِمْ وَرِفْعَتِهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ فَلَابُدَّ عِبَادَ اللهَ لَا بُدَّ مِنْ عَودَةٍ صَادِقِةٍ وَأَوبَةٍ حَمِيدَةٍ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا فِيهَا تَصْحِيحٌ لِلْإِيمَانِ وَسِيلَةٌ بِالرَّحْمَنِ وَحِفَاظٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْإِحْسَانِ وَبُعْدٌ وَحَذَرٌ مِنَ الْفُسُوقِ وَالْعِصْيَانِ لِيَنَالَ الْمُؤْمِنُونَ بِذَلِكَ الْعِزَّةَ وَالتَّمْكِينَ وَالنَّصْرَ وَالتَّأْيِيدَ وَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالصِّدْقِ مَعَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّعَاءِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَجَمِيعِ شُؤُونِهِ فِي شِدَّتِهِ وَرَخَائِهِ وَسَرَّائِهِ وَضَرَّائِهِ لَا مَفْزَعَ لَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ وَلَا مَلْجَأَ لَهُ إِلَّا إِلَى رَبِِّهِ وَسَيِّدِهِ وَمَوْلَاهُ يَتَوَجَّهُ إِلَيهِ بِالدُّعَاءِ

Hadis: Sedekah yang Paling Utama adalah Nafkah untuk Keluarga

Daftar Isi ToggleTeks hadisFaidah dan kandungan hadisTeks hadisDari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim, no. 995)Faidah dan kandungan hadisDalam hadis di atas, terdapat dalil bahwa menafkahi keluarga merupakan infak (sedekah) yang paling utama. Infak (sedekah) yang dimaksud di sini bisa yang sifatnya sedekah wajib (yaitu nafkah yang wajib untuk istri dan anak) dan sedekah yang sunah (yang lebih dari kewajiban). Asy-Syaukani rahimahullah berkata,وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ الأَوَّلُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الإِنْفَاقَ عَلَى أَهْلِ الرَّجُلِ أَفْضَلُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ“Hadis pertama dari Abu Hurairah mengandung dalil bahwa menafkahi keluarga seorang laki-laki lebih utama daripada berinfak di jalan Allah, lebih utama daripada membebaskan budak, dan lebih utama daripada bersedekah kepada orang-orang miskin.” (Nailul Authar, 6: 380-381)Ini diperkuat dengan hadis lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفقُهُ الرَّجُلُ: دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدينَارٌ يُنْفقُهُ عَلَى دَابَّتِهِ في سَبيلِ الله، وَدِينارٌ يُنْفقُهُ عَلَى أصْحَابهِ في سَبيلِ اللهِ“Dinar yang paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk tunggangannya di jalan Allah, dan dinar yang ia belanjakan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah.” (HR. Muslim no. 994)Ketika menyebutkan hadis ini, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengutip perkataan Abu Qilabah,قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : بَدَأَ بِالْعِيَالِ . ثُمَّ قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : وَأَيُّ رَجُلٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ رَجُلٍ يُنْفِقُ عَلَى عِيَالٍ صِغَارٍ يُعِفُّهُمُ اللَّهُ أَوْ يَنْفَعُهُمْ اللَّهُ بِهِ وَيُغْنِيهِمْAbu Qilabah berkata, “Beliau memulai dengan keluarga.” Kemudian Abu Qilabah berkata, “Dan siapakah orang yang paling besar pahalanya selain orang yang menafkahi anak-anak kecilnya, sehingga Allah menjaga mereka dari kekurangan atau memberi manfaat kepada mereka melalui nafkahnya dan menjadikannya cukup?” (Dikutip dari islamqa.info)Baca juga: Takaran Adil dalam Nafkah dan Pemberian Tambahan kepada AnakDalam kitab Tatriz Riyadhus Shalihin (1: 210) disebutkan,قَدَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ النَّفَقَةَ عَلَى الْعِيَالِ فِي الذِّكْرِ، اهْتِمَامًا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ أَشْرَفُ الأَنْوَاعِ“Dalam hadis ini, beliau mendahulukan penyebutan nafkah kepada keluarga, sebagai bentuk perhatian terhadap hal tersebut, karena ia merupakan jenis yang paling mulia.”Mengapa nafkah kepada keluarga merupakan jenis nafkah yang paling afdal? Ath-Thibi rahimahullah berkata ketika menerangkan hal ini,قِيلَ: لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَقِيلَ: لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ“Dikatakan bahwa (infak kepada keluarga adalah yang paling utama) karena termasuk kewajiban, dan dikatakan juga karena di dalamnya terdapat sedekah dan sekaligus menyambung silaturahmi.” (Mirqat Al-Mafatih, 4: 1351)Keterangan senada juga terdapat di Mir’atul Mafaatih (6: 367),فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إِنْفَاقَ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ أَفْضَلُهُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ. وَإِنَّمَا كَانَ الإِنْفَاقُ عَلَى الأَهْلِ أَفْضَلَ، لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَالْفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ، أَوْ لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ.“Terdapat dalil bahwa nafkah seorang laki-laki kepada keluarganya lebih utama daripada infak di jalan Allah, lebih utama daripada infak untuk membebaskan budak, dan lebih utama daripada sedekah kepada orang miskin. Dan sebab nafkah kepada keluarga lebih utama adalah karena ia merupakan kewajiban (fardhu), sedangkan kewajiban lebih utama daripada amalan sunah. Atau karena ia mengandung unsur sedekah sekaligus silaturahmi.”Hadis ini juga dalil bahwa fardhu ‘ain itu lebih utama daripada fardhu kifayah. Al-Qadhi rahimahullah berkata,وَالنَّفَقَةُ عَلَى الْأَهْلِ أَعَمُّ مِنْ كَوْنِ نَفَقَتِهِمْ وَاجِبَةً أَوْ مَنْدُوبَةً، فَهِيَ أَكْثَرُ الْكُلِّ ثَوَابًا، وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ فَرْضَ الْعَيْنِ أَفْضَلُ مِنَ الْكِفَايَةِ، لِأَنَّ النَّفَقَةَ عَلَى الْأَهْلِ الَّتِي هِيَ فَرْضُ عَيْنٍ أَفْضَلُ مِنَ النَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَهُوَ الْجِهَادُ الَّذِي هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ.“Nafkah kepada keluarga mencakup baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Maka ia lebih banyak pahalanya dibanding yang lain. Dari hadis ini dijadikan dalil bahwa fardhu ‘ain lebih utama daripada fardhu kifayah. Sebab nafkah kepada keluarga, yang merupakan fardhu ‘ain, lebih utama daripada nafkah di jalan Allah, yaitu jihad, yang merupakan fardhu kifayah.” (Faidhul Qadir, 3: 536)Semoga hadis ini menjadi perhatian untuk para suami (kepala rumah tangga), bahwa setiap harta yang mereka nafkahkan kepada istri dan anak-anaknya merupakan sedekah yang paling afdal. Kita berusaha menata hati untuk ikhlas, mengharap pahala dari Allah dari setiap harta yang kita nafkahkan untuk anak dan istri, bukan hanya sekedar memenuhi gengsi bahwa itu adalah kehormatan dan harga diri seorang laki-laki. Terkait keikhlasan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,وَإِنَّك لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إلَّا أُجِرْت عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِك“Tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah dengan niat mencari wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, bahkan termasuk apa yang engkau belanjakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari no. 1295 dan Muslim no. 1628)Juga hendaknya kita tidak menjadi suami yang pelit, gemar bersedekah dan berderma kepada orang lain, namun anggota keluarga sendiri justru tidak (atau kurang) diperhatikan kebutuhan nafkahnya.Ibnu Battal rahimahullah berkata,يُنْفِقُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَمَنْ تَلْزَمُهُ النَّفَقَةُ عَلَيْهِ غَيْرَ مُقَتِّرٍ عَمَّا يَجِبُ لَهُمْ وَلَا مُسْرِفٍ فِي ذَلِكَ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا، وَهَذِهِ النَّفَقَةُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَمِنْ جَمِيعِ النَّفَقَاتِ“Orang itu menafkahkan untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan orang yang menjadi tanggungannya, tidak kikir (pelit) terhadap apa yang wajib bagi mereka dan tidak berlebihan dalam hal itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang ketika membelanjakan (hartanya) tidak berlebihan dan tidak kikir, dan berada di antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67) Nafkah ini lebih utama daripada sedekah dan dari semua jenis nafkah.” (Tarh al-Tathrib, 2: 74)Baca juga: Besaran Nafkah Suami kepada Istri***Unayzah, KSA; Jumat, 21 Safar 1447/ 15 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id

Hadis: Sedekah yang Paling Utama adalah Nafkah untuk Keluarga

Daftar Isi ToggleTeks hadisFaidah dan kandungan hadisTeks hadisDari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim, no. 995)Faidah dan kandungan hadisDalam hadis di atas, terdapat dalil bahwa menafkahi keluarga merupakan infak (sedekah) yang paling utama. Infak (sedekah) yang dimaksud di sini bisa yang sifatnya sedekah wajib (yaitu nafkah yang wajib untuk istri dan anak) dan sedekah yang sunah (yang lebih dari kewajiban). Asy-Syaukani rahimahullah berkata,وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ الأَوَّلُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الإِنْفَاقَ عَلَى أَهْلِ الرَّجُلِ أَفْضَلُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ“Hadis pertama dari Abu Hurairah mengandung dalil bahwa menafkahi keluarga seorang laki-laki lebih utama daripada berinfak di jalan Allah, lebih utama daripada membebaskan budak, dan lebih utama daripada bersedekah kepada orang-orang miskin.” (Nailul Authar, 6: 380-381)Ini diperkuat dengan hadis lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفقُهُ الرَّجُلُ: دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدينَارٌ يُنْفقُهُ عَلَى دَابَّتِهِ في سَبيلِ الله، وَدِينارٌ يُنْفقُهُ عَلَى أصْحَابهِ في سَبيلِ اللهِ“Dinar yang paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk tunggangannya di jalan Allah, dan dinar yang ia belanjakan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah.” (HR. Muslim no. 994)Ketika menyebutkan hadis ini, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengutip perkataan Abu Qilabah,قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : بَدَأَ بِالْعِيَالِ . ثُمَّ قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : وَأَيُّ رَجُلٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ رَجُلٍ يُنْفِقُ عَلَى عِيَالٍ صِغَارٍ يُعِفُّهُمُ اللَّهُ أَوْ يَنْفَعُهُمْ اللَّهُ بِهِ وَيُغْنِيهِمْAbu Qilabah berkata, “Beliau memulai dengan keluarga.” Kemudian Abu Qilabah berkata, “Dan siapakah orang yang paling besar pahalanya selain orang yang menafkahi anak-anak kecilnya, sehingga Allah menjaga mereka dari kekurangan atau memberi manfaat kepada mereka melalui nafkahnya dan menjadikannya cukup?” (Dikutip dari islamqa.info)Baca juga: Takaran Adil dalam Nafkah dan Pemberian Tambahan kepada AnakDalam kitab Tatriz Riyadhus Shalihin (1: 210) disebutkan,قَدَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ النَّفَقَةَ عَلَى الْعِيَالِ فِي الذِّكْرِ، اهْتِمَامًا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ أَشْرَفُ الأَنْوَاعِ“Dalam hadis ini, beliau mendahulukan penyebutan nafkah kepada keluarga, sebagai bentuk perhatian terhadap hal tersebut, karena ia merupakan jenis yang paling mulia.”Mengapa nafkah kepada keluarga merupakan jenis nafkah yang paling afdal? Ath-Thibi rahimahullah berkata ketika menerangkan hal ini,قِيلَ: لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَقِيلَ: لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ“Dikatakan bahwa (infak kepada keluarga adalah yang paling utama) karena termasuk kewajiban, dan dikatakan juga karena di dalamnya terdapat sedekah dan sekaligus menyambung silaturahmi.” (Mirqat Al-Mafatih, 4: 1351)Keterangan senada juga terdapat di Mir’atul Mafaatih (6: 367),فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إِنْفَاقَ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ أَفْضَلُهُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ. وَإِنَّمَا كَانَ الإِنْفَاقُ عَلَى الأَهْلِ أَفْضَلَ، لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَالْفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ، أَوْ لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ.“Terdapat dalil bahwa nafkah seorang laki-laki kepada keluarganya lebih utama daripada infak di jalan Allah, lebih utama daripada infak untuk membebaskan budak, dan lebih utama daripada sedekah kepada orang miskin. Dan sebab nafkah kepada keluarga lebih utama adalah karena ia merupakan kewajiban (fardhu), sedangkan kewajiban lebih utama daripada amalan sunah. Atau karena ia mengandung unsur sedekah sekaligus silaturahmi.”Hadis ini juga dalil bahwa fardhu ‘ain itu lebih utama daripada fardhu kifayah. Al-Qadhi rahimahullah berkata,وَالنَّفَقَةُ عَلَى الْأَهْلِ أَعَمُّ مِنْ كَوْنِ نَفَقَتِهِمْ وَاجِبَةً أَوْ مَنْدُوبَةً، فَهِيَ أَكْثَرُ الْكُلِّ ثَوَابًا، وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ فَرْضَ الْعَيْنِ أَفْضَلُ مِنَ الْكِفَايَةِ، لِأَنَّ النَّفَقَةَ عَلَى الْأَهْلِ الَّتِي هِيَ فَرْضُ عَيْنٍ أَفْضَلُ مِنَ النَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَهُوَ الْجِهَادُ الَّذِي هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ.“Nafkah kepada keluarga mencakup baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Maka ia lebih banyak pahalanya dibanding yang lain. Dari hadis ini dijadikan dalil bahwa fardhu ‘ain lebih utama daripada fardhu kifayah. Sebab nafkah kepada keluarga, yang merupakan fardhu ‘ain, lebih utama daripada nafkah di jalan Allah, yaitu jihad, yang merupakan fardhu kifayah.” (Faidhul Qadir, 3: 536)Semoga hadis ini menjadi perhatian untuk para suami (kepala rumah tangga), bahwa setiap harta yang mereka nafkahkan kepada istri dan anak-anaknya merupakan sedekah yang paling afdal. Kita berusaha menata hati untuk ikhlas, mengharap pahala dari Allah dari setiap harta yang kita nafkahkan untuk anak dan istri, bukan hanya sekedar memenuhi gengsi bahwa itu adalah kehormatan dan harga diri seorang laki-laki. Terkait keikhlasan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,وَإِنَّك لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إلَّا أُجِرْت عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِك“Tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah dengan niat mencari wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, bahkan termasuk apa yang engkau belanjakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari no. 1295 dan Muslim no. 1628)Juga hendaknya kita tidak menjadi suami yang pelit, gemar bersedekah dan berderma kepada orang lain, namun anggota keluarga sendiri justru tidak (atau kurang) diperhatikan kebutuhan nafkahnya.Ibnu Battal rahimahullah berkata,يُنْفِقُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَمَنْ تَلْزَمُهُ النَّفَقَةُ عَلَيْهِ غَيْرَ مُقَتِّرٍ عَمَّا يَجِبُ لَهُمْ وَلَا مُسْرِفٍ فِي ذَلِكَ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا، وَهَذِهِ النَّفَقَةُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَمِنْ جَمِيعِ النَّفَقَاتِ“Orang itu menafkahkan untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan orang yang menjadi tanggungannya, tidak kikir (pelit) terhadap apa yang wajib bagi mereka dan tidak berlebihan dalam hal itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang ketika membelanjakan (hartanya) tidak berlebihan dan tidak kikir, dan berada di antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67) Nafkah ini lebih utama daripada sedekah dan dari semua jenis nafkah.” (Tarh al-Tathrib, 2: 74)Baca juga: Besaran Nafkah Suami kepada Istri***Unayzah, KSA; Jumat, 21 Safar 1447/ 15 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleTeks hadisFaidah dan kandungan hadisTeks hadisDari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim, no. 995)Faidah dan kandungan hadisDalam hadis di atas, terdapat dalil bahwa menafkahi keluarga merupakan infak (sedekah) yang paling utama. Infak (sedekah) yang dimaksud di sini bisa yang sifatnya sedekah wajib (yaitu nafkah yang wajib untuk istri dan anak) dan sedekah yang sunah (yang lebih dari kewajiban). Asy-Syaukani rahimahullah berkata,وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ الأَوَّلُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الإِنْفَاقَ عَلَى أَهْلِ الرَّجُلِ أَفْضَلُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ“Hadis pertama dari Abu Hurairah mengandung dalil bahwa menafkahi keluarga seorang laki-laki lebih utama daripada berinfak di jalan Allah, lebih utama daripada membebaskan budak, dan lebih utama daripada bersedekah kepada orang-orang miskin.” (Nailul Authar, 6: 380-381)Ini diperkuat dengan hadis lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفقُهُ الرَّجُلُ: دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدينَارٌ يُنْفقُهُ عَلَى دَابَّتِهِ في سَبيلِ الله، وَدِينارٌ يُنْفقُهُ عَلَى أصْحَابهِ في سَبيلِ اللهِ“Dinar yang paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk tunggangannya di jalan Allah, dan dinar yang ia belanjakan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah.” (HR. Muslim no. 994)Ketika menyebutkan hadis ini, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengutip perkataan Abu Qilabah,قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : بَدَأَ بِالْعِيَالِ . ثُمَّ قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : وَأَيُّ رَجُلٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ رَجُلٍ يُنْفِقُ عَلَى عِيَالٍ صِغَارٍ يُعِفُّهُمُ اللَّهُ أَوْ يَنْفَعُهُمْ اللَّهُ بِهِ وَيُغْنِيهِمْAbu Qilabah berkata, “Beliau memulai dengan keluarga.” Kemudian Abu Qilabah berkata, “Dan siapakah orang yang paling besar pahalanya selain orang yang menafkahi anak-anak kecilnya, sehingga Allah menjaga mereka dari kekurangan atau memberi manfaat kepada mereka melalui nafkahnya dan menjadikannya cukup?” (Dikutip dari islamqa.info)Baca juga: Takaran Adil dalam Nafkah dan Pemberian Tambahan kepada AnakDalam kitab Tatriz Riyadhus Shalihin (1: 210) disebutkan,قَدَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ النَّفَقَةَ عَلَى الْعِيَالِ فِي الذِّكْرِ، اهْتِمَامًا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ أَشْرَفُ الأَنْوَاعِ“Dalam hadis ini, beliau mendahulukan penyebutan nafkah kepada keluarga, sebagai bentuk perhatian terhadap hal tersebut, karena ia merupakan jenis yang paling mulia.”Mengapa nafkah kepada keluarga merupakan jenis nafkah yang paling afdal? Ath-Thibi rahimahullah berkata ketika menerangkan hal ini,قِيلَ: لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَقِيلَ: لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ“Dikatakan bahwa (infak kepada keluarga adalah yang paling utama) karena termasuk kewajiban, dan dikatakan juga karena di dalamnya terdapat sedekah dan sekaligus menyambung silaturahmi.” (Mirqat Al-Mafatih, 4: 1351)Keterangan senada juga terdapat di Mir’atul Mafaatih (6: 367),فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إِنْفَاقَ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ أَفْضَلُهُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ. وَإِنَّمَا كَانَ الإِنْفَاقُ عَلَى الأَهْلِ أَفْضَلَ، لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَالْفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ، أَوْ لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ.“Terdapat dalil bahwa nafkah seorang laki-laki kepada keluarganya lebih utama daripada infak di jalan Allah, lebih utama daripada infak untuk membebaskan budak, dan lebih utama daripada sedekah kepada orang miskin. Dan sebab nafkah kepada keluarga lebih utama adalah karena ia merupakan kewajiban (fardhu), sedangkan kewajiban lebih utama daripada amalan sunah. Atau karena ia mengandung unsur sedekah sekaligus silaturahmi.”Hadis ini juga dalil bahwa fardhu ‘ain itu lebih utama daripada fardhu kifayah. Al-Qadhi rahimahullah berkata,وَالنَّفَقَةُ عَلَى الْأَهْلِ أَعَمُّ مِنْ كَوْنِ نَفَقَتِهِمْ وَاجِبَةً أَوْ مَنْدُوبَةً، فَهِيَ أَكْثَرُ الْكُلِّ ثَوَابًا، وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ فَرْضَ الْعَيْنِ أَفْضَلُ مِنَ الْكِفَايَةِ، لِأَنَّ النَّفَقَةَ عَلَى الْأَهْلِ الَّتِي هِيَ فَرْضُ عَيْنٍ أَفْضَلُ مِنَ النَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَهُوَ الْجِهَادُ الَّذِي هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ.“Nafkah kepada keluarga mencakup baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Maka ia lebih banyak pahalanya dibanding yang lain. Dari hadis ini dijadikan dalil bahwa fardhu ‘ain lebih utama daripada fardhu kifayah. Sebab nafkah kepada keluarga, yang merupakan fardhu ‘ain, lebih utama daripada nafkah di jalan Allah, yaitu jihad, yang merupakan fardhu kifayah.” (Faidhul Qadir, 3: 536)Semoga hadis ini menjadi perhatian untuk para suami (kepala rumah tangga), bahwa setiap harta yang mereka nafkahkan kepada istri dan anak-anaknya merupakan sedekah yang paling afdal. Kita berusaha menata hati untuk ikhlas, mengharap pahala dari Allah dari setiap harta yang kita nafkahkan untuk anak dan istri, bukan hanya sekedar memenuhi gengsi bahwa itu adalah kehormatan dan harga diri seorang laki-laki. Terkait keikhlasan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,وَإِنَّك لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إلَّا أُجِرْت عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِك“Tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah dengan niat mencari wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, bahkan termasuk apa yang engkau belanjakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari no. 1295 dan Muslim no. 1628)Juga hendaknya kita tidak menjadi suami yang pelit, gemar bersedekah dan berderma kepada orang lain, namun anggota keluarga sendiri justru tidak (atau kurang) diperhatikan kebutuhan nafkahnya.Ibnu Battal rahimahullah berkata,يُنْفِقُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَمَنْ تَلْزَمُهُ النَّفَقَةُ عَلَيْهِ غَيْرَ مُقَتِّرٍ عَمَّا يَجِبُ لَهُمْ وَلَا مُسْرِفٍ فِي ذَلِكَ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا، وَهَذِهِ النَّفَقَةُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَمِنْ جَمِيعِ النَّفَقَاتِ“Orang itu menafkahkan untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan orang yang menjadi tanggungannya, tidak kikir (pelit) terhadap apa yang wajib bagi mereka dan tidak berlebihan dalam hal itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang ketika membelanjakan (hartanya) tidak berlebihan dan tidak kikir, dan berada di antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67) Nafkah ini lebih utama daripada sedekah dan dari semua jenis nafkah.” (Tarh al-Tathrib, 2: 74)Baca juga: Besaran Nafkah Suami kepada Istri***Unayzah, KSA; Jumat, 21 Safar 1447/ 15 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleTeks hadisFaidah dan kandungan hadisTeks hadisDari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim, no. 995)Faidah dan kandungan hadisDalam hadis di atas, terdapat dalil bahwa menafkahi keluarga merupakan infak (sedekah) yang paling utama. Infak (sedekah) yang dimaksud di sini bisa yang sifatnya sedekah wajib (yaitu nafkah yang wajib untuk istri dan anak) dan sedekah yang sunah (yang lebih dari kewajiban). Asy-Syaukani rahimahullah berkata,وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ الأَوَّلُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الإِنْفَاقَ عَلَى أَهْلِ الرَّجُلِ أَفْضَلُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ“Hadis pertama dari Abu Hurairah mengandung dalil bahwa menafkahi keluarga seorang laki-laki lebih utama daripada berinfak di jalan Allah, lebih utama daripada membebaskan budak, dan lebih utama daripada bersedekah kepada orang-orang miskin.” (Nailul Authar, 6: 380-381)Ini diperkuat dengan hadis lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفقُهُ الرَّجُلُ: دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدينَارٌ يُنْفقُهُ عَلَى دَابَّتِهِ في سَبيلِ الله، وَدِينارٌ يُنْفقُهُ عَلَى أصْحَابهِ في سَبيلِ اللهِ“Dinar yang paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk tunggangannya di jalan Allah, dan dinar yang ia belanjakan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah.” (HR. Muslim no. 994)Ketika menyebutkan hadis ini, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengutip perkataan Abu Qilabah,قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : بَدَأَ بِالْعِيَالِ . ثُمَّ قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : وَأَيُّ رَجُلٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ رَجُلٍ يُنْفِقُ عَلَى عِيَالٍ صِغَارٍ يُعِفُّهُمُ اللَّهُ أَوْ يَنْفَعُهُمْ اللَّهُ بِهِ وَيُغْنِيهِمْAbu Qilabah berkata, “Beliau memulai dengan keluarga.” Kemudian Abu Qilabah berkata, “Dan siapakah orang yang paling besar pahalanya selain orang yang menafkahi anak-anak kecilnya, sehingga Allah menjaga mereka dari kekurangan atau memberi manfaat kepada mereka melalui nafkahnya dan menjadikannya cukup?” (Dikutip dari islamqa.info)Baca juga: Takaran Adil dalam Nafkah dan Pemberian Tambahan kepada AnakDalam kitab Tatriz Riyadhus Shalihin (1: 210) disebutkan,قَدَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ النَّفَقَةَ عَلَى الْعِيَالِ فِي الذِّكْرِ، اهْتِمَامًا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ أَشْرَفُ الأَنْوَاعِ“Dalam hadis ini, beliau mendahulukan penyebutan nafkah kepada keluarga, sebagai bentuk perhatian terhadap hal tersebut, karena ia merupakan jenis yang paling mulia.”Mengapa nafkah kepada keluarga merupakan jenis nafkah yang paling afdal? Ath-Thibi rahimahullah berkata ketika menerangkan hal ini,قِيلَ: لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَقِيلَ: لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ“Dikatakan bahwa (infak kepada keluarga adalah yang paling utama) karena termasuk kewajiban, dan dikatakan juga karena di dalamnya terdapat sedekah dan sekaligus menyambung silaturahmi.” (Mirqat Al-Mafatih, 4: 1351)Keterangan senada juga terdapat di Mir’atul Mafaatih (6: 367),فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إِنْفَاقَ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ أَفْضَلُهُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ. وَإِنَّمَا كَانَ الإِنْفَاقُ عَلَى الأَهْلِ أَفْضَلَ، لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَالْفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ، أَوْ لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ.“Terdapat dalil bahwa nafkah seorang laki-laki kepada keluarganya lebih utama daripada infak di jalan Allah, lebih utama daripada infak untuk membebaskan budak, dan lebih utama daripada sedekah kepada orang miskin. Dan sebab nafkah kepada keluarga lebih utama adalah karena ia merupakan kewajiban (fardhu), sedangkan kewajiban lebih utama daripada amalan sunah. Atau karena ia mengandung unsur sedekah sekaligus silaturahmi.”Hadis ini juga dalil bahwa fardhu ‘ain itu lebih utama daripada fardhu kifayah. Al-Qadhi rahimahullah berkata,وَالنَّفَقَةُ عَلَى الْأَهْلِ أَعَمُّ مِنْ كَوْنِ نَفَقَتِهِمْ وَاجِبَةً أَوْ مَنْدُوبَةً، فَهِيَ أَكْثَرُ الْكُلِّ ثَوَابًا، وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ فَرْضَ الْعَيْنِ أَفْضَلُ مِنَ الْكِفَايَةِ، لِأَنَّ النَّفَقَةَ عَلَى الْأَهْلِ الَّتِي هِيَ فَرْضُ عَيْنٍ أَفْضَلُ مِنَ النَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَهُوَ الْجِهَادُ الَّذِي هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ.“Nafkah kepada keluarga mencakup baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Maka ia lebih banyak pahalanya dibanding yang lain. Dari hadis ini dijadikan dalil bahwa fardhu ‘ain lebih utama daripada fardhu kifayah. Sebab nafkah kepada keluarga, yang merupakan fardhu ‘ain, lebih utama daripada nafkah di jalan Allah, yaitu jihad, yang merupakan fardhu kifayah.” (Faidhul Qadir, 3: 536)Semoga hadis ini menjadi perhatian untuk para suami (kepala rumah tangga), bahwa setiap harta yang mereka nafkahkan kepada istri dan anak-anaknya merupakan sedekah yang paling afdal. Kita berusaha menata hati untuk ikhlas, mengharap pahala dari Allah dari setiap harta yang kita nafkahkan untuk anak dan istri, bukan hanya sekedar memenuhi gengsi bahwa itu adalah kehormatan dan harga diri seorang laki-laki. Terkait keikhlasan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,وَإِنَّك لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إلَّا أُجِرْت عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِك“Tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah dengan niat mencari wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, bahkan termasuk apa yang engkau belanjakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari no. 1295 dan Muslim no. 1628)Juga hendaknya kita tidak menjadi suami yang pelit, gemar bersedekah dan berderma kepada orang lain, namun anggota keluarga sendiri justru tidak (atau kurang) diperhatikan kebutuhan nafkahnya.Ibnu Battal rahimahullah berkata,يُنْفِقُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَمَنْ تَلْزَمُهُ النَّفَقَةُ عَلَيْهِ غَيْرَ مُقَتِّرٍ عَمَّا يَجِبُ لَهُمْ وَلَا مُسْرِفٍ فِي ذَلِكَ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا، وَهَذِهِ النَّفَقَةُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَمِنْ جَمِيعِ النَّفَقَاتِ“Orang itu menafkahkan untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan orang yang menjadi tanggungannya, tidak kikir (pelit) terhadap apa yang wajib bagi mereka dan tidak berlebihan dalam hal itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang ketika membelanjakan (hartanya) tidak berlebihan dan tidak kikir, dan berada di antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67) Nafkah ini lebih utama daripada sedekah dan dari semua jenis nafkah.” (Tarh al-Tathrib, 2: 74)Baca juga: Besaran Nafkah Suami kepada Istri***Unayzah, KSA; Jumat, 21 Safar 1447/ 15 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id

Teks Khotbah Jumat: Perintis Bisa, Pewaris Pun Tak Masalah

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaSecara umum adalah bumi Allah yang dititipkan kepada AdamDakwah Nabi ‘alaihissalamKhotbah keduaApa itu al-itqan?Khotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ قال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.  يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara Jamaah rahimakumullah!Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan matahari sebagai sumber cahaya dan kehangatan, menjadikan waktu berjalan sehingga kesedihan terlupakan, dan yang telah memberikan nikmat iman sehingga kita semua dapat berkumpul di hari Jumat untuk beribadah kepada Allah sang pencipta.Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena satu-satunya cara untuk mendapatkan nikmat kehidupan dan bekal menuju akhirat yang penuh kelapangan adalah dengan bertakwa dan menjaga iman. Allah berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Dan Allah juga perintahkan atas kita semua, untuk menghiasi diri dengan takwa, hingga ajal menjemput kita. Sebagaimana mukadimah khutbatul hajah yang khatib sampaikan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (QS. Ali Imran: 102)Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Para jamaah rahimakumullah, ketahuilah, tujuan di dunia sudah ditetapkan, apapun profesi anda.وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Dan tidak hanya diperintahkan beribadah semata, tetapi harus dikhususkan hanya kepada Allah ﷻ semata,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa ibadah itu adalah: mewujudkan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Hal ini diwujudkan dalam empat bentuk:Perkataan hati dan lisan.Amalan hati dan anggota badan.Maksudnya adalah:Perkataan hati adalah mengimani bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, pencipta alam semesta, dan satu-satunya yang berhak disembah serta kabar-kabar yang disampaikan-Nya.Perkataan lisan adalah pengakuan secara lisan dari apa yang diimani oleh hati.Amalan hati adalah perasaan cinta, takut, dan berharap hakiki hanya kepada AllahAmalan anggota badan adalah kewajiban syariat yang kita lakukan semisal salat Jumat ini.Apapun pekerjaan anda, kewajibannya adalah melakukan apa yang dicintai oleh Allah. Maka, empat hal itu adalah pondasi menjalankan apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai. Dengan itu, kita telah melakukan apa tujuan kita eksis di dunia ini.Para jamaah! Tengah ramai perbincangan tentang perintis dan pewaris. Ketahuilah, hakikatnya kita hanyalah pewaris!Sungguh telah berjalan karunia Allah ﷻ kepada para pendahulu kita. Dan kita hanyalah umat akhir zaman yang mengharapkan kebaikan dari apa yang telah Allah hamparkan di masa kini. Sungguh ada dua titipan yang kita wariskan:Secara umum adalah bumi Allah yang dititipkan kepada AdamAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَـٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِ ۗ أَءِلَـٰهٌۭ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ قَلِيلًۭا مَّا تَذَكَّرُونَ“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62)Lihatlah, bahwa ada opsi selain manusia, yakni para malaikat yang terus beribadah kepada Allah ﷻ. Namun, mengapa manusia yang dijadikan sebagai pemegang amanah ini? Itulah kuasa ilmu Allah! Tiada yang berhak menanyakannya. Dialah Al-Hakim, segala perbuatan-Nya adalah kebijaksanaan tertinggi.Dakwah Nabi ‘alaihissalamRasulullah ﷺ bersabda,إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak.”Estafet menegakkan Islam dan membuatnya jaya adalah amanah yang tidak bisa ditolak. Namun, sebagian mengambil posisi terbaik, menjadi jenderal pertempuran, menjadi pewaris utama.Apa yang diwariskan oleh manusia di akhir zaman yang lebih khusus adalah warisan ilmu agama dan paradigmanya agar tetap hidup. Rasulullah ﷺ bersabda,تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ إِنْ تَمَسَّكُتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, pasti tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunah Rasul-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwattha’, 2: 899)Namun bila warisan itu sirna, saatnya jadi perintis!Para jamaah! Di akhir zaman, ilmu diangkat. Agama terasa asing. Yang salah dianggap bisa benar, yang benar diragukan kebenarannya. Maka, bila warisan itu telah sirna, saatnya anda menjadi perintis kebaikan.مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا“Barangsiapa yang menghidupkan suatu sunah yang baik dikerjakan oleh orang setelahnya, maka ia akan mendapatkan seperti pahala mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Ibnu Majah no. 203)Jika kita melihat zaman orang tua dan simbah kita terdahulu, orang salat dan rajin ke masjid dianggap standar minimum seorang muslim. Namun, di masa kini, orang salat dan rajin ke masjid sudah mendapatkan gelar alim saleh.Di zaman dahulu, tak terbayang oleh kita bahwa ada yang membela perzinaan bahkan memuji perbuatan homoseksual. Namun, di zaman ini, tak sulit kita menemukan aktivis pro-LGBT dan seks bebas. Malah sebagian mengerdilkan pernikahan yang sah dan diamini kebaikannya oleh seluruh agama, mereka nilai sebagai pelacuran yang dilegalkan.Apalagi urusan jenggot, pakaian, atau hal yang di level sunah lainnya. Maka, realita ini telah menjadi argumen kuat bagi kita semua untuk menjadi perintis kebaikan menghidupkan sunah di tengah keterasingan.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمBaca juga: Jadilah Hamba yang Takut kepada AllahKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهJamaah rahimakumullah. Mulailah merintis kebaikan dari apa yang dimampui dan yang terdekat terlebih dahulu. Untuk anda para mahasiswa,Jadilah perintis kegiatan positif di kampus. Jadilah teladan produktivitas bagi mahasiswa yang akan baru menjejaki dunia kuliah.Jadilah pemutus keburukan dengan mengentaskan bullying yang terjadi, misalnya. Dengan anda tidak melanjutkan tindakan perpeloncoan, maka anda sudah menjadi perintis kebaikan!Jadilah perintis kreativitas tanpa mengorbankan keimanan. Jangan ikuti jalan-jalan yang terkesan keren nan edgy tetapi hakikatnya keburukan.Adapun para dosen: Jadilah perintis keilmuan dan inovasi!Anda telah diamanahi ilmu oleh Allah ﷻ, maka tunaikanlah ilmu itu dengan mengajarkan sebaik mungkin. Tunaikanlah zakat ilmu tersebut untuk melahirkan inovasi produk dan teknologi yang memudahkan manusia!Janganlah anda justru menjadi perintis keburukan, meneladankan hal yang jelek kepada anak didik anda!Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai Al-Itqan. Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,إن اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath no. 897, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1880)Apa itu al-itqan? Ialah kesempurnaan dalam mengerjakan, maksimal dalam mengusahakan. Ia meliputi usaha memikirkan cara terbaik untuk menghasilkan karya yang paling baik. Maka, inilah pondasi bagi kita semua untuk beramal. Yakni menjadi orang yang bekerja dengan maksimal, profesional, dan ini dinilai pahala jika kita dalam rangka mencocoki kecintaan Allah ﷻ dan Rasul-Nya.Bermainlah di level tinggi!اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها“Sungguh Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi dan luhur, serta membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 dan selainnya, dinilai sahih)Inilah orientasi kehidupan seorang muslim. Ia berusaha memilih yang paling prioritas di antara pilihan-pilihan terbaik yang dia punya. Dan jika sudah diamanatkan, maka ia akan maksimal pada apapun posisinya.Termasuk para tenaga pendukung lainnya: jadilah perintis sistem kerja yang baik di kampus!Semuanya bisa berkontribusi untuk menjadi tim pengusung kebaikan!إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِو الحمد لله رب العالمينWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain.Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.Baca juga: Tutupi Aib Saudaramu, Apalagi Jika Dia Telah Bertobat!***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Teks Khotbah Jumat: Perintis Bisa, Pewaris Pun Tak Masalah

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaSecara umum adalah bumi Allah yang dititipkan kepada AdamDakwah Nabi ‘alaihissalamKhotbah keduaApa itu al-itqan?Khotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ قال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.  يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara Jamaah rahimakumullah!Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan matahari sebagai sumber cahaya dan kehangatan, menjadikan waktu berjalan sehingga kesedihan terlupakan, dan yang telah memberikan nikmat iman sehingga kita semua dapat berkumpul di hari Jumat untuk beribadah kepada Allah sang pencipta.Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena satu-satunya cara untuk mendapatkan nikmat kehidupan dan bekal menuju akhirat yang penuh kelapangan adalah dengan bertakwa dan menjaga iman. Allah berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Dan Allah juga perintahkan atas kita semua, untuk menghiasi diri dengan takwa, hingga ajal menjemput kita. Sebagaimana mukadimah khutbatul hajah yang khatib sampaikan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (QS. Ali Imran: 102)Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Para jamaah rahimakumullah, ketahuilah, tujuan di dunia sudah ditetapkan, apapun profesi anda.وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Dan tidak hanya diperintahkan beribadah semata, tetapi harus dikhususkan hanya kepada Allah ﷻ semata,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa ibadah itu adalah: mewujudkan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Hal ini diwujudkan dalam empat bentuk:Perkataan hati dan lisan.Amalan hati dan anggota badan.Maksudnya adalah:Perkataan hati adalah mengimani bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, pencipta alam semesta, dan satu-satunya yang berhak disembah serta kabar-kabar yang disampaikan-Nya.Perkataan lisan adalah pengakuan secara lisan dari apa yang diimani oleh hati.Amalan hati adalah perasaan cinta, takut, dan berharap hakiki hanya kepada AllahAmalan anggota badan adalah kewajiban syariat yang kita lakukan semisal salat Jumat ini.Apapun pekerjaan anda, kewajibannya adalah melakukan apa yang dicintai oleh Allah. Maka, empat hal itu adalah pondasi menjalankan apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai. Dengan itu, kita telah melakukan apa tujuan kita eksis di dunia ini.Para jamaah! Tengah ramai perbincangan tentang perintis dan pewaris. Ketahuilah, hakikatnya kita hanyalah pewaris!Sungguh telah berjalan karunia Allah ﷻ kepada para pendahulu kita. Dan kita hanyalah umat akhir zaman yang mengharapkan kebaikan dari apa yang telah Allah hamparkan di masa kini. Sungguh ada dua titipan yang kita wariskan:Secara umum adalah bumi Allah yang dititipkan kepada AdamAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَـٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِ ۗ أَءِلَـٰهٌۭ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ قَلِيلًۭا مَّا تَذَكَّرُونَ“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62)Lihatlah, bahwa ada opsi selain manusia, yakni para malaikat yang terus beribadah kepada Allah ﷻ. Namun, mengapa manusia yang dijadikan sebagai pemegang amanah ini? Itulah kuasa ilmu Allah! Tiada yang berhak menanyakannya. Dialah Al-Hakim, segala perbuatan-Nya adalah kebijaksanaan tertinggi.Dakwah Nabi ‘alaihissalamRasulullah ﷺ bersabda,إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak.”Estafet menegakkan Islam dan membuatnya jaya adalah amanah yang tidak bisa ditolak. Namun, sebagian mengambil posisi terbaik, menjadi jenderal pertempuran, menjadi pewaris utama.Apa yang diwariskan oleh manusia di akhir zaman yang lebih khusus adalah warisan ilmu agama dan paradigmanya agar tetap hidup. Rasulullah ﷺ bersabda,تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ إِنْ تَمَسَّكُتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, pasti tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunah Rasul-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwattha’, 2: 899)Namun bila warisan itu sirna, saatnya jadi perintis!Para jamaah! Di akhir zaman, ilmu diangkat. Agama terasa asing. Yang salah dianggap bisa benar, yang benar diragukan kebenarannya. Maka, bila warisan itu telah sirna, saatnya anda menjadi perintis kebaikan.مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا“Barangsiapa yang menghidupkan suatu sunah yang baik dikerjakan oleh orang setelahnya, maka ia akan mendapatkan seperti pahala mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Ibnu Majah no. 203)Jika kita melihat zaman orang tua dan simbah kita terdahulu, orang salat dan rajin ke masjid dianggap standar minimum seorang muslim. Namun, di masa kini, orang salat dan rajin ke masjid sudah mendapatkan gelar alim saleh.Di zaman dahulu, tak terbayang oleh kita bahwa ada yang membela perzinaan bahkan memuji perbuatan homoseksual. Namun, di zaman ini, tak sulit kita menemukan aktivis pro-LGBT dan seks bebas. Malah sebagian mengerdilkan pernikahan yang sah dan diamini kebaikannya oleh seluruh agama, mereka nilai sebagai pelacuran yang dilegalkan.Apalagi urusan jenggot, pakaian, atau hal yang di level sunah lainnya. Maka, realita ini telah menjadi argumen kuat bagi kita semua untuk menjadi perintis kebaikan menghidupkan sunah di tengah keterasingan.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمBaca juga: Jadilah Hamba yang Takut kepada AllahKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهJamaah rahimakumullah. Mulailah merintis kebaikan dari apa yang dimampui dan yang terdekat terlebih dahulu. Untuk anda para mahasiswa,Jadilah perintis kegiatan positif di kampus. Jadilah teladan produktivitas bagi mahasiswa yang akan baru menjejaki dunia kuliah.Jadilah pemutus keburukan dengan mengentaskan bullying yang terjadi, misalnya. Dengan anda tidak melanjutkan tindakan perpeloncoan, maka anda sudah menjadi perintis kebaikan!Jadilah perintis kreativitas tanpa mengorbankan keimanan. Jangan ikuti jalan-jalan yang terkesan keren nan edgy tetapi hakikatnya keburukan.Adapun para dosen: Jadilah perintis keilmuan dan inovasi!Anda telah diamanahi ilmu oleh Allah ﷻ, maka tunaikanlah ilmu itu dengan mengajarkan sebaik mungkin. Tunaikanlah zakat ilmu tersebut untuk melahirkan inovasi produk dan teknologi yang memudahkan manusia!Janganlah anda justru menjadi perintis keburukan, meneladankan hal yang jelek kepada anak didik anda!Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai Al-Itqan. Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,إن اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath no. 897, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1880)Apa itu al-itqan? Ialah kesempurnaan dalam mengerjakan, maksimal dalam mengusahakan. Ia meliputi usaha memikirkan cara terbaik untuk menghasilkan karya yang paling baik. Maka, inilah pondasi bagi kita semua untuk beramal. Yakni menjadi orang yang bekerja dengan maksimal, profesional, dan ini dinilai pahala jika kita dalam rangka mencocoki kecintaan Allah ﷻ dan Rasul-Nya.Bermainlah di level tinggi!اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها“Sungguh Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi dan luhur, serta membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 dan selainnya, dinilai sahih)Inilah orientasi kehidupan seorang muslim. Ia berusaha memilih yang paling prioritas di antara pilihan-pilihan terbaik yang dia punya. Dan jika sudah diamanatkan, maka ia akan maksimal pada apapun posisinya.Termasuk para tenaga pendukung lainnya: jadilah perintis sistem kerja yang baik di kampus!Semuanya bisa berkontribusi untuk menjadi tim pengusung kebaikan!إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِو الحمد لله رب العالمينWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain.Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.Baca juga: Tutupi Aib Saudaramu, Apalagi Jika Dia Telah Bertobat!***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaSecara umum adalah bumi Allah yang dititipkan kepada AdamDakwah Nabi ‘alaihissalamKhotbah keduaApa itu al-itqan?Khotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ قال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.  يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara Jamaah rahimakumullah!Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan matahari sebagai sumber cahaya dan kehangatan, menjadikan waktu berjalan sehingga kesedihan terlupakan, dan yang telah memberikan nikmat iman sehingga kita semua dapat berkumpul di hari Jumat untuk beribadah kepada Allah sang pencipta.Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena satu-satunya cara untuk mendapatkan nikmat kehidupan dan bekal menuju akhirat yang penuh kelapangan adalah dengan bertakwa dan menjaga iman. Allah berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Dan Allah juga perintahkan atas kita semua, untuk menghiasi diri dengan takwa, hingga ajal menjemput kita. Sebagaimana mukadimah khutbatul hajah yang khatib sampaikan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (QS. Ali Imran: 102)Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Para jamaah rahimakumullah, ketahuilah, tujuan di dunia sudah ditetapkan, apapun profesi anda.وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Dan tidak hanya diperintahkan beribadah semata, tetapi harus dikhususkan hanya kepada Allah ﷻ semata,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa ibadah itu adalah: mewujudkan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Hal ini diwujudkan dalam empat bentuk:Perkataan hati dan lisan.Amalan hati dan anggota badan.Maksudnya adalah:Perkataan hati adalah mengimani bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, pencipta alam semesta, dan satu-satunya yang berhak disembah serta kabar-kabar yang disampaikan-Nya.Perkataan lisan adalah pengakuan secara lisan dari apa yang diimani oleh hati.Amalan hati adalah perasaan cinta, takut, dan berharap hakiki hanya kepada AllahAmalan anggota badan adalah kewajiban syariat yang kita lakukan semisal salat Jumat ini.Apapun pekerjaan anda, kewajibannya adalah melakukan apa yang dicintai oleh Allah. Maka, empat hal itu adalah pondasi menjalankan apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai. Dengan itu, kita telah melakukan apa tujuan kita eksis di dunia ini.Para jamaah! Tengah ramai perbincangan tentang perintis dan pewaris. Ketahuilah, hakikatnya kita hanyalah pewaris!Sungguh telah berjalan karunia Allah ﷻ kepada para pendahulu kita. Dan kita hanyalah umat akhir zaman yang mengharapkan kebaikan dari apa yang telah Allah hamparkan di masa kini. Sungguh ada dua titipan yang kita wariskan:Secara umum adalah bumi Allah yang dititipkan kepada AdamAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَـٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِ ۗ أَءِلَـٰهٌۭ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ قَلِيلًۭا مَّا تَذَكَّرُونَ“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62)Lihatlah, bahwa ada opsi selain manusia, yakni para malaikat yang terus beribadah kepada Allah ﷻ. Namun, mengapa manusia yang dijadikan sebagai pemegang amanah ini? Itulah kuasa ilmu Allah! Tiada yang berhak menanyakannya. Dialah Al-Hakim, segala perbuatan-Nya adalah kebijaksanaan tertinggi.Dakwah Nabi ‘alaihissalamRasulullah ﷺ bersabda,إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak.”Estafet menegakkan Islam dan membuatnya jaya adalah amanah yang tidak bisa ditolak. Namun, sebagian mengambil posisi terbaik, menjadi jenderal pertempuran, menjadi pewaris utama.Apa yang diwariskan oleh manusia di akhir zaman yang lebih khusus adalah warisan ilmu agama dan paradigmanya agar tetap hidup. Rasulullah ﷺ bersabda,تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ إِنْ تَمَسَّكُتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, pasti tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunah Rasul-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwattha’, 2: 899)Namun bila warisan itu sirna, saatnya jadi perintis!Para jamaah! Di akhir zaman, ilmu diangkat. Agama terasa asing. Yang salah dianggap bisa benar, yang benar diragukan kebenarannya. Maka, bila warisan itu telah sirna, saatnya anda menjadi perintis kebaikan.مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا“Barangsiapa yang menghidupkan suatu sunah yang baik dikerjakan oleh orang setelahnya, maka ia akan mendapatkan seperti pahala mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Ibnu Majah no. 203)Jika kita melihat zaman orang tua dan simbah kita terdahulu, orang salat dan rajin ke masjid dianggap standar minimum seorang muslim. Namun, di masa kini, orang salat dan rajin ke masjid sudah mendapatkan gelar alim saleh.Di zaman dahulu, tak terbayang oleh kita bahwa ada yang membela perzinaan bahkan memuji perbuatan homoseksual. Namun, di zaman ini, tak sulit kita menemukan aktivis pro-LGBT dan seks bebas. Malah sebagian mengerdilkan pernikahan yang sah dan diamini kebaikannya oleh seluruh agama, mereka nilai sebagai pelacuran yang dilegalkan.Apalagi urusan jenggot, pakaian, atau hal yang di level sunah lainnya. Maka, realita ini telah menjadi argumen kuat bagi kita semua untuk menjadi perintis kebaikan menghidupkan sunah di tengah keterasingan.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمBaca juga: Jadilah Hamba yang Takut kepada AllahKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهJamaah rahimakumullah. Mulailah merintis kebaikan dari apa yang dimampui dan yang terdekat terlebih dahulu. Untuk anda para mahasiswa,Jadilah perintis kegiatan positif di kampus. Jadilah teladan produktivitas bagi mahasiswa yang akan baru menjejaki dunia kuliah.Jadilah pemutus keburukan dengan mengentaskan bullying yang terjadi, misalnya. Dengan anda tidak melanjutkan tindakan perpeloncoan, maka anda sudah menjadi perintis kebaikan!Jadilah perintis kreativitas tanpa mengorbankan keimanan. Jangan ikuti jalan-jalan yang terkesan keren nan edgy tetapi hakikatnya keburukan.Adapun para dosen: Jadilah perintis keilmuan dan inovasi!Anda telah diamanahi ilmu oleh Allah ﷻ, maka tunaikanlah ilmu itu dengan mengajarkan sebaik mungkin. Tunaikanlah zakat ilmu tersebut untuk melahirkan inovasi produk dan teknologi yang memudahkan manusia!Janganlah anda justru menjadi perintis keburukan, meneladankan hal yang jelek kepada anak didik anda!Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai Al-Itqan. Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,إن اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath no. 897, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1880)Apa itu al-itqan? Ialah kesempurnaan dalam mengerjakan, maksimal dalam mengusahakan. Ia meliputi usaha memikirkan cara terbaik untuk menghasilkan karya yang paling baik. Maka, inilah pondasi bagi kita semua untuk beramal. Yakni menjadi orang yang bekerja dengan maksimal, profesional, dan ini dinilai pahala jika kita dalam rangka mencocoki kecintaan Allah ﷻ dan Rasul-Nya.Bermainlah di level tinggi!اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها“Sungguh Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi dan luhur, serta membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 dan selainnya, dinilai sahih)Inilah orientasi kehidupan seorang muslim. Ia berusaha memilih yang paling prioritas di antara pilihan-pilihan terbaik yang dia punya. Dan jika sudah diamanatkan, maka ia akan maksimal pada apapun posisinya.Termasuk para tenaga pendukung lainnya: jadilah perintis sistem kerja yang baik di kampus!Semuanya bisa berkontribusi untuk menjadi tim pengusung kebaikan!إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِو الحمد لله رب العالمينWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain.Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.Baca juga: Tutupi Aib Saudaramu, Apalagi Jika Dia Telah Bertobat!***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaSecara umum adalah bumi Allah yang dititipkan kepada AdamDakwah Nabi ‘alaihissalamKhotbah keduaApa itu al-itqan?Khotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ قال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.  يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara Jamaah rahimakumullah!Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan matahari sebagai sumber cahaya dan kehangatan, menjadikan waktu berjalan sehingga kesedihan terlupakan, dan yang telah memberikan nikmat iman sehingga kita semua dapat berkumpul di hari Jumat untuk beribadah kepada Allah sang pencipta.Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena satu-satunya cara untuk mendapatkan nikmat kehidupan dan bekal menuju akhirat yang penuh kelapangan adalah dengan bertakwa dan menjaga iman. Allah berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Dan Allah juga perintahkan atas kita semua, untuk menghiasi diri dengan takwa, hingga ajal menjemput kita. Sebagaimana mukadimah khutbatul hajah yang khatib sampaikan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (QS. Ali Imran: 102)Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Para jamaah rahimakumullah, ketahuilah, tujuan di dunia sudah ditetapkan, apapun profesi anda.وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Dan tidak hanya diperintahkan beribadah semata, tetapi harus dikhususkan hanya kepada Allah ﷻ semata,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa ibadah itu adalah: mewujudkan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Hal ini diwujudkan dalam empat bentuk:Perkataan hati dan lisan.Amalan hati dan anggota badan.Maksudnya adalah:Perkataan hati adalah mengimani bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, pencipta alam semesta, dan satu-satunya yang berhak disembah serta kabar-kabar yang disampaikan-Nya.Perkataan lisan adalah pengakuan secara lisan dari apa yang diimani oleh hati.Amalan hati adalah perasaan cinta, takut, dan berharap hakiki hanya kepada AllahAmalan anggota badan adalah kewajiban syariat yang kita lakukan semisal salat Jumat ini.Apapun pekerjaan anda, kewajibannya adalah melakukan apa yang dicintai oleh Allah. Maka, empat hal itu adalah pondasi menjalankan apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai. Dengan itu, kita telah melakukan apa tujuan kita eksis di dunia ini.Para jamaah! Tengah ramai perbincangan tentang perintis dan pewaris. Ketahuilah, hakikatnya kita hanyalah pewaris!Sungguh telah berjalan karunia Allah ﷻ kepada para pendahulu kita. Dan kita hanyalah umat akhir zaman yang mengharapkan kebaikan dari apa yang telah Allah hamparkan di masa kini. Sungguh ada dua titipan yang kita wariskan:Secara umum adalah bumi Allah yang dititipkan kepada AdamAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَـٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِ ۗ أَءِلَـٰهٌۭ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ قَلِيلًۭا مَّا تَذَكَّرُونَ“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62)Lihatlah, bahwa ada opsi selain manusia, yakni para malaikat yang terus beribadah kepada Allah ﷻ. Namun, mengapa manusia yang dijadikan sebagai pemegang amanah ini? Itulah kuasa ilmu Allah! Tiada yang berhak menanyakannya. Dialah Al-Hakim, segala perbuatan-Nya adalah kebijaksanaan tertinggi.Dakwah Nabi ‘alaihissalamRasulullah ﷺ bersabda,إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak.”Estafet menegakkan Islam dan membuatnya jaya adalah amanah yang tidak bisa ditolak. Namun, sebagian mengambil posisi terbaik, menjadi jenderal pertempuran, menjadi pewaris utama.Apa yang diwariskan oleh manusia di akhir zaman yang lebih khusus adalah warisan ilmu agama dan paradigmanya agar tetap hidup. Rasulullah ﷺ bersabda,تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ إِنْ تَمَسَّكُتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, pasti tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunah Rasul-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwattha’, 2: 899)Namun bila warisan itu sirna, saatnya jadi perintis!Para jamaah! Di akhir zaman, ilmu diangkat. Agama terasa asing. Yang salah dianggap bisa benar, yang benar diragukan kebenarannya. Maka, bila warisan itu telah sirna, saatnya anda menjadi perintis kebaikan.مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا“Barangsiapa yang menghidupkan suatu sunah yang baik dikerjakan oleh orang setelahnya, maka ia akan mendapatkan seperti pahala mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Ibnu Majah no. 203)Jika kita melihat zaman orang tua dan simbah kita terdahulu, orang salat dan rajin ke masjid dianggap standar minimum seorang muslim. Namun, di masa kini, orang salat dan rajin ke masjid sudah mendapatkan gelar alim saleh.Di zaman dahulu, tak terbayang oleh kita bahwa ada yang membela perzinaan bahkan memuji perbuatan homoseksual. Namun, di zaman ini, tak sulit kita menemukan aktivis pro-LGBT dan seks bebas. Malah sebagian mengerdilkan pernikahan yang sah dan diamini kebaikannya oleh seluruh agama, mereka nilai sebagai pelacuran yang dilegalkan.Apalagi urusan jenggot, pakaian, atau hal yang di level sunah lainnya. Maka, realita ini telah menjadi argumen kuat bagi kita semua untuk menjadi perintis kebaikan menghidupkan sunah di tengah keterasingan.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمBaca juga: Jadilah Hamba yang Takut kepada AllahKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهJamaah rahimakumullah. Mulailah merintis kebaikan dari apa yang dimampui dan yang terdekat terlebih dahulu. Untuk anda para mahasiswa,Jadilah perintis kegiatan positif di kampus. Jadilah teladan produktivitas bagi mahasiswa yang akan baru menjejaki dunia kuliah.Jadilah pemutus keburukan dengan mengentaskan bullying yang terjadi, misalnya. Dengan anda tidak melanjutkan tindakan perpeloncoan, maka anda sudah menjadi perintis kebaikan!Jadilah perintis kreativitas tanpa mengorbankan keimanan. Jangan ikuti jalan-jalan yang terkesan keren nan edgy tetapi hakikatnya keburukan.Adapun para dosen: Jadilah perintis keilmuan dan inovasi!Anda telah diamanahi ilmu oleh Allah ﷻ, maka tunaikanlah ilmu itu dengan mengajarkan sebaik mungkin. Tunaikanlah zakat ilmu tersebut untuk melahirkan inovasi produk dan teknologi yang memudahkan manusia!Janganlah anda justru menjadi perintis keburukan, meneladankan hal yang jelek kepada anak didik anda!Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai Al-Itqan. Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,إن اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath no. 897, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1880)Apa itu al-itqan? Ialah kesempurnaan dalam mengerjakan, maksimal dalam mengusahakan. Ia meliputi usaha memikirkan cara terbaik untuk menghasilkan karya yang paling baik. Maka, inilah pondasi bagi kita semua untuk beramal. Yakni menjadi orang yang bekerja dengan maksimal, profesional, dan ini dinilai pahala jika kita dalam rangka mencocoki kecintaan Allah ﷻ dan Rasul-Nya.Bermainlah di level tinggi!اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها“Sungguh Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi dan luhur, serta membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 dan selainnya, dinilai sahih)Inilah orientasi kehidupan seorang muslim. Ia berusaha memilih yang paling prioritas di antara pilihan-pilihan terbaik yang dia punya. Dan jika sudah diamanatkan, maka ia akan maksimal pada apapun posisinya.Termasuk para tenaga pendukung lainnya: jadilah perintis sistem kerja yang baik di kampus!Semuanya bisa berkontribusi untuk menjadi tim pengusung kebaikan!إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِو الحمد لله رب العالمينWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain.Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.Baca juga: Tutupi Aib Saudaramu, Apalagi Jika Dia Telah Bertobat!***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Apa yang Lebih Baik: Baca Tasbih, Istighfar, atau Al-Qur’an? Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Manakah yang lebih utama: memperbanyak tasbih, istighfar, atau membaca Al-Qur’an? Lebih baik seorang Muslim memilih yang lebih membawa kebaikan bagi hatinya. Hendaknya ia memperhatikan apa yang lebih baik bagi hatinya, lalu mengamalkannya. Apabila yang lebih baik bagi hatinya adalah tasbih, maka bertasbihlah. Apabila yang lebih baik bagi hatinya adalah istighfar, maka beristighfarlah. Apabila yang lebih baik bagi hatinya adalah membaca Al-Qur’an, maka bacalah Al-Qur’an. Karena ia lebih mengenal dirinya, maka ia memilih apa yang lebih baik bagi hatinya. Namun, sebaiknya ia melakukan variasi di antara amal-amal saleh ini. Yakni, terkadang beristighfar, terkadang bertasbih, terkadang bertahlil, dan terkadang membaca Al-Qur’an. Artinya, sebaiknya ia melakukan variasi di antaranya. Adapun jika ingin memperbanyak salah satunya, maka kembali kepada mana yang lebih baik bagi hatinya. ===== أَيُّهُمَا أَفْضَلُ الْإِكْثَارُ مِنَ التَّسْبِيحِ أَمْ الِاسْتِغْفَارِ أَمْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ؟ الْأَفْضَلُ أَنْ يَخْتَارَ الْمُسْلِمُ مَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ يَنْظُرُ مَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِه وَيَعْمَلُ بِهِ فَإِذَا كَانَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ التَّسْبِيحَ سَبَّحَ إِذَا كَانَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ الِاسْتِغْفَارَ اسْتَغْفَرَ إِذَا كَانَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ تِلَاوَةَ الْقُرْآنِ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَهُوَ أَدْرَى بِنَفْسِهِ يَخْتَارُ مَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ لَكِنْ يَنْبَغِي التَّنْوِيعُ بَيْنَ هَذِهِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ يَعْنِي تَارَةً يَسْتَغْفِرُ تَارَةً يُسَبِّحُ تَارَةً يُهَلِّلُ تَارَةً يَقْرَأُ الْقُرْآنَ يَعْنِي يَنْبَغِي التَّنْوِيعُ بَيْنَهَا أَمَّا الِاسْتِكْثَارُ مِنْ وَاحِدٍ مِنْهَا فَهُنَا يَرْجِعُ لِلْأَصْلَحِ لِقَلْبِهِ

Apa yang Lebih Baik: Baca Tasbih, Istighfar, atau Al-Qur’an? Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Manakah yang lebih utama: memperbanyak tasbih, istighfar, atau membaca Al-Qur’an? Lebih baik seorang Muslim memilih yang lebih membawa kebaikan bagi hatinya. Hendaknya ia memperhatikan apa yang lebih baik bagi hatinya, lalu mengamalkannya. Apabila yang lebih baik bagi hatinya adalah tasbih, maka bertasbihlah. Apabila yang lebih baik bagi hatinya adalah istighfar, maka beristighfarlah. Apabila yang lebih baik bagi hatinya adalah membaca Al-Qur’an, maka bacalah Al-Qur’an. Karena ia lebih mengenal dirinya, maka ia memilih apa yang lebih baik bagi hatinya. Namun, sebaiknya ia melakukan variasi di antara amal-amal saleh ini. Yakni, terkadang beristighfar, terkadang bertasbih, terkadang bertahlil, dan terkadang membaca Al-Qur’an. Artinya, sebaiknya ia melakukan variasi di antaranya. Adapun jika ingin memperbanyak salah satunya, maka kembali kepada mana yang lebih baik bagi hatinya. ===== أَيُّهُمَا أَفْضَلُ الْإِكْثَارُ مِنَ التَّسْبِيحِ أَمْ الِاسْتِغْفَارِ أَمْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ؟ الْأَفْضَلُ أَنْ يَخْتَارَ الْمُسْلِمُ مَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ يَنْظُرُ مَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِه وَيَعْمَلُ بِهِ فَإِذَا كَانَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ التَّسْبِيحَ سَبَّحَ إِذَا كَانَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ الِاسْتِغْفَارَ اسْتَغْفَرَ إِذَا كَانَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ تِلَاوَةَ الْقُرْآنِ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَهُوَ أَدْرَى بِنَفْسِهِ يَخْتَارُ مَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ لَكِنْ يَنْبَغِي التَّنْوِيعُ بَيْنَ هَذِهِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ يَعْنِي تَارَةً يَسْتَغْفِرُ تَارَةً يُسَبِّحُ تَارَةً يُهَلِّلُ تَارَةً يَقْرَأُ الْقُرْآنَ يَعْنِي يَنْبَغِي التَّنْوِيعُ بَيْنَهَا أَمَّا الِاسْتِكْثَارُ مِنْ وَاحِدٍ مِنْهَا فَهُنَا يَرْجِعُ لِلْأَصْلَحِ لِقَلْبِهِ
Manakah yang lebih utama: memperbanyak tasbih, istighfar, atau membaca Al-Qur’an? Lebih baik seorang Muslim memilih yang lebih membawa kebaikan bagi hatinya. Hendaknya ia memperhatikan apa yang lebih baik bagi hatinya, lalu mengamalkannya. Apabila yang lebih baik bagi hatinya adalah tasbih, maka bertasbihlah. Apabila yang lebih baik bagi hatinya adalah istighfar, maka beristighfarlah. Apabila yang lebih baik bagi hatinya adalah membaca Al-Qur’an, maka bacalah Al-Qur’an. Karena ia lebih mengenal dirinya, maka ia memilih apa yang lebih baik bagi hatinya. Namun, sebaiknya ia melakukan variasi di antara amal-amal saleh ini. Yakni, terkadang beristighfar, terkadang bertasbih, terkadang bertahlil, dan terkadang membaca Al-Qur’an. Artinya, sebaiknya ia melakukan variasi di antaranya. Adapun jika ingin memperbanyak salah satunya, maka kembali kepada mana yang lebih baik bagi hatinya. ===== أَيُّهُمَا أَفْضَلُ الْإِكْثَارُ مِنَ التَّسْبِيحِ أَمْ الِاسْتِغْفَارِ أَمْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ؟ الْأَفْضَلُ أَنْ يَخْتَارَ الْمُسْلِمُ مَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ يَنْظُرُ مَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِه وَيَعْمَلُ بِهِ فَإِذَا كَانَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ التَّسْبِيحَ سَبَّحَ إِذَا كَانَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ الِاسْتِغْفَارَ اسْتَغْفَرَ إِذَا كَانَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ تِلَاوَةَ الْقُرْآنِ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَهُوَ أَدْرَى بِنَفْسِهِ يَخْتَارُ مَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ لَكِنْ يَنْبَغِي التَّنْوِيعُ بَيْنَ هَذِهِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ يَعْنِي تَارَةً يَسْتَغْفِرُ تَارَةً يُسَبِّحُ تَارَةً يُهَلِّلُ تَارَةً يَقْرَأُ الْقُرْآنَ يَعْنِي يَنْبَغِي التَّنْوِيعُ بَيْنَهَا أَمَّا الِاسْتِكْثَارُ مِنْ وَاحِدٍ مِنْهَا فَهُنَا يَرْجِعُ لِلْأَصْلَحِ لِقَلْبِهِ


Manakah yang lebih utama: memperbanyak tasbih, istighfar, atau membaca Al-Qur’an? Lebih baik seorang Muslim memilih yang lebih membawa kebaikan bagi hatinya. Hendaknya ia memperhatikan apa yang lebih baik bagi hatinya, lalu mengamalkannya. Apabila yang lebih baik bagi hatinya adalah tasbih, maka bertasbihlah. Apabila yang lebih baik bagi hatinya adalah istighfar, maka beristighfarlah. Apabila yang lebih baik bagi hatinya adalah membaca Al-Qur’an, maka bacalah Al-Qur’an. Karena ia lebih mengenal dirinya, maka ia memilih apa yang lebih baik bagi hatinya. Namun, sebaiknya ia melakukan variasi di antara amal-amal saleh ini. Yakni, terkadang beristighfar, terkadang bertasbih, terkadang bertahlil, dan terkadang membaca Al-Qur’an. Artinya, sebaiknya ia melakukan variasi di antaranya. Adapun jika ingin memperbanyak salah satunya, maka kembali kepada mana yang lebih baik bagi hatinya. ===== أَيُّهُمَا أَفْضَلُ الْإِكْثَارُ مِنَ التَّسْبِيحِ أَمْ الِاسْتِغْفَارِ أَمْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ؟ الْأَفْضَلُ أَنْ يَخْتَارَ الْمُسْلِمُ مَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ يَنْظُرُ مَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِه وَيَعْمَلُ بِهِ فَإِذَا كَانَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ التَّسْبِيحَ سَبَّحَ إِذَا كَانَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ الِاسْتِغْفَارَ اسْتَغْفَرَ إِذَا كَانَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ تِلَاوَةَ الْقُرْآنِ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَهُوَ أَدْرَى بِنَفْسِهِ يَخْتَارُ مَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِقَلْبِهِ لَكِنْ يَنْبَغِي التَّنْوِيعُ بَيْنَ هَذِهِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ يَعْنِي تَارَةً يَسْتَغْفِرُ تَارَةً يُسَبِّحُ تَارَةً يُهَلِّلُ تَارَةً يَقْرَأُ الْقُرْآنَ يَعْنِي يَنْبَغِي التَّنْوِيعُ بَيْنَهَا أَمَّا الِاسْتِكْثَارُ مِنْ وَاحِدٍ مِنْهَا فَهُنَا يَرْجِعُ لِلْأَصْلَحِ لِقَلْبِهِ

Tata Cara Shalat bagi yang Tidak Mampu Berdiri Menurut Mazhab Syafi‘i

Shalat adalah tiang agama yang wajib dijaga oleh setiap muslim dalam keadaan apa pun. Rincian jumlah rakaat, sujud, takbir, hingga tasbih telah dijelaskan oleh para ulama sebagai bentuk perhatian terhadap kesempurnaan ibadah ini. Namun, syariat juga memberi keringanan bagi yang tidak mampu melaksanakannya sesuai asalnya, sehingga tidak ada alasan meninggalkan shalat. Hal ini menunjukkan betapa Allah Maha Bijaksana dalam mensyariatkan hukum yang sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً، فِيهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُونَ تَكْبِيرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُونَ تَسْبِيحَةً.وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُونَ رُكْنًا: فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُونَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُونَ رُكْنًا.وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.Jumlah rakaat shalat fardu adalah tujuh belas rakaat. Di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat kali takbir, sembilan kali tasyahud, sepuluh kali salam, dan seratus lima puluh tiga kali tasbih.Jika dihitung jumlah seluruh rukun shalat, totalnya ada seratus dua puluh enam rukun:Dalam shalat Subuh: tiga puluh rukun,Dalam shalat Magrib: empat puluh dua rukun,Dalam shalat yang empat rakaat: lima puluh empat rukun.Bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. PenjelasanIni berlaku apabila shalat dilakukan dalam keadaan mukim (tidak safar) dan bukan pada hari Jumat. Jika di dalamnya terdapat shalat Jumat, maka jumlah rakaatnya berkurang dua rakaat. Jika shalat tersebut dilakukan dengan qashar (dalam safar), maka berkurang empat atau enam rakaat.Pernyataan bahwa shalat fardu berjumlah tujuh belas rakaat hingga akhir rincian gerakannya bisa diketahui dengan memperhatikan secara detail, namun tidak banyak faedah besar yang dihasilkan dari hitungan ini. Wallāhu a‘lam. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat farduSiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Imrān bin Hushain:صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ.“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, dan jika tidak mampu maka berbaringlah di sisi.”Imam An-Nasai menambahkan hal ini.  “Jika tidak mampu juga, maka terlentanglah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya.” Para ulama juga menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) dalam masalah ini.Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan ‘udzur tidak mampu (al-‘ajz) itu bukan sekadar tidak memungkinkan (tidak bisa sama sekali), tetapi meliputi adanya kekhawatiran akan celaka, bertambahnya penyakit, timbulnya kesulitan yang sangat berat, atau rasa takut tenggelam dan pusing bagi orang yang berada di kapal.Imam (al-Syafi‘i) menyebutkan bahwa ukuran ‘udzur adalah jika kesulitan itu membuatnya kehilangan kekhusyukan. Demikian yang dinukil dari beliau oleh Imam An-Nawawi dalam ar-Raudhah dan beliau membenarkannya. Hanya saja, dalam Syarh al-Muhadzdzab, An-Nawawi menyebutkan bahwa dalam mazhab Syafi‘i pendapat resminya adalah sebaliknya.Imam asy-Syafi‘i juga berkata: yang dimaksud tidak mampu berdiri adalah jika seseorang tidak kuat berdiri kecuali dengan kesulitan yang tidak tertahankan. Ibnu ar-Rif‘ah menegaskan maksudnya adalah kesulitan yang sangat berat.Ketahuilah pula bahwa ketika seseorang shalat sambil duduk, tidak ditentukan cara duduk tertentu. Bagaimanapun ia duduk, itu sah. Namun, tentang mana yang lebih utama, ada dua pendapat. Pendapat yang lebih kuat adalah duduk iftirasy (duduk sebagaimana duduk antara dua sujud), karena posisi ini lebih dekat menyerupai berdiri, dan karena duduk bersila (tawarruk/tarabbuk) lebih terkesan santai. Pendapat kedua, duduk bersila lebih utama, agar bisa dibedakan antara duduk sebagai pengganti berdiri dengan duduk asal dalam shalat.Jika ia tidak mampu duduk, maka ia shalat dengan berbaring, sebagaimana hadits yang sudah disebutkan. Caranya adalah berbaring di sisi kanan sesuai pendapat resmi mazhab, dan tetap wajib menghadap kiblat. Jika tidak bisa, maka shalat dengan berbaring terlentang, dan arahkan gerakan rukuk dan sujudnya ke arah kiblat. Bila tidak mampu melakukan rukuk dan sujud dengan gerakan, maka ia cukup memberi isyarat dengan matanya, dengan sujud lebih rendah daripada rukuk. Jika masih tidak sanggup, maka ia cukup dengan lintasan hati, menjalankan gerakan shalat dalam hati.Jika dalam kondisi itu ia masih mampu melafalkan takbir, membaca bacaan, tasyahhud, dan salam, maka tetap melafalkannya. Jika tidak mampu, maka cukup dilakukan dalam hati. Pahalanya tidak berkurang, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat selama akalnya masih waras. Jika ia shalat dalam kondisi seperti itu, tidak wajib mengulanginya.Al-Ghazali berhujah dengan sabda Nabi ﷺ:إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Jika aku memerintahkan sesuatu, maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian.”Namun, ar-Rafi‘i berbeda pandangan dalam menjadikan hadits ini sebagai dalil. Adapun menurut kami, jelas bahwa dalam kondisi ini seseorang tidak perlu shalat lalu mengulanginya.Ketahuilah pula bahwa orang yang dalam keadaan disalib tetap wajib shalat. Imam asy-Syafi‘i menegaskan hal itu. Begitu juga orang yang tenggelam dan berada di atas papan kayu, sebagaimana ditegaskan oleh Qadhi Husain dan ulama lainnya. Cabang pembahasan:Jika seseorang sebenarnya mampu shalat sambil berdiri ketika shalat sendirian, tetapi bila shalat berjamaah ia hanya sanggup duduk pada sebagian shalatnya, maka Imam asy-Syafi‘i menegaskan bolehnya dua keadaan tersebut. Hanya saja, shalat sendirian dalam keadaan berdiri lebih utama karena menjaga rukun. Pendapat ini dipilih oleh Qadhi Husain dan murid-muridnya, al-Baghawi dan al-Mutawalli, dan ini adalah yang lebih kuat.Mereka juga mengatakan: jika seseorang hanya mampu berdiri saat membaca al-Fatihah saja, tetapi jika dilanjutkan dengan membaca surat lain ia lemah, maka yang lebih utama adalah tetap berdiri hanya untuk al-Fatihah saja.Namun, menurut Syaikh Abu Hamid, shalat berjamaah tetap lebih utama.Wallāhu a‘lam.Baca Juga:Panduan shalat bagi muslim yang tidak mampu berdiri menurut mazhab Syafi‘i, lengkap dengan tata cara dan dalil.Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil Duduk_______ Kamis, 12 Rabiul Awal 1447 H, 4 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat matan abu syuja matan taqrib matan taqrib kitab shalat shalat dalam keadaan sakit shalat keadaan tidak mampu berdiri

Tata Cara Shalat bagi yang Tidak Mampu Berdiri Menurut Mazhab Syafi‘i

Shalat adalah tiang agama yang wajib dijaga oleh setiap muslim dalam keadaan apa pun. Rincian jumlah rakaat, sujud, takbir, hingga tasbih telah dijelaskan oleh para ulama sebagai bentuk perhatian terhadap kesempurnaan ibadah ini. Namun, syariat juga memberi keringanan bagi yang tidak mampu melaksanakannya sesuai asalnya, sehingga tidak ada alasan meninggalkan shalat. Hal ini menunjukkan betapa Allah Maha Bijaksana dalam mensyariatkan hukum yang sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً، فِيهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُونَ تَكْبِيرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُونَ تَسْبِيحَةً.وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُونَ رُكْنًا: فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُونَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُونَ رُكْنًا.وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.Jumlah rakaat shalat fardu adalah tujuh belas rakaat. Di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat kali takbir, sembilan kali tasyahud, sepuluh kali salam, dan seratus lima puluh tiga kali tasbih.Jika dihitung jumlah seluruh rukun shalat, totalnya ada seratus dua puluh enam rukun:Dalam shalat Subuh: tiga puluh rukun,Dalam shalat Magrib: empat puluh dua rukun,Dalam shalat yang empat rakaat: lima puluh empat rukun.Bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. PenjelasanIni berlaku apabila shalat dilakukan dalam keadaan mukim (tidak safar) dan bukan pada hari Jumat. Jika di dalamnya terdapat shalat Jumat, maka jumlah rakaatnya berkurang dua rakaat. Jika shalat tersebut dilakukan dengan qashar (dalam safar), maka berkurang empat atau enam rakaat.Pernyataan bahwa shalat fardu berjumlah tujuh belas rakaat hingga akhir rincian gerakannya bisa diketahui dengan memperhatikan secara detail, namun tidak banyak faedah besar yang dihasilkan dari hitungan ini. Wallāhu a‘lam. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat farduSiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Imrān bin Hushain:صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ.“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, dan jika tidak mampu maka berbaringlah di sisi.”Imam An-Nasai menambahkan hal ini.  “Jika tidak mampu juga, maka terlentanglah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya.” Para ulama juga menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) dalam masalah ini.Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan ‘udzur tidak mampu (al-‘ajz) itu bukan sekadar tidak memungkinkan (tidak bisa sama sekali), tetapi meliputi adanya kekhawatiran akan celaka, bertambahnya penyakit, timbulnya kesulitan yang sangat berat, atau rasa takut tenggelam dan pusing bagi orang yang berada di kapal.Imam (al-Syafi‘i) menyebutkan bahwa ukuran ‘udzur adalah jika kesulitan itu membuatnya kehilangan kekhusyukan. Demikian yang dinukil dari beliau oleh Imam An-Nawawi dalam ar-Raudhah dan beliau membenarkannya. Hanya saja, dalam Syarh al-Muhadzdzab, An-Nawawi menyebutkan bahwa dalam mazhab Syafi‘i pendapat resminya adalah sebaliknya.Imam asy-Syafi‘i juga berkata: yang dimaksud tidak mampu berdiri adalah jika seseorang tidak kuat berdiri kecuali dengan kesulitan yang tidak tertahankan. Ibnu ar-Rif‘ah menegaskan maksudnya adalah kesulitan yang sangat berat.Ketahuilah pula bahwa ketika seseorang shalat sambil duduk, tidak ditentukan cara duduk tertentu. Bagaimanapun ia duduk, itu sah. Namun, tentang mana yang lebih utama, ada dua pendapat. Pendapat yang lebih kuat adalah duduk iftirasy (duduk sebagaimana duduk antara dua sujud), karena posisi ini lebih dekat menyerupai berdiri, dan karena duduk bersila (tawarruk/tarabbuk) lebih terkesan santai. Pendapat kedua, duduk bersila lebih utama, agar bisa dibedakan antara duduk sebagai pengganti berdiri dengan duduk asal dalam shalat.Jika ia tidak mampu duduk, maka ia shalat dengan berbaring, sebagaimana hadits yang sudah disebutkan. Caranya adalah berbaring di sisi kanan sesuai pendapat resmi mazhab, dan tetap wajib menghadap kiblat. Jika tidak bisa, maka shalat dengan berbaring terlentang, dan arahkan gerakan rukuk dan sujudnya ke arah kiblat. Bila tidak mampu melakukan rukuk dan sujud dengan gerakan, maka ia cukup memberi isyarat dengan matanya, dengan sujud lebih rendah daripada rukuk. Jika masih tidak sanggup, maka ia cukup dengan lintasan hati, menjalankan gerakan shalat dalam hati.Jika dalam kondisi itu ia masih mampu melafalkan takbir, membaca bacaan, tasyahhud, dan salam, maka tetap melafalkannya. Jika tidak mampu, maka cukup dilakukan dalam hati. Pahalanya tidak berkurang, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat selama akalnya masih waras. Jika ia shalat dalam kondisi seperti itu, tidak wajib mengulanginya.Al-Ghazali berhujah dengan sabda Nabi ﷺ:إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Jika aku memerintahkan sesuatu, maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian.”Namun, ar-Rafi‘i berbeda pandangan dalam menjadikan hadits ini sebagai dalil. Adapun menurut kami, jelas bahwa dalam kondisi ini seseorang tidak perlu shalat lalu mengulanginya.Ketahuilah pula bahwa orang yang dalam keadaan disalib tetap wajib shalat. Imam asy-Syafi‘i menegaskan hal itu. Begitu juga orang yang tenggelam dan berada di atas papan kayu, sebagaimana ditegaskan oleh Qadhi Husain dan ulama lainnya. Cabang pembahasan:Jika seseorang sebenarnya mampu shalat sambil berdiri ketika shalat sendirian, tetapi bila shalat berjamaah ia hanya sanggup duduk pada sebagian shalatnya, maka Imam asy-Syafi‘i menegaskan bolehnya dua keadaan tersebut. Hanya saja, shalat sendirian dalam keadaan berdiri lebih utama karena menjaga rukun. Pendapat ini dipilih oleh Qadhi Husain dan murid-muridnya, al-Baghawi dan al-Mutawalli, dan ini adalah yang lebih kuat.Mereka juga mengatakan: jika seseorang hanya mampu berdiri saat membaca al-Fatihah saja, tetapi jika dilanjutkan dengan membaca surat lain ia lemah, maka yang lebih utama adalah tetap berdiri hanya untuk al-Fatihah saja.Namun, menurut Syaikh Abu Hamid, shalat berjamaah tetap lebih utama.Wallāhu a‘lam.Baca Juga:Panduan shalat bagi muslim yang tidak mampu berdiri menurut mazhab Syafi‘i, lengkap dengan tata cara dan dalil.Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil Duduk_______ Kamis, 12 Rabiul Awal 1447 H, 4 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat matan abu syuja matan taqrib matan taqrib kitab shalat shalat dalam keadaan sakit shalat keadaan tidak mampu berdiri
Shalat adalah tiang agama yang wajib dijaga oleh setiap muslim dalam keadaan apa pun. Rincian jumlah rakaat, sujud, takbir, hingga tasbih telah dijelaskan oleh para ulama sebagai bentuk perhatian terhadap kesempurnaan ibadah ini. Namun, syariat juga memberi keringanan bagi yang tidak mampu melaksanakannya sesuai asalnya, sehingga tidak ada alasan meninggalkan shalat. Hal ini menunjukkan betapa Allah Maha Bijaksana dalam mensyariatkan hukum yang sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً، فِيهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُونَ تَكْبِيرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُونَ تَسْبِيحَةً.وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُونَ رُكْنًا: فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُونَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُونَ رُكْنًا.وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.Jumlah rakaat shalat fardu adalah tujuh belas rakaat. Di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat kali takbir, sembilan kali tasyahud, sepuluh kali salam, dan seratus lima puluh tiga kali tasbih.Jika dihitung jumlah seluruh rukun shalat, totalnya ada seratus dua puluh enam rukun:Dalam shalat Subuh: tiga puluh rukun,Dalam shalat Magrib: empat puluh dua rukun,Dalam shalat yang empat rakaat: lima puluh empat rukun.Bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. PenjelasanIni berlaku apabila shalat dilakukan dalam keadaan mukim (tidak safar) dan bukan pada hari Jumat. Jika di dalamnya terdapat shalat Jumat, maka jumlah rakaatnya berkurang dua rakaat. Jika shalat tersebut dilakukan dengan qashar (dalam safar), maka berkurang empat atau enam rakaat.Pernyataan bahwa shalat fardu berjumlah tujuh belas rakaat hingga akhir rincian gerakannya bisa diketahui dengan memperhatikan secara detail, namun tidak banyak faedah besar yang dihasilkan dari hitungan ini. Wallāhu a‘lam. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat farduSiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Imrān bin Hushain:صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ.“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, dan jika tidak mampu maka berbaringlah di sisi.”Imam An-Nasai menambahkan hal ini.  “Jika tidak mampu juga, maka terlentanglah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya.” Para ulama juga menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) dalam masalah ini.Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan ‘udzur tidak mampu (al-‘ajz) itu bukan sekadar tidak memungkinkan (tidak bisa sama sekali), tetapi meliputi adanya kekhawatiran akan celaka, bertambahnya penyakit, timbulnya kesulitan yang sangat berat, atau rasa takut tenggelam dan pusing bagi orang yang berada di kapal.Imam (al-Syafi‘i) menyebutkan bahwa ukuran ‘udzur adalah jika kesulitan itu membuatnya kehilangan kekhusyukan. Demikian yang dinukil dari beliau oleh Imam An-Nawawi dalam ar-Raudhah dan beliau membenarkannya. Hanya saja, dalam Syarh al-Muhadzdzab, An-Nawawi menyebutkan bahwa dalam mazhab Syafi‘i pendapat resminya adalah sebaliknya.Imam asy-Syafi‘i juga berkata: yang dimaksud tidak mampu berdiri adalah jika seseorang tidak kuat berdiri kecuali dengan kesulitan yang tidak tertahankan. Ibnu ar-Rif‘ah menegaskan maksudnya adalah kesulitan yang sangat berat.Ketahuilah pula bahwa ketika seseorang shalat sambil duduk, tidak ditentukan cara duduk tertentu. Bagaimanapun ia duduk, itu sah. Namun, tentang mana yang lebih utama, ada dua pendapat. Pendapat yang lebih kuat adalah duduk iftirasy (duduk sebagaimana duduk antara dua sujud), karena posisi ini lebih dekat menyerupai berdiri, dan karena duduk bersila (tawarruk/tarabbuk) lebih terkesan santai. Pendapat kedua, duduk bersila lebih utama, agar bisa dibedakan antara duduk sebagai pengganti berdiri dengan duduk asal dalam shalat.Jika ia tidak mampu duduk, maka ia shalat dengan berbaring, sebagaimana hadits yang sudah disebutkan. Caranya adalah berbaring di sisi kanan sesuai pendapat resmi mazhab, dan tetap wajib menghadap kiblat. Jika tidak bisa, maka shalat dengan berbaring terlentang, dan arahkan gerakan rukuk dan sujudnya ke arah kiblat. Bila tidak mampu melakukan rukuk dan sujud dengan gerakan, maka ia cukup memberi isyarat dengan matanya, dengan sujud lebih rendah daripada rukuk. Jika masih tidak sanggup, maka ia cukup dengan lintasan hati, menjalankan gerakan shalat dalam hati.Jika dalam kondisi itu ia masih mampu melafalkan takbir, membaca bacaan, tasyahhud, dan salam, maka tetap melafalkannya. Jika tidak mampu, maka cukup dilakukan dalam hati. Pahalanya tidak berkurang, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat selama akalnya masih waras. Jika ia shalat dalam kondisi seperti itu, tidak wajib mengulanginya.Al-Ghazali berhujah dengan sabda Nabi ﷺ:إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Jika aku memerintahkan sesuatu, maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian.”Namun, ar-Rafi‘i berbeda pandangan dalam menjadikan hadits ini sebagai dalil. Adapun menurut kami, jelas bahwa dalam kondisi ini seseorang tidak perlu shalat lalu mengulanginya.Ketahuilah pula bahwa orang yang dalam keadaan disalib tetap wajib shalat. Imam asy-Syafi‘i menegaskan hal itu. Begitu juga orang yang tenggelam dan berada di atas papan kayu, sebagaimana ditegaskan oleh Qadhi Husain dan ulama lainnya. Cabang pembahasan:Jika seseorang sebenarnya mampu shalat sambil berdiri ketika shalat sendirian, tetapi bila shalat berjamaah ia hanya sanggup duduk pada sebagian shalatnya, maka Imam asy-Syafi‘i menegaskan bolehnya dua keadaan tersebut. Hanya saja, shalat sendirian dalam keadaan berdiri lebih utama karena menjaga rukun. Pendapat ini dipilih oleh Qadhi Husain dan murid-muridnya, al-Baghawi dan al-Mutawalli, dan ini adalah yang lebih kuat.Mereka juga mengatakan: jika seseorang hanya mampu berdiri saat membaca al-Fatihah saja, tetapi jika dilanjutkan dengan membaca surat lain ia lemah, maka yang lebih utama adalah tetap berdiri hanya untuk al-Fatihah saja.Namun, menurut Syaikh Abu Hamid, shalat berjamaah tetap lebih utama.Wallāhu a‘lam.Baca Juga:Panduan shalat bagi muslim yang tidak mampu berdiri menurut mazhab Syafi‘i, lengkap dengan tata cara dan dalil.Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil Duduk_______ Kamis, 12 Rabiul Awal 1447 H, 4 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat matan abu syuja matan taqrib matan taqrib kitab shalat shalat dalam keadaan sakit shalat keadaan tidak mampu berdiri


Shalat adalah tiang agama yang wajib dijaga oleh setiap muslim dalam keadaan apa pun. Rincian jumlah rakaat, sujud, takbir, hingga tasbih telah dijelaskan oleh para ulama sebagai bentuk perhatian terhadap kesempurnaan ibadah ini. Namun, syariat juga memberi keringanan bagi yang tidak mampu melaksanakannya sesuai asalnya, sehingga tidak ada alasan meninggalkan shalat. Hal ini menunjukkan betapa Allah Maha Bijaksana dalam mensyariatkan hukum yang sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً، فِيهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُونَ تَكْبِيرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُونَ تَسْبِيحَةً.وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُونَ رُكْنًا: فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُونَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُونَ رُكْنًا.وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.Jumlah rakaat shalat fardu adalah tujuh belas rakaat. Di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat kali takbir, sembilan kali tasyahud, sepuluh kali salam, dan seratus lima puluh tiga kali tasbih.Jika dihitung jumlah seluruh rukun shalat, totalnya ada seratus dua puluh enam rukun:Dalam shalat Subuh: tiga puluh rukun,Dalam shalat Magrib: empat puluh dua rukun,Dalam shalat yang empat rakaat: lima puluh empat rukun.Bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. PenjelasanIni berlaku apabila shalat dilakukan dalam keadaan mukim (tidak safar) dan bukan pada hari Jumat. Jika di dalamnya terdapat shalat Jumat, maka jumlah rakaatnya berkurang dua rakaat. Jika shalat tersebut dilakukan dengan qashar (dalam safar), maka berkurang empat atau enam rakaat.Pernyataan bahwa shalat fardu berjumlah tujuh belas rakaat hingga akhir rincian gerakannya bisa diketahui dengan memperhatikan secara detail, namun tidak banyak faedah besar yang dihasilkan dari hitungan ini. Wallāhu a‘lam. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat farduSiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Imrān bin Hushain:صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ.“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, dan jika tidak mampu maka berbaringlah di sisi.”Imam An-Nasai menambahkan hal ini.  “Jika tidak mampu juga, maka terlentanglah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya.” Para ulama juga menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) dalam masalah ini.Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan ‘udzur tidak mampu (al-‘ajz) itu bukan sekadar tidak memungkinkan (tidak bisa sama sekali), tetapi meliputi adanya kekhawatiran akan celaka, bertambahnya penyakit, timbulnya kesulitan yang sangat berat, atau rasa takut tenggelam dan pusing bagi orang yang berada di kapal.Imam (al-Syafi‘i) menyebutkan bahwa ukuran ‘udzur adalah jika kesulitan itu membuatnya kehilangan kekhusyukan. Demikian yang dinukil dari beliau oleh Imam An-Nawawi dalam ar-Raudhah dan beliau membenarkannya. Hanya saja, dalam Syarh al-Muhadzdzab, An-Nawawi menyebutkan bahwa dalam mazhab Syafi‘i pendapat resminya adalah sebaliknya.Imam asy-Syafi‘i juga berkata: yang dimaksud tidak mampu berdiri adalah jika seseorang tidak kuat berdiri kecuali dengan kesulitan yang tidak tertahankan. Ibnu ar-Rif‘ah menegaskan maksudnya adalah kesulitan yang sangat berat.Ketahuilah pula bahwa ketika seseorang shalat sambil duduk, tidak ditentukan cara duduk tertentu. Bagaimanapun ia duduk, itu sah. Namun, tentang mana yang lebih utama, ada dua pendapat. Pendapat yang lebih kuat adalah duduk iftirasy (duduk sebagaimana duduk antara dua sujud), karena posisi ini lebih dekat menyerupai berdiri, dan karena duduk bersila (tawarruk/tarabbuk) lebih terkesan santai. Pendapat kedua, duduk bersila lebih utama, agar bisa dibedakan antara duduk sebagai pengganti berdiri dengan duduk asal dalam shalat.Jika ia tidak mampu duduk, maka ia shalat dengan berbaring, sebagaimana hadits yang sudah disebutkan. Caranya adalah berbaring di sisi kanan sesuai pendapat resmi mazhab, dan tetap wajib menghadap kiblat. Jika tidak bisa, maka shalat dengan berbaring terlentang, dan arahkan gerakan rukuk dan sujudnya ke arah kiblat. Bila tidak mampu melakukan rukuk dan sujud dengan gerakan, maka ia cukup memberi isyarat dengan matanya, dengan sujud lebih rendah daripada rukuk. Jika masih tidak sanggup, maka ia cukup dengan lintasan hati, menjalankan gerakan shalat dalam hati.Jika dalam kondisi itu ia masih mampu melafalkan takbir, membaca bacaan, tasyahhud, dan salam, maka tetap melafalkannya. Jika tidak mampu, maka cukup dilakukan dalam hati. Pahalanya tidak berkurang, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat selama akalnya masih waras. Jika ia shalat dalam kondisi seperti itu, tidak wajib mengulanginya.Al-Ghazali berhujah dengan sabda Nabi ﷺ:إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Jika aku memerintahkan sesuatu, maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian.”Namun, ar-Rafi‘i berbeda pandangan dalam menjadikan hadits ini sebagai dalil. Adapun menurut kami, jelas bahwa dalam kondisi ini seseorang tidak perlu shalat lalu mengulanginya.Ketahuilah pula bahwa orang yang dalam keadaan disalib tetap wajib shalat. Imam asy-Syafi‘i menegaskan hal itu. Begitu juga orang yang tenggelam dan berada di atas papan kayu, sebagaimana ditegaskan oleh Qadhi Husain dan ulama lainnya. Cabang pembahasan:Jika seseorang sebenarnya mampu shalat sambil berdiri ketika shalat sendirian, tetapi bila shalat berjamaah ia hanya sanggup duduk pada sebagian shalatnya, maka Imam asy-Syafi‘i menegaskan bolehnya dua keadaan tersebut. Hanya saja, shalat sendirian dalam keadaan berdiri lebih utama karena menjaga rukun. Pendapat ini dipilih oleh Qadhi Husain dan murid-muridnya, al-Baghawi dan al-Mutawalli, dan ini adalah yang lebih kuat.Mereka juga mengatakan: jika seseorang hanya mampu berdiri saat membaca al-Fatihah saja, tetapi jika dilanjutkan dengan membaca surat lain ia lemah, maka yang lebih utama adalah tetap berdiri hanya untuk al-Fatihah saja.Namun, menurut Syaikh Abu Hamid, shalat berjamaah tetap lebih utama.Wallāhu a‘lam.Baca Juga:Panduan shalat bagi muslim yang tidak mampu berdiri menurut mazhab Syafi‘i, lengkap dengan tata cara dan dalil.Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil Duduk_______ Kamis, 12 Rabiul Awal 1447 H, 4 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat matan abu syuja matan taqrib matan taqrib kitab shalat shalat dalam keadaan sakit shalat keadaan tidak mampu berdiri

Kapan Terjadinya Hari Kiamat?

Daftar Isi ToggleDekatnya hari kiamatMempersiapkan diri untuk hari akhirSebuah renunganPertanyaan tentang kapan terjadinya hari kiamat adalah pertanyaan yang sering muncul dalam benak banyak orang. Sebagai manusia beriman, kita meyakini bahwa hari kiamat adalah suatu kepastian. Namun, Islam tidak mengajarkan kita untuk sibuk menebak tanggal dan waktunya, melainkan agar kita mempersiapkan diri menghadapinya. Lantas, bagaimana Islam memandang dekatnya hari kiamat dan apa saja tanda-tandanya?Dekatnya hari kiamatAllah ‘Azza wa Jalla telah mengisyaratkan tentang begitu dekatnya waktu kiamat di Al-Qur’an. Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan secara rinci tentang hari kiamat.Allah Ta’ala berfirman,اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka dalam kelalaian dan berpaling (darinya).” [1]Allah Ta’ala juga berfirman,يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا”Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (wahai Muhammad), boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat waktunya.” [2]Allah Ta’ala juga berfirman,اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ“Telah dekat (datangnya) hari kiamat, dan telah terbelah bulan.” [3]Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan tentang dekatnya hari akhir ini dan kemudian berpindah ke negeri yang lain, yang dimana setiap orang akan menerima apa yang telah ia perbuat. Apabila baik, maka akan mendapat balasan kebaikan. Dan apabila buruk, maka akan mendapatkan balasan keburukan.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بُعِثْتُ أنا والساعةَ هكذا، ويُشير بإصبعيه فيَمُدُّ بهما“Aku diutus (sebagai nabi) bersama datangnya kiamat seperti ini”, lalu beliau mengisyaratkan dengan dua jarinya dan merenggangkannya (sedikit). [4]Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّما أَجَلُكُم فيما خَلَا مِنَ الأُمَمِ، كَمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغْرِبِ الشَّمْسِ“Sesungguhnya umur (waktu) kalian dibandingkan dengan umat-umat sebelum kalian adalah seperti waktu antara salat Ashar sampai terbenamnya matahari.” [5]Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan, “Kami sedang duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat matahari berada di atas bukit Qa’iqi’an setelah ashar, lalu beliau bersabda,ما أعماركم في أعمار من مضى، إلّا كما بقي من النهار فيما مضى منه“Umur kalian dibandingkan dengan umur orang-orang sebelum kalian, tidaklah lain kecuali seperti sisa waktu siang dibandingkan dengan waktu siang yang telah berlalu darinya.” [6]Ibnu Katsir menjelaskan, “Ini menunjukkan bahwa apa yang tersisa (dari waktu dunia) dibandingkan dengan apa yang telah berlalu hanyalah sedikit. Namun, tidak ada yang mengetahui secara pasti berapa yang telah berlalu kecuali Allah Ta‘ala. Dan tidak ada penetapan yang sahih sanadnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ma‘shum mengenai hal itu sehingga bisa dijadikan pegangan untuk mengetahui perbandingan sisa waktu dengan waktu yang telah berlalu. Namun, yang pasti, sisa waktu itu sangat sedikit dibandingkan dengan yang telah berlalu.” [7]Tidak ada ungkapan yang lebih kuat daripada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menggambarkan dekatnya hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ جَمِيعًا، إِنْ كَادَتْ لَتَسْبِقُنِي“Aku diutus bersama dengan (datangnya) kiamat. Hampir-hampir saja kiamat mendahuluiku.” [8]Ini merupakan isyarat tentang betapa sangat dekatnya kiamat dengan masa diutusnya beliau, sampai-sampai beliau khawatir kiamat mendahuluinya karena saking dekatnya.Mempersiapkan diri untuk hari akhirAnas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan dan berkata,أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرِحْنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْSeorang arab badui bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Dia berkata, “Kapan hari kiamat akan terjadi?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang telah engkau siapkan untuk hari kiamat?”Orang itu menjawab, “Tidak ada. Hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”Beliau bersabda, “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”Anas berkata, “Belum pernah kami bahagia dengan sesuatu seperti bahagianya kami dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai.'”Anas melanjutkan, “Sungguh aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka dengan sebab kecintaanku pada mereka sekalipun aku belum beramal semisal amal mereka.” [9]Dalam hadis ini terdapat isyarat agar seorang muslim menyibukkan diri dengan perkara yang lebih bermaslahat dan bermanfaat serta tidak mempertanyakan sesuatu yang tidak berguna. Yaitu dengan menyibukkan diri dengan beramal daripada sibuk dengan menanyakan kapan terjadinya hari kiamat. Karena hari kiamat pasti terjadi.Jika kita tidak tahu kapan kiamat akan datang, apa yang seharusnya kita lakukan?Jawabannya adalah mempersiapkan bekal sebaik-baiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الكَيِّسُ مَن دان نفسَه وعمِل لما بعدَ الموتِ والعاجِزُ مَن أتبَع نفسَه هَواها وتمنَّى على اللهِ الأمانِيَّ“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah (mengharap tanpa usaha).” [10]Sebuah renunganKita mungkin tidak tahu kapan kiamat akan datang. Namun, yang pasti, kematian bisa datang kapan saja, dan itu adalah kiamat kecil bagi setiap individu. Maka marilah kita renungkan: sudah siapkah kita?Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa mempersiapkan bekal terbaik, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” [11]Mari kita hidup bukan dengan ketakutan, tetapi dengan kesadaran dan harapan. Kesadaran bahwa hidup ini sementara, dan harapan bahwa dengan amal baik, Allah akan menerima kita dalam keadaan husnul khatimah dan memberikan kepada kita kesuksesan yang hakiki yaitu surga. Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” [12]Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari kiamat.Wallahu a’lam bishawab.Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda Kiamat***Penulis: Gazzetta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Asyratu As-Sa’ah, karya Yusuf bin Abdillah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan ketujuh, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1438 H, hal. 56-58. Disunting ulang oleh penulis. Catatan kaki:[1] QS. Al-Anbiya’: 1[2] QS. Al-Ahzab: 63[3] QS. Al-Qomar: 1[4] Diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu. Dalam riwayat lain.وقَرَنَ بَيْنَ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى“dan beliau menyandingkan jari telunjuk dan jari tengah.”[5] HR. Bukhari[6] HR. Ahmad, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”Sanadnya sahih” (An-Nihayah, 1: 194); dan Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hasan.” (Fathul Bari, 11: 350)[7] An-Nihayah, 1: 195.[8] HR. Ahmad, dan Ibnu Hajar rahimahullah berkata (Fathul Bari, 11: 348), “Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani dan sanadnya hasan.”[9] Muttafaqun ‘alaihi[10] HR. Tirmidzi[11] QS. Al-Baqarah: 197[12] QS. Ali Imran: 185

Kapan Terjadinya Hari Kiamat?

Daftar Isi ToggleDekatnya hari kiamatMempersiapkan diri untuk hari akhirSebuah renunganPertanyaan tentang kapan terjadinya hari kiamat adalah pertanyaan yang sering muncul dalam benak banyak orang. Sebagai manusia beriman, kita meyakini bahwa hari kiamat adalah suatu kepastian. Namun, Islam tidak mengajarkan kita untuk sibuk menebak tanggal dan waktunya, melainkan agar kita mempersiapkan diri menghadapinya. Lantas, bagaimana Islam memandang dekatnya hari kiamat dan apa saja tanda-tandanya?Dekatnya hari kiamatAllah ‘Azza wa Jalla telah mengisyaratkan tentang begitu dekatnya waktu kiamat di Al-Qur’an. Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan secara rinci tentang hari kiamat.Allah Ta’ala berfirman,اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka dalam kelalaian dan berpaling (darinya).” [1]Allah Ta’ala juga berfirman,يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا”Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (wahai Muhammad), boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat waktunya.” [2]Allah Ta’ala juga berfirman,اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ“Telah dekat (datangnya) hari kiamat, dan telah terbelah bulan.” [3]Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan tentang dekatnya hari akhir ini dan kemudian berpindah ke negeri yang lain, yang dimana setiap orang akan menerima apa yang telah ia perbuat. Apabila baik, maka akan mendapat balasan kebaikan. Dan apabila buruk, maka akan mendapatkan balasan keburukan.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بُعِثْتُ أنا والساعةَ هكذا، ويُشير بإصبعيه فيَمُدُّ بهما“Aku diutus (sebagai nabi) bersama datangnya kiamat seperti ini”, lalu beliau mengisyaratkan dengan dua jarinya dan merenggangkannya (sedikit). [4]Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّما أَجَلُكُم فيما خَلَا مِنَ الأُمَمِ، كَمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغْرِبِ الشَّمْسِ“Sesungguhnya umur (waktu) kalian dibandingkan dengan umat-umat sebelum kalian adalah seperti waktu antara salat Ashar sampai terbenamnya matahari.” [5]Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan, “Kami sedang duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat matahari berada di atas bukit Qa’iqi’an setelah ashar, lalu beliau bersabda,ما أعماركم في أعمار من مضى، إلّا كما بقي من النهار فيما مضى منه“Umur kalian dibandingkan dengan umur orang-orang sebelum kalian, tidaklah lain kecuali seperti sisa waktu siang dibandingkan dengan waktu siang yang telah berlalu darinya.” [6]Ibnu Katsir menjelaskan, “Ini menunjukkan bahwa apa yang tersisa (dari waktu dunia) dibandingkan dengan apa yang telah berlalu hanyalah sedikit. Namun, tidak ada yang mengetahui secara pasti berapa yang telah berlalu kecuali Allah Ta‘ala. Dan tidak ada penetapan yang sahih sanadnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ma‘shum mengenai hal itu sehingga bisa dijadikan pegangan untuk mengetahui perbandingan sisa waktu dengan waktu yang telah berlalu. Namun, yang pasti, sisa waktu itu sangat sedikit dibandingkan dengan yang telah berlalu.” [7]Tidak ada ungkapan yang lebih kuat daripada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menggambarkan dekatnya hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ جَمِيعًا، إِنْ كَادَتْ لَتَسْبِقُنِي“Aku diutus bersama dengan (datangnya) kiamat. Hampir-hampir saja kiamat mendahuluiku.” [8]Ini merupakan isyarat tentang betapa sangat dekatnya kiamat dengan masa diutusnya beliau, sampai-sampai beliau khawatir kiamat mendahuluinya karena saking dekatnya.Mempersiapkan diri untuk hari akhirAnas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan dan berkata,أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرِحْنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْSeorang arab badui bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Dia berkata, “Kapan hari kiamat akan terjadi?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang telah engkau siapkan untuk hari kiamat?”Orang itu menjawab, “Tidak ada. Hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”Beliau bersabda, “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”Anas berkata, “Belum pernah kami bahagia dengan sesuatu seperti bahagianya kami dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai.'”Anas melanjutkan, “Sungguh aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka dengan sebab kecintaanku pada mereka sekalipun aku belum beramal semisal amal mereka.” [9]Dalam hadis ini terdapat isyarat agar seorang muslim menyibukkan diri dengan perkara yang lebih bermaslahat dan bermanfaat serta tidak mempertanyakan sesuatu yang tidak berguna. Yaitu dengan menyibukkan diri dengan beramal daripada sibuk dengan menanyakan kapan terjadinya hari kiamat. Karena hari kiamat pasti terjadi.Jika kita tidak tahu kapan kiamat akan datang, apa yang seharusnya kita lakukan?Jawabannya adalah mempersiapkan bekal sebaik-baiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الكَيِّسُ مَن دان نفسَه وعمِل لما بعدَ الموتِ والعاجِزُ مَن أتبَع نفسَه هَواها وتمنَّى على اللهِ الأمانِيَّ“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah (mengharap tanpa usaha).” [10]Sebuah renunganKita mungkin tidak tahu kapan kiamat akan datang. Namun, yang pasti, kematian bisa datang kapan saja, dan itu adalah kiamat kecil bagi setiap individu. Maka marilah kita renungkan: sudah siapkah kita?Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa mempersiapkan bekal terbaik, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” [11]Mari kita hidup bukan dengan ketakutan, tetapi dengan kesadaran dan harapan. Kesadaran bahwa hidup ini sementara, dan harapan bahwa dengan amal baik, Allah akan menerima kita dalam keadaan husnul khatimah dan memberikan kepada kita kesuksesan yang hakiki yaitu surga. Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” [12]Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari kiamat.Wallahu a’lam bishawab.Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda Kiamat***Penulis: Gazzetta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Asyratu As-Sa’ah, karya Yusuf bin Abdillah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan ketujuh, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1438 H, hal. 56-58. Disunting ulang oleh penulis. Catatan kaki:[1] QS. Al-Anbiya’: 1[2] QS. Al-Ahzab: 63[3] QS. Al-Qomar: 1[4] Diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu. Dalam riwayat lain.وقَرَنَ بَيْنَ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى“dan beliau menyandingkan jari telunjuk dan jari tengah.”[5] HR. Bukhari[6] HR. Ahmad, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”Sanadnya sahih” (An-Nihayah, 1: 194); dan Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hasan.” (Fathul Bari, 11: 350)[7] An-Nihayah, 1: 195.[8] HR. Ahmad, dan Ibnu Hajar rahimahullah berkata (Fathul Bari, 11: 348), “Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani dan sanadnya hasan.”[9] Muttafaqun ‘alaihi[10] HR. Tirmidzi[11] QS. Al-Baqarah: 197[12] QS. Ali Imran: 185
Daftar Isi ToggleDekatnya hari kiamatMempersiapkan diri untuk hari akhirSebuah renunganPertanyaan tentang kapan terjadinya hari kiamat adalah pertanyaan yang sering muncul dalam benak banyak orang. Sebagai manusia beriman, kita meyakini bahwa hari kiamat adalah suatu kepastian. Namun, Islam tidak mengajarkan kita untuk sibuk menebak tanggal dan waktunya, melainkan agar kita mempersiapkan diri menghadapinya. Lantas, bagaimana Islam memandang dekatnya hari kiamat dan apa saja tanda-tandanya?Dekatnya hari kiamatAllah ‘Azza wa Jalla telah mengisyaratkan tentang begitu dekatnya waktu kiamat di Al-Qur’an. Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan secara rinci tentang hari kiamat.Allah Ta’ala berfirman,اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka dalam kelalaian dan berpaling (darinya).” [1]Allah Ta’ala juga berfirman,يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا”Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (wahai Muhammad), boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat waktunya.” [2]Allah Ta’ala juga berfirman,اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ“Telah dekat (datangnya) hari kiamat, dan telah terbelah bulan.” [3]Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan tentang dekatnya hari akhir ini dan kemudian berpindah ke negeri yang lain, yang dimana setiap orang akan menerima apa yang telah ia perbuat. Apabila baik, maka akan mendapat balasan kebaikan. Dan apabila buruk, maka akan mendapatkan balasan keburukan.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بُعِثْتُ أنا والساعةَ هكذا، ويُشير بإصبعيه فيَمُدُّ بهما“Aku diutus (sebagai nabi) bersama datangnya kiamat seperti ini”, lalu beliau mengisyaratkan dengan dua jarinya dan merenggangkannya (sedikit). [4]Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّما أَجَلُكُم فيما خَلَا مِنَ الأُمَمِ، كَمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغْرِبِ الشَّمْسِ“Sesungguhnya umur (waktu) kalian dibandingkan dengan umat-umat sebelum kalian adalah seperti waktu antara salat Ashar sampai terbenamnya matahari.” [5]Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan, “Kami sedang duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat matahari berada di atas bukit Qa’iqi’an setelah ashar, lalu beliau bersabda,ما أعماركم في أعمار من مضى، إلّا كما بقي من النهار فيما مضى منه“Umur kalian dibandingkan dengan umur orang-orang sebelum kalian, tidaklah lain kecuali seperti sisa waktu siang dibandingkan dengan waktu siang yang telah berlalu darinya.” [6]Ibnu Katsir menjelaskan, “Ini menunjukkan bahwa apa yang tersisa (dari waktu dunia) dibandingkan dengan apa yang telah berlalu hanyalah sedikit. Namun, tidak ada yang mengetahui secara pasti berapa yang telah berlalu kecuali Allah Ta‘ala. Dan tidak ada penetapan yang sahih sanadnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ma‘shum mengenai hal itu sehingga bisa dijadikan pegangan untuk mengetahui perbandingan sisa waktu dengan waktu yang telah berlalu. Namun, yang pasti, sisa waktu itu sangat sedikit dibandingkan dengan yang telah berlalu.” [7]Tidak ada ungkapan yang lebih kuat daripada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menggambarkan dekatnya hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ جَمِيعًا، إِنْ كَادَتْ لَتَسْبِقُنِي“Aku diutus bersama dengan (datangnya) kiamat. Hampir-hampir saja kiamat mendahuluiku.” [8]Ini merupakan isyarat tentang betapa sangat dekatnya kiamat dengan masa diutusnya beliau, sampai-sampai beliau khawatir kiamat mendahuluinya karena saking dekatnya.Mempersiapkan diri untuk hari akhirAnas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan dan berkata,أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرِحْنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْSeorang arab badui bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Dia berkata, “Kapan hari kiamat akan terjadi?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang telah engkau siapkan untuk hari kiamat?”Orang itu menjawab, “Tidak ada. Hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”Beliau bersabda, “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”Anas berkata, “Belum pernah kami bahagia dengan sesuatu seperti bahagianya kami dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai.'”Anas melanjutkan, “Sungguh aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka dengan sebab kecintaanku pada mereka sekalipun aku belum beramal semisal amal mereka.” [9]Dalam hadis ini terdapat isyarat agar seorang muslim menyibukkan diri dengan perkara yang lebih bermaslahat dan bermanfaat serta tidak mempertanyakan sesuatu yang tidak berguna. Yaitu dengan menyibukkan diri dengan beramal daripada sibuk dengan menanyakan kapan terjadinya hari kiamat. Karena hari kiamat pasti terjadi.Jika kita tidak tahu kapan kiamat akan datang, apa yang seharusnya kita lakukan?Jawabannya adalah mempersiapkan bekal sebaik-baiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الكَيِّسُ مَن دان نفسَه وعمِل لما بعدَ الموتِ والعاجِزُ مَن أتبَع نفسَه هَواها وتمنَّى على اللهِ الأمانِيَّ“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah (mengharap tanpa usaha).” [10]Sebuah renunganKita mungkin tidak tahu kapan kiamat akan datang. Namun, yang pasti, kematian bisa datang kapan saja, dan itu adalah kiamat kecil bagi setiap individu. Maka marilah kita renungkan: sudah siapkah kita?Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa mempersiapkan bekal terbaik, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” [11]Mari kita hidup bukan dengan ketakutan, tetapi dengan kesadaran dan harapan. Kesadaran bahwa hidup ini sementara, dan harapan bahwa dengan amal baik, Allah akan menerima kita dalam keadaan husnul khatimah dan memberikan kepada kita kesuksesan yang hakiki yaitu surga. Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” [12]Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari kiamat.Wallahu a’lam bishawab.Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda Kiamat***Penulis: Gazzetta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Asyratu As-Sa’ah, karya Yusuf bin Abdillah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan ketujuh, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1438 H, hal. 56-58. Disunting ulang oleh penulis. Catatan kaki:[1] QS. Al-Anbiya’: 1[2] QS. Al-Ahzab: 63[3] QS. Al-Qomar: 1[4] Diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu. Dalam riwayat lain.وقَرَنَ بَيْنَ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى“dan beliau menyandingkan jari telunjuk dan jari tengah.”[5] HR. Bukhari[6] HR. Ahmad, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”Sanadnya sahih” (An-Nihayah, 1: 194); dan Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hasan.” (Fathul Bari, 11: 350)[7] An-Nihayah, 1: 195.[8] HR. Ahmad, dan Ibnu Hajar rahimahullah berkata (Fathul Bari, 11: 348), “Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani dan sanadnya hasan.”[9] Muttafaqun ‘alaihi[10] HR. Tirmidzi[11] QS. Al-Baqarah: 197[12] QS. Ali Imran: 185


Daftar Isi ToggleDekatnya hari kiamatMempersiapkan diri untuk hari akhirSebuah renunganPertanyaan tentang kapan terjadinya hari kiamat adalah pertanyaan yang sering muncul dalam benak banyak orang. Sebagai manusia beriman, kita meyakini bahwa hari kiamat adalah suatu kepastian. Namun, Islam tidak mengajarkan kita untuk sibuk menebak tanggal dan waktunya, melainkan agar kita mempersiapkan diri menghadapinya. Lantas, bagaimana Islam memandang dekatnya hari kiamat dan apa saja tanda-tandanya?Dekatnya hari kiamatAllah ‘Azza wa Jalla telah mengisyaratkan tentang begitu dekatnya waktu kiamat di Al-Qur’an. Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan secara rinci tentang hari kiamat.Allah Ta’ala berfirman,اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka dalam kelalaian dan berpaling (darinya).” [1]Allah Ta’ala juga berfirman,يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا”Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (wahai Muhammad), boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat waktunya.” [2]Allah Ta’ala juga berfirman,اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ“Telah dekat (datangnya) hari kiamat, dan telah terbelah bulan.” [3]Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan tentang dekatnya hari akhir ini dan kemudian berpindah ke negeri yang lain, yang dimana setiap orang akan menerima apa yang telah ia perbuat. Apabila baik, maka akan mendapat balasan kebaikan. Dan apabila buruk, maka akan mendapatkan balasan keburukan.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بُعِثْتُ أنا والساعةَ هكذا، ويُشير بإصبعيه فيَمُدُّ بهما“Aku diutus (sebagai nabi) bersama datangnya kiamat seperti ini”, lalu beliau mengisyaratkan dengan dua jarinya dan merenggangkannya (sedikit). [4]Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّما أَجَلُكُم فيما خَلَا مِنَ الأُمَمِ، كَمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغْرِبِ الشَّمْسِ“Sesungguhnya umur (waktu) kalian dibandingkan dengan umat-umat sebelum kalian adalah seperti waktu antara salat Ashar sampai terbenamnya matahari.” [5]Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan, “Kami sedang duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat matahari berada di atas bukit Qa’iqi’an setelah ashar, lalu beliau bersabda,ما أعماركم في أعمار من مضى، إلّا كما بقي من النهار فيما مضى منه“Umur kalian dibandingkan dengan umur orang-orang sebelum kalian, tidaklah lain kecuali seperti sisa waktu siang dibandingkan dengan waktu siang yang telah berlalu darinya.” [6]Ibnu Katsir menjelaskan, “Ini menunjukkan bahwa apa yang tersisa (dari waktu dunia) dibandingkan dengan apa yang telah berlalu hanyalah sedikit. Namun, tidak ada yang mengetahui secara pasti berapa yang telah berlalu kecuali Allah Ta‘ala. Dan tidak ada penetapan yang sahih sanadnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ma‘shum mengenai hal itu sehingga bisa dijadikan pegangan untuk mengetahui perbandingan sisa waktu dengan waktu yang telah berlalu. Namun, yang pasti, sisa waktu itu sangat sedikit dibandingkan dengan yang telah berlalu.” [7]Tidak ada ungkapan yang lebih kuat daripada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menggambarkan dekatnya hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ جَمِيعًا، إِنْ كَادَتْ لَتَسْبِقُنِي“Aku diutus bersama dengan (datangnya) kiamat. Hampir-hampir saja kiamat mendahuluiku.” [8]Ini merupakan isyarat tentang betapa sangat dekatnya kiamat dengan masa diutusnya beliau, sampai-sampai beliau khawatir kiamat mendahuluinya karena saking dekatnya.Mempersiapkan diri untuk hari akhirAnas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan dan berkata,أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرِحْنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْSeorang arab badui bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Dia berkata, “Kapan hari kiamat akan terjadi?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang telah engkau siapkan untuk hari kiamat?”Orang itu menjawab, “Tidak ada. Hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”Beliau bersabda, “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”Anas berkata, “Belum pernah kami bahagia dengan sesuatu seperti bahagianya kami dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai.'”Anas melanjutkan, “Sungguh aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka dengan sebab kecintaanku pada mereka sekalipun aku belum beramal semisal amal mereka.” [9]Dalam hadis ini terdapat isyarat agar seorang muslim menyibukkan diri dengan perkara yang lebih bermaslahat dan bermanfaat serta tidak mempertanyakan sesuatu yang tidak berguna. Yaitu dengan menyibukkan diri dengan beramal daripada sibuk dengan menanyakan kapan terjadinya hari kiamat. Karena hari kiamat pasti terjadi.Jika kita tidak tahu kapan kiamat akan datang, apa yang seharusnya kita lakukan?Jawabannya adalah mempersiapkan bekal sebaik-baiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الكَيِّسُ مَن دان نفسَه وعمِل لما بعدَ الموتِ والعاجِزُ مَن أتبَع نفسَه هَواها وتمنَّى على اللهِ الأمانِيَّ“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah (mengharap tanpa usaha).” [10]Sebuah renunganKita mungkin tidak tahu kapan kiamat akan datang. Namun, yang pasti, kematian bisa datang kapan saja, dan itu adalah kiamat kecil bagi setiap individu. Maka marilah kita renungkan: sudah siapkah kita?Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa mempersiapkan bekal terbaik, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” [11]Mari kita hidup bukan dengan ketakutan, tetapi dengan kesadaran dan harapan. Kesadaran bahwa hidup ini sementara, dan harapan bahwa dengan amal baik, Allah akan menerima kita dalam keadaan husnul khatimah dan memberikan kepada kita kesuksesan yang hakiki yaitu surga. Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” [12]Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari kiamat.Wallahu a’lam bishawab.Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda Kiamat***Penulis: Gazzetta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Asyratu As-Sa’ah, karya Yusuf bin Abdillah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan ketujuh, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1438 H, hal. 56-58. Disunting ulang oleh penulis. Catatan kaki:[1] QS. Al-Anbiya’: 1[2] QS. Al-Ahzab: 63[3] QS. Al-Qomar: 1[4] Diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu. Dalam riwayat lain.وقَرَنَ بَيْنَ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى“dan beliau menyandingkan jari telunjuk dan jari tengah.”[5] HR. Bukhari[6] HR. Ahmad, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”Sanadnya sahih” (An-Nihayah, 1: 194); dan Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hasan.” (Fathul Bari, 11: 350)[7] An-Nihayah, 1: 195.[8] HR. Ahmad, dan Ibnu Hajar rahimahullah berkata (Fathul Bari, 11: 348), “Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani dan sanadnya hasan.”[9] Muttafaqun ‘alaihi[10] HR. Tirmidzi[11] QS. Al-Baqarah: 197[12] QS. Ali Imran: 185

Ayo Berdoa: Tidak Ada Doa yang Sia-Sia di Sisi Allah – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Tidak ada doa yang akan sia-sia di sisi Allah. Allah bisa mengabulkan permintaannya, menghindarkannya dari keburukan yang setara, atau menyimpan doa itu untuknya pada Hari Kiamat. Namun, manusia lemah lagi terbatas, hanya ingin keinginannya segera terkabul. Padahal bisa jadi, ada hal lain justru lebih penting daripada yang ia minta. Banyak orang berkata, “Saya sudah berdoa dua atau tiga tahun…” “Saya sudah berdoa empat atau lima tahun.” “Aku berdoa terus, tapi doaku tidak juga dikabulkan.” Jangan katakan, “Doaku tidak dikabulkan,” karena kamu tidak tahu hakikatnya. Jangan menuduh Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi tuduhlah dirimu sendiri. Tuduhlah dirimu, kelalaianmu, dan lemahnya imanmu. Karena sesuatu tidak terjadi kecuali dengan adanya sebab dan hilangnya penghalang. Sebabnya sudah ada, yaitu doa. Namun bisa jadi ada penghalang yang menghalangi terkabulnya. Nabi menyebutkan seorang lelaki yang lama bersafar, rambutnya kusut dan berdebu, ia mengangkat kedua tangannya, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram. Asupan makanannya dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan? Hadis ini, sebagaimana dijelaskan para ulama, tidak berarti doanya pasti tidak dikabulkan, tetapi menunjukkan bahwa doanya sulit untuk dikabulkan. Namun, mungkin saja Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mengabulkan doanya, karena Allah pun mengabulkan doa orang kafir apabila ia berdoa dengan merendahkan diri kepada-Nya, dan berdoa dengan ikhlas hanya kepada-Nya. Kesimpulannya, manusia hendaknya berdoa dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus, meskipun sepanjang hidupnya untuk suatu keperluan. Ia tetap beruntung dalam keadaan apa pun. Jika doanya dikabulkan di dunia, itu baik. Jika tidak, maka bisa jadi dikabulkan pada Hari Kiamat, saat ia lebih memerlukannya daripada jika ia diberi di dunia. Hendaklah ia menghayati nama Allah Al-Hakim (Maha Bijaksana). Yang Maha Bijaksana, menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Sedangkan engkau, wahai manusia, apa kebijaksanaan yang engkau miliki? Bisa jadi, di antara kebijaksanaan-Nya adalah mengabulkan doamu. Bisa jadi pula di antara kebijaksanaan-Nya adalah tidak mengabulkan doamu. Karena kebaikan bagimu bukanlah dengan mendapatkan semua yang kamu inginkan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 216). Terkadang manusia menyukai sesuatu, padahal itu buruk baginya. Sehingga Allah menjauhkannya darinya, sebagai bentuk rahmat baginya. Allah Yang Maha Bijaksana menetapkan segala hal sesuai kebijaksanaan-Nya. ===== وَلَنْ يَضِيعَ عِنْدَهُ دُعَاءٌ أَبَدًا فَإِمَّا أَنْ يُجِيبَ طِلْبَتَهُ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ الشَّرِّ مِثْلَهَا وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَكِنَّ الْإِنْسَانَ ضَعِيفٌ مِسْكِينٌ يُرِيدُ حَاجَتَهُ الَّتِي يُرِيدُ وَقَدْ يَكُونُ غَيْرُهَا أَهَمَّ مِنْهَا فَمَا يَقُولُ الْإِنْسَانُ أَنَا دَعَوْتُ مِنْ سَنَتَيْنِ ثَلَاثَةٍ يَقُولُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ هَكَذَا أَنَا دَعَوْتُ لِأَرْبَعِ سِنِينَ خَمْسَ سِنِينَ وَأَنَا أَدْعُو وَمَا اُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتِي لَا تَقُولُ مَا اُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتِي أَنْتَ لَا تَعْلَمُ فَلَا تَتَّهِمِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بَلِ اتَّهِمْ نَفْسَكَ اتَّهِمْ نَفْسَكَ وَتَقْصِيرَكَ وَإِيْمَانَكَ لِأَنَّ الشَّيْءَ مَا يَحْصُلُ إِلَّا بِوُجُودِ أَسْبَابِهِ وَانْتِفَاءِ مَوَانِعِهِ وُجِدَ مِنْكَ السَّبَبُ وَهُوَ الدُّعَاءُ لَكِنْ قَدْ تَكُونُ هُنَاكَ مَوَانِعُ مَنَعَتِ الْإِجَابَةَ وَذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثُ أَغْبَرُ يَمُدُّ يَدَيْهِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ يَعْنِي كَيْفَ يُسْتَجَابُ لَهُ؟ وَالْحَدِيثُ كَمَا يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ لَيْسَ فِيهِ أَنَّهُ لَا يُسْتَجَابُ لَهُ لَكِنْ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ اسْتِبْعَادٍ أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ وَلَكِنْ قَدْ يَسْتَجِيبُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ وَهُوَ الْمُسْتَجِيبُ مِنَ الْكَافِرِ إِذَا دَعَاهُ وَتَضَرَّعَ عَلَيْهِ وَأَخْلَصَ فِي دَعْوَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَدْعُو وَيَجْتَهِدُ وَيَسْتَمِرُّ وَلَوْ طِيلَةَ عُمْرِهِ فِي طَلَبِ الْحَاجَةِ لَهُ فَهُوَ غَانِمٌ وَرَابِحٌ بِكُلِّ حَالٍ إِنْ حَصَلَتْ دَعْوَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَإِلَّا فَقَدْ تَكُونُ الْإِجَابَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَكُونُ أَحْوَجَ إِلَيْهَا مِمَّا لَوْ أُعْطِيَهَا فِي الدُّنْيَا وَلْيَسْتَشْعِرْ اسْمَ اللَّهِ الْحَكِيمَ حَكِيْمٌ يَضَعُ أَشْيَاءَ فِي مَوْضِعِهِ مَاذَا عِنْدَكَ أَنْتَ أَيُّهَا الإِنْسَانُ مِنَ الْحِكْمَةِ؟ قَدْ يَكُونُ مِنْ حِكْمَتِهِ أَنْ يُجِيْبَ دَعَوْتَكَ وَقَدْ يَكُونُ مِنْ حِكْمَتِهِ عَزَّ وَجَلَّ أَلَّا يُجِيبَهَا وَأَلَّا يَكُونَ الْخَيْرُ لَكَ فِي مَاذَا؟ فِي حُصُولِ مَا تُرِيدُ كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ الْإِنْسَانُ يُحِبُّ الْإِنْسَانُ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَهُ فَيَصْرِفُهُ اللَّهُ عَنْهُ رَحْمَةً بِهِ فَالْحَكِيمُ يَقْضِي بِحِكْمَتِهِ سُبْحَانَه وَبِحَمْدِهِ

Ayo Berdoa: Tidak Ada Doa yang Sia-Sia di Sisi Allah – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Tidak ada doa yang akan sia-sia di sisi Allah. Allah bisa mengabulkan permintaannya, menghindarkannya dari keburukan yang setara, atau menyimpan doa itu untuknya pada Hari Kiamat. Namun, manusia lemah lagi terbatas, hanya ingin keinginannya segera terkabul. Padahal bisa jadi, ada hal lain justru lebih penting daripada yang ia minta. Banyak orang berkata, “Saya sudah berdoa dua atau tiga tahun…” “Saya sudah berdoa empat atau lima tahun.” “Aku berdoa terus, tapi doaku tidak juga dikabulkan.” Jangan katakan, “Doaku tidak dikabulkan,” karena kamu tidak tahu hakikatnya. Jangan menuduh Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi tuduhlah dirimu sendiri. Tuduhlah dirimu, kelalaianmu, dan lemahnya imanmu. Karena sesuatu tidak terjadi kecuali dengan adanya sebab dan hilangnya penghalang. Sebabnya sudah ada, yaitu doa. Namun bisa jadi ada penghalang yang menghalangi terkabulnya. Nabi menyebutkan seorang lelaki yang lama bersafar, rambutnya kusut dan berdebu, ia mengangkat kedua tangannya, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram. Asupan makanannya dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan? Hadis ini, sebagaimana dijelaskan para ulama, tidak berarti doanya pasti tidak dikabulkan, tetapi menunjukkan bahwa doanya sulit untuk dikabulkan. Namun, mungkin saja Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mengabulkan doanya, karena Allah pun mengabulkan doa orang kafir apabila ia berdoa dengan merendahkan diri kepada-Nya, dan berdoa dengan ikhlas hanya kepada-Nya. Kesimpulannya, manusia hendaknya berdoa dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus, meskipun sepanjang hidupnya untuk suatu keperluan. Ia tetap beruntung dalam keadaan apa pun. Jika doanya dikabulkan di dunia, itu baik. Jika tidak, maka bisa jadi dikabulkan pada Hari Kiamat, saat ia lebih memerlukannya daripada jika ia diberi di dunia. Hendaklah ia menghayati nama Allah Al-Hakim (Maha Bijaksana). Yang Maha Bijaksana, menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Sedangkan engkau, wahai manusia, apa kebijaksanaan yang engkau miliki? Bisa jadi, di antara kebijaksanaan-Nya adalah mengabulkan doamu. Bisa jadi pula di antara kebijaksanaan-Nya adalah tidak mengabulkan doamu. Karena kebaikan bagimu bukanlah dengan mendapatkan semua yang kamu inginkan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 216). Terkadang manusia menyukai sesuatu, padahal itu buruk baginya. Sehingga Allah menjauhkannya darinya, sebagai bentuk rahmat baginya. Allah Yang Maha Bijaksana menetapkan segala hal sesuai kebijaksanaan-Nya. ===== وَلَنْ يَضِيعَ عِنْدَهُ دُعَاءٌ أَبَدًا فَإِمَّا أَنْ يُجِيبَ طِلْبَتَهُ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ الشَّرِّ مِثْلَهَا وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَكِنَّ الْإِنْسَانَ ضَعِيفٌ مِسْكِينٌ يُرِيدُ حَاجَتَهُ الَّتِي يُرِيدُ وَقَدْ يَكُونُ غَيْرُهَا أَهَمَّ مِنْهَا فَمَا يَقُولُ الْإِنْسَانُ أَنَا دَعَوْتُ مِنْ سَنَتَيْنِ ثَلَاثَةٍ يَقُولُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ هَكَذَا أَنَا دَعَوْتُ لِأَرْبَعِ سِنِينَ خَمْسَ سِنِينَ وَأَنَا أَدْعُو وَمَا اُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتِي لَا تَقُولُ مَا اُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتِي أَنْتَ لَا تَعْلَمُ فَلَا تَتَّهِمِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بَلِ اتَّهِمْ نَفْسَكَ اتَّهِمْ نَفْسَكَ وَتَقْصِيرَكَ وَإِيْمَانَكَ لِأَنَّ الشَّيْءَ مَا يَحْصُلُ إِلَّا بِوُجُودِ أَسْبَابِهِ وَانْتِفَاءِ مَوَانِعِهِ وُجِدَ مِنْكَ السَّبَبُ وَهُوَ الدُّعَاءُ لَكِنْ قَدْ تَكُونُ هُنَاكَ مَوَانِعُ مَنَعَتِ الْإِجَابَةَ وَذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثُ أَغْبَرُ يَمُدُّ يَدَيْهِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ يَعْنِي كَيْفَ يُسْتَجَابُ لَهُ؟ وَالْحَدِيثُ كَمَا يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ لَيْسَ فِيهِ أَنَّهُ لَا يُسْتَجَابُ لَهُ لَكِنْ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ اسْتِبْعَادٍ أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ وَلَكِنْ قَدْ يَسْتَجِيبُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ وَهُوَ الْمُسْتَجِيبُ مِنَ الْكَافِرِ إِذَا دَعَاهُ وَتَضَرَّعَ عَلَيْهِ وَأَخْلَصَ فِي دَعْوَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَدْعُو وَيَجْتَهِدُ وَيَسْتَمِرُّ وَلَوْ طِيلَةَ عُمْرِهِ فِي طَلَبِ الْحَاجَةِ لَهُ فَهُوَ غَانِمٌ وَرَابِحٌ بِكُلِّ حَالٍ إِنْ حَصَلَتْ دَعْوَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَإِلَّا فَقَدْ تَكُونُ الْإِجَابَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَكُونُ أَحْوَجَ إِلَيْهَا مِمَّا لَوْ أُعْطِيَهَا فِي الدُّنْيَا وَلْيَسْتَشْعِرْ اسْمَ اللَّهِ الْحَكِيمَ حَكِيْمٌ يَضَعُ أَشْيَاءَ فِي مَوْضِعِهِ مَاذَا عِنْدَكَ أَنْتَ أَيُّهَا الإِنْسَانُ مِنَ الْحِكْمَةِ؟ قَدْ يَكُونُ مِنْ حِكْمَتِهِ أَنْ يُجِيْبَ دَعَوْتَكَ وَقَدْ يَكُونُ مِنْ حِكْمَتِهِ عَزَّ وَجَلَّ أَلَّا يُجِيبَهَا وَأَلَّا يَكُونَ الْخَيْرُ لَكَ فِي مَاذَا؟ فِي حُصُولِ مَا تُرِيدُ كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ الْإِنْسَانُ يُحِبُّ الْإِنْسَانُ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَهُ فَيَصْرِفُهُ اللَّهُ عَنْهُ رَحْمَةً بِهِ فَالْحَكِيمُ يَقْضِي بِحِكْمَتِهِ سُبْحَانَه وَبِحَمْدِهِ
Tidak ada doa yang akan sia-sia di sisi Allah. Allah bisa mengabulkan permintaannya, menghindarkannya dari keburukan yang setara, atau menyimpan doa itu untuknya pada Hari Kiamat. Namun, manusia lemah lagi terbatas, hanya ingin keinginannya segera terkabul. Padahal bisa jadi, ada hal lain justru lebih penting daripada yang ia minta. Banyak orang berkata, “Saya sudah berdoa dua atau tiga tahun…” “Saya sudah berdoa empat atau lima tahun.” “Aku berdoa terus, tapi doaku tidak juga dikabulkan.” Jangan katakan, “Doaku tidak dikabulkan,” karena kamu tidak tahu hakikatnya. Jangan menuduh Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi tuduhlah dirimu sendiri. Tuduhlah dirimu, kelalaianmu, dan lemahnya imanmu. Karena sesuatu tidak terjadi kecuali dengan adanya sebab dan hilangnya penghalang. Sebabnya sudah ada, yaitu doa. Namun bisa jadi ada penghalang yang menghalangi terkabulnya. Nabi menyebutkan seorang lelaki yang lama bersafar, rambutnya kusut dan berdebu, ia mengangkat kedua tangannya, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram. Asupan makanannya dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan? Hadis ini, sebagaimana dijelaskan para ulama, tidak berarti doanya pasti tidak dikabulkan, tetapi menunjukkan bahwa doanya sulit untuk dikabulkan. Namun, mungkin saja Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mengabulkan doanya, karena Allah pun mengabulkan doa orang kafir apabila ia berdoa dengan merendahkan diri kepada-Nya, dan berdoa dengan ikhlas hanya kepada-Nya. Kesimpulannya, manusia hendaknya berdoa dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus, meskipun sepanjang hidupnya untuk suatu keperluan. Ia tetap beruntung dalam keadaan apa pun. Jika doanya dikabulkan di dunia, itu baik. Jika tidak, maka bisa jadi dikabulkan pada Hari Kiamat, saat ia lebih memerlukannya daripada jika ia diberi di dunia. Hendaklah ia menghayati nama Allah Al-Hakim (Maha Bijaksana). Yang Maha Bijaksana, menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Sedangkan engkau, wahai manusia, apa kebijaksanaan yang engkau miliki? Bisa jadi, di antara kebijaksanaan-Nya adalah mengabulkan doamu. Bisa jadi pula di antara kebijaksanaan-Nya adalah tidak mengabulkan doamu. Karena kebaikan bagimu bukanlah dengan mendapatkan semua yang kamu inginkan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 216). Terkadang manusia menyukai sesuatu, padahal itu buruk baginya. Sehingga Allah menjauhkannya darinya, sebagai bentuk rahmat baginya. Allah Yang Maha Bijaksana menetapkan segala hal sesuai kebijaksanaan-Nya. ===== وَلَنْ يَضِيعَ عِنْدَهُ دُعَاءٌ أَبَدًا فَإِمَّا أَنْ يُجِيبَ طِلْبَتَهُ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ الشَّرِّ مِثْلَهَا وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَكِنَّ الْإِنْسَانَ ضَعِيفٌ مِسْكِينٌ يُرِيدُ حَاجَتَهُ الَّتِي يُرِيدُ وَقَدْ يَكُونُ غَيْرُهَا أَهَمَّ مِنْهَا فَمَا يَقُولُ الْإِنْسَانُ أَنَا دَعَوْتُ مِنْ سَنَتَيْنِ ثَلَاثَةٍ يَقُولُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ هَكَذَا أَنَا دَعَوْتُ لِأَرْبَعِ سِنِينَ خَمْسَ سِنِينَ وَأَنَا أَدْعُو وَمَا اُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتِي لَا تَقُولُ مَا اُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتِي أَنْتَ لَا تَعْلَمُ فَلَا تَتَّهِمِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بَلِ اتَّهِمْ نَفْسَكَ اتَّهِمْ نَفْسَكَ وَتَقْصِيرَكَ وَإِيْمَانَكَ لِأَنَّ الشَّيْءَ مَا يَحْصُلُ إِلَّا بِوُجُودِ أَسْبَابِهِ وَانْتِفَاءِ مَوَانِعِهِ وُجِدَ مِنْكَ السَّبَبُ وَهُوَ الدُّعَاءُ لَكِنْ قَدْ تَكُونُ هُنَاكَ مَوَانِعُ مَنَعَتِ الْإِجَابَةَ وَذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثُ أَغْبَرُ يَمُدُّ يَدَيْهِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ يَعْنِي كَيْفَ يُسْتَجَابُ لَهُ؟ وَالْحَدِيثُ كَمَا يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ لَيْسَ فِيهِ أَنَّهُ لَا يُسْتَجَابُ لَهُ لَكِنْ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ اسْتِبْعَادٍ أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ وَلَكِنْ قَدْ يَسْتَجِيبُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ وَهُوَ الْمُسْتَجِيبُ مِنَ الْكَافِرِ إِذَا دَعَاهُ وَتَضَرَّعَ عَلَيْهِ وَأَخْلَصَ فِي دَعْوَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَدْعُو وَيَجْتَهِدُ وَيَسْتَمِرُّ وَلَوْ طِيلَةَ عُمْرِهِ فِي طَلَبِ الْحَاجَةِ لَهُ فَهُوَ غَانِمٌ وَرَابِحٌ بِكُلِّ حَالٍ إِنْ حَصَلَتْ دَعْوَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَإِلَّا فَقَدْ تَكُونُ الْإِجَابَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَكُونُ أَحْوَجَ إِلَيْهَا مِمَّا لَوْ أُعْطِيَهَا فِي الدُّنْيَا وَلْيَسْتَشْعِرْ اسْمَ اللَّهِ الْحَكِيمَ حَكِيْمٌ يَضَعُ أَشْيَاءَ فِي مَوْضِعِهِ مَاذَا عِنْدَكَ أَنْتَ أَيُّهَا الإِنْسَانُ مِنَ الْحِكْمَةِ؟ قَدْ يَكُونُ مِنْ حِكْمَتِهِ أَنْ يُجِيْبَ دَعَوْتَكَ وَقَدْ يَكُونُ مِنْ حِكْمَتِهِ عَزَّ وَجَلَّ أَلَّا يُجِيبَهَا وَأَلَّا يَكُونَ الْخَيْرُ لَكَ فِي مَاذَا؟ فِي حُصُولِ مَا تُرِيدُ كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ الْإِنْسَانُ يُحِبُّ الْإِنْسَانُ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَهُ فَيَصْرِفُهُ اللَّهُ عَنْهُ رَحْمَةً بِهِ فَالْحَكِيمُ يَقْضِي بِحِكْمَتِهِ سُبْحَانَه وَبِحَمْدِهِ


Tidak ada doa yang akan sia-sia di sisi Allah. Allah bisa mengabulkan permintaannya, menghindarkannya dari keburukan yang setara, atau menyimpan doa itu untuknya pada Hari Kiamat. Namun, manusia lemah lagi terbatas, hanya ingin keinginannya segera terkabul. Padahal bisa jadi, ada hal lain justru lebih penting daripada yang ia minta. Banyak orang berkata, “Saya sudah berdoa dua atau tiga tahun…” “Saya sudah berdoa empat atau lima tahun.” “Aku berdoa terus, tapi doaku tidak juga dikabulkan.” Jangan katakan, “Doaku tidak dikabulkan,” karena kamu tidak tahu hakikatnya. Jangan menuduh Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi tuduhlah dirimu sendiri. Tuduhlah dirimu, kelalaianmu, dan lemahnya imanmu. Karena sesuatu tidak terjadi kecuali dengan adanya sebab dan hilangnya penghalang. Sebabnya sudah ada, yaitu doa. Namun bisa jadi ada penghalang yang menghalangi terkabulnya. Nabi menyebutkan seorang lelaki yang lama bersafar, rambutnya kusut dan berdebu, ia mengangkat kedua tangannya, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram. Asupan makanannya dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan? Hadis ini, sebagaimana dijelaskan para ulama, tidak berarti doanya pasti tidak dikabulkan, tetapi menunjukkan bahwa doanya sulit untuk dikabulkan. Namun, mungkin saja Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mengabulkan doanya, karena Allah pun mengabulkan doa orang kafir apabila ia berdoa dengan merendahkan diri kepada-Nya, dan berdoa dengan ikhlas hanya kepada-Nya. Kesimpulannya, manusia hendaknya berdoa dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus, meskipun sepanjang hidupnya untuk suatu keperluan. Ia tetap beruntung dalam keadaan apa pun. Jika doanya dikabulkan di dunia, itu baik. Jika tidak, maka bisa jadi dikabulkan pada Hari Kiamat, saat ia lebih memerlukannya daripada jika ia diberi di dunia. Hendaklah ia menghayati nama Allah Al-Hakim (Maha Bijaksana). Yang Maha Bijaksana, menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Sedangkan engkau, wahai manusia, apa kebijaksanaan yang engkau miliki? Bisa jadi, di antara kebijaksanaan-Nya adalah mengabulkan doamu. Bisa jadi pula di antara kebijaksanaan-Nya adalah tidak mengabulkan doamu. Karena kebaikan bagimu bukanlah dengan mendapatkan semua yang kamu inginkan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 216). Terkadang manusia menyukai sesuatu, padahal itu buruk baginya. Sehingga Allah menjauhkannya darinya, sebagai bentuk rahmat baginya. Allah Yang Maha Bijaksana menetapkan segala hal sesuai kebijaksanaan-Nya. ===== وَلَنْ يَضِيعَ عِنْدَهُ دُعَاءٌ أَبَدًا فَإِمَّا أَنْ يُجِيبَ طِلْبَتَهُ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ الشَّرِّ مِثْلَهَا وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَكِنَّ الْإِنْسَانَ ضَعِيفٌ مِسْكِينٌ يُرِيدُ حَاجَتَهُ الَّتِي يُرِيدُ وَقَدْ يَكُونُ غَيْرُهَا أَهَمَّ مِنْهَا فَمَا يَقُولُ الْإِنْسَانُ أَنَا دَعَوْتُ مِنْ سَنَتَيْنِ ثَلَاثَةٍ يَقُولُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ هَكَذَا أَنَا دَعَوْتُ لِأَرْبَعِ سِنِينَ خَمْسَ سِنِينَ وَأَنَا أَدْعُو وَمَا اُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتِي لَا تَقُولُ مَا اُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتِي أَنْتَ لَا تَعْلَمُ فَلَا تَتَّهِمِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بَلِ اتَّهِمْ نَفْسَكَ اتَّهِمْ نَفْسَكَ وَتَقْصِيرَكَ وَإِيْمَانَكَ لِأَنَّ الشَّيْءَ مَا يَحْصُلُ إِلَّا بِوُجُودِ أَسْبَابِهِ وَانْتِفَاءِ مَوَانِعِهِ وُجِدَ مِنْكَ السَّبَبُ وَهُوَ الدُّعَاءُ لَكِنْ قَدْ تَكُونُ هُنَاكَ مَوَانِعُ مَنَعَتِ الْإِجَابَةَ وَذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثُ أَغْبَرُ يَمُدُّ يَدَيْهِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ يَعْنِي كَيْفَ يُسْتَجَابُ لَهُ؟ وَالْحَدِيثُ كَمَا يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ لَيْسَ فِيهِ أَنَّهُ لَا يُسْتَجَابُ لَهُ لَكِنْ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ اسْتِبْعَادٍ أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ وَلَكِنْ قَدْ يَسْتَجِيبُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ وَهُوَ الْمُسْتَجِيبُ مِنَ الْكَافِرِ إِذَا دَعَاهُ وَتَضَرَّعَ عَلَيْهِ وَأَخْلَصَ فِي دَعْوَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَدْعُو وَيَجْتَهِدُ وَيَسْتَمِرُّ وَلَوْ طِيلَةَ عُمْرِهِ فِي طَلَبِ الْحَاجَةِ لَهُ فَهُوَ غَانِمٌ وَرَابِحٌ بِكُلِّ حَالٍ إِنْ حَصَلَتْ دَعْوَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَإِلَّا فَقَدْ تَكُونُ الْإِجَابَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَكُونُ أَحْوَجَ إِلَيْهَا مِمَّا لَوْ أُعْطِيَهَا فِي الدُّنْيَا وَلْيَسْتَشْعِرْ اسْمَ اللَّهِ الْحَكِيمَ حَكِيْمٌ يَضَعُ أَشْيَاءَ فِي مَوْضِعِهِ مَاذَا عِنْدَكَ أَنْتَ أَيُّهَا الإِنْسَانُ مِنَ الْحِكْمَةِ؟ قَدْ يَكُونُ مِنْ حِكْمَتِهِ أَنْ يُجِيْبَ دَعَوْتَكَ وَقَدْ يَكُونُ مِنْ حِكْمَتِهِ عَزَّ وَجَلَّ أَلَّا يُجِيبَهَا وَأَلَّا يَكُونَ الْخَيْرُ لَكَ فِي مَاذَا؟ فِي حُصُولِ مَا تُرِيدُ كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ الْإِنْسَانُ يُحِبُّ الْإِنْسَانُ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَهُ فَيَصْرِفُهُ اللَّهُ عَنْهُ رَحْمَةً بِهِ فَالْحَكِيمُ يَقْضِي بِحِكْمَتِهِ سُبْحَانَه وَبِحَمْدِهِ

Ciri Hati yang Bersih (Qolbun Salim) – Syaikh Shalih as-Sindi #NasehatUlama

Pemilik hati yang bersih (Qolbun Salim) adalah orang yang menerima takdir Allah ‘Azza wa Jalla, tidak protes dan tidak pula murka. Demi Allah, mustahil hatimu menjadi bersih, jika Anda murka dengan takdir Allah ‘Azza wa Jalla yang terasa menyakitkan ketika menimpa Anda. Ingat baik-baik kaidah ini: Buruknya hati selalu terkait dengan kemurkaan terhadap takdir, dan baiknya hati selalu terkait dengan keridaan terhadap takdir. ===== صَاحِبُ الْقَلْبِ السَّلِيمِ هُوَ الَّذِي اسْتَسْلَمَ لِقَدَرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَمْ يُنَازِعْ وَلَمْ يَتَسَخَّطْ وَاللهِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَسْلَمَ قَلْبُكَ وَأَنْتَ تَتَسَخَّطُ أَقْدَارَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمُؤْلِمَةَ إِذَا نَزَلَتْ بِكَ احْفَظْهَا قَاعِدَةً خُبْثُ الْقَلْبِ قَرِينُ تَسَخُّطِ الْقَدَرِ وَسَلَامَةُ الْقَلْبِ قَرِينُ الرِّضَا بِالْقَدَرِ

Ciri Hati yang Bersih (Qolbun Salim) – Syaikh Shalih as-Sindi #NasehatUlama

Pemilik hati yang bersih (Qolbun Salim) adalah orang yang menerima takdir Allah ‘Azza wa Jalla, tidak protes dan tidak pula murka. Demi Allah, mustahil hatimu menjadi bersih, jika Anda murka dengan takdir Allah ‘Azza wa Jalla yang terasa menyakitkan ketika menimpa Anda. Ingat baik-baik kaidah ini: Buruknya hati selalu terkait dengan kemurkaan terhadap takdir, dan baiknya hati selalu terkait dengan keridaan terhadap takdir. ===== صَاحِبُ الْقَلْبِ السَّلِيمِ هُوَ الَّذِي اسْتَسْلَمَ لِقَدَرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَمْ يُنَازِعْ وَلَمْ يَتَسَخَّطْ وَاللهِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَسْلَمَ قَلْبُكَ وَأَنْتَ تَتَسَخَّطُ أَقْدَارَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمُؤْلِمَةَ إِذَا نَزَلَتْ بِكَ احْفَظْهَا قَاعِدَةً خُبْثُ الْقَلْبِ قَرِينُ تَسَخُّطِ الْقَدَرِ وَسَلَامَةُ الْقَلْبِ قَرِينُ الرِّضَا بِالْقَدَرِ
Pemilik hati yang bersih (Qolbun Salim) adalah orang yang menerima takdir Allah ‘Azza wa Jalla, tidak protes dan tidak pula murka. Demi Allah, mustahil hatimu menjadi bersih, jika Anda murka dengan takdir Allah ‘Azza wa Jalla yang terasa menyakitkan ketika menimpa Anda. Ingat baik-baik kaidah ini: Buruknya hati selalu terkait dengan kemurkaan terhadap takdir, dan baiknya hati selalu terkait dengan keridaan terhadap takdir. ===== صَاحِبُ الْقَلْبِ السَّلِيمِ هُوَ الَّذِي اسْتَسْلَمَ لِقَدَرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَمْ يُنَازِعْ وَلَمْ يَتَسَخَّطْ وَاللهِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَسْلَمَ قَلْبُكَ وَأَنْتَ تَتَسَخَّطُ أَقْدَارَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمُؤْلِمَةَ إِذَا نَزَلَتْ بِكَ احْفَظْهَا قَاعِدَةً خُبْثُ الْقَلْبِ قَرِينُ تَسَخُّطِ الْقَدَرِ وَسَلَامَةُ الْقَلْبِ قَرِينُ الرِّضَا بِالْقَدَرِ


Pemilik hati yang bersih (Qolbun Salim) adalah orang yang menerima takdir Allah ‘Azza wa Jalla, tidak protes dan tidak pula murka. Demi Allah, mustahil hatimu menjadi bersih, jika Anda murka dengan takdir Allah ‘Azza wa Jalla yang terasa menyakitkan ketika menimpa Anda. Ingat baik-baik kaidah ini: Buruknya hati selalu terkait dengan kemurkaan terhadap takdir, dan baiknya hati selalu terkait dengan keridaan terhadap takdir. ===== صَاحِبُ الْقَلْبِ السَّلِيمِ هُوَ الَّذِي اسْتَسْلَمَ لِقَدَرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَمْ يُنَازِعْ وَلَمْ يَتَسَخَّطْ وَاللهِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَسْلَمَ قَلْبُكَ وَأَنْتَ تَتَسَخَّطُ أَقْدَارَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمُؤْلِمَةَ إِذَا نَزَلَتْ بِكَ احْفَظْهَا قَاعِدَةً خُبْثُ الْقَلْبِ قَرِينُ تَسَخُّطِ الْقَدَرِ وَسَلَامَةُ الْقَلْبِ قَرِينُ الرِّضَا بِالْقَدَرِ

Faidah Surah Al-Qashash Ayat 26: Kriteria Pekerja (Karyawan) Ideal Menurut Syariat

Daftar Isi TogglePertama, al-qawiy (kuat)Kedua, al-amin (amanah)Antara kuat dan amanah, mana yang lebih penting?Sebuah renunganManusia adalah makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup sendirian, meskipun ia memiliki harta melimpah dan kekuasaan yang besar. Dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan, seseorang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.Dalam dunia kerja, tidak sedikit usaha atau bisnis yang runtuh, bukan karena kekurangan modal atau strategi yang kurang handal, tetapi karena kesalahan dalam memilih orang yang dipercaya untuk bekerja bersama. Betapa banyak perusahaan yang bangkrut karena karyawan yang tidak jujur. Betapa banyak pemimpin yang menyesal karena salah menilai bawahannya. Bahkan, tak jarang, hubungan bisnis hancur hanya karena satu pihak mengkhianati kepercayaan.Lalu, bagaimana Islam mengajarkan kita untuk memilih pekerja yang ideal? Apakah hanya sekadar melihat keterampilan atau pengalaman saja?Al-Qur’an memberikan jawaban yang indah dan hikmah. Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam menolong dua wanita di negeri Madyan untuk mengambilkan air, salah satu dari mereka berkata kepada ayahnya,يَٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ“Wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling pantas yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi terpercaya (amanah).” (QS. Al-Qashash: 26)Dari ayat ini, dapat kita ketahui bahwa ada dua kriteria utama pekerja ideal menurut syariat:Pertama, al-qawiy (kuat)Kuat yang dimaksud di sini bukan sekadar kekuatan otot, tapi lebih luas: kuat dalam bidang pekerjaannya. Kuat secara teknis, kuat dalam keterampilan, kuat dalam menghadapi tekanan, dan kuat dalam mengambil keputusan.Kekuatan dalam setiap pekerjaan itu berbeda-beda tergantung jenis dan macam pekerjaannya. Misalnya, antara kekuasaan eksekutif atau militer (seperti panglima perang) dan kekuasaan yudikatif (seperti hakim), tentu berbeda aspek “kuatnya”.Untuk panglima perang, kekuatan yang dibutuhkan adalah fisik, siasat, strategi dan teknik berperang; sedangkan hakim kekuatannya dilihat dari keilmuan dan pengetahuan tentang hukum-hukum atau dalil-dalil beserta aplikasinya dalam kasus yang dihadapi. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 28: 276 dan Majmu’ al-Fatawa, 28: 365)Kedua, al-amin (amanah)Amanah adalah sifat yang mengikat antara hati, ucapan, dan perbuatan. Orang yang amanah tidak hanya jujur, tapi juga bertanggung jawab, bisa dipercaya, dan menjaga rahasia. Ia akan menjaga pekerjaan sebaik mungkin, bukan karena diawasi atasannya, tetapi karena merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Ia tidak mengkhianati tanggung jawab yang telah diamanahkan kepadanya.Antara kuat dan amanah, mana yang lebih penting?Kalau ditanya mana yang lebih penting, jawabannya bergantung pada konteks dan jenis pekerjaan yang akan dijalani.Imam Ahmad pernah ditanya tentang siapa yang boleh dijadikan pemimpin perang atau panglima, apakah yang fisiknya kuat tapi kurang saleh (amanah) atau yang saleh tapi fisiknya lemah?Imam Ahmad rahimahullah menjawab,أما الفاجر القوي فقوله للمسلمين وفجوره على نفسه ; وأما الصالح الضعيف فصلاحه لنفسه وضعفه على المسلمين“Adapun yang pertama (kuat fisiknya tapi kurang saleh), kekuatan fisiknya bermanfaat bagi kaum muslimin secara umum. Adapun kekurang salehannya, merugikan dirinya sendiri. Adapun orang kedua (saleh tapi lemah fisiknya), kesalehannya hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan kelemahan fisiknya merugikan kaum muslimin (orang banyak).” (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 28: 255-256)Tentu saja, situasi ini akan berbeda jika pekerjaan yang dimaksud berkaitan dengan keuangan atau posisi yang menuntut kejujuran dan tanggung jawab penuh, seperti bendahara di suatu tempat. Dalam pekerjaan seperti ini, amanah dan kejujuran menjadi prioritas utama. Karena bila hilang, maka kerusakan yang ditimbulkan akan sangat besar, baik bagi individu maupun masyarakat luas.Keduanya, kuat dan amanah, memiliki tempatnya masing-masing; dan yang paling sempurna adalah jika keduanya ada dan saling melengkapi.Sebuah renunganDalam dunia kerja hari ini, banyak yang mengutamakan CV yang menarik, portofolio yang cemerlang, atau kata-kata manis dalam wawancara. Tapi Islam mengajarkan untuk melihat lebih dalam: apakah ia kuat dan amanah? Karena pada akhirnya, kemajuan dan keberkahan dalam usaha tidak hanya ditentukan oleh apa yang tampak di atas kertas, tapi oleh siapa yang kita percayai untuk berjalan bersama kita.Semoga kita menjadi pribadi yang kuat dan amanah, dan mampu memilih rekan kerja atau karyawan yang juga memiliki dua sifat mulia ini. Aamiin.Baca juga: Jangan Jadikan Pekerjaanmu Hanya sebagai Rutinitas Harian Semata***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Faidah Surah Al-Qashash Ayat 26: Kriteria Pekerja (Karyawan) Ideal Menurut Syariat

Daftar Isi TogglePertama, al-qawiy (kuat)Kedua, al-amin (amanah)Antara kuat dan amanah, mana yang lebih penting?Sebuah renunganManusia adalah makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup sendirian, meskipun ia memiliki harta melimpah dan kekuasaan yang besar. Dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan, seseorang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.Dalam dunia kerja, tidak sedikit usaha atau bisnis yang runtuh, bukan karena kekurangan modal atau strategi yang kurang handal, tetapi karena kesalahan dalam memilih orang yang dipercaya untuk bekerja bersama. Betapa banyak perusahaan yang bangkrut karena karyawan yang tidak jujur. Betapa banyak pemimpin yang menyesal karena salah menilai bawahannya. Bahkan, tak jarang, hubungan bisnis hancur hanya karena satu pihak mengkhianati kepercayaan.Lalu, bagaimana Islam mengajarkan kita untuk memilih pekerja yang ideal? Apakah hanya sekadar melihat keterampilan atau pengalaman saja?Al-Qur’an memberikan jawaban yang indah dan hikmah. Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam menolong dua wanita di negeri Madyan untuk mengambilkan air, salah satu dari mereka berkata kepada ayahnya,يَٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ“Wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling pantas yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi terpercaya (amanah).” (QS. Al-Qashash: 26)Dari ayat ini, dapat kita ketahui bahwa ada dua kriteria utama pekerja ideal menurut syariat:Pertama, al-qawiy (kuat)Kuat yang dimaksud di sini bukan sekadar kekuatan otot, tapi lebih luas: kuat dalam bidang pekerjaannya. Kuat secara teknis, kuat dalam keterampilan, kuat dalam menghadapi tekanan, dan kuat dalam mengambil keputusan.Kekuatan dalam setiap pekerjaan itu berbeda-beda tergantung jenis dan macam pekerjaannya. Misalnya, antara kekuasaan eksekutif atau militer (seperti panglima perang) dan kekuasaan yudikatif (seperti hakim), tentu berbeda aspek “kuatnya”.Untuk panglima perang, kekuatan yang dibutuhkan adalah fisik, siasat, strategi dan teknik berperang; sedangkan hakim kekuatannya dilihat dari keilmuan dan pengetahuan tentang hukum-hukum atau dalil-dalil beserta aplikasinya dalam kasus yang dihadapi. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 28: 276 dan Majmu’ al-Fatawa, 28: 365)Kedua, al-amin (amanah)Amanah adalah sifat yang mengikat antara hati, ucapan, dan perbuatan. Orang yang amanah tidak hanya jujur, tapi juga bertanggung jawab, bisa dipercaya, dan menjaga rahasia. Ia akan menjaga pekerjaan sebaik mungkin, bukan karena diawasi atasannya, tetapi karena merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Ia tidak mengkhianati tanggung jawab yang telah diamanahkan kepadanya.Antara kuat dan amanah, mana yang lebih penting?Kalau ditanya mana yang lebih penting, jawabannya bergantung pada konteks dan jenis pekerjaan yang akan dijalani.Imam Ahmad pernah ditanya tentang siapa yang boleh dijadikan pemimpin perang atau panglima, apakah yang fisiknya kuat tapi kurang saleh (amanah) atau yang saleh tapi fisiknya lemah?Imam Ahmad rahimahullah menjawab,أما الفاجر القوي فقوله للمسلمين وفجوره على نفسه ; وأما الصالح الضعيف فصلاحه لنفسه وضعفه على المسلمين“Adapun yang pertama (kuat fisiknya tapi kurang saleh), kekuatan fisiknya bermanfaat bagi kaum muslimin secara umum. Adapun kekurang salehannya, merugikan dirinya sendiri. Adapun orang kedua (saleh tapi lemah fisiknya), kesalehannya hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan kelemahan fisiknya merugikan kaum muslimin (orang banyak).” (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 28: 255-256)Tentu saja, situasi ini akan berbeda jika pekerjaan yang dimaksud berkaitan dengan keuangan atau posisi yang menuntut kejujuran dan tanggung jawab penuh, seperti bendahara di suatu tempat. Dalam pekerjaan seperti ini, amanah dan kejujuran menjadi prioritas utama. Karena bila hilang, maka kerusakan yang ditimbulkan akan sangat besar, baik bagi individu maupun masyarakat luas.Keduanya, kuat dan amanah, memiliki tempatnya masing-masing; dan yang paling sempurna adalah jika keduanya ada dan saling melengkapi.Sebuah renunganDalam dunia kerja hari ini, banyak yang mengutamakan CV yang menarik, portofolio yang cemerlang, atau kata-kata manis dalam wawancara. Tapi Islam mengajarkan untuk melihat lebih dalam: apakah ia kuat dan amanah? Karena pada akhirnya, kemajuan dan keberkahan dalam usaha tidak hanya ditentukan oleh apa yang tampak di atas kertas, tapi oleh siapa yang kita percayai untuk berjalan bersama kita.Semoga kita menjadi pribadi yang kuat dan amanah, dan mampu memilih rekan kerja atau karyawan yang juga memiliki dua sifat mulia ini. Aamiin.Baca juga: Jangan Jadikan Pekerjaanmu Hanya sebagai Rutinitas Harian Semata***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.
Daftar Isi TogglePertama, al-qawiy (kuat)Kedua, al-amin (amanah)Antara kuat dan amanah, mana yang lebih penting?Sebuah renunganManusia adalah makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup sendirian, meskipun ia memiliki harta melimpah dan kekuasaan yang besar. Dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan, seseorang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.Dalam dunia kerja, tidak sedikit usaha atau bisnis yang runtuh, bukan karena kekurangan modal atau strategi yang kurang handal, tetapi karena kesalahan dalam memilih orang yang dipercaya untuk bekerja bersama. Betapa banyak perusahaan yang bangkrut karena karyawan yang tidak jujur. Betapa banyak pemimpin yang menyesal karena salah menilai bawahannya. Bahkan, tak jarang, hubungan bisnis hancur hanya karena satu pihak mengkhianati kepercayaan.Lalu, bagaimana Islam mengajarkan kita untuk memilih pekerja yang ideal? Apakah hanya sekadar melihat keterampilan atau pengalaman saja?Al-Qur’an memberikan jawaban yang indah dan hikmah. Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam menolong dua wanita di negeri Madyan untuk mengambilkan air, salah satu dari mereka berkata kepada ayahnya,يَٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ“Wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling pantas yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi terpercaya (amanah).” (QS. Al-Qashash: 26)Dari ayat ini, dapat kita ketahui bahwa ada dua kriteria utama pekerja ideal menurut syariat:Pertama, al-qawiy (kuat)Kuat yang dimaksud di sini bukan sekadar kekuatan otot, tapi lebih luas: kuat dalam bidang pekerjaannya. Kuat secara teknis, kuat dalam keterampilan, kuat dalam menghadapi tekanan, dan kuat dalam mengambil keputusan.Kekuatan dalam setiap pekerjaan itu berbeda-beda tergantung jenis dan macam pekerjaannya. Misalnya, antara kekuasaan eksekutif atau militer (seperti panglima perang) dan kekuasaan yudikatif (seperti hakim), tentu berbeda aspek “kuatnya”.Untuk panglima perang, kekuatan yang dibutuhkan adalah fisik, siasat, strategi dan teknik berperang; sedangkan hakim kekuatannya dilihat dari keilmuan dan pengetahuan tentang hukum-hukum atau dalil-dalil beserta aplikasinya dalam kasus yang dihadapi. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 28: 276 dan Majmu’ al-Fatawa, 28: 365)Kedua, al-amin (amanah)Amanah adalah sifat yang mengikat antara hati, ucapan, dan perbuatan. Orang yang amanah tidak hanya jujur, tapi juga bertanggung jawab, bisa dipercaya, dan menjaga rahasia. Ia akan menjaga pekerjaan sebaik mungkin, bukan karena diawasi atasannya, tetapi karena merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Ia tidak mengkhianati tanggung jawab yang telah diamanahkan kepadanya.Antara kuat dan amanah, mana yang lebih penting?Kalau ditanya mana yang lebih penting, jawabannya bergantung pada konteks dan jenis pekerjaan yang akan dijalani.Imam Ahmad pernah ditanya tentang siapa yang boleh dijadikan pemimpin perang atau panglima, apakah yang fisiknya kuat tapi kurang saleh (amanah) atau yang saleh tapi fisiknya lemah?Imam Ahmad rahimahullah menjawab,أما الفاجر القوي فقوله للمسلمين وفجوره على نفسه ; وأما الصالح الضعيف فصلاحه لنفسه وضعفه على المسلمين“Adapun yang pertama (kuat fisiknya tapi kurang saleh), kekuatan fisiknya bermanfaat bagi kaum muslimin secara umum. Adapun kekurang salehannya, merugikan dirinya sendiri. Adapun orang kedua (saleh tapi lemah fisiknya), kesalehannya hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan kelemahan fisiknya merugikan kaum muslimin (orang banyak).” (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 28: 255-256)Tentu saja, situasi ini akan berbeda jika pekerjaan yang dimaksud berkaitan dengan keuangan atau posisi yang menuntut kejujuran dan tanggung jawab penuh, seperti bendahara di suatu tempat. Dalam pekerjaan seperti ini, amanah dan kejujuran menjadi prioritas utama. Karena bila hilang, maka kerusakan yang ditimbulkan akan sangat besar, baik bagi individu maupun masyarakat luas.Keduanya, kuat dan amanah, memiliki tempatnya masing-masing; dan yang paling sempurna adalah jika keduanya ada dan saling melengkapi.Sebuah renunganDalam dunia kerja hari ini, banyak yang mengutamakan CV yang menarik, portofolio yang cemerlang, atau kata-kata manis dalam wawancara. Tapi Islam mengajarkan untuk melihat lebih dalam: apakah ia kuat dan amanah? Karena pada akhirnya, kemajuan dan keberkahan dalam usaha tidak hanya ditentukan oleh apa yang tampak di atas kertas, tapi oleh siapa yang kita percayai untuk berjalan bersama kita.Semoga kita menjadi pribadi yang kuat dan amanah, dan mampu memilih rekan kerja atau karyawan yang juga memiliki dua sifat mulia ini. Aamiin.Baca juga: Jangan Jadikan Pekerjaanmu Hanya sebagai Rutinitas Harian Semata***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.


Daftar Isi TogglePertama, al-qawiy (kuat)Kedua, al-amin (amanah)Antara kuat dan amanah, mana yang lebih penting?Sebuah renunganManusia adalah makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup sendirian, meskipun ia memiliki harta melimpah dan kekuasaan yang besar. Dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan, seseorang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.Dalam dunia kerja, tidak sedikit usaha atau bisnis yang runtuh, bukan karena kekurangan modal atau strategi yang kurang handal, tetapi karena kesalahan dalam memilih orang yang dipercaya untuk bekerja bersama. Betapa banyak perusahaan yang bangkrut karena karyawan yang tidak jujur. Betapa banyak pemimpin yang menyesal karena salah menilai bawahannya. Bahkan, tak jarang, hubungan bisnis hancur hanya karena satu pihak mengkhianati kepercayaan.Lalu, bagaimana Islam mengajarkan kita untuk memilih pekerja yang ideal? Apakah hanya sekadar melihat keterampilan atau pengalaman saja?Al-Qur’an memberikan jawaban yang indah dan hikmah. Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam menolong dua wanita di negeri Madyan untuk mengambilkan air, salah satu dari mereka berkata kepada ayahnya,يَٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ“Wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling pantas yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi terpercaya (amanah).” (QS. Al-Qashash: 26)Dari ayat ini, dapat kita ketahui bahwa ada dua kriteria utama pekerja ideal menurut syariat:Pertama, al-qawiy (kuat)Kuat yang dimaksud di sini bukan sekadar kekuatan otot, tapi lebih luas: kuat dalam bidang pekerjaannya. Kuat secara teknis, kuat dalam keterampilan, kuat dalam menghadapi tekanan, dan kuat dalam mengambil keputusan.Kekuatan dalam setiap pekerjaan itu berbeda-beda tergantung jenis dan macam pekerjaannya. Misalnya, antara kekuasaan eksekutif atau militer (seperti panglima perang) dan kekuasaan yudikatif (seperti hakim), tentu berbeda aspek “kuatnya”.Untuk panglima perang, kekuatan yang dibutuhkan adalah fisik, siasat, strategi dan teknik berperang; sedangkan hakim kekuatannya dilihat dari keilmuan dan pengetahuan tentang hukum-hukum atau dalil-dalil beserta aplikasinya dalam kasus yang dihadapi. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 28: 276 dan Majmu’ al-Fatawa, 28: 365)Kedua, al-amin (amanah)Amanah adalah sifat yang mengikat antara hati, ucapan, dan perbuatan. Orang yang amanah tidak hanya jujur, tapi juga bertanggung jawab, bisa dipercaya, dan menjaga rahasia. Ia akan menjaga pekerjaan sebaik mungkin, bukan karena diawasi atasannya, tetapi karena merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Ia tidak mengkhianati tanggung jawab yang telah diamanahkan kepadanya.Antara kuat dan amanah, mana yang lebih penting?Kalau ditanya mana yang lebih penting, jawabannya bergantung pada konteks dan jenis pekerjaan yang akan dijalani.Imam Ahmad pernah ditanya tentang siapa yang boleh dijadikan pemimpin perang atau panglima, apakah yang fisiknya kuat tapi kurang saleh (amanah) atau yang saleh tapi fisiknya lemah?Imam Ahmad rahimahullah menjawab,أما الفاجر القوي فقوله للمسلمين وفجوره على نفسه ; وأما الصالح الضعيف فصلاحه لنفسه وضعفه على المسلمين“Adapun yang pertama (kuat fisiknya tapi kurang saleh), kekuatan fisiknya bermanfaat bagi kaum muslimin secara umum. Adapun kekurang salehannya, merugikan dirinya sendiri. Adapun orang kedua (saleh tapi lemah fisiknya), kesalehannya hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan kelemahan fisiknya merugikan kaum muslimin (orang banyak).” (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 28: 255-256)Tentu saja, situasi ini akan berbeda jika pekerjaan yang dimaksud berkaitan dengan keuangan atau posisi yang menuntut kejujuran dan tanggung jawab penuh, seperti bendahara di suatu tempat. Dalam pekerjaan seperti ini, amanah dan kejujuran menjadi prioritas utama. Karena bila hilang, maka kerusakan yang ditimbulkan akan sangat besar, baik bagi individu maupun masyarakat luas.Keduanya, kuat dan amanah, memiliki tempatnya masing-masing; dan yang paling sempurna adalah jika keduanya ada dan saling melengkapi.Sebuah renunganDalam dunia kerja hari ini, banyak yang mengutamakan CV yang menarik, portofolio yang cemerlang, atau kata-kata manis dalam wawancara. Tapi Islam mengajarkan untuk melihat lebih dalam: apakah ia kuat dan amanah? Karena pada akhirnya, kemajuan dan keberkahan dalam usaha tidak hanya ditentukan oleh apa yang tampak di atas kertas, tapi oleh siapa yang kita percayai untuk berjalan bersama kita.Semoga kita menjadi pribadi yang kuat dan amanah, dan mampu memilih rekan kerja atau karyawan yang juga memiliki dua sifat mulia ini. Aamiin.Baca juga: Jangan Jadikan Pekerjaanmu Hanya sebagai Rutinitas Harian Semata***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Jangan Tiru Flexing Qarun: Dampak Pamer Harta di Media Sosial

Fenomena flexing atau pamer kekayaan kini marak di media sosial, bahkan dilakukan pula oleh pejabat publik. Sikap seperti ini bukan hanya menimbulkan kecemburuan sosial, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat. Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan kisah Qarun yang tenggelam karena kesombongannya saat memamerkan harta. Dari sini kita belajar bahwa pamer harta bukanlah tanda keberuntungan, melainkan jalan menuju kehancuran bila tidak disyukuri dengan benar.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Flexing? 2. Dampak Negatif Pamer (Flexing) di Media Sosial 3. Dampak Buruk Flexing oleh Pejabat Negara 4. Jangan Kita Mengikuti Flexingnya Qarun 5. Sifat Qarun: Kaya, Tapi Kikir 6. Contoh Jelek dari Qarun 7. Pelajaran dari Kisah Qarun yang Tidak Patut Ditiru 7.1. Referensi Apa itu Flexing?“Flexing” adalah istilah slang yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya memamerkan sesuatu secara berlebihan untuk menunjukkan status, kekayaan, atau pencapaian pribadi. Di Indonesia, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan orang yang suka pamer – bisa pamer barang mahal, pencapaian, gaya hidup mewah, atau hal-hal lain yang dianggap “wah”.Contoh flexing:Memamerkan mobil mewah di media sosial dengan caption seperti, “Kerja keras tak akan mengkhianati hasil 💸🚘.”Upload foto traveling ke luar negeri tiap minggu dengan gaya hidup glamor.Menunjukkan saldo rekening atau nota belanja mahal.Dalam konteks sosial:Flexing bisa dilihat positif atau negatif tergantung tujuannya:✅ Positif jika tujuannya memotivasi atau menunjukkan hasil kerja keras.❌ Negatif jika niatnya pamer, merendahkan orang lain, atau sekadar mencari validasi sosial. Dampak Negatif Pamer (Flexing) di Media Sosial1. Memicu Rasa Minder dan Tekanan SosialMelihat postingan berbau pamer dapat membuat orang merasa rendah diri dan tertekan secara psikologis.2. Mendorong Gaya Hidup Boros dan Tidak BijakFlexing seringkali menanamkan gaya hidup konsumtif yang jauh dari prinsip qana’ah dan sederhana.3. Menumbuhkan Iri dan Permusuhan SosialSifat pamer bisa memicu kecemburuan, iri hati, dan keretakan dalam hubungan sosial.4. Merusak Makna Sukses yang HakikiKesuksesan jadi disalahartikan hanya sebatas harta dan kemewahan, bukan ketakwaan atau amal salih.5. Meningkatkan Risiko Keamanan DiriMemamerkan kekayaan secara terbuka bisa mengundang bahaya seperti kejahatan dan penipuan.6. Menjerumuskan ke Dunia PalsuPencitraan berlebihan menjauhkan dari kejujuran dan keautentikan dalam hidup.7. Menurunkan Kepercayaan PublikTerlalu sering pamer bisa membuat seseorang dinilai sombong atau tidak layak dipercaya.Baca juga: Berbangga dengan Harta Sampai ke Kuburan (Tafsir At-Takatsur) Dampak Buruk Flexing oleh Pejabat Negara1. Mengikis Kepercayaan PublikRakyat jadi ragu terhadap amanah dan integritas pejabat. Terpikir, dari mana sumber kekayaannya?2. Menyulut Iri dan Ketimpangan SosialDi tengah kesulitan ekonomi, pamer kekayaan menciptakan luka sosial dan kecemburuan.3. Memicu Kemarahan dan Ketidakpuasan MasyarakatFlexing bisa memancing kritik tajam, sindiran, bahkan aksi sosial karena dianggap tak berempati.4. Merusak Keteladanan sebagai PemimpinPejabat semestinya tampil sederhana dan bijak. Bukan malah menonjolkan hedonisme.5. Mengundang Sorotan Hukum dan PemeriksaanPamer berlebihan bisa memicu audit kekayaan oleh KPK atau BPK karena menimbulkan kecurigaan publik.6. Viral Negatif dan Penghakiman NetizenPostingan mewah rentan viral. Reputasi bisa hancur meski belum terbukti bersalah secara hukum.Baca juga: Saling Berbangga dengan Harta Jangan Kita Mengikuti Flexingnya QarunAllah Ta’ala menyebutkan tentang Qarun,فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Qashash: 79)Dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan:Allah Ta’ala mengisahkan tentang Qarun, bahwa suatu hari ia keluar menemui kaumnya dengan penampilan yang sangat mencolok—penuh kemewahan dan kemegahan. Ia tampak angkuh dengan kendaraan megah, pakaian mewah, dan diiringi para pelayan serta pengikutnya. Ketika orang-orang yang mencintai dunia melihat penampilannya itu, hati mereka terpikat. Mereka berkata dengan penuh harap, “Wah, andaikan kita memiliki apa yang dimiliki Qarun…” Lalu mereka menambahkan, “Sungguh, Qarun adalah orang yang sangat beruntung.” Maksudnya, ia dianggap memiliki nasib yang sangat baik karena harta dan kemewahan duniawi yang ia miliki.Dalam Tafsir Syaikh As-Sa’di rahimahullah disebutkan:Qarun tetap berada dalam sikap keras kepala, angkuh, dan menolak nasihat dari kaumnya. Ia begitu bangga dan terpedaya dengan harta kekayaan yang Allah berikan kepadanya. Suatu hari, ia tampil di hadapan orang banyak dengan kemewahan luar biasa—berdandan dengan pakaian dan perhiasan yang paling indah, serta memperlihatkan kendaraan dan pengikutnya.Kemewahan yang ia tunjukkan sungguh mencolok. Semua perhiasan dunia, keindahan, dan kebanggaan ia tampilkan sekaligus, hingga mata orang-orang terbelalak kagum, hati mereka terpesona, dan jiwa mereka tercengang menyaksikannya. Pemandangan itu membuat manusia terbagi menjadi dua golongan.Golongan pertama adalah mereka yang terikat dengan kehidupan dunia. Dunia adalah tujuan akhir yang mereka kejar. Mereka pun berkata dengan penuh iri, “Seandainya kita punya harta dan kemewahan seperti Qarun, sungguh dia orang yang sangat beruntung.” Dalam pandangan mereka, kekayaan Qarun adalah keberuntungan besar, karena dengan harta itu ia bisa melakukan apa saja yang diinginkannya.Padahal, anggapan seperti ini menunjukkan betapa rendahnya cita-cita mereka. Mereka hanya menjadikan dunia yang fana sebagai tujuan akhir, seolah-olah tidak ada kehidupan lain setelahnya. Inilah impian paling hina dan tidak bernilai, karena hanya berhenti pada kesenangan sesaat, tanpa sedikit pun keinginan untuk meraih kebahagiaan yang lebih tinggi dan mulia, yaitu kehidupan akhirat. Sifat Qarun: Kaya, Tapi KikirQarun seorang kaya raya yang sangat kikir dan menolak mengeluarkan zakat. Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas. Ketika datang perintah zakat, Nabi Musa ‘alaihis salam pergi menemui Qarun dan memerintahnya mengeluarkan zakat sebesar satu dinar dari setiap seribu dinar hartanya, satu dirham dari setiap seribu dirham, satu kambing dari setiap seribu kambing, dan seterusnya. Setelah Qarun menghitung seluruh hartanya, ternyata jumlah zakatnya sangat besar. Kekikiran dan kegandrungannya pun mulai menghalangi hatinya untuk mengeluarkan zakat. Alih-alih mengeluarkan zakat, ia malah mengumpulkan sekelompok bani Israil dan mencoreng nama baik Nabi Musa ‘alaihis salam. Ia berkata, “Selama ini kalian taat terhadap apa yang diperintahkan Musa. Tahukah kalian, sekarang Musa ingin mengambil harta kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pembesar dan pemimpin kami. Perintahlah kami apa pun yang engkau mau.” (Lihat Ruhul Bayan, 6:435) Contoh Jelek dari QarunAllah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“.” (QS. Al-Qashash: 76). Yang dimaksud dengan “al-‘ushbah” adalah sekelompok orang, jumlahnya bisa sepuluh, sembilan, tujuh, atau sekitar itu. Jadi, bayangkanlah: hanya kunci-kunci gudang hartanya saja sudah membuat satu kelompok orang perkasa kewalahan memikulnya. Jika kuncinya saja demikian, bagaimana lagi dengan isi perbendaharaan itu sendiri?Kisah Qarun memang sangat menarik untuk direnungkan. Allah berfirman bahwa Qarun berasal dari kaum Musa, namun ia berlaku zalim terhadap mereka. Para ulama berbeda pendapat tentang hubungan nasabnya dengan Nabi Musa. Ibnu ‘Abbas menegaskan bahwa Qarun adalah sepupu Musa. Pendapat ini juga diikuti oleh Ibrahim An-Nakha‘i, Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, Simak bin Harb, Qatadah, Malik bin Dinar, Ibnu Juraij, dan sejumlah ulama lainnya. Ibnu Juraij bahkan merinci bahwa Qarun adalah putra Yashar bin Qahits, sedangkan Musa adalah putra Imran bin Qahits.Namun, Muhammad bin Ishaq punya pandangan berbeda. Ia mengatakan bahwa Qarun justru adalah paman Musa. Meskipun begitu, mayoritas ulama tetap berpegang bahwa Qarun adalah sepupu Musa, sebagaimana dikukuhkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, meskipun akhirnya ia menutup dengan ungkapan, “Allah lebih tahu yang sebenarnya.”Qatadah memberi tambahan keterangan: Qarun dikenal sebagai orang yang punya suara indah saat membaca Taurat hingga dijuluki “al-Munawwar” (si bersuara terang). Tetapi sayang, dia munafik sebagaimana halnya Samiri, lalu kebinasaan menimpanya karena kesombongan yang muncul akibat harta yang melimpah.Shahr bin Hawsyab menambahkan bahwa Qarun menambah panjang pakaiannya sejengkal lebih panjang dari kebiasaan, hanya untuk menyombongkan diri di hadapan kaumnya.Allah menggambarkan betapa besar kekayaan Qarun. Ia diberikan harta yang sangat banyak, sampai-sampai kunci-kunci perbendaharaannya saja berat dipikul oleh sekelompok orang kuat. Menurut riwayat, kunci-kunci itu dibuat dari kulit, masing-masing sebesar jari, dan setiap kunci digunakan untuk membuka satu gudang khusus. Disebutkan bahwa ketika Qarun bepergian, kunci-kunci itu harus diangkut dengan enam puluh ekor bagal yang gagah dan kuat.Di tengah kesombongan Qarun, kaumnya yang saleh berusaha menasihatinya. Mereka berkata, “Janganlah engkau terlalu gembira dan membanggakan diri dengan apa yang engkau miliki.” Maksudnya, jangan sampai ia larut dalam kesombongan karena harta. Ibnu ‘Abbas menafsirkan “jangan bergembira” di sini sebagai larangan untuk hidup dengan sikap sombong dan melampaui batas. Sementara Mujahid menjelaskan maksudnya adalah larangan bersikap angkuh, berlebih-lebihan, dan tidak bersyukur atas nikmat Allah.Selanjutnya, firman Allah,وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)Ayat ini melanjutkan nasihat orang-orang saleh kepada Qarun. Mereka berkata, “Gunakanlah apa yang telah Allah berikan kepadamu untuk meraih negeri akhirat. Jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”Maksudnya, harta dan nikmat besar yang dimiliki seseorang seharusnya dipakai untuk taat kepada Allah, untuk mendekatkan diri dengan amal-amal kebaikan yang akan menjadi bekal di akhirat. Namun, ini tidak berarti harus meninggalkan dunia sama sekali. Allah tetap membolehkan seseorang menikmati bagian dari dunia yang halal seperti makanan, minuman, pakaian, rumah, dan pernikahan. Bahkan, agama menekankan keseimbangan: ada hak Allah yang wajib ditunaikan, ada hak jiwa yang perlu dijaga, ada hak keluarga yang harus dipenuhi, dan ada hak tamu yang mesti dihormati.Kemudian datang perintah berikutnya: berbuatlah baik kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Nikmat yang Allah berikan bukan hanya untuk disyukuri secara pribadi, tetapi juga untuk dibagikan dalam bentuk kebaikan kepada sesama. Sebaliknya, harta itu jangan dijadikan sarana untuk berbuat kerusakan, merugikan orang lain, atau menimbulkan kesombongan. Karena Allah sama sekali tidak mencintai orang-orang yang merusak bumi dengan kekayaan dan kedudukannya.Selanjutnya, firman Allah,قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِۦ مِنَ ٱلْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْـَٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ ٱلْمُجْرِمُونَ“Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS. Al-Qashash: 78)Ayat ini menggambarkan jawaban sombong Qarun kepada kaumnya ketika mereka menasihatinya. Ia berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta ini karena ilmu yang ada padaku.”Maksud ucapannya adalah seakan-akan ia tidak butuh nasihat mereka. Menurutnya, harta yang ia miliki adalah bukti bahwa Allah memang tahu ia pantas menerimanya, bahkan tanda bahwa Allah mencintainya. Inilah bentuk kesombongan yang diabadikan Al-Qur’an, serupa dengan perkataan orang yang ditimpa nikmat setelah sebelumnya mengalami kesulitan, lalu merasa bahwa itu murni karena kepantasannya, bukan karena karunia Allah.Sebagian orang menafsirkan bahwa yang dimaksud Qarun adalah karena ia menguasai “ilmu kimia” yang diyakini bisa mengubah benda menjadi emas atau perak. Namun, penjelasan ini ditolak para ulama karena hakikatnya tidak ada seorang pun mampu mengubah hakikat benda selain Allah. Apa yang disebut “ilmu kimia” itu hanyalah tipuan, sekadar mengubah tampilan luar, bukan merubah esensi benda. Adapun kejadian luar biasa berupa perubahan benda menjadi sesuatu yang bernilai tinggi, bisa saja terjadi melalui karamah para wali dengan izin Allah, bukan karena kemampuan manusia.Ada pula yang berpendapat bahwa Qarun memiliki pengetahuan tentang al-ism al-a‘zhom (nama Allah yang agung) sehingga bisa memperoleh harta. Tetapi pendapat yang paling kuat adalah tafsiran pertama: ia meyakini bahwa kekayaannya adalah tanda keridhaan Allah dan hasil dari kelebihannya.Padahal Allah langsung membantah klaim tersebut. Jika benar kekayaan adalah tanda cinta Allah, mengapa banyak generasi sebelumnya yang jauh lebih kuat dan jauh lebih kaya dari Qarun justru dibinasakan? Harta mereka melimpah, kekuasaan mereka luas, tetapi Allah tetap menghancurkan mereka karena kufur dan tidak bersyukur. Maka, jelaslah bahwa banyaknya harta bukan tanda kasih sayang Allah, melainkan bisa jadi ujian dan sebab kebinasaan.Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: “Dan para pendosa itu tidak akan ditanya tentang dosa-dosa mereka.” Maksudnya, dosa-dosa mereka begitu banyak dan jelas, sampai-sampai tidak butuh lagi dipertanyakan.Qatadah menafsirkan ucapan Qarun “karena ilmu yang ada padaku” dengan maksud: “karena kebaikan yang aku miliki.” Sementara As-Suddi mengatakan: “karena aku merasa memang layak mendapatkannya.”Penjelasan yang indah datang dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Ia berkata bahwa maksud ucapan Qarun adalah: “Kalau bukan karena Allah ridha kepadaku dan mengetahui keutamaanku, tentu Dia tidak akan memberiku harta ini.” Inilah logika keliru yang juga sering diulang orang-orang berilmu dangkal: ketika melihat seseorang diluaskan rezekinya, mereka langsung menyangka bahwa itu pasti tanda keridhaan Allah, padahal bisa jadi sebaliknya—ujian atau bahkan istidraj (penundaan azab).Selanjutnya, firman Allah,فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Qashash: 79)Ayat ini menggambarkan puncak kesombongan Qarun. Pada suatu hari ia keluar menemui kaumnya dengan penampilan yang sangat mewah: pakaian berkilauan, perhiasan gemerlap, kendaraan penuh keanggunan, serta dikelilingi oleh para pelayan dan pengawalnya. Ia ingin memperlihatkan kemegahannya kepada manusia.Ketika orang-orang yang hatinya terpikat pada kehidupan dunia melihat pemandangan itu, mereka langsung terpesona. Mereka berangan-angan, “Andai saja kita memiliki seperti apa yang diberikan kepada Qarun. Sungguh, dia benar-benar orang yang sangat beruntung.”Mereka menilai Qarun sebagai orang yang punya kedudukan tinggi dan nasib istimewa karena harta yang dimilikinya. Pandangan itu lahir dari hati yang lebih memandang gemerlap dunia ketimbang bekal akhirat.Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّٰبِرُونَ“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”.” (QS. Al-Qashash: 80)Ketika orang-orang duniawi terpesona oleh kemewahan Qarun, para pemilik ilmu yang bermanfaat menegur mereka. Mereka berkata: “Celakalah kalian! Balasan dari Allah jauh lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh.”Mereka mengingatkan bahwa apa yang ada di sisi Allah di akhirat tak sebanding dengan perhiasan dunia. Dunia hanya sebentar, sedangkan pahala Allah kekal dan sempurna. Rasulullah ﷺ pun bersabda dalam hadits sahih: “Allah telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” Lalu beliau membacakan firman Allah:فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)Kemudian Allah menegaskan: “Dan tidaklah kalimat itu akan dipahami kecuali oleh orang-orang yang sabar.”As-Suddi menafsirkan bahwa maksudnya adalah surga, karena hanya orang yang sabar yang akan mendapatkannya. Ibnu Jarir menambahkan: hanya orang yang sabar menahan diri dari cinta dunia dan lebih menginginkan akhiratlah yang mampu memahami peringatan ini. Jadi, balasan Allah hanyalah bagi mereka yang sabar dalam iman, sabar dalam taat, sabar menahan diri dari maksiat, dan sabar menghadapi cobaan.Allah Ta’ala berfirman,فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُنتَصِرِينَ“Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS. Al-Qashash: 81)Bagian ini adalah klimaks dari kisah Qarun. Setelah Allah menceritakan kesombongan Qarun dengan harta dan perhiasannya, Al-Qur’an menutup dengan hukuman yang sangat mengerikan: “Maka Kami benamkan dia bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya kelompok yang dapat menolongnya selain Allah, dan ia pun tidak mampu menolong dirinya sendiri.”Para ahli tafsir menjelaskan bahwa Qarun benar-benar ditelan bumi dengan rumah dan seluruh harta bendanya. Tidak ada kekuatan apa pun, tidak ada kerabat, tidak ada pengawal, bahkan dirinya sendiri pun tidak bisa menyelamatkan diri dari azab Allah. Semua kekuasaan dan harta yang ia banggakan lenyap dalam sekejap.Nabi ﷺ mengingatkan bahaya kesombongan dengan beberapa hadis. Dalam riwayat sahih disebutkan: “Ketika ada seorang lelaki yang berjalan sambil menyeret pakaiannya dengan sombong, tiba-tiba bumi menelannya. Ia terus terbenam di bumi hingga Hari Kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain: “Seorang lelaki keluar dengan mengenakan dua kain hijau, berjalan dengan angkuh, lalu Allah memerintahkan bumi untuk menelannya. Ia pun terbenam di bumi hingga Hari Kiamat.”Sejumlah riwayat juga menceritakan sebab turunnya azab ini. Salah satunya, bahwa Qarun berusaha menjatuhkan kehormatan Nabi Musa di hadapan Bani Israil dengan menyuap seorang wanita untuk menuduh Musa berbuat keji dengannya. Namun wanita itu, ketika didesak dengan sumpah demi Allah, justru mengaku bahwa Qarun-lah yang menyuruhnya. Maka Musa berdoa kepada Allah, dan Allah memberinya izin untuk memerintahkan bumi menelan Qarun beserta hartanya.Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Qarun keluar dengan kemegahannya, melewati majelis Nabi Musa yang sedang memberi nasihat. Orang-orang pun menoleh kepada Qarun. Musa menegurnya, tetapi Qarun menantang Musa untuk berdoa saling melawan. Qarun berdoa, namun tidak dikabulkan. Giliran Musa berdoa, Allah pun mengabulkan. Maka Musa memerintahkan bumi untuk menelan Qarun sedikit demi sedikit—dari kaki, lutut, dada, hingga seluruh tubuhnya—lalu semua harta bendanya ikut tenggelam.Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Qarun ditelan sampai ke bumi lapis ketujuh. Qatadah menambahkan, setiap hari ia ditelan sejauh satu jarak “qāmah” (seukuran tinggi badan), hingga Hari Kiamat ia terus tenggelam tanpa henti.Akhir ayat menegaskan: “Tidak ada satu pun kelompok yang bisa menolongnya selain Allah. Ia sendiri pun tidak bisa menolong dirinya.” Semua harta, pasukan, dan pengikutnya tidak ada gunanya ketika azab Allah datang.Penjelasan tafsir di atas diambil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim dilengkapi dengan Tafsir As-Sa’di rahimahullah. Pelajaran dari Kisah Qarun yang Tidak Patut DitiruSombong karena hartaMenolak nasihat orang salehPamer kemewahan (flexing)Lupa akhirat, hanya mengejar duniaTidak bersyukur atas nikmat AllahMenjadikan harta sebagai sumber kebanggaanMenyakiti kaumnya dengan kezalimannyaMenganggap kekayaan sebagai tanda keistimewaan diriBerbuat kerusakan di muka bumiMengabaikan teladan kesederhanaan para nabi Harta sejatinya bukan untuk disombongkan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Jangan sampai kita menjadi seperti Qarun yang tenggelam oleh kesombongannya.Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap rendah hati, mensyukuri nikmat, dan menjadikan harta sebagai jalan menuju ridha-Nya. Aamiin.Baca Juga:Berbangga dengan Harta Sampai ke Kuburan (Tafsir At-Takatsur)Saling Berbangga dengan HartaReferensiAspinall, E., & Mietzner, M. (2019). Democratic regression in Indonesia: What can we learn from comparative experience? Contemporary Southeast Asia, 41(2), 256–282. https://doi.org/10.1355/cs41-2eChou, H. T. G., & Edge, N. (2012). “They are happier and having better lives than I am”: The impact of using Facebook on perceptions of others’ lives. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 15(2), 117–121. https://doi.org/10.1089/cyber.2011.0324Djafarova, E., & Trofimenko, O. (2019). ‘Instafamous’–credibility and self-presentation of micro-celebrities on social media. Information, Communication & Society, 22(10), 1432–1446. https://doi.org/10.1080/1369118X.2018.1438491Ibnu Katsir. (1431 H). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (Cet. 1). Ibnul Jauzi.Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (2022). Kajian gaya hidup pejabat publik. Laporan internal.Kross, E., Verduyn, P., Demiralp, E., Park, J., Lee, D. S., Lin, N., … & Ybarra, O. (2013). Facebook use predicts declines in subjective well-being in young adults. PLOS ONE, 8(8), e69841. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0069841Lipset, S. M., & Lenz, G. S. (2000). Corruption, culture, and markets. In L. E. Harrison & S. P. Huntington (Eds.), Culture matters (pp. 112–124). Basic Books.Nesi, J., & Prinstein, M. J. (2015). Using social media for social comparison and feedback-seeking: Gender and popularity moderate associations with depressive symptoms. Journal of Abnormal Child Psychology, 43(8), 1427–1438. https://doi.org/10.1007/s10802-015-0020-0Setiyono, B., & McLeod, R. H. (2010). Civil society organizations’ contribution to the anti-corruption movement in Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 46(3), 347–370. https://doi.org/10.1080/00074918.2010.486473Transparency International. (2023). Global corruption barometer: Asia 2023. https://www.transparency.org/en/gcb/asia/asia-2023 —- Selasa pagi, 10 Rabiul Awwal 1447 H, 2 September 2025 @ Perjalanan Panggang Gunungkidul – YogyakartaDr. Muhammad Abduh TuasikalRumaysho.Com Tagsapa itu harta bahaya sombong buang harta budak harta cinta harta dunia dan akhirat flexing harta haram hidup sederhana ibrah Qurani kemewahan dunia kesombongan kisah Qarun nasihat Al-Qur’an pamer harta pejabat pamer pelajaran Qarun qanaah tafsir Al-Qashash ujian harta

Jangan Tiru Flexing Qarun: Dampak Pamer Harta di Media Sosial

Fenomena flexing atau pamer kekayaan kini marak di media sosial, bahkan dilakukan pula oleh pejabat publik. Sikap seperti ini bukan hanya menimbulkan kecemburuan sosial, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat. Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan kisah Qarun yang tenggelam karena kesombongannya saat memamerkan harta. Dari sini kita belajar bahwa pamer harta bukanlah tanda keberuntungan, melainkan jalan menuju kehancuran bila tidak disyukuri dengan benar.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Flexing? 2. Dampak Negatif Pamer (Flexing) di Media Sosial 3. Dampak Buruk Flexing oleh Pejabat Negara 4. Jangan Kita Mengikuti Flexingnya Qarun 5. Sifat Qarun: Kaya, Tapi Kikir 6. Contoh Jelek dari Qarun 7. Pelajaran dari Kisah Qarun yang Tidak Patut Ditiru 7.1. Referensi Apa itu Flexing?“Flexing” adalah istilah slang yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya memamerkan sesuatu secara berlebihan untuk menunjukkan status, kekayaan, atau pencapaian pribadi. Di Indonesia, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan orang yang suka pamer – bisa pamer barang mahal, pencapaian, gaya hidup mewah, atau hal-hal lain yang dianggap “wah”.Contoh flexing:Memamerkan mobil mewah di media sosial dengan caption seperti, “Kerja keras tak akan mengkhianati hasil 💸🚘.”Upload foto traveling ke luar negeri tiap minggu dengan gaya hidup glamor.Menunjukkan saldo rekening atau nota belanja mahal.Dalam konteks sosial:Flexing bisa dilihat positif atau negatif tergantung tujuannya:✅ Positif jika tujuannya memotivasi atau menunjukkan hasil kerja keras.❌ Negatif jika niatnya pamer, merendahkan orang lain, atau sekadar mencari validasi sosial. Dampak Negatif Pamer (Flexing) di Media Sosial1. Memicu Rasa Minder dan Tekanan SosialMelihat postingan berbau pamer dapat membuat orang merasa rendah diri dan tertekan secara psikologis.2. Mendorong Gaya Hidup Boros dan Tidak BijakFlexing seringkali menanamkan gaya hidup konsumtif yang jauh dari prinsip qana’ah dan sederhana.3. Menumbuhkan Iri dan Permusuhan SosialSifat pamer bisa memicu kecemburuan, iri hati, dan keretakan dalam hubungan sosial.4. Merusak Makna Sukses yang HakikiKesuksesan jadi disalahartikan hanya sebatas harta dan kemewahan, bukan ketakwaan atau amal salih.5. Meningkatkan Risiko Keamanan DiriMemamerkan kekayaan secara terbuka bisa mengundang bahaya seperti kejahatan dan penipuan.6. Menjerumuskan ke Dunia PalsuPencitraan berlebihan menjauhkan dari kejujuran dan keautentikan dalam hidup.7. Menurunkan Kepercayaan PublikTerlalu sering pamer bisa membuat seseorang dinilai sombong atau tidak layak dipercaya.Baca juga: Berbangga dengan Harta Sampai ke Kuburan (Tafsir At-Takatsur) Dampak Buruk Flexing oleh Pejabat Negara1. Mengikis Kepercayaan PublikRakyat jadi ragu terhadap amanah dan integritas pejabat. Terpikir, dari mana sumber kekayaannya?2. Menyulut Iri dan Ketimpangan SosialDi tengah kesulitan ekonomi, pamer kekayaan menciptakan luka sosial dan kecemburuan.3. Memicu Kemarahan dan Ketidakpuasan MasyarakatFlexing bisa memancing kritik tajam, sindiran, bahkan aksi sosial karena dianggap tak berempati.4. Merusak Keteladanan sebagai PemimpinPejabat semestinya tampil sederhana dan bijak. Bukan malah menonjolkan hedonisme.5. Mengundang Sorotan Hukum dan PemeriksaanPamer berlebihan bisa memicu audit kekayaan oleh KPK atau BPK karena menimbulkan kecurigaan publik.6. Viral Negatif dan Penghakiman NetizenPostingan mewah rentan viral. Reputasi bisa hancur meski belum terbukti bersalah secara hukum.Baca juga: Saling Berbangga dengan Harta Jangan Kita Mengikuti Flexingnya QarunAllah Ta’ala menyebutkan tentang Qarun,فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Qashash: 79)Dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan:Allah Ta’ala mengisahkan tentang Qarun, bahwa suatu hari ia keluar menemui kaumnya dengan penampilan yang sangat mencolok—penuh kemewahan dan kemegahan. Ia tampak angkuh dengan kendaraan megah, pakaian mewah, dan diiringi para pelayan serta pengikutnya. Ketika orang-orang yang mencintai dunia melihat penampilannya itu, hati mereka terpikat. Mereka berkata dengan penuh harap, “Wah, andaikan kita memiliki apa yang dimiliki Qarun…” Lalu mereka menambahkan, “Sungguh, Qarun adalah orang yang sangat beruntung.” Maksudnya, ia dianggap memiliki nasib yang sangat baik karena harta dan kemewahan duniawi yang ia miliki.Dalam Tafsir Syaikh As-Sa’di rahimahullah disebutkan:Qarun tetap berada dalam sikap keras kepala, angkuh, dan menolak nasihat dari kaumnya. Ia begitu bangga dan terpedaya dengan harta kekayaan yang Allah berikan kepadanya. Suatu hari, ia tampil di hadapan orang banyak dengan kemewahan luar biasa—berdandan dengan pakaian dan perhiasan yang paling indah, serta memperlihatkan kendaraan dan pengikutnya.Kemewahan yang ia tunjukkan sungguh mencolok. Semua perhiasan dunia, keindahan, dan kebanggaan ia tampilkan sekaligus, hingga mata orang-orang terbelalak kagum, hati mereka terpesona, dan jiwa mereka tercengang menyaksikannya. Pemandangan itu membuat manusia terbagi menjadi dua golongan.Golongan pertama adalah mereka yang terikat dengan kehidupan dunia. Dunia adalah tujuan akhir yang mereka kejar. Mereka pun berkata dengan penuh iri, “Seandainya kita punya harta dan kemewahan seperti Qarun, sungguh dia orang yang sangat beruntung.” Dalam pandangan mereka, kekayaan Qarun adalah keberuntungan besar, karena dengan harta itu ia bisa melakukan apa saja yang diinginkannya.Padahal, anggapan seperti ini menunjukkan betapa rendahnya cita-cita mereka. Mereka hanya menjadikan dunia yang fana sebagai tujuan akhir, seolah-olah tidak ada kehidupan lain setelahnya. Inilah impian paling hina dan tidak bernilai, karena hanya berhenti pada kesenangan sesaat, tanpa sedikit pun keinginan untuk meraih kebahagiaan yang lebih tinggi dan mulia, yaitu kehidupan akhirat. Sifat Qarun: Kaya, Tapi KikirQarun seorang kaya raya yang sangat kikir dan menolak mengeluarkan zakat. Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas. Ketika datang perintah zakat, Nabi Musa ‘alaihis salam pergi menemui Qarun dan memerintahnya mengeluarkan zakat sebesar satu dinar dari setiap seribu dinar hartanya, satu dirham dari setiap seribu dirham, satu kambing dari setiap seribu kambing, dan seterusnya. Setelah Qarun menghitung seluruh hartanya, ternyata jumlah zakatnya sangat besar. Kekikiran dan kegandrungannya pun mulai menghalangi hatinya untuk mengeluarkan zakat. Alih-alih mengeluarkan zakat, ia malah mengumpulkan sekelompok bani Israil dan mencoreng nama baik Nabi Musa ‘alaihis salam. Ia berkata, “Selama ini kalian taat terhadap apa yang diperintahkan Musa. Tahukah kalian, sekarang Musa ingin mengambil harta kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pembesar dan pemimpin kami. Perintahlah kami apa pun yang engkau mau.” (Lihat Ruhul Bayan, 6:435) Contoh Jelek dari QarunAllah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“.” (QS. Al-Qashash: 76). Yang dimaksud dengan “al-‘ushbah” adalah sekelompok orang, jumlahnya bisa sepuluh, sembilan, tujuh, atau sekitar itu. Jadi, bayangkanlah: hanya kunci-kunci gudang hartanya saja sudah membuat satu kelompok orang perkasa kewalahan memikulnya. Jika kuncinya saja demikian, bagaimana lagi dengan isi perbendaharaan itu sendiri?Kisah Qarun memang sangat menarik untuk direnungkan. Allah berfirman bahwa Qarun berasal dari kaum Musa, namun ia berlaku zalim terhadap mereka. Para ulama berbeda pendapat tentang hubungan nasabnya dengan Nabi Musa. Ibnu ‘Abbas menegaskan bahwa Qarun adalah sepupu Musa. Pendapat ini juga diikuti oleh Ibrahim An-Nakha‘i, Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, Simak bin Harb, Qatadah, Malik bin Dinar, Ibnu Juraij, dan sejumlah ulama lainnya. Ibnu Juraij bahkan merinci bahwa Qarun adalah putra Yashar bin Qahits, sedangkan Musa adalah putra Imran bin Qahits.Namun, Muhammad bin Ishaq punya pandangan berbeda. Ia mengatakan bahwa Qarun justru adalah paman Musa. Meskipun begitu, mayoritas ulama tetap berpegang bahwa Qarun adalah sepupu Musa, sebagaimana dikukuhkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, meskipun akhirnya ia menutup dengan ungkapan, “Allah lebih tahu yang sebenarnya.”Qatadah memberi tambahan keterangan: Qarun dikenal sebagai orang yang punya suara indah saat membaca Taurat hingga dijuluki “al-Munawwar” (si bersuara terang). Tetapi sayang, dia munafik sebagaimana halnya Samiri, lalu kebinasaan menimpanya karena kesombongan yang muncul akibat harta yang melimpah.Shahr bin Hawsyab menambahkan bahwa Qarun menambah panjang pakaiannya sejengkal lebih panjang dari kebiasaan, hanya untuk menyombongkan diri di hadapan kaumnya.Allah menggambarkan betapa besar kekayaan Qarun. Ia diberikan harta yang sangat banyak, sampai-sampai kunci-kunci perbendaharaannya saja berat dipikul oleh sekelompok orang kuat. Menurut riwayat, kunci-kunci itu dibuat dari kulit, masing-masing sebesar jari, dan setiap kunci digunakan untuk membuka satu gudang khusus. Disebutkan bahwa ketika Qarun bepergian, kunci-kunci itu harus diangkut dengan enam puluh ekor bagal yang gagah dan kuat.Di tengah kesombongan Qarun, kaumnya yang saleh berusaha menasihatinya. Mereka berkata, “Janganlah engkau terlalu gembira dan membanggakan diri dengan apa yang engkau miliki.” Maksudnya, jangan sampai ia larut dalam kesombongan karena harta. Ibnu ‘Abbas menafsirkan “jangan bergembira” di sini sebagai larangan untuk hidup dengan sikap sombong dan melampaui batas. Sementara Mujahid menjelaskan maksudnya adalah larangan bersikap angkuh, berlebih-lebihan, dan tidak bersyukur atas nikmat Allah.Selanjutnya, firman Allah,وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)Ayat ini melanjutkan nasihat orang-orang saleh kepada Qarun. Mereka berkata, “Gunakanlah apa yang telah Allah berikan kepadamu untuk meraih negeri akhirat. Jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”Maksudnya, harta dan nikmat besar yang dimiliki seseorang seharusnya dipakai untuk taat kepada Allah, untuk mendekatkan diri dengan amal-amal kebaikan yang akan menjadi bekal di akhirat. Namun, ini tidak berarti harus meninggalkan dunia sama sekali. Allah tetap membolehkan seseorang menikmati bagian dari dunia yang halal seperti makanan, minuman, pakaian, rumah, dan pernikahan. Bahkan, agama menekankan keseimbangan: ada hak Allah yang wajib ditunaikan, ada hak jiwa yang perlu dijaga, ada hak keluarga yang harus dipenuhi, dan ada hak tamu yang mesti dihormati.Kemudian datang perintah berikutnya: berbuatlah baik kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Nikmat yang Allah berikan bukan hanya untuk disyukuri secara pribadi, tetapi juga untuk dibagikan dalam bentuk kebaikan kepada sesama. Sebaliknya, harta itu jangan dijadikan sarana untuk berbuat kerusakan, merugikan orang lain, atau menimbulkan kesombongan. Karena Allah sama sekali tidak mencintai orang-orang yang merusak bumi dengan kekayaan dan kedudukannya.Selanjutnya, firman Allah,قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِۦ مِنَ ٱلْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْـَٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ ٱلْمُجْرِمُونَ“Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS. Al-Qashash: 78)Ayat ini menggambarkan jawaban sombong Qarun kepada kaumnya ketika mereka menasihatinya. Ia berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta ini karena ilmu yang ada padaku.”Maksud ucapannya adalah seakan-akan ia tidak butuh nasihat mereka. Menurutnya, harta yang ia miliki adalah bukti bahwa Allah memang tahu ia pantas menerimanya, bahkan tanda bahwa Allah mencintainya. Inilah bentuk kesombongan yang diabadikan Al-Qur’an, serupa dengan perkataan orang yang ditimpa nikmat setelah sebelumnya mengalami kesulitan, lalu merasa bahwa itu murni karena kepantasannya, bukan karena karunia Allah.Sebagian orang menafsirkan bahwa yang dimaksud Qarun adalah karena ia menguasai “ilmu kimia” yang diyakini bisa mengubah benda menjadi emas atau perak. Namun, penjelasan ini ditolak para ulama karena hakikatnya tidak ada seorang pun mampu mengubah hakikat benda selain Allah. Apa yang disebut “ilmu kimia” itu hanyalah tipuan, sekadar mengubah tampilan luar, bukan merubah esensi benda. Adapun kejadian luar biasa berupa perubahan benda menjadi sesuatu yang bernilai tinggi, bisa saja terjadi melalui karamah para wali dengan izin Allah, bukan karena kemampuan manusia.Ada pula yang berpendapat bahwa Qarun memiliki pengetahuan tentang al-ism al-a‘zhom (nama Allah yang agung) sehingga bisa memperoleh harta. Tetapi pendapat yang paling kuat adalah tafsiran pertama: ia meyakini bahwa kekayaannya adalah tanda keridhaan Allah dan hasil dari kelebihannya.Padahal Allah langsung membantah klaim tersebut. Jika benar kekayaan adalah tanda cinta Allah, mengapa banyak generasi sebelumnya yang jauh lebih kuat dan jauh lebih kaya dari Qarun justru dibinasakan? Harta mereka melimpah, kekuasaan mereka luas, tetapi Allah tetap menghancurkan mereka karena kufur dan tidak bersyukur. Maka, jelaslah bahwa banyaknya harta bukan tanda kasih sayang Allah, melainkan bisa jadi ujian dan sebab kebinasaan.Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: “Dan para pendosa itu tidak akan ditanya tentang dosa-dosa mereka.” Maksudnya, dosa-dosa mereka begitu banyak dan jelas, sampai-sampai tidak butuh lagi dipertanyakan.Qatadah menafsirkan ucapan Qarun “karena ilmu yang ada padaku” dengan maksud: “karena kebaikan yang aku miliki.” Sementara As-Suddi mengatakan: “karena aku merasa memang layak mendapatkannya.”Penjelasan yang indah datang dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Ia berkata bahwa maksud ucapan Qarun adalah: “Kalau bukan karena Allah ridha kepadaku dan mengetahui keutamaanku, tentu Dia tidak akan memberiku harta ini.” Inilah logika keliru yang juga sering diulang orang-orang berilmu dangkal: ketika melihat seseorang diluaskan rezekinya, mereka langsung menyangka bahwa itu pasti tanda keridhaan Allah, padahal bisa jadi sebaliknya—ujian atau bahkan istidraj (penundaan azab).Selanjutnya, firman Allah,فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Qashash: 79)Ayat ini menggambarkan puncak kesombongan Qarun. Pada suatu hari ia keluar menemui kaumnya dengan penampilan yang sangat mewah: pakaian berkilauan, perhiasan gemerlap, kendaraan penuh keanggunan, serta dikelilingi oleh para pelayan dan pengawalnya. Ia ingin memperlihatkan kemegahannya kepada manusia.Ketika orang-orang yang hatinya terpikat pada kehidupan dunia melihat pemandangan itu, mereka langsung terpesona. Mereka berangan-angan, “Andai saja kita memiliki seperti apa yang diberikan kepada Qarun. Sungguh, dia benar-benar orang yang sangat beruntung.”Mereka menilai Qarun sebagai orang yang punya kedudukan tinggi dan nasib istimewa karena harta yang dimilikinya. Pandangan itu lahir dari hati yang lebih memandang gemerlap dunia ketimbang bekal akhirat.Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّٰبِرُونَ“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”.” (QS. Al-Qashash: 80)Ketika orang-orang duniawi terpesona oleh kemewahan Qarun, para pemilik ilmu yang bermanfaat menegur mereka. Mereka berkata: “Celakalah kalian! Balasan dari Allah jauh lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh.”Mereka mengingatkan bahwa apa yang ada di sisi Allah di akhirat tak sebanding dengan perhiasan dunia. Dunia hanya sebentar, sedangkan pahala Allah kekal dan sempurna. Rasulullah ﷺ pun bersabda dalam hadits sahih: “Allah telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” Lalu beliau membacakan firman Allah:فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)Kemudian Allah menegaskan: “Dan tidaklah kalimat itu akan dipahami kecuali oleh orang-orang yang sabar.”As-Suddi menafsirkan bahwa maksudnya adalah surga, karena hanya orang yang sabar yang akan mendapatkannya. Ibnu Jarir menambahkan: hanya orang yang sabar menahan diri dari cinta dunia dan lebih menginginkan akhiratlah yang mampu memahami peringatan ini. Jadi, balasan Allah hanyalah bagi mereka yang sabar dalam iman, sabar dalam taat, sabar menahan diri dari maksiat, dan sabar menghadapi cobaan.Allah Ta’ala berfirman,فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُنتَصِرِينَ“Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS. Al-Qashash: 81)Bagian ini adalah klimaks dari kisah Qarun. Setelah Allah menceritakan kesombongan Qarun dengan harta dan perhiasannya, Al-Qur’an menutup dengan hukuman yang sangat mengerikan: “Maka Kami benamkan dia bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya kelompok yang dapat menolongnya selain Allah, dan ia pun tidak mampu menolong dirinya sendiri.”Para ahli tafsir menjelaskan bahwa Qarun benar-benar ditelan bumi dengan rumah dan seluruh harta bendanya. Tidak ada kekuatan apa pun, tidak ada kerabat, tidak ada pengawal, bahkan dirinya sendiri pun tidak bisa menyelamatkan diri dari azab Allah. Semua kekuasaan dan harta yang ia banggakan lenyap dalam sekejap.Nabi ﷺ mengingatkan bahaya kesombongan dengan beberapa hadis. Dalam riwayat sahih disebutkan: “Ketika ada seorang lelaki yang berjalan sambil menyeret pakaiannya dengan sombong, tiba-tiba bumi menelannya. Ia terus terbenam di bumi hingga Hari Kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain: “Seorang lelaki keluar dengan mengenakan dua kain hijau, berjalan dengan angkuh, lalu Allah memerintahkan bumi untuk menelannya. Ia pun terbenam di bumi hingga Hari Kiamat.”Sejumlah riwayat juga menceritakan sebab turunnya azab ini. Salah satunya, bahwa Qarun berusaha menjatuhkan kehormatan Nabi Musa di hadapan Bani Israil dengan menyuap seorang wanita untuk menuduh Musa berbuat keji dengannya. Namun wanita itu, ketika didesak dengan sumpah demi Allah, justru mengaku bahwa Qarun-lah yang menyuruhnya. Maka Musa berdoa kepada Allah, dan Allah memberinya izin untuk memerintahkan bumi menelan Qarun beserta hartanya.Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Qarun keluar dengan kemegahannya, melewati majelis Nabi Musa yang sedang memberi nasihat. Orang-orang pun menoleh kepada Qarun. Musa menegurnya, tetapi Qarun menantang Musa untuk berdoa saling melawan. Qarun berdoa, namun tidak dikabulkan. Giliran Musa berdoa, Allah pun mengabulkan. Maka Musa memerintahkan bumi untuk menelan Qarun sedikit demi sedikit—dari kaki, lutut, dada, hingga seluruh tubuhnya—lalu semua harta bendanya ikut tenggelam.Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Qarun ditelan sampai ke bumi lapis ketujuh. Qatadah menambahkan, setiap hari ia ditelan sejauh satu jarak “qāmah” (seukuran tinggi badan), hingga Hari Kiamat ia terus tenggelam tanpa henti.Akhir ayat menegaskan: “Tidak ada satu pun kelompok yang bisa menolongnya selain Allah. Ia sendiri pun tidak bisa menolong dirinya.” Semua harta, pasukan, dan pengikutnya tidak ada gunanya ketika azab Allah datang.Penjelasan tafsir di atas diambil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim dilengkapi dengan Tafsir As-Sa’di rahimahullah. Pelajaran dari Kisah Qarun yang Tidak Patut DitiruSombong karena hartaMenolak nasihat orang salehPamer kemewahan (flexing)Lupa akhirat, hanya mengejar duniaTidak bersyukur atas nikmat AllahMenjadikan harta sebagai sumber kebanggaanMenyakiti kaumnya dengan kezalimannyaMenganggap kekayaan sebagai tanda keistimewaan diriBerbuat kerusakan di muka bumiMengabaikan teladan kesederhanaan para nabi Harta sejatinya bukan untuk disombongkan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Jangan sampai kita menjadi seperti Qarun yang tenggelam oleh kesombongannya.Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap rendah hati, mensyukuri nikmat, dan menjadikan harta sebagai jalan menuju ridha-Nya. Aamiin.Baca Juga:Berbangga dengan Harta Sampai ke Kuburan (Tafsir At-Takatsur)Saling Berbangga dengan HartaReferensiAspinall, E., & Mietzner, M. (2019). Democratic regression in Indonesia: What can we learn from comparative experience? Contemporary Southeast Asia, 41(2), 256–282. https://doi.org/10.1355/cs41-2eChou, H. T. G., & Edge, N. (2012). “They are happier and having better lives than I am”: The impact of using Facebook on perceptions of others’ lives. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 15(2), 117–121. https://doi.org/10.1089/cyber.2011.0324Djafarova, E., & Trofimenko, O. (2019). ‘Instafamous’–credibility and self-presentation of micro-celebrities on social media. Information, Communication & Society, 22(10), 1432–1446. https://doi.org/10.1080/1369118X.2018.1438491Ibnu Katsir. (1431 H). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (Cet. 1). Ibnul Jauzi.Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (2022). Kajian gaya hidup pejabat publik. Laporan internal.Kross, E., Verduyn, P., Demiralp, E., Park, J., Lee, D. S., Lin, N., … & Ybarra, O. (2013). Facebook use predicts declines in subjective well-being in young adults. PLOS ONE, 8(8), e69841. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0069841Lipset, S. M., & Lenz, G. S. (2000). Corruption, culture, and markets. In L. E. Harrison & S. P. Huntington (Eds.), Culture matters (pp. 112–124). Basic Books.Nesi, J., & Prinstein, M. J. (2015). Using social media for social comparison and feedback-seeking: Gender and popularity moderate associations with depressive symptoms. Journal of Abnormal Child Psychology, 43(8), 1427–1438. https://doi.org/10.1007/s10802-015-0020-0Setiyono, B., & McLeod, R. H. (2010). Civil society organizations’ contribution to the anti-corruption movement in Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 46(3), 347–370. https://doi.org/10.1080/00074918.2010.486473Transparency International. (2023). Global corruption barometer: Asia 2023. https://www.transparency.org/en/gcb/asia/asia-2023 —- Selasa pagi, 10 Rabiul Awwal 1447 H, 2 September 2025 @ Perjalanan Panggang Gunungkidul – YogyakartaDr. Muhammad Abduh TuasikalRumaysho.Com Tagsapa itu harta bahaya sombong buang harta budak harta cinta harta dunia dan akhirat flexing harta haram hidup sederhana ibrah Qurani kemewahan dunia kesombongan kisah Qarun nasihat Al-Qur’an pamer harta pejabat pamer pelajaran Qarun qanaah tafsir Al-Qashash ujian harta
Fenomena flexing atau pamer kekayaan kini marak di media sosial, bahkan dilakukan pula oleh pejabat publik. Sikap seperti ini bukan hanya menimbulkan kecemburuan sosial, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat. Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan kisah Qarun yang tenggelam karena kesombongannya saat memamerkan harta. Dari sini kita belajar bahwa pamer harta bukanlah tanda keberuntungan, melainkan jalan menuju kehancuran bila tidak disyukuri dengan benar.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Flexing? 2. Dampak Negatif Pamer (Flexing) di Media Sosial 3. Dampak Buruk Flexing oleh Pejabat Negara 4. Jangan Kita Mengikuti Flexingnya Qarun 5. Sifat Qarun: Kaya, Tapi Kikir 6. Contoh Jelek dari Qarun 7. Pelajaran dari Kisah Qarun yang Tidak Patut Ditiru 7.1. Referensi Apa itu Flexing?“Flexing” adalah istilah slang yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya memamerkan sesuatu secara berlebihan untuk menunjukkan status, kekayaan, atau pencapaian pribadi. Di Indonesia, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan orang yang suka pamer – bisa pamer barang mahal, pencapaian, gaya hidup mewah, atau hal-hal lain yang dianggap “wah”.Contoh flexing:Memamerkan mobil mewah di media sosial dengan caption seperti, “Kerja keras tak akan mengkhianati hasil 💸🚘.”Upload foto traveling ke luar negeri tiap minggu dengan gaya hidup glamor.Menunjukkan saldo rekening atau nota belanja mahal.Dalam konteks sosial:Flexing bisa dilihat positif atau negatif tergantung tujuannya:✅ Positif jika tujuannya memotivasi atau menunjukkan hasil kerja keras.❌ Negatif jika niatnya pamer, merendahkan orang lain, atau sekadar mencari validasi sosial. Dampak Negatif Pamer (Flexing) di Media Sosial1. Memicu Rasa Minder dan Tekanan SosialMelihat postingan berbau pamer dapat membuat orang merasa rendah diri dan tertekan secara psikologis.2. Mendorong Gaya Hidup Boros dan Tidak BijakFlexing seringkali menanamkan gaya hidup konsumtif yang jauh dari prinsip qana’ah dan sederhana.3. Menumbuhkan Iri dan Permusuhan SosialSifat pamer bisa memicu kecemburuan, iri hati, dan keretakan dalam hubungan sosial.4. Merusak Makna Sukses yang HakikiKesuksesan jadi disalahartikan hanya sebatas harta dan kemewahan, bukan ketakwaan atau amal salih.5. Meningkatkan Risiko Keamanan DiriMemamerkan kekayaan secara terbuka bisa mengundang bahaya seperti kejahatan dan penipuan.6. Menjerumuskan ke Dunia PalsuPencitraan berlebihan menjauhkan dari kejujuran dan keautentikan dalam hidup.7. Menurunkan Kepercayaan PublikTerlalu sering pamer bisa membuat seseorang dinilai sombong atau tidak layak dipercaya.Baca juga: Berbangga dengan Harta Sampai ke Kuburan (Tafsir At-Takatsur) Dampak Buruk Flexing oleh Pejabat Negara1. Mengikis Kepercayaan PublikRakyat jadi ragu terhadap amanah dan integritas pejabat. Terpikir, dari mana sumber kekayaannya?2. Menyulut Iri dan Ketimpangan SosialDi tengah kesulitan ekonomi, pamer kekayaan menciptakan luka sosial dan kecemburuan.3. Memicu Kemarahan dan Ketidakpuasan MasyarakatFlexing bisa memancing kritik tajam, sindiran, bahkan aksi sosial karena dianggap tak berempati.4. Merusak Keteladanan sebagai PemimpinPejabat semestinya tampil sederhana dan bijak. Bukan malah menonjolkan hedonisme.5. Mengundang Sorotan Hukum dan PemeriksaanPamer berlebihan bisa memicu audit kekayaan oleh KPK atau BPK karena menimbulkan kecurigaan publik.6. Viral Negatif dan Penghakiman NetizenPostingan mewah rentan viral. Reputasi bisa hancur meski belum terbukti bersalah secara hukum.Baca juga: Saling Berbangga dengan Harta Jangan Kita Mengikuti Flexingnya QarunAllah Ta’ala menyebutkan tentang Qarun,فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Qashash: 79)Dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan:Allah Ta’ala mengisahkan tentang Qarun, bahwa suatu hari ia keluar menemui kaumnya dengan penampilan yang sangat mencolok—penuh kemewahan dan kemegahan. Ia tampak angkuh dengan kendaraan megah, pakaian mewah, dan diiringi para pelayan serta pengikutnya. Ketika orang-orang yang mencintai dunia melihat penampilannya itu, hati mereka terpikat. Mereka berkata dengan penuh harap, “Wah, andaikan kita memiliki apa yang dimiliki Qarun…” Lalu mereka menambahkan, “Sungguh, Qarun adalah orang yang sangat beruntung.” Maksudnya, ia dianggap memiliki nasib yang sangat baik karena harta dan kemewahan duniawi yang ia miliki.Dalam Tafsir Syaikh As-Sa’di rahimahullah disebutkan:Qarun tetap berada dalam sikap keras kepala, angkuh, dan menolak nasihat dari kaumnya. Ia begitu bangga dan terpedaya dengan harta kekayaan yang Allah berikan kepadanya. Suatu hari, ia tampil di hadapan orang banyak dengan kemewahan luar biasa—berdandan dengan pakaian dan perhiasan yang paling indah, serta memperlihatkan kendaraan dan pengikutnya.Kemewahan yang ia tunjukkan sungguh mencolok. Semua perhiasan dunia, keindahan, dan kebanggaan ia tampilkan sekaligus, hingga mata orang-orang terbelalak kagum, hati mereka terpesona, dan jiwa mereka tercengang menyaksikannya. Pemandangan itu membuat manusia terbagi menjadi dua golongan.Golongan pertama adalah mereka yang terikat dengan kehidupan dunia. Dunia adalah tujuan akhir yang mereka kejar. Mereka pun berkata dengan penuh iri, “Seandainya kita punya harta dan kemewahan seperti Qarun, sungguh dia orang yang sangat beruntung.” Dalam pandangan mereka, kekayaan Qarun adalah keberuntungan besar, karena dengan harta itu ia bisa melakukan apa saja yang diinginkannya.Padahal, anggapan seperti ini menunjukkan betapa rendahnya cita-cita mereka. Mereka hanya menjadikan dunia yang fana sebagai tujuan akhir, seolah-olah tidak ada kehidupan lain setelahnya. Inilah impian paling hina dan tidak bernilai, karena hanya berhenti pada kesenangan sesaat, tanpa sedikit pun keinginan untuk meraih kebahagiaan yang lebih tinggi dan mulia, yaitu kehidupan akhirat. Sifat Qarun: Kaya, Tapi KikirQarun seorang kaya raya yang sangat kikir dan menolak mengeluarkan zakat. Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas. Ketika datang perintah zakat, Nabi Musa ‘alaihis salam pergi menemui Qarun dan memerintahnya mengeluarkan zakat sebesar satu dinar dari setiap seribu dinar hartanya, satu dirham dari setiap seribu dirham, satu kambing dari setiap seribu kambing, dan seterusnya. Setelah Qarun menghitung seluruh hartanya, ternyata jumlah zakatnya sangat besar. Kekikiran dan kegandrungannya pun mulai menghalangi hatinya untuk mengeluarkan zakat. Alih-alih mengeluarkan zakat, ia malah mengumpulkan sekelompok bani Israil dan mencoreng nama baik Nabi Musa ‘alaihis salam. Ia berkata, “Selama ini kalian taat terhadap apa yang diperintahkan Musa. Tahukah kalian, sekarang Musa ingin mengambil harta kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pembesar dan pemimpin kami. Perintahlah kami apa pun yang engkau mau.” (Lihat Ruhul Bayan, 6:435) Contoh Jelek dari QarunAllah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“.” (QS. Al-Qashash: 76). Yang dimaksud dengan “al-‘ushbah” adalah sekelompok orang, jumlahnya bisa sepuluh, sembilan, tujuh, atau sekitar itu. Jadi, bayangkanlah: hanya kunci-kunci gudang hartanya saja sudah membuat satu kelompok orang perkasa kewalahan memikulnya. Jika kuncinya saja demikian, bagaimana lagi dengan isi perbendaharaan itu sendiri?Kisah Qarun memang sangat menarik untuk direnungkan. Allah berfirman bahwa Qarun berasal dari kaum Musa, namun ia berlaku zalim terhadap mereka. Para ulama berbeda pendapat tentang hubungan nasabnya dengan Nabi Musa. Ibnu ‘Abbas menegaskan bahwa Qarun adalah sepupu Musa. Pendapat ini juga diikuti oleh Ibrahim An-Nakha‘i, Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, Simak bin Harb, Qatadah, Malik bin Dinar, Ibnu Juraij, dan sejumlah ulama lainnya. Ibnu Juraij bahkan merinci bahwa Qarun adalah putra Yashar bin Qahits, sedangkan Musa adalah putra Imran bin Qahits.Namun, Muhammad bin Ishaq punya pandangan berbeda. Ia mengatakan bahwa Qarun justru adalah paman Musa. Meskipun begitu, mayoritas ulama tetap berpegang bahwa Qarun adalah sepupu Musa, sebagaimana dikukuhkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, meskipun akhirnya ia menutup dengan ungkapan, “Allah lebih tahu yang sebenarnya.”Qatadah memberi tambahan keterangan: Qarun dikenal sebagai orang yang punya suara indah saat membaca Taurat hingga dijuluki “al-Munawwar” (si bersuara terang). Tetapi sayang, dia munafik sebagaimana halnya Samiri, lalu kebinasaan menimpanya karena kesombongan yang muncul akibat harta yang melimpah.Shahr bin Hawsyab menambahkan bahwa Qarun menambah panjang pakaiannya sejengkal lebih panjang dari kebiasaan, hanya untuk menyombongkan diri di hadapan kaumnya.Allah menggambarkan betapa besar kekayaan Qarun. Ia diberikan harta yang sangat banyak, sampai-sampai kunci-kunci perbendaharaannya saja berat dipikul oleh sekelompok orang kuat. Menurut riwayat, kunci-kunci itu dibuat dari kulit, masing-masing sebesar jari, dan setiap kunci digunakan untuk membuka satu gudang khusus. Disebutkan bahwa ketika Qarun bepergian, kunci-kunci itu harus diangkut dengan enam puluh ekor bagal yang gagah dan kuat.Di tengah kesombongan Qarun, kaumnya yang saleh berusaha menasihatinya. Mereka berkata, “Janganlah engkau terlalu gembira dan membanggakan diri dengan apa yang engkau miliki.” Maksudnya, jangan sampai ia larut dalam kesombongan karena harta. Ibnu ‘Abbas menafsirkan “jangan bergembira” di sini sebagai larangan untuk hidup dengan sikap sombong dan melampaui batas. Sementara Mujahid menjelaskan maksudnya adalah larangan bersikap angkuh, berlebih-lebihan, dan tidak bersyukur atas nikmat Allah.Selanjutnya, firman Allah,وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)Ayat ini melanjutkan nasihat orang-orang saleh kepada Qarun. Mereka berkata, “Gunakanlah apa yang telah Allah berikan kepadamu untuk meraih negeri akhirat. Jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”Maksudnya, harta dan nikmat besar yang dimiliki seseorang seharusnya dipakai untuk taat kepada Allah, untuk mendekatkan diri dengan amal-amal kebaikan yang akan menjadi bekal di akhirat. Namun, ini tidak berarti harus meninggalkan dunia sama sekali. Allah tetap membolehkan seseorang menikmati bagian dari dunia yang halal seperti makanan, minuman, pakaian, rumah, dan pernikahan. Bahkan, agama menekankan keseimbangan: ada hak Allah yang wajib ditunaikan, ada hak jiwa yang perlu dijaga, ada hak keluarga yang harus dipenuhi, dan ada hak tamu yang mesti dihormati.Kemudian datang perintah berikutnya: berbuatlah baik kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Nikmat yang Allah berikan bukan hanya untuk disyukuri secara pribadi, tetapi juga untuk dibagikan dalam bentuk kebaikan kepada sesama. Sebaliknya, harta itu jangan dijadikan sarana untuk berbuat kerusakan, merugikan orang lain, atau menimbulkan kesombongan. Karena Allah sama sekali tidak mencintai orang-orang yang merusak bumi dengan kekayaan dan kedudukannya.Selanjutnya, firman Allah,قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِۦ مِنَ ٱلْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْـَٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ ٱلْمُجْرِمُونَ“Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS. Al-Qashash: 78)Ayat ini menggambarkan jawaban sombong Qarun kepada kaumnya ketika mereka menasihatinya. Ia berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta ini karena ilmu yang ada padaku.”Maksud ucapannya adalah seakan-akan ia tidak butuh nasihat mereka. Menurutnya, harta yang ia miliki adalah bukti bahwa Allah memang tahu ia pantas menerimanya, bahkan tanda bahwa Allah mencintainya. Inilah bentuk kesombongan yang diabadikan Al-Qur’an, serupa dengan perkataan orang yang ditimpa nikmat setelah sebelumnya mengalami kesulitan, lalu merasa bahwa itu murni karena kepantasannya, bukan karena karunia Allah.Sebagian orang menafsirkan bahwa yang dimaksud Qarun adalah karena ia menguasai “ilmu kimia” yang diyakini bisa mengubah benda menjadi emas atau perak. Namun, penjelasan ini ditolak para ulama karena hakikatnya tidak ada seorang pun mampu mengubah hakikat benda selain Allah. Apa yang disebut “ilmu kimia” itu hanyalah tipuan, sekadar mengubah tampilan luar, bukan merubah esensi benda. Adapun kejadian luar biasa berupa perubahan benda menjadi sesuatu yang bernilai tinggi, bisa saja terjadi melalui karamah para wali dengan izin Allah, bukan karena kemampuan manusia.Ada pula yang berpendapat bahwa Qarun memiliki pengetahuan tentang al-ism al-a‘zhom (nama Allah yang agung) sehingga bisa memperoleh harta. Tetapi pendapat yang paling kuat adalah tafsiran pertama: ia meyakini bahwa kekayaannya adalah tanda keridhaan Allah dan hasil dari kelebihannya.Padahal Allah langsung membantah klaim tersebut. Jika benar kekayaan adalah tanda cinta Allah, mengapa banyak generasi sebelumnya yang jauh lebih kuat dan jauh lebih kaya dari Qarun justru dibinasakan? Harta mereka melimpah, kekuasaan mereka luas, tetapi Allah tetap menghancurkan mereka karena kufur dan tidak bersyukur. Maka, jelaslah bahwa banyaknya harta bukan tanda kasih sayang Allah, melainkan bisa jadi ujian dan sebab kebinasaan.Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: “Dan para pendosa itu tidak akan ditanya tentang dosa-dosa mereka.” Maksudnya, dosa-dosa mereka begitu banyak dan jelas, sampai-sampai tidak butuh lagi dipertanyakan.Qatadah menafsirkan ucapan Qarun “karena ilmu yang ada padaku” dengan maksud: “karena kebaikan yang aku miliki.” Sementara As-Suddi mengatakan: “karena aku merasa memang layak mendapatkannya.”Penjelasan yang indah datang dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Ia berkata bahwa maksud ucapan Qarun adalah: “Kalau bukan karena Allah ridha kepadaku dan mengetahui keutamaanku, tentu Dia tidak akan memberiku harta ini.” Inilah logika keliru yang juga sering diulang orang-orang berilmu dangkal: ketika melihat seseorang diluaskan rezekinya, mereka langsung menyangka bahwa itu pasti tanda keridhaan Allah, padahal bisa jadi sebaliknya—ujian atau bahkan istidraj (penundaan azab).Selanjutnya, firman Allah,فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Qashash: 79)Ayat ini menggambarkan puncak kesombongan Qarun. Pada suatu hari ia keluar menemui kaumnya dengan penampilan yang sangat mewah: pakaian berkilauan, perhiasan gemerlap, kendaraan penuh keanggunan, serta dikelilingi oleh para pelayan dan pengawalnya. Ia ingin memperlihatkan kemegahannya kepada manusia.Ketika orang-orang yang hatinya terpikat pada kehidupan dunia melihat pemandangan itu, mereka langsung terpesona. Mereka berangan-angan, “Andai saja kita memiliki seperti apa yang diberikan kepada Qarun. Sungguh, dia benar-benar orang yang sangat beruntung.”Mereka menilai Qarun sebagai orang yang punya kedudukan tinggi dan nasib istimewa karena harta yang dimilikinya. Pandangan itu lahir dari hati yang lebih memandang gemerlap dunia ketimbang bekal akhirat.Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّٰبِرُونَ“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”.” (QS. Al-Qashash: 80)Ketika orang-orang duniawi terpesona oleh kemewahan Qarun, para pemilik ilmu yang bermanfaat menegur mereka. Mereka berkata: “Celakalah kalian! Balasan dari Allah jauh lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh.”Mereka mengingatkan bahwa apa yang ada di sisi Allah di akhirat tak sebanding dengan perhiasan dunia. Dunia hanya sebentar, sedangkan pahala Allah kekal dan sempurna. Rasulullah ﷺ pun bersabda dalam hadits sahih: “Allah telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” Lalu beliau membacakan firman Allah:فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)Kemudian Allah menegaskan: “Dan tidaklah kalimat itu akan dipahami kecuali oleh orang-orang yang sabar.”As-Suddi menafsirkan bahwa maksudnya adalah surga, karena hanya orang yang sabar yang akan mendapatkannya. Ibnu Jarir menambahkan: hanya orang yang sabar menahan diri dari cinta dunia dan lebih menginginkan akhiratlah yang mampu memahami peringatan ini. Jadi, balasan Allah hanyalah bagi mereka yang sabar dalam iman, sabar dalam taat, sabar menahan diri dari maksiat, dan sabar menghadapi cobaan.Allah Ta’ala berfirman,فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُنتَصِرِينَ“Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS. Al-Qashash: 81)Bagian ini adalah klimaks dari kisah Qarun. Setelah Allah menceritakan kesombongan Qarun dengan harta dan perhiasannya, Al-Qur’an menutup dengan hukuman yang sangat mengerikan: “Maka Kami benamkan dia bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya kelompok yang dapat menolongnya selain Allah, dan ia pun tidak mampu menolong dirinya sendiri.”Para ahli tafsir menjelaskan bahwa Qarun benar-benar ditelan bumi dengan rumah dan seluruh harta bendanya. Tidak ada kekuatan apa pun, tidak ada kerabat, tidak ada pengawal, bahkan dirinya sendiri pun tidak bisa menyelamatkan diri dari azab Allah. Semua kekuasaan dan harta yang ia banggakan lenyap dalam sekejap.Nabi ﷺ mengingatkan bahaya kesombongan dengan beberapa hadis. Dalam riwayat sahih disebutkan: “Ketika ada seorang lelaki yang berjalan sambil menyeret pakaiannya dengan sombong, tiba-tiba bumi menelannya. Ia terus terbenam di bumi hingga Hari Kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain: “Seorang lelaki keluar dengan mengenakan dua kain hijau, berjalan dengan angkuh, lalu Allah memerintahkan bumi untuk menelannya. Ia pun terbenam di bumi hingga Hari Kiamat.”Sejumlah riwayat juga menceritakan sebab turunnya azab ini. Salah satunya, bahwa Qarun berusaha menjatuhkan kehormatan Nabi Musa di hadapan Bani Israil dengan menyuap seorang wanita untuk menuduh Musa berbuat keji dengannya. Namun wanita itu, ketika didesak dengan sumpah demi Allah, justru mengaku bahwa Qarun-lah yang menyuruhnya. Maka Musa berdoa kepada Allah, dan Allah memberinya izin untuk memerintahkan bumi menelan Qarun beserta hartanya.Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Qarun keluar dengan kemegahannya, melewati majelis Nabi Musa yang sedang memberi nasihat. Orang-orang pun menoleh kepada Qarun. Musa menegurnya, tetapi Qarun menantang Musa untuk berdoa saling melawan. Qarun berdoa, namun tidak dikabulkan. Giliran Musa berdoa, Allah pun mengabulkan. Maka Musa memerintahkan bumi untuk menelan Qarun sedikit demi sedikit—dari kaki, lutut, dada, hingga seluruh tubuhnya—lalu semua harta bendanya ikut tenggelam.Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Qarun ditelan sampai ke bumi lapis ketujuh. Qatadah menambahkan, setiap hari ia ditelan sejauh satu jarak “qāmah” (seukuran tinggi badan), hingga Hari Kiamat ia terus tenggelam tanpa henti.Akhir ayat menegaskan: “Tidak ada satu pun kelompok yang bisa menolongnya selain Allah. Ia sendiri pun tidak bisa menolong dirinya.” Semua harta, pasukan, dan pengikutnya tidak ada gunanya ketika azab Allah datang.Penjelasan tafsir di atas diambil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim dilengkapi dengan Tafsir As-Sa’di rahimahullah. Pelajaran dari Kisah Qarun yang Tidak Patut DitiruSombong karena hartaMenolak nasihat orang salehPamer kemewahan (flexing)Lupa akhirat, hanya mengejar duniaTidak bersyukur atas nikmat AllahMenjadikan harta sebagai sumber kebanggaanMenyakiti kaumnya dengan kezalimannyaMenganggap kekayaan sebagai tanda keistimewaan diriBerbuat kerusakan di muka bumiMengabaikan teladan kesederhanaan para nabi Harta sejatinya bukan untuk disombongkan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Jangan sampai kita menjadi seperti Qarun yang tenggelam oleh kesombongannya.Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap rendah hati, mensyukuri nikmat, dan menjadikan harta sebagai jalan menuju ridha-Nya. Aamiin.Baca Juga:Berbangga dengan Harta Sampai ke Kuburan (Tafsir At-Takatsur)Saling Berbangga dengan HartaReferensiAspinall, E., & Mietzner, M. (2019). Democratic regression in Indonesia: What can we learn from comparative experience? Contemporary Southeast Asia, 41(2), 256–282. https://doi.org/10.1355/cs41-2eChou, H. T. G., & Edge, N. (2012). “They are happier and having better lives than I am”: The impact of using Facebook on perceptions of others’ lives. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 15(2), 117–121. https://doi.org/10.1089/cyber.2011.0324Djafarova, E., & Trofimenko, O. (2019). ‘Instafamous’–credibility and self-presentation of micro-celebrities on social media. Information, Communication & Society, 22(10), 1432–1446. https://doi.org/10.1080/1369118X.2018.1438491Ibnu Katsir. (1431 H). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (Cet. 1). Ibnul Jauzi.Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (2022). Kajian gaya hidup pejabat publik. Laporan internal.Kross, E., Verduyn, P., Demiralp, E., Park, J., Lee, D. S., Lin, N., … & Ybarra, O. (2013). Facebook use predicts declines in subjective well-being in young adults. PLOS ONE, 8(8), e69841. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0069841Lipset, S. M., & Lenz, G. S. (2000). Corruption, culture, and markets. In L. E. Harrison & S. P. Huntington (Eds.), Culture matters (pp. 112–124). Basic Books.Nesi, J., & Prinstein, M. J. (2015). Using social media for social comparison and feedback-seeking: Gender and popularity moderate associations with depressive symptoms. Journal of Abnormal Child Psychology, 43(8), 1427–1438. https://doi.org/10.1007/s10802-015-0020-0Setiyono, B., & McLeod, R. H. (2010). Civil society organizations’ contribution to the anti-corruption movement in Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 46(3), 347–370. https://doi.org/10.1080/00074918.2010.486473Transparency International. (2023). Global corruption barometer: Asia 2023. https://www.transparency.org/en/gcb/asia/asia-2023 —- Selasa pagi, 10 Rabiul Awwal 1447 H, 2 September 2025 @ Perjalanan Panggang Gunungkidul – YogyakartaDr. Muhammad Abduh TuasikalRumaysho.Com Tagsapa itu harta bahaya sombong buang harta budak harta cinta harta dunia dan akhirat flexing harta haram hidup sederhana ibrah Qurani kemewahan dunia kesombongan kisah Qarun nasihat Al-Qur’an pamer harta pejabat pamer pelajaran Qarun qanaah tafsir Al-Qashash ujian harta


Fenomena flexing atau pamer kekayaan kini marak di media sosial, bahkan dilakukan pula oleh pejabat publik. Sikap seperti ini bukan hanya menimbulkan kecemburuan sosial, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat. Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan kisah Qarun yang tenggelam karena kesombongannya saat memamerkan harta. Dari sini kita belajar bahwa pamer harta bukanlah tanda keberuntungan, melainkan jalan menuju kehancuran bila tidak disyukuri dengan benar.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Flexing? 2. Dampak Negatif Pamer (Flexing) di Media Sosial 3. Dampak Buruk Flexing oleh Pejabat Negara 4. Jangan Kita Mengikuti Flexingnya Qarun 5. Sifat Qarun: Kaya, Tapi Kikir 6. Contoh Jelek dari Qarun 7. Pelajaran dari Kisah Qarun yang Tidak Patut Ditiru 7.1. Referensi Apa itu Flexing?“Flexing” adalah istilah slang yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya memamerkan sesuatu secara berlebihan untuk menunjukkan status, kekayaan, atau pencapaian pribadi. Di Indonesia, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan orang yang suka pamer – bisa pamer barang mahal, pencapaian, gaya hidup mewah, atau hal-hal lain yang dianggap “wah”.Contoh flexing:Memamerkan mobil mewah di media sosial dengan caption seperti, “Kerja keras tak akan mengkhianati hasil 💸🚘.”Upload foto traveling ke luar negeri tiap minggu dengan gaya hidup glamor.Menunjukkan saldo rekening atau nota belanja mahal.Dalam konteks sosial:Flexing bisa dilihat positif atau negatif tergantung tujuannya:✅ Positif jika tujuannya memotivasi atau menunjukkan hasil kerja keras.❌ Negatif jika niatnya pamer, merendahkan orang lain, atau sekadar mencari validasi sosial. Dampak Negatif Pamer (Flexing) di Media Sosial1. Memicu Rasa Minder dan Tekanan SosialMelihat postingan berbau pamer dapat membuat orang merasa rendah diri dan tertekan secara psikologis.2. Mendorong Gaya Hidup Boros dan Tidak BijakFlexing seringkali menanamkan gaya hidup konsumtif yang jauh dari prinsip qana’ah dan sederhana.3. Menumbuhkan Iri dan Permusuhan SosialSifat pamer bisa memicu kecemburuan, iri hati, dan keretakan dalam hubungan sosial.4. Merusak Makna Sukses yang HakikiKesuksesan jadi disalahartikan hanya sebatas harta dan kemewahan, bukan ketakwaan atau amal salih.5. Meningkatkan Risiko Keamanan DiriMemamerkan kekayaan secara terbuka bisa mengundang bahaya seperti kejahatan dan penipuan.6. Menjerumuskan ke Dunia PalsuPencitraan berlebihan menjauhkan dari kejujuran dan keautentikan dalam hidup.7. Menurunkan Kepercayaan PublikTerlalu sering pamer bisa membuat seseorang dinilai sombong atau tidak layak dipercaya.Baca juga: Berbangga dengan Harta Sampai ke Kuburan (Tafsir At-Takatsur) Dampak Buruk Flexing oleh Pejabat Negara1. Mengikis Kepercayaan PublikRakyat jadi ragu terhadap amanah dan integritas pejabat. Terpikir, dari mana sumber kekayaannya?2. Menyulut Iri dan Ketimpangan SosialDi tengah kesulitan ekonomi, pamer kekayaan menciptakan luka sosial dan kecemburuan.3. Memicu Kemarahan dan Ketidakpuasan MasyarakatFlexing bisa memancing kritik tajam, sindiran, bahkan aksi sosial karena dianggap tak berempati.4. Merusak Keteladanan sebagai PemimpinPejabat semestinya tampil sederhana dan bijak. Bukan malah menonjolkan hedonisme.5. Mengundang Sorotan Hukum dan PemeriksaanPamer berlebihan bisa memicu audit kekayaan oleh KPK atau BPK karena menimbulkan kecurigaan publik.6. Viral Negatif dan Penghakiman NetizenPostingan mewah rentan viral. Reputasi bisa hancur meski belum terbukti bersalah secara hukum.Baca juga: Saling Berbangga dengan Harta Jangan Kita Mengikuti Flexingnya QarunAllah Ta’ala menyebutkan tentang Qarun,فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Qashash: 79)Dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan:Allah Ta’ala mengisahkan tentang Qarun, bahwa suatu hari ia keluar menemui kaumnya dengan penampilan yang sangat mencolok—penuh kemewahan dan kemegahan. Ia tampak angkuh dengan kendaraan megah, pakaian mewah, dan diiringi para pelayan serta pengikutnya. Ketika orang-orang yang mencintai dunia melihat penampilannya itu, hati mereka terpikat. Mereka berkata dengan penuh harap, “Wah, andaikan kita memiliki apa yang dimiliki Qarun…” Lalu mereka menambahkan, “Sungguh, Qarun adalah orang yang sangat beruntung.” Maksudnya, ia dianggap memiliki nasib yang sangat baik karena harta dan kemewahan duniawi yang ia miliki.Dalam Tafsir Syaikh As-Sa’di rahimahullah disebutkan:Qarun tetap berada dalam sikap keras kepala, angkuh, dan menolak nasihat dari kaumnya. Ia begitu bangga dan terpedaya dengan harta kekayaan yang Allah berikan kepadanya. Suatu hari, ia tampil di hadapan orang banyak dengan kemewahan luar biasa—berdandan dengan pakaian dan perhiasan yang paling indah, serta memperlihatkan kendaraan dan pengikutnya.Kemewahan yang ia tunjukkan sungguh mencolok. Semua perhiasan dunia, keindahan, dan kebanggaan ia tampilkan sekaligus, hingga mata orang-orang terbelalak kagum, hati mereka terpesona, dan jiwa mereka tercengang menyaksikannya. Pemandangan itu membuat manusia terbagi menjadi dua golongan.Golongan pertama adalah mereka yang terikat dengan kehidupan dunia. Dunia adalah tujuan akhir yang mereka kejar. Mereka pun berkata dengan penuh iri, “Seandainya kita punya harta dan kemewahan seperti Qarun, sungguh dia orang yang sangat beruntung.” Dalam pandangan mereka, kekayaan Qarun adalah keberuntungan besar, karena dengan harta itu ia bisa melakukan apa saja yang diinginkannya.Padahal, anggapan seperti ini menunjukkan betapa rendahnya cita-cita mereka. Mereka hanya menjadikan dunia yang fana sebagai tujuan akhir, seolah-olah tidak ada kehidupan lain setelahnya. Inilah impian paling hina dan tidak bernilai, karena hanya berhenti pada kesenangan sesaat, tanpa sedikit pun keinginan untuk meraih kebahagiaan yang lebih tinggi dan mulia, yaitu kehidupan akhirat. Sifat Qarun: Kaya, Tapi KikirQarun seorang kaya raya yang sangat kikir dan menolak mengeluarkan zakat. Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas. Ketika datang perintah zakat, Nabi Musa ‘alaihis salam pergi menemui Qarun dan memerintahnya mengeluarkan zakat sebesar satu dinar dari setiap seribu dinar hartanya, satu dirham dari setiap seribu dirham, satu kambing dari setiap seribu kambing, dan seterusnya. Setelah Qarun menghitung seluruh hartanya, ternyata jumlah zakatnya sangat besar. Kekikiran dan kegandrungannya pun mulai menghalangi hatinya untuk mengeluarkan zakat. Alih-alih mengeluarkan zakat, ia malah mengumpulkan sekelompok bani Israil dan mencoreng nama baik Nabi Musa ‘alaihis salam. Ia berkata, “Selama ini kalian taat terhadap apa yang diperintahkan Musa. Tahukah kalian, sekarang Musa ingin mengambil harta kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pembesar dan pemimpin kami. Perintahlah kami apa pun yang engkau mau.” (Lihat Ruhul Bayan, 6:435) Contoh Jelek dari QarunAllah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“.” (QS. Al-Qashash: 76). Yang dimaksud dengan “al-‘ushbah” adalah sekelompok orang, jumlahnya bisa sepuluh, sembilan, tujuh, atau sekitar itu. Jadi, bayangkanlah: hanya kunci-kunci gudang hartanya saja sudah membuat satu kelompok orang perkasa kewalahan memikulnya. Jika kuncinya saja demikian, bagaimana lagi dengan isi perbendaharaan itu sendiri?Kisah Qarun memang sangat menarik untuk direnungkan. Allah berfirman bahwa Qarun berasal dari kaum Musa, namun ia berlaku zalim terhadap mereka. Para ulama berbeda pendapat tentang hubungan nasabnya dengan Nabi Musa. Ibnu ‘Abbas menegaskan bahwa Qarun adalah sepupu Musa. Pendapat ini juga diikuti oleh Ibrahim An-Nakha‘i, Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, Simak bin Harb, Qatadah, Malik bin Dinar, Ibnu Juraij, dan sejumlah ulama lainnya. Ibnu Juraij bahkan merinci bahwa Qarun adalah putra Yashar bin Qahits, sedangkan Musa adalah putra Imran bin Qahits.Namun, Muhammad bin Ishaq punya pandangan berbeda. Ia mengatakan bahwa Qarun justru adalah paman Musa. Meskipun begitu, mayoritas ulama tetap berpegang bahwa Qarun adalah sepupu Musa, sebagaimana dikukuhkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, meskipun akhirnya ia menutup dengan ungkapan, “Allah lebih tahu yang sebenarnya.”Qatadah memberi tambahan keterangan: Qarun dikenal sebagai orang yang punya suara indah saat membaca Taurat hingga dijuluki “al-Munawwar” (si bersuara terang). Tetapi sayang, dia munafik sebagaimana halnya Samiri, lalu kebinasaan menimpanya karena kesombongan yang muncul akibat harta yang melimpah.Shahr bin Hawsyab menambahkan bahwa Qarun menambah panjang pakaiannya sejengkal lebih panjang dari kebiasaan, hanya untuk menyombongkan diri di hadapan kaumnya.Allah menggambarkan betapa besar kekayaan Qarun. Ia diberikan harta yang sangat banyak, sampai-sampai kunci-kunci perbendaharaannya saja berat dipikul oleh sekelompok orang kuat. Menurut riwayat, kunci-kunci itu dibuat dari kulit, masing-masing sebesar jari, dan setiap kunci digunakan untuk membuka satu gudang khusus. Disebutkan bahwa ketika Qarun bepergian, kunci-kunci itu harus diangkut dengan enam puluh ekor bagal yang gagah dan kuat.Di tengah kesombongan Qarun, kaumnya yang saleh berusaha menasihatinya. Mereka berkata, “Janganlah engkau terlalu gembira dan membanggakan diri dengan apa yang engkau miliki.” Maksudnya, jangan sampai ia larut dalam kesombongan karena harta. Ibnu ‘Abbas menafsirkan “jangan bergembira” di sini sebagai larangan untuk hidup dengan sikap sombong dan melampaui batas. Sementara Mujahid menjelaskan maksudnya adalah larangan bersikap angkuh, berlebih-lebihan, dan tidak bersyukur atas nikmat Allah.Selanjutnya, firman Allah,وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)Ayat ini melanjutkan nasihat orang-orang saleh kepada Qarun. Mereka berkata, “Gunakanlah apa yang telah Allah berikan kepadamu untuk meraih negeri akhirat. Jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”Maksudnya, harta dan nikmat besar yang dimiliki seseorang seharusnya dipakai untuk taat kepada Allah, untuk mendekatkan diri dengan amal-amal kebaikan yang akan menjadi bekal di akhirat. Namun, ini tidak berarti harus meninggalkan dunia sama sekali. Allah tetap membolehkan seseorang menikmati bagian dari dunia yang halal seperti makanan, minuman, pakaian, rumah, dan pernikahan. Bahkan, agama menekankan keseimbangan: ada hak Allah yang wajib ditunaikan, ada hak jiwa yang perlu dijaga, ada hak keluarga yang harus dipenuhi, dan ada hak tamu yang mesti dihormati.Kemudian datang perintah berikutnya: berbuatlah baik kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Nikmat yang Allah berikan bukan hanya untuk disyukuri secara pribadi, tetapi juga untuk dibagikan dalam bentuk kebaikan kepada sesama. Sebaliknya, harta itu jangan dijadikan sarana untuk berbuat kerusakan, merugikan orang lain, atau menimbulkan kesombongan. Karena Allah sama sekali tidak mencintai orang-orang yang merusak bumi dengan kekayaan dan kedudukannya.Selanjutnya, firman Allah,قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِۦ مِنَ ٱلْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْـَٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ ٱلْمُجْرِمُونَ“Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS. Al-Qashash: 78)Ayat ini menggambarkan jawaban sombong Qarun kepada kaumnya ketika mereka menasihatinya. Ia berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta ini karena ilmu yang ada padaku.”Maksud ucapannya adalah seakan-akan ia tidak butuh nasihat mereka. Menurutnya, harta yang ia miliki adalah bukti bahwa Allah memang tahu ia pantas menerimanya, bahkan tanda bahwa Allah mencintainya. Inilah bentuk kesombongan yang diabadikan Al-Qur’an, serupa dengan perkataan orang yang ditimpa nikmat setelah sebelumnya mengalami kesulitan, lalu merasa bahwa itu murni karena kepantasannya, bukan karena karunia Allah.Sebagian orang menafsirkan bahwa yang dimaksud Qarun adalah karena ia menguasai “ilmu kimia” yang diyakini bisa mengubah benda menjadi emas atau perak. Namun, penjelasan ini ditolak para ulama karena hakikatnya tidak ada seorang pun mampu mengubah hakikat benda selain Allah. Apa yang disebut “ilmu kimia” itu hanyalah tipuan, sekadar mengubah tampilan luar, bukan merubah esensi benda. Adapun kejadian luar biasa berupa perubahan benda menjadi sesuatu yang bernilai tinggi, bisa saja terjadi melalui karamah para wali dengan izin Allah, bukan karena kemampuan manusia.Ada pula yang berpendapat bahwa Qarun memiliki pengetahuan tentang al-ism al-a‘zhom (nama Allah yang agung) sehingga bisa memperoleh harta. Tetapi pendapat yang paling kuat adalah tafsiran pertama: ia meyakini bahwa kekayaannya adalah tanda keridhaan Allah dan hasil dari kelebihannya.Padahal Allah langsung membantah klaim tersebut. Jika benar kekayaan adalah tanda cinta Allah, mengapa banyak generasi sebelumnya yang jauh lebih kuat dan jauh lebih kaya dari Qarun justru dibinasakan? Harta mereka melimpah, kekuasaan mereka luas, tetapi Allah tetap menghancurkan mereka karena kufur dan tidak bersyukur. Maka, jelaslah bahwa banyaknya harta bukan tanda kasih sayang Allah, melainkan bisa jadi ujian dan sebab kebinasaan.Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: “Dan para pendosa itu tidak akan ditanya tentang dosa-dosa mereka.” Maksudnya, dosa-dosa mereka begitu banyak dan jelas, sampai-sampai tidak butuh lagi dipertanyakan.Qatadah menafsirkan ucapan Qarun “karena ilmu yang ada padaku” dengan maksud: “karena kebaikan yang aku miliki.” Sementara As-Suddi mengatakan: “karena aku merasa memang layak mendapatkannya.”Penjelasan yang indah datang dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Ia berkata bahwa maksud ucapan Qarun adalah: “Kalau bukan karena Allah ridha kepadaku dan mengetahui keutamaanku, tentu Dia tidak akan memberiku harta ini.” Inilah logika keliru yang juga sering diulang orang-orang berilmu dangkal: ketika melihat seseorang diluaskan rezekinya, mereka langsung menyangka bahwa itu pasti tanda keridhaan Allah, padahal bisa jadi sebaliknya—ujian atau bahkan istidraj (penundaan azab).Selanjutnya, firman Allah,فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Qashash: 79)Ayat ini menggambarkan puncak kesombongan Qarun. Pada suatu hari ia keluar menemui kaumnya dengan penampilan yang sangat mewah: pakaian berkilauan, perhiasan gemerlap, kendaraan penuh keanggunan, serta dikelilingi oleh para pelayan dan pengawalnya. Ia ingin memperlihatkan kemegahannya kepada manusia.Ketika orang-orang yang hatinya terpikat pada kehidupan dunia melihat pemandangan itu, mereka langsung terpesona. Mereka berangan-angan, “Andai saja kita memiliki seperti apa yang diberikan kepada Qarun. Sungguh, dia benar-benar orang yang sangat beruntung.”Mereka menilai Qarun sebagai orang yang punya kedudukan tinggi dan nasib istimewa karena harta yang dimilikinya. Pandangan itu lahir dari hati yang lebih memandang gemerlap dunia ketimbang bekal akhirat.Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّٰبِرُونَ“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”.” (QS. Al-Qashash: 80)Ketika orang-orang duniawi terpesona oleh kemewahan Qarun, para pemilik ilmu yang bermanfaat menegur mereka. Mereka berkata: “Celakalah kalian! Balasan dari Allah jauh lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh.”Mereka mengingatkan bahwa apa yang ada di sisi Allah di akhirat tak sebanding dengan perhiasan dunia. Dunia hanya sebentar, sedangkan pahala Allah kekal dan sempurna. Rasulullah ﷺ pun bersabda dalam hadits sahih: “Allah telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” Lalu beliau membacakan firman Allah:فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)Kemudian Allah menegaskan: “Dan tidaklah kalimat itu akan dipahami kecuali oleh orang-orang yang sabar.”As-Suddi menafsirkan bahwa maksudnya adalah surga, karena hanya orang yang sabar yang akan mendapatkannya. Ibnu Jarir menambahkan: hanya orang yang sabar menahan diri dari cinta dunia dan lebih menginginkan akhiratlah yang mampu memahami peringatan ini. Jadi, balasan Allah hanyalah bagi mereka yang sabar dalam iman, sabar dalam taat, sabar menahan diri dari maksiat, dan sabar menghadapi cobaan.Allah Ta’ala berfirman,فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُنتَصِرِينَ“Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS. Al-Qashash: 81)Bagian ini adalah klimaks dari kisah Qarun. Setelah Allah menceritakan kesombongan Qarun dengan harta dan perhiasannya, Al-Qur’an menutup dengan hukuman yang sangat mengerikan: “Maka Kami benamkan dia bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya kelompok yang dapat menolongnya selain Allah, dan ia pun tidak mampu menolong dirinya sendiri.”Para ahli tafsir menjelaskan bahwa Qarun benar-benar ditelan bumi dengan rumah dan seluruh harta bendanya. Tidak ada kekuatan apa pun, tidak ada kerabat, tidak ada pengawal, bahkan dirinya sendiri pun tidak bisa menyelamatkan diri dari azab Allah. Semua kekuasaan dan harta yang ia banggakan lenyap dalam sekejap.Nabi ﷺ mengingatkan bahaya kesombongan dengan beberapa hadis. Dalam riwayat sahih disebutkan: “Ketika ada seorang lelaki yang berjalan sambil menyeret pakaiannya dengan sombong, tiba-tiba bumi menelannya. Ia terus terbenam di bumi hingga Hari Kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain: “Seorang lelaki keluar dengan mengenakan dua kain hijau, berjalan dengan angkuh, lalu Allah memerintahkan bumi untuk menelannya. Ia pun terbenam di bumi hingga Hari Kiamat.”Sejumlah riwayat juga menceritakan sebab turunnya azab ini. Salah satunya, bahwa Qarun berusaha menjatuhkan kehormatan Nabi Musa di hadapan Bani Israil dengan menyuap seorang wanita untuk menuduh Musa berbuat keji dengannya. Namun wanita itu, ketika didesak dengan sumpah demi Allah, justru mengaku bahwa Qarun-lah yang menyuruhnya. Maka Musa berdoa kepada Allah, dan Allah memberinya izin untuk memerintahkan bumi menelan Qarun beserta hartanya.Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Qarun keluar dengan kemegahannya, melewati majelis Nabi Musa yang sedang memberi nasihat. Orang-orang pun menoleh kepada Qarun. Musa menegurnya, tetapi Qarun menantang Musa untuk berdoa saling melawan. Qarun berdoa, namun tidak dikabulkan. Giliran Musa berdoa, Allah pun mengabulkan. Maka Musa memerintahkan bumi untuk menelan Qarun sedikit demi sedikit—dari kaki, lutut, dada, hingga seluruh tubuhnya—lalu semua harta bendanya ikut tenggelam.Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Qarun ditelan sampai ke bumi lapis ketujuh. Qatadah menambahkan, setiap hari ia ditelan sejauh satu jarak “qāmah” (seukuran tinggi badan), hingga Hari Kiamat ia terus tenggelam tanpa henti.Akhir ayat menegaskan: “Tidak ada satu pun kelompok yang bisa menolongnya selain Allah. Ia sendiri pun tidak bisa menolong dirinya.” Semua harta, pasukan, dan pengikutnya tidak ada gunanya ketika azab Allah datang.Penjelasan tafsir di atas diambil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim dilengkapi dengan Tafsir As-Sa’di rahimahullah. Pelajaran dari Kisah Qarun yang Tidak Patut DitiruSombong karena hartaMenolak nasihat orang salehPamer kemewahan (flexing)Lupa akhirat, hanya mengejar duniaTidak bersyukur atas nikmat AllahMenjadikan harta sebagai sumber kebanggaanMenyakiti kaumnya dengan kezalimannyaMenganggap kekayaan sebagai tanda keistimewaan diriBerbuat kerusakan di muka bumiMengabaikan teladan kesederhanaan para nabi Harta sejatinya bukan untuk disombongkan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Jangan sampai kita menjadi seperti Qarun yang tenggelam oleh kesombongannya.Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap rendah hati, mensyukuri nikmat, dan menjadikan harta sebagai jalan menuju ridha-Nya. Aamiin.Baca Juga:Berbangga dengan Harta Sampai ke Kuburan (Tafsir At-Takatsur)Saling Berbangga dengan HartaReferensiAspinall, E., & Mietzner, M. (2019). Democratic regression in Indonesia: What can we learn from comparative experience? Contemporary Southeast Asia, 41(2), 256–282. https://doi.org/10.1355/cs41-2eChou, H. T. G., & Edge, N. (2012). “They are happier and having better lives than I am”: The impact of using Facebook on perceptions of others’ lives. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 15(2), 117–121. https://doi.org/10.1089/cyber.2011.0324Djafarova, E., & Trofimenko, O. (2019). ‘Instafamous’–credibility and self-presentation of micro-celebrities on social media. Information, Communication & Society, 22(10), 1432–1446. https://doi.org/10.1080/1369118X.2018.1438491Ibnu Katsir. (1431 H). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (Cet. 1). Ibnul Jauzi.Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (2022). Kajian gaya hidup pejabat publik. Laporan internal.Kross, E., Verduyn, P., Demiralp, E., Park, J., Lee, D. S., Lin, N., … & Ybarra, O. (2013). Facebook use predicts declines in subjective well-being in young adults. PLOS ONE, 8(8), e69841. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0069841Lipset, S. M., & Lenz, G. S. (2000). Corruption, culture, and markets. In L. E. Harrison & S. P. Huntington (Eds.), Culture matters (pp. 112–124). Basic Books.Nesi, J., & Prinstein, M. J. (2015). Using social media for social comparison and feedback-seeking: Gender and popularity moderate associations with depressive symptoms. Journal of Abnormal Child Psychology, 43(8), 1427–1438. https://doi.org/10.1007/s10802-015-0020-0Setiyono, B., & McLeod, R. H. (2010). Civil society organizations’ contribution to the anti-corruption movement in Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 46(3), 347–370. https://doi.org/10.1080/00074918.2010.486473Transparency International. (2023). Global corruption barometer: Asia 2023. https://www.transparency.org/en/gcb/asia/asia-2023 —- Selasa pagi, 10 Rabiul Awwal 1447 H, 2 September 2025 @ Perjalanan Panggang Gunungkidul – YogyakartaDr. Muhammad Abduh TuasikalRumaysho.Com Tagsapa itu harta bahaya sombong buang harta budak harta cinta harta dunia dan akhirat flexing harta haram hidup sederhana ibrah Qurani kemewahan dunia kesombongan kisah Qarun nasihat Al-Qur’an pamer harta pejabat pamer pelajaran Qarun qanaah tafsir Al-Qashash ujian harta

Segera Bersihkan Hatimu dengan Tauhid dan Keikhlasan (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleTauhid dan keikhlasanLangkah menuju ikhlasTauhid dan keikhlasanAllah berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan kepada-Nya agama dengan hanif, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Tidaklah mereka diperintahkan di dalam Taurat dan Injil kecuali supaya memurnikan ibadah kepada Allah dengan penuh ketauhidan.” (Disebutkan oleh al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya, Ma’alim at-Tanzil, hal. 1426)Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan wajibnya niat dalam amal-amal ibadah, karena sesungguhnya ikhlas itu termasuk amalan hati.” (Lihat Fat-hul Qadir oleh asy-Syaukani, hal. 1644)Ibnul Jauzi rahimahullah menafsirkan ‘memurnikan agama untuk-Nya’ dengan makna, “Yaitu dalam keadaan bertauhid, sehingga mereka tidak beribadah kepada selain-Nya.” (Lihat Zaadul Masiir fi ‘Ilmi at-Tafsiir oleh Ibnul Jauzi, hal. 1576)Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwasanya tauhid dan keikhlasan dalam beragama merupakan ajaran agama yang lurus dan mengantarkan menuju surga yang penuh dengan kenikmatan. Adapun selain itu, maka ia adalah jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam neraka. (Lihat penjelasan Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Si’di rahimahullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 932)Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dari ayat ini, kita bisa memetik pelajaran bahwasanya hakikat tauhid itu adalah keikhlasan kepada Allah tanpa ada sedikit pun kecondongan kepada syirik. Oleh sebab itu, barangsiapa yang tidak ikhlas kepada Allah, mereka bukanlah orang yang bertauhid. Begitu pula barangsiapa menjadikan ibadahnya dia tujukan kepada selain Allah, maka dia juga bukan orang yang bertauhid. (Lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 76-77)Dari Itban bin Malik radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka setiap orang yang mengucapkan laa ilaha illallah karena mengharapkan wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini memberikan banyak pelajaran bagi kita, di antaranya:1) keutamaan tauhid, tauhid menjadi sebab untuk selamat dari neraka dan dihapuskannya dosa-dosa;2) ucapan syahadat dengan lisan saja tidak cukup apabila tidak dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati, sebagaimana tidak cukup keyakinan tanpa diikrarkan secara lisan dengan kalimat syahadat;3) orang bertauhid yang sempurna tauhidnya, maka ia akan diharamkan masuk neraka sejak awal, artinya dia akan langsung masuk surga;4) jika mengucapkan laa ilaha illallah tetapi juga berdoa kepada selain Allah, maka ucapan syahadatnya itu tidak bermanfaat, dan faidah-faidah lainnya. (Silahkan baca al-Mulakhosh fi Syarh Kitab at-Tauhid oleh Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 28-29)Orang yang ikhlas (bertauhid) akan selamat dari hukuman kekal di dalam neraka, yaitu selama di dalam hatinya masih tersisa iman (tauhid) meskipun sekecil biji sawi. Dan apabila keikhlasan itu sempurna di dalam hatinya, maka ia akan selamat dari hukuman neraka dan tidak masuk ke dalamnya sama sekali. (Lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 17)Orang yang mendapatkan keutamaan ini hanyalah orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat syahadat. Sehingga terkecualikan dari keutamaan ini adalah orang-orang munafik, dikarenakan mereka tidak mencari wajah Allah ketika mengucapkannya. (Lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 26).Hadis ini mengandung bantahan bagi kaum Murji’ah yang menganggap bahwa ucapan laa ilaha illallah itu sudah cukup meskipun tidak disertai dengan harapan untuk mencari wajah Allah (ikhlas). Demikian pula, hadis ini mengandung bantahan bagi kaum Khawarij dan Mu’tazilah yang beranggapan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka. Sementara hadis ini menunjukkan bahwa para pelaku perbuatan-perbuatan yang diharamkan tersebut -dan tidak bertobat sebelum matinya- tidak akan kekal di neraka, hanya saja pelakunya memang berhak menerima hukuman (siksa). (Lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, 1: 46)Keikhlasan merupakan sesuatu yang membutuhkan perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu. Sahl bin Abdullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 26)Sebagian salaf berkata, “Tidaklah aku berjuang menundukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.” (Lihat al-Qaul al-Mufid, 2: 53)Sebesar apapun amalan, maka yang akan diterima Allah hanyalah amal yang ikhlas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan demi mencari wajah-Nya.” (HR. An-Nasa’i dan dihasankan al-Albani) (Lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 21)Orang yang ikhlas akan merasa ringan dalam melakukan berbagai ketaatan -yang pada umumnya terasa memberatkan-, karena orang yang ikhlas senantiasa menyimpan harapan pahala dari Allah. Demikian pula, ia akan merasa ringan dalam meninggalkan maksiat, karena rasa takut akan hukuman Rabbnya yang tertanam kuat di dalam hatinya. (Lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 17)Orang yang ikhlas dalam beramal akan bisa mengubah amalannya yang tampak sedikit menjadi banyak pahalanya, sehingga ucapan dan amalannya akan membuahkan pahala yang berlipat ganda. (Lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 19)Syekh as-Si’di rahimahullah mengatakan, “Amal-amal itu sesungguhnya memiliki keutamaan yang bervariasi dan pahala yang berlipat-lipat tergantung pada keimanan dan keikhlasan yang terdapat di dalam hati orang yang melakukannya… ” (Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 17)Langkah menuju ikhlasTauhid kepada Allah ditegakkan di atas ikhlas dan shidq (kejujuran). Ikhlas adalah mengesakan Dzat yang dikehendaki dan disembah; yaitu dengan tidak mengangkat sekutu atau sesembahan lain bersama-Nya, sehingga dia hanya beribadah kepada Allah semata. Adapun shidq artinya mengesakan keinginan dan kehendak, yaitu dengan menyatukan tekad dan keinginan untuk menunaikan ibadah secara sempurna dan tidak menyibukkan hatinya dengan hal-hal selainnya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa ikhlas bermakna mengesakan Dzat yang dikehendaki, sedangkan shidq adalah menunggalkan keinginan. (Lihat keterangan Syekh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam ash-Shidqu ma’a Allah, hal. 13)Barangsiapa yang tidak ikhlas dalam mewujudkan makna kalimat laa ilaha illallah, maka dia adalah orang musyrik -karena ia telah beribadah kepada selain-Nya-. Dan barangsiapa yang tidak shidq (jujur) dalam mengucapkan kalimat laa ilaha illallah, maka dia adalah orang munafik. Allah berfirman,إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ“Apabila datang kepadamu orang-orang munafik, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwasanya kamu adalah benar-benar utusan Allah.’ Allah benar-benar mengetahui bahwa kamu sungguh rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. al-Munafiqun: 1) (Lihat ash-Shidqu ma’a Allah, hal. 16)Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Benar-benar ada dahulu seorang lelaki yang memilih waktu tertentu untuk menyendiri, menunaikan salat dan menasihati keluarganya pada waktu itu, lalu dia berpesan: Jika ada orang yang mencariku, katakanlah kepadanya bahwa ‘dia sedang ada keperluan’.” (Lihat al-Ikhlas wa an-Niyyah, hal.65)Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata, “Tidaklah aku melihat seorang semisal Ahmad bin Hanbal. Kami telah bersahabat dengannya selama lima puluh tahun. Meskipun demikian, beliau sama sekali tidak pernah membanggakan kepada kami apa-apa yang ada pada dirinya berupa kesalehan dan kebaikan.” (Lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 536)Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya, “Apa saja sebab-sebab untuk bisa merealisasikan ikhlas?”Beliau menjawab,“Hendaknya anda mempelajari ilmu yang bermanfaat, yang dengan itu anda akan mengenali apa itu hakikat ikhlas dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga anda bisa mengenal aqidah Anda. Demikian pula, hendaknya anda memperbaiki niat -dalam beramal-, janganlah anda menyimpan ambisi keduniaan, jangan berniat mencari pujian dan sanjungan manusia.Inilah ikhlas. Anda memurnikan amal anda untuk mengabdi kepada Allah, sehingga tidak tercampuri di dalamnya syirik akbar atau syirik ashghar, bersih dari riya’ dan sum’ah, dan bukan pula untuk mencari dunia.”[Selesai]Kembali ke bagian 1***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id Referensi dari internet:Tanya Jawab Syekh Shalih al-Fauzan. Asbab Mu’inah ala Tahqiq al-Ikhlas. Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/16563Atsar wa Ta’liq. Syaikh Abdurrazzaq al-Badr. Daawi qalbaka. Sumber: https://al-badr.net/muqolat/6668

Segera Bersihkan Hatimu dengan Tauhid dan Keikhlasan (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleTauhid dan keikhlasanLangkah menuju ikhlasTauhid dan keikhlasanAllah berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan kepada-Nya agama dengan hanif, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Tidaklah mereka diperintahkan di dalam Taurat dan Injil kecuali supaya memurnikan ibadah kepada Allah dengan penuh ketauhidan.” (Disebutkan oleh al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya, Ma’alim at-Tanzil, hal. 1426)Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan wajibnya niat dalam amal-amal ibadah, karena sesungguhnya ikhlas itu termasuk amalan hati.” (Lihat Fat-hul Qadir oleh asy-Syaukani, hal. 1644)Ibnul Jauzi rahimahullah menafsirkan ‘memurnikan agama untuk-Nya’ dengan makna, “Yaitu dalam keadaan bertauhid, sehingga mereka tidak beribadah kepada selain-Nya.” (Lihat Zaadul Masiir fi ‘Ilmi at-Tafsiir oleh Ibnul Jauzi, hal. 1576)Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwasanya tauhid dan keikhlasan dalam beragama merupakan ajaran agama yang lurus dan mengantarkan menuju surga yang penuh dengan kenikmatan. Adapun selain itu, maka ia adalah jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam neraka. (Lihat penjelasan Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Si’di rahimahullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 932)Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dari ayat ini, kita bisa memetik pelajaran bahwasanya hakikat tauhid itu adalah keikhlasan kepada Allah tanpa ada sedikit pun kecondongan kepada syirik. Oleh sebab itu, barangsiapa yang tidak ikhlas kepada Allah, mereka bukanlah orang yang bertauhid. Begitu pula barangsiapa menjadikan ibadahnya dia tujukan kepada selain Allah, maka dia juga bukan orang yang bertauhid. (Lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 76-77)Dari Itban bin Malik radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka setiap orang yang mengucapkan laa ilaha illallah karena mengharapkan wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini memberikan banyak pelajaran bagi kita, di antaranya:1) keutamaan tauhid, tauhid menjadi sebab untuk selamat dari neraka dan dihapuskannya dosa-dosa;2) ucapan syahadat dengan lisan saja tidak cukup apabila tidak dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati, sebagaimana tidak cukup keyakinan tanpa diikrarkan secara lisan dengan kalimat syahadat;3) orang bertauhid yang sempurna tauhidnya, maka ia akan diharamkan masuk neraka sejak awal, artinya dia akan langsung masuk surga;4) jika mengucapkan laa ilaha illallah tetapi juga berdoa kepada selain Allah, maka ucapan syahadatnya itu tidak bermanfaat, dan faidah-faidah lainnya. (Silahkan baca al-Mulakhosh fi Syarh Kitab at-Tauhid oleh Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 28-29)Orang yang ikhlas (bertauhid) akan selamat dari hukuman kekal di dalam neraka, yaitu selama di dalam hatinya masih tersisa iman (tauhid) meskipun sekecil biji sawi. Dan apabila keikhlasan itu sempurna di dalam hatinya, maka ia akan selamat dari hukuman neraka dan tidak masuk ke dalamnya sama sekali. (Lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 17)Orang yang mendapatkan keutamaan ini hanyalah orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat syahadat. Sehingga terkecualikan dari keutamaan ini adalah orang-orang munafik, dikarenakan mereka tidak mencari wajah Allah ketika mengucapkannya. (Lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 26).Hadis ini mengandung bantahan bagi kaum Murji’ah yang menganggap bahwa ucapan laa ilaha illallah itu sudah cukup meskipun tidak disertai dengan harapan untuk mencari wajah Allah (ikhlas). Demikian pula, hadis ini mengandung bantahan bagi kaum Khawarij dan Mu’tazilah yang beranggapan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka. Sementara hadis ini menunjukkan bahwa para pelaku perbuatan-perbuatan yang diharamkan tersebut -dan tidak bertobat sebelum matinya- tidak akan kekal di neraka, hanya saja pelakunya memang berhak menerima hukuman (siksa). (Lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, 1: 46)Keikhlasan merupakan sesuatu yang membutuhkan perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu. Sahl bin Abdullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 26)Sebagian salaf berkata, “Tidaklah aku berjuang menundukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.” (Lihat al-Qaul al-Mufid, 2: 53)Sebesar apapun amalan, maka yang akan diterima Allah hanyalah amal yang ikhlas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan demi mencari wajah-Nya.” (HR. An-Nasa’i dan dihasankan al-Albani) (Lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 21)Orang yang ikhlas akan merasa ringan dalam melakukan berbagai ketaatan -yang pada umumnya terasa memberatkan-, karena orang yang ikhlas senantiasa menyimpan harapan pahala dari Allah. Demikian pula, ia akan merasa ringan dalam meninggalkan maksiat, karena rasa takut akan hukuman Rabbnya yang tertanam kuat di dalam hatinya. (Lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 17)Orang yang ikhlas dalam beramal akan bisa mengubah amalannya yang tampak sedikit menjadi banyak pahalanya, sehingga ucapan dan amalannya akan membuahkan pahala yang berlipat ganda. (Lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 19)Syekh as-Si’di rahimahullah mengatakan, “Amal-amal itu sesungguhnya memiliki keutamaan yang bervariasi dan pahala yang berlipat-lipat tergantung pada keimanan dan keikhlasan yang terdapat di dalam hati orang yang melakukannya… ” (Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 17)Langkah menuju ikhlasTauhid kepada Allah ditegakkan di atas ikhlas dan shidq (kejujuran). Ikhlas adalah mengesakan Dzat yang dikehendaki dan disembah; yaitu dengan tidak mengangkat sekutu atau sesembahan lain bersama-Nya, sehingga dia hanya beribadah kepada Allah semata. Adapun shidq artinya mengesakan keinginan dan kehendak, yaitu dengan menyatukan tekad dan keinginan untuk menunaikan ibadah secara sempurna dan tidak menyibukkan hatinya dengan hal-hal selainnya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa ikhlas bermakna mengesakan Dzat yang dikehendaki, sedangkan shidq adalah menunggalkan keinginan. (Lihat keterangan Syekh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam ash-Shidqu ma’a Allah, hal. 13)Barangsiapa yang tidak ikhlas dalam mewujudkan makna kalimat laa ilaha illallah, maka dia adalah orang musyrik -karena ia telah beribadah kepada selain-Nya-. Dan barangsiapa yang tidak shidq (jujur) dalam mengucapkan kalimat laa ilaha illallah, maka dia adalah orang munafik. Allah berfirman,إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ“Apabila datang kepadamu orang-orang munafik, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwasanya kamu adalah benar-benar utusan Allah.’ Allah benar-benar mengetahui bahwa kamu sungguh rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. al-Munafiqun: 1) (Lihat ash-Shidqu ma’a Allah, hal. 16)Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Benar-benar ada dahulu seorang lelaki yang memilih waktu tertentu untuk menyendiri, menunaikan salat dan menasihati keluarganya pada waktu itu, lalu dia berpesan: Jika ada orang yang mencariku, katakanlah kepadanya bahwa ‘dia sedang ada keperluan’.” (Lihat al-Ikhlas wa an-Niyyah, hal.65)Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata, “Tidaklah aku melihat seorang semisal Ahmad bin Hanbal. Kami telah bersahabat dengannya selama lima puluh tahun. Meskipun demikian, beliau sama sekali tidak pernah membanggakan kepada kami apa-apa yang ada pada dirinya berupa kesalehan dan kebaikan.” (Lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 536)Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya, “Apa saja sebab-sebab untuk bisa merealisasikan ikhlas?”Beliau menjawab,“Hendaknya anda mempelajari ilmu yang bermanfaat, yang dengan itu anda akan mengenali apa itu hakikat ikhlas dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga anda bisa mengenal aqidah Anda. Demikian pula, hendaknya anda memperbaiki niat -dalam beramal-, janganlah anda menyimpan ambisi keduniaan, jangan berniat mencari pujian dan sanjungan manusia.Inilah ikhlas. Anda memurnikan amal anda untuk mengabdi kepada Allah, sehingga tidak tercampuri di dalamnya syirik akbar atau syirik ashghar, bersih dari riya’ dan sum’ah, dan bukan pula untuk mencari dunia.”[Selesai]Kembali ke bagian 1***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id Referensi dari internet:Tanya Jawab Syekh Shalih al-Fauzan. Asbab Mu’inah ala Tahqiq al-Ikhlas. Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/16563Atsar wa Ta’liq. Syaikh Abdurrazzaq al-Badr. Daawi qalbaka. Sumber: https://al-badr.net/muqolat/6668
Daftar Isi ToggleTauhid dan keikhlasanLangkah menuju ikhlasTauhid dan keikhlasanAllah berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan kepada-Nya agama dengan hanif, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Tidaklah mereka diperintahkan di dalam Taurat dan Injil kecuali supaya memurnikan ibadah kepada Allah dengan penuh ketauhidan.” (Disebutkan oleh al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya, Ma’alim at-Tanzil, hal. 1426)Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan wajibnya niat dalam amal-amal ibadah, karena sesungguhnya ikhlas itu termasuk amalan hati.” (Lihat Fat-hul Qadir oleh asy-Syaukani, hal. 1644)Ibnul Jauzi rahimahullah menafsirkan ‘memurnikan agama untuk-Nya’ dengan makna, “Yaitu dalam keadaan bertauhid, sehingga mereka tidak beribadah kepada selain-Nya.” (Lihat Zaadul Masiir fi ‘Ilmi at-Tafsiir oleh Ibnul Jauzi, hal. 1576)Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwasanya tauhid dan keikhlasan dalam beragama merupakan ajaran agama yang lurus dan mengantarkan menuju surga yang penuh dengan kenikmatan. Adapun selain itu, maka ia adalah jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam neraka. (Lihat penjelasan Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Si’di rahimahullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 932)Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dari ayat ini, kita bisa memetik pelajaran bahwasanya hakikat tauhid itu adalah keikhlasan kepada Allah tanpa ada sedikit pun kecondongan kepada syirik. Oleh sebab itu, barangsiapa yang tidak ikhlas kepada Allah, mereka bukanlah orang yang bertauhid. Begitu pula barangsiapa menjadikan ibadahnya dia tujukan kepada selain Allah, maka dia juga bukan orang yang bertauhid. (Lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 76-77)Dari Itban bin Malik radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka setiap orang yang mengucapkan laa ilaha illallah karena mengharapkan wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini memberikan banyak pelajaran bagi kita, di antaranya:1) keutamaan tauhid, tauhid menjadi sebab untuk selamat dari neraka dan dihapuskannya dosa-dosa;2) ucapan syahadat dengan lisan saja tidak cukup apabila tidak dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati, sebagaimana tidak cukup keyakinan tanpa diikrarkan secara lisan dengan kalimat syahadat;3) orang bertauhid yang sempurna tauhidnya, maka ia akan diharamkan masuk neraka sejak awal, artinya dia akan langsung masuk surga;4) jika mengucapkan laa ilaha illallah tetapi juga berdoa kepada selain Allah, maka ucapan syahadatnya itu tidak bermanfaat, dan faidah-faidah lainnya. (Silahkan baca al-Mulakhosh fi Syarh Kitab at-Tauhid oleh Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 28-29)Orang yang ikhlas (bertauhid) akan selamat dari hukuman kekal di dalam neraka, yaitu selama di dalam hatinya masih tersisa iman (tauhid) meskipun sekecil biji sawi. Dan apabila keikhlasan itu sempurna di dalam hatinya, maka ia akan selamat dari hukuman neraka dan tidak masuk ke dalamnya sama sekali. (Lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 17)Orang yang mendapatkan keutamaan ini hanyalah orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat syahadat. Sehingga terkecualikan dari keutamaan ini adalah orang-orang munafik, dikarenakan mereka tidak mencari wajah Allah ketika mengucapkannya. (Lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 26).Hadis ini mengandung bantahan bagi kaum Murji’ah yang menganggap bahwa ucapan laa ilaha illallah itu sudah cukup meskipun tidak disertai dengan harapan untuk mencari wajah Allah (ikhlas). Demikian pula, hadis ini mengandung bantahan bagi kaum Khawarij dan Mu’tazilah yang beranggapan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka. Sementara hadis ini menunjukkan bahwa para pelaku perbuatan-perbuatan yang diharamkan tersebut -dan tidak bertobat sebelum matinya- tidak akan kekal di neraka, hanya saja pelakunya memang berhak menerima hukuman (siksa). (Lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, 1: 46)Keikhlasan merupakan sesuatu yang membutuhkan perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu. Sahl bin Abdullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 26)Sebagian salaf berkata, “Tidaklah aku berjuang menundukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.” (Lihat al-Qaul al-Mufid, 2: 53)Sebesar apapun amalan, maka yang akan diterima Allah hanyalah amal yang ikhlas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan demi mencari wajah-Nya.” (HR. An-Nasa’i dan dihasankan al-Albani) (Lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 21)Orang yang ikhlas akan merasa ringan dalam melakukan berbagai ketaatan -yang pada umumnya terasa memberatkan-, karena orang yang ikhlas senantiasa menyimpan harapan pahala dari Allah. Demikian pula, ia akan merasa ringan dalam meninggalkan maksiat, karena rasa takut akan hukuman Rabbnya yang tertanam kuat di dalam hatinya. (Lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 17)Orang yang ikhlas dalam beramal akan bisa mengubah amalannya yang tampak sedikit menjadi banyak pahalanya, sehingga ucapan dan amalannya akan membuahkan pahala yang berlipat ganda. (Lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 19)Syekh as-Si’di rahimahullah mengatakan, “Amal-amal itu sesungguhnya memiliki keutamaan yang bervariasi dan pahala yang berlipat-lipat tergantung pada keimanan dan keikhlasan yang terdapat di dalam hati orang yang melakukannya… ” (Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 17)Langkah menuju ikhlasTauhid kepada Allah ditegakkan di atas ikhlas dan shidq (kejujuran). Ikhlas adalah mengesakan Dzat yang dikehendaki dan disembah; yaitu dengan tidak mengangkat sekutu atau sesembahan lain bersama-Nya, sehingga dia hanya beribadah kepada Allah semata. Adapun shidq artinya mengesakan keinginan dan kehendak, yaitu dengan menyatukan tekad dan keinginan untuk menunaikan ibadah secara sempurna dan tidak menyibukkan hatinya dengan hal-hal selainnya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa ikhlas bermakna mengesakan Dzat yang dikehendaki, sedangkan shidq adalah menunggalkan keinginan. (Lihat keterangan Syekh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam ash-Shidqu ma’a Allah, hal. 13)Barangsiapa yang tidak ikhlas dalam mewujudkan makna kalimat laa ilaha illallah, maka dia adalah orang musyrik -karena ia telah beribadah kepada selain-Nya-. Dan barangsiapa yang tidak shidq (jujur) dalam mengucapkan kalimat laa ilaha illallah, maka dia adalah orang munafik. Allah berfirman,إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ“Apabila datang kepadamu orang-orang munafik, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwasanya kamu adalah benar-benar utusan Allah.’ Allah benar-benar mengetahui bahwa kamu sungguh rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. al-Munafiqun: 1) (Lihat ash-Shidqu ma’a Allah, hal. 16)Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Benar-benar ada dahulu seorang lelaki yang memilih waktu tertentu untuk menyendiri, menunaikan salat dan menasihati keluarganya pada waktu itu, lalu dia berpesan: Jika ada orang yang mencariku, katakanlah kepadanya bahwa ‘dia sedang ada keperluan’.” (Lihat al-Ikhlas wa an-Niyyah, hal.65)Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata, “Tidaklah aku melihat seorang semisal Ahmad bin Hanbal. Kami telah bersahabat dengannya selama lima puluh tahun. Meskipun demikian, beliau sama sekali tidak pernah membanggakan kepada kami apa-apa yang ada pada dirinya berupa kesalehan dan kebaikan.” (Lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 536)Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya, “Apa saja sebab-sebab untuk bisa merealisasikan ikhlas?”Beliau menjawab,“Hendaknya anda mempelajari ilmu yang bermanfaat, yang dengan itu anda akan mengenali apa itu hakikat ikhlas dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga anda bisa mengenal aqidah Anda. Demikian pula, hendaknya anda memperbaiki niat -dalam beramal-, janganlah anda menyimpan ambisi keduniaan, jangan berniat mencari pujian dan sanjungan manusia.Inilah ikhlas. Anda memurnikan amal anda untuk mengabdi kepada Allah, sehingga tidak tercampuri di dalamnya syirik akbar atau syirik ashghar, bersih dari riya’ dan sum’ah, dan bukan pula untuk mencari dunia.”[Selesai]Kembali ke bagian 1***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id Referensi dari internet:Tanya Jawab Syekh Shalih al-Fauzan. Asbab Mu’inah ala Tahqiq al-Ikhlas. Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/16563Atsar wa Ta’liq. Syaikh Abdurrazzaq al-Badr. Daawi qalbaka. Sumber: https://al-badr.net/muqolat/6668


Daftar Isi ToggleTauhid dan keikhlasanLangkah menuju ikhlasTauhid dan keikhlasanAllah berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan kepada-Nya agama dengan hanif, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Tidaklah mereka diperintahkan di dalam Taurat dan Injil kecuali supaya memurnikan ibadah kepada Allah dengan penuh ketauhidan.” (Disebutkan oleh al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya, Ma’alim at-Tanzil, hal. 1426)Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan wajibnya niat dalam amal-amal ibadah, karena sesungguhnya ikhlas itu termasuk amalan hati.” (Lihat Fat-hul Qadir oleh asy-Syaukani, hal. 1644)Ibnul Jauzi rahimahullah menafsirkan ‘memurnikan agama untuk-Nya’ dengan makna, “Yaitu dalam keadaan bertauhid, sehingga mereka tidak beribadah kepada selain-Nya.” (Lihat Zaadul Masiir fi ‘Ilmi at-Tafsiir oleh Ibnul Jauzi, hal. 1576)Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwasanya tauhid dan keikhlasan dalam beragama merupakan ajaran agama yang lurus dan mengantarkan menuju surga yang penuh dengan kenikmatan. Adapun selain itu, maka ia adalah jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam neraka. (Lihat penjelasan Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Si’di rahimahullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 932)Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dari ayat ini, kita bisa memetik pelajaran bahwasanya hakikat tauhid itu adalah keikhlasan kepada Allah tanpa ada sedikit pun kecondongan kepada syirik. Oleh sebab itu, barangsiapa yang tidak ikhlas kepada Allah, mereka bukanlah orang yang bertauhid. Begitu pula barangsiapa menjadikan ibadahnya dia tujukan kepada selain Allah, maka dia juga bukan orang yang bertauhid. (Lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 76-77)Dari Itban bin Malik radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka setiap orang yang mengucapkan laa ilaha illallah karena mengharapkan wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini memberikan banyak pelajaran bagi kita, di antaranya:1) keutamaan tauhid, tauhid menjadi sebab untuk selamat dari neraka dan dihapuskannya dosa-dosa;2) ucapan syahadat dengan lisan saja tidak cukup apabila tidak dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati, sebagaimana tidak cukup keyakinan tanpa diikrarkan secara lisan dengan kalimat syahadat;3) orang bertauhid yang sempurna tauhidnya, maka ia akan diharamkan masuk neraka sejak awal, artinya dia akan langsung masuk surga;4) jika mengucapkan laa ilaha illallah tetapi juga berdoa kepada selain Allah, maka ucapan syahadatnya itu tidak bermanfaat, dan faidah-faidah lainnya. (Silahkan baca al-Mulakhosh fi Syarh Kitab at-Tauhid oleh Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 28-29)Orang yang ikhlas (bertauhid) akan selamat dari hukuman kekal di dalam neraka, yaitu selama di dalam hatinya masih tersisa iman (tauhid) meskipun sekecil biji sawi. Dan apabila keikhlasan itu sempurna di dalam hatinya, maka ia akan selamat dari hukuman neraka dan tidak masuk ke dalamnya sama sekali. (Lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 17)Orang yang mendapatkan keutamaan ini hanyalah orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat syahadat. Sehingga terkecualikan dari keutamaan ini adalah orang-orang munafik, dikarenakan mereka tidak mencari wajah Allah ketika mengucapkannya. (Lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 26).Hadis ini mengandung bantahan bagi kaum Murji’ah yang menganggap bahwa ucapan laa ilaha illallah itu sudah cukup meskipun tidak disertai dengan harapan untuk mencari wajah Allah (ikhlas). Demikian pula, hadis ini mengandung bantahan bagi kaum Khawarij dan Mu’tazilah yang beranggapan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka. Sementara hadis ini menunjukkan bahwa para pelaku perbuatan-perbuatan yang diharamkan tersebut -dan tidak bertobat sebelum matinya- tidak akan kekal di neraka, hanya saja pelakunya memang berhak menerima hukuman (siksa). (Lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, 1: 46)Keikhlasan merupakan sesuatu yang membutuhkan perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu. Sahl bin Abdullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 26)Sebagian salaf berkata, “Tidaklah aku berjuang menundukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.” (Lihat al-Qaul al-Mufid, 2: 53)Sebesar apapun amalan, maka yang akan diterima Allah hanyalah amal yang ikhlas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan demi mencari wajah-Nya.” (HR. An-Nasa’i dan dihasankan al-Albani) (Lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 21)Orang yang ikhlas akan merasa ringan dalam melakukan berbagai ketaatan -yang pada umumnya terasa memberatkan-, karena orang yang ikhlas senantiasa menyimpan harapan pahala dari Allah. Demikian pula, ia akan merasa ringan dalam meninggalkan maksiat, karena rasa takut akan hukuman Rabbnya yang tertanam kuat di dalam hatinya. (Lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 17)Orang yang ikhlas dalam beramal akan bisa mengubah amalannya yang tampak sedikit menjadi banyak pahalanya, sehingga ucapan dan amalannya akan membuahkan pahala yang berlipat ganda. (Lihat al-Qaul as-Sadid, hal. 19)Syekh as-Si’di rahimahullah mengatakan, “Amal-amal itu sesungguhnya memiliki keutamaan yang bervariasi dan pahala yang berlipat-lipat tergantung pada keimanan dan keikhlasan yang terdapat di dalam hati orang yang melakukannya… ” (Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 17)Langkah menuju ikhlasTauhid kepada Allah ditegakkan di atas ikhlas dan shidq (kejujuran). Ikhlas adalah mengesakan Dzat yang dikehendaki dan disembah; yaitu dengan tidak mengangkat sekutu atau sesembahan lain bersama-Nya, sehingga dia hanya beribadah kepada Allah semata. Adapun shidq artinya mengesakan keinginan dan kehendak, yaitu dengan menyatukan tekad dan keinginan untuk menunaikan ibadah secara sempurna dan tidak menyibukkan hatinya dengan hal-hal selainnya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa ikhlas bermakna mengesakan Dzat yang dikehendaki, sedangkan shidq adalah menunggalkan keinginan. (Lihat keterangan Syekh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam ash-Shidqu ma’a Allah, hal. 13)Barangsiapa yang tidak ikhlas dalam mewujudkan makna kalimat laa ilaha illallah, maka dia adalah orang musyrik -karena ia telah beribadah kepada selain-Nya-. Dan barangsiapa yang tidak shidq (jujur) dalam mengucapkan kalimat laa ilaha illallah, maka dia adalah orang munafik. Allah berfirman,إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ“Apabila datang kepadamu orang-orang munafik, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwasanya kamu adalah benar-benar utusan Allah.’ Allah benar-benar mengetahui bahwa kamu sungguh rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. al-Munafiqun: 1) (Lihat ash-Shidqu ma’a Allah, hal. 16)Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Benar-benar ada dahulu seorang lelaki yang memilih waktu tertentu untuk menyendiri, menunaikan salat dan menasihati keluarganya pada waktu itu, lalu dia berpesan: Jika ada orang yang mencariku, katakanlah kepadanya bahwa ‘dia sedang ada keperluan’.” (Lihat al-Ikhlas wa an-Niyyah, hal.65)Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata, “Tidaklah aku melihat seorang semisal Ahmad bin Hanbal. Kami telah bersahabat dengannya selama lima puluh tahun. Meskipun demikian, beliau sama sekali tidak pernah membanggakan kepada kami apa-apa yang ada pada dirinya berupa kesalehan dan kebaikan.” (Lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 536)Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya, “Apa saja sebab-sebab untuk bisa merealisasikan ikhlas?”Beliau menjawab,“Hendaknya anda mempelajari ilmu yang bermanfaat, yang dengan itu anda akan mengenali apa itu hakikat ikhlas dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga anda bisa mengenal aqidah Anda. Demikian pula, hendaknya anda memperbaiki niat -dalam beramal-, janganlah anda menyimpan ambisi keduniaan, jangan berniat mencari pujian dan sanjungan manusia.Inilah ikhlas. Anda memurnikan amal anda untuk mengabdi kepada Allah, sehingga tidak tercampuri di dalamnya syirik akbar atau syirik ashghar, bersih dari riya’ dan sum’ah, dan bukan pula untuk mencari dunia.”[Selesai]Kembali ke bagian 1***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id Referensi dari internet:Tanya Jawab Syekh Shalih al-Fauzan. Asbab Mu’inah ala Tahqiq al-Ikhlas. Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/16563Atsar wa Ta’liq. Syaikh Abdurrazzaq al-Badr. Daawi qalbaka. Sumber: https://al-badr.net/muqolat/6668

Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda Kiamat

Daftar Isi ToggleApa itu hari kiamat?Nama-nama hari kiamatAs-Saa’ah (hari kiamat)Yaumul Ba’ts (hari kebangkitan)Yaumud Diin (hari pembalasan)Yaumul Hasrah (hari penyesalan)Ad-Daarul Aakhirah (negeri akhirat)Yaumut Tanaad (hari saling memanggil)Daarul Qaraar (negeri yang kekal)Yaumul Fashl (hari keputusan)Yaumul Jam’ (hari berkumpul)Yaumul Hisaab (hari perhitungan)Yaumul Wa’iid (hari yang diancamkan)Yaumul Khuluud (hari kekekalan)Yaumul Khuruuj (hari keluar dari kubur)Al-Waaqi’ah (hari yang akan terjadi)Al-Haaqqah (hari yang pasti terjadi)Ath-Thaammatul Kubraa (malapetaka yang besar) (malapetaka yang besar)Ash-Shaakhkhah (suara yang memekakkan)Al-Aazifah (hari yang telah dekat)Al-Qaari’ah (hari yang menggentarkan hati)Makna ‘Asyraathu As-Saa’ahMakna As-Saa’ahAs-Saa’atush Shughraa (kiamat kecil)As-Saa’atul Wusthaa (kiamat sedang)As-Saa’atul Kubraa’ (kiamat besar)Pembagian tanda kiamatTanda-tanda kecilTanda-tanda besarApa itu hari kiamat?Hari kiamat atau hari akhir merupakan hari berakhirnya kehidupan yang ada di dunia, dan merupakan awal dari kehidupan di akhirat untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan ketika hidup di dunia. Dan disebut hari akhir karena tidak ada lagi hari setelahnya. Pada hari itu, Allah ‘Azza wa Jalla akan membangkitkan semua makhluk untuk dihisab dan diberi balasan. Yang mendapatkan balasan surga, maka ia akan kekal di surga. Sebaliknya, yang mendapatkan azab neraka, maka ia akan kekal pula di neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ“Demikianlah diberi pelajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhirat.” [1]Nama-nama hari kiamatHari kiamat merupakan sebuah kejadian yang begitu agung dan dahsyat. Allah menyebutkan banyak sekali nama-nama lain dari hari kiamat di dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa agungnya hari kiamat. Di antara nama-nama tersebut adalah:As-Saa’ah (hari kiamat)Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ السَّاعَةَ لَاٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَا“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya…” [2]Yaumul Ba’ts (hari kebangkitan)Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ اِلٰى يَوْمِ الْبَعْثِۖ“… Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit…” [3]Yaumud Diin (hari pembalasan)Allah Ta’ala berfirman,مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ“Yang menguasai hari pembalasan.” [4]Yaumul Hasrah (hari penyesalan)Allah Ta’ala berfirman,وَاَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan…” [5]Ad-Daarul Aakhirah (negeri akhirat)Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ“Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” [6]Yaumut Tanaad (hari saling memanggil)Allah Ta’ala berfirman,اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِۙ“… Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari saling memanggil.” [7]Daarul Qaraar (negeri yang kekal)Allah Ta’ala berfirman,وَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ“… Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” [8]Yaumul Fashl (hari keputusan)Allah Ta’ala berfirman,هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِه تُكَذِّبُوْنَ“Inilah hari Keputusan yang kamu selalu mendustakannya.” [9]Yaumul Jam’ (hari berkumpul)Allah Ta’ala berfirman,وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيْهِ“… Serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya…” [10]Yaumul Hisaab (hari perhitungan)Allah Ta’ala berfirman,هٰذَا مَا تُوْعَدُوْنَ لِيَوْمِ الْحِسَابِ“Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari perhitungan.” [11]Yaumul Wa’iid (hari yang diancamkan)Allah Ta’ala berfirman,وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِۗ ذٰلِكَ يَوْمُ الْوَعِيْدِ“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang diancamkan.” [12]Yaumul Khuluud (hari kekekalan)Allah Ta’ala berfirman,ادْخُلُوْهَا بِسَلٰمٍ ذٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُوْدِ“Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.” [13]Yaumul Khuruuj (hari keluar dari kubur)Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَسْمَعُوْنَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوْجِ“Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur).” [14]Al-Waaqi’ah (hari yang akan terjadi)Allah Ta’ala berfirman,اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ“Apabila terjadi hari kiamat.” [15]Al-Haaqqah (hari yang pasti terjadi)Allah Ta’ala berfirman,مَا الْحَاۤقَّةُ ۚ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحَاۤقَّةُ ۗ  كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ وَعَادٌ ۢبِالْقَارِعَةِ“Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” [16]Ath-Thaammatul Kubraa (malapetaka yang besar) (malapetaka yang besar)Allah Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰى“Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang.” [17]Ash-Shaakhkhah (suara yang memekakkan)Allah Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” [18]Al-Aazifah (hari yang telah dekat)Allah Ta’ala berfirman,اَزِفَتِ الْاٰزِفَةُ ۚ“Telah dekat terjadinya hari kiamat.” [19]Al-Qaari’ah (hari yang menggentarkan hati)Allah Ta’ala berfirman,اَلْقَارِعَةُ مَا الْقَارِعَةُ  وَمَا اَدْرٰىكَ مَا الْقَارِعَةُ“Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” [20]Baca juga: Hubungan Shalat Seseorang dengan Keadaannya di Hari KiamatMakna ‘Asyraathu As-Saa’ah(الشَّرَطُ) dengan huruf ra yang berharakat, maknanya adalah tanda, bentuk jamaknya (أَشْرَاطٌ). Makna (السَّاعَةُ) menurut bahasa, ia adalah salah satu bagian (waktu) siang atau malam, bentuk jamaknya adalah (سَـاعَاتٌ) dan (سَـاعٌ). Siang dan malam seluruhnya adalah 24 jam.Makna (اَلسَّاعَةُ) menurut istilah syara’ adalah waktu di mana kiamat itu terjadi. Dinamakan demikian karena cepatnya hitungan (waktu) di dalamnya, atau karena (kiamat) itu mengagetkan manusia hanya dalam satu waktu. Maka, semua makhluk mati dengan satu kali tiupan (sangkakala).Sehingga makna Asyraatus Saa’ah adalah tanda-tanda kiamat yang mendahuluinya dan menunjukkan kedekatannya. Ada juga yang mengatakan bahwa tanda kiamat adalah segala hal yang diingkari oleh manusia berupa gejala-gejalanya yang kecil sebelum kiamat terjadi. Dan ada yang berpendapat: yang dimaksud dengan Asyraatus Saa’ah adalah sebab-sebab (atau pertanda) yang lebih kecil dibandingkan peristiwa besarnya (yaitu kiamat itu sendiri) dan (dibanding) tegaknya kiamat itu..Makna As-Saa’ahAs-Saa’atush Shughraa (kiamat kecil)Ia adalah kematian manusia. Barangsiapa meninggal dunia, maka telah terjadi kiamat padanya karena ia telah memasuki alam akhirat.As-Saa’atul Wusthaa (kiamat sedang)Ia adalah meninggalnya manusia dan suatu generasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata,كَانَ اْلأَعْرَابُ إِذَا قَدِمُوا عَلَـى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سَأَلُوهُ عَنِ السَّاعَةِ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَنَظَرَ إِلَى أَحْدَثِ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ، فَقَالَ: إِنْ يَعِشْ هَذَا لَمْ يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ؛ قَامَتْ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ“Jika orang-orang badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang kiamat, ‘Kapan terjadinya kiamat?’ Lalu beliau menatap orang yang paling muda di antara mereka, beliau berkata, ‘Jika anak ini hidup dan masa tua tidak datang kepadanya, maka telah terjadi kiamat kepada kalian.’” [21]Artinya, kematian mereka. Maksudnya adalah kiamatnya orang-orang yang diajak bicara oleh beliau.As-Saa’atul Kubraa’ (kiamat besar)Ia adalah kebangkitan manusia dari kubur mereka untuk dikumpulkan dan diberikan balasan. Jika kata as-saa’ah diungkapkan secara mutlak dalam Al-Qur’an, maka yang dimaksud adalah kiamat kubra (besar). Allah Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit…” [22]Maksudnya adalah (bertanya) tentang hari kiamat.Pembagian tanda kiamatTanda-tanda kiamat terbagi menjadi dua bagianTanda-tanda kecilYaitu tanda-tanda yang mendahului kiamat dalam kurun waktu yang lama dan merupakan sesuatu yang dianggap biasa. Seperti hilangnya ilmu, menyebarnya kebodohan, meminum khamr, saling berlomba membuat dan meninggikan bangunan, dan lainnya. Terkadang sebagiannya nampak bersamaan dengan tanda-tanda besar kiamat, atau setelahnya.Tanda-tanda besarYaitu peristiwa-peristiwa besar yang terjadi menjelang kiamat dan merupakan sesuatu yang tidak biasa terjadi. Seperti keluarnya Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissallam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, dan terbitnya matahari dari barat.Sebagian ulama membagi tanda-tanda kiamat berdasarkan kemunculan-nya menjadi tiga bagian :Telah muncul dan berakhir.Telah muncul dan senantiasa muncul bahkan bertambah banyak.Belum muncul sampai sekarang.Dua bagian yang pertama merupakan tanda-tanda kecil, adapun bagian ketiga, maka bergabung di dalamnya tanda-tanda besar dan sebagian tanda-tanda kecil.Baca juga: Sungai Eufrat dan Tanda-Tanda Hari Kiamat***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil. Catatan kaki:[1] QS. At-Thalaq: 2[2] QS. Al-Mu’min: 59[3] QS. Ar-Ruum: 56[4] QS. Al-Faatihah: 4[5] QS. Maryam: 39[6] QS. Al-‘Ankabuut: 64[7] QS. Ghaafir: 32[8] QS. Ghaafir: 39[9] QS. Ash-Shaaffaat: 21[10] QS. Asy-Syuuraa: 7[11] QS. Shaad: 53[12] QS. Qaaf: 20[13] QS. Qaaf: 34[14] QS. Qaaf: 42[15] QS. Al-Waaqi’ah: 1[16] QS. Al-Haaqqah: 1-3[17] QS. An-Naazi’aat: 34[18] QS. ‘Abasa: 33[19] QS. An-Najm: 57[20] QS. Al-Qaari’ah: 1-3[21] Muttafaqun ‘alaihi[22] QS. Al-Ahzaab: 63

Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda Kiamat

Daftar Isi ToggleApa itu hari kiamat?Nama-nama hari kiamatAs-Saa’ah (hari kiamat)Yaumul Ba’ts (hari kebangkitan)Yaumud Diin (hari pembalasan)Yaumul Hasrah (hari penyesalan)Ad-Daarul Aakhirah (negeri akhirat)Yaumut Tanaad (hari saling memanggil)Daarul Qaraar (negeri yang kekal)Yaumul Fashl (hari keputusan)Yaumul Jam’ (hari berkumpul)Yaumul Hisaab (hari perhitungan)Yaumul Wa’iid (hari yang diancamkan)Yaumul Khuluud (hari kekekalan)Yaumul Khuruuj (hari keluar dari kubur)Al-Waaqi’ah (hari yang akan terjadi)Al-Haaqqah (hari yang pasti terjadi)Ath-Thaammatul Kubraa (malapetaka yang besar) (malapetaka yang besar)Ash-Shaakhkhah (suara yang memekakkan)Al-Aazifah (hari yang telah dekat)Al-Qaari’ah (hari yang menggentarkan hati)Makna ‘Asyraathu As-Saa’ahMakna As-Saa’ahAs-Saa’atush Shughraa (kiamat kecil)As-Saa’atul Wusthaa (kiamat sedang)As-Saa’atul Kubraa’ (kiamat besar)Pembagian tanda kiamatTanda-tanda kecilTanda-tanda besarApa itu hari kiamat?Hari kiamat atau hari akhir merupakan hari berakhirnya kehidupan yang ada di dunia, dan merupakan awal dari kehidupan di akhirat untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan ketika hidup di dunia. Dan disebut hari akhir karena tidak ada lagi hari setelahnya. Pada hari itu, Allah ‘Azza wa Jalla akan membangkitkan semua makhluk untuk dihisab dan diberi balasan. Yang mendapatkan balasan surga, maka ia akan kekal di surga. Sebaliknya, yang mendapatkan azab neraka, maka ia akan kekal pula di neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ“Demikianlah diberi pelajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhirat.” [1]Nama-nama hari kiamatHari kiamat merupakan sebuah kejadian yang begitu agung dan dahsyat. Allah menyebutkan banyak sekali nama-nama lain dari hari kiamat di dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa agungnya hari kiamat. Di antara nama-nama tersebut adalah:As-Saa’ah (hari kiamat)Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ السَّاعَةَ لَاٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَا“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya…” [2]Yaumul Ba’ts (hari kebangkitan)Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ اِلٰى يَوْمِ الْبَعْثِۖ“… Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit…” [3]Yaumud Diin (hari pembalasan)Allah Ta’ala berfirman,مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ“Yang menguasai hari pembalasan.” [4]Yaumul Hasrah (hari penyesalan)Allah Ta’ala berfirman,وَاَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan…” [5]Ad-Daarul Aakhirah (negeri akhirat)Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ“Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” [6]Yaumut Tanaad (hari saling memanggil)Allah Ta’ala berfirman,اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِۙ“… Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari saling memanggil.” [7]Daarul Qaraar (negeri yang kekal)Allah Ta’ala berfirman,وَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ“… Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” [8]Yaumul Fashl (hari keputusan)Allah Ta’ala berfirman,هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِه تُكَذِّبُوْنَ“Inilah hari Keputusan yang kamu selalu mendustakannya.” [9]Yaumul Jam’ (hari berkumpul)Allah Ta’ala berfirman,وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيْهِ“… Serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya…” [10]Yaumul Hisaab (hari perhitungan)Allah Ta’ala berfirman,هٰذَا مَا تُوْعَدُوْنَ لِيَوْمِ الْحِسَابِ“Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari perhitungan.” [11]Yaumul Wa’iid (hari yang diancamkan)Allah Ta’ala berfirman,وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِۗ ذٰلِكَ يَوْمُ الْوَعِيْدِ“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang diancamkan.” [12]Yaumul Khuluud (hari kekekalan)Allah Ta’ala berfirman,ادْخُلُوْهَا بِسَلٰمٍ ذٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُوْدِ“Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.” [13]Yaumul Khuruuj (hari keluar dari kubur)Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَسْمَعُوْنَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوْجِ“Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur).” [14]Al-Waaqi’ah (hari yang akan terjadi)Allah Ta’ala berfirman,اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ“Apabila terjadi hari kiamat.” [15]Al-Haaqqah (hari yang pasti terjadi)Allah Ta’ala berfirman,مَا الْحَاۤقَّةُ ۚ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحَاۤقَّةُ ۗ  كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ وَعَادٌ ۢبِالْقَارِعَةِ“Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” [16]Ath-Thaammatul Kubraa (malapetaka yang besar) (malapetaka yang besar)Allah Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰى“Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang.” [17]Ash-Shaakhkhah (suara yang memekakkan)Allah Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” [18]Al-Aazifah (hari yang telah dekat)Allah Ta’ala berfirman,اَزِفَتِ الْاٰزِفَةُ ۚ“Telah dekat terjadinya hari kiamat.” [19]Al-Qaari’ah (hari yang menggentarkan hati)Allah Ta’ala berfirman,اَلْقَارِعَةُ مَا الْقَارِعَةُ  وَمَا اَدْرٰىكَ مَا الْقَارِعَةُ“Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” [20]Baca juga: Hubungan Shalat Seseorang dengan Keadaannya di Hari KiamatMakna ‘Asyraathu As-Saa’ah(الشَّرَطُ) dengan huruf ra yang berharakat, maknanya adalah tanda, bentuk jamaknya (أَشْرَاطٌ). Makna (السَّاعَةُ) menurut bahasa, ia adalah salah satu bagian (waktu) siang atau malam, bentuk jamaknya adalah (سَـاعَاتٌ) dan (سَـاعٌ). Siang dan malam seluruhnya adalah 24 jam.Makna (اَلسَّاعَةُ) menurut istilah syara’ adalah waktu di mana kiamat itu terjadi. Dinamakan demikian karena cepatnya hitungan (waktu) di dalamnya, atau karena (kiamat) itu mengagetkan manusia hanya dalam satu waktu. Maka, semua makhluk mati dengan satu kali tiupan (sangkakala).Sehingga makna Asyraatus Saa’ah adalah tanda-tanda kiamat yang mendahuluinya dan menunjukkan kedekatannya. Ada juga yang mengatakan bahwa tanda kiamat adalah segala hal yang diingkari oleh manusia berupa gejala-gejalanya yang kecil sebelum kiamat terjadi. Dan ada yang berpendapat: yang dimaksud dengan Asyraatus Saa’ah adalah sebab-sebab (atau pertanda) yang lebih kecil dibandingkan peristiwa besarnya (yaitu kiamat itu sendiri) dan (dibanding) tegaknya kiamat itu..Makna As-Saa’ahAs-Saa’atush Shughraa (kiamat kecil)Ia adalah kematian manusia. Barangsiapa meninggal dunia, maka telah terjadi kiamat padanya karena ia telah memasuki alam akhirat.As-Saa’atul Wusthaa (kiamat sedang)Ia adalah meninggalnya manusia dan suatu generasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata,كَانَ اْلأَعْرَابُ إِذَا قَدِمُوا عَلَـى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سَأَلُوهُ عَنِ السَّاعَةِ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَنَظَرَ إِلَى أَحْدَثِ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ، فَقَالَ: إِنْ يَعِشْ هَذَا لَمْ يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ؛ قَامَتْ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ“Jika orang-orang badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang kiamat, ‘Kapan terjadinya kiamat?’ Lalu beliau menatap orang yang paling muda di antara mereka, beliau berkata, ‘Jika anak ini hidup dan masa tua tidak datang kepadanya, maka telah terjadi kiamat kepada kalian.’” [21]Artinya, kematian mereka. Maksudnya adalah kiamatnya orang-orang yang diajak bicara oleh beliau.As-Saa’atul Kubraa’ (kiamat besar)Ia adalah kebangkitan manusia dari kubur mereka untuk dikumpulkan dan diberikan balasan. Jika kata as-saa’ah diungkapkan secara mutlak dalam Al-Qur’an, maka yang dimaksud adalah kiamat kubra (besar). Allah Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit…” [22]Maksudnya adalah (bertanya) tentang hari kiamat.Pembagian tanda kiamatTanda-tanda kiamat terbagi menjadi dua bagianTanda-tanda kecilYaitu tanda-tanda yang mendahului kiamat dalam kurun waktu yang lama dan merupakan sesuatu yang dianggap biasa. Seperti hilangnya ilmu, menyebarnya kebodohan, meminum khamr, saling berlomba membuat dan meninggikan bangunan, dan lainnya. Terkadang sebagiannya nampak bersamaan dengan tanda-tanda besar kiamat, atau setelahnya.Tanda-tanda besarYaitu peristiwa-peristiwa besar yang terjadi menjelang kiamat dan merupakan sesuatu yang tidak biasa terjadi. Seperti keluarnya Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissallam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, dan terbitnya matahari dari barat.Sebagian ulama membagi tanda-tanda kiamat berdasarkan kemunculan-nya menjadi tiga bagian :Telah muncul dan berakhir.Telah muncul dan senantiasa muncul bahkan bertambah banyak.Belum muncul sampai sekarang.Dua bagian yang pertama merupakan tanda-tanda kecil, adapun bagian ketiga, maka bergabung di dalamnya tanda-tanda besar dan sebagian tanda-tanda kecil.Baca juga: Sungai Eufrat dan Tanda-Tanda Hari Kiamat***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil. Catatan kaki:[1] QS. At-Thalaq: 2[2] QS. Al-Mu’min: 59[3] QS. Ar-Ruum: 56[4] QS. Al-Faatihah: 4[5] QS. Maryam: 39[6] QS. Al-‘Ankabuut: 64[7] QS. Ghaafir: 32[8] QS. Ghaafir: 39[9] QS. Ash-Shaaffaat: 21[10] QS. Asy-Syuuraa: 7[11] QS. Shaad: 53[12] QS. Qaaf: 20[13] QS. Qaaf: 34[14] QS. Qaaf: 42[15] QS. Al-Waaqi’ah: 1[16] QS. Al-Haaqqah: 1-3[17] QS. An-Naazi’aat: 34[18] QS. ‘Abasa: 33[19] QS. An-Najm: 57[20] QS. Al-Qaari’ah: 1-3[21] Muttafaqun ‘alaihi[22] QS. Al-Ahzaab: 63
Daftar Isi ToggleApa itu hari kiamat?Nama-nama hari kiamatAs-Saa’ah (hari kiamat)Yaumul Ba’ts (hari kebangkitan)Yaumud Diin (hari pembalasan)Yaumul Hasrah (hari penyesalan)Ad-Daarul Aakhirah (negeri akhirat)Yaumut Tanaad (hari saling memanggil)Daarul Qaraar (negeri yang kekal)Yaumul Fashl (hari keputusan)Yaumul Jam’ (hari berkumpul)Yaumul Hisaab (hari perhitungan)Yaumul Wa’iid (hari yang diancamkan)Yaumul Khuluud (hari kekekalan)Yaumul Khuruuj (hari keluar dari kubur)Al-Waaqi’ah (hari yang akan terjadi)Al-Haaqqah (hari yang pasti terjadi)Ath-Thaammatul Kubraa (malapetaka yang besar) (malapetaka yang besar)Ash-Shaakhkhah (suara yang memekakkan)Al-Aazifah (hari yang telah dekat)Al-Qaari’ah (hari yang menggentarkan hati)Makna ‘Asyraathu As-Saa’ahMakna As-Saa’ahAs-Saa’atush Shughraa (kiamat kecil)As-Saa’atul Wusthaa (kiamat sedang)As-Saa’atul Kubraa’ (kiamat besar)Pembagian tanda kiamatTanda-tanda kecilTanda-tanda besarApa itu hari kiamat?Hari kiamat atau hari akhir merupakan hari berakhirnya kehidupan yang ada di dunia, dan merupakan awal dari kehidupan di akhirat untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan ketika hidup di dunia. Dan disebut hari akhir karena tidak ada lagi hari setelahnya. Pada hari itu, Allah ‘Azza wa Jalla akan membangkitkan semua makhluk untuk dihisab dan diberi balasan. Yang mendapatkan balasan surga, maka ia akan kekal di surga. Sebaliknya, yang mendapatkan azab neraka, maka ia akan kekal pula di neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ“Demikianlah diberi pelajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhirat.” [1]Nama-nama hari kiamatHari kiamat merupakan sebuah kejadian yang begitu agung dan dahsyat. Allah menyebutkan banyak sekali nama-nama lain dari hari kiamat di dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa agungnya hari kiamat. Di antara nama-nama tersebut adalah:As-Saa’ah (hari kiamat)Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ السَّاعَةَ لَاٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَا“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya…” [2]Yaumul Ba’ts (hari kebangkitan)Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ اِلٰى يَوْمِ الْبَعْثِۖ“… Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit…” [3]Yaumud Diin (hari pembalasan)Allah Ta’ala berfirman,مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ“Yang menguasai hari pembalasan.” [4]Yaumul Hasrah (hari penyesalan)Allah Ta’ala berfirman,وَاَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan…” [5]Ad-Daarul Aakhirah (negeri akhirat)Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ“Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” [6]Yaumut Tanaad (hari saling memanggil)Allah Ta’ala berfirman,اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِۙ“… Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari saling memanggil.” [7]Daarul Qaraar (negeri yang kekal)Allah Ta’ala berfirman,وَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ“… Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” [8]Yaumul Fashl (hari keputusan)Allah Ta’ala berfirman,هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِه تُكَذِّبُوْنَ“Inilah hari Keputusan yang kamu selalu mendustakannya.” [9]Yaumul Jam’ (hari berkumpul)Allah Ta’ala berfirman,وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيْهِ“… Serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya…” [10]Yaumul Hisaab (hari perhitungan)Allah Ta’ala berfirman,هٰذَا مَا تُوْعَدُوْنَ لِيَوْمِ الْحِسَابِ“Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari perhitungan.” [11]Yaumul Wa’iid (hari yang diancamkan)Allah Ta’ala berfirman,وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِۗ ذٰلِكَ يَوْمُ الْوَعِيْدِ“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang diancamkan.” [12]Yaumul Khuluud (hari kekekalan)Allah Ta’ala berfirman,ادْخُلُوْهَا بِسَلٰمٍ ذٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُوْدِ“Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.” [13]Yaumul Khuruuj (hari keluar dari kubur)Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَسْمَعُوْنَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوْجِ“Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur).” [14]Al-Waaqi’ah (hari yang akan terjadi)Allah Ta’ala berfirman,اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ“Apabila terjadi hari kiamat.” [15]Al-Haaqqah (hari yang pasti terjadi)Allah Ta’ala berfirman,مَا الْحَاۤقَّةُ ۚ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحَاۤقَّةُ ۗ  كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ وَعَادٌ ۢبِالْقَارِعَةِ“Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” [16]Ath-Thaammatul Kubraa (malapetaka yang besar) (malapetaka yang besar)Allah Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰى“Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang.” [17]Ash-Shaakhkhah (suara yang memekakkan)Allah Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” [18]Al-Aazifah (hari yang telah dekat)Allah Ta’ala berfirman,اَزِفَتِ الْاٰزِفَةُ ۚ“Telah dekat terjadinya hari kiamat.” [19]Al-Qaari’ah (hari yang menggentarkan hati)Allah Ta’ala berfirman,اَلْقَارِعَةُ مَا الْقَارِعَةُ  وَمَا اَدْرٰىكَ مَا الْقَارِعَةُ“Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” [20]Baca juga: Hubungan Shalat Seseorang dengan Keadaannya di Hari KiamatMakna ‘Asyraathu As-Saa’ah(الشَّرَطُ) dengan huruf ra yang berharakat, maknanya adalah tanda, bentuk jamaknya (أَشْرَاطٌ). Makna (السَّاعَةُ) menurut bahasa, ia adalah salah satu bagian (waktu) siang atau malam, bentuk jamaknya adalah (سَـاعَاتٌ) dan (سَـاعٌ). Siang dan malam seluruhnya adalah 24 jam.Makna (اَلسَّاعَةُ) menurut istilah syara’ adalah waktu di mana kiamat itu terjadi. Dinamakan demikian karena cepatnya hitungan (waktu) di dalamnya, atau karena (kiamat) itu mengagetkan manusia hanya dalam satu waktu. Maka, semua makhluk mati dengan satu kali tiupan (sangkakala).Sehingga makna Asyraatus Saa’ah adalah tanda-tanda kiamat yang mendahuluinya dan menunjukkan kedekatannya. Ada juga yang mengatakan bahwa tanda kiamat adalah segala hal yang diingkari oleh manusia berupa gejala-gejalanya yang kecil sebelum kiamat terjadi. Dan ada yang berpendapat: yang dimaksud dengan Asyraatus Saa’ah adalah sebab-sebab (atau pertanda) yang lebih kecil dibandingkan peristiwa besarnya (yaitu kiamat itu sendiri) dan (dibanding) tegaknya kiamat itu..Makna As-Saa’ahAs-Saa’atush Shughraa (kiamat kecil)Ia adalah kematian manusia. Barangsiapa meninggal dunia, maka telah terjadi kiamat padanya karena ia telah memasuki alam akhirat.As-Saa’atul Wusthaa (kiamat sedang)Ia adalah meninggalnya manusia dan suatu generasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata,كَانَ اْلأَعْرَابُ إِذَا قَدِمُوا عَلَـى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سَأَلُوهُ عَنِ السَّاعَةِ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَنَظَرَ إِلَى أَحْدَثِ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ، فَقَالَ: إِنْ يَعِشْ هَذَا لَمْ يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ؛ قَامَتْ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ“Jika orang-orang badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang kiamat, ‘Kapan terjadinya kiamat?’ Lalu beliau menatap orang yang paling muda di antara mereka, beliau berkata, ‘Jika anak ini hidup dan masa tua tidak datang kepadanya, maka telah terjadi kiamat kepada kalian.’” [21]Artinya, kematian mereka. Maksudnya adalah kiamatnya orang-orang yang diajak bicara oleh beliau.As-Saa’atul Kubraa’ (kiamat besar)Ia adalah kebangkitan manusia dari kubur mereka untuk dikumpulkan dan diberikan balasan. Jika kata as-saa’ah diungkapkan secara mutlak dalam Al-Qur’an, maka yang dimaksud adalah kiamat kubra (besar). Allah Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit…” [22]Maksudnya adalah (bertanya) tentang hari kiamat.Pembagian tanda kiamatTanda-tanda kiamat terbagi menjadi dua bagianTanda-tanda kecilYaitu tanda-tanda yang mendahului kiamat dalam kurun waktu yang lama dan merupakan sesuatu yang dianggap biasa. Seperti hilangnya ilmu, menyebarnya kebodohan, meminum khamr, saling berlomba membuat dan meninggikan bangunan, dan lainnya. Terkadang sebagiannya nampak bersamaan dengan tanda-tanda besar kiamat, atau setelahnya.Tanda-tanda besarYaitu peristiwa-peristiwa besar yang terjadi menjelang kiamat dan merupakan sesuatu yang tidak biasa terjadi. Seperti keluarnya Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissallam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, dan terbitnya matahari dari barat.Sebagian ulama membagi tanda-tanda kiamat berdasarkan kemunculan-nya menjadi tiga bagian :Telah muncul dan berakhir.Telah muncul dan senantiasa muncul bahkan bertambah banyak.Belum muncul sampai sekarang.Dua bagian yang pertama merupakan tanda-tanda kecil, adapun bagian ketiga, maka bergabung di dalamnya tanda-tanda besar dan sebagian tanda-tanda kecil.Baca juga: Sungai Eufrat dan Tanda-Tanda Hari Kiamat***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil. Catatan kaki:[1] QS. At-Thalaq: 2[2] QS. Al-Mu’min: 59[3] QS. Ar-Ruum: 56[4] QS. Al-Faatihah: 4[5] QS. Maryam: 39[6] QS. Al-‘Ankabuut: 64[7] QS. Ghaafir: 32[8] QS. Ghaafir: 39[9] QS. Ash-Shaaffaat: 21[10] QS. Asy-Syuuraa: 7[11] QS. Shaad: 53[12] QS. Qaaf: 20[13] QS. Qaaf: 34[14] QS. Qaaf: 42[15] QS. Al-Waaqi’ah: 1[16] QS. Al-Haaqqah: 1-3[17] QS. An-Naazi’aat: 34[18] QS. ‘Abasa: 33[19] QS. An-Najm: 57[20] QS. Al-Qaari’ah: 1-3[21] Muttafaqun ‘alaihi[22] QS. Al-Ahzaab: 63


Daftar Isi ToggleApa itu hari kiamat?Nama-nama hari kiamatAs-Saa’ah (hari kiamat)Yaumul Ba’ts (hari kebangkitan)Yaumud Diin (hari pembalasan)Yaumul Hasrah (hari penyesalan)Ad-Daarul Aakhirah (negeri akhirat)Yaumut Tanaad (hari saling memanggil)Daarul Qaraar (negeri yang kekal)Yaumul Fashl (hari keputusan)Yaumul Jam’ (hari berkumpul)Yaumul Hisaab (hari perhitungan)Yaumul Wa’iid (hari yang diancamkan)Yaumul Khuluud (hari kekekalan)Yaumul Khuruuj (hari keluar dari kubur)Al-Waaqi’ah (hari yang akan terjadi)Al-Haaqqah (hari yang pasti terjadi)Ath-Thaammatul Kubraa (malapetaka yang besar) (malapetaka yang besar)Ash-Shaakhkhah (suara yang memekakkan)Al-Aazifah (hari yang telah dekat)Al-Qaari’ah (hari yang menggentarkan hati)Makna ‘Asyraathu As-Saa’ahMakna As-Saa’ahAs-Saa’atush Shughraa (kiamat kecil)As-Saa’atul Wusthaa (kiamat sedang)As-Saa’atul Kubraa’ (kiamat besar)Pembagian tanda kiamatTanda-tanda kecilTanda-tanda besarApa itu hari kiamat?Hari kiamat atau hari akhir merupakan hari berakhirnya kehidupan yang ada di dunia, dan merupakan awal dari kehidupan di akhirat untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan ketika hidup di dunia. Dan disebut hari akhir karena tidak ada lagi hari setelahnya. Pada hari itu, Allah ‘Azza wa Jalla akan membangkitkan semua makhluk untuk dihisab dan diberi balasan. Yang mendapatkan balasan surga, maka ia akan kekal di surga. Sebaliknya, yang mendapatkan azab neraka, maka ia akan kekal pula di neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ“Demikianlah diberi pelajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhirat.” [1]Nama-nama hari kiamatHari kiamat merupakan sebuah kejadian yang begitu agung dan dahsyat. Allah menyebutkan banyak sekali nama-nama lain dari hari kiamat di dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa agungnya hari kiamat. Di antara nama-nama tersebut adalah:As-Saa’ah (hari kiamat)Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ السَّاعَةَ لَاٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَا“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya…” [2]Yaumul Ba’ts (hari kebangkitan)Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ اِلٰى يَوْمِ الْبَعْثِۖ“… Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit…” [3]Yaumud Diin (hari pembalasan)Allah Ta’ala berfirman,مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ“Yang menguasai hari pembalasan.” [4]Yaumul Hasrah (hari penyesalan)Allah Ta’ala berfirman,وَاَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan…” [5]Ad-Daarul Aakhirah (negeri akhirat)Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ“Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” [6]Yaumut Tanaad (hari saling memanggil)Allah Ta’ala berfirman,اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِۙ“… Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari saling memanggil.” [7]Daarul Qaraar (negeri yang kekal)Allah Ta’ala berfirman,وَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ“… Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” [8]Yaumul Fashl (hari keputusan)Allah Ta’ala berfirman,هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِه تُكَذِّبُوْنَ“Inilah hari Keputusan yang kamu selalu mendustakannya.” [9]Yaumul Jam’ (hari berkumpul)Allah Ta’ala berfirman,وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيْهِ“… Serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya…” [10]Yaumul Hisaab (hari perhitungan)Allah Ta’ala berfirman,هٰذَا مَا تُوْعَدُوْنَ لِيَوْمِ الْحِسَابِ“Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari perhitungan.” [11]Yaumul Wa’iid (hari yang diancamkan)Allah Ta’ala berfirman,وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِۗ ذٰلِكَ يَوْمُ الْوَعِيْدِ“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang diancamkan.” [12]Yaumul Khuluud (hari kekekalan)Allah Ta’ala berfirman,ادْخُلُوْهَا بِسَلٰمٍ ذٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُوْدِ“Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.” [13]Yaumul Khuruuj (hari keluar dari kubur)Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَسْمَعُوْنَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوْجِ“Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur).” [14]Al-Waaqi’ah (hari yang akan terjadi)Allah Ta’ala berfirman,اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ“Apabila terjadi hari kiamat.” [15]Al-Haaqqah (hari yang pasti terjadi)Allah Ta’ala berfirman,مَا الْحَاۤقَّةُ ۚ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحَاۤقَّةُ ۗ  كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ وَعَادٌ ۢبِالْقَارِعَةِ“Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” [16]Ath-Thaammatul Kubraa (malapetaka yang besar) (malapetaka yang besar)Allah Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰى“Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang.” [17]Ash-Shaakhkhah (suara yang memekakkan)Allah Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” [18]Al-Aazifah (hari yang telah dekat)Allah Ta’ala berfirman,اَزِفَتِ الْاٰزِفَةُ ۚ“Telah dekat terjadinya hari kiamat.” [19]Al-Qaari’ah (hari yang menggentarkan hati)Allah Ta’ala berfirman,اَلْقَارِعَةُ مَا الْقَارِعَةُ  وَمَا اَدْرٰىكَ مَا الْقَارِعَةُ“Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” [20]Baca juga: Hubungan Shalat Seseorang dengan Keadaannya di Hari KiamatMakna ‘Asyraathu As-Saa’ah(الشَّرَطُ) dengan huruf ra yang berharakat, maknanya adalah tanda, bentuk jamaknya (أَشْرَاطٌ). Makna (السَّاعَةُ) menurut bahasa, ia adalah salah satu bagian (waktu) siang atau malam, bentuk jamaknya adalah (سَـاعَاتٌ) dan (سَـاعٌ). Siang dan malam seluruhnya adalah 24 jam.Makna (اَلسَّاعَةُ) menurut istilah syara’ adalah waktu di mana kiamat itu terjadi. Dinamakan demikian karena cepatnya hitungan (waktu) di dalamnya, atau karena (kiamat) itu mengagetkan manusia hanya dalam satu waktu. Maka, semua makhluk mati dengan satu kali tiupan (sangkakala).Sehingga makna Asyraatus Saa’ah adalah tanda-tanda kiamat yang mendahuluinya dan menunjukkan kedekatannya. Ada juga yang mengatakan bahwa tanda kiamat adalah segala hal yang diingkari oleh manusia berupa gejala-gejalanya yang kecil sebelum kiamat terjadi. Dan ada yang berpendapat: yang dimaksud dengan Asyraatus Saa’ah adalah sebab-sebab (atau pertanda) yang lebih kecil dibandingkan peristiwa besarnya (yaitu kiamat itu sendiri) dan (dibanding) tegaknya kiamat itu..Makna As-Saa’ahAs-Saa’atush Shughraa (kiamat kecil)Ia adalah kematian manusia. Barangsiapa meninggal dunia, maka telah terjadi kiamat padanya karena ia telah memasuki alam akhirat.As-Saa’atul Wusthaa (kiamat sedang)Ia adalah meninggalnya manusia dan suatu generasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata,كَانَ اْلأَعْرَابُ إِذَا قَدِمُوا عَلَـى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سَأَلُوهُ عَنِ السَّاعَةِ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَنَظَرَ إِلَى أَحْدَثِ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ، فَقَالَ: إِنْ يَعِشْ هَذَا لَمْ يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ؛ قَامَتْ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ“Jika orang-orang badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang kiamat, ‘Kapan terjadinya kiamat?’ Lalu beliau menatap orang yang paling muda di antara mereka, beliau berkata, ‘Jika anak ini hidup dan masa tua tidak datang kepadanya, maka telah terjadi kiamat kepada kalian.’” [21]Artinya, kematian mereka. Maksudnya adalah kiamatnya orang-orang yang diajak bicara oleh beliau.As-Saa’atul Kubraa’ (kiamat besar)Ia adalah kebangkitan manusia dari kubur mereka untuk dikumpulkan dan diberikan balasan. Jika kata as-saa’ah diungkapkan secara mutlak dalam Al-Qur’an, maka yang dimaksud adalah kiamat kubra (besar). Allah Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit…” [22]Maksudnya adalah (bertanya) tentang hari kiamat.Pembagian tanda kiamatTanda-tanda kiamat terbagi menjadi dua bagianTanda-tanda kecilYaitu tanda-tanda yang mendahului kiamat dalam kurun waktu yang lama dan merupakan sesuatu yang dianggap biasa. Seperti hilangnya ilmu, menyebarnya kebodohan, meminum khamr, saling berlomba membuat dan meninggikan bangunan, dan lainnya. Terkadang sebagiannya nampak bersamaan dengan tanda-tanda besar kiamat, atau setelahnya.Tanda-tanda besarYaitu peristiwa-peristiwa besar yang terjadi menjelang kiamat dan merupakan sesuatu yang tidak biasa terjadi. Seperti keluarnya Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissallam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, dan terbitnya matahari dari barat.Sebagian ulama membagi tanda-tanda kiamat berdasarkan kemunculan-nya menjadi tiga bagian :Telah muncul dan berakhir.Telah muncul dan senantiasa muncul bahkan bertambah banyak.Belum muncul sampai sekarang.Dua bagian yang pertama merupakan tanda-tanda kecil, adapun bagian ketiga, maka bergabung di dalamnya tanda-tanda besar dan sebagian tanda-tanda kecil.Baca juga: Sungai Eufrat dan Tanda-Tanda Hari Kiamat***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil. Catatan kaki:[1] QS. At-Thalaq: 2[2] QS. Al-Mu’min: 59[3] QS. Ar-Ruum: 56[4] QS. Al-Faatihah: 4[5] QS. Maryam: 39[6] QS. Al-‘Ankabuut: 64[7] QS. Ghaafir: 32[8] QS. Ghaafir: 39[9] QS. Ash-Shaaffaat: 21[10] QS. Asy-Syuuraa: 7[11] QS. Shaad: 53[12] QS. Qaaf: 20[13] QS. Qaaf: 34[14] QS. Qaaf: 42[15] QS. Al-Waaqi’ah: 1[16] QS. Al-Haaqqah: 1-3[17] QS. An-Naazi’aat: 34[18] QS. ‘Abasa: 33[19] QS. An-Najm: 57[20] QS. Al-Qaari’ah: 1-3[21] Muttafaqun ‘alaihi[22] QS. Al-Ahzaab: 63
Prev     Next