Untuk Pasangan Suami-Istri: Permintaan Maaf Dapat Merobohkan Tembok Penyekat

للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Oleh: Sahr Fuad Ahmad سحر فؤاد أحمد كثيراً ما يأخذنا الكبرياء والغرور ولا نملك القدرة على أن نرى أنفسنا مخطئين، اعتقادا منا أن الاعتراف بالخطأ والاعتذار عنه دليل ضعف مما يباعد بيننا وبين الآخرين وقد تتجمد العلاقات وتنقطع جسور التواصل معهم لأننا لم نبادر بكلمة صادقة للاعتذار. Sering kali kita terbawa oleh perasaan sombong dan angkuh, dan kita tidak punya kemampuan untuk melihat diri kita bersalah, dengan keyakinan bahwa mengakui kesalahan dan memohon maaf atas kesalahan itu merupakan tanda kelemahan. Padahal ini menjadi salah satu hal yang memperjauh jarak antara kita dengan orang lain, bahkan bisa jadi hubungan menjadi dingin dan terputusnya jembatan penghubung dengan mereka, karena kita tidak segera mengerahkan ucapan yang tulus untuk meminta maaf. إن جملة “أنا آسف” غالباً ما تصفي الأجواء وتفتح الأبواب أمام التسامح والتواصل، وتمنح فرصة للبدء من جديد، كما أنها تجلب الثقة والأمانة والتواضع وهذه من أجمل الصفات التي يمكن أن يتشاركها الناس. Kalimat “Saya minta maaf” sering kali mampu menjernihkan suasana, membuka pintu saling memaafkan dan kembali menjalin hubungan, memberi kesempatan untuk memulai kembali lembaran baru, sebagaimana ia juga mampu mengundang kepercayaan diri, sikap amanah, dan rendah hati. Ini tentu merupakan sifat-sifat terpuji yang dapat dibagi dengan banyak orang. وإذا كان الاعتذار يعد مطلبا لدوام أية علاقة فما بالنا بالعلاقات الزوجية التي تنمو وتقوى بالمودة والرحمة والتسامح فعلى كلا الزوجين ألا يقف لصاحبه بالمرصاد ليتصيد أخطاءه، ومن ثم يدبر له ليرد الخطأ بخطأ أكبر، ويظل كلاهما يدور في دائرة من الأخطاء انتظارا لاعتذار شريكه المكابر، وقد لا يسوؤه ارتكاب شريكه للخطأ بقدر ما يسوؤه عدم اعتذاره عنه!! Apabila permintaan maaf termasuk unsur pokok dalam keberlangsungan hubungan apapun, maka bagaimana menurutmu dengan hubungan dalam rumah tangga yang hanya bisa tumbuh dan menguat dengan hadirnya rasa cinta, kasih sayang, dan toleransi? Sehingga setiap suami dan istri janganlah menanti-nanti kesalahan timbul dari pasangannya dan bahkan menyusun langkah untuk menjerumuskannya ke dalam kesalahan, agar ia mampu membalas kesalahan dengan kesalahan yang lebih besar itu, sehingga kedua pihak itu terus berkutat dalam lingkaran kesalahan untuk menunggu permohonan maaf dari pasangannya yang enggan meminta maaf. Bahkan bisa jadi ia merasaan terganggu atas kesalahan yang diperbuat oleh pasangannya tidak lebih besar daripada perasaan terganggunya ketika pasangannya tidak meminta maaf atas kesalahan itu. كثير من المشكلات الزوجية تبدأ بمكابرة أحد الزوجين – لا سيما الزوج – والامتناع عن الاعتذار لشريكه عندما يغضبه فأغلب الرجاليقاومون الاعتذار ولا يحبون الاعتراف بالخطأ، إذ يعتبرون لحظة الاعتذار منأصعب اللحظات في حياتهم. وهذا ما يؤكده الدكتور كود وول المتخصص في العلاقات الزوجية بقوله: معظم الرجال يشعرون بأن قدراً كبيراً منهيبتهم سيضيع إذا قدموا اعتذاراً أو اعترفوا بخطأ.. فالمخطئ لابد أن يكون هو الخاسر، والرجال يكرهون الخسارة. Banyak masalah rumah tangga timbul dari keangkuhan salah satu dari suami dan istri —terlebih lagi dari pihak suami— dan kegengsian untuk meminta maaf kepada pasangannya saat membuatnya marah. Mayoritas suami akan gengsi untuk meminta maaf dan tidak suka mengakui kesalahannya, karena mereka menganggap meminta maaf merupakan momen tersulit dalam hidup mereka. Inilah yang ditegaskan oleh Dr. Coldwell, spesialis dalam bidang relationship, yang berkata, “Mayoritas kaum pria merasa bahwa sebagian besar kewibawaan mereka akan hilang jika mereka mengajukan permohonan maaf atau mengakui kesalahan, karena orang yang salah pasti kalah, sedangkan kaum pria tidak menyukai kekalahan.” وهناك نموذج آخر من الأزواج يستعجلون الاعتذار حتى لو لم يُطلب منهم، ليس لأنهم يشعرون بوجوب الاعتذار عن أخطاء وقعوا فيها ولكن لينهوا الشجار والجدال بأسرع ما يمكن، وكان يمكن اعتبار هؤلاء علي درجة كبيرة منالحصافة والحكمة لو أنهم استطاعوا إخفاء هذا السبب.. إلا أن ما يدعو للأسف والآسيأنهم يحرصون علي إظهاره! Namun, ada model lain dari suami, yaitu yang terburu-buru meminta maaf meski tidak diminta untuk melakukan itu. Ini bukan karena mereka sadar akan keharusan untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka lakukan, tapi karena mereka ingin segera menyelesaikan perselisihan dan perdebatan secepat mungkin. Suami model ini mungkin bisa disebut punya kadar yang besar dari keteguhan dan kebijaksanaan seandainya mereka mampu menyembunyikan sebab perilaku ini. Hanya saja, sangat disayangkan bahwa yang mendorong mereka melakukan itu adalah semangat mereka dalam menunjukkan kesalahan. يقول د.سيد صبحي أستاذ الصحة النفسية: إن الاعتذار مطلوب ومن يخطئ لابد أن يعتذر فليس هناك مكابرة وإلا فإن الشخص الذي يرفض الاعتذار يصبح بغيضاً في نظر الآخرين.. والاعتذار سلوك حضاري بين الناس عامة والزوجين خاصة. فالزوج الذي يخطئ عليه أن يسعى بدافع من شعوره الراقي أمام زوجته بالاعتذار، والذي يرفض الاعتذار لزوجته لأن كرامته ورجولته لا تسمحان بذلك، فإن يعتبر مريضاً نفسياً.. فالكرامة الفعلية السامية هي أن نعتذر إذا أخطأنا. Dr. Sayyid Subhi, seorang pakar kesehatan mental berkata, “Meminta maaf merupakan sesuatu yang diharuskan. Barang siapa yang melakukan kesalahan, harus meminta maaf. Tidak perlu ada kegengsian, sebab orang yang menolak meminta maaf akan menjadi orang yang dibenci dalam pandangan orang lain. Meminta maaf merupakan karakter beradab, baik itu antarsesama manusia secara umum atau antara suami istri secara khusus. Suami yang melakukan kesalahan harus berusaha —meski dengan dorongan perasaan terhormatnya di depan istrinya — untuk meminta maaf. Orang yang menolak untuk meminta maaf kepada istrinya karena alasan kehormatan dan kejantanannya tidak membiarkannya melakukan itu, maka ia termasuk orang yang punya gangguan kejiwaan, karena kehormatan yang tertuang dalam tindakan yang terpuji adalah dengan meminta maaf jika kita melakukan kesalahan.” أما الدكتور يسرى عبد المحسن أستاذ علم النفس بجامعة عين شمس فيقول أن تعاليمنا الدينية تدفعنا للاعتذار، والله عز وجل يقبل التوبة من عبادة والاستغفار معنى ذلك أن الإنسان إذا أخطأ في حياته الدنيوية عليه أن يتراجع عن خطئه وباب الاعتذار مفتوح. والاعتذار ليس عيباً بقدر ما يعنى شجاعة المعتذر وقوته وتمتعه بشخصية سوية متكاملة، ومعرفته حدود نفسه وشعوره بالآخرين. Sedangkan Dr. Yusro Abdul Muhsin, pakar ilmu psikologi di Universitas Ain Syams berkata, “Ajaran-ajaran agama kita mendorong kita untuk meminta maaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Menerima tobat dan permohonan ampun dari para hamba-Nya, maknanya bahwa apabila manusia berbuat kesalahan dalam kehidupan duniawinya, hendaklah ia berhenti dari perbuatan salah itu, dan pintu permohonan maaf tetap terbuka baginya. Meminta maaf bukanlah suatu aib karena itu menunjukkan keberanian dan keteguhan orang yang meminta maaf, dan menjadi tanda bahwa ia memiliki kepribadian yang normal dan sempurna, dan bukti pengetahuannya terhadap batas-batas dirinya dan perasaannya terhadap orang lain.” ويؤكد الخبير الاجتماعي الدكتور أحمد المجدوب أن الرجولة تحتم على الزوج أن يعتذر إذا أخطأ فى حق زوجته أو أي شخص آخر، فالرجولة تعنى الصدق والشهامة. وعندما يعتذر الرجل فإنه لا يسقط من عين زوجته أو يهون أمره عليها، بل ترتفع قيمته في نظرها ويعلمها درساً في الأمانة والشهامة واحترام الذات. والاعتذار ليس ضعفاّ بل الضعف أن تخفى خطأك وتظل تكابر، أما الرجل الذي يثق بنفسه ويحترم ذاته فإنه لا يجد غضاضة في أن يعتذر ووقتها سوف يصبح قدوة لزوجته. Hal ini ditegaskan juga oleh pakar sosiologi, Dr. Ahmad Al-Majdub bahwa sikap jantan mengharuskan suami untuk meminta maaf apabila berbuat kesalahan terhadap hak istrinya atau siapa pun itu. Sebab, kejantanan berarti sikap benar dan gagah. Ketika suami meminta maaf, kehormatannya tidak akan jatuh di hadapan istrinya atau menjadi rendah baginya. Bahkan, justru nilainya akan semakin tinggi di pandangan istri, dan itu sekaligus mengajarkan kepada istri sikap amanah, kegagahan, dan penghormatan diri. Meminta maaf bukanlah kelemahan, dan justru kelemahan adalah menyembunyikan kesalahanmu dan terus mengelak untuk meminta maaf. Adapun suami yang percaya diri dan menghormati dirinya tidak akan merasa menahan diri untuk meminta maaf, dan pada waktunya ia akan menjadi teladan bagi istrinya.” فإن كنتما تعتقدان أن عزة النفس والكرامة لا تسمح بالمبادرة وتقديم الاعتذار فإن هناك طرقا غير مباشرة تساعدكما على ذلك: • عندما يترك أحدكما شريكه غاضبا، لا يرجع إلى البيت من دون هدية ولتكن وردة تعبر عما يجيش في النفس. • يمكن كتابة عبارة اعتذار على قالب من الكيك وتقديمه مع الشاي في المساء. • النزهات تجدد الروح والحياة وتبعد العصبية والروتين والملل. • إن كان لا بد من العتاب.. فلينصت كلاكما للآخر ولا ضير إن قلت لشريكك “معك حق”. • استعيدا مواقف طريفة مضحكة حدثت معكما أو مع أحدكما منفرداً.. فالضحك وسيلة مهمة للتواصل العاطفى الإيجابى ومناسبة للتجديد وصفاء النفس والروح. • تقبل الاعتذار بصدر رحب. Apabila kalian berdua —wahai suami dan istri— meyakini bahwa kemuliaan dan kehormatan diri tidak membiarkan kalian untuk segera mengajukan permintaan maaf, maka ada banyak cara tidak langsung yang dapat membantu kalian untuk meminta maaf, di antaranya: Ketika salah satu dari kalian meninggalkan pasangannya dalam keadaan marah, janganlah kamu pulang ke rumah tanpa membawa hadiah, bisa berupa bunga mawar sebagai bentuk ungkapan atas perasaan yang terpendam dalam hati. Mungkin juga dengan menulis ungkapan permintaan maaf di atas sepotong kue dan menyuguhkannya bersama secangkir teh pada sore hari. Rekreasi yang dapat menyegarkan ruh dan hidup, dan menghilangkan ketegangan, rutinitas, dan kebosanan. Apabila harus ada pertengkaran, maka hendaklah masing-masing berusaha untuk diam. Dan apa salahnya jika kamu mengatakan kepada pasanganmu, “Ya, kamu memang benar!” Ceritakan kembali momen-momen unik dan lucu yang terjadi antara kalian atau salah satu dari kalian, karena canda tawa merupakan cara penting untuk membangun hubungan perasaan yang positif, dan cocok untuk menyegarkan dan menjernihkan perasaan dan jiwa. Menerima permintaan maaf dengan lapang dada. يرفض الكثيرون تقديم الاعتذار خشية عدم إحسان القبول من الطرف الآخر، الذي قد لا يعير الأمر اهتماما، أو يرد متعاليا ببعض التعليقات التي تقلل من شأن الاعتذار، وقد يفشل تماما في قبول الاعتذار !! ولا شك أن عدم المرونة أو القدرة على تقبل الاعتذار يزيد المشكلة تعقيدا إن لم يتسبب في مشكلات جديدة، فالمخطئ سيصبح في المستقبل أقل مبادرة بالاعتذار، وقد يتمادى في أخطائه لاستفزاز الطرف الآخر. Banyak orang yang menolak untuk mengajukan permintaan maaf karena takut tidak diterima dengan baik oleh pihak lain yang mungkin tidak menganggap itu penting, atau membalasnya dengan angkuh disertai komentar-komentar yang merendahkan permintaan maaf. Bahkan, bisa jadi permintaan maaf benar-benar ditolak sepenuhnya! Tidak diragukan lagi bahwa ketidakmampuan untuk menerima permintaan maaf dapat memperumit masalah yang ada, kalau memang tidak menyebabkan masalah-masalah baru. Hal ini akan membuat orang yang bersalah suatu saat nanti lebih lambat dalam meminta maaf, atau bahkan terus melakukan kesalahannya untuk menyinggung pihak lain. إن كلا من تقديم وقبول الاعتذار أجزاء مكملة لعلاقة جميلة وقوية، فالاعتذار فرصة رائعة لتعميق الحب والمشاركة، فعندما نقبل الاعتذار يكون هناك احتمال أكبر بأن يقبل شريك الحياة اعتذارنا عندما يأتي علينا الدور لنعتذر. Mengajukan dan menerima permohonan maaf merupakan bagian yang saling melengkapi dalam hubungan yang baik dan kuat; karena permohonan maaf merupakan kesempatan bagus untuk memperdalam rasa cinta dan kebersamaan. Ketika kita menerima permintaan maaf, akan ada kemungkinan besar di masa depan bahwa pasangan hidup kita juga akan menerima permintaan maaf kita saat datang giliran kita untuk meminta maaf. Sumber: https://www.alukah.net/للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 1,464 times, 1 visit(s) today Post Views: 450 QRIS donasi Yufid

Untuk Pasangan Suami-Istri: Permintaan Maaf Dapat Merobohkan Tembok Penyekat

للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Oleh: Sahr Fuad Ahmad سحر فؤاد أحمد كثيراً ما يأخذنا الكبرياء والغرور ولا نملك القدرة على أن نرى أنفسنا مخطئين، اعتقادا منا أن الاعتراف بالخطأ والاعتذار عنه دليل ضعف مما يباعد بيننا وبين الآخرين وقد تتجمد العلاقات وتنقطع جسور التواصل معهم لأننا لم نبادر بكلمة صادقة للاعتذار. Sering kali kita terbawa oleh perasaan sombong dan angkuh, dan kita tidak punya kemampuan untuk melihat diri kita bersalah, dengan keyakinan bahwa mengakui kesalahan dan memohon maaf atas kesalahan itu merupakan tanda kelemahan. Padahal ini menjadi salah satu hal yang memperjauh jarak antara kita dengan orang lain, bahkan bisa jadi hubungan menjadi dingin dan terputusnya jembatan penghubung dengan mereka, karena kita tidak segera mengerahkan ucapan yang tulus untuk meminta maaf. إن جملة “أنا آسف” غالباً ما تصفي الأجواء وتفتح الأبواب أمام التسامح والتواصل، وتمنح فرصة للبدء من جديد، كما أنها تجلب الثقة والأمانة والتواضع وهذه من أجمل الصفات التي يمكن أن يتشاركها الناس. Kalimat “Saya minta maaf” sering kali mampu menjernihkan suasana, membuka pintu saling memaafkan dan kembali menjalin hubungan, memberi kesempatan untuk memulai kembali lembaran baru, sebagaimana ia juga mampu mengundang kepercayaan diri, sikap amanah, dan rendah hati. Ini tentu merupakan sifat-sifat terpuji yang dapat dibagi dengan banyak orang. وإذا كان الاعتذار يعد مطلبا لدوام أية علاقة فما بالنا بالعلاقات الزوجية التي تنمو وتقوى بالمودة والرحمة والتسامح فعلى كلا الزوجين ألا يقف لصاحبه بالمرصاد ليتصيد أخطاءه، ومن ثم يدبر له ليرد الخطأ بخطأ أكبر، ويظل كلاهما يدور في دائرة من الأخطاء انتظارا لاعتذار شريكه المكابر، وقد لا يسوؤه ارتكاب شريكه للخطأ بقدر ما يسوؤه عدم اعتذاره عنه!! Apabila permintaan maaf termasuk unsur pokok dalam keberlangsungan hubungan apapun, maka bagaimana menurutmu dengan hubungan dalam rumah tangga yang hanya bisa tumbuh dan menguat dengan hadirnya rasa cinta, kasih sayang, dan toleransi? Sehingga setiap suami dan istri janganlah menanti-nanti kesalahan timbul dari pasangannya dan bahkan menyusun langkah untuk menjerumuskannya ke dalam kesalahan, agar ia mampu membalas kesalahan dengan kesalahan yang lebih besar itu, sehingga kedua pihak itu terus berkutat dalam lingkaran kesalahan untuk menunggu permohonan maaf dari pasangannya yang enggan meminta maaf. Bahkan bisa jadi ia merasaan terganggu atas kesalahan yang diperbuat oleh pasangannya tidak lebih besar daripada perasaan terganggunya ketika pasangannya tidak meminta maaf atas kesalahan itu. كثير من المشكلات الزوجية تبدأ بمكابرة أحد الزوجين – لا سيما الزوج – والامتناع عن الاعتذار لشريكه عندما يغضبه فأغلب الرجاليقاومون الاعتذار ولا يحبون الاعتراف بالخطأ، إذ يعتبرون لحظة الاعتذار منأصعب اللحظات في حياتهم. وهذا ما يؤكده الدكتور كود وول المتخصص في العلاقات الزوجية بقوله: معظم الرجال يشعرون بأن قدراً كبيراً منهيبتهم سيضيع إذا قدموا اعتذاراً أو اعترفوا بخطأ.. فالمخطئ لابد أن يكون هو الخاسر، والرجال يكرهون الخسارة. Banyak masalah rumah tangga timbul dari keangkuhan salah satu dari suami dan istri —terlebih lagi dari pihak suami— dan kegengsian untuk meminta maaf kepada pasangannya saat membuatnya marah. Mayoritas suami akan gengsi untuk meminta maaf dan tidak suka mengakui kesalahannya, karena mereka menganggap meminta maaf merupakan momen tersulit dalam hidup mereka. Inilah yang ditegaskan oleh Dr. Coldwell, spesialis dalam bidang relationship, yang berkata, “Mayoritas kaum pria merasa bahwa sebagian besar kewibawaan mereka akan hilang jika mereka mengajukan permohonan maaf atau mengakui kesalahan, karena orang yang salah pasti kalah, sedangkan kaum pria tidak menyukai kekalahan.” وهناك نموذج آخر من الأزواج يستعجلون الاعتذار حتى لو لم يُطلب منهم، ليس لأنهم يشعرون بوجوب الاعتذار عن أخطاء وقعوا فيها ولكن لينهوا الشجار والجدال بأسرع ما يمكن، وكان يمكن اعتبار هؤلاء علي درجة كبيرة منالحصافة والحكمة لو أنهم استطاعوا إخفاء هذا السبب.. إلا أن ما يدعو للأسف والآسيأنهم يحرصون علي إظهاره! Namun, ada model lain dari suami, yaitu yang terburu-buru meminta maaf meski tidak diminta untuk melakukan itu. Ini bukan karena mereka sadar akan keharusan untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka lakukan, tapi karena mereka ingin segera menyelesaikan perselisihan dan perdebatan secepat mungkin. Suami model ini mungkin bisa disebut punya kadar yang besar dari keteguhan dan kebijaksanaan seandainya mereka mampu menyembunyikan sebab perilaku ini. Hanya saja, sangat disayangkan bahwa yang mendorong mereka melakukan itu adalah semangat mereka dalam menunjukkan kesalahan. يقول د.سيد صبحي أستاذ الصحة النفسية: إن الاعتذار مطلوب ومن يخطئ لابد أن يعتذر فليس هناك مكابرة وإلا فإن الشخص الذي يرفض الاعتذار يصبح بغيضاً في نظر الآخرين.. والاعتذار سلوك حضاري بين الناس عامة والزوجين خاصة. فالزوج الذي يخطئ عليه أن يسعى بدافع من شعوره الراقي أمام زوجته بالاعتذار، والذي يرفض الاعتذار لزوجته لأن كرامته ورجولته لا تسمحان بذلك، فإن يعتبر مريضاً نفسياً.. فالكرامة الفعلية السامية هي أن نعتذر إذا أخطأنا. Dr. Sayyid Subhi, seorang pakar kesehatan mental berkata, “Meminta maaf merupakan sesuatu yang diharuskan. Barang siapa yang melakukan kesalahan, harus meminta maaf. Tidak perlu ada kegengsian, sebab orang yang menolak meminta maaf akan menjadi orang yang dibenci dalam pandangan orang lain. Meminta maaf merupakan karakter beradab, baik itu antarsesama manusia secara umum atau antara suami istri secara khusus. Suami yang melakukan kesalahan harus berusaha —meski dengan dorongan perasaan terhormatnya di depan istrinya — untuk meminta maaf. Orang yang menolak untuk meminta maaf kepada istrinya karena alasan kehormatan dan kejantanannya tidak membiarkannya melakukan itu, maka ia termasuk orang yang punya gangguan kejiwaan, karena kehormatan yang tertuang dalam tindakan yang terpuji adalah dengan meminta maaf jika kita melakukan kesalahan.” أما الدكتور يسرى عبد المحسن أستاذ علم النفس بجامعة عين شمس فيقول أن تعاليمنا الدينية تدفعنا للاعتذار، والله عز وجل يقبل التوبة من عبادة والاستغفار معنى ذلك أن الإنسان إذا أخطأ في حياته الدنيوية عليه أن يتراجع عن خطئه وباب الاعتذار مفتوح. والاعتذار ليس عيباً بقدر ما يعنى شجاعة المعتذر وقوته وتمتعه بشخصية سوية متكاملة، ومعرفته حدود نفسه وشعوره بالآخرين. Sedangkan Dr. Yusro Abdul Muhsin, pakar ilmu psikologi di Universitas Ain Syams berkata, “Ajaran-ajaran agama kita mendorong kita untuk meminta maaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Menerima tobat dan permohonan ampun dari para hamba-Nya, maknanya bahwa apabila manusia berbuat kesalahan dalam kehidupan duniawinya, hendaklah ia berhenti dari perbuatan salah itu, dan pintu permohonan maaf tetap terbuka baginya. Meminta maaf bukanlah suatu aib karena itu menunjukkan keberanian dan keteguhan orang yang meminta maaf, dan menjadi tanda bahwa ia memiliki kepribadian yang normal dan sempurna, dan bukti pengetahuannya terhadap batas-batas dirinya dan perasaannya terhadap orang lain.” ويؤكد الخبير الاجتماعي الدكتور أحمد المجدوب أن الرجولة تحتم على الزوج أن يعتذر إذا أخطأ فى حق زوجته أو أي شخص آخر، فالرجولة تعنى الصدق والشهامة. وعندما يعتذر الرجل فإنه لا يسقط من عين زوجته أو يهون أمره عليها، بل ترتفع قيمته في نظرها ويعلمها درساً في الأمانة والشهامة واحترام الذات. والاعتذار ليس ضعفاّ بل الضعف أن تخفى خطأك وتظل تكابر، أما الرجل الذي يثق بنفسه ويحترم ذاته فإنه لا يجد غضاضة في أن يعتذر ووقتها سوف يصبح قدوة لزوجته. Hal ini ditegaskan juga oleh pakar sosiologi, Dr. Ahmad Al-Majdub bahwa sikap jantan mengharuskan suami untuk meminta maaf apabila berbuat kesalahan terhadap hak istrinya atau siapa pun itu. Sebab, kejantanan berarti sikap benar dan gagah. Ketika suami meminta maaf, kehormatannya tidak akan jatuh di hadapan istrinya atau menjadi rendah baginya. Bahkan, justru nilainya akan semakin tinggi di pandangan istri, dan itu sekaligus mengajarkan kepada istri sikap amanah, kegagahan, dan penghormatan diri. Meminta maaf bukanlah kelemahan, dan justru kelemahan adalah menyembunyikan kesalahanmu dan terus mengelak untuk meminta maaf. Adapun suami yang percaya diri dan menghormati dirinya tidak akan merasa menahan diri untuk meminta maaf, dan pada waktunya ia akan menjadi teladan bagi istrinya.” فإن كنتما تعتقدان أن عزة النفس والكرامة لا تسمح بالمبادرة وتقديم الاعتذار فإن هناك طرقا غير مباشرة تساعدكما على ذلك: • عندما يترك أحدكما شريكه غاضبا، لا يرجع إلى البيت من دون هدية ولتكن وردة تعبر عما يجيش في النفس. • يمكن كتابة عبارة اعتذار على قالب من الكيك وتقديمه مع الشاي في المساء. • النزهات تجدد الروح والحياة وتبعد العصبية والروتين والملل. • إن كان لا بد من العتاب.. فلينصت كلاكما للآخر ولا ضير إن قلت لشريكك “معك حق”. • استعيدا مواقف طريفة مضحكة حدثت معكما أو مع أحدكما منفرداً.. فالضحك وسيلة مهمة للتواصل العاطفى الإيجابى ومناسبة للتجديد وصفاء النفس والروح. • تقبل الاعتذار بصدر رحب. Apabila kalian berdua —wahai suami dan istri— meyakini bahwa kemuliaan dan kehormatan diri tidak membiarkan kalian untuk segera mengajukan permintaan maaf, maka ada banyak cara tidak langsung yang dapat membantu kalian untuk meminta maaf, di antaranya: Ketika salah satu dari kalian meninggalkan pasangannya dalam keadaan marah, janganlah kamu pulang ke rumah tanpa membawa hadiah, bisa berupa bunga mawar sebagai bentuk ungkapan atas perasaan yang terpendam dalam hati. Mungkin juga dengan menulis ungkapan permintaan maaf di atas sepotong kue dan menyuguhkannya bersama secangkir teh pada sore hari. Rekreasi yang dapat menyegarkan ruh dan hidup, dan menghilangkan ketegangan, rutinitas, dan kebosanan. Apabila harus ada pertengkaran, maka hendaklah masing-masing berusaha untuk diam. Dan apa salahnya jika kamu mengatakan kepada pasanganmu, “Ya, kamu memang benar!” Ceritakan kembali momen-momen unik dan lucu yang terjadi antara kalian atau salah satu dari kalian, karena canda tawa merupakan cara penting untuk membangun hubungan perasaan yang positif, dan cocok untuk menyegarkan dan menjernihkan perasaan dan jiwa. Menerima permintaan maaf dengan lapang dada. يرفض الكثيرون تقديم الاعتذار خشية عدم إحسان القبول من الطرف الآخر، الذي قد لا يعير الأمر اهتماما، أو يرد متعاليا ببعض التعليقات التي تقلل من شأن الاعتذار، وقد يفشل تماما في قبول الاعتذار !! ولا شك أن عدم المرونة أو القدرة على تقبل الاعتذار يزيد المشكلة تعقيدا إن لم يتسبب في مشكلات جديدة، فالمخطئ سيصبح في المستقبل أقل مبادرة بالاعتذار، وقد يتمادى في أخطائه لاستفزاز الطرف الآخر. Banyak orang yang menolak untuk mengajukan permintaan maaf karena takut tidak diterima dengan baik oleh pihak lain yang mungkin tidak menganggap itu penting, atau membalasnya dengan angkuh disertai komentar-komentar yang merendahkan permintaan maaf. Bahkan, bisa jadi permintaan maaf benar-benar ditolak sepenuhnya! Tidak diragukan lagi bahwa ketidakmampuan untuk menerima permintaan maaf dapat memperumit masalah yang ada, kalau memang tidak menyebabkan masalah-masalah baru. Hal ini akan membuat orang yang bersalah suatu saat nanti lebih lambat dalam meminta maaf, atau bahkan terus melakukan kesalahannya untuk menyinggung pihak lain. إن كلا من تقديم وقبول الاعتذار أجزاء مكملة لعلاقة جميلة وقوية، فالاعتذار فرصة رائعة لتعميق الحب والمشاركة، فعندما نقبل الاعتذار يكون هناك احتمال أكبر بأن يقبل شريك الحياة اعتذارنا عندما يأتي علينا الدور لنعتذر. Mengajukan dan menerima permohonan maaf merupakan bagian yang saling melengkapi dalam hubungan yang baik dan kuat; karena permohonan maaf merupakan kesempatan bagus untuk memperdalam rasa cinta dan kebersamaan. Ketika kita menerima permintaan maaf, akan ada kemungkinan besar di masa depan bahwa pasangan hidup kita juga akan menerima permintaan maaf kita saat datang giliran kita untuk meminta maaf. Sumber: https://www.alukah.net/للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 1,464 times, 1 visit(s) today Post Views: 450 QRIS donasi Yufid
للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Oleh: Sahr Fuad Ahmad سحر فؤاد أحمد كثيراً ما يأخذنا الكبرياء والغرور ولا نملك القدرة على أن نرى أنفسنا مخطئين، اعتقادا منا أن الاعتراف بالخطأ والاعتذار عنه دليل ضعف مما يباعد بيننا وبين الآخرين وقد تتجمد العلاقات وتنقطع جسور التواصل معهم لأننا لم نبادر بكلمة صادقة للاعتذار. Sering kali kita terbawa oleh perasaan sombong dan angkuh, dan kita tidak punya kemampuan untuk melihat diri kita bersalah, dengan keyakinan bahwa mengakui kesalahan dan memohon maaf atas kesalahan itu merupakan tanda kelemahan. Padahal ini menjadi salah satu hal yang memperjauh jarak antara kita dengan orang lain, bahkan bisa jadi hubungan menjadi dingin dan terputusnya jembatan penghubung dengan mereka, karena kita tidak segera mengerahkan ucapan yang tulus untuk meminta maaf. إن جملة “أنا آسف” غالباً ما تصفي الأجواء وتفتح الأبواب أمام التسامح والتواصل، وتمنح فرصة للبدء من جديد، كما أنها تجلب الثقة والأمانة والتواضع وهذه من أجمل الصفات التي يمكن أن يتشاركها الناس. Kalimat “Saya minta maaf” sering kali mampu menjernihkan suasana, membuka pintu saling memaafkan dan kembali menjalin hubungan, memberi kesempatan untuk memulai kembali lembaran baru, sebagaimana ia juga mampu mengundang kepercayaan diri, sikap amanah, dan rendah hati. Ini tentu merupakan sifat-sifat terpuji yang dapat dibagi dengan banyak orang. وإذا كان الاعتذار يعد مطلبا لدوام أية علاقة فما بالنا بالعلاقات الزوجية التي تنمو وتقوى بالمودة والرحمة والتسامح فعلى كلا الزوجين ألا يقف لصاحبه بالمرصاد ليتصيد أخطاءه، ومن ثم يدبر له ليرد الخطأ بخطأ أكبر، ويظل كلاهما يدور في دائرة من الأخطاء انتظارا لاعتذار شريكه المكابر، وقد لا يسوؤه ارتكاب شريكه للخطأ بقدر ما يسوؤه عدم اعتذاره عنه!! Apabila permintaan maaf termasuk unsur pokok dalam keberlangsungan hubungan apapun, maka bagaimana menurutmu dengan hubungan dalam rumah tangga yang hanya bisa tumbuh dan menguat dengan hadirnya rasa cinta, kasih sayang, dan toleransi? Sehingga setiap suami dan istri janganlah menanti-nanti kesalahan timbul dari pasangannya dan bahkan menyusun langkah untuk menjerumuskannya ke dalam kesalahan, agar ia mampu membalas kesalahan dengan kesalahan yang lebih besar itu, sehingga kedua pihak itu terus berkutat dalam lingkaran kesalahan untuk menunggu permohonan maaf dari pasangannya yang enggan meminta maaf. Bahkan bisa jadi ia merasaan terganggu atas kesalahan yang diperbuat oleh pasangannya tidak lebih besar daripada perasaan terganggunya ketika pasangannya tidak meminta maaf atas kesalahan itu. كثير من المشكلات الزوجية تبدأ بمكابرة أحد الزوجين – لا سيما الزوج – والامتناع عن الاعتذار لشريكه عندما يغضبه فأغلب الرجاليقاومون الاعتذار ولا يحبون الاعتراف بالخطأ، إذ يعتبرون لحظة الاعتذار منأصعب اللحظات في حياتهم. وهذا ما يؤكده الدكتور كود وول المتخصص في العلاقات الزوجية بقوله: معظم الرجال يشعرون بأن قدراً كبيراً منهيبتهم سيضيع إذا قدموا اعتذاراً أو اعترفوا بخطأ.. فالمخطئ لابد أن يكون هو الخاسر، والرجال يكرهون الخسارة. Banyak masalah rumah tangga timbul dari keangkuhan salah satu dari suami dan istri —terlebih lagi dari pihak suami— dan kegengsian untuk meminta maaf kepada pasangannya saat membuatnya marah. Mayoritas suami akan gengsi untuk meminta maaf dan tidak suka mengakui kesalahannya, karena mereka menganggap meminta maaf merupakan momen tersulit dalam hidup mereka. Inilah yang ditegaskan oleh Dr. Coldwell, spesialis dalam bidang relationship, yang berkata, “Mayoritas kaum pria merasa bahwa sebagian besar kewibawaan mereka akan hilang jika mereka mengajukan permohonan maaf atau mengakui kesalahan, karena orang yang salah pasti kalah, sedangkan kaum pria tidak menyukai kekalahan.” وهناك نموذج آخر من الأزواج يستعجلون الاعتذار حتى لو لم يُطلب منهم، ليس لأنهم يشعرون بوجوب الاعتذار عن أخطاء وقعوا فيها ولكن لينهوا الشجار والجدال بأسرع ما يمكن، وكان يمكن اعتبار هؤلاء علي درجة كبيرة منالحصافة والحكمة لو أنهم استطاعوا إخفاء هذا السبب.. إلا أن ما يدعو للأسف والآسيأنهم يحرصون علي إظهاره! Namun, ada model lain dari suami, yaitu yang terburu-buru meminta maaf meski tidak diminta untuk melakukan itu. Ini bukan karena mereka sadar akan keharusan untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka lakukan, tapi karena mereka ingin segera menyelesaikan perselisihan dan perdebatan secepat mungkin. Suami model ini mungkin bisa disebut punya kadar yang besar dari keteguhan dan kebijaksanaan seandainya mereka mampu menyembunyikan sebab perilaku ini. Hanya saja, sangat disayangkan bahwa yang mendorong mereka melakukan itu adalah semangat mereka dalam menunjukkan kesalahan. يقول د.سيد صبحي أستاذ الصحة النفسية: إن الاعتذار مطلوب ومن يخطئ لابد أن يعتذر فليس هناك مكابرة وإلا فإن الشخص الذي يرفض الاعتذار يصبح بغيضاً في نظر الآخرين.. والاعتذار سلوك حضاري بين الناس عامة والزوجين خاصة. فالزوج الذي يخطئ عليه أن يسعى بدافع من شعوره الراقي أمام زوجته بالاعتذار، والذي يرفض الاعتذار لزوجته لأن كرامته ورجولته لا تسمحان بذلك، فإن يعتبر مريضاً نفسياً.. فالكرامة الفعلية السامية هي أن نعتذر إذا أخطأنا. Dr. Sayyid Subhi, seorang pakar kesehatan mental berkata, “Meminta maaf merupakan sesuatu yang diharuskan. Barang siapa yang melakukan kesalahan, harus meminta maaf. Tidak perlu ada kegengsian, sebab orang yang menolak meminta maaf akan menjadi orang yang dibenci dalam pandangan orang lain. Meminta maaf merupakan karakter beradab, baik itu antarsesama manusia secara umum atau antara suami istri secara khusus. Suami yang melakukan kesalahan harus berusaha —meski dengan dorongan perasaan terhormatnya di depan istrinya — untuk meminta maaf. Orang yang menolak untuk meminta maaf kepada istrinya karena alasan kehormatan dan kejantanannya tidak membiarkannya melakukan itu, maka ia termasuk orang yang punya gangguan kejiwaan, karena kehormatan yang tertuang dalam tindakan yang terpuji adalah dengan meminta maaf jika kita melakukan kesalahan.” أما الدكتور يسرى عبد المحسن أستاذ علم النفس بجامعة عين شمس فيقول أن تعاليمنا الدينية تدفعنا للاعتذار، والله عز وجل يقبل التوبة من عبادة والاستغفار معنى ذلك أن الإنسان إذا أخطأ في حياته الدنيوية عليه أن يتراجع عن خطئه وباب الاعتذار مفتوح. والاعتذار ليس عيباً بقدر ما يعنى شجاعة المعتذر وقوته وتمتعه بشخصية سوية متكاملة، ومعرفته حدود نفسه وشعوره بالآخرين. Sedangkan Dr. Yusro Abdul Muhsin, pakar ilmu psikologi di Universitas Ain Syams berkata, “Ajaran-ajaran agama kita mendorong kita untuk meminta maaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Menerima tobat dan permohonan ampun dari para hamba-Nya, maknanya bahwa apabila manusia berbuat kesalahan dalam kehidupan duniawinya, hendaklah ia berhenti dari perbuatan salah itu, dan pintu permohonan maaf tetap terbuka baginya. Meminta maaf bukanlah suatu aib karena itu menunjukkan keberanian dan keteguhan orang yang meminta maaf, dan menjadi tanda bahwa ia memiliki kepribadian yang normal dan sempurna, dan bukti pengetahuannya terhadap batas-batas dirinya dan perasaannya terhadap orang lain.” ويؤكد الخبير الاجتماعي الدكتور أحمد المجدوب أن الرجولة تحتم على الزوج أن يعتذر إذا أخطأ فى حق زوجته أو أي شخص آخر، فالرجولة تعنى الصدق والشهامة. وعندما يعتذر الرجل فإنه لا يسقط من عين زوجته أو يهون أمره عليها، بل ترتفع قيمته في نظرها ويعلمها درساً في الأمانة والشهامة واحترام الذات. والاعتذار ليس ضعفاّ بل الضعف أن تخفى خطأك وتظل تكابر، أما الرجل الذي يثق بنفسه ويحترم ذاته فإنه لا يجد غضاضة في أن يعتذر ووقتها سوف يصبح قدوة لزوجته. Hal ini ditegaskan juga oleh pakar sosiologi, Dr. Ahmad Al-Majdub bahwa sikap jantan mengharuskan suami untuk meminta maaf apabila berbuat kesalahan terhadap hak istrinya atau siapa pun itu. Sebab, kejantanan berarti sikap benar dan gagah. Ketika suami meminta maaf, kehormatannya tidak akan jatuh di hadapan istrinya atau menjadi rendah baginya. Bahkan, justru nilainya akan semakin tinggi di pandangan istri, dan itu sekaligus mengajarkan kepada istri sikap amanah, kegagahan, dan penghormatan diri. Meminta maaf bukanlah kelemahan, dan justru kelemahan adalah menyembunyikan kesalahanmu dan terus mengelak untuk meminta maaf. Adapun suami yang percaya diri dan menghormati dirinya tidak akan merasa menahan diri untuk meminta maaf, dan pada waktunya ia akan menjadi teladan bagi istrinya.” فإن كنتما تعتقدان أن عزة النفس والكرامة لا تسمح بالمبادرة وتقديم الاعتذار فإن هناك طرقا غير مباشرة تساعدكما على ذلك: • عندما يترك أحدكما شريكه غاضبا، لا يرجع إلى البيت من دون هدية ولتكن وردة تعبر عما يجيش في النفس. • يمكن كتابة عبارة اعتذار على قالب من الكيك وتقديمه مع الشاي في المساء. • النزهات تجدد الروح والحياة وتبعد العصبية والروتين والملل. • إن كان لا بد من العتاب.. فلينصت كلاكما للآخر ولا ضير إن قلت لشريكك “معك حق”. • استعيدا مواقف طريفة مضحكة حدثت معكما أو مع أحدكما منفرداً.. فالضحك وسيلة مهمة للتواصل العاطفى الإيجابى ومناسبة للتجديد وصفاء النفس والروح. • تقبل الاعتذار بصدر رحب. Apabila kalian berdua —wahai suami dan istri— meyakini bahwa kemuliaan dan kehormatan diri tidak membiarkan kalian untuk segera mengajukan permintaan maaf, maka ada banyak cara tidak langsung yang dapat membantu kalian untuk meminta maaf, di antaranya: Ketika salah satu dari kalian meninggalkan pasangannya dalam keadaan marah, janganlah kamu pulang ke rumah tanpa membawa hadiah, bisa berupa bunga mawar sebagai bentuk ungkapan atas perasaan yang terpendam dalam hati. Mungkin juga dengan menulis ungkapan permintaan maaf di atas sepotong kue dan menyuguhkannya bersama secangkir teh pada sore hari. Rekreasi yang dapat menyegarkan ruh dan hidup, dan menghilangkan ketegangan, rutinitas, dan kebosanan. Apabila harus ada pertengkaran, maka hendaklah masing-masing berusaha untuk diam. Dan apa salahnya jika kamu mengatakan kepada pasanganmu, “Ya, kamu memang benar!” Ceritakan kembali momen-momen unik dan lucu yang terjadi antara kalian atau salah satu dari kalian, karena canda tawa merupakan cara penting untuk membangun hubungan perasaan yang positif, dan cocok untuk menyegarkan dan menjernihkan perasaan dan jiwa. Menerima permintaan maaf dengan lapang dada. يرفض الكثيرون تقديم الاعتذار خشية عدم إحسان القبول من الطرف الآخر، الذي قد لا يعير الأمر اهتماما، أو يرد متعاليا ببعض التعليقات التي تقلل من شأن الاعتذار، وقد يفشل تماما في قبول الاعتذار !! ولا شك أن عدم المرونة أو القدرة على تقبل الاعتذار يزيد المشكلة تعقيدا إن لم يتسبب في مشكلات جديدة، فالمخطئ سيصبح في المستقبل أقل مبادرة بالاعتذار، وقد يتمادى في أخطائه لاستفزاز الطرف الآخر. Banyak orang yang menolak untuk mengajukan permintaan maaf karena takut tidak diterima dengan baik oleh pihak lain yang mungkin tidak menganggap itu penting, atau membalasnya dengan angkuh disertai komentar-komentar yang merendahkan permintaan maaf. Bahkan, bisa jadi permintaan maaf benar-benar ditolak sepenuhnya! Tidak diragukan lagi bahwa ketidakmampuan untuk menerima permintaan maaf dapat memperumit masalah yang ada, kalau memang tidak menyebabkan masalah-masalah baru. Hal ini akan membuat orang yang bersalah suatu saat nanti lebih lambat dalam meminta maaf, atau bahkan terus melakukan kesalahannya untuk menyinggung pihak lain. إن كلا من تقديم وقبول الاعتذار أجزاء مكملة لعلاقة جميلة وقوية، فالاعتذار فرصة رائعة لتعميق الحب والمشاركة، فعندما نقبل الاعتذار يكون هناك احتمال أكبر بأن يقبل شريك الحياة اعتذارنا عندما يأتي علينا الدور لنعتذر. Mengajukan dan menerima permohonan maaf merupakan bagian yang saling melengkapi dalam hubungan yang baik dan kuat; karena permohonan maaf merupakan kesempatan bagus untuk memperdalam rasa cinta dan kebersamaan. Ketika kita menerima permintaan maaf, akan ada kemungkinan besar di masa depan bahwa pasangan hidup kita juga akan menerima permintaan maaf kita saat datang giliran kita untuk meminta maaf. Sumber: https://www.alukah.net/للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 1,464 times, 1 visit(s) today Post Views: 450 QRIS donasi Yufid


للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Oleh: Sahr Fuad Ahmad سحر فؤاد أحمد كثيراً ما يأخذنا الكبرياء والغرور ولا نملك القدرة على أن نرى أنفسنا مخطئين، اعتقادا منا أن الاعتراف بالخطأ والاعتذار عنه دليل ضعف مما يباعد بيننا وبين الآخرين وقد تتجمد العلاقات وتنقطع جسور التواصل معهم لأننا لم نبادر بكلمة صادقة للاعتذار. Sering kali kita terbawa oleh perasaan sombong dan angkuh, dan kita tidak punya kemampuan untuk melihat diri kita bersalah, dengan keyakinan bahwa mengakui kesalahan dan memohon maaf atas kesalahan itu merupakan tanda kelemahan. Padahal ini menjadi salah satu hal yang memperjauh jarak antara kita dengan orang lain, bahkan bisa jadi hubungan menjadi dingin dan terputusnya jembatan penghubung dengan mereka, karena kita tidak segera mengerahkan ucapan yang tulus untuk meminta maaf. إن جملة “أنا آسف” غالباً ما تصفي الأجواء وتفتح الأبواب أمام التسامح والتواصل، وتمنح فرصة للبدء من جديد، كما أنها تجلب الثقة والأمانة والتواضع وهذه من أجمل الصفات التي يمكن أن يتشاركها الناس. Kalimat “Saya minta maaf” sering kali mampu menjernihkan suasana, membuka pintu saling memaafkan dan kembali menjalin hubungan, memberi kesempatan untuk memulai kembali lembaran baru, sebagaimana ia juga mampu mengundang kepercayaan diri, sikap amanah, dan rendah hati. Ini tentu merupakan sifat-sifat terpuji yang dapat dibagi dengan banyak orang. وإذا كان الاعتذار يعد مطلبا لدوام أية علاقة فما بالنا بالعلاقات الزوجية التي تنمو وتقوى بالمودة والرحمة والتسامح فعلى كلا الزوجين ألا يقف لصاحبه بالمرصاد ليتصيد أخطاءه، ومن ثم يدبر له ليرد الخطأ بخطأ أكبر، ويظل كلاهما يدور في دائرة من الأخطاء انتظارا لاعتذار شريكه المكابر، وقد لا يسوؤه ارتكاب شريكه للخطأ بقدر ما يسوؤه عدم اعتذاره عنه!! Apabila permintaan maaf termasuk unsur pokok dalam keberlangsungan hubungan apapun, maka bagaimana menurutmu dengan hubungan dalam rumah tangga yang hanya bisa tumbuh dan menguat dengan hadirnya rasa cinta, kasih sayang, dan toleransi? Sehingga setiap suami dan istri janganlah menanti-nanti kesalahan timbul dari pasangannya dan bahkan menyusun langkah untuk menjerumuskannya ke dalam kesalahan, agar ia mampu membalas kesalahan dengan kesalahan yang lebih besar itu, sehingga kedua pihak itu terus berkutat dalam lingkaran kesalahan untuk menunggu permohonan maaf dari pasangannya yang enggan meminta maaf. Bahkan bisa jadi ia merasaan terganggu atas kesalahan yang diperbuat oleh pasangannya tidak lebih besar daripada perasaan terganggunya ketika pasangannya tidak meminta maaf atas kesalahan itu. كثير من المشكلات الزوجية تبدأ بمكابرة أحد الزوجين – لا سيما الزوج – والامتناع عن الاعتذار لشريكه عندما يغضبه فأغلب الرجاليقاومون الاعتذار ولا يحبون الاعتراف بالخطأ، إذ يعتبرون لحظة الاعتذار منأصعب اللحظات في حياتهم. وهذا ما يؤكده الدكتور كود وول المتخصص في العلاقات الزوجية بقوله: معظم الرجال يشعرون بأن قدراً كبيراً منهيبتهم سيضيع إذا قدموا اعتذاراً أو اعترفوا بخطأ.. فالمخطئ لابد أن يكون هو الخاسر، والرجال يكرهون الخسارة. Banyak masalah rumah tangga timbul dari keangkuhan salah satu dari suami dan istri —terlebih lagi dari pihak suami— dan kegengsian untuk meminta maaf kepada pasangannya saat membuatnya marah. Mayoritas suami akan gengsi untuk meminta maaf dan tidak suka mengakui kesalahannya, karena mereka menganggap meminta maaf merupakan momen tersulit dalam hidup mereka. Inilah yang ditegaskan oleh Dr. Coldwell, spesialis dalam bidang relationship, yang berkata, “Mayoritas kaum pria merasa bahwa sebagian besar kewibawaan mereka akan hilang jika mereka mengajukan permohonan maaf atau mengakui kesalahan, karena orang yang salah pasti kalah, sedangkan kaum pria tidak menyukai kekalahan.” وهناك نموذج آخر من الأزواج يستعجلون الاعتذار حتى لو لم يُطلب منهم، ليس لأنهم يشعرون بوجوب الاعتذار عن أخطاء وقعوا فيها ولكن لينهوا الشجار والجدال بأسرع ما يمكن، وكان يمكن اعتبار هؤلاء علي درجة كبيرة منالحصافة والحكمة لو أنهم استطاعوا إخفاء هذا السبب.. إلا أن ما يدعو للأسف والآسيأنهم يحرصون علي إظهاره! Namun, ada model lain dari suami, yaitu yang terburu-buru meminta maaf meski tidak diminta untuk melakukan itu. Ini bukan karena mereka sadar akan keharusan untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka lakukan, tapi karena mereka ingin segera menyelesaikan perselisihan dan perdebatan secepat mungkin. Suami model ini mungkin bisa disebut punya kadar yang besar dari keteguhan dan kebijaksanaan seandainya mereka mampu menyembunyikan sebab perilaku ini. Hanya saja, sangat disayangkan bahwa yang mendorong mereka melakukan itu adalah semangat mereka dalam menunjukkan kesalahan. يقول د.سيد صبحي أستاذ الصحة النفسية: إن الاعتذار مطلوب ومن يخطئ لابد أن يعتذر فليس هناك مكابرة وإلا فإن الشخص الذي يرفض الاعتذار يصبح بغيضاً في نظر الآخرين.. والاعتذار سلوك حضاري بين الناس عامة والزوجين خاصة. فالزوج الذي يخطئ عليه أن يسعى بدافع من شعوره الراقي أمام زوجته بالاعتذار، والذي يرفض الاعتذار لزوجته لأن كرامته ورجولته لا تسمحان بذلك، فإن يعتبر مريضاً نفسياً.. فالكرامة الفعلية السامية هي أن نعتذر إذا أخطأنا. Dr. Sayyid Subhi, seorang pakar kesehatan mental berkata, “Meminta maaf merupakan sesuatu yang diharuskan. Barang siapa yang melakukan kesalahan, harus meminta maaf. Tidak perlu ada kegengsian, sebab orang yang menolak meminta maaf akan menjadi orang yang dibenci dalam pandangan orang lain. Meminta maaf merupakan karakter beradab, baik itu antarsesama manusia secara umum atau antara suami istri secara khusus. Suami yang melakukan kesalahan harus berusaha —meski dengan dorongan perasaan terhormatnya di depan istrinya — untuk meminta maaf. Orang yang menolak untuk meminta maaf kepada istrinya karena alasan kehormatan dan kejantanannya tidak membiarkannya melakukan itu, maka ia termasuk orang yang punya gangguan kejiwaan, karena kehormatan yang tertuang dalam tindakan yang terpuji adalah dengan meminta maaf jika kita melakukan kesalahan.” أما الدكتور يسرى عبد المحسن أستاذ علم النفس بجامعة عين شمس فيقول أن تعاليمنا الدينية تدفعنا للاعتذار، والله عز وجل يقبل التوبة من عبادة والاستغفار معنى ذلك أن الإنسان إذا أخطأ في حياته الدنيوية عليه أن يتراجع عن خطئه وباب الاعتذار مفتوح. والاعتذار ليس عيباً بقدر ما يعنى شجاعة المعتذر وقوته وتمتعه بشخصية سوية متكاملة، ومعرفته حدود نفسه وشعوره بالآخرين. Sedangkan Dr. Yusro Abdul Muhsin, pakar ilmu psikologi di Universitas Ain Syams berkata, “Ajaran-ajaran agama kita mendorong kita untuk meminta maaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Menerima tobat dan permohonan ampun dari para hamba-Nya, maknanya bahwa apabila manusia berbuat kesalahan dalam kehidupan duniawinya, hendaklah ia berhenti dari perbuatan salah itu, dan pintu permohonan maaf tetap terbuka baginya. Meminta maaf bukanlah suatu aib karena itu menunjukkan keberanian dan keteguhan orang yang meminta maaf, dan menjadi tanda bahwa ia memiliki kepribadian yang normal dan sempurna, dan bukti pengetahuannya terhadap batas-batas dirinya dan perasaannya terhadap orang lain.” ويؤكد الخبير الاجتماعي الدكتور أحمد المجدوب أن الرجولة تحتم على الزوج أن يعتذر إذا أخطأ فى حق زوجته أو أي شخص آخر، فالرجولة تعنى الصدق والشهامة. وعندما يعتذر الرجل فإنه لا يسقط من عين زوجته أو يهون أمره عليها، بل ترتفع قيمته في نظرها ويعلمها درساً في الأمانة والشهامة واحترام الذات. والاعتذار ليس ضعفاّ بل الضعف أن تخفى خطأك وتظل تكابر، أما الرجل الذي يثق بنفسه ويحترم ذاته فإنه لا يجد غضاضة في أن يعتذر ووقتها سوف يصبح قدوة لزوجته. Hal ini ditegaskan juga oleh pakar sosiologi, Dr. Ahmad Al-Majdub bahwa sikap jantan mengharuskan suami untuk meminta maaf apabila berbuat kesalahan terhadap hak istrinya atau siapa pun itu. Sebab, kejantanan berarti sikap benar dan gagah. Ketika suami meminta maaf, kehormatannya tidak akan jatuh di hadapan istrinya atau menjadi rendah baginya. Bahkan, justru nilainya akan semakin tinggi di pandangan istri, dan itu sekaligus mengajarkan kepada istri sikap amanah, kegagahan, dan penghormatan diri. Meminta maaf bukanlah kelemahan, dan justru kelemahan adalah menyembunyikan kesalahanmu dan terus mengelak untuk meminta maaf. Adapun suami yang percaya diri dan menghormati dirinya tidak akan merasa menahan diri untuk meminta maaf, dan pada waktunya ia akan menjadi teladan bagi istrinya.” فإن كنتما تعتقدان أن عزة النفس والكرامة لا تسمح بالمبادرة وتقديم الاعتذار فإن هناك طرقا غير مباشرة تساعدكما على ذلك: • عندما يترك أحدكما شريكه غاضبا، لا يرجع إلى البيت من دون هدية ولتكن وردة تعبر عما يجيش في النفس. • يمكن كتابة عبارة اعتذار على قالب من الكيك وتقديمه مع الشاي في المساء. • النزهات تجدد الروح والحياة وتبعد العصبية والروتين والملل. • إن كان لا بد من العتاب.. فلينصت كلاكما للآخر ولا ضير إن قلت لشريكك “معك حق”. • استعيدا مواقف طريفة مضحكة حدثت معكما أو مع أحدكما منفرداً.. فالضحك وسيلة مهمة للتواصل العاطفى الإيجابى ومناسبة للتجديد وصفاء النفس والروح. • تقبل الاعتذار بصدر رحب. Apabila kalian berdua —wahai suami dan istri— meyakini bahwa kemuliaan dan kehormatan diri tidak membiarkan kalian untuk segera mengajukan permintaan maaf, maka ada banyak cara tidak langsung yang dapat membantu kalian untuk meminta maaf, di antaranya: Ketika salah satu dari kalian meninggalkan pasangannya dalam keadaan marah, janganlah kamu pulang ke rumah tanpa membawa hadiah, bisa berupa bunga mawar sebagai bentuk ungkapan atas perasaan yang terpendam dalam hati. Mungkin juga dengan menulis ungkapan permintaan maaf di atas sepotong kue dan menyuguhkannya bersama secangkir teh pada sore hari. Rekreasi yang dapat menyegarkan ruh dan hidup, dan menghilangkan ketegangan, rutinitas, dan kebosanan. Apabila harus ada pertengkaran, maka hendaklah masing-masing berusaha untuk diam. Dan apa salahnya jika kamu mengatakan kepada pasanganmu, “Ya, kamu memang benar!” Ceritakan kembali momen-momen unik dan lucu yang terjadi antara kalian atau salah satu dari kalian, karena canda tawa merupakan cara penting untuk membangun hubungan perasaan yang positif, dan cocok untuk menyegarkan dan menjernihkan perasaan dan jiwa. Menerima permintaan maaf dengan lapang dada. يرفض الكثيرون تقديم الاعتذار خشية عدم إحسان القبول من الطرف الآخر، الذي قد لا يعير الأمر اهتماما، أو يرد متعاليا ببعض التعليقات التي تقلل من شأن الاعتذار، وقد يفشل تماما في قبول الاعتذار !! ولا شك أن عدم المرونة أو القدرة على تقبل الاعتذار يزيد المشكلة تعقيدا إن لم يتسبب في مشكلات جديدة، فالمخطئ سيصبح في المستقبل أقل مبادرة بالاعتذار، وقد يتمادى في أخطائه لاستفزاز الطرف الآخر. Banyak orang yang menolak untuk mengajukan permintaan maaf karena takut tidak diterima dengan baik oleh pihak lain yang mungkin tidak menganggap itu penting, atau membalasnya dengan angkuh disertai komentar-komentar yang merendahkan permintaan maaf. Bahkan, bisa jadi permintaan maaf benar-benar ditolak sepenuhnya! Tidak diragukan lagi bahwa ketidakmampuan untuk menerima permintaan maaf dapat memperumit masalah yang ada, kalau memang tidak menyebabkan masalah-masalah baru. Hal ini akan membuat orang yang bersalah suatu saat nanti lebih lambat dalam meminta maaf, atau bahkan terus melakukan kesalahannya untuk menyinggung pihak lain. إن كلا من تقديم وقبول الاعتذار أجزاء مكملة لعلاقة جميلة وقوية، فالاعتذار فرصة رائعة لتعميق الحب والمشاركة، فعندما نقبل الاعتذار يكون هناك احتمال أكبر بأن يقبل شريك الحياة اعتذارنا عندما يأتي علينا الدور لنعتذر. Mengajukan dan menerima permohonan maaf merupakan bagian yang saling melengkapi dalam hubungan yang baik dan kuat; karena permohonan maaf merupakan kesempatan bagus untuk memperdalam rasa cinta dan kebersamaan. Ketika kita menerima permintaan maaf, akan ada kemungkinan besar di masa depan bahwa pasangan hidup kita juga akan menerima permintaan maaf kita saat datang giliran kita untuk meminta maaf. Sumber: https://www.alukah.net/للزوجين: الاعتذار يحطم الأسوار Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 1,464 times, 1 visit(s) today Post Views: 450 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kesuksesan Seperti Apa yang Kamu Kejar?

ما النجاح الذي تسعى إليه؟! Oleh: Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Bashri الشيخ عبدالله بن محمد البصري أَمَّا بَعدُ، فَـ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ ﴾ [لقمان: 33]. أَيُّها المُسلِمُونَ، في أَيَّامِ الاختِبَارَاتِ المَدرَسِيَّةِ، يَحلُو الحَدِيثُ عَنِ النَّجَاحِ، وَيَطرُقُ هَذَا اللَّفظُ الرَّنَّانُ الأَسمَاعَ كَثِيرًا، وَيَحُثُّ الآبَاءُ وَالمُعَلِّمُونَ عَلَيهِ الأَبَناءَ وَالطُّلاَّبَ، وَيُزَيِّنُونَهُ لَهُم بِذِكرِ عَوَاقِبِهِ الجَمِيلَةِ وَآثَارِهِ الحَسَنَةِ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah akan hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat membela anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) membela bapaknya sedikit pun! Sesungguhnya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah benar, maka janganlah sekali-kali kamu diperdaya oleh kehidupan dunia dan jangan sampai karena (kebaikan-kebaikan) Allah Subhanahu wa Ta’ala kamu diperdaya oleh penipu.” (QS. Luqman: 33). Wahai kaum Muslimin! Pada masa-masa ujian sekolah ini, pembahasan tentang kesuksesan menjadi sangat menarik. Kata yang begitu sering digaungkan ini banyak sekali mengetuk pendengaran. Para orang tua dan guru akan terus mendorong anak-anak dan para murid mereka untuk meraihnya, dan memperindahnya dengan menyebutkan hasil-hasil yang indah dan pengaruh-pengaruh baiknya. وَالنَّجاحُ وَإِن كَانَ أَمرًا مُحَبَّبًا لِلنُّفُوسِ، إِلاَّ أَنَّ ثَمَّةَ مَا يُشبِهُ المُبَالَغَةَ في وَصفِهِ في زَمَانِنَا وَالبَحثِ عَن أَسبَابِهِ، خَاصَّةً وَقَد تَأَثَّرَت مُجتَمَعَاتُنَا بِأُمَمٍ لا تُؤمِنُ إِلاَّ بِالمَادَّةِ وَمَا يَنَالُهُ المَرءُ مِن حُطَامِ الدُّنيَا، تَأَثُّرًا غَيَّرَ مَفهُومَ النَّجَاحِ وَالفَشَلِ، وَاختَلَفَتِ النَّظرَةُ مَعَهُ إِلى المَعنى الحَقِيقِيِّ لِلرِّبحِ وَالخَسَارَةِ. يُلحِقُ أَحَدُنَا أَبنَاءَهُ في المَدَارِسِ وَالمَعَاهِدِ وَالجَامِعَاتِ، فَإِذَا مَا أَخفَقُوا فِيهَا أَو لم يُوَفَّقُوا لِنَيلِ شَهَادَاتِهَا، حَزِنَ وَأَسِفَ وَانكَسَرَ خَاطِرُهُ، وَاشتَدَّ في عِتَابِهِم وَبَالَغَ في لَومِهِم، وَرُبَّمَا أَزرَى عَلَيهِم وَكَسَرَ خَوَاطِرَهُم بِكَثرَةِ الانتِقَادِ Memang meskipun kesuksesan merupakan perkara yang disukai jiwa manusia, tapi ada suatu bentuk berlebih-lebihan pada zaman kita ini dalam menggambarkannya dan mencari cara-cara meraihnya. Terlebih lagi, masyarakat kita telah terpengaruh dengan umat-umat yang tidak mengimani kecuali hal yang bersifat materi dan kenikmatan yang dapat diraih seseorang. Pengaruh ini telah mengubah pandangan tentang definisi kesuksesan dan kegagalan. Bersamaan dengan itu, berubah pula pandangan tentang makna hakiki tentang untung dan rugi. Ada seseorang dari kita yang memasukkan anak-anaknya di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, dan universitas-universitas. Lalu jika anak-anak itu gagal di sana atau tidak berhasil meraih ijazahnya, ia akan sedih dan berduka cita, harapannya pupus, memberi celaan keras pada mereka, dan berlebihan dalam mencemooh mereka. Bahkan bisa jadi ia kemudian meremehkan mereka dan menyakiti perasaan mereka karena terlalu banyak memberi kritikan. وَيَدخُلُ آخَرُ مِنَّا في تِجَارَةٍ أَو مَشرُوعٍ، فَيَخسَرُ فِيهِ أَو لا يُحَصِّلُ مَا حَلَمَ بِهِ مِن رِبحٍ مَادِيٍّ، فَتُظلِمُ الدُّنيَا في وَجهِهِ، وَيَكتَئِبُ وَتَنقَبِضُ نَفسُهُ، وَيَرَى أَنْ لا سَبِيلَ بَعدَ ذَلِكَ إِلى السَّعَادَةِ… وَيَتَمَنَّى ثَالِثٌ مَنصِبًا فَتَقصُرُ بِهِ الخُطَا دُونَهُ، فَيَأسَى عَلَى ضَيَاعِ عُمُرِهِ في طَلَبِهِ، وَذَهَابِ جُهدِهِ دُونَ نَيلِهِ، وَعَدَمِ رُؤيَةِ النَّاسِ لَهُ وَقَدِ اعتَلَى ذَاكَ الكُرسِيَّ فَأَمَرَ فِيهِ وَنَهَى، وَخَفَضَ وَرَفَعَ… وَهَكَذَا في غَايَاتٍ دُنيَوِيَّةٍ جَعَلَتِ النُّفُوسُ تَتَطَلَّعُ إِلَيهَا وَتَرغَبُ فِيهَا، وَتَحسَبُ أَنَّهَا وَحدَهَا مَعَايِيرُ النَّجَاحِ وَمَقَايِيسُ الرِّفعَةِ، وَكَأَنَّنَا لم نَقرَأْ يَومًا قَولَ الحَقِّ – تَبَارَكَ وَتَعَالى -: ﴿ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾ [الزخرف: 32] Ada juga dari kita yang menjalankan suatu bisnis atau proyek, lalu ia merugi atau tidak mendapatkan keuntungan materi yang ia harapkan, sehingga dunia terasa gelap di pandangannya, merasa depresi, menutup diri, dan memandang bahwa setelah kegagalan ini tidak ada lagi jalan menuju kebahagiaan. Ada juga orang lainnya yang mengidamkan jabatan, tapi langkahnya terhenti dalam mencapainya, sehingga ia merasakan penyesalan besar karena telah menyia-nyiakan umurnya dalam mengejar jabatan, dan usaha yang telah ia kerahkan demi menggapainya, serta gagal menjadikan orang-orang melihatnya menduduki kursi jabatan dan menjalankan tugas memberi perintah dan larangan, dan menentukan siapa yang dapat ia angkat dan ia pecat. Demikianlah tujuan-tujuan duniawi, menjadikan jiwa terus haus dan mengidamkannya. Ia menganggap tujuan-tujuan duniawi itulah satu-satunya standar kesuksesan dan ukuran kehormatan, seakan-akan kita belum pernah sekalipun membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Benar, Tabaraka wa Ta’ala: نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32). أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد جَعَلَ اللهُ مِن سُنَنِ هَذَا الكَونِ تَفَاوُتَ النَّاسِ في تَحصِيلِ مَا يَصبُونَ إِلَيهِ، وَقَضَى أَلاَّ يَكُونُوا عَلَى مُستَوًى وَاحِدٍ في مَعِيشَةٍ أَو دَرَجَةٍ؛ لِيَكُونَ بِذَلِكَ لِكُلٍّ مِنهُم عَمَلٌ يَخُصُّهُ وَمِهنَةٌ يُنَاسِبُهُ، يَخدُمُ بِها غَيرَهُ، وَيَجِدُ فِيها رِزقَهُ، فَإِذَا مَا أَدَّى الَّذِي عَلَيهِ وَأَبرَأَ ذِمَّتَهُ، وَحَقَّقَ قَبلَ ذَلِكَ وَبَعدَهُ الغَايَةَ الكُبرَى الَّتي أَوجَدَهُ رَبُّهُ في هَذِهِ الحَيَاةِ لَهَا وَهِيَ عِبَادَتُهُ، شَعَرَ إِذْ ذَاكَ بِالرِّضَا عَن نَفسِهِ، وَكَانَ هُوَ النَّاجِحَ المُوَفَّقَ السَّعِيدَ… يُقَالُ هَذَا. Saudara-saudara! Memang benar, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan aturan di alam semesta ini bahwa manusia berbeda-beda dalam meraih apa yang mereka usahakan, dan menentukan bahwa mereka tidak berada dalam tingkatan yang sama dalam kehidupan dan derajat. Itu semua agar tiap-tiap mereka mempunyai pekerjaan dan mata pencaharian yang sesuai, dengan pekerjaan itu mereka dapat melayani orang lain dan mendapatkan rezeki. Apabila seseorang telah menjalankan tugasnya, dan menyelesaikan tanggung jawabnya, serta sebelum dan sesudah itu ia telah merealisasikan tujuan terbesar dari penciptaan Tuhannya terhadapnya di dunia ini, yaitu untuk beribadah, maka ketika itu ia akan merasakan kepuasan, dan itulah orang yang sukses, mendapat taufik, dan bahagia. Demikianlah dikatakan. – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَنَحنُ في عَصرٍ حَمَلَ النَّاسُ فِيهِ شِعَارَاتٍ مَادِيَّةً بَحتَةً، وَرَاحُوا يُرَدِّدُونَهَا بَينَهُم، مُتَوَهِّمِينَ أَنَّ النَّجَاحَ مَحصُورٌ فِيهَا وَلا يَتِمُّ إِلاَّ بِهَا، في تَقدِيسٍ لِلمَحسُوسَاتِ وَالمَادِّيَّاتِ، وَمَيلٍ لِلمَكَاسِبِ الدُّنيَوِيَّةِ العَاجِلَةِ، وَحَشرٍ لِمَفهُومِ النَّجَاحِ في اعتِلاءِ مَنصِبٍ أَو تَحصِيلِ سُلطَةٍ، أَو تَحقِيقِ جَاهٍ وَشُهرَةٍ، مَعَ التَّقلِيلِ مِن شَأنِ المَكَاسِبِ الأُخرَوِيَّةِ، وَالغَفلَةِ عَن أَنَّ تِلكَ المُجتَمَعَاتِ الَّتي نَجَحَت في عَدَدٍ مِن مَنَاحِي حَيَاتِهَا، وَمَلأَتِ الدُّنيَا بِمَصنُوعَاتِهَا، وَضَاقَ البَرُّ وَالبَحرُ بِمُختَرَعَاتِهَا، قَد فَشِلَت فَشَلاً ذَرِيعًا في جَلبِ السَّعَادَةِ لَهَا أَو لِشُعُوبِ الأَرضِ الأُخرَى، بَل لَقَد طَالَ شَقَاؤُهَا بِتَسَلُّطِها عَلَى المُجتَمَعَاتِ الأَضعَفِ مِنهَا، وَتَطَاوُلِهَا عَلَيهَا وَظُلمِهَا وَالتَّعَدِّي عَلَى حُقُوقِهَا. Saudara-saudara! Kita hidup pada zaman ketika orang-orang membawa slogan-slogan materialisme semata dan senantiasa menggaungkan slogan-slogan itu di antara mereka, karena mereka mengira bahwa kesuksesan hanya terbatas pada materi dan tidak dapat sempurna kecuali dengannya.  Kita hidup pada zaman materialisme didewa-dewakan, kecondongan terhadap prestasi-prestasi duniawi yang semu, dan pemahaman tentang kesuksesan yang terbatas pada menduduki jabatan tinggi, meraih kekuasaan, atau mencapai kedudukan dan ketenaran; bersamaan dengan itu, prestasi-prestasi akhirat dipandang sebelah mata, dan lalai terhadap masyarakat-masyarakat yang berhasil meraih kesuksesan di berbagai aspek kehidupan, memenuhi dunia dengan produk-produk mereka, menjejali daratan dan lautan dengan penemuan-penemuan mereka, tapi mereka gagal besar dalam meraih kebahagiaan bagi mereka atau bagi bangsa lainnya. Bahkan kesengsaraan mereka terus berlanjut karena mereka menindas dan menzalimi bangsa-bangsa yang lebih lemah, dan merampas hak-hak mereka. إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَهلَ الإِسلامِ، لَيسَ في تَحقِيقِ أَعلَى مَكسَبٍ في تِجَارَةٍ، وَلا في نَيلِ غِنًى مِن مُسَاهَمَةٍ، وَلا في ظُهُورٍ في قَنَاةٍ إِعلامِيَّةٍ، أَو لَمَعَانِ اسمٍ في وَسِيلَةٍ تَوَاصُلٍ، أَو بِمَدحِ مُعجَبِينَ أَو كَثرَةِ مُتَابِعِينَ، إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَسمَى مِن ذَلِكَ وَأَكبَرُ وَأَوسَعُ، فَمَتى حَقَّقَ المُسلِمُ الغَايَةَ مِن خَلقِهِ وَهِيَ عِبَادَةُ رَبِّهِ وَعِمَارَةِ الأَرضِ بما يُرضِيهِ، وَصَلَحَ عَمَلُهُ عَلَى هَديٍ مِن كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَهُوَ النَّاجِحُ المُفلِحُ وَإِن لم يَملِكْ مِنَ الدُّنيَا إِلاَّ قَلِيلاً، وَأَمَّا الغِنَى وَالفَقرُ، وَرِفعَةُ الدَّرَجَةِ في الدُّنيَا أَوِ انخِفَاضُهَا، وَالنَّجَاحُ في اختِبَارٍ مَدرَسِيٍّ أَوِ الإِخفَاقُ فِيهِ، فَمَرحَلَةٌ قَصِيرَةٌ سَتَنتَهِي يَومًا مَا، وَلِبَاسٌ مُؤَقَّتٌ سَيُخلَعُ أَو يَبلَى بَعدَ حِينٍ، وَلَن يُحَصِّلَ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ في النِّهَايَةِ إِلاَّ مَن آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثم اهتَدَى. Namun, makna kesuksesan bagi kita, umat Islam, bukanlah dengan meraih laba tertinggi dalam perniagaan, memperoleh kekayaan dari proyek investasi, dapat tampil di saluran televisi, viralnya nama di media sosial, pujian para pengagum, dan banyaknya pengikut. Kesuksesan bagi kita lebih mulia, lebih besar, dan lebih luas daripada itu semua, apabila seorang Muslim telah merealisasikan tujuan dari penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memakmurkan bumi dengan cara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai, dan amalannya sesuai dengan tuntunan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka kita telah menjadi orang yang sukses dan berhasil, meskipun hanya memiliki sedikit kenikmatan duniawi. Adapun kekayaan atau kemiskinan, ketinggian derajat duniawi atau kehinaan, dan keberhasilan pada ujian sekolah atau kegagalan, maka itu hanyalah fase singkat yang akan berakhir suatu saat nanti, dan jubah sementara yang akan dilepas atau menjadi usang beberapa saat lagi, lalu pada akhirnya tidak akan meraih kesuksesan yang hakiki kecuali orang yang beriman dan beramal saleh lalu mengikuti petunjuk. أَيُّهَا المُسلِمُونَ، لَقَد طَغَى التَّركِيزُ عَلَى مُصطَلَحِ النَّجَاحِ في مَجَالاتِ الحَيَاةِ الدُّنيَوِيَّةِ في عَصرِنَا، وَكَثُرَ الحَدِيثُ عَنهُ وَتَردَادُهُ عَلَى الأَسمَاعِ حَتَّى تَشَبَّعَت بِهِ القُلُوبُ، وَحَتى أَنسَانَا مُفرَدَاتٍ وَمُصطَلَحَاتٍ أَعلَى مِنهُ وَأَغلَى، كَالصَّلاحِ وَالفَلاحِ، وَالفَوزِ العَظِيمِ وَالفَوزِ الكَبِيرِ، أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد تَشَعَّبَ المُثَقَّفُونَ وَالمُدَرِّبُونَ في الحَدِيثِ عَنِ النَّجَاحِ، وَلَكِنَّ أَحَادِيثَهُم ظَلَّت تَدُورُ حَولَ النَّجَاحِ في تَحقِيقِ الثَّرَاءِ، أَو كَيفِيَّةِ الوُصُولِ إِلى مَكَانَةٍ اجتِمَاعِيَّةٍ مَرمُوقَةٍ، أَو طُرُقِ الوُصُولِ إِلى الشُّهرَةِ بِأَقصَرِ السُّبُلِ، أَوِ القُدرَةِ عَلَى تَوسِيعِ دَائِرَةِ العِلاقَاتِ مَعَ الآخَرِينَ، أَوِ الحُصُولِ عَلَى الرِّضَا الوَظِيفِيِّ، أَوِ التَّمَكُّنِ مِنَ الإِلقَاءِ وَالإِمسَاكِ بِزَمَامِ التَّأثِيرِ في المُستَمِعِينَ، في حِينِ كَادَ النَّجَاحُ الأُخرَوِيُّ يُهمَلُ وَيُنسَى وَيُغَيَّبُ، وَلا يُتَحَدَّثُ عَنهُ وَلا تُتَنَاوَلُ أَسبَابُهُ وَلا تُذكَرُ وَسَائِلُهُ. Wahai kaum Muslimin! Fokus terhadap istilah kesuksesan telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan duniawi pada zaman kita. Pembahasan tentangnya begitu banyak dan selalu digaungkan di telinga, hingga hati kita menjadi jengah, hingga menjadikan kita lupa dengan istilah-istilah yang lebih mulia dan lebih berharga dari itu, seperti kesalehan, keberuntungan akhirat, dan keberhasilan terbesar.  Saudara-saudara! Memang benar, para pakar dan mentor dalam pembahasan tentang kesuksesan memiliki pandangan yang berbeda-beda, akan tetapi pembahasan mereka tetap hanya berkutat di sekitar kesuksesan dalam meraih kekayaan, cara mencapai kedudukan sosial yang tinggi, metode untuk mencapai ketenaran dengan jalan tercepat, skill memperluas jaringan dengan orang lain, meraih kesuksesan karir, dan kemampuan public speaking dan mempengaruhi para pendengar. Di sisi lain, kesuksesan akhirat hampir terabaikan, terlupakan, dan tersingkirkan sama sekali, tidak ada yang membahasnya, tidak dicari sebab-sebabnya, dan tidak disebutkan cara-caranya. إِنَّهُ لا يُقَالُ لِلنَّاسِ لا تَجتَهِدُوا في طَلَبِ السَّعَادَةِ في حَيَاتِكُم، أَو لا تَبذُلُوا أَسبَابًا لِتَحصِيلِ قُوتِكُم وَرَاحَةِ نُفُوسِكُم، كَيفَ وَقَد قَالَ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فِيمَا رَوَاهُ مُسلِمٌ وَغَيرُهُ: ” المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ ” وَلَكِنَّنَا يَجِبُ أَن نَنتَبِهَ إِلى أَنَّهُ عَبَّرَ عَنِ الفَردِ هُنَا بِالمُؤمِنِ؛ لِيُنَبِّهَ إِلى أَنَّ الإِيمَانَ هُوَ أَغلَى المَكَاسِبِ وَأَفضَلُ النَّجَاحَاتِ، فَمَتى اتَّصَفَ بِهِ العَبدُ كَانَ حَرِيًّا بِهِ بَعدَ ذَلِكَ أَن يَزدَادَ قُوَّةً في غَيرِهِ وَيَتَقَدَّمَ وَيَرفَعَ نَفسَهُ، لَكِنَّهُ لَن يُعَدَّ فَاشِلاً وَإِن لم يَحصُلْ لَهُ شَيءٌ مِنَ الدُّنيَا مَا دَامَ مَعَهُ إِيمَانُهُ، بَل هُوَ نَاجِحٌ وَمُفلِحٌ وَفَائِزٌ بِإِذنِ اللهِ، بَل وَلَعَلَّهُ يَكُونُ خَيرًا مِمَّن هُوَ مُقَدَّمٌ لَدَى النَّاسِ عَلَيهِ لِنَجَاحِهِ في دُنيَاهِ Kami tidak mengatakan, janganlah kalian berusaha mencari kebahagiaan dalam hidup kalian, atau janganlah kalian mengerahkan usaha untuk meraih kekuatan dan mencapai ketenangan jiwa! Bagaimana itu akan dikatakan, sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda —sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya—:  المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ “Orang beriman yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang beriman yang lemah, tapi tiap-tiap mereka punya kebaikan.” (HR. Muslim). Namun, wajib kita perhatikan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengungkapkan orang dalam hadis ini dengan orang beriman, untuk memberi penegasan bahwa keimanan adalah prestasi paling berharga dan kesuksesan yang paling utama. Apabila seorang hamba telah beriman, maka sudah sepantasnya baginya setelah itu untuk menambah kekuatan dalam aspek lain, dan meningkatkan nilai dirinya. Namun, ia tidak akan dianggap gagal meskipun tidak meraih sedikit pun prestasi dunia, selagi keimanan masih bersamanya. Bahkan ia adalah orang yang sukses, berhasil, dan menang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahkan bisa jadi ia lebih baik daripada orang yang lebih diutamakan orang lain karena kesuksesan duniawinya. وَلَقَد قَادَ الأًمَّةَ فِيمَا مَضَى مِن قُرُونِ عِزِّهَا وَعُهُودِ قُوَّتِهَا رِجَالٌ لَبِسُوا المُرَقَّعَ مِنَ الثِّيَابِ، وَلم يَشبَعُوا مِن فَاخِرِ الطَّعَامِ والزَّادِ، اِفتَرَشُوا الأَرضَ في بَعضِ أَحوَالِهِم وَالتَحَفُوا السَّمَاءَ، وَمَعَ هَذَا كَانُوا أَئِمَّةً عُظَمَاءَ وَقَادَةً نُبَلاءَ وَعُلَمَاءَ فُضَلاءَ، قَادُوا الجَحَافِلَ وَتَصَدَّرُوا في المَحَافِلِ، وَخَدَمُوا المَحَابِرَ فَخَدَمَتهُمُ المَنَابِرُ، وَدَانَت لَهُمُ البِلادُ وَأَذعَنَ لَهُمُ العِبَادُ، فَلَهُم مَعَ فَقرِهِم وَقِلَّةِ مَا يَملِكُونَ، خَيرٌ مِمَّن سَكَنَ القُصُورَ وَمَلَكَ القَنَاطِيرَ وَلَبِسَ الحَرِيرَ، قَالَ – عَلَيهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ -: “رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ” رَوَاهُ مُسلِمٌ. Umat Islam pada era keemasannya dan di zaman kejayaannya telah dipimpin oleh orang-orang yang memakai pakaian penuh tambalan, tidak kenyang dengan makanan mewah, dan hanya tidur beralas tanah dan beratap langit pada mayoritas keadaan mereka. Kendati demikian, dulu mereka adalah pemimpin-pemimpin agung, panglima-panglima cerdas, dan ulama-ulama mulia, mereka memimpin orang-orang besar, tampil di depan orang banyak, dan melayani ilmu, sehingga mereka disambut oleh mimbar-mimbar, ditakuti oleh negeri-negeri, dan disegani oleh manusia. Meskipun mereka miskin dan tidak memiliki banyak harta, tapi mereka lebih baik daripada orang yang menghuni istana-istana, memiliki harta melimpah, dan mengenakan kain sutra. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ “Bisa jadi ada orang yang rambutnya kusam dan akan ditolak ketika hendak bertamu, tapi apabila ia bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim). وَعَن سَهلِ بنِ سَعدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنهُ – قَالَ: مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا؟ ” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَن يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَن يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَن يُستَمَعَ ” قَالَ: ثُمَّ سَكَتَ فَمَرَّ رَجُلٌ مِن فُقَرَاءِ المُسلِمِينَ فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا ؟” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَلاَّ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَلاَّ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَلاَّ يُستَمَعَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ -: “هَذَا خَيرٌ مِن مِلءِ الأَرضِ مِثلَ هَذَا” رَوَاهُ البُخَارِيُّ. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa pernah ada seorang laki-laki yang berlalu melewati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau bertanya, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan diterima lamarannya, jika memberi syafaat akan diterima syafaatnya, dan jika berkata didengar perkataannya.” Kemudian Rasulullah diam. Lalu berlalu laki-laki lain dari kalangan orang-orang miskin kaum Muslimin, dan beliau bertanya lagi, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan ditolak lamarannya, jika memberi syafaat akan ditolak syafaatnya, dan jika berkata akan diabaikan perkataannya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda, “Orang ini (yang kedua) lebih baik daripada sepenuh bumi manusia yang seperti orang itu (yang pertama).” (HR. Al-Bukhari). أَلا فَلْنَتَّقِ اللهَ – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَلْنَحرِصْ عَلَى مَا يُقَرِّبُنَا إِلَيهِ وَيُبَلِّغُنَا رِضَاهُ وَجَنَّتَهُ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ: ﴿ وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ ﴾ [الأعراف: 8، 9]. أَمَّا بَعدُ، فَاتَّقُوا اللهَ – تَعَالى – حَقَّ التَّقوَى، وَتَمَسَّكُوا مِنَ الإِسلامِ بِالعُروَةِ الوُثقَى ﴿ وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا ﴾ [الطلاق: 2]. ﴿ وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ ﴾ [الطلاق: 3]. Saudara-saudara! Tidakkah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memberi perhatian besar pada hal yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya, dan menyampaikan kita kepada ridha dan surga-Nya?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ “Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9). Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, dan berpeganglah dengan tali yang kokoh, yaitu agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ “Siapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (QS. At-Talaq: 2-3). أَيُّهَا المُسلِمُونَ، إِنَّ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ لَيسَ مَعرَكَةً مَعَ المَالِ أَوِ المَنصِبِ، وَلا صِرَاعًا مَعَ الجَاهِ أَوِ الشُّهرَةِ، وَلا هُوَ في النُّبُوغِ عَلَى الأَقرَانِ في أَمرٍ دُنيَوِيٍّ، وَلَكِنَّهُ صُرُوحٌ مِنَ الرِّضا بِمَا قَسَمَ اللهُ تُبنَى في النُّفُوسِ، وَكُنُوزٌ مِنَ القَنَاعَةِ تُملأُ بها القُلُوبُ، وَإِيمَانٌ يُكسِبُ صَاحِبَهُ اليَقِينَ بِأَنَّ مَا عِندَ اللهِ خَيرٌ وَأَبقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِم يَتَوَكَّلُونَ، وَالمُفلِحُ النَّاجِحُ هُوَ مَن مَلَكَ زِمَامَ نَفسِهِ وَأَمسَكَ بِخِطَامِهَا، وَحَدَّ مِن جِمَاحِهَا وَقَهَرَ طُغيَانَهَا، وَأَمَّا مَن أَتبَعَهَا هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانيَّ، فَذَلِكَ هُوَ الفَاشِلُ وَالخَاسِرُ وَالمُخفِقُ، وَإِن نَالَ الشَّهَادَاتِ وَحَصَّلَ أَعلَى الدَّرَجَاتِ، وَنُودِيَ بِاسمِهِ في المُتَفَوِّقِينَ في الاختِبَارَاتِ، قَالَ – سُبحَانَهُ -: ﴿ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ﴾ [الشمس: 9، 10] وَقَالَ – تَعَالى -: “﴿ مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾ [النحل: 97] وَقَالَ – جَلَّ وَعَلا -: ﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ ﴾  [الأنعام: 82] وَقَالَ – عَزَّ وَجَلَّ -: ﴿ وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا ﴾ [طه: 124]. Wahai kaum Muslimin! Kesuksesan hakiki bukanlah peperangan demi mendapat harta atau kedudukan, bukan pertarungan demi meraih jabatan atau ketenaran, dan bukan pula dengan keunggulan terhadap orang lain dalam urusan duniawi. Namun, kesuksesan adalah benteng keridhaan terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dibangun di dalam jiwa, harta berharga yang berupa sifat qanaah yang memenuhi hati, dan keimanan yang mendatangkan keyakinan bagi pemiliknya bahwa apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada-Nya.  Orang yang sukses dan berhasil adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsu, memegang tali kekangnya, dan mengendalikan kebengisannya, serta menundukkan keliarannya. Adapun orang yang menuruti hawa nafsunya lalu hanya berangan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berbagai angan-angan, maka itulah orang yang gagal, merugi, dan tumbang, meskipun ia telah meraih berbagai ijazah dan mencapai kedudukan tertinggi serta namanya disebutkan di antara orang-orang yang berada di peringkat atas dalam hasil ujian. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10). مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, maka sungguh Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97). الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82). وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا “Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124). Sumber: https://www.alukah.net/ما النجاح الذي تسعى إليه؟ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 374 times, 1 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid

Kesuksesan Seperti Apa yang Kamu Kejar?

ما النجاح الذي تسعى إليه؟! Oleh: Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Bashri الشيخ عبدالله بن محمد البصري أَمَّا بَعدُ، فَـ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ ﴾ [لقمان: 33]. أَيُّها المُسلِمُونَ، في أَيَّامِ الاختِبَارَاتِ المَدرَسِيَّةِ، يَحلُو الحَدِيثُ عَنِ النَّجَاحِ، وَيَطرُقُ هَذَا اللَّفظُ الرَّنَّانُ الأَسمَاعَ كَثِيرًا، وَيَحُثُّ الآبَاءُ وَالمُعَلِّمُونَ عَلَيهِ الأَبَناءَ وَالطُّلاَّبَ، وَيُزَيِّنُونَهُ لَهُم بِذِكرِ عَوَاقِبِهِ الجَمِيلَةِ وَآثَارِهِ الحَسَنَةِ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah akan hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat membela anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) membela bapaknya sedikit pun! Sesungguhnya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah benar, maka janganlah sekali-kali kamu diperdaya oleh kehidupan dunia dan jangan sampai karena (kebaikan-kebaikan) Allah Subhanahu wa Ta’ala kamu diperdaya oleh penipu.” (QS. Luqman: 33). Wahai kaum Muslimin! Pada masa-masa ujian sekolah ini, pembahasan tentang kesuksesan menjadi sangat menarik. Kata yang begitu sering digaungkan ini banyak sekali mengetuk pendengaran. Para orang tua dan guru akan terus mendorong anak-anak dan para murid mereka untuk meraihnya, dan memperindahnya dengan menyebutkan hasil-hasil yang indah dan pengaruh-pengaruh baiknya. وَالنَّجاحُ وَإِن كَانَ أَمرًا مُحَبَّبًا لِلنُّفُوسِ، إِلاَّ أَنَّ ثَمَّةَ مَا يُشبِهُ المُبَالَغَةَ في وَصفِهِ في زَمَانِنَا وَالبَحثِ عَن أَسبَابِهِ، خَاصَّةً وَقَد تَأَثَّرَت مُجتَمَعَاتُنَا بِأُمَمٍ لا تُؤمِنُ إِلاَّ بِالمَادَّةِ وَمَا يَنَالُهُ المَرءُ مِن حُطَامِ الدُّنيَا، تَأَثُّرًا غَيَّرَ مَفهُومَ النَّجَاحِ وَالفَشَلِ، وَاختَلَفَتِ النَّظرَةُ مَعَهُ إِلى المَعنى الحَقِيقِيِّ لِلرِّبحِ وَالخَسَارَةِ. يُلحِقُ أَحَدُنَا أَبنَاءَهُ في المَدَارِسِ وَالمَعَاهِدِ وَالجَامِعَاتِ، فَإِذَا مَا أَخفَقُوا فِيهَا أَو لم يُوَفَّقُوا لِنَيلِ شَهَادَاتِهَا، حَزِنَ وَأَسِفَ وَانكَسَرَ خَاطِرُهُ، وَاشتَدَّ في عِتَابِهِم وَبَالَغَ في لَومِهِم، وَرُبَّمَا أَزرَى عَلَيهِم وَكَسَرَ خَوَاطِرَهُم بِكَثرَةِ الانتِقَادِ Memang meskipun kesuksesan merupakan perkara yang disukai jiwa manusia, tapi ada suatu bentuk berlebih-lebihan pada zaman kita ini dalam menggambarkannya dan mencari cara-cara meraihnya. Terlebih lagi, masyarakat kita telah terpengaruh dengan umat-umat yang tidak mengimani kecuali hal yang bersifat materi dan kenikmatan yang dapat diraih seseorang. Pengaruh ini telah mengubah pandangan tentang definisi kesuksesan dan kegagalan. Bersamaan dengan itu, berubah pula pandangan tentang makna hakiki tentang untung dan rugi. Ada seseorang dari kita yang memasukkan anak-anaknya di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, dan universitas-universitas. Lalu jika anak-anak itu gagal di sana atau tidak berhasil meraih ijazahnya, ia akan sedih dan berduka cita, harapannya pupus, memberi celaan keras pada mereka, dan berlebihan dalam mencemooh mereka. Bahkan bisa jadi ia kemudian meremehkan mereka dan menyakiti perasaan mereka karena terlalu banyak memberi kritikan. وَيَدخُلُ آخَرُ مِنَّا في تِجَارَةٍ أَو مَشرُوعٍ، فَيَخسَرُ فِيهِ أَو لا يُحَصِّلُ مَا حَلَمَ بِهِ مِن رِبحٍ مَادِيٍّ، فَتُظلِمُ الدُّنيَا في وَجهِهِ، وَيَكتَئِبُ وَتَنقَبِضُ نَفسُهُ، وَيَرَى أَنْ لا سَبِيلَ بَعدَ ذَلِكَ إِلى السَّعَادَةِ… وَيَتَمَنَّى ثَالِثٌ مَنصِبًا فَتَقصُرُ بِهِ الخُطَا دُونَهُ، فَيَأسَى عَلَى ضَيَاعِ عُمُرِهِ في طَلَبِهِ، وَذَهَابِ جُهدِهِ دُونَ نَيلِهِ، وَعَدَمِ رُؤيَةِ النَّاسِ لَهُ وَقَدِ اعتَلَى ذَاكَ الكُرسِيَّ فَأَمَرَ فِيهِ وَنَهَى، وَخَفَضَ وَرَفَعَ… وَهَكَذَا في غَايَاتٍ دُنيَوِيَّةٍ جَعَلَتِ النُّفُوسُ تَتَطَلَّعُ إِلَيهَا وَتَرغَبُ فِيهَا، وَتَحسَبُ أَنَّهَا وَحدَهَا مَعَايِيرُ النَّجَاحِ وَمَقَايِيسُ الرِّفعَةِ، وَكَأَنَّنَا لم نَقرَأْ يَومًا قَولَ الحَقِّ – تَبَارَكَ وَتَعَالى -: ﴿ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾ [الزخرف: 32] Ada juga dari kita yang menjalankan suatu bisnis atau proyek, lalu ia merugi atau tidak mendapatkan keuntungan materi yang ia harapkan, sehingga dunia terasa gelap di pandangannya, merasa depresi, menutup diri, dan memandang bahwa setelah kegagalan ini tidak ada lagi jalan menuju kebahagiaan. Ada juga orang lainnya yang mengidamkan jabatan, tapi langkahnya terhenti dalam mencapainya, sehingga ia merasakan penyesalan besar karena telah menyia-nyiakan umurnya dalam mengejar jabatan, dan usaha yang telah ia kerahkan demi menggapainya, serta gagal menjadikan orang-orang melihatnya menduduki kursi jabatan dan menjalankan tugas memberi perintah dan larangan, dan menentukan siapa yang dapat ia angkat dan ia pecat. Demikianlah tujuan-tujuan duniawi, menjadikan jiwa terus haus dan mengidamkannya. Ia menganggap tujuan-tujuan duniawi itulah satu-satunya standar kesuksesan dan ukuran kehormatan, seakan-akan kita belum pernah sekalipun membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Benar, Tabaraka wa Ta’ala: نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32). أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد جَعَلَ اللهُ مِن سُنَنِ هَذَا الكَونِ تَفَاوُتَ النَّاسِ في تَحصِيلِ مَا يَصبُونَ إِلَيهِ، وَقَضَى أَلاَّ يَكُونُوا عَلَى مُستَوًى وَاحِدٍ في مَعِيشَةٍ أَو دَرَجَةٍ؛ لِيَكُونَ بِذَلِكَ لِكُلٍّ مِنهُم عَمَلٌ يَخُصُّهُ وَمِهنَةٌ يُنَاسِبُهُ، يَخدُمُ بِها غَيرَهُ، وَيَجِدُ فِيها رِزقَهُ، فَإِذَا مَا أَدَّى الَّذِي عَلَيهِ وَأَبرَأَ ذِمَّتَهُ، وَحَقَّقَ قَبلَ ذَلِكَ وَبَعدَهُ الغَايَةَ الكُبرَى الَّتي أَوجَدَهُ رَبُّهُ في هَذِهِ الحَيَاةِ لَهَا وَهِيَ عِبَادَتُهُ، شَعَرَ إِذْ ذَاكَ بِالرِّضَا عَن نَفسِهِ، وَكَانَ هُوَ النَّاجِحَ المُوَفَّقَ السَّعِيدَ… يُقَالُ هَذَا. Saudara-saudara! Memang benar, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan aturan di alam semesta ini bahwa manusia berbeda-beda dalam meraih apa yang mereka usahakan, dan menentukan bahwa mereka tidak berada dalam tingkatan yang sama dalam kehidupan dan derajat. Itu semua agar tiap-tiap mereka mempunyai pekerjaan dan mata pencaharian yang sesuai, dengan pekerjaan itu mereka dapat melayani orang lain dan mendapatkan rezeki. Apabila seseorang telah menjalankan tugasnya, dan menyelesaikan tanggung jawabnya, serta sebelum dan sesudah itu ia telah merealisasikan tujuan terbesar dari penciptaan Tuhannya terhadapnya di dunia ini, yaitu untuk beribadah, maka ketika itu ia akan merasakan kepuasan, dan itulah orang yang sukses, mendapat taufik, dan bahagia. Demikianlah dikatakan. – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَنَحنُ في عَصرٍ حَمَلَ النَّاسُ فِيهِ شِعَارَاتٍ مَادِيَّةً بَحتَةً، وَرَاحُوا يُرَدِّدُونَهَا بَينَهُم، مُتَوَهِّمِينَ أَنَّ النَّجَاحَ مَحصُورٌ فِيهَا وَلا يَتِمُّ إِلاَّ بِهَا، في تَقدِيسٍ لِلمَحسُوسَاتِ وَالمَادِّيَّاتِ، وَمَيلٍ لِلمَكَاسِبِ الدُّنيَوِيَّةِ العَاجِلَةِ، وَحَشرٍ لِمَفهُومِ النَّجَاحِ في اعتِلاءِ مَنصِبٍ أَو تَحصِيلِ سُلطَةٍ، أَو تَحقِيقِ جَاهٍ وَشُهرَةٍ، مَعَ التَّقلِيلِ مِن شَأنِ المَكَاسِبِ الأُخرَوِيَّةِ، وَالغَفلَةِ عَن أَنَّ تِلكَ المُجتَمَعَاتِ الَّتي نَجَحَت في عَدَدٍ مِن مَنَاحِي حَيَاتِهَا، وَمَلأَتِ الدُّنيَا بِمَصنُوعَاتِهَا، وَضَاقَ البَرُّ وَالبَحرُ بِمُختَرَعَاتِهَا، قَد فَشِلَت فَشَلاً ذَرِيعًا في جَلبِ السَّعَادَةِ لَهَا أَو لِشُعُوبِ الأَرضِ الأُخرَى، بَل لَقَد طَالَ شَقَاؤُهَا بِتَسَلُّطِها عَلَى المُجتَمَعَاتِ الأَضعَفِ مِنهَا، وَتَطَاوُلِهَا عَلَيهَا وَظُلمِهَا وَالتَّعَدِّي عَلَى حُقُوقِهَا. Saudara-saudara! Kita hidup pada zaman ketika orang-orang membawa slogan-slogan materialisme semata dan senantiasa menggaungkan slogan-slogan itu di antara mereka, karena mereka mengira bahwa kesuksesan hanya terbatas pada materi dan tidak dapat sempurna kecuali dengannya.  Kita hidup pada zaman materialisme didewa-dewakan, kecondongan terhadap prestasi-prestasi duniawi yang semu, dan pemahaman tentang kesuksesan yang terbatas pada menduduki jabatan tinggi, meraih kekuasaan, atau mencapai kedudukan dan ketenaran; bersamaan dengan itu, prestasi-prestasi akhirat dipandang sebelah mata, dan lalai terhadap masyarakat-masyarakat yang berhasil meraih kesuksesan di berbagai aspek kehidupan, memenuhi dunia dengan produk-produk mereka, menjejali daratan dan lautan dengan penemuan-penemuan mereka, tapi mereka gagal besar dalam meraih kebahagiaan bagi mereka atau bagi bangsa lainnya. Bahkan kesengsaraan mereka terus berlanjut karena mereka menindas dan menzalimi bangsa-bangsa yang lebih lemah, dan merampas hak-hak mereka. إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَهلَ الإِسلامِ، لَيسَ في تَحقِيقِ أَعلَى مَكسَبٍ في تِجَارَةٍ، وَلا في نَيلِ غِنًى مِن مُسَاهَمَةٍ، وَلا في ظُهُورٍ في قَنَاةٍ إِعلامِيَّةٍ، أَو لَمَعَانِ اسمٍ في وَسِيلَةٍ تَوَاصُلٍ، أَو بِمَدحِ مُعجَبِينَ أَو كَثرَةِ مُتَابِعِينَ، إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَسمَى مِن ذَلِكَ وَأَكبَرُ وَأَوسَعُ، فَمَتى حَقَّقَ المُسلِمُ الغَايَةَ مِن خَلقِهِ وَهِيَ عِبَادَةُ رَبِّهِ وَعِمَارَةِ الأَرضِ بما يُرضِيهِ، وَصَلَحَ عَمَلُهُ عَلَى هَديٍ مِن كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَهُوَ النَّاجِحُ المُفلِحُ وَإِن لم يَملِكْ مِنَ الدُّنيَا إِلاَّ قَلِيلاً، وَأَمَّا الغِنَى وَالفَقرُ، وَرِفعَةُ الدَّرَجَةِ في الدُّنيَا أَوِ انخِفَاضُهَا، وَالنَّجَاحُ في اختِبَارٍ مَدرَسِيٍّ أَوِ الإِخفَاقُ فِيهِ، فَمَرحَلَةٌ قَصِيرَةٌ سَتَنتَهِي يَومًا مَا، وَلِبَاسٌ مُؤَقَّتٌ سَيُخلَعُ أَو يَبلَى بَعدَ حِينٍ، وَلَن يُحَصِّلَ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ في النِّهَايَةِ إِلاَّ مَن آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثم اهتَدَى. Namun, makna kesuksesan bagi kita, umat Islam, bukanlah dengan meraih laba tertinggi dalam perniagaan, memperoleh kekayaan dari proyek investasi, dapat tampil di saluran televisi, viralnya nama di media sosial, pujian para pengagum, dan banyaknya pengikut. Kesuksesan bagi kita lebih mulia, lebih besar, dan lebih luas daripada itu semua, apabila seorang Muslim telah merealisasikan tujuan dari penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memakmurkan bumi dengan cara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai, dan amalannya sesuai dengan tuntunan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka kita telah menjadi orang yang sukses dan berhasil, meskipun hanya memiliki sedikit kenikmatan duniawi. Adapun kekayaan atau kemiskinan, ketinggian derajat duniawi atau kehinaan, dan keberhasilan pada ujian sekolah atau kegagalan, maka itu hanyalah fase singkat yang akan berakhir suatu saat nanti, dan jubah sementara yang akan dilepas atau menjadi usang beberapa saat lagi, lalu pada akhirnya tidak akan meraih kesuksesan yang hakiki kecuali orang yang beriman dan beramal saleh lalu mengikuti petunjuk. أَيُّهَا المُسلِمُونَ، لَقَد طَغَى التَّركِيزُ عَلَى مُصطَلَحِ النَّجَاحِ في مَجَالاتِ الحَيَاةِ الدُّنيَوِيَّةِ في عَصرِنَا، وَكَثُرَ الحَدِيثُ عَنهُ وَتَردَادُهُ عَلَى الأَسمَاعِ حَتَّى تَشَبَّعَت بِهِ القُلُوبُ، وَحَتى أَنسَانَا مُفرَدَاتٍ وَمُصطَلَحَاتٍ أَعلَى مِنهُ وَأَغلَى، كَالصَّلاحِ وَالفَلاحِ، وَالفَوزِ العَظِيمِ وَالفَوزِ الكَبِيرِ، أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد تَشَعَّبَ المُثَقَّفُونَ وَالمُدَرِّبُونَ في الحَدِيثِ عَنِ النَّجَاحِ، وَلَكِنَّ أَحَادِيثَهُم ظَلَّت تَدُورُ حَولَ النَّجَاحِ في تَحقِيقِ الثَّرَاءِ، أَو كَيفِيَّةِ الوُصُولِ إِلى مَكَانَةٍ اجتِمَاعِيَّةٍ مَرمُوقَةٍ، أَو طُرُقِ الوُصُولِ إِلى الشُّهرَةِ بِأَقصَرِ السُّبُلِ، أَوِ القُدرَةِ عَلَى تَوسِيعِ دَائِرَةِ العِلاقَاتِ مَعَ الآخَرِينَ، أَوِ الحُصُولِ عَلَى الرِّضَا الوَظِيفِيِّ، أَوِ التَّمَكُّنِ مِنَ الإِلقَاءِ وَالإِمسَاكِ بِزَمَامِ التَّأثِيرِ في المُستَمِعِينَ، في حِينِ كَادَ النَّجَاحُ الأُخرَوِيُّ يُهمَلُ وَيُنسَى وَيُغَيَّبُ، وَلا يُتَحَدَّثُ عَنهُ وَلا تُتَنَاوَلُ أَسبَابُهُ وَلا تُذكَرُ وَسَائِلُهُ. Wahai kaum Muslimin! Fokus terhadap istilah kesuksesan telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan duniawi pada zaman kita. Pembahasan tentangnya begitu banyak dan selalu digaungkan di telinga, hingga hati kita menjadi jengah, hingga menjadikan kita lupa dengan istilah-istilah yang lebih mulia dan lebih berharga dari itu, seperti kesalehan, keberuntungan akhirat, dan keberhasilan terbesar.  Saudara-saudara! Memang benar, para pakar dan mentor dalam pembahasan tentang kesuksesan memiliki pandangan yang berbeda-beda, akan tetapi pembahasan mereka tetap hanya berkutat di sekitar kesuksesan dalam meraih kekayaan, cara mencapai kedudukan sosial yang tinggi, metode untuk mencapai ketenaran dengan jalan tercepat, skill memperluas jaringan dengan orang lain, meraih kesuksesan karir, dan kemampuan public speaking dan mempengaruhi para pendengar. Di sisi lain, kesuksesan akhirat hampir terabaikan, terlupakan, dan tersingkirkan sama sekali, tidak ada yang membahasnya, tidak dicari sebab-sebabnya, dan tidak disebutkan cara-caranya. إِنَّهُ لا يُقَالُ لِلنَّاسِ لا تَجتَهِدُوا في طَلَبِ السَّعَادَةِ في حَيَاتِكُم، أَو لا تَبذُلُوا أَسبَابًا لِتَحصِيلِ قُوتِكُم وَرَاحَةِ نُفُوسِكُم، كَيفَ وَقَد قَالَ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فِيمَا رَوَاهُ مُسلِمٌ وَغَيرُهُ: ” المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ ” وَلَكِنَّنَا يَجِبُ أَن نَنتَبِهَ إِلى أَنَّهُ عَبَّرَ عَنِ الفَردِ هُنَا بِالمُؤمِنِ؛ لِيُنَبِّهَ إِلى أَنَّ الإِيمَانَ هُوَ أَغلَى المَكَاسِبِ وَأَفضَلُ النَّجَاحَاتِ، فَمَتى اتَّصَفَ بِهِ العَبدُ كَانَ حَرِيًّا بِهِ بَعدَ ذَلِكَ أَن يَزدَادَ قُوَّةً في غَيرِهِ وَيَتَقَدَّمَ وَيَرفَعَ نَفسَهُ، لَكِنَّهُ لَن يُعَدَّ فَاشِلاً وَإِن لم يَحصُلْ لَهُ شَيءٌ مِنَ الدُّنيَا مَا دَامَ مَعَهُ إِيمَانُهُ، بَل هُوَ نَاجِحٌ وَمُفلِحٌ وَفَائِزٌ بِإِذنِ اللهِ، بَل وَلَعَلَّهُ يَكُونُ خَيرًا مِمَّن هُوَ مُقَدَّمٌ لَدَى النَّاسِ عَلَيهِ لِنَجَاحِهِ في دُنيَاهِ Kami tidak mengatakan, janganlah kalian berusaha mencari kebahagiaan dalam hidup kalian, atau janganlah kalian mengerahkan usaha untuk meraih kekuatan dan mencapai ketenangan jiwa! Bagaimana itu akan dikatakan, sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda —sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya—:  المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ “Orang beriman yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang beriman yang lemah, tapi tiap-tiap mereka punya kebaikan.” (HR. Muslim). Namun, wajib kita perhatikan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengungkapkan orang dalam hadis ini dengan orang beriman, untuk memberi penegasan bahwa keimanan adalah prestasi paling berharga dan kesuksesan yang paling utama. Apabila seorang hamba telah beriman, maka sudah sepantasnya baginya setelah itu untuk menambah kekuatan dalam aspek lain, dan meningkatkan nilai dirinya. Namun, ia tidak akan dianggap gagal meskipun tidak meraih sedikit pun prestasi dunia, selagi keimanan masih bersamanya. Bahkan ia adalah orang yang sukses, berhasil, dan menang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahkan bisa jadi ia lebih baik daripada orang yang lebih diutamakan orang lain karena kesuksesan duniawinya. وَلَقَد قَادَ الأًمَّةَ فِيمَا مَضَى مِن قُرُونِ عِزِّهَا وَعُهُودِ قُوَّتِهَا رِجَالٌ لَبِسُوا المُرَقَّعَ مِنَ الثِّيَابِ، وَلم يَشبَعُوا مِن فَاخِرِ الطَّعَامِ والزَّادِ، اِفتَرَشُوا الأَرضَ في بَعضِ أَحوَالِهِم وَالتَحَفُوا السَّمَاءَ، وَمَعَ هَذَا كَانُوا أَئِمَّةً عُظَمَاءَ وَقَادَةً نُبَلاءَ وَعُلَمَاءَ فُضَلاءَ، قَادُوا الجَحَافِلَ وَتَصَدَّرُوا في المَحَافِلِ، وَخَدَمُوا المَحَابِرَ فَخَدَمَتهُمُ المَنَابِرُ، وَدَانَت لَهُمُ البِلادُ وَأَذعَنَ لَهُمُ العِبَادُ، فَلَهُم مَعَ فَقرِهِم وَقِلَّةِ مَا يَملِكُونَ، خَيرٌ مِمَّن سَكَنَ القُصُورَ وَمَلَكَ القَنَاطِيرَ وَلَبِسَ الحَرِيرَ، قَالَ – عَلَيهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ -: “رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ” رَوَاهُ مُسلِمٌ. Umat Islam pada era keemasannya dan di zaman kejayaannya telah dipimpin oleh orang-orang yang memakai pakaian penuh tambalan, tidak kenyang dengan makanan mewah, dan hanya tidur beralas tanah dan beratap langit pada mayoritas keadaan mereka. Kendati demikian, dulu mereka adalah pemimpin-pemimpin agung, panglima-panglima cerdas, dan ulama-ulama mulia, mereka memimpin orang-orang besar, tampil di depan orang banyak, dan melayani ilmu, sehingga mereka disambut oleh mimbar-mimbar, ditakuti oleh negeri-negeri, dan disegani oleh manusia. Meskipun mereka miskin dan tidak memiliki banyak harta, tapi mereka lebih baik daripada orang yang menghuni istana-istana, memiliki harta melimpah, dan mengenakan kain sutra. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ “Bisa jadi ada orang yang rambutnya kusam dan akan ditolak ketika hendak bertamu, tapi apabila ia bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim). وَعَن سَهلِ بنِ سَعدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنهُ – قَالَ: مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا؟ ” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَن يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَن يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَن يُستَمَعَ ” قَالَ: ثُمَّ سَكَتَ فَمَرَّ رَجُلٌ مِن فُقَرَاءِ المُسلِمِينَ فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا ؟” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَلاَّ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَلاَّ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَلاَّ يُستَمَعَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ -: “هَذَا خَيرٌ مِن مِلءِ الأَرضِ مِثلَ هَذَا” رَوَاهُ البُخَارِيُّ. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa pernah ada seorang laki-laki yang berlalu melewati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau bertanya, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan diterima lamarannya, jika memberi syafaat akan diterima syafaatnya, dan jika berkata didengar perkataannya.” Kemudian Rasulullah diam. Lalu berlalu laki-laki lain dari kalangan orang-orang miskin kaum Muslimin, dan beliau bertanya lagi, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan ditolak lamarannya, jika memberi syafaat akan ditolak syafaatnya, dan jika berkata akan diabaikan perkataannya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda, “Orang ini (yang kedua) lebih baik daripada sepenuh bumi manusia yang seperti orang itu (yang pertama).” (HR. Al-Bukhari). أَلا فَلْنَتَّقِ اللهَ – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَلْنَحرِصْ عَلَى مَا يُقَرِّبُنَا إِلَيهِ وَيُبَلِّغُنَا رِضَاهُ وَجَنَّتَهُ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ: ﴿ وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ ﴾ [الأعراف: 8، 9]. أَمَّا بَعدُ، فَاتَّقُوا اللهَ – تَعَالى – حَقَّ التَّقوَى، وَتَمَسَّكُوا مِنَ الإِسلامِ بِالعُروَةِ الوُثقَى ﴿ وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا ﴾ [الطلاق: 2]. ﴿ وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ ﴾ [الطلاق: 3]. Saudara-saudara! Tidakkah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memberi perhatian besar pada hal yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya, dan menyampaikan kita kepada ridha dan surga-Nya?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ “Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9). Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, dan berpeganglah dengan tali yang kokoh, yaitu agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ “Siapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (QS. At-Talaq: 2-3). أَيُّهَا المُسلِمُونَ، إِنَّ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ لَيسَ مَعرَكَةً مَعَ المَالِ أَوِ المَنصِبِ، وَلا صِرَاعًا مَعَ الجَاهِ أَوِ الشُّهرَةِ، وَلا هُوَ في النُّبُوغِ عَلَى الأَقرَانِ في أَمرٍ دُنيَوِيٍّ، وَلَكِنَّهُ صُرُوحٌ مِنَ الرِّضا بِمَا قَسَمَ اللهُ تُبنَى في النُّفُوسِ، وَكُنُوزٌ مِنَ القَنَاعَةِ تُملأُ بها القُلُوبُ، وَإِيمَانٌ يُكسِبُ صَاحِبَهُ اليَقِينَ بِأَنَّ مَا عِندَ اللهِ خَيرٌ وَأَبقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِم يَتَوَكَّلُونَ، وَالمُفلِحُ النَّاجِحُ هُوَ مَن مَلَكَ زِمَامَ نَفسِهِ وَأَمسَكَ بِخِطَامِهَا، وَحَدَّ مِن جِمَاحِهَا وَقَهَرَ طُغيَانَهَا، وَأَمَّا مَن أَتبَعَهَا هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانيَّ، فَذَلِكَ هُوَ الفَاشِلُ وَالخَاسِرُ وَالمُخفِقُ، وَإِن نَالَ الشَّهَادَاتِ وَحَصَّلَ أَعلَى الدَّرَجَاتِ، وَنُودِيَ بِاسمِهِ في المُتَفَوِّقِينَ في الاختِبَارَاتِ، قَالَ – سُبحَانَهُ -: ﴿ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ﴾ [الشمس: 9، 10] وَقَالَ – تَعَالى -: “﴿ مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾ [النحل: 97] وَقَالَ – جَلَّ وَعَلا -: ﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ ﴾  [الأنعام: 82] وَقَالَ – عَزَّ وَجَلَّ -: ﴿ وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا ﴾ [طه: 124]. Wahai kaum Muslimin! Kesuksesan hakiki bukanlah peperangan demi mendapat harta atau kedudukan, bukan pertarungan demi meraih jabatan atau ketenaran, dan bukan pula dengan keunggulan terhadap orang lain dalam urusan duniawi. Namun, kesuksesan adalah benteng keridhaan terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dibangun di dalam jiwa, harta berharga yang berupa sifat qanaah yang memenuhi hati, dan keimanan yang mendatangkan keyakinan bagi pemiliknya bahwa apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada-Nya.  Orang yang sukses dan berhasil adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsu, memegang tali kekangnya, dan mengendalikan kebengisannya, serta menundukkan keliarannya. Adapun orang yang menuruti hawa nafsunya lalu hanya berangan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berbagai angan-angan, maka itulah orang yang gagal, merugi, dan tumbang, meskipun ia telah meraih berbagai ijazah dan mencapai kedudukan tertinggi serta namanya disebutkan di antara orang-orang yang berada di peringkat atas dalam hasil ujian. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10). مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, maka sungguh Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97). الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82). وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا “Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124). Sumber: https://www.alukah.net/ما النجاح الذي تسعى إليه؟ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 374 times, 1 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid
ما النجاح الذي تسعى إليه؟! Oleh: Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Bashri الشيخ عبدالله بن محمد البصري أَمَّا بَعدُ، فَـ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ ﴾ [لقمان: 33]. أَيُّها المُسلِمُونَ، في أَيَّامِ الاختِبَارَاتِ المَدرَسِيَّةِ، يَحلُو الحَدِيثُ عَنِ النَّجَاحِ، وَيَطرُقُ هَذَا اللَّفظُ الرَّنَّانُ الأَسمَاعَ كَثِيرًا، وَيَحُثُّ الآبَاءُ وَالمُعَلِّمُونَ عَلَيهِ الأَبَناءَ وَالطُّلاَّبَ، وَيُزَيِّنُونَهُ لَهُم بِذِكرِ عَوَاقِبِهِ الجَمِيلَةِ وَآثَارِهِ الحَسَنَةِ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah akan hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat membela anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) membela bapaknya sedikit pun! Sesungguhnya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah benar, maka janganlah sekali-kali kamu diperdaya oleh kehidupan dunia dan jangan sampai karena (kebaikan-kebaikan) Allah Subhanahu wa Ta’ala kamu diperdaya oleh penipu.” (QS. Luqman: 33). Wahai kaum Muslimin! Pada masa-masa ujian sekolah ini, pembahasan tentang kesuksesan menjadi sangat menarik. Kata yang begitu sering digaungkan ini banyak sekali mengetuk pendengaran. Para orang tua dan guru akan terus mendorong anak-anak dan para murid mereka untuk meraihnya, dan memperindahnya dengan menyebutkan hasil-hasil yang indah dan pengaruh-pengaruh baiknya. وَالنَّجاحُ وَإِن كَانَ أَمرًا مُحَبَّبًا لِلنُّفُوسِ، إِلاَّ أَنَّ ثَمَّةَ مَا يُشبِهُ المُبَالَغَةَ في وَصفِهِ في زَمَانِنَا وَالبَحثِ عَن أَسبَابِهِ، خَاصَّةً وَقَد تَأَثَّرَت مُجتَمَعَاتُنَا بِأُمَمٍ لا تُؤمِنُ إِلاَّ بِالمَادَّةِ وَمَا يَنَالُهُ المَرءُ مِن حُطَامِ الدُّنيَا، تَأَثُّرًا غَيَّرَ مَفهُومَ النَّجَاحِ وَالفَشَلِ، وَاختَلَفَتِ النَّظرَةُ مَعَهُ إِلى المَعنى الحَقِيقِيِّ لِلرِّبحِ وَالخَسَارَةِ. يُلحِقُ أَحَدُنَا أَبنَاءَهُ في المَدَارِسِ وَالمَعَاهِدِ وَالجَامِعَاتِ، فَإِذَا مَا أَخفَقُوا فِيهَا أَو لم يُوَفَّقُوا لِنَيلِ شَهَادَاتِهَا، حَزِنَ وَأَسِفَ وَانكَسَرَ خَاطِرُهُ، وَاشتَدَّ في عِتَابِهِم وَبَالَغَ في لَومِهِم، وَرُبَّمَا أَزرَى عَلَيهِم وَكَسَرَ خَوَاطِرَهُم بِكَثرَةِ الانتِقَادِ Memang meskipun kesuksesan merupakan perkara yang disukai jiwa manusia, tapi ada suatu bentuk berlebih-lebihan pada zaman kita ini dalam menggambarkannya dan mencari cara-cara meraihnya. Terlebih lagi, masyarakat kita telah terpengaruh dengan umat-umat yang tidak mengimani kecuali hal yang bersifat materi dan kenikmatan yang dapat diraih seseorang. Pengaruh ini telah mengubah pandangan tentang definisi kesuksesan dan kegagalan. Bersamaan dengan itu, berubah pula pandangan tentang makna hakiki tentang untung dan rugi. Ada seseorang dari kita yang memasukkan anak-anaknya di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, dan universitas-universitas. Lalu jika anak-anak itu gagal di sana atau tidak berhasil meraih ijazahnya, ia akan sedih dan berduka cita, harapannya pupus, memberi celaan keras pada mereka, dan berlebihan dalam mencemooh mereka. Bahkan bisa jadi ia kemudian meremehkan mereka dan menyakiti perasaan mereka karena terlalu banyak memberi kritikan. وَيَدخُلُ آخَرُ مِنَّا في تِجَارَةٍ أَو مَشرُوعٍ، فَيَخسَرُ فِيهِ أَو لا يُحَصِّلُ مَا حَلَمَ بِهِ مِن رِبحٍ مَادِيٍّ، فَتُظلِمُ الدُّنيَا في وَجهِهِ، وَيَكتَئِبُ وَتَنقَبِضُ نَفسُهُ، وَيَرَى أَنْ لا سَبِيلَ بَعدَ ذَلِكَ إِلى السَّعَادَةِ… وَيَتَمَنَّى ثَالِثٌ مَنصِبًا فَتَقصُرُ بِهِ الخُطَا دُونَهُ، فَيَأسَى عَلَى ضَيَاعِ عُمُرِهِ في طَلَبِهِ، وَذَهَابِ جُهدِهِ دُونَ نَيلِهِ، وَعَدَمِ رُؤيَةِ النَّاسِ لَهُ وَقَدِ اعتَلَى ذَاكَ الكُرسِيَّ فَأَمَرَ فِيهِ وَنَهَى، وَخَفَضَ وَرَفَعَ… وَهَكَذَا في غَايَاتٍ دُنيَوِيَّةٍ جَعَلَتِ النُّفُوسُ تَتَطَلَّعُ إِلَيهَا وَتَرغَبُ فِيهَا، وَتَحسَبُ أَنَّهَا وَحدَهَا مَعَايِيرُ النَّجَاحِ وَمَقَايِيسُ الرِّفعَةِ، وَكَأَنَّنَا لم نَقرَأْ يَومًا قَولَ الحَقِّ – تَبَارَكَ وَتَعَالى -: ﴿ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾ [الزخرف: 32] Ada juga dari kita yang menjalankan suatu bisnis atau proyek, lalu ia merugi atau tidak mendapatkan keuntungan materi yang ia harapkan, sehingga dunia terasa gelap di pandangannya, merasa depresi, menutup diri, dan memandang bahwa setelah kegagalan ini tidak ada lagi jalan menuju kebahagiaan. Ada juga orang lainnya yang mengidamkan jabatan, tapi langkahnya terhenti dalam mencapainya, sehingga ia merasakan penyesalan besar karena telah menyia-nyiakan umurnya dalam mengejar jabatan, dan usaha yang telah ia kerahkan demi menggapainya, serta gagal menjadikan orang-orang melihatnya menduduki kursi jabatan dan menjalankan tugas memberi perintah dan larangan, dan menentukan siapa yang dapat ia angkat dan ia pecat. Demikianlah tujuan-tujuan duniawi, menjadikan jiwa terus haus dan mengidamkannya. Ia menganggap tujuan-tujuan duniawi itulah satu-satunya standar kesuksesan dan ukuran kehormatan, seakan-akan kita belum pernah sekalipun membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Benar, Tabaraka wa Ta’ala: نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32). أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد جَعَلَ اللهُ مِن سُنَنِ هَذَا الكَونِ تَفَاوُتَ النَّاسِ في تَحصِيلِ مَا يَصبُونَ إِلَيهِ، وَقَضَى أَلاَّ يَكُونُوا عَلَى مُستَوًى وَاحِدٍ في مَعِيشَةٍ أَو دَرَجَةٍ؛ لِيَكُونَ بِذَلِكَ لِكُلٍّ مِنهُم عَمَلٌ يَخُصُّهُ وَمِهنَةٌ يُنَاسِبُهُ، يَخدُمُ بِها غَيرَهُ، وَيَجِدُ فِيها رِزقَهُ، فَإِذَا مَا أَدَّى الَّذِي عَلَيهِ وَأَبرَأَ ذِمَّتَهُ، وَحَقَّقَ قَبلَ ذَلِكَ وَبَعدَهُ الغَايَةَ الكُبرَى الَّتي أَوجَدَهُ رَبُّهُ في هَذِهِ الحَيَاةِ لَهَا وَهِيَ عِبَادَتُهُ، شَعَرَ إِذْ ذَاكَ بِالرِّضَا عَن نَفسِهِ، وَكَانَ هُوَ النَّاجِحَ المُوَفَّقَ السَّعِيدَ… يُقَالُ هَذَا. Saudara-saudara! Memang benar, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan aturan di alam semesta ini bahwa manusia berbeda-beda dalam meraih apa yang mereka usahakan, dan menentukan bahwa mereka tidak berada dalam tingkatan yang sama dalam kehidupan dan derajat. Itu semua agar tiap-tiap mereka mempunyai pekerjaan dan mata pencaharian yang sesuai, dengan pekerjaan itu mereka dapat melayani orang lain dan mendapatkan rezeki. Apabila seseorang telah menjalankan tugasnya, dan menyelesaikan tanggung jawabnya, serta sebelum dan sesudah itu ia telah merealisasikan tujuan terbesar dari penciptaan Tuhannya terhadapnya di dunia ini, yaitu untuk beribadah, maka ketika itu ia akan merasakan kepuasan, dan itulah orang yang sukses, mendapat taufik, dan bahagia. Demikianlah dikatakan. – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَنَحنُ في عَصرٍ حَمَلَ النَّاسُ فِيهِ شِعَارَاتٍ مَادِيَّةً بَحتَةً، وَرَاحُوا يُرَدِّدُونَهَا بَينَهُم، مُتَوَهِّمِينَ أَنَّ النَّجَاحَ مَحصُورٌ فِيهَا وَلا يَتِمُّ إِلاَّ بِهَا، في تَقدِيسٍ لِلمَحسُوسَاتِ وَالمَادِّيَّاتِ، وَمَيلٍ لِلمَكَاسِبِ الدُّنيَوِيَّةِ العَاجِلَةِ، وَحَشرٍ لِمَفهُومِ النَّجَاحِ في اعتِلاءِ مَنصِبٍ أَو تَحصِيلِ سُلطَةٍ، أَو تَحقِيقِ جَاهٍ وَشُهرَةٍ، مَعَ التَّقلِيلِ مِن شَأنِ المَكَاسِبِ الأُخرَوِيَّةِ، وَالغَفلَةِ عَن أَنَّ تِلكَ المُجتَمَعَاتِ الَّتي نَجَحَت في عَدَدٍ مِن مَنَاحِي حَيَاتِهَا، وَمَلأَتِ الدُّنيَا بِمَصنُوعَاتِهَا، وَضَاقَ البَرُّ وَالبَحرُ بِمُختَرَعَاتِهَا، قَد فَشِلَت فَشَلاً ذَرِيعًا في جَلبِ السَّعَادَةِ لَهَا أَو لِشُعُوبِ الأَرضِ الأُخرَى، بَل لَقَد طَالَ شَقَاؤُهَا بِتَسَلُّطِها عَلَى المُجتَمَعَاتِ الأَضعَفِ مِنهَا، وَتَطَاوُلِهَا عَلَيهَا وَظُلمِهَا وَالتَّعَدِّي عَلَى حُقُوقِهَا. Saudara-saudara! Kita hidup pada zaman ketika orang-orang membawa slogan-slogan materialisme semata dan senantiasa menggaungkan slogan-slogan itu di antara mereka, karena mereka mengira bahwa kesuksesan hanya terbatas pada materi dan tidak dapat sempurna kecuali dengannya.  Kita hidup pada zaman materialisme didewa-dewakan, kecondongan terhadap prestasi-prestasi duniawi yang semu, dan pemahaman tentang kesuksesan yang terbatas pada menduduki jabatan tinggi, meraih kekuasaan, atau mencapai kedudukan dan ketenaran; bersamaan dengan itu, prestasi-prestasi akhirat dipandang sebelah mata, dan lalai terhadap masyarakat-masyarakat yang berhasil meraih kesuksesan di berbagai aspek kehidupan, memenuhi dunia dengan produk-produk mereka, menjejali daratan dan lautan dengan penemuan-penemuan mereka, tapi mereka gagal besar dalam meraih kebahagiaan bagi mereka atau bagi bangsa lainnya. Bahkan kesengsaraan mereka terus berlanjut karena mereka menindas dan menzalimi bangsa-bangsa yang lebih lemah, dan merampas hak-hak mereka. إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَهلَ الإِسلامِ، لَيسَ في تَحقِيقِ أَعلَى مَكسَبٍ في تِجَارَةٍ، وَلا في نَيلِ غِنًى مِن مُسَاهَمَةٍ، وَلا في ظُهُورٍ في قَنَاةٍ إِعلامِيَّةٍ، أَو لَمَعَانِ اسمٍ في وَسِيلَةٍ تَوَاصُلٍ، أَو بِمَدحِ مُعجَبِينَ أَو كَثرَةِ مُتَابِعِينَ، إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَسمَى مِن ذَلِكَ وَأَكبَرُ وَأَوسَعُ، فَمَتى حَقَّقَ المُسلِمُ الغَايَةَ مِن خَلقِهِ وَهِيَ عِبَادَةُ رَبِّهِ وَعِمَارَةِ الأَرضِ بما يُرضِيهِ، وَصَلَحَ عَمَلُهُ عَلَى هَديٍ مِن كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَهُوَ النَّاجِحُ المُفلِحُ وَإِن لم يَملِكْ مِنَ الدُّنيَا إِلاَّ قَلِيلاً، وَأَمَّا الغِنَى وَالفَقرُ، وَرِفعَةُ الدَّرَجَةِ في الدُّنيَا أَوِ انخِفَاضُهَا، وَالنَّجَاحُ في اختِبَارٍ مَدرَسِيٍّ أَوِ الإِخفَاقُ فِيهِ، فَمَرحَلَةٌ قَصِيرَةٌ سَتَنتَهِي يَومًا مَا، وَلِبَاسٌ مُؤَقَّتٌ سَيُخلَعُ أَو يَبلَى بَعدَ حِينٍ، وَلَن يُحَصِّلَ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ في النِّهَايَةِ إِلاَّ مَن آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثم اهتَدَى. Namun, makna kesuksesan bagi kita, umat Islam, bukanlah dengan meraih laba tertinggi dalam perniagaan, memperoleh kekayaan dari proyek investasi, dapat tampil di saluran televisi, viralnya nama di media sosial, pujian para pengagum, dan banyaknya pengikut. Kesuksesan bagi kita lebih mulia, lebih besar, dan lebih luas daripada itu semua, apabila seorang Muslim telah merealisasikan tujuan dari penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memakmurkan bumi dengan cara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai, dan amalannya sesuai dengan tuntunan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka kita telah menjadi orang yang sukses dan berhasil, meskipun hanya memiliki sedikit kenikmatan duniawi. Adapun kekayaan atau kemiskinan, ketinggian derajat duniawi atau kehinaan, dan keberhasilan pada ujian sekolah atau kegagalan, maka itu hanyalah fase singkat yang akan berakhir suatu saat nanti, dan jubah sementara yang akan dilepas atau menjadi usang beberapa saat lagi, lalu pada akhirnya tidak akan meraih kesuksesan yang hakiki kecuali orang yang beriman dan beramal saleh lalu mengikuti petunjuk. أَيُّهَا المُسلِمُونَ، لَقَد طَغَى التَّركِيزُ عَلَى مُصطَلَحِ النَّجَاحِ في مَجَالاتِ الحَيَاةِ الدُّنيَوِيَّةِ في عَصرِنَا، وَكَثُرَ الحَدِيثُ عَنهُ وَتَردَادُهُ عَلَى الأَسمَاعِ حَتَّى تَشَبَّعَت بِهِ القُلُوبُ، وَحَتى أَنسَانَا مُفرَدَاتٍ وَمُصطَلَحَاتٍ أَعلَى مِنهُ وَأَغلَى، كَالصَّلاحِ وَالفَلاحِ، وَالفَوزِ العَظِيمِ وَالفَوزِ الكَبِيرِ، أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد تَشَعَّبَ المُثَقَّفُونَ وَالمُدَرِّبُونَ في الحَدِيثِ عَنِ النَّجَاحِ، وَلَكِنَّ أَحَادِيثَهُم ظَلَّت تَدُورُ حَولَ النَّجَاحِ في تَحقِيقِ الثَّرَاءِ، أَو كَيفِيَّةِ الوُصُولِ إِلى مَكَانَةٍ اجتِمَاعِيَّةٍ مَرمُوقَةٍ، أَو طُرُقِ الوُصُولِ إِلى الشُّهرَةِ بِأَقصَرِ السُّبُلِ، أَوِ القُدرَةِ عَلَى تَوسِيعِ دَائِرَةِ العِلاقَاتِ مَعَ الآخَرِينَ، أَوِ الحُصُولِ عَلَى الرِّضَا الوَظِيفِيِّ، أَوِ التَّمَكُّنِ مِنَ الإِلقَاءِ وَالإِمسَاكِ بِزَمَامِ التَّأثِيرِ في المُستَمِعِينَ، في حِينِ كَادَ النَّجَاحُ الأُخرَوِيُّ يُهمَلُ وَيُنسَى وَيُغَيَّبُ، وَلا يُتَحَدَّثُ عَنهُ وَلا تُتَنَاوَلُ أَسبَابُهُ وَلا تُذكَرُ وَسَائِلُهُ. Wahai kaum Muslimin! Fokus terhadap istilah kesuksesan telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan duniawi pada zaman kita. Pembahasan tentangnya begitu banyak dan selalu digaungkan di telinga, hingga hati kita menjadi jengah, hingga menjadikan kita lupa dengan istilah-istilah yang lebih mulia dan lebih berharga dari itu, seperti kesalehan, keberuntungan akhirat, dan keberhasilan terbesar.  Saudara-saudara! Memang benar, para pakar dan mentor dalam pembahasan tentang kesuksesan memiliki pandangan yang berbeda-beda, akan tetapi pembahasan mereka tetap hanya berkutat di sekitar kesuksesan dalam meraih kekayaan, cara mencapai kedudukan sosial yang tinggi, metode untuk mencapai ketenaran dengan jalan tercepat, skill memperluas jaringan dengan orang lain, meraih kesuksesan karir, dan kemampuan public speaking dan mempengaruhi para pendengar. Di sisi lain, kesuksesan akhirat hampir terabaikan, terlupakan, dan tersingkirkan sama sekali, tidak ada yang membahasnya, tidak dicari sebab-sebabnya, dan tidak disebutkan cara-caranya. إِنَّهُ لا يُقَالُ لِلنَّاسِ لا تَجتَهِدُوا في طَلَبِ السَّعَادَةِ في حَيَاتِكُم، أَو لا تَبذُلُوا أَسبَابًا لِتَحصِيلِ قُوتِكُم وَرَاحَةِ نُفُوسِكُم، كَيفَ وَقَد قَالَ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فِيمَا رَوَاهُ مُسلِمٌ وَغَيرُهُ: ” المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ ” وَلَكِنَّنَا يَجِبُ أَن نَنتَبِهَ إِلى أَنَّهُ عَبَّرَ عَنِ الفَردِ هُنَا بِالمُؤمِنِ؛ لِيُنَبِّهَ إِلى أَنَّ الإِيمَانَ هُوَ أَغلَى المَكَاسِبِ وَأَفضَلُ النَّجَاحَاتِ، فَمَتى اتَّصَفَ بِهِ العَبدُ كَانَ حَرِيًّا بِهِ بَعدَ ذَلِكَ أَن يَزدَادَ قُوَّةً في غَيرِهِ وَيَتَقَدَّمَ وَيَرفَعَ نَفسَهُ، لَكِنَّهُ لَن يُعَدَّ فَاشِلاً وَإِن لم يَحصُلْ لَهُ شَيءٌ مِنَ الدُّنيَا مَا دَامَ مَعَهُ إِيمَانُهُ، بَل هُوَ نَاجِحٌ وَمُفلِحٌ وَفَائِزٌ بِإِذنِ اللهِ، بَل وَلَعَلَّهُ يَكُونُ خَيرًا مِمَّن هُوَ مُقَدَّمٌ لَدَى النَّاسِ عَلَيهِ لِنَجَاحِهِ في دُنيَاهِ Kami tidak mengatakan, janganlah kalian berusaha mencari kebahagiaan dalam hidup kalian, atau janganlah kalian mengerahkan usaha untuk meraih kekuatan dan mencapai ketenangan jiwa! Bagaimana itu akan dikatakan, sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda —sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya—:  المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ “Orang beriman yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang beriman yang lemah, tapi tiap-tiap mereka punya kebaikan.” (HR. Muslim). Namun, wajib kita perhatikan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengungkapkan orang dalam hadis ini dengan orang beriman, untuk memberi penegasan bahwa keimanan adalah prestasi paling berharga dan kesuksesan yang paling utama. Apabila seorang hamba telah beriman, maka sudah sepantasnya baginya setelah itu untuk menambah kekuatan dalam aspek lain, dan meningkatkan nilai dirinya. Namun, ia tidak akan dianggap gagal meskipun tidak meraih sedikit pun prestasi dunia, selagi keimanan masih bersamanya. Bahkan ia adalah orang yang sukses, berhasil, dan menang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahkan bisa jadi ia lebih baik daripada orang yang lebih diutamakan orang lain karena kesuksesan duniawinya. وَلَقَد قَادَ الأًمَّةَ فِيمَا مَضَى مِن قُرُونِ عِزِّهَا وَعُهُودِ قُوَّتِهَا رِجَالٌ لَبِسُوا المُرَقَّعَ مِنَ الثِّيَابِ، وَلم يَشبَعُوا مِن فَاخِرِ الطَّعَامِ والزَّادِ، اِفتَرَشُوا الأَرضَ في بَعضِ أَحوَالِهِم وَالتَحَفُوا السَّمَاءَ، وَمَعَ هَذَا كَانُوا أَئِمَّةً عُظَمَاءَ وَقَادَةً نُبَلاءَ وَعُلَمَاءَ فُضَلاءَ، قَادُوا الجَحَافِلَ وَتَصَدَّرُوا في المَحَافِلِ، وَخَدَمُوا المَحَابِرَ فَخَدَمَتهُمُ المَنَابِرُ، وَدَانَت لَهُمُ البِلادُ وَأَذعَنَ لَهُمُ العِبَادُ، فَلَهُم مَعَ فَقرِهِم وَقِلَّةِ مَا يَملِكُونَ، خَيرٌ مِمَّن سَكَنَ القُصُورَ وَمَلَكَ القَنَاطِيرَ وَلَبِسَ الحَرِيرَ، قَالَ – عَلَيهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ -: “رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ” رَوَاهُ مُسلِمٌ. Umat Islam pada era keemasannya dan di zaman kejayaannya telah dipimpin oleh orang-orang yang memakai pakaian penuh tambalan, tidak kenyang dengan makanan mewah, dan hanya tidur beralas tanah dan beratap langit pada mayoritas keadaan mereka. Kendati demikian, dulu mereka adalah pemimpin-pemimpin agung, panglima-panglima cerdas, dan ulama-ulama mulia, mereka memimpin orang-orang besar, tampil di depan orang banyak, dan melayani ilmu, sehingga mereka disambut oleh mimbar-mimbar, ditakuti oleh negeri-negeri, dan disegani oleh manusia. Meskipun mereka miskin dan tidak memiliki banyak harta, tapi mereka lebih baik daripada orang yang menghuni istana-istana, memiliki harta melimpah, dan mengenakan kain sutra. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ “Bisa jadi ada orang yang rambutnya kusam dan akan ditolak ketika hendak bertamu, tapi apabila ia bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim). وَعَن سَهلِ بنِ سَعدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنهُ – قَالَ: مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا؟ ” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَن يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَن يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَن يُستَمَعَ ” قَالَ: ثُمَّ سَكَتَ فَمَرَّ رَجُلٌ مِن فُقَرَاءِ المُسلِمِينَ فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا ؟” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَلاَّ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَلاَّ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَلاَّ يُستَمَعَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ -: “هَذَا خَيرٌ مِن مِلءِ الأَرضِ مِثلَ هَذَا” رَوَاهُ البُخَارِيُّ. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa pernah ada seorang laki-laki yang berlalu melewati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau bertanya, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan diterima lamarannya, jika memberi syafaat akan diterima syafaatnya, dan jika berkata didengar perkataannya.” Kemudian Rasulullah diam. Lalu berlalu laki-laki lain dari kalangan orang-orang miskin kaum Muslimin, dan beliau bertanya lagi, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan ditolak lamarannya, jika memberi syafaat akan ditolak syafaatnya, dan jika berkata akan diabaikan perkataannya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda, “Orang ini (yang kedua) lebih baik daripada sepenuh bumi manusia yang seperti orang itu (yang pertama).” (HR. Al-Bukhari). أَلا فَلْنَتَّقِ اللهَ – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَلْنَحرِصْ عَلَى مَا يُقَرِّبُنَا إِلَيهِ وَيُبَلِّغُنَا رِضَاهُ وَجَنَّتَهُ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ: ﴿ وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ ﴾ [الأعراف: 8، 9]. أَمَّا بَعدُ، فَاتَّقُوا اللهَ – تَعَالى – حَقَّ التَّقوَى، وَتَمَسَّكُوا مِنَ الإِسلامِ بِالعُروَةِ الوُثقَى ﴿ وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا ﴾ [الطلاق: 2]. ﴿ وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ ﴾ [الطلاق: 3]. Saudara-saudara! Tidakkah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memberi perhatian besar pada hal yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya, dan menyampaikan kita kepada ridha dan surga-Nya?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ “Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9). Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, dan berpeganglah dengan tali yang kokoh, yaitu agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ “Siapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (QS. At-Talaq: 2-3). أَيُّهَا المُسلِمُونَ، إِنَّ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ لَيسَ مَعرَكَةً مَعَ المَالِ أَوِ المَنصِبِ، وَلا صِرَاعًا مَعَ الجَاهِ أَوِ الشُّهرَةِ، وَلا هُوَ في النُّبُوغِ عَلَى الأَقرَانِ في أَمرٍ دُنيَوِيٍّ، وَلَكِنَّهُ صُرُوحٌ مِنَ الرِّضا بِمَا قَسَمَ اللهُ تُبنَى في النُّفُوسِ، وَكُنُوزٌ مِنَ القَنَاعَةِ تُملأُ بها القُلُوبُ، وَإِيمَانٌ يُكسِبُ صَاحِبَهُ اليَقِينَ بِأَنَّ مَا عِندَ اللهِ خَيرٌ وَأَبقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِم يَتَوَكَّلُونَ، وَالمُفلِحُ النَّاجِحُ هُوَ مَن مَلَكَ زِمَامَ نَفسِهِ وَأَمسَكَ بِخِطَامِهَا، وَحَدَّ مِن جِمَاحِهَا وَقَهَرَ طُغيَانَهَا، وَأَمَّا مَن أَتبَعَهَا هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانيَّ، فَذَلِكَ هُوَ الفَاشِلُ وَالخَاسِرُ وَالمُخفِقُ، وَإِن نَالَ الشَّهَادَاتِ وَحَصَّلَ أَعلَى الدَّرَجَاتِ، وَنُودِيَ بِاسمِهِ في المُتَفَوِّقِينَ في الاختِبَارَاتِ، قَالَ – سُبحَانَهُ -: ﴿ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ﴾ [الشمس: 9، 10] وَقَالَ – تَعَالى -: “﴿ مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾ [النحل: 97] وَقَالَ – جَلَّ وَعَلا -: ﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ ﴾  [الأنعام: 82] وَقَالَ – عَزَّ وَجَلَّ -: ﴿ وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا ﴾ [طه: 124]. Wahai kaum Muslimin! Kesuksesan hakiki bukanlah peperangan demi mendapat harta atau kedudukan, bukan pertarungan demi meraih jabatan atau ketenaran, dan bukan pula dengan keunggulan terhadap orang lain dalam urusan duniawi. Namun, kesuksesan adalah benteng keridhaan terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dibangun di dalam jiwa, harta berharga yang berupa sifat qanaah yang memenuhi hati, dan keimanan yang mendatangkan keyakinan bagi pemiliknya bahwa apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada-Nya.  Orang yang sukses dan berhasil adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsu, memegang tali kekangnya, dan mengendalikan kebengisannya, serta menundukkan keliarannya. Adapun orang yang menuruti hawa nafsunya lalu hanya berangan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berbagai angan-angan, maka itulah orang yang gagal, merugi, dan tumbang, meskipun ia telah meraih berbagai ijazah dan mencapai kedudukan tertinggi serta namanya disebutkan di antara orang-orang yang berada di peringkat atas dalam hasil ujian. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10). مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, maka sungguh Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97). الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82). وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا “Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124). Sumber: https://www.alukah.net/ما النجاح الذي تسعى إليه؟ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 374 times, 1 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid


ما النجاح الذي تسعى إليه؟! Oleh: Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Bashri الشيخ عبدالله بن محمد البصري أَمَّا بَعدُ، فَـ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ ﴾ [لقمان: 33]. أَيُّها المُسلِمُونَ، في أَيَّامِ الاختِبَارَاتِ المَدرَسِيَّةِ، يَحلُو الحَدِيثُ عَنِ النَّجَاحِ، وَيَطرُقُ هَذَا اللَّفظُ الرَّنَّانُ الأَسمَاعَ كَثِيرًا، وَيَحُثُّ الآبَاءُ وَالمُعَلِّمُونَ عَلَيهِ الأَبَناءَ وَالطُّلاَّبَ، وَيُزَيِّنُونَهُ لَهُم بِذِكرِ عَوَاقِبِهِ الجَمِيلَةِ وَآثَارِهِ الحَسَنَةِ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُم وَاخشَوا يَومًا لا يَجزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلا مَولُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيئًا إِنَّ وَعدَ اللهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الغَرُورُ “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah akan hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat membela anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) membela bapaknya sedikit pun! Sesungguhnya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah benar, maka janganlah sekali-kali kamu diperdaya oleh kehidupan dunia dan jangan sampai karena (kebaikan-kebaikan) Allah Subhanahu wa Ta’ala kamu diperdaya oleh penipu.” (QS. Luqman: 33). Wahai kaum Muslimin! Pada masa-masa ujian sekolah ini, pembahasan tentang kesuksesan menjadi sangat menarik. Kata yang begitu sering digaungkan ini banyak sekali mengetuk pendengaran. Para orang tua dan guru akan terus mendorong anak-anak dan para murid mereka untuk meraihnya, dan memperindahnya dengan menyebutkan hasil-hasil yang indah dan pengaruh-pengaruh baiknya. وَالنَّجاحُ وَإِن كَانَ أَمرًا مُحَبَّبًا لِلنُّفُوسِ، إِلاَّ أَنَّ ثَمَّةَ مَا يُشبِهُ المُبَالَغَةَ في وَصفِهِ في زَمَانِنَا وَالبَحثِ عَن أَسبَابِهِ، خَاصَّةً وَقَد تَأَثَّرَت مُجتَمَعَاتُنَا بِأُمَمٍ لا تُؤمِنُ إِلاَّ بِالمَادَّةِ وَمَا يَنَالُهُ المَرءُ مِن حُطَامِ الدُّنيَا، تَأَثُّرًا غَيَّرَ مَفهُومَ النَّجَاحِ وَالفَشَلِ، وَاختَلَفَتِ النَّظرَةُ مَعَهُ إِلى المَعنى الحَقِيقِيِّ لِلرِّبحِ وَالخَسَارَةِ. يُلحِقُ أَحَدُنَا أَبنَاءَهُ في المَدَارِسِ وَالمَعَاهِدِ وَالجَامِعَاتِ، فَإِذَا مَا أَخفَقُوا فِيهَا أَو لم يُوَفَّقُوا لِنَيلِ شَهَادَاتِهَا، حَزِنَ وَأَسِفَ وَانكَسَرَ خَاطِرُهُ، وَاشتَدَّ في عِتَابِهِم وَبَالَغَ في لَومِهِم، وَرُبَّمَا أَزرَى عَلَيهِم وَكَسَرَ خَوَاطِرَهُم بِكَثرَةِ الانتِقَادِ Memang meskipun kesuksesan merupakan perkara yang disukai jiwa manusia, tapi ada suatu bentuk berlebih-lebihan pada zaman kita ini dalam menggambarkannya dan mencari cara-cara meraihnya. Terlebih lagi, masyarakat kita telah terpengaruh dengan umat-umat yang tidak mengimani kecuali hal yang bersifat materi dan kenikmatan yang dapat diraih seseorang. Pengaruh ini telah mengubah pandangan tentang definisi kesuksesan dan kegagalan. Bersamaan dengan itu, berubah pula pandangan tentang makna hakiki tentang untung dan rugi. Ada seseorang dari kita yang memasukkan anak-anaknya di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, dan universitas-universitas. Lalu jika anak-anak itu gagal di sana atau tidak berhasil meraih ijazahnya, ia akan sedih dan berduka cita, harapannya pupus, memberi celaan keras pada mereka, dan berlebihan dalam mencemooh mereka. Bahkan bisa jadi ia kemudian meremehkan mereka dan menyakiti perasaan mereka karena terlalu banyak memberi kritikan. وَيَدخُلُ آخَرُ مِنَّا في تِجَارَةٍ أَو مَشرُوعٍ، فَيَخسَرُ فِيهِ أَو لا يُحَصِّلُ مَا حَلَمَ بِهِ مِن رِبحٍ مَادِيٍّ، فَتُظلِمُ الدُّنيَا في وَجهِهِ، وَيَكتَئِبُ وَتَنقَبِضُ نَفسُهُ، وَيَرَى أَنْ لا سَبِيلَ بَعدَ ذَلِكَ إِلى السَّعَادَةِ… وَيَتَمَنَّى ثَالِثٌ مَنصِبًا فَتَقصُرُ بِهِ الخُطَا دُونَهُ، فَيَأسَى عَلَى ضَيَاعِ عُمُرِهِ في طَلَبِهِ، وَذَهَابِ جُهدِهِ دُونَ نَيلِهِ، وَعَدَمِ رُؤيَةِ النَّاسِ لَهُ وَقَدِ اعتَلَى ذَاكَ الكُرسِيَّ فَأَمَرَ فِيهِ وَنَهَى، وَخَفَضَ وَرَفَعَ… وَهَكَذَا في غَايَاتٍ دُنيَوِيَّةٍ جَعَلَتِ النُّفُوسُ تَتَطَلَّعُ إِلَيهَا وَتَرغَبُ فِيهَا، وَتَحسَبُ أَنَّهَا وَحدَهَا مَعَايِيرُ النَّجَاحِ وَمَقَايِيسُ الرِّفعَةِ، وَكَأَنَّنَا لم نَقرَأْ يَومًا قَولَ الحَقِّ – تَبَارَكَ وَتَعَالى -: ﴿ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾ [الزخرف: 32] Ada juga dari kita yang menjalankan suatu bisnis atau proyek, lalu ia merugi atau tidak mendapatkan keuntungan materi yang ia harapkan, sehingga dunia terasa gelap di pandangannya, merasa depresi, menutup diri, dan memandang bahwa setelah kegagalan ini tidak ada lagi jalan menuju kebahagiaan. Ada juga orang lainnya yang mengidamkan jabatan, tapi langkahnya terhenti dalam mencapainya, sehingga ia merasakan penyesalan besar karena telah menyia-nyiakan umurnya dalam mengejar jabatan, dan usaha yang telah ia kerahkan demi menggapainya, serta gagal menjadikan orang-orang melihatnya menduduki kursi jabatan dan menjalankan tugas memberi perintah dan larangan, dan menentukan siapa yang dapat ia angkat dan ia pecat. Demikianlah tujuan-tujuan duniawi, menjadikan jiwa terus haus dan mengidamkannya. Ia menganggap tujuan-tujuan duniawi itulah satu-satunya standar kesuksesan dan ukuran kehormatan, seakan-akan kita belum pernah sekalipun membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Benar, Tabaraka wa Ta’ala: نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32). أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد جَعَلَ اللهُ مِن سُنَنِ هَذَا الكَونِ تَفَاوُتَ النَّاسِ في تَحصِيلِ مَا يَصبُونَ إِلَيهِ، وَقَضَى أَلاَّ يَكُونُوا عَلَى مُستَوًى وَاحِدٍ في مَعِيشَةٍ أَو دَرَجَةٍ؛ لِيَكُونَ بِذَلِكَ لِكُلٍّ مِنهُم عَمَلٌ يَخُصُّهُ وَمِهنَةٌ يُنَاسِبُهُ، يَخدُمُ بِها غَيرَهُ، وَيَجِدُ فِيها رِزقَهُ، فَإِذَا مَا أَدَّى الَّذِي عَلَيهِ وَأَبرَأَ ذِمَّتَهُ، وَحَقَّقَ قَبلَ ذَلِكَ وَبَعدَهُ الغَايَةَ الكُبرَى الَّتي أَوجَدَهُ رَبُّهُ في هَذِهِ الحَيَاةِ لَهَا وَهِيَ عِبَادَتُهُ، شَعَرَ إِذْ ذَاكَ بِالرِّضَا عَن نَفسِهِ، وَكَانَ هُوَ النَّاجِحَ المُوَفَّقَ السَّعِيدَ… يُقَالُ هَذَا. Saudara-saudara! Memang benar, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan aturan di alam semesta ini bahwa manusia berbeda-beda dalam meraih apa yang mereka usahakan, dan menentukan bahwa mereka tidak berada dalam tingkatan yang sama dalam kehidupan dan derajat. Itu semua agar tiap-tiap mereka mempunyai pekerjaan dan mata pencaharian yang sesuai, dengan pekerjaan itu mereka dapat melayani orang lain dan mendapatkan rezeki. Apabila seseorang telah menjalankan tugasnya, dan menyelesaikan tanggung jawabnya, serta sebelum dan sesudah itu ia telah merealisasikan tujuan terbesar dari penciptaan Tuhannya terhadapnya di dunia ini, yaitu untuk beribadah, maka ketika itu ia akan merasakan kepuasan, dan itulah orang yang sukses, mendapat taufik, dan bahagia. Demikianlah dikatakan. – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَنَحنُ في عَصرٍ حَمَلَ النَّاسُ فِيهِ شِعَارَاتٍ مَادِيَّةً بَحتَةً، وَرَاحُوا يُرَدِّدُونَهَا بَينَهُم، مُتَوَهِّمِينَ أَنَّ النَّجَاحَ مَحصُورٌ فِيهَا وَلا يَتِمُّ إِلاَّ بِهَا، في تَقدِيسٍ لِلمَحسُوسَاتِ وَالمَادِّيَّاتِ، وَمَيلٍ لِلمَكَاسِبِ الدُّنيَوِيَّةِ العَاجِلَةِ، وَحَشرٍ لِمَفهُومِ النَّجَاحِ في اعتِلاءِ مَنصِبٍ أَو تَحصِيلِ سُلطَةٍ، أَو تَحقِيقِ جَاهٍ وَشُهرَةٍ، مَعَ التَّقلِيلِ مِن شَأنِ المَكَاسِبِ الأُخرَوِيَّةِ، وَالغَفلَةِ عَن أَنَّ تِلكَ المُجتَمَعَاتِ الَّتي نَجَحَت في عَدَدٍ مِن مَنَاحِي حَيَاتِهَا، وَمَلأَتِ الدُّنيَا بِمَصنُوعَاتِهَا، وَضَاقَ البَرُّ وَالبَحرُ بِمُختَرَعَاتِهَا، قَد فَشِلَت فَشَلاً ذَرِيعًا في جَلبِ السَّعَادَةِ لَهَا أَو لِشُعُوبِ الأَرضِ الأُخرَى، بَل لَقَد طَالَ شَقَاؤُهَا بِتَسَلُّطِها عَلَى المُجتَمَعَاتِ الأَضعَفِ مِنهَا، وَتَطَاوُلِهَا عَلَيهَا وَظُلمِهَا وَالتَّعَدِّي عَلَى حُقُوقِهَا. Saudara-saudara! Kita hidup pada zaman ketika orang-orang membawa slogan-slogan materialisme semata dan senantiasa menggaungkan slogan-slogan itu di antara mereka, karena mereka mengira bahwa kesuksesan hanya terbatas pada materi dan tidak dapat sempurna kecuali dengannya.  Kita hidup pada zaman materialisme didewa-dewakan, kecondongan terhadap prestasi-prestasi duniawi yang semu, dan pemahaman tentang kesuksesan yang terbatas pada menduduki jabatan tinggi, meraih kekuasaan, atau mencapai kedudukan dan ketenaran; bersamaan dengan itu, prestasi-prestasi akhirat dipandang sebelah mata, dan lalai terhadap masyarakat-masyarakat yang berhasil meraih kesuksesan di berbagai aspek kehidupan, memenuhi dunia dengan produk-produk mereka, menjejali daratan dan lautan dengan penemuan-penemuan mereka, tapi mereka gagal besar dalam meraih kebahagiaan bagi mereka atau bagi bangsa lainnya. Bahkan kesengsaraan mereka terus berlanjut karena mereka menindas dan menzalimi bangsa-bangsa yang lebih lemah, dan merampas hak-hak mereka. إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَهلَ الإِسلامِ، لَيسَ في تَحقِيقِ أَعلَى مَكسَبٍ في تِجَارَةٍ، وَلا في نَيلِ غِنًى مِن مُسَاهَمَةٍ، وَلا في ظُهُورٍ في قَنَاةٍ إِعلامِيَّةٍ، أَو لَمَعَانِ اسمٍ في وَسِيلَةٍ تَوَاصُلٍ، أَو بِمَدحِ مُعجَبِينَ أَو كَثرَةِ مُتَابِعِينَ، إِنَّ النَّجَاحَ لَدَينَا أَسمَى مِن ذَلِكَ وَأَكبَرُ وَأَوسَعُ، فَمَتى حَقَّقَ المُسلِمُ الغَايَةَ مِن خَلقِهِ وَهِيَ عِبَادَةُ رَبِّهِ وَعِمَارَةِ الأَرضِ بما يُرضِيهِ، وَصَلَحَ عَمَلُهُ عَلَى هَديٍ مِن كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَهُوَ النَّاجِحُ المُفلِحُ وَإِن لم يَملِكْ مِنَ الدُّنيَا إِلاَّ قَلِيلاً، وَأَمَّا الغِنَى وَالفَقرُ، وَرِفعَةُ الدَّرَجَةِ في الدُّنيَا أَوِ انخِفَاضُهَا، وَالنَّجَاحُ في اختِبَارٍ مَدرَسِيٍّ أَوِ الإِخفَاقُ فِيهِ، فَمَرحَلَةٌ قَصِيرَةٌ سَتَنتَهِي يَومًا مَا، وَلِبَاسٌ مُؤَقَّتٌ سَيُخلَعُ أَو يَبلَى بَعدَ حِينٍ، وَلَن يُحَصِّلَ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ في النِّهَايَةِ إِلاَّ مَن آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثم اهتَدَى. Namun, makna kesuksesan bagi kita, umat Islam, bukanlah dengan meraih laba tertinggi dalam perniagaan, memperoleh kekayaan dari proyek investasi, dapat tampil di saluran televisi, viralnya nama di media sosial, pujian para pengagum, dan banyaknya pengikut. Kesuksesan bagi kita lebih mulia, lebih besar, dan lebih luas daripada itu semua, apabila seorang Muslim telah merealisasikan tujuan dari penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memakmurkan bumi dengan cara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai, dan amalannya sesuai dengan tuntunan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka kita telah menjadi orang yang sukses dan berhasil, meskipun hanya memiliki sedikit kenikmatan duniawi. Adapun kekayaan atau kemiskinan, ketinggian derajat duniawi atau kehinaan, dan keberhasilan pada ujian sekolah atau kegagalan, maka itu hanyalah fase singkat yang akan berakhir suatu saat nanti, dan jubah sementara yang akan dilepas atau menjadi usang beberapa saat lagi, lalu pada akhirnya tidak akan meraih kesuksesan yang hakiki kecuali orang yang beriman dan beramal saleh lalu mengikuti petunjuk. أَيُّهَا المُسلِمُونَ، لَقَد طَغَى التَّركِيزُ عَلَى مُصطَلَحِ النَّجَاحِ في مَجَالاتِ الحَيَاةِ الدُّنيَوِيَّةِ في عَصرِنَا، وَكَثُرَ الحَدِيثُ عَنهُ وَتَردَادُهُ عَلَى الأَسمَاعِ حَتَّى تَشَبَّعَت بِهِ القُلُوبُ، وَحَتى أَنسَانَا مُفرَدَاتٍ وَمُصطَلَحَاتٍ أَعلَى مِنهُ وَأَغلَى، كَالصَّلاحِ وَالفَلاحِ، وَالفَوزِ العَظِيمِ وَالفَوزِ الكَبِيرِ، أَجَل – أَيُّهَا الإِخوَةُ – لَقَد تَشَعَّبَ المُثَقَّفُونَ وَالمُدَرِّبُونَ في الحَدِيثِ عَنِ النَّجَاحِ، وَلَكِنَّ أَحَادِيثَهُم ظَلَّت تَدُورُ حَولَ النَّجَاحِ في تَحقِيقِ الثَّرَاءِ، أَو كَيفِيَّةِ الوُصُولِ إِلى مَكَانَةٍ اجتِمَاعِيَّةٍ مَرمُوقَةٍ، أَو طُرُقِ الوُصُولِ إِلى الشُّهرَةِ بِأَقصَرِ السُّبُلِ، أَوِ القُدرَةِ عَلَى تَوسِيعِ دَائِرَةِ العِلاقَاتِ مَعَ الآخَرِينَ، أَوِ الحُصُولِ عَلَى الرِّضَا الوَظِيفِيِّ، أَوِ التَّمَكُّنِ مِنَ الإِلقَاءِ وَالإِمسَاكِ بِزَمَامِ التَّأثِيرِ في المُستَمِعِينَ، في حِينِ كَادَ النَّجَاحُ الأُخرَوِيُّ يُهمَلُ وَيُنسَى وَيُغَيَّبُ، وَلا يُتَحَدَّثُ عَنهُ وَلا تُتَنَاوَلُ أَسبَابُهُ وَلا تُذكَرُ وَسَائِلُهُ. Wahai kaum Muslimin! Fokus terhadap istilah kesuksesan telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan duniawi pada zaman kita. Pembahasan tentangnya begitu banyak dan selalu digaungkan di telinga, hingga hati kita menjadi jengah, hingga menjadikan kita lupa dengan istilah-istilah yang lebih mulia dan lebih berharga dari itu, seperti kesalehan, keberuntungan akhirat, dan keberhasilan terbesar.  Saudara-saudara! Memang benar, para pakar dan mentor dalam pembahasan tentang kesuksesan memiliki pandangan yang berbeda-beda, akan tetapi pembahasan mereka tetap hanya berkutat di sekitar kesuksesan dalam meraih kekayaan, cara mencapai kedudukan sosial yang tinggi, metode untuk mencapai ketenaran dengan jalan tercepat, skill memperluas jaringan dengan orang lain, meraih kesuksesan karir, dan kemampuan public speaking dan mempengaruhi para pendengar. Di sisi lain, kesuksesan akhirat hampir terabaikan, terlupakan, dan tersingkirkan sama sekali, tidak ada yang membahasnya, tidak dicari sebab-sebabnya, dan tidak disebutkan cara-caranya. إِنَّهُ لا يُقَالُ لِلنَّاسِ لا تَجتَهِدُوا في طَلَبِ السَّعَادَةِ في حَيَاتِكُم، أَو لا تَبذُلُوا أَسبَابًا لِتَحصِيلِ قُوتِكُم وَرَاحَةِ نُفُوسِكُم، كَيفَ وَقَد قَالَ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فِيمَا رَوَاهُ مُسلِمٌ وَغَيرُهُ: ” المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ ” وَلَكِنَّنَا يَجِبُ أَن نَنتَبِهَ إِلى أَنَّهُ عَبَّرَ عَنِ الفَردِ هُنَا بِالمُؤمِنِ؛ لِيُنَبِّهَ إِلى أَنَّ الإِيمَانَ هُوَ أَغلَى المَكَاسِبِ وَأَفضَلُ النَّجَاحَاتِ، فَمَتى اتَّصَفَ بِهِ العَبدُ كَانَ حَرِيًّا بِهِ بَعدَ ذَلِكَ أَن يَزدَادَ قُوَّةً في غَيرِهِ وَيَتَقَدَّمَ وَيَرفَعَ نَفسَهُ، لَكِنَّهُ لَن يُعَدَّ فَاشِلاً وَإِن لم يَحصُلْ لَهُ شَيءٌ مِنَ الدُّنيَا مَا دَامَ مَعَهُ إِيمَانُهُ، بَل هُوَ نَاجِحٌ وَمُفلِحٌ وَفَائِزٌ بِإِذنِ اللهِ، بَل وَلَعَلَّهُ يَكُونُ خَيرًا مِمَّن هُوَ مُقَدَّمٌ لَدَى النَّاسِ عَلَيهِ لِنَجَاحِهِ في دُنيَاهِ Kami tidak mengatakan, janganlah kalian berusaha mencari kebahagiaan dalam hidup kalian, atau janganlah kalian mengerahkan usaha untuk meraih kekuatan dan mencapai ketenangan jiwa! Bagaimana itu akan dikatakan, sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda —sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya—:  المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفي كُلٍّ خَيرٌ “Orang beriman yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang beriman yang lemah, tapi tiap-tiap mereka punya kebaikan.” (HR. Muslim). Namun, wajib kita perhatikan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengungkapkan orang dalam hadis ini dengan orang beriman, untuk memberi penegasan bahwa keimanan adalah prestasi paling berharga dan kesuksesan yang paling utama. Apabila seorang hamba telah beriman, maka sudah sepantasnya baginya setelah itu untuk menambah kekuatan dalam aspek lain, dan meningkatkan nilai dirinya. Namun, ia tidak akan dianggap gagal meskipun tidak meraih sedikit pun prestasi dunia, selagi keimanan masih bersamanya. Bahkan ia adalah orang yang sukses, berhasil, dan menang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahkan bisa jadi ia lebih baik daripada orang yang lebih diutamakan orang lain karena kesuksesan duniawinya. وَلَقَد قَادَ الأًمَّةَ فِيمَا مَضَى مِن قُرُونِ عِزِّهَا وَعُهُودِ قُوَّتِهَا رِجَالٌ لَبِسُوا المُرَقَّعَ مِنَ الثِّيَابِ، وَلم يَشبَعُوا مِن فَاخِرِ الطَّعَامِ والزَّادِ، اِفتَرَشُوا الأَرضَ في بَعضِ أَحوَالِهِم وَالتَحَفُوا السَّمَاءَ، وَمَعَ هَذَا كَانُوا أَئِمَّةً عُظَمَاءَ وَقَادَةً نُبَلاءَ وَعُلَمَاءَ فُضَلاءَ، قَادُوا الجَحَافِلَ وَتَصَدَّرُوا في المَحَافِلِ، وَخَدَمُوا المَحَابِرَ فَخَدَمَتهُمُ المَنَابِرُ، وَدَانَت لَهُمُ البِلادُ وَأَذعَنَ لَهُمُ العِبَادُ، فَلَهُم مَعَ فَقرِهِم وَقِلَّةِ مَا يَملِكُونَ، خَيرٌ مِمَّن سَكَنَ القُصُورَ وَمَلَكَ القَنَاطِيرَ وَلَبِسَ الحَرِيرَ، قَالَ – عَلَيهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ -: “رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ” رَوَاهُ مُسلِمٌ. Umat Islam pada era keemasannya dan di zaman kejayaannya telah dipimpin oleh orang-orang yang memakai pakaian penuh tambalan, tidak kenyang dengan makanan mewah, dan hanya tidur beralas tanah dan beratap langit pada mayoritas keadaan mereka. Kendati demikian, dulu mereka adalah pemimpin-pemimpin agung, panglima-panglima cerdas, dan ulama-ulama mulia, mereka memimpin orang-orang besar, tampil di depan orang banyak, dan melayani ilmu, sehingga mereka disambut oleh mimbar-mimbar, ditakuti oleh negeri-negeri, dan disegani oleh manusia. Meskipun mereka miskin dan tidak memiliki banyak harta, tapi mereka lebih baik daripada orang yang menghuni istana-istana, memiliki harta melimpah, dan mengenakan kain sutra. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: رُبَّ أَشعَثَ مَدفُوعٍ بِالأَبوَابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ “Bisa jadi ada orang yang rambutnya kusam dan akan ditolak ketika hendak bertamu, tapi apabila ia bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim). وَعَن سَهلِ بنِ سَعدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنهُ – قَالَ: مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا؟ ” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَن يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَن يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَن يُستَمَعَ ” قَالَ: ثُمَّ سَكَتَ فَمَرَّ رَجُلٌ مِن فُقَرَاءِ المُسلِمِينَ فَقَالَ: “مَا تَقُولُونَ في هَذَا ؟” قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَلاَّ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَلاَّ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَلاَّ يُستَمَعَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ -: “هَذَا خَيرٌ مِن مِلءِ الأَرضِ مِثلَ هَذَا” رَوَاهُ البُخَارِيُّ. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa pernah ada seorang laki-laki yang berlalu melewati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau bertanya, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan diterima lamarannya, jika memberi syafaat akan diterima syafaatnya, dan jika berkata didengar perkataannya.” Kemudian Rasulullah diam. Lalu berlalu laki-laki lain dari kalangan orang-orang miskin kaum Muslimin, dan beliau bertanya lagi, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Layak baginya jika melamar akan ditolak lamarannya, jika memberi syafaat akan ditolak syafaatnya, dan jika berkata akan diabaikan perkataannya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda, “Orang ini (yang kedua) lebih baik daripada sepenuh bumi manusia yang seperti orang itu (yang pertama).” (HR. Al-Bukhari). أَلا فَلْنَتَّقِ اللهَ – أَيُّهَا الإِخوَةُ – وَلْنَحرِصْ عَلَى مَا يُقَرِّبُنَا إِلَيهِ وَيُبَلِّغُنَا رِضَاهُ وَجَنَّتَهُ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ: ﴿ وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ ﴾ [الأعراف: 8، 9]. أَمَّا بَعدُ، فَاتَّقُوا اللهَ – تَعَالى – حَقَّ التَّقوَى، وَتَمَسَّكُوا مِنَ الإِسلامِ بِالعُروَةِ الوُثقَى ﴿ وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا ﴾ [الطلاق: 2]. ﴿ وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ ﴾ [الطلاق: 3]. Saudara-saudara! Tidakkah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memberi perhatian besar pada hal yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya, dan menyampaikan kita kepada ridha dan surga-Nya?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ “Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9). Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, dan berpeganglah dengan tali yang kokoh, yaitu agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجعَلْ لَهُ مَخرَجًا وَيَرزُقْهُ مِن حَيثُ لا يَحتَسِبُ “Siapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (QS. At-Talaq: 2-3). أَيُّهَا المُسلِمُونَ، إِنَّ النَّجَاحَ الحَقِيقِيَّ لَيسَ مَعرَكَةً مَعَ المَالِ أَوِ المَنصِبِ، وَلا صِرَاعًا مَعَ الجَاهِ أَوِ الشُّهرَةِ، وَلا هُوَ في النُّبُوغِ عَلَى الأَقرَانِ في أَمرٍ دُنيَوِيٍّ، وَلَكِنَّهُ صُرُوحٌ مِنَ الرِّضا بِمَا قَسَمَ اللهُ تُبنَى في النُّفُوسِ، وَكُنُوزٌ مِنَ القَنَاعَةِ تُملأُ بها القُلُوبُ، وَإِيمَانٌ يُكسِبُ صَاحِبَهُ اليَقِينَ بِأَنَّ مَا عِندَ اللهِ خَيرٌ وَأَبقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِم يَتَوَكَّلُونَ، وَالمُفلِحُ النَّاجِحُ هُوَ مَن مَلَكَ زِمَامَ نَفسِهِ وَأَمسَكَ بِخِطَامِهَا، وَحَدَّ مِن جِمَاحِهَا وَقَهَرَ طُغيَانَهَا، وَأَمَّا مَن أَتبَعَهَا هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانيَّ، فَذَلِكَ هُوَ الفَاشِلُ وَالخَاسِرُ وَالمُخفِقُ، وَإِن نَالَ الشَّهَادَاتِ وَحَصَّلَ أَعلَى الدَّرَجَاتِ، وَنُودِيَ بِاسمِهِ في المُتَفَوِّقِينَ في الاختِبَارَاتِ، قَالَ – سُبحَانَهُ -: ﴿ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ﴾ [الشمس: 9، 10] وَقَالَ – تَعَالى -: “﴿ مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾ [النحل: 97] وَقَالَ – جَلَّ وَعَلا -: ﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ ﴾  [الأنعام: 82] وَقَالَ – عَزَّ وَجَلَّ -: ﴿ وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا ﴾ [طه: 124]. Wahai kaum Muslimin! Kesuksesan hakiki bukanlah peperangan demi mendapat harta atau kedudukan, bukan pertarungan demi meraih jabatan atau ketenaran, dan bukan pula dengan keunggulan terhadap orang lain dalam urusan duniawi. Namun, kesuksesan adalah benteng keridhaan terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dibangun di dalam jiwa, harta berharga yang berupa sifat qanaah yang memenuhi hati, dan keimanan yang mendatangkan keyakinan bagi pemiliknya bahwa apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada-Nya.  Orang yang sukses dan berhasil adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsu, memegang tali kekangnya, dan mengendalikan kebengisannya, serta menundukkan keliarannya. Adapun orang yang menuruti hawa nafsunya lalu hanya berangan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berbagai angan-angan, maka itulah orang yang gagal, merugi, dan tumbang, meskipun ia telah meraih berbagai ijazah dan mencapai kedudukan tertinggi serta namanya disebutkan di antara orang-orang yang berada di peringkat atas dalam hasil ujian. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10). مَن عَمِلَ صَالِحًا مِن ذَكَرٍ أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, maka sungguh Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97). الَّذِينَ آمَنُوا وَلم يَلبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمنُ وَهُم مُهتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82). وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا “Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124). Sumber: https://www.alukah.net/ما النجاح الذي تسعى إليه؟ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 374 times, 1 visit(s) today Post Views: 428 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Begini Cara Menjadi Wali – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Bagaimana saya dapat mencapai derajat wali Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya memiliki keinginan besar terhadap kebaikan, dan ingin mencapai derajat tersebut. Derajat ini dapat dicapai oleh siapa saja dari kalangan Muslim. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Seorang ulama bisa meraihnya, dan orang awam pun bisa meraihnya. Bisa diraih oleh petani. Bisa pula diraih oleh karyawan. Bisa diraih oleh siapa pun. “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat kewalian? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Siapa mereka itu? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 63). Seseorang dapat meraih derajat kewalian dengan iman dan takwa. Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia menjadi wali Allah. Barang siapa memiliki ketakwaan yang besar kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka bisa jadi ia akan mencapai derajat ini, derajat kewalian. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 62–64). Di akhirat, kabar gembira itu adalah surga. Sedangkan kabar gembira di dunia adalah nama baik, kedudukan mulia, penerimaan dan kecintaan manusia, serta mimpi baik yang ia lihat sendiri atau diperlihatkan kepada orang lain. Inilah penafsiran terbaik tentang kabar gembira yang diberikan di dunia. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah surga. Apabila seseorang telah mencapai derajat ini, derajat kewalian, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentangnya dalam Hadis Qudsi: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Artinya, orang yang menyakiti salah satu wali Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memeranginya. “…maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Barang siapa diperangi Tuhannya, maka ia akan ditimpa berbagai musibah dari arah mana saja dan dengan cara apa saja. Ia telah menabuh genderang perang, tapi dengan siapa? Dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang menyakiti wali Allah Subhanah. “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” ===== كَيْفَ أَصِلُ لِدَرَجَةِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ؟ يَعْنِي هَذَا السُّؤَالُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّائِلَ عِنْدَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ مُسْلِمٍ لَيْسَتْ خَاصَّةً بِطَبَقَةٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ النَّاسِ يُمْكِنُ يَصِلُ إِلَيْهَا عَالِمٌ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْأُمِّيُّ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْفَلَّاحُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْعَامِلُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ إِنْسَانٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ كَيْفَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ؟ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ مَنْ هُمْ؟ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا مَنْ كَانَ تَقِيًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظُمَتِ التَّقْوَى عِنْدَهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ أَمَّا الْبُشْرَى الَّتِي فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالسُّمْعَةُ الْحَسَنَةُ وَالسِّيرَةُ الطَّيِّبَةُ وَالْقَبُولُ وَمَحَبَّةُ النَّاسِ وَكَذَلِكَ أَيْضًا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ هَذَا أَحْسَنُ مَا فُسِّرَتْ بِه الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ وَإِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ أَيْ أَنَّ هَذَا الَّذِي آذَى وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحَارِبُهُ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَنْ حَارَبَهُ رَبُّهُ فَلْيَتَوَقَّعْ أَنْ تَأْتِيَهُ الْمَصَائِبُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَبِأَيَّةِ طَرِيقَةٍ فَتَحَ جَبْهَةَ حَرْبٍ وَلَكِنْ مَعَ مَنْ؟ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا فِيهِ تَحْذِيرٌ شَدِيدٌ لِمَنْ يُؤْذِي أَوْلِيَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Begini Cara Menjadi Wali – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Bagaimana saya dapat mencapai derajat wali Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya memiliki keinginan besar terhadap kebaikan, dan ingin mencapai derajat tersebut. Derajat ini dapat dicapai oleh siapa saja dari kalangan Muslim. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Seorang ulama bisa meraihnya, dan orang awam pun bisa meraihnya. Bisa diraih oleh petani. Bisa pula diraih oleh karyawan. Bisa diraih oleh siapa pun. “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat kewalian? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Siapa mereka itu? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 63). Seseorang dapat meraih derajat kewalian dengan iman dan takwa. Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia menjadi wali Allah. Barang siapa memiliki ketakwaan yang besar kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka bisa jadi ia akan mencapai derajat ini, derajat kewalian. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 62–64). Di akhirat, kabar gembira itu adalah surga. Sedangkan kabar gembira di dunia adalah nama baik, kedudukan mulia, penerimaan dan kecintaan manusia, serta mimpi baik yang ia lihat sendiri atau diperlihatkan kepada orang lain. Inilah penafsiran terbaik tentang kabar gembira yang diberikan di dunia. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah surga. Apabila seseorang telah mencapai derajat ini, derajat kewalian, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentangnya dalam Hadis Qudsi: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Artinya, orang yang menyakiti salah satu wali Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memeranginya. “…maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Barang siapa diperangi Tuhannya, maka ia akan ditimpa berbagai musibah dari arah mana saja dan dengan cara apa saja. Ia telah menabuh genderang perang, tapi dengan siapa? Dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang menyakiti wali Allah Subhanah. “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” ===== كَيْفَ أَصِلُ لِدَرَجَةِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ؟ يَعْنِي هَذَا السُّؤَالُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّائِلَ عِنْدَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ مُسْلِمٍ لَيْسَتْ خَاصَّةً بِطَبَقَةٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ النَّاسِ يُمْكِنُ يَصِلُ إِلَيْهَا عَالِمٌ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْأُمِّيُّ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْفَلَّاحُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْعَامِلُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ إِنْسَانٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ كَيْفَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ؟ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ مَنْ هُمْ؟ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا مَنْ كَانَ تَقِيًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظُمَتِ التَّقْوَى عِنْدَهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ أَمَّا الْبُشْرَى الَّتِي فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالسُّمْعَةُ الْحَسَنَةُ وَالسِّيرَةُ الطَّيِّبَةُ وَالْقَبُولُ وَمَحَبَّةُ النَّاسِ وَكَذَلِكَ أَيْضًا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ هَذَا أَحْسَنُ مَا فُسِّرَتْ بِه الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ وَإِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ أَيْ أَنَّ هَذَا الَّذِي آذَى وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحَارِبُهُ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَنْ حَارَبَهُ رَبُّهُ فَلْيَتَوَقَّعْ أَنْ تَأْتِيَهُ الْمَصَائِبُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَبِأَيَّةِ طَرِيقَةٍ فَتَحَ جَبْهَةَ حَرْبٍ وَلَكِنْ مَعَ مَنْ؟ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا فِيهِ تَحْذِيرٌ شَدِيدٌ لِمَنْ يُؤْذِي أَوْلِيَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
Bagaimana saya dapat mencapai derajat wali Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya memiliki keinginan besar terhadap kebaikan, dan ingin mencapai derajat tersebut. Derajat ini dapat dicapai oleh siapa saja dari kalangan Muslim. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Seorang ulama bisa meraihnya, dan orang awam pun bisa meraihnya. Bisa diraih oleh petani. Bisa pula diraih oleh karyawan. Bisa diraih oleh siapa pun. “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat kewalian? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Siapa mereka itu? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 63). Seseorang dapat meraih derajat kewalian dengan iman dan takwa. Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia menjadi wali Allah. Barang siapa memiliki ketakwaan yang besar kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka bisa jadi ia akan mencapai derajat ini, derajat kewalian. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 62–64). Di akhirat, kabar gembira itu adalah surga. Sedangkan kabar gembira di dunia adalah nama baik, kedudukan mulia, penerimaan dan kecintaan manusia, serta mimpi baik yang ia lihat sendiri atau diperlihatkan kepada orang lain. Inilah penafsiran terbaik tentang kabar gembira yang diberikan di dunia. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah surga. Apabila seseorang telah mencapai derajat ini, derajat kewalian, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentangnya dalam Hadis Qudsi: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Artinya, orang yang menyakiti salah satu wali Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memeranginya. “…maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Barang siapa diperangi Tuhannya, maka ia akan ditimpa berbagai musibah dari arah mana saja dan dengan cara apa saja. Ia telah menabuh genderang perang, tapi dengan siapa? Dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang menyakiti wali Allah Subhanah. “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” ===== كَيْفَ أَصِلُ لِدَرَجَةِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ؟ يَعْنِي هَذَا السُّؤَالُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّائِلَ عِنْدَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ مُسْلِمٍ لَيْسَتْ خَاصَّةً بِطَبَقَةٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ النَّاسِ يُمْكِنُ يَصِلُ إِلَيْهَا عَالِمٌ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْأُمِّيُّ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْفَلَّاحُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْعَامِلُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ إِنْسَانٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ كَيْفَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ؟ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ مَنْ هُمْ؟ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا مَنْ كَانَ تَقِيًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظُمَتِ التَّقْوَى عِنْدَهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ أَمَّا الْبُشْرَى الَّتِي فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالسُّمْعَةُ الْحَسَنَةُ وَالسِّيرَةُ الطَّيِّبَةُ وَالْقَبُولُ وَمَحَبَّةُ النَّاسِ وَكَذَلِكَ أَيْضًا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ هَذَا أَحْسَنُ مَا فُسِّرَتْ بِه الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ وَإِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ أَيْ أَنَّ هَذَا الَّذِي آذَى وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحَارِبُهُ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَنْ حَارَبَهُ رَبُّهُ فَلْيَتَوَقَّعْ أَنْ تَأْتِيَهُ الْمَصَائِبُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَبِأَيَّةِ طَرِيقَةٍ فَتَحَ جَبْهَةَ حَرْبٍ وَلَكِنْ مَعَ مَنْ؟ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا فِيهِ تَحْذِيرٌ شَدِيدٌ لِمَنْ يُؤْذِي أَوْلِيَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ


Bagaimana saya dapat mencapai derajat wali Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya memiliki keinginan besar terhadap kebaikan, dan ingin mencapai derajat tersebut. Derajat ini dapat dicapai oleh siapa saja dari kalangan Muslim. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Seorang ulama bisa meraihnya, dan orang awam pun bisa meraihnya. Bisa diraih oleh petani. Bisa pula diraih oleh karyawan. Bisa diraih oleh siapa pun. “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat kewalian? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Siapa mereka itu? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 63). Seseorang dapat meraih derajat kewalian dengan iman dan takwa. Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia menjadi wali Allah. Barang siapa memiliki ketakwaan yang besar kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka bisa jadi ia akan mencapai derajat ini, derajat kewalian. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 62–64). Di akhirat, kabar gembira itu adalah surga. Sedangkan kabar gembira di dunia adalah nama baik, kedudukan mulia, penerimaan dan kecintaan manusia, serta mimpi baik yang ia lihat sendiri atau diperlihatkan kepada orang lain. Inilah penafsiran terbaik tentang kabar gembira yang diberikan di dunia. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah surga. Apabila seseorang telah mencapai derajat ini, derajat kewalian, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentangnya dalam Hadis Qudsi: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Artinya, orang yang menyakiti salah satu wali Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memeranginya. “…maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Barang siapa diperangi Tuhannya, maka ia akan ditimpa berbagai musibah dari arah mana saja dan dengan cara apa saja. Ia telah menabuh genderang perang, tapi dengan siapa? Dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang menyakiti wali Allah Subhanah. “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” ===== كَيْفَ أَصِلُ لِدَرَجَةِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ؟ يَعْنِي هَذَا السُّؤَالُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّائِلَ عِنْدَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ مُسْلِمٍ لَيْسَتْ خَاصَّةً بِطَبَقَةٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ النَّاسِ يُمْكِنُ يَصِلُ إِلَيْهَا عَالِمٌ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْأُمِّيُّ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْفَلَّاحُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْعَامِلُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ إِنْسَانٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ كَيْفَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ؟ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ مَنْ هُمْ؟ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا مَنْ كَانَ تَقِيًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظُمَتِ التَّقْوَى عِنْدَهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ أَمَّا الْبُشْرَى الَّتِي فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالسُّمْعَةُ الْحَسَنَةُ وَالسِّيرَةُ الطَّيِّبَةُ وَالْقَبُولُ وَمَحَبَّةُ النَّاسِ وَكَذَلِكَ أَيْضًا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ هَذَا أَحْسَنُ مَا فُسِّرَتْ بِه الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ وَإِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ أَيْ أَنَّ هَذَا الَّذِي آذَى وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحَارِبُهُ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَنْ حَارَبَهُ رَبُّهُ فَلْيَتَوَقَّعْ أَنْ تَأْتِيَهُ الْمَصَائِبُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَبِأَيَّةِ طَرِيقَةٍ فَتَحَ جَبْهَةَ حَرْبٍ وَلَكِنْ مَعَ مَنْ؟ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا فِيهِ تَحْذِيرٌ شَدِيدٌ لِمَنْ يُؤْذِي أَوْلِيَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Larangan Musik dalam Islam: Penjelasan Surah Luqman Ayat 6

Setiap manusia diuji dengan hal-hal yang bisa melalaikan dari mengingat Allah. Ada yang sibuk mengejar harta, ada yang hanyut dalam permainan, bahkan ada yang tenggelam dalam lantunan musik dan nyanyian yang menjauhkan hati dari ayat-ayat Allah. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang fenomena ini.Dalam Surah Luqman ayat 6, Allah menyebut sebagian manusia membeli lahwul hadits—perkataan sia-sia—untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Para sahabat dan ulama tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud di antaranya adalah nyanyian dan musik, bahkan sebagian menafsirkannya sebagai perbuatan membeli budak perempuan untuk dijadikan penyanyi.Tulisan ini akan membahas penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, termasuk riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, serta hadits Nabi ﷺ tentang larangan menjual dan membeli budak penyanyi. Dari sini, kita dapat memahami betapa bahayanya musik dan nyanyian yang melalaikan, hingga ia dijadikan bahan peringatan khusus dalam Al-Qur’an.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌwa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)Penjelasan dari Tafsir Imam Ibnu Katsir:Setelah Allah Ta‘ālā menyebutkan keadaan orang-orang bahagia, yaitu mereka yang mendapat petunjuk dengan Kitab Allah dan memperoleh manfaat dari mendengarnya—sebagaimana firman-Nya:﴿ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴾“Allah telah menurunkan perkataan yang paling indah, yaitu Kitab yang serupa lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23))Allah kemudian menyebutkan pula keadaan orang-orang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam Allah, dan justru menghadapkan diri pada nyanyian, musik, lantunan lagu, serta alat-alat hiburan.Ibnu Mas‘ūd menafsirkan firman Allah:﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna.”), beliau berkata: “Demi Allah, itu adalah nyanyian.”Ibnu Jarīr meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yazīd bin Yūnus, dari Abū Shakhr, dari Abū Mu‘āwiyah al-Bajali, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’ al-Bakri, bahwa ia mendengar ‘Abdullāh bin Mas‘ūd ketika ditanya tentang ayat ini: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah”), maka ia menjawab: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Riwayat lain: dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas‘ūd tentang firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ Ia menjawab: “Itu adalah nyanyian.”Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbās, Jābir, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, Mujāhid, Makḥūl, ‘Amr bin Syu‘aib, dan ‘Alī bin Buzaymah.Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan nyanyian dan seruling.”Qatādah berkata tentang ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ “Demi Allah, bisa jadi ia tidak mengeluarkan uang untuk itu, tetapi maksud dari ‘membeli’ di sini adalah kesenangannya terhadap hal itu. Cukuplah seseorang tersesat ketika ia lebih memilih perkataan batil dibandingkan perkataan yang benar, lebih suka yang merugikan daripada yang bermanfaat.”Ada pula yang menafsirkan bahwa maksud “membeli perkataan yang sia-sia” adalah membeli budak perempuan penyanyi.Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ismā‘īl al-Aḥmasī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakī‘, dari Khallād aṣ-Ṣaffār, dari ‘Ubaydullāh bin Zahr, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim bin ‘Abdirraḥmān, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Tidak halal menjual dan membeli budak perempuan penyanyi. Mengambil uang hasilnya adalah haram. Dan tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan Ibnu Jarīr melalui jalur ‘Ubaydullāh bin Zahr dengan lafaz serupa. At-Tirmiżī kemudian berkata: “Hadits ini gharib.” Ia juga menilai ‘Alī bin Yazīd—salah seorang perawi hadits ini—lemah.Aku (Ibnu Katsīr) katakan: ‘Alī, gurunya, dan orang yang meriwayatkan darinya, semuanya lemah. Wallāhu a‘lam.Adapun adh-Ḍaḥḥāk menafsirkan firman Allah وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾dengan makna syirik. Demikian pula pendapat ‘Abdurraḥmān bin Zayd bin Aslam. Ibnu Jarīr memilih pendapat bahwa maknanya mencakup setiap perkataan yang menghalangi manusia dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.Firman Allah: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ maksudnya, mereka melakukan itu untuk menentang Islam dan kaum Muslimin.Dalam qirā’ah yang membacanya dengan membuka huruf “ya” pada kata liyudhilla, maka lam di situ bermakna akibat (lam al-‘āqibah), atau bisa juga bermakna sebagai alasan kehendak Allah (takdir). Artinya: mereka ditakdirkan untuk itu, sehingga akibatnya menjadi demikian.Firman Allah:وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا Mujāhid menafsirkan: “Ia menjadikan jalan Allah sebagai bahan ejekan.” Sedangkan Qatādah berkata: “Maksudnya adalah ia menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.” Dan pendapat Mujāhid lebih kuat.Firman Allah: أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ artinya: Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka di Hari Kiamat mereka akan dihinakan dengan azab yang terus-menerus dan tidak pernah terputus.KesimpulanApabila menjual dan membeli budak perempuan penyanyi saja telah diharamkan dalam syariat, maka tentu seorang lelaki yang beriman akan lebih menjaga keluarganya dari nyanyian dan musik yang melalaikan. Terlebih lagi, sangatlah janggal apabila seorang suami meyakini bahwa musik itu haram, namun ia masih ridha mendengar istrinya bernyanyi atau memutar musik di sisinya. Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan semangat menjaga diri dan keluarga dari perkara yang dilarang Allah.Seorang suami yang baik semestinya berusaha melindungi rumah tangganya dari pintu-pintu keburukan, bukan justru membiarkannya terbuka. Keluarga yang dibangun di atas ketaatan akan jauh lebih diberkahi dan dirahmati oleh Allah Ta‘ālā.Semoga Allah Ta‘ālā senantiasa memberikan kepada kita hidayah untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, kekuatan untuk menjauhi segala hal yang melalaikan dari mengingat-Nya, serta keteguhan dalam menjaga keluarga kita di atas jalan yang lurus. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan dzikir, tilawah, dan amal shalih, bukan dengan suara-suara yang menjauhkan hati dari Allah.Baca Juga:Alat Musik dalam Pandangan Ulama Syafi’iHukum Jual Beli Alat Musik_______ Kamis, 20 Rabiul Awal 1447 H, 11 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsalat musik hukum musik musik musik haram

Larangan Musik dalam Islam: Penjelasan Surah Luqman Ayat 6

Setiap manusia diuji dengan hal-hal yang bisa melalaikan dari mengingat Allah. Ada yang sibuk mengejar harta, ada yang hanyut dalam permainan, bahkan ada yang tenggelam dalam lantunan musik dan nyanyian yang menjauhkan hati dari ayat-ayat Allah. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang fenomena ini.Dalam Surah Luqman ayat 6, Allah menyebut sebagian manusia membeli lahwul hadits—perkataan sia-sia—untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Para sahabat dan ulama tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud di antaranya adalah nyanyian dan musik, bahkan sebagian menafsirkannya sebagai perbuatan membeli budak perempuan untuk dijadikan penyanyi.Tulisan ini akan membahas penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, termasuk riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, serta hadits Nabi ﷺ tentang larangan menjual dan membeli budak penyanyi. Dari sini, kita dapat memahami betapa bahayanya musik dan nyanyian yang melalaikan, hingga ia dijadikan bahan peringatan khusus dalam Al-Qur’an.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌwa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)Penjelasan dari Tafsir Imam Ibnu Katsir:Setelah Allah Ta‘ālā menyebutkan keadaan orang-orang bahagia, yaitu mereka yang mendapat petunjuk dengan Kitab Allah dan memperoleh manfaat dari mendengarnya—sebagaimana firman-Nya:﴿ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴾“Allah telah menurunkan perkataan yang paling indah, yaitu Kitab yang serupa lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23))Allah kemudian menyebutkan pula keadaan orang-orang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam Allah, dan justru menghadapkan diri pada nyanyian, musik, lantunan lagu, serta alat-alat hiburan.Ibnu Mas‘ūd menafsirkan firman Allah:﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna.”), beliau berkata: “Demi Allah, itu adalah nyanyian.”Ibnu Jarīr meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yazīd bin Yūnus, dari Abū Shakhr, dari Abū Mu‘āwiyah al-Bajali, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’ al-Bakri, bahwa ia mendengar ‘Abdullāh bin Mas‘ūd ketika ditanya tentang ayat ini: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah”), maka ia menjawab: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Riwayat lain: dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas‘ūd tentang firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ Ia menjawab: “Itu adalah nyanyian.”Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbās, Jābir, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, Mujāhid, Makḥūl, ‘Amr bin Syu‘aib, dan ‘Alī bin Buzaymah.Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan nyanyian dan seruling.”Qatādah berkata tentang ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ “Demi Allah, bisa jadi ia tidak mengeluarkan uang untuk itu, tetapi maksud dari ‘membeli’ di sini adalah kesenangannya terhadap hal itu. Cukuplah seseorang tersesat ketika ia lebih memilih perkataan batil dibandingkan perkataan yang benar, lebih suka yang merugikan daripada yang bermanfaat.”Ada pula yang menafsirkan bahwa maksud “membeli perkataan yang sia-sia” adalah membeli budak perempuan penyanyi.Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ismā‘īl al-Aḥmasī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakī‘, dari Khallād aṣ-Ṣaffār, dari ‘Ubaydullāh bin Zahr, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim bin ‘Abdirraḥmān, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Tidak halal menjual dan membeli budak perempuan penyanyi. Mengambil uang hasilnya adalah haram. Dan tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan Ibnu Jarīr melalui jalur ‘Ubaydullāh bin Zahr dengan lafaz serupa. At-Tirmiżī kemudian berkata: “Hadits ini gharib.” Ia juga menilai ‘Alī bin Yazīd—salah seorang perawi hadits ini—lemah.Aku (Ibnu Katsīr) katakan: ‘Alī, gurunya, dan orang yang meriwayatkan darinya, semuanya lemah. Wallāhu a‘lam.Adapun adh-Ḍaḥḥāk menafsirkan firman Allah وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾dengan makna syirik. Demikian pula pendapat ‘Abdurraḥmān bin Zayd bin Aslam. Ibnu Jarīr memilih pendapat bahwa maknanya mencakup setiap perkataan yang menghalangi manusia dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.Firman Allah: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ maksudnya, mereka melakukan itu untuk menentang Islam dan kaum Muslimin.Dalam qirā’ah yang membacanya dengan membuka huruf “ya” pada kata liyudhilla, maka lam di situ bermakna akibat (lam al-‘āqibah), atau bisa juga bermakna sebagai alasan kehendak Allah (takdir). Artinya: mereka ditakdirkan untuk itu, sehingga akibatnya menjadi demikian.Firman Allah:وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا Mujāhid menafsirkan: “Ia menjadikan jalan Allah sebagai bahan ejekan.” Sedangkan Qatādah berkata: “Maksudnya adalah ia menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.” Dan pendapat Mujāhid lebih kuat.Firman Allah: أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ artinya: Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka di Hari Kiamat mereka akan dihinakan dengan azab yang terus-menerus dan tidak pernah terputus.KesimpulanApabila menjual dan membeli budak perempuan penyanyi saja telah diharamkan dalam syariat, maka tentu seorang lelaki yang beriman akan lebih menjaga keluarganya dari nyanyian dan musik yang melalaikan. Terlebih lagi, sangatlah janggal apabila seorang suami meyakini bahwa musik itu haram, namun ia masih ridha mendengar istrinya bernyanyi atau memutar musik di sisinya. Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan semangat menjaga diri dan keluarga dari perkara yang dilarang Allah.Seorang suami yang baik semestinya berusaha melindungi rumah tangganya dari pintu-pintu keburukan, bukan justru membiarkannya terbuka. Keluarga yang dibangun di atas ketaatan akan jauh lebih diberkahi dan dirahmati oleh Allah Ta‘ālā.Semoga Allah Ta‘ālā senantiasa memberikan kepada kita hidayah untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, kekuatan untuk menjauhi segala hal yang melalaikan dari mengingat-Nya, serta keteguhan dalam menjaga keluarga kita di atas jalan yang lurus. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan dzikir, tilawah, dan amal shalih, bukan dengan suara-suara yang menjauhkan hati dari Allah.Baca Juga:Alat Musik dalam Pandangan Ulama Syafi’iHukum Jual Beli Alat Musik_______ Kamis, 20 Rabiul Awal 1447 H, 11 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsalat musik hukum musik musik musik haram
Setiap manusia diuji dengan hal-hal yang bisa melalaikan dari mengingat Allah. Ada yang sibuk mengejar harta, ada yang hanyut dalam permainan, bahkan ada yang tenggelam dalam lantunan musik dan nyanyian yang menjauhkan hati dari ayat-ayat Allah. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang fenomena ini.Dalam Surah Luqman ayat 6, Allah menyebut sebagian manusia membeli lahwul hadits—perkataan sia-sia—untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Para sahabat dan ulama tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud di antaranya adalah nyanyian dan musik, bahkan sebagian menafsirkannya sebagai perbuatan membeli budak perempuan untuk dijadikan penyanyi.Tulisan ini akan membahas penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, termasuk riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, serta hadits Nabi ﷺ tentang larangan menjual dan membeli budak penyanyi. Dari sini, kita dapat memahami betapa bahayanya musik dan nyanyian yang melalaikan, hingga ia dijadikan bahan peringatan khusus dalam Al-Qur’an.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌwa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)Penjelasan dari Tafsir Imam Ibnu Katsir:Setelah Allah Ta‘ālā menyebutkan keadaan orang-orang bahagia, yaitu mereka yang mendapat petunjuk dengan Kitab Allah dan memperoleh manfaat dari mendengarnya—sebagaimana firman-Nya:﴿ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴾“Allah telah menurunkan perkataan yang paling indah, yaitu Kitab yang serupa lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23))Allah kemudian menyebutkan pula keadaan orang-orang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam Allah, dan justru menghadapkan diri pada nyanyian, musik, lantunan lagu, serta alat-alat hiburan.Ibnu Mas‘ūd menafsirkan firman Allah:﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna.”), beliau berkata: “Demi Allah, itu adalah nyanyian.”Ibnu Jarīr meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yazīd bin Yūnus, dari Abū Shakhr, dari Abū Mu‘āwiyah al-Bajali, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’ al-Bakri, bahwa ia mendengar ‘Abdullāh bin Mas‘ūd ketika ditanya tentang ayat ini: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah”), maka ia menjawab: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Riwayat lain: dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas‘ūd tentang firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ Ia menjawab: “Itu adalah nyanyian.”Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbās, Jābir, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, Mujāhid, Makḥūl, ‘Amr bin Syu‘aib, dan ‘Alī bin Buzaymah.Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan nyanyian dan seruling.”Qatādah berkata tentang ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ “Demi Allah, bisa jadi ia tidak mengeluarkan uang untuk itu, tetapi maksud dari ‘membeli’ di sini adalah kesenangannya terhadap hal itu. Cukuplah seseorang tersesat ketika ia lebih memilih perkataan batil dibandingkan perkataan yang benar, lebih suka yang merugikan daripada yang bermanfaat.”Ada pula yang menafsirkan bahwa maksud “membeli perkataan yang sia-sia” adalah membeli budak perempuan penyanyi.Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ismā‘īl al-Aḥmasī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakī‘, dari Khallād aṣ-Ṣaffār, dari ‘Ubaydullāh bin Zahr, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim bin ‘Abdirraḥmān, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Tidak halal menjual dan membeli budak perempuan penyanyi. Mengambil uang hasilnya adalah haram. Dan tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan Ibnu Jarīr melalui jalur ‘Ubaydullāh bin Zahr dengan lafaz serupa. At-Tirmiżī kemudian berkata: “Hadits ini gharib.” Ia juga menilai ‘Alī bin Yazīd—salah seorang perawi hadits ini—lemah.Aku (Ibnu Katsīr) katakan: ‘Alī, gurunya, dan orang yang meriwayatkan darinya, semuanya lemah. Wallāhu a‘lam.Adapun adh-Ḍaḥḥāk menafsirkan firman Allah وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾dengan makna syirik. Demikian pula pendapat ‘Abdurraḥmān bin Zayd bin Aslam. Ibnu Jarīr memilih pendapat bahwa maknanya mencakup setiap perkataan yang menghalangi manusia dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.Firman Allah: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ maksudnya, mereka melakukan itu untuk menentang Islam dan kaum Muslimin.Dalam qirā’ah yang membacanya dengan membuka huruf “ya” pada kata liyudhilla, maka lam di situ bermakna akibat (lam al-‘āqibah), atau bisa juga bermakna sebagai alasan kehendak Allah (takdir). Artinya: mereka ditakdirkan untuk itu, sehingga akibatnya menjadi demikian.Firman Allah:وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا Mujāhid menafsirkan: “Ia menjadikan jalan Allah sebagai bahan ejekan.” Sedangkan Qatādah berkata: “Maksudnya adalah ia menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.” Dan pendapat Mujāhid lebih kuat.Firman Allah: أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ artinya: Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka di Hari Kiamat mereka akan dihinakan dengan azab yang terus-menerus dan tidak pernah terputus.KesimpulanApabila menjual dan membeli budak perempuan penyanyi saja telah diharamkan dalam syariat, maka tentu seorang lelaki yang beriman akan lebih menjaga keluarganya dari nyanyian dan musik yang melalaikan. Terlebih lagi, sangatlah janggal apabila seorang suami meyakini bahwa musik itu haram, namun ia masih ridha mendengar istrinya bernyanyi atau memutar musik di sisinya. Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan semangat menjaga diri dan keluarga dari perkara yang dilarang Allah.Seorang suami yang baik semestinya berusaha melindungi rumah tangganya dari pintu-pintu keburukan, bukan justru membiarkannya terbuka. Keluarga yang dibangun di atas ketaatan akan jauh lebih diberkahi dan dirahmati oleh Allah Ta‘ālā.Semoga Allah Ta‘ālā senantiasa memberikan kepada kita hidayah untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, kekuatan untuk menjauhi segala hal yang melalaikan dari mengingat-Nya, serta keteguhan dalam menjaga keluarga kita di atas jalan yang lurus. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan dzikir, tilawah, dan amal shalih, bukan dengan suara-suara yang menjauhkan hati dari Allah.Baca Juga:Alat Musik dalam Pandangan Ulama Syafi’iHukum Jual Beli Alat Musik_______ Kamis, 20 Rabiul Awal 1447 H, 11 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsalat musik hukum musik musik musik haram


Setiap manusia diuji dengan hal-hal yang bisa melalaikan dari mengingat Allah. Ada yang sibuk mengejar harta, ada yang hanyut dalam permainan, bahkan ada yang tenggelam dalam lantunan musik dan nyanyian yang menjauhkan hati dari ayat-ayat Allah. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang fenomena ini.Dalam Surah Luqman ayat 6, Allah menyebut sebagian manusia membeli lahwul hadits—perkataan sia-sia—untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Para sahabat dan ulama tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud di antaranya adalah nyanyian dan musik, bahkan sebagian menafsirkannya sebagai perbuatan membeli budak perempuan untuk dijadikan penyanyi.Tulisan ini akan membahas penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, termasuk riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, serta hadits Nabi ﷺ tentang larangan menjual dan membeli budak penyanyi. Dari sini, kita dapat memahami betapa bahayanya musik dan nyanyian yang melalaikan, hingga ia dijadikan bahan peringatan khusus dalam Al-Qur’an.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌwa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)Penjelasan dari Tafsir Imam Ibnu Katsir:Setelah Allah Ta‘ālā menyebutkan keadaan orang-orang bahagia, yaitu mereka yang mendapat petunjuk dengan Kitab Allah dan memperoleh manfaat dari mendengarnya—sebagaimana firman-Nya:﴿ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴾“Allah telah menurunkan perkataan yang paling indah, yaitu Kitab yang serupa lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23))Allah kemudian menyebutkan pula keadaan orang-orang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam Allah, dan justru menghadapkan diri pada nyanyian, musik, lantunan lagu, serta alat-alat hiburan.Ibnu Mas‘ūd menafsirkan firman Allah:﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna.”), beliau berkata: “Demi Allah, itu adalah nyanyian.”Ibnu Jarīr meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yazīd bin Yūnus, dari Abū Shakhr, dari Abū Mu‘āwiyah al-Bajali, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’ al-Bakri, bahwa ia mendengar ‘Abdullāh bin Mas‘ūd ketika ditanya tentang ayat ini: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah”), maka ia menjawab: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Riwayat lain: dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas‘ūd tentang firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ Ia menjawab: “Itu adalah nyanyian.”Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbās, Jābir, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, Mujāhid, Makḥūl, ‘Amr bin Syu‘aib, dan ‘Alī bin Buzaymah.Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan nyanyian dan seruling.”Qatādah berkata tentang ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ “Demi Allah, bisa jadi ia tidak mengeluarkan uang untuk itu, tetapi maksud dari ‘membeli’ di sini adalah kesenangannya terhadap hal itu. Cukuplah seseorang tersesat ketika ia lebih memilih perkataan batil dibandingkan perkataan yang benar, lebih suka yang merugikan daripada yang bermanfaat.”Ada pula yang menafsirkan bahwa maksud “membeli perkataan yang sia-sia” adalah membeli budak perempuan penyanyi.Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ismā‘īl al-Aḥmasī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakī‘, dari Khallād aṣ-Ṣaffār, dari ‘Ubaydullāh bin Zahr, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim bin ‘Abdirraḥmān, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Tidak halal menjual dan membeli budak perempuan penyanyi. Mengambil uang hasilnya adalah haram. Dan tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan Ibnu Jarīr melalui jalur ‘Ubaydullāh bin Zahr dengan lafaz serupa. At-Tirmiżī kemudian berkata: “Hadits ini gharib.” Ia juga menilai ‘Alī bin Yazīd—salah seorang perawi hadits ini—lemah.Aku (Ibnu Katsīr) katakan: ‘Alī, gurunya, dan orang yang meriwayatkan darinya, semuanya lemah. Wallāhu a‘lam.Adapun adh-Ḍaḥḥāk menafsirkan firman Allah وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾dengan makna syirik. Demikian pula pendapat ‘Abdurraḥmān bin Zayd bin Aslam. Ibnu Jarīr memilih pendapat bahwa maknanya mencakup setiap perkataan yang menghalangi manusia dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.Firman Allah: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ maksudnya, mereka melakukan itu untuk menentang Islam dan kaum Muslimin.Dalam qirā’ah yang membacanya dengan membuka huruf “ya” pada kata liyudhilla, maka lam di situ bermakna akibat (lam al-‘āqibah), atau bisa juga bermakna sebagai alasan kehendak Allah (takdir). Artinya: mereka ditakdirkan untuk itu, sehingga akibatnya menjadi demikian.Firman Allah:وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا Mujāhid menafsirkan: “Ia menjadikan jalan Allah sebagai bahan ejekan.” Sedangkan Qatādah berkata: “Maksudnya adalah ia menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.” Dan pendapat Mujāhid lebih kuat.Firman Allah: أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ artinya: Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka di Hari Kiamat mereka akan dihinakan dengan azab yang terus-menerus dan tidak pernah terputus.KesimpulanApabila menjual dan membeli budak perempuan penyanyi saja telah diharamkan dalam syariat, maka tentu seorang lelaki yang beriman akan lebih menjaga keluarganya dari nyanyian dan musik yang melalaikan. Terlebih lagi, sangatlah janggal apabila seorang suami meyakini bahwa musik itu haram, namun ia masih ridha mendengar istrinya bernyanyi atau memutar musik di sisinya. Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan semangat menjaga diri dan keluarga dari perkara yang dilarang Allah.Seorang suami yang baik semestinya berusaha melindungi rumah tangganya dari pintu-pintu keburukan, bukan justru membiarkannya terbuka. Keluarga yang dibangun di atas ketaatan akan jauh lebih diberkahi dan dirahmati oleh Allah Ta‘ālā.Semoga Allah Ta‘ālā senantiasa memberikan kepada kita hidayah untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, kekuatan untuk menjauhi segala hal yang melalaikan dari mengingat-Nya, serta keteguhan dalam menjaga keluarga kita di atas jalan yang lurus. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan dzikir, tilawah, dan amal shalih, bukan dengan suara-suara yang menjauhkan hati dari Allah.Baca Juga:Alat Musik dalam Pandangan Ulama Syafi’iHukum Jual Beli Alat Musik_______ Kamis, 20 Rabiul Awal 1447 H, 11 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsalat musik hukum musik musik musik haram

Semakin Banyak Membaca Al-Qur’an Semakin Lancar Urusan Kita – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Salah seorang murid Imaduddin Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi berkata: “Guruku berwasiat kepadaku ketika aku hendak bersafar, ia berkata: ‘Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, janganlah sekali-kali engkau meninggalkannya, karena segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.’ Aku pun menyaksikan kebenarannya dan telah mencobanya berkali-kali. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, aku dimudahkan untuk mendengar dan menulis banyak riwayat hadis. Namun ketika aku tidak membaca Al-Qur’an, semua itu terasa sulit bagiku.” Al-Qur’an Al-Karim adalah kitab yang penuh berkah, penuh berkah dalam setiap aspek. Cukuplah Al-Qur’an sebagai firman Tuhan kita yang dijadikan mukjizat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penuh berkah ketika dibaca, penuh berkah ketika dihafal. Penuh berkah ketika diamalkan, penuh berkah ketika dijadikan pedoman hukum. Penuh berkah ketika dijadikan obat. Penuh berkah dalam segala hal. Seseorang akan merasakan pengaruh keberkahannya dalam waktu, kehidupan, pekerjaan, dan segala urusannya. Karena itu, di sini Imaduddin Ibrahim Al-Maqdisi berwasiat kepada salah seorang muridnya dengan wasiat agung ini: agar ia memperbanyak membaca Al-Qur’an. Beliau berkata, “Segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.” Yakni pekerjaan lain akan dimudahkan bagimu jika engkau memperbanyak membaca Al-Qur’an Al-Karim. Lalu muridnya yang menjalankan wasiat ini mengatakan: “Aku telah mencobanya berkali-kali, dan benar-benar melihat hasilnya. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, pekerjaanku menjadi mudah, begitu pula segala yang aku harapkan dan inginkan. Namun, jika aku tidak membacanya, semua itu terasa sulit bagiku.” Inilah salah satu pengaruh dari keberkahan Al-Qur’an. Hal ini dapat dirasakan oleh orang yang banyak membaca Al-Qur’an. Mereka mendapati bahwa bacaan Al-Qur’an memberi pengaruh nyata pada diri mereka. Pengaruh pada jiwa mereka. Pengaruh pada keberkahan waktu mereka. Pengaruh pada produktivitas mereka. Serta pengaruh dan keberkahan pada seluruh kehidupan mereka. Al-Qur’an ini punya keberkahan yang besar dan beraneka ragam. Ia merupakan Kitab Tuhan kita ‘Azza wa Jalla. “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29). ===== قَالَ أَحَدُ تَلاَمِيْذِ عِمَادِ الدِّينِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَقْدِسِيِّ أَوْصَانِي يَعْنِي شَيْخِي وَقْتَ سَفَرِيْ فَقَالَ أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَلَا تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ قَالَ فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيرًا فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيرِ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ كِتَابٌ مُبَارَكٌ مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَكْفِي أَنَّهُ كَلَامُ رَبِّنَا جَعَلَهُ آيَةَ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُبَارَكٌ فِي تِلَاوَتِهِ مُبَارَكٌ فِي حِفْظِهِ مُبَارَكٌ فِي الْعَمَلِ بِهِ مُبَارَكٌ فِي التَّحَاكُمِ إِلَيْهِ مُبَارَكٌ فِي الِاسْتِشْفَاءِ بِه مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَجِدُ الْإِنْسَانُ أَثَرَ بَرَكَتِهِ عَلَيْهِ فِي وَقْتِهِ وَفِي حَيَاتِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ وَفِي كُلِّ شَيْءٍ وَلِذَلِكَ هُنَا عِمَادُ الدِّينِ إِبْرَاهِيمُ الْمَقْدِسِيُّ أَوْصَى أَحَدَ تَلَامِذَتِهِ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ الْعَظِيمَةِ بِأَنْ يُكْثِرَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَيَقُولُ إِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ يَعْنِي تَتَيَسَّرُ لَكَ أَعْمَالُكَ الْأُخْرَى إِذَا أَكْثَرْتَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ يَقُولُ هَذَا الَّذِي قَدْ عَمِلَ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ جَرَّبْتُ هَذَا كَثِيرًا فَرَأَيْتُ ذَلِكَ فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَتْ الْأَعْمَالُ لِي وَتَيَسَّرَ مَا أَطْلُبُهُ وَمَا أُرِيدُهُ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي وَهَذَا مِنْ آثَارِ بَرَكَةِ الْقُرْآنِ وَهَذَا أَمْرٌ يَجِدُهُ الْمُكْثِرُونَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ يَجِدُوْنَ أَنَّ لِهَذِهِ التِّلَاوَةِ أَثَرًا عَلَيْهِمْ أَثَرًا عَلَى نَفْسِيَاتِهِمْ أَثَرًا عَلَى بَرَكَةِ الْوَقْتِ أَثَرًا عَلَى الْإِنْجَازِ أَثَرًا وَبَرَكَةً عَلَى حَيَاتِهِمْ كُلِّهَا فَهَذَا الْقُرْآنُ بَرَكَاتُهُ عَظِيمَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ فَهُوَ كِتَابُ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Semakin Banyak Membaca Al-Qur’an Semakin Lancar Urusan Kita – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Salah seorang murid Imaduddin Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi berkata: “Guruku berwasiat kepadaku ketika aku hendak bersafar, ia berkata: ‘Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, janganlah sekali-kali engkau meninggalkannya, karena segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.’ Aku pun menyaksikan kebenarannya dan telah mencobanya berkali-kali. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, aku dimudahkan untuk mendengar dan menulis banyak riwayat hadis. Namun ketika aku tidak membaca Al-Qur’an, semua itu terasa sulit bagiku.” Al-Qur’an Al-Karim adalah kitab yang penuh berkah, penuh berkah dalam setiap aspek. Cukuplah Al-Qur’an sebagai firman Tuhan kita yang dijadikan mukjizat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penuh berkah ketika dibaca, penuh berkah ketika dihafal. Penuh berkah ketika diamalkan, penuh berkah ketika dijadikan pedoman hukum. Penuh berkah ketika dijadikan obat. Penuh berkah dalam segala hal. Seseorang akan merasakan pengaruh keberkahannya dalam waktu, kehidupan, pekerjaan, dan segala urusannya. Karena itu, di sini Imaduddin Ibrahim Al-Maqdisi berwasiat kepada salah seorang muridnya dengan wasiat agung ini: agar ia memperbanyak membaca Al-Qur’an. Beliau berkata, “Segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.” Yakni pekerjaan lain akan dimudahkan bagimu jika engkau memperbanyak membaca Al-Qur’an Al-Karim. Lalu muridnya yang menjalankan wasiat ini mengatakan: “Aku telah mencobanya berkali-kali, dan benar-benar melihat hasilnya. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, pekerjaanku menjadi mudah, begitu pula segala yang aku harapkan dan inginkan. Namun, jika aku tidak membacanya, semua itu terasa sulit bagiku.” Inilah salah satu pengaruh dari keberkahan Al-Qur’an. Hal ini dapat dirasakan oleh orang yang banyak membaca Al-Qur’an. Mereka mendapati bahwa bacaan Al-Qur’an memberi pengaruh nyata pada diri mereka. Pengaruh pada jiwa mereka. Pengaruh pada keberkahan waktu mereka. Pengaruh pada produktivitas mereka. Serta pengaruh dan keberkahan pada seluruh kehidupan mereka. Al-Qur’an ini punya keberkahan yang besar dan beraneka ragam. Ia merupakan Kitab Tuhan kita ‘Azza wa Jalla. “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29). ===== قَالَ أَحَدُ تَلاَمِيْذِ عِمَادِ الدِّينِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَقْدِسِيِّ أَوْصَانِي يَعْنِي شَيْخِي وَقْتَ سَفَرِيْ فَقَالَ أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَلَا تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ قَالَ فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيرًا فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيرِ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ كِتَابٌ مُبَارَكٌ مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَكْفِي أَنَّهُ كَلَامُ رَبِّنَا جَعَلَهُ آيَةَ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُبَارَكٌ فِي تِلَاوَتِهِ مُبَارَكٌ فِي حِفْظِهِ مُبَارَكٌ فِي الْعَمَلِ بِهِ مُبَارَكٌ فِي التَّحَاكُمِ إِلَيْهِ مُبَارَكٌ فِي الِاسْتِشْفَاءِ بِه مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَجِدُ الْإِنْسَانُ أَثَرَ بَرَكَتِهِ عَلَيْهِ فِي وَقْتِهِ وَفِي حَيَاتِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ وَفِي كُلِّ شَيْءٍ وَلِذَلِكَ هُنَا عِمَادُ الدِّينِ إِبْرَاهِيمُ الْمَقْدِسِيُّ أَوْصَى أَحَدَ تَلَامِذَتِهِ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ الْعَظِيمَةِ بِأَنْ يُكْثِرَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَيَقُولُ إِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ يَعْنِي تَتَيَسَّرُ لَكَ أَعْمَالُكَ الْأُخْرَى إِذَا أَكْثَرْتَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ يَقُولُ هَذَا الَّذِي قَدْ عَمِلَ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ جَرَّبْتُ هَذَا كَثِيرًا فَرَأَيْتُ ذَلِكَ فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَتْ الْأَعْمَالُ لِي وَتَيَسَّرَ مَا أَطْلُبُهُ وَمَا أُرِيدُهُ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي وَهَذَا مِنْ آثَارِ بَرَكَةِ الْقُرْآنِ وَهَذَا أَمْرٌ يَجِدُهُ الْمُكْثِرُونَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ يَجِدُوْنَ أَنَّ لِهَذِهِ التِّلَاوَةِ أَثَرًا عَلَيْهِمْ أَثَرًا عَلَى نَفْسِيَاتِهِمْ أَثَرًا عَلَى بَرَكَةِ الْوَقْتِ أَثَرًا عَلَى الْإِنْجَازِ أَثَرًا وَبَرَكَةً عَلَى حَيَاتِهِمْ كُلِّهَا فَهَذَا الْقُرْآنُ بَرَكَاتُهُ عَظِيمَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ فَهُوَ كِتَابُ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Salah seorang murid Imaduddin Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi berkata: “Guruku berwasiat kepadaku ketika aku hendak bersafar, ia berkata: ‘Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, janganlah sekali-kali engkau meninggalkannya, karena segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.’ Aku pun menyaksikan kebenarannya dan telah mencobanya berkali-kali. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, aku dimudahkan untuk mendengar dan menulis banyak riwayat hadis. Namun ketika aku tidak membaca Al-Qur’an, semua itu terasa sulit bagiku.” Al-Qur’an Al-Karim adalah kitab yang penuh berkah, penuh berkah dalam setiap aspek. Cukuplah Al-Qur’an sebagai firman Tuhan kita yang dijadikan mukjizat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penuh berkah ketika dibaca, penuh berkah ketika dihafal. Penuh berkah ketika diamalkan, penuh berkah ketika dijadikan pedoman hukum. Penuh berkah ketika dijadikan obat. Penuh berkah dalam segala hal. Seseorang akan merasakan pengaruh keberkahannya dalam waktu, kehidupan, pekerjaan, dan segala urusannya. Karena itu, di sini Imaduddin Ibrahim Al-Maqdisi berwasiat kepada salah seorang muridnya dengan wasiat agung ini: agar ia memperbanyak membaca Al-Qur’an. Beliau berkata, “Segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.” Yakni pekerjaan lain akan dimudahkan bagimu jika engkau memperbanyak membaca Al-Qur’an Al-Karim. Lalu muridnya yang menjalankan wasiat ini mengatakan: “Aku telah mencobanya berkali-kali, dan benar-benar melihat hasilnya. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, pekerjaanku menjadi mudah, begitu pula segala yang aku harapkan dan inginkan. Namun, jika aku tidak membacanya, semua itu terasa sulit bagiku.” Inilah salah satu pengaruh dari keberkahan Al-Qur’an. Hal ini dapat dirasakan oleh orang yang banyak membaca Al-Qur’an. Mereka mendapati bahwa bacaan Al-Qur’an memberi pengaruh nyata pada diri mereka. Pengaruh pada jiwa mereka. Pengaruh pada keberkahan waktu mereka. Pengaruh pada produktivitas mereka. Serta pengaruh dan keberkahan pada seluruh kehidupan mereka. Al-Qur’an ini punya keberkahan yang besar dan beraneka ragam. Ia merupakan Kitab Tuhan kita ‘Azza wa Jalla. “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29). ===== قَالَ أَحَدُ تَلاَمِيْذِ عِمَادِ الدِّينِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَقْدِسِيِّ أَوْصَانِي يَعْنِي شَيْخِي وَقْتَ سَفَرِيْ فَقَالَ أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَلَا تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ قَالَ فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيرًا فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيرِ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ كِتَابٌ مُبَارَكٌ مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَكْفِي أَنَّهُ كَلَامُ رَبِّنَا جَعَلَهُ آيَةَ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُبَارَكٌ فِي تِلَاوَتِهِ مُبَارَكٌ فِي حِفْظِهِ مُبَارَكٌ فِي الْعَمَلِ بِهِ مُبَارَكٌ فِي التَّحَاكُمِ إِلَيْهِ مُبَارَكٌ فِي الِاسْتِشْفَاءِ بِه مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَجِدُ الْإِنْسَانُ أَثَرَ بَرَكَتِهِ عَلَيْهِ فِي وَقْتِهِ وَفِي حَيَاتِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ وَفِي كُلِّ شَيْءٍ وَلِذَلِكَ هُنَا عِمَادُ الدِّينِ إِبْرَاهِيمُ الْمَقْدِسِيُّ أَوْصَى أَحَدَ تَلَامِذَتِهِ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ الْعَظِيمَةِ بِأَنْ يُكْثِرَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَيَقُولُ إِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ يَعْنِي تَتَيَسَّرُ لَكَ أَعْمَالُكَ الْأُخْرَى إِذَا أَكْثَرْتَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ يَقُولُ هَذَا الَّذِي قَدْ عَمِلَ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ جَرَّبْتُ هَذَا كَثِيرًا فَرَأَيْتُ ذَلِكَ فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَتْ الْأَعْمَالُ لِي وَتَيَسَّرَ مَا أَطْلُبُهُ وَمَا أُرِيدُهُ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي وَهَذَا مِنْ آثَارِ بَرَكَةِ الْقُرْآنِ وَهَذَا أَمْرٌ يَجِدُهُ الْمُكْثِرُونَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ يَجِدُوْنَ أَنَّ لِهَذِهِ التِّلَاوَةِ أَثَرًا عَلَيْهِمْ أَثَرًا عَلَى نَفْسِيَاتِهِمْ أَثَرًا عَلَى بَرَكَةِ الْوَقْتِ أَثَرًا عَلَى الْإِنْجَازِ أَثَرًا وَبَرَكَةً عَلَى حَيَاتِهِمْ كُلِّهَا فَهَذَا الْقُرْآنُ بَرَكَاتُهُ عَظِيمَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ فَهُوَ كِتَابُ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ


Salah seorang murid Imaduddin Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi berkata: “Guruku berwasiat kepadaku ketika aku hendak bersafar, ia berkata: ‘Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, janganlah sekali-kali engkau meninggalkannya, karena segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.’ Aku pun menyaksikan kebenarannya dan telah mencobanya berkali-kali. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, aku dimudahkan untuk mendengar dan menulis banyak riwayat hadis. Namun ketika aku tidak membaca Al-Qur’an, semua itu terasa sulit bagiku.” Al-Qur’an Al-Karim adalah kitab yang penuh berkah, penuh berkah dalam setiap aspek. Cukuplah Al-Qur’an sebagai firman Tuhan kita yang dijadikan mukjizat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penuh berkah ketika dibaca, penuh berkah ketika dihafal. Penuh berkah ketika diamalkan, penuh berkah ketika dijadikan pedoman hukum. Penuh berkah ketika dijadikan obat. Penuh berkah dalam segala hal. Seseorang akan merasakan pengaruh keberkahannya dalam waktu, kehidupan, pekerjaan, dan segala urusannya. Karena itu, di sini Imaduddin Ibrahim Al-Maqdisi berwasiat kepada salah seorang muridnya dengan wasiat agung ini: agar ia memperbanyak membaca Al-Qur’an. Beliau berkata, “Segala yang engkau harapkan akan dimudahkan sesuai kadar bacaan Al-Qur’anmu.” Yakni pekerjaan lain akan dimudahkan bagimu jika engkau memperbanyak membaca Al-Qur’an Al-Karim. Lalu muridnya yang menjalankan wasiat ini mengatakan: “Aku telah mencobanya berkali-kali, dan benar-benar melihat hasilnya. Setiap kali aku banyak membaca Al-Qur’an, pekerjaanku menjadi mudah, begitu pula segala yang aku harapkan dan inginkan. Namun, jika aku tidak membacanya, semua itu terasa sulit bagiku.” Inilah salah satu pengaruh dari keberkahan Al-Qur’an. Hal ini dapat dirasakan oleh orang yang banyak membaca Al-Qur’an. Mereka mendapati bahwa bacaan Al-Qur’an memberi pengaruh nyata pada diri mereka. Pengaruh pada jiwa mereka. Pengaruh pada keberkahan waktu mereka. Pengaruh pada produktivitas mereka. Serta pengaruh dan keberkahan pada seluruh kehidupan mereka. Al-Qur’an ini punya keberkahan yang besar dan beraneka ragam. Ia merupakan Kitab Tuhan kita ‘Azza wa Jalla. “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29). ===== قَالَ أَحَدُ تَلاَمِيْذِ عِمَادِ الدِّينِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَقْدِسِيِّ أَوْصَانِي يَعْنِي شَيْخِي وَقْتَ سَفَرِيْ فَقَالَ أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَلَا تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ قَالَ فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيرًا فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيرِ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ كِتَابٌ مُبَارَكٌ مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَكْفِي أَنَّهُ كَلَامُ رَبِّنَا جَعَلَهُ آيَةَ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُبَارَكٌ فِي تِلَاوَتِهِ مُبَارَكٌ فِي حِفْظِهِ مُبَارَكٌ فِي الْعَمَلِ بِهِ مُبَارَكٌ فِي التَّحَاكُمِ إِلَيْهِ مُبَارَكٌ فِي الِاسْتِشْفَاءِ بِه مُبَارَكٌ فِي كُلِّ شَيْءٍ يَجِدُ الْإِنْسَانُ أَثَرَ بَرَكَتِهِ عَلَيْهِ فِي وَقْتِهِ وَفِي حَيَاتِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ وَفِي كُلِّ شَيْءٍ وَلِذَلِكَ هُنَا عِمَادُ الدِّينِ إِبْرَاهِيمُ الْمَقْدِسِيُّ أَوْصَى أَحَدَ تَلَامِذَتِهِ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ الْعَظِيمَةِ بِأَنْ يُكْثِرَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَيَقُولُ إِنَّهُ يَتَيَسَّرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ يَعْنِي تَتَيَسَّرُ لَكَ أَعْمَالُكَ الْأُخْرَى إِذَا أَكْثَرْتَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ يَقُولُ هَذَا الَّذِي قَدْ عَمِلَ بِهَذِهِ الْوَصِيَّةِ جَرَّبْتُ هَذَا كَثِيرًا فَرَأَيْتُ ذَلِكَ فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيرًا تَيَسَّرَتْ الْأَعْمَالُ لِي وَتَيَسَّرَ مَا أَطْلُبُهُ وَمَا أُرِيدُهُ وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لِي وَهَذَا مِنْ آثَارِ بَرَكَةِ الْقُرْآنِ وَهَذَا أَمْرٌ يَجِدُهُ الْمُكْثِرُونَ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ يَجِدُوْنَ أَنَّ لِهَذِهِ التِّلَاوَةِ أَثَرًا عَلَيْهِمْ أَثَرًا عَلَى نَفْسِيَاتِهِمْ أَثَرًا عَلَى بَرَكَةِ الْوَقْتِ أَثَرًا عَلَى الْإِنْجَازِ أَثَرًا وَبَرَكَةً عَلَى حَيَاتِهِمْ كُلِّهَا فَهَذَا الْقُرْآنُ بَرَكَاتُهُ عَظِيمَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ فَهُوَ كِتَابُ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Bagaimana agar Allah Rida kepada Kita?

Daftar Isi ToggleTaubat NasuhaMenjaga hablun minallahMenjauhi syirik dan dosa besarMeneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatSalah satu nikmat terbesar Allah Ta’ala yang diberikan kepada hamba-Nya adalah kesempatan untuk bertobat dan meraih ampunan-Nya. Allah menjanjikan bahwa jika seorang hamba meninggalkan keburukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya, Dia akan mengubah dosa-dosanya menjadi kebaikan pada hari kiamat. Ini adalah bukti kasih sayang Allah yang tak terbatas.Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya setelah lama terjerumus dalam dosa.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747 dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari)Kita sebagai manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Namun, perbedaan antara kesalahan (khatha’) dan dosa (itsm) adalah niat dan kesengajaan. Kesalahan bisa terjadi tanpa direncanakan, sedangkan dosa dilakukan dengan sengaja. Namun, pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah.Taubat NasuhaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Taubat nasuha adalah tobat yang memenuhi tiga syarat: (1) meninggalkan dosa, (2) menyesali perbuatan dosa, dan (3) bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa terkait hak manusia, maka harus disertai dengan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250)Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat. Bahkan, Dia mengganti keburukan mereka dengan kebaikan jika tobat mereka ikhlas. Ini adalah keutamaan yang luar biasa, karena manusia tidak mungkin hidup tanpa salah dan dosa.Menjaga hablun minallahAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)Hubungan personal dengan Allah –hablun minallah-  adalah rahasia antara seorang hamba dan Rabb-nya. Tidak ada yang lebih mengetahui isi hati kita kecuali Allah. Oleh karena itu, jadikanlah doa dan munajat sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan lebih dari kita dalam mengenal diri kita sendiri. Maka, mintalah petunjuk dan kebaikan hanya kepada-Nya.Menjauhi syirik dan dosa besarSyirik adalah dosa terbesar yang tidak diampuni kecuali dengan tobat sebelum ajal menjemput. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar waspada dari segala bentuk kesyirikan, baik yang jelas maupun tersembunyi.Allah berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلا أُنَبِّئُكُمْ بأَكْبَرِ الكَبائِرِ قُلْنا: بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: الإشْراكُ باللَّهِ، وعُقُوقُ الوالِدَيْنِ، وكانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فقالَ: ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ، ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ فَما زالَ يقولُها، حتَّى قُلتُ: لا يَسْكُتُ“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar?” Kami (para sahabat) berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua,” —saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda— “Dan ingatlah, (dosa besar lainnya adalah) ucapan dusta dan kesaksian palsu. Ingatlah, ucapan dusta dan kesaksian palsu!” Beliau terus mengulanginya hingga aku (Abu Bakrah) berkata dalam hati, “Semoga beliau berhenti (karena khawatir dosa itu terlalu besar).” (HR. Bukhari no. 5976 dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits)Selain syirik, dosa-dosa besar seperti zina, riba, durhaka kepada orang tua, dan membunuh tanpa hak (tanpa alasan yang bisa dibenarkan secara syariat) juga harus dijauhi. Namun, selama seseorang masih hidup, pintu tobat tetap terbuka lebar.Meneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik yang patut diteladani dalam segala aspek kehidupan. Begitu pula para sahabatnya, mereka adalah generasi terbaik yang telah dijamin keridaan Allah.Allah Ta’ala berfirman tentang para sahabat,وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)Mencela sahabat Nabi adalah perbuatan yang sangat berbahaya, karena mereka adalah generasi yang dipilih Allah untuk menyampaikan agama-Nya.Allah Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat dan berusaha mendekat kepada-Nya. Mudah-mudahan dengan menjaga hubungan personal dengan Allah, menjauhi syirik dan dosa besar, serta meneladani Rasulullah dan para sahabat, kita dapat meraih rida-Nya. Insyaa Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus dan menerima segala amal kebajikan kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Zikir Menggapai Ketenangan dengan Keridaan***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Bagaimana agar Allah Rida kepada Kita?

Daftar Isi ToggleTaubat NasuhaMenjaga hablun minallahMenjauhi syirik dan dosa besarMeneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatSalah satu nikmat terbesar Allah Ta’ala yang diberikan kepada hamba-Nya adalah kesempatan untuk bertobat dan meraih ampunan-Nya. Allah menjanjikan bahwa jika seorang hamba meninggalkan keburukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya, Dia akan mengubah dosa-dosanya menjadi kebaikan pada hari kiamat. Ini adalah bukti kasih sayang Allah yang tak terbatas.Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya setelah lama terjerumus dalam dosa.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747 dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari)Kita sebagai manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Namun, perbedaan antara kesalahan (khatha’) dan dosa (itsm) adalah niat dan kesengajaan. Kesalahan bisa terjadi tanpa direncanakan, sedangkan dosa dilakukan dengan sengaja. Namun, pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah.Taubat NasuhaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Taubat nasuha adalah tobat yang memenuhi tiga syarat: (1) meninggalkan dosa, (2) menyesali perbuatan dosa, dan (3) bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa terkait hak manusia, maka harus disertai dengan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250)Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat. Bahkan, Dia mengganti keburukan mereka dengan kebaikan jika tobat mereka ikhlas. Ini adalah keutamaan yang luar biasa, karena manusia tidak mungkin hidup tanpa salah dan dosa.Menjaga hablun minallahAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)Hubungan personal dengan Allah –hablun minallah-  adalah rahasia antara seorang hamba dan Rabb-nya. Tidak ada yang lebih mengetahui isi hati kita kecuali Allah. Oleh karena itu, jadikanlah doa dan munajat sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan lebih dari kita dalam mengenal diri kita sendiri. Maka, mintalah petunjuk dan kebaikan hanya kepada-Nya.Menjauhi syirik dan dosa besarSyirik adalah dosa terbesar yang tidak diampuni kecuali dengan tobat sebelum ajal menjemput. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar waspada dari segala bentuk kesyirikan, baik yang jelas maupun tersembunyi.Allah berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلا أُنَبِّئُكُمْ بأَكْبَرِ الكَبائِرِ قُلْنا: بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: الإشْراكُ باللَّهِ، وعُقُوقُ الوالِدَيْنِ، وكانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فقالَ: ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ، ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ فَما زالَ يقولُها، حتَّى قُلتُ: لا يَسْكُتُ“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar?” Kami (para sahabat) berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua,” —saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda— “Dan ingatlah, (dosa besar lainnya adalah) ucapan dusta dan kesaksian palsu. Ingatlah, ucapan dusta dan kesaksian palsu!” Beliau terus mengulanginya hingga aku (Abu Bakrah) berkata dalam hati, “Semoga beliau berhenti (karena khawatir dosa itu terlalu besar).” (HR. Bukhari no. 5976 dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits)Selain syirik, dosa-dosa besar seperti zina, riba, durhaka kepada orang tua, dan membunuh tanpa hak (tanpa alasan yang bisa dibenarkan secara syariat) juga harus dijauhi. Namun, selama seseorang masih hidup, pintu tobat tetap terbuka lebar.Meneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik yang patut diteladani dalam segala aspek kehidupan. Begitu pula para sahabatnya, mereka adalah generasi terbaik yang telah dijamin keridaan Allah.Allah Ta’ala berfirman tentang para sahabat,وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)Mencela sahabat Nabi adalah perbuatan yang sangat berbahaya, karena mereka adalah generasi yang dipilih Allah untuk menyampaikan agama-Nya.Allah Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat dan berusaha mendekat kepada-Nya. Mudah-mudahan dengan menjaga hubungan personal dengan Allah, menjauhi syirik dan dosa besar, serta meneladani Rasulullah dan para sahabat, kita dapat meraih rida-Nya. Insyaa Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus dan menerima segala amal kebajikan kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Zikir Menggapai Ketenangan dengan Keridaan***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleTaubat NasuhaMenjaga hablun minallahMenjauhi syirik dan dosa besarMeneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatSalah satu nikmat terbesar Allah Ta’ala yang diberikan kepada hamba-Nya adalah kesempatan untuk bertobat dan meraih ampunan-Nya. Allah menjanjikan bahwa jika seorang hamba meninggalkan keburukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya, Dia akan mengubah dosa-dosanya menjadi kebaikan pada hari kiamat. Ini adalah bukti kasih sayang Allah yang tak terbatas.Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya setelah lama terjerumus dalam dosa.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747 dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari)Kita sebagai manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Namun, perbedaan antara kesalahan (khatha’) dan dosa (itsm) adalah niat dan kesengajaan. Kesalahan bisa terjadi tanpa direncanakan, sedangkan dosa dilakukan dengan sengaja. Namun, pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah.Taubat NasuhaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Taubat nasuha adalah tobat yang memenuhi tiga syarat: (1) meninggalkan dosa, (2) menyesali perbuatan dosa, dan (3) bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa terkait hak manusia, maka harus disertai dengan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250)Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat. Bahkan, Dia mengganti keburukan mereka dengan kebaikan jika tobat mereka ikhlas. Ini adalah keutamaan yang luar biasa, karena manusia tidak mungkin hidup tanpa salah dan dosa.Menjaga hablun minallahAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)Hubungan personal dengan Allah –hablun minallah-  adalah rahasia antara seorang hamba dan Rabb-nya. Tidak ada yang lebih mengetahui isi hati kita kecuali Allah. Oleh karena itu, jadikanlah doa dan munajat sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan lebih dari kita dalam mengenal diri kita sendiri. Maka, mintalah petunjuk dan kebaikan hanya kepada-Nya.Menjauhi syirik dan dosa besarSyirik adalah dosa terbesar yang tidak diampuni kecuali dengan tobat sebelum ajal menjemput. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar waspada dari segala bentuk kesyirikan, baik yang jelas maupun tersembunyi.Allah berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلا أُنَبِّئُكُمْ بأَكْبَرِ الكَبائِرِ قُلْنا: بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: الإشْراكُ باللَّهِ، وعُقُوقُ الوالِدَيْنِ، وكانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فقالَ: ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ، ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ فَما زالَ يقولُها، حتَّى قُلتُ: لا يَسْكُتُ“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar?” Kami (para sahabat) berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua,” —saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda— “Dan ingatlah, (dosa besar lainnya adalah) ucapan dusta dan kesaksian palsu. Ingatlah, ucapan dusta dan kesaksian palsu!” Beliau terus mengulanginya hingga aku (Abu Bakrah) berkata dalam hati, “Semoga beliau berhenti (karena khawatir dosa itu terlalu besar).” (HR. Bukhari no. 5976 dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits)Selain syirik, dosa-dosa besar seperti zina, riba, durhaka kepada orang tua, dan membunuh tanpa hak (tanpa alasan yang bisa dibenarkan secara syariat) juga harus dijauhi. Namun, selama seseorang masih hidup, pintu tobat tetap terbuka lebar.Meneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik yang patut diteladani dalam segala aspek kehidupan. Begitu pula para sahabatnya, mereka adalah generasi terbaik yang telah dijamin keridaan Allah.Allah Ta’ala berfirman tentang para sahabat,وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)Mencela sahabat Nabi adalah perbuatan yang sangat berbahaya, karena mereka adalah generasi yang dipilih Allah untuk menyampaikan agama-Nya.Allah Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat dan berusaha mendekat kepada-Nya. Mudah-mudahan dengan menjaga hubungan personal dengan Allah, menjauhi syirik dan dosa besar, serta meneladani Rasulullah dan para sahabat, kita dapat meraih rida-Nya. Insyaa Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus dan menerima segala amal kebajikan kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Zikir Menggapai Ketenangan dengan Keridaan***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleTaubat NasuhaMenjaga hablun minallahMenjauhi syirik dan dosa besarMeneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatSalah satu nikmat terbesar Allah Ta’ala yang diberikan kepada hamba-Nya adalah kesempatan untuk bertobat dan meraih ampunan-Nya. Allah menjanjikan bahwa jika seorang hamba meninggalkan keburukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya, Dia akan mengubah dosa-dosanya menjadi kebaikan pada hari kiamat. Ini adalah bukti kasih sayang Allah yang tak terbatas.Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya setelah lama terjerumus dalam dosa.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747 dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari)Kita sebagai manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Namun, perbedaan antara kesalahan (khatha’) dan dosa (itsm) adalah niat dan kesengajaan. Kesalahan bisa terjadi tanpa direncanakan, sedangkan dosa dilakukan dengan sengaja. Namun, pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah.Taubat NasuhaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Taubat nasuha adalah tobat yang memenuhi tiga syarat: (1) meninggalkan dosa, (2) menyesali perbuatan dosa, dan (3) bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa terkait hak manusia, maka harus disertai dengan mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250)Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat. Bahkan, Dia mengganti keburukan mereka dengan kebaikan jika tobat mereka ikhlas. Ini adalah keutamaan yang luar biasa, karena manusia tidak mungkin hidup tanpa salah dan dosa.Menjaga hablun minallahAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)Hubungan personal dengan Allah –hablun minallah-  adalah rahasia antara seorang hamba dan Rabb-nya. Tidak ada yang lebih mengetahui isi hati kita kecuali Allah. Oleh karena itu, jadikanlah doa dan munajat sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan lebih dari kita dalam mengenal diri kita sendiri. Maka, mintalah petunjuk dan kebaikan hanya kepada-Nya.Menjauhi syirik dan dosa besarSyirik adalah dosa terbesar yang tidak diampuni kecuali dengan tobat sebelum ajal menjemput. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar waspada dari segala bentuk kesyirikan, baik yang jelas maupun tersembunyi.Allah berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلا أُنَبِّئُكُمْ بأَكْبَرِ الكَبائِرِ قُلْنا: بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: الإشْراكُ باللَّهِ، وعُقُوقُ الوالِدَيْنِ، وكانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فقالَ: ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ، ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ فَما زالَ يقولُها، حتَّى قُلتُ: لا يَسْكُتُ“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar?” Kami (para sahabat) berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua,” —saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda— “Dan ingatlah, (dosa besar lainnya adalah) ucapan dusta dan kesaksian palsu. Ingatlah, ucapan dusta dan kesaksian palsu!” Beliau terus mengulanginya hingga aku (Abu Bakrah) berkata dalam hati, “Semoga beliau berhenti (karena khawatir dosa itu terlalu besar).” (HR. Bukhari no. 5976 dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits)Selain syirik, dosa-dosa besar seperti zina, riba, durhaka kepada orang tua, dan membunuh tanpa hak (tanpa alasan yang bisa dibenarkan secara syariat) juga harus dijauhi. Namun, selama seseorang masih hidup, pintu tobat tetap terbuka lebar.Meneladani akhlak Rasulullah dan para sahabatAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik yang patut diteladani dalam segala aspek kehidupan. Begitu pula para sahabatnya, mereka adalah generasi terbaik yang telah dijamin keridaan Allah.Allah Ta’ala berfirman tentang para sahabat,وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)Mencela sahabat Nabi adalah perbuatan yang sangat berbahaya, karena mereka adalah generasi yang dipilih Allah untuk menyampaikan agama-Nya.Allah Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat dan berusaha mendekat kepada-Nya. Mudah-mudahan dengan menjaga hubungan personal dengan Allah, menjauhi syirik dan dosa besar, serta meneladani Rasulullah dan para sahabat, kita dapat meraih rida-Nya. Insyaa Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus dan menerima segala amal kebajikan kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Zikir Menggapai Ketenangan dengan Keridaan***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Bagaimana Cara Kita Menyambut Ramadhan?

كيف نستقبل رمضان Oleh: Affan bin asy-Syaikh Shiddiq as-Surkati عفان بن الشيخ صديق السرگتي الطريقة الأولى:  الدعاء بأن يُبلغك الله شهر رمضان وأنت في صحة وعافية، حتى تنشَط في عبادة الله تعالى من صيام وقيام وذكرٍ. Cara Pertama: Berdoa agar menyampaikan umur kita hingga Bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar kamu dapat semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa puasa, salat malam, atau zikir. الطريقة الثانية:  الحمد والشكر على بلوغه؛ قال النووي في (الأذكار): (اعلَم أنه يُستحب لمن تجدَّدت له نعمة ظاهرة، أو اندفعت عنه نقمة ظاهرة أن يسجُد شكرًا لله تعالى، أو يُثني بما هو أهله)، وإنَّ من أكبر نِعم الله على العبد توفيقَه للطاعة والعبادة، فمجرَّد دخول شهر رمضان على المسلم – وهو في صحة جيدة – نعمة عظيمة تستحق الشكر والثناء على الله المنعم المتفضل بها، فالحمد لله حمدًا كثيرًا كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه. Cara Kedua: Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umur panjangmu hingga dapat bertemu Bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi orang yang senantiasa mendapatkan nikmat yang tampak atau terhindar darinya musibah yang tampak, untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memuji Dzat Yang Berhak dipuji.” Salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar yang dikaruniakan kepada hamba adalah berupa taufik untuk melakukan ketaatan dan ibadah, karena hanya dengan datangnya Bulan Ramadhan kepada seorang Muslim dalam keadaan sehat merupakan kenikmatan agung yang wajib disyukuri dan dilimpahkan puja dan puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengaruniakan hal itu.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian yang melimpah yang selayaknya bagi kemuliaan Dzat-Nya dan keagungan kuasa-Nya. الطريقة الثالثة:  الفرح والابتهاج، وقد كان سلفنا الصالح من صحابة رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والتابعين لهم بإحسان يَهتمون بشهر رمضان، ويفرَحون بقدومه، وأي فرحٍ أعظم من الإخبار بقُرب رمضان موسم الخيرات، وتنزَّل الرحمات. Cara Ketiga: Merasa bahagia dan sukacita. Dulu para Salafus Shalih dari generasi sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Tabi’in benar-benar memberi perhatian besar kepada Bulan Ramadhan dan bersuka cita atas kedatangannya.  Adakah kebahagiaan lain yang lebih besar daripada kabar tentang Ramadhan yang sebentar lagi datang, sebagai musim kebaikan dan turunnya rahmat. الطريقة الرابعة:  العزم والتخطيط المسبَق للاستفادة من رمضان، الكثيرون من الناس، وللأسف الشديد حتى الملتزمون بهذا الدين يُخططون تخطيطًا دقيقًا لأمور الدنيا، ولكن قليلون هم الذين يخطِّطون لأمور الآخرة، وهذا ناتجٌ عن عدم إدراك مهمة المؤمن في هذه الحياة، ونسيان أو تناسي أن للمسلم فرصًا كثيرة مع الله ومواعيد مهمة لتربية نفسه؛ حتى تثبُت على هذا الأمر، ومن أمثلة هذا التخطيط للآخرة، والتخطيط لاستغلال رمضان في الطاعات والعبادات، فيضع المسلم له برنامجًا عمليًّا لاغتنام أيام وليالي رمضان في طاعة الله تعالى، وهذه الرسالة التي بين يديك تساعدك على اغتنام رمضان في طاعة الله تعالى، إن شاء الله تعالى. Cara Keempat: Mengumpulkan semangat dan membuat perencanaan matang untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak orang —dan sangat disayangkan juga terjadi pada orang-orang yang konsisten menjalankan ajaran agama— yang membuat perencanaan detil dalam urusan-urusan duniawi.  Namun, sedikit sekali dari mereka yang membuat perencanaan dalam urusan-urusan akhirat. Hal ini merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang tugas orang beriman di dunia ini, dan sikap abai atau pura-pura abai bahwa seorang Muslim memiliki banyak kesempatan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waktu-waktu penting untuk mendidik dirinya, agar dapat konsisten di atas agama. Di antara contoh perencanaan untuk akhirat adalah membuat perencanaan memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan dan ibadah. Seorang Muslim hendaknya menyusun program-program amalan untuk memanfaatkan waktu siang dan malam Bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan risalah di hadapanmu ini akan membantumu untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah. الطريقة الخامسة:  عقد العزم الصادق على اغتنامه وعمارة أوقاته بالأعمال الصالحة، فمن صدق الله صدَقه وأعانه على الطاعة، ويسَّر له سُبل الخير؛ قال الله عز وجل: ﴿ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ﴾ [محمد: 21]. Cara Kelima: Membulatkan tekad yang tulus untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal salih. Barang siapa yang berniat tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan niatnya dan memberinya pertolongan untuk menjalankan ketaatan serta memudahkan baginya jalan-jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). الطريقة السادسة:  العلم والفقه بأحكام رمضان، فيجب على المؤمن أن يعبد الله على علمٍ، ولا يُعذَر بجهل الفرائض التي فرضها الله على العباد، ومن ذلك صوم رمضان؛ فينبغي للمسلم أن يتعلم مسائل الصوم وأحكامه قبل مجيئه؛ ليكون صومه صحيحًا مقبولًا عند الله: ﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]. Cara Keenam: Membekali diri dengan ilmu-ilmu tentang hukum yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan. Orang yang beriman wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan landasan ilmu. Ia tidak mendapatkan uzdur atas kebodohannya terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi para hamba-Nya, di antaranya adalah Puasa Ramadhan, sehingga seorang Muslim harus mempelajari perkara-perkara tentang puasa dan hukum-hukumnya sebelum Bulan Ramadhan datang, agar puasanya sah dan diterima oleh Allah TSubhanahu wa Ta’ala: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). الطريقة السابعة:  علينا أن نستقبله بالعزم على ترْك الآثام والسيئات، والتوبة الصادقة من جميع الذنوب، والإقلاع عنها وعدم العودة إليها، فهو شهرُ التوبة، فمن لم يتُب فيه فمتى يتوب؟ قال الله تعالى: ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 31]. Cara Ketujuh: Kita harus menyambut Bulan Ramadhan dengan tekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kesalahan, juga dengan taubat yang sebenar-benarnya dari segala kemaksiatan, berhenti dari melakukannya, dan tidak kembali mengerjakannya. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat, barang siapa yang tidak bertaubat di dalam bulan ini, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). الطريقة الثامنة:  التهيئة النفسية والروحية من خلال القراءة والاطلاع على الكتب والرسائل، وسماع الأشرطة الإسلامية التي تبيِّن فضائل الصوم وأحكامه؛ حتى تتهيَّأ النفس للطاعة فيه. Cara Kedelapan: Menyiapkan mental dan jiwa dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, atau mendengar ceramah-ceramah islami yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa bersiap untuk menjalankan ketaatan pada Bulan Ramadhan. الطريقة التاسعة:  نستقبل رمضان بفتح صفحة بيضاء مشرقة مع: 1) الله سبحانه وتعالى بالتوبة الصادقة. 2) الرسول (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) بطاعته فيما أمَر واجتناب ما نهى عنه وزجَر. 3) مع الوالدين والأقارب، والأرحام والزوجة والأولاد بالبر والصلة. 4) مع المجتمع الذي تعيش فيه حتى تكون عبدًا صالحًا ونافعًا. Cara Kesembilan: Kita menyambut Bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru dengan: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang tulus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaati perintah beliau dan menjauhi larangan beliau. Kedua orang tua, kerabat, keluarga dekat, pasangan, dan anak-anak dengan berbakti dan menjaga silaturahmi. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup kita, agar kita menjadi hamba yang saleh dan bermanfaat. هكذا يستقبل المسلم رمضان استقبالَ الأرض العَطْشى للمطر، واستقبال المريض للطبيب المداوي، واستقبال الحبيب للغائب المنتظر. Demikianlah selayaknya seorang Muslim menyambut Bulan Ramadhan, seperti sambutan tanah tandus yang merindukan hujan, sambutan orang sakit terhadap dokter yang mengobatinya, dan sambutan seseorang terhadap kekasihnya yang telah lama pergi. Sumber: https://www.alukah.net/الدرس الأول: كيف نستقبل رمضان Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 90 times, 1 visit(s) today Post Views: 392 QRIS donasi Yufid

Bagaimana Cara Kita Menyambut Ramadhan?

كيف نستقبل رمضان Oleh: Affan bin asy-Syaikh Shiddiq as-Surkati عفان بن الشيخ صديق السرگتي الطريقة الأولى:  الدعاء بأن يُبلغك الله شهر رمضان وأنت في صحة وعافية، حتى تنشَط في عبادة الله تعالى من صيام وقيام وذكرٍ. Cara Pertama: Berdoa agar menyampaikan umur kita hingga Bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar kamu dapat semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa puasa, salat malam, atau zikir. الطريقة الثانية:  الحمد والشكر على بلوغه؛ قال النووي في (الأذكار): (اعلَم أنه يُستحب لمن تجدَّدت له نعمة ظاهرة، أو اندفعت عنه نقمة ظاهرة أن يسجُد شكرًا لله تعالى، أو يُثني بما هو أهله)، وإنَّ من أكبر نِعم الله على العبد توفيقَه للطاعة والعبادة، فمجرَّد دخول شهر رمضان على المسلم – وهو في صحة جيدة – نعمة عظيمة تستحق الشكر والثناء على الله المنعم المتفضل بها، فالحمد لله حمدًا كثيرًا كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه. Cara Kedua: Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umur panjangmu hingga dapat bertemu Bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi orang yang senantiasa mendapatkan nikmat yang tampak atau terhindar darinya musibah yang tampak, untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memuji Dzat Yang Berhak dipuji.” Salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar yang dikaruniakan kepada hamba adalah berupa taufik untuk melakukan ketaatan dan ibadah, karena hanya dengan datangnya Bulan Ramadhan kepada seorang Muslim dalam keadaan sehat merupakan kenikmatan agung yang wajib disyukuri dan dilimpahkan puja dan puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengaruniakan hal itu.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian yang melimpah yang selayaknya bagi kemuliaan Dzat-Nya dan keagungan kuasa-Nya. الطريقة الثالثة:  الفرح والابتهاج، وقد كان سلفنا الصالح من صحابة رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والتابعين لهم بإحسان يَهتمون بشهر رمضان، ويفرَحون بقدومه، وأي فرحٍ أعظم من الإخبار بقُرب رمضان موسم الخيرات، وتنزَّل الرحمات. Cara Ketiga: Merasa bahagia dan sukacita. Dulu para Salafus Shalih dari generasi sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Tabi’in benar-benar memberi perhatian besar kepada Bulan Ramadhan dan bersuka cita atas kedatangannya.  Adakah kebahagiaan lain yang lebih besar daripada kabar tentang Ramadhan yang sebentar lagi datang, sebagai musim kebaikan dan turunnya rahmat. الطريقة الرابعة:  العزم والتخطيط المسبَق للاستفادة من رمضان، الكثيرون من الناس، وللأسف الشديد حتى الملتزمون بهذا الدين يُخططون تخطيطًا دقيقًا لأمور الدنيا، ولكن قليلون هم الذين يخطِّطون لأمور الآخرة، وهذا ناتجٌ عن عدم إدراك مهمة المؤمن في هذه الحياة، ونسيان أو تناسي أن للمسلم فرصًا كثيرة مع الله ومواعيد مهمة لتربية نفسه؛ حتى تثبُت على هذا الأمر، ومن أمثلة هذا التخطيط للآخرة، والتخطيط لاستغلال رمضان في الطاعات والعبادات، فيضع المسلم له برنامجًا عمليًّا لاغتنام أيام وليالي رمضان في طاعة الله تعالى، وهذه الرسالة التي بين يديك تساعدك على اغتنام رمضان في طاعة الله تعالى، إن شاء الله تعالى. Cara Keempat: Mengumpulkan semangat dan membuat perencanaan matang untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak orang —dan sangat disayangkan juga terjadi pada orang-orang yang konsisten menjalankan ajaran agama— yang membuat perencanaan detil dalam urusan-urusan duniawi.  Namun, sedikit sekali dari mereka yang membuat perencanaan dalam urusan-urusan akhirat. Hal ini merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang tugas orang beriman di dunia ini, dan sikap abai atau pura-pura abai bahwa seorang Muslim memiliki banyak kesempatan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waktu-waktu penting untuk mendidik dirinya, agar dapat konsisten di atas agama. Di antara contoh perencanaan untuk akhirat adalah membuat perencanaan memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan dan ibadah. Seorang Muslim hendaknya menyusun program-program amalan untuk memanfaatkan waktu siang dan malam Bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan risalah di hadapanmu ini akan membantumu untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah. الطريقة الخامسة:  عقد العزم الصادق على اغتنامه وعمارة أوقاته بالأعمال الصالحة، فمن صدق الله صدَقه وأعانه على الطاعة، ويسَّر له سُبل الخير؛ قال الله عز وجل: ﴿ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ﴾ [محمد: 21]. Cara Kelima: Membulatkan tekad yang tulus untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal salih. Barang siapa yang berniat tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan niatnya dan memberinya pertolongan untuk menjalankan ketaatan serta memudahkan baginya jalan-jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). الطريقة السادسة:  العلم والفقه بأحكام رمضان، فيجب على المؤمن أن يعبد الله على علمٍ، ولا يُعذَر بجهل الفرائض التي فرضها الله على العباد، ومن ذلك صوم رمضان؛ فينبغي للمسلم أن يتعلم مسائل الصوم وأحكامه قبل مجيئه؛ ليكون صومه صحيحًا مقبولًا عند الله: ﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]. Cara Keenam: Membekali diri dengan ilmu-ilmu tentang hukum yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan. Orang yang beriman wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan landasan ilmu. Ia tidak mendapatkan uzdur atas kebodohannya terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi para hamba-Nya, di antaranya adalah Puasa Ramadhan, sehingga seorang Muslim harus mempelajari perkara-perkara tentang puasa dan hukum-hukumnya sebelum Bulan Ramadhan datang, agar puasanya sah dan diterima oleh Allah TSubhanahu wa Ta’ala: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). الطريقة السابعة:  علينا أن نستقبله بالعزم على ترْك الآثام والسيئات، والتوبة الصادقة من جميع الذنوب، والإقلاع عنها وعدم العودة إليها، فهو شهرُ التوبة، فمن لم يتُب فيه فمتى يتوب؟ قال الله تعالى: ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 31]. Cara Ketujuh: Kita harus menyambut Bulan Ramadhan dengan tekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kesalahan, juga dengan taubat yang sebenar-benarnya dari segala kemaksiatan, berhenti dari melakukannya, dan tidak kembali mengerjakannya. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat, barang siapa yang tidak bertaubat di dalam bulan ini, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). الطريقة الثامنة:  التهيئة النفسية والروحية من خلال القراءة والاطلاع على الكتب والرسائل، وسماع الأشرطة الإسلامية التي تبيِّن فضائل الصوم وأحكامه؛ حتى تتهيَّأ النفس للطاعة فيه. Cara Kedelapan: Menyiapkan mental dan jiwa dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, atau mendengar ceramah-ceramah islami yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa bersiap untuk menjalankan ketaatan pada Bulan Ramadhan. الطريقة التاسعة:  نستقبل رمضان بفتح صفحة بيضاء مشرقة مع: 1) الله سبحانه وتعالى بالتوبة الصادقة. 2) الرسول (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) بطاعته فيما أمَر واجتناب ما نهى عنه وزجَر. 3) مع الوالدين والأقارب، والأرحام والزوجة والأولاد بالبر والصلة. 4) مع المجتمع الذي تعيش فيه حتى تكون عبدًا صالحًا ونافعًا. Cara Kesembilan: Kita menyambut Bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru dengan: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang tulus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaati perintah beliau dan menjauhi larangan beliau. Kedua orang tua, kerabat, keluarga dekat, pasangan, dan anak-anak dengan berbakti dan menjaga silaturahmi. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup kita, agar kita menjadi hamba yang saleh dan bermanfaat. هكذا يستقبل المسلم رمضان استقبالَ الأرض العَطْشى للمطر، واستقبال المريض للطبيب المداوي، واستقبال الحبيب للغائب المنتظر. Demikianlah selayaknya seorang Muslim menyambut Bulan Ramadhan, seperti sambutan tanah tandus yang merindukan hujan, sambutan orang sakit terhadap dokter yang mengobatinya, dan sambutan seseorang terhadap kekasihnya yang telah lama pergi. Sumber: https://www.alukah.net/الدرس الأول: كيف نستقبل رمضان Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 90 times, 1 visit(s) today Post Views: 392 QRIS donasi Yufid
كيف نستقبل رمضان Oleh: Affan bin asy-Syaikh Shiddiq as-Surkati عفان بن الشيخ صديق السرگتي الطريقة الأولى:  الدعاء بأن يُبلغك الله شهر رمضان وأنت في صحة وعافية، حتى تنشَط في عبادة الله تعالى من صيام وقيام وذكرٍ. Cara Pertama: Berdoa agar menyampaikan umur kita hingga Bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar kamu dapat semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa puasa, salat malam, atau zikir. الطريقة الثانية:  الحمد والشكر على بلوغه؛ قال النووي في (الأذكار): (اعلَم أنه يُستحب لمن تجدَّدت له نعمة ظاهرة، أو اندفعت عنه نقمة ظاهرة أن يسجُد شكرًا لله تعالى، أو يُثني بما هو أهله)، وإنَّ من أكبر نِعم الله على العبد توفيقَه للطاعة والعبادة، فمجرَّد دخول شهر رمضان على المسلم – وهو في صحة جيدة – نعمة عظيمة تستحق الشكر والثناء على الله المنعم المتفضل بها، فالحمد لله حمدًا كثيرًا كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه. Cara Kedua: Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umur panjangmu hingga dapat bertemu Bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi orang yang senantiasa mendapatkan nikmat yang tampak atau terhindar darinya musibah yang tampak, untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memuji Dzat Yang Berhak dipuji.” Salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar yang dikaruniakan kepada hamba adalah berupa taufik untuk melakukan ketaatan dan ibadah, karena hanya dengan datangnya Bulan Ramadhan kepada seorang Muslim dalam keadaan sehat merupakan kenikmatan agung yang wajib disyukuri dan dilimpahkan puja dan puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengaruniakan hal itu.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian yang melimpah yang selayaknya bagi kemuliaan Dzat-Nya dan keagungan kuasa-Nya. الطريقة الثالثة:  الفرح والابتهاج، وقد كان سلفنا الصالح من صحابة رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والتابعين لهم بإحسان يَهتمون بشهر رمضان، ويفرَحون بقدومه، وأي فرحٍ أعظم من الإخبار بقُرب رمضان موسم الخيرات، وتنزَّل الرحمات. Cara Ketiga: Merasa bahagia dan sukacita. Dulu para Salafus Shalih dari generasi sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Tabi’in benar-benar memberi perhatian besar kepada Bulan Ramadhan dan bersuka cita atas kedatangannya.  Adakah kebahagiaan lain yang lebih besar daripada kabar tentang Ramadhan yang sebentar lagi datang, sebagai musim kebaikan dan turunnya rahmat. الطريقة الرابعة:  العزم والتخطيط المسبَق للاستفادة من رمضان، الكثيرون من الناس، وللأسف الشديد حتى الملتزمون بهذا الدين يُخططون تخطيطًا دقيقًا لأمور الدنيا، ولكن قليلون هم الذين يخطِّطون لأمور الآخرة، وهذا ناتجٌ عن عدم إدراك مهمة المؤمن في هذه الحياة، ونسيان أو تناسي أن للمسلم فرصًا كثيرة مع الله ومواعيد مهمة لتربية نفسه؛ حتى تثبُت على هذا الأمر، ومن أمثلة هذا التخطيط للآخرة، والتخطيط لاستغلال رمضان في الطاعات والعبادات، فيضع المسلم له برنامجًا عمليًّا لاغتنام أيام وليالي رمضان في طاعة الله تعالى، وهذه الرسالة التي بين يديك تساعدك على اغتنام رمضان في طاعة الله تعالى، إن شاء الله تعالى. Cara Keempat: Mengumpulkan semangat dan membuat perencanaan matang untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak orang —dan sangat disayangkan juga terjadi pada orang-orang yang konsisten menjalankan ajaran agama— yang membuat perencanaan detil dalam urusan-urusan duniawi.  Namun, sedikit sekali dari mereka yang membuat perencanaan dalam urusan-urusan akhirat. Hal ini merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang tugas orang beriman di dunia ini, dan sikap abai atau pura-pura abai bahwa seorang Muslim memiliki banyak kesempatan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waktu-waktu penting untuk mendidik dirinya, agar dapat konsisten di atas agama. Di antara contoh perencanaan untuk akhirat adalah membuat perencanaan memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan dan ibadah. Seorang Muslim hendaknya menyusun program-program amalan untuk memanfaatkan waktu siang dan malam Bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan risalah di hadapanmu ini akan membantumu untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah. الطريقة الخامسة:  عقد العزم الصادق على اغتنامه وعمارة أوقاته بالأعمال الصالحة، فمن صدق الله صدَقه وأعانه على الطاعة، ويسَّر له سُبل الخير؛ قال الله عز وجل: ﴿ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ﴾ [محمد: 21]. Cara Kelima: Membulatkan tekad yang tulus untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal salih. Barang siapa yang berniat tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan niatnya dan memberinya pertolongan untuk menjalankan ketaatan serta memudahkan baginya jalan-jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). الطريقة السادسة:  العلم والفقه بأحكام رمضان، فيجب على المؤمن أن يعبد الله على علمٍ، ولا يُعذَر بجهل الفرائض التي فرضها الله على العباد، ومن ذلك صوم رمضان؛ فينبغي للمسلم أن يتعلم مسائل الصوم وأحكامه قبل مجيئه؛ ليكون صومه صحيحًا مقبولًا عند الله: ﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]. Cara Keenam: Membekali diri dengan ilmu-ilmu tentang hukum yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan. Orang yang beriman wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan landasan ilmu. Ia tidak mendapatkan uzdur atas kebodohannya terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi para hamba-Nya, di antaranya adalah Puasa Ramadhan, sehingga seorang Muslim harus mempelajari perkara-perkara tentang puasa dan hukum-hukumnya sebelum Bulan Ramadhan datang, agar puasanya sah dan diterima oleh Allah TSubhanahu wa Ta’ala: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). الطريقة السابعة:  علينا أن نستقبله بالعزم على ترْك الآثام والسيئات، والتوبة الصادقة من جميع الذنوب، والإقلاع عنها وعدم العودة إليها، فهو شهرُ التوبة، فمن لم يتُب فيه فمتى يتوب؟ قال الله تعالى: ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 31]. Cara Ketujuh: Kita harus menyambut Bulan Ramadhan dengan tekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kesalahan, juga dengan taubat yang sebenar-benarnya dari segala kemaksiatan, berhenti dari melakukannya, dan tidak kembali mengerjakannya. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat, barang siapa yang tidak bertaubat di dalam bulan ini, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). الطريقة الثامنة:  التهيئة النفسية والروحية من خلال القراءة والاطلاع على الكتب والرسائل، وسماع الأشرطة الإسلامية التي تبيِّن فضائل الصوم وأحكامه؛ حتى تتهيَّأ النفس للطاعة فيه. Cara Kedelapan: Menyiapkan mental dan jiwa dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, atau mendengar ceramah-ceramah islami yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa bersiap untuk menjalankan ketaatan pada Bulan Ramadhan. الطريقة التاسعة:  نستقبل رمضان بفتح صفحة بيضاء مشرقة مع: 1) الله سبحانه وتعالى بالتوبة الصادقة. 2) الرسول (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) بطاعته فيما أمَر واجتناب ما نهى عنه وزجَر. 3) مع الوالدين والأقارب، والأرحام والزوجة والأولاد بالبر والصلة. 4) مع المجتمع الذي تعيش فيه حتى تكون عبدًا صالحًا ونافعًا. Cara Kesembilan: Kita menyambut Bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru dengan: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang tulus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaati perintah beliau dan menjauhi larangan beliau. Kedua orang tua, kerabat, keluarga dekat, pasangan, dan anak-anak dengan berbakti dan menjaga silaturahmi. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup kita, agar kita menjadi hamba yang saleh dan bermanfaat. هكذا يستقبل المسلم رمضان استقبالَ الأرض العَطْشى للمطر، واستقبال المريض للطبيب المداوي، واستقبال الحبيب للغائب المنتظر. Demikianlah selayaknya seorang Muslim menyambut Bulan Ramadhan, seperti sambutan tanah tandus yang merindukan hujan, sambutan orang sakit terhadap dokter yang mengobatinya, dan sambutan seseorang terhadap kekasihnya yang telah lama pergi. Sumber: https://www.alukah.net/الدرس الأول: كيف نستقبل رمضان Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 90 times, 1 visit(s) today Post Views: 392 QRIS donasi Yufid


كيف نستقبل رمضان Oleh: Affan bin asy-Syaikh Shiddiq as-Surkati عفان بن الشيخ صديق السرگتي الطريقة الأولى:  الدعاء بأن يُبلغك الله شهر رمضان وأنت في صحة وعافية، حتى تنشَط في عبادة الله تعالى من صيام وقيام وذكرٍ. Cara Pertama: Berdoa agar menyampaikan umur kita hingga Bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar kamu dapat semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa puasa, salat malam, atau zikir. الطريقة الثانية:  الحمد والشكر على بلوغه؛ قال النووي في (الأذكار): (اعلَم أنه يُستحب لمن تجدَّدت له نعمة ظاهرة، أو اندفعت عنه نقمة ظاهرة أن يسجُد شكرًا لله تعالى، أو يُثني بما هو أهله)، وإنَّ من أكبر نِعم الله على العبد توفيقَه للطاعة والعبادة، فمجرَّد دخول شهر رمضان على المسلم – وهو في صحة جيدة – نعمة عظيمة تستحق الشكر والثناء على الله المنعم المتفضل بها، فالحمد لله حمدًا كثيرًا كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه. Cara Kedua: Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umur panjangmu hingga dapat bertemu Bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi orang yang senantiasa mendapatkan nikmat yang tampak atau terhindar darinya musibah yang tampak, untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memuji Dzat Yang Berhak dipuji.” Salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar yang dikaruniakan kepada hamba adalah berupa taufik untuk melakukan ketaatan dan ibadah, karena hanya dengan datangnya Bulan Ramadhan kepada seorang Muslim dalam keadaan sehat merupakan kenikmatan agung yang wajib disyukuri dan dilimpahkan puja dan puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengaruniakan hal itu.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian yang melimpah yang selayaknya bagi kemuliaan Dzat-Nya dan keagungan kuasa-Nya. الطريقة الثالثة:  الفرح والابتهاج، وقد كان سلفنا الصالح من صحابة رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والتابعين لهم بإحسان يَهتمون بشهر رمضان، ويفرَحون بقدومه، وأي فرحٍ أعظم من الإخبار بقُرب رمضان موسم الخيرات، وتنزَّل الرحمات. Cara Ketiga: Merasa bahagia dan sukacita. Dulu para Salafus Shalih dari generasi sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Tabi’in benar-benar memberi perhatian besar kepada Bulan Ramadhan dan bersuka cita atas kedatangannya.  Adakah kebahagiaan lain yang lebih besar daripada kabar tentang Ramadhan yang sebentar lagi datang, sebagai musim kebaikan dan turunnya rahmat. الطريقة الرابعة:  العزم والتخطيط المسبَق للاستفادة من رمضان، الكثيرون من الناس، وللأسف الشديد حتى الملتزمون بهذا الدين يُخططون تخطيطًا دقيقًا لأمور الدنيا، ولكن قليلون هم الذين يخطِّطون لأمور الآخرة، وهذا ناتجٌ عن عدم إدراك مهمة المؤمن في هذه الحياة، ونسيان أو تناسي أن للمسلم فرصًا كثيرة مع الله ومواعيد مهمة لتربية نفسه؛ حتى تثبُت على هذا الأمر، ومن أمثلة هذا التخطيط للآخرة، والتخطيط لاستغلال رمضان في الطاعات والعبادات، فيضع المسلم له برنامجًا عمليًّا لاغتنام أيام وليالي رمضان في طاعة الله تعالى، وهذه الرسالة التي بين يديك تساعدك على اغتنام رمضان في طاعة الله تعالى، إن شاء الله تعالى. Cara Keempat: Mengumpulkan semangat dan membuat perencanaan matang untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak orang —dan sangat disayangkan juga terjadi pada orang-orang yang konsisten menjalankan ajaran agama— yang membuat perencanaan detil dalam urusan-urusan duniawi.  Namun, sedikit sekali dari mereka yang membuat perencanaan dalam urusan-urusan akhirat. Hal ini merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang tugas orang beriman di dunia ini, dan sikap abai atau pura-pura abai bahwa seorang Muslim memiliki banyak kesempatan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waktu-waktu penting untuk mendidik dirinya, agar dapat konsisten di atas agama. Di antara contoh perencanaan untuk akhirat adalah membuat perencanaan memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan dan ibadah. Seorang Muslim hendaknya menyusun program-program amalan untuk memanfaatkan waktu siang dan malam Bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan risalah di hadapanmu ini akan membantumu untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah. الطريقة الخامسة:  عقد العزم الصادق على اغتنامه وعمارة أوقاته بالأعمال الصالحة، فمن صدق الله صدَقه وأعانه على الطاعة، ويسَّر له سُبل الخير؛ قال الله عز وجل: ﴿ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ﴾ [محمد: 21]. Cara Kelima: Membulatkan tekad yang tulus untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal salih. Barang siapa yang berniat tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan niatnya dan memberinya pertolongan untuk menjalankan ketaatan serta memudahkan baginya jalan-jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). الطريقة السادسة:  العلم والفقه بأحكام رمضان، فيجب على المؤمن أن يعبد الله على علمٍ، ولا يُعذَر بجهل الفرائض التي فرضها الله على العباد، ومن ذلك صوم رمضان؛ فينبغي للمسلم أن يتعلم مسائل الصوم وأحكامه قبل مجيئه؛ ليكون صومه صحيحًا مقبولًا عند الله: ﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]. Cara Keenam: Membekali diri dengan ilmu-ilmu tentang hukum yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan. Orang yang beriman wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan landasan ilmu. Ia tidak mendapatkan uzdur atas kebodohannya terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi para hamba-Nya, di antaranya adalah Puasa Ramadhan, sehingga seorang Muslim harus mempelajari perkara-perkara tentang puasa dan hukum-hukumnya sebelum Bulan Ramadhan datang, agar puasanya sah dan diterima oleh Allah TSubhanahu wa Ta’ala: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). الطريقة السابعة:  علينا أن نستقبله بالعزم على ترْك الآثام والسيئات، والتوبة الصادقة من جميع الذنوب، والإقلاع عنها وعدم العودة إليها، فهو شهرُ التوبة، فمن لم يتُب فيه فمتى يتوب؟ قال الله تعالى: ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 31]. Cara Ketujuh: Kita harus menyambut Bulan Ramadhan dengan tekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kesalahan, juga dengan taubat yang sebenar-benarnya dari segala kemaksiatan, berhenti dari melakukannya, dan tidak kembali mengerjakannya. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat, barang siapa yang tidak bertaubat di dalam bulan ini, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). الطريقة الثامنة:  التهيئة النفسية والروحية من خلال القراءة والاطلاع على الكتب والرسائل، وسماع الأشرطة الإسلامية التي تبيِّن فضائل الصوم وأحكامه؛ حتى تتهيَّأ النفس للطاعة فيه. Cara Kedelapan: Menyiapkan mental dan jiwa dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, atau mendengar ceramah-ceramah islami yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa bersiap untuk menjalankan ketaatan pada Bulan Ramadhan. الطريقة التاسعة:  نستقبل رمضان بفتح صفحة بيضاء مشرقة مع: 1) الله سبحانه وتعالى بالتوبة الصادقة. 2) الرسول (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) بطاعته فيما أمَر واجتناب ما نهى عنه وزجَر. 3) مع الوالدين والأقارب، والأرحام والزوجة والأولاد بالبر والصلة. 4) مع المجتمع الذي تعيش فيه حتى تكون عبدًا صالحًا ونافعًا. Cara Kesembilan: Kita menyambut Bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru dengan: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang tulus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaati perintah beliau dan menjauhi larangan beliau. Kedua orang tua, kerabat, keluarga dekat, pasangan, dan anak-anak dengan berbakti dan menjaga silaturahmi. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup kita, agar kita menjadi hamba yang saleh dan bermanfaat. هكذا يستقبل المسلم رمضان استقبالَ الأرض العَطْشى للمطر، واستقبال المريض للطبيب المداوي، واستقبال الحبيب للغائب المنتظر. Demikianlah selayaknya seorang Muslim menyambut Bulan Ramadhan, seperti sambutan tanah tandus yang merindukan hujan, sambutan orang sakit terhadap dokter yang mengobatinya, dan sambutan seseorang terhadap kekasihnya yang telah lama pergi. Sumber: https://www.alukah.net/الدرس الأول: كيف نستقبل رمضان Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 90 times, 1 visit(s) today Post Views: 392 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Jazirah Arab dalam Sejarah (Bag. 7): Penyimpangan-Penyimpangan Agama Kaum Arab Jahiliah

Daftar Isi ToggleTradisi mengundi nasib dengan anak panahKepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalKeyakinan merasa sial karena sesuatuSisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahPada seri sebelumnya, kita telah membahas awal mula terjadinya penyembahan berhala pada masyarakat Arab jahiliah. Namun, penyembahan berhala hanyalah satu dari sekian banyak penyimpangan yang mereka lakukan. Artikel ini akan membahas berbagai penyimpangan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat Arab jahiliah.Tradisi mengundi nasib dengan anak panahOrang Arab juga melakukan pengundian dengan anak panah tanpa bulu. Ada tiga macam undian yang dilakukan: yang pertama bertuliskan “iya” dan “tidak”; yang kedua undian air dan pembayaran diyat; dan yang ketiga bertuliskan “dari golongan kalian”, “bukan dari golongan kalian”, dan “tanpa nasab dan ikatan”.Undian jenis pertama digunakan oleh orang-orang Arab dahulu ketika mereka hendak bepergian, menikah, maupun kegiatan semisalnya. Cara mereka melakukannya adalah dengan menuliskan kata “ya” dan “tidak” tersebut di anak panah, lalu diundi. Jika kata yang keluar adalah “iya”, barulah mereka melakukannya. Namun, jika yang keluar adalah “tidak”, maka mereka menunda melakukannya selama setahun. Setelah itu, mereka ulangi lagi undiannya.Jenis undian yang ketiga bersifat sosial, digunakan ketika masyarakat Arab jahiliah meragukan nasab seseorang. Aturannya, mereka mendatangi berhala Hubal bersama orang yang nasabnya meragukan, lalu menyembelih seratus ekor unta, dan diserahkan kepada juru undi. Jika setelah diundi tulisan yang keluar “dari golongan kalian”, maka ia diakui sebagai bagian dari golongan tersebut. Jika tulisan yang keluar adalah “bukan dari golongan kalian”, maka berarti ia bukan bagian golongan tapi sekutu. Jika yang keluar adalah “tanpa nasab dan ikatan”, maka ia bukan dari kedua golongan itu.Kepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalOrang-orang Arab jahiliah juga meyakini berita-berita dukun (كَاهِن), peramal (عَرَّاف), dan ahli nujum (مُنَجِّم). Dukun adalah orang yang mengaku bisa memberitakan peristiwa-peristiwa di masa depan dan mengklaim mengetahui hal-hal gaib. Di antara mereka ada yang mengaku memiliki pengikut dari kalangan bangsa jin yang menyampaikan informasi kepada mereka.Peramal adalah orang yang mengklaim mengetahui perkara-perkara dengan tanda-tanda awal dan sebab-sebab tertentu yang mereka gunakan untuk menyimpulkan kejadiannya berdasarkan ucapan-ucapan orang yang bertanya, tindakannya, maupun keadaannya. Misalnya, orang yang mengaku tahu barang curian, lokasi pencurian, dan barang hilang.Ahli nujum adalah orang yang mengamati bintang-bintang di langit dan menghitung pergerakannya beserta waktu-waktunya, untuk mengetahui keadaan dunia dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang melalui pergerakannya tersebut. Mempercayai kabar-kabar ahli nujum pada hakikatnya adalah bentuk beriman kepada bintang-bintang. Oleh karena itu, mereka biasa berkata, “Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu.”Keyakinan merasa sial karena sesuatuOrang-orang Arab jahiliah juga memiliki kepercayaan thiyarah, yaitu merasa sial karena sesuatu. Asal usulnya adalah bahwa mereka mendatangi burung atau kijang, lalu membuat hewan tersebut kaget agar terbang atau lari. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kanan, maka mereka melanjutkan niat mereka dan menganggapnya sebagai pertanda baik. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kiri, maka mereka mengurungkan niat tersebut dan menganggapnya sebagai pertanda sial. Mereka juga merasa sial jika ada burung atau binatang yang melintas di jalan mereka. Mereka juga merasa sial dengan hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu, rumah-rumah tertentu, dan wanita.Sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahDemikianlah kepercayaan-kepercayaan yang ada dalam masyarakat Arab jahiliah. Meskipun demikian, masih ada ajaran-ajaran Nabi Ibrahim yang tersisa, yaitu mereka masih mengagungkan Ka’bah, melakukan tawaf di Baitullah, berhaji, berumrah, berwukuf di Arafah dan Muzdalifah, dan menyembelih hewan kurban.Namun, mereka mengotori ibadah-ibadah tersebut dengan berbagai inovasi (bid’ah) yang mereka buat-buat sendiri. Berikut beberapa bentuk bid’ah yang mereka lakukan.Pertama: Orang-orang Quraisy tidak melakukan wukuf di Arafah dan bertolak dari Arafah menuju Mina, tapi mereka bertolak dari Muzdalifah. Padahal, aturan yang berlaku adalah wukuf di Arafah. Mereka menetapkan aturan tersebut karena mereka merasa tidak pantas kalau penduduk tanah haram keluar dari area tanah haram (karena Arafah itu berada di luar tanah haram). Dan juga karena mereka merasa bahwa mereka berkedudukan tinggi sebagai keturunan Nabi Ibrahim dan penjaga Baitullah, sehingga tidak perlu wukuf di Arafah. Terkait perbuatan mereka, Allah Ta’ālā berfirman,ثُمَّ اَفِيۡضُوۡا مِنۡ حَيۡثُ اَفَاضَ النَّاسُ“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat banyak orang bertolak (yakni dari Arafah).” (QS. Al-Baqarah: 199)Kedua: Mereka juga menetapkan aturan bagi mereka sendiri bahwa tidak boleh membungkus aqith (sejenis keju) dan memasak samin saat sedang berihram. Mereka juga tidak boleh memasuki kemah berbahan bulu dan hanya boleh berteduh di dalam tenda berbahan kulit ketika sedang ihram.Ketiga: Orang yang berasal dari luar tanah haram tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar tanah haram saat akan haji atau umrah. Selain itu, kabilah Quraisy juga menetapkan aturan bahwa orang yang berasal dari daerah luar tanah haram harus bertawaf mengenakan baju penduduk tanah haram. Jika orang-orang tersebut tidak mendapatinya, maka jemaah pria bertawaf dalam keadaan telanjang; sedangkan jemaah wanita bertawaf dengan hanya mengenakan pakaian longgar yang robek, lalu berkata,اليوم يبدو بعضه أو كله … وما بدا منه فلا أحله“Pada hari ini tampak sebagian atau seluruh tubuhku, dan apa yang tampak darinya tidak aku halalkan (untuk dipandang).” Lantunan syair ini menunjukkan bahwa sebenarnya para wanita tidak rela hanya mengenakan pakaian seadanya. Namun, mereka terpaksa melakukannya karena aturan yang dibuat-buat oleh orang-orang Quraisy.Allah Ta’ālā menurunkan firman-Nya sebagai bentuk pelurusan terhadap praktik tersebut,يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَكُمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)Keempat: Jika orang dari luar daerah tanah haram tetapi hendak memakai pakaian yang ia bawa dari daerah asalnya saat tawaf karena menjaga kehormatannya, maka setelah tawaf ia harus membuang pakaian tersebut dan tidak ada yang boleh memanfaatkan pakaian itu.Kelima: Ketika orang-orang Arab jahiliah sedang berihram, mereka tidak memasuki rumahnya melalui pintunya, tetapi mereka membuat lubang di belakang rumah untuk masuk dan keluar dari rumahnya.Inilah agama dan kepercayaan mayoritas bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Setelah mengetahui beragam penyimpangan dalam kepercayaan kaum Arab jahiliah, kini saatnya menelusuri bagaimana pengaruh eksternal mulai masuk ke Jazirah Arab melalui agama-agama samawi seperti Yahudi dan Kristen. Siapa yang membawanya dan bagaimana pengaruhnya? Insyaallah akan dibahas dalam artikel berikutnya.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.

Jazirah Arab dalam Sejarah (Bag. 7): Penyimpangan-Penyimpangan Agama Kaum Arab Jahiliah

Daftar Isi ToggleTradisi mengundi nasib dengan anak panahKepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalKeyakinan merasa sial karena sesuatuSisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahPada seri sebelumnya, kita telah membahas awal mula terjadinya penyembahan berhala pada masyarakat Arab jahiliah. Namun, penyembahan berhala hanyalah satu dari sekian banyak penyimpangan yang mereka lakukan. Artikel ini akan membahas berbagai penyimpangan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat Arab jahiliah.Tradisi mengundi nasib dengan anak panahOrang Arab juga melakukan pengundian dengan anak panah tanpa bulu. Ada tiga macam undian yang dilakukan: yang pertama bertuliskan “iya” dan “tidak”; yang kedua undian air dan pembayaran diyat; dan yang ketiga bertuliskan “dari golongan kalian”, “bukan dari golongan kalian”, dan “tanpa nasab dan ikatan”.Undian jenis pertama digunakan oleh orang-orang Arab dahulu ketika mereka hendak bepergian, menikah, maupun kegiatan semisalnya. Cara mereka melakukannya adalah dengan menuliskan kata “ya” dan “tidak” tersebut di anak panah, lalu diundi. Jika kata yang keluar adalah “iya”, barulah mereka melakukannya. Namun, jika yang keluar adalah “tidak”, maka mereka menunda melakukannya selama setahun. Setelah itu, mereka ulangi lagi undiannya.Jenis undian yang ketiga bersifat sosial, digunakan ketika masyarakat Arab jahiliah meragukan nasab seseorang. Aturannya, mereka mendatangi berhala Hubal bersama orang yang nasabnya meragukan, lalu menyembelih seratus ekor unta, dan diserahkan kepada juru undi. Jika setelah diundi tulisan yang keluar “dari golongan kalian”, maka ia diakui sebagai bagian dari golongan tersebut. Jika tulisan yang keluar adalah “bukan dari golongan kalian”, maka berarti ia bukan bagian golongan tapi sekutu. Jika yang keluar adalah “tanpa nasab dan ikatan”, maka ia bukan dari kedua golongan itu.Kepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalOrang-orang Arab jahiliah juga meyakini berita-berita dukun (كَاهِن), peramal (عَرَّاف), dan ahli nujum (مُنَجِّم). Dukun adalah orang yang mengaku bisa memberitakan peristiwa-peristiwa di masa depan dan mengklaim mengetahui hal-hal gaib. Di antara mereka ada yang mengaku memiliki pengikut dari kalangan bangsa jin yang menyampaikan informasi kepada mereka.Peramal adalah orang yang mengklaim mengetahui perkara-perkara dengan tanda-tanda awal dan sebab-sebab tertentu yang mereka gunakan untuk menyimpulkan kejadiannya berdasarkan ucapan-ucapan orang yang bertanya, tindakannya, maupun keadaannya. Misalnya, orang yang mengaku tahu barang curian, lokasi pencurian, dan barang hilang.Ahli nujum adalah orang yang mengamati bintang-bintang di langit dan menghitung pergerakannya beserta waktu-waktunya, untuk mengetahui keadaan dunia dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang melalui pergerakannya tersebut. Mempercayai kabar-kabar ahli nujum pada hakikatnya adalah bentuk beriman kepada bintang-bintang. Oleh karena itu, mereka biasa berkata, “Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu.”Keyakinan merasa sial karena sesuatuOrang-orang Arab jahiliah juga memiliki kepercayaan thiyarah, yaitu merasa sial karena sesuatu. Asal usulnya adalah bahwa mereka mendatangi burung atau kijang, lalu membuat hewan tersebut kaget agar terbang atau lari. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kanan, maka mereka melanjutkan niat mereka dan menganggapnya sebagai pertanda baik. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kiri, maka mereka mengurungkan niat tersebut dan menganggapnya sebagai pertanda sial. Mereka juga merasa sial jika ada burung atau binatang yang melintas di jalan mereka. Mereka juga merasa sial dengan hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu, rumah-rumah tertentu, dan wanita.Sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahDemikianlah kepercayaan-kepercayaan yang ada dalam masyarakat Arab jahiliah. Meskipun demikian, masih ada ajaran-ajaran Nabi Ibrahim yang tersisa, yaitu mereka masih mengagungkan Ka’bah, melakukan tawaf di Baitullah, berhaji, berumrah, berwukuf di Arafah dan Muzdalifah, dan menyembelih hewan kurban.Namun, mereka mengotori ibadah-ibadah tersebut dengan berbagai inovasi (bid’ah) yang mereka buat-buat sendiri. Berikut beberapa bentuk bid’ah yang mereka lakukan.Pertama: Orang-orang Quraisy tidak melakukan wukuf di Arafah dan bertolak dari Arafah menuju Mina, tapi mereka bertolak dari Muzdalifah. Padahal, aturan yang berlaku adalah wukuf di Arafah. Mereka menetapkan aturan tersebut karena mereka merasa tidak pantas kalau penduduk tanah haram keluar dari area tanah haram (karena Arafah itu berada di luar tanah haram). Dan juga karena mereka merasa bahwa mereka berkedudukan tinggi sebagai keturunan Nabi Ibrahim dan penjaga Baitullah, sehingga tidak perlu wukuf di Arafah. Terkait perbuatan mereka, Allah Ta’ālā berfirman,ثُمَّ اَفِيۡضُوۡا مِنۡ حَيۡثُ اَفَاضَ النَّاسُ“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat banyak orang bertolak (yakni dari Arafah).” (QS. Al-Baqarah: 199)Kedua: Mereka juga menetapkan aturan bagi mereka sendiri bahwa tidak boleh membungkus aqith (sejenis keju) dan memasak samin saat sedang berihram. Mereka juga tidak boleh memasuki kemah berbahan bulu dan hanya boleh berteduh di dalam tenda berbahan kulit ketika sedang ihram.Ketiga: Orang yang berasal dari luar tanah haram tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar tanah haram saat akan haji atau umrah. Selain itu, kabilah Quraisy juga menetapkan aturan bahwa orang yang berasal dari daerah luar tanah haram harus bertawaf mengenakan baju penduduk tanah haram. Jika orang-orang tersebut tidak mendapatinya, maka jemaah pria bertawaf dalam keadaan telanjang; sedangkan jemaah wanita bertawaf dengan hanya mengenakan pakaian longgar yang robek, lalu berkata,اليوم يبدو بعضه أو كله … وما بدا منه فلا أحله“Pada hari ini tampak sebagian atau seluruh tubuhku, dan apa yang tampak darinya tidak aku halalkan (untuk dipandang).” Lantunan syair ini menunjukkan bahwa sebenarnya para wanita tidak rela hanya mengenakan pakaian seadanya. Namun, mereka terpaksa melakukannya karena aturan yang dibuat-buat oleh orang-orang Quraisy.Allah Ta’ālā menurunkan firman-Nya sebagai bentuk pelurusan terhadap praktik tersebut,يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَكُمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)Keempat: Jika orang dari luar daerah tanah haram tetapi hendak memakai pakaian yang ia bawa dari daerah asalnya saat tawaf karena menjaga kehormatannya, maka setelah tawaf ia harus membuang pakaian tersebut dan tidak ada yang boleh memanfaatkan pakaian itu.Kelima: Ketika orang-orang Arab jahiliah sedang berihram, mereka tidak memasuki rumahnya melalui pintunya, tetapi mereka membuat lubang di belakang rumah untuk masuk dan keluar dari rumahnya.Inilah agama dan kepercayaan mayoritas bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Setelah mengetahui beragam penyimpangan dalam kepercayaan kaum Arab jahiliah, kini saatnya menelusuri bagaimana pengaruh eksternal mulai masuk ke Jazirah Arab melalui agama-agama samawi seperti Yahudi dan Kristen. Siapa yang membawanya dan bagaimana pengaruhnya? Insyaallah akan dibahas dalam artikel berikutnya.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.
Daftar Isi ToggleTradisi mengundi nasib dengan anak panahKepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalKeyakinan merasa sial karena sesuatuSisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahPada seri sebelumnya, kita telah membahas awal mula terjadinya penyembahan berhala pada masyarakat Arab jahiliah. Namun, penyembahan berhala hanyalah satu dari sekian banyak penyimpangan yang mereka lakukan. Artikel ini akan membahas berbagai penyimpangan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat Arab jahiliah.Tradisi mengundi nasib dengan anak panahOrang Arab juga melakukan pengundian dengan anak panah tanpa bulu. Ada tiga macam undian yang dilakukan: yang pertama bertuliskan “iya” dan “tidak”; yang kedua undian air dan pembayaran diyat; dan yang ketiga bertuliskan “dari golongan kalian”, “bukan dari golongan kalian”, dan “tanpa nasab dan ikatan”.Undian jenis pertama digunakan oleh orang-orang Arab dahulu ketika mereka hendak bepergian, menikah, maupun kegiatan semisalnya. Cara mereka melakukannya adalah dengan menuliskan kata “ya” dan “tidak” tersebut di anak panah, lalu diundi. Jika kata yang keluar adalah “iya”, barulah mereka melakukannya. Namun, jika yang keluar adalah “tidak”, maka mereka menunda melakukannya selama setahun. Setelah itu, mereka ulangi lagi undiannya.Jenis undian yang ketiga bersifat sosial, digunakan ketika masyarakat Arab jahiliah meragukan nasab seseorang. Aturannya, mereka mendatangi berhala Hubal bersama orang yang nasabnya meragukan, lalu menyembelih seratus ekor unta, dan diserahkan kepada juru undi. Jika setelah diundi tulisan yang keluar “dari golongan kalian”, maka ia diakui sebagai bagian dari golongan tersebut. Jika tulisan yang keluar adalah “bukan dari golongan kalian”, maka berarti ia bukan bagian golongan tapi sekutu. Jika yang keluar adalah “tanpa nasab dan ikatan”, maka ia bukan dari kedua golongan itu.Kepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalOrang-orang Arab jahiliah juga meyakini berita-berita dukun (كَاهِن), peramal (عَرَّاف), dan ahli nujum (مُنَجِّم). Dukun adalah orang yang mengaku bisa memberitakan peristiwa-peristiwa di masa depan dan mengklaim mengetahui hal-hal gaib. Di antara mereka ada yang mengaku memiliki pengikut dari kalangan bangsa jin yang menyampaikan informasi kepada mereka.Peramal adalah orang yang mengklaim mengetahui perkara-perkara dengan tanda-tanda awal dan sebab-sebab tertentu yang mereka gunakan untuk menyimpulkan kejadiannya berdasarkan ucapan-ucapan orang yang bertanya, tindakannya, maupun keadaannya. Misalnya, orang yang mengaku tahu barang curian, lokasi pencurian, dan barang hilang.Ahli nujum adalah orang yang mengamati bintang-bintang di langit dan menghitung pergerakannya beserta waktu-waktunya, untuk mengetahui keadaan dunia dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang melalui pergerakannya tersebut. Mempercayai kabar-kabar ahli nujum pada hakikatnya adalah bentuk beriman kepada bintang-bintang. Oleh karena itu, mereka biasa berkata, “Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu.”Keyakinan merasa sial karena sesuatuOrang-orang Arab jahiliah juga memiliki kepercayaan thiyarah, yaitu merasa sial karena sesuatu. Asal usulnya adalah bahwa mereka mendatangi burung atau kijang, lalu membuat hewan tersebut kaget agar terbang atau lari. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kanan, maka mereka melanjutkan niat mereka dan menganggapnya sebagai pertanda baik. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kiri, maka mereka mengurungkan niat tersebut dan menganggapnya sebagai pertanda sial. Mereka juga merasa sial jika ada burung atau binatang yang melintas di jalan mereka. Mereka juga merasa sial dengan hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu, rumah-rumah tertentu, dan wanita.Sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahDemikianlah kepercayaan-kepercayaan yang ada dalam masyarakat Arab jahiliah. Meskipun demikian, masih ada ajaran-ajaran Nabi Ibrahim yang tersisa, yaitu mereka masih mengagungkan Ka’bah, melakukan tawaf di Baitullah, berhaji, berumrah, berwukuf di Arafah dan Muzdalifah, dan menyembelih hewan kurban.Namun, mereka mengotori ibadah-ibadah tersebut dengan berbagai inovasi (bid’ah) yang mereka buat-buat sendiri. Berikut beberapa bentuk bid’ah yang mereka lakukan.Pertama: Orang-orang Quraisy tidak melakukan wukuf di Arafah dan bertolak dari Arafah menuju Mina, tapi mereka bertolak dari Muzdalifah. Padahal, aturan yang berlaku adalah wukuf di Arafah. Mereka menetapkan aturan tersebut karena mereka merasa tidak pantas kalau penduduk tanah haram keluar dari area tanah haram (karena Arafah itu berada di luar tanah haram). Dan juga karena mereka merasa bahwa mereka berkedudukan tinggi sebagai keturunan Nabi Ibrahim dan penjaga Baitullah, sehingga tidak perlu wukuf di Arafah. Terkait perbuatan mereka, Allah Ta’ālā berfirman,ثُمَّ اَفِيۡضُوۡا مِنۡ حَيۡثُ اَفَاضَ النَّاسُ“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat banyak orang bertolak (yakni dari Arafah).” (QS. Al-Baqarah: 199)Kedua: Mereka juga menetapkan aturan bagi mereka sendiri bahwa tidak boleh membungkus aqith (sejenis keju) dan memasak samin saat sedang berihram. Mereka juga tidak boleh memasuki kemah berbahan bulu dan hanya boleh berteduh di dalam tenda berbahan kulit ketika sedang ihram.Ketiga: Orang yang berasal dari luar tanah haram tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar tanah haram saat akan haji atau umrah. Selain itu, kabilah Quraisy juga menetapkan aturan bahwa orang yang berasal dari daerah luar tanah haram harus bertawaf mengenakan baju penduduk tanah haram. Jika orang-orang tersebut tidak mendapatinya, maka jemaah pria bertawaf dalam keadaan telanjang; sedangkan jemaah wanita bertawaf dengan hanya mengenakan pakaian longgar yang robek, lalu berkata,اليوم يبدو بعضه أو كله … وما بدا منه فلا أحله“Pada hari ini tampak sebagian atau seluruh tubuhku, dan apa yang tampak darinya tidak aku halalkan (untuk dipandang).” Lantunan syair ini menunjukkan bahwa sebenarnya para wanita tidak rela hanya mengenakan pakaian seadanya. Namun, mereka terpaksa melakukannya karena aturan yang dibuat-buat oleh orang-orang Quraisy.Allah Ta’ālā menurunkan firman-Nya sebagai bentuk pelurusan terhadap praktik tersebut,يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَكُمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)Keempat: Jika orang dari luar daerah tanah haram tetapi hendak memakai pakaian yang ia bawa dari daerah asalnya saat tawaf karena menjaga kehormatannya, maka setelah tawaf ia harus membuang pakaian tersebut dan tidak ada yang boleh memanfaatkan pakaian itu.Kelima: Ketika orang-orang Arab jahiliah sedang berihram, mereka tidak memasuki rumahnya melalui pintunya, tetapi mereka membuat lubang di belakang rumah untuk masuk dan keluar dari rumahnya.Inilah agama dan kepercayaan mayoritas bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Setelah mengetahui beragam penyimpangan dalam kepercayaan kaum Arab jahiliah, kini saatnya menelusuri bagaimana pengaruh eksternal mulai masuk ke Jazirah Arab melalui agama-agama samawi seperti Yahudi dan Kristen. Siapa yang membawanya dan bagaimana pengaruhnya? Insyaallah akan dibahas dalam artikel berikutnya.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.


Daftar Isi ToggleTradisi mengundi nasib dengan anak panahKepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalKeyakinan merasa sial karena sesuatuSisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahPada seri sebelumnya, kita telah membahas awal mula terjadinya penyembahan berhala pada masyarakat Arab jahiliah. Namun, penyembahan berhala hanyalah satu dari sekian banyak penyimpangan yang mereka lakukan. Artikel ini akan membahas berbagai penyimpangan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat Arab jahiliah.Tradisi mengundi nasib dengan anak panahOrang Arab juga melakukan pengundian dengan anak panah tanpa bulu. Ada tiga macam undian yang dilakukan: yang pertama bertuliskan “iya” dan “tidak”; yang kedua undian air dan pembayaran diyat; dan yang ketiga bertuliskan “dari golongan kalian”, “bukan dari golongan kalian”, dan “tanpa nasab dan ikatan”.Undian jenis pertama digunakan oleh orang-orang Arab dahulu ketika mereka hendak bepergian, menikah, maupun kegiatan semisalnya. Cara mereka melakukannya adalah dengan menuliskan kata “ya” dan “tidak” tersebut di anak panah, lalu diundi. Jika kata yang keluar adalah “iya”, barulah mereka melakukannya. Namun, jika yang keluar adalah “tidak”, maka mereka menunda melakukannya selama setahun. Setelah itu, mereka ulangi lagi undiannya.Jenis undian yang ketiga bersifat sosial, digunakan ketika masyarakat Arab jahiliah meragukan nasab seseorang. Aturannya, mereka mendatangi berhala Hubal bersama orang yang nasabnya meragukan, lalu menyembelih seratus ekor unta, dan diserahkan kepada juru undi. Jika setelah diundi tulisan yang keluar “dari golongan kalian”, maka ia diakui sebagai bagian dari golongan tersebut. Jika tulisan yang keluar adalah “bukan dari golongan kalian”, maka berarti ia bukan bagian golongan tapi sekutu. Jika yang keluar adalah “tanpa nasab dan ikatan”, maka ia bukan dari kedua golongan itu.Kepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalOrang-orang Arab jahiliah juga meyakini berita-berita dukun (كَاهِن), peramal (عَرَّاف), dan ahli nujum (مُنَجِّم). Dukun adalah orang yang mengaku bisa memberitakan peristiwa-peristiwa di masa depan dan mengklaim mengetahui hal-hal gaib. Di antara mereka ada yang mengaku memiliki pengikut dari kalangan bangsa jin yang menyampaikan informasi kepada mereka.Peramal adalah orang yang mengklaim mengetahui perkara-perkara dengan tanda-tanda awal dan sebab-sebab tertentu yang mereka gunakan untuk menyimpulkan kejadiannya berdasarkan ucapan-ucapan orang yang bertanya, tindakannya, maupun keadaannya. Misalnya, orang yang mengaku tahu barang curian, lokasi pencurian, dan barang hilang.Ahli nujum adalah orang yang mengamati bintang-bintang di langit dan menghitung pergerakannya beserta waktu-waktunya, untuk mengetahui keadaan dunia dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang melalui pergerakannya tersebut. Mempercayai kabar-kabar ahli nujum pada hakikatnya adalah bentuk beriman kepada bintang-bintang. Oleh karena itu, mereka biasa berkata, “Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu.”Keyakinan merasa sial karena sesuatuOrang-orang Arab jahiliah juga memiliki kepercayaan thiyarah, yaitu merasa sial karena sesuatu. Asal usulnya adalah bahwa mereka mendatangi burung atau kijang, lalu membuat hewan tersebut kaget agar terbang atau lari. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kanan, maka mereka melanjutkan niat mereka dan menganggapnya sebagai pertanda baik. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kiri, maka mereka mengurungkan niat tersebut dan menganggapnya sebagai pertanda sial. Mereka juga merasa sial jika ada burung atau binatang yang melintas di jalan mereka. Mereka juga merasa sial dengan hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu, rumah-rumah tertentu, dan wanita.Sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahDemikianlah kepercayaan-kepercayaan yang ada dalam masyarakat Arab jahiliah. Meskipun demikian, masih ada ajaran-ajaran Nabi Ibrahim yang tersisa, yaitu mereka masih mengagungkan Ka’bah, melakukan tawaf di Baitullah, berhaji, berumrah, berwukuf di Arafah dan Muzdalifah, dan menyembelih hewan kurban.Namun, mereka mengotori ibadah-ibadah tersebut dengan berbagai inovasi (bid’ah) yang mereka buat-buat sendiri. Berikut beberapa bentuk bid’ah yang mereka lakukan.Pertama: Orang-orang Quraisy tidak melakukan wukuf di Arafah dan bertolak dari Arafah menuju Mina, tapi mereka bertolak dari Muzdalifah. Padahal, aturan yang berlaku adalah wukuf di Arafah. Mereka menetapkan aturan tersebut karena mereka merasa tidak pantas kalau penduduk tanah haram keluar dari area tanah haram (karena Arafah itu berada di luar tanah haram). Dan juga karena mereka merasa bahwa mereka berkedudukan tinggi sebagai keturunan Nabi Ibrahim dan penjaga Baitullah, sehingga tidak perlu wukuf di Arafah. Terkait perbuatan mereka, Allah Ta’ālā berfirman,ثُمَّ اَفِيۡضُوۡا مِنۡ حَيۡثُ اَفَاضَ النَّاسُ“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat banyak orang bertolak (yakni dari Arafah).” (QS. Al-Baqarah: 199)Kedua: Mereka juga menetapkan aturan bagi mereka sendiri bahwa tidak boleh membungkus aqith (sejenis keju) dan memasak samin saat sedang berihram. Mereka juga tidak boleh memasuki kemah berbahan bulu dan hanya boleh berteduh di dalam tenda berbahan kulit ketika sedang ihram.Ketiga: Orang yang berasal dari luar tanah haram tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar tanah haram saat akan haji atau umrah. Selain itu, kabilah Quraisy juga menetapkan aturan bahwa orang yang berasal dari daerah luar tanah haram harus bertawaf mengenakan baju penduduk tanah haram. Jika orang-orang tersebut tidak mendapatinya, maka jemaah pria bertawaf dalam keadaan telanjang; sedangkan jemaah wanita bertawaf dengan hanya mengenakan pakaian longgar yang robek, lalu berkata,اليوم يبدو بعضه أو كله … وما بدا منه فلا أحله“Pada hari ini tampak sebagian atau seluruh tubuhku, dan apa yang tampak darinya tidak aku halalkan (untuk dipandang).” Lantunan syair ini menunjukkan bahwa sebenarnya para wanita tidak rela hanya mengenakan pakaian seadanya. Namun, mereka terpaksa melakukannya karena aturan yang dibuat-buat oleh orang-orang Quraisy.Allah Ta’ālā menurunkan firman-Nya sebagai bentuk pelurusan terhadap praktik tersebut,يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَكُمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)Keempat: Jika orang dari luar daerah tanah haram tetapi hendak memakai pakaian yang ia bawa dari daerah asalnya saat tawaf karena menjaga kehormatannya, maka setelah tawaf ia harus membuang pakaian tersebut dan tidak ada yang boleh memanfaatkan pakaian itu.Kelima: Ketika orang-orang Arab jahiliah sedang berihram, mereka tidak memasuki rumahnya melalui pintunya, tetapi mereka membuat lubang di belakang rumah untuk masuk dan keluar dari rumahnya.Inilah agama dan kepercayaan mayoritas bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Setelah mengetahui beragam penyimpangan dalam kepercayaan kaum Arab jahiliah, kini saatnya menelusuri bagaimana pengaruh eksternal mulai masuk ke Jazirah Arab melalui agama-agama samawi seperti Yahudi dan Kristen. Siapa yang membawanya dan bagaimana pengaruhnya? Insyaallah akan dibahas dalam artikel berikutnya.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.

Membaca Zikir Ini 100X Setan Tidak Akan Mendatangmu Sepanjang Hari – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar

Para ulama mengatakan bahwa pelindung terbesar dari setan adalah zikir berikut: LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR sebanyak 100 kali. Sepanjang hari itu, setan tidak akan mendatangimu. Barang siapa mengucapkannya, ia akan merasakan pengaruhnya dalam ibadah dan dalam kemampuannya bangun untuk Shalat Subuh. Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH sangat agung. Bahkan, sangat-sangat agung! ===== أَعْظَمُ حِرْزٍ مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ هَذَا الذِّكْرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ مِئَةَ مَرَّةٍ هَذَا الْيَوْمُ كُلُّهُ لَنْ يَأْتِيَكَ الشَّيْطَانُ وَمَنْ قَالَهَا وَجَدَ أَثَرَهَا فِي عِبَادَتِهِ وَاسْتِيقَاظِهِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ كَلِمَةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ هِيَ عَظِيمَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا جِدًّا جِدًّا

Membaca Zikir Ini 100X Setan Tidak Akan Mendatangmu Sepanjang Hari – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar

Para ulama mengatakan bahwa pelindung terbesar dari setan adalah zikir berikut: LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR sebanyak 100 kali. Sepanjang hari itu, setan tidak akan mendatangimu. Barang siapa mengucapkannya, ia akan merasakan pengaruhnya dalam ibadah dan dalam kemampuannya bangun untuk Shalat Subuh. Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH sangat agung. Bahkan, sangat-sangat agung! ===== أَعْظَمُ حِرْزٍ مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ هَذَا الذِّكْرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ مِئَةَ مَرَّةٍ هَذَا الْيَوْمُ كُلُّهُ لَنْ يَأْتِيَكَ الشَّيْطَانُ وَمَنْ قَالَهَا وَجَدَ أَثَرَهَا فِي عِبَادَتِهِ وَاسْتِيقَاظِهِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ كَلِمَةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ هِيَ عَظِيمَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا جِدًّا جِدًّا
Para ulama mengatakan bahwa pelindung terbesar dari setan adalah zikir berikut: LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR sebanyak 100 kali. Sepanjang hari itu, setan tidak akan mendatangimu. Barang siapa mengucapkannya, ia akan merasakan pengaruhnya dalam ibadah dan dalam kemampuannya bangun untuk Shalat Subuh. Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH sangat agung. Bahkan, sangat-sangat agung! ===== أَعْظَمُ حِرْزٍ مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ هَذَا الذِّكْرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ مِئَةَ مَرَّةٍ هَذَا الْيَوْمُ كُلُّهُ لَنْ يَأْتِيَكَ الشَّيْطَانُ وَمَنْ قَالَهَا وَجَدَ أَثَرَهَا فِي عِبَادَتِهِ وَاسْتِيقَاظِهِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ كَلِمَةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ هِيَ عَظِيمَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا جِدًّا جِدًّا


Para ulama mengatakan bahwa pelindung terbesar dari setan adalah zikir berikut: LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR sebanyak 100 kali. Sepanjang hari itu, setan tidak akan mendatangimu. Barang siapa mengucapkannya, ia akan merasakan pengaruhnya dalam ibadah dan dalam kemampuannya bangun untuk Shalat Subuh. Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH sangat agung. Bahkan, sangat-sangat agung! ===== أَعْظَمُ حِرْزٍ مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ هَذَا الذِّكْرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ مِئَةَ مَرَّةٍ هَذَا الْيَوْمُ كُلُّهُ لَنْ يَأْتِيَكَ الشَّيْطَانُ وَمَنْ قَالَهَا وَجَدَ أَثَرَهَا فِي عِبَادَتِهِ وَاسْتِيقَاظِهِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ كَلِمَةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ هِيَ عَظِيمَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا جِدًّا جِدًّا

Tiga Kaidah dalam Menjalankan Urusan Agama dan Duniawi

القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Oleh:  Yazin al-Ghanim يزن الغانم المقدمة: بسم الله، والحمد لله؛ أما بعد: فهذه قواعد ينبغي استحضارها، والعمل بها في كل أمر من أمور الدين والدنيا، واللهَ أسأل أن يتقبَّلَها وأن ينفع بها. Pendahuluan  Bismillah, segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amma ba’du: Berikut adalah kaidah-kaidah yang selayaknya senantiasa dihadirkan dan diterapkan dalam menjalani setiap urusan yang berkaitan dengan agama atau duniawi. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menerima artikel singkat ini sebagai amal shaleh dan menjadikannya bermanfaat. القاعدة الأولى: الدعاء: وذلك بأن تدعوَ الله في كل أمر من أمور الدين والدنيا، في تيسيره وتسهيله؛ فإن الدعاء عبادة وقُرْبَةٌ واستعانة بالله الذي بيده الأمر كله؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴾ [غافر: 60]، وقال النبي عليه الصلاة والسلام: ((الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ))؛ [رواه أبو داود، والترمذي، وغيرهما]. وعلى العبد أن يسأل ربه في كل صغيرة وكبيرة من خَيْرَي الدنيا والآخرة؛ ففي الحديث: ((لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ))؛ [رواه الترمذي وغيره]. يقول الإمام ابن رجب في [جامع العلوم والحكم (1/ 225)]: “وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه، حتى مِلْح عجينه وعلف شاته، وفي الإسرائيليات: أن موسى عليه الصلاة والسلام قال: يا رب، إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا، فأستحيي أن أسألك، قال: سَلْني حتى ملح عجينك، وعلف حمارك”. فإنَّ كلَّ ما يحتاج العبد إليه إذا سأله من الله، فقد أظهر حاجته فيه وافتقاره إلى الله، وذاك يحبه الله، وكان بعض السلف يستحيي من الله أن يسأله شيئًا من مصالح الدنيا، والاقتداءُ بالسنة أَوْلَى. Kaidah Pertama: Doa Yakni, hendaklah kamu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap urusan agama dan duniawi agar dimudahkan dan dilancarkan, karena doa merupakan ibadah, pendekatan diri, dan permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di tangan-Nya segala urusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa merupakan ibadah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya). Seorang hamba harus meminta kepada Tuhannya dalam setiap kebaikan dunia dan akhirat yang kecil maupun besar. Dalam hadis disebutkan: لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ “Hendaklah setiap kalian meminta kepada Tuhannya semua kebutuhannya, bahkan meminta tali sandalnya jika putus.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya). Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jami al-Ulum wa al-Hikam jilid 1 hlm. 225 mengatakan, “Dulu seorang Salaf memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam salatnya seluruh kebutuhannya, bahkan garam untuk adonan rotinya dan rumput untuk dombanya. Dalam kisah Israiliyat disebutkan bahwa Nabi Musa Alaihissalam pernah berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh aku punya suatu kebutuhan duniawi, tapi aku malu untuk meminta kepada Engkau!’ Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu berfirman, ‘Mintalah kepadaku, bahkan garam untuk adonan rotimu dan rumput untuk keledaimu!’”  Apabila seorang hamba memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala hal yang ia butuhkan, maka ia telah menampakkan ketergantungan dan kebutuhannya kepada-Nya, dan ini sesuatu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun ada sebagian Salaf yang merasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika ia memohon suatu perkara duniawi. Namun, mengikuti sunnah dalam hal ini lebih utama. القاعدة الثانية: التوكل: التوكل على الله تعالى في كل أمر من أمور الدين والدنيا، والاستعانة به سبحانه في تيسير ذلك وتسهيله؛ قال تعالى: ﴿ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ﴾ [الطلاق: 3]؛ حسبه: أي: كافيه. ومن أجمع التعاريف للتوكل ما ذكره العلامة ابن عثيمين رحمه الله تعالى: “هو صدق الاعتماد على الله عز وجل في جلب المنافع ودفع المضارِّ، مع فعل الأسباب التي أمر الله بها”؛ [مجموع الفتاوى والرسائل (1/ 106)]. فالعبد المؤمن يعتمد على الله، ويتعلق قلبه بالله في كل صغيرة وكبيرة؛ لأنه يرى الأشياء كلها من الله وبمشيئته وتحت أمره. Kaidah Kedua: Tawakal Tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala urusan dunia dan agama, dan memohon kepada-Nya untuk kemudahan dan kelancarannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3). Di antara definisi tawakal yang paling lengkap adalah yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala:  Tawakal merupakan ketulusan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mencari manfaat dan menghindari mudharat, disertai dengan menjalankan sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan. (Kitab Majmu al-Fatawa wa ar-Rasail jilid 1 hlm. 106). Seorang hamba yang beriman pasti akan bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menautkan hatinya kepada-Nya dalam segala urusan yang kecil maupun besar, karena ia memandang bahwa segala hal berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kehendak-Nya, dan di bawah kuasa-Nya. القاعدة الثالثة: فعل الأسباب: لا بد من الأخذ بالأسباب الجالبة للخير والمانعة من الشر، وهذا لا ينافي التوكل، وقد كان سيد المتوكلين محمد صلى الله عليه وسلم يتخذ الأسباب الشرعية والقدرية؛ فكان يُعَوِّذُ نفسه بالأذكار، وعند النوم بالإخلاص والمعوذتين، وكان يلبس الدروع في الحرب، وحَفَرَ الخندق في غزوة الأحزاب، وغير ذلك مما كان منه صلى الله عليه وسلم، وهو القدوة. وفي أهمية بذل السبب – حتى ولو كان هذا السبب ضعيفًا – قد ذكر الله من أمر مريم عليها السلام، وهي المرأة الضعيفة النُّفَسَاء بهزِّ جذع النخلة الذي يثقل على الرجال؛ ليعلم الناس أهمية الأخذ بالأسباب؛ قال تعالى: ﴿ وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ﴾ [مريم: 25]؛ قال العلامة الشنقيطي رحمه الله تعالى: “والله جل وعلا قادر على أن يُسْقِطَ لها الرطب من غير هزِّ الجذع، ولكنه أمرها بالتسبب في إسقاطه بهز الجذع، وقد قال بعضهم في ذلك: ألم تَرَ أن الله قال لمريم وهزي إليك الجذعَ يسَّاقط الرُّطبْ  ولو شاء أن تجنيه من غير هزة جَنَتْهُ ولكن كلُّ شيء له سببْ  [أضواء البيان (183/4)]. Kaidah Ketiga: Menjalankan Sebab-Sebab, Berikhtiar Harus tetap menjalankan sebab-sebab yang dapat mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan. Ini tentu tidak bertentangan dengan sikap tawakal, karena dulu manusia yang paling bertawakal, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam juga tetap menjalankan hal-hal yang menjadi sebab secara syariat dan hukum alam. Dulu beliau melindungi diri dengan zikir-zikir, dan beliau berzikir sebelum tidur dengan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Dulu beliau tetap memakai baju besi dalam peperangan, menggali parit besar dalam perang Ahzab, dan hal-hal lainnya yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kerjakan sebagai bentuk ikhtiar, dan beliau adalah teladan dalam hal ini. Di antara bentuk urgensi mengamalkan sebab-sebab —meskipun itu hanya sebab kecil saja— Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perintah-Nya kepada Maryam, yang ketika itu menjadi wanita yang lemah setelah melahirkan, untuk menggoyang-goyangkan batang pohon kurma yang kaum pria pun akan kesulitan melakukannya, tapi perintah ini diberikan untuk mengajarkan manusia betapa pentingnya mengamalkan sebab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا “Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25). Syaikh Asy-Syinqithi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk menjatuhkan buah kurma untuk Maryam tanpa harus menggoyangkan pohon kurma, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam untuk menjalankan sebab penjatuhan buah kurma dengan menggoyang batangnya. Dalam hal ini, ada seorang penyair yang mengatakan: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ قَالَ لِمَرْيَمَ وَهُزِّي إِلَيْكِ الْجِذْعَ يَسَّاقَطُ الرُّطَبْ Tidakkah kamu lihat bahwa Allah berfirman kepada Maryam ‘Dan goyangkanlah pohon kurma agar berjatuhan buah kurma’ وَلَوْ شَاءَ أَنْ تُجْنِيْهِ مِنْ غَيْرِ هَزَّةِ جَنَتْهُ وَلَكِنْ كُلُّ شَيءٍ لَهُ سَبَبْ Seandainya Allah menghendaki buah kurma itu jatuh tanpa harus menggoyangkan batangnya Niscaya kurma itu akan jatuh sendiri, tapi segala hal punya sebab (Kitab Adhwa’ al-Bayan jilid 4 hlm. 183). الخاتمة: إن الدعاء فيه استعانة بالله القوي الذي لا يُعْجِزُهُ شيء، والتوكل فيه تعلق القلب بالله الذي بيده كل شيء، والأخذ بالأسباب فيه الأخذ بكل ما أمر الله به من الأسباب الشرعية والقدرية. هذا، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Penutup  Dalam doa terdapat permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Kuat, Yang tidak ada yang membuat-Nya lemah. Sedangkan dalam tawakal terdapat keterpautan hati dengan Allah Yang di tangan-Nya segala sesuatu. Lalu dalam ikhtiar terdapat penjalanan segala sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan secara syariat atau hukum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan terhadap alam semesta ini. Sekian, semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 257 times, 1 visit(s) today Post Views: 422 QRIS donasi Yufid

Tiga Kaidah dalam Menjalankan Urusan Agama dan Duniawi

القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Oleh:  Yazin al-Ghanim يزن الغانم المقدمة: بسم الله، والحمد لله؛ أما بعد: فهذه قواعد ينبغي استحضارها، والعمل بها في كل أمر من أمور الدين والدنيا، واللهَ أسأل أن يتقبَّلَها وأن ينفع بها. Pendahuluan  Bismillah, segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amma ba’du: Berikut adalah kaidah-kaidah yang selayaknya senantiasa dihadirkan dan diterapkan dalam menjalani setiap urusan yang berkaitan dengan agama atau duniawi. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menerima artikel singkat ini sebagai amal shaleh dan menjadikannya bermanfaat. القاعدة الأولى: الدعاء: وذلك بأن تدعوَ الله في كل أمر من أمور الدين والدنيا، في تيسيره وتسهيله؛ فإن الدعاء عبادة وقُرْبَةٌ واستعانة بالله الذي بيده الأمر كله؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴾ [غافر: 60]، وقال النبي عليه الصلاة والسلام: ((الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ))؛ [رواه أبو داود، والترمذي، وغيرهما]. وعلى العبد أن يسأل ربه في كل صغيرة وكبيرة من خَيْرَي الدنيا والآخرة؛ ففي الحديث: ((لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ))؛ [رواه الترمذي وغيره]. يقول الإمام ابن رجب في [جامع العلوم والحكم (1/ 225)]: “وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه، حتى مِلْح عجينه وعلف شاته، وفي الإسرائيليات: أن موسى عليه الصلاة والسلام قال: يا رب، إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا، فأستحيي أن أسألك، قال: سَلْني حتى ملح عجينك، وعلف حمارك”. فإنَّ كلَّ ما يحتاج العبد إليه إذا سأله من الله، فقد أظهر حاجته فيه وافتقاره إلى الله، وذاك يحبه الله، وكان بعض السلف يستحيي من الله أن يسأله شيئًا من مصالح الدنيا، والاقتداءُ بالسنة أَوْلَى. Kaidah Pertama: Doa Yakni, hendaklah kamu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap urusan agama dan duniawi agar dimudahkan dan dilancarkan, karena doa merupakan ibadah, pendekatan diri, dan permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di tangan-Nya segala urusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa merupakan ibadah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya). Seorang hamba harus meminta kepada Tuhannya dalam setiap kebaikan dunia dan akhirat yang kecil maupun besar. Dalam hadis disebutkan: لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ “Hendaklah setiap kalian meminta kepada Tuhannya semua kebutuhannya, bahkan meminta tali sandalnya jika putus.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya). Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jami al-Ulum wa al-Hikam jilid 1 hlm. 225 mengatakan, “Dulu seorang Salaf memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam salatnya seluruh kebutuhannya, bahkan garam untuk adonan rotinya dan rumput untuk dombanya. Dalam kisah Israiliyat disebutkan bahwa Nabi Musa Alaihissalam pernah berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh aku punya suatu kebutuhan duniawi, tapi aku malu untuk meminta kepada Engkau!’ Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu berfirman, ‘Mintalah kepadaku, bahkan garam untuk adonan rotimu dan rumput untuk keledaimu!’”  Apabila seorang hamba memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala hal yang ia butuhkan, maka ia telah menampakkan ketergantungan dan kebutuhannya kepada-Nya, dan ini sesuatu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun ada sebagian Salaf yang merasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika ia memohon suatu perkara duniawi. Namun, mengikuti sunnah dalam hal ini lebih utama. القاعدة الثانية: التوكل: التوكل على الله تعالى في كل أمر من أمور الدين والدنيا، والاستعانة به سبحانه في تيسير ذلك وتسهيله؛ قال تعالى: ﴿ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ﴾ [الطلاق: 3]؛ حسبه: أي: كافيه. ومن أجمع التعاريف للتوكل ما ذكره العلامة ابن عثيمين رحمه الله تعالى: “هو صدق الاعتماد على الله عز وجل في جلب المنافع ودفع المضارِّ، مع فعل الأسباب التي أمر الله بها”؛ [مجموع الفتاوى والرسائل (1/ 106)]. فالعبد المؤمن يعتمد على الله، ويتعلق قلبه بالله في كل صغيرة وكبيرة؛ لأنه يرى الأشياء كلها من الله وبمشيئته وتحت أمره. Kaidah Kedua: Tawakal Tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala urusan dunia dan agama, dan memohon kepada-Nya untuk kemudahan dan kelancarannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3). Di antara definisi tawakal yang paling lengkap adalah yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala:  Tawakal merupakan ketulusan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mencari manfaat dan menghindari mudharat, disertai dengan menjalankan sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan. (Kitab Majmu al-Fatawa wa ar-Rasail jilid 1 hlm. 106). Seorang hamba yang beriman pasti akan bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menautkan hatinya kepada-Nya dalam segala urusan yang kecil maupun besar, karena ia memandang bahwa segala hal berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kehendak-Nya, dan di bawah kuasa-Nya. القاعدة الثالثة: فعل الأسباب: لا بد من الأخذ بالأسباب الجالبة للخير والمانعة من الشر، وهذا لا ينافي التوكل، وقد كان سيد المتوكلين محمد صلى الله عليه وسلم يتخذ الأسباب الشرعية والقدرية؛ فكان يُعَوِّذُ نفسه بالأذكار، وعند النوم بالإخلاص والمعوذتين، وكان يلبس الدروع في الحرب، وحَفَرَ الخندق في غزوة الأحزاب، وغير ذلك مما كان منه صلى الله عليه وسلم، وهو القدوة. وفي أهمية بذل السبب – حتى ولو كان هذا السبب ضعيفًا – قد ذكر الله من أمر مريم عليها السلام، وهي المرأة الضعيفة النُّفَسَاء بهزِّ جذع النخلة الذي يثقل على الرجال؛ ليعلم الناس أهمية الأخذ بالأسباب؛ قال تعالى: ﴿ وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ﴾ [مريم: 25]؛ قال العلامة الشنقيطي رحمه الله تعالى: “والله جل وعلا قادر على أن يُسْقِطَ لها الرطب من غير هزِّ الجذع، ولكنه أمرها بالتسبب في إسقاطه بهز الجذع، وقد قال بعضهم في ذلك: ألم تَرَ أن الله قال لمريم وهزي إليك الجذعَ يسَّاقط الرُّطبْ  ولو شاء أن تجنيه من غير هزة جَنَتْهُ ولكن كلُّ شيء له سببْ  [أضواء البيان (183/4)]. Kaidah Ketiga: Menjalankan Sebab-Sebab, Berikhtiar Harus tetap menjalankan sebab-sebab yang dapat mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan. Ini tentu tidak bertentangan dengan sikap tawakal, karena dulu manusia yang paling bertawakal, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam juga tetap menjalankan hal-hal yang menjadi sebab secara syariat dan hukum alam. Dulu beliau melindungi diri dengan zikir-zikir, dan beliau berzikir sebelum tidur dengan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Dulu beliau tetap memakai baju besi dalam peperangan, menggali parit besar dalam perang Ahzab, dan hal-hal lainnya yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kerjakan sebagai bentuk ikhtiar, dan beliau adalah teladan dalam hal ini. Di antara bentuk urgensi mengamalkan sebab-sebab —meskipun itu hanya sebab kecil saja— Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perintah-Nya kepada Maryam, yang ketika itu menjadi wanita yang lemah setelah melahirkan, untuk menggoyang-goyangkan batang pohon kurma yang kaum pria pun akan kesulitan melakukannya, tapi perintah ini diberikan untuk mengajarkan manusia betapa pentingnya mengamalkan sebab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا “Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25). Syaikh Asy-Syinqithi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk menjatuhkan buah kurma untuk Maryam tanpa harus menggoyangkan pohon kurma, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam untuk menjalankan sebab penjatuhan buah kurma dengan menggoyang batangnya. Dalam hal ini, ada seorang penyair yang mengatakan: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ قَالَ لِمَرْيَمَ وَهُزِّي إِلَيْكِ الْجِذْعَ يَسَّاقَطُ الرُّطَبْ Tidakkah kamu lihat bahwa Allah berfirman kepada Maryam ‘Dan goyangkanlah pohon kurma agar berjatuhan buah kurma’ وَلَوْ شَاءَ أَنْ تُجْنِيْهِ مِنْ غَيْرِ هَزَّةِ جَنَتْهُ وَلَكِنْ كُلُّ شَيءٍ لَهُ سَبَبْ Seandainya Allah menghendaki buah kurma itu jatuh tanpa harus menggoyangkan batangnya Niscaya kurma itu akan jatuh sendiri, tapi segala hal punya sebab (Kitab Adhwa’ al-Bayan jilid 4 hlm. 183). الخاتمة: إن الدعاء فيه استعانة بالله القوي الذي لا يُعْجِزُهُ شيء، والتوكل فيه تعلق القلب بالله الذي بيده كل شيء، والأخذ بالأسباب فيه الأخذ بكل ما أمر الله به من الأسباب الشرعية والقدرية. هذا، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Penutup  Dalam doa terdapat permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Kuat, Yang tidak ada yang membuat-Nya lemah. Sedangkan dalam tawakal terdapat keterpautan hati dengan Allah Yang di tangan-Nya segala sesuatu. Lalu dalam ikhtiar terdapat penjalanan segala sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan secara syariat atau hukum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan terhadap alam semesta ini. Sekian, semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 257 times, 1 visit(s) today Post Views: 422 QRIS donasi Yufid
القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Oleh:  Yazin al-Ghanim يزن الغانم المقدمة: بسم الله، والحمد لله؛ أما بعد: فهذه قواعد ينبغي استحضارها، والعمل بها في كل أمر من أمور الدين والدنيا، واللهَ أسأل أن يتقبَّلَها وأن ينفع بها. Pendahuluan  Bismillah, segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amma ba’du: Berikut adalah kaidah-kaidah yang selayaknya senantiasa dihadirkan dan diterapkan dalam menjalani setiap urusan yang berkaitan dengan agama atau duniawi. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menerima artikel singkat ini sebagai amal shaleh dan menjadikannya bermanfaat. القاعدة الأولى: الدعاء: وذلك بأن تدعوَ الله في كل أمر من أمور الدين والدنيا، في تيسيره وتسهيله؛ فإن الدعاء عبادة وقُرْبَةٌ واستعانة بالله الذي بيده الأمر كله؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴾ [غافر: 60]، وقال النبي عليه الصلاة والسلام: ((الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ))؛ [رواه أبو داود، والترمذي، وغيرهما]. وعلى العبد أن يسأل ربه في كل صغيرة وكبيرة من خَيْرَي الدنيا والآخرة؛ ففي الحديث: ((لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ))؛ [رواه الترمذي وغيره]. يقول الإمام ابن رجب في [جامع العلوم والحكم (1/ 225)]: “وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه، حتى مِلْح عجينه وعلف شاته، وفي الإسرائيليات: أن موسى عليه الصلاة والسلام قال: يا رب، إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا، فأستحيي أن أسألك، قال: سَلْني حتى ملح عجينك، وعلف حمارك”. فإنَّ كلَّ ما يحتاج العبد إليه إذا سأله من الله، فقد أظهر حاجته فيه وافتقاره إلى الله، وذاك يحبه الله، وكان بعض السلف يستحيي من الله أن يسأله شيئًا من مصالح الدنيا، والاقتداءُ بالسنة أَوْلَى. Kaidah Pertama: Doa Yakni, hendaklah kamu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap urusan agama dan duniawi agar dimudahkan dan dilancarkan, karena doa merupakan ibadah, pendekatan diri, dan permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di tangan-Nya segala urusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa merupakan ibadah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya). Seorang hamba harus meminta kepada Tuhannya dalam setiap kebaikan dunia dan akhirat yang kecil maupun besar. Dalam hadis disebutkan: لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ “Hendaklah setiap kalian meminta kepada Tuhannya semua kebutuhannya, bahkan meminta tali sandalnya jika putus.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya). Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jami al-Ulum wa al-Hikam jilid 1 hlm. 225 mengatakan, “Dulu seorang Salaf memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam salatnya seluruh kebutuhannya, bahkan garam untuk adonan rotinya dan rumput untuk dombanya. Dalam kisah Israiliyat disebutkan bahwa Nabi Musa Alaihissalam pernah berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh aku punya suatu kebutuhan duniawi, tapi aku malu untuk meminta kepada Engkau!’ Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu berfirman, ‘Mintalah kepadaku, bahkan garam untuk adonan rotimu dan rumput untuk keledaimu!’”  Apabila seorang hamba memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala hal yang ia butuhkan, maka ia telah menampakkan ketergantungan dan kebutuhannya kepada-Nya, dan ini sesuatu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun ada sebagian Salaf yang merasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika ia memohon suatu perkara duniawi. Namun, mengikuti sunnah dalam hal ini lebih utama. القاعدة الثانية: التوكل: التوكل على الله تعالى في كل أمر من أمور الدين والدنيا، والاستعانة به سبحانه في تيسير ذلك وتسهيله؛ قال تعالى: ﴿ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ﴾ [الطلاق: 3]؛ حسبه: أي: كافيه. ومن أجمع التعاريف للتوكل ما ذكره العلامة ابن عثيمين رحمه الله تعالى: “هو صدق الاعتماد على الله عز وجل في جلب المنافع ودفع المضارِّ، مع فعل الأسباب التي أمر الله بها”؛ [مجموع الفتاوى والرسائل (1/ 106)]. فالعبد المؤمن يعتمد على الله، ويتعلق قلبه بالله في كل صغيرة وكبيرة؛ لأنه يرى الأشياء كلها من الله وبمشيئته وتحت أمره. Kaidah Kedua: Tawakal Tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala urusan dunia dan agama, dan memohon kepada-Nya untuk kemudahan dan kelancarannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3). Di antara definisi tawakal yang paling lengkap adalah yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala:  Tawakal merupakan ketulusan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mencari manfaat dan menghindari mudharat, disertai dengan menjalankan sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan. (Kitab Majmu al-Fatawa wa ar-Rasail jilid 1 hlm. 106). Seorang hamba yang beriman pasti akan bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menautkan hatinya kepada-Nya dalam segala urusan yang kecil maupun besar, karena ia memandang bahwa segala hal berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kehendak-Nya, dan di bawah kuasa-Nya. القاعدة الثالثة: فعل الأسباب: لا بد من الأخذ بالأسباب الجالبة للخير والمانعة من الشر، وهذا لا ينافي التوكل، وقد كان سيد المتوكلين محمد صلى الله عليه وسلم يتخذ الأسباب الشرعية والقدرية؛ فكان يُعَوِّذُ نفسه بالأذكار، وعند النوم بالإخلاص والمعوذتين، وكان يلبس الدروع في الحرب، وحَفَرَ الخندق في غزوة الأحزاب، وغير ذلك مما كان منه صلى الله عليه وسلم، وهو القدوة. وفي أهمية بذل السبب – حتى ولو كان هذا السبب ضعيفًا – قد ذكر الله من أمر مريم عليها السلام، وهي المرأة الضعيفة النُّفَسَاء بهزِّ جذع النخلة الذي يثقل على الرجال؛ ليعلم الناس أهمية الأخذ بالأسباب؛ قال تعالى: ﴿ وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ﴾ [مريم: 25]؛ قال العلامة الشنقيطي رحمه الله تعالى: “والله جل وعلا قادر على أن يُسْقِطَ لها الرطب من غير هزِّ الجذع، ولكنه أمرها بالتسبب في إسقاطه بهز الجذع، وقد قال بعضهم في ذلك: ألم تَرَ أن الله قال لمريم وهزي إليك الجذعَ يسَّاقط الرُّطبْ  ولو شاء أن تجنيه من غير هزة جَنَتْهُ ولكن كلُّ شيء له سببْ  [أضواء البيان (183/4)]. Kaidah Ketiga: Menjalankan Sebab-Sebab, Berikhtiar Harus tetap menjalankan sebab-sebab yang dapat mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan. Ini tentu tidak bertentangan dengan sikap tawakal, karena dulu manusia yang paling bertawakal, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam juga tetap menjalankan hal-hal yang menjadi sebab secara syariat dan hukum alam. Dulu beliau melindungi diri dengan zikir-zikir, dan beliau berzikir sebelum tidur dengan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Dulu beliau tetap memakai baju besi dalam peperangan, menggali parit besar dalam perang Ahzab, dan hal-hal lainnya yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kerjakan sebagai bentuk ikhtiar, dan beliau adalah teladan dalam hal ini. Di antara bentuk urgensi mengamalkan sebab-sebab —meskipun itu hanya sebab kecil saja— Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perintah-Nya kepada Maryam, yang ketika itu menjadi wanita yang lemah setelah melahirkan, untuk menggoyang-goyangkan batang pohon kurma yang kaum pria pun akan kesulitan melakukannya, tapi perintah ini diberikan untuk mengajarkan manusia betapa pentingnya mengamalkan sebab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا “Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25). Syaikh Asy-Syinqithi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk menjatuhkan buah kurma untuk Maryam tanpa harus menggoyangkan pohon kurma, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam untuk menjalankan sebab penjatuhan buah kurma dengan menggoyang batangnya. Dalam hal ini, ada seorang penyair yang mengatakan: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ قَالَ لِمَرْيَمَ وَهُزِّي إِلَيْكِ الْجِذْعَ يَسَّاقَطُ الرُّطَبْ Tidakkah kamu lihat bahwa Allah berfirman kepada Maryam ‘Dan goyangkanlah pohon kurma agar berjatuhan buah kurma’ وَلَوْ شَاءَ أَنْ تُجْنِيْهِ مِنْ غَيْرِ هَزَّةِ جَنَتْهُ وَلَكِنْ كُلُّ شَيءٍ لَهُ سَبَبْ Seandainya Allah menghendaki buah kurma itu jatuh tanpa harus menggoyangkan batangnya Niscaya kurma itu akan jatuh sendiri, tapi segala hal punya sebab (Kitab Adhwa’ al-Bayan jilid 4 hlm. 183). الخاتمة: إن الدعاء فيه استعانة بالله القوي الذي لا يُعْجِزُهُ شيء، والتوكل فيه تعلق القلب بالله الذي بيده كل شيء، والأخذ بالأسباب فيه الأخذ بكل ما أمر الله به من الأسباب الشرعية والقدرية. هذا، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Penutup  Dalam doa terdapat permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Kuat, Yang tidak ada yang membuat-Nya lemah. Sedangkan dalam tawakal terdapat keterpautan hati dengan Allah Yang di tangan-Nya segala sesuatu. Lalu dalam ikhtiar terdapat penjalanan segala sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan secara syariat atau hukum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan terhadap alam semesta ini. Sekian, semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 257 times, 1 visit(s) today Post Views: 422 QRIS donasi Yufid


القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Oleh:  Yazin al-Ghanim يزن الغانم المقدمة: بسم الله، والحمد لله؛ أما بعد: فهذه قواعد ينبغي استحضارها، والعمل بها في كل أمر من أمور الدين والدنيا، واللهَ أسأل أن يتقبَّلَها وأن ينفع بها. Pendahuluan  Bismillah, segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amma ba’du: Berikut adalah kaidah-kaidah yang selayaknya senantiasa dihadirkan dan diterapkan dalam menjalani setiap urusan yang berkaitan dengan agama atau duniawi. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menerima artikel singkat ini sebagai amal shaleh dan menjadikannya bermanfaat. القاعدة الأولى: الدعاء: وذلك بأن تدعوَ الله في كل أمر من أمور الدين والدنيا، في تيسيره وتسهيله؛ فإن الدعاء عبادة وقُرْبَةٌ واستعانة بالله الذي بيده الأمر كله؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴾ [غافر: 60]، وقال النبي عليه الصلاة والسلام: ((الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ))؛ [رواه أبو داود، والترمذي، وغيرهما]. وعلى العبد أن يسأل ربه في كل صغيرة وكبيرة من خَيْرَي الدنيا والآخرة؛ ففي الحديث: ((لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ))؛ [رواه الترمذي وغيره]. يقول الإمام ابن رجب في [جامع العلوم والحكم (1/ 225)]: “وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه، حتى مِلْح عجينه وعلف شاته، وفي الإسرائيليات: أن موسى عليه الصلاة والسلام قال: يا رب، إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا، فأستحيي أن أسألك، قال: سَلْني حتى ملح عجينك، وعلف حمارك”. فإنَّ كلَّ ما يحتاج العبد إليه إذا سأله من الله، فقد أظهر حاجته فيه وافتقاره إلى الله، وذاك يحبه الله، وكان بعض السلف يستحيي من الله أن يسأله شيئًا من مصالح الدنيا، والاقتداءُ بالسنة أَوْلَى. Kaidah Pertama: Doa Yakni, hendaklah kamu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap urusan agama dan duniawi agar dimudahkan dan dilancarkan, karena doa merupakan ibadah, pendekatan diri, dan permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di tangan-Nya segala urusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa merupakan ibadah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya). Seorang hamba harus meminta kepada Tuhannya dalam setiap kebaikan dunia dan akhirat yang kecil maupun besar. Dalam hadis disebutkan: لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ “Hendaklah setiap kalian meminta kepada Tuhannya semua kebutuhannya, bahkan meminta tali sandalnya jika putus.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya). Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jami al-Ulum wa al-Hikam jilid 1 hlm. 225 mengatakan, “Dulu seorang Salaf memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam salatnya seluruh kebutuhannya, bahkan garam untuk adonan rotinya dan rumput untuk dombanya. Dalam kisah Israiliyat disebutkan bahwa Nabi Musa Alaihissalam pernah berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh aku punya suatu kebutuhan duniawi, tapi aku malu untuk meminta kepada Engkau!’ Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu berfirman, ‘Mintalah kepadaku, bahkan garam untuk adonan rotimu dan rumput untuk keledaimu!’”  Apabila seorang hamba memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala hal yang ia butuhkan, maka ia telah menampakkan ketergantungan dan kebutuhannya kepada-Nya, dan ini sesuatu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun ada sebagian Salaf yang merasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika ia memohon suatu perkara duniawi. Namun, mengikuti sunnah dalam hal ini lebih utama. القاعدة الثانية: التوكل: التوكل على الله تعالى في كل أمر من أمور الدين والدنيا، والاستعانة به سبحانه في تيسير ذلك وتسهيله؛ قال تعالى: ﴿ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ﴾ [الطلاق: 3]؛ حسبه: أي: كافيه. ومن أجمع التعاريف للتوكل ما ذكره العلامة ابن عثيمين رحمه الله تعالى: “هو صدق الاعتماد على الله عز وجل في جلب المنافع ودفع المضارِّ، مع فعل الأسباب التي أمر الله بها”؛ [مجموع الفتاوى والرسائل (1/ 106)]. فالعبد المؤمن يعتمد على الله، ويتعلق قلبه بالله في كل صغيرة وكبيرة؛ لأنه يرى الأشياء كلها من الله وبمشيئته وتحت أمره. Kaidah Kedua: Tawakal Tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala urusan dunia dan agama, dan memohon kepada-Nya untuk kemudahan dan kelancarannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3). Di antara definisi tawakal yang paling lengkap adalah yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala:  Tawakal merupakan ketulusan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mencari manfaat dan menghindari mudharat, disertai dengan menjalankan sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan. (Kitab Majmu al-Fatawa wa ar-Rasail jilid 1 hlm. 106). Seorang hamba yang beriman pasti akan bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menautkan hatinya kepada-Nya dalam segala urusan yang kecil maupun besar, karena ia memandang bahwa segala hal berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kehendak-Nya, dan di bawah kuasa-Nya. القاعدة الثالثة: فعل الأسباب: لا بد من الأخذ بالأسباب الجالبة للخير والمانعة من الشر، وهذا لا ينافي التوكل، وقد كان سيد المتوكلين محمد صلى الله عليه وسلم يتخذ الأسباب الشرعية والقدرية؛ فكان يُعَوِّذُ نفسه بالأذكار، وعند النوم بالإخلاص والمعوذتين، وكان يلبس الدروع في الحرب، وحَفَرَ الخندق في غزوة الأحزاب، وغير ذلك مما كان منه صلى الله عليه وسلم، وهو القدوة. وفي أهمية بذل السبب – حتى ولو كان هذا السبب ضعيفًا – قد ذكر الله من أمر مريم عليها السلام، وهي المرأة الضعيفة النُّفَسَاء بهزِّ جذع النخلة الذي يثقل على الرجال؛ ليعلم الناس أهمية الأخذ بالأسباب؛ قال تعالى: ﴿ وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ﴾ [مريم: 25]؛ قال العلامة الشنقيطي رحمه الله تعالى: “والله جل وعلا قادر على أن يُسْقِطَ لها الرطب من غير هزِّ الجذع، ولكنه أمرها بالتسبب في إسقاطه بهز الجذع، وقد قال بعضهم في ذلك: ألم تَرَ أن الله قال لمريم وهزي إليك الجذعَ يسَّاقط الرُّطبْ  ولو شاء أن تجنيه من غير هزة جَنَتْهُ ولكن كلُّ شيء له سببْ  [أضواء البيان (183/4)]. Kaidah Ketiga: Menjalankan Sebab-Sebab, Berikhtiar Harus tetap menjalankan sebab-sebab yang dapat mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan. Ini tentu tidak bertentangan dengan sikap tawakal, karena dulu manusia yang paling bertawakal, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam juga tetap menjalankan hal-hal yang menjadi sebab secara syariat dan hukum alam. Dulu beliau melindungi diri dengan zikir-zikir, dan beliau berzikir sebelum tidur dengan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Dulu beliau tetap memakai baju besi dalam peperangan, menggali parit besar dalam perang Ahzab, dan hal-hal lainnya yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kerjakan sebagai bentuk ikhtiar, dan beliau adalah teladan dalam hal ini. Di antara bentuk urgensi mengamalkan sebab-sebab —meskipun itu hanya sebab kecil saja— Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perintah-Nya kepada Maryam, yang ketika itu menjadi wanita yang lemah setelah melahirkan, untuk menggoyang-goyangkan batang pohon kurma yang kaum pria pun akan kesulitan melakukannya, tapi perintah ini diberikan untuk mengajarkan manusia betapa pentingnya mengamalkan sebab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا “Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25). Syaikh Asy-Syinqithi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk menjatuhkan buah kurma untuk Maryam tanpa harus menggoyangkan pohon kurma, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam untuk menjalankan sebab penjatuhan buah kurma dengan menggoyang batangnya. Dalam hal ini, ada seorang penyair yang mengatakan: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ قَالَ لِمَرْيَمَ وَهُزِّي إِلَيْكِ الْجِذْعَ يَسَّاقَطُ الرُّطَبْ Tidakkah kamu lihat bahwa Allah berfirman kepada Maryam ‘Dan goyangkanlah pohon kurma agar berjatuhan buah kurma’ وَلَوْ شَاءَ أَنْ تُجْنِيْهِ مِنْ غَيْرِ هَزَّةِ جَنَتْهُ وَلَكِنْ كُلُّ شَيءٍ لَهُ سَبَبْ Seandainya Allah menghendaki buah kurma itu jatuh tanpa harus menggoyangkan batangnya Niscaya kurma itu akan jatuh sendiri, tapi segala hal punya sebab (Kitab Adhwa’ al-Bayan jilid 4 hlm. 183). الخاتمة: إن الدعاء فيه استعانة بالله القوي الذي لا يُعْجِزُهُ شيء، والتوكل فيه تعلق القلب بالله الذي بيده كل شيء، والأخذ بالأسباب فيه الأخذ بكل ما أمر الله به من الأسباب الشرعية والقدرية. هذا، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Penutup  Dalam doa terdapat permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Kuat, Yang tidak ada yang membuat-Nya lemah. Sedangkan dalam tawakal terdapat keterpautan hati dengan Allah Yang di tangan-Nya segala sesuatu. Lalu dalam ikhtiar terdapat penjalanan segala sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan secara syariat atau hukum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan terhadap alam semesta ini. Sekian, semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 257 times, 1 visit(s) today Post Views: 422 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengenal Nama Allah “Ar-Raqiib”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Ar-Raqiib”Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaMengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaMerasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMengawasi niatnya sebelum dan saat beramalMeyakini bahwa Allah adalah Ar-Raqiib —Yang Maha Mengawasi— merupakan bagian penting dari perjalanan seorang hamba menuju Allah Ta’ala. Seorang hamba yang memahami bahwa Rabb-nya senantiasa mengawasi dirinya, akan terdorong untuk menghadirkan hati, menjauhi kelalaian, dan senantiasa berzikir. Ini semua membuahkan kebahagiaan yang hakiki bagi seorang hamba dengan kedekatannya kepada Allah Ta’ala. [1]Dalam tulisan ini, kita akan menelaah dalil nama Ar-Raqiib, maknanya yang mendalam, serta konsekuensi dari iman kepada-Nya dalam kehidupan seorang mukmin. Semoga menjadi penguat tauhid dan penuntun menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.Dalil nama Allah “Ar-Raqiib”Nama Allah “Ar-Raqiib” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya:Firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ“Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mā’idah: 117)Dan juga firman-Nya Ta’ala,وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيباً“Dan Allah adalah Pengawas atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzāb: 52) [2]Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Ar-Raqiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Ar-Raqiib merupakan bentuk shifat musyabbahah (sifat yang menunjukkan keadaan yang tetap) dari kata (رَقَبَ يرقُب) raqoba – yarqubu [3] yang berarti (الْحَافِظُ) pengawas atau penjaga.Ibnu Faris mengatakan,الرَّاءُ وَالْقَافُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ مُطَّرِدٌ، يَدُلُّ عَلَى انْتِصَابٍ لِمُرَاعَاةِ شَيْءٍ. مِنْ ذَلِكَ الرَّقِيبُ، وَهُوَ الْحَافِظُ“Ra’, qāf, dan bā’ merupakan satu akar kata yang konsisten, yang menunjukkan makna ‘berdiri tegak untuk mengawasi sesuatu.’ Dari akar ini, muncul kata ar-raqiib, yang berarti penjaga atau pengawas.” [4]Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,إِنَّ ‌اللَّهَ ‌كَانَ ‌عَلَيْكُمْ ‌رَقِيبًا“Sesungguhnya Allah adalah Ar-Raqiib atas kalian.” (QS. An-Nisaa: 1), beliau mengatakan,ويعنى بقوله: {رَقِيبًا}: حفيظًا مُحْصِيًا عليكم أعمالَكم، مُتَفَقِّدًا رعايتكم حرمة أرحامكم وصِلتَكم إياها، أو قَطْعَكُمُوها وتضييعَكم حرمتَها“Makna dari Ar-Raqiib di sini adalah: yang menjaga, mencatat, dan menghitung semua amal perbuatan kalian; yang memerhatikan apakah kalian menyambung atau memutuskan tali silaturahmi serta menghormati, atau justru menyia-nyiakan hak-hak kerabat.” [5]Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,“الرقيب” ‌المطلع ‌على ‌ما ‌أكنته ‌الصدور، القائم على كل نفس بما كسبت، الذي حفظ المخلوقات وأجراها على أحسن نظام وأكمل تدبير“Ar-Raqiib adalah yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada, yang mengurus setiap jiwa atas apa yang telah dikerjakannya, yang menjaga seluruh makhluk dan mengaturnya dengan sebaik-baik tatanan dan pengaturan.” [6]Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr mengatakan, “Ar-Raqiib artinya yang mengetahui isi hati yang terdalam, yang mengatur setiap jiwa atas apa yang diperbuatnya, yang menjaga makhluk dan mengaturnya dengan sempurna. Ia mengawasi segala hal yang terlihat dengan penglihatan-Nya yang tidak pernah luput, mengawasi semua yang terdengar dengan pendengaran-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan mengawasi seluruh makhluk dengan ilmu-Nya yang meliputi segala hal.” [7]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”Konsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaPenetapan nama “Ar-Raqiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Mengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaYakni bahwa Allah adalah Ar-Raqiib atas para hamba-Nya, Dia senantiasa mengawasi gerak-gerik mereka, ucapan, dan perbuatan mereka; bahkan apa yang terlintas dalam hati dan benak mereka. Tak satu pun makhluk-Nya keluar dari pengawasan tersebut.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman,واعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ“Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam dirimu, maka takutlah kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 235)Dan firman-Nya,رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْماً“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (QS. Ghāfir: 7) [8]Merasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMerenungi ayat-ayat yang telah disebutkan di atas dan semisalnya, akan membangkitkan rasa murāqabah (merasa diawasi) dalam diri hamba terhadap seluruh amal dan keadaan dirinya. Sebab, murāqabah merupakan buah dari pengetahuan seorang hamba bahwa Allah senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengar ucapannya, dan mengetahui amalnya setiap saat, setiap detik, bahkan setiap kedipan mata.Muraqabah ini merupakan kedudukan yang sangat tinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah dan negeri akhirat. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr mengatakan,والمراقبة منزلة عليّة من منازل السائرين إلى الله والدار الآخرة، وحقيقتها دوام علم العبد وتيقنه باطلاع الحق سبحانه وتعالى على ظاهره وباطنه“Muraqabah adalah salah satu kedudukan tinggi dalam perjalanan menuju Allah dan akhirat. Hakikatnya adalah kesinambungan pengetahuan dan keyakinan seorang hamba bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang tampak maupun tersembunyi darinya.”Kemudian beliau melanjutkan, “Maka menjaga kesinambungan ilmu dan keyakinan ini adalah bentuk dari murāqabah itu sendiri. Murāqabah terhadap perintah Allah berarti menjalankan perintah itu dengan cara terbaik. Murāqabah terhadap larangan-Nya berarti menjauhi larangan itu dan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalamnya.” [9]Mengawasi niatnya sebelum dan saat beramalYakni, hendaklah ia menilai: apakah dorongan untuk beramal ini berasal dari hawa nafsunya, atau murni karena Allah Ta‘ala? Jika karena Allah, maka lanjutkan. Jika bukan, maka tinggalkan. Inilah keikhlasan.Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,رحم الله عبداً وقف عند همّه، فإنْ كان لله مَضَى، وإنْ كان لغيره تأخّر“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak di depan niatnya. Jika niat itu karena Allah, maka lanjutkanlah. Jika bukan karena-Nya, maka tahanlah.” [10]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu merasa diawasi, sehingga senantiasa jujur, istikamah, dan bertakwa dalam setiap keadaan. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khabiir”***Rumdin PPIA Sragen, 1 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Disarikan dari Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[2] An-Nahjul Asma, hal. 273.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 127.[4] Maqayis Al-Lughah, hal. 348. Lihat juga Al-Mishbah Al-Munir fi Gharib Asy-Syarh Al-Kabir, hal. 233.[5] Tafsīr ath-Ṭabarī, 6: 350. Lihat juga Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 206.[6] Tafsīr as-Sa‘dī, hal. 947.[7] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 183.[8] An-Nahjul Asma, hal. 275.[9] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[10] An-Nahjul Asma, hal. 276.

Mengenal Nama Allah “Ar-Raqiib”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Ar-Raqiib”Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaMengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaMerasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMengawasi niatnya sebelum dan saat beramalMeyakini bahwa Allah adalah Ar-Raqiib —Yang Maha Mengawasi— merupakan bagian penting dari perjalanan seorang hamba menuju Allah Ta’ala. Seorang hamba yang memahami bahwa Rabb-nya senantiasa mengawasi dirinya, akan terdorong untuk menghadirkan hati, menjauhi kelalaian, dan senantiasa berzikir. Ini semua membuahkan kebahagiaan yang hakiki bagi seorang hamba dengan kedekatannya kepada Allah Ta’ala. [1]Dalam tulisan ini, kita akan menelaah dalil nama Ar-Raqiib, maknanya yang mendalam, serta konsekuensi dari iman kepada-Nya dalam kehidupan seorang mukmin. Semoga menjadi penguat tauhid dan penuntun menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.Dalil nama Allah “Ar-Raqiib”Nama Allah “Ar-Raqiib” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya:Firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ“Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mā’idah: 117)Dan juga firman-Nya Ta’ala,وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيباً“Dan Allah adalah Pengawas atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzāb: 52) [2]Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Ar-Raqiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Ar-Raqiib merupakan bentuk shifat musyabbahah (sifat yang menunjukkan keadaan yang tetap) dari kata (رَقَبَ يرقُب) raqoba – yarqubu [3] yang berarti (الْحَافِظُ) pengawas atau penjaga.Ibnu Faris mengatakan,الرَّاءُ وَالْقَافُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ مُطَّرِدٌ، يَدُلُّ عَلَى انْتِصَابٍ لِمُرَاعَاةِ شَيْءٍ. مِنْ ذَلِكَ الرَّقِيبُ، وَهُوَ الْحَافِظُ“Ra’, qāf, dan bā’ merupakan satu akar kata yang konsisten, yang menunjukkan makna ‘berdiri tegak untuk mengawasi sesuatu.’ Dari akar ini, muncul kata ar-raqiib, yang berarti penjaga atau pengawas.” [4]Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,إِنَّ ‌اللَّهَ ‌كَانَ ‌عَلَيْكُمْ ‌رَقِيبًا“Sesungguhnya Allah adalah Ar-Raqiib atas kalian.” (QS. An-Nisaa: 1), beliau mengatakan,ويعنى بقوله: {رَقِيبًا}: حفيظًا مُحْصِيًا عليكم أعمالَكم، مُتَفَقِّدًا رعايتكم حرمة أرحامكم وصِلتَكم إياها، أو قَطْعَكُمُوها وتضييعَكم حرمتَها“Makna dari Ar-Raqiib di sini adalah: yang menjaga, mencatat, dan menghitung semua amal perbuatan kalian; yang memerhatikan apakah kalian menyambung atau memutuskan tali silaturahmi serta menghormati, atau justru menyia-nyiakan hak-hak kerabat.” [5]Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,“الرقيب” ‌المطلع ‌على ‌ما ‌أكنته ‌الصدور، القائم على كل نفس بما كسبت، الذي حفظ المخلوقات وأجراها على أحسن نظام وأكمل تدبير“Ar-Raqiib adalah yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada, yang mengurus setiap jiwa atas apa yang telah dikerjakannya, yang menjaga seluruh makhluk dan mengaturnya dengan sebaik-baik tatanan dan pengaturan.” [6]Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr mengatakan, “Ar-Raqiib artinya yang mengetahui isi hati yang terdalam, yang mengatur setiap jiwa atas apa yang diperbuatnya, yang menjaga makhluk dan mengaturnya dengan sempurna. Ia mengawasi segala hal yang terlihat dengan penglihatan-Nya yang tidak pernah luput, mengawasi semua yang terdengar dengan pendengaran-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan mengawasi seluruh makhluk dengan ilmu-Nya yang meliputi segala hal.” [7]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”Konsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaPenetapan nama “Ar-Raqiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Mengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaYakni bahwa Allah adalah Ar-Raqiib atas para hamba-Nya, Dia senantiasa mengawasi gerak-gerik mereka, ucapan, dan perbuatan mereka; bahkan apa yang terlintas dalam hati dan benak mereka. Tak satu pun makhluk-Nya keluar dari pengawasan tersebut.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman,واعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ“Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam dirimu, maka takutlah kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 235)Dan firman-Nya,رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْماً“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (QS. Ghāfir: 7) [8]Merasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMerenungi ayat-ayat yang telah disebutkan di atas dan semisalnya, akan membangkitkan rasa murāqabah (merasa diawasi) dalam diri hamba terhadap seluruh amal dan keadaan dirinya. Sebab, murāqabah merupakan buah dari pengetahuan seorang hamba bahwa Allah senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengar ucapannya, dan mengetahui amalnya setiap saat, setiap detik, bahkan setiap kedipan mata.Muraqabah ini merupakan kedudukan yang sangat tinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah dan negeri akhirat. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr mengatakan,والمراقبة منزلة عليّة من منازل السائرين إلى الله والدار الآخرة، وحقيقتها دوام علم العبد وتيقنه باطلاع الحق سبحانه وتعالى على ظاهره وباطنه“Muraqabah adalah salah satu kedudukan tinggi dalam perjalanan menuju Allah dan akhirat. Hakikatnya adalah kesinambungan pengetahuan dan keyakinan seorang hamba bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang tampak maupun tersembunyi darinya.”Kemudian beliau melanjutkan, “Maka menjaga kesinambungan ilmu dan keyakinan ini adalah bentuk dari murāqabah itu sendiri. Murāqabah terhadap perintah Allah berarti menjalankan perintah itu dengan cara terbaik. Murāqabah terhadap larangan-Nya berarti menjauhi larangan itu dan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalamnya.” [9]Mengawasi niatnya sebelum dan saat beramalYakni, hendaklah ia menilai: apakah dorongan untuk beramal ini berasal dari hawa nafsunya, atau murni karena Allah Ta‘ala? Jika karena Allah, maka lanjutkan. Jika bukan, maka tinggalkan. Inilah keikhlasan.Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,رحم الله عبداً وقف عند همّه، فإنْ كان لله مَضَى، وإنْ كان لغيره تأخّر“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak di depan niatnya. Jika niat itu karena Allah, maka lanjutkanlah. Jika bukan karena-Nya, maka tahanlah.” [10]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu merasa diawasi, sehingga senantiasa jujur, istikamah, dan bertakwa dalam setiap keadaan. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khabiir”***Rumdin PPIA Sragen, 1 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Disarikan dari Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[2] An-Nahjul Asma, hal. 273.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 127.[4] Maqayis Al-Lughah, hal. 348. Lihat juga Al-Mishbah Al-Munir fi Gharib Asy-Syarh Al-Kabir, hal. 233.[5] Tafsīr ath-Ṭabarī, 6: 350. Lihat juga Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 206.[6] Tafsīr as-Sa‘dī, hal. 947.[7] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 183.[8] An-Nahjul Asma, hal. 275.[9] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[10] An-Nahjul Asma, hal. 276.
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Ar-Raqiib”Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaMengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaMerasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMengawasi niatnya sebelum dan saat beramalMeyakini bahwa Allah adalah Ar-Raqiib —Yang Maha Mengawasi— merupakan bagian penting dari perjalanan seorang hamba menuju Allah Ta’ala. Seorang hamba yang memahami bahwa Rabb-nya senantiasa mengawasi dirinya, akan terdorong untuk menghadirkan hati, menjauhi kelalaian, dan senantiasa berzikir. Ini semua membuahkan kebahagiaan yang hakiki bagi seorang hamba dengan kedekatannya kepada Allah Ta’ala. [1]Dalam tulisan ini, kita akan menelaah dalil nama Ar-Raqiib, maknanya yang mendalam, serta konsekuensi dari iman kepada-Nya dalam kehidupan seorang mukmin. Semoga menjadi penguat tauhid dan penuntun menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.Dalil nama Allah “Ar-Raqiib”Nama Allah “Ar-Raqiib” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya:Firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ“Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mā’idah: 117)Dan juga firman-Nya Ta’ala,وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيباً“Dan Allah adalah Pengawas atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzāb: 52) [2]Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Ar-Raqiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Ar-Raqiib merupakan bentuk shifat musyabbahah (sifat yang menunjukkan keadaan yang tetap) dari kata (رَقَبَ يرقُب) raqoba – yarqubu [3] yang berarti (الْحَافِظُ) pengawas atau penjaga.Ibnu Faris mengatakan,الرَّاءُ وَالْقَافُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ مُطَّرِدٌ، يَدُلُّ عَلَى انْتِصَابٍ لِمُرَاعَاةِ شَيْءٍ. مِنْ ذَلِكَ الرَّقِيبُ، وَهُوَ الْحَافِظُ“Ra’, qāf, dan bā’ merupakan satu akar kata yang konsisten, yang menunjukkan makna ‘berdiri tegak untuk mengawasi sesuatu.’ Dari akar ini, muncul kata ar-raqiib, yang berarti penjaga atau pengawas.” [4]Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,إِنَّ ‌اللَّهَ ‌كَانَ ‌عَلَيْكُمْ ‌رَقِيبًا“Sesungguhnya Allah adalah Ar-Raqiib atas kalian.” (QS. An-Nisaa: 1), beliau mengatakan,ويعنى بقوله: {رَقِيبًا}: حفيظًا مُحْصِيًا عليكم أعمالَكم، مُتَفَقِّدًا رعايتكم حرمة أرحامكم وصِلتَكم إياها، أو قَطْعَكُمُوها وتضييعَكم حرمتَها“Makna dari Ar-Raqiib di sini adalah: yang menjaga, mencatat, dan menghitung semua amal perbuatan kalian; yang memerhatikan apakah kalian menyambung atau memutuskan tali silaturahmi serta menghormati, atau justru menyia-nyiakan hak-hak kerabat.” [5]Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,“الرقيب” ‌المطلع ‌على ‌ما ‌أكنته ‌الصدور، القائم على كل نفس بما كسبت، الذي حفظ المخلوقات وأجراها على أحسن نظام وأكمل تدبير“Ar-Raqiib adalah yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada, yang mengurus setiap jiwa atas apa yang telah dikerjakannya, yang menjaga seluruh makhluk dan mengaturnya dengan sebaik-baik tatanan dan pengaturan.” [6]Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr mengatakan, “Ar-Raqiib artinya yang mengetahui isi hati yang terdalam, yang mengatur setiap jiwa atas apa yang diperbuatnya, yang menjaga makhluk dan mengaturnya dengan sempurna. Ia mengawasi segala hal yang terlihat dengan penglihatan-Nya yang tidak pernah luput, mengawasi semua yang terdengar dengan pendengaran-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan mengawasi seluruh makhluk dengan ilmu-Nya yang meliputi segala hal.” [7]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”Konsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaPenetapan nama “Ar-Raqiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Mengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaYakni bahwa Allah adalah Ar-Raqiib atas para hamba-Nya, Dia senantiasa mengawasi gerak-gerik mereka, ucapan, dan perbuatan mereka; bahkan apa yang terlintas dalam hati dan benak mereka. Tak satu pun makhluk-Nya keluar dari pengawasan tersebut.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman,واعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ“Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam dirimu, maka takutlah kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 235)Dan firman-Nya,رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْماً“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (QS. Ghāfir: 7) [8]Merasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMerenungi ayat-ayat yang telah disebutkan di atas dan semisalnya, akan membangkitkan rasa murāqabah (merasa diawasi) dalam diri hamba terhadap seluruh amal dan keadaan dirinya. Sebab, murāqabah merupakan buah dari pengetahuan seorang hamba bahwa Allah senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengar ucapannya, dan mengetahui amalnya setiap saat, setiap detik, bahkan setiap kedipan mata.Muraqabah ini merupakan kedudukan yang sangat tinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah dan negeri akhirat. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr mengatakan,والمراقبة منزلة عليّة من منازل السائرين إلى الله والدار الآخرة، وحقيقتها دوام علم العبد وتيقنه باطلاع الحق سبحانه وتعالى على ظاهره وباطنه“Muraqabah adalah salah satu kedudukan tinggi dalam perjalanan menuju Allah dan akhirat. Hakikatnya adalah kesinambungan pengetahuan dan keyakinan seorang hamba bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang tampak maupun tersembunyi darinya.”Kemudian beliau melanjutkan, “Maka menjaga kesinambungan ilmu dan keyakinan ini adalah bentuk dari murāqabah itu sendiri. Murāqabah terhadap perintah Allah berarti menjalankan perintah itu dengan cara terbaik. Murāqabah terhadap larangan-Nya berarti menjauhi larangan itu dan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalamnya.” [9]Mengawasi niatnya sebelum dan saat beramalYakni, hendaklah ia menilai: apakah dorongan untuk beramal ini berasal dari hawa nafsunya, atau murni karena Allah Ta‘ala? Jika karena Allah, maka lanjutkan. Jika bukan, maka tinggalkan. Inilah keikhlasan.Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,رحم الله عبداً وقف عند همّه، فإنْ كان لله مَضَى، وإنْ كان لغيره تأخّر“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak di depan niatnya. Jika niat itu karena Allah, maka lanjutkanlah. Jika bukan karena-Nya, maka tahanlah.” [10]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu merasa diawasi, sehingga senantiasa jujur, istikamah, dan bertakwa dalam setiap keadaan. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khabiir”***Rumdin PPIA Sragen, 1 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Disarikan dari Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[2] An-Nahjul Asma, hal. 273.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 127.[4] Maqayis Al-Lughah, hal. 348. Lihat juga Al-Mishbah Al-Munir fi Gharib Asy-Syarh Al-Kabir, hal. 233.[5] Tafsīr ath-Ṭabarī, 6: 350. Lihat juga Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 206.[6] Tafsīr as-Sa‘dī, hal. 947.[7] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 183.[8] An-Nahjul Asma, hal. 275.[9] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[10] An-Nahjul Asma, hal. 276.


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Ar-Raqiib”Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaMengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaMerasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMengawasi niatnya sebelum dan saat beramalMeyakini bahwa Allah adalah Ar-Raqiib —Yang Maha Mengawasi— merupakan bagian penting dari perjalanan seorang hamba menuju Allah Ta’ala. Seorang hamba yang memahami bahwa Rabb-nya senantiasa mengawasi dirinya, akan terdorong untuk menghadirkan hati, menjauhi kelalaian, dan senantiasa berzikir. Ini semua membuahkan kebahagiaan yang hakiki bagi seorang hamba dengan kedekatannya kepada Allah Ta’ala. [1]Dalam tulisan ini, kita akan menelaah dalil nama Ar-Raqiib, maknanya yang mendalam, serta konsekuensi dari iman kepada-Nya dalam kehidupan seorang mukmin. Semoga menjadi penguat tauhid dan penuntun menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.Dalil nama Allah “Ar-Raqiib”Nama Allah “Ar-Raqiib” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya:Firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ“Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mā’idah: 117)Dan juga firman-Nya Ta’ala,وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيباً“Dan Allah adalah Pengawas atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzāb: 52) [2]Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Ar-Raqiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Ar-Raqiib merupakan bentuk shifat musyabbahah (sifat yang menunjukkan keadaan yang tetap) dari kata (رَقَبَ يرقُب) raqoba – yarqubu [3] yang berarti (الْحَافِظُ) pengawas atau penjaga.Ibnu Faris mengatakan,الرَّاءُ وَالْقَافُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ مُطَّرِدٌ، يَدُلُّ عَلَى انْتِصَابٍ لِمُرَاعَاةِ شَيْءٍ. مِنْ ذَلِكَ الرَّقِيبُ، وَهُوَ الْحَافِظُ“Ra’, qāf, dan bā’ merupakan satu akar kata yang konsisten, yang menunjukkan makna ‘berdiri tegak untuk mengawasi sesuatu.’ Dari akar ini, muncul kata ar-raqiib, yang berarti penjaga atau pengawas.” [4]Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,إِنَّ ‌اللَّهَ ‌كَانَ ‌عَلَيْكُمْ ‌رَقِيبًا“Sesungguhnya Allah adalah Ar-Raqiib atas kalian.” (QS. An-Nisaa: 1), beliau mengatakan,ويعنى بقوله: {رَقِيبًا}: حفيظًا مُحْصِيًا عليكم أعمالَكم، مُتَفَقِّدًا رعايتكم حرمة أرحامكم وصِلتَكم إياها، أو قَطْعَكُمُوها وتضييعَكم حرمتَها“Makna dari Ar-Raqiib di sini adalah: yang menjaga, mencatat, dan menghitung semua amal perbuatan kalian; yang memerhatikan apakah kalian menyambung atau memutuskan tali silaturahmi serta menghormati, atau justru menyia-nyiakan hak-hak kerabat.” [5]Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,“الرقيب” ‌المطلع ‌على ‌ما ‌أكنته ‌الصدور، القائم على كل نفس بما كسبت، الذي حفظ المخلوقات وأجراها على أحسن نظام وأكمل تدبير“Ar-Raqiib adalah yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada, yang mengurus setiap jiwa atas apa yang telah dikerjakannya, yang menjaga seluruh makhluk dan mengaturnya dengan sebaik-baik tatanan dan pengaturan.” [6]Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr mengatakan, “Ar-Raqiib artinya yang mengetahui isi hati yang terdalam, yang mengatur setiap jiwa atas apa yang diperbuatnya, yang menjaga makhluk dan mengaturnya dengan sempurna. Ia mengawasi segala hal yang terlihat dengan penglihatan-Nya yang tidak pernah luput, mengawasi semua yang terdengar dengan pendengaran-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan mengawasi seluruh makhluk dengan ilmu-Nya yang meliputi segala hal.” [7]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”Konsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaPenetapan nama “Ar-Raqiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Mengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaYakni bahwa Allah adalah Ar-Raqiib atas para hamba-Nya, Dia senantiasa mengawasi gerak-gerik mereka, ucapan, dan perbuatan mereka; bahkan apa yang terlintas dalam hati dan benak mereka. Tak satu pun makhluk-Nya keluar dari pengawasan tersebut.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman,واعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ“Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam dirimu, maka takutlah kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 235)Dan firman-Nya,رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْماً“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (QS. Ghāfir: 7) [8]Merasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMerenungi ayat-ayat yang telah disebutkan di atas dan semisalnya, akan membangkitkan rasa murāqabah (merasa diawasi) dalam diri hamba terhadap seluruh amal dan keadaan dirinya. Sebab, murāqabah merupakan buah dari pengetahuan seorang hamba bahwa Allah senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengar ucapannya, dan mengetahui amalnya setiap saat, setiap detik, bahkan setiap kedipan mata.Muraqabah ini merupakan kedudukan yang sangat tinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah dan negeri akhirat. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr mengatakan,والمراقبة منزلة عليّة من منازل السائرين إلى الله والدار الآخرة، وحقيقتها دوام علم العبد وتيقنه باطلاع الحق سبحانه وتعالى على ظاهره وباطنه“Muraqabah adalah salah satu kedudukan tinggi dalam perjalanan menuju Allah dan akhirat. Hakikatnya adalah kesinambungan pengetahuan dan keyakinan seorang hamba bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang tampak maupun tersembunyi darinya.”Kemudian beliau melanjutkan, “Maka menjaga kesinambungan ilmu dan keyakinan ini adalah bentuk dari murāqabah itu sendiri. Murāqabah terhadap perintah Allah berarti menjalankan perintah itu dengan cara terbaik. Murāqabah terhadap larangan-Nya berarti menjauhi larangan itu dan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalamnya.” [9]Mengawasi niatnya sebelum dan saat beramalYakni, hendaklah ia menilai: apakah dorongan untuk beramal ini berasal dari hawa nafsunya, atau murni karena Allah Ta‘ala? Jika karena Allah, maka lanjutkan. Jika bukan, maka tinggalkan. Inilah keikhlasan.Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,رحم الله عبداً وقف عند همّه، فإنْ كان لله مَضَى، وإنْ كان لغيره تأخّر“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak di depan niatnya. Jika niat itu karena Allah, maka lanjutkanlah. Jika bukan karena-Nya, maka tahanlah.” [10]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu merasa diawasi, sehingga senantiasa jujur, istikamah, dan bertakwa dalam setiap keadaan. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khabiir”***Rumdin PPIA Sragen, 1 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Disarikan dari Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[2] An-Nahjul Asma, hal. 273.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 127.[4] Maqayis Al-Lughah, hal. 348. Lihat juga Al-Mishbah Al-Munir fi Gharib Asy-Syarh Al-Kabir, hal. 233.[5] Tafsīr ath-Ṭabarī, 6: 350. Lihat juga Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 206.[6] Tafsīr as-Sa‘dī, hal. 947.[7] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 183.[8] An-Nahjul Asma, hal. 275.[9] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[10] An-Nahjul Asma, hal. 276.

Muslim Itu Pantang Mengeluh dan Pantang Menyerah

Daftar Isi ToggleAllah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punKeutamaan sabarAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahAllah Ta’ala di dalam Al-Qur’an berfirman memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya. Ia berfirman,إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا * إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا * وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)Sungguh manusia diciptakan dengan membawa sifat keluh kesah saat tertimpa kemudaratan; dirinya akan kaget, tidak siap, dan hatinya seakan-akan copot karena rasa takut yang dahsyat, serta menyerah dari mendapat kebaikan setelah musibah yang menimpanya tersebut. Dan apabila dirinya mendapat kebaikan, maka ia menjadi amat kikir, tidak mau berbagi dengan orang lain dan enggan menunaikan hak Allah yang ada padanya.Allah Ta’ala berfirman menyampaikan betapa buruknya watak mengeluh dan mudah putus asa,اِنَّه لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Dari sini dapat kita pahami bahwa berkeluh kesah dan menyerah adalah watak buruk yang dimiliki oleh hampir semua dari kita. Sehingga terkadang tanpa kita sadari, kita pun melakukannya. Lalu, bagaimana hukum dari watak tersebut? Apakah hal itu dibenarkan oleh syariat kita ataukah terlarang?Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punMarilah kita jauhi sikap menentang ketentuan-ketentuan dan takdir-Nya, menggerutu atas keputusan-Nya kepada kita. Seorang muslim harus berserah diri pada apa yang Allah takdirkan dan putuskan, serta bersabar atas ketentuan dan ujian-Nya Ta’ala. Dengan mengetahui bahwa setiap ketetapan dan ketentuan-Nya bagi seorang mukmin tidak lain adalah kebaikan baginya, seorang muslim akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, ia akan bersyukur atas limpahan kebaikan yang Allah berikan kepadanya, dan ia akan bersabar saat tertimpa ujian dan kesusahan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Dengan mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui seluruh kondisi hamba-Nya, Allah Maha Bijaksana dan Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya, maka diri kita akan jauh dari mengeluh dan berputus asa. Memiliki harapan besar akan pahala dan bersabar atas setiap kesusahan yang kita hadapi. Ingatlah wahai saudaraku, mungkin saja engkau memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat engkau capai dengan amal saleh dan kebaikanmu. Akan tetapi, engkau akan mencapainya karena kesabaran dalam menghadapi ujian yang telah Allah berikan kepadamu.Keutamaan sabarAllah Ta’ala berwasiat di dalam Al-Qur’an,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya, Aisar At-Tafaasiir, menyebutkan, “Pada ayat 157, Allah Ta’ala memberikan kabar gembira kepada mereka, orang-orang yang bersabar, dengan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan mendapatkan rahmat dari Rabbnya. Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Allah Ta’ala berfirman, “Merekalah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”Dari satu ayat ini saja, mereka yang bersabar, maka Allah janjikan kepada mereka tiga keutamaan,1) Mendapatkan ampunan Allah;2) Mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya;3) Mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah Ta’ala.Sungguh tiga keutamaan ini sudah cukup bagi diri kita untuk senantiasa berusaha bersabar tatkala ujian dan cobaan datang menghampiri kita, tidak mengeluh apalagi menyerah atas takdir tersebut.Baca juga: Bersemangatlah dalam Hal yang BermanfaatAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahTatkala Allah Ta’ala memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya, Allah Ta’ala mengecualikan beberapa orang yang aman dari watak buruk ini. Ia berfirman,إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ * ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ * وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ * لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ * وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ * وَٱلَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ * إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ“Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (mereka menegakkan salat lima waktu pada waktunya); dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (yaitu) bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).”  (QS. Al-Ma’arij: 22-28)Yang pertama, wahai saudaraku adalah menjaga salat lima waktu, secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah masing-masing bagi wanita. Sungguh salat akan menjaga seseorang dari perangai dan watak buruk. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”  (QS. Al-Ankabut: 45)Yang kedua, menyisihkan sebagian harta untuk diberikan kepada mereka yang tidak mampu.Yang ketiga, beriman dengan hari kebangkitan dan hari pembalasan.Yang keempat, merasa takut akan azab Allah Ta’ala.Dengan melakukan keempat hal tersebut, maka Insya Allah kita akan dituliskan sebagai hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur kepada Allah dan tidak mudah mengeluh serta berputus asa dari rahmat-Nya.Akhir kata, ingatlah selalu wahai saudaraku, tidaklah seorang hamba diberikan ujian oleh Allah Ta’ala kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. Dan tidaklah Allah memberikan ujian dan rasa susah kecuali setelahnya akan ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)Ingatlah juga wahai saudaraku sekalian akan firman Allah Ta’ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq: 2)Saat ujian itu datang menghampiri diri kita, ingatlah selalu bahwa Allahlah yang menakdirkan dan menghendakinya. Tetaplah beribadah dan menjaga kewajiban salat kita. Jangan sampai ujian yang datang tersebut justru menjadi pintu pembuka akan keburukan lainnya. Dari rasa malas, mengeluh, dan putus asa dari rahmat Allah. Wal ‘iyadzu billah.Wallahu a’lam bissowab…Baca juga: 5 Motivasi Agar Semakin Semangat Berangkat ke Tanah Suci***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

Muslim Itu Pantang Mengeluh dan Pantang Menyerah

Daftar Isi ToggleAllah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punKeutamaan sabarAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahAllah Ta’ala di dalam Al-Qur’an berfirman memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya. Ia berfirman,إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا * إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا * وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)Sungguh manusia diciptakan dengan membawa sifat keluh kesah saat tertimpa kemudaratan; dirinya akan kaget, tidak siap, dan hatinya seakan-akan copot karena rasa takut yang dahsyat, serta menyerah dari mendapat kebaikan setelah musibah yang menimpanya tersebut. Dan apabila dirinya mendapat kebaikan, maka ia menjadi amat kikir, tidak mau berbagi dengan orang lain dan enggan menunaikan hak Allah yang ada padanya.Allah Ta’ala berfirman menyampaikan betapa buruknya watak mengeluh dan mudah putus asa,اِنَّه لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Dari sini dapat kita pahami bahwa berkeluh kesah dan menyerah adalah watak buruk yang dimiliki oleh hampir semua dari kita. Sehingga terkadang tanpa kita sadari, kita pun melakukannya. Lalu, bagaimana hukum dari watak tersebut? Apakah hal itu dibenarkan oleh syariat kita ataukah terlarang?Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punMarilah kita jauhi sikap menentang ketentuan-ketentuan dan takdir-Nya, menggerutu atas keputusan-Nya kepada kita. Seorang muslim harus berserah diri pada apa yang Allah takdirkan dan putuskan, serta bersabar atas ketentuan dan ujian-Nya Ta’ala. Dengan mengetahui bahwa setiap ketetapan dan ketentuan-Nya bagi seorang mukmin tidak lain adalah kebaikan baginya, seorang muslim akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, ia akan bersyukur atas limpahan kebaikan yang Allah berikan kepadanya, dan ia akan bersabar saat tertimpa ujian dan kesusahan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Dengan mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui seluruh kondisi hamba-Nya, Allah Maha Bijaksana dan Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya, maka diri kita akan jauh dari mengeluh dan berputus asa. Memiliki harapan besar akan pahala dan bersabar atas setiap kesusahan yang kita hadapi. Ingatlah wahai saudaraku, mungkin saja engkau memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat engkau capai dengan amal saleh dan kebaikanmu. Akan tetapi, engkau akan mencapainya karena kesabaran dalam menghadapi ujian yang telah Allah berikan kepadamu.Keutamaan sabarAllah Ta’ala berwasiat di dalam Al-Qur’an,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya, Aisar At-Tafaasiir, menyebutkan, “Pada ayat 157, Allah Ta’ala memberikan kabar gembira kepada mereka, orang-orang yang bersabar, dengan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan mendapatkan rahmat dari Rabbnya. Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Allah Ta’ala berfirman, “Merekalah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”Dari satu ayat ini saja, mereka yang bersabar, maka Allah janjikan kepada mereka tiga keutamaan,1) Mendapatkan ampunan Allah;2) Mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya;3) Mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah Ta’ala.Sungguh tiga keutamaan ini sudah cukup bagi diri kita untuk senantiasa berusaha bersabar tatkala ujian dan cobaan datang menghampiri kita, tidak mengeluh apalagi menyerah atas takdir tersebut.Baca juga: Bersemangatlah dalam Hal yang BermanfaatAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahTatkala Allah Ta’ala memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya, Allah Ta’ala mengecualikan beberapa orang yang aman dari watak buruk ini. Ia berfirman,إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ * ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ * وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ * لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ * وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ * وَٱلَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ * إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ“Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (mereka menegakkan salat lima waktu pada waktunya); dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (yaitu) bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).”  (QS. Al-Ma’arij: 22-28)Yang pertama, wahai saudaraku adalah menjaga salat lima waktu, secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah masing-masing bagi wanita. Sungguh salat akan menjaga seseorang dari perangai dan watak buruk. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”  (QS. Al-Ankabut: 45)Yang kedua, menyisihkan sebagian harta untuk diberikan kepada mereka yang tidak mampu.Yang ketiga, beriman dengan hari kebangkitan dan hari pembalasan.Yang keempat, merasa takut akan azab Allah Ta’ala.Dengan melakukan keempat hal tersebut, maka Insya Allah kita akan dituliskan sebagai hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur kepada Allah dan tidak mudah mengeluh serta berputus asa dari rahmat-Nya.Akhir kata, ingatlah selalu wahai saudaraku, tidaklah seorang hamba diberikan ujian oleh Allah Ta’ala kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. Dan tidaklah Allah memberikan ujian dan rasa susah kecuali setelahnya akan ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)Ingatlah juga wahai saudaraku sekalian akan firman Allah Ta’ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq: 2)Saat ujian itu datang menghampiri diri kita, ingatlah selalu bahwa Allahlah yang menakdirkan dan menghendakinya. Tetaplah beribadah dan menjaga kewajiban salat kita. Jangan sampai ujian yang datang tersebut justru menjadi pintu pembuka akan keburukan lainnya. Dari rasa malas, mengeluh, dan putus asa dari rahmat Allah. Wal ‘iyadzu billah.Wallahu a’lam bissowab…Baca juga: 5 Motivasi Agar Semakin Semangat Berangkat ke Tanah Suci***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleAllah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punKeutamaan sabarAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahAllah Ta’ala di dalam Al-Qur’an berfirman memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya. Ia berfirman,إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا * إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا * وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)Sungguh manusia diciptakan dengan membawa sifat keluh kesah saat tertimpa kemudaratan; dirinya akan kaget, tidak siap, dan hatinya seakan-akan copot karena rasa takut yang dahsyat, serta menyerah dari mendapat kebaikan setelah musibah yang menimpanya tersebut. Dan apabila dirinya mendapat kebaikan, maka ia menjadi amat kikir, tidak mau berbagi dengan orang lain dan enggan menunaikan hak Allah yang ada padanya.Allah Ta’ala berfirman menyampaikan betapa buruknya watak mengeluh dan mudah putus asa,اِنَّه لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Dari sini dapat kita pahami bahwa berkeluh kesah dan menyerah adalah watak buruk yang dimiliki oleh hampir semua dari kita. Sehingga terkadang tanpa kita sadari, kita pun melakukannya. Lalu, bagaimana hukum dari watak tersebut? Apakah hal itu dibenarkan oleh syariat kita ataukah terlarang?Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punMarilah kita jauhi sikap menentang ketentuan-ketentuan dan takdir-Nya, menggerutu atas keputusan-Nya kepada kita. Seorang muslim harus berserah diri pada apa yang Allah takdirkan dan putuskan, serta bersabar atas ketentuan dan ujian-Nya Ta’ala. Dengan mengetahui bahwa setiap ketetapan dan ketentuan-Nya bagi seorang mukmin tidak lain adalah kebaikan baginya, seorang muslim akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, ia akan bersyukur atas limpahan kebaikan yang Allah berikan kepadanya, dan ia akan bersabar saat tertimpa ujian dan kesusahan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Dengan mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui seluruh kondisi hamba-Nya, Allah Maha Bijaksana dan Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya, maka diri kita akan jauh dari mengeluh dan berputus asa. Memiliki harapan besar akan pahala dan bersabar atas setiap kesusahan yang kita hadapi. Ingatlah wahai saudaraku, mungkin saja engkau memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat engkau capai dengan amal saleh dan kebaikanmu. Akan tetapi, engkau akan mencapainya karena kesabaran dalam menghadapi ujian yang telah Allah berikan kepadamu.Keutamaan sabarAllah Ta’ala berwasiat di dalam Al-Qur’an,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya, Aisar At-Tafaasiir, menyebutkan, “Pada ayat 157, Allah Ta’ala memberikan kabar gembira kepada mereka, orang-orang yang bersabar, dengan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan mendapatkan rahmat dari Rabbnya. Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Allah Ta’ala berfirman, “Merekalah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”Dari satu ayat ini saja, mereka yang bersabar, maka Allah janjikan kepada mereka tiga keutamaan,1) Mendapatkan ampunan Allah;2) Mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya;3) Mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah Ta’ala.Sungguh tiga keutamaan ini sudah cukup bagi diri kita untuk senantiasa berusaha bersabar tatkala ujian dan cobaan datang menghampiri kita, tidak mengeluh apalagi menyerah atas takdir tersebut.Baca juga: Bersemangatlah dalam Hal yang BermanfaatAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahTatkala Allah Ta’ala memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya, Allah Ta’ala mengecualikan beberapa orang yang aman dari watak buruk ini. Ia berfirman,إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ * ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ * وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ * لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ * وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ * وَٱلَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ * إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ“Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (mereka menegakkan salat lima waktu pada waktunya); dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (yaitu) bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).”  (QS. Al-Ma’arij: 22-28)Yang pertama, wahai saudaraku adalah menjaga salat lima waktu, secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah masing-masing bagi wanita. Sungguh salat akan menjaga seseorang dari perangai dan watak buruk. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”  (QS. Al-Ankabut: 45)Yang kedua, menyisihkan sebagian harta untuk diberikan kepada mereka yang tidak mampu.Yang ketiga, beriman dengan hari kebangkitan dan hari pembalasan.Yang keempat, merasa takut akan azab Allah Ta’ala.Dengan melakukan keempat hal tersebut, maka Insya Allah kita akan dituliskan sebagai hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur kepada Allah dan tidak mudah mengeluh serta berputus asa dari rahmat-Nya.Akhir kata, ingatlah selalu wahai saudaraku, tidaklah seorang hamba diberikan ujian oleh Allah Ta’ala kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. Dan tidaklah Allah memberikan ujian dan rasa susah kecuali setelahnya akan ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)Ingatlah juga wahai saudaraku sekalian akan firman Allah Ta’ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq: 2)Saat ujian itu datang menghampiri diri kita, ingatlah selalu bahwa Allahlah yang menakdirkan dan menghendakinya. Tetaplah beribadah dan menjaga kewajiban salat kita. Jangan sampai ujian yang datang tersebut justru menjadi pintu pembuka akan keburukan lainnya. Dari rasa malas, mengeluh, dan putus asa dari rahmat Allah. Wal ‘iyadzu billah.Wallahu a’lam bissowab…Baca juga: 5 Motivasi Agar Semakin Semangat Berangkat ke Tanah Suci***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleAllah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punKeutamaan sabarAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahAllah Ta’ala di dalam Al-Qur’an berfirman memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya. Ia berfirman,إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا * إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا * وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)Sungguh manusia diciptakan dengan membawa sifat keluh kesah saat tertimpa kemudaratan; dirinya akan kaget, tidak siap, dan hatinya seakan-akan copot karena rasa takut yang dahsyat, serta menyerah dari mendapat kebaikan setelah musibah yang menimpanya tersebut. Dan apabila dirinya mendapat kebaikan, maka ia menjadi amat kikir, tidak mau berbagi dengan orang lain dan enggan menunaikan hak Allah yang ada padanya.Allah Ta’ala berfirman menyampaikan betapa buruknya watak mengeluh dan mudah putus asa,اِنَّه لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Dari sini dapat kita pahami bahwa berkeluh kesah dan menyerah adalah watak buruk yang dimiliki oleh hampir semua dari kita. Sehingga terkadang tanpa kita sadari, kita pun melakukannya. Lalu, bagaimana hukum dari watak tersebut? Apakah hal itu dibenarkan oleh syariat kita ataukah terlarang?Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punMarilah kita jauhi sikap menentang ketentuan-ketentuan dan takdir-Nya, menggerutu atas keputusan-Nya kepada kita. Seorang muslim harus berserah diri pada apa yang Allah takdirkan dan putuskan, serta bersabar atas ketentuan dan ujian-Nya Ta’ala. Dengan mengetahui bahwa setiap ketetapan dan ketentuan-Nya bagi seorang mukmin tidak lain adalah kebaikan baginya, seorang muslim akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, ia akan bersyukur atas limpahan kebaikan yang Allah berikan kepadanya, dan ia akan bersabar saat tertimpa ujian dan kesusahan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Dengan mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui seluruh kondisi hamba-Nya, Allah Maha Bijaksana dan Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya, maka diri kita akan jauh dari mengeluh dan berputus asa. Memiliki harapan besar akan pahala dan bersabar atas setiap kesusahan yang kita hadapi. Ingatlah wahai saudaraku, mungkin saja engkau memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat engkau capai dengan amal saleh dan kebaikanmu. Akan tetapi, engkau akan mencapainya karena kesabaran dalam menghadapi ujian yang telah Allah berikan kepadamu.Keutamaan sabarAllah Ta’ala berwasiat di dalam Al-Qur’an,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya, Aisar At-Tafaasiir, menyebutkan, “Pada ayat 157, Allah Ta’ala memberikan kabar gembira kepada mereka, orang-orang yang bersabar, dengan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan mendapatkan rahmat dari Rabbnya. Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Allah Ta’ala berfirman, “Merekalah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”Dari satu ayat ini saja, mereka yang bersabar, maka Allah janjikan kepada mereka tiga keutamaan,1) Mendapatkan ampunan Allah;2) Mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya;3) Mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah Ta’ala.Sungguh tiga keutamaan ini sudah cukup bagi diri kita untuk senantiasa berusaha bersabar tatkala ujian dan cobaan datang menghampiri kita, tidak mengeluh apalagi menyerah atas takdir tersebut.Baca juga: Bersemangatlah dalam Hal yang BermanfaatAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahTatkala Allah Ta’ala memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya, Allah Ta’ala mengecualikan beberapa orang yang aman dari watak buruk ini. Ia berfirman,إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ * ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ * وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ * لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ * وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ * وَٱلَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ * إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ“Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (mereka menegakkan salat lima waktu pada waktunya); dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (yaitu) bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).”  (QS. Al-Ma’arij: 22-28)Yang pertama, wahai saudaraku adalah menjaga salat lima waktu, secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah masing-masing bagi wanita. Sungguh salat akan menjaga seseorang dari perangai dan watak buruk. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”  (QS. Al-Ankabut: 45)Yang kedua, menyisihkan sebagian harta untuk diberikan kepada mereka yang tidak mampu.Yang ketiga, beriman dengan hari kebangkitan dan hari pembalasan.Yang keempat, merasa takut akan azab Allah Ta’ala.Dengan melakukan keempat hal tersebut, maka Insya Allah kita akan dituliskan sebagai hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur kepada Allah dan tidak mudah mengeluh serta berputus asa dari rahmat-Nya.Akhir kata, ingatlah selalu wahai saudaraku, tidaklah seorang hamba diberikan ujian oleh Allah Ta’ala kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. Dan tidaklah Allah memberikan ujian dan rasa susah kecuali setelahnya akan ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)Ingatlah juga wahai saudaraku sekalian akan firman Allah Ta’ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq: 2)Saat ujian itu datang menghampiri diri kita, ingatlah selalu bahwa Allahlah yang menakdirkan dan menghendakinya. Tetaplah beribadah dan menjaga kewajiban salat kita. Jangan sampai ujian yang datang tersebut justru menjadi pintu pembuka akan keburukan lainnya. Dari rasa malas, mengeluh, dan putus asa dari rahmat Allah. Wal ‘iyadzu billah.Wallahu a’lam bissowab…Baca juga: 5 Motivasi Agar Semakin Semangat Berangkat ke Tanah Suci***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

Inspirasi Sukses: Jangan Paksa dirimu Mengejar Sempurna! Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Di antara ciri pola pikir tentang dua hal yang telah saya sebutkan, adalah kamu tidak perlu memberatkan diri untuk mengejar kesempurnaan. Sebab yang dituntut darimu adalah kesuksesan, yang dituntut darimu adalah menjadi orang yang sukses, bukan menjadi sempurna. Allah Jalla wa ‘Ala saja memberi kelebihan yang berbeda-beda di antara para rasul. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat Al-Baqarah: “Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain Di antara mereka ada yang Allah berbicara langsung dengannya, dan sebagian lagi Dia tinggikan beberapa derajat…” (QS. Al-Baqarah: 253). Artinya, para rasul berbeda-beda keutamaannya. Demikian pula manusia, berbeda-beda kelebihannya. Jadi, tidak ada kaitan antara dua hal ini: kesuksesan dan kesempurnaan. Kamu harus menjadi sukses? Ya, ini pola pikir yang benar. Namun jika kamu harus menjadi sempurna? Ini salah! Menilai segala sesuatu harus sempurna, dan selama tidak sempurna berarti tidak layak, itu adalah kesalahan berpikir. Segala sesuatu harus dinilai dari sisi lebih baiknya, lebih positifnya, dan lebih bermanfaatnya. Meskipun tidak sampai sempurna. Kesempurnaan memang nikmat yang agung, tetapi dalam kehidupan ini kesempurnaan sangat jarang ditemukan. Hampir-hampir tidak ada. Kesempurnaan dalam keikhlasan sangat jarang. Kesempurnaan dalam ketaatan sangat jarang. Kesempurnaan dalam menunaikan tanggung jawab sangat jarang. Kesempurnaan dalam melaksanakan peran yang bermanfaat sangat jarang. Kesempurnaan dalam kesadaran terhadap nilai-nilai dan pelaksanaannya sangat jarang. Jadi, terdapat perbedaan nyata antara cara pandang terhadap kesuksesan dan terhadap kesempurnaan. Ini merupakan pola pikir yang sangat penting. Apabila seseorang menetapkannya, mengembangkannya, dan melatih dirinya dengannya, maka banyak persoalan akan mudah terselesaikan sejak awal, dan itu akan melindunginya dari gangguan kejiwaan yang dapat menghilangkan ketenangan berpikir dalam jiwa dan akalnya. Maka katakanlah: “Saya bisa meraih kesuksesan,” itu baik. “Namun, saya tidak mungkin menjadi sempurna, karena inilah yang Allah tetapkan bagi saya.” “Namun, saya berusaha keras untuk menjadi sukses.” “Sukses di kehidupan pribadiku, sukses di keluargaku sukses di masyarakatku, sukses di pendidikanku Sukses di komunitasku, sukses di pekerjaanku Sukses di hubunganku dengan kedua orang tua, sukses di hubunganku dengan masyarakatku, negaraku, dan orang-orang di sekitarku.” Namun, untuk menjadi sempurna bukanlah syaratnya. Itu bukanlah syaratnya. Bukan juga tuntutan, karena figur yang bermanfaat itu tercapai dengan kesuksesan, bukan kesempurnaan. ===== مِنْ مَعَالِمِ مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ فِي الثُّنَائِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْتُ أَنَّكَ لَا تُرْهَقْ نَفْسَكَ فِي طَلَبِ الْكَمَال فَالْمَطْلُوبُ مِنْكَ هُوَ النَّجَاحُ الْمَطْلُوبُ مِنْكَ أَنْ تَكُونَ نَاجِحًا لَا أَنْ تَكُونَ كَامِلًا اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَضَّلَ بَيْنَ الرُّسُلِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا تِلْكَ الرُّسُلُ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ يَعْنِي الرُّسُلُ مُتَفَاضِلُونَ فَالنَّاسُ كَذَلِكَ مُتَفَاضِلُونَ فَلَا عَلَاقَةَ بَيْنَ هَاتَيْنِ الثُّنَائِيَّتَيْنِ النَّجَاحِ وَالْكَمَالِ تَكُونُ نَاجِحًا نَعَمْ هَذَا مَنْهَجُ التَّفْكِيرِ الصَّحِيحِ لَابُدَّ أَنْ تَكُونَ كَامِلًا غَلَطٌ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ عَلَى أَنْ تَكُونَ كَامِلَةً وَمَا دَامَ مَا كَانَتْ كَامِلَةً فَغَيْرُ مَرْضِيَّةٍ خَطَأٌ فِي مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ أَنْ تَكُونَ إِلَى الصَّلَاحِ أَكْثَرُ إِلَى الْإِيجَابِيَّةِ أَكْثَرُ إِلَى النَّفْعِ أَكْثَرُ وَلَوْ لَمْ تَكُنْ كَامِلًا إِذْ صَارَ كَمَالٌ نِعْمَةً كَبِيرَةً لَكِنْ فِي الْحَيَاةِ الْكَمَالُ عَزِيزٌلَا يَكُونُ الْكَمَالُ فِي الْإِخْلَاصِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الطَّاعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ المَسْؤُولِيَّاتِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ الْأَدْوَارِ النَّافِعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الشُّعُورِ بِالْقِيَمِ وَامْتِثَالِهَا عَزِيزٌ إِذًا فَهُنَاكَ انْفِصَالٌ حَقِيقِيٌّ مَا بَيْنَ رُؤْيَةِ النَّجَاحِ وَرُؤْيَةِ الْكَمَالِ هَذَا مَنْهَجٌ فِي التَّفْكِيرِ مُهِمٌّ إِذَا وَضَعَهَا الْإِنْسَانُ وَفَرَّعَ عَلَيْهِ وَدَرَّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهِ سَيُحَلَّ لَهُ إِشْكَالَاتٌ كَثِيرَةٌ مِنْ أَوَّلِ وَهْلَةٍ وَسَيَقِيهِ مِنْ الْخَلَلِ النَّفْسِيِّ الَّذِي يُنْتِجُ عَنْهُ عَدَمَ الْأَمْنِ الْفِكْرِيّ فِي نَفْسِهِ وَفِي عَقْلِهِ إِذًا أَكُونُ نَاجِحًا طَيِّبٌ لَكِنْ مَا أَقْدِرُ أَنْ أَكُونَ كَامِلًا هَذَا الَّذِي أَعْطَانِي اللَّهُ لَكِنْ اجْتَهَدْتُ أَنْ أَكُونَ نَاجِحًا نَاجِحًا فِي نَفْسِي نَاجِحًا فِي أُسْرَتِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي تَعْلِيمِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي وَظِيفَتِيْ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِوَالِدَيَّ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِمُجْتَمَعِي بِدَولَتِي بِمَنْ حَوْلِي أَنْ أَكُونَ كَامِلًا لَيْسَ شَرْطًا لَيْسَ شَرْطًا وَلَيْسَ مَطْلُوبًا لِأَنَّهُ الْوُجُودُ النَّافِعُ يَكُونُ بِالنَّجَاحِ لَا بِالْكَمَالِ

Inspirasi Sukses: Jangan Paksa dirimu Mengejar Sempurna! Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Di antara ciri pola pikir tentang dua hal yang telah saya sebutkan, adalah kamu tidak perlu memberatkan diri untuk mengejar kesempurnaan. Sebab yang dituntut darimu adalah kesuksesan, yang dituntut darimu adalah menjadi orang yang sukses, bukan menjadi sempurna. Allah Jalla wa ‘Ala saja memberi kelebihan yang berbeda-beda di antara para rasul. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat Al-Baqarah: “Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain Di antara mereka ada yang Allah berbicara langsung dengannya, dan sebagian lagi Dia tinggikan beberapa derajat…” (QS. Al-Baqarah: 253). Artinya, para rasul berbeda-beda keutamaannya. Demikian pula manusia, berbeda-beda kelebihannya. Jadi, tidak ada kaitan antara dua hal ini: kesuksesan dan kesempurnaan. Kamu harus menjadi sukses? Ya, ini pola pikir yang benar. Namun jika kamu harus menjadi sempurna? Ini salah! Menilai segala sesuatu harus sempurna, dan selama tidak sempurna berarti tidak layak, itu adalah kesalahan berpikir. Segala sesuatu harus dinilai dari sisi lebih baiknya, lebih positifnya, dan lebih bermanfaatnya. Meskipun tidak sampai sempurna. Kesempurnaan memang nikmat yang agung, tetapi dalam kehidupan ini kesempurnaan sangat jarang ditemukan. Hampir-hampir tidak ada. Kesempurnaan dalam keikhlasan sangat jarang. Kesempurnaan dalam ketaatan sangat jarang. Kesempurnaan dalam menunaikan tanggung jawab sangat jarang. Kesempurnaan dalam melaksanakan peran yang bermanfaat sangat jarang. Kesempurnaan dalam kesadaran terhadap nilai-nilai dan pelaksanaannya sangat jarang. Jadi, terdapat perbedaan nyata antara cara pandang terhadap kesuksesan dan terhadap kesempurnaan. Ini merupakan pola pikir yang sangat penting. Apabila seseorang menetapkannya, mengembangkannya, dan melatih dirinya dengannya, maka banyak persoalan akan mudah terselesaikan sejak awal, dan itu akan melindunginya dari gangguan kejiwaan yang dapat menghilangkan ketenangan berpikir dalam jiwa dan akalnya. Maka katakanlah: “Saya bisa meraih kesuksesan,” itu baik. “Namun, saya tidak mungkin menjadi sempurna, karena inilah yang Allah tetapkan bagi saya.” “Namun, saya berusaha keras untuk menjadi sukses.” “Sukses di kehidupan pribadiku, sukses di keluargaku sukses di masyarakatku, sukses di pendidikanku Sukses di komunitasku, sukses di pekerjaanku Sukses di hubunganku dengan kedua orang tua, sukses di hubunganku dengan masyarakatku, negaraku, dan orang-orang di sekitarku.” Namun, untuk menjadi sempurna bukanlah syaratnya. Itu bukanlah syaratnya. Bukan juga tuntutan, karena figur yang bermanfaat itu tercapai dengan kesuksesan, bukan kesempurnaan. ===== مِنْ مَعَالِمِ مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ فِي الثُّنَائِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْتُ أَنَّكَ لَا تُرْهَقْ نَفْسَكَ فِي طَلَبِ الْكَمَال فَالْمَطْلُوبُ مِنْكَ هُوَ النَّجَاحُ الْمَطْلُوبُ مِنْكَ أَنْ تَكُونَ نَاجِحًا لَا أَنْ تَكُونَ كَامِلًا اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَضَّلَ بَيْنَ الرُّسُلِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا تِلْكَ الرُّسُلُ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ يَعْنِي الرُّسُلُ مُتَفَاضِلُونَ فَالنَّاسُ كَذَلِكَ مُتَفَاضِلُونَ فَلَا عَلَاقَةَ بَيْنَ هَاتَيْنِ الثُّنَائِيَّتَيْنِ النَّجَاحِ وَالْكَمَالِ تَكُونُ نَاجِحًا نَعَمْ هَذَا مَنْهَجُ التَّفْكِيرِ الصَّحِيحِ لَابُدَّ أَنْ تَكُونَ كَامِلًا غَلَطٌ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ عَلَى أَنْ تَكُونَ كَامِلَةً وَمَا دَامَ مَا كَانَتْ كَامِلَةً فَغَيْرُ مَرْضِيَّةٍ خَطَأٌ فِي مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ أَنْ تَكُونَ إِلَى الصَّلَاحِ أَكْثَرُ إِلَى الْإِيجَابِيَّةِ أَكْثَرُ إِلَى النَّفْعِ أَكْثَرُ وَلَوْ لَمْ تَكُنْ كَامِلًا إِذْ صَارَ كَمَالٌ نِعْمَةً كَبِيرَةً لَكِنْ فِي الْحَيَاةِ الْكَمَالُ عَزِيزٌلَا يَكُونُ الْكَمَالُ فِي الْإِخْلَاصِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الطَّاعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ المَسْؤُولِيَّاتِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ الْأَدْوَارِ النَّافِعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الشُّعُورِ بِالْقِيَمِ وَامْتِثَالِهَا عَزِيزٌ إِذًا فَهُنَاكَ انْفِصَالٌ حَقِيقِيٌّ مَا بَيْنَ رُؤْيَةِ النَّجَاحِ وَرُؤْيَةِ الْكَمَالِ هَذَا مَنْهَجٌ فِي التَّفْكِيرِ مُهِمٌّ إِذَا وَضَعَهَا الْإِنْسَانُ وَفَرَّعَ عَلَيْهِ وَدَرَّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهِ سَيُحَلَّ لَهُ إِشْكَالَاتٌ كَثِيرَةٌ مِنْ أَوَّلِ وَهْلَةٍ وَسَيَقِيهِ مِنْ الْخَلَلِ النَّفْسِيِّ الَّذِي يُنْتِجُ عَنْهُ عَدَمَ الْأَمْنِ الْفِكْرِيّ فِي نَفْسِهِ وَفِي عَقْلِهِ إِذًا أَكُونُ نَاجِحًا طَيِّبٌ لَكِنْ مَا أَقْدِرُ أَنْ أَكُونَ كَامِلًا هَذَا الَّذِي أَعْطَانِي اللَّهُ لَكِنْ اجْتَهَدْتُ أَنْ أَكُونَ نَاجِحًا نَاجِحًا فِي نَفْسِي نَاجِحًا فِي أُسْرَتِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي تَعْلِيمِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي وَظِيفَتِيْ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِوَالِدَيَّ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِمُجْتَمَعِي بِدَولَتِي بِمَنْ حَوْلِي أَنْ أَكُونَ كَامِلًا لَيْسَ شَرْطًا لَيْسَ شَرْطًا وَلَيْسَ مَطْلُوبًا لِأَنَّهُ الْوُجُودُ النَّافِعُ يَكُونُ بِالنَّجَاحِ لَا بِالْكَمَالِ
Di antara ciri pola pikir tentang dua hal yang telah saya sebutkan, adalah kamu tidak perlu memberatkan diri untuk mengejar kesempurnaan. Sebab yang dituntut darimu adalah kesuksesan, yang dituntut darimu adalah menjadi orang yang sukses, bukan menjadi sempurna. Allah Jalla wa ‘Ala saja memberi kelebihan yang berbeda-beda di antara para rasul. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat Al-Baqarah: “Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain Di antara mereka ada yang Allah berbicara langsung dengannya, dan sebagian lagi Dia tinggikan beberapa derajat…” (QS. Al-Baqarah: 253). Artinya, para rasul berbeda-beda keutamaannya. Demikian pula manusia, berbeda-beda kelebihannya. Jadi, tidak ada kaitan antara dua hal ini: kesuksesan dan kesempurnaan. Kamu harus menjadi sukses? Ya, ini pola pikir yang benar. Namun jika kamu harus menjadi sempurna? Ini salah! Menilai segala sesuatu harus sempurna, dan selama tidak sempurna berarti tidak layak, itu adalah kesalahan berpikir. Segala sesuatu harus dinilai dari sisi lebih baiknya, lebih positifnya, dan lebih bermanfaatnya. Meskipun tidak sampai sempurna. Kesempurnaan memang nikmat yang agung, tetapi dalam kehidupan ini kesempurnaan sangat jarang ditemukan. Hampir-hampir tidak ada. Kesempurnaan dalam keikhlasan sangat jarang. Kesempurnaan dalam ketaatan sangat jarang. Kesempurnaan dalam menunaikan tanggung jawab sangat jarang. Kesempurnaan dalam melaksanakan peran yang bermanfaat sangat jarang. Kesempurnaan dalam kesadaran terhadap nilai-nilai dan pelaksanaannya sangat jarang. Jadi, terdapat perbedaan nyata antara cara pandang terhadap kesuksesan dan terhadap kesempurnaan. Ini merupakan pola pikir yang sangat penting. Apabila seseorang menetapkannya, mengembangkannya, dan melatih dirinya dengannya, maka banyak persoalan akan mudah terselesaikan sejak awal, dan itu akan melindunginya dari gangguan kejiwaan yang dapat menghilangkan ketenangan berpikir dalam jiwa dan akalnya. Maka katakanlah: “Saya bisa meraih kesuksesan,” itu baik. “Namun, saya tidak mungkin menjadi sempurna, karena inilah yang Allah tetapkan bagi saya.” “Namun, saya berusaha keras untuk menjadi sukses.” “Sukses di kehidupan pribadiku, sukses di keluargaku sukses di masyarakatku, sukses di pendidikanku Sukses di komunitasku, sukses di pekerjaanku Sukses di hubunganku dengan kedua orang tua, sukses di hubunganku dengan masyarakatku, negaraku, dan orang-orang di sekitarku.” Namun, untuk menjadi sempurna bukanlah syaratnya. Itu bukanlah syaratnya. Bukan juga tuntutan, karena figur yang bermanfaat itu tercapai dengan kesuksesan, bukan kesempurnaan. ===== مِنْ مَعَالِمِ مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ فِي الثُّنَائِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْتُ أَنَّكَ لَا تُرْهَقْ نَفْسَكَ فِي طَلَبِ الْكَمَال فَالْمَطْلُوبُ مِنْكَ هُوَ النَّجَاحُ الْمَطْلُوبُ مِنْكَ أَنْ تَكُونَ نَاجِحًا لَا أَنْ تَكُونَ كَامِلًا اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَضَّلَ بَيْنَ الرُّسُلِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا تِلْكَ الرُّسُلُ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ يَعْنِي الرُّسُلُ مُتَفَاضِلُونَ فَالنَّاسُ كَذَلِكَ مُتَفَاضِلُونَ فَلَا عَلَاقَةَ بَيْنَ هَاتَيْنِ الثُّنَائِيَّتَيْنِ النَّجَاحِ وَالْكَمَالِ تَكُونُ نَاجِحًا نَعَمْ هَذَا مَنْهَجُ التَّفْكِيرِ الصَّحِيحِ لَابُدَّ أَنْ تَكُونَ كَامِلًا غَلَطٌ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ عَلَى أَنْ تَكُونَ كَامِلَةً وَمَا دَامَ مَا كَانَتْ كَامِلَةً فَغَيْرُ مَرْضِيَّةٍ خَطَأٌ فِي مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ أَنْ تَكُونَ إِلَى الصَّلَاحِ أَكْثَرُ إِلَى الْإِيجَابِيَّةِ أَكْثَرُ إِلَى النَّفْعِ أَكْثَرُ وَلَوْ لَمْ تَكُنْ كَامِلًا إِذْ صَارَ كَمَالٌ نِعْمَةً كَبِيرَةً لَكِنْ فِي الْحَيَاةِ الْكَمَالُ عَزِيزٌلَا يَكُونُ الْكَمَالُ فِي الْإِخْلَاصِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الطَّاعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ المَسْؤُولِيَّاتِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ الْأَدْوَارِ النَّافِعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الشُّعُورِ بِالْقِيَمِ وَامْتِثَالِهَا عَزِيزٌ إِذًا فَهُنَاكَ انْفِصَالٌ حَقِيقِيٌّ مَا بَيْنَ رُؤْيَةِ النَّجَاحِ وَرُؤْيَةِ الْكَمَالِ هَذَا مَنْهَجٌ فِي التَّفْكِيرِ مُهِمٌّ إِذَا وَضَعَهَا الْإِنْسَانُ وَفَرَّعَ عَلَيْهِ وَدَرَّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهِ سَيُحَلَّ لَهُ إِشْكَالَاتٌ كَثِيرَةٌ مِنْ أَوَّلِ وَهْلَةٍ وَسَيَقِيهِ مِنْ الْخَلَلِ النَّفْسِيِّ الَّذِي يُنْتِجُ عَنْهُ عَدَمَ الْأَمْنِ الْفِكْرِيّ فِي نَفْسِهِ وَفِي عَقْلِهِ إِذًا أَكُونُ نَاجِحًا طَيِّبٌ لَكِنْ مَا أَقْدِرُ أَنْ أَكُونَ كَامِلًا هَذَا الَّذِي أَعْطَانِي اللَّهُ لَكِنْ اجْتَهَدْتُ أَنْ أَكُونَ نَاجِحًا نَاجِحًا فِي نَفْسِي نَاجِحًا فِي أُسْرَتِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي تَعْلِيمِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي وَظِيفَتِيْ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِوَالِدَيَّ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِمُجْتَمَعِي بِدَولَتِي بِمَنْ حَوْلِي أَنْ أَكُونَ كَامِلًا لَيْسَ شَرْطًا لَيْسَ شَرْطًا وَلَيْسَ مَطْلُوبًا لِأَنَّهُ الْوُجُودُ النَّافِعُ يَكُونُ بِالنَّجَاحِ لَا بِالْكَمَالِ


Di antara ciri pola pikir tentang dua hal yang telah saya sebutkan, adalah kamu tidak perlu memberatkan diri untuk mengejar kesempurnaan. Sebab yang dituntut darimu adalah kesuksesan, yang dituntut darimu adalah menjadi orang yang sukses, bukan menjadi sempurna. Allah Jalla wa ‘Ala saja memberi kelebihan yang berbeda-beda di antara para rasul. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat Al-Baqarah: “Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain Di antara mereka ada yang Allah berbicara langsung dengannya, dan sebagian lagi Dia tinggikan beberapa derajat…” (QS. Al-Baqarah: 253). Artinya, para rasul berbeda-beda keutamaannya. Demikian pula manusia, berbeda-beda kelebihannya. Jadi, tidak ada kaitan antara dua hal ini: kesuksesan dan kesempurnaan. Kamu harus menjadi sukses? Ya, ini pola pikir yang benar. Namun jika kamu harus menjadi sempurna? Ini salah! Menilai segala sesuatu harus sempurna, dan selama tidak sempurna berarti tidak layak, itu adalah kesalahan berpikir. Segala sesuatu harus dinilai dari sisi lebih baiknya, lebih positifnya, dan lebih bermanfaatnya. Meskipun tidak sampai sempurna. Kesempurnaan memang nikmat yang agung, tetapi dalam kehidupan ini kesempurnaan sangat jarang ditemukan. Hampir-hampir tidak ada. Kesempurnaan dalam keikhlasan sangat jarang. Kesempurnaan dalam ketaatan sangat jarang. Kesempurnaan dalam menunaikan tanggung jawab sangat jarang. Kesempurnaan dalam melaksanakan peran yang bermanfaat sangat jarang. Kesempurnaan dalam kesadaran terhadap nilai-nilai dan pelaksanaannya sangat jarang. Jadi, terdapat perbedaan nyata antara cara pandang terhadap kesuksesan dan terhadap kesempurnaan. Ini merupakan pola pikir yang sangat penting. Apabila seseorang menetapkannya, mengembangkannya, dan melatih dirinya dengannya, maka banyak persoalan akan mudah terselesaikan sejak awal, dan itu akan melindunginya dari gangguan kejiwaan yang dapat menghilangkan ketenangan berpikir dalam jiwa dan akalnya. Maka katakanlah: “Saya bisa meraih kesuksesan,” itu baik. “Namun, saya tidak mungkin menjadi sempurna, karena inilah yang Allah tetapkan bagi saya.” “Namun, saya berusaha keras untuk menjadi sukses.” “Sukses di kehidupan pribadiku, sukses di keluargaku sukses di masyarakatku, sukses di pendidikanku Sukses di komunitasku, sukses di pekerjaanku Sukses di hubunganku dengan kedua orang tua, sukses di hubunganku dengan masyarakatku, negaraku, dan orang-orang di sekitarku.” Namun, untuk menjadi sempurna bukanlah syaratnya. Itu bukanlah syaratnya. Bukan juga tuntutan, karena figur yang bermanfaat itu tercapai dengan kesuksesan, bukan kesempurnaan. ===== مِنْ مَعَالِمِ مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ فِي الثُّنَائِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْتُ أَنَّكَ لَا تُرْهَقْ نَفْسَكَ فِي طَلَبِ الْكَمَال فَالْمَطْلُوبُ مِنْكَ هُوَ النَّجَاحُ الْمَطْلُوبُ مِنْكَ أَنْ تَكُونَ نَاجِحًا لَا أَنْ تَكُونَ كَامِلًا اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَضَّلَ بَيْنَ الرُّسُلِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا تِلْكَ الرُّسُلُ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ يَعْنِي الرُّسُلُ مُتَفَاضِلُونَ فَالنَّاسُ كَذَلِكَ مُتَفَاضِلُونَ فَلَا عَلَاقَةَ بَيْنَ هَاتَيْنِ الثُّنَائِيَّتَيْنِ النَّجَاحِ وَالْكَمَالِ تَكُونُ نَاجِحًا نَعَمْ هَذَا مَنْهَجُ التَّفْكِيرِ الصَّحِيحِ لَابُدَّ أَنْ تَكُونَ كَامِلًا غَلَطٌ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ عَلَى أَنْ تَكُونَ كَامِلَةً وَمَا دَامَ مَا كَانَتْ كَامِلَةً فَغَيْرُ مَرْضِيَّةٍ خَطَأٌ فِي مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ أَنْ تَكُونَ إِلَى الصَّلَاحِ أَكْثَرُ إِلَى الْإِيجَابِيَّةِ أَكْثَرُ إِلَى النَّفْعِ أَكْثَرُ وَلَوْ لَمْ تَكُنْ كَامِلًا إِذْ صَارَ كَمَالٌ نِعْمَةً كَبِيرَةً لَكِنْ فِي الْحَيَاةِ الْكَمَالُ عَزِيزٌلَا يَكُونُ الْكَمَالُ فِي الْإِخْلَاصِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الطَّاعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ المَسْؤُولِيَّاتِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ الْأَدْوَارِ النَّافِعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الشُّعُورِ بِالْقِيَمِ وَامْتِثَالِهَا عَزِيزٌ إِذًا فَهُنَاكَ انْفِصَالٌ حَقِيقِيٌّ مَا بَيْنَ رُؤْيَةِ النَّجَاحِ وَرُؤْيَةِ الْكَمَالِ هَذَا مَنْهَجٌ فِي التَّفْكِيرِ مُهِمٌّ إِذَا وَضَعَهَا الْإِنْسَانُ وَفَرَّعَ عَلَيْهِ وَدَرَّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهِ سَيُحَلَّ لَهُ إِشْكَالَاتٌ كَثِيرَةٌ مِنْ أَوَّلِ وَهْلَةٍ وَسَيَقِيهِ مِنْ الْخَلَلِ النَّفْسِيِّ الَّذِي يُنْتِجُ عَنْهُ عَدَمَ الْأَمْنِ الْفِكْرِيّ فِي نَفْسِهِ وَفِي عَقْلِهِ إِذًا أَكُونُ نَاجِحًا طَيِّبٌ لَكِنْ مَا أَقْدِرُ أَنْ أَكُونَ كَامِلًا هَذَا الَّذِي أَعْطَانِي اللَّهُ لَكِنْ اجْتَهَدْتُ أَنْ أَكُونَ نَاجِحًا نَاجِحًا فِي نَفْسِي نَاجِحًا فِي أُسْرَتِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي تَعْلِيمِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي وَظِيفَتِيْ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِوَالِدَيَّ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِمُجْتَمَعِي بِدَولَتِي بِمَنْ حَوْلِي أَنْ أَكُونَ كَامِلًا لَيْسَ شَرْطًا لَيْسَ شَرْطًا وَلَيْسَ مَطْلُوبًا لِأَنَّهُ الْوُجُودُ النَّافِعُ يَكُونُ بِالنَّجَاحِ لَا بِالْكَمَالِ

Fikih Utang Piutang (Bag. 7): Kerusakan Pinjaman Online

Daftar Isi ToggleSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Di antara pembahasan penting dalam masalah utang piutang, dan termasuk dalam kategori pembahasan kontemporer adalah utang piutang yang berbasis pinjaman online. Sebagaimana yang diketahui, saat ini sedang merebak dan menyebar pinjaman-pinjaman online yang ditawarkan. Baik penyelenggara yang legal ataupun ilegal.Dilansir dari wikipedia [1], daftar penyedia layanan pinjaman daring yang terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) per Oktober 2021, jumlahnya mencapai seratus enam penyedia jasa. Menurut data, jumlah tersebut adalah penyedia jasa yang legal dan terdaftar di OJK. Jika ditambah yang ilegal, tentu lebih banyak lagi.Sedangkan menurut data dari OJK pula, pengguna pinjaman online per Januari 2025 mencapai 146,5 juta pengguna [2]. Angka yang sangat fantastis bagi sebuah negara yang berpenduduk hampir 280 juta.Mudah dan praktis, menjadi alasan terbesar mengapa pinjaman online merebak dan banyak digunakan oleh masyarakat. Tidak butuh bertele-tele, cukup menyiapkan KTP, no HP, email, foto, dan sedikit dari data-data pribadi, dana pun langsung cair sesuai dengan yang diajukan.Hanya butuh sedikit effort (usaha) untuk memencet dengan jari-jemari, keluarlah dana sesuai yang diinginkan. Seringkali, tidak peduli berapa yang harus dikembalikan nantinya. Yang penting, keinginan untuk membeli sesuatu dapat tercapai atau setidaknya gali lubang tutup lubang dengan utang-utang yang lainnya. Alih-alih gali lubang tutup lubang, justru yang ada hanya menggali lubang saja tanpa menutupnya.Terlihat mudah dan praktis, karena berutang di zaman sekarang tidak perlu lagi datang ke rumah-rumah tetangga, keluarga, dan kerabat dekat. Tidak perlu lagi mempertaruhkan kehormatan dan harga diri di hadapan mereka untuk meminjam uang. Cukup butuh satu smartphone dalam genggaman. Begitu mudahnya akses untuk berutang sekarang ini.Namun di balik kemudahan itu, terdapat bahaya yang mengerikan. Mungkin hati merasa bahagia ketika melihat nominal besar masuk ke rekening pribadi, tanpa sadar bahaya akan terjadi. Ternyata riba menjeratnya di akhir waktu, utang semakin menumpuk, bunga semakin berlipat, iming-iming bunga yang katanya 0% hanyalah kepalsuan belaka dari sumpah serapah marketing yang digaungkan. Pada akhirnya, ia pun merasa ditipu dan ditindas, padahal persetujuan ada di tangannya, begitu juga keinginan ada di tangannya.Demikianlah kurang lebih gambaran tentang pinjaman online. Tentunya, pinjaman online yang ada saat ini bisa dikatakan belum atau tidak memenuhi syarat-syarat utang piutang secara syar’i; bahkan notabenenya jauh dari syariat Islam dan merugikan bagi peminjam. Di antara contohnya, terdapat denda keterlambatan yang telah diketahui ini adalah riba, bunga yang begitu besar, syarat yang merugikan seperti potongan uang di muka (sebelum diterima), bahkan sampai adanya ancaman dan penyalahgunaan data pribadi.Hal-hal tersebut sangat jauh dari praktek yang diajarkan oleh Islam. Telah berlalu syarat-syarat dalam utang piutang, utang piutang adalah akad yang sifatnya tabarru’ (akad sosial). Tidak bisa untuk mengambil keuntungan padanya. Sedangkan pinjaman online yang ada saat ini, mereka justru mengambil keuntungan dari utang tersebut. Apalagi yang bisa dikatakan terkait hal ini selain riba?Telah jelas di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyebutkan tentang larangan riba. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran: 130)Bahkan Allah Ta’ala dengan tegas mengancam para pelaku riba,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya…” (QS. Al-Baqarah: 278-279)Tidakkah kita takut dengan ancaman yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jabir bin ‘Abdillah radiyallahu ‘anhu berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya, dan saksi-saksinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka semua sama (dalam dosa).” (HR. Muslim)Dalam hal ini, semua akan terkena ancaman dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik yang disebut sebagai “nasabah”nya, adminnya, saksi-saksi ketika akad berlangsung, semua terkena cipratan dari laknat dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Muncul sebuah pertanyaan, mengapa seperti juru tulisnya dan saksi-saksinya juga terkena laknat? Padahal mereka tidak menikmati riba tersebut secara langsung? Dikarenakan merekalah yang membantu untuk terjadinya praktek riba tersebut. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita berhati-hati. Jangan sampai termakan oleh iming-iming dan prinsip orang-orang kapitalis dan hedonis. Memuaskan keinginan dan kemauan tanpa memikirkan kebutuhan.Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineTentunya, sadar atau tidak terdapat banyak kerusakan yang muncul akibat dari praktek pinjaman online ini. Di antaranya,– Seseorang akan bergaya di atas kemampuannya. Ia akan membeli barang yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, akan tetapi sesuai dengan kemauan dan keinginannya. Sehingga ketika hal itu menjadi tradisi yang mengakar bagi dirinya, ia akan terus-menerus memenuhi hasrat untuk membeli keinginannya, bagaimanapun caranya. Termasuk dengan menggunakan pinjaman online.– Hilangnya rasa syukur dan qana’ah (merasa cukup) atas apa yang Allah telah berikan. Padahal justru kebahagiaan itu ada pada qana’aah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ“Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah.” (HR. Muslim)– Adanya denda keterlambatan alias riba, dikhawatirkan riba akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan tidak bermasalah, dan hal ini sudah terjadi.– Memunculkan kezaliman-kezaliman di tengah masyarakat. Dengan disebarkan data-data peminjam, teror, diancam, dan lain sebagainya.– Sebab dari jeratan utang berantai, artinya peminjam mau tidak mau dipaksa gali lubang tutup lubang. Barangkali ia bisa menggunakan jasa pinjaman online lebih dari satu untuk melakukan hal tersebut.– Rusaknya hubungan sosial, karena teror kepada teman, kerabat, keluarga, dan lain sebagainya yang dilakukan oleh pihak penagih pinjaman.– Berisiko peminjam depresi dan stres jika bunga terus bertambah dan ditagih secara kasar dan terus-menerus. Tidak sedikit peminjam yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.– Memunculkan kriminalitas baru pada masyarakat. Disebabkan data-data bisa dimanipulasi, bisa saja seseorang memanipulasi data dengan mengisi KTP bukan miliknya, nomor HP yang hanya sekali pakai, kemudian dibuang ketika sudah waktu pembayaran utangnya.Dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pinjaman online, terlebih khususnya pinjaman online yang ilegal. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang dibenci-Nya, menjauhkan kita dari riba dan segala yang berkaitan dengannya.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Depok, 3 Rabi’ul awal 1447/ 27 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pinjaman_daring[2] https://www.instagram.com/p/DJoRXRFznWy/

Fikih Utang Piutang (Bag. 7): Kerusakan Pinjaman Online

Daftar Isi ToggleSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Di antara pembahasan penting dalam masalah utang piutang, dan termasuk dalam kategori pembahasan kontemporer adalah utang piutang yang berbasis pinjaman online. Sebagaimana yang diketahui, saat ini sedang merebak dan menyebar pinjaman-pinjaman online yang ditawarkan. Baik penyelenggara yang legal ataupun ilegal.Dilansir dari wikipedia [1], daftar penyedia layanan pinjaman daring yang terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) per Oktober 2021, jumlahnya mencapai seratus enam penyedia jasa. Menurut data, jumlah tersebut adalah penyedia jasa yang legal dan terdaftar di OJK. Jika ditambah yang ilegal, tentu lebih banyak lagi.Sedangkan menurut data dari OJK pula, pengguna pinjaman online per Januari 2025 mencapai 146,5 juta pengguna [2]. Angka yang sangat fantastis bagi sebuah negara yang berpenduduk hampir 280 juta.Mudah dan praktis, menjadi alasan terbesar mengapa pinjaman online merebak dan banyak digunakan oleh masyarakat. Tidak butuh bertele-tele, cukup menyiapkan KTP, no HP, email, foto, dan sedikit dari data-data pribadi, dana pun langsung cair sesuai dengan yang diajukan.Hanya butuh sedikit effort (usaha) untuk memencet dengan jari-jemari, keluarlah dana sesuai yang diinginkan. Seringkali, tidak peduli berapa yang harus dikembalikan nantinya. Yang penting, keinginan untuk membeli sesuatu dapat tercapai atau setidaknya gali lubang tutup lubang dengan utang-utang yang lainnya. Alih-alih gali lubang tutup lubang, justru yang ada hanya menggali lubang saja tanpa menutupnya.Terlihat mudah dan praktis, karena berutang di zaman sekarang tidak perlu lagi datang ke rumah-rumah tetangga, keluarga, dan kerabat dekat. Tidak perlu lagi mempertaruhkan kehormatan dan harga diri di hadapan mereka untuk meminjam uang. Cukup butuh satu smartphone dalam genggaman. Begitu mudahnya akses untuk berutang sekarang ini.Namun di balik kemudahan itu, terdapat bahaya yang mengerikan. Mungkin hati merasa bahagia ketika melihat nominal besar masuk ke rekening pribadi, tanpa sadar bahaya akan terjadi. Ternyata riba menjeratnya di akhir waktu, utang semakin menumpuk, bunga semakin berlipat, iming-iming bunga yang katanya 0% hanyalah kepalsuan belaka dari sumpah serapah marketing yang digaungkan. Pada akhirnya, ia pun merasa ditipu dan ditindas, padahal persetujuan ada di tangannya, begitu juga keinginan ada di tangannya.Demikianlah kurang lebih gambaran tentang pinjaman online. Tentunya, pinjaman online yang ada saat ini bisa dikatakan belum atau tidak memenuhi syarat-syarat utang piutang secara syar’i; bahkan notabenenya jauh dari syariat Islam dan merugikan bagi peminjam. Di antara contohnya, terdapat denda keterlambatan yang telah diketahui ini adalah riba, bunga yang begitu besar, syarat yang merugikan seperti potongan uang di muka (sebelum diterima), bahkan sampai adanya ancaman dan penyalahgunaan data pribadi.Hal-hal tersebut sangat jauh dari praktek yang diajarkan oleh Islam. Telah berlalu syarat-syarat dalam utang piutang, utang piutang adalah akad yang sifatnya tabarru’ (akad sosial). Tidak bisa untuk mengambil keuntungan padanya. Sedangkan pinjaman online yang ada saat ini, mereka justru mengambil keuntungan dari utang tersebut. Apalagi yang bisa dikatakan terkait hal ini selain riba?Telah jelas di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyebutkan tentang larangan riba. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran: 130)Bahkan Allah Ta’ala dengan tegas mengancam para pelaku riba,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya…” (QS. Al-Baqarah: 278-279)Tidakkah kita takut dengan ancaman yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jabir bin ‘Abdillah radiyallahu ‘anhu berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya, dan saksi-saksinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka semua sama (dalam dosa).” (HR. Muslim)Dalam hal ini, semua akan terkena ancaman dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik yang disebut sebagai “nasabah”nya, adminnya, saksi-saksi ketika akad berlangsung, semua terkena cipratan dari laknat dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Muncul sebuah pertanyaan, mengapa seperti juru tulisnya dan saksi-saksinya juga terkena laknat? Padahal mereka tidak menikmati riba tersebut secara langsung? Dikarenakan merekalah yang membantu untuk terjadinya praktek riba tersebut. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita berhati-hati. Jangan sampai termakan oleh iming-iming dan prinsip orang-orang kapitalis dan hedonis. Memuaskan keinginan dan kemauan tanpa memikirkan kebutuhan.Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineTentunya, sadar atau tidak terdapat banyak kerusakan yang muncul akibat dari praktek pinjaman online ini. Di antaranya,– Seseorang akan bergaya di atas kemampuannya. Ia akan membeli barang yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, akan tetapi sesuai dengan kemauan dan keinginannya. Sehingga ketika hal itu menjadi tradisi yang mengakar bagi dirinya, ia akan terus-menerus memenuhi hasrat untuk membeli keinginannya, bagaimanapun caranya. Termasuk dengan menggunakan pinjaman online.– Hilangnya rasa syukur dan qana’ah (merasa cukup) atas apa yang Allah telah berikan. Padahal justru kebahagiaan itu ada pada qana’aah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ“Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah.” (HR. Muslim)– Adanya denda keterlambatan alias riba, dikhawatirkan riba akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan tidak bermasalah, dan hal ini sudah terjadi.– Memunculkan kezaliman-kezaliman di tengah masyarakat. Dengan disebarkan data-data peminjam, teror, diancam, dan lain sebagainya.– Sebab dari jeratan utang berantai, artinya peminjam mau tidak mau dipaksa gali lubang tutup lubang. Barangkali ia bisa menggunakan jasa pinjaman online lebih dari satu untuk melakukan hal tersebut.– Rusaknya hubungan sosial, karena teror kepada teman, kerabat, keluarga, dan lain sebagainya yang dilakukan oleh pihak penagih pinjaman.– Berisiko peminjam depresi dan stres jika bunga terus bertambah dan ditagih secara kasar dan terus-menerus. Tidak sedikit peminjam yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.– Memunculkan kriminalitas baru pada masyarakat. Disebabkan data-data bisa dimanipulasi, bisa saja seseorang memanipulasi data dengan mengisi KTP bukan miliknya, nomor HP yang hanya sekali pakai, kemudian dibuang ketika sudah waktu pembayaran utangnya.Dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pinjaman online, terlebih khususnya pinjaman online yang ilegal. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang dibenci-Nya, menjauhkan kita dari riba dan segala yang berkaitan dengannya.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Depok, 3 Rabi’ul awal 1447/ 27 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pinjaman_daring[2] https://www.instagram.com/p/DJoRXRFznWy/
Daftar Isi ToggleSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Di antara pembahasan penting dalam masalah utang piutang, dan termasuk dalam kategori pembahasan kontemporer adalah utang piutang yang berbasis pinjaman online. Sebagaimana yang diketahui, saat ini sedang merebak dan menyebar pinjaman-pinjaman online yang ditawarkan. Baik penyelenggara yang legal ataupun ilegal.Dilansir dari wikipedia [1], daftar penyedia layanan pinjaman daring yang terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) per Oktober 2021, jumlahnya mencapai seratus enam penyedia jasa. Menurut data, jumlah tersebut adalah penyedia jasa yang legal dan terdaftar di OJK. Jika ditambah yang ilegal, tentu lebih banyak lagi.Sedangkan menurut data dari OJK pula, pengguna pinjaman online per Januari 2025 mencapai 146,5 juta pengguna [2]. Angka yang sangat fantastis bagi sebuah negara yang berpenduduk hampir 280 juta.Mudah dan praktis, menjadi alasan terbesar mengapa pinjaman online merebak dan banyak digunakan oleh masyarakat. Tidak butuh bertele-tele, cukup menyiapkan KTP, no HP, email, foto, dan sedikit dari data-data pribadi, dana pun langsung cair sesuai dengan yang diajukan.Hanya butuh sedikit effort (usaha) untuk memencet dengan jari-jemari, keluarlah dana sesuai yang diinginkan. Seringkali, tidak peduli berapa yang harus dikembalikan nantinya. Yang penting, keinginan untuk membeli sesuatu dapat tercapai atau setidaknya gali lubang tutup lubang dengan utang-utang yang lainnya. Alih-alih gali lubang tutup lubang, justru yang ada hanya menggali lubang saja tanpa menutupnya.Terlihat mudah dan praktis, karena berutang di zaman sekarang tidak perlu lagi datang ke rumah-rumah tetangga, keluarga, dan kerabat dekat. Tidak perlu lagi mempertaruhkan kehormatan dan harga diri di hadapan mereka untuk meminjam uang. Cukup butuh satu smartphone dalam genggaman. Begitu mudahnya akses untuk berutang sekarang ini.Namun di balik kemudahan itu, terdapat bahaya yang mengerikan. Mungkin hati merasa bahagia ketika melihat nominal besar masuk ke rekening pribadi, tanpa sadar bahaya akan terjadi. Ternyata riba menjeratnya di akhir waktu, utang semakin menumpuk, bunga semakin berlipat, iming-iming bunga yang katanya 0% hanyalah kepalsuan belaka dari sumpah serapah marketing yang digaungkan. Pada akhirnya, ia pun merasa ditipu dan ditindas, padahal persetujuan ada di tangannya, begitu juga keinginan ada di tangannya.Demikianlah kurang lebih gambaran tentang pinjaman online. Tentunya, pinjaman online yang ada saat ini bisa dikatakan belum atau tidak memenuhi syarat-syarat utang piutang secara syar’i; bahkan notabenenya jauh dari syariat Islam dan merugikan bagi peminjam. Di antara contohnya, terdapat denda keterlambatan yang telah diketahui ini adalah riba, bunga yang begitu besar, syarat yang merugikan seperti potongan uang di muka (sebelum diterima), bahkan sampai adanya ancaman dan penyalahgunaan data pribadi.Hal-hal tersebut sangat jauh dari praktek yang diajarkan oleh Islam. Telah berlalu syarat-syarat dalam utang piutang, utang piutang adalah akad yang sifatnya tabarru’ (akad sosial). Tidak bisa untuk mengambil keuntungan padanya. Sedangkan pinjaman online yang ada saat ini, mereka justru mengambil keuntungan dari utang tersebut. Apalagi yang bisa dikatakan terkait hal ini selain riba?Telah jelas di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyebutkan tentang larangan riba. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran: 130)Bahkan Allah Ta’ala dengan tegas mengancam para pelaku riba,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya…” (QS. Al-Baqarah: 278-279)Tidakkah kita takut dengan ancaman yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jabir bin ‘Abdillah radiyallahu ‘anhu berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya, dan saksi-saksinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka semua sama (dalam dosa).” (HR. Muslim)Dalam hal ini, semua akan terkena ancaman dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik yang disebut sebagai “nasabah”nya, adminnya, saksi-saksi ketika akad berlangsung, semua terkena cipratan dari laknat dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Muncul sebuah pertanyaan, mengapa seperti juru tulisnya dan saksi-saksinya juga terkena laknat? Padahal mereka tidak menikmati riba tersebut secara langsung? Dikarenakan merekalah yang membantu untuk terjadinya praktek riba tersebut. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita berhati-hati. Jangan sampai termakan oleh iming-iming dan prinsip orang-orang kapitalis dan hedonis. Memuaskan keinginan dan kemauan tanpa memikirkan kebutuhan.Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineTentunya, sadar atau tidak terdapat banyak kerusakan yang muncul akibat dari praktek pinjaman online ini. Di antaranya,– Seseorang akan bergaya di atas kemampuannya. Ia akan membeli barang yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, akan tetapi sesuai dengan kemauan dan keinginannya. Sehingga ketika hal itu menjadi tradisi yang mengakar bagi dirinya, ia akan terus-menerus memenuhi hasrat untuk membeli keinginannya, bagaimanapun caranya. Termasuk dengan menggunakan pinjaman online.– Hilangnya rasa syukur dan qana’ah (merasa cukup) atas apa yang Allah telah berikan. Padahal justru kebahagiaan itu ada pada qana’aah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ“Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah.” (HR. Muslim)– Adanya denda keterlambatan alias riba, dikhawatirkan riba akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan tidak bermasalah, dan hal ini sudah terjadi.– Memunculkan kezaliman-kezaliman di tengah masyarakat. Dengan disebarkan data-data peminjam, teror, diancam, dan lain sebagainya.– Sebab dari jeratan utang berantai, artinya peminjam mau tidak mau dipaksa gali lubang tutup lubang. Barangkali ia bisa menggunakan jasa pinjaman online lebih dari satu untuk melakukan hal tersebut.– Rusaknya hubungan sosial, karena teror kepada teman, kerabat, keluarga, dan lain sebagainya yang dilakukan oleh pihak penagih pinjaman.– Berisiko peminjam depresi dan stres jika bunga terus bertambah dan ditagih secara kasar dan terus-menerus. Tidak sedikit peminjam yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.– Memunculkan kriminalitas baru pada masyarakat. Disebabkan data-data bisa dimanipulasi, bisa saja seseorang memanipulasi data dengan mengisi KTP bukan miliknya, nomor HP yang hanya sekali pakai, kemudian dibuang ketika sudah waktu pembayaran utangnya.Dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pinjaman online, terlebih khususnya pinjaman online yang ilegal. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang dibenci-Nya, menjauhkan kita dari riba dan segala yang berkaitan dengannya.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Depok, 3 Rabi’ul awal 1447/ 27 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pinjaman_daring[2] https://www.instagram.com/p/DJoRXRFznWy/


Daftar Isi ToggleSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Di antara pembahasan penting dalam masalah utang piutang, dan termasuk dalam kategori pembahasan kontemporer adalah utang piutang yang berbasis pinjaman online. Sebagaimana yang diketahui, saat ini sedang merebak dan menyebar pinjaman-pinjaman online yang ditawarkan. Baik penyelenggara yang legal ataupun ilegal.Dilansir dari wikipedia [1], daftar penyedia layanan pinjaman daring yang terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) per Oktober 2021, jumlahnya mencapai seratus enam penyedia jasa. Menurut data, jumlah tersebut adalah penyedia jasa yang legal dan terdaftar di OJK. Jika ditambah yang ilegal, tentu lebih banyak lagi.Sedangkan menurut data dari OJK pula, pengguna pinjaman online per Januari 2025 mencapai 146,5 juta pengguna [2]. Angka yang sangat fantastis bagi sebuah negara yang berpenduduk hampir 280 juta.Mudah dan praktis, menjadi alasan terbesar mengapa pinjaman online merebak dan banyak digunakan oleh masyarakat. Tidak butuh bertele-tele, cukup menyiapkan KTP, no HP, email, foto, dan sedikit dari data-data pribadi, dana pun langsung cair sesuai dengan yang diajukan.Hanya butuh sedikit effort (usaha) untuk memencet dengan jari-jemari, keluarlah dana sesuai yang diinginkan. Seringkali, tidak peduli berapa yang harus dikembalikan nantinya. Yang penting, keinginan untuk membeli sesuatu dapat tercapai atau setidaknya gali lubang tutup lubang dengan utang-utang yang lainnya. Alih-alih gali lubang tutup lubang, justru yang ada hanya menggali lubang saja tanpa menutupnya.Terlihat mudah dan praktis, karena berutang di zaman sekarang tidak perlu lagi datang ke rumah-rumah tetangga, keluarga, dan kerabat dekat. Tidak perlu lagi mempertaruhkan kehormatan dan harga diri di hadapan mereka untuk meminjam uang. Cukup butuh satu smartphone dalam genggaman. Begitu mudahnya akses untuk berutang sekarang ini.Namun di balik kemudahan itu, terdapat bahaya yang mengerikan. Mungkin hati merasa bahagia ketika melihat nominal besar masuk ke rekening pribadi, tanpa sadar bahaya akan terjadi. Ternyata riba menjeratnya di akhir waktu, utang semakin menumpuk, bunga semakin berlipat, iming-iming bunga yang katanya 0% hanyalah kepalsuan belaka dari sumpah serapah marketing yang digaungkan. Pada akhirnya, ia pun merasa ditipu dan ditindas, padahal persetujuan ada di tangannya, begitu juga keinginan ada di tangannya.Demikianlah kurang lebih gambaran tentang pinjaman online. Tentunya, pinjaman online yang ada saat ini bisa dikatakan belum atau tidak memenuhi syarat-syarat utang piutang secara syar’i; bahkan notabenenya jauh dari syariat Islam dan merugikan bagi peminjam. Di antara contohnya, terdapat denda keterlambatan yang telah diketahui ini adalah riba, bunga yang begitu besar, syarat yang merugikan seperti potongan uang di muka (sebelum diterima), bahkan sampai adanya ancaman dan penyalahgunaan data pribadi.Hal-hal tersebut sangat jauh dari praktek yang diajarkan oleh Islam. Telah berlalu syarat-syarat dalam utang piutang, utang piutang adalah akad yang sifatnya tabarru’ (akad sosial). Tidak bisa untuk mengambil keuntungan padanya. Sedangkan pinjaman online yang ada saat ini, mereka justru mengambil keuntungan dari utang tersebut. Apalagi yang bisa dikatakan terkait hal ini selain riba?Telah jelas di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyebutkan tentang larangan riba. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran: 130)Bahkan Allah Ta’ala dengan tegas mengancam para pelaku riba,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya…” (QS. Al-Baqarah: 278-279)Tidakkah kita takut dengan ancaman yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jabir bin ‘Abdillah radiyallahu ‘anhu berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya, dan saksi-saksinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka semua sama (dalam dosa).” (HR. Muslim)Dalam hal ini, semua akan terkena ancaman dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik yang disebut sebagai “nasabah”nya, adminnya, saksi-saksi ketika akad berlangsung, semua terkena cipratan dari laknat dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Muncul sebuah pertanyaan, mengapa seperti juru tulisnya dan saksi-saksinya juga terkena laknat? Padahal mereka tidak menikmati riba tersebut secara langsung? Dikarenakan merekalah yang membantu untuk terjadinya praktek riba tersebut. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita berhati-hati. Jangan sampai termakan oleh iming-iming dan prinsip orang-orang kapitalis dan hedonis. Memuaskan keinginan dan kemauan tanpa memikirkan kebutuhan.Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineTentunya, sadar atau tidak terdapat banyak kerusakan yang muncul akibat dari praktek pinjaman online ini. Di antaranya,– Seseorang akan bergaya di atas kemampuannya. Ia akan membeli barang yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, akan tetapi sesuai dengan kemauan dan keinginannya. Sehingga ketika hal itu menjadi tradisi yang mengakar bagi dirinya, ia akan terus-menerus memenuhi hasrat untuk membeli keinginannya, bagaimanapun caranya. Termasuk dengan menggunakan pinjaman online.– Hilangnya rasa syukur dan qana’ah (merasa cukup) atas apa yang Allah telah berikan. Padahal justru kebahagiaan itu ada pada qana’aah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ“Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah.” (HR. Muslim)– Adanya denda keterlambatan alias riba, dikhawatirkan riba akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan tidak bermasalah, dan hal ini sudah terjadi.– Memunculkan kezaliman-kezaliman di tengah masyarakat. Dengan disebarkan data-data peminjam, teror, diancam, dan lain sebagainya.– Sebab dari jeratan utang berantai, artinya peminjam mau tidak mau dipaksa gali lubang tutup lubang. Barangkali ia bisa menggunakan jasa pinjaman online lebih dari satu untuk melakukan hal tersebut.– Rusaknya hubungan sosial, karena teror kepada teman, kerabat, keluarga, dan lain sebagainya yang dilakukan oleh pihak penagih pinjaman.– Berisiko peminjam depresi dan stres jika bunga terus bertambah dan ditagih secara kasar dan terus-menerus. Tidak sedikit peminjam yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.– Memunculkan kriminalitas baru pada masyarakat. Disebabkan data-data bisa dimanipulasi, bisa saja seseorang memanipulasi data dengan mengisi KTP bukan miliknya, nomor HP yang hanya sekali pakai, kemudian dibuang ketika sudah waktu pembayaran utangnya.Dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pinjaman online, terlebih khususnya pinjaman online yang ilegal. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang dibenci-Nya, menjauhkan kita dari riba dan segala yang berkaitan dengannya.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Depok, 3 Rabi’ul awal 1447/ 27 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pinjaman_daring[2] https://www.instagram.com/p/DJoRXRFznWy/
Prev     Next