Adab-Adab yang Harus Diperhatikan Saat Menasihati Orang Tua

Daftar Isi sembunyikan 1. Pentingnya saling menasihati dalam sebuah keluarga 2. Adab-adab dalam menasihati orang tua 2.1. Menggunakan kata-kata yang lembut dan halus 2.2. Jauhilah kata-kata yang kasar dan menggurui 2.3. Diam dan keluar sejenak saat mendapati orang tua sedang sangat marah karena nasihat kita 2.4. Meminta tolong kepada orang lain 2.5. Jika orang tua benar-benar tidak mau mendengar nasihat kita dan tidak mau berubah, maka teruslah berbakti kepada keduanya, teruslah berbuat baik kepada keduanya Menasihati adalah salah satu tanda kecintaan seseorang kepada orang yang dinasihatinya. Saling menasihati adalah tanda bahwa seseorang menginginkan kebaikan untuk orang yang dinasihatinya. Bahkan, Nabi jadikan nasihat sebagai salah satu intisari agama Islam yang mulia ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الدِّينُ النَّصِيحةُ. قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ“Agama adalah nasihat.” Kami (sahabat) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim no. 55)Pentingnya saling menasihati dalam sebuah keluargaSaling menasihati antara anak dan orang tua tentu saja merupakan salah satu perkara yang paling wajib, selain juga merupakan salah satu pintu berbakti yang paling luas.Mengapa? Karena keluarga kita adalah orang yang paling berhak untuk diingatkan dan dinasihati. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memberikan perintah kepada Nabinya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214)Setelah turunnya ayat tersebut, seketika itu juga Nabi memanggil kaum Quraisy, keluarga, dan kerabat dekat beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ingatkan keluarga terdekat beliau tersebut, bahkan beliau panggil namanya satu persatu.Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَة“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya perihal siapa yang harus kita prioritaskan dan layak untuk mendapatkan perlakuan baik kita. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,أُمَّكَ وَأَبَاكَ وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ وَمَوْلاَكَ الذِي يَلِي ذَاكَ حَقٌّ وَاجِبٌ وَرَحِمٌ مَوْصُوْلَةٌ“Ibumu, lalu bapakmu, lalu saudara perempuanmu, lalu saudara laki-lakimu, lalu bekas budakmu yang menjadi tanggungjawabmu. Diwajibkan untuk menjalin hubungan kerabat dengan mereka-mereka tadi.” (HR. Abu Dawud, no. 5140. Hadis ini dihukumi hasan oleh Usamah bin ‘Athaya bin ‘Utsman Al-‘Utaibi karena hadis ini punya banyak penguat atau syawahid. Lihat Taysir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 544-545)Sungguh, nasihat merupakan kebaikan dan bentuk perlakuan baik paling utama yang bisa diberikan oleh seseorang. Mereka yang paling berhak untuk mendapatkannya adalah keluarga terdekatnya. Baik ibunya, bapaknya, saudaranya, saudarinya, ataupun istri dan anak-anaknya.Menasihati orang tua tidaklah sama sebagaimana menasihati orang lain. Orang tua kita adalah orang yang paling berjasa kepada kita. Mereka bukanlah orang-orang yang bisa kita sikapi semau kita dan sekehendak kita.Sangat disayangkan, banyak sekali dari kaum muslimin yang semangatnya di dalam menasihati orangtuanya begitu besar. Akan tetapi, ia tidak memahami cara menasihati yang baik kepada mereka, tidak mengetahui adab-adab di dalamnya. Yang ada, bukannya orangtuanya menerima nasihat tersebut, justru ia mendapatkan kemurkaan dan ketidakridaan keduanya kepada dirinya.Seorang muslim, jika ia mau lebih teliti dan serius mempelajari agama ini, maka ia akan mendapatkan begitu banyak tips, trik, dan petunjuk di dalam menasihati orang tua. Begitu banyak kisah-kisah, ucapan-ucapan, dan pelajaran yang bisa kita ambil dan kita praktikkan dari ayat-ayat Al-Qur’an serta hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Adab-adab dalam menasihati orang tuaDi antara beberapa adab yang bisa kita praktikkan di dalam menasihati orang tua adalah:Menggunakan kata-kata yang lembut dan halusLihatlah bagaimana Nabi Ibrahim memberikan contoh yang begitu mulia kepada kita. Tentang bagaimana menasihati ayahnya yang musyrik dan menyembah berhala. Kata-kata yang keluar dari mulut beliau adalah kata-kata yang manis nan mulia. Beliau panggil ayahnya dengan sebutan yang sangat lembut, (يا أبتِ) , “Wahai ayahku”, sebagaimana firman Allah Ta’ala,اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـًٔا“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?.” (QS. Maryam: 42)Jauhilah kata-kata yang kasar dan mengguruiAllah Ta’ala berfirman,فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيماً“Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’: 23)Allah Ta’ala melarang kita menggunakan ucapan yang mengandung makna kemarahan dan kejemuan saat sedang berbicara dengan orang tua. Allah Ta’ala juga melarang kita dari membentak mereka, bahkan jika kita sedang tidak senang dan marah karena kesalahan atau kemaksiatan yang dilakukan oleh orang tua sekali pun.Diam dan keluar sejenak saat mendapati orang tua sedang sangat marah karena nasihat kitaHal ini juga telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ketika beliau mengatakan,قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا *وَاَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.’” (QS. Maryam: 47-48)Keluar sejenak dan menjauhkan diri di sini bukan maksudnya menyerah dari menasihati, akan tetapi maksudnya adalah mengubah rencana dan siasat serta berniat untuk mengulang upaya dan usahanya di dalam menasihati.Meminta tolong kepada orang lainJika memang dirasa sudah tidak mampu menasihati keduanya, maka jangan ragu-ragu untuk meminta tolong kepada kerabat dekat dan orang-orang terdekat keduanya untuk memberikan nasihat kepada keduanya. Tidak ada salahnya meminta tolong kepada paman kita, atau teman orang tua kita untuk menyampaikan nasihat yang kita inginkan kepada keduanya. Bisa jadi mereka lebih didengar dan menjadi pintu hidayah untuk kedua orang tua kita.Jika orang tua benar-benar tidak mau mendengar nasihat kita dan tidak mau berubah, maka teruslah berbakti kepada keduanya, teruslah berbuat baik kepada keduanyaKarena di dalam perlakuan baik kita kepada orang lain, ada hikmah dan rahasia mengagumkan yang terkadang tidak kita duga-duga. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fussilat: 34)Di dalam sebuah hadis disebutkan,أنَّ رَجُلًا قالَ: يا رَسُولَ اللهِ، إنَّ لي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إليهِم وَيُسِيؤُونَ إلَيَّ، وَأَحْلُمُ عنْهمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ، فَقالَ: لَئِنْ كُنْتَ كما قُلْتَ، فَكَأنَّما تُسِفُّهُمُ المَلَّ وَلَا يَزَالُ معكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عليهم ما دُمْتَ علَى ذلكَ“Ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku selalu menyambung hubungan baik dengan mereka, tetapi mereka selalu memutuskannya. Aku berbuat baik, akan tetapi mereka membalasnya dengan keburukan. Aku berlaku bijak, akan tetapi mereka berlaku bodoh.” Rasulullah kemudian bersabda, “Bila keadaannya seperti yang engkau katakan, maka mereka itu seperti meminum abu yang panas, dan senantiasa Allah akan memberikan pertolongan kepadamu selama kamu dalam keadaan demikian itu.” (HR. Muslim no. 2558)Sungguh pertolongan Allah akan selalu menemani kita selama kita bersabar di dalam berbakti kepada orang tua, membalas keburukan dengan kebaikan dan tidak henti-hentinya berdoa serta memohon hidayah untuk diri kita dan orang tua kita.Bisa jadi perlakuan baik kita kepada mereka menjadi pintu hidayah bagi keduanya. Sudah begitu banyak kisah yang menceritakan kondisi semacam itu dan membuktikan benarnya firman Allah Ta’ala dan sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga seluruh keluarga kaum muslimin. Menanamkan akidah yang benar, budi pekerti yang baik, dan teladan yang mulia pada setiap keluarga yang ada. Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Perintah Untuk Birrul Walidain***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Ayat Tentang Berhijab, Hadits Shahih Tentang Puasa Ramadhan, Kurma Maryam, Penyimpangan AqidahTags: adabberbakti kepada orang tuaBirrul Walidainnasihatorang tua

Adab-Adab yang Harus Diperhatikan Saat Menasihati Orang Tua

Daftar Isi sembunyikan 1. Pentingnya saling menasihati dalam sebuah keluarga 2. Adab-adab dalam menasihati orang tua 2.1. Menggunakan kata-kata yang lembut dan halus 2.2. Jauhilah kata-kata yang kasar dan menggurui 2.3. Diam dan keluar sejenak saat mendapati orang tua sedang sangat marah karena nasihat kita 2.4. Meminta tolong kepada orang lain 2.5. Jika orang tua benar-benar tidak mau mendengar nasihat kita dan tidak mau berubah, maka teruslah berbakti kepada keduanya, teruslah berbuat baik kepada keduanya Menasihati adalah salah satu tanda kecintaan seseorang kepada orang yang dinasihatinya. Saling menasihati adalah tanda bahwa seseorang menginginkan kebaikan untuk orang yang dinasihatinya. Bahkan, Nabi jadikan nasihat sebagai salah satu intisari agama Islam yang mulia ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الدِّينُ النَّصِيحةُ. قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ“Agama adalah nasihat.” Kami (sahabat) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim no. 55)Pentingnya saling menasihati dalam sebuah keluargaSaling menasihati antara anak dan orang tua tentu saja merupakan salah satu perkara yang paling wajib, selain juga merupakan salah satu pintu berbakti yang paling luas.Mengapa? Karena keluarga kita adalah orang yang paling berhak untuk diingatkan dan dinasihati. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memberikan perintah kepada Nabinya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214)Setelah turunnya ayat tersebut, seketika itu juga Nabi memanggil kaum Quraisy, keluarga, dan kerabat dekat beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ingatkan keluarga terdekat beliau tersebut, bahkan beliau panggil namanya satu persatu.Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَة“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya perihal siapa yang harus kita prioritaskan dan layak untuk mendapatkan perlakuan baik kita. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,أُمَّكَ وَأَبَاكَ وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ وَمَوْلاَكَ الذِي يَلِي ذَاكَ حَقٌّ وَاجِبٌ وَرَحِمٌ مَوْصُوْلَةٌ“Ibumu, lalu bapakmu, lalu saudara perempuanmu, lalu saudara laki-lakimu, lalu bekas budakmu yang menjadi tanggungjawabmu. Diwajibkan untuk menjalin hubungan kerabat dengan mereka-mereka tadi.” (HR. Abu Dawud, no. 5140. Hadis ini dihukumi hasan oleh Usamah bin ‘Athaya bin ‘Utsman Al-‘Utaibi karena hadis ini punya banyak penguat atau syawahid. Lihat Taysir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 544-545)Sungguh, nasihat merupakan kebaikan dan bentuk perlakuan baik paling utama yang bisa diberikan oleh seseorang. Mereka yang paling berhak untuk mendapatkannya adalah keluarga terdekatnya. Baik ibunya, bapaknya, saudaranya, saudarinya, ataupun istri dan anak-anaknya.Menasihati orang tua tidaklah sama sebagaimana menasihati orang lain. Orang tua kita adalah orang yang paling berjasa kepada kita. Mereka bukanlah orang-orang yang bisa kita sikapi semau kita dan sekehendak kita.Sangat disayangkan, banyak sekali dari kaum muslimin yang semangatnya di dalam menasihati orangtuanya begitu besar. Akan tetapi, ia tidak memahami cara menasihati yang baik kepada mereka, tidak mengetahui adab-adab di dalamnya. Yang ada, bukannya orangtuanya menerima nasihat tersebut, justru ia mendapatkan kemurkaan dan ketidakridaan keduanya kepada dirinya.Seorang muslim, jika ia mau lebih teliti dan serius mempelajari agama ini, maka ia akan mendapatkan begitu banyak tips, trik, dan petunjuk di dalam menasihati orang tua. Begitu banyak kisah-kisah, ucapan-ucapan, dan pelajaran yang bisa kita ambil dan kita praktikkan dari ayat-ayat Al-Qur’an serta hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Adab-adab dalam menasihati orang tuaDi antara beberapa adab yang bisa kita praktikkan di dalam menasihati orang tua adalah:Menggunakan kata-kata yang lembut dan halusLihatlah bagaimana Nabi Ibrahim memberikan contoh yang begitu mulia kepada kita. Tentang bagaimana menasihati ayahnya yang musyrik dan menyembah berhala. Kata-kata yang keluar dari mulut beliau adalah kata-kata yang manis nan mulia. Beliau panggil ayahnya dengan sebutan yang sangat lembut, (يا أبتِ) , “Wahai ayahku”, sebagaimana firman Allah Ta’ala,اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـًٔا“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?.” (QS. Maryam: 42)Jauhilah kata-kata yang kasar dan mengguruiAllah Ta’ala berfirman,فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيماً“Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’: 23)Allah Ta’ala melarang kita menggunakan ucapan yang mengandung makna kemarahan dan kejemuan saat sedang berbicara dengan orang tua. Allah Ta’ala juga melarang kita dari membentak mereka, bahkan jika kita sedang tidak senang dan marah karena kesalahan atau kemaksiatan yang dilakukan oleh orang tua sekali pun.Diam dan keluar sejenak saat mendapati orang tua sedang sangat marah karena nasihat kitaHal ini juga telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ketika beliau mengatakan,قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا *وَاَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.’” (QS. Maryam: 47-48)Keluar sejenak dan menjauhkan diri di sini bukan maksudnya menyerah dari menasihati, akan tetapi maksudnya adalah mengubah rencana dan siasat serta berniat untuk mengulang upaya dan usahanya di dalam menasihati.Meminta tolong kepada orang lainJika memang dirasa sudah tidak mampu menasihati keduanya, maka jangan ragu-ragu untuk meminta tolong kepada kerabat dekat dan orang-orang terdekat keduanya untuk memberikan nasihat kepada keduanya. Tidak ada salahnya meminta tolong kepada paman kita, atau teman orang tua kita untuk menyampaikan nasihat yang kita inginkan kepada keduanya. Bisa jadi mereka lebih didengar dan menjadi pintu hidayah untuk kedua orang tua kita.Jika orang tua benar-benar tidak mau mendengar nasihat kita dan tidak mau berubah, maka teruslah berbakti kepada keduanya, teruslah berbuat baik kepada keduanyaKarena di dalam perlakuan baik kita kepada orang lain, ada hikmah dan rahasia mengagumkan yang terkadang tidak kita duga-duga. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fussilat: 34)Di dalam sebuah hadis disebutkan,أنَّ رَجُلًا قالَ: يا رَسُولَ اللهِ، إنَّ لي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إليهِم وَيُسِيؤُونَ إلَيَّ، وَأَحْلُمُ عنْهمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ، فَقالَ: لَئِنْ كُنْتَ كما قُلْتَ، فَكَأنَّما تُسِفُّهُمُ المَلَّ وَلَا يَزَالُ معكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عليهم ما دُمْتَ علَى ذلكَ“Ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku selalu menyambung hubungan baik dengan mereka, tetapi mereka selalu memutuskannya. Aku berbuat baik, akan tetapi mereka membalasnya dengan keburukan. Aku berlaku bijak, akan tetapi mereka berlaku bodoh.” Rasulullah kemudian bersabda, “Bila keadaannya seperti yang engkau katakan, maka mereka itu seperti meminum abu yang panas, dan senantiasa Allah akan memberikan pertolongan kepadamu selama kamu dalam keadaan demikian itu.” (HR. Muslim no. 2558)Sungguh pertolongan Allah akan selalu menemani kita selama kita bersabar di dalam berbakti kepada orang tua, membalas keburukan dengan kebaikan dan tidak henti-hentinya berdoa serta memohon hidayah untuk diri kita dan orang tua kita.Bisa jadi perlakuan baik kita kepada mereka menjadi pintu hidayah bagi keduanya. Sudah begitu banyak kisah yang menceritakan kondisi semacam itu dan membuktikan benarnya firman Allah Ta’ala dan sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga seluruh keluarga kaum muslimin. Menanamkan akidah yang benar, budi pekerti yang baik, dan teladan yang mulia pada setiap keluarga yang ada. Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Perintah Untuk Birrul Walidain***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Ayat Tentang Berhijab, Hadits Shahih Tentang Puasa Ramadhan, Kurma Maryam, Penyimpangan AqidahTags: adabberbakti kepada orang tuaBirrul Walidainnasihatorang tua
Daftar Isi sembunyikan 1. Pentingnya saling menasihati dalam sebuah keluarga 2. Adab-adab dalam menasihati orang tua 2.1. Menggunakan kata-kata yang lembut dan halus 2.2. Jauhilah kata-kata yang kasar dan menggurui 2.3. Diam dan keluar sejenak saat mendapati orang tua sedang sangat marah karena nasihat kita 2.4. Meminta tolong kepada orang lain 2.5. Jika orang tua benar-benar tidak mau mendengar nasihat kita dan tidak mau berubah, maka teruslah berbakti kepada keduanya, teruslah berbuat baik kepada keduanya Menasihati adalah salah satu tanda kecintaan seseorang kepada orang yang dinasihatinya. Saling menasihati adalah tanda bahwa seseorang menginginkan kebaikan untuk orang yang dinasihatinya. Bahkan, Nabi jadikan nasihat sebagai salah satu intisari agama Islam yang mulia ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الدِّينُ النَّصِيحةُ. قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ“Agama adalah nasihat.” Kami (sahabat) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim no. 55)Pentingnya saling menasihati dalam sebuah keluargaSaling menasihati antara anak dan orang tua tentu saja merupakan salah satu perkara yang paling wajib, selain juga merupakan salah satu pintu berbakti yang paling luas.Mengapa? Karena keluarga kita adalah orang yang paling berhak untuk diingatkan dan dinasihati. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memberikan perintah kepada Nabinya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214)Setelah turunnya ayat tersebut, seketika itu juga Nabi memanggil kaum Quraisy, keluarga, dan kerabat dekat beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ingatkan keluarga terdekat beliau tersebut, bahkan beliau panggil namanya satu persatu.Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَة“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya perihal siapa yang harus kita prioritaskan dan layak untuk mendapatkan perlakuan baik kita. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,أُمَّكَ وَأَبَاكَ وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ وَمَوْلاَكَ الذِي يَلِي ذَاكَ حَقٌّ وَاجِبٌ وَرَحِمٌ مَوْصُوْلَةٌ“Ibumu, lalu bapakmu, lalu saudara perempuanmu, lalu saudara laki-lakimu, lalu bekas budakmu yang menjadi tanggungjawabmu. Diwajibkan untuk menjalin hubungan kerabat dengan mereka-mereka tadi.” (HR. Abu Dawud, no. 5140. Hadis ini dihukumi hasan oleh Usamah bin ‘Athaya bin ‘Utsman Al-‘Utaibi karena hadis ini punya banyak penguat atau syawahid. Lihat Taysir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 544-545)Sungguh, nasihat merupakan kebaikan dan bentuk perlakuan baik paling utama yang bisa diberikan oleh seseorang. Mereka yang paling berhak untuk mendapatkannya adalah keluarga terdekatnya. Baik ibunya, bapaknya, saudaranya, saudarinya, ataupun istri dan anak-anaknya.Menasihati orang tua tidaklah sama sebagaimana menasihati orang lain. Orang tua kita adalah orang yang paling berjasa kepada kita. Mereka bukanlah orang-orang yang bisa kita sikapi semau kita dan sekehendak kita.Sangat disayangkan, banyak sekali dari kaum muslimin yang semangatnya di dalam menasihati orangtuanya begitu besar. Akan tetapi, ia tidak memahami cara menasihati yang baik kepada mereka, tidak mengetahui adab-adab di dalamnya. Yang ada, bukannya orangtuanya menerima nasihat tersebut, justru ia mendapatkan kemurkaan dan ketidakridaan keduanya kepada dirinya.Seorang muslim, jika ia mau lebih teliti dan serius mempelajari agama ini, maka ia akan mendapatkan begitu banyak tips, trik, dan petunjuk di dalam menasihati orang tua. Begitu banyak kisah-kisah, ucapan-ucapan, dan pelajaran yang bisa kita ambil dan kita praktikkan dari ayat-ayat Al-Qur’an serta hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Adab-adab dalam menasihati orang tuaDi antara beberapa adab yang bisa kita praktikkan di dalam menasihati orang tua adalah:Menggunakan kata-kata yang lembut dan halusLihatlah bagaimana Nabi Ibrahim memberikan contoh yang begitu mulia kepada kita. Tentang bagaimana menasihati ayahnya yang musyrik dan menyembah berhala. Kata-kata yang keluar dari mulut beliau adalah kata-kata yang manis nan mulia. Beliau panggil ayahnya dengan sebutan yang sangat lembut, (يا أبتِ) , “Wahai ayahku”, sebagaimana firman Allah Ta’ala,اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـًٔا“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?.” (QS. Maryam: 42)Jauhilah kata-kata yang kasar dan mengguruiAllah Ta’ala berfirman,فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيماً“Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’: 23)Allah Ta’ala melarang kita menggunakan ucapan yang mengandung makna kemarahan dan kejemuan saat sedang berbicara dengan orang tua. Allah Ta’ala juga melarang kita dari membentak mereka, bahkan jika kita sedang tidak senang dan marah karena kesalahan atau kemaksiatan yang dilakukan oleh orang tua sekali pun.Diam dan keluar sejenak saat mendapati orang tua sedang sangat marah karena nasihat kitaHal ini juga telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ketika beliau mengatakan,قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا *وَاَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.’” (QS. Maryam: 47-48)Keluar sejenak dan menjauhkan diri di sini bukan maksudnya menyerah dari menasihati, akan tetapi maksudnya adalah mengubah rencana dan siasat serta berniat untuk mengulang upaya dan usahanya di dalam menasihati.Meminta tolong kepada orang lainJika memang dirasa sudah tidak mampu menasihati keduanya, maka jangan ragu-ragu untuk meminta tolong kepada kerabat dekat dan orang-orang terdekat keduanya untuk memberikan nasihat kepada keduanya. Tidak ada salahnya meminta tolong kepada paman kita, atau teman orang tua kita untuk menyampaikan nasihat yang kita inginkan kepada keduanya. Bisa jadi mereka lebih didengar dan menjadi pintu hidayah untuk kedua orang tua kita.Jika orang tua benar-benar tidak mau mendengar nasihat kita dan tidak mau berubah, maka teruslah berbakti kepada keduanya, teruslah berbuat baik kepada keduanyaKarena di dalam perlakuan baik kita kepada orang lain, ada hikmah dan rahasia mengagumkan yang terkadang tidak kita duga-duga. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fussilat: 34)Di dalam sebuah hadis disebutkan,أنَّ رَجُلًا قالَ: يا رَسُولَ اللهِ، إنَّ لي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إليهِم وَيُسِيؤُونَ إلَيَّ، وَأَحْلُمُ عنْهمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ، فَقالَ: لَئِنْ كُنْتَ كما قُلْتَ، فَكَأنَّما تُسِفُّهُمُ المَلَّ وَلَا يَزَالُ معكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عليهم ما دُمْتَ علَى ذلكَ“Ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku selalu menyambung hubungan baik dengan mereka, tetapi mereka selalu memutuskannya. Aku berbuat baik, akan tetapi mereka membalasnya dengan keburukan. Aku berlaku bijak, akan tetapi mereka berlaku bodoh.” Rasulullah kemudian bersabda, “Bila keadaannya seperti yang engkau katakan, maka mereka itu seperti meminum abu yang panas, dan senantiasa Allah akan memberikan pertolongan kepadamu selama kamu dalam keadaan demikian itu.” (HR. Muslim no. 2558)Sungguh pertolongan Allah akan selalu menemani kita selama kita bersabar di dalam berbakti kepada orang tua, membalas keburukan dengan kebaikan dan tidak henti-hentinya berdoa serta memohon hidayah untuk diri kita dan orang tua kita.Bisa jadi perlakuan baik kita kepada mereka menjadi pintu hidayah bagi keduanya. Sudah begitu banyak kisah yang menceritakan kondisi semacam itu dan membuktikan benarnya firman Allah Ta’ala dan sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga seluruh keluarga kaum muslimin. Menanamkan akidah yang benar, budi pekerti yang baik, dan teladan yang mulia pada setiap keluarga yang ada. Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Perintah Untuk Birrul Walidain***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Ayat Tentang Berhijab, Hadits Shahih Tentang Puasa Ramadhan, Kurma Maryam, Penyimpangan AqidahTags: adabberbakti kepada orang tuaBirrul Walidainnasihatorang tua


Daftar Isi sembunyikan 1. Pentingnya saling menasihati dalam sebuah keluarga 2. Adab-adab dalam menasihati orang tua 2.1. Menggunakan kata-kata yang lembut dan halus 2.2. Jauhilah kata-kata yang kasar dan menggurui 2.3. Diam dan keluar sejenak saat mendapati orang tua sedang sangat marah karena nasihat kita 2.4. Meminta tolong kepada orang lain 2.5. Jika orang tua benar-benar tidak mau mendengar nasihat kita dan tidak mau berubah, maka teruslah berbakti kepada keduanya, teruslah berbuat baik kepada keduanya Menasihati adalah salah satu tanda kecintaan seseorang kepada orang yang dinasihatinya. Saling menasihati adalah tanda bahwa seseorang menginginkan kebaikan untuk orang yang dinasihatinya. Bahkan, Nabi jadikan nasihat sebagai salah satu intisari agama Islam yang mulia ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الدِّينُ النَّصِيحةُ. قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ“Agama adalah nasihat.” Kami (sahabat) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim no. 55)Pentingnya saling menasihati dalam sebuah keluargaSaling menasihati antara anak dan orang tua tentu saja merupakan salah satu perkara yang paling wajib, selain juga merupakan salah satu pintu berbakti yang paling luas.Mengapa? Karena keluarga kita adalah orang yang paling berhak untuk diingatkan dan dinasihati. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memberikan perintah kepada Nabinya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214)Setelah turunnya ayat tersebut, seketika itu juga Nabi memanggil kaum Quraisy, keluarga, dan kerabat dekat beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ingatkan keluarga terdekat beliau tersebut, bahkan beliau panggil namanya satu persatu.Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَة“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya perihal siapa yang harus kita prioritaskan dan layak untuk mendapatkan perlakuan baik kita. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,أُمَّكَ وَأَبَاكَ وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ وَمَوْلاَكَ الذِي يَلِي ذَاكَ حَقٌّ وَاجِبٌ وَرَحِمٌ مَوْصُوْلَةٌ“Ibumu, lalu bapakmu, lalu saudara perempuanmu, lalu saudara laki-lakimu, lalu bekas budakmu yang menjadi tanggungjawabmu. Diwajibkan untuk menjalin hubungan kerabat dengan mereka-mereka tadi.” (HR. Abu Dawud, no. 5140. Hadis ini dihukumi hasan oleh Usamah bin ‘Athaya bin ‘Utsman Al-‘Utaibi karena hadis ini punya banyak penguat atau syawahid. Lihat Taysir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 544-545)Sungguh, nasihat merupakan kebaikan dan bentuk perlakuan baik paling utama yang bisa diberikan oleh seseorang. Mereka yang paling berhak untuk mendapatkannya adalah keluarga terdekatnya. Baik ibunya, bapaknya, saudaranya, saudarinya, ataupun istri dan anak-anaknya.Menasihati orang tua tidaklah sama sebagaimana menasihati orang lain. Orang tua kita adalah orang yang paling berjasa kepada kita. Mereka bukanlah orang-orang yang bisa kita sikapi semau kita dan sekehendak kita.Sangat disayangkan, banyak sekali dari kaum muslimin yang semangatnya di dalam menasihati orangtuanya begitu besar. Akan tetapi, ia tidak memahami cara menasihati yang baik kepada mereka, tidak mengetahui adab-adab di dalamnya. Yang ada, bukannya orangtuanya menerima nasihat tersebut, justru ia mendapatkan kemurkaan dan ketidakridaan keduanya kepada dirinya.Seorang muslim, jika ia mau lebih teliti dan serius mempelajari agama ini, maka ia akan mendapatkan begitu banyak tips, trik, dan petunjuk di dalam menasihati orang tua. Begitu banyak kisah-kisah, ucapan-ucapan, dan pelajaran yang bisa kita ambil dan kita praktikkan dari ayat-ayat Al-Qur’an serta hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Adab-adab dalam menasihati orang tuaDi antara beberapa adab yang bisa kita praktikkan di dalam menasihati orang tua adalah:Menggunakan kata-kata yang lembut dan halusLihatlah bagaimana Nabi Ibrahim memberikan contoh yang begitu mulia kepada kita. Tentang bagaimana menasihati ayahnya yang musyrik dan menyembah berhala. Kata-kata yang keluar dari mulut beliau adalah kata-kata yang manis nan mulia. Beliau panggil ayahnya dengan sebutan yang sangat lembut, (يا أبتِ) , “Wahai ayahku”, sebagaimana firman Allah Ta’ala,اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـًٔا“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?.” (QS. Maryam: 42)Jauhilah kata-kata yang kasar dan mengguruiAllah Ta’ala berfirman,فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيماً“Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’: 23)Allah Ta’ala melarang kita menggunakan ucapan yang mengandung makna kemarahan dan kejemuan saat sedang berbicara dengan orang tua. Allah Ta’ala juga melarang kita dari membentak mereka, bahkan jika kita sedang tidak senang dan marah karena kesalahan atau kemaksiatan yang dilakukan oleh orang tua sekali pun.Diam dan keluar sejenak saat mendapati orang tua sedang sangat marah karena nasihat kitaHal ini juga telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ketika beliau mengatakan,قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا *وَاَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.’” (QS. Maryam: 47-48)Keluar sejenak dan menjauhkan diri di sini bukan maksudnya menyerah dari menasihati, akan tetapi maksudnya adalah mengubah rencana dan siasat serta berniat untuk mengulang upaya dan usahanya di dalam menasihati.Meminta tolong kepada orang lainJika memang dirasa sudah tidak mampu menasihati keduanya, maka jangan ragu-ragu untuk meminta tolong kepada kerabat dekat dan orang-orang terdekat keduanya untuk memberikan nasihat kepada keduanya. Tidak ada salahnya meminta tolong kepada paman kita, atau teman orang tua kita untuk menyampaikan nasihat yang kita inginkan kepada keduanya. Bisa jadi mereka lebih didengar dan menjadi pintu hidayah untuk kedua orang tua kita.Jika orang tua benar-benar tidak mau mendengar nasihat kita dan tidak mau berubah, maka teruslah berbakti kepada keduanya, teruslah berbuat baik kepada keduanyaKarena di dalam perlakuan baik kita kepada orang lain, ada hikmah dan rahasia mengagumkan yang terkadang tidak kita duga-duga. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fussilat: 34)Di dalam sebuah hadis disebutkan,أنَّ رَجُلًا قالَ: يا رَسُولَ اللهِ، إنَّ لي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إليهِم وَيُسِيؤُونَ إلَيَّ، وَأَحْلُمُ عنْهمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ، فَقالَ: لَئِنْ كُنْتَ كما قُلْتَ، فَكَأنَّما تُسِفُّهُمُ المَلَّ وَلَا يَزَالُ معكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عليهم ما دُمْتَ علَى ذلكَ“Ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku selalu menyambung hubungan baik dengan mereka, tetapi mereka selalu memutuskannya. Aku berbuat baik, akan tetapi mereka membalasnya dengan keburukan. Aku berlaku bijak, akan tetapi mereka berlaku bodoh.” Rasulullah kemudian bersabda, “Bila keadaannya seperti yang engkau katakan, maka mereka itu seperti meminum abu yang panas, dan senantiasa Allah akan memberikan pertolongan kepadamu selama kamu dalam keadaan demikian itu.” (HR. Muslim no. 2558)Sungguh pertolongan Allah akan selalu menemani kita selama kita bersabar di dalam berbakti kepada orang tua, membalas keburukan dengan kebaikan dan tidak henti-hentinya berdoa serta memohon hidayah untuk diri kita dan orang tua kita.Bisa jadi perlakuan baik kita kepada mereka menjadi pintu hidayah bagi keduanya. Sudah begitu banyak kisah yang menceritakan kondisi semacam itu dan membuktikan benarnya firman Allah Ta’ala dan sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga seluruh keluarga kaum muslimin. Menanamkan akidah yang benar, budi pekerti yang baik, dan teladan yang mulia pada setiap keluarga yang ada. Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Perintah Untuk Birrul Walidain***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Ayat Tentang Berhijab, Hadits Shahih Tentang Puasa Ramadhan, Kurma Maryam, Penyimpangan AqidahTags: adabberbakti kepada orang tuaBirrul Walidainnasihatorang tua

Rasulullah Ibrahim: Sosok Penghuni Surga Tanpa Hisab dan Tanpa Azab

Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam 2. Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab 3. Inilah empat sifat yang ada pada diri Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sehingga beliau ‘alaihis salam masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab 3.1. Penjelasan sifat pertama: Ummah (teladan) 3.2. Penjelasan sifat kedua: Qanit lillah (senantiasa taat kepada Allah) 3.3. Penjelasan sifat ketiga: Hanif (lurus di atas tauhid) 3.4. Penjelasan sifat keempat: Tidak melakukan kesyirikan dan tidak berada dalam barisan musyrikin Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Keutamaan Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salamSosok Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, atau lebih tepatnya Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam, adalah sosok yang Allah Ta’ala perintahkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti agamanya, yaitu perintah mengikuti ajaran syariat Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam yang tidak dihapus dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123)Hal ini suatu hal yang wajar, karena Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam memiliki banyak keutamaan, seperti:Pertama, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam itu Imamul Hunafa’ (Ahlit Tauhid),Kedua, beliau termasuk Ulul ‘Azmi minar Rusul (Para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu was salamu, jumlah mereka hanya 5 rasul berdasarkan surah Al-Ahzab ayat 7),Ketiga, Khalilullah (Salah satu dari dua rasul yang paling dicintai Allah, berdasarkan surah An-Nisa’ ayat 125 dan hadis Muslim),Keempat, dan terkumpul pada diri beliau sifat-sifat kesempurnaan manusia berdasarkan surah An-Nahl ayat 120, sehingga beliau ‘alaihis salam sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.Tentunya, derajat beliau tetap di bawah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang paling mulia berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim rahimahullah dan ijma’ ulama.Namun, karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lebih dahulu menjadi utusan Allah yang terkumpul padanya seluruh sifat-sifat sempurna dan dalam rangka menjaga ajaran Allah Ta’ala yang sebelumnya, sehingga pantas Allah Ta’ala perintahkan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengikuti agamanya.Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azabDi dalam Kitab Tauhid, karya Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah, Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam disebutkan sebagai figur contoh dalam bab “Barangsiapa yang merealisasikan tauhid dengan sempurna, maka akan masuk surga tanpa hisab tanpa azab.” Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, karena terkumpul padanya semua sifat-sifat kesempurnaan manusia sebagaimana disebutkan dalam surah An-Nahl ayat 120.Inilah empat sifat yang ada pada diri Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sehingga beliau ‘alaihis salam masuk surga tanpa hisab dan tanpa azabAllah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nahl ayat 120,اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ“Sesungguhnya Rasulullah Ibrahim adalah seorang imam yang dijadikan teladan lagi selalu taat kepada Allah dan lurus di atas Tauhid (hanif), dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. An-Nahl: 120) Makna global ayat ini:Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rasul-Nya Ibrahim ‘alaihis salam adalah imam teladan dalam beragama, pengajar kebaikan, senantiasa taat kepada Allah, lurus di atas tauhid, berpaling dari kesyirikan dengan ucapan, perbuatan, keyakinan, maupun secara fisiknya. Beliau ‘alaihis salam tidak berada dalam barisan musyrikin. Sifat-sifat inilah yang menyebabkan Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam dengan taufik Allah meraih puncak perealisasian tauhid dengan sempurna yang pahalanya adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Dan Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam dalam surah Al-Mumtahanah ayat 4,قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَه“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya,” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Penjelasan sifat pertama: Ummah (teladan)Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً“Sesungguhnya Rasulullah Ibrahim adalah seorang imam yang dijadikan teladan.”Allah sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai “Ummah”, yaitu imam teladan dalam kebaikan dan pengajar kebaikan. Dan tidaklah Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam disebut sebagai “imam teladan kebaikan”, kecuali terkumpul padanya tiga perkara ini padanya:Pertama, seluruh sifat sempurna manusia.Kedua, kesempurnaan iman wajib.Ketiga, kesempurnaan iman mustahab/sunnah.Penjelasan sifat kedua: Qanit lillah (senantiasa taat kepada Allah)Allah Ta’ala berfirman,قَانِتًا لِّلّٰه“Selalu taat kepada Allah.”Allah sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai  “qanit lillah”, orang selalu taat kepada Allah, khusyuk, dan terus menerus beribadah kepada Allah semata.Tidaklah Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam disebut sebagai “selalu taat kepada Allah”, kecuali terdapat hal-hal berikut padanya:Pertama, amalan wajib dan sunah, serta meninggalkan keharaman dan kemakruhan.Kedua, kesempurnaan iman wajib.Ketiga, kesempurnaan iman mustahab/sunnah.Penjelasan sifat ketiga: Hanif (lurus di atas tauhid)Allah Ta’ala berfirman,حَنِيْفًا“lurus di atas tauhid (hanif).” Allah Ta’ala sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai orang yang hanif, yaitu lurus di atas tauhid. Asal makna hanif adalah melenceng/berpaling, yaitu berpaling dari jalan musyrikin. Adapun jalan musyrikin adalah syirik, bid’ah, dan maksiat, sehingga hanif itu berpaling dari jalan musyrikin dalam bentuk:Pertama, bersih dari syirik dan setingkatnya.Kedua, bersih dari bid’ah.Ketiga, bersih dari kemaksiatan.Dengan demikian, Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang hanif, yaitu lurus di atas tauhid, dengan berpaling dari jalan musyrikin, yaitu bersih dari syirik, bid’ah, dan maksiat.Jika diperhatikan makna hanif  dan qanit lillah ini, maka hakikatnya kedua sifat tersebut adalah dua sifat yang saling mengharuskan, bahwa setiap yang hanif pasti qanit lillah dan demikian pula sebaliknya.Penjelasan sifat keempat: Tidak melakukan kesyirikan dan tidak berada dalam barisan musyrikinAllah Ta’ala berfirman,وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ“Dia bukanlah termasuk dalam orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”Allah Ta’ala sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai yang tidak mempersekutukan Allah. Ini menunjukkan bahwa beliau ‘alaihis salam:Pertama, tidak melakukan kesyirikan dengan segala macamnya.Kedua, menghindari syirik besar, kecil, nampak, dan tersembunyi.Ketiga, tidak berada dalam barisan musyrikin dan tidak memperkuat barisan mereka secara fisik.Faedah:Barangsiapa yang ingin masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, maka contohlah Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam. Mari kita berusaha menjadi imam teladan dalam beragama dan kebaikan, mengajarkan kebaikan, senantiasa taat kepada Allah, lurus di atas tauhid, berpaling dari kesyirikan dengan ucapan, perbuatan, keyakinan, maupun secara fisiknya, bersih dari syirik, bid’ah dan maksiat, dan tidak berada dalam barisan musyrikin serta tidak memperkuat barisan mereka secara fisik! Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُBaca juga: Perbedaan Nabi dan Rasul***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id—Referensi :Al-Mulakhkhas, Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullahAt-Tamhiid, Syekh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullahAl-Jadiid, Syekh Muhammad Al-Qar’awi hafizhahullah🔍 Tawakal, Renungan Mengingat Kematian, Audzubillah Himinasyaitonirrajim Artinya, Sumpah Serapah Dalam Islam, Cinta Allah Dan RasulTags: ahli surgaibrahimrasulullah

Rasulullah Ibrahim: Sosok Penghuni Surga Tanpa Hisab dan Tanpa Azab

Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam 2. Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab 3. Inilah empat sifat yang ada pada diri Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sehingga beliau ‘alaihis salam masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab 3.1. Penjelasan sifat pertama: Ummah (teladan) 3.2. Penjelasan sifat kedua: Qanit lillah (senantiasa taat kepada Allah) 3.3. Penjelasan sifat ketiga: Hanif (lurus di atas tauhid) 3.4. Penjelasan sifat keempat: Tidak melakukan kesyirikan dan tidak berada dalam barisan musyrikin Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Keutamaan Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salamSosok Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, atau lebih tepatnya Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam, adalah sosok yang Allah Ta’ala perintahkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti agamanya, yaitu perintah mengikuti ajaran syariat Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam yang tidak dihapus dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123)Hal ini suatu hal yang wajar, karena Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam memiliki banyak keutamaan, seperti:Pertama, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam itu Imamul Hunafa’ (Ahlit Tauhid),Kedua, beliau termasuk Ulul ‘Azmi minar Rusul (Para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu was salamu, jumlah mereka hanya 5 rasul berdasarkan surah Al-Ahzab ayat 7),Ketiga, Khalilullah (Salah satu dari dua rasul yang paling dicintai Allah, berdasarkan surah An-Nisa’ ayat 125 dan hadis Muslim),Keempat, dan terkumpul pada diri beliau sifat-sifat kesempurnaan manusia berdasarkan surah An-Nahl ayat 120, sehingga beliau ‘alaihis salam sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.Tentunya, derajat beliau tetap di bawah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang paling mulia berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim rahimahullah dan ijma’ ulama.Namun, karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lebih dahulu menjadi utusan Allah yang terkumpul padanya seluruh sifat-sifat sempurna dan dalam rangka menjaga ajaran Allah Ta’ala yang sebelumnya, sehingga pantas Allah Ta’ala perintahkan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengikuti agamanya.Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azabDi dalam Kitab Tauhid, karya Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah, Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam disebutkan sebagai figur contoh dalam bab “Barangsiapa yang merealisasikan tauhid dengan sempurna, maka akan masuk surga tanpa hisab tanpa azab.” Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, karena terkumpul padanya semua sifat-sifat kesempurnaan manusia sebagaimana disebutkan dalam surah An-Nahl ayat 120.Inilah empat sifat yang ada pada diri Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sehingga beliau ‘alaihis salam masuk surga tanpa hisab dan tanpa azabAllah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nahl ayat 120,اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ“Sesungguhnya Rasulullah Ibrahim adalah seorang imam yang dijadikan teladan lagi selalu taat kepada Allah dan lurus di atas Tauhid (hanif), dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. An-Nahl: 120) Makna global ayat ini:Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rasul-Nya Ibrahim ‘alaihis salam adalah imam teladan dalam beragama, pengajar kebaikan, senantiasa taat kepada Allah, lurus di atas tauhid, berpaling dari kesyirikan dengan ucapan, perbuatan, keyakinan, maupun secara fisiknya. Beliau ‘alaihis salam tidak berada dalam barisan musyrikin. Sifat-sifat inilah yang menyebabkan Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam dengan taufik Allah meraih puncak perealisasian tauhid dengan sempurna yang pahalanya adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Dan Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam dalam surah Al-Mumtahanah ayat 4,قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَه“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya,” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Penjelasan sifat pertama: Ummah (teladan)Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً“Sesungguhnya Rasulullah Ibrahim adalah seorang imam yang dijadikan teladan.”Allah sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai “Ummah”, yaitu imam teladan dalam kebaikan dan pengajar kebaikan. Dan tidaklah Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam disebut sebagai “imam teladan kebaikan”, kecuali terkumpul padanya tiga perkara ini padanya:Pertama, seluruh sifat sempurna manusia.Kedua, kesempurnaan iman wajib.Ketiga, kesempurnaan iman mustahab/sunnah.Penjelasan sifat kedua: Qanit lillah (senantiasa taat kepada Allah)Allah Ta’ala berfirman,قَانِتًا لِّلّٰه“Selalu taat kepada Allah.”Allah sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai  “qanit lillah”, orang selalu taat kepada Allah, khusyuk, dan terus menerus beribadah kepada Allah semata.Tidaklah Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam disebut sebagai “selalu taat kepada Allah”, kecuali terdapat hal-hal berikut padanya:Pertama, amalan wajib dan sunah, serta meninggalkan keharaman dan kemakruhan.Kedua, kesempurnaan iman wajib.Ketiga, kesempurnaan iman mustahab/sunnah.Penjelasan sifat ketiga: Hanif (lurus di atas tauhid)Allah Ta’ala berfirman,حَنِيْفًا“lurus di atas tauhid (hanif).” Allah Ta’ala sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai orang yang hanif, yaitu lurus di atas tauhid. Asal makna hanif adalah melenceng/berpaling, yaitu berpaling dari jalan musyrikin. Adapun jalan musyrikin adalah syirik, bid’ah, dan maksiat, sehingga hanif itu berpaling dari jalan musyrikin dalam bentuk:Pertama, bersih dari syirik dan setingkatnya.Kedua, bersih dari bid’ah.Ketiga, bersih dari kemaksiatan.Dengan demikian, Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang hanif, yaitu lurus di atas tauhid, dengan berpaling dari jalan musyrikin, yaitu bersih dari syirik, bid’ah, dan maksiat.Jika diperhatikan makna hanif  dan qanit lillah ini, maka hakikatnya kedua sifat tersebut adalah dua sifat yang saling mengharuskan, bahwa setiap yang hanif pasti qanit lillah dan demikian pula sebaliknya.Penjelasan sifat keempat: Tidak melakukan kesyirikan dan tidak berada dalam barisan musyrikinAllah Ta’ala berfirman,وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ“Dia bukanlah termasuk dalam orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”Allah Ta’ala sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai yang tidak mempersekutukan Allah. Ini menunjukkan bahwa beliau ‘alaihis salam:Pertama, tidak melakukan kesyirikan dengan segala macamnya.Kedua, menghindari syirik besar, kecil, nampak, dan tersembunyi.Ketiga, tidak berada dalam barisan musyrikin dan tidak memperkuat barisan mereka secara fisik.Faedah:Barangsiapa yang ingin masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, maka contohlah Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam. Mari kita berusaha menjadi imam teladan dalam beragama dan kebaikan, mengajarkan kebaikan, senantiasa taat kepada Allah, lurus di atas tauhid, berpaling dari kesyirikan dengan ucapan, perbuatan, keyakinan, maupun secara fisiknya, bersih dari syirik, bid’ah dan maksiat, dan tidak berada dalam barisan musyrikin serta tidak memperkuat barisan mereka secara fisik! Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُBaca juga: Perbedaan Nabi dan Rasul***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id—Referensi :Al-Mulakhkhas, Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullahAt-Tamhiid, Syekh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullahAl-Jadiid, Syekh Muhammad Al-Qar’awi hafizhahullah🔍 Tawakal, Renungan Mengingat Kematian, Audzubillah Himinasyaitonirrajim Artinya, Sumpah Serapah Dalam Islam, Cinta Allah Dan RasulTags: ahli surgaibrahimrasulullah
Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam 2. Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab 3. Inilah empat sifat yang ada pada diri Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sehingga beliau ‘alaihis salam masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab 3.1. Penjelasan sifat pertama: Ummah (teladan) 3.2. Penjelasan sifat kedua: Qanit lillah (senantiasa taat kepada Allah) 3.3. Penjelasan sifat ketiga: Hanif (lurus di atas tauhid) 3.4. Penjelasan sifat keempat: Tidak melakukan kesyirikan dan tidak berada dalam barisan musyrikin Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Keutamaan Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salamSosok Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, atau lebih tepatnya Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam, adalah sosok yang Allah Ta’ala perintahkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti agamanya, yaitu perintah mengikuti ajaran syariat Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam yang tidak dihapus dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123)Hal ini suatu hal yang wajar, karena Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam memiliki banyak keutamaan, seperti:Pertama, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam itu Imamul Hunafa’ (Ahlit Tauhid),Kedua, beliau termasuk Ulul ‘Azmi minar Rusul (Para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu was salamu, jumlah mereka hanya 5 rasul berdasarkan surah Al-Ahzab ayat 7),Ketiga, Khalilullah (Salah satu dari dua rasul yang paling dicintai Allah, berdasarkan surah An-Nisa’ ayat 125 dan hadis Muslim),Keempat, dan terkumpul pada diri beliau sifat-sifat kesempurnaan manusia berdasarkan surah An-Nahl ayat 120, sehingga beliau ‘alaihis salam sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.Tentunya, derajat beliau tetap di bawah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang paling mulia berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim rahimahullah dan ijma’ ulama.Namun, karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lebih dahulu menjadi utusan Allah yang terkumpul padanya seluruh sifat-sifat sempurna dan dalam rangka menjaga ajaran Allah Ta’ala yang sebelumnya, sehingga pantas Allah Ta’ala perintahkan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengikuti agamanya.Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azabDi dalam Kitab Tauhid, karya Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah, Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam disebutkan sebagai figur contoh dalam bab “Barangsiapa yang merealisasikan tauhid dengan sempurna, maka akan masuk surga tanpa hisab tanpa azab.” Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, karena terkumpul padanya semua sifat-sifat kesempurnaan manusia sebagaimana disebutkan dalam surah An-Nahl ayat 120.Inilah empat sifat yang ada pada diri Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sehingga beliau ‘alaihis salam masuk surga tanpa hisab dan tanpa azabAllah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nahl ayat 120,اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ“Sesungguhnya Rasulullah Ibrahim adalah seorang imam yang dijadikan teladan lagi selalu taat kepada Allah dan lurus di atas Tauhid (hanif), dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. An-Nahl: 120) Makna global ayat ini:Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rasul-Nya Ibrahim ‘alaihis salam adalah imam teladan dalam beragama, pengajar kebaikan, senantiasa taat kepada Allah, lurus di atas tauhid, berpaling dari kesyirikan dengan ucapan, perbuatan, keyakinan, maupun secara fisiknya. Beliau ‘alaihis salam tidak berada dalam barisan musyrikin. Sifat-sifat inilah yang menyebabkan Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam dengan taufik Allah meraih puncak perealisasian tauhid dengan sempurna yang pahalanya adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Dan Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam dalam surah Al-Mumtahanah ayat 4,قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَه“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya,” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Penjelasan sifat pertama: Ummah (teladan)Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً“Sesungguhnya Rasulullah Ibrahim adalah seorang imam yang dijadikan teladan.”Allah sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai “Ummah”, yaitu imam teladan dalam kebaikan dan pengajar kebaikan. Dan tidaklah Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam disebut sebagai “imam teladan kebaikan”, kecuali terkumpul padanya tiga perkara ini padanya:Pertama, seluruh sifat sempurna manusia.Kedua, kesempurnaan iman wajib.Ketiga, kesempurnaan iman mustahab/sunnah.Penjelasan sifat kedua: Qanit lillah (senantiasa taat kepada Allah)Allah Ta’ala berfirman,قَانِتًا لِّلّٰه“Selalu taat kepada Allah.”Allah sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai  “qanit lillah”, orang selalu taat kepada Allah, khusyuk, dan terus menerus beribadah kepada Allah semata.Tidaklah Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam disebut sebagai “selalu taat kepada Allah”, kecuali terdapat hal-hal berikut padanya:Pertama, amalan wajib dan sunah, serta meninggalkan keharaman dan kemakruhan.Kedua, kesempurnaan iman wajib.Ketiga, kesempurnaan iman mustahab/sunnah.Penjelasan sifat ketiga: Hanif (lurus di atas tauhid)Allah Ta’ala berfirman,حَنِيْفًا“lurus di atas tauhid (hanif).” Allah Ta’ala sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai orang yang hanif, yaitu lurus di atas tauhid. Asal makna hanif adalah melenceng/berpaling, yaitu berpaling dari jalan musyrikin. Adapun jalan musyrikin adalah syirik, bid’ah, dan maksiat, sehingga hanif itu berpaling dari jalan musyrikin dalam bentuk:Pertama, bersih dari syirik dan setingkatnya.Kedua, bersih dari bid’ah.Ketiga, bersih dari kemaksiatan.Dengan demikian, Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang hanif, yaitu lurus di atas tauhid, dengan berpaling dari jalan musyrikin, yaitu bersih dari syirik, bid’ah, dan maksiat.Jika diperhatikan makna hanif  dan qanit lillah ini, maka hakikatnya kedua sifat tersebut adalah dua sifat yang saling mengharuskan, bahwa setiap yang hanif pasti qanit lillah dan demikian pula sebaliknya.Penjelasan sifat keempat: Tidak melakukan kesyirikan dan tidak berada dalam barisan musyrikinAllah Ta’ala berfirman,وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ“Dia bukanlah termasuk dalam orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”Allah Ta’ala sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai yang tidak mempersekutukan Allah. Ini menunjukkan bahwa beliau ‘alaihis salam:Pertama, tidak melakukan kesyirikan dengan segala macamnya.Kedua, menghindari syirik besar, kecil, nampak, dan tersembunyi.Ketiga, tidak berada dalam barisan musyrikin dan tidak memperkuat barisan mereka secara fisik.Faedah:Barangsiapa yang ingin masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, maka contohlah Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam. Mari kita berusaha menjadi imam teladan dalam beragama dan kebaikan, mengajarkan kebaikan, senantiasa taat kepada Allah, lurus di atas tauhid, berpaling dari kesyirikan dengan ucapan, perbuatan, keyakinan, maupun secara fisiknya, bersih dari syirik, bid’ah dan maksiat, dan tidak berada dalam barisan musyrikin serta tidak memperkuat barisan mereka secara fisik! Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُBaca juga: Perbedaan Nabi dan Rasul***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id—Referensi :Al-Mulakhkhas, Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullahAt-Tamhiid, Syekh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullahAl-Jadiid, Syekh Muhammad Al-Qar’awi hafizhahullah🔍 Tawakal, Renungan Mengingat Kematian, Audzubillah Himinasyaitonirrajim Artinya, Sumpah Serapah Dalam Islam, Cinta Allah Dan RasulTags: ahli surgaibrahimrasulullah


Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam 2. Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab 3. Inilah empat sifat yang ada pada diri Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sehingga beliau ‘alaihis salam masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab 3.1. Penjelasan sifat pertama: Ummah (teladan) 3.2. Penjelasan sifat kedua: Qanit lillah (senantiasa taat kepada Allah) 3.3. Penjelasan sifat ketiga: Hanif (lurus di atas tauhid) 3.4. Penjelasan sifat keempat: Tidak melakukan kesyirikan dan tidak berada dalam barisan musyrikin Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Keutamaan Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salamSosok Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, atau lebih tepatnya Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam, adalah sosok yang Allah Ta’ala perintahkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti agamanya, yaitu perintah mengikuti ajaran syariat Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam yang tidak dihapus dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123)Hal ini suatu hal yang wajar, karena Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam memiliki banyak keutamaan, seperti:Pertama, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam itu Imamul Hunafa’ (Ahlit Tauhid),Kedua, beliau termasuk Ulul ‘Azmi minar Rusul (Para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu was salamu, jumlah mereka hanya 5 rasul berdasarkan surah Al-Ahzab ayat 7),Ketiga, Khalilullah (Salah satu dari dua rasul yang paling dicintai Allah, berdasarkan surah An-Nisa’ ayat 125 dan hadis Muslim),Keempat, dan terkumpul pada diri beliau sifat-sifat kesempurnaan manusia berdasarkan surah An-Nahl ayat 120, sehingga beliau ‘alaihis salam sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.Tentunya, derajat beliau tetap di bawah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang paling mulia berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim rahimahullah dan ijma’ ulama.Namun, karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lebih dahulu menjadi utusan Allah yang terkumpul padanya seluruh sifat-sifat sempurna dan dalam rangka menjaga ajaran Allah Ta’ala yang sebelumnya, sehingga pantas Allah Ta’ala perintahkan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengikuti agamanya.Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azabDi dalam Kitab Tauhid, karya Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah, Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam disebutkan sebagai figur contoh dalam bab “Barangsiapa yang merealisasikan tauhid dengan sempurna, maka akan masuk surga tanpa hisab tanpa azab.” Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, karena terkumpul padanya semua sifat-sifat kesempurnaan manusia sebagaimana disebutkan dalam surah An-Nahl ayat 120.Inilah empat sifat yang ada pada diri Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sehingga beliau ‘alaihis salam masuk surga tanpa hisab dan tanpa azabAllah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nahl ayat 120,اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ“Sesungguhnya Rasulullah Ibrahim adalah seorang imam yang dijadikan teladan lagi selalu taat kepada Allah dan lurus di atas Tauhid (hanif), dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. An-Nahl: 120) Makna global ayat ini:Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rasul-Nya Ibrahim ‘alaihis salam adalah imam teladan dalam beragama, pengajar kebaikan, senantiasa taat kepada Allah, lurus di atas tauhid, berpaling dari kesyirikan dengan ucapan, perbuatan, keyakinan, maupun secara fisiknya. Beliau ‘alaihis salam tidak berada dalam barisan musyrikin. Sifat-sifat inilah yang menyebabkan Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam dengan taufik Allah meraih puncak perealisasian tauhid dengan sempurna yang pahalanya adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Dan Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam dalam surah Al-Mumtahanah ayat 4,قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَه“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya,” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Penjelasan sifat pertama: Ummah (teladan)Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً“Sesungguhnya Rasulullah Ibrahim adalah seorang imam yang dijadikan teladan.”Allah sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai “Ummah”, yaitu imam teladan dalam kebaikan dan pengajar kebaikan. Dan tidaklah Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam disebut sebagai “imam teladan kebaikan”, kecuali terkumpul padanya tiga perkara ini padanya:Pertama, seluruh sifat sempurna manusia.Kedua, kesempurnaan iman wajib.Ketiga, kesempurnaan iman mustahab/sunnah.Penjelasan sifat kedua: Qanit lillah (senantiasa taat kepada Allah)Allah Ta’ala berfirman,قَانِتًا لِّلّٰه“Selalu taat kepada Allah.”Allah sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai  “qanit lillah”, orang selalu taat kepada Allah, khusyuk, dan terus menerus beribadah kepada Allah semata.Tidaklah Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam disebut sebagai “selalu taat kepada Allah”, kecuali terdapat hal-hal berikut padanya:Pertama, amalan wajib dan sunah, serta meninggalkan keharaman dan kemakruhan.Kedua, kesempurnaan iman wajib.Ketiga, kesempurnaan iman mustahab/sunnah.Penjelasan sifat ketiga: Hanif (lurus di atas tauhid)Allah Ta’ala berfirman,حَنِيْفًا“lurus di atas tauhid (hanif).” Allah Ta’ala sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai orang yang hanif, yaitu lurus di atas tauhid. Asal makna hanif adalah melenceng/berpaling, yaitu berpaling dari jalan musyrikin. Adapun jalan musyrikin adalah syirik, bid’ah, dan maksiat, sehingga hanif itu berpaling dari jalan musyrikin dalam bentuk:Pertama, bersih dari syirik dan setingkatnya.Kedua, bersih dari bid’ah.Ketiga, bersih dari kemaksiatan.Dengan demikian, Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang hanif, yaitu lurus di atas tauhid, dengan berpaling dari jalan musyrikin, yaitu bersih dari syirik, bid’ah, dan maksiat.Jika diperhatikan makna hanif  dan qanit lillah ini, maka hakikatnya kedua sifat tersebut adalah dua sifat yang saling mengharuskan, bahwa setiap yang hanif pasti qanit lillah dan demikian pula sebaliknya.Penjelasan sifat keempat: Tidak melakukan kesyirikan dan tidak berada dalam barisan musyrikinAllah Ta’ala berfirman,وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ“Dia bukanlah termasuk dalam orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”Allah Ta’ala sebut Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam sebagai yang tidak mempersekutukan Allah. Ini menunjukkan bahwa beliau ‘alaihis salam:Pertama, tidak melakukan kesyirikan dengan segala macamnya.Kedua, menghindari syirik besar, kecil, nampak, dan tersembunyi.Ketiga, tidak berada dalam barisan musyrikin dan tidak memperkuat barisan mereka secara fisik.Faedah:Barangsiapa yang ingin masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, maka contohlah Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam. Mari kita berusaha menjadi imam teladan dalam beragama dan kebaikan, mengajarkan kebaikan, senantiasa taat kepada Allah, lurus di atas tauhid, berpaling dari kesyirikan dengan ucapan, perbuatan, keyakinan, maupun secara fisiknya, bersih dari syirik, bid’ah dan maksiat, dan tidak berada dalam barisan musyrikin serta tidak memperkuat barisan mereka secara fisik! Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُBaca juga: Perbedaan Nabi dan Rasul***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id—Referensi :Al-Mulakhkhas, Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullahAt-Tamhiid, Syekh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullahAl-Jadiid, Syekh Muhammad Al-Qar’awi hafizhahullah🔍 Tawakal, Renungan Mengingat Kematian, Audzubillah Himinasyaitonirrajim Artinya, Sumpah Serapah Dalam Islam, Cinta Allah Dan RasulTags: ahli surgaibrahimrasulullah

Sebuah Ujian dan Ketawadukan

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan,Khalid bin Makhlad menuturkan kepada kami, Dia berkata, Sulaiman mengabarkan kepada kami, Dia berkata, Abdullah bin Dinar mengabarkan kepada kami. Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,“Sesungguhnya di antara pohon-pohon itu ada sebuah pohon yang tidak berguguran daun-daunnya, dan sesungguhnya ia menjadi sebuah perumpamaan bagi seorang muslim. Katakanlah kepadaku, pohon apakah itu?”Dia (Ibnu ‘Umar) berkata, “Maka, orang-orang pun berpikir mengenai pohon-pohon yang ada di lembah.” Abdullah (Ibnu ‘Umar) berkata, “Di dalam hatiku terpikir bahwa pohon yang beliau maksud itu adalah kurma. Akan tetapi, aku malu mengutarakannya.”Kemudian mereka (para sahabat) berkata, “Ceritakanlah kepada kami wahai Rasulullah, pohon apakah itu?”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,هِيَ النَّخْلَة“Itu adalah pohon kurma.” (lihat Sahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 178)Keterangan Ringkas:Di antara faedah dan pelajaran yang bisa diambil dari hadis di atas:Pertama: Anjuran bagi seorang ‘alim atau guru untuk memberikan pertanyaan atau soal kepada murid-muridnya dalam rangka menguji pemahaman dan memotivasi mereka untuk merenungkan dan berpikir tentang materi yang disampaikan.Kedua: Hendaknya menghormati dan memuliakan orang-orang yang lebih tua (senior) dan tidak banyak berbicara di sisi mereka. Ketiga: Anjuran untuk merasa malu selama hal itu tidak menyebabkan hilangnya suatu kemaslahatanKeempat: Bolehnya membuat tebak-tebakan atau teka-teki dengan disertai keterangan atau pemberian ‘kunci jawaban’ atasnya.Kelima: Bolehnya memberikan perumpamaan demi meningkatkan pemahaman para hadirin.Keenam: Bisa jadi seorang ‘alim senior terluput darinya sebagian perkara ilmu yang ternyata didapatkan oleh orang yang lebih rendah ilmunya, karena ilmu adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.Ketujuh: Hadis ini menunjukkan keutamaan atau keistimewaan pohon kurma. Al-Bazzar meriwayatkan hadis dengan sanad sahih dari jalan Sufyan bin Husain dari Abu Bisyr, dari Mujahid dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan seorang muslim seperti pohon kurma. Apa saja yang datang kepadamu dari pohon itu niscaya memberikan manfaat.” (lihat ‘Umdah Al-Qari oleh Imam Al-‘Aini, Juz 2 hal. 22)Allah Ta’ala bahkan berfirman,أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًۭا كَلِمَةًۭ طَيِّبَةًۭ كَشَجَرَةٍۢ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌۭ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang baik, pokoknya kokoh tertanam sedangkan cabang-cabangnya menjulang di langit.” (QS. Ibrahim: 24)Syekh As-Sa’di rahimahullah menafsirkan,“Yang dimaksud ‘pohon yang baik’ itu adalah pohon kurma.” (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 425)“Di dalam ayat tersebut, Allah memberikan perumpamaan kalimat laa ilaha illallah beserta cabang-cabangnya, laksana pohon kurma. Batang dan pokoknya tertancap kuat di dalam bumi, sedangkan ranting-rantingnya menjulang ke langit serta senantiasa membuahkan banyak manfaat. Demikianlah, perumpamaan pohon keimanan dalam hati seorang mukmin yang berupa ilmu dan keyakinan. Cabang-cabangnya berupa ucapan-ucapan yang baik/zikir dan amal salih, akhlak yang bagus, dan adab yang indah.” (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 425)Demikian sedikit catatan faedah, semoga bermanfaat bagi segenap pembaca.Baca juga: Ujian Atau Adzab?***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Malas Beribadah, Menepati Janji Adalah, Cara Menjaga Lisan Menurut Islam, Niat Sholat QobliyahTags: faedahHaditspohon kurmatawadhu'ujian

Sebuah Ujian dan Ketawadukan

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan,Khalid bin Makhlad menuturkan kepada kami, Dia berkata, Sulaiman mengabarkan kepada kami, Dia berkata, Abdullah bin Dinar mengabarkan kepada kami. Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,“Sesungguhnya di antara pohon-pohon itu ada sebuah pohon yang tidak berguguran daun-daunnya, dan sesungguhnya ia menjadi sebuah perumpamaan bagi seorang muslim. Katakanlah kepadaku, pohon apakah itu?”Dia (Ibnu ‘Umar) berkata, “Maka, orang-orang pun berpikir mengenai pohon-pohon yang ada di lembah.” Abdullah (Ibnu ‘Umar) berkata, “Di dalam hatiku terpikir bahwa pohon yang beliau maksud itu adalah kurma. Akan tetapi, aku malu mengutarakannya.”Kemudian mereka (para sahabat) berkata, “Ceritakanlah kepada kami wahai Rasulullah, pohon apakah itu?”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,هِيَ النَّخْلَة“Itu adalah pohon kurma.” (lihat Sahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 178)Keterangan Ringkas:Di antara faedah dan pelajaran yang bisa diambil dari hadis di atas:Pertama: Anjuran bagi seorang ‘alim atau guru untuk memberikan pertanyaan atau soal kepada murid-muridnya dalam rangka menguji pemahaman dan memotivasi mereka untuk merenungkan dan berpikir tentang materi yang disampaikan.Kedua: Hendaknya menghormati dan memuliakan orang-orang yang lebih tua (senior) dan tidak banyak berbicara di sisi mereka. Ketiga: Anjuran untuk merasa malu selama hal itu tidak menyebabkan hilangnya suatu kemaslahatanKeempat: Bolehnya membuat tebak-tebakan atau teka-teki dengan disertai keterangan atau pemberian ‘kunci jawaban’ atasnya.Kelima: Bolehnya memberikan perumpamaan demi meningkatkan pemahaman para hadirin.Keenam: Bisa jadi seorang ‘alim senior terluput darinya sebagian perkara ilmu yang ternyata didapatkan oleh orang yang lebih rendah ilmunya, karena ilmu adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.Ketujuh: Hadis ini menunjukkan keutamaan atau keistimewaan pohon kurma. Al-Bazzar meriwayatkan hadis dengan sanad sahih dari jalan Sufyan bin Husain dari Abu Bisyr, dari Mujahid dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan seorang muslim seperti pohon kurma. Apa saja yang datang kepadamu dari pohon itu niscaya memberikan manfaat.” (lihat ‘Umdah Al-Qari oleh Imam Al-‘Aini, Juz 2 hal. 22)Allah Ta’ala bahkan berfirman,أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًۭا كَلِمَةًۭ طَيِّبَةًۭ كَشَجَرَةٍۢ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌۭ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang baik, pokoknya kokoh tertanam sedangkan cabang-cabangnya menjulang di langit.” (QS. Ibrahim: 24)Syekh As-Sa’di rahimahullah menafsirkan,“Yang dimaksud ‘pohon yang baik’ itu adalah pohon kurma.” (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 425)“Di dalam ayat tersebut, Allah memberikan perumpamaan kalimat laa ilaha illallah beserta cabang-cabangnya, laksana pohon kurma. Batang dan pokoknya tertancap kuat di dalam bumi, sedangkan ranting-rantingnya menjulang ke langit serta senantiasa membuahkan banyak manfaat. Demikianlah, perumpamaan pohon keimanan dalam hati seorang mukmin yang berupa ilmu dan keyakinan. Cabang-cabangnya berupa ucapan-ucapan yang baik/zikir dan amal salih, akhlak yang bagus, dan adab yang indah.” (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 425)Demikian sedikit catatan faedah, semoga bermanfaat bagi segenap pembaca.Baca juga: Ujian Atau Adzab?***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Malas Beribadah, Menepati Janji Adalah, Cara Menjaga Lisan Menurut Islam, Niat Sholat QobliyahTags: faedahHaditspohon kurmatawadhu'ujian
Imam Bukhari rahimahullah menuturkan,Khalid bin Makhlad menuturkan kepada kami, Dia berkata, Sulaiman mengabarkan kepada kami, Dia berkata, Abdullah bin Dinar mengabarkan kepada kami. Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,“Sesungguhnya di antara pohon-pohon itu ada sebuah pohon yang tidak berguguran daun-daunnya, dan sesungguhnya ia menjadi sebuah perumpamaan bagi seorang muslim. Katakanlah kepadaku, pohon apakah itu?”Dia (Ibnu ‘Umar) berkata, “Maka, orang-orang pun berpikir mengenai pohon-pohon yang ada di lembah.” Abdullah (Ibnu ‘Umar) berkata, “Di dalam hatiku terpikir bahwa pohon yang beliau maksud itu adalah kurma. Akan tetapi, aku malu mengutarakannya.”Kemudian mereka (para sahabat) berkata, “Ceritakanlah kepada kami wahai Rasulullah, pohon apakah itu?”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,هِيَ النَّخْلَة“Itu adalah pohon kurma.” (lihat Sahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 178)Keterangan Ringkas:Di antara faedah dan pelajaran yang bisa diambil dari hadis di atas:Pertama: Anjuran bagi seorang ‘alim atau guru untuk memberikan pertanyaan atau soal kepada murid-muridnya dalam rangka menguji pemahaman dan memotivasi mereka untuk merenungkan dan berpikir tentang materi yang disampaikan.Kedua: Hendaknya menghormati dan memuliakan orang-orang yang lebih tua (senior) dan tidak banyak berbicara di sisi mereka. Ketiga: Anjuran untuk merasa malu selama hal itu tidak menyebabkan hilangnya suatu kemaslahatanKeempat: Bolehnya membuat tebak-tebakan atau teka-teki dengan disertai keterangan atau pemberian ‘kunci jawaban’ atasnya.Kelima: Bolehnya memberikan perumpamaan demi meningkatkan pemahaman para hadirin.Keenam: Bisa jadi seorang ‘alim senior terluput darinya sebagian perkara ilmu yang ternyata didapatkan oleh orang yang lebih rendah ilmunya, karena ilmu adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.Ketujuh: Hadis ini menunjukkan keutamaan atau keistimewaan pohon kurma. Al-Bazzar meriwayatkan hadis dengan sanad sahih dari jalan Sufyan bin Husain dari Abu Bisyr, dari Mujahid dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan seorang muslim seperti pohon kurma. Apa saja yang datang kepadamu dari pohon itu niscaya memberikan manfaat.” (lihat ‘Umdah Al-Qari oleh Imam Al-‘Aini, Juz 2 hal. 22)Allah Ta’ala bahkan berfirman,أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًۭا كَلِمَةًۭ طَيِّبَةًۭ كَشَجَرَةٍۢ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌۭ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang baik, pokoknya kokoh tertanam sedangkan cabang-cabangnya menjulang di langit.” (QS. Ibrahim: 24)Syekh As-Sa’di rahimahullah menafsirkan,“Yang dimaksud ‘pohon yang baik’ itu adalah pohon kurma.” (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 425)“Di dalam ayat tersebut, Allah memberikan perumpamaan kalimat laa ilaha illallah beserta cabang-cabangnya, laksana pohon kurma. Batang dan pokoknya tertancap kuat di dalam bumi, sedangkan ranting-rantingnya menjulang ke langit serta senantiasa membuahkan banyak manfaat. Demikianlah, perumpamaan pohon keimanan dalam hati seorang mukmin yang berupa ilmu dan keyakinan. Cabang-cabangnya berupa ucapan-ucapan yang baik/zikir dan amal salih, akhlak yang bagus, dan adab yang indah.” (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 425)Demikian sedikit catatan faedah, semoga bermanfaat bagi segenap pembaca.Baca juga: Ujian Atau Adzab?***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Malas Beribadah, Menepati Janji Adalah, Cara Menjaga Lisan Menurut Islam, Niat Sholat QobliyahTags: faedahHaditspohon kurmatawadhu'ujian


Imam Bukhari rahimahullah menuturkan,Khalid bin Makhlad menuturkan kepada kami, Dia berkata, Sulaiman mengabarkan kepada kami, Dia berkata, Abdullah bin Dinar mengabarkan kepada kami. Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,“Sesungguhnya di antara pohon-pohon itu ada sebuah pohon yang tidak berguguran daun-daunnya, dan sesungguhnya ia menjadi sebuah perumpamaan bagi seorang muslim. Katakanlah kepadaku, pohon apakah itu?”Dia (Ibnu ‘Umar) berkata, “Maka, orang-orang pun berpikir mengenai pohon-pohon yang ada di lembah.” Abdullah (Ibnu ‘Umar) berkata, “Di dalam hatiku terpikir bahwa pohon yang beliau maksud itu adalah kurma. Akan tetapi, aku malu mengutarakannya.”Kemudian mereka (para sahabat) berkata, “Ceritakanlah kepada kami wahai Rasulullah, pohon apakah itu?”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,هِيَ النَّخْلَة“Itu adalah pohon kurma.” (lihat Sahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 178)Keterangan Ringkas:Di antara faedah dan pelajaran yang bisa diambil dari hadis di atas:Pertama: Anjuran bagi seorang ‘alim atau guru untuk memberikan pertanyaan atau soal kepada murid-muridnya dalam rangka menguji pemahaman dan memotivasi mereka untuk merenungkan dan berpikir tentang materi yang disampaikan.Kedua: Hendaknya menghormati dan memuliakan orang-orang yang lebih tua (senior) dan tidak banyak berbicara di sisi mereka. Ketiga: Anjuran untuk merasa malu selama hal itu tidak menyebabkan hilangnya suatu kemaslahatanKeempat: Bolehnya membuat tebak-tebakan atau teka-teki dengan disertai keterangan atau pemberian ‘kunci jawaban’ atasnya.Kelima: Bolehnya memberikan perumpamaan demi meningkatkan pemahaman para hadirin.Keenam: Bisa jadi seorang ‘alim senior terluput darinya sebagian perkara ilmu yang ternyata didapatkan oleh orang yang lebih rendah ilmunya, karena ilmu adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.Ketujuh: Hadis ini menunjukkan keutamaan atau keistimewaan pohon kurma. Al-Bazzar meriwayatkan hadis dengan sanad sahih dari jalan Sufyan bin Husain dari Abu Bisyr, dari Mujahid dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan seorang muslim seperti pohon kurma. Apa saja yang datang kepadamu dari pohon itu niscaya memberikan manfaat.” (lihat ‘Umdah Al-Qari oleh Imam Al-‘Aini, Juz 2 hal. 22)Allah Ta’ala bahkan berfirman,أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًۭا كَلِمَةًۭ طَيِّبَةًۭ كَشَجَرَةٍۢ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌۭ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang baik, pokoknya kokoh tertanam sedangkan cabang-cabangnya menjulang di langit.” (QS. Ibrahim: 24)Syekh As-Sa’di rahimahullah menafsirkan,“Yang dimaksud ‘pohon yang baik’ itu adalah pohon kurma.” (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 425)“Di dalam ayat tersebut, Allah memberikan perumpamaan kalimat laa ilaha illallah beserta cabang-cabangnya, laksana pohon kurma. Batang dan pokoknya tertancap kuat di dalam bumi, sedangkan ranting-rantingnya menjulang ke langit serta senantiasa membuahkan banyak manfaat. Demikianlah, perumpamaan pohon keimanan dalam hati seorang mukmin yang berupa ilmu dan keyakinan. Cabang-cabangnya berupa ucapan-ucapan yang baik/zikir dan amal salih, akhlak yang bagus, dan adab yang indah.” (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 425)Demikian sedikit catatan faedah, semoga bermanfaat bagi segenap pembaca.Baca juga: Ujian Atau Adzab?***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Malas Beribadah, Menepati Janji Adalah, Cara Menjaga Lisan Menurut Islam, Niat Sholat QobliyahTags: faedahHaditspohon kurmatawadhu'ujian

Serial Fikih Muamalah (Bag. 10): Rukun-Rukun yang Harus Ada Saat Berlangsungnya Sebuah Akad

Daftar Isi sembunyikan 1. Apa itu rukun? 2. Rukun-rukun akad 2.1. Rukun pertama: Shighah (format) akad 2.2. Rukun kedua: Adanya pihak penjual dan pembeli 2.3. Rukun ketiga: Objek transaksi Setelah mengetahui apa itu akad dan kedudukannya dalam syariat Islam (pembahasan artikel sebelumnya), kita juga harus mengetahui bahwa sebuah akad akan sempurna terbentuk dan menjadi sah apabila telah memenuhi rukun-rukun yang ada dan syarat-syaratnya. Pada pembahasan kali ini, akan kita bahas perihal rukun-rukun yang harus ada saat berlangsungnya sebuah akad, baik itu akad jual, ataupun yang lainnya.Apa itu rukun?Secara bahasa, rukun artinya bagian terkuat dari sesuatu, seperti tiang-tiang bangunan dan pondasinya.Adapun secara istilah, rukun memiliki arti apa yang dengannya sesuatu menjadi tegak dan berwujud serta ia merupakan salah satu bagian dari sesuatu tersebut. Sehingga, sesuatu tidak akan bisa berdiri sempurna, kecuali dengan adanya rukun tersebut. Perbedaan dengan syarat, syarat merupakan sesuatu yang harus terpenuhi, namun bukan bagian dari amalan tersebut.Rukun-rukun akadRukun pertama: Shighah (format) akadShighah secara bahasa artinya adalah perbuatan, penilaian, dan format. Sehingga makna (صيغة الكلام) adalah kata-kata yang menunjukkan konsep dan maksudnya.Shighah akad secara istilah maknanya adalah kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang darinya terbentuk dan tersusun sebuah akad.Beberapa ulama memberikan istilah, “Apa yang dengannya sebuah akad terbentuk, baik itu perkataan ataupun isyarat (tindakan) yang menjelaskan maksud dan keinginan orang yang hendak melakukan akad.”Harus kita pahami bahwa keinginan salah satu pihak yang hendak melakukan sebuah akad ataupun keinginan keduanya adalah perkara hati yang tidak akan nampak, kecuali dengan adanya perkataan maupun tindakan yang menunjukkannya. Hal inilah yang disebut dengan ijab dan kabul.Para ulama berselisih pendapat di dalam mendefinisikan ijab dan kabul. Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat mazhab Hanafiyyah karena begitu detail dan memudahkan kita untuk membedakan antara apa yang disebut dengan ‘ijab’ dan apa yang disebut dengan ‘kabul’.Mazhab Hanafiyyah membedakan kedua hal tersebut dengan melihat waktu munculnya. Apa yang muncul terlebih dahulu disebut “ijab” dan yang muncul setelahnya disebut “kabul”. Mengapa yang kedua disebut ‘kabul’? Karena hal itu sebagai bentuk persetujuan dan pengabulan serta keridaan atas apa yang diharuskan oleh pihak pertama (yang melakukan ijab).Format (sighah) akad antara 2 hal: akad dengan ucapan atau akad dengan tindakan.Yang pertama: akad dengan ucapanFormat akad dengan bentuk perkataan pada asalnya harus berasal dari ucapan lisan, karena lisanlah anggota tubuh yang memang diciptakan untuk mengungkapkan keinginan manusia. Maka, ia mengucapkan dan melafalkan apa yang diinginkannya sebagaimana Allah Ta’ala mengisahkan tentang doa Nabi Musa ‘alaihis salam,وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ * يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 27-28)Lepasnya kekakuan lidah maksudnya adalah mudahnya berucap dan melafalkan atau kuatnya lidah di dalam mengucapkan sesuatu.Hendaknya ucapannya tersebut menggunakan bahasa yang dipahami oleh kedua belah pihak. Seperti jika seorang penjual mengatakan, “Aku jual mobil ini seharga dua ratus juta.” Kemudian pihak lain mengatakan, “Baik, aku beli dan aku terima.”Format akad dengan bentuk perkataan terwujud juga dengan tulisan.Oleh karenanya, jika sebuah akad terbentuk hanya dengan tulisan antara kedua pihak yang yang tidak hadir secara nyata, semisal jual beli melalui web/ e-commerce di mana penjual telah menulis harga untuk sebuah barang kemudian ada pihak yang setuju dan membelinya dengan mengklik tombol “beli”, maka akad semacam ini dianggap sah secara mutlak.Kedudukan akad tersebut sebagaimana akad yang dilafalkan dengan lisan. Para ulama membuat sebuah kaidah,اَلْكِتَابُ كَالْخِطَابِ“Tulisan sebanding dengan ucapan.”Maksud kaidah ini bahwa sebuah tulisan dari orang yang saling berjauhan (tidak sedang di tempat, gaib) berstatus hukum sama dengan ucapan dari orang yang sedang bertatap muka. Karena tulisan merupakan salah satu bentuk ekspresi ungkapan penulisnya.Yang kedua: akad dengan tindakanSebagaimana akad menjadi sah dengan ucapan, ia juga menjadi sah dengan adanya tindakan dari kedua belah pihak, seperti memberi isyarat ataupun saling mengambil dan memberikan.Para ulama berbeda pendapat, apakah orang yang mampu berbicara dibolehkan untuk menggunakan isyarat di dalam melakukan sebuah akad? Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah dibolehkan, dengan syarat isyarat tersebut sudah sering digunakan dan dipahami oleh masyarakat. Serta dikecualikan darinya akad nikah, di mana seseorang yang mampu berbicara, maka ia tidak diperbolehkan melaksanakan akad dengan menggunakan isyarat, karena begitu penting dan sakralnya akad nikah.Adapun saling mengambil dan memberikan (at-ta’athi), di mana penjual memberikan dagangannya dan pembeli memberikan uang pembayaran tanpa mereka berdua mengucapkan ijab dan kabul, maka jumhur ulama membolehkannya. Baik barang dagangannya berupa sesuatu yang sangat berharga maupun sesuatu yang remeh. Adapun akad nikah dengan hanya saling mengambil dan memberikan tanpa mengucapkan akad (ijab dan kabul), maka ulama sepakat bahwa hal tersebut tidak sah.Rukun kedua: Adanya pihak penjual dan pembeliAdanya kedua pihak yang melakukan akad merupakan rukun utama terbentuknya sebuah akad, karena keduanyalah yang akan bersinggungan langsung dengan akad. Baik kedua pihak ini adalah pribadi langsung yang akan melakukan akad maupun perwakilannya.Di dalam melakukan sebuah akad, Islam menyaratkan adanya ‘ahliyyah’ (kecakapan dan kepatutan untuk melakukan transaksi). Seseorang biasanya akan memiliki ahliyyah jika telah balig atau mumayyiz dan berakal. Adapun mereka yang belum memenuhi syarat dan kriteria tersebut, maka bisa diwakilkan oleh orang lain yang sudah memenuhi persyaratan tersebut.Anak kecil yang belum tamyiz, orang gila, dan orang yang dungu misalnya, maka bapaknya, kakeknya, atau hakim bisa menjadi walinya di dalam melaksanakan sebuah akad jual beli. Dengan syarat, mereka adalah orang yang memiliki kecakapan (ahliyah) di dalamnya, jujur, amanah, serta sangat perhatian terhadap orang-orang yang berada di bawah perwaliannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)Allah Ta’ala juga berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا ۗ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًا ࣖ“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barangsiapa yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang-orang yang lebih tua di antara kami, maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Abu Dawud no. 4943, Ahmad no. 7073, dan Tirmidzi no. 1919)Rukun ketiga: Objek transaksiDalam sebuah akad jual beli, maka objeknya adalah barang yang dijual dan harga yang sebanding dengannya. Dalam akad sewa menyewa, maka objeknya adalah kemanfaatan dan biaya sewanya. Dalam akad tabarru’ (pemberian), maka objeknya adalah sesuatu yang diniatkan untuk diberikan tersebut. Sehingga objek sebuah akad mencakup dua hal, barang yang hendak dijual, disewakan ataupun diberikan dan barang yang sepadan dengannya (harga, biaya sewa).Pada barang yang akan dijual atau disewakan, maka ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi:Pertama, objek transaksi harus berupa mal mutaqawwim, yaitu harta yang diperbolehkan oleh syariat untuk ditransaksikan, baik itu sebuah harta yang memiliki fisik ataupun sebuah kemanfaatan. Oleh karenanya, harta yang dilarang untuk digunakan dan dimanfaatkan, maka hukum menjual dan membelinya pun terlarang, seperti alat-alat musik.Kedua, objek transaksi harus ada ketika akad atau kontrak sedang dilakukan.Ketiga, objek transaksi bisa diserahterimakan saat terjadinya akad, atau dimungkinkan di kemudian hari.Harga yang akan dibayarkan harus jelas dan diketahui nilainya, tidak sah sebuah transaksi yang tidak diketahui nilai harganya, seperti ucapan seseorang, “Aku jual mobil ini dengan seberapa pun uang yang ada di kantongmu.” Wallahu a’lam bisshawab[Bersambung]Baca juga: Rukun Shalat***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.id—Referensi:Kitab Al-Madkhal Ilaa Fiqhi Al-Mu’amalat Al-Maliyyah karya Prof. Dr. Muhammad Utsman Syubair dengan beberapa penyesuaian.🔍 Tawakal, Pokok Ajaran Agama Islam, Tata Cara Mandi Wajib Setelah Haid Menurut Sunnah Nabi, Doa Iqomah, Bacaan Dzikir PendekTags: akadfikihmuamalahrukun

Serial Fikih Muamalah (Bag. 10): Rukun-Rukun yang Harus Ada Saat Berlangsungnya Sebuah Akad

Daftar Isi sembunyikan 1. Apa itu rukun? 2. Rukun-rukun akad 2.1. Rukun pertama: Shighah (format) akad 2.2. Rukun kedua: Adanya pihak penjual dan pembeli 2.3. Rukun ketiga: Objek transaksi Setelah mengetahui apa itu akad dan kedudukannya dalam syariat Islam (pembahasan artikel sebelumnya), kita juga harus mengetahui bahwa sebuah akad akan sempurna terbentuk dan menjadi sah apabila telah memenuhi rukun-rukun yang ada dan syarat-syaratnya. Pada pembahasan kali ini, akan kita bahas perihal rukun-rukun yang harus ada saat berlangsungnya sebuah akad, baik itu akad jual, ataupun yang lainnya.Apa itu rukun?Secara bahasa, rukun artinya bagian terkuat dari sesuatu, seperti tiang-tiang bangunan dan pondasinya.Adapun secara istilah, rukun memiliki arti apa yang dengannya sesuatu menjadi tegak dan berwujud serta ia merupakan salah satu bagian dari sesuatu tersebut. Sehingga, sesuatu tidak akan bisa berdiri sempurna, kecuali dengan adanya rukun tersebut. Perbedaan dengan syarat, syarat merupakan sesuatu yang harus terpenuhi, namun bukan bagian dari amalan tersebut.Rukun-rukun akadRukun pertama: Shighah (format) akadShighah secara bahasa artinya adalah perbuatan, penilaian, dan format. Sehingga makna (صيغة الكلام) adalah kata-kata yang menunjukkan konsep dan maksudnya.Shighah akad secara istilah maknanya adalah kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang darinya terbentuk dan tersusun sebuah akad.Beberapa ulama memberikan istilah, “Apa yang dengannya sebuah akad terbentuk, baik itu perkataan ataupun isyarat (tindakan) yang menjelaskan maksud dan keinginan orang yang hendak melakukan akad.”Harus kita pahami bahwa keinginan salah satu pihak yang hendak melakukan sebuah akad ataupun keinginan keduanya adalah perkara hati yang tidak akan nampak, kecuali dengan adanya perkataan maupun tindakan yang menunjukkannya. Hal inilah yang disebut dengan ijab dan kabul.Para ulama berselisih pendapat di dalam mendefinisikan ijab dan kabul. Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat mazhab Hanafiyyah karena begitu detail dan memudahkan kita untuk membedakan antara apa yang disebut dengan ‘ijab’ dan apa yang disebut dengan ‘kabul’.Mazhab Hanafiyyah membedakan kedua hal tersebut dengan melihat waktu munculnya. Apa yang muncul terlebih dahulu disebut “ijab” dan yang muncul setelahnya disebut “kabul”. Mengapa yang kedua disebut ‘kabul’? Karena hal itu sebagai bentuk persetujuan dan pengabulan serta keridaan atas apa yang diharuskan oleh pihak pertama (yang melakukan ijab).Format (sighah) akad antara 2 hal: akad dengan ucapan atau akad dengan tindakan.Yang pertama: akad dengan ucapanFormat akad dengan bentuk perkataan pada asalnya harus berasal dari ucapan lisan, karena lisanlah anggota tubuh yang memang diciptakan untuk mengungkapkan keinginan manusia. Maka, ia mengucapkan dan melafalkan apa yang diinginkannya sebagaimana Allah Ta’ala mengisahkan tentang doa Nabi Musa ‘alaihis salam,وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ * يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 27-28)Lepasnya kekakuan lidah maksudnya adalah mudahnya berucap dan melafalkan atau kuatnya lidah di dalam mengucapkan sesuatu.Hendaknya ucapannya tersebut menggunakan bahasa yang dipahami oleh kedua belah pihak. Seperti jika seorang penjual mengatakan, “Aku jual mobil ini seharga dua ratus juta.” Kemudian pihak lain mengatakan, “Baik, aku beli dan aku terima.”Format akad dengan bentuk perkataan terwujud juga dengan tulisan.Oleh karenanya, jika sebuah akad terbentuk hanya dengan tulisan antara kedua pihak yang yang tidak hadir secara nyata, semisal jual beli melalui web/ e-commerce di mana penjual telah menulis harga untuk sebuah barang kemudian ada pihak yang setuju dan membelinya dengan mengklik tombol “beli”, maka akad semacam ini dianggap sah secara mutlak.Kedudukan akad tersebut sebagaimana akad yang dilafalkan dengan lisan. Para ulama membuat sebuah kaidah,اَلْكِتَابُ كَالْخِطَابِ“Tulisan sebanding dengan ucapan.”Maksud kaidah ini bahwa sebuah tulisan dari orang yang saling berjauhan (tidak sedang di tempat, gaib) berstatus hukum sama dengan ucapan dari orang yang sedang bertatap muka. Karena tulisan merupakan salah satu bentuk ekspresi ungkapan penulisnya.Yang kedua: akad dengan tindakanSebagaimana akad menjadi sah dengan ucapan, ia juga menjadi sah dengan adanya tindakan dari kedua belah pihak, seperti memberi isyarat ataupun saling mengambil dan memberikan.Para ulama berbeda pendapat, apakah orang yang mampu berbicara dibolehkan untuk menggunakan isyarat di dalam melakukan sebuah akad? Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah dibolehkan, dengan syarat isyarat tersebut sudah sering digunakan dan dipahami oleh masyarakat. Serta dikecualikan darinya akad nikah, di mana seseorang yang mampu berbicara, maka ia tidak diperbolehkan melaksanakan akad dengan menggunakan isyarat, karena begitu penting dan sakralnya akad nikah.Adapun saling mengambil dan memberikan (at-ta’athi), di mana penjual memberikan dagangannya dan pembeli memberikan uang pembayaran tanpa mereka berdua mengucapkan ijab dan kabul, maka jumhur ulama membolehkannya. Baik barang dagangannya berupa sesuatu yang sangat berharga maupun sesuatu yang remeh. Adapun akad nikah dengan hanya saling mengambil dan memberikan tanpa mengucapkan akad (ijab dan kabul), maka ulama sepakat bahwa hal tersebut tidak sah.Rukun kedua: Adanya pihak penjual dan pembeliAdanya kedua pihak yang melakukan akad merupakan rukun utama terbentuknya sebuah akad, karena keduanyalah yang akan bersinggungan langsung dengan akad. Baik kedua pihak ini adalah pribadi langsung yang akan melakukan akad maupun perwakilannya.Di dalam melakukan sebuah akad, Islam menyaratkan adanya ‘ahliyyah’ (kecakapan dan kepatutan untuk melakukan transaksi). Seseorang biasanya akan memiliki ahliyyah jika telah balig atau mumayyiz dan berakal. Adapun mereka yang belum memenuhi syarat dan kriteria tersebut, maka bisa diwakilkan oleh orang lain yang sudah memenuhi persyaratan tersebut.Anak kecil yang belum tamyiz, orang gila, dan orang yang dungu misalnya, maka bapaknya, kakeknya, atau hakim bisa menjadi walinya di dalam melaksanakan sebuah akad jual beli. Dengan syarat, mereka adalah orang yang memiliki kecakapan (ahliyah) di dalamnya, jujur, amanah, serta sangat perhatian terhadap orang-orang yang berada di bawah perwaliannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)Allah Ta’ala juga berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا ۗ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًا ࣖ“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barangsiapa yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang-orang yang lebih tua di antara kami, maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Abu Dawud no. 4943, Ahmad no. 7073, dan Tirmidzi no. 1919)Rukun ketiga: Objek transaksiDalam sebuah akad jual beli, maka objeknya adalah barang yang dijual dan harga yang sebanding dengannya. Dalam akad sewa menyewa, maka objeknya adalah kemanfaatan dan biaya sewanya. Dalam akad tabarru’ (pemberian), maka objeknya adalah sesuatu yang diniatkan untuk diberikan tersebut. Sehingga objek sebuah akad mencakup dua hal, barang yang hendak dijual, disewakan ataupun diberikan dan barang yang sepadan dengannya (harga, biaya sewa).Pada barang yang akan dijual atau disewakan, maka ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi:Pertama, objek transaksi harus berupa mal mutaqawwim, yaitu harta yang diperbolehkan oleh syariat untuk ditransaksikan, baik itu sebuah harta yang memiliki fisik ataupun sebuah kemanfaatan. Oleh karenanya, harta yang dilarang untuk digunakan dan dimanfaatkan, maka hukum menjual dan membelinya pun terlarang, seperti alat-alat musik.Kedua, objek transaksi harus ada ketika akad atau kontrak sedang dilakukan.Ketiga, objek transaksi bisa diserahterimakan saat terjadinya akad, atau dimungkinkan di kemudian hari.Harga yang akan dibayarkan harus jelas dan diketahui nilainya, tidak sah sebuah transaksi yang tidak diketahui nilai harganya, seperti ucapan seseorang, “Aku jual mobil ini dengan seberapa pun uang yang ada di kantongmu.” Wallahu a’lam bisshawab[Bersambung]Baca juga: Rukun Shalat***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.id—Referensi:Kitab Al-Madkhal Ilaa Fiqhi Al-Mu’amalat Al-Maliyyah karya Prof. Dr. Muhammad Utsman Syubair dengan beberapa penyesuaian.🔍 Tawakal, Pokok Ajaran Agama Islam, Tata Cara Mandi Wajib Setelah Haid Menurut Sunnah Nabi, Doa Iqomah, Bacaan Dzikir PendekTags: akadfikihmuamalahrukun
Daftar Isi sembunyikan 1. Apa itu rukun? 2. Rukun-rukun akad 2.1. Rukun pertama: Shighah (format) akad 2.2. Rukun kedua: Adanya pihak penjual dan pembeli 2.3. Rukun ketiga: Objek transaksi Setelah mengetahui apa itu akad dan kedudukannya dalam syariat Islam (pembahasan artikel sebelumnya), kita juga harus mengetahui bahwa sebuah akad akan sempurna terbentuk dan menjadi sah apabila telah memenuhi rukun-rukun yang ada dan syarat-syaratnya. Pada pembahasan kali ini, akan kita bahas perihal rukun-rukun yang harus ada saat berlangsungnya sebuah akad, baik itu akad jual, ataupun yang lainnya.Apa itu rukun?Secara bahasa, rukun artinya bagian terkuat dari sesuatu, seperti tiang-tiang bangunan dan pondasinya.Adapun secara istilah, rukun memiliki arti apa yang dengannya sesuatu menjadi tegak dan berwujud serta ia merupakan salah satu bagian dari sesuatu tersebut. Sehingga, sesuatu tidak akan bisa berdiri sempurna, kecuali dengan adanya rukun tersebut. Perbedaan dengan syarat, syarat merupakan sesuatu yang harus terpenuhi, namun bukan bagian dari amalan tersebut.Rukun-rukun akadRukun pertama: Shighah (format) akadShighah secara bahasa artinya adalah perbuatan, penilaian, dan format. Sehingga makna (صيغة الكلام) adalah kata-kata yang menunjukkan konsep dan maksudnya.Shighah akad secara istilah maknanya adalah kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang darinya terbentuk dan tersusun sebuah akad.Beberapa ulama memberikan istilah, “Apa yang dengannya sebuah akad terbentuk, baik itu perkataan ataupun isyarat (tindakan) yang menjelaskan maksud dan keinginan orang yang hendak melakukan akad.”Harus kita pahami bahwa keinginan salah satu pihak yang hendak melakukan sebuah akad ataupun keinginan keduanya adalah perkara hati yang tidak akan nampak, kecuali dengan adanya perkataan maupun tindakan yang menunjukkannya. Hal inilah yang disebut dengan ijab dan kabul.Para ulama berselisih pendapat di dalam mendefinisikan ijab dan kabul. Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat mazhab Hanafiyyah karena begitu detail dan memudahkan kita untuk membedakan antara apa yang disebut dengan ‘ijab’ dan apa yang disebut dengan ‘kabul’.Mazhab Hanafiyyah membedakan kedua hal tersebut dengan melihat waktu munculnya. Apa yang muncul terlebih dahulu disebut “ijab” dan yang muncul setelahnya disebut “kabul”. Mengapa yang kedua disebut ‘kabul’? Karena hal itu sebagai bentuk persetujuan dan pengabulan serta keridaan atas apa yang diharuskan oleh pihak pertama (yang melakukan ijab).Format (sighah) akad antara 2 hal: akad dengan ucapan atau akad dengan tindakan.Yang pertama: akad dengan ucapanFormat akad dengan bentuk perkataan pada asalnya harus berasal dari ucapan lisan, karena lisanlah anggota tubuh yang memang diciptakan untuk mengungkapkan keinginan manusia. Maka, ia mengucapkan dan melafalkan apa yang diinginkannya sebagaimana Allah Ta’ala mengisahkan tentang doa Nabi Musa ‘alaihis salam,وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ * يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 27-28)Lepasnya kekakuan lidah maksudnya adalah mudahnya berucap dan melafalkan atau kuatnya lidah di dalam mengucapkan sesuatu.Hendaknya ucapannya tersebut menggunakan bahasa yang dipahami oleh kedua belah pihak. Seperti jika seorang penjual mengatakan, “Aku jual mobil ini seharga dua ratus juta.” Kemudian pihak lain mengatakan, “Baik, aku beli dan aku terima.”Format akad dengan bentuk perkataan terwujud juga dengan tulisan.Oleh karenanya, jika sebuah akad terbentuk hanya dengan tulisan antara kedua pihak yang yang tidak hadir secara nyata, semisal jual beli melalui web/ e-commerce di mana penjual telah menulis harga untuk sebuah barang kemudian ada pihak yang setuju dan membelinya dengan mengklik tombol “beli”, maka akad semacam ini dianggap sah secara mutlak.Kedudukan akad tersebut sebagaimana akad yang dilafalkan dengan lisan. Para ulama membuat sebuah kaidah,اَلْكِتَابُ كَالْخِطَابِ“Tulisan sebanding dengan ucapan.”Maksud kaidah ini bahwa sebuah tulisan dari orang yang saling berjauhan (tidak sedang di tempat, gaib) berstatus hukum sama dengan ucapan dari orang yang sedang bertatap muka. Karena tulisan merupakan salah satu bentuk ekspresi ungkapan penulisnya.Yang kedua: akad dengan tindakanSebagaimana akad menjadi sah dengan ucapan, ia juga menjadi sah dengan adanya tindakan dari kedua belah pihak, seperti memberi isyarat ataupun saling mengambil dan memberikan.Para ulama berbeda pendapat, apakah orang yang mampu berbicara dibolehkan untuk menggunakan isyarat di dalam melakukan sebuah akad? Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah dibolehkan, dengan syarat isyarat tersebut sudah sering digunakan dan dipahami oleh masyarakat. Serta dikecualikan darinya akad nikah, di mana seseorang yang mampu berbicara, maka ia tidak diperbolehkan melaksanakan akad dengan menggunakan isyarat, karena begitu penting dan sakralnya akad nikah.Adapun saling mengambil dan memberikan (at-ta’athi), di mana penjual memberikan dagangannya dan pembeli memberikan uang pembayaran tanpa mereka berdua mengucapkan ijab dan kabul, maka jumhur ulama membolehkannya. Baik barang dagangannya berupa sesuatu yang sangat berharga maupun sesuatu yang remeh. Adapun akad nikah dengan hanya saling mengambil dan memberikan tanpa mengucapkan akad (ijab dan kabul), maka ulama sepakat bahwa hal tersebut tidak sah.Rukun kedua: Adanya pihak penjual dan pembeliAdanya kedua pihak yang melakukan akad merupakan rukun utama terbentuknya sebuah akad, karena keduanyalah yang akan bersinggungan langsung dengan akad. Baik kedua pihak ini adalah pribadi langsung yang akan melakukan akad maupun perwakilannya.Di dalam melakukan sebuah akad, Islam menyaratkan adanya ‘ahliyyah’ (kecakapan dan kepatutan untuk melakukan transaksi). Seseorang biasanya akan memiliki ahliyyah jika telah balig atau mumayyiz dan berakal. Adapun mereka yang belum memenuhi syarat dan kriteria tersebut, maka bisa diwakilkan oleh orang lain yang sudah memenuhi persyaratan tersebut.Anak kecil yang belum tamyiz, orang gila, dan orang yang dungu misalnya, maka bapaknya, kakeknya, atau hakim bisa menjadi walinya di dalam melaksanakan sebuah akad jual beli. Dengan syarat, mereka adalah orang yang memiliki kecakapan (ahliyah) di dalamnya, jujur, amanah, serta sangat perhatian terhadap orang-orang yang berada di bawah perwaliannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)Allah Ta’ala juga berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا ۗ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًا ࣖ“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barangsiapa yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang-orang yang lebih tua di antara kami, maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Abu Dawud no. 4943, Ahmad no. 7073, dan Tirmidzi no. 1919)Rukun ketiga: Objek transaksiDalam sebuah akad jual beli, maka objeknya adalah barang yang dijual dan harga yang sebanding dengannya. Dalam akad sewa menyewa, maka objeknya adalah kemanfaatan dan biaya sewanya. Dalam akad tabarru’ (pemberian), maka objeknya adalah sesuatu yang diniatkan untuk diberikan tersebut. Sehingga objek sebuah akad mencakup dua hal, barang yang hendak dijual, disewakan ataupun diberikan dan barang yang sepadan dengannya (harga, biaya sewa).Pada barang yang akan dijual atau disewakan, maka ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi:Pertama, objek transaksi harus berupa mal mutaqawwim, yaitu harta yang diperbolehkan oleh syariat untuk ditransaksikan, baik itu sebuah harta yang memiliki fisik ataupun sebuah kemanfaatan. Oleh karenanya, harta yang dilarang untuk digunakan dan dimanfaatkan, maka hukum menjual dan membelinya pun terlarang, seperti alat-alat musik.Kedua, objek transaksi harus ada ketika akad atau kontrak sedang dilakukan.Ketiga, objek transaksi bisa diserahterimakan saat terjadinya akad, atau dimungkinkan di kemudian hari.Harga yang akan dibayarkan harus jelas dan diketahui nilainya, tidak sah sebuah transaksi yang tidak diketahui nilai harganya, seperti ucapan seseorang, “Aku jual mobil ini dengan seberapa pun uang yang ada di kantongmu.” Wallahu a’lam bisshawab[Bersambung]Baca juga: Rukun Shalat***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.id—Referensi:Kitab Al-Madkhal Ilaa Fiqhi Al-Mu’amalat Al-Maliyyah karya Prof. Dr. Muhammad Utsman Syubair dengan beberapa penyesuaian.🔍 Tawakal, Pokok Ajaran Agama Islam, Tata Cara Mandi Wajib Setelah Haid Menurut Sunnah Nabi, Doa Iqomah, Bacaan Dzikir PendekTags: akadfikihmuamalahrukun


Daftar Isi sembunyikan 1. Apa itu rukun? 2. Rukun-rukun akad 2.1. Rukun pertama: Shighah (format) akad 2.2. Rukun kedua: Adanya pihak penjual dan pembeli 2.3. Rukun ketiga: Objek transaksi Setelah mengetahui apa itu akad dan kedudukannya dalam syariat Islam (pembahasan artikel sebelumnya), kita juga harus mengetahui bahwa sebuah akad akan sempurna terbentuk dan menjadi sah apabila telah memenuhi rukun-rukun yang ada dan syarat-syaratnya. Pada pembahasan kali ini, akan kita bahas perihal rukun-rukun yang harus ada saat berlangsungnya sebuah akad, baik itu akad jual, ataupun yang lainnya.Apa itu rukun?Secara bahasa, rukun artinya bagian terkuat dari sesuatu, seperti tiang-tiang bangunan dan pondasinya.Adapun secara istilah, rukun memiliki arti apa yang dengannya sesuatu menjadi tegak dan berwujud serta ia merupakan salah satu bagian dari sesuatu tersebut. Sehingga, sesuatu tidak akan bisa berdiri sempurna, kecuali dengan adanya rukun tersebut. Perbedaan dengan syarat, syarat merupakan sesuatu yang harus terpenuhi, namun bukan bagian dari amalan tersebut.Rukun-rukun akadRukun pertama: Shighah (format) akadShighah secara bahasa artinya adalah perbuatan, penilaian, dan format. Sehingga makna (صيغة الكلام) adalah kata-kata yang menunjukkan konsep dan maksudnya.Shighah akad secara istilah maknanya adalah kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang darinya terbentuk dan tersusun sebuah akad.Beberapa ulama memberikan istilah, “Apa yang dengannya sebuah akad terbentuk, baik itu perkataan ataupun isyarat (tindakan) yang menjelaskan maksud dan keinginan orang yang hendak melakukan akad.”Harus kita pahami bahwa keinginan salah satu pihak yang hendak melakukan sebuah akad ataupun keinginan keduanya adalah perkara hati yang tidak akan nampak, kecuali dengan adanya perkataan maupun tindakan yang menunjukkannya. Hal inilah yang disebut dengan ijab dan kabul.Para ulama berselisih pendapat di dalam mendefinisikan ijab dan kabul. Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat mazhab Hanafiyyah karena begitu detail dan memudahkan kita untuk membedakan antara apa yang disebut dengan ‘ijab’ dan apa yang disebut dengan ‘kabul’.Mazhab Hanafiyyah membedakan kedua hal tersebut dengan melihat waktu munculnya. Apa yang muncul terlebih dahulu disebut “ijab” dan yang muncul setelahnya disebut “kabul”. Mengapa yang kedua disebut ‘kabul’? Karena hal itu sebagai bentuk persetujuan dan pengabulan serta keridaan atas apa yang diharuskan oleh pihak pertama (yang melakukan ijab).Format (sighah) akad antara 2 hal: akad dengan ucapan atau akad dengan tindakan.Yang pertama: akad dengan ucapanFormat akad dengan bentuk perkataan pada asalnya harus berasal dari ucapan lisan, karena lisanlah anggota tubuh yang memang diciptakan untuk mengungkapkan keinginan manusia. Maka, ia mengucapkan dan melafalkan apa yang diinginkannya sebagaimana Allah Ta’ala mengisahkan tentang doa Nabi Musa ‘alaihis salam,وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ * يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 27-28)Lepasnya kekakuan lidah maksudnya adalah mudahnya berucap dan melafalkan atau kuatnya lidah di dalam mengucapkan sesuatu.Hendaknya ucapannya tersebut menggunakan bahasa yang dipahami oleh kedua belah pihak. Seperti jika seorang penjual mengatakan, “Aku jual mobil ini seharga dua ratus juta.” Kemudian pihak lain mengatakan, “Baik, aku beli dan aku terima.”Format akad dengan bentuk perkataan terwujud juga dengan tulisan.Oleh karenanya, jika sebuah akad terbentuk hanya dengan tulisan antara kedua pihak yang yang tidak hadir secara nyata, semisal jual beli melalui web/ e-commerce di mana penjual telah menulis harga untuk sebuah barang kemudian ada pihak yang setuju dan membelinya dengan mengklik tombol “beli”, maka akad semacam ini dianggap sah secara mutlak.Kedudukan akad tersebut sebagaimana akad yang dilafalkan dengan lisan. Para ulama membuat sebuah kaidah,اَلْكِتَابُ كَالْخِطَابِ“Tulisan sebanding dengan ucapan.”Maksud kaidah ini bahwa sebuah tulisan dari orang yang saling berjauhan (tidak sedang di tempat, gaib) berstatus hukum sama dengan ucapan dari orang yang sedang bertatap muka. Karena tulisan merupakan salah satu bentuk ekspresi ungkapan penulisnya.Yang kedua: akad dengan tindakanSebagaimana akad menjadi sah dengan ucapan, ia juga menjadi sah dengan adanya tindakan dari kedua belah pihak, seperti memberi isyarat ataupun saling mengambil dan memberikan.Para ulama berbeda pendapat, apakah orang yang mampu berbicara dibolehkan untuk menggunakan isyarat di dalam melakukan sebuah akad? Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah dibolehkan, dengan syarat isyarat tersebut sudah sering digunakan dan dipahami oleh masyarakat. Serta dikecualikan darinya akad nikah, di mana seseorang yang mampu berbicara, maka ia tidak diperbolehkan melaksanakan akad dengan menggunakan isyarat, karena begitu penting dan sakralnya akad nikah.Adapun saling mengambil dan memberikan (at-ta’athi), di mana penjual memberikan dagangannya dan pembeli memberikan uang pembayaran tanpa mereka berdua mengucapkan ijab dan kabul, maka jumhur ulama membolehkannya. Baik barang dagangannya berupa sesuatu yang sangat berharga maupun sesuatu yang remeh. Adapun akad nikah dengan hanya saling mengambil dan memberikan tanpa mengucapkan akad (ijab dan kabul), maka ulama sepakat bahwa hal tersebut tidak sah.Rukun kedua: Adanya pihak penjual dan pembeliAdanya kedua pihak yang melakukan akad merupakan rukun utama terbentuknya sebuah akad, karena keduanyalah yang akan bersinggungan langsung dengan akad. Baik kedua pihak ini adalah pribadi langsung yang akan melakukan akad maupun perwakilannya.Di dalam melakukan sebuah akad, Islam menyaratkan adanya ‘ahliyyah’ (kecakapan dan kepatutan untuk melakukan transaksi). Seseorang biasanya akan memiliki ahliyyah jika telah balig atau mumayyiz dan berakal. Adapun mereka yang belum memenuhi syarat dan kriteria tersebut, maka bisa diwakilkan oleh orang lain yang sudah memenuhi persyaratan tersebut.Anak kecil yang belum tamyiz, orang gila, dan orang yang dungu misalnya, maka bapaknya, kakeknya, atau hakim bisa menjadi walinya di dalam melaksanakan sebuah akad jual beli. Dengan syarat, mereka adalah orang yang memiliki kecakapan (ahliyah) di dalamnya, jujur, amanah, serta sangat perhatian terhadap orang-orang yang berada di bawah perwaliannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)Allah Ta’ala juga berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا ۗ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًا ࣖ“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barangsiapa yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang-orang yang lebih tua di antara kami, maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Abu Dawud no. 4943, Ahmad no. 7073, dan Tirmidzi no. 1919)Rukun ketiga: Objek transaksiDalam sebuah akad jual beli, maka objeknya adalah barang yang dijual dan harga yang sebanding dengannya. Dalam akad sewa menyewa, maka objeknya adalah kemanfaatan dan biaya sewanya. Dalam akad tabarru’ (pemberian), maka objeknya adalah sesuatu yang diniatkan untuk diberikan tersebut. Sehingga objek sebuah akad mencakup dua hal, barang yang hendak dijual, disewakan ataupun diberikan dan barang yang sepadan dengannya (harga, biaya sewa).Pada barang yang akan dijual atau disewakan, maka ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi:Pertama, objek transaksi harus berupa mal mutaqawwim, yaitu harta yang diperbolehkan oleh syariat untuk ditransaksikan, baik itu sebuah harta yang memiliki fisik ataupun sebuah kemanfaatan. Oleh karenanya, harta yang dilarang untuk digunakan dan dimanfaatkan, maka hukum menjual dan membelinya pun terlarang, seperti alat-alat musik.Kedua, objek transaksi harus ada ketika akad atau kontrak sedang dilakukan.Ketiga, objek transaksi bisa diserahterimakan saat terjadinya akad, atau dimungkinkan di kemudian hari.Harga yang akan dibayarkan harus jelas dan diketahui nilainya, tidak sah sebuah transaksi yang tidak diketahui nilai harganya, seperti ucapan seseorang, “Aku jual mobil ini dengan seberapa pun uang yang ada di kantongmu.” Wallahu a’lam bisshawab[Bersambung]Baca juga: Rukun Shalat***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.id—Referensi:Kitab Al-Madkhal Ilaa Fiqhi Al-Mu’amalat Al-Maliyyah karya Prof. Dr. Muhammad Utsman Syubair dengan beberapa penyesuaian.🔍 Tawakal, Pokok Ajaran Agama Islam, Tata Cara Mandi Wajib Setelah Haid Menurut Sunnah Nabi, Doa Iqomah, Bacaan Dzikir PendekTags: akadfikihmuamalahrukun

Dosa Syirik Kecil Seperti Riya’ dan Ujub Tidak Diampuni?

Bismillah.Allah Ta’ala berfirman di dalam surah An-Nisa ayat 48, إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.”Apakah ayat ini berlaku pada syirik besar saja atau juga syirik kecil?Terjadi perbincangan hangat di tengah para ulama, apakah syirik kecil juga tidak diampuni oleh Allah Ta’ala berdasarkan tekstual atau tersuratnya ayat di atas.Pendapat pertama: dosa syirik kecil termasuk yang tidak akan diampuni Allah Ta’ala apabila dibawa mati dan belum sempat bertobat.Alasannya, karena ayat 48 surat An-Nisa di atas mengandung lafaz umum, sehingga menggeneralisasi hukum yang dijelaskan. Artinya, syirik yang dimaksud dalam ayat tersebut mencakup di dalamnya syirik besar dan syirik kecil, seperti riya’, ‘ujub, bersumpah selain dengan nama Allah, dan semisalnya.Selain itu, lafaz أن يشرك به (berbuat syirik) dalam kaidah bahasa Arab ini disebut masdar mu’awwal, sehingga maknanya adalah إشراكا به. Sementara masdar mu’awwal dalam kaidah bahasa Arab mengandung makna umum, yaitu segala bentuk syirik, baik syirik besar maupun kecil.Di antara ulama yang memegang pendapat ini adalah Syekh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qoulul Mufid (1: 111) dan juga Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam laman resmi beliau binbaz.org.Pendapat kedua: syirik kecil tersebut kedudukannya seperti maksiat lainnya. Surah An-Nisa ayat 48 di atas tidak mencakup dosa syirik kecil. Ayat tersebut hanya berlaku pada dosa syirik besar sebagai dosa yang tidak diampuni jika tidak bertobat sampai meninggal dunia. Adapun dosa syirik kecil, ada potensi diampuni oleh Allah Ta’ala di akhirat. Dalam bahasa akidah ahlusunah disebut “tahta masyi’atillah” (tergantung kehendak Allah). Artinya, orang yang meninggal dunia membawa dosa syirik kecil, seperti riya’, sum’ah, dan lain-lain yang belum dia tobati, maka nasibnya di akhirat sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala. Apabila Allah Ta’ala berkehendak langsung memaafkan, maka dosa tersebut akan diampuni. Apabila Allah berkehendak mengazabnya dahulu, maka dia akan diazab terlebih dahulu.Alasannya adalah menyimpulkan bahwa ayat 48 surat An-Nisa mencakup syirik kecil, berkonsekuensi ayat-ayat yang menyebutkan kata syirik juga berlaku pada syirik kecil, sehingga hukumannya juga sama berlaku pada syirik besar, yaitu: menghapus seluruh amal, sebab kekal di neraka, dan tidak diampuni Allah bila dibawa mati.Ayat-ayat tersebut adalah لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ“Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65) إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ“Sesungguhnya siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-Ma’idah: 72)Tentu tidak ada ulama yang berpandangan demikian.Di antara ulama yang memegang pendapat ini adalah Syekh Abdurrahman Al-Barrak dalam website resmi beliau sh-albarrak.com.Pada akhirnya, adanya perdebatan ulama tentang syirik kecil apakah masuk tidak diampuni atau tidak, ini menunjukkan betapa bahayanya syirik kecil, apalagi syirik besar. Sudah saatnya kita khawatirkan dan kita jauhi sejauh mungkin. Wallahu a’lam bisshowab.Baca juga: Kapan Riya’ dan Sum’ah Menjadi Syirik Besar?*** Penulis : Ahmad Anshori, Lc.Artikel : Muslim.or.id—Daftar Pustaka• Al-‘Utsaimin, Muhammad bin Sholih. Al-Qoulul Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid. Darul Ashimah – Saudi Arabia.• هل تشمل المغفرة صغير الشرك عند التوبة؟. https://binbaz.org.sa/fatwas/24096/... Dikutip pada 22 November 2022.• هل الشرك الأصغر يغفره الله وتحرير رأي شيخ الإسلام في المسألة. https://sh-albarrak.com/article/21321. Dikutip pada 22 November 2022.🔍 Artikel Islam, Macam-macam Manhaj Dalam Islam, Arti Jimak, Mainan Anak Islam, Fadhilah Membaca Surat YasinTags: adabAkhlakamalan syirikAqidahaqidah islambahaya syirikdosa riyadosa syirikdosa syirik kecildosa ujubkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamriyasombongSyiriksyirik besarsyirik kecilTauhidujub

Dosa Syirik Kecil Seperti Riya’ dan Ujub Tidak Diampuni?

Bismillah.Allah Ta’ala berfirman di dalam surah An-Nisa ayat 48, إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.”Apakah ayat ini berlaku pada syirik besar saja atau juga syirik kecil?Terjadi perbincangan hangat di tengah para ulama, apakah syirik kecil juga tidak diampuni oleh Allah Ta’ala berdasarkan tekstual atau tersuratnya ayat di atas.Pendapat pertama: dosa syirik kecil termasuk yang tidak akan diampuni Allah Ta’ala apabila dibawa mati dan belum sempat bertobat.Alasannya, karena ayat 48 surat An-Nisa di atas mengandung lafaz umum, sehingga menggeneralisasi hukum yang dijelaskan. Artinya, syirik yang dimaksud dalam ayat tersebut mencakup di dalamnya syirik besar dan syirik kecil, seperti riya’, ‘ujub, bersumpah selain dengan nama Allah, dan semisalnya.Selain itu, lafaz أن يشرك به (berbuat syirik) dalam kaidah bahasa Arab ini disebut masdar mu’awwal, sehingga maknanya adalah إشراكا به. Sementara masdar mu’awwal dalam kaidah bahasa Arab mengandung makna umum, yaitu segala bentuk syirik, baik syirik besar maupun kecil.Di antara ulama yang memegang pendapat ini adalah Syekh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qoulul Mufid (1: 111) dan juga Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam laman resmi beliau binbaz.org.Pendapat kedua: syirik kecil tersebut kedudukannya seperti maksiat lainnya. Surah An-Nisa ayat 48 di atas tidak mencakup dosa syirik kecil. Ayat tersebut hanya berlaku pada dosa syirik besar sebagai dosa yang tidak diampuni jika tidak bertobat sampai meninggal dunia. Adapun dosa syirik kecil, ada potensi diampuni oleh Allah Ta’ala di akhirat. Dalam bahasa akidah ahlusunah disebut “tahta masyi’atillah” (tergantung kehendak Allah). Artinya, orang yang meninggal dunia membawa dosa syirik kecil, seperti riya’, sum’ah, dan lain-lain yang belum dia tobati, maka nasibnya di akhirat sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala. Apabila Allah Ta’ala berkehendak langsung memaafkan, maka dosa tersebut akan diampuni. Apabila Allah berkehendak mengazabnya dahulu, maka dia akan diazab terlebih dahulu.Alasannya adalah menyimpulkan bahwa ayat 48 surat An-Nisa mencakup syirik kecil, berkonsekuensi ayat-ayat yang menyebutkan kata syirik juga berlaku pada syirik kecil, sehingga hukumannya juga sama berlaku pada syirik besar, yaitu: menghapus seluruh amal, sebab kekal di neraka, dan tidak diampuni Allah bila dibawa mati.Ayat-ayat tersebut adalah لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ“Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65) إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ“Sesungguhnya siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-Ma’idah: 72)Tentu tidak ada ulama yang berpandangan demikian.Di antara ulama yang memegang pendapat ini adalah Syekh Abdurrahman Al-Barrak dalam website resmi beliau sh-albarrak.com.Pada akhirnya, adanya perdebatan ulama tentang syirik kecil apakah masuk tidak diampuni atau tidak, ini menunjukkan betapa bahayanya syirik kecil, apalagi syirik besar. Sudah saatnya kita khawatirkan dan kita jauhi sejauh mungkin. Wallahu a’lam bisshowab.Baca juga: Kapan Riya’ dan Sum’ah Menjadi Syirik Besar?*** Penulis : Ahmad Anshori, Lc.Artikel : Muslim.or.id—Daftar Pustaka• Al-‘Utsaimin, Muhammad bin Sholih. Al-Qoulul Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid. Darul Ashimah – Saudi Arabia.• هل تشمل المغفرة صغير الشرك عند التوبة؟. https://binbaz.org.sa/fatwas/24096/... Dikutip pada 22 November 2022.• هل الشرك الأصغر يغفره الله وتحرير رأي شيخ الإسلام في المسألة. https://sh-albarrak.com/article/21321. Dikutip pada 22 November 2022.🔍 Artikel Islam, Macam-macam Manhaj Dalam Islam, Arti Jimak, Mainan Anak Islam, Fadhilah Membaca Surat YasinTags: adabAkhlakamalan syirikAqidahaqidah islambahaya syirikdosa riyadosa syirikdosa syirik kecildosa ujubkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamriyasombongSyiriksyirik besarsyirik kecilTauhidujub
Bismillah.Allah Ta’ala berfirman di dalam surah An-Nisa ayat 48, إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.”Apakah ayat ini berlaku pada syirik besar saja atau juga syirik kecil?Terjadi perbincangan hangat di tengah para ulama, apakah syirik kecil juga tidak diampuni oleh Allah Ta’ala berdasarkan tekstual atau tersuratnya ayat di atas.Pendapat pertama: dosa syirik kecil termasuk yang tidak akan diampuni Allah Ta’ala apabila dibawa mati dan belum sempat bertobat.Alasannya, karena ayat 48 surat An-Nisa di atas mengandung lafaz umum, sehingga menggeneralisasi hukum yang dijelaskan. Artinya, syirik yang dimaksud dalam ayat tersebut mencakup di dalamnya syirik besar dan syirik kecil, seperti riya’, ‘ujub, bersumpah selain dengan nama Allah, dan semisalnya.Selain itu, lafaz أن يشرك به (berbuat syirik) dalam kaidah bahasa Arab ini disebut masdar mu’awwal, sehingga maknanya adalah إشراكا به. Sementara masdar mu’awwal dalam kaidah bahasa Arab mengandung makna umum, yaitu segala bentuk syirik, baik syirik besar maupun kecil.Di antara ulama yang memegang pendapat ini adalah Syekh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qoulul Mufid (1: 111) dan juga Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam laman resmi beliau binbaz.org.Pendapat kedua: syirik kecil tersebut kedudukannya seperti maksiat lainnya. Surah An-Nisa ayat 48 di atas tidak mencakup dosa syirik kecil. Ayat tersebut hanya berlaku pada dosa syirik besar sebagai dosa yang tidak diampuni jika tidak bertobat sampai meninggal dunia. Adapun dosa syirik kecil, ada potensi diampuni oleh Allah Ta’ala di akhirat. Dalam bahasa akidah ahlusunah disebut “tahta masyi’atillah” (tergantung kehendak Allah). Artinya, orang yang meninggal dunia membawa dosa syirik kecil, seperti riya’, sum’ah, dan lain-lain yang belum dia tobati, maka nasibnya di akhirat sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala. Apabila Allah Ta’ala berkehendak langsung memaafkan, maka dosa tersebut akan diampuni. Apabila Allah berkehendak mengazabnya dahulu, maka dia akan diazab terlebih dahulu.Alasannya adalah menyimpulkan bahwa ayat 48 surat An-Nisa mencakup syirik kecil, berkonsekuensi ayat-ayat yang menyebutkan kata syirik juga berlaku pada syirik kecil, sehingga hukumannya juga sama berlaku pada syirik besar, yaitu: menghapus seluruh amal, sebab kekal di neraka, dan tidak diampuni Allah bila dibawa mati.Ayat-ayat tersebut adalah لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ“Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65) إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ“Sesungguhnya siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-Ma’idah: 72)Tentu tidak ada ulama yang berpandangan demikian.Di antara ulama yang memegang pendapat ini adalah Syekh Abdurrahman Al-Barrak dalam website resmi beliau sh-albarrak.com.Pada akhirnya, adanya perdebatan ulama tentang syirik kecil apakah masuk tidak diampuni atau tidak, ini menunjukkan betapa bahayanya syirik kecil, apalagi syirik besar. Sudah saatnya kita khawatirkan dan kita jauhi sejauh mungkin. Wallahu a’lam bisshowab.Baca juga: Kapan Riya’ dan Sum’ah Menjadi Syirik Besar?*** Penulis : Ahmad Anshori, Lc.Artikel : Muslim.or.id—Daftar Pustaka• Al-‘Utsaimin, Muhammad bin Sholih. Al-Qoulul Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid. Darul Ashimah – Saudi Arabia.• هل تشمل المغفرة صغير الشرك عند التوبة؟. https://binbaz.org.sa/fatwas/24096/... Dikutip pada 22 November 2022.• هل الشرك الأصغر يغفره الله وتحرير رأي شيخ الإسلام في المسألة. https://sh-albarrak.com/article/21321. Dikutip pada 22 November 2022.🔍 Artikel Islam, Macam-macam Manhaj Dalam Islam, Arti Jimak, Mainan Anak Islam, Fadhilah Membaca Surat YasinTags: adabAkhlakamalan syirikAqidahaqidah islambahaya syirikdosa riyadosa syirikdosa syirik kecildosa ujubkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamriyasombongSyiriksyirik besarsyirik kecilTauhidujub


Bismillah.Allah Ta’ala berfirman di dalam surah An-Nisa ayat 48, إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.”Apakah ayat ini berlaku pada syirik besar saja atau juga syirik kecil?Terjadi perbincangan hangat di tengah para ulama, apakah syirik kecil juga tidak diampuni oleh Allah Ta’ala berdasarkan tekstual atau tersuratnya ayat di atas.Pendapat pertama: dosa syirik kecil termasuk yang tidak akan diampuni Allah Ta’ala apabila dibawa mati dan belum sempat bertobat.Alasannya, karena ayat 48 surat An-Nisa di atas mengandung lafaz umum, sehingga menggeneralisasi hukum yang dijelaskan. Artinya, syirik yang dimaksud dalam ayat tersebut mencakup di dalamnya syirik besar dan syirik kecil, seperti riya’, ‘ujub, bersumpah selain dengan nama Allah, dan semisalnya.Selain itu, lafaz أن يشرك به (berbuat syirik) dalam kaidah bahasa Arab ini disebut masdar mu’awwal, sehingga maknanya adalah إشراكا به. Sementara masdar mu’awwal dalam kaidah bahasa Arab mengandung makna umum, yaitu segala bentuk syirik, baik syirik besar maupun kecil.Di antara ulama yang memegang pendapat ini adalah Syekh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qoulul Mufid (1: 111) dan juga Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam laman resmi beliau binbaz.org.Pendapat kedua: syirik kecil tersebut kedudukannya seperti maksiat lainnya. Surah An-Nisa ayat 48 di atas tidak mencakup dosa syirik kecil. Ayat tersebut hanya berlaku pada dosa syirik besar sebagai dosa yang tidak diampuni jika tidak bertobat sampai meninggal dunia. Adapun dosa syirik kecil, ada potensi diampuni oleh Allah Ta’ala di akhirat. Dalam bahasa akidah ahlusunah disebut “tahta masyi’atillah” (tergantung kehendak Allah). Artinya, orang yang meninggal dunia membawa dosa syirik kecil, seperti riya’, sum’ah, dan lain-lain yang belum dia tobati, maka nasibnya di akhirat sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala. Apabila Allah Ta’ala berkehendak langsung memaafkan, maka dosa tersebut akan diampuni. Apabila Allah berkehendak mengazabnya dahulu, maka dia akan diazab terlebih dahulu.Alasannya adalah menyimpulkan bahwa ayat 48 surat An-Nisa mencakup syirik kecil, berkonsekuensi ayat-ayat yang menyebutkan kata syirik juga berlaku pada syirik kecil, sehingga hukumannya juga sama berlaku pada syirik besar, yaitu: menghapus seluruh amal, sebab kekal di neraka, dan tidak diampuni Allah bila dibawa mati.Ayat-ayat tersebut adalah لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ“Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65) إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ“Sesungguhnya siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-Ma’idah: 72)Tentu tidak ada ulama yang berpandangan demikian.Di antara ulama yang memegang pendapat ini adalah Syekh Abdurrahman Al-Barrak dalam website resmi beliau sh-albarrak.com.Pada akhirnya, adanya perdebatan ulama tentang syirik kecil apakah masuk tidak diampuni atau tidak, ini menunjukkan betapa bahayanya syirik kecil, apalagi syirik besar. Sudah saatnya kita khawatirkan dan kita jauhi sejauh mungkin. Wallahu a’lam bisshowab.Baca juga: Kapan Riya’ dan Sum’ah Menjadi Syirik Besar?*** Penulis : Ahmad Anshori, Lc.Artikel : Muslim.or.id—Daftar Pustaka• Al-‘Utsaimin, Muhammad bin Sholih. Al-Qoulul Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid. Darul Ashimah – Saudi Arabia.• هل تشمل المغفرة صغير الشرك عند التوبة؟. https://binbaz.org.sa/fatwas/24096/... Dikutip pada 22 November 2022.• هل الشرك الأصغر يغفره الله وتحرير رأي شيخ الإسلام في المسألة. https://sh-albarrak.com/article/21321. Dikutip pada 22 November 2022.🔍 Artikel Islam, Macam-macam Manhaj Dalam Islam, Arti Jimak, Mainan Anak Islam, Fadhilah Membaca Surat YasinTags: adabAkhlakamalan syirikAqidahaqidah islambahaya syirikdosa riyadosa syirikdosa syirik kecildosa ujubkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamriyasombongSyiriksyirik besarsyirik kecilTauhidujub

Adakah Ulama yang Membolehkan Menyentuh Wanita Nonmahram?

Pertanyaan: Saya sering melihat tokoh agama di televisi yang bersalaman dengan wanita yang bukan mahram. Setahu saya tidak diperbolehkan bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Tapi yang membuat saya heran mengapa para tokoh agama tersebut melakukannya? Yang saya ingin tanyakan, kira-kira mereka mengikuti pendapat madzhab apa? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Lelaki bersentuhan atau bersalaman dengan wanita nonmahram jelas tidak diperbolehkan. Berdasarkan hadits dari Ma’qal bin Yasar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لأنْ يطعنَ في رأسِ أحدِكُمْ بمِخيطٍ منْ حديدٍ خيرٌ لهُ منْ أنْ يمسَّ امرأةً لا تحلُّ لهُ “Andai kepala seseorang di antara kalian ditusuk dengan jarum besi itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal” (HR. Ar Ruyani dalam Musnadnya no.1283, Ath Thabrani no.486, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no.5045). Dalam hadits dari Umaimah binti Raqiqah radhiyallahu’anha, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: إني لا أُصافِحُ النِّساءَ “Sungguh aku tidak bersalaman dengan wanita” (HR. An-Nasa’i no. 4192, dishahihkan al-Albani dalam Shahih An Nasa’i). Namun para ulama berbeda pendapat mengenai bersalaman dengan wanita yang sudah tua renta. Sebagian ulama melarang secara mutlak bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram, baik masih muda ataupun sudah tua renta. Berdasarkan keumuman hadits-hadits yang melarang bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Lelaki bersalaman dengan wanita hukumnya tidak diperbolehkan, baik ia tua renta ataupun masih muda. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: “Sungguh aku tidak bersalaman dengan wanita” (HR. An Nasa’i). Ketika datang kepada beliau para wanita untuk berbai’at dan mereka menyodorkan tangan untuk bersalaman, beliau bersabda: ‘Sungguh aku tidak bersalaman dengan wanita‘. Dan ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata: والله ما مسَّت يدُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يدَ امرأةٍ قطُّ , ما كان يُبايعْهن إلا بالكلامِ “Demi Allah, tangan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan wanita, ketika membai’at beliau membai’at dengan perkataan saja” (HR. al-Bukhari no.5288, Muslim no.1866). Yang dimaksud Aisyah di sini adalah, kepada wanita yang bukan mahram Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau tidak bersalaman. Adapun dengan wanita yang merupakan mahramnya, maka tidak mengapa. Seperti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan Fathimah, dan bersalaman dengan para mahramnya. Dan tidak masalah seorang lelaki bersalaman dengan istrinya, saudarinya, bibinya, dan seluruh wanita yang merupakan mahramnya. Yang terlarang adalah bersalaman dengan wanita ajnabiyah (bukan mahram) semisal istri dari saudaranya, atau saudari dari istrinya, dan para wanita selainnya. Ini tidak diperbolehkan. Tidak diperbolehkan kepada wanita tua renta, ataupun wanita muda, ini pendapat yang tepat. Baik dilakukan dengan penghalang, walaupun ia memakai sesuatu di tangannya, maka hendaknya ia tidak bersalaman secara mutlak. Karena bersalaman dengan penghalang itu adalah wasilah kepada bersalaman lain yang tanpa penghalang” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 247/4). Sebagian ulama membolehkan bersalaman dengan lawan jenis yang sudah tua renta yang sudah tidak memiliki syahwat (menopause), dengan syarat aman dari fitnah. Karena illah larangan bersalaman adalah dikhawatirkan terjadi fitnah, sedangkan ketika sudah menopause maka kekhawatiran tersebut tidak ada.  As Sarkhasi rahimahullah, ulama Hanafiyah, mengatakan: “Jika wanita tersebut sudah tua renta dan sudah menopause maka tidak mengapa bersalaman dengannya dan menyentuh tangannya. Sebagaimana diriwayatkan: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُصَافِحُ الْعَجَائِزَ فِي الْبَيْعَةِ وَلَا يُصَافِحُ الشَّوَابَّ وَلَكِنْ كَانَ يَضَعُ يَدَهُ فِي قَصْعَةِ مَاءٍ ثُمَّ تَضَعُ الْمَرْأَةُ يَدَهَا فِيهَا فَذَلِكَ بَيْعَتُهَا “Nabi shallallahu’alaihi wa sallam biasa bersalaman dengan wanita-wanita tua ketika membai’at, dan tidak bersalaman dengan wanita-wanita muda. Namun beliau meletakkan tangannya di mangkuk berisi air, lalu setelah itu para wanita meletakkan tangannya di mangkuk tersebut, demikianlah cara beliau membai’at wanita“ (Didhaifkan oleh Az Zaila’i dalam Nashbur Rayah, hal. 240). Namun Aisyah radhiyallahu’anha mengingkari hadits ini dengan mengatakan: مَنْ زَعَمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَسَّ امْرَأَةً أَجْنَبِيَّةً فَقَدْ أَعْظَمَ الْفِرْيَةَ عَلَيْهِ “Barang siapa mengklaim bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyentuh wanita ajnabiyyah, itu adalah kedustaan yang besar atas Beliau“. Dan diriwayatkan juga bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu ketika menjadi khalifah beliau berkunjung ke sebagian kabilah yang tertindas, kemudian beliau bersalaman dengan wanita-wanita tua di sana. Dan juga Az Zubair radhiyallahu’anhu ketika sakit di Mekkah, beliau menyewa seorang wanita tua untuk menjadi perawatnya, perawat tersebut biasa menyelimuti kaki beliau dan membersihkan kepala beliau. Dan juga karena diharamkannya bersalaman itu illah-nya adalah kekhawatiran terjadi fitnah. Jika wanita sudah menopause maka kekhawatiran terjadi fitnah sudah tidak ada. Demikian juga lelaki yang sudah tua renta yang merasa aman dari fitnah syahwat, boleh baginya bersalaman dengan wanita. Namun jika ia tidak merasa aman dari fitnah syahwat maka tidak boleh bersalaman, karena ini mengantarkannya kepada fitnah” (Al-Mabsuth, 10/154). Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengatakan, “Jika dapat dipastikan wanita tersebut sudah renta dan menopause, maka dalam keadaan ini tidak mengapa (bersalaman). Namun jika masih diragukan dan belum bisa dipastikan, maka kembali pada kaidah sadd adz dzari’ah dan menerapkannya” (Al Hawi fi Fatawa al-Albani, 2/130). Adapun menyentuh dan bersalaman dengan wanita nonmahram yang belum tua renta, maka tidak ada khilaf di antara ulama tentang haramnya. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah disebutkan: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang terlarangnya menyentuh wajah dan telapak tangan wanita nonmahram. Walaupun tidak terdapat syahwat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:  من مسَّ كفَّ امرأةٍ ليس منها بسبيلٍ وُضِع على كفِّه جمرةٌ يومَ القيامةِ “Siapa yang menyentuh tangan wanita yang tidak halal, Allah akan taruh pada tangannya bara api neraka di hari Kiamat” (Disebutkan oleh Az Zaila’i dalam Nashbur Rayah [4/420], dan beliau berkata: “gharib”). Karena tidak adanya kondisi darurat untuk menyentuh wajah dan telapak tangan wanita nonmahram. Berbeda dengan memandang, dibolehkan (oleh sebagian ulama) untuk memandang wajah dan telapak tangan wanita nonmahram untuk mencegah kesulitan. Sedangkan tidak ada kesulitan jika tidak menyentuh wanita nonmahram. Maka hukum haram tetap berlaku. Ini jika wanita yang dimaksud adalah wanita nonmahram yang masih belum tua. Adapun jika wanita tersebut sudah tua renta, maka tidak mengapa bersalaman dengannya dan menyentuh tangannya. Karena tidak ada kekhawatiran adanya godaan di sana. Ini ditegaskan oleh penulis kitab al-Hidayah dari madzhab Hanafi. Dan juga salah satu pendapat dalam madzhab Hanabilah. Dengan syarat selama aman dari fitnah (godaan). Adapun Malikiyah dan Syafi’iyah mengharamkan menyentuh wanita nonmahram secara mutlak tanpa membedakan muda dan tua”. (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 29/296). Namun memang sungguh disayangkan, di zaman ini sebagian orang yang tidak mau bersentuhan dengan wanita nonmahram (yang belum tua) justru dianggap aneh dan ekstrem. Padahal itu kesepakatan semua ulama madzhab. Sedangkan tokoh agama yang bersalaman dengan wanita nonmahram justru dianggap bijak, toleran, dan moderat. Padahal itu kekeliruan dan penyimpangan serta tidak ada ulama yang membolehkannya.  Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan. Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Dalil Puasa Nisfu Sya Ban, Apa Itu Jil, Istri Al Mahdi, Cara Memuaskan Suami Diranjang Secara Islami, Doa Mandi Wajib Bagi Wanita, Hari Valenten Visited 222 times, 4 visit(s) today Post Views: 411 QRIS donasi Yufid

Adakah Ulama yang Membolehkan Menyentuh Wanita Nonmahram?

Pertanyaan: Saya sering melihat tokoh agama di televisi yang bersalaman dengan wanita yang bukan mahram. Setahu saya tidak diperbolehkan bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Tapi yang membuat saya heran mengapa para tokoh agama tersebut melakukannya? Yang saya ingin tanyakan, kira-kira mereka mengikuti pendapat madzhab apa? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Lelaki bersentuhan atau bersalaman dengan wanita nonmahram jelas tidak diperbolehkan. Berdasarkan hadits dari Ma’qal bin Yasar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لأنْ يطعنَ في رأسِ أحدِكُمْ بمِخيطٍ منْ حديدٍ خيرٌ لهُ منْ أنْ يمسَّ امرأةً لا تحلُّ لهُ “Andai kepala seseorang di antara kalian ditusuk dengan jarum besi itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal” (HR. Ar Ruyani dalam Musnadnya no.1283, Ath Thabrani no.486, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no.5045). Dalam hadits dari Umaimah binti Raqiqah radhiyallahu’anha, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: إني لا أُصافِحُ النِّساءَ “Sungguh aku tidak bersalaman dengan wanita” (HR. An-Nasa’i no. 4192, dishahihkan al-Albani dalam Shahih An Nasa’i). Namun para ulama berbeda pendapat mengenai bersalaman dengan wanita yang sudah tua renta. Sebagian ulama melarang secara mutlak bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram, baik masih muda ataupun sudah tua renta. Berdasarkan keumuman hadits-hadits yang melarang bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Lelaki bersalaman dengan wanita hukumnya tidak diperbolehkan, baik ia tua renta ataupun masih muda. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: “Sungguh aku tidak bersalaman dengan wanita” (HR. An Nasa’i). Ketika datang kepada beliau para wanita untuk berbai’at dan mereka menyodorkan tangan untuk bersalaman, beliau bersabda: ‘Sungguh aku tidak bersalaman dengan wanita‘. Dan ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata: والله ما مسَّت يدُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يدَ امرأةٍ قطُّ , ما كان يُبايعْهن إلا بالكلامِ “Demi Allah, tangan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan wanita, ketika membai’at beliau membai’at dengan perkataan saja” (HR. al-Bukhari no.5288, Muslim no.1866). Yang dimaksud Aisyah di sini adalah, kepada wanita yang bukan mahram Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau tidak bersalaman. Adapun dengan wanita yang merupakan mahramnya, maka tidak mengapa. Seperti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan Fathimah, dan bersalaman dengan para mahramnya. Dan tidak masalah seorang lelaki bersalaman dengan istrinya, saudarinya, bibinya, dan seluruh wanita yang merupakan mahramnya. Yang terlarang adalah bersalaman dengan wanita ajnabiyah (bukan mahram) semisal istri dari saudaranya, atau saudari dari istrinya, dan para wanita selainnya. Ini tidak diperbolehkan. Tidak diperbolehkan kepada wanita tua renta, ataupun wanita muda, ini pendapat yang tepat. Baik dilakukan dengan penghalang, walaupun ia memakai sesuatu di tangannya, maka hendaknya ia tidak bersalaman secara mutlak. Karena bersalaman dengan penghalang itu adalah wasilah kepada bersalaman lain yang tanpa penghalang” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 247/4). Sebagian ulama membolehkan bersalaman dengan lawan jenis yang sudah tua renta yang sudah tidak memiliki syahwat (menopause), dengan syarat aman dari fitnah. Karena illah larangan bersalaman adalah dikhawatirkan terjadi fitnah, sedangkan ketika sudah menopause maka kekhawatiran tersebut tidak ada.  As Sarkhasi rahimahullah, ulama Hanafiyah, mengatakan: “Jika wanita tersebut sudah tua renta dan sudah menopause maka tidak mengapa bersalaman dengannya dan menyentuh tangannya. Sebagaimana diriwayatkan: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُصَافِحُ الْعَجَائِزَ فِي الْبَيْعَةِ وَلَا يُصَافِحُ الشَّوَابَّ وَلَكِنْ كَانَ يَضَعُ يَدَهُ فِي قَصْعَةِ مَاءٍ ثُمَّ تَضَعُ الْمَرْأَةُ يَدَهَا فِيهَا فَذَلِكَ بَيْعَتُهَا “Nabi shallallahu’alaihi wa sallam biasa bersalaman dengan wanita-wanita tua ketika membai’at, dan tidak bersalaman dengan wanita-wanita muda. Namun beliau meletakkan tangannya di mangkuk berisi air, lalu setelah itu para wanita meletakkan tangannya di mangkuk tersebut, demikianlah cara beliau membai’at wanita“ (Didhaifkan oleh Az Zaila’i dalam Nashbur Rayah, hal. 240). Namun Aisyah radhiyallahu’anha mengingkari hadits ini dengan mengatakan: مَنْ زَعَمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَسَّ امْرَأَةً أَجْنَبِيَّةً فَقَدْ أَعْظَمَ الْفِرْيَةَ عَلَيْهِ “Barang siapa mengklaim bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyentuh wanita ajnabiyyah, itu adalah kedustaan yang besar atas Beliau“. Dan diriwayatkan juga bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu ketika menjadi khalifah beliau berkunjung ke sebagian kabilah yang tertindas, kemudian beliau bersalaman dengan wanita-wanita tua di sana. Dan juga Az Zubair radhiyallahu’anhu ketika sakit di Mekkah, beliau menyewa seorang wanita tua untuk menjadi perawatnya, perawat tersebut biasa menyelimuti kaki beliau dan membersihkan kepala beliau. Dan juga karena diharamkannya bersalaman itu illah-nya adalah kekhawatiran terjadi fitnah. Jika wanita sudah menopause maka kekhawatiran terjadi fitnah sudah tidak ada. Demikian juga lelaki yang sudah tua renta yang merasa aman dari fitnah syahwat, boleh baginya bersalaman dengan wanita. Namun jika ia tidak merasa aman dari fitnah syahwat maka tidak boleh bersalaman, karena ini mengantarkannya kepada fitnah” (Al-Mabsuth, 10/154). Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengatakan, “Jika dapat dipastikan wanita tersebut sudah renta dan menopause, maka dalam keadaan ini tidak mengapa (bersalaman). Namun jika masih diragukan dan belum bisa dipastikan, maka kembali pada kaidah sadd adz dzari’ah dan menerapkannya” (Al Hawi fi Fatawa al-Albani, 2/130). Adapun menyentuh dan bersalaman dengan wanita nonmahram yang belum tua renta, maka tidak ada khilaf di antara ulama tentang haramnya. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah disebutkan: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang terlarangnya menyentuh wajah dan telapak tangan wanita nonmahram. Walaupun tidak terdapat syahwat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:  من مسَّ كفَّ امرأةٍ ليس منها بسبيلٍ وُضِع على كفِّه جمرةٌ يومَ القيامةِ “Siapa yang menyentuh tangan wanita yang tidak halal, Allah akan taruh pada tangannya bara api neraka di hari Kiamat” (Disebutkan oleh Az Zaila’i dalam Nashbur Rayah [4/420], dan beliau berkata: “gharib”). Karena tidak adanya kondisi darurat untuk menyentuh wajah dan telapak tangan wanita nonmahram. Berbeda dengan memandang, dibolehkan (oleh sebagian ulama) untuk memandang wajah dan telapak tangan wanita nonmahram untuk mencegah kesulitan. Sedangkan tidak ada kesulitan jika tidak menyentuh wanita nonmahram. Maka hukum haram tetap berlaku. Ini jika wanita yang dimaksud adalah wanita nonmahram yang masih belum tua. Adapun jika wanita tersebut sudah tua renta, maka tidak mengapa bersalaman dengannya dan menyentuh tangannya. Karena tidak ada kekhawatiran adanya godaan di sana. Ini ditegaskan oleh penulis kitab al-Hidayah dari madzhab Hanafi. Dan juga salah satu pendapat dalam madzhab Hanabilah. Dengan syarat selama aman dari fitnah (godaan). Adapun Malikiyah dan Syafi’iyah mengharamkan menyentuh wanita nonmahram secara mutlak tanpa membedakan muda dan tua”. (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 29/296). Namun memang sungguh disayangkan, di zaman ini sebagian orang yang tidak mau bersentuhan dengan wanita nonmahram (yang belum tua) justru dianggap aneh dan ekstrem. Padahal itu kesepakatan semua ulama madzhab. Sedangkan tokoh agama yang bersalaman dengan wanita nonmahram justru dianggap bijak, toleran, dan moderat. Padahal itu kekeliruan dan penyimpangan serta tidak ada ulama yang membolehkannya.  Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan. Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Dalil Puasa Nisfu Sya Ban, Apa Itu Jil, Istri Al Mahdi, Cara Memuaskan Suami Diranjang Secara Islami, Doa Mandi Wajib Bagi Wanita, Hari Valenten Visited 222 times, 4 visit(s) today Post Views: 411 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Saya sering melihat tokoh agama di televisi yang bersalaman dengan wanita yang bukan mahram. Setahu saya tidak diperbolehkan bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Tapi yang membuat saya heran mengapa para tokoh agama tersebut melakukannya? Yang saya ingin tanyakan, kira-kira mereka mengikuti pendapat madzhab apa? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Lelaki bersentuhan atau bersalaman dengan wanita nonmahram jelas tidak diperbolehkan. Berdasarkan hadits dari Ma’qal bin Yasar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لأنْ يطعنَ في رأسِ أحدِكُمْ بمِخيطٍ منْ حديدٍ خيرٌ لهُ منْ أنْ يمسَّ امرأةً لا تحلُّ لهُ “Andai kepala seseorang di antara kalian ditusuk dengan jarum besi itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal” (HR. Ar Ruyani dalam Musnadnya no.1283, Ath Thabrani no.486, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no.5045). Dalam hadits dari Umaimah binti Raqiqah radhiyallahu’anha, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: إني لا أُصافِحُ النِّساءَ “Sungguh aku tidak bersalaman dengan wanita” (HR. An-Nasa’i no. 4192, dishahihkan al-Albani dalam Shahih An Nasa’i). Namun para ulama berbeda pendapat mengenai bersalaman dengan wanita yang sudah tua renta. Sebagian ulama melarang secara mutlak bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram, baik masih muda ataupun sudah tua renta. Berdasarkan keumuman hadits-hadits yang melarang bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Lelaki bersalaman dengan wanita hukumnya tidak diperbolehkan, baik ia tua renta ataupun masih muda. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: “Sungguh aku tidak bersalaman dengan wanita” (HR. An Nasa’i). Ketika datang kepada beliau para wanita untuk berbai’at dan mereka menyodorkan tangan untuk bersalaman, beliau bersabda: ‘Sungguh aku tidak bersalaman dengan wanita‘. Dan ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata: والله ما مسَّت يدُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يدَ امرأةٍ قطُّ , ما كان يُبايعْهن إلا بالكلامِ “Demi Allah, tangan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan wanita, ketika membai’at beliau membai’at dengan perkataan saja” (HR. al-Bukhari no.5288, Muslim no.1866). Yang dimaksud Aisyah di sini adalah, kepada wanita yang bukan mahram Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau tidak bersalaman. Adapun dengan wanita yang merupakan mahramnya, maka tidak mengapa. Seperti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan Fathimah, dan bersalaman dengan para mahramnya. Dan tidak masalah seorang lelaki bersalaman dengan istrinya, saudarinya, bibinya, dan seluruh wanita yang merupakan mahramnya. Yang terlarang adalah bersalaman dengan wanita ajnabiyah (bukan mahram) semisal istri dari saudaranya, atau saudari dari istrinya, dan para wanita selainnya. Ini tidak diperbolehkan. Tidak diperbolehkan kepada wanita tua renta, ataupun wanita muda, ini pendapat yang tepat. Baik dilakukan dengan penghalang, walaupun ia memakai sesuatu di tangannya, maka hendaknya ia tidak bersalaman secara mutlak. Karena bersalaman dengan penghalang itu adalah wasilah kepada bersalaman lain yang tanpa penghalang” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 247/4). Sebagian ulama membolehkan bersalaman dengan lawan jenis yang sudah tua renta yang sudah tidak memiliki syahwat (menopause), dengan syarat aman dari fitnah. Karena illah larangan bersalaman adalah dikhawatirkan terjadi fitnah, sedangkan ketika sudah menopause maka kekhawatiran tersebut tidak ada.  As Sarkhasi rahimahullah, ulama Hanafiyah, mengatakan: “Jika wanita tersebut sudah tua renta dan sudah menopause maka tidak mengapa bersalaman dengannya dan menyentuh tangannya. Sebagaimana diriwayatkan: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُصَافِحُ الْعَجَائِزَ فِي الْبَيْعَةِ وَلَا يُصَافِحُ الشَّوَابَّ وَلَكِنْ كَانَ يَضَعُ يَدَهُ فِي قَصْعَةِ مَاءٍ ثُمَّ تَضَعُ الْمَرْأَةُ يَدَهَا فِيهَا فَذَلِكَ بَيْعَتُهَا “Nabi shallallahu’alaihi wa sallam biasa bersalaman dengan wanita-wanita tua ketika membai’at, dan tidak bersalaman dengan wanita-wanita muda. Namun beliau meletakkan tangannya di mangkuk berisi air, lalu setelah itu para wanita meletakkan tangannya di mangkuk tersebut, demikianlah cara beliau membai’at wanita“ (Didhaifkan oleh Az Zaila’i dalam Nashbur Rayah, hal. 240). Namun Aisyah radhiyallahu’anha mengingkari hadits ini dengan mengatakan: مَنْ زَعَمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَسَّ امْرَأَةً أَجْنَبِيَّةً فَقَدْ أَعْظَمَ الْفِرْيَةَ عَلَيْهِ “Barang siapa mengklaim bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyentuh wanita ajnabiyyah, itu adalah kedustaan yang besar atas Beliau“. Dan diriwayatkan juga bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu ketika menjadi khalifah beliau berkunjung ke sebagian kabilah yang tertindas, kemudian beliau bersalaman dengan wanita-wanita tua di sana. Dan juga Az Zubair radhiyallahu’anhu ketika sakit di Mekkah, beliau menyewa seorang wanita tua untuk menjadi perawatnya, perawat tersebut biasa menyelimuti kaki beliau dan membersihkan kepala beliau. Dan juga karena diharamkannya bersalaman itu illah-nya adalah kekhawatiran terjadi fitnah. Jika wanita sudah menopause maka kekhawatiran terjadi fitnah sudah tidak ada. Demikian juga lelaki yang sudah tua renta yang merasa aman dari fitnah syahwat, boleh baginya bersalaman dengan wanita. Namun jika ia tidak merasa aman dari fitnah syahwat maka tidak boleh bersalaman, karena ini mengantarkannya kepada fitnah” (Al-Mabsuth, 10/154). Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengatakan, “Jika dapat dipastikan wanita tersebut sudah renta dan menopause, maka dalam keadaan ini tidak mengapa (bersalaman). Namun jika masih diragukan dan belum bisa dipastikan, maka kembali pada kaidah sadd adz dzari’ah dan menerapkannya” (Al Hawi fi Fatawa al-Albani, 2/130). Adapun menyentuh dan bersalaman dengan wanita nonmahram yang belum tua renta, maka tidak ada khilaf di antara ulama tentang haramnya. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah disebutkan: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang terlarangnya menyentuh wajah dan telapak tangan wanita nonmahram. Walaupun tidak terdapat syahwat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:  من مسَّ كفَّ امرأةٍ ليس منها بسبيلٍ وُضِع على كفِّه جمرةٌ يومَ القيامةِ “Siapa yang menyentuh tangan wanita yang tidak halal, Allah akan taruh pada tangannya bara api neraka di hari Kiamat” (Disebutkan oleh Az Zaila’i dalam Nashbur Rayah [4/420], dan beliau berkata: “gharib”). Karena tidak adanya kondisi darurat untuk menyentuh wajah dan telapak tangan wanita nonmahram. Berbeda dengan memandang, dibolehkan (oleh sebagian ulama) untuk memandang wajah dan telapak tangan wanita nonmahram untuk mencegah kesulitan. Sedangkan tidak ada kesulitan jika tidak menyentuh wanita nonmahram. Maka hukum haram tetap berlaku. Ini jika wanita yang dimaksud adalah wanita nonmahram yang masih belum tua. Adapun jika wanita tersebut sudah tua renta, maka tidak mengapa bersalaman dengannya dan menyentuh tangannya. Karena tidak ada kekhawatiran adanya godaan di sana. Ini ditegaskan oleh penulis kitab al-Hidayah dari madzhab Hanafi. Dan juga salah satu pendapat dalam madzhab Hanabilah. Dengan syarat selama aman dari fitnah (godaan). Adapun Malikiyah dan Syafi’iyah mengharamkan menyentuh wanita nonmahram secara mutlak tanpa membedakan muda dan tua”. (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 29/296). Namun memang sungguh disayangkan, di zaman ini sebagian orang yang tidak mau bersentuhan dengan wanita nonmahram (yang belum tua) justru dianggap aneh dan ekstrem. Padahal itu kesepakatan semua ulama madzhab. Sedangkan tokoh agama yang bersalaman dengan wanita nonmahram justru dianggap bijak, toleran, dan moderat. Padahal itu kekeliruan dan penyimpangan serta tidak ada ulama yang membolehkannya.  Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan. Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Dalil Puasa Nisfu Sya Ban, Apa Itu Jil, Istri Al Mahdi, Cara Memuaskan Suami Diranjang Secara Islami, Doa Mandi Wajib Bagi Wanita, Hari Valenten Visited 222 times, 4 visit(s) today Post Views: 411 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1414646674&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Saya sering melihat tokoh agama di televisi yang bersalaman dengan wanita yang bukan mahram. Setahu saya tidak diperbolehkan bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Tapi yang membuat saya heran mengapa para tokoh agama tersebut melakukannya? Yang saya ingin tanyakan, kira-kira mereka mengikuti pendapat madzhab apa? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Lelaki bersentuhan atau bersalaman dengan wanita nonmahram jelas tidak diperbolehkan. Berdasarkan hadits dari Ma’qal bin Yasar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لأنْ يطعنَ في رأسِ أحدِكُمْ بمِخيطٍ منْ حديدٍ خيرٌ لهُ منْ أنْ يمسَّ امرأةً لا تحلُّ لهُ “Andai kepala seseorang di antara kalian ditusuk dengan jarum besi itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal” (HR. Ar Ruyani dalam Musnadnya no.1283, Ath Thabrani no.486, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no.5045). Dalam hadits dari Umaimah binti Raqiqah radhiyallahu’anha, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: إني لا أُصافِحُ النِّساءَ “Sungguh aku tidak bersalaman dengan wanita” (HR. An-Nasa’i no. 4192, dishahihkan al-Albani dalam Shahih An Nasa’i). Namun para ulama berbeda pendapat mengenai bersalaman dengan wanita yang sudah tua renta. Sebagian ulama melarang secara mutlak bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram, baik masih muda ataupun sudah tua renta. Berdasarkan keumuman hadits-hadits yang melarang bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Lelaki bersalaman dengan wanita hukumnya tidak diperbolehkan, baik ia tua renta ataupun masih muda. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: “Sungguh aku tidak bersalaman dengan wanita” (HR. An Nasa’i). Ketika datang kepada beliau para wanita untuk berbai’at dan mereka menyodorkan tangan untuk bersalaman, beliau bersabda: ‘Sungguh aku tidak bersalaman dengan wanita‘. Dan ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata: والله ما مسَّت يدُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يدَ امرأةٍ قطُّ , ما كان يُبايعْهن إلا بالكلامِ “Demi Allah, tangan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan wanita, ketika membai’at beliau membai’at dengan perkataan saja” (HR. al-Bukhari no.5288, Muslim no.1866). Yang dimaksud Aisyah di sini adalah, kepada wanita yang bukan mahram Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau tidak bersalaman. Adapun dengan wanita yang merupakan mahramnya, maka tidak mengapa. Seperti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan Fathimah, dan bersalaman dengan para mahramnya. Dan tidak masalah seorang lelaki bersalaman dengan istrinya, saudarinya, bibinya, dan seluruh wanita yang merupakan mahramnya. Yang terlarang adalah bersalaman dengan wanita ajnabiyah (bukan mahram) semisal istri dari saudaranya, atau saudari dari istrinya, dan para wanita selainnya. Ini tidak diperbolehkan. Tidak diperbolehkan kepada wanita tua renta, ataupun wanita muda, ini pendapat yang tepat. Baik dilakukan dengan penghalang, walaupun ia memakai sesuatu di tangannya, maka hendaknya ia tidak bersalaman secara mutlak. Karena bersalaman dengan penghalang itu adalah wasilah kepada bersalaman lain yang tanpa penghalang” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 247/4). Sebagian ulama membolehkan bersalaman dengan lawan jenis yang sudah tua renta yang sudah tidak memiliki syahwat (menopause), dengan syarat aman dari fitnah. Karena illah larangan bersalaman adalah dikhawatirkan terjadi fitnah, sedangkan ketika sudah menopause maka kekhawatiran tersebut tidak ada.  As Sarkhasi rahimahullah, ulama Hanafiyah, mengatakan: “Jika wanita tersebut sudah tua renta dan sudah menopause maka tidak mengapa bersalaman dengannya dan menyentuh tangannya. Sebagaimana diriwayatkan: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُصَافِحُ الْعَجَائِزَ فِي الْبَيْعَةِ وَلَا يُصَافِحُ الشَّوَابَّ وَلَكِنْ كَانَ يَضَعُ يَدَهُ فِي قَصْعَةِ مَاءٍ ثُمَّ تَضَعُ الْمَرْأَةُ يَدَهَا فِيهَا فَذَلِكَ بَيْعَتُهَا “Nabi shallallahu’alaihi wa sallam biasa bersalaman dengan wanita-wanita tua ketika membai’at, dan tidak bersalaman dengan wanita-wanita muda. Namun beliau meletakkan tangannya di mangkuk berisi air, lalu setelah itu para wanita meletakkan tangannya di mangkuk tersebut, demikianlah cara beliau membai’at wanita“ (Didhaifkan oleh Az Zaila’i dalam Nashbur Rayah, hal. 240). Namun Aisyah radhiyallahu’anha mengingkari hadits ini dengan mengatakan: مَنْ زَعَمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَسَّ امْرَأَةً أَجْنَبِيَّةً فَقَدْ أَعْظَمَ الْفِرْيَةَ عَلَيْهِ “Barang siapa mengklaim bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyentuh wanita ajnabiyyah, itu adalah kedustaan yang besar atas Beliau“. Dan diriwayatkan juga bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu ketika menjadi khalifah beliau berkunjung ke sebagian kabilah yang tertindas, kemudian beliau bersalaman dengan wanita-wanita tua di sana. Dan juga Az Zubair radhiyallahu’anhu ketika sakit di Mekkah, beliau menyewa seorang wanita tua untuk menjadi perawatnya, perawat tersebut biasa menyelimuti kaki beliau dan membersihkan kepala beliau. Dan juga karena diharamkannya bersalaman itu illah-nya adalah kekhawatiran terjadi fitnah. Jika wanita sudah menopause maka kekhawatiran terjadi fitnah sudah tidak ada. Demikian juga lelaki yang sudah tua renta yang merasa aman dari fitnah syahwat, boleh baginya bersalaman dengan wanita. Namun jika ia tidak merasa aman dari fitnah syahwat maka tidak boleh bersalaman, karena ini mengantarkannya kepada fitnah” (Al-Mabsuth, 10/154). Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengatakan, “Jika dapat dipastikan wanita tersebut sudah renta dan menopause, maka dalam keadaan ini tidak mengapa (bersalaman). Namun jika masih diragukan dan belum bisa dipastikan, maka kembali pada kaidah sadd adz dzari’ah dan menerapkannya” (Al Hawi fi Fatawa al-Albani, 2/130). Adapun menyentuh dan bersalaman dengan wanita nonmahram yang belum tua renta, maka tidak ada khilaf di antara ulama tentang haramnya. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah disebutkan: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang terlarangnya menyentuh wajah dan telapak tangan wanita nonmahram. Walaupun tidak terdapat syahwat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:  من مسَّ كفَّ امرأةٍ ليس منها بسبيلٍ وُضِع على كفِّه جمرةٌ يومَ القيامةِ “Siapa yang menyentuh tangan wanita yang tidak halal, Allah akan taruh pada tangannya bara api neraka di hari Kiamat” (Disebutkan oleh Az Zaila’i dalam Nashbur Rayah [4/420], dan beliau berkata: “gharib”). Karena tidak adanya kondisi darurat untuk menyentuh wajah dan telapak tangan wanita nonmahram. Berbeda dengan memandang, dibolehkan (oleh sebagian ulama) untuk memandang wajah dan telapak tangan wanita nonmahram untuk mencegah kesulitan. Sedangkan tidak ada kesulitan jika tidak menyentuh wanita nonmahram. Maka hukum haram tetap berlaku. Ini jika wanita yang dimaksud adalah wanita nonmahram yang masih belum tua. Adapun jika wanita tersebut sudah tua renta, maka tidak mengapa bersalaman dengannya dan menyentuh tangannya. Karena tidak ada kekhawatiran adanya godaan di sana. Ini ditegaskan oleh penulis kitab al-Hidayah dari madzhab Hanafi. Dan juga salah satu pendapat dalam madzhab Hanabilah. Dengan syarat selama aman dari fitnah (godaan). Adapun Malikiyah dan Syafi’iyah mengharamkan menyentuh wanita nonmahram secara mutlak tanpa membedakan muda dan tua”. (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 29/296). Namun memang sungguh disayangkan, di zaman ini sebagian orang yang tidak mau bersentuhan dengan wanita nonmahram (yang belum tua) justru dianggap aneh dan ekstrem. Padahal itu kesepakatan semua ulama madzhab. Sedangkan tokoh agama yang bersalaman dengan wanita nonmahram justru dianggap bijak, toleran, dan moderat. Padahal itu kekeliruan dan penyimpangan serta tidak ada ulama yang membolehkannya.  Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan. Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Dalil Puasa Nisfu Sya Ban, Apa Itu Jil, Istri Al Mahdi, Cara Memuaskan Suami Diranjang Secara Islami, Doa Mandi Wajib Bagi Wanita, Hari Valenten Visited 222 times, 4 visit(s) today Post Views: 411 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Jika Sakit Pilih Mana: Bersabar atau Berobat? – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Ahsanallahu ilaikum. Penanya berkata:“Dulu ada wanita yang terkena ayan sehingga auratnya tersingkap,lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkannya untuk bersabar. Apakah dari sini dapat dipahami bahwa bersabar atas penyakitlebih baik daripada berusaha untuk berobat dan berdoa memohon kesembuhan?”Berusaha mengobati penyakit tidaklah wajib. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Berobatlah …”“Berobatlah, wahai Hamba-Hamba Allah!”Yakni beliau memberi dorongan untuk berobat. Oleh sebab itu, hukum berobat adalah sunah.Sebagian ulama berpendapat bahwa itu adalah wajib.Sebagian ulama berpendapat wajibnya berobat. Namun, seseorang disunahkan untuk berobat dengan sesuatu yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesembuhannya.Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Berobatlah, wahai Hamba-Hamba Allah! Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkanDia juga menurunkan obatnya; ada orang yang mengetahui obat itu, dan ada juga yang tidak.” Wanita ini dahulu mengidap penyakit ayan, hingga auratnya tersingkap (saat kambuh).Lalu Nabi bersabda, “Kamu mau bersabar sehingga bagimu surga?”Ia menjawab, “Aku mau bersabar, tetapi auratku jadi tersingkap,maka doakanlah aku agar auratku tidak tersingkap lagi.” “Doakanlah aku agar auratku tidak tersingkap lagi.”Tersingkapnya aurat dari wanita initerjadi ketika penyakit ayannya kambuh. Jadi, apakah ia berdosa?Apakah ia berdosa? Ia mengidap ayan, ia dalam keadaan tidak sadar.Sehingga ia tidak berdosa, dan Allah tidak akan menghukumnya atas sesuatu yang tidak ia sadari, dalam keadaan ayan. Kendati demikian ia meminta, “Doakanlah aku agar auratku tidak tersingkap lagi.”“Berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.” Dan subhanallah!Terdapat bentuk “ayan” lainyang dialami oleh banyak wanita,yaitu wanita yang terkena “ayan syahwat dan hawa nafsu.” Terkena “ayan syahwat dan hawa nafsu.” Ketika wanita terkena ayan jenis ini,wanita itu akan menampakkan auratnya, tanpa … Apa?Tanpa peduli (dengan auratnya), dan tidak takut terhadap siksaan Allah,serta tidak terpikir sama sekali tentang auratnya ini, karena ia terkena “ayan hawa nafsu”. Ayan jenis ini sangat berbahaya.Jika wanita terkena ayan ini, maka kamu akan mendapatinya tersingkap auratnya tanpa peduli. Adapun wanita di zaman Nabi ini tersingkap auratnya akibat penyakit ayan yang diidapnya,ia tetap meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar auratnya tidak tersingkap. Setelah Nabi mendoakannya, saat penyakit ayannya kambuh, auratnya tidak lagi tersingkap.Padahal wanita itu tidak akan dihisab atas tersingkapnya aurat itu. Lalu bagaimana dengan wanita yang menyingkap auratnyadengan sadar dan sengaja, tanpa mempedulikannya?! Juga tidak takut terhadap pertemuan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak.Kita memohon keselamatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ السَّائِلُ الْمَرْأَةُ الَّتِي كَانَتْ تُصْرَعُ وَتَتَكَشَّفُ فَأَرْشَدَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّبْرِ هَلْ يُفْهَمُ مِنْ هَذَا أَنَّ الصَّبْرَ عَلَى الْمَرَضِ أَفْضَلُ مِنَ السَّعْيِ فِي الْعِلَاجِ وَالدُّعَاءِ بِذَلِكَ؟ السَّعْيُ فِي الْعِلَاجِ لَيْسَ بِوَاجِبٍ لَكِنْ قَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَدَاوَوْا تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ يَعْنِي رَغَّبَ فِي الدَّوَاءِ وَلِهَذَا فَإِنَّ التَّدَاوِي هُوَ مُسْتَحَبٌّ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ بِوُجُوبِهِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ بِوُجُوبِهِ لَكِنْ يُسْتَحَبُّ لِلْمَرْءِ أَنْ يَتَدَاوَى بِمَا يَرْجُو أَنْ يَكُونَ فِيهِ نَفْعًا لَهُ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ دَوَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ وَهَذِه الْمَرْأَةُ كَانَتْ تُصَابُ بِالصَّرْعِ وَتَتَكَشَّفُ فَقَالَ تَصْبِرِيْنَ وَلَكِ الْجَنَّةُ؟ قَالَتْ أَصْبِرُ لَكِنَّنِي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ فَادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ التَّكَشُّفُ الَّذِي يَحْصُلُ مِنْ هَذِهِ الْمَرْأَةِ هُوَ وَقْتُ الصَّرْعِ فَهَلْ هِيَ آثِمَةٌ؟ هَلْ هِيَ آثِمَةٌ؟ هِيَ مُصَابَةٌ بِالصَّرْعِ مَا تَدْرِي أَصْلًا فَلَيْسَتْ آثِمَةً وَلَا يُعَاقِبُهَا اللهُ عَلَى شَيْءٍ يَكُونُ مَا تَشْعُرُ بِهِ مَصْرُوْعَةً لَكِنْ مَعَ ذَلِكَ تَقُولُ ادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ ادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ فَسُبْحَانَ اللهِ هُنَاكَ نَوْعٌ مِنَ الصَّرْعِ تُصَابُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النِّسَاءِ وَهُوَ أَنْ تَكُونَ صَرِيْعَةَ الشَّهَوَاتِ وَالْأَهْوَاءِ تَكُونُ صَرِيْعَةَ الشَّهَوَاتِ وَالْأَهْوَاءِ فَإِذَا أُصِيبَتْ بِهَذَا الصَّرْعِ تَتَكَشَّفُ وَلَا مَاذَا؟ وَلَا تُبَالِي وَلَا تَخَافُ مِنْ عُقُوبَةِ اللهِ وَلَا تُفَكِّرُ أَصْلًا فِي هَذَا الْأَمْرِ لِأَنَّهَا صَرِيْعَةُ الشَّهَوَةِ وَهَذَا النَّوْعُ مِنَ الصَّرْعِ خَطِيْرٌ جِدًّا إِذَا أَصَابَ الْمَرْأَةَ تَجِدُ تَتَكَشَّفُ وَلَا تُبَالِي هَذِهِ تَتَكَشَّفُ مَصْرُوْعَةً بِالْمَرَضِ الَّذِي أَصَابَهَا وَتَطْلُبُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَّا تَتَكَشَّفَ وَأَصْبَحَتْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ تُصَابُ بِالصَّرْعِ وَلَا تَتَكَشَّفُ وَذَاكَ التَّكَشُّفُ لَمْ تَكُنْ مُحَاسَبَةً عَلَيْهِ فَكَيْفَ بِالَّتِي تَتَكَشَّفُ عَمْدًا قَاصِدَةً وَلَا تُبَالِي وَلَا تَخَافُ مِنْ لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ الْعَافِيَةَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jika Sakit Pilih Mana: Bersabar atau Berobat? – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Ahsanallahu ilaikum. Penanya berkata:“Dulu ada wanita yang terkena ayan sehingga auratnya tersingkap,lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkannya untuk bersabar. Apakah dari sini dapat dipahami bahwa bersabar atas penyakitlebih baik daripada berusaha untuk berobat dan berdoa memohon kesembuhan?”Berusaha mengobati penyakit tidaklah wajib. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Berobatlah …”“Berobatlah, wahai Hamba-Hamba Allah!”Yakni beliau memberi dorongan untuk berobat. Oleh sebab itu, hukum berobat adalah sunah.Sebagian ulama berpendapat bahwa itu adalah wajib.Sebagian ulama berpendapat wajibnya berobat. Namun, seseorang disunahkan untuk berobat dengan sesuatu yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesembuhannya.Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Berobatlah, wahai Hamba-Hamba Allah! Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkanDia juga menurunkan obatnya; ada orang yang mengetahui obat itu, dan ada juga yang tidak.” Wanita ini dahulu mengidap penyakit ayan, hingga auratnya tersingkap (saat kambuh).Lalu Nabi bersabda, “Kamu mau bersabar sehingga bagimu surga?”Ia menjawab, “Aku mau bersabar, tetapi auratku jadi tersingkap,maka doakanlah aku agar auratku tidak tersingkap lagi.” “Doakanlah aku agar auratku tidak tersingkap lagi.”Tersingkapnya aurat dari wanita initerjadi ketika penyakit ayannya kambuh. Jadi, apakah ia berdosa?Apakah ia berdosa? Ia mengidap ayan, ia dalam keadaan tidak sadar.Sehingga ia tidak berdosa, dan Allah tidak akan menghukumnya atas sesuatu yang tidak ia sadari, dalam keadaan ayan. Kendati demikian ia meminta, “Doakanlah aku agar auratku tidak tersingkap lagi.”“Berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.” Dan subhanallah!Terdapat bentuk “ayan” lainyang dialami oleh banyak wanita,yaitu wanita yang terkena “ayan syahwat dan hawa nafsu.” Terkena “ayan syahwat dan hawa nafsu.” Ketika wanita terkena ayan jenis ini,wanita itu akan menampakkan auratnya, tanpa … Apa?Tanpa peduli (dengan auratnya), dan tidak takut terhadap siksaan Allah,serta tidak terpikir sama sekali tentang auratnya ini, karena ia terkena “ayan hawa nafsu”. Ayan jenis ini sangat berbahaya.Jika wanita terkena ayan ini, maka kamu akan mendapatinya tersingkap auratnya tanpa peduli. Adapun wanita di zaman Nabi ini tersingkap auratnya akibat penyakit ayan yang diidapnya,ia tetap meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar auratnya tidak tersingkap. Setelah Nabi mendoakannya, saat penyakit ayannya kambuh, auratnya tidak lagi tersingkap.Padahal wanita itu tidak akan dihisab atas tersingkapnya aurat itu. Lalu bagaimana dengan wanita yang menyingkap auratnyadengan sadar dan sengaja, tanpa mempedulikannya?! Juga tidak takut terhadap pertemuan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak.Kita memohon keselamatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ السَّائِلُ الْمَرْأَةُ الَّتِي كَانَتْ تُصْرَعُ وَتَتَكَشَّفُ فَأَرْشَدَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّبْرِ هَلْ يُفْهَمُ مِنْ هَذَا أَنَّ الصَّبْرَ عَلَى الْمَرَضِ أَفْضَلُ مِنَ السَّعْيِ فِي الْعِلَاجِ وَالدُّعَاءِ بِذَلِكَ؟ السَّعْيُ فِي الْعِلَاجِ لَيْسَ بِوَاجِبٍ لَكِنْ قَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَدَاوَوْا تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ يَعْنِي رَغَّبَ فِي الدَّوَاءِ وَلِهَذَا فَإِنَّ التَّدَاوِي هُوَ مُسْتَحَبٌّ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ بِوُجُوبِهِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ بِوُجُوبِهِ لَكِنْ يُسْتَحَبُّ لِلْمَرْءِ أَنْ يَتَدَاوَى بِمَا يَرْجُو أَنْ يَكُونَ فِيهِ نَفْعًا لَهُ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ دَوَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ وَهَذِه الْمَرْأَةُ كَانَتْ تُصَابُ بِالصَّرْعِ وَتَتَكَشَّفُ فَقَالَ تَصْبِرِيْنَ وَلَكِ الْجَنَّةُ؟ قَالَتْ أَصْبِرُ لَكِنَّنِي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ فَادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ التَّكَشُّفُ الَّذِي يَحْصُلُ مِنْ هَذِهِ الْمَرْأَةِ هُوَ وَقْتُ الصَّرْعِ فَهَلْ هِيَ آثِمَةٌ؟ هَلْ هِيَ آثِمَةٌ؟ هِيَ مُصَابَةٌ بِالصَّرْعِ مَا تَدْرِي أَصْلًا فَلَيْسَتْ آثِمَةً وَلَا يُعَاقِبُهَا اللهُ عَلَى شَيْءٍ يَكُونُ مَا تَشْعُرُ بِهِ مَصْرُوْعَةً لَكِنْ مَعَ ذَلِكَ تَقُولُ ادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ ادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ فَسُبْحَانَ اللهِ هُنَاكَ نَوْعٌ مِنَ الصَّرْعِ تُصَابُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النِّسَاءِ وَهُوَ أَنْ تَكُونَ صَرِيْعَةَ الشَّهَوَاتِ وَالْأَهْوَاءِ تَكُونُ صَرِيْعَةَ الشَّهَوَاتِ وَالْأَهْوَاءِ فَإِذَا أُصِيبَتْ بِهَذَا الصَّرْعِ تَتَكَشَّفُ وَلَا مَاذَا؟ وَلَا تُبَالِي وَلَا تَخَافُ مِنْ عُقُوبَةِ اللهِ وَلَا تُفَكِّرُ أَصْلًا فِي هَذَا الْأَمْرِ لِأَنَّهَا صَرِيْعَةُ الشَّهَوَةِ وَهَذَا النَّوْعُ مِنَ الصَّرْعِ خَطِيْرٌ جِدًّا إِذَا أَصَابَ الْمَرْأَةَ تَجِدُ تَتَكَشَّفُ وَلَا تُبَالِي هَذِهِ تَتَكَشَّفُ مَصْرُوْعَةً بِالْمَرَضِ الَّذِي أَصَابَهَا وَتَطْلُبُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَّا تَتَكَشَّفَ وَأَصْبَحَتْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ تُصَابُ بِالصَّرْعِ وَلَا تَتَكَشَّفُ وَذَاكَ التَّكَشُّفُ لَمْ تَكُنْ مُحَاسَبَةً عَلَيْهِ فَكَيْفَ بِالَّتِي تَتَكَشَّفُ عَمْدًا قَاصِدَةً وَلَا تُبَالِي وَلَا تَخَافُ مِنْ لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ الْعَافِيَةَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ahsanallahu ilaikum. Penanya berkata:“Dulu ada wanita yang terkena ayan sehingga auratnya tersingkap,lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkannya untuk bersabar. Apakah dari sini dapat dipahami bahwa bersabar atas penyakitlebih baik daripada berusaha untuk berobat dan berdoa memohon kesembuhan?”Berusaha mengobati penyakit tidaklah wajib. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Berobatlah …”“Berobatlah, wahai Hamba-Hamba Allah!”Yakni beliau memberi dorongan untuk berobat. Oleh sebab itu, hukum berobat adalah sunah.Sebagian ulama berpendapat bahwa itu adalah wajib.Sebagian ulama berpendapat wajibnya berobat. Namun, seseorang disunahkan untuk berobat dengan sesuatu yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesembuhannya.Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Berobatlah, wahai Hamba-Hamba Allah! Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkanDia juga menurunkan obatnya; ada orang yang mengetahui obat itu, dan ada juga yang tidak.” Wanita ini dahulu mengidap penyakit ayan, hingga auratnya tersingkap (saat kambuh).Lalu Nabi bersabda, “Kamu mau bersabar sehingga bagimu surga?”Ia menjawab, “Aku mau bersabar, tetapi auratku jadi tersingkap,maka doakanlah aku agar auratku tidak tersingkap lagi.” “Doakanlah aku agar auratku tidak tersingkap lagi.”Tersingkapnya aurat dari wanita initerjadi ketika penyakit ayannya kambuh. Jadi, apakah ia berdosa?Apakah ia berdosa? Ia mengidap ayan, ia dalam keadaan tidak sadar.Sehingga ia tidak berdosa, dan Allah tidak akan menghukumnya atas sesuatu yang tidak ia sadari, dalam keadaan ayan. Kendati demikian ia meminta, “Doakanlah aku agar auratku tidak tersingkap lagi.”“Berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.” Dan subhanallah!Terdapat bentuk “ayan” lainyang dialami oleh banyak wanita,yaitu wanita yang terkena “ayan syahwat dan hawa nafsu.” Terkena “ayan syahwat dan hawa nafsu.” Ketika wanita terkena ayan jenis ini,wanita itu akan menampakkan auratnya, tanpa … Apa?Tanpa peduli (dengan auratnya), dan tidak takut terhadap siksaan Allah,serta tidak terpikir sama sekali tentang auratnya ini, karena ia terkena “ayan hawa nafsu”. Ayan jenis ini sangat berbahaya.Jika wanita terkena ayan ini, maka kamu akan mendapatinya tersingkap auratnya tanpa peduli. Adapun wanita di zaman Nabi ini tersingkap auratnya akibat penyakit ayan yang diidapnya,ia tetap meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar auratnya tidak tersingkap. Setelah Nabi mendoakannya, saat penyakit ayannya kambuh, auratnya tidak lagi tersingkap.Padahal wanita itu tidak akan dihisab atas tersingkapnya aurat itu. Lalu bagaimana dengan wanita yang menyingkap auratnyadengan sadar dan sengaja, tanpa mempedulikannya?! Juga tidak takut terhadap pertemuan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak.Kita memohon keselamatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ السَّائِلُ الْمَرْأَةُ الَّتِي كَانَتْ تُصْرَعُ وَتَتَكَشَّفُ فَأَرْشَدَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّبْرِ هَلْ يُفْهَمُ مِنْ هَذَا أَنَّ الصَّبْرَ عَلَى الْمَرَضِ أَفْضَلُ مِنَ السَّعْيِ فِي الْعِلَاجِ وَالدُّعَاءِ بِذَلِكَ؟ السَّعْيُ فِي الْعِلَاجِ لَيْسَ بِوَاجِبٍ لَكِنْ قَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَدَاوَوْا تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ يَعْنِي رَغَّبَ فِي الدَّوَاءِ وَلِهَذَا فَإِنَّ التَّدَاوِي هُوَ مُسْتَحَبٌّ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ بِوُجُوبِهِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ بِوُجُوبِهِ لَكِنْ يُسْتَحَبُّ لِلْمَرْءِ أَنْ يَتَدَاوَى بِمَا يَرْجُو أَنْ يَكُونَ فِيهِ نَفْعًا لَهُ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ دَوَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ وَهَذِه الْمَرْأَةُ كَانَتْ تُصَابُ بِالصَّرْعِ وَتَتَكَشَّفُ فَقَالَ تَصْبِرِيْنَ وَلَكِ الْجَنَّةُ؟ قَالَتْ أَصْبِرُ لَكِنَّنِي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ فَادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ التَّكَشُّفُ الَّذِي يَحْصُلُ مِنْ هَذِهِ الْمَرْأَةِ هُوَ وَقْتُ الصَّرْعِ فَهَلْ هِيَ آثِمَةٌ؟ هَلْ هِيَ آثِمَةٌ؟ هِيَ مُصَابَةٌ بِالصَّرْعِ مَا تَدْرِي أَصْلًا فَلَيْسَتْ آثِمَةً وَلَا يُعَاقِبُهَا اللهُ عَلَى شَيْءٍ يَكُونُ مَا تَشْعُرُ بِهِ مَصْرُوْعَةً لَكِنْ مَعَ ذَلِكَ تَقُولُ ادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ ادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ فَسُبْحَانَ اللهِ هُنَاكَ نَوْعٌ مِنَ الصَّرْعِ تُصَابُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النِّسَاءِ وَهُوَ أَنْ تَكُونَ صَرِيْعَةَ الشَّهَوَاتِ وَالْأَهْوَاءِ تَكُونُ صَرِيْعَةَ الشَّهَوَاتِ وَالْأَهْوَاءِ فَإِذَا أُصِيبَتْ بِهَذَا الصَّرْعِ تَتَكَشَّفُ وَلَا مَاذَا؟ وَلَا تُبَالِي وَلَا تَخَافُ مِنْ عُقُوبَةِ اللهِ وَلَا تُفَكِّرُ أَصْلًا فِي هَذَا الْأَمْرِ لِأَنَّهَا صَرِيْعَةُ الشَّهَوَةِ وَهَذَا النَّوْعُ مِنَ الصَّرْعِ خَطِيْرٌ جِدًّا إِذَا أَصَابَ الْمَرْأَةَ تَجِدُ تَتَكَشَّفُ وَلَا تُبَالِي هَذِهِ تَتَكَشَّفُ مَصْرُوْعَةً بِالْمَرَضِ الَّذِي أَصَابَهَا وَتَطْلُبُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَّا تَتَكَشَّفَ وَأَصْبَحَتْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ تُصَابُ بِالصَّرْعِ وَلَا تَتَكَشَّفُ وَذَاكَ التَّكَشُّفُ لَمْ تَكُنْ مُحَاسَبَةً عَلَيْهِ فَكَيْفَ بِالَّتِي تَتَكَشَّفُ عَمْدًا قَاصِدَةً وَلَا تُبَالِي وَلَا تَخَافُ مِنْ لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ الْعَافِيَةَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ahsanallahu ilaikum. Penanya berkata:“Dulu ada wanita yang terkena ayan sehingga auratnya tersingkap,lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkannya untuk bersabar. Apakah dari sini dapat dipahami bahwa bersabar atas penyakitlebih baik daripada berusaha untuk berobat dan berdoa memohon kesembuhan?”Berusaha mengobati penyakit tidaklah wajib. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Berobatlah …”“Berobatlah, wahai Hamba-Hamba Allah!”Yakni beliau memberi dorongan untuk berobat. Oleh sebab itu, hukum berobat adalah sunah.Sebagian ulama berpendapat bahwa itu adalah wajib.Sebagian ulama berpendapat wajibnya berobat. Namun, seseorang disunahkan untuk berobat dengan sesuatu yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesembuhannya.Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Berobatlah, wahai Hamba-Hamba Allah! Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkanDia juga menurunkan obatnya; ada orang yang mengetahui obat itu, dan ada juga yang tidak.” Wanita ini dahulu mengidap penyakit ayan, hingga auratnya tersingkap (saat kambuh).Lalu Nabi bersabda, “Kamu mau bersabar sehingga bagimu surga?”Ia menjawab, “Aku mau bersabar, tetapi auratku jadi tersingkap,maka doakanlah aku agar auratku tidak tersingkap lagi.” “Doakanlah aku agar auratku tidak tersingkap lagi.”Tersingkapnya aurat dari wanita initerjadi ketika penyakit ayannya kambuh. Jadi, apakah ia berdosa?Apakah ia berdosa? Ia mengidap ayan, ia dalam keadaan tidak sadar.Sehingga ia tidak berdosa, dan Allah tidak akan menghukumnya atas sesuatu yang tidak ia sadari, dalam keadaan ayan. Kendati demikian ia meminta, “Doakanlah aku agar auratku tidak tersingkap lagi.”“Berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.” Dan subhanallah!Terdapat bentuk “ayan” lainyang dialami oleh banyak wanita,yaitu wanita yang terkena “ayan syahwat dan hawa nafsu.” Terkena “ayan syahwat dan hawa nafsu.” Ketika wanita terkena ayan jenis ini,wanita itu akan menampakkan auratnya, tanpa … Apa?Tanpa peduli (dengan auratnya), dan tidak takut terhadap siksaan Allah,serta tidak terpikir sama sekali tentang auratnya ini, karena ia terkena “ayan hawa nafsu”. Ayan jenis ini sangat berbahaya.Jika wanita terkena ayan ini, maka kamu akan mendapatinya tersingkap auratnya tanpa peduli. Adapun wanita di zaman Nabi ini tersingkap auratnya akibat penyakit ayan yang diidapnya,ia tetap meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar auratnya tidak tersingkap. Setelah Nabi mendoakannya, saat penyakit ayannya kambuh, auratnya tidak lagi tersingkap.Padahal wanita itu tidak akan dihisab atas tersingkapnya aurat itu. Lalu bagaimana dengan wanita yang menyingkap auratnyadengan sadar dan sengaja, tanpa mempedulikannya?! Juga tidak takut terhadap pertemuan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak.Kita memohon keselamatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ السَّائِلُ الْمَرْأَةُ الَّتِي كَانَتْ تُصْرَعُ وَتَتَكَشَّفُ فَأَرْشَدَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّبْرِ هَلْ يُفْهَمُ مِنْ هَذَا أَنَّ الصَّبْرَ عَلَى الْمَرَضِ أَفْضَلُ مِنَ السَّعْيِ فِي الْعِلَاجِ وَالدُّعَاءِ بِذَلِكَ؟ السَّعْيُ فِي الْعِلَاجِ لَيْسَ بِوَاجِبٍ لَكِنْ قَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَدَاوَوْا تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ يَعْنِي رَغَّبَ فِي الدَّوَاءِ وَلِهَذَا فَإِنَّ التَّدَاوِي هُوَ مُسْتَحَبٌّ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ بِوُجُوبِهِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ بِوُجُوبِهِ لَكِنْ يُسْتَحَبُّ لِلْمَرْءِ أَنْ يَتَدَاوَى بِمَا يَرْجُو أَنْ يَكُونَ فِيهِ نَفْعًا لَهُ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ دَوَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ وَهَذِه الْمَرْأَةُ كَانَتْ تُصَابُ بِالصَّرْعِ وَتَتَكَشَّفُ فَقَالَ تَصْبِرِيْنَ وَلَكِ الْجَنَّةُ؟ قَالَتْ أَصْبِرُ لَكِنَّنِي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ فَادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ التَّكَشُّفُ الَّذِي يَحْصُلُ مِنْ هَذِهِ الْمَرْأَةِ هُوَ وَقْتُ الصَّرْعِ فَهَلْ هِيَ آثِمَةٌ؟ هَلْ هِيَ آثِمَةٌ؟ هِيَ مُصَابَةٌ بِالصَّرْعِ مَا تَدْرِي أَصْلًا فَلَيْسَتْ آثِمَةً وَلَا يُعَاقِبُهَا اللهُ عَلَى شَيْءٍ يَكُونُ مَا تَشْعُرُ بِهِ مَصْرُوْعَةً لَكِنْ مَعَ ذَلِكَ تَقُولُ ادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ ادْعُ اللهَ أَلَّا أَتَكَشَّفَ فَسُبْحَانَ اللهِ هُنَاكَ نَوْعٌ مِنَ الصَّرْعِ تُصَابُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النِّسَاءِ وَهُوَ أَنْ تَكُونَ صَرِيْعَةَ الشَّهَوَاتِ وَالْأَهْوَاءِ تَكُونُ صَرِيْعَةَ الشَّهَوَاتِ وَالْأَهْوَاءِ فَإِذَا أُصِيبَتْ بِهَذَا الصَّرْعِ تَتَكَشَّفُ وَلَا مَاذَا؟ وَلَا تُبَالِي وَلَا تَخَافُ مِنْ عُقُوبَةِ اللهِ وَلَا تُفَكِّرُ أَصْلًا فِي هَذَا الْأَمْرِ لِأَنَّهَا صَرِيْعَةُ الشَّهَوَةِ وَهَذَا النَّوْعُ مِنَ الصَّرْعِ خَطِيْرٌ جِدًّا إِذَا أَصَابَ الْمَرْأَةَ تَجِدُ تَتَكَشَّفُ وَلَا تُبَالِي هَذِهِ تَتَكَشَّفُ مَصْرُوْعَةً بِالْمَرَضِ الَّذِي أَصَابَهَا وَتَطْلُبُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَّا تَتَكَشَّفَ وَأَصْبَحَتْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ تُصَابُ بِالصَّرْعِ وَلَا تَتَكَشَّفُ وَذَاكَ التَّكَشُّفُ لَمْ تَكُنْ مُحَاسَبَةً عَلَيْهِ فَكَيْفَ بِالَّتِي تَتَكَشَّفُ عَمْدًا قَاصِدَةً وَلَا تُبَالِي وَلَا تَخَافُ مِنْ لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ الْعَافِيَةَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Keselamatan dan Ketenangan Hidup dengan Sifat Taghaful

Pertanyaan: Mohon penjelasannya tentang sifat taghaful. Apa yang dimaksud dengan taghaful? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Taghaful secara bahasa artinya pura-pura tidak tahu. Dalam Mu’jam Al Wasith disebutkan: تَغَافَلَ أَرى من نفسه أَنه غَافلٌ وليس به غفلة “Taghafal artinya menampakkan kepada orang lain seolah-olah dirinya tidak tahu, padahal tidak demikian”. Tentu saja, pura-pura tidak tahu itu ada yang terpuji dan ada yang tercela. Namun para ulama ketika menyebutkan sifat taghaful, yang mereka maksud adalah pura-pura tidak tahu yang terpuji. Para ulama menyebutkan bahwa sifat taghaful adalah akhlak mulia. Sifat taghaful yang dimaksud para ulama di atas adalah dengan melakukan tiga perkara: 1. Tidak mencari-cari kesalahan orang lain yang belum diketahui 2. Memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain yang telah berlalu 3. Memaklumi kekeliruan anak kecil, serta orang yang jahil dan awam Ibnu Azraq rahimahullah juga menyebutkan: إن من السخاء والكرم ترك التجني، وترك البحث عن باطن الغيوب، والإمساك عن ذكر العيوب، كما أن من تمام الفضائل الصفح عن التوبيخ، وإكرام الكريم والبشر فب اللقاء ورد التحية، والتغافل عن خطأ الجاهل “Bentuk kedermawanan dan sifat murah hati adalah: Tidak suka mudah menuduh orang berbuat buruk Tidak suka mencari-cari kesalahan yang tersembunyi Menahan diri untuk tidak menyebutkan aib-aib orang lain Demikian juga, bentuk kesempurnaan akhlak seseorang adalah: Berpaling dari para pencela Suka memuliakan orang yang mulia Berwajah cerah ketika bertemu orang Suka membalas penghormatan Taghaful (memaklumi) kesalahan orang yang jahil” (Bada’i as Salak fi Thaba’i al Malak, 1/129). Di antara dalil yang menunjukkan terpujinya sifat taghaful adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا  “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allah!” (HR. Al-Bukhari, no. 6064, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tajassus dan tahassus. Tajassus itu mencari-cari kesalahan dan aib dari seorang muslim lalu mengumpulkannya. Tahassus itu mengorek-ngorek hal yang tersembunyi dari seorang muslim.  Dari Abu Barzah Al Aslami radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: يا مَعْشَرَ مَن آمن بلسانِه ولم يَدْخُلِ الإيمانُ قلبَه ، لا تغتابوا المسلمينَ ، ولا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِم ، فإنه مَن تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيه المسلمِ ، تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَه ، ومَن تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَه ، يَفْضَحْهُ ولو في جوفِ بيتِه “Wahai orang-orang yang baru beriman di lisannya, dan iman belum masuk pada hatinya. Janganlah kalian melakukan ghibah kepada sesama muslim. Dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan sesama muslim. Karena siapa yang mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menyingkap kekurangan-kekurangannya. Dan siapa yang Allah singkap kekurangan-kekurangannya, ia akan merasa malu dan terhinakan walaupun ia berada di tengah rumahnya” (HR. Abu Daud no.4880, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Allah ta’ala juga berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan maksiat itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat” (QS. An Nur: 19). Ayat ini memerintahkan kita untuk menutup aib kaum Muslimin dan tidak menyebarkannya. As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Ini adalah bentuk rahmat Allah kepada para hamba-Nya yang beriman, dan bentuk penjagaan terhadap kehormatan mereka, sebagaimana terjaganya darah dan harta mereka. Dan merupakan perintah Allah kepada kaum Mukminin untuk saling mensucikan hati. Dan saling mencintai untuk terjadi pada diri saudaranya apa yang ia cintai untuk terjadi pada dirinya” (Tafsir As Sa’di, hal. 564). Dan banyak nasehat dari para ulama agar kita berhias dengan sifat taghaful. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan: العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُلِ “Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Al Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad). Maksudnya, dengan memiliki sifat taghaful kita akan selamat dari dosa-dosa yang terjadi karena melanggar hak orang lain.  Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan: ما زال التغافل من فعل الكرام “Taghaful senantiasa menjadi sifat orang mulia” (Tafsir Al Biqa’i, 9/73). Orang yang memiliki sifat taghaful akan merasakan ketenangan hidup, karena ia tidak dipusingkan dengan urusan orang lain yang tidak ada kepentingan untuk dicampuri. Sehingga ia akan sibuk dengan aib sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: مَن عرف نَفسَه اشتغل بإصلاحها عن عُيوب الناس، ومَن عرف رَبَّه اشتغل به عن هَوى نَفسِه. “Orang yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki dirinya dan tidak sempat mengurusi aib orang lain. Orang yang mengenal Rabb-nya, ia akan sibuk dengan (mencari ridha) Rabb-nya, tidak sempat mengikuti hawa nafsunya” (Al Fawaid, hal. 57). Namun sifat taghaful bukan berarti tidak menasehati orang yang keliru dan bukan berarti tidak melakukan amar makruf nahi mungkar. Orang yang mutaghafil tetap wajib memberikan nasehat dan beramar ma’ruf sesuai kemampuan. Dari Tamim Ad Dari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قُلْنا: لِمَنْ؟ قالَ: لِلَّهِ ولِكِتابِهِ ولِرَسولِهِ ولأَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وعامَّتِهِمْ “Agama adalah nasehat”. Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya” (HR. Muslim, no. 55). Namun yang tercela adalah jika berusaha mencari-cari kesalahan orang lain. Seorang penyair menyebutkan: تغافل في الأمور ولا تُكثر    تقصيها فالاستقصاء فرقه  وسامح في حقوقك بعض شيء    فما استوفى كريم قطُّ حقَّه Hendaknya bersikap taghaful dalam (menyikapi) perkara-perkara Jangan suka mencari-cari kesalahan orang lain. Mencari-cari kesalahan, inilah pembeda (taghaful yang tercela dan terpuji) Bersikap longgarlah dalam menyikapi penunaian hakmu (yang wajib atas orang lain) di sebagian perkaranya. Sungguh orang yang mulia tidak pernah menuntut haknya ditunaikan. (Disebutkan Ibnu Azraq dalam Bada’i as Salak fi Thaba’i al Malak, 1/129). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik.  Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wal ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Mencabut Uban, Sedekah Kepada Orang Tua Sendiri, Hukum Cicilan Dalam Islam, Hukum Sholat Jenazah, Doa Istri Hamil Muda, Contoh Undangan Natal 2011 Visited 776 times, 7 visit(s) today Post Views: 524 QRIS donasi Yufid

Keselamatan dan Ketenangan Hidup dengan Sifat Taghaful

Pertanyaan: Mohon penjelasannya tentang sifat taghaful. Apa yang dimaksud dengan taghaful? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Taghaful secara bahasa artinya pura-pura tidak tahu. Dalam Mu’jam Al Wasith disebutkan: تَغَافَلَ أَرى من نفسه أَنه غَافلٌ وليس به غفلة “Taghafal artinya menampakkan kepada orang lain seolah-olah dirinya tidak tahu, padahal tidak demikian”. Tentu saja, pura-pura tidak tahu itu ada yang terpuji dan ada yang tercela. Namun para ulama ketika menyebutkan sifat taghaful, yang mereka maksud adalah pura-pura tidak tahu yang terpuji. Para ulama menyebutkan bahwa sifat taghaful adalah akhlak mulia. Sifat taghaful yang dimaksud para ulama di atas adalah dengan melakukan tiga perkara: 1. Tidak mencari-cari kesalahan orang lain yang belum diketahui 2. Memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain yang telah berlalu 3. Memaklumi kekeliruan anak kecil, serta orang yang jahil dan awam Ibnu Azraq rahimahullah juga menyebutkan: إن من السخاء والكرم ترك التجني، وترك البحث عن باطن الغيوب، والإمساك عن ذكر العيوب، كما أن من تمام الفضائل الصفح عن التوبيخ، وإكرام الكريم والبشر فب اللقاء ورد التحية، والتغافل عن خطأ الجاهل “Bentuk kedermawanan dan sifat murah hati adalah: Tidak suka mudah menuduh orang berbuat buruk Tidak suka mencari-cari kesalahan yang tersembunyi Menahan diri untuk tidak menyebutkan aib-aib orang lain Demikian juga, bentuk kesempurnaan akhlak seseorang adalah: Berpaling dari para pencela Suka memuliakan orang yang mulia Berwajah cerah ketika bertemu orang Suka membalas penghormatan Taghaful (memaklumi) kesalahan orang yang jahil” (Bada’i as Salak fi Thaba’i al Malak, 1/129). Di antara dalil yang menunjukkan terpujinya sifat taghaful adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا  “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allah!” (HR. Al-Bukhari, no. 6064, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tajassus dan tahassus. Tajassus itu mencari-cari kesalahan dan aib dari seorang muslim lalu mengumpulkannya. Tahassus itu mengorek-ngorek hal yang tersembunyi dari seorang muslim.  Dari Abu Barzah Al Aslami radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: يا مَعْشَرَ مَن آمن بلسانِه ولم يَدْخُلِ الإيمانُ قلبَه ، لا تغتابوا المسلمينَ ، ولا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِم ، فإنه مَن تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيه المسلمِ ، تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَه ، ومَن تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَه ، يَفْضَحْهُ ولو في جوفِ بيتِه “Wahai orang-orang yang baru beriman di lisannya, dan iman belum masuk pada hatinya. Janganlah kalian melakukan ghibah kepada sesama muslim. Dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan sesama muslim. Karena siapa yang mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menyingkap kekurangan-kekurangannya. Dan siapa yang Allah singkap kekurangan-kekurangannya, ia akan merasa malu dan terhinakan walaupun ia berada di tengah rumahnya” (HR. Abu Daud no.4880, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Allah ta’ala juga berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan maksiat itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat” (QS. An Nur: 19). Ayat ini memerintahkan kita untuk menutup aib kaum Muslimin dan tidak menyebarkannya. As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Ini adalah bentuk rahmat Allah kepada para hamba-Nya yang beriman, dan bentuk penjagaan terhadap kehormatan mereka, sebagaimana terjaganya darah dan harta mereka. Dan merupakan perintah Allah kepada kaum Mukminin untuk saling mensucikan hati. Dan saling mencintai untuk terjadi pada diri saudaranya apa yang ia cintai untuk terjadi pada dirinya” (Tafsir As Sa’di, hal. 564). Dan banyak nasehat dari para ulama agar kita berhias dengan sifat taghaful. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan: العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُلِ “Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Al Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad). Maksudnya, dengan memiliki sifat taghaful kita akan selamat dari dosa-dosa yang terjadi karena melanggar hak orang lain.  Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan: ما زال التغافل من فعل الكرام “Taghaful senantiasa menjadi sifat orang mulia” (Tafsir Al Biqa’i, 9/73). Orang yang memiliki sifat taghaful akan merasakan ketenangan hidup, karena ia tidak dipusingkan dengan urusan orang lain yang tidak ada kepentingan untuk dicampuri. Sehingga ia akan sibuk dengan aib sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: مَن عرف نَفسَه اشتغل بإصلاحها عن عُيوب الناس، ومَن عرف رَبَّه اشتغل به عن هَوى نَفسِه. “Orang yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki dirinya dan tidak sempat mengurusi aib orang lain. Orang yang mengenal Rabb-nya, ia akan sibuk dengan (mencari ridha) Rabb-nya, tidak sempat mengikuti hawa nafsunya” (Al Fawaid, hal. 57). Namun sifat taghaful bukan berarti tidak menasehati orang yang keliru dan bukan berarti tidak melakukan amar makruf nahi mungkar. Orang yang mutaghafil tetap wajib memberikan nasehat dan beramar ma’ruf sesuai kemampuan. Dari Tamim Ad Dari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قُلْنا: لِمَنْ؟ قالَ: لِلَّهِ ولِكِتابِهِ ولِرَسولِهِ ولأَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وعامَّتِهِمْ “Agama adalah nasehat”. Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya” (HR. Muslim, no. 55). Namun yang tercela adalah jika berusaha mencari-cari kesalahan orang lain. Seorang penyair menyebutkan: تغافل في الأمور ولا تُكثر    تقصيها فالاستقصاء فرقه  وسامح في حقوقك بعض شيء    فما استوفى كريم قطُّ حقَّه Hendaknya bersikap taghaful dalam (menyikapi) perkara-perkara Jangan suka mencari-cari kesalahan orang lain. Mencari-cari kesalahan, inilah pembeda (taghaful yang tercela dan terpuji) Bersikap longgarlah dalam menyikapi penunaian hakmu (yang wajib atas orang lain) di sebagian perkaranya. Sungguh orang yang mulia tidak pernah menuntut haknya ditunaikan. (Disebutkan Ibnu Azraq dalam Bada’i as Salak fi Thaba’i al Malak, 1/129). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik.  Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wal ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Mencabut Uban, Sedekah Kepada Orang Tua Sendiri, Hukum Cicilan Dalam Islam, Hukum Sholat Jenazah, Doa Istri Hamil Muda, Contoh Undangan Natal 2011 Visited 776 times, 7 visit(s) today Post Views: 524 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Mohon penjelasannya tentang sifat taghaful. Apa yang dimaksud dengan taghaful? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Taghaful secara bahasa artinya pura-pura tidak tahu. Dalam Mu’jam Al Wasith disebutkan: تَغَافَلَ أَرى من نفسه أَنه غَافلٌ وليس به غفلة “Taghafal artinya menampakkan kepada orang lain seolah-olah dirinya tidak tahu, padahal tidak demikian”. Tentu saja, pura-pura tidak tahu itu ada yang terpuji dan ada yang tercela. Namun para ulama ketika menyebutkan sifat taghaful, yang mereka maksud adalah pura-pura tidak tahu yang terpuji. Para ulama menyebutkan bahwa sifat taghaful adalah akhlak mulia. Sifat taghaful yang dimaksud para ulama di atas adalah dengan melakukan tiga perkara: 1. Tidak mencari-cari kesalahan orang lain yang belum diketahui 2. Memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain yang telah berlalu 3. Memaklumi kekeliruan anak kecil, serta orang yang jahil dan awam Ibnu Azraq rahimahullah juga menyebutkan: إن من السخاء والكرم ترك التجني، وترك البحث عن باطن الغيوب، والإمساك عن ذكر العيوب، كما أن من تمام الفضائل الصفح عن التوبيخ، وإكرام الكريم والبشر فب اللقاء ورد التحية، والتغافل عن خطأ الجاهل “Bentuk kedermawanan dan sifat murah hati adalah: Tidak suka mudah menuduh orang berbuat buruk Tidak suka mencari-cari kesalahan yang tersembunyi Menahan diri untuk tidak menyebutkan aib-aib orang lain Demikian juga, bentuk kesempurnaan akhlak seseorang adalah: Berpaling dari para pencela Suka memuliakan orang yang mulia Berwajah cerah ketika bertemu orang Suka membalas penghormatan Taghaful (memaklumi) kesalahan orang yang jahil” (Bada’i as Salak fi Thaba’i al Malak, 1/129). Di antara dalil yang menunjukkan terpujinya sifat taghaful adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا  “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allah!” (HR. Al-Bukhari, no. 6064, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tajassus dan tahassus. Tajassus itu mencari-cari kesalahan dan aib dari seorang muslim lalu mengumpulkannya. Tahassus itu mengorek-ngorek hal yang tersembunyi dari seorang muslim.  Dari Abu Barzah Al Aslami radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: يا مَعْشَرَ مَن آمن بلسانِه ولم يَدْخُلِ الإيمانُ قلبَه ، لا تغتابوا المسلمينَ ، ولا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِم ، فإنه مَن تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيه المسلمِ ، تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَه ، ومَن تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَه ، يَفْضَحْهُ ولو في جوفِ بيتِه “Wahai orang-orang yang baru beriman di lisannya, dan iman belum masuk pada hatinya. Janganlah kalian melakukan ghibah kepada sesama muslim. Dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan sesama muslim. Karena siapa yang mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menyingkap kekurangan-kekurangannya. Dan siapa yang Allah singkap kekurangan-kekurangannya, ia akan merasa malu dan terhinakan walaupun ia berada di tengah rumahnya” (HR. Abu Daud no.4880, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Allah ta’ala juga berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan maksiat itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat” (QS. An Nur: 19). Ayat ini memerintahkan kita untuk menutup aib kaum Muslimin dan tidak menyebarkannya. As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Ini adalah bentuk rahmat Allah kepada para hamba-Nya yang beriman, dan bentuk penjagaan terhadap kehormatan mereka, sebagaimana terjaganya darah dan harta mereka. Dan merupakan perintah Allah kepada kaum Mukminin untuk saling mensucikan hati. Dan saling mencintai untuk terjadi pada diri saudaranya apa yang ia cintai untuk terjadi pada dirinya” (Tafsir As Sa’di, hal. 564). Dan banyak nasehat dari para ulama agar kita berhias dengan sifat taghaful. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan: العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُلِ “Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Al Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad). Maksudnya, dengan memiliki sifat taghaful kita akan selamat dari dosa-dosa yang terjadi karena melanggar hak orang lain.  Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan: ما زال التغافل من فعل الكرام “Taghaful senantiasa menjadi sifat orang mulia” (Tafsir Al Biqa’i, 9/73). Orang yang memiliki sifat taghaful akan merasakan ketenangan hidup, karena ia tidak dipusingkan dengan urusan orang lain yang tidak ada kepentingan untuk dicampuri. Sehingga ia akan sibuk dengan aib sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: مَن عرف نَفسَه اشتغل بإصلاحها عن عُيوب الناس، ومَن عرف رَبَّه اشتغل به عن هَوى نَفسِه. “Orang yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki dirinya dan tidak sempat mengurusi aib orang lain. Orang yang mengenal Rabb-nya, ia akan sibuk dengan (mencari ridha) Rabb-nya, tidak sempat mengikuti hawa nafsunya” (Al Fawaid, hal. 57). Namun sifat taghaful bukan berarti tidak menasehati orang yang keliru dan bukan berarti tidak melakukan amar makruf nahi mungkar. Orang yang mutaghafil tetap wajib memberikan nasehat dan beramar ma’ruf sesuai kemampuan. Dari Tamim Ad Dari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قُلْنا: لِمَنْ؟ قالَ: لِلَّهِ ولِكِتابِهِ ولِرَسولِهِ ولأَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وعامَّتِهِمْ “Agama adalah nasehat”. Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya” (HR. Muslim, no. 55). Namun yang tercela adalah jika berusaha mencari-cari kesalahan orang lain. Seorang penyair menyebutkan: تغافل في الأمور ولا تُكثر    تقصيها فالاستقصاء فرقه  وسامح في حقوقك بعض شيء    فما استوفى كريم قطُّ حقَّه Hendaknya bersikap taghaful dalam (menyikapi) perkara-perkara Jangan suka mencari-cari kesalahan orang lain. Mencari-cari kesalahan, inilah pembeda (taghaful yang tercela dan terpuji) Bersikap longgarlah dalam menyikapi penunaian hakmu (yang wajib atas orang lain) di sebagian perkaranya. Sungguh orang yang mulia tidak pernah menuntut haknya ditunaikan. (Disebutkan Ibnu Azraq dalam Bada’i as Salak fi Thaba’i al Malak, 1/129). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik.  Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wal ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Mencabut Uban, Sedekah Kepada Orang Tua Sendiri, Hukum Cicilan Dalam Islam, Hukum Sholat Jenazah, Doa Istri Hamil Muda, Contoh Undangan Natal 2011 Visited 776 times, 7 visit(s) today Post Views: 524 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1414647514&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Mohon penjelasannya tentang sifat taghaful. Apa yang dimaksud dengan taghaful? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Taghaful secara bahasa artinya pura-pura tidak tahu. Dalam Mu’jam Al Wasith disebutkan: تَغَافَلَ أَرى من نفسه أَنه غَافلٌ وليس به غفلة “Taghafal artinya menampakkan kepada orang lain seolah-olah dirinya tidak tahu, padahal tidak demikian”. Tentu saja, pura-pura tidak tahu itu ada yang terpuji dan ada yang tercela. Namun para ulama ketika menyebutkan sifat taghaful, yang mereka maksud adalah pura-pura tidak tahu yang terpuji. Para ulama menyebutkan bahwa sifat taghaful adalah akhlak mulia. Sifat taghaful yang dimaksud para ulama di atas adalah dengan melakukan tiga perkara: 1. Tidak mencari-cari kesalahan orang lain yang belum diketahui 2. Memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain yang telah berlalu 3. Memaklumi kekeliruan anak kecil, serta orang yang jahil dan awam Ibnu Azraq rahimahullah juga menyebutkan: إن من السخاء والكرم ترك التجني، وترك البحث عن باطن الغيوب، والإمساك عن ذكر العيوب، كما أن من تمام الفضائل الصفح عن التوبيخ، وإكرام الكريم والبشر فب اللقاء ورد التحية، والتغافل عن خطأ الجاهل “Bentuk kedermawanan dan sifat murah hati adalah: Tidak suka mudah menuduh orang berbuat buruk Tidak suka mencari-cari kesalahan yang tersembunyi Menahan diri untuk tidak menyebutkan aib-aib orang lain Demikian juga, bentuk kesempurnaan akhlak seseorang adalah: Berpaling dari para pencela Suka memuliakan orang yang mulia Berwajah cerah ketika bertemu orang Suka membalas penghormatan Taghaful (memaklumi) kesalahan orang yang jahil” (Bada’i as Salak fi Thaba’i al Malak, 1/129). Di antara dalil yang menunjukkan terpujinya sifat taghaful adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا  “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allah!” (HR. Al-Bukhari, no. 6064, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tajassus dan tahassus. Tajassus itu mencari-cari kesalahan dan aib dari seorang muslim lalu mengumpulkannya. Tahassus itu mengorek-ngorek hal yang tersembunyi dari seorang muslim.  Dari Abu Barzah Al Aslami radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: يا مَعْشَرَ مَن آمن بلسانِه ولم يَدْخُلِ الإيمانُ قلبَه ، لا تغتابوا المسلمينَ ، ولا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِم ، فإنه مَن تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيه المسلمِ ، تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَه ، ومَن تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَه ، يَفْضَحْهُ ولو في جوفِ بيتِه “Wahai orang-orang yang baru beriman di lisannya, dan iman belum masuk pada hatinya. Janganlah kalian melakukan ghibah kepada sesama muslim. Dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan sesama muslim. Karena siapa yang mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menyingkap kekurangan-kekurangannya. Dan siapa yang Allah singkap kekurangan-kekurangannya, ia akan merasa malu dan terhinakan walaupun ia berada di tengah rumahnya” (HR. Abu Daud no.4880, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Allah ta’ala juga berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan maksiat itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat” (QS. An Nur: 19). Ayat ini memerintahkan kita untuk menutup aib kaum Muslimin dan tidak menyebarkannya. As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Ini adalah bentuk rahmat Allah kepada para hamba-Nya yang beriman, dan bentuk penjagaan terhadap kehormatan mereka, sebagaimana terjaganya darah dan harta mereka. Dan merupakan perintah Allah kepada kaum Mukminin untuk saling mensucikan hati. Dan saling mencintai untuk terjadi pada diri saudaranya apa yang ia cintai untuk terjadi pada dirinya” (Tafsir As Sa’di, hal. 564). Dan banyak nasehat dari para ulama agar kita berhias dengan sifat taghaful. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan: العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُلِ “Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Al Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad). Maksudnya, dengan memiliki sifat taghaful kita akan selamat dari dosa-dosa yang terjadi karena melanggar hak orang lain.  Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan: ما زال التغافل من فعل الكرام “Taghaful senantiasa menjadi sifat orang mulia” (Tafsir Al Biqa’i, 9/73). Orang yang memiliki sifat taghaful akan merasakan ketenangan hidup, karena ia tidak dipusingkan dengan urusan orang lain yang tidak ada kepentingan untuk dicampuri. Sehingga ia akan sibuk dengan aib sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: مَن عرف نَفسَه اشتغل بإصلاحها عن عُيوب الناس، ومَن عرف رَبَّه اشتغل به عن هَوى نَفسِه. “Orang yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki dirinya dan tidak sempat mengurusi aib orang lain. Orang yang mengenal Rabb-nya, ia akan sibuk dengan (mencari ridha) Rabb-nya, tidak sempat mengikuti hawa nafsunya” (Al Fawaid, hal. 57). Namun sifat taghaful bukan berarti tidak menasehati orang yang keliru dan bukan berarti tidak melakukan amar makruf nahi mungkar. Orang yang mutaghafil tetap wajib memberikan nasehat dan beramar ma’ruf sesuai kemampuan. Dari Tamim Ad Dari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قُلْنا: لِمَنْ؟ قالَ: لِلَّهِ ولِكِتابِهِ ولِرَسولِهِ ولأَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وعامَّتِهِمْ “Agama adalah nasehat”. Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya” (HR. Muslim, no. 55). Namun yang tercela adalah jika berusaha mencari-cari kesalahan orang lain. Seorang penyair menyebutkan: تغافل في الأمور ولا تُكثر    تقصيها فالاستقصاء فرقه  وسامح في حقوقك بعض شيء    فما استوفى كريم قطُّ حقَّه Hendaknya bersikap taghaful dalam (menyikapi) perkara-perkara Jangan suka mencari-cari kesalahan orang lain. Mencari-cari kesalahan, inilah pembeda (taghaful yang tercela dan terpuji) Bersikap longgarlah dalam menyikapi penunaian hakmu (yang wajib atas orang lain) di sebagian perkaranya. Sungguh orang yang mulia tidak pernah menuntut haknya ditunaikan. (Disebutkan Ibnu Azraq dalam Bada’i as Salak fi Thaba’i al Malak, 1/129). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik.  Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wal ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Mencabut Uban, Sedekah Kepada Orang Tua Sendiri, Hukum Cicilan Dalam Islam, Hukum Sholat Jenazah, Doa Istri Hamil Muda, Contoh Undangan Natal 2011 Visited 776 times, 7 visit(s) today Post Views: 524 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Pilih Mana: Kaya Bersyukur atau Miskin Bersabar? – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Sejak lama, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama—sebagian mereka menulisnya dalam buku khusus—tentang siapa yang paling agung di sisi Allah: orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar? Karena kedua orang itu telah menunaikan ibadah yang Allah ujikan kepada masing-masing orang tersebut.Yang satu Allah uji dengan kekayaan lalu ia bersyukur,dan yang satu lagi Allah uji dengan kemiskinan, lalu ia bersabar. Kedua orang itu telah menunaikan ibadah yang berkaitan dengan jenis ujian yang diberikan kepada masing-masing.Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Aku pernah menanyakan masalah ini kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, lalu beliau menjawab,‘Yang paling agung pahalanya adalah yang paling bertakwa kepada Allah.’‘Yang paling bertakwa kepada Allah adalah yang paling besar pahalanya.’Lalu aku bertanya kepadanya lagi, ‘Tapi jika tingkat ketakwaan mereka sama?’‘Jika dalam hal ketakwaan, mereka sama?’ Beliau menjawab, ‘Mereka juga sama dalam pahalanya.’” Orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang bersabar, menurut Ibnu Taimiyah mereka pahalanya sama.Karena ujian orang yang satu adalah dengan kekayaan, dan ujian orang yang lainnya adalah dengan kemiskinan. Yang satu telah menunaikan ibadah yang dituntut terhadapnya,dan yang lain juga telah menunaikan ibadah yang dituntut terhadapnya.Jadi tidak seperti yang disangkakan bahwa jika seseorang diluaskan rezekinya di dunia maka itu tanda Allah memuliakan dan mencintainya. Orang yang perlu dikasihani ini tidak mengerti bahwa kelapangan duniawi itu bisa jadi adalah istidraj,sebagaimana yang telah kita sebutkan sebelumnya dalam hadis. Disebutkan dalam al-Quran al-Karim, “Kami akan menarik mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS. Al-Qolam: 44 – 45). ==== وَثَمَّةَ خِلَافٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدِيمٌ وَبَعْضُهُمْ أَفْرَدَهُ بِمُصَنَّفٍ أَيُّهُمْ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ الْغَنِيُّ الشَّاكِرُ أَوِ الْفَقِيرُ الصَّابِرُ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا أَدَّى عُبُودِيَّةَ ابْتِلَائِهِ الَّذِي ابْتَلَاهُ اللهُ بِهِ ذَاك ابْتَلَاهُ اللهُ بِالْغِنَى فَشَكَرَ وَهَذَا ابْتَلَاهُ بِالْفَقْرِ فَصَبَرَ كُلٌّ أَدَّى الْعُبُودِيَّةَ الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِنَوْعِ الِْابْتِلَاءِ الَّذِي يَخُصُّهُ قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ سَأَلْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ عَنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فَقَالَ أَعْظَمُهُمَا أَجْرًا أَتْقَاهُمَا لِلهِ أَتْقَاهُمَا لِلهِ الأَتْقَى لِلهِ هُوَ الْأَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ قُلْتُ لَهُ فَإِنْ كَانُوا فِي التَّقْوَى سَوَاءٌ؟ إِنْ كَانُوا فِي التَّقْوَى سَوَاءٌ؟ قَالَ هُمْ فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ الْغَنِيُّ الشَّاكِرُ وَالْفَقِيرُ الصَّابِرُ قَالَ هُمْ فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ لِأَنَّ هَذَا ابْتِلَاؤُهُ هَذَا وَهَذَا ابْتِلَاؤُهُ هَذَا فَهَذَا حَقَّقَ الْعُبُودِيَّةَ الْمَطْلُوبَةَ وَهَذَا حَقَّقَ الْعُبُودِيَّةَ الْمَطْلُوبَةَ فَلَيْسَ كَمَا يُظَنُّ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا وُسِّعَ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا هَذَا مِنْ عَلَامَاتِ إِكْرَامِ اللهِ وَحُبِّهِ لَهُ وَمَا يَدْرِي هَذَا الْمِسْكِينُ قَدْ تَكُونُ هَذِهِ السَّعَةُ الدُّنْيَوِيَّةُ اسْتِدْرَاجًا كَمَا تَقَدَّمَ مَعَنَا فِي الْحَدِيثِ وَفِي الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Pilih Mana: Kaya Bersyukur atau Miskin Bersabar? – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Sejak lama, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama—sebagian mereka menulisnya dalam buku khusus—tentang siapa yang paling agung di sisi Allah: orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar? Karena kedua orang itu telah menunaikan ibadah yang Allah ujikan kepada masing-masing orang tersebut.Yang satu Allah uji dengan kekayaan lalu ia bersyukur,dan yang satu lagi Allah uji dengan kemiskinan, lalu ia bersabar. Kedua orang itu telah menunaikan ibadah yang berkaitan dengan jenis ujian yang diberikan kepada masing-masing.Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Aku pernah menanyakan masalah ini kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, lalu beliau menjawab,‘Yang paling agung pahalanya adalah yang paling bertakwa kepada Allah.’‘Yang paling bertakwa kepada Allah adalah yang paling besar pahalanya.’Lalu aku bertanya kepadanya lagi, ‘Tapi jika tingkat ketakwaan mereka sama?’‘Jika dalam hal ketakwaan, mereka sama?’ Beliau menjawab, ‘Mereka juga sama dalam pahalanya.’” Orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang bersabar, menurut Ibnu Taimiyah mereka pahalanya sama.Karena ujian orang yang satu adalah dengan kekayaan, dan ujian orang yang lainnya adalah dengan kemiskinan. Yang satu telah menunaikan ibadah yang dituntut terhadapnya,dan yang lain juga telah menunaikan ibadah yang dituntut terhadapnya.Jadi tidak seperti yang disangkakan bahwa jika seseorang diluaskan rezekinya di dunia maka itu tanda Allah memuliakan dan mencintainya. Orang yang perlu dikasihani ini tidak mengerti bahwa kelapangan duniawi itu bisa jadi adalah istidraj,sebagaimana yang telah kita sebutkan sebelumnya dalam hadis. Disebutkan dalam al-Quran al-Karim, “Kami akan menarik mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS. Al-Qolam: 44 – 45). ==== وَثَمَّةَ خِلَافٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدِيمٌ وَبَعْضُهُمْ أَفْرَدَهُ بِمُصَنَّفٍ أَيُّهُمْ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ الْغَنِيُّ الشَّاكِرُ أَوِ الْفَقِيرُ الصَّابِرُ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا أَدَّى عُبُودِيَّةَ ابْتِلَائِهِ الَّذِي ابْتَلَاهُ اللهُ بِهِ ذَاك ابْتَلَاهُ اللهُ بِالْغِنَى فَشَكَرَ وَهَذَا ابْتَلَاهُ بِالْفَقْرِ فَصَبَرَ كُلٌّ أَدَّى الْعُبُودِيَّةَ الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِنَوْعِ الِْابْتِلَاءِ الَّذِي يَخُصُّهُ قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ سَأَلْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ عَنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فَقَالَ أَعْظَمُهُمَا أَجْرًا أَتْقَاهُمَا لِلهِ أَتْقَاهُمَا لِلهِ الأَتْقَى لِلهِ هُوَ الْأَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ قُلْتُ لَهُ فَإِنْ كَانُوا فِي التَّقْوَى سَوَاءٌ؟ إِنْ كَانُوا فِي التَّقْوَى سَوَاءٌ؟ قَالَ هُمْ فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ الْغَنِيُّ الشَّاكِرُ وَالْفَقِيرُ الصَّابِرُ قَالَ هُمْ فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ لِأَنَّ هَذَا ابْتِلَاؤُهُ هَذَا وَهَذَا ابْتِلَاؤُهُ هَذَا فَهَذَا حَقَّقَ الْعُبُودِيَّةَ الْمَطْلُوبَةَ وَهَذَا حَقَّقَ الْعُبُودِيَّةَ الْمَطْلُوبَةَ فَلَيْسَ كَمَا يُظَنُّ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا وُسِّعَ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا هَذَا مِنْ عَلَامَاتِ إِكْرَامِ اللهِ وَحُبِّهِ لَهُ وَمَا يَدْرِي هَذَا الْمِسْكِينُ قَدْ تَكُونُ هَذِهِ السَّعَةُ الدُّنْيَوِيَّةُ اسْتِدْرَاجًا كَمَا تَقَدَّمَ مَعَنَا فِي الْحَدِيثِ وَفِي الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Sejak lama, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama—sebagian mereka menulisnya dalam buku khusus—tentang siapa yang paling agung di sisi Allah: orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar? Karena kedua orang itu telah menunaikan ibadah yang Allah ujikan kepada masing-masing orang tersebut.Yang satu Allah uji dengan kekayaan lalu ia bersyukur,dan yang satu lagi Allah uji dengan kemiskinan, lalu ia bersabar. Kedua orang itu telah menunaikan ibadah yang berkaitan dengan jenis ujian yang diberikan kepada masing-masing.Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Aku pernah menanyakan masalah ini kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, lalu beliau menjawab,‘Yang paling agung pahalanya adalah yang paling bertakwa kepada Allah.’‘Yang paling bertakwa kepada Allah adalah yang paling besar pahalanya.’Lalu aku bertanya kepadanya lagi, ‘Tapi jika tingkat ketakwaan mereka sama?’‘Jika dalam hal ketakwaan, mereka sama?’ Beliau menjawab, ‘Mereka juga sama dalam pahalanya.’” Orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang bersabar, menurut Ibnu Taimiyah mereka pahalanya sama.Karena ujian orang yang satu adalah dengan kekayaan, dan ujian orang yang lainnya adalah dengan kemiskinan. Yang satu telah menunaikan ibadah yang dituntut terhadapnya,dan yang lain juga telah menunaikan ibadah yang dituntut terhadapnya.Jadi tidak seperti yang disangkakan bahwa jika seseorang diluaskan rezekinya di dunia maka itu tanda Allah memuliakan dan mencintainya. Orang yang perlu dikasihani ini tidak mengerti bahwa kelapangan duniawi itu bisa jadi adalah istidraj,sebagaimana yang telah kita sebutkan sebelumnya dalam hadis. Disebutkan dalam al-Quran al-Karim, “Kami akan menarik mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS. Al-Qolam: 44 – 45). ==== وَثَمَّةَ خِلَافٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدِيمٌ وَبَعْضُهُمْ أَفْرَدَهُ بِمُصَنَّفٍ أَيُّهُمْ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ الْغَنِيُّ الشَّاكِرُ أَوِ الْفَقِيرُ الصَّابِرُ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا أَدَّى عُبُودِيَّةَ ابْتِلَائِهِ الَّذِي ابْتَلَاهُ اللهُ بِهِ ذَاك ابْتَلَاهُ اللهُ بِالْغِنَى فَشَكَرَ وَهَذَا ابْتَلَاهُ بِالْفَقْرِ فَصَبَرَ كُلٌّ أَدَّى الْعُبُودِيَّةَ الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِنَوْعِ الِْابْتِلَاءِ الَّذِي يَخُصُّهُ قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ سَأَلْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ عَنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فَقَالَ أَعْظَمُهُمَا أَجْرًا أَتْقَاهُمَا لِلهِ أَتْقَاهُمَا لِلهِ الأَتْقَى لِلهِ هُوَ الْأَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ قُلْتُ لَهُ فَإِنْ كَانُوا فِي التَّقْوَى سَوَاءٌ؟ إِنْ كَانُوا فِي التَّقْوَى سَوَاءٌ؟ قَالَ هُمْ فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ الْغَنِيُّ الشَّاكِرُ وَالْفَقِيرُ الصَّابِرُ قَالَ هُمْ فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ لِأَنَّ هَذَا ابْتِلَاؤُهُ هَذَا وَهَذَا ابْتِلَاؤُهُ هَذَا فَهَذَا حَقَّقَ الْعُبُودِيَّةَ الْمَطْلُوبَةَ وَهَذَا حَقَّقَ الْعُبُودِيَّةَ الْمَطْلُوبَةَ فَلَيْسَ كَمَا يُظَنُّ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا وُسِّعَ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا هَذَا مِنْ عَلَامَاتِ إِكْرَامِ اللهِ وَحُبِّهِ لَهُ وَمَا يَدْرِي هَذَا الْمِسْكِينُ قَدْ تَكُونُ هَذِهِ السَّعَةُ الدُّنْيَوِيَّةُ اسْتِدْرَاجًا كَمَا تَقَدَّمَ مَعَنَا فِي الْحَدِيثِ وَفِي الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Sejak lama, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama—sebagian mereka menulisnya dalam buku khusus—tentang siapa yang paling agung di sisi Allah: orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar? Karena kedua orang itu telah menunaikan ibadah yang Allah ujikan kepada masing-masing orang tersebut.Yang satu Allah uji dengan kekayaan lalu ia bersyukur,dan yang satu lagi Allah uji dengan kemiskinan, lalu ia bersabar. Kedua orang itu telah menunaikan ibadah yang berkaitan dengan jenis ujian yang diberikan kepada masing-masing.Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Aku pernah menanyakan masalah ini kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, lalu beliau menjawab,‘Yang paling agung pahalanya adalah yang paling bertakwa kepada Allah.’‘Yang paling bertakwa kepada Allah adalah yang paling besar pahalanya.’Lalu aku bertanya kepadanya lagi, ‘Tapi jika tingkat ketakwaan mereka sama?’‘Jika dalam hal ketakwaan, mereka sama?’ Beliau menjawab, ‘Mereka juga sama dalam pahalanya.’” Orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang bersabar, menurut Ibnu Taimiyah mereka pahalanya sama.Karena ujian orang yang satu adalah dengan kekayaan, dan ujian orang yang lainnya adalah dengan kemiskinan. Yang satu telah menunaikan ibadah yang dituntut terhadapnya,dan yang lain juga telah menunaikan ibadah yang dituntut terhadapnya.Jadi tidak seperti yang disangkakan bahwa jika seseorang diluaskan rezekinya di dunia maka itu tanda Allah memuliakan dan mencintainya. Orang yang perlu dikasihani ini tidak mengerti bahwa kelapangan duniawi itu bisa jadi adalah istidraj,sebagaimana yang telah kita sebutkan sebelumnya dalam hadis. Disebutkan dalam al-Quran al-Karim, “Kami akan menarik mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS. Al-Qolam: 44 – 45). ==== وَثَمَّةَ خِلَافٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدِيمٌ وَبَعْضُهُمْ أَفْرَدَهُ بِمُصَنَّفٍ أَيُّهُمْ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ الْغَنِيُّ الشَّاكِرُ أَوِ الْفَقِيرُ الصَّابِرُ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا أَدَّى عُبُودِيَّةَ ابْتِلَائِهِ الَّذِي ابْتَلَاهُ اللهُ بِهِ ذَاك ابْتَلَاهُ اللهُ بِالْغِنَى فَشَكَرَ وَهَذَا ابْتَلَاهُ بِالْفَقْرِ فَصَبَرَ كُلٌّ أَدَّى الْعُبُودِيَّةَ الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِنَوْعِ الِْابْتِلَاءِ الَّذِي يَخُصُّهُ قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ سَأَلْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ عَنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فَقَالَ أَعْظَمُهُمَا أَجْرًا أَتْقَاهُمَا لِلهِ أَتْقَاهُمَا لِلهِ الأَتْقَى لِلهِ هُوَ الْأَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ قُلْتُ لَهُ فَإِنْ كَانُوا فِي التَّقْوَى سَوَاءٌ؟ إِنْ كَانُوا فِي التَّقْوَى سَوَاءٌ؟ قَالَ هُمْ فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ الْغَنِيُّ الشَّاكِرُ وَالْفَقِيرُ الصَّابِرُ قَالَ هُمْ فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ لِأَنَّ هَذَا ابْتِلَاؤُهُ هَذَا وَهَذَا ابْتِلَاؤُهُ هَذَا فَهَذَا حَقَّقَ الْعُبُودِيَّةَ الْمَطْلُوبَةَ وَهَذَا حَقَّقَ الْعُبُودِيَّةَ الْمَطْلُوبَةَ فَلَيْسَ كَمَا يُظَنُّ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا وُسِّعَ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا هَذَا مِنْ عَلَامَاتِ إِكْرَامِ اللهِ وَحُبِّهِ لَهُ وَمَا يَدْرِي هَذَا الْمِسْكِينُ قَدْ تَكُونُ هَذِهِ السَّعَةُ الدُّنْيَوِيَّةُ اسْتِدْرَاجًا كَمَا تَقَدَّمَ مَعَنَا فِي الْحَدِيثِ وَفِي الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Laporan Produksi Yufid Bulan November 2022

Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 690 juta kali.  Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mulai tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 15.663Jumlah Subscribers :  3.679.242Total Tayangan Video (Total Views) :  596.170.501 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 111 videoTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 7.079.224 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 754.935,4 JamPenambahan Subscribers : 27.115 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 124 video. Channel YouTube YUFID EDU (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1805Jumlah Subscribers : 277.631Total Tayangan Video (Total Views) :  18.792.922 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 16 videoTayangan Rentang November (Views/Month) : 176.731 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 9.121,8 JamPenambahan Subscribers : 1.694 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 32 video. Channel YouTube YUFID KIDS (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 76Jumlah Subscribers : 307.078Total Tayangan Video (Total Views) : 85.773.580 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 3.054.388 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 198.284,9 JamPenambahan Subscribers : 8.184 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Channel YouTube Dunia Mengaji (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.216Total Tayangan Video (Total Views) : 421.872 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 2.737 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 523 JamPenambahan Subscribers : 27 Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 357Jumlah Subscribers : 28.200Total Tayangan Video (Total Views) : 1.160.637 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 20.182 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 400 Instagram Yufid TV (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 3.058Total Pengikut : 1.128.321Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 7.637 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 60 konten. Instagram Yufid Network (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 3.144Total Pengikut : 490.887Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulanPenambahan Follower : 3.323 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 24 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022, video Motion Graphic dan Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video.  Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.834 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1765 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 14 artikel.  Website KisahMuslim.com (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1055 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Pada produksi terakhir bulan November 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1181 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website PengusahaMuslim.com (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2471 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Pada produksi terakhir bulan November 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website Kajian.net (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 26.136 file mp3 dengan total ukuran 347 Gb dan pada bulan November 2022 ini telah mempublikasikan 367 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan November 2022 ini saja telah didengarkan 41.232 kali dan telah di download sebanyak 1.701 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.103.264 kata dengan rata-rata produksi per bulan 42 ribu kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 91.161 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam menjadi audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 1926 artikel dengan total durasi audio 146 jam dengan rata-rata perekaman 32 artikel per bulan, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan November 2022 yaitu 80 artikel dengan jumlah durasi 7 jam.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian laporan produksi Yufid Network pada bulan November 2022, Wallahu a’lam … Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in, Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Tuyul Dalam Islam, Doa Agar Calon Mertua Merestui, Doa Ketika Menghadapi Masalah, Teks Ceramah Yang Menyentuh Hati, Siapa Paman Nabi Muhammad Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 175 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan November 2022

Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 690 juta kali.  Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mulai tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 15.663Jumlah Subscribers :  3.679.242Total Tayangan Video (Total Views) :  596.170.501 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 111 videoTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 7.079.224 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 754.935,4 JamPenambahan Subscribers : 27.115 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 124 video. Channel YouTube YUFID EDU (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1805Jumlah Subscribers : 277.631Total Tayangan Video (Total Views) :  18.792.922 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 16 videoTayangan Rentang November (Views/Month) : 176.731 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 9.121,8 JamPenambahan Subscribers : 1.694 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 32 video. Channel YouTube YUFID KIDS (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 76Jumlah Subscribers : 307.078Total Tayangan Video (Total Views) : 85.773.580 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 3.054.388 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 198.284,9 JamPenambahan Subscribers : 8.184 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Channel YouTube Dunia Mengaji (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.216Total Tayangan Video (Total Views) : 421.872 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 2.737 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 523 JamPenambahan Subscribers : 27 Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 357Jumlah Subscribers : 28.200Total Tayangan Video (Total Views) : 1.160.637 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 20.182 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 400 Instagram Yufid TV (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 3.058Total Pengikut : 1.128.321Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 7.637 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 60 konten. Instagram Yufid Network (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 3.144Total Pengikut : 490.887Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulanPenambahan Follower : 3.323 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 24 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022, video Motion Graphic dan Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video.  Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.834 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1765 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 14 artikel.  Website KisahMuslim.com (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1055 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Pada produksi terakhir bulan November 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1181 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website PengusahaMuslim.com (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2471 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Pada produksi terakhir bulan November 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website Kajian.net (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 26.136 file mp3 dengan total ukuran 347 Gb dan pada bulan November 2022 ini telah mempublikasikan 367 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan November 2022 ini saja telah didengarkan 41.232 kali dan telah di download sebanyak 1.701 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.103.264 kata dengan rata-rata produksi per bulan 42 ribu kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 91.161 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam menjadi audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 1926 artikel dengan total durasi audio 146 jam dengan rata-rata perekaman 32 artikel per bulan, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan November 2022 yaitu 80 artikel dengan jumlah durasi 7 jam.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian laporan produksi Yufid Network pada bulan November 2022, Wallahu a’lam … Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in, Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Tuyul Dalam Islam, Doa Agar Calon Mertua Merestui, Doa Ketika Menghadapi Masalah, Teks Ceramah Yang Menyentuh Hati, Siapa Paman Nabi Muhammad Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 175 QRIS donasi Yufid
Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 690 juta kali.  Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mulai tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 15.663Jumlah Subscribers :  3.679.242Total Tayangan Video (Total Views) :  596.170.501 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 111 videoTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 7.079.224 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 754.935,4 JamPenambahan Subscribers : 27.115 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 124 video. Channel YouTube YUFID EDU (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1805Jumlah Subscribers : 277.631Total Tayangan Video (Total Views) :  18.792.922 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 16 videoTayangan Rentang November (Views/Month) : 176.731 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 9.121,8 JamPenambahan Subscribers : 1.694 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 32 video. Channel YouTube YUFID KIDS (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 76Jumlah Subscribers : 307.078Total Tayangan Video (Total Views) : 85.773.580 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 3.054.388 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 198.284,9 JamPenambahan Subscribers : 8.184 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Channel YouTube Dunia Mengaji (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.216Total Tayangan Video (Total Views) : 421.872 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 2.737 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 523 JamPenambahan Subscribers : 27 Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 357Jumlah Subscribers : 28.200Total Tayangan Video (Total Views) : 1.160.637 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 20.182 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 400 Instagram Yufid TV (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 3.058Total Pengikut : 1.128.321Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 7.637 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 60 konten. Instagram Yufid Network (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 3.144Total Pengikut : 490.887Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulanPenambahan Follower : 3.323 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 24 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022, video Motion Graphic dan Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video.  Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.834 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1765 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 14 artikel.  Website KisahMuslim.com (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1055 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Pada produksi terakhir bulan November 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1181 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website PengusahaMuslim.com (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2471 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Pada produksi terakhir bulan November 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website Kajian.net (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 26.136 file mp3 dengan total ukuran 347 Gb dan pada bulan November 2022 ini telah mempublikasikan 367 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan November 2022 ini saja telah didengarkan 41.232 kali dan telah di download sebanyak 1.701 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.103.264 kata dengan rata-rata produksi per bulan 42 ribu kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 91.161 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam menjadi audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 1926 artikel dengan total durasi audio 146 jam dengan rata-rata perekaman 32 artikel per bulan, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan November 2022 yaitu 80 artikel dengan jumlah durasi 7 jam.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian laporan produksi Yufid Network pada bulan November 2022, Wallahu a’lam … Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in, Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Tuyul Dalam Islam, Doa Agar Calon Mertua Merestui, Doa Ketika Menghadapi Masalah, Teks Ceramah Yang Menyentuh Hati, Siapa Paman Nabi Muhammad Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 175 QRIS donasi Yufid


Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 690 juta kali.  Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mulai tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 15.663Jumlah Subscribers :  3.679.242Total Tayangan Video (Total Views) :  596.170.501 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 111 videoTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 7.079.224 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 754.935,4 JamPenambahan Subscribers : 27.115 <img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/K7myrn5Vi0lZ7Eyee3VoMaw2c_OXBZWd1Z-o4A6C5iULEt17Btj1HubqOFQ8BafS5D4M1tVNzwqF2PeMoilXyxQNxrBrNUEDvHXNAARDTlJTI-ycLtt0E3BDEsNSYBmigIgcaBl1hV8kJmGyUtmHDv4xkNW5WF8ItWzZI5QUqU0uQLbThmd8Z8WiCl47fA" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 124 video. Channel YouTube YUFID EDU (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1805Jumlah Subscribers : 277.631Total Tayangan Video (Total Views) :  18.792.922 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 16 videoTayangan Rentang November (Views/Month) : 176.731 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 9.121,8 JamPenambahan Subscribers : 1.694 <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/y2s4waFXD7OOX18N-jqI5Mnn1FP5w2Lmn187_RKUCveDJMGMUDqNwgIEdec1bQNXItz9k1u9dTPLBvd3uA3ss5OUkSQuJapsoHSB1Br3xjfXchACoptGvRG5A7Ybj4wq8sSctiEqOtUZ1IZGvw_5iyRuSqtkrdvAdZ9GJMcuJazt5wzX80_q-UF1ZihkUg" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 32 video. Channel YouTube YUFID KIDS (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 76Jumlah Subscribers : 307.078Total Tayangan Video (Total Views) : 85.773.580 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 3.054.388 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 198.284,9 JamPenambahan Subscribers : 8.184 <img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/vI71kHWdKgYVgPHrm9p4i52aDHL2cSkE26rHhe_kAnYyqBK5_5dyJhIrG3yfs1NyAWOKSpf5lxj0UUSlq9YJIXy2Dws6I59kmH_SMtt-PgeuWBXcDOJEpV9k2Ep_PJq8vBWVlL8WyZW3m06n-hJP42vWCwTh8QzzTSKoYuV4IGkHWW_ASvMEiRlHb_nkgg" alt="" width="512" height="384"/>Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Channel YouTube Dunia Mengaji (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.216Total Tayangan Video (Total Views) : 421.872 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 2.737 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) : 523 JamPenambahan Subscribers : 27 Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 357Jumlah Subscribers : 28.200Total Tayangan Video (Total Views) : 1.160.637 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video Rentang November (Views/Month) : 20.182 kali ditontonJam Tayang Video Rentang November (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 400 Instagram Yufid TV (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 3.058Total Pengikut : 1.128.321Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 7.637 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/6_XdnE14amTDBangoeH2ilH2Sx5035gq1_RskFNr6oJGGE0hgCEaYYLckgsUyqguxVH6eYvXkpa6D7fWPxVCZjhZtyWG8EDQ_dVJbDe45DBsuHtU1MOuony0IbOBQG9Iz3Uzz6vgzsI2L6WtMGAaVh8GvZWQwDBZqL47Zg1Se5GfCic8vRIQzypIHz7tSw" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 60 konten. Instagram Yufid Network (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 3.144Total Pengikut : 490.887Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulanPenambahan Follower : 3.323 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/qvblpo3IZbPGOXwOZpY9Kd_FstCNuDxgS9S6zxWNR7K9QvyT_XwqDW7JBH5Zvh98yiiCpNX_SwhEv7dRkD5_o5xHEZ-uCoLn3WAlg7abmaH5DYB8G_iJHfPMyCWFohKntAZT1x27gv5ApPGwV-0tSgfgeisiuvGISGrKrsBkjc0HVtQpad1exMYtNx5QdQ" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 24 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://lh6.googleusercontent.com/oD7ayD8_bStSMwMNjodmhQyTOIOpBAjBbIw2-C7T9VNtmw1yHTzwJt8JUgozsT4UgZyjEC42WHySjWQJfwRm74g-qUobiEZcJw374T75XO6A6EU4Wq7OyOKMA0SaP3dkemAr9vSRiJ-yQGnGB43oxkTki7n_pZmmhXScj_kVpz7yrM4Dm0XXycwDyU2nTw" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022, video Motion Graphic dan Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video.  Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.834 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1765 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 14 artikel.  Website KisahMuslim.com (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1055 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Pada produksi terakhir bulan November 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1181 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website PengusahaMuslim.com (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2471 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Pada produksi terakhir bulan November 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website Kajian.net (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 26.136 file mp3 dengan total ukuran 347 Gb dan pada bulan November 2022 ini telah mempublikasikan 367 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan November 2022 ini saja telah didengarkan 41.232 kali dan telah di download sebanyak 1.701 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.103.264 kata dengan rata-rata produksi per bulan 42 ribu kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 91.161 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam menjadi audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 1926 artikel dengan total durasi audio 146 jam dengan rata-rata perekaman 32 artikel per bulan, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan November 2022 yaitu 80 artikel dengan jumlah durasi 7 jam.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian laporan produksi Yufid Network pada bulan November 2022, Wallahu a’lam … Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in, Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Tuyul Dalam Islam, Doa Agar Calon Mertua Merestui, Doa Ketika Menghadapi Masalah, Teks Ceramah Yang Menyentuh Hati, Siapa Paman Nabi Muhammad Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 175 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Dua Kebahagiaan Orang yang Berpuasa – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskankebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa dari puasanya.Beliau bersabda, “Bagi orang yang berpuasa dua kebahagiaan, …” Semua amal saleh itu—wahai Saudara-Saudara—adalah sumber kebahagiaan,serta sumber ketenangan dan ketentraman.Berzikir kepada Allah adalah sumber terbesarnya. “(Yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka tentram dengan mengingat Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Membaca al-Quran juga sumber terbesarnya. “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira,itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58). Demikian juga zikir, tasbih, dan tahlilmerupakan sebab-sebab terbesar datangnya ketentraman, ketenangan, kebahagiaan, suka cita, dan kesenangan. Ini balasan di dunia.Adapun balasan di akhirat,maka tidak ada yang mampu mengukurnya kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi menyebutkan kebahagiaan pertama (bagi orang berpuasa) di dunia; yaitu saat berbuka, ia akan gembira.Hal ini karena saat manusia menahan diri dari makan dan minumsepanjang siangnya, padahal ia membutuhkannya, maka ketika datang waktu berbuka, ia akan merasa bahagia, ia makan dan minum,dan mendapati nikmatnya makanan dan minuman. Sedangkan kebahagian kedua yang lebih besar dan agungadalah kebahagiaan yang ditunggu-tunggu manusiadi hari ketika ia datang menghadap Tuhannya, di hari ketika tidak berguna lagi harta dan anak keturunannya,di hari ketika seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun,dan di hari ketika seseorang tidak mampu menolong orang lain sedikit pun. Di hari itu, manusia tidak mendapati kecuali balasan atas amal yang ia lakukan di dunia.Orang berpuasa itu akan bahagia karena pertemuan dengan Tuhannya. Betapa bahagianya ia,dan betapa besar karunia yang Allah berikan kepadanya,ketika ia berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla dengan amal-amal saleh itu. Saat ia berjumpa dengan Tuhannya, ia lantas berbahagia.Berbahagia karena apa? Karena puasanya,dan karena amalan-amalannya yang dulu ia lakukan di dunia. ==== ثُمَّ يُبَيِّنُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَرْحَةَ الَّتِي يَجِدُهَا الصَّائِمُ مِنْ صِيَامِهِ فَيَقُولُ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ وَالْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ يَا إِخْوَانِي كُلُّهَا مَصْدَرٌ لِلْفَرَحِ وَمَصْدَرٌ لِلرَّاحَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ فَذِكْرُ اللهِ أَعْظَمُ مَصْدَرٍ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ أَعْظَمُ مَصْدَرٍ قُل بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ وَذِكْرُ اللهِ وَالتَّسْبِيحُ وَالتَّهْلِيلُ أَيْضًا هِيَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الرَّوحِ وَالرَّاحَةِ وَالْفَرَحِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ هَذَا فِي الدُّنْيَا وَأَمَّا الْأَجْرُ فِي الْآخِرَةِ فَلَا يَقْدُرُهُ إِلَّا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَ الْفَرْحَةَ الْأُولَى فِي الدُّنْيَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَذَلِكَ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا امْتَنَعَ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ طِيلَةَ نَهَارِهِ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فَإِذَا جَاءَ وَقْتُهُ فَرِحَ بِهِ فَأَكَلَ وَشَرِبَ وَوَجَدَ لَذَّةَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْفَرْحَةُ الثَّانِيَةُ الْكُبْرَى وَالْعُظْمَى هِي الْفَرْحَةُ الَّتِي تَنْتَظِرُ الْإِنْسَانُ يَوْمَ يَقْدُمُ الْإِنْسَانُ عَلَى رَبِّهِ يَوْمَ لَا يَنْفَعُهُ مَالُهُ وَلَا بَنُوْهُ يَوْمَ لَا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا فَلَا يَجِدُ الْإِنْسَانُ إِلَّا ثَوَابَ أَعْمَالِهِ الَّتِي كَانَ يَعْمَلُهَا فِي الدُّنْيَا يَفْرَحُ بِلِقَاءِ رَبِّهِ مَا أَسْعَدَهُ وَأَعْظَمَ فَضْلَ رَبِّهِ عَلَيْهِ إِذَا هُوَ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِهَذِهِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ إِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ فَرِحَ بِمَاذَا؟ فَرِحَ بِصِيَامِهِ وَبِأَعْمَالِهِ الَّتِي كَانَ يَعْمَلُهَا يَوْمَ كَانَ فِي الدُّنْيَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Dua Kebahagiaan Orang yang Berpuasa – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskankebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa dari puasanya.Beliau bersabda, “Bagi orang yang berpuasa dua kebahagiaan, …” Semua amal saleh itu—wahai Saudara-Saudara—adalah sumber kebahagiaan,serta sumber ketenangan dan ketentraman.Berzikir kepada Allah adalah sumber terbesarnya. “(Yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka tentram dengan mengingat Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Membaca al-Quran juga sumber terbesarnya. “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira,itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58). Demikian juga zikir, tasbih, dan tahlilmerupakan sebab-sebab terbesar datangnya ketentraman, ketenangan, kebahagiaan, suka cita, dan kesenangan. Ini balasan di dunia.Adapun balasan di akhirat,maka tidak ada yang mampu mengukurnya kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi menyebutkan kebahagiaan pertama (bagi orang berpuasa) di dunia; yaitu saat berbuka, ia akan gembira.Hal ini karena saat manusia menahan diri dari makan dan minumsepanjang siangnya, padahal ia membutuhkannya, maka ketika datang waktu berbuka, ia akan merasa bahagia, ia makan dan minum,dan mendapati nikmatnya makanan dan minuman. Sedangkan kebahagian kedua yang lebih besar dan agungadalah kebahagiaan yang ditunggu-tunggu manusiadi hari ketika ia datang menghadap Tuhannya, di hari ketika tidak berguna lagi harta dan anak keturunannya,di hari ketika seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun,dan di hari ketika seseorang tidak mampu menolong orang lain sedikit pun. Di hari itu, manusia tidak mendapati kecuali balasan atas amal yang ia lakukan di dunia.Orang berpuasa itu akan bahagia karena pertemuan dengan Tuhannya. Betapa bahagianya ia,dan betapa besar karunia yang Allah berikan kepadanya,ketika ia berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla dengan amal-amal saleh itu. Saat ia berjumpa dengan Tuhannya, ia lantas berbahagia.Berbahagia karena apa? Karena puasanya,dan karena amalan-amalannya yang dulu ia lakukan di dunia. ==== ثُمَّ يُبَيِّنُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَرْحَةَ الَّتِي يَجِدُهَا الصَّائِمُ مِنْ صِيَامِهِ فَيَقُولُ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ وَالْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ يَا إِخْوَانِي كُلُّهَا مَصْدَرٌ لِلْفَرَحِ وَمَصْدَرٌ لِلرَّاحَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ فَذِكْرُ اللهِ أَعْظَمُ مَصْدَرٍ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ أَعْظَمُ مَصْدَرٍ قُل بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ وَذِكْرُ اللهِ وَالتَّسْبِيحُ وَالتَّهْلِيلُ أَيْضًا هِيَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الرَّوحِ وَالرَّاحَةِ وَالْفَرَحِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ هَذَا فِي الدُّنْيَا وَأَمَّا الْأَجْرُ فِي الْآخِرَةِ فَلَا يَقْدُرُهُ إِلَّا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَ الْفَرْحَةَ الْأُولَى فِي الدُّنْيَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَذَلِكَ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا امْتَنَعَ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ طِيلَةَ نَهَارِهِ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فَإِذَا جَاءَ وَقْتُهُ فَرِحَ بِهِ فَأَكَلَ وَشَرِبَ وَوَجَدَ لَذَّةَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْفَرْحَةُ الثَّانِيَةُ الْكُبْرَى وَالْعُظْمَى هِي الْفَرْحَةُ الَّتِي تَنْتَظِرُ الْإِنْسَانُ يَوْمَ يَقْدُمُ الْإِنْسَانُ عَلَى رَبِّهِ يَوْمَ لَا يَنْفَعُهُ مَالُهُ وَلَا بَنُوْهُ يَوْمَ لَا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا فَلَا يَجِدُ الْإِنْسَانُ إِلَّا ثَوَابَ أَعْمَالِهِ الَّتِي كَانَ يَعْمَلُهَا فِي الدُّنْيَا يَفْرَحُ بِلِقَاءِ رَبِّهِ مَا أَسْعَدَهُ وَأَعْظَمَ فَضْلَ رَبِّهِ عَلَيْهِ إِذَا هُوَ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِهَذِهِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ إِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ فَرِحَ بِمَاذَا؟ فَرِحَ بِصِيَامِهِ وَبِأَعْمَالِهِ الَّتِي كَانَ يَعْمَلُهَا يَوْمَ كَانَ فِي الدُّنْيَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskankebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa dari puasanya.Beliau bersabda, “Bagi orang yang berpuasa dua kebahagiaan, …” Semua amal saleh itu—wahai Saudara-Saudara—adalah sumber kebahagiaan,serta sumber ketenangan dan ketentraman.Berzikir kepada Allah adalah sumber terbesarnya. “(Yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka tentram dengan mengingat Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Membaca al-Quran juga sumber terbesarnya. “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira,itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58). Demikian juga zikir, tasbih, dan tahlilmerupakan sebab-sebab terbesar datangnya ketentraman, ketenangan, kebahagiaan, suka cita, dan kesenangan. Ini balasan di dunia.Adapun balasan di akhirat,maka tidak ada yang mampu mengukurnya kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi menyebutkan kebahagiaan pertama (bagi orang berpuasa) di dunia; yaitu saat berbuka, ia akan gembira.Hal ini karena saat manusia menahan diri dari makan dan minumsepanjang siangnya, padahal ia membutuhkannya, maka ketika datang waktu berbuka, ia akan merasa bahagia, ia makan dan minum,dan mendapati nikmatnya makanan dan minuman. Sedangkan kebahagian kedua yang lebih besar dan agungadalah kebahagiaan yang ditunggu-tunggu manusiadi hari ketika ia datang menghadap Tuhannya, di hari ketika tidak berguna lagi harta dan anak keturunannya,di hari ketika seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun,dan di hari ketika seseorang tidak mampu menolong orang lain sedikit pun. Di hari itu, manusia tidak mendapati kecuali balasan atas amal yang ia lakukan di dunia.Orang berpuasa itu akan bahagia karena pertemuan dengan Tuhannya. Betapa bahagianya ia,dan betapa besar karunia yang Allah berikan kepadanya,ketika ia berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla dengan amal-amal saleh itu. Saat ia berjumpa dengan Tuhannya, ia lantas berbahagia.Berbahagia karena apa? Karena puasanya,dan karena amalan-amalannya yang dulu ia lakukan di dunia. ==== ثُمَّ يُبَيِّنُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَرْحَةَ الَّتِي يَجِدُهَا الصَّائِمُ مِنْ صِيَامِهِ فَيَقُولُ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ وَالْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ يَا إِخْوَانِي كُلُّهَا مَصْدَرٌ لِلْفَرَحِ وَمَصْدَرٌ لِلرَّاحَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ فَذِكْرُ اللهِ أَعْظَمُ مَصْدَرٍ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ أَعْظَمُ مَصْدَرٍ قُل بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ وَذِكْرُ اللهِ وَالتَّسْبِيحُ وَالتَّهْلِيلُ أَيْضًا هِيَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الرَّوحِ وَالرَّاحَةِ وَالْفَرَحِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ هَذَا فِي الدُّنْيَا وَأَمَّا الْأَجْرُ فِي الْآخِرَةِ فَلَا يَقْدُرُهُ إِلَّا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَ الْفَرْحَةَ الْأُولَى فِي الدُّنْيَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَذَلِكَ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا امْتَنَعَ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ طِيلَةَ نَهَارِهِ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فَإِذَا جَاءَ وَقْتُهُ فَرِحَ بِهِ فَأَكَلَ وَشَرِبَ وَوَجَدَ لَذَّةَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْفَرْحَةُ الثَّانِيَةُ الْكُبْرَى وَالْعُظْمَى هِي الْفَرْحَةُ الَّتِي تَنْتَظِرُ الْإِنْسَانُ يَوْمَ يَقْدُمُ الْإِنْسَانُ عَلَى رَبِّهِ يَوْمَ لَا يَنْفَعُهُ مَالُهُ وَلَا بَنُوْهُ يَوْمَ لَا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا فَلَا يَجِدُ الْإِنْسَانُ إِلَّا ثَوَابَ أَعْمَالِهِ الَّتِي كَانَ يَعْمَلُهَا فِي الدُّنْيَا يَفْرَحُ بِلِقَاءِ رَبِّهِ مَا أَسْعَدَهُ وَأَعْظَمَ فَضْلَ رَبِّهِ عَلَيْهِ إِذَا هُوَ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِهَذِهِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ إِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ فَرِحَ بِمَاذَا؟ فَرِحَ بِصِيَامِهِ وَبِأَعْمَالِهِ الَّتِي كَانَ يَعْمَلُهَا يَوْمَ كَانَ فِي الدُّنْيَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskankebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa dari puasanya.Beliau bersabda, “Bagi orang yang berpuasa dua kebahagiaan, …” Semua amal saleh itu—wahai Saudara-Saudara—adalah sumber kebahagiaan,serta sumber ketenangan dan ketentraman.Berzikir kepada Allah adalah sumber terbesarnya. “(Yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka tentram dengan mengingat Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Membaca al-Quran juga sumber terbesarnya. “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira,itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58). Demikian juga zikir, tasbih, dan tahlilmerupakan sebab-sebab terbesar datangnya ketentraman, ketenangan, kebahagiaan, suka cita, dan kesenangan. Ini balasan di dunia.Adapun balasan di akhirat,maka tidak ada yang mampu mengukurnya kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi menyebutkan kebahagiaan pertama (bagi orang berpuasa) di dunia; yaitu saat berbuka, ia akan gembira.Hal ini karena saat manusia menahan diri dari makan dan minumsepanjang siangnya, padahal ia membutuhkannya, maka ketika datang waktu berbuka, ia akan merasa bahagia, ia makan dan minum,dan mendapati nikmatnya makanan dan minuman. Sedangkan kebahagian kedua yang lebih besar dan agungadalah kebahagiaan yang ditunggu-tunggu manusiadi hari ketika ia datang menghadap Tuhannya, di hari ketika tidak berguna lagi harta dan anak keturunannya,di hari ketika seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun,dan di hari ketika seseorang tidak mampu menolong orang lain sedikit pun. Di hari itu, manusia tidak mendapati kecuali balasan atas amal yang ia lakukan di dunia.Orang berpuasa itu akan bahagia karena pertemuan dengan Tuhannya. Betapa bahagianya ia,dan betapa besar karunia yang Allah berikan kepadanya,ketika ia berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla dengan amal-amal saleh itu. Saat ia berjumpa dengan Tuhannya, ia lantas berbahagia.Berbahagia karena apa? Karena puasanya,dan karena amalan-amalannya yang dulu ia lakukan di dunia. ==== ثُمَّ يُبَيِّنُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَرْحَةَ الَّتِي يَجِدُهَا الصَّائِمُ مِنْ صِيَامِهِ فَيَقُولُ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ وَالْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ يَا إِخْوَانِي كُلُّهَا مَصْدَرٌ لِلْفَرَحِ وَمَصْدَرٌ لِلرَّاحَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ فَذِكْرُ اللهِ أَعْظَمُ مَصْدَرٍ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ أَعْظَمُ مَصْدَرٍ قُل بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ وَذِكْرُ اللهِ وَالتَّسْبِيحُ وَالتَّهْلِيلُ أَيْضًا هِيَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الرَّوحِ وَالرَّاحَةِ وَالْفَرَحِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ هَذَا فِي الدُّنْيَا وَأَمَّا الْأَجْرُ فِي الْآخِرَةِ فَلَا يَقْدُرُهُ إِلَّا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَ الْفَرْحَةَ الْأُولَى فِي الدُّنْيَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَذَلِكَ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا امْتَنَعَ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ طِيلَةَ نَهَارِهِ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فَإِذَا جَاءَ وَقْتُهُ فَرِحَ بِهِ فَأَكَلَ وَشَرِبَ وَوَجَدَ لَذَّةَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْفَرْحَةُ الثَّانِيَةُ الْكُبْرَى وَالْعُظْمَى هِي الْفَرْحَةُ الَّتِي تَنْتَظِرُ الْإِنْسَانُ يَوْمَ يَقْدُمُ الْإِنْسَانُ عَلَى رَبِّهِ يَوْمَ لَا يَنْفَعُهُ مَالُهُ وَلَا بَنُوْهُ يَوْمَ لَا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا فَلَا يَجِدُ الْإِنْسَانُ إِلَّا ثَوَابَ أَعْمَالِهِ الَّتِي كَانَ يَعْمَلُهَا فِي الدُّنْيَا يَفْرَحُ بِلِقَاءِ رَبِّهِ مَا أَسْعَدَهُ وَأَعْظَمَ فَضْلَ رَبِّهِ عَلَيْهِ إِذَا هُوَ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِهَذِهِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ إِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ فَرِحَ بِمَاذَا؟ فَرِحَ بِصِيَامِهِ وَبِأَعْمَالِهِ الَّتِي كَانَ يَعْمَلُهَا يَوْمَ كَانَ فِي الدُّنْيَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Zalim Tanpa Sadar

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MASemakin dekat hubungan orang lain dengan kita, maka semakin besar pula kewajiban yang harus kita tunaikan untuknya. Karena itulah, ayah-ibu, suami-istri, putra-putri dan kakak-adik kita, memiliki hak yang lebih besar dibandingkan orang lain yang tidak memiliki hubungan darah.Namun sayangnya, justru merekalah yang kerap menjadi korban perilaku tidak terpuji kita. Entah karena kita tidak maksimal dalam menunaikan hak-hak mereka. Atau bahkan yang lebih parah dari itu, ternyata tanpa sadar kita menzalimi mereka. Padahal akibat perbuatan zalim itu sangat mengerikan. Bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat.Ibunda kita Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita,“Suatu saat ada seorang pria duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku memiliki banyak budak. Namun mereka kerap berbohong kepadaku, mengkhianatiku dan tidak menaatiku. Maka akupun memaki dan memukuli mereka. Kira-kira kelak seperti apa pertanggungjawabanku di hadapan Allah?”.Beliau menjawab, “Di akhirat kelak, porsi kedustaan, pengkhianatan dan ketidaktaatan mereka akan ditimbang, begitupula porsi hukumanmu. Jika ternyata hukumanmu sepadan dengan kesalahan mereka, maka tidak masalah; engkau tidak mendapat pahala, tapi juga tidak berdosa. Apabila kadar hukumanmu lebih ringan dibanding kesalahan mereka; maka engkau berpotensi mendapatkan pahala. Namun jika kadar hukumanmu lebih berat dibanding kesalahan mereka; maka sebagian pahalamu akan dicabut lalu diberikan kepada mereka”.Maka pria itupun menyingkir sambil menangis keras. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bukankah engkau membaca ayat al-Qur’an yang berbunyi:“وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا، وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا، وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ”Artinya: “Pada hari kiamat kelak, Kami akan melakukan penimbangan amal manusia secara adil. Tidak akan ada yang dizalimi sedikitpun, walau hanya sebesar biji sawi. Semua (kebaikan atau keburukan) akan didatangkan dan diberi balasan. Cukuplah Kami yang menghitung amal manusia”. QS. Al-Anbiya’ (21): 47.Pria itupun berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, menurutku solusi terbaik untukku dan untuk mereka adalah kami berpisah. Engkau menjadi saksinya, bahwa mereka semua aku bebaskan!”. HR. Tirmidziy (no. 3165) dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Albaniy.Hadits di atas menjelaskan betapa berat pertanggungjawaban perbuatan zalim kepada sesama. Jika perilaku terhadap budak—yang sejatinya boleh diperjualbelikan—saja detilnya sedemikan rupa, apalagi pertanggungjawaban perilaku kepada ayah-ibu, suami-istri, putra-putri dan kakak-adik kita?Berikut langkah-langkah bijaksana untuk menghindari kezaliman:Terus BelajarMaksudnya mempelajari aturan agama tentang hak dan kewajiban terhadap orang-orang terdekat kita. Agar kita semakin mengerti, mana kewajiban yang sudah ditunaikan dengan baik, mana yang telah ditunaikan namun belum maksimal, dan mana yang belum ditunaikan.Selalu IntrospeksiSebab manusia sering lupa dan lalai. Sehingga secara rutin, dari waktu kewaktu, kita perlu introspeksi diri. Meningkatkan yang sudah baik dan memperbaiki yang belum baik. Terjatuh pada sebuah kesalahan, adalah hal yang wajar. Namun gengsi meminta maaf saat berbuat kesalahan, adalah sebuah kebodohan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 11 Jumadal Ula 1444 / 5 Desember 2022

Zalim Tanpa Sadar

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MASemakin dekat hubungan orang lain dengan kita, maka semakin besar pula kewajiban yang harus kita tunaikan untuknya. Karena itulah, ayah-ibu, suami-istri, putra-putri dan kakak-adik kita, memiliki hak yang lebih besar dibandingkan orang lain yang tidak memiliki hubungan darah.Namun sayangnya, justru merekalah yang kerap menjadi korban perilaku tidak terpuji kita. Entah karena kita tidak maksimal dalam menunaikan hak-hak mereka. Atau bahkan yang lebih parah dari itu, ternyata tanpa sadar kita menzalimi mereka. Padahal akibat perbuatan zalim itu sangat mengerikan. Bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat.Ibunda kita Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita,“Suatu saat ada seorang pria duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku memiliki banyak budak. Namun mereka kerap berbohong kepadaku, mengkhianatiku dan tidak menaatiku. Maka akupun memaki dan memukuli mereka. Kira-kira kelak seperti apa pertanggungjawabanku di hadapan Allah?”.Beliau menjawab, “Di akhirat kelak, porsi kedustaan, pengkhianatan dan ketidaktaatan mereka akan ditimbang, begitupula porsi hukumanmu. Jika ternyata hukumanmu sepadan dengan kesalahan mereka, maka tidak masalah; engkau tidak mendapat pahala, tapi juga tidak berdosa. Apabila kadar hukumanmu lebih ringan dibanding kesalahan mereka; maka engkau berpotensi mendapatkan pahala. Namun jika kadar hukumanmu lebih berat dibanding kesalahan mereka; maka sebagian pahalamu akan dicabut lalu diberikan kepada mereka”.Maka pria itupun menyingkir sambil menangis keras. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bukankah engkau membaca ayat al-Qur’an yang berbunyi:“وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا، وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا، وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ”Artinya: “Pada hari kiamat kelak, Kami akan melakukan penimbangan amal manusia secara adil. Tidak akan ada yang dizalimi sedikitpun, walau hanya sebesar biji sawi. Semua (kebaikan atau keburukan) akan didatangkan dan diberi balasan. Cukuplah Kami yang menghitung amal manusia”. QS. Al-Anbiya’ (21): 47.Pria itupun berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, menurutku solusi terbaik untukku dan untuk mereka adalah kami berpisah. Engkau menjadi saksinya, bahwa mereka semua aku bebaskan!”. HR. Tirmidziy (no. 3165) dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Albaniy.Hadits di atas menjelaskan betapa berat pertanggungjawaban perbuatan zalim kepada sesama. Jika perilaku terhadap budak—yang sejatinya boleh diperjualbelikan—saja detilnya sedemikan rupa, apalagi pertanggungjawaban perilaku kepada ayah-ibu, suami-istri, putra-putri dan kakak-adik kita?Berikut langkah-langkah bijaksana untuk menghindari kezaliman:Terus BelajarMaksudnya mempelajari aturan agama tentang hak dan kewajiban terhadap orang-orang terdekat kita. Agar kita semakin mengerti, mana kewajiban yang sudah ditunaikan dengan baik, mana yang telah ditunaikan namun belum maksimal, dan mana yang belum ditunaikan.Selalu IntrospeksiSebab manusia sering lupa dan lalai. Sehingga secara rutin, dari waktu kewaktu, kita perlu introspeksi diri. Meningkatkan yang sudah baik dan memperbaiki yang belum baik. Terjatuh pada sebuah kesalahan, adalah hal yang wajar. Namun gengsi meminta maaf saat berbuat kesalahan, adalah sebuah kebodohan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 11 Jumadal Ula 1444 / 5 Desember 2022
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MASemakin dekat hubungan orang lain dengan kita, maka semakin besar pula kewajiban yang harus kita tunaikan untuknya. Karena itulah, ayah-ibu, suami-istri, putra-putri dan kakak-adik kita, memiliki hak yang lebih besar dibandingkan orang lain yang tidak memiliki hubungan darah.Namun sayangnya, justru merekalah yang kerap menjadi korban perilaku tidak terpuji kita. Entah karena kita tidak maksimal dalam menunaikan hak-hak mereka. Atau bahkan yang lebih parah dari itu, ternyata tanpa sadar kita menzalimi mereka. Padahal akibat perbuatan zalim itu sangat mengerikan. Bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat.Ibunda kita Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita,“Suatu saat ada seorang pria duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku memiliki banyak budak. Namun mereka kerap berbohong kepadaku, mengkhianatiku dan tidak menaatiku. Maka akupun memaki dan memukuli mereka. Kira-kira kelak seperti apa pertanggungjawabanku di hadapan Allah?”.Beliau menjawab, “Di akhirat kelak, porsi kedustaan, pengkhianatan dan ketidaktaatan mereka akan ditimbang, begitupula porsi hukumanmu. Jika ternyata hukumanmu sepadan dengan kesalahan mereka, maka tidak masalah; engkau tidak mendapat pahala, tapi juga tidak berdosa. Apabila kadar hukumanmu lebih ringan dibanding kesalahan mereka; maka engkau berpotensi mendapatkan pahala. Namun jika kadar hukumanmu lebih berat dibanding kesalahan mereka; maka sebagian pahalamu akan dicabut lalu diberikan kepada mereka”.Maka pria itupun menyingkir sambil menangis keras. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bukankah engkau membaca ayat al-Qur’an yang berbunyi:“وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا، وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا، وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ”Artinya: “Pada hari kiamat kelak, Kami akan melakukan penimbangan amal manusia secara adil. Tidak akan ada yang dizalimi sedikitpun, walau hanya sebesar biji sawi. Semua (kebaikan atau keburukan) akan didatangkan dan diberi balasan. Cukuplah Kami yang menghitung amal manusia”. QS. Al-Anbiya’ (21): 47.Pria itupun berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, menurutku solusi terbaik untukku dan untuk mereka adalah kami berpisah. Engkau menjadi saksinya, bahwa mereka semua aku bebaskan!”. HR. Tirmidziy (no. 3165) dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Albaniy.Hadits di atas menjelaskan betapa berat pertanggungjawaban perbuatan zalim kepada sesama. Jika perilaku terhadap budak—yang sejatinya boleh diperjualbelikan—saja detilnya sedemikan rupa, apalagi pertanggungjawaban perilaku kepada ayah-ibu, suami-istri, putra-putri dan kakak-adik kita?Berikut langkah-langkah bijaksana untuk menghindari kezaliman:Terus BelajarMaksudnya mempelajari aturan agama tentang hak dan kewajiban terhadap orang-orang terdekat kita. Agar kita semakin mengerti, mana kewajiban yang sudah ditunaikan dengan baik, mana yang telah ditunaikan namun belum maksimal, dan mana yang belum ditunaikan.Selalu IntrospeksiSebab manusia sering lupa dan lalai. Sehingga secara rutin, dari waktu kewaktu, kita perlu introspeksi diri. Meningkatkan yang sudah baik dan memperbaiki yang belum baik. Terjatuh pada sebuah kesalahan, adalah hal yang wajar. Namun gengsi meminta maaf saat berbuat kesalahan, adalah sebuah kebodohan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 11 Jumadal Ula 1444 / 5 Desember 2022


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MASemakin dekat hubungan orang lain dengan kita, maka semakin besar pula kewajiban yang harus kita tunaikan untuknya. Karena itulah, ayah-ibu, suami-istri, putra-putri dan kakak-adik kita, memiliki hak yang lebih besar dibandingkan orang lain yang tidak memiliki hubungan darah.Namun sayangnya, justru merekalah yang kerap menjadi korban perilaku tidak terpuji kita. Entah karena kita tidak maksimal dalam menunaikan hak-hak mereka. Atau bahkan yang lebih parah dari itu, ternyata tanpa sadar kita menzalimi mereka. Padahal akibat perbuatan zalim itu sangat mengerikan. Bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat.Ibunda kita Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita,“Suatu saat ada seorang pria duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku memiliki banyak budak. Namun mereka kerap berbohong kepadaku, mengkhianatiku dan tidak menaatiku. Maka akupun memaki dan memukuli mereka. Kira-kira kelak seperti apa pertanggungjawabanku di hadapan Allah?”.Beliau menjawab, “Di akhirat kelak, porsi kedustaan, pengkhianatan dan ketidaktaatan mereka akan ditimbang, begitupula porsi hukumanmu. Jika ternyata hukumanmu sepadan dengan kesalahan mereka, maka tidak masalah; engkau tidak mendapat pahala, tapi juga tidak berdosa. Apabila kadar hukumanmu lebih ringan dibanding kesalahan mereka; maka engkau berpotensi mendapatkan pahala. Namun jika kadar hukumanmu lebih berat dibanding kesalahan mereka; maka sebagian pahalamu akan dicabut lalu diberikan kepada mereka”.Maka pria itupun menyingkir sambil menangis keras. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bukankah engkau membaca ayat al-Qur’an yang berbunyi:“وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا، وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا، وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ”Artinya: “Pada hari kiamat kelak, Kami akan melakukan penimbangan amal manusia secara adil. Tidak akan ada yang dizalimi sedikitpun, walau hanya sebesar biji sawi. Semua (kebaikan atau keburukan) akan didatangkan dan diberi balasan. Cukuplah Kami yang menghitung amal manusia”. QS. Al-Anbiya’ (21): 47.Pria itupun berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, menurutku solusi terbaik untukku dan untuk mereka adalah kami berpisah. Engkau menjadi saksinya, bahwa mereka semua aku bebaskan!”. HR. Tirmidziy (no. 3165) dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Albaniy.Hadits di atas menjelaskan betapa berat pertanggungjawaban perbuatan zalim kepada sesama. Jika perilaku terhadap budak—yang sejatinya boleh diperjualbelikan—saja detilnya sedemikan rupa, apalagi pertanggungjawaban perilaku kepada ayah-ibu, suami-istri, putra-putri dan kakak-adik kita?Berikut langkah-langkah bijaksana untuk menghindari kezaliman:Terus BelajarMaksudnya mempelajari aturan agama tentang hak dan kewajiban terhadap orang-orang terdekat kita. Agar kita semakin mengerti, mana kewajiban yang sudah ditunaikan dengan baik, mana yang telah ditunaikan namun belum maksimal, dan mana yang belum ditunaikan.Selalu IntrospeksiSebab manusia sering lupa dan lalai. Sehingga secara rutin, dari waktu kewaktu, kita perlu introspeksi diri. Meningkatkan yang sudah baik dan memperbaiki yang belum baik. Terjatuh pada sebuah kesalahan, adalah hal yang wajar. Namun gengsi meminta maaf saat berbuat kesalahan, adalah sebuah kebodohan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 11 Jumadal Ula 1444 / 5 Desember 2022
Prev     Next