KDRT, Memukul Wajah Istri Sampai Berdarah?

Wahai suami, jangan sampai terjadi KDRT!Sangat sangat tidak layak seorang laki-laki memukul wanita sampai terluka berdarah, apalagi di wajahnya.Memukul dan menempeleng di wajah itu dilarang oleh agama baik untuk laki-laki, perempuan, anak-anak, dan siapa saja. Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,إذَا قاتَلَ أحَدُكُمْ فلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ.“Jika salah seorang dari kalian berperang (memukul), maka hendaklah ia menghindari bagian wajah.” (HR. Bukhari no. 2372)Jika memang jantan, seharusnya engkau berhadapan dengan sesama laki-laki.Engkau beradu otot dengan sesama laki-laki, terlebih di medan jihad.Tetapi engkau berhadapan dengan wanita yang disifati dalam hadis sebagai kaca yang mudah pecah.اِرْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ“Lembutlah kepada gelas-gelas kaca (maksudnya para wanita).” (HR. Bukhari)Diketuk kasar saja, pecahlah kaca. Apalagi dipukul sekuat tenaga bersama kebencian dan cacian. Istrimu adalah partner bersama membangun rumah tangga, bukan rumah duka.Memang benar, boleh memukul istri, tetapi itu sebagai langkah terakhir. Sekali lagi, sebagai langkah terakhir setelah langkah-langkah berikut:Pertama: suami instrospeksi diri karena pembangkangan istri dan anak-anak, bisa jadi karena maksiat yang dilakukan oleh si suami sendiri.Kedua: setelah menasihati istri secara baik-baik.Ketiga: setelah menjauhi tempat tidurnya.Memukulnya pun menurut penjelasan ulama itu hanya memakai siwak dan bantal yang tujuannya sekedar untuk menunjukkan puncak ketidaksukaan suami pada istri. Bukan dipukul, dibogem, atau dipukul dengan kayu, apalagi cambuk.Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ: مَا الضَّرْبُ غَيْرُ الْمُبَرِّحِ؟ قَالَ: السِّوَاكُ وَشِبْهُهُ، يَضْرِبُهَا بِهِDari ‘Atha, dia berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apa maksud pemukulan yang tidak menyakitkan?’”Dia menjawab, ‘Memukul dengan siwak atau yang serupa dengannya.’” (Tafsir Ibnu Jarir, 8: 314)Cukuplah teladan bagi kita bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memukul istri-istrinya, pembantu, dan budaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak pernah memukul dengan tangannya, tidak pernah memukul istri, dan tidak pernah memukul pembantu, kecuali ketika berjihad fii sabilillah.” (HR. Muslim)Semoga Allah Ta’ala menjaga rumah tangga kaum musliminBaca Juga:Waktu yang Ideal Berhubungan Badan Suami-IstriFatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?***Penulis: dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Basmalah, Hadis Anak Yatim, Ayat Tentang Nuzulul Qur'an, Stikes Madani Jogja, Potong Kerbau KurbanTags: adabAkhlakfatwahak istriHUKUM KDRTistrikdrtKeluargakewajiban suamimemukul istrinasihatnasihat islampernikahanrumah tanggaSEBAB KDRTsuamisuami istri

KDRT, Memukul Wajah Istri Sampai Berdarah?

Wahai suami, jangan sampai terjadi KDRT!Sangat sangat tidak layak seorang laki-laki memukul wanita sampai terluka berdarah, apalagi di wajahnya.Memukul dan menempeleng di wajah itu dilarang oleh agama baik untuk laki-laki, perempuan, anak-anak, dan siapa saja. Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,إذَا قاتَلَ أحَدُكُمْ فلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ.“Jika salah seorang dari kalian berperang (memukul), maka hendaklah ia menghindari bagian wajah.” (HR. Bukhari no. 2372)Jika memang jantan, seharusnya engkau berhadapan dengan sesama laki-laki.Engkau beradu otot dengan sesama laki-laki, terlebih di medan jihad.Tetapi engkau berhadapan dengan wanita yang disifati dalam hadis sebagai kaca yang mudah pecah.اِرْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ“Lembutlah kepada gelas-gelas kaca (maksudnya para wanita).” (HR. Bukhari)Diketuk kasar saja, pecahlah kaca. Apalagi dipukul sekuat tenaga bersama kebencian dan cacian. Istrimu adalah partner bersama membangun rumah tangga, bukan rumah duka.Memang benar, boleh memukul istri, tetapi itu sebagai langkah terakhir. Sekali lagi, sebagai langkah terakhir setelah langkah-langkah berikut:Pertama: suami instrospeksi diri karena pembangkangan istri dan anak-anak, bisa jadi karena maksiat yang dilakukan oleh si suami sendiri.Kedua: setelah menasihati istri secara baik-baik.Ketiga: setelah menjauhi tempat tidurnya.Memukulnya pun menurut penjelasan ulama itu hanya memakai siwak dan bantal yang tujuannya sekedar untuk menunjukkan puncak ketidaksukaan suami pada istri. Bukan dipukul, dibogem, atau dipukul dengan kayu, apalagi cambuk.Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ: مَا الضَّرْبُ غَيْرُ الْمُبَرِّحِ؟ قَالَ: السِّوَاكُ وَشِبْهُهُ، يَضْرِبُهَا بِهِDari ‘Atha, dia berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apa maksud pemukulan yang tidak menyakitkan?’”Dia menjawab, ‘Memukul dengan siwak atau yang serupa dengannya.’” (Tafsir Ibnu Jarir, 8: 314)Cukuplah teladan bagi kita bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memukul istri-istrinya, pembantu, dan budaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak pernah memukul dengan tangannya, tidak pernah memukul istri, dan tidak pernah memukul pembantu, kecuali ketika berjihad fii sabilillah.” (HR. Muslim)Semoga Allah Ta’ala menjaga rumah tangga kaum musliminBaca Juga:Waktu yang Ideal Berhubungan Badan Suami-IstriFatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?***Penulis: dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Basmalah, Hadis Anak Yatim, Ayat Tentang Nuzulul Qur'an, Stikes Madani Jogja, Potong Kerbau KurbanTags: adabAkhlakfatwahak istriHUKUM KDRTistrikdrtKeluargakewajiban suamimemukul istrinasihatnasihat islampernikahanrumah tanggaSEBAB KDRTsuamisuami istri
Wahai suami, jangan sampai terjadi KDRT!Sangat sangat tidak layak seorang laki-laki memukul wanita sampai terluka berdarah, apalagi di wajahnya.Memukul dan menempeleng di wajah itu dilarang oleh agama baik untuk laki-laki, perempuan, anak-anak, dan siapa saja. Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,إذَا قاتَلَ أحَدُكُمْ فلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ.“Jika salah seorang dari kalian berperang (memukul), maka hendaklah ia menghindari bagian wajah.” (HR. Bukhari no. 2372)Jika memang jantan, seharusnya engkau berhadapan dengan sesama laki-laki.Engkau beradu otot dengan sesama laki-laki, terlebih di medan jihad.Tetapi engkau berhadapan dengan wanita yang disifati dalam hadis sebagai kaca yang mudah pecah.اِرْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ“Lembutlah kepada gelas-gelas kaca (maksudnya para wanita).” (HR. Bukhari)Diketuk kasar saja, pecahlah kaca. Apalagi dipukul sekuat tenaga bersama kebencian dan cacian. Istrimu adalah partner bersama membangun rumah tangga, bukan rumah duka.Memang benar, boleh memukul istri, tetapi itu sebagai langkah terakhir. Sekali lagi, sebagai langkah terakhir setelah langkah-langkah berikut:Pertama: suami instrospeksi diri karena pembangkangan istri dan anak-anak, bisa jadi karena maksiat yang dilakukan oleh si suami sendiri.Kedua: setelah menasihati istri secara baik-baik.Ketiga: setelah menjauhi tempat tidurnya.Memukulnya pun menurut penjelasan ulama itu hanya memakai siwak dan bantal yang tujuannya sekedar untuk menunjukkan puncak ketidaksukaan suami pada istri. Bukan dipukul, dibogem, atau dipukul dengan kayu, apalagi cambuk.Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ: مَا الضَّرْبُ غَيْرُ الْمُبَرِّحِ؟ قَالَ: السِّوَاكُ وَشِبْهُهُ، يَضْرِبُهَا بِهِDari ‘Atha, dia berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apa maksud pemukulan yang tidak menyakitkan?’”Dia menjawab, ‘Memukul dengan siwak atau yang serupa dengannya.’” (Tafsir Ibnu Jarir, 8: 314)Cukuplah teladan bagi kita bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memukul istri-istrinya, pembantu, dan budaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak pernah memukul dengan tangannya, tidak pernah memukul istri, dan tidak pernah memukul pembantu, kecuali ketika berjihad fii sabilillah.” (HR. Muslim)Semoga Allah Ta’ala menjaga rumah tangga kaum musliminBaca Juga:Waktu yang Ideal Berhubungan Badan Suami-IstriFatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?***Penulis: dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Basmalah, Hadis Anak Yatim, Ayat Tentang Nuzulul Qur'an, Stikes Madani Jogja, Potong Kerbau KurbanTags: adabAkhlakfatwahak istriHUKUM KDRTistrikdrtKeluargakewajiban suamimemukul istrinasihatnasihat islampernikahanrumah tanggaSEBAB KDRTsuamisuami istri


Wahai suami, jangan sampai terjadi KDRT!Sangat sangat tidak layak seorang laki-laki memukul wanita sampai terluka berdarah, apalagi di wajahnya.Memukul dan menempeleng di wajah itu dilarang oleh agama baik untuk laki-laki, perempuan, anak-anak, dan siapa saja. Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,إذَا قاتَلَ أحَدُكُمْ فلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ.“Jika salah seorang dari kalian berperang (memukul), maka hendaklah ia menghindari bagian wajah.” (HR. Bukhari no. 2372)Jika memang jantan, seharusnya engkau berhadapan dengan sesama laki-laki.Engkau beradu otot dengan sesama laki-laki, terlebih di medan jihad.Tetapi engkau berhadapan dengan wanita yang disifati dalam hadis sebagai kaca yang mudah pecah.اِرْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ“Lembutlah kepada gelas-gelas kaca (maksudnya para wanita).” (HR. Bukhari)Diketuk kasar saja, pecahlah kaca. Apalagi dipukul sekuat tenaga bersama kebencian dan cacian. Istrimu adalah partner bersama membangun rumah tangga, bukan rumah duka.Memang benar, boleh memukul istri, tetapi itu sebagai langkah terakhir. Sekali lagi, sebagai langkah terakhir setelah langkah-langkah berikut:Pertama: suami instrospeksi diri karena pembangkangan istri dan anak-anak, bisa jadi karena maksiat yang dilakukan oleh si suami sendiri.Kedua: setelah menasihati istri secara baik-baik.Ketiga: setelah menjauhi tempat tidurnya.Memukulnya pun menurut penjelasan ulama itu hanya memakai siwak dan bantal yang tujuannya sekedar untuk menunjukkan puncak ketidaksukaan suami pada istri. Bukan dipukul, dibogem, atau dipukul dengan kayu, apalagi cambuk.Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ: مَا الضَّرْبُ غَيْرُ الْمُبَرِّحِ؟ قَالَ: السِّوَاكُ وَشِبْهُهُ، يَضْرِبُهَا بِهِDari ‘Atha, dia berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apa maksud pemukulan yang tidak menyakitkan?’”Dia menjawab, ‘Memukul dengan siwak atau yang serupa dengannya.’” (Tafsir Ibnu Jarir, 8: 314)Cukuplah teladan bagi kita bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memukul istri-istrinya, pembantu, dan budaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak pernah memukul dengan tangannya, tidak pernah memukul istri, dan tidak pernah memukul pembantu, kecuali ketika berjihad fii sabilillah.” (HR. Muslim)Semoga Allah Ta’ala menjaga rumah tangga kaum musliminBaca Juga:Waktu yang Ideal Berhubungan Badan Suami-IstriFatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?***Penulis: dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Basmalah, Hadis Anak Yatim, Ayat Tentang Nuzulul Qur'an, Stikes Madani Jogja, Potong Kerbau KurbanTags: adabAkhlakfatwahak istriHUKUM KDRTistrikdrtKeluargakewajiban suamimemukul istrinasihatnasihat islampernikahanrumah tanggaSEBAB KDRTsuamisuami istri

8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal

Kita semua tahu bagaimana kedudukan ikhlas dalam ibadah seorang hamba. Kita semua insyaAllah juga tahu bahwa keikhlasan merupakan salah satu syarat utama diterimanya sebuah amal. Orang yang ikhlas akan senantiasa Allah Ta’ala jaga dari kemaksiatan dan marabahaya. Allah Ta’ala mengisahkan kisah nabi Yusuf ‘alaihissalam,وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) itu termasuk hamba-hamba Kami yang terikhlas (dalam hal ketaatan).” (QS. Yusuf: 24)Orang yang ikhlas akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan keikhlasannya tersebut akan menjadi pembuka untuk kebaikan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعْمَلَ عَمَلًا تَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا ازْدَدْتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً“Sesungguhnya kamu tidak diberikan umur panjang, lalu kamu mengerjakan suatu amal untuk mengharap keridaan Allah, kecuali kamu akan bertambah derajat dan kemuliaan dengan amal itu.” (HR. Bukhari no. 4409 dan Muslim no. 1628)Keikhlasan akan menentramkan dan menenangkan jiwa serta menjauhkan seseorang dari merendahkan diri kepada makhluk hanya karena ingin mendapatkan keridaan dan perhatian mereka. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan,مَنْ عَرَفَ الناس استراح“Siapa yang mengetahui hakikat asli seorang manusia, maka ia akan tenang dan santai.”Maksudnya, ia tahu bahwa orang lain tidak akan bisa memberikan manfaat ataupun memberikan kemudaratan untuk dirinya. Sehingga ia tidak akan ambil pusing hanya untuk mendapatkan pujian dan keridaan mereka.Sejak dahulu kala hingga hari kiamat nanti, seorang mukmin akan senantiasa dalam pertempuran melawan Iblis laknatullah, yang tugasnya memang menggoda dan memalingkan manusia dari keikhlasan dalam beramal, merusak amal kebaikan yang telah mereka lakukan.Sebagian dari kita mungkin masih bingung, bagaimana caranya menjaga keikhlasan di dalam beramal, bagaimana caranya agar senantiasa istikamah mengharapkan wajah Allah Ta’ala di dalam setiap amalan yang kita lakukan. Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzhahullah dalam salah satu karyanya, memberikan 8 tips yang insyaAllah akan membantu kita di dalam menjaga keikhlasan. Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Berdoa 2. Kedua: Menyembunyikan amal 3. Ketiga: Dalam beramal saleh, lihatlah selalu orang yang lebih baik dari dirimu! 4. Keempat: Menganggap kecil amalan yang sudah dilakukan 5. Kelima: Merasa takut amalannya tidak diterima Allah Ta’ala 6. Keenam: Tidak mudah terpengaruh oleh ucapan manusia 7. Ketujuh: Yakin, bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang berkuasa atas surga dan neraka 8. Kedelapan: Senantiasa mengingat bahwa kita akan sendirian di alam kubur Pertama: BerdoaHidayah ada di tangan Allah Ta’ala dan hati manusia ada di antara 2 jari Allah Ta’ala. Allah bolak-balikkan hati manusia seperti yang Ia inginkan.Oleh karena itu, mintalah selalu kepada Rabb kita yang memiliki kuasa penuh terhadap hidayah. Tampakkan kepada-Nya kebutuhan kita akan pertolongan-Nya. Mintalah selalu keikhlasan dalam beribadah. Di antara doa yang sering dibaca oleh ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu adalah,اللهمَّ اجعل عملي كُلّه صالحًا، واجعله لِوَجهِك خالصًا، ولا تجعل لأحد فيه شيئًا“Ya Allah, jadikan seluruh amalku bernilai kebaikan, dan jadikanlah amal tersebut benar-benar ikhlas hanya untuk wajah-Mu, dan jangan jadikan sedikit pun dari amal tersebut untuk siapa pun (selain Engkau).”  (Jaamiul Masail karya Ibnu Taimiyyah).Kedua: Menyembunyikan amalSetiap kali sebuah amal yang memang diperintahkan untuk disembunyikan semakin tersembunyi, maka amalan tersebut semakin berpeluang besar diterima oleh Allah Ta’ala dan akan semakin dekat dengan keikhlasan. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، ومنهَا: وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأخْفَاهَا حتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ ما صَنَعَتْ يَمِينُهُ.“Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Di antaranya: seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah, lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1031)Bisyr bin Al-Haris pernah mengatakan, “Janganlah engkau beramal hanya agar engkau diingat (oleh manusia). Sembunyikanlah amal kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekan.”Salat sunah nafilah di malam hari memiliki keutamaan lebih dari salat sunah nafilah di siang hari. Beristigfar di waktu sahur memiliki keutamaan khusus melebihi istigfar di waktu-waktu lainnya. Mengapa? Karena semuanya itu lebih mudah disembunyikan dan lebih dekat dengan keikhlasan.Ketiga: Dalam beramal saleh, lihatlah selalu orang yang lebih baik dari dirimu!Saat beramal saleh, maka jangan jadikan orang-orang di sekitarmu sebagai patokan, apalagi jika orang tersebut lebih rendah kualitas amalnya dari dirimu. Jadikanlah selalu para nabi dan orang saleh sebagai panutanmu dalam beramal sebagaimana firman Allah Ta’ala,اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90)Bacalah kisah-kisah dan biografi orang-orang saleh terdahulu, baik itu dari kalangan ulama, ahli ibadah, ataupun orang-orang yang zuhud. Karena kisah-kisah mereka akan menjadi booster yang sempurna bagi keimanan.Keempat: Menganggap kecil amalan yang sudah dilakukanDi antara hal-hal yang merusak diri seorang hamba adalah merasa puas dengan dirinya sendiri, merasa kagum dengan amalan yang telah ia lakukan. Sungguh perbuatan semacam ini akan memperkeruh keikhlasan atau bahkan mencabut keikhlasan, dan yang lebih buruk lagi adalah menggugurkan pahala setelah ia bersusah payah melaksanakannya.Said bin Jubair radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ada seorang lelaki yang masuk surga karena kemaksiatan dan ada seorang lelaki yang masuk neraka karena perbuatan baik.”Dikatakan kepadanya, “Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi?” Maka Said bin Jubair menjawab, “Seorang lelaki pernah melakukan kemaksiatan, lalu setelahnya ia senantiasa merasa takut akan hukuman Allah karena kemaksiatan (yang ia lakukan) tersebut. Lalu ia pun bertemu dengan Allah. Maka, Allah ampuni dirinya dikarenakan rasa takutnya tersebut kepada-Nya. Dan ada seorang lelaki yang berbuat kebaikan, kemudian ia terus menerus berbangga diri dengan hal tersebut hingga kemudian ia bertemu Allah dengan membawa amalannya tersebut. Namun Allah masukkan ia ke dalam neraka.”Kelima: Merasa takut amalannya tidak diterima Allah Ta’alaSuatu ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Wahai Rasulullah, perihal ayat,وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ‘Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.’ (QS. Al-Mukminun: 60)Apakah itu tentang mereka yang mencuri, berzina, dan menenggak minuman keras kemudian ia takut kepada Allah Ta’ala?”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,لا يا بنت أبي بكر الصديق، ولكنهم الذين يصلون ويصومون ويتصدقون وهم خائفون ألا يتقبل منهم“Tidak wahai putri Abu Bakar As-Shiddiq, justru mereka adalah orang-orang yang melaksanakan salat, berpuasa, dan bersedekah sedang mereka takut amalan mereka tidak diterima (oleh Allah Ta’ala).” (HR. Tirmidzi no. 3175)Sungguh keikhlasan memerlukan perjuangan, baik itu sebelum beramal, saat beramal, maupun setelah beramal.Keenam: Tidak mudah terpengaruh oleh ucapan manusiaIbnu Al-Jauzi rahimahullah dalam kitabnya Shaidu Al-Khaatir berkata,ما أقلَّ مَن يعمل لله تعالى خالصًا! لأن أكثر الناس يُحبُّون ظهور عباداتهم، فاعلم أن ترك النظر إلى الخلق، ومحو الجاه من قلوبهم بالعمل وإخلاص القصد، وستر الحال- هو الذي رفع مَن رفع“Sangat sedikit sekali orang beramal dengan ikhlas untuk Allah Ta’ala! Karena kebanyakan manusia sangat senang menampakkan amalan mereka. Ketahuilah! Sesungguhnya meninggalkan penilaian manusia, tidak gengsi hanya untuk mengambil hati mereka saat beramal dan mengikhlaskan tujuan serta menyembunyikan keadaan sebenarnya itulah yang akan meninggikan derajat orang-orang yang memang memiliki kedudukan yang tinggi tersebut.”Ketujuh: Yakin, bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang berkuasa atas surga dan nerakaMukmin harus yakin bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang bisa menjaminkan surga untuk dirinya. Dan tidak ada juga dari mereka yang mampu mengeluarkan seseorang dari neraka jika ada yang meminta kepadanya. Bahkan, jika semua manusia berkumpul di belakangmu lalu mendorongmu menuju surga, maka mereka tidak akan mampu memajukanmu walau sejengkal saja.Lalu, mengapa engkau harus bersusah payah beramal hanya agar dilihat manusia? Padahal mereka sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun yang akan membantumu. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam mengatakan,“Siapa yang berpuasa, mendirikan salat dan berzikir lalu ia mengharapkan dari semuanya itu kepentingan duniawi, maka tidak ada kebaikan baginya suatu apapun; karena amalannya tidak akan mendatangkan manfaat apapun bagi pelakunya. Amalannya tersebut justru akan mendatangkan dosa bagi dirinya sendiri dan tidak untuk yang lain.”Kedelapan: Senantiasa mengingat bahwa kita akan sendirian di alam kuburJika seseorang yakin bahwa dirinya hanya akan dikuburkan sendirian tanpa seorang teman pun, yakin bahwa tidak ada yang bermanfaat baginya kecuali amal kebaikannya saja, yakin bahwa semua manusia tidak akan ada yang mampu meringankan azab kuburnya sedikit pun, serta yakin bahwa seluruh urusan itu ada di tangan Allah Ta’ala, maka saat itu juga ia akan sadar bahwa tidak akan ada yang dapat menyelamatkannya, kecuali dengan mengikhlaskan seluruh amal perbuatan hanya untuk Penciptanya, Allah Subhaanahu wa Ta’ala saja.Ibnu Al-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kesungguhan dan kesiapan mental seseorang untuk bertemu Allah merupakan faktor paling bermanfaat bagi seorang hamba untuk mencapai keistikamahan. Karena sesungguhnya siapa yang telah bersiap untuk bertemu Allah Ta’ala, maka hatinya akan terputus dari hiruk pikuk kehidupan duniawi dan tuntutan-tuntutannya.” (Thariqu Al-Hijratain, hal. 297).Wallahu a’lam bisshawaab.***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzohullah.🔍 Agama Islam, Tamimah, Doa Takbir, Keutamaan Bulan Romadon, Jazakallahu Khoiron KatsironTags: adabAkhlakamal ibadahamal shalihAqidahikhlasikhlas dalam beramalkeikhlasankeutamaan ikhlasmenjaga keikhlasannasihatnasihat islam

8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal

Kita semua tahu bagaimana kedudukan ikhlas dalam ibadah seorang hamba. Kita semua insyaAllah juga tahu bahwa keikhlasan merupakan salah satu syarat utama diterimanya sebuah amal. Orang yang ikhlas akan senantiasa Allah Ta’ala jaga dari kemaksiatan dan marabahaya. Allah Ta’ala mengisahkan kisah nabi Yusuf ‘alaihissalam,وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) itu termasuk hamba-hamba Kami yang terikhlas (dalam hal ketaatan).” (QS. Yusuf: 24)Orang yang ikhlas akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan keikhlasannya tersebut akan menjadi pembuka untuk kebaikan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعْمَلَ عَمَلًا تَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا ازْدَدْتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً“Sesungguhnya kamu tidak diberikan umur panjang, lalu kamu mengerjakan suatu amal untuk mengharap keridaan Allah, kecuali kamu akan bertambah derajat dan kemuliaan dengan amal itu.” (HR. Bukhari no. 4409 dan Muslim no. 1628)Keikhlasan akan menentramkan dan menenangkan jiwa serta menjauhkan seseorang dari merendahkan diri kepada makhluk hanya karena ingin mendapatkan keridaan dan perhatian mereka. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan,مَنْ عَرَفَ الناس استراح“Siapa yang mengetahui hakikat asli seorang manusia, maka ia akan tenang dan santai.”Maksudnya, ia tahu bahwa orang lain tidak akan bisa memberikan manfaat ataupun memberikan kemudaratan untuk dirinya. Sehingga ia tidak akan ambil pusing hanya untuk mendapatkan pujian dan keridaan mereka.Sejak dahulu kala hingga hari kiamat nanti, seorang mukmin akan senantiasa dalam pertempuran melawan Iblis laknatullah, yang tugasnya memang menggoda dan memalingkan manusia dari keikhlasan dalam beramal, merusak amal kebaikan yang telah mereka lakukan.Sebagian dari kita mungkin masih bingung, bagaimana caranya menjaga keikhlasan di dalam beramal, bagaimana caranya agar senantiasa istikamah mengharapkan wajah Allah Ta’ala di dalam setiap amalan yang kita lakukan. Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzhahullah dalam salah satu karyanya, memberikan 8 tips yang insyaAllah akan membantu kita di dalam menjaga keikhlasan. Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Berdoa 2. Kedua: Menyembunyikan amal 3. Ketiga: Dalam beramal saleh, lihatlah selalu orang yang lebih baik dari dirimu! 4. Keempat: Menganggap kecil amalan yang sudah dilakukan 5. Kelima: Merasa takut amalannya tidak diterima Allah Ta’ala 6. Keenam: Tidak mudah terpengaruh oleh ucapan manusia 7. Ketujuh: Yakin, bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang berkuasa atas surga dan neraka 8. Kedelapan: Senantiasa mengingat bahwa kita akan sendirian di alam kubur Pertama: BerdoaHidayah ada di tangan Allah Ta’ala dan hati manusia ada di antara 2 jari Allah Ta’ala. Allah bolak-balikkan hati manusia seperti yang Ia inginkan.Oleh karena itu, mintalah selalu kepada Rabb kita yang memiliki kuasa penuh terhadap hidayah. Tampakkan kepada-Nya kebutuhan kita akan pertolongan-Nya. Mintalah selalu keikhlasan dalam beribadah. Di antara doa yang sering dibaca oleh ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu adalah,اللهمَّ اجعل عملي كُلّه صالحًا، واجعله لِوَجهِك خالصًا، ولا تجعل لأحد فيه شيئًا“Ya Allah, jadikan seluruh amalku bernilai kebaikan, dan jadikanlah amal tersebut benar-benar ikhlas hanya untuk wajah-Mu, dan jangan jadikan sedikit pun dari amal tersebut untuk siapa pun (selain Engkau).”  (Jaamiul Masail karya Ibnu Taimiyyah).Kedua: Menyembunyikan amalSetiap kali sebuah amal yang memang diperintahkan untuk disembunyikan semakin tersembunyi, maka amalan tersebut semakin berpeluang besar diterima oleh Allah Ta’ala dan akan semakin dekat dengan keikhlasan. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، ومنهَا: وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأخْفَاهَا حتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ ما صَنَعَتْ يَمِينُهُ.“Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Di antaranya: seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah, lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1031)Bisyr bin Al-Haris pernah mengatakan, “Janganlah engkau beramal hanya agar engkau diingat (oleh manusia). Sembunyikanlah amal kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekan.”Salat sunah nafilah di malam hari memiliki keutamaan lebih dari salat sunah nafilah di siang hari. Beristigfar di waktu sahur memiliki keutamaan khusus melebihi istigfar di waktu-waktu lainnya. Mengapa? Karena semuanya itu lebih mudah disembunyikan dan lebih dekat dengan keikhlasan.Ketiga: Dalam beramal saleh, lihatlah selalu orang yang lebih baik dari dirimu!Saat beramal saleh, maka jangan jadikan orang-orang di sekitarmu sebagai patokan, apalagi jika orang tersebut lebih rendah kualitas amalnya dari dirimu. Jadikanlah selalu para nabi dan orang saleh sebagai panutanmu dalam beramal sebagaimana firman Allah Ta’ala,اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90)Bacalah kisah-kisah dan biografi orang-orang saleh terdahulu, baik itu dari kalangan ulama, ahli ibadah, ataupun orang-orang yang zuhud. Karena kisah-kisah mereka akan menjadi booster yang sempurna bagi keimanan.Keempat: Menganggap kecil amalan yang sudah dilakukanDi antara hal-hal yang merusak diri seorang hamba adalah merasa puas dengan dirinya sendiri, merasa kagum dengan amalan yang telah ia lakukan. Sungguh perbuatan semacam ini akan memperkeruh keikhlasan atau bahkan mencabut keikhlasan, dan yang lebih buruk lagi adalah menggugurkan pahala setelah ia bersusah payah melaksanakannya.Said bin Jubair radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ada seorang lelaki yang masuk surga karena kemaksiatan dan ada seorang lelaki yang masuk neraka karena perbuatan baik.”Dikatakan kepadanya, “Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi?” Maka Said bin Jubair menjawab, “Seorang lelaki pernah melakukan kemaksiatan, lalu setelahnya ia senantiasa merasa takut akan hukuman Allah karena kemaksiatan (yang ia lakukan) tersebut. Lalu ia pun bertemu dengan Allah. Maka, Allah ampuni dirinya dikarenakan rasa takutnya tersebut kepada-Nya. Dan ada seorang lelaki yang berbuat kebaikan, kemudian ia terus menerus berbangga diri dengan hal tersebut hingga kemudian ia bertemu Allah dengan membawa amalannya tersebut. Namun Allah masukkan ia ke dalam neraka.”Kelima: Merasa takut amalannya tidak diterima Allah Ta’alaSuatu ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Wahai Rasulullah, perihal ayat,وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ‘Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.’ (QS. Al-Mukminun: 60)Apakah itu tentang mereka yang mencuri, berzina, dan menenggak minuman keras kemudian ia takut kepada Allah Ta’ala?”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,لا يا بنت أبي بكر الصديق، ولكنهم الذين يصلون ويصومون ويتصدقون وهم خائفون ألا يتقبل منهم“Tidak wahai putri Abu Bakar As-Shiddiq, justru mereka adalah orang-orang yang melaksanakan salat, berpuasa, dan bersedekah sedang mereka takut amalan mereka tidak diterima (oleh Allah Ta’ala).” (HR. Tirmidzi no. 3175)Sungguh keikhlasan memerlukan perjuangan, baik itu sebelum beramal, saat beramal, maupun setelah beramal.Keenam: Tidak mudah terpengaruh oleh ucapan manusiaIbnu Al-Jauzi rahimahullah dalam kitabnya Shaidu Al-Khaatir berkata,ما أقلَّ مَن يعمل لله تعالى خالصًا! لأن أكثر الناس يُحبُّون ظهور عباداتهم، فاعلم أن ترك النظر إلى الخلق، ومحو الجاه من قلوبهم بالعمل وإخلاص القصد، وستر الحال- هو الذي رفع مَن رفع“Sangat sedikit sekali orang beramal dengan ikhlas untuk Allah Ta’ala! Karena kebanyakan manusia sangat senang menampakkan amalan mereka. Ketahuilah! Sesungguhnya meninggalkan penilaian manusia, tidak gengsi hanya untuk mengambil hati mereka saat beramal dan mengikhlaskan tujuan serta menyembunyikan keadaan sebenarnya itulah yang akan meninggikan derajat orang-orang yang memang memiliki kedudukan yang tinggi tersebut.”Ketujuh: Yakin, bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang berkuasa atas surga dan nerakaMukmin harus yakin bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang bisa menjaminkan surga untuk dirinya. Dan tidak ada juga dari mereka yang mampu mengeluarkan seseorang dari neraka jika ada yang meminta kepadanya. Bahkan, jika semua manusia berkumpul di belakangmu lalu mendorongmu menuju surga, maka mereka tidak akan mampu memajukanmu walau sejengkal saja.Lalu, mengapa engkau harus bersusah payah beramal hanya agar dilihat manusia? Padahal mereka sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun yang akan membantumu. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam mengatakan,“Siapa yang berpuasa, mendirikan salat dan berzikir lalu ia mengharapkan dari semuanya itu kepentingan duniawi, maka tidak ada kebaikan baginya suatu apapun; karena amalannya tidak akan mendatangkan manfaat apapun bagi pelakunya. Amalannya tersebut justru akan mendatangkan dosa bagi dirinya sendiri dan tidak untuk yang lain.”Kedelapan: Senantiasa mengingat bahwa kita akan sendirian di alam kuburJika seseorang yakin bahwa dirinya hanya akan dikuburkan sendirian tanpa seorang teman pun, yakin bahwa tidak ada yang bermanfaat baginya kecuali amal kebaikannya saja, yakin bahwa semua manusia tidak akan ada yang mampu meringankan azab kuburnya sedikit pun, serta yakin bahwa seluruh urusan itu ada di tangan Allah Ta’ala, maka saat itu juga ia akan sadar bahwa tidak akan ada yang dapat menyelamatkannya, kecuali dengan mengikhlaskan seluruh amal perbuatan hanya untuk Penciptanya, Allah Subhaanahu wa Ta’ala saja.Ibnu Al-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kesungguhan dan kesiapan mental seseorang untuk bertemu Allah merupakan faktor paling bermanfaat bagi seorang hamba untuk mencapai keistikamahan. Karena sesungguhnya siapa yang telah bersiap untuk bertemu Allah Ta’ala, maka hatinya akan terputus dari hiruk pikuk kehidupan duniawi dan tuntutan-tuntutannya.” (Thariqu Al-Hijratain, hal. 297).Wallahu a’lam bisshawaab.***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzohullah.🔍 Agama Islam, Tamimah, Doa Takbir, Keutamaan Bulan Romadon, Jazakallahu Khoiron KatsironTags: adabAkhlakamal ibadahamal shalihAqidahikhlasikhlas dalam beramalkeikhlasankeutamaan ikhlasmenjaga keikhlasannasihatnasihat islam
Kita semua tahu bagaimana kedudukan ikhlas dalam ibadah seorang hamba. Kita semua insyaAllah juga tahu bahwa keikhlasan merupakan salah satu syarat utama diterimanya sebuah amal. Orang yang ikhlas akan senantiasa Allah Ta’ala jaga dari kemaksiatan dan marabahaya. Allah Ta’ala mengisahkan kisah nabi Yusuf ‘alaihissalam,وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) itu termasuk hamba-hamba Kami yang terikhlas (dalam hal ketaatan).” (QS. Yusuf: 24)Orang yang ikhlas akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan keikhlasannya tersebut akan menjadi pembuka untuk kebaikan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعْمَلَ عَمَلًا تَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا ازْدَدْتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً“Sesungguhnya kamu tidak diberikan umur panjang, lalu kamu mengerjakan suatu amal untuk mengharap keridaan Allah, kecuali kamu akan bertambah derajat dan kemuliaan dengan amal itu.” (HR. Bukhari no. 4409 dan Muslim no. 1628)Keikhlasan akan menentramkan dan menenangkan jiwa serta menjauhkan seseorang dari merendahkan diri kepada makhluk hanya karena ingin mendapatkan keridaan dan perhatian mereka. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan,مَنْ عَرَفَ الناس استراح“Siapa yang mengetahui hakikat asli seorang manusia, maka ia akan tenang dan santai.”Maksudnya, ia tahu bahwa orang lain tidak akan bisa memberikan manfaat ataupun memberikan kemudaratan untuk dirinya. Sehingga ia tidak akan ambil pusing hanya untuk mendapatkan pujian dan keridaan mereka.Sejak dahulu kala hingga hari kiamat nanti, seorang mukmin akan senantiasa dalam pertempuran melawan Iblis laknatullah, yang tugasnya memang menggoda dan memalingkan manusia dari keikhlasan dalam beramal, merusak amal kebaikan yang telah mereka lakukan.Sebagian dari kita mungkin masih bingung, bagaimana caranya menjaga keikhlasan di dalam beramal, bagaimana caranya agar senantiasa istikamah mengharapkan wajah Allah Ta’ala di dalam setiap amalan yang kita lakukan. Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzhahullah dalam salah satu karyanya, memberikan 8 tips yang insyaAllah akan membantu kita di dalam menjaga keikhlasan. Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Berdoa 2. Kedua: Menyembunyikan amal 3. Ketiga: Dalam beramal saleh, lihatlah selalu orang yang lebih baik dari dirimu! 4. Keempat: Menganggap kecil amalan yang sudah dilakukan 5. Kelima: Merasa takut amalannya tidak diterima Allah Ta’ala 6. Keenam: Tidak mudah terpengaruh oleh ucapan manusia 7. Ketujuh: Yakin, bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang berkuasa atas surga dan neraka 8. Kedelapan: Senantiasa mengingat bahwa kita akan sendirian di alam kubur Pertama: BerdoaHidayah ada di tangan Allah Ta’ala dan hati manusia ada di antara 2 jari Allah Ta’ala. Allah bolak-balikkan hati manusia seperti yang Ia inginkan.Oleh karena itu, mintalah selalu kepada Rabb kita yang memiliki kuasa penuh terhadap hidayah. Tampakkan kepada-Nya kebutuhan kita akan pertolongan-Nya. Mintalah selalu keikhlasan dalam beribadah. Di antara doa yang sering dibaca oleh ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu adalah,اللهمَّ اجعل عملي كُلّه صالحًا، واجعله لِوَجهِك خالصًا، ولا تجعل لأحد فيه شيئًا“Ya Allah, jadikan seluruh amalku bernilai kebaikan, dan jadikanlah amal tersebut benar-benar ikhlas hanya untuk wajah-Mu, dan jangan jadikan sedikit pun dari amal tersebut untuk siapa pun (selain Engkau).”  (Jaamiul Masail karya Ibnu Taimiyyah).Kedua: Menyembunyikan amalSetiap kali sebuah amal yang memang diperintahkan untuk disembunyikan semakin tersembunyi, maka amalan tersebut semakin berpeluang besar diterima oleh Allah Ta’ala dan akan semakin dekat dengan keikhlasan. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، ومنهَا: وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأخْفَاهَا حتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ ما صَنَعَتْ يَمِينُهُ.“Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Di antaranya: seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah, lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1031)Bisyr bin Al-Haris pernah mengatakan, “Janganlah engkau beramal hanya agar engkau diingat (oleh manusia). Sembunyikanlah amal kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekan.”Salat sunah nafilah di malam hari memiliki keutamaan lebih dari salat sunah nafilah di siang hari. Beristigfar di waktu sahur memiliki keutamaan khusus melebihi istigfar di waktu-waktu lainnya. Mengapa? Karena semuanya itu lebih mudah disembunyikan dan lebih dekat dengan keikhlasan.Ketiga: Dalam beramal saleh, lihatlah selalu orang yang lebih baik dari dirimu!Saat beramal saleh, maka jangan jadikan orang-orang di sekitarmu sebagai patokan, apalagi jika orang tersebut lebih rendah kualitas amalnya dari dirimu. Jadikanlah selalu para nabi dan orang saleh sebagai panutanmu dalam beramal sebagaimana firman Allah Ta’ala,اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90)Bacalah kisah-kisah dan biografi orang-orang saleh terdahulu, baik itu dari kalangan ulama, ahli ibadah, ataupun orang-orang yang zuhud. Karena kisah-kisah mereka akan menjadi booster yang sempurna bagi keimanan.Keempat: Menganggap kecil amalan yang sudah dilakukanDi antara hal-hal yang merusak diri seorang hamba adalah merasa puas dengan dirinya sendiri, merasa kagum dengan amalan yang telah ia lakukan. Sungguh perbuatan semacam ini akan memperkeruh keikhlasan atau bahkan mencabut keikhlasan, dan yang lebih buruk lagi adalah menggugurkan pahala setelah ia bersusah payah melaksanakannya.Said bin Jubair radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ada seorang lelaki yang masuk surga karena kemaksiatan dan ada seorang lelaki yang masuk neraka karena perbuatan baik.”Dikatakan kepadanya, “Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi?” Maka Said bin Jubair menjawab, “Seorang lelaki pernah melakukan kemaksiatan, lalu setelahnya ia senantiasa merasa takut akan hukuman Allah karena kemaksiatan (yang ia lakukan) tersebut. Lalu ia pun bertemu dengan Allah. Maka, Allah ampuni dirinya dikarenakan rasa takutnya tersebut kepada-Nya. Dan ada seorang lelaki yang berbuat kebaikan, kemudian ia terus menerus berbangga diri dengan hal tersebut hingga kemudian ia bertemu Allah dengan membawa amalannya tersebut. Namun Allah masukkan ia ke dalam neraka.”Kelima: Merasa takut amalannya tidak diterima Allah Ta’alaSuatu ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Wahai Rasulullah, perihal ayat,وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ‘Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.’ (QS. Al-Mukminun: 60)Apakah itu tentang mereka yang mencuri, berzina, dan menenggak minuman keras kemudian ia takut kepada Allah Ta’ala?”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,لا يا بنت أبي بكر الصديق، ولكنهم الذين يصلون ويصومون ويتصدقون وهم خائفون ألا يتقبل منهم“Tidak wahai putri Abu Bakar As-Shiddiq, justru mereka adalah orang-orang yang melaksanakan salat, berpuasa, dan bersedekah sedang mereka takut amalan mereka tidak diterima (oleh Allah Ta’ala).” (HR. Tirmidzi no. 3175)Sungguh keikhlasan memerlukan perjuangan, baik itu sebelum beramal, saat beramal, maupun setelah beramal.Keenam: Tidak mudah terpengaruh oleh ucapan manusiaIbnu Al-Jauzi rahimahullah dalam kitabnya Shaidu Al-Khaatir berkata,ما أقلَّ مَن يعمل لله تعالى خالصًا! لأن أكثر الناس يُحبُّون ظهور عباداتهم، فاعلم أن ترك النظر إلى الخلق، ومحو الجاه من قلوبهم بالعمل وإخلاص القصد، وستر الحال- هو الذي رفع مَن رفع“Sangat sedikit sekali orang beramal dengan ikhlas untuk Allah Ta’ala! Karena kebanyakan manusia sangat senang menampakkan amalan mereka. Ketahuilah! Sesungguhnya meninggalkan penilaian manusia, tidak gengsi hanya untuk mengambil hati mereka saat beramal dan mengikhlaskan tujuan serta menyembunyikan keadaan sebenarnya itulah yang akan meninggikan derajat orang-orang yang memang memiliki kedudukan yang tinggi tersebut.”Ketujuh: Yakin, bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang berkuasa atas surga dan nerakaMukmin harus yakin bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang bisa menjaminkan surga untuk dirinya. Dan tidak ada juga dari mereka yang mampu mengeluarkan seseorang dari neraka jika ada yang meminta kepadanya. Bahkan, jika semua manusia berkumpul di belakangmu lalu mendorongmu menuju surga, maka mereka tidak akan mampu memajukanmu walau sejengkal saja.Lalu, mengapa engkau harus bersusah payah beramal hanya agar dilihat manusia? Padahal mereka sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun yang akan membantumu. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam mengatakan,“Siapa yang berpuasa, mendirikan salat dan berzikir lalu ia mengharapkan dari semuanya itu kepentingan duniawi, maka tidak ada kebaikan baginya suatu apapun; karena amalannya tidak akan mendatangkan manfaat apapun bagi pelakunya. Amalannya tersebut justru akan mendatangkan dosa bagi dirinya sendiri dan tidak untuk yang lain.”Kedelapan: Senantiasa mengingat bahwa kita akan sendirian di alam kuburJika seseorang yakin bahwa dirinya hanya akan dikuburkan sendirian tanpa seorang teman pun, yakin bahwa tidak ada yang bermanfaat baginya kecuali amal kebaikannya saja, yakin bahwa semua manusia tidak akan ada yang mampu meringankan azab kuburnya sedikit pun, serta yakin bahwa seluruh urusan itu ada di tangan Allah Ta’ala, maka saat itu juga ia akan sadar bahwa tidak akan ada yang dapat menyelamatkannya, kecuali dengan mengikhlaskan seluruh amal perbuatan hanya untuk Penciptanya, Allah Subhaanahu wa Ta’ala saja.Ibnu Al-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kesungguhan dan kesiapan mental seseorang untuk bertemu Allah merupakan faktor paling bermanfaat bagi seorang hamba untuk mencapai keistikamahan. Karena sesungguhnya siapa yang telah bersiap untuk bertemu Allah Ta’ala, maka hatinya akan terputus dari hiruk pikuk kehidupan duniawi dan tuntutan-tuntutannya.” (Thariqu Al-Hijratain, hal. 297).Wallahu a’lam bisshawaab.***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzohullah.🔍 Agama Islam, Tamimah, Doa Takbir, Keutamaan Bulan Romadon, Jazakallahu Khoiron KatsironTags: adabAkhlakamal ibadahamal shalihAqidahikhlasikhlas dalam beramalkeikhlasankeutamaan ikhlasmenjaga keikhlasannasihatnasihat islam


Kita semua tahu bagaimana kedudukan ikhlas dalam ibadah seorang hamba. Kita semua insyaAllah juga tahu bahwa keikhlasan merupakan salah satu syarat utama diterimanya sebuah amal. Orang yang ikhlas akan senantiasa Allah Ta’ala jaga dari kemaksiatan dan marabahaya. Allah Ta’ala mengisahkan kisah nabi Yusuf ‘alaihissalam,وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) itu termasuk hamba-hamba Kami yang terikhlas (dalam hal ketaatan).” (QS. Yusuf: 24)Orang yang ikhlas akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan keikhlasannya tersebut akan menjadi pembuka untuk kebaikan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعْمَلَ عَمَلًا تَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا ازْدَدْتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً“Sesungguhnya kamu tidak diberikan umur panjang, lalu kamu mengerjakan suatu amal untuk mengharap keridaan Allah, kecuali kamu akan bertambah derajat dan kemuliaan dengan amal itu.” (HR. Bukhari no. 4409 dan Muslim no. 1628)Keikhlasan akan menentramkan dan menenangkan jiwa serta menjauhkan seseorang dari merendahkan diri kepada makhluk hanya karena ingin mendapatkan keridaan dan perhatian mereka. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan,مَنْ عَرَفَ الناس استراح“Siapa yang mengetahui hakikat asli seorang manusia, maka ia akan tenang dan santai.”Maksudnya, ia tahu bahwa orang lain tidak akan bisa memberikan manfaat ataupun memberikan kemudaratan untuk dirinya. Sehingga ia tidak akan ambil pusing hanya untuk mendapatkan pujian dan keridaan mereka.Sejak dahulu kala hingga hari kiamat nanti, seorang mukmin akan senantiasa dalam pertempuran melawan Iblis laknatullah, yang tugasnya memang menggoda dan memalingkan manusia dari keikhlasan dalam beramal, merusak amal kebaikan yang telah mereka lakukan.Sebagian dari kita mungkin masih bingung, bagaimana caranya menjaga keikhlasan di dalam beramal, bagaimana caranya agar senantiasa istikamah mengharapkan wajah Allah Ta’ala di dalam setiap amalan yang kita lakukan. Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzhahullah dalam salah satu karyanya, memberikan 8 tips yang insyaAllah akan membantu kita di dalam menjaga keikhlasan. Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Berdoa 2. Kedua: Menyembunyikan amal 3. Ketiga: Dalam beramal saleh, lihatlah selalu orang yang lebih baik dari dirimu! 4. Keempat: Menganggap kecil amalan yang sudah dilakukan 5. Kelima: Merasa takut amalannya tidak diterima Allah Ta’ala 6. Keenam: Tidak mudah terpengaruh oleh ucapan manusia 7. Ketujuh: Yakin, bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang berkuasa atas surga dan neraka 8. Kedelapan: Senantiasa mengingat bahwa kita akan sendirian di alam kubur Pertama: BerdoaHidayah ada di tangan Allah Ta’ala dan hati manusia ada di antara 2 jari Allah Ta’ala. Allah bolak-balikkan hati manusia seperti yang Ia inginkan.Oleh karena itu, mintalah selalu kepada Rabb kita yang memiliki kuasa penuh terhadap hidayah. Tampakkan kepada-Nya kebutuhan kita akan pertolongan-Nya. Mintalah selalu keikhlasan dalam beribadah. Di antara doa yang sering dibaca oleh ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu adalah,اللهمَّ اجعل عملي كُلّه صالحًا، واجعله لِوَجهِك خالصًا، ولا تجعل لأحد فيه شيئًا“Ya Allah, jadikan seluruh amalku bernilai kebaikan, dan jadikanlah amal tersebut benar-benar ikhlas hanya untuk wajah-Mu, dan jangan jadikan sedikit pun dari amal tersebut untuk siapa pun (selain Engkau).”  (Jaamiul Masail karya Ibnu Taimiyyah).Kedua: Menyembunyikan amalSetiap kali sebuah amal yang memang diperintahkan untuk disembunyikan semakin tersembunyi, maka amalan tersebut semakin berpeluang besar diterima oleh Allah Ta’ala dan akan semakin dekat dengan keikhlasan. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، ومنهَا: وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأخْفَاهَا حتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ ما صَنَعَتْ يَمِينُهُ.“Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Di antaranya: seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah, lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1031)Bisyr bin Al-Haris pernah mengatakan, “Janganlah engkau beramal hanya agar engkau diingat (oleh manusia). Sembunyikanlah amal kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekan.”Salat sunah nafilah di malam hari memiliki keutamaan lebih dari salat sunah nafilah di siang hari. Beristigfar di waktu sahur memiliki keutamaan khusus melebihi istigfar di waktu-waktu lainnya. Mengapa? Karena semuanya itu lebih mudah disembunyikan dan lebih dekat dengan keikhlasan.Ketiga: Dalam beramal saleh, lihatlah selalu orang yang lebih baik dari dirimu!Saat beramal saleh, maka jangan jadikan orang-orang di sekitarmu sebagai patokan, apalagi jika orang tersebut lebih rendah kualitas amalnya dari dirimu. Jadikanlah selalu para nabi dan orang saleh sebagai panutanmu dalam beramal sebagaimana firman Allah Ta’ala,اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90)Bacalah kisah-kisah dan biografi orang-orang saleh terdahulu, baik itu dari kalangan ulama, ahli ibadah, ataupun orang-orang yang zuhud. Karena kisah-kisah mereka akan menjadi booster yang sempurna bagi keimanan.Keempat: Menganggap kecil amalan yang sudah dilakukanDi antara hal-hal yang merusak diri seorang hamba adalah merasa puas dengan dirinya sendiri, merasa kagum dengan amalan yang telah ia lakukan. Sungguh perbuatan semacam ini akan memperkeruh keikhlasan atau bahkan mencabut keikhlasan, dan yang lebih buruk lagi adalah menggugurkan pahala setelah ia bersusah payah melaksanakannya.Said bin Jubair radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ada seorang lelaki yang masuk surga karena kemaksiatan dan ada seorang lelaki yang masuk neraka karena perbuatan baik.”Dikatakan kepadanya, “Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi?” Maka Said bin Jubair menjawab, “Seorang lelaki pernah melakukan kemaksiatan, lalu setelahnya ia senantiasa merasa takut akan hukuman Allah karena kemaksiatan (yang ia lakukan) tersebut. Lalu ia pun bertemu dengan Allah. Maka, Allah ampuni dirinya dikarenakan rasa takutnya tersebut kepada-Nya. Dan ada seorang lelaki yang berbuat kebaikan, kemudian ia terus menerus berbangga diri dengan hal tersebut hingga kemudian ia bertemu Allah dengan membawa amalannya tersebut. Namun Allah masukkan ia ke dalam neraka.”Kelima: Merasa takut amalannya tidak diterima Allah Ta’alaSuatu ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Wahai Rasulullah, perihal ayat,وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ‘Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.’ (QS. Al-Mukminun: 60)Apakah itu tentang mereka yang mencuri, berzina, dan menenggak minuman keras kemudian ia takut kepada Allah Ta’ala?”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,لا يا بنت أبي بكر الصديق، ولكنهم الذين يصلون ويصومون ويتصدقون وهم خائفون ألا يتقبل منهم“Tidak wahai putri Abu Bakar As-Shiddiq, justru mereka adalah orang-orang yang melaksanakan salat, berpuasa, dan bersedekah sedang mereka takut amalan mereka tidak diterima (oleh Allah Ta’ala).” (HR. Tirmidzi no. 3175)Sungguh keikhlasan memerlukan perjuangan, baik itu sebelum beramal, saat beramal, maupun setelah beramal.Keenam: Tidak mudah terpengaruh oleh ucapan manusiaIbnu Al-Jauzi rahimahullah dalam kitabnya Shaidu Al-Khaatir berkata,ما أقلَّ مَن يعمل لله تعالى خالصًا! لأن أكثر الناس يُحبُّون ظهور عباداتهم، فاعلم أن ترك النظر إلى الخلق، ومحو الجاه من قلوبهم بالعمل وإخلاص القصد، وستر الحال- هو الذي رفع مَن رفع“Sangat sedikit sekali orang beramal dengan ikhlas untuk Allah Ta’ala! Karena kebanyakan manusia sangat senang menampakkan amalan mereka. Ketahuilah! Sesungguhnya meninggalkan penilaian manusia, tidak gengsi hanya untuk mengambil hati mereka saat beramal dan mengikhlaskan tujuan serta menyembunyikan keadaan sebenarnya itulah yang akan meninggikan derajat orang-orang yang memang memiliki kedudukan yang tinggi tersebut.”Ketujuh: Yakin, bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang berkuasa atas surga dan nerakaMukmin harus yakin bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang bisa menjaminkan surga untuk dirinya. Dan tidak ada juga dari mereka yang mampu mengeluarkan seseorang dari neraka jika ada yang meminta kepadanya. Bahkan, jika semua manusia berkumpul di belakangmu lalu mendorongmu menuju surga, maka mereka tidak akan mampu memajukanmu walau sejengkal saja.Lalu, mengapa engkau harus bersusah payah beramal hanya agar dilihat manusia? Padahal mereka sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun yang akan membantumu. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam mengatakan,“Siapa yang berpuasa, mendirikan salat dan berzikir lalu ia mengharapkan dari semuanya itu kepentingan duniawi, maka tidak ada kebaikan baginya suatu apapun; karena amalannya tidak akan mendatangkan manfaat apapun bagi pelakunya. Amalannya tersebut justru akan mendatangkan dosa bagi dirinya sendiri dan tidak untuk yang lain.”Kedelapan: Senantiasa mengingat bahwa kita akan sendirian di alam kuburJika seseorang yakin bahwa dirinya hanya akan dikuburkan sendirian tanpa seorang teman pun, yakin bahwa tidak ada yang bermanfaat baginya kecuali amal kebaikannya saja, yakin bahwa semua manusia tidak akan ada yang mampu meringankan azab kuburnya sedikit pun, serta yakin bahwa seluruh urusan itu ada di tangan Allah Ta’ala, maka saat itu juga ia akan sadar bahwa tidak akan ada yang dapat menyelamatkannya, kecuali dengan mengikhlaskan seluruh amal perbuatan hanya untuk Penciptanya, Allah Subhaanahu wa Ta’ala saja.Ibnu Al-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kesungguhan dan kesiapan mental seseorang untuk bertemu Allah merupakan faktor paling bermanfaat bagi seorang hamba untuk mencapai keistikamahan. Karena sesungguhnya siapa yang telah bersiap untuk bertemu Allah Ta’ala, maka hatinya akan terputus dari hiruk pikuk kehidupan duniawi dan tuntutan-tuntutannya.” (Thariqu Al-Hijratain, hal. 297).Wallahu a’lam bisshawaab.***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzohullah.🔍 Agama Islam, Tamimah, Doa Takbir, Keutamaan Bulan Romadon, Jazakallahu Khoiron KatsironTags: adabAkhlakamal ibadahamal shalihAqidahikhlasikhlas dalam beramalkeikhlasankeutamaan ikhlasmenjaga keikhlasannasihatnasihat islam

Jagalah “An-Nawafil” Kita, Gapailah Cinta-Nya, dan Terimalah Anugerah-Nya

Ketika kita memiliki banyak karunia Allah, baik berupa ilmu, harta, maupun kekayaan, tentunya kita adalah orang yang paling dermawan terhadap orang-orang terdekat kita. Atau sebaliknya, ketika kita dekat dengan seseorang yang memiliki banyak karunia Allah tersebut, tentu kita lebih mudah untuk mendapatkan percikannya.Saudaraku, bagaimana jika kita dekat dengan Zat Yang Mahabesar dengan segala karunia-Nya yang tak terbatas. Allah Ta’ala Yang Mahapemurah dan mengabulkan segala permohonan hamba-hamba-Nya. Tidakkah kita menginginkan agar lebih dekat dengan-Nya? Tidakkah kita menginginkan agar dicintai oleh-Nya?Menjadi hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala semestinya menjadi hal yang kita impi-impikan. Semestinya kita menyadari, betapa saat ini banyak ujian dan cobaan yang menimpa kita, baik secara personal maupun cobaan yang menimpa bangsa dan agama ini. Kepada siapakah kita berlindung dan memohon pertolongan, selain kepada Allah? Daftar Isi sembunyikan 1. Kabar gembira bagi penjaga “an-nawafil” 2. Mendalami makna “an-nawafil” 3. Memohon keistikamahan Kabar gembira bagi penjaga “an-nawafil”Ya, jadilah hamba yang dicintai oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita tentang bagaimana cara agar menjadi hamba yang dicintai oleh Allah. Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi.“ (HR. Bukhari no. 6502 dari Abu Hurairah)Masya Allah! Saudaraku, amal-amal sunah adalah kunci dari cara mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan cinta-Nya. Renungkanlah, bagaimana pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki kita disebutkan oleh Allah sebagai perwakilan dari organ tubuh yang dengan-Nya Allah membersamai kita. Kemudian Allah Ta’ala pun menjamin bahwa orang-orang yang telah mendapatkan cinta-Nya dengan amal-amal sunah tersebut akan dikabulkan segala permintaannya dan Allah pun akan melindunginya.Oleh karenanya, untuk memulai memperoleh derajat hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala, penting bagi kita untuk mendalami makna amal-amal sunah sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi tersebut.Baca Juga: Buktikan Cintamu dengan Belajar Sunnah dan Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamMendalami makna “an-nawafil”Mari kita perhatikan kalimat  ( وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ). Kita perlu mendalami makna an-nawafil yang dimaksudkan disini. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menjelaskan terkait dengan an-nawafil. [1]Beliau rahimahullah menjawab,An-Nawafil yang selalu dipraktikkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan salat wajib berjumlah 12 rakaat. Inilah yang kemudian disebut dengan rawatib, yaitu: 4 rakaat sebelum salat zuhur dengan dua kali salam, 2 rakaat setelah zuhur, 2 rakaat setelah maghrib,  2 rakaat setelah isya, dan 2 rakaat sebelum subuh.Adapun tempat yang paling afdal melaksanakan ibadah nawafil ini adalah di rumah. Namun, jika dilaksanakan di masjid, maka tidak ada larangan. Sedangkan apabila dalam keadaan safar, maka yang paling afdal adalah memanfaatkan rukhsah atas an-nawafil ini, yaitu dengan meninggalkannya, kecuali 2 rakaat sebelum subuh dan witir.Perlu diketahui pula bahwa, salat sunah sebelum asar, sebelum magrib, dan sebelum isya juga merupakan ibadah yang dianjurkan, meskipun tidak termasuk rawatib. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,رحم الله امرأً صلى أربعًا قبل العصر“(Semoga) Allah memberi rahmat orang yang salat empat rakaat sebelum asar.” (HR. Abu dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,صلوا قبل المغرب، صلوا قبل المغرب، ثم قال في الثالثة: لمن شاء“Salatlah sebelum magrib, salatlah sebelum magrib.” Kemudian beliau bersabda pada yang ketiga, “Bagi siapa yang mau.” (HR. Ibnul Mulaqqin dalam kitab Badrul Munir, 4: 293)Dari Abdullah bin Mughaffal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ، بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ، ثُمَّ قالَ في الثَّالِثَةِ: لِمَن شاءَ.“Di antara setiap dua azan (ada) salat, di antara setiap dua azan (ada) salat.” Kemudian beliau menekankan pada kali ketiga (dengan tambahan), “Bagi siapa yang menghendakinya.” (HR. Bukhari no. 627)Baca Juga: Jika Allah Mencintai Seorang Hamba, Ia Akan DiujiMemohon keistikamahanDemikianlah, Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita petunjuk tentang bagaimana mendekatkan diri kepada-Nya melalui amalan-amalan sunah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karenanya, tekadkanlah dalam hati untuk mempertahankan dan menjaga ibadah an-nawafil menjadi rutinitas kita setiap hari. Dan jangan lupa untuk senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan anugerah keistikomahan dalam meniti langkah-langkah menuju keridaan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Maka istikomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْDari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman’, lalu istikomahlah.’” (HR Muslim no. 38; Ahmad 3: 413; Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972)Kita sadari bahwa menjaga keistikomahan dalam melaksanakan ibadah an-nawafil ini butuh perjuangan yang besar. Ketika rasa malas melanda, godaan setan menerpa, dan dorongan syahwat mencoba menguasai diri, maka di situ pula keimanan kita sedang diuji. Oleh karenanya, jika bukan karena kasih sayang dan taufik dari Allah, sudah barang tentu mustahil bagi kita untuk bisa istikamah. Padahal, kita sangat membutuhkan cinta Allah.Wallahu a’lamBaca Juga:Rasa Cinta, Takut dan Berharap kepada Allah Ta’alaBerdusta Dalam Mencintai Allah***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dapat dilihat di tautan ini.🔍 Penyakit Ain, Apakah Ipar Termasuk Mahram, Nama Nama Hari Akhir Dan Penjelasan, Contoh Mashalihul Mursalah, Tata Cara Shalat Tarawih Sesuai SunnahTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamcintaimankeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhid

Jagalah “An-Nawafil” Kita, Gapailah Cinta-Nya, dan Terimalah Anugerah-Nya

Ketika kita memiliki banyak karunia Allah, baik berupa ilmu, harta, maupun kekayaan, tentunya kita adalah orang yang paling dermawan terhadap orang-orang terdekat kita. Atau sebaliknya, ketika kita dekat dengan seseorang yang memiliki banyak karunia Allah tersebut, tentu kita lebih mudah untuk mendapatkan percikannya.Saudaraku, bagaimana jika kita dekat dengan Zat Yang Mahabesar dengan segala karunia-Nya yang tak terbatas. Allah Ta’ala Yang Mahapemurah dan mengabulkan segala permohonan hamba-hamba-Nya. Tidakkah kita menginginkan agar lebih dekat dengan-Nya? Tidakkah kita menginginkan agar dicintai oleh-Nya?Menjadi hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala semestinya menjadi hal yang kita impi-impikan. Semestinya kita menyadari, betapa saat ini banyak ujian dan cobaan yang menimpa kita, baik secara personal maupun cobaan yang menimpa bangsa dan agama ini. Kepada siapakah kita berlindung dan memohon pertolongan, selain kepada Allah? Daftar Isi sembunyikan 1. Kabar gembira bagi penjaga “an-nawafil” 2. Mendalami makna “an-nawafil” 3. Memohon keistikamahan Kabar gembira bagi penjaga “an-nawafil”Ya, jadilah hamba yang dicintai oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita tentang bagaimana cara agar menjadi hamba yang dicintai oleh Allah. Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi.“ (HR. Bukhari no. 6502 dari Abu Hurairah)Masya Allah! Saudaraku, amal-amal sunah adalah kunci dari cara mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan cinta-Nya. Renungkanlah, bagaimana pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki kita disebutkan oleh Allah sebagai perwakilan dari organ tubuh yang dengan-Nya Allah membersamai kita. Kemudian Allah Ta’ala pun menjamin bahwa orang-orang yang telah mendapatkan cinta-Nya dengan amal-amal sunah tersebut akan dikabulkan segala permintaannya dan Allah pun akan melindunginya.Oleh karenanya, untuk memulai memperoleh derajat hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala, penting bagi kita untuk mendalami makna amal-amal sunah sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi tersebut.Baca Juga: Buktikan Cintamu dengan Belajar Sunnah dan Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamMendalami makna “an-nawafil”Mari kita perhatikan kalimat  ( وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ). Kita perlu mendalami makna an-nawafil yang dimaksudkan disini. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menjelaskan terkait dengan an-nawafil. [1]Beliau rahimahullah menjawab,An-Nawafil yang selalu dipraktikkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan salat wajib berjumlah 12 rakaat. Inilah yang kemudian disebut dengan rawatib, yaitu: 4 rakaat sebelum salat zuhur dengan dua kali salam, 2 rakaat setelah zuhur, 2 rakaat setelah maghrib,  2 rakaat setelah isya, dan 2 rakaat sebelum subuh.Adapun tempat yang paling afdal melaksanakan ibadah nawafil ini adalah di rumah. Namun, jika dilaksanakan di masjid, maka tidak ada larangan. Sedangkan apabila dalam keadaan safar, maka yang paling afdal adalah memanfaatkan rukhsah atas an-nawafil ini, yaitu dengan meninggalkannya, kecuali 2 rakaat sebelum subuh dan witir.Perlu diketahui pula bahwa, salat sunah sebelum asar, sebelum magrib, dan sebelum isya juga merupakan ibadah yang dianjurkan, meskipun tidak termasuk rawatib. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,رحم الله امرأً صلى أربعًا قبل العصر“(Semoga) Allah memberi rahmat orang yang salat empat rakaat sebelum asar.” (HR. Abu dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,صلوا قبل المغرب، صلوا قبل المغرب، ثم قال في الثالثة: لمن شاء“Salatlah sebelum magrib, salatlah sebelum magrib.” Kemudian beliau bersabda pada yang ketiga, “Bagi siapa yang mau.” (HR. Ibnul Mulaqqin dalam kitab Badrul Munir, 4: 293)Dari Abdullah bin Mughaffal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ، بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ، ثُمَّ قالَ في الثَّالِثَةِ: لِمَن شاءَ.“Di antara setiap dua azan (ada) salat, di antara setiap dua azan (ada) salat.” Kemudian beliau menekankan pada kali ketiga (dengan tambahan), “Bagi siapa yang menghendakinya.” (HR. Bukhari no. 627)Baca Juga: Jika Allah Mencintai Seorang Hamba, Ia Akan DiujiMemohon keistikamahanDemikianlah, Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita petunjuk tentang bagaimana mendekatkan diri kepada-Nya melalui amalan-amalan sunah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karenanya, tekadkanlah dalam hati untuk mempertahankan dan menjaga ibadah an-nawafil menjadi rutinitas kita setiap hari. Dan jangan lupa untuk senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan anugerah keistikomahan dalam meniti langkah-langkah menuju keridaan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Maka istikomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْDari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman’, lalu istikomahlah.’” (HR Muslim no. 38; Ahmad 3: 413; Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972)Kita sadari bahwa menjaga keistikomahan dalam melaksanakan ibadah an-nawafil ini butuh perjuangan yang besar. Ketika rasa malas melanda, godaan setan menerpa, dan dorongan syahwat mencoba menguasai diri, maka di situ pula keimanan kita sedang diuji. Oleh karenanya, jika bukan karena kasih sayang dan taufik dari Allah, sudah barang tentu mustahil bagi kita untuk bisa istikamah. Padahal, kita sangat membutuhkan cinta Allah.Wallahu a’lamBaca Juga:Rasa Cinta, Takut dan Berharap kepada Allah Ta’alaBerdusta Dalam Mencintai Allah***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dapat dilihat di tautan ini.🔍 Penyakit Ain, Apakah Ipar Termasuk Mahram, Nama Nama Hari Akhir Dan Penjelasan, Contoh Mashalihul Mursalah, Tata Cara Shalat Tarawih Sesuai SunnahTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamcintaimankeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhid
Ketika kita memiliki banyak karunia Allah, baik berupa ilmu, harta, maupun kekayaan, tentunya kita adalah orang yang paling dermawan terhadap orang-orang terdekat kita. Atau sebaliknya, ketika kita dekat dengan seseorang yang memiliki banyak karunia Allah tersebut, tentu kita lebih mudah untuk mendapatkan percikannya.Saudaraku, bagaimana jika kita dekat dengan Zat Yang Mahabesar dengan segala karunia-Nya yang tak terbatas. Allah Ta’ala Yang Mahapemurah dan mengabulkan segala permohonan hamba-hamba-Nya. Tidakkah kita menginginkan agar lebih dekat dengan-Nya? Tidakkah kita menginginkan agar dicintai oleh-Nya?Menjadi hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala semestinya menjadi hal yang kita impi-impikan. Semestinya kita menyadari, betapa saat ini banyak ujian dan cobaan yang menimpa kita, baik secara personal maupun cobaan yang menimpa bangsa dan agama ini. Kepada siapakah kita berlindung dan memohon pertolongan, selain kepada Allah? Daftar Isi sembunyikan 1. Kabar gembira bagi penjaga “an-nawafil” 2. Mendalami makna “an-nawafil” 3. Memohon keistikamahan Kabar gembira bagi penjaga “an-nawafil”Ya, jadilah hamba yang dicintai oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita tentang bagaimana cara agar menjadi hamba yang dicintai oleh Allah. Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi.“ (HR. Bukhari no. 6502 dari Abu Hurairah)Masya Allah! Saudaraku, amal-amal sunah adalah kunci dari cara mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan cinta-Nya. Renungkanlah, bagaimana pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki kita disebutkan oleh Allah sebagai perwakilan dari organ tubuh yang dengan-Nya Allah membersamai kita. Kemudian Allah Ta’ala pun menjamin bahwa orang-orang yang telah mendapatkan cinta-Nya dengan amal-amal sunah tersebut akan dikabulkan segala permintaannya dan Allah pun akan melindunginya.Oleh karenanya, untuk memulai memperoleh derajat hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala, penting bagi kita untuk mendalami makna amal-amal sunah sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi tersebut.Baca Juga: Buktikan Cintamu dengan Belajar Sunnah dan Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamMendalami makna “an-nawafil”Mari kita perhatikan kalimat  ( وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ). Kita perlu mendalami makna an-nawafil yang dimaksudkan disini. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menjelaskan terkait dengan an-nawafil. [1]Beliau rahimahullah menjawab,An-Nawafil yang selalu dipraktikkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan salat wajib berjumlah 12 rakaat. Inilah yang kemudian disebut dengan rawatib, yaitu: 4 rakaat sebelum salat zuhur dengan dua kali salam, 2 rakaat setelah zuhur, 2 rakaat setelah maghrib,  2 rakaat setelah isya, dan 2 rakaat sebelum subuh.Adapun tempat yang paling afdal melaksanakan ibadah nawafil ini adalah di rumah. Namun, jika dilaksanakan di masjid, maka tidak ada larangan. Sedangkan apabila dalam keadaan safar, maka yang paling afdal adalah memanfaatkan rukhsah atas an-nawafil ini, yaitu dengan meninggalkannya, kecuali 2 rakaat sebelum subuh dan witir.Perlu diketahui pula bahwa, salat sunah sebelum asar, sebelum magrib, dan sebelum isya juga merupakan ibadah yang dianjurkan, meskipun tidak termasuk rawatib. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,رحم الله امرأً صلى أربعًا قبل العصر“(Semoga) Allah memberi rahmat orang yang salat empat rakaat sebelum asar.” (HR. Abu dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,صلوا قبل المغرب، صلوا قبل المغرب، ثم قال في الثالثة: لمن شاء“Salatlah sebelum magrib, salatlah sebelum magrib.” Kemudian beliau bersabda pada yang ketiga, “Bagi siapa yang mau.” (HR. Ibnul Mulaqqin dalam kitab Badrul Munir, 4: 293)Dari Abdullah bin Mughaffal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ، بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ، ثُمَّ قالَ في الثَّالِثَةِ: لِمَن شاءَ.“Di antara setiap dua azan (ada) salat, di antara setiap dua azan (ada) salat.” Kemudian beliau menekankan pada kali ketiga (dengan tambahan), “Bagi siapa yang menghendakinya.” (HR. Bukhari no. 627)Baca Juga: Jika Allah Mencintai Seorang Hamba, Ia Akan DiujiMemohon keistikamahanDemikianlah, Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita petunjuk tentang bagaimana mendekatkan diri kepada-Nya melalui amalan-amalan sunah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karenanya, tekadkanlah dalam hati untuk mempertahankan dan menjaga ibadah an-nawafil menjadi rutinitas kita setiap hari. Dan jangan lupa untuk senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan anugerah keistikomahan dalam meniti langkah-langkah menuju keridaan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Maka istikomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْDari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman’, lalu istikomahlah.’” (HR Muslim no. 38; Ahmad 3: 413; Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972)Kita sadari bahwa menjaga keistikomahan dalam melaksanakan ibadah an-nawafil ini butuh perjuangan yang besar. Ketika rasa malas melanda, godaan setan menerpa, dan dorongan syahwat mencoba menguasai diri, maka di situ pula keimanan kita sedang diuji. Oleh karenanya, jika bukan karena kasih sayang dan taufik dari Allah, sudah barang tentu mustahil bagi kita untuk bisa istikamah. Padahal, kita sangat membutuhkan cinta Allah.Wallahu a’lamBaca Juga:Rasa Cinta, Takut dan Berharap kepada Allah Ta’alaBerdusta Dalam Mencintai Allah***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dapat dilihat di tautan ini.🔍 Penyakit Ain, Apakah Ipar Termasuk Mahram, Nama Nama Hari Akhir Dan Penjelasan, Contoh Mashalihul Mursalah, Tata Cara Shalat Tarawih Sesuai SunnahTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamcintaimankeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhid


Ketika kita memiliki banyak karunia Allah, baik berupa ilmu, harta, maupun kekayaan, tentunya kita adalah orang yang paling dermawan terhadap orang-orang terdekat kita. Atau sebaliknya, ketika kita dekat dengan seseorang yang memiliki banyak karunia Allah tersebut, tentu kita lebih mudah untuk mendapatkan percikannya.Saudaraku, bagaimana jika kita dekat dengan Zat Yang Mahabesar dengan segala karunia-Nya yang tak terbatas. Allah Ta’ala Yang Mahapemurah dan mengabulkan segala permohonan hamba-hamba-Nya. Tidakkah kita menginginkan agar lebih dekat dengan-Nya? Tidakkah kita menginginkan agar dicintai oleh-Nya?Menjadi hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala semestinya menjadi hal yang kita impi-impikan. Semestinya kita menyadari, betapa saat ini banyak ujian dan cobaan yang menimpa kita, baik secara personal maupun cobaan yang menimpa bangsa dan agama ini. Kepada siapakah kita berlindung dan memohon pertolongan, selain kepada Allah? Daftar Isi sembunyikan 1. Kabar gembira bagi penjaga “an-nawafil” 2. Mendalami makna “an-nawafil” 3. Memohon keistikamahan Kabar gembira bagi penjaga “an-nawafil”Ya, jadilah hamba yang dicintai oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita tentang bagaimana cara agar menjadi hamba yang dicintai oleh Allah. Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi.“ (HR. Bukhari no. 6502 dari Abu Hurairah)Masya Allah! Saudaraku, amal-amal sunah adalah kunci dari cara mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan cinta-Nya. Renungkanlah, bagaimana pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki kita disebutkan oleh Allah sebagai perwakilan dari organ tubuh yang dengan-Nya Allah membersamai kita. Kemudian Allah Ta’ala pun menjamin bahwa orang-orang yang telah mendapatkan cinta-Nya dengan amal-amal sunah tersebut akan dikabulkan segala permintaannya dan Allah pun akan melindunginya.Oleh karenanya, untuk memulai memperoleh derajat hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala, penting bagi kita untuk mendalami makna amal-amal sunah sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi tersebut.Baca Juga: Buktikan Cintamu dengan Belajar Sunnah dan Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamMendalami makna “an-nawafil”Mari kita perhatikan kalimat  ( وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ). Kita perlu mendalami makna an-nawafil yang dimaksudkan disini. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menjelaskan terkait dengan an-nawafil. [1]Beliau rahimahullah menjawab,An-Nawafil yang selalu dipraktikkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan salat wajib berjumlah 12 rakaat. Inilah yang kemudian disebut dengan rawatib, yaitu: 4 rakaat sebelum salat zuhur dengan dua kali salam, 2 rakaat setelah zuhur, 2 rakaat setelah maghrib,  2 rakaat setelah isya, dan 2 rakaat sebelum subuh.Adapun tempat yang paling afdal melaksanakan ibadah nawafil ini adalah di rumah. Namun, jika dilaksanakan di masjid, maka tidak ada larangan. Sedangkan apabila dalam keadaan safar, maka yang paling afdal adalah memanfaatkan rukhsah atas an-nawafil ini, yaitu dengan meninggalkannya, kecuali 2 rakaat sebelum subuh dan witir.Perlu diketahui pula bahwa, salat sunah sebelum asar, sebelum magrib, dan sebelum isya juga merupakan ibadah yang dianjurkan, meskipun tidak termasuk rawatib. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,رحم الله امرأً صلى أربعًا قبل العصر“(Semoga) Allah memberi rahmat orang yang salat empat rakaat sebelum asar.” (HR. Abu dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,صلوا قبل المغرب، صلوا قبل المغرب، ثم قال في الثالثة: لمن شاء“Salatlah sebelum magrib, salatlah sebelum magrib.” Kemudian beliau bersabda pada yang ketiga, “Bagi siapa yang mau.” (HR. Ibnul Mulaqqin dalam kitab Badrul Munir, 4: 293)Dari Abdullah bin Mughaffal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ، بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ، ثُمَّ قالَ في الثَّالِثَةِ: لِمَن شاءَ.“Di antara setiap dua azan (ada) salat, di antara setiap dua azan (ada) salat.” Kemudian beliau menekankan pada kali ketiga (dengan tambahan), “Bagi siapa yang menghendakinya.” (HR. Bukhari no. 627)Baca Juga: Jika Allah Mencintai Seorang Hamba, Ia Akan DiujiMemohon keistikamahanDemikianlah, Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita petunjuk tentang bagaimana mendekatkan diri kepada-Nya melalui amalan-amalan sunah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karenanya, tekadkanlah dalam hati untuk mempertahankan dan menjaga ibadah an-nawafil menjadi rutinitas kita setiap hari. Dan jangan lupa untuk senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan anugerah keistikomahan dalam meniti langkah-langkah menuju keridaan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Maka istikomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْDari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman’, lalu istikomahlah.’” (HR Muslim no. 38; Ahmad 3: 413; Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972)Kita sadari bahwa menjaga keistikomahan dalam melaksanakan ibadah an-nawafil ini butuh perjuangan yang besar. Ketika rasa malas melanda, godaan setan menerpa, dan dorongan syahwat mencoba menguasai diri, maka di situ pula keimanan kita sedang diuji. Oleh karenanya, jika bukan karena kasih sayang dan taufik dari Allah, sudah barang tentu mustahil bagi kita untuk bisa istikamah. Padahal, kita sangat membutuhkan cinta Allah.Wallahu a’lamBaca Juga:Rasa Cinta, Takut dan Berharap kepada Allah Ta’alaBerdusta Dalam Mencintai Allah***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dapat dilihat di tautan ini.🔍 Penyakit Ain, Apakah Ipar Termasuk Mahram, Nama Nama Hari Akhir Dan Penjelasan, Contoh Mashalihul Mursalah, Tata Cara Shalat Tarawih Sesuai SunnahTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamcintaimankeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhid

Inspirasi untuk Sepanjang Hidup Anda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Saudara kita ini berkata, “Kesibukan hidup telah membuatku lalai dan lelah,terlebih lagi aku harus menafkahi keluarga, dan pendapatanku hanya sedikit,dan aku terlalaikan dari membaca dan mencari ilmu. Setiap kali aku melihat buku-bukuku, kesedihanku semakin bertambah. Mohon arahan dan nasihatnya.”Pertama, tentang berlepas diri dari kehidupan sepenuhnya dan sibuk dengannya,tidak diragukan lagi bahwa itu dilarang syariat, karena itu bagian dari kewajiban. [PERTAMA]Namun, pertama aku akan menasihati yang lain sebelum memberimu nasihat.Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Manfaatkan yang lima sebelum datang yang lima …”disebutkan di antaranya, “… waktu lapangmu sebelum sibukmu.” Sebagian saudara kita tidak mengetahui pentingnya pertanyaan ini karena belum sibuk.Namun jika kamu telah menikah nanti, dan memiliki satu atau beberapa anak,atau salah satu anakmu membutuhkan sesuatu atau sedang sakit,atau kamu sibuk mencari rezeki,maka hal-hal itu akan sangat menyibukkan seseorang. Maka kamu—dan terlebih dahulu aku menasihati yang belum sibuk—manfaatkanlah waktu luangmu saat ini,karena demi Allah, tidaklah seorang pun sampai pada usia tertentu kecuali ia menyesali atas yang telah berlalu. Ini yang pertama. [KEDUA]Kemudian yang kedua, untuk mempersingkat waktu. Bagi yang telah memiliki kesibukan dan seterusnya, ia harus memperhatikan hal-hal berikut: Pertama, tetapkanlah target membaca harian yang jangan sekali-kali kamu lalaikan.Yakni jangan kamu tinggalkan atau kurangi sekalipun. Harus ada target harian, baik itu dalam membaca al-Quran, hadis, atau buku lain.Kita mulai dengan al-Quran. Para ahli fiqih menyebutkan—ini disebutkan oleh Ibnu Abi Ya’la dalam buku at-Tamam dan dinukil ulama lain setelahnya: Disepakati bahwa makruh hukumnya bagi orang yang hafal al-Quran atau mampu membaca al-Quran,berlalu padanya 40 hari tanpa dia mengkhatamkan al-Quran.Buatlah target harian untuk membaca, semisal satu juz atau kurang dari itu,minimal kamu dapat mengkhatamkan al-Quran setiap 40 hari sekali. Kita mulai dengan ilmu paling agung, yaitu al-Quran. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dahulu punya target harian membaca al-Quran,jika datang waktu tidurnya, akan tetapi beliau belum menyelesaikan targetnya, maka beliau menunda tidurnya untuk menyelesaikan target. Buatlah target tertentu yang jangan sampai kamu tinggalkan.Inilah makna sabda Nabi, “Setiap amalan punya masa semangatnya, dan setiap semangat akan ada kendornya. Barang siapa masa kendornya masih di atas sunahku, maka ia telah diberi petunjuk.”Selalu buat batas minimal yang tidak pernah kamu lewatkan. Ini dalam al-Quran.Dalam membaca buku, usahakan untuk membaca sejumlah halaman yang jangan kamu tinggalkan sekali pun. Aku buatkan contoh pada ulama kontemporer, asy-Syaikh Ali Thanthawi,beliau menyebutkan dalam catatannya, “Aku berjanji pada diriku …”—bukan nazar agar tidak menjadi wajib— “… untuk tidak sekalipun berlalu satu hari kecuali aku membaca 100 halaman.”Biasakan dirimu, setiap hari 100 halaman. Pada mulanya mungkin akan sulit,lalu lama-kelamaan akan mudah sekali bagimu.Jadi, kamu harus punya target membaca. [KETIGA]Perkara ketiga, dan ini sangat penting. Bahkan guru-guru kita selalu menyarankan ini:Jangan sampai aku dan kamu absen dari pelajaran (pengajian).Jika salah satu gurumu masih hidup, jangan sekali pun meninggalkan pengajiannya. Hadirilah pengajiannya, meski kamu sudah menjadi ketua pengadilan, sedangkan beliau masih seorang imam masjid.Jangan tinggalkan pengajian. Tetapkan pengajian (minimal) seminggu sekali untuk kamu hadiri. Ini bisa pengajian apa saja. Lihat waktu yang tepat bagimu, apakah setelah subuh, atau pada hari libur.Harus ada minimal sehari dalam sepekan untuk menghadiri pengajian. Ini tali yang menghubungkanmu dengan ilmu, maka jangan sampai putus. ==== هَذَا أَخُونَا يَقُولُ إِنَّ مَشَاغِلَ الْحَيَاةِ أَلْهَتْنِي وَأَتْعَبَتْنِي خَاصَّةً أَنِّي أُنْفِقُ عَلَى أَهْلِي وَمَعَ قِلَّةِ ذَاتِ الْيَدِ وَقَدْ شُغِلْتُ عَنِ الْقِرَاءَةِ وَالتَّحْصِيْلِ وَكُلَّمَا رَأَيْتُ كُتُبِي زَادَتْ حَسْرَتِي فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ وَنَصِيحَةٍ؟ أَوَّلًا يَا شَيْخُ قَضِيَّةُ الِْانْقِطَاعِ عَنِ الْحَيَاةِ وَالِْانْشِغَالِ بِهَا فَهَذَا لَا شَكَّ أَنَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ شَرْعًا لِأَنَّ هَذَا مِنَ الْوَاجِبَاتِ أَوَّلًا لَكِنْ أَوَّلًا سَأَنْصَحُ غَيْرَكَ قَبْلَ أَنْ أَبْدَأَ بِنَصِيْحَتِكَ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ قَالَ اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ وَمِنْهَا فَرَاغُكَ قَبْلَ شُغْلِكَ بَعْضُ الْإِخْوَانِ لَا يَعْرِفُ قِيمَةَ هَذَا السُّؤَالِ لِأَنَّهُ لَمْ يَنْشَغِلْ بَعْدُ إِذَا تَزَوَّجْتَ غَدًا وَأَنْجَبْتَ وَلَدًا أَوْ أَوْلَادًا أَوْ كَانَ بَعْضُ هَؤُلَاءِ الْأَوْلَادِ ذَا حَاجَةٍ وَمَرَضٍ أَو شُغِلْتَ لِطَلَبِ الْمَعَاشِ فَإِنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ تَشْغَلُ الْمَرْءَ شُغْلًا كَبِيرًا فَأَنْتَ أَوَّلُ شَيْءٍ أَنَا أَنْصَحُ الْإِخْوَانَ الَّذِينَ لَمْ يَشْغَلُوا بَعْدُ يَعْنِي انْتَفِعْ مِنْ وَقْتِ فَرَاغِكَ الْآنَ فَوَاللهِ مَا مِنِ امْرِءٍ يَصِلُ مَرْحَلَةً مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا وَيَتَنَدَّمُ عَلَى مَا مَضَى هَذَا وَاحِدٌ الْأَمْرُ الثَّانِي أَخُونَا لِأَجْلِ الْوَقْتِ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ جَاءَهُ شُغْلُهُ وَهَكَذَا يَجِبُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى أُمُورٍ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ حِزْبًا لَا تُجَاوِزْهُ أَبَدًا يَعْنِي لَا تَتْرُكْهُ أَبَدًا وَلَا تَنْقُصْ عَنْهُ أَبَدًا لاَ بُدَّ حِزْبٌ إِمَّا مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ مِنَ الْحَدِيثِ أَوْ مِنَ الْقِرَاءَةِ نَبْدَأُ بِالْقُرْآنِ ذَكَرَ فُقَهَاؤُنَا وَذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ أَبِي يَعْلَى فِي التَّمَامِ وَنَقَلَهُ مَنْ بَعْدَهُ عَنْهُ أَنَّهُ بِاتِّفَاقٍ يُكْرَهُ أَنْ تَمُرَّ عَلَى حَافِظِ الْقُرْآنِ أَوْ مَنْ يُحْسِنُ قِرَاءَتَهُ نَظَرًا أَنْ يَمُرَّ عَلَيْهِ أَرْبَعُونَ يَوْمًا لَا يَخْتِمُ الْقُرْآنَ اجْعَلْ لَكَ حِزْبًا لِنَقُلْ جُزْءًا مِنْ ثَلَاثِينَ أَوْ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ بِحَيْثُ إِنَّكَ تَخْتِمُ الْقُرْآنَ أَقَلَّ شَيْءٍ كُلَّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مَرَّةً نَبْدَأُ بِأَعْظَم الْعِلْمِ الْقُرْآنِ وَقَدْ كَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَجْعَلُ لَهَا حِزْبًا مِنَ الْقُرْآنِ فَإِذَا جَاءَ نَوْمُهَا وَلَمْ تَقْرَأْ ذَلِكَ الحِزْبَ أَخَّرَتْ نَوْمَهَا لِتَقْرَأَ حِزْبَهَا اجْعَلْهُ لَكَ حَدًّا لَا تَتْرُكْهُ أَبَدًا وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ عَلَى سُنَّتِيْ فَقَدْ هُدِيَ دَائِمًا خُطَّ لَكَ حَدًّا أَدْنَى لَا تُجَاوِزُهُ هَذَا فِي الْقُرْآنِ فِي الْقِرَاءَةِ احْرِصْ عَلَى أَنْ تَجْعَلَ لَكَ عَدَدًا مِنَ الصَّفَحاتِ لَا تَتْرُكْهُ أَبَدًا يَعْنِي أَضْرِبُ لَكَ مِثَالًا مِنْ بَعْضِ الْمُعَاصِرِينَ الشَّيْخُ عَلِيٌّ الطَّنْطَاوِيُّ ذَكَرَ فِي مُذَكِّرَاتِهِ قَالَ أَخَذْتُ عَلَى نَفْسِي عَهْدًا أَو وَعْدًا لَيْسَ نَذَرًا لِكَيْلَا يَكُونَ وَاجِبًا أَنْ لَا يَمُرَّ عَلَيَّ يَوْمٌ إِلَّا وَأَقْرَأُ فِيهِ مِئَةَ صَفْحَةٍ تَعَوَّدْ عَلَى نَفْسِكَ كُلَّ يَوْمٍ مِئَةَ صَفْحَةٍ أَوَّلُ مَا تَبْدَأُ سَتَكُونُ صَعْبَةً ثُمّ سَتُصْبِحُ عَلَيْكَ أَسْهَلَ مِنَ السَّهْلِ نَفْسِهِ إِذًا لاَ بُدَّ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ قِرَاءَةً الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهَذِهِ مُهِمَّةٌ وَمَا زَالَ مَشَايِخُنَا يُوصُونَ بِهَا إِيَّانِي وَإِيَّاكَ أَنْ تَتْرُكَ الدَّرْسَ إِذَا كَانَ أَحَدُ مَشَايِخِكَ أَحْيَاءً فَلَا تَتْرُكْ دَرْسَهُ أَلْبَتَّةَ اُحْضُرْ اُحْضُرْ عِنْدَهُ وَإِنْ كُنْتَ إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْتَ رَئِيسَ الْمَحَاكِمِ وَهُوَ مَا زَالَ إِمَامَ مَسْجِدٍ لَا تَتْرُكِ الدَّرْسَ اجْعَلْ لَكَ دَرْسًا فِي الْأُسْبُوعِ اُحْضُرْهُ هَذَا يَخْتَلِفُ الدُّرُوسُ مَا هِيَ تَنْظُرُ لَكَ يَوْمٌ مِنَ الْأَيَّامِ فَجْرٌ فِي إِجَازَةٍ لاَ بُدَّ يَوْمٌ فِي الْأُسْبُوعِ عَلَى الْأَقَلِّ يَكُونَ لَكَ دَرْسٌ هَذَا حَبْلٌ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْعِلْمِ فَلَا يَنْقَطِعُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Inspirasi untuk Sepanjang Hidup Anda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Saudara kita ini berkata, “Kesibukan hidup telah membuatku lalai dan lelah,terlebih lagi aku harus menafkahi keluarga, dan pendapatanku hanya sedikit,dan aku terlalaikan dari membaca dan mencari ilmu. Setiap kali aku melihat buku-bukuku, kesedihanku semakin bertambah. Mohon arahan dan nasihatnya.”Pertama, tentang berlepas diri dari kehidupan sepenuhnya dan sibuk dengannya,tidak diragukan lagi bahwa itu dilarang syariat, karena itu bagian dari kewajiban. [PERTAMA]Namun, pertama aku akan menasihati yang lain sebelum memberimu nasihat.Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Manfaatkan yang lima sebelum datang yang lima …”disebutkan di antaranya, “… waktu lapangmu sebelum sibukmu.” Sebagian saudara kita tidak mengetahui pentingnya pertanyaan ini karena belum sibuk.Namun jika kamu telah menikah nanti, dan memiliki satu atau beberapa anak,atau salah satu anakmu membutuhkan sesuatu atau sedang sakit,atau kamu sibuk mencari rezeki,maka hal-hal itu akan sangat menyibukkan seseorang. Maka kamu—dan terlebih dahulu aku menasihati yang belum sibuk—manfaatkanlah waktu luangmu saat ini,karena demi Allah, tidaklah seorang pun sampai pada usia tertentu kecuali ia menyesali atas yang telah berlalu. Ini yang pertama. [KEDUA]Kemudian yang kedua, untuk mempersingkat waktu. Bagi yang telah memiliki kesibukan dan seterusnya, ia harus memperhatikan hal-hal berikut: Pertama, tetapkanlah target membaca harian yang jangan sekali-kali kamu lalaikan.Yakni jangan kamu tinggalkan atau kurangi sekalipun. Harus ada target harian, baik itu dalam membaca al-Quran, hadis, atau buku lain.Kita mulai dengan al-Quran. Para ahli fiqih menyebutkan—ini disebutkan oleh Ibnu Abi Ya’la dalam buku at-Tamam dan dinukil ulama lain setelahnya: Disepakati bahwa makruh hukumnya bagi orang yang hafal al-Quran atau mampu membaca al-Quran,berlalu padanya 40 hari tanpa dia mengkhatamkan al-Quran.Buatlah target harian untuk membaca, semisal satu juz atau kurang dari itu,minimal kamu dapat mengkhatamkan al-Quran setiap 40 hari sekali. Kita mulai dengan ilmu paling agung, yaitu al-Quran. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dahulu punya target harian membaca al-Quran,jika datang waktu tidurnya, akan tetapi beliau belum menyelesaikan targetnya, maka beliau menunda tidurnya untuk menyelesaikan target. Buatlah target tertentu yang jangan sampai kamu tinggalkan.Inilah makna sabda Nabi, “Setiap amalan punya masa semangatnya, dan setiap semangat akan ada kendornya. Barang siapa masa kendornya masih di atas sunahku, maka ia telah diberi petunjuk.”Selalu buat batas minimal yang tidak pernah kamu lewatkan. Ini dalam al-Quran.Dalam membaca buku, usahakan untuk membaca sejumlah halaman yang jangan kamu tinggalkan sekali pun. Aku buatkan contoh pada ulama kontemporer, asy-Syaikh Ali Thanthawi,beliau menyebutkan dalam catatannya, “Aku berjanji pada diriku …”—bukan nazar agar tidak menjadi wajib— “… untuk tidak sekalipun berlalu satu hari kecuali aku membaca 100 halaman.”Biasakan dirimu, setiap hari 100 halaman. Pada mulanya mungkin akan sulit,lalu lama-kelamaan akan mudah sekali bagimu.Jadi, kamu harus punya target membaca. [KETIGA]Perkara ketiga, dan ini sangat penting. Bahkan guru-guru kita selalu menyarankan ini:Jangan sampai aku dan kamu absen dari pelajaran (pengajian).Jika salah satu gurumu masih hidup, jangan sekali pun meninggalkan pengajiannya. Hadirilah pengajiannya, meski kamu sudah menjadi ketua pengadilan, sedangkan beliau masih seorang imam masjid.Jangan tinggalkan pengajian. Tetapkan pengajian (minimal) seminggu sekali untuk kamu hadiri. Ini bisa pengajian apa saja. Lihat waktu yang tepat bagimu, apakah setelah subuh, atau pada hari libur.Harus ada minimal sehari dalam sepekan untuk menghadiri pengajian. Ini tali yang menghubungkanmu dengan ilmu, maka jangan sampai putus. ==== هَذَا أَخُونَا يَقُولُ إِنَّ مَشَاغِلَ الْحَيَاةِ أَلْهَتْنِي وَأَتْعَبَتْنِي خَاصَّةً أَنِّي أُنْفِقُ عَلَى أَهْلِي وَمَعَ قِلَّةِ ذَاتِ الْيَدِ وَقَدْ شُغِلْتُ عَنِ الْقِرَاءَةِ وَالتَّحْصِيْلِ وَكُلَّمَا رَأَيْتُ كُتُبِي زَادَتْ حَسْرَتِي فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ وَنَصِيحَةٍ؟ أَوَّلًا يَا شَيْخُ قَضِيَّةُ الِْانْقِطَاعِ عَنِ الْحَيَاةِ وَالِْانْشِغَالِ بِهَا فَهَذَا لَا شَكَّ أَنَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ شَرْعًا لِأَنَّ هَذَا مِنَ الْوَاجِبَاتِ أَوَّلًا لَكِنْ أَوَّلًا سَأَنْصَحُ غَيْرَكَ قَبْلَ أَنْ أَبْدَأَ بِنَصِيْحَتِكَ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ قَالَ اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ وَمِنْهَا فَرَاغُكَ قَبْلَ شُغْلِكَ بَعْضُ الْإِخْوَانِ لَا يَعْرِفُ قِيمَةَ هَذَا السُّؤَالِ لِأَنَّهُ لَمْ يَنْشَغِلْ بَعْدُ إِذَا تَزَوَّجْتَ غَدًا وَأَنْجَبْتَ وَلَدًا أَوْ أَوْلَادًا أَوْ كَانَ بَعْضُ هَؤُلَاءِ الْأَوْلَادِ ذَا حَاجَةٍ وَمَرَضٍ أَو شُغِلْتَ لِطَلَبِ الْمَعَاشِ فَإِنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ تَشْغَلُ الْمَرْءَ شُغْلًا كَبِيرًا فَأَنْتَ أَوَّلُ شَيْءٍ أَنَا أَنْصَحُ الْإِخْوَانَ الَّذِينَ لَمْ يَشْغَلُوا بَعْدُ يَعْنِي انْتَفِعْ مِنْ وَقْتِ فَرَاغِكَ الْآنَ فَوَاللهِ مَا مِنِ امْرِءٍ يَصِلُ مَرْحَلَةً مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا وَيَتَنَدَّمُ عَلَى مَا مَضَى هَذَا وَاحِدٌ الْأَمْرُ الثَّانِي أَخُونَا لِأَجْلِ الْوَقْتِ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ جَاءَهُ شُغْلُهُ وَهَكَذَا يَجِبُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى أُمُورٍ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ حِزْبًا لَا تُجَاوِزْهُ أَبَدًا يَعْنِي لَا تَتْرُكْهُ أَبَدًا وَلَا تَنْقُصْ عَنْهُ أَبَدًا لاَ بُدَّ حِزْبٌ إِمَّا مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ مِنَ الْحَدِيثِ أَوْ مِنَ الْقِرَاءَةِ نَبْدَأُ بِالْقُرْآنِ ذَكَرَ فُقَهَاؤُنَا وَذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ أَبِي يَعْلَى فِي التَّمَامِ وَنَقَلَهُ مَنْ بَعْدَهُ عَنْهُ أَنَّهُ بِاتِّفَاقٍ يُكْرَهُ أَنْ تَمُرَّ عَلَى حَافِظِ الْقُرْآنِ أَوْ مَنْ يُحْسِنُ قِرَاءَتَهُ نَظَرًا أَنْ يَمُرَّ عَلَيْهِ أَرْبَعُونَ يَوْمًا لَا يَخْتِمُ الْقُرْآنَ اجْعَلْ لَكَ حِزْبًا لِنَقُلْ جُزْءًا مِنْ ثَلَاثِينَ أَوْ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ بِحَيْثُ إِنَّكَ تَخْتِمُ الْقُرْآنَ أَقَلَّ شَيْءٍ كُلَّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مَرَّةً نَبْدَأُ بِأَعْظَم الْعِلْمِ الْقُرْآنِ وَقَدْ كَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَجْعَلُ لَهَا حِزْبًا مِنَ الْقُرْآنِ فَإِذَا جَاءَ نَوْمُهَا وَلَمْ تَقْرَأْ ذَلِكَ الحِزْبَ أَخَّرَتْ نَوْمَهَا لِتَقْرَأَ حِزْبَهَا اجْعَلْهُ لَكَ حَدًّا لَا تَتْرُكْهُ أَبَدًا وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ عَلَى سُنَّتِيْ فَقَدْ هُدِيَ دَائِمًا خُطَّ لَكَ حَدًّا أَدْنَى لَا تُجَاوِزُهُ هَذَا فِي الْقُرْآنِ فِي الْقِرَاءَةِ احْرِصْ عَلَى أَنْ تَجْعَلَ لَكَ عَدَدًا مِنَ الصَّفَحاتِ لَا تَتْرُكْهُ أَبَدًا يَعْنِي أَضْرِبُ لَكَ مِثَالًا مِنْ بَعْضِ الْمُعَاصِرِينَ الشَّيْخُ عَلِيٌّ الطَّنْطَاوِيُّ ذَكَرَ فِي مُذَكِّرَاتِهِ قَالَ أَخَذْتُ عَلَى نَفْسِي عَهْدًا أَو وَعْدًا لَيْسَ نَذَرًا لِكَيْلَا يَكُونَ وَاجِبًا أَنْ لَا يَمُرَّ عَلَيَّ يَوْمٌ إِلَّا وَأَقْرَأُ فِيهِ مِئَةَ صَفْحَةٍ تَعَوَّدْ عَلَى نَفْسِكَ كُلَّ يَوْمٍ مِئَةَ صَفْحَةٍ أَوَّلُ مَا تَبْدَأُ سَتَكُونُ صَعْبَةً ثُمّ سَتُصْبِحُ عَلَيْكَ أَسْهَلَ مِنَ السَّهْلِ نَفْسِهِ إِذًا لاَ بُدَّ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ قِرَاءَةً الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهَذِهِ مُهِمَّةٌ وَمَا زَالَ مَشَايِخُنَا يُوصُونَ بِهَا إِيَّانِي وَإِيَّاكَ أَنْ تَتْرُكَ الدَّرْسَ إِذَا كَانَ أَحَدُ مَشَايِخِكَ أَحْيَاءً فَلَا تَتْرُكْ دَرْسَهُ أَلْبَتَّةَ اُحْضُرْ اُحْضُرْ عِنْدَهُ وَإِنْ كُنْتَ إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْتَ رَئِيسَ الْمَحَاكِمِ وَهُوَ مَا زَالَ إِمَامَ مَسْجِدٍ لَا تَتْرُكِ الدَّرْسَ اجْعَلْ لَكَ دَرْسًا فِي الْأُسْبُوعِ اُحْضُرْهُ هَذَا يَخْتَلِفُ الدُّرُوسُ مَا هِيَ تَنْظُرُ لَكَ يَوْمٌ مِنَ الْأَيَّامِ فَجْرٌ فِي إِجَازَةٍ لاَ بُدَّ يَوْمٌ فِي الْأُسْبُوعِ عَلَى الْأَقَلِّ يَكُونَ لَكَ دَرْسٌ هَذَا حَبْلٌ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْعِلْمِ فَلَا يَنْقَطِعُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Saudara kita ini berkata, “Kesibukan hidup telah membuatku lalai dan lelah,terlebih lagi aku harus menafkahi keluarga, dan pendapatanku hanya sedikit,dan aku terlalaikan dari membaca dan mencari ilmu. Setiap kali aku melihat buku-bukuku, kesedihanku semakin bertambah. Mohon arahan dan nasihatnya.”Pertama, tentang berlepas diri dari kehidupan sepenuhnya dan sibuk dengannya,tidak diragukan lagi bahwa itu dilarang syariat, karena itu bagian dari kewajiban. [PERTAMA]Namun, pertama aku akan menasihati yang lain sebelum memberimu nasihat.Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Manfaatkan yang lima sebelum datang yang lima …”disebutkan di antaranya, “… waktu lapangmu sebelum sibukmu.” Sebagian saudara kita tidak mengetahui pentingnya pertanyaan ini karena belum sibuk.Namun jika kamu telah menikah nanti, dan memiliki satu atau beberapa anak,atau salah satu anakmu membutuhkan sesuatu atau sedang sakit,atau kamu sibuk mencari rezeki,maka hal-hal itu akan sangat menyibukkan seseorang. Maka kamu—dan terlebih dahulu aku menasihati yang belum sibuk—manfaatkanlah waktu luangmu saat ini,karena demi Allah, tidaklah seorang pun sampai pada usia tertentu kecuali ia menyesali atas yang telah berlalu. Ini yang pertama. [KEDUA]Kemudian yang kedua, untuk mempersingkat waktu. Bagi yang telah memiliki kesibukan dan seterusnya, ia harus memperhatikan hal-hal berikut: Pertama, tetapkanlah target membaca harian yang jangan sekali-kali kamu lalaikan.Yakni jangan kamu tinggalkan atau kurangi sekalipun. Harus ada target harian, baik itu dalam membaca al-Quran, hadis, atau buku lain.Kita mulai dengan al-Quran. Para ahli fiqih menyebutkan—ini disebutkan oleh Ibnu Abi Ya’la dalam buku at-Tamam dan dinukil ulama lain setelahnya: Disepakati bahwa makruh hukumnya bagi orang yang hafal al-Quran atau mampu membaca al-Quran,berlalu padanya 40 hari tanpa dia mengkhatamkan al-Quran.Buatlah target harian untuk membaca, semisal satu juz atau kurang dari itu,minimal kamu dapat mengkhatamkan al-Quran setiap 40 hari sekali. Kita mulai dengan ilmu paling agung, yaitu al-Quran. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dahulu punya target harian membaca al-Quran,jika datang waktu tidurnya, akan tetapi beliau belum menyelesaikan targetnya, maka beliau menunda tidurnya untuk menyelesaikan target. Buatlah target tertentu yang jangan sampai kamu tinggalkan.Inilah makna sabda Nabi, “Setiap amalan punya masa semangatnya, dan setiap semangat akan ada kendornya. Barang siapa masa kendornya masih di atas sunahku, maka ia telah diberi petunjuk.”Selalu buat batas minimal yang tidak pernah kamu lewatkan. Ini dalam al-Quran.Dalam membaca buku, usahakan untuk membaca sejumlah halaman yang jangan kamu tinggalkan sekali pun. Aku buatkan contoh pada ulama kontemporer, asy-Syaikh Ali Thanthawi,beliau menyebutkan dalam catatannya, “Aku berjanji pada diriku …”—bukan nazar agar tidak menjadi wajib— “… untuk tidak sekalipun berlalu satu hari kecuali aku membaca 100 halaman.”Biasakan dirimu, setiap hari 100 halaman. Pada mulanya mungkin akan sulit,lalu lama-kelamaan akan mudah sekali bagimu.Jadi, kamu harus punya target membaca. [KETIGA]Perkara ketiga, dan ini sangat penting. Bahkan guru-guru kita selalu menyarankan ini:Jangan sampai aku dan kamu absen dari pelajaran (pengajian).Jika salah satu gurumu masih hidup, jangan sekali pun meninggalkan pengajiannya. Hadirilah pengajiannya, meski kamu sudah menjadi ketua pengadilan, sedangkan beliau masih seorang imam masjid.Jangan tinggalkan pengajian. Tetapkan pengajian (minimal) seminggu sekali untuk kamu hadiri. Ini bisa pengajian apa saja. Lihat waktu yang tepat bagimu, apakah setelah subuh, atau pada hari libur.Harus ada minimal sehari dalam sepekan untuk menghadiri pengajian. Ini tali yang menghubungkanmu dengan ilmu, maka jangan sampai putus. ==== هَذَا أَخُونَا يَقُولُ إِنَّ مَشَاغِلَ الْحَيَاةِ أَلْهَتْنِي وَأَتْعَبَتْنِي خَاصَّةً أَنِّي أُنْفِقُ عَلَى أَهْلِي وَمَعَ قِلَّةِ ذَاتِ الْيَدِ وَقَدْ شُغِلْتُ عَنِ الْقِرَاءَةِ وَالتَّحْصِيْلِ وَكُلَّمَا رَأَيْتُ كُتُبِي زَادَتْ حَسْرَتِي فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ وَنَصِيحَةٍ؟ أَوَّلًا يَا شَيْخُ قَضِيَّةُ الِْانْقِطَاعِ عَنِ الْحَيَاةِ وَالِْانْشِغَالِ بِهَا فَهَذَا لَا شَكَّ أَنَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ شَرْعًا لِأَنَّ هَذَا مِنَ الْوَاجِبَاتِ أَوَّلًا لَكِنْ أَوَّلًا سَأَنْصَحُ غَيْرَكَ قَبْلَ أَنْ أَبْدَأَ بِنَصِيْحَتِكَ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ قَالَ اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ وَمِنْهَا فَرَاغُكَ قَبْلَ شُغْلِكَ بَعْضُ الْإِخْوَانِ لَا يَعْرِفُ قِيمَةَ هَذَا السُّؤَالِ لِأَنَّهُ لَمْ يَنْشَغِلْ بَعْدُ إِذَا تَزَوَّجْتَ غَدًا وَأَنْجَبْتَ وَلَدًا أَوْ أَوْلَادًا أَوْ كَانَ بَعْضُ هَؤُلَاءِ الْأَوْلَادِ ذَا حَاجَةٍ وَمَرَضٍ أَو شُغِلْتَ لِطَلَبِ الْمَعَاشِ فَإِنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ تَشْغَلُ الْمَرْءَ شُغْلًا كَبِيرًا فَأَنْتَ أَوَّلُ شَيْءٍ أَنَا أَنْصَحُ الْإِخْوَانَ الَّذِينَ لَمْ يَشْغَلُوا بَعْدُ يَعْنِي انْتَفِعْ مِنْ وَقْتِ فَرَاغِكَ الْآنَ فَوَاللهِ مَا مِنِ امْرِءٍ يَصِلُ مَرْحَلَةً مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا وَيَتَنَدَّمُ عَلَى مَا مَضَى هَذَا وَاحِدٌ الْأَمْرُ الثَّانِي أَخُونَا لِأَجْلِ الْوَقْتِ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ جَاءَهُ شُغْلُهُ وَهَكَذَا يَجِبُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى أُمُورٍ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ حِزْبًا لَا تُجَاوِزْهُ أَبَدًا يَعْنِي لَا تَتْرُكْهُ أَبَدًا وَلَا تَنْقُصْ عَنْهُ أَبَدًا لاَ بُدَّ حِزْبٌ إِمَّا مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ مِنَ الْحَدِيثِ أَوْ مِنَ الْقِرَاءَةِ نَبْدَأُ بِالْقُرْآنِ ذَكَرَ فُقَهَاؤُنَا وَذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ أَبِي يَعْلَى فِي التَّمَامِ وَنَقَلَهُ مَنْ بَعْدَهُ عَنْهُ أَنَّهُ بِاتِّفَاقٍ يُكْرَهُ أَنْ تَمُرَّ عَلَى حَافِظِ الْقُرْآنِ أَوْ مَنْ يُحْسِنُ قِرَاءَتَهُ نَظَرًا أَنْ يَمُرَّ عَلَيْهِ أَرْبَعُونَ يَوْمًا لَا يَخْتِمُ الْقُرْآنَ اجْعَلْ لَكَ حِزْبًا لِنَقُلْ جُزْءًا مِنْ ثَلَاثِينَ أَوْ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ بِحَيْثُ إِنَّكَ تَخْتِمُ الْقُرْآنَ أَقَلَّ شَيْءٍ كُلَّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مَرَّةً نَبْدَأُ بِأَعْظَم الْعِلْمِ الْقُرْآنِ وَقَدْ كَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَجْعَلُ لَهَا حِزْبًا مِنَ الْقُرْآنِ فَإِذَا جَاءَ نَوْمُهَا وَلَمْ تَقْرَأْ ذَلِكَ الحِزْبَ أَخَّرَتْ نَوْمَهَا لِتَقْرَأَ حِزْبَهَا اجْعَلْهُ لَكَ حَدًّا لَا تَتْرُكْهُ أَبَدًا وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ عَلَى سُنَّتِيْ فَقَدْ هُدِيَ دَائِمًا خُطَّ لَكَ حَدًّا أَدْنَى لَا تُجَاوِزُهُ هَذَا فِي الْقُرْآنِ فِي الْقِرَاءَةِ احْرِصْ عَلَى أَنْ تَجْعَلَ لَكَ عَدَدًا مِنَ الصَّفَحاتِ لَا تَتْرُكْهُ أَبَدًا يَعْنِي أَضْرِبُ لَكَ مِثَالًا مِنْ بَعْضِ الْمُعَاصِرِينَ الشَّيْخُ عَلِيٌّ الطَّنْطَاوِيُّ ذَكَرَ فِي مُذَكِّرَاتِهِ قَالَ أَخَذْتُ عَلَى نَفْسِي عَهْدًا أَو وَعْدًا لَيْسَ نَذَرًا لِكَيْلَا يَكُونَ وَاجِبًا أَنْ لَا يَمُرَّ عَلَيَّ يَوْمٌ إِلَّا وَأَقْرَأُ فِيهِ مِئَةَ صَفْحَةٍ تَعَوَّدْ عَلَى نَفْسِكَ كُلَّ يَوْمٍ مِئَةَ صَفْحَةٍ أَوَّلُ مَا تَبْدَأُ سَتَكُونُ صَعْبَةً ثُمّ سَتُصْبِحُ عَلَيْكَ أَسْهَلَ مِنَ السَّهْلِ نَفْسِهِ إِذًا لاَ بُدَّ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ قِرَاءَةً الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهَذِهِ مُهِمَّةٌ وَمَا زَالَ مَشَايِخُنَا يُوصُونَ بِهَا إِيَّانِي وَإِيَّاكَ أَنْ تَتْرُكَ الدَّرْسَ إِذَا كَانَ أَحَدُ مَشَايِخِكَ أَحْيَاءً فَلَا تَتْرُكْ دَرْسَهُ أَلْبَتَّةَ اُحْضُرْ اُحْضُرْ عِنْدَهُ وَإِنْ كُنْتَ إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْتَ رَئِيسَ الْمَحَاكِمِ وَهُوَ مَا زَالَ إِمَامَ مَسْجِدٍ لَا تَتْرُكِ الدَّرْسَ اجْعَلْ لَكَ دَرْسًا فِي الْأُسْبُوعِ اُحْضُرْهُ هَذَا يَخْتَلِفُ الدُّرُوسُ مَا هِيَ تَنْظُرُ لَكَ يَوْمٌ مِنَ الْأَيَّامِ فَجْرٌ فِي إِجَازَةٍ لاَ بُدَّ يَوْمٌ فِي الْأُسْبُوعِ عَلَى الْأَقَلِّ يَكُونَ لَكَ دَرْسٌ هَذَا حَبْلٌ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْعِلْمِ فَلَا يَنْقَطِعُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Saudara kita ini berkata, “Kesibukan hidup telah membuatku lalai dan lelah,terlebih lagi aku harus menafkahi keluarga, dan pendapatanku hanya sedikit,dan aku terlalaikan dari membaca dan mencari ilmu. Setiap kali aku melihat buku-bukuku, kesedihanku semakin bertambah. Mohon arahan dan nasihatnya.”Pertama, tentang berlepas diri dari kehidupan sepenuhnya dan sibuk dengannya,tidak diragukan lagi bahwa itu dilarang syariat, karena itu bagian dari kewajiban. [PERTAMA]Namun, pertama aku akan menasihati yang lain sebelum memberimu nasihat.Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Manfaatkan yang lima sebelum datang yang lima …”disebutkan di antaranya, “… waktu lapangmu sebelum sibukmu.” Sebagian saudara kita tidak mengetahui pentingnya pertanyaan ini karena belum sibuk.Namun jika kamu telah menikah nanti, dan memiliki satu atau beberapa anak,atau salah satu anakmu membutuhkan sesuatu atau sedang sakit,atau kamu sibuk mencari rezeki,maka hal-hal itu akan sangat menyibukkan seseorang. Maka kamu—dan terlebih dahulu aku menasihati yang belum sibuk—manfaatkanlah waktu luangmu saat ini,karena demi Allah, tidaklah seorang pun sampai pada usia tertentu kecuali ia menyesali atas yang telah berlalu. Ini yang pertama. [KEDUA]Kemudian yang kedua, untuk mempersingkat waktu. Bagi yang telah memiliki kesibukan dan seterusnya, ia harus memperhatikan hal-hal berikut: Pertama, tetapkanlah target membaca harian yang jangan sekali-kali kamu lalaikan.Yakni jangan kamu tinggalkan atau kurangi sekalipun. Harus ada target harian, baik itu dalam membaca al-Quran, hadis, atau buku lain.Kita mulai dengan al-Quran. Para ahli fiqih menyebutkan—ini disebutkan oleh Ibnu Abi Ya’la dalam buku at-Tamam dan dinukil ulama lain setelahnya: Disepakati bahwa makruh hukumnya bagi orang yang hafal al-Quran atau mampu membaca al-Quran,berlalu padanya 40 hari tanpa dia mengkhatamkan al-Quran.Buatlah target harian untuk membaca, semisal satu juz atau kurang dari itu,minimal kamu dapat mengkhatamkan al-Quran setiap 40 hari sekali. Kita mulai dengan ilmu paling agung, yaitu al-Quran. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dahulu punya target harian membaca al-Quran,jika datang waktu tidurnya, akan tetapi beliau belum menyelesaikan targetnya, maka beliau menunda tidurnya untuk menyelesaikan target. Buatlah target tertentu yang jangan sampai kamu tinggalkan.Inilah makna sabda Nabi, “Setiap amalan punya masa semangatnya, dan setiap semangat akan ada kendornya. Barang siapa masa kendornya masih di atas sunahku, maka ia telah diberi petunjuk.”Selalu buat batas minimal yang tidak pernah kamu lewatkan. Ini dalam al-Quran.Dalam membaca buku, usahakan untuk membaca sejumlah halaman yang jangan kamu tinggalkan sekali pun. Aku buatkan contoh pada ulama kontemporer, asy-Syaikh Ali Thanthawi,beliau menyebutkan dalam catatannya, “Aku berjanji pada diriku …”—bukan nazar agar tidak menjadi wajib— “… untuk tidak sekalipun berlalu satu hari kecuali aku membaca 100 halaman.”Biasakan dirimu, setiap hari 100 halaman. Pada mulanya mungkin akan sulit,lalu lama-kelamaan akan mudah sekali bagimu.Jadi, kamu harus punya target membaca. [KETIGA]Perkara ketiga, dan ini sangat penting. Bahkan guru-guru kita selalu menyarankan ini:Jangan sampai aku dan kamu absen dari pelajaran (pengajian).Jika salah satu gurumu masih hidup, jangan sekali pun meninggalkan pengajiannya. Hadirilah pengajiannya, meski kamu sudah menjadi ketua pengadilan, sedangkan beliau masih seorang imam masjid.Jangan tinggalkan pengajian. Tetapkan pengajian (minimal) seminggu sekali untuk kamu hadiri. Ini bisa pengajian apa saja. Lihat waktu yang tepat bagimu, apakah setelah subuh, atau pada hari libur.Harus ada minimal sehari dalam sepekan untuk menghadiri pengajian. Ini tali yang menghubungkanmu dengan ilmu, maka jangan sampai putus. ==== هَذَا أَخُونَا يَقُولُ إِنَّ مَشَاغِلَ الْحَيَاةِ أَلْهَتْنِي وَأَتْعَبَتْنِي خَاصَّةً أَنِّي أُنْفِقُ عَلَى أَهْلِي وَمَعَ قِلَّةِ ذَاتِ الْيَدِ وَقَدْ شُغِلْتُ عَنِ الْقِرَاءَةِ وَالتَّحْصِيْلِ وَكُلَّمَا رَأَيْتُ كُتُبِي زَادَتْ حَسْرَتِي فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ وَنَصِيحَةٍ؟ أَوَّلًا يَا شَيْخُ قَضِيَّةُ الِْانْقِطَاعِ عَنِ الْحَيَاةِ وَالِْانْشِغَالِ بِهَا فَهَذَا لَا شَكَّ أَنَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ شَرْعًا لِأَنَّ هَذَا مِنَ الْوَاجِبَاتِ أَوَّلًا لَكِنْ أَوَّلًا سَأَنْصَحُ غَيْرَكَ قَبْلَ أَنْ أَبْدَأَ بِنَصِيْحَتِكَ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ قَالَ اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ وَمِنْهَا فَرَاغُكَ قَبْلَ شُغْلِكَ بَعْضُ الْإِخْوَانِ لَا يَعْرِفُ قِيمَةَ هَذَا السُّؤَالِ لِأَنَّهُ لَمْ يَنْشَغِلْ بَعْدُ إِذَا تَزَوَّجْتَ غَدًا وَأَنْجَبْتَ وَلَدًا أَوْ أَوْلَادًا أَوْ كَانَ بَعْضُ هَؤُلَاءِ الْأَوْلَادِ ذَا حَاجَةٍ وَمَرَضٍ أَو شُغِلْتَ لِطَلَبِ الْمَعَاشِ فَإِنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ تَشْغَلُ الْمَرْءَ شُغْلًا كَبِيرًا فَأَنْتَ أَوَّلُ شَيْءٍ أَنَا أَنْصَحُ الْإِخْوَانَ الَّذِينَ لَمْ يَشْغَلُوا بَعْدُ يَعْنِي انْتَفِعْ مِنْ وَقْتِ فَرَاغِكَ الْآنَ فَوَاللهِ مَا مِنِ امْرِءٍ يَصِلُ مَرْحَلَةً مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا وَيَتَنَدَّمُ عَلَى مَا مَضَى هَذَا وَاحِدٌ الْأَمْرُ الثَّانِي أَخُونَا لِأَجْلِ الْوَقْتِ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ جَاءَهُ شُغْلُهُ وَهَكَذَا يَجِبُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى أُمُورٍ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ حِزْبًا لَا تُجَاوِزْهُ أَبَدًا يَعْنِي لَا تَتْرُكْهُ أَبَدًا وَلَا تَنْقُصْ عَنْهُ أَبَدًا لاَ بُدَّ حِزْبٌ إِمَّا مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ مِنَ الْحَدِيثِ أَوْ مِنَ الْقِرَاءَةِ نَبْدَأُ بِالْقُرْآنِ ذَكَرَ فُقَهَاؤُنَا وَذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ أَبِي يَعْلَى فِي التَّمَامِ وَنَقَلَهُ مَنْ بَعْدَهُ عَنْهُ أَنَّهُ بِاتِّفَاقٍ يُكْرَهُ أَنْ تَمُرَّ عَلَى حَافِظِ الْقُرْآنِ أَوْ مَنْ يُحْسِنُ قِرَاءَتَهُ نَظَرًا أَنْ يَمُرَّ عَلَيْهِ أَرْبَعُونَ يَوْمًا لَا يَخْتِمُ الْقُرْآنَ اجْعَلْ لَكَ حِزْبًا لِنَقُلْ جُزْءًا مِنْ ثَلَاثِينَ أَوْ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ بِحَيْثُ إِنَّكَ تَخْتِمُ الْقُرْآنَ أَقَلَّ شَيْءٍ كُلَّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مَرَّةً نَبْدَأُ بِأَعْظَم الْعِلْمِ الْقُرْآنِ وَقَدْ كَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَجْعَلُ لَهَا حِزْبًا مِنَ الْقُرْآنِ فَإِذَا جَاءَ نَوْمُهَا وَلَمْ تَقْرَأْ ذَلِكَ الحِزْبَ أَخَّرَتْ نَوْمَهَا لِتَقْرَأَ حِزْبَهَا اجْعَلْهُ لَكَ حَدًّا لَا تَتْرُكْهُ أَبَدًا وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ عَلَى سُنَّتِيْ فَقَدْ هُدِيَ دَائِمًا خُطَّ لَكَ حَدًّا أَدْنَى لَا تُجَاوِزُهُ هَذَا فِي الْقُرْآنِ فِي الْقِرَاءَةِ احْرِصْ عَلَى أَنْ تَجْعَلَ لَكَ عَدَدًا مِنَ الصَّفَحاتِ لَا تَتْرُكْهُ أَبَدًا يَعْنِي أَضْرِبُ لَكَ مِثَالًا مِنْ بَعْضِ الْمُعَاصِرِينَ الشَّيْخُ عَلِيٌّ الطَّنْطَاوِيُّ ذَكَرَ فِي مُذَكِّرَاتِهِ قَالَ أَخَذْتُ عَلَى نَفْسِي عَهْدًا أَو وَعْدًا لَيْسَ نَذَرًا لِكَيْلَا يَكُونَ وَاجِبًا أَنْ لَا يَمُرَّ عَلَيَّ يَوْمٌ إِلَّا وَأَقْرَأُ فِيهِ مِئَةَ صَفْحَةٍ تَعَوَّدْ عَلَى نَفْسِكَ كُلَّ يَوْمٍ مِئَةَ صَفْحَةٍ أَوَّلُ مَا تَبْدَأُ سَتَكُونُ صَعْبَةً ثُمّ سَتُصْبِحُ عَلَيْكَ أَسْهَلَ مِنَ السَّهْلِ نَفْسِهِ إِذًا لاَ بُدَّ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ قِرَاءَةً الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهَذِهِ مُهِمَّةٌ وَمَا زَالَ مَشَايِخُنَا يُوصُونَ بِهَا إِيَّانِي وَإِيَّاكَ أَنْ تَتْرُكَ الدَّرْسَ إِذَا كَانَ أَحَدُ مَشَايِخِكَ أَحْيَاءً فَلَا تَتْرُكْ دَرْسَهُ أَلْبَتَّةَ اُحْضُرْ اُحْضُرْ عِنْدَهُ وَإِنْ كُنْتَ إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْتَ رَئِيسَ الْمَحَاكِمِ وَهُوَ مَا زَالَ إِمَامَ مَسْجِدٍ لَا تَتْرُكِ الدَّرْسَ اجْعَلْ لَكَ دَرْسًا فِي الْأُسْبُوعِ اُحْضُرْهُ هَذَا يَخْتَلِفُ الدُّرُوسُ مَا هِيَ تَنْظُرُ لَكَ يَوْمٌ مِنَ الْأَيَّامِ فَجْرٌ فِي إِجَازَةٍ لاَ بُدَّ يَوْمٌ فِي الْأُسْبُوعِ عَلَى الْأَقَلِّ يَكُونَ لَكَ دَرْسٌ هَذَا حَبْلٌ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْعِلْمِ فَلَا يَنْقَطِعُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Apa Maksud Orang yang Mahir al-Quran? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang mahir al-Quran bersama para malaikat mulia dan taat.” (HR. Bukhari)atau sebagaimana yang beliau sabdakan. Pertanyaannya: “Apakah mempelajari qiraat ‘asyra dengan berbagai riwayat dan jalurnya termasuk kemahiran terhadap al-Quran?”Ya, ini kemahiran tambahan. Namun yang dimaksud dengan orang yang mahir al-Quran adalah yang dapat membacanya dengan benar.Orang yang mampu membaca al-Quran dengan benar. Namun jika di samping ia dapat membaca al-Quran dengan benar, ia meningkatkan kemahirannya dengan menghafalnya, maka ini lebih baik lagi.Jika meningkatkannya lagi dengan mempelajari ilmu qiraat, maka itu lebih baik lagi. Jika meningkatkannya lagi dengan mengajarkan al-Quran, maka itu lebih baik lagi.Namun yang dimaksud dengan orang yang mahir al-Quran adalah yang dapat membacanya dengan benar,sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. ==== يَقُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ أَوْ كَمَا قَالَ هَلْ تَعَلُّمُ الْقِرَاءَةِ الْعَشْرِ بِرِوَايَتِهَا وَطُرُقِهَا مِنَ الْمَهَارَاتِ فِي الْقُرْآنِ؟ نَعَمْ هَذِهِ مَهَارَةٌ زَائِدَةٌ هَذِهِ مَهَارَةٌ زَائِدَةٌ وَلَكِنِ الْمَقْصُودُ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ هُوَ الَّذِي يَقْرَأُهُ قِرَاءَةً صَحِيحَةً الَّذِي يَقْرَأُهُ قِرَاءَةً صَحِيحَةً فَإِذَا زَادَ عَلَى الْقِرَاءَةِ الصَّحِيحَةِ أَنَّهُ حَفِظَ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ فَهَذَا خَيْرٌ عَلَى خَيْرٍ إِذَا زَادَ أَنَّهُ تَعَلَّمَ الْقِرَاءَاتِ فَهَذَا خَيْرٌ عَلَى خَيْرٍ فَإِذَا زَادَ صَارَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ فَهَذَا خَيْرٌ عَلَى خَيْرٍ لَكِنْ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ الْمَقْصُودُ الَّذِي يَقْرَأُهُ قِرَاءَةً صَحِيحَةً كَمَا كَانَ يَقْرَأَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Apa Maksud Orang yang Mahir al-Quran? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang mahir al-Quran bersama para malaikat mulia dan taat.” (HR. Bukhari)atau sebagaimana yang beliau sabdakan. Pertanyaannya: “Apakah mempelajari qiraat ‘asyra dengan berbagai riwayat dan jalurnya termasuk kemahiran terhadap al-Quran?”Ya, ini kemahiran tambahan. Namun yang dimaksud dengan orang yang mahir al-Quran adalah yang dapat membacanya dengan benar.Orang yang mampu membaca al-Quran dengan benar. Namun jika di samping ia dapat membaca al-Quran dengan benar, ia meningkatkan kemahirannya dengan menghafalnya, maka ini lebih baik lagi.Jika meningkatkannya lagi dengan mempelajari ilmu qiraat, maka itu lebih baik lagi. Jika meningkatkannya lagi dengan mengajarkan al-Quran, maka itu lebih baik lagi.Namun yang dimaksud dengan orang yang mahir al-Quran adalah yang dapat membacanya dengan benar,sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. ==== يَقُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ أَوْ كَمَا قَالَ هَلْ تَعَلُّمُ الْقِرَاءَةِ الْعَشْرِ بِرِوَايَتِهَا وَطُرُقِهَا مِنَ الْمَهَارَاتِ فِي الْقُرْآنِ؟ نَعَمْ هَذِهِ مَهَارَةٌ زَائِدَةٌ هَذِهِ مَهَارَةٌ زَائِدَةٌ وَلَكِنِ الْمَقْصُودُ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ هُوَ الَّذِي يَقْرَأُهُ قِرَاءَةً صَحِيحَةً الَّذِي يَقْرَأُهُ قِرَاءَةً صَحِيحَةً فَإِذَا زَادَ عَلَى الْقِرَاءَةِ الصَّحِيحَةِ أَنَّهُ حَفِظَ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ فَهَذَا خَيْرٌ عَلَى خَيْرٍ إِذَا زَادَ أَنَّهُ تَعَلَّمَ الْقِرَاءَاتِ فَهَذَا خَيْرٌ عَلَى خَيْرٍ فَإِذَا زَادَ صَارَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ فَهَذَا خَيْرٌ عَلَى خَيْرٍ لَكِنْ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ الْمَقْصُودُ الَّذِي يَقْرَأُهُ قِرَاءَةً صَحِيحَةً كَمَا كَانَ يَقْرَأَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang mahir al-Quran bersama para malaikat mulia dan taat.” (HR. Bukhari)atau sebagaimana yang beliau sabdakan. Pertanyaannya: “Apakah mempelajari qiraat ‘asyra dengan berbagai riwayat dan jalurnya termasuk kemahiran terhadap al-Quran?”Ya, ini kemahiran tambahan. Namun yang dimaksud dengan orang yang mahir al-Quran adalah yang dapat membacanya dengan benar.Orang yang mampu membaca al-Quran dengan benar. Namun jika di samping ia dapat membaca al-Quran dengan benar, ia meningkatkan kemahirannya dengan menghafalnya, maka ini lebih baik lagi.Jika meningkatkannya lagi dengan mempelajari ilmu qiraat, maka itu lebih baik lagi. Jika meningkatkannya lagi dengan mengajarkan al-Quran, maka itu lebih baik lagi.Namun yang dimaksud dengan orang yang mahir al-Quran adalah yang dapat membacanya dengan benar,sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. ==== يَقُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ أَوْ كَمَا قَالَ هَلْ تَعَلُّمُ الْقِرَاءَةِ الْعَشْرِ بِرِوَايَتِهَا وَطُرُقِهَا مِنَ الْمَهَارَاتِ فِي الْقُرْآنِ؟ نَعَمْ هَذِهِ مَهَارَةٌ زَائِدَةٌ هَذِهِ مَهَارَةٌ زَائِدَةٌ وَلَكِنِ الْمَقْصُودُ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ هُوَ الَّذِي يَقْرَأُهُ قِرَاءَةً صَحِيحَةً الَّذِي يَقْرَأُهُ قِرَاءَةً صَحِيحَةً فَإِذَا زَادَ عَلَى الْقِرَاءَةِ الصَّحِيحَةِ أَنَّهُ حَفِظَ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ فَهَذَا خَيْرٌ عَلَى خَيْرٍ إِذَا زَادَ أَنَّهُ تَعَلَّمَ الْقِرَاءَاتِ فَهَذَا خَيْرٌ عَلَى خَيْرٍ فَإِذَا زَادَ صَارَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ فَهَذَا خَيْرٌ عَلَى خَيْرٍ لَكِنْ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ الْمَقْصُودُ الَّذِي يَقْرَأُهُ قِرَاءَةً صَحِيحَةً كَمَا كَانَ يَقْرَأَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang mahir al-Quran bersama para malaikat mulia dan taat.” (HR. Bukhari)atau sebagaimana yang beliau sabdakan. Pertanyaannya: “Apakah mempelajari qiraat ‘asyra dengan berbagai riwayat dan jalurnya termasuk kemahiran terhadap al-Quran?”Ya, ini kemahiran tambahan. Namun yang dimaksud dengan orang yang mahir al-Quran adalah yang dapat membacanya dengan benar.Orang yang mampu membaca al-Quran dengan benar. Namun jika di samping ia dapat membaca al-Quran dengan benar, ia meningkatkan kemahirannya dengan menghafalnya, maka ini lebih baik lagi.Jika meningkatkannya lagi dengan mempelajari ilmu qiraat, maka itu lebih baik lagi. Jika meningkatkannya lagi dengan mengajarkan al-Quran, maka itu lebih baik lagi.Namun yang dimaksud dengan orang yang mahir al-Quran adalah yang dapat membacanya dengan benar,sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. ==== يَقُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ أَوْ كَمَا قَالَ هَلْ تَعَلُّمُ الْقِرَاءَةِ الْعَشْرِ بِرِوَايَتِهَا وَطُرُقِهَا مِنَ الْمَهَارَاتِ فِي الْقُرْآنِ؟ نَعَمْ هَذِهِ مَهَارَةٌ زَائِدَةٌ هَذِهِ مَهَارَةٌ زَائِدَةٌ وَلَكِنِ الْمَقْصُودُ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ هُوَ الَّذِي يَقْرَأُهُ قِرَاءَةً صَحِيحَةً الَّذِي يَقْرَأُهُ قِرَاءَةً صَحِيحَةً فَإِذَا زَادَ عَلَى الْقِرَاءَةِ الصَّحِيحَةِ أَنَّهُ حَفِظَ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ فَهَذَا خَيْرٌ عَلَى خَيْرٍ إِذَا زَادَ أَنَّهُ تَعَلَّمَ الْقِرَاءَاتِ فَهَذَا خَيْرٌ عَلَى خَيْرٍ فَإِذَا زَادَ صَارَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ فَهَذَا خَيْرٌ عَلَى خَيْرٍ لَكِنْ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ الْمَقْصُودُ الَّذِي يَقْرَأُهُ قِرَاءَةً صَحِيحَةً كَمَا كَانَ يَقْرَأَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tulis Target Hidupmu & Perjuangkan! – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Wahai Saudara-saudara, setiap orang di dunia ini, jika tidak memiliki tujuan hidup,maka amalan-amalannya akan hilang, sia-sia begitu saja, dan ia tidak akan melihat hasilnya. Maka hendaklah ia menentukan tujuan di pikirannya, dan berjuang untuk mencapainya. Seorang pelajar punya tujuan: belajar, menyelesaikan pendidikan, dan memperoleh ilmu. Kemudian masuk ke dunia pekerjaan setelah itu; memberi manfaat kepada orang lain, mendapat manfaat, dan seterusnya Penuntut ilmu juga memiliki tujuan yang harus ia perjuangkan.Demikian juga orang yang membaca al-Quran, memiliki tujuan yang harus ia perjuangkan. ==== كُلُّ إِنْسَانٍ يَا إِخْوَانُ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ هَدَفٌ تَضِيْعُ أَعْمَالُهُ وَلَا يَرَى لَهَا النَّتِيجَةَ فَيَرْسُمُ هَدَفًا فِي ذِهْنِهِ يَسْعَى إِلَيْهِ طَالِبٌ لَهُ هَدَفٌ يَدْرُسُ وَيُكْمِلُ دِرَاسَتَهُ وَيَسْتَفِيْدُ عِلْمًا ثُمَّ يَنْخَرِطُ فِي سِلْكِ الْعَمَلِ بَعْدَ ذَلِكَ يَنْتَفِعُ وَيَنْفَعُ وَإِلَى آخِرِهِ طَالِبُ الْعِلْمِ لَهُ هَدَفٌ أَيْضًا يَسْعَى إِلَيْهِ قَارِئُ كِتَابِ اللهِ أَيْضًا لَهُ هَدَفٌ يَسْعَى إِلَيْهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tulis Target Hidupmu & Perjuangkan! – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Wahai Saudara-saudara, setiap orang di dunia ini, jika tidak memiliki tujuan hidup,maka amalan-amalannya akan hilang, sia-sia begitu saja, dan ia tidak akan melihat hasilnya. Maka hendaklah ia menentukan tujuan di pikirannya, dan berjuang untuk mencapainya. Seorang pelajar punya tujuan: belajar, menyelesaikan pendidikan, dan memperoleh ilmu. Kemudian masuk ke dunia pekerjaan setelah itu; memberi manfaat kepada orang lain, mendapat manfaat, dan seterusnya Penuntut ilmu juga memiliki tujuan yang harus ia perjuangkan.Demikian juga orang yang membaca al-Quran, memiliki tujuan yang harus ia perjuangkan. ==== كُلُّ إِنْسَانٍ يَا إِخْوَانُ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ هَدَفٌ تَضِيْعُ أَعْمَالُهُ وَلَا يَرَى لَهَا النَّتِيجَةَ فَيَرْسُمُ هَدَفًا فِي ذِهْنِهِ يَسْعَى إِلَيْهِ طَالِبٌ لَهُ هَدَفٌ يَدْرُسُ وَيُكْمِلُ دِرَاسَتَهُ وَيَسْتَفِيْدُ عِلْمًا ثُمَّ يَنْخَرِطُ فِي سِلْكِ الْعَمَلِ بَعْدَ ذَلِكَ يَنْتَفِعُ وَيَنْفَعُ وَإِلَى آخِرِهِ طَالِبُ الْعِلْمِ لَهُ هَدَفٌ أَيْضًا يَسْعَى إِلَيْهِ قَارِئُ كِتَابِ اللهِ أَيْضًا لَهُ هَدَفٌ يَسْعَى إِلَيْهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Wahai Saudara-saudara, setiap orang di dunia ini, jika tidak memiliki tujuan hidup,maka amalan-amalannya akan hilang, sia-sia begitu saja, dan ia tidak akan melihat hasilnya. Maka hendaklah ia menentukan tujuan di pikirannya, dan berjuang untuk mencapainya. Seorang pelajar punya tujuan: belajar, menyelesaikan pendidikan, dan memperoleh ilmu. Kemudian masuk ke dunia pekerjaan setelah itu; memberi manfaat kepada orang lain, mendapat manfaat, dan seterusnya Penuntut ilmu juga memiliki tujuan yang harus ia perjuangkan.Demikian juga orang yang membaca al-Quran, memiliki tujuan yang harus ia perjuangkan. ==== كُلُّ إِنْسَانٍ يَا إِخْوَانُ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ هَدَفٌ تَضِيْعُ أَعْمَالُهُ وَلَا يَرَى لَهَا النَّتِيجَةَ فَيَرْسُمُ هَدَفًا فِي ذِهْنِهِ يَسْعَى إِلَيْهِ طَالِبٌ لَهُ هَدَفٌ يَدْرُسُ وَيُكْمِلُ دِرَاسَتَهُ وَيَسْتَفِيْدُ عِلْمًا ثُمَّ يَنْخَرِطُ فِي سِلْكِ الْعَمَلِ بَعْدَ ذَلِكَ يَنْتَفِعُ وَيَنْفَعُ وَإِلَى آخِرِهِ طَالِبُ الْعِلْمِ لَهُ هَدَفٌ أَيْضًا يَسْعَى إِلَيْهِ قَارِئُ كِتَابِ اللهِ أَيْضًا لَهُ هَدَفٌ يَسْعَى إِلَيْهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Wahai Saudara-saudara, setiap orang di dunia ini, jika tidak memiliki tujuan hidup,maka amalan-amalannya akan hilang, sia-sia begitu saja, dan ia tidak akan melihat hasilnya. Maka hendaklah ia menentukan tujuan di pikirannya, dan berjuang untuk mencapainya. Seorang pelajar punya tujuan: belajar, menyelesaikan pendidikan, dan memperoleh ilmu. Kemudian masuk ke dunia pekerjaan setelah itu; memberi manfaat kepada orang lain, mendapat manfaat, dan seterusnya Penuntut ilmu juga memiliki tujuan yang harus ia perjuangkan.Demikian juga orang yang membaca al-Quran, memiliki tujuan yang harus ia perjuangkan. ==== كُلُّ إِنْسَانٍ يَا إِخْوَانُ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ هَدَفٌ تَضِيْعُ أَعْمَالُهُ وَلَا يَرَى لَهَا النَّتِيجَةَ فَيَرْسُمُ هَدَفًا فِي ذِهْنِهِ يَسْعَى إِلَيْهِ طَالِبٌ لَهُ هَدَفٌ يَدْرُسُ وَيُكْمِلُ دِرَاسَتَهُ وَيَسْتَفِيْدُ عِلْمًا ثُمَّ يَنْخَرِطُ فِي سِلْكِ الْعَمَلِ بَعْدَ ذَلِكَ يَنْتَفِعُ وَيَنْفَعُ وَإِلَى آخِرِهِ طَالِبُ الْعِلْمِ لَهُ هَدَفٌ أَيْضًا يَسْعَى إِلَيْهِ قَارِئُ كِتَابِ اللهِ أَيْضًا لَهُ هَدَفٌ يَسْعَى إِلَيْهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Nasihat bagi yang Sering Naik Gunung dan Melalaikan Keluarga

Nasihat ini semoga bermanfaat bagi saudara yang kami cintai karena Allah yang punya hobi naik gunung.   Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا  “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) Dalam Tafsir As-Sam’ani (5:476) disebutkan riwayat: وَعَن عَمْرو بن قيس الْملَائي قَالَ: ” إِن الْمَرْأَة لتخاصم زَوجهَا يَوْم الْقِيَامَة عِنْد الله فَتَقول: إِنَّه كَانَ لَا يؤدبني، وَلَا يعلمني شَيْئا، كَانَ يأتيني بِخبْز السُّوق. Dari ‘Amr bin Qais Al-Malaa’i berkata: “Sungguh seorang istri akan mendebat suaminya di sisi Allah pada hari kiamat. Istri akan berkata, “Sejatinya dahulu suamiku di dunia tidak pernah mendidikku dan tidak mengajariku satu ilmu pun. Kebiasaannya hanya memberiku roti dari pasar.”   Lihatlah nasihat ‘Amr, tugas suami itu semestinya adalah: 1. Memberi nafkah  2. Mengajarkan ilmu agama. Baca juga: Kewajiban Suami adalah Mengajarkan Agama   ❌ Sebagian suami hanya memikirkan memberi nafkah saja. ❌ Sebagian lagi hanya memikirkan ngaji saja.   Yang benar bagaimana dong? Suami harusnya mengajarkan ilmu agama pada istrinya, atau minimal mengajak belajar agama. Jangan lupakan memperhatikan nafkah untuk keluarga.   Kebiasaan sebagian ikhwan saat ini: ❌ lebih senang naik gunung untuk ngaji di sana, sampai istri dan anak terlantar. ❌ lebih memilih tawakal kepada Allah dan malas kerja. ❌ bergantung pada meminta-minta (mengemis), padahal lebih mulia jual gorengan di pasar daripada mengemis. ❌ punya ilmu agama, istri lupa dididik.   Kalau mau naik gunung untuk ngaji di sana bagaimana dong? Silakan, itu hal yang boleh-boleh saja. Jangan sampai lupakan kewajiban nafkah. Jangan sampai buat istri terlantar hingga mengemis pada orang lain. Jangan sampai semangat ngaji ilmu agama saat naik ke puncak gunung saja, selain waktu itu malasnya keterlaluan. Naik gunung juga perlu memperhatikan kemampuan ekonomi, jangan hanya mengikuti trend teman-teman yang kaya, padahal kita sendiri kalau naik gunung mesti berutang atau melalaikan nafkah keluarga yang tentu lebih wajib. Bagi ayah yang sering berpetualang ke berbagai puncak gunung dan memiliki keluarga, coba deh bayangkan jika anak atau istri sedang sakit, sedangkan kita sedang berada di gunung. Perlu diketahui bahwa rata-rata puncak gunung di negeri kita ini tidak ada sinyal. Apakah tidak kasihan anak dan istri tak terurus? Tambah lagi, bagaimana tanggapan orang sekitar jika mengetahui seorang ayah yang senangnya naik gunung dan tinggalkan keluarga.   Perhatikan Keluargamu! Nasihat terakhir, cobalah perhatikan nasihat Salman yang pernah mengingatkan saudaranya Abu Darda’ lantas dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.” (HR. Bukhari, no. 1968) Yang meremehkan mencari nafkah untuk keluarga, pahala ia mampu mencarinya, maka ia berdosa. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ  “Seseorang cukup dikatakan berdosa jika ia melalaikan orang yang ia wajib memberikan nafkah.” (HR. Abu Daud, no. 1692. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim, no. 995). Imam Nawawi membuat judul untuk hadits ini, “Keutamaan nafkah bagi keluarga dan hamba sahaya, serta dosa bagi orang yang melalaikan dan menahan nafkahnya untuk mereka”. Dalam Syarh Muslim (7:82), Imam Nawawi mengatakan, “Nafkah kepada keluarga itu lebih utama dari sedekah yang hukumnya sunnah”. Baca juga: Keutamaan Memberi Nafkah   MONGGO SILAKAN NAIK GUNUNG! Hanya Allah yang membuka pintu hidayah bagi kita semua. – 14 Rabiul Awal 1444 H, di rumah mertua tercinta di perbukitan Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul Ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsapi neraka dakwah keluarga jaga keluarga keluarga naik gunung penduduk neraka

Nasihat bagi yang Sering Naik Gunung dan Melalaikan Keluarga

Nasihat ini semoga bermanfaat bagi saudara yang kami cintai karena Allah yang punya hobi naik gunung.   Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا  “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) Dalam Tafsir As-Sam’ani (5:476) disebutkan riwayat: وَعَن عَمْرو بن قيس الْملَائي قَالَ: ” إِن الْمَرْأَة لتخاصم زَوجهَا يَوْم الْقِيَامَة عِنْد الله فَتَقول: إِنَّه كَانَ لَا يؤدبني، وَلَا يعلمني شَيْئا، كَانَ يأتيني بِخبْز السُّوق. Dari ‘Amr bin Qais Al-Malaa’i berkata: “Sungguh seorang istri akan mendebat suaminya di sisi Allah pada hari kiamat. Istri akan berkata, “Sejatinya dahulu suamiku di dunia tidak pernah mendidikku dan tidak mengajariku satu ilmu pun. Kebiasaannya hanya memberiku roti dari pasar.”   Lihatlah nasihat ‘Amr, tugas suami itu semestinya adalah: 1. Memberi nafkah  2. Mengajarkan ilmu agama. Baca juga: Kewajiban Suami adalah Mengajarkan Agama   ❌ Sebagian suami hanya memikirkan memberi nafkah saja. ❌ Sebagian lagi hanya memikirkan ngaji saja.   Yang benar bagaimana dong? Suami harusnya mengajarkan ilmu agama pada istrinya, atau minimal mengajak belajar agama. Jangan lupakan memperhatikan nafkah untuk keluarga.   Kebiasaan sebagian ikhwan saat ini: ❌ lebih senang naik gunung untuk ngaji di sana, sampai istri dan anak terlantar. ❌ lebih memilih tawakal kepada Allah dan malas kerja. ❌ bergantung pada meminta-minta (mengemis), padahal lebih mulia jual gorengan di pasar daripada mengemis. ❌ punya ilmu agama, istri lupa dididik.   Kalau mau naik gunung untuk ngaji di sana bagaimana dong? Silakan, itu hal yang boleh-boleh saja. Jangan sampai lupakan kewajiban nafkah. Jangan sampai buat istri terlantar hingga mengemis pada orang lain. Jangan sampai semangat ngaji ilmu agama saat naik ke puncak gunung saja, selain waktu itu malasnya keterlaluan. Naik gunung juga perlu memperhatikan kemampuan ekonomi, jangan hanya mengikuti trend teman-teman yang kaya, padahal kita sendiri kalau naik gunung mesti berutang atau melalaikan nafkah keluarga yang tentu lebih wajib. Bagi ayah yang sering berpetualang ke berbagai puncak gunung dan memiliki keluarga, coba deh bayangkan jika anak atau istri sedang sakit, sedangkan kita sedang berada di gunung. Perlu diketahui bahwa rata-rata puncak gunung di negeri kita ini tidak ada sinyal. Apakah tidak kasihan anak dan istri tak terurus? Tambah lagi, bagaimana tanggapan orang sekitar jika mengetahui seorang ayah yang senangnya naik gunung dan tinggalkan keluarga.   Perhatikan Keluargamu! Nasihat terakhir, cobalah perhatikan nasihat Salman yang pernah mengingatkan saudaranya Abu Darda’ lantas dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.” (HR. Bukhari, no. 1968) Yang meremehkan mencari nafkah untuk keluarga, pahala ia mampu mencarinya, maka ia berdosa. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ  “Seseorang cukup dikatakan berdosa jika ia melalaikan orang yang ia wajib memberikan nafkah.” (HR. Abu Daud, no. 1692. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim, no. 995). Imam Nawawi membuat judul untuk hadits ini, “Keutamaan nafkah bagi keluarga dan hamba sahaya, serta dosa bagi orang yang melalaikan dan menahan nafkahnya untuk mereka”. Dalam Syarh Muslim (7:82), Imam Nawawi mengatakan, “Nafkah kepada keluarga itu lebih utama dari sedekah yang hukumnya sunnah”. Baca juga: Keutamaan Memberi Nafkah   MONGGO SILAKAN NAIK GUNUNG! Hanya Allah yang membuka pintu hidayah bagi kita semua. – 14 Rabiul Awal 1444 H, di rumah mertua tercinta di perbukitan Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul Ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsapi neraka dakwah keluarga jaga keluarga keluarga naik gunung penduduk neraka
Nasihat ini semoga bermanfaat bagi saudara yang kami cintai karena Allah yang punya hobi naik gunung.   Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا  “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) Dalam Tafsir As-Sam’ani (5:476) disebutkan riwayat: وَعَن عَمْرو بن قيس الْملَائي قَالَ: ” إِن الْمَرْأَة لتخاصم زَوجهَا يَوْم الْقِيَامَة عِنْد الله فَتَقول: إِنَّه كَانَ لَا يؤدبني، وَلَا يعلمني شَيْئا، كَانَ يأتيني بِخبْز السُّوق. Dari ‘Amr bin Qais Al-Malaa’i berkata: “Sungguh seorang istri akan mendebat suaminya di sisi Allah pada hari kiamat. Istri akan berkata, “Sejatinya dahulu suamiku di dunia tidak pernah mendidikku dan tidak mengajariku satu ilmu pun. Kebiasaannya hanya memberiku roti dari pasar.”   Lihatlah nasihat ‘Amr, tugas suami itu semestinya adalah: 1. Memberi nafkah  2. Mengajarkan ilmu agama. Baca juga: Kewajiban Suami adalah Mengajarkan Agama   ❌ Sebagian suami hanya memikirkan memberi nafkah saja. ❌ Sebagian lagi hanya memikirkan ngaji saja.   Yang benar bagaimana dong? Suami harusnya mengajarkan ilmu agama pada istrinya, atau minimal mengajak belajar agama. Jangan lupakan memperhatikan nafkah untuk keluarga.   Kebiasaan sebagian ikhwan saat ini: ❌ lebih senang naik gunung untuk ngaji di sana, sampai istri dan anak terlantar. ❌ lebih memilih tawakal kepada Allah dan malas kerja. ❌ bergantung pada meminta-minta (mengemis), padahal lebih mulia jual gorengan di pasar daripada mengemis. ❌ punya ilmu agama, istri lupa dididik.   Kalau mau naik gunung untuk ngaji di sana bagaimana dong? Silakan, itu hal yang boleh-boleh saja. Jangan sampai lupakan kewajiban nafkah. Jangan sampai buat istri terlantar hingga mengemis pada orang lain. Jangan sampai semangat ngaji ilmu agama saat naik ke puncak gunung saja, selain waktu itu malasnya keterlaluan. Naik gunung juga perlu memperhatikan kemampuan ekonomi, jangan hanya mengikuti trend teman-teman yang kaya, padahal kita sendiri kalau naik gunung mesti berutang atau melalaikan nafkah keluarga yang tentu lebih wajib. Bagi ayah yang sering berpetualang ke berbagai puncak gunung dan memiliki keluarga, coba deh bayangkan jika anak atau istri sedang sakit, sedangkan kita sedang berada di gunung. Perlu diketahui bahwa rata-rata puncak gunung di negeri kita ini tidak ada sinyal. Apakah tidak kasihan anak dan istri tak terurus? Tambah lagi, bagaimana tanggapan orang sekitar jika mengetahui seorang ayah yang senangnya naik gunung dan tinggalkan keluarga.   Perhatikan Keluargamu! Nasihat terakhir, cobalah perhatikan nasihat Salman yang pernah mengingatkan saudaranya Abu Darda’ lantas dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.” (HR. Bukhari, no. 1968) Yang meremehkan mencari nafkah untuk keluarga, pahala ia mampu mencarinya, maka ia berdosa. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ  “Seseorang cukup dikatakan berdosa jika ia melalaikan orang yang ia wajib memberikan nafkah.” (HR. Abu Daud, no. 1692. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim, no. 995). Imam Nawawi membuat judul untuk hadits ini, “Keutamaan nafkah bagi keluarga dan hamba sahaya, serta dosa bagi orang yang melalaikan dan menahan nafkahnya untuk mereka”. Dalam Syarh Muslim (7:82), Imam Nawawi mengatakan, “Nafkah kepada keluarga itu lebih utama dari sedekah yang hukumnya sunnah”. Baca juga: Keutamaan Memberi Nafkah   MONGGO SILAKAN NAIK GUNUNG! Hanya Allah yang membuka pintu hidayah bagi kita semua. – 14 Rabiul Awal 1444 H, di rumah mertua tercinta di perbukitan Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul Ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsapi neraka dakwah keluarga jaga keluarga keluarga naik gunung penduduk neraka


Nasihat ini semoga bermanfaat bagi saudara yang kami cintai karena Allah yang punya hobi naik gunung.   Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا  “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) Dalam Tafsir As-Sam’ani (5:476) disebutkan riwayat: وَعَن عَمْرو بن قيس الْملَائي قَالَ: ” إِن الْمَرْأَة لتخاصم زَوجهَا يَوْم الْقِيَامَة عِنْد الله فَتَقول: إِنَّه كَانَ لَا يؤدبني، وَلَا يعلمني شَيْئا، كَانَ يأتيني بِخبْز السُّوق. Dari ‘Amr bin Qais Al-Malaa’i berkata: “Sungguh seorang istri akan mendebat suaminya di sisi Allah pada hari kiamat. Istri akan berkata, “Sejatinya dahulu suamiku di dunia tidak pernah mendidikku dan tidak mengajariku satu ilmu pun. Kebiasaannya hanya memberiku roti dari pasar.”   Lihatlah nasihat ‘Amr, tugas suami itu semestinya adalah: 1. Memberi nafkah  2. Mengajarkan ilmu agama. Baca juga: Kewajiban Suami adalah Mengajarkan Agama   ❌ Sebagian suami hanya memikirkan memberi nafkah saja. ❌ Sebagian lagi hanya memikirkan ngaji saja.   Yang benar bagaimana dong? Suami harusnya mengajarkan ilmu agama pada istrinya, atau minimal mengajak belajar agama. Jangan lupakan memperhatikan nafkah untuk keluarga.   Kebiasaan sebagian ikhwan saat ini: ❌ lebih senang naik gunung untuk ngaji di sana, sampai istri dan anak terlantar. ❌ lebih memilih tawakal kepada Allah dan malas kerja. ❌ bergantung pada meminta-minta (mengemis), padahal lebih mulia jual gorengan di pasar daripada mengemis. ❌ punya ilmu agama, istri lupa dididik.   Kalau mau naik gunung untuk ngaji di sana bagaimana dong? Silakan, itu hal yang boleh-boleh saja. Jangan sampai lupakan kewajiban nafkah. Jangan sampai buat istri terlantar hingga mengemis pada orang lain. Jangan sampai semangat ngaji ilmu agama saat naik ke puncak gunung saja, selain waktu itu malasnya keterlaluan. Naik gunung juga perlu memperhatikan kemampuan ekonomi, jangan hanya mengikuti trend teman-teman yang kaya, padahal kita sendiri kalau naik gunung mesti berutang atau melalaikan nafkah keluarga yang tentu lebih wajib. Bagi ayah yang sering berpetualang ke berbagai puncak gunung dan memiliki keluarga, coba deh bayangkan jika anak atau istri sedang sakit, sedangkan kita sedang berada di gunung. Perlu diketahui bahwa rata-rata puncak gunung di negeri kita ini tidak ada sinyal. Apakah tidak kasihan anak dan istri tak terurus? Tambah lagi, bagaimana tanggapan orang sekitar jika mengetahui seorang ayah yang senangnya naik gunung dan tinggalkan keluarga.   Perhatikan Keluargamu! Nasihat terakhir, cobalah perhatikan nasihat Salman yang pernah mengingatkan saudaranya Abu Darda’ lantas dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.” (HR. Bukhari, no. 1968) Yang meremehkan mencari nafkah untuk keluarga, pahala ia mampu mencarinya, maka ia berdosa. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ  “Seseorang cukup dikatakan berdosa jika ia melalaikan orang yang ia wajib memberikan nafkah.” (HR. Abu Daud, no. 1692. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim, no. 995). Imam Nawawi membuat judul untuk hadits ini, “Keutamaan nafkah bagi keluarga dan hamba sahaya, serta dosa bagi orang yang melalaikan dan menahan nafkahnya untuk mereka”. Dalam Syarh Muslim (7:82), Imam Nawawi mengatakan, “Nafkah kepada keluarga itu lebih utama dari sedekah yang hukumnya sunnah”. Baca juga: Keutamaan Memberi Nafkah   MONGGO SILAKAN NAIK GUNUNG! Hanya Allah yang membuka pintu hidayah bagi kita semua. – 14 Rabiul Awal 1444 H, di rumah mertua tercinta di perbukitan Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul Ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsapi neraka dakwah keluarga jaga keluarga keluarga naik gunung penduduk neraka

Menjauhi Dosa Besar

Allah Ta’ala berfirman,إِن تَجۡتَنِبُوا۟ كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَیِّـَٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلا كَرِیما“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang kepada kalian, niscaya Kami akan menghapuskan dari kalian dosa-dosa kalian dan Kami akan memasukkan kalian ke dalam tempat yang mulia.” (QS. An-Nisa’: 31)Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dengan dalil yang tegas ini, Allah menjamin bagi orang yang menjauhi dosa-dosa besar bahwa Allah pasti akan memasukkan mereka ke dalam surga.”Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إلى الجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إلى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ ما بيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الكَبَائِرَ“Salat lima waktu, salat jumat menuju salat jumat berikutnya, puasa ramadan menuju puasa ramadan sesudahnya, merupakan penghapus dosa-dosa yang terjadi di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim) Daftar Isi sembunyikan 1. Jumlah dosa besar 2. Pengertian dosa besar 3. Dosa besar itu bertingkat-tingkat 4. Dosa besar yang paling besar Jumlah dosa besarPara ulama berbeda pendapat mengenai jumlah dosa besar. Ada di antara mereka yang mengatakan bahwa dosa besar itu ada tujuh. Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقاتِ“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan,الشِّرْكُ باللَّهِ، والسِّحْرُ، وقَتْلُ النَّفْسِ الَّتي حَرَّمَ اللَّهُ إلَّا بالحَقِّ، وأَكْلُ الرِّبا، وأَكْلُ مالِ اليَتِيمِ، والتَّوَلِّي يَومَ الزَّحْفِ، وقَذْفُ المُحْصَناتِ المُؤْمِناتِ الغافِلاتِ.“[1] Syirik kepada Allah, [2] sihir, [3] membunuh jiwa yang haram dibunuh, kecuali apabila ada alasan yang membenarkannya, [4] memakan harta anak yatim, [5] memakan harta riba, [6] melarikan diri dari pertempuran saat dua pasukan bertemu, [7] menuduh berzina terhadap perempuan yang baik-baik dan tidak bersalah.” (Muttafaq ‘alaih)Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma mengatakan bahwa dosa besar itu jumlahnya lebih tepat dikatakan mendekati tujuh puluh dan bukan hanya tujuh. Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan bahwa hadis di atas sama sekali tidak menunjukkan pembatasan jumlah dosa besar.Baca Juga: Merasa Aman dari Makar Allah: Antara Dosa Besar dan Kekafiran Pengertian dosa besarAdz-Dzahabi rahimahullah menjelaskan bahwa pengertian dosa besar yang tepat adalah segala bentuk perbuatan yang memiliki dampak hukuman khusus (had) di dunia semacam membunuh, berzina, atau mencuri. Atau perbuatan yang disebutkan di dalam dalil dengan peringatan keras berupa hukuman di akhirat berupa siksaan, kemurkaan, tantangan, atau perbuatan yang pelakunya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Dosa besar itu bertingkat-tingkatAdz-Dzahabi rahimahullah menyatakan bahwa tidak bisa dipungkiri bahwasanya sebagian dosa besar lebih berat dosanya daripada dosa besar yang lain. Sebagaimana halnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasukkan syirik kepada Allah dalam kategori dosa besar padahal pelakunya kekal dihukum di dalam neraka dan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik itu selama-lamanya.Dosa besar yang paling besarAdz-Dzahabi rahimahullah mengatakan bahwa dosa besar yang paling besar adalah kesyirikan kepada Allah Ta’ala dan hal itu meliputi dua macam: syirik besar dan syirik kecil. Dosa syirik besar itu berupa menjadikan selain Allah sebagai sesembahan tandingan, entah itu pohon, matahari, bulan, nabi, syekh, bintang, malaikat, dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَغۡفِرُ أَن یُشۡرَكَ بِهِۦ وَیَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَ ٰ⁠لِكَ لِمَن یَشَاۤءُۚ“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan dosa syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka.” (QS. Al-Ma’idah: 72)Adz-Dzahabi rahimahullah menyatakan bahwa barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, kemudian meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik, maka dia pasti termasuk penghuni neraka. Sebagaimana halnya barangsiapa yang beriman kepada Allah kemudian meninggal dalam keadaan beriman, maka dia termasuk penghuni surga meskipun dia harus disiksa terlebih dulu di dalam neraka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أنَّ اللهَ تعالى قال إني أغنى الشركاءِ عن الشركِ فمن عمل عملًا أشرك فيه غيري فأنا منه بريءٌ وهو للذي عمِلَه“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Aku tidak butuh sekutu-sekutu dari perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dengan mempersekutukan Aku di dalamnya, maka Aku berlepas diri darinya dan dia akan diserahkan kepada sosok yang dijadikannya sebagai sekutu.‘” (HR. Ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar)Allah Ta’ala berfirman,وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا“Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka lakukan di dunia kemudian Kami jadikan amal-amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Sebagian orang yang bijak mengatakan, “Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia berusaha untuk menyembunyikan kejelekan-kejelekannya.”Baca Juga:Khotbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering DiremehkanSelingkuh Adalah Dosa Besar***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diadaptasi dari Al-Kaba’ir karya Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah🔍 Hadits Tentang Bid'ah, Hukum Reseller, Zina Sebelum Menikah, Sedekah Menyembuhkan Penyakit Kronis, Dzikir Di Pagi HariTags: akibat dosaAqidahaqidah islambahaya dosadampak dosadampak maksiatdosadosa besarmaksiatManhajmanhaj salafnasihat islam

Menjauhi Dosa Besar

Allah Ta’ala berfirman,إِن تَجۡتَنِبُوا۟ كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَیِّـَٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلا كَرِیما“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang kepada kalian, niscaya Kami akan menghapuskan dari kalian dosa-dosa kalian dan Kami akan memasukkan kalian ke dalam tempat yang mulia.” (QS. An-Nisa’: 31)Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dengan dalil yang tegas ini, Allah menjamin bagi orang yang menjauhi dosa-dosa besar bahwa Allah pasti akan memasukkan mereka ke dalam surga.”Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إلى الجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إلى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ ما بيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الكَبَائِرَ“Salat lima waktu, salat jumat menuju salat jumat berikutnya, puasa ramadan menuju puasa ramadan sesudahnya, merupakan penghapus dosa-dosa yang terjadi di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim) Daftar Isi sembunyikan 1. Jumlah dosa besar 2. Pengertian dosa besar 3. Dosa besar itu bertingkat-tingkat 4. Dosa besar yang paling besar Jumlah dosa besarPara ulama berbeda pendapat mengenai jumlah dosa besar. Ada di antara mereka yang mengatakan bahwa dosa besar itu ada tujuh. Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقاتِ“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan,الشِّرْكُ باللَّهِ، والسِّحْرُ، وقَتْلُ النَّفْسِ الَّتي حَرَّمَ اللَّهُ إلَّا بالحَقِّ، وأَكْلُ الرِّبا، وأَكْلُ مالِ اليَتِيمِ، والتَّوَلِّي يَومَ الزَّحْفِ، وقَذْفُ المُحْصَناتِ المُؤْمِناتِ الغافِلاتِ.“[1] Syirik kepada Allah, [2] sihir, [3] membunuh jiwa yang haram dibunuh, kecuali apabila ada alasan yang membenarkannya, [4] memakan harta anak yatim, [5] memakan harta riba, [6] melarikan diri dari pertempuran saat dua pasukan bertemu, [7] menuduh berzina terhadap perempuan yang baik-baik dan tidak bersalah.” (Muttafaq ‘alaih)Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma mengatakan bahwa dosa besar itu jumlahnya lebih tepat dikatakan mendekati tujuh puluh dan bukan hanya tujuh. Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan bahwa hadis di atas sama sekali tidak menunjukkan pembatasan jumlah dosa besar.Baca Juga: Merasa Aman dari Makar Allah: Antara Dosa Besar dan Kekafiran Pengertian dosa besarAdz-Dzahabi rahimahullah menjelaskan bahwa pengertian dosa besar yang tepat adalah segala bentuk perbuatan yang memiliki dampak hukuman khusus (had) di dunia semacam membunuh, berzina, atau mencuri. Atau perbuatan yang disebutkan di dalam dalil dengan peringatan keras berupa hukuman di akhirat berupa siksaan, kemurkaan, tantangan, atau perbuatan yang pelakunya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Dosa besar itu bertingkat-tingkatAdz-Dzahabi rahimahullah menyatakan bahwa tidak bisa dipungkiri bahwasanya sebagian dosa besar lebih berat dosanya daripada dosa besar yang lain. Sebagaimana halnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasukkan syirik kepada Allah dalam kategori dosa besar padahal pelakunya kekal dihukum di dalam neraka dan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik itu selama-lamanya.Dosa besar yang paling besarAdz-Dzahabi rahimahullah mengatakan bahwa dosa besar yang paling besar adalah kesyirikan kepada Allah Ta’ala dan hal itu meliputi dua macam: syirik besar dan syirik kecil. Dosa syirik besar itu berupa menjadikan selain Allah sebagai sesembahan tandingan, entah itu pohon, matahari, bulan, nabi, syekh, bintang, malaikat, dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَغۡفِرُ أَن یُشۡرَكَ بِهِۦ وَیَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَ ٰ⁠لِكَ لِمَن یَشَاۤءُۚ“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan dosa syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka.” (QS. Al-Ma’idah: 72)Adz-Dzahabi rahimahullah menyatakan bahwa barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, kemudian meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik, maka dia pasti termasuk penghuni neraka. Sebagaimana halnya barangsiapa yang beriman kepada Allah kemudian meninggal dalam keadaan beriman, maka dia termasuk penghuni surga meskipun dia harus disiksa terlebih dulu di dalam neraka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أنَّ اللهَ تعالى قال إني أغنى الشركاءِ عن الشركِ فمن عمل عملًا أشرك فيه غيري فأنا منه بريءٌ وهو للذي عمِلَه“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Aku tidak butuh sekutu-sekutu dari perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dengan mempersekutukan Aku di dalamnya, maka Aku berlepas diri darinya dan dia akan diserahkan kepada sosok yang dijadikannya sebagai sekutu.‘” (HR. Ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar)Allah Ta’ala berfirman,وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا“Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka lakukan di dunia kemudian Kami jadikan amal-amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Sebagian orang yang bijak mengatakan, “Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia berusaha untuk menyembunyikan kejelekan-kejelekannya.”Baca Juga:Khotbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering DiremehkanSelingkuh Adalah Dosa Besar***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diadaptasi dari Al-Kaba’ir karya Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah🔍 Hadits Tentang Bid'ah, Hukum Reseller, Zina Sebelum Menikah, Sedekah Menyembuhkan Penyakit Kronis, Dzikir Di Pagi HariTags: akibat dosaAqidahaqidah islambahaya dosadampak dosadampak maksiatdosadosa besarmaksiatManhajmanhaj salafnasihat islam
Allah Ta’ala berfirman,إِن تَجۡتَنِبُوا۟ كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَیِّـَٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلا كَرِیما“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang kepada kalian, niscaya Kami akan menghapuskan dari kalian dosa-dosa kalian dan Kami akan memasukkan kalian ke dalam tempat yang mulia.” (QS. An-Nisa’: 31)Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dengan dalil yang tegas ini, Allah menjamin bagi orang yang menjauhi dosa-dosa besar bahwa Allah pasti akan memasukkan mereka ke dalam surga.”Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إلى الجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إلى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ ما بيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الكَبَائِرَ“Salat lima waktu, salat jumat menuju salat jumat berikutnya, puasa ramadan menuju puasa ramadan sesudahnya, merupakan penghapus dosa-dosa yang terjadi di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim) Daftar Isi sembunyikan 1. Jumlah dosa besar 2. Pengertian dosa besar 3. Dosa besar itu bertingkat-tingkat 4. Dosa besar yang paling besar Jumlah dosa besarPara ulama berbeda pendapat mengenai jumlah dosa besar. Ada di antara mereka yang mengatakan bahwa dosa besar itu ada tujuh. Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقاتِ“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan,الشِّرْكُ باللَّهِ، والسِّحْرُ، وقَتْلُ النَّفْسِ الَّتي حَرَّمَ اللَّهُ إلَّا بالحَقِّ، وأَكْلُ الرِّبا، وأَكْلُ مالِ اليَتِيمِ، والتَّوَلِّي يَومَ الزَّحْفِ، وقَذْفُ المُحْصَناتِ المُؤْمِناتِ الغافِلاتِ.“[1] Syirik kepada Allah, [2] sihir, [3] membunuh jiwa yang haram dibunuh, kecuali apabila ada alasan yang membenarkannya, [4] memakan harta anak yatim, [5] memakan harta riba, [6] melarikan diri dari pertempuran saat dua pasukan bertemu, [7] menuduh berzina terhadap perempuan yang baik-baik dan tidak bersalah.” (Muttafaq ‘alaih)Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma mengatakan bahwa dosa besar itu jumlahnya lebih tepat dikatakan mendekati tujuh puluh dan bukan hanya tujuh. Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan bahwa hadis di atas sama sekali tidak menunjukkan pembatasan jumlah dosa besar.Baca Juga: Merasa Aman dari Makar Allah: Antara Dosa Besar dan Kekafiran Pengertian dosa besarAdz-Dzahabi rahimahullah menjelaskan bahwa pengertian dosa besar yang tepat adalah segala bentuk perbuatan yang memiliki dampak hukuman khusus (had) di dunia semacam membunuh, berzina, atau mencuri. Atau perbuatan yang disebutkan di dalam dalil dengan peringatan keras berupa hukuman di akhirat berupa siksaan, kemurkaan, tantangan, atau perbuatan yang pelakunya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Dosa besar itu bertingkat-tingkatAdz-Dzahabi rahimahullah menyatakan bahwa tidak bisa dipungkiri bahwasanya sebagian dosa besar lebih berat dosanya daripada dosa besar yang lain. Sebagaimana halnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasukkan syirik kepada Allah dalam kategori dosa besar padahal pelakunya kekal dihukum di dalam neraka dan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik itu selama-lamanya.Dosa besar yang paling besarAdz-Dzahabi rahimahullah mengatakan bahwa dosa besar yang paling besar adalah kesyirikan kepada Allah Ta’ala dan hal itu meliputi dua macam: syirik besar dan syirik kecil. Dosa syirik besar itu berupa menjadikan selain Allah sebagai sesembahan tandingan, entah itu pohon, matahari, bulan, nabi, syekh, bintang, malaikat, dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَغۡفِرُ أَن یُشۡرَكَ بِهِۦ وَیَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَ ٰ⁠لِكَ لِمَن یَشَاۤءُۚ“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan dosa syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka.” (QS. Al-Ma’idah: 72)Adz-Dzahabi rahimahullah menyatakan bahwa barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, kemudian meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik, maka dia pasti termasuk penghuni neraka. Sebagaimana halnya barangsiapa yang beriman kepada Allah kemudian meninggal dalam keadaan beriman, maka dia termasuk penghuni surga meskipun dia harus disiksa terlebih dulu di dalam neraka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أنَّ اللهَ تعالى قال إني أغنى الشركاءِ عن الشركِ فمن عمل عملًا أشرك فيه غيري فأنا منه بريءٌ وهو للذي عمِلَه“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Aku tidak butuh sekutu-sekutu dari perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dengan mempersekutukan Aku di dalamnya, maka Aku berlepas diri darinya dan dia akan diserahkan kepada sosok yang dijadikannya sebagai sekutu.‘” (HR. Ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar)Allah Ta’ala berfirman,وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا“Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka lakukan di dunia kemudian Kami jadikan amal-amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Sebagian orang yang bijak mengatakan, “Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia berusaha untuk menyembunyikan kejelekan-kejelekannya.”Baca Juga:Khotbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering DiremehkanSelingkuh Adalah Dosa Besar***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diadaptasi dari Al-Kaba’ir karya Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah🔍 Hadits Tentang Bid'ah, Hukum Reseller, Zina Sebelum Menikah, Sedekah Menyembuhkan Penyakit Kronis, Dzikir Di Pagi HariTags: akibat dosaAqidahaqidah islambahaya dosadampak dosadampak maksiatdosadosa besarmaksiatManhajmanhaj salafnasihat islam


Allah Ta’ala berfirman,إِن تَجۡتَنِبُوا۟ كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَیِّـَٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلا كَرِیما“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang kepada kalian, niscaya Kami akan menghapuskan dari kalian dosa-dosa kalian dan Kami akan memasukkan kalian ke dalam tempat yang mulia.” (QS. An-Nisa’: 31)Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dengan dalil yang tegas ini, Allah menjamin bagi orang yang menjauhi dosa-dosa besar bahwa Allah pasti akan memasukkan mereka ke dalam surga.”Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إلى الجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إلى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ ما بيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الكَبَائِرَ“Salat lima waktu, salat jumat menuju salat jumat berikutnya, puasa ramadan menuju puasa ramadan sesudahnya, merupakan penghapus dosa-dosa yang terjadi di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim) Daftar Isi sembunyikan 1. Jumlah dosa besar 2. Pengertian dosa besar 3. Dosa besar itu bertingkat-tingkat 4. Dosa besar yang paling besar Jumlah dosa besarPara ulama berbeda pendapat mengenai jumlah dosa besar. Ada di antara mereka yang mengatakan bahwa dosa besar itu ada tujuh. Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقاتِ“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan,الشِّرْكُ باللَّهِ، والسِّحْرُ، وقَتْلُ النَّفْسِ الَّتي حَرَّمَ اللَّهُ إلَّا بالحَقِّ، وأَكْلُ الرِّبا، وأَكْلُ مالِ اليَتِيمِ، والتَّوَلِّي يَومَ الزَّحْفِ، وقَذْفُ المُحْصَناتِ المُؤْمِناتِ الغافِلاتِ.“[1] Syirik kepada Allah, [2] sihir, [3] membunuh jiwa yang haram dibunuh, kecuali apabila ada alasan yang membenarkannya, [4] memakan harta anak yatim, [5] memakan harta riba, [6] melarikan diri dari pertempuran saat dua pasukan bertemu, [7] menuduh berzina terhadap perempuan yang baik-baik dan tidak bersalah.” (Muttafaq ‘alaih)Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma mengatakan bahwa dosa besar itu jumlahnya lebih tepat dikatakan mendekati tujuh puluh dan bukan hanya tujuh. Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan bahwa hadis di atas sama sekali tidak menunjukkan pembatasan jumlah dosa besar.Baca Juga: Merasa Aman dari Makar Allah: Antara Dosa Besar dan Kekafiran Pengertian dosa besarAdz-Dzahabi rahimahullah menjelaskan bahwa pengertian dosa besar yang tepat adalah segala bentuk perbuatan yang memiliki dampak hukuman khusus (had) di dunia semacam membunuh, berzina, atau mencuri. Atau perbuatan yang disebutkan di dalam dalil dengan peringatan keras berupa hukuman di akhirat berupa siksaan, kemurkaan, tantangan, atau perbuatan yang pelakunya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Dosa besar itu bertingkat-tingkatAdz-Dzahabi rahimahullah menyatakan bahwa tidak bisa dipungkiri bahwasanya sebagian dosa besar lebih berat dosanya daripada dosa besar yang lain. Sebagaimana halnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasukkan syirik kepada Allah dalam kategori dosa besar padahal pelakunya kekal dihukum di dalam neraka dan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik itu selama-lamanya.Dosa besar yang paling besarAdz-Dzahabi rahimahullah mengatakan bahwa dosa besar yang paling besar adalah kesyirikan kepada Allah Ta’ala dan hal itu meliputi dua macam: syirik besar dan syirik kecil. Dosa syirik besar itu berupa menjadikan selain Allah sebagai sesembahan tandingan, entah itu pohon, matahari, bulan, nabi, syekh, bintang, malaikat, dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَغۡفِرُ أَن یُشۡرَكَ بِهِۦ وَیَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَ ٰ⁠لِكَ لِمَن یَشَاۤءُۚ“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan dosa syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka.” (QS. Al-Ma’idah: 72)Adz-Dzahabi rahimahullah menyatakan bahwa barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, kemudian meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik, maka dia pasti termasuk penghuni neraka. Sebagaimana halnya barangsiapa yang beriman kepada Allah kemudian meninggal dalam keadaan beriman, maka dia termasuk penghuni surga meskipun dia harus disiksa terlebih dulu di dalam neraka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أنَّ اللهَ تعالى قال إني أغنى الشركاءِ عن الشركِ فمن عمل عملًا أشرك فيه غيري فأنا منه بريءٌ وهو للذي عمِلَه“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Aku tidak butuh sekutu-sekutu dari perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dengan mempersekutukan Aku di dalamnya, maka Aku berlepas diri darinya dan dia akan diserahkan kepada sosok yang dijadikannya sebagai sekutu.‘” (HR. Ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar)Allah Ta’ala berfirman,وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا“Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka lakukan di dunia kemudian Kami jadikan amal-amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Sebagian orang yang bijak mengatakan, “Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia berusaha untuk menyembunyikan kejelekan-kejelekannya.”Baca Juga:Khotbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering DiremehkanSelingkuh Adalah Dosa Besar***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diadaptasi dari Al-Kaba’ir karya Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah🔍 Hadits Tentang Bid'ah, Hukum Reseller, Zina Sebelum Menikah, Sedekah Menyembuhkan Penyakit Kronis, Dzikir Di Pagi HariTags: akibat dosaAqidahaqidah islambahaya dosadampak dosadampak maksiatdosadosa besarmaksiatManhajmanhaj salafnasihat islam

Rahasia agar Nikmat Beribadah – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Banyak dari kita mengatakan:“Aku beribadah dan mengerjakan amal ketaatan.Aku membaca al-Quran seperti orang terdahulu membacanya.Aku berpuasa seperti orang terdahulu berpuasa. Aku mendirikan salat seperti mereka mendirikan salat.Aku bersedekah seperti mereka sedekah.Namun, aku tidak merasakan dalam hatiku apa yang mereka rasakan.Aku tidak mendapati dalam jiwakukelezatan yang mereka ceritakan.” Aku katakan bahwa ibadahnya memang sama,akan tetapi rahasianya yang berbeda-beda.Salah satu rahasia terbesar yang membuat seseorang memperoleh kelezatan agung ini ketika melakukan ketaatanadalah dengan seseorang berusaha melakukan ibadah-ibadah tersembunyi.Barang siapa yang melakukan ibadah tersembunyi,ia akan merasakan manisnya iman. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,sebagaimana termaktub dalam hadis Ibnu Masʿud dalam kitab Imam Ahmad dan al-Hakim,di mana beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa meninggalkan pandangan terhadap sesuatu yang Allah haramkankarena menginginkan apa yang ada di sisi Allah ʿAzza wa Jalla,maka Allah akan meletakkan dalam hatinya manisnya iman.” Jadi, manisnya iman bisa Anda peroleh dengan ibadah tersembunyi.Termasuk ibadah yang tersembunyi adalah tidak melihat sesuatu yang haram,karena memandang sesuatu yang haram tidak akan diketahuikecuali oleh orang yang memandangnya, sedangkan yang lainnya tidak. Anda dan teman Anda sedang berjalan di jalan,lalu Anda melihat sesuatu, sedangkan teman Anda tidak mengetahuibahwa Anda sedang melihatnya. Oleh karena itu, menjaga pandangan adalah sebab pastidan salah satu sebab untuk mendapatkan lezatnya ibadah.Inilah makna ayat yang kami sebutkan tadidalam firman Allah ʿAzza wa Jalla, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS. Ghafir: 19)Keduanya adalah amal tersembunyi.Di antara sebab … atau bentuk ibadah yang tersembunyiadalah membayar zakat. Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tiga perkara yang apabila lakukan,niscaya ia akan merasakan manisnya iman, …” lalu beliau menyebutkan salah satunya, “… tidak mengeluarkan yang cacat dan yang jelek, …”“… dia tunaikan zakat hartanyadengan tidak mengeluarkan yang cacat dan yang jelek.” Hal ini karena zakat tidak bisa diketahui berapa jumlahnya,besarannya, dan nilainya jika ditakar,kecuali oleh pemiliknya, dan tentu sebelumnya diketahui Allah ʿAzza wa Jalla.Jadi, ini termasuk ibadah yang tersembunyi. Termasuk ibadah tersembunyi adalah puasa.Saudara-saudara, puasa adalah ibadah rahasia.Percayalah, walaupun semua penduduk bumi melihat Anda,tapi pasti ada waktu-waktu tertentu ketika Anda puasadi mana tidak ada yang melihat Anda kecuali Tuhan Anda Jalla wa ʿAlā. Walaupun dilihat, pasti ada waktunya seseorang sendiri di siang hari.Meskipun dilihat, pasti ada waktunya dia tidak terlihat oleh mata orang-orangyang membersamainya di siang hari. Itulah kenapa puasa termasuk ibadah rahasia.“… kecuali puasa, karena ia adalah untuk-Kudan Aku sendiri yang membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) ==== كَثِيرٌ مِنَّا يَقُولُ أَفْعَلُ الْعِبَادَاتِ وَأَفْعَلُ الطَّاعَاتِ أَقَرَأُ كَمَا يَقْرَأُ الْأَوَائِلُ وَأَصُومُ كَمَا يَصُومُ الْأَوَائِلُ وَأَقُومُ كَمَا يَقُومُونَ وَأَتَصَدَّقُ كَمَا يَتَصَدَّقُونَ لَكِنْ لَا أَجِدُ فِي قَلْبِي مَا يَجِدُونَ وَلَا أَجِدُ فِي نَفْسِي هَذِهِ اللَّذَّةَ الَّتِي يَذْكُرُونَ أَقُولُ الْعِبَادَةُ وَاحِدَةٌ وَلَكِنَّ الأَسْرَارَ فِيهَا مُخْتَلِفَةٌ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْرَارِ الَّتِي تَجْعَلُ الْمَرْءَ يَكْتَسِبُ هَذِهِ اللَّذَّةَ الْعَظِيمَةَ فِي الطَّاعَةِ هُوَ أَنْ يُعْنَى الْمَرْءُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ مَنْ عُنِيَ بِعِبَادَةِ السِّرِّ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْحَاكِمِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ النَّظَرَ إِلَى مَا حَرَّمَ اللهُ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْقَبَ اللهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ حَلَاوَةُ الْإِيمَانِ تَكْتَسِبُ بِعِبَادَةِ السِّرِّ مِنْ عِبَادَةِ السِّرِّ الْكَفُّ عَنْ نَظَرِ الْحَرَامِ لِأَنَّ النَّظَرَ إِلَى الْحَرَامِ لَا يَعْلَمُ بِهِ إِلَّا النَّاظِرُ دُونَ مَنْ عَدَاهُ تَمْشِي أَنْتَ وَصَاحِبُكَ فِي طَرِيقٍ فَتَنْظُرُ لِأَمْرٍ لَا يَعْلَمُ صَاحِبُكَ أَنَّكَ تَنْظُرُ إِلَيْهِ لِذَا كَانَ النَّظَرُ سَبَبًا مُوجِبًا وَسَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ اكْتِسَابِ لَذَّةِ الْعِبَادَاتِ وَهَذَا مَعْنَى الْآيَةِ ذَكَرْنَاهَا قَبْلَ قَلِيلٍ فِي قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ وَكِلَاهُمَا مِنَ السِّرِّ مِنْ أَسْبَابِ عِبَادَةٍ… مِنْ أَنْوَاعِ عِبَادَاتِ السِّرِّ إِخْرَاجُ الزَّكَاةِ عِنْدَ ابْنِ مَاجَه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَذَكَرَ مِنْهَا: وَلَمْ يُخْرِجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرْطِ وَأَدَّى زَكَاةَ مَالِهِ وَلَمْ يُخْرِجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرْطِ لِأَنَّ الزَّكَاةَ لَا يُعْلَمُ مِقْدَارُهَا وَلَا عَدَدُهَا وَلَا قِيمَةُ مَا يُقَوَّمُ مِنْهَا إِلَّا صَاحِبُهَا وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَهُ فَهِيَ مِنْ عِبَادَاتِ السِّرِّ مِنْ عِبَادَاتِ السِّرِّ الصَّوْمُ هَذَا الصَّوْمُ أَيَّهَا الْإِخْوَةُ عِبَادَةُ السِّرِّ صَدِّقْنِي لَوِ اطَّلَعَ عَلَيْكَ أَهْلُ الْأَرْضِ جَمِيعًا لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ فِي لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ صَوْمِكَ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْكَ إِلَّا رَبُّكَ جَلَّ وَعَلَا لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ الْمَرْئِيُّ خَلْوَةٌ فِي نَهَارِهِ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ الْمَرْئِيُّ غَيْبَةٌ عَنْ عَيْنَيِ مَنْ يُرَاقِبُهُ فِي نَهَارِهِ لِذَا كَانَ الصَّومُ مِنْ عِبَادَةِ السِّرِّ إِلَّا الصَّومَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Rahasia agar Nikmat Beribadah – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Banyak dari kita mengatakan:“Aku beribadah dan mengerjakan amal ketaatan.Aku membaca al-Quran seperti orang terdahulu membacanya.Aku berpuasa seperti orang terdahulu berpuasa. Aku mendirikan salat seperti mereka mendirikan salat.Aku bersedekah seperti mereka sedekah.Namun, aku tidak merasakan dalam hatiku apa yang mereka rasakan.Aku tidak mendapati dalam jiwakukelezatan yang mereka ceritakan.” Aku katakan bahwa ibadahnya memang sama,akan tetapi rahasianya yang berbeda-beda.Salah satu rahasia terbesar yang membuat seseorang memperoleh kelezatan agung ini ketika melakukan ketaatanadalah dengan seseorang berusaha melakukan ibadah-ibadah tersembunyi.Barang siapa yang melakukan ibadah tersembunyi,ia akan merasakan manisnya iman. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,sebagaimana termaktub dalam hadis Ibnu Masʿud dalam kitab Imam Ahmad dan al-Hakim,di mana beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa meninggalkan pandangan terhadap sesuatu yang Allah haramkankarena menginginkan apa yang ada di sisi Allah ʿAzza wa Jalla,maka Allah akan meletakkan dalam hatinya manisnya iman.” Jadi, manisnya iman bisa Anda peroleh dengan ibadah tersembunyi.Termasuk ibadah yang tersembunyi adalah tidak melihat sesuatu yang haram,karena memandang sesuatu yang haram tidak akan diketahuikecuali oleh orang yang memandangnya, sedangkan yang lainnya tidak. Anda dan teman Anda sedang berjalan di jalan,lalu Anda melihat sesuatu, sedangkan teman Anda tidak mengetahuibahwa Anda sedang melihatnya. Oleh karena itu, menjaga pandangan adalah sebab pastidan salah satu sebab untuk mendapatkan lezatnya ibadah.Inilah makna ayat yang kami sebutkan tadidalam firman Allah ʿAzza wa Jalla, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS. Ghafir: 19)Keduanya adalah amal tersembunyi.Di antara sebab … atau bentuk ibadah yang tersembunyiadalah membayar zakat. Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tiga perkara yang apabila lakukan,niscaya ia akan merasakan manisnya iman, …” lalu beliau menyebutkan salah satunya, “… tidak mengeluarkan yang cacat dan yang jelek, …”“… dia tunaikan zakat hartanyadengan tidak mengeluarkan yang cacat dan yang jelek.” Hal ini karena zakat tidak bisa diketahui berapa jumlahnya,besarannya, dan nilainya jika ditakar,kecuali oleh pemiliknya, dan tentu sebelumnya diketahui Allah ʿAzza wa Jalla.Jadi, ini termasuk ibadah yang tersembunyi. Termasuk ibadah tersembunyi adalah puasa.Saudara-saudara, puasa adalah ibadah rahasia.Percayalah, walaupun semua penduduk bumi melihat Anda,tapi pasti ada waktu-waktu tertentu ketika Anda puasadi mana tidak ada yang melihat Anda kecuali Tuhan Anda Jalla wa ʿAlā. Walaupun dilihat, pasti ada waktunya seseorang sendiri di siang hari.Meskipun dilihat, pasti ada waktunya dia tidak terlihat oleh mata orang-orangyang membersamainya di siang hari. Itulah kenapa puasa termasuk ibadah rahasia.“… kecuali puasa, karena ia adalah untuk-Kudan Aku sendiri yang membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) ==== كَثِيرٌ مِنَّا يَقُولُ أَفْعَلُ الْعِبَادَاتِ وَأَفْعَلُ الطَّاعَاتِ أَقَرَأُ كَمَا يَقْرَأُ الْأَوَائِلُ وَأَصُومُ كَمَا يَصُومُ الْأَوَائِلُ وَأَقُومُ كَمَا يَقُومُونَ وَأَتَصَدَّقُ كَمَا يَتَصَدَّقُونَ لَكِنْ لَا أَجِدُ فِي قَلْبِي مَا يَجِدُونَ وَلَا أَجِدُ فِي نَفْسِي هَذِهِ اللَّذَّةَ الَّتِي يَذْكُرُونَ أَقُولُ الْعِبَادَةُ وَاحِدَةٌ وَلَكِنَّ الأَسْرَارَ فِيهَا مُخْتَلِفَةٌ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْرَارِ الَّتِي تَجْعَلُ الْمَرْءَ يَكْتَسِبُ هَذِهِ اللَّذَّةَ الْعَظِيمَةَ فِي الطَّاعَةِ هُوَ أَنْ يُعْنَى الْمَرْءُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ مَنْ عُنِيَ بِعِبَادَةِ السِّرِّ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْحَاكِمِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ النَّظَرَ إِلَى مَا حَرَّمَ اللهُ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْقَبَ اللهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ حَلَاوَةُ الْإِيمَانِ تَكْتَسِبُ بِعِبَادَةِ السِّرِّ مِنْ عِبَادَةِ السِّرِّ الْكَفُّ عَنْ نَظَرِ الْحَرَامِ لِأَنَّ النَّظَرَ إِلَى الْحَرَامِ لَا يَعْلَمُ بِهِ إِلَّا النَّاظِرُ دُونَ مَنْ عَدَاهُ تَمْشِي أَنْتَ وَصَاحِبُكَ فِي طَرِيقٍ فَتَنْظُرُ لِأَمْرٍ لَا يَعْلَمُ صَاحِبُكَ أَنَّكَ تَنْظُرُ إِلَيْهِ لِذَا كَانَ النَّظَرُ سَبَبًا مُوجِبًا وَسَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ اكْتِسَابِ لَذَّةِ الْعِبَادَاتِ وَهَذَا مَعْنَى الْآيَةِ ذَكَرْنَاهَا قَبْلَ قَلِيلٍ فِي قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ وَكِلَاهُمَا مِنَ السِّرِّ مِنْ أَسْبَابِ عِبَادَةٍ… مِنْ أَنْوَاعِ عِبَادَاتِ السِّرِّ إِخْرَاجُ الزَّكَاةِ عِنْدَ ابْنِ مَاجَه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَذَكَرَ مِنْهَا: وَلَمْ يُخْرِجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرْطِ وَأَدَّى زَكَاةَ مَالِهِ وَلَمْ يُخْرِجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرْطِ لِأَنَّ الزَّكَاةَ لَا يُعْلَمُ مِقْدَارُهَا وَلَا عَدَدُهَا وَلَا قِيمَةُ مَا يُقَوَّمُ مِنْهَا إِلَّا صَاحِبُهَا وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَهُ فَهِيَ مِنْ عِبَادَاتِ السِّرِّ مِنْ عِبَادَاتِ السِّرِّ الصَّوْمُ هَذَا الصَّوْمُ أَيَّهَا الْإِخْوَةُ عِبَادَةُ السِّرِّ صَدِّقْنِي لَوِ اطَّلَعَ عَلَيْكَ أَهْلُ الْأَرْضِ جَمِيعًا لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ فِي لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ صَوْمِكَ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْكَ إِلَّا رَبُّكَ جَلَّ وَعَلَا لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ الْمَرْئِيُّ خَلْوَةٌ فِي نَهَارِهِ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ الْمَرْئِيُّ غَيْبَةٌ عَنْ عَيْنَيِ مَنْ يُرَاقِبُهُ فِي نَهَارِهِ لِذَا كَانَ الصَّومُ مِنْ عِبَادَةِ السِّرِّ إِلَّا الصَّومَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Banyak dari kita mengatakan:“Aku beribadah dan mengerjakan amal ketaatan.Aku membaca al-Quran seperti orang terdahulu membacanya.Aku berpuasa seperti orang terdahulu berpuasa. Aku mendirikan salat seperti mereka mendirikan salat.Aku bersedekah seperti mereka sedekah.Namun, aku tidak merasakan dalam hatiku apa yang mereka rasakan.Aku tidak mendapati dalam jiwakukelezatan yang mereka ceritakan.” Aku katakan bahwa ibadahnya memang sama,akan tetapi rahasianya yang berbeda-beda.Salah satu rahasia terbesar yang membuat seseorang memperoleh kelezatan agung ini ketika melakukan ketaatanadalah dengan seseorang berusaha melakukan ibadah-ibadah tersembunyi.Barang siapa yang melakukan ibadah tersembunyi,ia akan merasakan manisnya iman. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,sebagaimana termaktub dalam hadis Ibnu Masʿud dalam kitab Imam Ahmad dan al-Hakim,di mana beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa meninggalkan pandangan terhadap sesuatu yang Allah haramkankarena menginginkan apa yang ada di sisi Allah ʿAzza wa Jalla,maka Allah akan meletakkan dalam hatinya manisnya iman.” Jadi, manisnya iman bisa Anda peroleh dengan ibadah tersembunyi.Termasuk ibadah yang tersembunyi adalah tidak melihat sesuatu yang haram,karena memandang sesuatu yang haram tidak akan diketahuikecuali oleh orang yang memandangnya, sedangkan yang lainnya tidak. Anda dan teman Anda sedang berjalan di jalan,lalu Anda melihat sesuatu, sedangkan teman Anda tidak mengetahuibahwa Anda sedang melihatnya. Oleh karena itu, menjaga pandangan adalah sebab pastidan salah satu sebab untuk mendapatkan lezatnya ibadah.Inilah makna ayat yang kami sebutkan tadidalam firman Allah ʿAzza wa Jalla, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS. Ghafir: 19)Keduanya adalah amal tersembunyi.Di antara sebab … atau bentuk ibadah yang tersembunyiadalah membayar zakat. Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tiga perkara yang apabila lakukan,niscaya ia akan merasakan manisnya iman, …” lalu beliau menyebutkan salah satunya, “… tidak mengeluarkan yang cacat dan yang jelek, …”“… dia tunaikan zakat hartanyadengan tidak mengeluarkan yang cacat dan yang jelek.” Hal ini karena zakat tidak bisa diketahui berapa jumlahnya,besarannya, dan nilainya jika ditakar,kecuali oleh pemiliknya, dan tentu sebelumnya diketahui Allah ʿAzza wa Jalla.Jadi, ini termasuk ibadah yang tersembunyi. Termasuk ibadah tersembunyi adalah puasa.Saudara-saudara, puasa adalah ibadah rahasia.Percayalah, walaupun semua penduduk bumi melihat Anda,tapi pasti ada waktu-waktu tertentu ketika Anda puasadi mana tidak ada yang melihat Anda kecuali Tuhan Anda Jalla wa ʿAlā. Walaupun dilihat, pasti ada waktunya seseorang sendiri di siang hari.Meskipun dilihat, pasti ada waktunya dia tidak terlihat oleh mata orang-orangyang membersamainya di siang hari. Itulah kenapa puasa termasuk ibadah rahasia.“… kecuali puasa, karena ia adalah untuk-Kudan Aku sendiri yang membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) ==== كَثِيرٌ مِنَّا يَقُولُ أَفْعَلُ الْعِبَادَاتِ وَأَفْعَلُ الطَّاعَاتِ أَقَرَأُ كَمَا يَقْرَأُ الْأَوَائِلُ وَأَصُومُ كَمَا يَصُومُ الْأَوَائِلُ وَأَقُومُ كَمَا يَقُومُونَ وَأَتَصَدَّقُ كَمَا يَتَصَدَّقُونَ لَكِنْ لَا أَجِدُ فِي قَلْبِي مَا يَجِدُونَ وَلَا أَجِدُ فِي نَفْسِي هَذِهِ اللَّذَّةَ الَّتِي يَذْكُرُونَ أَقُولُ الْعِبَادَةُ وَاحِدَةٌ وَلَكِنَّ الأَسْرَارَ فِيهَا مُخْتَلِفَةٌ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْرَارِ الَّتِي تَجْعَلُ الْمَرْءَ يَكْتَسِبُ هَذِهِ اللَّذَّةَ الْعَظِيمَةَ فِي الطَّاعَةِ هُوَ أَنْ يُعْنَى الْمَرْءُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ مَنْ عُنِيَ بِعِبَادَةِ السِّرِّ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْحَاكِمِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ النَّظَرَ إِلَى مَا حَرَّمَ اللهُ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْقَبَ اللهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ حَلَاوَةُ الْإِيمَانِ تَكْتَسِبُ بِعِبَادَةِ السِّرِّ مِنْ عِبَادَةِ السِّرِّ الْكَفُّ عَنْ نَظَرِ الْحَرَامِ لِأَنَّ النَّظَرَ إِلَى الْحَرَامِ لَا يَعْلَمُ بِهِ إِلَّا النَّاظِرُ دُونَ مَنْ عَدَاهُ تَمْشِي أَنْتَ وَصَاحِبُكَ فِي طَرِيقٍ فَتَنْظُرُ لِأَمْرٍ لَا يَعْلَمُ صَاحِبُكَ أَنَّكَ تَنْظُرُ إِلَيْهِ لِذَا كَانَ النَّظَرُ سَبَبًا مُوجِبًا وَسَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ اكْتِسَابِ لَذَّةِ الْعِبَادَاتِ وَهَذَا مَعْنَى الْآيَةِ ذَكَرْنَاهَا قَبْلَ قَلِيلٍ فِي قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ وَكِلَاهُمَا مِنَ السِّرِّ مِنْ أَسْبَابِ عِبَادَةٍ… مِنْ أَنْوَاعِ عِبَادَاتِ السِّرِّ إِخْرَاجُ الزَّكَاةِ عِنْدَ ابْنِ مَاجَه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَذَكَرَ مِنْهَا: وَلَمْ يُخْرِجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرْطِ وَأَدَّى زَكَاةَ مَالِهِ وَلَمْ يُخْرِجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرْطِ لِأَنَّ الزَّكَاةَ لَا يُعْلَمُ مِقْدَارُهَا وَلَا عَدَدُهَا وَلَا قِيمَةُ مَا يُقَوَّمُ مِنْهَا إِلَّا صَاحِبُهَا وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَهُ فَهِيَ مِنْ عِبَادَاتِ السِّرِّ مِنْ عِبَادَاتِ السِّرِّ الصَّوْمُ هَذَا الصَّوْمُ أَيَّهَا الْإِخْوَةُ عِبَادَةُ السِّرِّ صَدِّقْنِي لَوِ اطَّلَعَ عَلَيْكَ أَهْلُ الْأَرْضِ جَمِيعًا لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ فِي لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ صَوْمِكَ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْكَ إِلَّا رَبُّكَ جَلَّ وَعَلَا لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ الْمَرْئِيُّ خَلْوَةٌ فِي نَهَارِهِ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ الْمَرْئِيُّ غَيْبَةٌ عَنْ عَيْنَيِ مَنْ يُرَاقِبُهُ فِي نَهَارِهِ لِذَا كَانَ الصَّومُ مِنْ عِبَادَةِ السِّرِّ إِلَّا الصَّومَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Banyak dari kita mengatakan:“Aku beribadah dan mengerjakan amal ketaatan.Aku membaca al-Quran seperti orang terdahulu membacanya.Aku berpuasa seperti orang terdahulu berpuasa. Aku mendirikan salat seperti mereka mendirikan salat.Aku bersedekah seperti mereka sedekah.Namun, aku tidak merasakan dalam hatiku apa yang mereka rasakan.Aku tidak mendapati dalam jiwakukelezatan yang mereka ceritakan.” Aku katakan bahwa ibadahnya memang sama,akan tetapi rahasianya yang berbeda-beda.Salah satu rahasia terbesar yang membuat seseorang memperoleh kelezatan agung ini ketika melakukan ketaatanadalah dengan seseorang berusaha melakukan ibadah-ibadah tersembunyi.Barang siapa yang melakukan ibadah tersembunyi,ia akan merasakan manisnya iman. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,sebagaimana termaktub dalam hadis Ibnu Masʿud dalam kitab Imam Ahmad dan al-Hakim,di mana beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa meninggalkan pandangan terhadap sesuatu yang Allah haramkankarena menginginkan apa yang ada di sisi Allah ʿAzza wa Jalla,maka Allah akan meletakkan dalam hatinya manisnya iman.” Jadi, manisnya iman bisa Anda peroleh dengan ibadah tersembunyi.Termasuk ibadah yang tersembunyi adalah tidak melihat sesuatu yang haram,karena memandang sesuatu yang haram tidak akan diketahuikecuali oleh orang yang memandangnya, sedangkan yang lainnya tidak. Anda dan teman Anda sedang berjalan di jalan,lalu Anda melihat sesuatu, sedangkan teman Anda tidak mengetahuibahwa Anda sedang melihatnya. Oleh karena itu, menjaga pandangan adalah sebab pastidan salah satu sebab untuk mendapatkan lezatnya ibadah.Inilah makna ayat yang kami sebutkan tadidalam firman Allah ʿAzza wa Jalla, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS. Ghafir: 19)Keduanya adalah amal tersembunyi.Di antara sebab … atau bentuk ibadah yang tersembunyiadalah membayar zakat. Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tiga perkara yang apabila lakukan,niscaya ia akan merasakan manisnya iman, …” lalu beliau menyebutkan salah satunya, “… tidak mengeluarkan yang cacat dan yang jelek, …”“… dia tunaikan zakat hartanyadengan tidak mengeluarkan yang cacat dan yang jelek.” Hal ini karena zakat tidak bisa diketahui berapa jumlahnya,besarannya, dan nilainya jika ditakar,kecuali oleh pemiliknya, dan tentu sebelumnya diketahui Allah ʿAzza wa Jalla.Jadi, ini termasuk ibadah yang tersembunyi. Termasuk ibadah tersembunyi adalah puasa.Saudara-saudara, puasa adalah ibadah rahasia.Percayalah, walaupun semua penduduk bumi melihat Anda,tapi pasti ada waktu-waktu tertentu ketika Anda puasadi mana tidak ada yang melihat Anda kecuali Tuhan Anda Jalla wa ʿAlā. Walaupun dilihat, pasti ada waktunya seseorang sendiri di siang hari.Meskipun dilihat, pasti ada waktunya dia tidak terlihat oleh mata orang-orangyang membersamainya di siang hari. Itulah kenapa puasa termasuk ibadah rahasia.“… kecuali puasa, karena ia adalah untuk-Kudan Aku sendiri yang membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) ==== كَثِيرٌ مِنَّا يَقُولُ أَفْعَلُ الْعِبَادَاتِ وَأَفْعَلُ الطَّاعَاتِ أَقَرَأُ كَمَا يَقْرَأُ الْأَوَائِلُ وَأَصُومُ كَمَا يَصُومُ الْأَوَائِلُ وَأَقُومُ كَمَا يَقُومُونَ وَأَتَصَدَّقُ كَمَا يَتَصَدَّقُونَ لَكِنْ لَا أَجِدُ فِي قَلْبِي مَا يَجِدُونَ وَلَا أَجِدُ فِي نَفْسِي هَذِهِ اللَّذَّةَ الَّتِي يَذْكُرُونَ أَقُولُ الْعِبَادَةُ وَاحِدَةٌ وَلَكِنَّ الأَسْرَارَ فِيهَا مُخْتَلِفَةٌ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْرَارِ الَّتِي تَجْعَلُ الْمَرْءَ يَكْتَسِبُ هَذِهِ اللَّذَّةَ الْعَظِيمَةَ فِي الطَّاعَةِ هُوَ أَنْ يُعْنَى الْمَرْءُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ مَنْ عُنِيَ بِعِبَادَةِ السِّرِّ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْحَاكِمِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ النَّظَرَ إِلَى مَا حَرَّمَ اللهُ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْقَبَ اللهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ حَلَاوَةُ الْإِيمَانِ تَكْتَسِبُ بِعِبَادَةِ السِّرِّ مِنْ عِبَادَةِ السِّرِّ الْكَفُّ عَنْ نَظَرِ الْحَرَامِ لِأَنَّ النَّظَرَ إِلَى الْحَرَامِ لَا يَعْلَمُ بِهِ إِلَّا النَّاظِرُ دُونَ مَنْ عَدَاهُ تَمْشِي أَنْتَ وَصَاحِبُكَ فِي طَرِيقٍ فَتَنْظُرُ لِأَمْرٍ لَا يَعْلَمُ صَاحِبُكَ أَنَّكَ تَنْظُرُ إِلَيْهِ لِذَا كَانَ النَّظَرُ سَبَبًا مُوجِبًا وَسَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ اكْتِسَابِ لَذَّةِ الْعِبَادَاتِ وَهَذَا مَعْنَى الْآيَةِ ذَكَرْنَاهَا قَبْلَ قَلِيلٍ فِي قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ وَكِلَاهُمَا مِنَ السِّرِّ مِنْ أَسْبَابِ عِبَادَةٍ… مِنْ أَنْوَاعِ عِبَادَاتِ السِّرِّ إِخْرَاجُ الزَّكَاةِ عِنْدَ ابْنِ مَاجَه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَذَكَرَ مِنْهَا: وَلَمْ يُخْرِجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرْطِ وَأَدَّى زَكَاةَ مَالِهِ وَلَمْ يُخْرِجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرْطِ لِأَنَّ الزَّكَاةَ لَا يُعْلَمُ مِقْدَارُهَا وَلَا عَدَدُهَا وَلَا قِيمَةُ مَا يُقَوَّمُ مِنْهَا إِلَّا صَاحِبُهَا وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَهُ فَهِيَ مِنْ عِبَادَاتِ السِّرِّ مِنْ عِبَادَاتِ السِّرِّ الصَّوْمُ هَذَا الصَّوْمُ أَيَّهَا الْإِخْوَةُ عِبَادَةُ السِّرِّ صَدِّقْنِي لَوِ اطَّلَعَ عَلَيْكَ أَهْلُ الْأَرْضِ جَمِيعًا لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ فِي لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ صَوْمِكَ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْكَ إِلَّا رَبُّكَ جَلَّ وَعَلَا لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ الْمَرْئِيُّ خَلْوَةٌ فِي نَهَارِهِ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ الْمَرْئِيُّ غَيْبَةٌ عَنْ عَيْنَيِ مَنْ يُرَاقِبُهُ فِي نَهَارِهِ لِذَا كَانَ الصَّومُ مِنْ عِبَادَةِ السِّرِّ إِلَّا الصَّومَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cara Berlatih agar Rutin Shalat Malam – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Seorang Muslim harus memberi perhatian besar untuk melatih hatinya,dan membiasakan badannya untuk melakukan ketaatan. Ada banyak ulama yang telah menulis kitab tentang ini,seperti Abu Nu’aim dengan judul Riyadhatul Abdandan Ibnu as-Sunni dengan judul Riyadhatun Nufus. Mereka semua menulis buku yang menjelaskanbahwa salah satu adab penting adalah seseorang melatih dirinya untuk beribadah.Makna melatih diri untuk beribadahadalah dengan tidak melakukan amalan yang tingkatnya paling berat, paling sulit, dan paling sempurna di awalnya. Karena diri manusia dapat merasa bosan.Jika seseorang memaksa dirinya untuk melakukan amal yang berat,maka ia tidak akan mampu istiqamah melakukannya. Karena bisa jadi jika ia memaksa dirinya dengan amalan yang berat, maka patah semangatnya,sehingga ia tidak mampu kembali melakukan amal yang telah ia mulai sebelumnya. Mengapa saya menyampaikan ini?Karena salah satu perkara paling penting yang membutuhkan latihan dan pembiasaanadalah Salat Malam. Imam Abdullah bin al-Mubarak al-Khurasani rahimahullahu Ta’ala pernah berkata-beliau wafat pada tahun 180 setelah hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-Beliau berkata, “Aku membiasakan diriku untuk Salat Malam selama 20 tahun, sehingga diriku dimudahkan mengerjakannya selama 20 tahun setelahnya.” Ada sebagian penuntut ilmu, dan sebagian kaum Muslimin,ketika mendengar hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan Salat Malam yang dilakukan Nabi Daud ‘alaihissalam, dan Salat Malam yang dikerjakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,maka ia memaksa dirinya untuk melakukan tingkat yang paling berat,dan berusaha mengamalkan bentuk yang paling sempurna, dari sisi kondisi, waktu, dan jumlah rakaat,serta panjangnya berdiri, dan qunut.Kemudian ia tidak dapat beristiqamah dalam ibadah ini. Ada ungkapan, “Sungguh hal yang sedikit tapi berkelanjutan, lebih baik daripada banyak tapi terhenti.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Berhentilah! Lakukanlah amal-amal yang sesuai kemampuan kalian,karena Allah tidak akan bosan, hingga kalian sendiri yang bosan.” (HR. Bukhari)Maka hendaklah seorang muslim melatih diri,dengan memulai amalan dengan tingkat yang paling awal, kemudian naik ke tingkat yang lebih tinggi. Sehingga pertama ia dapat Salat Witir dan Qiyamul Lail langsung setelah Salat Isya.Hingga jika ia telah terbiasa dan terlatih melakukan itu,ia dapat melakukan sebagian salatnya itu sebelum tidur. Hingga jika ia telah terbiasa dan terlatih melakukan itu,ia dapat melakukan sebagian salatnya itu sebelum Salat Subuh,kemudian setelah itu, ia dapat melakukannya pada kondisi dan waktu yang utamanya. ==== يَجِبُ أَنْ يُعْنَى الْمُسْلِمُ بِتَدْرِيبِ قَلْبِهِ وَتَرْوِيْضِ بَدَنِهِ عَلَى الطَّاعَةِ وَقَدْ أَلَّفَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ كَأَبِي نُعَيْمٍ رِيَاضَةُ الْأَبْدَانِ وَابْنُ السُّنِّيِّ رِيَاضَةُ النُّفُوسِ كُلُّهُم أَلَّفُوا كُتُبًا فِي تَبْيِينِ أَنَّ مِنَ الْأَدَبِ أَنْ يُرَوِّضَ الْمَرْءُ نَفْسَهُ عَلَى الْعِبَادَةِ وَمَعْنَى التَّرْوِيْضِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَلَّا يَأْخُذَهَا بِالْأَشَدِّ وَالْأَصْعَبِ وَالْأَكْمَلِ ابْتِدَاءً فَإِنَّ النَّفْسَ تَمَلُّ وَإِنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَخَذَ نَفْسَهُ بِالْأَشَدِّ لَمْ يَسْتَطِعِ الْاِسْتِمْرَارَ عَلَيْهِ فَلَرُبَّمَا لَوْ أَخَذَ نَفْسَهُ بِالْأَشَدِّ انْكَسَرَ عَوْدُهُ فَلَمْ يَسْتَطِعِ الْعَوْدَةَ لِلْعَمَلِ الَّذِي ابْتَدَأَهُ قَبْلَ ذَلِكَ أَقُولُ هَذَا لِمَ؟ لِأَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ الَّتِي تَحْتَاجُ إِلَى تَدْرِيبٍ وَرِيَاضَةٍ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَقَدْ قَالَ الْإِمَامُ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ الْخُرَسَانِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ثَمَانِينَ وَمِئَةٍ مِنْ هِجْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَوَّضْتُ نَفْسِي فِي قِيَامِ اللَّيْلِ عِشْرِينَ سَنَةً فَارْتَاحَتْ عِشْرِينَ سَنَةً إِنَّ بَعْضَ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَبَعْضَ الْمُسْلِمِينَ لَمَّا يَسْمَعُ الْأَحَادِيثَ الْفَاضِلَةَ فِي قِيَامِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقِيَامِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ يَأْخُذُ نَفْسَهُ بِالْأَشَدِّ وَيَسْعَى لِفِعْلِ الْأَكْمَلِ بِاعْتِبَارِ الْحَالِ وَالزَّمَنِ وَعَدَدِ الرَّكَعَاتِ وَطُولِ الْهَيْئَةِ وَالْقُنُوتِ ثُمَّ لَا يَسْتَطِيعُ الْاِسْتِمْرَارَ عَلَى هَذِهِ الْعِبَادَةِ وَقَدْ قِيلَ إِنَّ قَلِيلًا مُسْتَمِرًّا خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ مُنْقَطِعٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَهْ عَلَيْكُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا فَالْمُسْلِمُ يَتَدَرَّبُ فَيَبْدَأُ بِأَوَّلِ دَرَجَاتٍ ثُمَّ يَرْتَقِي لِلْأَعْلَى فَيُصَلِّي وِتْرَهُ وَقِيَامَ لَيْلِهِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ مُبَاشَرَةً حَتَّى إِذَا اعْتَادَ عَلَى ذَلِكَ وَتَدَرَّبَ جَعَلَ بَعْضَهُ قَبْلَ نَوْمِهِ حَتَّى إِذَا اعْتَادَ عَلَى ذَلِكَ وَتَدَرَّبَ جَعَلَ بَعْضَهُ قَبْلَ قِيَامِهِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى أَنْ يَجْعَلَهُ فِي الْحَالِ وَالزَّمَانِ الْفَاضِلِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cara Berlatih agar Rutin Shalat Malam – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Seorang Muslim harus memberi perhatian besar untuk melatih hatinya,dan membiasakan badannya untuk melakukan ketaatan. Ada banyak ulama yang telah menulis kitab tentang ini,seperti Abu Nu’aim dengan judul Riyadhatul Abdandan Ibnu as-Sunni dengan judul Riyadhatun Nufus. Mereka semua menulis buku yang menjelaskanbahwa salah satu adab penting adalah seseorang melatih dirinya untuk beribadah.Makna melatih diri untuk beribadahadalah dengan tidak melakukan amalan yang tingkatnya paling berat, paling sulit, dan paling sempurna di awalnya. Karena diri manusia dapat merasa bosan.Jika seseorang memaksa dirinya untuk melakukan amal yang berat,maka ia tidak akan mampu istiqamah melakukannya. Karena bisa jadi jika ia memaksa dirinya dengan amalan yang berat, maka patah semangatnya,sehingga ia tidak mampu kembali melakukan amal yang telah ia mulai sebelumnya. Mengapa saya menyampaikan ini?Karena salah satu perkara paling penting yang membutuhkan latihan dan pembiasaanadalah Salat Malam. Imam Abdullah bin al-Mubarak al-Khurasani rahimahullahu Ta’ala pernah berkata-beliau wafat pada tahun 180 setelah hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-Beliau berkata, “Aku membiasakan diriku untuk Salat Malam selama 20 tahun, sehingga diriku dimudahkan mengerjakannya selama 20 tahun setelahnya.” Ada sebagian penuntut ilmu, dan sebagian kaum Muslimin,ketika mendengar hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan Salat Malam yang dilakukan Nabi Daud ‘alaihissalam, dan Salat Malam yang dikerjakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,maka ia memaksa dirinya untuk melakukan tingkat yang paling berat,dan berusaha mengamalkan bentuk yang paling sempurna, dari sisi kondisi, waktu, dan jumlah rakaat,serta panjangnya berdiri, dan qunut.Kemudian ia tidak dapat beristiqamah dalam ibadah ini. Ada ungkapan, “Sungguh hal yang sedikit tapi berkelanjutan, lebih baik daripada banyak tapi terhenti.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Berhentilah! Lakukanlah amal-amal yang sesuai kemampuan kalian,karena Allah tidak akan bosan, hingga kalian sendiri yang bosan.” (HR. Bukhari)Maka hendaklah seorang muslim melatih diri,dengan memulai amalan dengan tingkat yang paling awal, kemudian naik ke tingkat yang lebih tinggi. Sehingga pertama ia dapat Salat Witir dan Qiyamul Lail langsung setelah Salat Isya.Hingga jika ia telah terbiasa dan terlatih melakukan itu,ia dapat melakukan sebagian salatnya itu sebelum tidur. Hingga jika ia telah terbiasa dan terlatih melakukan itu,ia dapat melakukan sebagian salatnya itu sebelum Salat Subuh,kemudian setelah itu, ia dapat melakukannya pada kondisi dan waktu yang utamanya. ==== يَجِبُ أَنْ يُعْنَى الْمُسْلِمُ بِتَدْرِيبِ قَلْبِهِ وَتَرْوِيْضِ بَدَنِهِ عَلَى الطَّاعَةِ وَقَدْ أَلَّفَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ كَأَبِي نُعَيْمٍ رِيَاضَةُ الْأَبْدَانِ وَابْنُ السُّنِّيِّ رِيَاضَةُ النُّفُوسِ كُلُّهُم أَلَّفُوا كُتُبًا فِي تَبْيِينِ أَنَّ مِنَ الْأَدَبِ أَنْ يُرَوِّضَ الْمَرْءُ نَفْسَهُ عَلَى الْعِبَادَةِ وَمَعْنَى التَّرْوِيْضِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَلَّا يَأْخُذَهَا بِالْأَشَدِّ وَالْأَصْعَبِ وَالْأَكْمَلِ ابْتِدَاءً فَإِنَّ النَّفْسَ تَمَلُّ وَإِنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَخَذَ نَفْسَهُ بِالْأَشَدِّ لَمْ يَسْتَطِعِ الْاِسْتِمْرَارَ عَلَيْهِ فَلَرُبَّمَا لَوْ أَخَذَ نَفْسَهُ بِالْأَشَدِّ انْكَسَرَ عَوْدُهُ فَلَمْ يَسْتَطِعِ الْعَوْدَةَ لِلْعَمَلِ الَّذِي ابْتَدَأَهُ قَبْلَ ذَلِكَ أَقُولُ هَذَا لِمَ؟ لِأَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ الَّتِي تَحْتَاجُ إِلَى تَدْرِيبٍ وَرِيَاضَةٍ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَقَدْ قَالَ الْإِمَامُ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ الْخُرَسَانِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ثَمَانِينَ وَمِئَةٍ مِنْ هِجْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَوَّضْتُ نَفْسِي فِي قِيَامِ اللَّيْلِ عِشْرِينَ سَنَةً فَارْتَاحَتْ عِشْرِينَ سَنَةً إِنَّ بَعْضَ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَبَعْضَ الْمُسْلِمِينَ لَمَّا يَسْمَعُ الْأَحَادِيثَ الْفَاضِلَةَ فِي قِيَامِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقِيَامِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ يَأْخُذُ نَفْسَهُ بِالْأَشَدِّ وَيَسْعَى لِفِعْلِ الْأَكْمَلِ بِاعْتِبَارِ الْحَالِ وَالزَّمَنِ وَعَدَدِ الرَّكَعَاتِ وَطُولِ الْهَيْئَةِ وَالْقُنُوتِ ثُمَّ لَا يَسْتَطِيعُ الْاِسْتِمْرَارَ عَلَى هَذِهِ الْعِبَادَةِ وَقَدْ قِيلَ إِنَّ قَلِيلًا مُسْتَمِرًّا خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ مُنْقَطِعٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَهْ عَلَيْكُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا فَالْمُسْلِمُ يَتَدَرَّبُ فَيَبْدَأُ بِأَوَّلِ دَرَجَاتٍ ثُمَّ يَرْتَقِي لِلْأَعْلَى فَيُصَلِّي وِتْرَهُ وَقِيَامَ لَيْلِهِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ مُبَاشَرَةً حَتَّى إِذَا اعْتَادَ عَلَى ذَلِكَ وَتَدَرَّبَ جَعَلَ بَعْضَهُ قَبْلَ نَوْمِهِ حَتَّى إِذَا اعْتَادَ عَلَى ذَلِكَ وَتَدَرَّبَ جَعَلَ بَعْضَهُ قَبْلَ قِيَامِهِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى أَنْ يَجْعَلَهُ فِي الْحَالِ وَالزَّمَانِ الْفَاضِلِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Seorang Muslim harus memberi perhatian besar untuk melatih hatinya,dan membiasakan badannya untuk melakukan ketaatan. Ada banyak ulama yang telah menulis kitab tentang ini,seperti Abu Nu’aim dengan judul Riyadhatul Abdandan Ibnu as-Sunni dengan judul Riyadhatun Nufus. Mereka semua menulis buku yang menjelaskanbahwa salah satu adab penting adalah seseorang melatih dirinya untuk beribadah.Makna melatih diri untuk beribadahadalah dengan tidak melakukan amalan yang tingkatnya paling berat, paling sulit, dan paling sempurna di awalnya. Karena diri manusia dapat merasa bosan.Jika seseorang memaksa dirinya untuk melakukan amal yang berat,maka ia tidak akan mampu istiqamah melakukannya. Karena bisa jadi jika ia memaksa dirinya dengan amalan yang berat, maka patah semangatnya,sehingga ia tidak mampu kembali melakukan amal yang telah ia mulai sebelumnya. Mengapa saya menyampaikan ini?Karena salah satu perkara paling penting yang membutuhkan latihan dan pembiasaanadalah Salat Malam. Imam Abdullah bin al-Mubarak al-Khurasani rahimahullahu Ta’ala pernah berkata-beliau wafat pada tahun 180 setelah hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-Beliau berkata, “Aku membiasakan diriku untuk Salat Malam selama 20 tahun, sehingga diriku dimudahkan mengerjakannya selama 20 tahun setelahnya.” Ada sebagian penuntut ilmu, dan sebagian kaum Muslimin,ketika mendengar hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan Salat Malam yang dilakukan Nabi Daud ‘alaihissalam, dan Salat Malam yang dikerjakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,maka ia memaksa dirinya untuk melakukan tingkat yang paling berat,dan berusaha mengamalkan bentuk yang paling sempurna, dari sisi kondisi, waktu, dan jumlah rakaat,serta panjangnya berdiri, dan qunut.Kemudian ia tidak dapat beristiqamah dalam ibadah ini. Ada ungkapan, “Sungguh hal yang sedikit tapi berkelanjutan, lebih baik daripada banyak tapi terhenti.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Berhentilah! Lakukanlah amal-amal yang sesuai kemampuan kalian,karena Allah tidak akan bosan, hingga kalian sendiri yang bosan.” (HR. Bukhari)Maka hendaklah seorang muslim melatih diri,dengan memulai amalan dengan tingkat yang paling awal, kemudian naik ke tingkat yang lebih tinggi. Sehingga pertama ia dapat Salat Witir dan Qiyamul Lail langsung setelah Salat Isya.Hingga jika ia telah terbiasa dan terlatih melakukan itu,ia dapat melakukan sebagian salatnya itu sebelum tidur. Hingga jika ia telah terbiasa dan terlatih melakukan itu,ia dapat melakukan sebagian salatnya itu sebelum Salat Subuh,kemudian setelah itu, ia dapat melakukannya pada kondisi dan waktu yang utamanya. ==== يَجِبُ أَنْ يُعْنَى الْمُسْلِمُ بِتَدْرِيبِ قَلْبِهِ وَتَرْوِيْضِ بَدَنِهِ عَلَى الطَّاعَةِ وَقَدْ أَلَّفَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ كَأَبِي نُعَيْمٍ رِيَاضَةُ الْأَبْدَانِ وَابْنُ السُّنِّيِّ رِيَاضَةُ النُّفُوسِ كُلُّهُم أَلَّفُوا كُتُبًا فِي تَبْيِينِ أَنَّ مِنَ الْأَدَبِ أَنْ يُرَوِّضَ الْمَرْءُ نَفْسَهُ عَلَى الْعِبَادَةِ وَمَعْنَى التَّرْوِيْضِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَلَّا يَأْخُذَهَا بِالْأَشَدِّ وَالْأَصْعَبِ وَالْأَكْمَلِ ابْتِدَاءً فَإِنَّ النَّفْسَ تَمَلُّ وَإِنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَخَذَ نَفْسَهُ بِالْأَشَدِّ لَمْ يَسْتَطِعِ الْاِسْتِمْرَارَ عَلَيْهِ فَلَرُبَّمَا لَوْ أَخَذَ نَفْسَهُ بِالْأَشَدِّ انْكَسَرَ عَوْدُهُ فَلَمْ يَسْتَطِعِ الْعَوْدَةَ لِلْعَمَلِ الَّذِي ابْتَدَأَهُ قَبْلَ ذَلِكَ أَقُولُ هَذَا لِمَ؟ لِأَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ الَّتِي تَحْتَاجُ إِلَى تَدْرِيبٍ وَرِيَاضَةٍ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَقَدْ قَالَ الْإِمَامُ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ الْخُرَسَانِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ثَمَانِينَ وَمِئَةٍ مِنْ هِجْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَوَّضْتُ نَفْسِي فِي قِيَامِ اللَّيْلِ عِشْرِينَ سَنَةً فَارْتَاحَتْ عِشْرِينَ سَنَةً إِنَّ بَعْضَ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَبَعْضَ الْمُسْلِمِينَ لَمَّا يَسْمَعُ الْأَحَادِيثَ الْفَاضِلَةَ فِي قِيَامِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقِيَامِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ يَأْخُذُ نَفْسَهُ بِالْأَشَدِّ وَيَسْعَى لِفِعْلِ الْأَكْمَلِ بِاعْتِبَارِ الْحَالِ وَالزَّمَنِ وَعَدَدِ الرَّكَعَاتِ وَطُولِ الْهَيْئَةِ وَالْقُنُوتِ ثُمَّ لَا يَسْتَطِيعُ الْاِسْتِمْرَارَ عَلَى هَذِهِ الْعِبَادَةِ وَقَدْ قِيلَ إِنَّ قَلِيلًا مُسْتَمِرًّا خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ مُنْقَطِعٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَهْ عَلَيْكُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا فَالْمُسْلِمُ يَتَدَرَّبُ فَيَبْدَأُ بِأَوَّلِ دَرَجَاتٍ ثُمَّ يَرْتَقِي لِلْأَعْلَى فَيُصَلِّي وِتْرَهُ وَقِيَامَ لَيْلِهِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ مُبَاشَرَةً حَتَّى إِذَا اعْتَادَ عَلَى ذَلِكَ وَتَدَرَّبَ جَعَلَ بَعْضَهُ قَبْلَ نَوْمِهِ حَتَّى إِذَا اعْتَادَ عَلَى ذَلِكَ وَتَدَرَّبَ جَعَلَ بَعْضَهُ قَبْلَ قِيَامِهِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى أَنْ يَجْعَلَهُ فِي الْحَالِ وَالزَّمَانِ الْفَاضِلِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Seorang Muslim harus memberi perhatian besar untuk melatih hatinya,dan membiasakan badannya untuk melakukan ketaatan. Ada banyak ulama yang telah menulis kitab tentang ini,seperti Abu Nu’aim dengan judul Riyadhatul Abdandan Ibnu as-Sunni dengan judul Riyadhatun Nufus. Mereka semua menulis buku yang menjelaskanbahwa salah satu adab penting adalah seseorang melatih dirinya untuk beribadah.Makna melatih diri untuk beribadahadalah dengan tidak melakukan amalan yang tingkatnya paling berat, paling sulit, dan paling sempurna di awalnya. Karena diri manusia dapat merasa bosan.Jika seseorang memaksa dirinya untuk melakukan amal yang berat,maka ia tidak akan mampu istiqamah melakukannya. Karena bisa jadi jika ia memaksa dirinya dengan amalan yang berat, maka patah semangatnya,sehingga ia tidak mampu kembali melakukan amal yang telah ia mulai sebelumnya. Mengapa saya menyampaikan ini?Karena salah satu perkara paling penting yang membutuhkan latihan dan pembiasaanadalah Salat Malam. Imam Abdullah bin al-Mubarak al-Khurasani rahimahullahu Ta’ala pernah berkata-beliau wafat pada tahun 180 setelah hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-Beliau berkata, “Aku membiasakan diriku untuk Salat Malam selama 20 tahun, sehingga diriku dimudahkan mengerjakannya selama 20 tahun setelahnya.” Ada sebagian penuntut ilmu, dan sebagian kaum Muslimin,ketika mendengar hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan Salat Malam yang dilakukan Nabi Daud ‘alaihissalam, dan Salat Malam yang dikerjakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,maka ia memaksa dirinya untuk melakukan tingkat yang paling berat,dan berusaha mengamalkan bentuk yang paling sempurna, dari sisi kondisi, waktu, dan jumlah rakaat,serta panjangnya berdiri, dan qunut.Kemudian ia tidak dapat beristiqamah dalam ibadah ini. Ada ungkapan, “Sungguh hal yang sedikit tapi berkelanjutan, lebih baik daripada banyak tapi terhenti.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Berhentilah! Lakukanlah amal-amal yang sesuai kemampuan kalian,karena Allah tidak akan bosan, hingga kalian sendiri yang bosan.” (HR. Bukhari)Maka hendaklah seorang muslim melatih diri,dengan memulai amalan dengan tingkat yang paling awal, kemudian naik ke tingkat yang lebih tinggi. Sehingga pertama ia dapat Salat Witir dan Qiyamul Lail langsung setelah Salat Isya.Hingga jika ia telah terbiasa dan terlatih melakukan itu,ia dapat melakukan sebagian salatnya itu sebelum tidur. Hingga jika ia telah terbiasa dan terlatih melakukan itu,ia dapat melakukan sebagian salatnya itu sebelum Salat Subuh,kemudian setelah itu, ia dapat melakukannya pada kondisi dan waktu yang utamanya. ==== يَجِبُ أَنْ يُعْنَى الْمُسْلِمُ بِتَدْرِيبِ قَلْبِهِ وَتَرْوِيْضِ بَدَنِهِ عَلَى الطَّاعَةِ وَقَدْ أَلَّفَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ كَأَبِي نُعَيْمٍ رِيَاضَةُ الْأَبْدَانِ وَابْنُ السُّنِّيِّ رِيَاضَةُ النُّفُوسِ كُلُّهُم أَلَّفُوا كُتُبًا فِي تَبْيِينِ أَنَّ مِنَ الْأَدَبِ أَنْ يُرَوِّضَ الْمَرْءُ نَفْسَهُ عَلَى الْعِبَادَةِ وَمَعْنَى التَّرْوِيْضِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَلَّا يَأْخُذَهَا بِالْأَشَدِّ وَالْأَصْعَبِ وَالْأَكْمَلِ ابْتِدَاءً فَإِنَّ النَّفْسَ تَمَلُّ وَإِنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَخَذَ نَفْسَهُ بِالْأَشَدِّ لَمْ يَسْتَطِعِ الْاِسْتِمْرَارَ عَلَيْهِ فَلَرُبَّمَا لَوْ أَخَذَ نَفْسَهُ بِالْأَشَدِّ انْكَسَرَ عَوْدُهُ فَلَمْ يَسْتَطِعِ الْعَوْدَةَ لِلْعَمَلِ الَّذِي ابْتَدَأَهُ قَبْلَ ذَلِكَ أَقُولُ هَذَا لِمَ؟ لِأَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ الَّتِي تَحْتَاجُ إِلَى تَدْرِيبٍ وَرِيَاضَةٍ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَقَدْ قَالَ الْإِمَامُ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ الْخُرَسَانِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ثَمَانِينَ وَمِئَةٍ مِنْ هِجْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَوَّضْتُ نَفْسِي فِي قِيَامِ اللَّيْلِ عِشْرِينَ سَنَةً فَارْتَاحَتْ عِشْرِينَ سَنَةً إِنَّ بَعْضَ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَبَعْضَ الْمُسْلِمِينَ لَمَّا يَسْمَعُ الْأَحَادِيثَ الْفَاضِلَةَ فِي قِيَامِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقِيَامِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ يَأْخُذُ نَفْسَهُ بِالْأَشَدِّ وَيَسْعَى لِفِعْلِ الْأَكْمَلِ بِاعْتِبَارِ الْحَالِ وَالزَّمَنِ وَعَدَدِ الرَّكَعَاتِ وَطُولِ الْهَيْئَةِ وَالْقُنُوتِ ثُمَّ لَا يَسْتَطِيعُ الْاِسْتِمْرَارَ عَلَى هَذِهِ الْعِبَادَةِ وَقَدْ قِيلَ إِنَّ قَلِيلًا مُسْتَمِرًّا خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ مُنْقَطِعٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَهْ عَلَيْكُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا فَالْمُسْلِمُ يَتَدَرَّبُ فَيَبْدَأُ بِأَوَّلِ دَرَجَاتٍ ثُمَّ يَرْتَقِي لِلْأَعْلَى فَيُصَلِّي وِتْرَهُ وَقِيَامَ لَيْلِهِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ مُبَاشَرَةً حَتَّى إِذَا اعْتَادَ عَلَى ذَلِكَ وَتَدَرَّبَ جَعَلَ بَعْضَهُ قَبْلَ نَوْمِهِ حَتَّى إِذَا اعْتَادَ عَلَى ذَلِكَ وَتَدَرَّبَ جَعَلَ بَعْضَهُ قَبْلَ قِيَامِهِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى أَنْ يَجْعَلَهُ فِي الْحَالِ وَالزَّمَانِ الْفَاضِلِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Apa Kata Setan kepada yang Masuk Islam? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Di sini Iblis—semoga Allah Ta’ala melaknatnya—berkata, “(Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.’” (QS. Al-A’raf: 16) Disebutkan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa setan akan duduk menghalangi manusiasaat hendak masuk Islam. Setan akan berkata kepadanya, “Apakah kamu akan meninggalkan agama nenek moyangmudan agama para leluhurmu?Kemudian kamu masuk agama yang tidak kamu kenal?Kamu akan membuat ayah dan ibumu murka kepadamu?!” Jika Allah memberi taufik kepada orang ini, maka ia akan berkata kepada setan,“Aku akan masuk agama ini (Islam).” Lalu ia menyelisihi ajakan setan. Saat akan berhijrah, setan akan mendatanginya dan berkata, “Apakah kamu akan meninggalkan negerimu,dan meninggalkan tempat dan keluargamu?Kemudian kamu pergi ke negeri yang tidak kamu ketahui dan tidak kamu kenal penduduknya?” Jika ia juga menyelisihi setan, maka setan akan duduk untuk menghalanginya dari berjihad.(setan berkata), “Apakah kamu akan pergi berperang, membunuh dan dibunuh?Istrimu akan menjadi janda, anak-anakmu akan menjadi yatim,dan hartamu akan dirampas?!” Jika saat itu ia menyelisihi setan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “… ia akan masuk surga.”Ia akan masuk surga jika menyelisihi setan. Setan akan duduk menghalanginya di setiap ketaatan,atau sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setan akan duduk menghalangi manusia di setiap ketaatan.Setan menghalanginya agar tidak melakukan ketaatan. Sedangkan di setiap kemaksiatan, setan akan benar-benar menggodanya. ==== وَهُنَا إِبْلِيسُ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ وَجَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَقْعُدُ لِلْإِنْسَانِ إِذَا أَرَادَ الْإِسْلَامَ فَيَقُولُ لَهُ أَتَتْرُكُ دِيْنَ آبَائِكَ؟ وَدِيْنَ أَجْدَادِكَ؟ وَتَدْخُلُ فِي دِيْنٍ لَا تَعْرِفُهُ؟ وَتُغْضِبُ عَلَيْكَ أُمَّكَ وَتُغْضِبُ عَلَيْكَ أَبَاكَ؟ فَإِذَا وَفَّقَ اللهُ هَذَا الْإِنْسَانَ فَقَالَ لَهُ بَلْ أَدْخُلُ فِي هَذَا الدِّينِ وَعَصَاهُ يَأْتِيهِ مِنَ الْهِجْرَةِ أَتَهْجُرُ بَلَدَكَ؟ وَمَكَانَكَ وَأَهْلَكَ؟ وَتَدْخُلُ وَتَذْهَبُ إِلَى بَلَدٍ لَا تَعْرِفُهُ وَلَا تَعْرِفُ أَهْلَهَا؟ فَإِذَا عَصَاهُ قَعَدَ لَهُ فِي بَابِ الْجِهَادِ أَتَبْذُلُ أَتَقْتُلُ وَتُقَاتِلُ وَتُقْتَلُ وَتُرَمَّلُ امْرَأَتُكَ وَيُيَتَّمُ أَوْلَادُكَ وَيُؤْخَذُ مَالُكَ؟ فَإِنْ عَصَاهُ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْجَنَّةَ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ عَصَاهُ فَهُو يَقْعُدُ لَهُ فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَوْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالشَّيْطَانُ يَقْعُدُ لِابْنِ آدَمَ فِي كُلِّ طَاعَةٍ يَمْنَعُهُ مِنْ فِعْلِهَا وَفِي كُلِّ مَعْصِيَةٍ يَؤُزُّهُ عَلَيْهَا أَزًّا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Apa Kata Setan kepada yang Masuk Islam? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Di sini Iblis—semoga Allah Ta’ala melaknatnya—berkata, “(Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.’” (QS. Al-A’raf: 16) Disebutkan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa setan akan duduk menghalangi manusiasaat hendak masuk Islam. Setan akan berkata kepadanya, “Apakah kamu akan meninggalkan agama nenek moyangmudan agama para leluhurmu?Kemudian kamu masuk agama yang tidak kamu kenal?Kamu akan membuat ayah dan ibumu murka kepadamu?!” Jika Allah memberi taufik kepada orang ini, maka ia akan berkata kepada setan,“Aku akan masuk agama ini (Islam).” Lalu ia menyelisihi ajakan setan. Saat akan berhijrah, setan akan mendatanginya dan berkata, “Apakah kamu akan meninggalkan negerimu,dan meninggalkan tempat dan keluargamu?Kemudian kamu pergi ke negeri yang tidak kamu ketahui dan tidak kamu kenal penduduknya?” Jika ia juga menyelisihi setan, maka setan akan duduk untuk menghalanginya dari berjihad.(setan berkata), “Apakah kamu akan pergi berperang, membunuh dan dibunuh?Istrimu akan menjadi janda, anak-anakmu akan menjadi yatim,dan hartamu akan dirampas?!” Jika saat itu ia menyelisihi setan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “… ia akan masuk surga.”Ia akan masuk surga jika menyelisihi setan. Setan akan duduk menghalanginya di setiap ketaatan,atau sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setan akan duduk menghalangi manusia di setiap ketaatan.Setan menghalanginya agar tidak melakukan ketaatan. Sedangkan di setiap kemaksiatan, setan akan benar-benar menggodanya. ==== وَهُنَا إِبْلِيسُ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ وَجَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَقْعُدُ لِلْإِنْسَانِ إِذَا أَرَادَ الْإِسْلَامَ فَيَقُولُ لَهُ أَتَتْرُكُ دِيْنَ آبَائِكَ؟ وَدِيْنَ أَجْدَادِكَ؟ وَتَدْخُلُ فِي دِيْنٍ لَا تَعْرِفُهُ؟ وَتُغْضِبُ عَلَيْكَ أُمَّكَ وَتُغْضِبُ عَلَيْكَ أَبَاكَ؟ فَإِذَا وَفَّقَ اللهُ هَذَا الْإِنْسَانَ فَقَالَ لَهُ بَلْ أَدْخُلُ فِي هَذَا الدِّينِ وَعَصَاهُ يَأْتِيهِ مِنَ الْهِجْرَةِ أَتَهْجُرُ بَلَدَكَ؟ وَمَكَانَكَ وَأَهْلَكَ؟ وَتَدْخُلُ وَتَذْهَبُ إِلَى بَلَدٍ لَا تَعْرِفُهُ وَلَا تَعْرِفُ أَهْلَهَا؟ فَإِذَا عَصَاهُ قَعَدَ لَهُ فِي بَابِ الْجِهَادِ أَتَبْذُلُ أَتَقْتُلُ وَتُقَاتِلُ وَتُقْتَلُ وَتُرَمَّلُ امْرَأَتُكَ وَيُيَتَّمُ أَوْلَادُكَ وَيُؤْخَذُ مَالُكَ؟ فَإِنْ عَصَاهُ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْجَنَّةَ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ عَصَاهُ فَهُو يَقْعُدُ لَهُ فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَوْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالشَّيْطَانُ يَقْعُدُ لِابْنِ آدَمَ فِي كُلِّ طَاعَةٍ يَمْنَعُهُ مِنْ فِعْلِهَا وَفِي كُلِّ مَعْصِيَةٍ يَؤُزُّهُ عَلَيْهَا أَزًّا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Di sini Iblis—semoga Allah Ta’ala melaknatnya—berkata, “(Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.’” (QS. Al-A’raf: 16) Disebutkan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa setan akan duduk menghalangi manusiasaat hendak masuk Islam. Setan akan berkata kepadanya, “Apakah kamu akan meninggalkan agama nenek moyangmudan agama para leluhurmu?Kemudian kamu masuk agama yang tidak kamu kenal?Kamu akan membuat ayah dan ibumu murka kepadamu?!” Jika Allah memberi taufik kepada orang ini, maka ia akan berkata kepada setan,“Aku akan masuk agama ini (Islam).” Lalu ia menyelisihi ajakan setan. Saat akan berhijrah, setan akan mendatanginya dan berkata, “Apakah kamu akan meninggalkan negerimu,dan meninggalkan tempat dan keluargamu?Kemudian kamu pergi ke negeri yang tidak kamu ketahui dan tidak kamu kenal penduduknya?” Jika ia juga menyelisihi setan, maka setan akan duduk untuk menghalanginya dari berjihad.(setan berkata), “Apakah kamu akan pergi berperang, membunuh dan dibunuh?Istrimu akan menjadi janda, anak-anakmu akan menjadi yatim,dan hartamu akan dirampas?!” Jika saat itu ia menyelisihi setan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “… ia akan masuk surga.”Ia akan masuk surga jika menyelisihi setan. Setan akan duduk menghalanginya di setiap ketaatan,atau sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setan akan duduk menghalangi manusia di setiap ketaatan.Setan menghalanginya agar tidak melakukan ketaatan. Sedangkan di setiap kemaksiatan, setan akan benar-benar menggodanya. ==== وَهُنَا إِبْلِيسُ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ وَجَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَقْعُدُ لِلْإِنْسَانِ إِذَا أَرَادَ الْإِسْلَامَ فَيَقُولُ لَهُ أَتَتْرُكُ دِيْنَ آبَائِكَ؟ وَدِيْنَ أَجْدَادِكَ؟ وَتَدْخُلُ فِي دِيْنٍ لَا تَعْرِفُهُ؟ وَتُغْضِبُ عَلَيْكَ أُمَّكَ وَتُغْضِبُ عَلَيْكَ أَبَاكَ؟ فَإِذَا وَفَّقَ اللهُ هَذَا الْإِنْسَانَ فَقَالَ لَهُ بَلْ أَدْخُلُ فِي هَذَا الدِّينِ وَعَصَاهُ يَأْتِيهِ مِنَ الْهِجْرَةِ أَتَهْجُرُ بَلَدَكَ؟ وَمَكَانَكَ وَأَهْلَكَ؟ وَتَدْخُلُ وَتَذْهَبُ إِلَى بَلَدٍ لَا تَعْرِفُهُ وَلَا تَعْرِفُ أَهْلَهَا؟ فَإِذَا عَصَاهُ قَعَدَ لَهُ فِي بَابِ الْجِهَادِ أَتَبْذُلُ أَتَقْتُلُ وَتُقَاتِلُ وَتُقْتَلُ وَتُرَمَّلُ امْرَأَتُكَ وَيُيَتَّمُ أَوْلَادُكَ وَيُؤْخَذُ مَالُكَ؟ فَإِنْ عَصَاهُ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْجَنَّةَ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ عَصَاهُ فَهُو يَقْعُدُ لَهُ فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَوْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالشَّيْطَانُ يَقْعُدُ لِابْنِ آدَمَ فِي كُلِّ طَاعَةٍ يَمْنَعُهُ مِنْ فِعْلِهَا وَفِي كُلِّ مَعْصِيَةٍ يَؤُزُّهُ عَلَيْهَا أَزًّا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Di sini Iblis—semoga Allah Ta’ala melaknatnya—berkata, “(Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.’” (QS. Al-A’raf: 16) Disebutkan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa setan akan duduk menghalangi manusiasaat hendak masuk Islam. Setan akan berkata kepadanya, “Apakah kamu akan meninggalkan agama nenek moyangmudan agama para leluhurmu?Kemudian kamu masuk agama yang tidak kamu kenal?Kamu akan membuat ayah dan ibumu murka kepadamu?!” Jika Allah memberi taufik kepada orang ini, maka ia akan berkata kepada setan,“Aku akan masuk agama ini (Islam).” Lalu ia menyelisihi ajakan setan. Saat akan berhijrah, setan akan mendatanginya dan berkata, “Apakah kamu akan meninggalkan negerimu,dan meninggalkan tempat dan keluargamu?Kemudian kamu pergi ke negeri yang tidak kamu ketahui dan tidak kamu kenal penduduknya?” Jika ia juga menyelisihi setan, maka setan akan duduk untuk menghalanginya dari berjihad.(setan berkata), “Apakah kamu akan pergi berperang, membunuh dan dibunuh?Istrimu akan menjadi janda, anak-anakmu akan menjadi yatim,dan hartamu akan dirampas?!” Jika saat itu ia menyelisihi setan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “… ia akan masuk surga.”Ia akan masuk surga jika menyelisihi setan. Setan akan duduk menghalanginya di setiap ketaatan,atau sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setan akan duduk menghalangi manusia di setiap ketaatan.Setan menghalanginya agar tidak melakukan ketaatan. Sedangkan di setiap kemaksiatan, setan akan benar-benar menggodanya. ==== وَهُنَا إِبْلِيسُ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ وَجَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَقْعُدُ لِلْإِنْسَانِ إِذَا أَرَادَ الْإِسْلَامَ فَيَقُولُ لَهُ أَتَتْرُكُ دِيْنَ آبَائِكَ؟ وَدِيْنَ أَجْدَادِكَ؟ وَتَدْخُلُ فِي دِيْنٍ لَا تَعْرِفُهُ؟ وَتُغْضِبُ عَلَيْكَ أُمَّكَ وَتُغْضِبُ عَلَيْكَ أَبَاكَ؟ فَإِذَا وَفَّقَ اللهُ هَذَا الْإِنْسَانَ فَقَالَ لَهُ بَلْ أَدْخُلُ فِي هَذَا الدِّينِ وَعَصَاهُ يَأْتِيهِ مِنَ الْهِجْرَةِ أَتَهْجُرُ بَلَدَكَ؟ وَمَكَانَكَ وَأَهْلَكَ؟ وَتَدْخُلُ وَتَذْهَبُ إِلَى بَلَدٍ لَا تَعْرِفُهُ وَلَا تَعْرِفُ أَهْلَهَا؟ فَإِذَا عَصَاهُ قَعَدَ لَهُ فِي بَابِ الْجِهَادِ أَتَبْذُلُ أَتَقْتُلُ وَتُقَاتِلُ وَتُقْتَلُ وَتُرَمَّلُ امْرَأَتُكَ وَيُيَتَّمُ أَوْلَادُكَ وَيُؤْخَذُ مَالُكَ؟ فَإِنْ عَصَاهُ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْجَنَّةَ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ عَصَاهُ فَهُو يَقْعُدُ لَهُ فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَوْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالشَّيْطَانُ يَقْعُدُ لِابْنِ آدَمَ فِي كُلِّ طَاعَةٍ يَمْنَعُهُ مِنْ فِعْلِهَا وَفِي كُلِّ مَعْصِيَةٍ يَؤُزُّهُ عَلَيْهَا أَزًّا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Syekh Al-Albani di Mata Syekh Yusuf Qardhawi

Bismillahirrahmanirrahim.Ada satu pesan yang dititipkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk umat ini. Yaitu, pesan untuk membela kehormatan saudara sesama muslim saat kehormatannya direndahkan. Dalam hadis dari sahabat Abu Darda’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخيهِ كانَ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ“Siapa yang membela kehormatan saudaranya, maka dia akan memiliki pelindung dari siksa api neraka.” (HR. Ibnu Asakir, Syekh Albani menilai sanadnya laa ba’sa bihi, dan memiliki banyak penguat. Lihat Ghoyatul Murom)Jika demikian penting dan besarnya pahala membela kehormatan saudara sesama muslim, bagaimana jika yang kita bela bukan sembarang orang, yaitu ulama yang memiliki jasa besar terhadap Islam dan kaum muslimin?! Sungguh membela mereka adalah membela agama. Membela mereka adalah kewajiban bagi kaum muslimin.Tidak perlu berpanjang lebar, berangkat dari kecemburuan saat Syekh Albani rahimahullah direndahkan. Berikut kami nukilkan ungkapan pujian Syekh Yusuf Al-Qardhawi kepada ahli hadis di zaman ini, Syaikh Muhammad bin Nashirudin Al-Albani rahimahullah, yang ditulis di bukunya yangbberjudul “Fi Wadaa-il ‘Alaam” (Selamat Jalan Wahai Para Ulama, pent). Syekh Yusuf Qardhawi berkata,في 2 أكتوبر 1999م الموافق 22 جُمادى الآخِرة 1420هـ، توفي المحدث الكبير الشيخ محمد ناصر الدين الألباني. ويبدو أن هذه السنة هي سنة رحيل العلماء، علماء الشرع والدين عن هذا العالم، فقد ودعنا فيها عددًا منهم، ابتداء من العلامة الشيخ عبد العزيز بن باز، والشيخ علي الطنطاوي، والشيخ مصطفى الزرقا، والشيخ مناع القطَّان، والشيخ عطية سالم، والشيخ محمد المجذوب،“Pada tanggal 2 Oktober 1999, bertepatan dengan 22 Jumadil Akhir 1420 H, ahli hadis besar Syekh Muhammad bin Nashirudin Al-Albani meninggal dunia. Tahun itu adalah tahun kepergian para ulama. Yaitu kepergian ulama syariat dan agama (Islam) dari alam dunia ini. Kami telah menyampaikan ucapan belasungkawa kepada beberapa di antara mereka.Baca Juga: Pembagian Tauhid Menurut Para Ulama Ahlussunnah (Bag. 1)Dimulai dari wafatnya Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Ali At-Thanthawi, Syekh Mushtafa Az-Zarqa, Syekh Manna’ Al-Qatthan, Syekh ‘Athiyah Salim, dan Syekh Muhammad Al-Majdzub.”وأخيرًا الشيخ محمد ناصر الدين الألباني، المحدِّث الشهير، صاحب الكتب الحديثية التي شرَّقت وغرَّبت.“Dan yang terakhir (meninggal di tahun itu) adalah Syekh Muhammad bin Nashirudin Al-Albani. Pakar hadis yang terkenal. Penulis kitab-kitab hadis yang telah tersebar ke timur dan ke barat.”كان الشيخ الألباني أحد كبار علماء الحديث في عصرنا، الذين اشتغلوا بتحقيق عدد من كتب الأحاديث وأخرجوها للناس، وألَّف كتبًا شتى،“Syekh Albani adalah salah satu dari ulama hadis senior di zaman ini, yang telah mendermakan dirinya untuk men-tahqiq sejumlah kitab hadis dan men-takhrij hadis-hadis untuk kaum muslimin. Beliau juga memiliki karya tulis bermacam-macam,”مثل (سلسلة الأحاديث الصحيحة)، و(سلسلة الأحاديث الضعيفة)، و(صحيح الجامع الصغير وزيادته)، و(ضعيف الجامع الصغير وزيادته)، وكذلك صحيح كتب السنن الأربعة، (صحيح أبي داوود) و(ضعيفه)، و(صحيح الترمذي) و(ضعيفه)، و(صحيح النسائي) و(ضعيفه)، و(صحيح ابن ماجه) و(ضعيفه). و(صحيح الترغيب والترهيب)، وإن كان لم يكمله نشرًا، ولعله عنده مخطوط.“Seperti:Silsilah Al-Ahadits As ShahihahSilsilah Al-Ahadits Ad-Dha’ifahShahih Al-Jaami’ As-Shaghir wa ZiyadatuhDan begitu juga sahih kitab-kitab sunan yang empat:Shahih Abu Dawud dan Dha’ifnyaShahih At-Tirmidzi dan Dha’ifnyaShahih An-Nasa-i dan Dha’ifnyaShahih Ibnu Majah dan Dha’ifnyaShahih At-Targhib dan At-Tarhib, meskipun versi cetaknya belum sempurna, namun barangkali beliau telah menyempurnakan dalam bentuk manuskrip.“وخدم المذهب الحنبلي بكتابه (إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل)، فقد رأى أن المذهب الحنبلي- وهو مذهب أقرب ما يكون إلى الحديث- ليس فيه كتاب تخريج للأحاديث المذكورة في كتب فقهه، فالحنفية عندهم (نصب الراية لأحاديث الهداية)، والشافعية عندهم (تلخيص الحبير لتخريج حديث شرح الرافعي الكبير)، والمالكية عندهم تخريجات الموطأ، والحنابلة ليس عندهم، فاعتمد أن يخرِّج كتاب (منار السبيل)، وأخرجه في ثمانية أجزاء.وكذا أخرج (مختصر صحيح مسلم)، و(مشكاة المصابيح)، و(السنة لابن أبي عاصم).. وغيرها من الكتب.“Syekh Albani juga memiliki andil di dalam literasi mazhab Hambali melalui kitab karyanya ‘Irwa’ul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manar As-Sabil’ (takhrij untuk hadis-hadis yang ada di kitab Manar As-Sabil; kitab fikih penting dalam mazhab Hambali, pent).Baca Juga: Fatwa Ulama: Pengertian “Wajib Salat”Beliau memandang bahwa mazhab Hambali adalah mazhab yang paling dekat dengan hadis. Namun, belum memiliki kitab takhrij untuk hadis-hadis yang ada pada kitab-kitab fikihnya.Kalau di mazhab Hanafi sudah ada ‘Nashbur Royah Li Ahadits Al-Hidayah’.Mazhab Syafi’i ada ‘Talkhis Al-Habir Li Takhrij Hadits Syarah Ar-Rofi’i Al-Kabir’.Mazhab Maliki juga punya kitab-kitab takhrij untuk kitab Al-Muwattha’.Hal inilah yang mendorong Syaikh Albani memilih kitab “Manar As-Sabil” untuk ditakhrij hadis-hadisnya, lalu menjadi karya tulis setebal delapan jilid.Beliau juga men-takhrij kitab Mukhtashar Shahih Muslim, Misykatul Mashabih dan As-Sunnah karya Ibnu Abi Ashim, dan kitab-kitab lainnya.“Selesai nukilan.Semoga Allah merahmati Syekh Albani dengan rahmat yang luas.Baca Juga:Fatwa Ulama: Ketika Ragu Apakah Terlupa Salah Satu Rukun SalatKekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam Keikhlasan***Penulis : Ahmad AnshoriArtikel: www.muslim.or.id🔍 Sampaikanlah Walau Satu Ayat, Penyakit 'ain Adalah, Minum Kencing Unta, Cara Ruqyah Rumah, Azab Wanita PembohongTags: Aqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamfatwaFatwa UlamaManhajmanhaj salafsyaikh albanisyaikh yusuf qardhawiulama salaf

Syekh Al-Albani di Mata Syekh Yusuf Qardhawi

Bismillahirrahmanirrahim.Ada satu pesan yang dititipkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk umat ini. Yaitu, pesan untuk membela kehormatan saudara sesama muslim saat kehormatannya direndahkan. Dalam hadis dari sahabat Abu Darda’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخيهِ كانَ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ“Siapa yang membela kehormatan saudaranya, maka dia akan memiliki pelindung dari siksa api neraka.” (HR. Ibnu Asakir, Syekh Albani menilai sanadnya laa ba’sa bihi, dan memiliki banyak penguat. Lihat Ghoyatul Murom)Jika demikian penting dan besarnya pahala membela kehormatan saudara sesama muslim, bagaimana jika yang kita bela bukan sembarang orang, yaitu ulama yang memiliki jasa besar terhadap Islam dan kaum muslimin?! Sungguh membela mereka adalah membela agama. Membela mereka adalah kewajiban bagi kaum muslimin.Tidak perlu berpanjang lebar, berangkat dari kecemburuan saat Syekh Albani rahimahullah direndahkan. Berikut kami nukilkan ungkapan pujian Syekh Yusuf Al-Qardhawi kepada ahli hadis di zaman ini, Syaikh Muhammad bin Nashirudin Al-Albani rahimahullah, yang ditulis di bukunya yangbberjudul “Fi Wadaa-il ‘Alaam” (Selamat Jalan Wahai Para Ulama, pent). Syekh Yusuf Qardhawi berkata,في 2 أكتوبر 1999م الموافق 22 جُمادى الآخِرة 1420هـ، توفي المحدث الكبير الشيخ محمد ناصر الدين الألباني. ويبدو أن هذه السنة هي سنة رحيل العلماء، علماء الشرع والدين عن هذا العالم، فقد ودعنا فيها عددًا منهم، ابتداء من العلامة الشيخ عبد العزيز بن باز، والشيخ علي الطنطاوي، والشيخ مصطفى الزرقا، والشيخ مناع القطَّان، والشيخ عطية سالم، والشيخ محمد المجذوب،“Pada tanggal 2 Oktober 1999, bertepatan dengan 22 Jumadil Akhir 1420 H, ahli hadis besar Syekh Muhammad bin Nashirudin Al-Albani meninggal dunia. Tahun itu adalah tahun kepergian para ulama. Yaitu kepergian ulama syariat dan agama (Islam) dari alam dunia ini. Kami telah menyampaikan ucapan belasungkawa kepada beberapa di antara mereka.Baca Juga: Pembagian Tauhid Menurut Para Ulama Ahlussunnah (Bag. 1)Dimulai dari wafatnya Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Ali At-Thanthawi, Syekh Mushtafa Az-Zarqa, Syekh Manna’ Al-Qatthan, Syekh ‘Athiyah Salim, dan Syekh Muhammad Al-Majdzub.”وأخيرًا الشيخ محمد ناصر الدين الألباني، المحدِّث الشهير، صاحب الكتب الحديثية التي شرَّقت وغرَّبت.“Dan yang terakhir (meninggal di tahun itu) adalah Syekh Muhammad bin Nashirudin Al-Albani. Pakar hadis yang terkenal. Penulis kitab-kitab hadis yang telah tersebar ke timur dan ke barat.”كان الشيخ الألباني أحد كبار علماء الحديث في عصرنا، الذين اشتغلوا بتحقيق عدد من كتب الأحاديث وأخرجوها للناس، وألَّف كتبًا شتى،“Syekh Albani adalah salah satu dari ulama hadis senior di zaman ini, yang telah mendermakan dirinya untuk men-tahqiq sejumlah kitab hadis dan men-takhrij hadis-hadis untuk kaum muslimin. Beliau juga memiliki karya tulis bermacam-macam,”مثل (سلسلة الأحاديث الصحيحة)، و(سلسلة الأحاديث الضعيفة)، و(صحيح الجامع الصغير وزيادته)، و(ضعيف الجامع الصغير وزيادته)، وكذلك صحيح كتب السنن الأربعة، (صحيح أبي داوود) و(ضعيفه)، و(صحيح الترمذي) و(ضعيفه)، و(صحيح النسائي) و(ضعيفه)، و(صحيح ابن ماجه) و(ضعيفه). و(صحيح الترغيب والترهيب)، وإن كان لم يكمله نشرًا، ولعله عنده مخطوط.“Seperti:Silsilah Al-Ahadits As ShahihahSilsilah Al-Ahadits Ad-Dha’ifahShahih Al-Jaami’ As-Shaghir wa ZiyadatuhDan begitu juga sahih kitab-kitab sunan yang empat:Shahih Abu Dawud dan Dha’ifnyaShahih At-Tirmidzi dan Dha’ifnyaShahih An-Nasa-i dan Dha’ifnyaShahih Ibnu Majah dan Dha’ifnyaShahih At-Targhib dan At-Tarhib, meskipun versi cetaknya belum sempurna, namun barangkali beliau telah menyempurnakan dalam bentuk manuskrip.“وخدم المذهب الحنبلي بكتابه (إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل)، فقد رأى أن المذهب الحنبلي- وهو مذهب أقرب ما يكون إلى الحديث- ليس فيه كتاب تخريج للأحاديث المذكورة في كتب فقهه، فالحنفية عندهم (نصب الراية لأحاديث الهداية)، والشافعية عندهم (تلخيص الحبير لتخريج حديث شرح الرافعي الكبير)، والمالكية عندهم تخريجات الموطأ، والحنابلة ليس عندهم، فاعتمد أن يخرِّج كتاب (منار السبيل)، وأخرجه في ثمانية أجزاء.وكذا أخرج (مختصر صحيح مسلم)، و(مشكاة المصابيح)، و(السنة لابن أبي عاصم).. وغيرها من الكتب.“Syekh Albani juga memiliki andil di dalam literasi mazhab Hambali melalui kitab karyanya ‘Irwa’ul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manar As-Sabil’ (takhrij untuk hadis-hadis yang ada di kitab Manar As-Sabil; kitab fikih penting dalam mazhab Hambali, pent).Baca Juga: Fatwa Ulama: Pengertian “Wajib Salat”Beliau memandang bahwa mazhab Hambali adalah mazhab yang paling dekat dengan hadis. Namun, belum memiliki kitab takhrij untuk hadis-hadis yang ada pada kitab-kitab fikihnya.Kalau di mazhab Hanafi sudah ada ‘Nashbur Royah Li Ahadits Al-Hidayah’.Mazhab Syafi’i ada ‘Talkhis Al-Habir Li Takhrij Hadits Syarah Ar-Rofi’i Al-Kabir’.Mazhab Maliki juga punya kitab-kitab takhrij untuk kitab Al-Muwattha’.Hal inilah yang mendorong Syaikh Albani memilih kitab “Manar As-Sabil” untuk ditakhrij hadis-hadisnya, lalu menjadi karya tulis setebal delapan jilid.Beliau juga men-takhrij kitab Mukhtashar Shahih Muslim, Misykatul Mashabih dan As-Sunnah karya Ibnu Abi Ashim, dan kitab-kitab lainnya.“Selesai nukilan.Semoga Allah merahmati Syekh Albani dengan rahmat yang luas.Baca Juga:Fatwa Ulama: Ketika Ragu Apakah Terlupa Salah Satu Rukun SalatKekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam Keikhlasan***Penulis : Ahmad AnshoriArtikel: www.muslim.or.id🔍 Sampaikanlah Walau Satu Ayat, Penyakit 'ain Adalah, Minum Kencing Unta, Cara Ruqyah Rumah, Azab Wanita PembohongTags: Aqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamfatwaFatwa UlamaManhajmanhaj salafsyaikh albanisyaikh yusuf qardhawiulama salaf
Bismillahirrahmanirrahim.Ada satu pesan yang dititipkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk umat ini. Yaitu, pesan untuk membela kehormatan saudara sesama muslim saat kehormatannya direndahkan. Dalam hadis dari sahabat Abu Darda’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخيهِ كانَ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ“Siapa yang membela kehormatan saudaranya, maka dia akan memiliki pelindung dari siksa api neraka.” (HR. Ibnu Asakir, Syekh Albani menilai sanadnya laa ba’sa bihi, dan memiliki banyak penguat. Lihat Ghoyatul Murom)Jika demikian penting dan besarnya pahala membela kehormatan saudara sesama muslim, bagaimana jika yang kita bela bukan sembarang orang, yaitu ulama yang memiliki jasa besar terhadap Islam dan kaum muslimin?! Sungguh membela mereka adalah membela agama. Membela mereka adalah kewajiban bagi kaum muslimin.Tidak perlu berpanjang lebar, berangkat dari kecemburuan saat Syekh Albani rahimahullah direndahkan. Berikut kami nukilkan ungkapan pujian Syekh Yusuf Al-Qardhawi kepada ahli hadis di zaman ini, Syaikh Muhammad bin Nashirudin Al-Albani rahimahullah, yang ditulis di bukunya yangbberjudul “Fi Wadaa-il ‘Alaam” (Selamat Jalan Wahai Para Ulama, pent). Syekh Yusuf Qardhawi berkata,في 2 أكتوبر 1999م الموافق 22 جُمادى الآخِرة 1420هـ، توفي المحدث الكبير الشيخ محمد ناصر الدين الألباني. ويبدو أن هذه السنة هي سنة رحيل العلماء، علماء الشرع والدين عن هذا العالم، فقد ودعنا فيها عددًا منهم، ابتداء من العلامة الشيخ عبد العزيز بن باز، والشيخ علي الطنطاوي، والشيخ مصطفى الزرقا، والشيخ مناع القطَّان، والشيخ عطية سالم، والشيخ محمد المجذوب،“Pada tanggal 2 Oktober 1999, bertepatan dengan 22 Jumadil Akhir 1420 H, ahli hadis besar Syekh Muhammad bin Nashirudin Al-Albani meninggal dunia. Tahun itu adalah tahun kepergian para ulama. Yaitu kepergian ulama syariat dan agama (Islam) dari alam dunia ini. Kami telah menyampaikan ucapan belasungkawa kepada beberapa di antara mereka.Baca Juga: Pembagian Tauhid Menurut Para Ulama Ahlussunnah (Bag. 1)Dimulai dari wafatnya Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Ali At-Thanthawi, Syekh Mushtafa Az-Zarqa, Syekh Manna’ Al-Qatthan, Syekh ‘Athiyah Salim, dan Syekh Muhammad Al-Majdzub.”وأخيرًا الشيخ محمد ناصر الدين الألباني، المحدِّث الشهير، صاحب الكتب الحديثية التي شرَّقت وغرَّبت.“Dan yang terakhir (meninggal di tahun itu) adalah Syekh Muhammad bin Nashirudin Al-Albani. Pakar hadis yang terkenal. Penulis kitab-kitab hadis yang telah tersebar ke timur dan ke barat.”كان الشيخ الألباني أحد كبار علماء الحديث في عصرنا، الذين اشتغلوا بتحقيق عدد من كتب الأحاديث وأخرجوها للناس، وألَّف كتبًا شتى،“Syekh Albani adalah salah satu dari ulama hadis senior di zaman ini, yang telah mendermakan dirinya untuk men-tahqiq sejumlah kitab hadis dan men-takhrij hadis-hadis untuk kaum muslimin. Beliau juga memiliki karya tulis bermacam-macam,”مثل (سلسلة الأحاديث الصحيحة)، و(سلسلة الأحاديث الضعيفة)، و(صحيح الجامع الصغير وزيادته)، و(ضعيف الجامع الصغير وزيادته)، وكذلك صحيح كتب السنن الأربعة، (صحيح أبي داوود) و(ضعيفه)، و(صحيح الترمذي) و(ضعيفه)، و(صحيح النسائي) و(ضعيفه)، و(صحيح ابن ماجه) و(ضعيفه). و(صحيح الترغيب والترهيب)، وإن كان لم يكمله نشرًا، ولعله عنده مخطوط.“Seperti:Silsilah Al-Ahadits As ShahihahSilsilah Al-Ahadits Ad-Dha’ifahShahih Al-Jaami’ As-Shaghir wa ZiyadatuhDan begitu juga sahih kitab-kitab sunan yang empat:Shahih Abu Dawud dan Dha’ifnyaShahih At-Tirmidzi dan Dha’ifnyaShahih An-Nasa-i dan Dha’ifnyaShahih Ibnu Majah dan Dha’ifnyaShahih At-Targhib dan At-Tarhib, meskipun versi cetaknya belum sempurna, namun barangkali beliau telah menyempurnakan dalam bentuk manuskrip.“وخدم المذهب الحنبلي بكتابه (إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل)، فقد رأى أن المذهب الحنبلي- وهو مذهب أقرب ما يكون إلى الحديث- ليس فيه كتاب تخريج للأحاديث المذكورة في كتب فقهه، فالحنفية عندهم (نصب الراية لأحاديث الهداية)، والشافعية عندهم (تلخيص الحبير لتخريج حديث شرح الرافعي الكبير)، والمالكية عندهم تخريجات الموطأ، والحنابلة ليس عندهم، فاعتمد أن يخرِّج كتاب (منار السبيل)، وأخرجه في ثمانية أجزاء.وكذا أخرج (مختصر صحيح مسلم)، و(مشكاة المصابيح)، و(السنة لابن أبي عاصم).. وغيرها من الكتب.“Syekh Albani juga memiliki andil di dalam literasi mazhab Hambali melalui kitab karyanya ‘Irwa’ul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manar As-Sabil’ (takhrij untuk hadis-hadis yang ada di kitab Manar As-Sabil; kitab fikih penting dalam mazhab Hambali, pent).Baca Juga: Fatwa Ulama: Pengertian “Wajib Salat”Beliau memandang bahwa mazhab Hambali adalah mazhab yang paling dekat dengan hadis. Namun, belum memiliki kitab takhrij untuk hadis-hadis yang ada pada kitab-kitab fikihnya.Kalau di mazhab Hanafi sudah ada ‘Nashbur Royah Li Ahadits Al-Hidayah’.Mazhab Syafi’i ada ‘Talkhis Al-Habir Li Takhrij Hadits Syarah Ar-Rofi’i Al-Kabir’.Mazhab Maliki juga punya kitab-kitab takhrij untuk kitab Al-Muwattha’.Hal inilah yang mendorong Syaikh Albani memilih kitab “Manar As-Sabil” untuk ditakhrij hadis-hadisnya, lalu menjadi karya tulis setebal delapan jilid.Beliau juga men-takhrij kitab Mukhtashar Shahih Muslim, Misykatul Mashabih dan As-Sunnah karya Ibnu Abi Ashim, dan kitab-kitab lainnya.“Selesai nukilan.Semoga Allah merahmati Syekh Albani dengan rahmat yang luas.Baca Juga:Fatwa Ulama: Ketika Ragu Apakah Terlupa Salah Satu Rukun SalatKekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam Keikhlasan***Penulis : Ahmad AnshoriArtikel: www.muslim.or.id🔍 Sampaikanlah Walau Satu Ayat, Penyakit 'ain Adalah, Minum Kencing Unta, Cara Ruqyah Rumah, Azab Wanita PembohongTags: Aqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamfatwaFatwa UlamaManhajmanhaj salafsyaikh albanisyaikh yusuf qardhawiulama salaf


Bismillahirrahmanirrahim.Ada satu pesan yang dititipkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk umat ini. Yaitu, pesan untuk membela kehormatan saudara sesama muslim saat kehormatannya direndahkan. Dalam hadis dari sahabat Abu Darda’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخيهِ كانَ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ“Siapa yang membela kehormatan saudaranya, maka dia akan memiliki pelindung dari siksa api neraka.” (HR. Ibnu Asakir, Syekh Albani menilai sanadnya laa ba’sa bihi, dan memiliki banyak penguat. Lihat Ghoyatul Murom)Jika demikian penting dan besarnya pahala membela kehormatan saudara sesama muslim, bagaimana jika yang kita bela bukan sembarang orang, yaitu ulama yang memiliki jasa besar terhadap Islam dan kaum muslimin?! Sungguh membela mereka adalah membela agama. Membela mereka adalah kewajiban bagi kaum muslimin.Tidak perlu berpanjang lebar, berangkat dari kecemburuan saat Syekh Albani rahimahullah direndahkan. Berikut kami nukilkan ungkapan pujian Syekh Yusuf Al-Qardhawi kepada ahli hadis di zaman ini, Syaikh Muhammad bin Nashirudin Al-Albani rahimahullah, yang ditulis di bukunya yangbberjudul “Fi Wadaa-il ‘Alaam” (Selamat Jalan Wahai Para Ulama, pent). Syekh Yusuf Qardhawi berkata,في 2 أكتوبر 1999م الموافق 22 جُمادى الآخِرة 1420هـ، توفي المحدث الكبير الشيخ محمد ناصر الدين الألباني. ويبدو أن هذه السنة هي سنة رحيل العلماء، علماء الشرع والدين عن هذا العالم، فقد ودعنا فيها عددًا منهم، ابتداء من العلامة الشيخ عبد العزيز بن باز، والشيخ علي الطنطاوي، والشيخ مصطفى الزرقا، والشيخ مناع القطَّان، والشيخ عطية سالم، والشيخ محمد المجذوب،“Pada tanggal 2 Oktober 1999, bertepatan dengan 22 Jumadil Akhir 1420 H, ahli hadis besar Syekh Muhammad bin Nashirudin Al-Albani meninggal dunia. Tahun itu adalah tahun kepergian para ulama. Yaitu kepergian ulama syariat dan agama (Islam) dari alam dunia ini. Kami telah menyampaikan ucapan belasungkawa kepada beberapa di antara mereka.Baca Juga: Pembagian Tauhid Menurut Para Ulama Ahlussunnah (Bag. 1)Dimulai dari wafatnya Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Ali At-Thanthawi, Syekh Mushtafa Az-Zarqa, Syekh Manna’ Al-Qatthan, Syekh ‘Athiyah Salim, dan Syekh Muhammad Al-Majdzub.”وأخيرًا الشيخ محمد ناصر الدين الألباني، المحدِّث الشهير، صاحب الكتب الحديثية التي شرَّقت وغرَّبت.“Dan yang terakhir (meninggal di tahun itu) adalah Syekh Muhammad bin Nashirudin Al-Albani. Pakar hadis yang terkenal. Penulis kitab-kitab hadis yang telah tersebar ke timur dan ke barat.”كان الشيخ الألباني أحد كبار علماء الحديث في عصرنا، الذين اشتغلوا بتحقيق عدد من كتب الأحاديث وأخرجوها للناس، وألَّف كتبًا شتى،“Syekh Albani adalah salah satu dari ulama hadis senior di zaman ini, yang telah mendermakan dirinya untuk men-tahqiq sejumlah kitab hadis dan men-takhrij hadis-hadis untuk kaum muslimin. Beliau juga memiliki karya tulis bermacam-macam,”مثل (سلسلة الأحاديث الصحيحة)، و(سلسلة الأحاديث الضعيفة)، و(صحيح الجامع الصغير وزيادته)، و(ضعيف الجامع الصغير وزيادته)، وكذلك صحيح كتب السنن الأربعة، (صحيح أبي داوود) و(ضعيفه)، و(صحيح الترمذي) و(ضعيفه)، و(صحيح النسائي) و(ضعيفه)، و(صحيح ابن ماجه) و(ضعيفه). و(صحيح الترغيب والترهيب)، وإن كان لم يكمله نشرًا، ولعله عنده مخطوط.“Seperti:Silsilah Al-Ahadits As ShahihahSilsilah Al-Ahadits Ad-Dha’ifahShahih Al-Jaami’ As-Shaghir wa ZiyadatuhDan begitu juga sahih kitab-kitab sunan yang empat:Shahih Abu Dawud dan Dha’ifnyaShahih At-Tirmidzi dan Dha’ifnyaShahih An-Nasa-i dan Dha’ifnyaShahih Ibnu Majah dan Dha’ifnyaShahih At-Targhib dan At-Tarhib, meskipun versi cetaknya belum sempurna, namun barangkali beliau telah menyempurnakan dalam bentuk manuskrip.“وخدم المذهب الحنبلي بكتابه (إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل)، فقد رأى أن المذهب الحنبلي- وهو مذهب أقرب ما يكون إلى الحديث- ليس فيه كتاب تخريج للأحاديث المذكورة في كتب فقهه، فالحنفية عندهم (نصب الراية لأحاديث الهداية)، والشافعية عندهم (تلخيص الحبير لتخريج حديث شرح الرافعي الكبير)، والمالكية عندهم تخريجات الموطأ، والحنابلة ليس عندهم، فاعتمد أن يخرِّج كتاب (منار السبيل)، وأخرجه في ثمانية أجزاء.وكذا أخرج (مختصر صحيح مسلم)، و(مشكاة المصابيح)، و(السنة لابن أبي عاصم).. وغيرها من الكتب.“Syekh Albani juga memiliki andil di dalam literasi mazhab Hambali melalui kitab karyanya ‘Irwa’ul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manar As-Sabil’ (takhrij untuk hadis-hadis yang ada di kitab Manar As-Sabil; kitab fikih penting dalam mazhab Hambali, pent).Baca Juga: Fatwa Ulama: Pengertian “Wajib Salat”Beliau memandang bahwa mazhab Hambali adalah mazhab yang paling dekat dengan hadis. Namun, belum memiliki kitab takhrij untuk hadis-hadis yang ada pada kitab-kitab fikihnya.Kalau di mazhab Hanafi sudah ada ‘Nashbur Royah Li Ahadits Al-Hidayah’.Mazhab Syafi’i ada ‘Talkhis Al-Habir Li Takhrij Hadits Syarah Ar-Rofi’i Al-Kabir’.Mazhab Maliki juga punya kitab-kitab takhrij untuk kitab Al-Muwattha’.Hal inilah yang mendorong Syaikh Albani memilih kitab “Manar As-Sabil” untuk ditakhrij hadis-hadisnya, lalu menjadi karya tulis setebal delapan jilid.Beliau juga men-takhrij kitab Mukhtashar Shahih Muslim, Misykatul Mashabih dan As-Sunnah karya Ibnu Abi Ashim, dan kitab-kitab lainnya.“Selesai nukilan.Semoga Allah merahmati Syekh Albani dengan rahmat yang luas.Baca Juga:Fatwa Ulama: Ketika Ragu Apakah Terlupa Salah Satu Rukun SalatKekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam Keikhlasan***Penulis : Ahmad AnshoriArtikel: www.muslim.or.id🔍 Sampaikanlah Walau Satu Ayat, Penyakit 'ain Adalah, Minum Kencing Unta, Cara Ruqyah Rumah, Azab Wanita PembohongTags: Aqidahaqidah ahlussunnahaqidah islamfatwaFatwa UlamaManhajmanhaj salafsyaikh albanisyaikh yusuf qardhawiulama salaf

Teks Khotbah Jumat: Pelajaran Penting dari Kisah Ashabul Kahfi

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Ada satu kisah fenomenal yang Allah Ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an. Kisah yang selalu diceritakan dari generasi ke generasi kaum muslimin. Kisah yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh akidah yang kuat dalam membendung gempuran nafsu syahwat dan syubhat pada diri seseorang. Sehingga dengan tauhid, semakin fokus dan ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.Kisah para pemuda yang yang sedang dalam puncak-puncak keremajaan, para pemuda yang gelora syahwatnya dan rasa ingin tahunya masih menyala-nyala. Dengan kondisi seperti itu, mereka justru berpaling dari dunia yang penuh tipuan ini. Padahal di zaman tersebut, kemaksiatan merajalela dan kesyirikan mengakar kuat, sampai-sampai pelaku kemaksiatan dan kesyirikan itu selalu memaksa manusia lainnya untuk ikut serta tenggelam dalam kemaksiatan sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka.” (QS. Al-Kahfi: 20)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, kisah tersebut adalah kisah Ashabul Kahfi, pemuda-pemuda penghuni gua yang Allah angkat derajatnya, para pemuda yang sangat yakin bahwa Allah Ta’ala akan senantiasa menjaga mereka selama mereka menjaga tauhid dan keimanan.Para pemuda yang Allah jadikan kisah mereka sebagai kisah permisalan dalam hal keimanan, kisah yang sangat dibutuhkan oleh setiap pemuda muslim untuk dijadikan lentera petunjuk dalam menghadapi krisis iman. Di dalam kisah ini, terkandung banyak sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diraih oleh pendengarnya.Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Pelajaran pertama dan paling utama dari kisah Ashabul Kahfi adalah pentingnya mempelajari dan mengamalkan tauhid dengan benar. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memulai kisah mereka ini dengan menyebutkan bagaimana tingginya kualitas tauhid mereka. Allah Ta’ala berfirman,نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ * وَّرَبَطْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اِذْ قَامُوْا فَقَالُوْا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَنْ نَّدْعُوَا۟ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلٰهًا لَّقَدْ قُلْنَآ اِذًا شَطَطًا“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.” (QS. Al-Kahfi: 13-14)Baca Juga: Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan Pelajaran selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi: 10)Para pemuda tersebut mengajarkan akan pentingnya senjata doa bagi orang-orang saleh dan para pendakwah. Para pemuda penghuni gua ini berdoa meminta dua perkara yang sangat penting, yaitu: rahmat kasih sayang Allah Ta’ala, serta petunjuk Allah bagi mereka. Dua perkara yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang saleh dan para pendakwah di saat menghadapi cobaan dan ujian. Dua perkara yang menjadi senjata di saat fitnah dan perpecahan sedang terjadi.Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Di antara faedah lainnya adalah Allah Ta’ala menyematkan sifat ‘muda’ untuk para penghuni gua tersebut, sebagai bentuk pujian kepada mereka dan menunjukkan betapa mulianya masa muda bagi seseorang.Masa muda, jika dimanfaatkan untuk kebaikan seperti hidup berdampingan dengan Al-Qur’an atau menyibukkan diri dengan ibadah dan amal, maka balasannya pada hari kiamat adalah mendapatkan naungan Allah Ta’ala. Pada hari tersebut, tidak ada yang dapat menaungi seorang pun, kecuali Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إلَّا ظِلُّهُ (منها): وشَابٌّ نَشَأَ في عِبَادَةِ رَبِّهِ“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Ta’ala pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya. Di antaranya: seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)Sungguh merupakan kemuliaan bagi setiap pemuda yang menjaga masa mudanya, menghabiskannya untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Terlebih lagi jika dia hidup di zaman dan lingkungan yang tersebar di dalamnya fitnah syubhat dan syahwat. Sungguh merupakan karunia Allah Ta’ala dan hidayah-Nya apabila ada seorang pemuda yang mampu menjaga dirinya dari terjangan ombak fitnah ini.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga pemuda-pemuda kaum muslimin, anak-anak kita, generasi penerus kita dari terjatuh ke dalam jurang fitnah, menjaga mereka dari kesyirikan, kemaksiatan, dan hal-hal yang tidak bermanfaat. Semoga Allah jadikan para pemuda kaum muslimin saat ini memiliki keimanan layaknya para pemuda di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.أقُولُ قَوْلي هَذَا  وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca Juga: Kisah-Kisah Peringatan Tuk Penghina NabiKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,Allah Ta’ala berfirman,وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)Begitu lengkapnya Al-Qur’an ini, sampai-sampai di dalam kisah Ashabul Kahfi ini terdapat penjelasan penting yang berhubungan dengan ilmu kedokteran. Allah Ta’ala berfirman,وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ“Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (QS. Al-Kahfi: 18)Ayat ini menjelaskan pentingnya membolak-balikkan posisi orang sakit yang sudah tidak bisa bergerak dan hanya diam di kasur saja. Hikmahnya, agar zat garam yang terkandung dalam tubuh orang sakit tersebut tidak mengendap di satu sisi saja, karena itu akan menyebabkan penggerusan dan pembusukan. Para ahli medis menjelaskan bahwa apabila kebusukan itu terjadi, maka itu termasuk cedera dan penyakit yang sulit untuk diobati.Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Di ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَكَذٰلِكَ بَعَثْنٰهُمْ لِيَتَسَاۤءَلُوْا بَيْنَهُمْۗ قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْۗ قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالُوْا رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْۗ فَابْعَثُوْٓا اَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هٰذِهٖٓ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فَلْيَنْظُرْ اَيُّهَآ اَزْكٰى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِّنْهُ “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?’ Mereka menjawab, ‘Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.’ Berkata (yang lain lagi), ‘Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu.’” (QS. Al-Kahfi: 19)Lihatlah bagaimana para penghuni gua tersebut! Mereka lebih mendahulukan urusan yang penting dan urgen daripada urusan lainnya yang tidak penting. Mereka tinggalkan perdebatan yang tiada habisnya dan mendahulukan mencari makanan di saat merasakan kelaparan. Ayat ini juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menjaga skala prioritas dalam bertindak, tidak mudah terkecoh dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak mengandung kebaikan.Pelajaran selanjutnya yang bisa kita ambil adalah wajibnya berbuat baik dan berlemah lembut di dalam kehidupan, menyambung silaturahmi, dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini sebagaimana perkataan salah satu penghuni gua tersebut,وَلْيَتَلَطَّفْ“Dan hendaklah dia berlaku lemah lembut.”Jemaah yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Dalam kisah Ashabul Kahfi ini ada satu poin penting yang harus kita ingatkan.Sebagian dari mereka yang sangat lemah akidah dan hidayahnya menjadikan firman Allah Ta’ala,قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا“Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, ‘Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya.’” (QS. Al-Kahfi: 21)Sebagai dalil bolehnya membangun masjid di atas kuburan orang-orang saleh!Ini jelas keliru, karena ayat di atas sedang menceritakan perkataan seorang pembesar dan penguasa di zaman tersebut, yang seringnya orang-orang semacam ini merupakan orang yang jahil, orang yang tidak mengetahui agama Islam dengan baik. Mereka menginginkan agar perbuatan mereka tersebut dapat mengabadikan peristiwa ajaib yang dialami oleh para pemuda penghuni gua.Padahal telah jelas bahwa perbuatan semacam ini dalam syariat kita hukumnya haram. Bahkan, pelakunya mendapatkan laknat dari Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,لَعَنَ اللَّهُ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Allah melaknat Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari no. 1390 dan Muslim no. 529)Lihat juga bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala diceritakan kepada beliau gereja-gereja yang terdapat di negeri Ethiopia, di mana di dalamnya terdapat patung-patung. Beliau bersabda,إنَّ أُولَئِكَ إذَا كانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا علَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وصَوَّرُوا فيه تِلكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَومَ القِيَامَةِ“Sesungguhnya mereka, jika orang saleh dari mereka meninggal, maka mereka mendirikan masjid (tempat ibadah) di atas kuburannya dan membuat patungnya di sana. Maka, mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 427)Sungguh beruntung bagi setiap mukmin yang bisa mengambil faedah dan pelajaran dari setiap ayat yang dia baca dan dia dengar. Karena inilah salah satu kewajiban kita terhadap Al-Qur’an yang mulia ini.Ya Allah, jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang senantiasa mengingat-Mu, hamba-Mu yang selalu meresapi dan merenungi setiap ayat dari Al-Qur’an yang telah Engkau turunkan, mengambil pelajaran darinya, dan mengamalkannya di setiap detik kehidupan.اللهم إنا نعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجالفَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Salah Kaprah Kisah Pelacur yang Masuk SurgaKisah Seorang Ulama dan Penggembala Unta***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Iman Kepada Malaikat, Apakah Tauhid Itu, Apa Itu Fasik, Gambar Hewan Halal Dan Haram, Pengertian Doa Dan DzikirTags: ashabul kahfikhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatkisah ashabul kahfimateri khutbah jumatnasihatnasihat islamteks khutbah jumattema khutbah jumat

Teks Khotbah Jumat: Pelajaran Penting dari Kisah Ashabul Kahfi

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Ada satu kisah fenomenal yang Allah Ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an. Kisah yang selalu diceritakan dari generasi ke generasi kaum muslimin. Kisah yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh akidah yang kuat dalam membendung gempuran nafsu syahwat dan syubhat pada diri seseorang. Sehingga dengan tauhid, semakin fokus dan ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.Kisah para pemuda yang yang sedang dalam puncak-puncak keremajaan, para pemuda yang gelora syahwatnya dan rasa ingin tahunya masih menyala-nyala. Dengan kondisi seperti itu, mereka justru berpaling dari dunia yang penuh tipuan ini. Padahal di zaman tersebut, kemaksiatan merajalela dan kesyirikan mengakar kuat, sampai-sampai pelaku kemaksiatan dan kesyirikan itu selalu memaksa manusia lainnya untuk ikut serta tenggelam dalam kemaksiatan sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka.” (QS. Al-Kahfi: 20)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, kisah tersebut adalah kisah Ashabul Kahfi, pemuda-pemuda penghuni gua yang Allah angkat derajatnya, para pemuda yang sangat yakin bahwa Allah Ta’ala akan senantiasa menjaga mereka selama mereka menjaga tauhid dan keimanan.Para pemuda yang Allah jadikan kisah mereka sebagai kisah permisalan dalam hal keimanan, kisah yang sangat dibutuhkan oleh setiap pemuda muslim untuk dijadikan lentera petunjuk dalam menghadapi krisis iman. Di dalam kisah ini, terkandung banyak sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diraih oleh pendengarnya.Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Pelajaran pertama dan paling utama dari kisah Ashabul Kahfi adalah pentingnya mempelajari dan mengamalkan tauhid dengan benar. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memulai kisah mereka ini dengan menyebutkan bagaimana tingginya kualitas tauhid mereka. Allah Ta’ala berfirman,نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ * وَّرَبَطْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اِذْ قَامُوْا فَقَالُوْا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَنْ نَّدْعُوَا۟ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلٰهًا لَّقَدْ قُلْنَآ اِذًا شَطَطًا“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.” (QS. Al-Kahfi: 13-14)Baca Juga: Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan Pelajaran selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi: 10)Para pemuda tersebut mengajarkan akan pentingnya senjata doa bagi orang-orang saleh dan para pendakwah. Para pemuda penghuni gua ini berdoa meminta dua perkara yang sangat penting, yaitu: rahmat kasih sayang Allah Ta’ala, serta petunjuk Allah bagi mereka. Dua perkara yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang saleh dan para pendakwah di saat menghadapi cobaan dan ujian. Dua perkara yang menjadi senjata di saat fitnah dan perpecahan sedang terjadi.Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Di antara faedah lainnya adalah Allah Ta’ala menyematkan sifat ‘muda’ untuk para penghuni gua tersebut, sebagai bentuk pujian kepada mereka dan menunjukkan betapa mulianya masa muda bagi seseorang.Masa muda, jika dimanfaatkan untuk kebaikan seperti hidup berdampingan dengan Al-Qur’an atau menyibukkan diri dengan ibadah dan amal, maka balasannya pada hari kiamat adalah mendapatkan naungan Allah Ta’ala. Pada hari tersebut, tidak ada yang dapat menaungi seorang pun, kecuali Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إلَّا ظِلُّهُ (منها): وشَابٌّ نَشَأَ في عِبَادَةِ رَبِّهِ“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Ta’ala pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya. Di antaranya: seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)Sungguh merupakan kemuliaan bagi setiap pemuda yang menjaga masa mudanya, menghabiskannya untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Terlebih lagi jika dia hidup di zaman dan lingkungan yang tersebar di dalamnya fitnah syubhat dan syahwat. Sungguh merupakan karunia Allah Ta’ala dan hidayah-Nya apabila ada seorang pemuda yang mampu menjaga dirinya dari terjangan ombak fitnah ini.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga pemuda-pemuda kaum muslimin, anak-anak kita, generasi penerus kita dari terjatuh ke dalam jurang fitnah, menjaga mereka dari kesyirikan, kemaksiatan, dan hal-hal yang tidak bermanfaat. Semoga Allah jadikan para pemuda kaum muslimin saat ini memiliki keimanan layaknya para pemuda di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.أقُولُ قَوْلي هَذَا  وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca Juga: Kisah-Kisah Peringatan Tuk Penghina NabiKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,Allah Ta’ala berfirman,وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)Begitu lengkapnya Al-Qur’an ini, sampai-sampai di dalam kisah Ashabul Kahfi ini terdapat penjelasan penting yang berhubungan dengan ilmu kedokteran. Allah Ta’ala berfirman,وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ“Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (QS. Al-Kahfi: 18)Ayat ini menjelaskan pentingnya membolak-balikkan posisi orang sakit yang sudah tidak bisa bergerak dan hanya diam di kasur saja. Hikmahnya, agar zat garam yang terkandung dalam tubuh orang sakit tersebut tidak mengendap di satu sisi saja, karena itu akan menyebabkan penggerusan dan pembusukan. Para ahli medis menjelaskan bahwa apabila kebusukan itu terjadi, maka itu termasuk cedera dan penyakit yang sulit untuk diobati.Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Di ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَكَذٰلِكَ بَعَثْنٰهُمْ لِيَتَسَاۤءَلُوْا بَيْنَهُمْۗ قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْۗ قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالُوْا رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْۗ فَابْعَثُوْٓا اَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هٰذِهٖٓ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فَلْيَنْظُرْ اَيُّهَآ اَزْكٰى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِّنْهُ “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?’ Mereka menjawab, ‘Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.’ Berkata (yang lain lagi), ‘Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu.’” (QS. Al-Kahfi: 19)Lihatlah bagaimana para penghuni gua tersebut! Mereka lebih mendahulukan urusan yang penting dan urgen daripada urusan lainnya yang tidak penting. Mereka tinggalkan perdebatan yang tiada habisnya dan mendahulukan mencari makanan di saat merasakan kelaparan. Ayat ini juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menjaga skala prioritas dalam bertindak, tidak mudah terkecoh dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak mengandung kebaikan.Pelajaran selanjutnya yang bisa kita ambil adalah wajibnya berbuat baik dan berlemah lembut di dalam kehidupan, menyambung silaturahmi, dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini sebagaimana perkataan salah satu penghuni gua tersebut,وَلْيَتَلَطَّفْ“Dan hendaklah dia berlaku lemah lembut.”Jemaah yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Dalam kisah Ashabul Kahfi ini ada satu poin penting yang harus kita ingatkan.Sebagian dari mereka yang sangat lemah akidah dan hidayahnya menjadikan firman Allah Ta’ala,قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا“Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, ‘Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya.’” (QS. Al-Kahfi: 21)Sebagai dalil bolehnya membangun masjid di atas kuburan orang-orang saleh!Ini jelas keliru, karena ayat di atas sedang menceritakan perkataan seorang pembesar dan penguasa di zaman tersebut, yang seringnya orang-orang semacam ini merupakan orang yang jahil, orang yang tidak mengetahui agama Islam dengan baik. Mereka menginginkan agar perbuatan mereka tersebut dapat mengabadikan peristiwa ajaib yang dialami oleh para pemuda penghuni gua.Padahal telah jelas bahwa perbuatan semacam ini dalam syariat kita hukumnya haram. Bahkan, pelakunya mendapatkan laknat dari Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,لَعَنَ اللَّهُ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Allah melaknat Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari no. 1390 dan Muslim no. 529)Lihat juga bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala diceritakan kepada beliau gereja-gereja yang terdapat di negeri Ethiopia, di mana di dalamnya terdapat patung-patung. Beliau bersabda,إنَّ أُولَئِكَ إذَا كانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا علَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وصَوَّرُوا فيه تِلكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَومَ القِيَامَةِ“Sesungguhnya mereka, jika orang saleh dari mereka meninggal, maka mereka mendirikan masjid (tempat ibadah) di atas kuburannya dan membuat patungnya di sana. Maka, mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 427)Sungguh beruntung bagi setiap mukmin yang bisa mengambil faedah dan pelajaran dari setiap ayat yang dia baca dan dia dengar. Karena inilah salah satu kewajiban kita terhadap Al-Qur’an yang mulia ini.Ya Allah, jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang senantiasa mengingat-Mu, hamba-Mu yang selalu meresapi dan merenungi setiap ayat dari Al-Qur’an yang telah Engkau turunkan, mengambil pelajaran darinya, dan mengamalkannya di setiap detik kehidupan.اللهم إنا نعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجالفَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Salah Kaprah Kisah Pelacur yang Masuk SurgaKisah Seorang Ulama dan Penggembala Unta***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Iman Kepada Malaikat, Apakah Tauhid Itu, Apa Itu Fasik, Gambar Hewan Halal Dan Haram, Pengertian Doa Dan DzikirTags: ashabul kahfikhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatkisah ashabul kahfimateri khutbah jumatnasihatnasihat islamteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Ada satu kisah fenomenal yang Allah Ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an. Kisah yang selalu diceritakan dari generasi ke generasi kaum muslimin. Kisah yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh akidah yang kuat dalam membendung gempuran nafsu syahwat dan syubhat pada diri seseorang. Sehingga dengan tauhid, semakin fokus dan ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.Kisah para pemuda yang yang sedang dalam puncak-puncak keremajaan, para pemuda yang gelora syahwatnya dan rasa ingin tahunya masih menyala-nyala. Dengan kondisi seperti itu, mereka justru berpaling dari dunia yang penuh tipuan ini. Padahal di zaman tersebut, kemaksiatan merajalela dan kesyirikan mengakar kuat, sampai-sampai pelaku kemaksiatan dan kesyirikan itu selalu memaksa manusia lainnya untuk ikut serta tenggelam dalam kemaksiatan sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka.” (QS. Al-Kahfi: 20)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, kisah tersebut adalah kisah Ashabul Kahfi, pemuda-pemuda penghuni gua yang Allah angkat derajatnya, para pemuda yang sangat yakin bahwa Allah Ta’ala akan senantiasa menjaga mereka selama mereka menjaga tauhid dan keimanan.Para pemuda yang Allah jadikan kisah mereka sebagai kisah permisalan dalam hal keimanan, kisah yang sangat dibutuhkan oleh setiap pemuda muslim untuk dijadikan lentera petunjuk dalam menghadapi krisis iman. Di dalam kisah ini, terkandung banyak sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diraih oleh pendengarnya.Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Pelajaran pertama dan paling utama dari kisah Ashabul Kahfi adalah pentingnya mempelajari dan mengamalkan tauhid dengan benar. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memulai kisah mereka ini dengan menyebutkan bagaimana tingginya kualitas tauhid mereka. Allah Ta’ala berfirman,نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ * وَّرَبَطْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اِذْ قَامُوْا فَقَالُوْا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَنْ نَّدْعُوَا۟ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلٰهًا لَّقَدْ قُلْنَآ اِذًا شَطَطًا“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.” (QS. Al-Kahfi: 13-14)Baca Juga: Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan Pelajaran selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi: 10)Para pemuda tersebut mengajarkan akan pentingnya senjata doa bagi orang-orang saleh dan para pendakwah. Para pemuda penghuni gua ini berdoa meminta dua perkara yang sangat penting, yaitu: rahmat kasih sayang Allah Ta’ala, serta petunjuk Allah bagi mereka. Dua perkara yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang saleh dan para pendakwah di saat menghadapi cobaan dan ujian. Dua perkara yang menjadi senjata di saat fitnah dan perpecahan sedang terjadi.Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Di antara faedah lainnya adalah Allah Ta’ala menyematkan sifat ‘muda’ untuk para penghuni gua tersebut, sebagai bentuk pujian kepada mereka dan menunjukkan betapa mulianya masa muda bagi seseorang.Masa muda, jika dimanfaatkan untuk kebaikan seperti hidup berdampingan dengan Al-Qur’an atau menyibukkan diri dengan ibadah dan amal, maka balasannya pada hari kiamat adalah mendapatkan naungan Allah Ta’ala. Pada hari tersebut, tidak ada yang dapat menaungi seorang pun, kecuali Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إلَّا ظِلُّهُ (منها): وشَابٌّ نَشَأَ في عِبَادَةِ رَبِّهِ“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Ta’ala pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya. Di antaranya: seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)Sungguh merupakan kemuliaan bagi setiap pemuda yang menjaga masa mudanya, menghabiskannya untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Terlebih lagi jika dia hidup di zaman dan lingkungan yang tersebar di dalamnya fitnah syubhat dan syahwat. Sungguh merupakan karunia Allah Ta’ala dan hidayah-Nya apabila ada seorang pemuda yang mampu menjaga dirinya dari terjangan ombak fitnah ini.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga pemuda-pemuda kaum muslimin, anak-anak kita, generasi penerus kita dari terjatuh ke dalam jurang fitnah, menjaga mereka dari kesyirikan, kemaksiatan, dan hal-hal yang tidak bermanfaat. Semoga Allah jadikan para pemuda kaum muslimin saat ini memiliki keimanan layaknya para pemuda di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.أقُولُ قَوْلي هَذَا  وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca Juga: Kisah-Kisah Peringatan Tuk Penghina NabiKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,Allah Ta’ala berfirman,وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)Begitu lengkapnya Al-Qur’an ini, sampai-sampai di dalam kisah Ashabul Kahfi ini terdapat penjelasan penting yang berhubungan dengan ilmu kedokteran. Allah Ta’ala berfirman,وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ“Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (QS. Al-Kahfi: 18)Ayat ini menjelaskan pentingnya membolak-balikkan posisi orang sakit yang sudah tidak bisa bergerak dan hanya diam di kasur saja. Hikmahnya, agar zat garam yang terkandung dalam tubuh orang sakit tersebut tidak mengendap di satu sisi saja, karena itu akan menyebabkan penggerusan dan pembusukan. Para ahli medis menjelaskan bahwa apabila kebusukan itu terjadi, maka itu termasuk cedera dan penyakit yang sulit untuk diobati.Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Di ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَكَذٰلِكَ بَعَثْنٰهُمْ لِيَتَسَاۤءَلُوْا بَيْنَهُمْۗ قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْۗ قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالُوْا رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْۗ فَابْعَثُوْٓا اَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هٰذِهٖٓ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فَلْيَنْظُرْ اَيُّهَآ اَزْكٰى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِّنْهُ “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?’ Mereka menjawab, ‘Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.’ Berkata (yang lain lagi), ‘Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu.’” (QS. Al-Kahfi: 19)Lihatlah bagaimana para penghuni gua tersebut! Mereka lebih mendahulukan urusan yang penting dan urgen daripada urusan lainnya yang tidak penting. Mereka tinggalkan perdebatan yang tiada habisnya dan mendahulukan mencari makanan di saat merasakan kelaparan. Ayat ini juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menjaga skala prioritas dalam bertindak, tidak mudah terkecoh dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak mengandung kebaikan.Pelajaran selanjutnya yang bisa kita ambil adalah wajibnya berbuat baik dan berlemah lembut di dalam kehidupan, menyambung silaturahmi, dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini sebagaimana perkataan salah satu penghuni gua tersebut,وَلْيَتَلَطَّفْ“Dan hendaklah dia berlaku lemah lembut.”Jemaah yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Dalam kisah Ashabul Kahfi ini ada satu poin penting yang harus kita ingatkan.Sebagian dari mereka yang sangat lemah akidah dan hidayahnya menjadikan firman Allah Ta’ala,قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا“Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, ‘Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya.’” (QS. Al-Kahfi: 21)Sebagai dalil bolehnya membangun masjid di atas kuburan orang-orang saleh!Ini jelas keliru, karena ayat di atas sedang menceritakan perkataan seorang pembesar dan penguasa di zaman tersebut, yang seringnya orang-orang semacam ini merupakan orang yang jahil, orang yang tidak mengetahui agama Islam dengan baik. Mereka menginginkan agar perbuatan mereka tersebut dapat mengabadikan peristiwa ajaib yang dialami oleh para pemuda penghuni gua.Padahal telah jelas bahwa perbuatan semacam ini dalam syariat kita hukumnya haram. Bahkan, pelakunya mendapatkan laknat dari Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,لَعَنَ اللَّهُ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Allah melaknat Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari no. 1390 dan Muslim no. 529)Lihat juga bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala diceritakan kepada beliau gereja-gereja yang terdapat di negeri Ethiopia, di mana di dalamnya terdapat patung-patung. Beliau bersabda,إنَّ أُولَئِكَ إذَا كانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا علَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وصَوَّرُوا فيه تِلكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَومَ القِيَامَةِ“Sesungguhnya mereka, jika orang saleh dari mereka meninggal, maka mereka mendirikan masjid (tempat ibadah) di atas kuburannya dan membuat patungnya di sana. Maka, mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 427)Sungguh beruntung bagi setiap mukmin yang bisa mengambil faedah dan pelajaran dari setiap ayat yang dia baca dan dia dengar. Karena inilah salah satu kewajiban kita terhadap Al-Qur’an yang mulia ini.Ya Allah, jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang senantiasa mengingat-Mu, hamba-Mu yang selalu meresapi dan merenungi setiap ayat dari Al-Qur’an yang telah Engkau turunkan, mengambil pelajaran darinya, dan mengamalkannya di setiap detik kehidupan.اللهم إنا نعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجالفَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Salah Kaprah Kisah Pelacur yang Masuk SurgaKisah Seorang Ulama dan Penggembala Unta***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Iman Kepada Malaikat, Apakah Tauhid Itu, Apa Itu Fasik, Gambar Hewan Halal Dan Haram, Pengertian Doa Dan DzikirTags: ashabul kahfikhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatkisah ashabul kahfimateri khutbah jumatnasihatnasihat islamteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Ada satu kisah fenomenal yang Allah Ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an. Kisah yang selalu diceritakan dari generasi ke generasi kaum muslimin. Kisah yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh akidah yang kuat dalam membendung gempuran nafsu syahwat dan syubhat pada diri seseorang. Sehingga dengan tauhid, semakin fokus dan ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.Kisah para pemuda yang yang sedang dalam puncak-puncak keremajaan, para pemuda yang gelora syahwatnya dan rasa ingin tahunya masih menyala-nyala. Dengan kondisi seperti itu, mereka justru berpaling dari dunia yang penuh tipuan ini. Padahal di zaman tersebut, kemaksiatan merajalela dan kesyirikan mengakar kuat, sampai-sampai pelaku kemaksiatan dan kesyirikan itu selalu memaksa manusia lainnya untuk ikut serta tenggelam dalam kemaksiatan sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka.” (QS. Al-Kahfi: 20)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, kisah tersebut adalah kisah Ashabul Kahfi, pemuda-pemuda penghuni gua yang Allah angkat derajatnya, para pemuda yang sangat yakin bahwa Allah Ta’ala akan senantiasa menjaga mereka selama mereka menjaga tauhid dan keimanan.Para pemuda yang Allah jadikan kisah mereka sebagai kisah permisalan dalam hal keimanan, kisah yang sangat dibutuhkan oleh setiap pemuda muslim untuk dijadikan lentera petunjuk dalam menghadapi krisis iman. Di dalam kisah ini, terkandung banyak sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diraih oleh pendengarnya.Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Pelajaran pertama dan paling utama dari kisah Ashabul Kahfi adalah pentingnya mempelajari dan mengamalkan tauhid dengan benar. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memulai kisah mereka ini dengan menyebutkan bagaimana tingginya kualitas tauhid mereka. Allah Ta’ala berfirman,نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ * وَّرَبَطْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اِذْ قَامُوْا فَقَالُوْا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَنْ نَّدْعُوَا۟ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلٰهًا لَّقَدْ قُلْنَآ اِذًا شَطَطًا“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.” (QS. Al-Kahfi: 13-14)Baca Juga: Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan Pelajaran selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi: 10)Para pemuda tersebut mengajarkan akan pentingnya senjata doa bagi orang-orang saleh dan para pendakwah. Para pemuda penghuni gua ini berdoa meminta dua perkara yang sangat penting, yaitu: rahmat kasih sayang Allah Ta’ala, serta petunjuk Allah bagi mereka. Dua perkara yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang saleh dan para pendakwah di saat menghadapi cobaan dan ujian. Dua perkara yang menjadi senjata di saat fitnah dan perpecahan sedang terjadi.Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Di antara faedah lainnya adalah Allah Ta’ala menyematkan sifat ‘muda’ untuk para penghuni gua tersebut, sebagai bentuk pujian kepada mereka dan menunjukkan betapa mulianya masa muda bagi seseorang.Masa muda, jika dimanfaatkan untuk kebaikan seperti hidup berdampingan dengan Al-Qur’an atau menyibukkan diri dengan ibadah dan amal, maka balasannya pada hari kiamat adalah mendapatkan naungan Allah Ta’ala. Pada hari tersebut, tidak ada yang dapat menaungi seorang pun, kecuali Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إلَّا ظِلُّهُ (منها): وشَابٌّ نَشَأَ في عِبَادَةِ رَبِّهِ“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Ta’ala pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya. Di antaranya: seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)Sungguh merupakan kemuliaan bagi setiap pemuda yang menjaga masa mudanya, menghabiskannya untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Terlebih lagi jika dia hidup di zaman dan lingkungan yang tersebar di dalamnya fitnah syubhat dan syahwat. Sungguh merupakan karunia Allah Ta’ala dan hidayah-Nya apabila ada seorang pemuda yang mampu menjaga dirinya dari terjangan ombak fitnah ini.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga pemuda-pemuda kaum muslimin, anak-anak kita, generasi penerus kita dari terjatuh ke dalam jurang fitnah, menjaga mereka dari kesyirikan, kemaksiatan, dan hal-hal yang tidak bermanfaat. Semoga Allah jadikan para pemuda kaum muslimin saat ini memiliki keimanan layaknya para pemuda di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.أقُولُ قَوْلي هَذَا  وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca Juga: Kisah-Kisah Peringatan Tuk Penghina NabiKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,Allah Ta’ala berfirman,وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)Begitu lengkapnya Al-Qur’an ini, sampai-sampai di dalam kisah Ashabul Kahfi ini terdapat penjelasan penting yang berhubungan dengan ilmu kedokteran. Allah Ta’ala berfirman,وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ“Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (QS. Al-Kahfi: 18)Ayat ini menjelaskan pentingnya membolak-balikkan posisi orang sakit yang sudah tidak bisa bergerak dan hanya diam di kasur saja. Hikmahnya, agar zat garam yang terkandung dalam tubuh orang sakit tersebut tidak mengendap di satu sisi saja, karena itu akan menyebabkan penggerusan dan pembusukan. Para ahli medis menjelaskan bahwa apabila kebusukan itu terjadi, maka itu termasuk cedera dan penyakit yang sulit untuk diobati.Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Di ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَكَذٰلِكَ بَعَثْنٰهُمْ لِيَتَسَاۤءَلُوْا بَيْنَهُمْۗ قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْۗ قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالُوْا رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْۗ فَابْعَثُوْٓا اَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هٰذِهٖٓ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فَلْيَنْظُرْ اَيُّهَآ اَزْكٰى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِّنْهُ “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?’ Mereka menjawab, ‘Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.’ Berkata (yang lain lagi), ‘Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu.’” (QS. Al-Kahfi: 19)Lihatlah bagaimana para penghuni gua tersebut! Mereka lebih mendahulukan urusan yang penting dan urgen daripada urusan lainnya yang tidak penting. Mereka tinggalkan perdebatan yang tiada habisnya dan mendahulukan mencari makanan di saat merasakan kelaparan. Ayat ini juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menjaga skala prioritas dalam bertindak, tidak mudah terkecoh dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak mengandung kebaikan.Pelajaran selanjutnya yang bisa kita ambil adalah wajibnya berbuat baik dan berlemah lembut di dalam kehidupan, menyambung silaturahmi, dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini sebagaimana perkataan salah satu penghuni gua tersebut,وَلْيَتَلَطَّفْ“Dan hendaklah dia berlaku lemah lembut.”Jemaah yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Dalam kisah Ashabul Kahfi ini ada satu poin penting yang harus kita ingatkan.Sebagian dari mereka yang sangat lemah akidah dan hidayahnya menjadikan firman Allah Ta’ala,قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا“Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, ‘Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya.’” (QS. Al-Kahfi: 21)Sebagai dalil bolehnya membangun masjid di atas kuburan orang-orang saleh!Ini jelas keliru, karena ayat di atas sedang menceritakan perkataan seorang pembesar dan penguasa di zaman tersebut, yang seringnya orang-orang semacam ini merupakan orang yang jahil, orang yang tidak mengetahui agama Islam dengan baik. Mereka menginginkan agar perbuatan mereka tersebut dapat mengabadikan peristiwa ajaib yang dialami oleh para pemuda penghuni gua.Padahal telah jelas bahwa perbuatan semacam ini dalam syariat kita hukumnya haram. Bahkan, pelakunya mendapatkan laknat dari Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,لَعَنَ اللَّهُ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Allah melaknat Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari no. 1390 dan Muslim no. 529)Lihat juga bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala diceritakan kepada beliau gereja-gereja yang terdapat di negeri Ethiopia, di mana di dalamnya terdapat patung-patung. Beliau bersabda,إنَّ أُولَئِكَ إذَا كانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا علَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وصَوَّرُوا فيه تِلكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَومَ القِيَامَةِ“Sesungguhnya mereka, jika orang saleh dari mereka meninggal, maka mereka mendirikan masjid (tempat ibadah) di atas kuburannya dan membuat patungnya di sana. Maka, mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 427)Sungguh beruntung bagi setiap mukmin yang bisa mengambil faedah dan pelajaran dari setiap ayat yang dia baca dan dia dengar. Karena inilah salah satu kewajiban kita terhadap Al-Qur’an yang mulia ini.Ya Allah, jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang senantiasa mengingat-Mu, hamba-Mu yang selalu meresapi dan merenungi setiap ayat dari Al-Qur’an yang telah Engkau turunkan, mengambil pelajaran darinya, dan mengamalkannya di setiap detik kehidupan.اللهم إنا نعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجالفَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Salah Kaprah Kisah Pelacur yang Masuk SurgaKisah Seorang Ulama dan Penggembala Unta***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Iman Kepada Malaikat, Apakah Tauhid Itu, Apa Itu Fasik, Gambar Hewan Halal Dan Haram, Pengertian Doa Dan DzikirTags: ashabul kahfikhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatkisah ashabul kahfimateri khutbah jumatnasihatnasihat islamteks khutbah jumattema khutbah jumat

Memahami Fikih Nadzar dalam Tinjauan Madzhab Syafii

Bagaimana memahami fikih nadzar? Coba tinjau bahasan dalam madzhab Syafii, pelajaran dari Matan Taqrib dan Fath Al-Qarib serta penjelasan lainnya.   Nadzar adalah iltizamul qurbah lam tata’ayyan bi shiighoh, melazimkan (mewajibkan) suatu ibadah yang tidak diharuskan, dengan lafaz tertentu. Dalam Fath Al-Qorib disebutkan, nadzar adalah: اِلْتِزَامُ قُرْبَةٍ غَيْرِ لاَزِمَةٍ بِأَصْلِ الشَّرْعِ “Mewajibkan suatu bentuk ketaatan yang berdasarkan syariat asalnya tidaklah wajib.” Akhirnya, ketaatan itu menjadi wajib karena adanya nadzar, padahal sebelumnya tidaklah wajib.   Rukun nadzar Naadzir: berakal, baligh, ikhtiyar (atas pilihan sendiri) Mandzur bihi: qurbah lam tata’ayyan Shighah: lafaz yang menyatakan mewajibkan diri Baca juga: Nadzar Baru Teranggap Kalau Diucapkan   Nadzar ada dua macam Nadzar al-lajaj yaitu nadzar yang melarang diri dari melakukan sesuatu, tetapi tidak dimaksudkan untuk ketaatan (qurbah) dan wajib membayar kafarat sumpah atau yang ia sanggupi dengan melakukan nadzar. Nadzar tabarrur, ada dua bentuk yaitu: (a) nadzar yang tidak dikaitkan pada sesuatu (ghairu mu’allaq) seperti bernadzar “LILLAHI, wajib atas saya berpuasa atau memerdekakan budak”; (b) nadzar yang dikaitkan pada sesuatu yang diharap dan disukai oleh jiwa (mu’allaq), seperti “jika penyakitku disembuhkan oleh Allah, aku mengharuskan diriku untuk shalat, puasa, atau sedekah”, maka ia punya keharusan melaksanakan shalat minimal dua rakaat, puasa minimalnya sehari, sedekah yang minimal dianggap harta yang sedikit untuk bersedekah. Jika bernadzar shalat atau puasa pada waktu tertentu lantas lupus, shalat dan puasa itu wajib diqadha. Nadzar yang wajib ditunaikan adalah nadzar al-mujazah (nadzar ketaatan) jika dikaitkan dengan suatu yang mubah dan hasil nadzar adalah bentuk ketaatan. Jika nadzar tersebut terwujud, wajib ditunaikan.   Tidak boleh bernadzar dalam maksiat Nadzarnya tidaklah sah dan pelakunya berdosa. Nadzar ini ada dua bentuk: Mengaitkan dengan suatu ketaatan agar mendapatkan hasil berupa perbuatan maksiat. Contoh: jika saya membunuh si fulan, maka saya akan berpuasa selama sehari. Nadzar semacam ini karena dikaitkan dengan maksiat, maka dihukumi maksiat. Bernadzar untuk melakukan maksiat. Contoh: bernadzar mau meminum khamar, membunuh seseorang tanpa kesalahan, bunuh diri, membunuh anak. Nadzar semacam ini tidak sah dan tidak perlu ditunaikan. Dalam hadits disebutkan, وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ “Barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya.” (HR. Bukhari, no. 6696)   Nadzar dalam hal mubah Meninggalkan yang mubah Melaksanakan yang mubah Seperti ini tidaklah sah karena nadzar itu harus dalam ketaatan. Siapa yang bersumpah dalam nadzar mubah, maka tidak wajib ia menunaikan kafarat.   Nadzar dalam hal makruh Tidaklah dianggap, seperti bernadzar “akan menoleh dalam shalat”.   Catatan: Bernadzar dengan sesuatu yang wajib ‘ain seperti shalat lima waktu tidaklah sah. Karena wajib syari lebih didahulukan daripada wajib karena nadzar. Bernadzar dengan sesuatu yang wajib kifayah, maka tetap menjadi wajib.   Kafarat sumpah (1) memilih antara tiga hal yaitu: (a) memerdekakan satu orang budak mukmin yang selamat dari cacat yang mengurangi bekerjanya, atau (b) memberi makan sepuluh orang miskin setiap miskin satu mud dari makanan pokok di negerinya, atau (c) memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin masing-masing satu pakaian (kemeja, serban, khimar, baju, tidak mesti baru, yang penting kualitasnya tidak hilang); (2) jika tidak menemukan dari tiga hal tadi, maka berpuasa selama tiga hari, tidak disyaratkan berturut-turut. Dalil tentang kafarat sumpah adalah firman Allah Ta’ala, لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Maidah: 89) Baca juga: Seputar Hukum Nadzar   Referensi: Fath Al-Qarib Al-Mujib (Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar fii Syarh Ghayah Al-Ikhtishar). Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Ibnu Qasim Al-Ghazzi. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. Khulashah Taqrib Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib (Khulashah Al-Masail ma’a At-Tasyjiiroot). Abu Musthafa Al-Baghdadi. Tashil Al-Intifa’ bi Matan Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi Dalil wa Ijma’ minal Buyu’ ila Akhir Al-Kitab. Syaikh “Abdullah bin Muhammad bin Husain Al-Qadiri. www.alukah.net.   —   Diselesaikan di Solo pada 10 Rabiul Awal 1444 H, 6 Oktober 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih nadzar nadzar

Memahami Fikih Nadzar dalam Tinjauan Madzhab Syafii

Bagaimana memahami fikih nadzar? Coba tinjau bahasan dalam madzhab Syafii, pelajaran dari Matan Taqrib dan Fath Al-Qarib serta penjelasan lainnya.   Nadzar adalah iltizamul qurbah lam tata’ayyan bi shiighoh, melazimkan (mewajibkan) suatu ibadah yang tidak diharuskan, dengan lafaz tertentu. Dalam Fath Al-Qorib disebutkan, nadzar adalah: اِلْتِزَامُ قُرْبَةٍ غَيْرِ لاَزِمَةٍ بِأَصْلِ الشَّرْعِ “Mewajibkan suatu bentuk ketaatan yang berdasarkan syariat asalnya tidaklah wajib.” Akhirnya, ketaatan itu menjadi wajib karena adanya nadzar, padahal sebelumnya tidaklah wajib.   Rukun nadzar Naadzir: berakal, baligh, ikhtiyar (atas pilihan sendiri) Mandzur bihi: qurbah lam tata’ayyan Shighah: lafaz yang menyatakan mewajibkan diri Baca juga: Nadzar Baru Teranggap Kalau Diucapkan   Nadzar ada dua macam Nadzar al-lajaj yaitu nadzar yang melarang diri dari melakukan sesuatu, tetapi tidak dimaksudkan untuk ketaatan (qurbah) dan wajib membayar kafarat sumpah atau yang ia sanggupi dengan melakukan nadzar. Nadzar tabarrur, ada dua bentuk yaitu: (a) nadzar yang tidak dikaitkan pada sesuatu (ghairu mu’allaq) seperti bernadzar “LILLAHI, wajib atas saya berpuasa atau memerdekakan budak”; (b) nadzar yang dikaitkan pada sesuatu yang diharap dan disukai oleh jiwa (mu’allaq), seperti “jika penyakitku disembuhkan oleh Allah, aku mengharuskan diriku untuk shalat, puasa, atau sedekah”, maka ia punya keharusan melaksanakan shalat minimal dua rakaat, puasa minimalnya sehari, sedekah yang minimal dianggap harta yang sedikit untuk bersedekah. Jika bernadzar shalat atau puasa pada waktu tertentu lantas lupus, shalat dan puasa itu wajib diqadha. Nadzar yang wajib ditunaikan adalah nadzar al-mujazah (nadzar ketaatan) jika dikaitkan dengan suatu yang mubah dan hasil nadzar adalah bentuk ketaatan. Jika nadzar tersebut terwujud, wajib ditunaikan.   Tidak boleh bernadzar dalam maksiat Nadzarnya tidaklah sah dan pelakunya berdosa. Nadzar ini ada dua bentuk: Mengaitkan dengan suatu ketaatan agar mendapatkan hasil berupa perbuatan maksiat. Contoh: jika saya membunuh si fulan, maka saya akan berpuasa selama sehari. Nadzar semacam ini karena dikaitkan dengan maksiat, maka dihukumi maksiat. Bernadzar untuk melakukan maksiat. Contoh: bernadzar mau meminum khamar, membunuh seseorang tanpa kesalahan, bunuh diri, membunuh anak. Nadzar semacam ini tidak sah dan tidak perlu ditunaikan. Dalam hadits disebutkan, وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ “Barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya.” (HR. Bukhari, no. 6696)   Nadzar dalam hal mubah Meninggalkan yang mubah Melaksanakan yang mubah Seperti ini tidaklah sah karena nadzar itu harus dalam ketaatan. Siapa yang bersumpah dalam nadzar mubah, maka tidak wajib ia menunaikan kafarat.   Nadzar dalam hal makruh Tidaklah dianggap, seperti bernadzar “akan menoleh dalam shalat”.   Catatan: Bernadzar dengan sesuatu yang wajib ‘ain seperti shalat lima waktu tidaklah sah. Karena wajib syari lebih didahulukan daripada wajib karena nadzar. Bernadzar dengan sesuatu yang wajib kifayah, maka tetap menjadi wajib.   Kafarat sumpah (1) memilih antara tiga hal yaitu: (a) memerdekakan satu orang budak mukmin yang selamat dari cacat yang mengurangi bekerjanya, atau (b) memberi makan sepuluh orang miskin setiap miskin satu mud dari makanan pokok di negerinya, atau (c) memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin masing-masing satu pakaian (kemeja, serban, khimar, baju, tidak mesti baru, yang penting kualitasnya tidak hilang); (2) jika tidak menemukan dari tiga hal tadi, maka berpuasa selama tiga hari, tidak disyaratkan berturut-turut. Dalil tentang kafarat sumpah adalah firman Allah Ta’ala, لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Maidah: 89) Baca juga: Seputar Hukum Nadzar   Referensi: Fath Al-Qarib Al-Mujib (Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar fii Syarh Ghayah Al-Ikhtishar). Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Ibnu Qasim Al-Ghazzi. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. Khulashah Taqrib Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib (Khulashah Al-Masail ma’a At-Tasyjiiroot). Abu Musthafa Al-Baghdadi. Tashil Al-Intifa’ bi Matan Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi Dalil wa Ijma’ minal Buyu’ ila Akhir Al-Kitab. Syaikh “Abdullah bin Muhammad bin Husain Al-Qadiri. www.alukah.net.   —   Diselesaikan di Solo pada 10 Rabiul Awal 1444 H, 6 Oktober 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih nadzar nadzar
Bagaimana memahami fikih nadzar? Coba tinjau bahasan dalam madzhab Syafii, pelajaran dari Matan Taqrib dan Fath Al-Qarib serta penjelasan lainnya.   Nadzar adalah iltizamul qurbah lam tata’ayyan bi shiighoh, melazimkan (mewajibkan) suatu ibadah yang tidak diharuskan, dengan lafaz tertentu. Dalam Fath Al-Qorib disebutkan, nadzar adalah: اِلْتِزَامُ قُرْبَةٍ غَيْرِ لاَزِمَةٍ بِأَصْلِ الشَّرْعِ “Mewajibkan suatu bentuk ketaatan yang berdasarkan syariat asalnya tidaklah wajib.” Akhirnya, ketaatan itu menjadi wajib karena adanya nadzar, padahal sebelumnya tidaklah wajib.   Rukun nadzar Naadzir: berakal, baligh, ikhtiyar (atas pilihan sendiri) Mandzur bihi: qurbah lam tata’ayyan Shighah: lafaz yang menyatakan mewajibkan diri Baca juga: Nadzar Baru Teranggap Kalau Diucapkan   Nadzar ada dua macam Nadzar al-lajaj yaitu nadzar yang melarang diri dari melakukan sesuatu, tetapi tidak dimaksudkan untuk ketaatan (qurbah) dan wajib membayar kafarat sumpah atau yang ia sanggupi dengan melakukan nadzar. Nadzar tabarrur, ada dua bentuk yaitu: (a) nadzar yang tidak dikaitkan pada sesuatu (ghairu mu’allaq) seperti bernadzar “LILLAHI, wajib atas saya berpuasa atau memerdekakan budak”; (b) nadzar yang dikaitkan pada sesuatu yang diharap dan disukai oleh jiwa (mu’allaq), seperti “jika penyakitku disembuhkan oleh Allah, aku mengharuskan diriku untuk shalat, puasa, atau sedekah”, maka ia punya keharusan melaksanakan shalat minimal dua rakaat, puasa minimalnya sehari, sedekah yang minimal dianggap harta yang sedikit untuk bersedekah. Jika bernadzar shalat atau puasa pada waktu tertentu lantas lupus, shalat dan puasa itu wajib diqadha. Nadzar yang wajib ditunaikan adalah nadzar al-mujazah (nadzar ketaatan) jika dikaitkan dengan suatu yang mubah dan hasil nadzar adalah bentuk ketaatan. Jika nadzar tersebut terwujud, wajib ditunaikan.   Tidak boleh bernadzar dalam maksiat Nadzarnya tidaklah sah dan pelakunya berdosa. Nadzar ini ada dua bentuk: Mengaitkan dengan suatu ketaatan agar mendapatkan hasil berupa perbuatan maksiat. Contoh: jika saya membunuh si fulan, maka saya akan berpuasa selama sehari. Nadzar semacam ini karena dikaitkan dengan maksiat, maka dihukumi maksiat. Bernadzar untuk melakukan maksiat. Contoh: bernadzar mau meminum khamar, membunuh seseorang tanpa kesalahan, bunuh diri, membunuh anak. Nadzar semacam ini tidak sah dan tidak perlu ditunaikan. Dalam hadits disebutkan, وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ “Barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya.” (HR. Bukhari, no. 6696)   Nadzar dalam hal mubah Meninggalkan yang mubah Melaksanakan yang mubah Seperti ini tidaklah sah karena nadzar itu harus dalam ketaatan. Siapa yang bersumpah dalam nadzar mubah, maka tidak wajib ia menunaikan kafarat.   Nadzar dalam hal makruh Tidaklah dianggap, seperti bernadzar “akan menoleh dalam shalat”.   Catatan: Bernadzar dengan sesuatu yang wajib ‘ain seperti shalat lima waktu tidaklah sah. Karena wajib syari lebih didahulukan daripada wajib karena nadzar. Bernadzar dengan sesuatu yang wajib kifayah, maka tetap menjadi wajib.   Kafarat sumpah (1) memilih antara tiga hal yaitu: (a) memerdekakan satu orang budak mukmin yang selamat dari cacat yang mengurangi bekerjanya, atau (b) memberi makan sepuluh orang miskin setiap miskin satu mud dari makanan pokok di negerinya, atau (c) memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin masing-masing satu pakaian (kemeja, serban, khimar, baju, tidak mesti baru, yang penting kualitasnya tidak hilang); (2) jika tidak menemukan dari tiga hal tadi, maka berpuasa selama tiga hari, tidak disyaratkan berturut-turut. Dalil tentang kafarat sumpah adalah firman Allah Ta’ala, لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Maidah: 89) Baca juga: Seputar Hukum Nadzar   Referensi: Fath Al-Qarib Al-Mujib (Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar fii Syarh Ghayah Al-Ikhtishar). Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Ibnu Qasim Al-Ghazzi. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. Khulashah Taqrib Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib (Khulashah Al-Masail ma’a At-Tasyjiiroot). Abu Musthafa Al-Baghdadi. Tashil Al-Intifa’ bi Matan Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi Dalil wa Ijma’ minal Buyu’ ila Akhir Al-Kitab. Syaikh “Abdullah bin Muhammad bin Husain Al-Qadiri. www.alukah.net.   —   Diselesaikan di Solo pada 10 Rabiul Awal 1444 H, 6 Oktober 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih nadzar nadzar


Bagaimana memahami fikih nadzar? Coba tinjau bahasan dalam madzhab Syafii, pelajaran dari Matan Taqrib dan Fath Al-Qarib serta penjelasan lainnya.   Nadzar adalah iltizamul qurbah lam tata’ayyan bi shiighoh, melazimkan (mewajibkan) suatu ibadah yang tidak diharuskan, dengan lafaz tertentu. Dalam Fath Al-Qorib disebutkan, nadzar adalah: اِلْتِزَامُ قُرْبَةٍ غَيْرِ لاَزِمَةٍ بِأَصْلِ الشَّرْعِ “Mewajibkan suatu bentuk ketaatan yang berdasarkan syariat asalnya tidaklah wajib.” Akhirnya, ketaatan itu menjadi wajib karena adanya nadzar, padahal sebelumnya tidaklah wajib.   Rukun nadzar Naadzir: berakal, baligh, ikhtiyar (atas pilihan sendiri) Mandzur bihi: qurbah lam tata’ayyan Shighah: lafaz yang menyatakan mewajibkan diri Baca juga: Nadzar Baru Teranggap Kalau Diucapkan   Nadzar ada dua macam Nadzar al-lajaj yaitu nadzar yang melarang diri dari melakukan sesuatu, tetapi tidak dimaksudkan untuk ketaatan (qurbah) dan wajib membayar kafarat sumpah atau yang ia sanggupi dengan melakukan nadzar. Nadzar tabarrur, ada dua bentuk yaitu: (a) nadzar yang tidak dikaitkan pada sesuatu (ghairu mu’allaq) seperti bernadzar “LILLAHI, wajib atas saya berpuasa atau memerdekakan budak”; (b) nadzar yang dikaitkan pada sesuatu yang diharap dan disukai oleh jiwa (mu’allaq), seperti “jika penyakitku disembuhkan oleh Allah, aku mengharuskan diriku untuk shalat, puasa, atau sedekah”, maka ia punya keharusan melaksanakan shalat minimal dua rakaat, puasa minimalnya sehari, sedekah yang minimal dianggap harta yang sedikit untuk bersedekah. Jika bernadzar shalat atau puasa pada waktu tertentu lantas lupus, shalat dan puasa itu wajib diqadha. Nadzar yang wajib ditunaikan adalah nadzar al-mujazah (nadzar ketaatan) jika dikaitkan dengan suatu yang mubah dan hasil nadzar adalah bentuk ketaatan. Jika nadzar tersebut terwujud, wajib ditunaikan.   Tidak boleh bernadzar dalam maksiat Nadzarnya tidaklah sah dan pelakunya berdosa. Nadzar ini ada dua bentuk: Mengaitkan dengan suatu ketaatan agar mendapatkan hasil berupa perbuatan maksiat. Contoh: jika saya membunuh si fulan, maka saya akan berpuasa selama sehari. Nadzar semacam ini karena dikaitkan dengan maksiat, maka dihukumi maksiat. Bernadzar untuk melakukan maksiat. Contoh: bernadzar mau meminum khamar, membunuh seseorang tanpa kesalahan, bunuh diri, membunuh anak. Nadzar semacam ini tidak sah dan tidak perlu ditunaikan. Dalam hadits disebutkan, وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ “Barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya.” (HR. Bukhari, no. 6696)   Nadzar dalam hal mubah Meninggalkan yang mubah Melaksanakan yang mubah Seperti ini tidaklah sah karena nadzar itu harus dalam ketaatan. Siapa yang bersumpah dalam nadzar mubah, maka tidak wajib ia menunaikan kafarat.   Nadzar dalam hal makruh Tidaklah dianggap, seperti bernadzar “akan menoleh dalam shalat”.   Catatan: Bernadzar dengan sesuatu yang wajib ‘ain seperti shalat lima waktu tidaklah sah. Karena wajib syari lebih didahulukan daripada wajib karena nadzar. Bernadzar dengan sesuatu yang wajib kifayah, maka tetap menjadi wajib.   Kafarat sumpah (1) memilih antara tiga hal yaitu: (a) memerdekakan satu orang budak mukmin yang selamat dari cacat yang mengurangi bekerjanya, atau (b) memberi makan sepuluh orang miskin setiap miskin satu mud dari makanan pokok di negerinya, atau (c) memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin masing-masing satu pakaian (kemeja, serban, khimar, baju, tidak mesti baru, yang penting kualitasnya tidak hilang); (2) jika tidak menemukan dari tiga hal tadi, maka berpuasa selama tiga hari, tidak disyaratkan berturut-turut. Dalil tentang kafarat sumpah adalah firman Allah Ta’ala, لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Maidah: 89) Baca juga: Seputar Hukum Nadzar   Referensi: Fath Al-Qarib Al-Mujib (Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar fii Syarh Ghayah Al-Ikhtishar). Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Ibnu Qasim Al-Ghazzi. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. Khulashah Taqrib Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib (Khulashah Al-Masail ma’a At-Tasyjiiroot). Abu Musthafa Al-Baghdadi. Tashil Al-Intifa’ bi Matan Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi Dalil wa Ijma’ minal Buyu’ ila Akhir Al-Kitab. Syaikh “Abdullah bin Muhammad bin Husain Al-Qadiri. www.alukah.net.   —   Diselesaikan di Solo pada 10 Rabiul Awal 1444 H, 6 Oktober 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih nadzar nadzar
Prev     Next