Berusahalah Agar al-Quran Menjadi Pembelamu – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Hendaklah seorang muslim jika merasa memiliki waktu sengganguntuk memanfaatkan waktunya; ia berwudhu, berdiri dan melakukan salat dua rakaat,kemudian membaca al-Quran al-Karim semampu yang dapat ia baca. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam telah mengabarkan tentang al-Quran, bahwa ia akan menjadi saksi yang membelamu, wahai hamba Allah, wahai manusia!Atau akan menjadi saksi yang memberatkanmu. Maka berusahalah untuk menjadikannya sebagai saksi yang membelamu, dengan perlakuan yang baik kepadanya,yaitu dengan menjalankan perintah-perintah yang ada dalam al-Quran,dan berhenti dari hal-hal yang dilarang. Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan akhlak-akhlak yang terpuji,maka berusahalah untuk mengamalkannya.Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan akhlak-akhlak yang tercela,maka berusahalah sekuat tenaga untuk menjauhkan diri darinya. Ketika kamu membaca al-Quran, jadilah orang yang berusaha mengamalkan perintah-perintah yang ada di dalamnya.Kemudian jika kamu melalui ayat yang menyebutkan rahmat, maka mintalah kepada Tuhanmu agar merahmatimu. Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan azab, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari azab-Nya.Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan pujian bagi Allah, maka bertasbih dan pujilah Allah. Karena beginilah yang Nabi lakukan, bahkan saat beliau dalam keadaan salat, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu. ==== يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ إِذَا أَحَسَّ بِفَرَاغٍ أَنْ يَشْغَلَ وَقْتَهُ يَتَوَضَّأُ وَيَقُومُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقْرَأُ مَا أَمْكَنَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَالنَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَخْبَرَ عَنِ الْقُرْآنِ بِأَنَّهُ إِمَّا شَاهِدًا لَكَ أَيُّهَا الْعَبْدُ أَيُّهَا الْإِنْسَانُ وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ شَاهِدًا عَلَيْكَ فَاحْرِصْ عَلَى اتِّخَاذِهِ شَاهِدًا لَكَ بِحُسْنِ التَّعَامُلِ مَعَهُ بِتَنْفِيذِ الْأَوَامِرِ الَّتِي فِي الْقُرْآنِ وَالِْانْتِهَاءِ عَنِ النَّوَاهِي وَإِذَا مَرَّتْ بِكَ آيَةٌ سِيْقَ مَعَهَا مَا يَدُلُّ عَلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَاحْرِصْ عَلَى الْأَخْذِ بِهَا وَإِذَا مَرَرْتَ بِآيَةٍ ذُكِرَ فِيهَا مَا هُوَ سَيِّئٌ مِنَ الْأَخْلَاقِ فَتَعَهَّدْ نَفْسَكَ بِالصِّيَانَةِ عَنْهَا كُنْ وَأَنْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ مُحْتَسِبًا تَنْفِيذَ مَا فِيهِ مِنْ أَوَامِرَ ثُمَّ إِذَا مَرَرْتَ بِآيَةِ رَحْمَةٍ فَاسْأَلْ رَبَّكَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ أَنْ يَرْحَمَكَ وَإِذَا مَرَرْتَ بِآيَةِ عَذَابٍ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ عَذَابِهِ وَإِذَا مَرَرْتَ بِآيَةٍ فِيهَا ثَنَاءٌ وَتَمْجِيْدٌ فَسَبِّحِ اللهَ وَأَثْنِ عَلَيْهِ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ يَفْعَلُ ذَلِكَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ كَمَا فِي حَدِيثِ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Berusahalah Agar al-Quran Menjadi Pembelamu – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Hendaklah seorang muslim jika merasa memiliki waktu sengganguntuk memanfaatkan waktunya; ia berwudhu, berdiri dan melakukan salat dua rakaat,kemudian membaca al-Quran al-Karim semampu yang dapat ia baca. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam telah mengabarkan tentang al-Quran, bahwa ia akan menjadi saksi yang membelamu, wahai hamba Allah, wahai manusia!Atau akan menjadi saksi yang memberatkanmu. Maka berusahalah untuk menjadikannya sebagai saksi yang membelamu, dengan perlakuan yang baik kepadanya,yaitu dengan menjalankan perintah-perintah yang ada dalam al-Quran,dan berhenti dari hal-hal yang dilarang. Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan akhlak-akhlak yang terpuji,maka berusahalah untuk mengamalkannya.Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan akhlak-akhlak yang tercela,maka berusahalah sekuat tenaga untuk menjauhkan diri darinya. Ketika kamu membaca al-Quran, jadilah orang yang berusaha mengamalkan perintah-perintah yang ada di dalamnya.Kemudian jika kamu melalui ayat yang menyebutkan rahmat, maka mintalah kepada Tuhanmu agar merahmatimu. Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan azab, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari azab-Nya.Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan pujian bagi Allah, maka bertasbih dan pujilah Allah. Karena beginilah yang Nabi lakukan, bahkan saat beliau dalam keadaan salat, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu. ==== يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ إِذَا أَحَسَّ بِفَرَاغٍ أَنْ يَشْغَلَ وَقْتَهُ يَتَوَضَّأُ وَيَقُومُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقْرَأُ مَا أَمْكَنَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَالنَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَخْبَرَ عَنِ الْقُرْآنِ بِأَنَّهُ إِمَّا شَاهِدًا لَكَ أَيُّهَا الْعَبْدُ أَيُّهَا الْإِنْسَانُ وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ شَاهِدًا عَلَيْكَ فَاحْرِصْ عَلَى اتِّخَاذِهِ شَاهِدًا لَكَ بِحُسْنِ التَّعَامُلِ مَعَهُ بِتَنْفِيذِ الْأَوَامِرِ الَّتِي فِي الْقُرْآنِ وَالِْانْتِهَاءِ عَنِ النَّوَاهِي وَإِذَا مَرَّتْ بِكَ آيَةٌ سِيْقَ مَعَهَا مَا يَدُلُّ عَلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَاحْرِصْ عَلَى الْأَخْذِ بِهَا وَإِذَا مَرَرْتَ بِآيَةٍ ذُكِرَ فِيهَا مَا هُوَ سَيِّئٌ مِنَ الْأَخْلَاقِ فَتَعَهَّدْ نَفْسَكَ بِالصِّيَانَةِ عَنْهَا كُنْ وَأَنْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ مُحْتَسِبًا تَنْفِيذَ مَا فِيهِ مِنْ أَوَامِرَ ثُمَّ إِذَا مَرَرْتَ بِآيَةِ رَحْمَةٍ فَاسْأَلْ رَبَّكَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ أَنْ يَرْحَمَكَ وَإِذَا مَرَرْتَ بِآيَةِ عَذَابٍ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ عَذَابِهِ وَإِذَا مَرَرْتَ بِآيَةٍ فِيهَا ثَنَاءٌ وَتَمْجِيْدٌ فَسَبِّحِ اللهَ وَأَثْنِ عَلَيْهِ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ يَفْعَلُ ذَلِكَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ كَمَا فِي حَدِيثِ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Hendaklah seorang muslim jika merasa memiliki waktu sengganguntuk memanfaatkan waktunya; ia berwudhu, berdiri dan melakukan salat dua rakaat,kemudian membaca al-Quran al-Karim semampu yang dapat ia baca. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam telah mengabarkan tentang al-Quran, bahwa ia akan menjadi saksi yang membelamu, wahai hamba Allah, wahai manusia!Atau akan menjadi saksi yang memberatkanmu. Maka berusahalah untuk menjadikannya sebagai saksi yang membelamu, dengan perlakuan yang baik kepadanya,yaitu dengan menjalankan perintah-perintah yang ada dalam al-Quran,dan berhenti dari hal-hal yang dilarang. Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan akhlak-akhlak yang terpuji,maka berusahalah untuk mengamalkannya.Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan akhlak-akhlak yang tercela,maka berusahalah sekuat tenaga untuk menjauhkan diri darinya. Ketika kamu membaca al-Quran, jadilah orang yang berusaha mengamalkan perintah-perintah yang ada di dalamnya.Kemudian jika kamu melalui ayat yang menyebutkan rahmat, maka mintalah kepada Tuhanmu agar merahmatimu. Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan azab, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari azab-Nya.Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan pujian bagi Allah, maka bertasbih dan pujilah Allah. Karena beginilah yang Nabi lakukan, bahkan saat beliau dalam keadaan salat, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu. ==== يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ إِذَا أَحَسَّ بِفَرَاغٍ أَنْ يَشْغَلَ وَقْتَهُ يَتَوَضَّأُ وَيَقُومُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقْرَأُ مَا أَمْكَنَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَالنَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَخْبَرَ عَنِ الْقُرْآنِ بِأَنَّهُ إِمَّا شَاهِدًا لَكَ أَيُّهَا الْعَبْدُ أَيُّهَا الْإِنْسَانُ وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ شَاهِدًا عَلَيْكَ فَاحْرِصْ عَلَى اتِّخَاذِهِ شَاهِدًا لَكَ بِحُسْنِ التَّعَامُلِ مَعَهُ بِتَنْفِيذِ الْأَوَامِرِ الَّتِي فِي الْقُرْآنِ وَالِْانْتِهَاءِ عَنِ النَّوَاهِي وَإِذَا مَرَّتْ بِكَ آيَةٌ سِيْقَ مَعَهَا مَا يَدُلُّ عَلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَاحْرِصْ عَلَى الْأَخْذِ بِهَا وَإِذَا مَرَرْتَ بِآيَةٍ ذُكِرَ فِيهَا مَا هُوَ سَيِّئٌ مِنَ الْأَخْلَاقِ فَتَعَهَّدْ نَفْسَكَ بِالصِّيَانَةِ عَنْهَا كُنْ وَأَنْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ مُحْتَسِبًا تَنْفِيذَ مَا فِيهِ مِنْ أَوَامِرَ ثُمَّ إِذَا مَرَرْتَ بِآيَةِ رَحْمَةٍ فَاسْأَلْ رَبَّكَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ أَنْ يَرْحَمَكَ وَإِذَا مَرَرْتَ بِآيَةِ عَذَابٍ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ عَذَابِهِ وَإِذَا مَرَرْتَ بِآيَةٍ فِيهَا ثَنَاءٌ وَتَمْجِيْدٌ فَسَبِّحِ اللهَ وَأَثْنِ عَلَيْهِ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ يَفْعَلُ ذَلِكَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ كَمَا فِي حَدِيثِ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Hendaklah seorang muslim jika merasa memiliki waktu sengganguntuk memanfaatkan waktunya; ia berwudhu, berdiri dan melakukan salat dua rakaat,kemudian membaca al-Quran al-Karim semampu yang dapat ia baca. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam telah mengabarkan tentang al-Quran, bahwa ia akan menjadi saksi yang membelamu, wahai hamba Allah, wahai manusia!Atau akan menjadi saksi yang memberatkanmu. Maka berusahalah untuk menjadikannya sebagai saksi yang membelamu, dengan perlakuan yang baik kepadanya,yaitu dengan menjalankan perintah-perintah yang ada dalam al-Quran,dan berhenti dari hal-hal yang dilarang. Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan akhlak-akhlak yang terpuji,maka berusahalah untuk mengamalkannya.Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan akhlak-akhlak yang tercela,maka berusahalah sekuat tenaga untuk menjauhkan diri darinya. Ketika kamu membaca al-Quran, jadilah orang yang berusaha mengamalkan perintah-perintah yang ada di dalamnya.Kemudian jika kamu melalui ayat yang menyebutkan rahmat, maka mintalah kepada Tuhanmu agar merahmatimu. Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan azab, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari azab-Nya.Jika kamu melalui ayat yang menyebutkan pujian bagi Allah, maka bertasbih dan pujilah Allah. Karena beginilah yang Nabi lakukan, bahkan saat beliau dalam keadaan salat, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu. ==== يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ إِذَا أَحَسَّ بِفَرَاغٍ أَنْ يَشْغَلَ وَقْتَهُ يَتَوَضَّأُ وَيَقُومُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقْرَأُ مَا أَمْكَنَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَالنَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَخْبَرَ عَنِ الْقُرْآنِ بِأَنَّهُ إِمَّا شَاهِدًا لَكَ أَيُّهَا الْعَبْدُ أَيُّهَا الْإِنْسَانُ وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ شَاهِدًا عَلَيْكَ فَاحْرِصْ عَلَى اتِّخَاذِهِ شَاهِدًا لَكَ بِحُسْنِ التَّعَامُلِ مَعَهُ بِتَنْفِيذِ الْأَوَامِرِ الَّتِي فِي الْقُرْآنِ وَالِْانْتِهَاءِ عَنِ النَّوَاهِي وَإِذَا مَرَّتْ بِكَ آيَةٌ سِيْقَ مَعَهَا مَا يَدُلُّ عَلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَاحْرِصْ عَلَى الْأَخْذِ بِهَا وَإِذَا مَرَرْتَ بِآيَةٍ ذُكِرَ فِيهَا مَا هُوَ سَيِّئٌ مِنَ الْأَخْلَاقِ فَتَعَهَّدْ نَفْسَكَ بِالصِّيَانَةِ عَنْهَا كُنْ وَأَنْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ مُحْتَسِبًا تَنْفِيذَ مَا فِيهِ مِنْ أَوَامِرَ ثُمَّ إِذَا مَرَرْتَ بِآيَةِ رَحْمَةٍ فَاسْأَلْ رَبَّكَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ أَنْ يَرْحَمَكَ وَإِذَا مَرَرْتَ بِآيَةِ عَذَابٍ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ عَذَابِهِ وَإِذَا مَرَرْتَ بِآيَةٍ فِيهَا ثَنَاءٌ وَتَمْجِيْدٌ فَسَبِّحِ اللهَ وَأَثْنِ عَلَيْهِ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ يَفْعَلُ ذَلِكَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ كَمَا فِي حَدِيثِ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Ingin Masuk Surga? Lakukan 4 Amalan Ini – Syaikh Ashim al-Qaryuti #NasehatUlama

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Amalan-amalan yang sungguh elok jika diamalkan semuanya,dan saya ucapkan selamat bagi orang yang mampu mengerjakan semua amalan itu. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Sahihnya,dari Abu Hurairah—semoga Allah meridainya—yang menuturkanbahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.” Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah mengiringi jenazah hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.”Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.” Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah menjenguk orang sakit hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.”Lalu Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah semua itu diamalkan oleh seseorang kecuali dia akan masuk surga.” Hadis yang agung inimenunjukkan dengan sangat gamblang kepada kitatentang agungnya kedudukan puasa,yakni puasa sunah, dan agungnya pahala dan ganjaran mengiringi jenazah,demikian pula memberi makan orang miskin dan menjenguk orang sakit.Puasa adalah pendidikan bagi jiwa. Mengiringi jenazah adalah pengingat terhadap negeri akhiratdan bentuk simpati terhadap keluarga si jenazah.Demikian juga, memberi makan orang miskin dan menjenguk orang sakitakan membawa banyak faedah bagi masyarakat,berupa kebaikan yang besar dan meluas. Abu Bakar—semoga Allah meridainya—telah mendapatkan kebaikan yang agung ini.karena semua amalan ini terkumpul pada dirinya dalam satu hari,dan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah memberi kabar gembirabahwa orang yang mengumpulkan semua itu akan masuk surga. Jadi, selamat bagi orang yang Allah ʿAzza wa Jalla berikan taufik melakukan amalan-amalan ini,terutama di hari-hari yang utama ini,yakni, 10 hari pertama (bulan Zulhijah)di mana amal saleh sangat dianjurkan. Inilah sebagian amalan saleh yang agungyang membawa kebaikan yang banyak bagi individu dan masyarakat.Semoga Allah memberikanku dan kalian taufik kepada semua kebaikan, petunjuk, dan kesalehan. Semoga Allah limpahkan selawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad,dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. ==== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ خِصَالٌ مَا أَجْمَلَهَا إِذَا اجْتَمَعَتْ وَهَنِيئًا لِمَنِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ رَوَى الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا قَالَ: فَمَنِ اتَّبَعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ يَدُلُّنَا دِلَالَةً عَظِيمَةً عَلَى عِظَمِ شَأْنِ الصِّيَامِ صِيَامِ التَّطَوُّعِ وَعَلَى عِظَمِ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ فِي اتِّبَاعِ الْجَنَازَةِ وَكَذَا إِطْعَامِ الْمِسْكِينِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ الصَّوْمُ تَهْذِيبٌ لِلنَّفْسِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَازَةِ فِيهِ تَذْكِيرٌ بِالْآخِرَةِ وَفِيهِ الْمُوَاسَاةُ مَعَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَكَذَا إِطْعَامُ الْمِسْكِينِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ فِيهِ مِنَ الْفَوَائِدِ الَّتِي تَعُودُ عَلَى الْمُجْتَمَعِ بِالْخَيْرِ الْعَظِيمِ الْعَمِيمِ لَقَدْ حَازَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى هَذَا الْخَيْرِ الْعَظِيمِ إِذِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ هَذِهِ الْخِصَالُ فِي يَوْمٍ وَبَشَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ مَنِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ هَنِيئًا لِمَنْ وَفَّقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ الْأَعْمَالِ وَلَا سِيَّمَا فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْفَاضِلَةِ أَيَّامِ الْعَشْرِ الَّتِي يُسْتَحَبُّ فِيهَا الْعَمَلُ الصَّالِحُ وَهَذِهِ مِنَ الْأَعْمَالِالصَّالِحَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي تَعُودُ عَلَى الْفَرْدِ وَعَلَى الْمُجْتَمَعِ بِالْخَيْرِ الْعَمِيمِ وَفَّقَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ لِكُلِّ خَيْرٍ وَهُدًى وَصَلَاحٍ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Ingin Masuk Surga? Lakukan 4 Amalan Ini – Syaikh Ashim al-Qaryuti #NasehatUlama

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Amalan-amalan yang sungguh elok jika diamalkan semuanya,dan saya ucapkan selamat bagi orang yang mampu mengerjakan semua amalan itu. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Sahihnya,dari Abu Hurairah—semoga Allah meridainya—yang menuturkanbahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.” Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah mengiringi jenazah hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.”Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.” Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah menjenguk orang sakit hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.”Lalu Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah semua itu diamalkan oleh seseorang kecuali dia akan masuk surga.” Hadis yang agung inimenunjukkan dengan sangat gamblang kepada kitatentang agungnya kedudukan puasa,yakni puasa sunah, dan agungnya pahala dan ganjaran mengiringi jenazah,demikian pula memberi makan orang miskin dan menjenguk orang sakit.Puasa adalah pendidikan bagi jiwa. Mengiringi jenazah adalah pengingat terhadap negeri akhiratdan bentuk simpati terhadap keluarga si jenazah.Demikian juga, memberi makan orang miskin dan menjenguk orang sakitakan membawa banyak faedah bagi masyarakat,berupa kebaikan yang besar dan meluas. Abu Bakar—semoga Allah meridainya—telah mendapatkan kebaikan yang agung ini.karena semua amalan ini terkumpul pada dirinya dalam satu hari,dan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah memberi kabar gembirabahwa orang yang mengumpulkan semua itu akan masuk surga. Jadi, selamat bagi orang yang Allah ʿAzza wa Jalla berikan taufik melakukan amalan-amalan ini,terutama di hari-hari yang utama ini,yakni, 10 hari pertama (bulan Zulhijah)di mana amal saleh sangat dianjurkan. Inilah sebagian amalan saleh yang agungyang membawa kebaikan yang banyak bagi individu dan masyarakat.Semoga Allah memberikanku dan kalian taufik kepada semua kebaikan, petunjuk, dan kesalehan. Semoga Allah limpahkan selawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad,dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. ==== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ خِصَالٌ مَا أَجْمَلَهَا إِذَا اجْتَمَعَتْ وَهَنِيئًا لِمَنِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ رَوَى الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا قَالَ: فَمَنِ اتَّبَعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ يَدُلُّنَا دِلَالَةً عَظِيمَةً عَلَى عِظَمِ شَأْنِ الصِّيَامِ صِيَامِ التَّطَوُّعِ وَعَلَى عِظَمِ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ فِي اتِّبَاعِ الْجَنَازَةِ وَكَذَا إِطْعَامِ الْمِسْكِينِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ الصَّوْمُ تَهْذِيبٌ لِلنَّفْسِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَازَةِ فِيهِ تَذْكِيرٌ بِالْآخِرَةِ وَفِيهِ الْمُوَاسَاةُ مَعَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَكَذَا إِطْعَامُ الْمِسْكِينِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ فِيهِ مِنَ الْفَوَائِدِ الَّتِي تَعُودُ عَلَى الْمُجْتَمَعِ بِالْخَيْرِ الْعَظِيمِ الْعَمِيمِ لَقَدْ حَازَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى هَذَا الْخَيْرِ الْعَظِيمِ إِذِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ هَذِهِ الْخِصَالُ فِي يَوْمٍ وَبَشَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ مَنِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ هَنِيئًا لِمَنْ وَفَّقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ الْأَعْمَالِ وَلَا سِيَّمَا فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْفَاضِلَةِ أَيَّامِ الْعَشْرِ الَّتِي يُسْتَحَبُّ فِيهَا الْعَمَلُ الصَّالِحُ وَهَذِهِ مِنَ الْأَعْمَالِالصَّالِحَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي تَعُودُ عَلَى الْفَرْدِ وَعَلَى الْمُجْتَمَعِ بِالْخَيْرِ الْعَمِيمِ وَفَّقَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ لِكُلِّ خَيْرٍ وَهُدًى وَصَلَاحٍ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Amalan-amalan yang sungguh elok jika diamalkan semuanya,dan saya ucapkan selamat bagi orang yang mampu mengerjakan semua amalan itu. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Sahihnya,dari Abu Hurairah—semoga Allah meridainya—yang menuturkanbahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.” Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah mengiringi jenazah hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.”Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.” Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah menjenguk orang sakit hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.”Lalu Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah semua itu diamalkan oleh seseorang kecuali dia akan masuk surga.” Hadis yang agung inimenunjukkan dengan sangat gamblang kepada kitatentang agungnya kedudukan puasa,yakni puasa sunah, dan agungnya pahala dan ganjaran mengiringi jenazah,demikian pula memberi makan orang miskin dan menjenguk orang sakit.Puasa adalah pendidikan bagi jiwa. Mengiringi jenazah adalah pengingat terhadap negeri akhiratdan bentuk simpati terhadap keluarga si jenazah.Demikian juga, memberi makan orang miskin dan menjenguk orang sakitakan membawa banyak faedah bagi masyarakat,berupa kebaikan yang besar dan meluas. Abu Bakar—semoga Allah meridainya—telah mendapatkan kebaikan yang agung ini.karena semua amalan ini terkumpul pada dirinya dalam satu hari,dan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah memberi kabar gembirabahwa orang yang mengumpulkan semua itu akan masuk surga. Jadi, selamat bagi orang yang Allah ʿAzza wa Jalla berikan taufik melakukan amalan-amalan ini,terutama di hari-hari yang utama ini,yakni, 10 hari pertama (bulan Zulhijah)di mana amal saleh sangat dianjurkan. Inilah sebagian amalan saleh yang agungyang membawa kebaikan yang banyak bagi individu dan masyarakat.Semoga Allah memberikanku dan kalian taufik kepada semua kebaikan, petunjuk, dan kesalehan. Semoga Allah limpahkan selawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad,dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. ==== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ خِصَالٌ مَا أَجْمَلَهَا إِذَا اجْتَمَعَتْ وَهَنِيئًا لِمَنِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ رَوَى الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا قَالَ: فَمَنِ اتَّبَعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ يَدُلُّنَا دِلَالَةً عَظِيمَةً عَلَى عِظَمِ شَأْنِ الصِّيَامِ صِيَامِ التَّطَوُّعِ وَعَلَى عِظَمِ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ فِي اتِّبَاعِ الْجَنَازَةِ وَكَذَا إِطْعَامِ الْمِسْكِينِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ الصَّوْمُ تَهْذِيبٌ لِلنَّفْسِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَازَةِ فِيهِ تَذْكِيرٌ بِالْآخِرَةِ وَفِيهِ الْمُوَاسَاةُ مَعَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَكَذَا إِطْعَامُ الْمِسْكِينِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ فِيهِ مِنَ الْفَوَائِدِ الَّتِي تَعُودُ عَلَى الْمُجْتَمَعِ بِالْخَيْرِ الْعَظِيمِ الْعَمِيمِ لَقَدْ حَازَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى هَذَا الْخَيْرِ الْعَظِيمِ إِذِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ هَذِهِ الْخِصَالُ فِي يَوْمٍ وَبَشَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ مَنِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ هَنِيئًا لِمَنْ وَفَّقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ الْأَعْمَالِ وَلَا سِيَّمَا فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْفَاضِلَةِ أَيَّامِ الْعَشْرِ الَّتِي يُسْتَحَبُّ فِيهَا الْعَمَلُ الصَّالِحُ وَهَذِهِ مِنَ الْأَعْمَالِالصَّالِحَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي تَعُودُ عَلَى الْفَرْدِ وَعَلَى الْمُجْتَمَعِ بِالْخَيْرِ الْعَمِيمِ وَفَّقَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ لِكُلِّ خَيْرٍ وَهُدًى وَصَلَاحٍ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Amalan-amalan yang sungguh elok jika diamalkan semuanya,dan saya ucapkan selamat bagi orang yang mampu mengerjakan semua amalan itu. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Sahihnya,dari Abu Hurairah—semoga Allah meridainya—yang menuturkanbahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.” Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah mengiringi jenazah hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.”Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.” Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah menjenguk orang sakit hari ini?”Abu Bakar—semoga Allah meridainya—menjawab, “Saya.”Lalu Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah semua itu diamalkan oleh seseorang kecuali dia akan masuk surga.” Hadis yang agung inimenunjukkan dengan sangat gamblang kepada kitatentang agungnya kedudukan puasa,yakni puasa sunah, dan agungnya pahala dan ganjaran mengiringi jenazah,demikian pula memberi makan orang miskin dan menjenguk orang sakit.Puasa adalah pendidikan bagi jiwa. Mengiringi jenazah adalah pengingat terhadap negeri akhiratdan bentuk simpati terhadap keluarga si jenazah.Demikian juga, memberi makan orang miskin dan menjenguk orang sakitakan membawa banyak faedah bagi masyarakat,berupa kebaikan yang besar dan meluas. Abu Bakar—semoga Allah meridainya—telah mendapatkan kebaikan yang agung ini.karena semua amalan ini terkumpul pada dirinya dalam satu hari,dan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah memberi kabar gembirabahwa orang yang mengumpulkan semua itu akan masuk surga. Jadi, selamat bagi orang yang Allah ʿAzza wa Jalla berikan taufik melakukan amalan-amalan ini,terutama di hari-hari yang utama ini,yakni, 10 hari pertama (bulan Zulhijah)di mana amal saleh sangat dianjurkan. Inilah sebagian amalan saleh yang agungyang membawa kebaikan yang banyak bagi individu dan masyarakat.Semoga Allah memberikanku dan kalian taufik kepada semua kebaikan, petunjuk, dan kesalehan. Semoga Allah limpahkan selawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad,dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. ==== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ خِصَالٌ مَا أَجْمَلَهَا إِذَا اجْتَمَعَتْ وَهَنِيئًا لِمَنِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ رَوَى الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا قَالَ: فَمَنِ اتَّبَعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ يَدُلُّنَا دِلَالَةً عَظِيمَةً عَلَى عِظَمِ شَأْنِ الصِّيَامِ صِيَامِ التَّطَوُّعِ وَعَلَى عِظَمِ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ فِي اتِّبَاعِ الْجَنَازَةِ وَكَذَا إِطْعَامِ الْمِسْكِينِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ الصَّوْمُ تَهْذِيبٌ لِلنَّفْسِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَازَةِ فِيهِ تَذْكِيرٌ بِالْآخِرَةِ وَفِيهِ الْمُوَاسَاةُ مَعَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَكَذَا إِطْعَامُ الْمِسْكِينِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ فِيهِ مِنَ الْفَوَائِدِ الَّتِي تَعُودُ عَلَى الْمُجْتَمَعِ بِالْخَيْرِ الْعَظِيمِ الْعَمِيمِ لَقَدْ حَازَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى هَذَا الْخَيْرِ الْعَظِيمِ إِذِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ هَذِهِ الْخِصَالُ فِي يَوْمٍ وَبَشَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ مَنِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ هَنِيئًا لِمَنْ وَفَّقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ الْأَعْمَالِ وَلَا سِيَّمَا فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْفَاضِلَةِ أَيَّامِ الْعَشْرِ الَّتِي يُسْتَحَبُّ فِيهَا الْعَمَلُ الصَّالِحُ وَهَذِهِ مِنَ الْأَعْمَالِالصَّالِحَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي تَعُودُ عَلَى الْفَرْدِ وَعَلَى الْمُجْتَمَعِ بِالْخَيْرِ الْعَمِيمِ وَفَّقَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ لِكُلِّ خَيْرٍ وَهُدًى وَصَلَاحٍ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Serial Fikih Muamalah (Bag. 9): Mengenal Istilah “Akad” dan Perspektif Islam Terhadapnya

Baca pembahasan sebelumnya Serial Fikih Muamalah (Bag. 8): Cara-Cara Memperoleh Harta yang Dilarang SyariatAkad memiliki peranan penting dalam berbagai persoalan muamalah, baik itu yang bersifat interaksi maupun transaksi. Bahkan, akad dapat menjadi salah satu penentu sah atau tidaknya suatu transaksi.Dengan sahnya sebuah akad, kepemilikan berpindah dari satu pihak ke pihak yang lain. Dengan akad pula, wewenang, tanggung jawab, dan kegunaan dapat berubah. Atas dasar inilah kajian tentang akad menjadi sangat penting untuk dibahas dan dipelajari sebelum lebih jauh berbicara tentang berbagai persoalan muamalah dalam Islam. Daftar Isi sembunyikan 1. Pengertian akad 2. Perspektif Islam terhadap akad 2.1. Pertama: Islam menetapkan akad-akad guna memenuhi kebutuhan manusia 2.2. Kedua: Islam menjadikan keridaan dan kerelaan hati sebagai asas terbentuknya sebuah akad. 2.3. Ketiga: Islam membangun akad atas asas kebebasan bertransaksi 2.4. Keempat: Islam membangun akad berdasarkan maksud dan niat 2.5. Kelima: Islam mengajak kita untuk menghargai akad dan menepatinya Pengertian akadAkad secara bahasa artinya menggabungkan, mengikat, dan mengencangkan ujung sesuatu. Lawan katanya adalah melepaskan. Akad juga sering dimaknai dengan mengencangkan dan menguatkan sesuatu.Kata akad digunakan secara makna hakikinya dalam hal mengikat sesuatu yang nampak (konkrit dan bisa disentuh), contohnya (عقد الحبل) Aqdu Al-Habl, artinya ikatan tali. Sedangkan makna metaforanya, maka digunakan untuk mengikat sesuatu yang  bersifat tidak nampak (abstrak/maknawi), contohnya (عقد البيع) Aqdu Al-Bay’i, artinya kontrak/ikatan jual beli.Dalam Fikih Islam, akad memiliki dua makna:Yang pertama: sebuah ikatan yang timbul dari dua perkataan atau sesuatu yang menggantikan keduanya, seperti isyarat ataupun tulisan, berdasarkan ketentuan syariat yang berdampak pada objeknya.Oleh karena itu, jika ada seseorang yang mengatakan,‘Aku menjual pena ini dengan harga lima ribu rupiah.’,lalu calon pembeli mengatakan, ‘Deal/setuju!’,maka terbentuklah sebuah akad dan terbentuk juga konsekuensi hukum syariat atau pengaruh akad tersebut, baik itu perpindahan kepemilikan pena kepada pembelinya, perpindahan kepemilikan uang pada penjualnya, atau wajibnya kedua belah pihak untuk menyerahkan apa yang sudah ia akadkan kepada masing-masing pihak.Melihat makna akad yang pertama ini, maka akad (ikatan) yang timbul hanya dari keinginan satu pihak saja tidak termasuk di dalamnya, seperti talak, pengakuan bebas hutang, ataupun pembebasan budak oleh tuannya.Adapun makna ‘akad’ yang kedua: maka lebih umum dan lebih menyeluruh dari makna pertama, karena tidak menyaratkan adanya dua pihak pada semua keadaan. Akad bisa terjadi hanya dengan keinginan satu pihak saja (seperti akad talak) dan bisa juga terjadi karena adanya keinginan dari dua pihak (seperti akad jual beli, sewa menyewa, dan akad nikah).Untuk lebih ringkasnya, makna kedua ini memiliki definisi, “Setiap ucapan lisan yang menimbulkan suatu hukum syariat, baik itu dari satu pihak ataupun dari dua pihak.”Akad dengan makna kedua inilah yang digunakan oleh mayoritas mazhab, baik itu Malikiyyah, Syafi’iyyah, ataupun Hanabilah. Hal ini juga dikuatkan oleh beberapa ayat Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah Ta’ala,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji.” (QS. Al-Ma’idah: 1)Akad itu sifatnya umum, mencakup seluruh jenis komitmen dalam ucapan, baik itu berupa janji, pemberian sukarela, akad nikah, akad jual beli, dan akad-akad lain yang harus berjalan sesuai ketentuan syariat.Allah Ta’ala juga berfirman, لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغْوِ فِيْٓ اَيْمَانِكُمْ وَلٰكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الْاَيْمَانَۚ “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.” (QS. Al-Ma’idah: 89)(عَقَّدْتُّمُ) pada ayat di atas maknanya adalah akad sumpah seperti akad janji.Baca Juga: Kondisi yang Membolehkan bagi Kita untuk Membatalkan Akad Sewa-MenyewaPerspektif Islam terhadap akadIslam memandang akad dengan perspektif subyektif dan independen. Hal ini menguatkan bahwa syariat Islam berlaku dan bisa beradaptasi sepanjang zaman dan dapat dipraktikkan di semua tempat serta memberikan ‘akad’ prioritas dalam hal pengaplikasian.Islam membentuk dan mengesahkan akad-akad untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan darurat masyarakat, membangunnya di atas asas keridaan dan kerelaan hati, juga di atas asas kebebasan dalam bertransaksi dan beberapa hal lainnya yang akan kita jelaskan setelah ini.Pertama: Islam menetapkan akad-akad guna memenuhi kebutuhan manusiaSaat agama Islam pertama kali datang, manusia sudah terlebih dahulu berinteraksi dan bertransaksi dengan berbagai macam bentuk akad yang sudah ada. Lalu, Islam datang dan menetapkan akad-akad mana saja yang diperbolehkan dan akad mana saja yang tidak diperbolehkan. Islam juga memperbaiki dan membenahi akad yang sudah ada jika memang butuh diperbaiki, sehingga ia tetap berlaku dan dapat diaplikasikan tanpa adanya pelanggaran terhadap kaidah-kaidah yang ada.Oleh karenanya, Islam menghalalkan akad jual beli. Allah Ta’ala berfirman,وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Kebutuhan manusia mendorong penghalalan akad jual beli.Mengapa? Karena kebutuhan seseorang terkadang berkaitan dan bersinggungan dengan apa yang berada di tangan orang lain, di mana orang tersebut tidak akan mungkin memberikan apa yang ada di tangannya, kecuali dengan adanya imbalan. Dengan dihalalkannya akad jual beli, maka itu memungkinkan kedua pihak (penjual dan pembeli) untuk sama-sama meraih tujuan dan keinginannya.Islam juga memperbolehkan syirkah (kongsi/mitra usaha) melihat kebutuhan manusia yang sangat besar terhadapnya. Entah itu untuk memperoleh penghasilan dasar karena belum memilikinya ataupun untuk mengembangkan dan menginvestasikan penghasilan yang telah ia peroleh tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ الْخُلَطَاۤءِ لَيَبْغِيْ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ“Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu (berkongsi) itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.” (QS. Shad: 24)Sulaiman bin Abi Muslim berkata,سَأَلْتُ أَبَا الْمِنْهَالِ عَنْ الصَّرْفِ يَدًا بِيَدٍ فَقَالَ اشْتَرَيْتُ أَنَا وَشَرِيكٌ لِي شَيْئًا يَدًا بِيَدٍ وَنَسِيئَةً فَجَاءَنَا الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ فَسَأَلْنَاهُ فَقَالَ فَعَلْتُ أَنَا وَشَرِيكِي زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ وَسَأَلْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ مَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ فَخُذُوهُ وَمَا كَانَ نَسِيئَةً فَذَرُوهُAku bertanya kepada Al-Minhal tentang tentang pertukaran uang secara langsung. Maka, dia berkata, “Dahulu aku dan mitra usahaku membeli sesuatu secara langsung dan dengan tempo, lalu datang kepada kami Al-Bara’ bin ‘Azib, lalu kami tanyakan kepadanya tentang masalah itu, maka dia berkata, ‘Dulu aku dan mitra usahaku Zaid bin Arqam pernah menanyakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, ‘Jika transaksi langsung di atas tangan (pembayaran secara cash, kontan) ambillah, namun bila tunda (tempo), maka tinggalkanlah.'” (HR. Bukhari no. 2497)Baca Juga: Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah?Kedua: Islam menjadikan keridaan dan kerelaan hati sebagai asas terbentuknya sebuah akad.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 29).Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ“Sesungguhnya jual beli (harus) atas dasar saling rida (suka sama suka).” (HR. Ibnu Majah no. 1792)Ketiga: Islam membangun akad atas asas kebebasan bertransaksiIslam memberikan kebebasan kepada kedua belah pihak dalam merealisasikan keinginan mereka saat bertransaksi. Mereka juga diperbolehkan untuk saling memberikan syarat dalam bertransaksi. Hanya saja, semua hal tersebut harus sesuai dengan kaidah-kaidah umum yang berlaku dalam syariat Islam, serta tidak bertentangan dengan tujuan-tujuan akad.Karenanya, seorang muslim tidak boleh dipaksa untuk meneken kontrak dan menyetujui sebuah akad, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إنَّ اللهَ تعالى وضع عن أُمَّتي الخطأَ ، و النسيانَ ، و ما اسْتُكرِهوا عليه“Sesungguhnya Allah membiarkan (mengampuni) kesalahan dari umatku akibat kekeliruan dan lupa serta keterpaksaan.” (HR. Ibnu Majah no. 2045 dan Al-Baihaqi no. 11787 serta disahihkan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 1836)Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, المُسلِمونَ على شُروطِهِم“Kaum muslim wajib berpegang pada syarat-syarat mereka.” (HR. Abu Dawud no. 3594 dan Ibnu Hibban no. 5091)Keempat: Islam membangun akad berdasarkan maksud dan niatDalam menerapkan hukum-hukum akad, Islam membangunnya berdasarkan maksud kedua belah pihak dan niat mereka, bukan berdasarkan apa yang nampak dari ucapan mereka saat akad berlangsung. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,“Di antara kaidah syariat yang tidak boleh dihilangkan dan dihancurkan, bahwa maksud dan niat yang ada di hati merupakan hal yang dipertimbangkan dalam tindakan (transaksi) dan kebiasaan, sebagaimana hal tersebut juga dipertimbangkan dalam ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.” (I’lam Muwaqqi’in, 3: 95-96)Hanya saja, kita tidak boleh mengabaikan secara keseluruhan apa yang nampak dari ucapan ketika bermuamalah, karena lafaz (kata-kata dan ucapan) sejatinya mencerminkan apa yang ada di hati.Oleh karenanya, lafaz harus terlebih dahulu diperhatikan saat bermuamalah, karena ia menunjukkan keinginan hati. Hanya saja, ketika didapati bahwa apa yang ada di hati berbeda dengan apa yang dilafazkan dan diucapkan oleh lisan serta tidak mungkin menggabungkan antara keduanya, maka maksud dan niat hati lebih didahulukan daripada ucapan lisan.Kelima: Islam mengajak kita untuk menghargai akad dan menepatinyaKarena menepati akad (janji/ikatan) termasuk salah satu prinsip dasar dalam transaksi-transaksi keuangan (harta), baik itu jual beli, sewa menyewa, mitra usaha, akad wakaf, dan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji.” (QS. Al-Ma’idah: 1)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan menjadikan setiap transaksi yang kita lakukan selalu dalam koridor syariat. Pada pembahasan selanjutnya, insyaAllah akan kita bahas perihal macam-macam akad dan bagaimana akad tersebut terbentuk.Wallahu A’lam Bisshowaab.[Bersambung]Baca Juga:Akad Nikah Orang yang BisuMengembangkan Dakwah di Zaman Fitnah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Kitab Al-Madkhal Ilaa Fiqhi Al-Muaamalaat Al-Maaliyyah karya Prof. Dr. Muhammad Utsman Syubair dengan beberapa penyesuaian.🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Golongan Salafi, Ciri Ciri Wanita Sholihah, Doa Sajadah, Doa Amalan HarianTags: bisnisfatwaFatwa Ulamafikihfikih jual belifikih muamalahislamJual Belijual beli dalam islammuamalahmuamalah dalam Islamnaishatpedagangpengusaha muslim

Serial Fikih Muamalah (Bag. 9): Mengenal Istilah “Akad” dan Perspektif Islam Terhadapnya

Baca pembahasan sebelumnya Serial Fikih Muamalah (Bag. 8): Cara-Cara Memperoleh Harta yang Dilarang SyariatAkad memiliki peranan penting dalam berbagai persoalan muamalah, baik itu yang bersifat interaksi maupun transaksi. Bahkan, akad dapat menjadi salah satu penentu sah atau tidaknya suatu transaksi.Dengan sahnya sebuah akad, kepemilikan berpindah dari satu pihak ke pihak yang lain. Dengan akad pula, wewenang, tanggung jawab, dan kegunaan dapat berubah. Atas dasar inilah kajian tentang akad menjadi sangat penting untuk dibahas dan dipelajari sebelum lebih jauh berbicara tentang berbagai persoalan muamalah dalam Islam. Daftar Isi sembunyikan 1. Pengertian akad 2. Perspektif Islam terhadap akad 2.1. Pertama: Islam menetapkan akad-akad guna memenuhi kebutuhan manusia 2.2. Kedua: Islam menjadikan keridaan dan kerelaan hati sebagai asas terbentuknya sebuah akad. 2.3. Ketiga: Islam membangun akad atas asas kebebasan bertransaksi 2.4. Keempat: Islam membangun akad berdasarkan maksud dan niat 2.5. Kelima: Islam mengajak kita untuk menghargai akad dan menepatinya Pengertian akadAkad secara bahasa artinya menggabungkan, mengikat, dan mengencangkan ujung sesuatu. Lawan katanya adalah melepaskan. Akad juga sering dimaknai dengan mengencangkan dan menguatkan sesuatu.Kata akad digunakan secara makna hakikinya dalam hal mengikat sesuatu yang nampak (konkrit dan bisa disentuh), contohnya (عقد الحبل) Aqdu Al-Habl, artinya ikatan tali. Sedangkan makna metaforanya, maka digunakan untuk mengikat sesuatu yang  bersifat tidak nampak (abstrak/maknawi), contohnya (عقد البيع) Aqdu Al-Bay’i, artinya kontrak/ikatan jual beli.Dalam Fikih Islam, akad memiliki dua makna:Yang pertama: sebuah ikatan yang timbul dari dua perkataan atau sesuatu yang menggantikan keduanya, seperti isyarat ataupun tulisan, berdasarkan ketentuan syariat yang berdampak pada objeknya.Oleh karena itu, jika ada seseorang yang mengatakan,‘Aku menjual pena ini dengan harga lima ribu rupiah.’,lalu calon pembeli mengatakan, ‘Deal/setuju!’,maka terbentuklah sebuah akad dan terbentuk juga konsekuensi hukum syariat atau pengaruh akad tersebut, baik itu perpindahan kepemilikan pena kepada pembelinya, perpindahan kepemilikan uang pada penjualnya, atau wajibnya kedua belah pihak untuk menyerahkan apa yang sudah ia akadkan kepada masing-masing pihak.Melihat makna akad yang pertama ini, maka akad (ikatan) yang timbul hanya dari keinginan satu pihak saja tidak termasuk di dalamnya, seperti talak, pengakuan bebas hutang, ataupun pembebasan budak oleh tuannya.Adapun makna ‘akad’ yang kedua: maka lebih umum dan lebih menyeluruh dari makna pertama, karena tidak menyaratkan adanya dua pihak pada semua keadaan. Akad bisa terjadi hanya dengan keinginan satu pihak saja (seperti akad talak) dan bisa juga terjadi karena adanya keinginan dari dua pihak (seperti akad jual beli, sewa menyewa, dan akad nikah).Untuk lebih ringkasnya, makna kedua ini memiliki definisi, “Setiap ucapan lisan yang menimbulkan suatu hukum syariat, baik itu dari satu pihak ataupun dari dua pihak.”Akad dengan makna kedua inilah yang digunakan oleh mayoritas mazhab, baik itu Malikiyyah, Syafi’iyyah, ataupun Hanabilah. Hal ini juga dikuatkan oleh beberapa ayat Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah Ta’ala,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji.” (QS. Al-Ma’idah: 1)Akad itu sifatnya umum, mencakup seluruh jenis komitmen dalam ucapan, baik itu berupa janji, pemberian sukarela, akad nikah, akad jual beli, dan akad-akad lain yang harus berjalan sesuai ketentuan syariat.Allah Ta’ala juga berfirman, لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغْوِ فِيْٓ اَيْمَانِكُمْ وَلٰكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الْاَيْمَانَۚ “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.” (QS. Al-Ma’idah: 89)(عَقَّدْتُّمُ) pada ayat di atas maknanya adalah akad sumpah seperti akad janji.Baca Juga: Kondisi yang Membolehkan bagi Kita untuk Membatalkan Akad Sewa-MenyewaPerspektif Islam terhadap akadIslam memandang akad dengan perspektif subyektif dan independen. Hal ini menguatkan bahwa syariat Islam berlaku dan bisa beradaptasi sepanjang zaman dan dapat dipraktikkan di semua tempat serta memberikan ‘akad’ prioritas dalam hal pengaplikasian.Islam membentuk dan mengesahkan akad-akad untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan darurat masyarakat, membangunnya di atas asas keridaan dan kerelaan hati, juga di atas asas kebebasan dalam bertransaksi dan beberapa hal lainnya yang akan kita jelaskan setelah ini.Pertama: Islam menetapkan akad-akad guna memenuhi kebutuhan manusiaSaat agama Islam pertama kali datang, manusia sudah terlebih dahulu berinteraksi dan bertransaksi dengan berbagai macam bentuk akad yang sudah ada. Lalu, Islam datang dan menetapkan akad-akad mana saja yang diperbolehkan dan akad mana saja yang tidak diperbolehkan. Islam juga memperbaiki dan membenahi akad yang sudah ada jika memang butuh diperbaiki, sehingga ia tetap berlaku dan dapat diaplikasikan tanpa adanya pelanggaran terhadap kaidah-kaidah yang ada.Oleh karenanya, Islam menghalalkan akad jual beli. Allah Ta’ala berfirman,وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Kebutuhan manusia mendorong penghalalan akad jual beli.Mengapa? Karena kebutuhan seseorang terkadang berkaitan dan bersinggungan dengan apa yang berada di tangan orang lain, di mana orang tersebut tidak akan mungkin memberikan apa yang ada di tangannya, kecuali dengan adanya imbalan. Dengan dihalalkannya akad jual beli, maka itu memungkinkan kedua pihak (penjual dan pembeli) untuk sama-sama meraih tujuan dan keinginannya.Islam juga memperbolehkan syirkah (kongsi/mitra usaha) melihat kebutuhan manusia yang sangat besar terhadapnya. Entah itu untuk memperoleh penghasilan dasar karena belum memilikinya ataupun untuk mengembangkan dan menginvestasikan penghasilan yang telah ia peroleh tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ الْخُلَطَاۤءِ لَيَبْغِيْ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ“Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu (berkongsi) itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.” (QS. Shad: 24)Sulaiman bin Abi Muslim berkata,سَأَلْتُ أَبَا الْمِنْهَالِ عَنْ الصَّرْفِ يَدًا بِيَدٍ فَقَالَ اشْتَرَيْتُ أَنَا وَشَرِيكٌ لِي شَيْئًا يَدًا بِيَدٍ وَنَسِيئَةً فَجَاءَنَا الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ فَسَأَلْنَاهُ فَقَالَ فَعَلْتُ أَنَا وَشَرِيكِي زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ وَسَأَلْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ مَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ فَخُذُوهُ وَمَا كَانَ نَسِيئَةً فَذَرُوهُAku bertanya kepada Al-Minhal tentang tentang pertukaran uang secara langsung. Maka, dia berkata, “Dahulu aku dan mitra usahaku membeli sesuatu secara langsung dan dengan tempo, lalu datang kepada kami Al-Bara’ bin ‘Azib, lalu kami tanyakan kepadanya tentang masalah itu, maka dia berkata, ‘Dulu aku dan mitra usahaku Zaid bin Arqam pernah menanyakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, ‘Jika transaksi langsung di atas tangan (pembayaran secara cash, kontan) ambillah, namun bila tunda (tempo), maka tinggalkanlah.'” (HR. Bukhari no. 2497)Baca Juga: Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah?Kedua: Islam menjadikan keridaan dan kerelaan hati sebagai asas terbentuknya sebuah akad.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 29).Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ“Sesungguhnya jual beli (harus) atas dasar saling rida (suka sama suka).” (HR. Ibnu Majah no. 1792)Ketiga: Islam membangun akad atas asas kebebasan bertransaksiIslam memberikan kebebasan kepada kedua belah pihak dalam merealisasikan keinginan mereka saat bertransaksi. Mereka juga diperbolehkan untuk saling memberikan syarat dalam bertransaksi. Hanya saja, semua hal tersebut harus sesuai dengan kaidah-kaidah umum yang berlaku dalam syariat Islam, serta tidak bertentangan dengan tujuan-tujuan akad.Karenanya, seorang muslim tidak boleh dipaksa untuk meneken kontrak dan menyetujui sebuah akad, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إنَّ اللهَ تعالى وضع عن أُمَّتي الخطأَ ، و النسيانَ ، و ما اسْتُكرِهوا عليه“Sesungguhnya Allah membiarkan (mengampuni) kesalahan dari umatku akibat kekeliruan dan lupa serta keterpaksaan.” (HR. Ibnu Majah no. 2045 dan Al-Baihaqi no. 11787 serta disahihkan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 1836)Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, المُسلِمونَ على شُروطِهِم“Kaum muslim wajib berpegang pada syarat-syarat mereka.” (HR. Abu Dawud no. 3594 dan Ibnu Hibban no. 5091)Keempat: Islam membangun akad berdasarkan maksud dan niatDalam menerapkan hukum-hukum akad, Islam membangunnya berdasarkan maksud kedua belah pihak dan niat mereka, bukan berdasarkan apa yang nampak dari ucapan mereka saat akad berlangsung. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,“Di antara kaidah syariat yang tidak boleh dihilangkan dan dihancurkan, bahwa maksud dan niat yang ada di hati merupakan hal yang dipertimbangkan dalam tindakan (transaksi) dan kebiasaan, sebagaimana hal tersebut juga dipertimbangkan dalam ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.” (I’lam Muwaqqi’in, 3: 95-96)Hanya saja, kita tidak boleh mengabaikan secara keseluruhan apa yang nampak dari ucapan ketika bermuamalah, karena lafaz (kata-kata dan ucapan) sejatinya mencerminkan apa yang ada di hati.Oleh karenanya, lafaz harus terlebih dahulu diperhatikan saat bermuamalah, karena ia menunjukkan keinginan hati. Hanya saja, ketika didapati bahwa apa yang ada di hati berbeda dengan apa yang dilafazkan dan diucapkan oleh lisan serta tidak mungkin menggabungkan antara keduanya, maka maksud dan niat hati lebih didahulukan daripada ucapan lisan.Kelima: Islam mengajak kita untuk menghargai akad dan menepatinyaKarena menepati akad (janji/ikatan) termasuk salah satu prinsip dasar dalam transaksi-transaksi keuangan (harta), baik itu jual beli, sewa menyewa, mitra usaha, akad wakaf, dan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji.” (QS. Al-Ma’idah: 1)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan menjadikan setiap transaksi yang kita lakukan selalu dalam koridor syariat. Pada pembahasan selanjutnya, insyaAllah akan kita bahas perihal macam-macam akad dan bagaimana akad tersebut terbentuk.Wallahu A’lam Bisshowaab.[Bersambung]Baca Juga:Akad Nikah Orang yang BisuMengembangkan Dakwah di Zaman Fitnah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Kitab Al-Madkhal Ilaa Fiqhi Al-Muaamalaat Al-Maaliyyah karya Prof. Dr. Muhammad Utsman Syubair dengan beberapa penyesuaian.🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Golongan Salafi, Ciri Ciri Wanita Sholihah, Doa Sajadah, Doa Amalan HarianTags: bisnisfatwaFatwa Ulamafikihfikih jual belifikih muamalahislamJual Belijual beli dalam islammuamalahmuamalah dalam Islamnaishatpedagangpengusaha muslim
Baca pembahasan sebelumnya Serial Fikih Muamalah (Bag. 8): Cara-Cara Memperoleh Harta yang Dilarang SyariatAkad memiliki peranan penting dalam berbagai persoalan muamalah, baik itu yang bersifat interaksi maupun transaksi. Bahkan, akad dapat menjadi salah satu penentu sah atau tidaknya suatu transaksi.Dengan sahnya sebuah akad, kepemilikan berpindah dari satu pihak ke pihak yang lain. Dengan akad pula, wewenang, tanggung jawab, dan kegunaan dapat berubah. Atas dasar inilah kajian tentang akad menjadi sangat penting untuk dibahas dan dipelajari sebelum lebih jauh berbicara tentang berbagai persoalan muamalah dalam Islam. Daftar Isi sembunyikan 1. Pengertian akad 2. Perspektif Islam terhadap akad 2.1. Pertama: Islam menetapkan akad-akad guna memenuhi kebutuhan manusia 2.2. Kedua: Islam menjadikan keridaan dan kerelaan hati sebagai asas terbentuknya sebuah akad. 2.3. Ketiga: Islam membangun akad atas asas kebebasan bertransaksi 2.4. Keempat: Islam membangun akad berdasarkan maksud dan niat 2.5. Kelima: Islam mengajak kita untuk menghargai akad dan menepatinya Pengertian akadAkad secara bahasa artinya menggabungkan, mengikat, dan mengencangkan ujung sesuatu. Lawan katanya adalah melepaskan. Akad juga sering dimaknai dengan mengencangkan dan menguatkan sesuatu.Kata akad digunakan secara makna hakikinya dalam hal mengikat sesuatu yang nampak (konkrit dan bisa disentuh), contohnya (عقد الحبل) Aqdu Al-Habl, artinya ikatan tali. Sedangkan makna metaforanya, maka digunakan untuk mengikat sesuatu yang  bersifat tidak nampak (abstrak/maknawi), contohnya (عقد البيع) Aqdu Al-Bay’i, artinya kontrak/ikatan jual beli.Dalam Fikih Islam, akad memiliki dua makna:Yang pertama: sebuah ikatan yang timbul dari dua perkataan atau sesuatu yang menggantikan keduanya, seperti isyarat ataupun tulisan, berdasarkan ketentuan syariat yang berdampak pada objeknya.Oleh karena itu, jika ada seseorang yang mengatakan,‘Aku menjual pena ini dengan harga lima ribu rupiah.’,lalu calon pembeli mengatakan, ‘Deal/setuju!’,maka terbentuklah sebuah akad dan terbentuk juga konsekuensi hukum syariat atau pengaruh akad tersebut, baik itu perpindahan kepemilikan pena kepada pembelinya, perpindahan kepemilikan uang pada penjualnya, atau wajibnya kedua belah pihak untuk menyerahkan apa yang sudah ia akadkan kepada masing-masing pihak.Melihat makna akad yang pertama ini, maka akad (ikatan) yang timbul hanya dari keinginan satu pihak saja tidak termasuk di dalamnya, seperti talak, pengakuan bebas hutang, ataupun pembebasan budak oleh tuannya.Adapun makna ‘akad’ yang kedua: maka lebih umum dan lebih menyeluruh dari makna pertama, karena tidak menyaratkan adanya dua pihak pada semua keadaan. Akad bisa terjadi hanya dengan keinginan satu pihak saja (seperti akad talak) dan bisa juga terjadi karena adanya keinginan dari dua pihak (seperti akad jual beli, sewa menyewa, dan akad nikah).Untuk lebih ringkasnya, makna kedua ini memiliki definisi, “Setiap ucapan lisan yang menimbulkan suatu hukum syariat, baik itu dari satu pihak ataupun dari dua pihak.”Akad dengan makna kedua inilah yang digunakan oleh mayoritas mazhab, baik itu Malikiyyah, Syafi’iyyah, ataupun Hanabilah. Hal ini juga dikuatkan oleh beberapa ayat Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah Ta’ala,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji.” (QS. Al-Ma’idah: 1)Akad itu sifatnya umum, mencakup seluruh jenis komitmen dalam ucapan, baik itu berupa janji, pemberian sukarela, akad nikah, akad jual beli, dan akad-akad lain yang harus berjalan sesuai ketentuan syariat.Allah Ta’ala juga berfirman, لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغْوِ فِيْٓ اَيْمَانِكُمْ وَلٰكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الْاَيْمَانَۚ “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.” (QS. Al-Ma’idah: 89)(عَقَّدْتُّمُ) pada ayat di atas maknanya adalah akad sumpah seperti akad janji.Baca Juga: Kondisi yang Membolehkan bagi Kita untuk Membatalkan Akad Sewa-MenyewaPerspektif Islam terhadap akadIslam memandang akad dengan perspektif subyektif dan independen. Hal ini menguatkan bahwa syariat Islam berlaku dan bisa beradaptasi sepanjang zaman dan dapat dipraktikkan di semua tempat serta memberikan ‘akad’ prioritas dalam hal pengaplikasian.Islam membentuk dan mengesahkan akad-akad untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan darurat masyarakat, membangunnya di atas asas keridaan dan kerelaan hati, juga di atas asas kebebasan dalam bertransaksi dan beberapa hal lainnya yang akan kita jelaskan setelah ini.Pertama: Islam menetapkan akad-akad guna memenuhi kebutuhan manusiaSaat agama Islam pertama kali datang, manusia sudah terlebih dahulu berinteraksi dan bertransaksi dengan berbagai macam bentuk akad yang sudah ada. Lalu, Islam datang dan menetapkan akad-akad mana saja yang diperbolehkan dan akad mana saja yang tidak diperbolehkan. Islam juga memperbaiki dan membenahi akad yang sudah ada jika memang butuh diperbaiki, sehingga ia tetap berlaku dan dapat diaplikasikan tanpa adanya pelanggaran terhadap kaidah-kaidah yang ada.Oleh karenanya, Islam menghalalkan akad jual beli. Allah Ta’ala berfirman,وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Kebutuhan manusia mendorong penghalalan akad jual beli.Mengapa? Karena kebutuhan seseorang terkadang berkaitan dan bersinggungan dengan apa yang berada di tangan orang lain, di mana orang tersebut tidak akan mungkin memberikan apa yang ada di tangannya, kecuali dengan adanya imbalan. Dengan dihalalkannya akad jual beli, maka itu memungkinkan kedua pihak (penjual dan pembeli) untuk sama-sama meraih tujuan dan keinginannya.Islam juga memperbolehkan syirkah (kongsi/mitra usaha) melihat kebutuhan manusia yang sangat besar terhadapnya. Entah itu untuk memperoleh penghasilan dasar karena belum memilikinya ataupun untuk mengembangkan dan menginvestasikan penghasilan yang telah ia peroleh tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ الْخُلَطَاۤءِ لَيَبْغِيْ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ“Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu (berkongsi) itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.” (QS. Shad: 24)Sulaiman bin Abi Muslim berkata,سَأَلْتُ أَبَا الْمِنْهَالِ عَنْ الصَّرْفِ يَدًا بِيَدٍ فَقَالَ اشْتَرَيْتُ أَنَا وَشَرِيكٌ لِي شَيْئًا يَدًا بِيَدٍ وَنَسِيئَةً فَجَاءَنَا الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ فَسَأَلْنَاهُ فَقَالَ فَعَلْتُ أَنَا وَشَرِيكِي زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ وَسَأَلْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ مَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ فَخُذُوهُ وَمَا كَانَ نَسِيئَةً فَذَرُوهُAku bertanya kepada Al-Minhal tentang tentang pertukaran uang secara langsung. Maka, dia berkata, “Dahulu aku dan mitra usahaku membeli sesuatu secara langsung dan dengan tempo, lalu datang kepada kami Al-Bara’ bin ‘Azib, lalu kami tanyakan kepadanya tentang masalah itu, maka dia berkata, ‘Dulu aku dan mitra usahaku Zaid bin Arqam pernah menanyakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, ‘Jika transaksi langsung di atas tangan (pembayaran secara cash, kontan) ambillah, namun bila tunda (tempo), maka tinggalkanlah.'” (HR. Bukhari no. 2497)Baca Juga: Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah?Kedua: Islam menjadikan keridaan dan kerelaan hati sebagai asas terbentuknya sebuah akad.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 29).Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ“Sesungguhnya jual beli (harus) atas dasar saling rida (suka sama suka).” (HR. Ibnu Majah no. 1792)Ketiga: Islam membangun akad atas asas kebebasan bertransaksiIslam memberikan kebebasan kepada kedua belah pihak dalam merealisasikan keinginan mereka saat bertransaksi. Mereka juga diperbolehkan untuk saling memberikan syarat dalam bertransaksi. Hanya saja, semua hal tersebut harus sesuai dengan kaidah-kaidah umum yang berlaku dalam syariat Islam, serta tidak bertentangan dengan tujuan-tujuan akad.Karenanya, seorang muslim tidak boleh dipaksa untuk meneken kontrak dan menyetujui sebuah akad, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إنَّ اللهَ تعالى وضع عن أُمَّتي الخطأَ ، و النسيانَ ، و ما اسْتُكرِهوا عليه“Sesungguhnya Allah membiarkan (mengampuni) kesalahan dari umatku akibat kekeliruan dan lupa serta keterpaksaan.” (HR. Ibnu Majah no. 2045 dan Al-Baihaqi no. 11787 serta disahihkan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 1836)Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, المُسلِمونَ على شُروطِهِم“Kaum muslim wajib berpegang pada syarat-syarat mereka.” (HR. Abu Dawud no. 3594 dan Ibnu Hibban no. 5091)Keempat: Islam membangun akad berdasarkan maksud dan niatDalam menerapkan hukum-hukum akad, Islam membangunnya berdasarkan maksud kedua belah pihak dan niat mereka, bukan berdasarkan apa yang nampak dari ucapan mereka saat akad berlangsung. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,“Di antara kaidah syariat yang tidak boleh dihilangkan dan dihancurkan, bahwa maksud dan niat yang ada di hati merupakan hal yang dipertimbangkan dalam tindakan (transaksi) dan kebiasaan, sebagaimana hal tersebut juga dipertimbangkan dalam ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.” (I’lam Muwaqqi’in, 3: 95-96)Hanya saja, kita tidak boleh mengabaikan secara keseluruhan apa yang nampak dari ucapan ketika bermuamalah, karena lafaz (kata-kata dan ucapan) sejatinya mencerminkan apa yang ada di hati.Oleh karenanya, lafaz harus terlebih dahulu diperhatikan saat bermuamalah, karena ia menunjukkan keinginan hati. Hanya saja, ketika didapati bahwa apa yang ada di hati berbeda dengan apa yang dilafazkan dan diucapkan oleh lisan serta tidak mungkin menggabungkan antara keduanya, maka maksud dan niat hati lebih didahulukan daripada ucapan lisan.Kelima: Islam mengajak kita untuk menghargai akad dan menepatinyaKarena menepati akad (janji/ikatan) termasuk salah satu prinsip dasar dalam transaksi-transaksi keuangan (harta), baik itu jual beli, sewa menyewa, mitra usaha, akad wakaf, dan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji.” (QS. Al-Ma’idah: 1)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan menjadikan setiap transaksi yang kita lakukan selalu dalam koridor syariat. Pada pembahasan selanjutnya, insyaAllah akan kita bahas perihal macam-macam akad dan bagaimana akad tersebut terbentuk.Wallahu A’lam Bisshowaab.[Bersambung]Baca Juga:Akad Nikah Orang yang BisuMengembangkan Dakwah di Zaman Fitnah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Kitab Al-Madkhal Ilaa Fiqhi Al-Muaamalaat Al-Maaliyyah karya Prof. Dr. Muhammad Utsman Syubair dengan beberapa penyesuaian.🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Golongan Salafi, Ciri Ciri Wanita Sholihah, Doa Sajadah, Doa Amalan HarianTags: bisnisfatwaFatwa Ulamafikihfikih jual belifikih muamalahislamJual Belijual beli dalam islammuamalahmuamalah dalam Islamnaishatpedagangpengusaha muslim


Baca pembahasan sebelumnya Serial Fikih Muamalah (Bag. 8): Cara-Cara Memperoleh Harta yang Dilarang SyariatAkad memiliki peranan penting dalam berbagai persoalan muamalah, baik itu yang bersifat interaksi maupun transaksi. Bahkan, akad dapat menjadi salah satu penentu sah atau tidaknya suatu transaksi.Dengan sahnya sebuah akad, kepemilikan berpindah dari satu pihak ke pihak yang lain. Dengan akad pula, wewenang, tanggung jawab, dan kegunaan dapat berubah. Atas dasar inilah kajian tentang akad menjadi sangat penting untuk dibahas dan dipelajari sebelum lebih jauh berbicara tentang berbagai persoalan muamalah dalam Islam. Daftar Isi sembunyikan 1. Pengertian akad 2. Perspektif Islam terhadap akad 2.1. Pertama: Islam menetapkan akad-akad guna memenuhi kebutuhan manusia 2.2. Kedua: Islam menjadikan keridaan dan kerelaan hati sebagai asas terbentuknya sebuah akad. 2.3. Ketiga: Islam membangun akad atas asas kebebasan bertransaksi 2.4. Keempat: Islam membangun akad berdasarkan maksud dan niat 2.5. Kelima: Islam mengajak kita untuk menghargai akad dan menepatinya Pengertian akadAkad secara bahasa artinya menggabungkan, mengikat, dan mengencangkan ujung sesuatu. Lawan katanya adalah melepaskan. Akad juga sering dimaknai dengan mengencangkan dan menguatkan sesuatu.Kata akad digunakan secara makna hakikinya dalam hal mengikat sesuatu yang nampak (konkrit dan bisa disentuh), contohnya (عقد الحبل) Aqdu Al-Habl, artinya ikatan tali. Sedangkan makna metaforanya, maka digunakan untuk mengikat sesuatu yang  bersifat tidak nampak (abstrak/maknawi), contohnya (عقد البيع) Aqdu Al-Bay’i, artinya kontrak/ikatan jual beli.Dalam Fikih Islam, akad memiliki dua makna:Yang pertama: sebuah ikatan yang timbul dari dua perkataan atau sesuatu yang menggantikan keduanya, seperti isyarat ataupun tulisan, berdasarkan ketentuan syariat yang berdampak pada objeknya.Oleh karena itu, jika ada seseorang yang mengatakan,‘Aku menjual pena ini dengan harga lima ribu rupiah.’,lalu calon pembeli mengatakan, ‘Deal/setuju!’,maka terbentuklah sebuah akad dan terbentuk juga konsekuensi hukum syariat atau pengaruh akad tersebut, baik itu perpindahan kepemilikan pena kepada pembelinya, perpindahan kepemilikan uang pada penjualnya, atau wajibnya kedua belah pihak untuk menyerahkan apa yang sudah ia akadkan kepada masing-masing pihak.Melihat makna akad yang pertama ini, maka akad (ikatan) yang timbul hanya dari keinginan satu pihak saja tidak termasuk di dalamnya, seperti talak, pengakuan bebas hutang, ataupun pembebasan budak oleh tuannya.Adapun makna ‘akad’ yang kedua: maka lebih umum dan lebih menyeluruh dari makna pertama, karena tidak menyaratkan adanya dua pihak pada semua keadaan. Akad bisa terjadi hanya dengan keinginan satu pihak saja (seperti akad talak) dan bisa juga terjadi karena adanya keinginan dari dua pihak (seperti akad jual beli, sewa menyewa, dan akad nikah).Untuk lebih ringkasnya, makna kedua ini memiliki definisi, “Setiap ucapan lisan yang menimbulkan suatu hukum syariat, baik itu dari satu pihak ataupun dari dua pihak.”Akad dengan makna kedua inilah yang digunakan oleh mayoritas mazhab, baik itu Malikiyyah, Syafi’iyyah, ataupun Hanabilah. Hal ini juga dikuatkan oleh beberapa ayat Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah Ta’ala,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji.” (QS. Al-Ma’idah: 1)Akad itu sifatnya umum, mencakup seluruh jenis komitmen dalam ucapan, baik itu berupa janji, pemberian sukarela, akad nikah, akad jual beli, dan akad-akad lain yang harus berjalan sesuai ketentuan syariat.Allah Ta’ala juga berfirman, لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغْوِ فِيْٓ اَيْمَانِكُمْ وَلٰكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الْاَيْمَانَۚ “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.” (QS. Al-Ma’idah: 89)(عَقَّدْتُّمُ) pada ayat di atas maknanya adalah akad sumpah seperti akad janji.Baca Juga: Kondisi yang Membolehkan bagi Kita untuk Membatalkan Akad Sewa-MenyewaPerspektif Islam terhadap akadIslam memandang akad dengan perspektif subyektif dan independen. Hal ini menguatkan bahwa syariat Islam berlaku dan bisa beradaptasi sepanjang zaman dan dapat dipraktikkan di semua tempat serta memberikan ‘akad’ prioritas dalam hal pengaplikasian.Islam membentuk dan mengesahkan akad-akad untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan darurat masyarakat, membangunnya di atas asas keridaan dan kerelaan hati, juga di atas asas kebebasan dalam bertransaksi dan beberapa hal lainnya yang akan kita jelaskan setelah ini.Pertama: Islam menetapkan akad-akad guna memenuhi kebutuhan manusiaSaat agama Islam pertama kali datang, manusia sudah terlebih dahulu berinteraksi dan bertransaksi dengan berbagai macam bentuk akad yang sudah ada. Lalu, Islam datang dan menetapkan akad-akad mana saja yang diperbolehkan dan akad mana saja yang tidak diperbolehkan. Islam juga memperbaiki dan membenahi akad yang sudah ada jika memang butuh diperbaiki, sehingga ia tetap berlaku dan dapat diaplikasikan tanpa adanya pelanggaran terhadap kaidah-kaidah yang ada.Oleh karenanya, Islam menghalalkan akad jual beli. Allah Ta’ala berfirman,وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Kebutuhan manusia mendorong penghalalan akad jual beli.Mengapa? Karena kebutuhan seseorang terkadang berkaitan dan bersinggungan dengan apa yang berada di tangan orang lain, di mana orang tersebut tidak akan mungkin memberikan apa yang ada di tangannya, kecuali dengan adanya imbalan. Dengan dihalalkannya akad jual beli, maka itu memungkinkan kedua pihak (penjual dan pembeli) untuk sama-sama meraih tujuan dan keinginannya.Islam juga memperbolehkan syirkah (kongsi/mitra usaha) melihat kebutuhan manusia yang sangat besar terhadapnya. Entah itu untuk memperoleh penghasilan dasar karena belum memilikinya ataupun untuk mengembangkan dan menginvestasikan penghasilan yang telah ia peroleh tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ الْخُلَطَاۤءِ لَيَبْغِيْ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ“Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu (berkongsi) itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.” (QS. Shad: 24)Sulaiman bin Abi Muslim berkata,سَأَلْتُ أَبَا الْمِنْهَالِ عَنْ الصَّرْفِ يَدًا بِيَدٍ فَقَالَ اشْتَرَيْتُ أَنَا وَشَرِيكٌ لِي شَيْئًا يَدًا بِيَدٍ وَنَسِيئَةً فَجَاءَنَا الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ فَسَأَلْنَاهُ فَقَالَ فَعَلْتُ أَنَا وَشَرِيكِي زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ وَسَأَلْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ مَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ فَخُذُوهُ وَمَا كَانَ نَسِيئَةً فَذَرُوهُAku bertanya kepada Al-Minhal tentang tentang pertukaran uang secara langsung. Maka, dia berkata, “Dahulu aku dan mitra usahaku membeli sesuatu secara langsung dan dengan tempo, lalu datang kepada kami Al-Bara’ bin ‘Azib, lalu kami tanyakan kepadanya tentang masalah itu, maka dia berkata, ‘Dulu aku dan mitra usahaku Zaid bin Arqam pernah menanyakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, ‘Jika transaksi langsung di atas tangan (pembayaran secara cash, kontan) ambillah, namun bila tunda (tempo), maka tinggalkanlah.'” (HR. Bukhari no. 2497)Baca Juga: Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah?Kedua: Islam menjadikan keridaan dan kerelaan hati sebagai asas terbentuknya sebuah akad.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 29).Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ“Sesungguhnya jual beli (harus) atas dasar saling rida (suka sama suka).” (HR. Ibnu Majah no. 1792)Ketiga: Islam membangun akad atas asas kebebasan bertransaksiIslam memberikan kebebasan kepada kedua belah pihak dalam merealisasikan keinginan mereka saat bertransaksi. Mereka juga diperbolehkan untuk saling memberikan syarat dalam bertransaksi. Hanya saja, semua hal tersebut harus sesuai dengan kaidah-kaidah umum yang berlaku dalam syariat Islam, serta tidak bertentangan dengan tujuan-tujuan akad.Karenanya, seorang muslim tidak boleh dipaksa untuk meneken kontrak dan menyetujui sebuah akad, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إنَّ اللهَ تعالى وضع عن أُمَّتي الخطأَ ، و النسيانَ ، و ما اسْتُكرِهوا عليه“Sesungguhnya Allah membiarkan (mengampuni) kesalahan dari umatku akibat kekeliruan dan lupa serta keterpaksaan.” (HR. Ibnu Majah no. 2045 dan Al-Baihaqi no. 11787 serta disahihkan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 1836)Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, المُسلِمونَ على شُروطِهِم“Kaum muslim wajib berpegang pada syarat-syarat mereka.” (HR. Abu Dawud no. 3594 dan Ibnu Hibban no. 5091)Keempat: Islam membangun akad berdasarkan maksud dan niatDalam menerapkan hukum-hukum akad, Islam membangunnya berdasarkan maksud kedua belah pihak dan niat mereka, bukan berdasarkan apa yang nampak dari ucapan mereka saat akad berlangsung. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,“Di antara kaidah syariat yang tidak boleh dihilangkan dan dihancurkan, bahwa maksud dan niat yang ada di hati merupakan hal yang dipertimbangkan dalam tindakan (transaksi) dan kebiasaan, sebagaimana hal tersebut juga dipertimbangkan dalam ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.” (I’lam Muwaqqi’in, 3: 95-96)Hanya saja, kita tidak boleh mengabaikan secara keseluruhan apa yang nampak dari ucapan ketika bermuamalah, karena lafaz (kata-kata dan ucapan) sejatinya mencerminkan apa yang ada di hati.Oleh karenanya, lafaz harus terlebih dahulu diperhatikan saat bermuamalah, karena ia menunjukkan keinginan hati. Hanya saja, ketika didapati bahwa apa yang ada di hati berbeda dengan apa yang dilafazkan dan diucapkan oleh lisan serta tidak mungkin menggabungkan antara keduanya, maka maksud dan niat hati lebih didahulukan daripada ucapan lisan.Kelima: Islam mengajak kita untuk menghargai akad dan menepatinyaKarena menepati akad (janji/ikatan) termasuk salah satu prinsip dasar dalam transaksi-transaksi keuangan (harta), baik itu jual beli, sewa menyewa, mitra usaha, akad wakaf, dan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji.” (QS. Al-Ma’idah: 1)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan menjadikan setiap transaksi yang kita lakukan selalu dalam koridor syariat. Pada pembahasan selanjutnya, insyaAllah akan kita bahas perihal macam-macam akad dan bagaimana akad tersebut terbentuk.Wallahu A’lam Bisshowaab.[Bersambung]Baca Juga:Akad Nikah Orang yang BisuMengembangkan Dakwah di Zaman Fitnah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Kitab Al-Madkhal Ilaa Fiqhi Al-Muaamalaat Al-Maaliyyah karya Prof. Dr. Muhammad Utsman Syubair dengan beberapa penyesuaian.🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Golongan Salafi, Ciri Ciri Wanita Sholihah, Doa Sajadah, Doa Amalan HarianTags: bisnisfatwaFatwa Ulamafikihfikih jual belifikih muamalahislamJual Belijual beli dalam islammuamalahmuamalah dalam Islamnaishatpedagangpengusaha muslim

Hukum Menunda Salat dengan Sengaja – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Penanya ini mengajukan pertanyaan, “Ada orang yang membayar zakat, berhaji, dan berpuasa,serta mengerjakan kewajibannya sebagai konsekuensi imannya. Namun, ia mengakhirkan salat hingga keluar dari waktunya. Bagaimana hukum hal ini?”Barang siapa yang menunda salat dengan sengaja hingga keluar dari waktunya, tanpa ada uzur,maka hukumnya seperti hukum orang yang tidak mengerjakan salat. Allah berfirman, “Sesungguhnya shalat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)Malaikat Jibril ‘alaihissalam turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjelaskanwaktu-waktu salat fardu lima waktu. Ia menjelaskan setiap awal dan akhir waktunya, lalu berkata, “Salat itu di antara dua waktu ini.”Jadi, orang yang meninggalkan salat dan sibuk dengan pekerjaannya, seandainya ia meninggaldalam keadaan tersebut dan belum mengerjakan salat, maka ia telah meninggal dalam keadaan berada di luar agama Islam. Karena orang yang keluar dari waktu asar dan belum mengerjakan salat,dan tidak ada halangan besar yang menghalanginya dari salat,sehingga ia tidak dapat mengerjakan salat, maka hukumnya seperti hukum orang yang tidak salat. Jika ia sempat mengerjakan rakaat pertama Salat Asar sebelum matahari terbenam, ia dianggap mengerjakan pada waktunya.Jika ia sempat mengerjakan rakaat pertama Salat Subuh sebelum matahari terbit, ia dianggap mengerjakan pada waktunya. Termasuk dalam hal ini juga (meninggalkan salat), orang yang tidurdan ia yakin tidak akan dapat bangun kecuali di waktu duha,dan ia tidak menyiapkan hal-hal yang dapat membantunya untuk bangun.Orang seperti ini masuk ke dalam hukum orang yang meninggalkan salat,Andai ia meninggal pada waktu itu, maka ia meninggal dalam keadaan yang buruk. Kita mohon kepada Allah keselamatan. ==== وَهَذَا سَائِلٌ يَسْأَلُ يَقُولُ رَجُلٌ يُزَكِّي وَيَحُجُّ وَيَصُومُ وَيَفْعَلُ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَلَكِنَّهُ يُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا فَمَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ مَنْ أَخَّرَ الصَّلَاةَ عَمْدًا إِلَى أَنْ يَخْرُجَ وَقْتُهَا بِدُونِ عُذْرٍ فَحُكْمُهُ كَحُكْمِ مَنْ لَمْ يُصَلِّ اللهُ يَقُولُ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَجِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ نَزَلَ وَبَيَّنَ لِنَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوَاقِيتَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ بَيَّنَ أَوَّلَ الْوَقْتِ وَآخِرَهُ وَقَالَ الصَّلَاةُ بَيْنَ هَذَيْنِ فَالَّذِي يَتْرُكُ الصَّلَاةَ وَيَتَشَاغَلُ بِشُغْلٍ لَوْ مَاتَ فِي تِلْكَ الْحَالِ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّي لَمَاتَ عَلَى غَيْرِ الْمِلَّةِ لِأَنَّ مَنْ خَرَجَ وَقْتُ الْعَصْرِ دُونَ أَنْ يُصَلِّي وَلَمْ يَمْنَعْهُ مَانِعٌ قَهْرِيٌّ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُصَلِّي فَحُكْمُهُ كَحُكْمِ تَارِكِهَا إِذَا أَدْرَكَ رَكْعَةً قَبْلَ الْغُرُوبِ أَدْرَكَهَا إِذَا أَدْرَكَ رَكْعَةً قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ أَدْرَكَ الْفَجْرَ يُلْحَقُ بِذَلِكَ مَنْ نَامَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يَسْتَيْقِظَ مِنْ نَوْمِهِ إِلَّا ضُحًى وَلَم يَسْتَعِدَّ بِالْأَسْبَابِ الْمُعِيْنَةِ عَلَى الِْاسْتِيْقَاظِ هَذَا يُلْحَقُ بِحُكْمِ تَارِكِ الصَّلَاةِ لَوْ مَاتَ فِي تِلْكَ الْفَتْرَةِ لَكَانَ فِي حَالٍ سَيِّئٍ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Hukum Menunda Salat dengan Sengaja – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Penanya ini mengajukan pertanyaan, “Ada orang yang membayar zakat, berhaji, dan berpuasa,serta mengerjakan kewajibannya sebagai konsekuensi imannya. Namun, ia mengakhirkan salat hingga keluar dari waktunya. Bagaimana hukum hal ini?”Barang siapa yang menunda salat dengan sengaja hingga keluar dari waktunya, tanpa ada uzur,maka hukumnya seperti hukum orang yang tidak mengerjakan salat. Allah berfirman, “Sesungguhnya shalat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)Malaikat Jibril ‘alaihissalam turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjelaskanwaktu-waktu salat fardu lima waktu. Ia menjelaskan setiap awal dan akhir waktunya, lalu berkata, “Salat itu di antara dua waktu ini.”Jadi, orang yang meninggalkan salat dan sibuk dengan pekerjaannya, seandainya ia meninggaldalam keadaan tersebut dan belum mengerjakan salat, maka ia telah meninggal dalam keadaan berada di luar agama Islam. Karena orang yang keluar dari waktu asar dan belum mengerjakan salat,dan tidak ada halangan besar yang menghalanginya dari salat,sehingga ia tidak dapat mengerjakan salat, maka hukumnya seperti hukum orang yang tidak salat. Jika ia sempat mengerjakan rakaat pertama Salat Asar sebelum matahari terbenam, ia dianggap mengerjakan pada waktunya.Jika ia sempat mengerjakan rakaat pertama Salat Subuh sebelum matahari terbit, ia dianggap mengerjakan pada waktunya. Termasuk dalam hal ini juga (meninggalkan salat), orang yang tidurdan ia yakin tidak akan dapat bangun kecuali di waktu duha,dan ia tidak menyiapkan hal-hal yang dapat membantunya untuk bangun.Orang seperti ini masuk ke dalam hukum orang yang meninggalkan salat,Andai ia meninggal pada waktu itu, maka ia meninggal dalam keadaan yang buruk. Kita mohon kepada Allah keselamatan. ==== وَهَذَا سَائِلٌ يَسْأَلُ يَقُولُ رَجُلٌ يُزَكِّي وَيَحُجُّ وَيَصُومُ وَيَفْعَلُ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَلَكِنَّهُ يُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا فَمَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ مَنْ أَخَّرَ الصَّلَاةَ عَمْدًا إِلَى أَنْ يَخْرُجَ وَقْتُهَا بِدُونِ عُذْرٍ فَحُكْمُهُ كَحُكْمِ مَنْ لَمْ يُصَلِّ اللهُ يَقُولُ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَجِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ نَزَلَ وَبَيَّنَ لِنَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوَاقِيتَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ بَيَّنَ أَوَّلَ الْوَقْتِ وَآخِرَهُ وَقَالَ الصَّلَاةُ بَيْنَ هَذَيْنِ فَالَّذِي يَتْرُكُ الصَّلَاةَ وَيَتَشَاغَلُ بِشُغْلٍ لَوْ مَاتَ فِي تِلْكَ الْحَالِ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّي لَمَاتَ عَلَى غَيْرِ الْمِلَّةِ لِأَنَّ مَنْ خَرَجَ وَقْتُ الْعَصْرِ دُونَ أَنْ يُصَلِّي وَلَمْ يَمْنَعْهُ مَانِعٌ قَهْرِيٌّ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُصَلِّي فَحُكْمُهُ كَحُكْمِ تَارِكِهَا إِذَا أَدْرَكَ رَكْعَةً قَبْلَ الْغُرُوبِ أَدْرَكَهَا إِذَا أَدْرَكَ رَكْعَةً قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ أَدْرَكَ الْفَجْرَ يُلْحَقُ بِذَلِكَ مَنْ نَامَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يَسْتَيْقِظَ مِنْ نَوْمِهِ إِلَّا ضُحًى وَلَم يَسْتَعِدَّ بِالْأَسْبَابِ الْمُعِيْنَةِ عَلَى الِْاسْتِيْقَاظِ هَذَا يُلْحَقُ بِحُكْمِ تَارِكِ الصَّلَاةِ لَوْ مَاتَ فِي تِلْكَ الْفَتْرَةِ لَكَانَ فِي حَالٍ سَيِّئٍ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Penanya ini mengajukan pertanyaan, “Ada orang yang membayar zakat, berhaji, dan berpuasa,serta mengerjakan kewajibannya sebagai konsekuensi imannya. Namun, ia mengakhirkan salat hingga keluar dari waktunya. Bagaimana hukum hal ini?”Barang siapa yang menunda salat dengan sengaja hingga keluar dari waktunya, tanpa ada uzur,maka hukumnya seperti hukum orang yang tidak mengerjakan salat. Allah berfirman, “Sesungguhnya shalat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)Malaikat Jibril ‘alaihissalam turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjelaskanwaktu-waktu salat fardu lima waktu. Ia menjelaskan setiap awal dan akhir waktunya, lalu berkata, “Salat itu di antara dua waktu ini.”Jadi, orang yang meninggalkan salat dan sibuk dengan pekerjaannya, seandainya ia meninggaldalam keadaan tersebut dan belum mengerjakan salat, maka ia telah meninggal dalam keadaan berada di luar agama Islam. Karena orang yang keluar dari waktu asar dan belum mengerjakan salat,dan tidak ada halangan besar yang menghalanginya dari salat,sehingga ia tidak dapat mengerjakan salat, maka hukumnya seperti hukum orang yang tidak salat. Jika ia sempat mengerjakan rakaat pertama Salat Asar sebelum matahari terbenam, ia dianggap mengerjakan pada waktunya.Jika ia sempat mengerjakan rakaat pertama Salat Subuh sebelum matahari terbit, ia dianggap mengerjakan pada waktunya. Termasuk dalam hal ini juga (meninggalkan salat), orang yang tidurdan ia yakin tidak akan dapat bangun kecuali di waktu duha,dan ia tidak menyiapkan hal-hal yang dapat membantunya untuk bangun.Orang seperti ini masuk ke dalam hukum orang yang meninggalkan salat,Andai ia meninggal pada waktu itu, maka ia meninggal dalam keadaan yang buruk. Kita mohon kepada Allah keselamatan. ==== وَهَذَا سَائِلٌ يَسْأَلُ يَقُولُ رَجُلٌ يُزَكِّي وَيَحُجُّ وَيَصُومُ وَيَفْعَلُ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَلَكِنَّهُ يُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا فَمَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ مَنْ أَخَّرَ الصَّلَاةَ عَمْدًا إِلَى أَنْ يَخْرُجَ وَقْتُهَا بِدُونِ عُذْرٍ فَحُكْمُهُ كَحُكْمِ مَنْ لَمْ يُصَلِّ اللهُ يَقُولُ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَجِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ نَزَلَ وَبَيَّنَ لِنَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوَاقِيتَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ بَيَّنَ أَوَّلَ الْوَقْتِ وَآخِرَهُ وَقَالَ الصَّلَاةُ بَيْنَ هَذَيْنِ فَالَّذِي يَتْرُكُ الصَّلَاةَ وَيَتَشَاغَلُ بِشُغْلٍ لَوْ مَاتَ فِي تِلْكَ الْحَالِ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّي لَمَاتَ عَلَى غَيْرِ الْمِلَّةِ لِأَنَّ مَنْ خَرَجَ وَقْتُ الْعَصْرِ دُونَ أَنْ يُصَلِّي وَلَمْ يَمْنَعْهُ مَانِعٌ قَهْرِيٌّ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُصَلِّي فَحُكْمُهُ كَحُكْمِ تَارِكِهَا إِذَا أَدْرَكَ رَكْعَةً قَبْلَ الْغُرُوبِ أَدْرَكَهَا إِذَا أَدْرَكَ رَكْعَةً قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ أَدْرَكَ الْفَجْرَ يُلْحَقُ بِذَلِكَ مَنْ نَامَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يَسْتَيْقِظَ مِنْ نَوْمِهِ إِلَّا ضُحًى وَلَم يَسْتَعِدَّ بِالْأَسْبَابِ الْمُعِيْنَةِ عَلَى الِْاسْتِيْقَاظِ هَذَا يُلْحَقُ بِحُكْمِ تَارِكِ الصَّلَاةِ لَوْ مَاتَ فِي تِلْكَ الْفَتْرَةِ لَكَانَ فِي حَالٍ سَيِّئٍ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Penanya ini mengajukan pertanyaan, “Ada orang yang membayar zakat, berhaji, dan berpuasa,serta mengerjakan kewajibannya sebagai konsekuensi imannya. Namun, ia mengakhirkan salat hingga keluar dari waktunya. Bagaimana hukum hal ini?”Barang siapa yang menunda salat dengan sengaja hingga keluar dari waktunya, tanpa ada uzur,maka hukumnya seperti hukum orang yang tidak mengerjakan salat. Allah berfirman, “Sesungguhnya shalat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)Malaikat Jibril ‘alaihissalam turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjelaskanwaktu-waktu salat fardu lima waktu. Ia menjelaskan setiap awal dan akhir waktunya, lalu berkata, “Salat itu di antara dua waktu ini.”Jadi, orang yang meninggalkan salat dan sibuk dengan pekerjaannya, seandainya ia meninggaldalam keadaan tersebut dan belum mengerjakan salat, maka ia telah meninggal dalam keadaan berada di luar agama Islam. Karena orang yang keluar dari waktu asar dan belum mengerjakan salat,dan tidak ada halangan besar yang menghalanginya dari salat,sehingga ia tidak dapat mengerjakan salat, maka hukumnya seperti hukum orang yang tidak salat. Jika ia sempat mengerjakan rakaat pertama Salat Asar sebelum matahari terbenam, ia dianggap mengerjakan pada waktunya.Jika ia sempat mengerjakan rakaat pertama Salat Subuh sebelum matahari terbit, ia dianggap mengerjakan pada waktunya. Termasuk dalam hal ini juga (meninggalkan salat), orang yang tidurdan ia yakin tidak akan dapat bangun kecuali di waktu duha,dan ia tidak menyiapkan hal-hal yang dapat membantunya untuk bangun.Orang seperti ini masuk ke dalam hukum orang yang meninggalkan salat,Andai ia meninggal pada waktu itu, maka ia meninggal dalam keadaan yang buruk. Kita mohon kepada Allah keselamatan. ==== وَهَذَا سَائِلٌ يَسْأَلُ يَقُولُ رَجُلٌ يُزَكِّي وَيَحُجُّ وَيَصُومُ وَيَفْعَلُ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَلَكِنَّهُ يُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا فَمَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ مَنْ أَخَّرَ الصَّلَاةَ عَمْدًا إِلَى أَنْ يَخْرُجَ وَقْتُهَا بِدُونِ عُذْرٍ فَحُكْمُهُ كَحُكْمِ مَنْ لَمْ يُصَلِّ اللهُ يَقُولُ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَجِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ نَزَلَ وَبَيَّنَ لِنَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوَاقِيتَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ بَيَّنَ أَوَّلَ الْوَقْتِ وَآخِرَهُ وَقَالَ الصَّلَاةُ بَيْنَ هَذَيْنِ فَالَّذِي يَتْرُكُ الصَّلَاةَ وَيَتَشَاغَلُ بِشُغْلٍ لَوْ مَاتَ فِي تِلْكَ الْحَالِ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّي لَمَاتَ عَلَى غَيْرِ الْمِلَّةِ لِأَنَّ مَنْ خَرَجَ وَقْتُ الْعَصْرِ دُونَ أَنْ يُصَلِّي وَلَمْ يَمْنَعْهُ مَانِعٌ قَهْرِيٌّ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُصَلِّي فَحُكْمُهُ كَحُكْمِ تَارِكِهَا إِذَا أَدْرَكَ رَكْعَةً قَبْلَ الْغُرُوبِ أَدْرَكَهَا إِذَا أَدْرَكَ رَكْعَةً قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ أَدْرَكَ الْفَجْرَ يُلْحَقُ بِذَلِكَ مَنْ نَامَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يَسْتَيْقِظَ مِنْ نَوْمِهِ إِلَّا ضُحًى وَلَم يَسْتَعِدَّ بِالْأَسْبَابِ الْمُعِيْنَةِ عَلَى الِْاسْتِيْقَاظِ هَذَا يُلْحَقُ بِحُكْمِ تَارِكِ الصَّلَاةِ لَوْ مَاتَ فِي تِلْكَ الْفَتْرَةِ لَكَانَ فِي حَالٍ سَيِّئٍ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Hukum Mendoakan Kemiskinan Bagi Suami Supaya Tidak Poligami

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya istri yang mendoakan suami tetap miskin karena takut dipoligami? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Sikap yang dilakukan sang istri tersebut adalah sikap yang kurang tepat dan termasuk akhlak yang tercela.  Pertama, doa keburukan untuk orang lain tidak diperbolehkan, pelakunya berdosa, kecuali jika mendoakan keburukan kepada orang yang zalim kepadanya. Karena ciri orang mukmin adalah senantiasa mendoakan kebaikan untuk sesama mukmin dan meminta dihilangkan kebencian terhadap sesama mukmin. Allah ta’ala berfirman: وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kebencian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”.” (QS. al-Hasyr: 10) Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah– mengatakan: الدعاء عليه سواء بالغيب أو بالشهادة كله منكر لا يجوز، إلا من باب القصاص “Mendoakan keburukan untuk orang lain, baik ketika orangnya tidak ada, ataupun ketika orangnya ada di hadapan, semuanya adalah bentuk kemungkaran, tidak diperbolehkan. Kecuali dalam rangka qishash (membalas kezaliman).” (Syarah Shahih Muslim libni Baz, hadits nomor 2735) Adapun orang yang berbuat kezaliman maka di antara dua pilihan, boleh dimaafkan dan ini lebih utama, dan boleh juga dibalas. Di antara bentuk pembalasan adalah dengan didoakan keburukan. Di antara dalil bolehnya orang yang dizalimi mendoakan kejelekan terhadap orang yang menzaliminya, hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ “Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, walaupun ia kafir. Karena tidak ada hijab antara ia dengan Allah.” (HR. Ahmad no.12549, dihasankan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 767) Kedua, orang miskin juga bisa poligami, tidak disyaratkan untuk menjadi orang kaya raya untuk bisa poligami. Selama sang suami bisa adil terhadap para istrinya dan para istri ridha dengan nafkah yang sedikit, maka orang miskin pun bisa poligami. Sehingga alasan istri yang ada pada pertanyaan adalah alasan yang kurang kuat. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memiliki 11 orang istri. Sedangkan beliau hidup dalam kesederhanaan, jauh dari kemewahan atau gelimang harta. Rezeki yang beliau dapatkan hanya rezeki yang cukup untuk kehidupan sehari-hari untuk beliau dan keluarganya. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah berdoa: اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا “Ya Allah, jadikan rezeki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya.” (HR. Muslim, no. 1055) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan keluarga tidak mendapati makanan yang melimpah dalam kesehariannya. Namun hanya sekedar tidak kelaparan dan terpenuhinya kebutuhan pokok. Dari Malik bin Dinar rahimahullah, beliau mengatakan: مَا شَبِعَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ خُبْزٍ قَطُّ وَلاَ لَحْمٍ إِلاَّ عَلَى ضَفَفٍ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti atau kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu (maka beliau makan sampai kenyang).” (HR. Tirmidzi dalam asy-Syamail no. 70, dishahihkan al-Albani dalam Mukhtashar asy-Syama’il al-Muhammadiyah no. 109) Biasanya sekali dalam dua atau tiga hari beliau dan keluarga baru merasakan kenyang. Itu pun sekedar makan roti gandum, makanan yang sangat sederhana. Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan: ما شبِعَ آلُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم من خُبزِ بُرٍّ مَأدومٍ ثلاثةَ أيامٍ حتى لحِقَ باللهِ “Keluarga Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum yang diberi idam (semacam kuah) dalam tiga hari, sampai ia bertemu dengan Allah (wafat).” (HR. Bukhari no. 5423, Muslim no. 2970) Jika ini dipahami, maka jelaslah bahwa kondisi miskin tidak menjadi penghalang untuk melakukan poligami. Ketiga, daripada mendoakan keburukan lebih baik mendoakan taufik untuk suaminya. Orang yang mendapatkan taufik dari Allah ta’ala akan menjalani kehidupannya sesuai dengan syariat Allah dan sesuai dengan apa yang paling maslahat untuknya.  Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ اللَّهَ قالَ: مَن عادَى لي ولِيًّا فقَدْ آذَنْتُهُ بالحَرْبِ، وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه، وما يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ، فإذا أحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ به، وبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ به، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بها، ورِجْلَهُ الَّتي يَمْشِي بها، وإنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، ولَئِنِ اسْتَعاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وما تَرَدَّدْتُ عن شيءٍ أنا فاعِلُهُ تَرَدُّدِي عن نَفْسِ المُؤْمِنِ، يَكْرَهُ المَوْتَ وأنا أكْرَهُ مَساءَتَهُ “Allah ta’ala berfirman: Barang siapa yang memerangi wali-Ku, maka ia mengumumkan perang terhadap-Ku. Dan ketika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku, maka tidak ada yang paling Aku cintai melebihi perkara-perkara yang Aku wajibkan kepadanya. Dan ketika seorang hamba senantiasa melakukan amalan-amalan sunnah, maka aku semakin mencintainya. Dan ketika Aku mencintainya, maka Aku lah yang menjadi pendengarannya, penglihatannya, pukulan tangannya, dan langkah kakinya. Jika ia meminta kepada-Ku, akan Aku berikan. Jika ia minta perlindungan kepadaku, akan Aku lindungi. Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti Aku lakukan seperti keraguan untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman. Dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya.” (HR. Bukhari no. 6502) Orang yang mendapatkan taufik, gerak-geriknya akan senantiasa dibimbing oleh Allah, sehingga ia tidak keluar dari syariat Allah dan ia senantiasa mendapatkan apa yang baik baginya. Jika Allah ta’ala memberi taufik kepada sang suami, dan Allah takdirkan ia poligami, maka bisa jadi itulah yang terbaik baginya. Orang yang mendapatkan taufik Allah dalam poligaminya, ia akan menjadi suami yang adil dan memuliakan semua istri-istrinya, sehingga rumah tangganya menjadi rumah tangga yang bahagia. Jika Allah ta’ala memberi taufik kepada sang suami, dan Allah takdirkan ia tidak poligami, maka bisa jadi itulah yang terbaik baginya. Karena Allah mengetahui bahwa andaikan ia poligami, bisa jadi ia akan menjadi suami yang zalim. Sehingga dengan taufik-Nya, Allah pun menghindarkan ia dari melakukan poligami. Maka berdoalah kepada Allah meminta taufik untuk diri sendiri dan untuk sang suami. Di antaranya dengan doa yang diajarkan di dalam al-Qur’an: رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Ya Allah jadikanlah pasangan kami dan anak keturunan kami sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan: 74) Atau boleh juga berdoa meminta taufik dengan menggunakan bahasa sendiri, semisal mengatakan “Ya Allah berilah taufik kepada suamiku”, “Ya Allah, tunjukkanlah suamiku jalan yang lurus”, atau semisalnya.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Al Mahdi, Wali Quthub, Anak Yatim Artinya, Masa Jahiliyah, Lambang Kubah Masjid, Telonan Ibu Hamil Visited 146 times, 1 visit(s) today Post Views: 458 QRIS donasi Yufid

Hukum Mendoakan Kemiskinan Bagi Suami Supaya Tidak Poligami

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya istri yang mendoakan suami tetap miskin karena takut dipoligami? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Sikap yang dilakukan sang istri tersebut adalah sikap yang kurang tepat dan termasuk akhlak yang tercela.  Pertama, doa keburukan untuk orang lain tidak diperbolehkan, pelakunya berdosa, kecuali jika mendoakan keburukan kepada orang yang zalim kepadanya. Karena ciri orang mukmin adalah senantiasa mendoakan kebaikan untuk sesama mukmin dan meminta dihilangkan kebencian terhadap sesama mukmin. Allah ta’ala berfirman: وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kebencian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”.” (QS. al-Hasyr: 10) Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah– mengatakan: الدعاء عليه سواء بالغيب أو بالشهادة كله منكر لا يجوز، إلا من باب القصاص “Mendoakan keburukan untuk orang lain, baik ketika orangnya tidak ada, ataupun ketika orangnya ada di hadapan, semuanya adalah bentuk kemungkaran, tidak diperbolehkan. Kecuali dalam rangka qishash (membalas kezaliman).” (Syarah Shahih Muslim libni Baz, hadits nomor 2735) Adapun orang yang berbuat kezaliman maka di antara dua pilihan, boleh dimaafkan dan ini lebih utama, dan boleh juga dibalas. Di antara bentuk pembalasan adalah dengan didoakan keburukan. Di antara dalil bolehnya orang yang dizalimi mendoakan kejelekan terhadap orang yang menzaliminya, hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ “Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, walaupun ia kafir. Karena tidak ada hijab antara ia dengan Allah.” (HR. Ahmad no.12549, dihasankan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 767) Kedua, orang miskin juga bisa poligami, tidak disyaratkan untuk menjadi orang kaya raya untuk bisa poligami. Selama sang suami bisa adil terhadap para istrinya dan para istri ridha dengan nafkah yang sedikit, maka orang miskin pun bisa poligami. Sehingga alasan istri yang ada pada pertanyaan adalah alasan yang kurang kuat. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memiliki 11 orang istri. Sedangkan beliau hidup dalam kesederhanaan, jauh dari kemewahan atau gelimang harta. Rezeki yang beliau dapatkan hanya rezeki yang cukup untuk kehidupan sehari-hari untuk beliau dan keluarganya. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah berdoa: اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا “Ya Allah, jadikan rezeki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya.” (HR. Muslim, no. 1055) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan keluarga tidak mendapati makanan yang melimpah dalam kesehariannya. Namun hanya sekedar tidak kelaparan dan terpenuhinya kebutuhan pokok. Dari Malik bin Dinar rahimahullah, beliau mengatakan: مَا شَبِعَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ خُبْزٍ قَطُّ وَلاَ لَحْمٍ إِلاَّ عَلَى ضَفَفٍ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti atau kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu (maka beliau makan sampai kenyang).” (HR. Tirmidzi dalam asy-Syamail no. 70, dishahihkan al-Albani dalam Mukhtashar asy-Syama’il al-Muhammadiyah no. 109) Biasanya sekali dalam dua atau tiga hari beliau dan keluarga baru merasakan kenyang. Itu pun sekedar makan roti gandum, makanan yang sangat sederhana. Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan: ما شبِعَ آلُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم من خُبزِ بُرٍّ مَأدومٍ ثلاثةَ أيامٍ حتى لحِقَ باللهِ “Keluarga Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum yang diberi idam (semacam kuah) dalam tiga hari, sampai ia bertemu dengan Allah (wafat).” (HR. Bukhari no. 5423, Muslim no. 2970) Jika ini dipahami, maka jelaslah bahwa kondisi miskin tidak menjadi penghalang untuk melakukan poligami. Ketiga, daripada mendoakan keburukan lebih baik mendoakan taufik untuk suaminya. Orang yang mendapatkan taufik dari Allah ta’ala akan menjalani kehidupannya sesuai dengan syariat Allah dan sesuai dengan apa yang paling maslahat untuknya.  Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ اللَّهَ قالَ: مَن عادَى لي ولِيًّا فقَدْ آذَنْتُهُ بالحَرْبِ، وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه، وما يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ، فإذا أحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ به، وبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ به، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بها، ورِجْلَهُ الَّتي يَمْشِي بها، وإنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، ولَئِنِ اسْتَعاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وما تَرَدَّدْتُ عن شيءٍ أنا فاعِلُهُ تَرَدُّدِي عن نَفْسِ المُؤْمِنِ، يَكْرَهُ المَوْتَ وأنا أكْرَهُ مَساءَتَهُ “Allah ta’ala berfirman: Barang siapa yang memerangi wali-Ku, maka ia mengumumkan perang terhadap-Ku. Dan ketika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku, maka tidak ada yang paling Aku cintai melebihi perkara-perkara yang Aku wajibkan kepadanya. Dan ketika seorang hamba senantiasa melakukan amalan-amalan sunnah, maka aku semakin mencintainya. Dan ketika Aku mencintainya, maka Aku lah yang menjadi pendengarannya, penglihatannya, pukulan tangannya, dan langkah kakinya. Jika ia meminta kepada-Ku, akan Aku berikan. Jika ia minta perlindungan kepadaku, akan Aku lindungi. Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti Aku lakukan seperti keraguan untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman. Dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya.” (HR. Bukhari no. 6502) Orang yang mendapatkan taufik, gerak-geriknya akan senantiasa dibimbing oleh Allah, sehingga ia tidak keluar dari syariat Allah dan ia senantiasa mendapatkan apa yang baik baginya. Jika Allah ta’ala memberi taufik kepada sang suami, dan Allah takdirkan ia poligami, maka bisa jadi itulah yang terbaik baginya. Orang yang mendapatkan taufik Allah dalam poligaminya, ia akan menjadi suami yang adil dan memuliakan semua istri-istrinya, sehingga rumah tangganya menjadi rumah tangga yang bahagia. Jika Allah ta’ala memberi taufik kepada sang suami, dan Allah takdirkan ia tidak poligami, maka bisa jadi itulah yang terbaik baginya. Karena Allah mengetahui bahwa andaikan ia poligami, bisa jadi ia akan menjadi suami yang zalim. Sehingga dengan taufik-Nya, Allah pun menghindarkan ia dari melakukan poligami. Maka berdoalah kepada Allah meminta taufik untuk diri sendiri dan untuk sang suami. Di antaranya dengan doa yang diajarkan di dalam al-Qur’an: رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Ya Allah jadikanlah pasangan kami dan anak keturunan kami sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan: 74) Atau boleh juga berdoa meminta taufik dengan menggunakan bahasa sendiri, semisal mengatakan “Ya Allah berilah taufik kepada suamiku”, “Ya Allah, tunjukkanlah suamiku jalan yang lurus”, atau semisalnya.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Al Mahdi, Wali Quthub, Anak Yatim Artinya, Masa Jahiliyah, Lambang Kubah Masjid, Telonan Ibu Hamil Visited 146 times, 1 visit(s) today Post Views: 458 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Bagaimana hukumnya istri yang mendoakan suami tetap miskin karena takut dipoligami? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Sikap yang dilakukan sang istri tersebut adalah sikap yang kurang tepat dan termasuk akhlak yang tercela.  Pertama, doa keburukan untuk orang lain tidak diperbolehkan, pelakunya berdosa, kecuali jika mendoakan keburukan kepada orang yang zalim kepadanya. Karena ciri orang mukmin adalah senantiasa mendoakan kebaikan untuk sesama mukmin dan meminta dihilangkan kebencian terhadap sesama mukmin. Allah ta’ala berfirman: وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kebencian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”.” (QS. al-Hasyr: 10) Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah– mengatakan: الدعاء عليه سواء بالغيب أو بالشهادة كله منكر لا يجوز، إلا من باب القصاص “Mendoakan keburukan untuk orang lain, baik ketika orangnya tidak ada, ataupun ketika orangnya ada di hadapan, semuanya adalah bentuk kemungkaran, tidak diperbolehkan. Kecuali dalam rangka qishash (membalas kezaliman).” (Syarah Shahih Muslim libni Baz, hadits nomor 2735) Adapun orang yang berbuat kezaliman maka di antara dua pilihan, boleh dimaafkan dan ini lebih utama, dan boleh juga dibalas. Di antara bentuk pembalasan adalah dengan didoakan keburukan. Di antara dalil bolehnya orang yang dizalimi mendoakan kejelekan terhadap orang yang menzaliminya, hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ “Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, walaupun ia kafir. Karena tidak ada hijab antara ia dengan Allah.” (HR. Ahmad no.12549, dihasankan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 767) Kedua, orang miskin juga bisa poligami, tidak disyaratkan untuk menjadi orang kaya raya untuk bisa poligami. Selama sang suami bisa adil terhadap para istrinya dan para istri ridha dengan nafkah yang sedikit, maka orang miskin pun bisa poligami. Sehingga alasan istri yang ada pada pertanyaan adalah alasan yang kurang kuat. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memiliki 11 orang istri. Sedangkan beliau hidup dalam kesederhanaan, jauh dari kemewahan atau gelimang harta. Rezeki yang beliau dapatkan hanya rezeki yang cukup untuk kehidupan sehari-hari untuk beliau dan keluarganya. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah berdoa: اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا “Ya Allah, jadikan rezeki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya.” (HR. Muslim, no. 1055) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan keluarga tidak mendapati makanan yang melimpah dalam kesehariannya. Namun hanya sekedar tidak kelaparan dan terpenuhinya kebutuhan pokok. Dari Malik bin Dinar rahimahullah, beliau mengatakan: مَا شَبِعَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ خُبْزٍ قَطُّ وَلاَ لَحْمٍ إِلاَّ عَلَى ضَفَفٍ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti atau kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu (maka beliau makan sampai kenyang).” (HR. Tirmidzi dalam asy-Syamail no. 70, dishahihkan al-Albani dalam Mukhtashar asy-Syama’il al-Muhammadiyah no. 109) Biasanya sekali dalam dua atau tiga hari beliau dan keluarga baru merasakan kenyang. Itu pun sekedar makan roti gandum, makanan yang sangat sederhana. Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan: ما شبِعَ آلُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم من خُبزِ بُرٍّ مَأدومٍ ثلاثةَ أيامٍ حتى لحِقَ باللهِ “Keluarga Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum yang diberi idam (semacam kuah) dalam tiga hari, sampai ia bertemu dengan Allah (wafat).” (HR. Bukhari no. 5423, Muslim no. 2970) Jika ini dipahami, maka jelaslah bahwa kondisi miskin tidak menjadi penghalang untuk melakukan poligami. Ketiga, daripada mendoakan keburukan lebih baik mendoakan taufik untuk suaminya. Orang yang mendapatkan taufik dari Allah ta’ala akan menjalani kehidupannya sesuai dengan syariat Allah dan sesuai dengan apa yang paling maslahat untuknya.  Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ اللَّهَ قالَ: مَن عادَى لي ولِيًّا فقَدْ آذَنْتُهُ بالحَرْبِ، وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه، وما يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ، فإذا أحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ به، وبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ به، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بها، ورِجْلَهُ الَّتي يَمْشِي بها، وإنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، ولَئِنِ اسْتَعاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وما تَرَدَّدْتُ عن شيءٍ أنا فاعِلُهُ تَرَدُّدِي عن نَفْسِ المُؤْمِنِ، يَكْرَهُ المَوْتَ وأنا أكْرَهُ مَساءَتَهُ “Allah ta’ala berfirman: Barang siapa yang memerangi wali-Ku, maka ia mengumumkan perang terhadap-Ku. Dan ketika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku, maka tidak ada yang paling Aku cintai melebihi perkara-perkara yang Aku wajibkan kepadanya. Dan ketika seorang hamba senantiasa melakukan amalan-amalan sunnah, maka aku semakin mencintainya. Dan ketika Aku mencintainya, maka Aku lah yang menjadi pendengarannya, penglihatannya, pukulan tangannya, dan langkah kakinya. Jika ia meminta kepada-Ku, akan Aku berikan. Jika ia minta perlindungan kepadaku, akan Aku lindungi. Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti Aku lakukan seperti keraguan untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman. Dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya.” (HR. Bukhari no. 6502) Orang yang mendapatkan taufik, gerak-geriknya akan senantiasa dibimbing oleh Allah, sehingga ia tidak keluar dari syariat Allah dan ia senantiasa mendapatkan apa yang baik baginya. Jika Allah ta’ala memberi taufik kepada sang suami, dan Allah takdirkan ia poligami, maka bisa jadi itulah yang terbaik baginya. Orang yang mendapatkan taufik Allah dalam poligaminya, ia akan menjadi suami yang adil dan memuliakan semua istri-istrinya, sehingga rumah tangganya menjadi rumah tangga yang bahagia. Jika Allah ta’ala memberi taufik kepada sang suami, dan Allah takdirkan ia tidak poligami, maka bisa jadi itulah yang terbaik baginya. Karena Allah mengetahui bahwa andaikan ia poligami, bisa jadi ia akan menjadi suami yang zalim. Sehingga dengan taufik-Nya, Allah pun menghindarkan ia dari melakukan poligami. Maka berdoalah kepada Allah meminta taufik untuk diri sendiri dan untuk sang suami. Di antaranya dengan doa yang diajarkan di dalam al-Qur’an: رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Ya Allah jadikanlah pasangan kami dan anak keturunan kami sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan: 74) Atau boleh juga berdoa meminta taufik dengan menggunakan bahasa sendiri, semisal mengatakan “Ya Allah berilah taufik kepada suamiku”, “Ya Allah, tunjukkanlah suamiku jalan yang lurus”, atau semisalnya.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Al Mahdi, Wali Quthub, Anak Yatim Artinya, Masa Jahiliyah, Lambang Kubah Masjid, Telonan Ibu Hamil Visited 146 times, 1 visit(s) today Post Views: 458 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1374802717&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Bagaimana hukumnya istri yang mendoakan suami tetap miskin karena takut dipoligami? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Sikap yang dilakukan sang istri tersebut adalah sikap yang kurang tepat dan termasuk akhlak yang tercela.  Pertama, doa keburukan untuk orang lain tidak diperbolehkan, pelakunya berdosa, kecuali jika mendoakan keburukan kepada orang yang zalim kepadanya. Karena ciri orang mukmin adalah senantiasa mendoakan kebaikan untuk sesama mukmin dan meminta dihilangkan kebencian terhadap sesama mukmin. Allah ta’ala berfirman: وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kebencian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”.” (QS. al-Hasyr: 10) Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah– mengatakan: الدعاء عليه سواء بالغيب أو بالشهادة كله منكر لا يجوز، إلا من باب القصاص “Mendoakan keburukan untuk orang lain, baik ketika orangnya tidak ada, ataupun ketika orangnya ada di hadapan, semuanya adalah bentuk kemungkaran, tidak diperbolehkan. Kecuali dalam rangka qishash (membalas kezaliman).” (Syarah Shahih Muslim libni Baz, hadits nomor 2735) Adapun orang yang berbuat kezaliman maka di antara dua pilihan, boleh dimaafkan dan ini lebih utama, dan boleh juga dibalas. Di antara bentuk pembalasan adalah dengan didoakan keburukan. Di antara dalil bolehnya orang yang dizalimi mendoakan kejelekan terhadap orang yang menzaliminya, hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ “Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, walaupun ia kafir. Karena tidak ada hijab antara ia dengan Allah.” (HR. Ahmad no.12549, dihasankan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 767) Kedua, orang miskin juga bisa poligami, tidak disyaratkan untuk menjadi orang kaya raya untuk bisa poligami. Selama sang suami bisa adil terhadap para istrinya dan para istri ridha dengan nafkah yang sedikit, maka orang miskin pun bisa poligami. Sehingga alasan istri yang ada pada pertanyaan adalah alasan yang kurang kuat. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memiliki 11 orang istri. Sedangkan beliau hidup dalam kesederhanaan, jauh dari kemewahan atau gelimang harta. Rezeki yang beliau dapatkan hanya rezeki yang cukup untuk kehidupan sehari-hari untuk beliau dan keluarganya. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah berdoa: اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا “Ya Allah, jadikan rezeki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya.” (HR. Muslim, no. 1055) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan keluarga tidak mendapati makanan yang melimpah dalam kesehariannya. Namun hanya sekedar tidak kelaparan dan terpenuhinya kebutuhan pokok. Dari Malik bin Dinar rahimahullah, beliau mengatakan: مَا شَبِعَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ خُبْزٍ قَطُّ وَلاَ لَحْمٍ إِلاَّ عَلَى ضَفَفٍ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti atau kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu (maka beliau makan sampai kenyang).” (HR. Tirmidzi dalam asy-Syamail no. 70, dishahihkan al-Albani dalam Mukhtashar asy-Syama’il al-Muhammadiyah no. 109) Biasanya sekali dalam dua atau tiga hari beliau dan keluarga baru merasakan kenyang. Itu pun sekedar makan roti gandum, makanan yang sangat sederhana. Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan: ما شبِعَ آلُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم من خُبزِ بُرٍّ مَأدومٍ ثلاثةَ أيامٍ حتى لحِقَ باللهِ “Keluarga Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum yang diberi idam (semacam kuah) dalam tiga hari, sampai ia bertemu dengan Allah (wafat).” (HR. Bukhari no. 5423, Muslim no. 2970) Jika ini dipahami, maka jelaslah bahwa kondisi miskin tidak menjadi penghalang untuk melakukan poligami. Ketiga, daripada mendoakan keburukan lebih baik mendoakan taufik untuk suaminya. Orang yang mendapatkan taufik dari Allah ta’ala akan menjalani kehidupannya sesuai dengan syariat Allah dan sesuai dengan apa yang paling maslahat untuknya.  Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ اللَّهَ قالَ: مَن عادَى لي ولِيًّا فقَدْ آذَنْتُهُ بالحَرْبِ، وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه، وما يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ، فإذا أحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ به، وبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ به، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بها، ورِجْلَهُ الَّتي يَمْشِي بها، وإنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، ولَئِنِ اسْتَعاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وما تَرَدَّدْتُ عن شيءٍ أنا فاعِلُهُ تَرَدُّدِي عن نَفْسِ المُؤْمِنِ، يَكْرَهُ المَوْتَ وأنا أكْرَهُ مَساءَتَهُ “Allah ta’ala berfirman: Barang siapa yang memerangi wali-Ku, maka ia mengumumkan perang terhadap-Ku. Dan ketika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku, maka tidak ada yang paling Aku cintai melebihi perkara-perkara yang Aku wajibkan kepadanya. Dan ketika seorang hamba senantiasa melakukan amalan-amalan sunnah, maka aku semakin mencintainya. Dan ketika Aku mencintainya, maka Aku lah yang menjadi pendengarannya, penglihatannya, pukulan tangannya, dan langkah kakinya. Jika ia meminta kepada-Ku, akan Aku berikan. Jika ia minta perlindungan kepadaku, akan Aku lindungi. Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti Aku lakukan seperti keraguan untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman. Dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya.” (HR. Bukhari no. 6502) Orang yang mendapatkan taufik, gerak-geriknya akan senantiasa dibimbing oleh Allah, sehingga ia tidak keluar dari syariat Allah dan ia senantiasa mendapatkan apa yang baik baginya. Jika Allah ta’ala memberi taufik kepada sang suami, dan Allah takdirkan ia poligami, maka bisa jadi itulah yang terbaik baginya. Orang yang mendapatkan taufik Allah dalam poligaminya, ia akan menjadi suami yang adil dan memuliakan semua istri-istrinya, sehingga rumah tangganya menjadi rumah tangga yang bahagia. Jika Allah ta’ala memberi taufik kepada sang suami, dan Allah takdirkan ia tidak poligami, maka bisa jadi itulah yang terbaik baginya. Karena Allah mengetahui bahwa andaikan ia poligami, bisa jadi ia akan menjadi suami yang zalim. Sehingga dengan taufik-Nya, Allah pun menghindarkan ia dari melakukan poligami. Maka berdoalah kepada Allah meminta taufik untuk diri sendiri dan untuk sang suami. Di antaranya dengan doa yang diajarkan di dalam al-Qur’an: رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Ya Allah jadikanlah pasangan kami dan anak keturunan kami sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan: 74) Atau boleh juga berdoa meminta taufik dengan menggunakan bahasa sendiri, semisal mengatakan “Ya Allah berilah taufik kepada suamiku”, “Ya Allah, tunjukkanlah suamiku jalan yang lurus”, atau semisalnya.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Al Mahdi, Wali Quthub, Anak Yatim Artinya, Masa Jahiliyah, Lambang Kubah Masjid, Telonan Ibu Hamil Visited 146 times, 1 visit(s) today Post Views: 458 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Cara Mengucapkan Salam Ketika Masuk Rumah Tanpa Penghuni

Pertanyaan: Bagaimana cara mengucapkan salam ketika masuk rumah sendiri, tapi ketika itu sedang tidak ada orang? Bagaimana juga mengucapkan salam ketika masuk rumah kosong?  Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Ketika hendak masuk ke rumah yang tidak ada penghuninya, tetap dianjurkan untuk mengucapkan salam. Berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala: فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi merupakan kebaikan.” (QS. an-Nur: 61) Al-Qurthubi rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini, beliau mengatakan: “Sebagian ulama mengatakan, yang dimaksud “rumah-rumah” dalam ayat ini adalah rumah yang ada penghuninya. Sehingga, (jika kita masuk ke sana dan bersalam maka) penghuni rumah-rumah tersebut akan mengucapkan salam kepada kalian. Ini pendapat Jabir bin Abdillah, Ibnu Abbas, dan Atha bin Abi Rabah. Sebagian ulama mengatakan, yang dimaksud dalam ayat ini adalah rumah yang tidak ada penghuninya. Sehingga seseorang yang masuk ke sana hendaknya mengucapkan salam kepada diri sendiri. Dengan mengucapkan:   السَلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِِحِينَ /assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin/ “Semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih.” ‘Ibnul Arabi mengatakan: pendapat yang mengatakan ayat ini berlaku umum untuk semua rumah, ini pendapat yang lebih tepat, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Sehingga yang lebih tepat adalah menerapkan ayat ini secara mutlak dan umum, baik ketika masuk rumah sendiri atau rumah orang lain.” (Tafsir al-Qurthubi, 12/318) Lafadz salam “assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin” ketika memasuki rumah yang tidak ada penghuninya ini juga terdapat contohnya dari sebagian salaf. Terdapat riwayat dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma,  إذا دخل البيت غير المسكون فليقل : السَلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ “Jika Abdullah bin Umar masuk ke sebuah rumah yang tidak ada penghuninya, beliau mengucapkan: assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, no. 1055, dihasankan al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 806) Imam an-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Dianjurkan ketika masuk ke rumah sendiri untuk mengucapkan salam. Jika di rumah tidak ada orang, maka mengucapkan assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin. Demikian juga ketika masuk masjid, atau rumah, atau bangunan lain yang tidak ada penghuninya, dianjurkan untuk mengucapkan salam dengan mengatakan assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin (semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih), atau boleh juga assalaamu’alaikum ahlal baiti warahmatullah wabarakatuh (semoga keselamatan terlimpah kepada kalian para penghuni rumah, beserta rahmat dan keberkahan).” (Al-Adzkar, 1/257-258) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Penulisan Allah Swt, Hukum Bagi Istri Yang Selingkuh, Zakat Kendaraan, Jamak Takhir Maghrib Isya, Kaligrafi Dalam Masjid, Ustadz Menjawab Visited 414 times, 1 visit(s) today Post Views: 491 QRIS donasi Yufid

Cara Mengucapkan Salam Ketika Masuk Rumah Tanpa Penghuni

Pertanyaan: Bagaimana cara mengucapkan salam ketika masuk rumah sendiri, tapi ketika itu sedang tidak ada orang? Bagaimana juga mengucapkan salam ketika masuk rumah kosong?  Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Ketika hendak masuk ke rumah yang tidak ada penghuninya, tetap dianjurkan untuk mengucapkan salam. Berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala: فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi merupakan kebaikan.” (QS. an-Nur: 61) Al-Qurthubi rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini, beliau mengatakan: “Sebagian ulama mengatakan, yang dimaksud “rumah-rumah” dalam ayat ini adalah rumah yang ada penghuninya. Sehingga, (jika kita masuk ke sana dan bersalam maka) penghuni rumah-rumah tersebut akan mengucapkan salam kepada kalian. Ini pendapat Jabir bin Abdillah, Ibnu Abbas, dan Atha bin Abi Rabah. Sebagian ulama mengatakan, yang dimaksud dalam ayat ini adalah rumah yang tidak ada penghuninya. Sehingga seseorang yang masuk ke sana hendaknya mengucapkan salam kepada diri sendiri. Dengan mengucapkan:   السَلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِِحِينَ /assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin/ “Semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih.” ‘Ibnul Arabi mengatakan: pendapat yang mengatakan ayat ini berlaku umum untuk semua rumah, ini pendapat yang lebih tepat, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Sehingga yang lebih tepat adalah menerapkan ayat ini secara mutlak dan umum, baik ketika masuk rumah sendiri atau rumah orang lain.” (Tafsir al-Qurthubi, 12/318) Lafadz salam “assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin” ketika memasuki rumah yang tidak ada penghuninya ini juga terdapat contohnya dari sebagian salaf. Terdapat riwayat dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma,  إذا دخل البيت غير المسكون فليقل : السَلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ “Jika Abdullah bin Umar masuk ke sebuah rumah yang tidak ada penghuninya, beliau mengucapkan: assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, no. 1055, dihasankan al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 806) Imam an-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Dianjurkan ketika masuk ke rumah sendiri untuk mengucapkan salam. Jika di rumah tidak ada orang, maka mengucapkan assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin. Demikian juga ketika masuk masjid, atau rumah, atau bangunan lain yang tidak ada penghuninya, dianjurkan untuk mengucapkan salam dengan mengatakan assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin (semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih), atau boleh juga assalaamu’alaikum ahlal baiti warahmatullah wabarakatuh (semoga keselamatan terlimpah kepada kalian para penghuni rumah, beserta rahmat dan keberkahan).” (Al-Adzkar, 1/257-258) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Penulisan Allah Swt, Hukum Bagi Istri Yang Selingkuh, Zakat Kendaraan, Jamak Takhir Maghrib Isya, Kaligrafi Dalam Masjid, Ustadz Menjawab Visited 414 times, 1 visit(s) today Post Views: 491 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Bagaimana cara mengucapkan salam ketika masuk rumah sendiri, tapi ketika itu sedang tidak ada orang? Bagaimana juga mengucapkan salam ketika masuk rumah kosong?  Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Ketika hendak masuk ke rumah yang tidak ada penghuninya, tetap dianjurkan untuk mengucapkan salam. Berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala: فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi merupakan kebaikan.” (QS. an-Nur: 61) Al-Qurthubi rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini, beliau mengatakan: “Sebagian ulama mengatakan, yang dimaksud “rumah-rumah” dalam ayat ini adalah rumah yang ada penghuninya. Sehingga, (jika kita masuk ke sana dan bersalam maka) penghuni rumah-rumah tersebut akan mengucapkan salam kepada kalian. Ini pendapat Jabir bin Abdillah, Ibnu Abbas, dan Atha bin Abi Rabah. Sebagian ulama mengatakan, yang dimaksud dalam ayat ini adalah rumah yang tidak ada penghuninya. Sehingga seseorang yang masuk ke sana hendaknya mengucapkan salam kepada diri sendiri. Dengan mengucapkan:   السَلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِِحِينَ /assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin/ “Semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih.” ‘Ibnul Arabi mengatakan: pendapat yang mengatakan ayat ini berlaku umum untuk semua rumah, ini pendapat yang lebih tepat, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Sehingga yang lebih tepat adalah menerapkan ayat ini secara mutlak dan umum, baik ketika masuk rumah sendiri atau rumah orang lain.” (Tafsir al-Qurthubi, 12/318) Lafadz salam “assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin” ketika memasuki rumah yang tidak ada penghuninya ini juga terdapat contohnya dari sebagian salaf. Terdapat riwayat dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma,  إذا دخل البيت غير المسكون فليقل : السَلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ “Jika Abdullah bin Umar masuk ke sebuah rumah yang tidak ada penghuninya, beliau mengucapkan: assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, no. 1055, dihasankan al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 806) Imam an-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Dianjurkan ketika masuk ke rumah sendiri untuk mengucapkan salam. Jika di rumah tidak ada orang, maka mengucapkan assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin. Demikian juga ketika masuk masjid, atau rumah, atau bangunan lain yang tidak ada penghuninya, dianjurkan untuk mengucapkan salam dengan mengatakan assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin (semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih), atau boleh juga assalaamu’alaikum ahlal baiti warahmatullah wabarakatuh (semoga keselamatan terlimpah kepada kalian para penghuni rumah, beserta rahmat dan keberkahan).” (Al-Adzkar, 1/257-258) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Penulisan Allah Swt, Hukum Bagi Istri Yang Selingkuh, Zakat Kendaraan, Jamak Takhir Maghrib Isya, Kaligrafi Dalam Masjid, Ustadz Menjawab Visited 414 times, 1 visit(s) today Post Views: 491 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1370822392&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Bagaimana cara mengucapkan salam ketika masuk rumah sendiri, tapi ketika itu sedang tidak ada orang? Bagaimana juga mengucapkan salam ketika masuk rumah kosong?  Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Ketika hendak masuk ke rumah yang tidak ada penghuninya, tetap dianjurkan untuk mengucapkan salam. Berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala: فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi merupakan kebaikan.” (QS. an-Nur: 61) Al-Qurthubi rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini, beliau mengatakan: “Sebagian ulama mengatakan, yang dimaksud “rumah-rumah” dalam ayat ini adalah rumah yang ada penghuninya. Sehingga, (jika kita masuk ke sana dan bersalam maka) penghuni rumah-rumah tersebut akan mengucapkan salam kepada kalian. Ini pendapat Jabir bin Abdillah, Ibnu Abbas, dan Atha bin Abi Rabah. Sebagian ulama mengatakan, yang dimaksud dalam ayat ini adalah rumah yang tidak ada penghuninya. Sehingga seseorang yang masuk ke sana hendaknya mengucapkan salam kepada diri sendiri. Dengan mengucapkan:   السَلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِِحِينَ /assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin/ “Semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih.” ‘Ibnul Arabi mengatakan: pendapat yang mengatakan ayat ini berlaku umum untuk semua rumah, ini pendapat yang lebih tepat, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Sehingga yang lebih tepat adalah menerapkan ayat ini secara mutlak dan umum, baik ketika masuk rumah sendiri atau rumah orang lain.” (Tafsir al-Qurthubi, 12/318) Lafadz salam “assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin” ketika memasuki rumah yang tidak ada penghuninya ini juga terdapat contohnya dari sebagian salaf. Terdapat riwayat dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma,  إذا دخل البيت غير المسكون فليقل : السَلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ “Jika Abdullah bin Umar masuk ke sebuah rumah yang tidak ada penghuninya, beliau mengucapkan: assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, no. 1055, dihasankan al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 806) Imam an-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Dianjurkan ketika masuk ke rumah sendiri untuk mengucapkan salam. Jika di rumah tidak ada orang, maka mengucapkan assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin. Demikian juga ketika masuk masjid, atau rumah, atau bangunan lain yang tidak ada penghuninya, dianjurkan untuk mengucapkan salam dengan mengatakan assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillaahis shalihiin (semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih), atau boleh juga assalaamu’alaikum ahlal baiti warahmatullah wabarakatuh (semoga keselamatan terlimpah kepada kalian para penghuni rumah, beserta rahmat dan keberkahan).” (Al-Adzkar, 1/257-258) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Penulisan Allah Swt, Hukum Bagi Istri Yang Selingkuh, Zakat Kendaraan, Jamak Takhir Maghrib Isya, Kaligrafi Dalam Masjid, Ustadz Menjawab Visited 414 times, 1 visit(s) today Post Views: 491 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Sejenak Renungi Dirimu – Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Inilah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang Muslim, wahai Saudara-saudara.Karena bersama dengan masuknya bulan yang mulia dan penuh berkah ini, maka hendaklah setiap orangmerenung bersama dirinya sendiri, untuk bermuhasabah, berkontemplasi, dan berintrospeksi diri.Dalam renungan itu, wahai hamba Allah, jadilah kamu sebagai orang yang bertanya, dan kamu juga yang menjawabnya.“Telah aku lalui satu tahun penuh,dan aku juga telah berpuasa pada Ramadan yang lalu.Lalu apa pengaruh puasa, salat, dan bacaan al-Quran terhadap diriku selama satu tahun ini?Mengapa masih saja aku lalai dan lengah seperti ini?Sedangkan hari demi hari terus berlalu, dan malam demi malam terus melaju.Sesungguhnya, hari demi hari dan malam demi malam itu berlaluuntuk mengambil umurmu, wahai manusia!Tidaklah berlalu waktu sebentar saja, melainkan umurmu juga telah dikurangi.Maka amalan apa yang kamu titipkan padanya?”Seorang muslim itu, wahai Saudara-saudaraku, harus senantiasa mengintrospeksi dirinya,dan mengaku kepada diri sendiri atas kelalaiannya.Dalam hadis diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Orang yang cerdas adalah orang yang mengintrospeksi dirinyadan beramal untuk mempersiapkan kehidupan setelah mati.Sedangkan orang yang lemah adalah…orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya, lalu banyak berangan-angan kepada Allah.”Orang yang cerdas, yang mendapat taufik,yang mendapat pertolongan, dan memiliki hasrat yang tinggi dan semangat yang besaradalah orang yang mengintrospeksi diri dan bermuhasabah diri.Ini adalah perkara yang selalu kita butuhkan, wahai Saudara-saudara.Andai saja setiap orang mengintrospeksi dirinya setiap hari,maka ia akan tahu dengan pasti bagaimana hari ini berlalu,dan mengetahui kelalaian dan kealpaan yang ia lakukan. ==== وَهَذَا الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ يَا إِخْوَةُ لِأَنَّنَا وَمَعَ دُخُولِ هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ الْكَرِيمِ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَقِفَ مَعَ نَفْسِهِ مَوْقِفَ الْمُحَاسَبَةِ وَالْمُسَاءَلَةِ وَالْمُنَاقَشَةِ تَكُوْنُ فِيْهِ يَا عَبْدَ اللهِ أَنْتَ السَّائِلُ وَأَنْتَ الْمُجِيْبُ مَرَّ عَلَيَّ عَامٌ كَامِلٌ وَصُمْتُ رَمَضَانَ الْمُنْصَرِمَ فَمَاذَا كَانَ أَثَرُ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَالْقُرْآنِ عَلَيَّ خِلَالَ الْعَامِ؟ وَلِمَاذَا كُلُّ هَذَا التَّقْصِيْرِ مِنِّي وَالْإِهْمَالِ؟ وَالْأَيَّامُ تَمُرُّ وَاللَّيَالِي تَكِرُّ وَإِنَّمَا تَمُرُّ اللَّيَالِي وَالْأَيَّامُ لِتَأْخُذَ عُمُرَكَ أَيُّهَا الْإِنْسَانُ فَمَا تَمْضِي لَحْظَةٌ إِلَّا وَقَدْ خُصِمَتْ مِنْ عُمُرِكَ فَمَا أَوْدَعْتَ فِيهَا وَمَا يَزَالُ الْمُسْلِمُ يَا إِخْوَانِي يَدِيْنُ نَفْسَهُ وَيَعْتَرِفُ عَلَى نَفْسِهِ بِالتَّقْصِيرِ وَفِي الْحَدِيثِ رُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الْأَمَانِيَّ فَالْكَيِّسُ الْمُوَفَّقُ الْمُعَانُ ذُو الْهِمَّةِ وَالنَّشَاطِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ مَنْ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ نَحْتَاجُ إِلَيْهَا دَائِمًا يَا إِخْوَانُ وَلَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ عَرَفَ كَيْفَ مَرَّ عَلَيْهِ هَذَا الْيَوْمُ وَمَاذَا حَصَلَ مِنْهُ مِنْ تَفْرِيطٍ وَتَقْصِيرٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Sejenak Renungi Dirimu – Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Inilah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang Muslim, wahai Saudara-saudara.Karena bersama dengan masuknya bulan yang mulia dan penuh berkah ini, maka hendaklah setiap orangmerenung bersama dirinya sendiri, untuk bermuhasabah, berkontemplasi, dan berintrospeksi diri.Dalam renungan itu, wahai hamba Allah, jadilah kamu sebagai orang yang bertanya, dan kamu juga yang menjawabnya.“Telah aku lalui satu tahun penuh,dan aku juga telah berpuasa pada Ramadan yang lalu.Lalu apa pengaruh puasa, salat, dan bacaan al-Quran terhadap diriku selama satu tahun ini?Mengapa masih saja aku lalai dan lengah seperti ini?Sedangkan hari demi hari terus berlalu, dan malam demi malam terus melaju.Sesungguhnya, hari demi hari dan malam demi malam itu berlaluuntuk mengambil umurmu, wahai manusia!Tidaklah berlalu waktu sebentar saja, melainkan umurmu juga telah dikurangi.Maka amalan apa yang kamu titipkan padanya?”Seorang muslim itu, wahai Saudara-saudaraku, harus senantiasa mengintrospeksi dirinya,dan mengaku kepada diri sendiri atas kelalaiannya.Dalam hadis diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Orang yang cerdas adalah orang yang mengintrospeksi dirinyadan beramal untuk mempersiapkan kehidupan setelah mati.Sedangkan orang yang lemah adalah…orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya, lalu banyak berangan-angan kepada Allah.”Orang yang cerdas, yang mendapat taufik,yang mendapat pertolongan, dan memiliki hasrat yang tinggi dan semangat yang besaradalah orang yang mengintrospeksi diri dan bermuhasabah diri.Ini adalah perkara yang selalu kita butuhkan, wahai Saudara-saudara.Andai saja setiap orang mengintrospeksi dirinya setiap hari,maka ia akan tahu dengan pasti bagaimana hari ini berlalu,dan mengetahui kelalaian dan kealpaan yang ia lakukan. ==== وَهَذَا الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ يَا إِخْوَةُ لِأَنَّنَا وَمَعَ دُخُولِ هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ الْكَرِيمِ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَقِفَ مَعَ نَفْسِهِ مَوْقِفَ الْمُحَاسَبَةِ وَالْمُسَاءَلَةِ وَالْمُنَاقَشَةِ تَكُوْنُ فِيْهِ يَا عَبْدَ اللهِ أَنْتَ السَّائِلُ وَأَنْتَ الْمُجِيْبُ مَرَّ عَلَيَّ عَامٌ كَامِلٌ وَصُمْتُ رَمَضَانَ الْمُنْصَرِمَ فَمَاذَا كَانَ أَثَرُ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَالْقُرْآنِ عَلَيَّ خِلَالَ الْعَامِ؟ وَلِمَاذَا كُلُّ هَذَا التَّقْصِيْرِ مِنِّي وَالْإِهْمَالِ؟ وَالْأَيَّامُ تَمُرُّ وَاللَّيَالِي تَكِرُّ وَإِنَّمَا تَمُرُّ اللَّيَالِي وَالْأَيَّامُ لِتَأْخُذَ عُمُرَكَ أَيُّهَا الْإِنْسَانُ فَمَا تَمْضِي لَحْظَةٌ إِلَّا وَقَدْ خُصِمَتْ مِنْ عُمُرِكَ فَمَا أَوْدَعْتَ فِيهَا وَمَا يَزَالُ الْمُسْلِمُ يَا إِخْوَانِي يَدِيْنُ نَفْسَهُ وَيَعْتَرِفُ عَلَى نَفْسِهِ بِالتَّقْصِيرِ وَفِي الْحَدِيثِ رُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الْأَمَانِيَّ فَالْكَيِّسُ الْمُوَفَّقُ الْمُعَانُ ذُو الْهِمَّةِ وَالنَّشَاطِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ مَنْ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ نَحْتَاجُ إِلَيْهَا دَائِمًا يَا إِخْوَانُ وَلَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ عَرَفَ كَيْفَ مَرَّ عَلَيْهِ هَذَا الْيَوْمُ وَمَاذَا حَصَلَ مِنْهُ مِنْ تَفْرِيطٍ وَتَقْصِيرٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Inilah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang Muslim, wahai Saudara-saudara.Karena bersama dengan masuknya bulan yang mulia dan penuh berkah ini, maka hendaklah setiap orangmerenung bersama dirinya sendiri, untuk bermuhasabah, berkontemplasi, dan berintrospeksi diri.Dalam renungan itu, wahai hamba Allah, jadilah kamu sebagai orang yang bertanya, dan kamu juga yang menjawabnya.“Telah aku lalui satu tahun penuh,dan aku juga telah berpuasa pada Ramadan yang lalu.Lalu apa pengaruh puasa, salat, dan bacaan al-Quran terhadap diriku selama satu tahun ini?Mengapa masih saja aku lalai dan lengah seperti ini?Sedangkan hari demi hari terus berlalu, dan malam demi malam terus melaju.Sesungguhnya, hari demi hari dan malam demi malam itu berlaluuntuk mengambil umurmu, wahai manusia!Tidaklah berlalu waktu sebentar saja, melainkan umurmu juga telah dikurangi.Maka amalan apa yang kamu titipkan padanya?”Seorang muslim itu, wahai Saudara-saudaraku, harus senantiasa mengintrospeksi dirinya,dan mengaku kepada diri sendiri atas kelalaiannya.Dalam hadis diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Orang yang cerdas adalah orang yang mengintrospeksi dirinyadan beramal untuk mempersiapkan kehidupan setelah mati.Sedangkan orang yang lemah adalah…orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya, lalu banyak berangan-angan kepada Allah.”Orang yang cerdas, yang mendapat taufik,yang mendapat pertolongan, dan memiliki hasrat yang tinggi dan semangat yang besaradalah orang yang mengintrospeksi diri dan bermuhasabah diri.Ini adalah perkara yang selalu kita butuhkan, wahai Saudara-saudara.Andai saja setiap orang mengintrospeksi dirinya setiap hari,maka ia akan tahu dengan pasti bagaimana hari ini berlalu,dan mengetahui kelalaian dan kealpaan yang ia lakukan. ==== وَهَذَا الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ يَا إِخْوَةُ لِأَنَّنَا وَمَعَ دُخُولِ هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ الْكَرِيمِ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَقِفَ مَعَ نَفْسِهِ مَوْقِفَ الْمُحَاسَبَةِ وَالْمُسَاءَلَةِ وَالْمُنَاقَشَةِ تَكُوْنُ فِيْهِ يَا عَبْدَ اللهِ أَنْتَ السَّائِلُ وَأَنْتَ الْمُجِيْبُ مَرَّ عَلَيَّ عَامٌ كَامِلٌ وَصُمْتُ رَمَضَانَ الْمُنْصَرِمَ فَمَاذَا كَانَ أَثَرُ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَالْقُرْآنِ عَلَيَّ خِلَالَ الْعَامِ؟ وَلِمَاذَا كُلُّ هَذَا التَّقْصِيْرِ مِنِّي وَالْإِهْمَالِ؟ وَالْأَيَّامُ تَمُرُّ وَاللَّيَالِي تَكِرُّ وَإِنَّمَا تَمُرُّ اللَّيَالِي وَالْأَيَّامُ لِتَأْخُذَ عُمُرَكَ أَيُّهَا الْإِنْسَانُ فَمَا تَمْضِي لَحْظَةٌ إِلَّا وَقَدْ خُصِمَتْ مِنْ عُمُرِكَ فَمَا أَوْدَعْتَ فِيهَا وَمَا يَزَالُ الْمُسْلِمُ يَا إِخْوَانِي يَدِيْنُ نَفْسَهُ وَيَعْتَرِفُ عَلَى نَفْسِهِ بِالتَّقْصِيرِ وَفِي الْحَدِيثِ رُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الْأَمَانِيَّ فَالْكَيِّسُ الْمُوَفَّقُ الْمُعَانُ ذُو الْهِمَّةِ وَالنَّشَاطِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ مَنْ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ نَحْتَاجُ إِلَيْهَا دَائِمًا يَا إِخْوَانُ وَلَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ عَرَفَ كَيْفَ مَرَّ عَلَيْهِ هَذَا الْيَوْمُ وَمَاذَا حَصَلَ مِنْهُ مِنْ تَفْرِيطٍ وَتَقْصِيرٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Inilah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang Muslim, wahai Saudara-saudara.Karena bersama dengan masuknya bulan yang mulia dan penuh berkah ini, maka hendaklah setiap orangmerenung bersama dirinya sendiri, untuk bermuhasabah, berkontemplasi, dan berintrospeksi diri.Dalam renungan itu, wahai hamba Allah, jadilah kamu sebagai orang yang bertanya, dan kamu juga yang menjawabnya.“Telah aku lalui satu tahun penuh,dan aku juga telah berpuasa pada Ramadan yang lalu.Lalu apa pengaruh puasa, salat, dan bacaan al-Quran terhadap diriku selama satu tahun ini?Mengapa masih saja aku lalai dan lengah seperti ini?Sedangkan hari demi hari terus berlalu, dan malam demi malam terus melaju.Sesungguhnya, hari demi hari dan malam demi malam itu berlaluuntuk mengambil umurmu, wahai manusia!Tidaklah berlalu waktu sebentar saja, melainkan umurmu juga telah dikurangi.Maka amalan apa yang kamu titipkan padanya?”Seorang muslim itu, wahai Saudara-saudaraku, harus senantiasa mengintrospeksi dirinya,dan mengaku kepada diri sendiri atas kelalaiannya.Dalam hadis diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Orang yang cerdas adalah orang yang mengintrospeksi dirinyadan beramal untuk mempersiapkan kehidupan setelah mati.Sedangkan orang yang lemah adalah…orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya, lalu banyak berangan-angan kepada Allah.”Orang yang cerdas, yang mendapat taufik,yang mendapat pertolongan, dan memiliki hasrat yang tinggi dan semangat yang besaradalah orang yang mengintrospeksi diri dan bermuhasabah diri.Ini adalah perkara yang selalu kita butuhkan, wahai Saudara-saudara.Andai saja setiap orang mengintrospeksi dirinya setiap hari,maka ia akan tahu dengan pasti bagaimana hari ini berlalu,dan mengetahui kelalaian dan kealpaan yang ia lakukan. ==== وَهَذَا الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ يَا إِخْوَةُ لِأَنَّنَا وَمَعَ دُخُولِ هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ الْكَرِيمِ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَقِفَ مَعَ نَفْسِهِ مَوْقِفَ الْمُحَاسَبَةِ وَالْمُسَاءَلَةِ وَالْمُنَاقَشَةِ تَكُوْنُ فِيْهِ يَا عَبْدَ اللهِ أَنْتَ السَّائِلُ وَأَنْتَ الْمُجِيْبُ مَرَّ عَلَيَّ عَامٌ كَامِلٌ وَصُمْتُ رَمَضَانَ الْمُنْصَرِمَ فَمَاذَا كَانَ أَثَرُ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَالْقُرْآنِ عَلَيَّ خِلَالَ الْعَامِ؟ وَلِمَاذَا كُلُّ هَذَا التَّقْصِيْرِ مِنِّي وَالْإِهْمَالِ؟ وَالْأَيَّامُ تَمُرُّ وَاللَّيَالِي تَكِرُّ وَإِنَّمَا تَمُرُّ اللَّيَالِي وَالْأَيَّامُ لِتَأْخُذَ عُمُرَكَ أَيُّهَا الْإِنْسَانُ فَمَا تَمْضِي لَحْظَةٌ إِلَّا وَقَدْ خُصِمَتْ مِنْ عُمُرِكَ فَمَا أَوْدَعْتَ فِيهَا وَمَا يَزَالُ الْمُسْلِمُ يَا إِخْوَانِي يَدِيْنُ نَفْسَهُ وَيَعْتَرِفُ عَلَى نَفْسِهِ بِالتَّقْصِيرِ وَفِي الْحَدِيثِ رُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الْأَمَانِيَّ فَالْكَيِّسُ الْمُوَفَّقُ الْمُعَانُ ذُو الْهِمَّةِ وَالنَّشَاطِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ مَنْ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ نَحْتَاجُ إِلَيْهَا دَائِمًا يَا إِخْوَانُ وَلَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ عَرَفَ كَيْفَ مَرَّ عَلَيْهِ هَذَا الْيَوْمُ وَمَاذَا حَصَلَ مِنْهُ مِنْ تَفْرِيطٍ وَتَقْصِيرٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bersedekahlah Setelah Kau Berbuat Dosa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air yang dapat memadamkan api.” (HR. at-Tirmidzi) Di antara rahasia yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,dan berhasil diungkap oleh para ahli ibadah yang saleh dari hadis ini,adalah jika kamu melakukan dosa apa pun,maka segeralah bersedekah setelah itu. Bersedekahlah setelah melakukan dosa, meskipun dengan sedikit harta.Karena ini dapat menjadi sebab hilangnya keburukan dosa darimu.Karena jika kamu melakukan dosa, maka akan ditorehkan dalam hatimu satu titik hitam. ==== وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ مِنَ الْأَسْرَارِ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاكْتَشَفَهَا الْعُبَّادُ الصَّالِحُونُ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّكَ إِذَا أَذْنَبْتَ أَيَّ ذَنْبٍ فَتَصَدَّقْ بَعْدَهُ مُبَاشَرَةً تَصَدَّقْ بَعْدَ الذَّنْبِ وَلَوْ بِمَبْلَغٍ يَسِيرٍ فَإِنَّ هَذَا سَبَبٌ لِذَهَابِ شُؤْمِ الذَّنْبِ عَنْكَ فَإِنَّ الذَّنْبَ إِذَا فَعَلْتَهُ نُكِتَ فِي قَلْبِكَ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bersedekahlah Setelah Kau Berbuat Dosa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air yang dapat memadamkan api.” (HR. at-Tirmidzi) Di antara rahasia yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,dan berhasil diungkap oleh para ahli ibadah yang saleh dari hadis ini,adalah jika kamu melakukan dosa apa pun,maka segeralah bersedekah setelah itu. Bersedekahlah setelah melakukan dosa, meskipun dengan sedikit harta.Karena ini dapat menjadi sebab hilangnya keburukan dosa darimu.Karena jika kamu melakukan dosa, maka akan ditorehkan dalam hatimu satu titik hitam. ==== وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ مِنَ الْأَسْرَارِ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاكْتَشَفَهَا الْعُبَّادُ الصَّالِحُونُ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّكَ إِذَا أَذْنَبْتَ أَيَّ ذَنْبٍ فَتَصَدَّقْ بَعْدَهُ مُبَاشَرَةً تَصَدَّقْ بَعْدَ الذَّنْبِ وَلَوْ بِمَبْلَغٍ يَسِيرٍ فَإِنَّ هَذَا سَبَبٌ لِذَهَابِ شُؤْمِ الذَّنْبِ عَنْكَ فَإِنَّ الذَّنْبَ إِذَا فَعَلْتَهُ نُكِتَ فِي قَلْبِكَ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air yang dapat memadamkan api.” (HR. at-Tirmidzi) Di antara rahasia yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,dan berhasil diungkap oleh para ahli ibadah yang saleh dari hadis ini,adalah jika kamu melakukan dosa apa pun,maka segeralah bersedekah setelah itu. Bersedekahlah setelah melakukan dosa, meskipun dengan sedikit harta.Karena ini dapat menjadi sebab hilangnya keburukan dosa darimu.Karena jika kamu melakukan dosa, maka akan ditorehkan dalam hatimu satu titik hitam. ==== وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ مِنَ الْأَسْرَارِ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاكْتَشَفَهَا الْعُبَّادُ الصَّالِحُونُ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّكَ إِذَا أَذْنَبْتَ أَيَّ ذَنْبٍ فَتَصَدَّقْ بَعْدَهُ مُبَاشَرَةً تَصَدَّقْ بَعْدَ الذَّنْبِ وَلَوْ بِمَبْلَغٍ يَسِيرٍ فَإِنَّ هَذَا سَبَبٌ لِذَهَابِ شُؤْمِ الذَّنْبِ عَنْكَ فَإِنَّ الذَّنْبَ إِذَا فَعَلْتَهُ نُكِتَ فِي قَلْبِكَ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air yang dapat memadamkan api.” (HR. at-Tirmidzi) Di antara rahasia yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,dan berhasil diungkap oleh para ahli ibadah yang saleh dari hadis ini,adalah jika kamu melakukan dosa apa pun,maka segeralah bersedekah setelah itu. Bersedekahlah setelah melakukan dosa, meskipun dengan sedikit harta.Karena ini dapat menjadi sebab hilangnya keburukan dosa darimu.Karena jika kamu melakukan dosa, maka akan ditorehkan dalam hatimu satu titik hitam. ==== وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ مِنَ الْأَسْرَارِ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاكْتَشَفَهَا الْعُبَّادُ الصَّالِحُونُ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّكَ إِذَا أَذْنَبْتَ أَيَّ ذَنْبٍ فَتَصَدَّقْ بَعْدَهُ مُبَاشَرَةً تَصَدَّقْ بَعْدَ الذَّنْبِ وَلَوْ بِمَبْلَغٍ يَسِيرٍ فَإِنَّ هَذَا سَبَبٌ لِذَهَابِ شُؤْمِ الذَّنْبِ عَنْكَ فَإِنَّ الذَّنْبَ إِذَا فَعَلْتَهُ نُكِتَ فِي قَلْبِكَ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Sedekah Termudah & Terbaik – Syaikh Ashim al-Qaryuti #NasehatUlama

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Disebutkan dalam Sahih Imam Bukhari dari Abu Hurairah,Sang Perawi Umat Islam, semoga Allah meridainya, beliau mengatakanbahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh, ada seseorang melihat seekor anjing menjilati tanah karena kehausan. Lantas dia melepas sepatunya,lalu mulai menciduki air dengannya untuk anjing tersebut hingga hilang dahaganya. Allah kemudian berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga.”Disebutkan dalam Sahih Bukharibahwa seorang pelacur diampuni dosanya karena mendapati seekor anjingyang menjulurkan lidahnya di atas sebuah sumur. Perawi berkata, “Anjing itu hampir mati kehausan,lalu dia melepas sepatunya dan mengikatnya dengan kain penutup kepalanya,kemudian mengambilkan air untuknya.Lalu dia diampuni karena hal itu.” Hadis yang agung ini menunjukkan kepada kita keagungan memberi minum.Jika demikian pahala dan ganjaran bagi orang yang memberi minum seekor anjing,lalu apatah dengan orang yang memberi minum seorang muslim? Oleh karena itu, Ibnu Abbas—semoga Allah meridainya—pernah ditanya,“Sedekah apa yang paling utama?”Dia menjawab, “Air.” Tidakkah Anda mengetahui bagaimana penghuni neraka ketika meminta tolong kepada penghuni surga?“Berilah sedikit air kepada kamiatau apa saja yang Allah rezekikan kepada kalian.” (QS. Al-A’raf: 50) Itulah sebabnya Imam al-Qurtubi mengatakan tentang ayat inibahwa ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa memberi minum termasuk amal terbaik.Ada riwayat dari sebagian Salafbahwa barang siapa yang banyak dosanya, hendaknya dia memberi air minum. Jadi, kita harus berusaha mengamalkan amal mulia ini,apalagi di saat musim-musim panasdi mana manusia menderita karena panas terik yang menyengat,sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam kitab Sahihdalam sabda beliau, “Neraka mengeluhkan dirinya kepada Tuhannya. Maka Allah mengizinkannya untuk berhembus dua kali.Satu kali hembusan pada saat musim panas dan hembusan lain di musim dingin.Jadi, hawa yang paling panas yang kalian rasakan adalah akibat hembusan panasnya.Sedangkan hawa yang paling dingin yang kalian rasakan adalah akibat hembusan dinginnya.” (HR. Bukhari) Hadis tentang keutamaan memberi minum ini menunjukkan pentingnya hal tersebut,maka kita harus memperhatikan hal ini di waktu-waktu ini,yakni saat musim panas ini, untuk memperhatikan para pekerjayang bekerja di jalan-jalan dan lain sebagainya. Begitu juga dengan menggali sumur bagi mereka yang menderita kekurangan air,atau tidak mendapati air, atau jauh dari sumber air,atau ketiadaan sumber air yang bersih di daerah mereka. Semua itu termasuk amalan yang agunguntuk mendekatkan diri kepada Allah ʿAzza wa Jalla.Semoga Allah memberi kita taufik untuk melakukan amal saleh,dan menerimanya dari kita, dan segala puji hanya bagi Allah di awal dan di akhir. ====== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي صَحِيحِ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَاوِيَةِ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا رَأَى كَلْبًا يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَأَخَذَ الرَّجُلُ خُفَّهُ فَجَعَلَ يَغْرِفُ لَهُ بِهِ حتَّى أَرْوَاهُ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ وَفِي الْبُخَارِيِّ غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنَ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ يَدُلُّنَا عَلَى عِظَمِ السُّقْيَا وَإِذَا كَانَ هَذَا أَجْرُ وَثَوَابُ مَنْ سَقَى كَلْبًا فَكَيْفَ بِمَنْ سَقَى إِنْسَانًا مُسْلِمًا؟ وَلِذَا سُئِلَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: الْمَاءُ أَلَمْ تَرَوا إِلَى أَهْلِ النَّارِ حِينَ اسْتَغَاثُوا بِأَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ وَلِذَا ذَكَرَ الْإِمَامُ الْقُرْطُبِيُّ فِي هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّهَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ سُقْيَا الْمَاءِ مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ مَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ فَعَلَيْهِ بِسُقْيَا الْمَاءِ حَرِيٌّ بِنَا أَنْ نَحْرِصَ عَلَى هَذَا الْعَمَلِ الْعَظِيمِ وَلَا سِيَّمَا فِي أَوْقَاتِ الْحَرِّ الَّتِي يُعَانِي النَّاسُ مِنْهَا مِنْ حَرٍّ شَدِيدٍ عَظِيمٍ وَكَمَا ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ فِي قَوْلِهِ اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِي الصَّيْفِ وَنَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ فَإِنَّ أَشَدَّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ مِنْ حَرِّهَا وَأَشَدَّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْبَرْدِ مِنْ زَمْهَرِيرِهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ فِي فَضْلِ السُّقْيَا يَدُلُّنَا عَلَى أَهَمِّيَّةِ ذَلِكَ فَحَرِيٌّ بِنَا أَنْ نُرَاعِيَ هَذَا فِي هَذِهِ الْمَوَاسِمِ مَوَاسِمِ الصَّيْفِ بِمُرَاعَاةِ الْعُمَّالِ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ بِالطُّرُقَاتِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَكَذَا بِحَفْرِ الْآبَارِ لِمَنْ يُعَانُونَ مِنْ قِلَّةِ الْمَاءِ أَوْ عَدَمِ وُجُودِهِ أَوِ الْبُعْدِ عَنْهُ وَعَدَمِ وُجُودِ الْمَاءِ الصَّافِيِّ عِنْدَهُمْ كُلُّ ذَلِكَ مِنَ الْأَعْمَالِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يُتَقَرَّبُ فِيهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفَّقَنَا اللهُ لِلصَّالِحَاتِ مِنْ أَعْمَالِنَا وَتَقَبَّلَهَا مِنَّا وَالْحَمْدُ لِلهِ أَوَّلًا وَآخِرًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Sedekah Termudah & Terbaik – Syaikh Ashim al-Qaryuti #NasehatUlama

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Disebutkan dalam Sahih Imam Bukhari dari Abu Hurairah,Sang Perawi Umat Islam, semoga Allah meridainya, beliau mengatakanbahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh, ada seseorang melihat seekor anjing menjilati tanah karena kehausan. Lantas dia melepas sepatunya,lalu mulai menciduki air dengannya untuk anjing tersebut hingga hilang dahaganya. Allah kemudian berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga.”Disebutkan dalam Sahih Bukharibahwa seorang pelacur diampuni dosanya karena mendapati seekor anjingyang menjulurkan lidahnya di atas sebuah sumur. Perawi berkata, “Anjing itu hampir mati kehausan,lalu dia melepas sepatunya dan mengikatnya dengan kain penutup kepalanya,kemudian mengambilkan air untuknya.Lalu dia diampuni karena hal itu.” Hadis yang agung ini menunjukkan kepada kita keagungan memberi minum.Jika demikian pahala dan ganjaran bagi orang yang memberi minum seekor anjing,lalu apatah dengan orang yang memberi minum seorang muslim? Oleh karena itu, Ibnu Abbas—semoga Allah meridainya—pernah ditanya,“Sedekah apa yang paling utama?”Dia menjawab, “Air.” Tidakkah Anda mengetahui bagaimana penghuni neraka ketika meminta tolong kepada penghuni surga?“Berilah sedikit air kepada kamiatau apa saja yang Allah rezekikan kepada kalian.” (QS. Al-A’raf: 50) Itulah sebabnya Imam al-Qurtubi mengatakan tentang ayat inibahwa ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa memberi minum termasuk amal terbaik.Ada riwayat dari sebagian Salafbahwa barang siapa yang banyak dosanya, hendaknya dia memberi air minum. Jadi, kita harus berusaha mengamalkan amal mulia ini,apalagi di saat musim-musim panasdi mana manusia menderita karena panas terik yang menyengat,sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam kitab Sahihdalam sabda beliau, “Neraka mengeluhkan dirinya kepada Tuhannya. Maka Allah mengizinkannya untuk berhembus dua kali.Satu kali hembusan pada saat musim panas dan hembusan lain di musim dingin.Jadi, hawa yang paling panas yang kalian rasakan adalah akibat hembusan panasnya.Sedangkan hawa yang paling dingin yang kalian rasakan adalah akibat hembusan dinginnya.” (HR. Bukhari) Hadis tentang keutamaan memberi minum ini menunjukkan pentingnya hal tersebut,maka kita harus memperhatikan hal ini di waktu-waktu ini,yakni saat musim panas ini, untuk memperhatikan para pekerjayang bekerja di jalan-jalan dan lain sebagainya. Begitu juga dengan menggali sumur bagi mereka yang menderita kekurangan air,atau tidak mendapati air, atau jauh dari sumber air,atau ketiadaan sumber air yang bersih di daerah mereka. Semua itu termasuk amalan yang agunguntuk mendekatkan diri kepada Allah ʿAzza wa Jalla.Semoga Allah memberi kita taufik untuk melakukan amal saleh,dan menerimanya dari kita, dan segala puji hanya bagi Allah di awal dan di akhir. ====== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي صَحِيحِ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَاوِيَةِ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا رَأَى كَلْبًا يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَأَخَذَ الرَّجُلُ خُفَّهُ فَجَعَلَ يَغْرِفُ لَهُ بِهِ حتَّى أَرْوَاهُ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ وَفِي الْبُخَارِيِّ غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنَ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ يَدُلُّنَا عَلَى عِظَمِ السُّقْيَا وَإِذَا كَانَ هَذَا أَجْرُ وَثَوَابُ مَنْ سَقَى كَلْبًا فَكَيْفَ بِمَنْ سَقَى إِنْسَانًا مُسْلِمًا؟ وَلِذَا سُئِلَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: الْمَاءُ أَلَمْ تَرَوا إِلَى أَهْلِ النَّارِ حِينَ اسْتَغَاثُوا بِأَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ وَلِذَا ذَكَرَ الْإِمَامُ الْقُرْطُبِيُّ فِي هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّهَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ سُقْيَا الْمَاءِ مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ مَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ فَعَلَيْهِ بِسُقْيَا الْمَاءِ حَرِيٌّ بِنَا أَنْ نَحْرِصَ عَلَى هَذَا الْعَمَلِ الْعَظِيمِ وَلَا سِيَّمَا فِي أَوْقَاتِ الْحَرِّ الَّتِي يُعَانِي النَّاسُ مِنْهَا مِنْ حَرٍّ شَدِيدٍ عَظِيمٍ وَكَمَا ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ فِي قَوْلِهِ اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِي الصَّيْفِ وَنَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ فَإِنَّ أَشَدَّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ مِنْ حَرِّهَا وَأَشَدَّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْبَرْدِ مِنْ زَمْهَرِيرِهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ فِي فَضْلِ السُّقْيَا يَدُلُّنَا عَلَى أَهَمِّيَّةِ ذَلِكَ فَحَرِيٌّ بِنَا أَنْ نُرَاعِيَ هَذَا فِي هَذِهِ الْمَوَاسِمِ مَوَاسِمِ الصَّيْفِ بِمُرَاعَاةِ الْعُمَّالِ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ بِالطُّرُقَاتِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَكَذَا بِحَفْرِ الْآبَارِ لِمَنْ يُعَانُونَ مِنْ قِلَّةِ الْمَاءِ أَوْ عَدَمِ وُجُودِهِ أَوِ الْبُعْدِ عَنْهُ وَعَدَمِ وُجُودِ الْمَاءِ الصَّافِيِّ عِنْدَهُمْ كُلُّ ذَلِكَ مِنَ الْأَعْمَالِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يُتَقَرَّبُ فِيهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفَّقَنَا اللهُ لِلصَّالِحَاتِ مِنْ أَعْمَالِنَا وَتَقَبَّلَهَا مِنَّا وَالْحَمْدُ لِلهِ أَوَّلًا وَآخِرًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Disebutkan dalam Sahih Imam Bukhari dari Abu Hurairah,Sang Perawi Umat Islam, semoga Allah meridainya, beliau mengatakanbahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh, ada seseorang melihat seekor anjing menjilati tanah karena kehausan. Lantas dia melepas sepatunya,lalu mulai menciduki air dengannya untuk anjing tersebut hingga hilang dahaganya. Allah kemudian berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga.”Disebutkan dalam Sahih Bukharibahwa seorang pelacur diampuni dosanya karena mendapati seekor anjingyang menjulurkan lidahnya di atas sebuah sumur. Perawi berkata, “Anjing itu hampir mati kehausan,lalu dia melepas sepatunya dan mengikatnya dengan kain penutup kepalanya,kemudian mengambilkan air untuknya.Lalu dia diampuni karena hal itu.” Hadis yang agung ini menunjukkan kepada kita keagungan memberi minum.Jika demikian pahala dan ganjaran bagi orang yang memberi minum seekor anjing,lalu apatah dengan orang yang memberi minum seorang muslim? Oleh karena itu, Ibnu Abbas—semoga Allah meridainya—pernah ditanya,“Sedekah apa yang paling utama?”Dia menjawab, “Air.” Tidakkah Anda mengetahui bagaimana penghuni neraka ketika meminta tolong kepada penghuni surga?“Berilah sedikit air kepada kamiatau apa saja yang Allah rezekikan kepada kalian.” (QS. Al-A’raf: 50) Itulah sebabnya Imam al-Qurtubi mengatakan tentang ayat inibahwa ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa memberi minum termasuk amal terbaik.Ada riwayat dari sebagian Salafbahwa barang siapa yang banyak dosanya, hendaknya dia memberi air minum. Jadi, kita harus berusaha mengamalkan amal mulia ini,apalagi di saat musim-musim panasdi mana manusia menderita karena panas terik yang menyengat,sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam kitab Sahihdalam sabda beliau, “Neraka mengeluhkan dirinya kepada Tuhannya. Maka Allah mengizinkannya untuk berhembus dua kali.Satu kali hembusan pada saat musim panas dan hembusan lain di musim dingin.Jadi, hawa yang paling panas yang kalian rasakan adalah akibat hembusan panasnya.Sedangkan hawa yang paling dingin yang kalian rasakan adalah akibat hembusan dinginnya.” (HR. Bukhari) Hadis tentang keutamaan memberi minum ini menunjukkan pentingnya hal tersebut,maka kita harus memperhatikan hal ini di waktu-waktu ini,yakni saat musim panas ini, untuk memperhatikan para pekerjayang bekerja di jalan-jalan dan lain sebagainya. Begitu juga dengan menggali sumur bagi mereka yang menderita kekurangan air,atau tidak mendapati air, atau jauh dari sumber air,atau ketiadaan sumber air yang bersih di daerah mereka. Semua itu termasuk amalan yang agunguntuk mendekatkan diri kepada Allah ʿAzza wa Jalla.Semoga Allah memberi kita taufik untuk melakukan amal saleh,dan menerimanya dari kita, dan segala puji hanya bagi Allah di awal dan di akhir. ====== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي صَحِيحِ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَاوِيَةِ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا رَأَى كَلْبًا يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَأَخَذَ الرَّجُلُ خُفَّهُ فَجَعَلَ يَغْرِفُ لَهُ بِهِ حتَّى أَرْوَاهُ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ وَفِي الْبُخَارِيِّ غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنَ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ يَدُلُّنَا عَلَى عِظَمِ السُّقْيَا وَإِذَا كَانَ هَذَا أَجْرُ وَثَوَابُ مَنْ سَقَى كَلْبًا فَكَيْفَ بِمَنْ سَقَى إِنْسَانًا مُسْلِمًا؟ وَلِذَا سُئِلَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: الْمَاءُ أَلَمْ تَرَوا إِلَى أَهْلِ النَّارِ حِينَ اسْتَغَاثُوا بِأَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ وَلِذَا ذَكَرَ الْإِمَامُ الْقُرْطُبِيُّ فِي هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّهَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ سُقْيَا الْمَاءِ مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ مَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ فَعَلَيْهِ بِسُقْيَا الْمَاءِ حَرِيٌّ بِنَا أَنْ نَحْرِصَ عَلَى هَذَا الْعَمَلِ الْعَظِيمِ وَلَا سِيَّمَا فِي أَوْقَاتِ الْحَرِّ الَّتِي يُعَانِي النَّاسُ مِنْهَا مِنْ حَرٍّ شَدِيدٍ عَظِيمٍ وَكَمَا ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ فِي قَوْلِهِ اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِي الصَّيْفِ وَنَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ فَإِنَّ أَشَدَّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ مِنْ حَرِّهَا وَأَشَدَّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْبَرْدِ مِنْ زَمْهَرِيرِهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ فِي فَضْلِ السُّقْيَا يَدُلُّنَا عَلَى أَهَمِّيَّةِ ذَلِكَ فَحَرِيٌّ بِنَا أَنْ نُرَاعِيَ هَذَا فِي هَذِهِ الْمَوَاسِمِ مَوَاسِمِ الصَّيْفِ بِمُرَاعَاةِ الْعُمَّالِ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ بِالطُّرُقَاتِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَكَذَا بِحَفْرِ الْآبَارِ لِمَنْ يُعَانُونَ مِنْ قِلَّةِ الْمَاءِ أَوْ عَدَمِ وُجُودِهِ أَوِ الْبُعْدِ عَنْهُ وَعَدَمِ وُجُودِ الْمَاءِ الصَّافِيِّ عِنْدَهُمْ كُلُّ ذَلِكَ مِنَ الْأَعْمَالِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يُتَقَرَّبُ فِيهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفَّقَنَا اللهُ لِلصَّالِحَاتِ مِنْ أَعْمَالِنَا وَتَقَبَّلَهَا مِنَّا وَالْحَمْدُ لِلهِ أَوَّلًا وَآخِرًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Disebutkan dalam Sahih Imam Bukhari dari Abu Hurairah,Sang Perawi Umat Islam, semoga Allah meridainya, beliau mengatakanbahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh, ada seseorang melihat seekor anjing menjilati tanah karena kehausan. Lantas dia melepas sepatunya,lalu mulai menciduki air dengannya untuk anjing tersebut hingga hilang dahaganya. Allah kemudian berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga.”Disebutkan dalam Sahih Bukharibahwa seorang pelacur diampuni dosanya karena mendapati seekor anjingyang menjulurkan lidahnya di atas sebuah sumur. Perawi berkata, “Anjing itu hampir mati kehausan,lalu dia melepas sepatunya dan mengikatnya dengan kain penutup kepalanya,kemudian mengambilkan air untuknya.Lalu dia diampuni karena hal itu.” Hadis yang agung ini menunjukkan kepada kita keagungan memberi minum.Jika demikian pahala dan ganjaran bagi orang yang memberi minum seekor anjing,lalu apatah dengan orang yang memberi minum seorang muslim? Oleh karena itu, Ibnu Abbas—semoga Allah meridainya—pernah ditanya,“Sedekah apa yang paling utama?”Dia menjawab, “Air.” Tidakkah Anda mengetahui bagaimana penghuni neraka ketika meminta tolong kepada penghuni surga?“Berilah sedikit air kepada kamiatau apa saja yang Allah rezekikan kepada kalian.” (QS. Al-A’raf: 50) Itulah sebabnya Imam al-Qurtubi mengatakan tentang ayat inibahwa ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa memberi minum termasuk amal terbaik.Ada riwayat dari sebagian Salafbahwa barang siapa yang banyak dosanya, hendaknya dia memberi air minum. Jadi, kita harus berusaha mengamalkan amal mulia ini,apalagi di saat musim-musim panasdi mana manusia menderita karena panas terik yang menyengat,sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam kitab Sahihdalam sabda beliau, “Neraka mengeluhkan dirinya kepada Tuhannya. Maka Allah mengizinkannya untuk berhembus dua kali.Satu kali hembusan pada saat musim panas dan hembusan lain di musim dingin.Jadi, hawa yang paling panas yang kalian rasakan adalah akibat hembusan panasnya.Sedangkan hawa yang paling dingin yang kalian rasakan adalah akibat hembusan dinginnya.” (HR. Bukhari) Hadis tentang keutamaan memberi minum ini menunjukkan pentingnya hal tersebut,maka kita harus memperhatikan hal ini di waktu-waktu ini,yakni saat musim panas ini, untuk memperhatikan para pekerjayang bekerja di jalan-jalan dan lain sebagainya. Begitu juga dengan menggali sumur bagi mereka yang menderita kekurangan air,atau tidak mendapati air, atau jauh dari sumber air,atau ketiadaan sumber air yang bersih di daerah mereka. Semua itu termasuk amalan yang agunguntuk mendekatkan diri kepada Allah ʿAzza wa Jalla.Semoga Allah memberi kita taufik untuk melakukan amal saleh,dan menerimanya dari kita, dan segala puji hanya bagi Allah di awal dan di akhir. ====== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي صَحِيحِ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَاوِيَةِ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا رَأَى كَلْبًا يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَأَخَذَ الرَّجُلُ خُفَّهُ فَجَعَلَ يَغْرِفُ لَهُ بِهِ حتَّى أَرْوَاهُ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ وَفِي الْبُخَارِيِّ غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنَ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ يَدُلُّنَا عَلَى عِظَمِ السُّقْيَا وَإِذَا كَانَ هَذَا أَجْرُ وَثَوَابُ مَنْ سَقَى كَلْبًا فَكَيْفَ بِمَنْ سَقَى إِنْسَانًا مُسْلِمًا؟ وَلِذَا سُئِلَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: الْمَاءُ أَلَمْ تَرَوا إِلَى أَهْلِ النَّارِ حِينَ اسْتَغَاثُوا بِأَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ وَلِذَا ذَكَرَ الْإِمَامُ الْقُرْطُبِيُّ فِي هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّهَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ سُقْيَا الْمَاءِ مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ مَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ فَعَلَيْهِ بِسُقْيَا الْمَاءِ حَرِيٌّ بِنَا أَنْ نَحْرِصَ عَلَى هَذَا الْعَمَلِ الْعَظِيمِ وَلَا سِيَّمَا فِي أَوْقَاتِ الْحَرِّ الَّتِي يُعَانِي النَّاسُ مِنْهَا مِنْ حَرٍّ شَدِيدٍ عَظِيمٍ وَكَمَا ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ فِي قَوْلِهِ اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِي الصَّيْفِ وَنَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ فَإِنَّ أَشَدَّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ مِنْ حَرِّهَا وَأَشَدَّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْبَرْدِ مِنْ زَمْهَرِيرِهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ فِي فَضْلِ السُّقْيَا يَدُلُّنَا عَلَى أَهَمِّيَّةِ ذَلِكَ فَحَرِيٌّ بِنَا أَنْ نُرَاعِيَ هَذَا فِي هَذِهِ الْمَوَاسِمِ مَوَاسِمِ الصَّيْفِ بِمُرَاعَاةِ الْعُمَّالِ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ بِالطُّرُقَاتِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَكَذَا بِحَفْرِ الْآبَارِ لِمَنْ يُعَانُونَ مِنْ قِلَّةِ الْمَاءِ أَوْ عَدَمِ وُجُودِهِ أَوِ الْبُعْدِ عَنْهُ وَعَدَمِ وُجُودِ الْمَاءِ الصَّافِيِّ عِنْدَهُمْ كُلُّ ذَلِكَ مِنَ الْأَعْمَالِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يُتَقَرَّبُ فِيهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفَّقَنَا اللهُ لِلصَّالِحَاتِ مِنْ أَعْمَالِنَا وَتَقَبَّلَهَا مِنَّا وَالْحَمْدُ لِلهِ أَوَّلًا وَآخِرًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Hidupnya Hati

Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya tidak akan ada kehidupan bagi hati, kesenangan, dan ketenangan, kecuali dengan mengenal Rabbnya dan sesembahan yang menciptakan dirinya melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dan hal itu disertai dengan kecintaan kepada-Nya yang jauh berada di atas kecintaan dirinya terhadap segala sesuatu selain-Nya. Hal itulah yang akan memicu kesungguhannya dalam mendekatkan diri kepada-Nya jauh lebih keras daripada upayanya untuk mencari kedekatan diri kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Dan merupakan sebuah perkara yang mustahil bagi akal manusia untuk bisa mengenali dan memahami itu semua secara langsung dan terperinci. Maka, sifat kasih sayang Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang menuntut perlunya diutus para rasul dalam rangka memperkenalkan diri-Nya, mengajak manusia untuk beribadah kepada-Nya, memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang memenuhi seruan mereka, dan memperingatkan orang-orang yang meyelisihi mereka.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 69)Dengan demikian, kehidupan yang sejati hanya akan diperoleh dengan memenuhi ajakan para rasul. Sehingga, kebahagiaan dan kemuliaan hanya akan diraih dengan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul ketika ia menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Dan ketahuilah sesungguhnya Allahlah yang menghalangi seorang manusia dengan hatinya. Dan sesungguhnya kepada-Nya lah nanti mereka akan dikembalikan.” (QS. Al-Anfal: 24)Berdasarkan ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa kehidupan yang hakiki itu hanya akan bisa diperoleh dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Maka, barangsiapa yang tidak mau memenuhi panggilan ini tentunya tidak ada kehidupan bagi dirinya, meskipun dia masih memiliki sisi kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dirinya dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Maka, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang dimiliki oleh orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, meskipun jasad-jasad mereka telah mati. Adapun selain mereka pada hakikatnya adalah mayat-mayat, meskipun tubuh fisik mereka masih bernyawa.Oleh sebab itu, maka orang yang paling sempurna hidupnya adalah orang yang paling baik dalam memenuhi panggilan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab di dalam semua ajaran yang diserukan oleh Rasul terkandung unsur kehidupan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan salah satu bagian darinya, maka ia juga akan kehilangan unsur kehidupan yang hakiki itu, walaupun di dalam dirinya masih terdapat kehidupan sesuai dengan kadar istijabah (pemenuhan panggilan) yang ada pada dirinya terhadap ajakan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. (lihat Al-Fawa’id, hal. 85-86)Oleh karena itulah wahai saudaraku, janganlah kita tertipu oleh ‘kemajuan’ yang dialami oleh orang-orang kafir dan ahlul bid’ah dalam bidang teknologi, ekonomi, maupun perkara-perkara keduniaan lainnya. Sebab pada hakikatnya, mereka adalah orang-orang yang sudah atau hampir mati. Semakin banyak ajaran Islam yang mereka tentang dan campakkan, maka semakin lenyaplah harapan hidup yang mereka punyai. Tinggallah kehidupan mereka tidak ubahnya seperti binatang yang hidup hanya demi memuaskan naluri kebinatangannya. Wal ‘iyadzu billah.Allah Ta’ala berfirman,اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ “Apakah sama antara orang yang sudah mati (orang kafir) yang kemudian Kami hidupkan dia dan Kami berikan pancaran cahaya untuknya sehingga dia bisa berjalan di tengah-tengah manusia dengan orang sepertinya yang tetap berada di tengah kegelapan serta tidak bisa keluar darinya?” (QS. Al-An’am: 122)Baca Juga: Kedudukan Amalan HatiIbnu Abbas dan para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang orang yang sebelumnya kafir kemudian mendapatkan hidayah dari Allah sehingga beriman (lihat Al-Fawa’id, hal. 87). Allah Ta’ala menyebut orang kafir sebagai orang yang sudah mati. Mengapa demikian? Sebab di dalam hatinya sudah tidak ada keimanan dan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya.Oleh sebab itulah, Allah menamakan wahyu-Nya yang diberikan kepada Nabi Muhammad sebagai ruh. Allah Ta’ala berfirman,وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗمَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗ“Demikianlah Kami telah mewahyukan kepadamu ruh dengan perintah Kami, sebelumnya kamu tidak mengerti apa itu Al-Kitab dan apa itu iman, namun kemudian Kami menjadikannya sebagai cahaya yang memberikan petunjuk bagi siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52)Di dalam ayat yang mulia ini Allah menggambarkan wahyu-Nya sebagai ruh dan cahaya. Maka, orang yang tidak mau menerima wahyu yang dibawa oleh rasul, pada hakikatnya telah membinasakan dirinya sendiri dan membiarkannya terjebak di dalam kegelapan. Sungguh tepat ungkapan Syaikhul Islam Abul Abbas Al-Harrani rahimahullah yang mengatakan, “Risalah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dipenuhi bagi setiap hamba. Mereka pasti memerlukannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh melebihi kebutuhan mereka terhadap segala sesuatu. Sebab risalah adalah ruh, cahaya, dan hakikat kehdupan alam semesta.” (Majmu’ Fatawa, 19: 99)Baca Juga:Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?Maafkan Aku Yaa Allah, Aku Tunanetra (Bag.1): Pulangnya Hati***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Nikmat Dunia, Waktu Mengeluarkan Zakat Mal, Perintah Sunat Dalam Alquran, Obat Tidur Di Apotik Kimia FarmaTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamhatihidupnya hatiManhajmanhaj slafnasihatnasihat islamTauhid

Hidupnya Hati

Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya tidak akan ada kehidupan bagi hati, kesenangan, dan ketenangan, kecuali dengan mengenal Rabbnya dan sesembahan yang menciptakan dirinya melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dan hal itu disertai dengan kecintaan kepada-Nya yang jauh berada di atas kecintaan dirinya terhadap segala sesuatu selain-Nya. Hal itulah yang akan memicu kesungguhannya dalam mendekatkan diri kepada-Nya jauh lebih keras daripada upayanya untuk mencari kedekatan diri kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Dan merupakan sebuah perkara yang mustahil bagi akal manusia untuk bisa mengenali dan memahami itu semua secara langsung dan terperinci. Maka, sifat kasih sayang Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang menuntut perlunya diutus para rasul dalam rangka memperkenalkan diri-Nya, mengajak manusia untuk beribadah kepada-Nya, memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang memenuhi seruan mereka, dan memperingatkan orang-orang yang meyelisihi mereka.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 69)Dengan demikian, kehidupan yang sejati hanya akan diperoleh dengan memenuhi ajakan para rasul. Sehingga, kebahagiaan dan kemuliaan hanya akan diraih dengan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul ketika ia menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Dan ketahuilah sesungguhnya Allahlah yang menghalangi seorang manusia dengan hatinya. Dan sesungguhnya kepada-Nya lah nanti mereka akan dikembalikan.” (QS. Al-Anfal: 24)Berdasarkan ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa kehidupan yang hakiki itu hanya akan bisa diperoleh dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Maka, barangsiapa yang tidak mau memenuhi panggilan ini tentunya tidak ada kehidupan bagi dirinya, meskipun dia masih memiliki sisi kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dirinya dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Maka, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang dimiliki oleh orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, meskipun jasad-jasad mereka telah mati. Adapun selain mereka pada hakikatnya adalah mayat-mayat, meskipun tubuh fisik mereka masih bernyawa.Oleh sebab itu, maka orang yang paling sempurna hidupnya adalah orang yang paling baik dalam memenuhi panggilan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab di dalam semua ajaran yang diserukan oleh Rasul terkandung unsur kehidupan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan salah satu bagian darinya, maka ia juga akan kehilangan unsur kehidupan yang hakiki itu, walaupun di dalam dirinya masih terdapat kehidupan sesuai dengan kadar istijabah (pemenuhan panggilan) yang ada pada dirinya terhadap ajakan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. (lihat Al-Fawa’id, hal. 85-86)Oleh karena itulah wahai saudaraku, janganlah kita tertipu oleh ‘kemajuan’ yang dialami oleh orang-orang kafir dan ahlul bid’ah dalam bidang teknologi, ekonomi, maupun perkara-perkara keduniaan lainnya. Sebab pada hakikatnya, mereka adalah orang-orang yang sudah atau hampir mati. Semakin banyak ajaran Islam yang mereka tentang dan campakkan, maka semakin lenyaplah harapan hidup yang mereka punyai. Tinggallah kehidupan mereka tidak ubahnya seperti binatang yang hidup hanya demi memuaskan naluri kebinatangannya. Wal ‘iyadzu billah.Allah Ta’ala berfirman,اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ “Apakah sama antara orang yang sudah mati (orang kafir) yang kemudian Kami hidupkan dia dan Kami berikan pancaran cahaya untuknya sehingga dia bisa berjalan di tengah-tengah manusia dengan orang sepertinya yang tetap berada di tengah kegelapan serta tidak bisa keluar darinya?” (QS. Al-An’am: 122)Baca Juga: Kedudukan Amalan HatiIbnu Abbas dan para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang orang yang sebelumnya kafir kemudian mendapatkan hidayah dari Allah sehingga beriman (lihat Al-Fawa’id, hal. 87). Allah Ta’ala menyebut orang kafir sebagai orang yang sudah mati. Mengapa demikian? Sebab di dalam hatinya sudah tidak ada keimanan dan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya.Oleh sebab itulah, Allah menamakan wahyu-Nya yang diberikan kepada Nabi Muhammad sebagai ruh. Allah Ta’ala berfirman,وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗمَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗ“Demikianlah Kami telah mewahyukan kepadamu ruh dengan perintah Kami, sebelumnya kamu tidak mengerti apa itu Al-Kitab dan apa itu iman, namun kemudian Kami menjadikannya sebagai cahaya yang memberikan petunjuk bagi siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52)Di dalam ayat yang mulia ini Allah menggambarkan wahyu-Nya sebagai ruh dan cahaya. Maka, orang yang tidak mau menerima wahyu yang dibawa oleh rasul, pada hakikatnya telah membinasakan dirinya sendiri dan membiarkannya terjebak di dalam kegelapan. Sungguh tepat ungkapan Syaikhul Islam Abul Abbas Al-Harrani rahimahullah yang mengatakan, “Risalah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dipenuhi bagi setiap hamba. Mereka pasti memerlukannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh melebihi kebutuhan mereka terhadap segala sesuatu. Sebab risalah adalah ruh, cahaya, dan hakikat kehdupan alam semesta.” (Majmu’ Fatawa, 19: 99)Baca Juga:Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?Maafkan Aku Yaa Allah, Aku Tunanetra (Bag.1): Pulangnya Hati***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Nikmat Dunia, Waktu Mengeluarkan Zakat Mal, Perintah Sunat Dalam Alquran, Obat Tidur Di Apotik Kimia FarmaTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamhatihidupnya hatiManhajmanhaj slafnasihatnasihat islamTauhid
Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya tidak akan ada kehidupan bagi hati, kesenangan, dan ketenangan, kecuali dengan mengenal Rabbnya dan sesembahan yang menciptakan dirinya melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dan hal itu disertai dengan kecintaan kepada-Nya yang jauh berada di atas kecintaan dirinya terhadap segala sesuatu selain-Nya. Hal itulah yang akan memicu kesungguhannya dalam mendekatkan diri kepada-Nya jauh lebih keras daripada upayanya untuk mencari kedekatan diri kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Dan merupakan sebuah perkara yang mustahil bagi akal manusia untuk bisa mengenali dan memahami itu semua secara langsung dan terperinci. Maka, sifat kasih sayang Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang menuntut perlunya diutus para rasul dalam rangka memperkenalkan diri-Nya, mengajak manusia untuk beribadah kepada-Nya, memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang memenuhi seruan mereka, dan memperingatkan orang-orang yang meyelisihi mereka.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 69)Dengan demikian, kehidupan yang sejati hanya akan diperoleh dengan memenuhi ajakan para rasul. Sehingga, kebahagiaan dan kemuliaan hanya akan diraih dengan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul ketika ia menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Dan ketahuilah sesungguhnya Allahlah yang menghalangi seorang manusia dengan hatinya. Dan sesungguhnya kepada-Nya lah nanti mereka akan dikembalikan.” (QS. Al-Anfal: 24)Berdasarkan ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa kehidupan yang hakiki itu hanya akan bisa diperoleh dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Maka, barangsiapa yang tidak mau memenuhi panggilan ini tentunya tidak ada kehidupan bagi dirinya, meskipun dia masih memiliki sisi kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dirinya dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Maka, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang dimiliki oleh orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, meskipun jasad-jasad mereka telah mati. Adapun selain mereka pada hakikatnya adalah mayat-mayat, meskipun tubuh fisik mereka masih bernyawa.Oleh sebab itu, maka orang yang paling sempurna hidupnya adalah orang yang paling baik dalam memenuhi panggilan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab di dalam semua ajaran yang diserukan oleh Rasul terkandung unsur kehidupan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan salah satu bagian darinya, maka ia juga akan kehilangan unsur kehidupan yang hakiki itu, walaupun di dalam dirinya masih terdapat kehidupan sesuai dengan kadar istijabah (pemenuhan panggilan) yang ada pada dirinya terhadap ajakan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. (lihat Al-Fawa’id, hal. 85-86)Oleh karena itulah wahai saudaraku, janganlah kita tertipu oleh ‘kemajuan’ yang dialami oleh orang-orang kafir dan ahlul bid’ah dalam bidang teknologi, ekonomi, maupun perkara-perkara keduniaan lainnya. Sebab pada hakikatnya, mereka adalah orang-orang yang sudah atau hampir mati. Semakin banyak ajaran Islam yang mereka tentang dan campakkan, maka semakin lenyaplah harapan hidup yang mereka punyai. Tinggallah kehidupan mereka tidak ubahnya seperti binatang yang hidup hanya demi memuaskan naluri kebinatangannya. Wal ‘iyadzu billah.Allah Ta’ala berfirman,اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ “Apakah sama antara orang yang sudah mati (orang kafir) yang kemudian Kami hidupkan dia dan Kami berikan pancaran cahaya untuknya sehingga dia bisa berjalan di tengah-tengah manusia dengan orang sepertinya yang tetap berada di tengah kegelapan serta tidak bisa keluar darinya?” (QS. Al-An’am: 122)Baca Juga: Kedudukan Amalan HatiIbnu Abbas dan para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang orang yang sebelumnya kafir kemudian mendapatkan hidayah dari Allah sehingga beriman (lihat Al-Fawa’id, hal. 87). Allah Ta’ala menyebut orang kafir sebagai orang yang sudah mati. Mengapa demikian? Sebab di dalam hatinya sudah tidak ada keimanan dan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya.Oleh sebab itulah, Allah menamakan wahyu-Nya yang diberikan kepada Nabi Muhammad sebagai ruh. Allah Ta’ala berfirman,وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗمَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗ“Demikianlah Kami telah mewahyukan kepadamu ruh dengan perintah Kami, sebelumnya kamu tidak mengerti apa itu Al-Kitab dan apa itu iman, namun kemudian Kami menjadikannya sebagai cahaya yang memberikan petunjuk bagi siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52)Di dalam ayat yang mulia ini Allah menggambarkan wahyu-Nya sebagai ruh dan cahaya. Maka, orang yang tidak mau menerima wahyu yang dibawa oleh rasul, pada hakikatnya telah membinasakan dirinya sendiri dan membiarkannya terjebak di dalam kegelapan. Sungguh tepat ungkapan Syaikhul Islam Abul Abbas Al-Harrani rahimahullah yang mengatakan, “Risalah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dipenuhi bagi setiap hamba. Mereka pasti memerlukannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh melebihi kebutuhan mereka terhadap segala sesuatu. Sebab risalah adalah ruh, cahaya, dan hakikat kehdupan alam semesta.” (Majmu’ Fatawa, 19: 99)Baca Juga:Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?Maafkan Aku Yaa Allah, Aku Tunanetra (Bag.1): Pulangnya Hati***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Nikmat Dunia, Waktu Mengeluarkan Zakat Mal, Perintah Sunat Dalam Alquran, Obat Tidur Di Apotik Kimia FarmaTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamhatihidupnya hatiManhajmanhaj slafnasihatnasihat islamTauhid


Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya tidak akan ada kehidupan bagi hati, kesenangan, dan ketenangan, kecuali dengan mengenal Rabbnya dan sesembahan yang menciptakan dirinya melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dan hal itu disertai dengan kecintaan kepada-Nya yang jauh berada di atas kecintaan dirinya terhadap segala sesuatu selain-Nya. Hal itulah yang akan memicu kesungguhannya dalam mendekatkan diri kepada-Nya jauh lebih keras daripada upayanya untuk mencari kedekatan diri kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Dan merupakan sebuah perkara yang mustahil bagi akal manusia untuk bisa mengenali dan memahami itu semua secara langsung dan terperinci. Maka, sifat kasih sayang Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang menuntut perlunya diutus para rasul dalam rangka memperkenalkan diri-Nya, mengajak manusia untuk beribadah kepada-Nya, memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang memenuhi seruan mereka, dan memperingatkan orang-orang yang meyelisihi mereka.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 69)Dengan demikian, kehidupan yang sejati hanya akan diperoleh dengan memenuhi ajakan para rasul. Sehingga, kebahagiaan dan kemuliaan hanya akan diraih dengan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul ketika ia menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Dan ketahuilah sesungguhnya Allahlah yang menghalangi seorang manusia dengan hatinya. Dan sesungguhnya kepada-Nya lah nanti mereka akan dikembalikan.” (QS. Al-Anfal: 24)Berdasarkan ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa kehidupan yang hakiki itu hanya akan bisa diperoleh dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Maka, barangsiapa yang tidak mau memenuhi panggilan ini tentunya tidak ada kehidupan bagi dirinya, meskipun dia masih memiliki sisi kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dirinya dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Maka, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang dimiliki oleh orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, meskipun jasad-jasad mereka telah mati. Adapun selain mereka pada hakikatnya adalah mayat-mayat, meskipun tubuh fisik mereka masih bernyawa.Oleh sebab itu, maka orang yang paling sempurna hidupnya adalah orang yang paling baik dalam memenuhi panggilan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab di dalam semua ajaran yang diserukan oleh Rasul terkandung unsur kehidupan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan salah satu bagian darinya, maka ia juga akan kehilangan unsur kehidupan yang hakiki itu, walaupun di dalam dirinya masih terdapat kehidupan sesuai dengan kadar istijabah (pemenuhan panggilan) yang ada pada dirinya terhadap ajakan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. (lihat Al-Fawa’id, hal. 85-86)Oleh karena itulah wahai saudaraku, janganlah kita tertipu oleh ‘kemajuan’ yang dialami oleh orang-orang kafir dan ahlul bid’ah dalam bidang teknologi, ekonomi, maupun perkara-perkara keduniaan lainnya. Sebab pada hakikatnya, mereka adalah orang-orang yang sudah atau hampir mati. Semakin banyak ajaran Islam yang mereka tentang dan campakkan, maka semakin lenyaplah harapan hidup yang mereka punyai. Tinggallah kehidupan mereka tidak ubahnya seperti binatang yang hidup hanya demi memuaskan naluri kebinatangannya. Wal ‘iyadzu billah.Allah Ta’ala berfirman,اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ “Apakah sama antara orang yang sudah mati (orang kafir) yang kemudian Kami hidupkan dia dan Kami berikan pancaran cahaya untuknya sehingga dia bisa berjalan di tengah-tengah manusia dengan orang sepertinya yang tetap berada di tengah kegelapan serta tidak bisa keluar darinya?” (QS. Al-An’am: 122)Baca Juga: Kedudukan Amalan HatiIbnu Abbas dan para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang orang yang sebelumnya kafir kemudian mendapatkan hidayah dari Allah sehingga beriman (lihat Al-Fawa’id, hal. 87). Allah Ta’ala menyebut orang kafir sebagai orang yang sudah mati. Mengapa demikian? Sebab di dalam hatinya sudah tidak ada keimanan dan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya.Oleh sebab itulah, Allah menamakan wahyu-Nya yang diberikan kepada Nabi Muhammad sebagai ruh. Allah Ta’ala berfirman,وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗمَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗ“Demikianlah Kami telah mewahyukan kepadamu ruh dengan perintah Kami, sebelumnya kamu tidak mengerti apa itu Al-Kitab dan apa itu iman, namun kemudian Kami menjadikannya sebagai cahaya yang memberikan petunjuk bagi siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52)Di dalam ayat yang mulia ini Allah menggambarkan wahyu-Nya sebagai ruh dan cahaya. Maka, orang yang tidak mau menerima wahyu yang dibawa oleh rasul, pada hakikatnya telah membinasakan dirinya sendiri dan membiarkannya terjebak di dalam kegelapan. Sungguh tepat ungkapan Syaikhul Islam Abul Abbas Al-Harrani rahimahullah yang mengatakan, “Risalah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dipenuhi bagi setiap hamba. Mereka pasti memerlukannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh melebihi kebutuhan mereka terhadap segala sesuatu. Sebab risalah adalah ruh, cahaya, dan hakikat kehdupan alam semesta.” (Majmu’ Fatawa, 19: 99)Baca Juga:Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?Maafkan Aku Yaa Allah, Aku Tunanetra (Bag.1): Pulangnya Hati***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Nikmat Dunia, Waktu Mengeluarkan Zakat Mal, Perintah Sunat Dalam Alquran, Obat Tidur Di Apotik Kimia FarmaTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamhatihidupnya hatiManhajmanhaj slafnasihatnasihat islamTauhid

Khutbah Jumat: Al-Qur’an itu Menjadi Pemberi Syafaat, Bagaimana Caranya?

Al-Qur’an itu memberi syafaat pada kita pada hari kiamat. Coba perhatikan Khutbah Jumat kali ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Al-Qur’an, kitab suci disebutkan manfaatnya sebagaimana di dalam surah Jumat ayat kedua berikut ini, هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2) Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim, no. 804) Yang dimaksud dengan shahibul qur’an adalah: المُلاَزِمِيْنَ لِتِلاَوَتِهِ العَامِلِيْنَ بِهِ “Yang terus menerus membacanya dan mengamalkannya.” (Al-Bahr Al-Muhith, 16:353) Dari ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain).” (HR. Bukhari, no. 4739) Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an mencakup: mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya mempelajari dan mengajarkan maknanya Yang kedua ini malah yang lebih utama karena makna itulah yang dimaksud tujuan mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan, lafaz hanyalah wasilah (perantara). (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:277) Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu  Keterangan dari Nuzhah Al-Muttaqin (hlm. 394), syafii’an adalah memberi syafaat dengan memintakan ampun pada shahibul qur’an. Hadits ini mendorong untuk membaca Al-Qur’an dan memperbanyak membacanya. Jangan sampai lalai membaca Al-Qur’an karena tersibukkan dengan yang lainnya. Di dalam hadits dimutlakkan perintah membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itu disunnahkan dibaca setiap waktu dan setiap keadaan kecuali saat: (a) Buang hajat, karena Al-Qur’an itu mesti diagungkan, (b) sedang berhubungan intim dengan istrinya. Yang ia diperintahkan ketika jimak dengan pasangannya adalah membaca: بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا “BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNAASY SYAITHOONA WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.” (HR. Bukhari, no. 6388 dan Muslim, no. 1434). Lihat Syarh Riyadh Ash-Shalihin, penjelasan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4:636. Agar Al-Qur’an itu bermanfaat bagi kita: Membacanya Memahaminya Menguasai bahasanya Mempelajari tafsirnya Mentadabburinya (menghayatinya, merenungkannya) Mengamalkannya Dorongan untuk tadabur sebagaimana disebutkan dalam ayat, أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisaa’: 82) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Memahami Al-Qur’an dan merenungkannya akan membuahkan iman. Adapun jika Al-Qur’an cuma sekadar dibaca tanpa ada pemahaman dan perenungan (tadabbur), itu bisa pula dilakukan oleh orang fajir (ahli maksiat) dan munafik, di samping dilakukan oleh pelaku kebaikan dan orang beriman.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:327) Bagaimana cara tadabur Al-Qur’an agar kita raih manfaat? Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, “Apabila engkau ingin memetik manfaat dari Al-Qur’an, maka fokuskan hatimu saat membaca dan mendengarkannya. Pasang baik-baik telingamu dan posisikanlah diri seperti posisi orang yang diajak bicara langsung oleh Dzat yang memfirmankannya. Al-Qur’an ini makin sempurna pengaruhnya bergantung pada faktor pemberi pengaruh yang efektif, tempat yang kondusif, terpenuhinya syarat, terwujudnya pengaruh, dan ketiadaan faktor yang menghalanginya. Semua ini telah terkandung dalam firman Allah, إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaf: 37). Semoga Al-Qur’an menjadi penghibur hati kita yang berduka. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ. ALLOHUMMA INNI ‘ABDUK, IBNU ‘ABDIK, IBNU AMATIK, NAASHIYATI BIYADIK, MAADHIN FIYYA HUKMUK, ‘ADLUN FIYYA QODHO-UK. AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAK, SAMMAYTA BIHI NAFSAK, AW ANZALTAHU FII KITAABIK, AW ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHOLQIK, AWISTA’TSARTA BIHI FI ‘ILMIL GHOIBI ‘INDAK. AN TAJ’ALAL QUR’ANA ROBI’A QOLBI, WA NUURO SHODRI, WA JALAA-A HUZNI, WA DZAHABA HAMMI. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubun ku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, ketentuan-Mu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dada ku, pelenyap duka dan kesedihanku. (HR. Ahmad, 1: 391; 1: 452, dari ‘Abdullah) Minimal Al-Qur’an itu dibaca dalam shalat. Maka agar Al-Qur’an bermanfaat untuk kita kelak, ayo jaga shalat dengan baik. Semoga Allah menjadi Al-Qur’an sebagai syafii’aan sehingga kita mendapatkan ampunan di hari kiamat kelak. Demikian khutbah kali ini. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 25 Rabiul Awal 1444 H, 21 Oktober 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran keutaman al quran keutaman quran khutbah jumat

Khutbah Jumat: Al-Qur’an itu Menjadi Pemberi Syafaat, Bagaimana Caranya?

Al-Qur’an itu memberi syafaat pada kita pada hari kiamat. Coba perhatikan Khutbah Jumat kali ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Al-Qur’an, kitab suci disebutkan manfaatnya sebagaimana di dalam surah Jumat ayat kedua berikut ini, هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2) Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim, no. 804) Yang dimaksud dengan shahibul qur’an adalah: المُلاَزِمِيْنَ لِتِلاَوَتِهِ العَامِلِيْنَ بِهِ “Yang terus menerus membacanya dan mengamalkannya.” (Al-Bahr Al-Muhith, 16:353) Dari ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain).” (HR. Bukhari, no. 4739) Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an mencakup: mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya mempelajari dan mengajarkan maknanya Yang kedua ini malah yang lebih utama karena makna itulah yang dimaksud tujuan mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan, lafaz hanyalah wasilah (perantara). (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:277) Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu  Keterangan dari Nuzhah Al-Muttaqin (hlm. 394), syafii’an adalah memberi syafaat dengan memintakan ampun pada shahibul qur’an. Hadits ini mendorong untuk membaca Al-Qur’an dan memperbanyak membacanya. Jangan sampai lalai membaca Al-Qur’an karena tersibukkan dengan yang lainnya. Di dalam hadits dimutlakkan perintah membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itu disunnahkan dibaca setiap waktu dan setiap keadaan kecuali saat: (a) Buang hajat, karena Al-Qur’an itu mesti diagungkan, (b) sedang berhubungan intim dengan istrinya. Yang ia diperintahkan ketika jimak dengan pasangannya adalah membaca: بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا “BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNAASY SYAITHOONA WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.” (HR. Bukhari, no. 6388 dan Muslim, no. 1434). Lihat Syarh Riyadh Ash-Shalihin, penjelasan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4:636. Agar Al-Qur’an itu bermanfaat bagi kita: Membacanya Memahaminya Menguasai bahasanya Mempelajari tafsirnya Mentadabburinya (menghayatinya, merenungkannya) Mengamalkannya Dorongan untuk tadabur sebagaimana disebutkan dalam ayat, أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisaa’: 82) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Memahami Al-Qur’an dan merenungkannya akan membuahkan iman. Adapun jika Al-Qur’an cuma sekadar dibaca tanpa ada pemahaman dan perenungan (tadabbur), itu bisa pula dilakukan oleh orang fajir (ahli maksiat) dan munafik, di samping dilakukan oleh pelaku kebaikan dan orang beriman.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:327) Bagaimana cara tadabur Al-Qur’an agar kita raih manfaat? Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, “Apabila engkau ingin memetik manfaat dari Al-Qur’an, maka fokuskan hatimu saat membaca dan mendengarkannya. Pasang baik-baik telingamu dan posisikanlah diri seperti posisi orang yang diajak bicara langsung oleh Dzat yang memfirmankannya. Al-Qur’an ini makin sempurna pengaruhnya bergantung pada faktor pemberi pengaruh yang efektif, tempat yang kondusif, terpenuhinya syarat, terwujudnya pengaruh, dan ketiadaan faktor yang menghalanginya. Semua ini telah terkandung dalam firman Allah, إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaf: 37). Semoga Al-Qur’an menjadi penghibur hati kita yang berduka. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ. ALLOHUMMA INNI ‘ABDUK, IBNU ‘ABDIK, IBNU AMATIK, NAASHIYATI BIYADIK, MAADHIN FIYYA HUKMUK, ‘ADLUN FIYYA QODHO-UK. AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAK, SAMMAYTA BIHI NAFSAK, AW ANZALTAHU FII KITAABIK, AW ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHOLQIK, AWISTA’TSARTA BIHI FI ‘ILMIL GHOIBI ‘INDAK. AN TAJ’ALAL QUR’ANA ROBI’A QOLBI, WA NUURO SHODRI, WA JALAA-A HUZNI, WA DZAHABA HAMMI. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubun ku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, ketentuan-Mu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dada ku, pelenyap duka dan kesedihanku. (HR. Ahmad, 1: 391; 1: 452, dari ‘Abdullah) Minimal Al-Qur’an itu dibaca dalam shalat. Maka agar Al-Qur’an bermanfaat untuk kita kelak, ayo jaga shalat dengan baik. Semoga Allah menjadi Al-Qur’an sebagai syafii’aan sehingga kita mendapatkan ampunan di hari kiamat kelak. Demikian khutbah kali ini. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 25 Rabiul Awal 1444 H, 21 Oktober 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran keutaman al quran keutaman quran khutbah jumat
Al-Qur’an itu memberi syafaat pada kita pada hari kiamat. Coba perhatikan Khutbah Jumat kali ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Al-Qur’an, kitab suci disebutkan manfaatnya sebagaimana di dalam surah Jumat ayat kedua berikut ini, هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2) Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim, no. 804) Yang dimaksud dengan shahibul qur’an adalah: المُلاَزِمِيْنَ لِتِلاَوَتِهِ العَامِلِيْنَ بِهِ “Yang terus menerus membacanya dan mengamalkannya.” (Al-Bahr Al-Muhith, 16:353) Dari ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain).” (HR. Bukhari, no. 4739) Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an mencakup: mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya mempelajari dan mengajarkan maknanya Yang kedua ini malah yang lebih utama karena makna itulah yang dimaksud tujuan mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan, lafaz hanyalah wasilah (perantara). (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:277) Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu  Keterangan dari Nuzhah Al-Muttaqin (hlm. 394), syafii’an adalah memberi syafaat dengan memintakan ampun pada shahibul qur’an. Hadits ini mendorong untuk membaca Al-Qur’an dan memperbanyak membacanya. Jangan sampai lalai membaca Al-Qur’an karena tersibukkan dengan yang lainnya. Di dalam hadits dimutlakkan perintah membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itu disunnahkan dibaca setiap waktu dan setiap keadaan kecuali saat: (a) Buang hajat, karena Al-Qur’an itu mesti diagungkan, (b) sedang berhubungan intim dengan istrinya. Yang ia diperintahkan ketika jimak dengan pasangannya adalah membaca: بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا “BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNAASY SYAITHOONA WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.” (HR. Bukhari, no. 6388 dan Muslim, no. 1434). Lihat Syarh Riyadh Ash-Shalihin, penjelasan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4:636. Agar Al-Qur’an itu bermanfaat bagi kita: Membacanya Memahaminya Menguasai bahasanya Mempelajari tafsirnya Mentadabburinya (menghayatinya, merenungkannya) Mengamalkannya Dorongan untuk tadabur sebagaimana disebutkan dalam ayat, أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisaa’: 82) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Memahami Al-Qur’an dan merenungkannya akan membuahkan iman. Adapun jika Al-Qur’an cuma sekadar dibaca tanpa ada pemahaman dan perenungan (tadabbur), itu bisa pula dilakukan oleh orang fajir (ahli maksiat) dan munafik, di samping dilakukan oleh pelaku kebaikan dan orang beriman.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:327) Bagaimana cara tadabur Al-Qur’an agar kita raih manfaat? Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, “Apabila engkau ingin memetik manfaat dari Al-Qur’an, maka fokuskan hatimu saat membaca dan mendengarkannya. Pasang baik-baik telingamu dan posisikanlah diri seperti posisi orang yang diajak bicara langsung oleh Dzat yang memfirmankannya. Al-Qur’an ini makin sempurna pengaruhnya bergantung pada faktor pemberi pengaruh yang efektif, tempat yang kondusif, terpenuhinya syarat, terwujudnya pengaruh, dan ketiadaan faktor yang menghalanginya. Semua ini telah terkandung dalam firman Allah, إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaf: 37). Semoga Al-Qur’an menjadi penghibur hati kita yang berduka. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ. ALLOHUMMA INNI ‘ABDUK, IBNU ‘ABDIK, IBNU AMATIK, NAASHIYATI BIYADIK, MAADHIN FIYYA HUKMUK, ‘ADLUN FIYYA QODHO-UK. AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAK, SAMMAYTA BIHI NAFSAK, AW ANZALTAHU FII KITAABIK, AW ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHOLQIK, AWISTA’TSARTA BIHI FI ‘ILMIL GHOIBI ‘INDAK. AN TAJ’ALAL QUR’ANA ROBI’A QOLBI, WA NUURO SHODRI, WA JALAA-A HUZNI, WA DZAHABA HAMMI. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubun ku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, ketentuan-Mu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dada ku, pelenyap duka dan kesedihanku. (HR. Ahmad, 1: 391; 1: 452, dari ‘Abdullah) Minimal Al-Qur’an itu dibaca dalam shalat. Maka agar Al-Qur’an bermanfaat untuk kita kelak, ayo jaga shalat dengan baik. Semoga Allah menjadi Al-Qur’an sebagai syafii’aan sehingga kita mendapatkan ampunan di hari kiamat kelak. Demikian khutbah kali ini. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 25 Rabiul Awal 1444 H, 21 Oktober 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran keutaman al quran keutaman quran khutbah jumat


Al-Qur’an itu memberi syafaat pada kita pada hari kiamat. Coba perhatikan Khutbah Jumat kali ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Al-Qur’an, kitab suci disebutkan manfaatnya sebagaimana di dalam surah Jumat ayat kedua berikut ini, هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2) Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim, no. 804) Yang dimaksud dengan shahibul qur’an adalah: المُلاَزِمِيْنَ لِتِلاَوَتِهِ العَامِلِيْنَ بِهِ “Yang terus menerus membacanya dan mengamalkannya.” (Al-Bahr Al-Muhith, 16:353) Dari ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain).” (HR. Bukhari, no. 4739) Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an mencakup: mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya mempelajari dan mengajarkan maknanya Yang kedua ini malah yang lebih utama karena makna itulah yang dimaksud tujuan mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan, lafaz hanyalah wasilah (perantara). (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:277) Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu  Keterangan dari Nuzhah Al-Muttaqin (hlm. 394), syafii’an adalah memberi syafaat dengan memintakan ampun pada shahibul qur’an. Hadits ini mendorong untuk membaca Al-Qur’an dan memperbanyak membacanya. Jangan sampai lalai membaca Al-Qur’an karena tersibukkan dengan yang lainnya. Di dalam hadits dimutlakkan perintah membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itu disunnahkan dibaca setiap waktu dan setiap keadaan kecuali saat: (a) Buang hajat, karena Al-Qur’an itu mesti diagungkan, (b) sedang berhubungan intim dengan istrinya. Yang ia diperintahkan ketika jimak dengan pasangannya adalah membaca: بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا “BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNAASY SYAITHOONA WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.” (HR. Bukhari, no. 6388 dan Muslim, no. 1434). Lihat Syarh Riyadh Ash-Shalihin, penjelasan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4:636. Agar Al-Qur’an itu bermanfaat bagi kita: Membacanya Memahaminya Menguasai bahasanya Mempelajari tafsirnya Mentadabburinya (menghayatinya, merenungkannya) Mengamalkannya Dorongan untuk tadabur sebagaimana disebutkan dalam ayat, أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisaa’: 82) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Memahami Al-Qur’an dan merenungkannya akan membuahkan iman. Adapun jika Al-Qur’an cuma sekadar dibaca tanpa ada pemahaman dan perenungan (tadabbur), itu bisa pula dilakukan oleh orang fajir (ahli maksiat) dan munafik, di samping dilakukan oleh pelaku kebaikan dan orang beriman.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:327) Bagaimana cara tadabur Al-Qur’an agar kita raih manfaat? Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, “Apabila engkau ingin memetik manfaat dari Al-Qur’an, maka fokuskan hatimu saat membaca dan mendengarkannya. Pasang baik-baik telingamu dan posisikanlah diri seperti posisi orang yang diajak bicara langsung oleh Dzat yang memfirmankannya. Al-Qur’an ini makin sempurna pengaruhnya bergantung pada faktor pemberi pengaruh yang efektif, tempat yang kondusif, terpenuhinya syarat, terwujudnya pengaruh, dan ketiadaan faktor yang menghalanginya. Semua ini telah terkandung dalam firman Allah, إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaf: 37). Semoga Al-Qur’an menjadi penghibur hati kita yang berduka. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ. ALLOHUMMA INNI ‘ABDUK, IBNU ‘ABDIK, IBNU AMATIK, NAASHIYATI BIYADIK, MAADHIN FIYYA HUKMUK, ‘ADLUN FIYYA QODHO-UK. AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAK, SAMMAYTA BIHI NAFSAK, AW ANZALTAHU FII KITAABIK, AW ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHOLQIK, AWISTA’TSARTA BIHI FI ‘ILMIL GHOIBI ‘INDAK. AN TAJ’ALAL QUR’ANA ROBI’A QOLBI, WA NUURO SHODRI, WA JALAA-A HUZNI, WA DZAHABA HAMMI. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubun ku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, ketentuan-Mu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dada ku, pelenyap duka dan kesedihanku. (HR. Ahmad, 1: 391; 1: 452, dari ‘Abdullah) Minimal Al-Qur’an itu dibaca dalam shalat. Maka agar Al-Qur’an bermanfaat untuk kita kelak, ayo jaga shalat dengan baik. Semoga Allah menjadi Al-Qur’an sebagai syafii’aan sehingga kita mendapatkan ampunan di hari kiamat kelak. Demikian khutbah kali ini. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 25 Rabiul Awal 1444 H, 21 Oktober 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran keutaman al quran keutaman quran khutbah jumat

Al-Qur’an akan Memberi Syafaat pada Hari Kiamat bagi Shahibul Qur’an

Hadits kali ini diambil dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin. Ini adalah hadits pertama dari Kitab Al-Fadhail (Keutamaan) dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an     Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) 2. Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an 3. Hadits #991 4. Al-Qur’an akan Memberi Syafaat 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi:   Hadits #991 Al-Qur’an akan Memberi Syafaat عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 804]   Faedah hadits Shahibul qur’an adalah: المُلاَزِمِيْنَ لِتِلاَوَتِهِ العَامِلِيْنَ بِهِ “Yang terus menerus membacanya dan mengamalkannya.” (Al-Bahr Al-Muhith, 16:353) Keterangan dari Nuzhah Al-Muttaqin (hlm. 394), syafii’an adalah memberi syafaat dengan memintakan ampun pada shahibul qur’an. Shahibul qur’an adalah yang membaca dan mengamalkan hukum serta petunjuk dalam Al-Qur’an. Hadits ini mendorong untuk membaca Al-Qur’an dan memperbanyak membacanya. Jangan sampai lalai membaca Al-Qur’an karena tersibukkan dengan yang lainnya. Allah memberikan syafaat lewat Al-Qur’an pada shahibul Qur’an. Shahibul Qur’an adalah yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya. Di dalam hadits dimutlakkan perintah membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itu disunnahkan dibaca setiap waktu dan setiap keadaan kecuali saat: (a) Buang hajat, karena Al-Qur’an itu mesti diagungkan, (b) sedang berhubungan intim dengan istrinya. Yang ia diperintahkan ketika jimak dengan pasangannya adalah membaca: بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا “BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNAASY SYAITHOONA WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.” (HR. Bukhari, no. 6388 dan Muslim, no. 1434). Lihat Syarh Riyadh Ash-Shalihin, penjelasan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4:636. Baca juga: Empat Langkah Tadabur Al-Qur’an   Referensi: Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Muhammad bin Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Ali bin Adam bin Musa Al-Itiyubia Al-Wallawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:204. Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursaliin. Cetakan tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan li An-Nasyr.   —   Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 24 Rabiul Awal 1444 H, 20 Oktober 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran hafalan quran interaksi al quran keutamaan al quran khatam al quran membaca Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail syafa'at

Al-Qur’an akan Memberi Syafaat pada Hari Kiamat bagi Shahibul Qur’an

Hadits kali ini diambil dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin. Ini adalah hadits pertama dari Kitab Al-Fadhail (Keutamaan) dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an     Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) 2. Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an 3. Hadits #991 4. Al-Qur’an akan Memberi Syafaat 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi:   Hadits #991 Al-Qur’an akan Memberi Syafaat عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 804]   Faedah hadits Shahibul qur’an adalah: المُلاَزِمِيْنَ لِتِلاَوَتِهِ العَامِلِيْنَ بِهِ “Yang terus menerus membacanya dan mengamalkannya.” (Al-Bahr Al-Muhith, 16:353) Keterangan dari Nuzhah Al-Muttaqin (hlm. 394), syafii’an adalah memberi syafaat dengan memintakan ampun pada shahibul qur’an. Shahibul qur’an adalah yang membaca dan mengamalkan hukum serta petunjuk dalam Al-Qur’an. Hadits ini mendorong untuk membaca Al-Qur’an dan memperbanyak membacanya. Jangan sampai lalai membaca Al-Qur’an karena tersibukkan dengan yang lainnya. Allah memberikan syafaat lewat Al-Qur’an pada shahibul Qur’an. Shahibul Qur’an adalah yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya. Di dalam hadits dimutlakkan perintah membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itu disunnahkan dibaca setiap waktu dan setiap keadaan kecuali saat: (a) Buang hajat, karena Al-Qur’an itu mesti diagungkan, (b) sedang berhubungan intim dengan istrinya. Yang ia diperintahkan ketika jimak dengan pasangannya adalah membaca: بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا “BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNAASY SYAITHOONA WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.” (HR. Bukhari, no. 6388 dan Muslim, no. 1434). Lihat Syarh Riyadh Ash-Shalihin, penjelasan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4:636. Baca juga: Empat Langkah Tadabur Al-Qur’an   Referensi: Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Muhammad bin Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Ali bin Adam bin Musa Al-Itiyubia Al-Wallawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:204. Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursaliin. Cetakan tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan li An-Nasyr.   —   Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 24 Rabiul Awal 1444 H, 20 Oktober 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran hafalan quran interaksi al quran keutamaan al quran khatam al quran membaca Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail syafa'at
Hadits kali ini diambil dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin. Ini adalah hadits pertama dari Kitab Al-Fadhail (Keutamaan) dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an     Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) 2. Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an 3. Hadits #991 4. Al-Qur’an akan Memberi Syafaat 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi:   Hadits #991 Al-Qur’an akan Memberi Syafaat عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 804]   Faedah hadits Shahibul qur’an adalah: المُلاَزِمِيْنَ لِتِلاَوَتِهِ العَامِلِيْنَ بِهِ “Yang terus menerus membacanya dan mengamalkannya.” (Al-Bahr Al-Muhith, 16:353) Keterangan dari Nuzhah Al-Muttaqin (hlm. 394), syafii’an adalah memberi syafaat dengan memintakan ampun pada shahibul qur’an. Shahibul qur’an adalah yang membaca dan mengamalkan hukum serta petunjuk dalam Al-Qur’an. Hadits ini mendorong untuk membaca Al-Qur’an dan memperbanyak membacanya. Jangan sampai lalai membaca Al-Qur’an karena tersibukkan dengan yang lainnya. Allah memberikan syafaat lewat Al-Qur’an pada shahibul Qur’an. Shahibul Qur’an adalah yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya. Di dalam hadits dimutlakkan perintah membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itu disunnahkan dibaca setiap waktu dan setiap keadaan kecuali saat: (a) Buang hajat, karena Al-Qur’an itu mesti diagungkan, (b) sedang berhubungan intim dengan istrinya. Yang ia diperintahkan ketika jimak dengan pasangannya adalah membaca: بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا “BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNAASY SYAITHOONA WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.” (HR. Bukhari, no. 6388 dan Muslim, no. 1434). Lihat Syarh Riyadh Ash-Shalihin, penjelasan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4:636. Baca juga: Empat Langkah Tadabur Al-Qur’an   Referensi: Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Muhammad bin Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Ali bin Adam bin Musa Al-Itiyubia Al-Wallawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:204. Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursaliin. Cetakan tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan li An-Nasyr.   —   Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 24 Rabiul Awal 1444 H, 20 Oktober 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran hafalan quran interaksi al quran keutamaan al quran khatam al quran membaca Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail syafa'at


Hadits kali ini diambil dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin. Ini adalah hadits pertama dari Kitab Al-Fadhail (Keutamaan) dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an     Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) 2. Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an 3. Hadits #991 4. Al-Qur’an akan Memberi Syafaat 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi:   Hadits #991 Al-Qur’an akan Memberi Syafaat عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 804]   Faedah hadits Shahibul qur’an adalah: المُلاَزِمِيْنَ لِتِلاَوَتِهِ العَامِلِيْنَ بِهِ “Yang terus menerus membacanya dan mengamalkannya.” (Al-Bahr Al-Muhith, 16:353) Keterangan dari Nuzhah Al-Muttaqin (hlm. 394), syafii’an adalah memberi syafaat dengan memintakan ampun pada shahibul qur’an. Shahibul qur’an adalah yang membaca dan mengamalkan hukum serta petunjuk dalam Al-Qur’an. Hadits ini mendorong untuk membaca Al-Qur’an dan memperbanyak membacanya. Jangan sampai lalai membaca Al-Qur’an karena tersibukkan dengan yang lainnya. Allah memberikan syafaat lewat Al-Qur’an pada shahibul Qur’an. Shahibul Qur’an adalah yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya. Di dalam hadits dimutlakkan perintah membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itu disunnahkan dibaca setiap waktu dan setiap keadaan kecuali saat: (a) Buang hajat, karena Al-Qur’an itu mesti diagungkan, (b) sedang berhubungan intim dengan istrinya. Yang ia diperintahkan ketika jimak dengan pasangannya adalah membaca: بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا “BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNAASY SYAITHOONA WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.” (HR. Bukhari, no. 6388 dan Muslim, no. 1434). Lihat Syarh Riyadh Ash-Shalihin, penjelasan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4:636. Baca juga: Empat Langkah Tadabur Al-Qur’an   Referensi: Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Muhammad bin Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Ali bin Adam bin Musa Al-Itiyubia Al-Wallawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:204. Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursaliin. Cetakan tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan li An-Nasyr.   —   Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 24 Rabiul Awal 1444 H, 20 Oktober 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran hafalan quran interaksi al quran keutamaan al quran khatam al quran membaca Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail syafa'at

Manfaat Ayat Kursi – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Di antara riwayat-riwayat tentang fadilat (keutamaan) membaca Ayat Kursiadalah bahwa setan keluar dari rumah yang dibacakan di dalamnya Ayat Kursi.Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, dengan redaksinya dan dia (al-Hakim) menyahihkannya,dari Abu Hurairah—semoga Allah meridainya—bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dalam surah al-Baqarah ada satu ayat yang merupakan penghulu semua ayat al-Quran,tidaklah ia dibacakan di sebuah rumah yang ada setannyakecuali setan itu pasti keluar darinya, yakni Ayat Kursi.” Di antara fadilat (keutamaan) membaca Ayat Kursi,bahwa barang siapa yang membacanya, niscaya setan tidak akan mendekatinya,maupun harta benda dan rumahnya,dan bahwa Allah ʿAzza wa Jalla akan menjaganya dari keburukan. Oleh sebab itu, Ayat Kursi dianjurkan untuk dibaca ketika hendak tidurdan saat memasuki waktu pagi dan sore hari.Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah—semoga Allah meridainya—dalam sebuah hadis yang panjang bahwa dikatakan kepadanya, “Jika engkau beranjak ke tempat tidurmu,bacalah Ayat Kursi,‘Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mandiri, …hingga akhir ayat.’ (QS. Al-Baqarah: 255),niscaya engkau akan selalu dalam penjagaan dari Allahdan setan sungguh tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi.” Lalu Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah,“Dia (setan) jujur padamu (Abu Hurairah) padahal dia pembohong besar,dia adalah setan.” Yakni yang mengatakan itu kepadanya. Para Sahabat Nabi sangat ketat menekankanmembaca Ayat Kursi ini sebelum tidurkarena mereka tahu keutamaan membacanya di waktu tersebut. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang sahihbahwa Ali—semoga Allah meridainya—mengatakan“Saya tidak mendapati orang yang berakal yang masuk Islamketika hendak tidur kecuali dia membaca Ayat Kursi.” Oleh karena itu, dianjurkan juga untuk membacanyaketika seorang Muslim memasuki waktu pagi dan petangsetiap hari, sebagaimana diriwayatkan oleh ad-Darimidari hadis Abu Hurairah. Semoga Allah ʿAzza wa Jalla menjadikan kita termasuk ahli al-Qur’anyang merupakan wali Allah dan orang-orang khusus-Nya. ==== وَمِنَ الْفَضَائِلِ الْوَارِدَةِ لِقِرَاءَةِ آيَهِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ رَوَى التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَاللَّفْظُ لَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فِيهَا آيَةٌ سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ لَا تُقْرَأُ فِي بَيْتٍ وَفِيهِ شَيْطَانٌ إِلَّا خَرَجَ مِنْهُ ؛ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَمِنْ فَضَائِلِ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَقْرَبُهُ وَلَا يَقْرَبُ مَالَهُ وَلَا بَيْتَهُ وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُهُ مِنَ الشَّرِّ وَلِذَا فَيُسْتَحَبُّ قِرَاءَتُهَا عِنْدَ النَّوْمِ وَعِنْدَمَا يُصْبِحُ وَيُمْسِي رَوَى الْبُخَارِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ أَنَّهُ قِيلَ لَهُ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ … حتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ – يَعْنِي الَّذِي قَالَ لَهُ هَذَا الْأَمْرَ وَقَدْ بَالَغَ الصَّحَابَةُ فِي التَّأْكِيدِ عَلَى قِرَاءَةِ هَذِهِ الْآيَةِ قَبْلَ النَّوْمِ لِمَا عَلِمُوهُ مِنْ فَضْلِ قِرَاءَتِهَا حِينَئِذٍ رَوَى ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مَا أَرَى أَحَدًا يَعْقِلُ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَلِذَا فَيُسْتَحَبُّ قِرَاءَتُهَا كَذَلِكَ حِينَمَا يُصْبِحُ الْمُسْلِمُ وَحِينَمَا يُمْسِي مِنْ كُلِّ يَوْمٍ كَمَا جَاءَ فِي رِوَايَةٍ عِنْدَ الدَّارِمِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ جَعَلَنَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهُ وَخَاصَّتُهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Manfaat Ayat Kursi – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Di antara riwayat-riwayat tentang fadilat (keutamaan) membaca Ayat Kursiadalah bahwa setan keluar dari rumah yang dibacakan di dalamnya Ayat Kursi.Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, dengan redaksinya dan dia (al-Hakim) menyahihkannya,dari Abu Hurairah—semoga Allah meridainya—bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dalam surah al-Baqarah ada satu ayat yang merupakan penghulu semua ayat al-Quran,tidaklah ia dibacakan di sebuah rumah yang ada setannyakecuali setan itu pasti keluar darinya, yakni Ayat Kursi.” Di antara fadilat (keutamaan) membaca Ayat Kursi,bahwa barang siapa yang membacanya, niscaya setan tidak akan mendekatinya,maupun harta benda dan rumahnya,dan bahwa Allah ʿAzza wa Jalla akan menjaganya dari keburukan. Oleh sebab itu, Ayat Kursi dianjurkan untuk dibaca ketika hendak tidurdan saat memasuki waktu pagi dan sore hari.Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah—semoga Allah meridainya—dalam sebuah hadis yang panjang bahwa dikatakan kepadanya, “Jika engkau beranjak ke tempat tidurmu,bacalah Ayat Kursi,‘Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mandiri, …hingga akhir ayat.’ (QS. Al-Baqarah: 255),niscaya engkau akan selalu dalam penjagaan dari Allahdan setan sungguh tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi.” Lalu Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah,“Dia (setan) jujur padamu (Abu Hurairah) padahal dia pembohong besar,dia adalah setan.” Yakni yang mengatakan itu kepadanya. Para Sahabat Nabi sangat ketat menekankanmembaca Ayat Kursi ini sebelum tidurkarena mereka tahu keutamaan membacanya di waktu tersebut. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang sahihbahwa Ali—semoga Allah meridainya—mengatakan“Saya tidak mendapati orang yang berakal yang masuk Islamketika hendak tidur kecuali dia membaca Ayat Kursi.” Oleh karena itu, dianjurkan juga untuk membacanyaketika seorang Muslim memasuki waktu pagi dan petangsetiap hari, sebagaimana diriwayatkan oleh ad-Darimidari hadis Abu Hurairah. Semoga Allah ʿAzza wa Jalla menjadikan kita termasuk ahli al-Qur’anyang merupakan wali Allah dan orang-orang khusus-Nya. ==== وَمِنَ الْفَضَائِلِ الْوَارِدَةِ لِقِرَاءَةِ آيَهِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ رَوَى التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَاللَّفْظُ لَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فِيهَا آيَةٌ سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ لَا تُقْرَأُ فِي بَيْتٍ وَفِيهِ شَيْطَانٌ إِلَّا خَرَجَ مِنْهُ ؛ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَمِنْ فَضَائِلِ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَقْرَبُهُ وَلَا يَقْرَبُ مَالَهُ وَلَا بَيْتَهُ وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُهُ مِنَ الشَّرِّ وَلِذَا فَيُسْتَحَبُّ قِرَاءَتُهَا عِنْدَ النَّوْمِ وَعِنْدَمَا يُصْبِحُ وَيُمْسِي رَوَى الْبُخَارِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ أَنَّهُ قِيلَ لَهُ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ … حتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ – يَعْنِي الَّذِي قَالَ لَهُ هَذَا الْأَمْرَ وَقَدْ بَالَغَ الصَّحَابَةُ فِي التَّأْكِيدِ عَلَى قِرَاءَةِ هَذِهِ الْآيَةِ قَبْلَ النَّوْمِ لِمَا عَلِمُوهُ مِنْ فَضْلِ قِرَاءَتِهَا حِينَئِذٍ رَوَى ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مَا أَرَى أَحَدًا يَعْقِلُ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَلِذَا فَيُسْتَحَبُّ قِرَاءَتُهَا كَذَلِكَ حِينَمَا يُصْبِحُ الْمُسْلِمُ وَحِينَمَا يُمْسِي مِنْ كُلِّ يَوْمٍ كَمَا جَاءَ فِي رِوَايَةٍ عِنْدَ الدَّارِمِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ جَعَلَنَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهُ وَخَاصَّتُهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Di antara riwayat-riwayat tentang fadilat (keutamaan) membaca Ayat Kursiadalah bahwa setan keluar dari rumah yang dibacakan di dalamnya Ayat Kursi.Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, dengan redaksinya dan dia (al-Hakim) menyahihkannya,dari Abu Hurairah—semoga Allah meridainya—bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dalam surah al-Baqarah ada satu ayat yang merupakan penghulu semua ayat al-Quran,tidaklah ia dibacakan di sebuah rumah yang ada setannyakecuali setan itu pasti keluar darinya, yakni Ayat Kursi.” Di antara fadilat (keutamaan) membaca Ayat Kursi,bahwa barang siapa yang membacanya, niscaya setan tidak akan mendekatinya,maupun harta benda dan rumahnya,dan bahwa Allah ʿAzza wa Jalla akan menjaganya dari keburukan. Oleh sebab itu, Ayat Kursi dianjurkan untuk dibaca ketika hendak tidurdan saat memasuki waktu pagi dan sore hari.Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah—semoga Allah meridainya—dalam sebuah hadis yang panjang bahwa dikatakan kepadanya, “Jika engkau beranjak ke tempat tidurmu,bacalah Ayat Kursi,‘Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mandiri, …hingga akhir ayat.’ (QS. Al-Baqarah: 255),niscaya engkau akan selalu dalam penjagaan dari Allahdan setan sungguh tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi.” Lalu Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah,“Dia (setan) jujur padamu (Abu Hurairah) padahal dia pembohong besar,dia adalah setan.” Yakni yang mengatakan itu kepadanya. Para Sahabat Nabi sangat ketat menekankanmembaca Ayat Kursi ini sebelum tidurkarena mereka tahu keutamaan membacanya di waktu tersebut. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang sahihbahwa Ali—semoga Allah meridainya—mengatakan“Saya tidak mendapati orang yang berakal yang masuk Islamketika hendak tidur kecuali dia membaca Ayat Kursi.” Oleh karena itu, dianjurkan juga untuk membacanyaketika seorang Muslim memasuki waktu pagi dan petangsetiap hari, sebagaimana diriwayatkan oleh ad-Darimidari hadis Abu Hurairah. Semoga Allah ʿAzza wa Jalla menjadikan kita termasuk ahli al-Qur’anyang merupakan wali Allah dan orang-orang khusus-Nya. ==== وَمِنَ الْفَضَائِلِ الْوَارِدَةِ لِقِرَاءَةِ آيَهِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ رَوَى التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَاللَّفْظُ لَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فِيهَا آيَةٌ سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ لَا تُقْرَأُ فِي بَيْتٍ وَفِيهِ شَيْطَانٌ إِلَّا خَرَجَ مِنْهُ ؛ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَمِنْ فَضَائِلِ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَقْرَبُهُ وَلَا يَقْرَبُ مَالَهُ وَلَا بَيْتَهُ وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُهُ مِنَ الشَّرِّ وَلِذَا فَيُسْتَحَبُّ قِرَاءَتُهَا عِنْدَ النَّوْمِ وَعِنْدَمَا يُصْبِحُ وَيُمْسِي رَوَى الْبُخَارِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ أَنَّهُ قِيلَ لَهُ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ … حتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ – يَعْنِي الَّذِي قَالَ لَهُ هَذَا الْأَمْرَ وَقَدْ بَالَغَ الصَّحَابَةُ فِي التَّأْكِيدِ عَلَى قِرَاءَةِ هَذِهِ الْآيَةِ قَبْلَ النَّوْمِ لِمَا عَلِمُوهُ مِنْ فَضْلِ قِرَاءَتِهَا حِينَئِذٍ رَوَى ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مَا أَرَى أَحَدًا يَعْقِلُ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَلِذَا فَيُسْتَحَبُّ قِرَاءَتُهَا كَذَلِكَ حِينَمَا يُصْبِحُ الْمُسْلِمُ وَحِينَمَا يُمْسِي مِنْ كُلِّ يَوْمٍ كَمَا جَاءَ فِي رِوَايَةٍ عِنْدَ الدَّارِمِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ جَعَلَنَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهُ وَخَاصَّتُهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Di antara riwayat-riwayat tentang fadilat (keutamaan) membaca Ayat Kursiadalah bahwa setan keluar dari rumah yang dibacakan di dalamnya Ayat Kursi.Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, dengan redaksinya dan dia (al-Hakim) menyahihkannya,dari Abu Hurairah—semoga Allah meridainya—bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dalam surah al-Baqarah ada satu ayat yang merupakan penghulu semua ayat al-Quran,tidaklah ia dibacakan di sebuah rumah yang ada setannyakecuali setan itu pasti keluar darinya, yakni Ayat Kursi.” Di antara fadilat (keutamaan) membaca Ayat Kursi,bahwa barang siapa yang membacanya, niscaya setan tidak akan mendekatinya,maupun harta benda dan rumahnya,dan bahwa Allah ʿAzza wa Jalla akan menjaganya dari keburukan. Oleh sebab itu, Ayat Kursi dianjurkan untuk dibaca ketika hendak tidurdan saat memasuki waktu pagi dan sore hari.Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah—semoga Allah meridainya—dalam sebuah hadis yang panjang bahwa dikatakan kepadanya, “Jika engkau beranjak ke tempat tidurmu,bacalah Ayat Kursi,‘Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mandiri, …hingga akhir ayat.’ (QS. Al-Baqarah: 255),niscaya engkau akan selalu dalam penjagaan dari Allahdan setan sungguh tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi.” Lalu Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah,“Dia (setan) jujur padamu (Abu Hurairah) padahal dia pembohong besar,dia adalah setan.” Yakni yang mengatakan itu kepadanya. Para Sahabat Nabi sangat ketat menekankanmembaca Ayat Kursi ini sebelum tidurkarena mereka tahu keutamaan membacanya di waktu tersebut. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang sahihbahwa Ali—semoga Allah meridainya—mengatakan“Saya tidak mendapati orang yang berakal yang masuk Islamketika hendak tidur kecuali dia membaca Ayat Kursi.” Oleh karena itu, dianjurkan juga untuk membacanyaketika seorang Muslim memasuki waktu pagi dan petangsetiap hari, sebagaimana diriwayatkan oleh ad-Darimidari hadis Abu Hurairah. Semoga Allah ʿAzza wa Jalla menjadikan kita termasuk ahli al-Qur’anyang merupakan wali Allah dan orang-orang khusus-Nya. ==== وَمِنَ الْفَضَائِلِ الْوَارِدَةِ لِقِرَاءَةِ آيَهِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ رَوَى التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَاللَّفْظُ لَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فِيهَا آيَةٌ سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ لَا تُقْرَأُ فِي بَيْتٍ وَفِيهِ شَيْطَانٌ إِلَّا خَرَجَ مِنْهُ ؛ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَمِنْ فَضَائِلِ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَقْرَبُهُ وَلَا يَقْرَبُ مَالَهُ وَلَا بَيْتَهُ وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُهُ مِنَ الشَّرِّ وَلِذَا فَيُسْتَحَبُّ قِرَاءَتُهَا عِنْدَ النَّوْمِ وَعِنْدَمَا يُصْبِحُ وَيُمْسِي رَوَى الْبُخَارِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ أَنَّهُ قِيلَ لَهُ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ … حتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ – يَعْنِي الَّذِي قَالَ لَهُ هَذَا الْأَمْرَ وَقَدْ بَالَغَ الصَّحَابَةُ فِي التَّأْكِيدِ عَلَى قِرَاءَةِ هَذِهِ الْآيَةِ قَبْلَ النَّوْمِ لِمَا عَلِمُوهُ مِنْ فَضْلِ قِرَاءَتِهَا حِينَئِذٍ رَوَى ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مَا أَرَى أَحَدًا يَعْقِلُ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَلِذَا فَيُسْتَحَبُّ قِرَاءَتُهَا كَذَلِكَ حِينَمَا يُصْبِحُ الْمُسْلِمُ وَحِينَمَا يُمْسِي مِنْ كُلِّ يَوْمٍ كَمَا جَاءَ فِي رِوَايَةٍ عِنْدَ الدَّارِمِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ جَعَلَنَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهُ وَخَاصَّتُهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tanda Lemahnya Iman – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Saking agungnya waktu,yaitu zaman atau masa,Allah ʿAzza wa Jalla melarang mencelanya.Allah ʿAzza wa Jalla berfirman, “Hambaku mencelaku,dengan mencela masa padahal Akulah (Pengatur) waktu.” (HR. Muslim) Mencela waktu,maksudnya kejadian-kejadian dalam rentang waktu itu,padahal Allah ʿAzza wa Jalla berfirman bahwa Dia Yang mengaturdengan perintah-Nya ʿAzza wa Jalla dan kehendak-Nya Subẖānahu wa Taʿālāsemua yang terjadi dalam waktu itu,termasuk kefakiran, kesulitan, kelemahan,kerugian, dan hal-hal lainnya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak boleh mencela zamandan tidak boleh pula mencibir waktu.Hal ini menunjukkan kelemahan imannyaterhadap ketetapan Allah dan takdir-Nya. Seorang mukmin yang beriman terhadap ketetapan Allah dan takdir-Nyatidak akan menyandarkan kejadian-kejadian pada zaman (waktu)melainkan menyandarkannya kepada Tuhannya,yaitu Tuhan zaman (waktu) tersebut Jalla wa ʿAlā. ==== وَمِنْ عِظَمِ الْعَصْرِ الَّذِي هُوَ الزَّمَانُ وَالدَّهْرُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ نَهَى عَنْ ذَمِّهِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَسُبُّنِي عَبْدِيْ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ يَسُبُّ الدَّهْرَ أَيْ أَفْعَالَ الدَّهْرِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ أَنَا الَّذِي أَفْعَلُ بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَشِيئَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا يَحْدُثُ فِي الدَّهْرِ مِنَ الْفَقْرِ وَمِنَ الْعَوَزِ وَمِنَ الضَّعْفِ وَمِنَ الْخَسَارَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ وَلِذَا فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَسُبُّ الزَّمَانَ وَلَا يَسُبُّ الدَّهْرَ فَإِنَّ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ إِيمَانِهِ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ الَّذِي يُؤْمِنُ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ لَا يَنْسِبُ الْأَفْعَالَ لِلزَّمَانِ وَإِنَّمَا يَنْسِبُهَا لِرَبِّهَا رَبِّ الزَّمَانِ جَلَّ وَعَلَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tanda Lemahnya Iman – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Saking agungnya waktu,yaitu zaman atau masa,Allah ʿAzza wa Jalla melarang mencelanya.Allah ʿAzza wa Jalla berfirman, “Hambaku mencelaku,dengan mencela masa padahal Akulah (Pengatur) waktu.” (HR. Muslim) Mencela waktu,maksudnya kejadian-kejadian dalam rentang waktu itu,padahal Allah ʿAzza wa Jalla berfirman bahwa Dia Yang mengaturdengan perintah-Nya ʿAzza wa Jalla dan kehendak-Nya Subẖānahu wa Taʿālāsemua yang terjadi dalam waktu itu,termasuk kefakiran, kesulitan, kelemahan,kerugian, dan hal-hal lainnya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak boleh mencela zamandan tidak boleh pula mencibir waktu.Hal ini menunjukkan kelemahan imannyaterhadap ketetapan Allah dan takdir-Nya. Seorang mukmin yang beriman terhadap ketetapan Allah dan takdir-Nyatidak akan menyandarkan kejadian-kejadian pada zaman (waktu)melainkan menyandarkannya kepada Tuhannya,yaitu Tuhan zaman (waktu) tersebut Jalla wa ʿAlā. ==== وَمِنْ عِظَمِ الْعَصْرِ الَّذِي هُوَ الزَّمَانُ وَالدَّهْرُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ نَهَى عَنْ ذَمِّهِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَسُبُّنِي عَبْدِيْ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ يَسُبُّ الدَّهْرَ أَيْ أَفْعَالَ الدَّهْرِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ أَنَا الَّذِي أَفْعَلُ بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَشِيئَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا يَحْدُثُ فِي الدَّهْرِ مِنَ الْفَقْرِ وَمِنَ الْعَوَزِ وَمِنَ الضَّعْفِ وَمِنَ الْخَسَارَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ وَلِذَا فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَسُبُّ الزَّمَانَ وَلَا يَسُبُّ الدَّهْرَ فَإِنَّ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ إِيمَانِهِ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ الَّذِي يُؤْمِنُ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ لَا يَنْسِبُ الْأَفْعَالَ لِلزَّمَانِ وَإِنَّمَا يَنْسِبُهَا لِرَبِّهَا رَبِّ الزَّمَانِ جَلَّ وَعَلَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Saking agungnya waktu,yaitu zaman atau masa,Allah ʿAzza wa Jalla melarang mencelanya.Allah ʿAzza wa Jalla berfirman, “Hambaku mencelaku,dengan mencela masa padahal Akulah (Pengatur) waktu.” (HR. Muslim) Mencela waktu,maksudnya kejadian-kejadian dalam rentang waktu itu,padahal Allah ʿAzza wa Jalla berfirman bahwa Dia Yang mengaturdengan perintah-Nya ʿAzza wa Jalla dan kehendak-Nya Subẖānahu wa Taʿālāsemua yang terjadi dalam waktu itu,termasuk kefakiran, kesulitan, kelemahan,kerugian, dan hal-hal lainnya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak boleh mencela zamandan tidak boleh pula mencibir waktu.Hal ini menunjukkan kelemahan imannyaterhadap ketetapan Allah dan takdir-Nya. Seorang mukmin yang beriman terhadap ketetapan Allah dan takdir-Nyatidak akan menyandarkan kejadian-kejadian pada zaman (waktu)melainkan menyandarkannya kepada Tuhannya,yaitu Tuhan zaman (waktu) tersebut Jalla wa ʿAlā. ==== وَمِنْ عِظَمِ الْعَصْرِ الَّذِي هُوَ الزَّمَانُ وَالدَّهْرُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ نَهَى عَنْ ذَمِّهِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَسُبُّنِي عَبْدِيْ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ يَسُبُّ الدَّهْرَ أَيْ أَفْعَالَ الدَّهْرِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ أَنَا الَّذِي أَفْعَلُ بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَشِيئَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا يَحْدُثُ فِي الدَّهْرِ مِنَ الْفَقْرِ وَمِنَ الْعَوَزِ وَمِنَ الضَّعْفِ وَمِنَ الْخَسَارَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ وَلِذَا فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَسُبُّ الزَّمَانَ وَلَا يَسُبُّ الدَّهْرَ فَإِنَّ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ إِيمَانِهِ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ الَّذِي يُؤْمِنُ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ لَا يَنْسِبُ الْأَفْعَالَ لِلزَّمَانِ وَإِنَّمَا يَنْسِبُهَا لِرَبِّهَا رَبِّ الزَّمَانِ جَلَّ وَعَلَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Saking agungnya waktu,yaitu zaman atau masa,Allah ʿAzza wa Jalla melarang mencelanya.Allah ʿAzza wa Jalla berfirman, “Hambaku mencelaku,dengan mencela masa padahal Akulah (Pengatur) waktu.” (HR. Muslim) Mencela waktu,maksudnya kejadian-kejadian dalam rentang waktu itu,padahal Allah ʿAzza wa Jalla berfirman bahwa Dia Yang mengaturdengan perintah-Nya ʿAzza wa Jalla dan kehendak-Nya Subẖānahu wa Taʿālāsemua yang terjadi dalam waktu itu,termasuk kefakiran, kesulitan, kelemahan,kerugian, dan hal-hal lainnya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak boleh mencela zamandan tidak boleh pula mencibir waktu.Hal ini menunjukkan kelemahan imannyaterhadap ketetapan Allah dan takdir-Nya. Seorang mukmin yang beriman terhadap ketetapan Allah dan takdir-Nyatidak akan menyandarkan kejadian-kejadian pada zaman (waktu)melainkan menyandarkannya kepada Tuhannya,yaitu Tuhan zaman (waktu) tersebut Jalla wa ʿAlā. ==== وَمِنْ عِظَمِ الْعَصْرِ الَّذِي هُوَ الزَّمَانُ وَالدَّهْرُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ نَهَى عَنْ ذَمِّهِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَسُبُّنِي عَبْدِيْ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ يَسُبُّ الدَّهْرَ أَيْ أَفْعَالَ الدَّهْرِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ أَنَا الَّذِي أَفْعَلُ بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَشِيئَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا يَحْدُثُ فِي الدَّهْرِ مِنَ الْفَقْرِ وَمِنَ الْعَوَزِ وَمِنَ الضَّعْفِ وَمِنَ الْخَسَارَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ وَلِذَا فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَسُبُّ الزَّمَانَ وَلَا يَسُبُّ الدَّهْرَ فَإِنَّ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ إِيمَانِهِ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ الَّذِي يُؤْمِنُ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ لَا يَنْسِبُ الْأَفْعَالَ لِلزَّمَانِ وَإِنَّمَا يَنْسِبُهَا لِرَبِّهَا رَبِّ الزَّمَانِ جَلَّ وَعَلَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Prev     Next