Minta Izin Ketika Bertamu dan Adabnya

Para pembaca yang budiman, rahimakumullah. Islam mengajarkan adab dalam setiap aspek kehidupan manusia, termasuk adab dalam bertamu. Di antara adab dalam bertamu adalah meminta izin terlebih dahulu untuk bertemu dengan pemilik rumah.Para ulama mengatakan, “Wajib hukumnya untuk meminta izin ketika masuk ke rumah orang lain.” Sebagaimana dalam firman Allah ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا على أهلها“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nur: 27)Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Ini adalah adab yang syar’i. Allah Ta’ala mengajarkan adab ini kepada orang-orang yang beriman. Yaitu minta izin sebelum masuk ke rumah orang lain. Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman agar tidak masuk ke rumah orang lain hingga mereka meminta izin terlebih dahulu. Yaitu, meminta izin sebelum masuk, kemudian setelah itu mengucapkan salam. Dan hendaknya meminta izin itu sebanyak tiga kali. Jika diizinkan untuk masuk, maka silakan masuk. Jika tidak diizinkan, maka hendaknya kembali pulang. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis yang sahih, bahwa Abu Musa ketika meminta izin kepada Umar bin Khathab sebanyak tiga kali, Umar tidak mengizinkannya. Lalu Abu Musa pulang.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 10: 204)Yang dimaksud oleh Ibnu Katsir adalah hadis berikut ini. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الاستئذانُ ثَلاثٌ ، فإن أذنَ لَكَ وإلَّا فارجِعْ“Meminta izin (untuk masuk rumah) itu tiga kali. Jika diizinkan, maka itu yang diinginkan. Jika tidak diizinkan, maka pulanglah.” (HR. Muslim no. 2153)Baca Juga: Orang yang Sudah Tua Namun Kurang Adab, Apakah Tetap Wajib Dihormati?Kemudian dalam riwayat lain disebutkan bahwa di antara adab meminta izin masuk ke rumah orang lain adalah maksimal melakukannya sebanyak tiga kali, tidak lebih dari itu. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أنَّ أَبَا مُوسَى، أَتَى بَابَ عُمَرَ، فَاسْتَأْذَنَ، فَقالَ عُمَرُ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ الثَّانِيَةَ، فَقالَ عُمَرُ: ثِنْتَانِ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ الثَّالِثَةَ، فَقالَ عُمَرُ: ثَلَاثٌ، ثُمَّ انْصَرَفَ فأتْبَعَهُ فَرَدَّهُ، فَقالَ: إنْ كانَ هذا شيئًا حَفِظْتَهُ مِن رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ فَهَا، وإلَّا، فَلأَجْعَلَنَّكَ عِظَةً، قالَ أَبُو سَعِيدٍ: فأتَانَا فَقالَ: أَلَمْ تَعْلَمُوا أنَّ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ قالَ: الاسْتِئْذَانُ ثَلَاثٌ؟ قالَ: فَجَعَلُوا يَضْحَكُونَ، قالَ: فَقُلتُ: أَتَاكُمْ أَخُوكُمُ المُسْلِمُ قدْ أُفْزِعَ، تَضْحَكُونَ؟ انْطَلِقْ فأنَا شَرِيكُكَ في هذِه العُقُوبَةِ، فأتَاهُ فَقالَ: هذا أَبُو سَعِيدٍ“Suatu hari Abu Musa datang ke rumah Umar (bin Khathab). Lalu, dia meminta izin untuk masuk. Umar lalu berkata, “Satu kali.” Abu Musa meminta izin lagi, lalu Umar berkata, “Dua kali.” Abu Musa meminta izin lagi, lalu Umar berkata, “Tiga kali.” Akhirnya Abu Musa pulang, karena tidak ada jawaban dari Umar. Lalu, Umar memanggilnya dan berkata, “Jika engkau melakukan demikian karena hadis yang engkau hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, maka itulah yang kita harapkan. Namun, jika tidak, maka aku akan memberikan pelajaran kepadamu!”Abu Sa’id berkata,“Kemudian Abu Musa menemui kami (para sahabat) seraya berkata, “Bukankah kalian juga sudah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, ‘Meminta izin itu hanya tiga kali.’?” Lalu, para sahabat pun tertawa. Abu Musa lalu berkata, “Telah datang saudara kalian sesama muslim yang sedang susah, lalu kalian tertawa?” Lalu, Abu Sa’id berkata, “Ayo kita berangkat bersama wahai Abu Musa, aku akan bersamamu jika Umar menghukummu!” Kemudian Abu Sa’id berkata (kepada Umar), “Ini Abu Sa’id sebagai saksi (bahwa perkataan Abu Musa benar).” (HR. Muslim no. 2153)Dan cara minta izin untuk masuk ke rumah orang lain adalah dengan mengucapkan salam terlebih dahulu, baru mengucapkan permintaan izin untuk masuk. Sebagaimana dalam hadis Rib’a bin Harrasy radhiyallahu’ anhu,أنه استأذن على النبيِّ صلى الله عليه وسلم وهو في بيتٍ فقال ألِجُ فقال النبيُّ صلى الله عليه وسلم لخادمِه: اخرُجْ إلى هذا فعلِّمْه الاستئذانَ ، فقل له: قلْ: السلامُ عليكم أأدخُلُ ؟ فسَمِعَه الرجلُ, فقال: السلامُ عليكم ، أأدخُلُ ؟ فأذن له النبيُّ صلى الله عليه وسلم ، فدخل“Bahwasanya Rib’a bin Harrasy pernah minta izin untuk masuk ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Rib’a mengatakan, “Aku pun langsung masuk ke rumah beliau.” Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada pembantunya, “Keluarlah dan ajarkan orang ini bagaimana meminta izin untuk masuk ke rumah orang lain.” Nabi mengatakan, “Hendaknya ia mengucapkan ‘Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?” Maka, Rib’a bin Harrasy mendengarkan hal itu, lalu mengucapkan “Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?” Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengarkan dan mempersilakan ia masuk.” (HR. Abu Daud no. 5177, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Sehingga urutan yang dilakukan ketika datang ke rumah orang lain adalah sebagai berikut:Pertama: Mengucapkan salam.Kedua: Meminta izin untuk masuk.Ketiga: Jika diizinkan, maka masuk. Jika tidak ada jawaban, maka mengulang sampai maksimal 3 kali.Keempat: Jika tidak diizinkan atau tidak ada jawaban setelah minta izin 3 kali, maka kembali pulang.Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang merupakan sunah Nabi, bagi orang yang minta izin untuk masuk rumah orang lain hendaknya ia mengucapkan salam, kemudian baru minta izin setelah itu. Yaitu dengan berdiri di depan pintu di posisi yang tidak terlihat oleh orang yang ada di dalam rumah. Kemudian mengucapkan ‘Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?’, atau ucapan semisalnya. Jika tidak ada yang menjawab, maka diulang kedua kali dan ketiga kali. Jika masih tidak ada yang menjawab, maka hendaknya pulang.” (Al-Majmu’, 4: 618-619)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Orang yang ada di dalam rumah terkadang dalam kondisi sibuk. Maka, jika seseorang hendak bertamu sudah minta izin sebanyak tiga kali, kemudian masih tidak ada jawaban, hendaknya ia pulang. Sehingga ia tidak membuat dirinya terlantar, dan juga tidak mengganggu orang yang ada di dalam rumah. Hendaknya ia mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’, kemudian ia ulang kedua kalinya. Jika tidak ada jawaban, maka ia ulang ketiga kalinya. Jika masih tidak ada jawaban, maka hendaknya ia pergi (pulang). Karena bisa jadi (jika terus meminta izin), hal ini akan membuat mereka terbebani atau terganggu. Karena terkadang mereka dalam keadaan sibuk. Hadis di atas itu sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan di dalamnya terdapat adab yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan manfaatnya sangat besar sekali. Karena jika seseorang terus-terusan memaksa untuk diizinkan masuk, ini akan mengganggu penghuni rumah.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi rekaman no. 568)Wallahu a’lam, semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 10): Berilmu Jangan Lupa BeradabPerhatikan Adab Nadzor Akhwat ***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Nama Hari Kiamat Dan Artinya, Lafal Komat, Koran Islami, Hukum Menguburkan JenazahTags: adabadab bertamuadab Islamadab muslimAkhlakakhlak muliaAqidahbertamumemuliakan tamunasihatnasihat islam

Minta Izin Ketika Bertamu dan Adabnya

Para pembaca yang budiman, rahimakumullah. Islam mengajarkan adab dalam setiap aspek kehidupan manusia, termasuk adab dalam bertamu. Di antara adab dalam bertamu adalah meminta izin terlebih dahulu untuk bertemu dengan pemilik rumah.Para ulama mengatakan, “Wajib hukumnya untuk meminta izin ketika masuk ke rumah orang lain.” Sebagaimana dalam firman Allah ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا على أهلها“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nur: 27)Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Ini adalah adab yang syar’i. Allah Ta’ala mengajarkan adab ini kepada orang-orang yang beriman. Yaitu minta izin sebelum masuk ke rumah orang lain. Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman agar tidak masuk ke rumah orang lain hingga mereka meminta izin terlebih dahulu. Yaitu, meminta izin sebelum masuk, kemudian setelah itu mengucapkan salam. Dan hendaknya meminta izin itu sebanyak tiga kali. Jika diizinkan untuk masuk, maka silakan masuk. Jika tidak diizinkan, maka hendaknya kembali pulang. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis yang sahih, bahwa Abu Musa ketika meminta izin kepada Umar bin Khathab sebanyak tiga kali, Umar tidak mengizinkannya. Lalu Abu Musa pulang.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 10: 204)Yang dimaksud oleh Ibnu Katsir adalah hadis berikut ini. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الاستئذانُ ثَلاثٌ ، فإن أذنَ لَكَ وإلَّا فارجِعْ“Meminta izin (untuk masuk rumah) itu tiga kali. Jika diizinkan, maka itu yang diinginkan. Jika tidak diizinkan, maka pulanglah.” (HR. Muslim no. 2153)Baca Juga: Orang yang Sudah Tua Namun Kurang Adab, Apakah Tetap Wajib Dihormati?Kemudian dalam riwayat lain disebutkan bahwa di antara adab meminta izin masuk ke rumah orang lain adalah maksimal melakukannya sebanyak tiga kali, tidak lebih dari itu. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أنَّ أَبَا مُوسَى، أَتَى بَابَ عُمَرَ، فَاسْتَأْذَنَ، فَقالَ عُمَرُ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ الثَّانِيَةَ، فَقالَ عُمَرُ: ثِنْتَانِ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ الثَّالِثَةَ، فَقالَ عُمَرُ: ثَلَاثٌ، ثُمَّ انْصَرَفَ فأتْبَعَهُ فَرَدَّهُ، فَقالَ: إنْ كانَ هذا شيئًا حَفِظْتَهُ مِن رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ فَهَا، وإلَّا، فَلأَجْعَلَنَّكَ عِظَةً، قالَ أَبُو سَعِيدٍ: فأتَانَا فَقالَ: أَلَمْ تَعْلَمُوا أنَّ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ قالَ: الاسْتِئْذَانُ ثَلَاثٌ؟ قالَ: فَجَعَلُوا يَضْحَكُونَ، قالَ: فَقُلتُ: أَتَاكُمْ أَخُوكُمُ المُسْلِمُ قدْ أُفْزِعَ، تَضْحَكُونَ؟ انْطَلِقْ فأنَا شَرِيكُكَ في هذِه العُقُوبَةِ، فأتَاهُ فَقالَ: هذا أَبُو سَعِيدٍ“Suatu hari Abu Musa datang ke rumah Umar (bin Khathab). Lalu, dia meminta izin untuk masuk. Umar lalu berkata, “Satu kali.” Abu Musa meminta izin lagi, lalu Umar berkata, “Dua kali.” Abu Musa meminta izin lagi, lalu Umar berkata, “Tiga kali.” Akhirnya Abu Musa pulang, karena tidak ada jawaban dari Umar. Lalu, Umar memanggilnya dan berkata, “Jika engkau melakukan demikian karena hadis yang engkau hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, maka itulah yang kita harapkan. Namun, jika tidak, maka aku akan memberikan pelajaran kepadamu!”Abu Sa’id berkata,“Kemudian Abu Musa menemui kami (para sahabat) seraya berkata, “Bukankah kalian juga sudah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, ‘Meminta izin itu hanya tiga kali.’?” Lalu, para sahabat pun tertawa. Abu Musa lalu berkata, “Telah datang saudara kalian sesama muslim yang sedang susah, lalu kalian tertawa?” Lalu, Abu Sa’id berkata, “Ayo kita berangkat bersama wahai Abu Musa, aku akan bersamamu jika Umar menghukummu!” Kemudian Abu Sa’id berkata (kepada Umar), “Ini Abu Sa’id sebagai saksi (bahwa perkataan Abu Musa benar).” (HR. Muslim no. 2153)Dan cara minta izin untuk masuk ke rumah orang lain adalah dengan mengucapkan salam terlebih dahulu, baru mengucapkan permintaan izin untuk masuk. Sebagaimana dalam hadis Rib’a bin Harrasy radhiyallahu’ anhu,أنه استأذن على النبيِّ صلى الله عليه وسلم وهو في بيتٍ فقال ألِجُ فقال النبيُّ صلى الله عليه وسلم لخادمِه: اخرُجْ إلى هذا فعلِّمْه الاستئذانَ ، فقل له: قلْ: السلامُ عليكم أأدخُلُ ؟ فسَمِعَه الرجلُ, فقال: السلامُ عليكم ، أأدخُلُ ؟ فأذن له النبيُّ صلى الله عليه وسلم ، فدخل“Bahwasanya Rib’a bin Harrasy pernah minta izin untuk masuk ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Rib’a mengatakan, “Aku pun langsung masuk ke rumah beliau.” Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada pembantunya, “Keluarlah dan ajarkan orang ini bagaimana meminta izin untuk masuk ke rumah orang lain.” Nabi mengatakan, “Hendaknya ia mengucapkan ‘Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?” Maka, Rib’a bin Harrasy mendengarkan hal itu, lalu mengucapkan “Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?” Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengarkan dan mempersilakan ia masuk.” (HR. Abu Daud no. 5177, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Sehingga urutan yang dilakukan ketika datang ke rumah orang lain adalah sebagai berikut:Pertama: Mengucapkan salam.Kedua: Meminta izin untuk masuk.Ketiga: Jika diizinkan, maka masuk. Jika tidak ada jawaban, maka mengulang sampai maksimal 3 kali.Keempat: Jika tidak diizinkan atau tidak ada jawaban setelah minta izin 3 kali, maka kembali pulang.Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang merupakan sunah Nabi, bagi orang yang minta izin untuk masuk rumah orang lain hendaknya ia mengucapkan salam, kemudian baru minta izin setelah itu. Yaitu dengan berdiri di depan pintu di posisi yang tidak terlihat oleh orang yang ada di dalam rumah. Kemudian mengucapkan ‘Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?’, atau ucapan semisalnya. Jika tidak ada yang menjawab, maka diulang kedua kali dan ketiga kali. Jika masih tidak ada yang menjawab, maka hendaknya pulang.” (Al-Majmu’, 4: 618-619)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Orang yang ada di dalam rumah terkadang dalam kondisi sibuk. Maka, jika seseorang hendak bertamu sudah minta izin sebanyak tiga kali, kemudian masih tidak ada jawaban, hendaknya ia pulang. Sehingga ia tidak membuat dirinya terlantar, dan juga tidak mengganggu orang yang ada di dalam rumah. Hendaknya ia mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’, kemudian ia ulang kedua kalinya. Jika tidak ada jawaban, maka ia ulang ketiga kalinya. Jika masih tidak ada jawaban, maka hendaknya ia pergi (pulang). Karena bisa jadi (jika terus meminta izin), hal ini akan membuat mereka terbebani atau terganggu. Karena terkadang mereka dalam keadaan sibuk. Hadis di atas itu sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan di dalamnya terdapat adab yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan manfaatnya sangat besar sekali. Karena jika seseorang terus-terusan memaksa untuk diizinkan masuk, ini akan mengganggu penghuni rumah.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi rekaman no. 568)Wallahu a’lam, semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 10): Berilmu Jangan Lupa BeradabPerhatikan Adab Nadzor Akhwat ***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Nama Hari Kiamat Dan Artinya, Lafal Komat, Koran Islami, Hukum Menguburkan JenazahTags: adabadab bertamuadab Islamadab muslimAkhlakakhlak muliaAqidahbertamumemuliakan tamunasihatnasihat islam
Para pembaca yang budiman, rahimakumullah. Islam mengajarkan adab dalam setiap aspek kehidupan manusia, termasuk adab dalam bertamu. Di antara adab dalam bertamu adalah meminta izin terlebih dahulu untuk bertemu dengan pemilik rumah.Para ulama mengatakan, “Wajib hukumnya untuk meminta izin ketika masuk ke rumah orang lain.” Sebagaimana dalam firman Allah ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا على أهلها“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nur: 27)Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Ini adalah adab yang syar’i. Allah Ta’ala mengajarkan adab ini kepada orang-orang yang beriman. Yaitu minta izin sebelum masuk ke rumah orang lain. Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman agar tidak masuk ke rumah orang lain hingga mereka meminta izin terlebih dahulu. Yaitu, meminta izin sebelum masuk, kemudian setelah itu mengucapkan salam. Dan hendaknya meminta izin itu sebanyak tiga kali. Jika diizinkan untuk masuk, maka silakan masuk. Jika tidak diizinkan, maka hendaknya kembali pulang. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis yang sahih, bahwa Abu Musa ketika meminta izin kepada Umar bin Khathab sebanyak tiga kali, Umar tidak mengizinkannya. Lalu Abu Musa pulang.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 10: 204)Yang dimaksud oleh Ibnu Katsir adalah hadis berikut ini. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الاستئذانُ ثَلاثٌ ، فإن أذنَ لَكَ وإلَّا فارجِعْ“Meminta izin (untuk masuk rumah) itu tiga kali. Jika diizinkan, maka itu yang diinginkan. Jika tidak diizinkan, maka pulanglah.” (HR. Muslim no. 2153)Baca Juga: Orang yang Sudah Tua Namun Kurang Adab, Apakah Tetap Wajib Dihormati?Kemudian dalam riwayat lain disebutkan bahwa di antara adab meminta izin masuk ke rumah orang lain adalah maksimal melakukannya sebanyak tiga kali, tidak lebih dari itu. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أنَّ أَبَا مُوسَى، أَتَى بَابَ عُمَرَ، فَاسْتَأْذَنَ، فَقالَ عُمَرُ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ الثَّانِيَةَ، فَقالَ عُمَرُ: ثِنْتَانِ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ الثَّالِثَةَ، فَقالَ عُمَرُ: ثَلَاثٌ، ثُمَّ انْصَرَفَ فأتْبَعَهُ فَرَدَّهُ، فَقالَ: إنْ كانَ هذا شيئًا حَفِظْتَهُ مِن رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ فَهَا، وإلَّا، فَلأَجْعَلَنَّكَ عِظَةً، قالَ أَبُو سَعِيدٍ: فأتَانَا فَقالَ: أَلَمْ تَعْلَمُوا أنَّ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ قالَ: الاسْتِئْذَانُ ثَلَاثٌ؟ قالَ: فَجَعَلُوا يَضْحَكُونَ، قالَ: فَقُلتُ: أَتَاكُمْ أَخُوكُمُ المُسْلِمُ قدْ أُفْزِعَ، تَضْحَكُونَ؟ انْطَلِقْ فأنَا شَرِيكُكَ في هذِه العُقُوبَةِ، فأتَاهُ فَقالَ: هذا أَبُو سَعِيدٍ“Suatu hari Abu Musa datang ke rumah Umar (bin Khathab). Lalu, dia meminta izin untuk masuk. Umar lalu berkata, “Satu kali.” Abu Musa meminta izin lagi, lalu Umar berkata, “Dua kali.” Abu Musa meminta izin lagi, lalu Umar berkata, “Tiga kali.” Akhirnya Abu Musa pulang, karena tidak ada jawaban dari Umar. Lalu, Umar memanggilnya dan berkata, “Jika engkau melakukan demikian karena hadis yang engkau hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, maka itulah yang kita harapkan. Namun, jika tidak, maka aku akan memberikan pelajaran kepadamu!”Abu Sa’id berkata,“Kemudian Abu Musa menemui kami (para sahabat) seraya berkata, “Bukankah kalian juga sudah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, ‘Meminta izin itu hanya tiga kali.’?” Lalu, para sahabat pun tertawa. Abu Musa lalu berkata, “Telah datang saudara kalian sesama muslim yang sedang susah, lalu kalian tertawa?” Lalu, Abu Sa’id berkata, “Ayo kita berangkat bersama wahai Abu Musa, aku akan bersamamu jika Umar menghukummu!” Kemudian Abu Sa’id berkata (kepada Umar), “Ini Abu Sa’id sebagai saksi (bahwa perkataan Abu Musa benar).” (HR. Muslim no. 2153)Dan cara minta izin untuk masuk ke rumah orang lain adalah dengan mengucapkan salam terlebih dahulu, baru mengucapkan permintaan izin untuk masuk. Sebagaimana dalam hadis Rib’a bin Harrasy radhiyallahu’ anhu,أنه استأذن على النبيِّ صلى الله عليه وسلم وهو في بيتٍ فقال ألِجُ فقال النبيُّ صلى الله عليه وسلم لخادمِه: اخرُجْ إلى هذا فعلِّمْه الاستئذانَ ، فقل له: قلْ: السلامُ عليكم أأدخُلُ ؟ فسَمِعَه الرجلُ, فقال: السلامُ عليكم ، أأدخُلُ ؟ فأذن له النبيُّ صلى الله عليه وسلم ، فدخل“Bahwasanya Rib’a bin Harrasy pernah minta izin untuk masuk ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Rib’a mengatakan, “Aku pun langsung masuk ke rumah beliau.” Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada pembantunya, “Keluarlah dan ajarkan orang ini bagaimana meminta izin untuk masuk ke rumah orang lain.” Nabi mengatakan, “Hendaknya ia mengucapkan ‘Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?” Maka, Rib’a bin Harrasy mendengarkan hal itu, lalu mengucapkan “Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?” Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengarkan dan mempersilakan ia masuk.” (HR. Abu Daud no. 5177, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Sehingga urutan yang dilakukan ketika datang ke rumah orang lain adalah sebagai berikut:Pertama: Mengucapkan salam.Kedua: Meminta izin untuk masuk.Ketiga: Jika diizinkan, maka masuk. Jika tidak ada jawaban, maka mengulang sampai maksimal 3 kali.Keempat: Jika tidak diizinkan atau tidak ada jawaban setelah minta izin 3 kali, maka kembali pulang.Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang merupakan sunah Nabi, bagi orang yang minta izin untuk masuk rumah orang lain hendaknya ia mengucapkan salam, kemudian baru minta izin setelah itu. Yaitu dengan berdiri di depan pintu di posisi yang tidak terlihat oleh orang yang ada di dalam rumah. Kemudian mengucapkan ‘Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?’, atau ucapan semisalnya. Jika tidak ada yang menjawab, maka diulang kedua kali dan ketiga kali. Jika masih tidak ada yang menjawab, maka hendaknya pulang.” (Al-Majmu’, 4: 618-619)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Orang yang ada di dalam rumah terkadang dalam kondisi sibuk. Maka, jika seseorang hendak bertamu sudah minta izin sebanyak tiga kali, kemudian masih tidak ada jawaban, hendaknya ia pulang. Sehingga ia tidak membuat dirinya terlantar, dan juga tidak mengganggu orang yang ada di dalam rumah. Hendaknya ia mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’, kemudian ia ulang kedua kalinya. Jika tidak ada jawaban, maka ia ulang ketiga kalinya. Jika masih tidak ada jawaban, maka hendaknya ia pergi (pulang). Karena bisa jadi (jika terus meminta izin), hal ini akan membuat mereka terbebani atau terganggu. Karena terkadang mereka dalam keadaan sibuk. Hadis di atas itu sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan di dalamnya terdapat adab yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan manfaatnya sangat besar sekali. Karena jika seseorang terus-terusan memaksa untuk diizinkan masuk, ini akan mengganggu penghuni rumah.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi rekaman no. 568)Wallahu a’lam, semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 10): Berilmu Jangan Lupa BeradabPerhatikan Adab Nadzor Akhwat ***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Nama Hari Kiamat Dan Artinya, Lafal Komat, Koran Islami, Hukum Menguburkan JenazahTags: adabadab bertamuadab Islamadab muslimAkhlakakhlak muliaAqidahbertamumemuliakan tamunasihatnasihat islam


Para pembaca yang budiman, rahimakumullah. Islam mengajarkan adab dalam setiap aspek kehidupan manusia, termasuk adab dalam bertamu. Di antara adab dalam bertamu adalah meminta izin terlebih dahulu untuk bertemu dengan pemilik rumah.Para ulama mengatakan, “Wajib hukumnya untuk meminta izin ketika masuk ke rumah orang lain.” Sebagaimana dalam firman Allah ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا على أهلها“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nur: 27)Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Ini adalah adab yang syar’i. Allah Ta’ala mengajarkan adab ini kepada orang-orang yang beriman. Yaitu minta izin sebelum masuk ke rumah orang lain. Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman agar tidak masuk ke rumah orang lain hingga mereka meminta izin terlebih dahulu. Yaitu, meminta izin sebelum masuk, kemudian setelah itu mengucapkan salam. Dan hendaknya meminta izin itu sebanyak tiga kali. Jika diizinkan untuk masuk, maka silakan masuk. Jika tidak diizinkan, maka hendaknya kembali pulang. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis yang sahih, bahwa Abu Musa ketika meminta izin kepada Umar bin Khathab sebanyak tiga kali, Umar tidak mengizinkannya. Lalu Abu Musa pulang.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 10: 204)Yang dimaksud oleh Ibnu Katsir adalah hadis berikut ini. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الاستئذانُ ثَلاثٌ ، فإن أذنَ لَكَ وإلَّا فارجِعْ“Meminta izin (untuk masuk rumah) itu tiga kali. Jika diizinkan, maka itu yang diinginkan. Jika tidak diizinkan, maka pulanglah.” (HR. Muslim no. 2153)Baca Juga: Orang yang Sudah Tua Namun Kurang Adab, Apakah Tetap Wajib Dihormati?Kemudian dalam riwayat lain disebutkan bahwa di antara adab meminta izin masuk ke rumah orang lain adalah maksimal melakukannya sebanyak tiga kali, tidak lebih dari itu. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أنَّ أَبَا مُوسَى، أَتَى بَابَ عُمَرَ، فَاسْتَأْذَنَ، فَقالَ عُمَرُ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ الثَّانِيَةَ، فَقالَ عُمَرُ: ثِنْتَانِ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ الثَّالِثَةَ، فَقالَ عُمَرُ: ثَلَاثٌ، ثُمَّ انْصَرَفَ فأتْبَعَهُ فَرَدَّهُ، فَقالَ: إنْ كانَ هذا شيئًا حَفِظْتَهُ مِن رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ فَهَا، وإلَّا، فَلأَجْعَلَنَّكَ عِظَةً، قالَ أَبُو سَعِيدٍ: فأتَانَا فَقالَ: أَلَمْ تَعْلَمُوا أنَّ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ قالَ: الاسْتِئْذَانُ ثَلَاثٌ؟ قالَ: فَجَعَلُوا يَضْحَكُونَ، قالَ: فَقُلتُ: أَتَاكُمْ أَخُوكُمُ المُسْلِمُ قدْ أُفْزِعَ، تَضْحَكُونَ؟ انْطَلِقْ فأنَا شَرِيكُكَ في هذِه العُقُوبَةِ، فأتَاهُ فَقالَ: هذا أَبُو سَعِيدٍ“Suatu hari Abu Musa datang ke rumah Umar (bin Khathab). Lalu, dia meminta izin untuk masuk. Umar lalu berkata, “Satu kali.” Abu Musa meminta izin lagi, lalu Umar berkata, “Dua kali.” Abu Musa meminta izin lagi, lalu Umar berkata, “Tiga kali.” Akhirnya Abu Musa pulang, karena tidak ada jawaban dari Umar. Lalu, Umar memanggilnya dan berkata, “Jika engkau melakukan demikian karena hadis yang engkau hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, maka itulah yang kita harapkan. Namun, jika tidak, maka aku akan memberikan pelajaran kepadamu!”Abu Sa’id berkata,“Kemudian Abu Musa menemui kami (para sahabat) seraya berkata, “Bukankah kalian juga sudah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, ‘Meminta izin itu hanya tiga kali.’?” Lalu, para sahabat pun tertawa. Abu Musa lalu berkata, “Telah datang saudara kalian sesama muslim yang sedang susah, lalu kalian tertawa?” Lalu, Abu Sa’id berkata, “Ayo kita berangkat bersama wahai Abu Musa, aku akan bersamamu jika Umar menghukummu!” Kemudian Abu Sa’id berkata (kepada Umar), “Ini Abu Sa’id sebagai saksi (bahwa perkataan Abu Musa benar).” (HR. Muslim no. 2153)Dan cara minta izin untuk masuk ke rumah orang lain adalah dengan mengucapkan salam terlebih dahulu, baru mengucapkan permintaan izin untuk masuk. Sebagaimana dalam hadis Rib’a bin Harrasy radhiyallahu’ anhu,أنه استأذن على النبيِّ صلى الله عليه وسلم وهو في بيتٍ فقال ألِجُ فقال النبيُّ صلى الله عليه وسلم لخادمِه: اخرُجْ إلى هذا فعلِّمْه الاستئذانَ ، فقل له: قلْ: السلامُ عليكم أأدخُلُ ؟ فسَمِعَه الرجلُ, فقال: السلامُ عليكم ، أأدخُلُ ؟ فأذن له النبيُّ صلى الله عليه وسلم ، فدخل“Bahwasanya Rib’a bin Harrasy pernah minta izin untuk masuk ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Rib’a mengatakan, “Aku pun langsung masuk ke rumah beliau.” Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada pembantunya, “Keluarlah dan ajarkan orang ini bagaimana meminta izin untuk masuk ke rumah orang lain.” Nabi mengatakan, “Hendaknya ia mengucapkan ‘Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?” Maka, Rib’a bin Harrasy mendengarkan hal itu, lalu mengucapkan “Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?” Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengarkan dan mempersilakan ia masuk.” (HR. Abu Daud no. 5177, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Sehingga urutan yang dilakukan ketika datang ke rumah orang lain adalah sebagai berikut:Pertama: Mengucapkan salam.Kedua: Meminta izin untuk masuk.Ketiga: Jika diizinkan, maka masuk. Jika tidak ada jawaban, maka mengulang sampai maksimal 3 kali.Keempat: Jika tidak diizinkan atau tidak ada jawaban setelah minta izin 3 kali, maka kembali pulang.Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang merupakan sunah Nabi, bagi orang yang minta izin untuk masuk rumah orang lain hendaknya ia mengucapkan salam, kemudian baru minta izin setelah itu. Yaitu dengan berdiri di depan pintu di posisi yang tidak terlihat oleh orang yang ada di dalam rumah. Kemudian mengucapkan ‘Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?’, atau ucapan semisalnya. Jika tidak ada yang menjawab, maka diulang kedua kali dan ketiga kali. Jika masih tidak ada yang menjawab, maka hendaknya pulang.” (Al-Majmu’, 4: 618-619)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Orang yang ada di dalam rumah terkadang dalam kondisi sibuk. Maka, jika seseorang hendak bertamu sudah minta izin sebanyak tiga kali, kemudian masih tidak ada jawaban, hendaknya ia pulang. Sehingga ia tidak membuat dirinya terlantar, dan juga tidak mengganggu orang yang ada di dalam rumah. Hendaknya ia mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’, kemudian ia ulang kedua kalinya. Jika tidak ada jawaban, maka ia ulang ketiga kalinya. Jika masih tidak ada jawaban, maka hendaknya ia pergi (pulang). Karena bisa jadi (jika terus meminta izin), hal ini akan membuat mereka terbebani atau terganggu. Karena terkadang mereka dalam keadaan sibuk. Hadis di atas itu sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan di dalamnya terdapat adab yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan manfaatnya sangat besar sekali. Karena jika seseorang terus-terusan memaksa untuk diizinkan masuk, ini akan mengganggu penghuni rumah.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi rekaman no. 568)Wallahu a’lam, semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 10): Berilmu Jangan Lupa BeradabPerhatikan Adab Nadzor Akhwat ***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Nama Hari Kiamat Dan Artinya, Lafal Komat, Koran Islami, Hukum Menguburkan JenazahTags: adabadab bertamuadab Islamadab muslimAkhlakakhlak muliaAqidahbertamumemuliakan tamunasihatnasihat islam

Peringatan Keras untuk Pendakwah & Guru – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Disebutkan juga dalam Musnadnya, hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Pada malam Isra Mikraj, aku melalui suatu kaum yang bibir mereka dipotongdengan gunting-gunting dari api. Lalu aku bertanya, “Siapa mereka itu?”Para malaikat menjawab, “Para khatib dari umatmu ketika di dunia.Dahulu mereka memerintahkan kebaikan kepada orang-orang, tapi lupa terhadap diri mereka sendiri.Tidakkah mereka berpikir?” Hadis ini juga mengandung peringatan,khususnya bagi para khatib, pemberi nasihat, dan guru.Peringatan bagi orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, tetapiia menyelisihi apa yang ia larang dari mereka. Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Mengapa kamu menyuruh orang lainuntuk melakukan kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri sendiri, padahal kalian membaca al-Kitab? Maka tidakkah kalian berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44) Juga firman Allah tentang Nabi Syu’aib ‘alaihis salam yang berkata, “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Hud: 88)Serta yang disebutkan pula dalam awal surat ash-Shaff,“(Wahai orang-orang yang beriman), mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah saat kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. ash-Shaff: 2 – 3)Tiga ayat ini—sebagaimana yang disebutkan dari beberapa ulama salaf—wajib bagi setiap orang yang majuuntuk berkhutbah, berdakwah, dan mengajar, untuk mengecamkannya di depan mata mereka. Mengecamkannya di depan mata mereka (meresapkannya ke dalam pikiran dan hati).Karena salah satu siksaan yang ada pada hari kiamat adalah siksaan bagi para khatib dari umat Nabi Muhammad ‘alaihis shalatu wassalam yang memerintahkan kebaikan,tetapi mereka melupakan diri mereka sendiri. Padahal mereka membaca al-Quran.Demikian. ==== فِي مُسْنَدِهِ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ عَلَى قَوْمٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالُوا خُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ أَفَلَا يَعْقِلُونَ؟ وَهَذَا الْحَدِيثُ أَيْضًا فِيهِ هَذَا الْوَعِيدُ لِلْخُطَبَاءِ خَاصَّةً وَالْوُعَّاظِ وَالْمُعَلِّمِيْنَ فِيهِ وَعِيدٌ لِمَنْ كَانَ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ لَكِنْ يُخَالِفُ النَّاسَ إِلَى مَا يَنْهَاهُمْ عَنْهُ وَلِهَذَا قَوْلُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ؟ وَمَا ذَكَرَهُ اللهُ عَنْ نَبِيِّهِ شُعَيْبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ وَمَا جَاءَ أَيْضًا فِي أَوَّلِ سُورَةِ الصَّفِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ هَذِهِ الْآيَاتُ الثَّلَاثُ يَعْنِي كَمَا جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ يَجِبُ عَلَى كُلِّ مَنْ تَصَدَّرَ لِلْخَطَابَةِ وَالدَّعْوَةِ وَالتَّعْلِيمِ أَنْ يَجْعَلَهَا نَصْبَ عَيْنَيْهِ أَنْ يَجْعَلَهَا نَصْبَ عَيْنَيْهِ فَإِنَّ مِنَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُقُوبَاتٌ لِخُطَبَاءَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ نَعَم KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Peringatan Keras untuk Pendakwah & Guru – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Disebutkan juga dalam Musnadnya, hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Pada malam Isra Mikraj, aku melalui suatu kaum yang bibir mereka dipotongdengan gunting-gunting dari api. Lalu aku bertanya, “Siapa mereka itu?”Para malaikat menjawab, “Para khatib dari umatmu ketika di dunia.Dahulu mereka memerintahkan kebaikan kepada orang-orang, tapi lupa terhadap diri mereka sendiri.Tidakkah mereka berpikir?” Hadis ini juga mengandung peringatan,khususnya bagi para khatib, pemberi nasihat, dan guru.Peringatan bagi orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, tetapiia menyelisihi apa yang ia larang dari mereka. Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Mengapa kamu menyuruh orang lainuntuk melakukan kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri sendiri, padahal kalian membaca al-Kitab? Maka tidakkah kalian berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44) Juga firman Allah tentang Nabi Syu’aib ‘alaihis salam yang berkata, “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Hud: 88)Serta yang disebutkan pula dalam awal surat ash-Shaff,“(Wahai orang-orang yang beriman), mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah saat kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. ash-Shaff: 2 – 3)Tiga ayat ini—sebagaimana yang disebutkan dari beberapa ulama salaf—wajib bagi setiap orang yang majuuntuk berkhutbah, berdakwah, dan mengajar, untuk mengecamkannya di depan mata mereka. Mengecamkannya di depan mata mereka (meresapkannya ke dalam pikiran dan hati).Karena salah satu siksaan yang ada pada hari kiamat adalah siksaan bagi para khatib dari umat Nabi Muhammad ‘alaihis shalatu wassalam yang memerintahkan kebaikan,tetapi mereka melupakan diri mereka sendiri. Padahal mereka membaca al-Quran.Demikian. ==== فِي مُسْنَدِهِ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ عَلَى قَوْمٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالُوا خُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ أَفَلَا يَعْقِلُونَ؟ وَهَذَا الْحَدِيثُ أَيْضًا فِيهِ هَذَا الْوَعِيدُ لِلْخُطَبَاءِ خَاصَّةً وَالْوُعَّاظِ وَالْمُعَلِّمِيْنَ فِيهِ وَعِيدٌ لِمَنْ كَانَ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ لَكِنْ يُخَالِفُ النَّاسَ إِلَى مَا يَنْهَاهُمْ عَنْهُ وَلِهَذَا قَوْلُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ؟ وَمَا ذَكَرَهُ اللهُ عَنْ نَبِيِّهِ شُعَيْبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ وَمَا جَاءَ أَيْضًا فِي أَوَّلِ سُورَةِ الصَّفِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ هَذِهِ الْآيَاتُ الثَّلَاثُ يَعْنِي كَمَا جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ يَجِبُ عَلَى كُلِّ مَنْ تَصَدَّرَ لِلْخَطَابَةِ وَالدَّعْوَةِ وَالتَّعْلِيمِ أَنْ يَجْعَلَهَا نَصْبَ عَيْنَيْهِ أَنْ يَجْعَلَهَا نَصْبَ عَيْنَيْهِ فَإِنَّ مِنَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُقُوبَاتٌ لِخُطَبَاءَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ نَعَم KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Disebutkan juga dalam Musnadnya, hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Pada malam Isra Mikraj, aku melalui suatu kaum yang bibir mereka dipotongdengan gunting-gunting dari api. Lalu aku bertanya, “Siapa mereka itu?”Para malaikat menjawab, “Para khatib dari umatmu ketika di dunia.Dahulu mereka memerintahkan kebaikan kepada orang-orang, tapi lupa terhadap diri mereka sendiri.Tidakkah mereka berpikir?” Hadis ini juga mengandung peringatan,khususnya bagi para khatib, pemberi nasihat, dan guru.Peringatan bagi orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, tetapiia menyelisihi apa yang ia larang dari mereka. Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Mengapa kamu menyuruh orang lainuntuk melakukan kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri sendiri, padahal kalian membaca al-Kitab? Maka tidakkah kalian berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44) Juga firman Allah tentang Nabi Syu’aib ‘alaihis salam yang berkata, “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Hud: 88)Serta yang disebutkan pula dalam awal surat ash-Shaff,“(Wahai orang-orang yang beriman), mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah saat kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. ash-Shaff: 2 – 3)Tiga ayat ini—sebagaimana yang disebutkan dari beberapa ulama salaf—wajib bagi setiap orang yang majuuntuk berkhutbah, berdakwah, dan mengajar, untuk mengecamkannya di depan mata mereka. Mengecamkannya di depan mata mereka (meresapkannya ke dalam pikiran dan hati).Karena salah satu siksaan yang ada pada hari kiamat adalah siksaan bagi para khatib dari umat Nabi Muhammad ‘alaihis shalatu wassalam yang memerintahkan kebaikan,tetapi mereka melupakan diri mereka sendiri. Padahal mereka membaca al-Quran.Demikian. ==== فِي مُسْنَدِهِ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ عَلَى قَوْمٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالُوا خُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ أَفَلَا يَعْقِلُونَ؟ وَهَذَا الْحَدِيثُ أَيْضًا فِيهِ هَذَا الْوَعِيدُ لِلْخُطَبَاءِ خَاصَّةً وَالْوُعَّاظِ وَالْمُعَلِّمِيْنَ فِيهِ وَعِيدٌ لِمَنْ كَانَ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ لَكِنْ يُخَالِفُ النَّاسَ إِلَى مَا يَنْهَاهُمْ عَنْهُ وَلِهَذَا قَوْلُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ؟ وَمَا ذَكَرَهُ اللهُ عَنْ نَبِيِّهِ شُعَيْبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ وَمَا جَاءَ أَيْضًا فِي أَوَّلِ سُورَةِ الصَّفِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ هَذِهِ الْآيَاتُ الثَّلَاثُ يَعْنِي كَمَا جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ يَجِبُ عَلَى كُلِّ مَنْ تَصَدَّرَ لِلْخَطَابَةِ وَالدَّعْوَةِ وَالتَّعْلِيمِ أَنْ يَجْعَلَهَا نَصْبَ عَيْنَيْهِ أَنْ يَجْعَلَهَا نَصْبَ عَيْنَيْهِ فَإِنَّ مِنَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُقُوبَاتٌ لِخُطَبَاءَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ نَعَم KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Disebutkan juga dalam Musnadnya, hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Pada malam Isra Mikraj, aku melalui suatu kaum yang bibir mereka dipotongdengan gunting-gunting dari api. Lalu aku bertanya, “Siapa mereka itu?”Para malaikat menjawab, “Para khatib dari umatmu ketika di dunia.Dahulu mereka memerintahkan kebaikan kepada orang-orang, tapi lupa terhadap diri mereka sendiri.Tidakkah mereka berpikir?” Hadis ini juga mengandung peringatan,khususnya bagi para khatib, pemberi nasihat, dan guru.Peringatan bagi orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, tetapiia menyelisihi apa yang ia larang dari mereka. Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Mengapa kamu menyuruh orang lainuntuk melakukan kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri sendiri, padahal kalian membaca al-Kitab? Maka tidakkah kalian berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44) Juga firman Allah tentang Nabi Syu’aib ‘alaihis salam yang berkata, “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Hud: 88)Serta yang disebutkan pula dalam awal surat ash-Shaff,“(Wahai orang-orang yang beriman), mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah saat kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. ash-Shaff: 2 – 3)Tiga ayat ini—sebagaimana yang disebutkan dari beberapa ulama salaf—wajib bagi setiap orang yang majuuntuk berkhutbah, berdakwah, dan mengajar, untuk mengecamkannya di depan mata mereka. Mengecamkannya di depan mata mereka (meresapkannya ke dalam pikiran dan hati).Karena salah satu siksaan yang ada pada hari kiamat adalah siksaan bagi para khatib dari umat Nabi Muhammad ‘alaihis shalatu wassalam yang memerintahkan kebaikan,tetapi mereka melupakan diri mereka sendiri. Padahal mereka membaca al-Quran.Demikian. ==== فِي مُسْنَدِهِ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ عَلَى قَوْمٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالُوا خُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ أَفَلَا يَعْقِلُونَ؟ وَهَذَا الْحَدِيثُ أَيْضًا فِيهِ هَذَا الْوَعِيدُ لِلْخُطَبَاءِ خَاصَّةً وَالْوُعَّاظِ وَالْمُعَلِّمِيْنَ فِيهِ وَعِيدٌ لِمَنْ كَانَ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ لَكِنْ يُخَالِفُ النَّاسَ إِلَى مَا يَنْهَاهُمْ عَنْهُ وَلِهَذَا قَوْلُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ؟ وَمَا ذَكَرَهُ اللهُ عَنْ نَبِيِّهِ شُعَيْبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ وَمَا جَاءَ أَيْضًا فِي أَوَّلِ سُورَةِ الصَّفِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ هَذِهِ الْآيَاتُ الثَّلَاثُ يَعْنِي كَمَا جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ يَجِبُ عَلَى كُلِّ مَنْ تَصَدَّرَ لِلْخَطَابَةِ وَالدَّعْوَةِ وَالتَّعْلِيمِ أَنْ يَجْعَلَهَا نَصْبَ عَيْنَيْهِ أَنْ يَجْعَلَهَا نَصْبَ عَيْنَيْهِ فَإِنَّ مِنَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُقُوبَاتٌ لِخُطَبَاءَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ نَعَم KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Empat Dalil Keberkahan al-Quran – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah,agar mereka menadaburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29) Mari kita perhatikan bersama ayat ini, wahai saudara-saudara! Ayat ini sering kita temui, dan kita semua menghafalnya.Tuhan kita ‘Azza wa Jalla memulainya dengan menyebutkan sifat kitab ini (al-Quran) bahwa ia penuh berkah. Sifat ini disebutkan dalam al-Quran al-Karim—menurut yang saya ingat—dalam empat ayat:[PERTAMA]Dalam ayat ini (surah Shad ayat 29 yang sudah disebutkan sebelumnya). [KEDUA]Lalu ayat di surat al-Anbiya, “Dan ini (al-Quran) adalah suatu peringatan penuh berkah yang Kami turunkan. Maka apakah kamu mengingkarinya?” (QS. Al-Anbiya: 50) [KETIGA & KEEMPAT]Serta dua ayat di surat al-An’am, “Dan ini adalah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah.” (QS. al-An’am: 92 dan 155). Perhatikanlah saudara-saudara, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan keberkahannya mutlak tanpa terikat dengan sesuatu pun.Ayat 92 surat al-An’am, “Dan ini (al-Quran), Kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah, membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya …”Ia penuh berkah, wahai saudara-saudara!Keberkahannya tidak terikat dengan apa pun, mengapa? Agar ia tetap bersifat mutlak. Keberkahan bagi hatimu.Keberkahan bagimu pada agamamu, pada rumahmu, pada keluargamu,pada duniamu, dan pada akhiratmu.Keberkahan yang terus menyertai manusia hingga ia masuk surga. Kita memohon kepada Allah agar menjadi penghuni surga. ==== كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ تَأَمَّلُوْا مَعِيْ هَذِهِ الْآيَةَ الْعَظِيمَةَ يَا إِخْوَانُ الَّتِي تَمُرُّ بِنَا كَثِيرًا وَكُلُّنَا يَحْفَظُهَا صَدَرَهَا رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ بِوَصْفِ هَذَا الْكِتَابِ بِأَنَّهُ مُبَارَكٌ قَدْ وَرَدَ هَذَا الْوَصْفُ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فِيمَا يَحْضُرُنِي فِي أَرْبَعِ آيَاتٍ هَذِهِ الْآيَةُ وَآيَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُوْنَ وَآيَتَانِ فِي الْأَنْعَامِ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ وَتَأَمَّلُوا أَيُّهَا الْإِخْوَانُ كَيْفَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَطْلَقَ الْبَرَكَةَ وَلَمْ يُقَيِّدْهَا آيَةُ الْأَنْعَامِ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ مُبَارَكٌ يَا إِخْوَةُ مَا قُيِّدَتِ الْبَرَكَةُ بِشَيْءٍ لِمَاذَا؟ لِتَبْقَى مُطْلَقَةً بَرَكَةٌ عَلَى قَلْبِكَ عَلَيْكَ فِي دِينِكَ فِي بَيْتِكَ فِي أَهْلِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي آخِرَتِكَ بَرَكَةٌ تَسْتَمِرُّ مَعَ الْإِنْسَانِ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ أَهْلِهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Empat Dalil Keberkahan al-Quran – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah,agar mereka menadaburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29) Mari kita perhatikan bersama ayat ini, wahai saudara-saudara! Ayat ini sering kita temui, dan kita semua menghafalnya.Tuhan kita ‘Azza wa Jalla memulainya dengan menyebutkan sifat kitab ini (al-Quran) bahwa ia penuh berkah. Sifat ini disebutkan dalam al-Quran al-Karim—menurut yang saya ingat—dalam empat ayat:[PERTAMA]Dalam ayat ini (surah Shad ayat 29 yang sudah disebutkan sebelumnya). [KEDUA]Lalu ayat di surat al-Anbiya, “Dan ini (al-Quran) adalah suatu peringatan penuh berkah yang Kami turunkan. Maka apakah kamu mengingkarinya?” (QS. Al-Anbiya: 50) [KETIGA & KEEMPAT]Serta dua ayat di surat al-An’am, “Dan ini adalah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah.” (QS. al-An’am: 92 dan 155). Perhatikanlah saudara-saudara, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan keberkahannya mutlak tanpa terikat dengan sesuatu pun.Ayat 92 surat al-An’am, “Dan ini (al-Quran), Kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah, membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya …”Ia penuh berkah, wahai saudara-saudara!Keberkahannya tidak terikat dengan apa pun, mengapa? Agar ia tetap bersifat mutlak. Keberkahan bagi hatimu.Keberkahan bagimu pada agamamu, pada rumahmu, pada keluargamu,pada duniamu, dan pada akhiratmu.Keberkahan yang terus menyertai manusia hingga ia masuk surga. Kita memohon kepada Allah agar menjadi penghuni surga. ==== كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ تَأَمَّلُوْا مَعِيْ هَذِهِ الْآيَةَ الْعَظِيمَةَ يَا إِخْوَانُ الَّتِي تَمُرُّ بِنَا كَثِيرًا وَكُلُّنَا يَحْفَظُهَا صَدَرَهَا رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ بِوَصْفِ هَذَا الْكِتَابِ بِأَنَّهُ مُبَارَكٌ قَدْ وَرَدَ هَذَا الْوَصْفُ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فِيمَا يَحْضُرُنِي فِي أَرْبَعِ آيَاتٍ هَذِهِ الْآيَةُ وَآيَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُوْنَ وَآيَتَانِ فِي الْأَنْعَامِ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ وَتَأَمَّلُوا أَيُّهَا الْإِخْوَانُ كَيْفَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَطْلَقَ الْبَرَكَةَ وَلَمْ يُقَيِّدْهَا آيَةُ الْأَنْعَامِ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ مُبَارَكٌ يَا إِخْوَةُ مَا قُيِّدَتِ الْبَرَكَةُ بِشَيْءٍ لِمَاذَا؟ لِتَبْقَى مُطْلَقَةً بَرَكَةٌ عَلَى قَلْبِكَ عَلَيْكَ فِي دِينِكَ فِي بَيْتِكَ فِي أَهْلِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي آخِرَتِكَ بَرَكَةٌ تَسْتَمِرُّ مَعَ الْإِنْسَانِ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ أَهْلِهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah,agar mereka menadaburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29) Mari kita perhatikan bersama ayat ini, wahai saudara-saudara! Ayat ini sering kita temui, dan kita semua menghafalnya.Tuhan kita ‘Azza wa Jalla memulainya dengan menyebutkan sifat kitab ini (al-Quran) bahwa ia penuh berkah. Sifat ini disebutkan dalam al-Quran al-Karim—menurut yang saya ingat—dalam empat ayat:[PERTAMA]Dalam ayat ini (surah Shad ayat 29 yang sudah disebutkan sebelumnya). [KEDUA]Lalu ayat di surat al-Anbiya, “Dan ini (al-Quran) adalah suatu peringatan penuh berkah yang Kami turunkan. Maka apakah kamu mengingkarinya?” (QS. Al-Anbiya: 50) [KETIGA & KEEMPAT]Serta dua ayat di surat al-An’am, “Dan ini adalah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah.” (QS. al-An’am: 92 dan 155). Perhatikanlah saudara-saudara, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan keberkahannya mutlak tanpa terikat dengan sesuatu pun.Ayat 92 surat al-An’am, “Dan ini (al-Quran), Kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah, membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya …”Ia penuh berkah, wahai saudara-saudara!Keberkahannya tidak terikat dengan apa pun, mengapa? Agar ia tetap bersifat mutlak. Keberkahan bagi hatimu.Keberkahan bagimu pada agamamu, pada rumahmu, pada keluargamu,pada duniamu, dan pada akhiratmu.Keberkahan yang terus menyertai manusia hingga ia masuk surga. Kita memohon kepada Allah agar menjadi penghuni surga. ==== كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ تَأَمَّلُوْا مَعِيْ هَذِهِ الْآيَةَ الْعَظِيمَةَ يَا إِخْوَانُ الَّتِي تَمُرُّ بِنَا كَثِيرًا وَكُلُّنَا يَحْفَظُهَا صَدَرَهَا رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ بِوَصْفِ هَذَا الْكِتَابِ بِأَنَّهُ مُبَارَكٌ قَدْ وَرَدَ هَذَا الْوَصْفُ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فِيمَا يَحْضُرُنِي فِي أَرْبَعِ آيَاتٍ هَذِهِ الْآيَةُ وَآيَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُوْنَ وَآيَتَانِ فِي الْأَنْعَامِ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ وَتَأَمَّلُوا أَيُّهَا الْإِخْوَانُ كَيْفَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَطْلَقَ الْبَرَكَةَ وَلَمْ يُقَيِّدْهَا آيَةُ الْأَنْعَامِ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ مُبَارَكٌ يَا إِخْوَةُ مَا قُيِّدَتِ الْبَرَكَةُ بِشَيْءٍ لِمَاذَا؟ لِتَبْقَى مُطْلَقَةً بَرَكَةٌ عَلَى قَلْبِكَ عَلَيْكَ فِي دِينِكَ فِي بَيْتِكَ فِي أَهْلِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي آخِرَتِكَ بَرَكَةٌ تَسْتَمِرُّ مَعَ الْإِنْسَانِ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ أَهْلِهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah,agar mereka menadaburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29) Mari kita perhatikan bersama ayat ini, wahai saudara-saudara! Ayat ini sering kita temui, dan kita semua menghafalnya.Tuhan kita ‘Azza wa Jalla memulainya dengan menyebutkan sifat kitab ini (al-Quran) bahwa ia penuh berkah. Sifat ini disebutkan dalam al-Quran al-Karim—menurut yang saya ingat—dalam empat ayat:[PERTAMA]Dalam ayat ini (surah Shad ayat 29 yang sudah disebutkan sebelumnya). [KEDUA]Lalu ayat di surat al-Anbiya, “Dan ini (al-Quran) adalah suatu peringatan penuh berkah yang Kami turunkan. Maka apakah kamu mengingkarinya?” (QS. Al-Anbiya: 50) [KETIGA & KEEMPAT]Serta dua ayat di surat al-An’am, “Dan ini adalah Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah.” (QS. al-An’am: 92 dan 155). Perhatikanlah saudara-saudara, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan keberkahannya mutlak tanpa terikat dengan sesuatu pun.Ayat 92 surat al-An’am, “Dan ini (al-Quran), Kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah, membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya …”Ia penuh berkah, wahai saudara-saudara!Keberkahannya tidak terikat dengan apa pun, mengapa? Agar ia tetap bersifat mutlak. Keberkahan bagi hatimu.Keberkahan bagimu pada agamamu, pada rumahmu, pada keluargamu,pada duniamu, dan pada akhiratmu.Keberkahan yang terus menyertai manusia hingga ia masuk surga. Kita memohon kepada Allah agar menjadi penghuni surga. ==== كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ تَأَمَّلُوْا مَعِيْ هَذِهِ الْآيَةَ الْعَظِيمَةَ يَا إِخْوَانُ الَّتِي تَمُرُّ بِنَا كَثِيرًا وَكُلُّنَا يَحْفَظُهَا صَدَرَهَا رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ بِوَصْفِ هَذَا الْكِتَابِ بِأَنَّهُ مُبَارَكٌ قَدْ وَرَدَ هَذَا الْوَصْفُ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فِيمَا يَحْضُرُنِي فِي أَرْبَعِ آيَاتٍ هَذِهِ الْآيَةُ وَآيَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُوْنَ وَآيَتَانِ فِي الْأَنْعَامِ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ وَتَأَمَّلُوا أَيُّهَا الْإِخْوَانُ كَيْفَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَطْلَقَ الْبَرَكَةَ وَلَمْ يُقَيِّدْهَا آيَةُ الْأَنْعَامِ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ مُبَارَكٌ يَا إِخْوَةُ مَا قُيِّدَتِ الْبَرَكَةُ بِشَيْءٍ لِمَاذَا؟ لِتَبْقَى مُطْلَقَةً بَرَكَةٌ عَلَى قَلْبِكَ عَلَيْكَ فِي دِينِكَ فِي بَيْتِكَ فِي أَهْلِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي آخِرَتِكَ بَرَكَةٌ تَسْتَمِرُّ مَعَ الْإِنْسَانِ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ أَهْلِهَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Doa Untuk Orang yang Sakit

Doa merupakan senjata bagi orang yang beriman. Abai terhadapnya adalah bentuk kesombongan seorang hamba di hadapan Rabbnya. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Ghafir: 60)Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,هذا من لطفه بعباده، ونعمته العظيمة، حيث دعاهم إلى ما فيه صلاح دينهم ودنياهم، وأمرهم بدعائه، دعاء العبادة، ودعاء المسألة، ووعدهم أن يستجيب لهم، وتوعد من استكبر عنها“Ini adalah bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya dan nikmat-Nya yang teramat agung. Yang mana Allah memerintahkan hamba-Nya untuk melakukan hal yang bermanfaat untuk urusan agama dan dunia mereka. Mereka diperintahkan untuk berdoa, baik doa ibadah (karena semua ibadah hakikatnya adalah doa, pent.) maupun doa mas’alah (doa permintaan, pent.). Dan Allah menjanjikan terkabulnya doa untuk mereka, bahkan mengancam orang-orang yang sombong dari meminta kepada-Nya.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 740)Dan disunahkan bagi seorang muslim untuk mendoakan kesembuhan untuk saudaranya yang tengah sakit. Syekh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullahu ketika menjelaskan bab ‘Maa Yud’aa bihi Lil Mariidh’, beliau menjelaskan,فهذه الأحاديث تدل على شرعية الدعاء للمريض ورقيته إذا زاره أخوه“Hadis-hadis di atas menunjukkan sunah mendoakan orang yang tengah sakit bagi mereka yang menjenguknya.”Di antara doa-doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk orang yang tengah sakit adalah sebagai berikut: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama 2. Kedua 3. Ketiga 4. Keempat 5. Kelima 6. Keenam PertamaDiriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا اشتكى الإنسان الشيء منه، أو كانت به قرحة أو جرح، قال النبي صلى الله عليه وسلم، بأصبعه هكذا، )ووضع سفيان بن عيينة الراوي سبابته بالأرض ثم رفعها( وقال: “بسم الله، تربة أرضنا، بريقة بعضنا، يشفى به سقيمنا، بإذن ربنا”“Bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ada sahabat yang datang mengadu sebuah penyakit atau luka, beliau melakukan hal ini dengan jari telunjuknya dan berdoa (Sufyan bin Uyainah selaku rawi hadis mempraktikkan dengan membasahi telunjuknya dan mengusapkannya ke tanah, kemudian berdoa),بسم الله، تربة أرضنا، بريقة بعضنا، يشفى به سقيمنا، بإذن ربناBismillahi, Turbatu Ardhina, Biriiqati ba’dhina, Yusyfaa bihi saqiimuna, Biidzni Rabbina(Dengan nama Allah, debu tanah kami, dengan sedikit ludah kami, bisa menjadi sebab sembuhnya penyakit kami, dengan izin Rabb kami).” (HR. Bukhari no. 5745 dan Muslim no. 2194)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan,“Hal ini bisa menjadi sebab kesembuhan dengan dua kondisi: (1) Diiringi dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah Subhanahu Wata’ala akan menyembuhkan dengan cara ini; (2) Yang sakit pun menerima disertai keimanan bahwa hal tersebut akan menjadi sebab kesembuhannya.” (Syarh Riyadh Al-Shalihin, 4: 478)KeduaHadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعود بعض أهله يمسح بيده اليمنى ويقول اللهم رب الناس أذهب البأس واشف أنت الشافي لا شفاء إلا شفاؤك شفاء لا يغادر سقما“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengunjungi kerabatnya yang sakit, beliau mengusapnya dengan tangan kanan sembari berdoa,اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أذْهِبِ البَأْسَ،وَ اشْفِهِ أَنْتَ الشَّافِي، لا شِفَاءَ إلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًاAllahumma Rabbannasi adzhibil ba’sa wasyfi anta asy Syaafii laa syifaa’a illa Syifaa’uk, syifaa’an laa yughaadiru saqama(Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah sakit ini, karena sesungguhnya Engkaulah Zat Yang Mahamenyembuhkan. Tidak ada kesembuhan, kecuali kesembuhan dari-Mu. Kesembuhan yang tidak akan meninggalkan penyakit setelahnya.)” (HR. Bukhari no. 5743 dan Muslim no. 2191)KetigaHadis yang diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya doa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam panjatkan ketika mengunjungi Sa’ad adalah,اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًاAllahummasyfi sa’dan, Allahummasyfi sa’dan, Allahummasyfi sa’dan(Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad, Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad, Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad).” (HR. Muslim no. 1628)Kita diperkenankan mengganti lafaz (Sa’ad) dengan nama orang yang tengah kita kunjungi.KeempatHadis yang diriwayatkan dari Abu Abdillah Utsman bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, tatkala beliau mengeluh sakit kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengatakan,ضع يدك على الذي يألم من جسدك وقل بسم الله ثلاثا وقل سبع مرات أعوذ بعزة الله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر“Letakkan tanganmu di tempat yang sakit, kemudian bacalah doa ini sebanyak tujuh kali,أَعُوذُ بعزة الله وَقُدْرَتِهِ مِن شَرِّ ما أَجِدُ وَأُحَاذِرُA’udzu billahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru(Aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari keburukan yang kurasakan dan kukhawatirkan).” (HR. Muslim no. 2202)KelimaHadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من عاد مريضا لم يحضره أجله فقال عنده سبع مرات أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك إلا عافاه الله من ذلك المرض“Siapa saja yang mengunjungi orang yang tengah sakit selama belum datang ajalnya, kemudian mengucapkan doa ini tujuh kali,أسأَلُ اللهَ العَظيمَ رَبَّ العَرشِ العَظيمِ أنْ يَشفيَكَAs’alullaha al adziim, Rabbal arsyil adziim, an yasyfiyaka(Aku memohon kepada Allah yang Mahaagung, Rabb arsy yang besar, agar memberikan kesembuhan kepadamu)melainkan Allah akan memberikan kesembuhan untuk orang tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 3156 dan At-Tirmidzi no. 2008. Dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani rahimahullahu)KeenamHadis yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengunjungi orang sakit beliau sering mengatakan,لا بَأْسَ، طَهُورٌ إنْ شَاءَ اللَّهُLaa ba’sa, thahuur insyaallah(Tidak mengapa. Semoga penyakit ini menjadi pembersih atas dosa-dosamu. Atas izin Allah).” (HR. Bukhari no. 3616)Lafaz yang keenam ini bukan merupakan doa, melainkan bentuk pemberitahuan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa sakit yang didera saat ini boleh jadi menjadi sebab terampuni dosa-dosanya atas izin Allah.Semoga Allah mudahkan lisan kita untuk mengangkat tangan berdoa, baik untuk diri kita maupun saudara-saudara kita sesama muslim. AamiinBaca juga: Ayat Seribu Dinar—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Berdebat Dengan Orang Bodoh, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Arti Ujub Dalam Islam, Orang Ke MasjidTags: adabadab IslamAkhlakakhlak muslimAqidahdo'adoa ketika sakitdoa untuk orang sakitkeutamaan doanasihatnasihat islamorang sakitsakit

Doa Untuk Orang yang Sakit

Doa merupakan senjata bagi orang yang beriman. Abai terhadapnya adalah bentuk kesombongan seorang hamba di hadapan Rabbnya. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Ghafir: 60)Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,هذا من لطفه بعباده، ونعمته العظيمة، حيث دعاهم إلى ما فيه صلاح دينهم ودنياهم، وأمرهم بدعائه، دعاء العبادة، ودعاء المسألة، ووعدهم أن يستجيب لهم، وتوعد من استكبر عنها“Ini adalah bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya dan nikmat-Nya yang teramat agung. Yang mana Allah memerintahkan hamba-Nya untuk melakukan hal yang bermanfaat untuk urusan agama dan dunia mereka. Mereka diperintahkan untuk berdoa, baik doa ibadah (karena semua ibadah hakikatnya adalah doa, pent.) maupun doa mas’alah (doa permintaan, pent.). Dan Allah menjanjikan terkabulnya doa untuk mereka, bahkan mengancam orang-orang yang sombong dari meminta kepada-Nya.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 740)Dan disunahkan bagi seorang muslim untuk mendoakan kesembuhan untuk saudaranya yang tengah sakit. Syekh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullahu ketika menjelaskan bab ‘Maa Yud’aa bihi Lil Mariidh’, beliau menjelaskan,فهذه الأحاديث تدل على شرعية الدعاء للمريض ورقيته إذا زاره أخوه“Hadis-hadis di atas menunjukkan sunah mendoakan orang yang tengah sakit bagi mereka yang menjenguknya.”Di antara doa-doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk orang yang tengah sakit adalah sebagai berikut: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama 2. Kedua 3. Ketiga 4. Keempat 5. Kelima 6. Keenam PertamaDiriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا اشتكى الإنسان الشيء منه، أو كانت به قرحة أو جرح، قال النبي صلى الله عليه وسلم، بأصبعه هكذا، )ووضع سفيان بن عيينة الراوي سبابته بالأرض ثم رفعها( وقال: “بسم الله، تربة أرضنا، بريقة بعضنا، يشفى به سقيمنا، بإذن ربنا”“Bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ada sahabat yang datang mengadu sebuah penyakit atau luka, beliau melakukan hal ini dengan jari telunjuknya dan berdoa (Sufyan bin Uyainah selaku rawi hadis mempraktikkan dengan membasahi telunjuknya dan mengusapkannya ke tanah, kemudian berdoa),بسم الله، تربة أرضنا، بريقة بعضنا، يشفى به سقيمنا، بإذن ربناBismillahi, Turbatu Ardhina, Biriiqati ba’dhina, Yusyfaa bihi saqiimuna, Biidzni Rabbina(Dengan nama Allah, debu tanah kami, dengan sedikit ludah kami, bisa menjadi sebab sembuhnya penyakit kami, dengan izin Rabb kami).” (HR. Bukhari no. 5745 dan Muslim no. 2194)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan,“Hal ini bisa menjadi sebab kesembuhan dengan dua kondisi: (1) Diiringi dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah Subhanahu Wata’ala akan menyembuhkan dengan cara ini; (2) Yang sakit pun menerima disertai keimanan bahwa hal tersebut akan menjadi sebab kesembuhannya.” (Syarh Riyadh Al-Shalihin, 4: 478)KeduaHadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعود بعض أهله يمسح بيده اليمنى ويقول اللهم رب الناس أذهب البأس واشف أنت الشافي لا شفاء إلا شفاؤك شفاء لا يغادر سقما“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengunjungi kerabatnya yang sakit, beliau mengusapnya dengan tangan kanan sembari berdoa,اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أذْهِبِ البَأْسَ،وَ اشْفِهِ أَنْتَ الشَّافِي، لا شِفَاءَ إلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًاAllahumma Rabbannasi adzhibil ba’sa wasyfi anta asy Syaafii laa syifaa’a illa Syifaa’uk, syifaa’an laa yughaadiru saqama(Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah sakit ini, karena sesungguhnya Engkaulah Zat Yang Mahamenyembuhkan. Tidak ada kesembuhan, kecuali kesembuhan dari-Mu. Kesembuhan yang tidak akan meninggalkan penyakit setelahnya.)” (HR. Bukhari no. 5743 dan Muslim no. 2191)KetigaHadis yang diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya doa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam panjatkan ketika mengunjungi Sa’ad adalah,اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًاAllahummasyfi sa’dan, Allahummasyfi sa’dan, Allahummasyfi sa’dan(Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad, Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad, Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad).” (HR. Muslim no. 1628)Kita diperkenankan mengganti lafaz (Sa’ad) dengan nama orang yang tengah kita kunjungi.KeempatHadis yang diriwayatkan dari Abu Abdillah Utsman bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, tatkala beliau mengeluh sakit kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengatakan,ضع يدك على الذي يألم من جسدك وقل بسم الله ثلاثا وقل سبع مرات أعوذ بعزة الله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر“Letakkan tanganmu di tempat yang sakit, kemudian bacalah doa ini sebanyak tujuh kali,أَعُوذُ بعزة الله وَقُدْرَتِهِ مِن شَرِّ ما أَجِدُ وَأُحَاذِرُA’udzu billahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru(Aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari keburukan yang kurasakan dan kukhawatirkan).” (HR. Muslim no. 2202)KelimaHadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من عاد مريضا لم يحضره أجله فقال عنده سبع مرات أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك إلا عافاه الله من ذلك المرض“Siapa saja yang mengunjungi orang yang tengah sakit selama belum datang ajalnya, kemudian mengucapkan doa ini tujuh kali,أسأَلُ اللهَ العَظيمَ رَبَّ العَرشِ العَظيمِ أنْ يَشفيَكَAs’alullaha al adziim, Rabbal arsyil adziim, an yasyfiyaka(Aku memohon kepada Allah yang Mahaagung, Rabb arsy yang besar, agar memberikan kesembuhan kepadamu)melainkan Allah akan memberikan kesembuhan untuk orang tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 3156 dan At-Tirmidzi no. 2008. Dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani rahimahullahu)KeenamHadis yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengunjungi orang sakit beliau sering mengatakan,لا بَأْسَ، طَهُورٌ إنْ شَاءَ اللَّهُLaa ba’sa, thahuur insyaallah(Tidak mengapa. Semoga penyakit ini menjadi pembersih atas dosa-dosamu. Atas izin Allah).” (HR. Bukhari no. 3616)Lafaz yang keenam ini bukan merupakan doa, melainkan bentuk pemberitahuan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa sakit yang didera saat ini boleh jadi menjadi sebab terampuni dosa-dosanya atas izin Allah.Semoga Allah mudahkan lisan kita untuk mengangkat tangan berdoa, baik untuk diri kita maupun saudara-saudara kita sesama muslim. AamiinBaca juga: Ayat Seribu Dinar—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Berdebat Dengan Orang Bodoh, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Arti Ujub Dalam Islam, Orang Ke MasjidTags: adabadab IslamAkhlakakhlak muslimAqidahdo'adoa ketika sakitdoa untuk orang sakitkeutamaan doanasihatnasihat islamorang sakitsakit
Doa merupakan senjata bagi orang yang beriman. Abai terhadapnya adalah bentuk kesombongan seorang hamba di hadapan Rabbnya. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Ghafir: 60)Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,هذا من لطفه بعباده، ونعمته العظيمة، حيث دعاهم إلى ما فيه صلاح دينهم ودنياهم، وأمرهم بدعائه، دعاء العبادة، ودعاء المسألة، ووعدهم أن يستجيب لهم، وتوعد من استكبر عنها“Ini adalah bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya dan nikmat-Nya yang teramat agung. Yang mana Allah memerintahkan hamba-Nya untuk melakukan hal yang bermanfaat untuk urusan agama dan dunia mereka. Mereka diperintahkan untuk berdoa, baik doa ibadah (karena semua ibadah hakikatnya adalah doa, pent.) maupun doa mas’alah (doa permintaan, pent.). Dan Allah menjanjikan terkabulnya doa untuk mereka, bahkan mengancam orang-orang yang sombong dari meminta kepada-Nya.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 740)Dan disunahkan bagi seorang muslim untuk mendoakan kesembuhan untuk saudaranya yang tengah sakit. Syekh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullahu ketika menjelaskan bab ‘Maa Yud’aa bihi Lil Mariidh’, beliau menjelaskan,فهذه الأحاديث تدل على شرعية الدعاء للمريض ورقيته إذا زاره أخوه“Hadis-hadis di atas menunjukkan sunah mendoakan orang yang tengah sakit bagi mereka yang menjenguknya.”Di antara doa-doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk orang yang tengah sakit adalah sebagai berikut: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama 2. Kedua 3. Ketiga 4. Keempat 5. Kelima 6. Keenam PertamaDiriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا اشتكى الإنسان الشيء منه، أو كانت به قرحة أو جرح، قال النبي صلى الله عليه وسلم، بأصبعه هكذا، )ووضع سفيان بن عيينة الراوي سبابته بالأرض ثم رفعها( وقال: “بسم الله، تربة أرضنا، بريقة بعضنا، يشفى به سقيمنا، بإذن ربنا”“Bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ada sahabat yang datang mengadu sebuah penyakit atau luka, beliau melakukan hal ini dengan jari telunjuknya dan berdoa (Sufyan bin Uyainah selaku rawi hadis mempraktikkan dengan membasahi telunjuknya dan mengusapkannya ke tanah, kemudian berdoa),بسم الله، تربة أرضنا، بريقة بعضنا، يشفى به سقيمنا، بإذن ربناBismillahi, Turbatu Ardhina, Biriiqati ba’dhina, Yusyfaa bihi saqiimuna, Biidzni Rabbina(Dengan nama Allah, debu tanah kami, dengan sedikit ludah kami, bisa menjadi sebab sembuhnya penyakit kami, dengan izin Rabb kami).” (HR. Bukhari no. 5745 dan Muslim no. 2194)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan,“Hal ini bisa menjadi sebab kesembuhan dengan dua kondisi: (1) Diiringi dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah Subhanahu Wata’ala akan menyembuhkan dengan cara ini; (2) Yang sakit pun menerima disertai keimanan bahwa hal tersebut akan menjadi sebab kesembuhannya.” (Syarh Riyadh Al-Shalihin, 4: 478)KeduaHadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعود بعض أهله يمسح بيده اليمنى ويقول اللهم رب الناس أذهب البأس واشف أنت الشافي لا شفاء إلا شفاؤك شفاء لا يغادر سقما“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengunjungi kerabatnya yang sakit, beliau mengusapnya dengan tangan kanan sembari berdoa,اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أذْهِبِ البَأْسَ،وَ اشْفِهِ أَنْتَ الشَّافِي، لا شِفَاءَ إلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًاAllahumma Rabbannasi adzhibil ba’sa wasyfi anta asy Syaafii laa syifaa’a illa Syifaa’uk, syifaa’an laa yughaadiru saqama(Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah sakit ini, karena sesungguhnya Engkaulah Zat Yang Mahamenyembuhkan. Tidak ada kesembuhan, kecuali kesembuhan dari-Mu. Kesembuhan yang tidak akan meninggalkan penyakit setelahnya.)” (HR. Bukhari no. 5743 dan Muslim no. 2191)KetigaHadis yang diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya doa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam panjatkan ketika mengunjungi Sa’ad adalah,اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًاAllahummasyfi sa’dan, Allahummasyfi sa’dan, Allahummasyfi sa’dan(Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad, Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad, Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad).” (HR. Muslim no. 1628)Kita diperkenankan mengganti lafaz (Sa’ad) dengan nama orang yang tengah kita kunjungi.KeempatHadis yang diriwayatkan dari Abu Abdillah Utsman bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, tatkala beliau mengeluh sakit kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengatakan,ضع يدك على الذي يألم من جسدك وقل بسم الله ثلاثا وقل سبع مرات أعوذ بعزة الله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر“Letakkan tanganmu di tempat yang sakit, kemudian bacalah doa ini sebanyak tujuh kali,أَعُوذُ بعزة الله وَقُدْرَتِهِ مِن شَرِّ ما أَجِدُ وَأُحَاذِرُA’udzu billahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru(Aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari keburukan yang kurasakan dan kukhawatirkan).” (HR. Muslim no. 2202)KelimaHadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من عاد مريضا لم يحضره أجله فقال عنده سبع مرات أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك إلا عافاه الله من ذلك المرض“Siapa saja yang mengunjungi orang yang tengah sakit selama belum datang ajalnya, kemudian mengucapkan doa ini tujuh kali,أسأَلُ اللهَ العَظيمَ رَبَّ العَرشِ العَظيمِ أنْ يَشفيَكَAs’alullaha al adziim, Rabbal arsyil adziim, an yasyfiyaka(Aku memohon kepada Allah yang Mahaagung, Rabb arsy yang besar, agar memberikan kesembuhan kepadamu)melainkan Allah akan memberikan kesembuhan untuk orang tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 3156 dan At-Tirmidzi no. 2008. Dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani rahimahullahu)KeenamHadis yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengunjungi orang sakit beliau sering mengatakan,لا بَأْسَ، طَهُورٌ إنْ شَاءَ اللَّهُLaa ba’sa, thahuur insyaallah(Tidak mengapa. Semoga penyakit ini menjadi pembersih atas dosa-dosamu. Atas izin Allah).” (HR. Bukhari no. 3616)Lafaz yang keenam ini bukan merupakan doa, melainkan bentuk pemberitahuan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa sakit yang didera saat ini boleh jadi menjadi sebab terampuni dosa-dosanya atas izin Allah.Semoga Allah mudahkan lisan kita untuk mengangkat tangan berdoa, baik untuk diri kita maupun saudara-saudara kita sesama muslim. AamiinBaca juga: Ayat Seribu Dinar—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Berdebat Dengan Orang Bodoh, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Arti Ujub Dalam Islam, Orang Ke MasjidTags: adabadab IslamAkhlakakhlak muslimAqidahdo'adoa ketika sakitdoa untuk orang sakitkeutamaan doanasihatnasihat islamorang sakitsakit


Doa merupakan senjata bagi orang yang beriman. Abai terhadapnya adalah bentuk kesombongan seorang hamba di hadapan Rabbnya. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Ghafir: 60)Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,هذا من لطفه بعباده، ونعمته العظيمة، حيث دعاهم إلى ما فيه صلاح دينهم ودنياهم، وأمرهم بدعائه، دعاء العبادة، ودعاء المسألة، ووعدهم أن يستجيب لهم، وتوعد من استكبر عنها“Ini adalah bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya dan nikmat-Nya yang teramat agung. Yang mana Allah memerintahkan hamba-Nya untuk melakukan hal yang bermanfaat untuk urusan agama dan dunia mereka. Mereka diperintahkan untuk berdoa, baik doa ibadah (karena semua ibadah hakikatnya adalah doa, pent.) maupun doa mas’alah (doa permintaan, pent.). Dan Allah menjanjikan terkabulnya doa untuk mereka, bahkan mengancam orang-orang yang sombong dari meminta kepada-Nya.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 740)Dan disunahkan bagi seorang muslim untuk mendoakan kesembuhan untuk saudaranya yang tengah sakit. Syekh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullahu ketika menjelaskan bab ‘Maa Yud’aa bihi Lil Mariidh’, beliau menjelaskan,فهذه الأحاديث تدل على شرعية الدعاء للمريض ورقيته إذا زاره أخوه“Hadis-hadis di atas menunjukkan sunah mendoakan orang yang tengah sakit bagi mereka yang menjenguknya.”Di antara doa-doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk orang yang tengah sakit adalah sebagai berikut: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama 2. Kedua 3. Ketiga 4. Keempat 5. Kelima 6. Keenam PertamaDiriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا اشتكى الإنسان الشيء منه، أو كانت به قرحة أو جرح، قال النبي صلى الله عليه وسلم، بأصبعه هكذا، )ووضع سفيان بن عيينة الراوي سبابته بالأرض ثم رفعها( وقال: “بسم الله، تربة أرضنا، بريقة بعضنا، يشفى به سقيمنا، بإذن ربنا”“Bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ada sahabat yang datang mengadu sebuah penyakit atau luka, beliau melakukan hal ini dengan jari telunjuknya dan berdoa (Sufyan bin Uyainah selaku rawi hadis mempraktikkan dengan membasahi telunjuknya dan mengusapkannya ke tanah, kemudian berdoa),بسم الله، تربة أرضنا، بريقة بعضنا، يشفى به سقيمنا، بإذن ربناBismillahi, Turbatu Ardhina, Biriiqati ba’dhina, Yusyfaa bihi saqiimuna, Biidzni Rabbina(Dengan nama Allah, debu tanah kami, dengan sedikit ludah kami, bisa menjadi sebab sembuhnya penyakit kami, dengan izin Rabb kami).” (HR. Bukhari no. 5745 dan Muslim no. 2194)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan,“Hal ini bisa menjadi sebab kesembuhan dengan dua kondisi: (1) Diiringi dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah Subhanahu Wata’ala akan menyembuhkan dengan cara ini; (2) Yang sakit pun menerima disertai keimanan bahwa hal tersebut akan menjadi sebab kesembuhannya.” (Syarh Riyadh Al-Shalihin, 4: 478)KeduaHadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعود بعض أهله يمسح بيده اليمنى ويقول اللهم رب الناس أذهب البأس واشف أنت الشافي لا شفاء إلا شفاؤك شفاء لا يغادر سقما“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengunjungi kerabatnya yang sakit, beliau mengusapnya dengan tangan kanan sembari berdoa,اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أذْهِبِ البَأْسَ،وَ اشْفِهِ أَنْتَ الشَّافِي، لا شِفَاءَ إلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًاAllahumma Rabbannasi adzhibil ba’sa wasyfi anta asy Syaafii laa syifaa’a illa Syifaa’uk, syifaa’an laa yughaadiru saqama(Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah sakit ini, karena sesungguhnya Engkaulah Zat Yang Mahamenyembuhkan. Tidak ada kesembuhan, kecuali kesembuhan dari-Mu. Kesembuhan yang tidak akan meninggalkan penyakit setelahnya.)” (HR. Bukhari no. 5743 dan Muslim no. 2191)KetigaHadis yang diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya doa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam panjatkan ketika mengunjungi Sa’ad adalah,اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًاAllahummasyfi sa’dan, Allahummasyfi sa’dan, Allahummasyfi sa’dan(Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad, Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad, Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad).” (HR. Muslim no. 1628)Kita diperkenankan mengganti lafaz (Sa’ad) dengan nama orang yang tengah kita kunjungi.KeempatHadis yang diriwayatkan dari Abu Abdillah Utsman bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, tatkala beliau mengeluh sakit kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengatakan,ضع يدك على الذي يألم من جسدك وقل بسم الله ثلاثا وقل سبع مرات أعوذ بعزة الله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر“Letakkan tanganmu di tempat yang sakit, kemudian bacalah doa ini sebanyak tujuh kali,أَعُوذُ بعزة الله وَقُدْرَتِهِ مِن شَرِّ ما أَجِدُ وَأُحَاذِرُA’udzu billahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru(Aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari keburukan yang kurasakan dan kukhawatirkan).” (HR. Muslim no. 2202)KelimaHadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من عاد مريضا لم يحضره أجله فقال عنده سبع مرات أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك إلا عافاه الله من ذلك المرض“Siapa saja yang mengunjungi orang yang tengah sakit selama belum datang ajalnya, kemudian mengucapkan doa ini tujuh kali,أسأَلُ اللهَ العَظيمَ رَبَّ العَرشِ العَظيمِ أنْ يَشفيَكَAs’alullaha al adziim, Rabbal arsyil adziim, an yasyfiyaka(Aku memohon kepada Allah yang Mahaagung, Rabb arsy yang besar, agar memberikan kesembuhan kepadamu)melainkan Allah akan memberikan kesembuhan untuk orang tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 3156 dan At-Tirmidzi no. 2008. Dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani rahimahullahu)KeenamHadis yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengunjungi orang sakit beliau sering mengatakan,لا بَأْسَ، طَهُورٌ إنْ شَاءَ اللَّهُLaa ba’sa, thahuur insyaallah(Tidak mengapa. Semoga penyakit ini menjadi pembersih atas dosa-dosamu. Atas izin Allah).” (HR. Bukhari no. 3616)Lafaz yang keenam ini bukan merupakan doa, melainkan bentuk pemberitahuan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa sakit yang didera saat ini boleh jadi menjadi sebab terampuni dosa-dosanya atas izin Allah.Semoga Allah mudahkan lisan kita untuk mengangkat tangan berdoa, baik untuk diri kita maupun saudara-saudara kita sesama muslim. AamiinBaca juga: Ayat Seribu Dinar—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Berdebat Dengan Orang Bodoh, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Arti Ujub Dalam Islam, Orang Ke MasjidTags: adabadab IslamAkhlakakhlak muslimAqidahdo'adoa ketika sakitdoa untuk orang sakitkeutamaan doanasihatnasihat islamorang sakitsakit

Tata Cara Shalat Gerhana Secara Ringkas dan Cukup Jelas

Gerhana itu di antara tanda kuasa Allah. Bagaimana tata cara shalat gerhana yang ringkas dan jelas? Berikut bahasannya.   Daftar Isi tutup 1. Seputar Shalat Gerhana 2. Tiga Cara Shalat Gerhana 3. Tata Cara Shalat Gerhana 3.1. Referensi:   Seputar Shalat Gerhana Hukum shalat gerhana (shalat kusuf untuk gerhana matahari dan shalat khusuf untuk gerhana bulan) adalah SUNNAH MU’AKKAD. Hukum shalat ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan, musafir, mukim, merdeka, maupun budak. Jumlah rakaat shalat gerhana adalah dua rakaat di mana ketika takbiratul ihram berniat dengan niat shalat kusuf atau khusuf.   Tiga Cara Shalat Gerhana Pertama: Paling ringan (aqolluha), dikerjakan dua rakaat seperti dua rakaat sunnah Shubuh atau Zhuhur, Kedua: Pertengahan (adnal kamaal), dikerjakan dua rakaat dengan tiap rakaat ada dua kali rukuk dan dua kali berdiri, sifatnya tidak lama, membaca surah dan membaca tasbih sama dengan dua rakaat sunnah Shubuh, Ketiga: Paling lama (a’laal kamaal), dikerjakan dua rakaat dengan tiap rakaat ada dua kali rukuk dan dua kali berdiri, dengan memperpanjang (memperlama shalat) dalam bacaan surah dan bacaan tasbih, di mana: berdiri pertama membaca surah Al-Baqarah, berdiri kedua membaca 200 ayat, berdiri ketiga membaca 150 ayat, dan berdiri keempat membaca 100 ayat, lalu jumlah tasbih pada rukuk pertama seperti lamanya membaca 100 ayat dari surah Al-Baqarah, rukuk kedua seperti lamanya membaca 80 ayat dari surah Al-Baqarah, rukuk ketiga seperti lamanya membaca 70 ayat dari surah Al-Baqarah, rukuk keempat seperti lamanya membaca 50 ayat dari surah Al-Baqarah, lalu sujud diperlama seperti lamanya rukuk sebelumnya, maka sujud pertama kadarnya seperti lamanya membaca 100 ayat seperti rukuk pertama, sujud kedua kadarnya seperti lamanya membaca 80 ayat, sujud ketiga kadarnya seperti lamanya membaca 70 ayat, dan sujud keempat seperti lamanya membaca 50 ayat. Catatan: Iktidal dan duduk antara dua sujud tidak diperlama.   Tata Cara Shalat Gerhana Takbiratul ihram berbarengan dengan niat shalat kusuf atau khusuf. Membaca doa iftitah. Membaca ta’awudz. Membaca surah Al-Fatihah. Membaca surah Al-Baqarah. Rukuk (pertama) lamanya seperti membaca 100 ayat. Bangkit dari rukuk, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca surah Al-Fatihah. Membaca surah 200 ayat. Rukuk (kedua) lamanya seperti membaca 80 ayat. Iktidal (tidak lama). Sujud (pertama) lamanya seperti membaca 100 ayat. Duduk antara dua sujud (tidak lama). Sujud (kedua) lamanya seperti membaca 80 ayat. Bangkit ke rakaat kedua, membaca ta’awudz, surah Al-Fatihah. Membaca surah 150 ayat. Rukuk (ketiga) lamanya seperti membaca 70 ayat. Bangkit dari rukuk, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca surah Al-Fatihah. Membaca surah 100 ayat. Rukuk (keempat) lamanya seperti membaca 50 ayat. Iktidal (tidak lama). Sujud (ketiga) lamanya seperti membaca 70 ayat. Duduk antara dua sujud (tidak lama). Sujud (keempat) lamanya seperti membaca 50 ayat. Tahiyat akhir dan shalawat. Salam.   Baca juga: Panduan Shalat Gerhana Lengkap dengan Dalil    Catatan: Untuk shalat gerhana matahari, bacaan surah dengan sirr (cukup didengar oleh orang yang shalat) kecuali matahari tenggelam dan masih shalat, maka dilanjutkan bacaan surah dengan jahr. Untuk shalat gerhana bulan, bacaan surah dengan jahr (lebih dari didengar oleh orang yang shalat) kecuali matahari telah terbit dan masih shalat, maka dilanjutkan bacaan surah dengan sirr. Shalat gerhana dianggap telah terlewatkan ketika gerhana telah usai yaitu dengan lepasnya lingkaran matahari atau bulan. Ketika gerhana telah usai, tetapi shalat gerhana masih berlangsung, shalat tersebut dilanjutkan hingga sempurna. Setelah shalat gerhana disunnahkan mengadakan khutbah dengan dua kali khutbah sama seperti shalat Id (shalat hari raya) dengan memenuhi rukun, syarat, dan sunnahnya. Namun, shalat gerhana ini tidak didahului dengan ucapan takbir (tidak seperti shalat Id) karena tidak ada riwayat mengenai ucapan takbir ini dalam shalat gerhana. Isi khutbah gerhana adalah memotivasi untuk bertaubat dan berbuat baik.   Referensi: Mu’nis Al-Jaliis bi Syarh Al-Yaquut An-Nafiis li Al-‘Allaamah Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri. Cetakan pertama, Tahun 1442 H. Syaikh Musthafa bin Ahmad bin ‘Abdin Nabi Abu Hamzah Asy-Syafi’i. Penerbit Daar Adh-Dhiyaa’. 1:246-248.   Baca juga: Gerhana Tidak Terlihat Berarti Tidak Ada Shalat Gerhana Tata Cara Shalat Gerhana Boleh Shalat Gerhana Seorang Diri Amalan Saat Terjadi Gerhana Khutbah Shalat Gerhana dari Syaikh Shalih Al-Fauzan   Semoga menjadi catatan ilmu yang manfaat.   – Disusun saat perjalanan Panggang – Jogja, 13 Rabiul Akhir 1444 H, 8 November 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat gerhana shalat gerhana tata cara shalat gerhana

Tata Cara Shalat Gerhana Secara Ringkas dan Cukup Jelas

Gerhana itu di antara tanda kuasa Allah. Bagaimana tata cara shalat gerhana yang ringkas dan jelas? Berikut bahasannya.   Daftar Isi tutup 1. Seputar Shalat Gerhana 2. Tiga Cara Shalat Gerhana 3. Tata Cara Shalat Gerhana 3.1. Referensi:   Seputar Shalat Gerhana Hukum shalat gerhana (shalat kusuf untuk gerhana matahari dan shalat khusuf untuk gerhana bulan) adalah SUNNAH MU’AKKAD. Hukum shalat ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan, musafir, mukim, merdeka, maupun budak. Jumlah rakaat shalat gerhana adalah dua rakaat di mana ketika takbiratul ihram berniat dengan niat shalat kusuf atau khusuf.   Tiga Cara Shalat Gerhana Pertama: Paling ringan (aqolluha), dikerjakan dua rakaat seperti dua rakaat sunnah Shubuh atau Zhuhur, Kedua: Pertengahan (adnal kamaal), dikerjakan dua rakaat dengan tiap rakaat ada dua kali rukuk dan dua kali berdiri, sifatnya tidak lama, membaca surah dan membaca tasbih sama dengan dua rakaat sunnah Shubuh, Ketiga: Paling lama (a’laal kamaal), dikerjakan dua rakaat dengan tiap rakaat ada dua kali rukuk dan dua kali berdiri, dengan memperpanjang (memperlama shalat) dalam bacaan surah dan bacaan tasbih, di mana: berdiri pertama membaca surah Al-Baqarah, berdiri kedua membaca 200 ayat, berdiri ketiga membaca 150 ayat, dan berdiri keempat membaca 100 ayat, lalu jumlah tasbih pada rukuk pertama seperti lamanya membaca 100 ayat dari surah Al-Baqarah, rukuk kedua seperti lamanya membaca 80 ayat dari surah Al-Baqarah, rukuk ketiga seperti lamanya membaca 70 ayat dari surah Al-Baqarah, rukuk keempat seperti lamanya membaca 50 ayat dari surah Al-Baqarah, lalu sujud diperlama seperti lamanya rukuk sebelumnya, maka sujud pertama kadarnya seperti lamanya membaca 100 ayat seperti rukuk pertama, sujud kedua kadarnya seperti lamanya membaca 80 ayat, sujud ketiga kadarnya seperti lamanya membaca 70 ayat, dan sujud keempat seperti lamanya membaca 50 ayat. Catatan: Iktidal dan duduk antara dua sujud tidak diperlama.   Tata Cara Shalat Gerhana Takbiratul ihram berbarengan dengan niat shalat kusuf atau khusuf. Membaca doa iftitah. Membaca ta’awudz. Membaca surah Al-Fatihah. Membaca surah Al-Baqarah. Rukuk (pertama) lamanya seperti membaca 100 ayat. Bangkit dari rukuk, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca surah Al-Fatihah. Membaca surah 200 ayat. Rukuk (kedua) lamanya seperti membaca 80 ayat. Iktidal (tidak lama). Sujud (pertama) lamanya seperti membaca 100 ayat. Duduk antara dua sujud (tidak lama). Sujud (kedua) lamanya seperti membaca 80 ayat. Bangkit ke rakaat kedua, membaca ta’awudz, surah Al-Fatihah. Membaca surah 150 ayat. Rukuk (ketiga) lamanya seperti membaca 70 ayat. Bangkit dari rukuk, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca surah Al-Fatihah. Membaca surah 100 ayat. Rukuk (keempat) lamanya seperti membaca 50 ayat. Iktidal (tidak lama). Sujud (ketiga) lamanya seperti membaca 70 ayat. Duduk antara dua sujud (tidak lama). Sujud (keempat) lamanya seperti membaca 50 ayat. Tahiyat akhir dan shalawat. Salam.   Baca juga: Panduan Shalat Gerhana Lengkap dengan Dalil    Catatan: Untuk shalat gerhana matahari, bacaan surah dengan sirr (cukup didengar oleh orang yang shalat) kecuali matahari tenggelam dan masih shalat, maka dilanjutkan bacaan surah dengan jahr. Untuk shalat gerhana bulan, bacaan surah dengan jahr (lebih dari didengar oleh orang yang shalat) kecuali matahari telah terbit dan masih shalat, maka dilanjutkan bacaan surah dengan sirr. Shalat gerhana dianggap telah terlewatkan ketika gerhana telah usai yaitu dengan lepasnya lingkaran matahari atau bulan. Ketika gerhana telah usai, tetapi shalat gerhana masih berlangsung, shalat tersebut dilanjutkan hingga sempurna. Setelah shalat gerhana disunnahkan mengadakan khutbah dengan dua kali khutbah sama seperti shalat Id (shalat hari raya) dengan memenuhi rukun, syarat, dan sunnahnya. Namun, shalat gerhana ini tidak didahului dengan ucapan takbir (tidak seperti shalat Id) karena tidak ada riwayat mengenai ucapan takbir ini dalam shalat gerhana. Isi khutbah gerhana adalah memotivasi untuk bertaubat dan berbuat baik.   Referensi: Mu’nis Al-Jaliis bi Syarh Al-Yaquut An-Nafiis li Al-‘Allaamah Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri. Cetakan pertama, Tahun 1442 H. Syaikh Musthafa bin Ahmad bin ‘Abdin Nabi Abu Hamzah Asy-Syafi’i. Penerbit Daar Adh-Dhiyaa’. 1:246-248.   Baca juga: Gerhana Tidak Terlihat Berarti Tidak Ada Shalat Gerhana Tata Cara Shalat Gerhana Boleh Shalat Gerhana Seorang Diri Amalan Saat Terjadi Gerhana Khutbah Shalat Gerhana dari Syaikh Shalih Al-Fauzan   Semoga menjadi catatan ilmu yang manfaat.   – Disusun saat perjalanan Panggang – Jogja, 13 Rabiul Akhir 1444 H, 8 November 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat gerhana shalat gerhana tata cara shalat gerhana
Gerhana itu di antara tanda kuasa Allah. Bagaimana tata cara shalat gerhana yang ringkas dan jelas? Berikut bahasannya.   Daftar Isi tutup 1. Seputar Shalat Gerhana 2. Tiga Cara Shalat Gerhana 3. Tata Cara Shalat Gerhana 3.1. Referensi:   Seputar Shalat Gerhana Hukum shalat gerhana (shalat kusuf untuk gerhana matahari dan shalat khusuf untuk gerhana bulan) adalah SUNNAH MU’AKKAD. Hukum shalat ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan, musafir, mukim, merdeka, maupun budak. Jumlah rakaat shalat gerhana adalah dua rakaat di mana ketika takbiratul ihram berniat dengan niat shalat kusuf atau khusuf.   Tiga Cara Shalat Gerhana Pertama: Paling ringan (aqolluha), dikerjakan dua rakaat seperti dua rakaat sunnah Shubuh atau Zhuhur, Kedua: Pertengahan (adnal kamaal), dikerjakan dua rakaat dengan tiap rakaat ada dua kali rukuk dan dua kali berdiri, sifatnya tidak lama, membaca surah dan membaca tasbih sama dengan dua rakaat sunnah Shubuh, Ketiga: Paling lama (a’laal kamaal), dikerjakan dua rakaat dengan tiap rakaat ada dua kali rukuk dan dua kali berdiri, dengan memperpanjang (memperlama shalat) dalam bacaan surah dan bacaan tasbih, di mana: berdiri pertama membaca surah Al-Baqarah, berdiri kedua membaca 200 ayat, berdiri ketiga membaca 150 ayat, dan berdiri keempat membaca 100 ayat, lalu jumlah tasbih pada rukuk pertama seperti lamanya membaca 100 ayat dari surah Al-Baqarah, rukuk kedua seperti lamanya membaca 80 ayat dari surah Al-Baqarah, rukuk ketiga seperti lamanya membaca 70 ayat dari surah Al-Baqarah, rukuk keempat seperti lamanya membaca 50 ayat dari surah Al-Baqarah, lalu sujud diperlama seperti lamanya rukuk sebelumnya, maka sujud pertama kadarnya seperti lamanya membaca 100 ayat seperti rukuk pertama, sujud kedua kadarnya seperti lamanya membaca 80 ayat, sujud ketiga kadarnya seperti lamanya membaca 70 ayat, dan sujud keempat seperti lamanya membaca 50 ayat. Catatan: Iktidal dan duduk antara dua sujud tidak diperlama.   Tata Cara Shalat Gerhana Takbiratul ihram berbarengan dengan niat shalat kusuf atau khusuf. Membaca doa iftitah. Membaca ta’awudz. Membaca surah Al-Fatihah. Membaca surah Al-Baqarah. Rukuk (pertama) lamanya seperti membaca 100 ayat. Bangkit dari rukuk, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca surah Al-Fatihah. Membaca surah 200 ayat. Rukuk (kedua) lamanya seperti membaca 80 ayat. Iktidal (tidak lama). Sujud (pertama) lamanya seperti membaca 100 ayat. Duduk antara dua sujud (tidak lama). Sujud (kedua) lamanya seperti membaca 80 ayat. Bangkit ke rakaat kedua, membaca ta’awudz, surah Al-Fatihah. Membaca surah 150 ayat. Rukuk (ketiga) lamanya seperti membaca 70 ayat. Bangkit dari rukuk, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca surah Al-Fatihah. Membaca surah 100 ayat. Rukuk (keempat) lamanya seperti membaca 50 ayat. Iktidal (tidak lama). Sujud (ketiga) lamanya seperti membaca 70 ayat. Duduk antara dua sujud (tidak lama). Sujud (keempat) lamanya seperti membaca 50 ayat. Tahiyat akhir dan shalawat. Salam.   Baca juga: Panduan Shalat Gerhana Lengkap dengan Dalil    Catatan: Untuk shalat gerhana matahari, bacaan surah dengan sirr (cukup didengar oleh orang yang shalat) kecuali matahari tenggelam dan masih shalat, maka dilanjutkan bacaan surah dengan jahr. Untuk shalat gerhana bulan, bacaan surah dengan jahr (lebih dari didengar oleh orang yang shalat) kecuali matahari telah terbit dan masih shalat, maka dilanjutkan bacaan surah dengan sirr. Shalat gerhana dianggap telah terlewatkan ketika gerhana telah usai yaitu dengan lepasnya lingkaran matahari atau bulan. Ketika gerhana telah usai, tetapi shalat gerhana masih berlangsung, shalat tersebut dilanjutkan hingga sempurna. Setelah shalat gerhana disunnahkan mengadakan khutbah dengan dua kali khutbah sama seperti shalat Id (shalat hari raya) dengan memenuhi rukun, syarat, dan sunnahnya. Namun, shalat gerhana ini tidak didahului dengan ucapan takbir (tidak seperti shalat Id) karena tidak ada riwayat mengenai ucapan takbir ini dalam shalat gerhana. Isi khutbah gerhana adalah memotivasi untuk bertaubat dan berbuat baik.   Referensi: Mu’nis Al-Jaliis bi Syarh Al-Yaquut An-Nafiis li Al-‘Allaamah Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri. Cetakan pertama, Tahun 1442 H. Syaikh Musthafa bin Ahmad bin ‘Abdin Nabi Abu Hamzah Asy-Syafi’i. Penerbit Daar Adh-Dhiyaa’. 1:246-248.   Baca juga: Gerhana Tidak Terlihat Berarti Tidak Ada Shalat Gerhana Tata Cara Shalat Gerhana Boleh Shalat Gerhana Seorang Diri Amalan Saat Terjadi Gerhana Khutbah Shalat Gerhana dari Syaikh Shalih Al-Fauzan   Semoga menjadi catatan ilmu yang manfaat.   – Disusun saat perjalanan Panggang – Jogja, 13 Rabiul Akhir 1444 H, 8 November 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat gerhana shalat gerhana tata cara shalat gerhana


Gerhana itu di antara tanda kuasa Allah. Bagaimana tata cara shalat gerhana yang ringkas dan jelas? Berikut bahasannya.   Daftar Isi tutup 1. Seputar Shalat Gerhana 2. Tiga Cara Shalat Gerhana 3. Tata Cara Shalat Gerhana 3.1. Referensi:   Seputar Shalat Gerhana Hukum shalat gerhana (shalat kusuf untuk gerhana matahari dan shalat khusuf untuk gerhana bulan) adalah SUNNAH MU’AKKAD. Hukum shalat ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan, musafir, mukim, merdeka, maupun budak. Jumlah rakaat shalat gerhana adalah dua rakaat di mana ketika takbiratul ihram berniat dengan niat shalat kusuf atau khusuf.   Tiga Cara Shalat Gerhana Pertama: Paling ringan (aqolluha), dikerjakan dua rakaat seperti dua rakaat sunnah Shubuh atau Zhuhur, Kedua: Pertengahan (adnal kamaal), dikerjakan dua rakaat dengan tiap rakaat ada dua kali rukuk dan dua kali berdiri, sifatnya tidak lama, membaca surah dan membaca tasbih sama dengan dua rakaat sunnah Shubuh, Ketiga: Paling lama (a’laal kamaal), dikerjakan dua rakaat dengan tiap rakaat ada dua kali rukuk dan dua kali berdiri, dengan memperpanjang (memperlama shalat) dalam bacaan surah dan bacaan tasbih, di mana: berdiri pertama membaca surah Al-Baqarah, berdiri kedua membaca 200 ayat, berdiri ketiga membaca 150 ayat, dan berdiri keempat membaca 100 ayat, lalu jumlah tasbih pada rukuk pertama seperti lamanya membaca 100 ayat dari surah Al-Baqarah, rukuk kedua seperti lamanya membaca 80 ayat dari surah Al-Baqarah, rukuk ketiga seperti lamanya membaca 70 ayat dari surah Al-Baqarah, rukuk keempat seperti lamanya membaca 50 ayat dari surah Al-Baqarah, lalu sujud diperlama seperti lamanya rukuk sebelumnya, maka sujud pertama kadarnya seperti lamanya membaca 100 ayat seperti rukuk pertama, sujud kedua kadarnya seperti lamanya membaca 80 ayat, sujud ketiga kadarnya seperti lamanya membaca 70 ayat, dan sujud keempat seperti lamanya membaca 50 ayat. Catatan: Iktidal dan duduk antara dua sujud tidak diperlama.   Tata Cara Shalat Gerhana Takbiratul ihram berbarengan dengan niat shalat kusuf atau khusuf. Membaca doa iftitah. Membaca ta’awudz. Membaca surah Al-Fatihah. Membaca surah Al-Baqarah. Rukuk (pertama) lamanya seperti membaca 100 ayat. Bangkit dari rukuk, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca surah Al-Fatihah. Membaca surah 200 ayat. Rukuk (kedua) lamanya seperti membaca 80 ayat. Iktidal (tidak lama). Sujud (pertama) lamanya seperti membaca 100 ayat. Duduk antara dua sujud (tidak lama). Sujud (kedua) lamanya seperti membaca 80 ayat. Bangkit ke rakaat kedua, membaca ta’awudz, surah Al-Fatihah. Membaca surah 150 ayat. Rukuk (ketiga) lamanya seperti membaca 70 ayat. Bangkit dari rukuk, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca surah Al-Fatihah. Membaca surah 100 ayat. Rukuk (keempat) lamanya seperti membaca 50 ayat. Iktidal (tidak lama). Sujud (ketiga) lamanya seperti membaca 70 ayat. Duduk antara dua sujud (tidak lama). Sujud (keempat) lamanya seperti membaca 50 ayat. Tahiyat akhir dan shalawat. Salam.   Baca juga: Panduan Shalat Gerhana Lengkap dengan Dalil    Catatan: Untuk shalat gerhana matahari, bacaan surah dengan sirr (cukup didengar oleh orang yang shalat) kecuali matahari tenggelam dan masih shalat, maka dilanjutkan bacaan surah dengan jahr. Untuk shalat gerhana bulan, bacaan surah dengan jahr (lebih dari didengar oleh orang yang shalat) kecuali matahari telah terbit dan masih shalat, maka dilanjutkan bacaan surah dengan sirr. Shalat gerhana dianggap telah terlewatkan ketika gerhana telah usai yaitu dengan lepasnya lingkaran matahari atau bulan. Ketika gerhana telah usai, tetapi shalat gerhana masih berlangsung, shalat tersebut dilanjutkan hingga sempurna. Setelah shalat gerhana disunnahkan mengadakan khutbah dengan dua kali khutbah sama seperti shalat Id (shalat hari raya) dengan memenuhi rukun, syarat, dan sunnahnya. Namun, shalat gerhana ini tidak didahului dengan ucapan takbir (tidak seperti shalat Id) karena tidak ada riwayat mengenai ucapan takbir ini dalam shalat gerhana. Isi khutbah gerhana adalah memotivasi untuk bertaubat dan berbuat baik.   Referensi: Mu’nis Al-Jaliis bi Syarh Al-Yaquut An-Nafiis li Al-‘Allaamah Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri. Cetakan pertama, Tahun 1442 H. Syaikh Musthafa bin Ahmad bin ‘Abdin Nabi Abu Hamzah Asy-Syafi’i. Penerbit Daar Adh-Dhiyaa’. 1:246-248.   Baca juga: Gerhana Tidak Terlihat Berarti Tidak Ada Shalat Gerhana Tata Cara Shalat Gerhana Boleh Shalat Gerhana Seorang Diri Amalan Saat Terjadi Gerhana Khutbah Shalat Gerhana dari Syaikh Shalih Al-Fauzan   Semoga menjadi catatan ilmu yang manfaat.   – Disusun saat perjalanan Panggang – Jogja, 13 Rabiul Akhir 1444 H, 8 November 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat gerhana shalat gerhana tata cara shalat gerhana

Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2022

Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 690 juta kali.  Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mulai tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 15.539Jumlah Subscribers :  3.651.897Total Tayangan Video (Total Views) :  589.103.780 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 110 videoTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 8.113.244 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 1.021.209,5 JamPenambahan Subscribers : 32.613 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 133 video. Channel YouTube YUFID EDU (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1773Jumlah Subscribers : 275.924Total Tayangan Video (Total Views) :  18.614.786 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 16 videoTayangan Rentang Oktober (Views/Month) : 173.634 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 8.982,6 JamPenambahan Subscribers : 1.943 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 53 video. Channel YouTube YUFID KIDS (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 72Jumlah Subscribers : 298.791Total Tayangan Video (Total Views) : 82.636.146 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 2.729.219 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 172.390,5 JamPenambahan Subscribers : 7.544 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  4. Channel YouTube Dunia Mengaji (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.187Total Tayangan Video (Total Views) : 419.078 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 3.167 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 647,2 JamPenambahan Subscribers : 36 Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 354Jumlah Subscribers : 27.800Total Tayangan Video (Total Views) : 1.139.801 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 19.225 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 400 Instagram Yufid TV (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 3.005Total Pengikut : 1.127.372Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 8.542 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 63 konten. Instagram Yufid Network (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 3.027Total Pengikut : 489.256Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 3.567 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 26 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022, video Motion Graphic dan Yufid Kids telah mempublikasikan 1 video.  Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.820 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1746 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 14 artikel.  Website KisahMuslim.com (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1054 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Pada produksi terakhir bulan Agustus 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website KhotbahJumat.com (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1177 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website PengusahaMuslim.com (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2470 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Pada produksi terakhir bulan Agustus 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website Kajian.net (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan September 2022 yaitu 22.001 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Oktober 2022 ini saja telah didengarkan 46.036 kali dan telah di download sebanyak 2.367 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1.920.324 kata dengan rata-rata produksi per bulan 40 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 77.407 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam menjadi audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 1.877 artikel dengan total durasi audio 141 jam dengan rata-rata perekaman 18 artikel per bulan, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan Oktober 2022 yaitu 76 artikel dengan jumlah durasi 8,5 jam.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. 🔍 Sidratul Muntaha, Jual Beli Di Masjid, Arti Mimpi Bertemu Kekasih, Surat Waqiah Pembuka Rezeki, Roh Manusia Sebelum Lahir, Sholat Jama Qoshor Visited 2 times, 1 visit(s) today Post Views: 178 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2022

Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 690 juta kali.  Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mulai tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 15.539Jumlah Subscribers :  3.651.897Total Tayangan Video (Total Views) :  589.103.780 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 110 videoTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 8.113.244 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 1.021.209,5 JamPenambahan Subscribers : 32.613 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 133 video. Channel YouTube YUFID EDU (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1773Jumlah Subscribers : 275.924Total Tayangan Video (Total Views) :  18.614.786 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 16 videoTayangan Rentang Oktober (Views/Month) : 173.634 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 8.982,6 JamPenambahan Subscribers : 1.943 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 53 video. Channel YouTube YUFID KIDS (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 72Jumlah Subscribers : 298.791Total Tayangan Video (Total Views) : 82.636.146 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 2.729.219 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 172.390,5 JamPenambahan Subscribers : 7.544 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  4. Channel YouTube Dunia Mengaji (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.187Total Tayangan Video (Total Views) : 419.078 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 3.167 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 647,2 JamPenambahan Subscribers : 36 Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 354Jumlah Subscribers : 27.800Total Tayangan Video (Total Views) : 1.139.801 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 19.225 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 400 Instagram Yufid TV (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 3.005Total Pengikut : 1.127.372Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 8.542 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 63 konten. Instagram Yufid Network (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 3.027Total Pengikut : 489.256Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 3.567 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 26 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022, video Motion Graphic dan Yufid Kids telah mempublikasikan 1 video.  Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.820 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1746 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 14 artikel.  Website KisahMuslim.com (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1054 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Pada produksi terakhir bulan Agustus 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website KhotbahJumat.com (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1177 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website PengusahaMuslim.com (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2470 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Pada produksi terakhir bulan Agustus 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website Kajian.net (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan September 2022 yaitu 22.001 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Oktober 2022 ini saja telah didengarkan 46.036 kali dan telah di download sebanyak 2.367 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1.920.324 kata dengan rata-rata produksi per bulan 40 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 77.407 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam menjadi audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 1.877 artikel dengan total durasi audio 141 jam dengan rata-rata perekaman 18 artikel per bulan, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan Oktober 2022 yaitu 76 artikel dengan jumlah durasi 8,5 jam.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. 🔍 Sidratul Muntaha, Jual Beli Di Masjid, Arti Mimpi Bertemu Kekasih, Surat Waqiah Pembuka Rezeki, Roh Manusia Sebelum Lahir, Sholat Jama Qoshor Visited 2 times, 1 visit(s) today Post Views: 178 QRIS donasi Yufid
Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 690 juta kali.  Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mulai tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 15.539Jumlah Subscribers :  3.651.897Total Tayangan Video (Total Views) :  589.103.780 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 110 videoTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 8.113.244 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 1.021.209,5 JamPenambahan Subscribers : 32.613 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 133 video. Channel YouTube YUFID EDU (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1773Jumlah Subscribers : 275.924Total Tayangan Video (Total Views) :  18.614.786 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 16 videoTayangan Rentang Oktober (Views/Month) : 173.634 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 8.982,6 JamPenambahan Subscribers : 1.943 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 53 video. Channel YouTube YUFID KIDS (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 72Jumlah Subscribers : 298.791Total Tayangan Video (Total Views) : 82.636.146 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 2.729.219 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 172.390,5 JamPenambahan Subscribers : 7.544 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  4. Channel YouTube Dunia Mengaji (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.187Total Tayangan Video (Total Views) : 419.078 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 3.167 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 647,2 JamPenambahan Subscribers : 36 Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 354Jumlah Subscribers : 27.800Total Tayangan Video (Total Views) : 1.139.801 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 19.225 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 400 Instagram Yufid TV (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 3.005Total Pengikut : 1.127.372Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 8.542 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 63 konten. Instagram Yufid Network (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 3.027Total Pengikut : 489.256Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 3.567 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 26 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022, video Motion Graphic dan Yufid Kids telah mempublikasikan 1 video.  Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.820 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1746 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 14 artikel.  Website KisahMuslim.com (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1054 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Pada produksi terakhir bulan Agustus 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website KhotbahJumat.com (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1177 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website PengusahaMuslim.com (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2470 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Pada produksi terakhir bulan Agustus 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website Kajian.net (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan September 2022 yaitu 22.001 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Oktober 2022 ini saja telah didengarkan 46.036 kali dan telah di download sebanyak 2.367 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1.920.324 kata dengan rata-rata produksi per bulan 40 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 77.407 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam menjadi audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 1.877 artikel dengan total durasi audio 141 jam dengan rata-rata perekaman 18 artikel per bulan, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan Oktober 2022 yaitu 76 artikel dengan jumlah durasi 8,5 jam.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. 🔍 Sidratul Muntaha, Jual Beli Di Masjid, Arti Mimpi Bertemu Kekasih, Surat Waqiah Pembuka Rezeki, Roh Manusia Sebelum Lahir, Sholat Jama Qoshor Visited 2 times, 1 visit(s) today Post Views: 178 QRIS donasi Yufid


Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 690 juta kali.  Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mulai tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 15.539Jumlah Subscribers :  3.651.897Total Tayangan Video (Total Views) :  589.103.780 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 110 videoTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 8.113.244 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 1.021.209,5 JamPenambahan Subscribers : 32.613 <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2022/11/1.png" alt="" class="wp-image-208" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 133 video. Channel YouTube YUFID EDU (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1773Jumlah Subscribers : 275.924Total Tayangan Video (Total Views) :  18.614.786 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 16 videoTayangan Rentang Oktober (Views/Month) : 173.634 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 8.982,6 JamPenambahan Subscribers : 1.943 <img decoding="async" src="https://lh6.googleusercontent.com/V0g_K8JD6lgqrPi0Sn6f8Y-ycXQjbn59wm6FaEvOIkdqyepQxcXxJ-JeHi7E2jDYYSwh9V-3SvTWHiciPbqiwsw6CugYmmPinozZm979C4IMuW0_3Poz_Kp7w_-6MtLbrfhu1V5v5Dk6He1vVWk4UkxjMLGp8r_XRL58hyXD15UpxV4EJXooU_SprlI1sA" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 53 video. Channel YouTube YUFID KIDS (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 72Jumlah Subscribers : 298.791Total Tayangan Video (Total Views) : 82.636.146 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 2.729.219 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 172.390,5 JamPenambahan Subscribers : 7.544 <img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/zzf8vcDH1Ax0jd_-Pd1B3E_O-XsFtm0WlosMJyRTb2g3TR5K7d1_CZtdDupewazUd6vl1-h1u79qk5tdNeP71NB-_0p4pVHp3WMogUZ6rRj_2d9tLoWvyF1W74yEbIAkzPkJfcBeXYERTAlTdJN0uS0zwZuS38x3IXlsxTErqdHLpoP9V-jSQwsYzSEaCQ" alt="" width="512" height="384"/>Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  4. Channel YouTube Dunia Mengaji (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.187Total Tayangan Video (Total Views) : 419.078 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 3.167 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) : 647,2 JamPenambahan Subscribers : 36 Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 354Jumlah Subscribers : 27.800Total Tayangan Video (Total Views) : 1.139.801 kali ditontonRata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video Rentang Oktober (Views/Month) : 19.225 kali ditontonJam Tayang Video Rentang Oktober (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 400 Instagram Yufid TV (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 3.005Total Pengikut : 1.127.372Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 8.542 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/O2EIObmsd0_J61mrGeW6WoAhG1x_x3Tr2XpTYSKkifA7Ed2I82R67jEArV25HtpTI3qNmsXuZOiTzSSQBDNlzzjoh_mvI3oPilWmKpk_fDWY9EXdTqDUsebEnfIt7kX0AES7LfRWDO1HfTfo3T8RiYG2nAHZVjrNnNltZghxOv8DUtIhSMKR0Hhmrmj4MA" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 63 konten. Instagram Yufid Network (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 3.027Total Pengikut : 489.256Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 3.567 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/kipMkMnewBgEG8yeVVPIRwDJl9bVRyPjjlMK3Pl5MpKrHMM0nmdyVY05w7s8HblkRkCvl8K4VD5wdlzq3cvDlaTTMcA881vBdOjjTofCxR7T5mRu_eeB3lMvbOijU4hQFbtEmmrJLbfEIoPk2QekUCiYP_oGJc8i88xr0n8cBzOd5ZI7GHImxI-rRMvBcQ" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 26 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/B3RA8ZzbMVs7PvqxxDL_priJGOauXgOdxndM06I0tm7J8eMHJJY5-ane3ieUhBmCksI067BpKrMbP4ZZyhfVN-UczaOL0utBq-qxgd3M3sKE3eckqFiwbI-nZXMCiMUIfEwA-kDVfH67CedjnwG5DcNepQ4MMfZB_b2KY7MJlTPRaDcjdjtcpZbnbBRBFA" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022, video Motion Graphic dan Yufid Kids telah mempublikasikan 1 video.  Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.820 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1746 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 14 artikel.  Website KisahMuslim.com (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1054 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Pada produksi terakhir bulan Agustus 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website KhotbahJumat.com (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1177 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website PengusahaMuslim.com (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2470 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Pada produksi terakhir bulan Agustus 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website Kajian.net (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan September 2022 yaitu 22.001 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Oktober 2022 ini saja telah didengarkan 46.036 kali dan telah di download sebanyak 2.367 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1.920.324 kata dengan rata-rata produksi per bulan 40 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 77.407 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam menjadi audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 1.877 artikel dengan total durasi audio 141 jam dengan rata-rata perekaman 18 artikel per bulan, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan Oktober 2022 yaitu 76 artikel dengan jumlah durasi 8,5 jam.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. 🔍 Sidratul Muntaha, Jual Beli Di Masjid, Arti Mimpi Bertemu Kekasih, Surat Waqiah Pembuka Rezeki, Roh Manusia Sebelum Lahir, Sholat Jama Qoshor Visited 2 times, 1 visit(s) today Post Views: 178 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Peringatan Untuk Qari dan Pemegang Sanad al-Quran – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Mengambil ijazah sanad al-Quran adalah hal yang bagus, baik itu dalam bentuk tertulis maupun lisan.Tujuannya adalah agar kamu berusaha untuk mempelajari al-Quran dengan cara yang benar. Adapun jika ia mengambil ijazah, tapi tetap saja membaca seperti ini: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iiiiiiiiiin.”Ia tidak boleh membacanya seperti ini. Berapa huruf Ya’ (ي) yang ia baca?Berapa Ya’ (ي) yang ia baca pada “Nasta’iin (نَسْتَعِينُ)”? Padahal huruf Ya’ ada berapa?Hanya ada satu huruf Ya’ (ي).Hukumnya di sini boleh dibaca dua, empat, atau enam harakat, karena ia mad ‘aridh lissukun. Tapi jika ada orang yang membacanya dengan huruf Ya’ (ي) banyak sekali, maka meskipun ia punya ijazah sanad, itu tidak berguna baginya.Maksud dari ijazah bukanlah agar kamu dapat mengatakan, “Aku sudah talaqqi dari Syaikh Fulan.” Namun maksudnya adalah agar kamu membaca al-Quran, sebagaimana bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andai ada orang yang membaca al-Quran seperti bacaan Rasul, meski tidak punya ijazah,maka ia lebih baik daripada sepenuh bumi orang yang punya banyak ijazah,tetapi ia membaca al-Quran dengan cara yang tidak sesuai dengan bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== وَأَمَّا أَخْذُ الْإِجَازَةِ فَهَذَا حَسَنٌ سَوَاءٌ كَانَتْ كِتَابَةً أَوْ كَانَتْ مَلْفُوْظَةً الْمَقْصُودُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى تَلَقِّي الْقُرْآنِ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ أَمَّا يَأْخُذُ إِجَازَةً وَيَأْتِي وَيَقْرَأُ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ هَذَا مَا يَجُوزُ أَنْ يَقْرَأَهَا هَكَذَا كَمْ يَاءً قَرَأَ هَذَا؟ كَمْ يَاءً قَرَأَ نَسْتَعِينُ؟ كَمْ فِيهَا يَاءً؟ يَاءٌ وَاحِدَةٌ وَفِيهَا إِمَّا الْقَصْرُ وَإِمَّا التَّوَسُّطُ وَإِمَّا الْمَدُّ لِأَنَّهَا عَارِضٌ لِلسُّكُونِ لَكِنْ يَأْتِي الْإِنْسَانُ وَيَضَعُ عِدَّةَ يَاءَاتٍ هَذَا لَوْ مَعَهُ إِجَازَةٌ مَا تَنْفَعُهُ لَيْسَ الْمَقْصُودُ بِالْإِجَازَةِ أَنْ تَقُولَ أَنَا قَرَأْتُ عَلَى الشَّيْخِ الْفُلَانِيِّ الْمَقْصُودُ أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ كَمَا قَرَأَهُ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجُلٌ يَقْرَأُهُ كَذَلِكَ لَا إِجَازَةَ مَعَهُ خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الأَرْضِ مِمَّنْ مَعَهُمْ إِجَازَاتٌ وَيَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ عَلَى غَيْرِ مَا قَرَأَهُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Peringatan Untuk Qari dan Pemegang Sanad al-Quran – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Mengambil ijazah sanad al-Quran adalah hal yang bagus, baik itu dalam bentuk tertulis maupun lisan.Tujuannya adalah agar kamu berusaha untuk mempelajari al-Quran dengan cara yang benar. Adapun jika ia mengambil ijazah, tapi tetap saja membaca seperti ini: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iiiiiiiiiin.”Ia tidak boleh membacanya seperti ini. Berapa huruf Ya’ (ي) yang ia baca?Berapa Ya’ (ي) yang ia baca pada “Nasta’iin (نَسْتَعِينُ)”? Padahal huruf Ya’ ada berapa?Hanya ada satu huruf Ya’ (ي).Hukumnya di sini boleh dibaca dua, empat, atau enam harakat, karena ia mad ‘aridh lissukun. Tapi jika ada orang yang membacanya dengan huruf Ya’ (ي) banyak sekali, maka meskipun ia punya ijazah sanad, itu tidak berguna baginya.Maksud dari ijazah bukanlah agar kamu dapat mengatakan, “Aku sudah talaqqi dari Syaikh Fulan.” Namun maksudnya adalah agar kamu membaca al-Quran, sebagaimana bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andai ada orang yang membaca al-Quran seperti bacaan Rasul, meski tidak punya ijazah,maka ia lebih baik daripada sepenuh bumi orang yang punya banyak ijazah,tetapi ia membaca al-Quran dengan cara yang tidak sesuai dengan bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== وَأَمَّا أَخْذُ الْإِجَازَةِ فَهَذَا حَسَنٌ سَوَاءٌ كَانَتْ كِتَابَةً أَوْ كَانَتْ مَلْفُوْظَةً الْمَقْصُودُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى تَلَقِّي الْقُرْآنِ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ أَمَّا يَأْخُذُ إِجَازَةً وَيَأْتِي وَيَقْرَأُ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ هَذَا مَا يَجُوزُ أَنْ يَقْرَأَهَا هَكَذَا كَمْ يَاءً قَرَأَ هَذَا؟ كَمْ يَاءً قَرَأَ نَسْتَعِينُ؟ كَمْ فِيهَا يَاءً؟ يَاءٌ وَاحِدَةٌ وَفِيهَا إِمَّا الْقَصْرُ وَإِمَّا التَّوَسُّطُ وَإِمَّا الْمَدُّ لِأَنَّهَا عَارِضٌ لِلسُّكُونِ لَكِنْ يَأْتِي الْإِنْسَانُ وَيَضَعُ عِدَّةَ يَاءَاتٍ هَذَا لَوْ مَعَهُ إِجَازَةٌ مَا تَنْفَعُهُ لَيْسَ الْمَقْصُودُ بِالْإِجَازَةِ أَنْ تَقُولَ أَنَا قَرَأْتُ عَلَى الشَّيْخِ الْفُلَانِيِّ الْمَقْصُودُ أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ كَمَا قَرَأَهُ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجُلٌ يَقْرَأُهُ كَذَلِكَ لَا إِجَازَةَ مَعَهُ خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الأَرْضِ مِمَّنْ مَعَهُمْ إِجَازَاتٌ وَيَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ عَلَى غَيْرِ مَا قَرَأَهُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Mengambil ijazah sanad al-Quran adalah hal yang bagus, baik itu dalam bentuk tertulis maupun lisan.Tujuannya adalah agar kamu berusaha untuk mempelajari al-Quran dengan cara yang benar. Adapun jika ia mengambil ijazah, tapi tetap saja membaca seperti ini: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iiiiiiiiiin.”Ia tidak boleh membacanya seperti ini. Berapa huruf Ya’ (ي) yang ia baca?Berapa Ya’ (ي) yang ia baca pada “Nasta’iin (نَسْتَعِينُ)”? Padahal huruf Ya’ ada berapa?Hanya ada satu huruf Ya’ (ي).Hukumnya di sini boleh dibaca dua, empat, atau enam harakat, karena ia mad ‘aridh lissukun. Tapi jika ada orang yang membacanya dengan huruf Ya’ (ي) banyak sekali, maka meskipun ia punya ijazah sanad, itu tidak berguna baginya.Maksud dari ijazah bukanlah agar kamu dapat mengatakan, “Aku sudah talaqqi dari Syaikh Fulan.” Namun maksudnya adalah agar kamu membaca al-Quran, sebagaimana bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andai ada orang yang membaca al-Quran seperti bacaan Rasul, meski tidak punya ijazah,maka ia lebih baik daripada sepenuh bumi orang yang punya banyak ijazah,tetapi ia membaca al-Quran dengan cara yang tidak sesuai dengan bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== وَأَمَّا أَخْذُ الْإِجَازَةِ فَهَذَا حَسَنٌ سَوَاءٌ كَانَتْ كِتَابَةً أَوْ كَانَتْ مَلْفُوْظَةً الْمَقْصُودُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى تَلَقِّي الْقُرْآنِ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ أَمَّا يَأْخُذُ إِجَازَةً وَيَأْتِي وَيَقْرَأُ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ هَذَا مَا يَجُوزُ أَنْ يَقْرَأَهَا هَكَذَا كَمْ يَاءً قَرَأَ هَذَا؟ كَمْ يَاءً قَرَأَ نَسْتَعِينُ؟ كَمْ فِيهَا يَاءً؟ يَاءٌ وَاحِدَةٌ وَفِيهَا إِمَّا الْقَصْرُ وَإِمَّا التَّوَسُّطُ وَإِمَّا الْمَدُّ لِأَنَّهَا عَارِضٌ لِلسُّكُونِ لَكِنْ يَأْتِي الْإِنْسَانُ وَيَضَعُ عِدَّةَ يَاءَاتٍ هَذَا لَوْ مَعَهُ إِجَازَةٌ مَا تَنْفَعُهُ لَيْسَ الْمَقْصُودُ بِالْإِجَازَةِ أَنْ تَقُولَ أَنَا قَرَأْتُ عَلَى الشَّيْخِ الْفُلَانِيِّ الْمَقْصُودُ أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ كَمَا قَرَأَهُ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجُلٌ يَقْرَأُهُ كَذَلِكَ لَا إِجَازَةَ مَعَهُ خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الأَرْضِ مِمَّنْ مَعَهُمْ إِجَازَاتٌ وَيَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ عَلَى غَيْرِ مَا قَرَأَهُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Mengambil ijazah sanad al-Quran adalah hal yang bagus, baik itu dalam bentuk tertulis maupun lisan.Tujuannya adalah agar kamu berusaha untuk mempelajari al-Quran dengan cara yang benar. Adapun jika ia mengambil ijazah, tapi tetap saja membaca seperti ini: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iiiiiiiiiin.”Ia tidak boleh membacanya seperti ini. Berapa huruf Ya’ (ي) yang ia baca?Berapa Ya’ (ي) yang ia baca pada “Nasta’iin (نَسْتَعِينُ)”? Padahal huruf Ya’ ada berapa?Hanya ada satu huruf Ya’ (ي).Hukumnya di sini boleh dibaca dua, empat, atau enam harakat, karena ia mad ‘aridh lissukun. Tapi jika ada orang yang membacanya dengan huruf Ya’ (ي) banyak sekali, maka meskipun ia punya ijazah sanad, itu tidak berguna baginya.Maksud dari ijazah bukanlah agar kamu dapat mengatakan, “Aku sudah talaqqi dari Syaikh Fulan.” Namun maksudnya adalah agar kamu membaca al-Quran, sebagaimana bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andai ada orang yang membaca al-Quran seperti bacaan Rasul, meski tidak punya ijazah,maka ia lebih baik daripada sepenuh bumi orang yang punya banyak ijazah,tetapi ia membaca al-Quran dengan cara yang tidak sesuai dengan bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== وَأَمَّا أَخْذُ الْإِجَازَةِ فَهَذَا حَسَنٌ سَوَاءٌ كَانَتْ كِتَابَةً أَوْ كَانَتْ مَلْفُوْظَةً الْمَقْصُودُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى تَلَقِّي الْقُرْآنِ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ أَمَّا يَأْخُذُ إِجَازَةً وَيَأْتِي وَيَقْرَأُ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ هَذَا مَا يَجُوزُ أَنْ يَقْرَأَهَا هَكَذَا كَمْ يَاءً قَرَأَ هَذَا؟ كَمْ يَاءً قَرَأَ نَسْتَعِينُ؟ كَمْ فِيهَا يَاءً؟ يَاءٌ وَاحِدَةٌ وَفِيهَا إِمَّا الْقَصْرُ وَإِمَّا التَّوَسُّطُ وَإِمَّا الْمَدُّ لِأَنَّهَا عَارِضٌ لِلسُّكُونِ لَكِنْ يَأْتِي الْإِنْسَانُ وَيَضَعُ عِدَّةَ يَاءَاتٍ هَذَا لَوْ مَعَهُ إِجَازَةٌ مَا تَنْفَعُهُ لَيْسَ الْمَقْصُودُ بِالْإِجَازَةِ أَنْ تَقُولَ أَنَا قَرَأْتُ عَلَى الشَّيْخِ الْفُلَانِيِّ الْمَقْصُودُ أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ كَمَا قَرَأَهُ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجُلٌ يَقْرَأُهُ كَذَلِكَ لَا إِجَازَةَ مَعَهُ خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الأَرْضِ مِمَّنْ مَعَهُمْ إِجَازَاتٌ وَيَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ عَلَى غَيْرِ مَا قَرَأَهُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Perbedaan Cara Duduk dan Sujud bagi Wanita

Para pembaca rahimakumullah, perlu diketahui bahwa pada asalnya, tata cara salat laki-laki dan wanita itu sama. Namun, ada perbedaan pada beberapa bagian saja. Salah satunya pada tata cara duduk dan sujud.Ketika sujud, kita dianjurkan untuk melebarkan anggota-anggota badan. Sebagaimana dalam hadis dari Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ’anhu, ia berkata,أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان إذا صلَّى فرَّج بين يديهِ، حتى يبدوَ بياضُ إبْطَيه“Ketika Nabi shallallahu ’alaihi wasallam salat, beliau melebarkan kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau.” (HR. Bukhari no. 390 dan Muslim no. 495)Demikian pula dalam dalam hadis dari Al-Barra bin Azib radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إذا سجَدْتَ فضَعْ كفَّيْكَ وارفَعْ مِرْفَقَيْكَ“Jika engkau sujud, maka letakkan kedua tanganmu di lantai dan angkat sikumu.” (HR. Muslim no. 494)Namun, anjuran ini khusus bagi laki-laki!Adapun bagi wanita, dianjurkan untuk tidak melebarkan tangan dan dianjurkan merapatkan tangannya ke badan. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat dari para sahabat Nabi berikut ini,عن ابن عباس أنه سئل عن صلاة المرأة فقال: تجتمع وتحتفز“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau ditanya tentang salatnya wanita. Beliau lalu menjawab, ‘Hendaknya mereka merapatkan dan mendekatkan anggota-anggota badannya.'” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 2/124/2791, sanadnya hasan)عن نافع عن ابن عمر أنه سئل كيف كن النساء يصلين على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم. قال: كن يتربعن ثم أمرن أن يحتفزن“Dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah ditanya bagaimana dahulu para sahabiyah salat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Umar menjawab, ‘Mereka duduk merapatkan kakinya dan mereka diperintahkan untuk merapatkan anggota badannya ketika sujud.'” (HR. Abu Hanifah dalam Musnad-nya, sanadnya sahih)Baca Juga: Perbanyaklah Bersujud kepada AllahIni juga yang dipahami Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah, beliau mengatakan,إذا سجدت المرأة فلتضمّ فخذيها ولتضع بطنها عليهما“Jika wanita sujud, maka hendaknya ia merapatkan pahanya dan mendekatkan pahanya dengan badannya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 1/303/290)Tujuan ini semua agar aurat wanita lebih terjaga dan agar tidak menjadi fitnah (godaan). Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan,الأصل أن يثبت في حق المرأة من أحكام الصلاة ما ثبت للرجال ، لأن الخطاب يشملها غير أنها خالفته في ترك التجافي ، لأنها عورة ، فاستحب لها جَمْع نفسها ليكون أستر لها ، فإنه لا يؤمن أن يبدو منها شيء حال التجافي“Hukum asalnya, hukum salat yang berlaku bagi wanita itu sama dengan apa yang berlaku bagi laki-laki. Karena yang dituju oleh dalil itu juga mencakup wanita. Kecuali, perbedaan bagi wanita ialah mereka dianjurkan untuk tidak melebarkan anggota badan. Karena wanita adalah aurat. Maka dianjurkan untuk merapatkan anggota-anggota badannya, agar lebih tertutup auratnya. Karena ada resiko tersingkap bagian auratnya ketika ia melebarkan anggota-anggota badannya.” (Al-Mughni, 1: 632).Wallahu a’lam, semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Hukum Menjawab Salam ketika Sedang SujudApakah Dahi Wajib Menempel Langsung Ke Lantai Ketika Sujud?***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Nasehat Ulama Tentang Kematian, Bukti Syiah Sesat, Calon Suami Idaman Menurut Islam, Solat AsharTags: cara shalatfikihfikih shalatgerakan shalatkeutamaan shalatkewajiban shalatnasihatnasihat islampanduan shalatshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat

Perbedaan Cara Duduk dan Sujud bagi Wanita

Para pembaca rahimakumullah, perlu diketahui bahwa pada asalnya, tata cara salat laki-laki dan wanita itu sama. Namun, ada perbedaan pada beberapa bagian saja. Salah satunya pada tata cara duduk dan sujud.Ketika sujud, kita dianjurkan untuk melebarkan anggota-anggota badan. Sebagaimana dalam hadis dari Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ’anhu, ia berkata,أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان إذا صلَّى فرَّج بين يديهِ، حتى يبدوَ بياضُ إبْطَيه“Ketika Nabi shallallahu ’alaihi wasallam salat, beliau melebarkan kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau.” (HR. Bukhari no. 390 dan Muslim no. 495)Demikian pula dalam dalam hadis dari Al-Barra bin Azib radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إذا سجَدْتَ فضَعْ كفَّيْكَ وارفَعْ مِرْفَقَيْكَ“Jika engkau sujud, maka letakkan kedua tanganmu di lantai dan angkat sikumu.” (HR. Muslim no. 494)Namun, anjuran ini khusus bagi laki-laki!Adapun bagi wanita, dianjurkan untuk tidak melebarkan tangan dan dianjurkan merapatkan tangannya ke badan. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat dari para sahabat Nabi berikut ini,عن ابن عباس أنه سئل عن صلاة المرأة فقال: تجتمع وتحتفز“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau ditanya tentang salatnya wanita. Beliau lalu menjawab, ‘Hendaknya mereka merapatkan dan mendekatkan anggota-anggota badannya.'” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 2/124/2791, sanadnya hasan)عن نافع عن ابن عمر أنه سئل كيف كن النساء يصلين على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم. قال: كن يتربعن ثم أمرن أن يحتفزن“Dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah ditanya bagaimana dahulu para sahabiyah salat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Umar menjawab, ‘Mereka duduk merapatkan kakinya dan mereka diperintahkan untuk merapatkan anggota badannya ketika sujud.'” (HR. Abu Hanifah dalam Musnad-nya, sanadnya sahih)Baca Juga: Perbanyaklah Bersujud kepada AllahIni juga yang dipahami Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah, beliau mengatakan,إذا سجدت المرأة فلتضمّ فخذيها ولتضع بطنها عليهما“Jika wanita sujud, maka hendaknya ia merapatkan pahanya dan mendekatkan pahanya dengan badannya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 1/303/290)Tujuan ini semua agar aurat wanita lebih terjaga dan agar tidak menjadi fitnah (godaan). Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan,الأصل أن يثبت في حق المرأة من أحكام الصلاة ما ثبت للرجال ، لأن الخطاب يشملها غير أنها خالفته في ترك التجافي ، لأنها عورة ، فاستحب لها جَمْع نفسها ليكون أستر لها ، فإنه لا يؤمن أن يبدو منها شيء حال التجافي“Hukum asalnya, hukum salat yang berlaku bagi wanita itu sama dengan apa yang berlaku bagi laki-laki. Karena yang dituju oleh dalil itu juga mencakup wanita. Kecuali, perbedaan bagi wanita ialah mereka dianjurkan untuk tidak melebarkan anggota badan. Karena wanita adalah aurat. Maka dianjurkan untuk merapatkan anggota-anggota badannya, agar lebih tertutup auratnya. Karena ada resiko tersingkap bagian auratnya ketika ia melebarkan anggota-anggota badannya.” (Al-Mughni, 1: 632).Wallahu a’lam, semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Hukum Menjawab Salam ketika Sedang SujudApakah Dahi Wajib Menempel Langsung Ke Lantai Ketika Sujud?***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Nasehat Ulama Tentang Kematian, Bukti Syiah Sesat, Calon Suami Idaman Menurut Islam, Solat AsharTags: cara shalatfikihfikih shalatgerakan shalatkeutamaan shalatkewajiban shalatnasihatnasihat islampanduan shalatshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat
Para pembaca rahimakumullah, perlu diketahui bahwa pada asalnya, tata cara salat laki-laki dan wanita itu sama. Namun, ada perbedaan pada beberapa bagian saja. Salah satunya pada tata cara duduk dan sujud.Ketika sujud, kita dianjurkan untuk melebarkan anggota-anggota badan. Sebagaimana dalam hadis dari Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ’anhu, ia berkata,أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان إذا صلَّى فرَّج بين يديهِ، حتى يبدوَ بياضُ إبْطَيه“Ketika Nabi shallallahu ’alaihi wasallam salat, beliau melebarkan kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau.” (HR. Bukhari no. 390 dan Muslim no. 495)Demikian pula dalam dalam hadis dari Al-Barra bin Azib radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إذا سجَدْتَ فضَعْ كفَّيْكَ وارفَعْ مِرْفَقَيْكَ“Jika engkau sujud, maka letakkan kedua tanganmu di lantai dan angkat sikumu.” (HR. Muslim no. 494)Namun, anjuran ini khusus bagi laki-laki!Adapun bagi wanita, dianjurkan untuk tidak melebarkan tangan dan dianjurkan merapatkan tangannya ke badan. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat dari para sahabat Nabi berikut ini,عن ابن عباس أنه سئل عن صلاة المرأة فقال: تجتمع وتحتفز“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau ditanya tentang salatnya wanita. Beliau lalu menjawab, ‘Hendaknya mereka merapatkan dan mendekatkan anggota-anggota badannya.'” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 2/124/2791, sanadnya hasan)عن نافع عن ابن عمر أنه سئل كيف كن النساء يصلين على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم. قال: كن يتربعن ثم أمرن أن يحتفزن“Dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah ditanya bagaimana dahulu para sahabiyah salat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Umar menjawab, ‘Mereka duduk merapatkan kakinya dan mereka diperintahkan untuk merapatkan anggota badannya ketika sujud.'” (HR. Abu Hanifah dalam Musnad-nya, sanadnya sahih)Baca Juga: Perbanyaklah Bersujud kepada AllahIni juga yang dipahami Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah, beliau mengatakan,إذا سجدت المرأة فلتضمّ فخذيها ولتضع بطنها عليهما“Jika wanita sujud, maka hendaknya ia merapatkan pahanya dan mendekatkan pahanya dengan badannya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 1/303/290)Tujuan ini semua agar aurat wanita lebih terjaga dan agar tidak menjadi fitnah (godaan). Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan,الأصل أن يثبت في حق المرأة من أحكام الصلاة ما ثبت للرجال ، لأن الخطاب يشملها غير أنها خالفته في ترك التجافي ، لأنها عورة ، فاستحب لها جَمْع نفسها ليكون أستر لها ، فإنه لا يؤمن أن يبدو منها شيء حال التجافي“Hukum asalnya, hukum salat yang berlaku bagi wanita itu sama dengan apa yang berlaku bagi laki-laki. Karena yang dituju oleh dalil itu juga mencakup wanita. Kecuali, perbedaan bagi wanita ialah mereka dianjurkan untuk tidak melebarkan anggota badan. Karena wanita adalah aurat. Maka dianjurkan untuk merapatkan anggota-anggota badannya, agar lebih tertutup auratnya. Karena ada resiko tersingkap bagian auratnya ketika ia melebarkan anggota-anggota badannya.” (Al-Mughni, 1: 632).Wallahu a’lam, semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Hukum Menjawab Salam ketika Sedang SujudApakah Dahi Wajib Menempel Langsung Ke Lantai Ketika Sujud?***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Nasehat Ulama Tentang Kematian, Bukti Syiah Sesat, Calon Suami Idaman Menurut Islam, Solat AsharTags: cara shalatfikihfikih shalatgerakan shalatkeutamaan shalatkewajiban shalatnasihatnasihat islampanduan shalatshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat


Para pembaca rahimakumullah, perlu diketahui bahwa pada asalnya, tata cara salat laki-laki dan wanita itu sama. Namun, ada perbedaan pada beberapa bagian saja. Salah satunya pada tata cara duduk dan sujud.Ketika sujud, kita dianjurkan untuk melebarkan anggota-anggota badan. Sebagaimana dalam hadis dari Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ’anhu, ia berkata,أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان إذا صلَّى فرَّج بين يديهِ، حتى يبدوَ بياضُ إبْطَيه“Ketika Nabi shallallahu ’alaihi wasallam salat, beliau melebarkan kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau.” (HR. Bukhari no. 390 dan Muslim no. 495)Demikian pula dalam dalam hadis dari Al-Barra bin Azib radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إذا سجَدْتَ فضَعْ كفَّيْكَ وارفَعْ مِرْفَقَيْكَ“Jika engkau sujud, maka letakkan kedua tanganmu di lantai dan angkat sikumu.” (HR. Muslim no. 494)Namun, anjuran ini khusus bagi laki-laki!Adapun bagi wanita, dianjurkan untuk tidak melebarkan tangan dan dianjurkan merapatkan tangannya ke badan. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat dari para sahabat Nabi berikut ini,عن ابن عباس أنه سئل عن صلاة المرأة فقال: تجتمع وتحتفز“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau ditanya tentang salatnya wanita. Beliau lalu menjawab, ‘Hendaknya mereka merapatkan dan mendekatkan anggota-anggota badannya.'” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 2/124/2791, sanadnya hasan)عن نافع عن ابن عمر أنه سئل كيف كن النساء يصلين على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم. قال: كن يتربعن ثم أمرن أن يحتفزن“Dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah ditanya bagaimana dahulu para sahabiyah salat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Umar menjawab, ‘Mereka duduk merapatkan kakinya dan mereka diperintahkan untuk merapatkan anggota badannya ketika sujud.'” (HR. Abu Hanifah dalam Musnad-nya, sanadnya sahih)Baca Juga: Perbanyaklah Bersujud kepada AllahIni juga yang dipahami Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah, beliau mengatakan,إذا سجدت المرأة فلتضمّ فخذيها ولتضع بطنها عليهما“Jika wanita sujud, maka hendaknya ia merapatkan pahanya dan mendekatkan pahanya dengan badannya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 1/303/290)Tujuan ini semua agar aurat wanita lebih terjaga dan agar tidak menjadi fitnah (godaan). Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan,الأصل أن يثبت في حق المرأة من أحكام الصلاة ما ثبت للرجال ، لأن الخطاب يشملها غير أنها خالفته في ترك التجافي ، لأنها عورة ، فاستحب لها جَمْع نفسها ليكون أستر لها ، فإنه لا يؤمن أن يبدو منها شيء حال التجافي“Hukum asalnya, hukum salat yang berlaku bagi wanita itu sama dengan apa yang berlaku bagi laki-laki. Karena yang dituju oleh dalil itu juga mencakup wanita. Kecuali, perbedaan bagi wanita ialah mereka dianjurkan untuk tidak melebarkan anggota badan. Karena wanita adalah aurat. Maka dianjurkan untuk merapatkan anggota-anggota badannya, agar lebih tertutup auratnya. Karena ada resiko tersingkap bagian auratnya ketika ia melebarkan anggota-anggota badannya.” (Al-Mughni, 1: 632).Wallahu a’lam, semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Hukum Menjawab Salam ketika Sedang SujudApakah Dahi Wajib Menempel Langsung Ke Lantai Ketika Sujud?***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Nasehat Ulama Tentang Kematian, Bukti Syiah Sesat, Calon Suami Idaman Menurut Islam, Solat AsharTags: cara shalatfikihfikih shalatgerakan shalatkeutamaan shalatkewajiban shalatnasihatnasihat islampanduan shalatshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat

Umur Berapa Nabi Muhammad Diutus? – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Dalam hadis disebutkan, “Allah mengutus Nabi Muhammad pada usia 40 tahun.”Ibnu Hajar berkata, “Hadis ini dapat sesuai jika menurut pendapat bahwaNabi Muhammad diutus di bulan bulan yang sama dengan bulan kelahirannya.”Bulan apa Nabi ‘alaihissalatu wassalam dilahirkan?Rabi’ul Awwal.Ya, benar.Hadis ini dapat sesuai jika menurut pendapat bahwa Nabi diutus di bulan kelahirannya.Pendapat yang masyhur dari jumhur ulama bahwa Nabi dilahirkan di bulan Rabi’ul Awwal.Pendapat ini mengatakan bahwa beliau dilahirkan di bulan Rabi’ul Awwal, dan diutus menjadi Rasul di bulan Ramadan.Dengan demikian, ketika diutus beliau berusia 40,5 tahunatau 39,5 tahun.Ulama yang berpendapat 40 tahun, berarti ia menggugurkan setengah tahun lebihnya atau membulatkan kurangnya.Yakni jika umur beliau saat itu 40,5 tahun, berarti ia menggugurkan setengah tahun lebihnya.Jika umur beliau 39,5 tahun, berarti ia membulatkan kurangnya.Namun, al-Mas’udi dan Ibnu Abdul Barr berpendapat bahwa Nabi diutus pada bulan Rabi’ul Awwal.Berdasarkan pendapat ini, maka Nabi berusia 40 tahun penuh ketika diutus.Nabi diutus pada bulan Rabi’ul Awwal.Bagaimana bisa keluar pendapat ini?Padahal turunnya al-Quran di bulan Ramadan.“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quransebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk itu serta pembeda.” (QS. Al-Baqarah: 185)Apakah ini dapat sesuai 40 tahun jika kita katakan beliau diutus pada bulan Rabi’ul Awwal?Berapa bulan jarak antara bulan Rabi’ul Awwal dengan Ramadan?Enam bulan.Saya katakan pendapat ini dapat sesuaijika kita katakan bahwa beliau diutus enam bulan sebelum bulan Ramadan,yaitu pada bulan Rabi’ul Awwal, bulan kelahiran beliau ‘alaihissalatu wassalam.Lalu selama enam bulan tersebutbelum ada wahyu yang diturunkan kepada beliau.Namun, hanya sekedar mimpi yang benar,selama enam bulan.Kemudian setelah itu baru diturunkan wahyu pada bulan Ramadan.Tidaklah dulu Nabi melihat mimpi melainkan mimpi itu datang seperti tersingkapnya cahaya subuh.Pendapat ini sesuai jika kita katakan periode mendapatkan mimpi berlangsung selama 6 bulandari seluruh periode turunnya wahyu selama 23 tahun.Perbandingan 6 bulan dari 23 tahun adalahsatu banding berapa?Satu banding empat puluh enam (1:46)Maka dari itulah diriwayatkan dalam hadis bahwa mimpi yang benar itu adalah satu bagiandari 46 bagian.Dengan demikian, riwayat dari hadis Anas dapat kita sesuaikan.Hadis ini sebagaimana kita dengar, berada dalam Shahihain. ==== فِي الْحَدِيثِ يَقُولُ بَعَثَهُ اللهُ عَلَى رَأْسِ أَرْبَعِينَ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ هَذَا إِنَّمَا يَتِمُّ عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّهُ بُعِثَ فِي الشَّهْرِ الَّذِي وُلِدَ فِيهِ فِي أَيِّ شَهْرٍ وُلِدَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟ رَبِيْعُ الْأَوَّلُ نَعَمْ هَذَا إِنَّمَا يَتِمُّ عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّهُ بُعِثَ فِي الشَّهْرِ الَّذِي وُلِدَ فِيهِ وَالْمَشْهُورُ عِنْدَ الْجُمْهُورِ أَنَّهُ وُلِدَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وُلِدَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وَأَنَّهُ بُعِثَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ لَهُ حِينَ بُعِثَ أَرْبَعُونَ سَنَةً وَنِصْفٌ أَوْ تِسْعٌ وَثَلَاثُونَ وَنِصْفٌ فَمَنْ قَالَ أَرْبَعِينَ أَلْغَى الْكَسْرَ أَوِ الْجَبْرَ يَعْنِي إِنْ كَانَ لَهُ أَرْبَعُونَ وَنِصْفٌ أَلْغَى الْكَسْرَ وَإِنْ كَانَ تِسْعٌ وَثَلَاثُوْنَ وَنِصْفٌ جَبَرَ الْكَسْرَ لَكِنْ قَالَ الْمَسْعُودِيُّ وَابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ أَنَّهُ بُعِثَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ لَهُ أَرْبَعُونَ سَنَةً سَوَاءً بُعِثَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ كَيْفَ يُقَالُ مِثْلُ هَذَا؟ وَنُزُولُ الْقُرْآنِ عَلَيْهِ فِي رَمَضَانَ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ يُمْكِنُ أَنْ يَسْتَقِيمَ هَذَا؟ نَقُولُ بُعِثَ رَبِيعَ الْأَوَّلِ؟ كَمْ بَيْنَ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وَرَمَضَانَ؟ سِتَّةُ أَشْهُرٍ أَقُولُ يَتَّجِهُ هَذَا الْقَوْلُ إِذَا قُلْنَا إِنَّهُ بُعِثَ قَبْلَ رَمَضَانَ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فِي رَبِيعٍ فِي شَهْرِ وِلَادَتِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَان خِلَالَ هَذِهِ الْأَشْهُرِ السِّتَّةِ لَمْ يَنْزِلْ عَلَيْهِ فِيهَا شَيْءٌ بَلْ كَانَ ذَلِكَ بِمُجَرَّدِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةِ لِمُدَّةِ سِتَّةِ الْأَشْهُرِ ثُمَّ أُنْزِلَ عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ فِي رَمَضَانَ كَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ وَيَتَّجِهُ هَذَا إِذَا قُلْنَا إِنَّ الرُّؤْيَا مُدَّتُهَا سِتَّةُ أَشْهُرٍ مِنْ مُدَّةِ الْوَحْيِ الثَّلَاثِ وَالْعِشْرِينَ سَنَةً نَعَمْ نِسْبَةُ سِتَّةِ أَشْهُرٍ إِلَى الثَّلَاثِ وَالْعِشْرِينَ وَاحِدٌ عَلَى أَيْش؟ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ وَلِذَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَنَّ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةَ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا وَعَلَى هَذَا يُمْكِنُ تَوْجِيهُ مَا جَاءَ فِي حَدِيثِ أَنَسٍ وَالْحَدِيثُ كَمَا سَمِعْنَا فِي الصَّحِيحَيْنِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Umur Berapa Nabi Muhammad Diutus? – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Dalam hadis disebutkan, “Allah mengutus Nabi Muhammad pada usia 40 tahun.”Ibnu Hajar berkata, “Hadis ini dapat sesuai jika menurut pendapat bahwaNabi Muhammad diutus di bulan bulan yang sama dengan bulan kelahirannya.”Bulan apa Nabi ‘alaihissalatu wassalam dilahirkan?Rabi’ul Awwal.Ya, benar.Hadis ini dapat sesuai jika menurut pendapat bahwa Nabi diutus di bulan kelahirannya.Pendapat yang masyhur dari jumhur ulama bahwa Nabi dilahirkan di bulan Rabi’ul Awwal.Pendapat ini mengatakan bahwa beliau dilahirkan di bulan Rabi’ul Awwal, dan diutus menjadi Rasul di bulan Ramadan.Dengan demikian, ketika diutus beliau berusia 40,5 tahunatau 39,5 tahun.Ulama yang berpendapat 40 tahun, berarti ia menggugurkan setengah tahun lebihnya atau membulatkan kurangnya.Yakni jika umur beliau saat itu 40,5 tahun, berarti ia menggugurkan setengah tahun lebihnya.Jika umur beliau 39,5 tahun, berarti ia membulatkan kurangnya.Namun, al-Mas’udi dan Ibnu Abdul Barr berpendapat bahwa Nabi diutus pada bulan Rabi’ul Awwal.Berdasarkan pendapat ini, maka Nabi berusia 40 tahun penuh ketika diutus.Nabi diutus pada bulan Rabi’ul Awwal.Bagaimana bisa keluar pendapat ini?Padahal turunnya al-Quran di bulan Ramadan.“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quransebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk itu serta pembeda.” (QS. Al-Baqarah: 185)Apakah ini dapat sesuai 40 tahun jika kita katakan beliau diutus pada bulan Rabi’ul Awwal?Berapa bulan jarak antara bulan Rabi’ul Awwal dengan Ramadan?Enam bulan.Saya katakan pendapat ini dapat sesuaijika kita katakan bahwa beliau diutus enam bulan sebelum bulan Ramadan,yaitu pada bulan Rabi’ul Awwal, bulan kelahiran beliau ‘alaihissalatu wassalam.Lalu selama enam bulan tersebutbelum ada wahyu yang diturunkan kepada beliau.Namun, hanya sekedar mimpi yang benar,selama enam bulan.Kemudian setelah itu baru diturunkan wahyu pada bulan Ramadan.Tidaklah dulu Nabi melihat mimpi melainkan mimpi itu datang seperti tersingkapnya cahaya subuh.Pendapat ini sesuai jika kita katakan periode mendapatkan mimpi berlangsung selama 6 bulandari seluruh periode turunnya wahyu selama 23 tahun.Perbandingan 6 bulan dari 23 tahun adalahsatu banding berapa?Satu banding empat puluh enam (1:46)Maka dari itulah diriwayatkan dalam hadis bahwa mimpi yang benar itu adalah satu bagiandari 46 bagian.Dengan demikian, riwayat dari hadis Anas dapat kita sesuaikan.Hadis ini sebagaimana kita dengar, berada dalam Shahihain. ==== فِي الْحَدِيثِ يَقُولُ بَعَثَهُ اللهُ عَلَى رَأْسِ أَرْبَعِينَ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ هَذَا إِنَّمَا يَتِمُّ عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّهُ بُعِثَ فِي الشَّهْرِ الَّذِي وُلِدَ فِيهِ فِي أَيِّ شَهْرٍ وُلِدَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟ رَبِيْعُ الْأَوَّلُ نَعَمْ هَذَا إِنَّمَا يَتِمُّ عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّهُ بُعِثَ فِي الشَّهْرِ الَّذِي وُلِدَ فِيهِ وَالْمَشْهُورُ عِنْدَ الْجُمْهُورِ أَنَّهُ وُلِدَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وُلِدَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وَأَنَّهُ بُعِثَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ لَهُ حِينَ بُعِثَ أَرْبَعُونَ سَنَةً وَنِصْفٌ أَوْ تِسْعٌ وَثَلَاثُونَ وَنِصْفٌ فَمَنْ قَالَ أَرْبَعِينَ أَلْغَى الْكَسْرَ أَوِ الْجَبْرَ يَعْنِي إِنْ كَانَ لَهُ أَرْبَعُونَ وَنِصْفٌ أَلْغَى الْكَسْرَ وَإِنْ كَانَ تِسْعٌ وَثَلَاثُوْنَ وَنِصْفٌ جَبَرَ الْكَسْرَ لَكِنْ قَالَ الْمَسْعُودِيُّ وَابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ أَنَّهُ بُعِثَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ لَهُ أَرْبَعُونَ سَنَةً سَوَاءً بُعِثَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ كَيْفَ يُقَالُ مِثْلُ هَذَا؟ وَنُزُولُ الْقُرْآنِ عَلَيْهِ فِي رَمَضَانَ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ يُمْكِنُ أَنْ يَسْتَقِيمَ هَذَا؟ نَقُولُ بُعِثَ رَبِيعَ الْأَوَّلِ؟ كَمْ بَيْنَ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وَرَمَضَانَ؟ سِتَّةُ أَشْهُرٍ أَقُولُ يَتَّجِهُ هَذَا الْقَوْلُ إِذَا قُلْنَا إِنَّهُ بُعِثَ قَبْلَ رَمَضَانَ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فِي رَبِيعٍ فِي شَهْرِ وِلَادَتِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَان خِلَالَ هَذِهِ الْأَشْهُرِ السِّتَّةِ لَمْ يَنْزِلْ عَلَيْهِ فِيهَا شَيْءٌ بَلْ كَانَ ذَلِكَ بِمُجَرَّدِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةِ لِمُدَّةِ سِتَّةِ الْأَشْهُرِ ثُمَّ أُنْزِلَ عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ فِي رَمَضَانَ كَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ وَيَتَّجِهُ هَذَا إِذَا قُلْنَا إِنَّ الرُّؤْيَا مُدَّتُهَا سِتَّةُ أَشْهُرٍ مِنْ مُدَّةِ الْوَحْيِ الثَّلَاثِ وَالْعِشْرِينَ سَنَةً نَعَمْ نِسْبَةُ سِتَّةِ أَشْهُرٍ إِلَى الثَّلَاثِ وَالْعِشْرِينَ وَاحِدٌ عَلَى أَيْش؟ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ وَلِذَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَنَّ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةَ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا وَعَلَى هَذَا يُمْكِنُ تَوْجِيهُ مَا جَاءَ فِي حَدِيثِ أَنَسٍ وَالْحَدِيثُ كَمَا سَمِعْنَا فِي الصَّحِيحَيْنِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Dalam hadis disebutkan, “Allah mengutus Nabi Muhammad pada usia 40 tahun.”Ibnu Hajar berkata, “Hadis ini dapat sesuai jika menurut pendapat bahwaNabi Muhammad diutus di bulan bulan yang sama dengan bulan kelahirannya.”Bulan apa Nabi ‘alaihissalatu wassalam dilahirkan?Rabi’ul Awwal.Ya, benar.Hadis ini dapat sesuai jika menurut pendapat bahwa Nabi diutus di bulan kelahirannya.Pendapat yang masyhur dari jumhur ulama bahwa Nabi dilahirkan di bulan Rabi’ul Awwal.Pendapat ini mengatakan bahwa beliau dilahirkan di bulan Rabi’ul Awwal, dan diutus menjadi Rasul di bulan Ramadan.Dengan demikian, ketika diutus beliau berusia 40,5 tahunatau 39,5 tahun.Ulama yang berpendapat 40 tahun, berarti ia menggugurkan setengah tahun lebihnya atau membulatkan kurangnya.Yakni jika umur beliau saat itu 40,5 tahun, berarti ia menggugurkan setengah tahun lebihnya.Jika umur beliau 39,5 tahun, berarti ia membulatkan kurangnya.Namun, al-Mas’udi dan Ibnu Abdul Barr berpendapat bahwa Nabi diutus pada bulan Rabi’ul Awwal.Berdasarkan pendapat ini, maka Nabi berusia 40 tahun penuh ketika diutus.Nabi diutus pada bulan Rabi’ul Awwal.Bagaimana bisa keluar pendapat ini?Padahal turunnya al-Quran di bulan Ramadan.“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quransebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk itu serta pembeda.” (QS. Al-Baqarah: 185)Apakah ini dapat sesuai 40 tahun jika kita katakan beliau diutus pada bulan Rabi’ul Awwal?Berapa bulan jarak antara bulan Rabi’ul Awwal dengan Ramadan?Enam bulan.Saya katakan pendapat ini dapat sesuaijika kita katakan bahwa beliau diutus enam bulan sebelum bulan Ramadan,yaitu pada bulan Rabi’ul Awwal, bulan kelahiran beliau ‘alaihissalatu wassalam.Lalu selama enam bulan tersebutbelum ada wahyu yang diturunkan kepada beliau.Namun, hanya sekedar mimpi yang benar,selama enam bulan.Kemudian setelah itu baru diturunkan wahyu pada bulan Ramadan.Tidaklah dulu Nabi melihat mimpi melainkan mimpi itu datang seperti tersingkapnya cahaya subuh.Pendapat ini sesuai jika kita katakan periode mendapatkan mimpi berlangsung selama 6 bulandari seluruh periode turunnya wahyu selama 23 tahun.Perbandingan 6 bulan dari 23 tahun adalahsatu banding berapa?Satu banding empat puluh enam (1:46)Maka dari itulah diriwayatkan dalam hadis bahwa mimpi yang benar itu adalah satu bagiandari 46 bagian.Dengan demikian, riwayat dari hadis Anas dapat kita sesuaikan.Hadis ini sebagaimana kita dengar, berada dalam Shahihain. ==== فِي الْحَدِيثِ يَقُولُ بَعَثَهُ اللهُ عَلَى رَأْسِ أَرْبَعِينَ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ هَذَا إِنَّمَا يَتِمُّ عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّهُ بُعِثَ فِي الشَّهْرِ الَّذِي وُلِدَ فِيهِ فِي أَيِّ شَهْرٍ وُلِدَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟ رَبِيْعُ الْأَوَّلُ نَعَمْ هَذَا إِنَّمَا يَتِمُّ عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّهُ بُعِثَ فِي الشَّهْرِ الَّذِي وُلِدَ فِيهِ وَالْمَشْهُورُ عِنْدَ الْجُمْهُورِ أَنَّهُ وُلِدَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وُلِدَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وَأَنَّهُ بُعِثَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ لَهُ حِينَ بُعِثَ أَرْبَعُونَ سَنَةً وَنِصْفٌ أَوْ تِسْعٌ وَثَلَاثُونَ وَنِصْفٌ فَمَنْ قَالَ أَرْبَعِينَ أَلْغَى الْكَسْرَ أَوِ الْجَبْرَ يَعْنِي إِنْ كَانَ لَهُ أَرْبَعُونَ وَنِصْفٌ أَلْغَى الْكَسْرَ وَإِنْ كَانَ تِسْعٌ وَثَلَاثُوْنَ وَنِصْفٌ جَبَرَ الْكَسْرَ لَكِنْ قَالَ الْمَسْعُودِيُّ وَابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ أَنَّهُ بُعِثَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ لَهُ أَرْبَعُونَ سَنَةً سَوَاءً بُعِثَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ كَيْفَ يُقَالُ مِثْلُ هَذَا؟ وَنُزُولُ الْقُرْآنِ عَلَيْهِ فِي رَمَضَانَ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ يُمْكِنُ أَنْ يَسْتَقِيمَ هَذَا؟ نَقُولُ بُعِثَ رَبِيعَ الْأَوَّلِ؟ كَمْ بَيْنَ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وَرَمَضَانَ؟ سِتَّةُ أَشْهُرٍ أَقُولُ يَتَّجِهُ هَذَا الْقَوْلُ إِذَا قُلْنَا إِنَّهُ بُعِثَ قَبْلَ رَمَضَانَ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فِي رَبِيعٍ فِي شَهْرِ وِلَادَتِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَان خِلَالَ هَذِهِ الْأَشْهُرِ السِّتَّةِ لَمْ يَنْزِلْ عَلَيْهِ فِيهَا شَيْءٌ بَلْ كَانَ ذَلِكَ بِمُجَرَّدِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةِ لِمُدَّةِ سِتَّةِ الْأَشْهُرِ ثُمَّ أُنْزِلَ عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ فِي رَمَضَانَ كَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ وَيَتَّجِهُ هَذَا إِذَا قُلْنَا إِنَّ الرُّؤْيَا مُدَّتُهَا سِتَّةُ أَشْهُرٍ مِنْ مُدَّةِ الْوَحْيِ الثَّلَاثِ وَالْعِشْرِينَ سَنَةً نَعَمْ نِسْبَةُ سِتَّةِ أَشْهُرٍ إِلَى الثَّلَاثِ وَالْعِشْرِينَ وَاحِدٌ عَلَى أَيْش؟ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ وَلِذَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَنَّ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةَ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا وَعَلَى هَذَا يُمْكِنُ تَوْجِيهُ مَا جَاءَ فِي حَدِيثِ أَنَسٍ وَالْحَدِيثُ كَمَا سَمِعْنَا فِي الصَّحِيحَيْنِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Dalam hadis disebutkan, “Allah mengutus Nabi Muhammad pada usia 40 tahun.”Ibnu Hajar berkata, “Hadis ini dapat sesuai jika menurut pendapat bahwaNabi Muhammad diutus di bulan bulan yang sama dengan bulan kelahirannya.”Bulan apa Nabi ‘alaihissalatu wassalam dilahirkan?Rabi’ul Awwal.Ya, benar.Hadis ini dapat sesuai jika menurut pendapat bahwa Nabi diutus di bulan kelahirannya.Pendapat yang masyhur dari jumhur ulama bahwa Nabi dilahirkan di bulan Rabi’ul Awwal.Pendapat ini mengatakan bahwa beliau dilahirkan di bulan Rabi’ul Awwal, dan diutus menjadi Rasul di bulan Ramadan.Dengan demikian, ketika diutus beliau berusia 40,5 tahunatau 39,5 tahun.Ulama yang berpendapat 40 tahun, berarti ia menggugurkan setengah tahun lebihnya atau membulatkan kurangnya.Yakni jika umur beliau saat itu 40,5 tahun, berarti ia menggugurkan setengah tahun lebihnya.Jika umur beliau 39,5 tahun, berarti ia membulatkan kurangnya.Namun, al-Mas’udi dan Ibnu Abdul Barr berpendapat bahwa Nabi diutus pada bulan Rabi’ul Awwal.Berdasarkan pendapat ini, maka Nabi berusia 40 tahun penuh ketika diutus.Nabi diutus pada bulan Rabi’ul Awwal.Bagaimana bisa keluar pendapat ini?Padahal turunnya al-Quran di bulan Ramadan.“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quransebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk itu serta pembeda.” (QS. Al-Baqarah: 185)Apakah ini dapat sesuai 40 tahun jika kita katakan beliau diutus pada bulan Rabi’ul Awwal?Berapa bulan jarak antara bulan Rabi’ul Awwal dengan Ramadan?Enam bulan.Saya katakan pendapat ini dapat sesuaijika kita katakan bahwa beliau diutus enam bulan sebelum bulan Ramadan,yaitu pada bulan Rabi’ul Awwal, bulan kelahiran beliau ‘alaihissalatu wassalam.Lalu selama enam bulan tersebutbelum ada wahyu yang diturunkan kepada beliau.Namun, hanya sekedar mimpi yang benar,selama enam bulan.Kemudian setelah itu baru diturunkan wahyu pada bulan Ramadan.Tidaklah dulu Nabi melihat mimpi melainkan mimpi itu datang seperti tersingkapnya cahaya subuh.Pendapat ini sesuai jika kita katakan periode mendapatkan mimpi berlangsung selama 6 bulandari seluruh periode turunnya wahyu selama 23 tahun.Perbandingan 6 bulan dari 23 tahun adalahsatu banding berapa?Satu banding empat puluh enam (1:46)Maka dari itulah diriwayatkan dalam hadis bahwa mimpi yang benar itu adalah satu bagiandari 46 bagian.Dengan demikian, riwayat dari hadis Anas dapat kita sesuaikan.Hadis ini sebagaimana kita dengar, berada dalam Shahihain. ==== فِي الْحَدِيثِ يَقُولُ بَعَثَهُ اللهُ عَلَى رَأْسِ أَرْبَعِينَ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ هَذَا إِنَّمَا يَتِمُّ عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّهُ بُعِثَ فِي الشَّهْرِ الَّذِي وُلِدَ فِيهِ فِي أَيِّ شَهْرٍ وُلِدَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟ رَبِيْعُ الْأَوَّلُ نَعَمْ هَذَا إِنَّمَا يَتِمُّ عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّهُ بُعِثَ فِي الشَّهْرِ الَّذِي وُلِدَ فِيهِ وَالْمَشْهُورُ عِنْدَ الْجُمْهُورِ أَنَّهُ وُلِدَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وُلِدَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وَأَنَّهُ بُعِثَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ لَهُ حِينَ بُعِثَ أَرْبَعُونَ سَنَةً وَنِصْفٌ أَوْ تِسْعٌ وَثَلَاثُونَ وَنِصْفٌ فَمَنْ قَالَ أَرْبَعِينَ أَلْغَى الْكَسْرَ أَوِ الْجَبْرَ يَعْنِي إِنْ كَانَ لَهُ أَرْبَعُونَ وَنِصْفٌ أَلْغَى الْكَسْرَ وَإِنْ كَانَ تِسْعٌ وَثَلَاثُوْنَ وَنِصْفٌ جَبَرَ الْكَسْرَ لَكِنْ قَالَ الْمَسْعُودِيُّ وَابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ أَنَّهُ بُعِثَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ لَهُ أَرْبَعُونَ سَنَةً سَوَاءً بُعِثَ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ كَيْفَ يُقَالُ مِثْلُ هَذَا؟ وَنُزُولُ الْقُرْآنِ عَلَيْهِ فِي رَمَضَانَ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ يُمْكِنُ أَنْ يَسْتَقِيمَ هَذَا؟ نَقُولُ بُعِثَ رَبِيعَ الْأَوَّلِ؟ كَمْ بَيْنَ رَبِيعِ الْأَوَّلِ وَرَمَضَانَ؟ سِتَّةُ أَشْهُرٍ أَقُولُ يَتَّجِهُ هَذَا الْقَوْلُ إِذَا قُلْنَا إِنَّهُ بُعِثَ قَبْلَ رَمَضَانَ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فِي رَبِيعٍ فِي شَهْرِ وِلَادَتِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَان خِلَالَ هَذِهِ الْأَشْهُرِ السِّتَّةِ لَمْ يَنْزِلْ عَلَيْهِ فِيهَا شَيْءٌ بَلْ كَانَ ذَلِكَ بِمُجَرَّدِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةِ لِمُدَّةِ سِتَّةِ الْأَشْهُرِ ثُمَّ أُنْزِلَ عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ فِي رَمَضَانَ كَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ وَيَتَّجِهُ هَذَا إِذَا قُلْنَا إِنَّ الرُّؤْيَا مُدَّتُهَا سِتَّةُ أَشْهُرٍ مِنْ مُدَّةِ الْوَحْيِ الثَّلَاثِ وَالْعِشْرِينَ سَنَةً نَعَمْ نِسْبَةُ سِتَّةِ أَشْهُرٍ إِلَى الثَّلَاثِ وَالْعِشْرِينَ وَاحِدٌ عَلَى أَيْش؟ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ وَلِذَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَنَّ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةَ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا وَعَلَى هَذَا يُمْكِنُ تَوْجِيهُ مَا جَاءَ فِي حَدِيثِ أَنَسٍ وَالْحَدِيثُ كَمَا سَمِعْنَا فِي الصَّحِيحَيْنِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Hakikat Manhaj Salaf (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Hakikat Manhaj Salaf (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Manhaj salaf adalah shirathal mustaqim 2. Manhaj salaf menggabungkan ilmu dan amal 3. Meniti manhaj salaf bukan hanya pengakuan, namun butuh pembuktian Manhaj salaf adalah shirathal mustaqimAllah mewajibkan kita dalam setiap salat kita untuk membaca surah Al-Fatihah yang di akhirnya terdapat ayat,اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.“ (QS. Al-Fatihah: 6-7)Yang dimaksud shirathal mustaqim adalah jalan Allah. Maksudnya adalah kita memohon agar diberi petunjuk dan dibimbing serta ditetapkan di atas shirathal mustaqim. Makna ayat (صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ) yaitu mereka yang telah berjalan di atas jalan ini adalah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka, baik dari golongan para nabi, shiddiiqiin, syuhadaa, dan shaalihiin. Mereka adalah sebaik-baik teman yang telah menempuh jalan ini. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.“ (QS. An-Nisa’: 69)Jangan merasa kesepian saat berada di jalan ini, karena sahabat dan teman kalian yang telah menempuh jalan ini adalah manusia-manusia terbaik.Baca Juga: Siapa Bilang Salafi Pelit Bershalawat?Manhaj salaf menggabungkan ilmu dan amalDalam firman Allah (غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ), maksudnya bukanlah jalannya orang-orang yang Allah murkai, yaitu orang yang memiliki ilmu, namun tidak mau mengamalkannya seperti orang Yahudi dan yang semisalnya. Jika tidak diamalkan, ilmu akan menjadi hujah yang mencelakakan bagi pemiliknya di hari kiamat, sebagaimana sebuah ungkapan,والعلم إن كان أقوالا بلا عمل               فإن صاحبه بالجهل منغمِرُIlmu jika hanya berupa ucapan tanpa amalanMaka, pemiliknya akan tenggelam dalam kebodohanIlmu harus disertai dengan amal. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Apa faedahnya jika pohon tidak berbuah? Oleh karena itu, Allah murka kepada mereka karena mereka memiliki ilmu, namun tidak mau mengamalkannya. Mereka berhak mendapatkan kemarahan, kemurkaaan, dan kebencian dari Allah.Dalam firman Allah (وَلاَ الضَّالِّينَ) maksudnya bukanlah jalan orang-orang yang sesat. Mereka adalah orang yang beramal dan beribadah kepada Allah, namun tanpa dasar ilmu dan petunjuk dari Allah sehingga amal mereka sia-sia dan tidak memberikan manfaat sedikit pun. Karena mereka menempuh jalan kesesatan. Mereka tersesat dari shirathal mustaqim dan amal mereka sia-sia tanpa faedah. Termasuk kelompok ini adalah kaum Nasrani, di mana mereka beribadah, akan tetapi tanpa diiringi ilmu. Allah berfirman,وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاء رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.“ (QS. Al-Hadid: 27)Yang benar, seseorang haruslah menggabungkan antara ilmu dan amal. Ilmu diperoleh dengan belajar kepada para ulama. Ilmu harus ada sebelum amal, sebagaimana perkataan Imam Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahih-nya, “Bab Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan.” Kemudian beliau membawakan firman Allah,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan), selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.“ ( QS. Muhammad: 19)Maksud ayat ini adalah berilmulah terlebih dahulu, kemudian beristigfar. Beramal sesudah berilmu terlebih dahulu. Ilmu adalah petunjuk untuk mengenal Allah. Allah menurunkan kitab dan mengutus Rasul untuk membimbing kita ke jalan yang benar yang harus kita ikuti, yaitu dengan ilmu bermanfaat dan amal saleh. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.“ (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud al-huda adalah ilmu bermanfaat dan diinul haq adalah amal saleh. Rasul diutus dengan kedua hal ini. Beliau tidaklah diutus dengan ilmu tanpa amal, dan tidak pula diutus dengan amal tanpa ilmu. Dua hal ini senantiasa berhubungan dan saling berkaitan. Amal harus dibangun di atas ilmu dan orang yang berilmu harus mengamalkan ilmunya. Jika tidak demikian, maka akan celaka. Inilah risalah yang Allah utus kepada Rasul-Nya dan inilah manhaj salaf.Mereka dinamai salafus shalih karena menggabungkan antara ilmu bermanfaat dan amal saleh. Mereka adalah sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.“ (QS. Al-Hasyr: 10)Syarat diterimanya amal ada dua: ikhlas mengharap wajah Allah dan benar mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.“ (QS. Al-Baqarah: 112)Ayat ini mengandung dua syarat diterimanya amal. Pertama, ditunjukkan dalam firman Allah  (بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ)  yaitu ikhlas dalam ibadah dan berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang musyrik. Kedua, dalam firman Allah (وَهُوَ مُحْسِنٌ) yaitu beramal mengikuti petunjuk Rasul dan meninggalkan perbuatan bid’ah.Baca Juga: Nasihat Asy Syaikh Rabi’ Pada Pertemuan Salafiyyin Di QatarMeniti manhaj salaf bukan hanya pengakuan, namun butuh pembuktianInilah manhaj salaf, mengambil petunjuk dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan perantara para ulama yang kokoh dalam ilmunya. Barangsiapa yang ingin berjalan di atas manhaj salaf, dia harus berpegang teguh dengan kaidah syariat ini. Jika tidak demikian, maka banyak di masa sekarang ini orang yang mengklaim dan mengaku dirinya berada di atas manhaj salaf, namun sejatinya dia berada dalam kesesatan, bahkan dalam kesalahan yang parah. Oleh karena itu, jadilah orang-orang kafir dan munafik yang memilik penyakit di hati mereka mencela salafiyyin. Setiap ada kejahatan, sabotase, atau kerusakan, mereka mengatakan ini adalah perbuatan salafi, padahal manhaj salaf berlepas diri dari tindakan tersebut. Para salaf juga berlepas diri dari perbuatan tersebut. Semua itu bukan berasal dari manhaj salaf, namun berasal dari manhaj yang sesat. Jika mereka menamainya dengan salafi, maka kita harus membedakan antara penamaan dan hakikat, karena banyak penamaan sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikatnya.Manhaj salaf adalah ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, membangun persaudaraan di atas agama Allah, serta bekerja sama dalam kebaikan dan takwa. Barangsiapa berpegang teguh dengannya akan selamat dari fitnah dan keburukan dan akan mendapat rida Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.“ (QS. At-Taubah: 100)Setiap kita tentu menginginkan surga dan selamat dari neraka dan azab Allah. Seluruh sebab yang bisa mengantarkan ke surga dan menyelamatkan dari neraka semuanya merupakan buah dari berpegang teguh dengan manhaj salafus shalih. Imam Malik rahimahullah mengatakan,لا يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها“Tidak akan menjadi baik generasi akhir umat ini, kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan baik generasi awalnya.“ Al-Qur’an dan As-Sunnah, keduanyalah yang telah menjadikan generasi awal umat ini menjadi generasi terbaik. Maka, tidak mungkin generasi akhir umat ini akan baik, kecuali dengan berpegang teguh dengan keduanya. Al-Qur’an dan As-Sunnah, keduanya berada di tengah-tengah kita saat ini, keduanya dijaga oleh Allah hingga sekarang ini. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.“ (QS. Al-Hijr: 9)Barangsiapa yang menginginkan keduanya dengan kejujuran dan mempelajarinya dengan benar niscaya akan mendapat kebaikan dan taufik. Adapun barangsiapa yang hanya sekadar mengaku saja atau ikut-ikutan orang yang mengaku salafi maka sejatinya dia tidak berada di atas manhaj salaf. Dia tidak mendapat manfaat sama sekali, bahkan dirinya akan rugi.Oleh karena itu, wajib bagi siapa pun yang mengaku sebagai salafi untuk benar-benar mengikuti manhaj salaf, baik dalam keyakinan, perkataan, perbuatan, dan muamalah sehingga dia menjadi salafi sejati. Dengan demikian, dia bisa menjadi contoh dan teladan yang baik dalam meniti manhaj salaf. Barangsiapa yang menginginkan manhaj ini, maka dia wajib untuk mengenalnya dan mempelajarinya, kemudian mengamalkan dan mendakwahkannya, serta menjelaskan kepada manusia bahwa inilah manhaj salaf, firqatun najiyah, dan ahlus sunnah waljama’ah, yaitu orang-orang yang mengikuti Nabi dan para sahabatnya, sabar dan berpegang teguh di atasnya, tidak berpaling dengan adanya fitnah, tidak bersama dengan penyeru-penyeru kesesatan, sampai dia menghadap Rabbnya.وفق الله الجميع لما يحب ويرضى.وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين Baca Juga:Fatwa Ulama: Apakah Salafi Itu Khawarij?Mengaku Salafi, Namun Realitanya Tidak Bermanhaj Salaf***Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.S.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:As-Salafiyyah Haqiqatuhaa wa Siimaauhaa dalam kitab Muhadhoroot fil ‘Aqidah wad Da’wah Syekh Dr. Shalih bin Fauzan al Fauzan (III/455-465)🔍 Dukhan, Indahnya Persahabatan Karena Allah, Adab Bergaul Dengan Orang Yang Lebih Tua, Berpakaian Syar'i, Cara Memperoleh Rahmat AllahTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan manhaj salafkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamSalafTauhid

Hakikat Manhaj Salaf (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Hakikat Manhaj Salaf (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Manhaj salaf adalah shirathal mustaqim 2. Manhaj salaf menggabungkan ilmu dan amal 3. Meniti manhaj salaf bukan hanya pengakuan, namun butuh pembuktian Manhaj salaf adalah shirathal mustaqimAllah mewajibkan kita dalam setiap salat kita untuk membaca surah Al-Fatihah yang di akhirnya terdapat ayat,اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.“ (QS. Al-Fatihah: 6-7)Yang dimaksud shirathal mustaqim adalah jalan Allah. Maksudnya adalah kita memohon agar diberi petunjuk dan dibimbing serta ditetapkan di atas shirathal mustaqim. Makna ayat (صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ) yaitu mereka yang telah berjalan di atas jalan ini adalah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka, baik dari golongan para nabi, shiddiiqiin, syuhadaa, dan shaalihiin. Mereka adalah sebaik-baik teman yang telah menempuh jalan ini. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.“ (QS. An-Nisa’: 69)Jangan merasa kesepian saat berada di jalan ini, karena sahabat dan teman kalian yang telah menempuh jalan ini adalah manusia-manusia terbaik.Baca Juga: Siapa Bilang Salafi Pelit Bershalawat?Manhaj salaf menggabungkan ilmu dan amalDalam firman Allah (غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ), maksudnya bukanlah jalannya orang-orang yang Allah murkai, yaitu orang yang memiliki ilmu, namun tidak mau mengamalkannya seperti orang Yahudi dan yang semisalnya. Jika tidak diamalkan, ilmu akan menjadi hujah yang mencelakakan bagi pemiliknya di hari kiamat, sebagaimana sebuah ungkapan,والعلم إن كان أقوالا بلا عمل               فإن صاحبه بالجهل منغمِرُIlmu jika hanya berupa ucapan tanpa amalanMaka, pemiliknya akan tenggelam dalam kebodohanIlmu harus disertai dengan amal. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Apa faedahnya jika pohon tidak berbuah? Oleh karena itu, Allah murka kepada mereka karena mereka memiliki ilmu, namun tidak mau mengamalkannya. Mereka berhak mendapatkan kemarahan, kemurkaaan, dan kebencian dari Allah.Dalam firman Allah (وَلاَ الضَّالِّينَ) maksudnya bukanlah jalan orang-orang yang sesat. Mereka adalah orang yang beramal dan beribadah kepada Allah, namun tanpa dasar ilmu dan petunjuk dari Allah sehingga amal mereka sia-sia dan tidak memberikan manfaat sedikit pun. Karena mereka menempuh jalan kesesatan. Mereka tersesat dari shirathal mustaqim dan amal mereka sia-sia tanpa faedah. Termasuk kelompok ini adalah kaum Nasrani, di mana mereka beribadah, akan tetapi tanpa diiringi ilmu. Allah berfirman,وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاء رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.“ (QS. Al-Hadid: 27)Yang benar, seseorang haruslah menggabungkan antara ilmu dan amal. Ilmu diperoleh dengan belajar kepada para ulama. Ilmu harus ada sebelum amal, sebagaimana perkataan Imam Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahih-nya, “Bab Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan.” Kemudian beliau membawakan firman Allah,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan), selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.“ ( QS. Muhammad: 19)Maksud ayat ini adalah berilmulah terlebih dahulu, kemudian beristigfar. Beramal sesudah berilmu terlebih dahulu. Ilmu adalah petunjuk untuk mengenal Allah. Allah menurunkan kitab dan mengutus Rasul untuk membimbing kita ke jalan yang benar yang harus kita ikuti, yaitu dengan ilmu bermanfaat dan amal saleh. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.“ (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud al-huda adalah ilmu bermanfaat dan diinul haq adalah amal saleh. Rasul diutus dengan kedua hal ini. Beliau tidaklah diutus dengan ilmu tanpa amal, dan tidak pula diutus dengan amal tanpa ilmu. Dua hal ini senantiasa berhubungan dan saling berkaitan. Amal harus dibangun di atas ilmu dan orang yang berilmu harus mengamalkan ilmunya. Jika tidak demikian, maka akan celaka. Inilah risalah yang Allah utus kepada Rasul-Nya dan inilah manhaj salaf.Mereka dinamai salafus shalih karena menggabungkan antara ilmu bermanfaat dan amal saleh. Mereka adalah sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.“ (QS. Al-Hasyr: 10)Syarat diterimanya amal ada dua: ikhlas mengharap wajah Allah dan benar mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.“ (QS. Al-Baqarah: 112)Ayat ini mengandung dua syarat diterimanya amal. Pertama, ditunjukkan dalam firman Allah  (بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ)  yaitu ikhlas dalam ibadah dan berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang musyrik. Kedua, dalam firman Allah (وَهُوَ مُحْسِنٌ) yaitu beramal mengikuti petunjuk Rasul dan meninggalkan perbuatan bid’ah.Baca Juga: Nasihat Asy Syaikh Rabi’ Pada Pertemuan Salafiyyin Di QatarMeniti manhaj salaf bukan hanya pengakuan, namun butuh pembuktianInilah manhaj salaf, mengambil petunjuk dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan perantara para ulama yang kokoh dalam ilmunya. Barangsiapa yang ingin berjalan di atas manhaj salaf, dia harus berpegang teguh dengan kaidah syariat ini. Jika tidak demikian, maka banyak di masa sekarang ini orang yang mengklaim dan mengaku dirinya berada di atas manhaj salaf, namun sejatinya dia berada dalam kesesatan, bahkan dalam kesalahan yang parah. Oleh karena itu, jadilah orang-orang kafir dan munafik yang memilik penyakit di hati mereka mencela salafiyyin. Setiap ada kejahatan, sabotase, atau kerusakan, mereka mengatakan ini adalah perbuatan salafi, padahal manhaj salaf berlepas diri dari tindakan tersebut. Para salaf juga berlepas diri dari perbuatan tersebut. Semua itu bukan berasal dari manhaj salaf, namun berasal dari manhaj yang sesat. Jika mereka menamainya dengan salafi, maka kita harus membedakan antara penamaan dan hakikat, karena banyak penamaan sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikatnya.Manhaj salaf adalah ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, membangun persaudaraan di atas agama Allah, serta bekerja sama dalam kebaikan dan takwa. Barangsiapa berpegang teguh dengannya akan selamat dari fitnah dan keburukan dan akan mendapat rida Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.“ (QS. At-Taubah: 100)Setiap kita tentu menginginkan surga dan selamat dari neraka dan azab Allah. Seluruh sebab yang bisa mengantarkan ke surga dan menyelamatkan dari neraka semuanya merupakan buah dari berpegang teguh dengan manhaj salafus shalih. Imam Malik rahimahullah mengatakan,لا يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها“Tidak akan menjadi baik generasi akhir umat ini, kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan baik generasi awalnya.“ Al-Qur’an dan As-Sunnah, keduanyalah yang telah menjadikan generasi awal umat ini menjadi generasi terbaik. Maka, tidak mungkin generasi akhir umat ini akan baik, kecuali dengan berpegang teguh dengan keduanya. Al-Qur’an dan As-Sunnah, keduanya berada di tengah-tengah kita saat ini, keduanya dijaga oleh Allah hingga sekarang ini. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.“ (QS. Al-Hijr: 9)Barangsiapa yang menginginkan keduanya dengan kejujuran dan mempelajarinya dengan benar niscaya akan mendapat kebaikan dan taufik. Adapun barangsiapa yang hanya sekadar mengaku saja atau ikut-ikutan orang yang mengaku salafi maka sejatinya dia tidak berada di atas manhaj salaf. Dia tidak mendapat manfaat sama sekali, bahkan dirinya akan rugi.Oleh karena itu, wajib bagi siapa pun yang mengaku sebagai salafi untuk benar-benar mengikuti manhaj salaf, baik dalam keyakinan, perkataan, perbuatan, dan muamalah sehingga dia menjadi salafi sejati. Dengan demikian, dia bisa menjadi contoh dan teladan yang baik dalam meniti manhaj salaf. Barangsiapa yang menginginkan manhaj ini, maka dia wajib untuk mengenalnya dan mempelajarinya, kemudian mengamalkan dan mendakwahkannya, serta menjelaskan kepada manusia bahwa inilah manhaj salaf, firqatun najiyah, dan ahlus sunnah waljama’ah, yaitu orang-orang yang mengikuti Nabi dan para sahabatnya, sabar dan berpegang teguh di atasnya, tidak berpaling dengan adanya fitnah, tidak bersama dengan penyeru-penyeru kesesatan, sampai dia menghadap Rabbnya.وفق الله الجميع لما يحب ويرضى.وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين Baca Juga:Fatwa Ulama: Apakah Salafi Itu Khawarij?Mengaku Salafi, Namun Realitanya Tidak Bermanhaj Salaf***Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.S.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:As-Salafiyyah Haqiqatuhaa wa Siimaauhaa dalam kitab Muhadhoroot fil ‘Aqidah wad Da’wah Syekh Dr. Shalih bin Fauzan al Fauzan (III/455-465)🔍 Dukhan, Indahnya Persahabatan Karena Allah, Adab Bergaul Dengan Orang Yang Lebih Tua, Berpakaian Syar'i, Cara Memperoleh Rahmat AllahTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan manhaj salafkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamSalafTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Hakikat Manhaj Salaf (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Manhaj salaf adalah shirathal mustaqim 2. Manhaj salaf menggabungkan ilmu dan amal 3. Meniti manhaj salaf bukan hanya pengakuan, namun butuh pembuktian Manhaj salaf adalah shirathal mustaqimAllah mewajibkan kita dalam setiap salat kita untuk membaca surah Al-Fatihah yang di akhirnya terdapat ayat,اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.“ (QS. Al-Fatihah: 6-7)Yang dimaksud shirathal mustaqim adalah jalan Allah. Maksudnya adalah kita memohon agar diberi petunjuk dan dibimbing serta ditetapkan di atas shirathal mustaqim. Makna ayat (صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ) yaitu mereka yang telah berjalan di atas jalan ini adalah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka, baik dari golongan para nabi, shiddiiqiin, syuhadaa, dan shaalihiin. Mereka adalah sebaik-baik teman yang telah menempuh jalan ini. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.“ (QS. An-Nisa’: 69)Jangan merasa kesepian saat berada di jalan ini, karena sahabat dan teman kalian yang telah menempuh jalan ini adalah manusia-manusia terbaik.Baca Juga: Siapa Bilang Salafi Pelit Bershalawat?Manhaj salaf menggabungkan ilmu dan amalDalam firman Allah (غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ), maksudnya bukanlah jalannya orang-orang yang Allah murkai, yaitu orang yang memiliki ilmu, namun tidak mau mengamalkannya seperti orang Yahudi dan yang semisalnya. Jika tidak diamalkan, ilmu akan menjadi hujah yang mencelakakan bagi pemiliknya di hari kiamat, sebagaimana sebuah ungkapan,والعلم إن كان أقوالا بلا عمل               فإن صاحبه بالجهل منغمِرُIlmu jika hanya berupa ucapan tanpa amalanMaka, pemiliknya akan tenggelam dalam kebodohanIlmu harus disertai dengan amal. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Apa faedahnya jika pohon tidak berbuah? Oleh karena itu, Allah murka kepada mereka karena mereka memiliki ilmu, namun tidak mau mengamalkannya. Mereka berhak mendapatkan kemarahan, kemurkaaan, dan kebencian dari Allah.Dalam firman Allah (وَلاَ الضَّالِّينَ) maksudnya bukanlah jalan orang-orang yang sesat. Mereka adalah orang yang beramal dan beribadah kepada Allah, namun tanpa dasar ilmu dan petunjuk dari Allah sehingga amal mereka sia-sia dan tidak memberikan manfaat sedikit pun. Karena mereka menempuh jalan kesesatan. Mereka tersesat dari shirathal mustaqim dan amal mereka sia-sia tanpa faedah. Termasuk kelompok ini adalah kaum Nasrani, di mana mereka beribadah, akan tetapi tanpa diiringi ilmu. Allah berfirman,وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاء رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.“ (QS. Al-Hadid: 27)Yang benar, seseorang haruslah menggabungkan antara ilmu dan amal. Ilmu diperoleh dengan belajar kepada para ulama. Ilmu harus ada sebelum amal, sebagaimana perkataan Imam Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahih-nya, “Bab Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan.” Kemudian beliau membawakan firman Allah,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan), selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.“ ( QS. Muhammad: 19)Maksud ayat ini adalah berilmulah terlebih dahulu, kemudian beristigfar. Beramal sesudah berilmu terlebih dahulu. Ilmu adalah petunjuk untuk mengenal Allah. Allah menurunkan kitab dan mengutus Rasul untuk membimbing kita ke jalan yang benar yang harus kita ikuti, yaitu dengan ilmu bermanfaat dan amal saleh. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.“ (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud al-huda adalah ilmu bermanfaat dan diinul haq adalah amal saleh. Rasul diutus dengan kedua hal ini. Beliau tidaklah diutus dengan ilmu tanpa amal, dan tidak pula diutus dengan amal tanpa ilmu. Dua hal ini senantiasa berhubungan dan saling berkaitan. Amal harus dibangun di atas ilmu dan orang yang berilmu harus mengamalkan ilmunya. Jika tidak demikian, maka akan celaka. Inilah risalah yang Allah utus kepada Rasul-Nya dan inilah manhaj salaf.Mereka dinamai salafus shalih karena menggabungkan antara ilmu bermanfaat dan amal saleh. Mereka adalah sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.“ (QS. Al-Hasyr: 10)Syarat diterimanya amal ada dua: ikhlas mengharap wajah Allah dan benar mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.“ (QS. Al-Baqarah: 112)Ayat ini mengandung dua syarat diterimanya amal. Pertama, ditunjukkan dalam firman Allah  (بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ)  yaitu ikhlas dalam ibadah dan berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang musyrik. Kedua, dalam firman Allah (وَهُوَ مُحْسِنٌ) yaitu beramal mengikuti petunjuk Rasul dan meninggalkan perbuatan bid’ah.Baca Juga: Nasihat Asy Syaikh Rabi’ Pada Pertemuan Salafiyyin Di QatarMeniti manhaj salaf bukan hanya pengakuan, namun butuh pembuktianInilah manhaj salaf, mengambil petunjuk dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan perantara para ulama yang kokoh dalam ilmunya. Barangsiapa yang ingin berjalan di atas manhaj salaf, dia harus berpegang teguh dengan kaidah syariat ini. Jika tidak demikian, maka banyak di masa sekarang ini orang yang mengklaim dan mengaku dirinya berada di atas manhaj salaf, namun sejatinya dia berada dalam kesesatan, bahkan dalam kesalahan yang parah. Oleh karena itu, jadilah orang-orang kafir dan munafik yang memilik penyakit di hati mereka mencela salafiyyin. Setiap ada kejahatan, sabotase, atau kerusakan, mereka mengatakan ini adalah perbuatan salafi, padahal manhaj salaf berlepas diri dari tindakan tersebut. Para salaf juga berlepas diri dari perbuatan tersebut. Semua itu bukan berasal dari manhaj salaf, namun berasal dari manhaj yang sesat. Jika mereka menamainya dengan salafi, maka kita harus membedakan antara penamaan dan hakikat, karena banyak penamaan sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikatnya.Manhaj salaf adalah ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, membangun persaudaraan di atas agama Allah, serta bekerja sama dalam kebaikan dan takwa. Barangsiapa berpegang teguh dengannya akan selamat dari fitnah dan keburukan dan akan mendapat rida Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.“ (QS. At-Taubah: 100)Setiap kita tentu menginginkan surga dan selamat dari neraka dan azab Allah. Seluruh sebab yang bisa mengantarkan ke surga dan menyelamatkan dari neraka semuanya merupakan buah dari berpegang teguh dengan manhaj salafus shalih. Imam Malik rahimahullah mengatakan,لا يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها“Tidak akan menjadi baik generasi akhir umat ini, kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan baik generasi awalnya.“ Al-Qur’an dan As-Sunnah, keduanyalah yang telah menjadikan generasi awal umat ini menjadi generasi terbaik. Maka, tidak mungkin generasi akhir umat ini akan baik, kecuali dengan berpegang teguh dengan keduanya. Al-Qur’an dan As-Sunnah, keduanya berada di tengah-tengah kita saat ini, keduanya dijaga oleh Allah hingga sekarang ini. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.“ (QS. Al-Hijr: 9)Barangsiapa yang menginginkan keduanya dengan kejujuran dan mempelajarinya dengan benar niscaya akan mendapat kebaikan dan taufik. Adapun barangsiapa yang hanya sekadar mengaku saja atau ikut-ikutan orang yang mengaku salafi maka sejatinya dia tidak berada di atas manhaj salaf. Dia tidak mendapat manfaat sama sekali, bahkan dirinya akan rugi.Oleh karena itu, wajib bagi siapa pun yang mengaku sebagai salafi untuk benar-benar mengikuti manhaj salaf, baik dalam keyakinan, perkataan, perbuatan, dan muamalah sehingga dia menjadi salafi sejati. Dengan demikian, dia bisa menjadi contoh dan teladan yang baik dalam meniti manhaj salaf. Barangsiapa yang menginginkan manhaj ini, maka dia wajib untuk mengenalnya dan mempelajarinya, kemudian mengamalkan dan mendakwahkannya, serta menjelaskan kepada manusia bahwa inilah manhaj salaf, firqatun najiyah, dan ahlus sunnah waljama’ah, yaitu orang-orang yang mengikuti Nabi dan para sahabatnya, sabar dan berpegang teguh di atasnya, tidak berpaling dengan adanya fitnah, tidak bersama dengan penyeru-penyeru kesesatan, sampai dia menghadap Rabbnya.وفق الله الجميع لما يحب ويرضى.وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين Baca Juga:Fatwa Ulama: Apakah Salafi Itu Khawarij?Mengaku Salafi, Namun Realitanya Tidak Bermanhaj Salaf***Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.S.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:As-Salafiyyah Haqiqatuhaa wa Siimaauhaa dalam kitab Muhadhoroot fil ‘Aqidah wad Da’wah Syekh Dr. Shalih bin Fauzan al Fauzan (III/455-465)🔍 Dukhan, Indahnya Persahabatan Karena Allah, Adab Bergaul Dengan Orang Yang Lebih Tua, Berpakaian Syar'i, Cara Memperoleh Rahmat AllahTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan manhaj salafkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamSalafTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Hakikat Manhaj Salaf (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Manhaj salaf adalah shirathal mustaqim 2. Manhaj salaf menggabungkan ilmu dan amal 3. Meniti manhaj salaf bukan hanya pengakuan, namun butuh pembuktian Manhaj salaf adalah shirathal mustaqimAllah mewajibkan kita dalam setiap salat kita untuk membaca surah Al-Fatihah yang di akhirnya terdapat ayat,اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.“ (QS. Al-Fatihah: 6-7)Yang dimaksud shirathal mustaqim adalah jalan Allah. Maksudnya adalah kita memohon agar diberi petunjuk dan dibimbing serta ditetapkan di atas shirathal mustaqim. Makna ayat (صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ) yaitu mereka yang telah berjalan di atas jalan ini adalah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka, baik dari golongan para nabi, shiddiiqiin, syuhadaa, dan shaalihiin. Mereka adalah sebaik-baik teman yang telah menempuh jalan ini. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.“ (QS. An-Nisa’: 69)Jangan merasa kesepian saat berada di jalan ini, karena sahabat dan teman kalian yang telah menempuh jalan ini adalah manusia-manusia terbaik.Baca Juga: Siapa Bilang Salafi Pelit Bershalawat?Manhaj salaf menggabungkan ilmu dan amalDalam firman Allah (غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ), maksudnya bukanlah jalannya orang-orang yang Allah murkai, yaitu orang yang memiliki ilmu, namun tidak mau mengamalkannya seperti orang Yahudi dan yang semisalnya. Jika tidak diamalkan, ilmu akan menjadi hujah yang mencelakakan bagi pemiliknya di hari kiamat, sebagaimana sebuah ungkapan,والعلم إن كان أقوالا بلا عمل               فإن صاحبه بالجهل منغمِرُIlmu jika hanya berupa ucapan tanpa amalanMaka, pemiliknya akan tenggelam dalam kebodohanIlmu harus disertai dengan amal. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Apa faedahnya jika pohon tidak berbuah? Oleh karena itu, Allah murka kepada mereka karena mereka memiliki ilmu, namun tidak mau mengamalkannya. Mereka berhak mendapatkan kemarahan, kemurkaaan, dan kebencian dari Allah.Dalam firman Allah (وَلاَ الضَّالِّينَ) maksudnya bukanlah jalan orang-orang yang sesat. Mereka adalah orang yang beramal dan beribadah kepada Allah, namun tanpa dasar ilmu dan petunjuk dari Allah sehingga amal mereka sia-sia dan tidak memberikan manfaat sedikit pun. Karena mereka menempuh jalan kesesatan. Mereka tersesat dari shirathal mustaqim dan amal mereka sia-sia tanpa faedah. Termasuk kelompok ini adalah kaum Nasrani, di mana mereka beribadah, akan tetapi tanpa diiringi ilmu. Allah berfirman,وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاء رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.“ (QS. Al-Hadid: 27)Yang benar, seseorang haruslah menggabungkan antara ilmu dan amal. Ilmu diperoleh dengan belajar kepada para ulama. Ilmu harus ada sebelum amal, sebagaimana perkataan Imam Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahih-nya, “Bab Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan.” Kemudian beliau membawakan firman Allah,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan), selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.“ ( QS. Muhammad: 19)Maksud ayat ini adalah berilmulah terlebih dahulu, kemudian beristigfar. Beramal sesudah berilmu terlebih dahulu. Ilmu adalah petunjuk untuk mengenal Allah. Allah menurunkan kitab dan mengutus Rasul untuk membimbing kita ke jalan yang benar yang harus kita ikuti, yaitu dengan ilmu bermanfaat dan amal saleh. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.“ (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud al-huda adalah ilmu bermanfaat dan diinul haq adalah amal saleh. Rasul diutus dengan kedua hal ini. Beliau tidaklah diutus dengan ilmu tanpa amal, dan tidak pula diutus dengan amal tanpa ilmu. Dua hal ini senantiasa berhubungan dan saling berkaitan. Amal harus dibangun di atas ilmu dan orang yang berilmu harus mengamalkan ilmunya. Jika tidak demikian, maka akan celaka. Inilah risalah yang Allah utus kepada Rasul-Nya dan inilah manhaj salaf.Mereka dinamai salafus shalih karena menggabungkan antara ilmu bermanfaat dan amal saleh. Mereka adalah sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.“ (QS. Al-Hasyr: 10)Syarat diterimanya amal ada dua: ikhlas mengharap wajah Allah dan benar mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.“ (QS. Al-Baqarah: 112)Ayat ini mengandung dua syarat diterimanya amal. Pertama, ditunjukkan dalam firman Allah  (بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ)  yaitu ikhlas dalam ibadah dan berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang musyrik. Kedua, dalam firman Allah (وَهُوَ مُحْسِنٌ) yaitu beramal mengikuti petunjuk Rasul dan meninggalkan perbuatan bid’ah.Baca Juga: Nasihat Asy Syaikh Rabi’ Pada Pertemuan Salafiyyin Di QatarMeniti manhaj salaf bukan hanya pengakuan, namun butuh pembuktianInilah manhaj salaf, mengambil petunjuk dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan perantara para ulama yang kokoh dalam ilmunya. Barangsiapa yang ingin berjalan di atas manhaj salaf, dia harus berpegang teguh dengan kaidah syariat ini. Jika tidak demikian, maka banyak di masa sekarang ini orang yang mengklaim dan mengaku dirinya berada di atas manhaj salaf, namun sejatinya dia berada dalam kesesatan, bahkan dalam kesalahan yang parah. Oleh karena itu, jadilah orang-orang kafir dan munafik yang memilik penyakit di hati mereka mencela salafiyyin. Setiap ada kejahatan, sabotase, atau kerusakan, mereka mengatakan ini adalah perbuatan salafi, padahal manhaj salaf berlepas diri dari tindakan tersebut. Para salaf juga berlepas diri dari perbuatan tersebut. Semua itu bukan berasal dari manhaj salaf, namun berasal dari manhaj yang sesat. Jika mereka menamainya dengan salafi, maka kita harus membedakan antara penamaan dan hakikat, karena banyak penamaan sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikatnya.Manhaj salaf adalah ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, membangun persaudaraan di atas agama Allah, serta bekerja sama dalam kebaikan dan takwa. Barangsiapa berpegang teguh dengannya akan selamat dari fitnah dan keburukan dan akan mendapat rida Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.“ (QS. At-Taubah: 100)Setiap kita tentu menginginkan surga dan selamat dari neraka dan azab Allah. Seluruh sebab yang bisa mengantarkan ke surga dan menyelamatkan dari neraka semuanya merupakan buah dari berpegang teguh dengan manhaj salafus shalih. Imam Malik rahimahullah mengatakan,لا يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها“Tidak akan menjadi baik generasi akhir umat ini, kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan baik generasi awalnya.“ Al-Qur’an dan As-Sunnah, keduanyalah yang telah menjadikan generasi awal umat ini menjadi generasi terbaik. Maka, tidak mungkin generasi akhir umat ini akan baik, kecuali dengan berpegang teguh dengan keduanya. Al-Qur’an dan As-Sunnah, keduanya berada di tengah-tengah kita saat ini, keduanya dijaga oleh Allah hingga sekarang ini. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.“ (QS. Al-Hijr: 9)Barangsiapa yang menginginkan keduanya dengan kejujuran dan mempelajarinya dengan benar niscaya akan mendapat kebaikan dan taufik. Adapun barangsiapa yang hanya sekadar mengaku saja atau ikut-ikutan orang yang mengaku salafi maka sejatinya dia tidak berada di atas manhaj salaf. Dia tidak mendapat manfaat sama sekali, bahkan dirinya akan rugi.Oleh karena itu, wajib bagi siapa pun yang mengaku sebagai salafi untuk benar-benar mengikuti manhaj salaf, baik dalam keyakinan, perkataan, perbuatan, dan muamalah sehingga dia menjadi salafi sejati. Dengan demikian, dia bisa menjadi contoh dan teladan yang baik dalam meniti manhaj salaf. Barangsiapa yang menginginkan manhaj ini, maka dia wajib untuk mengenalnya dan mempelajarinya, kemudian mengamalkan dan mendakwahkannya, serta menjelaskan kepada manusia bahwa inilah manhaj salaf, firqatun najiyah, dan ahlus sunnah waljama’ah, yaitu orang-orang yang mengikuti Nabi dan para sahabatnya, sabar dan berpegang teguh di atasnya, tidak berpaling dengan adanya fitnah, tidak bersama dengan penyeru-penyeru kesesatan, sampai dia menghadap Rabbnya.وفق الله الجميع لما يحب ويرضى.وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين Baca Juga:Fatwa Ulama: Apakah Salafi Itu Khawarij?Mengaku Salafi, Namun Realitanya Tidak Bermanhaj Salaf***Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.S.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:As-Salafiyyah Haqiqatuhaa wa Siimaauhaa dalam kitab Muhadhoroot fil ‘Aqidah wad Da’wah Syekh Dr. Shalih bin Fauzan al Fauzan (III/455-465)🔍 Dukhan, Indahnya Persahabatan Karena Allah, Adab Bergaul Dengan Orang Yang Lebih Tua, Berpakaian Syar'i, Cara Memperoleh Rahmat AllahTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan manhaj salafkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamSalafTauhid

Amalan yang Paling Dicintai Allah

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan,Abul Walid Hisyam bin Abdul Malik menuturkan kepada kami. Dia berkata, Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata, Al-Walid bin Al-‘Aizar mengabarkan kepadaku. Dia berkata, aku mendengar Abu ‘Amr Asy-Syaibani. Dia berkata, pemilik rumah ini (beliau mengisyaratkan kepada rumah Abdullah bin Mas’ud) menuturkan kepada kami.Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Salat tepat pada waktunya.” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Lalu apa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.”Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Beliau menuturkan hal itu semuanya kepadaku. Seandainya aku menambah pertanyaan, niscaya beliau pun akan menjawabnya.” (lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari, 2: 12 tahqiq Syaibatul Hamd)Keterangan ringkasAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan (sembari menukil pendapat ulama yang lain) bahwa yang dimaksud dengan jihad dalam hadis ini adalah jihad yang bukan fardu ‘ain. Sebab jihad yang semacam itu dipersyaratkan adanya izin dari kedua orang tua, sehingga berbakti kepada keduanya harus lebih dikedepankan di atasnya, yaitu jihad yang fardu kifayah. (lihat Fath Al-Bari, 2: 13 tahqiq Syaibatul Hamd)Ibnu Bazizah rahimahullah berkata, “Berdasarkan pengkajian lebih dalam, kiranya bisa disimpulkan bahwa sebenarnya jihad lebih didahulukan (keutamaannya) daripada seluruh amal badan. Karena di dalam jihad seorang rela mengorbankan nyawanya. Meskipun demikian, sesungguhnya bersabar dalam menunaikan salat tepat pada waktunya secara kontinyu dan menjaga kesetiaan dalam berbakti kepada kedua orang tua merupakan suatu perkara yang wajib dan sifatnya terus-menerus (tidak temporer, pent). Tidak ada yang bisa bersabar menghadapi pengawasan perintah Allah dalam hal itu, kecuali orang-orang yang shiddiq, wallahu a’lam.” (lihat Fath Al-Bari, 2: 1 tahqiq Syaibatul Hamd)Syekh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili hafizhahullah menambahkan keterangan dari kesimpulan beliau terhadap kajian Imam Ibnu Rajab rahimahullah seputar amal yang paling utama. Beliau berkata, “Sesungguhnya amal yang paling utama adalah apa-apa yang diwajibkan Allah kepada segenap hamba-Nya. Sementara iman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan amal yang paling utama secara mutlak.” (lihat Tajrid Al-Ittiba’, hal. 20)Kemudian beliau mengatakan, “Adapun jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadis Ibnu Mas’ud bahwa amalan yang paling utama adalah salat tepat pada waktunya. Hal itu disebabkan salat adalah amal anggota badan yang paling utama. Sementara dalam kesempatan lainnya, terkadang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut iman kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai amal yang paling utama. Hal itu karena (iman) merupakan amal hati yang paling utama.” (lihat Tajrid Al-Ittiba’, hal. 20)Kemudian, Syekh Ibrahim pun menukil kesimpulan yang diambil oleh Imam Ibnu Rajab. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Dengan penetapan hasil pengkajian ini teranglah bahwasanya hadis-hadis itu menunjukkan bahwa amal yang paling utama ialah dua kalimat syahadat bersama dengan konsekuensi-konsekuensinya, yaitu rukun-rukun Islam setelahnya, atau salat bersama dengan ikutan-ikutannya/penyempurna atasnya (juga) yang merupakan perkara yang sifatnya fardu ‘ain dan termasuk penunaian atas hak-hak Allah ‘Azza Wajalla. Kemudian yang paling utama setelah itu adalah perkara yang sifatnya wajib ‘ain dari hak-hak sesama hamba, semisal berbakti kepada kedua orang tua. Kemudian setelah itu adalah amal-amal sunah yang semakin mendekatkan diri kepada Allah, dan yang paling utama di antara itu (amal-amal sunah) adalah jihad.” (lihat Tajrid Al-Ittiba’, hal. 21)Syekh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili hafizhahullah juga menambahkan kesimpulan bahwa amal-amal yang paling utama setelah amal-amal wajib ada tiga, yaitu menuntut ilmu (yang sifatnya sunah), jihad, dan zikir. Secara berurutan (berdasarkan penelitian para ulama) disimpulkan bahwa amal sunah yang paling utama adalah ilmu, setelah itu jihad, kemudian zikir. (silahkan baca lebih lengkap dalam Tajrid Al-Ittiba’, hal. 25-31)Kontinyu alam beramalImam Bukhari rahimahullah menuturkan:Muhammad bin Salam menuturkan kepada kami. Dia berkata, ‘Abdah mengabarkan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata,Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memerintahkan mereka (orang-orang), maka beliau perintahkan mereka sebatas amal-amal yang mampu mereka kerjakan.Lantas orang-orang itu berkata, “Sesungguhnya keadaan kami tidak seperti keadaan anda, wahai Rasulullah. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang.”Mendengar hal itu, beliau pun marah hingga tampak kemarahan itu pada rona wajahnya. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling bertakwa dan paling berilmu tentang Allah di antara kalian adalah aku.” (lihat Sahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1: 89)Keterangan ringkasAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (para ulama) mengatakan, bahwa makna hadis ini adalah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memerintahkan suatu amalan kepada mereka, maka yang beliau perintahkan adalah apa-apa yang mudah untuk mereka kerjakan, bukan amal-amal yang memberatkan. Hal itu karena beliau khawatir mereka tidak bisa terus-menerus/ kontinyu dalam melakukannya. Beliau sendiri mengerjakan amal serupa dengan apa yang beliau perintahkan kepada mereka, yang padanya terkandung keringanan.” (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1: 90)Di antara faedah dan pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadis di atas antara lain:Amal-amal saleh akan bisa mengangkat kedudukan pelakunya menuju tingkatan yang mulia serta membawa dirinya semakin berpeluang dalam menghapuskan dosa-dosa.Apabila seorang hamba bisa meraih puncak/akhir dari suatu bentuk ibadah dan bisa merasakan buah-buahnya, maka hal itu lebih mendorong dirinya untuk terus-menerus dalam mengerjakannya, sehingga hal itu lebih mempertahankan nikmat yang ada dan akan semakin mendorongnya untuk mencari tambahan nikmat dengan cara mensyukuri apa yang telah dilakukannya.Semestinya kita selalu berhenti pada apa-apa yang telah ditetapkan oleh syariat, baik dalam perkara ‘azimah/hukum asal yang lebih utama maupun rukhshah/mengambil keringanan. Dengan disertai keyakinan bahwasanya mengambil hal-hal yang lebih lunak lagi selaras dengan syariat itu lebih utama daripada mengambil sesuatu yang lebih berat dan menyelisihi syariat.Hal yang lebih utama untuk dicari dalam hal ibadah adalah sederhana/simpel dan mulazamah/terus-menerus dan konsisten dalam beramal. Bukan sikap berlebih-lebihan yang pada akhirnya menyeret kepada sikap meninggalkan.Hadis di atas juga menunjukkan besarnya semangat para sahabat dalam mengerjakan ibadah dan besarnya keinginan mereka meraih tambahan kebaikanDisyariatkannya marah ketika terjadi suatu hal yang menyelisihi perintah/ajaran syariat. Dan hendaknya melakukan pengingkaran terhadap kesalahan itu kepada orang yang cukup cerdas dan bisa menangkap pemahaman dengan baik di saat orang itu tidak berpikir jauh ke depan atau tidak merenungkan lebih dalam agar dia lebih tergerak untuk menyadari kekeliruannya.Bolehnya menceritakan kepada seseorang mengenai keutamaan yang dimiliki orang tersebut ketika hal itu memang dibutuhkan, selama tidak menimbulkan sikap berbangga-bangga atau menonjolkan kehebatan diri sendiri.Hadis di atas juga menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencapai puncak kesempurnaan insan karena kesempurnaan sifat hikmah yang ada pada ilmu dan amal yang beliau miliki. Kesempurnaan ilmu beliau ditunjukkan dalam sabda beliau “Aku adalah orang yang paling berilmu di antara kalian.” Sedangkan kesempurnaan amalnya ditunjukkan dari sabda beliau “Dan aku juga orang yang paling bertakwa kepada Allah di antara kalian.” (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1: 90-91)Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, “Di dalam kesungguh-sungguhan beliau (Nabi) dalam beramal dan sikap marah beliau terhadap ucapan mereka terkandung dalil yang menunjukkan bahwa seorang yang beramal tidak boleh bersandar/menggantungkan diri kepada amalnya dan hendaknya dia berada diantara perasaan harap dan takut.” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari li Ibni Baththal, 1: 73)Al-Muhallab rahimahullah berkata, “Di dalam hadis ini terkandung fikih/ilmu, bahwasanya seorang yang saleh wajib untuk memiliki ketakwaan dan rasa takut yang besar sebagaimana halnya yang seharusnya ada pada seorang yang melakukan dosa dan bertobat.Seorang yang saleh tidak boleh merasa aman dengan bersandar kepada kesalehan dirinya. Demikian juga seorang pelaku dosa juga tidak boleh menjadi berputus asa karena dosa yang dilakukannya. Bahkan, semestinya setiap orang itu berada di antara takut dan harap.” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari li Ibni Baththal, 1: 73)Semoga kumpulan faidah ini bermanfaat bagi kita semuanya. Aamiin.***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Bab Puasa Ramadhan, Arti Islam Rahmatan Lil Alamin, Attahiyatulillah, Hakikat Syahadat TauhidTags: adabAkhlakamal ibadahamal shalihAqidahaqidah islamfikihfikih ibadahManhajmanhaj salafnasihatnasihat islam

Amalan yang Paling Dicintai Allah

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan,Abul Walid Hisyam bin Abdul Malik menuturkan kepada kami. Dia berkata, Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata, Al-Walid bin Al-‘Aizar mengabarkan kepadaku. Dia berkata, aku mendengar Abu ‘Amr Asy-Syaibani. Dia berkata, pemilik rumah ini (beliau mengisyaratkan kepada rumah Abdullah bin Mas’ud) menuturkan kepada kami.Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Salat tepat pada waktunya.” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Lalu apa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.”Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Beliau menuturkan hal itu semuanya kepadaku. Seandainya aku menambah pertanyaan, niscaya beliau pun akan menjawabnya.” (lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari, 2: 12 tahqiq Syaibatul Hamd)Keterangan ringkasAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan (sembari menukil pendapat ulama yang lain) bahwa yang dimaksud dengan jihad dalam hadis ini adalah jihad yang bukan fardu ‘ain. Sebab jihad yang semacam itu dipersyaratkan adanya izin dari kedua orang tua, sehingga berbakti kepada keduanya harus lebih dikedepankan di atasnya, yaitu jihad yang fardu kifayah. (lihat Fath Al-Bari, 2: 13 tahqiq Syaibatul Hamd)Ibnu Bazizah rahimahullah berkata, “Berdasarkan pengkajian lebih dalam, kiranya bisa disimpulkan bahwa sebenarnya jihad lebih didahulukan (keutamaannya) daripada seluruh amal badan. Karena di dalam jihad seorang rela mengorbankan nyawanya. Meskipun demikian, sesungguhnya bersabar dalam menunaikan salat tepat pada waktunya secara kontinyu dan menjaga kesetiaan dalam berbakti kepada kedua orang tua merupakan suatu perkara yang wajib dan sifatnya terus-menerus (tidak temporer, pent). Tidak ada yang bisa bersabar menghadapi pengawasan perintah Allah dalam hal itu, kecuali orang-orang yang shiddiq, wallahu a’lam.” (lihat Fath Al-Bari, 2: 1 tahqiq Syaibatul Hamd)Syekh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili hafizhahullah menambahkan keterangan dari kesimpulan beliau terhadap kajian Imam Ibnu Rajab rahimahullah seputar amal yang paling utama. Beliau berkata, “Sesungguhnya amal yang paling utama adalah apa-apa yang diwajibkan Allah kepada segenap hamba-Nya. Sementara iman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan amal yang paling utama secara mutlak.” (lihat Tajrid Al-Ittiba’, hal. 20)Kemudian beliau mengatakan, “Adapun jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadis Ibnu Mas’ud bahwa amalan yang paling utama adalah salat tepat pada waktunya. Hal itu disebabkan salat adalah amal anggota badan yang paling utama. Sementara dalam kesempatan lainnya, terkadang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut iman kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai amal yang paling utama. Hal itu karena (iman) merupakan amal hati yang paling utama.” (lihat Tajrid Al-Ittiba’, hal. 20)Kemudian, Syekh Ibrahim pun menukil kesimpulan yang diambil oleh Imam Ibnu Rajab. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Dengan penetapan hasil pengkajian ini teranglah bahwasanya hadis-hadis itu menunjukkan bahwa amal yang paling utama ialah dua kalimat syahadat bersama dengan konsekuensi-konsekuensinya, yaitu rukun-rukun Islam setelahnya, atau salat bersama dengan ikutan-ikutannya/penyempurna atasnya (juga) yang merupakan perkara yang sifatnya fardu ‘ain dan termasuk penunaian atas hak-hak Allah ‘Azza Wajalla. Kemudian yang paling utama setelah itu adalah perkara yang sifatnya wajib ‘ain dari hak-hak sesama hamba, semisal berbakti kepada kedua orang tua. Kemudian setelah itu adalah amal-amal sunah yang semakin mendekatkan diri kepada Allah, dan yang paling utama di antara itu (amal-amal sunah) adalah jihad.” (lihat Tajrid Al-Ittiba’, hal. 21)Syekh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili hafizhahullah juga menambahkan kesimpulan bahwa amal-amal yang paling utama setelah amal-amal wajib ada tiga, yaitu menuntut ilmu (yang sifatnya sunah), jihad, dan zikir. Secara berurutan (berdasarkan penelitian para ulama) disimpulkan bahwa amal sunah yang paling utama adalah ilmu, setelah itu jihad, kemudian zikir. (silahkan baca lebih lengkap dalam Tajrid Al-Ittiba’, hal. 25-31)Kontinyu alam beramalImam Bukhari rahimahullah menuturkan:Muhammad bin Salam menuturkan kepada kami. Dia berkata, ‘Abdah mengabarkan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata,Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memerintahkan mereka (orang-orang), maka beliau perintahkan mereka sebatas amal-amal yang mampu mereka kerjakan.Lantas orang-orang itu berkata, “Sesungguhnya keadaan kami tidak seperti keadaan anda, wahai Rasulullah. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang.”Mendengar hal itu, beliau pun marah hingga tampak kemarahan itu pada rona wajahnya. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling bertakwa dan paling berilmu tentang Allah di antara kalian adalah aku.” (lihat Sahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1: 89)Keterangan ringkasAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (para ulama) mengatakan, bahwa makna hadis ini adalah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memerintahkan suatu amalan kepada mereka, maka yang beliau perintahkan adalah apa-apa yang mudah untuk mereka kerjakan, bukan amal-amal yang memberatkan. Hal itu karena beliau khawatir mereka tidak bisa terus-menerus/ kontinyu dalam melakukannya. Beliau sendiri mengerjakan amal serupa dengan apa yang beliau perintahkan kepada mereka, yang padanya terkandung keringanan.” (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1: 90)Di antara faedah dan pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadis di atas antara lain:Amal-amal saleh akan bisa mengangkat kedudukan pelakunya menuju tingkatan yang mulia serta membawa dirinya semakin berpeluang dalam menghapuskan dosa-dosa.Apabila seorang hamba bisa meraih puncak/akhir dari suatu bentuk ibadah dan bisa merasakan buah-buahnya, maka hal itu lebih mendorong dirinya untuk terus-menerus dalam mengerjakannya, sehingga hal itu lebih mempertahankan nikmat yang ada dan akan semakin mendorongnya untuk mencari tambahan nikmat dengan cara mensyukuri apa yang telah dilakukannya.Semestinya kita selalu berhenti pada apa-apa yang telah ditetapkan oleh syariat, baik dalam perkara ‘azimah/hukum asal yang lebih utama maupun rukhshah/mengambil keringanan. Dengan disertai keyakinan bahwasanya mengambil hal-hal yang lebih lunak lagi selaras dengan syariat itu lebih utama daripada mengambil sesuatu yang lebih berat dan menyelisihi syariat.Hal yang lebih utama untuk dicari dalam hal ibadah adalah sederhana/simpel dan mulazamah/terus-menerus dan konsisten dalam beramal. Bukan sikap berlebih-lebihan yang pada akhirnya menyeret kepada sikap meninggalkan.Hadis di atas juga menunjukkan besarnya semangat para sahabat dalam mengerjakan ibadah dan besarnya keinginan mereka meraih tambahan kebaikanDisyariatkannya marah ketika terjadi suatu hal yang menyelisihi perintah/ajaran syariat. Dan hendaknya melakukan pengingkaran terhadap kesalahan itu kepada orang yang cukup cerdas dan bisa menangkap pemahaman dengan baik di saat orang itu tidak berpikir jauh ke depan atau tidak merenungkan lebih dalam agar dia lebih tergerak untuk menyadari kekeliruannya.Bolehnya menceritakan kepada seseorang mengenai keutamaan yang dimiliki orang tersebut ketika hal itu memang dibutuhkan, selama tidak menimbulkan sikap berbangga-bangga atau menonjolkan kehebatan diri sendiri.Hadis di atas juga menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencapai puncak kesempurnaan insan karena kesempurnaan sifat hikmah yang ada pada ilmu dan amal yang beliau miliki. Kesempurnaan ilmu beliau ditunjukkan dalam sabda beliau “Aku adalah orang yang paling berilmu di antara kalian.” Sedangkan kesempurnaan amalnya ditunjukkan dari sabda beliau “Dan aku juga orang yang paling bertakwa kepada Allah di antara kalian.” (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1: 90-91)Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, “Di dalam kesungguh-sungguhan beliau (Nabi) dalam beramal dan sikap marah beliau terhadap ucapan mereka terkandung dalil yang menunjukkan bahwa seorang yang beramal tidak boleh bersandar/menggantungkan diri kepada amalnya dan hendaknya dia berada diantara perasaan harap dan takut.” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari li Ibni Baththal, 1: 73)Al-Muhallab rahimahullah berkata, “Di dalam hadis ini terkandung fikih/ilmu, bahwasanya seorang yang saleh wajib untuk memiliki ketakwaan dan rasa takut yang besar sebagaimana halnya yang seharusnya ada pada seorang yang melakukan dosa dan bertobat.Seorang yang saleh tidak boleh merasa aman dengan bersandar kepada kesalehan dirinya. Demikian juga seorang pelaku dosa juga tidak boleh menjadi berputus asa karena dosa yang dilakukannya. Bahkan, semestinya setiap orang itu berada di antara takut dan harap.” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari li Ibni Baththal, 1: 73)Semoga kumpulan faidah ini bermanfaat bagi kita semuanya. Aamiin.***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Bab Puasa Ramadhan, Arti Islam Rahmatan Lil Alamin, Attahiyatulillah, Hakikat Syahadat TauhidTags: adabAkhlakamal ibadahamal shalihAqidahaqidah islamfikihfikih ibadahManhajmanhaj salafnasihatnasihat islam
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan,Abul Walid Hisyam bin Abdul Malik menuturkan kepada kami. Dia berkata, Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata, Al-Walid bin Al-‘Aizar mengabarkan kepadaku. Dia berkata, aku mendengar Abu ‘Amr Asy-Syaibani. Dia berkata, pemilik rumah ini (beliau mengisyaratkan kepada rumah Abdullah bin Mas’ud) menuturkan kepada kami.Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Salat tepat pada waktunya.” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Lalu apa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.”Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Beliau menuturkan hal itu semuanya kepadaku. Seandainya aku menambah pertanyaan, niscaya beliau pun akan menjawabnya.” (lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari, 2: 12 tahqiq Syaibatul Hamd)Keterangan ringkasAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan (sembari menukil pendapat ulama yang lain) bahwa yang dimaksud dengan jihad dalam hadis ini adalah jihad yang bukan fardu ‘ain. Sebab jihad yang semacam itu dipersyaratkan adanya izin dari kedua orang tua, sehingga berbakti kepada keduanya harus lebih dikedepankan di atasnya, yaitu jihad yang fardu kifayah. (lihat Fath Al-Bari, 2: 13 tahqiq Syaibatul Hamd)Ibnu Bazizah rahimahullah berkata, “Berdasarkan pengkajian lebih dalam, kiranya bisa disimpulkan bahwa sebenarnya jihad lebih didahulukan (keutamaannya) daripada seluruh amal badan. Karena di dalam jihad seorang rela mengorbankan nyawanya. Meskipun demikian, sesungguhnya bersabar dalam menunaikan salat tepat pada waktunya secara kontinyu dan menjaga kesetiaan dalam berbakti kepada kedua orang tua merupakan suatu perkara yang wajib dan sifatnya terus-menerus (tidak temporer, pent). Tidak ada yang bisa bersabar menghadapi pengawasan perintah Allah dalam hal itu, kecuali orang-orang yang shiddiq, wallahu a’lam.” (lihat Fath Al-Bari, 2: 1 tahqiq Syaibatul Hamd)Syekh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili hafizhahullah menambahkan keterangan dari kesimpulan beliau terhadap kajian Imam Ibnu Rajab rahimahullah seputar amal yang paling utama. Beliau berkata, “Sesungguhnya amal yang paling utama adalah apa-apa yang diwajibkan Allah kepada segenap hamba-Nya. Sementara iman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan amal yang paling utama secara mutlak.” (lihat Tajrid Al-Ittiba’, hal. 20)Kemudian beliau mengatakan, “Adapun jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadis Ibnu Mas’ud bahwa amalan yang paling utama adalah salat tepat pada waktunya. Hal itu disebabkan salat adalah amal anggota badan yang paling utama. Sementara dalam kesempatan lainnya, terkadang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut iman kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai amal yang paling utama. Hal itu karena (iman) merupakan amal hati yang paling utama.” (lihat Tajrid Al-Ittiba’, hal. 20)Kemudian, Syekh Ibrahim pun menukil kesimpulan yang diambil oleh Imam Ibnu Rajab. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Dengan penetapan hasil pengkajian ini teranglah bahwasanya hadis-hadis itu menunjukkan bahwa amal yang paling utama ialah dua kalimat syahadat bersama dengan konsekuensi-konsekuensinya, yaitu rukun-rukun Islam setelahnya, atau salat bersama dengan ikutan-ikutannya/penyempurna atasnya (juga) yang merupakan perkara yang sifatnya fardu ‘ain dan termasuk penunaian atas hak-hak Allah ‘Azza Wajalla. Kemudian yang paling utama setelah itu adalah perkara yang sifatnya wajib ‘ain dari hak-hak sesama hamba, semisal berbakti kepada kedua orang tua. Kemudian setelah itu adalah amal-amal sunah yang semakin mendekatkan diri kepada Allah, dan yang paling utama di antara itu (amal-amal sunah) adalah jihad.” (lihat Tajrid Al-Ittiba’, hal. 21)Syekh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili hafizhahullah juga menambahkan kesimpulan bahwa amal-amal yang paling utama setelah amal-amal wajib ada tiga, yaitu menuntut ilmu (yang sifatnya sunah), jihad, dan zikir. Secara berurutan (berdasarkan penelitian para ulama) disimpulkan bahwa amal sunah yang paling utama adalah ilmu, setelah itu jihad, kemudian zikir. (silahkan baca lebih lengkap dalam Tajrid Al-Ittiba’, hal. 25-31)Kontinyu alam beramalImam Bukhari rahimahullah menuturkan:Muhammad bin Salam menuturkan kepada kami. Dia berkata, ‘Abdah mengabarkan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata,Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memerintahkan mereka (orang-orang), maka beliau perintahkan mereka sebatas amal-amal yang mampu mereka kerjakan.Lantas orang-orang itu berkata, “Sesungguhnya keadaan kami tidak seperti keadaan anda, wahai Rasulullah. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang.”Mendengar hal itu, beliau pun marah hingga tampak kemarahan itu pada rona wajahnya. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling bertakwa dan paling berilmu tentang Allah di antara kalian adalah aku.” (lihat Sahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1: 89)Keterangan ringkasAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (para ulama) mengatakan, bahwa makna hadis ini adalah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memerintahkan suatu amalan kepada mereka, maka yang beliau perintahkan adalah apa-apa yang mudah untuk mereka kerjakan, bukan amal-amal yang memberatkan. Hal itu karena beliau khawatir mereka tidak bisa terus-menerus/ kontinyu dalam melakukannya. Beliau sendiri mengerjakan amal serupa dengan apa yang beliau perintahkan kepada mereka, yang padanya terkandung keringanan.” (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1: 90)Di antara faedah dan pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadis di atas antara lain:Amal-amal saleh akan bisa mengangkat kedudukan pelakunya menuju tingkatan yang mulia serta membawa dirinya semakin berpeluang dalam menghapuskan dosa-dosa.Apabila seorang hamba bisa meraih puncak/akhir dari suatu bentuk ibadah dan bisa merasakan buah-buahnya, maka hal itu lebih mendorong dirinya untuk terus-menerus dalam mengerjakannya, sehingga hal itu lebih mempertahankan nikmat yang ada dan akan semakin mendorongnya untuk mencari tambahan nikmat dengan cara mensyukuri apa yang telah dilakukannya.Semestinya kita selalu berhenti pada apa-apa yang telah ditetapkan oleh syariat, baik dalam perkara ‘azimah/hukum asal yang lebih utama maupun rukhshah/mengambil keringanan. Dengan disertai keyakinan bahwasanya mengambil hal-hal yang lebih lunak lagi selaras dengan syariat itu lebih utama daripada mengambil sesuatu yang lebih berat dan menyelisihi syariat.Hal yang lebih utama untuk dicari dalam hal ibadah adalah sederhana/simpel dan mulazamah/terus-menerus dan konsisten dalam beramal. Bukan sikap berlebih-lebihan yang pada akhirnya menyeret kepada sikap meninggalkan.Hadis di atas juga menunjukkan besarnya semangat para sahabat dalam mengerjakan ibadah dan besarnya keinginan mereka meraih tambahan kebaikanDisyariatkannya marah ketika terjadi suatu hal yang menyelisihi perintah/ajaran syariat. Dan hendaknya melakukan pengingkaran terhadap kesalahan itu kepada orang yang cukup cerdas dan bisa menangkap pemahaman dengan baik di saat orang itu tidak berpikir jauh ke depan atau tidak merenungkan lebih dalam agar dia lebih tergerak untuk menyadari kekeliruannya.Bolehnya menceritakan kepada seseorang mengenai keutamaan yang dimiliki orang tersebut ketika hal itu memang dibutuhkan, selama tidak menimbulkan sikap berbangga-bangga atau menonjolkan kehebatan diri sendiri.Hadis di atas juga menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencapai puncak kesempurnaan insan karena kesempurnaan sifat hikmah yang ada pada ilmu dan amal yang beliau miliki. Kesempurnaan ilmu beliau ditunjukkan dalam sabda beliau “Aku adalah orang yang paling berilmu di antara kalian.” Sedangkan kesempurnaan amalnya ditunjukkan dari sabda beliau “Dan aku juga orang yang paling bertakwa kepada Allah di antara kalian.” (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1: 90-91)Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, “Di dalam kesungguh-sungguhan beliau (Nabi) dalam beramal dan sikap marah beliau terhadap ucapan mereka terkandung dalil yang menunjukkan bahwa seorang yang beramal tidak boleh bersandar/menggantungkan diri kepada amalnya dan hendaknya dia berada diantara perasaan harap dan takut.” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari li Ibni Baththal, 1: 73)Al-Muhallab rahimahullah berkata, “Di dalam hadis ini terkandung fikih/ilmu, bahwasanya seorang yang saleh wajib untuk memiliki ketakwaan dan rasa takut yang besar sebagaimana halnya yang seharusnya ada pada seorang yang melakukan dosa dan bertobat.Seorang yang saleh tidak boleh merasa aman dengan bersandar kepada kesalehan dirinya. Demikian juga seorang pelaku dosa juga tidak boleh menjadi berputus asa karena dosa yang dilakukannya. Bahkan, semestinya setiap orang itu berada di antara takut dan harap.” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari li Ibni Baththal, 1: 73)Semoga kumpulan faidah ini bermanfaat bagi kita semuanya. Aamiin.***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Bab Puasa Ramadhan, Arti Islam Rahmatan Lil Alamin, Attahiyatulillah, Hakikat Syahadat TauhidTags: adabAkhlakamal ibadahamal shalihAqidahaqidah islamfikihfikih ibadahManhajmanhaj salafnasihatnasihat islam


Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan,Abul Walid Hisyam bin Abdul Malik menuturkan kepada kami. Dia berkata, Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata, Al-Walid bin Al-‘Aizar mengabarkan kepadaku. Dia berkata, aku mendengar Abu ‘Amr Asy-Syaibani. Dia berkata, pemilik rumah ini (beliau mengisyaratkan kepada rumah Abdullah bin Mas’ud) menuturkan kepada kami.Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Salat tepat pada waktunya.” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Lalu apa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.”Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Beliau menuturkan hal itu semuanya kepadaku. Seandainya aku menambah pertanyaan, niscaya beliau pun akan menjawabnya.” (lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari, 2: 12 tahqiq Syaibatul Hamd)Keterangan ringkasAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan (sembari menukil pendapat ulama yang lain) bahwa yang dimaksud dengan jihad dalam hadis ini adalah jihad yang bukan fardu ‘ain. Sebab jihad yang semacam itu dipersyaratkan adanya izin dari kedua orang tua, sehingga berbakti kepada keduanya harus lebih dikedepankan di atasnya, yaitu jihad yang fardu kifayah. (lihat Fath Al-Bari, 2: 13 tahqiq Syaibatul Hamd)Ibnu Bazizah rahimahullah berkata, “Berdasarkan pengkajian lebih dalam, kiranya bisa disimpulkan bahwa sebenarnya jihad lebih didahulukan (keutamaannya) daripada seluruh amal badan. Karena di dalam jihad seorang rela mengorbankan nyawanya. Meskipun demikian, sesungguhnya bersabar dalam menunaikan salat tepat pada waktunya secara kontinyu dan menjaga kesetiaan dalam berbakti kepada kedua orang tua merupakan suatu perkara yang wajib dan sifatnya terus-menerus (tidak temporer, pent). Tidak ada yang bisa bersabar menghadapi pengawasan perintah Allah dalam hal itu, kecuali orang-orang yang shiddiq, wallahu a’lam.” (lihat Fath Al-Bari, 2: 1 tahqiq Syaibatul Hamd)Syekh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili hafizhahullah menambahkan keterangan dari kesimpulan beliau terhadap kajian Imam Ibnu Rajab rahimahullah seputar amal yang paling utama. Beliau berkata, “Sesungguhnya amal yang paling utama adalah apa-apa yang diwajibkan Allah kepada segenap hamba-Nya. Sementara iman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan amal yang paling utama secara mutlak.” (lihat Tajrid Al-Ittiba’, hal. 20)Kemudian beliau mengatakan, “Adapun jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadis Ibnu Mas’ud bahwa amalan yang paling utama adalah salat tepat pada waktunya. Hal itu disebabkan salat adalah amal anggota badan yang paling utama. Sementara dalam kesempatan lainnya, terkadang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut iman kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai amal yang paling utama. Hal itu karena (iman) merupakan amal hati yang paling utama.” (lihat Tajrid Al-Ittiba’, hal. 20)Kemudian, Syekh Ibrahim pun menukil kesimpulan yang diambil oleh Imam Ibnu Rajab. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Dengan penetapan hasil pengkajian ini teranglah bahwasanya hadis-hadis itu menunjukkan bahwa amal yang paling utama ialah dua kalimat syahadat bersama dengan konsekuensi-konsekuensinya, yaitu rukun-rukun Islam setelahnya, atau salat bersama dengan ikutan-ikutannya/penyempurna atasnya (juga) yang merupakan perkara yang sifatnya fardu ‘ain dan termasuk penunaian atas hak-hak Allah ‘Azza Wajalla. Kemudian yang paling utama setelah itu adalah perkara yang sifatnya wajib ‘ain dari hak-hak sesama hamba, semisal berbakti kepada kedua orang tua. Kemudian setelah itu adalah amal-amal sunah yang semakin mendekatkan diri kepada Allah, dan yang paling utama di antara itu (amal-amal sunah) adalah jihad.” (lihat Tajrid Al-Ittiba’, hal. 21)Syekh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili hafizhahullah juga menambahkan kesimpulan bahwa amal-amal yang paling utama setelah amal-amal wajib ada tiga, yaitu menuntut ilmu (yang sifatnya sunah), jihad, dan zikir. Secara berurutan (berdasarkan penelitian para ulama) disimpulkan bahwa amal sunah yang paling utama adalah ilmu, setelah itu jihad, kemudian zikir. (silahkan baca lebih lengkap dalam Tajrid Al-Ittiba’, hal. 25-31)Kontinyu alam beramalImam Bukhari rahimahullah menuturkan:Muhammad bin Salam menuturkan kepada kami. Dia berkata, ‘Abdah mengabarkan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata,Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memerintahkan mereka (orang-orang), maka beliau perintahkan mereka sebatas amal-amal yang mampu mereka kerjakan.Lantas orang-orang itu berkata, “Sesungguhnya keadaan kami tidak seperti keadaan anda, wahai Rasulullah. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang.”Mendengar hal itu, beliau pun marah hingga tampak kemarahan itu pada rona wajahnya. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling bertakwa dan paling berilmu tentang Allah di antara kalian adalah aku.” (lihat Sahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1: 89)Keterangan ringkasAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (para ulama) mengatakan, bahwa makna hadis ini adalah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memerintahkan suatu amalan kepada mereka, maka yang beliau perintahkan adalah apa-apa yang mudah untuk mereka kerjakan, bukan amal-amal yang memberatkan. Hal itu karena beliau khawatir mereka tidak bisa terus-menerus/ kontinyu dalam melakukannya. Beliau sendiri mengerjakan amal serupa dengan apa yang beliau perintahkan kepada mereka, yang padanya terkandung keringanan.” (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1: 90)Di antara faedah dan pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadis di atas antara lain:Amal-amal saleh akan bisa mengangkat kedudukan pelakunya menuju tingkatan yang mulia serta membawa dirinya semakin berpeluang dalam menghapuskan dosa-dosa.Apabila seorang hamba bisa meraih puncak/akhir dari suatu bentuk ibadah dan bisa merasakan buah-buahnya, maka hal itu lebih mendorong dirinya untuk terus-menerus dalam mengerjakannya, sehingga hal itu lebih mempertahankan nikmat yang ada dan akan semakin mendorongnya untuk mencari tambahan nikmat dengan cara mensyukuri apa yang telah dilakukannya.Semestinya kita selalu berhenti pada apa-apa yang telah ditetapkan oleh syariat, baik dalam perkara ‘azimah/hukum asal yang lebih utama maupun rukhshah/mengambil keringanan. Dengan disertai keyakinan bahwasanya mengambil hal-hal yang lebih lunak lagi selaras dengan syariat itu lebih utama daripada mengambil sesuatu yang lebih berat dan menyelisihi syariat.Hal yang lebih utama untuk dicari dalam hal ibadah adalah sederhana/simpel dan mulazamah/terus-menerus dan konsisten dalam beramal. Bukan sikap berlebih-lebihan yang pada akhirnya menyeret kepada sikap meninggalkan.Hadis di atas juga menunjukkan besarnya semangat para sahabat dalam mengerjakan ibadah dan besarnya keinginan mereka meraih tambahan kebaikanDisyariatkannya marah ketika terjadi suatu hal yang menyelisihi perintah/ajaran syariat. Dan hendaknya melakukan pengingkaran terhadap kesalahan itu kepada orang yang cukup cerdas dan bisa menangkap pemahaman dengan baik di saat orang itu tidak berpikir jauh ke depan atau tidak merenungkan lebih dalam agar dia lebih tergerak untuk menyadari kekeliruannya.Bolehnya menceritakan kepada seseorang mengenai keutamaan yang dimiliki orang tersebut ketika hal itu memang dibutuhkan, selama tidak menimbulkan sikap berbangga-bangga atau menonjolkan kehebatan diri sendiri.Hadis di atas juga menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencapai puncak kesempurnaan insan karena kesempurnaan sifat hikmah yang ada pada ilmu dan amal yang beliau miliki. Kesempurnaan ilmu beliau ditunjukkan dalam sabda beliau “Aku adalah orang yang paling berilmu di antara kalian.” Sedangkan kesempurnaan amalnya ditunjukkan dari sabda beliau “Dan aku juga orang yang paling bertakwa kepada Allah di antara kalian.” (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, 1: 90-91)Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, “Di dalam kesungguh-sungguhan beliau (Nabi) dalam beramal dan sikap marah beliau terhadap ucapan mereka terkandung dalil yang menunjukkan bahwa seorang yang beramal tidak boleh bersandar/menggantungkan diri kepada amalnya dan hendaknya dia berada diantara perasaan harap dan takut.” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari li Ibni Baththal, 1: 73)Al-Muhallab rahimahullah berkata, “Di dalam hadis ini terkandung fikih/ilmu, bahwasanya seorang yang saleh wajib untuk memiliki ketakwaan dan rasa takut yang besar sebagaimana halnya yang seharusnya ada pada seorang yang melakukan dosa dan bertobat.Seorang yang saleh tidak boleh merasa aman dengan bersandar kepada kesalehan dirinya. Demikian juga seorang pelaku dosa juga tidak boleh menjadi berputus asa karena dosa yang dilakukannya. Bahkan, semestinya setiap orang itu berada di antara takut dan harap.” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari li Ibni Baththal, 1: 73)Semoga kumpulan faidah ini bermanfaat bagi kita semuanya. Aamiin.***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Bab Puasa Ramadhan, Arti Islam Rahmatan Lil Alamin, Attahiyatulillah, Hakikat Syahadat TauhidTags: adabAkhlakamal ibadahamal shalihAqidahaqidah islamfikihfikih ibadahManhajmanhaj salafnasihatnasihat islam

Hakikat Manhaj Salaf (Bag. 1)

Daftar Isi sembunyikan 1. Manhaj salaf adalah solusi dari perpecahan umat 2. Manhaj salaf adalah pengikut Nabi dan para generasi terbaik 3. Manhaj salaf adalah satu-satunya jalan keselamatan Manhaj salaf adalah solusi dari perpecahan umat Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa akan terjadi perpecahan dalam umat ini sebagaimana hal ini telah terjadi pula pada umat-umat sebelumnya. Kita wajib untuk berpegang teguh dengan jalan yang sudah ditempuh oleh Nabi dan para sahabatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً“Orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Adapun umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR. Abu Dawud, hasan shahih)Baca Juga: Hakikat Manhaj Salaf (Bag. 1)Disebutkan dalam riwayat lain,كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي“Semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan yang ditempuh olehku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi, hasan)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Sesungguhnya barangsiapa yang nanti hidup setelahku, maka dia akan melihat terjadinya perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, berpeganglah kalian kepada sunahku dan sunah Al-Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk (Al-Mahdiyyin). Gigitlah ia (sunahku tersebut) dengan gigi geraham, dan tinggalkanlah oleh kalian perkara-perkara baru dalam agama karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, hasan shahih)Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada kita untuk berpegang teguh dengan jalan yang sudah ditempuh oleh beliau dan para sahabatnya ketika terjadi perselisihan dan perpecahan, karena hal ini pasti akan terjadi dan sudah terjadi seperti yang sudah dikabarkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Jalan keselamatan adalah berpegang teguh dengan jalan yang sudah ditempuh oleh Rasul dan para sahabat. Ini adalah golongan yang selamat dari neraka, sedangkan golongan yang lain berada di neraka sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Oleh karena itu, mereka disebut  (الفرقة الناجية) dan (أهل السنة والجماعة), yaitu golongan yang berbeda dengan yang lain karena senantiasa berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun selainnya adalah golongan yang sesat, meskipun mereka mengaku golongan umat ini, karena jalan yang mereka tempuh menyelisihi Rasul dan para sahabatnya. Ini adalah nasihat dan penjelasan yang lengkap dan sempurna dari Nabi shallalllahu ‘alaihi wasallam kepada kita semua.Manhaj salaf adalah pengikut Nabi dan para generasi terbaikMetode yang mereka tempuh sangat jelas, yaitu mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan cara beragama yang telah dijalani pendahulu umat ini dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in yang merupakan tiga generasi utama. Hal ini disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Setelah terlewatinya masa tiga generasi utama, mulailah terjadi perpecahan dalam umat ini. Akan tetapi, barangsiapa berjalan di atas cara beragama yang sudah ditempuh oleh tiga generasi utama umat ini, maka meskipun dia berada di zaman akhir kehidupan dunia ini, maka dia tetap akan menjadi golongan yang selamat. Allah Ta’ala berfirman,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.“  (QS. At-Taubah: 100)Dalam ayat di atas Allah memberikan jaminan surga bagi orang yang senantiasa mengikuti sahabat muhajirin dan anshar dengan baik. Perlu dicatat di sini, yaitu mengikuti mereka dengan baik (بِإِحْسَانٍ), yaitu mengikuti mereka dengan baik dan sempurna. Tidak hanya sekadar kalimat dan pengakuan tanpa realisasi sama sekali, baik itu karena kebodohan atau mengikuti hawa nafsu. Tidak semua yang mengaku mengikuti generasi salaf benar dalam pengakuannya, sampai dia betul-betul sempurna dalam mengikutinya dengan baik, karena ini adalah syarat yang Allah sebutkan dalam ayat. Maksudnya adalah mengikuti dengan baik dan sempurna. Inilah yang dituntut dari mengikuti dan mempelajari manhaj salaf, yaitu mempelajarinya dan kemudian berpegang teguh dengannya. Adapun yang sekadar mengaku mengikuti salaf, namun tidak mengenal hakikat manhaj salaf atau mengetahuinya namun tidak mau berjalan di atasnya, maka hal ini tidak teranggap dan sama sekali tidak bermanfaat. Mereka bukanlah salafi, karena tidak mengikuti salaf dengan baik seperti yang Allah persyaratkan.Barangsiapa yang mengikuti manhaj salaf, maka harus terpenuhi dua hal: (1) mengenal manhaj salaf itu sendiri, dan (2) berpegang teguh dengannya dan siap menerima apapun risikonya, karena dia akan menghadapi gangguan dengan para penyelisih serta akan mendapat berbagai cemoohan dan gelaran buruk. Dia hendaknya bersabar dengan itu semua dan yakin dengan jalan yang sudah ditempuhnya. Berbagai gangguan dan fitnah tidak ada yang bisa menggoyahkan dirinya sampai dia berjumpa dengan Rabbnya.Hendaknya kita mengenal manhaj salaf dengan benar terlebih dahulu, kemudian berusaha mengikuti dan berpegang teguh dengannya, kemudian bersabar dengan fitnah yang dilontarkan banyak manusia. Tidak cukup sampai di sini, akan tetapi hendaknya juga mendakwahkan dan menyebarkan manhaj salaf serta menjelaskannya kepada manusia.Demikianlah metode mempelajari dan mendakwahkan manhaj salaf. Inilah hakikat salafi. Adapun orang yang sekadar mengaku salafi, maka dia tidak mengenal manhaj salaf, atau mengenal namun tidak mau mengikutinya, atau hanya mengikuti sesuai dengan keinginannya, atau  dia tidak mau bersabar dengan berbagai fitnah yang ada. Maka, hakikatnya dia bukanlah salafi meskipun disebut-sebut sebagai salafi.Yang menjadi acuan bukanlah hanya sekadar pengakuan, akan tetapi berdasarkan hakikatnya. Hal ini mendorong kita untuk menaruh perhatian serius dalam mempelajari manhaj salaf baik dalam akidah, akhlak, amal, dan semuanya yang merupakan metode beragama yang telah ditempuh oleh Nabi dan para sahabatnya  serta para pengikutnya sampai datangnya hari kiamat. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ “Akan senantiasa ada sekelompok orang di antara umatku yang menegakkan agama Allah, tidaklah membahayakan mereka orang lain yang menyia-nyiakan dan menyelisihi mereka hingga datang ketetapan Allah sementara mereka senantiasa berada dalam keadaan demikian.” (HR. Bukhari)Sabda Nabi ( لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ ) menunjukkan bahwa akan ada yang  meninggalkan dan menentang mereka. Akan tetapi, mereka tidak memperdulikan hal itu, bahkan mereka tetap menempuh jalan menuju Allah dan bersabar atas musibah yang menimpa mereka. Hal ini sebagaimana perkataan Lukman kepada anaknya,يَا بُنَيَّ أَقِمْ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنْ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ (QS. Luqman: 17)Baca Juga: Kekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam KeikhlasanManhaj salaf adalah satu-satunya jalan keselamatanIni adalah manhaj salaf dan merupakan ciri khas dan sifat mereka. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.“ (QS. Al-An’am: 153)Allah Ta’ala menisbatkan jalan keselamatan kepada diri-Nya, yang menunjukkan kemuliaan jalan ini dan orang-orang yang berjalan di atasnya. Jalan Allah Ta’ala adalah jalan yang lurus, sementara di sana banyak jalan lain yang menyimpang dari manhaj salaf. Maka, ikutilah manhaj salaf agar kalian menjadi orang yang bertakwa, yakni yang senantiasa takut kepada Alah, dan takut terjerumus dalam kesesatan, syubhat, dan jalan yang menyimpang.Perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala menjadikan jalan-Nya hanya satu saja, sementara jalan yang menyimpang banyak jumlahnya. Jalan Allah hanya satu, di mana tidak ada perpecahan, tidak berbilang, tidak ada kebengkokan, dan tidak ada perselisihan. Adapun jalan kesesatan ada banyak dan tidak bisa terhitung. Setiap orang menciptakan jalan untuknya, dan diikuti oleh banyak orang.Jika mengikuti banyak jalan tersebut, apa yang akan didapatkan? Niscaya kalian akan keluar dari jalan Allah dan terjerumus dalam kegelapan dan kesesatan. Tidak ada jalan keselamatan, kecuali dengan berpegang teguh dengan shiratal mustaqim yang merupakan jalannya Allah. Adapun selainnya adalah jalan-jalan kesesatan yang terdapat setan untuk mengajak ke jalan tersebut. Waspadalah terhadap hal ini,  jangan sampai tertipu dengan banyaknya pelanggar, dan kita tidak peduli dengan propaganda dan celaan mereka. Kita tidak boleh beralih ke sana, namun harus tetap berjalan di atas jalan Allah dengan petunjuk ilmu yang benar.[Bersambung]Baca Juga:Fatwa Ulama: Siapa Itu Salafi?10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 12): Nasihat Ulama Salaf Tentang Penyucian Jiwa***Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.S.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Nama Hari Kiamat Dan Artinya, Hadits Menahan Marah, Al Imran Ayat 130, Ayat MusibahTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan manhaj salafkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamSalafTauhid

Hakikat Manhaj Salaf (Bag. 1)

Daftar Isi sembunyikan 1. Manhaj salaf adalah solusi dari perpecahan umat 2. Manhaj salaf adalah pengikut Nabi dan para generasi terbaik 3. Manhaj salaf adalah satu-satunya jalan keselamatan Manhaj salaf adalah solusi dari perpecahan umat Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa akan terjadi perpecahan dalam umat ini sebagaimana hal ini telah terjadi pula pada umat-umat sebelumnya. Kita wajib untuk berpegang teguh dengan jalan yang sudah ditempuh oleh Nabi dan para sahabatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً“Orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Adapun umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR. Abu Dawud, hasan shahih)Baca Juga: Hakikat Manhaj Salaf (Bag. 1)Disebutkan dalam riwayat lain,كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي“Semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan yang ditempuh olehku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi, hasan)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Sesungguhnya barangsiapa yang nanti hidup setelahku, maka dia akan melihat terjadinya perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, berpeganglah kalian kepada sunahku dan sunah Al-Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk (Al-Mahdiyyin). Gigitlah ia (sunahku tersebut) dengan gigi geraham, dan tinggalkanlah oleh kalian perkara-perkara baru dalam agama karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, hasan shahih)Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada kita untuk berpegang teguh dengan jalan yang sudah ditempuh oleh beliau dan para sahabatnya ketika terjadi perselisihan dan perpecahan, karena hal ini pasti akan terjadi dan sudah terjadi seperti yang sudah dikabarkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Jalan keselamatan adalah berpegang teguh dengan jalan yang sudah ditempuh oleh Rasul dan para sahabat. Ini adalah golongan yang selamat dari neraka, sedangkan golongan yang lain berada di neraka sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Oleh karena itu, mereka disebut  (الفرقة الناجية) dan (أهل السنة والجماعة), yaitu golongan yang berbeda dengan yang lain karena senantiasa berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun selainnya adalah golongan yang sesat, meskipun mereka mengaku golongan umat ini, karena jalan yang mereka tempuh menyelisihi Rasul dan para sahabatnya. Ini adalah nasihat dan penjelasan yang lengkap dan sempurna dari Nabi shallalllahu ‘alaihi wasallam kepada kita semua.Manhaj salaf adalah pengikut Nabi dan para generasi terbaikMetode yang mereka tempuh sangat jelas, yaitu mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan cara beragama yang telah dijalani pendahulu umat ini dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in yang merupakan tiga generasi utama. Hal ini disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Setelah terlewatinya masa tiga generasi utama, mulailah terjadi perpecahan dalam umat ini. Akan tetapi, barangsiapa berjalan di atas cara beragama yang sudah ditempuh oleh tiga generasi utama umat ini, maka meskipun dia berada di zaman akhir kehidupan dunia ini, maka dia tetap akan menjadi golongan yang selamat. Allah Ta’ala berfirman,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.“  (QS. At-Taubah: 100)Dalam ayat di atas Allah memberikan jaminan surga bagi orang yang senantiasa mengikuti sahabat muhajirin dan anshar dengan baik. Perlu dicatat di sini, yaitu mengikuti mereka dengan baik (بِإِحْسَانٍ), yaitu mengikuti mereka dengan baik dan sempurna. Tidak hanya sekadar kalimat dan pengakuan tanpa realisasi sama sekali, baik itu karena kebodohan atau mengikuti hawa nafsu. Tidak semua yang mengaku mengikuti generasi salaf benar dalam pengakuannya, sampai dia betul-betul sempurna dalam mengikutinya dengan baik, karena ini adalah syarat yang Allah sebutkan dalam ayat. Maksudnya adalah mengikuti dengan baik dan sempurna. Inilah yang dituntut dari mengikuti dan mempelajari manhaj salaf, yaitu mempelajarinya dan kemudian berpegang teguh dengannya. Adapun yang sekadar mengaku mengikuti salaf, namun tidak mengenal hakikat manhaj salaf atau mengetahuinya namun tidak mau berjalan di atasnya, maka hal ini tidak teranggap dan sama sekali tidak bermanfaat. Mereka bukanlah salafi, karena tidak mengikuti salaf dengan baik seperti yang Allah persyaratkan.Barangsiapa yang mengikuti manhaj salaf, maka harus terpenuhi dua hal: (1) mengenal manhaj salaf itu sendiri, dan (2) berpegang teguh dengannya dan siap menerima apapun risikonya, karena dia akan menghadapi gangguan dengan para penyelisih serta akan mendapat berbagai cemoohan dan gelaran buruk. Dia hendaknya bersabar dengan itu semua dan yakin dengan jalan yang sudah ditempuhnya. Berbagai gangguan dan fitnah tidak ada yang bisa menggoyahkan dirinya sampai dia berjumpa dengan Rabbnya.Hendaknya kita mengenal manhaj salaf dengan benar terlebih dahulu, kemudian berusaha mengikuti dan berpegang teguh dengannya, kemudian bersabar dengan fitnah yang dilontarkan banyak manusia. Tidak cukup sampai di sini, akan tetapi hendaknya juga mendakwahkan dan menyebarkan manhaj salaf serta menjelaskannya kepada manusia.Demikianlah metode mempelajari dan mendakwahkan manhaj salaf. Inilah hakikat salafi. Adapun orang yang sekadar mengaku salafi, maka dia tidak mengenal manhaj salaf, atau mengenal namun tidak mau mengikutinya, atau hanya mengikuti sesuai dengan keinginannya, atau  dia tidak mau bersabar dengan berbagai fitnah yang ada. Maka, hakikatnya dia bukanlah salafi meskipun disebut-sebut sebagai salafi.Yang menjadi acuan bukanlah hanya sekadar pengakuan, akan tetapi berdasarkan hakikatnya. Hal ini mendorong kita untuk menaruh perhatian serius dalam mempelajari manhaj salaf baik dalam akidah, akhlak, amal, dan semuanya yang merupakan metode beragama yang telah ditempuh oleh Nabi dan para sahabatnya  serta para pengikutnya sampai datangnya hari kiamat. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ “Akan senantiasa ada sekelompok orang di antara umatku yang menegakkan agama Allah, tidaklah membahayakan mereka orang lain yang menyia-nyiakan dan menyelisihi mereka hingga datang ketetapan Allah sementara mereka senantiasa berada dalam keadaan demikian.” (HR. Bukhari)Sabda Nabi ( لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ ) menunjukkan bahwa akan ada yang  meninggalkan dan menentang mereka. Akan tetapi, mereka tidak memperdulikan hal itu, bahkan mereka tetap menempuh jalan menuju Allah dan bersabar atas musibah yang menimpa mereka. Hal ini sebagaimana perkataan Lukman kepada anaknya,يَا بُنَيَّ أَقِمْ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنْ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ (QS. Luqman: 17)Baca Juga: Kekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam KeikhlasanManhaj salaf adalah satu-satunya jalan keselamatanIni adalah manhaj salaf dan merupakan ciri khas dan sifat mereka. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.“ (QS. Al-An’am: 153)Allah Ta’ala menisbatkan jalan keselamatan kepada diri-Nya, yang menunjukkan kemuliaan jalan ini dan orang-orang yang berjalan di atasnya. Jalan Allah Ta’ala adalah jalan yang lurus, sementara di sana banyak jalan lain yang menyimpang dari manhaj salaf. Maka, ikutilah manhaj salaf agar kalian menjadi orang yang bertakwa, yakni yang senantiasa takut kepada Alah, dan takut terjerumus dalam kesesatan, syubhat, dan jalan yang menyimpang.Perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala menjadikan jalan-Nya hanya satu saja, sementara jalan yang menyimpang banyak jumlahnya. Jalan Allah hanya satu, di mana tidak ada perpecahan, tidak berbilang, tidak ada kebengkokan, dan tidak ada perselisihan. Adapun jalan kesesatan ada banyak dan tidak bisa terhitung. Setiap orang menciptakan jalan untuknya, dan diikuti oleh banyak orang.Jika mengikuti banyak jalan tersebut, apa yang akan didapatkan? Niscaya kalian akan keluar dari jalan Allah dan terjerumus dalam kegelapan dan kesesatan. Tidak ada jalan keselamatan, kecuali dengan berpegang teguh dengan shiratal mustaqim yang merupakan jalannya Allah. Adapun selainnya adalah jalan-jalan kesesatan yang terdapat setan untuk mengajak ke jalan tersebut. Waspadalah terhadap hal ini,  jangan sampai tertipu dengan banyaknya pelanggar, dan kita tidak peduli dengan propaganda dan celaan mereka. Kita tidak boleh beralih ke sana, namun harus tetap berjalan di atas jalan Allah dengan petunjuk ilmu yang benar.[Bersambung]Baca Juga:Fatwa Ulama: Siapa Itu Salafi?10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 12): Nasihat Ulama Salaf Tentang Penyucian Jiwa***Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.S.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Nama Hari Kiamat Dan Artinya, Hadits Menahan Marah, Al Imran Ayat 130, Ayat MusibahTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan manhaj salafkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamSalafTauhid
Daftar Isi sembunyikan 1. Manhaj salaf adalah solusi dari perpecahan umat 2. Manhaj salaf adalah pengikut Nabi dan para generasi terbaik 3. Manhaj salaf adalah satu-satunya jalan keselamatan Manhaj salaf adalah solusi dari perpecahan umat Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa akan terjadi perpecahan dalam umat ini sebagaimana hal ini telah terjadi pula pada umat-umat sebelumnya. Kita wajib untuk berpegang teguh dengan jalan yang sudah ditempuh oleh Nabi dan para sahabatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً“Orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Adapun umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR. Abu Dawud, hasan shahih)Baca Juga: Hakikat Manhaj Salaf (Bag. 1)Disebutkan dalam riwayat lain,كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي“Semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan yang ditempuh olehku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi, hasan)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Sesungguhnya barangsiapa yang nanti hidup setelahku, maka dia akan melihat terjadinya perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, berpeganglah kalian kepada sunahku dan sunah Al-Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk (Al-Mahdiyyin). Gigitlah ia (sunahku tersebut) dengan gigi geraham, dan tinggalkanlah oleh kalian perkara-perkara baru dalam agama karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, hasan shahih)Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada kita untuk berpegang teguh dengan jalan yang sudah ditempuh oleh beliau dan para sahabatnya ketika terjadi perselisihan dan perpecahan, karena hal ini pasti akan terjadi dan sudah terjadi seperti yang sudah dikabarkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Jalan keselamatan adalah berpegang teguh dengan jalan yang sudah ditempuh oleh Rasul dan para sahabat. Ini adalah golongan yang selamat dari neraka, sedangkan golongan yang lain berada di neraka sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Oleh karena itu, mereka disebut  (الفرقة الناجية) dan (أهل السنة والجماعة), yaitu golongan yang berbeda dengan yang lain karena senantiasa berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun selainnya adalah golongan yang sesat, meskipun mereka mengaku golongan umat ini, karena jalan yang mereka tempuh menyelisihi Rasul dan para sahabatnya. Ini adalah nasihat dan penjelasan yang lengkap dan sempurna dari Nabi shallalllahu ‘alaihi wasallam kepada kita semua.Manhaj salaf adalah pengikut Nabi dan para generasi terbaikMetode yang mereka tempuh sangat jelas, yaitu mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan cara beragama yang telah dijalani pendahulu umat ini dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in yang merupakan tiga generasi utama. Hal ini disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Setelah terlewatinya masa tiga generasi utama, mulailah terjadi perpecahan dalam umat ini. Akan tetapi, barangsiapa berjalan di atas cara beragama yang sudah ditempuh oleh tiga generasi utama umat ini, maka meskipun dia berada di zaman akhir kehidupan dunia ini, maka dia tetap akan menjadi golongan yang selamat. Allah Ta’ala berfirman,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.“  (QS. At-Taubah: 100)Dalam ayat di atas Allah memberikan jaminan surga bagi orang yang senantiasa mengikuti sahabat muhajirin dan anshar dengan baik. Perlu dicatat di sini, yaitu mengikuti mereka dengan baik (بِإِحْسَانٍ), yaitu mengikuti mereka dengan baik dan sempurna. Tidak hanya sekadar kalimat dan pengakuan tanpa realisasi sama sekali, baik itu karena kebodohan atau mengikuti hawa nafsu. Tidak semua yang mengaku mengikuti generasi salaf benar dalam pengakuannya, sampai dia betul-betul sempurna dalam mengikutinya dengan baik, karena ini adalah syarat yang Allah sebutkan dalam ayat. Maksudnya adalah mengikuti dengan baik dan sempurna. Inilah yang dituntut dari mengikuti dan mempelajari manhaj salaf, yaitu mempelajarinya dan kemudian berpegang teguh dengannya. Adapun yang sekadar mengaku mengikuti salaf, namun tidak mengenal hakikat manhaj salaf atau mengetahuinya namun tidak mau berjalan di atasnya, maka hal ini tidak teranggap dan sama sekali tidak bermanfaat. Mereka bukanlah salafi, karena tidak mengikuti salaf dengan baik seperti yang Allah persyaratkan.Barangsiapa yang mengikuti manhaj salaf, maka harus terpenuhi dua hal: (1) mengenal manhaj salaf itu sendiri, dan (2) berpegang teguh dengannya dan siap menerima apapun risikonya, karena dia akan menghadapi gangguan dengan para penyelisih serta akan mendapat berbagai cemoohan dan gelaran buruk. Dia hendaknya bersabar dengan itu semua dan yakin dengan jalan yang sudah ditempuhnya. Berbagai gangguan dan fitnah tidak ada yang bisa menggoyahkan dirinya sampai dia berjumpa dengan Rabbnya.Hendaknya kita mengenal manhaj salaf dengan benar terlebih dahulu, kemudian berusaha mengikuti dan berpegang teguh dengannya, kemudian bersabar dengan fitnah yang dilontarkan banyak manusia. Tidak cukup sampai di sini, akan tetapi hendaknya juga mendakwahkan dan menyebarkan manhaj salaf serta menjelaskannya kepada manusia.Demikianlah metode mempelajari dan mendakwahkan manhaj salaf. Inilah hakikat salafi. Adapun orang yang sekadar mengaku salafi, maka dia tidak mengenal manhaj salaf, atau mengenal namun tidak mau mengikutinya, atau hanya mengikuti sesuai dengan keinginannya, atau  dia tidak mau bersabar dengan berbagai fitnah yang ada. Maka, hakikatnya dia bukanlah salafi meskipun disebut-sebut sebagai salafi.Yang menjadi acuan bukanlah hanya sekadar pengakuan, akan tetapi berdasarkan hakikatnya. Hal ini mendorong kita untuk menaruh perhatian serius dalam mempelajari manhaj salaf baik dalam akidah, akhlak, amal, dan semuanya yang merupakan metode beragama yang telah ditempuh oleh Nabi dan para sahabatnya  serta para pengikutnya sampai datangnya hari kiamat. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ “Akan senantiasa ada sekelompok orang di antara umatku yang menegakkan agama Allah, tidaklah membahayakan mereka orang lain yang menyia-nyiakan dan menyelisihi mereka hingga datang ketetapan Allah sementara mereka senantiasa berada dalam keadaan demikian.” (HR. Bukhari)Sabda Nabi ( لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ ) menunjukkan bahwa akan ada yang  meninggalkan dan menentang mereka. Akan tetapi, mereka tidak memperdulikan hal itu, bahkan mereka tetap menempuh jalan menuju Allah dan bersabar atas musibah yang menimpa mereka. Hal ini sebagaimana perkataan Lukman kepada anaknya,يَا بُنَيَّ أَقِمْ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنْ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ (QS. Luqman: 17)Baca Juga: Kekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam KeikhlasanManhaj salaf adalah satu-satunya jalan keselamatanIni adalah manhaj salaf dan merupakan ciri khas dan sifat mereka. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.“ (QS. Al-An’am: 153)Allah Ta’ala menisbatkan jalan keselamatan kepada diri-Nya, yang menunjukkan kemuliaan jalan ini dan orang-orang yang berjalan di atasnya. Jalan Allah Ta’ala adalah jalan yang lurus, sementara di sana banyak jalan lain yang menyimpang dari manhaj salaf. Maka, ikutilah manhaj salaf agar kalian menjadi orang yang bertakwa, yakni yang senantiasa takut kepada Alah, dan takut terjerumus dalam kesesatan, syubhat, dan jalan yang menyimpang.Perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala menjadikan jalan-Nya hanya satu saja, sementara jalan yang menyimpang banyak jumlahnya. Jalan Allah hanya satu, di mana tidak ada perpecahan, tidak berbilang, tidak ada kebengkokan, dan tidak ada perselisihan. Adapun jalan kesesatan ada banyak dan tidak bisa terhitung. Setiap orang menciptakan jalan untuknya, dan diikuti oleh banyak orang.Jika mengikuti banyak jalan tersebut, apa yang akan didapatkan? Niscaya kalian akan keluar dari jalan Allah dan terjerumus dalam kegelapan dan kesesatan. Tidak ada jalan keselamatan, kecuali dengan berpegang teguh dengan shiratal mustaqim yang merupakan jalannya Allah. Adapun selainnya adalah jalan-jalan kesesatan yang terdapat setan untuk mengajak ke jalan tersebut. Waspadalah terhadap hal ini,  jangan sampai tertipu dengan banyaknya pelanggar, dan kita tidak peduli dengan propaganda dan celaan mereka. Kita tidak boleh beralih ke sana, namun harus tetap berjalan di atas jalan Allah dengan petunjuk ilmu yang benar.[Bersambung]Baca Juga:Fatwa Ulama: Siapa Itu Salafi?10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 12): Nasihat Ulama Salaf Tentang Penyucian Jiwa***Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.S.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Nama Hari Kiamat Dan Artinya, Hadits Menahan Marah, Al Imran Ayat 130, Ayat MusibahTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan manhaj salafkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamSalafTauhid


Daftar Isi sembunyikan 1. Manhaj salaf adalah solusi dari perpecahan umat 2. Manhaj salaf adalah pengikut Nabi dan para generasi terbaik 3. Manhaj salaf adalah satu-satunya jalan keselamatan Manhaj salaf adalah solusi dari perpecahan umat Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa akan terjadi perpecahan dalam umat ini sebagaimana hal ini telah terjadi pula pada umat-umat sebelumnya. Kita wajib untuk berpegang teguh dengan jalan yang sudah ditempuh oleh Nabi dan para sahabatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً“Orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Adapun umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR. Abu Dawud, hasan shahih)Baca Juga: Hakikat Manhaj Salaf (Bag. 1)Disebutkan dalam riwayat lain,كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي“Semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan yang ditempuh olehku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi, hasan)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Sesungguhnya barangsiapa yang nanti hidup setelahku, maka dia akan melihat terjadinya perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, berpeganglah kalian kepada sunahku dan sunah Al-Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk (Al-Mahdiyyin). Gigitlah ia (sunahku tersebut) dengan gigi geraham, dan tinggalkanlah oleh kalian perkara-perkara baru dalam agama karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, hasan shahih)Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada kita untuk berpegang teguh dengan jalan yang sudah ditempuh oleh beliau dan para sahabatnya ketika terjadi perselisihan dan perpecahan, karena hal ini pasti akan terjadi dan sudah terjadi seperti yang sudah dikabarkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Jalan keselamatan adalah berpegang teguh dengan jalan yang sudah ditempuh oleh Rasul dan para sahabat. Ini adalah golongan yang selamat dari neraka, sedangkan golongan yang lain berada di neraka sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Oleh karena itu, mereka disebut  (الفرقة الناجية) dan (أهل السنة والجماعة), yaitu golongan yang berbeda dengan yang lain karena senantiasa berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun selainnya adalah golongan yang sesat, meskipun mereka mengaku golongan umat ini, karena jalan yang mereka tempuh menyelisihi Rasul dan para sahabatnya. Ini adalah nasihat dan penjelasan yang lengkap dan sempurna dari Nabi shallalllahu ‘alaihi wasallam kepada kita semua.Manhaj salaf adalah pengikut Nabi dan para generasi terbaikMetode yang mereka tempuh sangat jelas, yaitu mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan cara beragama yang telah dijalani pendahulu umat ini dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in yang merupakan tiga generasi utama. Hal ini disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Setelah terlewatinya masa tiga generasi utama, mulailah terjadi perpecahan dalam umat ini. Akan tetapi, barangsiapa berjalan di atas cara beragama yang sudah ditempuh oleh tiga generasi utama umat ini, maka meskipun dia berada di zaman akhir kehidupan dunia ini, maka dia tetap akan menjadi golongan yang selamat. Allah Ta’ala berfirman,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.“  (QS. At-Taubah: 100)Dalam ayat di atas Allah memberikan jaminan surga bagi orang yang senantiasa mengikuti sahabat muhajirin dan anshar dengan baik. Perlu dicatat di sini, yaitu mengikuti mereka dengan baik (بِإِحْسَانٍ), yaitu mengikuti mereka dengan baik dan sempurna. Tidak hanya sekadar kalimat dan pengakuan tanpa realisasi sama sekali, baik itu karena kebodohan atau mengikuti hawa nafsu. Tidak semua yang mengaku mengikuti generasi salaf benar dalam pengakuannya, sampai dia betul-betul sempurna dalam mengikutinya dengan baik, karena ini adalah syarat yang Allah sebutkan dalam ayat. Maksudnya adalah mengikuti dengan baik dan sempurna. Inilah yang dituntut dari mengikuti dan mempelajari manhaj salaf, yaitu mempelajarinya dan kemudian berpegang teguh dengannya. Adapun yang sekadar mengaku mengikuti salaf, namun tidak mengenal hakikat manhaj salaf atau mengetahuinya namun tidak mau berjalan di atasnya, maka hal ini tidak teranggap dan sama sekali tidak bermanfaat. Mereka bukanlah salafi, karena tidak mengikuti salaf dengan baik seperti yang Allah persyaratkan.Barangsiapa yang mengikuti manhaj salaf, maka harus terpenuhi dua hal: (1) mengenal manhaj salaf itu sendiri, dan (2) berpegang teguh dengannya dan siap menerima apapun risikonya, karena dia akan menghadapi gangguan dengan para penyelisih serta akan mendapat berbagai cemoohan dan gelaran buruk. Dia hendaknya bersabar dengan itu semua dan yakin dengan jalan yang sudah ditempuhnya. Berbagai gangguan dan fitnah tidak ada yang bisa menggoyahkan dirinya sampai dia berjumpa dengan Rabbnya.Hendaknya kita mengenal manhaj salaf dengan benar terlebih dahulu, kemudian berusaha mengikuti dan berpegang teguh dengannya, kemudian bersabar dengan fitnah yang dilontarkan banyak manusia. Tidak cukup sampai di sini, akan tetapi hendaknya juga mendakwahkan dan menyebarkan manhaj salaf serta menjelaskannya kepada manusia.Demikianlah metode mempelajari dan mendakwahkan manhaj salaf. Inilah hakikat salafi. Adapun orang yang sekadar mengaku salafi, maka dia tidak mengenal manhaj salaf, atau mengenal namun tidak mau mengikutinya, atau hanya mengikuti sesuai dengan keinginannya, atau  dia tidak mau bersabar dengan berbagai fitnah yang ada. Maka, hakikatnya dia bukanlah salafi meskipun disebut-sebut sebagai salafi.Yang menjadi acuan bukanlah hanya sekadar pengakuan, akan tetapi berdasarkan hakikatnya. Hal ini mendorong kita untuk menaruh perhatian serius dalam mempelajari manhaj salaf baik dalam akidah, akhlak, amal, dan semuanya yang merupakan metode beragama yang telah ditempuh oleh Nabi dan para sahabatnya  serta para pengikutnya sampai datangnya hari kiamat. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ “Akan senantiasa ada sekelompok orang di antara umatku yang menegakkan agama Allah, tidaklah membahayakan mereka orang lain yang menyia-nyiakan dan menyelisihi mereka hingga datang ketetapan Allah sementara mereka senantiasa berada dalam keadaan demikian.” (HR. Bukhari)Sabda Nabi ( لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ ) menunjukkan bahwa akan ada yang  meninggalkan dan menentang mereka. Akan tetapi, mereka tidak memperdulikan hal itu, bahkan mereka tetap menempuh jalan menuju Allah dan bersabar atas musibah yang menimpa mereka. Hal ini sebagaimana perkataan Lukman kepada anaknya,يَا بُنَيَّ أَقِمْ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنْ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ (QS. Luqman: 17)Baca Juga: Kekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam KeikhlasanManhaj salaf adalah satu-satunya jalan keselamatanIni adalah manhaj salaf dan merupakan ciri khas dan sifat mereka. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.“ (QS. Al-An’am: 153)Allah Ta’ala menisbatkan jalan keselamatan kepada diri-Nya, yang menunjukkan kemuliaan jalan ini dan orang-orang yang berjalan di atasnya. Jalan Allah Ta’ala adalah jalan yang lurus, sementara di sana banyak jalan lain yang menyimpang dari manhaj salaf. Maka, ikutilah manhaj salaf agar kalian menjadi orang yang bertakwa, yakni yang senantiasa takut kepada Alah, dan takut terjerumus dalam kesesatan, syubhat, dan jalan yang menyimpang.Perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala menjadikan jalan-Nya hanya satu saja, sementara jalan yang menyimpang banyak jumlahnya. Jalan Allah hanya satu, di mana tidak ada perpecahan, tidak berbilang, tidak ada kebengkokan, dan tidak ada perselisihan. Adapun jalan kesesatan ada banyak dan tidak bisa terhitung. Setiap orang menciptakan jalan untuknya, dan diikuti oleh banyak orang.Jika mengikuti banyak jalan tersebut, apa yang akan didapatkan? Niscaya kalian akan keluar dari jalan Allah dan terjerumus dalam kegelapan dan kesesatan. Tidak ada jalan keselamatan, kecuali dengan berpegang teguh dengan shiratal mustaqim yang merupakan jalannya Allah. Adapun selainnya adalah jalan-jalan kesesatan yang terdapat setan untuk mengajak ke jalan tersebut. Waspadalah terhadap hal ini,  jangan sampai tertipu dengan banyaknya pelanggar, dan kita tidak peduli dengan propaganda dan celaan mereka. Kita tidak boleh beralih ke sana, namun harus tetap berjalan di atas jalan Allah dengan petunjuk ilmu yang benar.[Bersambung]Baca Juga:Fatwa Ulama: Siapa Itu Salafi?10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 12): Nasihat Ulama Salaf Tentang Penyucian Jiwa***Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.S.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Nama Hari Kiamat Dan Artinya, Hadits Menahan Marah, Al Imran Ayat 130, Ayat MusibahTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan manhaj salafkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamSalafTauhid

Larangan Memandang Amrad

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan amrad? Saya mendengar bahwa laki-laki dilarang memandang laki-laki lain yang disebut amrad? Apakah itu benar? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Yang dimaksud dengan al-amrad atau al-murdan, secara bahasa, adalah laki-laki yang mencukur habis kumisnya dan tidak berjenggot, sehingga pada wajahnya tidak ada kumis dan jenggot. Dalam al-Qamus al-Muhith disebutkan definisi al-amrad, الشَّابُّ طَرَّ شارِبُهُ ولم تَنْبُتْ لِحْيَتُهُ “Pemuda yang dicukur habis kumisnya dan tidak tumbuh jenggotnya.” Dalam Mu’jam Musthalahat Syar’iyyah disebutkan : الأمرد :الشخص الصغير الأملس الوجه قبل البلوغ الذي لم تنبت له لحية في وجهه “Al-amrad adalah anak laki-laki yang masih kecil yang mulus wajahnya, sebelum baligh, dan tidak tumbuh jenggot pada wajahnya.” Namun secara istilah fikih, al-amrad adalah laki-laki yang mulus wajahnya tanpa kumis dan jenggot, baik sudah baligh atau belum, sehingga ia menjadi mirip seperti wanita. Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah (6/252) dijelaskan, هُوَ مَنْ لَمْ تَنْبُتْ لِحْيَتُهُ، وَلَمْ يَصِل إِلَى أَوَانِ إِنْبَاتِهَا فِي غَالِبِ النَّاسِ وَالظَّاهِرُ أَنَّ طُرُورَ الشَّارِبِ وَبُلُوغَهُ مَبْلَغَ الرِّجَال لَيْسَ بِقَيْدٍ، بَل هُوَ بَيَانٌ لِغَايَتِهِ، وَأَنَّ ابْتِدَاءَهُ حِينَ بُلُوغِهِ سِنًّا تَشْتَهِيهِ النِّسَاءُ “Al-amrad adalah lelaki yang tidak tumbuh jenggotnya dan ia memang belum mencapai usia tumbuh jenggot pada keumuman keadaan masyarakat. Namun yang tepat, dicukur habisnya kumis dan usia baligh bukanlah patokan. Namun ia sekedar indikasi dari poin utama dari al-amrad, yaitu menyerupai wanita. Dan hal itu memang dimulai ketika masa-masa mendekati baligh.” Maka lelaki dewasa yang mulus wajahnya tanpa kumis dan jenggot, sehingga ia menjadi mirip seperti wajah wanita, ia juga termasuk al-amrad atau al-murdan. Para ulama menjelaskan bahwa lelaki yang mukallaf (sudah baligh) dilarang memandang kepada al-amrad, berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala: قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ . وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. an-Nur: 30-31) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ayat ini:  أي أرشد المؤمنين وقل لهم ، الذين معهم إيمان يمنعهم من وقوع ما يخل بالإيمان : يغضوا من أبصارهم عن النظر إلى العورات ، وإلى النساء الأجنبيات ، وإلى المُردان الذين يخاف بالنظر إليهم الفتنة “Maksudnya, Allah ta’ala membimbing kaum mukminin yang masih punya iman dan iman mereka mencegah mereka melakukan hal-hal yang mencacati iman mereka, dan ini sedikit, untuk menundukkan pandangan mereka. Agar tidak memandang kepada aurat, dan kepada wanita yang nonmahram, atau kepada al-murdan yang dikhawatirkan terjadi fitnah (godaan) jika memandang mereka.” (Tafsir as-Sa’di, hal. 515) Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memandang al-amrad. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ” الصبي الأمرد المليح بمنزلة المرأة الأجنبية في كثير من الأمور ، .. ولا يجوز النظر إليه على هذا الوجه [ يعني بشهوة ] باتفاق للناس ، بل يحرم عند جمهورهم النظر إليه عند خوف ذلك ” انتهى . “Anak kecil laki-laki yang amrad dan cantik wajahnya, hukumnya sama seperti wanita nonmahram dalam banyak perkara … dan tidak boleh memandang wajahnya jika disertai syahwat berdasarkan kesepakatan ulama. Dan diharamkan memandang wajahnya oleh jumhur ulama (jika wajahnya tidak cantik) ketika dikhawatirkan menimbulkan godaan.” (Fatawa al-Kubra, 3/202) Dijelaskan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, “Jika al-amrad tidak cantik wajahnya dan tidak menimbulkan godaan, maka ulama Hanafiyah dan Syafi’iyyah menegaskan hukumnya sama seperti memandang laki-laki yang lain (yaitu boleh).  Adapun jika ia terlihat cantik dan menimbulkan godaan, ini perlu dirinci. Kaidahnya, seorang al-amrad dianggap memikat atau tidaknya ini berdasarkan ‘urf dari orang yang memandang, walaupun ia berkulit hitam. Karena memikatnya wajah itu berbeda-beda patokannya di setiap masyarakat dan kebudayaan. Maka dalam hal ini perlu dirinci menjadi dua keadaan: Pertama, jika memandang al-amrad serta berduaan dengannya dilakukan tanpa niat untuk berlezat-lezat dan orang yang memandang merasa aman dari fitnah (godaan). Seperti seorang ayah yang memandang anak laki-lakinya atau saudara laki-lakinya yang termasuk al-amrad. Dan dalam keadaan ini secara umum tidak ada maksud untuk berlezat-lezat. Maka hukumnya boleh dan tidak ada dosa menurut jumhur fuqaha. Kedua, jika memandang al-amrad serta berduaan dengannya dilakukan dengan niat berlezat-lezat dan disertai syahwat. Maka haram memandangnya.  Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah mengkategorikan memandang al-amrad dalam bab memandang wanita yang bukan mahram. Yaitu jika disertai syahwat walaupun masih diragukan ada tidaknya syahwat, maka hukumnya haram. Bahkan memandang al-amrad jika dengan syahwat itu dosanya lebih besar (daripada memandang wanita). Karena potensi fitnah (godaan) pada al-amrad lebih besar daripada potensi godaan wanita. Adapun berduaan dengan al-amrad, hukumnya sama dengan memandang al-amrad. Bahkan berduaan dengan al-amrad lebih besar kerusakannya. Sampai-sampai ulama Syafi’iyah memandang haramnya al-amrad berduaan dengan al-amrad lainnya, walaupun mereka banyak jumlahnya.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, 6/252 – 253) Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan: كان السلف يقولون في الأمرد : هو أشد فتنة من العذارى ، فإطلاق البصر من أعظم الفتن  “Dahulu para salaf mengatakan tentang al-amrad: mereka lebih besar godaannya daripada wanita perawan. Melepaskan pandangan tanpa batasan adalah fitnah (musibah) yang paling besar.” (Kasyful Qana’, 5/37) Di antara bahaya tidak menundukkan pandangan terhadap al-amrad adalah timbulnya penyakit suka kepada sesama jenis yang akan membawa kepada perbuatan kaumnya Nabi Luth ‘alaihissalam, yaitu liwath (sodomi). ‘Iyyadzan billah!. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, لأنها تُشْتَهَى، وهو يُشْتَهَى، بعض الناس قد يشتهي المُرْدان أكثر، مثل قوم لوط، فقوم لوط تركوا النساء وتحولوا إلى المُرْدان -نسأل الله العافية- حتى عاقبهم الله بالخَسْف “Karena al-murdan itu bisa menimbulkan godaan. Sebagian orang lebih tergoda oleh al-murdan (daripada oleh wanita). Seperti kaumnya Nabi Luth ‘alaihissalam. Kaumnya Nabi Luth meninggalkan wanita dan mendatangi para al-murdan -kita memohon keselamatan kepada Allah dari perbuatan semacam ini-. Sehingga akhirnya Allah pun mengazab mereka.” (Fatawa ad-Durus) Maka yang lebih hati-hati adalah tidak memandang al-amrad sama sekali kecuali yang dipastikan tidak akan menimbulkan godaan, seperti memandang anak sendiri atau saudara sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan, هذا الذي رآه النووي رحمه الله في كتاب الأذكار من تحريم النظر إلى الأمرد مطلقاً هو ما اختاره سداً للذريعة؛ لأن من الناس من يكون سافل الهمة والإرادة، فينزل بنفسه إلى أن ينظر إلى المردان نظره إلى النسوان، وهذا شيء موجود، ويكثر ويقل بحسب الأماكن والأزمان. وحيث إن هذا الأمر خطير جداً، وأن مسألة التعلق بالمردان لها عواقب وخيمة منها أنها قد تؤدي إلى اللواط والعياذ بالله، “Ini adalah pendapat yang dipilih an-Nawawi rahimahullah dalam kitab al-Adzkar, yaitu diharamkannya memandang al-amrad secara mutlak. Ini juga pendapat yang aku pilih, dalam rangka menutup celah kepada keburukan. Karena sebagian orang yang rendah semangatnya kepada kebaikan, mereka lebih suka memandang al-murdan daripada memandang wanita. Ini perkara yang terjadi secara riil. Dan terkadang perkara-perkara bisa terbolak-balik di sebagian masa dan sebagian tempat. Maka perkara ini sangat bahaya sekali. Perkara al-murdan ini memiliki akibat-akibat yang buruk, di antaranya adalah hal ini akan membawa kepada liwath (sodomi), wal ‘iyyadzu billah.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no. 59) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Ilmu Bela Diri Islam, Hukum Wanita Bekerja Diluar Rumah Menurut Islam, Hukum Oral Suami Istri, Segitiga Bermuda Dajjal, Menjama Sholat, Hu Alloh Visited 657 times, 2 visit(s) today Post Views: 568 QRIS donasi Yufid

Larangan Memandang Amrad

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan amrad? Saya mendengar bahwa laki-laki dilarang memandang laki-laki lain yang disebut amrad? Apakah itu benar? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Yang dimaksud dengan al-amrad atau al-murdan, secara bahasa, adalah laki-laki yang mencukur habis kumisnya dan tidak berjenggot, sehingga pada wajahnya tidak ada kumis dan jenggot. Dalam al-Qamus al-Muhith disebutkan definisi al-amrad, الشَّابُّ طَرَّ شارِبُهُ ولم تَنْبُتْ لِحْيَتُهُ “Pemuda yang dicukur habis kumisnya dan tidak tumbuh jenggotnya.” Dalam Mu’jam Musthalahat Syar’iyyah disebutkan : الأمرد :الشخص الصغير الأملس الوجه قبل البلوغ الذي لم تنبت له لحية في وجهه “Al-amrad adalah anak laki-laki yang masih kecil yang mulus wajahnya, sebelum baligh, dan tidak tumbuh jenggot pada wajahnya.” Namun secara istilah fikih, al-amrad adalah laki-laki yang mulus wajahnya tanpa kumis dan jenggot, baik sudah baligh atau belum, sehingga ia menjadi mirip seperti wanita. Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah (6/252) dijelaskan, هُوَ مَنْ لَمْ تَنْبُتْ لِحْيَتُهُ، وَلَمْ يَصِل إِلَى أَوَانِ إِنْبَاتِهَا فِي غَالِبِ النَّاسِ وَالظَّاهِرُ أَنَّ طُرُورَ الشَّارِبِ وَبُلُوغَهُ مَبْلَغَ الرِّجَال لَيْسَ بِقَيْدٍ، بَل هُوَ بَيَانٌ لِغَايَتِهِ، وَأَنَّ ابْتِدَاءَهُ حِينَ بُلُوغِهِ سِنًّا تَشْتَهِيهِ النِّسَاءُ “Al-amrad adalah lelaki yang tidak tumbuh jenggotnya dan ia memang belum mencapai usia tumbuh jenggot pada keumuman keadaan masyarakat. Namun yang tepat, dicukur habisnya kumis dan usia baligh bukanlah patokan. Namun ia sekedar indikasi dari poin utama dari al-amrad, yaitu menyerupai wanita. Dan hal itu memang dimulai ketika masa-masa mendekati baligh.” Maka lelaki dewasa yang mulus wajahnya tanpa kumis dan jenggot, sehingga ia menjadi mirip seperti wajah wanita, ia juga termasuk al-amrad atau al-murdan. Para ulama menjelaskan bahwa lelaki yang mukallaf (sudah baligh) dilarang memandang kepada al-amrad, berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala: قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ . وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. an-Nur: 30-31) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ayat ini:  أي أرشد المؤمنين وقل لهم ، الذين معهم إيمان يمنعهم من وقوع ما يخل بالإيمان : يغضوا من أبصارهم عن النظر إلى العورات ، وإلى النساء الأجنبيات ، وإلى المُردان الذين يخاف بالنظر إليهم الفتنة “Maksudnya, Allah ta’ala membimbing kaum mukminin yang masih punya iman dan iman mereka mencegah mereka melakukan hal-hal yang mencacati iman mereka, dan ini sedikit, untuk menundukkan pandangan mereka. Agar tidak memandang kepada aurat, dan kepada wanita yang nonmahram, atau kepada al-murdan yang dikhawatirkan terjadi fitnah (godaan) jika memandang mereka.” (Tafsir as-Sa’di, hal. 515) Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memandang al-amrad. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ” الصبي الأمرد المليح بمنزلة المرأة الأجنبية في كثير من الأمور ، .. ولا يجوز النظر إليه على هذا الوجه [ يعني بشهوة ] باتفاق للناس ، بل يحرم عند جمهورهم النظر إليه عند خوف ذلك ” انتهى . “Anak kecil laki-laki yang amrad dan cantik wajahnya, hukumnya sama seperti wanita nonmahram dalam banyak perkara … dan tidak boleh memandang wajahnya jika disertai syahwat berdasarkan kesepakatan ulama. Dan diharamkan memandang wajahnya oleh jumhur ulama (jika wajahnya tidak cantik) ketika dikhawatirkan menimbulkan godaan.” (Fatawa al-Kubra, 3/202) Dijelaskan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, “Jika al-amrad tidak cantik wajahnya dan tidak menimbulkan godaan, maka ulama Hanafiyah dan Syafi’iyyah menegaskan hukumnya sama seperti memandang laki-laki yang lain (yaitu boleh).  Adapun jika ia terlihat cantik dan menimbulkan godaan, ini perlu dirinci. Kaidahnya, seorang al-amrad dianggap memikat atau tidaknya ini berdasarkan ‘urf dari orang yang memandang, walaupun ia berkulit hitam. Karena memikatnya wajah itu berbeda-beda patokannya di setiap masyarakat dan kebudayaan. Maka dalam hal ini perlu dirinci menjadi dua keadaan: Pertama, jika memandang al-amrad serta berduaan dengannya dilakukan tanpa niat untuk berlezat-lezat dan orang yang memandang merasa aman dari fitnah (godaan). Seperti seorang ayah yang memandang anak laki-lakinya atau saudara laki-lakinya yang termasuk al-amrad. Dan dalam keadaan ini secara umum tidak ada maksud untuk berlezat-lezat. Maka hukumnya boleh dan tidak ada dosa menurut jumhur fuqaha. Kedua, jika memandang al-amrad serta berduaan dengannya dilakukan dengan niat berlezat-lezat dan disertai syahwat. Maka haram memandangnya.  Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah mengkategorikan memandang al-amrad dalam bab memandang wanita yang bukan mahram. Yaitu jika disertai syahwat walaupun masih diragukan ada tidaknya syahwat, maka hukumnya haram. Bahkan memandang al-amrad jika dengan syahwat itu dosanya lebih besar (daripada memandang wanita). Karena potensi fitnah (godaan) pada al-amrad lebih besar daripada potensi godaan wanita. Adapun berduaan dengan al-amrad, hukumnya sama dengan memandang al-amrad. Bahkan berduaan dengan al-amrad lebih besar kerusakannya. Sampai-sampai ulama Syafi’iyah memandang haramnya al-amrad berduaan dengan al-amrad lainnya, walaupun mereka banyak jumlahnya.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, 6/252 – 253) Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan: كان السلف يقولون في الأمرد : هو أشد فتنة من العذارى ، فإطلاق البصر من أعظم الفتن  “Dahulu para salaf mengatakan tentang al-amrad: mereka lebih besar godaannya daripada wanita perawan. Melepaskan pandangan tanpa batasan adalah fitnah (musibah) yang paling besar.” (Kasyful Qana’, 5/37) Di antara bahaya tidak menundukkan pandangan terhadap al-amrad adalah timbulnya penyakit suka kepada sesama jenis yang akan membawa kepada perbuatan kaumnya Nabi Luth ‘alaihissalam, yaitu liwath (sodomi). ‘Iyyadzan billah!. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, لأنها تُشْتَهَى، وهو يُشْتَهَى، بعض الناس قد يشتهي المُرْدان أكثر، مثل قوم لوط، فقوم لوط تركوا النساء وتحولوا إلى المُرْدان -نسأل الله العافية- حتى عاقبهم الله بالخَسْف “Karena al-murdan itu bisa menimbulkan godaan. Sebagian orang lebih tergoda oleh al-murdan (daripada oleh wanita). Seperti kaumnya Nabi Luth ‘alaihissalam. Kaumnya Nabi Luth meninggalkan wanita dan mendatangi para al-murdan -kita memohon keselamatan kepada Allah dari perbuatan semacam ini-. Sehingga akhirnya Allah pun mengazab mereka.” (Fatawa ad-Durus) Maka yang lebih hati-hati adalah tidak memandang al-amrad sama sekali kecuali yang dipastikan tidak akan menimbulkan godaan, seperti memandang anak sendiri atau saudara sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan, هذا الذي رآه النووي رحمه الله في كتاب الأذكار من تحريم النظر إلى الأمرد مطلقاً هو ما اختاره سداً للذريعة؛ لأن من الناس من يكون سافل الهمة والإرادة، فينزل بنفسه إلى أن ينظر إلى المردان نظره إلى النسوان، وهذا شيء موجود، ويكثر ويقل بحسب الأماكن والأزمان. وحيث إن هذا الأمر خطير جداً، وأن مسألة التعلق بالمردان لها عواقب وخيمة منها أنها قد تؤدي إلى اللواط والعياذ بالله، “Ini adalah pendapat yang dipilih an-Nawawi rahimahullah dalam kitab al-Adzkar, yaitu diharamkannya memandang al-amrad secara mutlak. Ini juga pendapat yang aku pilih, dalam rangka menutup celah kepada keburukan. Karena sebagian orang yang rendah semangatnya kepada kebaikan, mereka lebih suka memandang al-murdan daripada memandang wanita. Ini perkara yang terjadi secara riil. Dan terkadang perkara-perkara bisa terbolak-balik di sebagian masa dan sebagian tempat. Maka perkara ini sangat bahaya sekali. Perkara al-murdan ini memiliki akibat-akibat yang buruk, di antaranya adalah hal ini akan membawa kepada liwath (sodomi), wal ‘iyyadzu billah.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no. 59) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Ilmu Bela Diri Islam, Hukum Wanita Bekerja Diluar Rumah Menurut Islam, Hukum Oral Suami Istri, Segitiga Bermuda Dajjal, Menjama Sholat, Hu Alloh Visited 657 times, 2 visit(s) today Post Views: 568 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan amrad? Saya mendengar bahwa laki-laki dilarang memandang laki-laki lain yang disebut amrad? Apakah itu benar? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Yang dimaksud dengan al-amrad atau al-murdan, secara bahasa, adalah laki-laki yang mencukur habis kumisnya dan tidak berjenggot, sehingga pada wajahnya tidak ada kumis dan jenggot. Dalam al-Qamus al-Muhith disebutkan definisi al-amrad, الشَّابُّ طَرَّ شارِبُهُ ولم تَنْبُتْ لِحْيَتُهُ “Pemuda yang dicukur habis kumisnya dan tidak tumbuh jenggotnya.” Dalam Mu’jam Musthalahat Syar’iyyah disebutkan : الأمرد :الشخص الصغير الأملس الوجه قبل البلوغ الذي لم تنبت له لحية في وجهه “Al-amrad adalah anak laki-laki yang masih kecil yang mulus wajahnya, sebelum baligh, dan tidak tumbuh jenggot pada wajahnya.” Namun secara istilah fikih, al-amrad adalah laki-laki yang mulus wajahnya tanpa kumis dan jenggot, baik sudah baligh atau belum, sehingga ia menjadi mirip seperti wanita. Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah (6/252) dijelaskan, هُوَ مَنْ لَمْ تَنْبُتْ لِحْيَتُهُ، وَلَمْ يَصِل إِلَى أَوَانِ إِنْبَاتِهَا فِي غَالِبِ النَّاسِ وَالظَّاهِرُ أَنَّ طُرُورَ الشَّارِبِ وَبُلُوغَهُ مَبْلَغَ الرِّجَال لَيْسَ بِقَيْدٍ، بَل هُوَ بَيَانٌ لِغَايَتِهِ، وَأَنَّ ابْتِدَاءَهُ حِينَ بُلُوغِهِ سِنًّا تَشْتَهِيهِ النِّسَاءُ “Al-amrad adalah lelaki yang tidak tumbuh jenggotnya dan ia memang belum mencapai usia tumbuh jenggot pada keumuman keadaan masyarakat. Namun yang tepat, dicukur habisnya kumis dan usia baligh bukanlah patokan. Namun ia sekedar indikasi dari poin utama dari al-amrad, yaitu menyerupai wanita. Dan hal itu memang dimulai ketika masa-masa mendekati baligh.” Maka lelaki dewasa yang mulus wajahnya tanpa kumis dan jenggot, sehingga ia menjadi mirip seperti wajah wanita, ia juga termasuk al-amrad atau al-murdan. Para ulama menjelaskan bahwa lelaki yang mukallaf (sudah baligh) dilarang memandang kepada al-amrad, berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala: قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ . وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. an-Nur: 30-31) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ayat ini:  أي أرشد المؤمنين وقل لهم ، الذين معهم إيمان يمنعهم من وقوع ما يخل بالإيمان : يغضوا من أبصارهم عن النظر إلى العورات ، وإلى النساء الأجنبيات ، وإلى المُردان الذين يخاف بالنظر إليهم الفتنة “Maksudnya, Allah ta’ala membimbing kaum mukminin yang masih punya iman dan iman mereka mencegah mereka melakukan hal-hal yang mencacati iman mereka, dan ini sedikit, untuk menundukkan pandangan mereka. Agar tidak memandang kepada aurat, dan kepada wanita yang nonmahram, atau kepada al-murdan yang dikhawatirkan terjadi fitnah (godaan) jika memandang mereka.” (Tafsir as-Sa’di, hal. 515) Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memandang al-amrad. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ” الصبي الأمرد المليح بمنزلة المرأة الأجنبية في كثير من الأمور ، .. ولا يجوز النظر إليه على هذا الوجه [ يعني بشهوة ] باتفاق للناس ، بل يحرم عند جمهورهم النظر إليه عند خوف ذلك ” انتهى . “Anak kecil laki-laki yang amrad dan cantik wajahnya, hukumnya sama seperti wanita nonmahram dalam banyak perkara … dan tidak boleh memandang wajahnya jika disertai syahwat berdasarkan kesepakatan ulama. Dan diharamkan memandang wajahnya oleh jumhur ulama (jika wajahnya tidak cantik) ketika dikhawatirkan menimbulkan godaan.” (Fatawa al-Kubra, 3/202) Dijelaskan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, “Jika al-amrad tidak cantik wajahnya dan tidak menimbulkan godaan, maka ulama Hanafiyah dan Syafi’iyyah menegaskan hukumnya sama seperti memandang laki-laki yang lain (yaitu boleh).  Adapun jika ia terlihat cantik dan menimbulkan godaan, ini perlu dirinci. Kaidahnya, seorang al-amrad dianggap memikat atau tidaknya ini berdasarkan ‘urf dari orang yang memandang, walaupun ia berkulit hitam. Karena memikatnya wajah itu berbeda-beda patokannya di setiap masyarakat dan kebudayaan. Maka dalam hal ini perlu dirinci menjadi dua keadaan: Pertama, jika memandang al-amrad serta berduaan dengannya dilakukan tanpa niat untuk berlezat-lezat dan orang yang memandang merasa aman dari fitnah (godaan). Seperti seorang ayah yang memandang anak laki-lakinya atau saudara laki-lakinya yang termasuk al-amrad. Dan dalam keadaan ini secara umum tidak ada maksud untuk berlezat-lezat. Maka hukumnya boleh dan tidak ada dosa menurut jumhur fuqaha. Kedua, jika memandang al-amrad serta berduaan dengannya dilakukan dengan niat berlezat-lezat dan disertai syahwat. Maka haram memandangnya.  Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah mengkategorikan memandang al-amrad dalam bab memandang wanita yang bukan mahram. Yaitu jika disertai syahwat walaupun masih diragukan ada tidaknya syahwat, maka hukumnya haram. Bahkan memandang al-amrad jika dengan syahwat itu dosanya lebih besar (daripada memandang wanita). Karena potensi fitnah (godaan) pada al-amrad lebih besar daripada potensi godaan wanita. Adapun berduaan dengan al-amrad, hukumnya sama dengan memandang al-amrad. Bahkan berduaan dengan al-amrad lebih besar kerusakannya. Sampai-sampai ulama Syafi’iyah memandang haramnya al-amrad berduaan dengan al-amrad lainnya, walaupun mereka banyak jumlahnya.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, 6/252 – 253) Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan: كان السلف يقولون في الأمرد : هو أشد فتنة من العذارى ، فإطلاق البصر من أعظم الفتن  “Dahulu para salaf mengatakan tentang al-amrad: mereka lebih besar godaannya daripada wanita perawan. Melepaskan pandangan tanpa batasan adalah fitnah (musibah) yang paling besar.” (Kasyful Qana’, 5/37) Di antara bahaya tidak menundukkan pandangan terhadap al-amrad adalah timbulnya penyakit suka kepada sesama jenis yang akan membawa kepada perbuatan kaumnya Nabi Luth ‘alaihissalam, yaitu liwath (sodomi). ‘Iyyadzan billah!. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, لأنها تُشْتَهَى، وهو يُشْتَهَى، بعض الناس قد يشتهي المُرْدان أكثر، مثل قوم لوط، فقوم لوط تركوا النساء وتحولوا إلى المُرْدان -نسأل الله العافية- حتى عاقبهم الله بالخَسْف “Karena al-murdan itu bisa menimbulkan godaan. Sebagian orang lebih tergoda oleh al-murdan (daripada oleh wanita). Seperti kaumnya Nabi Luth ‘alaihissalam. Kaumnya Nabi Luth meninggalkan wanita dan mendatangi para al-murdan -kita memohon keselamatan kepada Allah dari perbuatan semacam ini-. Sehingga akhirnya Allah pun mengazab mereka.” (Fatawa ad-Durus) Maka yang lebih hati-hati adalah tidak memandang al-amrad sama sekali kecuali yang dipastikan tidak akan menimbulkan godaan, seperti memandang anak sendiri atau saudara sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan, هذا الذي رآه النووي رحمه الله في كتاب الأذكار من تحريم النظر إلى الأمرد مطلقاً هو ما اختاره سداً للذريعة؛ لأن من الناس من يكون سافل الهمة والإرادة، فينزل بنفسه إلى أن ينظر إلى المردان نظره إلى النسوان، وهذا شيء موجود، ويكثر ويقل بحسب الأماكن والأزمان. وحيث إن هذا الأمر خطير جداً، وأن مسألة التعلق بالمردان لها عواقب وخيمة منها أنها قد تؤدي إلى اللواط والعياذ بالله، “Ini adalah pendapat yang dipilih an-Nawawi rahimahullah dalam kitab al-Adzkar, yaitu diharamkannya memandang al-amrad secara mutlak. Ini juga pendapat yang aku pilih, dalam rangka menutup celah kepada keburukan. Karena sebagian orang yang rendah semangatnya kepada kebaikan, mereka lebih suka memandang al-murdan daripada memandang wanita. Ini perkara yang terjadi secara riil. Dan terkadang perkara-perkara bisa terbolak-balik di sebagian masa dan sebagian tempat. Maka perkara ini sangat bahaya sekali. Perkara al-murdan ini memiliki akibat-akibat yang buruk, di antaranya adalah hal ini akan membawa kepada liwath (sodomi), wal ‘iyyadzu billah.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no. 59) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Ilmu Bela Diri Islam, Hukum Wanita Bekerja Diluar Rumah Menurut Islam, Hukum Oral Suami Istri, Segitiga Bermuda Dajjal, Menjama Sholat, Hu Alloh Visited 657 times, 2 visit(s) today Post Views: 568 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1378587499&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan amrad? Saya mendengar bahwa laki-laki dilarang memandang laki-laki lain yang disebut amrad? Apakah itu benar? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Yang dimaksud dengan al-amrad atau al-murdan, secara bahasa, adalah laki-laki yang mencukur habis kumisnya dan tidak berjenggot, sehingga pada wajahnya tidak ada kumis dan jenggot. Dalam al-Qamus al-Muhith disebutkan definisi al-amrad, الشَّابُّ طَرَّ شارِبُهُ ولم تَنْبُتْ لِحْيَتُهُ “Pemuda yang dicukur habis kumisnya dan tidak tumbuh jenggotnya.” Dalam Mu’jam Musthalahat Syar’iyyah disebutkan : الأمرد :الشخص الصغير الأملس الوجه قبل البلوغ الذي لم تنبت له لحية في وجهه “Al-amrad adalah anak laki-laki yang masih kecil yang mulus wajahnya, sebelum baligh, dan tidak tumbuh jenggot pada wajahnya.” Namun secara istilah fikih, al-amrad adalah laki-laki yang mulus wajahnya tanpa kumis dan jenggot, baik sudah baligh atau belum, sehingga ia menjadi mirip seperti wanita. Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah (6/252) dijelaskan, هُوَ مَنْ لَمْ تَنْبُتْ لِحْيَتُهُ، وَلَمْ يَصِل إِلَى أَوَانِ إِنْبَاتِهَا فِي غَالِبِ النَّاسِ وَالظَّاهِرُ أَنَّ طُرُورَ الشَّارِبِ وَبُلُوغَهُ مَبْلَغَ الرِّجَال لَيْسَ بِقَيْدٍ، بَل هُوَ بَيَانٌ لِغَايَتِهِ، وَأَنَّ ابْتِدَاءَهُ حِينَ بُلُوغِهِ سِنًّا تَشْتَهِيهِ النِّسَاءُ “Al-amrad adalah lelaki yang tidak tumbuh jenggotnya dan ia memang belum mencapai usia tumbuh jenggot pada keumuman keadaan masyarakat. Namun yang tepat, dicukur habisnya kumis dan usia baligh bukanlah patokan. Namun ia sekedar indikasi dari poin utama dari al-amrad, yaitu menyerupai wanita. Dan hal itu memang dimulai ketika masa-masa mendekati baligh.” Maka lelaki dewasa yang mulus wajahnya tanpa kumis dan jenggot, sehingga ia menjadi mirip seperti wajah wanita, ia juga termasuk al-amrad atau al-murdan. Para ulama menjelaskan bahwa lelaki yang mukallaf (sudah baligh) dilarang memandang kepada al-amrad, berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala: قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ . وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. an-Nur: 30-31) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ayat ini:  أي أرشد المؤمنين وقل لهم ، الذين معهم إيمان يمنعهم من وقوع ما يخل بالإيمان : يغضوا من أبصارهم عن النظر إلى العورات ، وإلى النساء الأجنبيات ، وإلى المُردان الذين يخاف بالنظر إليهم الفتنة “Maksudnya, Allah ta’ala membimbing kaum mukminin yang masih punya iman dan iman mereka mencegah mereka melakukan hal-hal yang mencacati iman mereka, dan ini sedikit, untuk menundukkan pandangan mereka. Agar tidak memandang kepada aurat, dan kepada wanita yang nonmahram, atau kepada al-murdan yang dikhawatirkan terjadi fitnah (godaan) jika memandang mereka.” (Tafsir as-Sa’di, hal. 515) Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memandang al-amrad. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ” الصبي الأمرد المليح بمنزلة المرأة الأجنبية في كثير من الأمور ، .. ولا يجوز النظر إليه على هذا الوجه [ يعني بشهوة ] باتفاق للناس ، بل يحرم عند جمهورهم النظر إليه عند خوف ذلك ” انتهى . “Anak kecil laki-laki yang amrad dan cantik wajahnya, hukumnya sama seperti wanita nonmahram dalam banyak perkara … dan tidak boleh memandang wajahnya jika disertai syahwat berdasarkan kesepakatan ulama. Dan diharamkan memandang wajahnya oleh jumhur ulama (jika wajahnya tidak cantik) ketika dikhawatirkan menimbulkan godaan.” (Fatawa al-Kubra, 3/202) Dijelaskan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, “Jika al-amrad tidak cantik wajahnya dan tidak menimbulkan godaan, maka ulama Hanafiyah dan Syafi’iyyah menegaskan hukumnya sama seperti memandang laki-laki yang lain (yaitu boleh).  Adapun jika ia terlihat cantik dan menimbulkan godaan, ini perlu dirinci. Kaidahnya, seorang al-amrad dianggap memikat atau tidaknya ini berdasarkan ‘urf dari orang yang memandang, walaupun ia berkulit hitam. Karena memikatnya wajah itu berbeda-beda patokannya di setiap masyarakat dan kebudayaan. Maka dalam hal ini perlu dirinci menjadi dua keadaan: Pertama, jika memandang al-amrad serta berduaan dengannya dilakukan tanpa niat untuk berlezat-lezat dan orang yang memandang merasa aman dari fitnah (godaan). Seperti seorang ayah yang memandang anak laki-lakinya atau saudara laki-lakinya yang termasuk al-amrad. Dan dalam keadaan ini secara umum tidak ada maksud untuk berlezat-lezat. Maka hukumnya boleh dan tidak ada dosa menurut jumhur fuqaha. Kedua, jika memandang al-amrad serta berduaan dengannya dilakukan dengan niat berlezat-lezat dan disertai syahwat. Maka haram memandangnya.  Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah mengkategorikan memandang al-amrad dalam bab memandang wanita yang bukan mahram. Yaitu jika disertai syahwat walaupun masih diragukan ada tidaknya syahwat, maka hukumnya haram. Bahkan memandang al-amrad jika dengan syahwat itu dosanya lebih besar (daripada memandang wanita). Karena potensi fitnah (godaan) pada al-amrad lebih besar daripada potensi godaan wanita. Adapun berduaan dengan al-amrad, hukumnya sama dengan memandang al-amrad. Bahkan berduaan dengan al-amrad lebih besar kerusakannya. Sampai-sampai ulama Syafi’iyah memandang haramnya al-amrad berduaan dengan al-amrad lainnya, walaupun mereka banyak jumlahnya.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, 6/252 – 253) Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan: كان السلف يقولون في الأمرد : هو أشد فتنة من العذارى ، فإطلاق البصر من أعظم الفتن  “Dahulu para salaf mengatakan tentang al-amrad: mereka lebih besar godaannya daripada wanita perawan. Melepaskan pandangan tanpa batasan adalah fitnah (musibah) yang paling besar.” (Kasyful Qana’, 5/37) Di antara bahaya tidak menundukkan pandangan terhadap al-amrad adalah timbulnya penyakit suka kepada sesama jenis yang akan membawa kepada perbuatan kaumnya Nabi Luth ‘alaihissalam, yaitu liwath (sodomi). ‘Iyyadzan billah!. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, لأنها تُشْتَهَى، وهو يُشْتَهَى، بعض الناس قد يشتهي المُرْدان أكثر، مثل قوم لوط، فقوم لوط تركوا النساء وتحولوا إلى المُرْدان -نسأل الله العافية- حتى عاقبهم الله بالخَسْف “Karena al-murdan itu bisa menimbulkan godaan. Sebagian orang lebih tergoda oleh al-murdan (daripada oleh wanita). Seperti kaumnya Nabi Luth ‘alaihissalam. Kaumnya Nabi Luth meninggalkan wanita dan mendatangi para al-murdan -kita memohon keselamatan kepada Allah dari perbuatan semacam ini-. Sehingga akhirnya Allah pun mengazab mereka.” (Fatawa ad-Durus) Maka yang lebih hati-hati adalah tidak memandang al-amrad sama sekali kecuali yang dipastikan tidak akan menimbulkan godaan, seperti memandang anak sendiri atau saudara sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan, هذا الذي رآه النووي رحمه الله في كتاب الأذكار من تحريم النظر إلى الأمرد مطلقاً هو ما اختاره سداً للذريعة؛ لأن من الناس من يكون سافل الهمة والإرادة، فينزل بنفسه إلى أن ينظر إلى المردان نظره إلى النسوان، وهذا شيء موجود، ويكثر ويقل بحسب الأماكن والأزمان. وحيث إن هذا الأمر خطير جداً، وأن مسألة التعلق بالمردان لها عواقب وخيمة منها أنها قد تؤدي إلى اللواط والعياذ بالله، “Ini adalah pendapat yang dipilih an-Nawawi rahimahullah dalam kitab al-Adzkar, yaitu diharamkannya memandang al-amrad secara mutlak. Ini juga pendapat yang aku pilih, dalam rangka menutup celah kepada keburukan. Karena sebagian orang yang rendah semangatnya kepada kebaikan, mereka lebih suka memandang al-murdan daripada memandang wanita. Ini perkara yang terjadi secara riil. Dan terkadang perkara-perkara bisa terbolak-balik di sebagian masa dan sebagian tempat. Maka perkara ini sangat bahaya sekali. Perkara al-murdan ini memiliki akibat-akibat yang buruk, di antaranya adalah hal ini akan membawa kepada liwath (sodomi), wal ‘iyyadzu billah.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no. 59) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Ilmu Bela Diri Islam, Hukum Wanita Bekerja Diluar Rumah Menurut Islam, Hukum Oral Suami Istri, Segitiga Bermuda Dajjal, Menjama Sholat, Hu Alloh Visited 657 times, 2 visit(s) today Post Views: 568 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Perbandingan Umur Manusia di Dunia dan Akhirat – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Hal ini juga sesuatu yang sangat menarik perhatian.Yakni apa itu umur manusia (di dunia) jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal? Apa yang bisa dibandingkan dengan akhirat?“… dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)Jadi, apa yang bisa dibandingkan?! Andai kita katakan bahwa umur manusia 70 tahun.70 tahun.Jika umur manusia 70 tahun, dan ia juga tidur dengan porsi tidur yang normal,dalam sehari semalam 8 jam. Berapa yang tersisa dari 70 tahun itu?Seandainya kita katakan umurnya 60 tahun, agar lebih mudah dihitung.Jika umur manusia adalah 60 tahun,dan ia tidur dalam sehari semalam selama 8 jam. Orang yang tidur tidak dibebani syariat. Jadi, 20 tahun umurnya habis begitu saja, karena tidak terbebani syariat.15 tahun lagi ia lalui sebelum menginjak usia baligh, maka tidak tersisa lagi umurnya.Tidak tersisa lagi. Hanya tersisa beberapa tahun yang sedikit sekali.Sekarang lihat hal pertama yang terjadi di akhirat! Satu harinya setara dengan 50 ribu tahun di dunia.Apa yang bisa dibandingkan? Tinggalkan dulu pembicaraan tentang kenikmatan yang ada di sini dan di sana.Namun, cukup tentang waktu dan panjang usianya.Jika seseorang dapat meraih suatu kenikmatan di dunia iniyang menyebabkan ia kehilangan kenikmatan akhiratdi beberapa tahun yang sedikit ini,maka ini lumayan jika ia dikaruniai usia panjang. Jika tidak demikian, maka yang ada adalah sebagian orang—subhanallah, semoga Allah melimpahkan keselamatan bagi kita.Sebagian orang mengendarai mobilnya, atau naik pesawatdari suatu negeri ke negeri lain, dan ia tidak punya tujuan kecuali untuk bermaksiatdi negeri yang ia tuju. Kemudian ia mati di tengah perjalanan. Ia mati di tengah perjalanan.Kerugian macam apa lagi ini?!Betapa besar musibah ini! Betapa keras cobaan ini!Orang yang pergi dari suatu negeri ke negeri lain ini, atau bahkan dari kampung ke kampung lain tanpa harus bersafar,bisa saja meninggal di perjalanan. Seorang manusia tidak dapat menjamin kapan akan didatangi kematian,sehingga dunianya ini selesai, dunia yang kenikmatannya membuatnya teperdaya.Sangat serakah terhadap kenikmatan-kenikmatannya,sehingga ia kehilangan kenikmatan akhirat. Wal ‘iyadzu billah. ==== وَهَذَا أَيْضًا لَفْتَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا يَعْنِي عُمُرُ الْإِنْسَانِ مَاذَا يُقَارَنُ بِالْآخِرَةِ الْبَاقِيَةِ؟ مَاذَا يُقَارَنُ بِالْآخِرَةِ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ فَمَاذَا يُقَارَنُ؟ يَعْنِي إِذَا قُلْنَا عُمُرَ الْإِنْسَانِ سَبْعِيْنَ سَنَةً سَبْعِيْنَ سَنَةً إِذَا كَانَ عُمْرُهُ سَبْعِينَ سَنَةً وَهُوَ يَنَامُ النَّوْمَ الْمُعْتَادَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ ثَمَانِي سَاعَاتٍ كَمْ يَصْفِي مِنَ السَّبْعِينَ لَوْ قُلْنَا سِتِّينَ أَهْوَنُ لِلْحِسَابِ إِذَا كَانَ عُمْرُهُ سِتِّينَ سَنَةً وَنَامَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثَمَانِي سَاعَاتٍ وَالنَّائِمُ غَيْرُ مُكَلَّفٍ عِشْرِينَ سَنَةً انْتَهَتْ هَذِهِ مِنْ عُمُرِهِ مَا غَيْرُ مُكَلَّفٍ فِيهَا وَخَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً قَبْلَ التَّكْلِيفِ مَا بَقِيَ شَيْءٌ مَا بَقِيَ شَيْءٌ يَبْقَى سُنِيَّاتٌ قَلِيلَةٌ جِدًّا اُنْظُرْ أَوَّلَ شَيْءٍ يَكُونُ فِي الْآخِرَةِ يَوْمٌ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ مَاذَا يُقَارَنُ؟ دَعْكَ الْآنَ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي هُنَا وَالنَّعِيمُ الَّذِي هُنَاكَ لَكِنَّ الْوَقْتَ وَمِقْدَارَ الْعُمُرِ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ يُحَصِّلُ نَعِيمًا هُنَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا يَخْسَرُ بِسَبَبِهِ نَعِيمَ الْآخِرَةِ فِي هَذِهِ السُّنِيَّاتِ الْقَلِيلَةِ جِدًّا هَذَا إِنْ أُعْطِيَ عُمُرًا وَإِلَّا بَعْضُ النَّاسِ سُبْحَانَ اللهِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ بَعْضُ النَّاسِ يَرْكَبُ سَيَّارَتَهُ أَوْ فِي الطَّائِرَةِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ وَلَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ إِلَّا الْمَعْصِيَةَ فِي الْبَلَدِ الَّذِي هُوَ مُسَافِرٌ إِلَيْه وَيَمُوتُ فِي الطَّرِيقِ وَيَمُوتُ فِي الطَّرِيقِ أَيُّ خَسَارَةٍ هَذِهِ؟ أَيُّ بَلَاءٍ هَذَا؟ أَيُّ شِدَّةٍ هَذِهِ؟ وَهَذَا الَّذِي يَنْتَقِلُ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ أَوْ مِنْ حَيٍّ إِلَى حَيٍّ بِدُونِ سَفَرٍ قَدْ يَمُوتُ فِي طَرِيقِهِ مَا يَأْمَنُ الْإِنْسَانُ مَتَى يَأْتِيْهِ الْمَوْتُ فَتَنْتَهِي هَذِهِ الدُّنْيَا الَّتِي هُوَ مُغْتَرٌّ بِمَلَذَّاتِهَا مُتَهَالِكٌ عَلَى مَلَذَّاتِهَا فَيَخْسَرُ نَعِيمَ الْآخِرَةِ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Perbandingan Umur Manusia di Dunia dan Akhirat – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Hal ini juga sesuatu yang sangat menarik perhatian.Yakni apa itu umur manusia (di dunia) jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal? Apa yang bisa dibandingkan dengan akhirat?“… dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)Jadi, apa yang bisa dibandingkan?! Andai kita katakan bahwa umur manusia 70 tahun.70 tahun.Jika umur manusia 70 tahun, dan ia juga tidur dengan porsi tidur yang normal,dalam sehari semalam 8 jam. Berapa yang tersisa dari 70 tahun itu?Seandainya kita katakan umurnya 60 tahun, agar lebih mudah dihitung.Jika umur manusia adalah 60 tahun,dan ia tidur dalam sehari semalam selama 8 jam. Orang yang tidur tidak dibebani syariat. Jadi, 20 tahun umurnya habis begitu saja, karena tidak terbebani syariat.15 tahun lagi ia lalui sebelum menginjak usia baligh, maka tidak tersisa lagi umurnya.Tidak tersisa lagi. Hanya tersisa beberapa tahun yang sedikit sekali.Sekarang lihat hal pertama yang terjadi di akhirat! Satu harinya setara dengan 50 ribu tahun di dunia.Apa yang bisa dibandingkan? Tinggalkan dulu pembicaraan tentang kenikmatan yang ada di sini dan di sana.Namun, cukup tentang waktu dan panjang usianya.Jika seseorang dapat meraih suatu kenikmatan di dunia iniyang menyebabkan ia kehilangan kenikmatan akhiratdi beberapa tahun yang sedikit ini,maka ini lumayan jika ia dikaruniai usia panjang. Jika tidak demikian, maka yang ada adalah sebagian orang—subhanallah, semoga Allah melimpahkan keselamatan bagi kita.Sebagian orang mengendarai mobilnya, atau naik pesawatdari suatu negeri ke negeri lain, dan ia tidak punya tujuan kecuali untuk bermaksiatdi negeri yang ia tuju. Kemudian ia mati di tengah perjalanan. Ia mati di tengah perjalanan.Kerugian macam apa lagi ini?!Betapa besar musibah ini! Betapa keras cobaan ini!Orang yang pergi dari suatu negeri ke negeri lain ini, atau bahkan dari kampung ke kampung lain tanpa harus bersafar,bisa saja meninggal di perjalanan. Seorang manusia tidak dapat menjamin kapan akan didatangi kematian,sehingga dunianya ini selesai, dunia yang kenikmatannya membuatnya teperdaya.Sangat serakah terhadap kenikmatan-kenikmatannya,sehingga ia kehilangan kenikmatan akhirat. Wal ‘iyadzu billah. ==== وَهَذَا أَيْضًا لَفْتَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا يَعْنِي عُمُرُ الْإِنْسَانِ مَاذَا يُقَارَنُ بِالْآخِرَةِ الْبَاقِيَةِ؟ مَاذَا يُقَارَنُ بِالْآخِرَةِ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ فَمَاذَا يُقَارَنُ؟ يَعْنِي إِذَا قُلْنَا عُمُرَ الْإِنْسَانِ سَبْعِيْنَ سَنَةً سَبْعِيْنَ سَنَةً إِذَا كَانَ عُمْرُهُ سَبْعِينَ سَنَةً وَهُوَ يَنَامُ النَّوْمَ الْمُعْتَادَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ ثَمَانِي سَاعَاتٍ كَمْ يَصْفِي مِنَ السَّبْعِينَ لَوْ قُلْنَا سِتِّينَ أَهْوَنُ لِلْحِسَابِ إِذَا كَانَ عُمْرُهُ سِتِّينَ سَنَةً وَنَامَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثَمَانِي سَاعَاتٍ وَالنَّائِمُ غَيْرُ مُكَلَّفٍ عِشْرِينَ سَنَةً انْتَهَتْ هَذِهِ مِنْ عُمُرِهِ مَا غَيْرُ مُكَلَّفٍ فِيهَا وَخَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً قَبْلَ التَّكْلِيفِ مَا بَقِيَ شَيْءٌ مَا بَقِيَ شَيْءٌ يَبْقَى سُنِيَّاتٌ قَلِيلَةٌ جِدًّا اُنْظُرْ أَوَّلَ شَيْءٍ يَكُونُ فِي الْآخِرَةِ يَوْمٌ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ مَاذَا يُقَارَنُ؟ دَعْكَ الْآنَ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي هُنَا وَالنَّعِيمُ الَّذِي هُنَاكَ لَكِنَّ الْوَقْتَ وَمِقْدَارَ الْعُمُرِ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ يُحَصِّلُ نَعِيمًا هُنَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا يَخْسَرُ بِسَبَبِهِ نَعِيمَ الْآخِرَةِ فِي هَذِهِ السُّنِيَّاتِ الْقَلِيلَةِ جِدًّا هَذَا إِنْ أُعْطِيَ عُمُرًا وَإِلَّا بَعْضُ النَّاسِ سُبْحَانَ اللهِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ بَعْضُ النَّاسِ يَرْكَبُ سَيَّارَتَهُ أَوْ فِي الطَّائِرَةِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ وَلَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ إِلَّا الْمَعْصِيَةَ فِي الْبَلَدِ الَّذِي هُوَ مُسَافِرٌ إِلَيْه وَيَمُوتُ فِي الطَّرِيقِ وَيَمُوتُ فِي الطَّرِيقِ أَيُّ خَسَارَةٍ هَذِهِ؟ أَيُّ بَلَاءٍ هَذَا؟ أَيُّ شِدَّةٍ هَذِهِ؟ وَهَذَا الَّذِي يَنْتَقِلُ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ أَوْ مِنْ حَيٍّ إِلَى حَيٍّ بِدُونِ سَفَرٍ قَدْ يَمُوتُ فِي طَرِيقِهِ مَا يَأْمَنُ الْإِنْسَانُ مَتَى يَأْتِيْهِ الْمَوْتُ فَتَنْتَهِي هَذِهِ الدُّنْيَا الَّتِي هُوَ مُغْتَرٌّ بِمَلَذَّاتِهَا مُتَهَالِكٌ عَلَى مَلَذَّاتِهَا فَيَخْسَرُ نَعِيمَ الْآخِرَةِ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Hal ini juga sesuatu yang sangat menarik perhatian.Yakni apa itu umur manusia (di dunia) jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal? Apa yang bisa dibandingkan dengan akhirat?“… dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)Jadi, apa yang bisa dibandingkan?! Andai kita katakan bahwa umur manusia 70 tahun.70 tahun.Jika umur manusia 70 tahun, dan ia juga tidur dengan porsi tidur yang normal,dalam sehari semalam 8 jam. Berapa yang tersisa dari 70 tahun itu?Seandainya kita katakan umurnya 60 tahun, agar lebih mudah dihitung.Jika umur manusia adalah 60 tahun,dan ia tidur dalam sehari semalam selama 8 jam. Orang yang tidur tidak dibebani syariat. Jadi, 20 tahun umurnya habis begitu saja, karena tidak terbebani syariat.15 tahun lagi ia lalui sebelum menginjak usia baligh, maka tidak tersisa lagi umurnya.Tidak tersisa lagi. Hanya tersisa beberapa tahun yang sedikit sekali.Sekarang lihat hal pertama yang terjadi di akhirat! Satu harinya setara dengan 50 ribu tahun di dunia.Apa yang bisa dibandingkan? Tinggalkan dulu pembicaraan tentang kenikmatan yang ada di sini dan di sana.Namun, cukup tentang waktu dan panjang usianya.Jika seseorang dapat meraih suatu kenikmatan di dunia iniyang menyebabkan ia kehilangan kenikmatan akhiratdi beberapa tahun yang sedikit ini,maka ini lumayan jika ia dikaruniai usia panjang. Jika tidak demikian, maka yang ada adalah sebagian orang—subhanallah, semoga Allah melimpahkan keselamatan bagi kita.Sebagian orang mengendarai mobilnya, atau naik pesawatdari suatu negeri ke negeri lain, dan ia tidak punya tujuan kecuali untuk bermaksiatdi negeri yang ia tuju. Kemudian ia mati di tengah perjalanan. Ia mati di tengah perjalanan.Kerugian macam apa lagi ini?!Betapa besar musibah ini! Betapa keras cobaan ini!Orang yang pergi dari suatu negeri ke negeri lain ini, atau bahkan dari kampung ke kampung lain tanpa harus bersafar,bisa saja meninggal di perjalanan. Seorang manusia tidak dapat menjamin kapan akan didatangi kematian,sehingga dunianya ini selesai, dunia yang kenikmatannya membuatnya teperdaya.Sangat serakah terhadap kenikmatan-kenikmatannya,sehingga ia kehilangan kenikmatan akhirat. Wal ‘iyadzu billah. ==== وَهَذَا أَيْضًا لَفْتَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا يَعْنِي عُمُرُ الْإِنْسَانِ مَاذَا يُقَارَنُ بِالْآخِرَةِ الْبَاقِيَةِ؟ مَاذَا يُقَارَنُ بِالْآخِرَةِ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ فَمَاذَا يُقَارَنُ؟ يَعْنِي إِذَا قُلْنَا عُمُرَ الْإِنْسَانِ سَبْعِيْنَ سَنَةً سَبْعِيْنَ سَنَةً إِذَا كَانَ عُمْرُهُ سَبْعِينَ سَنَةً وَهُوَ يَنَامُ النَّوْمَ الْمُعْتَادَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ ثَمَانِي سَاعَاتٍ كَمْ يَصْفِي مِنَ السَّبْعِينَ لَوْ قُلْنَا سِتِّينَ أَهْوَنُ لِلْحِسَابِ إِذَا كَانَ عُمْرُهُ سِتِّينَ سَنَةً وَنَامَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثَمَانِي سَاعَاتٍ وَالنَّائِمُ غَيْرُ مُكَلَّفٍ عِشْرِينَ سَنَةً انْتَهَتْ هَذِهِ مِنْ عُمُرِهِ مَا غَيْرُ مُكَلَّفٍ فِيهَا وَخَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً قَبْلَ التَّكْلِيفِ مَا بَقِيَ شَيْءٌ مَا بَقِيَ شَيْءٌ يَبْقَى سُنِيَّاتٌ قَلِيلَةٌ جِدًّا اُنْظُرْ أَوَّلَ شَيْءٍ يَكُونُ فِي الْآخِرَةِ يَوْمٌ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ مَاذَا يُقَارَنُ؟ دَعْكَ الْآنَ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي هُنَا وَالنَّعِيمُ الَّذِي هُنَاكَ لَكِنَّ الْوَقْتَ وَمِقْدَارَ الْعُمُرِ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ يُحَصِّلُ نَعِيمًا هُنَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا يَخْسَرُ بِسَبَبِهِ نَعِيمَ الْآخِرَةِ فِي هَذِهِ السُّنِيَّاتِ الْقَلِيلَةِ جِدًّا هَذَا إِنْ أُعْطِيَ عُمُرًا وَإِلَّا بَعْضُ النَّاسِ سُبْحَانَ اللهِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ بَعْضُ النَّاسِ يَرْكَبُ سَيَّارَتَهُ أَوْ فِي الطَّائِرَةِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ وَلَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ إِلَّا الْمَعْصِيَةَ فِي الْبَلَدِ الَّذِي هُوَ مُسَافِرٌ إِلَيْه وَيَمُوتُ فِي الطَّرِيقِ وَيَمُوتُ فِي الطَّرِيقِ أَيُّ خَسَارَةٍ هَذِهِ؟ أَيُّ بَلَاءٍ هَذَا؟ أَيُّ شِدَّةٍ هَذِهِ؟ وَهَذَا الَّذِي يَنْتَقِلُ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ أَوْ مِنْ حَيٍّ إِلَى حَيٍّ بِدُونِ سَفَرٍ قَدْ يَمُوتُ فِي طَرِيقِهِ مَا يَأْمَنُ الْإِنْسَانُ مَتَى يَأْتِيْهِ الْمَوْتُ فَتَنْتَهِي هَذِهِ الدُّنْيَا الَّتِي هُوَ مُغْتَرٌّ بِمَلَذَّاتِهَا مُتَهَالِكٌ عَلَى مَلَذَّاتِهَا فَيَخْسَرُ نَعِيمَ الْآخِرَةِ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Hal ini juga sesuatu yang sangat menarik perhatian.Yakni apa itu umur manusia (di dunia) jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal? Apa yang bisa dibandingkan dengan akhirat?“… dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)Jadi, apa yang bisa dibandingkan?! Andai kita katakan bahwa umur manusia 70 tahun.70 tahun.Jika umur manusia 70 tahun, dan ia juga tidur dengan porsi tidur yang normal,dalam sehari semalam 8 jam. Berapa yang tersisa dari 70 tahun itu?Seandainya kita katakan umurnya 60 tahun, agar lebih mudah dihitung.Jika umur manusia adalah 60 tahun,dan ia tidur dalam sehari semalam selama 8 jam. Orang yang tidur tidak dibebani syariat. Jadi, 20 tahun umurnya habis begitu saja, karena tidak terbebani syariat.15 tahun lagi ia lalui sebelum menginjak usia baligh, maka tidak tersisa lagi umurnya.Tidak tersisa lagi. Hanya tersisa beberapa tahun yang sedikit sekali.Sekarang lihat hal pertama yang terjadi di akhirat! Satu harinya setara dengan 50 ribu tahun di dunia.Apa yang bisa dibandingkan? Tinggalkan dulu pembicaraan tentang kenikmatan yang ada di sini dan di sana.Namun, cukup tentang waktu dan panjang usianya.Jika seseorang dapat meraih suatu kenikmatan di dunia iniyang menyebabkan ia kehilangan kenikmatan akhiratdi beberapa tahun yang sedikit ini,maka ini lumayan jika ia dikaruniai usia panjang. Jika tidak demikian, maka yang ada adalah sebagian orang—subhanallah, semoga Allah melimpahkan keselamatan bagi kita.Sebagian orang mengendarai mobilnya, atau naik pesawatdari suatu negeri ke negeri lain, dan ia tidak punya tujuan kecuali untuk bermaksiatdi negeri yang ia tuju. Kemudian ia mati di tengah perjalanan. Ia mati di tengah perjalanan.Kerugian macam apa lagi ini?!Betapa besar musibah ini! Betapa keras cobaan ini!Orang yang pergi dari suatu negeri ke negeri lain ini, atau bahkan dari kampung ke kampung lain tanpa harus bersafar,bisa saja meninggal di perjalanan. Seorang manusia tidak dapat menjamin kapan akan didatangi kematian,sehingga dunianya ini selesai, dunia yang kenikmatannya membuatnya teperdaya.Sangat serakah terhadap kenikmatan-kenikmatannya,sehingga ia kehilangan kenikmatan akhirat. Wal ‘iyadzu billah. ==== وَهَذَا أَيْضًا لَفْتَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا يَعْنِي عُمُرُ الْإِنْسَانِ مَاذَا يُقَارَنُ بِالْآخِرَةِ الْبَاقِيَةِ؟ مَاذَا يُقَارَنُ بِالْآخِرَةِ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ فَمَاذَا يُقَارَنُ؟ يَعْنِي إِذَا قُلْنَا عُمُرَ الْإِنْسَانِ سَبْعِيْنَ سَنَةً سَبْعِيْنَ سَنَةً إِذَا كَانَ عُمْرُهُ سَبْعِينَ سَنَةً وَهُوَ يَنَامُ النَّوْمَ الْمُعْتَادَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ ثَمَانِي سَاعَاتٍ كَمْ يَصْفِي مِنَ السَّبْعِينَ لَوْ قُلْنَا سِتِّينَ أَهْوَنُ لِلْحِسَابِ إِذَا كَانَ عُمْرُهُ سِتِّينَ سَنَةً وَنَامَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثَمَانِي سَاعَاتٍ وَالنَّائِمُ غَيْرُ مُكَلَّفٍ عِشْرِينَ سَنَةً انْتَهَتْ هَذِهِ مِنْ عُمُرِهِ مَا غَيْرُ مُكَلَّفٍ فِيهَا وَخَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً قَبْلَ التَّكْلِيفِ مَا بَقِيَ شَيْءٌ مَا بَقِيَ شَيْءٌ يَبْقَى سُنِيَّاتٌ قَلِيلَةٌ جِدًّا اُنْظُرْ أَوَّلَ شَيْءٍ يَكُونُ فِي الْآخِرَةِ يَوْمٌ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ مَاذَا يُقَارَنُ؟ دَعْكَ الْآنَ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي هُنَا وَالنَّعِيمُ الَّذِي هُنَاكَ لَكِنَّ الْوَقْتَ وَمِقْدَارَ الْعُمُرِ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ يُحَصِّلُ نَعِيمًا هُنَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا يَخْسَرُ بِسَبَبِهِ نَعِيمَ الْآخِرَةِ فِي هَذِهِ السُّنِيَّاتِ الْقَلِيلَةِ جِدًّا هَذَا إِنْ أُعْطِيَ عُمُرًا وَإِلَّا بَعْضُ النَّاسِ سُبْحَانَ اللهِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ بَعْضُ النَّاسِ يَرْكَبُ سَيَّارَتَهُ أَوْ فِي الطَّائِرَةِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ وَلَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ إِلَّا الْمَعْصِيَةَ فِي الْبَلَدِ الَّذِي هُوَ مُسَافِرٌ إِلَيْه وَيَمُوتُ فِي الطَّرِيقِ وَيَمُوتُ فِي الطَّرِيقِ أَيُّ خَسَارَةٍ هَذِهِ؟ أَيُّ بَلَاءٍ هَذَا؟ أَيُّ شِدَّةٍ هَذِهِ؟ وَهَذَا الَّذِي يَنْتَقِلُ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ أَوْ مِنْ حَيٍّ إِلَى حَيٍّ بِدُونِ سَفَرٍ قَدْ يَمُوتُ فِي طَرِيقِهِ مَا يَأْمَنُ الْإِنْسَانُ مَتَى يَأْتِيْهِ الْمَوْتُ فَتَنْتَهِي هَذِهِ الدُّنْيَا الَّتِي هُوَ مُغْتَرٌّ بِمَلَذَّاتِهَا مُتَهَالِكٌ عَلَى مَلَذَّاتِهَا فَيَخْسَرُ نَعِيمَ الْآخِرَةِ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Prev     Next