Larangan Bunuh Diri

Seringkali kita melihat suatu fenomena ketika seseorang yang memiliki suatu masalah atau problematika kehidupan yang berat, menjadikan bunuh diri sebagai sebuah solusi. Dia mengira bahwa bunuh diri adalah solusi atas permasalahan yang dia hadapi. Padahal, bunuh diri termasuk salah satu dosa besar yang paling besar. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa: 29-30)Baca Juga: Mati Bunuh Diri, Apakah Perlu Disalati?Larangan dari Allah Ta’ala “janganlah kamu membunuh dirimu” ditafsirkan oleh para ulama dengan dua penjelasan. Penjelasan pertama, seorang muslim dilarang membunuh dirinya sendiri (larangan bunuh diri). Penjelasan kedua, seorang muslim dilarang membunuh sesama muslim yang lain. Membunuh muslim yang lain termasuk dalam istilah “bunuh diri” karena pada asalnya, semua muslim adalah bersaudara dan bagaikan satu jasad. Jika seorang muslim membunuh muslim yang lain, hal itu mengakibatkan dirinya berhak untuk mendapatkan hukuman bunuh dari penguasa. Sehingga seorang muslim yang membunuh muslim yang lain, pada hakikatnya dia telah melakukan usaha untuk membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)Dalam menjelaskan ayat ini, Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa kata  التَّهْلُكَةِ (kebinasaan) dapat ditafsikan dengan dua makna. Pertama, ”kebinasaan” tersebut dimaknai sebagai perbuatan-perbuatan maksiat. Kedua, ”kebinasaan” diartikan sebagai segala bentuk perbuatan yang dapat membinasakan diri sendiri dengan memberikan bahaya dan menyusahkan diri sendiri.Bunuh diri merupakan perbuatan membunuh dan menghilangkan jiwa seorang manusia dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh membunuh dirinya sendiri. Karena pada hakikatnya, badan dan jiwanya itu bukan murni milik dirinya sendiri. Mengapa demikian? Karena manusia itu dimiliki oleh Allah Ta’ala dan manusia hanya mempunyai hak untuk menggunakan badan dan jasad yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Manusia tidak boleh menggunakan dan mengeksploitasi jasadnya dengan seenaknya sendiri tanpa ada batasan. Termasuk di dalamnya adalah tidak boleh membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al-Furqan: 68)Baca Juga: Bom Bunuh Diri Bukan JihadDari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ“Ada seseorang di antara umat sebelum kalian menderita luka-luka tapi dia tidak sabar lalu dia mengambil sebilah pisau kemudian memotong tangannya yang mengakibatkan darah mengalir dan tidak berhenti hingga akhirnya dia meninggal dunia. Lalu Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului Aku dengan membunuh dirinya sendiri, maka Aku haramkan baginya surga.'” (HR. Bukhari no. 3463 dan Muslim no. 113)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا“Barangsiapa menjatuhkan diri dari gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia akan jatuh ke neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa menegak racun hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan (menusuk dirinya dengan) besi, maka besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menghujamkan ke perutnya di neraka jahanam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109)Dari Tsabit bin Adh-Dhahhak radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ”Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia disiksa di neraka jahanam dengan sesuatu yang digunakannya untuk bunuh diri. Dan melaknat seorang mukmin bagaikan membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, maka dia seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari no. 6652 dan Muslim no. 110)Dan termasuk dalam perbuatan bunuh diri adalah perbuatan sebagian orang yang  memakai pakaian atau rompi yang berisi bom  yang diikatkan di perutnya, kemudian diledakkannya di tempat yang banyak terdapat orang kafir. Dengan demikian, dirinya merupakan orang yang pertama kali meninggal karena bom tersebut. Perbuatan semacam ini dinilai termasuk bunuh diri. Sehingga pelaku bom bunuh diri di neraka akan disiksa dengan bom yang digunakannya untuk bunuh diri  ketika dirinya masih di dunia.Baca Juga:Bunuh Diri Bukan Mengakhiri KehidupanUlama Ahlussunnah Membolehkan Bom Bunuh Diri?***Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Sholawat Nariyah Bid Ah, Pengertian Dari Iman, Stdi Imam Syafi I Jember, Pildacil KartunTags: adzab bunuh diriAqidahaqidah islambunuh diridosa besardosa bunuh dirifatwaFatwa Ulamalarangan bunuh dirinasihatnasihat islampelaku bunuh diriTauhid

Larangan Bunuh Diri

Seringkali kita melihat suatu fenomena ketika seseorang yang memiliki suatu masalah atau problematika kehidupan yang berat, menjadikan bunuh diri sebagai sebuah solusi. Dia mengira bahwa bunuh diri adalah solusi atas permasalahan yang dia hadapi. Padahal, bunuh diri termasuk salah satu dosa besar yang paling besar. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa: 29-30)Baca Juga: Mati Bunuh Diri, Apakah Perlu Disalati?Larangan dari Allah Ta’ala “janganlah kamu membunuh dirimu” ditafsirkan oleh para ulama dengan dua penjelasan. Penjelasan pertama, seorang muslim dilarang membunuh dirinya sendiri (larangan bunuh diri). Penjelasan kedua, seorang muslim dilarang membunuh sesama muslim yang lain. Membunuh muslim yang lain termasuk dalam istilah “bunuh diri” karena pada asalnya, semua muslim adalah bersaudara dan bagaikan satu jasad. Jika seorang muslim membunuh muslim yang lain, hal itu mengakibatkan dirinya berhak untuk mendapatkan hukuman bunuh dari penguasa. Sehingga seorang muslim yang membunuh muslim yang lain, pada hakikatnya dia telah melakukan usaha untuk membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)Dalam menjelaskan ayat ini, Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa kata  التَّهْلُكَةِ (kebinasaan) dapat ditafsikan dengan dua makna. Pertama, ”kebinasaan” tersebut dimaknai sebagai perbuatan-perbuatan maksiat. Kedua, ”kebinasaan” diartikan sebagai segala bentuk perbuatan yang dapat membinasakan diri sendiri dengan memberikan bahaya dan menyusahkan diri sendiri.Bunuh diri merupakan perbuatan membunuh dan menghilangkan jiwa seorang manusia dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh membunuh dirinya sendiri. Karena pada hakikatnya, badan dan jiwanya itu bukan murni milik dirinya sendiri. Mengapa demikian? Karena manusia itu dimiliki oleh Allah Ta’ala dan manusia hanya mempunyai hak untuk menggunakan badan dan jasad yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Manusia tidak boleh menggunakan dan mengeksploitasi jasadnya dengan seenaknya sendiri tanpa ada batasan. Termasuk di dalamnya adalah tidak boleh membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al-Furqan: 68)Baca Juga: Bom Bunuh Diri Bukan JihadDari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ“Ada seseorang di antara umat sebelum kalian menderita luka-luka tapi dia tidak sabar lalu dia mengambil sebilah pisau kemudian memotong tangannya yang mengakibatkan darah mengalir dan tidak berhenti hingga akhirnya dia meninggal dunia. Lalu Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului Aku dengan membunuh dirinya sendiri, maka Aku haramkan baginya surga.'” (HR. Bukhari no. 3463 dan Muslim no. 113)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا“Barangsiapa menjatuhkan diri dari gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia akan jatuh ke neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa menegak racun hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan (menusuk dirinya dengan) besi, maka besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menghujamkan ke perutnya di neraka jahanam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109)Dari Tsabit bin Adh-Dhahhak radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ”Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia disiksa di neraka jahanam dengan sesuatu yang digunakannya untuk bunuh diri. Dan melaknat seorang mukmin bagaikan membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, maka dia seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari no. 6652 dan Muslim no. 110)Dan termasuk dalam perbuatan bunuh diri adalah perbuatan sebagian orang yang  memakai pakaian atau rompi yang berisi bom  yang diikatkan di perutnya, kemudian diledakkannya di tempat yang banyak terdapat orang kafir. Dengan demikian, dirinya merupakan orang yang pertama kali meninggal karena bom tersebut. Perbuatan semacam ini dinilai termasuk bunuh diri. Sehingga pelaku bom bunuh diri di neraka akan disiksa dengan bom yang digunakannya untuk bunuh diri  ketika dirinya masih di dunia.Baca Juga:Bunuh Diri Bukan Mengakhiri KehidupanUlama Ahlussunnah Membolehkan Bom Bunuh Diri?***Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Sholawat Nariyah Bid Ah, Pengertian Dari Iman, Stdi Imam Syafi I Jember, Pildacil KartunTags: adzab bunuh diriAqidahaqidah islambunuh diridosa besardosa bunuh dirifatwaFatwa Ulamalarangan bunuh dirinasihatnasihat islampelaku bunuh diriTauhid
Seringkali kita melihat suatu fenomena ketika seseorang yang memiliki suatu masalah atau problematika kehidupan yang berat, menjadikan bunuh diri sebagai sebuah solusi. Dia mengira bahwa bunuh diri adalah solusi atas permasalahan yang dia hadapi. Padahal, bunuh diri termasuk salah satu dosa besar yang paling besar. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa: 29-30)Baca Juga: Mati Bunuh Diri, Apakah Perlu Disalati?Larangan dari Allah Ta’ala “janganlah kamu membunuh dirimu” ditafsirkan oleh para ulama dengan dua penjelasan. Penjelasan pertama, seorang muslim dilarang membunuh dirinya sendiri (larangan bunuh diri). Penjelasan kedua, seorang muslim dilarang membunuh sesama muslim yang lain. Membunuh muslim yang lain termasuk dalam istilah “bunuh diri” karena pada asalnya, semua muslim adalah bersaudara dan bagaikan satu jasad. Jika seorang muslim membunuh muslim yang lain, hal itu mengakibatkan dirinya berhak untuk mendapatkan hukuman bunuh dari penguasa. Sehingga seorang muslim yang membunuh muslim yang lain, pada hakikatnya dia telah melakukan usaha untuk membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)Dalam menjelaskan ayat ini, Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa kata  التَّهْلُكَةِ (kebinasaan) dapat ditafsikan dengan dua makna. Pertama, ”kebinasaan” tersebut dimaknai sebagai perbuatan-perbuatan maksiat. Kedua, ”kebinasaan” diartikan sebagai segala bentuk perbuatan yang dapat membinasakan diri sendiri dengan memberikan bahaya dan menyusahkan diri sendiri.Bunuh diri merupakan perbuatan membunuh dan menghilangkan jiwa seorang manusia dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh membunuh dirinya sendiri. Karena pada hakikatnya, badan dan jiwanya itu bukan murni milik dirinya sendiri. Mengapa demikian? Karena manusia itu dimiliki oleh Allah Ta’ala dan manusia hanya mempunyai hak untuk menggunakan badan dan jasad yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Manusia tidak boleh menggunakan dan mengeksploitasi jasadnya dengan seenaknya sendiri tanpa ada batasan. Termasuk di dalamnya adalah tidak boleh membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al-Furqan: 68)Baca Juga: Bom Bunuh Diri Bukan JihadDari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ“Ada seseorang di antara umat sebelum kalian menderita luka-luka tapi dia tidak sabar lalu dia mengambil sebilah pisau kemudian memotong tangannya yang mengakibatkan darah mengalir dan tidak berhenti hingga akhirnya dia meninggal dunia. Lalu Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului Aku dengan membunuh dirinya sendiri, maka Aku haramkan baginya surga.'” (HR. Bukhari no. 3463 dan Muslim no. 113)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا“Barangsiapa menjatuhkan diri dari gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia akan jatuh ke neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa menegak racun hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan (menusuk dirinya dengan) besi, maka besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menghujamkan ke perutnya di neraka jahanam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109)Dari Tsabit bin Adh-Dhahhak radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ”Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia disiksa di neraka jahanam dengan sesuatu yang digunakannya untuk bunuh diri. Dan melaknat seorang mukmin bagaikan membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, maka dia seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari no. 6652 dan Muslim no. 110)Dan termasuk dalam perbuatan bunuh diri adalah perbuatan sebagian orang yang  memakai pakaian atau rompi yang berisi bom  yang diikatkan di perutnya, kemudian diledakkannya di tempat yang banyak terdapat orang kafir. Dengan demikian, dirinya merupakan orang yang pertama kali meninggal karena bom tersebut. Perbuatan semacam ini dinilai termasuk bunuh diri. Sehingga pelaku bom bunuh diri di neraka akan disiksa dengan bom yang digunakannya untuk bunuh diri  ketika dirinya masih di dunia.Baca Juga:Bunuh Diri Bukan Mengakhiri KehidupanUlama Ahlussunnah Membolehkan Bom Bunuh Diri?***Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Sholawat Nariyah Bid Ah, Pengertian Dari Iman, Stdi Imam Syafi I Jember, Pildacil KartunTags: adzab bunuh diriAqidahaqidah islambunuh diridosa besardosa bunuh dirifatwaFatwa Ulamalarangan bunuh dirinasihatnasihat islampelaku bunuh diriTauhid


Seringkali kita melihat suatu fenomena ketika seseorang yang memiliki suatu masalah atau problematika kehidupan yang berat, menjadikan bunuh diri sebagai sebuah solusi. Dia mengira bahwa bunuh diri adalah solusi atas permasalahan yang dia hadapi. Padahal, bunuh diri termasuk salah satu dosa besar yang paling besar. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa: 29-30)Baca Juga: Mati Bunuh Diri, Apakah Perlu Disalati?Larangan dari Allah Ta’ala “janganlah kamu membunuh dirimu” ditafsirkan oleh para ulama dengan dua penjelasan. Penjelasan pertama, seorang muslim dilarang membunuh dirinya sendiri (larangan bunuh diri). Penjelasan kedua, seorang muslim dilarang membunuh sesama muslim yang lain. Membunuh muslim yang lain termasuk dalam istilah “bunuh diri” karena pada asalnya, semua muslim adalah bersaudara dan bagaikan satu jasad. Jika seorang muslim membunuh muslim yang lain, hal itu mengakibatkan dirinya berhak untuk mendapatkan hukuman bunuh dari penguasa. Sehingga seorang muslim yang membunuh muslim yang lain, pada hakikatnya dia telah melakukan usaha untuk membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)Dalam menjelaskan ayat ini, Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa kata  التَّهْلُكَةِ (kebinasaan) dapat ditafsikan dengan dua makna. Pertama, ”kebinasaan” tersebut dimaknai sebagai perbuatan-perbuatan maksiat. Kedua, ”kebinasaan” diartikan sebagai segala bentuk perbuatan yang dapat membinasakan diri sendiri dengan memberikan bahaya dan menyusahkan diri sendiri.Bunuh diri merupakan perbuatan membunuh dan menghilangkan jiwa seorang manusia dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh membunuh dirinya sendiri. Karena pada hakikatnya, badan dan jiwanya itu bukan murni milik dirinya sendiri. Mengapa demikian? Karena manusia itu dimiliki oleh Allah Ta’ala dan manusia hanya mempunyai hak untuk menggunakan badan dan jasad yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Manusia tidak boleh menggunakan dan mengeksploitasi jasadnya dengan seenaknya sendiri tanpa ada batasan. Termasuk di dalamnya adalah tidak boleh membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al-Furqan: 68)Baca Juga: Bom Bunuh Diri Bukan JihadDari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ“Ada seseorang di antara umat sebelum kalian menderita luka-luka tapi dia tidak sabar lalu dia mengambil sebilah pisau kemudian memotong tangannya yang mengakibatkan darah mengalir dan tidak berhenti hingga akhirnya dia meninggal dunia. Lalu Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului Aku dengan membunuh dirinya sendiri, maka Aku haramkan baginya surga.'” (HR. Bukhari no. 3463 dan Muslim no. 113)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا“Barangsiapa menjatuhkan diri dari gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia akan jatuh ke neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa menegak racun hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan (menusuk dirinya dengan) besi, maka besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menghujamkan ke perutnya di neraka jahanam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109)Dari Tsabit bin Adh-Dhahhak radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ”Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia disiksa di neraka jahanam dengan sesuatu yang digunakannya untuk bunuh diri. Dan melaknat seorang mukmin bagaikan membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, maka dia seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari no. 6652 dan Muslim no. 110)Dan termasuk dalam perbuatan bunuh diri adalah perbuatan sebagian orang yang  memakai pakaian atau rompi yang berisi bom  yang diikatkan di perutnya, kemudian diledakkannya di tempat yang banyak terdapat orang kafir. Dengan demikian, dirinya merupakan orang yang pertama kali meninggal karena bom tersebut. Perbuatan semacam ini dinilai termasuk bunuh diri. Sehingga pelaku bom bunuh diri di neraka akan disiksa dengan bom yang digunakannya untuk bunuh diri  ketika dirinya masih di dunia.Baca Juga:Bunuh Diri Bukan Mengakhiri KehidupanUlama Ahlussunnah Membolehkan Bom Bunuh Diri?***Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Sholawat Nariyah Bid Ah, Pengertian Dari Iman, Stdi Imam Syafi I Jember, Pildacil KartunTags: adzab bunuh diriAqidahaqidah islambunuh diridosa besardosa bunuh dirifatwaFatwa Ulamalarangan bunuh dirinasihatnasihat islampelaku bunuh diriTauhid

Teks Khotbah Jumat: Keutamaan Ibadah di Zaman Fitnah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ   “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)Jemaah yang berbahagia, tidaklah Allah Ta’ala menciptakan kita semua, kecuali dengan tujuan agar kita beribadah dan taat hanya kepada-Nya satu-satunya serta tidak menyekutukan-Nya. Ibadah yang dilaksanakan dengan hati dan anggota tubuh kita. Ibadah yang senantiasa membersamai diri kita saat menetap maupun sedang bepergian, di darat maupun di lautan, saat dalam kondisi aman tentram maupun saat dalam kondisi perang yang mencekam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan ibadah di zaman yang penuh fitnah, zaman yang penuh peperangan dan permusuhan, dan zaman yang penuh rumor serta kabar palsu adalah termasuk dari seutama-utamanya ibadah dan besarnya pahalanya. Hal ini karena di zaman-zaman tersebut, manusia pasti lalai dari ibadah dan lebih tersibukkan dengan apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka, melupakan zikir, meninggalkan membaca Al-Qur’an atau bahkan meninggalkan salat berjemaah.Setan berbisik kepada mereka dalam salat mereka, lalu mereka pun menyambutnya layaknya burung gagak yang mematuk untuk mendapatkan darah. Waktu mereka habis disibukkan dengan isu-isu serta desas-desus yang membombardir setiap waktu, baik itu dari dalam diri mereka sendiri ataupun dari luar. Oleh karenanya, bagi mereka yang selalu konsisten beribadah dan istikamah di atas agama Islam, Allah Ta’ala berikan mereka pahala yang besar dan dekatnya posisi mereka dengan Allah Ta’ala.Baca Juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman FitnahJemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Simak baik-baik hadis yang mulia ini. Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Ma’qal bin Yasaar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit) itu layaknya berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948 dan Tirmidzi no. 2201)Haraj sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah saat menjelaskan hadis ini adalah,“Waktu fitnah (kekacauan) dan semrawutnya perkara manusia.”Begitu pula saat peperangan, ketakutan, kepanikan, dan kondisi di mana ekonomi sedang kacau, kehidupan sosial carut marut, kebingungan mencari kebenaran dan fatwa, sungguh dalam kondisi ini manusia sedang diuji.Siapa saja yang menghadirkan hatinya untuk Allah Ta’ala pada kondisi semacam ini, perhatian terhadap salatnya, menjaga zikir dan bacaan Al-Qur’annya, semaksimal mungkin menjaga akhlak yang baik dan menyambung silaturahmi, maka seakan-akan ia sedang berhijrah, pergi menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kita semua tahu, betapa agungnya kedudukan hijrah menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, betapa besarnya pahala yang mereka dapatkan, betapa besarnya pahala yang didapatkan kaum muhajirin yang meninggalkan kota Makkah untuk bertemu Nabi. Derajat mereka tak akan bisa digapai oleh orang-orang setelah mereka, Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74)Dan firman Allah Ta’ala,وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ“Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)Wahai kaum muslimin, tetaplah di jalan Allah, pegang erat-erat agama Islam ini di zaman fitnah dan masa sulit ini. Jadilah orang yang bijak atas setiap apa yang kita dengar, bijak atas apa yang kita lihat dan kita saksikan. Berdoalah terus kepada Allah Ta’ala, mintalah selalu hidayah kepada-Nya, karena tanpa hidayah Allah Ta’ala, hidup di zaman fitnah ini begitu berat dan sulit. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan,يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini hasan)أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca Juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman FitnahKhotbah kedua.اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jangan sampai, kesibukan kita dan hiruk pikuk kehidupan di zaman fitnah dan akhir zaman ini mengalihkan pikiran kita. Jangan sampai, hubungan kita dengan Allah Ta’ala terputus. Jangan sampai, karena sibuknya kita bekerja, membuat kita tidak khusyuk dalam salat, sering meninggalkan zikir setelah salat, dan melupakan doa kepada Allah Ta’ala.Bersabarlah wahai saudaraku, saling menguatkan dan saling mengingatkan antar saudara. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ مِنْ وَرَائِكُم زَمَانُ صَبرٍ ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيه أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُم“Sesungguhnya di masa mendatang, ada zaman kesabaran (zaman di mana tidak ada jalan selamat kecuali dengan kesabaran, zaman di mana fitnah tersebar luas, dan zaman di mana kaum muslimin lemah). Bagi mereka yang (bersabar) memegang kuat agamanya, (akan mendapatkan) pahala (layaknya) lima puluh syuhada dari kalangan kalian (para sahabat).” (Lihat Shahih Al-Jami’, hal. 2234 karya Syekh Al-Albani)Hadis ini menjelaskan betapa besarnya fitnah yang terjadi di zaman ini, sehingga mereka yang berpegang teguh, istikamah di atas agamanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dijanjikan dengan pahala yang besar.Jemaah yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, jangan sampai diri kita frustrasi, putus asa, dan merasa kalah saat melihat fenomena kehidupan yang ada, melihat bagaimana orang yang batil, orang-orang yang melakukan keburukan seakan-akan mereka adalah pemenang dan menjadi orang yang sukses. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Bersabarlah dan kuatkanlah hati kita masing-masing. Berpegang teguhlah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ingatlah, bahwa kaum mukminin akan senantiasa diuji. Maka bersabarlah menghadapi ujian ini. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قلبي عَلَى دِينِكَ. اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ“Ya Allah, Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Allah, Zat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu.”Amiin Ya Rabbal Aalamiin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiDampak Fitnah ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Bab Puasa Ramadhan, Surat Tentang Puasa, Hadits Tentang Berhijrah, Foto Ulama SalafTags: ahli ibadahamalamal ibadahfitnah syahwatfitnah syubhatjudul khutbah jumatkeutamaan ibadahkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamteks khutbah jumattema khutbah jumatzaman fitnah

Teks Khotbah Jumat: Keutamaan Ibadah di Zaman Fitnah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ   “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)Jemaah yang berbahagia, tidaklah Allah Ta’ala menciptakan kita semua, kecuali dengan tujuan agar kita beribadah dan taat hanya kepada-Nya satu-satunya serta tidak menyekutukan-Nya. Ibadah yang dilaksanakan dengan hati dan anggota tubuh kita. Ibadah yang senantiasa membersamai diri kita saat menetap maupun sedang bepergian, di darat maupun di lautan, saat dalam kondisi aman tentram maupun saat dalam kondisi perang yang mencekam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan ibadah di zaman yang penuh fitnah, zaman yang penuh peperangan dan permusuhan, dan zaman yang penuh rumor serta kabar palsu adalah termasuk dari seutama-utamanya ibadah dan besarnya pahalanya. Hal ini karena di zaman-zaman tersebut, manusia pasti lalai dari ibadah dan lebih tersibukkan dengan apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka, melupakan zikir, meninggalkan membaca Al-Qur’an atau bahkan meninggalkan salat berjemaah.Setan berbisik kepada mereka dalam salat mereka, lalu mereka pun menyambutnya layaknya burung gagak yang mematuk untuk mendapatkan darah. Waktu mereka habis disibukkan dengan isu-isu serta desas-desus yang membombardir setiap waktu, baik itu dari dalam diri mereka sendiri ataupun dari luar. Oleh karenanya, bagi mereka yang selalu konsisten beribadah dan istikamah di atas agama Islam, Allah Ta’ala berikan mereka pahala yang besar dan dekatnya posisi mereka dengan Allah Ta’ala.Baca Juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman FitnahJemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Simak baik-baik hadis yang mulia ini. Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Ma’qal bin Yasaar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit) itu layaknya berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948 dan Tirmidzi no. 2201)Haraj sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah saat menjelaskan hadis ini adalah,“Waktu fitnah (kekacauan) dan semrawutnya perkara manusia.”Begitu pula saat peperangan, ketakutan, kepanikan, dan kondisi di mana ekonomi sedang kacau, kehidupan sosial carut marut, kebingungan mencari kebenaran dan fatwa, sungguh dalam kondisi ini manusia sedang diuji.Siapa saja yang menghadirkan hatinya untuk Allah Ta’ala pada kondisi semacam ini, perhatian terhadap salatnya, menjaga zikir dan bacaan Al-Qur’annya, semaksimal mungkin menjaga akhlak yang baik dan menyambung silaturahmi, maka seakan-akan ia sedang berhijrah, pergi menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kita semua tahu, betapa agungnya kedudukan hijrah menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, betapa besarnya pahala yang mereka dapatkan, betapa besarnya pahala yang didapatkan kaum muhajirin yang meninggalkan kota Makkah untuk bertemu Nabi. Derajat mereka tak akan bisa digapai oleh orang-orang setelah mereka, Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74)Dan firman Allah Ta’ala,وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ“Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)Wahai kaum muslimin, tetaplah di jalan Allah, pegang erat-erat agama Islam ini di zaman fitnah dan masa sulit ini. Jadilah orang yang bijak atas setiap apa yang kita dengar, bijak atas apa yang kita lihat dan kita saksikan. Berdoalah terus kepada Allah Ta’ala, mintalah selalu hidayah kepada-Nya, karena tanpa hidayah Allah Ta’ala, hidup di zaman fitnah ini begitu berat dan sulit. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan,يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini hasan)أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca Juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman FitnahKhotbah kedua.اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jangan sampai, kesibukan kita dan hiruk pikuk kehidupan di zaman fitnah dan akhir zaman ini mengalihkan pikiran kita. Jangan sampai, hubungan kita dengan Allah Ta’ala terputus. Jangan sampai, karena sibuknya kita bekerja, membuat kita tidak khusyuk dalam salat, sering meninggalkan zikir setelah salat, dan melupakan doa kepada Allah Ta’ala.Bersabarlah wahai saudaraku, saling menguatkan dan saling mengingatkan antar saudara. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ مِنْ وَرَائِكُم زَمَانُ صَبرٍ ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيه أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُم“Sesungguhnya di masa mendatang, ada zaman kesabaran (zaman di mana tidak ada jalan selamat kecuali dengan kesabaran, zaman di mana fitnah tersebar luas, dan zaman di mana kaum muslimin lemah). Bagi mereka yang (bersabar) memegang kuat agamanya, (akan mendapatkan) pahala (layaknya) lima puluh syuhada dari kalangan kalian (para sahabat).” (Lihat Shahih Al-Jami’, hal. 2234 karya Syekh Al-Albani)Hadis ini menjelaskan betapa besarnya fitnah yang terjadi di zaman ini, sehingga mereka yang berpegang teguh, istikamah di atas agamanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dijanjikan dengan pahala yang besar.Jemaah yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, jangan sampai diri kita frustrasi, putus asa, dan merasa kalah saat melihat fenomena kehidupan yang ada, melihat bagaimana orang yang batil, orang-orang yang melakukan keburukan seakan-akan mereka adalah pemenang dan menjadi orang yang sukses. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Bersabarlah dan kuatkanlah hati kita masing-masing. Berpegang teguhlah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ingatlah, bahwa kaum mukminin akan senantiasa diuji. Maka bersabarlah menghadapi ujian ini. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قلبي عَلَى دِينِكَ. اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ“Ya Allah, Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Allah, Zat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu.”Amiin Ya Rabbal Aalamiin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiDampak Fitnah ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Bab Puasa Ramadhan, Surat Tentang Puasa, Hadits Tentang Berhijrah, Foto Ulama SalafTags: ahli ibadahamalamal ibadahfitnah syahwatfitnah syubhatjudul khutbah jumatkeutamaan ibadahkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamteks khutbah jumattema khutbah jumatzaman fitnah
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ   “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)Jemaah yang berbahagia, tidaklah Allah Ta’ala menciptakan kita semua, kecuali dengan tujuan agar kita beribadah dan taat hanya kepada-Nya satu-satunya serta tidak menyekutukan-Nya. Ibadah yang dilaksanakan dengan hati dan anggota tubuh kita. Ibadah yang senantiasa membersamai diri kita saat menetap maupun sedang bepergian, di darat maupun di lautan, saat dalam kondisi aman tentram maupun saat dalam kondisi perang yang mencekam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan ibadah di zaman yang penuh fitnah, zaman yang penuh peperangan dan permusuhan, dan zaman yang penuh rumor serta kabar palsu adalah termasuk dari seutama-utamanya ibadah dan besarnya pahalanya. Hal ini karena di zaman-zaman tersebut, manusia pasti lalai dari ibadah dan lebih tersibukkan dengan apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka, melupakan zikir, meninggalkan membaca Al-Qur’an atau bahkan meninggalkan salat berjemaah.Setan berbisik kepada mereka dalam salat mereka, lalu mereka pun menyambutnya layaknya burung gagak yang mematuk untuk mendapatkan darah. Waktu mereka habis disibukkan dengan isu-isu serta desas-desus yang membombardir setiap waktu, baik itu dari dalam diri mereka sendiri ataupun dari luar. Oleh karenanya, bagi mereka yang selalu konsisten beribadah dan istikamah di atas agama Islam, Allah Ta’ala berikan mereka pahala yang besar dan dekatnya posisi mereka dengan Allah Ta’ala.Baca Juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman FitnahJemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Simak baik-baik hadis yang mulia ini. Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Ma’qal bin Yasaar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit) itu layaknya berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948 dan Tirmidzi no. 2201)Haraj sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah saat menjelaskan hadis ini adalah,“Waktu fitnah (kekacauan) dan semrawutnya perkara manusia.”Begitu pula saat peperangan, ketakutan, kepanikan, dan kondisi di mana ekonomi sedang kacau, kehidupan sosial carut marut, kebingungan mencari kebenaran dan fatwa, sungguh dalam kondisi ini manusia sedang diuji.Siapa saja yang menghadirkan hatinya untuk Allah Ta’ala pada kondisi semacam ini, perhatian terhadap salatnya, menjaga zikir dan bacaan Al-Qur’annya, semaksimal mungkin menjaga akhlak yang baik dan menyambung silaturahmi, maka seakan-akan ia sedang berhijrah, pergi menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kita semua tahu, betapa agungnya kedudukan hijrah menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, betapa besarnya pahala yang mereka dapatkan, betapa besarnya pahala yang didapatkan kaum muhajirin yang meninggalkan kota Makkah untuk bertemu Nabi. Derajat mereka tak akan bisa digapai oleh orang-orang setelah mereka, Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74)Dan firman Allah Ta’ala,وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ“Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)Wahai kaum muslimin, tetaplah di jalan Allah, pegang erat-erat agama Islam ini di zaman fitnah dan masa sulit ini. Jadilah orang yang bijak atas setiap apa yang kita dengar, bijak atas apa yang kita lihat dan kita saksikan. Berdoalah terus kepada Allah Ta’ala, mintalah selalu hidayah kepada-Nya, karena tanpa hidayah Allah Ta’ala, hidup di zaman fitnah ini begitu berat dan sulit. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan,يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini hasan)أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca Juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman FitnahKhotbah kedua.اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jangan sampai, kesibukan kita dan hiruk pikuk kehidupan di zaman fitnah dan akhir zaman ini mengalihkan pikiran kita. Jangan sampai, hubungan kita dengan Allah Ta’ala terputus. Jangan sampai, karena sibuknya kita bekerja, membuat kita tidak khusyuk dalam salat, sering meninggalkan zikir setelah salat, dan melupakan doa kepada Allah Ta’ala.Bersabarlah wahai saudaraku, saling menguatkan dan saling mengingatkan antar saudara. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ مِنْ وَرَائِكُم زَمَانُ صَبرٍ ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيه أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُم“Sesungguhnya di masa mendatang, ada zaman kesabaran (zaman di mana tidak ada jalan selamat kecuali dengan kesabaran, zaman di mana fitnah tersebar luas, dan zaman di mana kaum muslimin lemah). Bagi mereka yang (bersabar) memegang kuat agamanya, (akan mendapatkan) pahala (layaknya) lima puluh syuhada dari kalangan kalian (para sahabat).” (Lihat Shahih Al-Jami’, hal. 2234 karya Syekh Al-Albani)Hadis ini menjelaskan betapa besarnya fitnah yang terjadi di zaman ini, sehingga mereka yang berpegang teguh, istikamah di atas agamanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dijanjikan dengan pahala yang besar.Jemaah yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, jangan sampai diri kita frustrasi, putus asa, dan merasa kalah saat melihat fenomena kehidupan yang ada, melihat bagaimana orang yang batil, orang-orang yang melakukan keburukan seakan-akan mereka adalah pemenang dan menjadi orang yang sukses. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Bersabarlah dan kuatkanlah hati kita masing-masing. Berpegang teguhlah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ingatlah, bahwa kaum mukminin akan senantiasa diuji. Maka bersabarlah menghadapi ujian ini. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قلبي عَلَى دِينِكَ. اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ“Ya Allah, Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Allah, Zat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu.”Amiin Ya Rabbal Aalamiin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiDampak Fitnah ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Bab Puasa Ramadhan, Surat Tentang Puasa, Hadits Tentang Berhijrah, Foto Ulama SalafTags: ahli ibadahamalamal ibadahfitnah syahwatfitnah syubhatjudul khutbah jumatkeutamaan ibadahkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamteks khutbah jumattema khutbah jumatzaman fitnah


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ   “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)Jemaah yang berbahagia, tidaklah Allah Ta’ala menciptakan kita semua, kecuali dengan tujuan agar kita beribadah dan taat hanya kepada-Nya satu-satunya serta tidak menyekutukan-Nya. Ibadah yang dilaksanakan dengan hati dan anggota tubuh kita. Ibadah yang senantiasa membersamai diri kita saat menetap maupun sedang bepergian, di darat maupun di lautan, saat dalam kondisi aman tentram maupun saat dalam kondisi perang yang mencekam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan ibadah di zaman yang penuh fitnah, zaman yang penuh peperangan dan permusuhan, dan zaman yang penuh rumor serta kabar palsu adalah termasuk dari seutama-utamanya ibadah dan besarnya pahalanya. Hal ini karena di zaman-zaman tersebut, manusia pasti lalai dari ibadah dan lebih tersibukkan dengan apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka, melupakan zikir, meninggalkan membaca Al-Qur’an atau bahkan meninggalkan salat berjemaah.Setan berbisik kepada mereka dalam salat mereka, lalu mereka pun menyambutnya layaknya burung gagak yang mematuk untuk mendapatkan darah. Waktu mereka habis disibukkan dengan isu-isu serta desas-desus yang membombardir setiap waktu, baik itu dari dalam diri mereka sendiri ataupun dari luar. Oleh karenanya, bagi mereka yang selalu konsisten beribadah dan istikamah di atas agama Islam, Allah Ta’ala berikan mereka pahala yang besar dan dekatnya posisi mereka dengan Allah Ta’ala.Baca Juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman FitnahJemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Simak baik-baik hadis yang mulia ini. Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Ma’qal bin Yasaar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit) itu layaknya berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948 dan Tirmidzi no. 2201)Haraj sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah saat menjelaskan hadis ini adalah,“Waktu fitnah (kekacauan) dan semrawutnya perkara manusia.”Begitu pula saat peperangan, ketakutan, kepanikan, dan kondisi di mana ekonomi sedang kacau, kehidupan sosial carut marut, kebingungan mencari kebenaran dan fatwa, sungguh dalam kondisi ini manusia sedang diuji.Siapa saja yang menghadirkan hatinya untuk Allah Ta’ala pada kondisi semacam ini, perhatian terhadap salatnya, menjaga zikir dan bacaan Al-Qur’annya, semaksimal mungkin menjaga akhlak yang baik dan menyambung silaturahmi, maka seakan-akan ia sedang berhijrah, pergi menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kita semua tahu, betapa agungnya kedudukan hijrah menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, betapa besarnya pahala yang mereka dapatkan, betapa besarnya pahala yang didapatkan kaum muhajirin yang meninggalkan kota Makkah untuk bertemu Nabi. Derajat mereka tak akan bisa digapai oleh orang-orang setelah mereka, Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74)Dan firman Allah Ta’ala,وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ“Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)Wahai kaum muslimin, tetaplah di jalan Allah, pegang erat-erat agama Islam ini di zaman fitnah dan masa sulit ini. Jadilah orang yang bijak atas setiap apa yang kita dengar, bijak atas apa yang kita lihat dan kita saksikan. Berdoalah terus kepada Allah Ta’ala, mintalah selalu hidayah kepada-Nya, karena tanpa hidayah Allah Ta’ala, hidup di zaman fitnah ini begitu berat dan sulit. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan,يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini hasan)أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca Juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman FitnahKhotbah kedua.اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jangan sampai, kesibukan kita dan hiruk pikuk kehidupan di zaman fitnah dan akhir zaman ini mengalihkan pikiran kita. Jangan sampai, hubungan kita dengan Allah Ta’ala terputus. Jangan sampai, karena sibuknya kita bekerja, membuat kita tidak khusyuk dalam salat, sering meninggalkan zikir setelah salat, dan melupakan doa kepada Allah Ta’ala.Bersabarlah wahai saudaraku, saling menguatkan dan saling mengingatkan antar saudara. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ مِنْ وَرَائِكُم زَمَانُ صَبرٍ ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيه أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُم“Sesungguhnya di masa mendatang, ada zaman kesabaran (zaman di mana tidak ada jalan selamat kecuali dengan kesabaran, zaman di mana fitnah tersebar luas, dan zaman di mana kaum muslimin lemah). Bagi mereka yang (bersabar) memegang kuat agamanya, (akan mendapatkan) pahala (layaknya) lima puluh syuhada dari kalangan kalian (para sahabat).” (Lihat Shahih Al-Jami’, hal. 2234 karya Syekh Al-Albani)Hadis ini menjelaskan betapa besarnya fitnah yang terjadi di zaman ini, sehingga mereka yang berpegang teguh, istikamah di atas agamanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dijanjikan dengan pahala yang besar.Jemaah yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, jangan sampai diri kita frustrasi, putus asa, dan merasa kalah saat melihat fenomena kehidupan yang ada, melihat bagaimana orang yang batil, orang-orang yang melakukan keburukan seakan-akan mereka adalah pemenang dan menjadi orang yang sukses. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Bersabarlah dan kuatkanlah hati kita masing-masing. Berpegang teguhlah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ingatlah, bahwa kaum mukminin akan senantiasa diuji. Maka bersabarlah menghadapi ujian ini. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قلبي عَلَى دِينِكَ. اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ“Ya Allah, Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Allah, Zat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu.”Amiin Ya Rabbal Aalamiin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiDampak Fitnah ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Bab Puasa Ramadhan, Surat Tentang Puasa, Hadits Tentang Berhijrah, Foto Ulama SalafTags: ahli ibadahamalamal ibadahfitnah syahwatfitnah syubhatjudul khutbah jumatkeutamaan ibadahkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamteks khutbah jumattema khutbah jumatzaman fitnah

Dua Sebab Mengapa Sujud Sahwi ketika Lupa dalam Salat – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Ditentukan sujud untuk menambal kealpaan (dalam salat),bukan dengan ucapan atau gerakan salat lainnya,mengapa? Kenapa jika seseorang lupa dalam salatnya, tidak disyariatkan mengucapkan“Lā ilāha illallāh” atau rukuk atau membaca al-Fatihah?Mengapa? Ya.Apa?Untuk menghinakan setan.Menunjukkan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baiklah, kalau rukuk?Karena sujud adalah rukun salat yang paling ditekankan.Silakan, Ahmad.Kenapa? Ada dua alasan:[PERTAMA]Sujud bisa menjauhkan setanyang menguasai manusia dalam salatnyadan membuatnya lupa. Disebutkan dalam Sahih Muslim bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallammenyebutkan bahwa ketika anak Adam (manusia) sujud,maka setan menangis dan pergi menjauh seraya berkata, “Yā Wailah (Celaka aku!)” Dalam riwayat lain, “Yā Wailī (Celaka aku!),anak Adam diperintahkan untuk sujudlalu bersujud maka baginya surga,sedangkan aku diperintahkan untuk sujudtetapi tidak patuh maka bagiku neraka.” Dalam Sahih Muslim,ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkantentang kealpaan seseorang dalam salatnya,beliau bersabda, “… jika ternyata salatnya benar empat rakaat,maka dua sujud tersebut menjadi penghinaan bagi setan.”Yakni dua sujud sahwi. Jadi, sujudnya orang yang salat akan menghinakan setandan menjauhkannya dari dirinya. [KEDUA]Sujud adalah bentuk kembalikepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā dan kedekatan dengan-Nya, sehingga menguatkan hatinya untuk hadir saat salatdan tidak alpa di dalamnya,berdasarkan sabda beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Keadaan di mana seorang hamba paling dekat dengan Tuhannyaadalah tatkala ia sedang sujud.” (Muttafaq ‘Alaihi)Dengan dua alasan tersebut, orang yang salat diperintahkan ketika lupa dalam salatnyaagar sujud untuk menambalnya,dan tidak diperintahkan untuk menambalnya dengan sesuatu yang lain,baik berupa bacaan atau gerakan yang sudah dikenal dalam salat. ==== وَاخْتِيرَ السُّجُودُ لِجَبْرِ السَّهْوِ دُونَ غَيْرِهِ مِنْ أَقْوَالِ الصَّلَاةِ وَأَفْعَالِهَا لِمَاذَا؟ لِأَيشْ مَا إِذَا سَهَا الْإِنْسَانُ فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَوْ يَرْكَعَ أَوْ يَقْرَأَ الْفَاتِحَةَ؟ لِمَاذَا ؟ نَعَمْ أَيشْ؟ إِغْرَامًا لِلشَّيطَانِ يُعَبِّرُ عَنِ الْخُضُوعِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ وَالرُّكُوعُ؟ لِأَنَّ السُّجُودَ آكِدُ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ نَعَمْ أَحْمَدُ أَيشْ؟ لِأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّ السُّجُودَ يَقَعُ بِهِ تَبْعِيدُ الشَّيْطَانِ الَّذِي يَتَسَلَّطُ عَلَى الْعَبْدِ فِي صَلَاتِهِ فَيَجْعَلُهُ يَسْهُو وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ أَنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَجَدَ ابْنُ آدَمَ بَكَى وَاعْتَزَلَ وَقَالَ يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةٍ يَا وَيْلِيْ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ لَمَّا ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَهْوَ الْإِنْسَانِ فِي صَلَاتِهِ قَالَ: وَإِنْ كَانَ صَلَّى لِإِتْمَامِ أَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ يَعْنِي سَجْدَتَا السَّهْوِ فَفِي سُجُودِ الْمُصَلِّي يُذِلُّ الشَّيْطَانَ وَيُبْعِدُهُ عَنْهُ وَالْآخَرُ فِي السُّجُودِ رُجُوعٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقُرْبٌ مِنْهُ يَقْوَى بِهِ الْقَلْبُ عَلَى الْحُضُورِ فِي الصَّلَاةِ وَعَدَمِ السَّهْوِ فِيهَا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبُ مَا يَكونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ مُتَّفَقٌ عَلَيهِ فَلِلْأَمْرَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ أُمِرَ الْمُصَلِّي إِذَا سَهَا فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَسْجُدَ لِجَبْرِهَا وَلَمْ يُأْمَرْ بِشَيْءٍ سِوَاهُ يَقَعُ بِهِ الْجَبْرُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الْمَعْرُوفَةِ فِي الصَّلَاةِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Dua Sebab Mengapa Sujud Sahwi ketika Lupa dalam Salat – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Ditentukan sujud untuk menambal kealpaan (dalam salat),bukan dengan ucapan atau gerakan salat lainnya,mengapa? Kenapa jika seseorang lupa dalam salatnya, tidak disyariatkan mengucapkan“Lā ilāha illallāh” atau rukuk atau membaca al-Fatihah?Mengapa? Ya.Apa?Untuk menghinakan setan.Menunjukkan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baiklah, kalau rukuk?Karena sujud adalah rukun salat yang paling ditekankan.Silakan, Ahmad.Kenapa? Ada dua alasan:[PERTAMA]Sujud bisa menjauhkan setanyang menguasai manusia dalam salatnyadan membuatnya lupa. Disebutkan dalam Sahih Muslim bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallammenyebutkan bahwa ketika anak Adam (manusia) sujud,maka setan menangis dan pergi menjauh seraya berkata, “Yā Wailah (Celaka aku!)” Dalam riwayat lain, “Yā Wailī (Celaka aku!),anak Adam diperintahkan untuk sujudlalu bersujud maka baginya surga,sedangkan aku diperintahkan untuk sujudtetapi tidak patuh maka bagiku neraka.” Dalam Sahih Muslim,ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkantentang kealpaan seseorang dalam salatnya,beliau bersabda, “… jika ternyata salatnya benar empat rakaat,maka dua sujud tersebut menjadi penghinaan bagi setan.”Yakni dua sujud sahwi. Jadi, sujudnya orang yang salat akan menghinakan setandan menjauhkannya dari dirinya. [KEDUA]Sujud adalah bentuk kembalikepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā dan kedekatan dengan-Nya, sehingga menguatkan hatinya untuk hadir saat salatdan tidak alpa di dalamnya,berdasarkan sabda beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Keadaan di mana seorang hamba paling dekat dengan Tuhannyaadalah tatkala ia sedang sujud.” (Muttafaq ‘Alaihi)Dengan dua alasan tersebut, orang yang salat diperintahkan ketika lupa dalam salatnyaagar sujud untuk menambalnya,dan tidak diperintahkan untuk menambalnya dengan sesuatu yang lain,baik berupa bacaan atau gerakan yang sudah dikenal dalam salat. ==== وَاخْتِيرَ السُّجُودُ لِجَبْرِ السَّهْوِ دُونَ غَيْرِهِ مِنْ أَقْوَالِ الصَّلَاةِ وَأَفْعَالِهَا لِمَاذَا؟ لِأَيشْ مَا إِذَا سَهَا الْإِنْسَانُ فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَوْ يَرْكَعَ أَوْ يَقْرَأَ الْفَاتِحَةَ؟ لِمَاذَا ؟ نَعَمْ أَيشْ؟ إِغْرَامًا لِلشَّيطَانِ يُعَبِّرُ عَنِ الْخُضُوعِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ وَالرُّكُوعُ؟ لِأَنَّ السُّجُودَ آكِدُ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ نَعَمْ أَحْمَدُ أَيشْ؟ لِأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّ السُّجُودَ يَقَعُ بِهِ تَبْعِيدُ الشَّيْطَانِ الَّذِي يَتَسَلَّطُ عَلَى الْعَبْدِ فِي صَلَاتِهِ فَيَجْعَلُهُ يَسْهُو وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ أَنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَجَدَ ابْنُ آدَمَ بَكَى وَاعْتَزَلَ وَقَالَ يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةٍ يَا وَيْلِيْ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ لَمَّا ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَهْوَ الْإِنْسَانِ فِي صَلَاتِهِ قَالَ: وَإِنْ كَانَ صَلَّى لِإِتْمَامِ أَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ يَعْنِي سَجْدَتَا السَّهْوِ فَفِي سُجُودِ الْمُصَلِّي يُذِلُّ الشَّيْطَانَ وَيُبْعِدُهُ عَنْهُ وَالْآخَرُ فِي السُّجُودِ رُجُوعٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقُرْبٌ مِنْهُ يَقْوَى بِهِ الْقَلْبُ عَلَى الْحُضُورِ فِي الصَّلَاةِ وَعَدَمِ السَّهْوِ فِيهَا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبُ مَا يَكونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ مُتَّفَقٌ عَلَيهِ فَلِلْأَمْرَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ أُمِرَ الْمُصَلِّي إِذَا سَهَا فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَسْجُدَ لِجَبْرِهَا وَلَمْ يُأْمَرْ بِشَيْءٍ سِوَاهُ يَقَعُ بِهِ الْجَبْرُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الْمَعْرُوفَةِ فِي الصَّلَاةِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ditentukan sujud untuk menambal kealpaan (dalam salat),bukan dengan ucapan atau gerakan salat lainnya,mengapa? Kenapa jika seseorang lupa dalam salatnya, tidak disyariatkan mengucapkan“Lā ilāha illallāh” atau rukuk atau membaca al-Fatihah?Mengapa? Ya.Apa?Untuk menghinakan setan.Menunjukkan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baiklah, kalau rukuk?Karena sujud adalah rukun salat yang paling ditekankan.Silakan, Ahmad.Kenapa? Ada dua alasan:[PERTAMA]Sujud bisa menjauhkan setanyang menguasai manusia dalam salatnyadan membuatnya lupa. Disebutkan dalam Sahih Muslim bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallammenyebutkan bahwa ketika anak Adam (manusia) sujud,maka setan menangis dan pergi menjauh seraya berkata, “Yā Wailah (Celaka aku!)” Dalam riwayat lain, “Yā Wailī (Celaka aku!),anak Adam diperintahkan untuk sujudlalu bersujud maka baginya surga,sedangkan aku diperintahkan untuk sujudtetapi tidak patuh maka bagiku neraka.” Dalam Sahih Muslim,ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkantentang kealpaan seseorang dalam salatnya,beliau bersabda, “… jika ternyata salatnya benar empat rakaat,maka dua sujud tersebut menjadi penghinaan bagi setan.”Yakni dua sujud sahwi. Jadi, sujudnya orang yang salat akan menghinakan setandan menjauhkannya dari dirinya. [KEDUA]Sujud adalah bentuk kembalikepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā dan kedekatan dengan-Nya, sehingga menguatkan hatinya untuk hadir saat salatdan tidak alpa di dalamnya,berdasarkan sabda beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Keadaan di mana seorang hamba paling dekat dengan Tuhannyaadalah tatkala ia sedang sujud.” (Muttafaq ‘Alaihi)Dengan dua alasan tersebut, orang yang salat diperintahkan ketika lupa dalam salatnyaagar sujud untuk menambalnya,dan tidak diperintahkan untuk menambalnya dengan sesuatu yang lain,baik berupa bacaan atau gerakan yang sudah dikenal dalam salat. ==== وَاخْتِيرَ السُّجُودُ لِجَبْرِ السَّهْوِ دُونَ غَيْرِهِ مِنْ أَقْوَالِ الصَّلَاةِ وَأَفْعَالِهَا لِمَاذَا؟ لِأَيشْ مَا إِذَا سَهَا الْإِنْسَانُ فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَوْ يَرْكَعَ أَوْ يَقْرَأَ الْفَاتِحَةَ؟ لِمَاذَا ؟ نَعَمْ أَيشْ؟ إِغْرَامًا لِلشَّيطَانِ يُعَبِّرُ عَنِ الْخُضُوعِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ وَالرُّكُوعُ؟ لِأَنَّ السُّجُودَ آكِدُ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ نَعَمْ أَحْمَدُ أَيشْ؟ لِأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّ السُّجُودَ يَقَعُ بِهِ تَبْعِيدُ الشَّيْطَانِ الَّذِي يَتَسَلَّطُ عَلَى الْعَبْدِ فِي صَلَاتِهِ فَيَجْعَلُهُ يَسْهُو وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ أَنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَجَدَ ابْنُ آدَمَ بَكَى وَاعْتَزَلَ وَقَالَ يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةٍ يَا وَيْلِيْ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ لَمَّا ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَهْوَ الْإِنْسَانِ فِي صَلَاتِهِ قَالَ: وَإِنْ كَانَ صَلَّى لِإِتْمَامِ أَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ يَعْنِي سَجْدَتَا السَّهْوِ فَفِي سُجُودِ الْمُصَلِّي يُذِلُّ الشَّيْطَانَ وَيُبْعِدُهُ عَنْهُ وَالْآخَرُ فِي السُّجُودِ رُجُوعٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقُرْبٌ مِنْهُ يَقْوَى بِهِ الْقَلْبُ عَلَى الْحُضُورِ فِي الصَّلَاةِ وَعَدَمِ السَّهْوِ فِيهَا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبُ مَا يَكونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ مُتَّفَقٌ عَلَيهِ فَلِلْأَمْرَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ أُمِرَ الْمُصَلِّي إِذَا سَهَا فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَسْجُدَ لِجَبْرِهَا وَلَمْ يُأْمَرْ بِشَيْءٍ سِوَاهُ يَقَعُ بِهِ الْجَبْرُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الْمَعْرُوفَةِ فِي الصَّلَاةِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ditentukan sujud untuk menambal kealpaan (dalam salat),bukan dengan ucapan atau gerakan salat lainnya,mengapa? Kenapa jika seseorang lupa dalam salatnya, tidak disyariatkan mengucapkan“Lā ilāha illallāh” atau rukuk atau membaca al-Fatihah?Mengapa? Ya.Apa?Untuk menghinakan setan.Menunjukkan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baiklah, kalau rukuk?Karena sujud adalah rukun salat yang paling ditekankan.Silakan, Ahmad.Kenapa? Ada dua alasan:[PERTAMA]Sujud bisa menjauhkan setanyang menguasai manusia dalam salatnyadan membuatnya lupa. Disebutkan dalam Sahih Muslim bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallammenyebutkan bahwa ketika anak Adam (manusia) sujud,maka setan menangis dan pergi menjauh seraya berkata, “Yā Wailah (Celaka aku!)” Dalam riwayat lain, “Yā Wailī (Celaka aku!),anak Adam diperintahkan untuk sujudlalu bersujud maka baginya surga,sedangkan aku diperintahkan untuk sujudtetapi tidak patuh maka bagiku neraka.” Dalam Sahih Muslim,ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkantentang kealpaan seseorang dalam salatnya,beliau bersabda, “… jika ternyata salatnya benar empat rakaat,maka dua sujud tersebut menjadi penghinaan bagi setan.”Yakni dua sujud sahwi. Jadi, sujudnya orang yang salat akan menghinakan setandan menjauhkannya dari dirinya. [KEDUA]Sujud adalah bentuk kembalikepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā dan kedekatan dengan-Nya, sehingga menguatkan hatinya untuk hadir saat salatdan tidak alpa di dalamnya,berdasarkan sabda beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Keadaan di mana seorang hamba paling dekat dengan Tuhannyaadalah tatkala ia sedang sujud.” (Muttafaq ‘Alaihi)Dengan dua alasan tersebut, orang yang salat diperintahkan ketika lupa dalam salatnyaagar sujud untuk menambalnya,dan tidak diperintahkan untuk menambalnya dengan sesuatu yang lain,baik berupa bacaan atau gerakan yang sudah dikenal dalam salat. ==== وَاخْتِيرَ السُّجُودُ لِجَبْرِ السَّهْوِ دُونَ غَيْرِهِ مِنْ أَقْوَالِ الصَّلَاةِ وَأَفْعَالِهَا لِمَاذَا؟ لِأَيشْ مَا إِذَا سَهَا الْإِنْسَانُ فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَوْ يَرْكَعَ أَوْ يَقْرَأَ الْفَاتِحَةَ؟ لِمَاذَا ؟ نَعَمْ أَيشْ؟ إِغْرَامًا لِلشَّيطَانِ يُعَبِّرُ عَنِ الْخُضُوعِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ وَالرُّكُوعُ؟ لِأَنَّ السُّجُودَ آكِدُ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ نَعَمْ أَحْمَدُ أَيشْ؟ لِأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّ السُّجُودَ يَقَعُ بِهِ تَبْعِيدُ الشَّيْطَانِ الَّذِي يَتَسَلَّطُ عَلَى الْعَبْدِ فِي صَلَاتِهِ فَيَجْعَلُهُ يَسْهُو وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ أَنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَجَدَ ابْنُ آدَمَ بَكَى وَاعْتَزَلَ وَقَالَ يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةٍ يَا وَيْلِيْ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ لَمَّا ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَهْوَ الْإِنْسَانِ فِي صَلَاتِهِ قَالَ: وَإِنْ كَانَ صَلَّى لِإِتْمَامِ أَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ يَعْنِي سَجْدَتَا السَّهْوِ فَفِي سُجُودِ الْمُصَلِّي يُذِلُّ الشَّيْطَانَ وَيُبْعِدُهُ عَنْهُ وَالْآخَرُ فِي السُّجُودِ رُجُوعٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقُرْبٌ مِنْهُ يَقْوَى بِهِ الْقَلْبُ عَلَى الْحُضُورِ فِي الصَّلَاةِ وَعَدَمِ السَّهْوِ فِيهَا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبُ مَا يَكونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ مُتَّفَقٌ عَلَيهِ فَلِلْأَمْرَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ أُمِرَ الْمُصَلِّي إِذَا سَهَا فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَسْجُدَ لِجَبْرِهَا وَلَمْ يُأْمَرْ بِشَيْءٍ سِوَاهُ يَقَعُ بِهِ الْجَبْرُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الْمَعْرُوفَةِ فِي الصَّلَاةِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Khutbah Jumat: Tujuh Pertanyaan Nabi Musa Kepada Allah yang Patut Direnungkan

Ada tujuh perkara yang ditanyakan Nabi Musa kepada Allah yang patut direnungkan dalam Khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ada hadits riwayat Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah secara marfu’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, سأل موسى ربه عن ست خصال كان يظن انها له خالصة والسابعة لم يكن موسى يحبها قال يا رب أي عبادك اتقى قال الذي يذكر ولا ينسى قال فأي عبادك اهدى قال الذي تتبع الهدى قال فأي عبادك احكم قال الذي يحكم للناس ما يحكم لنفسه قال أي عبادك اعلم قال عالم لا يشبع من العلم يجمع علم الناس الى علمه قال فأي عبادك اعز قال الذي اذا قدر عفا قال فأي عبادك اغني قال الذي يرضى بما اوتى قال فاي عبادك افقر قال صاحب منقوص “Musa bertanya kepada Rabbnya ihwal tujuh perkara yang dia sangka hanya dimilikinya, sedang perkara yang ketujuh tidak disukai Musa. Musa bertanya, “Wahai Rabb! Siapakah hamba-Mu yang paling bertakwa?” Allah menjawab, “Yang selalu ingat kepada-Ku dan yang tidak pernah lupa.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling mendapat petunjuk?” Allah menjawab, “Yang mengikuti petunjuk.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling adil?” Allah menjawab, “Yang memberi keputusan terhadap manusia seperti dia memberi keputusan untuk dirinya sendiri.” Musa kembali bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling berilmu?” Allah menjawab, “Orang berilmu yang tidak pernah puas dari ilmu, yang menyatukan ilmu-ilmu manusia dengan ilmunya.” Musa bertanya, “Siapa dari hamba-Mu yang paling mulia?” Allah menjawab, “Yang ketika mampu membalas, dia malah memilih untuk memaafkan.” Musa bertanya, “Siapa pula hamba-Mu yang paling kaya?” Allah menjawab, “Orang yang rida atas apa yang diberikan kepadanya.” Musa bertanya lagi, “Siapakah hamba yang paling fakir?” Allah menjawab, “Orang yang merasa serba kekurangan.” Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Ilmu   أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 16 Rabiul Akhir 1444 H, 11 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat nabi musa nasihat

Khutbah Jumat: Tujuh Pertanyaan Nabi Musa Kepada Allah yang Patut Direnungkan

Ada tujuh perkara yang ditanyakan Nabi Musa kepada Allah yang patut direnungkan dalam Khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ada hadits riwayat Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah secara marfu’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, سأل موسى ربه عن ست خصال كان يظن انها له خالصة والسابعة لم يكن موسى يحبها قال يا رب أي عبادك اتقى قال الذي يذكر ولا ينسى قال فأي عبادك اهدى قال الذي تتبع الهدى قال فأي عبادك احكم قال الذي يحكم للناس ما يحكم لنفسه قال أي عبادك اعلم قال عالم لا يشبع من العلم يجمع علم الناس الى علمه قال فأي عبادك اعز قال الذي اذا قدر عفا قال فأي عبادك اغني قال الذي يرضى بما اوتى قال فاي عبادك افقر قال صاحب منقوص “Musa bertanya kepada Rabbnya ihwal tujuh perkara yang dia sangka hanya dimilikinya, sedang perkara yang ketujuh tidak disukai Musa. Musa bertanya, “Wahai Rabb! Siapakah hamba-Mu yang paling bertakwa?” Allah menjawab, “Yang selalu ingat kepada-Ku dan yang tidak pernah lupa.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling mendapat petunjuk?” Allah menjawab, “Yang mengikuti petunjuk.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling adil?” Allah menjawab, “Yang memberi keputusan terhadap manusia seperti dia memberi keputusan untuk dirinya sendiri.” Musa kembali bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling berilmu?” Allah menjawab, “Orang berilmu yang tidak pernah puas dari ilmu, yang menyatukan ilmu-ilmu manusia dengan ilmunya.” Musa bertanya, “Siapa dari hamba-Mu yang paling mulia?” Allah menjawab, “Yang ketika mampu membalas, dia malah memilih untuk memaafkan.” Musa bertanya, “Siapa pula hamba-Mu yang paling kaya?” Allah menjawab, “Orang yang rida atas apa yang diberikan kepadanya.” Musa bertanya lagi, “Siapakah hamba yang paling fakir?” Allah menjawab, “Orang yang merasa serba kekurangan.” Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Ilmu   أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 16 Rabiul Akhir 1444 H, 11 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat nabi musa nasihat
Ada tujuh perkara yang ditanyakan Nabi Musa kepada Allah yang patut direnungkan dalam Khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ada hadits riwayat Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah secara marfu’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, سأل موسى ربه عن ست خصال كان يظن انها له خالصة والسابعة لم يكن موسى يحبها قال يا رب أي عبادك اتقى قال الذي يذكر ولا ينسى قال فأي عبادك اهدى قال الذي تتبع الهدى قال فأي عبادك احكم قال الذي يحكم للناس ما يحكم لنفسه قال أي عبادك اعلم قال عالم لا يشبع من العلم يجمع علم الناس الى علمه قال فأي عبادك اعز قال الذي اذا قدر عفا قال فأي عبادك اغني قال الذي يرضى بما اوتى قال فاي عبادك افقر قال صاحب منقوص “Musa bertanya kepada Rabbnya ihwal tujuh perkara yang dia sangka hanya dimilikinya, sedang perkara yang ketujuh tidak disukai Musa. Musa bertanya, “Wahai Rabb! Siapakah hamba-Mu yang paling bertakwa?” Allah menjawab, “Yang selalu ingat kepada-Ku dan yang tidak pernah lupa.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling mendapat petunjuk?” Allah menjawab, “Yang mengikuti petunjuk.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling adil?” Allah menjawab, “Yang memberi keputusan terhadap manusia seperti dia memberi keputusan untuk dirinya sendiri.” Musa kembali bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling berilmu?” Allah menjawab, “Orang berilmu yang tidak pernah puas dari ilmu, yang menyatukan ilmu-ilmu manusia dengan ilmunya.” Musa bertanya, “Siapa dari hamba-Mu yang paling mulia?” Allah menjawab, “Yang ketika mampu membalas, dia malah memilih untuk memaafkan.” Musa bertanya, “Siapa pula hamba-Mu yang paling kaya?” Allah menjawab, “Orang yang rida atas apa yang diberikan kepadanya.” Musa bertanya lagi, “Siapakah hamba yang paling fakir?” Allah menjawab, “Orang yang merasa serba kekurangan.” Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Ilmu   أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 16 Rabiul Akhir 1444 H, 11 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat nabi musa nasihat


Ada tujuh perkara yang ditanyakan Nabi Musa kepada Allah yang patut direnungkan dalam Khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ada hadits riwayat Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah secara marfu’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, سأل موسى ربه عن ست خصال كان يظن انها له خالصة والسابعة لم يكن موسى يحبها قال يا رب أي عبادك اتقى قال الذي يذكر ولا ينسى قال فأي عبادك اهدى قال الذي تتبع الهدى قال فأي عبادك احكم قال الذي يحكم للناس ما يحكم لنفسه قال أي عبادك اعلم قال عالم لا يشبع من العلم يجمع علم الناس الى علمه قال فأي عبادك اعز قال الذي اذا قدر عفا قال فأي عبادك اغني قال الذي يرضى بما اوتى قال فاي عبادك افقر قال صاحب منقوص “Musa bertanya kepada Rabbnya ihwal tujuh perkara yang dia sangka hanya dimilikinya, sedang perkara yang ketujuh tidak disukai Musa. Musa bertanya, “Wahai Rabb! Siapakah hamba-Mu yang paling bertakwa?” Allah menjawab, “Yang selalu ingat kepada-Ku dan yang tidak pernah lupa.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling mendapat petunjuk?” Allah menjawab, “Yang mengikuti petunjuk.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling adil?” Allah menjawab, “Yang memberi keputusan terhadap manusia seperti dia memberi keputusan untuk dirinya sendiri.” Musa kembali bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling berilmu?” Allah menjawab, “Orang berilmu yang tidak pernah puas dari ilmu, yang menyatukan ilmu-ilmu manusia dengan ilmunya.” Musa bertanya, “Siapa dari hamba-Mu yang paling mulia?” Allah menjawab, “Yang ketika mampu membalas, dia malah memilih untuk memaafkan.” Musa bertanya, “Siapa pula hamba-Mu yang paling kaya?” Allah menjawab, “Orang yang rida atas apa yang diberikan kepadanya.” Musa bertanya lagi, “Siapakah hamba yang paling fakir?” Allah menjawab, “Orang yang merasa serba kekurangan.” Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Ilmu   أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 16 Rabiul Akhir 1444 H, 11 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat nabi musa nasihat

Siapa yang Layak Menjadi Imam Shalat Jama’ah?

Pertanyaan: Izin bertanya ustadz. Di masjid kampung, saya ditunjuk menjadi imam shalat jama’ah. Padahal bacaan Al Qur’an saya menurut saya tidak terlalu bagus. Bagaimana menyikapi hal ini dan bagaimana orang yang layak menjadi imam shalat jama’ah? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kami menasehatkan kepada seluruh masyarakat, terutama para pengurus masjid, hendaknya memilih imam tetap shalat jama’ah dari orang-orang yang ‘alim (paham agama) dan paling baik bacaan Al Qur’annya. Kriteria pemilihan imam telah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sabdakan: يَؤُمُّ القومَ أقرؤُهم لكتابِ اللهِ . فإن كانوا في القراءةِ سواءً . فأعلمُهم بالسُّنَّةِ . فإن كانوا في السُّنَّةِ سواءً . فأقدمُهم هجرةً . فإن كانوا في الهجرةِ سواءً ، فأقدمُهم سِلْمًا . ولا يَؤُمنَّ الرجلُ الرجلَ في سلطانِه . ولا يقعدُ في بيتِه على تَكرِمتِه إلا بإذنِه قال الأشجُّ في روايتِه ( مكان سِلمًا ) سِنًّا “Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur’annya. Jika mereka semua sama dalam masalah bacaan Qur’an, maka hendaknya yang paling paham terhadap Sunnah Nabi. Jika kepahaman mereka tentang Sunnah Nabi sama, maka yang paling pertama hijrah (mengenal sunnah). Jika mereka semua sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya”. Dalam riwayat Al Asyaj (bin Qais) disebutkan: “yang paling tua usianya” untuk menggantikan: “yang paling dahulu masuk Islam” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Dari hadits ini, urutan yang harus diperhatikan dalam memilih imam adalah: 1. Yang paling mahir dalam membaca Al Qur’an, jika semua sama, maka 2. Yang paling paham terhadap sunnah Nabi, jika semua sama, maka 3. Yang lebih dahulu hijrah, jika semua sama, maka 4. Yang lebih dahulu masuk Islam, jika semua sama, maka 5. Yang lebih tua usianya Ini kriteria-kriteria pemilihan imam yang hendaknya diperhatikan oleh masyarakat dan para pengurus masjid. Namun andaikan orang yang lebih paham agama atau lebih baik bacaan Qur’annya datang ke suatu masjid yang ada imam ratib (tetap) di sana, maka imam ratib tersebut lebih berhak menjadi imam sebagaimana disebutkan dalam hadits. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan, “Imam masjid yang ratib (tetap) jika ia memang mahir mengimami shalat, maka tidak boleh melangkahinya untuk memajukan orang lain menjadi imam. Walaupun orang lain ini lebih utama darinya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, 115). Jangan sembarangan menjadi imam! Orang yang singgah di suatu masjid atau orang yang statusnya bukan imam tetap, hendaknya tidak bermudah-mudah maju menjadi imam shalat jama’ah di suatu masjid atau di suatu shalat jama’ah. Dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673). Hadits ini menunjukkan terlarangnya seorang pendatang di suatu masjid atau tempat untuk maju padahal ada yang lebih berhak yaitu imam tetap atau pemilik tempat. Walaupun pendatang tersebut merasa lebih baik bacaan Qur’annya atau merasa lebih paham agama. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: مَعْنَاهُ : مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابنَا وَغَيْرهمْ : أَنَّ صَاحِب الْبَيْت وَالْمَجْلِس وَإِمَام الْمَسْجِد أَحَقّ مِنْ غَيْره ، وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْغَيْر أَفْقَه وَأَقْرَأ وَأَوْرَع وَأَفْضَل مِنْهُ وَصَاحِب الْمَكَان أَحَقّ فَإِنْ شَاءَ تَقَدَّمَ ، وَإِنْ شَاءَ قَدَّمَ مَنْ يُرِيدهُ “Maknanya, sebagaimana disebutkan para ulama madzhab kami, bahwa pemilik rumah, atau pemilik majelis, atau imam (tetap) masjid, lebih berhak untuk menjadi imam daripada yang lain. Walaupun ada orang lain yang lebih ‘alim (berilmu agama), lebih pandai membaca Al Qur’an dan lebih utama darinya. Dan pemilik tempat lebih berhak untuk menjadi imam. Ia bisa memilih apakah ia yang maju atau mempersilahkan orang lain untuk maju” (Syarah Shahih Muslim, 5/147). Namun dibolehkan orang pendatang untuk menjadi imam jika diizinkan oleh imam tetap atau oleh pemilik tempat. Asy Syaukani rahimahullah mengatakan: وأكثر أهل العلم أنه لا بأس بإمامة الزائر بإذن رب المكان ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم في حديث أبي مسعود رضي الله عنه : ( إلا بإذنه ) “Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak mengapa orang yang sedang berkunjung menjadi imam dengan izin pemilik tempat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas’ud; [kecuali diizinkan olehnya]” (Nailul Authar, 3/170). Atau dibolehkan juga pendatang menjadi imam ketika imam tetap atau pemilik tempat ada udzur sehingga tidak bisa mengimami. Dalam matan Akhsharil Mukhtasharat disebutkan: وَحرم ان يؤم قبل راتب الا بِإِذْنِهِ اَوْ عذره اَوْ عدم كَرَاهَته “Diharamkan seseorang menjadi imam sebelum imam ratib (imam tetap) datang, kecuali atas izin darinya atau ia ada udzur atau ia tidak membencinya” (Akhsharil Mukhtasharat, 120). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillah, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  🔍 Apa Itu Syiah, Taklik Talak, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Hukum Berjoget Dalam Islam, Video Hot Memuaskan Suami, Nonton Film Omar Ibn Khattab Sub Indo Visited 559 times, 1 visit(s) today Post Views: 441 QRIS donasi Yufid

Siapa yang Layak Menjadi Imam Shalat Jama’ah?

Pertanyaan: Izin bertanya ustadz. Di masjid kampung, saya ditunjuk menjadi imam shalat jama’ah. Padahal bacaan Al Qur’an saya menurut saya tidak terlalu bagus. Bagaimana menyikapi hal ini dan bagaimana orang yang layak menjadi imam shalat jama’ah? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kami menasehatkan kepada seluruh masyarakat, terutama para pengurus masjid, hendaknya memilih imam tetap shalat jama’ah dari orang-orang yang ‘alim (paham agama) dan paling baik bacaan Al Qur’annya. Kriteria pemilihan imam telah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sabdakan: يَؤُمُّ القومَ أقرؤُهم لكتابِ اللهِ . فإن كانوا في القراءةِ سواءً . فأعلمُهم بالسُّنَّةِ . فإن كانوا في السُّنَّةِ سواءً . فأقدمُهم هجرةً . فإن كانوا في الهجرةِ سواءً ، فأقدمُهم سِلْمًا . ولا يَؤُمنَّ الرجلُ الرجلَ في سلطانِه . ولا يقعدُ في بيتِه على تَكرِمتِه إلا بإذنِه قال الأشجُّ في روايتِه ( مكان سِلمًا ) سِنًّا “Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur’annya. Jika mereka semua sama dalam masalah bacaan Qur’an, maka hendaknya yang paling paham terhadap Sunnah Nabi. Jika kepahaman mereka tentang Sunnah Nabi sama, maka yang paling pertama hijrah (mengenal sunnah). Jika mereka semua sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya”. Dalam riwayat Al Asyaj (bin Qais) disebutkan: “yang paling tua usianya” untuk menggantikan: “yang paling dahulu masuk Islam” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Dari hadits ini, urutan yang harus diperhatikan dalam memilih imam adalah: 1. Yang paling mahir dalam membaca Al Qur’an, jika semua sama, maka 2. Yang paling paham terhadap sunnah Nabi, jika semua sama, maka 3. Yang lebih dahulu hijrah, jika semua sama, maka 4. Yang lebih dahulu masuk Islam, jika semua sama, maka 5. Yang lebih tua usianya Ini kriteria-kriteria pemilihan imam yang hendaknya diperhatikan oleh masyarakat dan para pengurus masjid. Namun andaikan orang yang lebih paham agama atau lebih baik bacaan Qur’annya datang ke suatu masjid yang ada imam ratib (tetap) di sana, maka imam ratib tersebut lebih berhak menjadi imam sebagaimana disebutkan dalam hadits. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan, “Imam masjid yang ratib (tetap) jika ia memang mahir mengimami shalat, maka tidak boleh melangkahinya untuk memajukan orang lain menjadi imam. Walaupun orang lain ini lebih utama darinya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, 115). Jangan sembarangan menjadi imam! Orang yang singgah di suatu masjid atau orang yang statusnya bukan imam tetap, hendaknya tidak bermudah-mudah maju menjadi imam shalat jama’ah di suatu masjid atau di suatu shalat jama’ah. Dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673). Hadits ini menunjukkan terlarangnya seorang pendatang di suatu masjid atau tempat untuk maju padahal ada yang lebih berhak yaitu imam tetap atau pemilik tempat. Walaupun pendatang tersebut merasa lebih baik bacaan Qur’annya atau merasa lebih paham agama. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: مَعْنَاهُ : مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابنَا وَغَيْرهمْ : أَنَّ صَاحِب الْبَيْت وَالْمَجْلِس وَإِمَام الْمَسْجِد أَحَقّ مِنْ غَيْره ، وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْغَيْر أَفْقَه وَأَقْرَأ وَأَوْرَع وَأَفْضَل مِنْهُ وَصَاحِب الْمَكَان أَحَقّ فَإِنْ شَاءَ تَقَدَّمَ ، وَإِنْ شَاءَ قَدَّمَ مَنْ يُرِيدهُ “Maknanya, sebagaimana disebutkan para ulama madzhab kami, bahwa pemilik rumah, atau pemilik majelis, atau imam (tetap) masjid, lebih berhak untuk menjadi imam daripada yang lain. Walaupun ada orang lain yang lebih ‘alim (berilmu agama), lebih pandai membaca Al Qur’an dan lebih utama darinya. Dan pemilik tempat lebih berhak untuk menjadi imam. Ia bisa memilih apakah ia yang maju atau mempersilahkan orang lain untuk maju” (Syarah Shahih Muslim, 5/147). Namun dibolehkan orang pendatang untuk menjadi imam jika diizinkan oleh imam tetap atau oleh pemilik tempat. Asy Syaukani rahimahullah mengatakan: وأكثر أهل العلم أنه لا بأس بإمامة الزائر بإذن رب المكان ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم في حديث أبي مسعود رضي الله عنه : ( إلا بإذنه ) “Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak mengapa orang yang sedang berkunjung menjadi imam dengan izin pemilik tempat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas’ud; [kecuali diizinkan olehnya]” (Nailul Authar, 3/170). Atau dibolehkan juga pendatang menjadi imam ketika imam tetap atau pemilik tempat ada udzur sehingga tidak bisa mengimami. Dalam matan Akhsharil Mukhtasharat disebutkan: وَحرم ان يؤم قبل راتب الا بِإِذْنِهِ اَوْ عذره اَوْ عدم كَرَاهَته “Diharamkan seseorang menjadi imam sebelum imam ratib (imam tetap) datang, kecuali atas izin darinya atau ia ada udzur atau ia tidak membencinya” (Akhsharil Mukhtasharat, 120). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillah, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  🔍 Apa Itu Syiah, Taklik Talak, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Hukum Berjoget Dalam Islam, Video Hot Memuaskan Suami, Nonton Film Omar Ibn Khattab Sub Indo Visited 559 times, 1 visit(s) today Post Views: 441 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Izin bertanya ustadz. Di masjid kampung, saya ditunjuk menjadi imam shalat jama’ah. Padahal bacaan Al Qur’an saya menurut saya tidak terlalu bagus. Bagaimana menyikapi hal ini dan bagaimana orang yang layak menjadi imam shalat jama’ah? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kami menasehatkan kepada seluruh masyarakat, terutama para pengurus masjid, hendaknya memilih imam tetap shalat jama’ah dari orang-orang yang ‘alim (paham agama) dan paling baik bacaan Al Qur’annya. Kriteria pemilihan imam telah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sabdakan: يَؤُمُّ القومَ أقرؤُهم لكتابِ اللهِ . فإن كانوا في القراءةِ سواءً . فأعلمُهم بالسُّنَّةِ . فإن كانوا في السُّنَّةِ سواءً . فأقدمُهم هجرةً . فإن كانوا في الهجرةِ سواءً ، فأقدمُهم سِلْمًا . ولا يَؤُمنَّ الرجلُ الرجلَ في سلطانِه . ولا يقعدُ في بيتِه على تَكرِمتِه إلا بإذنِه قال الأشجُّ في روايتِه ( مكان سِلمًا ) سِنًّا “Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur’annya. Jika mereka semua sama dalam masalah bacaan Qur’an, maka hendaknya yang paling paham terhadap Sunnah Nabi. Jika kepahaman mereka tentang Sunnah Nabi sama, maka yang paling pertama hijrah (mengenal sunnah). Jika mereka semua sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya”. Dalam riwayat Al Asyaj (bin Qais) disebutkan: “yang paling tua usianya” untuk menggantikan: “yang paling dahulu masuk Islam” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Dari hadits ini, urutan yang harus diperhatikan dalam memilih imam adalah: 1. Yang paling mahir dalam membaca Al Qur’an, jika semua sama, maka 2. Yang paling paham terhadap sunnah Nabi, jika semua sama, maka 3. Yang lebih dahulu hijrah, jika semua sama, maka 4. Yang lebih dahulu masuk Islam, jika semua sama, maka 5. Yang lebih tua usianya Ini kriteria-kriteria pemilihan imam yang hendaknya diperhatikan oleh masyarakat dan para pengurus masjid. Namun andaikan orang yang lebih paham agama atau lebih baik bacaan Qur’annya datang ke suatu masjid yang ada imam ratib (tetap) di sana, maka imam ratib tersebut lebih berhak menjadi imam sebagaimana disebutkan dalam hadits. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan, “Imam masjid yang ratib (tetap) jika ia memang mahir mengimami shalat, maka tidak boleh melangkahinya untuk memajukan orang lain menjadi imam. Walaupun orang lain ini lebih utama darinya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, 115). Jangan sembarangan menjadi imam! Orang yang singgah di suatu masjid atau orang yang statusnya bukan imam tetap, hendaknya tidak bermudah-mudah maju menjadi imam shalat jama’ah di suatu masjid atau di suatu shalat jama’ah. Dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673). Hadits ini menunjukkan terlarangnya seorang pendatang di suatu masjid atau tempat untuk maju padahal ada yang lebih berhak yaitu imam tetap atau pemilik tempat. Walaupun pendatang tersebut merasa lebih baik bacaan Qur’annya atau merasa lebih paham agama. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: مَعْنَاهُ : مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابنَا وَغَيْرهمْ : أَنَّ صَاحِب الْبَيْت وَالْمَجْلِس وَإِمَام الْمَسْجِد أَحَقّ مِنْ غَيْره ، وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْغَيْر أَفْقَه وَأَقْرَأ وَأَوْرَع وَأَفْضَل مِنْهُ وَصَاحِب الْمَكَان أَحَقّ فَإِنْ شَاءَ تَقَدَّمَ ، وَإِنْ شَاءَ قَدَّمَ مَنْ يُرِيدهُ “Maknanya, sebagaimana disebutkan para ulama madzhab kami, bahwa pemilik rumah, atau pemilik majelis, atau imam (tetap) masjid, lebih berhak untuk menjadi imam daripada yang lain. Walaupun ada orang lain yang lebih ‘alim (berilmu agama), lebih pandai membaca Al Qur’an dan lebih utama darinya. Dan pemilik tempat lebih berhak untuk menjadi imam. Ia bisa memilih apakah ia yang maju atau mempersilahkan orang lain untuk maju” (Syarah Shahih Muslim, 5/147). Namun dibolehkan orang pendatang untuk menjadi imam jika diizinkan oleh imam tetap atau oleh pemilik tempat. Asy Syaukani rahimahullah mengatakan: وأكثر أهل العلم أنه لا بأس بإمامة الزائر بإذن رب المكان ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم في حديث أبي مسعود رضي الله عنه : ( إلا بإذنه ) “Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak mengapa orang yang sedang berkunjung menjadi imam dengan izin pemilik tempat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas’ud; [kecuali diizinkan olehnya]” (Nailul Authar, 3/170). Atau dibolehkan juga pendatang menjadi imam ketika imam tetap atau pemilik tempat ada udzur sehingga tidak bisa mengimami. Dalam matan Akhsharil Mukhtasharat disebutkan: وَحرم ان يؤم قبل راتب الا بِإِذْنِهِ اَوْ عذره اَوْ عدم كَرَاهَته “Diharamkan seseorang menjadi imam sebelum imam ratib (imam tetap) datang, kecuali atas izin darinya atau ia ada udzur atau ia tidak membencinya” (Akhsharil Mukhtasharat, 120). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillah, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  🔍 Apa Itu Syiah, Taklik Talak, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Hukum Berjoget Dalam Islam, Video Hot Memuaskan Suami, Nonton Film Omar Ibn Khattab Sub Indo Visited 559 times, 1 visit(s) today Post Views: 441 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1414648477&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Izin bertanya ustadz. Di masjid kampung, saya ditunjuk menjadi imam shalat jama’ah. Padahal bacaan Al Qur’an saya menurut saya tidak terlalu bagus. Bagaimana menyikapi hal ini dan bagaimana orang yang layak menjadi imam shalat jama’ah? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kami menasehatkan kepada seluruh masyarakat, terutama para pengurus masjid, hendaknya memilih imam tetap shalat jama’ah dari orang-orang yang ‘alim (paham agama) dan paling baik bacaan Al Qur’annya. Kriteria pemilihan imam telah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sabdakan: يَؤُمُّ القومَ أقرؤُهم لكتابِ اللهِ . فإن كانوا في القراءةِ سواءً . فأعلمُهم بالسُّنَّةِ . فإن كانوا في السُّنَّةِ سواءً . فأقدمُهم هجرةً . فإن كانوا في الهجرةِ سواءً ، فأقدمُهم سِلْمًا . ولا يَؤُمنَّ الرجلُ الرجلَ في سلطانِه . ولا يقعدُ في بيتِه على تَكرِمتِه إلا بإذنِه قال الأشجُّ في روايتِه ( مكان سِلمًا ) سِنًّا “Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur’annya. Jika mereka semua sama dalam masalah bacaan Qur’an, maka hendaknya yang paling paham terhadap Sunnah Nabi. Jika kepahaman mereka tentang Sunnah Nabi sama, maka yang paling pertama hijrah (mengenal sunnah). Jika mereka semua sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya”. Dalam riwayat Al Asyaj (bin Qais) disebutkan: “yang paling tua usianya” untuk menggantikan: “yang paling dahulu masuk Islam” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Dari hadits ini, urutan yang harus diperhatikan dalam memilih imam adalah: 1. Yang paling mahir dalam membaca Al Qur’an, jika semua sama, maka 2. Yang paling paham terhadap sunnah Nabi, jika semua sama, maka 3. Yang lebih dahulu hijrah, jika semua sama, maka 4. Yang lebih dahulu masuk Islam, jika semua sama, maka 5. Yang lebih tua usianya Ini kriteria-kriteria pemilihan imam yang hendaknya diperhatikan oleh masyarakat dan para pengurus masjid. Namun andaikan orang yang lebih paham agama atau lebih baik bacaan Qur’annya datang ke suatu masjid yang ada imam ratib (tetap) di sana, maka imam ratib tersebut lebih berhak menjadi imam sebagaimana disebutkan dalam hadits. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan, “Imam masjid yang ratib (tetap) jika ia memang mahir mengimami shalat, maka tidak boleh melangkahinya untuk memajukan orang lain menjadi imam. Walaupun orang lain ini lebih utama darinya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, 115). Jangan sembarangan menjadi imam! Orang yang singgah di suatu masjid atau orang yang statusnya bukan imam tetap, hendaknya tidak bermudah-mudah maju menjadi imam shalat jama’ah di suatu masjid atau di suatu shalat jama’ah. Dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673). Hadits ini menunjukkan terlarangnya seorang pendatang di suatu masjid atau tempat untuk maju padahal ada yang lebih berhak yaitu imam tetap atau pemilik tempat. Walaupun pendatang tersebut merasa lebih baik bacaan Qur’annya atau merasa lebih paham agama. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: مَعْنَاهُ : مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابنَا وَغَيْرهمْ : أَنَّ صَاحِب الْبَيْت وَالْمَجْلِس وَإِمَام الْمَسْجِد أَحَقّ مِنْ غَيْره ، وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْغَيْر أَفْقَه وَأَقْرَأ وَأَوْرَع وَأَفْضَل مِنْهُ وَصَاحِب الْمَكَان أَحَقّ فَإِنْ شَاءَ تَقَدَّمَ ، وَإِنْ شَاءَ قَدَّمَ مَنْ يُرِيدهُ “Maknanya, sebagaimana disebutkan para ulama madzhab kami, bahwa pemilik rumah, atau pemilik majelis, atau imam (tetap) masjid, lebih berhak untuk menjadi imam daripada yang lain. Walaupun ada orang lain yang lebih ‘alim (berilmu agama), lebih pandai membaca Al Qur’an dan lebih utama darinya. Dan pemilik tempat lebih berhak untuk menjadi imam. Ia bisa memilih apakah ia yang maju atau mempersilahkan orang lain untuk maju” (Syarah Shahih Muslim, 5/147). Namun dibolehkan orang pendatang untuk menjadi imam jika diizinkan oleh imam tetap atau oleh pemilik tempat. Asy Syaukani rahimahullah mengatakan: وأكثر أهل العلم أنه لا بأس بإمامة الزائر بإذن رب المكان ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم في حديث أبي مسعود رضي الله عنه : ( إلا بإذنه ) “Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak mengapa orang yang sedang berkunjung menjadi imam dengan izin pemilik tempat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas’ud; [kecuali diizinkan olehnya]” (Nailul Authar, 3/170). Atau dibolehkan juga pendatang menjadi imam ketika imam tetap atau pemilik tempat ada udzur sehingga tidak bisa mengimami. Dalam matan Akhsharil Mukhtasharat disebutkan: وَحرم ان يؤم قبل راتب الا بِإِذْنِهِ اَوْ عذره اَوْ عدم كَرَاهَته “Diharamkan seseorang menjadi imam sebelum imam ratib (imam tetap) datang, kecuali atas izin darinya atau ia ada udzur atau ia tidak membencinya” (Akhsharil Mukhtasharat, 120). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillah, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  🔍 Apa Itu Syiah, Taklik Talak, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Hukum Berjoget Dalam Islam, Video Hot Memuaskan Suami, Nonton Film Omar Ibn Khattab Sub Indo Visited 559 times, 1 visit(s) today Post Views: 441 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bahaya Persaksian Palsu

Allah Ta’ala berfirman,ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ”Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya. Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30)Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menggandengkan perintah untuk menjauhi syirik dengan perintah menjauhi persaksian palsu (dusta). Hal ini menunjukkan besarnya dosa dan keharaman perkataan dan persaksian dusta (persaksian palsu).Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً”Dan orang-orang yang tidak menghadiri majelis dusta, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Baca Juga: Hukum Bersumpah dengan Agama selain IslamAyat ini menjadi dalil tentang haramnya orang yang menghadiri suatu majelis pertemuan yang berisi kedustaan dan kepalsuan. Jika menghadiri majelis yang berisi kedustaan saja dilarang, terlebih lagi (lebih ditekankan lagi haramnya) menjadi orang yang ikut-ikutan berkata dusta pada majelis atau pertemuan tersebut.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata bahwa saksi palsu menggabungkan beberapa dosa besar.Pertama, seorang saksi palsu sama saja dengan berbuat kedustaan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِن يَكُ كَاذِباً فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِن يَكُ صَادِقاً يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ”Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al-Mukmin: 28)Kedua, seorang saksi palsu berarti menzalimi orang lain dengan persaksiannya tersebut. Sehingga dengan persaksian palsunya tersebut, dia bisa mengambil harta, kehormatan, atau nyawa orang yang dizalimi.Ketiga, seorang saksi palsu menzalimi orang yang dia untungkan dengan persaksiannya yang dusta. Seorang saksi palsu telah memberikan harta yang haram kepada orang yang diuntungkan karena persaksian palsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا بِقَوْلِهِ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ النَّارِ فَلَا يَأْخُذْهَا“Sungguh kalian seringkali mengadukan sengketa kepadaku, barangkali ada di antara kalian ada yang lebih pandai bersilat lidah daripada yang lain. Maka, barangsiapa yang kuputuskan menang dengan mencederai hak saudaranya berdasarkan kepandaian argumentasinya, berarti telah kuambil sundutan api neraka baginya, maka janganlah dia mengambilnya.” (HR. Bukhari no. 2680 dan Muslim no. 1713)Baca Juga: Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang DaganganSelain sebagai seorang Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bertindak sebagai seorang qadhi (hakim) yang memutus perkara bagi pihak-pihak yang berselisih dan bersengketa. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberi keputusan berdasarkan laporan dan persaksian dari masing-masing pihak yang saling bersengketa tersebut. Laporan pihak yang paling mendekati kebenaran itulah yang dijadikan dasar untuk memenangkan suatu perkara atau memenangkan satu pihak atas pihak yang lain. Oleh karena itu, status beliau sebagai seorang qadhi adalah sebagai manusia biasa yang masih mungkin keliru dalam mengambil atau menetapkan suatu keputusan.Keempat, seorang saksi palsu membolehkan apa yang telah Allah Ta’ala haramkan dan Allah Ta’ala lindungi, yaitu berupa harta, darah, dan kehormatan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ”Setiap muslim haram mengganggu muslim yang lain dalam harta, darah, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Maukah kalian aku beritakan tentang dosa paling besar?” (pertanyaan ini diulang tiga kali) Mereka (para sahabat) menjawab, ”Mau wahai Rasulullah.”  Rasulullahshallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ”Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.” Rasulullah tadinya bersandar lalu duduk tegak dan bersabda,أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ”Ketahuilah, ucapan dan persaksian palsu. Ketahuilah pula, ucapan dan persaksian palsu.”  Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam terus mengulang-ulang hingga kami berkomentar, ”Seandainya saja beliau diam.” (HR. Bukhari no. 5976 dan Muslim no. 87)Syekh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah mengatakan terdapat tiga bentuk persaksian palsu:Pertama, seseorang yang memberi persaksian dengan satu hal yang sebenarnya dia sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Akan tetapi, dia tidak mengatakan kejadian sebenarnya seperti yang telah diketahuinya tersebut.Kedua, seseorang yang berani bersaksi dengan sesuatu yang dia sendiri masih ragu-ragu akan kebenarannya.Ketiga, seseorang yang bersaksi dengan sesuatu yang dia mengetahui kejadian yang sebenarnya, tetapi dia menyampaikan tidak sesuai dengan realita dengan mengurangi berbagai faktor sehingga kesalahan dari orang yang dia ditunjuk sebagai saksinya, menjadi terlihat lebih rendah dari yang sebenarnya.Hukum semua bentuk persaksian palsu adalah haram. Seseorang harus bersaksi dengan sesuatu yang dia ketahui dengan bentuk seperti yang diketahuinya. Wallahu a’lam.Baca Juga:Jangan Banyak BersumpahHukum Bersumpah atas Nama Ka’bah***@Rumah Kasongan, 11 Rabiul akhir 1444/ 6 November 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Kabair, karya Adz-Dzahabi rahimahullah.🔍 Pengertian Iman, Gambar Shalat Jumat, Hukum Mengaji Dengan Pengeras Suara, Perjalanan Manusia Setelah Meninggal, Kitab AdabTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamfikihfikih sumpahmuamalahnasihatnasihat islampersaksian palsusaksi palsusumpah

Bahaya Persaksian Palsu

Allah Ta’ala berfirman,ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ”Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya. Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30)Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menggandengkan perintah untuk menjauhi syirik dengan perintah menjauhi persaksian palsu (dusta). Hal ini menunjukkan besarnya dosa dan keharaman perkataan dan persaksian dusta (persaksian palsu).Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً”Dan orang-orang yang tidak menghadiri majelis dusta, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Baca Juga: Hukum Bersumpah dengan Agama selain IslamAyat ini menjadi dalil tentang haramnya orang yang menghadiri suatu majelis pertemuan yang berisi kedustaan dan kepalsuan. Jika menghadiri majelis yang berisi kedustaan saja dilarang, terlebih lagi (lebih ditekankan lagi haramnya) menjadi orang yang ikut-ikutan berkata dusta pada majelis atau pertemuan tersebut.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata bahwa saksi palsu menggabungkan beberapa dosa besar.Pertama, seorang saksi palsu sama saja dengan berbuat kedustaan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِن يَكُ كَاذِباً فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِن يَكُ صَادِقاً يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ”Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al-Mukmin: 28)Kedua, seorang saksi palsu berarti menzalimi orang lain dengan persaksiannya tersebut. Sehingga dengan persaksian palsunya tersebut, dia bisa mengambil harta, kehormatan, atau nyawa orang yang dizalimi.Ketiga, seorang saksi palsu menzalimi orang yang dia untungkan dengan persaksiannya yang dusta. Seorang saksi palsu telah memberikan harta yang haram kepada orang yang diuntungkan karena persaksian palsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا بِقَوْلِهِ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ النَّارِ فَلَا يَأْخُذْهَا“Sungguh kalian seringkali mengadukan sengketa kepadaku, barangkali ada di antara kalian ada yang lebih pandai bersilat lidah daripada yang lain. Maka, barangsiapa yang kuputuskan menang dengan mencederai hak saudaranya berdasarkan kepandaian argumentasinya, berarti telah kuambil sundutan api neraka baginya, maka janganlah dia mengambilnya.” (HR. Bukhari no. 2680 dan Muslim no. 1713)Baca Juga: Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang DaganganSelain sebagai seorang Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bertindak sebagai seorang qadhi (hakim) yang memutus perkara bagi pihak-pihak yang berselisih dan bersengketa. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberi keputusan berdasarkan laporan dan persaksian dari masing-masing pihak yang saling bersengketa tersebut. Laporan pihak yang paling mendekati kebenaran itulah yang dijadikan dasar untuk memenangkan suatu perkara atau memenangkan satu pihak atas pihak yang lain. Oleh karena itu, status beliau sebagai seorang qadhi adalah sebagai manusia biasa yang masih mungkin keliru dalam mengambil atau menetapkan suatu keputusan.Keempat, seorang saksi palsu membolehkan apa yang telah Allah Ta’ala haramkan dan Allah Ta’ala lindungi, yaitu berupa harta, darah, dan kehormatan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ”Setiap muslim haram mengganggu muslim yang lain dalam harta, darah, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Maukah kalian aku beritakan tentang dosa paling besar?” (pertanyaan ini diulang tiga kali) Mereka (para sahabat) menjawab, ”Mau wahai Rasulullah.”  Rasulullahshallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ”Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.” Rasulullah tadinya bersandar lalu duduk tegak dan bersabda,أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ”Ketahuilah, ucapan dan persaksian palsu. Ketahuilah pula, ucapan dan persaksian palsu.”  Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam terus mengulang-ulang hingga kami berkomentar, ”Seandainya saja beliau diam.” (HR. Bukhari no. 5976 dan Muslim no. 87)Syekh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah mengatakan terdapat tiga bentuk persaksian palsu:Pertama, seseorang yang memberi persaksian dengan satu hal yang sebenarnya dia sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Akan tetapi, dia tidak mengatakan kejadian sebenarnya seperti yang telah diketahuinya tersebut.Kedua, seseorang yang berani bersaksi dengan sesuatu yang dia sendiri masih ragu-ragu akan kebenarannya.Ketiga, seseorang yang bersaksi dengan sesuatu yang dia mengetahui kejadian yang sebenarnya, tetapi dia menyampaikan tidak sesuai dengan realita dengan mengurangi berbagai faktor sehingga kesalahan dari orang yang dia ditunjuk sebagai saksinya, menjadi terlihat lebih rendah dari yang sebenarnya.Hukum semua bentuk persaksian palsu adalah haram. Seseorang harus bersaksi dengan sesuatu yang dia ketahui dengan bentuk seperti yang diketahuinya. Wallahu a’lam.Baca Juga:Jangan Banyak BersumpahHukum Bersumpah atas Nama Ka’bah***@Rumah Kasongan, 11 Rabiul akhir 1444/ 6 November 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Kabair, karya Adz-Dzahabi rahimahullah.🔍 Pengertian Iman, Gambar Shalat Jumat, Hukum Mengaji Dengan Pengeras Suara, Perjalanan Manusia Setelah Meninggal, Kitab AdabTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamfikihfikih sumpahmuamalahnasihatnasihat islampersaksian palsusaksi palsusumpah
Allah Ta’ala berfirman,ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ”Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya. Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30)Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menggandengkan perintah untuk menjauhi syirik dengan perintah menjauhi persaksian palsu (dusta). Hal ini menunjukkan besarnya dosa dan keharaman perkataan dan persaksian dusta (persaksian palsu).Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً”Dan orang-orang yang tidak menghadiri majelis dusta, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Baca Juga: Hukum Bersumpah dengan Agama selain IslamAyat ini menjadi dalil tentang haramnya orang yang menghadiri suatu majelis pertemuan yang berisi kedustaan dan kepalsuan. Jika menghadiri majelis yang berisi kedustaan saja dilarang, terlebih lagi (lebih ditekankan lagi haramnya) menjadi orang yang ikut-ikutan berkata dusta pada majelis atau pertemuan tersebut.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata bahwa saksi palsu menggabungkan beberapa dosa besar.Pertama, seorang saksi palsu sama saja dengan berbuat kedustaan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِن يَكُ كَاذِباً فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِن يَكُ صَادِقاً يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ”Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al-Mukmin: 28)Kedua, seorang saksi palsu berarti menzalimi orang lain dengan persaksiannya tersebut. Sehingga dengan persaksian palsunya tersebut, dia bisa mengambil harta, kehormatan, atau nyawa orang yang dizalimi.Ketiga, seorang saksi palsu menzalimi orang yang dia untungkan dengan persaksiannya yang dusta. Seorang saksi palsu telah memberikan harta yang haram kepada orang yang diuntungkan karena persaksian palsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا بِقَوْلِهِ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ النَّارِ فَلَا يَأْخُذْهَا“Sungguh kalian seringkali mengadukan sengketa kepadaku, barangkali ada di antara kalian ada yang lebih pandai bersilat lidah daripada yang lain. Maka, barangsiapa yang kuputuskan menang dengan mencederai hak saudaranya berdasarkan kepandaian argumentasinya, berarti telah kuambil sundutan api neraka baginya, maka janganlah dia mengambilnya.” (HR. Bukhari no. 2680 dan Muslim no. 1713)Baca Juga: Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang DaganganSelain sebagai seorang Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bertindak sebagai seorang qadhi (hakim) yang memutus perkara bagi pihak-pihak yang berselisih dan bersengketa. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberi keputusan berdasarkan laporan dan persaksian dari masing-masing pihak yang saling bersengketa tersebut. Laporan pihak yang paling mendekati kebenaran itulah yang dijadikan dasar untuk memenangkan suatu perkara atau memenangkan satu pihak atas pihak yang lain. Oleh karena itu, status beliau sebagai seorang qadhi adalah sebagai manusia biasa yang masih mungkin keliru dalam mengambil atau menetapkan suatu keputusan.Keempat, seorang saksi palsu membolehkan apa yang telah Allah Ta’ala haramkan dan Allah Ta’ala lindungi, yaitu berupa harta, darah, dan kehormatan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ”Setiap muslim haram mengganggu muslim yang lain dalam harta, darah, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Maukah kalian aku beritakan tentang dosa paling besar?” (pertanyaan ini diulang tiga kali) Mereka (para sahabat) menjawab, ”Mau wahai Rasulullah.”  Rasulullahshallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ”Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.” Rasulullah tadinya bersandar lalu duduk tegak dan bersabda,أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ”Ketahuilah, ucapan dan persaksian palsu. Ketahuilah pula, ucapan dan persaksian palsu.”  Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam terus mengulang-ulang hingga kami berkomentar, ”Seandainya saja beliau diam.” (HR. Bukhari no. 5976 dan Muslim no. 87)Syekh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah mengatakan terdapat tiga bentuk persaksian palsu:Pertama, seseorang yang memberi persaksian dengan satu hal yang sebenarnya dia sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Akan tetapi, dia tidak mengatakan kejadian sebenarnya seperti yang telah diketahuinya tersebut.Kedua, seseorang yang berani bersaksi dengan sesuatu yang dia sendiri masih ragu-ragu akan kebenarannya.Ketiga, seseorang yang bersaksi dengan sesuatu yang dia mengetahui kejadian yang sebenarnya, tetapi dia menyampaikan tidak sesuai dengan realita dengan mengurangi berbagai faktor sehingga kesalahan dari orang yang dia ditunjuk sebagai saksinya, menjadi terlihat lebih rendah dari yang sebenarnya.Hukum semua bentuk persaksian palsu adalah haram. Seseorang harus bersaksi dengan sesuatu yang dia ketahui dengan bentuk seperti yang diketahuinya. Wallahu a’lam.Baca Juga:Jangan Banyak BersumpahHukum Bersumpah atas Nama Ka’bah***@Rumah Kasongan, 11 Rabiul akhir 1444/ 6 November 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Kabair, karya Adz-Dzahabi rahimahullah.🔍 Pengertian Iman, Gambar Shalat Jumat, Hukum Mengaji Dengan Pengeras Suara, Perjalanan Manusia Setelah Meninggal, Kitab AdabTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamfikihfikih sumpahmuamalahnasihatnasihat islampersaksian palsusaksi palsusumpah


Allah Ta’ala berfirman,ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ”Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya. Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30)Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menggandengkan perintah untuk menjauhi syirik dengan perintah menjauhi persaksian palsu (dusta). Hal ini menunjukkan besarnya dosa dan keharaman perkataan dan persaksian dusta (persaksian palsu).Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً”Dan orang-orang yang tidak menghadiri majelis dusta, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Baca Juga: Hukum Bersumpah dengan Agama selain IslamAyat ini menjadi dalil tentang haramnya orang yang menghadiri suatu majelis pertemuan yang berisi kedustaan dan kepalsuan. Jika menghadiri majelis yang berisi kedustaan saja dilarang, terlebih lagi (lebih ditekankan lagi haramnya) menjadi orang yang ikut-ikutan berkata dusta pada majelis atau pertemuan tersebut.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata bahwa saksi palsu menggabungkan beberapa dosa besar.Pertama, seorang saksi palsu sama saja dengan berbuat kedustaan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِن يَكُ كَاذِباً فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِن يَكُ صَادِقاً يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ”Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al-Mukmin: 28)Kedua, seorang saksi palsu berarti menzalimi orang lain dengan persaksiannya tersebut. Sehingga dengan persaksian palsunya tersebut, dia bisa mengambil harta, kehormatan, atau nyawa orang yang dizalimi.Ketiga, seorang saksi palsu menzalimi orang yang dia untungkan dengan persaksiannya yang dusta. Seorang saksi palsu telah memberikan harta yang haram kepada orang yang diuntungkan karena persaksian palsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا بِقَوْلِهِ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ النَّارِ فَلَا يَأْخُذْهَا“Sungguh kalian seringkali mengadukan sengketa kepadaku, barangkali ada di antara kalian ada yang lebih pandai bersilat lidah daripada yang lain. Maka, barangsiapa yang kuputuskan menang dengan mencederai hak saudaranya berdasarkan kepandaian argumentasinya, berarti telah kuambil sundutan api neraka baginya, maka janganlah dia mengambilnya.” (HR. Bukhari no. 2680 dan Muslim no. 1713)Baca Juga: Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang DaganganSelain sebagai seorang Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bertindak sebagai seorang qadhi (hakim) yang memutus perkara bagi pihak-pihak yang berselisih dan bersengketa. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberi keputusan berdasarkan laporan dan persaksian dari masing-masing pihak yang saling bersengketa tersebut. Laporan pihak yang paling mendekati kebenaran itulah yang dijadikan dasar untuk memenangkan suatu perkara atau memenangkan satu pihak atas pihak yang lain. Oleh karena itu, status beliau sebagai seorang qadhi adalah sebagai manusia biasa yang masih mungkin keliru dalam mengambil atau menetapkan suatu keputusan.Keempat, seorang saksi palsu membolehkan apa yang telah Allah Ta’ala haramkan dan Allah Ta’ala lindungi, yaitu berupa harta, darah, dan kehormatan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ”Setiap muslim haram mengganggu muslim yang lain dalam harta, darah, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Maukah kalian aku beritakan tentang dosa paling besar?” (pertanyaan ini diulang tiga kali) Mereka (para sahabat) menjawab, ”Mau wahai Rasulullah.”  Rasulullahshallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ”Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.” Rasulullah tadinya bersandar lalu duduk tegak dan bersabda,أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ”Ketahuilah, ucapan dan persaksian palsu. Ketahuilah pula, ucapan dan persaksian palsu.”  Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam terus mengulang-ulang hingga kami berkomentar, ”Seandainya saja beliau diam.” (HR. Bukhari no. 5976 dan Muslim no. 87)Syekh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah mengatakan terdapat tiga bentuk persaksian palsu:Pertama, seseorang yang memberi persaksian dengan satu hal yang sebenarnya dia sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Akan tetapi, dia tidak mengatakan kejadian sebenarnya seperti yang telah diketahuinya tersebut.Kedua, seseorang yang berani bersaksi dengan sesuatu yang dia sendiri masih ragu-ragu akan kebenarannya.Ketiga, seseorang yang bersaksi dengan sesuatu yang dia mengetahui kejadian yang sebenarnya, tetapi dia menyampaikan tidak sesuai dengan realita dengan mengurangi berbagai faktor sehingga kesalahan dari orang yang dia ditunjuk sebagai saksinya, menjadi terlihat lebih rendah dari yang sebenarnya.Hukum semua bentuk persaksian palsu adalah haram. Seseorang harus bersaksi dengan sesuatu yang dia ketahui dengan bentuk seperti yang diketahuinya. Wallahu a’lam.Baca Juga:Jangan Banyak BersumpahHukum Bersumpah atas Nama Ka’bah***@Rumah Kasongan, 11 Rabiul akhir 1444/ 6 November 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Kabair, karya Adz-Dzahabi rahimahullah.🔍 Pengertian Iman, Gambar Shalat Jumat, Hukum Mengaji Dengan Pengeras Suara, Perjalanan Manusia Setelah Meninggal, Kitab AdabTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamfikihfikih sumpahmuamalahnasihatnasihat islampersaksian palsusaksi palsusumpah

Menyebar Hadis Tapi Dosa – Syaikh Ashim al-Qaryuti #NasehatUlama

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata dalam Sahih-nya: Makki bin Ibrahim memberitahu kami,dia berkata: Yazid bin Abi ʿUbaid memberitahu kamidari salamah, dia berkata:Saya mendengar Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barang siapa berkata atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan,maka silahkan mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” Hadis yang agung initermasuk Tsulātsiyyāt Imam Bukhari.Maksud Tsulātsiyyāt sendiri adalahketika antara perawi hadis dengan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamada tiga perawi. Jadi, Makki adalah guru Imam Bukhari,perawi kedua adalah seorang Tabiin,Yazid bin Abi ʿUbaid,(dan ketiga) adalah seorang sahabat, Salamah, semoga Allah meridainya. Hadis yang agung initermasuk hadis mutawatiryang menunjukkan bahaya berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamjuga merupakan dusta atas nama Allah. “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melakukan kebohongan terhadap Allah.” (QS. As-Saff: 7) “Sesungguhnya orang-orang yang melakukan kebohongan terhadap Allahtidak akan beruntung.” (QS. Yunus: 69) Karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dikabarkan oleh Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,“Dia tidaklah berkata menurut keinginannya.” (QS. An-Najm: 3) “Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 4) Jadi, semua yang dikatakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallamdan disabdakan oleh beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallam adalah syariat untuk umat ini,baik itu masalah akidah, hukum,anjuran-anjuran, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, harus berhati-hati dalam menarasikan sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamdan dalam meriwayatkan kabar-kabar dari beliau. Jangan sampaikan hadis kecuali yang valid dan sahihdan setelah merujuk kepada para ulama.Waspadalah dan waspadalahdari penyebaran sesuatu tanpa memastikan kebenarannya. Sebagaimana dikatakan, “Sebarkan dan bagi Anda pahalanya,tapi jika Anda tidak memastikan kebenarannya,ada hukuman dan dosa bagi Anda karenanya.” Para sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sajaberhati-hati dalam meriwayatkan hadis dari beliau ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām.Jika salah seorang dari mereka tidak meriwayatkan dengan redaksi yang sama dengan sabda beliau maka ia akan berkata, “… atau ungkapan semisalnya, … atau sebagaimana yang beliau sabdakan.”Ini semua bentuk kehati-hatian dalam menyandarkan sesuatuyang tidak pernah diucapkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. ==== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي صَحِيحِهِ حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنْ ثُلَاثِيَّاتِ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالْمَقْصُودُ مِنَ الثُّلَاثِيَّاتِ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ الرَّاوِي وَالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الرُّوَاةِ فَمَكِّيٌّ شَيْخُ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالرَّاوِي الثَّانِي هُوَ التَّابِعِيُّ يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ وَالصَّحَابِيُّ سَلَمَةُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُتَوَاتِرَةِ الدَّالَّةِ عَلَى خُطُورَةِ الْكَذِبِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْكَذِبُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذِبٌ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَا قَالَ بِهِ وَحَدَّثَ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ تَشْرِيعٌ لِلْأُمَّةِ مِنْ عَقِيدَةٍ وَأَحْكَامٍ وَمُسْتَحَبَّاتٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِذَا يَجِبُ الْاِحْتِرَازُ فِي الرِّوَايَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي تَنَاقُلِ الْأَخْبَارِ عَنْهُ وَلَا يُنْقَلُ إِلَّا مَا صَحَّ وَثَبَثَ وَبَعْدَ الرُّجُوعِ إِلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَحَذَارِي ثُمَّ حَذَارِي مِنْ نَشْرِ شَيْءٍ دُونَ تَثَبُّتٍ كَمَا يُقَالُ: انْشُرْ تُؤْجَرْ وَأَنْتَ إِنْ لَمْ تَتَثَبَّتْ فِي ذَلِكَ تُؤْزَرْ وَتَنَالُ إِثْمًا بِذَلِكَ وَإِذَا كَانَ صَحَابَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَاطُونَ فِي الرِّوَايَةِ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَإِذَا لَمْ يَرْوِ أَحَدُهُمُ الْحَدِيثَ بِلَفْظِهِ يَقُولُ: أَوْ نَحوَ ذَلِكَ أَوْ كَمَا قَالَ كُلُّ هَذَا مِنَ الْاِحْتِرَازِ فِي إِثْبَاتِ شَيْءٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا لَمْ يَقُلْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Menyebar Hadis Tapi Dosa – Syaikh Ashim al-Qaryuti #NasehatUlama

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata dalam Sahih-nya: Makki bin Ibrahim memberitahu kami,dia berkata: Yazid bin Abi ʿUbaid memberitahu kamidari salamah, dia berkata:Saya mendengar Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barang siapa berkata atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan,maka silahkan mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” Hadis yang agung initermasuk Tsulātsiyyāt Imam Bukhari.Maksud Tsulātsiyyāt sendiri adalahketika antara perawi hadis dengan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamada tiga perawi. Jadi, Makki adalah guru Imam Bukhari,perawi kedua adalah seorang Tabiin,Yazid bin Abi ʿUbaid,(dan ketiga) adalah seorang sahabat, Salamah, semoga Allah meridainya. Hadis yang agung initermasuk hadis mutawatiryang menunjukkan bahaya berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamjuga merupakan dusta atas nama Allah. “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melakukan kebohongan terhadap Allah.” (QS. As-Saff: 7) “Sesungguhnya orang-orang yang melakukan kebohongan terhadap Allahtidak akan beruntung.” (QS. Yunus: 69) Karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dikabarkan oleh Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,“Dia tidaklah berkata menurut keinginannya.” (QS. An-Najm: 3) “Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 4) Jadi, semua yang dikatakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallamdan disabdakan oleh beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallam adalah syariat untuk umat ini,baik itu masalah akidah, hukum,anjuran-anjuran, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, harus berhati-hati dalam menarasikan sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamdan dalam meriwayatkan kabar-kabar dari beliau. Jangan sampaikan hadis kecuali yang valid dan sahihdan setelah merujuk kepada para ulama.Waspadalah dan waspadalahdari penyebaran sesuatu tanpa memastikan kebenarannya. Sebagaimana dikatakan, “Sebarkan dan bagi Anda pahalanya,tapi jika Anda tidak memastikan kebenarannya,ada hukuman dan dosa bagi Anda karenanya.” Para sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sajaberhati-hati dalam meriwayatkan hadis dari beliau ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām.Jika salah seorang dari mereka tidak meriwayatkan dengan redaksi yang sama dengan sabda beliau maka ia akan berkata, “… atau ungkapan semisalnya, … atau sebagaimana yang beliau sabdakan.”Ini semua bentuk kehati-hatian dalam menyandarkan sesuatuyang tidak pernah diucapkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. ==== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي صَحِيحِهِ حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنْ ثُلَاثِيَّاتِ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالْمَقْصُودُ مِنَ الثُّلَاثِيَّاتِ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ الرَّاوِي وَالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الرُّوَاةِ فَمَكِّيٌّ شَيْخُ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالرَّاوِي الثَّانِي هُوَ التَّابِعِيُّ يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ وَالصَّحَابِيُّ سَلَمَةُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُتَوَاتِرَةِ الدَّالَّةِ عَلَى خُطُورَةِ الْكَذِبِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْكَذِبُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذِبٌ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَا قَالَ بِهِ وَحَدَّثَ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ تَشْرِيعٌ لِلْأُمَّةِ مِنْ عَقِيدَةٍ وَأَحْكَامٍ وَمُسْتَحَبَّاتٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِذَا يَجِبُ الْاِحْتِرَازُ فِي الرِّوَايَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي تَنَاقُلِ الْأَخْبَارِ عَنْهُ وَلَا يُنْقَلُ إِلَّا مَا صَحَّ وَثَبَثَ وَبَعْدَ الرُّجُوعِ إِلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَحَذَارِي ثُمَّ حَذَارِي مِنْ نَشْرِ شَيْءٍ دُونَ تَثَبُّتٍ كَمَا يُقَالُ: انْشُرْ تُؤْجَرْ وَأَنْتَ إِنْ لَمْ تَتَثَبَّتْ فِي ذَلِكَ تُؤْزَرْ وَتَنَالُ إِثْمًا بِذَلِكَ وَإِذَا كَانَ صَحَابَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَاطُونَ فِي الرِّوَايَةِ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَإِذَا لَمْ يَرْوِ أَحَدُهُمُ الْحَدِيثَ بِلَفْظِهِ يَقُولُ: أَوْ نَحوَ ذَلِكَ أَوْ كَمَا قَالَ كُلُّ هَذَا مِنَ الْاِحْتِرَازِ فِي إِثْبَاتِ شَيْءٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا لَمْ يَقُلْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata dalam Sahih-nya: Makki bin Ibrahim memberitahu kami,dia berkata: Yazid bin Abi ʿUbaid memberitahu kamidari salamah, dia berkata:Saya mendengar Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barang siapa berkata atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan,maka silahkan mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” Hadis yang agung initermasuk Tsulātsiyyāt Imam Bukhari.Maksud Tsulātsiyyāt sendiri adalahketika antara perawi hadis dengan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamada tiga perawi. Jadi, Makki adalah guru Imam Bukhari,perawi kedua adalah seorang Tabiin,Yazid bin Abi ʿUbaid,(dan ketiga) adalah seorang sahabat, Salamah, semoga Allah meridainya. Hadis yang agung initermasuk hadis mutawatiryang menunjukkan bahaya berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamjuga merupakan dusta atas nama Allah. “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melakukan kebohongan terhadap Allah.” (QS. As-Saff: 7) “Sesungguhnya orang-orang yang melakukan kebohongan terhadap Allahtidak akan beruntung.” (QS. Yunus: 69) Karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dikabarkan oleh Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,“Dia tidaklah berkata menurut keinginannya.” (QS. An-Najm: 3) “Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 4) Jadi, semua yang dikatakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallamdan disabdakan oleh beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallam adalah syariat untuk umat ini,baik itu masalah akidah, hukum,anjuran-anjuran, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, harus berhati-hati dalam menarasikan sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamdan dalam meriwayatkan kabar-kabar dari beliau. Jangan sampaikan hadis kecuali yang valid dan sahihdan setelah merujuk kepada para ulama.Waspadalah dan waspadalahdari penyebaran sesuatu tanpa memastikan kebenarannya. Sebagaimana dikatakan, “Sebarkan dan bagi Anda pahalanya,tapi jika Anda tidak memastikan kebenarannya,ada hukuman dan dosa bagi Anda karenanya.” Para sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sajaberhati-hati dalam meriwayatkan hadis dari beliau ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām.Jika salah seorang dari mereka tidak meriwayatkan dengan redaksi yang sama dengan sabda beliau maka ia akan berkata, “… atau ungkapan semisalnya, … atau sebagaimana yang beliau sabdakan.”Ini semua bentuk kehati-hatian dalam menyandarkan sesuatuyang tidak pernah diucapkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. ==== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي صَحِيحِهِ حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنْ ثُلَاثِيَّاتِ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالْمَقْصُودُ مِنَ الثُّلَاثِيَّاتِ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ الرَّاوِي وَالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الرُّوَاةِ فَمَكِّيٌّ شَيْخُ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالرَّاوِي الثَّانِي هُوَ التَّابِعِيُّ يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ وَالصَّحَابِيُّ سَلَمَةُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُتَوَاتِرَةِ الدَّالَّةِ عَلَى خُطُورَةِ الْكَذِبِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْكَذِبُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذِبٌ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَا قَالَ بِهِ وَحَدَّثَ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ تَشْرِيعٌ لِلْأُمَّةِ مِنْ عَقِيدَةٍ وَأَحْكَامٍ وَمُسْتَحَبَّاتٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِذَا يَجِبُ الْاِحْتِرَازُ فِي الرِّوَايَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي تَنَاقُلِ الْأَخْبَارِ عَنْهُ وَلَا يُنْقَلُ إِلَّا مَا صَحَّ وَثَبَثَ وَبَعْدَ الرُّجُوعِ إِلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَحَذَارِي ثُمَّ حَذَارِي مِنْ نَشْرِ شَيْءٍ دُونَ تَثَبُّتٍ كَمَا يُقَالُ: انْشُرْ تُؤْجَرْ وَأَنْتَ إِنْ لَمْ تَتَثَبَّتْ فِي ذَلِكَ تُؤْزَرْ وَتَنَالُ إِثْمًا بِذَلِكَ وَإِذَا كَانَ صَحَابَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَاطُونَ فِي الرِّوَايَةِ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَإِذَا لَمْ يَرْوِ أَحَدُهُمُ الْحَدِيثَ بِلَفْظِهِ يَقُولُ: أَوْ نَحوَ ذَلِكَ أَوْ كَمَا قَالَ كُلُّ هَذَا مِنَ الْاِحْتِرَازِ فِي إِثْبَاتِ شَيْءٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا لَمْ يَقُلْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata dalam Sahih-nya: Makki bin Ibrahim memberitahu kami,dia berkata: Yazid bin Abi ʿUbaid memberitahu kamidari salamah, dia berkata:Saya mendengar Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barang siapa berkata atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan,maka silahkan mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” Hadis yang agung initermasuk Tsulātsiyyāt Imam Bukhari.Maksud Tsulātsiyyāt sendiri adalahketika antara perawi hadis dengan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamada tiga perawi. Jadi, Makki adalah guru Imam Bukhari,perawi kedua adalah seorang Tabiin,Yazid bin Abi ʿUbaid,(dan ketiga) adalah seorang sahabat, Salamah, semoga Allah meridainya. Hadis yang agung initermasuk hadis mutawatiryang menunjukkan bahaya berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamjuga merupakan dusta atas nama Allah. “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melakukan kebohongan terhadap Allah.” (QS. As-Saff: 7) “Sesungguhnya orang-orang yang melakukan kebohongan terhadap Allahtidak akan beruntung.” (QS. Yunus: 69) Karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dikabarkan oleh Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,“Dia tidaklah berkata menurut keinginannya.” (QS. An-Najm: 3) “Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 4) Jadi, semua yang dikatakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallamdan disabdakan oleh beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallam adalah syariat untuk umat ini,baik itu masalah akidah, hukum,anjuran-anjuran, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, harus berhati-hati dalam menarasikan sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamdan dalam meriwayatkan kabar-kabar dari beliau. Jangan sampaikan hadis kecuali yang valid dan sahihdan setelah merujuk kepada para ulama.Waspadalah dan waspadalahdari penyebaran sesuatu tanpa memastikan kebenarannya. Sebagaimana dikatakan, “Sebarkan dan bagi Anda pahalanya,tapi jika Anda tidak memastikan kebenarannya,ada hukuman dan dosa bagi Anda karenanya.” Para sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sajaberhati-hati dalam meriwayatkan hadis dari beliau ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām.Jika salah seorang dari mereka tidak meriwayatkan dengan redaksi yang sama dengan sabda beliau maka ia akan berkata, “… atau ungkapan semisalnya, … atau sebagaimana yang beliau sabdakan.”Ini semua bentuk kehati-hatian dalam menyandarkan sesuatuyang tidak pernah diucapkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. ==== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي صَحِيحِهِ حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنْ ثُلَاثِيَّاتِ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالْمَقْصُودُ مِنَ الثُّلَاثِيَّاتِ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ الرَّاوِي وَالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الرُّوَاةِ فَمَكِّيٌّ شَيْخُ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالرَّاوِي الثَّانِي هُوَ التَّابِعِيُّ يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ وَالصَّحَابِيُّ سَلَمَةُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُتَوَاتِرَةِ الدَّالَّةِ عَلَى خُطُورَةِ الْكَذِبِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْكَذِبُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذِبٌ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَا قَالَ بِهِ وَحَدَّثَ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ تَشْرِيعٌ لِلْأُمَّةِ مِنْ عَقِيدَةٍ وَأَحْكَامٍ وَمُسْتَحَبَّاتٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِذَا يَجِبُ الْاِحْتِرَازُ فِي الرِّوَايَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي تَنَاقُلِ الْأَخْبَارِ عَنْهُ وَلَا يُنْقَلُ إِلَّا مَا صَحَّ وَثَبَثَ وَبَعْدَ الرُّجُوعِ إِلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَحَذَارِي ثُمَّ حَذَارِي مِنْ نَشْرِ شَيْءٍ دُونَ تَثَبُّتٍ كَمَا يُقَالُ: انْشُرْ تُؤْجَرْ وَأَنْتَ إِنْ لَمْ تَتَثَبَّتْ فِي ذَلِكَ تُؤْزَرْ وَتَنَالُ إِثْمًا بِذَلِكَ وَإِذَا كَانَ صَحَابَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَاطُونَ فِي الرِّوَايَةِ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَإِذَا لَمْ يَرْوِ أَحَدُهُمُ الْحَدِيثَ بِلَفْظِهِ يَقُولُ: أَوْ نَحوَ ذَلِكَ أَوْ كَمَا قَالَ كُلُّ هَذَا مِنَ الْاِحْتِرَازِ فِي إِثْبَاتِ شَيْءٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا لَمْ يَقُلْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Zikir Petang

Daftar Isi sembunyikan 1. Kapan zikir petang dikerjakan? 2. Bacaan-bacaan dzikir petang Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan lebih dari 100 faedah berzikir atau mengingat Allah ‘Azza Wajalla dalam kitab beliau Al-Waabil Al-Shayyib (hlm. 41). Di antara faedah-faedah tersebut adalah:Pertama: Menghalau gangguan setan.Kedua: Allah azza wajalla akan mencintai orang-orang yang gemar berzikir.Ketiga: Menghilangkan kegalauan di dalam hati.Keempat: Menumbuhkan kebahagiaan dan kelapangan.Kelima: Menguatkan raga dan jiwa seorang mukmin.Keenam: Mencerahkan wajah dan hati.Ketujuh: Seorang yang gemar berzikir akan nampak berwibawa, nyaman, dan tentram. Dll.Allah ‘Azza Wajalla juga menyebutkan kriteria hamba yang berakal adalah mereka yang senantiasa memanfaatkan waktu untuk berzikir atau mengingat Allah. Dalam keadaan duduk maupun berdiri. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)Hal ini juga mencakup zikir yang diperintahkan untuk dikerjakan di waktu-waktu tertentu, seperti saat pagi dan petang hari. Sebagaimana dalam firman-Nya,وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imran: 41)Kapan zikir petang dikerjakan?Di luar anjuran bahwa hendaknya seorang hamba sesegera mungkin mengerjakan kebaikan, maka zikir pagi dan petang memiliki batasan waktu tertentu yang hendaknya dipatuhi.Para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu zikir pagi dan petang. Ibnul Qayyim rahimahullahu memiliki pandangan (lihat Al-Waabil Al-Shayyib, hlm. 200) bahwa waktu pagi dan petang yang dimaksud dalam ayat,فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (QS. Qaaf: 39)adalah setelah subuh hingga terbit matahari dan setelah asar hingga terbenam matahari.Sementara Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu memiliki pandangan berbeda dengan mengatakan,وأذكار المساء من حين أن تصفر الشمس (منتصف العصر) إلى منتصف الليل أو قريباً منه“Dan dzikir petang dikerjakan sejak semburat sinar matahari mulai menguning (pertengahan asar) hingga pertengahan malam atau sebelumnya.” (Fataawa Nuur ‘Alad Darb no. 350)Perbedaan ini teramat luas, akan tetapi semua ulama berpendapat sama akan dianjurkannya menyegerakan zikir pagi dan petang.Bacaan-bacaan dzikir petangBacaan-bacaan yang dianjurkan dibaca ketika dzikir petang adalah sebagai berikut:Pertama: TaawuzKedua: Ayat Kursi (satu kali)اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُAllahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardhi man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardho walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapa yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Baqarah: 255)Ketiga: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (3 kali)Al-Ikhlasقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)Al-Falaqقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) subuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.’” (QS. Al-Falaq: 1-5)An-Nasقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.’” (QS. An-Nas: 1-6)Keempat: Membaca (1 kali)أمسينا وأمسى الملك لله. وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ (3). وَأعوذ بِكَ من شَرِّ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مَنْ عَذَابٍ فِي النَّار وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِAmsaina wa amsal mulku lillahi wal hamdu lillah laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’inq qadir, Rabbi as’aluka khaira maa fi hazihil lailah wakhaira maa ba’daha wa a’udzubika min syarri maa fii hazihil lailah wa syarri ba’daha. Rabbi  a’udzubika minal kasali wasuu’ ul kibari, Rabbi a’dzubika min ‘azabi fin naari wa ‘azabi fil qabri.“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada di malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.” (HR. Muslim 4/2088)Kelima: Membaca (1 kali)اللهم بك أمسينا، وبك أصبحنا وبك نحيا، وبك نموت وإليك المصيرAllahumma bika amsainana wabika ashbahna wabika nahyaa, wabika namuutu wa ilaikal mashiir“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).” (HR. At Tirmidzi 3/142)Keenam: Membaca (1 kali)اللَّهُمَ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ أَنْتَAllahumma anta Rabbi laa ilaaha illa anta, khalaqtani wa ana ‘abduka,wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatha’tu, a’udzubika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bizanbi faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar), kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau.” (HR. Bukhari 7/150, An-Nasai 9752, dan At-Tirmidzi 3391)Ketujuh: Membaca (4 kali)اللهم إني أمسيت أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَة عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُولُكAllahumma inni amsaitu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika, wamalaa’ikataka, wajami’i khalqika, annaka antallahu laa ilaaha illa anta wahdaka laa syariikalaka, wa anna muhammadan ‘abduka warusuuluka“Ya Allah, sesungguhnya di waktu sore ini aku mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul Arsy-Mu, malaikat lain dan seluruh makhluk-Mu. Bahwa Engkau adalah Allah yang tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkau Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Mu. Dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (HR. Abu Dawud 4/317)Kedelapan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ والْعَافِيةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ وَالَعَافِيَةَ: فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ، وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بِينَ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَن أُغْتَالَ مِن تَحْتِيAllahumma inni as’alukal ‘afwa wal-‘aafiyata fid dun yaw al-aakhirah, allahumma as’alukal ‘afwa wa ‘aafiyata fii diini wa dunyaaya wa ahlii wa maali, allahummastur ‘auraati wa aamin rau’aati, allahummahfadzniy min baini yadayya, wamin khalfii, wa ‘an yamiini, wa ‘an syimaali, wamin fauqi, wa a’udzu bi ’adzamatika an ughtaala min tahti.“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).” (HR. Abu Dawud secara Mauquf 4/321)Kesembilan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالْشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّموَاتِ والأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَاّ إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءاً، أَوْ أَجُرَّهُ إِلى مُسْلِمAllahumma ‘aalimal ghaibi wasy syahadah faatiras samaawaati wal ardh, Rabba kulli syai’in wamaliikahu, asyhadu an laa ilaaha illa anta, a’udzubika min syarri nafsii, wamin syarrisy syaithani wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘ala nafsii suu’an aw ajurruhu ila muslim“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang gaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, setan, dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 3/142)Kesepuluh: Membaca (3 kali)بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّميْعُ الْعَلِيمُBismillahillazi laa yadhurru ma’as mihi syai’un fil ardhi wala fis samaa’ wahuwas sami’ul ‘aliim“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada satu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit. Dialah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.” (HR. Abu Dawud 4/323 dan At-Tirmidzi 5/425)Kesebelas: Membaca (3 kali)رَضَيتُ بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإِسْلَامِ دِيْناً، وَبِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – نَبِياًRadhitu billahi rabban, wabil islami diinan, wabi muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam nabiyyan“Aku rida Allah sebagai Rabbku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” (HR Ahmad 4/337).Kedua belas: Membaca (1 kali)يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَينYaa hayyu ya qayyum, birahmatika astaghits, wa ashlih lii sya’nii kullahu, wala takilni ilaa nafsi tharfata ‘ainin abadan“Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri, meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (HR. Hakim 1/545 dan dinilai Mauquf oleh Adz-Dzahabi)Ketiga belas: Membaca (100 kali)سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِSubhaanallahu wabihamdihi“Mahasuci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya.” (HR. Muslim 4/2071)Keempat belas: Membaca (10 atau 1 kali)لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرLaa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai inq qadiir“Tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/319 dan Ahmad 4/60)Kelima belas: Membaca (3 kali)أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّاتِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَA’udzu bikalimaatillahi taammaatim min syarri maa khalaqa“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala macam keburukan yang diciptakan-Nya.” (HR. Ahmad 2/290)Keenam belas: Membaca (10 kali)اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍAllahumma shalli wa sallim ala nabiyyina muhammadin“Semoga keselamatan dan rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad.” (HR. Thabrani dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib 1/273)Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita untuk merutinkan zikir-zikir di atas. Barakallahu fiikum.Baca juga: Doa Setelah Adzan—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Doa Anak Angkat, Dalil Sunnah, Urutan Mengkafani Jenazah, Dajjal Vs IblisTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamdo'adoa dan dzikirDzikirdzikir pagidzikir petangdzujurkeutamaan dzikirkeutamaan dzikir petangnasihatnasihat islam

Zikir Petang

Daftar Isi sembunyikan 1. Kapan zikir petang dikerjakan? 2. Bacaan-bacaan dzikir petang Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan lebih dari 100 faedah berzikir atau mengingat Allah ‘Azza Wajalla dalam kitab beliau Al-Waabil Al-Shayyib (hlm. 41). Di antara faedah-faedah tersebut adalah:Pertama: Menghalau gangguan setan.Kedua: Allah azza wajalla akan mencintai orang-orang yang gemar berzikir.Ketiga: Menghilangkan kegalauan di dalam hati.Keempat: Menumbuhkan kebahagiaan dan kelapangan.Kelima: Menguatkan raga dan jiwa seorang mukmin.Keenam: Mencerahkan wajah dan hati.Ketujuh: Seorang yang gemar berzikir akan nampak berwibawa, nyaman, dan tentram. Dll.Allah ‘Azza Wajalla juga menyebutkan kriteria hamba yang berakal adalah mereka yang senantiasa memanfaatkan waktu untuk berzikir atau mengingat Allah. Dalam keadaan duduk maupun berdiri. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)Hal ini juga mencakup zikir yang diperintahkan untuk dikerjakan di waktu-waktu tertentu, seperti saat pagi dan petang hari. Sebagaimana dalam firman-Nya,وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imran: 41)Kapan zikir petang dikerjakan?Di luar anjuran bahwa hendaknya seorang hamba sesegera mungkin mengerjakan kebaikan, maka zikir pagi dan petang memiliki batasan waktu tertentu yang hendaknya dipatuhi.Para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu zikir pagi dan petang. Ibnul Qayyim rahimahullahu memiliki pandangan (lihat Al-Waabil Al-Shayyib, hlm. 200) bahwa waktu pagi dan petang yang dimaksud dalam ayat,فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (QS. Qaaf: 39)adalah setelah subuh hingga terbit matahari dan setelah asar hingga terbenam matahari.Sementara Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu memiliki pandangan berbeda dengan mengatakan,وأذكار المساء من حين أن تصفر الشمس (منتصف العصر) إلى منتصف الليل أو قريباً منه“Dan dzikir petang dikerjakan sejak semburat sinar matahari mulai menguning (pertengahan asar) hingga pertengahan malam atau sebelumnya.” (Fataawa Nuur ‘Alad Darb no. 350)Perbedaan ini teramat luas, akan tetapi semua ulama berpendapat sama akan dianjurkannya menyegerakan zikir pagi dan petang.Bacaan-bacaan dzikir petangBacaan-bacaan yang dianjurkan dibaca ketika dzikir petang adalah sebagai berikut:Pertama: TaawuzKedua: Ayat Kursi (satu kali)اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُAllahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardhi man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardho walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapa yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Baqarah: 255)Ketiga: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (3 kali)Al-Ikhlasقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)Al-Falaqقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) subuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.’” (QS. Al-Falaq: 1-5)An-Nasقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.’” (QS. An-Nas: 1-6)Keempat: Membaca (1 kali)أمسينا وأمسى الملك لله. وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ (3). وَأعوذ بِكَ من شَرِّ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مَنْ عَذَابٍ فِي النَّار وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِAmsaina wa amsal mulku lillahi wal hamdu lillah laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’inq qadir, Rabbi as’aluka khaira maa fi hazihil lailah wakhaira maa ba’daha wa a’udzubika min syarri maa fii hazihil lailah wa syarri ba’daha. Rabbi  a’udzubika minal kasali wasuu’ ul kibari, Rabbi a’dzubika min ‘azabi fin naari wa ‘azabi fil qabri.“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada di malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.” (HR. Muslim 4/2088)Kelima: Membaca (1 kali)اللهم بك أمسينا، وبك أصبحنا وبك نحيا، وبك نموت وإليك المصيرAllahumma bika amsainana wabika ashbahna wabika nahyaa, wabika namuutu wa ilaikal mashiir“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).” (HR. At Tirmidzi 3/142)Keenam: Membaca (1 kali)اللَّهُمَ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ أَنْتَAllahumma anta Rabbi laa ilaaha illa anta, khalaqtani wa ana ‘abduka,wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatha’tu, a’udzubika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bizanbi faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar), kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau.” (HR. Bukhari 7/150, An-Nasai 9752, dan At-Tirmidzi 3391)Ketujuh: Membaca (4 kali)اللهم إني أمسيت أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَة عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُولُكAllahumma inni amsaitu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika, wamalaa’ikataka, wajami’i khalqika, annaka antallahu laa ilaaha illa anta wahdaka laa syariikalaka, wa anna muhammadan ‘abduka warusuuluka“Ya Allah, sesungguhnya di waktu sore ini aku mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul Arsy-Mu, malaikat lain dan seluruh makhluk-Mu. Bahwa Engkau adalah Allah yang tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkau Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Mu. Dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (HR. Abu Dawud 4/317)Kedelapan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ والْعَافِيةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ وَالَعَافِيَةَ: فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ، وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بِينَ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَن أُغْتَالَ مِن تَحْتِيAllahumma inni as’alukal ‘afwa wal-‘aafiyata fid dun yaw al-aakhirah, allahumma as’alukal ‘afwa wa ‘aafiyata fii diini wa dunyaaya wa ahlii wa maali, allahummastur ‘auraati wa aamin rau’aati, allahummahfadzniy min baini yadayya, wamin khalfii, wa ‘an yamiini, wa ‘an syimaali, wamin fauqi, wa a’udzu bi ’adzamatika an ughtaala min tahti.“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).” (HR. Abu Dawud secara Mauquf 4/321)Kesembilan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالْشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّموَاتِ والأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَاّ إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءاً، أَوْ أَجُرَّهُ إِلى مُسْلِمAllahumma ‘aalimal ghaibi wasy syahadah faatiras samaawaati wal ardh, Rabba kulli syai’in wamaliikahu, asyhadu an laa ilaaha illa anta, a’udzubika min syarri nafsii, wamin syarrisy syaithani wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘ala nafsii suu’an aw ajurruhu ila muslim“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang gaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, setan, dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 3/142)Kesepuluh: Membaca (3 kali)بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّميْعُ الْعَلِيمُBismillahillazi laa yadhurru ma’as mihi syai’un fil ardhi wala fis samaa’ wahuwas sami’ul ‘aliim“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada satu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit. Dialah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.” (HR. Abu Dawud 4/323 dan At-Tirmidzi 5/425)Kesebelas: Membaca (3 kali)رَضَيتُ بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإِسْلَامِ دِيْناً، وَبِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – نَبِياًRadhitu billahi rabban, wabil islami diinan, wabi muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam nabiyyan“Aku rida Allah sebagai Rabbku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” (HR Ahmad 4/337).Kedua belas: Membaca (1 kali)يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَينYaa hayyu ya qayyum, birahmatika astaghits, wa ashlih lii sya’nii kullahu, wala takilni ilaa nafsi tharfata ‘ainin abadan“Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri, meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (HR. Hakim 1/545 dan dinilai Mauquf oleh Adz-Dzahabi)Ketiga belas: Membaca (100 kali)سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِSubhaanallahu wabihamdihi“Mahasuci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya.” (HR. Muslim 4/2071)Keempat belas: Membaca (10 atau 1 kali)لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرLaa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai inq qadiir“Tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/319 dan Ahmad 4/60)Kelima belas: Membaca (3 kali)أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّاتِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَA’udzu bikalimaatillahi taammaatim min syarri maa khalaqa“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala macam keburukan yang diciptakan-Nya.” (HR. Ahmad 2/290)Keenam belas: Membaca (10 kali)اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍAllahumma shalli wa sallim ala nabiyyina muhammadin“Semoga keselamatan dan rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad.” (HR. Thabrani dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib 1/273)Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita untuk merutinkan zikir-zikir di atas. Barakallahu fiikum.Baca juga: Doa Setelah Adzan—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Doa Anak Angkat, Dalil Sunnah, Urutan Mengkafani Jenazah, Dajjal Vs IblisTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamdo'adoa dan dzikirDzikirdzikir pagidzikir petangdzujurkeutamaan dzikirkeutamaan dzikir petangnasihatnasihat islam
Daftar Isi sembunyikan 1. Kapan zikir petang dikerjakan? 2. Bacaan-bacaan dzikir petang Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan lebih dari 100 faedah berzikir atau mengingat Allah ‘Azza Wajalla dalam kitab beliau Al-Waabil Al-Shayyib (hlm. 41). Di antara faedah-faedah tersebut adalah:Pertama: Menghalau gangguan setan.Kedua: Allah azza wajalla akan mencintai orang-orang yang gemar berzikir.Ketiga: Menghilangkan kegalauan di dalam hati.Keempat: Menumbuhkan kebahagiaan dan kelapangan.Kelima: Menguatkan raga dan jiwa seorang mukmin.Keenam: Mencerahkan wajah dan hati.Ketujuh: Seorang yang gemar berzikir akan nampak berwibawa, nyaman, dan tentram. Dll.Allah ‘Azza Wajalla juga menyebutkan kriteria hamba yang berakal adalah mereka yang senantiasa memanfaatkan waktu untuk berzikir atau mengingat Allah. Dalam keadaan duduk maupun berdiri. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)Hal ini juga mencakup zikir yang diperintahkan untuk dikerjakan di waktu-waktu tertentu, seperti saat pagi dan petang hari. Sebagaimana dalam firman-Nya,وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imran: 41)Kapan zikir petang dikerjakan?Di luar anjuran bahwa hendaknya seorang hamba sesegera mungkin mengerjakan kebaikan, maka zikir pagi dan petang memiliki batasan waktu tertentu yang hendaknya dipatuhi.Para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu zikir pagi dan petang. Ibnul Qayyim rahimahullahu memiliki pandangan (lihat Al-Waabil Al-Shayyib, hlm. 200) bahwa waktu pagi dan petang yang dimaksud dalam ayat,فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (QS. Qaaf: 39)adalah setelah subuh hingga terbit matahari dan setelah asar hingga terbenam matahari.Sementara Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu memiliki pandangan berbeda dengan mengatakan,وأذكار المساء من حين أن تصفر الشمس (منتصف العصر) إلى منتصف الليل أو قريباً منه“Dan dzikir petang dikerjakan sejak semburat sinar matahari mulai menguning (pertengahan asar) hingga pertengahan malam atau sebelumnya.” (Fataawa Nuur ‘Alad Darb no. 350)Perbedaan ini teramat luas, akan tetapi semua ulama berpendapat sama akan dianjurkannya menyegerakan zikir pagi dan petang.Bacaan-bacaan dzikir petangBacaan-bacaan yang dianjurkan dibaca ketika dzikir petang adalah sebagai berikut:Pertama: TaawuzKedua: Ayat Kursi (satu kali)اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُAllahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardhi man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardho walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapa yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Baqarah: 255)Ketiga: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (3 kali)Al-Ikhlasقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)Al-Falaqقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) subuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.’” (QS. Al-Falaq: 1-5)An-Nasقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.’” (QS. An-Nas: 1-6)Keempat: Membaca (1 kali)أمسينا وأمسى الملك لله. وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ (3). وَأعوذ بِكَ من شَرِّ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مَنْ عَذَابٍ فِي النَّار وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِAmsaina wa amsal mulku lillahi wal hamdu lillah laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’inq qadir, Rabbi as’aluka khaira maa fi hazihil lailah wakhaira maa ba’daha wa a’udzubika min syarri maa fii hazihil lailah wa syarri ba’daha. Rabbi  a’udzubika minal kasali wasuu’ ul kibari, Rabbi a’dzubika min ‘azabi fin naari wa ‘azabi fil qabri.“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada di malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.” (HR. Muslim 4/2088)Kelima: Membaca (1 kali)اللهم بك أمسينا، وبك أصبحنا وبك نحيا، وبك نموت وإليك المصيرAllahumma bika amsainana wabika ashbahna wabika nahyaa, wabika namuutu wa ilaikal mashiir“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).” (HR. At Tirmidzi 3/142)Keenam: Membaca (1 kali)اللَّهُمَ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ أَنْتَAllahumma anta Rabbi laa ilaaha illa anta, khalaqtani wa ana ‘abduka,wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatha’tu, a’udzubika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bizanbi faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar), kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau.” (HR. Bukhari 7/150, An-Nasai 9752, dan At-Tirmidzi 3391)Ketujuh: Membaca (4 kali)اللهم إني أمسيت أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَة عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُولُكAllahumma inni amsaitu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika, wamalaa’ikataka, wajami’i khalqika, annaka antallahu laa ilaaha illa anta wahdaka laa syariikalaka, wa anna muhammadan ‘abduka warusuuluka“Ya Allah, sesungguhnya di waktu sore ini aku mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul Arsy-Mu, malaikat lain dan seluruh makhluk-Mu. Bahwa Engkau adalah Allah yang tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkau Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Mu. Dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (HR. Abu Dawud 4/317)Kedelapan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ والْعَافِيةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ وَالَعَافِيَةَ: فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ، وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بِينَ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَن أُغْتَالَ مِن تَحْتِيAllahumma inni as’alukal ‘afwa wal-‘aafiyata fid dun yaw al-aakhirah, allahumma as’alukal ‘afwa wa ‘aafiyata fii diini wa dunyaaya wa ahlii wa maali, allahummastur ‘auraati wa aamin rau’aati, allahummahfadzniy min baini yadayya, wamin khalfii, wa ‘an yamiini, wa ‘an syimaali, wamin fauqi, wa a’udzu bi ’adzamatika an ughtaala min tahti.“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).” (HR. Abu Dawud secara Mauquf 4/321)Kesembilan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالْشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّموَاتِ والأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَاّ إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءاً، أَوْ أَجُرَّهُ إِلى مُسْلِمAllahumma ‘aalimal ghaibi wasy syahadah faatiras samaawaati wal ardh, Rabba kulli syai’in wamaliikahu, asyhadu an laa ilaaha illa anta, a’udzubika min syarri nafsii, wamin syarrisy syaithani wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘ala nafsii suu’an aw ajurruhu ila muslim“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang gaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, setan, dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 3/142)Kesepuluh: Membaca (3 kali)بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّميْعُ الْعَلِيمُBismillahillazi laa yadhurru ma’as mihi syai’un fil ardhi wala fis samaa’ wahuwas sami’ul ‘aliim“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada satu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit. Dialah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.” (HR. Abu Dawud 4/323 dan At-Tirmidzi 5/425)Kesebelas: Membaca (3 kali)رَضَيتُ بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإِسْلَامِ دِيْناً، وَبِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – نَبِياًRadhitu billahi rabban, wabil islami diinan, wabi muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam nabiyyan“Aku rida Allah sebagai Rabbku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” (HR Ahmad 4/337).Kedua belas: Membaca (1 kali)يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَينYaa hayyu ya qayyum, birahmatika astaghits, wa ashlih lii sya’nii kullahu, wala takilni ilaa nafsi tharfata ‘ainin abadan“Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri, meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (HR. Hakim 1/545 dan dinilai Mauquf oleh Adz-Dzahabi)Ketiga belas: Membaca (100 kali)سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِSubhaanallahu wabihamdihi“Mahasuci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya.” (HR. Muslim 4/2071)Keempat belas: Membaca (10 atau 1 kali)لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرLaa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai inq qadiir“Tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/319 dan Ahmad 4/60)Kelima belas: Membaca (3 kali)أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّاتِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَA’udzu bikalimaatillahi taammaatim min syarri maa khalaqa“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala macam keburukan yang diciptakan-Nya.” (HR. Ahmad 2/290)Keenam belas: Membaca (10 kali)اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍAllahumma shalli wa sallim ala nabiyyina muhammadin“Semoga keselamatan dan rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad.” (HR. Thabrani dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib 1/273)Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita untuk merutinkan zikir-zikir di atas. Barakallahu fiikum.Baca juga: Doa Setelah Adzan—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Doa Anak Angkat, Dalil Sunnah, Urutan Mengkafani Jenazah, Dajjal Vs IblisTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamdo'adoa dan dzikirDzikirdzikir pagidzikir petangdzujurkeutamaan dzikirkeutamaan dzikir petangnasihatnasihat islam


Daftar Isi sembunyikan 1. Kapan zikir petang dikerjakan? 2. Bacaan-bacaan dzikir petang Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan lebih dari 100 faedah berzikir atau mengingat Allah ‘Azza Wajalla dalam kitab beliau Al-Waabil Al-Shayyib (hlm. 41). Di antara faedah-faedah tersebut adalah:Pertama: Menghalau gangguan setan.Kedua: Allah azza wajalla akan mencintai orang-orang yang gemar berzikir.Ketiga: Menghilangkan kegalauan di dalam hati.Keempat: Menumbuhkan kebahagiaan dan kelapangan.Kelima: Menguatkan raga dan jiwa seorang mukmin.Keenam: Mencerahkan wajah dan hati.Ketujuh: Seorang yang gemar berzikir akan nampak berwibawa, nyaman, dan tentram. Dll.Allah ‘Azza Wajalla juga menyebutkan kriteria hamba yang berakal adalah mereka yang senantiasa memanfaatkan waktu untuk berzikir atau mengingat Allah. Dalam keadaan duduk maupun berdiri. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)Hal ini juga mencakup zikir yang diperintahkan untuk dikerjakan di waktu-waktu tertentu, seperti saat pagi dan petang hari. Sebagaimana dalam firman-Nya,وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imran: 41)Kapan zikir petang dikerjakan?Di luar anjuran bahwa hendaknya seorang hamba sesegera mungkin mengerjakan kebaikan, maka zikir pagi dan petang memiliki batasan waktu tertentu yang hendaknya dipatuhi.Para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu zikir pagi dan petang. Ibnul Qayyim rahimahullahu memiliki pandangan (lihat Al-Waabil Al-Shayyib, hlm. 200) bahwa waktu pagi dan petang yang dimaksud dalam ayat,فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (QS. Qaaf: 39)adalah setelah subuh hingga terbit matahari dan setelah asar hingga terbenam matahari.Sementara Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu memiliki pandangan berbeda dengan mengatakan,وأذكار المساء من حين أن تصفر الشمس (منتصف العصر) إلى منتصف الليل أو قريباً منه“Dan dzikir petang dikerjakan sejak semburat sinar matahari mulai menguning (pertengahan asar) hingga pertengahan malam atau sebelumnya.” (Fataawa Nuur ‘Alad Darb no. 350)Perbedaan ini teramat luas, akan tetapi semua ulama berpendapat sama akan dianjurkannya menyegerakan zikir pagi dan petang.Bacaan-bacaan dzikir petangBacaan-bacaan yang dianjurkan dibaca ketika dzikir petang adalah sebagai berikut:Pertama: TaawuzKedua: Ayat Kursi (satu kali)اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُAllahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardhi man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardho walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapa yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Baqarah: 255)Ketiga: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (3 kali)Al-Ikhlasقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)Al-Falaqقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) subuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.’” (QS. Al-Falaq: 1-5)An-Nasقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.’” (QS. An-Nas: 1-6)Keempat: Membaca (1 kali)أمسينا وأمسى الملك لله. وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ (3). وَأعوذ بِكَ من شَرِّ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مَنْ عَذَابٍ فِي النَّار وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِAmsaina wa amsal mulku lillahi wal hamdu lillah laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’inq qadir, Rabbi as’aluka khaira maa fi hazihil lailah wakhaira maa ba’daha wa a’udzubika min syarri maa fii hazihil lailah wa syarri ba’daha. Rabbi  a’udzubika minal kasali wasuu’ ul kibari, Rabbi a’dzubika min ‘azabi fin naari wa ‘azabi fil qabri.“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada di malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.” (HR. Muslim 4/2088)Kelima: Membaca (1 kali)اللهم بك أمسينا، وبك أصبحنا وبك نحيا، وبك نموت وإليك المصيرAllahumma bika amsainana wabika ashbahna wabika nahyaa, wabika namuutu wa ilaikal mashiir“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).” (HR. At Tirmidzi 3/142)Keenam: Membaca (1 kali)اللَّهُمَ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ أَنْتَAllahumma anta Rabbi laa ilaaha illa anta, khalaqtani wa ana ‘abduka,wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatha’tu, a’udzubika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bizanbi faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar), kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau.” (HR. Bukhari 7/150, An-Nasai 9752, dan At-Tirmidzi 3391)Ketujuh: Membaca (4 kali)اللهم إني أمسيت أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَة عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُولُكAllahumma inni amsaitu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika, wamalaa’ikataka, wajami’i khalqika, annaka antallahu laa ilaaha illa anta wahdaka laa syariikalaka, wa anna muhammadan ‘abduka warusuuluka“Ya Allah, sesungguhnya di waktu sore ini aku mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul Arsy-Mu, malaikat lain dan seluruh makhluk-Mu. Bahwa Engkau adalah Allah yang tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkau Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Mu. Dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (HR. Abu Dawud 4/317)Kedelapan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ والْعَافِيةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ وَالَعَافِيَةَ: فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ، وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بِينَ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَن أُغْتَالَ مِن تَحْتِيAllahumma inni as’alukal ‘afwa wal-‘aafiyata fid dun yaw al-aakhirah, allahumma as’alukal ‘afwa wa ‘aafiyata fii diini wa dunyaaya wa ahlii wa maali, allahummastur ‘auraati wa aamin rau’aati, allahummahfadzniy min baini yadayya, wamin khalfii, wa ‘an yamiini, wa ‘an syimaali, wamin fauqi, wa a’udzu bi ’adzamatika an ughtaala min tahti.“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).” (HR. Abu Dawud secara Mauquf 4/321)Kesembilan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالْشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّموَاتِ والأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَاّ إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءاً، أَوْ أَجُرَّهُ إِلى مُسْلِمAllahumma ‘aalimal ghaibi wasy syahadah faatiras samaawaati wal ardh, Rabba kulli syai’in wamaliikahu, asyhadu an laa ilaaha illa anta, a’udzubika min syarri nafsii, wamin syarrisy syaithani wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘ala nafsii suu’an aw ajurruhu ila muslim“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang gaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, setan, dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 3/142)Kesepuluh: Membaca (3 kali)بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّميْعُ الْعَلِيمُBismillahillazi laa yadhurru ma’as mihi syai’un fil ardhi wala fis samaa’ wahuwas sami’ul ‘aliim“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada satu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit. Dialah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.” (HR. Abu Dawud 4/323 dan At-Tirmidzi 5/425)Kesebelas: Membaca (3 kali)رَضَيتُ بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإِسْلَامِ دِيْناً، وَبِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – نَبِياًRadhitu billahi rabban, wabil islami diinan, wabi muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam nabiyyan“Aku rida Allah sebagai Rabbku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” (HR Ahmad 4/337).Kedua belas: Membaca (1 kali)يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَينYaa hayyu ya qayyum, birahmatika astaghits, wa ashlih lii sya’nii kullahu, wala takilni ilaa nafsi tharfata ‘ainin abadan“Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri, meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (HR. Hakim 1/545 dan dinilai Mauquf oleh Adz-Dzahabi)Ketiga belas: Membaca (100 kali)سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِSubhaanallahu wabihamdihi“Mahasuci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya.” (HR. Muslim 4/2071)Keempat belas: Membaca (10 atau 1 kali)لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرLaa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai inq qadiir“Tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/319 dan Ahmad 4/60)Kelima belas: Membaca (3 kali)أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّاتِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَA’udzu bikalimaatillahi taammaatim min syarri maa khalaqa“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala macam keburukan yang diciptakan-Nya.” (HR. Ahmad 2/290)Keenam belas: Membaca (10 kali)اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍAllahumma shalli wa sallim ala nabiyyina muhammadin“Semoga keselamatan dan rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad.” (HR. Thabrani dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib 1/273)Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita untuk merutinkan zikir-zikir di atas. Barakallahu fiikum.Baca juga: Doa Setelah Adzan—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Doa Anak Angkat, Dalil Sunnah, Urutan Mengkafani Jenazah, Dajjal Vs IblisTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamdo'adoa dan dzikirDzikirdzikir pagidzikir petangdzujurkeutamaan dzikirkeutamaan dzikir petangnasihatnasihat islam

Doa Setelah Azan

Azan memiliki kedudukan yang mulia dalam syariat Islam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan tentang hal ini dalam beberapa hadis. Di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ، وَلَا إِنْسٌ، وَلَا شَيْءٌ، إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَـة“Tidaklah kumandang azan yang didengar oleh jin, manusia, ataupun yang lain, kecuali semua akan menjadi saksi di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 574, An Nasa’iy no. 640, dan Malik no. 138)Dan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا“Seandainya semua orang tahu tentang keutamaan azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundinya.” (HR Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437)Doa setelah adzanSelain anjuran untuk mengikuti lafaz azan muazin sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,إذا سَمِعتُم المؤذِّنَ فقُولوا مثلَ ما يقولُ“Jika kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana ucapan muazin.” (HR. Muslim no. 384)Kita juga disunahkan untuk membaca doa setelah adzan yang dikumandangkan muazin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّـتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa yang setelah selesai mendengar azan kemudian berdoa dengan,Allahumma rabba haadzihid da’watit taammah, wasshalaatil qaaaimah, aati muhammadanil wasiilata wal fadhiiilata, wab’atshu maqaaman mahmuuda alladzii wa’adtah(Ya Allah, Pemilik seruan yang sempurna ini dan sholat yang ditegakkan, anugerahkanlah kepada Nabi Muhammad; wasilah (kedudukan yang tinggi di surga) dan keutamaan (melebihi seluruh makhluk), dan bangkitkanlah beliau dalam kedudukan terpuji (memberi syafa’at) yang telah Engkau janjikan)Maka, ia berhak mendapatkan syafaatku kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 579)Demikianlah, doa yang selayaknya tidak ditingalkan seorang muslim ketika mendengar azan. Lebih-lebih menyibukkan diri untuk mengobrol hal yang tidak penting padahal ada sebaik-baik seruan yang tengah dikumandangkan.Semoga Allah Ta’ala memberkahi kita semua.Baca juga: Doa Turun Hujan—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Islam 73 Golongan, Arti Jihad Fi Sabilillah, Muslimah Sabar, Kriteria Istri Yang Baik Menurut IslamTags: adabadzanAkhlakAqidahazando'adoa setelah adzanDzikirfikihfikih adzanhikmah adzanibadahkeutamaan adzankeutamaan doaManhajnasihatnasihat islam

Doa Setelah Azan

Azan memiliki kedudukan yang mulia dalam syariat Islam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan tentang hal ini dalam beberapa hadis. Di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ، وَلَا إِنْسٌ، وَلَا شَيْءٌ، إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَـة“Tidaklah kumandang azan yang didengar oleh jin, manusia, ataupun yang lain, kecuali semua akan menjadi saksi di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 574, An Nasa’iy no. 640, dan Malik no. 138)Dan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا“Seandainya semua orang tahu tentang keutamaan azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundinya.” (HR Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437)Doa setelah adzanSelain anjuran untuk mengikuti lafaz azan muazin sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,إذا سَمِعتُم المؤذِّنَ فقُولوا مثلَ ما يقولُ“Jika kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana ucapan muazin.” (HR. Muslim no. 384)Kita juga disunahkan untuk membaca doa setelah adzan yang dikumandangkan muazin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّـتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa yang setelah selesai mendengar azan kemudian berdoa dengan,Allahumma rabba haadzihid da’watit taammah, wasshalaatil qaaaimah, aati muhammadanil wasiilata wal fadhiiilata, wab’atshu maqaaman mahmuuda alladzii wa’adtah(Ya Allah, Pemilik seruan yang sempurna ini dan sholat yang ditegakkan, anugerahkanlah kepada Nabi Muhammad; wasilah (kedudukan yang tinggi di surga) dan keutamaan (melebihi seluruh makhluk), dan bangkitkanlah beliau dalam kedudukan terpuji (memberi syafa’at) yang telah Engkau janjikan)Maka, ia berhak mendapatkan syafaatku kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 579)Demikianlah, doa yang selayaknya tidak ditingalkan seorang muslim ketika mendengar azan. Lebih-lebih menyibukkan diri untuk mengobrol hal yang tidak penting padahal ada sebaik-baik seruan yang tengah dikumandangkan.Semoga Allah Ta’ala memberkahi kita semua.Baca juga: Doa Turun Hujan—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Islam 73 Golongan, Arti Jihad Fi Sabilillah, Muslimah Sabar, Kriteria Istri Yang Baik Menurut IslamTags: adabadzanAkhlakAqidahazando'adoa setelah adzanDzikirfikihfikih adzanhikmah adzanibadahkeutamaan adzankeutamaan doaManhajnasihatnasihat islam
Azan memiliki kedudukan yang mulia dalam syariat Islam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan tentang hal ini dalam beberapa hadis. Di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ، وَلَا إِنْسٌ، وَلَا شَيْءٌ، إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَـة“Tidaklah kumandang azan yang didengar oleh jin, manusia, ataupun yang lain, kecuali semua akan menjadi saksi di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 574, An Nasa’iy no. 640, dan Malik no. 138)Dan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا“Seandainya semua orang tahu tentang keutamaan azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundinya.” (HR Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437)Doa setelah adzanSelain anjuran untuk mengikuti lafaz azan muazin sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,إذا سَمِعتُم المؤذِّنَ فقُولوا مثلَ ما يقولُ“Jika kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana ucapan muazin.” (HR. Muslim no. 384)Kita juga disunahkan untuk membaca doa setelah adzan yang dikumandangkan muazin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّـتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa yang setelah selesai mendengar azan kemudian berdoa dengan,Allahumma rabba haadzihid da’watit taammah, wasshalaatil qaaaimah, aati muhammadanil wasiilata wal fadhiiilata, wab’atshu maqaaman mahmuuda alladzii wa’adtah(Ya Allah, Pemilik seruan yang sempurna ini dan sholat yang ditegakkan, anugerahkanlah kepada Nabi Muhammad; wasilah (kedudukan yang tinggi di surga) dan keutamaan (melebihi seluruh makhluk), dan bangkitkanlah beliau dalam kedudukan terpuji (memberi syafa’at) yang telah Engkau janjikan)Maka, ia berhak mendapatkan syafaatku kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 579)Demikianlah, doa yang selayaknya tidak ditingalkan seorang muslim ketika mendengar azan. Lebih-lebih menyibukkan diri untuk mengobrol hal yang tidak penting padahal ada sebaik-baik seruan yang tengah dikumandangkan.Semoga Allah Ta’ala memberkahi kita semua.Baca juga: Doa Turun Hujan—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Islam 73 Golongan, Arti Jihad Fi Sabilillah, Muslimah Sabar, Kriteria Istri Yang Baik Menurut IslamTags: adabadzanAkhlakAqidahazando'adoa setelah adzanDzikirfikihfikih adzanhikmah adzanibadahkeutamaan adzankeutamaan doaManhajnasihatnasihat islam


Azan memiliki kedudukan yang mulia dalam syariat Islam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan tentang hal ini dalam beberapa hadis. Di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ، وَلَا إِنْسٌ، وَلَا شَيْءٌ، إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَـة“Tidaklah kumandang azan yang didengar oleh jin, manusia, ataupun yang lain, kecuali semua akan menjadi saksi di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 574, An Nasa’iy no. 640, dan Malik no. 138)Dan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا“Seandainya semua orang tahu tentang keutamaan azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundinya.” (HR Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437)Doa setelah adzanSelain anjuran untuk mengikuti lafaz azan muazin sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,إذا سَمِعتُم المؤذِّنَ فقُولوا مثلَ ما يقولُ“Jika kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana ucapan muazin.” (HR. Muslim no. 384)Kita juga disunahkan untuk membaca doa setelah adzan yang dikumandangkan muazin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّـتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa yang setelah selesai mendengar azan kemudian berdoa dengan,Allahumma rabba haadzihid da’watit taammah, wasshalaatil qaaaimah, aati muhammadanil wasiilata wal fadhiiilata, wab’atshu maqaaman mahmuuda alladzii wa’adtah(Ya Allah, Pemilik seruan yang sempurna ini dan sholat yang ditegakkan, anugerahkanlah kepada Nabi Muhammad; wasilah (kedudukan yang tinggi di surga) dan keutamaan (melebihi seluruh makhluk), dan bangkitkanlah beliau dalam kedudukan terpuji (memberi syafa’at) yang telah Engkau janjikan)Maka, ia berhak mendapatkan syafaatku kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 579)Demikianlah, doa yang selayaknya tidak ditingalkan seorang muslim ketika mendengar azan. Lebih-lebih menyibukkan diri untuk mengobrol hal yang tidak penting padahal ada sebaik-baik seruan yang tengah dikumandangkan.Semoga Allah Ta’ala memberkahi kita semua.Baca juga: Doa Turun Hujan—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Islam 73 Golongan, Arti Jihad Fi Sabilillah, Muslimah Sabar, Kriteria Istri Yang Baik Menurut IslamTags: adabadzanAkhlakAqidahazando'adoa setelah adzanDzikirfikihfikih adzanhikmah adzanibadahkeutamaan adzankeutamaan doaManhajnasihatnasihat islam

Doa Ketika Turun Hujan

Daftar Isi sembunyikan 1. Doa ketika turun hujan 2. Doa ketika hujan reda Allah ‘Azza Wajalla menjadikan hujan sebagai bentuk rahmat untuk makhluk-Nya. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. Al-Hajj: 5)Hujan tersebut merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah ‘Azza Wajalla. Seorang penyair pernah mengatakan,فيا عجباً كيف يعصي الإله *** أم كيف يجحده الجاحدوفـي كل شـيءٍ له آيـة *** تدل عـلى أنه واحـد“Sungguh mengherankan jika ada yang bermaksiat atau ingkar kepada Allah. Padahal di setiap hal di alam semesta ini terdapat tanda bahwasanya Dialah satu-satunya Zat yang berhak dan wajib disembah.”Oleh karenanya, seorang muslim harus mengisi kesempatan dan nikmat tersebut dengan ketaatan kepada-Nya, berupa doa yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika turun hujan.Doa ketika turun hujanDalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,أنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ إذَا رَأَى المَطَرَ، قالَ: اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika turun hujan, beliau membaca doa,اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًاAllahumma shayyiban naafi’an(Ya Allah turunkanlah hujan yang memberikan manfaat).” (HR. Bukhari no. 1032)Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menginginkan kebaikan untuk umatnya. Oleh karenanya, beliau banyak berdoa kebaikan untuk mereka, di antaranya agar Allah menurunkan hujan yang memberikan manfaat bukan hujan yang menjadi petaka.Doa ketika hujan redaDalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin salat Subuh di Hudaibiyah setelah malam sebelumnya turun hujan. Ketika beliau menghadap jamaah sembari berkata, “Tahukah kalian, apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rabb kalian mengatakan,أصْبَحَ مِن عِبادِي مُؤْمِنٌ بي وكافِرٌ، فأمَّا مَن قالَ: مُطِرْنا بفَضْلِ اللهِ ورَحْمَتِهِ فَذلكَ مُؤْمِنٌ بي كافِرٌ بالكَوْكَبِ، وأَمَّا مَن قالَ: مُطِرْنا بنَوْءِ كَذا وكَذا فَذلكَ كافِرٌ بي مُؤْمِنٌ بالكَوْكَبِ.“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” (HR. Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71)Semoga di musim hujan kali ini, kita dimudahkan untuk mengamalkan salah satu dari sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama di atas. AaamiinBaca juga: Doa Untuk Orang Sakit—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Masjid Sunnah, Sabar Sebagian Dari Iman, Manfaat Senyum Dalam Islam, Tasyakur Bi Ni'mahTags: adabAkhlakAqidahdo'adoa ketika hujanDzikirfikih doahikmah hujanhujankeutamaan doakeutamaan dzikirmusim hujan

Doa Ketika Turun Hujan

Daftar Isi sembunyikan 1. Doa ketika turun hujan 2. Doa ketika hujan reda Allah ‘Azza Wajalla menjadikan hujan sebagai bentuk rahmat untuk makhluk-Nya. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. Al-Hajj: 5)Hujan tersebut merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah ‘Azza Wajalla. Seorang penyair pernah mengatakan,فيا عجباً كيف يعصي الإله *** أم كيف يجحده الجاحدوفـي كل شـيءٍ له آيـة *** تدل عـلى أنه واحـد“Sungguh mengherankan jika ada yang bermaksiat atau ingkar kepada Allah. Padahal di setiap hal di alam semesta ini terdapat tanda bahwasanya Dialah satu-satunya Zat yang berhak dan wajib disembah.”Oleh karenanya, seorang muslim harus mengisi kesempatan dan nikmat tersebut dengan ketaatan kepada-Nya, berupa doa yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika turun hujan.Doa ketika turun hujanDalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,أنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ إذَا رَأَى المَطَرَ، قالَ: اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika turun hujan, beliau membaca doa,اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًاAllahumma shayyiban naafi’an(Ya Allah turunkanlah hujan yang memberikan manfaat).” (HR. Bukhari no. 1032)Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menginginkan kebaikan untuk umatnya. Oleh karenanya, beliau banyak berdoa kebaikan untuk mereka, di antaranya agar Allah menurunkan hujan yang memberikan manfaat bukan hujan yang menjadi petaka.Doa ketika hujan redaDalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin salat Subuh di Hudaibiyah setelah malam sebelumnya turun hujan. Ketika beliau menghadap jamaah sembari berkata, “Tahukah kalian, apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rabb kalian mengatakan,أصْبَحَ مِن عِبادِي مُؤْمِنٌ بي وكافِرٌ، فأمَّا مَن قالَ: مُطِرْنا بفَضْلِ اللهِ ورَحْمَتِهِ فَذلكَ مُؤْمِنٌ بي كافِرٌ بالكَوْكَبِ، وأَمَّا مَن قالَ: مُطِرْنا بنَوْءِ كَذا وكَذا فَذلكَ كافِرٌ بي مُؤْمِنٌ بالكَوْكَبِ.“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” (HR. Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71)Semoga di musim hujan kali ini, kita dimudahkan untuk mengamalkan salah satu dari sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama di atas. AaamiinBaca juga: Doa Untuk Orang Sakit—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Masjid Sunnah, Sabar Sebagian Dari Iman, Manfaat Senyum Dalam Islam, Tasyakur Bi Ni'mahTags: adabAkhlakAqidahdo'adoa ketika hujanDzikirfikih doahikmah hujanhujankeutamaan doakeutamaan dzikirmusim hujan
Daftar Isi sembunyikan 1. Doa ketika turun hujan 2. Doa ketika hujan reda Allah ‘Azza Wajalla menjadikan hujan sebagai bentuk rahmat untuk makhluk-Nya. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. Al-Hajj: 5)Hujan tersebut merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah ‘Azza Wajalla. Seorang penyair pernah mengatakan,فيا عجباً كيف يعصي الإله *** أم كيف يجحده الجاحدوفـي كل شـيءٍ له آيـة *** تدل عـلى أنه واحـد“Sungguh mengherankan jika ada yang bermaksiat atau ingkar kepada Allah. Padahal di setiap hal di alam semesta ini terdapat tanda bahwasanya Dialah satu-satunya Zat yang berhak dan wajib disembah.”Oleh karenanya, seorang muslim harus mengisi kesempatan dan nikmat tersebut dengan ketaatan kepada-Nya, berupa doa yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika turun hujan.Doa ketika turun hujanDalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,أنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ إذَا رَأَى المَطَرَ، قالَ: اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika turun hujan, beliau membaca doa,اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًاAllahumma shayyiban naafi’an(Ya Allah turunkanlah hujan yang memberikan manfaat).” (HR. Bukhari no. 1032)Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menginginkan kebaikan untuk umatnya. Oleh karenanya, beliau banyak berdoa kebaikan untuk mereka, di antaranya agar Allah menurunkan hujan yang memberikan manfaat bukan hujan yang menjadi petaka.Doa ketika hujan redaDalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin salat Subuh di Hudaibiyah setelah malam sebelumnya turun hujan. Ketika beliau menghadap jamaah sembari berkata, “Tahukah kalian, apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rabb kalian mengatakan,أصْبَحَ مِن عِبادِي مُؤْمِنٌ بي وكافِرٌ، فأمَّا مَن قالَ: مُطِرْنا بفَضْلِ اللهِ ورَحْمَتِهِ فَذلكَ مُؤْمِنٌ بي كافِرٌ بالكَوْكَبِ، وأَمَّا مَن قالَ: مُطِرْنا بنَوْءِ كَذا وكَذا فَذلكَ كافِرٌ بي مُؤْمِنٌ بالكَوْكَبِ.“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” (HR. Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71)Semoga di musim hujan kali ini, kita dimudahkan untuk mengamalkan salah satu dari sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama di atas. AaamiinBaca juga: Doa Untuk Orang Sakit—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Masjid Sunnah, Sabar Sebagian Dari Iman, Manfaat Senyum Dalam Islam, Tasyakur Bi Ni'mahTags: adabAkhlakAqidahdo'adoa ketika hujanDzikirfikih doahikmah hujanhujankeutamaan doakeutamaan dzikirmusim hujan


Daftar Isi sembunyikan 1. Doa ketika turun hujan 2. Doa ketika hujan reda Allah ‘Azza Wajalla menjadikan hujan sebagai bentuk rahmat untuk makhluk-Nya. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. Al-Hajj: 5)Hujan tersebut merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah ‘Azza Wajalla. Seorang penyair pernah mengatakan,فيا عجباً كيف يعصي الإله *** أم كيف يجحده الجاحدوفـي كل شـيءٍ له آيـة *** تدل عـلى أنه واحـد“Sungguh mengherankan jika ada yang bermaksiat atau ingkar kepada Allah. Padahal di setiap hal di alam semesta ini terdapat tanda bahwasanya Dialah satu-satunya Zat yang berhak dan wajib disembah.”Oleh karenanya, seorang muslim harus mengisi kesempatan dan nikmat tersebut dengan ketaatan kepada-Nya, berupa doa yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika turun hujan.Doa ketika turun hujanDalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,أنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ إذَا رَأَى المَطَرَ، قالَ: اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika turun hujan, beliau membaca doa,اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًاAllahumma shayyiban naafi’an(Ya Allah turunkanlah hujan yang memberikan manfaat).” (HR. Bukhari no. 1032)Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menginginkan kebaikan untuk umatnya. Oleh karenanya, beliau banyak berdoa kebaikan untuk mereka, di antaranya agar Allah menurunkan hujan yang memberikan manfaat bukan hujan yang menjadi petaka.Doa ketika hujan redaDalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin salat Subuh di Hudaibiyah setelah malam sebelumnya turun hujan. Ketika beliau menghadap jamaah sembari berkata, “Tahukah kalian, apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rabb kalian mengatakan,أصْبَحَ مِن عِبادِي مُؤْمِنٌ بي وكافِرٌ، فأمَّا مَن قالَ: مُطِرْنا بفَضْلِ اللهِ ورَحْمَتِهِ فَذلكَ مُؤْمِنٌ بي كافِرٌ بالكَوْكَبِ، وأَمَّا مَن قالَ: مُطِرْنا بنَوْءِ كَذا وكَذا فَذلكَ كافِرٌ بي مُؤْمِنٌ بالكَوْكَبِ.“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” (HR. Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71)Semoga di musim hujan kali ini, kita dimudahkan untuk mengamalkan salah satu dari sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama di atas. AaamiinBaca juga: Doa Untuk Orang Sakit—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Masjid Sunnah, Sabar Sebagian Dari Iman, Manfaat Senyum Dalam Islam, Tasyakur Bi Ni'mahTags: adabAkhlakAqidahdo'adoa ketika hujanDzikirfikih doahikmah hujanhujankeutamaan doakeutamaan dzikirmusim hujan

Matan Taqrib: Kaidah Mengenai Hewan yang Suci dan Najis

Manakah hewan yang suci dan najis? Kaidah kali ini akan membantu sekali untuk memahaminya dari Matan Taqrib dalam Fikih Syafii.   Daftar Isi tutup 1. Asal Hewan itu Suci 2. As-Samak itu Halal 3. Manusia itu Suci 4. Jilatan Kucing, Mani dan Susu Hewan 4.1. Referensi: Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan, وَالحَيَوَانُ كُلُّهُ طَاهِرٌ إِلاَّ الكَلْبَ وَالخِنْزِيْرَ وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا، وَالمَيْتَةُ كُلُّهَا نَجِسَةٌ إِلاَّ السَّمَكَ وَالجَرَادَ وَالآدَمِيَّ. Semua hewan adalah suci kecuali anjing dan babi serta apa yang berasal dari keduanya atau salah satunya. Semua bangkai adalah najis kecuali ikan, belalang, dan manusia.   Asal Hewan itu Suci Semua hewan itu suci ketika hidup baik hewan yang halal dimakan ataukah haram dimakan, tetapi najis ketika mati begitu saja. Kecuali anjing dan babi atau turunannya, maka najis ketika hidup, najis pula ketika matinya. Yang terpotong dari hewan ketika hewan itu hidup, hukumnya adalah hukum bangkainya. Jika ada bagian sapi terpotong, maka hukumnya adalah sama dengan hukum sapi bangkai yaitu sama-sama najis. Hewan yang dikecualikan najisnya adalah ikan, belalang, dan juga manusia.   As-Samak itu Halal Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ “Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.” (HR. Ibnu Majah, no. 3314. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Ikan dan belalang itu suci ketika hidup dan ketika matinya. As-samak adalah setiap hewan yang asalnya hidup di air. Maka setiap samak yang mati, bangkainya suci. Allah Ta’ala berfirman, أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut.” (QS. Al Maidah: 96). Shoidul bahri adalah hewan air yang ditangkap hidup-hidup. Tho’amuhu adalah hewan air yang ditangkap sudah dalam keadaan mati (bangkai). Dalil lainnya dari hadits mengenai air laut, هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud, no. 83; An-Nasai, no. 59; Tirmidzi no. 69. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).   Manusia itu Suci Adapun manusia itu suci dan ketika ada yang terpisah darinya satu bagian, maka tetap suci ketika hidup dan matinya. Alasannya karena Allah berfirman, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (QS. Al-Isra’: 70) Adapun yang dimaksudkan dengan ayat,  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.” (QS. At-Taubah: 28). Yang dimaksud najis di sini adalah najis secara maknawi.   Jilatan Kucing, Mani dan Susu Hewan Sisa jilatan kucing itu suci. Jika kucing tersebut baru saja makan tikus—misalnya–, maka jadi suci dengan kucing tersebut meminum air. Jika kucing tersebut minum dari air yang banyak, maka air tersebut tidak menjadi najis. Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ “Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. Abu Daud, no. 75; Tirmidzi, no. 92; An-Nasai, no. 68; Ibnu Majah, no. 367. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Mani anjing dan babi itu najis, mani hewan selain keduanya suci. Susu dari anjing dan babi itu najis, begitu pula dari turunannya juga najis. Susu dari hewan yang haram dimakan dihukumi najis. Susu dari hewan yang halal dimakan dihukumi suci. Mani manusia itu suci karena asal penciptaan adalah dari mani tersebut.   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. Tashiil Al-Intifaa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimmaa Ta’allaqa min Dalil wa Ijma’ min Thaharah ila Al-Hajj.Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Husain Al-Qadiri. www.alukah.net.     —   Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 15 Rabiul Akhir 1444 H, 10 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshewan najis hewan suci macam najis mani matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah najis

Matan Taqrib: Kaidah Mengenai Hewan yang Suci dan Najis

Manakah hewan yang suci dan najis? Kaidah kali ini akan membantu sekali untuk memahaminya dari Matan Taqrib dalam Fikih Syafii.   Daftar Isi tutup 1. Asal Hewan itu Suci 2. As-Samak itu Halal 3. Manusia itu Suci 4. Jilatan Kucing, Mani dan Susu Hewan 4.1. Referensi: Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan, وَالحَيَوَانُ كُلُّهُ طَاهِرٌ إِلاَّ الكَلْبَ وَالخِنْزِيْرَ وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا، وَالمَيْتَةُ كُلُّهَا نَجِسَةٌ إِلاَّ السَّمَكَ وَالجَرَادَ وَالآدَمِيَّ. Semua hewan adalah suci kecuali anjing dan babi serta apa yang berasal dari keduanya atau salah satunya. Semua bangkai adalah najis kecuali ikan, belalang, dan manusia.   Asal Hewan itu Suci Semua hewan itu suci ketika hidup baik hewan yang halal dimakan ataukah haram dimakan, tetapi najis ketika mati begitu saja. Kecuali anjing dan babi atau turunannya, maka najis ketika hidup, najis pula ketika matinya. Yang terpotong dari hewan ketika hewan itu hidup, hukumnya adalah hukum bangkainya. Jika ada bagian sapi terpotong, maka hukumnya adalah sama dengan hukum sapi bangkai yaitu sama-sama najis. Hewan yang dikecualikan najisnya adalah ikan, belalang, dan juga manusia.   As-Samak itu Halal Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ “Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.” (HR. Ibnu Majah, no. 3314. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Ikan dan belalang itu suci ketika hidup dan ketika matinya. As-samak adalah setiap hewan yang asalnya hidup di air. Maka setiap samak yang mati, bangkainya suci. Allah Ta’ala berfirman, أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut.” (QS. Al Maidah: 96). Shoidul bahri adalah hewan air yang ditangkap hidup-hidup. Tho’amuhu adalah hewan air yang ditangkap sudah dalam keadaan mati (bangkai). Dalil lainnya dari hadits mengenai air laut, هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud, no. 83; An-Nasai, no. 59; Tirmidzi no. 69. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).   Manusia itu Suci Adapun manusia itu suci dan ketika ada yang terpisah darinya satu bagian, maka tetap suci ketika hidup dan matinya. Alasannya karena Allah berfirman, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (QS. Al-Isra’: 70) Adapun yang dimaksudkan dengan ayat,  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.” (QS. At-Taubah: 28). Yang dimaksud najis di sini adalah najis secara maknawi.   Jilatan Kucing, Mani dan Susu Hewan Sisa jilatan kucing itu suci. Jika kucing tersebut baru saja makan tikus—misalnya–, maka jadi suci dengan kucing tersebut meminum air. Jika kucing tersebut minum dari air yang banyak, maka air tersebut tidak menjadi najis. Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ “Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. Abu Daud, no. 75; Tirmidzi, no. 92; An-Nasai, no. 68; Ibnu Majah, no. 367. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Mani anjing dan babi itu najis, mani hewan selain keduanya suci. Susu dari anjing dan babi itu najis, begitu pula dari turunannya juga najis. Susu dari hewan yang haram dimakan dihukumi najis. Susu dari hewan yang halal dimakan dihukumi suci. Mani manusia itu suci karena asal penciptaan adalah dari mani tersebut.   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. Tashiil Al-Intifaa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimmaa Ta’allaqa min Dalil wa Ijma’ min Thaharah ila Al-Hajj.Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Husain Al-Qadiri. www.alukah.net.     —   Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 15 Rabiul Akhir 1444 H, 10 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshewan najis hewan suci macam najis mani matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah najis
Manakah hewan yang suci dan najis? Kaidah kali ini akan membantu sekali untuk memahaminya dari Matan Taqrib dalam Fikih Syafii.   Daftar Isi tutup 1. Asal Hewan itu Suci 2. As-Samak itu Halal 3. Manusia itu Suci 4. Jilatan Kucing, Mani dan Susu Hewan 4.1. Referensi: Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan, وَالحَيَوَانُ كُلُّهُ طَاهِرٌ إِلاَّ الكَلْبَ وَالخِنْزِيْرَ وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا، وَالمَيْتَةُ كُلُّهَا نَجِسَةٌ إِلاَّ السَّمَكَ وَالجَرَادَ وَالآدَمِيَّ. Semua hewan adalah suci kecuali anjing dan babi serta apa yang berasal dari keduanya atau salah satunya. Semua bangkai adalah najis kecuali ikan, belalang, dan manusia.   Asal Hewan itu Suci Semua hewan itu suci ketika hidup baik hewan yang halal dimakan ataukah haram dimakan, tetapi najis ketika mati begitu saja. Kecuali anjing dan babi atau turunannya, maka najis ketika hidup, najis pula ketika matinya. Yang terpotong dari hewan ketika hewan itu hidup, hukumnya adalah hukum bangkainya. Jika ada bagian sapi terpotong, maka hukumnya adalah sama dengan hukum sapi bangkai yaitu sama-sama najis. Hewan yang dikecualikan najisnya adalah ikan, belalang, dan juga manusia.   As-Samak itu Halal Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ “Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.” (HR. Ibnu Majah, no. 3314. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Ikan dan belalang itu suci ketika hidup dan ketika matinya. As-samak adalah setiap hewan yang asalnya hidup di air. Maka setiap samak yang mati, bangkainya suci. Allah Ta’ala berfirman, أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut.” (QS. Al Maidah: 96). Shoidul bahri adalah hewan air yang ditangkap hidup-hidup. Tho’amuhu adalah hewan air yang ditangkap sudah dalam keadaan mati (bangkai). Dalil lainnya dari hadits mengenai air laut, هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud, no. 83; An-Nasai, no. 59; Tirmidzi no. 69. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).   Manusia itu Suci Adapun manusia itu suci dan ketika ada yang terpisah darinya satu bagian, maka tetap suci ketika hidup dan matinya. Alasannya karena Allah berfirman, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (QS. Al-Isra’: 70) Adapun yang dimaksudkan dengan ayat,  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.” (QS. At-Taubah: 28). Yang dimaksud najis di sini adalah najis secara maknawi.   Jilatan Kucing, Mani dan Susu Hewan Sisa jilatan kucing itu suci. Jika kucing tersebut baru saja makan tikus—misalnya–, maka jadi suci dengan kucing tersebut meminum air. Jika kucing tersebut minum dari air yang banyak, maka air tersebut tidak menjadi najis. Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ “Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. Abu Daud, no. 75; Tirmidzi, no. 92; An-Nasai, no. 68; Ibnu Majah, no. 367. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Mani anjing dan babi itu najis, mani hewan selain keduanya suci. Susu dari anjing dan babi itu najis, begitu pula dari turunannya juga najis. Susu dari hewan yang haram dimakan dihukumi najis. Susu dari hewan yang halal dimakan dihukumi suci. Mani manusia itu suci karena asal penciptaan adalah dari mani tersebut.   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. Tashiil Al-Intifaa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimmaa Ta’allaqa min Dalil wa Ijma’ min Thaharah ila Al-Hajj.Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Husain Al-Qadiri. www.alukah.net.     —   Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 15 Rabiul Akhir 1444 H, 10 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshewan najis hewan suci macam najis mani matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah najis


Manakah hewan yang suci dan najis? Kaidah kali ini akan membantu sekali untuk memahaminya dari Matan Taqrib dalam Fikih Syafii.   Daftar Isi tutup 1. Asal Hewan itu Suci 2. As-Samak itu Halal 3. Manusia itu Suci 4. Jilatan Kucing, Mani dan Susu Hewan 4.1. Referensi: Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan, وَالحَيَوَانُ كُلُّهُ طَاهِرٌ إِلاَّ الكَلْبَ وَالخِنْزِيْرَ وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا، وَالمَيْتَةُ كُلُّهَا نَجِسَةٌ إِلاَّ السَّمَكَ وَالجَرَادَ وَالآدَمِيَّ. Semua hewan adalah suci kecuali anjing dan babi serta apa yang berasal dari keduanya atau salah satunya. Semua bangkai adalah najis kecuali ikan, belalang, dan manusia.   Asal Hewan itu Suci Semua hewan itu suci ketika hidup baik hewan yang halal dimakan ataukah haram dimakan, tetapi najis ketika mati begitu saja. Kecuali anjing dan babi atau turunannya, maka najis ketika hidup, najis pula ketika matinya. Yang terpotong dari hewan ketika hewan itu hidup, hukumnya adalah hukum bangkainya. Jika ada bagian sapi terpotong, maka hukumnya adalah sama dengan hukum sapi bangkai yaitu sama-sama najis. Hewan yang dikecualikan najisnya adalah ikan, belalang, dan juga manusia.   As-Samak itu Halal Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ “Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.” (HR. Ibnu Majah, no. 3314. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Ikan dan belalang itu suci ketika hidup dan ketika matinya. As-samak adalah setiap hewan yang asalnya hidup di air. Maka setiap samak yang mati, bangkainya suci. Allah Ta’ala berfirman, أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut.” (QS. Al Maidah: 96). Shoidul bahri adalah hewan air yang ditangkap hidup-hidup. Tho’amuhu adalah hewan air yang ditangkap sudah dalam keadaan mati (bangkai). Dalil lainnya dari hadits mengenai air laut, هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud, no. 83; An-Nasai, no. 59; Tirmidzi no. 69. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).   Manusia itu Suci Adapun manusia itu suci dan ketika ada yang terpisah darinya satu bagian, maka tetap suci ketika hidup dan matinya. Alasannya karena Allah berfirman, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (QS. Al-Isra’: 70) Adapun yang dimaksudkan dengan ayat,  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.” (QS. At-Taubah: 28). Yang dimaksud najis di sini adalah najis secara maknawi.   Jilatan Kucing, Mani dan Susu Hewan Sisa jilatan kucing itu suci. Jika kucing tersebut baru saja makan tikus—misalnya–, maka jadi suci dengan kucing tersebut meminum air. Jika kucing tersebut minum dari air yang banyak, maka air tersebut tidak menjadi najis. Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ “Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. Abu Daud, no. 75; Tirmidzi, no. 92; An-Nasai, no. 68; Ibnu Majah, no. 367. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Mani anjing dan babi itu najis, mani hewan selain keduanya suci. Susu dari anjing dan babi itu najis, begitu pula dari turunannya juga najis. Susu dari hewan yang haram dimakan dihukumi najis. Susu dari hewan yang halal dimakan dihukumi suci. Mani manusia itu suci karena asal penciptaan adalah dari mani tersebut.   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. Tashiil Al-Intifaa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimmaa Ta’allaqa min Dalil wa Ijma’ min Thaharah ila Al-Hajj.Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Husain Al-Qadiri. www.alukah.net.     —   Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 15 Rabiul Akhir 1444 H, 10 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshewan najis hewan suci macam najis mani matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah najis

Manusia Terbaik di Antara Kalian yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an     Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) 2. Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an 3. Hadits #993 4. Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi: Hadits #993 Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ . Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027]   Faedah hadits Hadits ini memotivasi untuk mempelajari dan mentadaburi Al-Qur’an, juga mengenal hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an, akidah, perilaku umat sebelum Islam, perintah Allah, larangan-Nya. Itulah yang menyebabkan datangnya keberuntungan di dunia dan akhirat. Sudah sepatutnya bagi seorang yang berilmu menyebarkan ilmu setelah mempelajarinya. Belajar dan mengajarkannya itu sama-sama mendapatkan ganjaran. Dengan mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya pada yang lain datanglah sempurnanya pahala. Dengan mempelajari Al-Qur’an akan meninggikan derajat seorang muslim. Orang yang membaca Al-Qur’an tanpa panduan guru tentu tidak akan benar dalam tajwid dan hukum-hukum bacaannya. Oleh karena itu, dituntut bagi seorang muslim untuk mencari seorang guru untuk membenarkan bacaannya. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an mencakup: mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya mempelajari dan mengajarkan maknanya Yang kedua ini malah yang lebih utama karena makna itulah yang dimaksud tujuan mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan, lafaz hanyalah wasilah (perantara). (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:277)   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:205. Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan.   — Baca Juga: Kiat untuk Orang Awam dalam Belajar Agama Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 15 Rabiul Akhir 1444 H, 10 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran belajar al quran hafalan quran interaksi al quran keutamaan al quran khatam al quran membaca Al Quran mengajarkan al quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail

Manusia Terbaik di Antara Kalian yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an     Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) 2. Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an 3. Hadits #993 4. Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi: Hadits #993 Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ . Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027]   Faedah hadits Hadits ini memotivasi untuk mempelajari dan mentadaburi Al-Qur’an, juga mengenal hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an, akidah, perilaku umat sebelum Islam, perintah Allah, larangan-Nya. Itulah yang menyebabkan datangnya keberuntungan di dunia dan akhirat. Sudah sepatutnya bagi seorang yang berilmu menyebarkan ilmu setelah mempelajarinya. Belajar dan mengajarkannya itu sama-sama mendapatkan ganjaran. Dengan mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya pada yang lain datanglah sempurnanya pahala. Dengan mempelajari Al-Qur’an akan meninggikan derajat seorang muslim. Orang yang membaca Al-Qur’an tanpa panduan guru tentu tidak akan benar dalam tajwid dan hukum-hukum bacaannya. Oleh karena itu, dituntut bagi seorang muslim untuk mencari seorang guru untuk membenarkan bacaannya. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an mencakup: mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya mempelajari dan mengajarkan maknanya Yang kedua ini malah yang lebih utama karena makna itulah yang dimaksud tujuan mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan, lafaz hanyalah wasilah (perantara). (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:277)   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:205. Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan.   — Baca Juga: Kiat untuk Orang Awam dalam Belajar Agama Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 15 Rabiul Akhir 1444 H, 10 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran belajar al quran hafalan quran interaksi al quran keutamaan al quran khatam al quran membaca Al Quran mengajarkan al quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail
Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an     Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) 2. Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an 3. Hadits #993 4. Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi: Hadits #993 Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ . Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027]   Faedah hadits Hadits ini memotivasi untuk mempelajari dan mentadaburi Al-Qur’an, juga mengenal hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an, akidah, perilaku umat sebelum Islam, perintah Allah, larangan-Nya. Itulah yang menyebabkan datangnya keberuntungan di dunia dan akhirat. Sudah sepatutnya bagi seorang yang berilmu menyebarkan ilmu setelah mempelajarinya. Belajar dan mengajarkannya itu sama-sama mendapatkan ganjaran. Dengan mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya pada yang lain datanglah sempurnanya pahala. Dengan mempelajari Al-Qur’an akan meninggikan derajat seorang muslim. Orang yang membaca Al-Qur’an tanpa panduan guru tentu tidak akan benar dalam tajwid dan hukum-hukum bacaannya. Oleh karena itu, dituntut bagi seorang muslim untuk mencari seorang guru untuk membenarkan bacaannya. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an mencakup: mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya mempelajari dan mengajarkan maknanya Yang kedua ini malah yang lebih utama karena makna itulah yang dimaksud tujuan mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan, lafaz hanyalah wasilah (perantara). (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:277)   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:205. Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan.   — Baca Juga: Kiat untuk Orang Awam dalam Belajar Agama Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 15 Rabiul Akhir 1444 H, 10 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran belajar al quran hafalan quran interaksi al quran keutamaan al quran khatam al quran membaca Al Quran mengajarkan al quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail


Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an     Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) 2. Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an 3. Hadits #993 4. Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi: Hadits #993 Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ . Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027]   Faedah hadits Hadits ini memotivasi untuk mempelajari dan mentadaburi Al-Qur’an, juga mengenal hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an, akidah, perilaku umat sebelum Islam, perintah Allah, larangan-Nya. Itulah yang menyebabkan datangnya keberuntungan di dunia dan akhirat. Sudah sepatutnya bagi seorang yang berilmu menyebarkan ilmu setelah mempelajarinya. Belajar dan mengajarkannya itu sama-sama mendapatkan ganjaran. Dengan mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya pada yang lain datanglah sempurnanya pahala. Dengan mempelajari Al-Qur’an akan meninggikan derajat seorang muslim. Orang yang membaca Al-Qur’an tanpa panduan guru tentu tidak akan benar dalam tajwid dan hukum-hukum bacaannya. Oleh karena itu, dituntut bagi seorang muslim untuk mencari seorang guru untuk membenarkan bacaannya. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an mencakup: mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya mempelajari dan mengajarkan maknanya Yang kedua ini malah yang lebih utama karena makna itulah yang dimaksud tujuan mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan, lafaz hanyalah wasilah (perantara). (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:277)   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:205. Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan.   — Baca Juga: Kiat untuk Orang Awam dalam Belajar Agama Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 15 Rabiul Akhir 1444 H, 10 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran belajar al quran hafalan quran interaksi al quran keutamaan al quran khatam al quran membaca Al Quran mengajarkan al quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail

Pesan Penting untuk Pelaku Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Saya katakan juga pada kesempatan inibahwa pelaku maksiat yang diuji dengan beberapa dosa yang tidak mampu ia tinggalkan,hendaklah ia mendekat kepada para ulamadan juga majelis ilmu,serta menyabarkan dirinya dalam hal ini. Jika pada awal mulanya dirinya enggan dan (tidak) menyukainya,maka hendaklah ia memaksanya.Karena jika dirinya bersabar dalam hal ini, dan mendekat kepada para ulamadan majelis ilmu mereka, maka Allah akan memudahkan baginya untuk membuka pintu-pintu taufikdan kelapangan hati,serta terbebas dari dosa-dosa,dan keburukan dan bahaya dosa-dosa yang tidak ia perkirakan. Kedekatan dengan para ulama merupakan keuntungan,dan bertanya kepada mereka tentang suatu masalah merupakan keselamatan. Kemudianmereka juga dapat mengambil faedahdari penjelasan imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah saat menjawab, dengan penjelasan yang gamblangbahwa kesabaran seorang ulama terhadap orang-orang yang bertanya kepadanya, kasih sayangnya bagi mereka,dan kelembutannya terhadap mereka,serta kelembutannya saat menjawab mereka, semua ini memiliki pengaruh yang baik dan menghasilkan buah yang agungdalam kedekatan para pendosa itu kepada kebaikandan jauhnya mereka dari keburukan. ==== وَأَقُولُ أَيْضًا بِهَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ أَنَّ الْعَاصِي الْمُبْتَلَى بِبَعْضِ الذُّنُوبِ الَّتِي أَعْيَاهُ الْخَلَاصُ مِنْهَا عَلَيْهِ أَنْ يَقْتَرِبَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَمَجَالِسِ الْعِلْمِ وَيَصْبِرُ نَفْسَهُ عَلَيْهَا وَإِنْ أَبَتْ نَفْسُهُ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ وَتَلَذَّذَتْ فَلْيُلْزِمْهَا فَإِنَّهُ إِنْ صَبَرَ نَفْسَهُ عَلَى ذَلِكَ وَاقْتَرَبَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَمَجَالِسِهِمْ يَسَّرَ اللهُ لَهُ مِنْ أَبْوَابِ التَّوْفِيقِ وَانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَالخَلَاصِ مِنَ الذُّنُوبِ وَأَضْرَارِهَا وَأَخْطَارِهَا مَا لَا يَحْتَسِبُ وَالْقُرْبُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ غَنِيمَةٌ وَسُؤَالُهُم عَمَّا أَشْكَلَ نَجَاةٌ وَسَلَامَةٌ ثُمَّ اسْتَفَادُوا أَيْضًا مِنْ بَسْطِ الْإِمَامِ ابْنِ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ هَذَا الْجَوَابَ بِهَذَا الْبَسْطِ الْوَافِي أَنَّ صَبْرَ الْعَالِمِ عَلَى السَّائِلِينَ وَرَحْمَتَهُ لَهُمْ وَبِهِمْ وَلِينَهُ مَعَهُم وَرِفْقَهُ بِهِم وَتَلَطُّفَهُ فِي جَوَابِهِمْ كُلُّ هَذَا لَهُ مَرْدُودُهُ الْحَسَنُ وَثَمَرَتُهُ الْعَظِيمَةُ فِي قُرْبِ هَؤُلَاءِ مِنَ الْخَيْرِ وَبُعْدِهِمْ مِنَ الشَّرِّ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Pesan Penting untuk Pelaku Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Saya katakan juga pada kesempatan inibahwa pelaku maksiat yang diuji dengan beberapa dosa yang tidak mampu ia tinggalkan,hendaklah ia mendekat kepada para ulamadan juga majelis ilmu,serta menyabarkan dirinya dalam hal ini. Jika pada awal mulanya dirinya enggan dan (tidak) menyukainya,maka hendaklah ia memaksanya.Karena jika dirinya bersabar dalam hal ini, dan mendekat kepada para ulamadan majelis ilmu mereka, maka Allah akan memudahkan baginya untuk membuka pintu-pintu taufikdan kelapangan hati,serta terbebas dari dosa-dosa,dan keburukan dan bahaya dosa-dosa yang tidak ia perkirakan. Kedekatan dengan para ulama merupakan keuntungan,dan bertanya kepada mereka tentang suatu masalah merupakan keselamatan. Kemudianmereka juga dapat mengambil faedahdari penjelasan imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah saat menjawab, dengan penjelasan yang gamblangbahwa kesabaran seorang ulama terhadap orang-orang yang bertanya kepadanya, kasih sayangnya bagi mereka,dan kelembutannya terhadap mereka,serta kelembutannya saat menjawab mereka, semua ini memiliki pengaruh yang baik dan menghasilkan buah yang agungdalam kedekatan para pendosa itu kepada kebaikandan jauhnya mereka dari keburukan. ==== وَأَقُولُ أَيْضًا بِهَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ أَنَّ الْعَاصِي الْمُبْتَلَى بِبَعْضِ الذُّنُوبِ الَّتِي أَعْيَاهُ الْخَلَاصُ مِنْهَا عَلَيْهِ أَنْ يَقْتَرِبَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَمَجَالِسِ الْعِلْمِ وَيَصْبِرُ نَفْسَهُ عَلَيْهَا وَإِنْ أَبَتْ نَفْسُهُ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ وَتَلَذَّذَتْ فَلْيُلْزِمْهَا فَإِنَّهُ إِنْ صَبَرَ نَفْسَهُ عَلَى ذَلِكَ وَاقْتَرَبَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَمَجَالِسِهِمْ يَسَّرَ اللهُ لَهُ مِنْ أَبْوَابِ التَّوْفِيقِ وَانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَالخَلَاصِ مِنَ الذُّنُوبِ وَأَضْرَارِهَا وَأَخْطَارِهَا مَا لَا يَحْتَسِبُ وَالْقُرْبُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ غَنِيمَةٌ وَسُؤَالُهُم عَمَّا أَشْكَلَ نَجَاةٌ وَسَلَامَةٌ ثُمَّ اسْتَفَادُوا أَيْضًا مِنْ بَسْطِ الْإِمَامِ ابْنِ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ هَذَا الْجَوَابَ بِهَذَا الْبَسْطِ الْوَافِي أَنَّ صَبْرَ الْعَالِمِ عَلَى السَّائِلِينَ وَرَحْمَتَهُ لَهُمْ وَبِهِمْ وَلِينَهُ مَعَهُم وَرِفْقَهُ بِهِم وَتَلَطُّفَهُ فِي جَوَابِهِمْ كُلُّ هَذَا لَهُ مَرْدُودُهُ الْحَسَنُ وَثَمَرَتُهُ الْعَظِيمَةُ فِي قُرْبِ هَؤُلَاءِ مِنَ الْخَيْرِ وَبُعْدِهِمْ مِنَ الشَّرِّ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Saya katakan juga pada kesempatan inibahwa pelaku maksiat yang diuji dengan beberapa dosa yang tidak mampu ia tinggalkan,hendaklah ia mendekat kepada para ulamadan juga majelis ilmu,serta menyabarkan dirinya dalam hal ini. Jika pada awal mulanya dirinya enggan dan (tidak) menyukainya,maka hendaklah ia memaksanya.Karena jika dirinya bersabar dalam hal ini, dan mendekat kepada para ulamadan majelis ilmu mereka, maka Allah akan memudahkan baginya untuk membuka pintu-pintu taufikdan kelapangan hati,serta terbebas dari dosa-dosa,dan keburukan dan bahaya dosa-dosa yang tidak ia perkirakan. Kedekatan dengan para ulama merupakan keuntungan,dan bertanya kepada mereka tentang suatu masalah merupakan keselamatan. Kemudianmereka juga dapat mengambil faedahdari penjelasan imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah saat menjawab, dengan penjelasan yang gamblangbahwa kesabaran seorang ulama terhadap orang-orang yang bertanya kepadanya, kasih sayangnya bagi mereka,dan kelembutannya terhadap mereka,serta kelembutannya saat menjawab mereka, semua ini memiliki pengaruh yang baik dan menghasilkan buah yang agungdalam kedekatan para pendosa itu kepada kebaikandan jauhnya mereka dari keburukan. ==== وَأَقُولُ أَيْضًا بِهَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ أَنَّ الْعَاصِي الْمُبْتَلَى بِبَعْضِ الذُّنُوبِ الَّتِي أَعْيَاهُ الْخَلَاصُ مِنْهَا عَلَيْهِ أَنْ يَقْتَرِبَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَمَجَالِسِ الْعِلْمِ وَيَصْبِرُ نَفْسَهُ عَلَيْهَا وَإِنْ أَبَتْ نَفْسُهُ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ وَتَلَذَّذَتْ فَلْيُلْزِمْهَا فَإِنَّهُ إِنْ صَبَرَ نَفْسَهُ عَلَى ذَلِكَ وَاقْتَرَبَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَمَجَالِسِهِمْ يَسَّرَ اللهُ لَهُ مِنْ أَبْوَابِ التَّوْفِيقِ وَانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَالخَلَاصِ مِنَ الذُّنُوبِ وَأَضْرَارِهَا وَأَخْطَارِهَا مَا لَا يَحْتَسِبُ وَالْقُرْبُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ غَنِيمَةٌ وَسُؤَالُهُم عَمَّا أَشْكَلَ نَجَاةٌ وَسَلَامَةٌ ثُمَّ اسْتَفَادُوا أَيْضًا مِنْ بَسْطِ الْإِمَامِ ابْنِ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ هَذَا الْجَوَابَ بِهَذَا الْبَسْطِ الْوَافِي أَنَّ صَبْرَ الْعَالِمِ عَلَى السَّائِلِينَ وَرَحْمَتَهُ لَهُمْ وَبِهِمْ وَلِينَهُ مَعَهُم وَرِفْقَهُ بِهِم وَتَلَطُّفَهُ فِي جَوَابِهِمْ كُلُّ هَذَا لَهُ مَرْدُودُهُ الْحَسَنُ وَثَمَرَتُهُ الْعَظِيمَةُ فِي قُرْبِ هَؤُلَاءِ مِنَ الْخَيْرِ وَبُعْدِهِمْ مِنَ الشَّرِّ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Saya katakan juga pada kesempatan inibahwa pelaku maksiat yang diuji dengan beberapa dosa yang tidak mampu ia tinggalkan,hendaklah ia mendekat kepada para ulamadan juga majelis ilmu,serta menyabarkan dirinya dalam hal ini. Jika pada awal mulanya dirinya enggan dan (tidak) menyukainya,maka hendaklah ia memaksanya.Karena jika dirinya bersabar dalam hal ini, dan mendekat kepada para ulamadan majelis ilmu mereka, maka Allah akan memudahkan baginya untuk membuka pintu-pintu taufikdan kelapangan hati,serta terbebas dari dosa-dosa,dan keburukan dan bahaya dosa-dosa yang tidak ia perkirakan. Kedekatan dengan para ulama merupakan keuntungan,dan bertanya kepada mereka tentang suatu masalah merupakan keselamatan. Kemudianmereka juga dapat mengambil faedahdari penjelasan imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah saat menjawab, dengan penjelasan yang gamblangbahwa kesabaran seorang ulama terhadap orang-orang yang bertanya kepadanya, kasih sayangnya bagi mereka,dan kelembutannya terhadap mereka,serta kelembutannya saat menjawab mereka, semua ini memiliki pengaruh yang baik dan menghasilkan buah yang agungdalam kedekatan para pendosa itu kepada kebaikandan jauhnya mereka dari keburukan. ==== وَأَقُولُ أَيْضًا بِهَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ أَنَّ الْعَاصِي الْمُبْتَلَى بِبَعْضِ الذُّنُوبِ الَّتِي أَعْيَاهُ الْخَلَاصُ مِنْهَا عَلَيْهِ أَنْ يَقْتَرِبَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَمَجَالِسِ الْعِلْمِ وَيَصْبِرُ نَفْسَهُ عَلَيْهَا وَإِنْ أَبَتْ نَفْسُهُ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ وَتَلَذَّذَتْ فَلْيُلْزِمْهَا فَإِنَّهُ إِنْ صَبَرَ نَفْسَهُ عَلَى ذَلِكَ وَاقْتَرَبَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَمَجَالِسِهِمْ يَسَّرَ اللهُ لَهُ مِنْ أَبْوَابِ التَّوْفِيقِ وَانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَالخَلَاصِ مِنَ الذُّنُوبِ وَأَضْرَارِهَا وَأَخْطَارِهَا مَا لَا يَحْتَسِبُ وَالْقُرْبُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ غَنِيمَةٌ وَسُؤَالُهُم عَمَّا أَشْكَلَ نَجَاةٌ وَسَلَامَةٌ ثُمَّ اسْتَفَادُوا أَيْضًا مِنْ بَسْطِ الْإِمَامِ ابْنِ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ هَذَا الْجَوَابَ بِهَذَا الْبَسْطِ الْوَافِي أَنَّ صَبْرَ الْعَالِمِ عَلَى السَّائِلِينَ وَرَحْمَتَهُ لَهُمْ وَبِهِمْ وَلِينَهُ مَعَهُم وَرِفْقَهُ بِهِم وَتَلَطُّفَهُ فِي جَوَابِهِمْ كُلُّ هَذَا لَهُ مَرْدُودُهُ الْحَسَنُ وَثَمَرَتُهُ الْعَظِيمَةُ فِي قُرْبِ هَؤُلَاءِ مِنَ الْخَيْرِ وَبُعْدِهِمْ مِنَ الشَّرِّ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Fatwa Ulama: Hukum Salat Sunah Qabliyah Sebelum Salat Isya

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Dari Republik Arab Suriah, pesan ini dikirim oleh salah satu saudara dari sana yang berbunyi,Rawi Al-Abdullah dari kota Dayr Al-Zour salah satu saudara kita, ia memiliki serangkaian pertanyaan, dalam pertanyaan pertamanya ia mengatakan,“Banyak orang-orang di desa kami berdebat tentang hukum salat sunah qabliyah sebelum salat Isya. Sebagian dari mereka mengatakan, ‘(Hukumnya) muakkadah (ditekankan).’ Dan yang lain mengatakan, ‘Tidak ditekankan.’ Saya meminta yang mulia Syekh untuk mengklarifikasi masalah ini.”Jawaban:Syekh Binbaz rahimahullah menjawab,(Salat sunah qabliyah sebelum salat Isya) tidaklah muakkadah (ditekankan) dan segala puji hanya untuk Allah Ta’ala. Siapa yang ingin melaksanakannya, maka salatlah. Dan siapa yang tidak ingin melaksanakannya, maka juga tidak apa-apa. (Yaitu salat) antara azan dan ikamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بيْنَ كُلِّ أذَانَيْنِ صَلَاةٌ، ثَلَاثًا لِمَن شَاءَ“Di antara dua azan (antara azan dan ikamah) ada salat.” (Beliau mengatakannya) tiga kali. (Lalu bersabda), “Bagi siapa yang menghendakinya.” (HR. Bukhari no. 624 dan Muslim no. 838)Maka, siapa saja yang ingin melaksanakannya, maka laksanakanlah. Jika pun ia tidak ingin, maka tidak apa-apa meninggalkan salat sunah antara azan dan ikamah pada salat Isya maupun Maghrib.Adapun antara azan dan ikamah pada salat zuhur, maka ini termasuk salat sunah yang ditekankan. Hendaknya ia salat empat rakaat dengan 2 salam sebelum salat zuhur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat ini dua rakaat dua rakaat dan menjadikannya sebagai sunah rawatib. Empat rakaat sebelum zuhur termasuk sunnah rawatib.Adapun (salat sunah sebelum salat) Asar ,maka (hukumnya) mustahab (disukai nabi), namun tidak ditekankan (untuk rutin dilaksanakan setiap waktu). Di dalam hadis disebutkan,رحِمَ اللَّهُ امرَأً صلَّى قبلَ العصرِ أربعًا“Semoga Allah merahmati seseorang yang salat empat rakaat sebelum salat asar.” (HR. Abu Dawud no. 1271, Tirmidzi no. 430 dan Ahmad no. 5980)Dan sunahnya dilaksanakan dua rakaat dua rakaat,صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى“Salat (sunah) di malam hari dan di siang hari itu dua rakaat dua rakaat.” (HR. Al-Hakim dalam kitabnya Ma’rifat Uluum Al-Hadis 235 [1])Hadis di atas disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kita tidak perlu berdebat dalam permasalahan ini. Karena ini adalah perkara sunah dan disenangi jika dilakukan, maka sudah selayaknya untuk tidak diperdebatkan. Justru kita hendaknya saling mengingatkan, diskusi di antara sahabat dibarengi dengan menuntut ilmu agar mendapatkan kemanfaatan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ، بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ“Di antara dua azan (antara azan dan ikamah) ada salat (sunah). Di antara dua azan (antara azan dan ikamah) ada salat (sunah).” (HR. Bukhari no. 627 dan Muslim no. 838)Sehingga jika seseorang salat dua rakaat antara azan Magrib dengan salat Magrib, antara azan Isya dengan salat Isya, antara azan Asar dengan salat Asar ataupun salat empat rakaat di semua waktu tersebut, maka hukumnya tidak mengapa.Adapun salat zuhur, maka memang ada salat sunah rawatib-nya, yaitu berjumlah empat rakaat. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ لا يَدَعُ أرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu tidak meninggalkan salat sunah sebanyak empat rakaat sebelum Zuhur.” (HR. Bukhari no. 1182 dan Abu Dawud no. 1253)Baca Juga: Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atMaksudnya adalah dengan dua salam. Adapun setelah Zuhur, maka ada dua rakaat rawatib yang senantiasa dijaga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika telah mengerjakan empat rakaat sebelum zuhur, maka lebih utama lagi baginya jika mengerjakan (dua rakaat) setelah zuhur.(Salat sunah rawatib ini, selain empat rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat setelahnya) juga dilakukan setelah Isya dua rakaat, setelah Maghrib dua rakaat, dan sebelum salat Subuh dua rakaat. Kesemuanya ini adalah salat sunah rawatib yang senantiasa dijaga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Totalnya adalah dua belas rakaat yang senantiasa dijaga (dan dikerjakan) oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:Pertama: Empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnyaKedua: Dua rakaat setelah MagribKetiga: Dua rakaat setelah IsyaKeempat: Dua rakaat sebelum salat Subuh(Semuanya) lebih utama jika dikerjakan di rumah, namun jika dikerjakan di masjid maka juga tidak mengapa.Wallahu a’lam bisshowabDiterjemahkan dari acara siaran radio Syekh Binbaz rahimahullahu ta’ala “Nuur Ala Ad-Darbi.” Yang disiarkan oleh Radio Al-Qur’an Al-Kariim Saudi Arabia.Baca Juga:Haruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?Hukum Shalat Sunnah Dua Raka’at Ihram***Penulis: Muhammad Idris, LcArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Sebagaian ulama menyebutkan bahwa hadis ini memiliki illah (cacat/penyakit). Hadis yang sahih dalam masalah ini adalah hadis riwayat Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749 yang berbunyi,صلاةُ الليلِ مَثْنَى مَثْنَى“Salat (sunah) di malam hari itu dua rakaat dua rakaat.”Tanpa tambahan lafaz (صَلَاةُ النَّهَارِ) (salat sunah di siang hari).Hanya saja kita tetap bisa berdalil dengan hadis ini pada permasalahan salat sunah di siang hari, dengan pemahaman menyeluruh terhadap hadis sahih di atas.Nabi hanya mengkhususkan salat sunah malam karena mayoritas salat sunah dilakukan di malam hari, namun hukum hadis ini menyeluruh dan mencakup seluruh salat sunah baik di malam hari maupun di siang hari. Kesemuanya kita laksanakan dua rakaat dua rakaat, bukan empat rakaat empat rakaat. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Wallahu a’lam. 🔍 Tawakal, Tentang Surga, Sejarah Hajar Aswat, Cerita Penggugah Iman, Dalil Shalat JumatTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih shalatfikih shalat sunnahfikih ulamakeutamaan shalat sunnahnasihatnasihat islampanduan shalatshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat

Fatwa Ulama: Hukum Salat Sunah Qabliyah Sebelum Salat Isya

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Dari Republik Arab Suriah, pesan ini dikirim oleh salah satu saudara dari sana yang berbunyi,Rawi Al-Abdullah dari kota Dayr Al-Zour salah satu saudara kita, ia memiliki serangkaian pertanyaan, dalam pertanyaan pertamanya ia mengatakan,“Banyak orang-orang di desa kami berdebat tentang hukum salat sunah qabliyah sebelum salat Isya. Sebagian dari mereka mengatakan, ‘(Hukumnya) muakkadah (ditekankan).’ Dan yang lain mengatakan, ‘Tidak ditekankan.’ Saya meminta yang mulia Syekh untuk mengklarifikasi masalah ini.”Jawaban:Syekh Binbaz rahimahullah menjawab,(Salat sunah qabliyah sebelum salat Isya) tidaklah muakkadah (ditekankan) dan segala puji hanya untuk Allah Ta’ala. Siapa yang ingin melaksanakannya, maka salatlah. Dan siapa yang tidak ingin melaksanakannya, maka juga tidak apa-apa. (Yaitu salat) antara azan dan ikamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بيْنَ كُلِّ أذَانَيْنِ صَلَاةٌ، ثَلَاثًا لِمَن شَاءَ“Di antara dua azan (antara azan dan ikamah) ada salat.” (Beliau mengatakannya) tiga kali. (Lalu bersabda), “Bagi siapa yang menghendakinya.” (HR. Bukhari no. 624 dan Muslim no. 838)Maka, siapa saja yang ingin melaksanakannya, maka laksanakanlah. Jika pun ia tidak ingin, maka tidak apa-apa meninggalkan salat sunah antara azan dan ikamah pada salat Isya maupun Maghrib.Adapun antara azan dan ikamah pada salat zuhur, maka ini termasuk salat sunah yang ditekankan. Hendaknya ia salat empat rakaat dengan 2 salam sebelum salat zuhur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat ini dua rakaat dua rakaat dan menjadikannya sebagai sunah rawatib. Empat rakaat sebelum zuhur termasuk sunnah rawatib.Adapun (salat sunah sebelum salat) Asar ,maka (hukumnya) mustahab (disukai nabi), namun tidak ditekankan (untuk rutin dilaksanakan setiap waktu). Di dalam hadis disebutkan,رحِمَ اللَّهُ امرَأً صلَّى قبلَ العصرِ أربعًا“Semoga Allah merahmati seseorang yang salat empat rakaat sebelum salat asar.” (HR. Abu Dawud no. 1271, Tirmidzi no. 430 dan Ahmad no. 5980)Dan sunahnya dilaksanakan dua rakaat dua rakaat,صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى“Salat (sunah) di malam hari dan di siang hari itu dua rakaat dua rakaat.” (HR. Al-Hakim dalam kitabnya Ma’rifat Uluum Al-Hadis 235 [1])Hadis di atas disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kita tidak perlu berdebat dalam permasalahan ini. Karena ini adalah perkara sunah dan disenangi jika dilakukan, maka sudah selayaknya untuk tidak diperdebatkan. Justru kita hendaknya saling mengingatkan, diskusi di antara sahabat dibarengi dengan menuntut ilmu agar mendapatkan kemanfaatan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ، بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ“Di antara dua azan (antara azan dan ikamah) ada salat (sunah). Di antara dua azan (antara azan dan ikamah) ada salat (sunah).” (HR. Bukhari no. 627 dan Muslim no. 838)Sehingga jika seseorang salat dua rakaat antara azan Magrib dengan salat Magrib, antara azan Isya dengan salat Isya, antara azan Asar dengan salat Asar ataupun salat empat rakaat di semua waktu tersebut, maka hukumnya tidak mengapa.Adapun salat zuhur, maka memang ada salat sunah rawatib-nya, yaitu berjumlah empat rakaat. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ لا يَدَعُ أرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu tidak meninggalkan salat sunah sebanyak empat rakaat sebelum Zuhur.” (HR. Bukhari no. 1182 dan Abu Dawud no. 1253)Baca Juga: Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atMaksudnya adalah dengan dua salam. Adapun setelah Zuhur, maka ada dua rakaat rawatib yang senantiasa dijaga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika telah mengerjakan empat rakaat sebelum zuhur, maka lebih utama lagi baginya jika mengerjakan (dua rakaat) setelah zuhur.(Salat sunah rawatib ini, selain empat rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat setelahnya) juga dilakukan setelah Isya dua rakaat, setelah Maghrib dua rakaat, dan sebelum salat Subuh dua rakaat. Kesemuanya ini adalah salat sunah rawatib yang senantiasa dijaga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Totalnya adalah dua belas rakaat yang senantiasa dijaga (dan dikerjakan) oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:Pertama: Empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnyaKedua: Dua rakaat setelah MagribKetiga: Dua rakaat setelah IsyaKeempat: Dua rakaat sebelum salat Subuh(Semuanya) lebih utama jika dikerjakan di rumah, namun jika dikerjakan di masjid maka juga tidak mengapa.Wallahu a’lam bisshowabDiterjemahkan dari acara siaran radio Syekh Binbaz rahimahullahu ta’ala “Nuur Ala Ad-Darbi.” Yang disiarkan oleh Radio Al-Qur’an Al-Kariim Saudi Arabia.Baca Juga:Haruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?Hukum Shalat Sunnah Dua Raka’at Ihram***Penulis: Muhammad Idris, LcArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Sebagaian ulama menyebutkan bahwa hadis ini memiliki illah (cacat/penyakit). Hadis yang sahih dalam masalah ini adalah hadis riwayat Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749 yang berbunyi,صلاةُ الليلِ مَثْنَى مَثْنَى“Salat (sunah) di malam hari itu dua rakaat dua rakaat.”Tanpa tambahan lafaz (صَلَاةُ النَّهَارِ) (salat sunah di siang hari).Hanya saja kita tetap bisa berdalil dengan hadis ini pada permasalahan salat sunah di siang hari, dengan pemahaman menyeluruh terhadap hadis sahih di atas.Nabi hanya mengkhususkan salat sunah malam karena mayoritas salat sunah dilakukan di malam hari, namun hukum hadis ini menyeluruh dan mencakup seluruh salat sunah baik di malam hari maupun di siang hari. Kesemuanya kita laksanakan dua rakaat dua rakaat, bukan empat rakaat empat rakaat. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Wallahu a’lam. 🔍 Tawakal, Tentang Surga, Sejarah Hajar Aswat, Cerita Penggugah Iman, Dalil Shalat JumatTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih shalatfikih shalat sunnahfikih ulamakeutamaan shalat sunnahnasihatnasihat islampanduan shalatshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat
Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Dari Republik Arab Suriah, pesan ini dikirim oleh salah satu saudara dari sana yang berbunyi,Rawi Al-Abdullah dari kota Dayr Al-Zour salah satu saudara kita, ia memiliki serangkaian pertanyaan, dalam pertanyaan pertamanya ia mengatakan,“Banyak orang-orang di desa kami berdebat tentang hukum salat sunah qabliyah sebelum salat Isya. Sebagian dari mereka mengatakan, ‘(Hukumnya) muakkadah (ditekankan).’ Dan yang lain mengatakan, ‘Tidak ditekankan.’ Saya meminta yang mulia Syekh untuk mengklarifikasi masalah ini.”Jawaban:Syekh Binbaz rahimahullah menjawab,(Salat sunah qabliyah sebelum salat Isya) tidaklah muakkadah (ditekankan) dan segala puji hanya untuk Allah Ta’ala. Siapa yang ingin melaksanakannya, maka salatlah. Dan siapa yang tidak ingin melaksanakannya, maka juga tidak apa-apa. (Yaitu salat) antara azan dan ikamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بيْنَ كُلِّ أذَانَيْنِ صَلَاةٌ، ثَلَاثًا لِمَن شَاءَ“Di antara dua azan (antara azan dan ikamah) ada salat.” (Beliau mengatakannya) tiga kali. (Lalu bersabda), “Bagi siapa yang menghendakinya.” (HR. Bukhari no. 624 dan Muslim no. 838)Maka, siapa saja yang ingin melaksanakannya, maka laksanakanlah. Jika pun ia tidak ingin, maka tidak apa-apa meninggalkan salat sunah antara azan dan ikamah pada salat Isya maupun Maghrib.Adapun antara azan dan ikamah pada salat zuhur, maka ini termasuk salat sunah yang ditekankan. Hendaknya ia salat empat rakaat dengan 2 salam sebelum salat zuhur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat ini dua rakaat dua rakaat dan menjadikannya sebagai sunah rawatib. Empat rakaat sebelum zuhur termasuk sunnah rawatib.Adapun (salat sunah sebelum salat) Asar ,maka (hukumnya) mustahab (disukai nabi), namun tidak ditekankan (untuk rutin dilaksanakan setiap waktu). Di dalam hadis disebutkan,رحِمَ اللَّهُ امرَأً صلَّى قبلَ العصرِ أربعًا“Semoga Allah merahmati seseorang yang salat empat rakaat sebelum salat asar.” (HR. Abu Dawud no. 1271, Tirmidzi no. 430 dan Ahmad no. 5980)Dan sunahnya dilaksanakan dua rakaat dua rakaat,صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى“Salat (sunah) di malam hari dan di siang hari itu dua rakaat dua rakaat.” (HR. Al-Hakim dalam kitabnya Ma’rifat Uluum Al-Hadis 235 [1])Hadis di atas disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kita tidak perlu berdebat dalam permasalahan ini. Karena ini adalah perkara sunah dan disenangi jika dilakukan, maka sudah selayaknya untuk tidak diperdebatkan. Justru kita hendaknya saling mengingatkan, diskusi di antara sahabat dibarengi dengan menuntut ilmu agar mendapatkan kemanfaatan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ، بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ“Di antara dua azan (antara azan dan ikamah) ada salat (sunah). Di antara dua azan (antara azan dan ikamah) ada salat (sunah).” (HR. Bukhari no. 627 dan Muslim no. 838)Sehingga jika seseorang salat dua rakaat antara azan Magrib dengan salat Magrib, antara azan Isya dengan salat Isya, antara azan Asar dengan salat Asar ataupun salat empat rakaat di semua waktu tersebut, maka hukumnya tidak mengapa.Adapun salat zuhur, maka memang ada salat sunah rawatib-nya, yaitu berjumlah empat rakaat. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ لا يَدَعُ أرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu tidak meninggalkan salat sunah sebanyak empat rakaat sebelum Zuhur.” (HR. Bukhari no. 1182 dan Abu Dawud no. 1253)Baca Juga: Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atMaksudnya adalah dengan dua salam. Adapun setelah Zuhur, maka ada dua rakaat rawatib yang senantiasa dijaga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika telah mengerjakan empat rakaat sebelum zuhur, maka lebih utama lagi baginya jika mengerjakan (dua rakaat) setelah zuhur.(Salat sunah rawatib ini, selain empat rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat setelahnya) juga dilakukan setelah Isya dua rakaat, setelah Maghrib dua rakaat, dan sebelum salat Subuh dua rakaat. Kesemuanya ini adalah salat sunah rawatib yang senantiasa dijaga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Totalnya adalah dua belas rakaat yang senantiasa dijaga (dan dikerjakan) oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:Pertama: Empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnyaKedua: Dua rakaat setelah MagribKetiga: Dua rakaat setelah IsyaKeempat: Dua rakaat sebelum salat Subuh(Semuanya) lebih utama jika dikerjakan di rumah, namun jika dikerjakan di masjid maka juga tidak mengapa.Wallahu a’lam bisshowabDiterjemahkan dari acara siaran radio Syekh Binbaz rahimahullahu ta’ala “Nuur Ala Ad-Darbi.” Yang disiarkan oleh Radio Al-Qur’an Al-Kariim Saudi Arabia.Baca Juga:Haruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?Hukum Shalat Sunnah Dua Raka’at Ihram***Penulis: Muhammad Idris, LcArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Sebagaian ulama menyebutkan bahwa hadis ini memiliki illah (cacat/penyakit). Hadis yang sahih dalam masalah ini adalah hadis riwayat Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749 yang berbunyi,صلاةُ الليلِ مَثْنَى مَثْنَى“Salat (sunah) di malam hari itu dua rakaat dua rakaat.”Tanpa tambahan lafaz (صَلَاةُ النَّهَارِ) (salat sunah di siang hari).Hanya saja kita tetap bisa berdalil dengan hadis ini pada permasalahan salat sunah di siang hari, dengan pemahaman menyeluruh terhadap hadis sahih di atas.Nabi hanya mengkhususkan salat sunah malam karena mayoritas salat sunah dilakukan di malam hari, namun hukum hadis ini menyeluruh dan mencakup seluruh salat sunah baik di malam hari maupun di siang hari. Kesemuanya kita laksanakan dua rakaat dua rakaat, bukan empat rakaat empat rakaat. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Wallahu a’lam. 🔍 Tawakal, Tentang Surga, Sejarah Hajar Aswat, Cerita Penggugah Iman, Dalil Shalat JumatTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih shalatfikih shalat sunnahfikih ulamakeutamaan shalat sunnahnasihatnasihat islampanduan shalatshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat


Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Dari Republik Arab Suriah, pesan ini dikirim oleh salah satu saudara dari sana yang berbunyi,Rawi Al-Abdullah dari kota Dayr Al-Zour salah satu saudara kita, ia memiliki serangkaian pertanyaan, dalam pertanyaan pertamanya ia mengatakan,“Banyak orang-orang di desa kami berdebat tentang hukum salat sunah qabliyah sebelum salat Isya. Sebagian dari mereka mengatakan, ‘(Hukumnya) muakkadah (ditekankan).’ Dan yang lain mengatakan, ‘Tidak ditekankan.’ Saya meminta yang mulia Syekh untuk mengklarifikasi masalah ini.”Jawaban:Syekh Binbaz rahimahullah menjawab,(Salat sunah qabliyah sebelum salat Isya) tidaklah muakkadah (ditekankan) dan segala puji hanya untuk Allah Ta’ala. Siapa yang ingin melaksanakannya, maka salatlah. Dan siapa yang tidak ingin melaksanakannya, maka juga tidak apa-apa. (Yaitu salat) antara azan dan ikamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بيْنَ كُلِّ أذَانَيْنِ صَلَاةٌ، ثَلَاثًا لِمَن شَاءَ“Di antara dua azan (antara azan dan ikamah) ada salat.” (Beliau mengatakannya) tiga kali. (Lalu bersabda), “Bagi siapa yang menghendakinya.” (HR. Bukhari no. 624 dan Muslim no. 838)Maka, siapa saja yang ingin melaksanakannya, maka laksanakanlah. Jika pun ia tidak ingin, maka tidak apa-apa meninggalkan salat sunah antara azan dan ikamah pada salat Isya maupun Maghrib.Adapun antara azan dan ikamah pada salat zuhur, maka ini termasuk salat sunah yang ditekankan. Hendaknya ia salat empat rakaat dengan 2 salam sebelum salat zuhur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat ini dua rakaat dua rakaat dan menjadikannya sebagai sunah rawatib. Empat rakaat sebelum zuhur termasuk sunnah rawatib.Adapun (salat sunah sebelum salat) Asar ,maka (hukumnya) mustahab (disukai nabi), namun tidak ditekankan (untuk rutin dilaksanakan setiap waktu). Di dalam hadis disebutkan,رحِمَ اللَّهُ امرَأً صلَّى قبلَ العصرِ أربعًا“Semoga Allah merahmati seseorang yang salat empat rakaat sebelum salat asar.” (HR. Abu Dawud no. 1271, Tirmidzi no. 430 dan Ahmad no. 5980)Dan sunahnya dilaksanakan dua rakaat dua rakaat,صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى“Salat (sunah) di malam hari dan di siang hari itu dua rakaat dua rakaat.” (HR. Al-Hakim dalam kitabnya Ma’rifat Uluum Al-Hadis 235 [1])Hadis di atas disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kita tidak perlu berdebat dalam permasalahan ini. Karena ini adalah perkara sunah dan disenangi jika dilakukan, maka sudah selayaknya untuk tidak diperdebatkan. Justru kita hendaknya saling mengingatkan, diskusi di antara sahabat dibarengi dengan menuntut ilmu agar mendapatkan kemanfaatan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ، بيْنَ كُلِّ أذانَيْنِ صَلاةٌ“Di antara dua azan (antara azan dan ikamah) ada salat (sunah). Di antara dua azan (antara azan dan ikamah) ada salat (sunah).” (HR. Bukhari no. 627 dan Muslim no. 838)Sehingga jika seseorang salat dua rakaat antara azan Magrib dengan salat Magrib, antara azan Isya dengan salat Isya, antara azan Asar dengan salat Asar ataupun salat empat rakaat di semua waktu tersebut, maka hukumnya tidak mengapa.Adapun salat zuhur, maka memang ada salat sunah rawatib-nya, yaitu berjumlah empat rakaat. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ لا يَدَعُ أرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu tidak meninggalkan salat sunah sebanyak empat rakaat sebelum Zuhur.” (HR. Bukhari no. 1182 dan Abu Dawud no. 1253)Baca Juga: Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atMaksudnya adalah dengan dua salam. Adapun setelah Zuhur, maka ada dua rakaat rawatib yang senantiasa dijaga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika telah mengerjakan empat rakaat sebelum zuhur, maka lebih utama lagi baginya jika mengerjakan (dua rakaat) setelah zuhur.(Salat sunah rawatib ini, selain empat rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat setelahnya) juga dilakukan setelah Isya dua rakaat, setelah Maghrib dua rakaat, dan sebelum salat Subuh dua rakaat. Kesemuanya ini adalah salat sunah rawatib yang senantiasa dijaga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Totalnya adalah dua belas rakaat yang senantiasa dijaga (dan dikerjakan) oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:Pertama: Empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnyaKedua: Dua rakaat setelah MagribKetiga: Dua rakaat setelah IsyaKeempat: Dua rakaat sebelum salat Subuh(Semuanya) lebih utama jika dikerjakan di rumah, namun jika dikerjakan di masjid maka juga tidak mengapa.Wallahu a’lam bisshowabDiterjemahkan dari acara siaran radio Syekh Binbaz rahimahullahu ta’ala “Nuur Ala Ad-Darbi.” Yang disiarkan oleh Radio Al-Qur’an Al-Kariim Saudi Arabia.Baca Juga:Haruskah Pindah dari Tempat Shalat Wajib Ketika Akan Shalat Sunnah?Hukum Shalat Sunnah Dua Raka’at Ihram***Penulis: Muhammad Idris, LcArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Sebagaian ulama menyebutkan bahwa hadis ini memiliki illah (cacat/penyakit). Hadis yang sahih dalam masalah ini adalah hadis riwayat Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749 yang berbunyi,صلاةُ الليلِ مَثْنَى مَثْنَى“Salat (sunah) di malam hari itu dua rakaat dua rakaat.”Tanpa tambahan lafaz (صَلَاةُ النَّهَارِ) (salat sunah di siang hari).Hanya saja kita tetap bisa berdalil dengan hadis ini pada permasalahan salat sunah di siang hari, dengan pemahaman menyeluruh terhadap hadis sahih di atas.Nabi hanya mengkhususkan salat sunah malam karena mayoritas salat sunah dilakukan di malam hari, namun hukum hadis ini menyeluruh dan mencakup seluruh salat sunah baik di malam hari maupun di siang hari. Kesemuanya kita laksanakan dua rakaat dua rakaat, bukan empat rakaat empat rakaat. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Wallahu a’lam. 🔍 Tawakal, Tentang Surga, Sejarah Hajar Aswat, Cerita Penggugah Iman, Dalil Shalat JumatTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih shalatfikih shalat sunnahfikih ulamakeutamaan shalat sunnahnasihatnasihat islampanduan shalatshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat
Prev     Next