Menghilangkan Bulu Kemaluan & Ketiak dengan Perontok Bolehkah? – Syaikh Utsman al-Khamis

Bolehkah menghilangkan bulu kemaluan dan ketiakdengan perontok bulu?Apakah terlarang? Tidak, tidak jadi masalah. Itulah sebabnya ketika Imam Ahmad —semoga Allah Merahmatinya— ditanyatentang bulu ketiak, beliau berkata, “Cabut, dicabut.”Jadi, bulu ketiak dicabut. Dia berkata, “Tapi tidak semua orang bisa melakukannya.”Maka dijawab, “Hilangkan saja,”karena tidak semua orang mampu mencabutnya,karena mencabut itu sakit. Beliau jawab, “Hilangkan saja,” yang penting dihilangkanrambut di kemaluan, ketiak, dan kumis.Jadi, bulu-bulu ini hendaknya dihilangkan. Yakni, kumis bisa dipotong.Bulu ketiak bisa dipotong atau dihilangkan.Bulu kemaluan bisa dipotong atau dihilangkan. Yang penting, apa?Yang penting dia menghilangkannya dengan cara apa pun.Yang penting tidak dibiarkan panjang dalam waktu lama,sebagaimana diriwayatkan bahwa bulu-bulu ini dibatasi sampai empat puluh hari. ==== هَلْ إِزَالَةُ شَعْرِ الْعَانَةِ وَالْإِبْطِ بِمُزِيلٍ؟ هَلْ فِيهِ حُرْمَةٌ ؟ لَا لَا مَا فِي إِشْكَالٍ لِذَلِكَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَمَّا سُئِلَ عَنِ الْإِبْطِ قَالَ: النَّتْفُ يُنْتَفُ الْإِبْطُ نَتْفًا قَالَ: لَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ قَالَ: يُزَالُ لِأَنَّهُ لَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْتِفَ لِأَنَّهُ فِيهِ أَلَمٌ النَّتْفُ قَالَ: يُزَالُ الْمُهِمُّ أَنَّهُ يُزَالُ شَعْرُ الْعَانَةِ شَعْرُ الْإِبْطِ شَعْرُ الشَّارِبِ يَعْنِي هَذِهِ الشُّعُورُ تُزَالُ يَعْنِي الشَّارِبُ يُقَصُّ الْإِبْطُ يُقَصُّ أَوْ يُزَالُ الْعَانَةُ تُقَصُّ أَوْ تُزَالُ الْمُهِمُّ أَنَّهُ أَيشْ؟ أَنَّهُ يُزِيلُهُ بِأَيِّ مُزِيلٍ الْمُهِمُّ أَنَّهُ لَا يَبْقَى مُدَّةً طَوِيلَةً كَمَا جَاءَ أَنَّهُ لَا حَدَّ إِلَى الْأَرْبَعِيْنَ يَوْمًا هَذِهِ الشُّعُورُ

Menghilangkan Bulu Kemaluan & Ketiak dengan Perontok Bolehkah? – Syaikh Utsman al-Khamis

Bolehkah menghilangkan bulu kemaluan dan ketiakdengan perontok bulu?Apakah terlarang? Tidak, tidak jadi masalah. Itulah sebabnya ketika Imam Ahmad —semoga Allah Merahmatinya— ditanyatentang bulu ketiak, beliau berkata, “Cabut, dicabut.”Jadi, bulu ketiak dicabut. Dia berkata, “Tapi tidak semua orang bisa melakukannya.”Maka dijawab, “Hilangkan saja,”karena tidak semua orang mampu mencabutnya,karena mencabut itu sakit. Beliau jawab, “Hilangkan saja,” yang penting dihilangkanrambut di kemaluan, ketiak, dan kumis.Jadi, bulu-bulu ini hendaknya dihilangkan. Yakni, kumis bisa dipotong.Bulu ketiak bisa dipotong atau dihilangkan.Bulu kemaluan bisa dipotong atau dihilangkan. Yang penting, apa?Yang penting dia menghilangkannya dengan cara apa pun.Yang penting tidak dibiarkan panjang dalam waktu lama,sebagaimana diriwayatkan bahwa bulu-bulu ini dibatasi sampai empat puluh hari. ==== هَلْ إِزَالَةُ شَعْرِ الْعَانَةِ وَالْإِبْطِ بِمُزِيلٍ؟ هَلْ فِيهِ حُرْمَةٌ ؟ لَا لَا مَا فِي إِشْكَالٍ لِذَلِكَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَمَّا سُئِلَ عَنِ الْإِبْطِ قَالَ: النَّتْفُ يُنْتَفُ الْإِبْطُ نَتْفًا قَالَ: لَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ قَالَ: يُزَالُ لِأَنَّهُ لَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْتِفَ لِأَنَّهُ فِيهِ أَلَمٌ النَّتْفُ قَالَ: يُزَالُ الْمُهِمُّ أَنَّهُ يُزَالُ شَعْرُ الْعَانَةِ شَعْرُ الْإِبْطِ شَعْرُ الشَّارِبِ يَعْنِي هَذِهِ الشُّعُورُ تُزَالُ يَعْنِي الشَّارِبُ يُقَصُّ الْإِبْطُ يُقَصُّ أَوْ يُزَالُ الْعَانَةُ تُقَصُّ أَوْ تُزَالُ الْمُهِمُّ أَنَّهُ أَيشْ؟ أَنَّهُ يُزِيلُهُ بِأَيِّ مُزِيلٍ الْمُهِمُّ أَنَّهُ لَا يَبْقَى مُدَّةً طَوِيلَةً كَمَا جَاءَ أَنَّهُ لَا حَدَّ إِلَى الْأَرْبَعِيْنَ يَوْمًا هَذِهِ الشُّعُورُ
Bolehkah menghilangkan bulu kemaluan dan ketiakdengan perontok bulu?Apakah terlarang? Tidak, tidak jadi masalah. Itulah sebabnya ketika Imam Ahmad —semoga Allah Merahmatinya— ditanyatentang bulu ketiak, beliau berkata, “Cabut, dicabut.”Jadi, bulu ketiak dicabut. Dia berkata, “Tapi tidak semua orang bisa melakukannya.”Maka dijawab, “Hilangkan saja,”karena tidak semua orang mampu mencabutnya,karena mencabut itu sakit. Beliau jawab, “Hilangkan saja,” yang penting dihilangkanrambut di kemaluan, ketiak, dan kumis.Jadi, bulu-bulu ini hendaknya dihilangkan. Yakni, kumis bisa dipotong.Bulu ketiak bisa dipotong atau dihilangkan.Bulu kemaluan bisa dipotong atau dihilangkan. Yang penting, apa?Yang penting dia menghilangkannya dengan cara apa pun.Yang penting tidak dibiarkan panjang dalam waktu lama,sebagaimana diriwayatkan bahwa bulu-bulu ini dibatasi sampai empat puluh hari. ==== هَلْ إِزَالَةُ شَعْرِ الْعَانَةِ وَالْإِبْطِ بِمُزِيلٍ؟ هَلْ فِيهِ حُرْمَةٌ ؟ لَا لَا مَا فِي إِشْكَالٍ لِذَلِكَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَمَّا سُئِلَ عَنِ الْإِبْطِ قَالَ: النَّتْفُ يُنْتَفُ الْإِبْطُ نَتْفًا قَالَ: لَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ قَالَ: يُزَالُ لِأَنَّهُ لَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْتِفَ لِأَنَّهُ فِيهِ أَلَمٌ النَّتْفُ قَالَ: يُزَالُ الْمُهِمُّ أَنَّهُ يُزَالُ شَعْرُ الْعَانَةِ شَعْرُ الْإِبْطِ شَعْرُ الشَّارِبِ يَعْنِي هَذِهِ الشُّعُورُ تُزَالُ يَعْنِي الشَّارِبُ يُقَصُّ الْإِبْطُ يُقَصُّ أَوْ يُزَالُ الْعَانَةُ تُقَصُّ أَوْ تُزَالُ الْمُهِمُّ أَنَّهُ أَيشْ؟ أَنَّهُ يُزِيلُهُ بِأَيِّ مُزِيلٍ الْمُهِمُّ أَنَّهُ لَا يَبْقَى مُدَّةً طَوِيلَةً كَمَا جَاءَ أَنَّهُ لَا حَدَّ إِلَى الْأَرْبَعِيْنَ يَوْمًا هَذِهِ الشُّعُورُ


Bolehkah menghilangkan bulu kemaluan dan ketiakdengan perontok bulu?Apakah terlarang? Tidak, tidak jadi masalah. Itulah sebabnya ketika Imam Ahmad —semoga Allah Merahmatinya— ditanyatentang bulu ketiak, beliau berkata, “Cabut, dicabut.”Jadi, bulu ketiak dicabut. Dia berkata, “Tapi tidak semua orang bisa melakukannya.”Maka dijawab, “Hilangkan saja,”karena tidak semua orang mampu mencabutnya,karena mencabut itu sakit. Beliau jawab, “Hilangkan saja,” yang penting dihilangkanrambut di kemaluan, ketiak, dan kumis.Jadi, bulu-bulu ini hendaknya dihilangkan. Yakni, kumis bisa dipotong.Bulu ketiak bisa dipotong atau dihilangkan.Bulu kemaluan bisa dipotong atau dihilangkan. Yang penting, apa?Yang penting dia menghilangkannya dengan cara apa pun.Yang penting tidak dibiarkan panjang dalam waktu lama,sebagaimana diriwayatkan bahwa bulu-bulu ini dibatasi sampai empat puluh hari. ==== هَلْ إِزَالَةُ شَعْرِ الْعَانَةِ وَالْإِبْطِ بِمُزِيلٍ؟ هَلْ فِيهِ حُرْمَةٌ ؟ لَا لَا مَا فِي إِشْكَالٍ لِذَلِكَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَمَّا سُئِلَ عَنِ الْإِبْطِ قَالَ: النَّتْفُ يُنْتَفُ الْإِبْطُ نَتْفًا قَالَ: لَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ قَالَ: يُزَالُ لِأَنَّهُ لَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْتِفَ لِأَنَّهُ فِيهِ أَلَمٌ النَّتْفُ قَالَ: يُزَالُ الْمُهِمُّ أَنَّهُ يُزَالُ شَعْرُ الْعَانَةِ شَعْرُ الْإِبْطِ شَعْرُ الشَّارِبِ يَعْنِي هَذِهِ الشُّعُورُ تُزَالُ يَعْنِي الشَّارِبُ يُقَصُّ الْإِبْطُ يُقَصُّ أَوْ يُزَالُ الْعَانَةُ تُقَصُّ أَوْ تُزَالُ الْمُهِمُّ أَنَّهُ أَيشْ؟ أَنَّهُ يُزِيلُهُ بِأَيِّ مُزِيلٍ الْمُهِمُّ أَنَّهُ لَا يَبْقَى مُدَّةً طَوِيلَةً كَمَا جَاءَ أَنَّهُ لَا حَدَّ إِلَى الْأَرْبَعِيْنَ يَوْمًا هَذِهِ الشُّعُورُ

Hukum Membersihkan Makam

Pertanyaan: Apakah diperbolehkan membersihkan makam orang tua saya? Semisal hanya sekedar mencabuti rumput yang ada di sana atau membersihkan dedaunan dan sampah-sampah yang ada di sana? Apakah terlarang dan termasuk kesyirikan? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, amma ba’du. Wajib untuk menjaga kehormatan mayit, tidak boleh melakukan perbuatan yang merendahkan mayit. Sebagaimana kita wajib menjaga kehormatan orang yang masih hidup. Oleh karena itu kita dilarang untuk menduduki kuburan. Dalam hadits dari Jabir radhiyallahu’anhu, beliau berkata: نَهَى أن يقعدَ على القَبرِ، وأن يُقصَّصَ ويُبنَى علَيهِ زادَ في روايةٍ أو يُزادَ علَيهِ، وفي أخرى أو أن يُكْتبَ علَيهِ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang kuburan diduduki, dikapur, dan dibangun. Dalam riwayat lain, beliau melarang kuburan ditinggikan. Dalam riwayat yang lain, beliau melarang kuburan ditulis.” (HR. Muslim no. 970). Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Siapa yang mentadabburi tentang larangan duduk di atas kuburan, atau bersandar pada kuburan, atau menginjak kuburan, maka ia akan mengetahui bahwa semua larangan tersebut dalam rangka menghormati penghuninya (yaitu si mayit). Agar para peziarah tidak menginjak kepala penghuni kubur tersebut dengan sandalnya” (Dinukil dari Al-Mulakhos Al-Fiqhi, hal 165). Dengan demikian, jika membersihkan kuburan itu dalam rangka menjaga kehormatan mayit, sehingga kuburannya tidak terinjak dan tidak diduduki, ini perkara yang baik.  Begitu pula, jika kuburan dibersihkan agar tidak ada gangguan bagi orang yang berziarah kubur, maka ini adalah kebaikan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, ينبغي هذا؛ لأنها تؤذي الزوار فينبغي قطعها إذا وجد شجر على المقابر ولاسيما ذات الشوك ينبغي إزالتها، وهكذا إذا كانت قد يظن منها أن صاحبها ولي عند بعض العامة أو صاحبها يعني يدعى من دون الله، ينبغي أن تزال حتى لا يظن في صاحب القبر خلاف الحق، فإذا كان وجود أشياء قد يسبب شراً “Membersihkan kuburan hendaknya dilakukan, karena adanya tanaman liar akan mengganggu orang-orang yang berziarah. Maka hendaknya dipotong jika ada tanaman yang berada di atas pemakaman. Lebih lagi tanaman yang berduri, maka sudah semestinya dihilangkan. Demikian juga jika ada keyakinan tahayul bahwa penghuni kubur telah memerintahkan seseorang untuk membersihkan kuburnya, atau meyakini bahwa kuburnya boleh dijadikan tujuan berdoa selain Allah, maka hendaknya dibersihkan sendiri tanamannya untuk mencegah adanya keyakinan yang tidak benar. Karena segala sesuatu yang bisa menyebabkan keburukan hendaknya dihilangkan.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no. 146). Dewan Fatwa Islamweb juga menjelaskan: أما تنظيف المقابر من الأشجار والنباتات فلم نطلع على ما يدل على أنه مطلوب ولا على ما يدل على أنه ممنوع، فيبقى على الإباحة وخاصة إذا كان فيه منفعة. “Adapun membersihkan kuburan dari pepohonan dan rerumputan, kami tidak mendapat adanya perintah syariat dan tidak mendapati adanya larangan syariat. Sehingga hukumnya kembali kepada mubah (boleh), terlebih lagi jika ada manfaatnya” (Fatwa Islamweb no. 61833). Namun membersihkan kuburan tidak boleh berlebihan sehingga sampai menghiasi kuburan dengan pepohonan dan hiasan yang indah. Karena hal tersebut akan membuat peziarah mengagungkan kuburan dan menjerumuskan kepada keyakinan-keyakinan yang tidak benar. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau mengatakan, لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ وَالْمُتّخِذِيْنَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسّرُجَ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat para wanita yang sering berziarah kubur, serta orang-orang yang membuat kuburan sebagai tempat ibadah dan yang memberi lampu penerangan pada kuburannya.” (HR. Abu Daud no. 3236, At-Tirmidzi no. 320, An-Nasai no. 2043, dishahihkan Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad [4/354]). Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: الوقف على القبور إن كان لرفعها أو تزيينها فلا شك في بطلانه ، وأشد من ذلك ما يجلب الفتنة على زائرها كوضع الستور الفائقة والأحجار النفيسة ونحو ذلك ؛ فإن هذا مما يوجب أن يعظم صاحب ذلك القبر في صدر زائره من العوام فيعتقد فيه ما لا يجوز “Wakaf harta untuk kuburan, jika digunakan untuk meninggikan kuburan atau menghiasi kuburan, maka tidak ragu lagi kebatilannya. Dan lebih parah lagi, perkara yang menimbulkan fitnah (penyimpangan) pada para peziarah, seperti menaruh tirai tebal pada kuburan, atau menaruh batu-batu berharga pada kuburan, dan semisalnya, dan perkara-perkara yang membuat penghuni kubur menjadi diagungkan di hati para peziarah yang awam, sehingga mereka meyakini keyakinan yang tidak benar” (Ad-Darari Al-Mudhiyyah, 2/301). Syaikh Muhammad bin Ibrahim juga menjelaskan: أما تشجير المقبرة فهو لا يجوز ، وفيه تشبه بعمل النصارى الذين يجعلون مقابرهم أشبه ما تكون بالحدائق ، فيجب إزالتها ، وإزالة صنابير الماء التي وضعت لسقيها ، ويبقى من الصنابير ما يحتاج إليه للشرب وتليين التربة .وأما إضاءة المقبرة فيخشى أن يجر ذلك إلى إسراج القبور الذي لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاعله ، ولا سيما ونفوس الجهال تتعلق كثيراً بالخرافات ، فتزال هذه الأنوار سداً للذريعة “Adapun menanam pohon di kuburan, ini hukumnya tidak boleh. Dalam perbuatan ini juga terdapat unsur tasyabbuh kepada orang-orang Nasrani yang mereka menjadikan kuburan seperti taman-taman. Maka wajib menghilangkan pepohonan yang demikian. Dan menghilangkan keran-keran air yang digunakan untuk mengairi pepohonan tersebut. Namun yang boleh adalah keran yang digunakan untuk minum atau untuk melembutkan tanah. Demikian juga tidak boleh menerangi kuburan dengan lampu-lampu hias, sehingga dikhawatirkan hal ini akan termasuk perbuatan menerangi kuburan yang pelakunya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Terlebih lagi bagi orang-orang awam, akan timbul keyakinan-keyakinan khurafat pada diri mereka. Maka hendaknya menghilangkan lampu-lampu tersebut untuk menutup celah kepada keburukan.” (Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 3/161). Demikian juga tidak diperbolehkan mengkhususkan waktu untuk membersihkan kuburan pada hari-hari tertentu, seperti menjelang Ramadhan atau menjelang hari raya. Karena perbuatan seperti ini didasari atas keyakinan tertentu yang tidak ada dasarnya dalam syariat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:  ولم يرد أنه صلى الله عليه وسلم يخص المقبرة بزيارةٍ بعد صلاة العيد وعلى هذا فتخصيصها بهذا اليوم أو الذهاب إلى المقبرة في هذا اليوم يعتبر من البدع التي لا يجوز للمرء أن يتقيد بها وإن كان الأصل أن الزيارة مشروعة ولكن تخصيصها في هذا اليوم أو فيما بعد الصلاة هو من البدع “Tidak terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu tertentu untuk berziarah kubur setelah shalat ‘id. Berdasarkan hal ini, maka mengkhususkan ziarah kubur di hari itu atau pergi ke pemakaman di hari itu, termasuk perbuatan bid’ah yang tidak boleh bagi seseorang untuk meyakininya. Walaupun pada asalnya, ziarah kubur itu adalah perbuatan disyariatkan. Akan tetapi, ketika ziarah kubur tersebut dikhususkan di hari ‘id atau setelah shalat ‘id, maka ini termasuk kebidahan” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 3/40). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Fasik Adalah, Dalil Tentang Perceraian, Hukum Aqiqah Anak Yang Sudah Meninggal, Tata Cara Berhubungan Suami Istri Sesuai Dengan Syariat Islam, Orang Kawin Di Kamar Mandi, Talak 1 Menurut Islam Visited 1,866 times, 11 visit(s) today Post Views: 671 QRIS donasi Yufid

Hukum Membersihkan Makam

Pertanyaan: Apakah diperbolehkan membersihkan makam orang tua saya? Semisal hanya sekedar mencabuti rumput yang ada di sana atau membersihkan dedaunan dan sampah-sampah yang ada di sana? Apakah terlarang dan termasuk kesyirikan? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, amma ba’du. Wajib untuk menjaga kehormatan mayit, tidak boleh melakukan perbuatan yang merendahkan mayit. Sebagaimana kita wajib menjaga kehormatan orang yang masih hidup. Oleh karena itu kita dilarang untuk menduduki kuburan. Dalam hadits dari Jabir radhiyallahu’anhu, beliau berkata: نَهَى أن يقعدَ على القَبرِ، وأن يُقصَّصَ ويُبنَى علَيهِ زادَ في روايةٍ أو يُزادَ علَيهِ، وفي أخرى أو أن يُكْتبَ علَيهِ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang kuburan diduduki, dikapur, dan dibangun. Dalam riwayat lain, beliau melarang kuburan ditinggikan. Dalam riwayat yang lain, beliau melarang kuburan ditulis.” (HR. Muslim no. 970). Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Siapa yang mentadabburi tentang larangan duduk di atas kuburan, atau bersandar pada kuburan, atau menginjak kuburan, maka ia akan mengetahui bahwa semua larangan tersebut dalam rangka menghormati penghuninya (yaitu si mayit). Agar para peziarah tidak menginjak kepala penghuni kubur tersebut dengan sandalnya” (Dinukil dari Al-Mulakhos Al-Fiqhi, hal 165). Dengan demikian, jika membersihkan kuburan itu dalam rangka menjaga kehormatan mayit, sehingga kuburannya tidak terinjak dan tidak diduduki, ini perkara yang baik.  Begitu pula, jika kuburan dibersihkan agar tidak ada gangguan bagi orang yang berziarah kubur, maka ini adalah kebaikan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, ينبغي هذا؛ لأنها تؤذي الزوار فينبغي قطعها إذا وجد شجر على المقابر ولاسيما ذات الشوك ينبغي إزالتها، وهكذا إذا كانت قد يظن منها أن صاحبها ولي عند بعض العامة أو صاحبها يعني يدعى من دون الله، ينبغي أن تزال حتى لا يظن في صاحب القبر خلاف الحق، فإذا كان وجود أشياء قد يسبب شراً “Membersihkan kuburan hendaknya dilakukan, karena adanya tanaman liar akan mengganggu orang-orang yang berziarah. Maka hendaknya dipotong jika ada tanaman yang berada di atas pemakaman. Lebih lagi tanaman yang berduri, maka sudah semestinya dihilangkan. Demikian juga jika ada keyakinan tahayul bahwa penghuni kubur telah memerintahkan seseorang untuk membersihkan kuburnya, atau meyakini bahwa kuburnya boleh dijadikan tujuan berdoa selain Allah, maka hendaknya dibersihkan sendiri tanamannya untuk mencegah adanya keyakinan yang tidak benar. Karena segala sesuatu yang bisa menyebabkan keburukan hendaknya dihilangkan.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no. 146). Dewan Fatwa Islamweb juga menjelaskan: أما تنظيف المقابر من الأشجار والنباتات فلم نطلع على ما يدل على أنه مطلوب ولا على ما يدل على أنه ممنوع، فيبقى على الإباحة وخاصة إذا كان فيه منفعة. “Adapun membersihkan kuburan dari pepohonan dan rerumputan, kami tidak mendapat adanya perintah syariat dan tidak mendapati adanya larangan syariat. Sehingga hukumnya kembali kepada mubah (boleh), terlebih lagi jika ada manfaatnya” (Fatwa Islamweb no. 61833). Namun membersihkan kuburan tidak boleh berlebihan sehingga sampai menghiasi kuburan dengan pepohonan dan hiasan yang indah. Karena hal tersebut akan membuat peziarah mengagungkan kuburan dan menjerumuskan kepada keyakinan-keyakinan yang tidak benar. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau mengatakan, لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ وَالْمُتّخِذِيْنَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسّرُجَ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat para wanita yang sering berziarah kubur, serta orang-orang yang membuat kuburan sebagai tempat ibadah dan yang memberi lampu penerangan pada kuburannya.” (HR. Abu Daud no. 3236, At-Tirmidzi no. 320, An-Nasai no. 2043, dishahihkan Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad [4/354]). Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: الوقف على القبور إن كان لرفعها أو تزيينها فلا شك في بطلانه ، وأشد من ذلك ما يجلب الفتنة على زائرها كوضع الستور الفائقة والأحجار النفيسة ونحو ذلك ؛ فإن هذا مما يوجب أن يعظم صاحب ذلك القبر في صدر زائره من العوام فيعتقد فيه ما لا يجوز “Wakaf harta untuk kuburan, jika digunakan untuk meninggikan kuburan atau menghiasi kuburan, maka tidak ragu lagi kebatilannya. Dan lebih parah lagi, perkara yang menimbulkan fitnah (penyimpangan) pada para peziarah, seperti menaruh tirai tebal pada kuburan, atau menaruh batu-batu berharga pada kuburan, dan semisalnya, dan perkara-perkara yang membuat penghuni kubur menjadi diagungkan di hati para peziarah yang awam, sehingga mereka meyakini keyakinan yang tidak benar” (Ad-Darari Al-Mudhiyyah, 2/301). Syaikh Muhammad bin Ibrahim juga menjelaskan: أما تشجير المقبرة فهو لا يجوز ، وفيه تشبه بعمل النصارى الذين يجعلون مقابرهم أشبه ما تكون بالحدائق ، فيجب إزالتها ، وإزالة صنابير الماء التي وضعت لسقيها ، ويبقى من الصنابير ما يحتاج إليه للشرب وتليين التربة .وأما إضاءة المقبرة فيخشى أن يجر ذلك إلى إسراج القبور الذي لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاعله ، ولا سيما ونفوس الجهال تتعلق كثيراً بالخرافات ، فتزال هذه الأنوار سداً للذريعة “Adapun menanam pohon di kuburan, ini hukumnya tidak boleh. Dalam perbuatan ini juga terdapat unsur tasyabbuh kepada orang-orang Nasrani yang mereka menjadikan kuburan seperti taman-taman. Maka wajib menghilangkan pepohonan yang demikian. Dan menghilangkan keran-keran air yang digunakan untuk mengairi pepohonan tersebut. Namun yang boleh adalah keran yang digunakan untuk minum atau untuk melembutkan tanah. Demikian juga tidak boleh menerangi kuburan dengan lampu-lampu hias, sehingga dikhawatirkan hal ini akan termasuk perbuatan menerangi kuburan yang pelakunya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Terlebih lagi bagi orang-orang awam, akan timbul keyakinan-keyakinan khurafat pada diri mereka. Maka hendaknya menghilangkan lampu-lampu tersebut untuk menutup celah kepada keburukan.” (Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 3/161). Demikian juga tidak diperbolehkan mengkhususkan waktu untuk membersihkan kuburan pada hari-hari tertentu, seperti menjelang Ramadhan atau menjelang hari raya. Karena perbuatan seperti ini didasari atas keyakinan tertentu yang tidak ada dasarnya dalam syariat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:  ولم يرد أنه صلى الله عليه وسلم يخص المقبرة بزيارةٍ بعد صلاة العيد وعلى هذا فتخصيصها بهذا اليوم أو الذهاب إلى المقبرة في هذا اليوم يعتبر من البدع التي لا يجوز للمرء أن يتقيد بها وإن كان الأصل أن الزيارة مشروعة ولكن تخصيصها في هذا اليوم أو فيما بعد الصلاة هو من البدع “Tidak terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu tertentu untuk berziarah kubur setelah shalat ‘id. Berdasarkan hal ini, maka mengkhususkan ziarah kubur di hari itu atau pergi ke pemakaman di hari itu, termasuk perbuatan bid’ah yang tidak boleh bagi seseorang untuk meyakininya. Walaupun pada asalnya, ziarah kubur itu adalah perbuatan disyariatkan. Akan tetapi, ketika ziarah kubur tersebut dikhususkan di hari ‘id atau setelah shalat ‘id, maka ini termasuk kebidahan” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 3/40). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Fasik Adalah, Dalil Tentang Perceraian, Hukum Aqiqah Anak Yang Sudah Meninggal, Tata Cara Berhubungan Suami Istri Sesuai Dengan Syariat Islam, Orang Kawin Di Kamar Mandi, Talak 1 Menurut Islam Visited 1,866 times, 11 visit(s) today Post Views: 671 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apakah diperbolehkan membersihkan makam orang tua saya? Semisal hanya sekedar mencabuti rumput yang ada di sana atau membersihkan dedaunan dan sampah-sampah yang ada di sana? Apakah terlarang dan termasuk kesyirikan? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, amma ba’du. Wajib untuk menjaga kehormatan mayit, tidak boleh melakukan perbuatan yang merendahkan mayit. Sebagaimana kita wajib menjaga kehormatan orang yang masih hidup. Oleh karena itu kita dilarang untuk menduduki kuburan. Dalam hadits dari Jabir radhiyallahu’anhu, beliau berkata: نَهَى أن يقعدَ على القَبرِ، وأن يُقصَّصَ ويُبنَى علَيهِ زادَ في روايةٍ أو يُزادَ علَيهِ، وفي أخرى أو أن يُكْتبَ علَيهِ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang kuburan diduduki, dikapur, dan dibangun. Dalam riwayat lain, beliau melarang kuburan ditinggikan. Dalam riwayat yang lain, beliau melarang kuburan ditulis.” (HR. Muslim no. 970). Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Siapa yang mentadabburi tentang larangan duduk di atas kuburan, atau bersandar pada kuburan, atau menginjak kuburan, maka ia akan mengetahui bahwa semua larangan tersebut dalam rangka menghormati penghuninya (yaitu si mayit). Agar para peziarah tidak menginjak kepala penghuni kubur tersebut dengan sandalnya” (Dinukil dari Al-Mulakhos Al-Fiqhi, hal 165). Dengan demikian, jika membersihkan kuburan itu dalam rangka menjaga kehormatan mayit, sehingga kuburannya tidak terinjak dan tidak diduduki, ini perkara yang baik.  Begitu pula, jika kuburan dibersihkan agar tidak ada gangguan bagi orang yang berziarah kubur, maka ini adalah kebaikan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, ينبغي هذا؛ لأنها تؤذي الزوار فينبغي قطعها إذا وجد شجر على المقابر ولاسيما ذات الشوك ينبغي إزالتها، وهكذا إذا كانت قد يظن منها أن صاحبها ولي عند بعض العامة أو صاحبها يعني يدعى من دون الله، ينبغي أن تزال حتى لا يظن في صاحب القبر خلاف الحق، فإذا كان وجود أشياء قد يسبب شراً “Membersihkan kuburan hendaknya dilakukan, karena adanya tanaman liar akan mengganggu orang-orang yang berziarah. Maka hendaknya dipotong jika ada tanaman yang berada di atas pemakaman. Lebih lagi tanaman yang berduri, maka sudah semestinya dihilangkan. Demikian juga jika ada keyakinan tahayul bahwa penghuni kubur telah memerintahkan seseorang untuk membersihkan kuburnya, atau meyakini bahwa kuburnya boleh dijadikan tujuan berdoa selain Allah, maka hendaknya dibersihkan sendiri tanamannya untuk mencegah adanya keyakinan yang tidak benar. Karena segala sesuatu yang bisa menyebabkan keburukan hendaknya dihilangkan.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no. 146). Dewan Fatwa Islamweb juga menjelaskan: أما تنظيف المقابر من الأشجار والنباتات فلم نطلع على ما يدل على أنه مطلوب ولا على ما يدل على أنه ممنوع، فيبقى على الإباحة وخاصة إذا كان فيه منفعة. “Adapun membersihkan kuburan dari pepohonan dan rerumputan, kami tidak mendapat adanya perintah syariat dan tidak mendapati adanya larangan syariat. Sehingga hukumnya kembali kepada mubah (boleh), terlebih lagi jika ada manfaatnya” (Fatwa Islamweb no. 61833). Namun membersihkan kuburan tidak boleh berlebihan sehingga sampai menghiasi kuburan dengan pepohonan dan hiasan yang indah. Karena hal tersebut akan membuat peziarah mengagungkan kuburan dan menjerumuskan kepada keyakinan-keyakinan yang tidak benar. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau mengatakan, لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ وَالْمُتّخِذِيْنَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسّرُجَ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat para wanita yang sering berziarah kubur, serta orang-orang yang membuat kuburan sebagai tempat ibadah dan yang memberi lampu penerangan pada kuburannya.” (HR. Abu Daud no. 3236, At-Tirmidzi no. 320, An-Nasai no. 2043, dishahihkan Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad [4/354]). Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: الوقف على القبور إن كان لرفعها أو تزيينها فلا شك في بطلانه ، وأشد من ذلك ما يجلب الفتنة على زائرها كوضع الستور الفائقة والأحجار النفيسة ونحو ذلك ؛ فإن هذا مما يوجب أن يعظم صاحب ذلك القبر في صدر زائره من العوام فيعتقد فيه ما لا يجوز “Wakaf harta untuk kuburan, jika digunakan untuk meninggikan kuburan atau menghiasi kuburan, maka tidak ragu lagi kebatilannya. Dan lebih parah lagi, perkara yang menimbulkan fitnah (penyimpangan) pada para peziarah, seperti menaruh tirai tebal pada kuburan, atau menaruh batu-batu berharga pada kuburan, dan semisalnya, dan perkara-perkara yang membuat penghuni kubur menjadi diagungkan di hati para peziarah yang awam, sehingga mereka meyakini keyakinan yang tidak benar” (Ad-Darari Al-Mudhiyyah, 2/301). Syaikh Muhammad bin Ibrahim juga menjelaskan: أما تشجير المقبرة فهو لا يجوز ، وفيه تشبه بعمل النصارى الذين يجعلون مقابرهم أشبه ما تكون بالحدائق ، فيجب إزالتها ، وإزالة صنابير الماء التي وضعت لسقيها ، ويبقى من الصنابير ما يحتاج إليه للشرب وتليين التربة .وأما إضاءة المقبرة فيخشى أن يجر ذلك إلى إسراج القبور الذي لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاعله ، ولا سيما ونفوس الجهال تتعلق كثيراً بالخرافات ، فتزال هذه الأنوار سداً للذريعة “Adapun menanam pohon di kuburan, ini hukumnya tidak boleh. Dalam perbuatan ini juga terdapat unsur tasyabbuh kepada orang-orang Nasrani yang mereka menjadikan kuburan seperti taman-taman. Maka wajib menghilangkan pepohonan yang demikian. Dan menghilangkan keran-keran air yang digunakan untuk mengairi pepohonan tersebut. Namun yang boleh adalah keran yang digunakan untuk minum atau untuk melembutkan tanah. Demikian juga tidak boleh menerangi kuburan dengan lampu-lampu hias, sehingga dikhawatirkan hal ini akan termasuk perbuatan menerangi kuburan yang pelakunya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Terlebih lagi bagi orang-orang awam, akan timbul keyakinan-keyakinan khurafat pada diri mereka. Maka hendaknya menghilangkan lampu-lampu tersebut untuk menutup celah kepada keburukan.” (Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 3/161). Demikian juga tidak diperbolehkan mengkhususkan waktu untuk membersihkan kuburan pada hari-hari tertentu, seperti menjelang Ramadhan atau menjelang hari raya. Karena perbuatan seperti ini didasari atas keyakinan tertentu yang tidak ada dasarnya dalam syariat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:  ولم يرد أنه صلى الله عليه وسلم يخص المقبرة بزيارةٍ بعد صلاة العيد وعلى هذا فتخصيصها بهذا اليوم أو الذهاب إلى المقبرة في هذا اليوم يعتبر من البدع التي لا يجوز للمرء أن يتقيد بها وإن كان الأصل أن الزيارة مشروعة ولكن تخصيصها في هذا اليوم أو فيما بعد الصلاة هو من البدع “Tidak terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu tertentu untuk berziarah kubur setelah shalat ‘id. Berdasarkan hal ini, maka mengkhususkan ziarah kubur di hari itu atau pergi ke pemakaman di hari itu, termasuk perbuatan bid’ah yang tidak boleh bagi seseorang untuk meyakininya. Walaupun pada asalnya, ziarah kubur itu adalah perbuatan disyariatkan. Akan tetapi, ketika ziarah kubur tersebut dikhususkan di hari ‘id atau setelah shalat ‘id, maka ini termasuk kebidahan” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 3/40). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Fasik Adalah, Dalil Tentang Perceraian, Hukum Aqiqah Anak Yang Sudah Meninggal, Tata Cara Berhubungan Suami Istri Sesuai Dengan Syariat Islam, Orang Kawin Di Kamar Mandi, Talak 1 Menurut Islam Visited 1,866 times, 11 visit(s) today Post Views: 671 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Apakah diperbolehkan membersihkan makam orang tua saya? Semisal hanya sekedar mencabuti rumput yang ada di sana atau membersihkan dedaunan dan sampah-sampah yang ada di sana? Apakah terlarang dan termasuk kesyirikan? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, amma ba’du. Wajib untuk menjaga kehormatan mayit, tidak boleh melakukan perbuatan yang merendahkan mayit. Sebagaimana kita wajib menjaga kehormatan orang yang masih hidup. Oleh karena itu kita dilarang untuk menduduki kuburan. Dalam hadits dari Jabir radhiyallahu’anhu, beliau berkata: نَهَى أن يقعدَ على القَبرِ، وأن يُقصَّصَ ويُبنَى علَيهِ زادَ في روايةٍ أو يُزادَ علَيهِ، وفي أخرى أو أن يُكْتبَ علَيهِ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang kuburan diduduki, dikapur, dan dibangun. Dalam riwayat lain, beliau melarang kuburan ditinggikan. Dalam riwayat yang lain, beliau melarang kuburan ditulis.” (HR. Muslim no. 970). Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Siapa yang mentadabburi tentang larangan duduk di atas kuburan, atau bersandar pada kuburan, atau menginjak kuburan, maka ia akan mengetahui bahwa semua larangan tersebut dalam rangka menghormati penghuninya (yaitu si mayit). Agar para peziarah tidak menginjak kepala penghuni kubur tersebut dengan sandalnya” (Dinukil dari Al-Mulakhos Al-Fiqhi, hal 165). Dengan demikian, jika membersihkan kuburan itu dalam rangka menjaga kehormatan mayit, sehingga kuburannya tidak terinjak dan tidak diduduki, ini perkara yang baik.  Begitu pula, jika kuburan dibersihkan agar tidak ada gangguan bagi orang yang berziarah kubur, maka ini adalah kebaikan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, ينبغي هذا؛ لأنها تؤذي الزوار فينبغي قطعها إذا وجد شجر على المقابر ولاسيما ذات الشوك ينبغي إزالتها، وهكذا إذا كانت قد يظن منها أن صاحبها ولي عند بعض العامة أو صاحبها يعني يدعى من دون الله، ينبغي أن تزال حتى لا يظن في صاحب القبر خلاف الحق، فإذا كان وجود أشياء قد يسبب شراً “Membersihkan kuburan hendaknya dilakukan, karena adanya tanaman liar akan mengganggu orang-orang yang berziarah. Maka hendaknya dipotong jika ada tanaman yang berada di atas pemakaman. Lebih lagi tanaman yang berduri, maka sudah semestinya dihilangkan. Demikian juga jika ada keyakinan tahayul bahwa penghuni kubur telah memerintahkan seseorang untuk membersihkan kuburnya, atau meyakini bahwa kuburnya boleh dijadikan tujuan berdoa selain Allah, maka hendaknya dibersihkan sendiri tanamannya untuk mencegah adanya keyakinan yang tidak benar. Karena segala sesuatu yang bisa menyebabkan keburukan hendaknya dihilangkan.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no. 146). Dewan Fatwa Islamweb juga menjelaskan: أما تنظيف المقابر من الأشجار والنباتات فلم نطلع على ما يدل على أنه مطلوب ولا على ما يدل على أنه ممنوع، فيبقى على الإباحة وخاصة إذا كان فيه منفعة. “Adapun membersihkan kuburan dari pepohonan dan rerumputan, kami tidak mendapat adanya perintah syariat dan tidak mendapati adanya larangan syariat. Sehingga hukumnya kembali kepada mubah (boleh), terlebih lagi jika ada manfaatnya” (Fatwa Islamweb no. 61833). Namun membersihkan kuburan tidak boleh berlebihan sehingga sampai menghiasi kuburan dengan pepohonan dan hiasan yang indah. Karena hal tersebut akan membuat peziarah mengagungkan kuburan dan menjerumuskan kepada keyakinan-keyakinan yang tidak benar. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau mengatakan, لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ وَالْمُتّخِذِيْنَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسّرُجَ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat para wanita yang sering berziarah kubur, serta orang-orang yang membuat kuburan sebagai tempat ibadah dan yang memberi lampu penerangan pada kuburannya.” (HR. Abu Daud no. 3236, At-Tirmidzi no. 320, An-Nasai no. 2043, dishahihkan Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad [4/354]). Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: الوقف على القبور إن كان لرفعها أو تزيينها فلا شك في بطلانه ، وأشد من ذلك ما يجلب الفتنة على زائرها كوضع الستور الفائقة والأحجار النفيسة ونحو ذلك ؛ فإن هذا مما يوجب أن يعظم صاحب ذلك القبر في صدر زائره من العوام فيعتقد فيه ما لا يجوز “Wakaf harta untuk kuburan, jika digunakan untuk meninggikan kuburan atau menghiasi kuburan, maka tidak ragu lagi kebatilannya. Dan lebih parah lagi, perkara yang menimbulkan fitnah (penyimpangan) pada para peziarah, seperti menaruh tirai tebal pada kuburan, atau menaruh batu-batu berharga pada kuburan, dan semisalnya, dan perkara-perkara yang membuat penghuni kubur menjadi diagungkan di hati para peziarah yang awam, sehingga mereka meyakini keyakinan yang tidak benar” (Ad-Darari Al-Mudhiyyah, 2/301). Syaikh Muhammad bin Ibrahim juga menjelaskan: أما تشجير المقبرة فهو لا يجوز ، وفيه تشبه بعمل النصارى الذين يجعلون مقابرهم أشبه ما تكون بالحدائق ، فيجب إزالتها ، وإزالة صنابير الماء التي وضعت لسقيها ، ويبقى من الصنابير ما يحتاج إليه للشرب وتليين التربة .وأما إضاءة المقبرة فيخشى أن يجر ذلك إلى إسراج القبور الذي لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاعله ، ولا سيما ونفوس الجهال تتعلق كثيراً بالخرافات ، فتزال هذه الأنوار سداً للذريعة “Adapun menanam pohon di kuburan, ini hukumnya tidak boleh. Dalam perbuatan ini juga terdapat unsur tasyabbuh kepada orang-orang Nasrani yang mereka menjadikan kuburan seperti taman-taman. Maka wajib menghilangkan pepohonan yang demikian. Dan menghilangkan keran-keran air yang digunakan untuk mengairi pepohonan tersebut. Namun yang boleh adalah keran yang digunakan untuk minum atau untuk melembutkan tanah. Demikian juga tidak boleh menerangi kuburan dengan lampu-lampu hias, sehingga dikhawatirkan hal ini akan termasuk perbuatan menerangi kuburan yang pelakunya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Terlebih lagi bagi orang-orang awam, akan timbul keyakinan-keyakinan khurafat pada diri mereka. Maka hendaknya menghilangkan lampu-lampu tersebut untuk menutup celah kepada keburukan.” (Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 3/161). Demikian juga tidak diperbolehkan mengkhususkan waktu untuk membersihkan kuburan pada hari-hari tertentu, seperti menjelang Ramadhan atau menjelang hari raya. Karena perbuatan seperti ini didasari atas keyakinan tertentu yang tidak ada dasarnya dalam syariat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:  ولم يرد أنه صلى الله عليه وسلم يخص المقبرة بزيارةٍ بعد صلاة العيد وعلى هذا فتخصيصها بهذا اليوم أو الذهاب إلى المقبرة في هذا اليوم يعتبر من البدع التي لا يجوز للمرء أن يتقيد بها وإن كان الأصل أن الزيارة مشروعة ولكن تخصيصها في هذا اليوم أو فيما بعد الصلاة هو من البدع “Tidak terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu tertentu untuk berziarah kubur setelah shalat ‘id. Berdasarkan hal ini, maka mengkhususkan ziarah kubur di hari itu atau pergi ke pemakaman di hari itu, termasuk perbuatan bid’ah yang tidak boleh bagi seseorang untuk meyakininya. Walaupun pada asalnya, ziarah kubur itu adalah perbuatan disyariatkan. Akan tetapi, ketika ziarah kubur tersebut dikhususkan di hari ‘id atau setelah shalat ‘id, maka ini termasuk kebidahan” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 3/40). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Fasik Adalah, Dalil Tentang Perceraian, Hukum Aqiqah Anak Yang Sudah Meninggal, Tata Cara Berhubungan Suami Istri Sesuai Dengan Syariat Islam, Orang Kawin Di Kamar Mandi, Talak 1 Menurut Islam Visited 1,866 times, 11 visit(s) today Post Views: 671 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Biografi Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma

Daftar Isi sembunyikan 1. Nama beliau 2. Kelahiran beliau 3. Kisah hidup beliau 4. Ibadah beliau 5. Keistimewaan beliau Tidaklah agama Islam sampai ke kita, kecuali dengan perantara para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Ibnu Abi Hatim rahimahullahu mengatakan,فأما أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فهم الذين شهدوا الوحي والتنزيل، وعرفوا التفسير والتأويل، وهم الذين اختارهم الله عز وجل لصحبة نبيه صلى الله عليه وسلم ونُصرته وإقامة دينه، وإظهار حقه، فرضِيهم له صحابةً، وجعلهم لنا أعلامًا وقدوة، فحفِظوا عنه صلى الله عليه وسلم ما بلغهم عن الله عز وجل، وما سنَّ وشرع، وحكم وقضى، وندب وأمر ونهى، وحظر وأدب، وعوه وأتْقنوه، ففقِهوا في الدين، وعلموا أمر الله ونهيه ومراده بمعاينة رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومشاهدتهم منه تفسير الكتاب وتأويله، وتلقُّفهم منه واستنباطهم عنه، فشرَّفهم الله عز وجل بما منَّ عليهم وأكرمهم به من وضعه إياهم موضع القدوة، فنفى عنهم الشك والكذب والغلط والريبة والغمز، وسماهم عدول الأمة“Adapun sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama, merekalah yang menyaksikan turunnya wahyu, paham tentang tafsirnya, dan mereka dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama, menolong-Nya, menegakkan agama-Nya, dan menampakkan kebenaran-Nya. Allah ridai mereka untuk membersamai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama dan Allah jadikan mereka sebagai teladan bagi kita. Mereka turut memelihara apa yang Nabi sampaikan dari Allah azza wajalla, tentang sunah, syari’at, hukum, ketetapan, anjuran, perintah, larangan, peringatan dan adab. Mereka hafalkan dan jaga benar-benar. Mereka memahami agama. Mereka mengetahui perintah Allah, larangan-Nya, dan maksudnya dengan bimbingan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menyaksikan penjelasan dan tafsir Al-Qur’an. Mereka belajar langsung kepada Nabi dan belajar bagaimana menggali hukum darinya. Allah muliakan mereka dengan karunia-Nya dan jadikan mereka suri tauladan. Dan tidaklah tersemat dalam diri mereka ragu, dusta, dan gamang. Itulah sebab mereka disebut dengan umat yang adil.” (Al-Jarh wat-Ta’dil, 1: 7)Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui tentang kehidupan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum sebagai langkah awal meneladani akhlak dan agama mereka. Dan yang sering kita dengar di dalam buku-buku hadis adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Bagaimana kehidupan beliau? Mari kita simak dan semoga bisa banyak mengambil pelajaran darinya.Nama beliauBeliau adalah Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Al-Khattab Al-Qurasyi Al-Adawiy. Ayah beliau adalah seorang sahabat senior Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dan khalifah kedua sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Sementara ibunda beliau bernama Zainab binti Madz’un bin Habib. [1]Kelahiran beliauBeliau dilahirkan dua tahun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama diutus. [2]Kisah hidup beliauAbdullah bin Umar masuk Islam saat berusia 4 tahun bersama dengan ayahnya, Umar bin Khattab, pada tahun 6 setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Beliau turut serta hijrah ke Madinah bahkan sebelum Umar bin Khattab.Ibadah beliauSuatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama pernah bersabda,“Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah (Ibnu Umar). Andaikan ia mengerjakan salat malam.” (HR. Bukhari no. 3738)Sejak mendengar ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama, Abdullah bin Umar tidak pernah meninggalkan satu malam pun, kecuali senantiasa salat di dalamnya.Nafi rahimahullahu menceritakan,كان ابن عمر يحيي بين الظهر إلى العصر“Abdullah bin Umar adalah orang yang gemar menghidupkan antara waktu Zuhur dan Asar (dengan ibadah).” [3]Dalam kesempatan yang lain, Nafi juga menyebutkan,كان ابن عمر رضي الله تعالى عنه إذا فاتته صلاة العشاء في جماعة أحيا بقية ليلته“Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu jika terlewat salat Isya berjamaah, maka beliau menebusnya dengan bangun beribadah sepanjang malam.” [4]Thawus bin Kaisan rahimahullahu mengisahkan,“Tidaklah aku melihat orang seperti Abdullah bin Umar ketika salat, bagaimana beliau menghadapkan wajahnya, telapak tangan, dan kakinya ke kiblat.” [5]Baca Juga: Biografi Ringkas Imam NawawiKeistimewaan beliauAbdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai sosok yang berupaya mengikuti setiap jejak langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Di mana Nabi pernah berpijak, beliau memijak tanah yang sama. Di mana Nabi salat, beliau pun akan turut serta salat di sana. Bahkan jika beliau mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama pernah berteduh di bawah pohon, beliau pun akan menirunya.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal banyak meriwayatkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama. Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu menyebutkan  [6] bahwa beliau radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan 2600-an hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama.Imam Malik rahimahullahu mengatakan,كان إمام الناس عندنا بعد زيد بن ثابت، عبدالله بن عمر، مكث ستين سنة يُفتي الناس“Beliau radhiyallahu ‘anhuma adalah Imam (dalam ilmu) setelah Zaid bin Tsabit. Beliau hidup 60-an tahun mengajarkan kepada manusia ilmu.” [7]Nafi’ rahimahullahu mengisahkan,كان ابن عمر وابن عباس يجلسان للناس عند مقدم الحاج، فكنت أجلس إلى هذا يومًا، وإلى هذا يومًا، فكان ابن عباس يجيب ويُفتي في كل ما سُئل عنه، وكان ابن عمر يردُّ أكثر ممَّا يُفتي“Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum biasanya membimbing manusia dalam berhaji. Kadang aku duduk di hadapan Abdullah bin Abbas dan kadang duduk di hadapan Abdullah bin Umar. Ibnu Abbas menjawab semua yang ditanyakan kepada beliau. Sementara Ibnu Umar jauh lebih banyak dari yang dijawab Ibnu Abbas.” [8]Selain itu, Abdullah bin Umar adalah sosok yang gemar berinfak. Dalam satu kesempatan [9] beliau pernah membeli 5 budak kemudian beliau mengerjakan salat. Tiba-tiba kelima budak tersebut ikut salat di belakang beliau. Beliau bertanya,“Untuk siapa salat kalian?!”Mereka pun menjawab,“Untuk Allah semata.”Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu menimpali,“Kalian adalah hamba merdeka di hadapan Zat yang kalian ibadahi.”Kemudian beliau langsung membebaskan kelimanya.Dan tentu sangat banyak teladan yang bisa kita contoh dari beliau selain yang telah tertulis di atas, yang kita harapkan bisa kita teladani dalam keseharian kita. Semoga biografi sahabat yang mulia ini bisa memberikan inspirasi kebaikan bagi pembaca. aamiinBaca Juga: Biografi Syekh Abdul Qodir Jaelani***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.AgArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Disebutkan oleh Ibnul Atsir dalam Usud Al-Ghabah, 3: 235.[2] Disebutkan oleh Ibnul Atsir dalam Usud Al-Ghabah, 3: 235.[3] Hilyatul Auliya, 1: 304.[4] Hilyatul Auliya, 1: 303.[5] Hilyatul Auliya, 1: 304.[6] Dalam Siyar A’laam An-Nubalaa, 3: 238.[7] Siyar A’laam An-Nubalaa, 3: 221.[8] Siyar A’laam An-Nubalaa, 3: 222.[9] Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan-Nihayah, 9: 6.Tags: adabAkhlakAqidahaqidah islambiografibiografi abdullah bin umarbiografi salafbiografi ulamakisah salafkisah ulamaManhajmanhaj salafnasihatnasihat islam

Biografi Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma

Daftar Isi sembunyikan 1. Nama beliau 2. Kelahiran beliau 3. Kisah hidup beliau 4. Ibadah beliau 5. Keistimewaan beliau Tidaklah agama Islam sampai ke kita, kecuali dengan perantara para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Ibnu Abi Hatim rahimahullahu mengatakan,فأما أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فهم الذين شهدوا الوحي والتنزيل، وعرفوا التفسير والتأويل، وهم الذين اختارهم الله عز وجل لصحبة نبيه صلى الله عليه وسلم ونُصرته وإقامة دينه، وإظهار حقه، فرضِيهم له صحابةً، وجعلهم لنا أعلامًا وقدوة، فحفِظوا عنه صلى الله عليه وسلم ما بلغهم عن الله عز وجل، وما سنَّ وشرع، وحكم وقضى، وندب وأمر ونهى، وحظر وأدب، وعوه وأتْقنوه، ففقِهوا في الدين، وعلموا أمر الله ونهيه ومراده بمعاينة رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومشاهدتهم منه تفسير الكتاب وتأويله، وتلقُّفهم منه واستنباطهم عنه، فشرَّفهم الله عز وجل بما منَّ عليهم وأكرمهم به من وضعه إياهم موضع القدوة، فنفى عنهم الشك والكذب والغلط والريبة والغمز، وسماهم عدول الأمة“Adapun sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama, merekalah yang menyaksikan turunnya wahyu, paham tentang tafsirnya, dan mereka dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama, menolong-Nya, menegakkan agama-Nya, dan menampakkan kebenaran-Nya. Allah ridai mereka untuk membersamai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama dan Allah jadikan mereka sebagai teladan bagi kita. Mereka turut memelihara apa yang Nabi sampaikan dari Allah azza wajalla, tentang sunah, syari’at, hukum, ketetapan, anjuran, perintah, larangan, peringatan dan adab. Mereka hafalkan dan jaga benar-benar. Mereka memahami agama. Mereka mengetahui perintah Allah, larangan-Nya, dan maksudnya dengan bimbingan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menyaksikan penjelasan dan tafsir Al-Qur’an. Mereka belajar langsung kepada Nabi dan belajar bagaimana menggali hukum darinya. Allah muliakan mereka dengan karunia-Nya dan jadikan mereka suri tauladan. Dan tidaklah tersemat dalam diri mereka ragu, dusta, dan gamang. Itulah sebab mereka disebut dengan umat yang adil.” (Al-Jarh wat-Ta’dil, 1: 7)Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui tentang kehidupan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum sebagai langkah awal meneladani akhlak dan agama mereka. Dan yang sering kita dengar di dalam buku-buku hadis adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Bagaimana kehidupan beliau? Mari kita simak dan semoga bisa banyak mengambil pelajaran darinya.Nama beliauBeliau adalah Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Al-Khattab Al-Qurasyi Al-Adawiy. Ayah beliau adalah seorang sahabat senior Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dan khalifah kedua sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Sementara ibunda beliau bernama Zainab binti Madz’un bin Habib. [1]Kelahiran beliauBeliau dilahirkan dua tahun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama diutus. [2]Kisah hidup beliauAbdullah bin Umar masuk Islam saat berusia 4 tahun bersama dengan ayahnya, Umar bin Khattab, pada tahun 6 setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Beliau turut serta hijrah ke Madinah bahkan sebelum Umar bin Khattab.Ibadah beliauSuatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama pernah bersabda,“Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah (Ibnu Umar). Andaikan ia mengerjakan salat malam.” (HR. Bukhari no. 3738)Sejak mendengar ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama, Abdullah bin Umar tidak pernah meninggalkan satu malam pun, kecuali senantiasa salat di dalamnya.Nafi rahimahullahu menceritakan,كان ابن عمر يحيي بين الظهر إلى العصر“Abdullah bin Umar adalah orang yang gemar menghidupkan antara waktu Zuhur dan Asar (dengan ibadah).” [3]Dalam kesempatan yang lain, Nafi juga menyebutkan,كان ابن عمر رضي الله تعالى عنه إذا فاتته صلاة العشاء في جماعة أحيا بقية ليلته“Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu jika terlewat salat Isya berjamaah, maka beliau menebusnya dengan bangun beribadah sepanjang malam.” [4]Thawus bin Kaisan rahimahullahu mengisahkan,“Tidaklah aku melihat orang seperti Abdullah bin Umar ketika salat, bagaimana beliau menghadapkan wajahnya, telapak tangan, dan kakinya ke kiblat.” [5]Baca Juga: Biografi Ringkas Imam NawawiKeistimewaan beliauAbdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai sosok yang berupaya mengikuti setiap jejak langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Di mana Nabi pernah berpijak, beliau memijak tanah yang sama. Di mana Nabi salat, beliau pun akan turut serta salat di sana. Bahkan jika beliau mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama pernah berteduh di bawah pohon, beliau pun akan menirunya.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal banyak meriwayatkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama. Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu menyebutkan  [6] bahwa beliau radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan 2600-an hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama.Imam Malik rahimahullahu mengatakan,كان إمام الناس عندنا بعد زيد بن ثابت، عبدالله بن عمر، مكث ستين سنة يُفتي الناس“Beliau radhiyallahu ‘anhuma adalah Imam (dalam ilmu) setelah Zaid bin Tsabit. Beliau hidup 60-an tahun mengajarkan kepada manusia ilmu.” [7]Nafi’ rahimahullahu mengisahkan,كان ابن عمر وابن عباس يجلسان للناس عند مقدم الحاج، فكنت أجلس إلى هذا يومًا، وإلى هذا يومًا، فكان ابن عباس يجيب ويُفتي في كل ما سُئل عنه، وكان ابن عمر يردُّ أكثر ممَّا يُفتي“Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum biasanya membimbing manusia dalam berhaji. Kadang aku duduk di hadapan Abdullah bin Abbas dan kadang duduk di hadapan Abdullah bin Umar. Ibnu Abbas menjawab semua yang ditanyakan kepada beliau. Sementara Ibnu Umar jauh lebih banyak dari yang dijawab Ibnu Abbas.” [8]Selain itu, Abdullah bin Umar adalah sosok yang gemar berinfak. Dalam satu kesempatan [9] beliau pernah membeli 5 budak kemudian beliau mengerjakan salat. Tiba-tiba kelima budak tersebut ikut salat di belakang beliau. Beliau bertanya,“Untuk siapa salat kalian?!”Mereka pun menjawab,“Untuk Allah semata.”Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu menimpali,“Kalian adalah hamba merdeka di hadapan Zat yang kalian ibadahi.”Kemudian beliau langsung membebaskan kelimanya.Dan tentu sangat banyak teladan yang bisa kita contoh dari beliau selain yang telah tertulis di atas, yang kita harapkan bisa kita teladani dalam keseharian kita. Semoga biografi sahabat yang mulia ini bisa memberikan inspirasi kebaikan bagi pembaca. aamiinBaca Juga: Biografi Syekh Abdul Qodir Jaelani***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.AgArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Disebutkan oleh Ibnul Atsir dalam Usud Al-Ghabah, 3: 235.[2] Disebutkan oleh Ibnul Atsir dalam Usud Al-Ghabah, 3: 235.[3] Hilyatul Auliya, 1: 304.[4] Hilyatul Auliya, 1: 303.[5] Hilyatul Auliya, 1: 304.[6] Dalam Siyar A’laam An-Nubalaa, 3: 238.[7] Siyar A’laam An-Nubalaa, 3: 221.[8] Siyar A’laam An-Nubalaa, 3: 222.[9] Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan-Nihayah, 9: 6.Tags: adabAkhlakAqidahaqidah islambiografibiografi abdullah bin umarbiografi salafbiografi ulamakisah salafkisah ulamaManhajmanhaj salafnasihatnasihat islam
Daftar Isi sembunyikan 1. Nama beliau 2. Kelahiran beliau 3. Kisah hidup beliau 4. Ibadah beliau 5. Keistimewaan beliau Tidaklah agama Islam sampai ke kita, kecuali dengan perantara para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Ibnu Abi Hatim rahimahullahu mengatakan,فأما أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فهم الذين شهدوا الوحي والتنزيل، وعرفوا التفسير والتأويل، وهم الذين اختارهم الله عز وجل لصحبة نبيه صلى الله عليه وسلم ونُصرته وإقامة دينه، وإظهار حقه، فرضِيهم له صحابةً، وجعلهم لنا أعلامًا وقدوة، فحفِظوا عنه صلى الله عليه وسلم ما بلغهم عن الله عز وجل، وما سنَّ وشرع، وحكم وقضى، وندب وأمر ونهى، وحظر وأدب، وعوه وأتْقنوه، ففقِهوا في الدين، وعلموا أمر الله ونهيه ومراده بمعاينة رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومشاهدتهم منه تفسير الكتاب وتأويله، وتلقُّفهم منه واستنباطهم عنه، فشرَّفهم الله عز وجل بما منَّ عليهم وأكرمهم به من وضعه إياهم موضع القدوة، فنفى عنهم الشك والكذب والغلط والريبة والغمز، وسماهم عدول الأمة“Adapun sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama, merekalah yang menyaksikan turunnya wahyu, paham tentang tafsirnya, dan mereka dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama, menolong-Nya, menegakkan agama-Nya, dan menampakkan kebenaran-Nya. Allah ridai mereka untuk membersamai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama dan Allah jadikan mereka sebagai teladan bagi kita. Mereka turut memelihara apa yang Nabi sampaikan dari Allah azza wajalla, tentang sunah, syari’at, hukum, ketetapan, anjuran, perintah, larangan, peringatan dan adab. Mereka hafalkan dan jaga benar-benar. Mereka memahami agama. Mereka mengetahui perintah Allah, larangan-Nya, dan maksudnya dengan bimbingan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menyaksikan penjelasan dan tafsir Al-Qur’an. Mereka belajar langsung kepada Nabi dan belajar bagaimana menggali hukum darinya. Allah muliakan mereka dengan karunia-Nya dan jadikan mereka suri tauladan. Dan tidaklah tersemat dalam diri mereka ragu, dusta, dan gamang. Itulah sebab mereka disebut dengan umat yang adil.” (Al-Jarh wat-Ta’dil, 1: 7)Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui tentang kehidupan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum sebagai langkah awal meneladani akhlak dan agama mereka. Dan yang sering kita dengar di dalam buku-buku hadis adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Bagaimana kehidupan beliau? Mari kita simak dan semoga bisa banyak mengambil pelajaran darinya.Nama beliauBeliau adalah Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Al-Khattab Al-Qurasyi Al-Adawiy. Ayah beliau adalah seorang sahabat senior Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dan khalifah kedua sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Sementara ibunda beliau bernama Zainab binti Madz’un bin Habib. [1]Kelahiran beliauBeliau dilahirkan dua tahun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama diutus. [2]Kisah hidup beliauAbdullah bin Umar masuk Islam saat berusia 4 tahun bersama dengan ayahnya, Umar bin Khattab, pada tahun 6 setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Beliau turut serta hijrah ke Madinah bahkan sebelum Umar bin Khattab.Ibadah beliauSuatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama pernah bersabda,“Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah (Ibnu Umar). Andaikan ia mengerjakan salat malam.” (HR. Bukhari no. 3738)Sejak mendengar ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama, Abdullah bin Umar tidak pernah meninggalkan satu malam pun, kecuali senantiasa salat di dalamnya.Nafi rahimahullahu menceritakan,كان ابن عمر يحيي بين الظهر إلى العصر“Abdullah bin Umar adalah orang yang gemar menghidupkan antara waktu Zuhur dan Asar (dengan ibadah).” [3]Dalam kesempatan yang lain, Nafi juga menyebutkan,كان ابن عمر رضي الله تعالى عنه إذا فاتته صلاة العشاء في جماعة أحيا بقية ليلته“Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu jika terlewat salat Isya berjamaah, maka beliau menebusnya dengan bangun beribadah sepanjang malam.” [4]Thawus bin Kaisan rahimahullahu mengisahkan,“Tidaklah aku melihat orang seperti Abdullah bin Umar ketika salat, bagaimana beliau menghadapkan wajahnya, telapak tangan, dan kakinya ke kiblat.” [5]Baca Juga: Biografi Ringkas Imam NawawiKeistimewaan beliauAbdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai sosok yang berupaya mengikuti setiap jejak langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Di mana Nabi pernah berpijak, beliau memijak tanah yang sama. Di mana Nabi salat, beliau pun akan turut serta salat di sana. Bahkan jika beliau mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama pernah berteduh di bawah pohon, beliau pun akan menirunya.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal banyak meriwayatkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama. Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu menyebutkan  [6] bahwa beliau radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan 2600-an hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama.Imam Malik rahimahullahu mengatakan,كان إمام الناس عندنا بعد زيد بن ثابت، عبدالله بن عمر، مكث ستين سنة يُفتي الناس“Beliau radhiyallahu ‘anhuma adalah Imam (dalam ilmu) setelah Zaid bin Tsabit. Beliau hidup 60-an tahun mengajarkan kepada manusia ilmu.” [7]Nafi’ rahimahullahu mengisahkan,كان ابن عمر وابن عباس يجلسان للناس عند مقدم الحاج، فكنت أجلس إلى هذا يومًا، وإلى هذا يومًا، فكان ابن عباس يجيب ويُفتي في كل ما سُئل عنه، وكان ابن عمر يردُّ أكثر ممَّا يُفتي“Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum biasanya membimbing manusia dalam berhaji. Kadang aku duduk di hadapan Abdullah bin Abbas dan kadang duduk di hadapan Abdullah bin Umar. Ibnu Abbas menjawab semua yang ditanyakan kepada beliau. Sementara Ibnu Umar jauh lebih banyak dari yang dijawab Ibnu Abbas.” [8]Selain itu, Abdullah bin Umar adalah sosok yang gemar berinfak. Dalam satu kesempatan [9] beliau pernah membeli 5 budak kemudian beliau mengerjakan salat. Tiba-tiba kelima budak tersebut ikut salat di belakang beliau. Beliau bertanya,“Untuk siapa salat kalian?!”Mereka pun menjawab,“Untuk Allah semata.”Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu menimpali,“Kalian adalah hamba merdeka di hadapan Zat yang kalian ibadahi.”Kemudian beliau langsung membebaskan kelimanya.Dan tentu sangat banyak teladan yang bisa kita contoh dari beliau selain yang telah tertulis di atas, yang kita harapkan bisa kita teladani dalam keseharian kita. Semoga biografi sahabat yang mulia ini bisa memberikan inspirasi kebaikan bagi pembaca. aamiinBaca Juga: Biografi Syekh Abdul Qodir Jaelani***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.AgArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Disebutkan oleh Ibnul Atsir dalam Usud Al-Ghabah, 3: 235.[2] Disebutkan oleh Ibnul Atsir dalam Usud Al-Ghabah, 3: 235.[3] Hilyatul Auliya, 1: 304.[4] Hilyatul Auliya, 1: 303.[5] Hilyatul Auliya, 1: 304.[6] Dalam Siyar A’laam An-Nubalaa, 3: 238.[7] Siyar A’laam An-Nubalaa, 3: 221.[8] Siyar A’laam An-Nubalaa, 3: 222.[9] Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan-Nihayah, 9: 6.Tags: adabAkhlakAqidahaqidah islambiografibiografi abdullah bin umarbiografi salafbiografi ulamakisah salafkisah ulamaManhajmanhaj salafnasihatnasihat islam


Daftar Isi sembunyikan 1. Nama beliau 2. Kelahiran beliau 3. Kisah hidup beliau 4. Ibadah beliau 5. Keistimewaan beliau Tidaklah agama Islam sampai ke kita, kecuali dengan perantara para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Ibnu Abi Hatim rahimahullahu mengatakan,فأما أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فهم الذين شهدوا الوحي والتنزيل، وعرفوا التفسير والتأويل، وهم الذين اختارهم الله عز وجل لصحبة نبيه صلى الله عليه وسلم ونُصرته وإقامة دينه، وإظهار حقه، فرضِيهم له صحابةً، وجعلهم لنا أعلامًا وقدوة، فحفِظوا عنه صلى الله عليه وسلم ما بلغهم عن الله عز وجل، وما سنَّ وشرع، وحكم وقضى، وندب وأمر ونهى، وحظر وأدب، وعوه وأتْقنوه، ففقِهوا في الدين، وعلموا أمر الله ونهيه ومراده بمعاينة رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومشاهدتهم منه تفسير الكتاب وتأويله، وتلقُّفهم منه واستنباطهم عنه، فشرَّفهم الله عز وجل بما منَّ عليهم وأكرمهم به من وضعه إياهم موضع القدوة، فنفى عنهم الشك والكذب والغلط والريبة والغمز، وسماهم عدول الأمة“Adapun sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama, merekalah yang menyaksikan turunnya wahyu, paham tentang tafsirnya, dan mereka dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama, menolong-Nya, menegakkan agama-Nya, dan menampakkan kebenaran-Nya. Allah ridai mereka untuk membersamai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama dan Allah jadikan mereka sebagai teladan bagi kita. Mereka turut memelihara apa yang Nabi sampaikan dari Allah azza wajalla, tentang sunah, syari’at, hukum, ketetapan, anjuran, perintah, larangan, peringatan dan adab. Mereka hafalkan dan jaga benar-benar. Mereka memahami agama. Mereka mengetahui perintah Allah, larangan-Nya, dan maksudnya dengan bimbingan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menyaksikan penjelasan dan tafsir Al-Qur’an. Mereka belajar langsung kepada Nabi dan belajar bagaimana menggali hukum darinya. Allah muliakan mereka dengan karunia-Nya dan jadikan mereka suri tauladan. Dan tidaklah tersemat dalam diri mereka ragu, dusta, dan gamang. Itulah sebab mereka disebut dengan umat yang adil.” (Al-Jarh wat-Ta’dil, 1: 7)Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui tentang kehidupan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum sebagai langkah awal meneladani akhlak dan agama mereka. Dan yang sering kita dengar di dalam buku-buku hadis adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Bagaimana kehidupan beliau? Mari kita simak dan semoga bisa banyak mengambil pelajaran darinya.Nama beliauBeliau adalah Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Al-Khattab Al-Qurasyi Al-Adawiy. Ayah beliau adalah seorang sahabat senior Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dan khalifah kedua sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Sementara ibunda beliau bernama Zainab binti Madz’un bin Habib. [1]Kelahiran beliauBeliau dilahirkan dua tahun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama diutus. [2]Kisah hidup beliauAbdullah bin Umar masuk Islam saat berusia 4 tahun bersama dengan ayahnya, Umar bin Khattab, pada tahun 6 setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Beliau turut serta hijrah ke Madinah bahkan sebelum Umar bin Khattab.Ibadah beliauSuatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama pernah bersabda,“Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah (Ibnu Umar). Andaikan ia mengerjakan salat malam.” (HR. Bukhari no. 3738)Sejak mendengar ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama, Abdullah bin Umar tidak pernah meninggalkan satu malam pun, kecuali senantiasa salat di dalamnya.Nafi rahimahullahu menceritakan,كان ابن عمر يحيي بين الظهر إلى العصر“Abdullah bin Umar adalah orang yang gemar menghidupkan antara waktu Zuhur dan Asar (dengan ibadah).” [3]Dalam kesempatan yang lain, Nafi juga menyebutkan,كان ابن عمر رضي الله تعالى عنه إذا فاتته صلاة العشاء في جماعة أحيا بقية ليلته“Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu jika terlewat salat Isya berjamaah, maka beliau menebusnya dengan bangun beribadah sepanjang malam.” [4]Thawus bin Kaisan rahimahullahu mengisahkan,“Tidaklah aku melihat orang seperti Abdullah bin Umar ketika salat, bagaimana beliau menghadapkan wajahnya, telapak tangan, dan kakinya ke kiblat.” [5]Baca Juga: Biografi Ringkas Imam NawawiKeistimewaan beliauAbdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai sosok yang berupaya mengikuti setiap jejak langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Di mana Nabi pernah berpijak, beliau memijak tanah yang sama. Di mana Nabi salat, beliau pun akan turut serta salat di sana. Bahkan jika beliau mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama pernah berteduh di bawah pohon, beliau pun akan menirunya.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal banyak meriwayatkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama. Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu menyebutkan  [6] bahwa beliau radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan 2600-an hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama.Imam Malik rahimahullahu mengatakan,كان إمام الناس عندنا بعد زيد بن ثابت، عبدالله بن عمر، مكث ستين سنة يُفتي الناس“Beliau radhiyallahu ‘anhuma adalah Imam (dalam ilmu) setelah Zaid bin Tsabit. Beliau hidup 60-an tahun mengajarkan kepada manusia ilmu.” [7]Nafi’ rahimahullahu mengisahkan,كان ابن عمر وابن عباس يجلسان للناس عند مقدم الحاج، فكنت أجلس إلى هذا يومًا، وإلى هذا يومًا، فكان ابن عباس يجيب ويُفتي في كل ما سُئل عنه، وكان ابن عمر يردُّ أكثر ممَّا يُفتي“Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum biasanya membimbing manusia dalam berhaji. Kadang aku duduk di hadapan Abdullah bin Abbas dan kadang duduk di hadapan Abdullah bin Umar. Ibnu Abbas menjawab semua yang ditanyakan kepada beliau. Sementara Ibnu Umar jauh lebih banyak dari yang dijawab Ibnu Abbas.” [8]Selain itu, Abdullah bin Umar adalah sosok yang gemar berinfak. Dalam satu kesempatan [9] beliau pernah membeli 5 budak kemudian beliau mengerjakan salat. Tiba-tiba kelima budak tersebut ikut salat di belakang beliau. Beliau bertanya,“Untuk siapa salat kalian?!”Mereka pun menjawab,“Untuk Allah semata.”Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu menimpali,“Kalian adalah hamba merdeka di hadapan Zat yang kalian ibadahi.”Kemudian beliau langsung membebaskan kelimanya.Dan tentu sangat banyak teladan yang bisa kita contoh dari beliau selain yang telah tertulis di atas, yang kita harapkan bisa kita teladani dalam keseharian kita. Semoga biografi sahabat yang mulia ini bisa memberikan inspirasi kebaikan bagi pembaca. aamiinBaca Juga: Biografi Syekh Abdul Qodir Jaelani***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.AgArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Disebutkan oleh Ibnul Atsir dalam Usud Al-Ghabah, 3: 235.[2] Disebutkan oleh Ibnul Atsir dalam Usud Al-Ghabah, 3: 235.[3] Hilyatul Auliya, 1: 304.[4] Hilyatul Auliya, 1: 303.[5] Hilyatul Auliya, 1: 304.[6] Dalam Siyar A’laam An-Nubalaa, 3: 238.[7] Siyar A’laam An-Nubalaa, 3: 221.[8] Siyar A’laam An-Nubalaa, 3: 222.[9] Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan-Nihayah, 9: 6.Tags: adabAkhlakAqidahaqidah islambiografibiografi abdullah bin umarbiografi salafbiografi ulamakisah salafkisah ulamaManhajmanhaj salafnasihatnasihat islam

Bentuk Syukur yang Sering Dilupakan Manusia

Daftar Isi sembunyikan 1. Hubungan rasa syukur kepada Allah Ta’ala dan rasa syukur kepada manusia 2. Bahaya tidak bersyukur dan berterima kasih kepada manusia 3. Dua panduan dalam bersyukur kepada manusia yang sesuai syariat Manusia sebagai makhluk sosial pastilah tak akan pernah lepas dari bantuan dan pertolongan orang lain, selain tentunya semuanya tak pernah lepas dari karunia dan pertolongan dari Allah Ta’ala.Semenjak masih bayi, ada orang tua yang rela mengorbankan dua puluh empat jam kehidupannya untuk merawat dan menemani bayi tersebut berkembang dan bertumbuh dewasa. Fase berikutnya, seorang manusia akan memasuki kehidupan sekolah, di mana di dalamnya terdapat guru-guru dan pengajar yang akan membantunya memahami kehidupan atau bahkan mengajarkan kepadanya hal-hal wajib dan mendasar terkait agama Islam yang kita butuhkan.Beranjak di dunia pernikahan, seseorang akan memiliki pendamping hidup yang rela menemaninya dalam suka maupun duka, pasangan hidup yang agama seseorang bergantung erat dengannya.Lalu, pernahkan terbetik dalam hati kita untuk barang sekali mengucapkan “jazakumullahu khairan” atau “terima kasih” kepada orang-orang yang telah banyak berjasa kepada kita? Mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua kita, terutama ibu yang sudah mengandung kita ataupun bapak yang rela berkendara dalam hujan, menerjang panasnya kota untuk menghidupi kita? Kepada guru yang telah begitu banyak mengajarkan kebaikan dan kebenaran kepada kita? Kepada suami atau istri yang telah rela hidup bersama kita hingga saat ini?Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya di antara bentuk syukur yang paling besar terhadap nikmat dan rezeki yang kita dapatkan di kehidupan dunia ini adalah bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang yang menjadi perantara terwujudnya kenikmatan dan karunia tersebut. ADVERTISEMENTHal ini tentu saja bukanlah perkara yang mudah, seringkali manusia melupakan dan menganggap remeh bersyukur dan berterima kasih kepada manusia. Sampai-sampai Allah Ta’ala berfirman,وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)Hal ini tentu saja bukan tanpa sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يَشْكُرُ اللهَ مَن لا يَشْكُرُ الناسَ”Tidak akan terwujud rasa syukur kepada Allah Ta’ala dari seseorang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 4811)Para ulama mengatakan,“Makna hadis tersebut adalah sesungguhnya siapa yang tabiat dan kebiasaannya masa bodoh, tidak peduli dan mengingkari kebaikan orang lain, serta tidak berterima kasih kepada mereka, maka ia pun dengan mudahnya juga tidak bersyukur dan berterima kasih serta mengingkari kebaikan-kebaikan dan nikmat Allah Ta’ala.”Hubungan rasa syukur kepada Allah Ta’ala dan rasa syukur kepada manusiaAsalnya, sebagaimana Allah-lah yang telah menciptakan kita, maka semua kenikmatan dan rezeki yang sampai pada diri kita sumbernya pun dari Allah Ta’ala. Manusia dituntut dan diperintahkan untuk senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah Ta’ala dengan beribadah, beramal, menjauhkan diri dari dosa, serta memanfaatkan kenikmatan yang ada dengan sebaik-baiknya.Rezeki yang Allah Ta’ala berikan ini seringkali akan melalui perantara seorang manusia. Sebut saja ilmu yang bermanfaat, hidayah, dan amal-amal kebaikan, semuanya itu bisa kita kenal dan kita pelajari melalui perantara para nabi dan orang orang saleh. Oleh karena itu, kita harus bersyukur kepada Allah Ta’ala karena telah mengutus para nabi-Nya serta memperbanyak orang saleh di antara kita, selain kita juga harus bersyukur kepada para rasul dan perantara tersebut. Karena rasa syukur dan terima kasih kita kepada mereka merupakan realisasi rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala.Beberapa orang yang terkemuka mengatakan,“Jikalau setan mengetahui ada jalan yang lebih utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala selain rasa syukur, pastilah ia akan mencegatnya. Tidakkah kalian menyaksikan apa yang ia ucapkan?ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ‘Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka (hamba-hamba Allah) bersyukur.’ (QS. Al-A’raf: 17)Mereka tidak mengatakan, ‘Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka (hamba-hamba Allah) bersabar.’” (Faidhul Qaadir karya Imam Al-Munawi, 1: 341)Baca Juga: Jadilah Hamba Allah Yang BersyukurBahaya tidak bersyukur dan berterima kasih kepada manusiaTidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada manusia sangatlah berbahaya, sampai-sampai perbuatan ini dicap sebagai bentuk kekafiran. Hanya saja kekafiran yang dimaksud di sini bukanlah kekafiran yang akan mengeluarkan pelakunya dari agama Islam secara khusus. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الاسْتِغْفَارَ؛ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ))، فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ: وَمَا لَنَا أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ: ((تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ“Wahai para wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah beristigfar (mohon ampun kepada Allah). Karena sungguh aku melihat kalian sebagai penghuni neraka yang paling banyak.” Seorang wanita yang cerdas di antara mereka berkata, “Mengapa kami sebagai penghuni neraka yang paling banyak, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Karena kalian sering melaknat dan sering mengingkari kebaikan suami.” (HR. Muslim no. 79 dan Ibnu Majah no. 4003)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَط“Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, karena mereka kufur.” Beliau ditanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur kepada suami dan mengingkari kebaikan. Andaikan engkau berbuat baik kepada seorang istri sepanjang waktu, kemudian sekali saja ia melihat kesalahanmu, maka ia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari no. 29  dan Muslim no. 907)Nabi khususkan kufur kepada suami di antara dosa-dosa lain yang begitu banyak karena begitu agungnya kedudukan suami bagi seorang istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,لو كنتُ آمُرُ أحَدًاأنْ يَسجُدَ لأحَدٍ، لأمَرتُ المرأةَ أنْ تسجُدَ لزَوجِها، ولا تُؤدِّي المرأةُ حَقَّ اللهِ عزَّ وجلَّ عليها كلَّه، حتى تُؤدِّيَ حَقَّ زَوجِها عليها كلَّه“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya kuperintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya. Dan tidaklah seorang istri (dianggap) telah menunaikan hak Rabb-nya seluruhnya, kecuali dia telah menunaikan hak suaminya seluruhnya.” (HR. Ibnu Majah no. 1853 dan Ahmad no. 19403)Dua panduan dalam bersyukur kepada manusia yang sesuai syariatPertama: Bersyukur dan berterima kasih tanpa memandang status orang yang memberikannya. Dengan adanya kebaikan dari orang lain, maka harus senantiasa dibarengi juga dengan rasa syukur dan terima kasih.Dikisahkan dari Abu Isa ia berkata,كان إبراهيم بن أدهم إذا صَنَعَ إليه أحدٌ معروفًا، حرَصَ على أنْ يُكافِئَه، أو يتفضَّل عليه، قال أبو عيسى: فلَقِيَني وأنا على حمار، وأنا أُريد بيتَ المقدس، وقد اشترى بأربعة دوانيق تُفاحًا وسفرجلًا وخوخًا وفاكهةً، فقال: يا أبا عيسى، أُحِبُّ أنْ تَحمِل هذا، قال وإذا عجوز يَهوديَّة في كوخ لها، فقال: أُحِبُّ أنْ تُوصِّل هذا إليها، فإنني مرَرتُ وأنا مُمسٍ فبيَّتَتني عندها، فأُحِبُّ أن أُكافِئها على ذلك“Ibrahim bin Adham, jika seseorang berbuat baik kepadanya, maka dia ingin sekali membalas dan memberinya hadiah, atau bersikap baik padanya. Abu Isa berkata, ‘Suatu saat ia bertemu denganku, sedang aku berada di atas keledai, dan aku sedang menuju Baitul Maqdis, sedangkan dia baru saja membeli apel, quince, buah persik, dan buah-buahan lainnya seharga empat daniq (salah satu mata uang perak jaman dahulu). Kemudian dia berkata, ‘Wahai Abu Isa, saya sangat senang bila engkau mau membawakan ini.’ Abu Isa melanjutkan, ‘Hingga kami melihat seorang wanita tua Yahudi berada di gubuknya, kemudian (Ibrahim bin Adham) berkata, ‘Saya ingin Anda mengirimkan ini kepadanya. Pernah suatu kali saya melewatinya sedang saya sudah kemalaman, kemudian wanita tua tersebut menyuruhku untuk bermalam di rumahnya. Saya sangat senang bila bisa menghadiahi dan membalas untuk kebaikan yang telah ia lakukan tersebut.”” (Raudhatul Uqala’ Wa Nuzhatu Al-Fudhalaa karya Ibnu Hibban hal. 266)Kedua: Membalas kebaikan orang tersebut semampunya. Jika tidak mampu, maka cukup dengan memuji dan menyebutkannya. Sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ أُتِيَ إليهِ معروفٌ فلِيكافئَ بهِ ، و مَنْ لمْ يستطعْ فلِيذكرْهُ ، فإنَّ مَنْ ذكرَهُ فقد شكرَهُ“Barangsiapa yang diberikan kebaikan, maka hendaknya membalasnya. Jika tidak mampu, maka hendaknya menyebut kebaikan itu. Dan siapa yang menyebutnya, maka dia telah bersyukur kepadanya.” (HR. Ahmad no. 24593 dan disebutkan oleh Syekh Albani dalam Shahih At-Targhib hal. 972).Wallahu a’lam bisshawab.Baca Juga: Memahami Syukur***Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.idTags: adabAkhlakcara bersyukurhamba yang bersyukurikhlaskeutamaan bersyukurnasihatnasihat islamrasa syukursyukur

Bentuk Syukur yang Sering Dilupakan Manusia

Daftar Isi sembunyikan 1. Hubungan rasa syukur kepada Allah Ta’ala dan rasa syukur kepada manusia 2. Bahaya tidak bersyukur dan berterima kasih kepada manusia 3. Dua panduan dalam bersyukur kepada manusia yang sesuai syariat Manusia sebagai makhluk sosial pastilah tak akan pernah lepas dari bantuan dan pertolongan orang lain, selain tentunya semuanya tak pernah lepas dari karunia dan pertolongan dari Allah Ta’ala.Semenjak masih bayi, ada orang tua yang rela mengorbankan dua puluh empat jam kehidupannya untuk merawat dan menemani bayi tersebut berkembang dan bertumbuh dewasa. Fase berikutnya, seorang manusia akan memasuki kehidupan sekolah, di mana di dalamnya terdapat guru-guru dan pengajar yang akan membantunya memahami kehidupan atau bahkan mengajarkan kepadanya hal-hal wajib dan mendasar terkait agama Islam yang kita butuhkan.Beranjak di dunia pernikahan, seseorang akan memiliki pendamping hidup yang rela menemaninya dalam suka maupun duka, pasangan hidup yang agama seseorang bergantung erat dengannya.Lalu, pernahkan terbetik dalam hati kita untuk barang sekali mengucapkan “jazakumullahu khairan” atau “terima kasih” kepada orang-orang yang telah banyak berjasa kepada kita? Mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua kita, terutama ibu yang sudah mengandung kita ataupun bapak yang rela berkendara dalam hujan, menerjang panasnya kota untuk menghidupi kita? Kepada guru yang telah begitu banyak mengajarkan kebaikan dan kebenaran kepada kita? Kepada suami atau istri yang telah rela hidup bersama kita hingga saat ini?Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya di antara bentuk syukur yang paling besar terhadap nikmat dan rezeki yang kita dapatkan di kehidupan dunia ini adalah bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang yang menjadi perantara terwujudnya kenikmatan dan karunia tersebut. ADVERTISEMENTHal ini tentu saja bukanlah perkara yang mudah, seringkali manusia melupakan dan menganggap remeh bersyukur dan berterima kasih kepada manusia. Sampai-sampai Allah Ta’ala berfirman,وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)Hal ini tentu saja bukan tanpa sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يَشْكُرُ اللهَ مَن لا يَشْكُرُ الناسَ”Tidak akan terwujud rasa syukur kepada Allah Ta’ala dari seseorang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 4811)Para ulama mengatakan,“Makna hadis tersebut adalah sesungguhnya siapa yang tabiat dan kebiasaannya masa bodoh, tidak peduli dan mengingkari kebaikan orang lain, serta tidak berterima kasih kepada mereka, maka ia pun dengan mudahnya juga tidak bersyukur dan berterima kasih serta mengingkari kebaikan-kebaikan dan nikmat Allah Ta’ala.”Hubungan rasa syukur kepada Allah Ta’ala dan rasa syukur kepada manusiaAsalnya, sebagaimana Allah-lah yang telah menciptakan kita, maka semua kenikmatan dan rezeki yang sampai pada diri kita sumbernya pun dari Allah Ta’ala. Manusia dituntut dan diperintahkan untuk senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah Ta’ala dengan beribadah, beramal, menjauhkan diri dari dosa, serta memanfaatkan kenikmatan yang ada dengan sebaik-baiknya.Rezeki yang Allah Ta’ala berikan ini seringkali akan melalui perantara seorang manusia. Sebut saja ilmu yang bermanfaat, hidayah, dan amal-amal kebaikan, semuanya itu bisa kita kenal dan kita pelajari melalui perantara para nabi dan orang orang saleh. Oleh karena itu, kita harus bersyukur kepada Allah Ta’ala karena telah mengutus para nabi-Nya serta memperbanyak orang saleh di antara kita, selain kita juga harus bersyukur kepada para rasul dan perantara tersebut. Karena rasa syukur dan terima kasih kita kepada mereka merupakan realisasi rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala.Beberapa orang yang terkemuka mengatakan,“Jikalau setan mengetahui ada jalan yang lebih utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala selain rasa syukur, pastilah ia akan mencegatnya. Tidakkah kalian menyaksikan apa yang ia ucapkan?ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ‘Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka (hamba-hamba Allah) bersyukur.’ (QS. Al-A’raf: 17)Mereka tidak mengatakan, ‘Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka (hamba-hamba Allah) bersabar.’” (Faidhul Qaadir karya Imam Al-Munawi, 1: 341)Baca Juga: Jadilah Hamba Allah Yang BersyukurBahaya tidak bersyukur dan berterima kasih kepada manusiaTidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada manusia sangatlah berbahaya, sampai-sampai perbuatan ini dicap sebagai bentuk kekafiran. Hanya saja kekafiran yang dimaksud di sini bukanlah kekafiran yang akan mengeluarkan pelakunya dari agama Islam secara khusus. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الاسْتِغْفَارَ؛ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ))، فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ: وَمَا لَنَا أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ: ((تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ“Wahai para wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah beristigfar (mohon ampun kepada Allah). Karena sungguh aku melihat kalian sebagai penghuni neraka yang paling banyak.” Seorang wanita yang cerdas di antara mereka berkata, “Mengapa kami sebagai penghuni neraka yang paling banyak, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Karena kalian sering melaknat dan sering mengingkari kebaikan suami.” (HR. Muslim no. 79 dan Ibnu Majah no. 4003)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَط“Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, karena mereka kufur.” Beliau ditanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur kepada suami dan mengingkari kebaikan. Andaikan engkau berbuat baik kepada seorang istri sepanjang waktu, kemudian sekali saja ia melihat kesalahanmu, maka ia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari no. 29  dan Muslim no. 907)Nabi khususkan kufur kepada suami di antara dosa-dosa lain yang begitu banyak karena begitu agungnya kedudukan suami bagi seorang istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,لو كنتُ آمُرُ أحَدًاأنْ يَسجُدَ لأحَدٍ، لأمَرتُ المرأةَ أنْ تسجُدَ لزَوجِها، ولا تُؤدِّي المرأةُ حَقَّ اللهِ عزَّ وجلَّ عليها كلَّه، حتى تُؤدِّيَ حَقَّ زَوجِها عليها كلَّه“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya kuperintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya. Dan tidaklah seorang istri (dianggap) telah menunaikan hak Rabb-nya seluruhnya, kecuali dia telah menunaikan hak suaminya seluruhnya.” (HR. Ibnu Majah no. 1853 dan Ahmad no. 19403)Dua panduan dalam bersyukur kepada manusia yang sesuai syariatPertama: Bersyukur dan berterima kasih tanpa memandang status orang yang memberikannya. Dengan adanya kebaikan dari orang lain, maka harus senantiasa dibarengi juga dengan rasa syukur dan terima kasih.Dikisahkan dari Abu Isa ia berkata,كان إبراهيم بن أدهم إذا صَنَعَ إليه أحدٌ معروفًا، حرَصَ على أنْ يُكافِئَه، أو يتفضَّل عليه، قال أبو عيسى: فلَقِيَني وأنا على حمار، وأنا أُريد بيتَ المقدس، وقد اشترى بأربعة دوانيق تُفاحًا وسفرجلًا وخوخًا وفاكهةً، فقال: يا أبا عيسى، أُحِبُّ أنْ تَحمِل هذا، قال وإذا عجوز يَهوديَّة في كوخ لها، فقال: أُحِبُّ أنْ تُوصِّل هذا إليها، فإنني مرَرتُ وأنا مُمسٍ فبيَّتَتني عندها، فأُحِبُّ أن أُكافِئها على ذلك“Ibrahim bin Adham, jika seseorang berbuat baik kepadanya, maka dia ingin sekali membalas dan memberinya hadiah, atau bersikap baik padanya. Abu Isa berkata, ‘Suatu saat ia bertemu denganku, sedang aku berada di atas keledai, dan aku sedang menuju Baitul Maqdis, sedangkan dia baru saja membeli apel, quince, buah persik, dan buah-buahan lainnya seharga empat daniq (salah satu mata uang perak jaman dahulu). Kemudian dia berkata, ‘Wahai Abu Isa, saya sangat senang bila engkau mau membawakan ini.’ Abu Isa melanjutkan, ‘Hingga kami melihat seorang wanita tua Yahudi berada di gubuknya, kemudian (Ibrahim bin Adham) berkata, ‘Saya ingin Anda mengirimkan ini kepadanya. Pernah suatu kali saya melewatinya sedang saya sudah kemalaman, kemudian wanita tua tersebut menyuruhku untuk bermalam di rumahnya. Saya sangat senang bila bisa menghadiahi dan membalas untuk kebaikan yang telah ia lakukan tersebut.”” (Raudhatul Uqala’ Wa Nuzhatu Al-Fudhalaa karya Ibnu Hibban hal. 266)Kedua: Membalas kebaikan orang tersebut semampunya. Jika tidak mampu, maka cukup dengan memuji dan menyebutkannya. Sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ أُتِيَ إليهِ معروفٌ فلِيكافئَ بهِ ، و مَنْ لمْ يستطعْ فلِيذكرْهُ ، فإنَّ مَنْ ذكرَهُ فقد شكرَهُ“Barangsiapa yang diberikan kebaikan, maka hendaknya membalasnya. Jika tidak mampu, maka hendaknya menyebut kebaikan itu. Dan siapa yang menyebutnya, maka dia telah bersyukur kepadanya.” (HR. Ahmad no. 24593 dan disebutkan oleh Syekh Albani dalam Shahih At-Targhib hal. 972).Wallahu a’lam bisshawab.Baca Juga: Memahami Syukur***Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.idTags: adabAkhlakcara bersyukurhamba yang bersyukurikhlaskeutamaan bersyukurnasihatnasihat islamrasa syukursyukur
Daftar Isi sembunyikan 1. Hubungan rasa syukur kepada Allah Ta’ala dan rasa syukur kepada manusia 2. Bahaya tidak bersyukur dan berterima kasih kepada manusia 3. Dua panduan dalam bersyukur kepada manusia yang sesuai syariat Manusia sebagai makhluk sosial pastilah tak akan pernah lepas dari bantuan dan pertolongan orang lain, selain tentunya semuanya tak pernah lepas dari karunia dan pertolongan dari Allah Ta’ala.Semenjak masih bayi, ada orang tua yang rela mengorbankan dua puluh empat jam kehidupannya untuk merawat dan menemani bayi tersebut berkembang dan bertumbuh dewasa. Fase berikutnya, seorang manusia akan memasuki kehidupan sekolah, di mana di dalamnya terdapat guru-guru dan pengajar yang akan membantunya memahami kehidupan atau bahkan mengajarkan kepadanya hal-hal wajib dan mendasar terkait agama Islam yang kita butuhkan.Beranjak di dunia pernikahan, seseorang akan memiliki pendamping hidup yang rela menemaninya dalam suka maupun duka, pasangan hidup yang agama seseorang bergantung erat dengannya.Lalu, pernahkan terbetik dalam hati kita untuk barang sekali mengucapkan “jazakumullahu khairan” atau “terima kasih” kepada orang-orang yang telah banyak berjasa kepada kita? Mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua kita, terutama ibu yang sudah mengandung kita ataupun bapak yang rela berkendara dalam hujan, menerjang panasnya kota untuk menghidupi kita? Kepada guru yang telah begitu banyak mengajarkan kebaikan dan kebenaran kepada kita? Kepada suami atau istri yang telah rela hidup bersama kita hingga saat ini?Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya di antara bentuk syukur yang paling besar terhadap nikmat dan rezeki yang kita dapatkan di kehidupan dunia ini adalah bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang yang menjadi perantara terwujudnya kenikmatan dan karunia tersebut. ADVERTISEMENTHal ini tentu saja bukanlah perkara yang mudah, seringkali manusia melupakan dan menganggap remeh bersyukur dan berterima kasih kepada manusia. Sampai-sampai Allah Ta’ala berfirman,وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)Hal ini tentu saja bukan tanpa sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يَشْكُرُ اللهَ مَن لا يَشْكُرُ الناسَ”Tidak akan terwujud rasa syukur kepada Allah Ta’ala dari seseorang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 4811)Para ulama mengatakan,“Makna hadis tersebut adalah sesungguhnya siapa yang tabiat dan kebiasaannya masa bodoh, tidak peduli dan mengingkari kebaikan orang lain, serta tidak berterima kasih kepada mereka, maka ia pun dengan mudahnya juga tidak bersyukur dan berterima kasih serta mengingkari kebaikan-kebaikan dan nikmat Allah Ta’ala.”Hubungan rasa syukur kepada Allah Ta’ala dan rasa syukur kepada manusiaAsalnya, sebagaimana Allah-lah yang telah menciptakan kita, maka semua kenikmatan dan rezeki yang sampai pada diri kita sumbernya pun dari Allah Ta’ala. Manusia dituntut dan diperintahkan untuk senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah Ta’ala dengan beribadah, beramal, menjauhkan diri dari dosa, serta memanfaatkan kenikmatan yang ada dengan sebaik-baiknya.Rezeki yang Allah Ta’ala berikan ini seringkali akan melalui perantara seorang manusia. Sebut saja ilmu yang bermanfaat, hidayah, dan amal-amal kebaikan, semuanya itu bisa kita kenal dan kita pelajari melalui perantara para nabi dan orang orang saleh. Oleh karena itu, kita harus bersyukur kepada Allah Ta’ala karena telah mengutus para nabi-Nya serta memperbanyak orang saleh di antara kita, selain kita juga harus bersyukur kepada para rasul dan perantara tersebut. Karena rasa syukur dan terima kasih kita kepada mereka merupakan realisasi rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala.Beberapa orang yang terkemuka mengatakan,“Jikalau setan mengetahui ada jalan yang lebih utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala selain rasa syukur, pastilah ia akan mencegatnya. Tidakkah kalian menyaksikan apa yang ia ucapkan?ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ‘Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka (hamba-hamba Allah) bersyukur.’ (QS. Al-A’raf: 17)Mereka tidak mengatakan, ‘Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka (hamba-hamba Allah) bersabar.’” (Faidhul Qaadir karya Imam Al-Munawi, 1: 341)Baca Juga: Jadilah Hamba Allah Yang BersyukurBahaya tidak bersyukur dan berterima kasih kepada manusiaTidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada manusia sangatlah berbahaya, sampai-sampai perbuatan ini dicap sebagai bentuk kekafiran. Hanya saja kekafiran yang dimaksud di sini bukanlah kekafiran yang akan mengeluarkan pelakunya dari agama Islam secara khusus. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الاسْتِغْفَارَ؛ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ))، فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ: وَمَا لَنَا أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ: ((تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ“Wahai para wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah beristigfar (mohon ampun kepada Allah). Karena sungguh aku melihat kalian sebagai penghuni neraka yang paling banyak.” Seorang wanita yang cerdas di antara mereka berkata, “Mengapa kami sebagai penghuni neraka yang paling banyak, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Karena kalian sering melaknat dan sering mengingkari kebaikan suami.” (HR. Muslim no. 79 dan Ibnu Majah no. 4003)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَط“Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, karena mereka kufur.” Beliau ditanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur kepada suami dan mengingkari kebaikan. Andaikan engkau berbuat baik kepada seorang istri sepanjang waktu, kemudian sekali saja ia melihat kesalahanmu, maka ia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari no. 29  dan Muslim no. 907)Nabi khususkan kufur kepada suami di antara dosa-dosa lain yang begitu banyak karena begitu agungnya kedudukan suami bagi seorang istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,لو كنتُ آمُرُ أحَدًاأنْ يَسجُدَ لأحَدٍ، لأمَرتُ المرأةَ أنْ تسجُدَ لزَوجِها، ولا تُؤدِّي المرأةُ حَقَّ اللهِ عزَّ وجلَّ عليها كلَّه، حتى تُؤدِّيَ حَقَّ زَوجِها عليها كلَّه“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya kuperintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya. Dan tidaklah seorang istri (dianggap) telah menunaikan hak Rabb-nya seluruhnya, kecuali dia telah menunaikan hak suaminya seluruhnya.” (HR. Ibnu Majah no. 1853 dan Ahmad no. 19403)Dua panduan dalam bersyukur kepada manusia yang sesuai syariatPertama: Bersyukur dan berterima kasih tanpa memandang status orang yang memberikannya. Dengan adanya kebaikan dari orang lain, maka harus senantiasa dibarengi juga dengan rasa syukur dan terima kasih.Dikisahkan dari Abu Isa ia berkata,كان إبراهيم بن أدهم إذا صَنَعَ إليه أحدٌ معروفًا، حرَصَ على أنْ يُكافِئَه، أو يتفضَّل عليه، قال أبو عيسى: فلَقِيَني وأنا على حمار، وأنا أُريد بيتَ المقدس، وقد اشترى بأربعة دوانيق تُفاحًا وسفرجلًا وخوخًا وفاكهةً، فقال: يا أبا عيسى، أُحِبُّ أنْ تَحمِل هذا، قال وإذا عجوز يَهوديَّة في كوخ لها، فقال: أُحِبُّ أنْ تُوصِّل هذا إليها، فإنني مرَرتُ وأنا مُمسٍ فبيَّتَتني عندها، فأُحِبُّ أن أُكافِئها على ذلك“Ibrahim bin Adham, jika seseorang berbuat baik kepadanya, maka dia ingin sekali membalas dan memberinya hadiah, atau bersikap baik padanya. Abu Isa berkata, ‘Suatu saat ia bertemu denganku, sedang aku berada di atas keledai, dan aku sedang menuju Baitul Maqdis, sedangkan dia baru saja membeli apel, quince, buah persik, dan buah-buahan lainnya seharga empat daniq (salah satu mata uang perak jaman dahulu). Kemudian dia berkata, ‘Wahai Abu Isa, saya sangat senang bila engkau mau membawakan ini.’ Abu Isa melanjutkan, ‘Hingga kami melihat seorang wanita tua Yahudi berada di gubuknya, kemudian (Ibrahim bin Adham) berkata, ‘Saya ingin Anda mengirimkan ini kepadanya. Pernah suatu kali saya melewatinya sedang saya sudah kemalaman, kemudian wanita tua tersebut menyuruhku untuk bermalam di rumahnya. Saya sangat senang bila bisa menghadiahi dan membalas untuk kebaikan yang telah ia lakukan tersebut.”” (Raudhatul Uqala’ Wa Nuzhatu Al-Fudhalaa karya Ibnu Hibban hal. 266)Kedua: Membalas kebaikan orang tersebut semampunya. Jika tidak mampu, maka cukup dengan memuji dan menyebutkannya. Sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ أُتِيَ إليهِ معروفٌ فلِيكافئَ بهِ ، و مَنْ لمْ يستطعْ فلِيذكرْهُ ، فإنَّ مَنْ ذكرَهُ فقد شكرَهُ“Barangsiapa yang diberikan kebaikan, maka hendaknya membalasnya. Jika tidak mampu, maka hendaknya menyebut kebaikan itu. Dan siapa yang menyebutnya, maka dia telah bersyukur kepadanya.” (HR. Ahmad no. 24593 dan disebutkan oleh Syekh Albani dalam Shahih At-Targhib hal. 972).Wallahu a’lam bisshawab.Baca Juga: Memahami Syukur***Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.idTags: adabAkhlakcara bersyukurhamba yang bersyukurikhlaskeutamaan bersyukurnasihatnasihat islamrasa syukursyukur


Daftar Isi sembunyikan 1. Hubungan rasa syukur kepada Allah Ta’ala dan rasa syukur kepada manusia 2. Bahaya tidak bersyukur dan berterima kasih kepada manusia 3. Dua panduan dalam bersyukur kepada manusia yang sesuai syariat Manusia sebagai makhluk sosial pastilah tak akan pernah lepas dari bantuan dan pertolongan orang lain, selain tentunya semuanya tak pernah lepas dari karunia dan pertolongan dari Allah Ta’ala.Semenjak masih bayi, ada orang tua yang rela mengorbankan dua puluh empat jam kehidupannya untuk merawat dan menemani bayi tersebut berkembang dan bertumbuh dewasa. Fase berikutnya, seorang manusia akan memasuki kehidupan sekolah, di mana di dalamnya terdapat guru-guru dan pengajar yang akan membantunya memahami kehidupan atau bahkan mengajarkan kepadanya hal-hal wajib dan mendasar terkait agama Islam yang kita butuhkan.Beranjak di dunia pernikahan, seseorang akan memiliki pendamping hidup yang rela menemaninya dalam suka maupun duka, pasangan hidup yang agama seseorang bergantung erat dengannya.Lalu, pernahkan terbetik dalam hati kita untuk barang sekali mengucapkan “jazakumullahu khairan” atau “terima kasih” kepada orang-orang yang telah banyak berjasa kepada kita? Mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua kita, terutama ibu yang sudah mengandung kita ataupun bapak yang rela berkendara dalam hujan, menerjang panasnya kota untuk menghidupi kita? Kepada guru yang telah begitu banyak mengajarkan kebaikan dan kebenaran kepada kita? Kepada suami atau istri yang telah rela hidup bersama kita hingga saat ini?Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya di antara bentuk syukur yang paling besar terhadap nikmat dan rezeki yang kita dapatkan di kehidupan dunia ini adalah bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang yang menjadi perantara terwujudnya kenikmatan dan karunia tersebut. ADVERTISEMENTHal ini tentu saja bukanlah perkara yang mudah, seringkali manusia melupakan dan menganggap remeh bersyukur dan berterima kasih kepada manusia. Sampai-sampai Allah Ta’ala berfirman,وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)Hal ini tentu saja bukan tanpa sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يَشْكُرُ اللهَ مَن لا يَشْكُرُ الناسَ”Tidak akan terwujud rasa syukur kepada Allah Ta’ala dari seseorang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 4811)Para ulama mengatakan,“Makna hadis tersebut adalah sesungguhnya siapa yang tabiat dan kebiasaannya masa bodoh, tidak peduli dan mengingkari kebaikan orang lain, serta tidak berterima kasih kepada mereka, maka ia pun dengan mudahnya juga tidak bersyukur dan berterima kasih serta mengingkari kebaikan-kebaikan dan nikmat Allah Ta’ala.”Hubungan rasa syukur kepada Allah Ta’ala dan rasa syukur kepada manusiaAsalnya, sebagaimana Allah-lah yang telah menciptakan kita, maka semua kenikmatan dan rezeki yang sampai pada diri kita sumbernya pun dari Allah Ta’ala. Manusia dituntut dan diperintahkan untuk senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah Ta’ala dengan beribadah, beramal, menjauhkan diri dari dosa, serta memanfaatkan kenikmatan yang ada dengan sebaik-baiknya.Rezeki yang Allah Ta’ala berikan ini seringkali akan melalui perantara seorang manusia. Sebut saja ilmu yang bermanfaat, hidayah, dan amal-amal kebaikan, semuanya itu bisa kita kenal dan kita pelajari melalui perantara para nabi dan orang orang saleh. Oleh karena itu, kita harus bersyukur kepada Allah Ta’ala karena telah mengutus para nabi-Nya serta memperbanyak orang saleh di antara kita, selain kita juga harus bersyukur kepada para rasul dan perantara tersebut. Karena rasa syukur dan terima kasih kita kepada mereka merupakan realisasi rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala.Beberapa orang yang terkemuka mengatakan,“Jikalau setan mengetahui ada jalan yang lebih utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala selain rasa syukur, pastilah ia akan mencegatnya. Tidakkah kalian menyaksikan apa yang ia ucapkan?ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ‘Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka (hamba-hamba Allah) bersyukur.’ (QS. Al-A’raf: 17)Mereka tidak mengatakan, ‘Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka (hamba-hamba Allah) bersabar.’” (Faidhul Qaadir karya Imam Al-Munawi, 1: 341)Baca Juga: Jadilah Hamba Allah Yang BersyukurBahaya tidak bersyukur dan berterima kasih kepada manusiaTidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada manusia sangatlah berbahaya, sampai-sampai perbuatan ini dicap sebagai bentuk kekafiran. Hanya saja kekafiran yang dimaksud di sini bukanlah kekafiran yang akan mengeluarkan pelakunya dari agama Islam secara khusus. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الاسْتِغْفَارَ؛ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ))، فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ: وَمَا لَنَا أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ: ((تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ“Wahai para wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah beristigfar (mohon ampun kepada Allah). Karena sungguh aku melihat kalian sebagai penghuni neraka yang paling banyak.” Seorang wanita yang cerdas di antara mereka berkata, “Mengapa kami sebagai penghuni neraka yang paling banyak, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Karena kalian sering melaknat dan sering mengingkari kebaikan suami.” (HR. Muslim no. 79 dan Ibnu Majah no. 4003)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَط“Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, karena mereka kufur.” Beliau ditanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur kepada suami dan mengingkari kebaikan. Andaikan engkau berbuat baik kepada seorang istri sepanjang waktu, kemudian sekali saja ia melihat kesalahanmu, maka ia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari no. 29  dan Muslim no. 907)Nabi khususkan kufur kepada suami di antara dosa-dosa lain yang begitu banyak karena begitu agungnya kedudukan suami bagi seorang istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,لو كنتُ آمُرُ أحَدًاأنْ يَسجُدَ لأحَدٍ، لأمَرتُ المرأةَ أنْ تسجُدَ لزَوجِها، ولا تُؤدِّي المرأةُ حَقَّ اللهِ عزَّ وجلَّ عليها كلَّه، حتى تُؤدِّيَ حَقَّ زَوجِها عليها كلَّه“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya kuperintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya. Dan tidaklah seorang istri (dianggap) telah menunaikan hak Rabb-nya seluruhnya, kecuali dia telah menunaikan hak suaminya seluruhnya.” (HR. Ibnu Majah no. 1853 dan Ahmad no. 19403)Dua panduan dalam bersyukur kepada manusia yang sesuai syariatPertama: Bersyukur dan berterima kasih tanpa memandang status orang yang memberikannya. Dengan adanya kebaikan dari orang lain, maka harus senantiasa dibarengi juga dengan rasa syukur dan terima kasih.Dikisahkan dari Abu Isa ia berkata,كان إبراهيم بن أدهم إذا صَنَعَ إليه أحدٌ معروفًا، حرَصَ على أنْ يُكافِئَه، أو يتفضَّل عليه، قال أبو عيسى: فلَقِيَني وأنا على حمار، وأنا أُريد بيتَ المقدس، وقد اشترى بأربعة دوانيق تُفاحًا وسفرجلًا وخوخًا وفاكهةً، فقال: يا أبا عيسى، أُحِبُّ أنْ تَحمِل هذا، قال وإذا عجوز يَهوديَّة في كوخ لها، فقال: أُحِبُّ أنْ تُوصِّل هذا إليها، فإنني مرَرتُ وأنا مُمسٍ فبيَّتَتني عندها، فأُحِبُّ أن أُكافِئها على ذلك“Ibrahim bin Adham, jika seseorang berbuat baik kepadanya, maka dia ingin sekali membalas dan memberinya hadiah, atau bersikap baik padanya. Abu Isa berkata, ‘Suatu saat ia bertemu denganku, sedang aku berada di atas keledai, dan aku sedang menuju Baitul Maqdis, sedangkan dia baru saja membeli apel, quince, buah persik, dan buah-buahan lainnya seharga empat daniq (salah satu mata uang perak jaman dahulu). Kemudian dia berkata, ‘Wahai Abu Isa, saya sangat senang bila engkau mau membawakan ini.’ Abu Isa melanjutkan, ‘Hingga kami melihat seorang wanita tua Yahudi berada di gubuknya, kemudian (Ibrahim bin Adham) berkata, ‘Saya ingin Anda mengirimkan ini kepadanya. Pernah suatu kali saya melewatinya sedang saya sudah kemalaman, kemudian wanita tua tersebut menyuruhku untuk bermalam di rumahnya. Saya sangat senang bila bisa menghadiahi dan membalas untuk kebaikan yang telah ia lakukan tersebut.”” (Raudhatul Uqala’ Wa Nuzhatu Al-Fudhalaa karya Ibnu Hibban hal. 266)Kedua: Membalas kebaikan orang tersebut semampunya. Jika tidak mampu, maka cukup dengan memuji dan menyebutkannya. Sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ أُتِيَ إليهِ معروفٌ فلِيكافئَ بهِ ، و مَنْ لمْ يستطعْ فلِيذكرْهُ ، فإنَّ مَنْ ذكرَهُ فقد شكرَهُ“Barangsiapa yang diberikan kebaikan, maka hendaknya membalasnya. Jika tidak mampu, maka hendaknya menyebut kebaikan itu. Dan siapa yang menyebutnya, maka dia telah bersyukur kepadanya.” (HR. Ahmad no. 24593 dan disebutkan oleh Syekh Albani dalam Shahih At-Targhib hal. 972).Wallahu a’lam bisshawab.Baca Juga: Memahami Syukur***Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.idTags: adabAkhlakcara bersyukurhamba yang bersyukurikhlaskeutamaan bersyukurnasihatnasihat islamrasa syukursyukur

Jangan Salat Istikharah Jika Belum Menentukan Pilihan – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Pertama, jadi dia memilih salah satu dari dua pilihan,lalu istikharah dan ternyata keduanya dipermudah semua,begitu? Ya. Pertama, bahwa istikharahadalah setelah jelas pilihannya,setelah membulatkan tekadnya. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,“Ketika salah seorang dari kalian sudah bertekad untuk melakukan sesuatu,maka hendaknya dia salat dua rakaat, …”Jadi, istikharah bukan ketika Anda belum menentukan pilihan. Perbanyak bertanya, meneliti,dan meminta pendapat orang lain,hingga hati Anda condong pada salah satu pilihan. Jika hati Anda sudah condong pada salah satu pilihan tersebut,lalu istikharahlah kepada Allah dengan pilihan itu.“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu,dan memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu. Sungguh, Engkau Yang Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui,dan Engkau Yang Menakdirkan sedangkan aku tidaklah mampu melakukannya. Sungguh, Engkau Mengetahui perkara yang gaib, …”lalu Anda katakan pilihan tersebut,misalkan kerjasama dengan si fulan, bersafar dengan si fulan,atau menikah dengan si fulanah. Tergantung pilihan yang Anda inginkan.Baik, setelah itu, jika hal tersebut dipermudah, alhamdulillah.Jika tidak ada kemudahan, ya sudah,tinggalkan dan ambil pilihan kedua. Adapun jika Anda istikharah dengan mengatakan, “Ini atau ini?”Apa faedahnya?Jadi, istikharah adalah setelah membulatkan tekad untuk suatu hal. ==== أَوَّلًا يَقُولُ اخْتَارَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ اسْتَخَارَ تَيَسَّرَ الْأَمْرَانِ هَكَذَا؟ أَيْ نَعَمْ أَوَّلًا الْاِسْتَخَارَةُ إِنَّمَا تَكُونُ بَعْدَ الْاِسْتِشَارَةِ بَعْدَ الْعَزْمِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَزَمَ أَحَدُكُمْ عَلَى الأَمْرِ فَيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَعْنِي مَا تَكُونُ الْاِسْتَخَارَةُ وَأَنْتَ مَا زِلْتَ يَعْنِي لَمْ تَخْتَرْ تُكْثِرُ مِنَ السُّؤَالِ تُكْثِرُ مِنَ الْبَحْثِ تُكْثِرُ مِنَ الْاِسْتِشَارَةِ حَتَّى يَمِيلَ قَلْبُكَ إِلَى أَحَدِهِمَا فَإِذَا مَالَ قَلْبُكَ إِلَى أَحَدِهِمَا اسْتَخِرِ اللهَ بِهِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ إِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ فَتَقُولُ هَذَا الْأَمْرَ مَثَلًا المُشَارِكَةُ مَعَ فُلَانٍ أَوِ السَّفَرُ مَعَ فُلَانٍ أَوْ الزَّوَاجُ بِفُلَانَةٍ حَسَبَ الْأَمْرُ الَّذِي تُرِيدُ زَينٌ! ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ إِنْ تَيَسَّرَ الْحَمْدُ لِلهِ إِنْ مَا تَيَسَّرَ خَلَاصٌ أَعْرِضْ عَنْهُ خُذِ الْأَمْرَ الثَّانِي أَمَّا أَنْ تَسْتَخِيرَ وَتَقُولُ هَذَا أَوْ هَذَا مَا الفَائِدَةُ؟ الْاِسْتَخَارَةُ بَعْدَمَا تَعْزَمُ عَلَى الْأَمْرِ

Jangan Salat Istikharah Jika Belum Menentukan Pilihan – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Pertama, jadi dia memilih salah satu dari dua pilihan,lalu istikharah dan ternyata keduanya dipermudah semua,begitu? Ya. Pertama, bahwa istikharahadalah setelah jelas pilihannya,setelah membulatkan tekadnya. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,“Ketika salah seorang dari kalian sudah bertekad untuk melakukan sesuatu,maka hendaknya dia salat dua rakaat, …”Jadi, istikharah bukan ketika Anda belum menentukan pilihan. Perbanyak bertanya, meneliti,dan meminta pendapat orang lain,hingga hati Anda condong pada salah satu pilihan. Jika hati Anda sudah condong pada salah satu pilihan tersebut,lalu istikharahlah kepada Allah dengan pilihan itu.“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu,dan memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu. Sungguh, Engkau Yang Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui,dan Engkau Yang Menakdirkan sedangkan aku tidaklah mampu melakukannya. Sungguh, Engkau Mengetahui perkara yang gaib, …”lalu Anda katakan pilihan tersebut,misalkan kerjasama dengan si fulan, bersafar dengan si fulan,atau menikah dengan si fulanah. Tergantung pilihan yang Anda inginkan.Baik, setelah itu, jika hal tersebut dipermudah, alhamdulillah.Jika tidak ada kemudahan, ya sudah,tinggalkan dan ambil pilihan kedua. Adapun jika Anda istikharah dengan mengatakan, “Ini atau ini?”Apa faedahnya?Jadi, istikharah adalah setelah membulatkan tekad untuk suatu hal. ==== أَوَّلًا يَقُولُ اخْتَارَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ اسْتَخَارَ تَيَسَّرَ الْأَمْرَانِ هَكَذَا؟ أَيْ نَعَمْ أَوَّلًا الْاِسْتَخَارَةُ إِنَّمَا تَكُونُ بَعْدَ الْاِسْتِشَارَةِ بَعْدَ الْعَزْمِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَزَمَ أَحَدُكُمْ عَلَى الأَمْرِ فَيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَعْنِي مَا تَكُونُ الْاِسْتَخَارَةُ وَأَنْتَ مَا زِلْتَ يَعْنِي لَمْ تَخْتَرْ تُكْثِرُ مِنَ السُّؤَالِ تُكْثِرُ مِنَ الْبَحْثِ تُكْثِرُ مِنَ الْاِسْتِشَارَةِ حَتَّى يَمِيلَ قَلْبُكَ إِلَى أَحَدِهِمَا فَإِذَا مَالَ قَلْبُكَ إِلَى أَحَدِهِمَا اسْتَخِرِ اللهَ بِهِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ إِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ فَتَقُولُ هَذَا الْأَمْرَ مَثَلًا المُشَارِكَةُ مَعَ فُلَانٍ أَوِ السَّفَرُ مَعَ فُلَانٍ أَوْ الزَّوَاجُ بِفُلَانَةٍ حَسَبَ الْأَمْرُ الَّذِي تُرِيدُ زَينٌ! ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ إِنْ تَيَسَّرَ الْحَمْدُ لِلهِ إِنْ مَا تَيَسَّرَ خَلَاصٌ أَعْرِضْ عَنْهُ خُذِ الْأَمْرَ الثَّانِي أَمَّا أَنْ تَسْتَخِيرَ وَتَقُولُ هَذَا أَوْ هَذَا مَا الفَائِدَةُ؟ الْاِسْتَخَارَةُ بَعْدَمَا تَعْزَمُ عَلَى الْأَمْرِ
Pertama, jadi dia memilih salah satu dari dua pilihan,lalu istikharah dan ternyata keduanya dipermudah semua,begitu? Ya. Pertama, bahwa istikharahadalah setelah jelas pilihannya,setelah membulatkan tekadnya. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,“Ketika salah seorang dari kalian sudah bertekad untuk melakukan sesuatu,maka hendaknya dia salat dua rakaat, …”Jadi, istikharah bukan ketika Anda belum menentukan pilihan. Perbanyak bertanya, meneliti,dan meminta pendapat orang lain,hingga hati Anda condong pada salah satu pilihan. Jika hati Anda sudah condong pada salah satu pilihan tersebut,lalu istikharahlah kepada Allah dengan pilihan itu.“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu,dan memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu. Sungguh, Engkau Yang Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui,dan Engkau Yang Menakdirkan sedangkan aku tidaklah mampu melakukannya. Sungguh, Engkau Mengetahui perkara yang gaib, …”lalu Anda katakan pilihan tersebut,misalkan kerjasama dengan si fulan, bersafar dengan si fulan,atau menikah dengan si fulanah. Tergantung pilihan yang Anda inginkan.Baik, setelah itu, jika hal tersebut dipermudah, alhamdulillah.Jika tidak ada kemudahan, ya sudah,tinggalkan dan ambil pilihan kedua. Adapun jika Anda istikharah dengan mengatakan, “Ini atau ini?”Apa faedahnya?Jadi, istikharah adalah setelah membulatkan tekad untuk suatu hal. ==== أَوَّلًا يَقُولُ اخْتَارَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ اسْتَخَارَ تَيَسَّرَ الْأَمْرَانِ هَكَذَا؟ أَيْ نَعَمْ أَوَّلًا الْاِسْتَخَارَةُ إِنَّمَا تَكُونُ بَعْدَ الْاِسْتِشَارَةِ بَعْدَ الْعَزْمِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَزَمَ أَحَدُكُمْ عَلَى الأَمْرِ فَيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَعْنِي مَا تَكُونُ الْاِسْتَخَارَةُ وَأَنْتَ مَا زِلْتَ يَعْنِي لَمْ تَخْتَرْ تُكْثِرُ مِنَ السُّؤَالِ تُكْثِرُ مِنَ الْبَحْثِ تُكْثِرُ مِنَ الْاِسْتِشَارَةِ حَتَّى يَمِيلَ قَلْبُكَ إِلَى أَحَدِهِمَا فَإِذَا مَالَ قَلْبُكَ إِلَى أَحَدِهِمَا اسْتَخِرِ اللهَ بِهِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ إِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ فَتَقُولُ هَذَا الْأَمْرَ مَثَلًا المُشَارِكَةُ مَعَ فُلَانٍ أَوِ السَّفَرُ مَعَ فُلَانٍ أَوْ الزَّوَاجُ بِفُلَانَةٍ حَسَبَ الْأَمْرُ الَّذِي تُرِيدُ زَينٌ! ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ إِنْ تَيَسَّرَ الْحَمْدُ لِلهِ إِنْ مَا تَيَسَّرَ خَلَاصٌ أَعْرِضْ عَنْهُ خُذِ الْأَمْرَ الثَّانِي أَمَّا أَنْ تَسْتَخِيرَ وَتَقُولُ هَذَا أَوْ هَذَا مَا الفَائِدَةُ؟ الْاِسْتَخَارَةُ بَعْدَمَا تَعْزَمُ عَلَى الْأَمْرِ


Pertama, jadi dia memilih salah satu dari dua pilihan,lalu istikharah dan ternyata keduanya dipermudah semua,begitu? Ya. Pertama, bahwa istikharahadalah setelah jelas pilihannya,setelah membulatkan tekadnya. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,“Ketika salah seorang dari kalian sudah bertekad untuk melakukan sesuatu,maka hendaknya dia salat dua rakaat, …”Jadi, istikharah bukan ketika Anda belum menentukan pilihan. Perbanyak bertanya, meneliti,dan meminta pendapat orang lain,hingga hati Anda condong pada salah satu pilihan. Jika hati Anda sudah condong pada salah satu pilihan tersebut,lalu istikharahlah kepada Allah dengan pilihan itu.“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu,dan memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu. Sungguh, Engkau Yang Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui,dan Engkau Yang Menakdirkan sedangkan aku tidaklah mampu melakukannya. Sungguh, Engkau Mengetahui perkara yang gaib, …”lalu Anda katakan pilihan tersebut,misalkan kerjasama dengan si fulan, bersafar dengan si fulan,atau menikah dengan si fulanah. Tergantung pilihan yang Anda inginkan.Baik, setelah itu, jika hal tersebut dipermudah, alhamdulillah.Jika tidak ada kemudahan, ya sudah,tinggalkan dan ambil pilihan kedua. Adapun jika Anda istikharah dengan mengatakan, “Ini atau ini?”Apa faedahnya?Jadi, istikharah adalah setelah membulatkan tekad untuk suatu hal. ==== أَوَّلًا يَقُولُ اخْتَارَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ اسْتَخَارَ تَيَسَّرَ الْأَمْرَانِ هَكَذَا؟ أَيْ نَعَمْ أَوَّلًا الْاِسْتَخَارَةُ إِنَّمَا تَكُونُ بَعْدَ الْاِسْتِشَارَةِ بَعْدَ الْعَزْمِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَزَمَ أَحَدُكُمْ عَلَى الأَمْرِ فَيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَعْنِي مَا تَكُونُ الْاِسْتَخَارَةُ وَأَنْتَ مَا زِلْتَ يَعْنِي لَمْ تَخْتَرْ تُكْثِرُ مِنَ السُّؤَالِ تُكْثِرُ مِنَ الْبَحْثِ تُكْثِرُ مِنَ الْاِسْتِشَارَةِ حَتَّى يَمِيلَ قَلْبُكَ إِلَى أَحَدِهِمَا فَإِذَا مَالَ قَلْبُكَ إِلَى أَحَدِهِمَا اسْتَخِرِ اللهَ بِهِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ إِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ فَتَقُولُ هَذَا الْأَمْرَ مَثَلًا المُشَارِكَةُ مَعَ فُلَانٍ أَوِ السَّفَرُ مَعَ فُلَانٍ أَوْ الزَّوَاجُ بِفُلَانَةٍ حَسَبَ الْأَمْرُ الَّذِي تُرِيدُ زَينٌ! ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ إِنْ تَيَسَّرَ الْحَمْدُ لِلهِ إِنْ مَا تَيَسَّرَ خَلَاصٌ أَعْرِضْ عَنْهُ خُذِ الْأَمْرَ الثَّانِي أَمَّا أَنْ تَسْتَخِيرَ وَتَقُولُ هَذَا أَوْ هَذَا مَا الفَائِدَةُ؟ الْاِسْتَخَارَةُ بَعْدَمَا تَعْزَمُ عَلَى الْأَمْرِ

Teks Khotbah Jumat: Agar Ramadan Kita Semakin Bermakna

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى ADVERTISEMENTفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Menjalankan seluruh perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Terlebih lagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadan yang penuh kemuliaan dan ampunan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن صامَ رَمَضانَ إيمانًا واحْتِسابًا غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ، ومَن قامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمانًا واحْتِسابًا غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang menghidupkan lailatul qadar (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 2014)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِه“Barangsiapa berdiri salat (tarawih) dalam bulan Ramadan karena didorong keimanan dan keinginan memperoleh keridaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, ketahuilah sesungguhnya bulan Ramadan merupakan kesempatan emas bagi hamba-hamba Allah Ta’ala yang sejatinya tak akan lepas dari kesalahan dan perbuatan dosa. Kesempatan bagi dirinya untuk bertobat lalu kemudian mendapatkan ampunan Allah Ta’ala dan dibebaskan dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ للَّهِ عندَ كلِّ فِطرٍ عُتَقَاءَ وذلِك في كلِّ ليلةٍ“Sesungguhnya Allah menyelamatkan (orang yang berpuasa) dari api neraka pada setiap berbuka dan itu di setiap malam.” (HR. Ibnu Majah dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah no. 1340)Allahu Akbar, betapa banyak hamba yang sebelumnya berada di bawah bayang-bayang dosa, kemudian Allah berikan petunjuk menuju terangnya ketaatan.Allahu Akbar, betapa banyaknya hamba yang sebelumnya sudah berada di tepi jurang neraka dan nyaris jatuh ke dalamnya, kemudian Allah selamatkan karena tobat dan amal baik yang dilakukannya di bulan Ramadan.Wahai jiwa yang rusak karena dipenuhi dosa kemaksiatan, sungguh Ramadan adalah kesempatan emas yang tak tergantikan. Siapa yang mendapatkan keselamatan dari api neraka, maka ia telah mendapatkan kemenangan yang besar.Jemaah salat Jumat yang berbahagia,Bulatkan tekad dan kuatkan keimanan, karena hari-hari Ramadan sangatlah terbatas waktunya, akan tetapi sepanjang waktunya, baik pagi, siang, sore maupun malamnya penuh dengan keberkahan.Saudaraku seiman yang dirahmati Allah Ta’ala,Ketahuilah, sesungguhnya ketakwaan adalah intisari puasa kita. Ketakwaan merupakan buah dan hasil yang karenanya puasa diwajibkan. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Oleh karenanya, siapapun dari kita yang sebelumnya bermalas-malasan salat Subuh secara berjemaah, diuji dengan rokok, melihat hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan, banyak menonton film dan sinetron, mendengarkan musik, ataupun menyelisihi petunjuk-petunjuk Nabi lainnya, manfaatkan dan gunakanlah momentum Ramadan yang penuh kemuliaan ini sebagai titik balik diri kita. Jadikanlah ia sebagai pijakan awal untuk serius menghadap Allah Ta’ala dengan sepenuh raga dan jiwa. Allah Ta’ala berfirman,وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ“Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih.” (QS. Hud: 90)Sungguh tidak akan pernah merugi mereka yang menghadap kepada Allah Ta’ala dengan penuh kejujuran dan keikhlasan.Saudaraku, janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Meskipun dosa-dosa kita sepenuh bumi dan lautan, meskipun dosa-dosa kita menjulang setinggi langit, jangan pernah sekalipun berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ، وَلَا أُبَالِي، يَا بْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي، يَا بْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“Allah berfirman, ‘Wahai Bani Adam, sesungguhnya jika engkau senantiasa berdoa dan berharap kepada–Ku, niscaya Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, kalau seandainya dosamu setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya aku akan memberikan ampunan kepadamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau menghadap kepada–Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau berjumpa dengan–Ku dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”Wallahu a’lam bisshawabأقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca Juga: Bahaya Maksiat di Bulan RamadanKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,Sesungguhnya puasa akan mendidik seorang hamba memiliki perasaan muraqabah, rasa ‘merasa diawasi oleh Allah Ta’ala’. Jika kita mau mencermati lebih jauh, kira-kira apa yang menahan seorang hamba ketika berpuasa untuk tidak makan dan minum? Sedang ia dalam kondisi lapar dan tak ada yang melihatnya? Bukankah semua itu muncul karena ia merasa bahwa Allah mengawasinya?Sungguh perasaan muraqabah akan mengantarkan seorang hamba mencapai derajat yang paling tinggi dalam tingkatan Islam. Berpuasa lalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala akan mengantarkan seorang hamba kepada derajat ihsan. Derajat yang disebutkan di dalam hadis Jibril yang masyhur, di mana ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,“Kabarkan kepadaku perihal ihsan, apakah itu?”Nabi pun menjawab,أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ“(Ihsan adalah) engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak melihatnya, maka Dia melihat engkau.” (HR. Bukhari no. 50 dan Mualim no. 9)Yang terakhir, jadikan momentum Ramadan tahun ini untuk lebih giat dalam belajar, membaca, dan memahami Al-Qur’an, karena Ramadan adalah bulan Al-Qur’an dan Nabi pun giat dalam mempelajari Al-Qur’an bersama Jibril ‘alaihissalam setiap malamnya. Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أجْوَدَ النَّاسِ، وكانَ أجوَدُ ما يَكونُ في رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وكانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ في كُلِّ لَيْلَةٍ مِن رَمَضَانَ، فيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أجْوَدُ بالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadan ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemuinya. Malaikat Jibril ‘alaihissalam mendatanginya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mempelajari Al-Qur’an bersamanya. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat Jibril mendatanginya jauh lebih lembut daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)Sungguh sebuah kebaikan akan mendatangkan kebaikan lainnya. Lihatlah bagaimana karunia Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena rajinnya beliau di dalam membaca Al-Qur’an, Allah tambah kelembutan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, mulailah berbuat kebaikan yang kita senangi dan mudah untuk untuk dilakukan, karena sungguh sebuah kebaikan akan mengundang kebaikan lainnya.Ya Allah, Yang Maha Pengampun, ampunilah kami di bulan Ramadan yang mulia ini. Jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang mendapatkan kemuliaan berupa keselamatan dari neraka-Mu. Ya Allah, berikanlah kami kekuatan dan keistikamahan di dalam menjalankan kebaikan, karuniakanlah kepada kami rasa senang dan nikmat dalam menjalankan ketaatan kepada-Mu di bulan Ramadan dan di bulan-bulan lainnya.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga: Nasihat Ramadan, Saatnya Memacu Kembali Semangat Kita***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: Aqidahbulan ramadhanjudul khutbah jumatkhutbahkhutbah jumatManhajmanhaj salafmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnasihat tamadhanpuasa ramadhanteks khutbah jumat

Teks Khotbah Jumat: Agar Ramadan Kita Semakin Bermakna

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى ADVERTISEMENTفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Menjalankan seluruh perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Terlebih lagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadan yang penuh kemuliaan dan ampunan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن صامَ رَمَضانَ إيمانًا واحْتِسابًا غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ، ومَن قامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمانًا واحْتِسابًا غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang menghidupkan lailatul qadar (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 2014)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِه“Barangsiapa berdiri salat (tarawih) dalam bulan Ramadan karena didorong keimanan dan keinginan memperoleh keridaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, ketahuilah sesungguhnya bulan Ramadan merupakan kesempatan emas bagi hamba-hamba Allah Ta’ala yang sejatinya tak akan lepas dari kesalahan dan perbuatan dosa. Kesempatan bagi dirinya untuk bertobat lalu kemudian mendapatkan ampunan Allah Ta’ala dan dibebaskan dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ للَّهِ عندَ كلِّ فِطرٍ عُتَقَاءَ وذلِك في كلِّ ليلةٍ“Sesungguhnya Allah menyelamatkan (orang yang berpuasa) dari api neraka pada setiap berbuka dan itu di setiap malam.” (HR. Ibnu Majah dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah no. 1340)Allahu Akbar, betapa banyak hamba yang sebelumnya berada di bawah bayang-bayang dosa, kemudian Allah berikan petunjuk menuju terangnya ketaatan.Allahu Akbar, betapa banyaknya hamba yang sebelumnya sudah berada di tepi jurang neraka dan nyaris jatuh ke dalamnya, kemudian Allah selamatkan karena tobat dan amal baik yang dilakukannya di bulan Ramadan.Wahai jiwa yang rusak karena dipenuhi dosa kemaksiatan, sungguh Ramadan adalah kesempatan emas yang tak tergantikan. Siapa yang mendapatkan keselamatan dari api neraka, maka ia telah mendapatkan kemenangan yang besar.Jemaah salat Jumat yang berbahagia,Bulatkan tekad dan kuatkan keimanan, karena hari-hari Ramadan sangatlah terbatas waktunya, akan tetapi sepanjang waktunya, baik pagi, siang, sore maupun malamnya penuh dengan keberkahan.Saudaraku seiman yang dirahmati Allah Ta’ala,Ketahuilah, sesungguhnya ketakwaan adalah intisari puasa kita. Ketakwaan merupakan buah dan hasil yang karenanya puasa diwajibkan. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Oleh karenanya, siapapun dari kita yang sebelumnya bermalas-malasan salat Subuh secara berjemaah, diuji dengan rokok, melihat hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan, banyak menonton film dan sinetron, mendengarkan musik, ataupun menyelisihi petunjuk-petunjuk Nabi lainnya, manfaatkan dan gunakanlah momentum Ramadan yang penuh kemuliaan ini sebagai titik balik diri kita. Jadikanlah ia sebagai pijakan awal untuk serius menghadap Allah Ta’ala dengan sepenuh raga dan jiwa. Allah Ta’ala berfirman,وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ“Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih.” (QS. Hud: 90)Sungguh tidak akan pernah merugi mereka yang menghadap kepada Allah Ta’ala dengan penuh kejujuran dan keikhlasan.Saudaraku, janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Meskipun dosa-dosa kita sepenuh bumi dan lautan, meskipun dosa-dosa kita menjulang setinggi langit, jangan pernah sekalipun berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ، وَلَا أُبَالِي، يَا بْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي، يَا بْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“Allah berfirman, ‘Wahai Bani Adam, sesungguhnya jika engkau senantiasa berdoa dan berharap kepada–Ku, niscaya Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, kalau seandainya dosamu setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya aku akan memberikan ampunan kepadamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau menghadap kepada–Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau berjumpa dengan–Ku dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”Wallahu a’lam bisshawabأقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca Juga: Bahaya Maksiat di Bulan RamadanKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,Sesungguhnya puasa akan mendidik seorang hamba memiliki perasaan muraqabah, rasa ‘merasa diawasi oleh Allah Ta’ala’. Jika kita mau mencermati lebih jauh, kira-kira apa yang menahan seorang hamba ketika berpuasa untuk tidak makan dan minum? Sedang ia dalam kondisi lapar dan tak ada yang melihatnya? Bukankah semua itu muncul karena ia merasa bahwa Allah mengawasinya?Sungguh perasaan muraqabah akan mengantarkan seorang hamba mencapai derajat yang paling tinggi dalam tingkatan Islam. Berpuasa lalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala akan mengantarkan seorang hamba kepada derajat ihsan. Derajat yang disebutkan di dalam hadis Jibril yang masyhur, di mana ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,“Kabarkan kepadaku perihal ihsan, apakah itu?”Nabi pun menjawab,أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ“(Ihsan adalah) engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak melihatnya, maka Dia melihat engkau.” (HR. Bukhari no. 50 dan Mualim no. 9)Yang terakhir, jadikan momentum Ramadan tahun ini untuk lebih giat dalam belajar, membaca, dan memahami Al-Qur’an, karena Ramadan adalah bulan Al-Qur’an dan Nabi pun giat dalam mempelajari Al-Qur’an bersama Jibril ‘alaihissalam setiap malamnya. Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أجْوَدَ النَّاسِ، وكانَ أجوَدُ ما يَكونُ في رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وكانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ في كُلِّ لَيْلَةٍ مِن رَمَضَانَ، فيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أجْوَدُ بالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadan ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemuinya. Malaikat Jibril ‘alaihissalam mendatanginya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mempelajari Al-Qur’an bersamanya. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat Jibril mendatanginya jauh lebih lembut daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)Sungguh sebuah kebaikan akan mendatangkan kebaikan lainnya. Lihatlah bagaimana karunia Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena rajinnya beliau di dalam membaca Al-Qur’an, Allah tambah kelembutan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, mulailah berbuat kebaikan yang kita senangi dan mudah untuk untuk dilakukan, karena sungguh sebuah kebaikan akan mengundang kebaikan lainnya.Ya Allah, Yang Maha Pengampun, ampunilah kami di bulan Ramadan yang mulia ini. Jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang mendapatkan kemuliaan berupa keselamatan dari neraka-Mu. Ya Allah, berikanlah kami kekuatan dan keistikamahan di dalam menjalankan kebaikan, karuniakanlah kepada kami rasa senang dan nikmat dalam menjalankan ketaatan kepada-Mu di bulan Ramadan dan di bulan-bulan lainnya.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga: Nasihat Ramadan, Saatnya Memacu Kembali Semangat Kita***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: Aqidahbulan ramadhanjudul khutbah jumatkhutbahkhutbah jumatManhajmanhaj salafmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnasihat tamadhanpuasa ramadhanteks khutbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى ADVERTISEMENTفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Menjalankan seluruh perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Terlebih lagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadan yang penuh kemuliaan dan ampunan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن صامَ رَمَضانَ إيمانًا واحْتِسابًا غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ، ومَن قامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمانًا واحْتِسابًا غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang menghidupkan lailatul qadar (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 2014)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِه“Barangsiapa berdiri salat (tarawih) dalam bulan Ramadan karena didorong keimanan dan keinginan memperoleh keridaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, ketahuilah sesungguhnya bulan Ramadan merupakan kesempatan emas bagi hamba-hamba Allah Ta’ala yang sejatinya tak akan lepas dari kesalahan dan perbuatan dosa. Kesempatan bagi dirinya untuk bertobat lalu kemudian mendapatkan ampunan Allah Ta’ala dan dibebaskan dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ للَّهِ عندَ كلِّ فِطرٍ عُتَقَاءَ وذلِك في كلِّ ليلةٍ“Sesungguhnya Allah menyelamatkan (orang yang berpuasa) dari api neraka pada setiap berbuka dan itu di setiap malam.” (HR. Ibnu Majah dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah no. 1340)Allahu Akbar, betapa banyak hamba yang sebelumnya berada di bawah bayang-bayang dosa, kemudian Allah berikan petunjuk menuju terangnya ketaatan.Allahu Akbar, betapa banyaknya hamba yang sebelumnya sudah berada di tepi jurang neraka dan nyaris jatuh ke dalamnya, kemudian Allah selamatkan karena tobat dan amal baik yang dilakukannya di bulan Ramadan.Wahai jiwa yang rusak karena dipenuhi dosa kemaksiatan, sungguh Ramadan adalah kesempatan emas yang tak tergantikan. Siapa yang mendapatkan keselamatan dari api neraka, maka ia telah mendapatkan kemenangan yang besar.Jemaah salat Jumat yang berbahagia,Bulatkan tekad dan kuatkan keimanan, karena hari-hari Ramadan sangatlah terbatas waktunya, akan tetapi sepanjang waktunya, baik pagi, siang, sore maupun malamnya penuh dengan keberkahan.Saudaraku seiman yang dirahmati Allah Ta’ala,Ketahuilah, sesungguhnya ketakwaan adalah intisari puasa kita. Ketakwaan merupakan buah dan hasil yang karenanya puasa diwajibkan. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Oleh karenanya, siapapun dari kita yang sebelumnya bermalas-malasan salat Subuh secara berjemaah, diuji dengan rokok, melihat hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan, banyak menonton film dan sinetron, mendengarkan musik, ataupun menyelisihi petunjuk-petunjuk Nabi lainnya, manfaatkan dan gunakanlah momentum Ramadan yang penuh kemuliaan ini sebagai titik balik diri kita. Jadikanlah ia sebagai pijakan awal untuk serius menghadap Allah Ta’ala dengan sepenuh raga dan jiwa. Allah Ta’ala berfirman,وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ“Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih.” (QS. Hud: 90)Sungguh tidak akan pernah merugi mereka yang menghadap kepada Allah Ta’ala dengan penuh kejujuran dan keikhlasan.Saudaraku, janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Meskipun dosa-dosa kita sepenuh bumi dan lautan, meskipun dosa-dosa kita menjulang setinggi langit, jangan pernah sekalipun berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ، وَلَا أُبَالِي، يَا بْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي، يَا بْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“Allah berfirman, ‘Wahai Bani Adam, sesungguhnya jika engkau senantiasa berdoa dan berharap kepada–Ku, niscaya Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, kalau seandainya dosamu setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya aku akan memberikan ampunan kepadamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau menghadap kepada–Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau berjumpa dengan–Ku dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”Wallahu a’lam bisshawabأقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca Juga: Bahaya Maksiat di Bulan RamadanKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,Sesungguhnya puasa akan mendidik seorang hamba memiliki perasaan muraqabah, rasa ‘merasa diawasi oleh Allah Ta’ala’. Jika kita mau mencermati lebih jauh, kira-kira apa yang menahan seorang hamba ketika berpuasa untuk tidak makan dan minum? Sedang ia dalam kondisi lapar dan tak ada yang melihatnya? Bukankah semua itu muncul karena ia merasa bahwa Allah mengawasinya?Sungguh perasaan muraqabah akan mengantarkan seorang hamba mencapai derajat yang paling tinggi dalam tingkatan Islam. Berpuasa lalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala akan mengantarkan seorang hamba kepada derajat ihsan. Derajat yang disebutkan di dalam hadis Jibril yang masyhur, di mana ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,“Kabarkan kepadaku perihal ihsan, apakah itu?”Nabi pun menjawab,أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ“(Ihsan adalah) engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak melihatnya, maka Dia melihat engkau.” (HR. Bukhari no. 50 dan Mualim no. 9)Yang terakhir, jadikan momentum Ramadan tahun ini untuk lebih giat dalam belajar, membaca, dan memahami Al-Qur’an, karena Ramadan adalah bulan Al-Qur’an dan Nabi pun giat dalam mempelajari Al-Qur’an bersama Jibril ‘alaihissalam setiap malamnya. Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أجْوَدَ النَّاسِ، وكانَ أجوَدُ ما يَكونُ في رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وكانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ في كُلِّ لَيْلَةٍ مِن رَمَضَانَ، فيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أجْوَدُ بالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadan ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemuinya. Malaikat Jibril ‘alaihissalam mendatanginya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mempelajari Al-Qur’an bersamanya. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat Jibril mendatanginya jauh lebih lembut daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)Sungguh sebuah kebaikan akan mendatangkan kebaikan lainnya. Lihatlah bagaimana karunia Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena rajinnya beliau di dalam membaca Al-Qur’an, Allah tambah kelembutan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, mulailah berbuat kebaikan yang kita senangi dan mudah untuk untuk dilakukan, karena sungguh sebuah kebaikan akan mengundang kebaikan lainnya.Ya Allah, Yang Maha Pengampun, ampunilah kami di bulan Ramadan yang mulia ini. Jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang mendapatkan kemuliaan berupa keselamatan dari neraka-Mu. Ya Allah, berikanlah kami kekuatan dan keistikamahan di dalam menjalankan kebaikan, karuniakanlah kepada kami rasa senang dan nikmat dalam menjalankan ketaatan kepada-Mu di bulan Ramadan dan di bulan-bulan lainnya.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga: Nasihat Ramadan, Saatnya Memacu Kembali Semangat Kita***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: Aqidahbulan ramadhanjudul khutbah jumatkhutbahkhutbah jumatManhajmanhaj salafmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnasihat tamadhanpuasa ramadhanteks khutbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى ADVERTISEMENTفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Menjalankan seluruh perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Terlebih lagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadan yang penuh kemuliaan dan ampunan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن صامَ رَمَضانَ إيمانًا واحْتِسابًا غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ، ومَن قامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمانًا واحْتِسابًا غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang menghidupkan lailatul qadar (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 2014)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِه“Barangsiapa berdiri salat (tarawih) dalam bulan Ramadan karena didorong keimanan dan keinginan memperoleh keridaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, ketahuilah sesungguhnya bulan Ramadan merupakan kesempatan emas bagi hamba-hamba Allah Ta’ala yang sejatinya tak akan lepas dari kesalahan dan perbuatan dosa. Kesempatan bagi dirinya untuk bertobat lalu kemudian mendapatkan ampunan Allah Ta’ala dan dibebaskan dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ للَّهِ عندَ كلِّ فِطرٍ عُتَقَاءَ وذلِك في كلِّ ليلةٍ“Sesungguhnya Allah menyelamatkan (orang yang berpuasa) dari api neraka pada setiap berbuka dan itu di setiap malam.” (HR. Ibnu Majah dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah no. 1340)Allahu Akbar, betapa banyak hamba yang sebelumnya berada di bawah bayang-bayang dosa, kemudian Allah berikan petunjuk menuju terangnya ketaatan.Allahu Akbar, betapa banyaknya hamba yang sebelumnya sudah berada di tepi jurang neraka dan nyaris jatuh ke dalamnya, kemudian Allah selamatkan karena tobat dan amal baik yang dilakukannya di bulan Ramadan.Wahai jiwa yang rusak karena dipenuhi dosa kemaksiatan, sungguh Ramadan adalah kesempatan emas yang tak tergantikan. Siapa yang mendapatkan keselamatan dari api neraka, maka ia telah mendapatkan kemenangan yang besar.Jemaah salat Jumat yang berbahagia,Bulatkan tekad dan kuatkan keimanan, karena hari-hari Ramadan sangatlah terbatas waktunya, akan tetapi sepanjang waktunya, baik pagi, siang, sore maupun malamnya penuh dengan keberkahan.Saudaraku seiman yang dirahmati Allah Ta’ala,Ketahuilah, sesungguhnya ketakwaan adalah intisari puasa kita. Ketakwaan merupakan buah dan hasil yang karenanya puasa diwajibkan. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Oleh karenanya, siapapun dari kita yang sebelumnya bermalas-malasan salat Subuh secara berjemaah, diuji dengan rokok, melihat hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan, banyak menonton film dan sinetron, mendengarkan musik, ataupun menyelisihi petunjuk-petunjuk Nabi lainnya, manfaatkan dan gunakanlah momentum Ramadan yang penuh kemuliaan ini sebagai titik balik diri kita. Jadikanlah ia sebagai pijakan awal untuk serius menghadap Allah Ta’ala dengan sepenuh raga dan jiwa. Allah Ta’ala berfirman,وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ“Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih.” (QS. Hud: 90)Sungguh tidak akan pernah merugi mereka yang menghadap kepada Allah Ta’ala dengan penuh kejujuran dan keikhlasan.Saudaraku, janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Meskipun dosa-dosa kita sepenuh bumi dan lautan, meskipun dosa-dosa kita menjulang setinggi langit, jangan pernah sekalipun berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ، وَلَا أُبَالِي، يَا بْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي، يَا بْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“Allah berfirman, ‘Wahai Bani Adam, sesungguhnya jika engkau senantiasa berdoa dan berharap kepada–Ku, niscaya Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, kalau seandainya dosamu setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya aku akan memberikan ampunan kepadamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau menghadap kepada–Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau berjumpa dengan–Ku dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”Wallahu a’lam bisshawabأقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca Juga: Bahaya Maksiat di Bulan RamadanKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,Sesungguhnya puasa akan mendidik seorang hamba memiliki perasaan muraqabah, rasa ‘merasa diawasi oleh Allah Ta’ala’. Jika kita mau mencermati lebih jauh, kira-kira apa yang menahan seorang hamba ketika berpuasa untuk tidak makan dan minum? Sedang ia dalam kondisi lapar dan tak ada yang melihatnya? Bukankah semua itu muncul karena ia merasa bahwa Allah mengawasinya?Sungguh perasaan muraqabah akan mengantarkan seorang hamba mencapai derajat yang paling tinggi dalam tingkatan Islam. Berpuasa lalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala akan mengantarkan seorang hamba kepada derajat ihsan. Derajat yang disebutkan di dalam hadis Jibril yang masyhur, di mana ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,“Kabarkan kepadaku perihal ihsan, apakah itu?”Nabi pun menjawab,أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ“(Ihsan adalah) engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak melihatnya, maka Dia melihat engkau.” (HR. Bukhari no. 50 dan Mualim no. 9)Yang terakhir, jadikan momentum Ramadan tahun ini untuk lebih giat dalam belajar, membaca, dan memahami Al-Qur’an, karena Ramadan adalah bulan Al-Qur’an dan Nabi pun giat dalam mempelajari Al-Qur’an bersama Jibril ‘alaihissalam setiap malamnya. Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أجْوَدَ النَّاسِ، وكانَ أجوَدُ ما يَكونُ في رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وكانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ في كُلِّ لَيْلَةٍ مِن رَمَضَانَ، فيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أجْوَدُ بالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadan ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemuinya. Malaikat Jibril ‘alaihissalam mendatanginya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mempelajari Al-Qur’an bersamanya. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat Jibril mendatanginya jauh lebih lembut daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)Sungguh sebuah kebaikan akan mendatangkan kebaikan lainnya. Lihatlah bagaimana karunia Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena rajinnya beliau di dalam membaca Al-Qur’an, Allah tambah kelembutan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, mulailah berbuat kebaikan yang kita senangi dan mudah untuk untuk dilakukan, karena sungguh sebuah kebaikan akan mengundang kebaikan lainnya.Ya Allah, Yang Maha Pengampun, ampunilah kami di bulan Ramadan yang mulia ini. Jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang mendapatkan kemuliaan berupa keselamatan dari neraka-Mu. Ya Allah, berikanlah kami kekuatan dan keistikamahan di dalam menjalankan kebaikan, karuniakanlah kepada kami rasa senang dan nikmat dalam menjalankan ketaatan kepada-Mu di bulan Ramadan dan di bulan-bulan lainnya.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga: Nasihat Ramadan, Saatnya Memacu Kembali Semangat Kita***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: Aqidahbulan ramadhanjudul khutbah jumatkhutbahkhutbah jumatManhajmanhaj salafmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnasihat tamadhanpuasa ramadhanteks khutbah jumat

Berbagi Makanan Berbuka di Panti Asuhan Bersama Muslim.or.id

Update 15 Maret 2023 terkumpul 3290 porsi menu makanan berbuka yang salah satunya akan didistribusikan ke panti asuhan di YogyakartaHARAPAN BERTEMU DENGAN ORANG TUA DI SURGARamadan akan tiba, sebagian dari kita yang jauh dari orang tua pasti merasakan kerinduan untuk bisa merajut hari-hari penuh berkah ini bersama orang yang dicintaiJarak masih bisa ditempuh, waktu masih bisa dinanti, namun jika jiwa sudah terpisah maka tidak ada pilihan lain yang paling indah selain dipertemukan kembali di surgaBegitulah harapan setiap anak yang telah kehilangan orang tuanyaKITA YANG LEBIH MEMBUTUHKAN MEREKAMakanan yang kita berikan tidak akan bisa menggantikan tangis kerinduan di ujung malamMakanan yang kita berikan untuk berbuka pun hanya akan mengenyangkan perut dan rasa dahaga di sisa-sisa senjaMereka membutuhkan makanan namun kita lebih butuh mereka untuk menjadi wasilah kebaikan melalui amal yang mulia di bulan Ramadan ini1 PORSI DAN PAHALA YANG BERLIPAT-LIPAT1 porsi yang anda berikan tidak hanya berbuah pahala kebaikan memberi makanan berbuka untuk yang berpuasa saja1 porsi tersebut juga bisa membantu teman-teman pengurus panti asuhan dalam menyediakan makanan yang bergizi untuk anak-anak1 porsi tersebut pun juga menjadi bukti benarnya keimanan kita karena sering Allah ta’ala sebutkan di dalam Alquran tentang orang-orang yang mengaku beriman namun enggan menyantuni anak yatim dan memberi makanan untuk orang miskin1 PORSI RP15.000Anda boleh berbagi lebih dari satu porsi atau mengatasnamakan sedekah yang mulia ini untuk orang-orang yang anda cintaiPAKET BERBUKA PUASA RAMADAN BISA DISALURKAN MELALUI REKENING RESMI YPIABank Syariah Indonesia (BSI) 7755332245 (kode trf. 451) a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-AtsariWAJIB KONFIRMASIKetik nama, nama program, nominal donasiKonfirmasi via WhatsApp ke nomor 082225979555Tags: Donasiiftharpanti asuhan

Berbagi Makanan Berbuka di Panti Asuhan Bersama Muslim.or.id

Update 15 Maret 2023 terkumpul 3290 porsi menu makanan berbuka yang salah satunya akan didistribusikan ke panti asuhan di YogyakartaHARAPAN BERTEMU DENGAN ORANG TUA DI SURGARamadan akan tiba, sebagian dari kita yang jauh dari orang tua pasti merasakan kerinduan untuk bisa merajut hari-hari penuh berkah ini bersama orang yang dicintaiJarak masih bisa ditempuh, waktu masih bisa dinanti, namun jika jiwa sudah terpisah maka tidak ada pilihan lain yang paling indah selain dipertemukan kembali di surgaBegitulah harapan setiap anak yang telah kehilangan orang tuanyaKITA YANG LEBIH MEMBUTUHKAN MEREKAMakanan yang kita berikan tidak akan bisa menggantikan tangis kerinduan di ujung malamMakanan yang kita berikan untuk berbuka pun hanya akan mengenyangkan perut dan rasa dahaga di sisa-sisa senjaMereka membutuhkan makanan namun kita lebih butuh mereka untuk menjadi wasilah kebaikan melalui amal yang mulia di bulan Ramadan ini1 PORSI DAN PAHALA YANG BERLIPAT-LIPAT1 porsi yang anda berikan tidak hanya berbuah pahala kebaikan memberi makanan berbuka untuk yang berpuasa saja1 porsi tersebut juga bisa membantu teman-teman pengurus panti asuhan dalam menyediakan makanan yang bergizi untuk anak-anak1 porsi tersebut pun juga menjadi bukti benarnya keimanan kita karena sering Allah ta’ala sebutkan di dalam Alquran tentang orang-orang yang mengaku beriman namun enggan menyantuni anak yatim dan memberi makanan untuk orang miskin1 PORSI RP15.000Anda boleh berbagi lebih dari satu porsi atau mengatasnamakan sedekah yang mulia ini untuk orang-orang yang anda cintaiPAKET BERBUKA PUASA RAMADAN BISA DISALURKAN MELALUI REKENING RESMI YPIABank Syariah Indonesia (BSI) 7755332245 (kode trf. 451) a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-AtsariWAJIB KONFIRMASIKetik nama, nama program, nominal donasiKonfirmasi via WhatsApp ke nomor 082225979555Tags: Donasiiftharpanti asuhan
Update 15 Maret 2023 terkumpul 3290 porsi menu makanan berbuka yang salah satunya akan didistribusikan ke panti asuhan di YogyakartaHARAPAN BERTEMU DENGAN ORANG TUA DI SURGARamadan akan tiba, sebagian dari kita yang jauh dari orang tua pasti merasakan kerinduan untuk bisa merajut hari-hari penuh berkah ini bersama orang yang dicintaiJarak masih bisa ditempuh, waktu masih bisa dinanti, namun jika jiwa sudah terpisah maka tidak ada pilihan lain yang paling indah selain dipertemukan kembali di surgaBegitulah harapan setiap anak yang telah kehilangan orang tuanyaKITA YANG LEBIH MEMBUTUHKAN MEREKAMakanan yang kita berikan tidak akan bisa menggantikan tangis kerinduan di ujung malamMakanan yang kita berikan untuk berbuka pun hanya akan mengenyangkan perut dan rasa dahaga di sisa-sisa senjaMereka membutuhkan makanan namun kita lebih butuh mereka untuk menjadi wasilah kebaikan melalui amal yang mulia di bulan Ramadan ini1 PORSI DAN PAHALA YANG BERLIPAT-LIPAT1 porsi yang anda berikan tidak hanya berbuah pahala kebaikan memberi makanan berbuka untuk yang berpuasa saja1 porsi tersebut juga bisa membantu teman-teman pengurus panti asuhan dalam menyediakan makanan yang bergizi untuk anak-anak1 porsi tersebut pun juga menjadi bukti benarnya keimanan kita karena sering Allah ta’ala sebutkan di dalam Alquran tentang orang-orang yang mengaku beriman namun enggan menyantuni anak yatim dan memberi makanan untuk orang miskin1 PORSI RP15.000Anda boleh berbagi lebih dari satu porsi atau mengatasnamakan sedekah yang mulia ini untuk orang-orang yang anda cintaiPAKET BERBUKA PUASA RAMADAN BISA DISALURKAN MELALUI REKENING RESMI YPIABank Syariah Indonesia (BSI) 7755332245 (kode trf. 451) a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-AtsariWAJIB KONFIRMASIKetik nama, nama program, nominal donasiKonfirmasi via WhatsApp ke nomor 082225979555Tags: Donasiiftharpanti asuhan


Update 15 Maret 2023 terkumpul 3290 porsi menu makanan berbuka yang salah satunya akan didistribusikan ke panti asuhan di YogyakartaHARAPAN BERTEMU DENGAN ORANG TUA DI SURGARamadan akan tiba, sebagian dari kita yang jauh dari orang tua pasti merasakan kerinduan untuk bisa merajut hari-hari penuh berkah ini bersama orang yang dicintaiJarak masih bisa ditempuh, waktu masih bisa dinanti, namun jika jiwa sudah terpisah maka tidak ada pilihan lain yang paling indah selain dipertemukan kembali di surgaBegitulah harapan setiap anak yang telah kehilangan orang tuanyaKITA YANG LEBIH MEMBUTUHKAN MEREKAMakanan yang kita berikan tidak akan bisa menggantikan tangis kerinduan di ujung malamMakanan yang kita berikan untuk berbuka pun hanya akan mengenyangkan perut dan rasa dahaga di sisa-sisa senjaMereka membutuhkan makanan namun kita lebih butuh mereka untuk menjadi wasilah kebaikan melalui amal yang mulia di bulan Ramadan ini1 PORSI DAN PAHALA YANG BERLIPAT-LIPAT1 porsi yang anda berikan tidak hanya berbuah pahala kebaikan memberi makanan berbuka untuk yang berpuasa saja1 porsi tersebut juga bisa membantu teman-teman pengurus panti asuhan dalam menyediakan makanan yang bergizi untuk anak-anak1 porsi tersebut pun juga menjadi bukti benarnya keimanan kita karena sering Allah ta’ala sebutkan di dalam Alquran tentang orang-orang yang mengaku beriman namun enggan menyantuni anak yatim dan memberi makanan untuk orang miskin1 PORSI RP15.000Anda boleh berbagi lebih dari satu porsi atau mengatasnamakan sedekah yang mulia ini untuk orang-orang yang anda cintaiPAKET BERBUKA PUASA RAMADAN BISA DISALURKAN MELALUI REKENING RESMI YPIABank Syariah Indonesia (BSI) 7755332245 (kode trf. 451) a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-AtsariWAJIB KONFIRMASIKetik nama, nama program, nominal donasiKonfirmasi via WhatsApp ke nomor 082225979555Tags: Donasiiftharpanti asuhan

Orang yang Berbohong ketika Puasa Boleh Makan Minum?

Pertanyaan: Saya mendengar bahwa orang yang berbohong ketika puasa maka puasanya sia-sia. Lalu apakah orang yang berbohong ketika puasa setelah itu boleh makan dan minum? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Pertama, berbohong tidak membatalkan puasa. Namun memang berbohong itu bisa membatalkan pahala puasa, sebagaimana maksiat-maksiat lainnya. Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به والجَهْلَ، فليسَ لِلَّهِ حاجَةٌ أنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرابَهُ “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kejahilan (maksiat), maka Allah tidak butuh amalan ia meninggalkan makan atau minum.” (HR. Al-Bukhari no. 6057) Dalam hadits yang lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فلا يَرْفُثْ ولَا يَجْهلْ، وإنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ “Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata buruk dan janganlah berbuat kejahilan (maksiat). Jika ada orang yang memerangimu atau mencelamu maka katakanlah: saya sedang puasa, saya sedang puasa.” (HR. Al-Bukhari no.1894, Muslim no.1151) Penulis kitab Aunul Ma’bud menjelaskan: قال بن بطال: لَيْسَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ يُؤْمَر بِأَنْ يَدَع صِيَامه وَإِنَّمَا مَعْنَاهُ التَّحْذِير مِنْ قَوْل الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ … وَقَالَ اِبْن الْمُنِير : بَلْ هُوَ كِنَايَة عَنْ عَدَم الْقَبُول. وَقَالَ اِبْن الْعَرَبِيّ : مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيث أَنْ لا يُثَاب عَلَى صِيَامه  “Ibnu Bathal mengatakan, “Bukan berarti orang yang berdusta diperintahkan untuk meninggalkan puasanya. Namun maknanya adalah peringatan keras agar tidak berdusta dan tidak melakukan maksiat.” … Ibnul Munir mengatakan, “Perintah dalam hadits ini bermakna kiasan untuk menyatakan tidak diterimanya amalan puasa orang yang demikian.” Ibnul Arabi mengatakan: “Konsekuensi dari hadits ini adalah orang yang demikian tidak mendapatkan pahala puasa”” (Aunul Ma’bud, 6/488 – 489) Maka orang yang berbohong ketika sedang puasa tidak serta-merta membatalkan puasa, namun pahalanya berkurang atau hangus. Dan andaikan berbohong membatalkan puasa, maka maksiat-maksiat lain juga membuat puasa batal. Karena dalam hadits di atas tidak hanya disebutkan berbohong saja. Adapun hadits: خمس تفطر الصائم ، وتنقض الوضوء : الكذب ، والغيبة ، والنميمة ، والنظر بالشهوة ، واليمين الفاجرة “Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Jauraqani di Al-Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di Al-Maudhu’at (1131). Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di Al-Maudhu’at (1131) dan juga Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dhaifah (1708). Kedua, orang yang berbohong ketika sedang puasa, tetap wajib melanjutkan puasanya sampai matahari tenggelam. Jika ia berbuka sebelum waktunya maka ia melakukan dosa besar lainnya, setelah dosa berbohong. Sebagaimana hadits dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,  بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ فَأَتَيَا بِى جَبَلاً وَعْرًا فَقَالاَ لِىَ : اصْعَدْ فَقُلْتُ : إِنِّى لاَ أُطِيقُهُ فَقَالاَ : إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ قَالُوا : هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ “Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua laki-laki yang mendatangiku. Keduanya memegangi kedua lenganku, kemudian membawaku ke sebuah gunung terjal. Keduanya berkata kepadaku: “naiklah!”. Aku menjawab: “Aku tidak mampu”. Keduanya berkata, “Kami akan memudahkannya untukmu”. Maka aku naik. Ketika aku berada di tengah gunung itu, tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang keras, sehingga aku bertanya: “Suara apa itu?”. Mereka menjawab, “Itu teriakan penduduk neraka”. Kemudian aku dibawa ke tempat lain, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang digantung terbalik dengan urat-urat kaki mereka sebagai ikatan. Ujung-ujung mulut mereka sobek dan mengalirkan darah. Aku bertanya, “Mereka itu siapa?” Keduanya menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya”. (HR. Ibnu Hibban no.7491, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban) Hadits ini adalah ancaman keras bagi orang yang berbuka sebelum waktunya. Maka orang yang terlanjur berbohong ketika puasa tidak boleh makan dan minum. Ia tetap wajib melanjutkan puasanya hingga tenggelam matahari.  Dan wajib baginya untuk bersegera bertaubat kepada Allah atas kebohongan yang ia lakukan. Jika ia bertaubat dengan taubat nasuha, maka insyaAllah pahala puasanya akan kembali. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: التائبُ من الذنبِ كمن لا ذنبَ لهُ “Orang yang bertaubat dari suatu dosa, maka ia sama dengan orang yang tidak melakukan dosa tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no.4250, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Orang Kafir Masuk Surga, Hukum Istri Meninggalkan Suami Untuk Bekerja, Gambar Hijir Ismail, Syafaat Nabi, Rum Non Alkohol, Amalan Untuk Ibu Hamil Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 222 QRIS donasi Yufid

Orang yang Berbohong ketika Puasa Boleh Makan Minum?

Pertanyaan: Saya mendengar bahwa orang yang berbohong ketika puasa maka puasanya sia-sia. Lalu apakah orang yang berbohong ketika puasa setelah itu boleh makan dan minum? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Pertama, berbohong tidak membatalkan puasa. Namun memang berbohong itu bisa membatalkan pahala puasa, sebagaimana maksiat-maksiat lainnya. Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به والجَهْلَ، فليسَ لِلَّهِ حاجَةٌ أنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرابَهُ “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kejahilan (maksiat), maka Allah tidak butuh amalan ia meninggalkan makan atau minum.” (HR. Al-Bukhari no. 6057) Dalam hadits yang lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فلا يَرْفُثْ ولَا يَجْهلْ، وإنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ “Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata buruk dan janganlah berbuat kejahilan (maksiat). Jika ada orang yang memerangimu atau mencelamu maka katakanlah: saya sedang puasa, saya sedang puasa.” (HR. Al-Bukhari no.1894, Muslim no.1151) Penulis kitab Aunul Ma’bud menjelaskan: قال بن بطال: لَيْسَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ يُؤْمَر بِأَنْ يَدَع صِيَامه وَإِنَّمَا مَعْنَاهُ التَّحْذِير مِنْ قَوْل الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ … وَقَالَ اِبْن الْمُنِير : بَلْ هُوَ كِنَايَة عَنْ عَدَم الْقَبُول. وَقَالَ اِبْن الْعَرَبِيّ : مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيث أَنْ لا يُثَاب عَلَى صِيَامه  “Ibnu Bathal mengatakan, “Bukan berarti orang yang berdusta diperintahkan untuk meninggalkan puasanya. Namun maknanya adalah peringatan keras agar tidak berdusta dan tidak melakukan maksiat.” … Ibnul Munir mengatakan, “Perintah dalam hadits ini bermakna kiasan untuk menyatakan tidak diterimanya amalan puasa orang yang demikian.” Ibnul Arabi mengatakan: “Konsekuensi dari hadits ini adalah orang yang demikian tidak mendapatkan pahala puasa”” (Aunul Ma’bud, 6/488 – 489) Maka orang yang berbohong ketika sedang puasa tidak serta-merta membatalkan puasa, namun pahalanya berkurang atau hangus. Dan andaikan berbohong membatalkan puasa, maka maksiat-maksiat lain juga membuat puasa batal. Karena dalam hadits di atas tidak hanya disebutkan berbohong saja. Adapun hadits: خمس تفطر الصائم ، وتنقض الوضوء : الكذب ، والغيبة ، والنميمة ، والنظر بالشهوة ، واليمين الفاجرة “Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Jauraqani di Al-Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di Al-Maudhu’at (1131). Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di Al-Maudhu’at (1131) dan juga Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dhaifah (1708). Kedua, orang yang berbohong ketika sedang puasa, tetap wajib melanjutkan puasanya sampai matahari tenggelam. Jika ia berbuka sebelum waktunya maka ia melakukan dosa besar lainnya, setelah dosa berbohong. Sebagaimana hadits dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,  بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ فَأَتَيَا بِى جَبَلاً وَعْرًا فَقَالاَ لِىَ : اصْعَدْ فَقُلْتُ : إِنِّى لاَ أُطِيقُهُ فَقَالاَ : إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ قَالُوا : هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ “Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua laki-laki yang mendatangiku. Keduanya memegangi kedua lenganku, kemudian membawaku ke sebuah gunung terjal. Keduanya berkata kepadaku: “naiklah!”. Aku menjawab: “Aku tidak mampu”. Keduanya berkata, “Kami akan memudahkannya untukmu”. Maka aku naik. Ketika aku berada di tengah gunung itu, tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang keras, sehingga aku bertanya: “Suara apa itu?”. Mereka menjawab, “Itu teriakan penduduk neraka”. Kemudian aku dibawa ke tempat lain, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang digantung terbalik dengan urat-urat kaki mereka sebagai ikatan. Ujung-ujung mulut mereka sobek dan mengalirkan darah. Aku bertanya, “Mereka itu siapa?” Keduanya menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya”. (HR. Ibnu Hibban no.7491, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban) Hadits ini adalah ancaman keras bagi orang yang berbuka sebelum waktunya. Maka orang yang terlanjur berbohong ketika puasa tidak boleh makan dan minum. Ia tetap wajib melanjutkan puasanya hingga tenggelam matahari.  Dan wajib baginya untuk bersegera bertaubat kepada Allah atas kebohongan yang ia lakukan. Jika ia bertaubat dengan taubat nasuha, maka insyaAllah pahala puasanya akan kembali. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: التائبُ من الذنبِ كمن لا ذنبَ لهُ “Orang yang bertaubat dari suatu dosa, maka ia sama dengan orang yang tidak melakukan dosa tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no.4250, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Orang Kafir Masuk Surga, Hukum Istri Meninggalkan Suami Untuk Bekerja, Gambar Hijir Ismail, Syafaat Nabi, Rum Non Alkohol, Amalan Untuk Ibu Hamil Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 222 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Saya mendengar bahwa orang yang berbohong ketika puasa maka puasanya sia-sia. Lalu apakah orang yang berbohong ketika puasa setelah itu boleh makan dan minum? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Pertama, berbohong tidak membatalkan puasa. Namun memang berbohong itu bisa membatalkan pahala puasa, sebagaimana maksiat-maksiat lainnya. Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به والجَهْلَ، فليسَ لِلَّهِ حاجَةٌ أنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرابَهُ “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kejahilan (maksiat), maka Allah tidak butuh amalan ia meninggalkan makan atau minum.” (HR. Al-Bukhari no. 6057) Dalam hadits yang lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فلا يَرْفُثْ ولَا يَجْهلْ، وإنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ “Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata buruk dan janganlah berbuat kejahilan (maksiat). Jika ada orang yang memerangimu atau mencelamu maka katakanlah: saya sedang puasa, saya sedang puasa.” (HR. Al-Bukhari no.1894, Muslim no.1151) Penulis kitab Aunul Ma’bud menjelaskan: قال بن بطال: لَيْسَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ يُؤْمَر بِأَنْ يَدَع صِيَامه وَإِنَّمَا مَعْنَاهُ التَّحْذِير مِنْ قَوْل الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ … وَقَالَ اِبْن الْمُنِير : بَلْ هُوَ كِنَايَة عَنْ عَدَم الْقَبُول. وَقَالَ اِبْن الْعَرَبِيّ : مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيث أَنْ لا يُثَاب عَلَى صِيَامه  “Ibnu Bathal mengatakan, “Bukan berarti orang yang berdusta diperintahkan untuk meninggalkan puasanya. Namun maknanya adalah peringatan keras agar tidak berdusta dan tidak melakukan maksiat.” … Ibnul Munir mengatakan, “Perintah dalam hadits ini bermakna kiasan untuk menyatakan tidak diterimanya amalan puasa orang yang demikian.” Ibnul Arabi mengatakan: “Konsekuensi dari hadits ini adalah orang yang demikian tidak mendapatkan pahala puasa”” (Aunul Ma’bud, 6/488 – 489) Maka orang yang berbohong ketika sedang puasa tidak serta-merta membatalkan puasa, namun pahalanya berkurang atau hangus. Dan andaikan berbohong membatalkan puasa, maka maksiat-maksiat lain juga membuat puasa batal. Karena dalam hadits di atas tidak hanya disebutkan berbohong saja. Adapun hadits: خمس تفطر الصائم ، وتنقض الوضوء : الكذب ، والغيبة ، والنميمة ، والنظر بالشهوة ، واليمين الفاجرة “Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Jauraqani di Al-Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di Al-Maudhu’at (1131). Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di Al-Maudhu’at (1131) dan juga Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dhaifah (1708). Kedua, orang yang berbohong ketika sedang puasa, tetap wajib melanjutkan puasanya sampai matahari tenggelam. Jika ia berbuka sebelum waktunya maka ia melakukan dosa besar lainnya, setelah dosa berbohong. Sebagaimana hadits dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,  بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ فَأَتَيَا بِى جَبَلاً وَعْرًا فَقَالاَ لِىَ : اصْعَدْ فَقُلْتُ : إِنِّى لاَ أُطِيقُهُ فَقَالاَ : إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ قَالُوا : هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ “Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua laki-laki yang mendatangiku. Keduanya memegangi kedua lenganku, kemudian membawaku ke sebuah gunung terjal. Keduanya berkata kepadaku: “naiklah!”. Aku menjawab: “Aku tidak mampu”. Keduanya berkata, “Kami akan memudahkannya untukmu”. Maka aku naik. Ketika aku berada di tengah gunung itu, tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang keras, sehingga aku bertanya: “Suara apa itu?”. Mereka menjawab, “Itu teriakan penduduk neraka”. Kemudian aku dibawa ke tempat lain, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang digantung terbalik dengan urat-urat kaki mereka sebagai ikatan. Ujung-ujung mulut mereka sobek dan mengalirkan darah. Aku bertanya, “Mereka itu siapa?” Keduanya menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya”. (HR. Ibnu Hibban no.7491, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban) Hadits ini adalah ancaman keras bagi orang yang berbuka sebelum waktunya. Maka orang yang terlanjur berbohong ketika puasa tidak boleh makan dan minum. Ia tetap wajib melanjutkan puasanya hingga tenggelam matahari.  Dan wajib baginya untuk bersegera bertaubat kepada Allah atas kebohongan yang ia lakukan. Jika ia bertaubat dengan taubat nasuha, maka insyaAllah pahala puasanya akan kembali. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: التائبُ من الذنبِ كمن لا ذنبَ لهُ “Orang yang bertaubat dari suatu dosa, maka ia sama dengan orang yang tidak melakukan dosa tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no.4250, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Orang Kafir Masuk Surga, Hukum Istri Meninggalkan Suami Untuk Bekerja, Gambar Hijir Ismail, Syafaat Nabi, Rum Non Alkohol, Amalan Untuk Ibu Hamil Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 222 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Saya mendengar bahwa orang yang berbohong ketika puasa maka puasanya sia-sia. Lalu apakah orang yang berbohong ketika puasa setelah itu boleh makan dan minum? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Pertama, berbohong tidak membatalkan puasa. Namun memang berbohong itu bisa membatalkan pahala puasa, sebagaimana maksiat-maksiat lainnya. Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به والجَهْلَ، فليسَ لِلَّهِ حاجَةٌ أنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرابَهُ “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kejahilan (maksiat), maka Allah tidak butuh amalan ia meninggalkan makan atau minum.” (HR. Al-Bukhari no. 6057) Dalam hadits yang lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فلا يَرْفُثْ ولَا يَجْهلْ، وإنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ “Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata buruk dan janganlah berbuat kejahilan (maksiat). Jika ada orang yang memerangimu atau mencelamu maka katakanlah: saya sedang puasa, saya sedang puasa.” (HR. Al-Bukhari no.1894, Muslim no.1151) Penulis kitab Aunul Ma’bud menjelaskan: قال بن بطال: لَيْسَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ يُؤْمَر بِأَنْ يَدَع صِيَامه وَإِنَّمَا مَعْنَاهُ التَّحْذِير مِنْ قَوْل الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ … وَقَالَ اِبْن الْمُنِير : بَلْ هُوَ كِنَايَة عَنْ عَدَم الْقَبُول. وَقَالَ اِبْن الْعَرَبِيّ : مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيث أَنْ لا يُثَاب عَلَى صِيَامه  “Ibnu Bathal mengatakan, “Bukan berarti orang yang berdusta diperintahkan untuk meninggalkan puasanya. Namun maknanya adalah peringatan keras agar tidak berdusta dan tidak melakukan maksiat.” … Ibnul Munir mengatakan, “Perintah dalam hadits ini bermakna kiasan untuk menyatakan tidak diterimanya amalan puasa orang yang demikian.” Ibnul Arabi mengatakan: “Konsekuensi dari hadits ini adalah orang yang demikian tidak mendapatkan pahala puasa”” (Aunul Ma’bud, 6/488 – 489) Maka orang yang berbohong ketika sedang puasa tidak serta-merta membatalkan puasa, namun pahalanya berkurang atau hangus. Dan andaikan berbohong membatalkan puasa, maka maksiat-maksiat lain juga membuat puasa batal. Karena dalam hadits di atas tidak hanya disebutkan berbohong saja. Adapun hadits: خمس تفطر الصائم ، وتنقض الوضوء : الكذب ، والغيبة ، والنميمة ، والنظر بالشهوة ، واليمين الفاجرة “Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Jauraqani di Al-Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di Al-Maudhu’at (1131). Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di Al-Maudhu’at (1131) dan juga Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dhaifah (1708). Kedua, orang yang berbohong ketika sedang puasa, tetap wajib melanjutkan puasanya sampai matahari tenggelam. Jika ia berbuka sebelum waktunya maka ia melakukan dosa besar lainnya, setelah dosa berbohong. Sebagaimana hadits dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,  بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ فَأَتَيَا بِى جَبَلاً وَعْرًا فَقَالاَ لِىَ : اصْعَدْ فَقُلْتُ : إِنِّى لاَ أُطِيقُهُ فَقَالاَ : إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ قَالُوا : هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ “Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua laki-laki yang mendatangiku. Keduanya memegangi kedua lenganku, kemudian membawaku ke sebuah gunung terjal. Keduanya berkata kepadaku: “naiklah!”. Aku menjawab: “Aku tidak mampu”. Keduanya berkata, “Kami akan memudahkannya untukmu”. Maka aku naik. Ketika aku berada di tengah gunung itu, tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang keras, sehingga aku bertanya: “Suara apa itu?”. Mereka menjawab, “Itu teriakan penduduk neraka”. Kemudian aku dibawa ke tempat lain, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang digantung terbalik dengan urat-urat kaki mereka sebagai ikatan. Ujung-ujung mulut mereka sobek dan mengalirkan darah. Aku bertanya, “Mereka itu siapa?” Keduanya menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya”. (HR. Ibnu Hibban no.7491, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban) Hadits ini adalah ancaman keras bagi orang yang berbuka sebelum waktunya. Maka orang yang terlanjur berbohong ketika puasa tidak boleh makan dan minum. Ia tetap wajib melanjutkan puasanya hingga tenggelam matahari.  Dan wajib baginya untuk bersegera bertaubat kepada Allah atas kebohongan yang ia lakukan. Jika ia bertaubat dengan taubat nasuha, maka insyaAllah pahala puasanya akan kembali. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: التائبُ من الذنبِ كمن لا ذنبَ لهُ “Orang yang bertaubat dari suatu dosa, maka ia sama dengan orang yang tidak melakukan dosa tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no.4250, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Orang Kafir Masuk Surga, Hukum Istri Meninggalkan Suami Untuk Bekerja, Gambar Hijir Ismail, Syafaat Nabi, Rum Non Alkohol, Amalan Untuk Ibu Hamil Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 222 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Jika Punya Saham di Perusahaan Bercampur Halal Haram – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Jika seseorang menanam saham di perusahan yang mubah, lalu berubah menjadi perusahan tercampur dengan haram.Bagaimana ia harus berbuat dalam keadaan ini? Ia boleh tetap di perusahaan itu hingga mendapat modalnya kembali.Ketika ia telah mendapat modalnya, ia harus menjual sahamnya. Adapun sebelum ia mendapat modalnya, ia tidak wajib meninggalkan saham itu.Ini boleh karena hanya ingin mendapatkan modalnya kembali, bukan untuk mendapat untung.Ia hanya ingin memperoleh modalnya. Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah ia boleh melanjutkan hingga mendapat modalnya kembali.Lalu setelah itu, ia melepas saham itu. ==== إِذَا سَاهَمَ الْإِنْسَانُ فِي شَرِكَةٍ مُبَاحَةٍ ثُمَّ أَصْبَحَتْ مُخْتَلِطَةً فَكَيْفَ يَتَعامَلُ مَعَ هَذَا الْأَمْرِ؟ لَهُ أَنْ يَبْقَى حَتَّى يُحَصِّلَ رَأْسَ مَالِهِ فَإِذَا حَصَّلَ رَأْسَ مَالِهِ فَإِنَّهُ يَبِيْعُهَا أَمَّا قَبْلَ أَنْ يَحْصُلَ رَأْسَ الْمَالِ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَخَلَّصَ مِنْهَا لِأَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُحَصِّلَ فَقَطْ رَأْسَ مَالِهِ لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْبَحَ مِنْهَا وَإِنَّمَا يُرِيدُ مُجَرَّدَ تَحْصِيْلِ رَأْسِ الْمَالِ فَالْأَقْرَبُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ لَهُ أَنْ يَبْقَى حَتَّى يُحَصِّلَ رَأْسَ مَالِهِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَتَخَلَّصُ مِنْهَا

Jika Punya Saham di Perusahaan Bercampur Halal Haram – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Jika seseorang menanam saham di perusahan yang mubah, lalu berubah menjadi perusahan tercampur dengan haram.Bagaimana ia harus berbuat dalam keadaan ini? Ia boleh tetap di perusahaan itu hingga mendapat modalnya kembali.Ketika ia telah mendapat modalnya, ia harus menjual sahamnya. Adapun sebelum ia mendapat modalnya, ia tidak wajib meninggalkan saham itu.Ini boleh karena hanya ingin mendapatkan modalnya kembali, bukan untuk mendapat untung.Ia hanya ingin memperoleh modalnya. Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah ia boleh melanjutkan hingga mendapat modalnya kembali.Lalu setelah itu, ia melepas saham itu. ==== إِذَا سَاهَمَ الْإِنْسَانُ فِي شَرِكَةٍ مُبَاحَةٍ ثُمَّ أَصْبَحَتْ مُخْتَلِطَةً فَكَيْفَ يَتَعامَلُ مَعَ هَذَا الْأَمْرِ؟ لَهُ أَنْ يَبْقَى حَتَّى يُحَصِّلَ رَأْسَ مَالِهِ فَإِذَا حَصَّلَ رَأْسَ مَالِهِ فَإِنَّهُ يَبِيْعُهَا أَمَّا قَبْلَ أَنْ يَحْصُلَ رَأْسَ الْمَالِ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَخَلَّصَ مِنْهَا لِأَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُحَصِّلَ فَقَطْ رَأْسَ مَالِهِ لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْبَحَ مِنْهَا وَإِنَّمَا يُرِيدُ مُجَرَّدَ تَحْصِيْلِ رَأْسِ الْمَالِ فَالْأَقْرَبُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ لَهُ أَنْ يَبْقَى حَتَّى يُحَصِّلَ رَأْسَ مَالِهِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَتَخَلَّصُ مِنْهَا
Jika seseorang menanam saham di perusahan yang mubah, lalu berubah menjadi perusahan tercampur dengan haram.Bagaimana ia harus berbuat dalam keadaan ini? Ia boleh tetap di perusahaan itu hingga mendapat modalnya kembali.Ketika ia telah mendapat modalnya, ia harus menjual sahamnya. Adapun sebelum ia mendapat modalnya, ia tidak wajib meninggalkan saham itu.Ini boleh karena hanya ingin mendapatkan modalnya kembali, bukan untuk mendapat untung.Ia hanya ingin memperoleh modalnya. Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah ia boleh melanjutkan hingga mendapat modalnya kembali.Lalu setelah itu, ia melepas saham itu. ==== إِذَا سَاهَمَ الْإِنْسَانُ فِي شَرِكَةٍ مُبَاحَةٍ ثُمَّ أَصْبَحَتْ مُخْتَلِطَةً فَكَيْفَ يَتَعامَلُ مَعَ هَذَا الْأَمْرِ؟ لَهُ أَنْ يَبْقَى حَتَّى يُحَصِّلَ رَأْسَ مَالِهِ فَإِذَا حَصَّلَ رَأْسَ مَالِهِ فَإِنَّهُ يَبِيْعُهَا أَمَّا قَبْلَ أَنْ يَحْصُلَ رَأْسَ الْمَالِ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَخَلَّصَ مِنْهَا لِأَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُحَصِّلَ فَقَطْ رَأْسَ مَالِهِ لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْبَحَ مِنْهَا وَإِنَّمَا يُرِيدُ مُجَرَّدَ تَحْصِيْلِ رَأْسِ الْمَالِ فَالْأَقْرَبُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ لَهُ أَنْ يَبْقَى حَتَّى يُحَصِّلَ رَأْسَ مَالِهِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَتَخَلَّصُ مِنْهَا


Jika seseorang menanam saham di perusahan yang mubah, lalu berubah menjadi perusahan tercampur dengan haram.Bagaimana ia harus berbuat dalam keadaan ini? Ia boleh tetap di perusahaan itu hingga mendapat modalnya kembali.Ketika ia telah mendapat modalnya, ia harus menjual sahamnya. Adapun sebelum ia mendapat modalnya, ia tidak wajib meninggalkan saham itu.Ini boleh karena hanya ingin mendapatkan modalnya kembali, bukan untuk mendapat untung.Ia hanya ingin memperoleh modalnya. Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah ia boleh melanjutkan hingga mendapat modalnya kembali.Lalu setelah itu, ia melepas saham itu. ==== إِذَا سَاهَمَ الْإِنْسَانُ فِي شَرِكَةٍ مُبَاحَةٍ ثُمَّ أَصْبَحَتْ مُخْتَلِطَةً فَكَيْفَ يَتَعامَلُ مَعَ هَذَا الْأَمْرِ؟ لَهُ أَنْ يَبْقَى حَتَّى يُحَصِّلَ رَأْسَ مَالِهِ فَإِذَا حَصَّلَ رَأْسَ مَالِهِ فَإِنَّهُ يَبِيْعُهَا أَمَّا قَبْلَ أَنْ يَحْصُلَ رَأْسَ الْمَالِ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَخَلَّصَ مِنْهَا لِأَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُحَصِّلَ فَقَطْ رَأْسَ مَالِهِ لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْبَحَ مِنْهَا وَإِنَّمَا يُرِيدُ مُجَرَّدَ تَحْصِيْلِ رَأْسِ الْمَالِ فَالْأَقْرَبُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ لَهُ أَنْ يَبْقَى حَتَّى يُحَصِّلَ رَأْسَ مَالِهِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَتَخَلَّصُ مِنْهَا

Kapan Orang Masbuk Boleh Bergegas dan Berlari? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ketika seseorang mendengar imam Salat Jumattelah selesai dari membaca surat al-Quran di rakaat kedua,dan mulai melakukan rukuk di rakaat kedua,apakah orang itu boleh berjalan cepat dan berlari untuk mengejar Salat Jumat? Ya, ia boleh melakukannya.Ini telah disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dan lainnya bahwa keadaan ini dikecualikan dari sabda Nabi ‘alaihis shalatu wassalam “Jika kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah biasa dan hendaklah kalian tenang. Salat yang kalian dapat (bersama imam), ikutilah…” Para ulama berkata, “Jika ia takut akan tertinggal seluruh rakaat Salat Jumat atau salat berjamaah,maka boleh baginya untuk bergegas dan berlari,agar ia dapat mendapat Salat Jumat dan jamaah. Karena Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Salat yang kalian dapat (bersama imam), ikutilah…” Sedangkan ia tidak akan dapat sama sekali (jika tetap tenang). Jadi, jika kamu datang ke masjid dan imam sudah dalam keadaan rukuk di rakaat kedua pada Salat Jumatatau di rakaat terakhir pada salat apa pun itu, yakni dalam keadaan rukuk di rakaat terakhir pada salat,ketika itu boleh bergegas dan berlari, berdasarkan pendapat yang lebih kuat.Sedangkan dalam keadaan selain itu, seseorang harus berjalan dengan tenang,tidak terburu-buru dan berlari. ==== إِذَا سَمِعَ الْإِنْسَانُ الْإِمَامَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَقَدِ انْتَهَى مِنْ قِرَاءَةِ السُّورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ وَرَكَعَ الرَّكْعَةَ الثَّانِيَةَ فَهَلْ يَجُوزُ لَهُ السَّعْيُ وَالرَّكْضُ لِإِدْرَاكِ الْجُمُعَةِ؟ نَعَمْ يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ وَهَذَا ذَكَرَهُ ابْنُ تَيْمِيَةَ وَغَيْرُهُ وَذَكَرُوا أَنَّ هَذَا مُسْتَثْنًى مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا قَالُوا إِنَّهُ إِذَا خَشِيَ أَنْ تَفُوتَهُ الْجُمُعَةُ أَوِ الْجَمَاعَةُ فَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يَسْعَى وَأَنْ يَرْكُضَ حَتَّى يُدْرِكَ الْجُمُعَةَ وَالْجَمَاعَةَ لِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَهَذَا لَنْ يُدْرِكَ شَيْئًا فَإِذَا أَتَيْتَ وَالْإِمَامُ فِي الرُّكُوعِ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ أَوْ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيْرَةِ مِنْ أَيِّ صَلَاةٍ فِي الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ مِنْ أَيِّ صَلَاةٍ هُنَا يَجُوزُ السَّعْيُ وَالرَّكْضُ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَيَمْشِي الْإِنْسَانُ وَعَلَيْهِ السَّكِينَةُ و وَلَا يُسْرِعُ وَلاَ يَسْعَى

Kapan Orang Masbuk Boleh Bergegas dan Berlari? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ketika seseorang mendengar imam Salat Jumattelah selesai dari membaca surat al-Quran di rakaat kedua,dan mulai melakukan rukuk di rakaat kedua,apakah orang itu boleh berjalan cepat dan berlari untuk mengejar Salat Jumat? Ya, ia boleh melakukannya.Ini telah disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dan lainnya bahwa keadaan ini dikecualikan dari sabda Nabi ‘alaihis shalatu wassalam “Jika kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah biasa dan hendaklah kalian tenang. Salat yang kalian dapat (bersama imam), ikutilah…” Para ulama berkata, “Jika ia takut akan tertinggal seluruh rakaat Salat Jumat atau salat berjamaah,maka boleh baginya untuk bergegas dan berlari,agar ia dapat mendapat Salat Jumat dan jamaah. Karena Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Salat yang kalian dapat (bersama imam), ikutilah…” Sedangkan ia tidak akan dapat sama sekali (jika tetap tenang). Jadi, jika kamu datang ke masjid dan imam sudah dalam keadaan rukuk di rakaat kedua pada Salat Jumatatau di rakaat terakhir pada salat apa pun itu, yakni dalam keadaan rukuk di rakaat terakhir pada salat,ketika itu boleh bergegas dan berlari, berdasarkan pendapat yang lebih kuat.Sedangkan dalam keadaan selain itu, seseorang harus berjalan dengan tenang,tidak terburu-buru dan berlari. ==== إِذَا سَمِعَ الْإِنْسَانُ الْإِمَامَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَقَدِ انْتَهَى مِنْ قِرَاءَةِ السُّورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ وَرَكَعَ الرَّكْعَةَ الثَّانِيَةَ فَهَلْ يَجُوزُ لَهُ السَّعْيُ وَالرَّكْضُ لِإِدْرَاكِ الْجُمُعَةِ؟ نَعَمْ يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ وَهَذَا ذَكَرَهُ ابْنُ تَيْمِيَةَ وَغَيْرُهُ وَذَكَرُوا أَنَّ هَذَا مُسْتَثْنًى مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا قَالُوا إِنَّهُ إِذَا خَشِيَ أَنْ تَفُوتَهُ الْجُمُعَةُ أَوِ الْجَمَاعَةُ فَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يَسْعَى وَأَنْ يَرْكُضَ حَتَّى يُدْرِكَ الْجُمُعَةَ وَالْجَمَاعَةَ لِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَهَذَا لَنْ يُدْرِكَ شَيْئًا فَإِذَا أَتَيْتَ وَالْإِمَامُ فِي الرُّكُوعِ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ أَوْ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيْرَةِ مِنْ أَيِّ صَلَاةٍ فِي الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ مِنْ أَيِّ صَلَاةٍ هُنَا يَجُوزُ السَّعْيُ وَالرَّكْضُ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَيَمْشِي الْإِنْسَانُ وَعَلَيْهِ السَّكِينَةُ و وَلَا يُسْرِعُ وَلاَ يَسْعَى
Ketika seseorang mendengar imam Salat Jumattelah selesai dari membaca surat al-Quran di rakaat kedua,dan mulai melakukan rukuk di rakaat kedua,apakah orang itu boleh berjalan cepat dan berlari untuk mengejar Salat Jumat? Ya, ia boleh melakukannya.Ini telah disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dan lainnya bahwa keadaan ini dikecualikan dari sabda Nabi ‘alaihis shalatu wassalam “Jika kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah biasa dan hendaklah kalian tenang. Salat yang kalian dapat (bersama imam), ikutilah…” Para ulama berkata, “Jika ia takut akan tertinggal seluruh rakaat Salat Jumat atau salat berjamaah,maka boleh baginya untuk bergegas dan berlari,agar ia dapat mendapat Salat Jumat dan jamaah. Karena Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Salat yang kalian dapat (bersama imam), ikutilah…” Sedangkan ia tidak akan dapat sama sekali (jika tetap tenang). Jadi, jika kamu datang ke masjid dan imam sudah dalam keadaan rukuk di rakaat kedua pada Salat Jumatatau di rakaat terakhir pada salat apa pun itu, yakni dalam keadaan rukuk di rakaat terakhir pada salat,ketika itu boleh bergegas dan berlari, berdasarkan pendapat yang lebih kuat.Sedangkan dalam keadaan selain itu, seseorang harus berjalan dengan tenang,tidak terburu-buru dan berlari. ==== إِذَا سَمِعَ الْإِنْسَانُ الْإِمَامَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَقَدِ انْتَهَى مِنْ قِرَاءَةِ السُّورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ وَرَكَعَ الرَّكْعَةَ الثَّانِيَةَ فَهَلْ يَجُوزُ لَهُ السَّعْيُ وَالرَّكْضُ لِإِدْرَاكِ الْجُمُعَةِ؟ نَعَمْ يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ وَهَذَا ذَكَرَهُ ابْنُ تَيْمِيَةَ وَغَيْرُهُ وَذَكَرُوا أَنَّ هَذَا مُسْتَثْنًى مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا قَالُوا إِنَّهُ إِذَا خَشِيَ أَنْ تَفُوتَهُ الْجُمُعَةُ أَوِ الْجَمَاعَةُ فَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يَسْعَى وَأَنْ يَرْكُضَ حَتَّى يُدْرِكَ الْجُمُعَةَ وَالْجَمَاعَةَ لِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَهَذَا لَنْ يُدْرِكَ شَيْئًا فَإِذَا أَتَيْتَ وَالْإِمَامُ فِي الرُّكُوعِ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ أَوْ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيْرَةِ مِنْ أَيِّ صَلَاةٍ فِي الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ مِنْ أَيِّ صَلَاةٍ هُنَا يَجُوزُ السَّعْيُ وَالرَّكْضُ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَيَمْشِي الْإِنْسَانُ وَعَلَيْهِ السَّكِينَةُ و وَلَا يُسْرِعُ وَلاَ يَسْعَى


Ketika seseorang mendengar imam Salat Jumattelah selesai dari membaca surat al-Quran di rakaat kedua,dan mulai melakukan rukuk di rakaat kedua,apakah orang itu boleh berjalan cepat dan berlari untuk mengejar Salat Jumat? Ya, ia boleh melakukannya.Ini telah disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dan lainnya bahwa keadaan ini dikecualikan dari sabda Nabi ‘alaihis shalatu wassalam “Jika kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah biasa dan hendaklah kalian tenang. Salat yang kalian dapat (bersama imam), ikutilah…” Para ulama berkata, “Jika ia takut akan tertinggal seluruh rakaat Salat Jumat atau salat berjamaah,maka boleh baginya untuk bergegas dan berlari,agar ia dapat mendapat Salat Jumat dan jamaah. Karena Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Salat yang kalian dapat (bersama imam), ikutilah…” Sedangkan ia tidak akan dapat sama sekali (jika tetap tenang). Jadi, jika kamu datang ke masjid dan imam sudah dalam keadaan rukuk di rakaat kedua pada Salat Jumatatau di rakaat terakhir pada salat apa pun itu, yakni dalam keadaan rukuk di rakaat terakhir pada salat,ketika itu boleh bergegas dan berlari, berdasarkan pendapat yang lebih kuat.Sedangkan dalam keadaan selain itu, seseorang harus berjalan dengan tenang,tidak terburu-buru dan berlari. ==== إِذَا سَمِعَ الْإِنْسَانُ الْإِمَامَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَقَدِ انْتَهَى مِنْ قِرَاءَةِ السُّورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ وَرَكَعَ الرَّكْعَةَ الثَّانِيَةَ فَهَلْ يَجُوزُ لَهُ السَّعْيُ وَالرَّكْضُ لِإِدْرَاكِ الْجُمُعَةِ؟ نَعَمْ يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ وَهَذَا ذَكَرَهُ ابْنُ تَيْمِيَةَ وَغَيْرُهُ وَذَكَرُوا أَنَّ هَذَا مُسْتَثْنًى مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا قَالُوا إِنَّهُ إِذَا خَشِيَ أَنْ تَفُوتَهُ الْجُمُعَةُ أَوِ الْجَمَاعَةُ فَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يَسْعَى وَأَنْ يَرْكُضَ حَتَّى يُدْرِكَ الْجُمُعَةَ وَالْجَمَاعَةَ لِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَهَذَا لَنْ يُدْرِكَ شَيْئًا فَإِذَا أَتَيْتَ وَالْإِمَامُ فِي الرُّكُوعِ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ أَوْ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيْرَةِ مِنْ أَيِّ صَلَاةٍ فِي الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ مِنْ أَيِّ صَلَاةٍ هُنَا يَجُوزُ السَّعْيُ وَالرَّكْضُ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَيَمْشِي الْإِنْسَانُ وَعَلَيْهِ السَّكِينَةُ و وَلَا يُسْرِعُ وَلاَ يَسْعَى

6 Cara Efektif Mengobati Hati yang Sakit

Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama, rajin membaca Al-Qur’an, menghayati maknanya, mempelajari kandungannya, serta mengamalkan apa-apa yang ada di dalamnya 2. Kedua, senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala 3. Ketiga, memperbanyak berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar senantiasa diberikan hati yang sehat lagi bersih 4. Keempat, menyembunyikan amal dan fokus menyendiri dalam beribadah kepada Allah Ta’ala 5. Kelima, menjauhkan diri dari tempat-tempat maksiat dan penuh fitnah karena kesemuanya itu merusak hati 6. Keenam, mengagungkan syiar-syiar Allah Ta’ala Hati seorang hamba tidak akan bisa bersih dan lurus di atas keimanan yang kuat, kecuali apabila selamat dari fitnah syubhat dan syahwat. Perlu kita ketahui bersama bahwa hati yang bersih dan selamat dari fitnah syahwat dan syubhat merupakan sebab datangnya kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingatkan kita bahwa di hari kiamat nanti, harta benda dan anak-anak kita tidak akan berguna dan tidak akan mendatangkan kebahagiaan, kecuali apabila kita bertemu Allah Ta’ala dengan hati yang bersih.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyebutkan bahwa mereka yang memiliki hati yang bersih merupakan salah satu manusia yang paling utama. Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: “كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ”. قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: “هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ”Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan jujur dalam berucap.” Mereka (para sahabat) berkata, “Jujur dalam berucap telah kami ketahui, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda, “Yaitu, hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezaliman, kedengkian, dan hasad di dalamnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3416)Berikut ini adalah beberapa cara efektif yang akan membantu kita di dalam menyembuhkan dan membersihkan hati kita yang dipenuhi oleh penyakit, baik penyakit syubhat maupun penyakit syahwat.Pertama, rajin membaca Al-Qur’an, menghayati maknanya, mempelajari kandungannya, serta mengamalkan apa-apa yang ada di dalamnyaSeluruh manusia diperintahkan untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala saja. Dengan menjalankan seluruh perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Kesemuanya itu tak akan terwujud, kecuali jika orang tersebut benar-benar telah menghayati dan mempelajari kandungan Al-Qur’an. Allah Ta’ala sendiri yang memerintahkan kita untuk menghayati Al-Qur’an. Allah berfirman,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا“Maka, tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)Tidak diragukan lagi, menelaah dan menghayati makna ayat-ayat Al-Qur’an merupakan obat paling ampuh untuk menyembuhkan hati yang sakit lagi kotor. Allah Ta’ala mengabarkan terkait hal ini dalam firman-Nya,يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk, serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)Imam As-Sa’di rahimahullah berkata,“Al-Qur’an merupakan obat penyembuh dari segala macam penyakit yang bersarang di hati, baik itu penyakit syahwat yang menghalangi seseorang dari ketundukan, maupun penyakit syubhat yang merusak keyakinan terdalam seseorang. Apa yang terdapat di dalamnya dari nasihat-nasihat, motivasi-motivasi, ancaman-ancaman, janji-janji, serta ancaman-ancaman, kesemuanya itu akan mempengaruhi rasa semangat seorang hamba dan rasa takutnya. Jika hati ini telah sembuh dari penyakit-penyakit dan dipenuhi dengan kesehatan yang sempurna, maka seluruh anggota badan yang lain pun akan ikut membaik dan menjadi sehat, karena sehatnya badan berasal dari sehatnya hati dan rusaknya badan pun berasal dari rusaknya hati.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 367)Kedua, senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’alaAllah Ta’ala telah mengabarkan bahwa hati ini tak akan bisa tenang, kecuali jika ia senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk memperbanyak zikir. Allah Ta’ala berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)Tidaklah Allah memerintahkan sebuah amalan wajib, kecuali pasti akan memberikan batas dan takarannya, dan Allah Ta’ala akan memaklumi hamba-Nya apabila ia memiliki uzur saat tidak melaksanakan kewajiban tersebut. Berbeda halnya dengan kewajiban berzikir, Allah Ta’ala tidak membatasi jumlahnya dan tidak pula memberikan uzur kepada orang yang meninggalkannya, kecuali jika karena sebab hilangnya akal. Allah Ta’ala berfirman,فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ “Ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring.” (QS. An-Nisa: 103)Baik itu di siang hari, malam hari, saat dalam kondisi lapang maupun saat sedang mengalami kesulitan, saat sedang sehat maupun saat sedang sakit, maka kita diperintahkan untuk senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala pada semua kondisi tersebut.Baca Juga: 5 Penyakit Hati yang Harus Kita HindariKetiga, memperbanyak berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar senantiasa diberikan hati yang sehat lagi bersihSelalulah mengingat bahwa hati kita berada di dalam genggaman Allah Ta’ala. Oleh karenanya, seorang mukmin harus senantiasa memohon dan berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberikan hati yang sehat dan bersih. Sebagaimana hal ini juga telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berdoa,يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Rabb Yang Maha membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3522 dan Ahmad no. 13696)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah saja senantiasa meminta kepada Rabbnya untuk diberikan keteguhan hati. Tentu saja kita yang jauh di bawah kedudukan Nabi lebih utama untuk meminta hal tersebut kepada Allah Ta’ala.Keempat, menyembunyikan amal dan fokus menyendiri dalam beribadah kepada Allah Ta’alaHendaknya seorang mukmin memiliki waktu untuk menyendiri, waktu yang dia gunakan untuk ber-muhasabah, menghitung-hitung dosa yang telah ia lakukan, memperbaiki hatinya dan meminta ampunan kepada Allah Ta’ala. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,وَلَا بُدَّ لِلْعَبْدِ مِنْ أَوْقَاتٍ يَنْفَرِدُ بِهَا بِنَفْسِهِ فِي دُعَائِهِ وَذِكْرِهِ وَصَلَاتِهِ وَتَفَكُّرِهِ وَمُحَاسَبَةِ نَفْسِهِ وَإِصْلَاحِ قَلْبِهِ“Seorang hamba harus memiliki saat-saat di mana dia sendirian dalam doanya, zikirnya, salatnya, refleksinya, perhitungan dirinya (dosa-dosa yang telah ia lakukan), dan saat-saat di mana ia sendirian untuk memperbaiki hatinya.” (Al-Fatawa Al-Kubraa, 2: 163)Kelima, menjauhkan diri dari tempat-tempat maksiat dan penuh fitnah karena kesemuanya itu merusak hatiNabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya akan bahaya fitnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا“Bersegeralah engkau sekalian untuk beramal (saleh dan baik) sebelum datangnya bermacam-macam fitnah layaknya malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore harinya. Di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan harta dan kenikmatan dunia.” (HR. Muslim no. 108)An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Makna hadis ini adalah anjuran dan dorongan untuk bersegera melakukan amal kebajikan sebelum menjadi tidak mungkin dan teralihkan darinya. Karena apa yang terjadi dari fitnah yang menyibukkan, bertubi-tubi, dan datang bertumpuk-tumpuk layaknya tumpukan gelapnya malam yang tidak disinari rembulan.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 2: 133)Keenam, mengagungkan syiar-syiar Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati.” (QS. Al-Haji: 32)Sungguh tujuan utama seorang muslim adalah ketakwaan hati kepada Allah Ta’ala, beribadah hanya kepada Allah saja dan bukan ke selainnya. Dengan merealisasikan peribadahan hanya kepada Allah saja, maka ia akan sampai pada derajat mencintai dan ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala saja. Kesemuanya ini menjelaskan bahwa ibadah hati merupakan sumber dan asal muasal segala sesuatu. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang tidak bosan-bosannya kita sebutkan,أَلاَ وَإنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ“Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat sepotong daging. Apabila daging tersebut baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila daging tersebut rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hati kita semua dari penyakit-penyakit yang dapat merusak dan mengotorinya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita keistikamahan berada di atas jalan kebenaran. Amin ya Rabbal ‘alamin.Wallahu a’lam bisshawab.Baca Juga: Noda Di Hati Yang Membandel***Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Referensi:Tafsir As-Sa’di karya Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah.Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim karya An-Nawawi rahimahullah.Tags: adabAkhlakAqidahaqidah islamdengkihasadhati yang sakitirimanajemen hatinasihatnasihat islampenyakit hatisakit hatitazkiyatun nafs

6 Cara Efektif Mengobati Hati yang Sakit

Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama, rajin membaca Al-Qur’an, menghayati maknanya, mempelajari kandungannya, serta mengamalkan apa-apa yang ada di dalamnya 2. Kedua, senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala 3. Ketiga, memperbanyak berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar senantiasa diberikan hati yang sehat lagi bersih 4. Keempat, menyembunyikan amal dan fokus menyendiri dalam beribadah kepada Allah Ta’ala 5. Kelima, menjauhkan diri dari tempat-tempat maksiat dan penuh fitnah karena kesemuanya itu merusak hati 6. Keenam, mengagungkan syiar-syiar Allah Ta’ala Hati seorang hamba tidak akan bisa bersih dan lurus di atas keimanan yang kuat, kecuali apabila selamat dari fitnah syubhat dan syahwat. Perlu kita ketahui bersama bahwa hati yang bersih dan selamat dari fitnah syahwat dan syubhat merupakan sebab datangnya kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingatkan kita bahwa di hari kiamat nanti, harta benda dan anak-anak kita tidak akan berguna dan tidak akan mendatangkan kebahagiaan, kecuali apabila kita bertemu Allah Ta’ala dengan hati yang bersih.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyebutkan bahwa mereka yang memiliki hati yang bersih merupakan salah satu manusia yang paling utama. Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: “كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ”. قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: “هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ”Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan jujur dalam berucap.” Mereka (para sahabat) berkata, “Jujur dalam berucap telah kami ketahui, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda, “Yaitu, hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezaliman, kedengkian, dan hasad di dalamnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3416)Berikut ini adalah beberapa cara efektif yang akan membantu kita di dalam menyembuhkan dan membersihkan hati kita yang dipenuhi oleh penyakit, baik penyakit syubhat maupun penyakit syahwat.Pertama, rajin membaca Al-Qur’an, menghayati maknanya, mempelajari kandungannya, serta mengamalkan apa-apa yang ada di dalamnyaSeluruh manusia diperintahkan untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala saja. Dengan menjalankan seluruh perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Kesemuanya itu tak akan terwujud, kecuali jika orang tersebut benar-benar telah menghayati dan mempelajari kandungan Al-Qur’an. Allah Ta’ala sendiri yang memerintahkan kita untuk menghayati Al-Qur’an. Allah berfirman,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا“Maka, tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)Tidak diragukan lagi, menelaah dan menghayati makna ayat-ayat Al-Qur’an merupakan obat paling ampuh untuk menyembuhkan hati yang sakit lagi kotor. Allah Ta’ala mengabarkan terkait hal ini dalam firman-Nya,يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk, serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)Imam As-Sa’di rahimahullah berkata,“Al-Qur’an merupakan obat penyembuh dari segala macam penyakit yang bersarang di hati, baik itu penyakit syahwat yang menghalangi seseorang dari ketundukan, maupun penyakit syubhat yang merusak keyakinan terdalam seseorang. Apa yang terdapat di dalamnya dari nasihat-nasihat, motivasi-motivasi, ancaman-ancaman, janji-janji, serta ancaman-ancaman, kesemuanya itu akan mempengaruhi rasa semangat seorang hamba dan rasa takutnya. Jika hati ini telah sembuh dari penyakit-penyakit dan dipenuhi dengan kesehatan yang sempurna, maka seluruh anggota badan yang lain pun akan ikut membaik dan menjadi sehat, karena sehatnya badan berasal dari sehatnya hati dan rusaknya badan pun berasal dari rusaknya hati.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 367)Kedua, senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’alaAllah Ta’ala telah mengabarkan bahwa hati ini tak akan bisa tenang, kecuali jika ia senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk memperbanyak zikir. Allah Ta’ala berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)Tidaklah Allah memerintahkan sebuah amalan wajib, kecuali pasti akan memberikan batas dan takarannya, dan Allah Ta’ala akan memaklumi hamba-Nya apabila ia memiliki uzur saat tidak melaksanakan kewajiban tersebut. Berbeda halnya dengan kewajiban berzikir, Allah Ta’ala tidak membatasi jumlahnya dan tidak pula memberikan uzur kepada orang yang meninggalkannya, kecuali jika karena sebab hilangnya akal. Allah Ta’ala berfirman,فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ “Ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring.” (QS. An-Nisa: 103)Baik itu di siang hari, malam hari, saat dalam kondisi lapang maupun saat sedang mengalami kesulitan, saat sedang sehat maupun saat sedang sakit, maka kita diperintahkan untuk senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala pada semua kondisi tersebut.Baca Juga: 5 Penyakit Hati yang Harus Kita HindariKetiga, memperbanyak berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar senantiasa diberikan hati yang sehat lagi bersihSelalulah mengingat bahwa hati kita berada di dalam genggaman Allah Ta’ala. Oleh karenanya, seorang mukmin harus senantiasa memohon dan berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberikan hati yang sehat dan bersih. Sebagaimana hal ini juga telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berdoa,يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Rabb Yang Maha membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3522 dan Ahmad no. 13696)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah saja senantiasa meminta kepada Rabbnya untuk diberikan keteguhan hati. Tentu saja kita yang jauh di bawah kedudukan Nabi lebih utama untuk meminta hal tersebut kepada Allah Ta’ala.Keempat, menyembunyikan amal dan fokus menyendiri dalam beribadah kepada Allah Ta’alaHendaknya seorang mukmin memiliki waktu untuk menyendiri, waktu yang dia gunakan untuk ber-muhasabah, menghitung-hitung dosa yang telah ia lakukan, memperbaiki hatinya dan meminta ampunan kepada Allah Ta’ala. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,وَلَا بُدَّ لِلْعَبْدِ مِنْ أَوْقَاتٍ يَنْفَرِدُ بِهَا بِنَفْسِهِ فِي دُعَائِهِ وَذِكْرِهِ وَصَلَاتِهِ وَتَفَكُّرِهِ وَمُحَاسَبَةِ نَفْسِهِ وَإِصْلَاحِ قَلْبِهِ“Seorang hamba harus memiliki saat-saat di mana dia sendirian dalam doanya, zikirnya, salatnya, refleksinya, perhitungan dirinya (dosa-dosa yang telah ia lakukan), dan saat-saat di mana ia sendirian untuk memperbaiki hatinya.” (Al-Fatawa Al-Kubraa, 2: 163)Kelima, menjauhkan diri dari tempat-tempat maksiat dan penuh fitnah karena kesemuanya itu merusak hatiNabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya akan bahaya fitnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا“Bersegeralah engkau sekalian untuk beramal (saleh dan baik) sebelum datangnya bermacam-macam fitnah layaknya malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore harinya. Di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan harta dan kenikmatan dunia.” (HR. Muslim no. 108)An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Makna hadis ini adalah anjuran dan dorongan untuk bersegera melakukan amal kebajikan sebelum menjadi tidak mungkin dan teralihkan darinya. Karena apa yang terjadi dari fitnah yang menyibukkan, bertubi-tubi, dan datang bertumpuk-tumpuk layaknya tumpukan gelapnya malam yang tidak disinari rembulan.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 2: 133)Keenam, mengagungkan syiar-syiar Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati.” (QS. Al-Haji: 32)Sungguh tujuan utama seorang muslim adalah ketakwaan hati kepada Allah Ta’ala, beribadah hanya kepada Allah saja dan bukan ke selainnya. Dengan merealisasikan peribadahan hanya kepada Allah saja, maka ia akan sampai pada derajat mencintai dan ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala saja. Kesemuanya ini menjelaskan bahwa ibadah hati merupakan sumber dan asal muasal segala sesuatu. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang tidak bosan-bosannya kita sebutkan,أَلاَ وَإنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ“Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat sepotong daging. Apabila daging tersebut baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila daging tersebut rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hati kita semua dari penyakit-penyakit yang dapat merusak dan mengotorinya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita keistikamahan berada di atas jalan kebenaran. Amin ya Rabbal ‘alamin.Wallahu a’lam bisshawab.Baca Juga: Noda Di Hati Yang Membandel***Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Referensi:Tafsir As-Sa’di karya Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah.Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim karya An-Nawawi rahimahullah.Tags: adabAkhlakAqidahaqidah islamdengkihasadhati yang sakitirimanajemen hatinasihatnasihat islampenyakit hatisakit hatitazkiyatun nafs
Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama, rajin membaca Al-Qur’an, menghayati maknanya, mempelajari kandungannya, serta mengamalkan apa-apa yang ada di dalamnya 2. Kedua, senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala 3. Ketiga, memperbanyak berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar senantiasa diberikan hati yang sehat lagi bersih 4. Keempat, menyembunyikan amal dan fokus menyendiri dalam beribadah kepada Allah Ta’ala 5. Kelima, menjauhkan diri dari tempat-tempat maksiat dan penuh fitnah karena kesemuanya itu merusak hati 6. Keenam, mengagungkan syiar-syiar Allah Ta’ala Hati seorang hamba tidak akan bisa bersih dan lurus di atas keimanan yang kuat, kecuali apabila selamat dari fitnah syubhat dan syahwat. Perlu kita ketahui bersama bahwa hati yang bersih dan selamat dari fitnah syahwat dan syubhat merupakan sebab datangnya kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingatkan kita bahwa di hari kiamat nanti, harta benda dan anak-anak kita tidak akan berguna dan tidak akan mendatangkan kebahagiaan, kecuali apabila kita bertemu Allah Ta’ala dengan hati yang bersih.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyebutkan bahwa mereka yang memiliki hati yang bersih merupakan salah satu manusia yang paling utama. Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: “كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ”. قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: “هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ”Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan jujur dalam berucap.” Mereka (para sahabat) berkata, “Jujur dalam berucap telah kami ketahui, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda, “Yaitu, hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezaliman, kedengkian, dan hasad di dalamnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3416)Berikut ini adalah beberapa cara efektif yang akan membantu kita di dalam menyembuhkan dan membersihkan hati kita yang dipenuhi oleh penyakit, baik penyakit syubhat maupun penyakit syahwat.Pertama, rajin membaca Al-Qur’an, menghayati maknanya, mempelajari kandungannya, serta mengamalkan apa-apa yang ada di dalamnyaSeluruh manusia diperintahkan untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala saja. Dengan menjalankan seluruh perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Kesemuanya itu tak akan terwujud, kecuali jika orang tersebut benar-benar telah menghayati dan mempelajari kandungan Al-Qur’an. Allah Ta’ala sendiri yang memerintahkan kita untuk menghayati Al-Qur’an. Allah berfirman,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا“Maka, tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)Tidak diragukan lagi, menelaah dan menghayati makna ayat-ayat Al-Qur’an merupakan obat paling ampuh untuk menyembuhkan hati yang sakit lagi kotor. Allah Ta’ala mengabarkan terkait hal ini dalam firman-Nya,يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk, serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)Imam As-Sa’di rahimahullah berkata,“Al-Qur’an merupakan obat penyembuh dari segala macam penyakit yang bersarang di hati, baik itu penyakit syahwat yang menghalangi seseorang dari ketundukan, maupun penyakit syubhat yang merusak keyakinan terdalam seseorang. Apa yang terdapat di dalamnya dari nasihat-nasihat, motivasi-motivasi, ancaman-ancaman, janji-janji, serta ancaman-ancaman, kesemuanya itu akan mempengaruhi rasa semangat seorang hamba dan rasa takutnya. Jika hati ini telah sembuh dari penyakit-penyakit dan dipenuhi dengan kesehatan yang sempurna, maka seluruh anggota badan yang lain pun akan ikut membaik dan menjadi sehat, karena sehatnya badan berasal dari sehatnya hati dan rusaknya badan pun berasal dari rusaknya hati.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 367)Kedua, senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’alaAllah Ta’ala telah mengabarkan bahwa hati ini tak akan bisa tenang, kecuali jika ia senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk memperbanyak zikir. Allah Ta’ala berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)Tidaklah Allah memerintahkan sebuah amalan wajib, kecuali pasti akan memberikan batas dan takarannya, dan Allah Ta’ala akan memaklumi hamba-Nya apabila ia memiliki uzur saat tidak melaksanakan kewajiban tersebut. Berbeda halnya dengan kewajiban berzikir, Allah Ta’ala tidak membatasi jumlahnya dan tidak pula memberikan uzur kepada orang yang meninggalkannya, kecuali jika karena sebab hilangnya akal. Allah Ta’ala berfirman,فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ “Ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring.” (QS. An-Nisa: 103)Baik itu di siang hari, malam hari, saat dalam kondisi lapang maupun saat sedang mengalami kesulitan, saat sedang sehat maupun saat sedang sakit, maka kita diperintahkan untuk senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala pada semua kondisi tersebut.Baca Juga: 5 Penyakit Hati yang Harus Kita HindariKetiga, memperbanyak berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar senantiasa diberikan hati yang sehat lagi bersihSelalulah mengingat bahwa hati kita berada di dalam genggaman Allah Ta’ala. Oleh karenanya, seorang mukmin harus senantiasa memohon dan berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberikan hati yang sehat dan bersih. Sebagaimana hal ini juga telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berdoa,يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Rabb Yang Maha membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3522 dan Ahmad no. 13696)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah saja senantiasa meminta kepada Rabbnya untuk diberikan keteguhan hati. Tentu saja kita yang jauh di bawah kedudukan Nabi lebih utama untuk meminta hal tersebut kepada Allah Ta’ala.Keempat, menyembunyikan amal dan fokus menyendiri dalam beribadah kepada Allah Ta’alaHendaknya seorang mukmin memiliki waktu untuk menyendiri, waktu yang dia gunakan untuk ber-muhasabah, menghitung-hitung dosa yang telah ia lakukan, memperbaiki hatinya dan meminta ampunan kepada Allah Ta’ala. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,وَلَا بُدَّ لِلْعَبْدِ مِنْ أَوْقَاتٍ يَنْفَرِدُ بِهَا بِنَفْسِهِ فِي دُعَائِهِ وَذِكْرِهِ وَصَلَاتِهِ وَتَفَكُّرِهِ وَمُحَاسَبَةِ نَفْسِهِ وَإِصْلَاحِ قَلْبِهِ“Seorang hamba harus memiliki saat-saat di mana dia sendirian dalam doanya, zikirnya, salatnya, refleksinya, perhitungan dirinya (dosa-dosa yang telah ia lakukan), dan saat-saat di mana ia sendirian untuk memperbaiki hatinya.” (Al-Fatawa Al-Kubraa, 2: 163)Kelima, menjauhkan diri dari tempat-tempat maksiat dan penuh fitnah karena kesemuanya itu merusak hatiNabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya akan bahaya fitnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا“Bersegeralah engkau sekalian untuk beramal (saleh dan baik) sebelum datangnya bermacam-macam fitnah layaknya malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore harinya. Di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan harta dan kenikmatan dunia.” (HR. Muslim no. 108)An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Makna hadis ini adalah anjuran dan dorongan untuk bersegera melakukan amal kebajikan sebelum menjadi tidak mungkin dan teralihkan darinya. Karena apa yang terjadi dari fitnah yang menyibukkan, bertubi-tubi, dan datang bertumpuk-tumpuk layaknya tumpukan gelapnya malam yang tidak disinari rembulan.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 2: 133)Keenam, mengagungkan syiar-syiar Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati.” (QS. Al-Haji: 32)Sungguh tujuan utama seorang muslim adalah ketakwaan hati kepada Allah Ta’ala, beribadah hanya kepada Allah saja dan bukan ke selainnya. Dengan merealisasikan peribadahan hanya kepada Allah saja, maka ia akan sampai pada derajat mencintai dan ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala saja. Kesemuanya ini menjelaskan bahwa ibadah hati merupakan sumber dan asal muasal segala sesuatu. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang tidak bosan-bosannya kita sebutkan,أَلاَ وَإنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ“Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat sepotong daging. Apabila daging tersebut baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila daging tersebut rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hati kita semua dari penyakit-penyakit yang dapat merusak dan mengotorinya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita keistikamahan berada di atas jalan kebenaran. Amin ya Rabbal ‘alamin.Wallahu a’lam bisshawab.Baca Juga: Noda Di Hati Yang Membandel***Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Referensi:Tafsir As-Sa’di karya Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah.Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim karya An-Nawawi rahimahullah.Tags: adabAkhlakAqidahaqidah islamdengkihasadhati yang sakitirimanajemen hatinasihatnasihat islampenyakit hatisakit hatitazkiyatun nafs


Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama, rajin membaca Al-Qur’an, menghayati maknanya, mempelajari kandungannya, serta mengamalkan apa-apa yang ada di dalamnya 2. Kedua, senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala 3. Ketiga, memperbanyak berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar senantiasa diberikan hati yang sehat lagi bersih 4. Keempat, menyembunyikan amal dan fokus menyendiri dalam beribadah kepada Allah Ta’ala 5. Kelima, menjauhkan diri dari tempat-tempat maksiat dan penuh fitnah karena kesemuanya itu merusak hati 6. Keenam, mengagungkan syiar-syiar Allah Ta’ala Hati seorang hamba tidak akan bisa bersih dan lurus di atas keimanan yang kuat, kecuali apabila selamat dari fitnah syubhat dan syahwat. Perlu kita ketahui bersama bahwa hati yang bersih dan selamat dari fitnah syahwat dan syubhat merupakan sebab datangnya kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingatkan kita bahwa di hari kiamat nanti, harta benda dan anak-anak kita tidak akan berguna dan tidak akan mendatangkan kebahagiaan, kecuali apabila kita bertemu Allah Ta’ala dengan hati yang bersih.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyebutkan bahwa mereka yang memiliki hati yang bersih merupakan salah satu manusia yang paling utama. Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: “كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ”. قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: “هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ”Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan jujur dalam berucap.” Mereka (para sahabat) berkata, “Jujur dalam berucap telah kami ketahui, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda, “Yaitu, hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezaliman, kedengkian, dan hasad di dalamnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3416)Berikut ini adalah beberapa cara efektif yang akan membantu kita di dalam menyembuhkan dan membersihkan hati kita yang dipenuhi oleh penyakit, baik penyakit syubhat maupun penyakit syahwat.Pertama, rajin membaca Al-Qur’an, menghayati maknanya, mempelajari kandungannya, serta mengamalkan apa-apa yang ada di dalamnyaSeluruh manusia diperintahkan untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala saja. Dengan menjalankan seluruh perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Kesemuanya itu tak akan terwujud, kecuali jika orang tersebut benar-benar telah menghayati dan mempelajari kandungan Al-Qur’an. Allah Ta’ala sendiri yang memerintahkan kita untuk menghayati Al-Qur’an. Allah berfirman,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا“Maka, tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)Tidak diragukan lagi, menelaah dan menghayati makna ayat-ayat Al-Qur’an merupakan obat paling ampuh untuk menyembuhkan hati yang sakit lagi kotor. Allah Ta’ala mengabarkan terkait hal ini dalam firman-Nya,يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk, serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)Imam As-Sa’di rahimahullah berkata,“Al-Qur’an merupakan obat penyembuh dari segala macam penyakit yang bersarang di hati, baik itu penyakit syahwat yang menghalangi seseorang dari ketundukan, maupun penyakit syubhat yang merusak keyakinan terdalam seseorang. Apa yang terdapat di dalamnya dari nasihat-nasihat, motivasi-motivasi, ancaman-ancaman, janji-janji, serta ancaman-ancaman, kesemuanya itu akan mempengaruhi rasa semangat seorang hamba dan rasa takutnya. Jika hati ini telah sembuh dari penyakit-penyakit dan dipenuhi dengan kesehatan yang sempurna, maka seluruh anggota badan yang lain pun akan ikut membaik dan menjadi sehat, karena sehatnya badan berasal dari sehatnya hati dan rusaknya badan pun berasal dari rusaknya hati.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 367)Kedua, senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’alaAllah Ta’ala telah mengabarkan bahwa hati ini tak akan bisa tenang, kecuali jika ia senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk memperbanyak zikir. Allah Ta’ala berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)Tidaklah Allah memerintahkan sebuah amalan wajib, kecuali pasti akan memberikan batas dan takarannya, dan Allah Ta’ala akan memaklumi hamba-Nya apabila ia memiliki uzur saat tidak melaksanakan kewajiban tersebut. Berbeda halnya dengan kewajiban berzikir, Allah Ta’ala tidak membatasi jumlahnya dan tidak pula memberikan uzur kepada orang yang meninggalkannya, kecuali jika karena sebab hilangnya akal. Allah Ta’ala berfirman,فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ “Ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring.” (QS. An-Nisa: 103)Baik itu di siang hari, malam hari, saat dalam kondisi lapang maupun saat sedang mengalami kesulitan, saat sedang sehat maupun saat sedang sakit, maka kita diperintahkan untuk senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala pada semua kondisi tersebut.Baca Juga: 5 Penyakit Hati yang Harus Kita HindariKetiga, memperbanyak berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar senantiasa diberikan hati yang sehat lagi bersihSelalulah mengingat bahwa hati kita berada di dalam genggaman Allah Ta’ala. Oleh karenanya, seorang mukmin harus senantiasa memohon dan berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberikan hati yang sehat dan bersih. Sebagaimana hal ini juga telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berdoa,يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Rabb Yang Maha membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3522 dan Ahmad no. 13696)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah saja senantiasa meminta kepada Rabbnya untuk diberikan keteguhan hati. Tentu saja kita yang jauh di bawah kedudukan Nabi lebih utama untuk meminta hal tersebut kepada Allah Ta’ala.Keempat, menyembunyikan amal dan fokus menyendiri dalam beribadah kepada Allah Ta’alaHendaknya seorang mukmin memiliki waktu untuk menyendiri, waktu yang dia gunakan untuk ber-muhasabah, menghitung-hitung dosa yang telah ia lakukan, memperbaiki hatinya dan meminta ampunan kepada Allah Ta’ala. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,وَلَا بُدَّ لِلْعَبْدِ مِنْ أَوْقَاتٍ يَنْفَرِدُ بِهَا بِنَفْسِهِ فِي دُعَائِهِ وَذِكْرِهِ وَصَلَاتِهِ وَتَفَكُّرِهِ وَمُحَاسَبَةِ نَفْسِهِ وَإِصْلَاحِ قَلْبِهِ“Seorang hamba harus memiliki saat-saat di mana dia sendirian dalam doanya, zikirnya, salatnya, refleksinya, perhitungan dirinya (dosa-dosa yang telah ia lakukan), dan saat-saat di mana ia sendirian untuk memperbaiki hatinya.” (Al-Fatawa Al-Kubraa, 2: 163)Kelima, menjauhkan diri dari tempat-tempat maksiat dan penuh fitnah karena kesemuanya itu merusak hatiNabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya akan bahaya fitnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا“Bersegeralah engkau sekalian untuk beramal (saleh dan baik) sebelum datangnya bermacam-macam fitnah layaknya malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore harinya. Di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan harta dan kenikmatan dunia.” (HR. Muslim no. 108)An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Makna hadis ini adalah anjuran dan dorongan untuk bersegera melakukan amal kebajikan sebelum menjadi tidak mungkin dan teralihkan darinya. Karena apa yang terjadi dari fitnah yang menyibukkan, bertubi-tubi, dan datang bertumpuk-tumpuk layaknya tumpukan gelapnya malam yang tidak disinari rembulan.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 2: 133)Keenam, mengagungkan syiar-syiar Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati.” (QS. Al-Haji: 32)Sungguh tujuan utama seorang muslim adalah ketakwaan hati kepada Allah Ta’ala, beribadah hanya kepada Allah saja dan bukan ke selainnya. Dengan merealisasikan peribadahan hanya kepada Allah saja, maka ia akan sampai pada derajat mencintai dan ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala saja. Kesemuanya ini menjelaskan bahwa ibadah hati merupakan sumber dan asal muasal segala sesuatu. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang tidak bosan-bosannya kita sebutkan,أَلاَ وَإنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ“Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat sepotong daging. Apabila daging tersebut baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila daging tersebut rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hati kita semua dari penyakit-penyakit yang dapat merusak dan mengotorinya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita keistikamahan berada di atas jalan kebenaran. Amin ya Rabbal ‘alamin.Wallahu a’lam bisshawab.Baca Juga: Noda Di Hati Yang Membandel***Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Referensi:Tafsir As-Sa’di karya Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah.Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim karya An-Nawawi rahimahullah.Tags: adabAkhlakAqidahaqidah islamdengkihasadhati yang sakitirimanajemen hatinasihatnasihat islampenyakit hatisakit hatitazkiyatun nafs

Bahaya P0rn0grafi yang Jarang Diketahui Orang + Obatnya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Penanya berkata, “Semoga Allah Limpahkan kebaikan untuk Anda.Dahulu aku pernah beberapa kali melihat gambar dan video (porno). Aku sudah bertobat kepada Allah Taʿālā,tetapi aku masih merasa terganggu dengan bayang-bayang itu dalam pikiranku,bagaimana cara menghapus bayang-bayang itu dari dalam pikiranku?” Kita juga memohon kepada Allah untuk saudara kita ini agar diberikan taubat nasuha,dan semoga Allah ʿAzza wa Jalla Membebaskannya dari dampak dan bekas-bekasdari tontonan-tontonan maksiat tersebutyang pernah dia saksikan di masa silamnya. Sudah barang tentu pertanyaan saudara kita yang budiman inimembuka sebuah poin penting yang harus diperhatikan terkait masalah ini,yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang yang suka melihat gambar-gambar porno inidan menonton tontonan-tontonan porno ini. Orang yang suka melihat gambar-gambar porno inimenyangka bahwa itu hanyalah tontonanyang akan selesai dan berakhir waktu itu juga. Padahal kenyataannya tidak demikian,bahkan realitanya adalah seperti yang disebutkan oleh penanya yang budiman ini,bahwa tontonan ini meninggalkan sisa-sisa yang membekas dalam hati,yang membekas dalam hati. Bahkan sebagian orang mengisahkan pengalamannya sendiribahwa bekas-bekas tontonan tersebut hadir dalam hatinyapadahal dia sedang sujud, bahkan saat ia rukuk, dan terkadang saat dia mengangkat tangannya untuk berdoa, muncul lagibayangan-bayangan kotor yang dahulu dia pernah bernikmat-nikmat menontonnya. Saat dia melihatnya, dia menyangka bahwa itu sementara dan segera berlaluserta tidak akan menyisakan bekas apa pun. Namun ternyata ia menyisakan bekas, karena hal-halyang seseorang lihat dengan matanya dan dengar dengan telinganyaakan mengendap dalam hati dan menempel erat,yang tidak mudah untuk dihilangkan. Namun tidak berarti bahwa hati tidak bisa terbebas darinya.Di sini kami sampaikan firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya),“Sebenarnya Allah Yang Menyucikan siapa pun yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 49) Penyucian hati ada di tangan Allah.Maka dari itu, seorang hamba harus tulus kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālādalam memohon kesucian hatinya. Jika dia tulus kepada-Nya, niscaya Allah Yang akan Menghilangkan bayang-bayang itu.Jika dia tulus.Di antara doa Nabi kita ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām, “Ya Allah, Berikanlah kepada jiwa kami ketakwaannya,dan Sucikan ia karena Engkaulah sebaik-baik Yang Menyucikannya,Engkaulah Penguasa dan Pemiliknya.” (HR. Muslim)Dia harus memohon kepada Allah. Inilah yang saya wasiatkan kepada penanya yang budiman ini,yakni memohon perlindungan kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālādengan tulus dan terus meminta dengan penuh harap kepada Allah agar Menyucikan hatinya. Kesucian hati maknanya adalah kebersihan hati.Maksudnya adalah kebersihan hati, karena kesucian hatitidak akan terwujud kecuali dengan membersihkannya. Inilah mengapa Ibnu Taimiyah—semoga Allah Merahmatinya—berkata,“Sungguh penyucian hati mencakup dua hal ini, …”“… mencakup dua hal ini, …”yakni mencakup menghidupkannya dengan kebaikandan menyelamatkannya dari keburukan dan penyakit. “… mencakup dua hal ini, …”“Ambillah zakat dari harta mereka,guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103) “… guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)“… membersihkan mereka, …” yakni dari penyakit yang terdapat dalam hati,seperti kikir dan yang semisalnya.“… dan menyucikan mereka.” Jadi penyucian hati mengandung dua hal ini,maka yang aku nasihatkan kepada si penanya iniadalah bertawajuh kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā dengan tulusdan meminta penuh harap kepada-Nya dengan doa agar Dia Menyucikan hatinya,agar Dia Menyucikan hatinya. Namun pada saat yang sama,dia juga harus mengusahakan sebab-sebab demi kesucian hatinya.Di antara sebabnya yang paling kuatadalah memberi perhatian terhadap al-Qurandan menyibukkan waktunya dengan kitab Allah Subẖānahu wa Taʿālādengan membaca dan menadaburinya. “… yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan menyucikan (jiwa) mereka ….” (QS. Al-Jumu’ah: 2)maksudnya dengan al-Quran,karena al-Quran adalah kitab penyucian hati.Demikian. ==== يَقُولُ أَحْسَنَ الله إِلَيْكَ قَدْ كُنْتُ نَظَرْتُ إِلَى بَعْضِ الصُّوَرِ وَالْأَفْلَامِ قَدْ تُبْتُ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَلَكِنْ لَا أَزَالُ أَجِدُ هَذِهِ الْأُمُورَ فِي خَاطِرِيْ فَكَيْفَ السَّبِيلُ لِمَحْوِ تِلْكَ الْأُمُورِ مِنْ ذَاكِرَتِي؟ أَيْضًا نَسْأَلُ اللهَ لِأَخِينَا هَذَا التَّوْبَةَ النَّصُوحَ وَأَنْ يُخَلِّصَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْبَقَايَا وَالرَّوَاسِبِ لِهَذِهِ الْمُشَاهِدَاتِ الآثِمَةِ الَّتِي كَانَ فَتْرَةً مِنَ الزَّمَانِ يُشَاهِدُهَا وَلَعَلَّ سُؤَالَ هَذَا الْأَخِ الْكَرِيمِ يَفْتَحُ بَابًا مُهِمًّا لِلتَّنْبِيهِ عَلَى أَمْرٍ يَغْفَلُ عَنْهُ أَكْثَرُ مَنْ يَنْظُرُ إِلَى تِلْكَ الْمَنَاظِرِ وَيُشَاهِدُ تِلْكَ الْمُشَاهِدَ كَثِيرٌ مِمَّنْ يَنْظُرُ إِلَى هَذِهِ الْمَنَاظِرِ يَظُنُّ أَنَّهَا نَظَرَاتٌ تَنْتَهِي فِي حِينِهَا وَتَنْقَضِي فِي وَقْتِهَا لَكِنْ لَيْسَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ بَلِ الْأَمْرُ كَمَا ذَكَرَ السَّائِلُ الْكَرِيمُ يَبْقَى مِنْهَا بَقَايَا تَنْطَبِعُ فِي الْقَلْبِ تَنْطَبِعُ فِي الْقَلْبِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَذْكُرُ عَنْ نَفْسِهِ أَنَّ بَقَايَا مِنْ تِلْكَ الْمَنَاظِرِ تَقْفِزُ إِلَى قَلْبِهِ وَهُوَ سَاجِدٌ نَعَمْ وَهُوَ رَاكِعٌ وَأَحْيَانًا وَهُوَ مَادُّ يَدَيهِ بِالدُّعَاءِ تَقْفِزُ مَنَاظِرٌ سَيِّئَةٌ كَانَ مُنْهَمِكًا فَتْرَةً مِنْ عُمْرِهِ بِالنَّظَرِ إِلَيْهَا هُوَ لَمَّا كَانَ يَنْظُرُ يَظُنُّ أَنَّهَا فَتْرَةٌ وَتَنْتَهِي وَلَا يَبْقَى مِنْهَا شَيْءٌ لَكِنَّهَا تَبْقَى لِأَنَّ الْأَشْيَاءَ الَّتِي يَنْظُرُ إِلَيْهَا الْإِنْسَانُ بِبَصَرِهِ وَيَسْتَمِعُ إِلَيْهَا بِسَمْعِهِ تَنْطَبِعُ فِي الْقَلْبِ وَتَلْتَصِقُ بِهِ وَخَلَاصُهَا مِنْهُ لَيْسَ بِالْهَيِّنِ لَكِنْ لَا يُقَالُ إِنَّ الْقَلْبَ لَا يَخْلُصُ مِنْهَا وَنَذْكُرُ هُنَا قَوْلَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَلِ اللهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ تَزْكِيَةُ الْقَلْبِ بِيَدِ اللهِ فَعَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَصْدُقَ مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي طَلَبِ زَكَاةِ قَلْبِهِ صَادِقًا مَعَ اللهِ فَيُذْهِبُ اللهُ عَنْهُ إِذَا صَدَقَ وَمِنْ دُعَاءِ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا فَيَلْجَأُ إِلَى اللهِ هَذَا الَّذِي أُوْصِي بِهِ هَذَا السَّائِلَ الْكَرِيمَ أَنْ يَلْجَأَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ وَزَكَاةُ الْقَلْبِ تَعْنِي فِي مَعْنَاهَا طَهَارَةَ الْقَلْبِ طَهَارَةَ الْقَلْبِ لِأَنَّ التَّزْكِيَةَ لِلْقَلْبِ لَا تَكُونُ إِلَّا بِطَهَارَتِهِ وَلِهَذَا يَقُولُ ابْنُ تَيمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ فَإِنَّ تَزْكِيَةَ الْقَلْبِ تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا تَشْمَلُ عِمَارَاتَهُ بِالْخَيْرِ وَسَلَامَتَهُ مِنَ الشُّرُورِ وَالْآفَاتِ تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا تُطَهِّرُهُمْ أَيْ مِمَّا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ مِنْ شُحٍّ وَأَشْيَاءَ مِنْ هَذِهِ الْقَبِيلِ وَتُزَكِّيْهِمْ فَالتَّزْكِيَةُ تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا فَالَّذِي أَنْصَحُ بِهِ هَذَا السَّائِلَ أَنْ يُقْبِلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ بِالدُّعَاءِ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ يَأْخُذُ بِأَسْبَابِ زَكَاةِ الْقَلْبِ وَأَعْظَمُ مَا يَكُونُ مِنْ ذَلِكَ الْعِنَايَةُ بِالْقُرْآنِ وَشَغْلُ الْأَوْقَاتِ مَعَ كِتَابِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قِرَاءَةً وَتَدَبُّرًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ أَيْ بِالْقُرْآنِ وَالْقُرْآنُ هُوَ كِتَابُ التَّزْكِيَةِ لِلْقُلُوبِ نَعَمْ

Bahaya P0rn0grafi yang Jarang Diketahui Orang + Obatnya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Penanya berkata, “Semoga Allah Limpahkan kebaikan untuk Anda.Dahulu aku pernah beberapa kali melihat gambar dan video (porno). Aku sudah bertobat kepada Allah Taʿālā,tetapi aku masih merasa terganggu dengan bayang-bayang itu dalam pikiranku,bagaimana cara menghapus bayang-bayang itu dari dalam pikiranku?” Kita juga memohon kepada Allah untuk saudara kita ini agar diberikan taubat nasuha,dan semoga Allah ʿAzza wa Jalla Membebaskannya dari dampak dan bekas-bekasdari tontonan-tontonan maksiat tersebutyang pernah dia saksikan di masa silamnya. Sudah barang tentu pertanyaan saudara kita yang budiman inimembuka sebuah poin penting yang harus diperhatikan terkait masalah ini,yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang yang suka melihat gambar-gambar porno inidan menonton tontonan-tontonan porno ini. Orang yang suka melihat gambar-gambar porno inimenyangka bahwa itu hanyalah tontonanyang akan selesai dan berakhir waktu itu juga. Padahal kenyataannya tidak demikian,bahkan realitanya adalah seperti yang disebutkan oleh penanya yang budiman ini,bahwa tontonan ini meninggalkan sisa-sisa yang membekas dalam hati,yang membekas dalam hati. Bahkan sebagian orang mengisahkan pengalamannya sendiribahwa bekas-bekas tontonan tersebut hadir dalam hatinyapadahal dia sedang sujud, bahkan saat ia rukuk, dan terkadang saat dia mengangkat tangannya untuk berdoa, muncul lagibayangan-bayangan kotor yang dahulu dia pernah bernikmat-nikmat menontonnya. Saat dia melihatnya, dia menyangka bahwa itu sementara dan segera berlaluserta tidak akan menyisakan bekas apa pun. Namun ternyata ia menyisakan bekas, karena hal-halyang seseorang lihat dengan matanya dan dengar dengan telinganyaakan mengendap dalam hati dan menempel erat,yang tidak mudah untuk dihilangkan. Namun tidak berarti bahwa hati tidak bisa terbebas darinya.Di sini kami sampaikan firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya),“Sebenarnya Allah Yang Menyucikan siapa pun yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 49) Penyucian hati ada di tangan Allah.Maka dari itu, seorang hamba harus tulus kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālādalam memohon kesucian hatinya. Jika dia tulus kepada-Nya, niscaya Allah Yang akan Menghilangkan bayang-bayang itu.Jika dia tulus.Di antara doa Nabi kita ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām, “Ya Allah, Berikanlah kepada jiwa kami ketakwaannya,dan Sucikan ia karena Engkaulah sebaik-baik Yang Menyucikannya,Engkaulah Penguasa dan Pemiliknya.” (HR. Muslim)Dia harus memohon kepada Allah. Inilah yang saya wasiatkan kepada penanya yang budiman ini,yakni memohon perlindungan kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālādengan tulus dan terus meminta dengan penuh harap kepada Allah agar Menyucikan hatinya. Kesucian hati maknanya adalah kebersihan hati.Maksudnya adalah kebersihan hati, karena kesucian hatitidak akan terwujud kecuali dengan membersihkannya. Inilah mengapa Ibnu Taimiyah—semoga Allah Merahmatinya—berkata,“Sungguh penyucian hati mencakup dua hal ini, …”“… mencakup dua hal ini, …”yakni mencakup menghidupkannya dengan kebaikandan menyelamatkannya dari keburukan dan penyakit. “… mencakup dua hal ini, …”“Ambillah zakat dari harta mereka,guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103) “… guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)“… membersihkan mereka, …” yakni dari penyakit yang terdapat dalam hati,seperti kikir dan yang semisalnya.“… dan menyucikan mereka.” Jadi penyucian hati mengandung dua hal ini,maka yang aku nasihatkan kepada si penanya iniadalah bertawajuh kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā dengan tulusdan meminta penuh harap kepada-Nya dengan doa agar Dia Menyucikan hatinya,agar Dia Menyucikan hatinya. Namun pada saat yang sama,dia juga harus mengusahakan sebab-sebab demi kesucian hatinya.Di antara sebabnya yang paling kuatadalah memberi perhatian terhadap al-Qurandan menyibukkan waktunya dengan kitab Allah Subẖānahu wa Taʿālādengan membaca dan menadaburinya. “… yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan menyucikan (jiwa) mereka ….” (QS. Al-Jumu’ah: 2)maksudnya dengan al-Quran,karena al-Quran adalah kitab penyucian hati.Demikian. ==== يَقُولُ أَحْسَنَ الله إِلَيْكَ قَدْ كُنْتُ نَظَرْتُ إِلَى بَعْضِ الصُّوَرِ وَالْأَفْلَامِ قَدْ تُبْتُ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَلَكِنْ لَا أَزَالُ أَجِدُ هَذِهِ الْأُمُورَ فِي خَاطِرِيْ فَكَيْفَ السَّبِيلُ لِمَحْوِ تِلْكَ الْأُمُورِ مِنْ ذَاكِرَتِي؟ أَيْضًا نَسْأَلُ اللهَ لِأَخِينَا هَذَا التَّوْبَةَ النَّصُوحَ وَأَنْ يُخَلِّصَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْبَقَايَا وَالرَّوَاسِبِ لِهَذِهِ الْمُشَاهِدَاتِ الآثِمَةِ الَّتِي كَانَ فَتْرَةً مِنَ الزَّمَانِ يُشَاهِدُهَا وَلَعَلَّ سُؤَالَ هَذَا الْأَخِ الْكَرِيمِ يَفْتَحُ بَابًا مُهِمًّا لِلتَّنْبِيهِ عَلَى أَمْرٍ يَغْفَلُ عَنْهُ أَكْثَرُ مَنْ يَنْظُرُ إِلَى تِلْكَ الْمَنَاظِرِ وَيُشَاهِدُ تِلْكَ الْمُشَاهِدَ كَثِيرٌ مِمَّنْ يَنْظُرُ إِلَى هَذِهِ الْمَنَاظِرِ يَظُنُّ أَنَّهَا نَظَرَاتٌ تَنْتَهِي فِي حِينِهَا وَتَنْقَضِي فِي وَقْتِهَا لَكِنْ لَيْسَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ بَلِ الْأَمْرُ كَمَا ذَكَرَ السَّائِلُ الْكَرِيمُ يَبْقَى مِنْهَا بَقَايَا تَنْطَبِعُ فِي الْقَلْبِ تَنْطَبِعُ فِي الْقَلْبِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَذْكُرُ عَنْ نَفْسِهِ أَنَّ بَقَايَا مِنْ تِلْكَ الْمَنَاظِرِ تَقْفِزُ إِلَى قَلْبِهِ وَهُوَ سَاجِدٌ نَعَمْ وَهُوَ رَاكِعٌ وَأَحْيَانًا وَهُوَ مَادُّ يَدَيهِ بِالدُّعَاءِ تَقْفِزُ مَنَاظِرٌ سَيِّئَةٌ كَانَ مُنْهَمِكًا فَتْرَةً مِنْ عُمْرِهِ بِالنَّظَرِ إِلَيْهَا هُوَ لَمَّا كَانَ يَنْظُرُ يَظُنُّ أَنَّهَا فَتْرَةٌ وَتَنْتَهِي وَلَا يَبْقَى مِنْهَا شَيْءٌ لَكِنَّهَا تَبْقَى لِأَنَّ الْأَشْيَاءَ الَّتِي يَنْظُرُ إِلَيْهَا الْإِنْسَانُ بِبَصَرِهِ وَيَسْتَمِعُ إِلَيْهَا بِسَمْعِهِ تَنْطَبِعُ فِي الْقَلْبِ وَتَلْتَصِقُ بِهِ وَخَلَاصُهَا مِنْهُ لَيْسَ بِالْهَيِّنِ لَكِنْ لَا يُقَالُ إِنَّ الْقَلْبَ لَا يَخْلُصُ مِنْهَا وَنَذْكُرُ هُنَا قَوْلَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَلِ اللهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ تَزْكِيَةُ الْقَلْبِ بِيَدِ اللهِ فَعَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَصْدُقَ مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي طَلَبِ زَكَاةِ قَلْبِهِ صَادِقًا مَعَ اللهِ فَيُذْهِبُ اللهُ عَنْهُ إِذَا صَدَقَ وَمِنْ دُعَاءِ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا فَيَلْجَأُ إِلَى اللهِ هَذَا الَّذِي أُوْصِي بِهِ هَذَا السَّائِلَ الْكَرِيمَ أَنْ يَلْجَأَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ وَزَكَاةُ الْقَلْبِ تَعْنِي فِي مَعْنَاهَا طَهَارَةَ الْقَلْبِ طَهَارَةَ الْقَلْبِ لِأَنَّ التَّزْكِيَةَ لِلْقَلْبِ لَا تَكُونُ إِلَّا بِطَهَارَتِهِ وَلِهَذَا يَقُولُ ابْنُ تَيمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ فَإِنَّ تَزْكِيَةَ الْقَلْبِ تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا تَشْمَلُ عِمَارَاتَهُ بِالْخَيْرِ وَسَلَامَتَهُ مِنَ الشُّرُورِ وَالْآفَاتِ تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا تُطَهِّرُهُمْ أَيْ مِمَّا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ مِنْ شُحٍّ وَأَشْيَاءَ مِنْ هَذِهِ الْقَبِيلِ وَتُزَكِّيْهِمْ فَالتَّزْكِيَةُ تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا فَالَّذِي أَنْصَحُ بِهِ هَذَا السَّائِلَ أَنْ يُقْبِلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ بِالدُّعَاءِ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ يَأْخُذُ بِأَسْبَابِ زَكَاةِ الْقَلْبِ وَأَعْظَمُ مَا يَكُونُ مِنْ ذَلِكَ الْعِنَايَةُ بِالْقُرْآنِ وَشَغْلُ الْأَوْقَاتِ مَعَ كِتَابِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قِرَاءَةً وَتَدَبُّرًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ أَيْ بِالْقُرْآنِ وَالْقُرْآنُ هُوَ كِتَابُ التَّزْكِيَةِ لِلْقُلُوبِ نَعَمْ
Penanya berkata, “Semoga Allah Limpahkan kebaikan untuk Anda.Dahulu aku pernah beberapa kali melihat gambar dan video (porno). Aku sudah bertobat kepada Allah Taʿālā,tetapi aku masih merasa terganggu dengan bayang-bayang itu dalam pikiranku,bagaimana cara menghapus bayang-bayang itu dari dalam pikiranku?” Kita juga memohon kepada Allah untuk saudara kita ini agar diberikan taubat nasuha,dan semoga Allah ʿAzza wa Jalla Membebaskannya dari dampak dan bekas-bekasdari tontonan-tontonan maksiat tersebutyang pernah dia saksikan di masa silamnya. Sudah barang tentu pertanyaan saudara kita yang budiman inimembuka sebuah poin penting yang harus diperhatikan terkait masalah ini,yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang yang suka melihat gambar-gambar porno inidan menonton tontonan-tontonan porno ini. Orang yang suka melihat gambar-gambar porno inimenyangka bahwa itu hanyalah tontonanyang akan selesai dan berakhir waktu itu juga. Padahal kenyataannya tidak demikian,bahkan realitanya adalah seperti yang disebutkan oleh penanya yang budiman ini,bahwa tontonan ini meninggalkan sisa-sisa yang membekas dalam hati,yang membekas dalam hati. Bahkan sebagian orang mengisahkan pengalamannya sendiribahwa bekas-bekas tontonan tersebut hadir dalam hatinyapadahal dia sedang sujud, bahkan saat ia rukuk, dan terkadang saat dia mengangkat tangannya untuk berdoa, muncul lagibayangan-bayangan kotor yang dahulu dia pernah bernikmat-nikmat menontonnya. Saat dia melihatnya, dia menyangka bahwa itu sementara dan segera berlaluserta tidak akan menyisakan bekas apa pun. Namun ternyata ia menyisakan bekas, karena hal-halyang seseorang lihat dengan matanya dan dengar dengan telinganyaakan mengendap dalam hati dan menempel erat,yang tidak mudah untuk dihilangkan. Namun tidak berarti bahwa hati tidak bisa terbebas darinya.Di sini kami sampaikan firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya),“Sebenarnya Allah Yang Menyucikan siapa pun yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 49) Penyucian hati ada di tangan Allah.Maka dari itu, seorang hamba harus tulus kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālādalam memohon kesucian hatinya. Jika dia tulus kepada-Nya, niscaya Allah Yang akan Menghilangkan bayang-bayang itu.Jika dia tulus.Di antara doa Nabi kita ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām, “Ya Allah, Berikanlah kepada jiwa kami ketakwaannya,dan Sucikan ia karena Engkaulah sebaik-baik Yang Menyucikannya,Engkaulah Penguasa dan Pemiliknya.” (HR. Muslim)Dia harus memohon kepada Allah. Inilah yang saya wasiatkan kepada penanya yang budiman ini,yakni memohon perlindungan kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālādengan tulus dan terus meminta dengan penuh harap kepada Allah agar Menyucikan hatinya. Kesucian hati maknanya adalah kebersihan hati.Maksudnya adalah kebersihan hati, karena kesucian hatitidak akan terwujud kecuali dengan membersihkannya. Inilah mengapa Ibnu Taimiyah—semoga Allah Merahmatinya—berkata,“Sungguh penyucian hati mencakup dua hal ini, …”“… mencakup dua hal ini, …”yakni mencakup menghidupkannya dengan kebaikandan menyelamatkannya dari keburukan dan penyakit. “… mencakup dua hal ini, …”“Ambillah zakat dari harta mereka,guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103) “… guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)“… membersihkan mereka, …” yakni dari penyakit yang terdapat dalam hati,seperti kikir dan yang semisalnya.“… dan menyucikan mereka.” Jadi penyucian hati mengandung dua hal ini,maka yang aku nasihatkan kepada si penanya iniadalah bertawajuh kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā dengan tulusdan meminta penuh harap kepada-Nya dengan doa agar Dia Menyucikan hatinya,agar Dia Menyucikan hatinya. Namun pada saat yang sama,dia juga harus mengusahakan sebab-sebab demi kesucian hatinya.Di antara sebabnya yang paling kuatadalah memberi perhatian terhadap al-Qurandan menyibukkan waktunya dengan kitab Allah Subẖānahu wa Taʿālādengan membaca dan menadaburinya. “… yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan menyucikan (jiwa) mereka ….” (QS. Al-Jumu’ah: 2)maksudnya dengan al-Quran,karena al-Quran adalah kitab penyucian hati.Demikian. ==== يَقُولُ أَحْسَنَ الله إِلَيْكَ قَدْ كُنْتُ نَظَرْتُ إِلَى بَعْضِ الصُّوَرِ وَالْأَفْلَامِ قَدْ تُبْتُ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَلَكِنْ لَا أَزَالُ أَجِدُ هَذِهِ الْأُمُورَ فِي خَاطِرِيْ فَكَيْفَ السَّبِيلُ لِمَحْوِ تِلْكَ الْأُمُورِ مِنْ ذَاكِرَتِي؟ أَيْضًا نَسْأَلُ اللهَ لِأَخِينَا هَذَا التَّوْبَةَ النَّصُوحَ وَأَنْ يُخَلِّصَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْبَقَايَا وَالرَّوَاسِبِ لِهَذِهِ الْمُشَاهِدَاتِ الآثِمَةِ الَّتِي كَانَ فَتْرَةً مِنَ الزَّمَانِ يُشَاهِدُهَا وَلَعَلَّ سُؤَالَ هَذَا الْأَخِ الْكَرِيمِ يَفْتَحُ بَابًا مُهِمًّا لِلتَّنْبِيهِ عَلَى أَمْرٍ يَغْفَلُ عَنْهُ أَكْثَرُ مَنْ يَنْظُرُ إِلَى تِلْكَ الْمَنَاظِرِ وَيُشَاهِدُ تِلْكَ الْمُشَاهِدَ كَثِيرٌ مِمَّنْ يَنْظُرُ إِلَى هَذِهِ الْمَنَاظِرِ يَظُنُّ أَنَّهَا نَظَرَاتٌ تَنْتَهِي فِي حِينِهَا وَتَنْقَضِي فِي وَقْتِهَا لَكِنْ لَيْسَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ بَلِ الْأَمْرُ كَمَا ذَكَرَ السَّائِلُ الْكَرِيمُ يَبْقَى مِنْهَا بَقَايَا تَنْطَبِعُ فِي الْقَلْبِ تَنْطَبِعُ فِي الْقَلْبِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَذْكُرُ عَنْ نَفْسِهِ أَنَّ بَقَايَا مِنْ تِلْكَ الْمَنَاظِرِ تَقْفِزُ إِلَى قَلْبِهِ وَهُوَ سَاجِدٌ نَعَمْ وَهُوَ رَاكِعٌ وَأَحْيَانًا وَهُوَ مَادُّ يَدَيهِ بِالدُّعَاءِ تَقْفِزُ مَنَاظِرٌ سَيِّئَةٌ كَانَ مُنْهَمِكًا فَتْرَةً مِنْ عُمْرِهِ بِالنَّظَرِ إِلَيْهَا هُوَ لَمَّا كَانَ يَنْظُرُ يَظُنُّ أَنَّهَا فَتْرَةٌ وَتَنْتَهِي وَلَا يَبْقَى مِنْهَا شَيْءٌ لَكِنَّهَا تَبْقَى لِأَنَّ الْأَشْيَاءَ الَّتِي يَنْظُرُ إِلَيْهَا الْإِنْسَانُ بِبَصَرِهِ وَيَسْتَمِعُ إِلَيْهَا بِسَمْعِهِ تَنْطَبِعُ فِي الْقَلْبِ وَتَلْتَصِقُ بِهِ وَخَلَاصُهَا مِنْهُ لَيْسَ بِالْهَيِّنِ لَكِنْ لَا يُقَالُ إِنَّ الْقَلْبَ لَا يَخْلُصُ مِنْهَا وَنَذْكُرُ هُنَا قَوْلَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَلِ اللهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ تَزْكِيَةُ الْقَلْبِ بِيَدِ اللهِ فَعَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَصْدُقَ مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي طَلَبِ زَكَاةِ قَلْبِهِ صَادِقًا مَعَ اللهِ فَيُذْهِبُ اللهُ عَنْهُ إِذَا صَدَقَ وَمِنْ دُعَاءِ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا فَيَلْجَأُ إِلَى اللهِ هَذَا الَّذِي أُوْصِي بِهِ هَذَا السَّائِلَ الْكَرِيمَ أَنْ يَلْجَأَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ وَزَكَاةُ الْقَلْبِ تَعْنِي فِي مَعْنَاهَا طَهَارَةَ الْقَلْبِ طَهَارَةَ الْقَلْبِ لِأَنَّ التَّزْكِيَةَ لِلْقَلْبِ لَا تَكُونُ إِلَّا بِطَهَارَتِهِ وَلِهَذَا يَقُولُ ابْنُ تَيمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ فَإِنَّ تَزْكِيَةَ الْقَلْبِ تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا تَشْمَلُ عِمَارَاتَهُ بِالْخَيْرِ وَسَلَامَتَهُ مِنَ الشُّرُورِ وَالْآفَاتِ تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا تُطَهِّرُهُمْ أَيْ مِمَّا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ مِنْ شُحٍّ وَأَشْيَاءَ مِنْ هَذِهِ الْقَبِيلِ وَتُزَكِّيْهِمْ فَالتَّزْكِيَةُ تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا فَالَّذِي أَنْصَحُ بِهِ هَذَا السَّائِلَ أَنْ يُقْبِلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ بِالدُّعَاءِ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ يَأْخُذُ بِأَسْبَابِ زَكَاةِ الْقَلْبِ وَأَعْظَمُ مَا يَكُونُ مِنْ ذَلِكَ الْعِنَايَةُ بِالْقُرْآنِ وَشَغْلُ الْأَوْقَاتِ مَعَ كِتَابِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قِرَاءَةً وَتَدَبُّرًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ أَيْ بِالْقُرْآنِ وَالْقُرْآنُ هُوَ كِتَابُ التَّزْكِيَةِ لِلْقُلُوبِ نَعَمْ


Penanya berkata, “Semoga Allah Limpahkan kebaikan untuk Anda.Dahulu aku pernah beberapa kali melihat gambar dan video (porno). Aku sudah bertobat kepada Allah Taʿālā,tetapi aku masih merasa terganggu dengan bayang-bayang itu dalam pikiranku,bagaimana cara menghapus bayang-bayang itu dari dalam pikiranku?” Kita juga memohon kepada Allah untuk saudara kita ini agar diberikan taubat nasuha,dan semoga Allah ʿAzza wa Jalla Membebaskannya dari dampak dan bekas-bekasdari tontonan-tontonan maksiat tersebutyang pernah dia saksikan di masa silamnya. Sudah barang tentu pertanyaan saudara kita yang budiman inimembuka sebuah poin penting yang harus diperhatikan terkait masalah ini,yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang yang suka melihat gambar-gambar porno inidan menonton tontonan-tontonan porno ini. Orang yang suka melihat gambar-gambar porno inimenyangka bahwa itu hanyalah tontonanyang akan selesai dan berakhir waktu itu juga. Padahal kenyataannya tidak demikian,bahkan realitanya adalah seperti yang disebutkan oleh penanya yang budiman ini,bahwa tontonan ini meninggalkan sisa-sisa yang membekas dalam hati,yang membekas dalam hati. Bahkan sebagian orang mengisahkan pengalamannya sendiribahwa bekas-bekas tontonan tersebut hadir dalam hatinyapadahal dia sedang sujud, bahkan saat ia rukuk, dan terkadang saat dia mengangkat tangannya untuk berdoa, muncul lagibayangan-bayangan kotor yang dahulu dia pernah bernikmat-nikmat menontonnya. Saat dia melihatnya, dia menyangka bahwa itu sementara dan segera berlaluserta tidak akan menyisakan bekas apa pun. Namun ternyata ia menyisakan bekas, karena hal-halyang seseorang lihat dengan matanya dan dengar dengan telinganyaakan mengendap dalam hati dan menempel erat,yang tidak mudah untuk dihilangkan. Namun tidak berarti bahwa hati tidak bisa terbebas darinya.Di sini kami sampaikan firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya),“Sebenarnya Allah Yang Menyucikan siapa pun yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 49) Penyucian hati ada di tangan Allah.Maka dari itu, seorang hamba harus tulus kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālādalam memohon kesucian hatinya. Jika dia tulus kepada-Nya, niscaya Allah Yang akan Menghilangkan bayang-bayang itu.Jika dia tulus.Di antara doa Nabi kita ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām, “Ya Allah, Berikanlah kepada jiwa kami ketakwaannya,dan Sucikan ia karena Engkaulah sebaik-baik Yang Menyucikannya,Engkaulah Penguasa dan Pemiliknya.” (HR. Muslim)Dia harus memohon kepada Allah. Inilah yang saya wasiatkan kepada penanya yang budiman ini,yakni memohon perlindungan kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālādengan tulus dan terus meminta dengan penuh harap kepada Allah agar Menyucikan hatinya. Kesucian hati maknanya adalah kebersihan hati.Maksudnya adalah kebersihan hati, karena kesucian hatitidak akan terwujud kecuali dengan membersihkannya. Inilah mengapa Ibnu Taimiyah—semoga Allah Merahmatinya—berkata,“Sungguh penyucian hati mencakup dua hal ini, …”“… mencakup dua hal ini, …”yakni mencakup menghidupkannya dengan kebaikandan menyelamatkannya dari keburukan dan penyakit. “… mencakup dua hal ini, …”“Ambillah zakat dari harta mereka,guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103) “… guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)“… membersihkan mereka, …” yakni dari penyakit yang terdapat dalam hati,seperti kikir dan yang semisalnya.“… dan menyucikan mereka.” Jadi penyucian hati mengandung dua hal ini,maka yang aku nasihatkan kepada si penanya iniadalah bertawajuh kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā dengan tulusdan meminta penuh harap kepada-Nya dengan doa agar Dia Menyucikan hatinya,agar Dia Menyucikan hatinya. Namun pada saat yang sama,dia juga harus mengusahakan sebab-sebab demi kesucian hatinya.Di antara sebabnya yang paling kuatadalah memberi perhatian terhadap al-Qurandan menyibukkan waktunya dengan kitab Allah Subẖānahu wa Taʿālādengan membaca dan menadaburinya. “… yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan menyucikan (jiwa) mereka ….” (QS. Al-Jumu’ah: 2)maksudnya dengan al-Quran,karena al-Quran adalah kitab penyucian hati.Demikian. ==== يَقُولُ أَحْسَنَ الله إِلَيْكَ قَدْ كُنْتُ نَظَرْتُ إِلَى بَعْضِ الصُّوَرِ وَالْأَفْلَامِ قَدْ تُبْتُ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَلَكِنْ لَا أَزَالُ أَجِدُ هَذِهِ الْأُمُورَ فِي خَاطِرِيْ فَكَيْفَ السَّبِيلُ لِمَحْوِ تِلْكَ الْأُمُورِ مِنْ ذَاكِرَتِي؟ أَيْضًا نَسْأَلُ اللهَ لِأَخِينَا هَذَا التَّوْبَةَ النَّصُوحَ وَأَنْ يُخَلِّصَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْبَقَايَا وَالرَّوَاسِبِ لِهَذِهِ الْمُشَاهِدَاتِ الآثِمَةِ الَّتِي كَانَ فَتْرَةً مِنَ الزَّمَانِ يُشَاهِدُهَا وَلَعَلَّ سُؤَالَ هَذَا الْأَخِ الْكَرِيمِ يَفْتَحُ بَابًا مُهِمًّا لِلتَّنْبِيهِ عَلَى أَمْرٍ يَغْفَلُ عَنْهُ أَكْثَرُ مَنْ يَنْظُرُ إِلَى تِلْكَ الْمَنَاظِرِ وَيُشَاهِدُ تِلْكَ الْمُشَاهِدَ كَثِيرٌ مِمَّنْ يَنْظُرُ إِلَى هَذِهِ الْمَنَاظِرِ يَظُنُّ أَنَّهَا نَظَرَاتٌ تَنْتَهِي فِي حِينِهَا وَتَنْقَضِي فِي وَقْتِهَا لَكِنْ لَيْسَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ بَلِ الْأَمْرُ كَمَا ذَكَرَ السَّائِلُ الْكَرِيمُ يَبْقَى مِنْهَا بَقَايَا تَنْطَبِعُ فِي الْقَلْبِ تَنْطَبِعُ فِي الْقَلْبِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَذْكُرُ عَنْ نَفْسِهِ أَنَّ بَقَايَا مِنْ تِلْكَ الْمَنَاظِرِ تَقْفِزُ إِلَى قَلْبِهِ وَهُوَ سَاجِدٌ نَعَمْ وَهُوَ رَاكِعٌ وَأَحْيَانًا وَهُوَ مَادُّ يَدَيهِ بِالدُّعَاءِ تَقْفِزُ مَنَاظِرٌ سَيِّئَةٌ كَانَ مُنْهَمِكًا فَتْرَةً مِنْ عُمْرِهِ بِالنَّظَرِ إِلَيْهَا هُوَ لَمَّا كَانَ يَنْظُرُ يَظُنُّ أَنَّهَا فَتْرَةٌ وَتَنْتَهِي وَلَا يَبْقَى مِنْهَا شَيْءٌ لَكِنَّهَا تَبْقَى لِأَنَّ الْأَشْيَاءَ الَّتِي يَنْظُرُ إِلَيْهَا الْإِنْسَانُ بِبَصَرِهِ وَيَسْتَمِعُ إِلَيْهَا بِسَمْعِهِ تَنْطَبِعُ فِي الْقَلْبِ وَتَلْتَصِقُ بِهِ وَخَلَاصُهَا مِنْهُ لَيْسَ بِالْهَيِّنِ لَكِنْ لَا يُقَالُ إِنَّ الْقَلْبَ لَا يَخْلُصُ مِنْهَا وَنَذْكُرُ هُنَا قَوْلَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَلِ اللهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ تَزْكِيَةُ الْقَلْبِ بِيَدِ اللهِ فَعَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَصْدُقَ مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي طَلَبِ زَكَاةِ قَلْبِهِ صَادِقًا مَعَ اللهِ فَيُذْهِبُ اللهُ عَنْهُ إِذَا صَدَقَ وَمِنْ دُعَاءِ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا فَيَلْجَأُ إِلَى اللهِ هَذَا الَّذِي أُوْصِي بِهِ هَذَا السَّائِلَ الْكَرِيمَ أَنْ يَلْجَأَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ وَزَكَاةُ الْقَلْبِ تَعْنِي فِي مَعْنَاهَا طَهَارَةَ الْقَلْبِ طَهَارَةَ الْقَلْبِ لِأَنَّ التَّزْكِيَةَ لِلْقَلْبِ لَا تَكُونُ إِلَّا بِطَهَارَتِهِ وَلِهَذَا يَقُولُ ابْنُ تَيمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ فَإِنَّ تَزْكِيَةَ الْقَلْبِ تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا تَشْمَلُ عِمَارَاتَهُ بِالْخَيْرِ وَسَلَامَتَهُ مِنَ الشُّرُورِ وَالْآفَاتِ تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا تُطَهِّرُهُمْ أَيْ مِمَّا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ مِنْ شُحٍّ وَأَشْيَاءَ مِنْ هَذِهِ الْقَبِيلِ وَتُزَكِّيْهِمْ فَالتَّزْكِيَةُ تَشْمَلُ هَذَا وَهَذَا فَالَّذِي أَنْصَحُ بِهِ هَذَا السَّائِلَ أَنْ يُقْبِلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ بِالدُّعَاءِ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ يَأْخُذُ بِأَسْبَابِ زَكَاةِ الْقَلْبِ وَأَعْظَمُ مَا يَكُونُ مِنْ ذَلِكَ الْعِنَايَةُ بِالْقُرْآنِ وَشَغْلُ الْأَوْقَاتِ مَعَ كِتَابِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قِرَاءَةً وَتَدَبُّرًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ أَيْ بِالْقُرْآنِ وَالْقُرْآنُ هُوَ كِتَابُ التَّزْكِيَةِ لِلْقُلُوبِ نَعَمْ

Hukum Umrah atau Haji Anak Kecil

Bismillah.Ada perbedaan pendapat ahli fikih tentang keabsahan umrah atau haji anak kecil. Mayoritas mereka menyimpulkan sahnya umrah dan haji anak kecil. Pendapat ini adalah pendapat yang kami yakini kebenarannya. Hal ini karena berdasar pada sebuah hadis yang sahih dari sahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertemu dengan rombongan jamaah haji di sebuah tempat yang disebut Ar-Rouha’. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada rombongan tersebut,من القوم ؟“Siapakah kalian?“قالوا : المسلمون ، من أنت ؟Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang muslim, lantas siapa Anda?”قال : أنا رسول اللهNabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Saya adalah Rasulullah.”Lalu, ada seorang wanita mengangkat putranya yang masih kecil, memperlihatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu wanita itu bertanya, ألهذا حج ؟“Ya Rasulullah, apakah hajinya anak ini sah?”قال : نعم ولك أجر .Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iya, dan anda mendapatkan pahala. (membantu hajinya anak ini, pent.)” (HR. Muslim)Namun, apakah haji atau umrah anak kecil dapat menggugurkan kewajiban?Artinya, hajinya sudah teranggap sebagai haji Islam atau haji yang telah menunaikan rukun Islam atau umrah yang telah menggugurkan kewajiban?Jawabannya adalah tidak mengugurkan kewajiban haji atau umrahnya. Sehingga, saat ia telah dewasa dan ia mampu, maka ia wajib menunaikan haji atau umrah kembali untuk menunaikan rukun Islam haji dan menggugurkan kewajiban umrahnya. Karena seluruh ibadah wajib yang dilakukan oleh anak kecil, oleh syariat dianggap sebagai amalan sunah.Sebagaimana keterangan dari Ibnul Mundzir rahimahullah,وأجمعوا على أن المجنون إذا حج به ثم صح أو حج بالصبي ثم بلغ أن ذلك لا يجزيهما عن حجة الإسلام .“Seluruh ulama sepakat bahwa orang gila atau anak kecil yang naik haji, kemudian dia sehat dari gilanya atau balig, maka hajinya tersebut tidak menggugurkan haji Islamnya (haji wajibnya, pent.).” (Al-Ijma’, hal. 212)Imam Tirmidzi rahimahullah juga menjelaskan,وقد أجمع أهل العلم أن الصبي إذا حج قبل أن يدرك فعليه الحج إذا أدرك .“Para ulama sepakat bahwa anak kecil yang naik haji sebelum balig, maka dia wajib melakukannya kembali (bila mampu, pent.) setelah ia balig.” (Jami’ At-Tirmidzi, 3: 256) Wallahu Ta’ala a’lam bisshawab.Baca Juga: Fikih Haji***Penulis: Ahmad AnshoriArtikel: Muslim.or.idTags: anak-anak hajianak-anak umrohfikihfikih hajifikih umrohHajiibadahkeutamaan hajikeutamaan umrohnasihatnasihat islampanduan hajipanduan umrohumroh

Hukum Umrah atau Haji Anak Kecil

Bismillah.Ada perbedaan pendapat ahli fikih tentang keabsahan umrah atau haji anak kecil. Mayoritas mereka menyimpulkan sahnya umrah dan haji anak kecil. Pendapat ini adalah pendapat yang kami yakini kebenarannya. Hal ini karena berdasar pada sebuah hadis yang sahih dari sahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertemu dengan rombongan jamaah haji di sebuah tempat yang disebut Ar-Rouha’. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada rombongan tersebut,من القوم ؟“Siapakah kalian?“قالوا : المسلمون ، من أنت ؟Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang muslim, lantas siapa Anda?”قال : أنا رسول اللهNabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Saya adalah Rasulullah.”Lalu, ada seorang wanita mengangkat putranya yang masih kecil, memperlihatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu wanita itu bertanya, ألهذا حج ؟“Ya Rasulullah, apakah hajinya anak ini sah?”قال : نعم ولك أجر .Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iya, dan anda mendapatkan pahala. (membantu hajinya anak ini, pent.)” (HR. Muslim)Namun, apakah haji atau umrah anak kecil dapat menggugurkan kewajiban?Artinya, hajinya sudah teranggap sebagai haji Islam atau haji yang telah menunaikan rukun Islam atau umrah yang telah menggugurkan kewajiban?Jawabannya adalah tidak mengugurkan kewajiban haji atau umrahnya. Sehingga, saat ia telah dewasa dan ia mampu, maka ia wajib menunaikan haji atau umrah kembali untuk menunaikan rukun Islam haji dan menggugurkan kewajiban umrahnya. Karena seluruh ibadah wajib yang dilakukan oleh anak kecil, oleh syariat dianggap sebagai amalan sunah.Sebagaimana keterangan dari Ibnul Mundzir rahimahullah,وأجمعوا على أن المجنون إذا حج به ثم صح أو حج بالصبي ثم بلغ أن ذلك لا يجزيهما عن حجة الإسلام .“Seluruh ulama sepakat bahwa orang gila atau anak kecil yang naik haji, kemudian dia sehat dari gilanya atau balig, maka hajinya tersebut tidak menggugurkan haji Islamnya (haji wajibnya, pent.).” (Al-Ijma’, hal. 212)Imam Tirmidzi rahimahullah juga menjelaskan,وقد أجمع أهل العلم أن الصبي إذا حج قبل أن يدرك فعليه الحج إذا أدرك .“Para ulama sepakat bahwa anak kecil yang naik haji sebelum balig, maka dia wajib melakukannya kembali (bila mampu, pent.) setelah ia balig.” (Jami’ At-Tirmidzi, 3: 256) Wallahu Ta’ala a’lam bisshawab.Baca Juga: Fikih Haji***Penulis: Ahmad AnshoriArtikel: Muslim.or.idTags: anak-anak hajianak-anak umrohfikihfikih hajifikih umrohHajiibadahkeutamaan hajikeutamaan umrohnasihatnasihat islampanduan hajipanduan umrohumroh
Bismillah.Ada perbedaan pendapat ahli fikih tentang keabsahan umrah atau haji anak kecil. Mayoritas mereka menyimpulkan sahnya umrah dan haji anak kecil. Pendapat ini adalah pendapat yang kami yakini kebenarannya. Hal ini karena berdasar pada sebuah hadis yang sahih dari sahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertemu dengan rombongan jamaah haji di sebuah tempat yang disebut Ar-Rouha’. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada rombongan tersebut,من القوم ؟“Siapakah kalian?“قالوا : المسلمون ، من أنت ؟Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang muslim, lantas siapa Anda?”قال : أنا رسول اللهNabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Saya adalah Rasulullah.”Lalu, ada seorang wanita mengangkat putranya yang masih kecil, memperlihatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu wanita itu bertanya, ألهذا حج ؟“Ya Rasulullah, apakah hajinya anak ini sah?”قال : نعم ولك أجر .Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iya, dan anda mendapatkan pahala. (membantu hajinya anak ini, pent.)” (HR. Muslim)Namun, apakah haji atau umrah anak kecil dapat menggugurkan kewajiban?Artinya, hajinya sudah teranggap sebagai haji Islam atau haji yang telah menunaikan rukun Islam atau umrah yang telah menggugurkan kewajiban?Jawabannya adalah tidak mengugurkan kewajiban haji atau umrahnya. Sehingga, saat ia telah dewasa dan ia mampu, maka ia wajib menunaikan haji atau umrah kembali untuk menunaikan rukun Islam haji dan menggugurkan kewajiban umrahnya. Karena seluruh ibadah wajib yang dilakukan oleh anak kecil, oleh syariat dianggap sebagai amalan sunah.Sebagaimana keterangan dari Ibnul Mundzir rahimahullah,وأجمعوا على أن المجنون إذا حج به ثم صح أو حج بالصبي ثم بلغ أن ذلك لا يجزيهما عن حجة الإسلام .“Seluruh ulama sepakat bahwa orang gila atau anak kecil yang naik haji, kemudian dia sehat dari gilanya atau balig, maka hajinya tersebut tidak menggugurkan haji Islamnya (haji wajibnya, pent.).” (Al-Ijma’, hal. 212)Imam Tirmidzi rahimahullah juga menjelaskan,وقد أجمع أهل العلم أن الصبي إذا حج قبل أن يدرك فعليه الحج إذا أدرك .“Para ulama sepakat bahwa anak kecil yang naik haji sebelum balig, maka dia wajib melakukannya kembali (bila mampu, pent.) setelah ia balig.” (Jami’ At-Tirmidzi, 3: 256) Wallahu Ta’ala a’lam bisshawab.Baca Juga: Fikih Haji***Penulis: Ahmad AnshoriArtikel: Muslim.or.idTags: anak-anak hajianak-anak umrohfikihfikih hajifikih umrohHajiibadahkeutamaan hajikeutamaan umrohnasihatnasihat islampanduan hajipanduan umrohumroh


Bismillah.Ada perbedaan pendapat ahli fikih tentang keabsahan umrah atau haji anak kecil. Mayoritas mereka menyimpulkan sahnya umrah dan haji anak kecil. Pendapat ini adalah pendapat yang kami yakini kebenarannya. Hal ini karena berdasar pada sebuah hadis yang sahih dari sahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertemu dengan rombongan jamaah haji di sebuah tempat yang disebut Ar-Rouha’. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada rombongan tersebut,من القوم ؟“Siapakah kalian?“قالوا : المسلمون ، من أنت ؟Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang muslim, lantas siapa Anda?”قال : أنا رسول اللهNabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Saya adalah Rasulullah.”Lalu, ada seorang wanita mengangkat putranya yang masih kecil, memperlihatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu wanita itu bertanya, ألهذا حج ؟“Ya Rasulullah, apakah hajinya anak ini sah?”قال : نعم ولك أجر .Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iya, dan anda mendapatkan pahala. (membantu hajinya anak ini, pent.)” (HR. Muslim)Namun, apakah haji atau umrah anak kecil dapat menggugurkan kewajiban?Artinya, hajinya sudah teranggap sebagai haji Islam atau haji yang telah menunaikan rukun Islam atau umrah yang telah menggugurkan kewajiban?Jawabannya adalah tidak mengugurkan kewajiban haji atau umrahnya. Sehingga, saat ia telah dewasa dan ia mampu, maka ia wajib menunaikan haji atau umrah kembali untuk menunaikan rukun Islam haji dan menggugurkan kewajiban umrahnya. Karena seluruh ibadah wajib yang dilakukan oleh anak kecil, oleh syariat dianggap sebagai amalan sunah.Sebagaimana keterangan dari Ibnul Mundzir rahimahullah,وأجمعوا على أن المجنون إذا حج به ثم صح أو حج بالصبي ثم بلغ أن ذلك لا يجزيهما عن حجة الإسلام .“Seluruh ulama sepakat bahwa orang gila atau anak kecil yang naik haji, kemudian dia sehat dari gilanya atau balig, maka hajinya tersebut tidak menggugurkan haji Islamnya (haji wajibnya, pent.).” (Al-Ijma’, hal. 212)Imam Tirmidzi rahimahullah juga menjelaskan,وقد أجمع أهل العلم أن الصبي إذا حج قبل أن يدرك فعليه الحج إذا أدرك .“Para ulama sepakat bahwa anak kecil yang naik haji sebelum balig, maka dia wajib melakukannya kembali (bila mampu, pent.) setelah ia balig.” (Jami’ At-Tirmidzi, 3: 256) Wallahu Ta’ala a’lam bisshawab.Baca Juga: Fikih Haji***Penulis: Ahmad AnshoriArtikel: Muslim.or.idTags: anak-anak hajianak-anak umrohfikihfikih hajifikih umrohHajiibadahkeutamaan hajikeutamaan umrohnasihatnasihat islampanduan hajipanduan umrohumroh

Indahnya Pahala dalam Kemudahan dan Kesulitan – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Sesungguhnya Allah Subẖānahu wa TaʿālāMenguji dengan kemudahan dan kesulitan,dengan kesehatan dan penyakit,serta Menguji dengan kekayaan dan kemiskinan. “Dan Kami Menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan,dan hanya kepada Kami kalian kembali.” (QS. Al-Anbiya’: 35)Allah Menguji dengan kedua hal tersebut. Maka dari itu, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin,karena semua urusannya baik baginya. Jika dia mendapat …”—inilah bentuk ujian pertama,yaitu kenikmatan dan karunia—“Jika dia mendapat sesuatu yang menyenangkan, dia bersyukur,dan itu baik baginya. Pun jika dia mendapat …” —inilah bentuk ujian kedua,yaitu kesulitan, sakit, kemelaratan, dan lain sebagainya—“Jika dia mendapat sesuatu yang menyengsarakan, dia bersabar,dan itu juga baik baginya,yang mana ini hanya terjadi kepada orang mukmin.” (HR. Muslim) Orang mukmin pasti diuji dengan kesenangan dan kesengsaraanserta kesulitan dan kemudahan,tapi dia tetap beruntung dalam dua ujian tersebut, karena dalam kesenangannyadia beruntung mendapatkan pahala syukur,dan dalam kesengsaraannya pundia beruntung mendapatkan pahala sabar. ==== فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَبْتَلِي بِالرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ وَيَبْتَلِي بِالصِّحَّةِ وَالْمَرَضِ وَيَبْتَلِي بِالْغِنَاءِ وَالْفَقْرِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ يَبْتَلِي بِهَذَا وَهَذَا وَلِهَذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَتْهُ — هَذَا الْاِبْتِلَاءُ الْأَوَّلُ الَّذِي هُوَ النِّعْمَةُ وَالْعَطَاءُ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ — وَهَذَا الْاِبْتِلَاءُ الثَّانِي الشِّدَّةُ وَالْمَرَضُ وَالْفَقْرُ وَمَا إِلَى ذَلِكَ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَذَلِكَ لَا يَكُونُ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ فَالْمُؤْمِنُ مُبْتَلَى بِالسَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ بِالشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ لَكِنَّهُ فَائِزٌ فِي كِلَا الْاِبْتِلَائَيْنِ فَهُوَ فِي سَرَّاءِهِ فَائِزٌ بِثَوَابِ الشَّاكِرِينَ وَفِي ضَرَّائِهِ فَائِزٌ بِثَوَابِ الصَّابِرِينَ

Indahnya Pahala dalam Kemudahan dan Kesulitan – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Sesungguhnya Allah Subẖānahu wa TaʿālāMenguji dengan kemudahan dan kesulitan,dengan kesehatan dan penyakit,serta Menguji dengan kekayaan dan kemiskinan. “Dan Kami Menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan,dan hanya kepada Kami kalian kembali.” (QS. Al-Anbiya’: 35)Allah Menguji dengan kedua hal tersebut. Maka dari itu, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin,karena semua urusannya baik baginya. Jika dia mendapat …”—inilah bentuk ujian pertama,yaitu kenikmatan dan karunia—“Jika dia mendapat sesuatu yang menyenangkan, dia bersyukur,dan itu baik baginya. Pun jika dia mendapat …” —inilah bentuk ujian kedua,yaitu kesulitan, sakit, kemelaratan, dan lain sebagainya—“Jika dia mendapat sesuatu yang menyengsarakan, dia bersabar,dan itu juga baik baginya,yang mana ini hanya terjadi kepada orang mukmin.” (HR. Muslim) Orang mukmin pasti diuji dengan kesenangan dan kesengsaraanserta kesulitan dan kemudahan,tapi dia tetap beruntung dalam dua ujian tersebut, karena dalam kesenangannyadia beruntung mendapatkan pahala syukur,dan dalam kesengsaraannya pundia beruntung mendapatkan pahala sabar. ==== فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَبْتَلِي بِالرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ وَيَبْتَلِي بِالصِّحَّةِ وَالْمَرَضِ وَيَبْتَلِي بِالْغِنَاءِ وَالْفَقْرِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ يَبْتَلِي بِهَذَا وَهَذَا وَلِهَذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَتْهُ — هَذَا الْاِبْتِلَاءُ الْأَوَّلُ الَّذِي هُوَ النِّعْمَةُ وَالْعَطَاءُ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ — وَهَذَا الْاِبْتِلَاءُ الثَّانِي الشِّدَّةُ وَالْمَرَضُ وَالْفَقْرُ وَمَا إِلَى ذَلِكَ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَذَلِكَ لَا يَكُونُ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ فَالْمُؤْمِنُ مُبْتَلَى بِالسَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ بِالشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ لَكِنَّهُ فَائِزٌ فِي كِلَا الْاِبْتِلَائَيْنِ فَهُوَ فِي سَرَّاءِهِ فَائِزٌ بِثَوَابِ الشَّاكِرِينَ وَفِي ضَرَّائِهِ فَائِزٌ بِثَوَابِ الصَّابِرِينَ
Sesungguhnya Allah Subẖānahu wa TaʿālāMenguji dengan kemudahan dan kesulitan,dengan kesehatan dan penyakit,serta Menguji dengan kekayaan dan kemiskinan. “Dan Kami Menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan,dan hanya kepada Kami kalian kembali.” (QS. Al-Anbiya’: 35)Allah Menguji dengan kedua hal tersebut. Maka dari itu, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin,karena semua urusannya baik baginya. Jika dia mendapat …”—inilah bentuk ujian pertama,yaitu kenikmatan dan karunia—“Jika dia mendapat sesuatu yang menyenangkan, dia bersyukur,dan itu baik baginya. Pun jika dia mendapat …” —inilah bentuk ujian kedua,yaitu kesulitan, sakit, kemelaratan, dan lain sebagainya—“Jika dia mendapat sesuatu yang menyengsarakan, dia bersabar,dan itu juga baik baginya,yang mana ini hanya terjadi kepada orang mukmin.” (HR. Muslim) Orang mukmin pasti diuji dengan kesenangan dan kesengsaraanserta kesulitan dan kemudahan,tapi dia tetap beruntung dalam dua ujian tersebut, karena dalam kesenangannyadia beruntung mendapatkan pahala syukur,dan dalam kesengsaraannya pundia beruntung mendapatkan pahala sabar. ==== فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَبْتَلِي بِالرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ وَيَبْتَلِي بِالصِّحَّةِ وَالْمَرَضِ وَيَبْتَلِي بِالْغِنَاءِ وَالْفَقْرِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ يَبْتَلِي بِهَذَا وَهَذَا وَلِهَذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَتْهُ — هَذَا الْاِبْتِلَاءُ الْأَوَّلُ الَّذِي هُوَ النِّعْمَةُ وَالْعَطَاءُ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ — وَهَذَا الْاِبْتِلَاءُ الثَّانِي الشِّدَّةُ وَالْمَرَضُ وَالْفَقْرُ وَمَا إِلَى ذَلِكَ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَذَلِكَ لَا يَكُونُ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ فَالْمُؤْمِنُ مُبْتَلَى بِالسَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ بِالشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ لَكِنَّهُ فَائِزٌ فِي كِلَا الْاِبْتِلَائَيْنِ فَهُوَ فِي سَرَّاءِهِ فَائِزٌ بِثَوَابِ الشَّاكِرِينَ وَفِي ضَرَّائِهِ فَائِزٌ بِثَوَابِ الصَّابِرِينَ


Sesungguhnya Allah Subẖānahu wa TaʿālāMenguji dengan kemudahan dan kesulitan,dengan kesehatan dan penyakit,serta Menguji dengan kekayaan dan kemiskinan. “Dan Kami Menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan,dan hanya kepada Kami kalian kembali.” (QS. Al-Anbiya’: 35)Allah Menguji dengan kedua hal tersebut. Maka dari itu, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin,karena semua urusannya baik baginya. Jika dia mendapat …”—inilah bentuk ujian pertama,yaitu kenikmatan dan karunia—“Jika dia mendapat sesuatu yang menyenangkan, dia bersyukur,dan itu baik baginya. Pun jika dia mendapat …” —inilah bentuk ujian kedua,yaitu kesulitan, sakit, kemelaratan, dan lain sebagainya—“Jika dia mendapat sesuatu yang menyengsarakan, dia bersabar,dan itu juga baik baginya,yang mana ini hanya terjadi kepada orang mukmin.” (HR. Muslim) Orang mukmin pasti diuji dengan kesenangan dan kesengsaraanserta kesulitan dan kemudahan,tapi dia tetap beruntung dalam dua ujian tersebut, karena dalam kesenangannyadia beruntung mendapatkan pahala syukur,dan dalam kesengsaraannya pundia beruntung mendapatkan pahala sabar. ==== فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَبْتَلِي بِالرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ وَيَبْتَلِي بِالصِّحَّةِ وَالْمَرَضِ وَيَبْتَلِي بِالْغِنَاءِ وَالْفَقْرِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ يَبْتَلِي بِهَذَا وَهَذَا وَلِهَذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَتْهُ — هَذَا الْاِبْتِلَاءُ الْأَوَّلُ الَّذِي هُوَ النِّعْمَةُ وَالْعَطَاءُ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ — وَهَذَا الْاِبْتِلَاءُ الثَّانِي الشِّدَّةُ وَالْمَرَضُ وَالْفَقْرُ وَمَا إِلَى ذَلِكَ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَذَلِكَ لَا يَكُونُ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ فَالْمُؤْمِنُ مُبْتَلَى بِالسَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ بِالشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ لَكِنَّهُ فَائِزٌ فِي كِلَا الْاِبْتِلَائَيْنِ فَهُوَ فِي سَرَّاءِهِ فَائِزٌ بِثَوَابِ الشَّاكِرِينَ وَفِي ضَرَّائِهِ فَائِزٌ بِثَوَابِ الصَّابِرِينَ
Prev     Next