Hukum Permainan Ular Tangga dan Ludo

Pertanyaan: Bolehkah memainkan permainan ular tangga dan ludo? Syukron atas penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Permainan ular tangga dan permainan ludo keduanya termasuk permainan yang menggunakan dadu dan bersifat at-takhmin (untung-untungan). Menang-kalahnya seseorang dari permainan ini sangat bergantung pada angka yang keluar dari dadu yang ini tidak pasti dan bersifat at-takhmin (untung-untungan).  Permainan yang menggunakan dadu dan bersifat at-takhmin, disepakati ulama keharamannya jika digunakan sebagai taruhan. Berdasarkan hadits dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Siapa yang bermain an-nard (dadu), sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no. 4938, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud). Juga hadits Buraidah al-Aslami radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَده فِي لَحْم خِنْزِير وَدَمه “Siapa yang bermain an-nardasyir (dadu), seakan-akan ia mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi” (HR. Muslim no. 2260). Juga atsar dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu: أنَّه سُئل عن الشِّطْرَنْجِ فقال : هو شرٌّ من النَّرْدِ “Beliau ditanya tentang permainan catur. Beliau menjawab: ia lebih buruk dari permainan dadu” (HR. al-Baihaqi dalam al-Kubra [20934], ad-Dzahabi dalam al-Muhadzab [8/4224], dan beliau mengatakan: “sanadnya nazhif [bersih]”, juga dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Furusiyyah [313]). Atsar ini menunjukkan bahwa permainan dadu dianggap sebagai keburukan, walaupun permainan catur lebih buruk darinya. Sebagaimana juga perkataan Imam Malik rahimahullah: الشَّطْرَنْجُ مِنَ النَّرْدِ “Catur termasuk dalam cakupan permainan dadu” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Kubra [20933]). Darul Ifta’ Urduniyah menegaskan: اتفق العلماء على حرمة الألعاب التي تعتمد على الحظ والتخمين إن كانت على مال وهو ما يسمى القمار “Para ulama sepakat tentang haramnya semua bentuk permainan yang bergantung pada untung-untungan, jika ada harta yang dipertaruhkan. Dan ini disebut qimar (judi)” (Fatwa Darul Ifta’ Urduniyah, no.3434). Adapun permainan yang menggunakan dadu jika tidak ada taruhan, para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama tetap mengharamkannya, sebagian ulama membolehkannya. An Nawawi rahimahullah mengatakan: والجمهور في تحريم اللعب بالنرد، وقال أبو إسحاق المروزي من أصحابنا يكره ولا يحرم “Jumhur ulama mengharamkan permainan yang menggunakan dadu. Abu Ishaq al-Maruzi mengatakan: sebagian ulama kami (Syafi’iyyah) ada yang menganggapnya makruh, tidak sampai haram” (Syarah Shahih Muslim, 15/15). Ibnu Abdil Barr rahimahullah menjelaskan: ولم يختلف العلماء أن القمار من الميسر المحرم، وأكثرهم على كراهة اللعب بالنرد على كل حال قماراً أو غير قمار؛ للخبر الوارد فيها، وما أعلم أحداً أرخص في اللعب بها، إلا ما جاء عن عبد الله بن مُغفل وعكرمة والشعبي وسعيد بن المسيب “Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama bahwasanya qimar (permainan untung-untungan yang menggunakan taruhan) adalah judi yang diharamkan. Dan mayoritas ulama melarang memainkan dadu dalam keadaan apapun. Baik dengan taruhan atau tanpa taruhan. Karena terdapat hadits-hadits yang melarangnya. Dan saya tidak ketahui adanya ulama yang membolehkan memainkan dadu (tanpa taruhan) kecuali karena adanya riwayat dari Abdullah bin Mughaffal, Ikrimah, asy-Sya’bi, dan Sa’id bin Musayyab” (At-Tamhid, 13/180). Al-Buhuti rahimahullah: اللعب بالنرد لا يباح بحال ، أي لا بعوض ولا بغيره ، وبالعوض أشد حرمة “Bermain dadu tidak dibolehkan dalam keadaan apapun. Baik dengan taruhan atau tanpa taruhan. Walaupun jika dengan taruhan lebih keras lagi pengharamannya” (Kasyful Qana‘, 4/48). Yang rajih, wallahu a’lam, adalah pendapat jumhur ulama bahwa semua permainan yang menggunakan dadu hukumnya terlarang baik dengan taruhan ataupun tanpa taruhan. Karena dalil-dalil yang melarangnya bersifat umum tidak menyebutkan adanya taruhan. Sehingga ia hukumnya haram secara mutlak. Permainan ular tangga, ludo, dan yang semisalnya yang bersifat untung-untungan walaupun tidak menggunakan uang taruhan, ia akan tetap mengajarkan mental berjudi dan untung-untungan yang akan merusak akhlak. Juga akan menimbulkan permusuhan dan perselisihan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa pendapat yang membolehkan permainan dadu tanpa taruhan adalah pendapat yang syadz (nyeleneh), beliau menuturkan: اللعب بالنرد حرام باتفاق العلماء وإن لم يكن فيه عوض ، وإن كان فيه خلاف شاذ لا يلتفت إليه ، وقد قال صلى الله عليه وسلم : ( من لعب بالنرد فقد عصى الله ورسوله ) لأن النرد يصد عن ذكر الله وعن الصلاة ، ويوقع العداوة والبغضاء “Permainan dadu hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama, walaupun tanpa ada taruhan. Walaupun memang dalam masalah ini adalah khilaf yang syadz (nyeleneh), yang tidak perlu dilirik sama sekali. Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda: “Siapa yang bermain dadu, sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya”. Karena permainan dadu itu memalingkan dari dzikir dan shalat, serta menimbulkan permusuhan dan kebencian” (Majmu’ al-Fatawa, 32/253). Permainan ini juga akan melemahkan kemampuan berpikir anak-anak dan tidak bermanfaat bagi kesehatan fisik mereka. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid mengatakan: “Permainan as-sulam wa ats tsu’ban (ular tangga) adalah permainan yang populer di antara anak-anak. Ia adalah permainan yang bergantung pada dadu dan angka yang keluar darinya setelah dilemparkan. Ini adalah permainan yang tidak membutuhkan strategi dan kecerdasan pikiran. Juga tidak membutuhkan skill fisik apapun. Maka hendaknya tidak membiasakan anak-anak memainkan permainan seperti ini untuk waktu yang lama. Membiasakan anak-anak memainkan permainan seperti ini akan mengekang kreativitas anak dan akan melemahkan kemampuan fisiknya” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.230603). Bagaimana jika dadu diganti dengan alat lain? Jika dadu diganti dengan alat lain seperti dadu digital, alat untuk memilih angka secara acak, kartu angka yang dipilih secara acak, dan semisalnya, maka hukumnya tetap sama. Karena tetap terdapat unsur at-takhmin (untung-untungan). Syariat tidak membedakan hal yang sama, dan tidak menyamakan dua hal yang berbeda. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: فالشريعة لا تفرِّق بين متماثلين البتَّة ، ولا تسوِّي بين مختلفين ، ولا تحرِّم شيئاً لمفسدة ، وتبيح ما مفسدته مساوية لما حرَّمته ، ولا تبيح شيئاً لمصلحة ، وتحرِّم ما مصلحته مساوية لما أباحته البتة ، ولا يوجد فيما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم شيء من ذلك البتة “Syariat tidak akan pernah membedakan antara dua hal yang serupa. Dan tidak akan menyamakan antara dua hal yang berbeda. Tidak akan mengharamkan sesuatu yang merusak, namun membolehkan sesuatu yang lain yang sifat merusaknya sama. Tidak membolehkan sesuatu yang maslahat namun mengharamkan sesuatu dengan maslahat yang sama. Tidak akan ada ajaran dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang demikian” (Bada’iul Fawaid, 3/663). Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Apakah Merokok Membatalkan Wudhu, Pertemuan Suami Istri Di Akhirat, Arti Mimpi Ngupil, Susu Kambing Sps, Arti Mimpi Keluar Darah Dari Mulut, Doa Sholat Mayit Visited 1,201 times, 5 visit(s) today Post Views: 614 QRIS donasi Yufid

Hukum Permainan Ular Tangga dan Ludo

Pertanyaan: Bolehkah memainkan permainan ular tangga dan ludo? Syukron atas penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Permainan ular tangga dan permainan ludo keduanya termasuk permainan yang menggunakan dadu dan bersifat at-takhmin (untung-untungan). Menang-kalahnya seseorang dari permainan ini sangat bergantung pada angka yang keluar dari dadu yang ini tidak pasti dan bersifat at-takhmin (untung-untungan).  Permainan yang menggunakan dadu dan bersifat at-takhmin, disepakati ulama keharamannya jika digunakan sebagai taruhan. Berdasarkan hadits dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Siapa yang bermain an-nard (dadu), sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no. 4938, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud). Juga hadits Buraidah al-Aslami radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَده فِي لَحْم خِنْزِير وَدَمه “Siapa yang bermain an-nardasyir (dadu), seakan-akan ia mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi” (HR. Muslim no. 2260). Juga atsar dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu: أنَّه سُئل عن الشِّطْرَنْجِ فقال : هو شرٌّ من النَّرْدِ “Beliau ditanya tentang permainan catur. Beliau menjawab: ia lebih buruk dari permainan dadu” (HR. al-Baihaqi dalam al-Kubra [20934], ad-Dzahabi dalam al-Muhadzab [8/4224], dan beliau mengatakan: “sanadnya nazhif [bersih]”, juga dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Furusiyyah [313]). Atsar ini menunjukkan bahwa permainan dadu dianggap sebagai keburukan, walaupun permainan catur lebih buruk darinya. Sebagaimana juga perkataan Imam Malik rahimahullah: الشَّطْرَنْجُ مِنَ النَّرْدِ “Catur termasuk dalam cakupan permainan dadu” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Kubra [20933]). Darul Ifta’ Urduniyah menegaskan: اتفق العلماء على حرمة الألعاب التي تعتمد على الحظ والتخمين إن كانت على مال وهو ما يسمى القمار “Para ulama sepakat tentang haramnya semua bentuk permainan yang bergantung pada untung-untungan, jika ada harta yang dipertaruhkan. Dan ini disebut qimar (judi)” (Fatwa Darul Ifta’ Urduniyah, no.3434). Adapun permainan yang menggunakan dadu jika tidak ada taruhan, para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama tetap mengharamkannya, sebagian ulama membolehkannya. An Nawawi rahimahullah mengatakan: والجمهور في تحريم اللعب بالنرد، وقال أبو إسحاق المروزي من أصحابنا يكره ولا يحرم “Jumhur ulama mengharamkan permainan yang menggunakan dadu. Abu Ishaq al-Maruzi mengatakan: sebagian ulama kami (Syafi’iyyah) ada yang menganggapnya makruh, tidak sampai haram” (Syarah Shahih Muslim, 15/15). Ibnu Abdil Barr rahimahullah menjelaskan: ولم يختلف العلماء أن القمار من الميسر المحرم، وأكثرهم على كراهة اللعب بالنرد على كل حال قماراً أو غير قمار؛ للخبر الوارد فيها، وما أعلم أحداً أرخص في اللعب بها، إلا ما جاء عن عبد الله بن مُغفل وعكرمة والشعبي وسعيد بن المسيب “Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama bahwasanya qimar (permainan untung-untungan yang menggunakan taruhan) adalah judi yang diharamkan. Dan mayoritas ulama melarang memainkan dadu dalam keadaan apapun. Baik dengan taruhan atau tanpa taruhan. Karena terdapat hadits-hadits yang melarangnya. Dan saya tidak ketahui adanya ulama yang membolehkan memainkan dadu (tanpa taruhan) kecuali karena adanya riwayat dari Abdullah bin Mughaffal, Ikrimah, asy-Sya’bi, dan Sa’id bin Musayyab” (At-Tamhid, 13/180). Al-Buhuti rahimahullah: اللعب بالنرد لا يباح بحال ، أي لا بعوض ولا بغيره ، وبالعوض أشد حرمة “Bermain dadu tidak dibolehkan dalam keadaan apapun. Baik dengan taruhan atau tanpa taruhan. Walaupun jika dengan taruhan lebih keras lagi pengharamannya” (Kasyful Qana‘, 4/48). Yang rajih, wallahu a’lam, adalah pendapat jumhur ulama bahwa semua permainan yang menggunakan dadu hukumnya terlarang baik dengan taruhan ataupun tanpa taruhan. Karena dalil-dalil yang melarangnya bersifat umum tidak menyebutkan adanya taruhan. Sehingga ia hukumnya haram secara mutlak. Permainan ular tangga, ludo, dan yang semisalnya yang bersifat untung-untungan walaupun tidak menggunakan uang taruhan, ia akan tetap mengajarkan mental berjudi dan untung-untungan yang akan merusak akhlak. Juga akan menimbulkan permusuhan dan perselisihan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa pendapat yang membolehkan permainan dadu tanpa taruhan adalah pendapat yang syadz (nyeleneh), beliau menuturkan: اللعب بالنرد حرام باتفاق العلماء وإن لم يكن فيه عوض ، وإن كان فيه خلاف شاذ لا يلتفت إليه ، وقد قال صلى الله عليه وسلم : ( من لعب بالنرد فقد عصى الله ورسوله ) لأن النرد يصد عن ذكر الله وعن الصلاة ، ويوقع العداوة والبغضاء “Permainan dadu hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama, walaupun tanpa ada taruhan. Walaupun memang dalam masalah ini adalah khilaf yang syadz (nyeleneh), yang tidak perlu dilirik sama sekali. Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda: “Siapa yang bermain dadu, sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya”. Karena permainan dadu itu memalingkan dari dzikir dan shalat, serta menimbulkan permusuhan dan kebencian” (Majmu’ al-Fatawa, 32/253). Permainan ini juga akan melemahkan kemampuan berpikir anak-anak dan tidak bermanfaat bagi kesehatan fisik mereka. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid mengatakan: “Permainan as-sulam wa ats tsu’ban (ular tangga) adalah permainan yang populer di antara anak-anak. Ia adalah permainan yang bergantung pada dadu dan angka yang keluar darinya setelah dilemparkan. Ini adalah permainan yang tidak membutuhkan strategi dan kecerdasan pikiran. Juga tidak membutuhkan skill fisik apapun. Maka hendaknya tidak membiasakan anak-anak memainkan permainan seperti ini untuk waktu yang lama. Membiasakan anak-anak memainkan permainan seperti ini akan mengekang kreativitas anak dan akan melemahkan kemampuan fisiknya” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.230603). Bagaimana jika dadu diganti dengan alat lain? Jika dadu diganti dengan alat lain seperti dadu digital, alat untuk memilih angka secara acak, kartu angka yang dipilih secara acak, dan semisalnya, maka hukumnya tetap sama. Karena tetap terdapat unsur at-takhmin (untung-untungan). Syariat tidak membedakan hal yang sama, dan tidak menyamakan dua hal yang berbeda. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: فالشريعة لا تفرِّق بين متماثلين البتَّة ، ولا تسوِّي بين مختلفين ، ولا تحرِّم شيئاً لمفسدة ، وتبيح ما مفسدته مساوية لما حرَّمته ، ولا تبيح شيئاً لمصلحة ، وتحرِّم ما مصلحته مساوية لما أباحته البتة ، ولا يوجد فيما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم شيء من ذلك البتة “Syariat tidak akan pernah membedakan antara dua hal yang serupa. Dan tidak akan menyamakan antara dua hal yang berbeda. Tidak akan mengharamkan sesuatu yang merusak, namun membolehkan sesuatu yang lain yang sifat merusaknya sama. Tidak membolehkan sesuatu yang maslahat namun mengharamkan sesuatu dengan maslahat yang sama. Tidak akan ada ajaran dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang demikian” (Bada’iul Fawaid, 3/663). Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Apakah Merokok Membatalkan Wudhu, Pertemuan Suami Istri Di Akhirat, Arti Mimpi Ngupil, Susu Kambing Sps, Arti Mimpi Keluar Darah Dari Mulut, Doa Sholat Mayit Visited 1,201 times, 5 visit(s) today Post Views: 614 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Bolehkah memainkan permainan ular tangga dan ludo? Syukron atas penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Permainan ular tangga dan permainan ludo keduanya termasuk permainan yang menggunakan dadu dan bersifat at-takhmin (untung-untungan). Menang-kalahnya seseorang dari permainan ini sangat bergantung pada angka yang keluar dari dadu yang ini tidak pasti dan bersifat at-takhmin (untung-untungan).  Permainan yang menggunakan dadu dan bersifat at-takhmin, disepakati ulama keharamannya jika digunakan sebagai taruhan. Berdasarkan hadits dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Siapa yang bermain an-nard (dadu), sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no. 4938, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud). Juga hadits Buraidah al-Aslami radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَده فِي لَحْم خِنْزِير وَدَمه “Siapa yang bermain an-nardasyir (dadu), seakan-akan ia mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi” (HR. Muslim no. 2260). Juga atsar dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu: أنَّه سُئل عن الشِّطْرَنْجِ فقال : هو شرٌّ من النَّرْدِ “Beliau ditanya tentang permainan catur. Beliau menjawab: ia lebih buruk dari permainan dadu” (HR. al-Baihaqi dalam al-Kubra [20934], ad-Dzahabi dalam al-Muhadzab [8/4224], dan beliau mengatakan: “sanadnya nazhif [bersih]”, juga dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Furusiyyah [313]). Atsar ini menunjukkan bahwa permainan dadu dianggap sebagai keburukan, walaupun permainan catur lebih buruk darinya. Sebagaimana juga perkataan Imam Malik rahimahullah: الشَّطْرَنْجُ مِنَ النَّرْدِ “Catur termasuk dalam cakupan permainan dadu” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Kubra [20933]). Darul Ifta’ Urduniyah menegaskan: اتفق العلماء على حرمة الألعاب التي تعتمد على الحظ والتخمين إن كانت على مال وهو ما يسمى القمار “Para ulama sepakat tentang haramnya semua bentuk permainan yang bergantung pada untung-untungan, jika ada harta yang dipertaruhkan. Dan ini disebut qimar (judi)” (Fatwa Darul Ifta’ Urduniyah, no.3434). Adapun permainan yang menggunakan dadu jika tidak ada taruhan, para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama tetap mengharamkannya, sebagian ulama membolehkannya. An Nawawi rahimahullah mengatakan: والجمهور في تحريم اللعب بالنرد، وقال أبو إسحاق المروزي من أصحابنا يكره ولا يحرم “Jumhur ulama mengharamkan permainan yang menggunakan dadu. Abu Ishaq al-Maruzi mengatakan: sebagian ulama kami (Syafi’iyyah) ada yang menganggapnya makruh, tidak sampai haram” (Syarah Shahih Muslim, 15/15). Ibnu Abdil Barr rahimahullah menjelaskan: ولم يختلف العلماء أن القمار من الميسر المحرم، وأكثرهم على كراهة اللعب بالنرد على كل حال قماراً أو غير قمار؛ للخبر الوارد فيها، وما أعلم أحداً أرخص في اللعب بها، إلا ما جاء عن عبد الله بن مُغفل وعكرمة والشعبي وسعيد بن المسيب “Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama bahwasanya qimar (permainan untung-untungan yang menggunakan taruhan) adalah judi yang diharamkan. Dan mayoritas ulama melarang memainkan dadu dalam keadaan apapun. Baik dengan taruhan atau tanpa taruhan. Karena terdapat hadits-hadits yang melarangnya. Dan saya tidak ketahui adanya ulama yang membolehkan memainkan dadu (tanpa taruhan) kecuali karena adanya riwayat dari Abdullah bin Mughaffal, Ikrimah, asy-Sya’bi, dan Sa’id bin Musayyab” (At-Tamhid, 13/180). Al-Buhuti rahimahullah: اللعب بالنرد لا يباح بحال ، أي لا بعوض ولا بغيره ، وبالعوض أشد حرمة “Bermain dadu tidak dibolehkan dalam keadaan apapun. Baik dengan taruhan atau tanpa taruhan. Walaupun jika dengan taruhan lebih keras lagi pengharamannya” (Kasyful Qana‘, 4/48). Yang rajih, wallahu a’lam, adalah pendapat jumhur ulama bahwa semua permainan yang menggunakan dadu hukumnya terlarang baik dengan taruhan ataupun tanpa taruhan. Karena dalil-dalil yang melarangnya bersifat umum tidak menyebutkan adanya taruhan. Sehingga ia hukumnya haram secara mutlak. Permainan ular tangga, ludo, dan yang semisalnya yang bersifat untung-untungan walaupun tidak menggunakan uang taruhan, ia akan tetap mengajarkan mental berjudi dan untung-untungan yang akan merusak akhlak. Juga akan menimbulkan permusuhan dan perselisihan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa pendapat yang membolehkan permainan dadu tanpa taruhan adalah pendapat yang syadz (nyeleneh), beliau menuturkan: اللعب بالنرد حرام باتفاق العلماء وإن لم يكن فيه عوض ، وإن كان فيه خلاف شاذ لا يلتفت إليه ، وقد قال صلى الله عليه وسلم : ( من لعب بالنرد فقد عصى الله ورسوله ) لأن النرد يصد عن ذكر الله وعن الصلاة ، ويوقع العداوة والبغضاء “Permainan dadu hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama, walaupun tanpa ada taruhan. Walaupun memang dalam masalah ini adalah khilaf yang syadz (nyeleneh), yang tidak perlu dilirik sama sekali. Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda: “Siapa yang bermain dadu, sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya”. Karena permainan dadu itu memalingkan dari dzikir dan shalat, serta menimbulkan permusuhan dan kebencian” (Majmu’ al-Fatawa, 32/253). Permainan ini juga akan melemahkan kemampuan berpikir anak-anak dan tidak bermanfaat bagi kesehatan fisik mereka. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid mengatakan: “Permainan as-sulam wa ats tsu’ban (ular tangga) adalah permainan yang populer di antara anak-anak. Ia adalah permainan yang bergantung pada dadu dan angka yang keluar darinya setelah dilemparkan. Ini adalah permainan yang tidak membutuhkan strategi dan kecerdasan pikiran. Juga tidak membutuhkan skill fisik apapun. Maka hendaknya tidak membiasakan anak-anak memainkan permainan seperti ini untuk waktu yang lama. Membiasakan anak-anak memainkan permainan seperti ini akan mengekang kreativitas anak dan akan melemahkan kemampuan fisiknya” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.230603). Bagaimana jika dadu diganti dengan alat lain? Jika dadu diganti dengan alat lain seperti dadu digital, alat untuk memilih angka secara acak, kartu angka yang dipilih secara acak, dan semisalnya, maka hukumnya tetap sama. Karena tetap terdapat unsur at-takhmin (untung-untungan). Syariat tidak membedakan hal yang sama, dan tidak menyamakan dua hal yang berbeda. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: فالشريعة لا تفرِّق بين متماثلين البتَّة ، ولا تسوِّي بين مختلفين ، ولا تحرِّم شيئاً لمفسدة ، وتبيح ما مفسدته مساوية لما حرَّمته ، ولا تبيح شيئاً لمصلحة ، وتحرِّم ما مصلحته مساوية لما أباحته البتة ، ولا يوجد فيما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم شيء من ذلك البتة “Syariat tidak akan pernah membedakan antara dua hal yang serupa. Dan tidak akan menyamakan antara dua hal yang berbeda. Tidak akan mengharamkan sesuatu yang merusak, namun membolehkan sesuatu yang lain yang sifat merusaknya sama. Tidak membolehkan sesuatu yang maslahat namun mengharamkan sesuatu dengan maslahat yang sama. Tidak akan ada ajaran dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang demikian” (Bada’iul Fawaid, 3/663). Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Apakah Merokok Membatalkan Wudhu, Pertemuan Suami Istri Di Akhirat, Arti Mimpi Ngupil, Susu Kambing Sps, Arti Mimpi Keluar Darah Dari Mulut, Doa Sholat Mayit Visited 1,201 times, 5 visit(s) today Post Views: 614 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1414647364&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Bolehkah memainkan permainan ular tangga dan ludo? Syukron atas penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Permainan ular tangga dan permainan ludo keduanya termasuk permainan yang menggunakan dadu dan bersifat at-takhmin (untung-untungan). Menang-kalahnya seseorang dari permainan ini sangat bergantung pada angka yang keluar dari dadu yang ini tidak pasti dan bersifat at-takhmin (untung-untungan).  Permainan yang menggunakan dadu dan bersifat at-takhmin, disepakati ulama keharamannya jika digunakan sebagai taruhan. Berdasarkan hadits dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Siapa yang bermain an-nard (dadu), sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no. 4938, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud). Juga hadits Buraidah al-Aslami radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَده فِي لَحْم خِنْزِير وَدَمه “Siapa yang bermain an-nardasyir (dadu), seakan-akan ia mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi” (HR. Muslim no. 2260). Juga atsar dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu: أنَّه سُئل عن الشِّطْرَنْجِ فقال : هو شرٌّ من النَّرْدِ “Beliau ditanya tentang permainan catur. Beliau menjawab: ia lebih buruk dari permainan dadu” (HR. al-Baihaqi dalam al-Kubra [20934], ad-Dzahabi dalam al-Muhadzab [8/4224], dan beliau mengatakan: “sanadnya nazhif [bersih]”, juga dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Furusiyyah [313]). Atsar ini menunjukkan bahwa permainan dadu dianggap sebagai keburukan, walaupun permainan catur lebih buruk darinya. Sebagaimana juga perkataan Imam Malik rahimahullah: الشَّطْرَنْجُ مِنَ النَّرْدِ “Catur termasuk dalam cakupan permainan dadu” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Kubra [20933]). Darul Ifta’ Urduniyah menegaskan: اتفق العلماء على حرمة الألعاب التي تعتمد على الحظ والتخمين إن كانت على مال وهو ما يسمى القمار “Para ulama sepakat tentang haramnya semua bentuk permainan yang bergantung pada untung-untungan, jika ada harta yang dipertaruhkan. Dan ini disebut qimar (judi)” (Fatwa Darul Ifta’ Urduniyah, no.3434). Adapun permainan yang menggunakan dadu jika tidak ada taruhan, para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama tetap mengharamkannya, sebagian ulama membolehkannya. An Nawawi rahimahullah mengatakan: والجمهور في تحريم اللعب بالنرد، وقال أبو إسحاق المروزي من أصحابنا يكره ولا يحرم “Jumhur ulama mengharamkan permainan yang menggunakan dadu. Abu Ishaq al-Maruzi mengatakan: sebagian ulama kami (Syafi’iyyah) ada yang menganggapnya makruh, tidak sampai haram” (Syarah Shahih Muslim, 15/15). Ibnu Abdil Barr rahimahullah menjelaskan: ولم يختلف العلماء أن القمار من الميسر المحرم، وأكثرهم على كراهة اللعب بالنرد على كل حال قماراً أو غير قمار؛ للخبر الوارد فيها، وما أعلم أحداً أرخص في اللعب بها، إلا ما جاء عن عبد الله بن مُغفل وعكرمة والشعبي وسعيد بن المسيب “Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama bahwasanya qimar (permainan untung-untungan yang menggunakan taruhan) adalah judi yang diharamkan. Dan mayoritas ulama melarang memainkan dadu dalam keadaan apapun. Baik dengan taruhan atau tanpa taruhan. Karena terdapat hadits-hadits yang melarangnya. Dan saya tidak ketahui adanya ulama yang membolehkan memainkan dadu (tanpa taruhan) kecuali karena adanya riwayat dari Abdullah bin Mughaffal, Ikrimah, asy-Sya’bi, dan Sa’id bin Musayyab” (At-Tamhid, 13/180). Al-Buhuti rahimahullah: اللعب بالنرد لا يباح بحال ، أي لا بعوض ولا بغيره ، وبالعوض أشد حرمة “Bermain dadu tidak dibolehkan dalam keadaan apapun. Baik dengan taruhan atau tanpa taruhan. Walaupun jika dengan taruhan lebih keras lagi pengharamannya” (Kasyful Qana‘, 4/48). Yang rajih, wallahu a’lam, adalah pendapat jumhur ulama bahwa semua permainan yang menggunakan dadu hukumnya terlarang baik dengan taruhan ataupun tanpa taruhan. Karena dalil-dalil yang melarangnya bersifat umum tidak menyebutkan adanya taruhan. Sehingga ia hukumnya haram secara mutlak. Permainan ular tangga, ludo, dan yang semisalnya yang bersifat untung-untungan walaupun tidak menggunakan uang taruhan, ia akan tetap mengajarkan mental berjudi dan untung-untungan yang akan merusak akhlak. Juga akan menimbulkan permusuhan dan perselisihan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa pendapat yang membolehkan permainan dadu tanpa taruhan adalah pendapat yang syadz (nyeleneh), beliau menuturkan: اللعب بالنرد حرام باتفاق العلماء وإن لم يكن فيه عوض ، وإن كان فيه خلاف شاذ لا يلتفت إليه ، وقد قال صلى الله عليه وسلم : ( من لعب بالنرد فقد عصى الله ورسوله ) لأن النرد يصد عن ذكر الله وعن الصلاة ، ويوقع العداوة والبغضاء “Permainan dadu hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama, walaupun tanpa ada taruhan. Walaupun memang dalam masalah ini adalah khilaf yang syadz (nyeleneh), yang tidak perlu dilirik sama sekali. Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda: “Siapa yang bermain dadu, sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya”. Karena permainan dadu itu memalingkan dari dzikir dan shalat, serta menimbulkan permusuhan dan kebencian” (Majmu’ al-Fatawa, 32/253). Permainan ini juga akan melemahkan kemampuan berpikir anak-anak dan tidak bermanfaat bagi kesehatan fisik mereka. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid mengatakan: “Permainan as-sulam wa ats tsu’ban (ular tangga) adalah permainan yang populer di antara anak-anak. Ia adalah permainan yang bergantung pada dadu dan angka yang keluar darinya setelah dilemparkan. Ini adalah permainan yang tidak membutuhkan strategi dan kecerdasan pikiran. Juga tidak membutuhkan skill fisik apapun. Maka hendaknya tidak membiasakan anak-anak memainkan permainan seperti ini untuk waktu yang lama. Membiasakan anak-anak memainkan permainan seperti ini akan mengekang kreativitas anak dan akan melemahkan kemampuan fisiknya” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.230603). Bagaimana jika dadu diganti dengan alat lain? Jika dadu diganti dengan alat lain seperti dadu digital, alat untuk memilih angka secara acak, kartu angka yang dipilih secara acak, dan semisalnya, maka hukumnya tetap sama. Karena tetap terdapat unsur at-takhmin (untung-untungan). Syariat tidak membedakan hal yang sama, dan tidak menyamakan dua hal yang berbeda. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: فالشريعة لا تفرِّق بين متماثلين البتَّة ، ولا تسوِّي بين مختلفين ، ولا تحرِّم شيئاً لمفسدة ، وتبيح ما مفسدته مساوية لما حرَّمته ، ولا تبيح شيئاً لمصلحة ، وتحرِّم ما مصلحته مساوية لما أباحته البتة ، ولا يوجد فيما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم شيء من ذلك البتة “Syariat tidak akan pernah membedakan antara dua hal yang serupa. Dan tidak akan menyamakan antara dua hal yang berbeda. Tidak akan mengharamkan sesuatu yang merusak, namun membolehkan sesuatu yang lain yang sifat merusaknya sama. Tidak membolehkan sesuatu yang maslahat namun mengharamkan sesuatu dengan maslahat yang sama. Tidak akan ada ajaran dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang demikian” (Bada’iul Fawaid, 3/663). Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Apakah Merokok Membatalkan Wudhu, Pertemuan Suami Istri Di Akhirat, Arti Mimpi Ngupil, Susu Kambing Sps, Arti Mimpi Keluar Darah Dari Mulut, Doa Sholat Mayit Visited 1,201 times, 5 visit(s) today Post Views: 614 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bulughul Maram – Shalat: Inilah Dalil Shalat Sunnah Qabliyah Maghrib

Inilah dalil shalat sunnah qabliyah Maghrib. Anda bisa rutinkan amalan ini.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Hadits 11/360 2. Hukum Dua Rakaat Qabliyah Maghrib 3. Hadits 12/361 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi:   Hadits 11/360 Hukum Dua Rakaat Qabliyah Maghrib عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مُغَفَّلِ المُزَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ: «صَلُّوا قَبْلَ المَغْرِبِ، صَلُّوا قَبْلَ المَغْرِبِ»، ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: «لِمَن شَاءَ» كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari ‘Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah sebelum Maghrib, shalatlah sebelum Maghrib,” kemudian pada kali yang ketiga, beliau bersabda, “Bagi siapa yang mau.” Karena beliau khawatir orang-orang akan menganggapnya harus yang tak boleh ditinggalkan. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1183] وَفي روايَةِ ابْنِ حِبَّانَ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى قَبْلَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ. Dalam sebuah riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sunnah qabliyah Maghrib dua rakaat. [HR. Ibnu Hibban, 4:457]   Hadits 12/361 وَلِمُسْلِمٍ عَنِ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ، فَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَانَا، فَلَمْ يَأمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا. Menurut riwayat Muslim, dari Anas, ia berkata, “Kami pernah shalat dua rakaat setelah matahari terbenam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kami, beliau tidak memerintahkan dan tidak pula melarang kami.” [HR. Muslim, no. 836]   Faedah hadits Hadits ini dijadikan dalil mengenai anjuran shalat sunah qabliyah Maghrib. Banyak sahabat yang melakukan shalat sunah qabliyah Maghrib. Shalat ini jadi anjuran dilihat dari perkataan dan praktik. Sunnah qabliyah Maghrib dua rakaat ini masuk dalam shalat sunnah antara azan dan iqamah. Shalat sunnah qabliyah ini Maghrib tidak termasuk dalam shalat rawatib muakkad, sehingga tidak dianjurkan meruntinkannya karena nanti dianggap sama dengan rawatib lainnya.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:282-283. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:590-593.   Baca Juga: Waktu Shalat Maghrib itu Satu Waktu Sehingga Tak Ada Jeda Antara Azan dan Iqamah? Hukum Shalat Sunnah 6 Raka’at Ba’da Maghrib —   Diselesaikan pada Senin sore, 3 Jumadal Ula 1444 H, 28 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat maghrib shalat qabliyah maghrib shalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah rawatib shalat tathawwu'

Bulughul Maram – Shalat: Inilah Dalil Shalat Sunnah Qabliyah Maghrib

Inilah dalil shalat sunnah qabliyah Maghrib. Anda bisa rutinkan amalan ini.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Hadits 11/360 2. Hukum Dua Rakaat Qabliyah Maghrib 3. Hadits 12/361 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi:   Hadits 11/360 Hukum Dua Rakaat Qabliyah Maghrib عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مُغَفَّلِ المُزَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ: «صَلُّوا قَبْلَ المَغْرِبِ، صَلُّوا قَبْلَ المَغْرِبِ»، ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: «لِمَن شَاءَ» كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari ‘Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah sebelum Maghrib, shalatlah sebelum Maghrib,” kemudian pada kali yang ketiga, beliau bersabda, “Bagi siapa yang mau.” Karena beliau khawatir orang-orang akan menganggapnya harus yang tak boleh ditinggalkan. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1183] وَفي روايَةِ ابْنِ حِبَّانَ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى قَبْلَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ. Dalam sebuah riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sunnah qabliyah Maghrib dua rakaat. [HR. Ibnu Hibban, 4:457]   Hadits 12/361 وَلِمُسْلِمٍ عَنِ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ، فَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَانَا، فَلَمْ يَأمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا. Menurut riwayat Muslim, dari Anas, ia berkata, “Kami pernah shalat dua rakaat setelah matahari terbenam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kami, beliau tidak memerintahkan dan tidak pula melarang kami.” [HR. Muslim, no. 836]   Faedah hadits Hadits ini dijadikan dalil mengenai anjuran shalat sunah qabliyah Maghrib. Banyak sahabat yang melakukan shalat sunah qabliyah Maghrib. Shalat ini jadi anjuran dilihat dari perkataan dan praktik. Sunnah qabliyah Maghrib dua rakaat ini masuk dalam shalat sunnah antara azan dan iqamah. Shalat sunnah qabliyah ini Maghrib tidak termasuk dalam shalat rawatib muakkad, sehingga tidak dianjurkan meruntinkannya karena nanti dianggap sama dengan rawatib lainnya.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:282-283. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:590-593.   Baca Juga: Waktu Shalat Maghrib itu Satu Waktu Sehingga Tak Ada Jeda Antara Azan dan Iqamah? Hukum Shalat Sunnah 6 Raka’at Ba’da Maghrib —   Diselesaikan pada Senin sore, 3 Jumadal Ula 1444 H, 28 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat maghrib shalat qabliyah maghrib shalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah rawatib shalat tathawwu'
Inilah dalil shalat sunnah qabliyah Maghrib. Anda bisa rutinkan amalan ini.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Hadits 11/360 2. Hukum Dua Rakaat Qabliyah Maghrib 3. Hadits 12/361 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi:   Hadits 11/360 Hukum Dua Rakaat Qabliyah Maghrib عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مُغَفَّلِ المُزَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ: «صَلُّوا قَبْلَ المَغْرِبِ، صَلُّوا قَبْلَ المَغْرِبِ»، ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: «لِمَن شَاءَ» كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari ‘Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah sebelum Maghrib, shalatlah sebelum Maghrib,” kemudian pada kali yang ketiga, beliau bersabda, “Bagi siapa yang mau.” Karena beliau khawatir orang-orang akan menganggapnya harus yang tak boleh ditinggalkan. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1183] وَفي روايَةِ ابْنِ حِبَّانَ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى قَبْلَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ. Dalam sebuah riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sunnah qabliyah Maghrib dua rakaat. [HR. Ibnu Hibban, 4:457]   Hadits 12/361 وَلِمُسْلِمٍ عَنِ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ، فَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَانَا، فَلَمْ يَأمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا. Menurut riwayat Muslim, dari Anas, ia berkata, “Kami pernah shalat dua rakaat setelah matahari terbenam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kami, beliau tidak memerintahkan dan tidak pula melarang kami.” [HR. Muslim, no. 836]   Faedah hadits Hadits ini dijadikan dalil mengenai anjuran shalat sunah qabliyah Maghrib. Banyak sahabat yang melakukan shalat sunah qabliyah Maghrib. Shalat ini jadi anjuran dilihat dari perkataan dan praktik. Sunnah qabliyah Maghrib dua rakaat ini masuk dalam shalat sunnah antara azan dan iqamah. Shalat sunnah qabliyah ini Maghrib tidak termasuk dalam shalat rawatib muakkad, sehingga tidak dianjurkan meruntinkannya karena nanti dianggap sama dengan rawatib lainnya.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:282-283. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:590-593.   Baca Juga: Waktu Shalat Maghrib itu Satu Waktu Sehingga Tak Ada Jeda Antara Azan dan Iqamah? Hukum Shalat Sunnah 6 Raka’at Ba’da Maghrib —   Diselesaikan pada Senin sore, 3 Jumadal Ula 1444 H, 28 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat maghrib shalat qabliyah maghrib shalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah rawatib shalat tathawwu'


Inilah dalil shalat sunnah qabliyah Maghrib. Anda bisa rutinkan amalan ini.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Hadits 11/360 2. Hukum Dua Rakaat Qabliyah Maghrib 3. Hadits 12/361 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi:   Hadits 11/360 Hukum Dua Rakaat Qabliyah Maghrib عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مُغَفَّلِ المُزَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ: «صَلُّوا قَبْلَ المَغْرِبِ، صَلُّوا قَبْلَ المَغْرِبِ»، ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: «لِمَن شَاءَ» كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari ‘Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah sebelum Maghrib, shalatlah sebelum Maghrib,” kemudian pada kali yang ketiga, beliau bersabda, “Bagi siapa yang mau.” Karena beliau khawatir orang-orang akan menganggapnya harus yang tak boleh ditinggalkan. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1183] وَفي روايَةِ ابْنِ حِبَّانَ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى قَبْلَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ. Dalam sebuah riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sunnah qabliyah Maghrib dua rakaat. [HR. Ibnu Hibban, 4:457]   Hadits 12/361 وَلِمُسْلِمٍ عَنِ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ، فَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَانَا، فَلَمْ يَأمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا. Menurut riwayat Muslim, dari Anas, ia berkata, “Kami pernah shalat dua rakaat setelah matahari terbenam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kami, beliau tidak memerintahkan dan tidak pula melarang kami.” [HR. Muslim, no. 836]   Faedah hadits Hadits ini dijadikan dalil mengenai anjuran shalat sunah qabliyah Maghrib. Banyak sahabat yang melakukan shalat sunah qabliyah Maghrib. Shalat ini jadi anjuran dilihat dari perkataan dan praktik. Sunnah qabliyah Maghrib dua rakaat ini masuk dalam shalat sunnah antara azan dan iqamah. Shalat sunnah qabliyah ini Maghrib tidak termasuk dalam shalat rawatib muakkad, sehingga tidak dianjurkan meruntinkannya karena nanti dianggap sama dengan rawatib lainnya.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:282-283. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:590-593.   Baca Juga: Waktu Shalat Maghrib itu Satu Waktu Sehingga Tak Ada Jeda Antara Azan dan Iqamah? Hukum Shalat Sunnah 6 Raka’at Ba’da Maghrib —   Diselesaikan pada Senin sore, 3 Jumadal Ula 1444 H, 28 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat maghrib shalat qabliyah maghrib shalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah rawatib shalat tathawwu'

Bulughul Maram – Shalat: Dua Rakaat Ringan Shalat Sunnah Fajar

Shalat sunnah Fajar itu dua rakaat ringan.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Hadits 13/362 2. Shalat Sunnah Fajar itu dengan Dua Rakaat Ringan 3. Hadits 14/363 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi:   Hadits 13/362 Shalat Sunnah Fajar itu dengan Dua Rakaat Ringan عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: «كَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ، حَتَّى إِنِّي أَقُول: أَقَرَأَ بِأُمِّ الكِتَابِ؟». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan (meringkas) dua rakaat qabliyah Shuhuh, sehingga aku berkata, “Apakah beliau membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah)?” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1171 dan Muslim, no. 724]   Hadits 14/363 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الفَجْرِ: {{قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ *}} و: {{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ *}}»، رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada dua rakaat Fajar, “Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun” (surah Al-Kaafiruun) dan “Qul Huwallahu Ahad (surah Al-Ikhlas).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 726]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disunnahkan shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh) dengan dua rakaat ringan, bacaannya tidak panjang, begitu pula rukuk dan sujudnya tidak lama. Di antara hikmah meringkas shalat sunnah fajar adalah agar shalat Shubuh bisa dilakukan pada awal waktu. Ada pula yang mengatakan bahwa dua rakaat tersebut adalah dua rakaat ringan sebagai amalan pembuka pada hari tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat malam dengan dua rakaat ringan. Disunnahkan membaca surah Al-Kaafiruun pada rakaat pertama dan surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Kedua surah ini membicarakan tentang tauhid di mana surah Al-Kaafiruun membicarakan penafian sifat kurang bagi Allah, surah Al-Ikhlas membicarakan penetapan sifat sempurna bagi Allah. Baca Juga: Duduk Setelah Shalat Shubuh Lalu Shalat Isyraq Shalat Shubuh dan Isya Berjamaah di Masjid Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:284-286. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:594-595.   —   Diselesaikan pada Senin sore, 3 Jumadal Ula 1444 H, 28 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah cara shalat sunnah fajar keutamaan shalat sunnah panduan shalat sunnah fajar shalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tathawwu'

Bulughul Maram – Shalat: Dua Rakaat Ringan Shalat Sunnah Fajar

Shalat sunnah Fajar itu dua rakaat ringan.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Hadits 13/362 2. Shalat Sunnah Fajar itu dengan Dua Rakaat Ringan 3. Hadits 14/363 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi:   Hadits 13/362 Shalat Sunnah Fajar itu dengan Dua Rakaat Ringan عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: «كَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ، حَتَّى إِنِّي أَقُول: أَقَرَأَ بِأُمِّ الكِتَابِ؟». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan (meringkas) dua rakaat qabliyah Shuhuh, sehingga aku berkata, “Apakah beliau membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah)?” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1171 dan Muslim, no. 724]   Hadits 14/363 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الفَجْرِ: {{قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ *}} و: {{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ *}}»، رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada dua rakaat Fajar, “Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun” (surah Al-Kaafiruun) dan “Qul Huwallahu Ahad (surah Al-Ikhlas).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 726]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disunnahkan shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh) dengan dua rakaat ringan, bacaannya tidak panjang, begitu pula rukuk dan sujudnya tidak lama. Di antara hikmah meringkas shalat sunnah fajar adalah agar shalat Shubuh bisa dilakukan pada awal waktu. Ada pula yang mengatakan bahwa dua rakaat tersebut adalah dua rakaat ringan sebagai amalan pembuka pada hari tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat malam dengan dua rakaat ringan. Disunnahkan membaca surah Al-Kaafiruun pada rakaat pertama dan surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Kedua surah ini membicarakan tentang tauhid di mana surah Al-Kaafiruun membicarakan penafian sifat kurang bagi Allah, surah Al-Ikhlas membicarakan penetapan sifat sempurna bagi Allah. Baca Juga: Duduk Setelah Shalat Shubuh Lalu Shalat Isyraq Shalat Shubuh dan Isya Berjamaah di Masjid Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:284-286. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:594-595.   —   Diselesaikan pada Senin sore, 3 Jumadal Ula 1444 H, 28 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah cara shalat sunnah fajar keutamaan shalat sunnah panduan shalat sunnah fajar shalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tathawwu'
Shalat sunnah Fajar itu dua rakaat ringan.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Hadits 13/362 2. Shalat Sunnah Fajar itu dengan Dua Rakaat Ringan 3. Hadits 14/363 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi:   Hadits 13/362 Shalat Sunnah Fajar itu dengan Dua Rakaat Ringan عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: «كَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ، حَتَّى إِنِّي أَقُول: أَقَرَأَ بِأُمِّ الكِتَابِ؟». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan (meringkas) dua rakaat qabliyah Shuhuh, sehingga aku berkata, “Apakah beliau membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah)?” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1171 dan Muslim, no. 724]   Hadits 14/363 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الفَجْرِ: {{قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ *}} و: {{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ *}}»، رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada dua rakaat Fajar, “Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun” (surah Al-Kaafiruun) dan “Qul Huwallahu Ahad (surah Al-Ikhlas).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 726]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disunnahkan shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh) dengan dua rakaat ringan, bacaannya tidak panjang, begitu pula rukuk dan sujudnya tidak lama. Di antara hikmah meringkas shalat sunnah fajar adalah agar shalat Shubuh bisa dilakukan pada awal waktu. Ada pula yang mengatakan bahwa dua rakaat tersebut adalah dua rakaat ringan sebagai amalan pembuka pada hari tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat malam dengan dua rakaat ringan. Disunnahkan membaca surah Al-Kaafiruun pada rakaat pertama dan surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Kedua surah ini membicarakan tentang tauhid di mana surah Al-Kaafiruun membicarakan penafian sifat kurang bagi Allah, surah Al-Ikhlas membicarakan penetapan sifat sempurna bagi Allah. Baca Juga: Duduk Setelah Shalat Shubuh Lalu Shalat Isyraq Shalat Shubuh dan Isya Berjamaah di Masjid Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:284-286. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:594-595.   —   Diselesaikan pada Senin sore, 3 Jumadal Ula 1444 H, 28 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah cara shalat sunnah fajar keutamaan shalat sunnah panduan shalat sunnah fajar shalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tathawwu'


Shalat sunnah Fajar itu dua rakaat ringan.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Hadits 13/362 2. Shalat Sunnah Fajar itu dengan Dua Rakaat Ringan 3. Hadits 14/363 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi:   Hadits 13/362 Shalat Sunnah Fajar itu dengan Dua Rakaat Ringan عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: «كَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ، حَتَّى إِنِّي أَقُول: أَقَرَأَ بِأُمِّ الكِتَابِ؟». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan (meringkas) dua rakaat qabliyah Shuhuh, sehingga aku berkata, “Apakah beliau membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah)?” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1171 dan Muslim, no. 724]   Hadits 14/363 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الفَجْرِ: {{قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ *}} و: {{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ *}}»، رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada dua rakaat Fajar, “Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun” (surah Al-Kaafiruun) dan “Qul Huwallahu Ahad (surah Al-Ikhlas).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 726]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disunnahkan shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh) dengan dua rakaat ringan, bacaannya tidak panjang, begitu pula rukuk dan sujudnya tidak lama. Di antara hikmah meringkas shalat sunnah fajar adalah agar shalat Shubuh bisa dilakukan pada awal waktu. Ada pula yang mengatakan bahwa dua rakaat tersebut adalah dua rakaat ringan sebagai amalan pembuka pada hari tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat malam dengan dua rakaat ringan. Disunnahkan membaca surah Al-Kaafiruun pada rakaat pertama dan surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Kedua surah ini membicarakan tentang tauhid di mana surah Al-Kaafiruun membicarakan penafian sifat kurang bagi Allah, surah Al-Ikhlas membicarakan penetapan sifat sempurna bagi Allah. Baca Juga: Duduk Setelah Shalat Shubuh Lalu Shalat Isyraq Shalat Shubuh dan Isya Berjamaah di Masjid Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:284-286. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:594-595.   —   Diselesaikan pada Senin sore, 3 Jumadal Ula 1444 H, 28 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah cara shalat sunnah fajar keutamaan shalat sunnah panduan shalat sunnah fajar shalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tathawwu'

Seberapa Besar Pahala Salatmu Tergantung Ini – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kita semua kemampuanpuasa di siang hari dan salat di malam hari,tapi kita harus tahu bahwa pahala manusia tidaklah sama,karena sebagian orang pahalanya akan lebih besar daripada yang lain. Dalam al-Musnad diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh ada seorang hamba yang mengerjakan salat,tapi tidak mendapatkan (pahala) dari salatnya kecuali separuhnya, sepertiganya,seperempatnya, seperlimanya, seperenamnya,sepertujuhnya, seperdelapannya, sepersembilannya,atau hanya sepersepuluhnya.” Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskanbahwa ada seseorang yang menegakkan kedua kakinya karena Allah ‘Azza wa Jalla,dan pahalanya berlipatganda lebih banyak daripada orang di sampingnya,yang terkadang bisa sampai sepuluh kali lipat. Hal itu dikarenakan apa yang ada dalam hati seseorang,berupa pengagungan dan keikhlasan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,serta perbuatan anggota badannyayang mengikuti tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ==== كُلُّنَا أَنْعَمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ بِصِيَامِ النَّهَارِ وَقِيَامِ اللَّيْلِ وَلَكِنْ لِنَعْلَمَ أَنَّ النَّاسَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ إِذْ بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ أَجْرُهُ أَعْظَمَ مِنْ بَعْضٍ وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلْثُهَا إِلَّا رُبْعُهَا إِلَّا خُمْسُهَا إِلَّا سُدْسُهَا إِلَّا سُبْعُهَا إِلَّا ثُمْنُهَا إِلَّا تُسْعُهَا إِلَّا عُشْرُهَا فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الرَّجُلَ يَسُدُّ قَدَمَيْهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَكُونُ لَهُ… مِنَ الْأَجْرِ أَضْعَافًا مَا لِمُجَاوِرِهِ وَقَدْ تَصِلُ أَضْعَافُهُ إِلَى عَشَرَةٍ وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ مَا وَقَرَ فِي قَلْبِ الْمَرْءِ مِنْ تَعْظِيمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْإِخْلَاصِ لَهُ وَمَا جَرَى عَلَى جَوَارِحِهِ مِنْ مُتَابَعَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Seberapa Besar Pahala Salatmu Tergantung Ini – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kita semua kemampuanpuasa di siang hari dan salat di malam hari,tapi kita harus tahu bahwa pahala manusia tidaklah sama,karena sebagian orang pahalanya akan lebih besar daripada yang lain. Dalam al-Musnad diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh ada seorang hamba yang mengerjakan salat,tapi tidak mendapatkan (pahala) dari salatnya kecuali separuhnya, sepertiganya,seperempatnya, seperlimanya, seperenamnya,sepertujuhnya, seperdelapannya, sepersembilannya,atau hanya sepersepuluhnya.” Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskanbahwa ada seseorang yang menegakkan kedua kakinya karena Allah ‘Azza wa Jalla,dan pahalanya berlipatganda lebih banyak daripada orang di sampingnya,yang terkadang bisa sampai sepuluh kali lipat. Hal itu dikarenakan apa yang ada dalam hati seseorang,berupa pengagungan dan keikhlasan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,serta perbuatan anggota badannyayang mengikuti tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ==== كُلُّنَا أَنْعَمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ بِصِيَامِ النَّهَارِ وَقِيَامِ اللَّيْلِ وَلَكِنْ لِنَعْلَمَ أَنَّ النَّاسَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ إِذْ بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ أَجْرُهُ أَعْظَمَ مِنْ بَعْضٍ وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلْثُهَا إِلَّا رُبْعُهَا إِلَّا خُمْسُهَا إِلَّا سُدْسُهَا إِلَّا سُبْعُهَا إِلَّا ثُمْنُهَا إِلَّا تُسْعُهَا إِلَّا عُشْرُهَا فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الرَّجُلَ يَسُدُّ قَدَمَيْهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَكُونُ لَهُ… مِنَ الْأَجْرِ أَضْعَافًا مَا لِمُجَاوِرِهِ وَقَدْ تَصِلُ أَضْعَافُهُ إِلَى عَشَرَةٍ وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ مَا وَقَرَ فِي قَلْبِ الْمَرْءِ مِنْ تَعْظِيمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْإِخْلَاصِ لَهُ وَمَا جَرَى عَلَى جَوَارِحِهِ مِنْ مُتَابَعَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kita semua kemampuanpuasa di siang hari dan salat di malam hari,tapi kita harus tahu bahwa pahala manusia tidaklah sama,karena sebagian orang pahalanya akan lebih besar daripada yang lain. Dalam al-Musnad diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh ada seorang hamba yang mengerjakan salat,tapi tidak mendapatkan (pahala) dari salatnya kecuali separuhnya, sepertiganya,seperempatnya, seperlimanya, seperenamnya,sepertujuhnya, seperdelapannya, sepersembilannya,atau hanya sepersepuluhnya.” Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskanbahwa ada seseorang yang menegakkan kedua kakinya karena Allah ‘Azza wa Jalla,dan pahalanya berlipatganda lebih banyak daripada orang di sampingnya,yang terkadang bisa sampai sepuluh kali lipat. Hal itu dikarenakan apa yang ada dalam hati seseorang,berupa pengagungan dan keikhlasan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,serta perbuatan anggota badannyayang mengikuti tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ==== كُلُّنَا أَنْعَمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ بِصِيَامِ النَّهَارِ وَقِيَامِ اللَّيْلِ وَلَكِنْ لِنَعْلَمَ أَنَّ النَّاسَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ إِذْ بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ أَجْرُهُ أَعْظَمَ مِنْ بَعْضٍ وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلْثُهَا إِلَّا رُبْعُهَا إِلَّا خُمْسُهَا إِلَّا سُدْسُهَا إِلَّا سُبْعُهَا إِلَّا ثُمْنُهَا إِلَّا تُسْعُهَا إِلَّا عُشْرُهَا فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الرَّجُلَ يَسُدُّ قَدَمَيْهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَكُونُ لَهُ… مِنَ الْأَجْرِ أَضْعَافًا مَا لِمُجَاوِرِهِ وَقَدْ تَصِلُ أَضْعَافُهُ إِلَى عَشَرَةٍ وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ مَا وَقَرَ فِي قَلْبِ الْمَرْءِ مِنْ تَعْظِيمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْإِخْلَاصِ لَهُ وَمَا جَرَى عَلَى جَوَارِحِهِ مِنْ مُتَابَعَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kita semua kemampuanpuasa di siang hari dan salat di malam hari,tapi kita harus tahu bahwa pahala manusia tidaklah sama,karena sebagian orang pahalanya akan lebih besar daripada yang lain. Dalam al-Musnad diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh ada seorang hamba yang mengerjakan salat,tapi tidak mendapatkan (pahala) dari salatnya kecuali separuhnya, sepertiganya,seperempatnya, seperlimanya, seperenamnya,sepertujuhnya, seperdelapannya, sepersembilannya,atau hanya sepersepuluhnya.” Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskanbahwa ada seseorang yang menegakkan kedua kakinya karena Allah ‘Azza wa Jalla,dan pahalanya berlipatganda lebih banyak daripada orang di sampingnya,yang terkadang bisa sampai sepuluh kali lipat. Hal itu dikarenakan apa yang ada dalam hati seseorang,berupa pengagungan dan keikhlasan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,serta perbuatan anggota badannyayang mengikuti tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ==== كُلُّنَا أَنْعَمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ بِصِيَامِ النَّهَارِ وَقِيَامِ اللَّيْلِ وَلَكِنْ لِنَعْلَمَ أَنَّ النَّاسَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ إِذْ بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ أَجْرُهُ أَعْظَمَ مِنْ بَعْضٍ وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلْثُهَا إِلَّا رُبْعُهَا إِلَّا خُمْسُهَا إِلَّا سُدْسُهَا إِلَّا سُبْعُهَا إِلَّا ثُمْنُهَا إِلَّا تُسْعُهَا إِلَّا عُشْرُهَا فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الرَّجُلَ يَسُدُّ قَدَمَيْهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَكُونُ لَهُ… مِنَ الْأَجْرِ أَضْعَافًا مَا لِمُجَاوِرِهِ وَقَدْ تَصِلُ أَضْعَافُهُ إِلَى عَشَرَةٍ وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ مَا وَقَرَ فِي قَلْبِ الْمَرْءِ مِنْ تَعْظِيمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْإِخْلَاصِ لَهُ وَمَا جَرَى عَلَى جَوَارِحِهِ مِنْ مُتَابَعَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Panjang Satuan Hasta Menurut Ulama Fikih – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Hasta (dzira’) dalam istilah ulama fikihadalah satuan untuk mengukur panjang.Yang mereka maksud dengan hasta adalahukuran dari panjang tanganyang dimulai dari jari tengahhingga siku.Yang mereka maksud adalah ukuran panjang antara jari tengah hingga siku.Jadi, ia dimulai dari ujung jari tengah yang merupakan jari paling panjang,dan berakhir pada siku.Jika para ulama fikih menyebutkan kata hasta,maka yang mereka maksud adalah ukuran panjang tersebut.Para ulama kontemporer berbeda pendapat dalam perkiraannyadengan satuan yang dikenal pada zaman kita ini,mereka terbagi menjadi beberapa pendapatyang berbeda-beda antara 48 cmhingga 61 cm.Inilah batas satuan hasta secara syariatyang banyak ulama kontemporer memperbincangkantentang perhitungan modern dengan satuan yang mereka ketahui tersebut. ==== وَالذِّرَاعُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ وِحْدَةٌ لِقِيَاسِ الطُّولِ يُرِيدُونَ بِهَا الْقَدْرَ مِنَ الْيَدِ الَّذِي يَكُونُ بَيْنَ الْإِصْبَعِ الْوُسْطَى إِلَى الْمِرْفَقِ يُرِيدُونَ بِهِ الْقَدْرَ الَّذِي يَكُونُ بَيْنَ الْإِصْبَعِ الْوُسْطَى إِلَى الْمِرْفَقِ فَيَبْتَدِأُ مِنْ حَدِّ الْإِصْبَعِ الْوُسْطَى الَّتِي هِيَ أَطْوَلُ الْأَصَابِعِ وَيَنْتَهِي إِلَى الْمِرْفَقِ فَإِذَا أَطْلَقُوا اسْمَ الذِّرَاعِ فَإِنَّهُمْ يُرِيدُونَ بِهِ هَذَا الْقَدْرَ الْمُتَأَخِّرُوْنَ مُخْتَلِفُوْنَ فِي تَقْدِيرِهِ بِالْوِحْدَاتِ الْمَعْرُوفَةِ فِي زَمَانِنَا عَلَى أَقْوَالٍ تَتَفَاوَتُ بَيْنَ ثَمَانِيَةٍ وَأَرْبَعِيْنَ سِنْتِيْمِتْرٍ إِلَى وَاحِدٍ وَسِتِّينَ سِنْتِيْمِتْرٍ فَهَذَا حَدُّ الذِّرَاعِ الشَّرْعِيِّ الَّذِيْ تَدُورُ عَلَيْهِ عِدَّةُ الْمُتَأَخِّرِيْنَ فِي الْحِسَابِ الْمُعَاصِرِ بِالْوِحْدَةِ الْمَعْرُوفَةِ عِنْدَهُمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Panjang Satuan Hasta Menurut Ulama Fikih – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Hasta (dzira’) dalam istilah ulama fikihadalah satuan untuk mengukur panjang.Yang mereka maksud dengan hasta adalahukuran dari panjang tanganyang dimulai dari jari tengahhingga siku.Yang mereka maksud adalah ukuran panjang antara jari tengah hingga siku.Jadi, ia dimulai dari ujung jari tengah yang merupakan jari paling panjang,dan berakhir pada siku.Jika para ulama fikih menyebutkan kata hasta,maka yang mereka maksud adalah ukuran panjang tersebut.Para ulama kontemporer berbeda pendapat dalam perkiraannyadengan satuan yang dikenal pada zaman kita ini,mereka terbagi menjadi beberapa pendapatyang berbeda-beda antara 48 cmhingga 61 cm.Inilah batas satuan hasta secara syariatyang banyak ulama kontemporer memperbincangkantentang perhitungan modern dengan satuan yang mereka ketahui tersebut. ==== وَالذِّرَاعُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ وِحْدَةٌ لِقِيَاسِ الطُّولِ يُرِيدُونَ بِهَا الْقَدْرَ مِنَ الْيَدِ الَّذِي يَكُونُ بَيْنَ الْإِصْبَعِ الْوُسْطَى إِلَى الْمِرْفَقِ يُرِيدُونَ بِهِ الْقَدْرَ الَّذِي يَكُونُ بَيْنَ الْإِصْبَعِ الْوُسْطَى إِلَى الْمِرْفَقِ فَيَبْتَدِأُ مِنْ حَدِّ الْإِصْبَعِ الْوُسْطَى الَّتِي هِيَ أَطْوَلُ الْأَصَابِعِ وَيَنْتَهِي إِلَى الْمِرْفَقِ فَإِذَا أَطْلَقُوا اسْمَ الذِّرَاعِ فَإِنَّهُمْ يُرِيدُونَ بِهِ هَذَا الْقَدْرَ الْمُتَأَخِّرُوْنَ مُخْتَلِفُوْنَ فِي تَقْدِيرِهِ بِالْوِحْدَاتِ الْمَعْرُوفَةِ فِي زَمَانِنَا عَلَى أَقْوَالٍ تَتَفَاوَتُ بَيْنَ ثَمَانِيَةٍ وَأَرْبَعِيْنَ سِنْتِيْمِتْرٍ إِلَى وَاحِدٍ وَسِتِّينَ سِنْتِيْمِتْرٍ فَهَذَا حَدُّ الذِّرَاعِ الشَّرْعِيِّ الَّذِيْ تَدُورُ عَلَيْهِ عِدَّةُ الْمُتَأَخِّرِيْنَ فِي الْحِسَابِ الْمُعَاصِرِ بِالْوِحْدَةِ الْمَعْرُوفَةِ عِنْدَهُمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Hasta (dzira’) dalam istilah ulama fikihadalah satuan untuk mengukur panjang.Yang mereka maksud dengan hasta adalahukuran dari panjang tanganyang dimulai dari jari tengahhingga siku.Yang mereka maksud adalah ukuran panjang antara jari tengah hingga siku.Jadi, ia dimulai dari ujung jari tengah yang merupakan jari paling panjang,dan berakhir pada siku.Jika para ulama fikih menyebutkan kata hasta,maka yang mereka maksud adalah ukuran panjang tersebut.Para ulama kontemporer berbeda pendapat dalam perkiraannyadengan satuan yang dikenal pada zaman kita ini,mereka terbagi menjadi beberapa pendapatyang berbeda-beda antara 48 cmhingga 61 cm.Inilah batas satuan hasta secara syariatyang banyak ulama kontemporer memperbincangkantentang perhitungan modern dengan satuan yang mereka ketahui tersebut. ==== وَالذِّرَاعُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ وِحْدَةٌ لِقِيَاسِ الطُّولِ يُرِيدُونَ بِهَا الْقَدْرَ مِنَ الْيَدِ الَّذِي يَكُونُ بَيْنَ الْإِصْبَعِ الْوُسْطَى إِلَى الْمِرْفَقِ يُرِيدُونَ بِهِ الْقَدْرَ الَّذِي يَكُونُ بَيْنَ الْإِصْبَعِ الْوُسْطَى إِلَى الْمِرْفَقِ فَيَبْتَدِأُ مِنْ حَدِّ الْإِصْبَعِ الْوُسْطَى الَّتِي هِيَ أَطْوَلُ الْأَصَابِعِ وَيَنْتَهِي إِلَى الْمِرْفَقِ فَإِذَا أَطْلَقُوا اسْمَ الذِّرَاعِ فَإِنَّهُمْ يُرِيدُونَ بِهِ هَذَا الْقَدْرَ الْمُتَأَخِّرُوْنَ مُخْتَلِفُوْنَ فِي تَقْدِيرِهِ بِالْوِحْدَاتِ الْمَعْرُوفَةِ فِي زَمَانِنَا عَلَى أَقْوَالٍ تَتَفَاوَتُ بَيْنَ ثَمَانِيَةٍ وَأَرْبَعِيْنَ سِنْتِيْمِتْرٍ إِلَى وَاحِدٍ وَسِتِّينَ سِنْتِيْمِتْرٍ فَهَذَا حَدُّ الذِّرَاعِ الشَّرْعِيِّ الَّذِيْ تَدُورُ عَلَيْهِ عِدَّةُ الْمُتَأَخِّرِيْنَ فِي الْحِسَابِ الْمُعَاصِرِ بِالْوِحْدَةِ الْمَعْرُوفَةِ عِنْدَهُمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Hasta (dzira’) dalam istilah ulama fikihadalah satuan untuk mengukur panjang.Yang mereka maksud dengan hasta adalahukuran dari panjang tanganyang dimulai dari jari tengahhingga siku.Yang mereka maksud adalah ukuran panjang antara jari tengah hingga siku.Jadi, ia dimulai dari ujung jari tengah yang merupakan jari paling panjang,dan berakhir pada siku.Jika para ulama fikih menyebutkan kata hasta,maka yang mereka maksud adalah ukuran panjang tersebut.Para ulama kontemporer berbeda pendapat dalam perkiraannyadengan satuan yang dikenal pada zaman kita ini,mereka terbagi menjadi beberapa pendapatyang berbeda-beda antara 48 cmhingga 61 cm.Inilah batas satuan hasta secara syariatyang banyak ulama kontemporer memperbincangkantentang perhitungan modern dengan satuan yang mereka ketahui tersebut. ==== وَالذِّرَاعُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ وِحْدَةٌ لِقِيَاسِ الطُّولِ يُرِيدُونَ بِهَا الْقَدْرَ مِنَ الْيَدِ الَّذِي يَكُونُ بَيْنَ الْإِصْبَعِ الْوُسْطَى إِلَى الْمِرْفَقِ يُرِيدُونَ بِهِ الْقَدْرَ الَّذِي يَكُونُ بَيْنَ الْإِصْبَعِ الْوُسْطَى إِلَى الْمِرْفَقِ فَيَبْتَدِأُ مِنْ حَدِّ الْإِصْبَعِ الْوُسْطَى الَّتِي هِيَ أَطْوَلُ الْأَصَابِعِ وَيَنْتَهِي إِلَى الْمِرْفَقِ فَإِذَا أَطْلَقُوا اسْمَ الذِّرَاعِ فَإِنَّهُمْ يُرِيدُونَ بِهِ هَذَا الْقَدْرَ الْمُتَأَخِّرُوْنَ مُخْتَلِفُوْنَ فِي تَقْدِيرِهِ بِالْوِحْدَاتِ الْمَعْرُوفَةِ فِي زَمَانِنَا عَلَى أَقْوَالٍ تَتَفَاوَتُ بَيْنَ ثَمَانِيَةٍ وَأَرْبَعِيْنَ سِنْتِيْمِتْرٍ إِلَى وَاحِدٍ وَسِتِّينَ سِنْتِيْمِتْرٍ فَهَذَا حَدُّ الذِّرَاعِ الشَّرْعِيِّ الَّذِيْ تَدُورُ عَلَيْهِ عِدَّةُ الْمُتَأَخِّرِيْنَ فِي الْحِسَابِ الْمُعَاصِرِ بِالْوِحْدَةِ الْمَعْرُوفَةِ عِنْدَهُمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Dakwah Islam Nan Sejuk

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha PenyayangKaum muslimin yang dirahmati Allah, jauh-jauh hari sebelum para pemikir dan kaum intelektual lahir, Islam telah mengurat dan mengakar dalam sejarah kerasulan di atas muka bumi ini. Tidaklah seorang rasul diutus, melainkan membawa misi Islam dan tauhid. Sebuah fakta yang tentu tak bisa dipungkiri dan realita yang tak terbantahkan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Sungguh, telah Kami utus pada setiap umat, seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’ ” (QS. An-Nahl: 36)Membaca teks dan makna dari terjemah ayat di atas, mengingatkan kita akan konteks dakwah para rasul. Mereka yang diutus oleh Allah kepada berbagai macam kelompok manusia dengan latar belakang kebudayaan dan cara berpikir yang berlainan. Para rasul itu ternyata berangkat dan bermula dari sebuah pedoman dasar yang sama, yaitu kewajiban memurnikan ibadah untuk Allah semata. Atau apa yang kita kenal dengan istilah ‘tauhid’.Kemudian, apabila kita cermati dengan pandangan yang lebih tajam dan seksama, menjadikan dakwah tauhid ini sebagai prioritas dalam upaya ishlah al-ummah (perbaikan umat) adalah bagian daripada konsep kesempurnaan dan keindahan Islam. Islam yang memecahkan problema dan Islam yang mewujudkan kesejukan hidup yang sesungguhnya. Inilah prinsip dasar yang telah diabaikan oleh banyak kaum cerdik cendekia.Sebagaimana dituturkan dalam hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menceritakan kisah pemberangkatan Mu’adz bin Jabal, radhiyallahu ’anhuma. Di sana, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada Mu’adz (pesan yang semestinya diingat oleh segenap da’i dan penggagas perbaikan umat),فَادْعُهُمْ إلى أنْ يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ“Hendaklah (yang pertama kali) kamu serukan kepada mereka yaitu supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar, melainkan Allah (menauhidkan Allah).” (HR. Bukhari)Sederhana dan jelas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang yang mendapatkan wahyu dari Allah, yang berbicara bukan dengan hawa nafsu, yang membawa misi Islam rahmatan lil ‘alamin, telah memberikan rumus dan formula dakwah yang amat jitu dan cemerlang. Memprioritaskan dakwah tauhid dalam menggerakkan roda perbaikan.Baca Juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman FitnahBukan itu saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan sebuah gambaran yang simpel dan sarat makna tentang tafsiran Islam dalam konteks kehidupan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الإيمانُ بِضْعٌ وسَبْعونَ أو بِضْعٌ وسِتُّونَ شُعبةً: فأفضلُها قولُ لا إِلهَ إلَّا اللهُ، وأدْناها إماطةُ الأذَى عَنِ الطَّريقِ، والحياءُ شُعْبةٌ مِنَ الإيمانِ“Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Inilah wajah Islam yang sejuk, teduh, dan menunjukkan kewibawaan. Islam yang menyeru kepada pemurnian ibadah untuk Allah semata dan meninggalkan pemujaan kepada sesembahan selain-Nya. Bahkan, inilah yang menjadi rahasia dan hikmah penciptaan jin dan manusia. Sebagaimana dalam firman-Nya,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Aduhai, betapa banyak manusia dan kaum cendekia yang lalai dan lupa akan rahasia dan hikmah yang agung ini! Ribuan, jutaan, bahkan trilyunan nikmat Allah yang mereka ‘konsumsi’ tak mampu menyadarkan mereka akan hakikat dan tujuan hidup penciptaan alam semesta yang amat luas ini. Laa haula wa laa quwwata illa billaah…Apakah Islam yang salah atau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang keliru? Tentu saja tidak! Bahkan, para ulama kita pun telah mewariskan nilai dan manhaj yang mulia ini dalam ratusan bahkan ribuan jilid kitab dan risalah yang mereka terbitkan. Para ulama hadis, misalnya, memberikan perhatian khusus di dalam buku-buku mereka dengan adanya sebuah bab khusus tentang iman, bab khusus tentang tauhid, dan bab khusus tentang akidah. Seperti halnya Imam Bukhari rahimahullah di dalam Shahih-nya dengan Kitab Al-Iman dan Kitab At-Tauhid. Demikian pula Imam Muslim rahimahullah di dalam Shahih-nya dengan Kitab Al-Iman.Gambaran-gambaran ini ingin menunjukkan kepada kita, bahwa pada hakikatnya dengan menjunjung tinggi dakwah tauhid justru akan menciptakan kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan hidup umat manusia. Tidak sebagaimana yang disangka oleh sebagian pihak, bahwa seruan-seruan dakwah tauhid adalah faktor pemecah belah umat, sebab munculnya berbagai teror dan penganiayaan serta maraknya premanisme di dunia Islam. Padahal, sama sekali tidak. Sungguh, itu merupakan pandangan dan cara berpikir yang salah!Allah Ta’ala menegaskan,ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)Islam tidak memperkenankan kezaliman. Islam menyeru dan menyiapkan segala perangkat demi tegaknya keadilan. Islam mengajak kepada iman yang murni. Iman yang bersih dari kotoran syirik dan kebid’ahan. Iman yang memandu kepada jalan yang lurus. Iman yang menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Iman yang membebaskan hamba dari penghambaan kepada sesama, menuju tauhidullah. Karena hanya dengan tauhid itulah hidup manusia akan tentram, aman, dan bahagia.Inilah Islam yang terbuka kepada siapa saja yang ingin memahami dan melaksanakan ajaran-ajarannya. Inilah Islam yang tidak hanya berkutat dengan hubungan manusia dengan Allah, namun juga sangat perhatian kepada masalah-masalah sosial dan kemanusiaan. Karena Islam tidak menghalalkan segala bentuk kezaliman, apakah kezaliman kepada diri sendiri, kezaliman kepada hak orang lain, atau kezaliman terhadap hak Rabb alam semesta.Dengan mengaplikasikan nilai-nilai dan bimbingan Islam dalam segala sisi kehidupan justru akan membawa kepada kebaikan dan kemajuan. Allah Ta’ala telah berfirman,فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)Dengan menerapkan petuah dan ajaran Al-Qur’an, hal itu akan membawa umat manusia kepada kemuliaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن اللهَ يَرفعُ بهذا الكِتابِ أقْواماً ويَضَعُ به آخَرِينَ“Sesungguhnya Allah akan memuliakan sebagian kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)Baca Juga: Fikih Dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Dan sebagaimana yang telah ditegaskan oleh para ulama, di antaranya Ibnul Qayyim dan Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahumallahu, bahwasanya pada hakikatnya seluruh Al-Qur’an berisi pembicaraan tentang tauhid. Demikian pula yang ditegaskan oleh ahli tafsir kenamaan masa kini, yaitu Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Seluruh isi Al-Qur’an berbicara tentang penetapan tauhid dan menafikan lawannya. Di dalam kebanyakan ayat, Allah menetapkan tauhid uluhiyah dan kewajiban untuk memurnikan ibadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Allah pun mengabarkan bahwa segenap rasul hanyalah diutus untuk mengajak kaumnya supaya beribadah kepada Allah saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah pun menegaskan bahwa tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka beribadah kepada-Nya. Allah juga menetapkan bahwasanya seluruh kitab suci dan para rasul, fitrah, dan akal yang sehat, semuanya telah sepakat terhadap pokok ini. Yang ia merupakan pokok paling mendasar di antara segala pokok ajaran agama.” (lihat Al-Majmu’ah Al-Kamilah, 8: 23)Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “Al-Qur’an berisi pemberitaan tentang Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Inilah yang disebut dengan istilah tauhid ilmu dan pemberitaan. Selain itu, Al-Qur’an juga berisi seruan untuk beribadah hanya kepada-Nya yang tiada sekutu bagi-Nya serta ajakan untuk mencampakkan sesembahan selain-Nya. Itulah yang disebut dengan istilah tauhid kehendak dan tuntutan. Al-Qur’an itu juga berisi perintah dan larangan serta kewajiban untuk patuh kepada-Nya. Itulah yang disebut dengan hak-hak tauhid dan penyempurna atasnya.Selain itu, Al-Qur’an juga berisi berita tentang kemuliaan yang Allah berikan bagi orang yang menauhidkan-Nya, apa yang Allah lakukan kepada mereka ketika masih hidup di dunia, dan kemuliaan yang dianugerahkan untuk mereka di akhirat. Itulah balasan atas tauhid yang dia miliki. Di sisi yang lain, Al-Qur’an juga berisi pemberitaan mengenai keadaan para pelaku kesyirikan, tindakan apa yang dijatuhkan kepada mereka selama di dunia, dan siksaan apa yang mereka alami di akhirat. Maka, itu adalah hukuman yang diberikan kepada orang yang keluar dari hukum tauhid. Ini menunjukkan bahwa seluruh isi Al-Qur’an membicarakan tentang tauhid, hak-haknya, dan balasan atasnya. Selain itu, Al-Qur’an pun membeberkan tentang masalah syirik, keadaan pelakunya, serta balasan atas kejahatan mereka.” (lihat Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah dengan takhrij Al-Albani, hal. 89 cet. Al-Maktab Al-Islami)Syekh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, “Barangsiapa menadaburi Kitabullah serta membaca Kitabullah dengan penuh perenungan, niscaya dia akan mendapati bahwasanya seluruh isi Al-Qur’an, dari Al-Fatihah sampai An-Nas, semuanya berisi dakwah tauhid. Ia bisa jadi berupa seruan untuk bertauhid, atau bisa juga berupa peringatan dari syirik. Terkadang ia berupa penjelasan tentang keadaan orang-orang yang bertauhid dan keadaan orang-orang yang berbuat syirik. Hampir-hampir Al-Qur’an tidak pernah keluar dari pembicaraan ini. Ada kalanya ia membahas tentang suatu ibadah yang Allah syariatkan dan Allah terangkan hukum-hukumnya, maka ini merupakan rincian dari ajaran tauhid…” (lihat Transkrip Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 22)Terakhir, marilah kita renungkan firman Allah Ta’ala,إِنَّ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُوا۟ عَنۡهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَ ٰ⁠بُ ٱلسَّمَاۤءِ وَلَا یَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ یَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِی سَمِّ ٱلۡخِیَاطِۚ وَكَذَ ٰ⁠لِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُجۡرِمِینَ“Sesungguhnya, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri darinya, maka tidak akan dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan tidak akan masuk ke dalam surga sampai unta bisa masuk ke dalam lubang jarum. Demikian itulah Kami akan membalas orang-orang yang berdosa/kafir itu.” (QS. Al-A’raf: 40)Wallahu a’lam bish shawaab.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah ***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Siapakah Mahram Kita, Pelaminan Terindah, Qs Luqman 18Tags: cara dakwahdakwahDakwah Islamdakwah salafdakwah sunnahfikih dakwahkeutamaan dakwahManhajmanhaj salafnasihatnasihat islam

Dakwah Islam Nan Sejuk

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha PenyayangKaum muslimin yang dirahmati Allah, jauh-jauh hari sebelum para pemikir dan kaum intelektual lahir, Islam telah mengurat dan mengakar dalam sejarah kerasulan di atas muka bumi ini. Tidaklah seorang rasul diutus, melainkan membawa misi Islam dan tauhid. Sebuah fakta yang tentu tak bisa dipungkiri dan realita yang tak terbantahkan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Sungguh, telah Kami utus pada setiap umat, seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’ ” (QS. An-Nahl: 36)Membaca teks dan makna dari terjemah ayat di atas, mengingatkan kita akan konteks dakwah para rasul. Mereka yang diutus oleh Allah kepada berbagai macam kelompok manusia dengan latar belakang kebudayaan dan cara berpikir yang berlainan. Para rasul itu ternyata berangkat dan bermula dari sebuah pedoman dasar yang sama, yaitu kewajiban memurnikan ibadah untuk Allah semata. Atau apa yang kita kenal dengan istilah ‘tauhid’.Kemudian, apabila kita cermati dengan pandangan yang lebih tajam dan seksama, menjadikan dakwah tauhid ini sebagai prioritas dalam upaya ishlah al-ummah (perbaikan umat) adalah bagian daripada konsep kesempurnaan dan keindahan Islam. Islam yang memecahkan problema dan Islam yang mewujudkan kesejukan hidup yang sesungguhnya. Inilah prinsip dasar yang telah diabaikan oleh banyak kaum cerdik cendekia.Sebagaimana dituturkan dalam hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menceritakan kisah pemberangkatan Mu’adz bin Jabal, radhiyallahu ’anhuma. Di sana, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada Mu’adz (pesan yang semestinya diingat oleh segenap da’i dan penggagas perbaikan umat),فَادْعُهُمْ إلى أنْ يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ“Hendaklah (yang pertama kali) kamu serukan kepada mereka yaitu supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar, melainkan Allah (menauhidkan Allah).” (HR. Bukhari)Sederhana dan jelas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang yang mendapatkan wahyu dari Allah, yang berbicara bukan dengan hawa nafsu, yang membawa misi Islam rahmatan lil ‘alamin, telah memberikan rumus dan formula dakwah yang amat jitu dan cemerlang. Memprioritaskan dakwah tauhid dalam menggerakkan roda perbaikan.Baca Juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman FitnahBukan itu saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan sebuah gambaran yang simpel dan sarat makna tentang tafsiran Islam dalam konteks kehidupan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الإيمانُ بِضْعٌ وسَبْعونَ أو بِضْعٌ وسِتُّونَ شُعبةً: فأفضلُها قولُ لا إِلهَ إلَّا اللهُ، وأدْناها إماطةُ الأذَى عَنِ الطَّريقِ، والحياءُ شُعْبةٌ مِنَ الإيمانِ“Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Inilah wajah Islam yang sejuk, teduh, dan menunjukkan kewibawaan. Islam yang menyeru kepada pemurnian ibadah untuk Allah semata dan meninggalkan pemujaan kepada sesembahan selain-Nya. Bahkan, inilah yang menjadi rahasia dan hikmah penciptaan jin dan manusia. Sebagaimana dalam firman-Nya,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Aduhai, betapa banyak manusia dan kaum cendekia yang lalai dan lupa akan rahasia dan hikmah yang agung ini! Ribuan, jutaan, bahkan trilyunan nikmat Allah yang mereka ‘konsumsi’ tak mampu menyadarkan mereka akan hakikat dan tujuan hidup penciptaan alam semesta yang amat luas ini. Laa haula wa laa quwwata illa billaah…Apakah Islam yang salah atau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang keliru? Tentu saja tidak! Bahkan, para ulama kita pun telah mewariskan nilai dan manhaj yang mulia ini dalam ratusan bahkan ribuan jilid kitab dan risalah yang mereka terbitkan. Para ulama hadis, misalnya, memberikan perhatian khusus di dalam buku-buku mereka dengan adanya sebuah bab khusus tentang iman, bab khusus tentang tauhid, dan bab khusus tentang akidah. Seperti halnya Imam Bukhari rahimahullah di dalam Shahih-nya dengan Kitab Al-Iman dan Kitab At-Tauhid. Demikian pula Imam Muslim rahimahullah di dalam Shahih-nya dengan Kitab Al-Iman.Gambaran-gambaran ini ingin menunjukkan kepada kita, bahwa pada hakikatnya dengan menjunjung tinggi dakwah tauhid justru akan menciptakan kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan hidup umat manusia. Tidak sebagaimana yang disangka oleh sebagian pihak, bahwa seruan-seruan dakwah tauhid adalah faktor pemecah belah umat, sebab munculnya berbagai teror dan penganiayaan serta maraknya premanisme di dunia Islam. Padahal, sama sekali tidak. Sungguh, itu merupakan pandangan dan cara berpikir yang salah!Allah Ta’ala menegaskan,ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)Islam tidak memperkenankan kezaliman. Islam menyeru dan menyiapkan segala perangkat demi tegaknya keadilan. Islam mengajak kepada iman yang murni. Iman yang bersih dari kotoran syirik dan kebid’ahan. Iman yang memandu kepada jalan yang lurus. Iman yang menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Iman yang membebaskan hamba dari penghambaan kepada sesama, menuju tauhidullah. Karena hanya dengan tauhid itulah hidup manusia akan tentram, aman, dan bahagia.Inilah Islam yang terbuka kepada siapa saja yang ingin memahami dan melaksanakan ajaran-ajarannya. Inilah Islam yang tidak hanya berkutat dengan hubungan manusia dengan Allah, namun juga sangat perhatian kepada masalah-masalah sosial dan kemanusiaan. Karena Islam tidak menghalalkan segala bentuk kezaliman, apakah kezaliman kepada diri sendiri, kezaliman kepada hak orang lain, atau kezaliman terhadap hak Rabb alam semesta.Dengan mengaplikasikan nilai-nilai dan bimbingan Islam dalam segala sisi kehidupan justru akan membawa kepada kebaikan dan kemajuan. Allah Ta’ala telah berfirman,فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)Dengan menerapkan petuah dan ajaran Al-Qur’an, hal itu akan membawa umat manusia kepada kemuliaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن اللهَ يَرفعُ بهذا الكِتابِ أقْواماً ويَضَعُ به آخَرِينَ“Sesungguhnya Allah akan memuliakan sebagian kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)Baca Juga: Fikih Dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Dan sebagaimana yang telah ditegaskan oleh para ulama, di antaranya Ibnul Qayyim dan Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahumallahu, bahwasanya pada hakikatnya seluruh Al-Qur’an berisi pembicaraan tentang tauhid. Demikian pula yang ditegaskan oleh ahli tafsir kenamaan masa kini, yaitu Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Seluruh isi Al-Qur’an berbicara tentang penetapan tauhid dan menafikan lawannya. Di dalam kebanyakan ayat, Allah menetapkan tauhid uluhiyah dan kewajiban untuk memurnikan ibadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Allah pun mengabarkan bahwa segenap rasul hanyalah diutus untuk mengajak kaumnya supaya beribadah kepada Allah saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah pun menegaskan bahwa tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka beribadah kepada-Nya. Allah juga menetapkan bahwasanya seluruh kitab suci dan para rasul, fitrah, dan akal yang sehat, semuanya telah sepakat terhadap pokok ini. Yang ia merupakan pokok paling mendasar di antara segala pokok ajaran agama.” (lihat Al-Majmu’ah Al-Kamilah, 8: 23)Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “Al-Qur’an berisi pemberitaan tentang Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Inilah yang disebut dengan istilah tauhid ilmu dan pemberitaan. Selain itu, Al-Qur’an juga berisi seruan untuk beribadah hanya kepada-Nya yang tiada sekutu bagi-Nya serta ajakan untuk mencampakkan sesembahan selain-Nya. Itulah yang disebut dengan istilah tauhid kehendak dan tuntutan. Al-Qur’an itu juga berisi perintah dan larangan serta kewajiban untuk patuh kepada-Nya. Itulah yang disebut dengan hak-hak tauhid dan penyempurna atasnya.Selain itu, Al-Qur’an juga berisi berita tentang kemuliaan yang Allah berikan bagi orang yang menauhidkan-Nya, apa yang Allah lakukan kepada mereka ketika masih hidup di dunia, dan kemuliaan yang dianugerahkan untuk mereka di akhirat. Itulah balasan atas tauhid yang dia miliki. Di sisi yang lain, Al-Qur’an juga berisi pemberitaan mengenai keadaan para pelaku kesyirikan, tindakan apa yang dijatuhkan kepada mereka selama di dunia, dan siksaan apa yang mereka alami di akhirat. Maka, itu adalah hukuman yang diberikan kepada orang yang keluar dari hukum tauhid. Ini menunjukkan bahwa seluruh isi Al-Qur’an membicarakan tentang tauhid, hak-haknya, dan balasan atasnya. Selain itu, Al-Qur’an pun membeberkan tentang masalah syirik, keadaan pelakunya, serta balasan atas kejahatan mereka.” (lihat Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah dengan takhrij Al-Albani, hal. 89 cet. Al-Maktab Al-Islami)Syekh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, “Barangsiapa menadaburi Kitabullah serta membaca Kitabullah dengan penuh perenungan, niscaya dia akan mendapati bahwasanya seluruh isi Al-Qur’an, dari Al-Fatihah sampai An-Nas, semuanya berisi dakwah tauhid. Ia bisa jadi berupa seruan untuk bertauhid, atau bisa juga berupa peringatan dari syirik. Terkadang ia berupa penjelasan tentang keadaan orang-orang yang bertauhid dan keadaan orang-orang yang berbuat syirik. Hampir-hampir Al-Qur’an tidak pernah keluar dari pembicaraan ini. Ada kalanya ia membahas tentang suatu ibadah yang Allah syariatkan dan Allah terangkan hukum-hukumnya, maka ini merupakan rincian dari ajaran tauhid…” (lihat Transkrip Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 22)Terakhir, marilah kita renungkan firman Allah Ta’ala,إِنَّ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُوا۟ عَنۡهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَ ٰ⁠بُ ٱلسَّمَاۤءِ وَلَا یَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ یَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِی سَمِّ ٱلۡخِیَاطِۚ وَكَذَ ٰ⁠لِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُجۡرِمِینَ“Sesungguhnya, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri darinya, maka tidak akan dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan tidak akan masuk ke dalam surga sampai unta bisa masuk ke dalam lubang jarum. Demikian itulah Kami akan membalas orang-orang yang berdosa/kafir itu.” (QS. Al-A’raf: 40)Wallahu a’lam bish shawaab.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah ***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Siapakah Mahram Kita, Pelaminan Terindah, Qs Luqman 18Tags: cara dakwahdakwahDakwah Islamdakwah salafdakwah sunnahfikih dakwahkeutamaan dakwahManhajmanhaj salafnasihatnasihat islam
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha PenyayangKaum muslimin yang dirahmati Allah, jauh-jauh hari sebelum para pemikir dan kaum intelektual lahir, Islam telah mengurat dan mengakar dalam sejarah kerasulan di atas muka bumi ini. Tidaklah seorang rasul diutus, melainkan membawa misi Islam dan tauhid. Sebuah fakta yang tentu tak bisa dipungkiri dan realita yang tak terbantahkan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Sungguh, telah Kami utus pada setiap umat, seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’ ” (QS. An-Nahl: 36)Membaca teks dan makna dari terjemah ayat di atas, mengingatkan kita akan konteks dakwah para rasul. Mereka yang diutus oleh Allah kepada berbagai macam kelompok manusia dengan latar belakang kebudayaan dan cara berpikir yang berlainan. Para rasul itu ternyata berangkat dan bermula dari sebuah pedoman dasar yang sama, yaitu kewajiban memurnikan ibadah untuk Allah semata. Atau apa yang kita kenal dengan istilah ‘tauhid’.Kemudian, apabila kita cermati dengan pandangan yang lebih tajam dan seksama, menjadikan dakwah tauhid ini sebagai prioritas dalam upaya ishlah al-ummah (perbaikan umat) adalah bagian daripada konsep kesempurnaan dan keindahan Islam. Islam yang memecahkan problema dan Islam yang mewujudkan kesejukan hidup yang sesungguhnya. Inilah prinsip dasar yang telah diabaikan oleh banyak kaum cerdik cendekia.Sebagaimana dituturkan dalam hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menceritakan kisah pemberangkatan Mu’adz bin Jabal, radhiyallahu ’anhuma. Di sana, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada Mu’adz (pesan yang semestinya diingat oleh segenap da’i dan penggagas perbaikan umat),فَادْعُهُمْ إلى أنْ يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ“Hendaklah (yang pertama kali) kamu serukan kepada mereka yaitu supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar, melainkan Allah (menauhidkan Allah).” (HR. Bukhari)Sederhana dan jelas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang yang mendapatkan wahyu dari Allah, yang berbicara bukan dengan hawa nafsu, yang membawa misi Islam rahmatan lil ‘alamin, telah memberikan rumus dan formula dakwah yang amat jitu dan cemerlang. Memprioritaskan dakwah tauhid dalam menggerakkan roda perbaikan.Baca Juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman FitnahBukan itu saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan sebuah gambaran yang simpel dan sarat makna tentang tafsiran Islam dalam konteks kehidupan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الإيمانُ بِضْعٌ وسَبْعونَ أو بِضْعٌ وسِتُّونَ شُعبةً: فأفضلُها قولُ لا إِلهَ إلَّا اللهُ، وأدْناها إماطةُ الأذَى عَنِ الطَّريقِ، والحياءُ شُعْبةٌ مِنَ الإيمانِ“Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Inilah wajah Islam yang sejuk, teduh, dan menunjukkan kewibawaan. Islam yang menyeru kepada pemurnian ibadah untuk Allah semata dan meninggalkan pemujaan kepada sesembahan selain-Nya. Bahkan, inilah yang menjadi rahasia dan hikmah penciptaan jin dan manusia. Sebagaimana dalam firman-Nya,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Aduhai, betapa banyak manusia dan kaum cendekia yang lalai dan lupa akan rahasia dan hikmah yang agung ini! Ribuan, jutaan, bahkan trilyunan nikmat Allah yang mereka ‘konsumsi’ tak mampu menyadarkan mereka akan hakikat dan tujuan hidup penciptaan alam semesta yang amat luas ini. Laa haula wa laa quwwata illa billaah…Apakah Islam yang salah atau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang keliru? Tentu saja tidak! Bahkan, para ulama kita pun telah mewariskan nilai dan manhaj yang mulia ini dalam ratusan bahkan ribuan jilid kitab dan risalah yang mereka terbitkan. Para ulama hadis, misalnya, memberikan perhatian khusus di dalam buku-buku mereka dengan adanya sebuah bab khusus tentang iman, bab khusus tentang tauhid, dan bab khusus tentang akidah. Seperti halnya Imam Bukhari rahimahullah di dalam Shahih-nya dengan Kitab Al-Iman dan Kitab At-Tauhid. Demikian pula Imam Muslim rahimahullah di dalam Shahih-nya dengan Kitab Al-Iman.Gambaran-gambaran ini ingin menunjukkan kepada kita, bahwa pada hakikatnya dengan menjunjung tinggi dakwah tauhid justru akan menciptakan kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan hidup umat manusia. Tidak sebagaimana yang disangka oleh sebagian pihak, bahwa seruan-seruan dakwah tauhid adalah faktor pemecah belah umat, sebab munculnya berbagai teror dan penganiayaan serta maraknya premanisme di dunia Islam. Padahal, sama sekali tidak. Sungguh, itu merupakan pandangan dan cara berpikir yang salah!Allah Ta’ala menegaskan,ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)Islam tidak memperkenankan kezaliman. Islam menyeru dan menyiapkan segala perangkat demi tegaknya keadilan. Islam mengajak kepada iman yang murni. Iman yang bersih dari kotoran syirik dan kebid’ahan. Iman yang memandu kepada jalan yang lurus. Iman yang menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Iman yang membebaskan hamba dari penghambaan kepada sesama, menuju tauhidullah. Karena hanya dengan tauhid itulah hidup manusia akan tentram, aman, dan bahagia.Inilah Islam yang terbuka kepada siapa saja yang ingin memahami dan melaksanakan ajaran-ajarannya. Inilah Islam yang tidak hanya berkutat dengan hubungan manusia dengan Allah, namun juga sangat perhatian kepada masalah-masalah sosial dan kemanusiaan. Karena Islam tidak menghalalkan segala bentuk kezaliman, apakah kezaliman kepada diri sendiri, kezaliman kepada hak orang lain, atau kezaliman terhadap hak Rabb alam semesta.Dengan mengaplikasikan nilai-nilai dan bimbingan Islam dalam segala sisi kehidupan justru akan membawa kepada kebaikan dan kemajuan. Allah Ta’ala telah berfirman,فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)Dengan menerapkan petuah dan ajaran Al-Qur’an, hal itu akan membawa umat manusia kepada kemuliaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن اللهَ يَرفعُ بهذا الكِتابِ أقْواماً ويَضَعُ به آخَرِينَ“Sesungguhnya Allah akan memuliakan sebagian kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)Baca Juga: Fikih Dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Dan sebagaimana yang telah ditegaskan oleh para ulama, di antaranya Ibnul Qayyim dan Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahumallahu, bahwasanya pada hakikatnya seluruh Al-Qur’an berisi pembicaraan tentang tauhid. Demikian pula yang ditegaskan oleh ahli tafsir kenamaan masa kini, yaitu Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Seluruh isi Al-Qur’an berbicara tentang penetapan tauhid dan menafikan lawannya. Di dalam kebanyakan ayat, Allah menetapkan tauhid uluhiyah dan kewajiban untuk memurnikan ibadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Allah pun mengabarkan bahwa segenap rasul hanyalah diutus untuk mengajak kaumnya supaya beribadah kepada Allah saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah pun menegaskan bahwa tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka beribadah kepada-Nya. Allah juga menetapkan bahwasanya seluruh kitab suci dan para rasul, fitrah, dan akal yang sehat, semuanya telah sepakat terhadap pokok ini. Yang ia merupakan pokok paling mendasar di antara segala pokok ajaran agama.” (lihat Al-Majmu’ah Al-Kamilah, 8: 23)Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “Al-Qur’an berisi pemberitaan tentang Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Inilah yang disebut dengan istilah tauhid ilmu dan pemberitaan. Selain itu, Al-Qur’an juga berisi seruan untuk beribadah hanya kepada-Nya yang tiada sekutu bagi-Nya serta ajakan untuk mencampakkan sesembahan selain-Nya. Itulah yang disebut dengan istilah tauhid kehendak dan tuntutan. Al-Qur’an itu juga berisi perintah dan larangan serta kewajiban untuk patuh kepada-Nya. Itulah yang disebut dengan hak-hak tauhid dan penyempurna atasnya.Selain itu, Al-Qur’an juga berisi berita tentang kemuliaan yang Allah berikan bagi orang yang menauhidkan-Nya, apa yang Allah lakukan kepada mereka ketika masih hidup di dunia, dan kemuliaan yang dianugerahkan untuk mereka di akhirat. Itulah balasan atas tauhid yang dia miliki. Di sisi yang lain, Al-Qur’an juga berisi pemberitaan mengenai keadaan para pelaku kesyirikan, tindakan apa yang dijatuhkan kepada mereka selama di dunia, dan siksaan apa yang mereka alami di akhirat. Maka, itu adalah hukuman yang diberikan kepada orang yang keluar dari hukum tauhid. Ini menunjukkan bahwa seluruh isi Al-Qur’an membicarakan tentang tauhid, hak-haknya, dan balasan atasnya. Selain itu, Al-Qur’an pun membeberkan tentang masalah syirik, keadaan pelakunya, serta balasan atas kejahatan mereka.” (lihat Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah dengan takhrij Al-Albani, hal. 89 cet. Al-Maktab Al-Islami)Syekh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, “Barangsiapa menadaburi Kitabullah serta membaca Kitabullah dengan penuh perenungan, niscaya dia akan mendapati bahwasanya seluruh isi Al-Qur’an, dari Al-Fatihah sampai An-Nas, semuanya berisi dakwah tauhid. Ia bisa jadi berupa seruan untuk bertauhid, atau bisa juga berupa peringatan dari syirik. Terkadang ia berupa penjelasan tentang keadaan orang-orang yang bertauhid dan keadaan orang-orang yang berbuat syirik. Hampir-hampir Al-Qur’an tidak pernah keluar dari pembicaraan ini. Ada kalanya ia membahas tentang suatu ibadah yang Allah syariatkan dan Allah terangkan hukum-hukumnya, maka ini merupakan rincian dari ajaran tauhid…” (lihat Transkrip Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 22)Terakhir, marilah kita renungkan firman Allah Ta’ala,إِنَّ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُوا۟ عَنۡهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَ ٰ⁠بُ ٱلسَّمَاۤءِ وَلَا یَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ یَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِی سَمِّ ٱلۡخِیَاطِۚ وَكَذَ ٰ⁠لِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُجۡرِمِینَ“Sesungguhnya, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri darinya, maka tidak akan dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan tidak akan masuk ke dalam surga sampai unta bisa masuk ke dalam lubang jarum. Demikian itulah Kami akan membalas orang-orang yang berdosa/kafir itu.” (QS. Al-A’raf: 40)Wallahu a’lam bish shawaab.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah ***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Siapakah Mahram Kita, Pelaminan Terindah, Qs Luqman 18Tags: cara dakwahdakwahDakwah Islamdakwah salafdakwah sunnahfikih dakwahkeutamaan dakwahManhajmanhaj salafnasihatnasihat islam


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha PenyayangKaum muslimin yang dirahmati Allah, jauh-jauh hari sebelum para pemikir dan kaum intelektual lahir, Islam telah mengurat dan mengakar dalam sejarah kerasulan di atas muka bumi ini. Tidaklah seorang rasul diutus, melainkan membawa misi Islam dan tauhid. Sebuah fakta yang tentu tak bisa dipungkiri dan realita yang tak terbantahkan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Sungguh, telah Kami utus pada setiap umat, seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’ ” (QS. An-Nahl: 36)Membaca teks dan makna dari terjemah ayat di atas, mengingatkan kita akan konteks dakwah para rasul. Mereka yang diutus oleh Allah kepada berbagai macam kelompok manusia dengan latar belakang kebudayaan dan cara berpikir yang berlainan. Para rasul itu ternyata berangkat dan bermula dari sebuah pedoman dasar yang sama, yaitu kewajiban memurnikan ibadah untuk Allah semata. Atau apa yang kita kenal dengan istilah ‘tauhid’.Kemudian, apabila kita cermati dengan pandangan yang lebih tajam dan seksama, menjadikan dakwah tauhid ini sebagai prioritas dalam upaya ishlah al-ummah (perbaikan umat) adalah bagian daripada konsep kesempurnaan dan keindahan Islam. Islam yang memecahkan problema dan Islam yang mewujudkan kesejukan hidup yang sesungguhnya. Inilah prinsip dasar yang telah diabaikan oleh banyak kaum cerdik cendekia.Sebagaimana dituturkan dalam hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menceritakan kisah pemberangkatan Mu’adz bin Jabal, radhiyallahu ’anhuma. Di sana, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada Mu’adz (pesan yang semestinya diingat oleh segenap da’i dan penggagas perbaikan umat),فَادْعُهُمْ إلى أنْ يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ“Hendaklah (yang pertama kali) kamu serukan kepada mereka yaitu supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar, melainkan Allah (menauhidkan Allah).” (HR. Bukhari)Sederhana dan jelas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang yang mendapatkan wahyu dari Allah, yang berbicara bukan dengan hawa nafsu, yang membawa misi Islam rahmatan lil ‘alamin, telah memberikan rumus dan formula dakwah yang amat jitu dan cemerlang. Memprioritaskan dakwah tauhid dalam menggerakkan roda perbaikan.Baca Juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman FitnahBukan itu saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan sebuah gambaran yang simpel dan sarat makna tentang tafsiran Islam dalam konteks kehidupan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الإيمانُ بِضْعٌ وسَبْعونَ أو بِضْعٌ وسِتُّونَ شُعبةً: فأفضلُها قولُ لا إِلهَ إلَّا اللهُ، وأدْناها إماطةُ الأذَى عَنِ الطَّريقِ، والحياءُ شُعْبةٌ مِنَ الإيمانِ“Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Inilah wajah Islam yang sejuk, teduh, dan menunjukkan kewibawaan. Islam yang menyeru kepada pemurnian ibadah untuk Allah semata dan meninggalkan pemujaan kepada sesembahan selain-Nya. Bahkan, inilah yang menjadi rahasia dan hikmah penciptaan jin dan manusia. Sebagaimana dalam firman-Nya,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Aduhai, betapa banyak manusia dan kaum cendekia yang lalai dan lupa akan rahasia dan hikmah yang agung ini! Ribuan, jutaan, bahkan trilyunan nikmat Allah yang mereka ‘konsumsi’ tak mampu menyadarkan mereka akan hakikat dan tujuan hidup penciptaan alam semesta yang amat luas ini. Laa haula wa laa quwwata illa billaah…Apakah Islam yang salah atau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang keliru? Tentu saja tidak! Bahkan, para ulama kita pun telah mewariskan nilai dan manhaj yang mulia ini dalam ratusan bahkan ribuan jilid kitab dan risalah yang mereka terbitkan. Para ulama hadis, misalnya, memberikan perhatian khusus di dalam buku-buku mereka dengan adanya sebuah bab khusus tentang iman, bab khusus tentang tauhid, dan bab khusus tentang akidah. Seperti halnya Imam Bukhari rahimahullah di dalam Shahih-nya dengan Kitab Al-Iman dan Kitab At-Tauhid. Demikian pula Imam Muslim rahimahullah di dalam Shahih-nya dengan Kitab Al-Iman.Gambaran-gambaran ini ingin menunjukkan kepada kita, bahwa pada hakikatnya dengan menjunjung tinggi dakwah tauhid justru akan menciptakan kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan hidup umat manusia. Tidak sebagaimana yang disangka oleh sebagian pihak, bahwa seruan-seruan dakwah tauhid adalah faktor pemecah belah umat, sebab munculnya berbagai teror dan penganiayaan serta maraknya premanisme di dunia Islam. Padahal, sama sekali tidak. Sungguh, itu merupakan pandangan dan cara berpikir yang salah!Allah Ta’ala menegaskan,ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)Islam tidak memperkenankan kezaliman. Islam menyeru dan menyiapkan segala perangkat demi tegaknya keadilan. Islam mengajak kepada iman yang murni. Iman yang bersih dari kotoran syirik dan kebid’ahan. Iman yang memandu kepada jalan yang lurus. Iman yang menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Iman yang membebaskan hamba dari penghambaan kepada sesama, menuju tauhidullah. Karena hanya dengan tauhid itulah hidup manusia akan tentram, aman, dan bahagia.Inilah Islam yang terbuka kepada siapa saja yang ingin memahami dan melaksanakan ajaran-ajarannya. Inilah Islam yang tidak hanya berkutat dengan hubungan manusia dengan Allah, namun juga sangat perhatian kepada masalah-masalah sosial dan kemanusiaan. Karena Islam tidak menghalalkan segala bentuk kezaliman, apakah kezaliman kepada diri sendiri, kezaliman kepada hak orang lain, atau kezaliman terhadap hak Rabb alam semesta.Dengan mengaplikasikan nilai-nilai dan bimbingan Islam dalam segala sisi kehidupan justru akan membawa kepada kebaikan dan kemajuan. Allah Ta’ala telah berfirman,فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)Dengan menerapkan petuah dan ajaran Al-Qur’an, hal itu akan membawa umat manusia kepada kemuliaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن اللهَ يَرفعُ بهذا الكِتابِ أقْواماً ويَضَعُ به آخَرِينَ“Sesungguhnya Allah akan memuliakan sebagian kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)Baca Juga: Fikih Dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Dan sebagaimana yang telah ditegaskan oleh para ulama, di antaranya Ibnul Qayyim dan Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahumallahu, bahwasanya pada hakikatnya seluruh Al-Qur’an berisi pembicaraan tentang tauhid. Demikian pula yang ditegaskan oleh ahli tafsir kenamaan masa kini, yaitu Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Seluruh isi Al-Qur’an berbicara tentang penetapan tauhid dan menafikan lawannya. Di dalam kebanyakan ayat, Allah menetapkan tauhid uluhiyah dan kewajiban untuk memurnikan ibadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Allah pun mengabarkan bahwa segenap rasul hanyalah diutus untuk mengajak kaumnya supaya beribadah kepada Allah saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah pun menegaskan bahwa tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka beribadah kepada-Nya. Allah juga menetapkan bahwasanya seluruh kitab suci dan para rasul, fitrah, dan akal yang sehat, semuanya telah sepakat terhadap pokok ini. Yang ia merupakan pokok paling mendasar di antara segala pokok ajaran agama.” (lihat Al-Majmu’ah Al-Kamilah, 8: 23)Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “Al-Qur’an berisi pemberitaan tentang Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Inilah yang disebut dengan istilah tauhid ilmu dan pemberitaan. Selain itu, Al-Qur’an juga berisi seruan untuk beribadah hanya kepada-Nya yang tiada sekutu bagi-Nya serta ajakan untuk mencampakkan sesembahan selain-Nya. Itulah yang disebut dengan istilah tauhid kehendak dan tuntutan. Al-Qur’an itu juga berisi perintah dan larangan serta kewajiban untuk patuh kepada-Nya. Itulah yang disebut dengan hak-hak tauhid dan penyempurna atasnya.Selain itu, Al-Qur’an juga berisi berita tentang kemuliaan yang Allah berikan bagi orang yang menauhidkan-Nya, apa yang Allah lakukan kepada mereka ketika masih hidup di dunia, dan kemuliaan yang dianugerahkan untuk mereka di akhirat. Itulah balasan atas tauhid yang dia miliki. Di sisi yang lain, Al-Qur’an juga berisi pemberitaan mengenai keadaan para pelaku kesyirikan, tindakan apa yang dijatuhkan kepada mereka selama di dunia, dan siksaan apa yang mereka alami di akhirat. Maka, itu adalah hukuman yang diberikan kepada orang yang keluar dari hukum tauhid. Ini menunjukkan bahwa seluruh isi Al-Qur’an membicarakan tentang tauhid, hak-haknya, dan balasan atasnya. Selain itu, Al-Qur’an pun membeberkan tentang masalah syirik, keadaan pelakunya, serta balasan atas kejahatan mereka.” (lihat Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah dengan takhrij Al-Albani, hal. 89 cet. Al-Maktab Al-Islami)Syekh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, “Barangsiapa menadaburi Kitabullah serta membaca Kitabullah dengan penuh perenungan, niscaya dia akan mendapati bahwasanya seluruh isi Al-Qur’an, dari Al-Fatihah sampai An-Nas, semuanya berisi dakwah tauhid. Ia bisa jadi berupa seruan untuk bertauhid, atau bisa juga berupa peringatan dari syirik. Terkadang ia berupa penjelasan tentang keadaan orang-orang yang bertauhid dan keadaan orang-orang yang berbuat syirik. Hampir-hampir Al-Qur’an tidak pernah keluar dari pembicaraan ini. Ada kalanya ia membahas tentang suatu ibadah yang Allah syariatkan dan Allah terangkan hukum-hukumnya, maka ini merupakan rincian dari ajaran tauhid…” (lihat Transkrip Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 22)Terakhir, marilah kita renungkan firman Allah Ta’ala,إِنَّ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُوا۟ عَنۡهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَ ٰ⁠بُ ٱلسَّمَاۤءِ وَلَا یَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ یَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِی سَمِّ ٱلۡخِیَاطِۚ وَكَذَ ٰ⁠لِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُجۡرِمِینَ“Sesungguhnya, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri darinya, maka tidak akan dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan tidak akan masuk ke dalam surga sampai unta bisa masuk ke dalam lubang jarum. Demikian itulah Kami akan membalas orang-orang yang berdosa/kafir itu.” (QS. Al-A’raf: 40)Wallahu a’lam bish shawaab.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah ***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Siapakah Mahram Kita, Pelaminan Terindah, Qs Luqman 18Tags: cara dakwahdakwahDakwah Islamdakwah salafdakwah sunnahfikih dakwahkeutamaan dakwahManhajmanhaj salafnasihatnasihat islam

Jangan Tinggalkan Dua Ibadah Penting Setelah Asar! – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Jika kamu telah mengetahui bahwa setelah Salat Asar dilarang melakukan salat sunah,maka amalan utama apa yang disunahkan untuk dilakukan di waktu asar?Kami katakan bahwa ibadah paling utama yang dapat dikerjakan pada waktu asar ada dua: [PERTAMA]Yang pertama dari dua ibadah iniadalah berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, di antara zikir harian adalah zikir yang dibaca di dua ujung siang,yaitu di awal dan akhir siang. Akhir siang adalah pada waktu asar.Salah satu ibadah yang paling utama untuk dilakukan di hari itu,atau ibadah yang paling utama untuk dilakukan di waktu asaradalah ibadah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibadah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk ibadah utamayang khusus dilakukan pada waktu ini.Maka berusahalah untuk selalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Ketahuilah! Meskipun zikir pada waktu asar hanya sedikit, yaitu zikir sore,akan tetapi pahalanya besar. Karena orang-orang ketika itu sedang sibukDiriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibadah yang paling utama adalah ibadah di waktu harj.”Yakni ketika orang-orang sibuk dengan jual beli,dan dengan urusan duniawi. Jika ada orang yang berpaling dari mereka,lalu sibuk dengan ibadah yang disyariatkan, seperti berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla di waktu asar,maka ia telah melakukan ibadah yang paling utama. [KEDUA]Ibadah kedua yang disunahkan untuk dikerjakan di waktu asar secara khususadalah ibadah menetap di masjid. Seseorang menetap di masjid pada waktu itu untuk beribadahseperti belajar al-Quran dan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla,dan menetap di masjid untuk mempelajari ilmu dan menghadiri majelis ilmu. Ini merupakan salah satu ibadah yang utama untuk dikerjakan pada waktu tersebut.Jadi, wahai orang yang semoga mendapat taufik! Jika kamu telah mengetahui bahwa waktu asar—yang merupakan akhir siang—Allah gunakan sebagai sumpah-Nya,maka ketika itu ketahuilah bahwa keutamaan waktu ini paling utama untuk digunakan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalladan menetap di dalam masjid untuk ibadah, seperti mempelajari ilmu,mengikuti halaqah al-Quran, dan perkara-perkara utama lainnya. Diriwayatkan dari al-Hasan al-Basri dan ulama lainnyabahwa ketika mereka membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Demi waktu asar!” (QS. Al-Ashr: 1), al-Hasan al-Basri berkata, “Yang dimaksud dengan asar adalah waktu antara setelah matahari condong ke arah barat hingga terbenam.”Inilah pendapat yang benar. Para ulama fikih rahimahumullahu Ta’ala juga menetapkan bahwa waktu dua salat di siang hari (zuhur dan asar) adalah satu waktu. Oleh sebab itu, dua salat itu boleh dijamak dengan banyak sebabnya,seperti yang telah disebutkan para ulama dalam bab menjamak salat bagi orang yang punya uzur. ==== إِذَا عَلِمْتَ أَنَّ صَلَاةَ الْعَصْرِ بَعْدَهَا مَنْهِيٌّ عَنْ صَلَاةٍ نَافِلَةٍ فَمَا هُوَ الْعَمَلُ الْفَاضِلُ الَّذِي يُسْتَحَبُّ فِي وَقْتِ الْعَصْرِ؟ نَقُولُ إِنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِي وَقْتِ الْعَصْرِ عِبَادَتَانِ مُهِمَّتَانِ أُوْلَى هَاتَيْنِ الْعِبَادَتَيْنِ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مِنْ أَذْكَارِ الْيَوْمِيَّةِ هِيَ الْأَذْكَارُ الَّتِي تُقَالُ فِي طَرَفَيِ النَّهَارِ أَوَّلِ النَّهَارِ وَآخِرِهِ وَآخِرُهُ يَكُونُ الْعَصْرَ فَمِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي هَذَا الْيَوْمِ فَأَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُعْمَلُ فِي الْعَصْرِ هُوَ عِبَادَةُ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَعِبَادَةُ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْعِبَادَاتِ الْفَاضِلَةِ الَّتِي تَخْتَصُّ بِهَذَا الْوَقْتِ فَاحْرِصْ عَلَى ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاعْلَمْ أَنَّ الْعَصْرَ وَإِنْ كَانَ الذِّكْرُ فِيْهِ قَلِيْلًا وَهِيَ أَذْكَارُ الْمَسَاءِ إِلَّا أَنَّ أَجْرَهَا عَظِيمٌ لِأَجْلِ أَنَّ النَّاسَ يَكُونُونَ مُنْشَغِلِيْنَ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَفْضَلُ الْعِبَادَةِ الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ أَيْ حِينَمَا يَكُونُ النَّاسُ مُنْشَغِلِيْنَ بِالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَبِأُمُورِ الدُّنْيَا فَإِذَا انْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُمْ وَانْشَغَلَ بِعِبَادَةٍ مَشْرُوْعَةٍ كَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْعَصْرِ فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ فَعَلَ أَفْضَلَ الْعِبَادَاتِ الْعِبَادَةُ الثَّانِيَةُ الَّتِي تُسْتَحَبُّ فِي الْعَصْرِ خُصُوصًا وَهِيَ عِبَادَةُ لُزُوْمِ الْمَسَاجِدِ فَيَلْزَمُ الْمَرْءُ فِيهَا الْمَسْجِدَ لِعِبَادَةٍ كَتَعَلُّمِ الْقُرْآنِ وَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَلْزَمُ الْمَسْجِدَ بِتَعَلُّمِ الْعِلْمِ وَدُرُوْسِ الْعِلْمِ فَإِنَّ هَذَا مِنَ الْعِبَادَاتِ الْفَاضِلَةِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي هَذَا الْوَقْتِ إِذًا أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ إِذَا عَرَفْتَ أَنَّ الْعَصْرَ قَدْ أَقْسَمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ الَّذِي هُوَ آخِرُ النَّهَارِ فَاعْلَمْ حِينَ ذَاكَ أَنَّ لِفَضْلِ هَذَا الزَّمَانِ أَفْضَلُ مَا يُفْعَلُ فِيهِ أَنْ تَنْشَغِلَ بِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبِلُزُوْمِ الْمَسْجِدِ بِعِبَادَةٍ كَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ وَحَلْقَةِ قُرْآنٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُوْرِ الْفَاضِلَةِ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُمْ لَمَّا قَرَؤُوْا هَذِهِ الْآيَةَ وَهِيَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْعَصْرِ قَالَ الْمُرَادُ بِالْعَصْرِ مَا بَيْنَ الزَّوَالِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ وَهَذَا صَحِيحٌ فَقَدْ قَرَّرَ الْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ وَقْتَيْ صَلَاتَيِ النَّهَارِ وَقْتٌ وَاحِدٌ لِذَا يَجُوزُ جَمْعُهُمَا لِأَسْبَابِ الْجَمْعِ الْمُتَعَدِّدَةِ الَّتِي أَوْرَدَهَا الْعُلَمَاءُ فِي بَابِ جَمْعِ الصَّلَاةِ لِذَوِي الْأَعْذَارِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jangan Tinggalkan Dua Ibadah Penting Setelah Asar! – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Jika kamu telah mengetahui bahwa setelah Salat Asar dilarang melakukan salat sunah,maka amalan utama apa yang disunahkan untuk dilakukan di waktu asar?Kami katakan bahwa ibadah paling utama yang dapat dikerjakan pada waktu asar ada dua: [PERTAMA]Yang pertama dari dua ibadah iniadalah berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, di antara zikir harian adalah zikir yang dibaca di dua ujung siang,yaitu di awal dan akhir siang. Akhir siang adalah pada waktu asar.Salah satu ibadah yang paling utama untuk dilakukan di hari itu,atau ibadah yang paling utama untuk dilakukan di waktu asaradalah ibadah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibadah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk ibadah utamayang khusus dilakukan pada waktu ini.Maka berusahalah untuk selalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Ketahuilah! Meskipun zikir pada waktu asar hanya sedikit, yaitu zikir sore,akan tetapi pahalanya besar. Karena orang-orang ketika itu sedang sibukDiriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibadah yang paling utama adalah ibadah di waktu harj.”Yakni ketika orang-orang sibuk dengan jual beli,dan dengan urusan duniawi. Jika ada orang yang berpaling dari mereka,lalu sibuk dengan ibadah yang disyariatkan, seperti berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla di waktu asar,maka ia telah melakukan ibadah yang paling utama. [KEDUA]Ibadah kedua yang disunahkan untuk dikerjakan di waktu asar secara khususadalah ibadah menetap di masjid. Seseorang menetap di masjid pada waktu itu untuk beribadahseperti belajar al-Quran dan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla,dan menetap di masjid untuk mempelajari ilmu dan menghadiri majelis ilmu. Ini merupakan salah satu ibadah yang utama untuk dikerjakan pada waktu tersebut.Jadi, wahai orang yang semoga mendapat taufik! Jika kamu telah mengetahui bahwa waktu asar—yang merupakan akhir siang—Allah gunakan sebagai sumpah-Nya,maka ketika itu ketahuilah bahwa keutamaan waktu ini paling utama untuk digunakan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalladan menetap di dalam masjid untuk ibadah, seperti mempelajari ilmu,mengikuti halaqah al-Quran, dan perkara-perkara utama lainnya. Diriwayatkan dari al-Hasan al-Basri dan ulama lainnyabahwa ketika mereka membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Demi waktu asar!” (QS. Al-Ashr: 1), al-Hasan al-Basri berkata, “Yang dimaksud dengan asar adalah waktu antara setelah matahari condong ke arah barat hingga terbenam.”Inilah pendapat yang benar. Para ulama fikih rahimahumullahu Ta’ala juga menetapkan bahwa waktu dua salat di siang hari (zuhur dan asar) adalah satu waktu. Oleh sebab itu, dua salat itu boleh dijamak dengan banyak sebabnya,seperti yang telah disebutkan para ulama dalam bab menjamak salat bagi orang yang punya uzur. ==== إِذَا عَلِمْتَ أَنَّ صَلَاةَ الْعَصْرِ بَعْدَهَا مَنْهِيٌّ عَنْ صَلَاةٍ نَافِلَةٍ فَمَا هُوَ الْعَمَلُ الْفَاضِلُ الَّذِي يُسْتَحَبُّ فِي وَقْتِ الْعَصْرِ؟ نَقُولُ إِنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِي وَقْتِ الْعَصْرِ عِبَادَتَانِ مُهِمَّتَانِ أُوْلَى هَاتَيْنِ الْعِبَادَتَيْنِ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مِنْ أَذْكَارِ الْيَوْمِيَّةِ هِيَ الْأَذْكَارُ الَّتِي تُقَالُ فِي طَرَفَيِ النَّهَارِ أَوَّلِ النَّهَارِ وَآخِرِهِ وَآخِرُهُ يَكُونُ الْعَصْرَ فَمِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي هَذَا الْيَوْمِ فَأَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُعْمَلُ فِي الْعَصْرِ هُوَ عِبَادَةُ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَعِبَادَةُ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْعِبَادَاتِ الْفَاضِلَةِ الَّتِي تَخْتَصُّ بِهَذَا الْوَقْتِ فَاحْرِصْ عَلَى ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاعْلَمْ أَنَّ الْعَصْرَ وَإِنْ كَانَ الذِّكْرُ فِيْهِ قَلِيْلًا وَهِيَ أَذْكَارُ الْمَسَاءِ إِلَّا أَنَّ أَجْرَهَا عَظِيمٌ لِأَجْلِ أَنَّ النَّاسَ يَكُونُونَ مُنْشَغِلِيْنَ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَفْضَلُ الْعِبَادَةِ الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ أَيْ حِينَمَا يَكُونُ النَّاسُ مُنْشَغِلِيْنَ بِالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَبِأُمُورِ الدُّنْيَا فَإِذَا انْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُمْ وَانْشَغَلَ بِعِبَادَةٍ مَشْرُوْعَةٍ كَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْعَصْرِ فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ فَعَلَ أَفْضَلَ الْعِبَادَاتِ الْعِبَادَةُ الثَّانِيَةُ الَّتِي تُسْتَحَبُّ فِي الْعَصْرِ خُصُوصًا وَهِيَ عِبَادَةُ لُزُوْمِ الْمَسَاجِدِ فَيَلْزَمُ الْمَرْءُ فِيهَا الْمَسْجِدَ لِعِبَادَةٍ كَتَعَلُّمِ الْقُرْآنِ وَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَلْزَمُ الْمَسْجِدَ بِتَعَلُّمِ الْعِلْمِ وَدُرُوْسِ الْعِلْمِ فَإِنَّ هَذَا مِنَ الْعِبَادَاتِ الْفَاضِلَةِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي هَذَا الْوَقْتِ إِذًا أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ إِذَا عَرَفْتَ أَنَّ الْعَصْرَ قَدْ أَقْسَمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ الَّذِي هُوَ آخِرُ النَّهَارِ فَاعْلَمْ حِينَ ذَاكَ أَنَّ لِفَضْلِ هَذَا الزَّمَانِ أَفْضَلُ مَا يُفْعَلُ فِيهِ أَنْ تَنْشَغِلَ بِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبِلُزُوْمِ الْمَسْجِدِ بِعِبَادَةٍ كَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ وَحَلْقَةِ قُرْآنٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُوْرِ الْفَاضِلَةِ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُمْ لَمَّا قَرَؤُوْا هَذِهِ الْآيَةَ وَهِيَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْعَصْرِ قَالَ الْمُرَادُ بِالْعَصْرِ مَا بَيْنَ الزَّوَالِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ وَهَذَا صَحِيحٌ فَقَدْ قَرَّرَ الْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ وَقْتَيْ صَلَاتَيِ النَّهَارِ وَقْتٌ وَاحِدٌ لِذَا يَجُوزُ جَمْعُهُمَا لِأَسْبَابِ الْجَمْعِ الْمُتَعَدِّدَةِ الَّتِي أَوْرَدَهَا الْعُلَمَاءُ فِي بَابِ جَمْعِ الصَّلَاةِ لِذَوِي الْأَعْذَارِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Jika kamu telah mengetahui bahwa setelah Salat Asar dilarang melakukan salat sunah,maka amalan utama apa yang disunahkan untuk dilakukan di waktu asar?Kami katakan bahwa ibadah paling utama yang dapat dikerjakan pada waktu asar ada dua: [PERTAMA]Yang pertama dari dua ibadah iniadalah berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, di antara zikir harian adalah zikir yang dibaca di dua ujung siang,yaitu di awal dan akhir siang. Akhir siang adalah pada waktu asar.Salah satu ibadah yang paling utama untuk dilakukan di hari itu,atau ibadah yang paling utama untuk dilakukan di waktu asaradalah ibadah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibadah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk ibadah utamayang khusus dilakukan pada waktu ini.Maka berusahalah untuk selalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Ketahuilah! Meskipun zikir pada waktu asar hanya sedikit, yaitu zikir sore,akan tetapi pahalanya besar. Karena orang-orang ketika itu sedang sibukDiriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibadah yang paling utama adalah ibadah di waktu harj.”Yakni ketika orang-orang sibuk dengan jual beli,dan dengan urusan duniawi. Jika ada orang yang berpaling dari mereka,lalu sibuk dengan ibadah yang disyariatkan, seperti berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla di waktu asar,maka ia telah melakukan ibadah yang paling utama. [KEDUA]Ibadah kedua yang disunahkan untuk dikerjakan di waktu asar secara khususadalah ibadah menetap di masjid. Seseorang menetap di masjid pada waktu itu untuk beribadahseperti belajar al-Quran dan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla,dan menetap di masjid untuk mempelajari ilmu dan menghadiri majelis ilmu. Ini merupakan salah satu ibadah yang utama untuk dikerjakan pada waktu tersebut.Jadi, wahai orang yang semoga mendapat taufik! Jika kamu telah mengetahui bahwa waktu asar—yang merupakan akhir siang—Allah gunakan sebagai sumpah-Nya,maka ketika itu ketahuilah bahwa keutamaan waktu ini paling utama untuk digunakan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalladan menetap di dalam masjid untuk ibadah, seperti mempelajari ilmu,mengikuti halaqah al-Quran, dan perkara-perkara utama lainnya. Diriwayatkan dari al-Hasan al-Basri dan ulama lainnyabahwa ketika mereka membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Demi waktu asar!” (QS. Al-Ashr: 1), al-Hasan al-Basri berkata, “Yang dimaksud dengan asar adalah waktu antara setelah matahari condong ke arah barat hingga terbenam.”Inilah pendapat yang benar. Para ulama fikih rahimahumullahu Ta’ala juga menetapkan bahwa waktu dua salat di siang hari (zuhur dan asar) adalah satu waktu. Oleh sebab itu, dua salat itu boleh dijamak dengan banyak sebabnya,seperti yang telah disebutkan para ulama dalam bab menjamak salat bagi orang yang punya uzur. ==== إِذَا عَلِمْتَ أَنَّ صَلَاةَ الْعَصْرِ بَعْدَهَا مَنْهِيٌّ عَنْ صَلَاةٍ نَافِلَةٍ فَمَا هُوَ الْعَمَلُ الْفَاضِلُ الَّذِي يُسْتَحَبُّ فِي وَقْتِ الْعَصْرِ؟ نَقُولُ إِنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِي وَقْتِ الْعَصْرِ عِبَادَتَانِ مُهِمَّتَانِ أُوْلَى هَاتَيْنِ الْعِبَادَتَيْنِ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مِنْ أَذْكَارِ الْيَوْمِيَّةِ هِيَ الْأَذْكَارُ الَّتِي تُقَالُ فِي طَرَفَيِ النَّهَارِ أَوَّلِ النَّهَارِ وَآخِرِهِ وَآخِرُهُ يَكُونُ الْعَصْرَ فَمِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي هَذَا الْيَوْمِ فَأَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُعْمَلُ فِي الْعَصْرِ هُوَ عِبَادَةُ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَعِبَادَةُ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْعِبَادَاتِ الْفَاضِلَةِ الَّتِي تَخْتَصُّ بِهَذَا الْوَقْتِ فَاحْرِصْ عَلَى ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاعْلَمْ أَنَّ الْعَصْرَ وَإِنْ كَانَ الذِّكْرُ فِيْهِ قَلِيْلًا وَهِيَ أَذْكَارُ الْمَسَاءِ إِلَّا أَنَّ أَجْرَهَا عَظِيمٌ لِأَجْلِ أَنَّ النَّاسَ يَكُونُونَ مُنْشَغِلِيْنَ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَفْضَلُ الْعِبَادَةِ الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ أَيْ حِينَمَا يَكُونُ النَّاسُ مُنْشَغِلِيْنَ بِالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَبِأُمُورِ الدُّنْيَا فَإِذَا انْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُمْ وَانْشَغَلَ بِعِبَادَةٍ مَشْرُوْعَةٍ كَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْعَصْرِ فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ فَعَلَ أَفْضَلَ الْعِبَادَاتِ الْعِبَادَةُ الثَّانِيَةُ الَّتِي تُسْتَحَبُّ فِي الْعَصْرِ خُصُوصًا وَهِيَ عِبَادَةُ لُزُوْمِ الْمَسَاجِدِ فَيَلْزَمُ الْمَرْءُ فِيهَا الْمَسْجِدَ لِعِبَادَةٍ كَتَعَلُّمِ الْقُرْآنِ وَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَلْزَمُ الْمَسْجِدَ بِتَعَلُّمِ الْعِلْمِ وَدُرُوْسِ الْعِلْمِ فَإِنَّ هَذَا مِنَ الْعِبَادَاتِ الْفَاضِلَةِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي هَذَا الْوَقْتِ إِذًا أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ إِذَا عَرَفْتَ أَنَّ الْعَصْرَ قَدْ أَقْسَمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ الَّذِي هُوَ آخِرُ النَّهَارِ فَاعْلَمْ حِينَ ذَاكَ أَنَّ لِفَضْلِ هَذَا الزَّمَانِ أَفْضَلُ مَا يُفْعَلُ فِيهِ أَنْ تَنْشَغِلَ بِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبِلُزُوْمِ الْمَسْجِدِ بِعِبَادَةٍ كَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ وَحَلْقَةِ قُرْآنٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُوْرِ الْفَاضِلَةِ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُمْ لَمَّا قَرَؤُوْا هَذِهِ الْآيَةَ وَهِيَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْعَصْرِ قَالَ الْمُرَادُ بِالْعَصْرِ مَا بَيْنَ الزَّوَالِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ وَهَذَا صَحِيحٌ فَقَدْ قَرَّرَ الْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ وَقْتَيْ صَلَاتَيِ النَّهَارِ وَقْتٌ وَاحِدٌ لِذَا يَجُوزُ جَمْعُهُمَا لِأَسْبَابِ الْجَمْعِ الْمُتَعَدِّدَةِ الَّتِي أَوْرَدَهَا الْعُلَمَاءُ فِي بَابِ جَمْعِ الصَّلَاةِ لِذَوِي الْأَعْذَارِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Jika kamu telah mengetahui bahwa setelah Salat Asar dilarang melakukan salat sunah,maka amalan utama apa yang disunahkan untuk dilakukan di waktu asar?Kami katakan bahwa ibadah paling utama yang dapat dikerjakan pada waktu asar ada dua: [PERTAMA]Yang pertama dari dua ibadah iniadalah berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, di antara zikir harian adalah zikir yang dibaca di dua ujung siang,yaitu di awal dan akhir siang. Akhir siang adalah pada waktu asar.Salah satu ibadah yang paling utama untuk dilakukan di hari itu,atau ibadah yang paling utama untuk dilakukan di waktu asaradalah ibadah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibadah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk ibadah utamayang khusus dilakukan pada waktu ini.Maka berusahalah untuk selalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Ketahuilah! Meskipun zikir pada waktu asar hanya sedikit, yaitu zikir sore,akan tetapi pahalanya besar. Karena orang-orang ketika itu sedang sibukDiriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibadah yang paling utama adalah ibadah di waktu harj.”Yakni ketika orang-orang sibuk dengan jual beli,dan dengan urusan duniawi. Jika ada orang yang berpaling dari mereka,lalu sibuk dengan ibadah yang disyariatkan, seperti berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla di waktu asar,maka ia telah melakukan ibadah yang paling utama. [KEDUA]Ibadah kedua yang disunahkan untuk dikerjakan di waktu asar secara khususadalah ibadah menetap di masjid. Seseorang menetap di masjid pada waktu itu untuk beribadahseperti belajar al-Quran dan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla,dan menetap di masjid untuk mempelajari ilmu dan menghadiri majelis ilmu. Ini merupakan salah satu ibadah yang utama untuk dikerjakan pada waktu tersebut.Jadi, wahai orang yang semoga mendapat taufik! Jika kamu telah mengetahui bahwa waktu asar—yang merupakan akhir siang—Allah gunakan sebagai sumpah-Nya,maka ketika itu ketahuilah bahwa keutamaan waktu ini paling utama untuk digunakan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalladan menetap di dalam masjid untuk ibadah, seperti mempelajari ilmu,mengikuti halaqah al-Quran, dan perkara-perkara utama lainnya. Diriwayatkan dari al-Hasan al-Basri dan ulama lainnyabahwa ketika mereka membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Demi waktu asar!” (QS. Al-Ashr: 1), al-Hasan al-Basri berkata, “Yang dimaksud dengan asar adalah waktu antara setelah matahari condong ke arah barat hingga terbenam.”Inilah pendapat yang benar. Para ulama fikih rahimahumullahu Ta’ala juga menetapkan bahwa waktu dua salat di siang hari (zuhur dan asar) adalah satu waktu. Oleh sebab itu, dua salat itu boleh dijamak dengan banyak sebabnya,seperti yang telah disebutkan para ulama dalam bab menjamak salat bagi orang yang punya uzur. ==== إِذَا عَلِمْتَ أَنَّ صَلَاةَ الْعَصْرِ بَعْدَهَا مَنْهِيٌّ عَنْ صَلَاةٍ نَافِلَةٍ فَمَا هُوَ الْعَمَلُ الْفَاضِلُ الَّذِي يُسْتَحَبُّ فِي وَقْتِ الْعَصْرِ؟ نَقُولُ إِنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِي وَقْتِ الْعَصْرِ عِبَادَتَانِ مُهِمَّتَانِ أُوْلَى هَاتَيْنِ الْعِبَادَتَيْنِ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مِنْ أَذْكَارِ الْيَوْمِيَّةِ هِيَ الْأَذْكَارُ الَّتِي تُقَالُ فِي طَرَفَيِ النَّهَارِ أَوَّلِ النَّهَارِ وَآخِرِهِ وَآخِرُهُ يَكُونُ الْعَصْرَ فَمِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي هَذَا الْيَوْمِ فَأَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُعْمَلُ فِي الْعَصْرِ هُوَ عِبَادَةُ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَعِبَادَةُ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْعِبَادَاتِ الْفَاضِلَةِ الَّتِي تَخْتَصُّ بِهَذَا الْوَقْتِ فَاحْرِصْ عَلَى ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاعْلَمْ أَنَّ الْعَصْرَ وَإِنْ كَانَ الذِّكْرُ فِيْهِ قَلِيْلًا وَهِيَ أَذْكَارُ الْمَسَاءِ إِلَّا أَنَّ أَجْرَهَا عَظِيمٌ لِأَجْلِ أَنَّ النَّاسَ يَكُونُونَ مُنْشَغِلِيْنَ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَفْضَلُ الْعِبَادَةِ الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ أَيْ حِينَمَا يَكُونُ النَّاسُ مُنْشَغِلِيْنَ بِالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَبِأُمُورِ الدُّنْيَا فَإِذَا انْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُمْ وَانْشَغَلَ بِعِبَادَةٍ مَشْرُوْعَةٍ كَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْعَصْرِ فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ فَعَلَ أَفْضَلَ الْعِبَادَاتِ الْعِبَادَةُ الثَّانِيَةُ الَّتِي تُسْتَحَبُّ فِي الْعَصْرِ خُصُوصًا وَهِيَ عِبَادَةُ لُزُوْمِ الْمَسَاجِدِ فَيَلْزَمُ الْمَرْءُ فِيهَا الْمَسْجِدَ لِعِبَادَةٍ كَتَعَلُّمِ الْقُرْآنِ وَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَلْزَمُ الْمَسْجِدَ بِتَعَلُّمِ الْعِلْمِ وَدُرُوْسِ الْعِلْمِ فَإِنَّ هَذَا مِنَ الْعِبَادَاتِ الْفَاضِلَةِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي هَذَا الْوَقْتِ إِذًا أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ إِذَا عَرَفْتَ أَنَّ الْعَصْرَ قَدْ أَقْسَمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ الَّذِي هُوَ آخِرُ النَّهَارِ فَاعْلَمْ حِينَ ذَاكَ أَنَّ لِفَضْلِ هَذَا الزَّمَانِ أَفْضَلُ مَا يُفْعَلُ فِيهِ أَنْ تَنْشَغِلَ بِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبِلُزُوْمِ الْمَسْجِدِ بِعِبَادَةٍ كَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ وَحَلْقَةِ قُرْآنٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُوْرِ الْفَاضِلَةِ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُمْ لَمَّا قَرَؤُوْا هَذِهِ الْآيَةَ وَهِيَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْعَصْرِ قَالَ الْمُرَادُ بِالْعَصْرِ مَا بَيْنَ الزَّوَالِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ وَهَذَا صَحِيحٌ فَقَدْ قَرَّرَ الْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ وَقْتَيْ صَلَاتَيِ النَّهَارِ وَقْتٌ وَاحِدٌ لِذَا يَجُوزُ جَمْعُهُمَا لِأَسْبَابِ الْجَمْعِ الْمُتَعَدِّدَةِ الَّتِي أَوْرَدَهَا الْعُلَمَاءُ فِي بَابِ جَمْعِ الصَّلَاةِ لِذَوِي الْأَعْذَارِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Serial Fiqih Pendidikan Anak No. 174: Keteladanan dan Doa

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MARata-rata orang tua mengeluhkan betapa sulitnya mendidik anak di zaman ini. Begitu banyak tantangan, rintangan dan godaan yang menghadang. Kecanduan gadget, pertemanan di dunia nyata dan maya yang sulit dikontrol, tontonan yang merusak dan masih banyak faktor lain yang membuat sebagian orang tua pusing tujuh keliling. Bahkan tidak sedikit yang frustasi, menyerah dan putus asa. Lalu membiarkan putra-putrinya tumbuh dalam kondisi perilaku yang memprihatinkan.Padahal karakter dasar mukmin itu pantang menyerah. Sebab ia yakin bahwa ujian yang ditimpakan oleh Allah tidak akan pernah melebihi kemampuannya. Ia juga yakin bahwa ia memiliki Allah yang selalu berkenan untuk menolongnya.Seorang ulama besar Saudi; Syaikh Abdullah al-Ghudayyan rahimahullah, pernah ditanya oleh putrinya. Bagaimana cara mendidik anak di kondisi berat seperti zaman ini? Beliau menjawab, “Dengan keteladanan dan doa”. Ini adalah jawaban yang memuat inti pola pendidikan anak yang ideal. Sekedar banyak teori pendidikan, tanpa adanya keteladanan dan doa, bakalan mandul.Pertama: KeteladananBukan hanya anak kecil, manusia secara umum punya sifat dasar suka meniru. Maka pola pendidikan ideal adalah dengan memberikan keteladanan yang baik. Sebab otomatis hal itu akan ditiru oleh anak. Orang tualah yang paling bertanggungjawab untuk memberikan keteladanan tersebut.Orang tua harus mencontohkan:– Ketawakalan yang tinggi kepada Allah dalam menghadapi setiap masalah hidup.– Selalu menunaikan lima shalat fardhu tepat pada waktunya.– Menjaga ucapan lisannya, agar tidak keluar kata-kata yang tak pantas.– Menundukkan nafsunya agar terlepas dari kecanduan gadget.– Tidak membuang waktu untuk menonton acara televisi yang tak ada manfaatnya.– Senantiasa rutin membaca al-Qur’an dan dzikir pagi-petang.Jika itu dan kebaikan lainnya diterapkan secara konsisten oleh orang tua, niscaya dengan sendirinya, anak akan meniru hal-hal positif tadi insyaAllah.Kedua: DoaSangat banyak dan beragamnya rintangan di jalan pendidikan anak, akan terasa ringan, bila kita ditolong oleh Allah ta’ala. Agar bisa mendapatkan pertolongan tersebut, kita harus rutin berdoa kepada-Nya. Kita terlampau sering mengandalkan upaya sendiri. Merasa bisa dan telah melakukan usaha ini dan itu. Namun kita lupa bahwa yang memiliki kekuasaan mutlak untuk mengendalikan segala sesuatu di alam semesta ini adalah Allah.Hanya Allah yang kuasa untuk melembutkan hati anak kita dan hati seluruh manusia. Hanya Dia yang mampu untuk memberikan hidayah. Hanya Dia yang bisa mengubah perilaku anak kita. Hanya Dia yang kuasa untuk membebaskan anak kita dari kecanduan gadget dan kebiasaan buruk lainnya. Maka bersimpuhlah, menghibalah, merintihlah, berdoalah secara terus menerus kepada Allah; agar menjadikan putra-putri kita salih dan salihah.Konsisten untuk memberikan keteladanan dan senantiasa rutin berdoa, memang membutuhkan perjuangan. Terkadang kita dilanda rasa letih, kebosanan dan kejenuhan. Namun yakinlah bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha. Perjuangan berat dan pengorbanan waktu, tenaga, harta dan pikiran kita dalam mendidik anak, niscaya akan terbayar lunas. Bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat kelak. Optimislah!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 4 Jumadal Ula 1444 / 28 Nopember 2022

Serial Fiqih Pendidikan Anak No. 174: Keteladanan dan Doa

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MARata-rata orang tua mengeluhkan betapa sulitnya mendidik anak di zaman ini. Begitu banyak tantangan, rintangan dan godaan yang menghadang. Kecanduan gadget, pertemanan di dunia nyata dan maya yang sulit dikontrol, tontonan yang merusak dan masih banyak faktor lain yang membuat sebagian orang tua pusing tujuh keliling. Bahkan tidak sedikit yang frustasi, menyerah dan putus asa. Lalu membiarkan putra-putrinya tumbuh dalam kondisi perilaku yang memprihatinkan.Padahal karakter dasar mukmin itu pantang menyerah. Sebab ia yakin bahwa ujian yang ditimpakan oleh Allah tidak akan pernah melebihi kemampuannya. Ia juga yakin bahwa ia memiliki Allah yang selalu berkenan untuk menolongnya.Seorang ulama besar Saudi; Syaikh Abdullah al-Ghudayyan rahimahullah, pernah ditanya oleh putrinya. Bagaimana cara mendidik anak di kondisi berat seperti zaman ini? Beliau menjawab, “Dengan keteladanan dan doa”. Ini adalah jawaban yang memuat inti pola pendidikan anak yang ideal. Sekedar banyak teori pendidikan, tanpa adanya keteladanan dan doa, bakalan mandul.Pertama: KeteladananBukan hanya anak kecil, manusia secara umum punya sifat dasar suka meniru. Maka pola pendidikan ideal adalah dengan memberikan keteladanan yang baik. Sebab otomatis hal itu akan ditiru oleh anak. Orang tualah yang paling bertanggungjawab untuk memberikan keteladanan tersebut.Orang tua harus mencontohkan:– Ketawakalan yang tinggi kepada Allah dalam menghadapi setiap masalah hidup.– Selalu menunaikan lima shalat fardhu tepat pada waktunya.– Menjaga ucapan lisannya, agar tidak keluar kata-kata yang tak pantas.– Menundukkan nafsunya agar terlepas dari kecanduan gadget.– Tidak membuang waktu untuk menonton acara televisi yang tak ada manfaatnya.– Senantiasa rutin membaca al-Qur’an dan dzikir pagi-petang.Jika itu dan kebaikan lainnya diterapkan secara konsisten oleh orang tua, niscaya dengan sendirinya, anak akan meniru hal-hal positif tadi insyaAllah.Kedua: DoaSangat banyak dan beragamnya rintangan di jalan pendidikan anak, akan terasa ringan, bila kita ditolong oleh Allah ta’ala. Agar bisa mendapatkan pertolongan tersebut, kita harus rutin berdoa kepada-Nya. Kita terlampau sering mengandalkan upaya sendiri. Merasa bisa dan telah melakukan usaha ini dan itu. Namun kita lupa bahwa yang memiliki kekuasaan mutlak untuk mengendalikan segala sesuatu di alam semesta ini adalah Allah.Hanya Allah yang kuasa untuk melembutkan hati anak kita dan hati seluruh manusia. Hanya Dia yang mampu untuk memberikan hidayah. Hanya Dia yang bisa mengubah perilaku anak kita. Hanya Dia yang kuasa untuk membebaskan anak kita dari kecanduan gadget dan kebiasaan buruk lainnya. Maka bersimpuhlah, menghibalah, merintihlah, berdoalah secara terus menerus kepada Allah; agar menjadikan putra-putri kita salih dan salihah.Konsisten untuk memberikan keteladanan dan senantiasa rutin berdoa, memang membutuhkan perjuangan. Terkadang kita dilanda rasa letih, kebosanan dan kejenuhan. Namun yakinlah bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha. Perjuangan berat dan pengorbanan waktu, tenaga, harta dan pikiran kita dalam mendidik anak, niscaya akan terbayar lunas. Bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat kelak. Optimislah!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 4 Jumadal Ula 1444 / 28 Nopember 2022
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MARata-rata orang tua mengeluhkan betapa sulitnya mendidik anak di zaman ini. Begitu banyak tantangan, rintangan dan godaan yang menghadang. Kecanduan gadget, pertemanan di dunia nyata dan maya yang sulit dikontrol, tontonan yang merusak dan masih banyak faktor lain yang membuat sebagian orang tua pusing tujuh keliling. Bahkan tidak sedikit yang frustasi, menyerah dan putus asa. Lalu membiarkan putra-putrinya tumbuh dalam kondisi perilaku yang memprihatinkan.Padahal karakter dasar mukmin itu pantang menyerah. Sebab ia yakin bahwa ujian yang ditimpakan oleh Allah tidak akan pernah melebihi kemampuannya. Ia juga yakin bahwa ia memiliki Allah yang selalu berkenan untuk menolongnya.Seorang ulama besar Saudi; Syaikh Abdullah al-Ghudayyan rahimahullah, pernah ditanya oleh putrinya. Bagaimana cara mendidik anak di kondisi berat seperti zaman ini? Beliau menjawab, “Dengan keteladanan dan doa”. Ini adalah jawaban yang memuat inti pola pendidikan anak yang ideal. Sekedar banyak teori pendidikan, tanpa adanya keteladanan dan doa, bakalan mandul.Pertama: KeteladananBukan hanya anak kecil, manusia secara umum punya sifat dasar suka meniru. Maka pola pendidikan ideal adalah dengan memberikan keteladanan yang baik. Sebab otomatis hal itu akan ditiru oleh anak. Orang tualah yang paling bertanggungjawab untuk memberikan keteladanan tersebut.Orang tua harus mencontohkan:– Ketawakalan yang tinggi kepada Allah dalam menghadapi setiap masalah hidup.– Selalu menunaikan lima shalat fardhu tepat pada waktunya.– Menjaga ucapan lisannya, agar tidak keluar kata-kata yang tak pantas.– Menundukkan nafsunya agar terlepas dari kecanduan gadget.– Tidak membuang waktu untuk menonton acara televisi yang tak ada manfaatnya.– Senantiasa rutin membaca al-Qur’an dan dzikir pagi-petang.Jika itu dan kebaikan lainnya diterapkan secara konsisten oleh orang tua, niscaya dengan sendirinya, anak akan meniru hal-hal positif tadi insyaAllah.Kedua: DoaSangat banyak dan beragamnya rintangan di jalan pendidikan anak, akan terasa ringan, bila kita ditolong oleh Allah ta’ala. Agar bisa mendapatkan pertolongan tersebut, kita harus rutin berdoa kepada-Nya. Kita terlampau sering mengandalkan upaya sendiri. Merasa bisa dan telah melakukan usaha ini dan itu. Namun kita lupa bahwa yang memiliki kekuasaan mutlak untuk mengendalikan segala sesuatu di alam semesta ini adalah Allah.Hanya Allah yang kuasa untuk melembutkan hati anak kita dan hati seluruh manusia. Hanya Dia yang mampu untuk memberikan hidayah. Hanya Dia yang bisa mengubah perilaku anak kita. Hanya Dia yang kuasa untuk membebaskan anak kita dari kecanduan gadget dan kebiasaan buruk lainnya. Maka bersimpuhlah, menghibalah, merintihlah, berdoalah secara terus menerus kepada Allah; agar menjadikan putra-putri kita salih dan salihah.Konsisten untuk memberikan keteladanan dan senantiasa rutin berdoa, memang membutuhkan perjuangan. Terkadang kita dilanda rasa letih, kebosanan dan kejenuhan. Namun yakinlah bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha. Perjuangan berat dan pengorbanan waktu, tenaga, harta dan pikiran kita dalam mendidik anak, niscaya akan terbayar lunas. Bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat kelak. Optimislah!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 4 Jumadal Ula 1444 / 28 Nopember 2022


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MARata-rata orang tua mengeluhkan betapa sulitnya mendidik anak di zaman ini. Begitu banyak tantangan, rintangan dan godaan yang menghadang. Kecanduan gadget, pertemanan di dunia nyata dan maya yang sulit dikontrol, tontonan yang merusak dan masih banyak faktor lain yang membuat sebagian orang tua pusing tujuh keliling. Bahkan tidak sedikit yang frustasi, menyerah dan putus asa. Lalu membiarkan putra-putrinya tumbuh dalam kondisi perilaku yang memprihatinkan.Padahal karakter dasar mukmin itu pantang menyerah. Sebab ia yakin bahwa ujian yang ditimpakan oleh Allah tidak akan pernah melebihi kemampuannya. Ia juga yakin bahwa ia memiliki Allah yang selalu berkenan untuk menolongnya.Seorang ulama besar Saudi; Syaikh Abdullah al-Ghudayyan rahimahullah, pernah ditanya oleh putrinya. Bagaimana cara mendidik anak di kondisi berat seperti zaman ini? Beliau menjawab, “Dengan keteladanan dan doa”. Ini adalah jawaban yang memuat inti pola pendidikan anak yang ideal. Sekedar banyak teori pendidikan, tanpa adanya keteladanan dan doa, bakalan mandul.Pertama: KeteladananBukan hanya anak kecil, manusia secara umum punya sifat dasar suka meniru. Maka pola pendidikan ideal adalah dengan memberikan keteladanan yang baik. Sebab otomatis hal itu akan ditiru oleh anak. Orang tualah yang paling bertanggungjawab untuk memberikan keteladanan tersebut.Orang tua harus mencontohkan:– Ketawakalan yang tinggi kepada Allah dalam menghadapi setiap masalah hidup.– Selalu menunaikan lima shalat fardhu tepat pada waktunya.– Menjaga ucapan lisannya, agar tidak keluar kata-kata yang tak pantas.– Menundukkan nafsunya agar terlepas dari kecanduan gadget.– Tidak membuang waktu untuk menonton acara televisi yang tak ada manfaatnya.– Senantiasa rutin membaca al-Qur’an dan dzikir pagi-petang.Jika itu dan kebaikan lainnya diterapkan secara konsisten oleh orang tua, niscaya dengan sendirinya, anak akan meniru hal-hal positif tadi insyaAllah.Kedua: DoaSangat banyak dan beragamnya rintangan di jalan pendidikan anak, akan terasa ringan, bila kita ditolong oleh Allah ta’ala. Agar bisa mendapatkan pertolongan tersebut, kita harus rutin berdoa kepada-Nya. Kita terlampau sering mengandalkan upaya sendiri. Merasa bisa dan telah melakukan usaha ini dan itu. Namun kita lupa bahwa yang memiliki kekuasaan mutlak untuk mengendalikan segala sesuatu di alam semesta ini adalah Allah.Hanya Allah yang kuasa untuk melembutkan hati anak kita dan hati seluruh manusia. Hanya Dia yang mampu untuk memberikan hidayah. Hanya Dia yang bisa mengubah perilaku anak kita. Hanya Dia yang kuasa untuk membebaskan anak kita dari kecanduan gadget dan kebiasaan buruk lainnya. Maka bersimpuhlah, menghibalah, merintihlah, berdoalah secara terus menerus kepada Allah; agar menjadikan putra-putri kita salih dan salihah.Konsisten untuk memberikan keteladanan dan senantiasa rutin berdoa, memang membutuhkan perjuangan. Terkadang kita dilanda rasa letih, kebosanan dan kejenuhan. Namun yakinlah bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha. Perjuangan berat dan pengorbanan waktu, tenaga, harta dan pikiran kita dalam mendidik anak, niscaya akan terbayar lunas. Bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat kelak. Optimislah!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 4 Jumadal Ula 1444 / 28 Nopember 2022

Harga Diri

Kehormatan dan harga diri dijaga bukan dengan kesombongan. Namun dijaga dengan menghindari minta-minta.Berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan bekerja keras, adalah sarana agar kita tidak menjadi beban orang lain.Berdagang, beternak, bertani dan yang semisal, jauh lebih mulia dibanding mengandalkan belas kasihan orang lain.“Semua nabi yang diutus Allah pernah menggembala kambing”. HR. Bukhari.Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.

Harga Diri

Kehormatan dan harga diri dijaga bukan dengan kesombongan. Namun dijaga dengan menghindari minta-minta.Berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan bekerja keras, adalah sarana agar kita tidak menjadi beban orang lain.Berdagang, beternak, bertani dan yang semisal, jauh lebih mulia dibanding mengandalkan belas kasihan orang lain.“Semua nabi yang diutus Allah pernah menggembala kambing”. HR. Bukhari.Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.
Kehormatan dan harga diri dijaga bukan dengan kesombongan. Namun dijaga dengan menghindari minta-minta.Berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan bekerja keras, adalah sarana agar kita tidak menjadi beban orang lain.Berdagang, beternak, bertani dan yang semisal, jauh lebih mulia dibanding mengandalkan belas kasihan orang lain.“Semua nabi yang diutus Allah pernah menggembala kambing”. HR. Bukhari.Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.


Kehormatan dan harga diri dijaga bukan dengan kesombongan. Namun dijaga dengan menghindari minta-minta.Berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan bekerja keras, adalah sarana agar kita tidak menjadi beban orang lain.Berdagang, beternak, bertani dan yang semisal, jauh lebih mulia dibanding mengandalkan belas kasihan orang lain.“Semua nabi yang diutus Allah pernah menggembala kambing”. HR. Bukhari.Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.

Fatwa Ulama: Lebih Utama Berdoa Sendiri atau Meminta Doa Orang Lain?

Fatwa Syekh Shalih Al-Fauzan Pertanyaan:Fadhilatus Syaikh, semoga Allah memberi anda taufik, apakah lebih utama seseorang berdoa sendiri kepada Allah ataukah meminta orang lain agar mendoakan kita?Jawaban:Lebih utama anda berdoa langsung kepada Allah. Karena doa adalah ibadah. Anda beribadah kepada Allah dengan cara berdoa, sehingga hal itu lebih baik daripada meminta doa orang lain.Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa meminta doa kepada orang lain, di dalamnya terdapat perasaan butuh kepada makhluk dan terdapat unsur perendahan diri kepada makhluk. Maka, hendaknya kita tidak merasa butuh kepada selain Allah dan mintalah kepada Allah. Itulah yang lebih utama dan lebih baik.Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta doanya Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu itu dalam rangka memuliakan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Oleh karena itu, Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu senang akan hal itu, karena beliau mendapatkan kemuliaan.Sumber:https://www.youtube.com/watch?v=B5OQHZjjlkU Baca Juga:Doa Sebelum TidurDoa Setelah Azan ***Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Istiwa Adalah, Hukum Bermain Musik Dalam Islam, Kehidupan Yang Hanya Mementingkan Akhirat Disebut, Bacaan Sholat Sunat RawatibTags: adabadab doado'adoa mustajabDzikirfatwaFatwa Ulamafikihfikih foakeutamaan doanasihatnasihat islampanduan doatata cara doa

Fatwa Ulama: Lebih Utama Berdoa Sendiri atau Meminta Doa Orang Lain?

Fatwa Syekh Shalih Al-Fauzan Pertanyaan:Fadhilatus Syaikh, semoga Allah memberi anda taufik, apakah lebih utama seseorang berdoa sendiri kepada Allah ataukah meminta orang lain agar mendoakan kita?Jawaban:Lebih utama anda berdoa langsung kepada Allah. Karena doa adalah ibadah. Anda beribadah kepada Allah dengan cara berdoa, sehingga hal itu lebih baik daripada meminta doa orang lain.Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa meminta doa kepada orang lain, di dalamnya terdapat perasaan butuh kepada makhluk dan terdapat unsur perendahan diri kepada makhluk. Maka, hendaknya kita tidak merasa butuh kepada selain Allah dan mintalah kepada Allah. Itulah yang lebih utama dan lebih baik.Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta doanya Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu itu dalam rangka memuliakan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Oleh karena itu, Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu senang akan hal itu, karena beliau mendapatkan kemuliaan.Sumber:https://www.youtube.com/watch?v=B5OQHZjjlkU Baca Juga:Doa Sebelum TidurDoa Setelah Azan ***Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Istiwa Adalah, Hukum Bermain Musik Dalam Islam, Kehidupan Yang Hanya Mementingkan Akhirat Disebut, Bacaan Sholat Sunat RawatibTags: adabadab doado'adoa mustajabDzikirfatwaFatwa Ulamafikihfikih foakeutamaan doanasihatnasihat islampanduan doatata cara doa
Fatwa Syekh Shalih Al-Fauzan Pertanyaan:Fadhilatus Syaikh, semoga Allah memberi anda taufik, apakah lebih utama seseorang berdoa sendiri kepada Allah ataukah meminta orang lain agar mendoakan kita?Jawaban:Lebih utama anda berdoa langsung kepada Allah. Karena doa adalah ibadah. Anda beribadah kepada Allah dengan cara berdoa, sehingga hal itu lebih baik daripada meminta doa orang lain.Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa meminta doa kepada orang lain, di dalamnya terdapat perasaan butuh kepada makhluk dan terdapat unsur perendahan diri kepada makhluk. Maka, hendaknya kita tidak merasa butuh kepada selain Allah dan mintalah kepada Allah. Itulah yang lebih utama dan lebih baik.Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta doanya Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu itu dalam rangka memuliakan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Oleh karena itu, Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu senang akan hal itu, karena beliau mendapatkan kemuliaan.Sumber:https://www.youtube.com/watch?v=B5OQHZjjlkU Baca Juga:Doa Sebelum TidurDoa Setelah Azan ***Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Istiwa Adalah, Hukum Bermain Musik Dalam Islam, Kehidupan Yang Hanya Mementingkan Akhirat Disebut, Bacaan Sholat Sunat RawatibTags: adabadab doado'adoa mustajabDzikirfatwaFatwa Ulamafikihfikih foakeutamaan doanasihatnasihat islampanduan doatata cara doa


Fatwa Syekh Shalih Al-Fauzan Pertanyaan:Fadhilatus Syaikh, semoga Allah memberi anda taufik, apakah lebih utama seseorang berdoa sendiri kepada Allah ataukah meminta orang lain agar mendoakan kita?Jawaban:Lebih utama anda berdoa langsung kepada Allah. Karena doa adalah ibadah. Anda beribadah kepada Allah dengan cara berdoa, sehingga hal itu lebih baik daripada meminta doa orang lain.Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa meminta doa kepada orang lain, di dalamnya terdapat perasaan butuh kepada makhluk dan terdapat unsur perendahan diri kepada makhluk. Maka, hendaknya kita tidak merasa butuh kepada selain Allah dan mintalah kepada Allah. Itulah yang lebih utama dan lebih baik.Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta doanya Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu itu dalam rangka memuliakan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Oleh karena itu, Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu senang akan hal itu, karena beliau mendapatkan kemuliaan.Sumber:https://www.youtube.com/watch?v=B5OQHZjjlkU Baca Juga:Doa Sebelum TidurDoa Setelah Azan ***Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Istiwa Adalah, Hukum Bermain Musik Dalam Islam, Kehidupan Yang Hanya Mementingkan Akhirat Disebut, Bacaan Sholat Sunat RawatibTags: adabadab doado'adoa mustajabDzikirfatwaFatwa Ulamafikihfikih foakeutamaan doanasihatnasihat islampanduan doatata cara doa

Benarkah Malaikat Maut Memandang Wajah Manusia 70 Kali Sehari?

Pertanyaan: Saya mendapat postingan, “Malaikat maut melihat wajahmu 70 kali dalam sehari, saat kamu tidur Malaikat maut berkata, “hai cantik suatu saat nanti kau ikut bersamaku ke tempat yang paling indah. Syaratnya hanya 1, rajin ibadah. Tapi Allah belum mengizinkanku untuk membawamu”. Allah berkata, “’Wahai Izrail suatu saat nanti kau bisa mengembalikannya kepada-Ku, karena dia adalah milik-Ku””. Apakah tulisan ini benar? (Arifa Yauma Rahmadani) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Tulisan tersebut tidaklah benar, karena didasari oleh sebuah hadits palsu. Yaitu hadits yang berbunyi: إن ملك الموت لينظر في وجوه العباد كل يوم سبعين نظرة، فإذا ضحك العبد الذي بعث إليه يقول: يا عجبا، بعثت إليه لأقبض روحه وهو يضحك “Sesungguhnya Malaikat maut memandang wajah para hamba setiap hari 70 kali. Ketika manusia tertawa, Malaikat maut yang diutus itu pun berkata: Sungguh aneh dia, aku diutus untuk mencabut ruhnya, sedangkan ia masih sempat tertawa”. Riwayat ini diriwayatkan al-Qurthubi dalam kitab at-Tadzkirah bi Ahwalil Mauta (hal. 264), juga as-Suyuthi dalam kitab Jam’ul Jawami’ juga. Ibnu ‘Arraq al-Kinani menyebutkan hadits ini sebagai salah satu hadits maudhu’ (hadits palsu) dalam kitab beliau, Tanzih asy-Syari’ah al-Marfu’ah ‘anisy Syani’ah al-Maudhu’ah. Karena terdapat perawi bernama Ibrahim bin Hadbah bin Basyir al-Wasithi yang merupakan perawi yang kadzab (pendusta). Maka tidak boleh meyakininya serta tidak boleh menyebarkannya. Karena Nabi shallalalhu’alaihi wa sallam bersabda: مَن حَدَّثَ عني بحديثٍ وهو يرى أنه كذبٌ فهو أحدُ الكاذبين “Barang siapa menyampaikan hadits dariku, dan ia menyangka hadits tersebut dusta, maka ia salah satu dari dua pendusta” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, At Tirmidzi no. 2662). Beliau juga bersabda: كفى بالمرءِ إثمًا أن يُحدِّثَ بكلِّ ما سمِع “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendosa jika ia menyampaikan setiap yang ia dengar” (HR. Muslim no. 5). Demikian juga penyebutan nama Malaikat maut dengan nama “Izrail” adalah hal yang tidak didasari oleh dalil yang shahih sama sekali, walaupun itu disebutkan oleh sebagian ulama. Syaikh Umar Sulaiman al-Asyqar mengatakan, “Terdapat beberapa atsar tentang penyebutan Malaikat maut dengan nama Izrail. Namun nama ini tidak terdapat sama sekali di dalam al-Qur’an, demikian tidak terdapat dalam hadits-hadits yang shahih” (Al-Madkhal ila Dirasatil Aqidah al-Islamiyah, hal. 175). Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Telinga Kiri Berdenging Menurut Islam, Dzikir Pengusir Jin, Doa Setelah Mengaji Al Quran, Bersentuhan Dengan Siapa Saja Yang Membatalkan Wudhu, Kehidupan Di Alam Kubur Menurut Rasulullah, Cara Bertemu Nabi Khidir Dalam Mimpi Visited 1,069 times, 1 visit(s) today Post Views: 611 QRIS donasi Yufid

Benarkah Malaikat Maut Memandang Wajah Manusia 70 Kali Sehari?

Pertanyaan: Saya mendapat postingan, “Malaikat maut melihat wajahmu 70 kali dalam sehari, saat kamu tidur Malaikat maut berkata, “hai cantik suatu saat nanti kau ikut bersamaku ke tempat yang paling indah. Syaratnya hanya 1, rajin ibadah. Tapi Allah belum mengizinkanku untuk membawamu”. Allah berkata, “’Wahai Izrail suatu saat nanti kau bisa mengembalikannya kepada-Ku, karena dia adalah milik-Ku””. Apakah tulisan ini benar? (Arifa Yauma Rahmadani) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Tulisan tersebut tidaklah benar, karena didasari oleh sebuah hadits palsu. Yaitu hadits yang berbunyi: إن ملك الموت لينظر في وجوه العباد كل يوم سبعين نظرة، فإذا ضحك العبد الذي بعث إليه يقول: يا عجبا، بعثت إليه لأقبض روحه وهو يضحك “Sesungguhnya Malaikat maut memandang wajah para hamba setiap hari 70 kali. Ketika manusia tertawa, Malaikat maut yang diutus itu pun berkata: Sungguh aneh dia, aku diutus untuk mencabut ruhnya, sedangkan ia masih sempat tertawa”. Riwayat ini diriwayatkan al-Qurthubi dalam kitab at-Tadzkirah bi Ahwalil Mauta (hal. 264), juga as-Suyuthi dalam kitab Jam’ul Jawami’ juga. Ibnu ‘Arraq al-Kinani menyebutkan hadits ini sebagai salah satu hadits maudhu’ (hadits palsu) dalam kitab beliau, Tanzih asy-Syari’ah al-Marfu’ah ‘anisy Syani’ah al-Maudhu’ah. Karena terdapat perawi bernama Ibrahim bin Hadbah bin Basyir al-Wasithi yang merupakan perawi yang kadzab (pendusta). Maka tidak boleh meyakininya serta tidak boleh menyebarkannya. Karena Nabi shallalalhu’alaihi wa sallam bersabda: مَن حَدَّثَ عني بحديثٍ وهو يرى أنه كذبٌ فهو أحدُ الكاذبين “Barang siapa menyampaikan hadits dariku, dan ia menyangka hadits tersebut dusta, maka ia salah satu dari dua pendusta” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, At Tirmidzi no. 2662). Beliau juga bersabda: كفى بالمرءِ إثمًا أن يُحدِّثَ بكلِّ ما سمِع “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendosa jika ia menyampaikan setiap yang ia dengar” (HR. Muslim no. 5). Demikian juga penyebutan nama Malaikat maut dengan nama “Izrail” adalah hal yang tidak didasari oleh dalil yang shahih sama sekali, walaupun itu disebutkan oleh sebagian ulama. Syaikh Umar Sulaiman al-Asyqar mengatakan, “Terdapat beberapa atsar tentang penyebutan Malaikat maut dengan nama Izrail. Namun nama ini tidak terdapat sama sekali di dalam al-Qur’an, demikian tidak terdapat dalam hadits-hadits yang shahih” (Al-Madkhal ila Dirasatil Aqidah al-Islamiyah, hal. 175). Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Telinga Kiri Berdenging Menurut Islam, Dzikir Pengusir Jin, Doa Setelah Mengaji Al Quran, Bersentuhan Dengan Siapa Saja Yang Membatalkan Wudhu, Kehidupan Di Alam Kubur Menurut Rasulullah, Cara Bertemu Nabi Khidir Dalam Mimpi Visited 1,069 times, 1 visit(s) today Post Views: 611 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Saya mendapat postingan, “Malaikat maut melihat wajahmu 70 kali dalam sehari, saat kamu tidur Malaikat maut berkata, “hai cantik suatu saat nanti kau ikut bersamaku ke tempat yang paling indah. Syaratnya hanya 1, rajin ibadah. Tapi Allah belum mengizinkanku untuk membawamu”. Allah berkata, “’Wahai Izrail suatu saat nanti kau bisa mengembalikannya kepada-Ku, karena dia adalah milik-Ku””. Apakah tulisan ini benar? (Arifa Yauma Rahmadani) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Tulisan tersebut tidaklah benar, karena didasari oleh sebuah hadits palsu. Yaitu hadits yang berbunyi: إن ملك الموت لينظر في وجوه العباد كل يوم سبعين نظرة، فإذا ضحك العبد الذي بعث إليه يقول: يا عجبا، بعثت إليه لأقبض روحه وهو يضحك “Sesungguhnya Malaikat maut memandang wajah para hamba setiap hari 70 kali. Ketika manusia tertawa, Malaikat maut yang diutus itu pun berkata: Sungguh aneh dia, aku diutus untuk mencabut ruhnya, sedangkan ia masih sempat tertawa”. Riwayat ini diriwayatkan al-Qurthubi dalam kitab at-Tadzkirah bi Ahwalil Mauta (hal. 264), juga as-Suyuthi dalam kitab Jam’ul Jawami’ juga. Ibnu ‘Arraq al-Kinani menyebutkan hadits ini sebagai salah satu hadits maudhu’ (hadits palsu) dalam kitab beliau, Tanzih asy-Syari’ah al-Marfu’ah ‘anisy Syani’ah al-Maudhu’ah. Karena terdapat perawi bernama Ibrahim bin Hadbah bin Basyir al-Wasithi yang merupakan perawi yang kadzab (pendusta). Maka tidak boleh meyakininya serta tidak boleh menyebarkannya. Karena Nabi shallalalhu’alaihi wa sallam bersabda: مَن حَدَّثَ عني بحديثٍ وهو يرى أنه كذبٌ فهو أحدُ الكاذبين “Barang siapa menyampaikan hadits dariku, dan ia menyangka hadits tersebut dusta, maka ia salah satu dari dua pendusta” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, At Tirmidzi no. 2662). Beliau juga bersabda: كفى بالمرءِ إثمًا أن يُحدِّثَ بكلِّ ما سمِع “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendosa jika ia menyampaikan setiap yang ia dengar” (HR. Muslim no. 5). Demikian juga penyebutan nama Malaikat maut dengan nama “Izrail” adalah hal yang tidak didasari oleh dalil yang shahih sama sekali, walaupun itu disebutkan oleh sebagian ulama. Syaikh Umar Sulaiman al-Asyqar mengatakan, “Terdapat beberapa atsar tentang penyebutan Malaikat maut dengan nama Izrail. Namun nama ini tidak terdapat sama sekali di dalam al-Qur’an, demikian tidak terdapat dalam hadits-hadits yang shahih” (Al-Madkhal ila Dirasatil Aqidah al-Islamiyah, hal. 175). Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Telinga Kiri Berdenging Menurut Islam, Dzikir Pengusir Jin, Doa Setelah Mengaji Al Quran, Bersentuhan Dengan Siapa Saja Yang Membatalkan Wudhu, Kehidupan Di Alam Kubur Menurut Rasulullah, Cara Bertemu Nabi Khidir Dalam Mimpi Visited 1,069 times, 1 visit(s) today Post Views: 611 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1414646974&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Saya mendapat postingan, “Malaikat maut melihat wajahmu 70 kali dalam sehari, saat kamu tidur Malaikat maut berkata, “hai cantik suatu saat nanti kau ikut bersamaku ke tempat yang paling indah. Syaratnya hanya 1, rajin ibadah. Tapi Allah belum mengizinkanku untuk membawamu”. Allah berkata, “’Wahai Izrail suatu saat nanti kau bisa mengembalikannya kepada-Ku, karena dia adalah milik-Ku””. Apakah tulisan ini benar? (Arifa Yauma Rahmadani) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Tulisan tersebut tidaklah benar, karena didasari oleh sebuah hadits palsu. Yaitu hadits yang berbunyi: إن ملك الموت لينظر في وجوه العباد كل يوم سبعين نظرة، فإذا ضحك العبد الذي بعث إليه يقول: يا عجبا، بعثت إليه لأقبض روحه وهو يضحك “Sesungguhnya Malaikat maut memandang wajah para hamba setiap hari 70 kali. Ketika manusia tertawa, Malaikat maut yang diutus itu pun berkata: Sungguh aneh dia, aku diutus untuk mencabut ruhnya, sedangkan ia masih sempat tertawa”. Riwayat ini diriwayatkan al-Qurthubi dalam kitab at-Tadzkirah bi Ahwalil Mauta (hal. 264), juga as-Suyuthi dalam kitab Jam’ul Jawami’ juga. Ibnu ‘Arraq al-Kinani menyebutkan hadits ini sebagai salah satu hadits maudhu’ (hadits palsu) dalam kitab beliau, Tanzih asy-Syari’ah al-Marfu’ah ‘anisy Syani’ah al-Maudhu’ah. Karena terdapat perawi bernama Ibrahim bin Hadbah bin Basyir al-Wasithi yang merupakan perawi yang kadzab (pendusta). Maka tidak boleh meyakininya serta tidak boleh menyebarkannya. Karena Nabi shallalalhu’alaihi wa sallam bersabda: مَن حَدَّثَ عني بحديثٍ وهو يرى أنه كذبٌ فهو أحدُ الكاذبين “Barang siapa menyampaikan hadits dariku, dan ia menyangka hadits tersebut dusta, maka ia salah satu dari dua pendusta” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, At Tirmidzi no. 2662). Beliau juga bersabda: كفى بالمرءِ إثمًا أن يُحدِّثَ بكلِّ ما سمِع “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendosa jika ia menyampaikan setiap yang ia dengar” (HR. Muslim no. 5). Demikian juga penyebutan nama Malaikat maut dengan nama “Izrail” adalah hal yang tidak didasari oleh dalil yang shahih sama sekali, walaupun itu disebutkan oleh sebagian ulama. Syaikh Umar Sulaiman al-Asyqar mengatakan, “Terdapat beberapa atsar tentang penyebutan Malaikat maut dengan nama Izrail. Namun nama ini tidak terdapat sama sekali di dalam al-Qur’an, demikian tidak terdapat dalam hadits-hadits yang shahih” (Al-Madkhal ila Dirasatil Aqidah al-Islamiyah, hal. 175). Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Telinga Kiri Berdenging Menurut Islam, Dzikir Pengusir Jin, Doa Setelah Mengaji Al Quran, Bersentuhan Dengan Siapa Saja Yang Membatalkan Wudhu, Kehidupan Di Alam Kubur Menurut Rasulullah, Cara Bertemu Nabi Khidir Dalam Mimpi Visited 1,069 times, 1 visit(s) today Post Views: 611 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Sebab Terbesar Gagal Istiqamah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ketika kamu melihat keadaan orang yang berbelok dan jatuh (dari jalan yang benar)—Kita memohon kepada Allah keselamatan dan ‘afiyah—yakni orang yang berada di atas kesalehan dan keistiqamahan, lalu berbalik. Ketika kamu melihat hubungannya dengan al-Quran, akan kamu dapati ia jauh darinya.Karena seandainya ia punya hubungan yang kuat dengan al-Quran, tidak akan terjadi kemunduran ini. Jadi, di antara sebab paling agung untuk tetap teguh, istiqamah, dan bertambahnya iman adalah menadaburi al-Quran al-Karim.Oleh sebab itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah—meskipun beliau punya perhatian besar terhadap tadaburdan kesibukannya dengan ilmu-ilmu yang lain, terlebih lagi dengan penegakan akidah para salaf dan ilmu-ilmu lainnya—Ibnu Taimiyah berkata pada akhir hayatnya—sebagaimana yang diriwayatkan al-Hafizh Ibnu Rajabdalam kitab Dzail Thabaqat al-Hanabilah— Ia berkata bahwa beliau menyesal atas—bukan sampai pada kelalaian, tapi—berlalunyabanyak waktu beliau dalam urusan selain tadabur al-Quranselain makna-makna al-Quran. Karena beliau memandang tadabur makna-makna al-Quran merupakan “harta simpanan” yang begitu besar,terlebih lagi bagi orang seperti Imam Ibnu Taimiyah yang Allah Ta’ala karuniai banyak ilmu yang agung, sehingga hasil tadabur yang beliau dapatkan tidak didapatkan oleh orang lain.Jadi, tadabur al-Quran al-Karim merupakan salah satu perkara yang harus mendapat perhatian besar dari seorang Muslim. ==== وَلِهَذَا عِنْدَمَا تَرَى حَالَةَ الْمُنْتَكِسِيْنَ الْمُتَسَاقِطِيْنَ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ يَعْنِي الَّذِي يَكُونُ عَلَى صَلَاحٍ وَاسْتِقَامَةٍ ثُمَّ يَنْتَكِسُ عِنْدَمَا تَرَى حَالَهُ مَعَ الْقُرْآنِ تَجِدُ أَنَّهُ بَعِيدٌ عَنِ الْقُرْآنِ وَإِلَّا لَوْ كَانَ مُرْتَبِطًا بِالْقُرْآنِ لَمْ تَحْصُلْ لَهُ هَذِهِ الْاِنْتِكَاسَةُ فَإِذًا مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الثَّبَاتِ وَالِاسْتِقَامَةِ وَزِيَادَةِ الْإِيمَانِ تَدَبُّرُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَلِهَذَا الْإِمَامُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ يَعْنِي مَعَ عِنَايَتِهِ الْعَظِيمَةِ بِالتَّدَبُّرِ وَأَيْضًا اشْتِغَالِهِ بِالْعُلُومِ الْأُخْرَى خَاصَّةً بِتَقْرِيرِ عَقِيْدَةِ السَّلَفِ وَالْعُلُوْمِ الْأُخْرَى يَقُولُ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ كَمَا نَقَلَ ذَلِكَ عَنْهُ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ فِي ذَيْلِ طَبَقَاتِ الْحَنَابِلَةِ يَقُولُ لَهُ نَدِمَ عَلَى يَعْنِي هُوَ لَيْسَ تَضْيِيْعًا وَإِنَّمَا ذَهَابُ كَثِيرٍ مِنْ وَقْتِهِ فِي غَيْرِ تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ فِي غَيْرِ مَعَانِي الْقُرْآنِ لِأَنَّهُ رَأَى أَنَّ تَدَبُّرَ مَعَانِي الْقُرْآنِ أَنَّهَا كَنْزٌ عَظِيمٌ خَاصَّةً يَعْنِي مِثْلَ هَذَا الْإِمَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي جَمَعَ اللهُ تَعَالَى لَهُ عُلُومًا عَظِيمَةً فَيَحْصُلُ لَهُ مِنَ التَّدَبُّرِ مَا لَا يَحْصُلُ لِغَيْرِهِ فَتَدَبُّرُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ إِذًا هُوَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يُعْنَى بِهَا الْمُسْلِمُ عِنَايَةً عَظِيمَةً KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Sebab Terbesar Gagal Istiqamah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ketika kamu melihat keadaan orang yang berbelok dan jatuh (dari jalan yang benar)—Kita memohon kepada Allah keselamatan dan ‘afiyah—yakni orang yang berada di atas kesalehan dan keistiqamahan, lalu berbalik. Ketika kamu melihat hubungannya dengan al-Quran, akan kamu dapati ia jauh darinya.Karena seandainya ia punya hubungan yang kuat dengan al-Quran, tidak akan terjadi kemunduran ini. Jadi, di antara sebab paling agung untuk tetap teguh, istiqamah, dan bertambahnya iman adalah menadaburi al-Quran al-Karim.Oleh sebab itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah—meskipun beliau punya perhatian besar terhadap tadaburdan kesibukannya dengan ilmu-ilmu yang lain, terlebih lagi dengan penegakan akidah para salaf dan ilmu-ilmu lainnya—Ibnu Taimiyah berkata pada akhir hayatnya—sebagaimana yang diriwayatkan al-Hafizh Ibnu Rajabdalam kitab Dzail Thabaqat al-Hanabilah— Ia berkata bahwa beliau menyesal atas—bukan sampai pada kelalaian, tapi—berlalunyabanyak waktu beliau dalam urusan selain tadabur al-Quranselain makna-makna al-Quran. Karena beliau memandang tadabur makna-makna al-Quran merupakan “harta simpanan” yang begitu besar,terlebih lagi bagi orang seperti Imam Ibnu Taimiyah yang Allah Ta’ala karuniai banyak ilmu yang agung, sehingga hasil tadabur yang beliau dapatkan tidak didapatkan oleh orang lain.Jadi, tadabur al-Quran al-Karim merupakan salah satu perkara yang harus mendapat perhatian besar dari seorang Muslim. ==== وَلِهَذَا عِنْدَمَا تَرَى حَالَةَ الْمُنْتَكِسِيْنَ الْمُتَسَاقِطِيْنَ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ يَعْنِي الَّذِي يَكُونُ عَلَى صَلَاحٍ وَاسْتِقَامَةٍ ثُمَّ يَنْتَكِسُ عِنْدَمَا تَرَى حَالَهُ مَعَ الْقُرْآنِ تَجِدُ أَنَّهُ بَعِيدٌ عَنِ الْقُرْآنِ وَإِلَّا لَوْ كَانَ مُرْتَبِطًا بِالْقُرْآنِ لَمْ تَحْصُلْ لَهُ هَذِهِ الْاِنْتِكَاسَةُ فَإِذًا مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الثَّبَاتِ وَالِاسْتِقَامَةِ وَزِيَادَةِ الْإِيمَانِ تَدَبُّرُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَلِهَذَا الْإِمَامُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ يَعْنِي مَعَ عِنَايَتِهِ الْعَظِيمَةِ بِالتَّدَبُّرِ وَأَيْضًا اشْتِغَالِهِ بِالْعُلُومِ الْأُخْرَى خَاصَّةً بِتَقْرِيرِ عَقِيْدَةِ السَّلَفِ وَالْعُلُوْمِ الْأُخْرَى يَقُولُ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ كَمَا نَقَلَ ذَلِكَ عَنْهُ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ فِي ذَيْلِ طَبَقَاتِ الْحَنَابِلَةِ يَقُولُ لَهُ نَدِمَ عَلَى يَعْنِي هُوَ لَيْسَ تَضْيِيْعًا وَإِنَّمَا ذَهَابُ كَثِيرٍ مِنْ وَقْتِهِ فِي غَيْرِ تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ فِي غَيْرِ مَعَانِي الْقُرْآنِ لِأَنَّهُ رَأَى أَنَّ تَدَبُّرَ مَعَانِي الْقُرْآنِ أَنَّهَا كَنْزٌ عَظِيمٌ خَاصَّةً يَعْنِي مِثْلَ هَذَا الْإِمَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي جَمَعَ اللهُ تَعَالَى لَهُ عُلُومًا عَظِيمَةً فَيَحْصُلُ لَهُ مِنَ التَّدَبُّرِ مَا لَا يَحْصُلُ لِغَيْرِهِ فَتَدَبُّرُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ إِذًا هُوَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يُعْنَى بِهَا الْمُسْلِمُ عِنَايَةً عَظِيمَةً KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ketika kamu melihat keadaan orang yang berbelok dan jatuh (dari jalan yang benar)—Kita memohon kepada Allah keselamatan dan ‘afiyah—yakni orang yang berada di atas kesalehan dan keistiqamahan, lalu berbalik. Ketika kamu melihat hubungannya dengan al-Quran, akan kamu dapati ia jauh darinya.Karena seandainya ia punya hubungan yang kuat dengan al-Quran, tidak akan terjadi kemunduran ini. Jadi, di antara sebab paling agung untuk tetap teguh, istiqamah, dan bertambahnya iman adalah menadaburi al-Quran al-Karim.Oleh sebab itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah—meskipun beliau punya perhatian besar terhadap tadaburdan kesibukannya dengan ilmu-ilmu yang lain, terlebih lagi dengan penegakan akidah para salaf dan ilmu-ilmu lainnya—Ibnu Taimiyah berkata pada akhir hayatnya—sebagaimana yang diriwayatkan al-Hafizh Ibnu Rajabdalam kitab Dzail Thabaqat al-Hanabilah— Ia berkata bahwa beliau menyesal atas—bukan sampai pada kelalaian, tapi—berlalunyabanyak waktu beliau dalam urusan selain tadabur al-Quranselain makna-makna al-Quran. Karena beliau memandang tadabur makna-makna al-Quran merupakan “harta simpanan” yang begitu besar,terlebih lagi bagi orang seperti Imam Ibnu Taimiyah yang Allah Ta’ala karuniai banyak ilmu yang agung, sehingga hasil tadabur yang beliau dapatkan tidak didapatkan oleh orang lain.Jadi, tadabur al-Quran al-Karim merupakan salah satu perkara yang harus mendapat perhatian besar dari seorang Muslim. ==== وَلِهَذَا عِنْدَمَا تَرَى حَالَةَ الْمُنْتَكِسِيْنَ الْمُتَسَاقِطِيْنَ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ يَعْنِي الَّذِي يَكُونُ عَلَى صَلَاحٍ وَاسْتِقَامَةٍ ثُمَّ يَنْتَكِسُ عِنْدَمَا تَرَى حَالَهُ مَعَ الْقُرْآنِ تَجِدُ أَنَّهُ بَعِيدٌ عَنِ الْقُرْآنِ وَإِلَّا لَوْ كَانَ مُرْتَبِطًا بِالْقُرْآنِ لَمْ تَحْصُلْ لَهُ هَذِهِ الْاِنْتِكَاسَةُ فَإِذًا مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الثَّبَاتِ وَالِاسْتِقَامَةِ وَزِيَادَةِ الْإِيمَانِ تَدَبُّرُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَلِهَذَا الْإِمَامُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ يَعْنِي مَعَ عِنَايَتِهِ الْعَظِيمَةِ بِالتَّدَبُّرِ وَأَيْضًا اشْتِغَالِهِ بِالْعُلُومِ الْأُخْرَى خَاصَّةً بِتَقْرِيرِ عَقِيْدَةِ السَّلَفِ وَالْعُلُوْمِ الْأُخْرَى يَقُولُ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ كَمَا نَقَلَ ذَلِكَ عَنْهُ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ فِي ذَيْلِ طَبَقَاتِ الْحَنَابِلَةِ يَقُولُ لَهُ نَدِمَ عَلَى يَعْنِي هُوَ لَيْسَ تَضْيِيْعًا وَإِنَّمَا ذَهَابُ كَثِيرٍ مِنْ وَقْتِهِ فِي غَيْرِ تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ فِي غَيْرِ مَعَانِي الْقُرْآنِ لِأَنَّهُ رَأَى أَنَّ تَدَبُّرَ مَعَانِي الْقُرْآنِ أَنَّهَا كَنْزٌ عَظِيمٌ خَاصَّةً يَعْنِي مِثْلَ هَذَا الْإِمَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي جَمَعَ اللهُ تَعَالَى لَهُ عُلُومًا عَظِيمَةً فَيَحْصُلُ لَهُ مِنَ التَّدَبُّرِ مَا لَا يَحْصُلُ لِغَيْرِهِ فَتَدَبُّرُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ إِذًا هُوَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يُعْنَى بِهَا الْمُسْلِمُ عِنَايَةً عَظِيمَةً KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ketika kamu melihat keadaan orang yang berbelok dan jatuh (dari jalan yang benar)—Kita memohon kepada Allah keselamatan dan ‘afiyah—yakni orang yang berada di atas kesalehan dan keistiqamahan, lalu berbalik. Ketika kamu melihat hubungannya dengan al-Quran, akan kamu dapati ia jauh darinya.Karena seandainya ia punya hubungan yang kuat dengan al-Quran, tidak akan terjadi kemunduran ini. Jadi, di antara sebab paling agung untuk tetap teguh, istiqamah, dan bertambahnya iman adalah menadaburi al-Quran al-Karim.Oleh sebab itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah—meskipun beliau punya perhatian besar terhadap tadaburdan kesibukannya dengan ilmu-ilmu yang lain, terlebih lagi dengan penegakan akidah para salaf dan ilmu-ilmu lainnya—Ibnu Taimiyah berkata pada akhir hayatnya—sebagaimana yang diriwayatkan al-Hafizh Ibnu Rajabdalam kitab Dzail Thabaqat al-Hanabilah— Ia berkata bahwa beliau menyesal atas—bukan sampai pada kelalaian, tapi—berlalunyabanyak waktu beliau dalam urusan selain tadabur al-Quranselain makna-makna al-Quran. Karena beliau memandang tadabur makna-makna al-Quran merupakan “harta simpanan” yang begitu besar,terlebih lagi bagi orang seperti Imam Ibnu Taimiyah yang Allah Ta’ala karuniai banyak ilmu yang agung, sehingga hasil tadabur yang beliau dapatkan tidak didapatkan oleh orang lain.Jadi, tadabur al-Quran al-Karim merupakan salah satu perkara yang harus mendapat perhatian besar dari seorang Muslim. ==== وَلِهَذَا عِنْدَمَا تَرَى حَالَةَ الْمُنْتَكِسِيْنَ الْمُتَسَاقِطِيْنَ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ يَعْنِي الَّذِي يَكُونُ عَلَى صَلَاحٍ وَاسْتِقَامَةٍ ثُمَّ يَنْتَكِسُ عِنْدَمَا تَرَى حَالَهُ مَعَ الْقُرْآنِ تَجِدُ أَنَّهُ بَعِيدٌ عَنِ الْقُرْآنِ وَإِلَّا لَوْ كَانَ مُرْتَبِطًا بِالْقُرْآنِ لَمْ تَحْصُلْ لَهُ هَذِهِ الْاِنْتِكَاسَةُ فَإِذًا مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الثَّبَاتِ وَالِاسْتِقَامَةِ وَزِيَادَةِ الْإِيمَانِ تَدَبُّرُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَلِهَذَا الْإِمَامُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ يَعْنِي مَعَ عِنَايَتِهِ الْعَظِيمَةِ بِالتَّدَبُّرِ وَأَيْضًا اشْتِغَالِهِ بِالْعُلُومِ الْأُخْرَى خَاصَّةً بِتَقْرِيرِ عَقِيْدَةِ السَّلَفِ وَالْعُلُوْمِ الْأُخْرَى يَقُولُ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ كَمَا نَقَلَ ذَلِكَ عَنْهُ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ فِي ذَيْلِ طَبَقَاتِ الْحَنَابِلَةِ يَقُولُ لَهُ نَدِمَ عَلَى يَعْنِي هُوَ لَيْسَ تَضْيِيْعًا وَإِنَّمَا ذَهَابُ كَثِيرٍ مِنْ وَقْتِهِ فِي غَيْرِ تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ فِي غَيْرِ مَعَانِي الْقُرْآنِ لِأَنَّهُ رَأَى أَنَّ تَدَبُّرَ مَعَانِي الْقُرْآنِ أَنَّهَا كَنْزٌ عَظِيمٌ خَاصَّةً يَعْنِي مِثْلَ هَذَا الْإِمَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي جَمَعَ اللهُ تَعَالَى لَهُ عُلُومًا عَظِيمَةً فَيَحْصُلُ لَهُ مِنَ التَّدَبُّرِ مَا لَا يَحْصُلُ لِغَيْرِهِ فَتَدَبُّرُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ إِذًا هُوَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يُعْنَى بِهَا الْمُسْلِمُ عِنَايَةً عَظِيمَةً KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Prev     Next