Tanda Diterimanya Amal di Bulan Ramadan

Tak terasa, bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini telah meninggalkan kita. Bulan yang penuh kemuliaan, ampunan, dan keberkahan ini telah pergi. Tak ada yang tertinggal, kecuali rasa senang karena telah Allah berikan kemampuan dan taufik untuk bisa maksimal di dalam memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan baik ataupun rasa penyesalan karena belum bisa memaksimalkannya.Saat kesempatan agung ini telah pergi, tersisa beberapa pertanyaan pada diri kita, apakah Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan yang mulia ini? Apakah puasa yang kita lakukan, salat tarawih yang kita langsungkan, sedekah yang kita berikan, bacaan Al-Qur’an yang kita lantunkan, semuanya itu diterima oleh Allah Ta’ala? Ataukah kesemuanya itu berubah menjadi serpihan debu yang berterbangan tiada arti?Lalu, adakah tanda-tanda yang bisa menunjukkan bahwa amalan-amalan kita telah diterima oleh Ta’ala?Daftar Isi Harus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaTanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaPertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaKedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaKetiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanHarus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaUntuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah maksimal dalam melaksanakan ibadah di penghujung bulan Ramadan ini? Sudahkan kita memanfaatkan detik-detik akhir bulan Ramadan ini dengan memperbanyak amal dan bacaan Al-Qur’an? Ataukah justru di penghujung Ramadan ini intensitas amal ibadah kita menjadi berkurang karena kesibukan duniawi yang melalaikan?Dalam sebuah hadis sahih riwayat Al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ الجَنَّةِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وإنَّه لَمِنْ أهْلِ النَّارِ، ويَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ النَّارِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وهو مِن أهْلِ الجَنَّةِ“Sungguh, seseorang (kadang) beramal dengan amalan penghuni surga di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni neraka. (Sebaliknya), Seseorang beramal dengan amalan penghuni neraka di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni surga.” (HR. Bukhari no. 2898 dan Muslim no. 112)Dalam riwayat lain terdapat tambahan,وإنَّما الأعمالُ بالخواتيمِ“Dan amalan-amalan itu tergantung akhirnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 340).Pada hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk tidak berbangga diri dengan amalan yang telah kita lakukan. Beliau juga menegaskan kepada kita akan pentingnya istikamah dalam beramal hingga akhir. Karena diri kita tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup yang akan kita lalui, tak pernah tahu juga akhir dari amalan yang kita lakukan.Saudaraku, terlebih lagi di penghujung bulan Ramadan yang mulia ini. Di mana sepertiga akhir bulan Ramadan merupakan waktu yang paling afdal dan paling utama. Sepuluh hari terakhir inilah yang Nabi selalu jaga ibadahnya. Beliau hidupkan malam-malamnya dengan ketaatan serta beliau bangunkan seluruh keluarganya. Tidak sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kita saat ini, saat memasuki penghujung Ramadan, bukan masjid yang mereka ramaikan, tapi justru jalanan dan pusat perbelanjaan.Baca juga: Ramadan Yang MembekasTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaSesungguhnya diterimanya amalan seorang hamba atau tidaknya adalah salah satu hal gaib (tak kasat mata) yang tidak diketahui hakikatnya, kecuali oleh Allah Ta’ala. Allahlah satu-satunya Zat yang mengetahui amalan siapa yang diterima dan amalan siapa yang tertolak.Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu, bahwasanya beliau menyeru pada malam terakhir bulan Ramadan,ياَ لَيْتَ شِعْرِي مَن هَذَا المَقْبُول فَنُهَنِّيْهِ وَمَنْ هَذَا المَحْرُوم فنعزيه.“Aduhai, andai aku tahu siapakah yang diterima amalannya pastilah kami akan mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa yang diharamkan darinya, maka kami akan berbela sungkawa padanya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 210)Para sahabat pun sangat khawatir amalan mereka di bulan Ramadan tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Mualla’ bin Al-Fadhl rahimahullah mengatakan,كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان،ويدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم.“Dahulu kala mereka berdoa kepada Allah Ta’ala selama enam bulan agar Allah Ta’ala pertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Mereka juga berdoa selama enam bulan (setelahnya) agar Allah Ta’ala menerima (amal ibadah) mereka (di bulan Ramadan).”Lihat juga bagaimana Al-Khalil Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kekasih Allah Ta’ala. Ketika membangun pondasi-pondasi Ka’bah dan itu merupakan sebuah amal kebaikan, ia berdoa,رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)Beliau yang merupakan kekasih Allah saja khawatir, dan berharap agar amal ibadahnya diterima oleh Allah Ta’ala. Lalu, bagaimana dengan kita?! Tentu kita harus lebih khawatir dan takut apabila amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah Ta’ala.Tanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaAdapun pertanda diterimanya amal ibadah seorang hamba secara umum, maka ada beberapa tanda yang bisa kita perhatikan.Pertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaSyekh Binbaz rahimahullah pernah ditanya perihal tanda-tanda diterimanya amal-amal saleh yang dilakukan seorang hamba. Kemudian rahimahullah beliau menjawab,فمن علامات القبول: انشراح الصدر، والاستقامة على الخير، والمسارعة إلى الطاعات، والحذر من السيئات، فإذا قل شره، وكثر خيره، وانشرح صدره للخير؛ فهذه من علامات التوفيق والقبول، أن تكون حاله أحسن. نعم.“Maka, di antara tanda-tanda diterimanya (sebuah amal): lapangnya dada, istikamah di atas kebaikan, bergegas dalam ketaatan, berhati-hati dari keburukan dan dosa. Saat intensitas kejelekannya menjadi sedikit, kebaikannya bertambah dan hatinya merasa tenang kepada kebaikan. Maka, inilah tanda-tanda taufik dan diterimanya amalan, yaitu keadaan dan kondisinya berubah menjadi lebih baik.” (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi)Kedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaSeorang hamba yang amalannya diterima oleh Allah Ta’ala, maka ia akan diberikan taufik untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnya. Karena sejatinya amal saleh dan kebaikan merupakan rantai yang tak terputus. Selesai melakukan sebuah ketaatan, maka akan datang ketaatan berikutnya. Dalam surah Al-Lail Allah Ta’ala berfirman,فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ * فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ“Maka, barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al-Lail: 5-7)Beberapa ahli tafsir dan di antaranya Syekh Muhammad Al-Asyqar rahimahullah saat menyebutkan ayat ini mengatakan, “Maka Kami akan memudahkannya untuk berinfak di jalan kebaikan dan untuk berbuat amal ketaatan.” (Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir)Hal ini sejalan juga dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَليْكُم بِالصِّدقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ“Berbuatlah jujur, karena kejujuran akan mengantarkanmu pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkanmu kepada surga.” (HR. Muslim no. 2607)Saat Allah menerima puasa kita di bulan Ramadan, maka selepas bulan Ramadan diri kita pun insyaAllah akan dimudahkan untuk mengerjakan puasa-puasa lainnya. Yang paling dekat dengan bulan Ramadan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَن صامَ رَمَضانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتًّا مِن شَوَّالٍ، كانَ كَصِيامِ الدَّهْرِ.“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama satu tahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Ketiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanAmal saleh yang diterima oleh Allah Ta’ala maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Yang paling besar dan paling mudah untuk dirasakan adalah kebahagiaan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,مَن عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ, أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجزِيَنَّهُم أَجرَهُم بِأَحسَنِ مَا كَانُوا يَعمَلُونَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Kebahagiaan di sini termasuk di antaranya adalah rezeki yang halal dan rasa cukup terhadap pemberian Allah Ta’ala.Saat seseorang telah beramal dan melakukan berbagai macam amalan, namun ia tidak merasa bahagia dan tenang, maka ia perlu curiga dan takut, jangan-jangan amal ibadah yang selama ini dilakukannya belum diterima oleh Allah Ta’ala. Jangan-jangan ia tidak ikhlas di dalam mengerjakannya. Jangan-jangan amal ibadah yang dilakukannya tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Oleh karenanya, wahai saudaraku, jangan lepaskan Ramadan ini begitu saja.Dengan selesainya bulan Ramadan bukan berarti semangat kita dalam beramal menjadi lemah, kemaksiatan yang sebelumnya kita lakukan kembali dilakukan.Perbanyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar Allah menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan di bulan yang mulia ini. Karena Allah-lah satu-satunya yang akan memberikan taufik kepada kita dan Dia-lah satu-satunya yang akan menerima dan menghitung amal ibadah kita. Allah Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَـاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً إِذًا لأَذَقْنَـاكَ ضِعْفَ الْحَيَواةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيْرًا“Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka. Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) dua kali lipat di dunia ini dan dua kali lipat setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (QS. Al-Isra’ : 74-75)Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Merindukan Ramadan***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: amal di bulan ramadanamal diterimaramadan

Tanda Diterimanya Amal di Bulan Ramadan

Tak terasa, bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini telah meninggalkan kita. Bulan yang penuh kemuliaan, ampunan, dan keberkahan ini telah pergi. Tak ada yang tertinggal, kecuali rasa senang karena telah Allah berikan kemampuan dan taufik untuk bisa maksimal di dalam memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan baik ataupun rasa penyesalan karena belum bisa memaksimalkannya.Saat kesempatan agung ini telah pergi, tersisa beberapa pertanyaan pada diri kita, apakah Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan yang mulia ini? Apakah puasa yang kita lakukan, salat tarawih yang kita langsungkan, sedekah yang kita berikan, bacaan Al-Qur’an yang kita lantunkan, semuanya itu diterima oleh Allah Ta’ala? Ataukah kesemuanya itu berubah menjadi serpihan debu yang berterbangan tiada arti?Lalu, adakah tanda-tanda yang bisa menunjukkan bahwa amalan-amalan kita telah diterima oleh Ta’ala?Daftar Isi Harus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaTanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaPertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaKedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaKetiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanHarus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaUntuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah maksimal dalam melaksanakan ibadah di penghujung bulan Ramadan ini? Sudahkan kita memanfaatkan detik-detik akhir bulan Ramadan ini dengan memperbanyak amal dan bacaan Al-Qur’an? Ataukah justru di penghujung Ramadan ini intensitas amal ibadah kita menjadi berkurang karena kesibukan duniawi yang melalaikan?Dalam sebuah hadis sahih riwayat Al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ الجَنَّةِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وإنَّه لَمِنْ أهْلِ النَّارِ، ويَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ النَّارِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وهو مِن أهْلِ الجَنَّةِ“Sungguh, seseorang (kadang) beramal dengan amalan penghuni surga di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni neraka. (Sebaliknya), Seseorang beramal dengan amalan penghuni neraka di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni surga.” (HR. Bukhari no. 2898 dan Muslim no. 112)Dalam riwayat lain terdapat tambahan,وإنَّما الأعمالُ بالخواتيمِ“Dan amalan-amalan itu tergantung akhirnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 340).Pada hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk tidak berbangga diri dengan amalan yang telah kita lakukan. Beliau juga menegaskan kepada kita akan pentingnya istikamah dalam beramal hingga akhir. Karena diri kita tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup yang akan kita lalui, tak pernah tahu juga akhir dari amalan yang kita lakukan.Saudaraku, terlebih lagi di penghujung bulan Ramadan yang mulia ini. Di mana sepertiga akhir bulan Ramadan merupakan waktu yang paling afdal dan paling utama. Sepuluh hari terakhir inilah yang Nabi selalu jaga ibadahnya. Beliau hidupkan malam-malamnya dengan ketaatan serta beliau bangunkan seluruh keluarganya. Tidak sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kita saat ini, saat memasuki penghujung Ramadan, bukan masjid yang mereka ramaikan, tapi justru jalanan dan pusat perbelanjaan.Baca juga: Ramadan Yang MembekasTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaSesungguhnya diterimanya amalan seorang hamba atau tidaknya adalah salah satu hal gaib (tak kasat mata) yang tidak diketahui hakikatnya, kecuali oleh Allah Ta’ala. Allahlah satu-satunya Zat yang mengetahui amalan siapa yang diterima dan amalan siapa yang tertolak.Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu, bahwasanya beliau menyeru pada malam terakhir bulan Ramadan,ياَ لَيْتَ شِعْرِي مَن هَذَا المَقْبُول فَنُهَنِّيْهِ وَمَنْ هَذَا المَحْرُوم فنعزيه.“Aduhai, andai aku tahu siapakah yang diterima amalannya pastilah kami akan mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa yang diharamkan darinya, maka kami akan berbela sungkawa padanya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 210)Para sahabat pun sangat khawatir amalan mereka di bulan Ramadan tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Mualla’ bin Al-Fadhl rahimahullah mengatakan,كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان،ويدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم.“Dahulu kala mereka berdoa kepada Allah Ta’ala selama enam bulan agar Allah Ta’ala pertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Mereka juga berdoa selama enam bulan (setelahnya) agar Allah Ta’ala menerima (amal ibadah) mereka (di bulan Ramadan).”Lihat juga bagaimana Al-Khalil Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kekasih Allah Ta’ala. Ketika membangun pondasi-pondasi Ka’bah dan itu merupakan sebuah amal kebaikan, ia berdoa,رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)Beliau yang merupakan kekasih Allah saja khawatir, dan berharap agar amal ibadahnya diterima oleh Allah Ta’ala. Lalu, bagaimana dengan kita?! Tentu kita harus lebih khawatir dan takut apabila amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah Ta’ala.Tanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaAdapun pertanda diterimanya amal ibadah seorang hamba secara umum, maka ada beberapa tanda yang bisa kita perhatikan.Pertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaSyekh Binbaz rahimahullah pernah ditanya perihal tanda-tanda diterimanya amal-amal saleh yang dilakukan seorang hamba. Kemudian rahimahullah beliau menjawab,فمن علامات القبول: انشراح الصدر، والاستقامة على الخير، والمسارعة إلى الطاعات، والحذر من السيئات، فإذا قل شره، وكثر خيره، وانشرح صدره للخير؛ فهذه من علامات التوفيق والقبول، أن تكون حاله أحسن. نعم.“Maka, di antara tanda-tanda diterimanya (sebuah amal): lapangnya dada, istikamah di atas kebaikan, bergegas dalam ketaatan, berhati-hati dari keburukan dan dosa. Saat intensitas kejelekannya menjadi sedikit, kebaikannya bertambah dan hatinya merasa tenang kepada kebaikan. Maka, inilah tanda-tanda taufik dan diterimanya amalan, yaitu keadaan dan kondisinya berubah menjadi lebih baik.” (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi)Kedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaSeorang hamba yang amalannya diterima oleh Allah Ta’ala, maka ia akan diberikan taufik untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnya. Karena sejatinya amal saleh dan kebaikan merupakan rantai yang tak terputus. Selesai melakukan sebuah ketaatan, maka akan datang ketaatan berikutnya. Dalam surah Al-Lail Allah Ta’ala berfirman,فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ * فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ“Maka, barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al-Lail: 5-7)Beberapa ahli tafsir dan di antaranya Syekh Muhammad Al-Asyqar rahimahullah saat menyebutkan ayat ini mengatakan, “Maka Kami akan memudahkannya untuk berinfak di jalan kebaikan dan untuk berbuat amal ketaatan.” (Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir)Hal ini sejalan juga dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَليْكُم بِالصِّدقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ“Berbuatlah jujur, karena kejujuran akan mengantarkanmu pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkanmu kepada surga.” (HR. Muslim no. 2607)Saat Allah menerima puasa kita di bulan Ramadan, maka selepas bulan Ramadan diri kita pun insyaAllah akan dimudahkan untuk mengerjakan puasa-puasa lainnya. Yang paling dekat dengan bulan Ramadan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَن صامَ رَمَضانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتًّا مِن شَوَّالٍ، كانَ كَصِيامِ الدَّهْرِ.“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama satu tahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Ketiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanAmal saleh yang diterima oleh Allah Ta’ala maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Yang paling besar dan paling mudah untuk dirasakan adalah kebahagiaan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,مَن عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ, أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجزِيَنَّهُم أَجرَهُم بِأَحسَنِ مَا كَانُوا يَعمَلُونَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Kebahagiaan di sini termasuk di antaranya adalah rezeki yang halal dan rasa cukup terhadap pemberian Allah Ta’ala.Saat seseorang telah beramal dan melakukan berbagai macam amalan, namun ia tidak merasa bahagia dan tenang, maka ia perlu curiga dan takut, jangan-jangan amal ibadah yang selama ini dilakukannya belum diterima oleh Allah Ta’ala. Jangan-jangan ia tidak ikhlas di dalam mengerjakannya. Jangan-jangan amal ibadah yang dilakukannya tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Oleh karenanya, wahai saudaraku, jangan lepaskan Ramadan ini begitu saja.Dengan selesainya bulan Ramadan bukan berarti semangat kita dalam beramal menjadi lemah, kemaksiatan yang sebelumnya kita lakukan kembali dilakukan.Perbanyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar Allah menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan di bulan yang mulia ini. Karena Allah-lah satu-satunya yang akan memberikan taufik kepada kita dan Dia-lah satu-satunya yang akan menerima dan menghitung amal ibadah kita. Allah Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَـاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً إِذًا لأَذَقْنَـاكَ ضِعْفَ الْحَيَواةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيْرًا“Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka. Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) dua kali lipat di dunia ini dan dua kali lipat setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (QS. Al-Isra’ : 74-75)Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Merindukan Ramadan***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: amal di bulan ramadanamal diterimaramadan
Tak terasa, bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini telah meninggalkan kita. Bulan yang penuh kemuliaan, ampunan, dan keberkahan ini telah pergi. Tak ada yang tertinggal, kecuali rasa senang karena telah Allah berikan kemampuan dan taufik untuk bisa maksimal di dalam memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan baik ataupun rasa penyesalan karena belum bisa memaksimalkannya.Saat kesempatan agung ini telah pergi, tersisa beberapa pertanyaan pada diri kita, apakah Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan yang mulia ini? Apakah puasa yang kita lakukan, salat tarawih yang kita langsungkan, sedekah yang kita berikan, bacaan Al-Qur’an yang kita lantunkan, semuanya itu diterima oleh Allah Ta’ala? Ataukah kesemuanya itu berubah menjadi serpihan debu yang berterbangan tiada arti?Lalu, adakah tanda-tanda yang bisa menunjukkan bahwa amalan-amalan kita telah diterima oleh Ta’ala?Daftar Isi Harus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaTanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaPertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaKedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaKetiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanHarus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaUntuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah maksimal dalam melaksanakan ibadah di penghujung bulan Ramadan ini? Sudahkan kita memanfaatkan detik-detik akhir bulan Ramadan ini dengan memperbanyak amal dan bacaan Al-Qur’an? Ataukah justru di penghujung Ramadan ini intensitas amal ibadah kita menjadi berkurang karena kesibukan duniawi yang melalaikan?Dalam sebuah hadis sahih riwayat Al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ الجَنَّةِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وإنَّه لَمِنْ أهْلِ النَّارِ، ويَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ النَّارِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وهو مِن أهْلِ الجَنَّةِ“Sungguh, seseorang (kadang) beramal dengan amalan penghuni surga di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni neraka. (Sebaliknya), Seseorang beramal dengan amalan penghuni neraka di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni surga.” (HR. Bukhari no. 2898 dan Muslim no. 112)Dalam riwayat lain terdapat tambahan,وإنَّما الأعمالُ بالخواتيمِ“Dan amalan-amalan itu tergantung akhirnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 340).Pada hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk tidak berbangga diri dengan amalan yang telah kita lakukan. Beliau juga menegaskan kepada kita akan pentingnya istikamah dalam beramal hingga akhir. Karena diri kita tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup yang akan kita lalui, tak pernah tahu juga akhir dari amalan yang kita lakukan.Saudaraku, terlebih lagi di penghujung bulan Ramadan yang mulia ini. Di mana sepertiga akhir bulan Ramadan merupakan waktu yang paling afdal dan paling utama. Sepuluh hari terakhir inilah yang Nabi selalu jaga ibadahnya. Beliau hidupkan malam-malamnya dengan ketaatan serta beliau bangunkan seluruh keluarganya. Tidak sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kita saat ini, saat memasuki penghujung Ramadan, bukan masjid yang mereka ramaikan, tapi justru jalanan dan pusat perbelanjaan.Baca juga: Ramadan Yang MembekasTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaSesungguhnya diterimanya amalan seorang hamba atau tidaknya adalah salah satu hal gaib (tak kasat mata) yang tidak diketahui hakikatnya, kecuali oleh Allah Ta’ala. Allahlah satu-satunya Zat yang mengetahui amalan siapa yang diterima dan amalan siapa yang tertolak.Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu, bahwasanya beliau menyeru pada malam terakhir bulan Ramadan,ياَ لَيْتَ شِعْرِي مَن هَذَا المَقْبُول فَنُهَنِّيْهِ وَمَنْ هَذَا المَحْرُوم فنعزيه.“Aduhai, andai aku tahu siapakah yang diterima amalannya pastilah kami akan mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa yang diharamkan darinya, maka kami akan berbela sungkawa padanya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 210)Para sahabat pun sangat khawatir amalan mereka di bulan Ramadan tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Mualla’ bin Al-Fadhl rahimahullah mengatakan,كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان،ويدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم.“Dahulu kala mereka berdoa kepada Allah Ta’ala selama enam bulan agar Allah Ta’ala pertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Mereka juga berdoa selama enam bulan (setelahnya) agar Allah Ta’ala menerima (amal ibadah) mereka (di bulan Ramadan).”Lihat juga bagaimana Al-Khalil Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kekasih Allah Ta’ala. Ketika membangun pondasi-pondasi Ka’bah dan itu merupakan sebuah amal kebaikan, ia berdoa,رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)Beliau yang merupakan kekasih Allah saja khawatir, dan berharap agar amal ibadahnya diterima oleh Allah Ta’ala. Lalu, bagaimana dengan kita?! Tentu kita harus lebih khawatir dan takut apabila amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah Ta’ala.Tanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaAdapun pertanda diterimanya amal ibadah seorang hamba secara umum, maka ada beberapa tanda yang bisa kita perhatikan.Pertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaSyekh Binbaz rahimahullah pernah ditanya perihal tanda-tanda diterimanya amal-amal saleh yang dilakukan seorang hamba. Kemudian rahimahullah beliau menjawab,فمن علامات القبول: انشراح الصدر، والاستقامة على الخير، والمسارعة إلى الطاعات، والحذر من السيئات، فإذا قل شره، وكثر خيره، وانشرح صدره للخير؛ فهذه من علامات التوفيق والقبول، أن تكون حاله أحسن. نعم.“Maka, di antara tanda-tanda diterimanya (sebuah amal): lapangnya dada, istikamah di atas kebaikan, bergegas dalam ketaatan, berhati-hati dari keburukan dan dosa. Saat intensitas kejelekannya menjadi sedikit, kebaikannya bertambah dan hatinya merasa tenang kepada kebaikan. Maka, inilah tanda-tanda taufik dan diterimanya amalan, yaitu keadaan dan kondisinya berubah menjadi lebih baik.” (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi)Kedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaSeorang hamba yang amalannya diterima oleh Allah Ta’ala, maka ia akan diberikan taufik untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnya. Karena sejatinya amal saleh dan kebaikan merupakan rantai yang tak terputus. Selesai melakukan sebuah ketaatan, maka akan datang ketaatan berikutnya. Dalam surah Al-Lail Allah Ta’ala berfirman,فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ * فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ“Maka, barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al-Lail: 5-7)Beberapa ahli tafsir dan di antaranya Syekh Muhammad Al-Asyqar rahimahullah saat menyebutkan ayat ini mengatakan, “Maka Kami akan memudahkannya untuk berinfak di jalan kebaikan dan untuk berbuat amal ketaatan.” (Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir)Hal ini sejalan juga dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَليْكُم بِالصِّدقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ“Berbuatlah jujur, karena kejujuran akan mengantarkanmu pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkanmu kepada surga.” (HR. Muslim no. 2607)Saat Allah menerima puasa kita di bulan Ramadan, maka selepas bulan Ramadan diri kita pun insyaAllah akan dimudahkan untuk mengerjakan puasa-puasa lainnya. Yang paling dekat dengan bulan Ramadan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَن صامَ رَمَضانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتًّا مِن شَوَّالٍ، كانَ كَصِيامِ الدَّهْرِ.“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama satu tahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Ketiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanAmal saleh yang diterima oleh Allah Ta’ala maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Yang paling besar dan paling mudah untuk dirasakan adalah kebahagiaan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,مَن عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ, أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجزِيَنَّهُم أَجرَهُم بِأَحسَنِ مَا كَانُوا يَعمَلُونَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Kebahagiaan di sini termasuk di antaranya adalah rezeki yang halal dan rasa cukup terhadap pemberian Allah Ta’ala.Saat seseorang telah beramal dan melakukan berbagai macam amalan, namun ia tidak merasa bahagia dan tenang, maka ia perlu curiga dan takut, jangan-jangan amal ibadah yang selama ini dilakukannya belum diterima oleh Allah Ta’ala. Jangan-jangan ia tidak ikhlas di dalam mengerjakannya. Jangan-jangan amal ibadah yang dilakukannya tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Oleh karenanya, wahai saudaraku, jangan lepaskan Ramadan ini begitu saja.Dengan selesainya bulan Ramadan bukan berarti semangat kita dalam beramal menjadi lemah, kemaksiatan yang sebelumnya kita lakukan kembali dilakukan.Perbanyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar Allah menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan di bulan yang mulia ini. Karena Allah-lah satu-satunya yang akan memberikan taufik kepada kita dan Dia-lah satu-satunya yang akan menerima dan menghitung amal ibadah kita. Allah Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَـاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً إِذًا لأَذَقْنَـاكَ ضِعْفَ الْحَيَواةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيْرًا“Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka. Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) dua kali lipat di dunia ini dan dua kali lipat setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (QS. Al-Isra’ : 74-75)Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Merindukan Ramadan***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: amal di bulan ramadanamal diterimaramadan


Tak terasa, bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini telah meninggalkan kita. Bulan yang penuh kemuliaan, ampunan, dan keberkahan ini telah pergi. Tak ada yang tertinggal, kecuali rasa senang karena telah Allah berikan kemampuan dan taufik untuk bisa maksimal di dalam memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan baik ataupun rasa penyesalan karena belum bisa memaksimalkannya.Saat kesempatan agung ini telah pergi, tersisa beberapa pertanyaan pada diri kita, apakah Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan yang mulia ini? Apakah puasa yang kita lakukan, salat tarawih yang kita langsungkan, sedekah yang kita berikan, bacaan Al-Qur’an yang kita lantunkan, semuanya itu diterima oleh Allah Ta’ala? Ataukah kesemuanya itu berubah menjadi serpihan debu yang berterbangan tiada arti?Lalu, adakah tanda-tanda yang bisa menunjukkan bahwa amalan-amalan kita telah diterima oleh Ta’ala?Daftar Isi Harus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaTanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaPertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaKedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaKetiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanHarus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaUntuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah maksimal dalam melaksanakan ibadah di penghujung bulan Ramadan ini? Sudahkan kita memanfaatkan detik-detik akhir bulan Ramadan ini dengan memperbanyak amal dan bacaan Al-Qur’an? Ataukah justru di penghujung Ramadan ini intensitas amal ibadah kita menjadi berkurang karena kesibukan duniawi yang melalaikan?Dalam sebuah hadis sahih riwayat Al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ الجَنَّةِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وإنَّه لَمِنْ أهْلِ النَّارِ، ويَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ النَّارِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وهو مِن أهْلِ الجَنَّةِ“Sungguh, seseorang (kadang) beramal dengan amalan penghuni surga di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni neraka. (Sebaliknya), Seseorang beramal dengan amalan penghuni neraka di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni surga.” (HR. Bukhari no. 2898 dan Muslim no. 112)Dalam riwayat lain terdapat tambahan,وإنَّما الأعمالُ بالخواتيمِ“Dan amalan-amalan itu tergantung akhirnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 340).Pada hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk tidak berbangga diri dengan amalan yang telah kita lakukan. Beliau juga menegaskan kepada kita akan pentingnya istikamah dalam beramal hingga akhir. Karena diri kita tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup yang akan kita lalui, tak pernah tahu juga akhir dari amalan yang kita lakukan.Saudaraku, terlebih lagi di penghujung bulan Ramadan yang mulia ini. Di mana sepertiga akhir bulan Ramadan merupakan waktu yang paling afdal dan paling utama. Sepuluh hari terakhir inilah yang Nabi selalu jaga ibadahnya. Beliau hidupkan malam-malamnya dengan ketaatan serta beliau bangunkan seluruh keluarganya. Tidak sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kita saat ini, saat memasuki penghujung Ramadan, bukan masjid yang mereka ramaikan, tapi justru jalanan dan pusat perbelanjaan.Baca juga: Ramadan Yang MembekasTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaSesungguhnya diterimanya amalan seorang hamba atau tidaknya adalah salah satu hal gaib (tak kasat mata) yang tidak diketahui hakikatnya, kecuali oleh Allah Ta’ala. Allahlah satu-satunya Zat yang mengetahui amalan siapa yang diterima dan amalan siapa yang tertolak.Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu, bahwasanya beliau menyeru pada malam terakhir bulan Ramadan,ياَ لَيْتَ شِعْرِي مَن هَذَا المَقْبُول فَنُهَنِّيْهِ وَمَنْ هَذَا المَحْرُوم فنعزيه.“Aduhai, andai aku tahu siapakah yang diterima amalannya pastilah kami akan mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa yang diharamkan darinya, maka kami akan berbela sungkawa padanya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 210)Para sahabat pun sangat khawatir amalan mereka di bulan Ramadan tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Mualla’ bin Al-Fadhl rahimahullah mengatakan,كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان،ويدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم.“Dahulu kala mereka berdoa kepada Allah Ta’ala selama enam bulan agar Allah Ta’ala pertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Mereka juga berdoa selama enam bulan (setelahnya) agar Allah Ta’ala menerima (amal ibadah) mereka (di bulan Ramadan).”Lihat juga bagaimana Al-Khalil Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kekasih Allah Ta’ala. Ketika membangun pondasi-pondasi Ka’bah dan itu merupakan sebuah amal kebaikan, ia berdoa,رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)Beliau yang merupakan kekasih Allah saja khawatir, dan berharap agar amal ibadahnya diterima oleh Allah Ta’ala. Lalu, bagaimana dengan kita?! Tentu kita harus lebih khawatir dan takut apabila amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah Ta’ala.Tanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaAdapun pertanda diterimanya amal ibadah seorang hamba secara umum, maka ada beberapa tanda yang bisa kita perhatikan.Pertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaSyekh Binbaz rahimahullah pernah ditanya perihal tanda-tanda diterimanya amal-amal saleh yang dilakukan seorang hamba. Kemudian rahimahullah beliau menjawab,فمن علامات القبول: انشراح الصدر، والاستقامة على الخير، والمسارعة إلى الطاعات، والحذر من السيئات، فإذا قل شره، وكثر خيره، وانشرح صدره للخير؛ فهذه من علامات التوفيق والقبول، أن تكون حاله أحسن. نعم.“Maka, di antara tanda-tanda diterimanya (sebuah amal): lapangnya dada, istikamah di atas kebaikan, bergegas dalam ketaatan, berhati-hati dari keburukan dan dosa. Saat intensitas kejelekannya menjadi sedikit, kebaikannya bertambah dan hatinya merasa tenang kepada kebaikan. Maka, inilah tanda-tanda taufik dan diterimanya amalan, yaitu keadaan dan kondisinya berubah menjadi lebih baik.” (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi)Kedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaSeorang hamba yang amalannya diterima oleh Allah Ta’ala, maka ia akan diberikan taufik untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnya. Karena sejatinya amal saleh dan kebaikan merupakan rantai yang tak terputus. Selesai melakukan sebuah ketaatan, maka akan datang ketaatan berikutnya. Dalam surah Al-Lail Allah Ta’ala berfirman,فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ * فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ“Maka, barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al-Lail: 5-7)Beberapa ahli tafsir dan di antaranya Syekh Muhammad Al-Asyqar rahimahullah saat menyebutkan ayat ini mengatakan, “Maka Kami akan memudahkannya untuk berinfak di jalan kebaikan dan untuk berbuat amal ketaatan.” (Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir)Hal ini sejalan juga dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَليْكُم بِالصِّدقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ“Berbuatlah jujur, karena kejujuran akan mengantarkanmu pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkanmu kepada surga.” (HR. Muslim no. 2607)Saat Allah menerima puasa kita di bulan Ramadan, maka selepas bulan Ramadan diri kita pun insyaAllah akan dimudahkan untuk mengerjakan puasa-puasa lainnya. Yang paling dekat dengan bulan Ramadan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَن صامَ رَمَضانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتًّا مِن شَوَّالٍ، كانَ كَصِيامِ الدَّهْرِ.“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama satu tahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Ketiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanAmal saleh yang diterima oleh Allah Ta’ala maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Yang paling besar dan paling mudah untuk dirasakan adalah kebahagiaan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,مَن عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ, أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجزِيَنَّهُم أَجرَهُم بِأَحسَنِ مَا كَانُوا يَعمَلُونَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Kebahagiaan di sini termasuk di antaranya adalah rezeki yang halal dan rasa cukup terhadap pemberian Allah Ta’ala.Saat seseorang telah beramal dan melakukan berbagai macam amalan, namun ia tidak merasa bahagia dan tenang, maka ia perlu curiga dan takut, jangan-jangan amal ibadah yang selama ini dilakukannya belum diterima oleh Allah Ta’ala. Jangan-jangan ia tidak ikhlas di dalam mengerjakannya. Jangan-jangan amal ibadah yang dilakukannya tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Oleh karenanya, wahai saudaraku, jangan lepaskan Ramadan ini begitu saja.Dengan selesainya bulan Ramadan bukan berarti semangat kita dalam beramal menjadi lemah, kemaksiatan yang sebelumnya kita lakukan kembali dilakukan.Perbanyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar Allah menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan di bulan yang mulia ini. Karena Allah-lah satu-satunya yang akan memberikan taufik kepada kita dan Dia-lah satu-satunya yang akan menerima dan menghitung amal ibadah kita. Allah Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَـاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً إِذًا لأَذَقْنَـاكَ ضِعْفَ الْحَيَواةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيْرًا“Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka. Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) dua kali lipat di dunia ini dan dua kali lipat setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (QS. Al-Isra’ : 74-75)Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Merindukan Ramadan***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: amal di bulan ramadanamal diterimaramadan

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 2)

Mengenal Allah Ta’alaTentang kewajiban hamba untuk mengenal Rabbnya, renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا“Allahlah yang telah menciptakan tujuh langit dan demikian pula dengan bumi. Perintah Allah berlaku di antara keduanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” [1]Maka, pada ayat ini, Allah Ta’ala menyampaikan kepada segenap hamba bahwa tujuan penciptaan langit dan bumi beserta segala ketetapan yang belaku di antara keduanya adalah agar hamba tersebut mengenal Allah. Rabb yang telah menciptakan dirinya beserta seluruh makhluk selainnya. Maka, sudah sepatutnya seorang hamba mencari tahu siapakah Allah dan seperti apa Dia Subhanahu Wa Ta’ala?Pengetahuan umum tentang Allah, bisa diperoleh seorang hamba melalui tafakkur terhadap ayat-ayat kauniyah atau melalui ciptaan-ciptaan-Nya. Bahwasanya segala kerumitan, kompleksitas, dan keragaman yang ada pada makhluk, dari tingkatan atom, molekul, sel, organisme hidup, bumi, langit, dan seluruh alam semesta, menunjukkan bahwa keberadaan mereka tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Mereka tidak mungkin muncul secara tiba-tiba dan tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri. Pasti ada Intelligent Design (perancangan cerdas) di balik segala hal yang mengada. Ada Zat Yang Mahasempurna ilmu dan kuasanya yang telah menciptakan mereka. Dan bahwasanya Zat itu pasti tunggal dan Maha Esa (Al-Ahad). Karena jika ia berbilang, tentu para pencipta itu akan saling tanding menghasilkan ciptaan terbaik versi mereka masing-masing, dan terjadilah kehancuran dunia akibat peperangan mereka [2]. Namun, Mahasuci Allah dari yang demikian. Buktinya, dunia ini masih tegak tanpa cacat sedikit pun. Dia, Allah Ta’ala, sangat jauh dari apa yang disangkakan oleh manusia yang lemah dan terbatas daya nalarnya.Adapun pengetahuan rinci tentang Allah, dan ini hanya didapatkan sebagian kecil saja, tentu harus diambil dari ayat-ayat qauliyah. Melalui apa yang Dia sampaikan sendiri kepada hamba-Nya melalui kitab-Nya. Yakni, melalui Al-Qur’an yang Mulia. Karena tidak ada yang lebih mengenal diri-Nya, kecuali Dia sendiri ‘Azza wa Jalla. Begitu juga, kabar tentang-Nya dapat diperoleh melalui sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni melalui hadis-hadis yang sahih. Karena dialah hamba yang paling dekat dengan-Nya dan beliau mendapatkan pengetahuan langsung tentang Rabb-Nya dari-Nya sendiri ‘Azza wa Jalla. Selain itu, makrifat tentang Allah ini harus diambil sesuai dengan  pemahaman para salaf, yakni para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Karena kepada merekalah Al-Qur’an turun dan kepada mereka jugalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara secara langsung.Di antara pengetahuan yang disarikan dari kedua sumber tersebut adalah bahwa Allah Ta’ala adalah Zat yang azali yang tidak bermula dan tidak berakhir. Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir [3]. Di suatu masa, setelah menciptakan ‘Arsy sebagai makhluk pertama [4], kemudian Allah menciptakan sang pena dan memerintahkannya untuk menuliskan seluruh kejadian pada makhluk dari awal hingga akhir, di dalam sebuah kitab yang terjaga, lauhul mahfudz [5]. Lima puluh ribu tahun setelah itu, Allah kemudian menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dalam enam masa [6]. Begitu juga Allah ciptakan kursi, surga, neraka, malaikat, jin, manusia, hewan, dan seluruh yang ada. Dialah Allah, Rabb semesta alam. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dan segala sesuatu selain dia adalah fana.Dialah Zat yang memiliki nama-nama yang terindah (asma’ul husna) [7] dan sifat-sifat yang Mahasempurna dan Mahatinggi (sifatul ‘ulya) [8]. Dan inilah poros, sumber, serta sebab asal muasal segala sesuatu. Seluruh ciptaan dan kejadian yang menimpa makhluk adalah pengejawantahan dari seluruh sifat-sifat yang Dia Subhanahu wa Ta’ala miliki [9].Dialah Yang Maha Pencipta (Al-Khaliq), maka seluruh makhluk menjadi ada. Dialah yang Maha Menguasai (Al-Qadir) dan Maha Mengatur lagi Maha Memelihara (Al-Muhaimin), sampai-sampai matahari, bumi, bulan, dan planet-planet yang beredar di orbitnya serta berputar pada porosnya, tidak bergeser sedikitpun darinya. Semuanya atas pengaturan dan kuasa Yang Maha Merajai (Al-Malik). Dialah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) yang kebaikan-kebaikan-Nya dinantikan seluruh makhluk, baik ikan-ikan di kedalaman lautan, burung-burung di awang-awang, hingga semut-semut yang berbiak di bawah permukaan tanah.Dialah Al-Bashir (Yang Maha Melihat), As-Sami’ (Yang Maha Mendengar), dan Al-Mujib (Yang Maha Mengabulkan) yang mengijabah doa hamba-Nya yang berada di tiga lapis kegelapan [10]. Dialah Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun) dan At-Tawwab (Maha Menerima tobat) yang kepada-Nya manusia yang lengah dan lemah bermaksiat. Bahkan, kegembiraan Allah terhadap tobat hambanya melebihi kegembiraan seorang pengelana yang kehilangan tunggangannya, kemudian tiba-tiba tunggangan itu muncul di hadapannya setelah ia kehilangan harapan dan berputus asa [11]. Seorang hamba yang datang mendekat kepada-Nya sambil berjalan, maka Dia akan menghampiri dan menyambut hamba-Nya dalam keadaan berlari [12].Sungguh Dialah Rabb Yang Mahabaik (Al-Barr) yang kebaikannya tidak bisa Anda hitung dan tidak bisa pula Anda rinci. Dialah Yang Mahakaya (Al-Ghani) yang tidak membutuhkan rezeki, ibadah, pujian, dan ketaatan hamba-Nya. Bahkan, merekalah yang butuh kepada rahmat dan kasih sayang-Nya. Dan, jika seluruh makhluk berkumpul untuk menghitung nikmat yang diberikan kepada mereka, niscaya mereka tidak akan mampu menghitungnya [13].Begitu pula pengetahuan dan ilmu Allah, sempurna dari segala sisinya. Dialah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui hingga yang rinci) yang ilmunya mencakup yang nampak maupun yang tersembunyi, serta yang global maupun yang detail. Mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Bahkan ia mengetahui segala yang tidak terjadi jika ia terjadi. Pengetahuannya meliputi segala hal dan tidak berbatas [14].Sungguh, Dialah Al-Kabir (Yang Mahabesar). Ia ciptakan manusia dari tanah dan mani yang hina [15], kemudian ia tempatkan mereka sebagai khalifah di atas permukaan bumi [16], di langit lapis pertama. Kemudian, langit pertama ini diliputi oleh langit kedua, yang jarak antara keduanya sejauh 500 tahun perjalanan. Begitu juga langit ketiga, langit keempat, hingga langit ketujuh, saling melingkupi satu sama lain, yang jaraknya masing-masing juga 500 tahun perjalanan. Kemudian tujuh langit ini diliputi oleh kursi Allah [17]. Yang perbandingannya seperti cincin dilemparkan di atas padang pasir.Begitu juga kursi Allah diliputi oleh ‘Arsy-Nya, yang perbandingannya juga seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir [18]. ‘Arsy inilah makhluk-Nya yang paling besar, yang dipikul oleh delapan malaikat [19]. Dan salah satu malaikat pemikul ‘Arsy, jarak antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan [20]. Dan Allah tentu jauh lebih besar dibandingkan semua ini. Dan ia ber-istiwa di atas ‘Arsy [21], di atas semua makhluk-Nya. Dialah  Allah, Rabb Yang Mahaagung lagi Mahabesar. Sementara Anda hanyalah debu dan atom di antara makhluk-makhluk-Nya yang ada.Maka, apa yang baru Anda baca, berkisar pada dua dari tiga jenis tauhid yang biasa dibicarakan oleh para ulama, yakni tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Pengenalan seorang hamba pada dua jenis tauhid ini berbanding lurus dengan kecintaan dan ketundukannya kepada Rabb-Nya. Semakin ia mengenal Rabb-Nya, maka ia akan semakin taat, semakin khusyuk, semakin berharap, dan semakin cinta kepada-Nya, sekaligus semakin takut akan murka dan siksa-Nya. Sikap ini kemudian akan melahirkan penghambaan diri yang sejati berupa ibadah kepada Allah saja, yang merupakan tujuan kedua penciptaan seorang hamba.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3 ***Disarikan pada Malam 20 Ramadhan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan Rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Ath-Thalaq ayat 12.[2] QS. Al-Anbiya ayat 22. Allah Ta’ala berfirman, “Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, sudah barang tentu keduanya itu telah rusak binasa. Maka, Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.”[3] QS. Al-Hadid ayat 3. Allah Ta’ala berfirman, “Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir, Azh-Zhahir dan Al-Bathin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”[4] HR. Muslim no. 2653. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”[5] HR. Tirmidzi no. 2155. “Sesungguhnya (makhluk) yang pertama Allah ciptakan (sesudah ‘Arsy) adalah pena, kemudian Allah berfirman, “Tulislah!” Pena bertanya, “Apa yang harus aku tulis?” Allah kemudian berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu dan kejadian yang terjadi padanya selamanya!” (Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih).[6] QS. Hud ayat 7. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air.”[7] QS. Al-A’raf ayat 180. Allah Ta’ala berfirman, “Milik Allah sajalah nama-nama yang terindah (asmaul husna). Oleh karena itu, memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama terindah itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nantinya, mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat.”[8] QS. An-Nahl ayat 60. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang tidak beriman terhadap kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang jelek; dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”[9] Dalam kitabnya, Fiqh Al-Asma Al-Husna, Syekh Abdurrazzaq menuliskan, “…. bahwasanya seluruh yang ada di alam semesta ini,  dari langit dan bumi, matahari dan bulan, malam dan siang, gunung-gunung, lautan, gerak dan diamnya makhluk, semuanya termasuk bagian dari konsekuensi dan pengaruh nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. (Fiqh Al-Asma Al-Husna, hal. 22, karya Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, Penerbit: Daar At-Tauhid Li-An-Nasyr)[10] QS. Al-Anbiya ayat 87 . Di dalam ayat yang mulia ini, Nabi Yunus ‘alahis salam yang berada di lapis  kegelapan (kegelapan di dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan tatkala malam yang gulita), berdoa kepada Rabbnya, “Bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim.”[11] HR. Muslim no. 2747. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Sesungguhnya kegembiraan Allah terhadap tobat hamba-Nya tatkala ia bertobat kepada-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (gurun pasir), kemudian hewan tunggangannya itu lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalannya, berupa makanan dan minuman. Sampai-sampai ia pun berputus asa.Setelah itu, ia pergi ke sebuah pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan hati yang kehilangan harapan. Tiba-tiba ketika ia dalam kondisi demikian, tunggangannya tampak berdiri di sebelahnya. Kemudian ia mengikatnya. Karena saking gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah mengucapkan hal yang salah karena sangat bergembira.”[12] HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675. Di dalam hadis ini, Rasulullah bersabda, “ … Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”[13] QS. An-Nahl ayat 18. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kalian hendak menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[14] QS. Al-Kahfi ayat 109. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (mencatat) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah (air) lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (juga).'”[15] QS. Al-Hijr ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”QS. Yasin ayat 77. Allah Ta’ala berfirman, “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakan ia dari setetes air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”[16] QS. Al-Baqarah ayat 30. Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[17] HR. Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid, hal. 105 dan Al-Baihaqi dalam ‘Al-Asma wa Ash-Shifat, hal. 401. Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Antara langit dunia dengan langit berikutnya memiliki jarak lima ratus tahun, dan jarak antara masing-masing langit sejauh lima ratus tahun. Antara langit ketujuh dengan kursi memiliki jarak lima ratus tahun. Sedangkan jarak antara kursi dengan air sejauh lima ratus tahun. Kursi terdapat di atas air, sedangkan Allah berada di atas kursi. Tidak ada dari amal-amal kalian yang tersembunyi bagi-Nya.”[18] HR. As-Suyuthi dalam Ad-Durul Mantsur, 1: 328. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kursi Allah, permisalannya seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir. Sedangkan, ‘Arsy Allah itu jauh lebih besar dibandingkan kursi Allah, permisalannya seperti padang pasir dibandingkan cincin tersebut.”[19] QS. Al-Haaqqah ayat 17. Allah Ta’ala berfirman, “Dan para malaikat berada di penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat membawa ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.”[20] HR. Abu Daud no. 4727. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah yang memikul ‘Arsy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya berjarak sejauh tujuh ratus tahun perjalanan.”[21] QS. Thaha ayat 5. Allah Ta’ala berfirman, “(Allah) Yang Maha Penyayang beristiwa di atas ‘Arsy.”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 2)

Mengenal Allah Ta’alaTentang kewajiban hamba untuk mengenal Rabbnya, renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا“Allahlah yang telah menciptakan tujuh langit dan demikian pula dengan bumi. Perintah Allah berlaku di antara keduanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” [1]Maka, pada ayat ini, Allah Ta’ala menyampaikan kepada segenap hamba bahwa tujuan penciptaan langit dan bumi beserta segala ketetapan yang belaku di antara keduanya adalah agar hamba tersebut mengenal Allah. Rabb yang telah menciptakan dirinya beserta seluruh makhluk selainnya. Maka, sudah sepatutnya seorang hamba mencari tahu siapakah Allah dan seperti apa Dia Subhanahu Wa Ta’ala?Pengetahuan umum tentang Allah, bisa diperoleh seorang hamba melalui tafakkur terhadap ayat-ayat kauniyah atau melalui ciptaan-ciptaan-Nya. Bahwasanya segala kerumitan, kompleksitas, dan keragaman yang ada pada makhluk, dari tingkatan atom, molekul, sel, organisme hidup, bumi, langit, dan seluruh alam semesta, menunjukkan bahwa keberadaan mereka tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Mereka tidak mungkin muncul secara tiba-tiba dan tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri. Pasti ada Intelligent Design (perancangan cerdas) di balik segala hal yang mengada. Ada Zat Yang Mahasempurna ilmu dan kuasanya yang telah menciptakan mereka. Dan bahwasanya Zat itu pasti tunggal dan Maha Esa (Al-Ahad). Karena jika ia berbilang, tentu para pencipta itu akan saling tanding menghasilkan ciptaan terbaik versi mereka masing-masing, dan terjadilah kehancuran dunia akibat peperangan mereka [2]. Namun, Mahasuci Allah dari yang demikian. Buktinya, dunia ini masih tegak tanpa cacat sedikit pun. Dia, Allah Ta’ala, sangat jauh dari apa yang disangkakan oleh manusia yang lemah dan terbatas daya nalarnya.Adapun pengetahuan rinci tentang Allah, dan ini hanya didapatkan sebagian kecil saja, tentu harus diambil dari ayat-ayat qauliyah. Melalui apa yang Dia sampaikan sendiri kepada hamba-Nya melalui kitab-Nya. Yakni, melalui Al-Qur’an yang Mulia. Karena tidak ada yang lebih mengenal diri-Nya, kecuali Dia sendiri ‘Azza wa Jalla. Begitu juga, kabar tentang-Nya dapat diperoleh melalui sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni melalui hadis-hadis yang sahih. Karena dialah hamba yang paling dekat dengan-Nya dan beliau mendapatkan pengetahuan langsung tentang Rabb-Nya dari-Nya sendiri ‘Azza wa Jalla. Selain itu, makrifat tentang Allah ini harus diambil sesuai dengan  pemahaman para salaf, yakni para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Karena kepada merekalah Al-Qur’an turun dan kepada mereka jugalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara secara langsung.Di antara pengetahuan yang disarikan dari kedua sumber tersebut adalah bahwa Allah Ta’ala adalah Zat yang azali yang tidak bermula dan tidak berakhir. Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir [3]. Di suatu masa, setelah menciptakan ‘Arsy sebagai makhluk pertama [4], kemudian Allah menciptakan sang pena dan memerintahkannya untuk menuliskan seluruh kejadian pada makhluk dari awal hingga akhir, di dalam sebuah kitab yang terjaga, lauhul mahfudz [5]. Lima puluh ribu tahun setelah itu, Allah kemudian menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dalam enam masa [6]. Begitu juga Allah ciptakan kursi, surga, neraka, malaikat, jin, manusia, hewan, dan seluruh yang ada. Dialah Allah, Rabb semesta alam. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dan segala sesuatu selain dia adalah fana.Dialah Zat yang memiliki nama-nama yang terindah (asma’ul husna) [7] dan sifat-sifat yang Mahasempurna dan Mahatinggi (sifatul ‘ulya) [8]. Dan inilah poros, sumber, serta sebab asal muasal segala sesuatu. Seluruh ciptaan dan kejadian yang menimpa makhluk adalah pengejawantahan dari seluruh sifat-sifat yang Dia Subhanahu wa Ta’ala miliki [9].Dialah Yang Maha Pencipta (Al-Khaliq), maka seluruh makhluk menjadi ada. Dialah yang Maha Menguasai (Al-Qadir) dan Maha Mengatur lagi Maha Memelihara (Al-Muhaimin), sampai-sampai matahari, bumi, bulan, dan planet-planet yang beredar di orbitnya serta berputar pada porosnya, tidak bergeser sedikitpun darinya. Semuanya atas pengaturan dan kuasa Yang Maha Merajai (Al-Malik). Dialah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) yang kebaikan-kebaikan-Nya dinantikan seluruh makhluk, baik ikan-ikan di kedalaman lautan, burung-burung di awang-awang, hingga semut-semut yang berbiak di bawah permukaan tanah.Dialah Al-Bashir (Yang Maha Melihat), As-Sami’ (Yang Maha Mendengar), dan Al-Mujib (Yang Maha Mengabulkan) yang mengijabah doa hamba-Nya yang berada di tiga lapis kegelapan [10]. Dialah Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun) dan At-Tawwab (Maha Menerima tobat) yang kepada-Nya manusia yang lengah dan lemah bermaksiat. Bahkan, kegembiraan Allah terhadap tobat hambanya melebihi kegembiraan seorang pengelana yang kehilangan tunggangannya, kemudian tiba-tiba tunggangan itu muncul di hadapannya setelah ia kehilangan harapan dan berputus asa [11]. Seorang hamba yang datang mendekat kepada-Nya sambil berjalan, maka Dia akan menghampiri dan menyambut hamba-Nya dalam keadaan berlari [12].Sungguh Dialah Rabb Yang Mahabaik (Al-Barr) yang kebaikannya tidak bisa Anda hitung dan tidak bisa pula Anda rinci. Dialah Yang Mahakaya (Al-Ghani) yang tidak membutuhkan rezeki, ibadah, pujian, dan ketaatan hamba-Nya. Bahkan, merekalah yang butuh kepada rahmat dan kasih sayang-Nya. Dan, jika seluruh makhluk berkumpul untuk menghitung nikmat yang diberikan kepada mereka, niscaya mereka tidak akan mampu menghitungnya [13].Begitu pula pengetahuan dan ilmu Allah, sempurna dari segala sisinya. Dialah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui hingga yang rinci) yang ilmunya mencakup yang nampak maupun yang tersembunyi, serta yang global maupun yang detail. Mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Bahkan ia mengetahui segala yang tidak terjadi jika ia terjadi. Pengetahuannya meliputi segala hal dan tidak berbatas [14].Sungguh, Dialah Al-Kabir (Yang Mahabesar). Ia ciptakan manusia dari tanah dan mani yang hina [15], kemudian ia tempatkan mereka sebagai khalifah di atas permukaan bumi [16], di langit lapis pertama. Kemudian, langit pertama ini diliputi oleh langit kedua, yang jarak antara keduanya sejauh 500 tahun perjalanan. Begitu juga langit ketiga, langit keempat, hingga langit ketujuh, saling melingkupi satu sama lain, yang jaraknya masing-masing juga 500 tahun perjalanan. Kemudian tujuh langit ini diliputi oleh kursi Allah [17]. Yang perbandingannya seperti cincin dilemparkan di atas padang pasir.Begitu juga kursi Allah diliputi oleh ‘Arsy-Nya, yang perbandingannya juga seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir [18]. ‘Arsy inilah makhluk-Nya yang paling besar, yang dipikul oleh delapan malaikat [19]. Dan salah satu malaikat pemikul ‘Arsy, jarak antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan [20]. Dan Allah tentu jauh lebih besar dibandingkan semua ini. Dan ia ber-istiwa di atas ‘Arsy [21], di atas semua makhluk-Nya. Dialah  Allah, Rabb Yang Mahaagung lagi Mahabesar. Sementara Anda hanyalah debu dan atom di antara makhluk-makhluk-Nya yang ada.Maka, apa yang baru Anda baca, berkisar pada dua dari tiga jenis tauhid yang biasa dibicarakan oleh para ulama, yakni tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Pengenalan seorang hamba pada dua jenis tauhid ini berbanding lurus dengan kecintaan dan ketundukannya kepada Rabb-Nya. Semakin ia mengenal Rabb-Nya, maka ia akan semakin taat, semakin khusyuk, semakin berharap, dan semakin cinta kepada-Nya, sekaligus semakin takut akan murka dan siksa-Nya. Sikap ini kemudian akan melahirkan penghambaan diri yang sejati berupa ibadah kepada Allah saja, yang merupakan tujuan kedua penciptaan seorang hamba.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3 ***Disarikan pada Malam 20 Ramadhan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan Rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Ath-Thalaq ayat 12.[2] QS. Al-Anbiya ayat 22. Allah Ta’ala berfirman, “Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, sudah barang tentu keduanya itu telah rusak binasa. Maka, Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.”[3] QS. Al-Hadid ayat 3. Allah Ta’ala berfirman, “Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir, Azh-Zhahir dan Al-Bathin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”[4] HR. Muslim no. 2653. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”[5] HR. Tirmidzi no. 2155. “Sesungguhnya (makhluk) yang pertama Allah ciptakan (sesudah ‘Arsy) adalah pena, kemudian Allah berfirman, “Tulislah!” Pena bertanya, “Apa yang harus aku tulis?” Allah kemudian berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu dan kejadian yang terjadi padanya selamanya!” (Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih).[6] QS. Hud ayat 7. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air.”[7] QS. Al-A’raf ayat 180. Allah Ta’ala berfirman, “Milik Allah sajalah nama-nama yang terindah (asmaul husna). Oleh karena itu, memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama terindah itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nantinya, mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat.”[8] QS. An-Nahl ayat 60. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang tidak beriman terhadap kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang jelek; dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”[9] Dalam kitabnya, Fiqh Al-Asma Al-Husna, Syekh Abdurrazzaq menuliskan, “…. bahwasanya seluruh yang ada di alam semesta ini,  dari langit dan bumi, matahari dan bulan, malam dan siang, gunung-gunung, lautan, gerak dan diamnya makhluk, semuanya termasuk bagian dari konsekuensi dan pengaruh nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. (Fiqh Al-Asma Al-Husna, hal. 22, karya Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, Penerbit: Daar At-Tauhid Li-An-Nasyr)[10] QS. Al-Anbiya ayat 87 . Di dalam ayat yang mulia ini, Nabi Yunus ‘alahis salam yang berada di lapis  kegelapan (kegelapan di dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan tatkala malam yang gulita), berdoa kepada Rabbnya, “Bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim.”[11] HR. Muslim no. 2747. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Sesungguhnya kegembiraan Allah terhadap tobat hamba-Nya tatkala ia bertobat kepada-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (gurun pasir), kemudian hewan tunggangannya itu lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalannya, berupa makanan dan minuman. Sampai-sampai ia pun berputus asa.Setelah itu, ia pergi ke sebuah pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan hati yang kehilangan harapan. Tiba-tiba ketika ia dalam kondisi demikian, tunggangannya tampak berdiri di sebelahnya. Kemudian ia mengikatnya. Karena saking gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah mengucapkan hal yang salah karena sangat bergembira.”[12] HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675. Di dalam hadis ini, Rasulullah bersabda, “ … Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”[13] QS. An-Nahl ayat 18. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kalian hendak menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[14] QS. Al-Kahfi ayat 109. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (mencatat) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah (air) lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (juga).'”[15] QS. Al-Hijr ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”QS. Yasin ayat 77. Allah Ta’ala berfirman, “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakan ia dari setetes air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”[16] QS. Al-Baqarah ayat 30. Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[17] HR. Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid, hal. 105 dan Al-Baihaqi dalam ‘Al-Asma wa Ash-Shifat, hal. 401. Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Antara langit dunia dengan langit berikutnya memiliki jarak lima ratus tahun, dan jarak antara masing-masing langit sejauh lima ratus tahun. Antara langit ketujuh dengan kursi memiliki jarak lima ratus tahun. Sedangkan jarak antara kursi dengan air sejauh lima ratus tahun. Kursi terdapat di atas air, sedangkan Allah berada di atas kursi. Tidak ada dari amal-amal kalian yang tersembunyi bagi-Nya.”[18] HR. As-Suyuthi dalam Ad-Durul Mantsur, 1: 328. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kursi Allah, permisalannya seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir. Sedangkan, ‘Arsy Allah itu jauh lebih besar dibandingkan kursi Allah, permisalannya seperti padang pasir dibandingkan cincin tersebut.”[19] QS. Al-Haaqqah ayat 17. Allah Ta’ala berfirman, “Dan para malaikat berada di penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat membawa ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.”[20] HR. Abu Daud no. 4727. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah yang memikul ‘Arsy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya berjarak sejauh tujuh ratus tahun perjalanan.”[21] QS. Thaha ayat 5. Allah Ta’ala berfirman, “(Allah) Yang Maha Penyayang beristiwa di atas ‘Arsy.”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah
Mengenal Allah Ta’alaTentang kewajiban hamba untuk mengenal Rabbnya, renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا“Allahlah yang telah menciptakan tujuh langit dan demikian pula dengan bumi. Perintah Allah berlaku di antara keduanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” [1]Maka, pada ayat ini, Allah Ta’ala menyampaikan kepada segenap hamba bahwa tujuan penciptaan langit dan bumi beserta segala ketetapan yang belaku di antara keduanya adalah agar hamba tersebut mengenal Allah. Rabb yang telah menciptakan dirinya beserta seluruh makhluk selainnya. Maka, sudah sepatutnya seorang hamba mencari tahu siapakah Allah dan seperti apa Dia Subhanahu Wa Ta’ala?Pengetahuan umum tentang Allah, bisa diperoleh seorang hamba melalui tafakkur terhadap ayat-ayat kauniyah atau melalui ciptaan-ciptaan-Nya. Bahwasanya segala kerumitan, kompleksitas, dan keragaman yang ada pada makhluk, dari tingkatan atom, molekul, sel, organisme hidup, bumi, langit, dan seluruh alam semesta, menunjukkan bahwa keberadaan mereka tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Mereka tidak mungkin muncul secara tiba-tiba dan tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri. Pasti ada Intelligent Design (perancangan cerdas) di balik segala hal yang mengada. Ada Zat Yang Mahasempurna ilmu dan kuasanya yang telah menciptakan mereka. Dan bahwasanya Zat itu pasti tunggal dan Maha Esa (Al-Ahad). Karena jika ia berbilang, tentu para pencipta itu akan saling tanding menghasilkan ciptaan terbaik versi mereka masing-masing, dan terjadilah kehancuran dunia akibat peperangan mereka [2]. Namun, Mahasuci Allah dari yang demikian. Buktinya, dunia ini masih tegak tanpa cacat sedikit pun. Dia, Allah Ta’ala, sangat jauh dari apa yang disangkakan oleh manusia yang lemah dan terbatas daya nalarnya.Adapun pengetahuan rinci tentang Allah, dan ini hanya didapatkan sebagian kecil saja, tentu harus diambil dari ayat-ayat qauliyah. Melalui apa yang Dia sampaikan sendiri kepada hamba-Nya melalui kitab-Nya. Yakni, melalui Al-Qur’an yang Mulia. Karena tidak ada yang lebih mengenal diri-Nya, kecuali Dia sendiri ‘Azza wa Jalla. Begitu juga, kabar tentang-Nya dapat diperoleh melalui sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni melalui hadis-hadis yang sahih. Karena dialah hamba yang paling dekat dengan-Nya dan beliau mendapatkan pengetahuan langsung tentang Rabb-Nya dari-Nya sendiri ‘Azza wa Jalla. Selain itu, makrifat tentang Allah ini harus diambil sesuai dengan  pemahaman para salaf, yakni para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Karena kepada merekalah Al-Qur’an turun dan kepada mereka jugalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara secara langsung.Di antara pengetahuan yang disarikan dari kedua sumber tersebut adalah bahwa Allah Ta’ala adalah Zat yang azali yang tidak bermula dan tidak berakhir. Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir [3]. Di suatu masa, setelah menciptakan ‘Arsy sebagai makhluk pertama [4], kemudian Allah menciptakan sang pena dan memerintahkannya untuk menuliskan seluruh kejadian pada makhluk dari awal hingga akhir, di dalam sebuah kitab yang terjaga, lauhul mahfudz [5]. Lima puluh ribu tahun setelah itu, Allah kemudian menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dalam enam masa [6]. Begitu juga Allah ciptakan kursi, surga, neraka, malaikat, jin, manusia, hewan, dan seluruh yang ada. Dialah Allah, Rabb semesta alam. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dan segala sesuatu selain dia adalah fana.Dialah Zat yang memiliki nama-nama yang terindah (asma’ul husna) [7] dan sifat-sifat yang Mahasempurna dan Mahatinggi (sifatul ‘ulya) [8]. Dan inilah poros, sumber, serta sebab asal muasal segala sesuatu. Seluruh ciptaan dan kejadian yang menimpa makhluk adalah pengejawantahan dari seluruh sifat-sifat yang Dia Subhanahu wa Ta’ala miliki [9].Dialah Yang Maha Pencipta (Al-Khaliq), maka seluruh makhluk menjadi ada. Dialah yang Maha Menguasai (Al-Qadir) dan Maha Mengatur lagi Maha Memelihara (Al-Muhaimin), sampai-sampai matahari, bumi, bulan, dan planet-planet yang beredar di orbitnya serta berputar pada porosnya, tidak bergeser sedikitpun darinya. Semuanya atas pengaturan dan kuasa Yang Maha Merajai (Al-Malik). Dialah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) yang kebaikan-kebaikan-Nya dinantikan seluruh makhluk, baik ikan-ikan di kedalaman lautan, burung-burung di awang-awang, hingga semut-semut yang berbiak di bawah permukaan tanah.Dialah Al-Bashir (Yang Maha Melihat), As-Sami’ (Yang Maha Mendengar), dan Al-Mujib (Yang Maha Mengabulkan) yang mengijabah doa hamba-Nya yang berada di tiga lapis kegelapan [10]. Dialah Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun) dan At-Tawwab (Maha Menerima tobat) yang kepada-Nya manusia yang lengah dan lemah bermaksiat. Bahkan, kegembiraan Allah terhadap tobat hambanya melebihi kegembiraan seorang pengelana yang kehilangan tunggangannya, kemudian tiba-tiba tunggangan itu muncul di hadapannya setelah ia kehilangan harapan dan berputus asa [11]. Seorang hamba yang datang mendekat kepada-Nya sambil berjalan, maka Dia akan menghampiri dan menyambut hamba-Nya dalam keadaan berlari [12].Sungguh Dialah Rabb Yang Mahabaik (Al-Barr) yang kebaikannya tidak bisa Anda hitung dan tidak bisa pula Anda rinci. Dialah Yang Mahakaya (Al-Ghani) yang tidak membutuhkan rezeki, ibadah, pujian, dan ketaatan hamba-Nya. Bahkan, merekalah yang butuh kepada rahmat dan kasih sayang-Nya. Dan, jika seluruh makhluk berkumpul untuk menghitung nikmat yang diberikan kepada mereka, niscaya mereka tidak akan mampu menghitungnya [13].Begitu pula pengetahuan dan ilmu Allah, sempurna dari segala sisinya. Dialah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui hingga yang rinci) yang ilmunya mencakup yang nampak maupun yang tersembunyi, serta yang global maupun yang detail. Mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Bahkan ia mengetahui segala yang tidak terjadi jika ia terjadi. Pengetahuannya meliputi segala hal dan tidak berbatas [14].Sungguh, Dialah Al-Kabir (Yang Mahabesar). Ia ciptakan manusia dari tanah dan mani yang hina [15], kemudian ia tempatkan mereka sebagai khalifah di atas permukaan bumi [16], di langit lapis pertama. Kemudian, langit pertama ini diliputi oleh langit kedua, yang jarak antara keduanya sejauh 500 tahun perjalanan. Begitu juga langit ketiga, langit keempat, hingga langit ketujuh, saling melingkupi satu sama lain, yang jaraknya masing-masing juga 500 tahun perjalanan. Kemudian tujuh langit ini diliputi oleh kursi Allah [17]. Yang perbandingannya seperti cincin dilemparkan di atas padang pasir.Begitu juga kursi Allah diliputi oleh ‘Arsy-Nya, yang perbandingannya juga seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir [18]. ‘Arsy inilah makhluk-Nya yang paling besar, yang dipikul oleh delapan malaikat [19]. Dan salah satu malaikat pemikul ‘Arsy, jarak antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan [20]. Dan Allah tentu jauh lebih besar dibandingkan semua ini. Dan ia ber-istiwa di atas ‘Arsy [21], di atas semua makhluk-Nya. Dialah  Allah, Rabb Yang Mahaagung lagi Mahabesar. Sementara Anda hanyalah debu dan atom di antara makhluk-makhluk-Nya yang ada.Maka, apa yang baru Anda baca, berkisar pada dua dari tiga jenis tauhid yang biasa dibicarakan oleh para ulama, yakni tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Pengenalan seorang hamba pada dua jenis tauhid ini berbanding lurus dengan kecintaan dan ketundukannya kepada Rabb-Nya. Semakin ia mengenal Rabb-Nya, maka ia akan semakin taat, semakin khusyuk, semakin berharap, dan semakin cinta kepada-Nya, sekaligus semakin takut akan murka dan siksa-Nya. Sikap ini kemudian akan melahirkan penghambaan diri yang sejati berupa ibadah kepada Allah saja, yang merupakan tujuan kedua penciptaan seorang hamba.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3 ***Disarikan pada Malam 20 Ramadhan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan Rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Ath-Thalaq ayat 12.[2] QS. Al-Anbiya ayat 22. Allah Ta’ala berfirman, “Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, sudah barang tentu keduanya itu telah rusak binasa. Maka, Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.”[3] QS. Al-Hadid ayat 3. Allah Ta’ala berfirman, “Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir, Azh-Zhahir dan Al-Bathin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”[4] HR. Muslim no. 2653. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”[5] HR. Tirmidzi no. 2155. “Sesungguhnya (makhluk) yang pertama Allah ciptakan (sesudah ‘Arsy) adalah pena, kemudian Allah berfirman, “Tulislah!” Pena bertanya, “Apa yang harus aku tulis?” Allah kemudian berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu dan kejadian yang terjadi padanya selamanya!” (Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih).[6] QS. Hud ayat 7. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air.”[7] QS. Al-A’raf ayat 180. Allah Ta’ala berfirman, “Milik Allah sajalah nama-nama yang terindah (asmaul husna). Oleh karena itu, memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama terindah itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nantinya, mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat.”[8] QS. An-Nahl ayat 60. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang tidak beriman terhadap kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang jelek; dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”[9] Dalam kitabnya, Fiqh Al-Asma Al-Husna, Syekh Abdurrazzaq menuliskan, “…. bahwasanya seluruh yang ada di alam semesta ini,  dari langit dan bumi, matahari dan bulan, malam dan siang, gunung-gunung, lautan, gerak dan diamnya makhluk, semuanya termasuk bagian dari konsekuensi dan pengaruh nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. (Fiqh Al-Asma Al-Husna, hal. 22, karya Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, Penerbit: Daar At-Tauhid Li-An-Nasyr)[10] QS. Al-Anbiya ayat 87 . Di dalam ayat yang mulia ini, Nabi Yunus ‘alahis salam yang berada di lapis  kegelapan (kegelapan di dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan tatkala malam yang gulita), berdoa kepada Rabbnya, “Bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim.”[11] HR. Muslim no. 2747. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Sesungguhnya kegembiraan Allah terhadap tobat hamba-Nya tatkala ia bertobat kepada-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (gurun pasir), kemudian hewan tunggangannya itu lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalannya, berupa makanan dan minuman. Sampai-sampai ia pun berputus asa.Setelah itu, ia pergi ke sebuah pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan hati yang kehilangan harapan. Tiba-tiba ketika ia dalam kondisi demikian, tunggangannya tampak berdiri di sebelahnya. Kemudian ia mengikatnya. Karena saking gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah mengucapkan hal yang salah karena sangat bergembira.”[12] HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675. Di dalam hadis ini, Rasulullah bersabda, “ … Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”[13] QS. An-Nahl ayat 18. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kalian hendak menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[14] QS. Al-Kahfi ayat 109. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (mencatat) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah (air) lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (juga).'”[15] QS. Al-Hijr ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”QS. Yasin ayat 77. Allah Ta’ala berfirman, “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakan ia dari setetes air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”[16] QS. Al-Baqarah ayat 30. Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[17] HR. Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid, hal. 105 dan Al-Baihaqi dalam ‘Al-Asma wa Ash-Shifat, hal. 401. Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Antara langit dunia dengan langit berikutnya memiliki jarak lima ratus tahun, dan jarak antara masing-masing langit sejauh lima ratus tahun. Antara langit ketujuh dengan kursi memiliki jarak lima ratus tahun. Sedangkan jarak antara kursi dengan air sejauh lima ratus tahun. Kursi terdapat di atas air, sedangkan Allah berada di atas kursi. Tidak ada dari amal-amal kalian yang tersembunyi bagi-Nya.”[18] HR. As-Suyuthi dalam Ad-Durul Mantsur, 1: 328. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kursi Allah, permisalannya seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir. Sedangkan, ‘Arsy Allah itu jauh lebih besar dibandingkan kursi Allah, permisalannya seperti padang pasir dibandingkan cincin tersebut.”[19] QS. Al-Haaqqah ayat 17. Allah Ta’ala berfirman, “Dan para malaikat berada di penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat membawa ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.”[20] HR. Abu Daud no. 4727. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah yang memikul ‘Arsy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya berjarak sejauh tujuh ratus tahun perjalanan.”[21] QS. Thaha ayat 5. Allah Ta’ala berfirman, “(Allah) Yang Maha Penyayang beristiwa di atas ‘Arsy.”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah


Mengenal Allah Ta’alaTentang kewajiban hamba untuk mengenal Rabbnya, renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا“Allahlah yang telah menciptakan tujuh langit dan demikian pula dengan bumi. Perintah Allah berlaku di antara keduanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” [1]Maka, pada ayat ini, Allah Ta’ala menyampaikan kepada segenap hamba bahwa tujuan penciptaan langit dan bumi beserta segala ketetapan yang belaku di antara keduanya adalah agar hamba tersebut mengenal Allah. Rabb yang telah menciptakan dirinya beserta seluruh makhluk selainnya. Maka, sudah sepatutnya seorang hamba mencari tahu siapakah Allah dan seperti apa Dia Subhanahu Wa Ta’ala?Pengetahuan umum tentang Allah, bisa diperoleh seorang hamba melalui tafakkur terhadap ayat-ayat kauniyah atau melalui ciptaan-ciptaan-Nya. Bahwasanya segala kerumitan, kompleksitas, dan keragaman yang ada pada makhluk, dari tingkatan atom, molekul, sel, organisme hidup, bumi, langit, dan seluruh alam semesta, menunjukkan bahwa keberadaan mereka tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Mereka tidak mungkin muncul secara tiba-tiba dan tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri. Pasti ada Intelligent Design (perancangan cerdas) di balik segala hal yang mengada. Ada Zat Yang Mahasempurna ilmu dan kuasanya yang telah menciptakan mereka. Dan bahwasanya Zat itu pasti tunggal dan Maha Esa (Al-Ahad). Karena jika ia berbilang, tentu para pencipta itu akan saling tanding menghasilkan ciptaan terbaik versi mereka masing-masing, dan terjadilah kehancuran dunia akibat peperangan mereka [2]. Namun, Mahasuci Allah dari yang demikian. Buktinya, dunia ini masih tegak tanpa cacat sedikit pun. Dia, Allah Ta’ala, sangat jauh dari apa yang disangkakan oleh manusia yang lemah dan terbatas daya nalarnya.Adapun pengetahuan rinci tentang Allah, dan ini hanya didapatkan sebagian kecil saja, tentu harus diambil dari ayat-ayat qauliyah. Melalui apa yang Dia sampaikan sendiri kepada hamba-Nya melalui kitab-Nya. Yakni, melalui Al-Qur’an yang Mulia. Karena tidak ada yang lebih mengenal diri-Nya, kecuali Dia sendiri ‘Azza wa Jalla. Begitu juga, kabar tentang-Nya dapat diperoleh melalui sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni melalui hadis-hadis yang sahih. Karena dialah hamba yang paling dekat dengan-Nya dan beliau mendapatkan pengetahuan langsung tentang Rabb-Nya dari-Nya sendiri ‘Azza wa Jalla. Selain itu, makrifat tentang Allah ini harus diambil sesuai dengan  pemahaman para salaf, yakni para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Karena kepada merekalah Al-Qur’an turun dan kepada mereka jugalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara secara langsung.Di antara pengetahuan yang disarikan dari kedua sumber tersebut adalah bahwa Allah Ta’ala adalah Zat yang azali yang tidak bermula dan tidak berakhir. Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir [3]. Di suatu masa, setelah menciptakan ‘Arsy sebagai makhluk pertama [4], kemudian Allah menciptakan sang pena dan memerintahkannya untuk menuliskan seluruh kejadian pada makhluk dari awal hingga akhir, di dalam sebuah kitab yang terjaga, lauhul mahfudz [5]. Lima puluh ribu tahun setelah itu, Allah kemudian menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dalam enam masa [6]. Begitu juga Allah ciptakan kursi, surga, neraka, malaikat, jin, manusia, hewan, dan seluruh yang ada. Dialah Allah, Rabb semesta alam. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dan segala sesuatu selain dia adalah fana.Dialah Zat yang memiliki nama-nama yang terindah (asma’ul husna) [7] dan sifat-sifat yang Mahasempurna dan Mahatinggi (sifatul ‘ulya) [8]. Dan inilah poros, sumber, serta sebab asal muasal segala sesuatu. Seluruh ciptaan dan kejadian yang menimpa makhluk adalah pengejawantahan dari seluruh sifat-sifat yang Dia Subhanahu wa Ta’ala miliki [9].Dialah Yang Maha Pencipta (Al-Khaliq), maka seluruh makhluk menjadi ada. Dialah yang Maha Menguasai (Al-Qadir) dan Maha Mengatur lagi Maha Memelihara (Al-Muhaimin), sampai-sampai matahari, bumi, bulan, dan planet-planet yang beredar di orbitnya serta berputar pada porosnya, tidak bergeser sedikitpun darinya. Semuanya atas pengaturan dan kuasa Yang Maha Merajai (Al-Malik). Dialah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) yang kebaikan-kebaikan-Nya dinantikan seluruh makhluk, baik ikan-ikan di kedalaman lautan, burung-burung di awang-awang, hingga semut-semut yang berbiak di bawah permukaan tanah.Dialah Al-Bashir (Yang Maha Melihat), As-Sami’ (Yang Maha Mendengar), dan Al-Mujib (Yang Maha Mengabulkan) yang mengijabah doa hamba-Nya yang berada di tiga lapis kegelapan [10]. Dialah Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun) dan At-Tawwab (Maha Menerima tobat) yang kepada-Nya manusia yang lengah dan lemah bermaksiat. Bahkan, kegembiraan Allah terhadap tobat hambanya melebihi kegembiraan seorang pengelana yang kehilangan tunggangannya, kemudian tiba-tiba tunggangan itu muncul di hadapannya setelah ia kehilangan harapan dan berputus asa [11]. Seorang hamba yang datang mendekat kepada-Nya sambil berjalan, maka Dia akan menghampiri dan menyambut hamba-Nya dalam keadaan berlari [12].Sungguh Dialah Rabb Yang Mahabaik (Al-Barr) yang kebaikannya tidak bisa Anda hitung dan tidak bisa pula Anda rinci. Dialah Yang Mahakaya (Al-Ghani) yang tidak membutuhkan rezeki, ibadah, pujian, dan ketaatan hamba-Nya. Bahkan, merekalah yang butuh kepada rahmat dan kasih sayang-Nya. Dan, jika seluruh makhluk berkumpul untuk menghitung nikmat yang diberikan kepada mereka, niscaya mereka tidak akan mampu menghitungnya [13].Begitu pula pengetahuan dan ilmu Allah, sempurna dari segala sisinya. Dialah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui hingga yang rinci) yang ilmunya mencakup yang nampak maupun yang tersembunyi, serta yang global maupun yang detail. Mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Bahkan ia mengetahui segala yang tidak terjadi jika ia terjadi. Pengetahuannya meliputi segala hal dan tidak berbatas [14].Sungguh, Dialah Al-Kabir (Yang Mahabesar). Ia ciptakan manusia dari tanah dan mani yang hina [15], kemudian ia tempatkan mereka sebagai khalifah di atas permukaan bumi [16], di langit lapis pertama. Kemudian, langit pertama ini diliputi oleh langit kedua, yang jarak antara keduanya sejauh 500 tahun perjalanan. Begitu juga langit ketiga, langit keempat, hingga langit ketujuh, saling melingkupi satu sama lain, yang jaraknya masing-masing juga 500 tahun perjalanan. Kemudian tujuh langit ini diliputi oleh kursi Allah [17]. Yang perbandingannya seperti cincin dilemparkan di atas padang pasir.Begitu juga kursi Allah diliputi oleh ‘Arsy-Nya, yang perbandingannya juga seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir [18]. ‘Arsy inilah makhluk-Nya yang paling besar, yang dipikul oleh delapan malaikat [19]. Dan salah satu malaikat pemikul ‘Arsy, jarak antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan [20]. Dan Allah tentu jauh lebih besar dibandingkan semua ini. Dan ia ber-istiwa di atas ‘Arsy [21], di atas semua makhluk-Nya. Dialah  Allah, Rabb Yang Mahaagung lagi Mahabesar. Sementara Anda hanyalah debu dan atom di antara makhluk-makhluk-Nya yang ada.Maka, apa yang baru Anda baca, berkisar pada dua dari tiga jenis tauhid yang biasa dibicarakan oleh para ulama, yakni tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Pengenalan seorang hamba pada dua jenis tauhid ini berbanding lurus dengan kecintaan dan ketundukannya kepada Rabb-Nya. Semakin ia mengenal Rabb-Nya, maka ia akan semakin taat, semakin khusyuk, semakin berharap, dan semakin cinta kepada-Nya, sekaligus semakin takut akan murka dan siksa-Nya. Sikap ini kemudian akan melahirkan penghambaan diri yang sejati berupa ibadah kepada Allah saja, yang merupakan tujuan kedua penciptaan seorang hamba.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3 ***Disarikan pada Malam 20 Ramadhan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan Rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Ath-Thalaq ayat 12.[2] QS. Al-Anbiya ayat 22. Allah Ta’ala berfirman, “Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, sudah barang tentu keduanya itu telah rusak binasa. Maka, Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.”[3] QS. Al-Hadid ayat 3. Allah Ta’ala berfirman, “Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir, Azh-Zhahir dan Al-Bathin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”[4] HR. Muslim no. 2653. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”[5] HR. Tirmidzi no. 2155. “Sesungguhnya (makhluk) yang pertama Allah ciptakan (sesudah ‘Arsy) adalah pena, kemudian Allah berfirman, “Tulislah!” Pena bertanya, “Apa yang harus aku tulis?” Allah kemudian berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu dan kejadian yang terjadi padanya selamanya!” (Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih).[6] QS. Hud ayat 7. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air.”[7] QS. Al-A’raf ayat 180. Allah Ta’ala berfirman, “Milik Allah sajalah nama-nama yang terindah (asmaul husna). Oleh karena itu, memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama terindah itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nantinya, mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat.”[8] QS. An-Nahl ayat 60. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang tidak beriman terhadap kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang jelek; dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”[9] Dalam kitabnya, Fiqh Al-Asma Al-Husna, Syekh Abdurrazzaq menuliskan, “…. bahwasanya seluruh yang ada di alam semesta ini,  dari langit dan bumi, matahari dan bulan, malam dan siang, gunung-gunung, lautan, gerak dan diamnya makhluk, semuanya termasuk bagian dari konsekuensi dan pengaruh nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. (Fiqh Al-Asma Al-Husna, hal. 22, karya Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, Penerbit: Daar At-Tauhid Li-An-Nasyr)[10] QS. Al-Anbiya ayat 87 . Di dalam ayat yang mulia ini, Nabi Yunus ‘alahis salam yang berada di lapis  kegelapan (kegelapan di dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan tatkala malam yang gulita), berdoa kepada Rabbnya, “Bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim.”[11] HR. Muslim no. 2747. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Sesungguhnya kegembiraan Allah terhadap tobat hamba-Nya tatkala ia bertobat kepada-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (gurun pasir), kemudian hewan tunggangannya itu lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalannya, berupa makanan dan minuman. Sampai-sampai ia pun berputus asa.Setelah itu, ia pergi ke sebuah pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan hati yang kehilangan harapan. Tiba-tiba ketika ia dalam kondisi demikian, tunggangannya tampak berdiri di sebelahnya. Kemudian ia mengikatnya. Karena saking gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah mengucapkan hal yang salah karena sangat bergembira.”[12] HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675. Di dalam hadis ini, Rasulullah bersabda, “ … Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”[13] QS. An-Nahl ayat 18. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kalian hendak menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[14] QS. Al-Kahfi ayat 109. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (mencatat) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah (air) lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (juga).'”[15] QS. Al-Hijr ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”QS. Yasin ayat 77. Allah Ta’ala berfirman, “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakan ia dari setetes air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”[16] QS. Al-Baqarah ayat 30. Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[17] HR. Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid, hal. 105 dan Al-Baihaqi dalam ‘Al-Asma wa Ash-Shifat, hal. 401. Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Antara langit dunia dengan langit berikutnya memiliki jarak lima ratus tahun, dan jarak antara masing-masing langit sejauh lima ratus tahun. Antara langit ketujuh dengan kursi memiliki jarak lima ratus tahun. Sedangkan jarak antara kursi dengan air sejauh lima ratus tahun. Kursi terdapat di atas air, sedangkan Allah berada di atas kursi. Tidak ada dari amal-amal kalian yang tersembunyi bagi-Nya.”[18] HR. As-Suyuthi dalam Ad-Durul Mantsur, 1: 328. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kursi Allah, permisalannya seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir. Sedangkan, ‘Arsy Allah itu jauh lebih besar dibandingkan kursi Allah, permisalannya seperti padang pasir dibandingkan cincin tersebut.”[19] QS. Al-Haaqqah ayat 17. Allah Ta’ala berfirman, “Dan para malaikat berada di penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat membawa ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.”[20] HR. Abu Daud no. 4727. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah yang memikul ‘Arsy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya berjarak sejauh tujuh ratus tahun perjalanan.”[21] QS. Thaha ayat 5. Allah Ta’ala berfirman, “(Allah) Yang Maha Penyayang beristiwa di atas ‘Arsy.”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Antara Peleburan Dosa di Dunia dan di Akhirat (Bag. 2)

Bismillah.Wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaPeleburan dosa di duniaPeleburan dosa di alam barzakhPeleburan dosa di padang mahsyarPeleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)Peleburan dosa di nerakaSurga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaSebelum kita mempelajari peleburan dosa, perlu kita ketahui mengapa harus ada peleburan dosa? Jawabannya adalah karena surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosa. Allah Ta’ala berfirman,وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, telah bersih kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)Orang yang masih membawa dosa bukanlah orang baik yang layak masuk surga. Maka, dosanya haruslah dibersihkan agar bisa masuk surga, seperti pembersihan emas dari karatnya. Dan pembersihan dosa ini bisa terjadi di 5 tempat, yaitu: 1) dunia; 2) alam barzakh; 3) padang mahsyar; 4) qantharah; dan 5) neraka.Peleburan dosa di duniaPembersihan dosa di dunia itu dengan 4 bentuk, yaitu:Pertama: TobatDosa apapun apabila seorang bertobat darinya dengan memenuhi syarat-syarat diterimanya tobat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana dalam surah Az-Zumar ayat 53, surah An-Nur ayat 31, juga berdasarkan surah Al-Furqan ayat 68 sampai 70.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. (Yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)Kedua: Istigfar Istigfar adalah doa. Bisa dikabulkan sehingga diampuni, bisa juga tidak. Tetapi, kalau diiringi tobat yang memenuhi syarat diterimanya, maka pasti dosa diampuni, sebagaimana dalam hadis riwayat Tirmidzi (dengan derajat hasan).Ketiga: Amal salehAmal saleh adalah pelebur dosa. Pendapat terkuat adalah pada asalnya melebur dosa kecil saja. Namun, sebagian amalan saleh yang berkualitas bisa melebur dosa besar, hanya saja berat untuk melakukan amalan saleh berkualitas itu. Hal ini sebagaimana dalam surah Hud ayat 114. Allah Ta’ala berfirman,وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”Keempat: MusibahMusibah adalah pelebur dosa. Hal ini sebagaimana dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Dan dosa yang terlebur hanyalah dosa kecil, meskipun tanpa sabar. Sedangkan jika dengan sabar, maka dosa terlebur, plus dapat pahala.Baca juga: Di Balik Musibah yang MenimpaPeleburan dosa di alam barzakhPembersihan dosa di alam barzakh itu dengan 3 bentuk:Pertama: Salat jenazah, istigfar, dan doa di dalamnya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya hadis riwayat Muslim.Kedua: Kengerian alam kubur.Ketiga: Beberapa amal orang yang hidup untuk mayit, seperti: doa, istigfar, hadiah pahala (sedekah, haji, puasa atas nama mayit, dan lain-lain). Hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Peleburan dosa di padang mahsyarPembersihan dosa di padang mahsyar itu ada empat bentuk, yaitu:Pertama: Kengerian hari kiamat. (QS. Al-Hajj: 2)يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ“(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu). Semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya. Dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya. Dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.”Kedua: Penderitaan di padang Mahsyar.Ketiga: Syafa’at. Dalilnya banyak, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Keempat: Maaf dari Allah Ta’ala.Peleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)“Ketika orang-orang beriman telah mampu melewati neraka, mereka tertahan di qantharah, sebuah tempat antara surga dan neraka. Lalu, mereka saling qishash terkait dengan kezaliman yang pernah mereka lakukan ketika di dunia sampai bersih dan suci. Baru setelah itu, mereka diizinkan masuk surga.” (HR. Bukhari)Peleburan dosa di nerakaApabila masih tersisa dosa setelah pembersihan di tiga tempat, yaitu: di alam dunia, alam barzakh dan padang mahsyar, maka haruslah dibersihkan dosa yang masih tersisa itu di neraka. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita darinya.Sedangkan penghuni neraka dari kalangan muslimin masih bisa dikeluarkan dari neraka dengan 2 bentuk:Pertama: Syafa’at sebelum tertunaikan azab baginya dengan lengkap.Kedua: Pembersihan dosa sampai lengkap jatah azab baginya, lalu dengan rahmat Allah, ia keluar dari neraka.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: bahaya dosadosapenghapus dosa

Antara Peleburan Dosa di Dunia dan di Akhirat (Bag. 2)

Bismillah.Wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaPeleburan dosa di duniaPeleburan dosa di alam barzakhPeleburan dosa di padang mahsyarPeleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)Peleburan dosa di nerakaSurga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaSebelum kita mempelajari peleburan dosa, perlu kita ketahui mengapa harus ada peleburan dosa? Jawabannya adalah karena surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosa. Allah Ta’ala berfirman,وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, telah bersih kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)Orang yang masih membawa dosa bukanlah orang baik yang layak masuk surga. Maka, dosanya haruslah dibersihkan agar bisa masuk surga, seperti pembersihan emas dari karatnya. Dan pembersihan dosa ini bisa terjadi di 5 tempat, yaitu: 1) dunia; 2) alam barzakh; 3) padang mahsyar; 4) qantharah; dan 5) neraka.Peleburan dosa di duniaPembersihan dosa di dunia itu dengan 4 bentuk, yaitu:Pertama: TobatDosa apapun apabila seorang bertobat darinya dengan memenuhi syarat-syarat diterimanya tobat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana dalam surah Az-Zumar ayat 53, surah An-Nur ayat 31, juga berdasarkan surah Al-Furqan ayat 68 sampai 70.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. (Yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)Kedua: Istigfar Istigfar adalah doa. Bisa dikabulkan sehingga diampuni, bisa juga tidak. Tetapi, kalau diiringi tobat yang memenuhi syarat diterimanya, maka pasti dosa diampuni, sebagaimana dalam hadis riwayat Tirmidzi (dengan derajat hasan).Ketiga: Amal salehAmal saleh adalah pelebur dosa. Pendapat terkuat adalah pada asalnya melebur dosa kecil saja. Namun, sebagian amalan saleh yang berkualitas bisa melebur dosa besar, hanya saja berat untuk melakukan amalan saleh berkualitas itu. Hal ini sebagaimana dalam surah Hud ayat 114. Allah Ta’ala berfirman,وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”Keempat: MusibahMusibah adalah pelebur dosa. Hal ini sebagaimana dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Dan dosa yang terlebur hanyalah dosa kecil, meskipun tanpa sabar. Sedangkan jika dengan sabar, maka dosa terlebur, plus dapat pahala.Baca juga: Di Balik Musibah yang MenimpaPeleburan dosa di alam barzakhPembersihan dosa di alam barzakh itu dengan 3 bentuk:Pertama: Salat jenazah, istigfar, dan doa di dalamnya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya hadis riwayat Muslim.Kedua: Kengerian alam kubur.Ketiga: Beberapa amal orang yang hidup untuk mayit, seperti: doa, istigfar, hadiah pahala (sedekah, haji, puasa atas nama mayit, dan lain-lain). Hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Peleburan dosa di padang mahsyarPembersihan dosa di padang mahsyar itu ada empat bentuk, yaitu:Pertama: Kengerian hari kiamat. (QS. Al-Hajj: 2)يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ“(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu). Semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya. Dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya. Dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.”Kedua: Penderitaan di padang Mahsyar.Ketiga: Syafa’at. Dalilnya banyak, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Keempat: Maaf dari Allah Ta’ala.Peleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)“Ketika orang-orang beriman telah mampu melewati neraka, mereka tertahan di qantharah, sebuah tempat antara surga dan neraka. Lalu, mereka saling qishash terkait dengan kezaliman yang pernah mereka lakukan ketika di dunia sampai bersih dan suci. Baru setelah itu, mereka diizinkan masuk surga.” (HR. Bukhari)Peleburan dosa di nerakaApabila masih tersisa dosa setelah pembersihan di tiga tempat, yaitu: di alam dunia, alam barzakh dan padang mahsyar, maka haruslah dibersihkan dosa yang masih tersisa itu di neraka. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita darinya.Sedangkan penghuni neraka dari kalangan muslimin masih bisa dikeluarkan dari neraka dengan 2 bentuk:Pertama: Syafa’at sebelum tertunaikan azab baginya dengan lengkap.Kedua: Pembersihan dosa sampai lengkap jatah azab baginya, lalu dengan rahmat Allah, ia keluar dari neraka.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: bahaya dosadosapenghapus dosa
Bismillah.Wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaPeleburan dosa di duniaPeleburan dosa di alam barzakhPeleburan dosa di padang mahsyarPeleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)Peleburan dosa di nerakaSurga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaSebelum kita mempelajari peleburan dosa, perlu kita ketahui mengapa harus ada peleburan dosa? Jawabannya adalah karena surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosa. Allah Ta’ala berfirman,وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, telah bersih kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)Orang yang masih membawa dosa bukanlah orang baik yang layak masuk surga. Maka, dosanya haruslah dibersihkan agar bisa masuk surga, seperti pembersihan emas dari karatnya. Dan pembersihan dosa ini bisa terjadi di 5 tempat, yaitu: 1) dunia; 2) alam barzakh; 3) padang mahsyar; 4) qantharah; dan 5) neraka.Peleburan dosa di duniaPembersihan dosa di dunia itu dengan 4 bentuk, yaitu:Pertama: TobatDosa apapun apabila seorang bertobat darinya dengan memenuhi syarat-syarat diterimanya tobat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana dalam surah Az-Zumar ayat 53, surah An-Nur ayat 31, juga berdasarkan surah Al-Furqan ayat 68 sampai 70.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. (Yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)Kedua: Istigfar Istigfar adalah doa. Bisa dikabulkan sehingga diampuni, bisa juga tidak. Tetapi, kalau diiringi tobat yang memenuhi syarat diterimanya, maka pasti dosa diampuni, sebagaimana dalam hadis riwayat Tirmidzi (dengan derajat hasan).Ketiga: Amal salehAmal saleh adalah pelebur dosa. Pendapat terkuat adalah pada asalnya melebur dosa kecil saja. Namun, sebagian amalan saleh yang berkualitas bisa melebur dosa besar, hanya saja berat untuk melakukan amalan saleh berkualitas itu. Hal ini sebagaimana dalam surah Hud ayat 114. Allah Ta’ala berfirman,وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”Keempat: MusibahMusibah adalah pelebur dosa. Hal ini sebagaimana dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Dan dosa yang terlebur hanyalah dosa kecil, meskipun tanpa sabar. Sedangkan jika dengan sabar, maka dosa terlebur, plus dapat pahala.Baca juga: Di Balik Musibah yang MenimpaPeleburan dosa di alam barzakhPembersihan dosa di alam barzakh itu dengan 3 bentuk:Pertama: Salat jenazah, istigfar, dan doa di dalamnya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya hadis riwayat Muslim.Kedua: Kengerian alam kubur.Ketiga: Beberapa amal orang yang hidup untuk mayit, seperti: doa, istigfar, hadiah pahala (sedekah, haji, puasa atas nama mayit, dan lain-lain). Hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Peleburan dosa di padang mahsyarPembersihan dosa di padang mahsyar itu ada empat bentuk, yaitu:Pertama: Kengerian hari kiamat. (QS. Al-Hajj: 2)يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ“(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu). Semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya. Dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya. Dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.”Kedua: Penderitaan di padang Mahsyar.Ketiga: Syafa’at. Dalilnya banyak, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Keempat: Maaf dari Allah Ta’ala.Peleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)“Ketika orang-orang beriman telah mampu melewati neraka, mereka tertahan di qantharah, sebuah tempat antara surga dan neraka. Lalu, mereka saling qishash terkait dengan kezaliman yang pernah mereka lakukan ketika di dunia sampai bersih dan suci. Baru setelah itu, mereka diizinkan masuk surga.” (HR. Bukhari)Peleburan dosa di nerakaApabila masih tersisa dosa setelah pembersihan di tiga tempat, yaitu: di alam dunia, alam barzakh dan padang mahsyar, maka haruslah dibersihkan dosa yang masih tersisa itu di neraka. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita darinya.Sedangkan penghuni neraka dari kalangan muslimin masih bisa dikeluarkan dari neraka dengan 2 bentuk:Pertama: Syafa’at sebelum tertunaikan azab baginya dengan lengkap.Kedua: Pembersihan dosa sampai lengkap jatah azab baginya, lalu dengan rahmat Allah, ia keluar dari neraka.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: bahaya dosadosapenghapus dosa


Bismillah.Wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaPeleburan dosa di duniaPeleburan dosa di alam barzakhPeleburan dosa di padang mahsyarPeleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)Peleburan dosa di nerakaSurga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaSebelum kita mempelajari peleburan dosa, perlu kita ketahui mengapa harus ada peleburan dosa? Jawabannya adalah karena surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosa. Allah Ta’ala berfirman,وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, telah bersih kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)Orang yang masih membawa dosa bukanlah orang baik yang layak masuk surga. Maka, dosanya haruslah dibersihkan agar bisa masuk surga, seperti pembersihan emas dari karatnya. Dan pembersihan dosa ini bisa terjadi di 5 tempat, yaitu: 1) dunia; 2) alam barzakh; 3) padang mahsyar; 4) qantharah; dan 5) neraka.Peleburan dosa di duniaPembersihan dosa di dunia itu dengan 4 bentuk, yaitu:Pertama: TobatDosa apapun apabila seorang bertobat darinya dengan memenuhi syarat-syarat diterimanya tobat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana dalam surah Az-Zumar ayat 53, surah An-Nur ayat 31, juga berdasarkan surah Al-Furqan ayat 68 sampai 70.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. (Yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)Kedua: Istigfar Istigfar adalah doa. Bisa dikabulkan sehingga diampuni, bisa juga tidak. Tetapi, kalau diiringi tobat yang memenuhi syarat diterimanya, maka pasti dosa diampuni, sebagaimana dalam hadis riwayat Tirmidzi (dengan derajat hasan).Ketiga: Amal salehAmal saleh adalah pelebur dosa. Pendapat terkuat adalah pada asalnya melebur dosa kecil saja. Namun, sebagian amalan saleh yang berkualitas bisa melebur dosa besar, hanya saja berat untuk melakukan amalan saleh berkualitas itu. Hal ini sebagaimana dalam surah Hud ayat 114. Allah Ta’ala berfirman,وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”Keempat: MusibahMusibah adalah pelebur dosa. Hal ini sebagaimana dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Dan dosa yang terlebur hanyalah dosa kecil, meskipun tanpa sabar. Sedangkan jika dengan sabar, maka dosa terlebur, plus dapat pahala.Baca juga: Di Balik Musibah yang MenimpaPeleburan dosa di alam barzakhPembersihan dosa di alam barzakh itu dengan 3 bentuk:Pertama: Salat jenazah, istigfar, dan doa di dalamnya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya hadis riwayat Muslim.Kedua: Kengerian alam kubur.Ketiga: Beberapa amal orang yang hidup untuk mayit, seperti: doa, istigfar, hadiah pahala (sedekah, haji, puasa atas nama mayit, dan lain-lain). Hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Peleburan dosa di padang mahsyarPembersihan dosa di padang mahsyar itu ada empat bentuk, yaitu:Pertama: Kengerian hari kiamat. (QS. Al-Hajj: 2)يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ“(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu). Semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya. Dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya. Dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.”Kedua: Penderitaan di padang Mahsyar.Ketiga: Syafa’at. Dalilnya banyak, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Keempat: Maaf dari Allah Ta’ala.Peleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)“Ketika orang-orang beriman telah mampu melewati neraka, mereka tertahan di qantharah, sebuah tempat antara surga dan neraka. Lalu, mereka saling qishash terkait dengan kezaliman yang pernah mereka lakukan ketika di dunia sampai bersih dan suci. Baru setelah itu, mereka diizinkan masuk surga.” (HR. Bukhari)Peleburan dosa di nerakaApabila masih tersisa dosa setelah pembersihan di tiga tempat, yaitu: di alam dunia, alam barzakh dan padang mahsyar, maka haruslah dibersihkan dosa yang masih tersisa itu di neraka. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita darinya.Sedangkan penghuni neraka dari kalangan muslimin masih bisa dikeluarkan dari neraka dengan 2 bentuk:Pertama: Syafa’at sebelum tertunaikan azab baginya dengan lengkap.Kedua: Pembersihan dosa sampai lengkap jatah azab baginya, lalu dengan rahmat Allah, ia keluar dari neraka.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: bahaya dosadosapenghapus dosa

Antara Peleburan Dosa di Dunia dan di Akhirat (Bag. 3)

Bismillah, wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Syarat-syarat tobatIslamIkhlasMenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaSebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Syarat-syarat tobatTobat adalah termasuk pelebur dosa yang terbesar. Tidak ada satu pun dosa yang sanggup berhadapan dengan tobat. Oleh karena itu, di bagian terahir dari serial tulisan ini, kami akan bawakan tujuh syarat agar tobat diterima oleh Allah Ta’ala:IslamAllah Ta’ala tidaklah menerima tobat jika pelakunya masih kafir. Karena kekafiran itu menggugurkan seluruh amal, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan seandainya mereka (para nabi) menyekutukan(-Nya), maka akan gugur dari mereka semua apa yang mereka lakukan.” (QS. Al-An’am: 88)Demikian pula, dalam surah Ibrahim ayat 26 dengan tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa tidak diterima amal apapun jika disertai dengan kesyirikan (kekafiran) [1]. Sedangkan tobat itu sendiri adalah amalan saleh.IkhlasAllah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 146,إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّه فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا   “Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”MenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaDalil dari 3 syarat ini adalah firman Allah Ta’ala di surah Ali ‘Imran ayat 135 dan 136,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ     “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan buruk yang mereka lakukan, sedangkan mereka mengetahui.”أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ   “Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”Syekh Bin Baz rahimahullah menjelaskan ayat di atas [2] bahwa maksud “tidak meneruskan perbuatan maksiat” adalah syarat sahnya tobat. Dan tidaklah bisa terlaksana hal ini, kecuali dengan meninggalkan maksiat dan berhenti darinya serta bertekad bulat tidak mengulanginya lagi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Menyesal adalah tobat.”  (HR. Ahmad, sahih)Sebagian ulama menjelaskan bahwa tobat cukup terealisir dengan menyesal, karena menyesal berkonsekuensi seseorang berhenti dari dosa dan bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Keduanya tumbuh dari sikap menyesal. [3]Sebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nisa’ ayat 18,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan keburukan (yang) hingga apabila datang sakaratul maut kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ الله عزَّ وجَلَّ يقْبَلُ توْبة العبْدِ مَا لَم يُغرْغرِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama rohnya belum sampai ke tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)Maksudnya adalah apabila seseorang sudah merasakan sakitnya sakaratul maut karena proses pencabutan roh sudah sampai tenggorokan. Ketika itu, seseorang telah melihat malaikat maut dan telah yakin ia akan segera mati serta tak bisa kembali ke dunia lagi. Maka, tobat pada kondisi itu tidak diterima oleh Allah, karena yang dijadikan patokan adalah iman kepada perkara gaib. [4]Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 158,هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ   “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).'”Maksud “datangnya ayat dari Tuhanmu” dalam firman Allah di atas adalah terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya (barat), sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat), niscaya Allah akan terima tobatnya.” (HR. Muslim)Salah satu saja dari ketujuh syarat ini tidak ada pada diri seseorang, maka tobatnya tidaklah diterima oleh Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.[Selesai]Kembali ke bagian 2 Mulai dari bagian 1***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Adab Asy-Syar’iyyah (https://Islamweb.net/ar/library/index.php?page=bookcontents&idfrom=44&idto=44&bk_no=43&ID=25)[2] https://binbaz.org.sa/fatwas/2232/ادلة-شروط-التوبة[3] Fathul Bari (https://Islamqa.info/ar/answers/289765/)[4] https://www.dorar.net/hadith/sharh/65540Tags: bahaya dosadosapenghapus dosa

Antara Peleburan Dosa di Dunia dan di Akhirat (Bag. 3)

Bismillah, wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Syarat-syarat tobatIslamIkhlasMenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaSebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Syarat-syarat tobatTobat adalah termasuk pelebur dosa yang terbesar. Tidak ada satu pun dosa yang sanggup berhadapan dengan tobat. Oleh karena itu, di bagian terahir dari serial tulisan ini, kami akan bawakan tujuh syarat agar tobat diterima oleh Allah Ta’ala:IslamAllah Ta’ala tidaklah menerima tobat jika pelakunya masih kafir. Karena kekafiran itu menggugurkan seluruh amal, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan seandainya mereka (para nabi) menyekutukan(-Nya), maka akan gugur dari mereka semua apa yang mereka lakukan.” (QS. Al-An’am: 88)Demikian pula, dalam surah Ibrahim ayat 26 dengan tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa tidak diterima amal apapun jika disertai dengan kesyirikan (kekafiran) [1]. Sedangkan tobat itu sendiri adalah amalan saleh.IkhlasAllah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 146,إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّه فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا   “Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”MenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaDalil dari 3 syarat ini adalah firman Allah Ta’ala di surah Ali ‘Imran ayat 135 dan 136,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ     “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan buruk yang mereka lakukan, sedangkan mereka mengetahui.”أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ   “Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”Syekh Bin Baz rahimahullah menjelaskan ayat di atas [2] bahwa maksud “tidak meneruskan perbuatan maksiat” adalah syarat sahnya tobat. Dan tidaklah bisa terlaksana hal ini, kecuali dengan meninggalkan maksiat dan berhenti darinya serta bertekad bulat tidak mengulanginya lagi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Menyesal adalah tobat.”  (HR. Ahmad, sahih)Sebagian ulama menjelaskan bahwa tobat cukup terealisir dengan menyesal, karena menyesal berkonsekuensi seseorang berhenti dari dosa dan bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Keduanya tumbuh dari sikap menyesal. [3]Sebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nisa’ ayat 18,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan keburukan (yang) hingga apabila datang sakaratul maut kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ الله عزَّ وجَلَّ يقْبَلُ توْبة العبْدِ مَا لَم يُغرْغرِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama rohnya belum sampai ke tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)Maksudnya adalah apabila seseorang sudah merasakan sakitnya sakaratul maut karena proses pencabutan roh sudah sampai tenggorokan. Ketika itu, seseorang telah melihat malaikat maut dan telah yakin ia akan segera mati serta tak bisa kembali ke dunia lagi. Maka, tobat pada kondisi itu tidak diterima oleh Allah, karena yang dijadikan patokan adalah iman kepada perkara gaib. [4]Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 158,هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ   “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).'”Maksud “datangnya ayat dari Tuhanmu” dalam firman Allah di atas adalah terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya (barat), sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat), niscaya Allah akan terima tobatnya.” (HR. Muslim)Salah satu saja dari ketujuh syarat ini tidak ada pada diri seseorang, maka tobatnya tidaklah diterima oleh Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.[Selesai]Kembali ke bagian 2 Mulai dari bagian 1***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Adab Asy-Syar’iyyah (https://Islamweb.net/ar/library/index.php?page=bookcontents&idfrom=44&idto=44&bk_no=43&ID=25)[2] https://binbaz.org.sa/fatwas/2232/ادلة-شروط-التوبة[3] Fathul Bari (https://Islamqa.info/ar/answers/289765/)[4] https://www.dorar.net/hadith/sharh/65540Tags: bahaya dosadosapenghapus dosa
Bismillah, wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Syarat-syarat tobatIslamIkhlasMenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaSebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Syarat-syarat tobatTobat adalah termasuk pelebur dosa yang terbesar. Tidak ada satu pun dosa yang sanggup berhadapan dengan tobat. Oleh karena itu, di bagian terahir dari serial tulisan ini, kami akan bawakan tujuh syarat agar tobat diterima oleh Allah Ta’ala:IslamAllah Ta’ala tidaklah menerima tobat jika pelakunya masih kafir. Karena kekafiran itu menggugurkan seluruh amal, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan seandainya mereka (para nabi) menyekutukan(-Nya), maka akan gugur dari mereka semua apa yang mereka lakukan.” (QS. Al-An’am: 88)Demikian pula, dalam surah Ibrahim ayat 26 dengan tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa tidak diterima amal apapun jika disertai dengan kesyirikan (kekafiran) [1]. Sedangkan tobat itu sendiri adalah amalan saleh.IkhlasAllah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 146,إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّه فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا   “Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”MenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaDalil dari 3 syarat ini adalah firman Allah Ta’ala di surah Ali ‘Imran ayat 135 dan 136,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ     “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan buruk yang mereka lakukan, sedangkan mereka mengetahui.”أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ   “Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”Syekh Bin Baz rahimahullah menjelaskan ayat di atas [2] bahwa maksud “tidak meneruskan perbuatan maksiat” adalah syarat sahnya tobat. Dan tidaklah bisa terlaksana hal ini, kecuali dengan meninggalkan maksiat dan berhenti darinya serta bertekad bulat tidak mengulanginya lagi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Menyesal adalah tobat.”  (HR. Ahmad, sahih)Sebagian ulama menjelaskan bahwa tobat cukup terealisir dengan menyesal, karena menyesal berkonsekuensi seseorang berhenti dari dosa dan bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Keduanya tumbuh dari sikap menyesal. [3]Sebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nisa’ ayat 18,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan keburukan (yang) hingga apabila datang sakaratul maut kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ الله عزَّ وجَلَّ يقْبَلُ توْبة العبْدِ مَا لَم يُغرْغرِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama rohnya belum sampai ke tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)Maksudnya adalah apabila seseorang sudah merasakan sakitnya sakaratul maut karena proses pencabutan roh sudah sampai tenggorokan. Ketika itu, seseorang telah melihat malaikat maut dan telah yakin ia akan segera mati serta tak bisa kembali ke dunia lagi. Maka, tobat pada kondisi itu tidak diterima oleh Allah, karena yang dijadikan patokan adalah iman kepada perkara gaib. [4]Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 158,هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ   “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).'”Maksud “datangnya ayat dari Tuhanmu” dalam firman Allah di atas adalah terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya (barat), sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat), niscaya Allah akan terima tobatnya.” (HR. Muslim)Salah satu saja dari ketujuh syarat ini tidak ada pada diri seseorang, maka tobatnya tidaklah diterima oleh Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.[Selesai]Kembali ke bagian 2 Mulai dari bagian 1***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Adab Asy-Syar’iyyah (https://Islamweb.net/ar/library/index.php?page=bookcontents&idfrom=44&idto=44&bk_no=43&ID=25)[2] https://binbaz.org.sa/fatwas/2232/ادلة-شروط-التوبة[3] Fathul Bari (https://Islamqa.info/ar/answers/289765/)[4] https://www.dorar.net/hadith/sharh/65540Tags: bahaya dosadosapenghapus dosa


Bismillah, wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Syarat-syarat tobatIslamIkhlasMenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaSebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Syarat-syarat tobatTobat adalah termasuk pelebur dosa yang terbesar. Tidak ada satu pun dosa yang sanggup berhadapan dengan tobat. Oleh karena itu, di bagian terahir dari serial tulisan ini, kami akan bawakan tujuh syarat agar tobat diterima oleh Allah Ta’ala:IslamAllah Ta’ala tidaklah menerima tobat jika pelakunya masih kafir. Karena kekafiran itu menggugurkan seluruh amal, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan seandainya mereka (para nabi) menyekutukan(-Nya), maka akan gugur dari mereka semua apa yang mereka lakukan.” (QS. Al-An’am: 88)Demikian pula, dalam surah Ibrahim ayat 26 dengan tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa tidak diterima amal apapun jika disertai dengan kesyirikan (kekafiran) [1]. Sedangkan tobat itu sendiri adalah amalan saleh.IkhlasAllah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 146,إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّه فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا   “Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”MenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaDalil dari 3 syarat ini adalah firman Allah Ta’ala di surah Ali ‘Imran ayat 135 dan 136,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ     “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan buruk yang mereka lakukan, sedangkan mereka mengetahui.”أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ   “Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”Syekh Bin Baz rahimahullah menjelaskan ayat di atas [2] bahwa maksud “tidak meneruskan perbuatan maksiat” adalah syarat sahnya tobat. Dan tidaklah bisa terlaksana hal ini, kecuali dengan meninggalkan maksiat dan berhenti darinya serta bertekad bulat tidak mengulanginya lagi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Menyesal adalah tobat.”  (HR. Ahmad, sahih)Sebagian ulama menjelaskan bahwa tobat cukup terealisir dengan menyesal, karena menyesal berkonsekuensi seseorang berhenti dari dosa dan bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Keduanya tumbuh dari sikap menyesal. [3]Sebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nisa’ ayat 18,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan keburukan (yang) hingga apabila datang sakaratul maut kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ الله عزَّ وجَلَّ يقْبَلُ توْبة العبْدِ مَا لَم يُغرْغرِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama rohnya belum sampai ke tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)Maksudnya adalah apabila seseorang sudah merasakan sakitnya sakaratul maut karena proses pencabutan roh sudah sampai tenggorokan. Ketika itu, seseorang telah melihat malaikat maut dan telah yakin ia akan segera mati serta tak bisa kembali ke dunia lagi. Maka, tobat pada kondisi itu tidak diterima oleh Allah, karena yang dijadikan patokan adalah iman kepada perkara gaib. [4]Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 158,هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ   “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).'”Maksud “datangnya ayat dari Tuhanmu” dalam firman Allah di atas adalah terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya (barat), sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat), niscaya Allah akan terima tobatnya.” (HR. Muslim)Salah satu saja dari ketujuh syarat ini tidak ada pada diri seseorang, maka tobatnya tidaklah diterima oleh Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.[Selesai]Kembali ke bagian 2 Mulai dari bagian 1***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Adab Asy-Syar’iyyah (https://Islamweb.net/ar/library/index.php?page=bookcontents&idfrom=44&idto=44&bk_no=43&ID=25)[2] https://binbaz.org.sa/fatwas/2232/ادلة-شروط-التوبة[3] Fathul Bari (https://Islamqa.info/ar/answers/289765/)[4] https://www.dorar.net/hadith/sharh/65540Tags: bahaya dosadosapenghapus dosa

Antara Peleburan Dosa di Dunia dan di Akhirat (Bag. 1)

Bismillah.Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Urgensi mempelajari peleburan dosaApakah dosa dan peleburan dosa itu?Macam-macam dosa dalam IslamDosa yang tidak diampuni (jika mati tidak bertobat)Apakah dosa terkait dengan hak makhluk itu termasuk dosa yang diampuni Allah meski pelakunya meninggal tidak bertobat darinya?Urgensi mempelajari peleburan dosaAllah Ta’ala berfirman,وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, telah bersih kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)Allah Ta’ala sebutkan di ayat yang mulia ini bahwa seluruh ahlul jannah masuk surga dalam keadaan telah bersih dari dosa-dosanya. Sehingga, barangsiapa yang ingin masuk surga, maka hendaklah mengambil sebab-sebab peleburan dosanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كلُّ ابنِ آدمَ خطَّاءٌ، وخَيرُ الخطَّائين التوَّابونَ“Setiap manusia keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam banyak melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan banyak kesalahan adalah orang yang banyak bertobat.” (Hadis yang hasan, diriwayatkan At-Tirmidzi rahimahullah)Setiap muslim pasti memiliki dosa, sedangkan setiap muslim juga ingin masuk surga. Padahal surga itu tempat orang-orang yang telah bersih dari dosa. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin masuk surga, maka hendaklah mengambil sebab-sebab peleburan dosanya.Apakah dosa dan peleburan dosa itu?Untuk memahami pembahasan tema “Antara peleburan dosa di dunia dan akhirat”, maka perlu dipahami 3 hal:Pertama: Definisi dosa Dosa adalah sesuatu yang menyelisihi perintah syar’i, baik dengan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.Kedua: Peleburan dosaAllah Ta’ala mengampuni dosa, memaafkan hamba-Nya yang berdosa sehingga tidak menyiksanya.Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan bahwa dosa tidak bisa terhapus dari catatan amal, meskipun dengan tobat atau selainnya dari pelebur dosa. Pasti akan ditunjukkan dan dibaca oleh pelakunya. Hal ini berdasarkan surah Al-Kahfi ayat 49 dan surah Az-Zalzalah ayat 7 dan 8. Namun, akan tercatat pula tobatnya atau pelebur dosa lainnya. Jadi, dosa tercatat dan pelebur dosa juga tercatat.Ketiga: Pembagian dosaDalil dasar tentang pembagian dosa di antaranya adalah surat An-Nisa’ ayat 48 dan 116. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah tingkatan syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”Macam-macam dosa dalam IslamPertama: Syirik besar (dan setingkatnya)Kedua: Syirik kecil (dan setingkatnya)Ketiga: Bid’ahKeempat: Maksiat (dosa besar dan dosa kecil)Dalam surah An-Nisa’ ayat 48 terdapat 2 kelompok dosa, yaitu:Pertama: Syirik besar dan yang setingkatnyaKedua: Dosa di bawah syirik besar dan yang setingkatnya (baik syirik kecil, bid’ah, maksiat)Baca juga: Tolong Menolong dalam DosaDosa yang tidak diampuni (jika mati tidak bertobat)Ada dosa yang tidak diampuni jika mati belum bertobat. Dan ini ada dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan dosa tersebut adalah syirik besar (dan setingkatnya) dan syirik kecil. Pendapat kedua (pendapat terkuat) mengatakan dosa tersebut adalah syirik besar (dan setingkatnya) saja.Syirik besar adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang menjadi kekhususan Allah. Dosa setingkat syirik besar (selain syirik besar) adalah kufur besar dan nifaq besar. Disebut (disifati) dengan “besar” karena perbuatan tersebut dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam atau menghancurkan dasar iman. Akibat bagi pelakunya adalah: 1) tidak diampuni jika mati tidak tobat; 2) kekal selamanya di neraka; dan 3) menggugurkan seluruh amalan saleh yang sudah dilakukanApakah dosa terkait dengan hak makhluk itu termasuk dosa yang diampuni Allah meski pelakunya meninggal tidak bertobat darinya?Contoh dosa terkait dengan hak makhluk adalah mencuri, membunuh, menuduh zina, merampas harta, gibah, mencela, menghina, dan lain-lain.Tobat dari dosa terkait dengan hak makhluk adalah dengan menunaikan/mengembalikan hak mereka atau meminta kehalalan/maaf kepada mereka. Jika tidak bisa melakukan hal itu, maka pasti ada tuntutan di akhirat.Ini tidaklah bertentangan dengan surah An-Nisa’ ayat 48 karena dalam ayat ini disebutkan bahwa dosa di bawah tingkatan syirik besar diampuni Allah jika Allah menghendakinya. Berarti termasuk juga dosa terkait dengan hak makhluk yang tidak sampai membatalkan keislaman.Namun, tentunya Allah Mahaadil. Sehingga di akhirat itu tidak ada satu pun orang yang dirugikan, termasuk orang yang sewaktu di dunia dizalimi. Maka, pastilah Allah akan penuhi haknya, apabila Allah hendak mengampuni orang yang menzaliminya, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya.LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: bahaya dosadosapenghapus dosa

Antara Peleburan Dosa di Dunia dan di Akhirat (Bag. 1)

Bismillah.Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Urgensi mempelajari peleburan dosaApakah dosa dan peleburan dosa itu?Macam-macam dosa dalam IslamDosa yang tidak diampuni (jika mati tidak bertobat)Apakah dosa terkait dengan hak makhluk itu termasuk dosa yang diampuni Allah meski pelakunya meninggal tidak bertobat darinya?Urgensi mempelajari peleburan dosaAllah Ta’ala berfirman,وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, telah bersih kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)Allah Ta’ala sebutkan di ayat yang mulia ini bahwa seluruh ahlul jannah masuk surga dalam keadaan telah bersih dari dosa-dosanya. Sehingga, barangsiapa yang ingin masuk surga, maka hendaklah mengambil sebab-sebab peleburan dosanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كلُّ ابنِ آدمَ خطَّاءٌ، وخَيرُ الخطَّائين التوَّابونَ“Setiap manusia keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam banyak melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan banyak kesalahan adalah orang yang banyak bertobat.” (Hadis yang hasan, diriwayatkan At-Tirmidzi rahimahullah)Setiap muslim pasti memiliki dosa, sedangkan setiap muslim juga ingin masuk surga. Padahal surga itu tempat orang-orang yang telah bersih dari dosa. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin masuk surga, maka hendaklah mengambil sebab-sebab peleburan dosanya.Apakah dosa dan peleburan dosa itu?Untuk memahami pembahasan tema “Antara peleburan dosa di dunia dan akhirat”, maka perlu dipahami 3 hal:Pertama: Definisi dosa Dosa adalah sesuatu yang menyelisihi perintah syar’i, baik dengan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.Kedua: Peleburan dosaAllah Ta’ala mengampuni dosa, memaafkan hamba-Nya yang berdosa sehingga tidak menyiksanya.Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan bahwa dosa tidak bisa terhapus dari catatan amal, meskipun dengan tobat atau selainnya dari pelebur dosa. Pasti akan ditunjukkan dan dibaca oleh pelakunya. Hal ini berdasarkan surah Al-Kahfi ayat 49 dan surah Az-Zalzalah ayat 7 dan 8. Namun, akan tercatat pula tobatnya atau pelebur dosa lainnya. Jadi, dosa tercatat dan pelebur dosa juga tercatat.Ketiga: Pembagian dosaDalil dasar tentang pembagian dosa di antaranya adalah surat An-Nisa’ ayat 48 dan 116. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah tingkatan syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”Macam-macam dosa dalam IslamPertama: Syirik besar (dan setingkatnya)Kedua: Syirik kecil (dan setingkatnya)Ketiga: Bid’ahKeempat: Maksiat (dosa besar dan dosa kecil)Dalam surah An-Nisa’ ayat 48 terdapat 2 kelompok dosa, yaitu:Pertama: Syirik besar dan yang setingkatnyaKedua: Dosa di bawah syirik besar dan yang setingkatnya (baik syirik kecil, bid’ah, maksiat)Baca juga: Tolong Menolong dalam DosaDosa yang tidak diampuni (jika mati tidak bertobat)Ada dosa yang tidak diampuni jika mati belum bertobat. Dan ini ada dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan dosa tersebut adalah syirik besar (dan setingkatnya) dan syirik kecil. Pendapat kedua (pendapat terkuat) mengatakan dosa tersebut adalah syirik besar (dan setingkatnya) saja.Syirik besar adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang menjadi kekhususan Allah. Dosa setingkat syirik besar (selain syirik besar) adalah kufur besar dan nifaq besar. Disebut (disifati) dengan “besar” karena perbuatan tersebut dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam atau menghancurkan dasar iman. Akibat bagi pelakunya adalah: 1) tidak diampuni jika mati tidak tobat; 2) kekal selamanya di neraka; dan 3) menggugurkan seluruh amalan saleh yang sudah dilakukanApakah dosa terkait dengan hak makhluk itu termasuk dosa yang diampuni Allah meski pelakunya meninggal tidak bertobat darinya?Contoh dosa terkait dengan hak makhluk adalah mencuri, membunuh, menuduh zina, merampas harta, gibah, mencela, menghina, dan lain-lain.Tobat dari dosa terkait dengan hak makhluk adalah dengan menunaikan/mengembalikan hak mereka atau meminta kehalalan/maaf kepada mereka. Jika tidak bisa melakukan hal itu, maka pasti ada tuntutan di akhirat.Ini tidaklah bertentangan dengan surah An-Nisa’ ayat 48 karena dalam ayat ini disebutkan bahwa dosa di bawah tingkatan syirik besar diampuni Allah jika Allah menghendakinya. Berarti termasuk juga dosa terkait dengan hak makhluk yang tidak sampai membatalkan keislaman.Namun, tentunya Allah Mahaadil. Sehingga di akhirat itu tidak ada satu pun orang yang dirugikan, termasuk orang yang sewaktu di dunia dizalimi. Maka, pastilah Allah akan penuhi haknya, apabila Allah hendak mengampuni orang yang menzaliminya, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya.LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: bahaya dosadosapenghapus dosa
Bismillah.Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Urgensi mempelajari peleburan dosaApakah dosa dan peleburan dosa itu?Macam-macam dosa dalam IslamDosa yang tidak diampuni (jika mati tidak bertobat)Apakah dosa terkait dengan hak makhluk itu termasuk dosa yang diampuni Allah meski pelakunya meninggal tidak bertobat darinya?Urgensi mempelajari peleburan dosaAllah Ta’ala berfirman,وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, telah bersih kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)Allah Ta’ala sebutkan di ayat yang mulia ini bahwa seluruh ahlul jannah masuk surga dalam keadaan telah bersih dari dosa-dosanya. Sehingga, barangsiapa yang ingin masuk surga, maka hendaklah mengambil sebab-sebab peleburan dosanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كلُّ ابنِ آدمَ خطَّاءٌ، وخَيرُ الخطَّائين التوَّابونَ“Setiap manusia keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam banyak melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan banyak kesalahan adalah orang yang banyak bertobat.” (Hadis yang hasan, diriwayatkan At-Tirmidzi rahimahullah)Setiap muslim pasti memiliki dosa, sedangkan setiap muslim juga ingin masuk surga. Padahal surga itu tempat orang-orang yang telah bersih dari dosa. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin masuk surga, maka hendaklah mengambil sebab-sebab peleburan dosanya.Apakah dosa dan peleburan dosa itu?Untuk memahami pembahasan tema “Antara peleburan dosa di dunia dan akhirat”, maka perlu dipahami 3 hal:Pertama: Definisi dosa Dosa adalah sesuatu yang menyelisihi perintah syar’i, baik dengan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.Kedua: Peleburan dosaAllah Ta’ala mengampuni dosa, memaafkan hamba-Nya yang berdosa sehingga tidak menyiksanya.Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan bahwa dosa tidak bisa terhapus dari catatan amal, meskipun dengan tobat atau selainnya dari pelebur dosa. Pasti akan ditunjukkan dan dibaca oleh pelakunya. Hal ini berdasarkan surah Al-Kahfi ayat 49 dan surah Az-Zalzalah ayat 7 dan 8. Namun, akan tercatat pula tobatnya atau pelebur dosa lainnya. Jadi, dosa tercatat dan pelebur dosa juga tercatat.Ketiga: Pembagian dosaDalil dasar tentang pembagian dosa di antaranya adalah surat An-Nisa’ ayat 48 dan 116. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah tingkatan syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”Macam-macam dosa dalam IslamPertama: Syirik besar (dan setingkatnya)Kedua: Syirik kecil (dan setingkatnya)Ketiga: Bid’ahKeempat: Maksiat (dosa besar dan dosa kecil)Dalam surah An-Nisa’ ayat 48 terdapat 2 kelompok dosa, yaitu:Pertama: Syirik besar dan yang setingkatnyaKedua: Dosa di bawah syirik besar dan yang setingkatnya (baik syirik kecil, bid’ah, maksiat)Baca juga: Tolong Menolong dalam DosaDosa yang tidak diampuni (jika mati tidak bertobat)Ada dosa yang tidak diampuni jika mati belum bertobat. Dan ini ada dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan dosa tersebut adalah syirik besar (dan setingkatnya) dan syirik kecil. Pendapat kedua (pendapat terkuat) mengatakan dosa tersebut adalah syirik besar (dan setingkatnya) saja.Syirik besar adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang menjadi kekhususan Allah. Dosa setingkat syirik besar (selain syirik besar) adalah kufur besar dan nifaq besar. Disebut (disifati) dengan “besar” karena perbuatan tersebut dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam atau menghancurkan dasar iman. Akibat bagi pelakunya adalah: 1) tidak diampuni jika mati tidak tobat; 2) kekal selamanya di neraka; dan 3) menggugurkan seluruh amalan saleh yang sudah dilakukanApakah dosa terkait dengan hak makhluk itu termasuk dosa yang diampuni Allah meski pelakunya meninggal tidak bertobat darinya?Contoh dosa terkait dengan hak makhluk adalah mencuri, membunuh, menuduh zina, merampas harta, gibah, mencela, menghina, dan lain-lain.Tobat dari dosa terkait dengan hak makhluk adalah dengan menunaikan/mengembalikan hak mereka atau meminta kehalalan/maaf kepada mereka. Jika tidak bisa melakukan hal itu, maka pasti ada tuntutan di akhirat.Ini tidaklah bertentangan dengan surah An-Nisa’ ayat 48 karena dalam ayat ini disebutkan bahwa dosa di bawah tingkatan syirik besar diampuni Allah jika Allah menghendakinya. Berarti termasuk juga dosa terkait dengan hak makhluk yang tidak sampai membatalkan keislaman.Namun, tentunya Allah Mahaadil. Sehingga di akhirat itu tidak ada satu pun orang yang dirugikan, termasuk orang yang sewaktu di dunia dizalimi. Maka, pastilah Allah akan penuhi haknya, apabila Allah hendak mengampuni orang yang menzaliminya, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya.LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: bahaya dosadosapenghapus dosa


Bismillah.Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Urgensi mempelajari peleburan dosaApakah dosa dan peleburan dosa itu?Macam-macam dosa dalam IslamDosa yang tidak diampuni (jika mati tidak bertobat)Apakah dosa terkait dengan hak makhluk itu termasuk dosa yang diampuni Allah meski pelakunya meninggal tidak bertobat darinya?Urgensi mempelajari peleburan dosaAllah Ta’ala berfirman,وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, telah bersih kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)Allah Ta’ala sebutkan di ayat yang mulia ini bahwa seluruh ahlul jannah masuk surga dalam keadaan telah bersih dari dosa-dosanya. Sehingga, barangsiapa yang ingin masuk surga, maka hendaklah mengambil sebab-sebab peleburan dosanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كلُّ ابنِ آدمَ خطَّاءٌ، وخَيرُ الخطَّائين التوَّابونَ“Setiap manusia keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam banyak melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan banyak kesalahan adalah orang yang banyak bertobat.” (Hadis yang hasan, diriwayatkan At-Tirmidzi rahimahullah)Setiap muslim pasti memiliki dosa, sedangkan setiap muslim juga ingin masuk surga. Padahal surga itu tempat orang-orang yang telah bersih dari dosa. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin masuk surga, maka hendaklah mengambil sebab-sebab peleburan dosanya.Apakah dosa dan peleburan dosa itu?Untuk memahami pembahasan tema “Antara peleburan dosa di dunia dan akhirat”, maka perlu dipahami 3 hal:Pertama: Definisi dosa Dosa adalah sesuatu yang menyelisihi perintah syar’i, baik dengan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.Kedua: Peleburan dosaAllah Ta’ala mengampuni dosa, memaafkan hamba-Nya yang berdosa sehingga tidak menyiksanya.Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan bahwa dosa tidak bisa terhapus dari catatan amal, meskipun dengan tobat atau selainnya dari pelebur dosa. Pasti akan ditunjukkan dan dibaca oleh pelakunya. Hal ini berdasarkan surah Al-Kahfi ayat 49 dan surah Az-Zalzalah ayat 7 dan 8. Namun, akan tercatat pula tobatnya atau pelebur dosa lainnya. Jadi, dosa tercatat dan pelebur dosa juga tercatat.Ketiga: Pembagian dosaDalil dasar tentang pembagian dosa di antaranya adalah surat An-Nisa’ ayat 48 dan 116. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah tingkatan syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”Macam-macam dosa dalam IslamPertama: Syirik besar (dan setingkatnya)Kedua: Syirik kecil (dan setingkatnya)Ketiga: Bid’ahKeempat: Maksiat (dosa besar dan dosa kecil)Dalam surah An-Nisa’ ayat 48 terdapat 2 kelompok dosa, yaitu:Pertama: Syirik besar dan yang setingkatnyaKedua: Dosa di bawah syirik besar dan yang setingkatnya (baik syirik kecil, bid’ah, maksiat)Baca juga: Tolong Menolong dalam DosaDosa yang tidak diampuni (jika mati tidak bertobat)Ada dosa yang tidak diampuni jika mati belum bertobat. Dan ini ada dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan dosa tersebut adalah syirik besar (dan setingkatnya) dan syirik kecil. Pendapat kedua (pendapat terkuat) mengatakan dosa tersebut adalah syirik besar (dan setingkatnya) saja.Syirik besar adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang menjadi kekhususan Allah. Dosa setingkat syirik besar (selain syirik besar) adalah kufur besar dan nifaq besar. Disebut (disifati) dengan “besar” karena perbuatan tersebut dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam atau menghancurkan dasar iman. Akibat bagi pelakunya adalah: 1) tidak diampuni jika mati tidak tobat; 2) kekal selamanya di neraka; dan 3) menggugurkan seluruh amalan saleh yang sudah dilakukanApakah dosa terkait dengan hak makhluk itu termasuk dosa yang diampuni Allah meski pelakunya meninggal tidak bertobat darinya?Contoh dosa terkait dengan hak makhluk adalah mencuri, membunuh, menuduh zina, merampas harta, gibah, mencela, menghina, dan lain-lain.Tobat dari dosa terkait dengan hak makhluk adalah dengan menunaikan/mengembalikan hak mereka atau meminta kehalalan/maaf kepada mereka. Jika tidak bisa melakukan hal itu, maka pasti ada tuntutan di akhirat.Ini tidaklah bertentangan dengan surah An-Nisa’ ayat 48 karena dalam ayat ini disebutkan bahwa dosa di bawah tingkatan syirik besar diampuni Allah jika Allah menghendakinya. Berarti termasuk juga dosa terkait dengan hak makhluk yang tidak sampai membatalkan keislaman.Namun, tentunya Allah Mahaadil. Sehingga di akhirat itu tidak ada satu pun orang yang dirugikan, termasuk orang yang sewaktu di dunia dizalimi. Maka, pastilah Allah akan penuhi haknya, apabila Allah hendak mengampuni orang yang menzaliminya, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya.LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: bahaya dosadosapenghapus dosa

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 1)

Daftar Isi Sebuah prologTujuan penciptaanSebuah prologSaya ingin merasakan kebahagiaan di dalam hidup saya. Ya, itulah hal yang didambakan setiap manusia, tidak terkecuali Anda. Dan jika Anda cermati, kebahagiaan ini pada dasarnya adalah buah dari kehendak atau cita-cita yang berhasil diraih oleh seseorang. Hasil panen yang melimpah akan sangat menggembirakan seorang petani. Lulus ujian dengan predikat terbaik akan menyukacitakan dan mendatangkan senyuman lebar pada seorang pelajar. Menang tender akan membuat seorang pengusaha atau kontraktor tertawa sambil melompat kegirangan. Lahirnya anak yang didambakan akan membungahkan para ayah dan membuatnya lalai akan peluh yang ada di kening sang istri. Begitu juga berbagai hal lain yang dimimpikan manusia, tentunya akan melahirkan kebahagiaan di dalam hati mereka, tatkala apa yang diangan-angankan tersebut berhasil ia capai.Demikianlah remah-remah kebahagiaan yang Allah Ta’ala simpankan di kotak-kotak kehidupan manusia. Seperti itulah kebahagiaan semu yang dibagikan kepada setiap hamba yang bernyawa. Namun, tahukah Anda? Kebahagiaan yang hakiki tidaklah dirasakan semua insan. Mengapa? Karena ia ditempatkan di kotak khusus yang hanya bisa diraih oleh manusia-manusia istimewa. Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh mereka yang menemukan dan mewujudkan perkara paling penting di dalam hidup mereka. Apakah itu? Hal terpenting dari hidup adalah tujuan kehidupan itu sendiri. Yakni tujuan penciptaan manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam raya, termasuk Anda.Tujuan penciptaanCoba Anda pikirkan dan perhatikan keadaaan di sekitar Anda! Bahwa segala gerak dan diam yang dilakukan oleh makhluk, pasti memiliki tujuan. Dari ayam yang berkokok ketika dini hari, burung-burung yang berterbangan di atas angkasa, hewan melata yang bertebaran di permukaan bumi, sampai singa pejantan yang mengendus keberadaan singa betina, semuanya itu memiliki tujuan. Termasuk seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, dari ia bangun tidur hingga tidur lagi, pasti memiliki tujuan yang ia ingin capai.Jika makhluk saja memiliki keinginan yang ingin ia raih, bagaimana lagi dengan Sang Khalik yang menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dan segala isinya, merajai, serta mengatur seluruh detak dan perputaran di alam semesta? Tentu lebih-lebih lagi, bahwa Dia pasti memiliki kehendak yang ingin diwujudkan. Simaklah apa yang Allah katakan tentang perkara ini,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu (sekedar) main-main?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tentu akan mengatakan,  “Tidak, ya Rabb!” Dengan demikian, apakah tujuan Allah mengadakan semua yang ada di jagad raya ini? Tentunya kita sebagai manusia tidak bisa menebak dan menerkanya. Mengapa? Karena ia perkara yang transeden dan di luar jangkauan akal manusia. Namun, Allah tidak membiarkan anak Adam terombang-ambing mencari sendiri tujuan kehidupan mereka. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam kepada setiap generasi untuk menyampaikan hikmah kehidupan dan kematian. Bersama mereka ‘alaihimussalam, Allah Ta’ala turunkan kitab-kitab serta suhuf-suhuf sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar para hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaan tersebut secara benar.Di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala setidaknya menyebutkan 3 tujuan pewujudan manusia bersama ciptaan yang lain, yaitu: 1) untuk mengenal Allah Ta‘ala; 2) untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata; dan 3) untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Lanjut ke bagian 2***Disarikan pada Malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 1)

Daftar Isi Sebuah prologTujuan penciptaanSebuah prologSaya ingin merasakan kebahagiaan di dalam hidup saya. Ya, itulah hal yang didambakan setiap manusia, tidak terkecuali Anda. Dan jika Anda cermati, kebahagiaan ini pada dasarnya adalah buah dari kehendak atau cita-cita yang berhasil diraih oleh seseorang. Hasil panen yang melimpah akan sangat menggembirakan seorang petani. Lulus ujian dengan predikat terbaik akan menyukacitakan dan mendatangkan senyuman lebar pada seorang pelajar. Menang tender akan membuat seorang pengusaha atau kontraktor tertawa sambil melompat kegirangan. Lahirnya anak yang didambakan akan membungahkan para ayah dan membuatnya lalai akan peluh yang ada di kening sang istri. Begitu juga berbagai hal lain yang dimimpikan manusia, tentunya akan melahirkan kebahagiaan di dalam hati mereka, tatkala apa yang diangan-angankan tersebut berhasil ia capai.Demikianlah remah-remah kebahagiaan yang Allah Ta’ala simpankan di kotak-kotak kehidupan manusia. Seperti itulah kebahagiaan semu yang dibagikan kepada setiap hamba yang bernyawa. Namun, tahukah Anda? Kebahagiaan yang hakiki tidaklah dirasakan semua insan. Mengapa? Karena ia ditempatkan di kotak khusus yang hanya bisa diraih oleh manusia-manusia istimewa. Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh mereka yang menemukan dan mewujudkan perkara paling penting di dalam hidup mereka. Apakah itu? Hal terpenting dari hidup adalah tujuan kehidupan itu sendiri. Yakni tujuan penciptaan manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam raya, termasuk Anda.Tujuan penciptaanCoba Anda pikirkan dan perhatikan keadaaan di sekitar Anda! Bahwa segala gerak dan diam yang dilakukan oleh makhluk, pasti memiliki tujuan. Dari ayam yang berkokok ketika dini hari, burung-burung yang berterbangan di atas angkasa, hewan melata yang bertebaran di permukaan bumi, sampai singa pejantan yang mengendus keberadaan singa betina, semuanya itu memiliki tujuan. Termasuk seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, dari ia bangun tidur hingga tidur lagi, pasti memiliki tujuan yang ia ingin capai.Jika makhluk saja memiliki keinginan yang ingin ia raih, bagaimana lagi dengan Sang Khalik yang menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dan segala isinya, merajai, serta mengatur seluruh detak dan perputaran di alam semesta? Tentu lebih-lebih lagi, bahwa Dia pasti memiliki kehendak yang ingin diwujudkan. Simaklah apa yang Allah katakan tentang perkara ini,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu (sekedar) main-main?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tentu akan mengatakan,  “Tidak, ya Rabb!” Dengan demikian, apakah tujuan Allah mengadakan semua yang ada di jagad raya ini? Tentunya kita sebagai manusia tidak bisa menebak dan menerkanya. Mengapa? Karena ia perkara yang transeden dan di luar jangkauan akal manusia. Namun, Allah tidak membiarkan anak Adam terombang-ambing mencari sendiri tujuan kehidupan mereka. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam kepada setiap generasi untuk menyampaikan hikmah kehidupan dan kematian. Bersama mereka ‘alaihimussalam, Allah Ta’ala turunkan kitab-kitab serta suhuf-suhuf sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar para hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaan tersebut secara benar.Di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala setidaknya menyebutkan 3 tujuan pewujudan manusia bersama ciptaan yang lain, yaitu: 1) untuk mengenal Allah Ta‘ala; 2) untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata; dan 3) untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Lanjut ke bagian 2***Disarikan pada Malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah
Daftar Isi Sebuah prologTujuan penciptaanSebuah prologSaya ingin merasakan kebahagiaan di dalam hidup saya. Ya, itulah hal yang didambakan setiap manusia, tidak terkecuali Anda. Dan jika Anda cermati, kebahagiaan ini pada dasarnya adalah buah dari kehendak atau cita-cita yang berhasil diraih oleh seseorang. Hasil panen yang melimpah akan sangat menggembirakan seorang petani. Lulus ujian dengan predikat terbaik akan menyukacitakan dan mendatangkan senyuman lebar pada seorang pelajar. Menang tender akan membuat seorang pengusaha atau kontraktor tertawa sambil melompat kegirangan. Lahirnya anak yang didambakan akan membungahkan para ayah dan membuatnya lalai akan peluh yang ada di kening sang istri. Begitu juga berbagai hal lain yang dimimpikan manusia, tentunya akan melahirkan kebahagiaan di dalam hati mereka, tatkala apa yang diangan-angankan tersebut berhasil ia capai.Demikianlah remah-remah kebahagiaan yang Allah Ta’ala simpankan di kotak-kotak kehidupan manusia. Seperti itulah kebahagiaan semu yang dibagikan kepada setiap hamba yang bernyawa. Namun, tahukah Anda? Kebahagiaan yang hakiki tidaklah dirasakan semua insan. Mengapa? Karena ia ditempatkan di kotak khusus yang hanya bisa diraih oleh manusia-manusia istimewa. Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh mereka yang menemukan dan mewujudkan perkara paling penting di dalam hidup mereka. Apakah itu? Hal terpenting dari hidup adalah tujuan kehidupan itu sendiri. Yakni tujuan penciptaan manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam raya, termasuk Anda.Tujuan penciptaanCoba Anda pikirkan dan perhatikan keadaaan di sekitar Anda! Bahwa segala gerak dan diam yang dilakukan oleh makhluk, pasti memiliki tujuan. Dari ayam yang berkokok ketika dini hari, burung-burung yang berterbangan di atas angkasa, hewan melata yang bertebaran di permukaan bumi, sampai singa pejantan yang mengendus keberadaan singa betina, semuanya itu memiliki tujuan. Termasuk seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, dari ia bangun tidur hingga tidur lagi, pasti memiliki tujuan yang ia ingin capai.Jika makhluk saja memiliki keinginan yang ingin ia raih, bagaimana lagi dengan Sang Khalik yang menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dan segala isinya, merajai, serta mengatur seluruh detak dan perputaran di alam semesta? Tentu lebih-lebih lagi, bahwa Dia pasti memiliki kehendak yang ingin diwujudkan. Simaklah apa yang Allah katakan tentang perkara ini,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu (sekedar) main-main?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tentu akan mengatakan,  “Tidak, ya Rabb!” Dengan demikian, apakah tujuan Allah mengadakan semua yang ada di jagad raya ini? Tentunya kita sebagai manusia tidak bisa menebak dan menerkanya. Mengapa? Karena ia perkara yang transeden dan di luar jangkauan akal manusia. Namun, Allah tidak membiarkan anak Adam terombang-ambing mencari sendiri tujuan kehidupan mereka. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam kepada setiap generasi untuk menyampaikan hikmah kehidupan dan kematian. Bersama mereka ‘alaihimussalam, Allah Ta’ala turunkan kitab-kitab serta suhuf-suhuf sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar para hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaan tersebut secara benar.Di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala setidaknya menyebutkan 3 tujuan pewujudan manusia bersama ciptaan yang lain, yaitu: 1) untuk mengenal Allah Ta‘ala; 2) untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata; dan 3) untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Lanjut ke bagian 2***Disarikan pada Malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah


Daftar Isi Sebuah prologTujuan penciptaanSebuah prologSaya ingin merasakan kebahagiaan di dalam hidup saya. Ya, itulah hal yang didambakan setiap manusia, tidak terkecuali Anda. Dan jika Anda cermati, kebahagiaan ini pada dasarnya adalah buah dari kehendak atau cita-cita yang berhasil diraih oleh seseorang. Hasil panen yang melimpah akan sangat menggembirakan seorang petani. Lulus ujian dengan predikat terbaik akan menyukacitakan dan mendatangkan senyuman lebar pada seorang pelajar. Menang tender akan membuat seorang pengusaha atau kontraktor tertawa sambil melompat kegirangan. Lahirnya anak yang didambakan akan membungahkan para ayah dan membuatnya lalai akan peluh yang ada di kening sang istri. Begitu juga berbagai hal lain yang dimimpikan manusia, tentunya akan melahirkan kebahagiaan di dalam hati mereka, tatkala apa yang diangan-angankan tersebut berhasil ia capai.Demikianlah remah-remah kebahagiaan yang Allah Ta’ala simpankan di kotak-kotak kehidupan manusia. Seperti itulah kebahagiaan semu yang dibagikan kepada setiap hamba yang bernyawa. Namun, tahukah Anda? Kebahagiaan yang hakiki tidaklah dirasakan semua insan. Mengapa? Karena ia ditempatkan di kotak khusus yang hanya bisa diraih oleh manusia-manusia istimewa. Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh mereka yang menemukan dan mewujudkan perkara paling penting di dalam hidup mereka. Apakah itu? Hal terpenting dari hidup adalah tujuan kehidupan itu sendiri. Yakni tujuan penciptaan manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam raya, termasuk Anda.Tujuan penciptaanCoba Anda pikirkan dan perhatikan keadaaan di sekitar Anda! Bahwa segala gerak dan diam yang dilakukan oleh makhluk, pasti memiliki tujuan. Dari ayam yang berkokok ketika dini hari, burung-burung yang berterbangan di atas angkasa, hewan melata yang bertebaran di permukaan bumi, sampai singa pejantan yang mengendus keberadaan singa betina, semuanya itu memiliki tujuan. Termasuk seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, dari ia bangun tidur hingga tidur lagi, pasti memiliki tujuan yang ia ingin capai.Jika makhluk saja memiliki keinginan yang ingin ia raih, bagaimana lagi dengan Sang Khalik yang menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dan segala isinya, merajai, serta mengatur seluruh detak dan perputaran di alam semesta? Tentu lebih-lebih lagi, bahwa Dia pasti memiliki kehendak yang ingin diwujudkan. Simaklah apa yang Allah katakan tentang perkara ini,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu (sekedar) main-main?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tentu akan mengatakan,  “Tidak, ya Rabb!” Dengan demikian, apakah tujuan Allah mengadakan semua yang ada di jagad raya ini? Tentunya kita sebagai manusia tidak bisa menebak dan menerkanya. Mengapa? Karena ia perkara yang transeden dan di luar jangkauan akal manusia. Namun, Allah tidak membiarkan anak Adam terombang-ambing mencari sendiri tujuan kehidupan mereka. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam kepada setiap generasi untuk menyampaikan hikmah kehidupan dan kematian. Bersama mereka ‘alaihimussalam, Allah Ta’ala turunkan kitab-kitab serta suhuf-suhuf sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar para hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaan tersebut secara benar.Di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala setidaknya menyebutkan 3 tujuan pewujudan manusia bersama ciptaan yang lain, yaitu: 1) untuk mengenal Allah Ta‘ala; 2) untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata; dan 3) untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Lanjut ke bagian 2***Disarikan pada Malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Khotbah Salat Idulfitri: Tugas Kita Setelah Ramadan Pergi

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ چالَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأما بعد،فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخير الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وكل ضلالة في الناراَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ واللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر وَلِلَهِ الْحَمْدُMa’asyiral muslimin rahimakumullah.Jemaah salat Idulfitri yang semoga senantiasa dirahmati dan dilindungi oleh Allah Ta’ala.Di hari yang berbahagia ini, marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena ketakwaan merupakan sebab seorang hamba mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala. Allah berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)Sungguh, manusia yang paling mulia di muka bumi ini bukanlah mereka yang memiliki harta yang mewah, bukan juga mereka yang memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi, mereka yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Yaitu, mereka yang senantiasa menunaikan segala kewajiban yang telah diperintahkan dan menjauhi segala kemaksiatan yang dilarang.Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi mulia, suri teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, dan para sahabatnya.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Hari raya Idulfitri sejatinya adalah bentuk pengagungan kita kepada Allah Sang Maha Pencipta atas limpahan rezeki yang begitu banyak. Di antaranya adalah nikmat kesempatan menyelesaikan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan, nikmat kesempatan mengisi malam-malamnya dengan salat tarawih dan bacaan Al-Qur’an. Hari raya Idulfitri sekaligus merupakan kegembiraan seusai menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala, dengan harapan semoga apa yang telah kita lakukan di bulan ini diterima oleh Allah, mendapatkan pahala yang besar serta ganjaran yang berlipat.Jemaah salat Idulfitri yang berbahagia, seorang muslim tentu harus berbesar hati bahwa amalannya akan diterima Allah Ta’ala. Hanya saja rasa harap (raja’) ini harus diimbangi dengan rasa khawatir (khauf) bahwa amal kita bisa jadi belum diterima oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan seorang hamba tidak semuanya diterima. Allah Ta’ala hanya akan menerima amal ibadah dan ketaatan yang dilandasi dengan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Allah hanyalah menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Kondisi inilah yang membuat sebagian ulama di masa silam merasa resah ketika Idulfitri. Mereka resah, bukan karena tidak punya baju baru. Mereka resah, bukan karena jauh dari keluarga. Mereka resah karena mereka tidak tahu, apakah amalannya selama bulan Ramadan diterima oleh Allah Ta’ala ataukah tidak.Mu’alla bin Al-Fadhl rahimahullah, seorang ulama tabi’uttabi’in, menceritakan kondisi para sahabat,كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُم رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنهُمْ“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudahnya, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 264)Oleh karena itu juga, ketika saling bertemu dengan saudara dan kawan kerabat di hari raya Idulfitri, ucapan yang diamalkan oleh para sahabat dan kita dianjurkan untuk memperbanyaknya adalahتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ“Semoga Allah Ta’ala menerima (seluruh amal perbuatan) dari kami dan dari kalian.”Sebuah doa berisi harapan semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita dan saudara yang kita temui.Baca juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJamaah salat Idulfitri yang berbahagia.Selama bulan Ramadan, kita telah banyak belajar. Belajar untuk menyesuaikan diri dengan aturan syariat. Belajar juga untuk menjadi orang baik. Yang harus kita ingat, perjuangan menjadi hamba Allah yang baik tidak boleh hanya dilakukan ketika Ramadan saja. Menjadi hamba Allah yang baik harus berlanjut dan berkesinambungan sepanjang kehidupan kita. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ“Istikamahlah sebagaimana kamu diperintahkan.” (QS. Hud: 112)Setelah bulan Ramadan yang penuh dengan kebaikan ini pergi, tugas kita yang paling utama adalah beristikamah, konsisten, dan kontinyu di dalam menjalankan segala perintah Allah Ta’ala. Sebagaimana hal ini Allah Ta’ala perintahkan dalam ayat yang baru saja kita baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5861 dan Muslim no. 782, 783)Lantas, bagaimana caranya agar kita mudah beristikamah setelah perginya bulan Ramadan yang mulia ini?Pertama, jangan pernah tinggalkan amalan wajib.Ada beberapa ibadah dan amalan yang telah Allah Ta’ala wajibkan kepada setiap muslim. Jangan sampai kewajiban kewajiban tersebut kita tinggalkan dan kita sia-siakan ataupun dikerjakan di luar waktu yang telah ditentukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ حُرُمَاتٍ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا“Sesungguhnya Allah menetapkan beberapa kewajiban. Oleh karena itu, jangan kalian menyepelekannya. Allah mengharamkan beberapa larangan, jangan kalian melanggarnya. Dan Allah menetapkan beberapa aturan, jangan melampaui batasnya.” (HR. Daruquthni no. 4445)Ketahuilah, kewajiban yang paling utama adalah menjaga salat lima waktu secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah bagi perempuan.Kedua, rutinkan amal sunah yang ringan.Menjaga rutinitas amalan sunah sekalipun itu ringan, akan membuat ibadah kita kepada Allah Ta’ala selalu terjaga. Karena ingin kita rutinkan, maka cobalah yang ringan terlebih dahulu.Dimampukan oleh Allah dengan keluasan rezeki? Bersedekahlah secara rutin, penuhi kebutuhan saudara, kerabat terdekat kita. Mudah untuk bangun malam? Rutinkan bangun di sepertiga malam terakhir walau sesaat. Sungguh, amalan-amalan sunah yang sedikit dan ringan ini, jika kita lakukan secara kontinyu dan konsisten tentu lebih baik dari amalan yang besar, namun jarang kita lakukan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Wahai para manusia, beramallah sesuai dengan kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan.” (HR. Bukhari no. 5861)Di antara amalan sunah yang bisa kita kerjakan setelah perginya bulan Ramadan ini adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Puasa ini boleh dilakukan di tanggal berapa pun pada bulan Syawal. Mau dilakukan secara berurutan ataupun terpisah, maka ini tidak masalah.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Tips ketiga untuk menjaga keistikamahan kita selepas Ramadan adalah berteman dengan orang saleh.Mengapa? Karena teman memiliki pengaruh besar bagi seseorang. Jangan sampai, teman-teman yang kita miliki menyeret diri kita ke jurang bahaya sementara kita tidak menyadarinya. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik lagi saleh. Jikalau kita tidak mampu menyamai kesalehan mereka, minimal akan mendapatkan keberkahan dan nasihat-nasihat baik mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً“Perumpamaan teman orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)Tips keempat yang akan membantu kita untuk terus istikamah adalah tidak pernah lupa berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan menjadi hamba yang istikamah.Seorang hamba tidak akan bisa menjadi baik dan istikamah, kecuali berkat pertolongan dan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, di antara bentuk semangat kita untuk menjadi baik dan istikamah adalah banyak memohon agar dibantu oleh Allah Ta’ala menjadi hamba yang baik.Salah satu doa yang bisa kita rutinkan untuk kita baca setelah selesai salat adalah,اللَّهُمَّ أَعِنّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Ya Allah bantulah kami agar senantiasa bisa berzikir (mengingat-Mu), bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud no. 1522)Jemaah salat Idulfitri yang dirahmati Allah Ta’ala,Di antara sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berkhotbah Idulfitri adalah memberikan nasihat khusus untuk kaum muslimah. Maka, di sini kami sampaikan nasihat kepada ibu-ibu dan wanita muslimah semuanya untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Senantiasalah selalu dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Bertakwalah kepada Allah dalam setiap gerakan dan kegiatan, berucaplah dengan jujur, jauhi gibah, dan berpakaianlah dengan pakaian yang menutup aurat. Ingatlah selalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما ترَكتُ بعدي فتنةً هي أضرُّ على الرِّجالِ مِن النساءِ“Tidaklah ada sepeninggalku ujian/cobaan yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki daripada ujian/cobaan wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)Jadilah wanita yang menjaga diri dan menjaga kehormatan. Jauhilah zina dan sebab-sebabnya. Karena Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا“Dan janganlah kalian mendekati zina. (Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Jemaah yang berbahagia,Nasihat terakhir kami adalah sebuah nasihat yang disampaikan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, Beliau mengatakan,لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد * لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب“Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru tanpa cacat. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah ibadah dan ketaatannya. Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.”Allahu akbar… Allahu akbar… Laa ilaaha illallahu wallahu akbar… Allahu akbar walillahil hamd…Akhir kata, marilah kita berdoa memohon kepada Allah, agar diberikan sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat, dimudahkan juga istikamah, dan konsisten dalam beramal. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan kemudahan bagi kaum muslimin Indonesia secara khusus dan kaum muslimin di segala penjuru dunia secara umum dalam setiap kesulitan dan musibah yang menimpa, berikut jalan keluar terbaik dalam menghadapi setiap masalah mereka.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌاَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَارَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِوصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلمBaca juga: Khotbah Salat Idul Fitri: Menggali Mutiara dari Idul Fitri***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khotbahkhotbah idul fitriteks khotbah idul fitri

Khotbah Salat Idulfitri: Tugas Kita Setelah Ramadan Pergi

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ چالَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأما بعد،فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخير الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وكل ضلالة في الناراَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ واللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر وَلِلَهِ الْحَمْدُMa’asyiral muslimin rahimakumullah.Jemaah salat Idulfitri yang semoga senantiasa dirahmati dan dilindungi oleh Allah Ta’ala.Di hari yang berbahagia ini, marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena ketakwaan merupakan sebab seorang hamba mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala. Allah berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)Sungguh, manusia yang paling mulia di muka bumi ini bukanlah mereka yang memiliki harta yang mewah, bukan juga mereka yang memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi, mereka yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Yaitu, mereka yang senantiasa menunaikan segala kewajiban yang telah diperintahkan dan menjauhi segala kemaksiatan yang dilarang.Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi mulia, suri teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, dan para sahabatnya.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Hari raya Idulfitri sejatinya adalah bentuk pengagungan kita kepada Allah Sang Maha Pencipta atas limpahan rezeki yang begitu banyak. Di antaranya adalah nikmat kesempatan menyelesaikan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan, nikmat kesempatan mengisi malam-malamnya dengan salat tarawih dan bacaan Al-Qur’an. Hari raya Idulfitri sekaligus merupakan kegembiraan seusai menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala, dengan harapan semoga apa yang telah kita lakukan di bulan ini diterima oleh Allah, mendapatkan pahala yang besar serta ganjaran yang berlipat.Jemaah salat Idulfitri yang berbahagia, seorang muslim tentu harus berbesar hati bahwa amalannya akan diterima Allah Ta’ala. Hanya saja rasa harap (raja’) ini harus diimbangi dengan rasa khawatir (khauf) bahwa amal kita bisa jadi belum diterima oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan seorang hamba tidak semuanya diterima. Allah Ta’ala hanya akan menerima amal ibadah dan ketaatan yang dilandasi dengan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Allah hanyalah menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Kondisi inilah yang membuat sebagian ulama di masa silam merasa resah ketika Idulfitri. Mereka resah, bukan karena tidak punya baju baru. Mereka resah, bukan karena jauh dari keluarga. Mereka resah karena mereka tidak tahu, apakah amalannya selama bulan Ramadan diterima oleh Allah Ta’ala ataukah tidak.Mu’alla bin Al-Fadhl rahimahullah, seorang ulama tabi’uttabi’in, menceritakan kondisi para sahabat,كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُم رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنهُمْ“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudahnya, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 264)Oleh karena itu juga, ketika saling bertemu dengan saudara dan kawan kerabat di hari raya Idulfitri, ucapan yang diamalkan oleh para sahabat dan kita dianjurkan untuk memperbanyaknya adalahتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ“Semoga Allah Ta’ala menerima (seluruh amal perbuatan) dari kami dan dari kalian.”Sebuah doa berisi harapan semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita dan saudara yang kita temui.Baca juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJamaah salat Idulfitri yang berbahagia.Selama bulan Ramadan, kita telah banyak belajar. Belajar untuk menyesuaikan diri dengan aturan syariat. Belajar juga untuk menjadi orang baik. Yang harus kita ingat, perjuangan menjadi hamba Allah yang baik tidak boleh hanya dilakukan ketika Ramadan saja. Menjadi hamba Allah yang baik harus berlanjut dan berkesinambungan sepanjang kehidupan kita. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ“Istikamahlah sebagaimana kamu diperintahkan.” (QS. Hud: 112)Setelah bulan Ramadan yang penuh dengan kebaikan ini pergi, tugas kita yang paling utama adalah beristikamah, konsisten, dan kontinyu di dalam menjalankan segala perintah Allah Ta’ala. Sebagaimana hal ini Allah Ta’ala perintahkan dalam ayat yang baru saja kita baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5861 dan Muslim no. 782, 783)Lantas, bagaimana caranya agar kita mudah beristikamah setelah perginya bulan Ramadan yang mulia ini?Pertama, jangan pernah tinggalkan amalan wajib.Ada beberapa ibadah dan amalan yang telah Allah Ta’ala wajibkan kepada setiap muslim. Jangan sampai kewajiban kewajiban tersebut kita tinggalkan dan kita sia-siakan ataupun dikerjakan di luar waktu yang telah ditentukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ حُرُمَاتٍ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا“Sesungguhnya Allah menetapkan beberapa kewajiban. Oleh karena itu, jangan kalian menyepelekannya. Allah mengharamkan beberapa larangan, jangan kalian melanggarnya. Dan Allah menetapkan beberapa aturan, jangan melampaui batasnya.” (HR. Daruquthni no. 4445)Ketahuilah, kewajiban yang paling utama adalah menjaga salat lima waktu secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah bagi perempuan.Kedua, rutinkan amal sunah yang ringan.Menjaga rutinitas amalan sunah sekalipun itu ringan, akan membuat ibadah kita kepada Allah Ta’ala selalu terjaga. Karena ingin kita rutinkan, maka cobalah yang ringan terlebih dahulu.Dimampukan oleh Allah dengan keluasan rezeki? Bersedekahlah secara rutin, penuhi kebutuhan saudara, kerabat terdekat kita. Mudah untuk bangun malam? Rutinkan bangun di sepertiga malam terakhir walau sesaat. Sungguh, amalan-amalan sunah yang sedikit dan ringan ini, jika kita lakukan secara kontinyu dan konsisten tentu lebih baik dari amalan yang besar, namun jarang kita lakukan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Wahai para manusia, beramallah sesuai dengan kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan.” (HR. Bukhari no. 5861)Di antara amalan sunah yang bisa kita kerjakan setelah perginya bulan Ramadan ini adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Puasa ini boleh dilakukan di tanggal berapa pun pada bulan Syawal. Mau dilakukan secara berurutan ataupun terpisah, maka ini tidak masalah.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Tips ketiga untuk menjaga keistikamahan kita selepas Ramadan adalah berteman dengan orang saleh.Mengapa? Karena teman memiliki pengaruh besar bagi seseorang. Jangan sampai, teman-teman yang kita miliki menyeret diri kita ke jurang bahaya sementara kita tidak menyadarinya. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik lagi saleh. Jikalau kita tidak mampu menyamai kesalehan mereka, minimal akan mendapatkan keberkahan dan nasihat-nasihat baik mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً“Perumpamaan teman orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)Tips keempat yang akan membantu kita untuk terus istikamah adalah tidak pernah lupa berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan menjadi hamba yang istikamah.Seorang hamba tidak akan bisa menjadi baik dan istikamah, kecuali berkat pertolongan dan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, di antara bentuk semangat kita untuk menjadi baik dan istikamah adalah banyak memohon agar dibantu oleh Allah Ta’ala menjadi hamba yang baik.Salah satu doa yang bisa kita rutinkan untuk kita baca setelah selesai salat adalah,اللَّهُمَّ أَعِنّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Ya Allah bantulah kami agar senantiasa bisa berzikir (mengingat-Mu), bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud no. 1522)Jemaah salat Idulfitri yang dirahmati Allah Ta’ala,Di antara sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berkhotbah Idulfitri adalah memberikan nasihat khusus untuk kaum muslimah. Maka, di sini kami sampaikan nasihat kepada ibu-ibu dan wanita muslimah semuanya untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Senantiasalah selalu dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Bertakwalah kepada Allah dalam setiap gerakan dan kegiatan, berucaplah dengan jujur, jauhi gibah, dan berpakaianlah dengan pakaian yang menutup aurat. Ingatlah selalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما ترَكتُ بعدي فتنةً هي أضرُّ على الرِّجالِ مِن النساءِ“Tidaklah ada sepeninggalku ujian/cobaan yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki daripada ujian/cobaan wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)Jadilah wanita yang menjaga diri dan menjaga kehormatan. Jauhilah zina dan sebab-sebabnya. Karena Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا“Dan janganlah kalian mendekati zina. (Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Jemaah yang berbahagia,Nasihat terakhir kami adalah sebuah nasihat yang disampaikan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, Beliau mengatakan,لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد * لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب“Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru tanpa cacat. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah ibadah dan ketaatannya. Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.”Allahu akbar… Allahu akbar… Laa ilaaha illallahu wallahu akbar… Allahu akbar walillahil hamd…Akhir kata, marilah kita berdoa memohon kepada Allah, agar diberikan sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat, dimudahkan juga istikamah, dan konsisten dalam beramal. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan kemudahan bagi kaum muslimin Indonesia secara khusus dan kaum muslimin di segala penjuru dunia secara umum dalam setiap kesulitan dan musibah yang menimpa, berikut jalan keluar terbaik dalam menghadapi setiap masalah mereka.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌاَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَارَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِوصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلمBaca juga: Khotbah Salat Idul Fitri: Menggali Mutiara dari Idul Fitri***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khotbahkhotbah idul fitriteks khotbah idul fitri
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ چالَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأما بعد،فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخير الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وكل ضلالة في الناراَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ واللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر وَلِلَهِ الْحَمْدُMa’asyiral muslimin rahimakumullah.Jemaah salat Idulfitri yang semoga senantiasa dirahmati dan dilindungi oleh Allah Ta’ala.Di hari yang berbahagia ini, marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena ketakwaan merupakan sebab seorang hamba mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala. Allah berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)Sungguh, manusia yang paling mulia di muka bumi ini bukanlah mereka yang memiliki harta yang mewah, bukan juga mereka yang memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi, mereka yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Yaitu, mereka yang senantiasa menunaikan segala kewajiban yang telah diperintahkan dan menjauhi segala kemaksiatan yang dilarang.Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi mulia, suri teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, dan para sahabatnya.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Hari raya Idulfitri sejatinya adalah bentuk pengagungan kita kepada Allah Sang Maha Pencipta atas limpahan rezeki yang begitu banyak. Di antaranya adalah nikmat kesempatan menyelesaikan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan, nikmat kesempatan mengisi malam-malamnya dengan salat tarawih dan bacaan Al-Qur’an. Hari raya Idulfitri sekaligus merupakan kegembiraan seusai menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala, dengan harapan semoga apa yang telah kita lakukan di bulan ini diterima oleh Allah, mendapatkan pahala yang besar serta ganjaran yang berlipat.Jemaah salat Idulfitri yang berbahagia, seorang muslim tentu harus berbesar hati bahwa amalannya akan diterima Allah Ta’ala. Hanya saja rasa harap (raja’) ini harus diimbangi dengan rasa khawatir (khauf) bahwa amal kita bisa jadi belum diterima oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan seorang hamba tidak semuanya diterima. Allah Ta’ala hanya akan menerima amal ibadah dan ketaatan yang dilandasi dengan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Allah hanyalah menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Kondisi inilah yang membuat sebagian ulama di masa silam merasa resah ketika Idulfitri. Mereka resah, bukan karena tidak punya baju baru. Mereka resah, bukan karena jauh dari keluarga. Mereka resah karena mereka tidak tahu, apakah amalannya selama bulan Ramadan diterima oleh Allah Ta’ala ataukah tidak.Mu’alla bin Al-Fadhl rahimahullah, seorang ulama tabi’uttabi’in, menceritakan kondisi para sahabat,كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُم رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنهُمْ“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudahnya, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 264)Oleh karena itu juga, ketika saling bertemu dengan saudara dan kawan kerabat di hari raya Idulfitri, ucapan yang diamalkan oleh para sahabat dan kita dianjurkan untuk memperbanyaknya adalahتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ“Semoga Allah Ta’ala menerima (seluruh amal perbuatan) dari kami dan dari kalian.”Sebuah doa berisi harapan semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita dan saudara yang kita temui.Baca juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJamaah salat Idulfitri yang berbahagia.Selama bulan Ramadan, kita telah banyak belajar. Belajar untuk menyesuaikan diri dengan aturan syariat. Belajar juga untuk menjadi orang baik. Yang harus kita ingat, perjuangan menjadi hamba Allah yang baik tidak boleh hanya dilakukan ketika Ramadan saja. Menjadi hamba Allah yang baik harus berlanjut dan berkesinambungan sepanjang kehidupan kita. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ“Istikamahlah sebagaimana kamu diperintahkan.” (QS. Hud: 112)Setelah bulan Ramadan yang penuh dengan kebaikan ini pergi, tugas kita yang paling utama adalah beristikamah, konsisten, dan kontinyu di dalam menjalankan segala perintah Allah Ta’ala. Sebagaimana hal ini Allah Ta’ala perintahkan dalam ayat yang baru saja kita baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5861 dan Muslim no. 782, 783)Lantas, bagaimana caranya agar kita mudah beristikamah setelah perginya bulan Ramadan yang mulia ini?Pertama, jangan pernah tinggalkan amalan wajib.Ada beberapa ibadah dan amalan yang telah Allah Ta’ala wajibkan kepada setiap muslim. Jangan sampai kewajiban kewajiban tersebut kita tinggalkan dan kita sia-siakan ataupun dikerjakan di luar waktu yang telah ditentukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ حُرُمَاتٍ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا“Sesungguhnya Allah menetapkan beberapa kewajiban. Oleh karena itu, jangan kalian menyepelekannya. Allah mengharamkan beberapa larangan, jangan kalian melanggarnya. Dan Allah menetapkan beberapa aturan, jangan melampaui batasnya.” (HR. Daruquthni no. 4445)Ketahuilah, kewajiban yang paling utama adalah menjaga salat lima waktu secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah bagi perempuan.Kedua, rutinkan amal sunah yang ringan.Menjaga rutinitas amalan sunah sekalipun itu ringan, akan membuat ibadah kita kepada Allah Ta’ala selalu terjaga. Karena ingin kita rutinkan, maka cobalah yang ringan terlebih dahulu.Dimampukan oleh Allah dengan keluasan rezeki? Bersedekahlah secara rutin, penuhi kebutuhan saudara, kerabat terdekat kita. Mudah untuk bangun malam? Rutinkan bangun di sepertiga malam terakhir walau sesaat. Sungguh, amalan-amalan sunah yang sedikit dan ringan ini, jika kita lakukan secara kontinyu dan konsisten tentu lebih baik dari amalan yang besar, namun jarang kita lakukan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Wahai para manusia, beramallah sesuai dengan kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan.” (HR. Bukhari no. 5861)Di antara amalan sunah yang bisa kita kerjakan setelah perginya bulan Ramadan ini adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Puasa ini boleh dilakukan di tanggal berapa pun pada bulan Syawal. Mau dilakukan secara berurutan ataupun terpisah, maka ini tidak masalah.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Tips ketiga untuk menjaga keistikamahan kita selepas Ramadan adalah berteman dengan orang saleh.Mengapa? Karena teman memiliki pengaruh besar bagi seseorang. Jangan sampai, teman-teman yang kita miliki menyeret diri kita ke jurang bahaya sementara kita tidak menyadarinya. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik lagi saleh. Jikalau kita tidak mampu menyamai kesalehan mereka, minimal akan mendapatkan keberkahan dan nasihat-nasihat baik mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً“Perumpamaan teman orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)Tips keempat yang akan membantu kita untuk terus istikamah adalah tidak pernah lupa berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan menjadi hamba yang istikamah.Seorang hamba tidak akan bisa menjadi baik dan istikamah, kecuali berkat pertolongan dan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, di antara bentuk semangat kita untuk menjadi baik dan istikamah adalah banyak memohon agar dibantu oleh Allah Ta’ala menjadi hamba yang baik.Salah satu doa yang bisa kita rutinkan untuk kita baca setelah selesai salat adalah,اللَّهُمَّ أَعِنّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Ya Allah bantulah kami agar senantiasa bisa berzikir (mengingat-Mu), bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud no. 1522)Jemaah salat Idulfitri yang dirahmati Allah Ta’ala,Di antara sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berkhotbah Idulfitri adalah memberikan nasihat khusus untuk kaum muslimah. Maka, di sini kami sampaikan nasihat kepada ibu-ibu dan wanita muslimah semuanya untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Senantiasalah selalu dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Bertakwalah kepada Allah dalam setiap gerakan dan kegiatan, berucaplah dengan jujur, jauhi gibah, dan berpakaianlah dengan pakaian yang menutup aurat. Ingatlah selalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما ترَكتُ بعدي فتنةً هي أضرُّ على الرِّجالِ مِن النساءِ“Tidaklah ada sepeninggalku ujian/cobaan yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki daripada ujian/cobaan wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)Jadilah wanita yang menjaga diri dan menjaga kehormatan. Jauhilah zina dan sebab-sebabnya. Karena Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا“Dan janganlah kalian mendekati zina. (Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Jemaah yang berbahagia,Nasihat terakhir kami adalah sebuah nasihat yang disampaikan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, Beliau mengatakan,لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد * لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب“Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru tanpa cacat. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah ibadah dan ketaatannya. Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.”Allahu akbar… Allahu akbar… Laa ilaaha illallahu wallahu akbar… Allahu akbar walillahil hamd…Akhir kata, marilah kita berdoa memohon kepada Allah, agar diberikan sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat, dimudahkan juga istikamah, dan konsisten dalam beramal. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan kemudahan bagi kaum muslimin Indonesia secara khusus dan kaum muslimin di segala penjuru dunia secara umum dalam setiap kesulitan dan musibah yang menimpa, berikut jalan keluar terbaik dalam menghadapi setiap masalah mereka.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌاَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَارَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِوصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلمBaca juga: Khotbah Salat Idul Fitri: Menggali Mutiara dari Idul Fitri***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khotbahkhotbah idul fitriteks khotbah idul fitri


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ چالَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأما بعد،فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخير الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وكل ضلالة في الناراَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ واللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر وَلِلَهِ الْحَمْدُMa’asyiral muslimin rahimakumullah.Jemaah salat Idulfitri yang semoga senantiasa dirahmati dan dilindungi oleh Allah Ta’ala.Di hari yang berbahagia ini, marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena ketakwaan merupakan sebab seorang hamba mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala. Allah berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)Sungguh, manusia yang paling mulia di muka bumi ini bukanlah mereka yang memiliki harta yang mewah, bukan juga mereka yang memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi, mereka yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Yaitu, mereka yang senantiasa menunaikan segala kewajiban yang telah diperintahkan dan menjauhi segala kemaksiatan yang dilarang.Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi mulia, suri teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, dan para sahabatnya.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Hari raya Idulfitri sejatinya adalah bentuk pengagungan kita kepada Allah Sang Maha Pencipta atas limpahan rezeki yang begitu banyak. Di antaranya adalah nikmat kesempatan menyelesaikan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan, nikmat kesempatan mengisi malam-malamnya dengan salat tarawih dan bacaan Al-Qur’an. Hari raya Idulfitri sekaligus merupakan kegembiraan seusai menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala, dengan harapan semoga apa yang telah kita lakukan di bulan ini diterima oleh Allah, mendapatkan pahala yang besar serta ganjaran yang berlipat.Jemaah salat Idulfitri yang berbahagia, seorang muslim tentu harus berbesar hati bahwa amalannya akan diterima Allah Ta’ala. Hanya saja rasa harap (raja’) ini harus diimbangi dengan rasa khawatir (khauf) bahwa amal kita bisa jadi belum diterima oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan seorang hamba tidak semuanya diterima. Allah Ta’ala hanya akan menerima amal ibadah dan ketaatan yang dilandasi dengan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Allah hanyalah menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Kondisi inilah yang membuat sebagian ulama di masa silam merasa resah ketika Idulfitri. Mereka resah, bukan karena tidak punya baju baru. Mereka resah, bukan karena jauh dari keluarga. Mereka resah karena mereka tidak tahu, apakah amalannya selama bulan Ramadan diterima oleh Allah Ta’ala ataukah tidak.Mu’alla bin Al-Fadhl rahimahullah, seorang ulama tabi’uttabi’in, menceritakan kondisi para sahabat,كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُم رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنهُمْ“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudahnya, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 264)Oleh karena itu juga, ketika saling bertemu dengan saudara dan kawan kerabat di hari raya Idulfitri, ucapan yang diamalkan oleh para sahabat dan kita dianjurkan untuk memperbanyaknya adalahتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ“Semoga Allah Ta’ala menerima (seluruh amal perbuatan) dari kami dan dari kalian.”Sebuah doa berisi harapan semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita dan saudara yang kita temui.Baca juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJamaah salat Idulfitri yang berbahagia.Selama bulan Ramadan, kita telah banyak belajar. Belajar untuk menyesuaikan diri dengan aturan syariat. Belajar juga untuk menjadi orang baik. Yang harus kita ingat, perjuangan menjadi hamba Allah yang baik tidak boleh hanya dilakukan ketika Ramadan saja. Menjadi hamba Allah yang baik harus berlanjut dan berkesinambungan sepanjang kehidupan kita. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ“Istikamahlah sebagaimana kamu diperintahkan.” (QS. Hud: 112)Setelah bulan Ramadan yang penuh dengan kebaikan ini pergi, tugas kita yang paling utama adalah beristikamah, konsisten, dan kontinyu di dalam menjalankan segala perintah Allah Ta’ala. Sebagaimana hal ini Allah Ta’ala perintahkan dalam ayat yang baru saja kita baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5861 dan Muslim no. 782, 783)Lantas, bagaimana caranya agar kita mudah beristikamah setelah perginya bulan Ramadan yang mulia ini?Pertama, jangan pernah tinggalkan amalan wajib.Ada beberapa ibadah dan amalan yang telah Allah Ta’ala wajibkan kepada setiap muslim. Jangan sampai kewajiban kewajiban tersebut kita tinggalkan dan kita sia-siakan ataupun dikerjakan di luar waktu yang telah ditentukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ حُرُمَاتٍ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا“Sesungguhnya Allah menetapkan beberapa kewajiban. Oleh karena itu, jangan kalian menyepelekannya. Allah mengharamkan beberapa larangan, jangan kalian melanggarnya. Dan Allah menetapkan beberapa aturan, jangan melampaui batasnya.” (HR. Daruquthni no. 4445)Ketahuilah, kewajiban yang paling utama adalah menjaga salat lima waktu secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah bagi perempuan.Kedua, rutinkan amal sunah yang ringan.Menjaga rutinitas amalan sunah sekalipun itu ringan, akan membuat ibadah kita kepada Allah Ta’ala selalu terjaga. Karena ingin kita rutinkan, maka cobalah yang ringan terlebih dahulu.Dimampukan oleh Allah dengan keluasan rezeki? Bersedekahlah secara rutin, penuhi kebutuhan saudara, kerabat terdekat kita. Mudah untuk bangun malam? Rutinkan bangun di sepertiga malam terakhir walau sesaat. Sungguh, amalan-amalan sunah yang sedikit dan ringan ini, jika kita lakukan secara kontinyu dan konsisten tentu lebih baik dari amalan yang besar, namun jarang kita lakukan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Wahai para manusia, beramallah sesuai dengan kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan.” (HR. Bukhari no. 5861)Di antara amalan sunah yang bisa kita kerjakan setelah perginya bulan Ramadan ini adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Puasa ini boleh dilakukan di tanggal berapa pun pada bulan Syawal. Mau dilakukan secara berurutan ataupun terpisah, maka ini tidak masalah.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Tips ketiga untuk menjaga keistikamahan kita selepas Ramadan adalah berteman dengan orang saleh.Mengapa? Karena teman memiliki pengaruh besar bagi seseorang. Jangan sampai, teman-teman yang kita miliki menyeret diri kita ke jurang bahaya sementara kita tidak menyadarinya. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik lagi saleh. Jikalau kita tidak mampu menyamai kesalehan mereka, minimal akan mendapatkan keberkahan dan nasihat-nasihat baik mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً“Perumpamaan teman orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)Tips keempat yang akan membantu kita untuk terus istikamah adalah tidak pernah lupa berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan menjadi hamba yang istikamah.Seorang hamba tidak akan bisa menjadi baik dan istikamah, kecuali berkat pertolongan dan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, di antara bentuk semangat kita untuk menjadi baik dan istikamah adalah banyak memohon agar dibantu oleh Allah Ta’ala menjadi hamba yang baik.Salah satu doa yang bisa kita rutinkan untuk kita baca setelah selesai salat adalah,اللَّهُمَّ أَعِنّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Ya Allah bantulah kami agar senantiasa bisa berzikir (mengingat-Mu), bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud no. 1522)Jemaah salat Idulfitri yang dirahmati Allah Ta’ala,Di antara sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berkhotbah Idulfitri adalah memberikan nasihat khusus untuk kaum muslimah. Maka, di sini kami sampaikan nasihat kepada ibu-ibu dan wanita muslimah semuanya untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Senantiasalah selalu dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Bertakwalah kepada Allah dalam setiap gerakan dan kegiatan, berucaplah dengan jujur, jauhi gibah, dan berpakaianlah dengan pakaian yang menutup aurat. Ingatlah selalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما ترَكتُ بعدي فتنةً هي أضرُّ على الرِّجالِ مِن النساءِ“Tidaklah ada sepeninggalku ujian/cobaan yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki daripada ujian/cobaan wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)Jadilah wanita yang menjaga diri dan menjaga kehormatan. Jauhilah zina dan sebab-sebabnya. Karena Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا“Dan janganlah kalian mendekati zina. (Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Jemaah yang berbahagia,Nasihat terakhir kami adalah sebuah nasihat yang disampaikan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, Beliau mengatakan,لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد * لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب“Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru tanpa cacat. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah ibadah dan ketaatannya. Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.”Allahu akbar… Allahu akbar… Laa ilaaha illallahu wallahu akbar… Allahu akbar walillahil hamd…Akhir kata, marilah kita berdoa memohon kepada Allah, agar diberikan sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat, dimudahkan juga istikamah, dan konsisten dalam beramal. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan kemudahan bagi kaum muslimin Indonesia secara khusus dan kaum muslimin di segala penjuru dunia secara umum dalam setiap kesulitan dan musibah yang menimpa, berikut jalan keluar terbaik dalam menghadapi setiap masalah mereka.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌاَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَارَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِوصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلمBaca juga: Khotbah Salat Idul Fitri: Menggali Mutiara dari Idul Fitri***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khotbahkhotbah idul fitriteks khotbah idul fitri

Khutbah Idul Fitri | Jaga Hati, Jangan Lalai Setelah Ramadhan

Jagalah hati, janganlah lalai bakda Ramadhan. Penyakit bakda Ramadhan adalah ghaflah, hati yang lalai. Semoga Allah menjaga hati kita agar terus istiqamah. Perhatikan dalam khutbah Idul Fitri 1444 H kali ini.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? 1.2. Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? 1.3. Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. 1.4. Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati 2. Khutbah Kedua 3. Aturan Khutbah Idulfitri 4. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: 5. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021:   Khutbah Pertama   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah … Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak bosan-bosannya kita memanjatkan puji syukur kepada Allah atas limpahan rahmat dan karunia sehingga terus berada dalam keadaan sehat wal afiat dan diberi umur panjang. Lebih dari itu semua, Allah masih memberikan kepada kita nikmat iman dan Islam yang patut kita syukuri dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk muhasabah diri dengan memperbaiki ketakwaan kita, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.” Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman.   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Bakda Ramadhan, kita diharapkan menjadi lebih baik. Ramadhan ibaratnya adalah seperti sekolah. Kemudian ketika kita selesai dari sekolah tersebut, kita mengaplikasikan amalan kita di bulan lainnya. Karena namanya pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang bisa dipraktikkan. Istilah para ulama adalah, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” Seharusnya kebaikan di bulan Ramadhan bisa berlanjut bakda Ramadhan. Shalat lima waktu bisa dilanjutkan dengan shalat lima waktu secara rutin. Shalat berjamaah (apalagi ditekankan bagi kaum pria) bisa dilanjutkan dengan shalat berjamaah bakda Ramadhan kecuali ada uzur, seperti hujan yang menyulitkan, sakit, dan darurat buang hajat. Shalat tarawih bisa dilanjutkan dengan shalat tahajud, bakda bangun tidur malam, bisa dengan rakaat yang kita mampu. Shalat witir bisa dilanjutkan bisa dilanjutkan dengan shalat witir bakda Ramadhan, bisa dilakukan bakda Isyak langsung, sebelum tidur, atau di akhir malam sebelum masuk Shubuh. Shalat rawatib 12 rakaat dalam sehari yang dijamin akan dibangunkan istana di surga bisa dilanjutkan bakda Ramadhan. Ingat, shalat qabliyah itu berarti shalat yang dilakukan ketika waktu shalat wajib itu masuk, yang penting masih di waktunya, bisa dilakukan sebelum ataukah sesudah shalat wajib. Sedangkan, shalat bakdiyah adalah shalat yang dilakukan bakda shalat wajib, tidak boleh sebelum shalat wajib. Membaca Al-Qur’an pun bisa dirutinkan bakda Ramadhan, bagi yang punya hafalan bisa mengulang hafalannya di dalam shalat sunnah, atau bisa sambil memegang mushaf (seperti dalam gawai/ gadget) kemudian dibaca ketika shalat tahajud atau shalat Dhuha. Al-Qur’an pun bisa dibaca kala waktu senggang, begitu pula dibaca saat menunggu antrian daripada hanya sekadar melihat status medsos yang “unfaedah” (tak manfaat). Sedekah bisa dilanjutkan dengan sedekah berikutnya bakda Ramadhan. Puasa Ramadhan bisa disempurnakan dengan puasa Syawal agar mendapatkan pahala puasa setahun penuh, dengan catatan baiknya membayar qadha’ dahulu barulah puasa Syawal. Pokoknya kebaikan di bulan Ramadhan, baiknya terus dilanjutkan. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para hadirin rahimakumullah … Namun, cobaan sejatinya memang kita dapati bakda Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan sendiri, maksiat itu berkurang dan kebaikan itu Allah mudahkan dengan ditandai terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka, serta setan diikat. Bakda Ramadhan, keadaan ini berbeda. Keadaan kembali mendapatkan ujian dengan mudahnya kita meninggalkan kebaikan, bahkan kewajiban, dan terjerumus dalam maksiat.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? Kita kurang memperhatikan ibadah wajib. Kalau pun memperhatikan ibadah wajib, ada kekurangan dalam yang sunnah atau kita merasa “sudah lah cukup dengan wajib saja”. Kebiasaan kita juga menganggap maksiat bahkan dosa besar sebagai hal yang biasa. Inilah yang disebut ghaflah, lalai. Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah kelalain karena sedikit menjaga diri dan kurang sadar.” Sedangkan, Al-Jirjani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah mengikuti hawa nafsu yang disukai.” (Mufsidaat Al-Quluub karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, hlm. 90) Ada kelalaian yang keadaannya layaknya binatang ternak, hanya paham makan, minum, tidur, bersenang-senang, dan istirahat. Inilah yang Allah sebutkan, وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ “Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12). Na’udzu billahi min dzalik, semoga Allah melindungi kita semua dari sifat semacam ini. Inilah yang disebut dengan ghaflah taammah, kelalaian yang sempurna. Ada pula kelalaian yang sifatnya terkadang datang, terkadang hilang, seperti yang terjadi pada orang saleh. Kelalaian yang bisa langsung hilang karena ingat akhirat, kelalaian ini disebut ghaflah ‘aaridhoh. Dalam ayat disebutkan, إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201) Ada juga kelalaian yang ada pada akhli maksiat atau orang fasik yang berulang terus menerus. Kelalaian seperti ini disebut ghaflah mutakarriroh. Kelalaian semacam ini perlu diingatkan kapan pun sehingga para ahli maksiat bisa kembali ke jalan yang benar, shirothol mustaqim.   Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? Pertama: Ingin terus rehat atau beristirahat. Kedua: Semangat dalam mencari kelezatan dunia hingga menerjang yang haram. Ketiga: Karena sudah mati rasa terhadap dosa. Keempat: Mengikuti hawa nafsu. Kelima: Sibuk dengan kerja dan mencari nafkah. Keenam: Waktu dihabiskan dengan permainan, games, dan gadget (gawai). Ketujuh: Hidup mewah dengan pakaian, makanan dan kelezatan dunia. Kedelapan: Cinta dunia dan merasa hidup lama. Kesembilan: Berteman dengan orang-orang yang lalai (ghaflah). Kesepuluh: Banyak sibuk dengan hal mubah.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. Enggan duduk dalam majelis ilmu untuk mempelajari agama. Enggan mempelajari Al-Qur’an dengan membaca, memahami dan menghafalkannya serta mendalami ilmu di dalamnya. Enggan berdzikir kepada Allah. Enggan membaca dan menghafalkan dzikir yang bisa digunakan untuk melindungi diri. Lalai dalam memperhatikan niat. Beramal namun tidak memperhatikan manakah amalan yang lebih prioritas dari yang lainnya.   Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati Berada dalam majelis ilmu. Rajin berdzikir. Rajin berdoa. Shalat malam. Ziarah kubur. Tadabbur keadaan sekitar kita seperti merenungkan kematian yang ada di sekeliling kita. Mengingat surga dan neraka. Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Kiat penting lainnya untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati adalah berteman dengan orang saleh, berada di sekeliling orang baik, dan meninggalkan orang-orang yang ghaflah (lalai). Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28) Keadaan teman itu dalam mendukung menjadi baik sangat penting. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “Arwah itu adalah bala tentara yang berlimpah dan bermacam (masing-masing ada kesesuaian dalam hal kebaikan dan keburukan). Yang sudah saling kenal (cocok), maka akan menyatu. Yang tidak saling kenal (tidak cocok), pasti akan berpisah.” (HR. Bukhari, no. 3158 dan Muslim, no. 2638). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini, فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Orang jelek pun demikian akan berkumpul dengan orang jelek.” (Syarh Shahih Muslim, 16:185). Teman yang paling dekat adalah pasangan suami istri, karena berada dalam satu atap dan selalu bersama. Baca juga: Kisah Ashabul Kahfi dan Pelajaran di Dalamnya اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Terakhir, yang dapat menguatkan istiqamah agar sekolah Ramadhan bisa terus berlanjut bakda Ramadhan adalah dengan terus berdoa. Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini, ْكَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم “Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …   Semoga doa-doa kita dapat meneguhkan kita sehingga bisa terus istiqamah bakda Ramadhan. Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam iman dan amal saleh, hingga diberikan kepada kita semua husnul khatimah. ْأَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.   Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.   Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   – Aturan Khutbah Idulfitri 1. Khutbah Idulfitri adalah sunnah setelah shalat Id. 2. Khutbah Idulfitri ada dua kali khutbah. Rukun dan sunnahnya sama dengan khutbah Jumat. 3. Disunnahkan khutbah dengan mimbar, boleh juga berkhutbah dengan duduk. 4. Khutbah pertama diawali dengan sembilan kali takbir. Khutbah kedua diawali dengan tujuh kali takbir. 5. Rukun khutbatain (dua khutbah) ada 5, yaitu [1] memuji Allah pada kedua khutbah, [2] bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua khutbah, [3] berwasiat takwa pada kedua khutbah, [4] membaca ayat Al-Qur’an di salah satu keduanya, dan [5] mendoakan orang-orang beriman lelaki dan peremuan di khutbah terakhir. 6. Jamaah disunnahkan mendengarkan khutbah. Namun, mendengarkan khutbah Idulfitri bukanlah syarat sahnya shalat Id. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:555-556. Lihat pula Kifayah Al-Akhyar, hlm. 200.   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: “Realisasi Syukur Bakda Ramadhan”   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021: “Berbuka Ketika Berjumpa dengan Allah” – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 1 Syawal 1444 H, Sabtu pagi penuh berkah di hari Idulfitri Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa meninggalkan shalat ghaflah hati bersih jaga hati khutbah hari raya khutbah idul fitri lalai

Khutbah Idul Fitri | Jaga Hati, Jangan Lalai Setelah Ramadhan

Jagalah hati, janganlah lalai bakda Ramadhan. Penyakit bakda Ramadhan adalah ghaflah, hati yang lalai. Semoga Allah menjaga hati kita agar terus istiqamah. Perhatikan dalam khutbah Idul Fitri 1444 H kali ini.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? 1.2. Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? 1.3. Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. 1.4. Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati 2. Khutbah Kedua 3. Aturan Khutbah Idulfitri 4. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: 5. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021:   Khutbah Pertama   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah … Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak bosan-bosannya kita memanjatkan puji syukur kepada Allah atas limpahan rahmat dan karunia sehingga terus berada dalam keadaan sehat wal afiat dan diberi umur panjang. Lebih dari itu semua, Allah masih memberikan kepada kita nikmat iman dan Islam yang patut kita syukuri dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk muhasabah diri dengan memperbaiki ketakwaan kita, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.” Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman.   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Bakda Ramadhan, kita diharapkan menjadi lebih baik. Ramadhan ibaratnya adalah seperti sekolah. Kemudian ketika kita selesai dari sekolah tersebut, kita mengaplikasikan amalan kita di bulan lainnya. Karena namanya pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang bisa dipraktikkan. Istilah para ulama adalah, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” Seharusnya kebaikan di bulan Ramadhan bisa berlanjut bakda Ramadhan. Shalat lima waktu bisa dilanjutkan dengan shalat lima waktu secara rutin. Shalat berjamaah (apalagi ditekankan bagi kaum pria) bisa dilanjutkan dengan shalat berjamaah bakda Ramadhan kecuali ada uzur, seperti hujan yang menyulitkan, sakit, dan darurat buang hajat. Shalat tarawih bisa dilanjutkan dengan shalat tahajud, bakda bangun tidur malam, bisa dengan rakaat yang kita mampu. Shalat witir bisa dilanjutkan bisa dilanjutkan dengan shalat witir bakda Ramadhan, bisa dilakukan bakda Isyak langsung, sebelum tidur, atau di akhir malam sebelum masuk Shubuh. Shalat rawatib 12 rakaat dalam sehari yang dijamin akan dibangunkan istana di surga bisa dilanjutkan bakda Ramadhan. Ingat, shalat qabliyah itu berarti shalat yang dilakukan ketika waktu shalat wajib itu masuk, yang penting masih di waktunya, bisa dilakukan sebelum ataukah sesudah shalat wajib. Sedangkan, shalat bakdiyah adalah shalat yang dilakukan bakda shalat wajib, tidak boleh sebelum shalat wajib. Membaca Al-Qur’an pun bisa dirutinkan bakda Ramadhan, bagi yang punya hafalan bisa mengulang hafalannya di dalam shalat sunnah, atau bisa sambil memegang mushaf (seperti dalam gawai/ gadget) kemudian dibaca ketika shalat tahajud atau shalat Dhuha. Al-Qur’an pun bisa dibaca kala waktu senggang, begitu pula dibaca saat menunggu antrian daripada hanya sekadar melihat status medsos yang “unfaedah” (tak manfaat). Sedekah bisa dilanjutkan dengan sedekah berikutnya bakda Ramadhan. Puasa Ramadhan bisa disempurnakan dengan puasa Syawal agar mendapatkan pahala puasa setahun penuh, dengan catatan baiknya membayar qadha’ dahulu barulah puasa Syawal. Pokoknya kebaikan di bulan Ramadhan, baiknya terus dilanjutkan. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para hadirin rahimakumullah … Namun, cobaan sejatinya memang kita dapati bakda Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan sendiri, maksiat itu berkurang dan kebaikan itu Allah mudahkan dengan ditandai terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka, serta setan diikat. Bakda Ramadhan, keadaan ini berbeda. Keadaan kembali mendapatkan ujian dengan mudahnya kita meninggalkan kebaikan, bahkan kewajiban, dan terjerumus dalam maksiat.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? Kita kurang memperhatikan ibadah wajib. Kalau pun memperhatikan ibadah wajib, ada kekurangan dalam yang sunnah atau kita merasa “sudah lah cukup dengan wajib saja”. Kebiasaan kita juga menganggap maksiat bahkan dosa besar sebagai hal yang biasa. Inilah yang disebut ghaflah, lalai. Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah kelalain karena sedikit menjaga diri dan kurang sadar.” Sedangkan, Al-Jirjani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah mengikuti hawa nafsu yang disukai.” (Mufsidaat Al-Quluub karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, hlm. 90) Ada kelalaian yang keadaannya layaknya binatang ternak, hanya paham makan, minum, tidur, bersenang-senang, dan istirahat. Inilah yang Allah sebutkan, وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ “Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12). Na’udzu billahi min dzalik, semoga Allah melindungi kita semua dari sifat semacam ini. Inilah yang disebut dengan ghaflah taammah, kelalaian yang sempurna. Ada pula kelalaian yang sifatnya terkadang datang, terkadang hilang, seperti yang terjadi pada orang saleh. Kelalaian yang bisa langsung hilang karena ingat akhirat, kelalaian ini disebut ghaflah ‘aaridhoh. Dalam ayat disebutkan, إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201) Ada juga kelalaian yang ada pada akhli maksiat atau orang fasik yang berulang terus menerus. Kelalaian seperti ini disebut ghaflah mutakarriroh. Kelalaian semacam ini perlu diingatkan kapan pun sehingga para ahli maksiat bisa kembali ke jalan yang benar, shirothol mustaqim.   Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? Pertama: Ingin terus rehat atau beristirahat. Kedua: Semangat dalam mencari kelezatan dunia hingga menerjang yang haram. Ketiga: Karena sudah mati rasa terhadap dosa. Keempat: Mengikuti hawa nafsu. Kelima: Sibuk dengan kerja dan mencari nafkah. Keenam: Waktu dihabiskan dengan permainan, games, dan gadget (gawai). Ketujuh: Hidup mewah dengan pakaian, makanan dan kelezatan dunia. Kedelapan: Cinta dunia dan merasa hidup lama. Kesembilan: Berteman dengan orang-orang yang lalai (ghaflah). Kesepuluh: Banyak sibuk dengan hal mubah.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. Enggan duduk dalam majelis ilmu untuk mempelajari agama. Enggan mempelajari Al-Qur’an dengan membaca, memahami dan menghafalkannya serta mendalami ilmu di dalamnya. Enggan berdzikir kepada Allah. Enggan membaca dan menghafalkan dzikir yang bisa digunakan untuk melindungi diri. Lalai dalam memperhatikan niat. Beramal namun tidak memperhatikan manakah amalan yang lebih prioritas dari yang lainnya.   Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati Berada dalam majelis ilmu. Rajin berdzikir. Rajin berdoa. Shalat malam. Ziarah kubur. Tadabbur keadaan sekitar kita seperti merenungkan kematian yang ada di sekeliling kita. Mengingat surga dan neraka. Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Kiat penting lainnya untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati adalah berteman dengan orang saleh, berada di sekeliling orang baik, dan meninggalkan orang-orang yang ghaflah (lalai). Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28) Keadaan teman itu dalam mendukung menjadi baik sangat penting. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “Arwah itu adalah bala tentara yang berlimpah dan bermacam (masing-masing ada kesesuaian dalam hal kebaikan dan keburukan). Yang sudah saling kenal (cocok), maka akan menyatu. Yang tidak saling kenal (tidak cocok), pasti akan berpisah.” (HR. Bukhari, no. 3158 dan Muslim, no. 2638). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini, فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Orang jelek pun demikian akan berkumpul dengan orang jelek.” (Syarh Shahih Muslim, 16:185). Teman yang paling dekat adalah pasangan suami istri, karena berada dalam satu atap dan selalu bersama. Baca juga: Kisah Ashabul Kahfi dan Pelajaran di Dalamnya اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Terakhir, yang dapat menguatkan istiqamah agar sekolah Ramadhan bisa terus berlanjut bakda Ramadhan adalah dengan terus berdoa. Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini, ْكَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم “Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …   Semoga doa-doa kita dapat meneguhkan kita sehingga bisa terus istiqamah bakda Ramadhan. Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam iman dan amal saleh, hingga diberikan kepada kita semua husnul khatimah. ْأَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.   Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.   Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   – Aturan Khutbah Idulfitri 1. Khutbah Idulfitri adalah sunnah setelah shalat Id. 2. Khutbah Idulfitri ada dua kali khutbah. Rukun dan sunnahnya sama dengan khutbah Jumat. 3. Disunnahkan khutbah dengan mimbar, boleh juga berkhutbah dengan duduk. 4. Khutbah pertama diawali dengan sembilan kali takbir. Khutbah kedua diawali dengan tujuh kali takbir. 5. Rukun khutbatain (dua khutbah) ada 5, yaitu [1] memuji Allah pada kedua khutbah, [2] bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua khutbah, [3] berwasiat takwa pada kedua khutbah, [4] membaca ayat Al-Qur’an di salah satu keduanya, dan [5] mendoakan orang-orang beriman lelaki dan peremuan di khutbah terakhir. 6. Jamaah disunnahkan mendengarkan khutbah. Namun, mendengarkan khutbah Idulfitri bukanlah syarat sahnya shalat Id. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:555-556. Lihat pula Kifayah Al-Akhyar, hlm. 200.   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: “Realisasi Syukur Bakda Ramadhan”   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021: “Berbuka Ketika Berjumpa dengan Allah” – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 1 Syawal 1444 H, Sabtu pagi penuh berkah di hari Idulfitri Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa meninggalkan shalat ghaflah hati bersih jaga hati khutbah hari raya khutbah idul fitri lalai
Jagalah hati, janganlah lalai bakda Ramadhan. Penyakit bakda Ramadhan adalah ghaflah, hati yang lalai. Semoga Allah menjaga hati kita agar terus istiqamah. Perhatikan dalam khutbah Idul Fitri 1444 H kali ini.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? 1.2. Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? 1.3. Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. 1.4. Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati 2. Khutbah Kedua 3. Aturan Khutbah Idulfitri 4. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: 5. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021:   Khutbah Pertama   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah … Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak bosan-bosannya kita memanjatkan puji syukur kepada Allah atas limpahan rahmat dan karunia sehingga terus berada dalam keadaan sehat wal afiat dan diberi umur panjang. Lebih dari itu semua, Allah masih memberikan kepada kita nikmat iman dan Islam yang patut kita syukuri dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk muhasabah diri dengan memperbaiki ketakwaan kita, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.” Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman.   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Bakda Ramadhan, kita diharapkan menjadi lebih baik. Ramadhan ibaratnya adalah seperti sekolah. Kemudian ketika kita selesai dari sekolah tersebut, kita mengaplikasikan amalan kita di bulan lainnya. Karena namanya pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang bisa dipraktikkan. Istilah para ulama adalah, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” Seharusnya kebaikan di bulan Ramadhan bisa berlanjut bakda Ramadhan. Shalat lima waktu bisa dilanjutkan dengan shalat lima waktu secara rutin. Shalat berjamaah (apalagi ditekankan bagi kaum pria) bisa dilanjutkan dengan shalat berjamaah bakda Ramadhan kecuali ada uzur, seperti hujan yang menyulitkan, sakit, dan darurat buang hajat. Shalat tarawih bisa dilanjutkan dengan shalat tahajud, bakda bangun tidur malam, bisa dengan rakaat yang kita mampu. Shalat witir bisa dilanjutkan bisa dilanjutkan dengan shalat witir bakda Ramadhan, bisa dilakukan bakda Isyak langsung, sebelum tidur, atau di akhir malam sebelum masuk Shubuh. Shalat rawatib 12 rakaat dalam sehari yang dijamin akan dibangunkan istana di surga bisa dilanjutkan bakda Ramadhan. Ingat, shalat qabliyah itu berarti shalat yang dilakukan ketika waktu shalat wajib itu masuk, yang penting masih di waktunya, bisa dilakukan sebelum ataukah sesudah shalat wajib. Sedangkan, shalat bakdiyah adalah shalat yang dilakukan bakda shalat wajib, tidak boleh sebelum shalat wajib. Membaca Al-Qur’an pun bisa dirutinkan bakda Ramadhan, bagi yang punya hafalan bisa mengulang hafalannya di dalam shalat sunnah, atau bisa sambil memegang mushaf (seperti dalam gawai/ gadget) kemudian dibaca ketika shalat tahajud atau shalat Dhuha. Al-Qur’an pun bisa dibaca kala waktu senggang, begitu pula dibaca saat menunggu antrian daripada hanya sekadar melihat status medsos yang “unfaedah” (tak manfaat). Sedekah bisa dilanjutkan dengan sedekah berikutnya bakda Ramadhan. Puasa Ramadhan bisa disempurnakan dengan puasa Syawal agar mendapatkan pahala puasa setahun penuh, dengan catatan baiknya membayar qadha’ dahulu barulah puasa Syawal. Pokoknya kebaikan di bulan Ramadhan, baiknya terus dilanjutkan. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para hadirin rahimakumullah … Namun, cobaan sejatinya memang kita dapati bakda Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan sendiri, maksiat itu berkurang dan kebaikan itu Allah mudahkan dengan ditandai terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka, serta setan diikat. Bakda Ramadhan, keadaan ini berbeda. Keadaan kembali mendapatkan ujian dengan mudahnya kita meninggalkan kebaikan, bahkan kewajiban, dan terjerumus dalam maksiat.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? Kita kurang memperhatikan ibadah wajib. Kalau pun memperhatikan ibadah wajib, ada kekurangan dalam yang sunnah atau kita merasa “sudah lah cukup dengan wajib saja”. Kebiasaan kita juga menganggap maksiat bahkan dosa besar sebagai hal yang biasa. Inilah yang disebut ghaflah, lalai. Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah kelalain karena sedikit menjaga diri dan kurang sadar.” Sedangkan, Al-Jirjani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah mengikuti hawa nafsu yang disukai.” (Mufsidaat Al-Quluub karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, hlm. 90) Ada kelalaian yang keadaannya layaknya binatang ternak, hanya paham makan, minum, tidur, bersenang-senang, dan istirahat. Inilah yang Allah sebutkan, وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ “Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12). Na’udzu billahi min dzalik, semoga Allah melindungi kita semua dari sifat semacam ini. Inilah yang disebut dengan ghaflah taammah, kelalaian yang sempurna. Ada pula kelalaian yang sifatnya terkadang datang, terkadang hilang, seperti yang terjadi pada orang saleh. Kelalaian yang bisa langsung hilang karena ingat akhirat, kelalaian ini disebut ghaflah ‘aaridhoh. Dalam ayat disebutkan, إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201) Ada juga kelalaian yang ada pada akhli maksiat atau orang fasik yang berulang terus menerus. Kelalaian seperti ini disebut ghaflah mutakarriroh. Kelalaian semacam ini perlu diingatkan kapan pun sehingga para ahli maksiat bisa kembali ke jalan yang benar, shirothol mustaqim.   Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? Pertama: Ingin terus rehat atau beristirahat. Kedua: Semangat dalam mencari kelezatan dunia hingga menerjang yang haram. Ketiga: Karena sudah mati rasa terhadap dosa. Keempat: Mengikuti hawa nafsu. Kelima: Sibuk dengan kerja dan mencari nafkah. Keenam: Waktu dihabiskan dengan permainan, games, dan gadget (gawai). Ketujuh: Hidup mewah dengan pakaian, makanan dan kelezatan dunia. Kedelapan: Cinta dunia dan merasa hidup lama. Kesembilan: Berteman dengan orang-orang yang lalai (ghaflah). Kesepuluh: Banyak sibuk dengan hal mubah.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. Enggan duduk dalam majelis ilmu untuk mempelajari agama. Enggan mempelajari Al-Qur’an dengan membaca, memahami dan menghafalkannya serta mendalami ilmu di dalamnya. Enggan berdzikir kepada Allah. Enggan membaca dan menghafalkan dzikir yang bisa digunakan untuk melindungi diri. Lalai dalam memperhatikan niat. Beramal namun tidak memperhatikan manakah amalan yang lebih prioritas dari yang lainnya.   Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati Berada dalam majelis ilmu. Rajin berdzikir. Rajin berdoa. Shalat malam. Ziarah kubur. Tadabbur keadaan sekitar kita seperti merenungkan kematian yang ada di sekeliling kita. Mengingat surga dan neraka. Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Kiat penting lainnya untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati adalah berteman dengan orang saleh, berada di sekeliling orang baik, dan meninggalkan orang-orang yang ghaflah (lalai). Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28) Keadaan teman itu dalam mendukung menjadi baik sangat penting. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “Arwah itu adalah bala tentara yang berlimpah dan bermacam (masing-masing ada kesesuaian dalam hal kebaikan dan keburukan). Yang sudah saling kenal (cocok), maka akan menyatu. Yang tidak saling kenal (tidak cocok), pasti akan berpisah.” (HR. Bukhari, no. 3158 dan Muslim, no. 2638). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini, فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Orang jelek pun demikian akan berkumpul dengan orang jelek.” (Syarh Shahih Muslim, 16:185). Teman yang paling dekat adalah pasangan suami istri, karena berada dalam satu atap dan selalu bersama. Baca juga: Kisah Ashabul Kahfi dan Pelajaran di Dalamnya اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Terakhir, yang dapat menguatkan istiqamah agar sekolah Ramadhan bisa terus berlanjut bakda Ramadhan adalah dengan terus berdoa. Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini, ْكَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم “Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …   Semoga doa-doa kita dapat meneguhkan kita sehingga bisa terus istiqamah bakda Ramadhan. Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam iman dan amal saleh, hingga diberikan kepada kita semua husnul khatimah. ْأَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.   Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.   Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   – Aturan Khutbah Idulfitri 1. Khutbah Idulfitri adalah sunnah setelah shalat Id. 2. Khutbah Idulfitri ada dua kali khutbah. Rukun dan sunnahnya sama dengan khutbah Jumat. 3. Disunnahkan khutbah dengan mimbar, boleh juga berkhutbah dengan duduk. 4. Khutbah pertama diawali dengan sembilan kali takbir. Khutbah kedua diawali dengan tujuh kali takbir. 5. Rukun khutbatain (dua khutbah) ada 5, yaitu [1] memuji Allah pada kedua khutbah, [2] bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua khutbah, [3] berwasiat takwa pada kedua khutbah, [4] membaca ayat Al-Qur’an di salah satu keduanya, dan [5] mendoakan orang-orang beriman lelaki dan peremuan di khutbah terakhir. 6. Jamaah disunnahkan mendengarkan khutbah. Namun, mendengarkan khutbah Idulfitri bukanlah syarat sahnya shalat Id. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:555-556. Lihat pula Kifayah Al-Akhyar, hlm. 200.   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: “Realisasi Syukur Bakda Ramadhan”   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021: “Berbuka Ketika Berjumpa dengan Allah” – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 1 Syawal 1444 H, Sabtu pagi penuh berkah di hari Idulfitri Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa meninggalkan shalat ghaflah hati bersih jaga hati khutbah hari raya khutbah idul fitri lalai


Jagalah hati, janganlah lalai bakda Ramadhan. Penyakit bakda Ramadhan adalah ghaflah, hati yang lalai. Semoga Allah menjaga hati kita agar terus istiqamah. Perhatikan dalam khutbah Idul Fitri 1444 H kali ini.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? 1.2. Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? 1.3. Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. 1.4. Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati 2. Khutbah Kedua 3. Aturan Khutbah Idulfitri 4. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: 5. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021:   Khutbah Pertama   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah … Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak bosan-bosannya kita memanjatkan puji syukur kepada Allah atas limpahan rahmat dan karunia sehingga terus berada dalam keadaan sehat wal afiat dan diberi umur panjang. Lebih dari itu semua, Allah masih memberikan kepada kita nikmat iman dan Islam yang patut kita syukuri dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk muhasabah diri dengan memperbaiki ketakwaan kita, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.” Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman.   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Bakda Ramadhan, kita diharapkan menjadi lebih baik. Ramadhan ibaratnya adalah seperti sekolah. Kemudian ketika kita selesai dari sekolah tersebut, kita mengaplikasikan amalan kita di bulan lainnya. Karena namanya pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang bisa dipraktikkan. Istilah para ulama adalah, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” Seharusnya kebaikan di bulan Ramadhan bisa berlanjut bakda Ramadhan. Shalat lima waktu bisa dilanjutkan dengan shalat lima waktu secara rutin. Shalat berjamaah (apalagi ditekankan bagi kaum pria) bisa dilanjutkan dengan shalat berjamaah bakda Ramadhan kecuali ada uzur, seperti hujan yang menyulitkan, sakit, dan darurat buang hajat. Shalat tarawih bisa dilanjutkan dengan shalat tahajud, bakda bangun tidur malam, bisa dengan rakaat yang kita mampu. Shalat witir bisa dilanjutkan bisa dilanjutkan dengan shalat witir bakda Ramadhan, bisa dilakukan bakda Isyak langsung, sebelum tidur, atau di akhir malam sebelum masuk Shubuh. Shalat rawatib 12 rakaat dalam sehari yang dijamin akan dibangunkan istana di surga bisa dilanjutkan bakda Ramadhan. Ingat, shalat qabliyah itu berarti shalat yang dilakukan ketika waktu shalat wajib itu masuk, yang penting masih di waktunya, bisa dilakukan sebelum ataukah sesudah shalat wajib. Sedangkan, shalat bakdiyah adalah shalat yang dilakukan bakda shalat wajib, tidak boleh sebelum shalat wajib. Membaca Al-Qur’an pun bisa dirutinkan bakda Ramadhan, bagi yang punya hafalan bisa mengulang hafalannya di dalam shalat sunnah, atau bisa sambil memegang mushaf (seperti dalam gawai/ gadget) kemudian dibaca ketika shalat tahajud atau shalat Dhuha. Al-Qur’an pun bisa dibaca kala waktu senggang, begitu pula dibaca saat menunggu antrian daripada hanya sekadar melihat status medsos yang “unfaedah” (tak manfaat). Sedekah bisa dilanjutkan dengan sedekah berikutnya bakda Ramadhan. Puasa Ramadhan bisa disempurnakan dengan puasa Syawal agar mendapatkan pahala puasa setahun penuh, dengan catatan baiknya membayar qadha’ dahulu barulah puasa Syawal. Pokoknya kebaikan di bulan Ramadhan, baiknya terus dilanjutkan. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para hadirin rahimakumullah … Namun, cobaan sejatinya memang kita dapati bakda Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan sendiri, maksiat itu berkurang dan kebaikan itu Allah mudahkan dengan ditandai terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka, serta setan diikat. Bakda Ramadhan, keadaan ini berbeda. Keadaan kembali mendapatkan ujian dengan mudahnya kita meninggalkan kebaikan, bahkan kewajiban, dan terjerumus dalam maksiat.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? Kita kurang memperhatikan ibadah wajib. Kalau pun memperhatikan ibadah wajib, ada kekurangan dalam yang sunnah atau kita merasa “sudah lah cukup dengan wajib saja”. Kebiasaan kita juga menganggap maksiat bahkan dosa besar sebagai hal yang biasa. Inilah yang disebut ghaflah, lalai. Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah kelalain karena sedikit menjaga diri dan kurang sadar.” Sedangkan, Al-Jirjani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah mengikuti hawa nafsu yang disukai.” (Mufsidaat Al-Quluub karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, hlm. 90) Ada kelalaian yang keadaannya layaknya binatang ternak, hanya paham makan, minum, tidur, bersenang-senang, dan istirahat. Inilah yang Allah sebutkan, وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ “Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12). Na’udzu billahi min dzalik, semoga Allah melindungi kita semua dari sifat semacam ini. Inilah yang disebut dengan ghaflah taammah, kelalaian yang sempurna. Ada pula kelalaian yang sifatnya terkadang datang, terkadang hilang, seperti yang terjadi pada orang saleh. Kelalaian yang bisa langsung hilang karena ingat akhirat, kelalaian ini disebut ghaflah ‘aaridhoh. Dalam ayat disebutkan, إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201) Ada juga kelalaian yang ada pada akhli maksiat atau orang fasik yang berulang terus menerus. Kelalaian seperti ini disebut ghaflah mutakarriroh. Kelalaian semacam ini perlu diingatkan kapan pun sehingga para ahli maksiat bisa kembali ke jalan yang benar, shirothol mustaqim.   Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? Pertama: Ingin terus rehat atau beristirahat. Kedua: Semangat dalam mencari kelezatan dunia hingga menerjang yang haram. Ketiga: Karena sudah mati rasa terhadap dosa. Keempat: Mengikuti hawa nafsu. Kelima: Sibuk dengan kerja dan mencari nafkah. Keenam: Waktu dihabiskan dengan permainan, games, dan gadget (gawai). Ketujuh: Hidup mewah dengan pakaian, makanan dan kelezatan dunia. Kedelapan: Cinta dunia dan merasa hidup lama. Kesembilan: Berteman dengan orang-orang yang lalai (ghaflah). Kesepuluh: Banyak sibuk dengan hal mubah.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. Enggan duduk dalam majelis ilmu untuk mempelajari agama. Enggan mempelajari Al-Qur’an dengan membaca, memahami dan menghafalkannya serta mendalami ilmu di dalamnya. Enggan berdzikir kepada Allah. Enggan membaca dan menghafalkan dzikir yang bisa digunakan untuk melindungi diri. Lalai dalam memperhatikan niat. Beramal namun tidak memperhatikan manakah amalan yang lebih prioritas dari yang lainnya.   Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati Berada dalam majelis ilmu. Rajin berdzikir. Rajin berdoa. Shalat malam. Ziarah kubur. Tadabbur keadaan sekitar kita seperti merenungkan kematian yang ada di sekeliling kita. Mengingat surga dan neraka. Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Kiat penting lainnya untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati adalah berteman dengan orang saleh, berada di sekeliling orang baik, dan meninggalkan orang-orang yang ghaflah (lalai). Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28) Keadaan teman itu dalam mendukung menjadi baik sangat penting. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “Arwah itu adalah bala tentara yang berlimpah dan bermacam (masing-masing ada kesesuaian dalam hal kebaikan dan keburukan). Yang sudah saling kenal (cocok), maka akan menyatu. Yang tidak saling kenal (tidak cocok), pasti akan berpisah.” (HR. Bukhari, no. 3158 dan Muslim, no. 2638). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini, فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Orang jelek pun demikian akan berkumpul dengan orang jelek.” (Syarh Shahih Muslim, 16:185). Teman yang paling dekat adalah pasangan suami istri, karena berada dalam satu atap dan selalu bersama. Baca juga: Kisah Ashabul Kahfi dan Pelajaran di Dalamnya اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Terakhir, yang dapat menguatkan istiqamah agar sekolah Ramadhan bisa terus berlanjut bakda Ramadhan adalah dengan terus berdoa. Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini, ْكَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم “Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …   Semoga doa-doa kita dapat meneguhkan kita sehingga bisa terus istiqamah bakda Ramadhan. Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam iman dan amal saleh, hingga diberikan kepada kita semua husnul khatimah. ْأَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.   Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.   Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   – Aturan Khutbah Idulfitri 1. Khutbah Idulfitri adalah sunnah setelah shalat Id. 2. Khutbah Idulfitri ada dua kali khutbah. Rukun dan sunnahnya sama dengan khutbah Jumat. 3. Disunnahkan khutbah dengan mimbar, boleh juga berkhutbah dengan duduk. 4. Khutbah pertama diawali dengan sembilan kali takbir. Khutbah kedua diawali dengan tujuh kali takbir. 5. Rukun khutbatain (dua khutbah) ada 5, yaitu [1] memuji Allah pada kedua khutbah, [2] bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua khutbah, [3] berwasiat takwa pada kedua khutbah, [4] membaca ayat Al-Qur’an di salah satu keduanya, dan [5] mendoakan orang-orang beriman lelaki dan peremuan di khutbah terakhir. 6. Jamaah disunnahkan mendengarkan khutbah. Namun, mendengarkan khutbah Idulfitri bukanlah syarat sahnya shalat Id. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:555-556. Lihat pula Kifayah Al-Akhyar, hlm. 200.   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: “Realisasi Syukur Bakda Ramadhan”   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021: “Berbuka Ketika Berjumpa dengan Allah” – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 1 Syawal 1444 H, Sabtu pagi penuh berkah di hari Idulfitri Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa meninggalkan shalat ghaflah hati bersih jaga hati khutbah hari raya khutbah idul fitri lalai

Mengenal Hak Allah Ta’ala

Hak Allah Ta’ala merupakan hak yang paling utama, wajib (ditunaikan) dan paling agung di antara hak-hak yang lain. Karena hak Allah Ta’ala merupakan hak yang Maha Pencipta, Mahaagung, Maha Penguasa, Maha Pengatur atas segala urusan. Hak pemilik segalanya yang nyata. Yang hidup kekal mengurus makhluk-Nya. Yang dengannya tegak langit dan bumi. Dia pula yang telah menciptakan segala sesuatu, kemudian menetapkan takdirnya dengan kebijaksaannya yang nyata. Hak Allah Ta’ala yang Dia telah menghadirkan Anda (di dunia) dari yang tidak ada dan dari sesuatu yang tidak pernah disebutkan sebelumnya. Hak Allah Ta’ala yang telah mengurus diri Anda dengan memberikan berbagai kenikmatan. Di mana Anda berada di perut ibu dalam 3 tahap kegelapan yang tidak satu pun makhluk yang sanggup memberikan makanan yang bergizi, menjadi sumber perkembangan dan kehidupanmu. Mengalirkan air susu untukmu dari dua payudara. Menghadirkan dua orang tua untukmu. Dia pula yang menyediakan dan mempersiapkan segala sesuatu untukmu. Menyediakanmu dengan kenikmatan, akal, dan pemahaman. Dan mempersiapkanmu dengan mampu menerima itu semua dengan cara memanfaatkannya.Allah Ta’ala berfirman,وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)Seandainya Anda tertutup dari melihat keutamaan-Nya tersebut walau sekejap mata, pasti Anda akan binasa. Seandainya Anda terhalang dari kasih sayang-Nya, Anda tidak mampu hidup di dunia. Jika demikian besar karunia dan rahmat Allah Ta’ala pada Anda, maka sesungguhnya hak-Nya atasmu adalah hak yang terbesar. Karena sesungguhnya hak itu adalah hak penciptamu, pengatur hidupmu, dan penolongmu. Dan Dia tidak menginginkan darimu rezeki dan tidak juga makan.Allah Ta’ala berfirman,لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Taha: 132)Sesungguhnya Allah Ta’ala hanya menginginkan dari Anda satu perkara yang maslahatnya juga untuk dirimu sendiri. Allah Ta’ala menginginkan Anda agar hanya beribadah kepada Allah Ta’ala semata tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Allah Ta’ala befirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Baca juga: Hukum Menuntut HakAllah Ta’ala menginginkan Anda agar menjadi hamba bagi-Nya dengan segala makna ‘ubudiyah (penghambaan). Karena Dia juga merupakan Rabbmu dengan segala kesempurnaan makna Rububiyah. Menjadi hamba-Nya yang merasa rendah di hadapan-Nya, yang tunduk pada-Nya, mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan membenarkan yang dikabarkan-Nya. Karena Anda melihat nikmat-Nya bergantian satu per satu pada dirimu secara sempurna. Apakah Anda tidak malu kemudian membalas semua nikmat ini dengan kekufuran?Seandainya ada seseorang yang memiliki keutamaan bagi diri Anda, Anda sangat malu dan enggan untuk melawannya dengan bermaksiat dan menyelisihinya. Lantas, bagaimana dengan Rabbmu yang seluruh keutamaan dan nikmat padamu tidak lain adalah dari-Nya? Segala bahaya yang dijauhkan darimu adalah dari bagian kasih sayang-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)Ini adalah hak yang Allah Ta’ala wajibkan bagi diri-Nya. Kemudahan bagi mereka yang Allah Ta’ala mudahkan. Karena Allah Ta’ala tidak pernah menjadikan agama ini sulit, sempit, dan sukar. Allah Ta’ala berfirman,وَجَٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ ۚ هُوَ ٱجْتَبَىٰكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَٰهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِى هَٰذَا لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu. Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini. Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)Sesungguhnya itu adalah akidah yang utama, keimanan yang benar, buah amal saleh, keimanan dengan hal gaib, dan keimanan dengan yang nyata. Sebagai pondasi rasa cinta dan penghormatan. Buah akhirnya ikhlas dan ketekunan.Salat 5 waktu sehari semalam menjadi sebab Allah Ta’ala hapuskan kesalahan, meninggikan derajat, memperbaiki hati dan keadaan, sesuai kadar seorang hamba dalam ketaatannya. Allah Ta’ala berfirman,فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Imran bin Husain, ketika Imran sedang sakit, “Salatlah dalam keadaan berdiri, jika kamu tidak mampu dalam keadaan duduk, jika tidak mampu berbaring.” (HR. Bukhari no. 1117)Zakat merupakan salah satu jalan bagi pemilik harta untuk menunaikan kebutuhan orang fakir dan miskin, serta ibnu sabil (musafir), gharim dan yang lainnya dari penerima zakat. Allah Ta’ala berfirman,فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Hajj: 78)Puasa di bulan Ramadan. Jika sakit atau safar, maka (puasalah) sebanyak hari yang ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain. Jika tidak mampu puasa karena kesulitan yang menetap, maka berilah makan orang miskin sejumlah hari yang tidak berpuasa.Haji ke baitullah merupakan salah amal saleh bagi yang mampu.Beberapa hal di atas merupakan pokok-pokok hak Allah Ta’ala. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Hanya Meminta Hak, namun Melupakan Kewajiban***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquuq Da’at ilaihaa Alfithrotu wa Qorortuhaa Asy-Syari’ah karya Syeikh Sholeh bin Utsaimin rahimahullahTags: Allahhak allahkewajiban hamba

Mengenal Hak Allah Ta’ala

Hak Allah Ta’ala merupakan hak yang paling utama, wajib (ditunaikan) dan paling agung di antara hak-hak yang lain. Karena hak Allah Ta’ala merupakan hak yang Maha Pencipta, Mahaagung, Maha Penguasa, Maha Pengatur atas segala urusan. Hak pemilik segalanya yang nyata. Yang hidup kekal mengurus makhluk-Nya. Yang dengannya tegak langit dan bumi. Dia pula yang telah menciptakan segala sesuatu, kemudian menetapkan takdirnya dengan kebijaksaannya yang nyata. Hak Allah Ta’ala yang Dia telah menghadirkan Anda (di dunia) dari yang tidak ada dan dari sesuatu yang tidak pernah disebutkan sebelumnya. Hak Allah Ta’ala yang telah mengurus diri Anda dengan memberikan berbagai kenikmatan. Di mana Anda berada di perut ibu dalam 3 tahap kegelapan yang tidak satu pun makhluk yang sanggup memberikan makanan yang bergizi, menjadi sumber perkembangan dan kehidupanmu. Mengalirkan air susu untukmu dari dua payudara. Menghadirkan dua orang tua untukmu. Dia pula yang menyediakan dan mempersiapkan segala sesuatu untukmu. Menyediakanmu dengan kenikmatan, akal, dan pemahaman. Dan mempersiapkanmu dengan mampu menerima itu semua dengan cara memanfaatkannya.Allah Ta’ala berfirman,وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)Seandainya Anda tertutup dari melihat keutamaan-Nya tersebut walau sekejap mata, pasti Anda akan binasa. Seandainya Anda terhalang dari kasih sayang-Nya, Anda tidak mampu hidup di dunia. Jika demikian besar karunia dan rahmat Allah Ta’ala pada Anda, maka sesungguhnya hak-Nya atasmu adalah hak yang terbesar. Karena sesungguhnya hak itu adalah hak penciptamu, pengatur hidupmu, dan penolongmu. Dan Dia tidak menginginkan darimu rezeki dan tidak juga makan.Allah Ta’ala berfirman,لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Taha: 132)Sesungguhnya Allah Ta’ala hanya menginginkan dari Anda satu perkara yang maslahatnya juga untuk dirimu sendiri. Allah Ta’ala menginginkan Anda agar hanya beribadah kepada Allah Ta’ala semata tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Allah Ta’ala befirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Baca juga: Hukum Menuntut HakAllah Ta’ala menginginkan Anda agar menjadi hamba bagi-Nya dengan segala makna ‘ubudiyah (penghambaan). Karena Dia juga merupakan Rabbmu dengan segala kesempurnaan makna Rububiyah. Menjadi hamba-Nya yang merasa rendah di hadapan-Nya, yang tunduk pada-Nya, mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan membenarkan yang dikabarkan-Nya. Karena Anda melihat nikmat-Nya bergantian satu per satu pada dirimu secara sempurna. Apakah Anda tidak malu kemudian membalas semua nikmat ini dengan kekufuran?Seandainya ada seseorang yang memiliki keutamaan bagi diri Anda, Anda sangat malu dan enggan untuk melawannya dengan bermaksiat dan menyelisihinya. Lantas, bagaimana dengan Rabbmu yang seluruh keutamaan dan nikmat padamu tidak lain adalah dari-Nya? Segala bahaya yang dijauhkan darimu adalah dari bagian kasih sayang-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)Ini adalah hak yang Allah Ta’ala wajibkan bagi diri-Nya. Kemudahan bagi mereka yang Allah Ta’ala mudahkan. Karena Allah Ta’ala tidak pernah menjadikan agama ini sulit, sempit, dan sukar. Allah Ta’ala berfirman,وَجَٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ ۚ هُوَ ٱجْتَبَىٰكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَٰهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِى هَٰذَا لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu. Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini. Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)Sesungguhnya itu adalah akidah yang utama, keimanan yang benar, buah amal saleh, keimanan dengan hal gaib, dan keimanan dengan yang nyata. Sebagai pondasi rasa cinta dan penghormatan. Buah akhirnya ikhlas dan ketekunan.Salat 5 waktu sehari semalam menjadi sebab Allah Ta’ala hapuskan kesalahan, meninggikan derajat, memperbaiki hati dan keadaan, sesuai kadar seorang hamba dalam ketaatannya. Allah Ta’ala berfirman,فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Imran bin Husain, ketika Imran sedang sakit, “Salatlah dalam keadaan berdiri, jika kamu tidak mampu dalam keadaan duduk, jika tidak mampu berbaring.” (HR. Bukhari no. 1117)Zakat merupakan salah satu jalan bagi pemilik harta untuk menunaikan kebutuhan orang fakir dan miskin, serta ibnu sabil (musafir), gharim dan yang lainnya dari penerima zakat. Allah Ta’ala berfirman,فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Hajj: 78)Puasa di bulan Ramadan. Jika sakit atau safar, maka (puasalah) sebanyak hari yang ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain. Jika tidak mampu puasa karena kesulitan yang menetap, maka berilah makan orang miskin sejumlah hari yang tidak berpuasa.Haji ke baitullah merupakan salah amal saleh bagi yang mampu.Beberapa hal di atas merupakan pokok-pokok hak Allah Ta’ala. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Hanya Meminta Hak, namun Melupakan Kewajiban***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquuq Da’at ilaihaa Alfithrotu wa Qorortuhaa Asy-Syari’ah karya Syeikh Sholeh bin Utsaimin rahimahullahTags: Allahhak allahkewajiban hamba
Hak Allah Ta’ala merupakan hak yang paling utama, wajib (ditunaikan) dan paling agung di antara hak-hak yang lain. Karena hak Allah Ta’ala merupakan hak yang Maha Pencipta, Mahaagung, Maha Penguasa, Maha Pengatur atas segala urusan. Hak pemilik segalanya yang nyata. Yang hidup kekal mengurus makhluk-Nya. Yang dengannya tegak langit dan bumi. Dia pula yang telah menciptakan segala sesuatu, kemudian menetapkan takdirnya dengan kebijaksaannya yang nyata. Hak Allah Ta’ala yang Dia telah menghadirkan Anda (di dunia) dari yang tidak ada dan dari sesuatu yang tidak pernah disebutkan sebelumnya. Hak Allah Ta’ala yang telah mengurus diri Anda dengan memberikan berbagai kenikmatan. Di mana Anda berada di perut ibu dalam 3 tahap kegelapan yang tidak satu pun makhluk yang sanggup memberikan makanan yang bergizi, menjadi sumber perkembangan dan kehidupanmu. Mengalirkan air susu untukmu dari dua payudara. Menghadirkan dua orang tua untukmu. Dia pula yang menyediakan dan mempersiapkan segala sesuatu untukmu. Menyediakanmu dengan kenikmatan, akal, dan pemahaman. Dan mempersiapkanmu dengan mampu menerima itu semua dengan cara memanfaatkannya.Allah Ta’ala berfirman,وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)Seandainya Anda tertutup dari melihat keutamaan-Nya tersebut walau sekejap mata, pasti Anda akan binasa. Seandainya Anda terhalang dari kasih sayang-Nya, Anda tidak mampu hidup di dunia. Jika demikian besar karunia dan rahmat Allah Ta’ala pada Anda, maka sesungguhnya hak-Nya atasmu adalah hak yang terbesar. Karena sesungguhnya hak itu adalah hak penciptamu, pengatur hidupmu, dan penolongmu. Dan Dia tidak menginginkan darimu rezeki dan tidak juga makan.Allah Ta’ala berfirman,لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Taha: 132)Sesungguhnya Allah Ta’ala hanya menginginkan dari Anda satu perkara yang maslahatnya juga untuk dirimu sendiri. Allah Ta’ala menginginkan Anda agar hanya beribadah kepada Allah Ta’ala semata tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Allah Ta’ala befirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Baca juga: Hukum Menuntut HakAllah Ta’ala menginginkan Anda agar menjadi hamba bagi-Nya dengan segala makna ‘ubudiyah (penghambaan). Karena Dia juga merupakan Rabbmu dengan segala kesempurnaan makna Rububiyah. Menjadi hamba-Nya yang merasa rendah di hadapan-Nya, yang tunduk pada-Nya, mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan membenarkan yang dikabarkan-Nya. Karena Anda melihat nikmat-Nya bergantian satu per satu pada dirimu secara sempurna. Apakah Anda tidak malu kemudian membalas semua nikmat ini dengan kekufuran?Seandainya ada seseorang yang memiliki keutamaan bagi diri Anda, Anda sangat malu dan enggan untuk melawannya dengan bermaksiat dan menyelisihinya. Lantas, bagaimana dengan Rabbmu yang seluruh keutamaan dan nikmat padamu tidak lain adalah dari-Nya? Segala bahaya yang dijauhkan darimu adalah dari bagian kasih sayang-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)Ini adalah hak yang Allah Ta’ala wajibkan bagi diri-Nya. Kemudahan bagi mereka yang Allah Ta’ala mudahkan. Karena Allah Ta’ala tidak pernah menjadikan agama ini sulit, sempit, dan sukar. Allah Ta’ala berfirman,وَجَٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ ۚ هُوَ ٱجْتَبَىٰكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَٰهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِى هَٰذَا لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu. Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini. Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)Sesungguhnya itu adalah akidah yang utama, keimanan yang benar, buah amal saleh, keimanan dengan hal gaib, dan keimanan dengan yang nyata. Sebagai pondasi rasa cinta dan penghormatan. Buah akhirnya ikhlas dan ketekunan.Salat 5 waktu sehari semalam menjadi sebab Allah Ta’ala hapuskan kesalahan, meninggikan derajat, memperbaiki hati dan keadaan, sesuai kadar seorang hamba dalam ketaatannya. Allah Ta’ala berfirman,فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Imran bin Husain, ketika Imran sedang sakit, “Salatlah dalam keadaan berdiri, jika kamu tidak mampu dalam keadaan duduk, jika tidak mampu berbaring.” (HR. Bukhari no. 1117)Zakat merupakan salah satu jalan bagi pemilik harta untuk menunaikan kebutuhan orang fakir dan miskin, serta ibnu sabil (musafir), gharim dan yang lainnya dari penerima zakat. Allah Ta’ala berfirman,فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Hajj: 78)Puasa di bulan Ramadan. Jika sakit atau safar, maka (puasalah) sebanyak hari yang ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain. Jika tidak mampu puasa karena kesulitan yang menetap, maka berilah makan orang miskin sejumlah hari yang tidak berpuasa.Haji ke baitullah merupakan salah amal saleh bagi yang mampu.Beberapa hal di atas merupakan pokok-pokok hak Allah Ta’ala. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Hanya Meminta Hak, namun Melupakan Kewajiban***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquuq Da’at ilaihaa Alfithrotu wa Qorortuhaa Asy-Syari’ah karya Syeikh Sholeh bin Utsaimin rahimahullahTags: Allahhak allahkewajiban hamba


Hak Allah Ta’ala merupakan hak yang paling utama, wajib (ditunaikan) dan paling agung di antara hak-hak yang lain. Karena hak Allah Ta’ala merupakan hak yang Maha Pencipta, Mahaagung, Maha Penguasa, Maha Pengatur atas segala urusan. Hak pemilik segalanya yang nyata. Yang hidup kekal mengurus makhluk-Nya. Yang dengannya tegak langit dan bumi. Dia pula yang telah menciptakan segala sesuatu, kemudian menetapkan takdirnya dengan kebijaksaannya yang nyata. Hak Allah Ta’ala yang Dia telah menghadirkan Anda (di dunia) dari yang tidak ada dan dari sesuatu yang tidak pernah disebutkan sebelumnya. Hak Allah Ta’ala yang telah mengurus diri Anda dengan memberikan berbagai kenikmatan. Di mana Anda berada di perut ibu dalam 3 tahap kegelapan yang tidak satu pun makhluk yang sanggup memberikan makanan yang bergizi, menjadi sumber perkembangan dan kehidupanmu. Mengalirkan air susu untukmu dari dua payudara. Menghadirkan dua orang tua untukmu. Dia pula yang menyediakan dan mempersiapkan segala sesuatu untukmu. Menyediakanmu dengan kenikmatan, akal, dan pemahaman. Dan mempersiapkanmu dengan mampu menerima itu semua dengan cara memanfaatkannya.Allah Ta’ala berfirman,وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)Seandainya Anda tertutup dari melihat keutamaan-Nya tersebut walau sekejap mata, pasti Anda akan binasa. Seandainya Anda terhalang dari kasih sayang-Nya, Anda tidak mampu hidup di dunia. Jika demikian besar karunia dan rahmat Allah Ta’ala pada Anda, maka sesungguhnya hak-Nya atasmu adalah hak yang terbesar. Karena sesungguhnya hak itu adalah hak penciptamu, pengatur hidupmu, dan penolongmu. Dan Dia tidak menginginkan darimu rezeki dan tidak juga makan.Allah Ta’ala berfirman,لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Taha: 132)Sesungguhnya Allah Ta’ala hanya menginginkan dari Anda satu perkara yang maslahatnya juga untuk dirimu sendiri. Allah Ta’ala menginginkan Anda agar hanya beribadah kepada Allah Ta’ala semata tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Allah Ta’ala befirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Baca juga: Hukum Menuntut HakAllah Ta’ala menginginkan Anda agar menjadi hamba bagi-Nya dengan segala makna ‘ubudiyah (penghambaan). Karena Dia juga merupakan Rabbmu dengan segala kesempurnaan makna Rububiyah. Menjadi hamba-Nya yang merasa rendah di hadapan-Nya, yang tunduk pada-Nya, mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan membenarkan yang dikabarkan-Nya. Karena Anda melihat nikmat-Nya bergantian satu per satu pada dirimu secara sempurna. Apakah Anda tidak malu kemudian membalas semua nikmat ini dengan kekufuran?Seandainya ada seseorang yang memiliki keutamaan bagi diri Anda, Anda sangat malu dan enggan untuk melawannya dengan bermaksiat dan menyelisihinya. Lantas, bagaimana dengan Rabbmu yang seluruh keutamaan dan nikmat padamu tidak lain adalah dari-Nya? Segala bahaya yang dijauhkan darimu adalah dari bagian kasih sayang-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)Ini adalah hak yang Allah Ta’ala wajibkan bagi diri-Nya. Kemudahan bagi mereka yang Allah Ta’ala mudahkan. Karena Allah Ta’ala tidak pernah menjadikan agama ini sulit, sempit, dan sukar. Allah Ta’ala berfirman,وَجَٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ ۚ هُوَ ٱجْتَبَىٰكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَٰهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِى هَٰذَا لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu. Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini. Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)Sesungguhnya itu adalah akidah yang utama, keimanan yang benar, buah amal saleh, keimanan dengan hal gaib, dan keimanan dengan yang nyata. Sebagai pondasi rasa cinta dan penghormatan. Buah akhirnya ikhlas dan ketekunan.Salat 5 waktu sehari semalam menjadi sebab Allah Ta’ala hapuskan kesalahan, meninggikan derajat, memperbaiki hati dan keadaan, sesuai kadar seorang hamba dalam ketaatannya. Allah Ta’ala berfirman,فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Imran bin Husain, ketika Imran sedang sakit, “Salatlah dalam keadaan berdiri, jika kamu tidak mampu dalam keadaan duduk, jika tidak mampu berbaring.” (HR. Bukhari no. 1117)Zakat merupakan salah satu jalan bagi pemilik harta untuk menunaikan kebutuhan orang fakir dan miskin, serta ibnu sabil (musafir), gharim dan yang lainnya dari penerima zakat. Allah Ta’ala berfirman,فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Hajj: 78)Puasa di bulan Ramadan. Jika sakit atau safar, maka (puasalah) sebanyak hari yang ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain. Jika tidak mampu puasa karena kesulitan yang menetap, maka berilah makan orang miskin sejumlah hari yang tidak berpuasa.Haji ke baitullah merupakan salah amal saleh bagi yang mampu.Beberapa hal di atas merupakan pokok-pokok hak Allah Ta’ala. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Hanya Meminta Hak, namun Melupakan Kewajiban***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquuq Da’at ilaihaa Alfithrotu wa Qorortuhaa Asy-Syari’ah karya Syeikh Sholeh bin Utsaimin rahimahullahTags: Allahhak allahkewajiban hamba

Jangan Kasih Kendor: Terus Semangat Membaca al-Quran! – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Oleh sebab itu, wahai Saudara-Saudara,hendaklah kita bersungguh-sungguh untukmembaca al-Quran di bulan yang penuh berkah ini, bulannya al-Quran.Paling tidak seorang Muslim dapat mengkhatamkannya minimal satu kali.Ini batas minimal. Ada beberapa orang yang dapat mengkhatamkannya beberapa kali.Kisah-kisah dari para salaf dalam hal ini sangat menakjubkan.Diriwayatkan dari Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran sekali sehari di bulan Ramadan. Imam asy-Syafi’i, banyak disebutkan dalam buku-buku biografi yang menulis tentang beliau,bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan sebanyak 60 kali,yakni dalam sehari semalam dua kali khatam. Dulu saya mengira ini adalah hal yang dilebih-lebihkan,hingga aku pergi ke tempat pengajaran al-Quran dan bertemu dengan orang-orang di sanayang dapat mengkhatamkan al-Quran sebanyak dua kali dalam sehari semalam, dan mereka masih hidup hingga sekarang. Karena orang yang mahir membaca al-Quran dapat mengkhatamkannya dalam waktu 7 hingga 7,5 jam.Ia terus melantunkan al-Quran dengan lisannya di mana pun.Lisannya terus membaca al-Quran, kapan pun, di mana pun. Demikian juga diriwayatkan dari beberapa ulama salaf,bahwa mereka mengkhatamkan al-Quran setiap hari sekali,dan sebagian lain dari mereka khatam dalam dua hari sekali. Adapun hadis, “Tidak akan paham al-Quran, orang yang selesai membacanya kurang dari tiga hari.” Pertama, sanad hadis ini diperselisihkan.Andaikan hadis ini sahih, maka seperti yang dikatakan Ibnu Rajab rahimahullah,bahwa itu dikecualikan di waktu-waktu yang utama seperti di bulan Ramadan. Saya mengenal orang-orang yang masih hidup hingga sekarang,kalaulah bukan karena mereka tidak suka disebut, niscaya saya akan sebutkan beberapa nama mereka. Mereka dapat mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan setiap hari sekali.Setiap hari satu kali khatam.Ini adalah karunia dari Allah, dan karunia-Nya ini diberikan kepada yang Dia kehendaki. Maka, wahai Saudara Muslimku, hendaklah kamu berusaha memperbanyak bacaan al-Qurandan mengkhatamkannya beberapa kali. ==== وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَنْبَغِي أَنْ نَحْرِصَ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ شَهْرِ الْقَرَآنِ وَأَنْ يَعْنِي عَلَى الْأَقَلِّ أَنْ يَخْتِمَهُ الْمُسْلِمُ الْحَدَّ الْأَدْنَى خَتْمَةً وَاحِدَةً هَذَا الْحَدُّ الْأَدْنَى وَهُنَاكَ مَنْ يَخْتِمُهُ عِدَّةَ خَتَمَاتِ وَالْآثَارُ عَنِ السَّلَفِ فِي ذَلِكَ عَجِيبَةٌ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ اسْتَفَاضَ فِي تَرَاجِمِ مَنْ تَرْجَمُوا لَهُ أَنَّهُ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ سِتِّينَ خَتْمَةً يَعْنِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَكُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ هَذَا مُبَالَغًا فِيهِ حَتَّى ذَهَبْتُ لِمَقْرَأَةٍ قُرْآنِيَّةٍ فَوَجَدْتُ فِيهَا أُنَاسًا يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَهُمْ أَحْيَاءٌ يُرْزَقُونَ لِأَنَّ الْمَاهِرَ بِالْقُرْآنِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتِمَ الْقُرْآنَ فِي قَرَابَةِ سَبْعِ سَاعَاتٍ أَوْ سَبْعِ سَاعَاتٍ وَنِصْفٍ لَكِنَّ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا رُوِيَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً وَبَعْضُهُمْ فِي كُلِّ يَوْمَيْنِ خَتْمَةً وَأَمَّا حَدِيثُ لَا يَفْقَهُ الْقُرْآنَ مَنْ قَرَأَهُ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ فَهَذَا أَوَّلًا فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَكَمَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ الْأَوْقَاتُ الْفَاضِلَةُ مِثْلُ رَمَضَانَ وَأَعْرِفُ أُنَاسًا أَحْيَاءً يُرْزَقُونَ لَوْلَا أَنَّهُمْ لَا يَرْغَبُونَ التَّصْرِيحَ بِأَسْمَائِهِمْ لَذَكَرْتُ بَعْضَهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً هَذَا فَضْلُ اللهِ وَفَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَخْتِمَهُ عِدَّةَ خَتَمَاتٍ

Jangan Kasih Kendor: Terus Semangat Membaca al-Quran! – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Oleh sebab itu, wahai Saudara-Saudara,hendaklah kita bersungguh-sungguh untukmembaca al-Quran di bulan yang penuh berkah ini, bulannya al-Quran.Paling tidak seorang Muslim dapat mengkhatamkannya minimal satu kali.Ini batas minimal. Ada beberapa orang yang dapat mengkhatamkannya beberapa kali.Kisah-kisah dari para salaf dalam hal ini sangat menakjubkan.Diriwayatkan dari Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran sekali sehari di bulan Ramadan. Imam asy-Syafi’i, banyak disebutkan dalam buku-buku biografi yang menulis tentang beliau,bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan sebanyak 60 kali,yakni dalam sehari semalam dua kali khatam. Dulu saya mengira ini adalah hal yang dilebih-lebihkan,hingga aku pergi ke tempat pengajaran al-Quran dan bertemu dengan orang-orang di sanayang dapat mengkhatamkan al-Quran sebanyak dua kali dalam sehari semalam, dan mereka masih hidup hingga sekarang. Karena orang yang mahir membaca al-Quran dapat mengkhatamkannya dalam waktu 7 hingga 7,5 jam.Ia terus melantunkan al-Quran dengan lisannya di mana pun.Lisannya terus membaca al-Quran, kapan pun, di mana pun. Demikian juga diriwayatkan dari beberapa ulama salaf,bahwa mereka mengkhatamkan al-Quran setiap hari sekali,dan sebagian lain dari mereka khatam dalam dua hari sekali. Adapun hadis, “Tidak akan paham al-Quran, orang yang selesai membacanya kurang dari tiga hari.” Pertama, sanad hadis ini diperselisihkan.Andaikan hadis ini sahih, maka seperti yang dikatakan Ibnu Rajab rahimahullah,bahwa itu dikecualikan di waktu-waktu yang utama seperti di bulan Ramadan. Saya mengenal orang-orang yang masih hidup hingga sekarang,kalaulah bukan karena mereka tidak suka disebut, niscaya saya akan sebutkan beberapa nama mereka. Mereka dapat mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan setiap hari sekali.Setiap hari satu kali khatam.Ini adalah karunia dari Allah, dan karunia-Nya ini diberikan kepada yang Dia kehendaki. Maka, wahai Saudara Muslimku, hendaklah kamu berusaha memperbanyak bacaan al-Qurandan mengkhatamkannya beberapa kali. ==== وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَنْبَغِي أَنْ نَحْرِصَ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ شَهْرِ الْقَرَآنِ وَأَنْ يَعْنِي عَلَى الْأَقَلِّ أَنْ يَخْتِمَهُ الْمُسْلِمُ الْحَدَّ الْأَدْنَى خَتْمَةً وَاحِدَةً هَذَا الْحَدُّ الْأَدْنَى وَهُنَاكَ مَنْ يَخْتِمُهُ عِدَّةَ خَتَمَاتِ وَالْآثَارُ عَنِ السَّلَفِ فِي ذَلِكَ عَجِيبَةٌ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ اسْتَفَاضَ فِي تَرَاجِمِ مَنْ تَرْجَمُوا لَهُ أَنَّهُ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ سِتِّينَ خَتْمَةً يَعْنِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَكُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ هَذَا مُبَالَغًا فِيهِ حَتَّى ذَهَبْتُ لِمَقْرَأَةٍ قُرْآنِيَّةٍ فَوَجَدْتُ فِيهَا أُنَاسًا يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَهُمْ أَحْيَاءٌ يُرْزَقُونَ لِأَنَّ الْمَاهِرَ بِالْقُرْآنِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتِمَ الْقُرْآنَ فِي قَرَابَةِ سَبْعِ سَاعَاتٍ أَوْ سَبْعِ سَاعَاتٍ وَنِصْفٍ لَكِنَّ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا رُوِيَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً وَبَعْضُهُمْ فِي كُلِّ يَوْمَيْنِ خَتْمَةً وَأَمَّا حَدِيثُ لَا يَفْقَهُ الْقُرْآنَ مَنْ قَرَأَهُ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ فَهَذَا أَوَّلًا فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَكَمَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ الْأَوْقَاتُ الْفَاضِلَةُ مِثْلُ رَمَضَانَ وَأَعْرِفُ أُنَاسًا أَحْيَاءً يُرْزَقُونَ لَوْلَا أَنَّهُمْ لَا يَرْغَبُونَ التَّصْرِيحَ بِأَسْمَائِهِمْ لَذَكَرْتُ بَعْضَهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً هَذَا فَضْلُ اللهِ وَفَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَخْتِمَهُ عِدَّةَ خَتَمَاتٍ
Oleh sebab itu, wahai Saudara-Saudara,hendaklah kita bersungguh-sungguh untukmembaca al-Quran di bulan yang penuh berkah ini, bulannya al-Quran.Paling tidak seorang Muslim dapat mengkhatamkannya minimal satu kali.Ini batas minimal. Ada beberapa orang yang dapat mengkhatamkannya beberapa kali.Kisah-kisah dari para salaf dalam hal ini sangat menakjubkan.Diriwayatkan dari Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran sekali sehari di bulan Ramadan. Imam asy-Syafi’i, banyak disebutkan dalam buku-buku biografi yang menulis tentang beliau,bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan sebanyak 60 kali,yakni dalam sehari semalam dua kali khatam. Dulu saya mengira ini adalah hal yang dilebih-lebihkan,hingga aku pergi ke tempat pengajaran al-Quran dan bertemu dengan orang-orang di sanayang dapat mengkhatamkan al-Quran sebanyak dua kali dalam sehari semalam, dan mereka masih hidup hingga sekarang. Karena orang yang mahir membaca al-Quran dapat mengkhatamkannya dalam waktu 7 hingga 7,5 jam.Ia terus melantunkan al-Quran dengan lisannya di mana pun.Lisannya terus membaca al-Quran, kapan pun, di mana pun. Demikian juga diriwayatkan dari beberapa ulama salaf,bahwa mereka mengkhatamkan al-Quran setiap hari sekali,dan sebagian lain dari mereka khatam dalam dua hari sekali. Adapun hadis, “Tidak akan paham al-Quran, orang yang selesai membacanya kurang dari tiga hari.” Pertama, sanad hadis ini diperselisihkan.Andaikan hadis ini sahih, maka seperti yang dikatakan Ibnu Rajab rahimahullah,bahwa itu dikecualikan di waktu-waktu yang utama seperti di bulan Ramadan. Saya mengenal orang-orang yang masih hidup hingga sekarang,kalaulah bukan karena mereka tidak suka disebut, niscaya saya akan sebutkan beberapa nama mereka. Mereka dapat mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan setiap hari sekali.Setiap hari satu kali khatam.Ini adalah karunia dari Allah, dan karunia-Nya ini diberikan kepada yang Dia kehendaki. Maka, wahai Saudara Muslimku, hendaklah kamu berusaha memperbanyak bacaan al-Qurandan mengkhatamkannya beberapa kali. ==== وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَنْبَغِي أَنْ نَحْرِصَ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ شَهْرِ الْقَرَآنِ وَأَنْ يَعْنِي عَلَى الْأَقَلِّ أَنْ يَخْتِمَهُ الْمُسْلِمُ الْحَدَّ الْأَدْنَى خَتْمَةً وَاحِدَةً هَذَا الْحَدُّ الْأَدْنَى وَهُنَاكَ مَنْ يَخْتِمُهُ عِدَّةَ خَتَمَاتِ وَالْآثَارُ عَنِ السَّلَفِ فِي ذَلِكَ عَجِيبَةٌ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ اسْتَفَاضَ فِي تَرَاجِمِ مَنْ تَرْجَمُوا لَهُ أَنَّهُ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ سِتِّينَ خَتْمَةً يَعْنِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَكُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ هَذَا مُبَالَغًا فِيهِ حَتَّى ذَهَبْتُ لِمَقْرَأَةٍ قُرْآنِيَّةٍ فَوَجَدْتُ فِيهَا أُنَاسًا يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَهُمْ أَحْيَاءٌ يُرْزَقُونَ لِأَنَّ الْمَاهِرَ بِالْقُرْآنِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتِمَ الْقُرْآنَ فِي قَرَابَةِ سَبْعِ سَاعَاتٍ أَوْ سَبْعِ سَاعَاتٍ وَنِصْفٍ لَكِنَّ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا رُوِيَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً وَبَعْضُهُمْ فِي كُلِّ يَوْمَيْنِ خَتْمَةً وَأَمَّا حَدِيثُ لَا يَفْقَهُ الْقُرْآنَ مَنْ قَرَأَهُ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ فَهَذَا أَوَّلًا فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَكَمَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ الْأَوْقَاتُ الْفَاضِلَةُ مِثْلُ رَمَضَانَ وَأَعْرِفُ أُنَاسًا أَحْيَاءً يُرْزَقُونَ لَوْلَا أَنَّهُمْ لَا يَرْغَبُونَ التَّصْرِيحَ بِأَسْمَائِهِمْ لَذَكَرْتُ بَعْضَهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً هَذَا فَضْلُ اللهِ وَفَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَخْتِمَهُ عِدَّةَ خَتَمَاتٍ


Oleh sebab itu, wahai Saudara-Saudara,hendaklah kita bersungguh-sungguh untukmembaca al-Quran di bulan yang penuh berkah ini, bulannya al-Quran.Paling tidak seorang Muslim dapat mengkhatamkannya minimal satu kali.Ini batas minimal. Ada beberapa orang yang dapat mengkhatamkannya beberapa kali.Kisah-kisah dari para salaf dalam hal ini sangat menakjubkan.Diriwayatkan dari Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran sekali sehari di bulan Ramadan. Imam asy-Syafi’i, banyak disebutkan dalam buku-buku biografi yang menulis tentang beliau,bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan sebanyak 60 kali,yakni dalam sehari semalam dua kali khatam. Dulu saya mengira ini adalah hal yang dilebih-lebihkan,hingga aku pergi ke tempat pengajaran al-Quran dan bertemu dengan orang-orang di sanayang dapat mengkhatamkan al-Quran sebanyak dua kali dalam sehari semalam, dan mereka masih hidup hingga sekarang. Karena orang yang mahir membaca al-Quran dapat mengkhatamkannya dalam waktu 7 hingga 7,5 jam.Ia terus melantunkan al-Quran dengan lisannya di mana pun.Lisannya terus membaca al-Quran, kapan pun, di mana pun. Demikian juga diriwayatkan dari beberapa ulama salaf,bahwa mereka mengkhatamkan al-Quran setiap hari sekali,dan sebagian lain dari mereka khatam dalam dua hari sekali. Adapun hadis, “Tidak akan paham al-Quran, orang yang selesai membacanya kurang dari tiga hari.” Pertama, sanad hadis ini diperselisihkan.Andaikan hadis ini sahih, maka seperti yang dikatakan Ibnu Rajab rahimahullah,bahwa itu dikecualikan di waktu-waktu yang utama seperti di bulan Ramadan. Saya mengenal orang-orang yang masih hidup hingga sekarang,kalaulah bukan karena mereka tidak suka disebut, niscaya saya akan sebutkan beberapa nama mereka. Mereka dapat mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan setiap hari sekali.Setiap hari satu kali khatam.Ini adalah karunia dari Allah, dan karunia-Nya ini diberikan kepada yang Dia kehendaki. Maka, wahai Saudara Muslimku, hendaklah kamu berusaha memperbanyak bacaan al-Qurandan mengkhatamkannya beberapa kali. ==== وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَنْبَغِي أَنْ نَحْرِصَ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ شَهْرِ الْقَرَآنِ وَأَنْ يَعْنِي عَلَى الْأَقَلِّ أَنْ يَخْتِمَهُ الْمُسْلِمُ الْحَدَّ الْأَدْنَى خَتْمَةً وَاحِدَةً هَذَا الْحَدُّ الْأَدْنَى وَهُنَاكَ مَنْ يَخْتِمُهُ عِدَّةَ خَتَمَاتِ وَالْآثَارُ عَنِ السَّلَفِ فِي ذَلِكَ عَجِيبَةٌ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ اسْتَفَاضَ فِي تَرَاجِمِ مَنْ تَرْجَمُوا لَهُ أَنَّهُ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ سِتِّينَ خَتْمَةً يَعْنِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَكُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ هَذَا مُبَالَغًا فِيهِ حَتَّى ذَهَبْتُ لِمَقْرَأَةٍ قُرْآنِيَّةٍ فَوَجَدْتُ فِيهَا أُنَاسًا يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَهُمْ أَحْيَاءٌ يُرْزَقُونَ لِأَنَّ الْمَاهِرَ بِالْقُرْآنِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتِمَ الْقُرْآنَ فِي قَرَابَةِ سَبْعِ سَاعَاتٍ أَوْ سَبْعِ سَاعَاتٍ وَنِصْفٍ لَكِنَّ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا رُوِيَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً وَبَعْضُهُمْ فِي كُلِّ يَوْمَيْنِ خَتْمَةً وَأَمَّا حَدِيثُ لَا يَفْقَهُ الْقُرْآنَ مَنْ قَرَأَهُ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ فَهَذَا أَوَّلًا فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَكَمَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ الْأَوْقَاتُ الْفَاضِلَةُ مِثْلُ رَمَضَانَ وَأَعْرِفُ أُنَاسًا أَحْيَاءً يُرْزَقُونَ لَوْلَا أَنَّهُمْ لَا يَرْغَبُونَ التَّصْرِيحَ بِأَسْمَائِهِمْ لَذَكَرْتُ بَعْضَهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً هَذَا فَضْلُ اللهِ وَفَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَخْتِمَهُ عِدَّةَ خَتَمَاتٍ

Khutbah Jumat: Jangan Ganggu Orang Lain di Hari Raya

Jangan mengganggu orang lain di hari raya, di antaranya lewat takbiran yang kadang menimbulkan kebisingan dan suara petasan.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin. Shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala berfirman, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Hendaklah mengqadha’ puasa yang belum disempurnakan karena sakit, safar, dan uzur lainnya. Lalu berdzikirlah kepada Allah ketika telah selesai dari ibadah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62) Dzikir setelah selesai ibadah inilah yang Allah perintahkan dalam ibadah lainnya. Dalam ibadah haji disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200) Dalam ibadah shalat disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisaa’: 103) Dalam ibadah shalat Jumat disebutkan, فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak (berdzikirlah pada-Nya) supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10). Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Jumat  Juga dalam shalat lima waktu disebutkan, فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ ٱلْغُرُوبِ وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَٰرَ ٱلسُّجُودِ “Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” (QS. Qaaf: 39-40) Dalam hadits juga ada perintah saat bakda shalat lima waktu untuk membaca tasbih, tahmid, dan takbir. Ibnu ‘Abbas rahimahullah berkata,  مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إلا بِالتَّكْبِيرِ “Kami tidaklah mengetahui shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu selesai melainkan karena mendengar ucapan takbir.” (HR. Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583) Baca juga: Mengeraskan Dzikir Bakda Shalat Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kebanyakan ulama berdalil bahwa ada perintah takbir pada Idulfitri karena ayat, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185) Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62. Baca juga: Inilah Lafazh Takbir Hari Raya Idulfitri Namun, lafazh takbir lebih-lebih saat takbir keliling jangan dinodai dengan: mengganggu orang lain musik joget-joget melupakan waktu shalat Kadang ada yang takbiran keliling sampai larut malam dan tak ingat waktu. Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat Isya dan begadang (yang tidak manfaat) setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568). Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan, “Tidur sebelum Isya dimakruhkan karena dikhawatirkan melewatkan waktu shalat Isya. Sedangkan begadang bakda Isya dimakruhkan pada perkara yang bukan untuk menuntut ilmu, kebaikan, dan hajat. Namun, jika maksud begadang demi ilmu dan menunaikan hajat, seperti itu dibolehkan.” (Al-‘Aridhah, Ibnul ‘Arabi, 1:227, dinukil dari Al-Haajatu Asy-Syar’iyyah Hududuha wa Qawa’iduhaa, hlm. 131) Mereka yang melakukan takbiran keliling juga kadang mengganggu muslim yang lain dengan suara yang bising. Dari Jabir bin ‘Abdullah dan ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallambersabda, الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari, no. 10, 6484 dan Muslim, no. 40) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun hanya menyakiti seekor semut.” (Syarh Al-Bukhari, 1:38)      Selain takbir keliling, yang mengganggu juga di hari raya adalah suara petasan yang bising. Petasan ini termasuk mengganggu dan tabdzir. Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26-27). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud tabdzir ada dua pendapat di kalangan para ulama: Tabdzir berarti mengeluarkan harta bukan pada jalan yang benar. Tabdzir berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubadzdzir adalah orang yang menyalahgunakan, merusak, dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaad Al-Masiir, 5:27-28) Petasan ini dapat mengganggu orang lain, yang sedang sakit atau yang sedang butuh istirahat. Bahkan petasan dalam mencelakakan orang yang membunyikan sendiri. Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain) [Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250] Baca selengkapnya: Hadits Arbain 32, Tidak Boleh Memberikan Mudarat Sengaja atau pun Tidak   Semoga Allah memberkahi amalan kita di bulan Ramadhan, menerima amalan kita di bulan Ramadhan. Semoga Allah memberkahi kita di hari fitri. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ   — Jumat siang, 30 Ramadhan 1444 H, 21 April 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya cara shalat idul fitri hari raya idul fitri khutbah idul fitri shalat idul fitri ucapan selamat di hari raya

Khutbah Jumat: Jangan Ganggu Orang Lain di Hari Raya

Jangan mengganggu orang lain di hari raya, di antaranya lewat takbiran yang kadang menimbulkan kebisingan dan suara petasan.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin. Shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala berfirman, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Hendaklah mengqadha’ puasa yang belum disempurnakan karena sakit, safar, dan uzur lainnya. Lalu berdzikirlah kepada Allah ketika telah selesai dari ibadah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62) Dzikir setelah selesai ibadah inilah yang Allah perintahkan dalam ibadah lainnya. Dalam ibadah haji disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200) Dalam ibadah shalat disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisaa’: 103) Dalam ibadah shalat Jumat disebutkan, فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak (berdzikirlah pada-Nya) supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10). Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Jumat  Juga dalam shalat lima waktu disebutkan, فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ ٱلْغُرُوبِ وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَٰرَ ٱلسُّجُودِ “Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” (QS. Qaaf: 39-40) Dalam hadits juga ada perintah saat bakda shalat lima waktu untuk membaca tasbih, tahmid, dan takbir. Ibnu ‘Abbas rahimahullah berkata,  مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إلا بِالتَّكْبِيرِ “Kami tidaklah mengetahui shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu selesai melainkan karena mendengar ucapan takbir.” (HR. Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583) Baca juga: Mengeraskan Dzikir Bakda Shalat Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kebanyakan ulama berdalil bahwa ada perintah takbir pada Idulfitri karena ayat, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185) Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62. Baca juga: Inilah Lafazh Takbir Hari Raya Idulfitri Namun, lafazh takbir lebih-lebih saat takbir keliling jangan dinodai dengan: mengganggu orang lain musik joget-joget melupakan waktu shalat Kadang ada yang takbiran keliling sampai larut malam dan tak ingat waktu. Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat Isya dan begadang (yang tidak manfaat) setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568). Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan, “Tidur sebelum Isya dimakruhkan karena dikhawatirkan melewatkan waktu shalat Isya. Sedangkan begadang bakda Isya dimakruhkan pada perkara yang bukan untuk menuntut ilmu, kebaikan, dan hajat. Namun, jika maksud begadang demi ilmu dan menunaikan hajat, seperti itu dibolehkan.” (Al-‘Aridhah, Ibnul ‘Arabi, 1:227, dinukil dari Al-Haajatu Asy-Syar’iyyah Hududuha wa Qawa’iduhaa, hlm. 131) Mereka yang melakukan takbiran keliling juga kadang mengganggu muslim yang lain dengan suara yang bising. Dari Jabir bin ‘Abdullah dan ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallambersabda, الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari, no. 10, 6484 dan Muslim, no. 40) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun hanya menyakiti seekor semut.” (Syarh Al-Bukhari, 1:38)      Selain takbir keliling, yang mengganggu juga di hari raya adalah suara petasan yang bising. Petasan ini termasuk mengganggu dan tabdzir. Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26-27). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud tabdzir ada dua pendapat di kalangan para ulama: Tabdzir berarti mengeluarkan harta bukan pada jalan yang benar. Tabdzir berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubadzdzir adalah orang yang menyalahgunakan, merusak, dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaad Al-Masiir, 5:27-28) Petasan ini dapat mengganggu orang lain, yang sedang sakit atau yang sedang butuh istirahat. Bahkan petasan dalam mencelakakan orang yang membunyikan sendiri. Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain) [Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250] Baca selengkapnya: Hadits Arbain 32, Tidak Boleh Memberikan Mudarat Sengaja atau pun Tidak   Semoga Allah memberkahi amalan kita di bulan Ramadhan, menerima amalan kita di bulan Ramadhan. Semoga Allah memberkahi kita di hari fitri. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ   — Jumat siang, 30 Ramadhan 1444 H, 21 April 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya cara shalat idul fitri hari raya idul fitri khutbah idul fitri shalat idul fitri ucapan selamat di hari raya
Jangan mengganggu orang lain di hari raya, di antaranya lewat takbiran yang kadang menimbulkan kebisingan dan suara petasan.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin. Shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala berfirman, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Hendaklah mengqadha’ puasa yang belum disempurnakan karena sakit, safar, dan uzur lainnya. Lalu berdzikirlah kepada Allah ketika telah selesai dari ibadah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62) Dzikir setelah selesai ibadah inilah yang Allah perintahkan dalam ibadah lainnya. Dalam ibadah haji disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200) Dalam ibadah shalat disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisaa’: 103) Dalam ibadah shalat Jumat disebutkan, فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak (berdzikirlah pada-Nya) supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10). Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Jumat  Juga dalam shalat lima waktu disebutkan, فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ ٱلْغُرُوبِ وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَٰرَ ٱلسُّجُودِ “Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” (QS. Qaaf: 39-40) Dalam hadits juga ada perintah saat bakda shalat lima waktu untuk membaca tasbih, tahmid, dan takbir. Ibnu ‘Abbas rahimahullah berkata,  مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إلا بِالتَّكْبِيرِ “Kami tidaklah mengetahui shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu selesai melainkan karena mendengar ucapan takbir.” (HR. Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583) Baca juga: Mengeraskan Dzikir Bakda Shalat Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kebanyakan ulama berdalil bahwa ada perintah takbir pada Idulfitri karena ayat, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185) Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62. Baca juga: Inilah Lafazh Takbir Hari Raya Idulfitri Namun, lafazh takbir lebih-lebih saat takbir keliling jangan dinodai dengan: mengganggu orang lain musik joget-joget melupakan waktu shalat Kadang ada yang takbiran keliling sampai larut malam dan tak ingat waktu. Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat Isya dan begadang (yang tidak manfaat) setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568). Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan, “Tidur sebelum Isya dimakruhkan karena dikhawatirkan melewatkan waktu shalat Isya. Sedangkan begadang bakda Isya dimakruhkan pada perkara yang bukan untuk menuntut ilmu, kebaikan, dan hajat. Namun, jika maksud begadang demi ilmu dan menunaikan hajat, seperti itu dibolehkan.” (Al-‘Aridhah, Ibnul ‘Arabi, 1:227, dinukil dari Al-Haajatu Asy-Syar’iyyah Hududuha wa Qawa’iduhaa, hlm. 131) Mereka yang melakukan takbiran keliling juga kadang mengganggu muslim yang lain dengan suara yang bising. Dari Jabir bin ‘Abdullah dan ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallambersabda, الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari, no. 10, 6484 dan Muslim, no. 40) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun hanya menyakiti seekor semut.” (Syarh Al-Bukhari, 1:38)      Selain takbir keliling, yang mengganggu juga di hari raya adalah suara petasan yang bising. Petasan ini termasuk mengganggu dan tabdzir. Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26-27). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud tabdzir ada dua pendapat di kalangan para ulama: Tabdzir berarti mengeluarkan harta bukan pada jalan yang benar. Tabdzir berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubadzdzir adalah orang yang menyalahgunakan, merusak, dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaad Al-Masiir, 5:27-28) Petasan ini dapat mengganggu orang lain, yang sedang sakit atau yang sedang butuh istirahat. Bahkan petasan dalam mencelakakan orang yang membunyikan sendiri. Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain) [Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250] Baca selengkapnya: Hadits Arbain 32, Tidak Boleh Memberikan Mudarat Sengaja atau pun Tidak   Semoga Allah memberkahi amalan kita di bulan Ramadhan, menerima amalan kita di bulan Ramadhan. Semoga Allah memberkahi kita di hari fitri. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ   — Jumat siang, 30 Ramadhan 1444 H, 21 April 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya cara shalat idul fitri hari raya idul fitri khutbah idul fitri shalat idul fitri ucapan selamat di hari raya


Jangan mengganggu orang lain di hari raya, di antaranya lewat takbiran yang kadang menimbulkan kebisingan dan suara petasan.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin. Shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala berfirman, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Hendaklah mengqadha’ puasa yang belum disempurnakan karena sakit, safar, dan uzur lainnya. Lalu berdzikirlah kepada Allah ketika telah selesai dari ibadah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62) Dzikir setelah selesai ibadah inilah yang Allah perintahkan dalam ibadah lainnya. Dalam ibadah haji disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200) Dalam ibadah shalat disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisaa’: 103) Dalam ibadah shalat Jumat disebutkan, فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak (berdzikirlah pada-Nya) supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10). Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Jumat  Juga dalam shalat lima waktu disebutkan, فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ ٱلْغُرُوبِ وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَٰرَ ٱلسُّجُودِ “Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” (QS. Qaaf: 39-40) Dalam hadits juga ada perintah saat bakda shalat lima waktu untuk membaca tasbih, tahmid, dan takbir. Ibnu ‘Abbas rahimahullah berkata,  مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إلا بِالتَّكْبِيرِ “Kami tidaklah mengetahui shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu selesai melainkan karena mendengar ucapan takbir.” (HR. Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583) Baca juga: Mengeraskan Dzikir Bakda Shalat Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kebanyakan ulama berdalil bahwa ada perintah takbir pada Idulfitri karena ayat, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185) Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62. Baca juga: Inilah Lafazh Takbir Hari Raya Idulfitri Namun, lafazh takbir lebih-lebih saat takbir keliling jangan dinodai dengan: mengganggu orang lain musik joget-joget melupakan waktu shalat Kadang ada yang takbiran keliling sampai larut malam dan tak ingat waktu. Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat Isya dan begadang (yang tidak manfaat) setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568). Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan, “Tidur sebelum Isya dimakruhkan karena dikhawatirkan melewatkan waktu shalat Isya. Sedangkan begadang bakda Isya dimakruhkan pada perkara yang bukan untuk menuntut ilmu, kebaikan, dan hajat. Namun, jika maksud begadang demi ilmu dan menunaikan hajat, seperti itu dibolehkan.” (Al-‘Aridhah, Ibnul ‘Arabi, 1:227, dinukil dari Al-Haajatu Asy-Syar’iyyah Hududuha wa Qawa’iduhaa, hlm. 131) Mereka yang melakukan takbiran keliling juga kadang mengganggu muslim yang lain dengan suara yang bising. Dari Jabir bin ‘Abdullah dan ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallambersabda, الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari, no. 10, 6484 dan Muslim, no. 40) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun hanya menyakiti seekor semut.” (Syarh Al-Bukhari, 1:38)   <span style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" data-mce-type="bookmark" class="mce_SELRES_start"></span>   Selain takbir keliling, yang mengganggu juga di hari raya adalah suara petasan yang bising. Petasan ini termasuk mengganggu dan tabdzir. Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26-27). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud tabdzir ada dua pendapat di kalangan para ulama: Tabdzir berarti mengeluarkan harta bukan pada jalan yang benar. Tabdzir berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubadzdzir adalah orang yang menyalahgunakan, merusak, dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaad Al-Masiir, 5:27-28) Petasan ini dapat mengganggu orang lain, yang sedang sakit atau yang sedang butuh istirahat. Bahkan petasan dalam mencelakakan orang yang membunyikan sendiri. Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain) [Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250] Baca selengkapnya: Hadits Arbain 32, Tidak Boleh Memberikan Mudarat Sengaja atau pun Tidak   Semoga Allah memberkahi amalan kita di bulan Ramadhan, menerima amalan kita di bulan Ramadhan. Semoga Allah memberkahi kita di hari fitri. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ   — Jumat siang, 30 Ramadhan 1444 H, 21 April 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya cara shalat idul fitri hari raya idul fitri khutbah idul fitri shalat idul fitri ucapan selamat di hari raya

Inilah Alasan Puasa Itu Khusus untuk Allah – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Betapa agung dan tingginya derajat puasa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, Allah berfirman–sebagaimana yang disampaikan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam Hadis Qudsi– Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri.Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat,kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya demi diri-Ku.” Ini menunjukkan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkan ibadah ini untuk diri-Nya,karena ia adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya. Salat dapat dilihat manusiaHaji dapat dilihat manusia.Zakat dapat dilihat manusia,hingga ucapan dua kalimat syahadat juga dapat didengar manusia.Demikian juga dengan jihad.Demikian pula dengan muamalat. Sedangkan puasa adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya.Ia merupakan niat untuk meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,untuk mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkannya bagi diri-Nya dan berfirman, “Ia (puasa) adalah untuk-Ku”Yakni ia adalah ibadah yang khusus,tidak mengandung hal-hal yang menimbulkan seseorang berbuat riya,karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Meskipun, pelakunya masih dapat menceritakannya untuk riya,tapi pada asalnya tidak menimbulkan riya, karena ia menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Karena ia berupa sikap meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,demi mengharap apa yang ada di sisi Allah, mengharap pahala dari Allah dan balasan di negeri akhirat. Maka Allah mengkhususkan amalan ini dengan keutamaan tersebut, “Kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.”Allah juga menjadikan pahala dan balasannyatidak terbatas. Namun, Allah Jalla wa ‘Ala akan membalasnya sesuai dengan yang Dia kehendaki,berupa pelipatgandaan pahala yang banyak. ==== عِظَمِ شَأْنِ الصَّوْمِ وَمَنْزِلَتِهِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِهَذَا يَقُولُ سُبْحَانَهُ فِيمَا رَوَاهُ عَنْهُ نَبِيُّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ جَلَّ وَعَلَا كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّ هَذِهِ الْعِبَادَةَ لِنَفْسِهِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ الصَّلَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ الْحَجُّ يَرَاهُ النَّاسُ الزَّكَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ حَتَّى شَهَادَتَانِ يَسْمَعُهَا النَّاسُ هَكَذَا الْجِهَادُ هَكَذَا الْمُعَامَلَاتُ أَمَّا الصَّوْمُ هُوَ سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ نِيَّةٌ بِتَرْكِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْجِمَاعِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّهُ بِنَفْسِهِ وَقَالَ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي يَعْنِي عِبَادَةٌ خَاصَّةٌ لَيْسَ فِيهَا مَا يَدْعُو إِلَى الرِّيَاءِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَإِنْ كَانَ قَدْ يَتَحَدَّثُ بِهَا مُرَائِيًا لَكِن الْأَصْلُ أَنَّهَا لَا نَصِيبَ لِلرِّيَاءِ فِيهَا لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ لِأَنَّهَا مُجَرَّدُ تَرْكِ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَجِمَاعٍ يَبْتَغِي مَا عِنْدَ اللهِ يُرِيدُ ثَوَابَ اللهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَاخْتَصَّ اللهُ عَمَلَهُ بِهَذَا الْفَضْلِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَجَعَلَ ثَوَابَهُ وَجَزَاءَهُ غَيْرَ مُحَدَّدٍ بَلْ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا يُجَازِيْهِ بِمَا يَشَاءُ مِنَ الْمُضَاعَفَةِ مُضَاعَفَةِ الْأُجُورِ

Inilah Alasan Puasa Itu Khusus untuk Allah – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Betapa agung dan tingginya derajat puasa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, Allah berfirman–sebagaimana yang disampaikan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam Hadis Qudsi– Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri.Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat,kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya demi diri-Ku.” Ini menunjukkan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkan ibadah ini untuk diri-Nya,karena ia adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya. Salat dapat dilihat manusiaHaji dapat dilihat manusia.Zakat dapat dilihat manusia,hingga ucapan dua kalimat syahadat juga dapat didengar manusia.Demikian juga dengan jihad.Demikian pula dengan muamalat. Sedangkan puasa adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya.Ia merupakan niat untuk meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,untuk mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkannya bagi diri-Nya dan berfirman, “Ia (puasa) adalah untuk-Ku”Yakni ia adalah ibadah yang khusus,tidak mengandung hal-hal yang menimbulkan seseorang berbuat riya,karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Meskipun, pelakunya masih dapat menceritakannya untuk riya,tapi pada asalnya tidak menimbulkan riya, karena ia menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Karena ia berupa sikap meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,demi mengharap apa yang ada di sisi Allah, mengharap pahala dari Allah dan balasan di negeri akhirat. Maka Allah mengkhususkan amalan ini dengan keutamaan tersebut, “Kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.”Allah juga menjadikan pahala dan balasannyatidak terbatas. Namun, Allah Jalla wa ‘Ala akan membalasnya sesuai dengan yang Dia kehendaki,berupa pelipatgandaan pahala yang banyak. ==== عِظَمِ شَأْنِ الصَّوْمِ وَمَنْزِلَتِهِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِهَذَا يَقُولُ سُبْحَانَهُ فِيمَا رَوَاهُ عَنْهُ نَبِيُّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ جَلَّ وَعَلَا كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّ هَذِهِ الْعِبَادَةَ لِنَفْسِهِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ الصَّلَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ الْحَجُّ يَرَاهُ النَّاسُ الزَّكَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ حَتَّى شَهَادَتَانِ يَسْمَعُهَا النَّاسُ هَكَذَا الْجِهَادُ هَكَذَا الْمُعَامَلَاتُ أَمَّا الصَّوْمُ هُوَ سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ نِيَّةٌ بِتَرْكِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْجِمَاعِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّهُ بِنَفْسِهِ وَقَالَ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي يَعْنِي عِبَادَةٌ خَاصَّةٌ لَيْسَ فِيهَا مَا يَدْعُو إِلَى الرِّيَاءِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَإِنْ كَانَ قَدْ يَتَحَدَّثُ بِهَا مُرَائِيًا لَكِن الْأَصْلُ أَنَّهَا لَا نَصِيبَ لِلرِّيَاءِ فِيهَا لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ لِأَنَّهَا مُجَرَّدُ تَرْكِ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَجِمَاعٍ يَبْتَغِي مَا عِنْدَ اللهِ يُرِيدُ ثَوَابَ اللهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَاخْتَصَّ اللهُ عَمَلَهُ بِهَذَا الْفَضْلِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَجَعَلَ ثَوَابَهُ وَجَزَاءَهُ غَيْرَ مُحَدَّدٍ بَلْ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا يُجَازِيْهِ بِمَا يَشَاءُ مِنَ الْمُضَاعَفَةِ مُضَاعَفَةِ الْأُجُورِ
Betapa agung dan tingginya derajat puasa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, Allah berfirman–sebagaimana yang disampaikan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam Hadis Qudsi– Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri.Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat,kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya demi diri-Ku.” Ini menunjukkan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkan ibadah ini untuk diri-Nya,karena ia adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya. Salat dapat dilihat manusiaHaji dapat dilihat manusia.Zakat dapat dilihat manusia,hingga ucapan dua kalimat syahadat juga dapat didengar manusia.Demikian juga dengan jihad.Demikian pula dengan muamalat. Sedangkan puasa adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya.Ia merupakan niat untuk meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,untuk mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkannya bagi diri-Nya dan berfirman, “Ia (puasa) adalah untuk-Ku”Yakni ia adalah ibadah yang khusus,tidak mengandung hal-hal yang menimbulkan seseorang berbuat riya,karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Meskipun, pelakunya masih dapat menceritakannya untuk riya,tapi pada asalnya tidak menimbulkan riya, karena ia menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Karena ia berupa sikap meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,demi mengharap apa yang ada di sisi Allah, mengharap pahala dari Allah dan balasan di negeri akhirat. Maka Allah mengkhususkan amalan ini dengan keutamaan tersebut, “Kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.”Allah juga menjadikan pahala dan balasannyatidak terbatas. Namun, Allah Jalla wa ‘Ala akan membalasnya sesuai dengan yang Dia kehendaki,berupa pelipatgandaan pahala yang banyak. ==== عِظَمِ شَأْنِ الصَّوْمِ وَمَنْزِلَتِهِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِهَذَا يَقُولُ سُبْحَانَهُ فِيمَا رَوَاهُ عَنْهُ نَبِيُّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ جَلَّ وَعَلَا كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّ هَذِهِ الْعِبَادَةَ لِنَفْسِهِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ الصَّلَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ الْحَجُّ يَرَاهُ النَّاسُ الزَّكَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ حَتَّى شَهَادَتَانِ يَسْمَعُهَا النَّاسُ هَكَذَا الْجِهَادُ هَكَذَا الْمُعَامَلَاتُ أَمَّا الصَّوْمُ هُوَ سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ نِيَّةٌ بِتَرْكِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْجِمَاعِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّهُ بِنَفْسِهِ وَقَالَ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي يَعْنِي عِبَادَةٌ خَاصَّةٌ لَيْسَ فِيهَا مَا يَدْعُو إِلَى الرِّيَاءِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَإِنْ كَانَ قَدْ يَتَحَدَّثُ بِهَا مُرَائِيًا لَكِن الْأَصْلُ أَنَّهَا لَا نَصِيبَ لِلرِّيَاءِ فِيهَا لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ لِأَنَّهَا مُجَرَّدُ تَرْكِ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَجِمَاعٍ يَبْتَغِي مَا عِنْدَ اللهِ يُرِيدُ ثَوَابَ اللهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَاخْتَصَّ اللهُ عَمَلَهُ بِهَذَا الْفَضْلِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَجَعَلَ ثَوَابَهُ وَجَزَاءَهُ غَيْرَ مُحَدَّدٍ بَلْ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا يُجَازِيْهِ بِمَا يَشَاءُ مِنَ الْمُضَاعَفَةِ مُضَاعَفَةِ الْأُجُورِ


Betapa agung dan tingginya derajat puasa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, Allah berfirman–sebagaimana yang disampaikan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam Hadis Qudsi– Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri.Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat,kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya demi diri-Ku.” Ini menunjukkan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkan ibadah ini untuk diri-Nya,karena ia adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya. Salat dapat dilihat manusiaHaji dapat dilihat manusia.Zakat dapat dilihat manusia,hingga ucapan dua kalimat syahadat juga dapat didengar manusia.Demikian juga dengan jihad.Demikian pula dengan muamalat. Sedangkan puasa adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya.Ia merupakan niat untuk meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,untuk mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkannya bagi diri-Nya dan berfirman, “Ia (puasa) adalah untuk-Ku”Yakni ia adalah ibadah yang khusus,tidak mengandung hal-hal yang menimbulkan seseorang berbuat riya,karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Meskipun, pelakunya masih dapat menceritakannya untuk riya,tapi pada asalnya tidak menimbulkan riya, karena ia menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Karena ia berupa sikap meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,demi mengharap apa yang ada di sisi Allah, mengharap pahala dari Allah dan balasan di negeri akhirat. Maka Allah mengkhususkan amalan ini dengan keutamaan tersebut, “Kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.”Allah juga menjadikan pahala dan balasannyatidak terbatas. Namun, Allah Jalla wa ‘Ala akan membalasnya sesuai dengan yang Dia kehendaki,berupa pelipatgandaan pahala yang banyak. ==== عِظَمِ شَأْنِ الصَّوْمِ وَمَنْزِلَتِهِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِهَذَا يَقُولُ سُبْحَانَهُ فِيمَا رَوَاهُ عَنْهُ نَبِيُّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ جَلَّ وَعَلَا كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّ هَذِهِ الْعِبَادَةَ لِنَفْسِهِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ الصَّلَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ الْحَجُّ يَرَاهُ النَّاسُ الزَّكَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ حَتَّى شَهَادَتَانِ يَسْمَعُهَا النَّاسُ هَكَذَا الْجِهَادُ هَكَذَا الْمُعَامَلَاتُ أَمَّا الصَّوْمُ هُوَ سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ نِيَّةٌ بِتَرْكِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْجِمَاعِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّهُ بِنَفْسِهِ وَقَالَ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي يَعْنِي عِبَادَةٌ خَاصَّةٌ لَيْسَ فِيهَا مَا يَدْعُو إِلَى الرِّيَاءِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَإِنْ كَانَ قَدْ يَتَحَدَّثُ بِهَا مُرَائِيًا لَكِن الْأَصْلُ أَنَّهَا لَا نَصِيبَ لِلرِّيَاءِ فِيهَا لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ لِأَنَّهَا مُجَرَّدُ تَرْكِ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَجِمَاعٍ يَبْتَغِي مَا عِنْدَ اللهِ يُرِيدُ ثَوَابَ اللهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَاخْتَصَّ اللهُ عَمَلَهُ بِهَذَا الْفَضْلِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَجَعَلَ ثَوَابَهُ وَجَزَاءَهُ غَيْرَ مُحَدَّدٍ بَلْ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا يُجَازِيْهِ بِمَا يَشَاءُ مِنَ الْمُضَاعَفَةِ مُضَاعَفَةِ الْأُجُورِ

Bolehkah Berpuasa Saat Ada yang Sudah Berlebaran Duluan?

Bolehkah berpuasa saat ada yang sudah berlebaran duluan? Tahun 2023, Idul Fitri akan ada dua hari di negeri kita ini: Jumat, 21 April 2023, saudara kita dari Muhammadiyah berhari raya karena hasil dari hisab Wujudul Hilal, posisi hilal sudah ada di atas ufuk lebih dari nol derajat.  Sabtu, 22 April 2023, saudara kita dari NU, Persatuan Islam (Persis), dan pemerintah sebagaimana hasil hisab imkanur rukyat yang memakai kriteria Neo MABIMS (Mentri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), di mana tinggi hilal masih di bawah tiga derajat.  Baca juga: Polemik Idul Fitri 2023 dan Penetapan 1 Syawal 1444 H     Lihat postingan ini di Instagram   Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal (@mabduhtuasikal) Bagi yang bertaklid kepada Muhammadiyah bahwa lebaran jatuh pada hari Jumat, maka ia wajib konsekuen bahwa hari itu adalah tanggal 1 Syawal, sehingga haram baginya untuk melakukan puasa. Namun, bagi yang mengikuti pemerintah bahwa lebaran jatuh pada hari Sabtu, maka ia juga harus konsekuen bahwa hari Jumat itu masih tanggal 30 Ramadhan (istikmal). Sehingga haram baginya untuk tidak berpuasa di dalam bulan Ramadhan yang diyakininya. Haramnya berpuasa di hari raya sama dengan haramnya tidak puasa secara sengaja di bulan Ramadhan. Tinggal pilih saja, mau taklid dengan hasil ijtihad yang mana? Jika seseorang mau bertaklid kepada hasil ketetapan pemerintah yang sah, maka ia harus konsekuen untuk tetap puasa di hari Jumat. Karena dalam keyakinannya, hari Jumat itu masih termasuk bulan Ramadhan. Bagi seorang muslim, berpuasa di bulan Ramadhan itu hukumnya wajib. Bila ditinggalkan secara sengaja, maka hukumnya DOSA BESAR. Coba perhatikan dalil berikut yang menunjukkan dosanya orang yang enggan puasa padahal masih waktunya berpuasa (belum lebaran). Dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, beliau Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah”. Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25). Baca juga: Akibat Enggan Menunaikan Puasa Ramadhan Adapun ada orang lain yang telah meyakini bahwa hari Jumat sudah lebaran, tidak ada pengaruhnya dan tidak menjadi sebab harus tidak puasa. Sebab mereka yang lebaran hari Jumat telah bertaklid kepada ulama mereka. Sedangkan, yang berlebaran di hari Sabtu, bertaklid kepada ulama yang lain lagi. Masing-masing silakan menjalankan ibadah sesuai dengan hasil ijtihad yang diyakininya. Adapun dalil dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ “Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani). Hadits di atas bukanlah menjadi dalil atas keharusan tidak puasa di hari Jumat bagi yang meyakini lebaran jatuh di hari Sabtu. Mengapa? Karena dalil di atas tidak berlaku bila hanya ada sebagian orang yang sudah berbuka duluan, tetapi berlaku bila yang melakukannya mayoritas muslim bersama dengan pemerintahnya. Nanti bagaimana kalau misalnya hari Rabu ada yang berijtihad sudah lebaran, apakah umat Islam se-Indonesia harus tidak puasa sejak hari Rabu, Kamis dan Jumat? Berarti mereka secara sengaja tidak puasa di hari-hari Ramadhan. Bayangkan betapa besar dosanya. Dalil di atas sebenarnya justru berlaku sebaliknya dari apa yang disalah-pahami, bahwa seharusnya setiap muslim mengikuti ijtihad mayoritas muslimin dan pemerintahnya. Bukan sebaliknya, yang mayoritas harus ikut kepada yang minoritas. Sebagian ulama menafsirkan hadits tersebut bahwa yang dimaksudkan adalah berpuasa dan berhari raya dengan al jama’ah (pemerintah) dan kaum muslimin. (Majmu’ah Al-Fatawa, 25:115) Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits di atas dengan berkata, وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ “Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Baca juga: Sabar Menunggu Keputusan Pemerintah dalam Berpuasa dan Berhari Raya Kembalikanlah Keputusan Hari Raya kepada Pemerintah   Begitu pula, jika Saudi Arabia sudah berlebaran duluan dan sudah bertakbir, bukan berarti Indonesia tidak berpuasa lagi. Baca juga: Apabila Terjadi Perbedaan Hari Raya antara Indonesia dan Saudi Arabia   Namun, sekali lagi, urusan lebaran jatuh pada hari apa, adalah masalah ijtihadiyah dan khilafiyah. Mereka yang ijtihadnya benar, akan dapat dua pahala dan yang salah tidak akan berdosa. Bahkan tetap akan dapat pahala meski cuma satu pahalanya saja. Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْر “Apabila seorang hakim menghukumi lalu berijtihad dan benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia menghukumi lalu berijtihad dan salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352) Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin. Semoga suatu saat nanti, di negeri kita ini, hari raya itu tidak berbeda-beda lagi dan terus bersatu.   – Kamis, 20 April 2023, 29 Ramadhan 1444 H @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya fikih lebaran hari raya hukum tidak puasa idul fithri idul fitri lebaran puasa ramadhan

Bolehkah Berpuasa Saat Ada yang Sudah Berlebaran Duluan?

Bolehkah berpuasa saat ada yang sudah berlebaran duluan? Tahun 2023, Idul Fitri akan ada dua hari di negeri kita ini: Jumat, 21 April 2023, saudara kita dari Muhammadiyah berhari raya karena hasil dari hisab Wujudul Hilal, posisi hilal sudah ada di atas ufuk lebih dari nol derajat.  Sabtu, 22 April 2023, saudara kita dari NU, Persatuan Islam (Persis), dan pemerintah sebagaimana hasil hisab imkanur rukyat yang memakai kriteria Neo MABIMS (Mentri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), di mana tinggi hilal masih di bawah tiga derajat.  Baca juga: Polemik Idul Fitri 2023 dan Penetapan 1 Syawal 1444 H     Lihat postingan ini di Instagram   Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal (@mabduhtuasikal) Bagi yang bertaklid kepada Muhammadiyah bahwa lebaran jatuh pada hari Jumat, maka ia wajib konsekuen bahwa hari itu adalah tanggal 1 Syawal, sehingga haram baginya untuk melakukan puasa. Namun, bagi yang mengikuti pemerintah bahwa lebaran jatuh pada hari Sabtu, maka ia juga harus konsekuen bahwa hari Jumat itu masih tanggal 30 Ramadhan (istikmal). Sehingga haram baginya untuk tidak berpuasa di dalam bulan Ramadhan yang diyakininya. Haramnya berpuasa di hari raya sama dengan haramnya tidak puasa secara sengaja di bulan Ramadhan. Tinggal pilih saja, mau taklid dengan hasil ijtihad yang mana? Jika seseorang mau bertaklid kepada hasil ketetapan pemerintah yang sah, maka ia harus konsekuen untuk tetap puasa di hari Jumat. Karena dalam keyakinannya, hari Jumat itu masih termasuk bulan Ramadhan. Bagi seorang muslim, berpuasa di bulan Ramadhan itu hukumnya wajib. Bila ditinggalkan secara sengaja, maka hukumnya DOSA BESAR. Coba perhatikan dalil berikut yang menunjukkan dosanya orang yang enggan puasa padahal masih waktunya berpuasa (belum lebaran). Dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, beliau Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah”. Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25). Baca juga: Akibat Enggan Menunaikan Puasa Ramadhan Adapun ada orang lain yang telah meyakini bahwa hari Jumat sudah lebaran, tidak ada pengaruhnya dan tidak menjadi sebab harus tidak puasa. Sebab mereka yang lebaran hari Jumat telah bertaklid kepada ulama mereka. Sedangkan, yang berlebaran di hari Sabtu, bertaklid kepada ulama yang lain lagi. Masing-masing silakan menjalankan ibadah sesuai dengan hasil ijtihad yang diyakininya. Adapun dalil dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ “Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani). Hadits di atas bukanlah menjadi dalil atas keharusan tidak puasa di hari Jumat bagi yang meyakini lebaran jatuh di hari Sabtu. Mengapa? Karena dalil di atas tidak berlaku bila hanya ada sebagian orang yang sudah berbuka duluan, tetapi berlaku bila yang melakukannya mayoritas muslim bersama dengan pemerintahnya. Nanti bagaimana kalau misalnya hari Rabu ada yang berijtihad sudah lebaran, apakah umat Islam se-Indonesia harus tidak puasa sejak hari Rabu, Kamis dan Jumat? Berarti mereka secara sengaja tidak puasa di hari-hari Ramadhan. Bayangkan betapa besar dosanya. Dalil di atas sebenarnya justru berlaku sebaliknya dari apa yang disalah-pahami, bahwa seharusnya setiap muslim mengikuti ijtihad mayoritas muslimin dan pemerintahnya. Bukan sebaliknya, yang mayoritas harus ikut kepada yang minoritas. Sebagian ulama menafsirkan hadits tersebut bahwa yang dimaksudkan adalah berpuasa dan berhari raya dengan al jama’ah (pemerintah) dan kaum muslimin. (Majmu’ah Al-Fatawa, 25:115) Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits di atas dengan berkata, وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ “Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Baca juga: Sabar Menunggu Keputusan Pemerintah dalam Berpuasa dan Berhari Raya Kembalikanlah Keputusan Hari Raya kepada Pemerintah   Begitu pula, jika Saudi Arabia sudah berlebaran duluan dan sudah bertakbir, bukan berarti Indonesia tidak berpuasa lagi. Baca juga: Apabila Terjadi Perbedaan Hari Raya antara Indonesia dan Saudi Arabia   Namun, sekali lagi, urusan lebaran jatuh pada hari apa, adalah masalah ijtihadiyah dan khilafiyah. Mereka yang ijtihadnya benar, akan dapat dua pahala dan yang salah tidak akan berdosa. Bahkan tetap akan dapat pahala meski cuma satu pahalanya saja. Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْر “Apabila seorang hakim menghukumi lalu berijtihad dan benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia menghukumi lalu berijtihad dan salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352) Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin. Semoga suatu saat nanti, di negeri kita ini, hari raya itu tidak berbeda-beda lagi dan terus bersatu.   – Kamis, 20 April 2023, 29 Ramadhan 1444 H @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya fikih lebaran hari raya hukum tidak puasa idul fithri idul fitri lebaran puasa ramadhan
Bolehkah berpuasa saat ada yang sudah berlebaran duluan? Tahun 2023, Idul Fitri akan ada dua hari di negeri kita ini: Jumat, 21 April 2023, saudara kita dari Muhammadiyah berhari raya karena hasil dari hisab Wujudul Hilal, posisi hilal sudah ada di atas ufuk lebih dari nol derajat.  Sabtu, 22 April 2023, saudara kita dari NU, Persatuan Islam (Persis), dan pemerintah sebagaimana hasil hisab imkanur rukyat yang memakai kriteria Neo MABIMS (Mentri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), di mana tinggi hilal masih di bawah tiga derajat.  Baca juga: Polemik Idul Fitri 2023 dan Penetapan 1 Syawal 1444 H     Lihat postingan ini di Instagram   Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal (@mabduhtuasikal) Bagi yang bertaklid kepada Muhammadiyah bahwa lebaran jatuh pada hari Jumat, maka ia wajib konsekuen bahwa hari itu adalah tanggal 1 Syawal, sehingga haram baginya untuk melakukan puasa. Namun, bagi yang mengikuti pemerintah bahwa lebaran jatuh pada hari Sabtu, maka ia juga harus konsekuen bahwa hari Jumat itu masih tanggal 30 Ramadhan (istikmal). Sehingga haram baginya untuk tidak berpuasa di dalam bulan Ramadhan yang diyakininya. Haramnya berpuasa di hari raya sama dengan haramnya tidak puasa secara sengaja di bulan Ramadhan. Tinggal pilih saja, mau taklid dengan hasil ijtihad yang mana? Jika seseorang mau bertaklid kepada hasil ketetapan pemerintah yang sah, maka ia harus konsekuen untuk tetap puasa di hari Jumat. Karena dalam keyakinannya, hari Jumat itu masih termasuk bulan Ramadhan. Bagi seorang muslim, berpuasa di bulan Ramadhan itu hukumnya wajib. Bila ditinggalkan secara sengaja, maka hukumnya DOSA BESAR. Coba perhatikan dalil berikut yang menunjukkan dosanya orang yang enggan puasa padahal masih waktunya berpuasa (belum lebaran). Dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, beliau Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah”. Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25). Baca juga: Akibat Enggan Menunaikan Puasa Ramadhan Adapun ada orang lain yang telah meyakini bahwa hari Jumat sudah lebaran, tidak ada pengaruhnya dan tidak menjadi sebab harus tidak puasa. Sebab mereka yang lebaran hari Jumat telah bertaklid kepada ulama mereka. Sedangkan, yang berlebaran di hari Sabtu, bertaklid kepada ulama yang lain lagi. Masing-masing silakan menjalankan ibadah sesuai dengan hasil ijtihad yang diyakininya. Adapun dalil dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ “Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani). Hadits di atas bukanlah menjadi dalil atas keharusan tidak puasa di hari Jumat bagi yang meyakini lebaran jatuh di hari Sabtu. Mengapa? Karena dalil di atas tidak berlaku bila hanya ada sebagian orang yang sudah berbuka duluan, tetapi berlaku bila yang melakukannya mayoritas muslim bersama dengan pemerintahnya. Nanti bagaimana kalau misalnya hari Rabu ada yang berijtihad sudah lebaran, apakah umat Islam se-Indonesia harus tidak puasa sejak hari Rabu, Kamis dan Jumat? Berarti mereka secara sengaja tidak puasa di hari-hari Ramadhan. Bayangkan betapa besar dosanya. Dalil di atas sebenarnya justru berlaku sebaliknya dari apa yang disalah-pahami, bahwa seharusnya setiap muslim mengikuti ijtihad mayoritas muslimin dan pemerintahnya. Bukan sebaliknya, yang mayoritas harus ikut kepada yang minoritas. Sebagian ulama menafsirkan hadits tersebut bahwa yang dimaksudkan adalah berpuasa dan berhari raya dengan al jama’ah (pemerintah) dan kaum muslimin. (Majmu’ah Al-Fatawa, 25:115) Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits di atas dengan berkata, وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ “Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Baca juga: Sabar Menunggu Keputusan Pemerintah dalam Berpuasa dan Berhari Raya Kembalikanlah Keputusan Hari Raya kepada Pemerintah   Begitu pula, jika Saudi Arabia sudah berlebaran duluan dan sudah bertakbir, bukan berarti Indonesia tidak berpuasa lagi. Baca juga: Apabila Terjadi Perbedaan Hari Raya antara Indonesia dan Saudi Arabia   Namun, sekali lagi, urusan lebaran jatuh pada hari apa, adalah masalah ijtihadiyah dan khilafiyah. Mereka yang ijtihadnya benar, akan dapat dua pahala dan yang salah tidak akan berdosa. Bahkan tetap akan dapat pahala meski cuma satu pahalanya saja. Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْر “Apabila seorang hakim menghukumi lalu berijtihad dan benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia menghukumi lalu berijtihad dan salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352) Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin. Semoga suatu saat nanti, di negeri kita ini, hari raya itu tidak berbeda-beda lagi dan terus bersatu.   – Kamis, 20 April 2023, 29 Ramadhan 1444 H @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya fikih lebaran hari raya hukum tidak puasa idul fithri idul fitri lebaran puasa ramadhan


Bolehkah berpuasa saat ada yang sudah berlebaran duluan? Tahun 2023, Idul Fitri akan ada dua hari di negeri kita ini: Jumat, 21 April 2023, saudara kita dari Muhammadiyah berhari raya karena hasil dari hisab Wujudul Hilal, posisi hilal sudah ada di atas ufuk lebih dari nol derajat.  Sabtu, 22 April 2023, saudara kita dari NU, Persatuan Islam (Persis), dan pemerintah sebagaimana hasil hisab imkanur rukyat yang memakai kriteria Neo MABIMS (Mentri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), di mana tinggi hilal masih di bawah tiga derajat.  Baca juga: Polemik Idul Fitri 2023 dan Penetapan 1 Syawal 1444 H     Lihat postingan ini di Instagram   Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal (@mabduhtuasikal) Bagi yang bertaklid kepada Muhammadiyah bahwa lebaran jatuh pada hari Jumat, maka ia wajib konsekuen bahwa hari itu adalah tanggal 1 Syawal, sehingga haram baginya untuk melakukan puasa. Namun, bagi yang mengikuti pemerintah bahwa lebaran jatuh pada hari Sabtu, maka ia juga harus konsekuen bahwa hari Jumat itu masih tanggal 30 Ramadhan (istikmal). Sehingga haram baginya untuk tidak berpuasa di dalam bulan Ramadhan yang diyakininya. Haramnya berpuasa di hari raya sama dengan haramnya tidak puasa secara sengaja di bulan Ramadhan. Tinggal pilih saja, mau taklid dengan hasil ijtihad yang mana? Jika seseorang mau bertaklid kepada hasil ketetapan pemerintah yang sah, maka ia harus konsekuen untuk tetap puasa di hari Jumat. Karena dalam keyakinannya, hari Jumat itu masih termasuk bulan Ramadhan. Bagi seorang muslim, berpuasa di bulan Ramadhan itu hukumnya wajib. Bila ditinggalkan secara sengaja, maka hukumnya DOSA BESAR. Coba perhatikan dalil berikut yang menunjukkan dosanya orang yang enggan puasa padahal masih waktunya berpuasa (belum lebaran). Dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, beliau Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah”. Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25). Baca juga: Akibat Enggan Menunaikan Puasa Ramadhan Adapun ada orang lain yang telah meyakini bahwa hari Jumat sudah lebaran, tidak ada pengaruhnya dan tidak menjadi sebab harus tidak puasa. Sebab mereka yang lebaran hari Jumat telah bertaklid kepada ulama mereka. Sedangkan, yang berlebaran di hari Sabtu, bertaklid kepada ulama yang lain lagi. Masing-masing silakan menjalankan ibadah sesuai dengan hasil ijtihad yang diyakininya. Adapun dalil dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ “Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani). Hadits di atas bukanlah menjadi dalil atas keharusan tidak puasa di hari Jumat bagi yang meyakini lebaran jatuh di hari Sabtu. Mengapa? Karena dalil di atas tidak berlaku bila hanya ada sebagian orang yang sudah berbuka duluan, tetapi berlaku bila yang melakukannya mayoritas muslim bersama dengan pemerintahnya. Nanti bagaimana kalau misalnya hari Rabu ada yang berijtihad sudah lebaran, apakah umat Islam se-Indonesia harus tidak puasa sejak hari Rabu, Kamis dan Jumat? Berarti mereka secara sengaja tidak puasa di hari-hari Ramadhan. Bayangkan betapa besar dosanya. Dalil di atas sebenarnya justru berlaku sebaliknya dari apa yang disalah-pahami, bahwa seharusnya setiap muslim mengikuti ijtihad mayoritas muslimin dan pemerintahnya. Bukan sebaliknya, yang mayoritas harus ikut kepada yang minoritas. Sebagian ulama menafsirkan hadits tersebut bahwa yang dimaksudkan adalah berpuasa dan berhari raya dengan al jama’ah (pemerintah) dan kaum muslimin. (Majmu’ah Al-Fatawa, 25:115) Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits di atas dengan berkata, وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ “Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Baca juga: Sabar Menunggu Keputusan Pemerintah dalam Berpuasa dan Berhari Raya Kembalikanlah Keputusan Hari Raya kepada Pemerintah   Begitu pula, jika Saudi Arabia sudah berlebaran duluan dan sudah bertakbir, bukan berarti Indonesia tidak berpuasa lagi. Baca juga: Apabila Terjadi Perbedaan Hari Raya antara Indonesia dan Saudi Arabia   Namun, sekali lagi, urusan lebaran jatuh pada hari apa, adalah masalah ijtihadiyah dan khilafiyah. Mereka yang ijtihadnya benar, akan dapat dua pahala dan yang salah tidak akan berdosa. Bahkan tetap akan dapat pahala meski cuma satu pahalanya saja. Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْر “Apabila seorang hakim menghukumi lalu berijtihad dan benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia menghukumi lalu berijtihad dan salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352) Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin. Semoga suatu saat nanti, di negeri kita ini, hari raya itu tidak berbeda-beda lagi dan terus bersatu.   – Kamis, 20 April 2023, 29 Ramadhan 1444 H @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya fikih lebaran hari raya hukum tidak puasa idul fithri idul fitri lebaran puasa ramadhan

Fatwa: Apakah Wanita Salat di Hotel Makkah Itu Lebih Baik daripada Salat di Masjidilharam?

Bismillah.Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,Syekh Al-Albani rahimahullah pernah berfatwa dengan fatwa sebagai berikut: [1]Pertanyaan:Seorang wanita bertanya, “Dalam hadis,صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في المسجد‘Salat seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada salatnya di masjid.’Apabila seorang wanita sedang berada di Makkah, apakah salatnya di hotel lebih baik daripada salat di Masjidilharam?”Jawaban Syekh Al-Albani rahimahullah:Jelas, tentulah! Yakni, salat wanita di mana pun ia berada, di negeri mana pun ia singgah, meskipun ia sedang di Makkah, atau di Madinah, atau di Baitul Maqdis, maka salatnya di tempat tinggalnya (termasuk rumah atau hotel, pent.) lebih utama daripada di masjid.Demikian pula bagi seorang laki-laki, apabila terkait dengan salat sunah, maka lebih utama ia salat sunah di rumahnya. Dan (yang lebih utama) bukan di masjid, meskipun itu di Masjidilharam. Hal ini berdasarkan dua dalil [2] berikut ini:Dalil pertama (dalil umum): Keumuman sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam  dalam kisah salat tarawih di bulan Ramadan. Saat beliau ‘alaihish shalatu wassalam mengimami orang-orang pada malam pertama, kedua, dan ketiga dengan kisah rinci yang sudah diketahui (dalam versi kisah lengkapnya, pent). Lalu, mereka berkumpul pada malam yang keempat, namun Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam tidaklah keluar mengimami, sampai sebagian orang yang lalai melempar beberapa kerikil ke pintu beliau. Kemudian beliau keluar menemui mereka sambil marah. Beliau pun bersabda kepada mereka,إنه لم يخفَ عليَّ مكانكم هذا ، وعمدًا فعلت ذلك ، فصلوا – أيها الناس – في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Bahwa aku sebenarnya tahu kehadiran kalian (di masjid untuk salat bersamaku), dan sengaja aku lakukan ini [3]. Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki [4] yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu) [5].” [6]Maka, sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).” Ini mencakup seluruh salat sunah dan mencakup seluruh salat wajib juga. [7]Ini dalil pertama, dan sebagaimana telah kami sebutkan di awal jawaban bahwa ini berarti berdalil dengan dalil umum,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Baca juga: Perbedaan antara Salat Wajib dan Salat SunahDalil kedua (dalil khusus): Dalil khusus ketika datang seorang sahabat di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya dengan pertanyaan semisal pertanyaan di atas:“Apakah saya salat sunah di masjid atau di rumah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidakkah engkau tahu betapa dekatnya rumahku dengan masjidku?” Ia pun menjawab : “Ya.” Beliau bersabda,فأفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Salat seorang laki-laki  yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Setelah kita mengetahui jawaban terkait dengan salat wanita (di hotel) tersebut. Dan kami telah tambahkan jawaban tentang masalah yang terkadang terbetik pada benak sebagian manusia, terkait dengan salat sunah bagi laki-laki. (Maka di sini perlu) saya tekankan tentang orang yang sedang berada di masjid-masjid yang memiliki keutamaan khusus, seperti Masjidilharam, Masjid An-Nabawi, dan Masjidilaqsa. Bahwa salat wajib wanita di rumahnya dan salat sunah laki-laki di rumahnya atau di tempat tinggal mana pun (hotel, dan semisalnya, pent) bukan berarti (keafdalan salat di rumah tersebut) dikecualikan jika dilakukan di Masjidilharam, atau Masjid An-Nabawi, atau Masjidilaqsa. Sehingga (tidaklah berarti) salat sunah pria atau salat wajib wanita itu lebih utama dilakukan di ketiga masjid tersebut (daripada di rumah). [8]Maksudnya begini. Sebagaimana kalian ketahui sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam dalam Shahih Muslim,صلاة في مسجدي هذا بألف صلاة مما سواه من المساجد ؛ إلا المسجد الحرام“Salat di masjidku ini (pahalanya) seribu kali lipat salat di masjid-masjid lainnya, kecuali Masjidilharam.”Dalam hadis lainnya, selain dalam Shahih Muslim, namun hadis ini adalah hadis yang sahih juga, (yaitu) dalam Shahih Ibnu Hibban dan selainnya,والصلاة في مكَّة بمائة ألف صلاة“Salat di (Masjidilharam) Makkah itu (berpahala) seratus ribu kali lipat salat.” [9]Jadi, seorang laki-laki apabila salat sunah di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat. Dan wanita pun apabila salat di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat.Akan tetapi, seorang laki-laki jika salat sunah di rumahnya dan wanita apabila salat wajib di rumahnya, maka masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat. (Ya, benar-benar) masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat.Inilah (konsekuensi) makna salat wanita itu lebih utama di rumahnya dan salat sunah laki-laki itu lebih utama di rumahnya. [Selesai Fatwa Syekh Al-Albani rahimahullah. [10]KesimpulanPertama: Salat wanita di rumahnya atau di hotel secara sendirian, atau bersama temannya di apartemen itu lebih baik dan lebih utama dibanding salatnya di Masjidilharam atau Masjid An-Nabawi. Meskipun hukum ia salat di masjid tersebut boleh. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ“Jangan kalian mencegah istri-istri kalian dari minta izin pergi ke masjid, namun (salat di) rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka (daripada di masjid).”(Hadis riwayat Abu Dawud, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud)عن أم حُمَيد امرأة أبي حميد الساعدي رضي الله عنها قالت : ” يا رسول الله : إني أحب الصلاة معك ، قال : ( قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي ، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِيDari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya senang salat bersama Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, ”Saya tahu, engkau senang salat bersamaku, tetapi salatmu di kamar tidurmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di ruang keluargamu. Dan salatmu di ruang keluargamu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di rumahmu [11]. Dan salatmu di rumahmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjid kaummu. Dan salatmu di masjid kaummu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjidku.” (HR. Ahmad, dan Syekh Al-Albani menilai hadis ini hasan dalam Kitab Shahihut Targhib wat-Tarhib)Kedua: Tidak mengapa seorang wanita salat di masjid. Terlebih lagi jika salat di masjid pada kondisi tertentu menyebabkan lebih khusyuk dan lebih semangat dalam beribadah kepada Allah semata, karena adanya gangguan kekhusyukan dan kesempurnaan salat jika dilakukan di rumah, sebagaimana fatwa Samahatul Mufti Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berikut ini:Pertanyaan:“Apa hukum salat tarawih bagi wanita di rumahnya? Dan apakah yang afdal ia salat di rumah atau di masjid?”Beliau menjawab:“Tergantung keadaannya. Jika ia mampu melakukannya di rumah, bisa kosentrasi melakukan salat tersebut dan tidak disibukkan dengan kesibukan, baik berupa mengurus anak atau perkerjaan rumah tangga (lainnya), maka salat di rumahnya lebih utama (afdal). Namun, jika ia memandang bahwa salat di masjid itu (menyebabkan) ia lebih semangat melakukannya karena ia makmum dibelakang seorang imam. Dan lebih semangat baginya dengan menyaksikan para wanita muslimah (lainnya) salat, maka dalam hal ini tidak ada larangannya.” [12]Wallahu a’lamBaca juga: Jangan Tinggalkan Salat***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[2] Maksudnya dalil tentang salat sunah bagi laki-laki lebih baik di rumah.[3] Beliau tidak keluar mengimami mereka.[4]  Maksud: al-mar’u dalam hadis di atas adalah seorang laki-laki. Berdasarkan hadis tentang salat wanita itu lebih utama di rumahnya, baik salat sunah maupun salat wajib lima waktu. Wallahu a’lam.[5] Berdasarkan dalil-dalil lainnya, maka maksud hadis ini adalah salat sunah yang disyariatkan dilakukan di masjid dan di rumah sekaligus. Jenis salat seperti inilah yang lebih utama dikerjakan di rumah. Dengan demikian, dikecualikan dari kandungan hadis ini adalah jenis salat sunah yang disyariatkan dilakukan hanya di masjid (salat Tahiyyatul Masjid) dan salat sunah yang disyariatkan berjemaah di masjid (salat tarawih, salat istisqa’, salat gerhana, salat Idul Fithri dan Adha saat hujan). Wallahu a’lam.[6] Kisah lengkapnya ada dalam Shahihul Bukhari.[7] Maksudnya, sebelum disertakan lafaz pengecualian, “kecuali salat wajib (lima waktu).”[8] Maksudnya: pria (untuk salat sunah) dan wanita lebih utama salat di rumah atau hotel daripada salat di ketiga masjid tersebut. Wallahu a’lam.[9] Dibandingkan dengan salat di masjid selainnya yang tidak memiliki keutamaan pahala khusus. Karena apabila dibandingkan dengan salat di masjid yang ada keutamaan pahala khususnya, maka perbandingannya sesuai dengan keutamaannya yang terdapat dalam dalil. Contohnya dalam hadis yang sahih bahwa keutamaan salat di Masjidilharam itu seratus kali lipat salat di Masjid An-Nabawi. Wallahu a’lam[10] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[11] Ruangan yang lebih terbuka di dalam rumah, lihat perbedaan bait, hujrah, dan dar di https://irtaqi.net/2020/06/28/apa-bedanya-dar-hujrah-dan-bait/[12] Silahkan mendengarkan rekaman suara fatwa ini: http://www.albaidha.net/vb/attachmen…8&d=1435230130Tags: HajihotelmakkahsalatumrohWanita

Fatwa: Apakah Wanita Salat di Hotel Makkah Itu Lebih Baik daripada Salat di Masjidilharam?

Bismillah.Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,Syekh Al-Albani rahimahullah pernah berfatwa dengan fatwa sebagai berikut: [1]Pertanyaan:Seorang wanita bertanya, “Dalam hadis,صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في المسجد‘Salat seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada salatnya di masjid.’Apabila seorang wanita sedang berada di Makkah, apakah salatnya di hotel lebih baik daripada salat di Masjidilharam?”Jawaban Syekh Al-Albani rahimahullah:Jelas, tentulah! Yakni, salat wanita di mana pun ia berada, di negeri mana pun ia singgah, meskipun ia sedang di Makkah, atau di Madinah, atau di Baitul Maqdis, maka salatnya di tempat tinggalnya (termasuk rumah atau hotel, pent.) lebih utama daripada di masjid.Demikian pula bagi seorang laki-laki, apabila terkait dengan salat sunah, maka lebih utama ia salat sunah di rumahnya. Dan (yang lebih utama) bukan di masjid, meskipun itu di Masjidilharam. Hal ini berdasarkan dua dalil [2] berikut ini:Dalil pertama (dalil umum): Keumuman sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam  dalam kisah salat tarawih di bulan Ramadan. Saat beliau ‘alaihish shalatu wassalam mengimami orang-orang pada malam pertama, kedua, dan ketiga dengan kisah rinci yang sudah diketahui (dalam versi kisah lengkapnya, pent). Lalu, mereka berkumpul pada malam yang keempat, namun Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam tidaklah keluar mengimami, sampai sebagian orang yang lalai melempar beberapa kerikil ke pintu beliau. Kemudian beliau keluar menemui mereka sambil marah. Beliau pun bersabda kepada mereka,إنه لم يخفَ عليَّ مكانكم هذا ، وعمدًا فعلت ذلك ، فصلوا – أيها الناس – في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Bahwa aku sebenarnya tahu kehadiran kalian (di masjid untuk salat bersamaku), dan sengaja aku lakukan ini [3]. Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki [4] yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu) [5].” [6]Maka, sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).” Ini mencakup seluruh salat sunah dan mencakup seluruh salat wajib juga. [7]Ini dalil pertama, dan sebagaimana telah kami sebutkan di awal jawaban bahwa ini berarti berdalil dengan dalil umum,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Baca juga: Perbedaan antara Salat Wajib dan Salat SunahDalil kedua (dalil khusus): Dalil khusus ketika datang seorang sahabat di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya dengan pertanyaan semisal pertanyaan di atas:“Apakah saya salat sunah di masjid atau di rumah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidakkah engkau tahu betapa dekatnya rumahku dengan masjidku?” Ia pun menjawab : “Ya.” Beliau bersabda,فأفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Salat seorang laki-laki  yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Setelah kita mengetahui jawaban terkait dengan salat wanita (di hotel) tersebut. Dan kami telah tambahkan jawaban tentang masalah yang terkadang terbetik pada benak sebagian manusia, terkait dengan salat sunah bagi laki-laki. (Maka di sini perlu) saya tekankan tentang orang yang sedang berada di masjid-masjid yang memiliki keutamaan khusus, seperti Masjidilharam, Masjid An-Nabawi, dan Masjidilaqsa. Bahwa salat wajib wanita di rumahnya dan salat sunah laki-laki di rumahnya atau di tempat tinggal mana pun (hotel, dan semisalnya, pent) bukan berarti (keafdalan salat di rumah tersebut) dikecualikan jika dilakukan di Masjidilharam, atau Masjid An-Nabawi, atau Masjidilaqsa. Sehingga (tidaklah berarti) salat sunah pria atau salat wajib wanita itu lebih utama dilakukan di ketiga masjid tersebut (daripada di rumah). [8]Maksudnya begini. Sebagaimana kalian ketahui sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam dalam Shahih Muslim,صلاة في مسجدي هذا بألف صلاة مما سواه من المساجد ؛ إلا المسجد الحرام“Salat di masjidku ini (pahalanya) seribu kali lipat salat di masjid-masjid lainnya, kecuali Masjidilharam.”Dalam hadis lainnya, selain dalam Shahih Muslim, namun hadis ini adalah hadis yang sahih juga, (yaitu) dalam Shahih Ibnu Hibban dan selainnya,والصلاة في مكَّة بمائة ألف صلاة“Salat di (Masjidilharam) Makkah itu (berpahala) seratus ribu kali lipat salat.” [9]Jadi, seorang laki-laki apabila salat sunah di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat. Dan wanita pun apabila salat di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat.Akan tetapi, seorang laki-laki jika salat sunah di rumahnya dan wanita apabila salat wajib di rumahnya, maka masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat. (Ya, benar-benar) masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat.Inilah (konsekuensi) makna salat wanita itu lebih utama di rumahnya dan salat sunah laki-laki itu lebih utama di rumahnya. [Selesai Fatwa Syekh Al-Albani rahimahullah. [10]KesimpulanPertama: Salat wanita di rumahnya atau di hotel secara sendirian, atau bersama temannya di apartemen itu lebih baik dan lebih utama dibanding salatnya di Masjidilharam atau Masjid An-Nabawi. Meskipun hukum ia salat di masjid tersebut boleh. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ“Jangan kalian mencegah istri-istri kalian dari minta izin pergi ke masjid, namun (salat di) rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka (daripada di masjid).”(Hadis riwayat Abu Dawud, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud)عن أم حُمَيد امرأة أبي حميد الساعدي رضي الله عنها قالت : ” يا رسول الله : إني أحب الصلاة معك ، قال : ( قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي ، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِيDari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya senang salat bersama Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, ”Saya tahu, engkau senang salat bersamaku, tetapi salatmu di kamar tidurmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di ruang keluargamu. Dan salatmu di ruang keluargamu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di rumahmu [11]. Dan salatmu di rumahmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjid kaummu. Dan salatmu di masjid kaummu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjidku.” (HR. Ahmad, dan Syekh Al-Albani menilai hadis ini hasan dalam Kitab Shahihut Targhib wat-Tarhib)Kedua: Tidak mengapa seorang wanita salat di masjid. Terlebih lagi jika salat di masjid pada kondisi tertentu menyebabkan lebih khusyuk dan lebih semangat dalam beribadah kepada Allah semata, karena adanya gangguan kekhusyukan dan kesempurnaan salat jika dilakukan di rumah, sebagaimana fatwa Samahatul Mufti Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berikut ini:Pertanyaan:“Apa hukum salat tarawih bagi wanita di rumahnya? Dan apakah yang afdal ia salat di rumah atau di masjid?”Beliau menjawab:“Tergantung keadaannya. Jika ia mampu melakukannya di rumah, bisa kosentrasi melakukan salat tersebut dan tidak disibukkan dengan kesibukan, baik berupa mengurus anak atau perkerjaan rumah tangga (lainnya), maka salat di rumahnya lebih utama (afdal). Namun, jika ia memandang bahwa salat di masjid itu (menyebabkan) ia lebih semangat melakukannya karena ia makmum dibelakang seorang imam. Dan lebih semangat baginya dengan menyaksikan para wanita muslimah (lainnya) salat, maka dalam hal ini tidak ada larangannya.” [12]Wallahu a’lamBaca juga: Jangan Tinggalkan Salat***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[2] Maksudnya dalil tentang salat sunah bagi laki-laki lebih baik di rumah.[3] Beliau tidak keluar mengimami mereka.[4]  Maksud: al-mar’u dalam hadis di atas adalah seorang laki-laki. Berdasarkan hadis tentang salat wanita itu lebih utama di rumahnya, baik salat sunah maupun salat wajib lima waktu. Wallahu a’lam.[5] Berdasarkan dalil-dalil lainnya, maka maksud hadis ini adalah salat sunah yang disyariatkan dilakukan di masjid dan di rumah sekaligus. Jenis salat seperti inilah yang lebih utama dikerjakan di rumah. Dengan demikian, dikecualikan dari kandungan hadis ini adalah jenis salat sunah yang disyariatkan dilakukan hanya di masjid (salat Tahiyyatul Masjid) dan salat sunah yang disyariatkan berjemaah di masjid (salat tarawih, salat istisqa’, salat gerhana, salat Idul Fithri dan Adha saat hujan). Wallahu a’lam.[6] Kisah lengkapnya ada dalam Shahihul Bukhari.[7] Maksudnya, sebelum disertakan lafaz pengecualian, “kecuali salat wajib (lima waktu).”[8] Maksudnya: pria (untuk salat sunah) dan wanita lebih utama salat di rumah atau hotel daripada salat di ketiga masjid tersebut. Wallahu a’lam.[9] Dibandingkan dengan salat di masjid selainnya yang tidak memiliki keutamaan pahala khusus. Karena apabila dibandingkan dengan salat di masjid yang ada keutamaan pahala khususnya, maka perbandingannya sesuai dengan keutamaannya yang terdapat dalam dalil. Contohnya dalam hadis yang sahih bahwa keutamaan salat di Masjidilharam itu seratus kali lipat salat di Masjid An-Nabawi. Wallahu a’lam[10] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[11] Ruangan yang lebih terbuka di dalam rumah, lihat perbedaan bait, hujrah, dan dar di https://irtaqi.net/2020/06/28/apa-bedanya-dar-hujrah-dan-bait/[12] Silahkan mendengarkan rekaman suara fatwa ini: http://www.albaidha.net/vb/attachmen…8&d=1435230130Tags: HajihotelmakkahsalatumrohWanita
Bismillah.Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,Syekh Al-Albani rahimahullah pernah berfatwa dengan fatwa sebagai berikut: [1]Pertanyaan:Seorang wanita bertanya, “Dalam hadis,صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في المسجد‘Salat seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada salatnya di masjid.’Apabila seorang wanita sedang berada di Makkah, apakah salatnya di hotel lebih baik daripada salat di Masjidilharam?”Jawaban Syekh Al-Albani rahimahullah:Jelas, tentulah! Yakni, salat wanita di mana pun ia berada, di negeri mana pun ia singgah, meskipun ia sedang di Makkah, atau di Madinah, atau di Baitul Maqdis, maka salatnya di tempat tinggalnya (termasuk rumah atau hotel, pent.) lebih utama daripada di masjid.Demikian pula bagi seorang laki-laki, apabila terkait dengan salat sunah, maka lebih utama ia salat sunah di rumahnya. Dan (yang lebih utama) bukan di masjid, meskipun itu di Masjidilharam. Hal ini berdasarkan dua dalil [2] berikut ini:Dalil pertama (dalil umum): Keumuman sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam  dalam kisah salat tarawih di bulan Ramadan. Saat beliau ‘alaihish shalatu wassalam mengimami orang-orang pada malam pertama, kedua, dan ketiga dengan kisah rinci yang sudah diketahui (dalam versi kisah lengkapnya, pent). Lalu, mereka berkumpul pada malam yang keempat, namun Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam tidaklah keluar mengimami, sampai sebagian orang yang lalai melempar beberapa kerikil ke pintu beliau. Kemudian beliau keluar menemui mereka sambil marah. Beliau pun bersabda kepada mereka,إنه لم يخفَ عليَّ مكانكم هذا ، وعمدًا فعلت ذلك ، فصلوا – أيها الناس – في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Bahwa aku sebenarnya tahu kehadiran kalian (di masjid untuk salat bersamaku), dan sengaja aku lakukan ini [3]. Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki [4] yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu) [5].” [6]Maka, sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).” Ini mencakup seluruh salat sunah dan mencakup seluruh salat wajib juga. [7]Ini dalil pertama, dan sebagaimana telah kami sebutkan di awal jawaban bahwa ini berarti berdalil dengan dalil umum,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Baca juga: Perbedaan antara Salat Wajib dan Salat SunahDalil kedua (dalil khusus): Dalil khusus ketika datang seorang sahabat di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya dengan pertanyaan semisal pertanyaan di atas:“Apakah saya salat sunah di masjid atau di rumah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidakkah engkau tahu betapa dekatnya rumahku dengan masjidku?” Ia pun menjawab : “Ya.” Beliau bersabda,فأفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Salat seorang laki-laki  yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Setelah kita mengetahui jawaban terkait dengan salat wanita (di hotel) tersebut. Dan kami telah tambahkan jawaban tentang masalah yang terkadang terbetik pada benak sebagian manusia, terkait dengan salat sunah bagi laki-laki. (Maka di sini perlu) saya tekankan tentang orang yang sedang berada di masjid-masjid yang memiliki keutamaan khusus, seperti Masjidilharam, Masjid An-Nabawi, dan Masjidilaqsa. Bahwa salat wajib wanita di rumahnya dan salat sunah laki-laki di rumahnya atau di tempat tinggal mana pun (hotel, dan semisalnya, pent) bukan berarti (keafdalan salat di rumah tersebut) dikecualikan jika dilakukan di Masjidilharam, atau Masjid An-Nabawi, atau Masjidilaqsa. Sehingga (tidaklah berarti) salat sunah pria atau salat wajib wanita itu lebih utama dilakukan di ketiga masjid tersebut (daripada di rumah). [8]Maksudnya begini. Sebagaimana kalian ketahui sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam dalam Shahih Muslim,صلاة في مسجدي هذا بألف صلاة مما سواه من المساجد ؛ إلا المسجد الحرام“Salat di masjidku ini (pahalanya) seribu kali lipat salat di masjid-masjid lainnya, kecuali Masjidilharam.”Dalam hadis lainnya, selain dalam Shahih Muslim, namun hadis ini adalah hadis yang sahih juga, (yaitu) dalam Shahih Ibnu Hibban dan selainnya,والصلاة في مكَّة بمائة ألف صلاة“Salat di (Masjidilharam) Makkah itu (berpahala) seratus ribu kali lipat salat.” [9]Jadi, seorang laki-laki apabila salat sunah di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat. Dan wanita pun apabila salat di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat.Akan tetapi, seorang laki-laki jika salat sunah di rumahnya dan wanita apabila salat wajib di rumahnya, maka masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat. (Ya, benar-benar) masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat.Inilah (konsekuensi) makna salat wanita itu lebih utama di rumahnya dan salat sunah laki-laki itu lebih utama di rumahnya. [Selesai Fatwa Syekh Al-Albani rahimahullah. [10]KesimpulanPertama: Salat wanita di rumahnya atau di hotel secara sendirian, atau bersama temannya di apartemen itu lebih baik dan lebih utama dibanding salatnya di Masjidilharam atau Masjid An-Nabawi. Meskipun hukum ia salat di masjid tersebut boleh. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ“Jangan kalian mencegah istri-istri kalian dari minta izin pergi ke masjid, namun (salat di) rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka (daripada di masjid).”(Hadis riwayat Abu Dawud, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud)عن أم حُمَيد امرأة أبي حميد الساعدي رضي الله عنها قالت : ” يا رسول الله : إني أحب الصلاة معك ، قال : ( قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي ، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِيDari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya senang salat bersama Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, ”Saya tahu, engkau senang salat bersamaku, tetapi salatmu di kamar tidurmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di ruang keluargamu. Dan salatmu di ruang keluargamu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di rumahmu [11]. Dan salatmu di rumahmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjid kaummu. Dan salatmu di masjid kaummu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjidku.” (HR. Ahmad, dan Syekh Al-Albani menilai hadis ini hasan dalam Kitab Shahihut Targhib wat-Tarhib)Kedua: Tidak mengapa seorang wanita salat di masjid. Terlebih lagi jika salat di masjid pada kondisi tertentu menyebabkan lebih khusyuk dan lebih semangat dalam beribadah kepada Allah semata, karena adanya gangguan kekhusyukan dan kesempurnaan salat jika dilakukan di rumah, sebagaimana fatwa Samahatul Mufti Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berikut ini:Pertanyaan:“Apa hukum salat tarawih bagi wanita di rumahnya? Dan apakah yang afdal ia salat di rumah atau di masjid?”Beliau menjawab:“Tergantung keadaannya. Jika ia mampu melakukannya di rumah, bisa kosentrasi melakukan salat tersebut dan tidak disibukkan dengan kesibukan, baik berupa mengurus anak atau perkerjaan rumah tangga (lainnya), maka salat di rumahnya lebih utama (afdal). Namun, jika ia memandang bahwa salat di masjid itu (menyebabkan) ia lebih semangat melakukannya karena ia makmum dibelakang seorang imam. Dan lebih semangat baginya dengan menyaksikan para wanita muslimah (lainnya) salat, maka dalam hal ini tidak ada larangannya.” [12]Wallahu a’lamBaca juga: Jangan Tinggalkan Salat***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[2] Maksudnya dalil tentang salat sunah bagi laki-laki lebih baik di rumah.[3] Beliau tidak keluar mengimami mereka.[4]  Maksud: al-mar’u dalam hadis di atas adalah seorang laki-laki. Berdasarkan hadis tentang salat wanita itu lebih utama di rumahnya, baik salat sunah maupun salat wajib lima waktu. Wallahu a’lam.[5] Berdasarkan dalil-dalil lainnya, maka maksud hadis ini adalah salat sunah yang disyariatkan dilakukan di masjid dan di rumah sekaligus. Jenis salat seperti inilah yang lebih utama dikerjakan di rumah. Dengan demikian, dikecualikan dari kandungan hadis ini adalah jenis salat sunah yang disyariatkan dilakukan hanya di masjid (salat Tahiyyatul Masjid) dan salat sunah yang disyariatkan berjemaah di masjid (salat tarawih, salat istisqa’, salat gerhana, salat Idul Fithri dan Adha saat hujan). Wallahu a’lam.[6] Kisah lengkapnya ada dalam Shahihul Bukhari.[7] Maksudnya, sebelum disertakan lafaz pengecualian, “kecuali salat wajib (lima waktu).”[8] Maksudnya: pria (untuk salat sunah) dan wanita lebih utama salat di rumah atau hotel daripada salat di ketiga masjid tersebut. Wallahu a’lam.[9] Dibandingkan dengan salat di masjid selainnya yang tidak memiliki keutamaan pahala khusus. Karena apabila dibandingkan dengan salat di masjid yang ada keutamaan pahala khususnya, maka perbandingannya sesuai dengan keutamaannya yang terdapat dalam dalil. Contohnya dalam hadis yang sahih bahwa keutamaan salat di Masjidilharam itu seratus kali lipat salat di Masjid An-Nabawi. Wallahu a’lam[10] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[11] Ruangan yang lebih terbuka di dalam rumah, lihat perbedaan bait, hujrah, dan dar di https://irtaqi.net/2020/06/28/apa-bedanya-dar-hujrah-dan-bait/[12] Silahkan mendengarkan rekaman suara fatwa ini: http://www.albaidha.net/vb/attachmen…8&d=1435230130Tags: HajihotelmakkahsalatumrohWanita


Bismillah.Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,Syekh Al-Albani rahimahullah pernah berfatwa dengan fatwa sebagai berikut: [1]Pertanyaan:Seorang wanita bertanya, “Dalam hadis,صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في المسجد‘Salat seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada salatnya di masjid.’Apabila seorang wanita sedang berada di Makkah, apakah salatnya di hotel lebih baik daripada salat di Masjidilharam?”Jawaban Syekh Al-Albani rahimahullah:Jelas, tentulah! Yakni, salat wanita di mana pun ia berada, di negeri mana pun ia singgah, meskipun ia sedang di Makkah, atau di Madinah, atau di Baitul Maqdis, maka salatnya di tempat tinggalnya (termasuk rumah atau hotel, pent.) lebih utama daripada di masjid.Demikian pula bagi seorang laki-laki, apabila terkait dengan salat sunah, maka lebih utama ia salat sunah di rumahnya. Dan (yang lebih utama) bukan di masjid, meskipun itu di Masjidilharam. Hal ini berdasarkan dua dalil [2] berikut ini:Dalil pertama (dalil umum): Keumuman sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam  dalam kisah salat tarawih di bulan Ramadan. Saat beliau ‘alaihish shalatu wassalam mengimami orang-orang pada malam pertama, kedua, dan ketiga dengan kisah rinci yang sudah diketahui (dalam versi kisah lengkapnya, pent). Lalu, mereka berkumpul pada malam yang keempat, namun Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam tidaklah keluar mengimami, sampai sebagian orang yang lalai melempar beberapa kerikil ke pintu beliau. Kemudian beliau keluar menemui mereka sambil marah. Beliau pun bersabda kepada mereka,إنه لم يخفَ عليَّ مكانكم هذا ، وعمدًا فعلت ذلك ، فصلوا – أيها الناس – في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Bahwa aku sebenarnya tahu kehadiran kalian (di masjid untuk salat bersamaku), dan sengaja aku lakukan ini [3]. Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki [4] yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu) [5].” [6]Maka, sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).” Ini mencakup seluruh salat sunah dan mencakup seluruh salat wajib juga. [7]Ini dalil pertama, dan sebagaimana telah kami sebutkan di awal jawaban bahwa ini berarti berdalil dengan dalil umum,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Baca juga: Perbedaan antara Salat Wajib dan Salat SunahDalil kedua (dalil khusus): Dalil khusus ketika datang seorang sahabat di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya dengan pertanyaan semisal pertanyaan di atas:“Apakah saya salat sunah di masjid atau di rumah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidakkah engkau tahu betapa dekatnya rumahku dengan masjidku?” Ia pun menjawab : “Ya.” Beliau bersabda,فأفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Salat seorang laki-laki  yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Setelah kita mengetahui jawaban terkait dengan salat wanita (di hotel) tersebut. Dan kami telah tambahkan jawaban tentang masalah yang terkadang terbetik pada benak sebagian manusia, terkait dengan salat sunah bagi laki-laki. (Maka di sini perlu) saya tekankan tentang orang yang sedang berada di masjid-masjid yang memiliki keutamaan khusus, seperti Masjidilharam, Masjid An-Nabawi, dan Masjidilaqsa. Bahwa salat wajib wanita di rumahnya dan salat sunah laki-laki di rumahnya atau di tempat tinggal mana pun (hotel, dan semisalnya, pent) bukan berarti (keafdalan salat di rumah tersebut) dikecualikan jika dilakukan di Masjidilharam, atau Masjid An-Nabawi, atau Masjidilaqsa. Sehingga (tidaklah berarti) salat sunah pria atau salat wajib wanita itu lebih utama dilakukan di ketiga masjid tersebut (daripada di rumah). [8]Maksudnya begini. Sebagaimana kalian ketahui sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam dalam Shahih Muslim,صلاة في مسجدي هذا بألف صلاة مما سواه من المساجد ؛ إلا المسجد الحرام“Salat di masjidku ini (pahalanya) seribu kali lipat salat di masjid-masjid lainnya, kecuali Masjidilharam.”Dalam hadis lainnya, selain dalam Shahih Muslim, namun hadis ini adalah hadis yang sahih juga, (yaitu) dalam Shahih Ibnu Hibban dan selainnya,والصلاة في مكَّة بمائة ألف صلاة“Salat di (Masjidilharam) Makkah itu (berpahala) seratus ribu kali lipat salat.” [9]Jadi, seorang laki-laki apabila salat sunah di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat. Dan wanita pun apabila salat di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat.Akan tetapi, seorang laki-laki jika salat sunah di rumahnya dan wanita apabila salat wajib di rumahnya, maka masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat. (Ya, benar-benar) masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat.Inilah (konsekuensi) makna salat wanita itu lebih utama di rumahnya dan salat sunah laki-laki itu lebih utama di rumahnya. [Selesai Fatwa Syekh Al-Albani rahimahullah. [10]KesimpulanPertama: Salat wanita di rumahnya atau di hotel secara sendirian, atau bersama temannya di apartemen itu lebih baik dan lebih utama dibanding salatnya di Masjidilharam atau Masjid An-Nabawi. Meskipun hukum ia salat di masjid tersebut boleh. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ“Jangan kalian mencegah istri-istri kalian dari minta izin pergi ke masjid, namun (salat di) rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka (daripada di masjid).”(Hadis riwayat Abu Dawud, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud)عن أم حُمَيد امرأة أبي حميد الساعدي رضي الله عنها قالت : ” يا رسول الله : إني أحب الصلاة معك ، قال : ( قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي ، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِيDari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya senang salat bersama Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, ”Saya tahu, engkau senang salat bersamaku, tetapi salatmu di kamar tidurmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di ruang keluargamu. Dan salatmu di ruang keluargamu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di rumahmu [11]. Dan salatmu di rumahmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjid kaummu. Dan salatmu di masjid kaummu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjidku.” (HR. Ahmad, dan Syekh Al-Albani menilai hadis ini hasan dalam Kitab Shahihut Targhib wat-Tarhib)Kedua: Tidak mengapa seorang wanita salat di masjid. Terlebih lagi jika salat di masjid pada kondisi tertentu menyebabkan lebih khusyuk dan lebih semangat dalam beribadah kepada Allah semata, karena adanya gangguan kekhusyukan dan kesempurnaan salat jika dilakukan di rumah, sebagaimana fatwa Samahatul Mufti Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berikut ini:Pertanyaan:“Apa hukum salat tarawih bagi wanita di rumahnya? Dan apakah yang afdal ia salat di rumah atau di masjid?”Beliau menjawab:“Tergantung keadaannya. Jika ia mampu melakukannya di rumah, bisa kosentrasi melakukan salat tersebut dan tidak disibukkan dengan kesibukan, baik berupa mengurus anak atau perkerjaan rumah tangga (lainnya), maka salat di rumahnya lebih utama (afdal). Namun, jika ia memandang bahwa salat di masjid itu (menyebabkan) ia lebih semangat melakukannya karena ia makmum dibelakang seorang imam. Dan lebih semangat baginya dengan menyaksikan para wanita muslimah (lainnya) salat, maka dalam hal ini tidak ada larangannya.” [12]Wallahu a’lamBaca juga: Jangan Tinggalkan Salat***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[2] Maksudnya dalil tentang salat sunah bagi laki-laki lebih baik di rumah.[3] Beliau tidak keluar mengimami mereka.[4]  Maksud: al-mar’u dalam hadis di atas adalah seorang laki-laki. Berdasarkan hadis tentang salat wanita itu lebih utama di rumahnya, baik salat sunah maupun salat wajib lima waktu. Wallahu a’lam.[5] Berdasarkan dalil-dalil lainnya, maka maksud hadis ini adalah salat sunah yang disyariatkan dilakukan di masjid dan di rumah sekaligus. Jenis salat seperti inilah yang lebih utama dikerjakan di rumah. Dengan demikian, dikecualikan dari kandungan hadis ini adalah jenis salat sunah yang disyariatkan dilakukan hanya di masjid (salat Tahiyyatul Masjid) dan salat sunah yang disyariatkan berjemaah di masjid (salat tarawih, salat istisqa’, salat gerhana, salat Idul Fithri dan Adha saat hujan). Wallahu a’lam.[6] Kisah lengkapnya ada dalam Shahihul Bukhari.[7] Maksudnya, sebelum disertakan lafaz pengecualian, “kecuali salat wajib (lima waktu).”[8] Maksudnya: pria (untuk salat sunah) dan wanita lebih utama salat di rumah atau hotel daripada salat di ketiga masjid tersebut. Wallahu a’lam.[9] Dibandingkan dengan salat di masjid selainnya yang tidak memiliki keutamaan pahala khusus. Karena apabila dibandingkan dengan salat di masjid yang ada keutamaan pahala khususnya, maka perbandingannya sesuai dengan keutamaannya yang terdapat dalam dalil. Contohnya dalam hadis yang sahih bahwa keutamaan salat di Masjidilharam itu seratus kali lipat salat di Masjid An-Nabawi. Wallahu a’lam[10] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[11] Ruangan yang lebih terbuka di dalam rumah, lihat perbedaan bait, hujrah, dan dar di https://irtaqi.net/2020/06/28/apa-bedanya-dar-hujrah-dan-bait/[12] Silahkan mendengarkan rekaman suara fatwa ini: http://www.albaidha.net/vb/attachmen…8&d=1435230130Tags: HajihotelmakkahsalatumrohWanita
Prev     Next