Nasihat Mengesankan Syaikh bin Baz di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Dia berkata, “Adakah nasihatberkenaan dengan datangnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan?” Nasihat untuk diri saya dan Anda,hendaknya kita sungguh-sungguh berdoaagar Allah Memberi kita taufik untuk beramal saleh di dalamnya, karena tidak ada jalan untuk melakukan ketaatan-ketaatan ini,kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Oleh karena itu, sepatutnya di antara doa dari masing-masing kitaadalah memohon Tuhannya agar Menolongnya melakukan ketaatan di malam tersebut, di samping bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebabnya,serta memohon kepada Allah keistikamahandan tambahan kebaikan di malam tersebut. Sungguh, jika sudah tertanam dalam diri seseorangbahwa dalam sepuluh hari tersebut ada sebuah malam yang agung,yakni Lailatul Qadar yang telah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Firmankan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar,dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1 – 3) Artinya bahwa ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu tahunyang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak tahu kapan umurnya berakhirdan barangkali dia tidak berjumpa dengan bulan ini kecuali di tahun ini saja,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mencabut nyawanya. Jika ini sudah tertanam dalam hatinya,niscaya ini menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya untuk beramal salehdalam sepuluh malam terakhir ini. Hendaknya hal ini menjadi motivasi terbesar yang mendorong Andabersemangat dalam kesungguhan beramal di sepuluh malam ini,dengan harapan Anda mendapatkan Lailatul Qadar ini, yang mana Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri bersungguh-sungguh mencarinyadan berwasiat kepada para Sahabat beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam untuk mencarinya, dan menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau,sebagaimana tersebut dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah—semoga Allah Meridainya— “Barang siapa salat saat Lailatul Qadar,niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini,sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah, di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumhilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran ini,dan mengingat-ingat ganjaran ini,serta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā agar Menolong kita beramal saleh,Memudahkan kita menambahnya,dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. Sebagai tambahan nasihat, perlu diperhatikanbahwa seseorang tidak perlu mengikuti informasi tentang mimpi-mimpiyang menyebutkan bahwa tahun iniLailatul Qadar terjadi pada tanggal kesekian atau kesekian. Mimpi-mimpi semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan,kecuali setelah selesainya sepuluh malam ini,sekadar untuk melegakan dan menggembirakan diri. Adapun jika menjadi dasar untuk beramal,maka ini bertentangan dengan perintah syariat,karena mimpi adalah takdir sedangkan hukum adalah syariat,di mana seorang harus beribadah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan takdir. ===== يَقُولُ هَلْ مِنْ نَصِيحَةٍ بِقُدُومِ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ؟ النَّصِيحَةُ لِي وَلَكُمْ أَنْ نَجْتَهِدَ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يُوَفِّقَنَا اللهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيهَا فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْقِيَامِ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ إِلَّا بِالْاِسْتِعَانَةِ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ دُعَاءِ أَحَدِنَا سُؤَالَ رَبِّهِ أَنْ يُعِينَهُ عَلَى الطَّاعَةِ فِيهَا مَعَ الْاِجْتِهَادِ عَلَى بَذْلِ الْأَسْبَابِ فِي ذَلِكَ وَسُؤَالِ اللهِ الثَّبَاتَ وَالزِّيَادَةَ مِنَ الْخَيْرِ فِيهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا حَقَّقَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ هَذِهِ الْعَشْرَ فِيهَا لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيهَا إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ أَيْ الْعِبَادَةُ فِيهَا خَيرٌ مِنْ عِبَادِةِ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ثُمَّ رَأَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مُنْتَهَى عُمُرِهِ وَأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يُدْرِكُ إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَقَرَ هَذَا فِي قَلْبِهِ كَانَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُوقُهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَلْيَكُنْ هَذَا الْحَادِي أَعْظَمَ حَادٍ يَسُوقُكَ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِجْتِهَادِ فِي الْعَمَلِ فِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ رَجَاءً أَنْ تُصِيبَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْتِمَاسِهَا وَيُوصِي أَصْحَابَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْتِمَاسِهَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ فَضْلَهَا فَيَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا وَمِمَّا يُنَبَّهُ إِلَيْهِ بَسْطًا فِي النُّصْحِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوِّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى تِطْلَابِ الرُّؤَى الْمَنَامِيَّةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا أَنَّ هَذِهِ السَّنَةَ تَكُونَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَذَا وَكَذَا أَوْ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ لَا يُعَوَّلُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْمَرَائِيِّ إِلَّا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ وَتَكُونُ لِلْاِسْتِئْنَاسِ وَالْفَرَحِ أَمَّا أَنْ تَكُونَ أَصْلًا لِلْعَمَلِ فَهَذَا يُخَالِفُ أَمْرَ الشَّرْعِ لِأَنَّ الرُّؤَى قَدَرِيَّةٌ وَالْأَحْكَامُ شَرْعِيَّةٌ وَالْعَبْدُ مُتَعَبَّدٌ بِالشَّرْعِ لَا بِالْقَدَرِ

Nasihat Mengesankan Syaikh bin Baz di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Dia berkata, “Adakah nasihatberkenaan dengan datangnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan?” Nasihat untuk diri saya dan Anda,hendaknya kita sungguh-sungguh berdoaagar Allah Memberi kita taufik untuk beramal saleh di dalamnya, karena tidak ada jalan untuk melakukan ketaatan-ketaatan ini,kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Oleh karena itu, sepatutnya di antara doa dari masing-masing kitaadalah memohon Tuhannya agar Menolongnya melakukan ketaatan di malam tersebut, di samping bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebabnya,serta memohon kepada Allah keistikamahandan tambahan kebaikan di malam tersebut. Sungguh, jika sudah tertanam dalam diri seseorangbahwa dalam sepuluh hari tersebut ada sebuah malam yang agung,yakni Lailatul Qadar yang telah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Firmankan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar,dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1 – 3) Artinya bahwa ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu tahunyang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak tahu kapan umurnya berakhirdan barangkali dia tidak berjumpa dengan bulan ini kecuali di tahun ini saja,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mencabut nyawanya. Jika ini sudah tertanam dalam hatinya,niscaya ini menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya untuk beramal salehdalam sepuluh malam terakhir ini. Hendaknya hal ini menjadi motivasi terbesar yang mendorong Andabersemangat dalam kesungguhan beramal di sepuluh malam ini,dengan harapan Anda mendapatkan Lailatul Qadar ini, yang mana Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri bersungguh-sungguh mencarinyadan berwasiat kepada para Sahabat beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam untuk mencarinya, dan menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau,sebagaimana tersebut dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah—semoga Allah Meridainya— “Barang siapa salat saat Lailatul Qadar,niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini,sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah, di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumhilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran ini,dan mengingat-ingat ganjaran ini,serta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā agar Menolong kita beramal saleh,Memudahkan kita menambahnya,dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. Sebagai tambahan nasihat, perlu diperhatikanbahwa seseorang tidak perlu mengikuti informasi tentang mimpi-mimpiyang menyebutkan bahwa tahun iniLailatul Qadar terjadi pada tanggal kesekian atau kesekian. Mimpi-mimpi semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan,kecuali setelah selesainya sepuluh malam ini,sekadar untuk melegakan dan menggembirakan diri. Adapun jika menjadi dasar untuk beramal,maka ini bertentangan dengan perintah syariat,karena mimpi adalah takdir sedangkan hukum adalah syariat,di mana seorang harus beribadah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan takdir. ===== يَقُولُ هَلْ مِنْ نَصِيحَةٍ بِقُدُومِ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ؟ النَّصِيحَةُ لِي وَلَكُمْ أَنْ نَجْتَهِدَ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يُوَفِّقَنَا اللهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيهَا فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْقِيَامِ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ إِلَّا بِالْاِسْتِعَانَةِ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ دُعَاءِ أَحَدِنَا سُؤَالَ رَبِّهِ أَنْ يُعِينَهُ عَلَى الطَّاعَةِ فِيهَا مَعَ الْاِجْتِهَادِ عَلَى بَذْلِ الْأَسْبَابِ فِي ذَلِكَ وَسُؤَالِ اللهِ الثَّبَاتَ وَالزِّيَادَةَ مِنَ الْخَيْرِ فِيهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا حَقَّقَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ هَذِهِ الْعَشْرَ فِيهَا لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيهَا إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ أَيْ الْعِبَادَةُ فِيهَا خَيرٌ مِنْ عِبَادِةِ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ثُمَّ رَأَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مُنْتَهَى عُمُرِهِ وَأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يُدْرِكُ إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَقَرَ هَذَا فِي قَلْبِهِ كَانَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُوقُهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَلْيَكُنْ هَذَا الْحَادِي أَعْظَمَ حَادٍ يَسُوقُكَ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِجْتِهَادِ فِي الْعَمَلِ فِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ رَجَاءً أَنْ تُصِيبَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْتِمَاسِهَا وَيُوصِي أَصْحَابَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْتِمَاسِهَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ فَضْلَهَا فَيَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا وَمِمَّا يُنَبَّهُ إِلَيْهِ بَسْطًا فِي النُّصْحِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوِّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى تِطْلَابِ الرُّؤَى الْمَنَامِيَّةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا أَنَّ هَذِهِ السَّنَةَ تَكُونَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَذَا وَكَذَا أَوْ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ لَا يُعَوَّلُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْمَرَائِيِّ إِلَّا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ وَتَكُونُ لِلْاِسْتِئْنَاسِ وَالْفَرَحِ أَمَّا أَنْ تَكُونَ أَصْلًا لِلْعَمَلِ فَهَذَا يُخَالِفُ أَمْرَ الشَّرْعِ لِأَنَّ الرُّؤَى قَدَرِيَّةٌ وَالْأَحْكَامُ شَرْعِيَّةٌ وَالْعَبْدُ مُتَعَبَّدٌ بِالشَّرْعِ لَا بِالْقَدَرِ
Dia berkata, “Adakah nasihatberkenaan dengan datangnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan?” Nasihat untuk diri saya dan Anda,hendaknya kita sungguh-sungguh berdoaagar Allah Memberi kita taufik untuk beramal saleh di dalamnya, karena tidak ada jalan untuk melakukan ketaatan-ketaatan ini,kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Oleh karena itu, sepatutnya di antara doa dari masing-masing kitaadalah memohon Tuhannya agar Menolongnya melakukan ketaatan di malam tersebut, di samping bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebabnya,serta memohon kepada Allah keistikamahandan tambahan kebaikan di malam tersebut. Sungguh, jika sudah tertanam dalam diri seseorangbahwa dalam sepuluh hari tersebut ada sebuah malam yang agung,yakni Lailatul Qadar yang telah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Firmankan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar,dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1 – 3) Artinya bahwa ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu tahunyang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak tahu kapan umurnya berakhirdan barangkali dia tidak berjumpa dengan bulan ini kecuali di tahun ini saja,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mencabut nyawanya. Jika ini sudah tertanam dalam hatinya,niscaya ini menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya untuk beramal salehdalam sepuluh malam terakhir ini. Hendaknya hal ini menjadi motivasi terbesar yang mendorong Andabersemangat dalam kesungguhan beramal di sepuluh malam ini,dengan harapan Anda mendapatkan Lailatul Qadar ini, yang mana Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri bersungguh-sungguh mencarinyadan berwasiat kepada para Sahabat beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam untuk mencarinya, dan menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau,sebagaimana tersebut dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah—semoga Allah Meridainya— “Barang siapa salat saat Lailatul Qadar,niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini,sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah, di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumhilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran ini,dan mengingat-ingat ganjaran ini,serta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā agar Menolong kita beramal saleh,Memudahkan kita menambahnya,dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. Sebagai tambahan nasihat, perlu diperhatikanbahwa seseorang tidak perlu mengikuti informasi tentang mimpi-mimpiyang menyebutkan bahwa tahun iniLailatul Qadar terjadi pada tanggal kesekian atau kesekian. Mimpi-mimpi semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan,kecuali setelah selesainya sepuluh malam ini,sekadar untuk melegakan dan menggembirakan diri. Adapun jika menjadi dasar untuk beramal,maka ini bertentangan dengan perintah syariat,karena mimpi adalah takdir sedangkan hukum adalah syariat,di mana seorang harus beribadah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan takdir. ===== يَقُولُ هَلْ مِنْ نَصِيحَةٍ بِقُدُومِ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ؟ النَّصِيحَةُ لِي وَلَكُمْ أَنْ نَجْتَهِدَ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يُوَفِّقَنَا اللهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيهَا فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْقِيَامِ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ إِلَّا بِالْاِسْتِعَانَةِ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ دُعَاءِ أَحَدِنَا سُؤَالَ رَبِّهِ أَنْ يُعِينَهُ عَلَى الطَّاعَةِ فِيهَا مَعَ الْاِجْتِهَادِ عَلَى بَذْلِ الْأَسْبَابِ فِي ذَلِكَ وَسُؤَالِ اللهِ الثَّبَاتَ وَالزِّيَادَةَ مِنَ الْخَيْرِ فِيهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا حَقَّقَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ هَذِهِ الْعَشْرَ فِيهَا لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيهَا إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ أَيْ الْعِبَادَةُ فِيهَا خَيرٌ مِنْ عِبَادِةِ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ثُمَّ رَأَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مُنْتَهَى عُمُرِهِ وَأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يُدْرِكُ إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَقَرَ هَذَا فِي قَلْبِهِ كَانَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُوقُهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَلْيَكُنْ هَذَا الْحَادِي أَعْظَمَ حَادٍ يَسُوقُكَ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِجْتِهَادِ فِي الْعَمَلِ فِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ رَجَاءً أَنْ تُصِيبَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْتِمَاسِهَا وَيُوصِي أَصْحَابَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْتِمَاسِهَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ فَضْلَهَا فَيَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا وَمِمَّا يُنَبَّهُ إِلَيْهِ بَسْطًا فِي النُّصْحِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوِّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى تِطْلَابِ الرُّؤَى الْمَنَامِيَّةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا أَنَّ هَذِهِ السَّنَةَ تَكُونَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَذَا وَكَذَا أَوْ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ لَا يُعَوَّلُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْمَرَائِيِّ إِلَّا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ وَتَكُونُ لِلْاِسْتِئْنَاسِ وَالْفَرَحِ أَمَّا أَنْ تَكُونَ أَصْلًا لِلْعَمَلِ فَهَذَا يُخَالِفُ أَمْرَ الشَّرْعِ لِأَنَّ الرُّؤَى قَدَرِيَّةٌ وَالْأَحْكَامُ شَرْعِيَّةٌ وَالْعَبْدُ مُتَعَبَّدٌ بِالشَّرْعِ لَا بِالْقَدَرِ


Dia berkata, “Adakah nasihatberkenaan dengan datangnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan?” Nasihat untuk diri saya dan Anda,hendaknya kita sungguh-sungguh berdoaagar Allah Memberi kita taufik untuk beramal saleh di dalamnya, karena tidak ada jalan untuk melakukan ketaatan-ketaatan ini,kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Oleh karena itu, sepatutnya di antara doa dari masing-masing kitaadalah memohon Tuhannya agar Menolongnya melakukan ketaatan di malam tersebut, di samping bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebabnya,serta memohon kepada Allah keistikamahandan tambahan kebaikan di malam tersebut. Sungguh, jika sudah tertanam dalam diri seseorangbahwa dalam sepuluh hari tersebut ada sebuah malam yang agung,yakni Lailatul Qadar yang telah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Firmankan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar,dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1 – 3) Artinya bahwa ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu tahunyang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak tahu kapan umurnya berakhirdan barangkali dia tidak berjumpa dengan bulan ini kecuali di tahun ini saja,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mencabut nyawanya. Jika ini sudah tertanam dalam hatinya,niscaya ini menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya untuk beramal salehdalam sepuluh malam terakhir ini. Hendaknya hal ini menjadi motivasi terbesar yang mendorong Andabersemangat dalam kesungguhan beramal di sepuluh malam ini,dengan harapan Anda mendapatkan Lailatul Qadar ini, yang mana Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri bersungguh-sungguh mencarinyadan berwasiat kepada para Sahabat beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam untuk mencarinya, dan menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau,sebagaimana tersebut dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah—semoga Allah Meridainya— “Barang siapa salat saat Lailatul Qadar,niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini,sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah, di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumhilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran ini,dan mengingat-ingat ganjaran ini,serta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā agar Menolong kita beramal saleh,Memudahkan kita menambahnya,dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. Sebagai tambahan nasihat, perlu diperhatikanbahwa seseorang tidak perlu mengikuti informasi tentang mimpi-mimpiyang menyebutkan bahwa tahun iniLailatul Qadar terjadi pada tanggal kesekian atau kesekian. Mimpi-mimpi semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan,kecuali setelah selesainya sepuluh malam ini,sekadar untuk melegakan dan menggembirakan diri. Adapun jika menjadi dasar untuk beramal,maka ini bertentangan dengan perintah syariat,karena mimpi adalah takdir sedangkan hukum adalah syariat,di mana seorang harus beribadah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan takdir. ===== يَقُولُ هَلْ مِنْ نَصِيحَةٍ بِقُدُومِ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ؟ النَّصِيحَةُ لِي وَلَكُمْ أَنْ نَجْتَهِدَ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يُوَفِّقَنَا اللهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيهَا فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْقِيَامِ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ إِلَّا بِالْاِسْتِعَانَةِ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ دُعَاءِ أَحَدِنَا سُؤَالَ رَبِّهِ أَنْ يُعِينَهُ عَلَى الطَّاعَةِ فِيهَا مَعَ الْاِجْتِهَادِ عَلَى بَذْلِ الْأَسْبَابِ فِي ذَلِكَ وَسُؤَالِ اللهِ الثَّبَاتَ وَالزِّيَادَةَ مِنَ الْخَيْرِ فِيهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا حَقَّقَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ هَذِهِ الْعَشْرَ فِيهَا لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيهَا إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ أَيْ الْعِبَادَةُ فِيهَا خَيرٌ مِنْ عِبَادِةِ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ثُمَّ رَأَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مُنْتَهَى عُمُرِهِ وَأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يُدْرِكُ إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَقَرَ هَذَا فِي قَلْبِهِ كَانَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُوقُهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَلْيَكُنْ هَذَا الْحَادِي أَعْظَمَ حَادٍ يَسُوقُكَ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِجْتِهَادِ فِي الْعَمَلِ فِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ رَجَاءً أَنْ تُصِيبَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْتِمَاسِهَا وَيُوصِي أَصْحَابَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْتِمَاسِهَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ فَضْلَهَا فَيَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا وَمِمَّا يُنَبَّهُ إِلَيْهِ بَسْطًا فِي النُّصْحِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوِّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى تِطْلَابِ الرُّؤَى الْمَنَامِيَّةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا أَنَّ هَذِهِ السَّنَةَ تَكُونَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَذَا وَكَذَا أَوْ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ لَا يُعَوَّلُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْمَرَائِيِّ إِلَّا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ وَتَكُونُ لِلْاِسْتِئْنَاسِ وَالْفَرَحِ أَمَّا أَنْ تَكُونَ أَصْلًا لِلْعَمَلِ فَهَذَا يُخَالِفُ أَمْرَ الشَّرْعِ لِأَنَّ الرُّؤَى قَدَرِيَّةٌ وَالْأَحْكَامُ شَرْعِيَّةٌ وَالْعَبْدُ مُتَعَبَّدٌ بِالشَّرْعِ لَا بِالْقَدَرِ

Tiga Wasiat bagi Mereka yang Hendak atau Sedang Beriktikaf

Setidaknya ada tiga wasiat berharga yang diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah kepada mereka yang hendak atau sedang melakukan iktikaf di bulan Ramadan yang mulia ini.Daftar Isi Yang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailYang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanYang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.“Barangsiapa menghidupkan (salat) malam pada bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Maksudnya adalah menghidupkan malam-malam di bulan Ramadan dengan dipenuhi rasa percaya akan adanya balasan kebaikan dan ancaman pada perintah-perintah Allah Ta’ala. Mengerjakan amal-amal di malam tersebut dengan mengharap rahmat Allah Ta’ala. Apa keutamaannya? Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.Saat engkau keluar dari rumah, baik itu dengan niat beriktikaf ataupun untuk meramaikan dan memakmurkan masjid dengan ikut serta dalam pelaksanaan salat malam dan tarawih, maka keluarlah dengan keadaan tidak ada di hati kalian, melainkan Allah Ta’ala. Keluarlah dengan penuh pengharapan akan rahmat-Nya. Sungguh, ketika engkau keluar dalam kondisi seperti ini, maka tidaklah engkau mengangkat kakimu, kecuali akan diangkat derajatmu beberapa derajat. Dan tidaklah engkau menjejakkan kakimu, kecuali dihapus darimu keburukan dan kejelekan-kejelekan.Keluarlah dengan keadaan engkau tidak berniat untuk riya’ ataupun sum’ah sama sekali. Karena Allah Ta’ala memberikan balasan kepada seorang hamba sesuai dengan kadar keikhlasannya. Sungguh merupakan kerugian bagi siapapun yang tidak bisa ikhlas dalam qiyamullail-nya. Betapa banyak kaki yang pegal dan bengkak karena lamanya berdiri di tengah malam untuk salat malam, namun tidak ada yang didapatkannya melainkan rasa capek dan lelah saja.Lalu, hal apa yang bisa menyelamatkan seorang hamba dari bahaya riya’ ini?Saudaraku, berusahalah untuk senantiasa ikhlas. Camkan dalam hatimu bahwa engkau butuh rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Keluarlah dari rumah dengan keadaan engkau merasa bahwa di hari kiamat nanti engkau butuh dengan langkah-langkah yang engkau pijakkan untuk menuju masjid ini. Saat berdiri dan bersujud, ingatlah bahwa engkau akan butuh rakaat-rakaat dan sujud-sujud tersebut saat -wal ‘iyadzhu billah- kuburanmu menjadi sempit.Sungguh, siapapun yang keluar dari rumahnya sedang hatinya telah dipenuhi dengan keikhlasan, maka akan Allah tanamkan di hatinya rasa manis dan ketenangan dalam membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Engkau akan dapati bahwa diri kita akan  menjadi khusyuk dan penuh dengan ketundukan kepada Allah Ta’ala.Seorang hamba tidaklah keluar dari rumahnya untuk beribadah ikhlas karena Allah Ta’ala, melainkan ia akan senantiasa mendapatkan taufik dan petunjuk dalam setiap gerak-gerik ibadahnya.Baca juga: Bagaimana Saya Bisa Ikhlas di Setiap Amal?Yang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahSaudaraku, jangan sampai amalan yang hukumnya sunah melalaikan dirimu dari amalan yang hukumnya wajib. Sesungguhnya cerdasnya kita dalam mengatur skala prioritas dalam beribadah termasuk salah satu sebab mendapatkan keridaan Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala tidak ingin ditaati apabila di dalamnya terdapat kemaksiatan kepada-Nya.Jika kegiatan iktikaf kita bertabrakan dengan berbakti kepada orang tua, bertabrakan dengan pemenuhan hak anak-anak, atau membuat istri melakukan hal-hal yang diharamkan, maka dahulukanlah perkara-perkara yang Allah perintahkan untuk didahulukan. Jangan khawatir terlewat dari keutamaan iktikaf, karena Allah Ta’ala pasti akan memberikanmu pahala sejauh niatan yang engkau niatkan, meskipun engkau tidak jadi melakukannya.Di dalam hadis yang sahih, Allah Ta’ala berfirman,وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه“Tidak ada amal saleh yang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal saleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam).” (HR. Bukhari no. 6502)Jika orang tuamu memintamu untuk datang dan berbakti kepadanya, maka dahulukanlah berbakti kepada keduanya daripada beriktikaf. Karena dekat dengan orang tua dan memenuhi panggilannya lebih mulia dan lebih utama daripada beriktikaf, meskipun iktikaf tersebut dilakukan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan ada seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata,يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم قالَ ارجَع فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ منَ الجانبِ الآخَرِ فقلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرَةَ قالَ وَيحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قلتُ نعَم يا رسولَ اللَّهِ قالَ فارجِع إليْها فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ من أمامِهِ فقُلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم يا رَسولَ اللَّهِ قالَ ويحَكَ الزَم رِجلَها فثمَّ الجنَّةُ“’Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari sisi yang lain. Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah! Aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatanginya dari sisi depan, aku katakan; ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya! Wahai Rasulullah!’ Rasulullah bersabda, ‘Celakalah kau! Tetaplah berada pada kedua kakinya dan di situlah terdapat surga.’” (HR. Ibnu Majah no. 2259)Wahai mereka yang mendambakan surga Allah Ta’ala! Wahai mereka yang menginginkan kesuksesan dengan mendapatkan kasih sayang Allah Ta’ala! Berbaktilah kepada kedua orang tuamu! Berbuat baiklah kepada keduanya! Hiduplah di tengah mereka! Berkatalah dengan lembut dan baik kepada keduanya! Sungguh, engkau akan mendapatkan kemuliaan dari Allah karenanya.Saudaraku, tidak mengherankan bila ada sebagian manusia yang beriktikaf, rajin beribadah, namun hatinya tetap keras. Al-Qur’an tidak membekas di hatinya. Hidupnya kacau balau. Kesemuanya itu bisa jadi karena buruknya dia dalam mengatur skala prioritas ketika beribadah. Berusahalah wahai saudaraku untuk mendahulukan dan mengutamakan amal ibadah wajib dari yang selainnya.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam BeramalKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanSaat engkau masuk ke masjid, maka masuklah dengan memberikan semua hak-hak masjid yang ada. Baik itu dengan fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Ataupun memaksimalkan waktu untuk melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi hal-hal terlarang ataupun sia-sia.Ingatlah bahwa diri kita ini sedang meninggalkan keluarga. Kita meninggalkan juga kumpul-kumpul dan canda tawa bersama sanak kerabat. Kesemuanya itu demi mengharap rahmat, ampunan, dan kecintaan Allah Ta’ala. Kesemuanya itu agar engkau bisa fokus beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai engkau hancurkan hal tersebut dengan banyak mengobrol. Engkau memindahkan obrolan dan tongkrongan yang biasa dilakukan di luar masjid ke dalam masjid. Atau bahkan, canda tawa, senda gurau berlebihan yang sampai pada tahap saling ejek dan menggunjing?!Sungguh duduknya mereka yang melakukan semua itu di rumahnya lebih baik dari melakukannya di masjid. Karena perbuatannya tersebut akan membahayakan dirinya sendiri dan mengganggu orang lain.Betapa banyak, orang yang ingin fokus beribadah menjadi terganggu karena adanya hal-hal seperti ini. Tidak jenak dalam beribadah karena kegaduhan dan keributan yang terjadi di dalam masjid. Iktikaf macam apa yang pada akhirnya mengganggu orang lain?!Syekh Muhammad Al-Amiin As-Syinqithi rahimahullah lalu menyebutkan sebuah kisah,“Aku pernah menyaksikan sendiri orang-orang saleh (saat itu aku masih kanak-kanak). Saat mereka masuk ke masjid Nabawi untuk beriktikaf, mereka berjalan dengan keadaan mata mereka selalu menunduk mengarah ke kaki. Lalu jika aku datangi mereka, mereka sedang mendirikan salat dengan ditutupi oleh tirai-tirai. Di waktu itulah aku dapati kelezatan. Bacaan Qur’an mereka terdengar. Isak tangis mereka pecah karena rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala. Kami saat itu masih kecil. Kami datang kepada mereka di antara kain-kain yang mereka jadikan pembatas dan tenda. Terdengar salah seorang dari mereka berucap, “Astaghfirullah.” (Aku memohon ampunan kepadamu ya Allah), dalam keadaan ia dipenuhi dengan rintihan dan tangisan. Sungguh apa yang aku dengar dari ucapan-ucapan mereka merupakan hal terindah yang pernah kudengar.”Ke manakah perginya orang-orang yang jujur dalam ibadahnya?! Ke manakah perginya orang-orang yang beriktikaf, lalu saat malam datang menjelang dahi-dahi mereka membekas karena banyaknya sujud yang mereka lakukan?! Ke manakah perginya mereka yang malam-malamnya dipenuhi dengan bermunajat dan beribadah kepada Allah Ta’ala?! Sungguh, telah hilang manisnya beribadah dan beriktikaf karena waktu-waktu yang ada justru dipenuhi dengan obrolan sia-sia dan tidak ada manfaatnya.Marilah saudaraku, berkacalah dan ikutilah petunjuk dan tata cara beribadah yang sudah dicontohkan para salaf terdahulu. Sungguh iktikaf adalah madrasah yang melatih seseorang untuk terbiasa berduaan dengan Allah Ta’ala saja. Jikalau bukan seperti itu, lalu untuk apa seseorang meninggalkan rumah dan keluarga yang di dalamnya ia memiliki hak-hak dan kewajiban?Lihatlah bagaimana semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beriktikaf. Beliau kencangkan sarung beliau. Beliau bangunkan semua keluarga beliau. Beliau hidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Kesemuanya itu karena besarnya keutamaan beriktikaf dan beribadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, serta besarnya keutamaan beribadah di dalam masjid.Sebagian ulama saat menafsirkan firman Allah Ta’ala,وَالْفَجْرِۙ * وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“Demi fajar, demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)Mereka berkata, “Malam yang sepuluh itu adalah sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Allah Ta’ala bersumpah dengannya di dalam kitab-Nya untuk mengingatkan akan besarnya keagungan sepuluh malam terakhir tersebut.”Berusahalah untuk jujur dalam iktikaf yang kita lakukan. Isilah hari-hari iktikaf yang ada dengan amal ibadah dan kebaikan. Jauhkanlah diri ini dari hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Masuklah ke dalam masjid dengan memberikan hak-haknya dan menghormati kedudukannya.Wallahu a’lam bisshwab.Diterjemahkan dari kitab Durusun li As-Syaikh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah dengan beberapa penyesuaian dan penambahan.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas Beribadah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: Iktikafnasihatwasiat

Tiga Wasiat bagi Mereka yang Hendak atau Sedang Beriktikaf

Setidaknya ada tiga wasiat berharga yang diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah kepada mereka yang hendak atau sedang melakukan iktikaf di bulan Ramadan yang mulia ini.Daftar Isi Yang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailYang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanYang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.“Barangsiapa menghidupkan (salat) malam pada bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Maksudnya adalah menghidupkan malam-malam di bulan Ramadan dengan dipenuhi rasa percaya akan adanya balasan kebaikan dan ancaman pada perintah-perintah Allah Ta’ala. Mengerjakan amal-amal di malam tersebut dengan mengharap rahmat Allah Ta’ala. Apa keutamaannya? Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.Saat engkau keluar dari rumah, baik itu dengan niat beriktikaf ataupun untuk meramaikan dan memakmurkan masjid dengan ikut serta dalam pelaksanaan salat malam dan tarawih, maka keluarlah dengan keadaan tidak ada di hati kalian, melainkan Allah Ta’ala. Keluarlah dengan penuh pengharapan akan rahmat-Nya. Sungguh, ketika engkau keluar dalam kondisi seperti ini, maka tidaklah engkau mengangkat kakimu, kecuali akan diangkat derajatmu beberapa derajat. Dan tidaklah engkau menjejakkan kakimu, kecuali dihapus darimu keburukan dan kejelekan-kejelekan.Keluarlah dengan keadaan engkau tidak berniat untuk riya’ ataupun sum’ah sama sekali. Karena Allah Ta’ala memberikan balasan kepada seorang hamba sesuai dengan kadar keikhlasannya. Sungguh merupakan kerugian bagi siapapun yang tidak bisa ikhlas dalam qiyamullail-nya. Betapa banyak kaki yang pegal dan bengkak karena lamanya berdiri di tengah malam untuk salat malam, namun tidak ada yang didapatkannya melainkan rasa capek dan lelah saja.Lalu, hal apa yang bisa menyelamatkan seorang hamba dari bahaya riya’ ini?Saudaraku, berusahalah untuk senantiasa ikhlas. Camkan dalam hatimu bahwa engkau butuh rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Keluarlah dari rumah dengan keadaan engkau merasa bahwa di hari kiamat nanti engkau butuh dengan langkah-langkah yang engkau pijakkan untuk menuju masjid ini. Saat berdiri dan bersujud, ingatlah bahwa engkau akan butuh rakaat-rakaat dan sujud-sujud tersebut saat -wal ‘iyadzhu billah- kuburanmu menjadi sempit.Sungguh, siapapun yang keluar dari rumahnya sedang hatinya telah dipenuhi dengan keikhlasan, maka akan Allah tanamkan di hatinya rasa manis dan ketenangan dalam membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Engkau akan dapati bahwa diri kita akan  menjadi khusyuk dan penuh dengan ketundukan kepada Allah Ta’ala.Seorang hamba tidaklah keluar dari rumahnya untuk beribadah ikhlas karena Allah Ta’ala, melainkan ia akan senantiasa mendapatkan taufik dan petunjuk dalam setiap gerak-gerik ibadahnya.Baca juga: Bagaimana Saya Bisa Ikhlas di Setiap Amal?Yang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahSaudaraku, jangan sampai amalan yang hukumnya sunah melalaikan dirimu dari amalan yang hukumnya wajib. Sesungguhnya cerdasnya kita dalam mengatur skala prioritas dalam beribadah termasuk salah satu sebab mendapatkan keridaan Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala tidak ingin ditaati apabila di dalamnya terdapat kemaksiatan kepada-Nya.Jika kegiatan iktikaf kita bertabrakan dengan berbakti kepada orang tua, bertabrakan dengan pemenuhan hak anak-anak, atau membuat istri melakukan hal-hal yang diharamkan, maka dahulukanlah perkara-perkara yang Allah perintahkan untuk didahulukan. Jangan khawatir terlewat dari keutamaan iktikaf, karena Allah Ta’ala pasti akan memberikanmu pahala sejauh niatan yang engkau niatkan, meskipun engkau tidak jadi melakukannya.Di dalam hadis yang sahih, Allah Ta’ala berfirman,وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه“Tidak ada amal saleh yang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal saleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam).” (HR. Bukhari no. 6502)Jika orang tuamu memintamu untuk datang dan berbakti kepadanya, maka dahulukanlah berbakti kepada keduanya daripada beriktikaf. Karena dekat dengan orang tua dan memenuhi panggilannya lebih mulia dan lebih utama daripada beriktikaf, meskipun iktikaf tersebut dilakukan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan ada seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata,يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم قالَ ارجَع فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ منَ الجانبِ الآخَرِ فقلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرَةَ قالَ وَيحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قلتُ نعَم يا رسولَ اللَّهِ قالَ فارجِع إليْها فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ من أمامِهِ فقُلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم يا رَسولَ اللَّهِ قالَ ويحَكَ الزَم رِجلَها فثمَّ الجنَّةُ“’Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari sisi yang lain. Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah! Aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatanginya dari sisi depan, aku katakan; ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya! Wahai Rasulullah!’ Rasulullah bersabda, ‘Celakalah kau! Tetaplah berada pada kedua kakinya dan di situlah terdapat surga.’” (HR. Ibnu Majah no. 2259)Wahai mereka yang mendambakan surga Allah Ta’ala! Wahai mereka yang menginginkan kesuksesan dengan mendapatkan kasih sayang Allah Ta’ala! Berbaktilah kepada kedua orang tuamu! Berbuat baiklah kepada keduanya! Hiduplah di tengah mereka! Berkatalah dengan lembut dan baik kepada keduanya! Sungguh, engkau akan mendapatkan kemuliaan dari Allah karenanya.Saudaraku, tidak mengherankan bila ada sebagian manusia yang beriktikaf, rajin beribadah, namun hatinya tetap keras. Al-Qur’an tidak membekas di hatinya. Hidupnya kacau balau. Kesemuanya itu bisa jadi karena buruknya dia dalam mengatur skala prioritas ketika beribadah. Berusahalah wahai saudaraku untuk mendahulukan dan mengutamakan amal ibadah wajib dari yang selainnya.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam BeramalKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanSaat engkau masuk ke masjid, maka masuklah dengan memberikan semua hak-hak masjid yang ada. Baik itu dengan fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Ataupun memaksimalkan waktu untuk melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi hal-hal terlarang ataupun sia-sia.Ingatlah bahwa diri kita ini sedang meninggalkan keluarga. Kita meninggalkan juga kumpul-kumpul dan canda tawa bersama sanak kerabat. Kesemuanya itu demi mengharap rahmat, ampunan, dan kecintaan Allah Ta’ala. Kesemuanya itu agar engkau bisa fokus beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai engkau hancurkan hal tersebut dengan banyak mengobrol. Engkau memindahkan obrolan dan tongkrongan yang biasa dilakukan di luar masjid ke dalam masjid. Atau bahkan, canda tawa, senda gurau berlebihan yang sampai pada tahap saling ejek dan menggunjing?!Sungguh duduknya mereka yang melakukan semua itu di rumahnya lebih baik dari melakukannya di masjid. Karena perbuatannya tersebut akan membahayakan dirinya sendiri dan mengganggu orang lain.Betapa banyak, orang yang ingin fokus beribadah menjadi terganggu karena adanya hal-hal seperti ini. Tidak jenak dalam beribadah karena kegaduhan dan keributan yang terjadi di dalam masjid. Iktikaf macam apa yang pada akhirnya mengganggu orang lain?!Syekh Muhammad Al-Amiin As-Syinqithi rahimahullah lalu menyebutkan sebuah kisah,“Aku pernah menyaksikan sendiri orang-orang saleh (saat itu aku masih kanak-kanak). Saat mereka masuk ke masjid Nabawi untuk beriktikaf, mereka berjalan dengan keadaan mata mereka selalu menunduk mengarah ke kaki. Lalu jika aku datangi mereka, mereka sedang mendirikan salat dengan ditutupi oleh tirai-tirai. Di waktu itulah aku dapati kelezatan. Bacaan Qur’an mereka terdengar. Isak tangis mereka pecah karena rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala. Kami saat itu masih kecil. Kami datang kepada mereka di antara kain-kain yang mereka jadikan pembatas dan tenda. Terdengar salah seorang dari mereka berucap, “Astaghfirullah.” (Aku memohon ampunan kepadamu ya Allah), dalam keadaan ia dipenuhi dengan rintihan dan tangisan. Sungguh apa yang aku dengar dari ucapan-ucapan mereka merupakan hal terindah yang pernah kudengar.”Ke manakah perginya orang-orang yang jujur dalam ibadahnya?! Ke manakah perginya orang-orang yang beriktikaf, lalu saat malam datang menjelang dahi-dahi mereka membekas karena banyaknya sujud yang mereka lakukan?! Ke manakah perginya mereka yang malam-malamnya dipenuhi dengan bermunajat dan beribadah kepada Allah Ta’ala?! Sungguh, telah hilang manisnya beribadah dan beriktikaf karena waktu-waktu yang ada justru dipenuhi dengan obrolan sia-sia dan tidak ada manfaatnya.Marilah saudaraku, berkacalah dan ikutilah petunjuk dan tata cara beribadah yang sudah dicontohkan para salaf terdahulu. Sungguh iktikaf adalah madrasah yang melatih seseorang untuk terbiasa berduaan dengan Allah Ta’ala saja. Jikalau bukan seperti itu, lalu untuk apa seseorang meninggalkan rumah dan keluarga yang di dalamnya ia memiliki hak-hak dan kewajiban?Lihatlah bagaimana semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beriktikaf. Beliau kencangkan sarung beliau. Beliau bangunkan semua keluarga beliau. Beliau hidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Kesemuanya itu karena besarnya keutamaan beriktikaf dan beribadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, serta besarnya keutamaan beribadah di dalam masjid.Sebagian ulama saat menafsirkan firman Allah Ta’ala,وَالْفَجْرِۙ * وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“Demi fajar, demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)Mereka berkata, “Malam yang sepuluh itu adalah sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Allah Ta’ala bersumpah dengannya di dalam kitab-Nya untuk mengingatkan akan besarnya keagungan sepuluh malam terakhir tersebut.”Berusahalah untuk jujur dalam iktikaf yang kita lakukan. Isilah hari-hari iktikaf yang ada dengan amal ibadah dan kebaikan. Jauhkanlah diri ini dari hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Masuklah ke dalam masjid dengan memberikan hak-haknya dan menghormati kedudukannya.Wallahu a’lam bisshwab.Diterjemahkan dari kitab Durusun li As-Syaikh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah dengan beberapa penyesuaian dan penambahan.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas Beribadah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: Iktikafnasihatwasiat
Setidaknya ada tiga wasiat berharga yang diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah kepada mereka yang hendak atau sedang melakukan iktikaf di bulan Ramadan yang mulia ini.Daftar Isi Yang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailYang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanYang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.“Barangsiapa menghidupkan (salat) malam pada bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Maksudnya adalah menghidupkan malam-malam di bulan Ramadan dengan dipenuhi rasa percaya akan adanya balasan kebaikan dan ancaman pada perintah-perintah Allah Ta’ala. Mengerjakan amal-amal di malam tersebut dengan mengharap rahmat Allah Ta’ala. Apa keutamaannya? Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.Saat engkau keluar dari rumah, baik itu dengan niat beriktikaf ataupun untuk meramaikan dan memakmurkan masjid dengan ikut serta dalam pelaksanaan salat malam dan tarawih, maka keluarlah dengan keadaan tidak ada di hati kalian, melainkan Allah Ta’ala. Keluarlah dengan penuh pengharapan akan rahmat-Nya. Sungguh, ketika engkau keluar dalam kondisi seperti ini, maka tidaklah engkau mengangkat kakimu, kecuali akan diangkat derajatmu beberapa derajat. Dan tidaklah engkau menjejakkan kakimu, kecuali dihapus darimu keburukan dan kejelekan-kejelekan.Keluarlah dengan keadaan engkau tidak berniat untuk riya’ ataupun sum’ah sama sekali. Karena Allah Ta’ala memberikan balasan kepada seorang hamba sesuai dengan kadar keikhlasannya. Sungguh merupakan kerugian bagi siapapun yang tidak bisa ikhlas dalam qiyamullail-nya. Betapa banyak kaki yang pegal dan bengkak karena lamanya berdiri di tengah malam untuk salat malam, namun tidak ada yang didapatkannya melainkan rasa capek dan lelah saja.Lalu, hal apa yang bisa menyelamatkan seorang hamba dari bahaya riya’ ini?Saudaraku, berusahalah untuk senantiasa ikhlas. Camkan dalam hatimu bahwa engkau butuh rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Keluarlah dari rumah dengan keadaan engkau merasa bahwa di hari kiamat nanti engkau butuh dengan langkah-langkah yang engkau pijakkan untuk menuju masjid ini. Saat berdiri dan bersujud, ingatlah bahwa engkau akan butuh rakaat-rakaat dan sujud-sujud tersebut saat -wal ‘iyadzhu billah- kuburanmu menjadi sempit.Sungguh, siapapun yang keluar dari rumahnya sedang hatinya telah dipenuhi dengan keikhlasan, maka akan Allah tanamkan di hatinya rasa manis dan ketenangan dalam membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Engkau akan dapati bahwa diri kita akan  menjadi khusyuk dan penuh dengan ketundukan kepada Allah Ta’ala.Seorang hamba tidaklah keluar dari rumahnya untuk beribadah ikhlas karena Allah Ta’ala, melainkan ia akan senantiasa mendapatkan taufik dan petunjuk dalam setiap gerak-gerik ibadahnya.Baca juga: Bagaimana Saya Bisa Ikhlas di Setiap Amal?Yang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahSaudaraku, jangan sampai amalan yang hukumnya sunah melalaikan dirimu dari amalan yang hukumnya wajib. Sesungguhnya cerdasnya kita dalam mengatur skala prioritas dalam beribadah termasuk salah satu sebab mendapatkan keridaan Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala tidak ingin ditaati apabila di dalamnya terdapat kemaksiatan kepada-Nya.Jika kegiatan iktikaf kita bertabrakan dengan berbakti kepada orang tua, bertabrakan dengan pemenuhan hak anak-anak, atau membuat istri melakukan hal-hal yang diharamkan, maka dahulukanlah perkara-perkara yang Allah perintahkan untuk didahulukan. Jangan khawatir terlewat dari keutamaan iktikaf, karena Allah Ta’ala pasti akan memberikanmu pahala sejauh niatan yang engkau niatkan, meskipun engkau tidak jadi melakukannya.Di dalam hadis yang sahih, Allah Ta’ala berfirman,وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه“Tidak ada amal saleh yang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal saleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam).” (HR. Bukhari no. 6502)Jika orang tuamu memintamu untuk datang dan berbakti kepadanya, maka dahulukanlah berbakti kepada keduanya daripada beriktikaf. Karena dekat dengan orang tua dan memenuhi panggilannya lebih mulia dan lebih utama daripada beriktikaf, meskipun iktikaf tersebut dilakukan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan ada seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata,يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم قالَ ارجَع فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ منَ الجانبِ الآخَرِ فقلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرَةَ قالَ وَيحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قلتُ نعَم يا رسولَ اللَّهِ قالَ فارجِع إليْها فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ من أمامِهِ فقُلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم يا رَسولَ اللَّهِ قالَ ويحَكَ الزَم رِجلَها فثمَّ الجنَّةُ“’Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari sisi yang lain. Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah! Aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatanginya dari sisi depan, aku katakan; ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya! Wahai Rasulullah!’ Rasulullah bersabda, ‘Celakalah kau! Tetaplah berada pada kedua kakinya dan di situlah terdapat surga.’” (HR. Ibnu Majah no. 2259)Wahai mereka yang mendambakan surga Allah Ta’ala! Wahai mereka yang menginginkan kesuksesan dengan mendapatkan kasih sayang Allah Ta’ala! Berbaktilah kepada kedua orang tuamu! Berbuat baiklah kepada keduanya! Hiduplah di tengah mereka! Berkatalah dengan lembut dan baik kepada keduanya! Sungguh, engkau akan mendapatkan kemuliaan dari Allah karenanya.Saudaraku, tidak mengherankan bila ada sebagian manusia yang beriktikaf, rajin beribadah, namun hatinya tetap keras. Al-Qur’an tidak membekas di hatinya. Hidupnya kacau balau. Kesemuanya itu bisa jadi karena buruknya dia dalam mengatur skala prioritas ketika beribadah. Berusahalah wahai saudaraku untuk mendahulukan dan mengutamakan amal ibadah wajib dari yang selainnya.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam BeramalKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanSaat engkau masuk ke masjid, maka masuklah dengan memberikan semua hak-hak masjid yang ada. Baik itu dengan fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Ataupun memaksimalkan waktu untuk melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi hal-hal terlarang ataupun sia-sia.Ingatlah bahwa diri kita ini sedang meninggalkan keluarga. Kita meninggalkan juga kumpul-kumpul dan canda tawa bersama sanak kerabat. Kesemuanya itu demi mengharap rahmat, ampunan, dan kecintaan Allah Ta’ala. Kesemuanya itu agar engkau bisa fokus beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai engkau hancurkan hal tersebut dengan banyak mengobrol. Engkau memindahkan obrolan dan tongkrongan yang biasa dilakukan di luar masjid ke dalam masjid. Atau bahkan, canda tawa, senda gurau berlebihan yang sampai pada tahap saling ejek dan menggunjing?!Sungguh duduknya mereka yang melakukan semua itu di rumahnya lebih baik dari melakukannya di masjid. Karena perbuatannya tersebut akan membahayakan dirinya sendiri dan mengganggu orang lain.Betapa banyak, orang yang ingin fokus beribadah menjadi terganggu karena adanya hal-hal seperti ini. Tidak jenak dalam beribadah karena kegaduhan dan keributan yang terjadi di dalam masjid. Iktikaf macam apa yang pada akhirnya mengganggu orang lain?!Syekh Muhammad Al-Amiin As-Syinqithi rahimahullah lalu menyebutkan sebuah kisah,“Aku pernah menyaksikan sendiri orang-orang saleh (saat itu aku masih kanak-kanak). Saat mereka masuk ke masjid Nabawi untuk beriktikaf, mereka berjalan dengan keadaan mata mereka selalu menunduk mengarah ke kaki. Lalu jika aku datangi mereka, mereka sedang mendirikan salat dengan ditutupi oleh tirai-tirai. Di waktu itulah aku dapati kelezatan. Bacaan Qur’an mereka terdengar. Isak tangis mereka pecah karena rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala. Kami saat itu masih kecil. Kami datang kepada mereka di antara kain-kain yang mereka jadikan pembatas dan tenda. Terdengar salah seorang dari mereka berucap, “Astaghfirullah.” (Aku memohon ampunan kepadamu ya Allah), dalam keadaan ia dipenuhi dengan rintihan dan tangisan. Sungguh apa yang aku dengar dari ucapan-ucapan mereka merupakan hal terindah yang pernah kudengar.”Ke manakah perginya orang-orang yang jujur dalam ibadahnya?! Ke manakah perginya orang-orang yang beriktikaf, lalu saat malam datang menjelang dahi-dahi mereka membekas karena banyaknya sujud yang mereka lakukan?! Ke manakah perginya mereka yang malam-malamnya dipenuhi dengan bermunajat dan beribadah kepada Allah Ta’ala?! Sungguh, telah hilang manisnya beribadah dan beriktikaf karena waktu-waktu yang ada justru dipenuhi dengan obrolan sia-sia dan tidak ada manfaatnya.Marilah saudaraku, berkacalah dan ikutilah petunjuk dan tata cara beribadah yang sudah dicontohkan para salaf terdahulu. Sungguh iktikaf adalah madrasah yang melatih seseorang untuk terbiasa berduaan dengan Allah Ta’ala saja. Jikalau bukan seperti itu, lalu untuk apa seseorang meninggalkan rumah dan keluarga yang di dalamnya ia memiliki hak-hak dan kewajiban?Lihatlah bagaimana semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beriktikaf. Beliau kencangkan sarung beliau. Beliau bangunkan semua keluarga beliau. Beliau hidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Kesemuanya itu karena besarnya keutamaan beriktikaf dan beribadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, serta besarnya keutamaan beribadah di dalam masjid.Sebagian ulama saat menafsirkan firman Allah Ta’ala,وَالْفَجْرِۙ * وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“Demi fajar, demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)Mereka berkata, “Malam yang sepuluh itu adalah sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Allah Ta’ala bersumpah dengannya di dalam kitab-Nya untuk mengingatkan akan besarnya keagungan sepuluh malam terakhir tersebut.”Berusahalah untuk jujur dalam iktikaf yang kita lakukan. Isilah hari-hari iktikaf yang ada dengan amal ibadah dan kebaikan. Jauhkanlah diri ini dari hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Masuklah ke dalam masjid dengan memberikan hak-haknya dan menghormati kedudukannya.Wallahu a’lam bisshwab.Diterjemahkan dari kitab Durusun li As-Syaikh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah dengan beberapa penyesuaian dan penambahan.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas Beribadah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: Iktikafnasihatwasiat


Setidaknya ada tiga wasiat berharga yang diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah kepada mereka yang hendak atau sedang melakukan iktikaf di bulan Ramadan yang mulia ini.Daftar Isi Yang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailYang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanYang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.“Barangsiapa menghidupkan (salat) malam pada bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Maksudnya adalah menghidupkan malam-malam di bulan Ramadan dengan dipenuhi rasa percaya akan adanya balasan kebaikan dan ancaman pada perintah-perintah Allah Ta’ala. Mengerjakan amal-amal di malam tersebut dengan mengharap rahmat Allah Ta’ala. Apa keutamaannya? Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.Saat engkau keluar dari rumah, baik itu dengan niat beriktikaf ataupun untuk meramaikan dan memakmurkan masjid dengan ikut serta dalam pelaksanaan salat malam dan tarawih, maka keluarlah dengan keadaan tidak ada di hati kalian, melainkan Allah Ta’ala. Keluarlah dengan penuh pengharapan akan rahmat-Nya. Sungguh, ketika engkau keluar dalam kondisi seperti ini, maka tidaklah engkau mengangkat kakimu, kecuali akan diangkat derajatmu beberapa derajat. Dan tidaklah engkau menjejakkan kakimu, kecuali dihapus darimu keburukan dan kejelekan-kejelekan.Keluarlah dengan keadaan engkau tidak berniat untuk riya’ ataupun sum’ah sama sekali. Karena Allah Ta’ala memberikan balasan kepada seorang hamba sesuai dengan kadar keikhlasannya. Sungguh merupakan kerugian bagi siapapun yang tidak bisa ikhlas dalam qiyamullail-nya. Betapa banyak kaki yang pegal dan bengkak karena lamanya berdiri di tengah malam untuk salat malam, namun tidak ada yang didapatkannya melainkan rasa capek dan lelah saja.Lalu, hal apa yang bisa menyelamatkan seorang hamba dari bahaya riya’ ini?Saudaraku, berusahalah untuk senantiasa ikhlas. Camkan dalam hatimu bahwa engkau butuh rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Keluarlah dari rumah dengan keadaan engkau merasa bahwa di hari kiamat nanti engkau butuh dengan langkah-langkah yang engkau pijakkan untuk menuju masjid ini. Saat berdiri dan bersujud, ingatlah bahwa engkau akan butuh rakaat-rakaat dan sujud-sujud tersebut saat -wal ‘iyadzhu billah- kuburanmu menjadi sempit.Sungguh, siapapun yang keluar dari rumahnya sedang hatinya telah dipenuhi dengan keikhlasan, maka akan Allah tanamkan di hatinya rasa manis dan ketenangan dalam membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Engkau akan dapati bahwa diri kita akan  menjadi khusyuk dan penuh dengan ketundukan kepada Allah Ta’ala.Seorang hamba tidaklah keluar dari rumahnya untuk beribadah ikhlas karena Allah Ta’ala, melainkan ia akan senantiasa mendapatkan taufik dan petunjuk dalam setiap gerak-gerik ibadahnya.Baca juga: Bagaimana Saya Bisa Ikhlas di Setiap Amal?Yang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahSaudaraku, jangan sampai amalan yang hukumnya sunah melalaikan dirimu dari amalan yang hukumnya wajib. Sesungguhnya cerdasnya kita dalam mengatur skala prioritas dalam beribadah termasuk salah satu sebab mendapatkan keridaan Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala tidak ingin ditaati apabila di dalamnya terdapat kemaksiatan kepada-Nya.Jika kegiatan iktikaf kita bertabrakan dengan berbakti kepada orang tua, bertabrakan dengan pemenuhan hak anak-anak, atau membuat istri melakukan hal-hal yang diharamkan, maka dahulukanlah perkara-perkara yang Allah perintahkan untuk didahulukan. Jangan khawatir terlewat dari keutamaan iktikaf, karena Allah Ta’ala pasti akan memberikanmu pahala sejauh niatan yang engkau niatkan, meskipun engkau tidak jadi melakukannya.Di dalam hadis yang sahih, Allah Ta’ala berfirman,وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه“Tidak ada amal saleh yang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal saleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam).” (HR. Bukhari no. 6502)Jika orang tuamu memintamu untuk datang dan berbakti kepadanya, maka dahulukanlah berbakti kepada keduanya daripada beriktikaf. Karena dekat dengan orang tua dan memenuhi panggilannya lebih mulia dan lebih utama daripada beriktikaf, meskipun iktikaf tersebut dilakukan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan ada seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata,يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم قالَ ارجَع فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ منَ الجانبِ الآخَرِ فقلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرَةَ قالَ وَيحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قلتُ نعَم يا رسولَ اللَّهِ قالَ فارجِع إليْها فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ من أمامِهِ فقُلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم يا رَسولَ اللَّهِ قالَ ويحَكَ الزَم رِجلَها فثمَّ الجنَّةُ“’Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari sisi yang lain. Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah! Aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatanginya dari sisi depan, aku katakan; ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya! Wahai Rasulullah!’ Rasulullah bersabda, ‘Celakalah kau! Tetaplah berada pada kedua kakinya dan di situlah terdapat surga.’” (HR. Ibnu Majah no. 2259)Wahai mereka yang mendambakan surga Allah Ta’ala! Wahai mereka yang menginginkan kesuksesan dengan mendapatkan kasih sayang Allah Ta’ala! Berbaktilah kepada kedua orang tuamu! Berbuat baiklah kepada keduanya! Hiduplah di tengah mereka! Berkatalah dengan lembut dan baik kepada keduanya! Sungguh, engkau akan mendapatkan kemuliaan dari Allah karenanya.Saudaraku, tidak mengherankan bila ada sebagian manusia yang beriktikaf, rajin beribadah, namun hatinya tetap keras. Al-Qur’an tidak membekas di hatinya. Hidupnya kacau balau. Kesemuanya itu bisa jadi karena buruknya dia dalam mengatur skala prioritas ketika beribadah. Berusahalah wahai saudaraku untuk mendahulukan dan mengutamakan amal ibadah wajib dari yang selainnya.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam BeramalKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanSaat engkau masuk ke masjid, maka masuklah dengan memberikan semua hak-hak masjid yang ada. Baik itu dengan fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Ataupun memaksimalkan waktu untuk melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi hal-hal terlarang ataupun sia-sia.Ingatlah bahwa diri kita ini sedang meninggalkan keluarga. Kita meninggalkan juga kumpul-kumpul dan canda tawa bersama sanak kerabat. Kesemuanya itu demi mengharap rahmat, ampunan, dan kecintaan Allah Ta’ala. Kesemuanya itu agar engkau bisa fokus beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai engkau hancurkan hal tersebut dengan banyak mengobrol. Engkau memindahkan obrolan dan tongkrongan yang biasa dilakukan di luar masjid ke dalam masjid. Atau bahkan, canda tawa, senda gurau berlebihan yang sampai pada tahap saling ejek dan menggunjing?!Sungguh duduknya mereka yang melakukan semua itu di rumahnya lebih baik dari melakukannya di masjid. Karena perbuatannya tersebut akan membahayakan dirinya sendiri dan mengganggu orang lain.Betapa banyak, orang yang ingin fokus beribadah menjadi terganggu karena adanya hal-hal seperti ini. Tidak jenak dalam beribadah karena kegaduhan dan keributan yang terjadi di dalam masjid. Iktikaf macam apa yang pada akhirnya mengganggu orang lain?!Syekh Muhammad Al-Amiin As-Syinqithi rahimahullah lalu menyebutkan sebuah kisah,“Aku pernah menyaksikan sendiri orang-orang saleh (saat itu aku masih kanak-kanak). Saat mereka masuk ke masjid Nabawi untuk beriktikaf, mereka berjalan dengan keadaan mata mereka selalu menunduk mengarah ke kaki. Lalu jika aku datangi mereka, mereka sedang mendirikan salat dengan ditutupi oleh tirai-tirai. Di waktu itulah aku dapati kelezatan. Bacaan Qur’an mereka terdengar. Isak tangis mereka pecah karena rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala. Kami saat itu masih kecil. Kami datang kepada mereka di antara kain-kain yang mereka jadikan pembatas dan tenda. Terdengar salah seorang dari mereka berucap, “Astaghfirullah.” (Aku memohon ampunan kepadamu ya Allah), dalam keadaan ia dipenuhi dengan rintihan dan tangisan. Sungguh apa yang aku dengar dari ucapan-ucapan mereka merupakan hal terindah yang pernah kudengar.”Ke manakah perginya orang-orang yang jujur dalam ibadahnya?! Ke manakah perginya orang-orang yang beriktikaf, lalu saat malam datang menjelang dahi-dahi mereka membekas karena banyaknya sujud yang mereka lakukan?! Ke manakah perginya mereka yang malam-malamnya dipenuhi dengan bermunajat dan beribadah kepada Allah Ta’ala?! Sungguh, telah hilang manisnya beribadah dan beriktikaf karena waktu-waktu yang ada justru dipenuhi dengan obrolan sia-sia dan tidak ada manfaatnya.Marilah saudaraku, berkacalah dan ikutilah petunjuk dan tata cara beribadah yang sudah dicontohkan para salaf terdahulu. Sungguh iktikaf adalah madrasah yang melatih seseorang untuk terbiasa berduaan dengan Allah Ta’ala saja. Jikalau bukan seperti itu, lalu untuk apa seseorang meninggalkan rumah dan keluarga yang di dalamnya ia memiliki hak-hak dan kewajiban?Lihatlah bagaimana semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beriktikaf. Beliau kencangkan sarung beliau. Beliau bangunkan semua keluarga beliau. Beliau hidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Kesemuanya itu karena besarnya keutamaan beriktikaf dan beribadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, serta besarnya keutamaan beribadah di dalam masjid.Sebagian ulama saat menafsirkan firman Allah Ta’ala,وَالْفَجْرِۙ * وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“Demi fajar, demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)Mereka berkata, “Malam yang sepuluh itu adalah sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Allah Ta’ala bersumpah dengannya di dalam kitab-Nya untuk mengingatkan akan besarnya keagungan sepuluh malam terakhir tersebut.”Berusahalah untuk jujur dalam iktikaf yang kita lakukan. Isilah hari-hari iktikaf yang ada dengan amal ibadah dan kebaikan. Jauhkanlah diri ini dari hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Masuklah ke dalam masjid dengan memberikan hak-haknya dan menghormati kedudukannya.Wallahu a’lam bisshwab.Diterjemahkan dari kitab Durusun li As-Syaikh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah dengan beberapa penyesuaian dan penambahan.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas Beribadah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: Iktikafnasihatwasiat

Beberapa Amalan yang Besar Pahalanya di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Barang siapa yang Salat Malam di sepuluh malam terakhir, ia pasti mendapat Lailatul Qadar. Ini adalah hari-hari dan malam-malam yang agung, disyariatkan bagi seorang mukmin untuk memanfaatkannyadengan berbagai bentuk kebaikan, seperti membaca, menadaburi dan memahami al-Quran, bertasbih, bertahlil, bertakbir, beristighfar,bersedekah, menjenguk orang sakit,mengantarkan jenazah ke pemakaman, dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya,demi mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Berlomba-lomba dan bersegera dalam segala kebaikan. Janganlah ia menjadi seperti orang-orang yang berpaling dan lalaiyang melewati waktu-waktu yang penuh kebaikan dengan kelalaian, maka ia harus melawan nafsunya,melawan hawa nafsunya dalam hal ini, dan bersegera menjemput sebab-sebab kebaikan dan waktu-waktu yang baik. Oleh sebab itu, para salaf radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum selalu memotivasi untuk memanfaatkan keutamaan-keutamaan inidengan membaca al-Quran, ibadah, salat, zikir,sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya, juga dengan iktikaf dan lain sebagainya. Ini adalah waktu yang terus berlalu dengan hal-hal yang tersimpan di dalamnya.Ada orang yang menyimpan di dalamnya kebaikan dan amal saleh,dan ada orang lain yang menyimpan di dalamnya keburukan dan amal kejelekan. La haula wa la quwwata illa billah. Sedangkan orang yang berakal, cerdik, dan cerdasadalah orang yang berusaha untuk menyimpan kebaikan di dalamnya, seperti banyak membaca al-Quran,banyak bertasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, juga banyak berdoa,banyak melakukan salat, istighfar, sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Yakni ia memberi perhatian besar pada hari-hari dan malam-malam ini,karena ini adalah hari-hari yang terbatas, ia akan berlalu bersama yang ada di dalamnya. Orang yang cerdas akan memperhatikannya dan mengkhususkannya dengan perhatian lebih,karena mengharap pahala Allah dan takut dari siksa-Nya.Kita memohon kepada Allah taufik, penerimaan, dan ampunan bagi kita semua ==== مَنْ قَامَ الْعَشْرَ الْأَخِيرَةَ أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ هَذِهِ أَيَّامٌ عَظِيمَةٌ وَلَيَالِي عَظِيمَةٌ يُشْرَعُ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَغْتَنِمَهَا بِأَنْوَاعِ الْخَيْرِ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَالتَّعَقُّلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالاِسْتِغْفَارِ وَالصَّدَقَةِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَهُ وَيُنَافِسُ وَيُسَارِعُ فِي كُلِّ خَيْرٍ لَا يَكُنْ كَالْمُعْرِضِيْنَ وَالْغَافِلِيْنَ تَمُرُّهُمْ أَوْقَاتُ الْفَضَائِلِ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ بَلْ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ فِيْهِ وَيُسَارِعُ أَسْبَابَ الْخَيْرِ وَأَوْقَاتَ الْخَيْرِ وَلِهَذَا كَانَ السَّلَفُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَأَرْضَاهُمْ يُحَرِّضُونَ عَلَى اغْتِنَامِ هَذِهِ الْفَضَائِلِ بِالْقِرَاءَةِ وَالتَّعَبُّدِ وَالصَّلَاةِ وَالذِّكْرُ وَالصَّدَقَاتِ وَغَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ وَالِاعْتِكَافِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَهِيَ أَوْقَاتٌ تَمُرُّ بِمَا فِيهَا خَزَائِنُ هَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الْخَيْرَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَهَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الشَّرَّ وَالْعَمَلَ السَّيِّءَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَالْعَاقِلُ وَالْحَازِمُ وَالْكَيِّسُ الذَّيْ يَحْرِصُ أَنْ يَخْزِنَ فِيهَا الْخَيْرَ مِنْ كَثْرَةِ الْقِرَاءَةِ كَثْرَةِ التَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ كَثْرَةِ الدُّعَاءِ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ كَثْرَةِ الِاسْتِغْفَارِ كَثْرَةِ الصَّدَقَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَعْنِي يَعْتَنِي بِهَذِهِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي لِأَنَّهَا أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ وَمَحْدُودَةٌ تَفُوْتُ بِمَا فِيهَا فَالْحَازِمُ يَعْتَنِي بِهَا وَيَخُصُّهَا بِمَزِيدِ عِنَايَةٍ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ نَسْأَلُ اللهَ لِلْجَمِيعِ التَّوْفِيقَ وَالْقَبُولَ وَالْمَغْفِرَةَ

Beberapa Amalan yang Besar Pahalanya di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Barang siapa yang Salat Malam di sepuluh malam terakhir, ia pasti mendapat Lailatul Qadar. Ini adalah hari-hari dan malam-malam yang agung, disyariatkan bagi seorang mukmin untuk memanfaatkannyadengan berbagai bentuk kebaikan, seperti membaca, menadaburi dan memahami al-Quran, bertasbih, bertahlil, bertakbir, beristighfar,bersedekah, menjenguk orang sakit,mengantarkan jenazah ke pemakaman, dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya,demi mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Berlomba-lomba dan bersegera dalam segala kebaikan. Janganlah ia menjadi seperti orang-orang yang berpaling dan lalaiyang melewati waktu-waktu yang penuh kebaikan dengan kelalaian, maka ia harus melawan nafsunya,melawan hawa nafsunya dalam hal ini, dan bersegera menjemput sebab-sebab kebaikan dan waktu-waktu yang baik. Oleh sebab itu, para salaf radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum selalu memotivasi untuk memanfaatkan keutamaan-keutamaan inidengan membaca al-Quran, ibadah, salat, zikir,sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya, juga dengan iktikaf dan lain sebagainya. Ini adalah waktu yang terus berlalu dengan hal-hal yang tersimpan di dalamnya.Ada orang yang menyimpan di dalamnya kebaikan dan amal saleh,dan ada orang lain yang menyimpan di dalamnya keburukan dan amal kejelekan. La haula wa la quwwata illa billah. Sedangkan orang yang berakal, cerdik, dan cerdasadalah orang yang berusaha untuk menyimpan kebaikan di dalamnya, seperti banyak membaca al-Quran,banyak bertasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, juga banyak berdoa,banyak melakukan salat, istighfar, sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Yakni ia memberi perhatian besar pada hari-hari dan malam-malam ini,karena ini adalah hari-hari yang terbatas, ia akan berlalu bersama yang ada di dalamnya. Orang yang cerdas akan memperhatikannya dan mengkhususkannya dengan perhatian lebih,karena mengharap pahala Allah dan takut dari siksa-Nya.Kita memohon kepada Allah taufik, penerimaan, dan ampunan bagi kita semua ==== مَنْ قَامَ الْعَشْرَ الْأَخِيرَةَ أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ هَذِهِ أَيَّامٌ عَظِيمَةٌ وَلَيَالِي عَظِيمَةٌ يُشْرَعُ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَغْتَنِمَهَا بِأَنْوَاعِ الْخَيْرِ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَالتَّعَقُّلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالاِسْتِغْفَارِ وَالصَّدَقَةِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَهُ وَيُنَافِسُ وَيُسَارِعُ فِي كُلِّ خَيْرٍ لَا يَكُنْ كَالْمُعْرِضِيْنَ وَالْغَافِلِيْنَ تَمُرُّهُمْ أَوْقَاتُ الْفَضَائِلِ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ بَلْ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ فِيْهِ وَيُسَارِعُ أَسْبَابَ الْخَيْرِ وَأَوْقَاتَ الْخَيْرِ وَلِهَذَا كَانَ السَّلَفُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَأَرْضَاهُمْ يُحَرِّضُونَ عَلَى اغْتِنَامِ هَذِهِ الْفَضَائِلِ بِالْقِرَاءَةِ وَالتَّعَبُّدِ وَالصَّلَاةِ وَالذِّكْرُ وَالصَّدَقَاتِ وَغَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ وَالِاعْتِكَافِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَهِيَ أَوْقَاتٌ تَمُرُّ بِمَا فِيهَا خَزَائِنُ هَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الْخَيْرَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَهَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الشَّرَّ وَالْعَمَلَ السَّيِّءَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَالْعَاقِلُ وَالْحَازِمُ وَالْكَيِّسُ الذَّيْ يَحْرِصُ أَنْ يَخْزِنَ فِيهَا الْخَيْرَ مِنْ كَثْرَةِ الْقِرَاءَةِ كَثْرَةِ التَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ كَثْرَةِ الدُّعَاءِ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ كَثْرَةِ الِاسْتِغْفَارِ كَثْرَةِ الصَّدَقَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَعْنِي يَعْتَنِي بِهَذِهِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي لِأَنَّهَا أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ وَمَحْدُودَةٌ تَفُوْتُ بِمَا فِيهَا فَالْحَازِمُ يَعْتَنِي بِهَا وَيَخُصُّهَا بِمَزِيدِ عِنَايَةٍ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ نَسْأَلُ اللهَ لِلْجَمِيعِ التَّوْفِيقَ وَالْقَبُولَ وَالْمَغْفِرَةَ
Barang siapa yang Salat Malam di sepuluh malam terakhir, ia pasti mendapat Lailatul Qadar. Ini adalah hari-hari dan malam-malam yang agung, disyariatkan bagi seorang mukmin untuk memanfaatkannyadengan berbagai bentuk kebaikan, seperti membaca, menadaburi dan memahami al-Quran, bertasbih, bertahlil, bertakbir, beristighfar,bersedekah, menjenguk orang sakit,mengantarkan jenazah ke pemakaman, dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya,demi mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Berlomba-lomba dan bersegera dalam segala kebaikan. Janganlah ia menjadi seperti orang-orang yang berpaling dan lalaiyang melewati waktu-waktu yang penuh kebaikan dengan kelalaian, maka ia harus melawan nafsunya,melawan hawa nafsunya dalam hal ini, dan bersegera menjemput sebab-sebab kebaikan dan waktu-waktu yang baik. Oleh sebab itu, para salaf radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum selalu memotivasi untuk memanfaatkan keutamaan-keutamaan inidengan membaca al-Quran, ibadah, salat, zikir,sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya, juga dengan iktikaf dan lain sebagainya. Ini adalah waktu yang terus berlalu dengan hal-hal yang tersimpan di dalamnya.Ada orang yang menyimpan di dalamnya kebaikan dan amal saleh,dan ada orang lain yang menyimpan di dalamnya keburukan dan amal kejelekan. La haula wa la quwwata illa billah. Sedangkan orang yang berakal, cerdik, dan cerdasadalah orang yang berusaha untuk menyimpan kebaikan di dalamnya, seperti banyak membaca al-Quran,banyak bertasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, juga banyak berdoa,banyak melakukan salat, istighfar, sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Yakni ia memberi perhatian besar pada hari-hari dan malam-malam ini,karena ini adalah hari-hari yang terbatas, ia akan berlalu bersama yang ada di dalamnya. Orang yang cerdas akan memperhatikannya dan mengkhususkannya dengan perhatian lebih,karena mengharap pahala Allah dan takut dari siksa-Nya.Kita memohon kepada Allah taufik, penerimaan, dan ampunan bagi kita semua ==== مَنْ قَامَ الْعَشْرَ الْأَخِيرَةَ أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ هَذِهِ أَيَّامٌ عَظِيمَةٌ وَلَيَالِي عَظِيمَةٌ يُشْرَعُ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَغْتَنِمَهَا بِأَنْوَاعِ الْخَيْرِ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَالتَّعَقُّلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالاِسْتِغْفَارِ وَالصَّدَقَةِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَهُ وَيُنَافِسُ وَيُسَارِعُ فِي كُلِّ خَيْرٍ لَا يَكُنْ كَالْمُعْرِضِيْنَ وَالْغَافِلِيْنَ تَمُرُّهُمْ أَوْقَاتُ الْفَضَائِلِ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ بَلْ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ فِيْهِ وَيُسَارِعُ أَسْبَابَ الْخَيْرِ وَأَوْقَاتَ الْخَيْرِ وَلِهَذَا كَانَ السَّلَفُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَأَرْضَاهُمْ يُحَرِّضُونَ عَلَى اغْتِنَامِ هَذِهِ الْفَضَائِلِ بِالْقِرَاءَةِ وَالتَّعَبُّدِ وَالصَّلَاةِ وَالذِّكْرُ وَالصَّدَقَاتِ وَغَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ وَالِاعْتِكَافِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَهِيَ أَوْقَاتٌ تَمُرُّ بِمَا فِيهَا خَزَائِنُ هَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الْخَيْرَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَهَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الشَّرَّ وَالْعَمَلَ السَّيِّءَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَالْعَاقِلُ وَالْحَازِمُ وَالْكَيِّسُ الذَّيْ يَحْرِصُ أَنْ يَخْزِنَ فِيهَا الْخَيْرَ مِنْ كَثْرَةِ الْقِرَاءَةِ كَثْرَةِ التَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ كَثْرَةِ الدُّعَاءِ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ كَثْرَةِ الِاسْتِغْفَارِ كَثْرَةِ الصَّدَقَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَعْنِي يَعْتَنِي بِهَذِهِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي لِأَنَّهَا أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ وَمَحْدُودَةٌ تَفُوْتُ بِمَا فِيهَا فَالْحَازِمُ يَعْتَنِي بِهَا وَيَخُصُّهَا بِمَزِيدِ عِنَايَةٍ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ نَسْأَلُ اللهَ لِلْجَمِيعِ التَّوْفِيقَ وَالْقَبُولَ وَالْمَغْفِرَةَ


Barang siapa yang Salat Malam di sepuluh malam terakhir, ia pasti mendapat Lailatul Qadar. Ini adalah hari-hari dan malam-malam yang agung, disyariatkan bagi seorang mukmin untuk memanfaatkannyadengan berbagai bentuk kebaikan, seperti membaca, menadaburi dan memahami al-Quran, bertasbih, bertahlil, bertakbir, beristighfar,bersedekah, menjenguk orang sakit,mengantarkan jenazah ke pemakaman, dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya,demi mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Berlomba-lomba dan bersegera dalam segala kebaikan. Janganlah ia menjadi seperti orang-orang yang berpaling dan lalaiyang melewati waktu-waktu yang penuh kebaikan dengan kelalaian, maka ia harus melawan nafsunya,melawan hawa nafsunya dalam hal ini, dan bersegera menjemput sebab-sebab kebaikan dan waktu-waktu yang baik. Oleh sebab itu, para salaf radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum selalu memotivasi untuk memanfaatkan keutamaan-keutamaan inidengan membaca al-Quran, ibadah, salat, zikir,sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya, juga dengan iktikaf dan lain sebagainya. Ini adalah waktu yang terus berlalu dengan hal-hal yang tersimpan di dalamnya.Ada orang yang menyimpan di dalamnya kebaikan dan amal saleh,dan ada orang lain yang menyimpan di dalamnya keburukan dan amal kejelekan. La haula wa la quwwata illa billah. Sedangkan orang yang berakal, cerdik, dan cerdasadalah orang yang berusaha untuk menyimpan kebaikan di dalamnya, seperti banyak membaca al-Quran,banyak bertasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, juga banyak berdoa,banyak melakukan salat, istighfar, sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Yakni ia memberi perhatian besar pada hari-hari dan malam-malam ini,karena ini adalah hari-hari yang terbatas, ia akan berlalu bersama yang ada di dalamnya. Orang yang cerdas akan memperhatikannya dan mengkhususkannya dengan perhatian lebih,karena mengharap pahala Allah dan takut dari siksa-Nya.Kita memohon kepada Allah taufik, penerimaan, dan ampunan bagi kita semua ==== مَنْ قَامَ الْعَشْرَ الْأَخِيرَةَ أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ هَذِهِ أَيَّامٌ عَظِيمَةٌ وَلَيَالِي عَظِيمَةٌ يُشْرَعُ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَغْتَنِمَهَا بِأَنْوَاعِ الْخَيْرِ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَالتَّعَقُّلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالاِسْتِغْفَارِ وَالصَّدَقَةِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَهُ وَيُنَافِسُ وَيُسَارِعُ فِي كُلِّ خَيْرٍ لَا يَكُنْ كَالْمُعْرِضِيْنَ وَالْغَافِلِيْنَ تَمُرُّهُمْ أَوْقَاتُ الْفَضَائِلِ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ بَلْ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ فِيْهِ وَيُسَارِعُ أَسْبَابَ الْخَيْرِ وَأَوْقَاتَ الْخَيْرِ وَلِهَذَا كَانَ السَّلَفُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَأَرْضَاهُمْ يُحَرِّضُونَ عَلَى اغْتِنَامِ هَذِهِ الْفَضَائِلِ بِالْقِرَاءَةِ وَالتَّعَبُّدِ وَالصَّلَاةِ وَالذِّكْرُ وَالصَّدَقَاتِ وَغَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ وَالِاعْتِكَافِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَهِيَ أَوْقَاتٌ تَمُرُّ بِمَا فِيهَا خَزَائِنُ هَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الْخَيْرَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَهَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الشَّرَّ وَالْعَمَلَ السَّيِّءَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَالْعَاقِلُ وَالْحَازِمُ وَالْكَيِّسُ الذَّيْ يَحْرِصُ أَنْ يَخْزِنَ فِيهَا الْخَيْرَ مِنْ كَثْرَةِ الْقِرَاءَةِ كَثْرَةِ التَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ كَثْرَةِ الدُّعَاءِ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ كَثْرَةِ الِاسْتِغْفَارِ كَثْرَةِ الصَّدَقَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَعْنِي يَعْتَنِي بِهَذِهِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي لِأَنَّهَا أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ وَمَحْدُودَةٌ تَفُوْتُ بِمَا فِيهَا فَالْحَازِمُ يَعْتَنِي بِهَا وَيَخُصُّهَا بِمَزِيدِ عِنَايَةٍ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ نَسْأَلُ اللهَ لِلْجَمِيعِ التَّوْفِيقَ وَالْقَبُولَ وَالْمَغْفِرَةَ

Apa Satu Amalan Terbaik di 10 Hari Terakhir Ramadan? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Apa yang paling afdal dilakukan seorang Muslimdi sepuluh malam terakhir bulan Ramadan?Yang paling afdal dilakukan adalah apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu salat. Karena yang tampak dari beliau ‘alaihis shalatu wassalam adalah mendirikan salat pada mayoritas waktu malam-malam itu.Namun, beliau hanya salat berjamaah dengan para sahabat selama tiga malam,sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dan lainnya. Para sahabat salat dengan beliau pada malam ke-23 Ramadan hingga sepertiga malam pertama.Lalu mereka salat dengan beliau pada malam ke-25 Ramadan hingga tengah malam. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, andai engkau salat sunah lagi dengan kami di sisa waktu malam kita ini.”Yakni andai saja engkau melanjutkan salat bersama kami hingga waktu terbitnya fajar. Lalu beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab,“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai, maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai,maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”Ini adalah keutamaan yang besar. Barang siapa yang salat dengan imam, hingga imam itu salam dari rakaat terakhir,maka ditulis baginya pahala salat sepanjang malam.Lalu Nabi salat bersama para sahabat pada malam ke-27 Ramadanhingga mendekati waktu terbitnya fajar. Para sahabat berkata, “Hingga kami khawatir tidak sempat makan sahur.”Ini menunjukkan penguatan ibadah pada malam ke-27 Ramadan melebihi malam-malam lainnya. Jadi, dulu Nabi ‘alaihis shalatu wassalammenyibukkan diri pada sepuluh malam terakhir Ramadan ini dengan mendirikan salat. Maka jika kamu dapat menggunakan seluruh atau mayoritas waktumu untuk salat, maka lakukanlah,karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amal yang paling dicintai oleh Allah–seperti yang disebutkan dalam Shahihain–lalu beliau menjawab, “Salat.” Salat adalah ibadah dan amal yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, diriwayatkan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka memperbanyak ibadah salat. Disebutkan dalam biografi Imam Ahmad bin Hambal–dan ini kisah yang masyhur tentang beliau–bahwa dulu beliau mendirikan salat sunah karena Allah Ta’ala–bukan salat fardu–dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Lalu saat beliau menjadi lemah setelah menghadapi ujian yang menimpanya, beliau mendirikan salat 150 rakaat.Dulu al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, penulis kitab Umdatul Ahkammencontoh Imam Ahmad dalam hal ini, sehingga beliau juga mendirikan salat 300 rakaat. Karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilahbahwa tidaklah kamu bersujud satu kalikecuali dengan sujud itu Allah mengangkat satu derajatmu dan menghapus satu dosamu. Juga amalan lainnya adalah doa, karena doa di malam-malam ini mudah dikabulkan.Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menyebutkan ayat tentang doa di tengah ayat-ayat tentang puasa: “Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku dekat …” (QS. al-Baqarah: 186)Ayat sebelumnya adalah, “Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan al-Quran …” Sedangkan ayat setelahnya, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu …”Mengapa ayat tentang doa ada di tengah ayat-ayat tentang puasa? Untuk menjadi isyarat bahwa orang yang berpuasa hendaklah memperbanyak doa,dan doa di bulan ini mudah untuk dikabulkan.Terlebih lagi di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Seorang Muslim juga hendaknya berusaha keras dalam menjalankan segala bentuk amal saleh.Bagi orang yang dimudahkan untuk menjalankan iktikaf, maka itu lebih afdal, dan ini adalah sunah. Namun, bagi yang tidak dimudahkan untuk itu, maka ia dapat beriktikaf di malam-malam ganjil atau di malam yang dapat ia lakukan.Jika tidak juga dimudahkan untuk melakukan hal-hal itu,maka paling tidak ia mengurangi kesibukannya dengan duniadan menambah waktu yang ia khususkan untuk beribadah. ==== مَا أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ الْمُسْلِمُ فِي لَيَالِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ مَا فَعَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّلَاةُ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُومُ مُعْظَمَ اللَّيْلِ فِي تِلْكَ اللَّيَالِي لَكِنْ صَلَّى مَعَهُ الصَّحَابَةُ ثَلَاثَ لَيَالٍ كَمَا عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَصَلَّى بِهِمْ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ يَعْنِي لَوْ أَكْمَلْتَ بِنَا إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ وَهَذَا فَضْلٌ عَظِيمٌ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يُسَلِّمَ مِنَ الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ يُكْتَبُ لَهُ أَجْرُ قِيَامِ لَيْلَةٍ كَامِلَةٍ ثُمَّ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ إِلَى قَرِيبٍ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ يَقُولُ الصَّحَابَةُ حَتَّى خَشِيْنَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ يَعْنِي السُّحُورُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى تَأَكُّدِ لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهَا فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَشْتَغِلُ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ بِالصَّلَاةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُشْغِلَ وَقْتَكَ أَوْ أَكْثَرَهُ بِالصَّلَاةِ فَافْعَلْ فَإِنَّ الصَّلَاةَ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَحَبِّ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ الصَّلَاةُ الصَّلَاةُ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ أَحَبُّ عَمَلٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُكْثِرُونَ مِنَ الصَّلَاةِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ هَذَا مَشْهُورٌ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي لِلهِ تَعَالَى فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ تَطَوُّعًا مِنْ غَيْرِ فَرِيضَةٍ ثَلَاثُ مِئَةِ رَكْعَةٍ وَلَمَّا ضَعُفَ بَعْدَ الْمِحْنَةِ الَّتِي حَصَلَتْ لَهُ أَصْبَحَ يُصَلِّي مِئَةً وَخَمْسِينَ الْحَافِظُ عَبْدُ الْغَنِيِّ الْمَقْدِسِيُّ صَاحِبُ عُمْدَةِ الْأَحْكَامِ كَانَ يَقْتَدِي بِالْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي هَذَا يُصَلِّي ثَلَاثَ مِئَةِ رَكْعَةٍ لِأَنَّ الصَّلَاةَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً كَذَلِكَ أَيْضًا الدُّعَاءُ فَإِنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَلِهَذَا ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى آيَةَ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ الْآيَةُ الَّتِي قَبْلَهَا شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَالْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَاأُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ لِمَاذَا كَانَتْ آيَةُ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ؟ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلصَّائِمِ أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذَا الشَّهْرِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ خَاصَّةً فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَجْتَهِدُ الْمُسْلِمُ بِكُلِّ مَا هُوَ عَمَلٌ صَالِحٌ الَّذِي تَيَسَّرَ لَهُ أَنْ يَعْتَكِفَ فَهَذَا هُوَ الْأَفْضَلُ وَهُوَ السُّنَّةُ إِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ يَعْتَكِفُ لَيَالِيَ الْوِتْرِ أَوْ مَا تَيَسَّرَ مِنْهَا فَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ هَذَا وَلَا ذَاكَ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يُخَفِّفَ مَشَاغِلَهُ فِي الدُّنْيَا وَأَنْ يَزِيدَ مِنَ الْوَقْتِ الْمُخَصَّصِ لِلْعِبَادَةِ

Apa Satu Amalan Terbaik di 10 Hari Terakhir Ramadan? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Apa yang paling afdal dilakukan seorang Muslimdi sepuluh malam terakhir bulan Ramadan?Yang paling afdal dilakukan adalah apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu salat. Karena yang tampak dari beliau ‘alaihis shalatu wassalam adalah mendirikan salat pada mayoritas waktu malam-malam itu.Namun, beliau hanya salat berjamaah dengan para sahabat selama tiga malam,sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dan lainnya. Para sahabat salat dengan beliau pada malam ke-23 Ramadan hingga sepertiga malam pertama.Lalu mereka salat dengan beliau pada malam ke-25 Ramadan hingga tengah malam. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, andai engkau salat sunah lagi dengan kami di sisa waktu malam kita ini.”Yakni andai saja engkau melanjutkan salat bersama kami hingga waktu terbitnya fajar. Lalu beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab,“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai, maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai,maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”Ini adalah keutamaan yang besar. Barang siapa yang salat dengan imam, hingga imam itu salam dari rakaat terakhir,maka ditulis baginya pahala salat sepanjang malam.Lalu Nabi salat bersama para sahabat pada malam ke-27 Ramadanhingga mendekati waktu terbitnya fajar. Para sahabat berkata, “Hingga kami khawatir tidak sempat makan sahur.”Ini menunjukkan penguatan ibadah pada malam ke-27 Ramadan melebihi malam-malam lainnya. Jadi, dulu Nabi ‘alaihis shalatu wassalammenyibukkan diri pada sepuluh malam terakhir Ramadan ini dengan mendirikan salat. Maka jika kamu dapat menggunakan seluruh atau mayoritas waktumu untuk salat, maka lakukanlah,karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amal yang paling dicintai oleh Allah–seperti yang disebutkan dalam Shahihain–lalu beliau menjawab, “Salat.” Salat adalah ibadah dan amal yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, diriwayatkan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka memperbanyak ibadah salat. Disebutkan dalam biografi Imam Ahmad bin Hambal–dan ini kisah yang masyhur tentang beliau–bahwa dulu beliau mendirikan salat sunah karena Allah Ta’ala–bukan salat fardu–dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Lalu saat beliau menjadi lemah setelah menghadapi ujian yang menimpanya, beliau mendirikan salat 150 rakaat.Dulu al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, penulis kitab Umdatul Ahkammencontoh Imam Ahmad dalam hal ini, sehingga beliau juga mendirikan salat 300 rakaat. Karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilahbahwa tidaklah kamu bersujud satu kalikecuali dengan sujud itu Allah mengangkat satu derajatmu dan menghapus satu dosamu. Juga amalan lainnya adalah doa, karena doa di malam-malam ini mudah dikabulkan.Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menyebutkan ayat tentang doa di tengah ayat-ayat tentang puasa: “Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku dekat …” (QS. al-Baqarah: 186)Ayat sebelumnya adalah, “Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan al-Quran …” Sedangkan ayat setelahnya, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu …”Mengapa ayat tentang doa ada di tengah ayat-ayat tentang puasa? Untuk menjadi isyarat bahwa orang yang berpuasa hendaklah memperbanyak doa,dan doa di bulan ini mudah untuk dikabulkan.Terlebih lagi di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Seorang Muslim juga hendaknya berusaha keras dalam menjalankan segala bentuk amal saleh.Bagi orang yang dimudahkan untuk menjalankan iktikaf, maka itu lebih afdal, dan ini adalah sunah. Namun, bagi yang tidak dimudahkan untuk itu, maka ia dapat beriktikaf di malam-malam ganjil atau di malam yang dapat ia lakukan.Jika tidak juga dimudahkan untuk melakukan hal-hal itu,maka paling tidak ia mengurangi kesibukannya dengan duniadan menambah waktu yang ia khususkan untuk beribadah. ==== مَا أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ الْمُسْلِمُ فِي لَيَالِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ مَا فَعَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّلَاةُ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُومُ مُعْظَمَ اللَّيْلِ فِي تِلْكَ اللَّيَالِي لَكِنْ صَلَّى مَعَهُ الصَّحَابَةُ ثَلَاثَ لَيَالٍ كَمَا عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَصَلَّى بِهِمْ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ يَعْنِي لَوْ أَكْمَلْتَ بِنَا إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ وَهَذَا فَضْلٌ عَظِيمٌ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يُسَلِّمَ مِنَ الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ يُكْتَبُ لَهُ أَجْرُ قِيَامِ لَيْلَةٍ كَامِلَةٍ ثُمَّ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ إِلَى قَرِيبٍ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ يَقُولُ الصَّحَابَةُ حَتَّى خَشِيْنَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ يَعْنِي السُّحُورُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى تَأَكُّدِ لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهَا فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَشْتَغِلُ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ بِالصَّلَاةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُشْغِلَ وَقْتَكَ أَوْ أَكْثَرَهُ بِالصَّلَاةِ فَافْعَلْ فَإِنَّ الصَّلَاةَ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَحَبِّ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ الصَّلَاةُ الصَّلَاةُ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ أَحَبُّ عَمَلٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُكْثِرُونَ مِنَ الصَّلَاةِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ هَذَا مَشْهُورٌ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي لِلهِ تَعَالَى فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ تَطَوُّعًا مِنْ غَيْرِ فَرِيضَةٍ ثَلَاثُ مِئَةِ رَكْعَةٍ وَلَمَّا ضَعُفَ بَعْدَ الْمِحْنَةِ الَّتِي حَصَلَتْ لَهُ أَصْبَحَ يُصَلِّي مِئَةً وَخَمْسِينَ الْحَافِظُ عَبْدُ الْغَنِيِّ الْمَقْدِسِيُّ صَاحِبُ عُمْدَةِ الْأَحْكَامِ كَانَ يَقْتَدِي بِالْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي هَذَا يُصَلِّي ثَلَاثَ مِئَةِ رَكْعَةٍ لِأَنَّ الصَّلَاةَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً كَذَلِكَ أَيْضًا الدُّعَاءُ فَإِنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَلِهَذَا ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى آيَةَ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ الْآيَةُ الَّتِي قَبْلَهَا شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَالْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَاأُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ لِمَاذَا كَانَتْ آيَةُ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ؟ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلصَّائِمِ أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذَا الشَّهْرِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ خَاصَّةً فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَجْتَهِدُ الْمُسْلِمُ بِكُلِّ مَا هُوَ عَمَلٌ صَالِحٌ الَّذِي تَيَسَّرَ لَهُ أَنْ يَعْتَكِفَ فَهَذَا هُوَ الْأَفْضَلُ وَهُوَ السُّنَّةُ إِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ يَعْتَكِفُ لَيَالِيَ الْوِتْرِ أَوْ مَا تَيَسَّرَ مِنْهَا فَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ هَذَا وَلَا ذَاكَ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يُخَفِّفَ مَشَاغِلَهُ فِي الدُّنْيَا وَأَنْ يَزِيدَ مِنَ الْوَقْتِ الْمُخَصَّصِ لِلْعِبَادَةِ
Apa yang paling afdal dilakukan seorang Muslimdi sepuluh malam terakhir bulan Ramadan?Yang paling afdal dilakukan adalah apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu salat. Karena yang tampak dari beliau ‘alaihis shalatu wassalam adalah mendirikan salat pada mayoritas waktu malam-malam itu.Namun, beliau hanya salat berjamaah dengan para sahabat selama tiga malam,sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dan lainnya. Para sahabat salat dengan beliau pada malam ke-23 Ramadan hingga sepertiga malam pertama.Lalu mereka salat dengan beliau pada malam ke-25 Ramadan hingga tengah malam. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, andai engkau salat sunah lagi dengan kami di sisa waktu malam kita ini.”Yakni andai saja engkau melanjutkan salat bersama kami hingga waktu terbitnya fajar. Lalu beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab,“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai, maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai,maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”Ini adalah keutamaan yang besar. Barang siapa yang salat dengan imam, hingga imam itu salam dari rakaat terakhir,maka ditulis baginya pahala salat sepanjang malam.Lalu Nabi salat bersama para sahabat pada malam ke-27 Ramadanhingga mendekati waktu terbitnya fajar. Para sahabat berkata, “Hingga kami khawatir tidak sempat makan sahur.”Ini menunjukkan penguatan ibadah pada malam ke-27 Ramadan melebihi malam-malam lainnya. Jadi, dulu Nabi ‘alaihis shalatu wassalammenyibukkan diri pada sepuluh malam terakhir Ramadan ini dengan mendirikan salat. Maka jika kamu dapat menggunakan seluruh atau mayoritas waktumu untuk salat, maka lakukanlah,karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amal yang paling dicintai oleh Allah–seperti yang disebutkan dalam Shahihain–lalu beliau menjawab, “Salat.” Salat adalah ibadah dan amal yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, diriwayatkan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka memperbanyak ibadah salat. Disebutkan dalam biografi Imam Ahmad bin Hambal–dan ini kisah yang masyhur tentang beliau–bahwa dulu beliau mendirikan salat sunah karena Allah Ta’ala–bukan salat fardu–dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Lalu saat beliau menjadi lemah setelah menghadapi ujian yang menimpanya, beliau mendirikan salat 150 rakaat.Dulu al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, penulis kitab Umdatul Ahkammencontoh Imam Ahmad dalam hal ini, sehingga beliau juga mendirikan salat 300 rakaat. Karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilahbahwa tidaklah kamu bersujud satu kalikecuali dengan sujud itu Allah mengangkat satu derajatmu dan menghapus satu dosamu. Juga amalan lainnya adalah doa, karena doa di malam-malam ini mudah dikabulkan.Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menyebutkan ayat tentang doa di tengah ayat-ayat tentang puasa: “Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku dekat …” (QS. al-Baqarah: 186)Ayat sebelumnya adalah, “Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan al-Quran …” Sedangkan ayat setelahnya, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu …”Mengapa ayat tentang doa ada di tengah ayat-ayat tentang puasa? Untuk menjadi isyarat bahwa orang yang berpuasa hendaklah memperbanyak doa,dan doa di bulan ini mudah untuk dikabulkan.Terlebih lagi di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Seorang Muslim juga hendaknya berusaha keras dalam menjalankan segala bentuk amal saleh.Bagi orang yang dimudahkan untuk menjalankan iktikaf, maka itu lebih afdal, dan ini adalah sunah. Namun, bagi yang tidak dimudahkan untuk itu, maka ia dapat beriktikaf di malam-malam ganjil atau di malam yang dapat ia lakukan.Jika tidak juga dimudahkan untuk melakukan hal-hal itu,maka paling tidak ia mengurangi kesibukannya dengan duniadan menambah waktu yang ia khususkan untuk beribadah. ==== مَا أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ الْمُسْلِمُ فِي لَيَالِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ مَا فَعَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّلَاةُ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُومُ مُعْظَمَ اللَّيْلِ فِي تِلْكَ اللَّيَالِي لَكِنْ صَلَّى مَعَهُ الصَّحَابَةُ ثَلَاثَ لَيَالٍ كَمَا عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَصَلَّى بِهِمْ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ يَعْنِي لَوْ أَكْمَلْتَ بِنَا إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ وَهَذَا فَضْلٌ عَظِيمٌ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يُسَلِّمَ مِنَ الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ يُكْتَبُ لَهُ أَجْرُ قِيَامِ لَيْلَةٍ كَامِلَةٍ ثُمَّ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ إِلَى قَرِيبٍ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ يَقُولُ الصَّحَابَةُ حَتَّى خَشِيْنَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ يَعْنِي السُّحُورُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى تَأَكُّدِ لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهَا فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَشْتَغِلُ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ بِالصَّلَاةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُشْغِلَ وَقْتَكَ أَوْ أَكْثَرَهُ بِالصَّلَاةِ فَافْعَلْ فَإِنَّ الصَّلَاةَ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَحَبِّ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ الصَّلَاةُ الصَّلَاةُ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ أَحَبُّ عَمَلٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُكْثِرُونَ مِنَ الصَّلَاةِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ هَذَا مَشْهُورٌ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي لِلهِ تَعَالَى فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ تَطَوُّعًا مِنْ غَيْرِ فَرِيضَةٍ ثَلَاثُ مِئَةِ رَكْعَةٍ وَلَمَّا ضَعُفَ بَعْدَ الْمِحْنَةِ الَّتِي حَصَلَتْ لَهُ أَصْبَحَ يُصَلِّي مِئَةً وَخَمْسِينَ الْحَافِظُ عَبْدُ الْغَنِيِّ الْمَقْدِسِيُّ صَاحِبُ عُمْدَةِ الْأَحْكَامِ كَانَ يَقْتَدِي بِالْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي هَذَا يُصَلِّي ثَلَاثَ مِئَةِ رَكْعَةٍ لِأَنَّ الصَّلَاةَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً كَذَلِكَ أَيْضًا الدُّعَاءُ فَإِنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَلِهَذَا ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى آيَةَ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ الْآيَةُ الَّتِي قَبْلَهَا شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَالْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَاأُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ لِمَاذَا كَانَتْ آيَةُ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ؟ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلصَّائِمِ أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذَا الشَّهْرِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ خَاصَّةً فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَجْتَهِدُ الْمُسْلِمُ بِكُلِّ مَا هُوَ عَمَلٌ صَالِحٌ الَّذِي تَيَسَّرَ لَهُ أَنْ يَعْتَكِفَ فَهَذَا هُوَ الْأَفْضَلُ وَهُوَ السُّنَّةُ إِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ يَعْتَكِفُ لَيَالِيَ الْوِتْرِ أَوْ مَا تَيَسَّرَ مِنْهَا فَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ هَذَا وَلَا ذَاكَ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يُخَفِّفَ مَشَاغِلَهُ فِي الدُّنْيَا وَأَنْ يَزِيدَ مِنَ الْوَقْتِ الْمُخَصَّصِ لِلْعِبَادَةِ


Apa yang paling afdal dilakukan seorang Muslimdi sepuluh malam terakhir bulan Ramadan?Yang paling afdal dilakukan adalah apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu salat. Karena yang tampak dari beliau ‘alaihis shalatu wassalam adalah mendirikan salat pada mayoritas waktu malam-malam itu.Namun, beliau hanya salat berjamaah dengan para sahabat selama tiga malam,sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dan lainnya. Para sahabat salat dengan beliau pada malam ke-23 Ramadan hingga sepertiga malam pertama.Lalu mereka salat dengan beliau pada malam ke-25 Ramadan hingga tengah malam. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, andai engkau salat sunah lagi dengan kami di sisa waktu malam kita ini.”Yakni andai saja engkau melanjutkan salat bersama kami hingga waktu terbitnya fajar. Lalu beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab,“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai, maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai,maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”Ini adalah keutamaan yang besar. Barang siapa yang salat dengan imam, hingga imam itu salam dari rakaat terakhir,maka ditulis baginya pahala salat sepanjang malam.Lalu Nabi salat bersama para sahabat pada malam ke-27 Ramadanhingga mendekati waktu terbitnya fajar. Para sahabat berkata, “Hingga kami khawatir tidak sempat makan sahur.”Ini menunjukkan penguatan ibadah pada malam ke-27 Ramadan melebihi malam-malam lainnya. Jadi, dulu Nabi ‘alaihis shalatu wassalammenyibukkan diri pada sepuluh malam terakhir Ramadan ini dengan mendirikan salat. Maka jika kamu dapat menggunakan seluruh atau mayoritas waktumu untuk salat, maka lakukanlah,karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amal yang paling dicintai oleh Allah–seperti yang disebutkan dalam Shahihain–lalu beliau menjawab, “Salat.” Salat adalah ibadah dan amal yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, diriwayatkan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka memperbanyak ibadah salat. Disebutkan dalam biografi Imam Ahmad bin Hambal–dan ini kisah yang masyhur tentang beliau–bahwa dulu beliau mendirikan salat sunah karena Allah Ta’ala–bukan salat fardu–dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Lalu saat beliau menjadi lemah setelah menghadapi ujian yang menimpanya, beliau mendirikan salat 150 rakaat.Dulu al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, penulis kitab Umdatul Ahkammencontoh Imam Ahmad dalam hal ini, sehingga beliau juga mendirikan salat 300 rakaat. Karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilahbahwa tidaklah kamu bersujud satu kalikecuali dengan sujud itu Allah mengangkat satu derajatmu dan menghapus satu dosamu. Juga amalan lainnya adalah doa, karena doa di malam-malam ini mudah dikabulkan.Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menyebutkan ayat tentang doa di tengah ayat-ayat tentang puasa: “Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku dekat …” (QS. al-Baqarah: 186)Ayat sebelumnya adalah, “Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan al-Quran …” Sedangkan ayat setelahnya, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu …”Mengapa ayat tentang doa ada di tengah ayat-ayat tentang puasa? Untuk menjadi isyarat bahwa orang yang berpuasa hendaklah memperbanyak doa,dan doa di bulan ini mudah untuk dikabulkan.Terlebih lagi di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Seorang Muslim juga hendaknya berusaha keras dalam menjalankan segala bentuk amal saleh.Bagi orang yang dimudahkan untuk menjalankan iktikaf, maka itu lebih afdal, dan ini adalah sunah. Namun, bagi yang tidak dimudahkan untuk itu, maka ia dapat beriktikaf di malam-malam ganjil atau di malam yang dapat ia lakukan.Jika tidak juga dimudahkan untuk melakukan hal-hal itu,maka paling tidak ia mengurangi kesibukannya dengan duniadan menambah waktu yang ia khususkan untuk beribadah. ==== مَا أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ الْمُسْلِمُ فِي لَيَالِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ مَا فَعَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّلَاةُ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُومُ مُعْظَمَ اللَّيْلِ فِي تِلْكَ اللَّيَالِي لَكِنْ صَلَّى مَعَهُ الصَّحَابَةُ ثَلَاثَ لَيَالٍ كَمَا عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَصَلَّى بِهِمْ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ يَعْنِي لَوْ أَكْمَلْتَ بِنَا إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ وَهَذَا فَضْلٌ عَظِيمٌ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يُسَلِّمَ مِنَ الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ يُكْتَبُ لَهُ أَجْرُ قِيَامِ لَيْلَةٍ كَامِلَةٍ ثُمَّ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ إِلَى قَرِيبٍ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ يَقُولُ الصَّحَابَةُ حَتَّى خَشِيْنَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ يَعْنِي السُّحُورُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى تَأَكُّدِ لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهَا فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَشْتَغِلُ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ بِالصَّلَاةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُشْغِلَ وَقْتَكَ أَوْ أَكْثَرَهُ بِالصَّلَاةِ فَافْعَلْ فَإِنَّ الصَّلَاةَ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَحَبِّ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ الصَّلَاةُ الصَّلَاةُ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ أَحَبُّ عَمَلٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُكْثِرُونَ مِنَ الصَّلَاةِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ هَذَا مَشْهُورٌ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي لِلهِ تَعَالَى فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ تَطَوُّعًا مِنْ غَيْرِ فَرِيضَةٍ ثَلَاثُ مِئَةِ رَكْعَةٍ وَلَمَّا ضَعُفَ بَعْدَ الْمِحْنَةِ الَّتِي حَصَلَتْ لَهُ أَصْبَحَ يُصَلِّي مِئَةً وَخَمْسِينَ الْحَافِظُ عَبْدُ الْغَنِيِّ الْمَقْدِسِيُّ صَاحِبُ عُمْدَةِ الْأَحْكَامِ كَانَ يَقْتَدِي بِالْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي هَذَا يُصَلِّي ثَلَاثَ مِئَةِ رَكْعَةٍ لِأَنَّ الصَّلَاةَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً كَذَلِكَ أَيْضًا الدُّعَاءُ فَإِنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَلِهَذَا ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى آيَةَ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ الْآيَةُ الَّتِي قَبْلَهَا شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَالْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَاأُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ لِمَاذَا كَانَتْ آيَةُ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ؟ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلصَّائِمِ أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذَا الشَّهْرِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ خَاصَّةً فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَجْتَهِدُ الْمُسْلِمُ بِكُلِّ مَا هُوَ عَمَلٌ صَالِحٌ الَّذِي تَيَسَّرَ لَهُ أَنْ يَعْتَكِفَ فَهَذَا هُوَ الْأَفْضَلُ وَهُوَ السُّنَّةُ إِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ يَعْتَكِفُ لَيَالِيَ الْوِتْرِ أَوْ مَا تَيَسَّرَ مِنْهَا فَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ هَذَا وَلَا ذَاكَ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يُخَفِّفَ مَشَاغِلَهُ فِي الدُّنْيَا وَأَنْ يَزِيدَ مِنَ الْوَقْتِ الْمُخَصَّصِ لِلْعِبَادَةِ

Semalam Saja Lalu Dosamu Diampuni – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

“Barang siapa salat saat Lailatul Qadar, niscaya diampunidosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini, sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah,di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumakan hilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran inidan mengingat-ingat ganjaran iniserta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālāagar Menolong kita dalam beramal saleh,Memudahkan kita untuk terus menambahnya, dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. ==== مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الْأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا

Semalam Saja Lalu Dosamu Diampuni – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

“Barang siapa salat saat Lailatul Qadar, niscaya diampunidosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini, sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah,di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumakan hilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran inidan mengingat-ingat ganjaran iniserta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālāagar Menolong kita dalam beramal saleh,Memudahkan kita untuk terus menambahnya, dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. ==== مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الْأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا
“Barang siapa salat saat Lailatul Qadar, niscaya diampunidosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini, sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah,di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumakan hilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran inidan mengingat-ingat ganjaran iniserta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālāagar Menolong kita dalam beramal saleh,Memudahkan kita untuk terus menambahnya, dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. ==== مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الْأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا


“Barang siapa salat saat Lailatul Qadar, niscaya diampunidosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini, sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah,di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumakan hilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran inidan mengingat-ingat ganjaran iniserta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālāagar Menolong kita dalam beramal saleh,Memudahkan kita untuk terus menambahnya, dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. ==== مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الْأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا

Fatwa Ulama: Adakah Iktikaf di Luar Bulan Ramadan?

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan (no. 186):Fadhilatusy syaikh, apakah yang dimaksud dengan iktikaf dan bagaimanakah hukumnya?Jawaban:Iktikaf adalah seseorang menetap (berdiam diri) di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala, menyendiri (menjauhkan diri dari manusia, pent.), menyibukkan serta memfokuskan diri untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Iktikaf bisa dilakukan di semua masjid, baik masjid yang dipakai untuk salat jamaah atau yang tidak dipakai untuk salat jamaah. Akan tetapi, yang lebih baik adalah melaksanakan iktikaf di masjid yang dipakai untuk salat jamaah sehingga tidak perlu untuk keluar ketika waktu salat Jumat. Pertanyaan (no. 187):Fadhilatusy syaikh, apakah iktikaf itu dibagi menjadi beberapa macam atau hanya ada satu macam iktikaf saja?Jawaban:Iktikaf itu hanya ada satu macam saja, sebagaimana penjelasan yang telah berlalu, yaitu seseorang menetap (berdiam diri) di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala. Terkadang disertai dengan berpuasa, dan terkadang tidak disertai dengan berpuasa. Para ulama berbeda pendapat apakah iktikaf itu sah jika tidak berpuasa atau apakah iktikaf itu sah hanya dengan puasa? Akan tetapi, iktikaf yang disyariatkan yaitu yang dilaksanakan di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beriktikaf di sepuluh hari terakhir ini dengan mengharap mendapatkan lailatul qadar. Pertanyaan (no. 188):Fadhilatusy syaikh, apakah iktikaf itu dibatasi pada masa tertentu saja, maksudnya terbatas hanya di bulan Ramadan saja, atau bolehkah di luar bulan Ramadan?Jawaban:Yang disyariatkan itu hanya di bulan Ramadan saja. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak beriktikaf di selain bulan Ramadan, kecuali di bulan Syawal ketika beliau tidak iktikaf di bulan Ramadan. Sehingga beliau kemudian iktikaf di bulan Syawal. Akan tetapi, jika seseorang iktikaf di selain bulan Ramadan, maka hal itu diperbolehkan. Hal ini karena sahabat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan mengatakan,إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ“Aku bernazar untuk iktikaf satu malam atau satu hari di Masjidil Haram.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda,أَوْفِ نَذْرَكَ“Tunaikanlah nazarmu.” (HR. Bukhari no. 2042 dan Muslim no. 1656) Pertanyaan (no. 189):Fadhilatusy syaikh, apakah iktikaf itu memiliki syarat atau rukun tertentu?Jawaban:Rukun iktikaf itu sebagaimana yang telah lewat adalah menetap (berdiam diri) di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala, beribadah kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, dan memfokuskan diri ketika beribadah kepada-Nya.Adapun syarat iktikaf adalah sebagaimana ibadah yang lainnya, di antaranya beragama Islam, berakal, dinilai sah jika belum baligh, sah baik yang iktikaf itu laki-laki atau perempuan, sah meskipun tidak berpuasa, dan sah dilakukan di semua masjid.Baca juga: Hukum-Hukum Berkenaan dengan Iktikaf***@Rumah Kasongan, 22 Ramadan 1444/ 13 April 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 292-294, pertanyaan no. 186, 187, 188, dan 189.Tags: Iktikafmasjidramadan

Fatwa Ulama: Adakah Iktikaf di Luar Bulan Ramadan?

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan (no. 186):Fadhilatusy syaikh, apakah yang dimaksud dengan iktikaf dan bagaimanakah hukumnya?Jawaban:Iktikaf adalah seseorang menetap (berdiam diri) di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala, menyendiri (menjauhkan diri dari manusia, pent.), menyibukkan serta memfokuskan diri untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Iktikaf bisa dilakukan di semua masjid, baik masjid yang dipakai untuk salat jamaah atau yang tidak dipakai untuk salat jamaah. Akan tetapi, yang lebih baik adalah melaksanakan iktikaf di masjid yang dipakai untuk salat jamaah sehingga tidak perlu untuk keluar ketika waktu salat Jumat. Pertanyaan (no. 187):Fadhilatusy syaikh, apakah iktikaf itu dibagi menjadi beberapa macam atau hanya ada satu macam iktikaf saja?Jawaban:Iktikaf itu hanya ada satu macam saja, sebagaimana penjelasan yang telah berlalu, yaitu seseorang menetap (berdiam diri) di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala. Terkadang disertai dengan berpuasa, dan terkadang tidak disertai dengan berpuasa. Para ulama berbeda pendapat apakah iktikaf itu sah jika tidak berpuasa atau apakah iktikaf itu sah hanya dengan puasa? Akan tetapi, iktikaf yang disyariatkan yaitu yang dilaksanakan di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beriktikaf di sepuluh hari terakhir ini dengan mengharap mendapatkan lailatul qadar. Pertanyaan (no. 188):Fadhilatusy syaikh, apakah iktikaf itu dibatasi pada masa tertentu saja, maksudnya terbatas hanya di bulan Ramadan saja, atau bolehkah di luar bulan Ramadan?Jawaban:Yang disyariatkan itu hanya di bulan Ramadan saja. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak beriktikaf di selain bulan Ramadan, kecuali di bulan Syawal ketika beliau tidak iktikaf di bulan Ramadan. Sehingga beliau kemudian iktikaf di bulan Syawal. Akan tetapi, jika seseorang iktikaf di selain bulan Ramadan, maka hal itu diperbolehkan. Hal ini karena sahabat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan mengatakan,إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ“Aku bernazar untuk iktikaf satu malam atau satu hari di Masjidil Haram.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda,أَوْفِ نَذْرَكَ“Tunaikanlah nazarmu.” (HR. Bukhari no. 2042 dan Muslim no. 1656) Pertanyaan (no. 189):Fadhilatusy syaikh, apakah iktikaf itu memiliki syarat atau rukun tertentu?Jawaban:Rukun iktikaf itu sebagaimana yang telah lewat adalah menetap (berdiam diri) di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala, beribadah kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, dan memfokuskan diri ketika beribadah kepada-Nya.Adapun syarat iktikaf adalah sebagaimana ibadah yang lainnya, di antaranya beragama Islam, berakal, dinilai sah jika belum baligh, sah baik yang iktikaf itu laki-laki atau perempuan, sah meskipun tidak berpuasa, dan sah dilakukan di semua masjid.Baca juga: Hukum-Hukum Berkenaan dengan Iktikaf***@Rumah Kasongan, 22 Ramadan 1444/ 13 April 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 292-294, pertanyaan no. 186, 187, 188, dan 189.Tags: Iktikafmasjidramadan
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan (no. 186):Fadhilatusy syaikh, apakah yang dimaksud dengan iktikaf dan bagaimanakah hukumnya?Jawaban:Iktikaf adalah seseorang menetap (berdiam diri) di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala, menyendiri (menjauhkan diri dari manusia, pent.), menyibukkan serta memfokuskan diri untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Iktikaf bisa dilakukan di semua masjid, baik masjid yang dipakai untuk salat jamaah atau yang tidak dipakai untuk salat jamaah. Akan tetapi, yang lebih baik adalah melaksanakan iktikaf di masjid yang dipakai untuk salat jamaah sehingga tidak perlu untuk keluar ketika waktu salat Jumat. Pertanyaan (no. 187):Fadhilatusy syaikh, apakah iktikaf itu dibagi menjadi beberapa macam atau hanya ada satu macam iktikaf saja?Jawaban:Iktikaf itu hanya ada satu macam saja, sebagaimana penjelasan yang telah berlalu, yaitu seseorang menetap (berdiam diri) di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala. Terkadang disertai dengan berpuasa, dan terkadang tidak disertai dengan berpuasa. Para ulama berbeda pendapat apakah iktikaf itu sah jika tidak berpuasa atau apakah iktikaf itu sah hanya dengan puasa? Akan tetapi, iktikaf yang disyariatkan yaitu yang dilaksanakan di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beriktikaf di sepuluh hari terakhir ini dengan mengharap mendapatkan lailatul qadar. Pertanyaan (no. 188):Fadhilatusy syaikh, apakah iktikaf itu dibatasi pada masa tertentu saja, maksudnya terbatas hanya di bulan Ramadan saja, atau bolehkah di luar bulan Ramadan?Jawaban:Yang disyariatkan itu hanya di bulan Ramadan saja. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak beriktikaf di selain bulan Ramadan, kecuali di bulan Syawal ketika beliau tidak iktikaf di bulan Ramadan. Sehingga beliau kemudian iktikaf di bulan Syawal. Akan tetapi, jika seseorang iktikaf di selain bulan Ramadan, maka hal itu diperbolehkan. Hal ini karena sahabat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan mengatakan,إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ“Aku bernazar untuk iktikaf satu malam atau satu hari di Masjidil Haram.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda,أَوْفِ نَذْرَكَ“Tunaikanlah nazarmu.” (HR. Bukhari no. 2042 dan Muslim no. 1656) Pertanyaan (no. 189):Fadhilatusy syaikh, apakah iktikaf itu memiliki syarat atau rukun tertentu?Jawaban:Rukun iktikaf itu sebagaimana yang telah lewat adalah menetap (berdiam diri) di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala, beribadah kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, dan memfokuskan diri ketika beribadah kepada-Nya.Adapun syarat iktikaf adalah sebagaimana ibadah yang lainnya, di antaranya beragama Islam, berakal, dinilai sah jika belum baligh, sah baik yang iktikaf itu laki-laki atau perempuan, sah meskipun tidak berpuasa, dan sah dilakukan di semua masjid.Baca juga: Hukum-Hukum Berkenaan dengan Iktikaf***@Rumah Kasongan, 22 Ramadan 1444/ 13 April 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 292-294, pertanyaan no. 186, 187, 188, dan 189.Tags: Iktikafmasjidramadan


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan (no. 186):Fadhilatusy syaikh, apakah yang dimaksud dengan iktikaf dan bagaimanakah hukumnya?Jawaban:Iktikaf adalah seseorang menetap (berdiam diri) di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala, menyendiri (menjauhkan diri dari manusia, pent.), menyibukkan serta memfokuskan diri untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Iktikaf bisa dilakukan di semua masjid, baik masjid yang dipakai untuk salat jamaah atau yang tidak dipakai untuk salat jamaah. Akan tetapi, yang lebih baik adalah melaksanakan iktikaf di masjid yang dipakai untuk salat jamaah sehingga tidak perlu untuk keluar ketika waktu salat Jumat. Pertanyaan (no. 187):Fadhilatusy syaikh, apakah iktikaf itu dibagi menjadi beberapa macam atau hanya ada satu macam iktikaf saja?Jawaban:Iktikaf itu hanya ada satu macam saja, sebagaimana penjelasan yang telah berlalu, yaitu seseorang menetap (berdiam diri) di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala. Terkadang disertai dengan berpuasa, dan terkadang tidak disertai dengan berpuasa. Para ulama berbeda pendapat apakah iktikaf itu sah jika tidak berpuasa atau apakah iktikaf itu sah hanya dengan puasa? Akan tetapi, iktikaf yang disyariatkan yaitu yang dilaksanakan di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beriktikaf di sepuluh hari terakhir ini dengan mengharap mendapatkan lailatul qadar. Pertanyaan (no. 188):Fadhilatusy syaikh, apakah iktikaf itu dibatasi pada masa tertentu saja, maksudnya terbatas hanya di bulan Ramadan saja, atau bolehkah di luar bulan Ramadan?Jawaban:Yang disyariatkan itu hanya di bulan Ramadan saja. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak beriktikaf di selain bulan Ramadan, kecuali di bulan Syawal ketika beliau tidak iktikaf di bulan Ramadan. Sehingga beliau kemudian iktikaf di bulan Syawal. Akan tetapi, jika seseorang iktikaf di selain bulan Ramadan, maka hal itu diperbolehkan. Hal ini karena sahabat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan mengatakan,إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ“Aku bernazar untuk iktikaf satu malam atau satu hari di Masjidil Haram.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda,أَوْفِ نَذْرَكَ“Tunaikanlah nazarmu.” (HR. Bukhari no. 2042 dan Muslim no. 1656) Pertanyaan (no. 189):Fadhilatusy syaikh, apakah iktikaf itu memiliki syarat atau rukun tertentu?Jawaban:Rukun iktikaf itu sebagaimana yang telah lewat adalah menetap (berdiam diri) di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala, beribadah kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, dan memfokuskan diri ketika beribadah kepada-Nya.Adapun syarat iktikaf adalah sebagaimana ibadah yang lainnya, di antaranya beragama Islam, berakal, dinilai sah jika belum baligh, sah baik yang iktikaf itu laki-laki atau perempuan, sah meskipun tidak berpuasa, dan sah dilakukan di semua masjid.Baca juga: Hukum-Hukum Berkenaan dengan Iktikaf***@Rumah Kasongan, 22 Ramadan 1444/ 13 April 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 292-294, pertanyaan no. 186, 187, 188, dan 189.Tags: Iktikafmasjidramadan

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 198 – Doa Ketika Bangun Tidur #2

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 198DOA KETIKA BANGUN TIDUR Bag-2Selain doa sebelum tidur, agama Islam juga mengajarkan doa saat bangun dari tidur. Untuk mendidik kita selalu mengingat Allah, mulai dari bangun di pagi hari hingga tidur kembali di malam nanti. Di antara doa yang diajarkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat bangun tidur adalah:BACAAN KEDUA:Membaca doa berikut ini sekali:«الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ»“Alhamdulillâhilladzî ‘âfânî fi jasadî, wa rodda ‘alayya rûhî, wa adzina lî bidzikrih”.Dalil LandasanAbu Hurairah radhiyallahu ’anhu menuturkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«… فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَلْيَقُلْ: الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ»“… Bila salah seorang dari kalian bangun tidur, hendaklah membaca: “Alhamdulillâhilladzî ‘âfânî fi jasadî, wa rodda ‘alayya rûhî, wa adzina lî bidzikrih” (Segala puji untuk Allah yang telah menyehatkan tubuhku, mengembalikan ruhku, dan membantuku untuk mengingat-Nya)”. HR. Tirmidziy (no. 3401) dan isnadnya dinilai sahih oleh an-Nawawiy, adapun al-Albaniy menyatakan hadits ini hasan.Renungan KandunganKarena keterbatasan literasi, doa ini barangkali belum familiar di telinga kebanyakan kita. Padahal jelas-jelas dianjurkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca saat bangun tidur. Dan kandungan maknanya juga luar biasa. Doa ini menjelaskan betapa banyak dan beragamnya nikmat yang dikaruniakan Allah di setiap hari. Sehingga kita wajib untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya.Ada tiga nikmat yang diingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doa ini:Pertama: Nikmat SehatSaat bangun tidur, kita dianjurkan untuk mengucapkan hamdalah atas nikmat kesehatan tubuh. Di mana kita masih bisa melihat, mendengar, berbicara, bernapas, berjalan, menggenggam dan lain sebagainya. Belum lagi nikmat organ-organ dalam tubuh kita yang masih normal. Jantung masih berdetak, pembuluh masih mengalirkan darah, syaraf-syaraf masih aktif, paru-paru masih bisa mengolah udara yang masuk ke dalam tubuh dan memisahkan oksigen dari karbondioksida. Kita harus selalu bersyukur, sekalipun ada sebagian anggota tubuh kita yang sakit. Sebab yakinlah bahwa anggota yang masih sehat lebih banyak.Kedua: Nikmat HidupNikmat lain yang wajib disyukuri saat bangun tidur adalah nikmat hidup. Sebab dengan masih diberinya kita umur, berarti kita masih berpeluang untuk beramal salih dan menambah pundi-pundi pahala.Dikisahkan ada dua orang masuk Islam di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Katakanlah si A dan si B. Tidak lama kemudian si A mati syahid di medan perang. Sedangkan si B wafat setahun kemudian. Salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Thalhah bermimpi melihat surga. Ia menyaksikan si B masuk surga duluan sebelum si A. Ia pun keheranan. Pagi harinya ia menceritakan mimpi itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliaupun bersabda,«أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ! وَصَلَّى سِتَّةَ آلافِ رَكْعَةٍ أَوْ كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً! صَلاةَ السَّنَةِ»“Bukankah setelah si A wafat, si B masih bisa berpuasa Ramadhan sekali lagi? Dia juga menunaikan 6000 raka’at shalat selama setahun?”. HR. Ahmad dan isnadnya dinilai hasan oleh al-‘Ajluniy.Ketiga: Nikmat IbadahInilah nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Lebih besar dibanding nikmat kesehatan dan kehidupan. Sebab hanya orang-orang istimewa dan pilihan yang dibantu Allah untuk beribadah. Adapun kesehatan dan kehidupan maka diberikan Allah kepada siapapun, entah manusia yang dicintai-Nya atau yang tidak dicintai-Nya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Ramadhan 1444 / 17 April 2023AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaenSoundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaenInstagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 198 – Doa Ketika Bangun Tidur #2

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 198DOA KETIKA BANGUN TIDUR Bag-2Selain doa sebelum tidur, agama Islam juga mengajarkan doa saat bangun dari tidur. Untuk mendidik kita selalu mengingat Allah, mulai dari bangun di pagi hari hingga tidur kembali di malam nanti. Di antara doa yang diajarkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat bangun tidur adalah:BACAAN KEDUA:Membaca doa berikut ini sekali:«الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ»“Alhamdulillâhilladzî ‘âfânî fi jasadî, wa rodda ‘alayya rûhî, wa adzina lî bidzikrih”.Dalil LandasanAbu Hurairah radhiyallahu ’anhu menuturkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«… فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَلْيَقُلْ: الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ»“… Bila salah seorang dari kalian bangun tidur, hendaklah membaca: “Alhamdulillâhilladzî ‘âfânî fi jasadî, wa rodda ‘alayya rûhî, wa adzina lî bidzikrih” (Segala puji untuk Allah yang telah menyehatkan tubuhku, mengembalikan ruhku, dan membantuku untuk mengingat-Nya)”. HR. Tirmidziy (no. 3401) dan isnadnya dinilai sahih oleh an-Nawawiy, adapun al-Albaniy menyatakan hadits ini hasan.Renungan KandunganKarena keterbatasan literasi, doa ini barangkali belum familiar di telinga kebanyakan kita. Padahal jelas-jelas dianjurkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca saat bangun tidur. Dan kandungan maknanya juga luar biasa. Doa ini menjelaskan betapa banyak dan beragamnya nikmat yang dikaruniakan Allah di setiap hari. Sehingga kita wajib untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya.Ada tiga nikmat yang diingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doa ini:Pertama: Nikmat SehatSaat bangun tidur, kita dianjurkan untuk mengucapkan hamdalah atas nikmat kesehatan tubuh. Di mana kita masih bisa melihat, mendengar, berbicara, bernapas, berjalan, menggenggam dan lain sebagainya. Belum lagi nikmat organ-organ dalam tubuh kita yang masih normal. Jantung masih berdetak, pembuluh masih mengalirkan darah, syaraf-syaraf masih aktif, paru-paru masih bisa mengolah udara yang masuk ke dalam tubuh dan memisahkan oksigen dari karbondioksida. Kita harus selalu bersyukur, sekalipun ada sebagian anggota tubuh kita yang sakit. Sebab yakinlah bahwa anggota yang masih sehat lebih banyak.Kedua: Nikmat HidupNikmat lain yang wajib disyukuri saat bangun tidur adalah nikmat hidup. Sebab dengan masih diberinya kita umur, berarti kita masih berpeluang untuk beramal salih dan menambah pundi-pundi pahala.Dikisahkan ada dua orang masuk Islam di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Katakanlah si A dan si B. Tidak lama kemudian si A mati syahid di medan perang. Sedangkan si B wafat setahun kemudian. Salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Thalhah bermimpi melihat surga. Ia menyaksikan si B masuk surga duluan sebelum si A. Ia pun keheranan. Pagi harinya ia menceritakan mimpi itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliaupun bersabda,«أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ! وَصَلَّى سِتَّةَ آلافِ رَكْعَةٍ أَوْ كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً! صَلاةَ السَّنَةِ»“Bukankah setelah si A wafat, si B masih bisa berpuasa Ramadhan sekali lagi? Dia juga menunaikan 6000 raka’at shalat selama setahun?”. HR. Ahmad dan isnadnya dinilai hasan oleh al-‘Ajluniy.Ketiga: Nikmat IbadahInilah nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Lebih besar dibanding nikmat kesehatan dan kehidupan. Sebab hanya orang-orang istimewa dan pilihan yang dibantu Allah untuk beribadah. Adapun kesehatan dan kehidupan maka diberikan Allah kepada siapapun, entah manusia yang dicintai-Nya atau yang tidak dicintai-Nya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Ramadhan 1444 / 17 April 2023AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaenSoundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaenInstagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 198DOA KETIKA BANGUN TIDUR Bag-2Selain doa sebelum tidur, agama Islam juga mengajarkan doa saat bangun dari tidur. Untuk mendidik kita selalu mengingat Allah, mulai dari bangun di pagi hari hingga tidur kembali di malam nanti. Di antara doa yang diajarkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat bangun tidur adalah:BACAAN KEDUA:Membaca doa berikut ini sekali:«الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ»“Alhamdulillâhilladzî ‘âfânî fi jasadî, wa rodda ‘alayya rûhî, wa adzina lî bidzikrih”.Dalil LandasanAbu Hurairah radhiyallahu ’anhu menuturkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«… فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَلْيَقُلْ: الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ»“… Bila salah seorang dari kalian bangun tidur, hendaklah membaca: “Alhamdulillâhilladzî ‘âfânî fi jasadî, wa rodda ‘alayya rûhî, wa adzina lî bidzikrih” (Segala puji untuk Allah yang telah menyehatkan tubuhku, mengembalikan ruhku, dan membantuku untuk mengingat-Nya)”. HR. Tirmidziy (no. 3401) dan isnadnya dinilai sahih oleh an-Nawawiy, adapun al-Albaniy menyatakan hadits ini hasan.Renungan KandunganKarena keterbatasan literasi, doa ini barangkali belum familiar di telinga kebanyakan kita. Padahal jelas-jelas dianjurkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca saat bangun tidur. Dan kandungan maknanya juga luar biasa. Doa ini menjelaskan betapa banyak dan beragamnya nikmat yang dikaruniakan Allah di setiap hari. Sehingga kita wajib untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya.Ada tiga nikmat yang diingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doa ini:Pertama: Nikmat SehatSaat bangun tidur, kita dianjurkan untuk mengucapkan hamdalah atas nikmat kesehatan tubuh. Di mana kita masih bisa melihat, mendengar, berbicara, bernapas, berjalan, menggenggam dan lain sebagainya. Belum lagi nikmat organ-organ dalam tubuh kita yang masih normal. Jantung masih berdetak, pembuluh masih mengalirkan darah, syaraf-syaraf masih aktif, paru-paru masih bisa mengolah udara yang masuk ke dalam tubuh dan memisahkan oksigen dari karbondioksida. Kita harus selalu bersyukur, sekalipun ada sebagian anggota tubuh kita yang sakit. Sebab yakinlah bahwa anggota yang masih sehat lebih banyak.Kedua: Nikmat HidupNikmat lain yang wajib disyukuri saat bangun tidur adalah nikmat hidup. Sebab dengan masih diberinya kita umur, berarti kita masih berpeluang untuk beramal salih dan menambah pundi-pundi pahala.Dikisahkan ada dua orang masuk Islam di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Katakanlah si A dan si B. Tidak lama kemudian si A mati syahid di medan perang. Sedangkan si B wafat setahun kemudian. Salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Thalhah bermimpi melihat surga. Ia menyaksikan si B masuk surga duluan sebelum si A. Ia pun keheranan. Pagi harinya ia menceritakan mimpi itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliaupun bersabda,«أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ! وَصَلَّى سِتَّةَ آلافِ رَكْعَةٍ أَوْ كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً! صَلاةَ السَّنَةِ»“Bukankah setelah si A wafat, si B masih bisa berpuasa Ramadhan sekali lagi? Dia juga menunaikan 6000 raka’at shalat selama setahun?”. HR. Ahmad dan isnadnya dinilai hasan oleh al-‘Ajluniy.Ketiga: Nikmat IbadahInilah nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Lebih besar dibanding nikmat kesehatan dan kehidupan. Sebab hanya orang-orang istimewa dan pilihan yang dibantu Allah untuk beribadah. Adapun kesehatan dan kehidupan maka diberikan Allah kepada siapapun, entah manusia yang dicintai-Nya atau yang tidak dicintai-Nya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Ramadhan 1444 / 17 April 2023AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaenSoundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaenInstagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 198DOA KETIKA BANGUN TIDUR Bag-2Selain doa sebelum tidur, agama Islam juga mengajarkan doa saat bangun dari tidur. Untuk mendidik kita selalu mengingat Allah, mulai dari bangun di pagi hari hingga tidur kembali di malam nanti. Di antara doa yang diajarkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat bangun tidur adalah:BACAAN KEDUA:Membaca doa berikut ini sekali:«الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ»“Alhamdulillâhilladzî ‘âfânî fi jasadî, wa rodda ‘alayya rûhî, wa adzina lî bidzikrih”.Dalil LandasanAbu Hurairah radhiyallahu ’anhu menuturkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«… فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَلْيَقُلْ: الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ»“… Bila salah seorang dari kalian bangun tidur, hendaklah membaca: “Alhamdulillâhilladzî ‘âfânî fi jasadî, wa rodda ‘alayya rûhî, wa adzina lî bidzikrih” (Segala puji untuk Allah yang telah menyehatkan tubuhku, mengembalikan ruhku, dan membantuku untuk mengingat-Nya)”. HR. Tirmidziy (no. 3401) dan isnadnya dinilai sahih oleh an-Nawawiy, adapun al-Albaniy menyatakan hadits ini hasan.Renungan KandunganKarena keterbatasan literasi, doa ini barangkali belum familiar di telinga kebanyakan kita. Padahal jelas-jelas dianjurkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca saat bangun tidur. Dan kandungan maknanya juga luar biasa. Doa ini menjelaskan betapa banyak dan beragamnya nikmat yang dikaruniakan Allah di setiap hari. Sehingga kita wajib untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya.Ada tiga nikmat yang diingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doa ini:Pertama: Nikmat SehatSaat bangun tidur, kita dianjurkan untuk mengucapkan hamdalah atas nikmat kesehatan tubuh. Di mana kita masih bisa melihat, mendengar, berbicara, bernapas, berjalan, menggenggam dan lain sebagainya. Belum lagi nikmat organ-organ dalam tubuh kita yang masih normal. Jantung masih berdetak, pembuluh masih mengalirkan darah, syaraf-syaraf masih aktif, paru-paru masih bisa mengolah udara yang masuk ke dalam tubuh dan memisahkan oksigen dari karbondioksida. Kita harus selalu bersyukur, sekalipun ada sebagian anggota tubuh kita yang sakit. Sebab yakinlah bahwa anggota yang masih sehat lebih banyak.Kedua: Nikmat HidupNikmat lain yang wajib disyukuri saat bangun tidur adalah nikmat hidup. Sebab dengan masih diberinya kita umur, berarti kita masih berpeluang untuk beramal salih dan menambah pundi-pundi pahala.Dikisahkan ada dua orang masuk Islam di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Katakanlah si A dan si B. Tidak lama kemudian si A mati syahid di medan perang. Sedangkan si B wafat setahun kemudian. Salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Thalhah bermimpi melihat surga. Ia menyaksikan si B masuk surga duluan sebelum si A. Ia pun keheranan. Pagi harinya ia menceritakan mimpi itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliaupun bersabda,«أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ! وَصَلَّى سِتَّةَ آلافِ رَكْعَةٍ أَوْ كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً! صَلاةَ السَّنَةِ»“Bukankah setelah si A wafat, si B masih bisa berpuasa Ramadhan sekali lagi? Dia juga menunaikan 6000 raka’at shalat selama setahun?”. HR. Ahmad dan isnadnya dinilai hasan oleh al-‘Ajluniy.Ketiga: Nikmat IbadahInilah nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Lebih besar dibanding nikmat kesehatan dan kehidupan. Sebab hanya orang-orang istimewa dan pilihan yang dibantu Allah untuk beribadah. Adapun kesehatan dan kehidupan maka diberikan Allah kepada siapapun, entah manusia yang dicintai-Nya atau yang tidak dicintai-Nya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Ramadhan 1444 / 17 April 2023AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaenSoundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaenInstagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma

Fatwa Ulama: Mengapa Disebut “Salat Tarawih”?

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Fadhilatusy syaikh, di antara ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala di bulan Ramadan adalah salat tarawih. Apa maksud (makna) dari “tarawih” dan tahajud?Jawaban:Salat “tarawih” disebut juga dengan “qiyam Ramadan” (salat sunah yang dikerjakan di bulan Ramadan) yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa mengerjakan ‘qiyam Ramadan’ karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Disebut dengan salat “tarawih” karena kaum muslimin pada zaman dahulu memperpanjang (memperlama) pelaksanaan salat tersebut. Setiap kali mereka salat empat rakaat (dengan dua kali salam), mereka istirahat (استراحوا) sebentar kemudian melanjutkan salat kembali.Berdasarkan penjelasan tersebutlah dimaknai hadis yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat malam di bulan Ramadan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat lagi, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau salat tiga rakaat.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)Hadis di atas dimaknai dengan salat empat rakaat dengan dua kali salam. Akan tetapi, terdapat jeda (istirahat sebentar, pent.) antara empat rakaat dan empat rakaat berikutnya.Salat tarawih ini hukumnya sunah yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam salat bersama para sahabatnya selama tiga malam kemudian mengakhirkannya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ“Hanya saja, aku khawatir nanti diwajibkan atas kalian.” (HR. Bukhari 1129 dan Muslim no. 761)Hendaknya bagi kaum muslimin untuk tidak meremehkan salat tersebut untuk meraih pahala orang-orang yang mengerjakan qiyam Ramadan, yaitu ampunan atas dosa-dosanya yang telah berlalu. Dan hendaknya kaum muslimin menjaga pelaksanaan salat tersebut bersama imam (tidak mengerjakan sendirian, pent.), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ“Barangsiapa yang salat bersama imam hingga selesai, diberikan pahala baginya salat selama satu malam.” (HR. Tirmizi no. 806, An-Nasa’i no. 1605, dan Ibnu Majah no. 1327)Tidak diragukan lagi bahwa terdapat beberapa kesalahan dalam pelaksanaan salat tarawih pada zaman sekarang ini, baik yang dilakukan oleh imam maupun yang selainnya. [1, 2]Baca juga: Fikih Ringkas Shalat Tarawih***@Rumah Kasongan, 20 Ramadan 1444/ 11 April 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Beberapa kesalahan yang terjadi pada saat pelaksanaan salat tarawih telah beliau jelaskan di fatwa yang telah kami terjemahkan sebelumnya di tautan berikut ini:Inilah Kesalahan yang Dijumpai pada Saat Salat Tarawih (muslim.or.id)[2] Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 286-287, pertanyaan no. 180.Tags: makna tarawihramadantarawih

Fatwa Ulama: Mengapa Disebut “Salat Tarawih”?

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Fadhilatusy syaikh, di antara ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala di bulan Ramadan adalah salat tarawih. Apa maksud (makna) dari “tarawih” dan tahajud?Jawaban:Salat “tarawih” disebut juga dengan “qiyam Ramadan” (salat sunah yang dikerjakan di bulan Ramadan) yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa mengerjakan ‘qiyam Ramadan’ karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Disebut dengan salat “tarawih” karena kaum muslimin pada zaman dahulu memperpanjang (memperlama) pelaksanaan salat tersebut. Setiap kali mereka salat empat rakaat (dengan dua kali salam), mereka istirahat (استراحوا) sebentar kemudian melanjutkan salat kembali.Berdasarkan penjelasan tersebutlah dimaknai hadis yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat malam di bulan Ramadan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat lagi, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau salat tiga rakaat.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)Hadis di atas dimaknai dengan salat empat rakaat dengan dua kali salam. Akan tetapi, terdapat jeda (istirahat sebentar, pent.) antara empat rakaat dan empat rakaat berikutnya.Salat tarawih ini hukumnya sunah yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam salat bersama para sahabatnya selama tiga malam kemudian mengakhirkannya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ“Hanya saja, aku khawatir nanti diwajibkan atas kalian.” (HR. Bukhari 1129 dan Muslim no. 761)Hendaknya bagi kaum muslimin untuk tidak meremehkan salat tersebut untuk meraih pahala orang-orang yang mengerjakan qiyam Ramadan, yaitu ampunan atas dosa-dosanya yang telah berlalu. Dan hendaknya kaum muslimin menjaga pelaksanaan salat tersebut bersama imam (tidak mengerjakan sendirian, pent.), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ“Barangsiapa yang salat bersama imam hingga selesai, diberikan pahala baginya salat selama satu malam.” (HR. Tirmizi no. 806, An-Nasa’i no. 1605, dan Ibnu Majah no. 1327)Tidak diragukan lagi bahwa terdapat beberapa kesalahan dalam pelaksanaan salat tarawih pada zaman sekarang ini, baik yang dilakukan oleh imam maupun yang selainnya. [1, 2]Baca juga: Fikih Ringkas Shalat Tarawih***@Rumah Kasongan, 20 Ramadan 1444/ 11 April 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Beberapa kesalahan yang terjadi pada saat pelaksanaan salat tarawih telah beliau jelaskan di fatwa yang telah kami terjemahkan sebelumnya di tautan berikut ini:Inilah Kesalahan yang Dijumpai pada Saat Salat Tarawih (muslim.or.id)[2] Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 286-287, pertanyaan no. 180.Tags: makna tarawihramadantarawih
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Fadhilatusy syaikh, di antara ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala di bulan Ramadan adalah salat tarawih. Apa maksud (makna) dari “tarawih” dan tahajud?Jawaban:Salat “tarawih” disebut juga dengan “qiyam Ramadan” (salat sunah yang dikerjakan di bulan Ramadan) yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa mengerjakan ‘qiyam Ramadan’ karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Disebut dengan salat “tarawih” karena kaum muslimin pada zaman dahulu memperpanjang (memperlama) pelaksanaan salat tersebut. Setiap kali mereka salat empat rakaat (dengan dua kali salam), mereka istirahat (استراحوا) sebentar kemudian melanjutkan salat kembali.Berdasarkan penjelasan tersebutlah dimaknai hadis yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat malam di bulan Ramadan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat lagi, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau salat tiga rakaat.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)Hadis di atas dimaknai dengan salat empat rakaat dengan dua kali salam. Akan tetapi, terdapat jeda (istirahat sebentar, pent.) antara empat rakaat dan empat rakaat berikutnya.Salat tarawih ini hukumnya sunah yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam salat bersama para sahabatnya selama tiga malam kemudian mengakhirkannya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ“Hanya saja, aku khawatir nanti diwajibkan atas kalian.” (HR. Bukhari 1129 dan Muslim no. 761)Hendaknya bagi kaum muslimin untuk tidak meremehkan salat tersebut untuk meraih pahala orang-orang yang mengerjakan qiyam Ramadan, yaitu ampunan atas dosa-dosanya yang telah berlalu. Dan hendaknya kaum muslimin menjaga pelaksanaan salat tersebut bersama imam (tidak mengerjakan sendirian, pent.), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ“Barangsiapa yang salat bersama imam hingga selesai, diberikan pahala baginya salat selama satu malam.” (HR. Tirmizi no. 806, An-Nasa’i no. 1605, dan Ibnu Majah no. 1327)Tidak diragukan lagi bahwa terdapat beberapa kesalahan dalam pelaksanaan salat tarawih pada zaman sekarang ini, baik yang dilakukan oleh imam maupun yang selainnya. [1, 2]Baca juga: Fikih Ringkas Shalat Tarawih***@Rumah Kasongan, 20 Ramadan 1444/ 11 April 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Beberapa kesalahan yang terjadi pada saat pelaksanaan salat tarawih telah beliau jelaskan di fatwa yang telah kami terjemahkan sebelumnya di tautan berikut ini:Inilah Kesalahan yang Dijumpai pada Saat Salat Tarawih (muslim.or.id)[2] Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 286-287, pertanyaan no. 180.Tags: makna tarawihramadantarawih


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Fadhilatusy syaikh, di antara ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala di bulan Ramadan adalah salat tarawih. Apa maksud (makna) dari “tarawih” dan tahajud?Jawaban:Salat “tarawih” disebut juga dengan “qiyam Ramadan” (salat sunah yang dikerjakan di bulan Ramadan) yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa mengerjakan ‘qiyam Ramadan’ karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Disebut dengan salat “tarawih” karena kaum muslimin pada zaman dahulu memperpanjang (memperlama) pelaksanaan salat tersebut. Setiap kali mereka salat empat rakaat (dengan dua kali salam), mereka istirahat (استراحوا) sebentar kemudian melanjutkan salat kembali.Berdasarkan penjelasan tersebutlah dimaknai hadis yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat malam di bulan Ramadan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat lagi, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau salat tiga rakaat.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)Hadis di atas dimaknai dengan salat empat rakaat dengan dua kali salam. Akan tetapi, terdapat jeda (istirahat sebentar, pent.) antara empat rakaat dan empat rakaat berikutnya.Salat tarawih ini hukumnya sunah yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam salat bersama para sahabatnya selama tiga malam kemudian mengakhirkannya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ“Hanya saja, aku khawatir nanti diwajibkan atas kalian.” (HR. Bukhari 1129 dan Muslim no. 761)Hendaknya bagi kaum muslimin untuk tidak meremehkan salat tersebut untuk meraih pahala orang-orang yang mengerjakan qiyam Ramadan, yaitu ampunan atas dosa-dosanya yang telah berlalu. Dan hendaknya kaum muslimin menjaga pelaksanaan salat tersebut bersama imam (tidak mengerjakan sendirian, pent.), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ“Barangsiapa yang salat bersama imam hingga selesai, diberikan pahala baginya salat selama satu malam.” (HR. Tirmizi no. 806, An-Nasa’i no. 1605, dan Ibnu Majah no. 1327)Tidak diragukan lagi bahwa terdapat beberapa kesalahan dalam pelaksanaan salat tarawih pada zaman sekarang ini, baik yang dilakukan oleh imam maupun yang selainnya. [1, 2]Baca juga: Fikih Ringkas Shalat Tarawih***@Rumah Kasongan, 20 Ramadan 1444/ 11 April 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Beberapa kesalahan yang terjadi pada saat pelaksanaan salat tarawih telah beliau jelaskan di fatwa yang telah kami terjemahkan sebelumnya di tautan berikut ini:Inilah Kesalahan yang Dijumpai pada Saat Salat Tarawih (muslim.or.id)[2] Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 286-287, pertanyaan no. 180.Tags: makna tarawihramadantarawih

Abu Sa’id Al-Khudri: Mufti Madinah dan Ahli Fikih Para Sahabat

Jika langit malam kelap-kelip dengan adanya bintang-bintang, maka umat ini terang benderang dengan adanya para ulama yang mengajarkan ilmu dan memberi teladan. Dan ini adalah kisah salah satu dari mereka. Ia masyhur sebagai ahli fikih paling muda di kalangan para sahabat Nabi. Ia juga merupakan sahabat yang paling utama dari kalangan Ansar. Termasuk salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Terhitung sebagai ahli suffah. Ia dikenal hidup fakir, namun kaya dengan perbendaharaan ilmu. Ia adalah Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.Daftar Isi Nama dan kunyahnyaNama beliauKunyah beliauKeluarga besarnyaAyah beliauIbu beliauSaudara-saudara beliauAnak-anak beliauKelahirannyaCiri-cirinyaAkhlaknyaSabar dan menjaga kehormatan diriKeberanian dan kepahlawananKeislamannyaBerniat ikut perang UhudGuru-gurunyaMurid-muridnyaMurid-Muridnya dari golongan sahabatMurid-muridnya dari golongan tabi’inPujian ulama terhadapnyaRiwayat hadis darinyaSalah satu mufti dari kalangan sahabatNasihatnyaWasiatnya WafatnyaNama dan kunyahnyaNama beliauUlama berselisih pendapat terkait nama asli Abu Sa’id Al-Khudri. Di antara perkataan mereka tentang nama beliau adalah:Pertama: Beliau bernama Sa’ad bin Malik bin Sinan bin Tsa’labah bin Ubaid bin Al-Abjar Abu Sa’id Al-Khudri. [1]Kedua: Beliau bernama Sinan. Ibnu Hisyam di dalam Sirah-nya mengatakan, “Nama Abu Sa’id Al-Khudri adalah Sinan.” [2]Namun, nama beliau yang masyhur di kalangan ulama adalah Sa’ad.Kunyah beliauAbu Sa’id Al-Khudri Al-Anshari termasuk keturunan suku Al-Khazraj. Mereka disebut Bani Khudrah atau Balkhudrah. Ada juga yang menyebut mereka Banu Al-Abjar. Dan yang dimaksud Al-Abjar adalah ‘Udzrah bin ‘Auf bin Al-Harits bin Al-Khazraj. [3]Keluarga besarnyaAyah beliauAyah Abu Sa’id Al-Khudri bernama Malik bin Sinan bin Ubayd bin Tsa’labah Al-Anshari. Malik bin Sinan termasuk sahabat Nabi yang mengikuti perang Uhud. Dan termasuk jejeran sahabat yang mati syahid di pertempuran tersebut.Penyebutan nama Malik bin Sinan secara khusus dalam kitab-kitab sejarah Islam tidaklah ditemukan, kecuali dalam dua peristiwa. Yakni, syahidnya beliau dalam perang Uhud dan tatkala beliau menghisap darah dari wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Wajah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam terluka, maka Malik bin Sinan menghadap ke arah beliau dan menghisap darah dari wajahnya, kemudian menelannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, ‘Siapa saja yang senang melihat seseorang yang darahnya bercampur dengan darahku, maka hendaklah ia melihat Malik bin Sinan.’” [4]Pada riwayat Ibnu Ishaq di dalam kitab Sirah-nya, Nabi bersabda, “Siapa pun yang darahnya bercampur dengan darahku, maka neraka tidak akan menyentuhnya.” [5]Ibu beliauIbu Abu Sa’id Al-Khudri bernama Anisah binti Abi Haritsah dari Bani Adi bin An-Najjaar. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hubaib kepada orang-orang yang membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. [6]Saudara-saudara beliauAhli sejarah mencatatkan beberapa saudara Abu Sa’id, di antaranya:Pertama: Qatadah bin An-Nu’man, saudara seibu.Kedua: Fari’ah binti Malik, saudara seayah dan seibu.Ketiga: Zainab, saudarinya yang lain.Anak-anak beliauAbu Sa’id dikaruniai beberapa anak dari pernikahannya dengan istrinya, Zainab. Di antaranya:Pertama: AbdurrahmanKedua: AbdullahKetiga: HamzahKeempat: Sa’idKelima: BasyirAhli sejarah juga menuliskan beberapa cucu beliau, di antaranya:Pertama: Rubaih bin Abdirrahman bin Abu Sa’idKedua: Abdullah bin Abdullah bin Abu Sa’idBaca juga: Biografi Ringkas Syaikh Muhammad bin Sholih Al UtsaiminKelahirannyaTidak ada kitab sejarah yang menuliskan secara pasti tahun kelahiran tokoh ini. Namun, berdasarkan beberapa catatan peristiwa, kita dapat menetapkan tahun kelahiran beliau dengan jalan berikut:Catatan sejarah menunjukkan bahwa Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dianggap masih kecil saat terjadi perang Uhud, sehingga beliau ditolak oleh Nabi untuk diikutkan dalam pertempuran tersebut. Disebutkan bahwa umur beliau waktu itu baru 13 tahun. Sementara, perang Uhud terjadi pada bulan Syawal tahun 3 Hijriah. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan beliau lahir sekitar 10 tahun sebelum hijriah.Ciri-cirinyaBeberapa ciri fisik Abu Sa’id Al-Khudri yang disebutkan dalam kitab sejarah sebagai berikut:Pertama: Abu Sa’id tidaklah bercukur, di mana jenggotnya berwarna putih lebat.Kedua: Dari Wahab bin Kisan, ia berkata, “Aku melihat Abu Sa’id memakai sutra.”Ketiga: Dari Usman bin Ubaidillah bin Abi Rafi’, ia berkata, “Aku melihat Abu Sa’id menipiskan kumisnya sebagaimana saudaraku Al-Haliq.”AkhlaknyaAbu Sa’id Al-Khudri berhias dengan akhlak Islam yang mulia sebagai buah dari keimanan yang tertancap kuat di dalam hati beliau. Di antara akhlak beliau yang paling menonjol adalah:Sabar dan menjaga kehormatan diriAbu Sai’d Al-Khudri adalah salah satu sahabat yang ditempa secara langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hikmah dan anutan sehingga menjadikan dirinya seorang pribadi muslim yang sejati. Di antara sifat terpuji yang ia miliki adalah ia senantiasa berjalan di atas kesabaran ketika menghadapi kesempitan dan ujian hidup.Dikisahkan, ketika ayahnya meninggal dalam perang Uhud, ia kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta-minta. Namun, Nabi malah balik memberikan nasihat menggugah untuk mendidiknya, hingga petuah itu meresap kuat ke dalam sanubarinya.Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan kisah tersebut dari jalur Utaibah, anaknya sendiri, di mana Abu Sa’id berkata, “Ayahku meninggal pada perang Uhud sebagai syahid, dan tidak meninggalkan harta untuk kami sepeser pun. Maka, aku pun mendatangi Rasulullah dan meminta (harta) padanya. Maka, tatkala melihatku, beliau bersabda,من استغنى أغناه الله، ومن يستعفف يعفه الله“Barangsiapa yang merasa cukup (tidak meminta-minta), maka Allah akan mencukupi (kebutuhan)nya. Barangsiapa yang menjaga diri (dari yang haram), maka Allah akan menjaganya.” Maka, aku (Abu Sa’id -pen) pun kembali (tanpa membawa apa-apa).Hadis tersebut juga terdapat di dalam Ash-Shahihain dari jalur Ata’ bin Yazid dari Abu Sa’id Al-Khudri dengan cerita dan lafaz berbeda, yakni “Bahwa orang-orang Ansar meminta-minta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak seorang pun yang meminta kepada beliau kecuali diberi, hingga ludes apa yang beliau punya untuk diinfakkan kepada mereka. Beliau kemudian berkata kepada mereka,ما يكن عندي من خير لا أدخره عنكم وإنه من يستعف يعفه الله ومن يتصبر يصبره الله ومن يستغن يغنه الله ولن تعطوا عطاء خيرا وأوسع من الصبر“Kebaikan (harta) di sisiku tidaklah tersisa, kecuali telah aku berikan kepada kalian. Barangsiapa yang menjaga diri (dari yang haram), maka Allah akan menjaganya. Dan siapa saja yang bersabar, maka Allah akan menjadikannya orang yang sabar. Begitu pula, barangsiapa yang merasa cukup (dari manusia), maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Pemberian (dari Allah) tidak ada yang lebih baik dan lebih lapang bagi manusia selain kesabaran.” [7]Selain itu, meskipun beliau dari kalangan Ansar, beliau sering bergaul dengan ahli suffah dan juga dikenal sebagai ahli suffah. Beberapa sahabat, meskipun hidup cukup, mereka memilih hidup zuhud dan sabar. Di antaranya dengan banyak berinteraksi dengan ahli suffah. Bahkan, beberapa ulama terkenal dari kalangan sahabat selain Abu Sa’id tinggal di samping Masjid Nabawi sebagai ahli suffah, semisal Abu Hurairah dan Abdullah bin Mas’ud. [8]Abu Nu’aim Al-Ashbahani berkata tentangnya, “Keadaannya dekat dengan keadaan ahli suffah. Meskipun ia adalah seorang Ansar yang memiliki rumah, namun ia lebih menyukai hidup dengan ahli suffah untuk meraih sabar, dan memilih berdiam sebagai ahli suffah untuk hidup fakir dan memelihara diri dari segala yang tidak baik.” [9]Keberanian dan kepahlawananDi antara sifat yang juga dimiliki oleh Abu Sa’id Al-Khudri adalah keberaniannya dalam membela kebenaran, bagaimana pun keadaannya. Kisah beliau yang berkaitan dengan hal ini, semisal:Pertama: Beliau diketahui sebagai salah satu sahabat yang membaiat Nabi di bawah pohon, yang dikenal sebagai Bai’atur Ridwan. Seperti telah masyhur diceritakan, bahwa pada saat itu, kondisi kaum muslimin yang awalnya berniat berhaji cukup mencekam. Di mana Usman yang diutus oleh Nabi untuk bernegoisasi dengan kaum Quraisy, tidak juga kembali dalam beberapa hari. Sampai kemudian terdengar berita jika ia terbunuh. Maka, Nabi pun mengambil ba’iat dari para sahabat untuk berjanji setia dan tidak akan pergi, jika semisal mereka harus berperang. Hal ini menunjukkan loyalitas dan keberanian para sahabat, meskipun jumlah mereka sedikit. Sampai-sampai Allah pun mengabadikan kisah mereka dalam Al-Qur’an yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ رَضِیَ اللّهُ عَنِ المؤمِنِینَ اِذْ یُبَایِعُونَکَ تَحتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِی قُلوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّکِیْنَةَ عَلَیْهِمْ وَ اَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِیْبًا“Sungguh Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Lalu, Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (Q.S. Al-Fath: 18)Kedua: Semangat beliau untuk berjihad bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan sejak beliau masih kecil, sebagaimana yang akan dikisahkan nantinya. Disebutkan dalam buku sejarah, bahwa beliau mengikuti 13 peperangan bersama kaum muslimin, baik yang diikuti oleh Nabi secara langsung (Gazwah) maupun yang bentuknya ekspedisi (pengiriman satuan militer atas perintah Nabi), di antaranya:Pertama: Perang (Gazwah) Bani MustaliqKedua: Perang (Gazwah) KhandaqKetiga: Perang (Gazwah) Bani QuraidzahKeempat: Perang (Gazwah) HudaybiahKelima: Ekspedisi (Syariyyah) Basyir bin Sa’ad ke FadakKeenam: Ekspedisi (Syariyyah) Al-Qamah bin MujazzazKetujuh: Perang (Gazwah) Mu’tahKedelapan: Ekspedisi (Syariyyah) Abdurrahman bin ‘Auf ke Dumah Al-JandalKesembilan: Perang Fathul MakkahKesepuluh: Perang (Gazwah) HunainKesebelas: Perang (Gazwah) TabukKedua belas: Perang (Gazwah) Ukaydir di Dumah Al-JandulKetiga belas: Ekspedisi (Syariyyah) Ali bin Abi Thalib ke YamanKetiga: Beliau pernah memberikan nasihat secara berani kepada Marwan bin Al-Hakam bin Abil ‘Ash tatkala ia menjadi orang pertama yang membuat bid’ah berupa melakukan khotbah sebelum salat Id. Padahal Marwan pada saat itu tengah menjabat sebagai khalifah Bani Umayah di Syam.Peristiwa tersebut disampaikan di antaranya melalui jalur Thariq bin Syihab, di mana ia berkata, “Orang pertama yang memulai khotbah Id sebelum salat adalah Marwan. Maka, ada seseorang berdiri dan berujar kepadanya, “Salat (Id) itu seharusnya didahulukan sebelum khotbah.” Marwan menimpali, “Hal tersebut sudah ditinggalkan.” Maka Abu Sa’id berkata, “Adapun orang ini telah menunaikan apa yang seharusnya. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” [10]Keempat: Mengutamakan orang lainAbu Sa’id Al-Khudri juga dikenal dengan sifat itsar atau mendahulukan orang lain dibanding diri sendiri. Sebagian orang yang menulis biografinya mensifatinya demikian dengan berkata, “Ia seorang yang mendahulukan orang-orang fakir.” [11]Maka itsar ini merupakan kebiasaan baik dan akhlak yang mulia yang para sahabat dipuji oleh Allah dengan berfirman,وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr ayat 9).Hingga jadilah para sahabat itu sebagai generasi Qur’ani yang tiada taranya. Generasi salaf yang diteladani dalam akhlak mulia. Dan satu di antara mereka adalah Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.Baca juga: Sejarah Hidup Imam Al GhazaliKeislamannyaKitab-kitab sejarah juga tidak menyebutkan cerita dan awal mula keislaman Abu Sa’id Al-Khudri radhiyyalahu ‘anhu. Namun, nampak bahwa beliau termasuk penduduk Madinah yang pertama-tama memeluk agama Islam. Hal ini terlihat jelas pada sikap pemuda terdidik ini. Bagaimana ia mendudukkan Islam dalam dirinya. Begitu juga kedalaman iman di dalam dirinya. Sehingga mendorong dirinya untuk ikut berjihad pada perang Uhud bersama Nabi. Padahal umurnya pada waktu itu masih 13 tahun. Namun, usia belia tidak menghalangi niatnya untuk turut serta dalam pertempuran besar tersebut.Berniat ikut perang UhudPada saat perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeleksi sahabat yang akan berangkat berjihad, di antaranya berdasarkan usia. Sekelompok sahabat yang masih remaja ditolak oleh beliau dan tidak diizinkan menyandang senjata di hari itu. Satu di antara sahabat muda tersebut adalah Abu Sa’id Al-Khudri. Pada saat itu, Abu Sa’id masih berusia 13 tahun.Kisah penolakan dan pemulangan Abu Sa’id Al-Khudri, diceritakan sendiri olehnya, di mana ia berkata, “Aku mengusulkan diri untuk ikut perang Uhud pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara usiaku masih 13 tahun. Ayahku pun menggenggam tanganku seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, anak ini memiliki tulang yang sangat besar.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengamatiku dari atas ke bawah kemudian membenarkan ayahku. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memerintahkan ayahku sambil bersabda, ‘Kembalikan anak itu.’ Maka, ayahku pun memulangkanku.” [12]Zaid bin Haritsah Al-Anshari radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap kecil dan menolak sejumlah orang pada peristiwa perang Uhud. Di antaranya Zaid bin Haritsah, Al-Bara’ bin ‘Azib, Sa’ad bin Khaitsamah, Abu Sa’id Al-Khudri, dan Jabir bin Abdillah. [13]Guru-gurunyaBerdasarkan riwayat-riwayat Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun sebagian besar ia berasal dari Nabi secara marfu’, beliau juga meriwayatkan hadis dari sahabat yang lain. Oleh karena itu, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menuliskan, “Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Zaid bin Tsabit, Abu Qatadah Al-Ansari, Abdullah bin Salam, Usaid bin Hudhair, Ibnu Abbas, Abu Musa Al-Asy’ari, Mu’awiyah, dan Jabir bin Abdillah.” [14]Murid-muridnyaMurid-Muridnya dari golongan sahabatDi antara sahabat yang meriwayatkan hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri adalah [15]:Pertama: Ibnu UmarKedua: JabirKetiga: AnasKeempat: Istrinya (Zainab binti Ka’ab)Kelima: Ibnu AbbasKeenam: Zaid bin TsabitKetujuh: Mahmud bin LubaydMurid-muridnya dari golongan tabi’inAdapun tabi’in yang meriwayatkan hadis darinya adalah:Abdurrahman (anaknya), Abu Umamah bin Sahl, Said bin Al-Musayyab, Thariq ibnu Syihab, Abu At-Tufail, Ata’ bin Abi Rabah, Ata’ bin Yasar, Ata’ bin Yazid, ‘Iyad bin Abdullah bin Abi As-Sarh, Al-Agar bin Muslim, Bisyr bin Sa’id, Abu Al-Wadak, Hafs bin Ashim, Humaid bin Abdurrahman bin ‘Auf, saudaranya (Abu Salamah bin Abdurrahman), Raja’ bin Rabiah, Adh-Dhahaq Asy-Syirqi, ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Khabbab, Sa’id bin Al-Harits Al-Anshari, Abdullah bin Muhairiz,  Abdullah bin Abi ‘Utbah (pelayan Anas), Abdurrahman bin Abi Ni’m, Ubaid bin Umair, Uqbah bin Abdil Faiz, Iqrimah, ‘Amr bin Salim, Quz’ah bin Yahya, Muhammad bin Sirin, Nafi’ pelayan Ibnu Umar,  Yahya bin Imarah bin Abi Hasan, Mujahid, Abu Ja’far Al-Baqir, Abu Sa’id Al-Maqbiri, Abu Abdurrahman Al-Habli, Abu Utsman An-Nahdi, Abu Syu’ban pelayan Abu Ahmad, Abu Shalih As-Siman, Abu Al-Mutawakkul An-Naji, Abu Nadrah Al-Ubaid, Abu Al-Qamah Al-Hasyimi, Abu Harun Al-Abdi, dan selainnya. [16]Pujian ulama terhadapnyaDi antara pujian ulama terhadap Abu Sa’id Al-Khudri:Pertama: Diriwayatkan dari Hanzalah bin Abi Sufyan, dari ayahnya, ia berkata, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah yang paling muda yang lebih berilmu dibanding Abu Sa’id Al-Khudri.” [17]Kedua: Al-Imam Abu Bakr Al-Khatib berkata, “Abu Sa’id adalah orang Ansar yang paling utama. Ia menghafal hadis yang sangat banyak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [18]Ketiga: An-Nawawi rahimahullah berkata, “Abu Sa’id Al-Khudri adalah salah satu ahli fikih dari kalangan sahabat, dan yang paling mulia serta paling cerdas di antara mereka.” [19]Keempat: Al-‘Amiri berkata, “Abu Sa’id Al-Khudri adalah salah satu di antara sahabat yang masyhur, yang paling utama, paling banyak riwayatnya. Dan ia terhitung sebagai ahli suffah. Suka mengutamakan orang-orang fakir. Dikaruniai kesabaran. Seorang faqih. Serta seorang yang mulia dan terhormat.” [20]Baca juga: Imam Syafi’i Sang Pembela Sunnah dan Hadits NabiRiwayat hadis darinyaAbu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan hadis sebanyak 1170 buah hadis, dan termasuk urutan ketujuh sahabat periwayat hadis terbanyak setelah Abu Hurairah (5374 hadis), Abdullah bin Umar (2630 hadis), Anas bin Malik (lebih dari 2286 hadis), Aisyah (2210 hadis), Abdullah bin Abbas (1660 hadis), dan Jabir bin Abdillah (1540 hadis) radhiyallahu ‘anhum ajma’in. [21]Abu Sa’id Al-Khudri termasuk sahabat yang memiliki ingatan yang sangat kuat. Ia sama sekali tidak menuliskan hadis-hadis di dalam kitab, namun ia menghafalkan keseluruhan hadis yang ia riwayatkan. Tentang hal ini, ia pernah berkata kepada muridnya, “Janganlah engkau tulis hadis-hadis, dan jangan engkau jadikan ia sebagaimana Al-Qur’an (ditulis -pen). Akan tetapi, hafallah dariku sebagaimana aku menghafalnya.” Di kesempatan lain ia berkata, “Ambillah hadis-hadis sebagaimana aku mengambilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [22]Abu Sa’id Al-Khudri jugalah yang meriwayatkan hadis larangan Nabi untuk tidak menuliskan selain Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Janganlah kalian tulis dariku, selain Al-Qur’an. Dan siapa pun yang menulis sesuatu dariku selain Al-Qur’an, maka hendaklah ia menghapusnya.” [23]Salah satu mufti dari kalangan sahabatPakar sejarah menyebut Abu Sa’id Al-Khudri sebagai salah satu sahabat yang biasa berfatwa. Maka, tentang ini Ziyad bin Mina berkata, “Adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Sa’id Al-Khudri, Abu Hurairah, Jabir bin Abdillah, dan sahabat Rasulullah lain yang serupa dengan mereka, berfatwa di Madinah. Maka, mereka mengambil hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sejak wafatnya Usman radhiyallahu ‘anhu hingga wafatnya diri mereka masing-masing.” [24]NasihatnyaBerikut adalah salah satu nasihat beliau, “Wajib bagimu bertakwa kepada Allah. Karena takwa adalah pemimpin setiap hal. Wajib pula atasmu untuk berjihad. Karena ia adalah kerahiban dalam Islam. Demikian juga, patut bagimu berzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an. Karena ia mengharumkanmu pada penduduk langit dan menyebutmu di tengah-tengah penduduk bumi. Wajib juga bagimu untuk diam, kecuali dalam rangka menyampaikan kebenaran. Maka engkau pun akan mengalahkan setan.” [25]Wasiatnya Sebelum meninggal, Abu Sa’id Al-Khudri memberikan wasiat kepada Abdurrahman, anaknya, di mana ia berkata, “Ayahku berkata padaku, ‘Aku semakin tua. Para sahabat dan kawananku telah pergi (wafat). Tolong, peganglah tanganku.’ Ayahku kemudian bertelekan kepadaku hingga tiba di tepi pemakaman Baqi, bagian yang belum ada kuburannya. Beliau kemudian berkata, ‘Wahai anakku, jika nanti aku mati, maka kuburkanlah aku di sini. Jangan buatkan aku tenda besar, dan jangan pula engkau iringi aku dengan api. Jangan pula tangisi aku dengan ratapan. Jangan engkau kabarkan manusia tentang kematianku. Ringankanlah dan segerakanlah.’ Ayahku kemudian wafat pada hari Jumat. Aku pun tidak suka memberitahu manusia sebagaimana ia melarangku. Namun, mereka datang kepadaku dan bertanya, ‘Kapan engkau mengeluarkan (jenazah)nya?’ Aku pun menjawab, ‘Setelah aku siapkan, baru aku keluarkan.’ Maka, manusia pun memenuhi pekuburan Baqi bersamaku.” [26]WafatnyaSetelah menjalani kehidupan dan umur yang terbilang cukup panjang, ia telah sukses mengumpulkan berbagai kebaikan dan keutamaan. Baik berupa ilmu, amal, akhlak yang mulia, sikap zuhud, dan jihad fii sabilillah. Abu Sa’id Al-Khudri pada akhirnya berpulang ke sisi Rabbnya ‘Azza Wajalla di Madinah. Kota tempat ia lahir, tumbuh, dan berjuang bersama Nabi dan para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum ajma’in.Ulama berbeda pendapat terkait tahun wafat Abu Sa’id Al-Khudri. Di antara perkataan mereka tentang waktu kematiannya sebagai berikut:Pertama: Beliau wafat pada tahun 74 Hijriah. Ini pendapat Al-Wakidi, Ibnu Numair, dan Ibnu Bakir. [27]Kedua: Beliau wafat pada tahun 64 Hijriah. Ini perkataan Ali Al-Madini. [28]Ketiga: Beliau wafat pada tahun 63 Hijriah. Ini perkataan lain dari Ali Al-Madini dan Ibnu Hibban. [29]Keempat: Beliau wafat pada tahun 65 Hijriah. Ini pendapat Al-Askari. [30]Abu Sa’id Al-Khudri dikuburkan di pemakaman Baqi sebagaimana yang ia wasiatkan kepada anaknya, Abdurrahman. Sebelumnya, dia menginginkan pemakaman yang sederhana. Sampai kemudian manusia di Madinah mengetahui berita kematiannya. Mereka pun berbondong-bondong menghadiri penguburan jenazahnya, sehingga pekuburan Baqi pun tumpah ruah dan penuh dengan manusia. Semua itu sebagai bentuk penghormatan mereka terhadap Abu Sa’id Al-Khudri yang mereka kenal telah menjadi Mufti di Madinah dalam waktu yang cukup panjang. Begitu juga kisah kepahlawanan, kesahajaan, kesabaran, dan teguhnya beliau dalam memberikan nasihat, serta beramar makruf nahi mungkar kepada manusia. Semoga Allah mengumpulkan kita bersamanya, dan seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in di surga-Nya kelak, tempat yang penuh kenikmatan nan abadi.Baca juga: Mengenal Imam Bukhari***Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Sumber bacaan dan terjemah:Muhammad Abdullah Abu Su’aylik. 1999. Abu Sa’id Al-Khudri Shahibu Rasulillahi wa Mufti Al-Madinah fii Zamaanihi. Riyadh. Huquq At-Thaba’ Mahfuzah. Catatan kaki:[1]     Al-Mu’jam Al-Kabir 6/33, Al-Ishabah 2/33, Sirah Ibnu Hisyam 3/178, Thabaqat Khalifah hal. 96[2]     Sirah Ibnu Hisyam 3/178.[3]     Jamharah Ansab Al-Arab hal. 362 dan Al-Ishabah 2/32.[4]     Al-Mu’jam Al-Kabir no. 5430, Ibnu Sakkan dan Sa’id Mansur sebagaimana dalam Al-Ishabah 3/320, Al-Maghazy karya Al-Waakidi 1/247.[5]     Sirah Ibnu Hisyam 3/116, di mana sanadnya Munqati’. Juga terdapat dalam Al-Maghazhi karya Al-Waakidi 1/247.[6]    Al-Majar: 429 dan Al-Ishabah 4/238.[7]     Al-Jami’ Ash-Shahih, Kitab Ar-Riqaq nomor 6470.[8]    Ahlus Suffah. Asy-Syaikh Shalih Najib Ad-Daq.[9]    Al-Hilyah 1/369-370.[10]   HR. Muslim 2/21-24.[11]    Ar-Riyaadh Al-Mustathaabah hal 100.[12]   Siyar Alam Nubala, 3/169, Tahdzib Ibnu Asaakir 6/113, dan Al-Mustadrak 3/563.[13]    Mu’jam Al-Kabir, nomor 5150.[14]   Tahdzib At-Tahdzib 3/416.[15]    Siyar Alam Nubala 3/169 dan At-Tahdzib 3/416.[16]   At-Tahdzib 3/316-317.[17]   Thabaqat Ibnu Sa’ad, 2/374.[18]   Tarikh Bagdad, 1/180[19]   Tahdzib Al-Asma, 2/237.[20]  Ar-Riyad Al-Mustathabah, hal. 100.[21]   Aktsaru Ash-Shahabah Riwayah lilhadits. Mahmud Dawus Dasuqi  Khattabi.[22]   Al-Mustadrak 3/564, Jami’ Bayan Al-‘Ilmi 1/76-77, dan Taqyid Al-Ilm halaman 36.[23]   HR. Muslim hal. 229.[24]   Thabaqat Al-Fuqaha, karya Asy-Syirasyi hal. 33.[25]   Siyar A’lam Nubala 3/170.[26]   Al-Mustadrak, 3/564.[27]   Tahdzib At-Tahdzib 3/417.[28]   Siyar Alam Nubala 3/171 dan At-Tarikh Al-Kabir 4/44.[29]   Masyahir Ulama Al-Amshar hal 11 dan At-Tsiqat 3/150.[30]   Tahdzib At-Tahdzib 3/417.Tags: biografiperiwayat hadisSahabat Nabi

Abu Sa’id Al-Khudri: Mufti Madinah dan Ahli Fikih Para Sahabat

Jika langit malam kelap-kelip dengan adanya bintang-bintang, maka umat ini terang benderang dengan adanya para ulama yang mengajarkan ilmu dan memberi teladan. Dan ini adalah kisah salah satu dari mereka. Ia masyhur sebagai ahli fikih paling muda di kalangan para sahabat Nabi. Ia juga merupakan sahabat yang paling utama dari kalangan Ansar. Termasuk salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Terhitung sebagai ahli suffah. Ia dikenal hidup fakir, namun kaya dengan perbendaharaan ilmu. Ia adalah Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.Daftar Isi Nama dan kunyahnyaNama beliauKunyah beliauKeluarga besarnyaAyah beliauIbu beliauSaudara-saudara beliauAnak-anak beliauKelahirannyaCiri-cirinyaAkhlaknyaSabar dan menjaga kehormatan diriKeberanian dan kepahlawananKeislamannyaBerniat ikut perang UhudGuru-gurunyaMurid-muridnyaMurid-Muridnya dari golongan sahabatMurid-muridnya dari golongan tabi’inPujian ulama terhadapnyaRiwayat hadis darinyaSalah satu mufti dari kalangan sahabatNasihatnyaWasiatnya WafatnyaNama dan kunyahnyaNama beliauUlama berselisih pendapat terkait nama asli Abu Sa’id Al-Khudri. Di antara perkataan mereka tentang nama beliau adalah:Pertama: Beliau bernama Sa’ad bin Malik bin Sinan bin Tsa’labah bin Ubaid bin Al-Abjar Abu Sa’id Al-Khudri. [1]Kedua: Beliau bernama Sinan. Ibnu Hisyam di dalam Sirah-nya mengatakan, “Nama Abu Sa’id Al-Khudri adalah Sinan.” [2]Namun, nama beliau yang masyhur di kalangan ulama adalah Sa’ad.Kunyah beliauAbu Sa’id Al-Khudri Al-Anshari termasuk keturunan suku Al-Khazraj. Mereka disebut Bani Khudrah atau Balkhudrah. Ada juga yang menyebut mereka Banu Al-Abjar. Dan yang dimaksud Al-Abjar adalah ‘Udzrah bin ‘Auf bin Al-Harits bin Al-Khazraj. [3]Keluarga besarnyaAyah beliauAyah Abu Sa’id Al-Khudri bernama Malik bin Sinan bin Ubayd bin Tsa’labah Al-Anshari. Malik bin Sinan termasuk sahabat Nabi yang mengikuti perang Uhud. Dan termasuk jejeran sahabat yang mati syahid di pertempuran tersebut.Penyebutan nama Malik bin Sinan secara khusus dalam kitab-kitab sejarah Islam tidaklah ditemukan, kecuali dalam dua peristiwa. Yakni, syahidnya beliau dalam perang Uhud dan tatkala beliau menghisap darah dari wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Wajah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam terluka, maka Malik bin Sinan menghadap ke arah beliau dan menghisap darah dari wajahnya, kemudian menelannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, ‘Siapa saja yang senang melihat seseorang yang darahnya bercampur dengan darahku, maka hendaklah ia melihat Malik bin Sinan.’” [4]Pada riwayat Ibnu Ishaq di dalam kitab Sirah-nya, Nabi bersabda, “Siapa pun yang darahnya bercampur dengan darahku, maka neraka tidak akan menyentuhnya.” [5]Ibu beliauIbu Abu Sa’id Al-Khudri bernama Anisah binti Abi Haritsah dari Bani Adi bin An-Najjaar. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hubaib kepada orang-orang yang membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. [6]Saudara-saudara beliauAhli sejarah mencatatkan beberapa saudara Abu Sa’id, di antaranya:Pertama: Qatadah bin An-Nu’man, saudara seibu.Kedua: Fari’ah binti Malik, saudara seayah dan seibu.Ketiga: Zainab, saudarinya yang lain.Anak-anak beliauAbu Sa’id dikaruniai beberapa anak dari pernikahannya dengan istrinya, Zainab. Di antaranya:Pertama: AbdurrahmanKedua: AbdullahKetiga: HamzahKeempat: Sa’idKelima: BasyirAhli sejarah juga menuliskan beberapa cucu beliau, di antaranya:Pertama: Rubaih bin Abdirrahman bin Abu Sa’idKedua: Abdullah bin Abdullah bin Abu Sa’idBaca juga: Biografi Ringkas Syaikh Muhammad bin Sholih Al UtsaiminKelahirannyaTidak ada kitab sejarah yang menuliskan secara pasti tahun kelahiran tokoh ini. Namun, berdasarkan beberapa catatan peristiwa, kita dapat menetapkan tahun kelahiran beliau dengan jalan berikut:Catatan sejarah menunjukkan bahwa Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dianggap masih kecil saat terjadi perang Uhud, sehingga beliau ditolak oleh Nabi untuk diikutkan dalam pertempuran tersebut. Disebutkan bahwa umur beliau waktu itu baru 13 tahun. Sementara, perang Uhud terjadi pada bulan Syawal tahun 3 Hijriah. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan beliau lahir sekitar 10 tahun sebelum hijriah.Ciri-cirinyaBeberapa ciri fisik Abu Sa’id Al-Khudri yang disebutkan dalam kitab sejarah sebagai berikut:Pertama: Abu Sa’id tidaklah bercukur, di mana jenggotnya berwarna putih lebat.Kedua: Dari Wahab bin Kisan, ia berkata, “Aku melihat Abu Sa’id memakai sutra.”Ketiga: Dari Usman bin Ubaidillah bin Abi Rafi’, ia berkata, “Aku melihat Abu Sa’id menipiskan kumisnya sebagaimana saudaraku Al-Haliq.”AkhlaknyaAbu Sa’id Al-Khudri berhias dengan akhlak Islam yang mulia sebagai buah dari keimanan yang tertancap kuat di dalam hati beliau. Di antara akhlak beliau yang paling menonjol adalah:Sabar dan menjaga kehormatan diriAbu Sai’d Al-Khudri adalah salah satu sahabat yang ditempa secara langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hikmah dan anutan sehingga menjadikan dirinya seorang pribadi muslim yang sejati. Di antara sifat terpuji yang ia miliki adalah ia senantiasa berjalan di atas kesabaran ketika menghadapi kesempitan dan ujian hidup.Dikisahkan, ketika ayahnya meninggal dalam perang Uhud, ia kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta-minta. Namun, Nabi malah balik memberikan nasihat menggugah untuk mendidiknya, hingga petuah itu meresap kuat ke dalam sanubarinya.Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan kisah tersebut dari jalur Utaibah, anaknya sendiri, di mana Abu Sa’id berkata, “Ayahku meninggal pada perang Uhud sebagai syahid, dan tidak meninggalkan harta untuk kami sepeser pun. Maka, aku pun mendatangi Rasulullah dan meminta (harta) padanya. Maka, tatkala melihatku, beliau bersabda,من استغنى أغناه الله، ومن يستعفف يعفه الله“Barangsiapa yang merasa cukup (tidak meminta-minta), maka Allah akan mencukupi (kebutuhan)nya. Barangsiapa yang menjaga diri (dari yang haram), maka Allah akan menjaganya.” Maka, aku (Abu Sa’id -pen) pun kembali (tanpa membawa apa-apa).Hadis tersebut juga terdapat di dalam Ash-Shahihain dari jalur Ata’ bin Yazid dari Abu Sa’id Al-Khudri dengan cerita dan lafaz berbeda, yakni “Bahwa orang-orang Ansar meminta-minta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak seorang pun yang meminta kepada beliau kecuali diberi, hingga ludes apa yang beliau punya untuk diinfakkan kepada mereka. Beliau kemudian berkata kepada mereka,ما يكن عندي من خير لا أدخره عنكم وإنه من يستعف يعفه الله ومن يتصبر يصبره الله ومن يستغن يغنه الله ولن تعطوا عطاء خيرا وأوسع من الصبر“Kebaikan (harta) di sisiku tidaklah tersisa, kecuali telah aku berikan kepada kalian. Barangsiapa yang menjaga diri (dari yang haram), maka Allah akan menjaganya. Dan siapa saja yang bersabar, maka Allah akan menjadikannya orang yang sabar. Begitu pula, barangsiapa yang merasa cukup (dari manusia), maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Pemberian (dari Allah) tidak ada yang lebih baik dan lebih lapang bagi manusia selain kesabaran.” [7]Selain itu, meskipun beliau dari kalangan Ansar, beliau sering bergaul dengan ahli suffah dan juga dikenal sebagai ahli suffah. Beberapa sahabat, meskipun hidup cukup, mereka memilih hidup zuhud dan sabar. Di antaranya dengan banyak berinteraksi dengan ahli suffah. Bahkan, beberapa ulama terkenal dari kalangan sahabat selain Abu Sa’id tinggal di samping Masjid Nabawi sebagai ahli suffah, semisal Abu Hurairah dan Abdullah bin Mas’ud. [8]Abu Nu’aim Al-Ashbahani berkata tentangnya, “Keadaannya dekat dengan keadaan ahli suffah. Meskipun ia adalah seorang Ansar yang memiliki rumah, namun ia lebih menyukai hidup dengan ahli suffah untuk meraih sabar, dan memilih berdiam sebagai ahli suffah untuk hidup fakir dan memelihara diri dari segala yang tidak baik.” [9]Keberanian dan kepahlawananDi antara sifat yang juga dimiliki oleh Abu Sa’id Al-Khudri adalah keberaniannya dalam membela kebenaran, bagaimana pun keadaannya. Kisah beliau yang berkaitan dengan hal ini, semisal:Pertama: Beliau diketahui sebagai salah satu sahabat yang membaiat Nabi di bawah pohon, yang dikenal sebagai Bai’atur Ridwan. Seperti telah masyhur diceritakan, bahwa pada saat itu, kondisi kaum muslimin yang awalnya berniat berhaji cukup mencekam. Di mana Usman yang diutus oleh Nabi untuk bernegoisasi dengan kaum Quraisy, tidak juga kembali dalam beberapa hari. Sampai kemudian terdengar berita jika ia terbunuh. Maka, Nabi pun mengambil ba’iat dari para sahabat untuk berjanji setia dan tidak akan pergi, jika semisal mereka harus berperang. Hal ini menunjukkan loyalitas dan keberanian para sahabat, meskipun jumlah mereka sedikit. Sampai-sampai Allah pun mengabadikan kisah mereka dalam Al-Qur’an yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ رَضِیَ اللّهُ عَنِ المؤمِنِینَ اِذْ یُبَایِعُونَکَ تَحتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِی قُلوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّکِیْنَةَ عَلَیْهِمْ وَ اَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِیْبًا“Sungguh Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Lalu, Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (Q.S. Al-Fath: 18)Kedua: Semangat beliau untuk berjihad bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan sejak beliau masih kecil, sebagaimana yang akan dikisahkan nantinya. Disebutkan dalam buku sejarah, bahwa beliau mengikuti 13 peperangan bersama kaum muslimin, baik yang diikuti oleh Nabi secara langsung (Gazwah) maupun yang bentuknya ekspedisi (pengiriman satuan militer atas perintah Nabi), di antaranya:Pertama: Perang (Gazwah) Bani MustaliqKedua: Perang (Gazwah) KhandaqKetiga: Perang (Gazwah) Bani QuraidzahKeempat: Perang (Gazwah) HudaybiahKelima: Ekspedisi (Syariyyah) Basyir bin Sa’ad ke FadakKeenam: Ekspedisi (Syariyyah) Al-Qamah bin MujazzazKetujuh: Perang (Gazwah) Mu’tahKedelapan: Ekspedisi (Syariyyah) Abdurrahman bin ‘Auf ke Dumah Al-JandalKesembilan: Perang Fathul MakkahKesepuluh: Perang (Gazwah) HunainKesebelas: Perang (Gazwah) TabukKedua belas: Perang (Gazwah) Ukaydir di Dumah Al-JandulKetiga belas: Ekspedisi (Syariyyah) Ali bin Abi Thalib ke YamanKetiga: Beliau pernah memberikan nasihat secara berani kepada Marwan bin Al-Hakam bin Abil ‘Ash tatkala ia menjadi orang pertama yang membuat bid’ah berupa melakukan khotbah sebelum salat Id. Padahal Marwan pada saat itu tengah menjabat sebagai khalifah Bani Umayah di Syam.Peristiwa tersebut disampaikan di antaranya melalui jalur Thariq bin Syihab, di mana ia berkata, “Orang pertama yang memulai khotbah Id sebelum salat adalah Marwan. Maka, ada seseorang berdiri dan berujar kepadanya, “Salat (Id) itu seharusnya didahulukan sebelum khotbah.” Marwan menimpali, “Hal tersebut sudah ditinggalkan.” Maka Abu Sa’id berkata, “Adapun orang ini telah menunaikan apa yang seharusnya. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” [10]Keempat: Mengutamakan orang lainAbu Sa’id Al-Khudri juga dikenal dengan sifat itsar atau mendahulukan orang lain dibanding diri sendiri. Sebagian orang yang menulis biografinya mensifatinya demikian dengan berkata, “Ia seorang yang mendahulukan orang-orang fakir.” [11]Maka itsar ini merupakan kebiasaan baik dan akhlak yang mulia yang para sahabat dipuji oleh Allah dengan berfirman,وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr ayat 9).Hingga jadilah para sahabat itu sebagai generasi Qur’ani yang tiada taranya. Generasi salaf yang diteladani dalam akhlak mulia. Dan satu di antara mereka adalah Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.Baca juga: Sejarah Hidup Imam Al GhazaliKeislamannyaKitab-kitab sejarah juga tidak menyebutkan cerita dan awal mula keislaman Abu Sa’id Al-Khudri radhiyyalahu ‘anhu. Namun, nampak bahwa beliau termasuk penduduk Madinah yang pertama-tama memeluk agama Islam. Hal ini terlihat jelas pada sikap pemuda terdidik ini. Bagaimana ia mendudukkan Islam dalam dirinya. Begitu juga kedalaman iman di dalam dirinya. Sehingga mendorong dirinya untuk ikut berjihad pada perang Uhud bersama Nabi. Padahal umurnya pada waktu itu masih 13 tahun. Namun, usia belia tidak menghalangi niatnya untuk turut serta dalam pertempuran besar tersebut.Berniat ikut perang UhudPada saat perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeleksi sahabat yang akan berangkat berjihad, di antaranya berdasarkan usia. Sekelompok sahabat yang masih remaja ditolak oleh beliau dan tidak diizinkan menyandang senjata di hari itu. Satu di antara sahabat muda tersebut adalah Abu Sa’id Al-Khudri. Pada saat itu, Abu Sa’id masih berusia 13 tahun.Kisah penolakan dan pemulangan Abu Sa’id Al-Khudri, diceritakan sendiri olehnya, di mana ia berkata, “Aku mengusulkan diri untuk ikut perang Uhud pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara usiaku masih 13 tahun. Ayahku pun menggenggam tanganku seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, anak ini memiliki tulang yang sangat besar.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengamatiku dari atas ke bawah kemudian membenarkan ayahku. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memerintahkan ayahku sambil bersabda, ‘Kembalikan anak itu.’ Maka, ayahku pun memulangkanku.” [12]Zaid bin Haritsah Al-Anshari radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap kecil dan menolak sejumlah orang pada peristiwa perang Uhud. Di antaranya Zaid bin Haritsah, Al-Bara’ bin ‘Azib, Sa’ad bin Khaitsamah, Abu Sa’id Al-Khudri, dan Jabir bin Abdillah. [13]Guru-gurunyaBerdasarkan riwayat-riwayat Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun sebagian besar ia berasal dari Nabi secara marfu’, beliau juga meriwayatkan hadis dari sahabat yang lain. Oleh karena itu, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menuliskan, “Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Zaid bin Tsabit, Abu Qatadah Al-Ansari, Abdullah bin Salam, Usaid bin Hudhair, Ibnu Abbas, Abu Musa Al-Asy’ari, Mu’awiyah, dan Jabir bin Abdillah.” [14]Murid-muridnyaMurid-Muridnya dari golongan sahabatDi antara sahabat yang meriwayatkan hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri adalah [15]:Pertama: Ibnu UmarKedua: JabirKetiga: AnasKeempat: Istrinya (Zainab binti Ka’ab)Kelima: Ibnu AbbasKeenam: Zaid bin TsabitKetujuh: Mahmud bin LubaydMurid-muridnya dari golongan tabi’inAdapun tabi’in yang meriwayatkan hadis darinya adalah:Abdurrahman (anaknya), Abu Umamah bin Sahl, Said bin Al-Musayyab, Thariq ibnu Syihab, Abu At-Tufail, Ata’ bin Abi Rabah, Ata’ bin Yasar, Ata’ bin Yazid, ‘Iyad bin Abdullah bin Abi As-Sarh, Al-Agar bin Muslim, Bisyr bin Sa’id, Abu Al-Wadak, Hafs bin Ashim, Humaid bin Abdurrahman bin ‘Auf, saudaranya (Abu Salamah bin Abdurrahman), Raja’ bin Rabiah, Adh-Dhahaq Asy-Syirqi, ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Khabbab, Sa’id bin Al-Harits Al-Anshari, Abdullah bin Muhairiz,  Abdullah bin Abi ‘Utbah (pelayan Anas), Abdurrahman bin Abi Ni’m, Ubaid bin Umair, Uqbah bin Abdil Faiz, Iqrimah, ‘Amr bin Salim, Quz’ah bin Yahya, Muhammad bin Sirin, Nafi’ pelayan Ibnu Umar,  Yahya bin Imarah bin Abi Hasan, Mujahid, Abu Ja’far Al-Baqir, Abu Sa’id Al-Maqbiri, Abu Abdurrahman Al-Habli, Abu Utsman An-Nahdi, Abu Syu’ban pelayan Abu Ahmad, Abu Shalih As-Siman, Abu Al-Mutawakkul An-Naji, Abu Nadrah Al-Ubaid, Abu Al-Qamah Al-Hasyimi, Abu Harun Al-Abdi, dan selainnya. [16]Pujian ulama terhadapnyaDi antara pujian ulama terhadap Abu Sa’id Al-Khudri:Pertama: Diriwayatkan dari Hanzalah bin Abi Sufyan, dari ayahnya, ia berkata, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah yang paling muda yang lebih berilmu dibanding Abu Sa’id Al-Khudri.” [17]Kedua: Al-Imam Abu Bakr Al-Khatib berkata, “Abu Sa’id adalah orang Ansar yang paling utama. Ia menghafal hadis yang sangat banyak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [18]Ketiga: An-Nawawi rahimahullah berkata, “Abu Sa’id Al-Khudri adalah salah satu ahli fikih dari kalangan sahabat, dan yang paling mulia serta paling cerdas di antara mereka.” [19]Keempat: Al-‘Amiri berkata, “Abu Sa’id Al-Khudri adalah salah satu di antara sahabat yang masyhur, yang paling utama, paling banyak riwayatnya. Dan ia terhitung sebagai ahli suffah. Suka mengutamakan orang-orang fakir. Dikaruniai kesabaran. Seorang faqih. Serta seorang yang mulia dan terhormat.” [20]Baca juga: Imam Syafi’i Sang Pembela Sunnah dan Hadits NabiRiwayat hadis darinyaAbu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan hadis sebanyak 1170 buah hadis, dan termasuk urutan ketujuh sahabat periwayat hadis terbanyak setelah Abu Hurairah (5374 hadis), Abdullah bin Umar (2630 hadis), Anas bin Malik (lebih dari 2286 hadis), Aisyah (2210 hadis), Abdullah bin Abbas (1660 hadis), dan Jabir bin Abdillah (1540 hadis) radhiyallahu ‘anhum ajma’in. [21]Abu Sa’id Al-Khudri termasuk sahabat yang memiliki ingatan yang sangat kuat. Ia sama sekali tidak menuliskan hadis-hadis di dalam kitab, namun ia menghafalkan keseluruhan hadis yang ia riwayatkan. Tentang hal ini, ia pernah berkata kepada muridnya, “Janganlah engkau tulis hadis-hadis, dan jangan engkau jadikan ia sebagaimana Al-Qur’an (ditulis -pen). Akan tetapi, hafallah dariku sebagaimana aku menghafalnya.” Di kesempatan lain ia berkata, “Ambillah hadis-hadis sebagaimana aku mengambilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [22]Abu Sa’id Al-Khudri jugalah yang meriwayatkan hadis larangan Nabi untuk tidak menuliskan selain Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Janganlah kalian tulis dariku, selain Al-Qur’an. Dan siapa pun yang menulis sesuatu dariku selain Al-Qur’an, maka hendaklah ia menghapusnya.” [23]Salah satu mufti dari kalangan sahabatPakar sejarah menyebut Abu Sa’id Al-Khudri sebagai salah satu sahabat yang biasa berfatwa. Maka, tentang ini Ziyad bin Mina berkata, “Adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Sa’id Al-Khudri, Abu Hurairah, Jabir bin Abdillah, dan sahabat Rasulullah lain yang serupa dengan mereka, berfatwa di Madinah. Maka, mereka mengambil hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sejak wafatnya Usman radhiyallahu ‘anhu hingga wafatnya diri mereka masing-masing.” [24]NasihatnyaBerikut adalah salah satu nasihat beliau, “Wajib bagimu bertakwa kepada Allah. Karena takwa adalah pemimpin setiap hal. Wajib pula atasmu untuk berjihad. Karena ia adalah kerahiban dalam Islam. Demikian juga, patut bagimu berzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an. Karena ia mengharumkanmu pada penduduk langit dan menyebutmu di tengah-tengah penduduk bumi. Wajib juga bagimu untuk diam, kecuali dalam rangka menyampaikan kebenaran. Maka engkau pun akan mengalahkan setan.” [25]Wasiatnya Sebelum meninggal, Abu Sa’id Al-Khudri memberikan wasiat kepada Abdurrahman, anaknya, di mana ia berkata, “Ayahku berkata padaku, ‘Aku semakin tua. Para sahabat dan kawananku telah pergi (wafat). Tolong, peganglah tanganku.’ Ayahku kemudian bertelekan kepadaku hingga tiba di tepi pemakaman Baqi, bagian yang belum ada kuburannya. Beliau kemudian berkata, ‘Wahai anakku, jika nanti aku mati, maka kuburkanlah aku di sini. Jangan buatkan aku tenda besar, dan jangan pula engkau iringi aku dengan api. Jangan pula tangisi aku dengan ratapan. Jangan engkau kabarkan manusia tentang kematianku. Ringankanlah dan segerakanlah.’ Ayahku kemudian wafat pada hari Jumat. Aku pun tidak suka memberitahu manusia sebagaimana ia melarangku. Namun, mereka datang kepadaku dan bertanya, ‘Kapan engkau mengeluarkan (jenazah)nya?’ Aku pun menjawab, ‘Setelah aku siapkan, baru aku keluarkan.’ Maka, manusia pun memenuhi pekuburan Baqi bersamaku.” [26]WafatnyaSetelah menjalani kehidupan dan umur yang terbilang cukup panjang, ia telah sukses mengumpulkan berbagai kebaikan dan keutamaan. Baik berupa ilmu, amal, akhlak yang mulia, sikap zuhud, dan jihad fii sabilillah. Abu Sa’id Al-Khudri pada akhirnya berpulang ke sisi Rabbnya ‘Azza Wajalla di Madinah. Kota tempat ia lahir, tumbuh, dan berjuang bersama Nabi dan para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum ajma’in.Ulama berbeda pendapat terkait tahun wafat Abu Sa’id Al-Khudri. Di antara perkataan mereka tentang waktu kematiannya sebagai berikut:Pertama: Beliau wafat pada tahun 74 Hijriah. Ini pendapat Al-Wakidi, Ibnu Numair, dan Ibnu Bakir. [27]Kedua: Beliau wafat pada tahun 64 Hijriah. Ini perkataan Ali Al-Madini. [28]Ketiga: Beliau wafat pada tahun 63 Hijriah. Ini perkataan lain dari Ali Al-Madini dan Ibnu Hibban. [29]Keempat: Beliau wafat pada tahun 65 Hijriah. Ini pendapat Al-Askari. [30]Abu Sa’id Al-Khudri dikuburkan di pemakaman Baqi sebagaimana yang ia wasiatkan kepada anaknya, Abdurrahman. Sebelumnya, dia menginginkan pemakaman yang sederhana. Sampai kemudian manusia di Madinah mengetahui berita kematiannya. Mereka pun berbondong-bondong menghadiri penguburan jenazahnya, sehingga pekuburan Baqi pun tumpah ruah dan penuh dengan manusia. Semua itu sebagai bentuk penghormatan mereka terhadap Abu Sa’id Al-Khudri yang mereka kenal telah menjadi Mufti di Madinah dalam waktu yang cukup panjang. Begitu juga kisah kepahlawanan, kesahajaan, kesabaran, dan teguhnya beliau dalam memberikan nasihat, serta beramar makruf nahi mungkar kepada manusia. Semoga Allah mengumpulkan kita bersamanya, dan seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in di surga-Nya kelak, tempat yang penuh kenikmatan nan abadi.Baca juga: Mengenal Imam Bukhari***Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Sumber bacaan dan terjemah:Muhammad Abdullah Abu Su’aylik. 1999. Abu Sa’id Al-Khudri Shahibu Rasulillahi wa Mufti Al-Madinah fii Zamaanihi. Riyadh. Huquq At-Thaba’ Mahfuzah. Catatan kaki:[1]     Al-Mu’jam Al-Kabir 6/33, Al-Ishabah 2/33, Sirah Ibnu Hisyam 3/178, Thabaqat Khalifah hal. 96[2]     Sirah Ibnu Hisyam 3/178.[3]     Jamharah Ansab Al-Arab hal. 362 dan Al-Ishabah 2/32.[4]     Al-Mu’jam Al-Kabir no. 5430, Ibnu Sakkan dan Sa’id Mansur sebagaimana dalam Al-Ishabah 3/320, Al-Maghazy karya Al-Waakidi 1/247.[5]     Sirah Ibnu Hisyam 3/116, di mana sanadnya Munqati’. Juga terdapat dalam Al-Maghazhi karya Al-Waakidi 1/247.[6]    Al-Majar: 429 dan Al-Ishabah 4/238.[7]     Al-Jami’ Ash-Shahih, Kitab Ar-Riqaq nomor 6470.[8]    Ahlus Suffah. Asy-Syaikh Shalih Najib Ad-Daq.[9]    Al-Hilyah 1/369-370.[10]   HR. Muslim 2/21-24.[11]    Ar-Riyaadh Al-Mustathaabah hal 100.[12]   Siyar Alam Nubala, 3/169, Tahdzib Ibnu Asaakir 6/113, dan Al-Mustadrak 3/563.[13]    Mu’jam Al-Kabir, nomor 5150.[14]   Tahdzib At-Tahdzib 3/416.[15]    Siyar Alam Nubala 3/169 dan At-Tahdzib 3/416.[16]   At-Tahdzib 3/316-317.[17]   Thabaqat Ibnu Sa’ad, 2/374.[18]   Tarikh Bagdad, 1/180[19]   Tahdzib Al-Asma, 2/237.[20]  Ar-Riyad Al-Mustathabah, hal. 100.[21]   Aktsaru Ash-Shahabah Riwayah lilhadits. Mahmud Dawus Dasuqi  Khattabi.[22]   Al-Mustadrak 3/564, Jami’ Bayan Al-‘Ilmi 1/76-77, dan Taqyid Al-Ilm halaman 36.[23]   HR. Muslim hal. 229.[24]   Thabaqat Al-Fuqaha, karya Asy-Syirasyi hal. 33.[25]   Siyar A’lam Nubala 3/170.[26]   Al-Mustadrak, 3/564.[27]   Tahdzib At-Tahdzib 3/417.[28]   Siyar Alam Nubala 3/171 dan At-Tarikh Al-Kabir 4/44.[29]   Masyahir Ulama Al-Amshar hal 11 dan At-Tsiqat 3/150.[30]   Tahdzib At-Tahdzib 3/417.Tags: biografiperiwayat hadisSahabat Nabi
Jika langit malam kelap-kelip dengan adanya bintang-bintang, maka umat ini terang benderang dengan adanya para ulama yang mengajarkan ilmu dan memberi teladan. Dan ini adalah kisah salah satu dari mereka. Ia masyhur sebagai ahli fikih paling muda di kalangan para sahabat Nabi. Ia juga merupakan sahabat yang paling utama dari kalangan Ansar. Termasuk salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Terhitung sebagai ahli suffah. Ia dikenal hidup fakir, namun kaya dengan perbendaharaan ilmu. Ia adalah Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.Daftar Isi Nama dan kunyahnyaNama beliauKunyah beliauKeluarga besarnyaAyah beliauIbu beliauSaudara-saudara beliauAnak-anak beliauKelahirannyaCiri-cirinyaAkhlaknyaSabar dan menjaga kehormatan diriKeberanian dan kepahlawananKeislamannyaBerniat ikut perang UhudGuru-gurunyaMurid-muridnyaMurid-Muridnya dari golongan sahabatMurid-muridnya dari golongan tabi’inPujian ulama terhadapnyaRiwayat hadis darinyaSalah satu mufti dari kalangan sahabatNasihatnyaWasiatnya WafatnyaNama dan kunyahnyaNama beliauUlama berselisih pendapat terkait nama asli Abu Sa’id Al-Khudri. Di antara perkataan mereka tentang nama beliau adalah:Pertama: Beliau bernama Sa’ad bin Malik bin Sinan bin Tsa’labah bin Ubaid bin Al-Abjar Abu Sa’id Al-Khudri. [1]Kedua: Beliau bernama Sinan. Ibnu Hisyam di dalam Sirah-nya mengatakan, “Nama Abu Sa’id Al-Khudri adalah Sinan.” [2]Namun, nama beliau yang masyhur di kalangan ulama adalah Sa’ad.Kunyah beliauAbu Sa’id Al-Khudri Al-Anshari termasuk keturunan suku Al-Khazraj. Mereka disebut Bani Khudrah atau Balkhudrah. Ada juga yang menyebut mereka Banu Al-Abjar. Dan yang dimaksud Al-Abjar adalah ‘Udzrah bin ‘Auf bin Al-Harits bin Al-Khazraj. [3]Keluarga besarnyaAyah beliauAyah Abu Sa’id Al-Khudri bernama Malik bin Sinan bin Ubayd bin Tsa’labah Al-Anshari. Malik bin Sinan termasuk sahabat Nabi yang mengikuti perang Uhud. Dan termasuk jejeran sahabat yang mati syahid di pertempuran tersebut.Penyebutan nama Malik bin Sinan secara khusus dalam kitab-kitab sejarah Islam tidaklah ditemukan, kecuali dalam dua peristiwa. Yakni, syahidnya beliau dalam perang Uhud dan tatkala beliau menghisap darah dari wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Wajah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam terluka, maka Malik bin Sinan menghadap ke arah beliau dan menghisap darah dari wajahnya, kemudian menelannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, ‘Siapa saja yang senang melihat seseorang yang darahnya bercampur dengan darahku, maka hendaklah ia melihat Malik bin Sinan.’” [4]Pada riwayat Ibnu Ishaq di dalam kitab Sirah-nya, Nabi bersabda, “Siapa pun yang darahnya bercampur dengan darahku, maka neraka tidak akan menyentuhnya.” [5]Ibu beliauIbu Abu Sa’id Al-Khudri bernama Anisah binti Abi Haritsah dari Bani Adi bin An-Najjaar. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hubaib kepada orang-orang yang membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. [6]Saudara-saudara beliauAhli sejarah mencatatkan beberapa saudara Abu Sa’id, di antaranya:Pertama: Qatadah bin An-Nu’man, saudara seibu.Kedua: Fari’ah binti Malik, saudara seayah dan seibu.Ketiga: Zainab, saudarinya yang lain.Anak-anak beliauAbu Sa’id dikaruniai beberapa anak dari pernikahannya dengan istrinya, Zainab. Di antaranya:Pertama: AbdurrahmanKedua: AbdullahKetiga: HamzahKeempat: Sa’idKelima: BasyirAhli sejarah juga menuliskan beberapa cucu beliau, di antaranya:Pertama: Rubaih bin Abdirrahman bin Abu Sa’idKedua: Abdullah bin Abdullah bin Abu Sa’idBaca juga: Biografi Ringkas Syaikh Muhammad bin Sholih Al UtsaiminKelahirannyaTidak ada kitab sejarah yang menuliskan secara pasti tahun kelahiran tokoh ini. Namun, berdasarkan beberapa catatan peristiwa, kita dapat menetapkan tahun kelahiran beliau dengan jalan berikut:Catatan sejarah menunjukkan bahwa Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dianggap masih kecil saat terjadi perang Uhud, sehingga beliau ditolak oleh Nabi untuk diikutkan dalam pertempuran tersebut. Disebutkan bahwa umur beliau waktu itu baru 13 tahun. Sementara, perang Uhud terjadi pada bulan Syawal tahun 3 Hijriah. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan beliau lahir sekitar 10 tahun sebelum hijriah.Ciri-cirinyaBeberapa ciri fisik Abu Sa’id Al-Khudri yang disebutkan dalam kitab sejarah sebagai berikut:Pertama: Abu Sa’id tidaklah bercukur, di mana jenggotnya berwarna putih lebat.Kedua: Dari Wahab bin Kisan, ia berkata, “Aku melihat Abu Sa’id memakai sutra.”Ketiga: Dari Usman bin Ubaidillah bin Abi Rafi’, ia berkata, “Aku melihat Abu Sa’id menipiskan kumisnya sebagaimana saudaraku Al-Haliq.”AkhlaknyaAbu Sa’id Al-Khudri berhias dengan akhlak Islam yang mulia sebagai buah dari keimanan yang tertancap kuat di dalam hati beliau. Di antara akhlak beliau yang paling menonjol adalah:Sabar dan menjaga kehormatan diriAbu Sai’d Al-Khudri adalah salah satu sahabat yang ditempa secara langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hikmah dan anutan sehingga menjadikan dirinya seorang pribadi muslim yang sejati. Di antara sifat terpuji yang ia miliki adalah ia senantiasa berjalan di atas kesabaran ketika menghadapi kesempitan dan ujian hidup.Dikisahkan, ketika ayahnya meninggal dalam perang Uhud, ia kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta-minta. Namun, Nabi malah balik memberikan nasihat menggugah untuk mendidiknya, hingga petuah itu meresap kuat ke dalam sanubarinya.Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan kisah tersebut dari jalur Utaibah, anaknya sendiri, di mana Abu Sa’id berkata, “Ayahku meninggal pada perang Uhud sebagai syahid, dan tidak meninggalkan harta untuk kami sepeser pun. Maka, aku pun mendatangi Rasulullah dan meminta (harta) padanya. Maka, tatkala melihatku, beliau bersabda,من استغنى أغناه الله، ومن يستعفف يعفه الله“Barangsiapa yang merasa cukup (tidak meminta-minta), maka Allah akan mencukupi (kebutuhan)nya. Barangsiapa yang menjaga diri (dari yang haram), maka Allah akan menjaganya.” Maka, aku (Abu Sa’id -pen) pun kembali (tanpa membawa apa-apa).Hadis tersebut juga terdapat di dalam Ash-Shahihain dari jalur Ata’ bin Yazid dari Abu Sa’id Al-Khudri dengan cerita dan lafaz berbeda, yakni “Bahwa orang-orang Ansar meminta-minta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak seorang pun yang meminta kepada beliau kecuali diberi, hingga ludes apa yang beliau punya untuk diinfakkan kepada mereka. Beliau kemudian berkata kepada mereka,ما يكن عندي من خير لا أدخره عنكم وإنه من يستعف يعفه الله ومن يتصبر يصبره الله ومن يستغن يغنه الله ولن تعطوا عطاء خيرا وأوسع من الصبر“Kebaikan (harta) di sisiku tidaklah tersisa, kecuali telah aku berikan kepada kalian. Barangsiapa yang menjaga diri (dari yang haram), maka Allah akan menjaganya. Dan siapa saja yang bersabar, maka Allah akan menjadikannya orang yang sabar. Begitu pula, barangsiapa yang merasa cukup (dari manusia), maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Pemberian (dari Allah) tidak ada yang lebih baik dan lebih lapang bagi manusia selain kesabaran.” [7]Selain itu, meskipun beliau dari kalangan Ansar, beliau sering bergaul dengan ahli suffah dan juga dikenal sebagai ahli suffah. Beberapa sahabat, meskipun hidup cukup, mereka memilih hidup zuhud dan sabar. Di antaranya dengan banyak berinteraksi dengan ahli suffah. Bahkan, beberapa ulama terkenal dari kalangan sahabat selain Abu Sa’id tinggal di samping Masjid Nabawi sebagai ahli suffah, semisal Abu Hurairah dan Abdullah bin Mas’ud. [8]Abu Nu’aim Al-Ashbahani berkata tentangnya, “Keadaannya dekat dengan keadaan ahli suffah. Meskipun ia adalah seorang Ansar yang memiliki rumah, namun ia lebih menyukai hidup dengan ahli suffah untuk meraih sabar, dan memilih berdiam sebagai ahli suffah untuk hidup fakir dan memelihara diri dari segala yang tidak baik.” [9]Keberanian dan kepahlawananDi antara sifat yang juga dimiliki oleh Abu Sa’id Al-Khudri adalah keberaniannya dalam membela kebenaran, bagaimana pun keadaannya. Kisah beliau yang berkaitan dengan hal ini, semisal:Pertama: Beliau diketahui sebagai salah satu sahabat yang membaiat Nabi di bawah pohon, yang dikenal sebagai Bai’atur Ridwan. Seperti telah masyhur diceritakan, bahwa pada saat itu, kondisi kaum muslimin yang awalnya berniat berhaji cukup mencekam. Di mana Usman yang diutus oleh Nabi untuk bernegoisasi dengan kaum Quraisy, tidak juga kembali dalam beberapa hari. Sampai kemudian terdengar berita jika ia terbunuh. Maka, Nabi pun mengambil ba’iat dari para sahabat untuk berjanji setia dan tidak akan pergi, jika semisal mereka harus berperang. Hal ini menunjukkan loyalitas dan keberanian para sahabat, meskipun jumlah mereka sedikit. Sampai-sampai Allah pun mengabadikan kisah mereka dalam Al-Qur’an yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ رَضِیَ اللّهُ عَنِ المؤمِنِینَ اِذْ یُبَایِعُونَکَ تَحتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِی قُلوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّکِیْنَةَ عَلَیْهِمْ وَ اَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِیْبًا“Sungguh Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Lalu, Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (Q.S. Al-Fath: 18)Kedua: Semangat beliau untuk berjihad bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan sejak beliau masih kecil, sebagaimana yang akan dikisahkan nantinya. Disebutkan dalam buku sejarah, bahwa beliau mengikuti 13 peperangan bersama kaum muslimin, baik yang diikuti oleh Nabi secara langsung (Gazwah) maupun yang bentuknya ekspedisi (pengiriman satuan militer atas perintah Nabi), di antaranya:Pertama: Perang (Gazwah) Bani MustaliqKedua: Perang (Gazwah) KhandaqKetiga: Perang (Gazwah) Bani QuraidzahKeempat: Perang (Gazwah) HudaybiahKelima: Ekspedisi (Syariyyah) Basyir bin Sa’ad ke FadakKeenam: Ekspedisi (Syariyyah) Al-Qamah bin MujazzazKetujuh: Perang (Gazwah) Mu’tahKedelapan: Ekspedisi (Syariyyah) Abdurrahman bin ‘Auf ke Dumah Al-JandalKesembilan: Perang Fathul MakkahKesepuluh: Perang (Gazwah) HunainKesebelas: Perang (Gazwah) TabukKedua belas: Perang (Gazwah) Ukaydir di Dumah Al-JandulKetiga belas: Ekspedisi (Syariyyah) Ali bin Abi Thalib ke YamanKetiga: Beliau pernah memberikan nasihat secara berani kepada Marwan bin Al-Hakam bin Abil ‘Ash tatkala ia menjadi orang pertama yang membuat bid’ah berupa melakukan khotbah sebelum salat Id. Padahal Marwan pada saat itu tengah menjabat sebagai khalifah Bani Umayah di Syam.Peristiwa tersebut disampaikan di antaranya melalui jalur Thariq bin Syihab, di mana ia berkata, “Orang pertama yang memulai khotbah Id sebelum salat adalah Marwan. Maka, ada seseorang berdiri dan berujar kepadanya, “Salat (Id) itu seharusnya didahulukan sebelum khotbah.” Marwan menimpali, “Hal tersebut sudah ditinggalkan.” Maka Abu Sa’id berkata, “Adapun orang ini telah menunaikan apa yang seharusnya. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” [10]Keempat: Mengutamakan orang lainAbu Sa’id Al-Khudri juga dikenal dengan sifat itsar atau mendahulukan orang lain dibanding diri sendiri. Sebagian orang yang menulis biografinya mensifatinya demikian dengan berkata, “Ia seorang yang mendahulukan orang-orang fakir.” [11]Maka itsar ini merupakan kebiasaan baik dan akhlak yang mulia yang para sahabat dipuji oleh Allah dengan berfirman,وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr ayat 9).Hingga jadilah para sahabat itu sebagai generasi Qur’ani yang tiada taranya. Generasi salaf yang diteladani dalam akhlak mulia. Dan satu di antara mereka adalah Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.Baca juga: Sejarah Hidup Imam Al GhazaliKeislamannyaKitab-kitab sejarah juga tidak menyebutkan cerita dan awal mula keislaman Abu Sa’id Al-Khudri radhiyyalahu ‘anhu. Namun, nampak bahwa beliau termasuk penduduk Madinah yang pertama-tama memeluk agama Islam. Hal ini terlihat jelas pada sikap pemuda terdidik ini. Bagaimana ia mendudukkan Islam dalam dirinya. Begitu juga kedalaman iman di dalam dirinya. Sehingga mendorong dirinya untuk ikut berjihad pada perang Uhud bersama Nabi. Padahal umurnya pada waktu itu masih 13 tahun. Namun, usia belia tidak menghalangi niatnya untuk turut serta dalam pertempuran besar tersebut.Berniat ikut perang UhudPada saat perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeleksi sahabat yang akan berangkat berjihad, di antaranya berdasarkan usia. Sekelompok sahabat yang masih remaja ditolak oleh beliau dan tidak diizinkan menyandang senjata di hari itu. Satu di antara sahabat muda tersebut adalah Abu Sa’id Al-Khudri. Pada saat itu, Abu Sa’id masih berusia 13 tahun.Kisah penolakan dan pemulangan Abu Sa’id Al-Khudri, diceritakan sendiri olehnya, di mana ia berkata, “Aku mengusulkan diri untuk ikut perang Uhud pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara usiaku masih 13 tahun. Ayahku pun menggenggam tanganku seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, anak ini memiliki tulang yang sangat besar.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengamatiku dari atas ke bawah kemudian membenarkan ayahku. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memerintahkan ayahku sambil bersabda, ‘Kembalikan anak itu.’ Maka, ayahku pun memulangkanku.” [12]Zaid bin Haritsah Al-Anshari radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap kecil dan menolak sejumlah orang pada peristiwa perang Uhud. Di antaranya Zaid bin Haritsah, Al-Bara’ bin ‘Azib, Sa’ad bin Khaitsamah, Abu Sa’id Al-Khudri, dan Jabir bin Abdillah. [13]Guru-gurunyaBerdasarkan riwayat-riwayat Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun sebagian besar ia berasal dari Nabi secara marfu’, beliau juga meriwayatkan hadis dari sahabat yang lain. Oleh karena itu, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menuliskan, “Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Zaid bin Tsabit, Abu Qatadah Al-Ansari, Abdullah bin Salam, Usaid bin Hudhair, Ibnu Abbas, Abu Musa Al-Asy’ari, Mu’awiyah, dan Jabir bin Abdillah.” [14]Murid-muridnyaMurid-Muridnya dari golongan sahabatDi antara sahabat yang meriwayatkan hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri adalah [15]:Pertama: Ibnu UmarKedua: JabirKetiga: AnasKeempat: Istrinya (Zainab binti Ka’ab)Kelima: Ibnu AbbasKeenam: Zaid bin TsabitKetujuh: Mahmud bin LubaydMurid-muridnya dari golongan tabi’inAdapun tabi’in yang meriwayatkan hadis darinya adalah:Abdurrahman (anaknya), Abu Umamah bin Sahl, Said bin Al-Musayyab, Thariq ibnu Syihab, Abu At-Tufail, Ata’ bin Abi Rabah, Ata’ bin Yasar, Ata’ bin Yazid, ‘Iyad bin Abdullah bin Abi As-Sarh, Al-Agar bin Muslim, Bisyr bin Sa’id, Abu Al-Wadak, Hafs bin Ashim, Humaid bin Abdurrahman bin ‘Auf, saudaranya (Abu Salamah bin Abdurrahman), Raja’ bin Rabiah, Adh-Dhahaq Asy-Syirqi, ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Khabbab, Sa’id bin Al-Harits Al-Anshari, Abdullah bin Muhairiz,  Abdullah bin Abi ‘Utbah (pelayan Anas), Abdurrahman bin Abi Ni’m, Ubaid bin Umair, Uqbah bin Abdil Faiz, Iqrimah, ‘Amr bin Salim, Quz’ah bin Yahya, Muhammad bin Sirin, Nafi’ pelayan Ibnu Umar,  Yahya bin Imarah bin Abi Hasan, Mujahid, Abu Ja’far Al-Baqir, Abu Sa’id Al-Maqbiri, Abu Abdurrahman Al-Habli, Abu Utsman An-Nahdi, Abu Syu’ban pelayan Abu Ahmad, Abu Shalih As-Siman, Abu Al-Mutawakkul An-Naji, Abu Nadrah Al-Ubaid, Abu Al-Qamah Al-Hasyimi, Abu Harun Al-Abdi, dan selainnya. [16]Pujian ulama terhadapnyaDi antara pujian ulama terhadap Abu Sa’id Al-Khudri:Pertama: Diriwayatkan dari Hanzalah bin Abi Sufyan, dari ayahnya, ia berkata, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah yang paling muda yang lebih berilmu dibanding Abu Sa’id Al-Khudri.” [17]Kedua: Al-Imam Abu Bakr Al-Khatib berkata, “Abu Sa’id adalah orang Ansar yang paling utama. Ia menghafal hadis yang sangat banyak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [18]Ketiga: An-Nawawi rahimahullah berkata, “Abu Sa’id Al-Khudri adalah salah satu ahli fikih dari kalangan sahabat, dan yang paling mulia serta paling cerdas di antara mereka.” [19]Keempat: Al-‘Amiri berkata, “Abu Sa’id Al-Khudri adalah salah satu di antara sahabat yang masyhur, yang paling utama, paling banyak riwayatnya. Dan ia terhitung sebagai ahli suffah. Suka mengutamakan orang-orang fakir. Dikaruniai kesabaran. Seorang faqih. Serta seorang yang mulia dan terhormat.” [20]Baca juga: Imam Syafi’i Sang Pembela Sunnah dan Hadits NabiRiwayat hadis darinyaAbu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan hadis sebanyak 1170 buah hadis, dan termasuk urutan ketujuh sahabat periwayat hadis terbanyak setelah Abu Hurairah (5374 hadis), Abdullah bin Umar (2630 hadis), Anas bin Malik (lebih dari 2286 hadis), Aisyah (2210 hadis), Abdullah bin Abbas (1660 hadis), dan Jabir bin Abdillah (1540 hadis) radhiyallahu ‘anhum ajma’in. [21]Abu Sa’id Al-Khudri termasuk sahabat yang memiliki ingatan yang sangat kuat. Ia sama sekali tidak menuliskan hadis-hadis di dalam kitab, namun ia menghafalkan keseluruhan hadis yang ia riwayatkan. Tentang hal ini, ia pernah berkata kepada muridnya, “Janganlah engkau tulis hadis-hadis, dan jangan engkau jadikan ia sebagaimana Al-Qur’an (ditulis -pen). Akan tetapi, hafallah dariku sebagaimana aku menghafalnya.” Di kesempatan lain ia berkata, “Ambillah hadis-hadis sebagaimana aku mengambilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [22]Abu Sa’id Al-Khudri jugalah yang meriwayatkan hadis larangan Nabi untuk tidak menuliskan selain Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Janganlah kalian tulis dariku, selain Al-Qur’an. Dan siapa pun yang menulis sesuatu dariku selain Al-Qur’an, maka hendaklah ia menghapusnya.” [23]Salah satu mufti dari kalangan sahabatPakar sejarah menyebut Abu Sa’id Al-Khudri sebagai salah satu sahabat yang biasa berfatwa. Maka, tentang ini Ziyad bin Mina berkata, “Adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Sa’id Al-Khudri, Abu Hurairah, Jabir bin Abdillah, dan sahabat Rasulullah lain yang serupa dengan mereka, berfatwa di Madinah. Maka, mereka mengambil hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sejak wafatnya Usman radhiyallahu ‘anhu hingga wafatnya diri mereka masing-masing.” [24]NasihatnyaBerikut adalah salah satu nasihat beliau, “Wajib bagimu bertakwa kepada Allah. Karena takwa adalah pemimpin setiap hal. Wajib pula atasmu untuk berjihad. Karena ia adalah kerahiban dalam Islam. Demikian juga, patut bagimu berzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an. Karena ia mengharumkanmu pada penduduk langit dan menyebutmu di tengah-tengah penduduk bumi. Wajib juga bagimu untuk diam, kecuali dalam rangka menyampaikan kebenaran. Maka engkau pun akan mengalahkan setan.” [25]Wasiatnya Sebelum meninggal, Abu Sa’id Al-Khudri memberikan wasiat kepada Abdurrahman, anaknya, di mana ia berkata, “Ayahku berkata padaku, ‘Aku semakin tua. Para sahabat dan kawananku telah pergi (wafat). Tolong, peganglah tanganku.’ Ayahku kemudian bertelekan kepadaku hingga tiba di tepi pemakaman Baqi, bagian yang belum ada kuburannya. Beliau kemudian berkata, ‘Wahai anakku, jika nanti aku mati, maka kuburkanlah aku di sini. Jangan buatkan aku tenda besar, dan jangan pula engkau iringi aku dengan api. Jangan pula tangisi aku dengan ratapan. Jangan engkau kabarkan manusia tentang kematianku. Ringankanlah dan segerakanlah.’ Ayahku kemudian wafat pada hari Jumat. Aku pun tidak suka memberitahu manusia sebagaimana ia melarangku. Namun, mereka datang kepadaku dan bertanya, ‘Kapan engkau mengeluarkan (jenazah)nya?’ Aku pun menjawab, ‘Setelah aku siapkan, baru aku keluarkan.’ Maka, manusia pun memenuhi pekuburan Baqi bersamaku.” [26]WafatnyaSetelah menjalani kehidupan dan umur yang terbilang cukup panjang, ia telah sukses mengumpulkan berbagai kebaikan dan keutamaan. Baik berupa ilmu, amal, akhlak yang mulia, sikap zuhud, dan jihad fii sabilillah. Abu Sa’id Al-Khudri pada akhirnya berpulang ke sisi Rabbnya ‘Azza Wajalla di Madinah. Kota tempat ia lahir, tumbuh, dan berjuang bersama Nabi dan para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum ajma’in.Ulama berbeda pendapat terkait tahun wafat Abu Sa’id Al-Khudri. Di antara perkataan mereka tentang waktu kematiannya sebagai berikut:Pertama: Beliau wafat pada tahun 74 Hijriah. Ini pendapat Al-Wakidi, Ibnu Numair, dan Ibnu Bakir. [27]Kedua: Beliau wafat pada tahun 64 Hijriah. Ini perkataan Ali Al-Madini. [28]Ketiga: Beliau wafat pada tahun 63 Hijriah. Ini perkataan lain dari Ali Al-Madini dan Ibnu Hibban. [29]Keempat: Beliau wafat pada tahun 65 Hijriah. Ini pendapat Al-Askari. [30]Abu Sa’id Al-Khudri dikuburkan di pemakaman Baqi sebagaimana yang ia wasiatkan kepada anaknya, Abdurrahman. Sebelumnya, dia menginginkan pemakaman yang sederhana. Sampai kemudian manusia di Madinah mengetahui berita kematiannya. Mereka pun berbondong-bondong menghadiri penguburan jenazahnya, sehingga pekuburan Baqi pun tumpah ruah dan penuh dengan manusia. Semua itu sebagai bentuk penghormatan mereka terhadap Abu Sa’id Al-Khudri yang mereka kenal telah menjadi Mufti di Madinah dalam waktu yang cukup panjang. Begitu juga kisah kepahlawanan, kesahajaan, kesabaran, dan teguhnya beliau dalam memberikan nasihat, serta beramar makruf nahi mungkar kepada manusia. Semoga Allah mengumpulkan kita bersamanya, dan seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in di surga-Nya kelak, tempat yang penuh kenikmatan nan abadi.Baca juga: Mengenal Imam Bukhari***Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Sumber bacaan dan terjemah:Muhammad Abdullah Abu Su’aylik. 1999. Abu Sa’id Al-Khudri Shahibu Rasulillahi wa Mufti Al-Madinah fii Zamaanihi. Riyadh. Huquq At-Thaba’ Mahfuzah. Catatan kaki:[1]     Al-Mu’jam Al-Kabir 6/33, Al-Ishabah 2/33, Sirah Ibnu Hisyam 3/178, Thabaqat Khalifah hal. 96[2]     Sirah Ibnu Hisyam 3/178.[3]     Jamharah Ansab Al-Arab hal. 362 dan Al-Ishabah 2/32.[4]     Al-Mu’jam Al-Kabir no. 5430, Ibnu Sakkan dan Sa’id Mansur sebagaimana dalam Al-Ishabah 3/320, Al-Maghazy karya Al-Waakidi 1/247.[5]     Sirah Ibnu Hisyam 3/116, di mana sanadnya Munqati’. Juga terdapat dalam Al-Maghazhi karya Al-Waakidi 1/247.[6]    Al-Majar: 429 dan Al-Ishabah 4/238.[7]     Al-Jami’ Ash-Shahih, Kitab Ar-Riqaq nomor 6470.[8]    Ahlus Suffah. Asy-Syaikh Shalih Najib Ad-Daq.[9]    Al-Hilyah 1/369-370.[10]   HR. Muslim 2/21-24.[11]    Ar-Riyaadh Al-Mustathaabah hal 100.[12]   Siyar Alam Nubala, 3/169, Tahdzib Ibnu Asaakir 6/113, dan Al-Mustadrak 3/563.[13]    Mu’jam Al-Kabir, nomor 5150.[14]   Tahdzib At-Tahdzib 3/416.[15]    Siyar Alam Nubala 3/169 dan At-Tahdzib 3/416.[16]   At-Tahdzib 3/316-317.[17]   Thabaqat Ibnu Sa’ad, 2/374.[18]   Tarikh Bagdad, 1/180[19]   Tahdzib Al-Asma, 2/237.[20]  Ar-Riyad Al-Mustathabah, hal. 100.[21]   Aktsaru Ash-Shahabah Riwayah lilhadits. Mahmud Dawus Dasuqi  Khattabi.[22]   Al-Mustadrak 3/564, Jami’ Bayan Al-‘Ilmi 1/76-77, dan Taqyid Al-Ilm halaman 36.[23]   HR. Muslim hal. 229.[24]   Thabaqat Al-Fuqaha, karya Asy-Syirasyi hal. 33.[25]   Siyar A’lam Nubala 3/170.[26]   Al-Mustadrak, 3/564.[27]   Tahdzib At-Tahdzib 3/417.[28]   Siyar Alam Nubala 3/171 dan At-Tarikh Al-Kabir 4/44.[29]   Masyahir Ulama Al-Amshar hal 11 dan At-Tsiqat 3/150.[30]   Tahdzib At-Tahdzib 3/417.Tags: biografiperiwayat hadisSahabat Nabi


Jika langit malam kelap-kelip dengan adanya bintang-bintang, maka umat ini terang benderang dengan adanya para ulama yang mengajarkan ilmu dan memberi teladan. Dan ini adalah kisah salah satu dari mereka. Ia masyhur sebagai ahli fikih paling muda di kalangan para sahabat Nabi. Ia juga merupakan sahabat yang paling utama dari kalangan Ansar. Termasuk salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Terhitung sebagai ahli suffah. Ia dikenal hidup fakir, namun kaya dengan perbendaharaan ilmu. Ia adalah Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.Daftar Isi Nama dan kunyahnyaNama beliauKunyah beliauKeluarga besarnyaAyah beliauIbu beliauSaudara-saudara beliauAnak-anak beliauKelahirannyaCiri-cirinyaAkhlaknyaSabar dan menjaga kehormatan diriKeberanian dan kepahlawananKeislamannyaBerniat ikut perang UhudGuru-gurunyaMurid-muridnyaMurid-Muridnya dari golongan sahabatMurid-muridnya dari golongan tabi’inPujian ulama terhadapnyaRiwayat hadis darinyaSalah satu mufti dari kalangan sahabatNasihatnyaWasiatnya WafatnyaNama dan kunyahnyaNama beliauUlama berselisih pendapat terkait nama asli Abu Sa’id Al-Khudri. Di antara perkataan mereka tentang nama beliau adalah:Pertama: Beliau bernama Sa’ad bin Malik bin Sinan bin Tsa’labah bin Ubaid bin Al-Abjar Abu Sa’id Al-Khudri. [1]Kedua: Beliau bernama Sinan. Ibnu Hisyam di dalam Sirah-nya mengatakan, “Nama Abu Sa’id Al-Khudri adalah Sinan.” [2]Namun, nama beliau yang masyhur di kalangan ulama adalah Sa’ad.Kunyah beliauAbu Sa’id Al-Khudri Al-Anshari termasuk keturunan suku Al-Khazraj. Mereka disebut Bani Khudrah atau Balkhudrah. Ada juga yang menyebut mereka Banu Al-Abjar. Dan yang dimaksud Al-Abjar adalah ‘Udzrah bin ‘Auf bin Al-Harits bin Al-Khazraj. [3]Keluarga besarnyaAyah beliauAyah Abu Sa’id Al-Khudri bernama Malik bin Sinan bin Ubayd bin Tsa’labah Al-Anshari. Malik bin Sinan termasuk sahabat Nabi yang mengikuti perang Uhud. Dan termasuk jejeran sahabat yang mati syahid di pertempuran tersebut.Penyebutan nama Malik bin Sinan secara khusus dalam kitab-kitab sejarah Islam tidaklah ditemukan, kecuali dalam dua peristiwa. Yakni, syahidnya beliau dalam perang Uhud dan tatkala beliau menghisap darah dari wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Wajah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam terluka, maka Malik bin Sinan menghadap ke arah beliau dan menghisap darah dari wajahnya, kemudian menelannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, ‘Siapa saja yang senang melihat seseorang yang darahnya bercampur dengan darahku, maka hendaklah ia melihat Malik bin Sinan.’” [4]Pada riwayat Ibnu Ishaq di dalam kitab Sirah-nya, Nabi bersabda, “Siapa pun yang darahnya bercampur dengan darahku, maka neraka tidak akan menyentuhnya.” [5]Ibu beliauIbu Abu Sa’id Al-Khudri bernama Anisah binti Abi Haritsah dari Bani Adi bin An-Najjaar. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hubaib kepada orang-orang yang membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. [6]Saudara-saudara beliauAhli sejarah mencatatkan beberapa saudara Abu Sa’id, di antaranya:Pertama: Qatadah bin An-Nu’man, saudara seibu.Kedua: Fari’ah binti Malik, saudara seayah dan seibu.Ketiga: Zainab, saudarinya yang lain.Anak-anak beliauAbu Sa’id dikaruniai beberapa anak dari pernikahannya dengan istrinya, Zainab. Di antaranya:Pertama: AbdurrahmanKedua: AbdullahKetiga: HamzahKeempat: Sa’idKelima: BasyirAhli sejarah juga menuliskan beberapa cucu beliau, di antaranya:Pertama: Rubaih bin Abdirrahman bin Abu Sa’idKedua: Abdullah bin Abdullah bin Abu Sa’idBaca juga: Biografi Ringkas Syaikh Muhammad bin Sholih Al UtsaiminKelahirannyaTidak ada kitab sejarah yang menuliskan secara pasti tahun kelahiran tokoh ini. Namun, berdasarkan beberapa catatan peristiwa, kita dapat menetapkan tahun kelahiran beliau dengan jalan berikut:Catatan sejarah menunjukkan bahwa Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dianggap masih kecil saat terjadi perang Uhud, sehingga beliau ditolak oleh Nabi untuk diikutkan dalam pertempuran tersebut. Disebutkan bahwa umur beliau waktu itu baru 13 tahun. Sementara, perang Uhud terjadi pada bulan Syawal tahun 3 Hijriah. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan beliau lahir sekitar 10 tahun sebelum hijriah.Ciri-cirinyaBeberapa ciri fisik Abu Sa’id Al-Khudri yang disebutkan dalam kitab sejarah sebagai berikut:Pertama: Abu Sa’id tidaklah bercukur, di mana jenggotnya berwarna putih lebat.Kedua: Dari Wahab bin Kisan, ia berkata, “Aku melihat Abu Sa’id memakai sutra.”Ketiga: Dari Usman bin Ubaidillah bin Abi Rafi’, ia berkata, “Aku melihat Abu Sa’id menipiskan kumisnya sebagaimana saudaraku Al-Haliq.”AkhlaknyaAbu Sa’id Al-Khudri berhias dengan akhlak Islam yang mulia sebagai buah dari keimanan yang tertancap kuat di dalam hati beliau. Di antara akhlak beliau yang paling menonjol adalah:Sabar dan menjaga kehormatan diriAbu Sai’d Al-Khudri adalah salah satu sahabat yang ditempa secara langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hikmah dan anutan sehingga menjadikan dirinya seorang pribadi muslim yang sejati. Di antara sifat terpuji yang ia miliki adalah ia senantiasa berjalan di atas kesabaran ketika menghadapi kesempitan dan ujian hidup.Dikisahkan, ketika ayahnya meninggal dalam perang Uhud, ia kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta-minta. Namun, Nabi malah balik memberikan nasihat menggugah untuk mendidiknya, hingga petuah itu meresap kuat ke dalam sanubarinya.Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan kisah tersebut dari jalur Utaibah, anaknya sendiri, di mana Abu Sa’id berkata, “Ayahku meninggal pada perang Uhud sebagai syahid, dan tidak meninggalkan harta untuk kami sepeser pun. Maka, aku pun mendatangi Rasulullah dan meminta (harta) padanya. Maka, tatkala melihatku, beliau bersabda,من استغنى أغناه الله، ومن يستعفف يعفه الله“Barangsiapa yang merasa cukup (tidak meminta-minta), maka Allah akan mencukupi (kebutuhan)nya. Barangsiapa yang menjaga diri (dari yang haram), maka Allah akan menjaganya.” Maka, aku (Abu Sa’id -pen) pun kembali (tanpa membawa apa-apa).Hadis tersebut juga terdapat di dalam Ash-Shahihain dari jalur Ata’ bin Yazid dari Abu Sa’id Al-Khudri dengan cerita dan lafaz berbeda, yakni “Bahwa orang-orang Ansar meminta-minta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak seorang pun yang meminta kepada beliau kecuali diberi, hingga ludes apa yang beliau punya untuk diinfakkan kepada mereka. Beliau kemudian berkata kepada mereka,ما يكن عندي من خير لا أدخره عنكم وإنه من يستعف يعفه الله ومن يتصبر يصبره الله ومن يستغن يغنه الله ولن تعطوا عطاء خيرا وأوسع من الصبر“Kebaikan (harta) di sisiku tidaklah tersisa, kecuali telah aku berikan kepada kalian. Barangsiapa yang menjaga diri (dari yang haram), maka Allah akan menjaganya. Dan siapa saja yang bersabar, maka Allah akan menjadikannya orang yang sabar. Begitu pula, barangsiapa yang merasa cukup (dari manusia), maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Pemberian (dari Allah) tidak ada yang lebih baik dan lebih lapang bagi manusia selain kesabaran.” [7]Selain itu, meskipun beliau dari kalangan Ansar, beliau sering bergaul dengan ahli suffah dan juga dikenal sebagai ahli suffah. Beberapa sahabat, meskipun hidup cukup, mereka memilih hidup zuhud dan sabar. Di antaranya dengan banyak berinteraksi dengan ahli suffah. Bahkan, beberapa ulama terkenal dari kalangan sahabat selain Abu Sa’id tinggal di samping Masjid Nabawi sebagai ahli suffah, semisal Abu Hurairah dan Abdullah bin Mas’ud. [8]Abu Nu’aim Al-Ashbahani berkata tentangnya, “Keadaannya dekat dengan keadaan ahli suffah. Meskipun ia adalah seorang Ansar yang memiliki rumah, namun ia lebih menyukai hidup dengan ahli suffah untuk meraih sabar, dan memilih berdiam sebagai ahli suffah untuk hidup fakir dan memelihara diri dari segala yang tidak baik.” [9]Keberanian dan kepahlawananDi antara sifat yang juga dimiliki oleh Abu Sa’id Al-Khudri adalah keberaniannya dalam membela kebenaran, bagaimana pun keadaannya. Kisah beliau yang berkaitan dengan hal ini, semisal:Pertama: Beliau diketahui sebagai salah satu sahabat yang membaiat Nabi di bawah pohon, yang dikenal sebagai Bai’atur Ridwan. Seperti telah masyhur diceritakan, bahwa pada saat itu, kondisi kaum muslimin yang awalnya berniat berhaji cukup mencekam. Di mana Usman yang diutus oleh Nabi untuk bernegoisasi dengan kaum Quraisy, tidak juga kembali dalam beberapa hari. Sampai kemudian terdengar berita jika ia terbunuh. Maka, Nabi pun mengambil ba’iat dari para sahabat untuk berjanji setia dan tidak akan pergi, jika semisal mereka harus berperang. Hal ini menunjukkan loyalitas dan keberanian para sahabat, meskipun jumlah mereka sedikit. Sampai-sampai Allah pun mengabadikan kisah mereka dalam Al-Qur’an yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ رَضِیَ اللّهُ عَنِ المؤمِنِینَ اِذْ یُبَایِعُونَکَ تَحتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِی قُلوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّکِیْنَةَ عَلَیْهِمْ وَ اَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِیْبًا“Sungguh Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Lalu, Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (Q.S. Al-Fath: 18)Kedua: Semangat beliau untuk berjihad bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan sejak beliau masih kecil, sebagaimana yang akan dikisahkan nantinya. Disebutkan dalam buku sejarah, bahwa beliau mengikuti 13 peperangan bersama kaum muslimin, baik yang diikuti oleh Nabi secara langsung (Gazwah) maupun yang bentuknya ekspedisi (pengiriman satuan militer atas perintah Nabi), di antaranya:Pertama: Perang (Gazwah) Bani MustaliqKedua: Perang (Gazwah) KhandaqKetiga: Perang (Gazwah) Bani QuraidzahKeempat: Perang (Gazwah) HudaybiahKelima: Ekspedisi (Syariyyah) Basyir bin Sa’ad ke FadakKeenam: Ekspedisi (Syariyyah) Al-Qamah bin MujazzazKetujuh: Perang (Gazwah) Mu’tahKedelapan: Ekspedisi (Syariyyah) Abdurrahman bin ‘Auf ke Dumah Al-JandalKesembilan: Perang Fathul MakkahKesepuluh: Perang (Gazwah) HunainKesebelas: Perang (Gazwah) TabukKedua belas: Perang (Gazwah) Ukaydir di Dumah Al-JandulKetiga belas: Ekspedisi (Syariyyah) Ali bin Abi Thalib ke YamanKetiga: Beliau pernah memberikan nasihat secara berani kepada Marwan bin Al-Hakam bin Abil ‘Ash tatkala ia menjadi orang pertama yang membuat bid’ah berupa melakukan khotbah sebelum salat Id. Padahal Marwan pada saat itu tengah menjabat sebagai khalifah Bani Umayah di Syam.Peristiwa tersebut disampaikan di antaranya melalui jalur Thariq bin Syihab, di mana ia berkata, “Orang pertama yang memulai khotbah Id sebelum salat adalah Marwan. Maka, ada seseorang berdiri dan berujar kepadanya, “Salat (Id) itu seharusnya didahulukan sebelum khotbah.” Marwan menimpali, “Hal tersebut sudah ditinggalkan.” Maka Abu Sa’id berkata, “Adapun orang ini telah menunaikan apa yang seharusnya. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” [10]Keempat: Mengutamakan orang lainAbu Sa’id Al-Khudri juga dikenal dengan sifat itsar atau mendahulukan orang lain dibanding diri sendiri. Sebagian orang yang menulis biografinya mensifatinya demikian dengan berkata, “Ia seorang yang mendahulukan orang-orang fakir.” [11]Maka itsar ini merupakan kebiasaan baik dan akhlak yang mulia yang para sahabat dipuji oleh Allah dengan berfirman,وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr ayat 9).Hingga jadilah para sahabat itu sebagai generasi Qur’ani yang tiada taranya. Generasi salaf yang diteladani dalam akhlak mulia. Dan satu di antara mereka adalah Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.Baca juga: Sejarah Hidup Imam Al GhazaliKeislamannyaKitab-kitab sejarah juga tidak menyebutkan cerita dan awal mula keislaman Abu Sa’id Al-Khudri radhiyyalahu ‘anhu. Namun, nampak bahwa beliau termasuk penduduk Madinah yang pertama-tama memeluk agama Islam. Hal ini terlihat jelas pada sikap pemuda terdidik ini. Bagaimana ia mendudukkan Islam dalam dirinya. Begitu juga kedalaman iman di dalam dirinya. Sehingga mendorong dirinya untuk ikut berjihad pada perang Uhud bersama Nabi. Padahal umurnya pada waktu itu masih 13 tahun. Namun, usia belia tidak menghalangi niatnya untuk turut serta dalam pertempuran besar tersebut.Berniat ikut perang UhudPada saat perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeleksi sahabat yang akan berangkat berjihad, di antaranya berdasarkan usia. Sekelompok sahabat yang masih remaja ditolak oleh beliau dan tidak diizinkan menyandang senjata di hari itu. Satu di antara sahabat muda tersebut adalah Abu Sa’id Al-Khudri. Pada saat itu, Abu Sa’id masih berusia 13 tahun.Kisah penolakan dan pemulangan Abu Sa’id Al-Khudri, diceritakan sendiri olehnya, di mana ia berkata, “Aku mengusulkan diri untuk ikut perang Uhud pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara usiaku masih 13 tahun. Ayahku pun menggenggam tanganku seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, anak ini memiliki tulang yang sangat besar.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengamatiku dari atas ke bawah kemudian membenarkan ayahku. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memerintahkan ayahku sambil bersabda, ‘Kembalikan anak itu.’ Maka, ayahku pun memulangkanku.” [12]Zaid bin Haritsah Al-Anshari radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap kecil dan menolak sejumlah orang pada peristiwa perang Uhud. Di antaranya Zaid bin Haritsah, Al-Bara’ bin ‘Azib, Sa’ad bin Khaitsamah, Abu Sa’id Al-Khudri, dan Jabir bin Abdillah. [13]Guru-gurunyaBerdasarkan riwayat-riwayat Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun sebagian besar ia berasal dari Nabi secara marfu’, beliau juga meriwayatkan hadis dari sahabat yang lain. Oleh karena itu, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menuliskan, “Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Zaid bin Tsabit, Abu Qatadah Al-Ansari, Abdullah bin Salam, Usaid bin Hudhair, Ibnu Abbas, Abu Musa Al-Asy’ari, Mu’awiyah, dan Jabir bin Abdillah.” [14]Murid-muridnyaMurid-Muridnya dari golongan sahabatDi antara sahabat yang meriwayatkan hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri adalah [15]:Pertama: Ibnu UmarKedua: JabirKetiga: AnasKeempat: Istrinya (Zainab binti Ka’ab)Kelima: Ibnu AbbasKeenam: Zaid bin TsabitKetujuh: Mahmud bin LubaydMurid-muridnya dari golongan tabi’inAdapun tabi’in yang meriwayatkan hadis darinya adalah:Abdurrahman (anaknya), Abu Umamah bin Sahl, Said bin Al-Musayyab, Thariq ibnu Syihab, Abu At-Tufail, Ata’ bin Abi Rabah, Ata’ bin Yasar, Ata’ bin Yazid, ‘Iyad bin Abdullah bin Abi As-Sarh, Al-Agar bin Muslim, Bisyr bin Sa’id, Abu Al-Wadak, Hafs bin Ashim, Humaid bin Abdurrahman bin ‘Auf, saudaranya (Abu Salamah bin Abdurrahman), Raja’ bin Rabiah, Adh-Dhahaq Asy-Syirqi, ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Khabbab, Sa’id bin Al-Harits Al-Anshari, Abdullah bin Muhairiz,  Abdullah bin Abi ‘Utbah (pelayan Anas), Abdurrahman bin Abi Ni’m, Ubaid bin Umair, Uqbah bin Abdil Faiz, Iqrimah, ‘Amr bin Salim, Quz’ah bin Yahya, Muhammad bin Sirin, Nafi’ pelayan Ibnu Umar,  Yahya bin Imarah bin Abi Hasan, Mujahid, Abu Ja’far Al-Baqir, Abu Sa’id Al-Maqbiri, Abu Abdurrahman Al-Habli, Abu Utsman An-Nahdi, Abu Syu’ban pelayan Abu Ahmad, Abu Shalih As-Siman, Abu Al-Mutawakkul An-Naji, Abu Nadrah Al-Ubaid, Abu Al-Qamah Al-Hasyimi, Abu Harun Al-Abdi, dan selainnya. [16]Pujian ulama terhadapnyaDi antara pujian ulama terhadap Abu Sa’id Al-Khudri:Pertama: Diriwayatkan dari Hanzalah bin Abi Sufyan, dari ayahnya, ia berkata, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah yang paling muda yang lebih berilmu dibanding Abu Sa’id Al-Khudri.” [17]Kedua: Al-Imam Abu Bakr Al-Khatib berkata, “Abu Sa’id adalah orang Ansar yang paling utama. Ia menghafal hadis yang sangat banyak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [18]Ketiga: An-Nawawi rahimahullah berkata, “Abu Sa’id Al-Khudri adalah salah satu ahli fikih dari kalangan sahabat, dan yang paling mulia serta paling cerdas di antara mereka.” [19]Keempat: Al-‘Amiri berkata, “Abu Sa’id Al-Khudri adalah salah satu di antara sahabat yang masyhur, yang paling utama, paling banyak riwayatnya. Dan ia terhitung sebagai ahli suffah. Suka mengutamakan orang-orang fakir. Dikaruniai kesabaran. Seorang faqih. Serta seorang yang mulia dan terhormat.” [20]Baca juga: Imam Syafi’i Sang Pembela Sunnah dan Hadits NabiRiwayat hadis darinyaAbu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan hadis sebanyak 1170 buah hadis, dan termasuk urutan ketujuh sahabat periwayat hadis terbanyak setelah Abu Hurairah (5374 hadis), Abdullah bin Umar (2630 hadis), Anas bin Malik (lebih dari 2286 hadis), Aisyah (2210 hadis), Abdullah bin Abbas (1660 hadis), dan Jabir bin Abdillah (1540 hadis) radhiyallahu ‘anhum ajma’in. [21]Abu Sa’id Al-Khudri termasuk sahabat yang memiliki ingatan yang sangat kuat. Ia sama sekali tidak menuliskan hadis-hadis di dalam kitab, namun ia menghafalkan keseluruhan hadis yang ia riwayatkan. Tentang hal ini, ia pernah berkata kepada muridnya, “Janganlah engkau tulis hadis-hadis, dan jangan engkau jadikan ia sebagaimana Al-Qur’an (ditulis -pen). Akan tetapi, hafallah dariku sebagaimana aku menghafalnya.” Di kesempatan lain ia berkata, “Ambillah hadis-hadis sebagaimana aku mengambilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [22]Abu Sa’id Al-Khudri jugalah yang meriwayatkan hadis larangan Nabi untuk tidak menuliskan selain Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Janganlah kalian tulis dariku, selain Al-Qur’an. Dan siapa pun yang menulis sesuatu dariku selain Al-Qur’an, maka hendaklah ia menghapusnya.” [23]Salah satu mufti dari kalangan sahabatPakar sejarah menyebut Abu Sa’id Al-Khudri sebagai salah satu sahabat yang biasa berfatwa. Maka, tentang ini Ziyad bin Mina berkata, “Adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Sa’id Al-Khudri, Abu Hurairah, Jabir bin Abdillah, dan sahabat Rasulullah lain yang serupa dengan mereka, berfatwa di Madinah. Maka, mereka mengambil hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sejak wafatnya Usman radhiyallahu ‘anhu hingga wafatnya diri mereka masing-masing.” [24]NasihatnyaBerikut adalah salah satu nasihat beliau, “Wajib bagimu bertakwa kepada Allah. Karena takwa adalah pemimpin setiap hal. Wajib pula atasmu untuk berjihad. Karena ia adalah kerahiban dalam Islam. Demikian juga, patut bagimu berzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an. Karena ia mengharumkanmu pada penduduk langit dan menyebutmu di tengah-tengah penduduk bumi. Wajib juga bagimu untuk diam, kecuali dalam rangka menyampaikan kebenaran. Maka engkau pun akan mengalahkan setan.” [25]Wasiatnya Sebelum meninggal, Abu Sa’id Al-Khudri memberikan wasiat kepada Abdurrahman, anaknya, di mana ia berkata, “Ayahku berkata padaku, ‘Aku semakin tua. Para sahabat dan kawananku telah pergi (wafat). Tolong, peganglah tanganku.’ Ayahku kemudian bertelekan kepadaku hingga tiba di tepi pemakaman Baqi, bagian yang belum ada kuburannya. Beliau kemudian berkata, ‘Wahai anakku, jika nanti aku mati, maka kuburkanlah aku di sini. Jangan buatkan aku tenda besar, dan jangan pula engkau iringi aku dengan api. Jangan pula tangisi aku dengan ratapan. Jangan engkau kabarkan manusia tentang kematianku. Ringankanlah dan segerakanlah.’ Ayahku kemudian wafat pada hari Jumat. Aku pun tidak suka memberitahu manusia sebagaimana ia melarangku. Namun, mereka datang kepadaku dan bertanya, ‘Kapan engkau mengeluarkan (jenazah)nya?’ Aku pun menjawab, ‘Setelah aku siapkan, baru aku keluarkan.’ Maka, manusia pun memenuhi pekuburan Baqi bersamaku.” [26]WafatnyaSetelah menjalani kehidupan dan umur yang terbilang cukup panjang, ia telah sukses mengumpulkan berbagai kebaikan dan keutamaan. Baik berupa ilmu, amal, akhlak yang mulia, sikap zuhud, dan jihad fii sabilillah. Abu Sa’id Al-Khudri pada akhirnya berpulang ke sisi Rabbnya ‘Azza Wajalla di Madinah. Kota tempat ia lahir, tumbuh, dan berjuang bersama Nabi dan para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum ajma’in.Ulama berbeda pendapat terkait tahun wafat Abu Sa’id Al-Khudri. Di antara perkataan mereka tentang waktu kematiannya sebagai berikut:Pertama: Beliau wafat pada tahun 74 Hijriah. Ini pendapat Al-Wakidi, Ibnu Numair, dan Ibnu Bakir. [27]Kedua: Beliau wafat pada tahun 64 Hijriah. Ini perkataan Ali Al-Madini. [28]Ketiga: Beliau wafat pada tahun 63 Hijriah. Ini perkataan lain dari Ali Al-Madini dan Ibnu Hibban. [29]Keempat: Beliau wafat pada tahun 65 Hijriah. Ini pendapat Al-Askari. [30]Abu Sa’id Al-Khudri dikuburkan di pemakaman Baqi sebagaimana yang ia wasiatkan kepada anaknya, Abdurrahman. Sebelumnya, dia menginginkan pemakaman yang sederhana. Sampai kemudian manusia di Madinah mengetahui berita kematiannya. Mereka pun berbondong-bondong menghadiri penguburan jenazahnya, sehingga pekuburan Baqi pun tumpah ruah dan penuh dengan manusia. Semua itu sebagai bentuk penghormatan mereka terhadap Abu Sa’id Al-Khudri yang mereka kenal telah menjadi Mufti di Madinah dalam waktu yang cukup panjang. Begitu juga kisah kepahlawanan, kesahajaan, kesabaran, dan teguhnya beliau dalam memberikan nasihat, serta beramar makruf nahi mungkar kepada manusia. Semoga Allah mengumpulkan kita bersamanya, dan seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in di surga-Nya kelak, tempat yang penuh kenikmatan nan abadi.Baca juga: Mengenal Imam Bukhari***Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Sumber bacaan dan terjemah:Muhammad Abdullah Abu Su’aylik. 1999. Abu Sa’id Al-Khudri Shahibu Rasulillahi wa Mufti Al-Madinah fii Zamaanihi. Riyadh. Huquq At-Thaba’ Mahfuzah. Catatan kaki:[1]     Al-Mu’jam Al-Kabir 6/33, Al-Ishabah 2/33, Sirah Ibnu Hisyam 3/178, Thabaqat Khalifah hal. 96[2]     Sirah Ibnu Hisyam 3/178.[3]     Jamharah Ansab Al-Arab hal. 362 dan Al-Ishabah 2/32.[4]     Al-Mu’jam Al-Kabir no. 5430, Ibnu Sakkan dan Sa’id Mansur sebagaimana dalam Al-Ishabah 3/320, Al-Maghazy karya Al-Waakidi 1/247.[5]     Sirah Ibnu Hisyam 3/116, di mana sanadnya Munqati’. Juga terdapat dalam Al-Maghazhi karya Al-Waakidi 1/247.[6]    Al-Majar: 429 dan Al-Ishabah 4/238.[7]     Al-Jami’ Ash-Shahih, Kitab Ar-Riqaq nomor 6470.[8]    Ahlus Suffah. Asy-Syaikh Shalih Najib Ad-Daq.[9]    Al-Hilyah 1/369-370.[10]   HR. Muslim 2/21-24.[11]    Ar-Riyaadh Al-Mustathaabah hal 100.[12]   Siyar Alam Nubala, 3/169, Tahdzib Ibnu Asaakir 6/113, dan Al-Mustadrak 3/563.[13]    Mu’jam Al-Kabir, nomor 5150.[14]   Tahdzib At-Tahdzib 3/416.[15]    Siyar Alam Nubala 3/169 dan At-Tahdzib 3/416.[16]   At-Tahdzib 3/316-317.[17]   Thabaqat Ibnu Sa’ad, 2/374.[18]   Tarikh Bagdad, 1/180[19]   Tahdzib Al-Asma, 2/237.[20]  Ar-Riyad Al-Mustathabah, hal. 100.[21]   Aktsaru Ash-Shahabah Riwayah lilhadits. Mahmud Dawus Dasuqi  Khattabi.[22]   Al-Mustadrak 3/564, Jami’ Bayan Al-‘Ilmi 1/76-77, dan Taqyid Al-Ilm halaman 36.[23]   HR. Muslim hal. 229.[24]   Thabaqat Al-Fuqaha, karya Asy-Syirasyi hal. 33.[25]   Siyar A’lam Nubala 3/170.[26]   Al-Mustadrak, 3/564.[27]   Tahdzib At-Tahdzib 3/417.[28]   Siyar Alam Nubala 3/171 dan At-Tarikh Al-Kabir 4/44.[29]   Masyahir Ulama Al-Amshar hal 11 dan At-Tsiqat 3/150.[30]   Tahdzib At-Tahdzib 3/417.Tags: biografiperiwayat hadisSahabat Nabi

Mumpung Masih Ramadhan: Ayo Kejar Pahala Lebih Dari 3 Juta Kebaikan – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Jika kamu membaca al-Quran, kamu akan meraih pahala dari setiap hurufnya sepuluh kebaikan.Sepuluh kebaikan! Sebagian ulama telah menghitung pahala yang mungkin didapat,meskipun lebih baik tidak perlu menghitungnya, dan karunia Allah sangat luas.Namun, dalam masalah ini secara khusus disebutkan jumlah tertentu: “Barang siapa yang membaca satu huruf al-Quran, baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan 10 kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi) Para ulama mengambil riwayat Ibnu Abbas tentang jumlah huruf al-Quran, lalu mengalikannya dengan 10.Yakni dengan 10 kebaikan. Mereka mendapatkan bahwa jika seorang Muslim mengkhatamkan al-Quran satu kali,maka diharapkan ia akan meraih lebih dari 3 juta kebaikan.Subhanallah!Lebih dari 3 juta kebaikan dari satu kali khatam al-Quran. Ini menunjukkan besarnya pahala dan balasan yang diberikan dari membaca al-Quran. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Tidak boleh gibtah (iri) kecuali terhadap dua golongan manusia:(yang pertama) orang yang dikaruniai oleh Allah al-Quran, lalu ia membacanya di waktu siang dan malam …”Yakni ia selalu melantunkan bacaan al-Quran dengan lisannya di waktu siang dan malam.Inilah yang seharusnya bikin kita iri. “… (yang kedua) orang yang dikarunia harta oleh Allah, lalu diberi kuasa menghabiskannya untuk kebenaran.”Allah memberinya harta, lalu memberinya taufik untuk berinfak di jalan-jalan kebaikan. Dua orang inilah yang hendaklah kita iri,karena keduanya mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ===== إِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ تَنَالُ عَلَى كُلِّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَقَدْ حَسَبَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ الْأَجْرَ الْمُرَتَّبَ مَعَ أَنَّ يَعْنِي الْأَفْضَلَ عَدَمُ الْحِسْبَةِ وَفَضْلُ اللهِ وَاسِعٌ لَكِنَّ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ بِخُصُوصِهَا وَرَدَ ذِكْرُ الْعَدَدِ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَأَخَذُوا بِمَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ بِعَدَدِ حُرُوفِ الْقُرْآنِ وَضَرَبُوهُ فِي عَشْرَةٍ يَعْنِي فِي عَشْرِ حَسَنَاتٍ فَوَجَدُوا أَنَّ النَّتِيجَةَ أَنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا خَتَمَ الْقُرْآنَ خَتْمَةً وَاحِدَةً يُرْجَى أَنْ يَحُوزَ عَلَى أَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ مَلَايِيْنَ حَسَنَةً سُبْحَانَ اللهِ أَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ مَلَايِيْنَ حَسَنَةً عَلَى الْخَتْمَةِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى عَظِيمِ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ الْمُرَتَّبِ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَلِهَذَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا حَسَدَ يَعْنِي لَا غِبْطَةَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ يَعْنِي سَاعَاتِ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ يَعْنِي دَائِمًا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ دَائِمًا فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ هَذَا الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يُغْبَطَ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ أَعْطَاهُ اللهُ مَالًا وَوَفَّقَهُ لِلْإِنْفَاقِ مِنْهُ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ هَذَانِ الاِثْنَانِ هُمَا اللَّذَانِ يَنْبَغِي أَنْ يُغْبَطَا لِأَنَّ أَجْرَهُمَا عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَظِيمٌ

Mumpung Masih Ramadhan: Ayo Kejar Pahala Lebih Dari 3 Juta Kebaikan – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Jika kamu membaca al-Quran, kamu akan meraih pahala dari setiap hurufnya sepuluh kebaikan.Sepuluh kebaikan! Sebagian ulama telah menghitung pahala yang mungkin didapat,meskipun lebih baik tidak perlu menghitungnya, dan karunia Allah sangat luas.Namun, dalam masalah ini secara khusus disebutkan jumlah tertentu: “Barang siapa yang membaca satu huruf al-Quran, baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan 10 kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi) Para ulama mengambil riwayat Ibnu Abbas tentang jumlah huruf al-Quran, lalu mengalikannya dengan 10.Yakni dengan 10 kebaikan. Mereka mendapatkan bahwa jika seorang Muslim mengkhatamkan al-Quran satu kali,maka diharapkan ia akan meraih lebih dari 3 juta kebaikan.Subhanallah!Lebih dari 3 juta kebaikan dari satu kali khatam al-Quran. Ini menunjukkan besarnya pahala dan balasan yang diberikan dari membaca al-Quran. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Tidak boleh gibtah (iri) kecuali terhadap dua golongan manusia:(yang pertama) orang yang dikaruniai oleh Allah al-Quran, lalu ia membacanya di waktu siang dan malam …”Yakni ia selalu melantunkan bacaan al-Quran dengan lisannya di waktu siang dan malam.Inilah yang seharusnya bikin kita iri. “… (yang kedua) orang yang dikarunia harta oleh Allah, lalu diberi kuasa menghabiskannya untuk kebenaran.”Allah memberinya harta, lalu memberinya taufik untuk berinfak di jalan-jalan kebaikan. Dua orang inilah yang hendaklah kita iri,karena keduanya mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ===== إِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ تَنَالُ عَلَى كُلِّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَقَدْ حَسَبَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ الْأَجْرَ الْمُرَتَّبَ مَعَ أَنَّ يَعْنِي الْأَفْضَلَ عَدَمُ الْحِسْبَةِ وَفَضْلُ اللهِ وَاسِعٌ لَكِنَّ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ بِخُصُوصِهَا وَرَدَ ذِكْرُ الْعَدَدِ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَأَخَذُوا بِمَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ بِعَدَدِ حُرُوفِ الْقُرْآنِ وَضَرَبُوهُ فِي عَشْرَةٍ يَعْنِي فِي عَشْرِ حَسَنَاتٍ فَوَجَدُوا أَنَّ النَّتِيجَةَ أَنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا خَتَمَ الْقُرْآنَ خَتْمَةً وَاحِدَةً يُرْجَى أَنْ يَحُوزَ عَلَى أَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ مَلَايِيْنَ حَسَنَةً سُبْحَانَ اللهِ أَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ مَلَايِيْنَ حَسَنَةً عَلَى الْخَتْمَةِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى عَظِيمِ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ الْمُرَتَّبِ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَلِهَذَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا حَسَدَ يَعْنِي لَا غِبْطَةَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ يَعْنِي سَاعَاتِ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ يَعْنِي دَائِمًا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ دَائِمًا فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ هَذَا الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يُغْبَطَ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ أَعْطَاهُ اللهُ مَالًا وَوَفَّقَهُ لِلْإِنْفَاقِ مِنْهُ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ هَذَانِ الاِثْنَانِ هُمَا اللَّذَانِ يَنْبَغِي أَنْ يُغْبَطَا لِأَنَّ أَجْرَهُمَا عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَظِيمٌ
Jika kamu membaca al-Quran, kamu akan meraih pahala dari setiap hurufnya sepuluh kebaikan.Sepuluh kebaikan! Sebagian ulama telah menghitung pahala yang mungkin didapat,meskipun lebih baik tidak perlu menghitungnya, dan karunia Allah sangat luas.Namun, dalam masalah ini secara khusus disebutkan jumlah tertentu: “Barang siapa yang membaca satu huruf al-Quran, baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan 10 kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi) Para ulama mengambil riwayat Ibnu Abbas tentang jumlah huruf al-Quran, lalu mengalikannya dengan 10.Yakni dengan 10 kebaikan. Mereka mendapatkan bahwa jika seorang Muslim mengkhatamkan al-Quran satu kali,maka diharapkan ia akan meraih lebih dari 3 juta kebaikan.Subhanallah!Lebih dari 3 juta kebaikan dari satu kali khatam al-Quran. Ini menunjukkan besarnya pahala dan balasan yang diberikan dari membaca al-Quran. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Tidak boleh gibtah (iri) kecuali terhadap dua golongan manusia:(yang pertama) orang yang dikaruniai oleh Allah al-Quran, lalu ia membacanya di waktu siang dan malam …”Yakni ia selalu melantunkan bacaan al-Quran dengan lisannya di waktu siang dan malam.Inilah yang seharusnya bikin kita iri. “… (yang kedua) orang yang dikarunia harta oleh Allah, lalu diberi kuasa menghabiskannya untuk kebenaran.”Allah memberinya harta, lalu memberinya taufik untuk berinfak di jalan-jalan kebaikan. Dua orang inilah yang hendaklah kita iri,karena keduanya mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ===== إِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ تَنَالُ عَلَى كُلِّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَقَدْ حَسَبَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ الْأَجْرَ الْمُرَتَّبَ مَعَ أَنَّ يَعْنِي الْأَفْضَلَ عَدَمُ الْحِسْبَةِ وَفَضْلُ اللهِ وَاسِعٌ لَكِنَّ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ بِخُصُوصِهَا وَرَدَ ذِكْرُ الْعَدَدِ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَأَخَذُوا بِمَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ بِعَدَدِ حُرُوفِ الْقُرْآنِ وَضَرَبُوهُ فِي عَشْرَةٍ يَعْنِي فِي عَشْرِ حَسَنَاتٍ فَوَجَدُوا أَنَّ النَّتِيجَةَ أَنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا خَتَمَ الْقُرْآنَ خَتْمَةً وَاحِدَةً يُرْجَى أَنْ يَحُوزَ عَلَى أَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ مَلَايِيْنَ حَسَنَةً سُبْحَانَ اللهِ أَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ مَلَايِيْنَ حَسَنَةً عَلَى الْخَتْمَةِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى عَظِيمِ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ الْمُرَتَّبِ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَلِهَذَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا حَسَدَ يَعْنِي لَا غِبْطَةَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ يَعْنِي سَاعَاتِ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ يَعْنِي دَائِمًا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ دَائِمًا فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ هَذَا الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يُغْبَطَ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ أَعْطَاهُ اللهُ مَالًا وَوَفَّقَهُ لِلْإِنْفَاقِ مِنْهُ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ هَذَانِ الاِثْنَانِ هُمَا اللَّذَانِ يَنْبَغِي أَنْ يُغْبَطَا لِأَنَّ أَجْرَهُمَا عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَظِيمٌ


Jika kamu membaca al-Quran, kamu akan meraih pahala dari setiap hurufnya sepuluh kebaikan.Sepuluh kebaikan! Sebagian ulama telah menghitung pahala yang mungkin didapat,meskipun lebih baik tidak perlu menghitungnya, dan karunia Allah sangat luas.Namun, dalam masalah ini secara khusus disebutkan jumlah tertentu: “Barang siapa yang membaca satu huruf al-Quran, baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan 10 kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi) Para ulama mengambil riwayat Ibnu Abbas tentang jumlah huruf al-Quran, lalu mengalikannya dengan 10.Yakni dengan 10 kebaikan. Mereka mendapatkan bahwa jika seorang Muslim mengkhatamkan al-Quran satu kali,maka diharapkan ia akan meraih lebih dari 3 juta kebaikan.Subhanallah!Lebih dari 3 juta kebaikan dari satu kali khatam al-Quran. Ini menunjukkan besarnya pahala dan balasan yang diberikan dari membaca al-Quran. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Tidak boleh gibtah (iri) kecuali terhadap dua golongan manusia:(yang pertama) orang yang dikaruniai oleh Allah al-Quran, lalu ia membacanya di waktu siang dan malam …”Yakni ia selalu melantunkan bacaan al-Quran dengan lisannya di waktu siang dan malam.Inilah yang seharusnya bikin kita iri. “… (yang kedua) orang yang dikarunia harta oleh Allah, lalu diberi kuasa menghabiskannya untuk kebenaran.”Allah memberinya harta, lalu memberinya taufik untuk berinfak di jalan-jalan kebaikan. Dua orang inilah yang hendaklah kita iri,karena keduanya mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ===== إِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ تَنَالُ عَلَى كُلِّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَقَدْ حَسَبَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ الْأَجْرَ الْمُرَتَّبَ مَعَ أَنَّ يَعْنِي الْأَفْضَلَ عَدَمُ الْحِسْبَةِ وَفَضْلُ اللهِ وَاسِعٌ لَكِنَّ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ بِخُصُوصِهَا وَرَدَ ذِكْرُ الْعَدَدِ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَأَخَذُوا بِمَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ بِعَدَدِ حُرُوفِ الْقُرْآنِ وَضَرَبُوهُ فِي عَشْرَةٍ يَعْنِي فِي عَشْرِ حَسَنَاتٍ فَوَجَدُوا أَنَّ النَّتِيجَةَ أَنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا خَتَمَ الْقُرْآنَ خَتْمَةً وَاحِدَةً يُرْجَى أَنْ يَحُوزَ عَلَى أَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ مَلَايِيْنَ حَسَنَةً سُبْحَانَ اللهِ أَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ مَلَايِيْنَ حَسَنَةً عَلَى الْخَتْمَةِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى عَظِيمِ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ الْمُرَتَّبِ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَلِهَذَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا حَسَدَ يَعْنِي لَا غِبْطَةَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ يَعْنِي سَاعَاتِ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ يَعْنِي دَائِمًا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ دَائِمًا فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ هَذَا الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يُغْبَطَ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ أَعْطَاهُ اللهُ مَالًا وَوَفَّقَهُ لِلْإِنْفَاقِ مِنْهُ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ هَذَانِ الاِثْنَانِ هُمَا اللَّذَانِ يَنْبَغِي أَنْ يُغْبَطَا لِأَنَّ أَجْرَهُمَا عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَظِيمٌ

Renungkan Jika Ini Ramadan Terakhir Anda – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Dia berkata, “Adakah nasihatberkenaan dengan datangnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan?” Nasihat untuk diri saya dan Anda,hendaknya kita sungguh-sungguh berdoaagar Allah Memberi kita taufik untuk beramal saleh di dalamnya, karena tidak ada jalan untuk melakukan ketaatan-ketaatan ini,kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Oleh karena itu, sepatutnya di antara doa dari masing-masing kitaadalah memohon Tuhannya agar Menolongnya melakukan ketaatan di malam tersebut, di samping bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebabnya,serta memohon kepada Allah keistikamahandan tambahan kebaikan di malam tersebut. Sungguh, jika sudah tertanam dalam diri seseorangbahwa dalam sepuluh hari tersebut ada sebuah malam yang agung,yakni Lailatul Qadar yang telah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Firmankan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar,dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1 – 3) Artinya bahwa ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu tahunyang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak tahu kapan umurnya berakhirdan barangkali dia tidak berjumpa dengan bulan ini kecuali di tahun ini saja,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mencabut nyawanya. Jika ini sudah tertanam dalam hatinya, niscaya ini menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya untuk beramal saleh dalam sepuluh malam terakhir ini. Hendaknya hal ini menjadi motivasi terbesar yang mendorong Andabersemangat dalam kesungguhan beramal di sepuluh malam ini,dengan harapan Anda mendapatkan Lailatul Qadar ini, yang mana Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri bersungguh-sungguh mencarinyadan berwasiat kepada para Sahabat beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam untuk mencarinya, dan menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau,sebagaimana tersebut dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah—semoga Allah Meridainya— “Barang siapa salat saat Lailatul Qadar,niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini,sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah, di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumhilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran ini,dan mengingat-ingat ganjaran ini,serta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā agar Menolong kita beramal saleh,dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. Sebagai tambahan nasihat, perlu diperhatikanbahwa seseorang tidak perlu mengikuti informasi tentang mimpi-mimpiyang menyebutkan bahwa tahun iniLailatul Qadar terjadi pada tanggal kesekian atau kesekian. Mimpi-mimpi semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan,kecuali setelah selesainya sepuluh malam ini,sekadar untuk melegakan dan menggembirakan diri. Adapun jika menjadi dasar untuk beramal,maka ini bertentangan dengan perintah syariat,karena mimpi adalah takdir sedangkan hukum adalah syariat,di mana seorang harus beribadah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan takdir. ==== يَقُولُ هَلْ مِنْ نَصِيحَةٍ بِقُدُومِ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ؟ النَّصِيحَةُ لِي وَلَكُمْ أَنْ نَجْتَهِدَ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يُوَفِّقَنَا اللهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيهَا فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْقِيَامِ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ إِلَّا بِالْاِسْتِعَانَةِ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ دُعَاءِ أَحَدِنَا سُؤَالَ رَبِّهِ أَنْ يُعِينَهُ عَلَى الطَّاعَةِ فِيهَا مَعَ الْاِجْتِهَادِ عَلَى بَذْلِ الْأَسْبَابِ فِي ذَلِكَ وَسُؤَالِ اللهِ الثَّبَاتَ وَالزِّيَادَةَ مِنَ الْخَيْرِ فِيهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا حَقَّقَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ هَذِهِ الْعَشْرَ فِيهَا لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيهَا إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ أَيْ الْعِبَادَةُ فِيهَا خَيرٌ مِنْ عِبَادِةِ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ثُمَّ رَأَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مُنْتَهَى عُمُرِهِ وَأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يُدْرِكُ إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَقَرَ هَذَا فِي قَلْبِهِ كَانَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُوقُهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَلْيَكُنْ هَذَا الْحَادِي أَعْظَمَ حَادٍ يَسُوقُكَ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِجْتِهَادِ فِي الْعَمَلِ فِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ رَجَاءً أَنْ تُصِيبَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْتِمَاسِهَا وَيُوصِي أَصْحَابَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْتِمَاسِهَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ فَضْلَهَا فَيَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا وَمِمَّا يُنَبَّهُ إِلَيْهِ بَسْطًا فِي النُّصْحِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوِّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى تِطْلَابِ الرُّؤَى الْمَنَامِيَّةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا أَنَّ هَذِهِ السَّنَةَ تَكُونَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَذَا وَكَذَا أَوْ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ لَا يُعَوَّلُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْمَرَائِيِّ إِلَّا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ وَتَكُونُ لِلْاِسْتِئْنَاسِ وَالْفَرَحِ أَمَّا أَنْ تَكُونَ أَصْلًا لِلْعَمَلِ فَهَذَا يُخَالِفُ أَمْرَ الشَّرْعِ لِأَنَّ الرُّؤَى قَدَرِيَّةٌ وَالْأَحْكَامُ شَرْعِيَّةٌ وَالْعَبْدُ مُتَعَبَّدٌ بِالشَّرْعِ لَا بِالْقَدَرِ

Renungkan Jika Ini Ramadan Terakhir Anda – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Dia berkata, “Adakah nasihatberkenaan dengan datangnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan?” Nasihat untuk diri saya dan Anda,hendaknya kita sungguh-sungguh berdoaagar Allah Memberi kita taufik untuk beramal saleh di dalamnya, karena tidak ada jalan untuk melakukan ketaatan-ketaatan ini,kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Oleh karena itu, sepatutnya di antara doa dari masing-masing kitaadalah memohon Tuhannya agar Menolongnya melakukan ketaatan di malam tersebut, di samping bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebabnya,serta memohon kepada Allah keistikamahandan tambahan kebaikan di malam tersebut. Sungguh, jika sudah tertanam dalam diri seseorangbahwa dalam sepuluh hari tersebut ada sebuah malam yang agung,yakni Lailatul Qadar yang telah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Firmankan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar,dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1 – 3) Artinya bahwa ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu tahunyang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak tahu kapan umurnya berakhirdan barangkali dia tidak berjumpa dengan bulan ini kecuali di tahun ini saja,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mencabut nyawanya. Jika ini sudah tertanam dalam hatinya, niscaya ini menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya untuk beramal saleh dalam sepuluh malam terakhir ini. Hendaknya hal ini menjadi motivasi terbesar yang mendorong Andabersemangat dalam kesungguhan beramal di sepuluh malam ini,dengan harapan Anda mendapatkan Lailatul Qadar ini, yang mana Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri bersungguh-sungguh mencarinyadan berwasiat kepada para Sahabat beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam untuk mencarinya, dan menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau,sebagaimana tersebut dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah—semoga Allah Meridainya— “Barang siapa salat saat Lailatul Qadar,niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini,sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah, di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumhilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran ini,dan mengingat-ingat ganjaran ini,serta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā agar Menolong kita beramal saleh,dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. Sebagai tambahan nasihat, perlu diperhatikanbahwa seseorang tidak perlu mengikuti informasi tentang mimpi-mimpiyang menyebutkan bahwa tahun iniLailatul Qadar terjadi pada tanggal kesekian atau kesekian. Mimpi-mimpi semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan,kecuali setelah selesainya sepuluh malam ini,sekadar untuk melegakan dan menggembirakan diri. Adapun jika menjadi dasar untuk beramal,maka ini bertentangan dengan perintah syariat,karena mimpi adalah takdir sedangkan hukum adalah syariat,di mana seorang harus beribadah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan takdir. ==== يَقُولُ هَلْ مِنْ نَصِيحَةٍ بِقُدُومِ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ؟ النَّصِيحَةُ لِي وَلَكُمْ أَنْ نَجْتَهِدَ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يُوَفِّقَنَا اللهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيهَا فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْقِيَامِ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ إِلَّا بِالْاِسْتِعَانَةِ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ دُعَاءِ أَحَدِنَا سُؤَالَ رَبِّهِ أَنْ يُعِينَهُ عَلَى الطَّاعَةِ فِيهَا مَعَ الْاِجْتِهَادِ عَلَى بَذْلِ الْأَسْبَابِ فِي ذَلِكَ وَسُؤَالِ اللهِ الثَّبَاتَ وَالزِّيَادَةَ مِنَ الْخَيْرِ فِيهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا حَقَّقَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ هَذِهِ الْعَشْرَ فِيهَا لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيهَا إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ أَيْ الْعِبَادَةُ فِيهَا خَيرٌ مِنْ عِبَادِةِ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ثُمَّ رَأَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مُنْتَهَى عُمُرِهِ وَأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يُدْرِكُ إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَقَرَ هَذَا فِي قَلْبِهِ كَانَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُوقُهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَلْيَكُنْ هَذَا الْحَادِي أَعْظَمَ حَادٍ يَسُوقُكَ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِجْتِهَادِ فِي الْعَمَلِ فِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ رَجَاءً أَنْ تُصِيبَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْتِمَاسِهَا وَيُوصِي أَصْحَابَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْتِمَاسِهَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ فَضْلَهَا فَيَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا وَمِمَّا يُنَبَّهُ إِلَيْهِ بَسْطًا فِي النُّصْحِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوِّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى تِطْلَابِ الرُّؤَى الْمَنَامِيَّةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا أَنَّ هَذِهِ السَّنَةَ تَكُونَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَذَا وَكَذَا أَوْ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ لَا يُعَوَّلُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْمَرَائِيِّ إِلَّا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ وَتَكُونُ لِلْاِسْتِئْنَاسِ وَالْفَرَحِ أَمَّا أَنْ تَكُونَ أَصْلًا لِلْعَمَلِ فَهَذَا يُخَالِفُ أَمْرَ الشَّرْعِ لِأَنَّ الرُّؤَى قَدَرِيَّةٌ وَالْأَحْكَامُ شَرْعِيَّةٌ وَالْعَبْدُ مُتَعَبَّدٌ بِالشَّرْعِ لَا بِالْقَدَرِ
Dia berkata, “Adakah nasihatberkenaan dengan datangnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan?” Nasihat untuk diri saya dan Anda,hendaknya kita sungguh-sungguh berdoaagar Allah Memberi kita taufik untuk beramal saleh di dalamnya, karena tidak ada jalan untuk melakukan ketaatan-ketaatan ini,kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Oleh karena itu, sepatutnya di antara doa dari masing-masing kitaadalah memohon Tuhannya agar Menolongnya melakukan ketaatan di malam tersebut, di samping bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebabnya,serta memohon kepada Allah keistikamahandan tambahan kebaikan di malam tersebut. Sungguh, jika sudah tertanam dalam diri seseorangbahwa dalam sepuluh hari tersebut ada sebuah malam yang agung,yakni Lailatul Qadar yang telah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Firmankan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar,dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1 – 3) Artinya bahwa ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu tahunyang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak tahu kapan umurnya berakhirdan barangkali dia tidak berjumpa dengan bulan ini kecuali di tahun ini saja,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mencabut nyawanya. Jika ini sudah tertanam dalam hatinya, niscaya ini menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya untuk beramal saleh dalam sepuluh malam terakhir ini. Hendaknya hal ini menjadi motivasi terbesar yang mendorong Andabersemangat dalam kesungguhan beramal di sepuluh malam ini,dengan harapan Anda mendapatkan Lailatul Qadar ini, yang mana Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri bersungguh-sungguh mencarinyadan berwasiat kepada para Sahabat beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam untuk mencarinya, dan menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau,sebagaimana tersebut dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah—semoga Allah Meridainya— “Barang siapa salat saat Lailatul Qadar,niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini,sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah, di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumhilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran ini,dan mengingat-ingat ganjaran ini,serta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā agar Menolong kita beramal saleh,dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. Sebagai tambahan nasihat, perlu diperhatikanbahwa seseorang tidak perlu mengikuti informasi tentang mimpi-mimpiyang menyebutkan bahwa tahun iniLailatul Qadar terjadi pada tanggal kesekian atau kesekian. Mimpi-mimpi semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan,kecuali setelah selesainya sepuluh malam ini,sekadar untuk melegakan dan menggembirakan diri. Adapun jika menjadi dasar untuk beramal,maka ini bertentangan dengan perintah syariat,karena mimpi adalah takdir sedangkan hukum adalah syariat,di mana seorang harus beribadah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan takdir. ==== يَقُولُ هَلْ مِنْ نَصِيحَةٍ بِقُدُومِ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ؟ النَّصِيحَةُ لِي وَلَكُمْ أَنْ نَجْتَهِدَ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يُوَفِّقَنَا اللهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيهَا فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْقِيَامِ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ إِلَّا بِالْاِسْتِعَانَةِ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ دُعَاءِ أَحَدِنَا سُؤَالَ رَبِّهِ أَنْ يُعِينَهُ عَلَى الطَّاعَةِ فِيهَا مَعَ الْاِجْتِهَادِ عَلَى بَذْلِ الْأَسْبَابِ فِي ذَلِكَ وَسُؤَالِ اللهِ الثَّبَاتَ وَالزِّيَادَةَ مِنَ الْخَيْرِ فِيهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا حَقَّقَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ هَذِهِ الْعَشْرَ فِيهَا لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيهَا إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ أَيْ الْعِبَادَةُ فِيهَا خَيرٌ مِنْ عِبَادِةِ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ثُمَّ رَأَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مُنْتَهَى عُمُرِهِ وَأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يُدْرِكُ إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَقَرَ هَذَا فِي قَلْبِهِ كَانَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُوقُهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَلْيَكُنْ هَذَا الْحَادِي أَعْظَمَ حَادٍ يَسُوقُكَ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِجْتِهَادِ فِي الْعَمَلِ فِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ رَجَاءً أَنْ تُصِيبَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْتِمَاسِهَا وَيُوصِي أَصْحَابَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْتِمَاسِهَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ فَضْلَهَا فَيَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا وَمِمَّا يُنَبَّهُ إِلَيْهِ بَسْطًا فِي النُّصْحِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوِّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى تِطْلَابِ الرُّؤَى الْمَنَامِيَّةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا أَنَّ هَذِهِ السَّنَةَ تَكُونَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَذَا وَكَذَا أَوْ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ لَا يُعَوَّلُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْمَرَائِيِّ إِلَّا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ وَتَكُونُ لِلْاِسْتِئْنَاسِ وَالْفَرَحِ أَمَّا أَنْ تَكُونَ أَصْلًا لِلْعَمَلِ فَهَذَا يُخَالِفُ أَمْرَ الشَّرْعِ لِأَنَّ الرُّؤَى قَدَرِيَّةٌ وَالْأَحْكَامُ شَرْعِيَّةٌ وَالْعَبْدُ مُتَعَبَّدٌ بِالشَّرْعِ لَا بِالْقَدَرِ


Dia berkata, “Adakah nasihatberkenaan dengan datangnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan?” Nasihat untuk diri saya dan Anda,hendaknya kita sungguh-sungguh berdoaagar Allah Memberi kita taufik untuk beramal saleh di dalamnya, karena tidak ada jalan untuk melakukan ketaatan-ketaatan ini,kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Oleh karena itu, sepatutnya di antara doa dari masing-masing kitaadalah memohon Tuhannya agar Menolongnya melakukan ketaatan di malam tersebut, di samping bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebabnya,serta memohon kepada Allah keistikamahandan tambahan kebaikan di malam tersebut. Sungguh, jika sudah tertanam dalam diri seseorangbahwa dalam sepuluh hari tersebut ada sebuah malam yang agung,yakni Lailatul Qadar yang telah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Firmankan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar,dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1 – 3) Artinya bahwa ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu tahunyang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak tahu kapan umurnya berakhirdan barangkali dia tidak berjumpa dengan bulan ini kecuali di tahun ini saja,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mencabut nyawanya. Jika ini sudah tertanam dalam hatinya, niscaya ini menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya untuk beramal saleh dalam sepuluh malam terakhir ini. Hendaknya hal ini menjadi motivasi terbesar yang mendorong Andabersemangat dalam kesungguhan beramal di sepuluh malam ini,dengan harapan Anda mendapatkan Lailatul Qadar ini, yang mana Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri bersungguh-sungguh mencarinyadan berwasiat kepada para Sahabat beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam untuk mencarinya, dan menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau,sebagaimana tersebut dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah—semoga Allah Meridainya— “Barang siapa salat saat Lailatul Qadar,niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini,sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah, di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumhilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran ini,dan mengingat-ingat ganjaran ini,serta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā agar Menolong kita beramal saleh,dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. Sebagai tambahan nasihat, perlu diperhatikanbahwa seseorang tidak perlu mengikuti informasi tentang mimpi-mimpiyang menyebutkan bahwa tahun iniLailatul Qadar terjadi pada tanggal kesekian atau kesekian. Mimpi-mimpi semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan,kecuali setelah selesainya sepuluh malam ini,sekadar untuk melegakan dan menggembirakan diri. Adapun jika menjadi dasar untuk beramal,maka ini bertentangan dengan perintah syariat,karena mimpi adalah takdir sedangkan hukum adalah syariat,di mana seorang harus beribadah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan takdir. ==== يَقُولُ هَلْ مِنْ نَصِيحَةٍ بِقُدُومِ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ؟ النَّصِيحَةُ لِي وَلَكُمْ أَنْ نَجْتَهِدَ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يُوَفِّقَنَا اللهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيهَا فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْقِيَامِ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ إِلَّا بِالْاِسْتِعَانَةِ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ دُعَاءِ أَحَدِنَا سُؤَالَ رَبِّهِ أَنْ يُعِينَهُ عَلَى الطَّاعَةِ فِيهَا مَعَ الْاِجْتِهَادِ عَلَى بَذْلِ الْأَسْبَابِ فِي ذَلِكَ وَسُؤَالِ اللهِ الثَّبَاتَ وَالزِّيَادَةَ مِنَ الْخَيْرِ فِيهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا حَقَّقَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ هَذِهِ الْعَشْرَ فِيهَا لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيهَا إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ أَيْ الْعِبَادَةُ فِيهَا خَيرٌ مِنْ عِبَادِةِ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ثُمَّ رَأَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مُنْتَهَى عُمُرِهِ وَأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يُدْرِكُ إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَقَرَ هَذَا فِي قَلْبِهِ كَانَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُوقُهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَلْيَكُنْ هَذَا الْحَادِي أَعْظَمَ حَادٍ يَسُوقُكَ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِجْتِهَادِ فِي الْعَمَلِ فِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ رَجَاءً أَنْ تُصِيبَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْتِمَاسِهَا وَيُوصِي أَصْحَابَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْتِمَاسِهَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ فَضْلَهَا فَيَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا وَمِمَّا يُنَبَّهُ إِلَيْهِ بَسْطًا فِي النُّصْحِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوِّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى تِطْلَابِ الرُّؤَى الْمَنَامِيَّةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا أَنَّ هَذِهِ السَّنَةَ تَكُونَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَذَا وَكَذَا أَوْ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ لَا يُعَوَّلُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْمَرَائِيِّ إِلَّا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ وَتَكُونُ لِلْاِسْتِئْنَاسِ وَالْفَرَحِ أَمَّا أَنْ تَكُونَ أَصْلًا لِلْعَمَلِ فَهَذَا يُخَالِفُ أَمْرَ الشَّرْعِ لِأَنَّ الرُّؤَى قَدَرِيَّةٌ وَالْأَحْكَامُ شَرْعِيَّةٌ وَالْعَبْدُ مُتَعَبَّدٌ بِالشَّرْعِ لَا بِالْقَدَرِ

Cara Aman & Mudah Bersiwak ketika Puasa – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ummu Abdul Jawwad bertanya, “Berkaitan dengan pemakaian siwak (bagi yang berpuasa),lalu ada sebagiannya yang tertelan ke tenggorokan, apa hukumnya?”Hukum asalnya, tidak mengapa memakai siwak bagi orang yang berpuasa.Sedangkan yang tertelan tanpa disengaja, tidak ada masalah baginya.Namun, hendaklah ia memperhatikan hal itu,dan orang yang berpuasa hendaknya menghindari pemakaian siwak yang basah,serta menghindari pemakaian siwak yang mudah rontok.Jika ia telah menghindari hal-hal ini, dan ia memakai siwak,maka tidak ada masalah baginya.Sedangkan yang tertelan tanpa disengaja, ia tidak dihukum atas itu, dan puasanya tetap sah. ===== أُمُّ عَبْدِ الْجَوَّادِ سَأَلَتْ تَقُوْلُ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يَسْتَخْدمُ الْمِسْوَاكَ وَيَنْزِلُ إِلَى حَلْقِهِ أَجْزَاءٌ مِنْهُ مَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ الْأَصْلُ هُوَ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِالتَّسَوُّكِ لِلصَّائِمِ وَمَا قَدْ يَنْفُذُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ لَا شَيْءَ عَلَيْهِ لَكِنْ مَعَ ذَلِكَ يَنْبَغِي مُلَاحَظَةُ هَذَا وَأَنْ يَجْتَنِبَ الصَّائِمُ السِّوَاكَ الرَّطِبَ وَيَجْتَنِبُ أَيْضًا السِّوَاكَ الَّذِي يَتَفَتَّتُ وَإِذَا اجْتَنَبَ هَذَا وَتَسَوَّكَ فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ وَمَا قَدْ يَنْفُذُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ لَا يُؤَاخَذُ بِهِ وَصَوْمُهُ صَحِيحٌ

Cara Aman & Mudah Bersiwak ketika Puasa – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ummu Abdul Jawwad bertanya, “Berkaitan dengan pemakaian siwak (bagi yang berpuasa),lalu ada sebagiannya yang tertelan ke tenggorokan, apa hukumnya?”Hukum asalnya, tidak mengapa memakai siwak bagi orang yang berpuasa.Sedangkan yang tertelan tanpa disengaja, tidak ada masalah baginya.Namun, hendaklah ia memperhatikan hal itu,dan orang yang berpuasa hendaknya menghindari pemakaian siwak yang basah,serta menghindari pemakaian siwak yang mudah rontok.Jika ia telah menghindari hal-hal ini, dan ia memakai siwak,maka tidak ada masalah baginya.Sedangkan yang tertelan tanpa disengaja, ia tidak dihukum atas itu, dan puasanya tetap sah. ===== أُمُّ عَبْدِ الْجَوَّادِ سَأَلَتْ تَقُوْلُ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يَسْتَخْدمُ الْمِسْوَاكَ وَيَنْزِلُ إِلَى حَلْقِهِ أَجْزَاءٌ مِنْهُ مَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ الْأَصْلُ هُوَ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِالتَّسَوُّكِ لِلصَّائِمِ وَمَا قَدْ يَنْفُذُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ لَا شَيْءَ عَلَيْهِ لَكِنْ مَعَ ذَلِكَ يَنْبَغِي مُلَاحَظَةُ هَذَا وَأَنْ يَجْتَنِبَ الصَّائِمُ السِّوَاكَ الرَّطِبَ وَيَجْتَنِبُ أَيْضًا السِّوَاكَ الَّذِي يَتَفَتَّتُ وَإِذَا اجْتَنَبَ هَذَا وَتَسَوَّكَ فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ وَمَا قَدْ يَنْفُذُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ لَا يُؤَاخَذُ بِهِ وَصَوْمُهُ صَحِيحٌ
Ummu Abdul Jawwad bertanya, “Berkaitan dengan pemakaian siwak (bagi yang berpuasa),lalu ada sebagiannya yang tertelan ke tenggorokan, apa hukumnya?”Hukum asalnya, tidak mengapa memakai siwak bagi orang yang berpuasa.Sedangkan yang tertelan tanpa disengaja, tidak ada masalah baginya.Namun, hendaklah ia memperhatikan hal itu,dan orang yang berpuasa hendaknya menghindari pemakaian siwak yang basah,serta menghindari pemakaian siwak yang mudah rontok.Jika ia telah menghindari hal-hal ini, dan ia memakai siwak,maka tidak ada masalah baginya.Sedangkan yang tertelan tanpa disengaja, ia tidak dihukum atas itu, dan puasanya tetap sah. ===== أُمُّ عَبْدِ الْجَوَّادِ سَأَلَتْ تَقُوْلُ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يَسْتَخْدمُ الْمِسْوَاكَ وَيَنْزِلُ إِلَى حَلْقِهِ أَجْزَاءٌ مِنْهُ مَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ الْأَصْلُ هُوَ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِالتَّسَوُّكِ لِلصَّائِمِ وَمَا قَدْ يَنْفُذُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ لَا شَيْءَ عَلَيْهِ لَكِنْ مَعَ ذَلِكَ يَنْبَغِي مُلَاحَظَةُ هَذَا وَأَنْ يَجْتَنِبَ الصَّائِمُ السِّوَاكَ الرَّطِبَ وَيَجْتَنِبُ أَيْضًا السِّوَاكَ الَّذِي يَتَفَتَّتُ وَإِذَا اجْتَنَبَ هَذَا وَتَسَوَّكَ فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ وَمَا قَدْ يَنْفُذُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ لَا يُؤَاخَذُ بِهِ وَصَوْمُهُ صَحِيحٌ


Ummu Abdul Jawwad bertanya, “Berkaitan dengan pemakaian siwak (bagi yang berpuasa),lalu ada sebagiannya yang tertelan ke tenggorokan, apa hukumnya?”Hukum asalnya, tidak mengapa memakai siwak bagi orang yang berpuasa.Sedangkan yang tertelan tanpa disengaja, tidak ada masalah baginya.Namun, hendaklah ia memperhatikan hal itu,dan orang yang berpuasa hendaknya menghindari pemakaian siwak yang basah,serta menghindari pemakaian siwak yang mudah rontok.Jika ia telah menghindari hal-hal ini, dan ia memakai siwak,maka tidak ada masalah baginya.Sedangkan yang tertelan tanpa disengaja, ia tidak dihukum atas itu, dan puasanya tetap sah. ===== أُمُّ عَبْدِ الْجَوَّادِ سَأَلَتْ تَقُوْلُ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يَسْتَخْدمُ الْمِسْوَاكَ وَيَنْزِلُ إِلَى حَلْقِهِ أَجْزَاءٌ مِنْهُ مَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ الْأَصْلُ هُوَ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِالتَّسَوُّكِ لِلصَّائِمِ وَمَا قَدْ يَنْفُذُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ لَا شَيْءَ عَلَيْهِ لَكِنْ مَعَ ذَلِكَ يَنْبَغِي مُلَاحَظَةُ هَذَا وَأَنْ يَجْتَنِبَ الصَّائِمُ السِّوَاكَ الرَّطِبَ وَيَجْتَنِبُ أَيْضًا السِّوَاكَ الَّذِي يَتَفَتَّتُ وَإِذَا اجْتَنَبَ هَذَا وَتَسَوَّكَ فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ وَمَا قَدْ يَنْفُذُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ لَا يُؤَاخَذُ بِهِ وَصَوْمُهُ صَحِيحٌ

Jangan Lupa Menzakati Saldo Tabunganmu Jika Sudah Haul dan Hisab – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Di sini saya ingatkan bahwa sebagian orangtidak mengeluarkan zakat saldo tabungannya,dan mengira bahwa zakat hanya wajib atas para pedagang dan orang kaya. Sebagai contoh, sebagian orang memiliki saldo 10 ribu rialatau 20 ribu rial, tapi ia tidak mengeluarkan zakatnya. Jika ditanya tentang itu, ia menjawab, “Tidak perlu, zakat hanya wajib bagi para pedagang, si fulan dan fulan,dan para pedagang dan perusahaan. Apalah yang aku punya?Aku hanya punya tanggungan nafkah dan lainnya.” Kami katakan, “Tidak demikian, selama kamu punya saldo yang telah mencapai nisab dan haulmaka kamu wajib mengeluarkan zakatnya. Tanpa memandang hal yang menjadi sebab kamu menabung harta itu,bahkan jika kamu menabungnya untuk nafkah,atau kamu menabungnya untuk membangun rumah,atau juga kamu menabungnya untuk biaya pernikahan,atau kamu menabungnya untuk tujuan apa pun itu. Selama harta itu telah mencapai batas nisab dan haul,maka kamu wajib mengeluarkan zakatnya. Cara mengetahui jumlah zakatnya adalah dengan membagiuang yang kamu miliki itu dengan 40.Berapa pun uang yang ingin kamu ketahui jumlah zakatnya,cukup dengan membagi uang itu dengan 40,maka langsung akan keluar besaran zakatnya. ==== أُنَبِّهُ هُنَا إِلَى أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ لَا يُزَكِّي رَصِيدَهُ وَيَظُنُّ أَنَّ الزَّكَاةَ إِنَّمَا تَجِبُ عَلَى التُّجَّارِ وَالْاَثْرِيَاءِ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مَثَلًا فِي رَصِيدِهِ عَشْرَةَ آلَافٍ أَوْ عِشْرِيْنَ أَلْفًا وَلَا يُزَكِّيْهِ وَإِذَا قِيلَ لَهُ لَا الزَّكَاةُ عَلَى التُّجَّارِ عَلَى فُلَانٍ وَفُلَانٍ وَالتُّجَّارِ وَالشَّرِكَاتِ أَنَا مَاذَا عِنْدِيْ؟ أَنَا عِنْدِيْ نَفَقَاتٌ وَعِنْدِي كَذَا نَقُولُ لَا مَا دَامَ أَنَّ عِنْدَكَ رَصِيدٌ وَقَدْ بَلَغَ النِّصَابُ وَحَالَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ فَيَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ تُزَكِّيَهُ بِغَضِّ النَّظَرِ عَنِ السَّبَبِ الَّذِي لِأَجْلِهِ ادَّخَرْتَ هَذَا الْمَالَ حَتَّى لَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَجْلِ النَّفَقَةِ أَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَجْلِ بِنَاءِ مَسْكَنٍ أَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَجْلِ الزَّوَاجِ أَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَيِّ غَرَضٍ مِنَ الْأَغْرَاضِ مَا دَامَ قَدْ بَلَغَ نِصَابًا وَحَالَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ يَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ تُزَكِّيَهُ وَطَرِيقَةُ زَكَاتِهِ أَنْ تَقْسِمَ الْمَبْلَغَ الْمَوْجُودَ عِنْدَكَ عَلَى أَرْبَعِيْنَ أَيُّ مَبْلَغٍ تُرِيدُ مَعْرِفَةَ زَكَاتِهِ أَنْ تَقْسِمَ الْمَبْلَغَ عَلَى أَرْبَعِيْنَ يَخْرُجُ لَكَ مِقْدَارَ الزَّكَاةِ مُبَاشَرَةً

Jangan Lupa Menzakati Saldo Tabunganmu Jika Sudah Haul dan Hisab – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Di sini saya ingatkan bahwa sebagian orangtidak mengeluarkan zakat saldo tabungannya,dan mengira bahwa zakat hanya wajib atas para pedagang dan orang kaya. Sebagai contoh, sebagian orang memiliki saldo 10 ribu rialatau 20 ribu rial, tapi ia tidak mengeluarkan zakatnya. Jika ditanya tentang itu, ia menjawab, “Tidak perlu, zakat hanya wajib bagi para pedagang, si fulan dan fulan,dan para pedagang dan perusahaan. Apalah yang aku punya?Aku hanya punya tanggungan nafkah dan lainnya.” Kami katakan, “Tidak demikian, selama kamu punya saldo yang telah mencapai nisab dan haulmaka kamu wajib mengeluarkan zakatnya. Tanpa memandang hal yang menjadi sebab kamu menabung harta itu,bahkan jika kamu menabungnya untuk nafkah,atau kamu menabungnya untuk membangun rumah,atau juga kamu menabungnya untuk biaya pernikahan,atau kamu menabungnya untuk tujuan apa pun itu. Selama harta itu telah mencapai batas nisab dan haul,maka kamu wajib mengeluarkan zakatnya. Cara mengetahui jumlah zakatnya adalah dengan membagiuang yang kamu miliki itu dengan 40.Berapa pun uang yang ingin kamu ketahui jumlah zakatnya,cukup dengan membagi uang itu dengan 40,maka langsung akan keluar besaran zakatnya. ==== أُنَبِّهُ هُنَا إِلَى أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ لَا يُزَكِّي رَصِيدَهُ وَيَظُنُّ أَنَّ الزَّكَاةَ إِنَّمَا تَجِبُ عَلَى التُّجَّارِ وَالْاَثْرِيَاءِ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مَثَلًا فِي رَصِيدِهِ عَشْرَةَ آلَافٍ أَوْ عِشْرِيْنَ أَلْفًا وَلَا يُزَكِّيْهِ وَإِذَا قِيلَ لَهُ لَا الزَّكَاةُ عَلَى التُّجَّارِ عَلَى فُلَانٍ وَفُلَانٍ وَالتُّجَّارِ وَالشَّرِكَاتِ أَنَا مَاذَا عِنْدِيْ؟ أَنَا عِنْدِيْ نَفَقَاتٌ وَعِنْدِي كَذَا نَقُولُ لَا مَا دَامَ أَنَّ عِنْدَكَ رَصِيدٌ وَقَدْ بَلَغَ النِّصَابُ وَحَالَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ فَيَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ تُزَكِّيَهُ بِغَضِّ النَّظَرِ عَنِ السَّبَبِ الَّذِي لِأَجْلِهِ ادَّخَرْتَ هَذَا الْمَالَ حَتَّى لَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَجْلِ النَّفَقَةِ أَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَجْلِ بِنَاءِ مَسْكَنٍ أَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَجْلِ الزَّوَاجِ أَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَيِّ غَرَضٍ مِنَ الْأَغْرَاضِ مَا دَامَ قَدْ بَلَغَ نِصَابًا وَحَالَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ يَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ تُزَكِّيَهُ وَطَرِيقَةُ زَكَاتِهِ أَنْ تَقْسِمَ الْمَبْلَغَ الْمَوْجُودَ عِنْدَكَ عَلَى أَرْبَعِيْنَ أَيُّ مَبْلَغٍ تُرِيدُ مَعْرِفَةَ زَكَاتِهِ أَنْ تَقْسِمَ الْمَبْلَغَ عَلَى أَرْبَعِيْنَ يَخْرُجُ لَكَ مِقْدَارَ الزَّكَاةِ مُبَاشَرَةً
Di sini saya ingatkan bahwa sebagian orangtidak mengeluarkan zakat saldo tabungannya,dan mengira bahwa zakat hanya wajib atas para pedagang dan orang kaya. Sebagai contoh, sebagian orang memiliki saldo 10 ribu rialatau 20 ribu rial, tapi ia tidak mengeluarkan zakatnya. Jika ditanya tentang itu, ia menjawab, “Tidak perlu, zakat hanya wajib bagi para pedagang, si fulan dan fulan,dan para pedagang dan perusahaan. Apalah yang aku punya?Aku hanya punya tanggungan nafkah dan lainnya.” Kami katakan, “Tidak demikian, selama kamu punya saldo yang telah mencapai nisab dan haulmaka kamu wajib mengeluarkan zakatnya. Tanpa memandang hal yang menjadi sebab kamu menabung harta itu,bahkan jika kamu menabungnya untuk nafkah,atau kamu menabungnya untuk membangun rumah,atau juga kamu menabungnya untuk biaya pernikahan,atau kamu menabungnya untuk tujuan apa pun itu. Selama harta itu telah mencapai batas nisab dan haul,maka kamu wajib mengeluarkan zakatnya. Cara mengetahui jumlah zakatnya adalah dengan membagiuang yang kamu miliki itu dengan 40.Berapa pun uang yang ingin kamu ketahui jumlah zakatnya,cukup dengan membagi uang itu dengan 40,maka langsung akan keluar besaran zakatnya. ==== أُنَبِّهُ هُنَا إِلَى أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ لَا يُزَكِّي رَصِيدَهُ وَيَظُنُّ أَنَّ الزَّكَاةَ إِنَّمَا تَجِبُ عَلَى التُّجَّارِ وَالْاَثْرِيَاءِ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مَثَلًا فِي رَصِيدِهِ عَشْرَةَ آلَافٍ أَوْ عِشْرِيْنَ أَلْفًا وَلَا يُزَكِّيْهِ وَإِذَا قِيلَ لَهُ لَا الزَّكَاةُ عَلَى التُّجَّارِ عَلَى فُلَانٍ وَفُلَانٍ وَالتُّجَّارِ وَالشَّرِكَاتِ أَنَا مَاذَا عِنْدِيْ؟ أَنَا عِنْدِيْ نَفَقَاتٌ وَعِنْدِي كَذَا نَقُولُ لَا مَا دَامَ أَنَّ عِنْدَكَ رَصِيدٌ وَقَدْ بَلَغَ النِّصَابُ وَحَالَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ فَيَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ تُزَكِّيَهُ بِغَضِّ النَّظَرِ عَنِ السَّبَبِ الَّذِي لِأَجْلِهِ ادَّخَرْتَ هَذَا الْمَالَ حَتَّى لَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَجْلِ النَّفَقَةِ أَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَجْلِ بِنَاءِ مَسْكَنٍ أَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَجْلِ الزَّوَاجِ أَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَيِّ غَرَضٍ مِنَ الْأَغْرَاضِ مَا دَامَ قَدْ بَلَغَ نِصَابًا وَحَالَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ يَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ تُزَكِّيَهُ وَطَرِيقَةُ زَكَاتِهِ أَنْ تَقْسِمَ الْمَبْلَغَ الْمَوْجُودَ عِنْدَكَ عَلَى أَرْبَعِيْنَ أَيُّ مَبْلَغٍ تُرِيدُ مَعْرِفَةَ زَكَاتِهِ أَنْ تَقْسِمَ الْمَبْلَغَ عَلَى أَرْبَعِيْنَ يَخْرُجُ لَكَ مِقْدَارَ الزَّكَاةِ مُبَاشَرَةً


Di sini saya ingatkan bahwa sebagian orangtidak mengeluarkan zakat saldo tabungannya,dan mengira bahwa zakat hanya wajib atas para pedagang dan orang kaya. Sebagai contoh, sebagian orang memiliki saldo 10 ribu rialatau 20 ribu rial, tapi ia tidak mengeluarkan zakatnya. Jika ditanya tentang itu, ia menjawab, “Tidak perlu, zakat hanya wajib bagi para pedagang, si fulan dan fulan,dan para pedagang dan perusahaan. Apalah yang aku punya?Aku hanya punya tanggungan nafkah dan lainnya.” Kami katakan, “Tidak demikian, selama kamu punya saldo yang telah mencapai nisab dan haulmaka kamu wajib mengeluarkan zakatnya. Tanpa memandang hal yang menjadi sebab kamu menabung harta itu,bahkan jika kamu menabungnya untuk nafkah,atau kamu menabungnya untuk membangun rumah,atau juga kamu menabungnya untuk biaya pernikahan,atau kamu menabungnya untuk tujuan apa pun itu. Selama harta itu telah mencapai batas nisab dan haul,maka kamu wajib mengeluarkan zakatnya. Cara mengetahui jumlah zakatnya adalah dengan membagiuang yang kamu miliki itu dengan 40.Berapa pun uang yang ingin kamu ketahui jumlah zakatnya,cukup dengan membagi uang itu dengan 40,maka langsung akan keluar besaran zakatnya. ==== أُنَبِّهُ هُنَا إِلَى أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ لَا يُزَكِّي رَصِيدَهُ وَيَظُنُّ أَنَّ الزَّكَاةَ إِنَّمَا تَجِبُ عَلَى التُّجَّارِ وَالْاَثْرِيَاءِ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مَثَلًا فِي رَصِيدِهِ عَشْرَةَ آلَافٍ أَوْ عِشْرِيْنَ أَلْفًا وَلَا يُزَكِّيْهِ وَإِذَا قِيلَ لَهُ لَا الزَّكَاةُ عَلَى التُّجَّارِ عَلَى فُلَانٍ وَفُلَانٍ وَالتُّجَّارِ وَالشَّرِكَاتِ أَنَا مَاذَا عِنْدِيْ؟ أَنَا عِنْدِيْ نَفَقَاتٌ وَعِنْدِي كَذَا نَقُولُ لَا مَا دَامَ أَنَّ عِنْدَكَ رَصِيدٌ وَقَدْ بَلَغَ النِّصَابُ وَحَالَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ فَيَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ تُزَكِّيَهُ بِغَضِّ النَّظَرِ عَنِ السَّبَبِ الَّذِي لِأَجْلِهِ ادَّخَرْتَ هَذَا الْمَالَ حَتَّى لَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَجْلِ النَّفَقَةِ أَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَجْلِ بِنَاءِ مَسْكَنٍ أَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَجْلِ الزَّوَاجِ أَوِ ادَّخَرْتَهُ لِأَيِّ غَرَضٍ مِنَ الْأَغْرَاضِ مَا دَامَ قَدْ بَلَغَ نِصَابًا وَحَالَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ يَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ تُزَكِّيَهُ وَطَرِيقَةُ زَكَاتِهِ أَنْ تَقْسِمَ الْمَبْلَغَ الْمَوْجُودَ عِنْدَكَ عَلَى أَرْبَعِيْنَ أَيُّ مَبْلَغٍ تُرِيدُ مَعْرِفَةَ زَكَاتِهِ أَنْ تَقْسِمَ الْمَبْلَغَ عَلَى أَرْبَعِيْنَ يَخْرُجُ لَكَ مِقْدَارَ الزَّكَاةِ مُبَاشَرَةً

Teks Khotbah Jumat: Ramadan, Kesempatan Emas untuk Memperbanyak Sedekah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya menasihati para sahabatnya perihal takwa ini. Sampai-sampai di akhir hayat beliau, saat beliau sedang berkhotbah di haji perpisahannya, beliau bersabda,اتَّقُوا اللَّهَ ربَّكُم وصَلُّوا خَمْسَكُم وصُومُوا شَهْرَكُم وأدُّوا زَكَاةَ أَمْوالِكُم وأَطِيْعُوا ذا أمرِكم تدخلوا جنَّةَ ربِّكُم“Bertakwalah kalian kepada Allah, tunaikanlah kelima salat kalian, kerjakanlah puasa di bulan (Ramadan) kalian, tunaikanlah zakat harta kalian, dan patuhilah para pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Rabb kalian!.” (HR. Tirmidzi no. 616, Abu Dawud no. 1955, dan Ahmad no. 22161)Di dalam hadis yang mulia ini, setelah Nabi mewasiatkan para sahabatnya untuk bertakwa, Nabi wasiatkan juga hal yang lain. Nabi wasiatkan kaum muslimin agar senantiasa menjalankan salat lima waktu. Nabi wasiatkan untuk berpuasa di bulan Ramadan. Dan Nabi wasiatkan untuk membayarkan zakat harta yang dimiliki.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Harta merupakan perhiasan kehidupan dunia. Dengannya hajat manusia terpenuhi. Kehidupan menjadi mudah. Dan manusia dapat mencapai kemaslahatan-kemaslahatan yang diinginkannya. Tidak mengherankan bila hati ini secara fitrah mencintainya. Hati bersemangat untuk mencarinya, berlomba-lomba di dalam memperbanyak dan mengumpulkannya.Akan tetapi, Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya, sudah membagi-bagi untuk manusia bagian dari rezeki dan harta tersebut. Di antara mereka ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang berkecukupan dan hartanya berlimpah. Ada juga yang diuji dengan kemiskinan dan sangat butuh akan bantuan saudaranya.Ma’asyiral mukminin, jemaah Jumat yang bertakwa kepada Allah Ta’ala.Hal ini tentu saja memiliki hikmah yang yang sangat agung. Allah Ta’ala ingin agar mereka yang diberi kecukupan harta membantu mereka yang kekurangan. Allah jadikan sedekah sebagai salah satu amal ibadah yang paling utama bagi mereka yang diberikan kelapangan. Dan Allah jadikan juga pahala dan balasan bagi seseorang sesuai dengan kadar sedekah yang dikeluarkannya. Allah Ta’ala berfirman,وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًاۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۙهُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًاۗ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ“Tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzammil: 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,يقولُ ابنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قالَ: وَهلْ لَكَ -يا ابْنَ آدَمَ- مِن مَالِكَ إلَّا ما أَكَلْتَ فأفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فأبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فأمْضَيْتَ؟!”Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.'” Nabi melanjutkan, “Padahal tidak ada harta bagimu, wahai Anak Adam, kecuali apa yang engkau makan hingga habis, yang engkau pakai hingga usang, atau yang engkau sedekahkan, maka engkau mendapatkan pahalanya.” (HR. Muslim no. 2958)Jemaah Jumat yang semoga senantiasa diberikan keberkahan rezeki dan kelapangan.Sedekah yang kita lakukan, selain ia merupakan tabungan pahala di akhirat kelak, ia juga menjadi sebab bertambahnya dan berkembangnya harta kita di kehidupan dunia ini. Bagaimana tidak? Sedang Allah Ta’ala sendiri yang berjanji akan mengganti apa yang diinfakkan dan dikeluarkan seorang hamba di jalan Allah Ta’ala,وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)Di dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala juga berfirman,يا ابْنَ آدَمَ أنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ“Wahai anak Adam berinfaklah, niscaya aku akan memberimu rezeki.” (HR. Bukhari no. 4684, 7411 dan Muslim no. 993)Allah Ta’ala juga mengutus para malaikat turun di pagi hari untuk mendoakan orang-orang yang berinfak dan menyedekahkan hartanya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما مِن يَومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فِيهِ، إلَّا مَلَكانِ يَنْزِلانِ، فيَقولُ أحَدُهُما: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.‘Tidak satu hari pun di mana seorang hamba berada padanya, kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi orang yang kikir.’” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Mirisnya di zaman ini, meskipun seseorang memiliki harta yang melimpah, ia masih saja berkeluh kesah. Ia merasakan sempitnya hati dan susahnya mendapatkan kebahagiaan. Ketahuilah, sesungguhnya hal itu dikarenakan pelitnya mereka di dalam menginfakkan harta di jalan Allah Ta’ala, ketidakpedulian mereka terhadap kaum fakir, dan ketidakpekaan mereka kepada orang-orang yang membutuhkan. Padahal sejatinya, sedekah dan infak merupakan sebab terbesar lapangnya dada dan dimudahkannya urusan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ“Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan,ابغُونِي ضُعَفَاءَكُم؛ فإنما تُرْزَقون وتُنْصَرون بضعفائكم“Senangkanlah aku dengan berbuat baik kepada orang yang lemah di kalangan kalian, karena sesungguhnya engkau sekalian diberi rezeki dan pertolongan disebabkan orang-orang yang lemah di kalangan kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1702)Ingatlah selalu wahai hamba-hamba Allah sekalian, akan firman Allah Ta’ala,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ * وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’ Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)Wallahu a’lam bisshawab أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca juga: Sedekah adalah Bukti KeimananKhotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Jadikanlah momentum bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini untuk membiasakan diri kita memperbanyak bersedekah. Di bulan Ramadan ini, telah Allah Ta’ala bukakan pintu-pintu surga. Dan Allah berikan kita begitu banyak kesempatan untuk bersedekah. Di antara kesempatan tersebut adalah memberikan makanan berbuka untuk orang lain. Sebuah sedekah yang memiliki keutamaan yang sangat agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا“Siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan dan menggambarkan salah satu kamar yang ada di surga, beliau pun juga menyebutkan karakteristik penghuninya. Di antara karakteristik yang beliau sebutkan adalah memberi makan dan berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا. فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya. Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, ‘Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, yang senantiasa berpuasa, dan salat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan)Jemaah yang semoga senantiasa diliputi kelapangan.Panutan kita, role model terbaik kita, Nabi besar kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Dan kedermawanan beliau semakin bertambah ketika datang bulan Ramadan yang mulia ini. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan,كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه“Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda). Dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Al-Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihis salam, beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)Semoga Allah Ta’ala jadikan diri kita sebagai salah satu hamba-hamba-Nya yang diberikan kelapangan dan keluasan rezeki, diberikan hidayah dan kesadaran untuk bisa berbagi dan bersedekah kepada orang lain meskipun diri kita masih butuh. Semoga di sisa-sisa bulan Ramadan yang mulia ini, Allah berikan kita kesempatan untuk meneladani kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang yang membutuhkan.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipat di Dunia?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khutbah jumatramadanSedekah

Teks Khotbah Jumat: Ramadan, Kesempatan Emas untuk Memperbanyak Sedekah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya menasihati para sahabatnya perihal takwa ini. Sampai-sampai di akhir hayat beliau, saat beliau sedang berkhotbah di haji perpisahannya, beliau bersabda,اتَّقُوا اللَّهَ ربَّكُم وصَلُّوا خَمْسَكُم وصُومُوا شَهْرَكُم وأدُّوا زَكَاةَ أَمْوالِكُم وأَطِيْعُوا ذا أمرِكم تدخلوا جنَّةَ ربِّكُم“Bertakwalah kalian kepada Allah, tunaikanlah kelima salat kalian, kerjakanlah puasa di bulan (Ramadan) kalian, tunaikanlah zakat harta kalian, dan patuhilah para pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Rabb kalian!.” (HR. Tirmidzi no. 616, Abu Dawud no. 1955, dan Ahmad no. 22161)Di dalam hadis yang mulia ini, setelah Nabi mewasiatkan para sahabatnya untuk bertakwa, Nabi wasiatkan juga hal yang lain. Nabi wasiatkan kaum muslimin agar senantiasa menjalankan salat lima waktu. Nabi wasiatkan untuk berpuasa di bulan Ramadan. Dan Nabi wasiatkan untuk membayarkan zakat harta yang dimiliki.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Harta merupakan perhiasan kehidupan dunia. Dengannya hajat manusia terpenuhi. Kehidupan menjadi mudah. Dan manusia dapat mencapai kemaslahatan-kemaslahatan yang diinginkannya. Tidak mengherankan bila hati ini secara fitrah mencintainya. Hati bersemangat untuk mencarinya, berlomba-lomba di dalam memperbanyak dan mengumpulkannya.Akan tetapi, Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya, sudah membagi-bagi untuk manusia bagian dari rezeki dan harta tersebut. Di antara mereka ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang berkecukupan dan hartanya berlimpah. Ada juga yang diuji dengan kemiskinan dan sangat butuh akan bantuan saudaranya.Ma’asyiral mukminin, jemaah Jumat yang bertakwa kepada Allah Ta’ala.Hal ini tentu saja memiliki hikmah yang yang sangat agung. Allah Ta’ala ingin agar mereka yang diberi kecukupan harta membantu mereka yang kekurangan. Allah jadikan sedekah sebagai salah satu amal ibadah yang paling utama bagi mereka yang diberikan kelapangan. Dan Allah jadikan juga pahala dan balasan bagi seseorang sesuai dengan kadar sedekah yang dikeluarkannya. Allah Ta’ala berfirman,وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًاۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۙهُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًاۗ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ“Tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzammil: 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,يقولُ ابنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قالَ: وَهلْ لَكَ -يا ابْنَ آدَمَ- مِن مَالِكَ إلَّا ما أَكَلْتَ فأفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فأبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فأمْضَيْتَ؟!”Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.'” Nabi melanjutkan, “Padahal tidak ada harta bagimu, wahai Anak Adam, kecuali apa yang engkau makan hingga habis, yang engkau pakai hingga usang, atau yang engkau sedekahkan, maka engkau mendapatkan pahalanya.” (HR. Muslim no. 2958)Jemaah Jumat yang semoga senantiasa diberikan keberkahan rezeki dan kelapangan.Sedekah yang kita lakukan, selain ia merupakan tabungan pahala di akhirat kelak, ia juga menjadi sebab bertambahnya dan berkembangnya harta kita di kehidupan dunia ini. Bagaimana tidak? Sedang Allah Ta’ala sendiri yang berjanji akan mengganti apa yang diinfakkan dan dikeluarkan seorang hamba di jalan Allah Ta’ala,وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)Di dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala juga berfirman,يا ابْنَ آدَمَ أنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ“Wahai anak Adam berinfaklah, niscaya aku akan memberimu rezeki.” (HR. Bukhari no. 4684, 7411 dan Muslim no. 993)Allah Ta’ala juga mengutus para malaikat turun di pagi hari untuk mendoakan orang-orang yang berinfak dan menyedekahkan hartanya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما مِن يَومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فِيهِ، إلَّا مَلَكانِ يَنْزِلانِ، فيَقولُ أحَدُهُما: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.‘Tidak satu hari pun di mana seorang hamba berada padanya, kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi orang yang kikir.’” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Mirisnya di zaman ini, meskipun seseorang memiliki harta yang melimpah, ia masih saja berkeluh kesah. Ia merasakan sempitnya hati dan susahnya mendapatkan kebahagiaan. Ketahuilah, sesungguhnya hal itu dikarenakan pelitnya mereka di dalam menginfakkan harta di jalan Allah Ta’ala, ketidakpedulian mereka terhadap kaum fakir, dan ketidakpekaan mereka kepada orang-orang yang membutuhkan. Padahal sejatinya, sedekah dan infak merupakan sebab terbesar lapangnya dada dan dimudahkannya urusan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ“Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan,ابغُونِي ضُعَفَاءَكُم؛ فإنما تُرْزَقون وتُنْصَرون بضعفائكم“Senangkanlah aku dengan berbuat baik kepada orang yang lemah di kalangan kalian, karena sesungguhnya engkau sekalian diberi rezeki dan pertolongan disebabkan orang-orang yang lemah di kalangan kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1702)Ingatlah selalu wahai hamba-hamba Allah sekalian, akan firman Allah Ta’ala,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ * وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’ Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)Wallahu a’lam bisshawab أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca juga: Sedekah adalah Bukti KeimananKhotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Jadikanlah momentum bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini untuk membiasakan diri kita memperbanyak bersedekah. Di bulan Ramadan ini, telah Allah Ta’ala bukakan pintu-pintu surga. Dan Allah berikan kita begitu banyak kesempatan untuk bersedekah. Di antara kesempatan tersebut adalah memberikan makanan berbuka untuk orang lain. Sebuah sedekah yang memiliki keutamaan yang sangat agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا“Siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan dan menggambarkan salah satu kamar yang ada di surga, beliau pun juga menyebutkan karakteristik penghuninya. Di antara karakteristik yang beliau sebutkan adalah memberi makan dan berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا. فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya. Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, ‘Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, yang senantiasa berpuasa, dan salat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan)Jemaah yang semoga senantiasa diliputi kelapangan.Panutan kita, role model terbaik kita, Nabi besar kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Dan kedermawanan beliau semakin bertambah ketika datang bulan Ramadan yang mulia ini. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan,كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه“Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda). Dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Al-Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihis salam, beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)Semoga Allah Ta’ala jadikan diri kita sebagai salah satu hamba-hamba-Nya yang diberikan kelapangan dan keluasan rezeki, diberikan hidayah dan kesadaran untuk bisa berbagi dan bersedekah kepada orang lain meskipun diri kita masih butuh. Semoga di sisa-sisa bulan Ramadan yang mulia ini, Allah berikan kita kesempatan untuk meneladani kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang yang membutuhkan.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipat di Dunia?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khutbah jumatramadanSedekah
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya menasihati para sahabatnya perihal takwa ini. Sampai-sampai di akhir hayat beliau, saat beliau sedang berkhotbah di haji perpisahannya, beliau bersabda,اتَّقُوا اللَّهَ ربَّكُم وصَلُّوا خَمْسَكُم وصُومُوا شَهْرَكُم وأدُّوا زَكَاةَ أَمْوالِكُم وأَطِيْعُوا ذا أمرِكم تدخلوا جنَّةَ ربِّكُم“Bertakwalah kalian kepada Allah, tunaikanlah kelima salat kalian, kerjakanlah puasa di bulan (Ramadan) kalian, tunaikanlah zakat harta kalian, dan patuhilah para pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Rabb kalian!.” (HR. Tirmidzi no. 616, Abu Dawud no. 1955, dan Ahmad no. 22161)Di dalam hadis yang mulia ini, setelah Nabi mewasiatkan para sahabatnya untuk bertakwa, Nabi wasiatkan juga hal yang lain. Nabi wasiatkan kaum muslimin agar senantiasa menjalankan salat lima waktu. Nabi wasiatkan untuk berpuasa di bulan Ramadan. Dan Nabi wasiatkan untuk membayarkan zakat harta yang dimiliki.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Harta merupakan perhiasan kehidupan dunia. Dengannya hajat manusia terpenuhi. Kehidupan menjadi mudah. Dan manusia dapat mencapai kemaslahatan-kemaslahatan yang diinginkannya. Tidak mengherankan bila hati ini secara fitrah mencintainya. Hati bersemangat untuk mencarinya, berlomba-lomba di dalam memperbanyak dan mengumpulkannya.Akan tetapi, Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya, sudah membagi-bagi untuk manusia bagian dari rezeki dan harta tersebut. Di antara mereka ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang berkecukupan dan hartanya berlimpah. Ada juga yang diuji dengan kemiskinan dan sangat butuh akan bantuan saudaranya.Ma’asyiral mukminin, jemaah Jumat yang bertakwa kepada Allah Ta’ala.Hal ini tentu saja memiliki hikmah yang yang sangat agung. Allah Ta’ala ingin agar mereka yang diberi kecukupan harta membantu mereka yang kekurangan. Allah jadikan sedekah sebagai salah satu amal ibadah yang paling utama bagi mereka yang diberikan kelapangan. Dan Allah jadikan juga pahala dan balasan bagi seseorang sesuai dengan kadar sedekah yang dikeluarkannya. Allah Ta’ala berfirman,وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًاۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۙهُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًاۗ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ“Tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzammil: 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,يقولُ ابنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قالَ: وَهلْ لَكَ -يا ابْنَ آدَمَ- مِن مَالِكَ إلَّا ما أَكَلْتَ فأفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فأبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فأمْضَيْتَ؟!”Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.'” Nabi melanjutkan, “Padahal tidak ada harta bagimu, wahai Anak Adam, kecuali apa yang engkau makan hingga habis, yang engkau pakai hingga usang, atau yang engkau sedekahkan, maka engkau mendapatkan pahalanya.” (HR. Muslim no. 2958)Jemaah Jumat yang semoga senantiasa diberikan keberkahan rezeki dan kelapangan.Sedekah yang kita lakukan, selain ia merupakan tabungan pahala di akhirat kelak, ia juga menjadi sebab bertambahnya dan berkembangnya harta kita di kehidupan dunia ini. Bagaimana tidak? Sedang Allah Ta’ala sendiri yang berjanji akan mengganti apa yang diinfakkan dan dikeluarkan seorang hamba di jalan Allah Ta’ala,وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)Di dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala juga berfirman,يا ابْنَ آدَمَ أنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ“Wahai anak Adam berinfaklah, niscaya aku akan memberimu rezeki.” (HR. Bukhari no. 4684, 7411 dan Muslim no. 993)Allah Ta’ala juga mengutus para malaikat turun di pagi hari untuk mendoakan orang-orang yang berinfak dan menyedekahkan hartanya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما مِن يَومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فِيهِ، إلَّا مَلَكانِ يَنْزِلانِ، فيَقولُ أحَدُهُما: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.‘Tidak satu hari pun di mana seorang hamba berada padanya, kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi orang yang kikir.’” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Mirisnya di zaman ini, meskipun seseorang memiliki harta yang melimpah, ia masih saja berkeluh kesah. Ia merasakan sempitnya hati dan susahnya mendapatkan kebahagiaan. Ketahuilah, sesungguhnya hal itu dikarenakan pelitnya mereka di dalam menginfakkan harta di jalan Allah Ta’ala, ketidakpedulian mereka terhadap kaum fakir, dan ketidakpekaan mereka kepada orang-orang yang membutuhkan. Padahal sejatinya, sedekah dan infak merupakan sebab terbesar lapangnya dada dan dimudahkannya urusan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ“Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan,ابغُونِي ضُعَفَاءَكُم؛ فإنما تُرْزَقون وتُنْصَرون بضعفائكم“Senangkanlah aku dengan berbuat baik kepada orang yang lemah di kalangan kalian, karena sesungguhnya engkau sekalian diberi rezeki dan pertolongan disebabkan orang-orang yang lemah di kalangan kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1702)Ingatlah selalu wahai hamba-hamba Allah sekalian, akan firman Allah Ta’ala,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ * وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’ Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)Wallahu a’lam bisshawab أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca juga: Sedekah adalah Bukti KeimananKhotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Jadikanlah momentum bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini untuk membiasakan diri kita memperbanyak bersedekah. Di bulan Ramadan ini, telah Allah Ta’ala bukakan pintu-pintu surga. Dan Allah berikan kita begitu banyak kesempatan untuk bersedekah. Di antara kesempatan tersebut adalah memberikan makanan berbuka untuk orang lain. Sebuah sedekah yang memiliki keutamaan yang sangat agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا“Siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan dan menggambarkan salah satu kamar yang ada di surga, beliau pun juga menyebutkan karakteristik penghuninya. Di antara karakteristik yang beliau sebutkan adalah memberi makan dan berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا. فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya. Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, ‘Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, yang senantiasa berpuasa, dan salat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan)Jemaah yang semoga senantiasa diliputi kelapangan.Panutan kita, role model terbaik kita, Nabi besar kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Dan kedermawanan beliau semakin bertambah ketika datang bulan Ramadan yang mulia ini. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan,كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه“Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda). Dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Al-Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihis salam, beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)Semoga Allah Ta’ala jadikan diri kita sebagai salah satu hamba-hamba-Nya yang diberikan kelapangan dan keluasan rezeki, diberikan hidayah dan kesadaran untuk bisa berbagi dan bersedekah kepada orang lain meskipun diri kita masih butuh. Semoga di sisa-sisa bulan Ramadan yang mulia ini, Allah berikan kita kesempatan untuk meneladani kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang yang membutuhkan.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipat di Dunia?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khutbah jumatramadanSedekah


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya menasihati para sahabatnya perihal takwa ini. Sampai-sampai di akhir hayat beliau, saat beliau sedang berkhotbah di haji perpisahannya, beliau bersabda,اتَّقُوا اللَّهَ ربَّكُم وصَلُّوا خَمْسَكُم وصُومُوا شَهْرَكُم وأدُّوا زَكَاةَ أَمْوالِكُم وأَطِيْعُوا ذا أمرِكم تدخلوا جنَّةَ ربِّكُم“Bertakwalah kalian kepada Allah, tunaikanlah kelima salat kalian, kerjakanlah puasa di bulan (Ramadan) kalian, tunaikanlah zakat harta kalian, dan patuhilah para pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Rabb kalian!.” (HR. Tirmidzi no. 616, Abu Dawud no. 1955, dan Ahmad no. 22161)Di dalam hadis yang mulia ini, setelah Nabi mewasiatkan para sahabatnya untuk bertakwa, Nabi wasiatkan juga hal yang lain. Nabi wasiatkan kaum muslimin agar senantiasa menjalankan salat lima waktu. Nabi wasiatkan untuk berpuasa di bulan Ramadan. Dan Nabi wasiatkan untuk membayarkan zakat harta yang dimiliki.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Harta merupakan perhiasan kehidupan dunia. Dengannya hajat manusia terpenuhi. Kehidupan menjadi mudah. Dan manusia dapat mencapai kemaslahatan-kemaslahatan yang diinginkannya. Tidak mengherankan bila hati ini secara fitrah mencintainya. Hati bersemangat untuk mencarinya, berlomba-lomba di dalam memperbanyak dan mengumpulkannya.Akan tetapi, Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya, sudah membagi-bagi untuk manusia bagian dari rezeki dan harta tersebut. Di antara mereka ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang berkecukupan dan hartanya berlimpah. Ada juga yang diuji dengan kemiskinan dan sangat butuh akan bantuan saudaranya.Ma’asyiral mukminin, jemaah Jumat yang bertakwa kepada Allah Ta’ala.Hal ini tentu saja memiliki hikmah yang yang sangat agung. Allah Ta’ala ingin agar mereka yang diberi kecukupan harta membantu mereka yang kekurangan. Allah jadikan sedekah sebagai salah satu amal ibadah yang paling utama bagi mereka yang diberikan kelapangan. Dan Allah jadikan juga pahala dan balasan bagi seseorang sesuai dengan kadar sedekah yang dikeluarkannya. Allah Ta’ala berfirman,وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًاۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۙهُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًاۗ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ“Tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzammil: 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,يقولُ ابنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قالَ: وَهلْ لَكَ -يا ابْنَ آدَمَ- مِن مَالِكَ إلَّا ما أَكَلْتَ فأفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فأبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فأمْضَيْتَ؟!”Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.'” Nabi melanjutkan, “Padahal tidak ada harta bagimu, wahai Anak Adam, kecuali apa yang engkau makan hingga habis, yang engkau pakai hingga usang, atau yang engkau sedekahkan, maka engkau mendapatkan pahalanya.” (HR. Muslim no. 2958)Jemaah Jumat yang semoga senantiasa diberikan keberkahan rezeki dan kelapangan.Sedekah yang kita lakukan, selain ia merupakan tabungan pahala di akhirat kelak, ia juga menjadi sebab bertambahnya dan berkembangnya harta kita di kehidupan dunia ini. Bagaimana tidak? Sedang Allah Ta’ala sendiri yang berjanji akan mengganti apa yang diinfakkan dan dikeluarkan seorang hamba di jalan Allah Ta’ala,وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)Di dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala juga berfirman,يا ابْنَ آدَمَ أنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ“Wahai anak Adam berinfaklah, niscaya aku akan memberimu rezeki.” (HR. Bukhari no. 4684, 7411 dan Muslim no. 993)Allah Ta’ala juga mengutus para malaikat turun di pagi hari untuk mendoakan orang-orang yang berinfak dan menyedekahkan hartanya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما مِن يَومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فِيهِ، إلَّا مَلَكانِ يَنْزِلانِ، فيَقولُ أحَدُهُما: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.‘Tidak satu hari pun di mana seorang hamba berada padanya, kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi orang yang kikir.’” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Mirisnya di zaman ini, meskipun seseorang memiliki harta yang melimpah, ia masih saja berkeluh kesah. Ia merasakan sempitnya hati dan susahnya mendapatkan kebahagiaan. Ketahuilah, sesungguhnya hal itu dikarenakan pelitnya mereka di dalam menginfakkan harta di jalan Allah Ta’ala, ketidakpedulian mereka terhadap kaum fakir, dan ketidakpekaan mereka kepada orang-orang yang membutuhkan. Padahal sejatinya, sedekah dan infak merupakan sebab terbesar lapangnya dada dan dimudahkannya urusan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ“Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan,ابغُونِي ضُعَفَاءَكُم؛ فإنما تُرْزَقون وتُنْصَرون بضعفائكم“Senangkanlah aku dengan berbuat baik kepada orang yang lemah di kalangan kalian, karena sesungguhnya engkau sekalian diberi rezeki dan pertolongan disebabkan orang-orang yang lemah di kalangan kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1702)Ingatlah selalu wahai hamba-hamba Allah sekalian, akan firman Allah Ta’ala,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ * وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’ Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)Wallahu a’lam bisshawab أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca juga: Sedekah adalah Bukti KeimananKhotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Jadikanlah momentum bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini untuk membiasakan diri kita memperbanyak bersedekah. Di bulan Ramadan ini, telah Allah Ta’ala bukakan pintu-pintu surga. Dan Allah berikan kita begitu banyak kesempatan untuk bersedekah. Di antara kesempatan tersebut adalah memberikan makanan berbuka untuk orang lain. Sebuah sedekah yang memiliki keutamaan yang sangat agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا“Siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan dan menggambarkan salah satu kamar yang ada di surga, beliau pun juga menyebutkan karakteristik penghuninya. Di antara karakteristik yang beliau sebutkan adalah memberi makan dan berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا. فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya. Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, ‘Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, yang senantiasa berpuasa, dan salat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan)Jemaah yang semoga senantiasa diliputi kelapangan.Panutan kita, role model terbaik kita, Nabi besar kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Dan kedermawanan beliau semakin bertambah ketika datang bulan Ramadan yang mulia ini. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan,كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه“Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda). Dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Al-Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihis salam, beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)Semoga Allah Ta’ala jadikan diri kita sebagai salah satu hamba-hamba-Nya yang diberikan kelapangan dan keluasan rezeki, diberikan hidayah dan kesadaran untuk bisa berbagi dan bersedekah kepada orang lain meskipun diri kita masih butuh. Semoga di sisa-sisa bulan Ramadan yang mulia ini, Allah berikan kita kesempatan untuk meneladani kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang yang membutuhkan.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipat di Dunia?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khutbah jumatramadanSedekah
Prev     Next