Renungan: Mengapa Anda Malas dan Futur Setelah Ramadan? – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Seyogianya seseorang melihat keadaan dirinya,dan membolak-balik lagi catatan amalnyayang terjadi antara dirinya dengan Ramadan yang telah berlalu. Apa pengaruh Ramadan terhadap hatinya,jiwa, hidup, keluarga, dan perilakunya. Sungguh, kita mengadu kepada Allah ʿAzza wa Jalla,karena melihat jiwa-jiwa yang bersungguh-sungguh di bulan Ramadan,tapi ketika momentum tersebut berakhir, salah seorang dari kita kembalikepada kelalaian dan kealpaannya. Sungguh, kita berharap ada manusia yang keadaannyadi selain Ramadan seperti keadaannya saat Ramadan.Sungguh, Ramadan memiliki kekhususan dan keistimewaannya. Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dahulu bersungguh-sungguhdi bulan Ramadan melebihi kesungguhannya di bulan lain.Beliau masih Salat Malam dan tidur di dua puluh hari pertama, tapi saat memasuki sepuluh hari terakhir,beliau mengencangkan ikat pinggangnya dan menghidupkan malamnya. Tidak diragukan bahwa amal saleh itu naik turun sesuai momennya,tapi yang kita adukan kepada Allah ʿAzza wa Jallaadalah kealpaan dan kelalaian tersebut. Anda dapati sebagian orang tekun salat lima waktu di bulan Ramadandan memelihara Salat Subuhnya,tetapi saat Ramadan selesai, dia meninggalkan masjid,dan mungkin tidak lagi salat berjamaah sepanjang tahun—walā quwwata illā billāh. Padahal Tuhannya bulan Ramadan juga Tuhannya semua bulan.Anda juga dapati semangat yang menerangi hati kaum muslimin—alhamdulillah—di bulan Ramadan berupa kesungguhan terhadap al-Quranyang mengandung kebaikan dari semua kebaikan,termasuk ilmu, amal,dan munajat kepada Tuhan Subẖānahu wa biẖamdihi. Namun saat bulan tersebut selesai,banyak orang yang mungkin tidak lagi membaca al-Quran kecuali sedikit saja. Kita terheran dan bertanya-tanya kepada diri kita sendiri apa sebabnya?!Ini adalah topik yang umumnya disampaikan di akhir bulan Ramadan,tapi disampaikan dan dibahas di awal bulan sebenarnya penting, karena kita ingin mengetahui alasan-alasanyang bisa membuat kita semangat beramal di bulan Ramadan, lalu melanjutkannya setelah Ramadan tersebut hingga Ramadan berikutnyadengan amalan-amalan salehyang pernah kita kerjakan selama Ramadandan agar salah seorang dari kita tidak dikalahkan oleh futur dan malas—semoga Allah Menolong kita. ===== يَنْبَغِي أَنْ يَنْظُرَ الْإِنْسَانُ إِلَى حَالِهِ وَيَتَصَفَّحُ صَفَحَاتِ أَعْمَالِهِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَمَضَانَ الْمُنْصَرِمِ وَمَاذَا كَانَ أَثَرُ رَمَضَانَ عَلَى قَلْبِهِ وَنَفْسِهِ وَحَيَاتِهِ وَبَيْتِهِ وَأَعْمَالِهِ فَإِنَّنَا نَشْتَكِي إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّا نَرَى مِنْ أَنْفُسِنَا اجْتِهَادًا فِي رَمَضَانَ وَإِذَا انْتَهَى الْمَوْسِمُ عَادَ الْوَاحِدُ مِنَّا إِلَى تَفْرِيطِهِ وَإِلَى تَقْصِيرِهِ وَلَنَتَوَقَّعُ مِنَ النَّاسِ أَنْ يَكُونَ حَالُهُمْ فِي غَيْرِ رَمَضَانَ كَحَالِ رَمَضَانَ لَا فَلِرَمَضَانَ خَصَائِصُهُ وَلَهُ مَزَايَا الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْتَهِدُ فِي رَمَضَانَ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ وَكَانَ يَخْلُطُ الْعِشْرِيْنَ بِصَلَاةٍ وَنَوْمٍ فَإِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ شَدَّ الْمِئْزَرَ وَأَحْيَا لَيْلَهُ فَلَا رَيْبَ أَنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاوَتُ حَسَبَ الْمَوَاسِمِ وَلَكِنْ مَا نَشْتَكِيهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ ذَلِكَ التَّفْرِيطُ وَذَلِكَ التَّقْصِيرُ تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ يَجْتَهِدُ فِي الصَّلَوَاتِ فِي رَمَضَانَ وَيُحَافِظُ عَلَى صَلَاةِ الْفَجْرِ حَتَّى إِذَا انْتَهَى الشَّهْرُ وَدَّعَ الْمَسْجِدَ وَرُبَّمَا لَا يَشْهَدُهُ طِيلَةَ الْعَامِ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَرَبُّ رَمَضَانَ هُوَ رَبُّ الشُّهُورِ جَمِيعًا تَجِدُ أَيْضًا نَشَاطًا يُسْرِجُ الصَّدْرَ فِي الْمُسْلِمِينَ وَلِلهِ الْحَمْدُ فِي رَمَضَانَ فِي الْإِقْبَالِ عَلَى كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالَّذِي فِيهِ الْخَيْرُ كُلُّ الْخَيْرِ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ وَمُنَاجَاةُ رَبِّي سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَإِذَا مَا انْتَهَى الشَّهْرُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ رُبَّمَا لَا يَقْرَأُ إِلَّا قَلِيلًا فَنَتَسَائَلُ وَنَسْأَلُ أَنْفُسَنَا مَا هِيَ الْأَسْبَابُ وَهَذَا مَوْضُوعٌ يُطْرَقُ عَادَةً آخِرَ الشَّهْرِ وَلَكِنْ طَرْقُهُ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ وَالْحَدِيثُ عَنْهُ مُهِمٌّ لِأَنَّنَا نُرِيدُ أَنْ نَتَعَرَّفَ عَلَى الْأَسْبَابِ الَّتِي تَجْعَلُنَا نَحْرِصُ عَلَى الْعَمَلِ فِي رَمَضَانَ ثُمَّ نَصِلُ مَا بَعْدَ رَمَضَانَ بِرَمَضَانَ بِشَيْءٍ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الَّتِي عَمِلْنَاهَا فِي رَمَضَانَ وَأَلَّا يَغْلِبَ عَلَى الْوَاحِدِ مِنَّا الْفُتُورُ وَالْكَسَلُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Renungan: Mengapa Anda Malas dan Futur Setelah Ramadan? – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Seyogianya seseorang melihat keadaan dirinya,dan membolak-balik lagi catatan amalnyayang terjadi antara dirinya dengan Ramadan yang telah berlalu. Apa pengaruh Ramadan terhadap hatinya,jiwa, hidup, keluarga, dan perilakunya. Sungguh, kita mengadu kepada Allah ʿAzza wa Jalla,karena melihat jiwa-jiwa yang bersungguh-sungguh di bulan Ramadan,tapi ketika momentum tersebut berakhir, salah seorang dari kita kembalikepada kelalaian dan kealpaannya. Sungguh, kita berharap ada manusia yang keadaannyadi selain Ramadan seperti keadaannya saat Ramadan.Sungguh, Ramadan memiliki kekhususan dan keistimewaannya. Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dahulu bersungguh-sungguhdi bulan Ramadan melebihi kesungguhannya di bulan lain.Beliau masih Salat Malam dan tidur di dua puluh hari pertama, tapi saat memasuki sepuluh hari terakhir,beliau mengencangkan ikat pinggangnya dan menghidupkan malamnya. Tidak diragukan bahwa amal saleh itu naik turun sesuai momennya,tapi yang kita adukan kepada Allah ʿAzza wa Jallaadalah kealpaan dan kelalaian tersebut. Anda dapati sebagian orang tekun salat lima waktu di bulan Ramadandan memelihara Salat Subuhnya,tetapi saat Ramadan selesai, dia meninggalkan masjid,dan mungkin tidak lagi salat berjamaah sepanjang tahun—walā quwwata illā billāh. Padahal Tuhannya bulan Ramadan juga Tuhannya semua bulan.Anda juga dapati semangat yang menerangi hati kaum muslimin—alhamdulillah—di bulan Ramadan berupa kesungguhan terhadap al-Quranyang mengandung kebaikan dari semua kebaikan,termasuk ilmu, amal,dan munajat kepada Tuhan Subẖānahu wa biẖamdihi. Namun saat bulan tersebut selesai,banyak orang yang mungkin tidak lagi membaca al-Quran kecuali sedikit saja. Kita terheran dan bertanya-tanya kepada diri kita sendiri apa sebabnya?!Ini adalah topik yang umumnya disampaikan di akhir bulan Ramadan,tapi disampaikan dan dibahas di awal bulan sebenarnya penting, karena kita ingin mengetahui alasan-alasanyang bisa membuat kita semangat beramal di bulan Ramadan, lalu melanjutkannya setelah Ramadan tersebut hingga Ramadan berikutnyadengan amalan-amalan salehyang pernah kita kerjakan selama Ramadandan agar salah seorang dari kita tidak dikalahkan oleh futur dan malas—semoga Allah Menolong kita. ===== يَنْبَغِي أَنْ يَنْظُرَ الْإِنْسَانُ إِلَى حَالِهِ وَيَتَصَفَّحُ صَفَحَاتِ أَعْمَالِهِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَمَضَانَ الْمُنْصَرِمِ وَمَاذَا كَانَ أَثَرُ رَمَضَانَ عَلَى قَلْبِهِ وَنَفْسِهِ وَحَيَاتِهِ وَبَيْتِهِ وَأَعْمَالِهِ فَإِنَّنَا نَشْتَكِي إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّا نَرَى مِنْ أَنْفُسِنَا اجْتِهَادًا فِي رَمَضَانَ وَإِذَا انْتَهَى الْمَوْسِمُ عَادَ الْوَاحِدُ مِنَّا إِلَى تَفْرِيطِهِ وَإِلَى تَقْصِيرِهِ وَلَنَتَوَقَّعُ مِنَ النَّاسِ أَنْ يَكُونَ حَالُهُمْ فِي غَيْرِ رَمَضَانَ كَحَالِ رَمَضَانَ لَا فَلِرَمَضَانَ خَصَائِصُهُ وَلَهُ مَزَايَا الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْتَهِدُ فِي رَمَضَانَ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ وَكَانَ يَخْلُطُ الْعِشْرِيْنَ بِصَلَاةٍ وَنَوْمٍ فَإِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ شَدَّ الْمِئْزَرَ وَأَحْيَا لَيْلَهُ فَلَا رَيْبَ أَنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاوَتُ حَسَبَ الْمَوَاسِمِ وَلَكِنْ مَا نَشْتَكِيهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ ذَلِكَ التَّفْرِيطُ وَذَلِكَ التَّقْصِيرُ تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ يَجْتَهِدُ فِي الصَّلَوَاتِ فِي رَمَضَانَ وَيُحَافِظُ عَلَى صَلَاةِ الْفَجْرِ حَتَّى إِذَا انْتَهَى الشَّهْرُ وَدَّعَ الْمَسْجِدَ وَرُبَّمَا لَا يَشْهَدُهُ طِيلَةَ الْعَامِ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَرَبُّ رَمَضَانَ هُوَ رَبُّ الشُّهُورِ جَمِيعًا تَجِدُ أَيْضًا نَشَاطًا يُسْرِجُ الصَّدْرَ فِي الْمُسْلِمِينَ وَلِلهِ الْحَمْدُ فِي رَمَضَانَ فِي الْإِقْبَالِ عَلَى كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالَّذِي فِيهِ الْخَيْرُ كُلُّ الْخَيْرِ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ وَمُنَاجَاةُ رَبِّي سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَإِذَا مَا انْتَهَى الشَّهْرُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ رُبَّمَا لَا يَقْرَأُ إِلَّا قَلِيلًا فَنَتَسَائَلُ وَنَسْأَلُ أَنْفُسَنَا مَا هِيَ الْأَسْبَابُ وَهَذَا مَوْضُوعٌ يُطْرَقُ عَادَةً آخِرَ الشَّهْرِ وَلَكِنْ طَرْقُهُ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ وَالْحَدِيثُ عَنْهُ مُهِمٌّ لِأَنَّنَا نُرِيدُ أَنْ نَتَعَرَّفَ عَلَى الْأَسْبَابِ الَّتِي تَجْعَلُنَا نَحْرِصُ عَلَى الْعَمَلِ فِي رَمَضَانَ ثُمَّ نَصِلُ مَا بَعْدَ رَمَضَانَ بِرَمَضَانَ بِشَيْءٍ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الَّتِي عَمِلْنَاهَا فِي رَمَضَانَ وَأَلَّا يَغْلِبَ عَلَى الْوَاحِدِ مِنَّا الْفُتُورُ وَالْكَسَلُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ
Seyogianya seseorang melihat keadaan dirinya,dan membolak-balik lagi catatan amalnyayang terjadi antara dirinya dengan Ramadan yang telah berlalu. Apa pengaruh Ramadan terhadap hatinya,jiwa, hidup, keluarga, dan perilakunya. Sungguh, kita mengadu kepada Allah ʿAzza wa Jalla,karena melihat jiwa-jiwa yang bersungguh-sungguh di bulan Ramadan,tapi ketika momentum tersebut berakhir, salah seorang dari kita kembalikepada kelalaian dan kealpaannya. Sungguh, kita berharap ada manusia yang keadaannyadi selain Ramadan seperti keadaannya saat Ramadan.Sungguh, Ramadan memiliki kekhususan dan keistimewaannya. Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dahulu bersungguh-sungguhdi bulan Ramadan melebihi kesungguhannya di bulan lain.Beliau masih Salat Malam dan tidur di dua puluh hari pertama, tapi saat memasuki sepuluh hari terakhir,beliau mengencangkan ikat pinggangnya dan menghidupkan malamnya. Tidak diragukan bahwa amal saleh itu naik turun sesuai momennya,tapi yang kita adukan kepada Allah ʿAzza wa Jallaadalah kealpaan dan kelalaian tersebut. Anda dapati sebagian orang tekun salat lima waktu di bulan Ramadandan memelihara Salat Subuhnya,tetapi saat Ramadan selesai, dia meninggalkan masjid,dan mungkin tidak lagi salat berjamaah sepanjang tahun—walā quwwata illā billāh. Padahal Tuhannya bulan Ramadan juga Tuhannya semua bulan.Anda juga dapati semangat yang menerangi hati kaum muslimin—alhamdulillah—di bulan Ramadan berupa kesungguhan terhadap al-Quranyang mengandung kebaikan dari semua kebaikan,termasuk ilmu, amal,dan munajat kepada Tuhan Subẖānahu wa biẖamdihi. Namun saat bulan tersebut selesai,banyak orang yang mungkin tidak lagi membaca al-Quran kecuali sedikit saja. Kita terheran dan bertanya-tanya kepada diri kita sendiri apa sebabnya?!Ini adalah topik yang umumnya disampaikan di akhir bulan Ramadan,tapi disampaikan dan dibahas di awal bulan sebenarnya penting, karena kita ingin mengetahui alasan-alasanyang bisa membuat kita semangat beramal di bulan Ramadan, lalu melanjutkannya setelah Ramadan tersebut hingga Ramadan berikutnyadengan amalan-amalan salehyang pernah kita kerjakan selama Ramadandan agar salah seorang dari kita tidak dikalahkan oleh futur dan malas—semoga Allah Menolong kita. ===== يَنْبَغِي أَنْ يَنْظُرَ الْإِنْسَانُ إِلَى حَالِهِ وَيَتَصَفَّحُ صَفَحَاتِ أَعْمَالِهِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَمَضَانَ الْمُنْصَرِمِ وَمَاذَا كَانَ أَثَرُ رَمَضَانَ عَلَى قَلْبِهِ وَنَفْسِهِ وَحَيَاتِهِ وَبَيْتِهِ وَأَعْمَالِهِ فَإِنَّنَا نَشْتَكِي إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّا نَرَى مِنْ أَنْفُسِنَا اجْتِهَادًا فِي رَمَضَانَ وَإِذَا انْتَهَى الْمَوْسِمُ عَادَ الْوَاحِدُ مِنَّا إِلَى تَفْرِيطِهِ وَإِلَى تَقْصِيرِهِ وَلَنَتَوَقَّعُ مِنَ النَّاسِ أَنْ يَكُونَ حَالُهُمْ فِي غَيْرِ رَمَضَانَ كَحَالِ رَمَضَانَ لَا فَلِرَمَضَانَ خَصَائِصُهُ وَلَهُ مَزَايَا الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْتَهِدُ فِي رَمَضَانَ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ وَكَانَ يَخْلُطُ الْعِشْرِيْنَ بِصَلَاةٍ وَنَوْمٍ فَإِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ شَدَّ الْمِئْزَرَ وَأَحْيَا لَيْلَهُ فَلَا رَيْبَ أَنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاوَتُ حَسَبَ الْمَوَاسِمِ وَلَكِنْ مَا نَشْتَكِيهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ ذَلِكَ التَّفْرِيطُ وَذَلِكَ التَّقْصِيرُ تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ يَجْتَهِدُ فِي الصَّلَوَاتِ فِي رَمَضَانَ وَيُحَافِظُ عَلَى صَلَاةِ الْفَجْرِ حَتَّى إِذَا انْتَهَى الشَّهْرُ وَدَّعَ الْمَسْجِدَ وَرُبَّمَا لَا يَشْهَدُهُ طِيلَةَ الْعَامِ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَرَبُّ رَمَضَانَ هُوَ رَبُّ الشُّهُورِ جَمِيعًا تَجِدُ أَيْضًا نَشَاطًا يُسْرِجُ الصَّدْرَ فِي الْمُسْلِمِينَ وَلِلهِ الْحَمْدُ فِي رَمَضَانَ فِي الْإِقْبَالِ عَلَى كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالَّذِي فِيهِ الْخَيْرُ كُلُّ الْخَيْرِ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ وَمُنَاجَاةُ رَبِّي سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَإِذَا مَا انْتَهَى الشَّهْرُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ رُبَّمَا لَا يَقْرَأُ إِلَّا قَلِيلًا فَنَتَسَائَلُ وَنَسْأَلُ أَنْفُسَنَا مَا هِيَ الْأَسْبَابُ وَهَذَا مَوْضُوعٌ يُطْرَقُ عَادَةً آخِرَ الشَّهْرِ وَلَكِنْ طَرْقُهُ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ وَالْحَدِيثُ عَنْهُ مُهِمٌّ لِأَنَّنَا نُرِيدُ أَنْ نَتَعَرَّفَ عَلَى الْأَسْبَابِ الَّتِي تَجْعَلُنَا نَحْرِصُ عَلَى الْعَمَلِ فِي رَمَضَانَ ثُمَّ نَصِلُ مَا بَعْدَ رَمَضَانَ بِرَمَضَانَ بِشَيْءٍ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الَّتِي عَمِلْنَاهَا فِي رَمَضَانَ وَأَلَّا يَغْلِبَ عَلَى الْوَاحِدِ مِنَّا الْفُتُورُ وَالْكَسَلُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ


Seyogianya seseorang melihat keadaan dirinya,dan membolak-balik lagi catatan amalnyayang terjadi antara dirinya dengan Ramadan yang telah berlalu. Apa pengaruh Ramadan terhadap hatinya,jiwa, hidup, keluarga, dan perilakunya. Sungguh, kita mengadu kepada Allah ʿAzza wa Jalla,karena melihat jiwa-jiwa yang bersungguh-sungguh di bulan Ramadan,tapi ketika momentum tersebut berakhir, salah seorang dari kita kembalikepada kelalaian dan kealpaannya. Sungguh, kita berharap ada manusia yang keadaannyadi selain Ramadan seperti keadaannya saat Ramadan.Sungguh, Ramadan memiliki kekhususan dan keistimewaannya. Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dahulu bersungguh-sungguhdi bulan Ramadan melebihi kesungguhannya di bulan lain.Beliau masih Salat Malam dan tidur di dua puluh hari pertama, tapi saat memasuki sepuluh hari terakhir,beliau mengencangkan ikat pinggangnya dan menghidupkan malamnya. Tidak diragukan bahwa amal saleh itu naik turun sesuai momennya,tapi yang kita adukan kepada Allah ʿAzza wa Jallaadalah kealpaan dan kelalaian tersebut. Anda dapati sebagian orang tekun salat lima waktu di bulan Ramadandan memelihara Salat Subuhnya,tetapi saat Ramadan selesai, dia meninggalkan masjid,dan mungkin tidak lagi salat berjamaah sepanjang tahun—walā quwwata illā billāh. Padahal Tuhannya bulan Ramadan juga Tuhannya semua bulan.Anda juga dapati semangat yang menerangi hati kaum muslimin—alhamdulillah—di bulan Ramadan berupa kesungguhan terhadap al-Quranyang mengandung kebaikan dari semua kebaikan,termasuk ilmu, amal,dan munajat kepada Tuhan Subẖānahu wa biẖamdihi. Namun saat bulan tersebut selesai,banyak orang yang mungkin tidak lagi membaca al-Quran kecuali sedikit saja. Kita terheran dan bertanya-tanya kepada diri kita sendiri apa sebabnya?!Ini adalah topik yang umumnya disampaikan di akhir bulan Ramadan,tapi disampaikan dan dibahas di awal bulan sebenarnya penting, karena kita ingin mengetahui alasan-alasanyang bisa membuat kita semangat beramal di bulan Ramadan, lalu melanjutkannya setelah Ramadan tersebut hingga Ramadan berikutnyadengan amalan-amalan salehyang pernah kita kerjakan selama Ramadandan agar salah seorang dari kita tidak dikalahkan oleh futur dan malas—semoga Allah Menolong kita. ===== يَنْبَغِي أَنْ يَنْظُرَ الْإِنْسَانُ إِلَى حَالِهِ وَيَتَصَفَّحُ صَفَحَاتِ أَعْمَالِهِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَمَضَانَ الْمُنْصَرِمِ وَمَاذَا كَانَ أَثَرُ رَمَضَانَ عَلَى قَلْبِهِ وَنَفْسِهِ وَحَيَاتِهِ وَبَيْتِهِ وَأَعْمَالِهِ فَإِنَّنَا نَشْتَكِي إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّا نَرَى مِنْ أَنْفُسِنَا اجْتِهَادًا فِي رَمَضَانَ وَإِذَا انْتَهَى الْمَوْسِمُ عَادَ الْوَاحِدُ مِنَّا إِلَى تَفْرِيطِهِ وَإِلَى تَقْصِيرِهِ وَلَنَتَوَقَّعُ مِنَ النَّاسِ أَنْ يَكُونَ حَالُهُمْ فِي غَيْرِ رَمَضَانَ كَحَالِ رَمَضَانَ لَا فَلِرَمَضَانَ خَصَائِصُهُ وَلَهُ مَزَايَا الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْتَهِدُ فِي رَمَضَانَ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ وَكَانَ يَخْلُطُ الْعِشْرِيْنَ بِصَلَاةٍ وَنَوْمٍ فَإِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ شَدَّ الْمِئْزَرَ وَأَحْيَا لَيْلَهُ فَلَا رَيْبَ أَنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاوَتُ حَسَبَ الْمَوَاسِمِ وَلَكِنْ مَا نَشْتَكِيهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ ذَلِكَ التَّفْرِيطُ وَذَلِكَ التَّقْصِيرُ تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ يَجْتَهِدُ فِي الصَّلَوَاتِ فِي رَمَضَانَ وَيُحَافِظُ عَلَى صَلَاةِ الْفَجْرِ حَتَّى إِذَا انْتَهَى الشَّهْرُ وَدَّعَ الْمَسْجِدَ وَرُبَّمَا لَا يَشْهَدُهُ طِيلَةَ الْعَامِ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَرَبُّ رَمَضَانَ هُوَ رَبُّ الشُّهُورِ جَمِيعًا تَجِدُ أَيْضًا نَشَاطًا يُسْرِجُ الصَّدْرَ فِي الْمُسْلِمِينَ وَلِلهِ الْحَمْدُ فِي رَمَضَانَ فِي الْإِقْبَالِ عَلَى كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالَّذِي فِيهِ الْخَيْرُ كُلُّ الْخَيْرِ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ وَمُنَاجَاةُ رَبِّي سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَإِذَا مَا انْتَهَى الشَّهْرُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ رُبَّمَا لَا يَقْرَأُ إِلَّا قَلِيلًا فَنَتَسَائَلُ وَنَسْأَلُ أَنْفُسَنَا مَا هِيَ الْأَسْبَابُ وَهَذَا مَوْضُوعٌ يُطْرَقُ عَادَةً آخِرَ الشَّهْرِ وَلَكِنْ طَرْقُهُ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ وَالْحَدِيثُ عَنْهُ مُهِمٌّ لِأَنَّنَا نُرِيدُ أَنْ نَتَعَرَّفَ عَلَى الْأَسْبَابِ الَّتِي تَجْعَلُنَا نَحْرِصُ عَلَى الْعَمَلِ فِي رَمَضَانَ ثُمَّ نَصِلُ مَا بَعْدَ رَمَضَانَ بِرَمَضَانَ بِشَيْءٍ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الَّتِي عَمِلْنَاهَا فِي رَمَضَانَ وَأَلَّا يَغْلِبَ عَلَى الْوَاحِدِ مِنَّا الْفُتُورُ وَالْكَسَلُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Siapakah yang Membangun Ka’bah?

Pertanyaan: Mohon maaf ustadz, jika pertanyaannya lancang. Tentang bangunan Ka’bah yang ada di Masjidil Haram, siapakah yang membangunnya? Mohon penjelasannya. Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Ka’bah yang ada di Masjidil Haram adalah bangunan yang Allah muliakan, yang disebutkan oleh Allah ta’ala: اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam” (QS. Ali Imran: 96). Dan Ka’bah bukanlah berhala yang disembah oleh kaum Muslimin, namun Allah jadikan sebagai kiblat dan tempat ibadah. Allah ta’ala berfirman: وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ “Dan dimanapun engkau berada, palingkanlah wajahmu (ketika beribadah) ke arah Masjidil Haram” (QS. Al-Baqarah: 150). Allah ta’ala berfirman: جَعَلَ اللّٰهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيٰمًا لِّلنَّاسِ  “Allah jadikan Ka’bah sebagai tempat yang suci agar manusia bisa berkumpul (beribadah) di sana” (QS. Al-Maidah: 97). Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud” (QS. Al-Hajj: 26). Dan Ka’bah sudah ada jauh sebelum masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Oleh karena itu Allah ta’ala menyebutnya dengan al-baitul ‘atiq (rumah yang tua). Allah ta’ala berfirman: ثُمَّ لْيَقْضُوْا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوْا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوْا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ “Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah)” (QS. Al-Hajj: 29). Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang pertama kali membangun Ka’bah: Sebagian ulama mengatakan, yang membangun Ka’bah pertama kali adalah para Malaikat. Ini adalah pendapat Abu Ja’far Al-Baqir. Sebagian ulama mengatakan: Nabi Adam ‘alaihissalam. Ini adalah pendapat Atha’, Sa’id bin Musayyab, Ibnul Jauzi, Ibnu Hajar, dan pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi. Sebagian ulama mengatakan: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir. Sebagian ulama mengatakan: Nabi Syits ‘alaihissalam.  Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, bahwa Ka’bah pertama kali dibangun oleh Nabi Adam ‘alaihissalam. Karena Allah ta’ala berfirman: وَعَهِدْنا إِلى إِبْراهِيمَ وَ إِسْماعِيلَ أَنْ طَهِّرا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَ الْعاكِفِينَ وَ الرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang i’tikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!”” (QS. Al-Baqarah: 125). Prof. Abdul Karim Al-Khathib mengatakan, “Dalam ayat ini ada isyarat bahwa Ka’bah adalah rumah Allah, sebelum Allah perintahkan Ibrahim dan Ismail untuk membersihkannya dari berhala-berhala” (at-Tafsir al-Qur’ani lil Qur’an, 2/543). Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْراهِيمُ الْقَواعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَ إِسْماعِيلُ “Ketika Ibrahim dan Ismail meninggikan pondasi Ka’bah” (QS. Al-Baqarah: 125). Prof. Abdul Karim Al Khathib juga mengatakan, “Penyebutan ditinggikannya pondasi Ka’bah oleh Ibrahim ‘alaihissalam menunjukkan bahwa Ka’bah sudah ada sebelumnya. Namun beliau menyingkapnya kembali, meninggikan pondasinya dan membangun kembali” (at-Tafsir al-Qur’ani lil Qur’an, 2/543). Demikian juga disebutkan secara lugas di beberapa atsar bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam yang membangun Ka’bah. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: بعث الله جبريل إلى آدم وحواء فقال لهما: ابنيا لي بيتا، فخط لهما جبريل، فجعل آدم يحفر وحواء تنقل التراب حتى أجابه الماء فنودي من تحته: حسبك يا آدم، فلما بنياه أوصى الله إليه أن طوف به، وقيل له: أنت أول الناس، وهذا أول بيت “Allah mengutus malaikat Jibril kepada Adam dan Hawa. Lalu Allah berfirman kepada keduanya: bangunlah sebuah rumah. Lalu Jibril pun membuatkan kerangka dari rumah tersebut. Kemudian Adam yang menggali tanah dan Hawa yang mengambil tanah kemudian dicampur dengan air. Kemudian diserukan kepada mereka: cukup wahai Adam! Ketika mereka berdua selesai membangun Ka’bah, Allah memerintahkan mereka untuk tawaf mengelilinginya. Lalu dikatakan kepadanya: Adam, engkau adalah manusia pertama, dan ini adalah rumah pertama” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah, dengan sanad yang dha’if karena tafarrud Ibnu Lahi’ah). Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu وَأَنَّهُ بَنَاهُ مِنْ خَمْسَةِ أَجْبُلٍ مِنْ لُبْنَانَ ، وَطُورِ زَيْتَا ، وَطُورِ سِينَا ، وَالْجُودِيِّ ، وَحِرَاءٍ ، حَتَّى اسْتَوَى عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : فَكَانَ أَوَّلُ مَنْ أَسَّسَ الْبَيْتَ ، وَصَلَّى فِيهِ ، وَطَافَ بِهِ آدَمَ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – حَتَّى بَعَثَ اللَّهُ الطُّوفَانَ “Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam membangun Ka’bah dengan tanah dari lima gunung: Lubnan, Thurizayta, Thurisina, Judi, dan Hira. Sampai Ka’bah tegak di atas bumi. Ibnu Abbas mengatakan: Nabi Adam ‘alaihissalam lah yang pertama kali membangun Ka’bah, dan pertama kali shalat di dalamnya, dan thawaf di sekelilingnya. Sampai akhirnya Allah mengirim angin topan (sehingga Ka’bah hancur)” (HR. Al-Azraqani dalam Akhbar Makkah, no.10, dengan sanad yang dha’if jiddan karena terdapat perawi Thalhah bin ‘Amr Al-Hadhrami). Demikian juga riwayat dari Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah, beliau mengatakan: أن آدم عليه السلام بنى البيت من هذه الخمسة الجبال، وأن ربضه كان من حراء “Nabi Adam ‘alaihissalam membangun Ka’bah dari lima gunung tersebut. Dan tanah di pinggirannya berasal dari gunung Hira” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya no.9093, dengan sanad yang shahih sampai Ayyub as-Sikhtiyani). Namun ini khabar dari tabi’in yang bukan hujjah. Az-Zarqani menanggapi riwayat-riwayat di atas dengan mengatakan: فَهَذِهِ الْأَخْبَارُ وَإِنْ كَانَتْ مُفْرَدَاتُهَا ضَعِيفَةٌ، لَكِنْ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا “Semua khabar masing-masingnya terdapat kelemahan, namun saling menguatkan satu sama lain” (Syarah Az-Zarqani terhadap Al-Muwatha’, 2/445). Adapun tajdid (pembaharuan; renovasi) terhadap Ka’bah telah terjadi berkali-kali. Yang disebutkan oleh para ulama tarikh di antaranya: Pembaharuan Ka’bah oleh Nabi Syits ‘alaihissalam Pembaharuan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Pembaharuan Ka’bah oleh kaum ‘Amalaqah atau Amalek. Yaitu kaum yang hidup tiga atau empat generasi setelah masa Nabi Ibrahim, di sekitaran Syam dan Iraq. Ath-Thabari mengatakan bahwa merekalah yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab. Pembaharuan Ka’bah oleh kaum Jurhum. Mereka adalah kabilah di semenanjung Arab yang berasal dari Yaman, namun hijrah ke Bakkah. Para pendahulu mereka hidup bersama Nabi Ismail ‘alaihissalam dan Hajar. Nabi Ismail pun lalu menikah dengan salah satu wanita kabilah Jurhum. Pembaharuan Ka’bah oleh Qushay bin Kilab, kakek buyut dari Abdul Muthallib. Pembaharuan Ka’bah oleh Abdul Muthalib, kakek Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Pembaharuan Ka’bah oleh Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu’anhu. Pembaharuan Ka’bah oleh al-Hajjaj bin Yusuf. Pada saat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam berusia 35 tahun, atau sekitar 5 tahun sebelum beliau diutus menjadi Rasul, kabilah Quraisy membangun kembali Ka’bah. Karena kondisi fisiknya sebelum itu hanyalah berupa tumpukan batu berukuran di atas tinggi badan manusia, yaitu setinggi sembilan hasta sejak dari masa Nabi Ismail ‘alaihissalam dan tidak memiliki atap. Sehingga yang tersimpan di dalamnya dapat dicuri oleh segerombolan pencuri. Disamping itu karena merupakan sebuah peninggalan sejarah yang berumur tua, Ka’bah sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunan dan merontokkan sendi-sendinya. Hal lainnya, Mekkah pernah dilanda banjir bandang. Airnya meluap dan mengalir ke Baitul Haram sehingga mengakibatkan bangunan Ka’bah hampir ambruk. Orang-orang Quraisy terpaksa merenovasi bangunannya demi menjaga pamornya dan bersepakat untuk tidak merenovasinya kecuali dari sumber usaha yang baik. Mereka tidak mau mengambilnya dana pembangunan yang didapat secara zalim, transaksi ribawi, dan hasil tindak kezaliman terhadap seseorang. Semula mereka merasa segan untuk melumpuhkan bangunannya hingga akhirnya diprakarsai oleh Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Setelah itu, barulah orang-orang mengikutinya setelah melihat tidak terjadi apa-apa terhadap dirinya. Mereka terus melakukan perubahan hingga sampai ke pondasi pertama yang dulu diletakkan oleh Ibrahim ‘alaihissalam. Kemudian mereka ingin memulai membangun kembali dengan cara membagi-bagi bangunan Ka’bah, yaitu masing-masing kabilah mendapat satu bagian. Setiap kabilah mengumpulkan sejumlah batu sesuai dengan jatah masing-masing. Lalu dimulailah pembangunannya sedangkan yang menjadi pimpinan proyeknya adalah seorang arsitek asal Romawi yang bernama Baqum. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pun ikut serta dalam gotong-royong merenovasi Ka’bah. Diceritakan oleh Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhu, لَمَّا بُنِيَتِ الكَعْبَةُ ذَهَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبَّاسٌ يَنْقُلاَنِ الحِجَارَةَ، فَقَالَ العَبَّاسُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اجْعَلْ إِزَارَكَ عَلَى رَقَبَتِكَ، فَخَرَّ إِلَى الأَرْضِ، وَطَمَحَتْ عَيْنَاهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: «أَرِنِي إِزَارِي» فَشَدَّهُ عَلَيْهِ “Ketika Ka’bah direnovasi, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan ‘Abbas (paman beliau) mengangkat sebuah batu. Abbas berkata kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: ‘gantungkan kainmu ke atas lehermu (agar tidak terluka karena bebatuan)’. Lalu seketika itu Nabi jatuh pingsan. Ketika sadar, kedua matanya memandang ke langit. Lalu beliau bersabda: ‘mana kainku?’. Beliau pun lalu mengencangkan kainnya” (HR. Al-Bukhari 1528). Namun, ketika orang-orang Quraisy kekurangan dana dari sumber usaha yang baik sehingga mereka harus meninggalkan pembangunan sekitar 6 hasta dari bagian utara Ka’bah, yaitu yang dinamakan dengan Hijr Ismail dan Al-Hathim. Lalu mereka meninggikan pintunya yang semula berada di tanah agar tidak ada orang yang memasuki kecuali orang yang mereka kehendaki. Tatkala pembangunan sudah mencapai 15 hasta, mereka mengatapinya dan menyangganya dengan enam buah tiang. Demikian sekelumit faedah seputar pembangunan dan renovasi Ka’bah. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 La Ilaha Illallah Arab, Fiqh Rumah Tangga, Doa Menempati Tempat Baru, Khasiat Surah Maryam Untuk Ibu Mengandung, Columbia Kredit Kasur, Cara Bahagiakan Suami Di Ranjang Visited 1,147 times, 3 visit(s) today Post Views: 695 QRIS donasi Yufid

Siapakah yang Membangun Ka’bah?

Pertanyaan: Mohon maaf ustadz, jika pertanyaannya lancang. Tentang bangunan Ka’bah yang ada di Masjidil Haram, siapakah yang membangunnya? Mohon penjelasannya. Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Ka’bah yang ada di Masjidil Haram adalah bangunan yang Allah muliakan, yang disebutkan oleh Allah ta’ala: اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam” (QS. Ali Imran: 96). Dan Ka’bah bukanlah berhala yang disembah oleh kaum Muslimin, namun Allah jadikan sebagai kiblat dan tempat ibadah. Allah ta’ala berfirman: وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ “Dan dimanapun engkau berada, palingkanlah wajahmu (ketika beribadah) ke arah Masjidil Haram” (QS. Al-Baqarah: 150). Allah ta’ala berfirman: جَعَلَ اللّٰهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيٰمًا لِّلنَّاسِ  “Allah jadikan Ka’bah sebagai tempat yang suci agar manusia bisa berkumpul (beribadah) di sana” (QS. Al-Maidah: 97). Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud” (QS. Al-Hajj: 26). Dan Ka’bah sudah ada jauh sebelum masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Oleh karena itu Allah ta’ala menyebutnya dengan al-baitul ‘atiq (rumah yang tua). Allah ta’ala berfirman: ثُمَّ لْيَقْضُوْا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوْا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوْا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ “Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah)” (QS. Al-Hajj: 29). Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang pertama kali membangun Ka’bah: Sebagian ulama mengatakan, yang membangun Ka’bah pertama kali adalah para Malaikat. Ini adalah pendapat Abu Ja’far Al-Baqir. Sebagian ulama mengatakan: Nabi Adam ‘alaihissalam. Ini adalah pendapat Atha’, Sa’id bin Musayyab, Ibnul Jauzi, Ibnu Hajar, dan pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi. Sebagian ulama mengatakan: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir. Sebagian ulama mengatakan: Nabi Syits ‘alaihissalam.  Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, bahwa Ka’bah pertama kali dibangun oleh Nabi Adam ‘alaihissalam. Karena Allah ta’ala berfirman: وَعَهِدْنا إِلى إِبْراهِيمَ وَ إِسْماعِيلَ أَنْ طَهِّرا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَ الْعاكِفِينَ وَ الرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang i’tikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!”” (QS. Al-Baqarah: 125). Prof. Abdul Karim Al-Khathib mengatakan, “Dalam ayat ini ada isyarat bahwa Ka’bah adalah rumah Allah, sebelum Allah perintahkan Ibrahim dan Ismail untuk membersihkannya dari berhala-berhala” (at-Tafsir al-Qur’ani lil Qur’an, 2/543). Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْراهِيمُ الْقَواعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَ إِسْماعِيلُ “Ketika Ibrahim dan Ismail meninggikan pondasi Ka’bah” (QS. Al-Baqarah: 125). Prof. Abdul Karim Al Khathib juga mengatakan, “Penyebutan ditinggikannya pondasi Ka’bah oleh Ibrahim ‘alaihissalam menunjukkan bahwa Ka’bah sudah ada sebelumnya. Namun beliau menyingkapnya kembali, meninggikan pondasinya dan membangun kembali” (at-Tafsir al-Qur’ani lil Qur’an, 2/543). Demikian juga disebutkan secara lugas di beberapa atsar bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam yang membangun Ka’bah. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: بعث الله جبريل إلى آدم وحواء فقال لهما: ابنيا لي بيتا، فخط لهما جبريل، فجعل آدم يحفر وحواء تنقل التراب حتى أجابه الماء فنودي من تحته: حسبك يا آدم، فلما بنياه أوصى الله إليه أن طوف به، وقيل له: أنت أول الناس، وهذا أول بيت “Allah mengutus malaikat Jibril kepada Adam dan Hawa. Lalu Allah berfirman kepada keduanya: bangunlah sebuah rumah. Lalu Jibril pun membuatkan kerangka dari rumah tersebut. Kemudian Adam yang menggali tanah dan Hawa yang mengambil tanah kemudian dicampur dengan air. Kemudian diserukan kepada mereka: cukup wahai Adam! Ketika mereka berdua selesai membangun Ka’bah, Allah memerintahkan mereka untuk tawaf mengelilinginya. Lalu dikatakan kepadanya: Adam, engkau adalah manusia pertama, dan ini adalah rumah pertama” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah, dengan sanad yang dha’if karena tafarrud Ibnu Lahi’ah). Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu وَأَنَّهُ بَنَاهُ مِنْ خَمْسَةِ أَجْبُلٍ مِنْ لُبْنَانَ ، وَطُورِ زَيْتَا ، وَطُورِ سِينَا ، وَالْجُودِيِّ ، وَحِرَاءٍ ، حَتَّى اسْتَوَى عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : فَكَانَ أَوَّلُ مَنْ أَسَّسَ الْبَيْتَ ، وَصَلَّى فِيهِ ، وَطَافَ بِهِ آدَمَ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – حَتَّى بَعَثَ اللَّهُ الطُّوفَانَ “Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam membangun Ka’bah dengan tanah dari lima gunung: Lubnan, Thurizayta, Thurisina, Judi, dan Hira. Sampai Ka’bah tegak di atas bumi. Ibnu Abbas mengatakan: Nabi Adam ‘alaihissalam lah yang pertama kali membangun Ka’bah, dan pertama kali shalat di dalamnya, dan thawaf di sekelilingnya. Sampai akhirnya Allah mengirim angin topan (sehingga Ka’bah hancur)” (HR. Al-Azraqani dalam Akhbar Makkah, no.10, dengan sanad yang dha’if jiddan karena terdapat perawi Thalhah bin ‘Amr Al-Hadhrami). Demikian juga riwayat dari Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah, beliau mengatakan: أن آدم عليه السلام بنى البيت من هذه الخمسة الجبال، وأن ربضه كان من حراء “Nabi Adam ‘alaihissalam membangun Ka’bah dari lima gunung tersebut. Dan tanah di pinggirannya berasal dari gunung Hira” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya no.9093, dengan sanad yang shahih sampai Ayyub as-Sikhtiyani). Namun ini khabar dari tabi’in yang bukan hujjah. Az-Zarqani menanggapi riwayat-riwayat di atas dengan mengatakan: فَهَذِهِ الْأَخْبَارُ وَإِنْ كَانَتْ مُفْرَدَاتُهَا ضَعِيفَةٌ، لَكِنْ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا “Semua khabar masing-masingnya terdapat kelemahan, namun saling menguatkan satu sama lain” (Syarah Az-Zarqani terhadap Al-Muwatha’, 2/445). Adapun tajdid (pembaharuan; renovasi) terhadap Ka’bah telah terjadi berkali-kali. Yang disebutkan oleh para ulama tarikh di antaranya: Pembaharuan Ka’bah oleh Nabi Syits ‘alaihissalam Pembaharuan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Pembaharuan Ka’bah oleh kaum ‘Amalaqah atau Amalek. Yaitu kaum yang hidup tiga atau empat generasi setelah masa Nabi Ibrahim, di sekitaran Syam dan Iraq. Ath-Thabari mengatakan bahwa merekalah yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab. Pembaharuan Ka’bah oleh kaum Jurhum. Mereka adalah kabilah di semenanjung Arab yang berasal dari Yaman, namun hijrah ke Bakkah. Para pendahulu mereka hidup bersama Nabi Ismail ‘alaihissalam dan Hajar. Nabi Ismail pun lalu menikah dengan salah satu wanita kabilah Jurhum. Pembaharuan Ka’bah oleh Qushay bin Kilab, kakek buyut dari Abdul Muthallib. Pembaharuan Ka’bah oleh Abdul Muthalib, kakek Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Pembaharuan Ka’bah oleh Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu’anhu. Pembaharuan Ka’bah oleh al-Hajjaj bin Yusuf. Pada saat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam berusia 35 tahun, atau sekitar 5 tahun sebelum beliau diutus menjadi Rasul, kabilah Quraisy membangun kembali Ka’bah. Karena kondisi fisiknya sebelum itu hanyalah berupa tumpukan batu berukuran di atas tinggi badan manusia, yaitu setinggi sembilan hasta sejak dari masa Nabi Ismail ‘alaihissalam dan tidak memiliki atap. Sehingga yang tersimpan di dalamnya dapat dicuri oleh segerombolan pencuri. Disamping itu karena merupakan sebuah peninggalan sejarah yang berumur tua, Ka’bah sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunan dan merontokkan sendi-sendinya. Hal lainnya, Mekkah pernah dilanda banjir bandang. Airnya meluap dan mengalir ke Baitul Haram sehingga mengakibatkan bangunan Ka’bah hampir ambruk. Orang-orang Quraisy terpaksa merenovasi bangunannya demi menjaga pamornya dan bersepakat untuk tidak merenovasinya kecuali dari sumber usaha yang baik. Mereka tidak mau mengambilnya dana pembangunan yang didapat secara zalim, transaksi ribawi, dan hasil tindak kezaliman terhadap seseorang. Semula mereka merasa segan untuk melumpuhkan bangunannya hingga akhirnya diprakarsai oleh Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Setelah itu, barulah orang-orang mengikutinya setelah melihat tidak terjadi apa-apa terhadap dirinya. Mereka terus melakukan perubahan hingga sampai ke pondasi pertama yang dulu diletakkan oleh Ibrahim ‘alaihissalam. Kemudian mereka ingin memulai membangun kembali dengan cara membagi-bagi bangunan Ka’bah, yaitu masing-masing kabilah mendapat satu bagian. Setiap kabilah mengumpulkan sejumlah batu sesuai dengan jatah masing-masing. Lalu dimulailah pembangunannya sedangkan yang menjadi pimpinan proyeknya adalah seorang arsitek asal Romawi yang bernama Baqum. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pun ikut serta dalam gotong-royong merenovasi Ka’bah. Diceritakan oleh Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhu, لَمَّا بُنِيَتِ الكَعْبَةُ ذَهَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبَّاسٌ يَنْقُلاَنِ الحِجَارَةَ، فَقَالَ العَبَّاسُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اجْعَلْ إِزَارَكَ عَلَى رَقَبَتِكَ، فَخَرَّ إِلَى الأَرْضِ، وَطَمَحَتْ عَيْنَاهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: «أَرِنِي إِزَارِي» فَشَدَّهُ عَلَيْهِ “Ketika Ka’bah direnovasi, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan ‘Abbas (paman beliau) mengangkat sebuah batu. Abbas berkata kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: ‘gantungkan kainmu ke atas lehermu (agar tidak terluka karena bebatuan)’. Lalu seketika itu Nabi jatuh pingsan. Ketika sadar, kedua matanya memandang ke langit. Lalu beliau bersabda: ‘mana kainku?’. Beliau pun lalu mengencangkan kainnya” (HR. Al-Bukhari 1528). Namun, ketika orang-orang Quraisy kekurangan dana dari sumber usaha yang baik sehingga mereka harus meninggalkan pembangunan sekitar 6 hasta dari bagian utara Ka’bah, yaitu yang dinamakan dengan Hijr Ismail dan Al-Hathim. Lalu mereka meninggikan pintunya yang semula berada di tanah agar tidak ada orang yang memasuki kecuali orang yang mereka kehendaki. Tatkala pembangunan sudah mencapai 15 hasta, mereka mengatapinya dan menyangganya dengan enam buah tiang. Demikian sekelumit faedah seputar pembangunan dan renovasi Ka’bah. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 La Ilaha Illallah Arab, Fiqh Rumah Tangga, Doa Menempati Tempat Baru, Khasiat Surah Maryam Untuk Ibu Mengandung, Columbia Kredit Kasur, Cara Bahagiakan Suami Di Ranjang Visited 1,147 times, 3 visit(s) today Post Views: 695 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Mohon maaf ustadz, jika pertanyaannya lancang. Tentang bangunan Ka’bah yang ada di Masjidil Haram, siapakah yang membangunnya? Mohon penjelasannya. Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Ka’bah yang ada di Masjidil Haram adalah bangunan yang Allah muliakan, yang disebutkan oleh Allah ta’ala: اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam” (QS. Ali Imran: 96). Dan Ka’bah bukanlah berhala yang disembah oleh kaum Muslimin, namun Allah jadikan sebagai kiblat dan tempat ibadah. Allah ta’ala berfirman: وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ “Dan dimanapun engkau berada, palingkanlah wajahmu (ketika beribadah) ke arah Masjidil Haram” (QS. Al-Baqarah: 150). Allah ta’ala berfirman: جَعَلَ اللّٰهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيٰمًا لِّلنَّاسِ  “Allah jadikan Ka’bah sebagai tempat yang suci agar manusia bisa berkumpul (beribadah) di sana” (QS. Al-Maidah: 97). Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud” (QS. Al-Hajj: 26). Dan Ka’bah sudah ada jauh sebelum masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Oleh karena itu Allah ta’ala menyebutnya dengan al-baitul ‘atiq (rumah yang tua). Allah ta’ala berfirman: ثُمَّ لْيَقْضُوْا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوْا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوْا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ “Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah)” (QS. Al-Hajj: 29). Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang pertama kali membangun Ka’bah: Sebagian ulama mengatakan, yang membangun Ka’bah pertama kali adalah para Malaikat. Ini adalah pendapat Abu Ja’far Al-Baqir. Sebagian ulama mengatakan: Nabi Adam ‘alaihissalam. Ini adalah pendapat Atha’, Sa’id bin Musayyab, Ibnul Jauzi, Ibnu Hajar, dan pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi. Sebagian ulama mengatakan: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir. Sebagian ulama mengatakan: Nabi Syits ‘alaihissalam.  Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, bahwa Ka’bah pertama kali dibangun oleh Nabi Adam ‘alaihissalam. Karena Allah ta’ala berfirman: وَعَهِدْنا إِلى إِبْراهِيمَ وَ إِسْماعِيلَ أَنْ طَهِّرا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَ الْعاكِفِينَ وَ الرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang i’tikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!”” (QS. Al-Baqarah: 125). Prof. Abdul Karim Al-Khathib mengatakan, “Dalam ayat ini ada isyarat bahwa Ka’bah adalah rumah Allah, sebelum Allah perintahkan Ibrahim dan Ismail untuk membersihkannya dari berhala-berhala” (at-Tafsir al-Qur’ani lil Qur’an, 2/543). Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْراهِيمُ الْقَواعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَ إِسْماعِيلُ “Ketika Ibrahim dan Ismail meninggikan pondasi Ka’bah” (QS. Al-Baqarah: 125). Prof. Abdul Karim Al Khathib juga mengatakan, “Penyebutan ditinggikannya pondasi Ka’bah oleh Ibrahim ‘alaihissalam menunjukkan bahwa Ka’bah sudah ada sebelumnya. Namun beliau menyingkapnya kembali, meninggikan pondasinya dan membangun kembali” (at-Tafsir al-Qur’ani lil Qur’an, 2/543). Demikian juga disebutkan secara lugas di beberapa atsar bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam yang membangun Ka’bah. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: بعث الله جبريل إلى آدم وحواء فقال لهما: ابنيا لي بيتا، فخط لهما جبريل، فجعل آدم يحفر وحواء تنقل التراب حتى أجابه الماء فنودي من تحته: حسبك يا آدم، فلما بنياه أوصى الله إليه أن طوف به، وقيل له: أنت أول الناس، وهذا أول بيت “Allah mengutus malaikat Jibril kepada Adam dan Hawa. Lalu Allah berfirman kepada keduanya: bangunlah sebuah rumah. Lalu Jibril pun membuatkan kerangka dari rumah tersebut. Kemudian Adam yang menggali tanah dan Hawa yang mengambil tanah kemudian dicampur dengan air. Kemudian diserukan kepada mereka: cukup wahai Adam! Ketika mereka berdua selesai membangun Ka’bah, Allah memerintahkan mereka untuk tawaf mengelilinginya. Lalu dikatakan kepadanya: Adam, engkau adalah manusia pertama, dan ini adalah rumah pertama” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah, dengan sanad yang dha’if karena tafarrud Ibnu Lahi’ah). Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu وَأَنَّهُ بَنَاهُ مِنْ خَمْسَةِ أَجْبُلٍ مِنْ لُبْنَانَ ، وَطُورِ زَيْتَا ، وَطُورِ سِينَا ، وَالْجُودِيِّ ، وَحِرَاءٍ ، حَتَّى اسْتَوَى عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : فَكَانَ أَوَّلُ مَنْ أَسَّسَ الْبَيْتَ ، وَصَلَّى فِيهِ ، وَطَافَ بِهِ آدَمَ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – حَتَّى بَعَثَ اللَّهُ الطُّوفَانَ “Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam membangun Ka’bah dengan tanah dari lima gunung: Lubnan, Thurizayta, Thurisina, Judi, dan Hira. Sampai Ka’bah tegak di atas bumi. Ibnu Abbas mengatakan: Nabi Adam ‘alaihissalam lah yang pertama kali membangun Ka’bah, dan pertama kali shalat di dalamnya, dan thawaf di sekelilingnya. Sampai akhirnya Allah mengirim angin topan (sehingga Ka’bah hancur)” (HR. Al-Azraqani dalam Akhbar Makkah, no.10, dengan sanad yang dha’if jiddan karena terdapat perawi Thalhah bin ‘Amr Al-Hadhrami). Demikian juga riwayat dari Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah, beliau mengatakan: أن آدم عليه السلام بنى البيت من هذه الخمسة الجبال، وأن ربضه كان من حراء “Nabi Adam ‘alaihissalam membangun Ka’bah dari lima gunung tersebut. Dan tanah di pinggirannya berasal dari gunung Hira” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya no.9093, dengan sanad yang shahih sampai Ayyub as-Sikhtiyani). Namun ini khabar dari tabi’in yang bukan hujjah. Az-Zarqani menanggapi riwayat-riwayat di atas dengan mengatakan: فَهَذِهِ الْأَخْبَارُ وَإِنْ كَانَتْ مُفْرَدَاتُهَا ضَعِيفَةٌ، لَكِنْ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا “Semua khabar masing-masingnya terdapat kelemahan, namun saling menguatkan satu sama lain” (Syarah Az-Zarqani terhadap Al-Muwatha’, 2/445). Adapun tajdid (pembaharuan; renovasi) terhadap Ka’bah telah terjadi berkali-kali. Yang disebutkan oleh para ulama tarikh di antaranya: Pembaharuan Ka’bah oleh Nabi Syits ‘alaihissalam Pembaharuan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Pembaharuan Ka’bah oleh kaum ‘Amalaqah atau Amalek. Yaitu kaum yang hidup tiga atau empat generasi setelah masa Nabi Ibrahim, di sekitaran Syam dan Iraq. Ath-Thabari mengatakan bahwa merekalah yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab. Pembaharuan Ka’bah oleh kaum Jurhum. Mereka adalah kabilah di semenanjung Arab yang berasal dari Yaman, namun hijrah ke Bakkah. Para pendahulu mereka hidup bersama Nabi Ismail ‘alaihissalam dan Hajar. Nabi Ismail pun lalu menikah dengan salah satu wanita kabilah Jurhum. Pembaharuan Ka’bah oleh Qushay bin Kilab, kakek buyut dari Abdul Muthallib. Pembaharuan Ka’bah oleh Abdul Muthalib, kakek Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Pembaharuan Ka’bah oleh Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu’anhu. Pembaharuan Ka’bah oleh al-Hajjaj bin Yusuf. Pada saat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam berusia 35 tahun, atau sekitar 5 tahun sebelum beliau diutus menjadi Rasul, kabilah Quraisy membangun kembali Ka’bah. Karena kondisi fisiknya sebelum itu hanyalah berupa tumpukan batu berukuran di atas tinggi badan manusia, yaitu setinggi sembilan hasta sejak dari masa Nabi Ismail ‘alaihissalam dan tidak memiliki atap. Sehingga yang tersimpan di dalamnya dapat dicuri oleh segerombolan pencuri. Disamping itu karena merupakan sebuah peninggalan sejarah yang berumur tua, Ka’bah sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunan dan merontokkan sendi-sendinya. Hal lainnya, Mekkah pernah dilanda banjir bandang. Airnya meluap dan mengalir ke Baitul Haram sehingga mengakibatkan bangunan Ka’bah hampir ambruk. Orang-orang Quraisy terpaksa merenovasi bangunannya demi menjaga pamornya dan bersepakat untuk tidak merenovasinya kecuali dari sumber usaha yang baik. Mereka tidak mau mengambilnya dana pembangunan yang didapat secara zalim, transaksi ribawi, dan hasil tindak kezaliman terhadap seseorang. Semula mereka merasa segan untuk melumpuhkan bangunannya hingga akhirnya diprakarsai oleh Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Setelah itu, barulah orang-orang mengikutinya setelah melihat tidak terjadi apa-apa terhadap dirinya. Mereka terus melakukan perubahan hingga sampai ke pondasi pertama yang dulu diletakkan oleh Ibrahim ‘alaihissalam. Kemudian mereka ingin memulai membangun kembali dengan cara membagi-bagi bangunan Ka’bah, yaitu masing-masing kabilah mendapat satu bagian. Setiap kabilah mengumpulkan sejumlah batu sesuai dengan jatah masing-masing. Lalu dimulailah pembangunannya sedangkan yang menjadi pimpinan proyeknya adalah seorang arsitek asal Romawi yang bernama Baqum. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pun ikut serta dalam gotong-royong merenovasi Ka’bah. Diceritakan oleh Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhu, لَمَّا بُنِيَتِ الكَعْبَةُ ذَهَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبَّاسٌ يَنْقُلاَنِ الحِجَارَةَ، فَقَالَ العَبَّاسُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اجْعَلْ إِزَارَكَ عَلَى رَقَبَتِكَ، فَخَرَّ إِلَى الأَرْضِ، وَطَمَحَتْ عَيْنَاهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: «أَرِنِي إِزَارِي» فَشَدَّهُ عَلَيْهِ “Ketika Ka’bah direnovasi, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan ‘Abbas (paman beliau) mengangkat sebuah batu. Abbas berkata kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: ‘gantungkan kainmu ke atas lehermu (agar tidak terluka karena bebatuan)’. Lalu seketika itu Nabi jatuh pingsan. Ketika sadar, kedua matanya memandang ke langit. Lalu beliau bersabda: ‘mana kainku?’. Beliau pun lalu mengencangkan kainnya” (HR. Al-Bukhari 1528). Namun, ketika orang-orang Quraisy kekurangan dana dari sumber usaha yang baik sehingga mereka harus meninggalkan pembangunan sekitar 6 hasta dari bagian utara Ka’bah, yaitu yang dinamakan dengan Hijr Ismail dan Al-Hathim. Lalu mereka meninggikan pintunya yang semula berada di tanah agar tidak ada orang yang memasuki kecuali orang yang mereka kehendaki. Tatkala pembangunan sudah mencapai 15 hasta, mereka mengatapinya dan menyangganya dengan enam buah tiang. Demikian sekelumit faedah seputar pembangunan dan renovasi Ka’bah. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 La Ilaha Illallah Arab, Fiqh Rumah Tangga, Doa Menempati Tempat Baru, Khasiat Surah Maryam Untuk Ibu Mengandung, Columbia Kredit Kasur, Cara Bahagiakan Suami Di Ranjang Visited 1,147 times, 3 visit(s) today Post Views: 695 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Mohon maaf ustadz, jika pertanyaannya lancang. Tentang bangunan Ka’bah yang ada di Masjidil Haram, siapakah yang membangunnya? Mohon penjelasannya. Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Ka’bah yang ada di Masjidil Haram adalah bangunan yang Allah muliakan, yang disebutkan oleh Allah ta’ala: اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam” (QS. Ali Imran: 96). Dan Ka’bah bukanlah berhala yang disembah oleh kaum Muslimin, namun Allah jadikan sebagai kiblat dan tempat ibadah. Allah ta’ala berfirman: وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ “Dan dimanapun engkau berada, palingkanlah wajahmu (ketika beribadah) ke arah Masjidil Haram” (QS. Al-Baqarah: 150). Allah ta’ala berfirman: جَعَلَ اللّٰهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيٰمًا لِّلنَّاسِ  “Allah jadikan Ka’bah sebagai tempat yang suci agar manusia bisa berkumpul (beribadah) di sana” (QS. Al-Maidah: 97). Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud” (QS. Al-Hajj: 26). Dan Ka’bah sudah ada jauh sebelum masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Oleh karena itu Allah ta’ala menyebutnya dengan al-baitul ‘atiq (rumah yang tua). Allah ta’ala berfirman: ثُمَّ لْيَقْضُوْا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوْا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوْا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ “Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah)” (QS. Al-Hajj: 29). Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang pertama kali membangun Ka’bah: Sebagian ulama mengatakan, yang membangun Ka’bah pertama kali adalah para Malaikat. Ini adalah pendapat Abu Ja’far Al-Baqir. Sebagian ulama mengatakan: Nabi Adam ‘alaihissalam. Ini adalah pendapat Atha’, Sa’id bin Musayyab, Ibnul Jauzi, Ibnu Hajar, dan pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi. Sebagian ulama mengatakan: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir. Sebagian ulama mengatakan: Nabi Syits ‘alaihissalam.  Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, bahwa Ka’bah pertama kali dibangun oleh Nabi Adam ‘alaihissalam. Karena Allah ta’ala berfirman: وَعَهِدْنا إِلى إِبْراهِيمَ وَ إِسْماعِيلَ أَنْ طَهِّرا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَ الْعاكِفِينَ وَ الرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang i’tikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!”” (QS. Al-Baqarah: 125). Prof. Abdul Karim Al-Khathib mengatakan, “Dalam ayat ini ada isyarat bahwa Ka’bah adalah rumah Allah, sebelum Allah perintahkan Ibrahim dan Ismail untuk membersihkannya dari berhala-berhala” (at-Tafsir al-Qur’ani lil Qur’an, 2/543). Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْراهِيمُ الْقَواعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَ إِسْماعِيلُ “Ketika Ibrahim dan Ismail meninggikan pondasi Ka’bah” (QS. Al-Baqarah: 125). Prof. Abdul Karim Al Khathib juga mengatakan, “Penyebutan ditinggikannya pondasi Ka’bah oleh Ibrahim ‘alaihissalam menunjukkan bahwa Ka’bah sudah ada sebelumnya. Namun beliau menyingkapnya kembali, meninggikan pondasinya dan membangun kembali” (at-Tafsir al-Qur’ani lil Qur’an, 2/543). Demikian juga disebutkan secara lugas di beberapa atsar bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam yang membangun Ka’bah. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: بعث الله جبريل إلى آدم وحواء فقال لهما: ابنيا لي بيتا، فخط لهما جبريل، فجعل آدم يحفر وحواء تنقل التراب حتى أجابه الماء فنودي من تحته: حسبك يا آدم، فلما بنياه أوصى الله إليه أن طوف به، وقيل له: أنت أول الناس، وهذا أول بيت “Allah mengutus malaikat Jibril kepada Adam dan Hawa. Lalu Allah berfirman kepada keduanya: bangunlah sebuah rumah. Lalu Jibril pun membuatkan kerangka dari rumah tersebut. Kemudian Adam yang menggali tanah dan Hawa yang mengambil tanah kemudian dicampur dengan air. Kemudian diserukan kepada mereka: cukup wahai Adam! Ketika mereka berdua selesai membangun Ka’bah, Allah memerintahkan mereka untuk tawaf mengelilinginya. Lalu dikatakan kepadanya: Adam, engkau adalah manusia pertama, dan ini adalah rumah pertama” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah, dengan sanad yang dha’if karena tafarrud Ibnu Lahi’ah). Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu وَأَنَّهُ بَنَاهُ مِنْ خَمْسَةِ أَجْبُلٍ مِنْ لُبْنَانَ ، وَطُورِ زَيْتَا ، وَطُورِ سِينَا ، وَالْجُودِيِّ ، وَحِرَاءٍ ، حَتَّى اسْتَوَى عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : فَكَانَ أَوَّلُ مَنْ أَسَّسَ الْبَيْتَ ، وَصَلَّى فِيهِ ، وَطَافَ بِهِ آدَمَ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – حَتَّى بَعَثَ اللَّهُ الطُّوفَانَ “Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam membangun Ka’bah dengan tanah dari lima gunung: Lubnan, Thurizayta, Thurisina, Judi, dan Hira. Sampai Ka’bah tegak di atas bumi. Ibnu Abbas mengatakan: Nabi Adam ‘alaihissalam lah yang pertama kali membangun Ka’bah, dan pertama kali shalat di dalamnya, dan thawaf di sekelilingnya. Sampai akhirnya Allah mengirim angin topan (sehingga Ka’bah hancur)” (HR. Al-Azraqani dalam Akhbar Makkah, no.10, dengan sanad yang dha’if jiddan karena terdapat perawi Thalhah bin ‘Amr Al-Hadhrami). Demikian juga riwayat dari Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah, beliau mengatakan: أن آدم عليه السلام بنى البيت من هذه الخمسة الجبال، وأن ربضه كان من حراء “Nabi Adam ‘alaihissalam membangun Ka’bah dari lima gunung tersebut. Dan tanah di pinggirannya berasal dari gunung Hira” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya no.9093, dengan sanad yang shahih sampai Ayyub as-Sikhtiyani). Namun ini khabar dari tabi’in yang bukan hujjah. Az-Zarqani menanggapi riwayat-riwayat di atas dengan mengatakan: فَهَذِهِ الْأَخْبَارُ وَإِنْ كَانَتْ مُفْرَدَاتُهَا ضَعِيفَةٌ، لَكِنْ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا “Semua khabar masing-masingnya terdapat kelemahan, namun saling menguatkan satu sama lain” (Syarah Az-Zarqani terhadap Al-Muwatha’, 2/445). Adapun tajdid (pembaharuan; renovasi) terhadap Ka’bah telah terjadi berkali-kali. Yang disebutkan oleh para ulama tarikh di antaranya: Pembaharuan Ka’bah oleh Nabi Syits ‘alaihissalam Pembaharuan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Pembaharuan Ka’bah oleh kaum ‘Amalaqah atau Amalek. Yaitu kaum yang hidup tiga atau empat generasi setelah masa Nabi Ibrahim, di sekitaran Syam dan Iraq. Ath-Thabari mengatakan bahwa merekalah yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab. Pembaharuan Ka’bah oleh kaum Jurhum. Mereka adalah kabilah di semenanjung Arab yang berasal dari Yaman, namun hijrah ke Bakkah. Para pendahulu mereka hidup bersama Nabi Ismail ‘alaihissalam dan Hajar. Nabi Ismail pun lalu menikah dengan salah satu wanita kabilah Jurhum. Pembaharuan Ka’bah oleh Qushay bin Kilab, kakek buyut dari Abdul Muthallib. Pembaharuan Ka’bah oleh Abdul Muthalib, kakek Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Pembaharuan Ka’bah oleh Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu’anhu. Pembaharuan Ka’bah oleh al-Hajjaj bin Yusuf. Pada saat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam berusia 35 tahun, atau sekitar 5 tahun sebelum beliau diutus menjadi Rasul, kabilah Quraisy membangun kembali Ka’bah. Karena kondisi fisiknya sebelum itu hanyalah berupa tumpukan batu berukuran di atas tinggi badan manusia, yaitu setinggi sembilan hasta sejak dari masa Nabi Ismail ‘alaihissalam dan tidak memiliki atap. Sehingga yang tersimpan di dalamnya dapat dicuri oleh segerombolan pencuri. Disamping itu karena merupakan sebuah peninggalan sejarah yang berumur tua, Ka’bah sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunan dan merontokkan sendi-sendinya. Hal lainnya, Mekkah pernah dilanda banjir bandang. Airnya meluap dan mengalir ke Baitul Haram sehingga mengakibatkan bangunan Ka’bah hampir ambruk. Orang-orang Quraisy terpaksa merenovasi bangunannya demi menjaga pamornya dan bersepakat untuk tidak merenovasinya kecuali dari sumber usaha yang baik. Mereka tidak mau mengambilnya dana pembangunan yang didapat secara zalim, transaksi ribawi, dan hasil tindak kezaliman terhadap seseorang. Semula mereka merasa segan untuk melumpuhkan bangunannya hingga akhirnya diprakarsai oleh Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Setelah itu, barulah orang-orang mengikutinya setelah melihat tidak terjadi apa-apa terhadap dirinya. Mereka terus melakukan perubahan hingga sampai ke pondasi pertama yang dulu diletakkan oleh Ibrahim ‘alaihissalam. Kemudian mereka ingin memulai membangun kembali dengan cara membagi-bagi bangunan Ka’bah, yaitu masing-masing kabilah mendapat satu bagian. Setiap kabilah mengumpulkan sejumlah batu sesuai dengan jatah masing-masing. Lalu dimulailah pembangunannya sedangkan yang menjadi pimpinan proyeknya adalah seorang arsitek asal Romawi yang bernama Baqum. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pun ikut serta dalam gotong-royong merenovasi Ka’bah. Diceritakan oleh Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhu, لَمَّا بُنِيَتِ الكَعْبَةُ ذَهَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبَّاسٌ يَنْقُلاَنِ الحِجَارَةَ، فَقَالَ العَبَّاسُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اجْعَلْ إِزَارَكَ عَلَى رَقَبَتِكَ، فَخَرَّ إِلَى الأَرْضِ، وَطَمَحَتْ عَيْنَاهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: «أَرِنِي إِزَارِي» فَشَدَّهُ عَلَيْهِ “Ketika Ka’bah direnovasi, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan ‘Abbas (paman beliau) mengangkat sebuah batu. Abbas berkata kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: ‘gantungkan kainmu ke atas lehermu (agar tidak terluka karena bebatuan)’. Lalu seketika itu Nabi jatuh pingsan. Ketika sadar, kedua matanya memandang ke langit. Lalu beliau bersabda: ‘mana kainku?’. Beliau pun lalu mengencangkan kainnya” (HR. Al-Bukhari 1528). Namun, ketika orang-orang Quraisy kekurangan dana dari sumber usaha yang baik sehingga mereka harus meninggalkan pembangunan sekitar 6 hasta dari bagian utara Ka’bah, yaitu yang dinamakan dengan Hijr Ismail dan Al-Hathim. Lalu mereka meninggikan pintunya yang semula berada di tanah agar tidak ada orang yang memasuki kecuali orang yang mereka kehendaki. Tatkala pembangunan sudah mencapai 15 hasta, mereka mengatapinya dan menyangganya dengan enam buah tiang. Demikian sekelumit faedah seputar pembangunan dan renovasi Ka’bah. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 La Ilaha Illallah Arab, Fiqh Rumah Tangga, Doa Menempati Tempat Baru, Khasiat Surah Maryam Untuk Ibu Mengandung, Columbia Kredit Kasur, Cara Bahagiakan Suami Di Ranjang Visited 1,147 times, 3 visit(s) today Post Views: 695 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hadis: Hukum Melakukan Autopsi terhadap Jenazah

Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا“Mematahkan tulang orang yang mati seperti halnya mematahkannya ketika ia masih hidup.” (HR. Abu Dawud no. 3207. Dinilai sahih oleh Al-Albani)Di dalam riwayat Ibnu Majah dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, terdapat tambahan,كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِ عَظْمِ الْحَيِّ فِي الْإِثْمِ“Mematahkan tulang orang yang mati seperti halnya mematahkannya ketika ia masih hidup dalam dosanya.” (HR. Ibnu Majah 1617. Namun, riwayat ini dinilai dha’if oleh Al-Albani)Berkaitan dengan hadis di atas, terdapat beberapa faedah yang bisa diambil, yaitu:Daftar Isi Faedah pertamaFaedah keduaFaedah ketigaFaedah keempatFaedah pertamaPara ulama ahli fikih berdalil dengan hadis ini tentang haramnya mematahkan tulang orang yang sudah mati (Lihat Al-Mughni, 3: 377, 398). Hal ini karena orang yang sudah meninggal itu sama dengan orang yang masih hidup, baik berkaitan dengan kehormatan, pemuliaan, dan tidak boleh dilanggar kehormatannya. Orang yang sudah meninggal itu tetap terjaga kehormatannya, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal dunia.Faedah keduaTambahan “dalam dosa” merupakan isyarat bahwa perbuatan mematahkan tulang orang yang sudah meninggal dunia itu tidak dihukum dengan qishash atau diyat. Akan tetapi, perbuatan tersebut merupakan perbuatan dosa, pelakunya berhak mendapatkan hukuman jika melakukannya dengan sengaja.Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizahullah berkata, “Adapun (mematahkan tulang) mayit, maka tidak ada qishash dan juga tidak ada ganti rugi (diyat), yang ada hanyalah dosa. Maksudnya, orang yang mematahkan tulang orang yang sudah meninggal dunia itu berdosa sebagaimana dosa perbuatan orang yang mematahkan tulang orang yang masih hidup.” (Tashilul Ilmam, 3: 60-61)Faedah ketigaDalam hadis ini terkandung dalil bahwa tidak boleh melakukan pembedahan terjadap jenazah muslim untuk tujuan ilmiah (ilmu pengetahuan). Karena perbuatan tersebut melanggar kehormatan jenazah muslim tersebut. Jika tujuan tersebut bisa tercapai dengan melakukan pembedahan jenazah orang yang tidak ma’shum, seperti orang murtad atau kafir harbi, maka hal itu mencukupi.Adapun melakukan pembedahan untuk mengetahui sebab kematian si mayit, baik untuk membuktikan sebab kematian berkaitan dengan perkara kriminalitas (misalnya, pada kasus pembunuhan), maka hal itu diperbolehkan. Hal ini karena maslahat yang ingin dicapai lebih didahulukan daripada mafsadat yang timbul dari pembedahan tersebut.Demikian pula, diperbolehkan untuk melakukan pembedahan untuk mencari atau menyelidiki penyakit penyebab kematian, misalnya ketika terjadi wabah suatu penyakit. Hal ini untuk menjaga keselamatan masyarakat dan juga untuk mencari (meneliti) obat yang sesuai.Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizahullah berkata, “Tidak boleh mempermainkan jenazah kaum muslimin. Akan tetapi, hendaknya dimuliakan dan dimakamkan. (Kehormatan jenazah muslim tersebut) tidak boleh dilanggar, kecuali jika dilakukan pembedahan (autopsi) untuk mengetahui penyebab kematian. Apakah jenazah tersebut dibunuh atau meninggal tanpa dibunuh. Jika autopsi tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian, maka tujuan tersebut dapat dibenarkan. Adapun jika pembedahan tersebut dilakukan untuk mempelajari ilmu kedokteran, atau sebagai praktek mahasiswa kedokteran, maka hal tersebut tidak boleh dilakukan terhadap jenazah muslim. Hal ini karena jenazah muslim itu terjaga kehormatannya, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal dunia.” (Tashilul Ilmam, 3: 61)Faedah keempatTidak boleh atas seseorang untuk memperjualbelikan organ tubuh setelah meninggal dunia. Hal ini karena perbuatan tersebut akan menyebabkan terjadinya pembedahan mayit sebagaimana yang dilarang dalam hadis tersebut.Baca juga: Fikih Pengurusan Jenazah***@Rumah Kasongan, 2 Syawal 1444/ 23 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 337-338) dan Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram (3: 60-61).Tags: adab mengurus jenazahautopsi jenazahjenazah

Hadis: Hukum Melakukan Autopsi terhadap Jenazah

Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا“Mematahkan tulang orang yang mati seperti halnya mematahkannya ketika ia masih hidup.” (HR. Abu Dawud no. 3207. Dinilai sahih oleh Al-Albani)Di dalam riwayat Ibnu Majah dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, terdapat tambahan,كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِ عَظْمِ الْحَيِّ فِي الْإِثْمِ“Mematahkan tulang orang yang mati seperti halnya mematahkannya ketika ia masih hidup dalam dosanya.” (HR. Ibnu Majah 1617. Namun, riwayat ini dinilai dha’if oleh Al-Albani)Berkaitan dengan hadis di atas, terdapat beberapa faedah yang bisa diambil, yaitu:Daftar Isi Faedah pertamaFaedah keduaFaedah ketigaFaedah keempatFaedah pertamaPara ulama ahli fikih berdalil dengan hadis ini tentang haramnya mematahkan tulang orang yang sudah mati (Lihat Al-Mughni, 3: 377, 398). Hal ini karena orang yang sudah meninggal itu sama dengan orang yang masih hidup, baik berkaitan dengan kehormatan, pemuliaan, dan tidak boleh dilanggar kehormatannya. Orang yang sudah meninggal itu tetap terjaga kehormatannya, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal dunia.Faedah keduaTambahan “dalam dosa” merupakan isyarat bahwa perbuatan mematahkan tulang orang yang sudah meninggal dunia itu tidak dihukum dengan qishash atau diyat. Akan tetapi, perbuatan tersebut merupakan perbuatan dosa, pelakunya berhak mendapatkan hukuman jika melakukannya dengan sengaja.Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizahullah berkata, “Adapun (mematahkan tulang) mayit, maka tidak ada qishash dan juga tidak ada ganti rugi (diyat), yang ada hanyalah dosa. Maksudnya, orang yang mematahkan tulang orang yang sudah meninggal dunia itu berdosa sebagaimana dosa perbuatan orang yang mematahkan tulang orang yang masih hidup.” (Tashilul Ilmam, 3: 60-61)Faedah ketigaDalam hadis ini terkandung dalil bahwa tidak boleh melakukan pembedahan terjadap jenazah muslim untuk tujuan ilmiah (ilmu pengetahuan). Karena perbuatan tersebut melanggar kehormatan jenazah muslim tersebut. Jika tujuan tersebut bisa tercapai dengan melakukan pembedahan jenazah orang yang tidak ma’shum, seperti orang murtad atau kafir harbi, maka hal itu mencukupi.Adapun melakukan pembedahan untuk mengetahui sebab kematian si mayit, baik untuk membuktikan sebab kematian berkaitan dengan perkara kriminalitas (misalnya, pada kasus pembunuhan), maka hal itu diperbolehkan. Hal ini karena maslahat yang ingin dicapai lebih didahulukan daripada mafsadat yang timbul dari pembedahan tersebut.Demikian pula, diperbolehkan untuk melakukan pembedahan untuk mencari atau menyelidiki penyakit penyebab kematian, misalnya ketika terjadi wabah suatu penyakit. Hal ini untuk menjaga keselamatan masyarakat dan juga untuk mencari (meneliti) obat yang sesuai.Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizahullah berkata, “Tidak boleh mempermainkan jenazah kaum muslimin. Akan tetapi, hendaknya dimuliakan dan dimakamkan. (Kehormatan jenazah muslim tersebut) tidak boleh dilanggar, kecuali jika dilakukan pembedahan (autopsi) untuk mengetahui penyebab kematian. Apakah jenazah tersebut dibunuh atau meninggal tanpa dibunuh. Jika autopsi tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian, maka tujuan tersebut dapat dibenarkan. Adapun jika pembedahan tersebut dilakukan untuk mempelajari ilmu kedokteran, atau sebagai praktek mahasiswa kedokteran, maka hal tersebut tidak boleh dilakukan terhadap jenazah muslim. Hal ini karena jenazah muslim itu terjaga kehormatannya, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal dunia.” (Tashilul Ilmam, 3: 61)Faedah keempatTidak boleh atas seseorang untuk memperjualbelikan organ tubuh setelah meninggal dunia. Hal ini karena perbuatan tersebut akan menyebabkan terjadinya pembedahan mayit sebagaimana yang dilarang dalam hadis tersebut.Baca juga: Fikih Pengurusan Jenazah***@Rumah Kasongan, 2 Syawal 1444/ 23 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 337-338) dan Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram (3: 60-61).Tags: adab mengurus jenazahautopsi jenazahjenazah
Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا“Mematahkan tulang orang yang mati seperti halnya mematahkannya ketika ia masih hidup.” (HR. Abu Dawud no. 3207. Dinilai sahih oleh Al-Albani)Di dalam riwayat Ibnu Majah dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, terdapat tambahan,كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِ عَظْمِ الْحَيِّ فِي الْإِثْمِ“Mematahkan tulang orang yang mati seperti halnya mematahkannya ketika ia masih hidup dalam dosanya.” (HR. Ibnu Majah 1617. Namun, riwayat ini dinilai dha’if oleh Al-Albani)Berkaitan dengan hadis di atas, terdapat beberapa faedah yang bisa diambil, yaitu:Daftar Isi Faedah pertamaFaedah keduaFaedah ketigaFaedah keempatFaedah pertamaPara ulama ahli fikih berdalil dengan hadis ini tentang haramnya mematahkan tulang orang yang sudah mati (Lihat Al-Mughni, 3: 377, 398). Hal ini karena orang yang sudah meninggal itu sama dengan orang yang masih hidup, baik berkaitan dengan kehormatan, pemuliaan, dan tidak boleh dilanggar kehormatannya. Orang yang sudah meninggal itu tetap terjaga kehormatannya, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal dunia.Faedah keduaTambahan “dalam dosa” merupakan isyarat bahwa perbuatan mematahkan tulang orang yang sudah meninggal dunia itu tidak dihukum dengan qishash atau diyat. Akan tetapi, perbuatan tersebut merupakan perbuatan dosa, pelakunya berhak mendapatkan hukuman jika melakukannya dengan sengaja.Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizahullah berkata, “Adapun (mematahkan tulang) mayit, maka tidak ada qishash dan juga tidak ada ganti rugi (diyat), yang ada hanyalah dosa. Maksudnya, orang yang mematahkan tulang orang yang sudah meninggal dunia itu berdosa sebagaimana dosa perbuatan orang yang mematahkan tulang orang yang masih hidup.” (Tashilul Ilmam, 3: 60-61)Faedah ketigaDalam hadis ini terkandung dalil bahwa tidak boleh melakukan pembedahan terjadap jenazah muslim untuk tujuan ilmiah (ilmu pengetahuan). Karena perbuatan tersebut melanggar kehormatan jenazah muslim tersebut. Jika tujuan tersebut bisa tercapai dengan melakukan pembedahan jenazah orang yang tidak ma’shum, seperti orang murtad atau kafir harbi, maka hal itu mencukupi.Adapun melakukan pembedahan untuk mengetahui sebab kematian si mayit, baik untuk membuktikan sebab kematian berkaitan dengan perkara kriminalitas (misalnya, pada kasus pembunuhan), maka hal itu diperbolehkan. Hal ini karena maslahat yang ingin dicapai lebih didahulukan daripada mafsadat yang timbul dari pembedahan tersebut.Demikian pula, diperbolehkan untuk melakukan pembedahan untuk mencari atau menyelidiki penyakit penyebab kematian, misalnya ketika terjadi wabah suatu penyakit. Hal ini untuk menjaga keselamatan masyarakat dan juga untuk mencari (meneliti) obat yang sesuai.Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizahullah berkata, “Tidak boleh mempermainkan jenazah kaum muslimin. Akan tetapi, hendaknya dimuliakan dan dimakamkan. (Kehormatan jenazah muslim tersebut) tidak boleh dilanggar, kecuali jika dilakukan pembedahan (autopsi) untuk mengetahui penyebab kematian. Apakah jenazah tersebut dibunuh atau meninggal tanpa dibunuh. Jika autopsi tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian, maka tujuan tersebut dapat dibenarkan. Adapun jika pembedahan tersebut dilakukan untuk mempelajari ilmu kedokteran, atau sebagai praktek mahasiswa kedokteran, maka hal tersebut tidak boleh dilakukan terhadap jenazah muslim. Hal ini karena jenazah muslim itu terjaga kehormatannya, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal dunia.” (Tashilul Ilmam, 3: 61)Faedah keempatTidak boleh atas seseorang untuk memperjualbelikan organ tubuh setelah meninggal dunia. Hal ini karena perbuatan tersebut akan menyebabkan terjadinya pembedahan mayit sebagaimana yang dilarang dalam hadis tersebut.Baca juga: Fikih Pengurusan Jenazah***@Rumah Kasongan, 2 Syawal 1444/ 23 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 337-338) dan Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram (3: 60-61).Tags: adab mengurus jenazahautopsi jenazahjenazah


Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا“Mematahkan tulang orang yang mati seperti halnya mematahkannya ketika ia masih hidup.” (HR. Abu Dawud no. 3207. Dinilai sahih oleh Al-Albani)Di dalam riwayat Ibnu Majah dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, terdapat tambahan,كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِ عَظْمِ الْحَيِّ فِي الْإِثْمِ“Mematahkan tulang orang yang mati seperti halnya mematahkannya ketika ia masih hidup dalam dosanya.” (HR. Ibnu Majah 1617. Namun, riwayat ini dinilai dha’if oleh Al-Albani)Berkaitan dengan hadis di atas, terdapat beberapa faedah yang bisa diambil, yaitu:Daftar Isi Faedah pertamaFaedah keduaFaedah ketigaFaedah keempatFaedah pertamaPara ulama ahli fikih berdalil dengan hadis ini tentang haramnya mematahkan tulang orang yang sudah mati (Lihat Al-Mughni, 3: 377, 398). Hal ini karena orang yang sudah meninggal itu sama dengan orang yang masih hidup, baik berkaitan dengan kehormatan, pemuliaan, dan tidak boleh dilanggar kehormatannya. Orang yang sudah meninggal itu tetap terjaga kehormatannya, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal dunia.Faedah keduaTambahan “dalam dosa” merupakan isyarat bahwa perbuatan mematahkan tulang orang yang sudah meninggal dunia itu tidak dihukum dengan qishash atau diyat. Akan tetapi, perbuatan tersebut merupakan perbuatan dosa, pelakunya berhak mendapatkan hukuman jika melakukannya dengan sengaja.Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizahullah berkata, “Adapun (mematahkan tulang) mayit, maka tidak ada qishash dan juga tidak ada ganti rugi (diyat), yang ada hanyalah dosa. Maksudnya, orang yang mematahkan tulang orang yang sudah meninggal dunia itu berdosa sebagaimana dosa perbuatan orang yang mematahkan tulang orang yang masih hidup.” (Tashilul Ilmam, 3: 60-61)Faedah ketigaDalam hadis ini terkandung dalil bahwa tidak boleh melakukan pembedahan terjadap jenazah muslim untuk tujuan ilmiah (ilmu pengetahuan). Karena perbuatan tersebut melanggar kehormatan jenazah muslim tersebut. Jika tujuan tersebut bisa tercapai dengan melakukan pembedahan jenazah orang yang tidak ma’shum, seperti orang murtad atau kafir harbi, maka hal itu mencukupi.Adapun melakukan pembedahan untuk mengetahui sebab kematian si mayit, baik untuk membuktikan sebab kematian berkaitan dengan perkara kriminalitas (misalnya, pada kasus pembunuhan), maka hal itu diperbolehkan. Hal ini karena maslahat yang ingin dicapai lebih didahulukan daripada mafsadat yang timbul dari pembedahan tersebut.Demikian pula, diperbolehkan untuk melakukan pembedahan untuk mencari atau menyelidiki penyakit penyebab kematian, misalnya ketika terjadi wabah suatu penyakit. Hal ini untuk menjaga keselamatan masyarakat dan juga untuk mencari (meneliti) obat yang sesuai.Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizahullah berkata, “Tidak boleh mempermainkan jenazah kaum muslimin. Akan tetapi, hendaknya dimuliakan dan dimakamkan. (Kehormatan jenazah muslim tersebut) tidak boleh dilanggar, kecuali jika dilakukan pembedahan (autopsi) untuk mengetahui penyebab kematian. Apakah jenazah tersebut dibunuh atau meninggal tanpa dibunuh. Jika autopsi tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian, maka tujuan tersebut dapat dibenarkan. Adapun jika pembedahan tersebut dilakukan untuk mempelajari ilmu kedokteran, atau sebagai praktek mahasiswa kedokteran, maka hal tersebut tidak boleh dilakukan terhadap jenazah muslim. Hal ini karena jenazah muslim itu terjaga kehormatannya, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal dunia.” (Tashilul Ilmam, 3: 61)Faedah keempatTidak boleh atas seseorang untuk memperjualbelikan organ tubuh setelah meninggal dunia. Hal ini karena perbuatan tersebut akan menyebabkan terjadinya pembedahan mayit sebagaimana yang dilarang dalam hadis tersebut.Baca juga: Fikih Pengurusan Jenazah***@Rumah Kasongan, 2 Syawal 1444/ 23 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 337-338) dan Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram (3: 60-61).Tags: adab mengurus jenazahautopsi jenazahjenazah

Bulughul Maram – Akhlak: Tanda Kita Telah Menjadi Budak Harta

Apa saja tanda kita telah menjadi budak harta atau budak dunia? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan agar kita jauhi sifat budak dunia.   Daftar Isi tutup 1. Hadits #1478 2. Faedah dari hadits 2.1. Referensi:   Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani  بَابُ الزُّهْدِ وَالوَرَعِ Bab Zuhud dan Wara’   Hadits #1478 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ( قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { تَعِسَ عَبْدُ اَلدِّينَارِ, وَالدِّرْهَمِ, وَالْقَطِيفَةِ, إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ, وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ } أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah budak dinar, dirham, dan qathifah (jenis pakaian berbeludru atau kain tenunan berbulu). Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6435]   Faedah dari hadits Maksud ta’isa dalam hadits adalah doa celaka, menunjukkan jelek, jauh. Yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah semangat dalam mencari dunia dan merendahkan diri sehingga yang menjadi budak semangat dalam mengumpulkan harta, hanya sibuk menjaganya. Orang seperti inilah yang dianggap sebagai pelayan dan budak harta. Ia tenggelam dalam syahwat dunia dan mencarinya. Penyebutan dinar, dirham, dan qathifah (pakaian) hanyalah sekadar contoh. Ada juga yang gila kekuasaan, gila foto, cinta pada rumah, dan hal dunia lainnya.  Intinya, segala hal dunia yang menjauhkan dari perintah Allah, maka dianggap sebagai budak dari dunia tersebut. Tandanya adalah kalau dunia didapat, ia rida. Sedangkan, kalau dunia tidak didapat, ia murka. Ia tidak rida pada takdir Allah. Sekadar memiliki dan mengumpulkan dunia tidaklah tercela. Yang tercela adalah memiliki dan mengumpulkan lebih dari kadar hajat lalu menjauhkan seseorang dari Allah, menjauhkan dari beramal saleh. Kalau harta tetap mengantarkan kepada amal saleh, tentu hal itu tidak tercela. Makna “Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida” ada dua makna. Makna pertama, berkaitan dengan takdir yang Allah tetapkan. Jika ia ditakdirkan rezeki, ia rida. Jika tidak ditakdirkan, ia murka. Makna kedua, ia rida jika diberi harta syari yang berhak ia peroleh. Jika tidak diberi harta syari yang berhak ia  dapat, ia murka. Kedua makna ini sama-sama menunjukkan bahwa ia rida dan murka tergantung pada harta. Hadits ini menunjukkan celaan bagi yang terlalu bergantung pada dunia. Dunia hanyalah dijadikan tujuan utama. Tandanya adalah hatinya lalai dari mengingat dan beribadah kepada Allah. Ada harta yang manusia butuhkan dan ada harta yang manusia tidak butuhkan. Jangan sampai hati bergantung pada dunia yang tidak menjadi kebutuhan hidupnya sehingga akhirnya memiliki ketergantungan hati kepada selain Allah, bertawakal kepada selain Allah.     Baca juga: Jangan Terjangkiti Penyakit Tanda Cinta Dunia Hamba Allah dan Budak Dunia (Perkataan Ibnu Taimiyah) Khutbah Jumat, Tanda Cinta Dunia   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 10:149-151. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayaan. 5:78-79.   —   Rabu pagi, 12 Syawal 1444 H (3 Mei 2023) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbudak dunia budak harta bulughul maram adab bulughul maram akhlak cinta dunia cinta harta hamba Allah syubhat wara zuhud

Bulughul Maram – Akhlak: Tanda Kita Telah Menjadi Budak Harta

Apa saja tanda kita telah menjadi budak harta atau budak dunia? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan agar kita jauhi sifat budak dunia.   Daftar Isi tutup 1. Hadits #1478 2. Faedah dari hadits 2.1. Referensi:   Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani  بَابُ الزُّهْدِ وَالوَرَعِ Bab Zuhud dan Wara’   Hadits #1478 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ( قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { تَعِسَ عَبْدُ اَلدِّينَارِ, وَالدِّرْهَمِ, وَالْقَطِيفَةِ, إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ, وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ } أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah budak dinar, dirham, dan qathifah (jenis pakaian berbeludru atau kain tenunan berbulu). Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6435]   Faedah dari hadits Maksud ta’isa dalam hadits adalah doa celaka, menunjukkan jelek, jauh. Yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah semangat dalam mencari dunia dan merendahkan diri sehingga yang menjadi budak semangat dalam mengumpulkan harta, hanya sibuk menjaganya. Orang seperti inilah yang dianggap sebagai pelayan dan budak harta. Ia tenggelam dalam syahwat dunia dan mencarinya. Penyebutan dinar, dirham, dan qathifah (pakaian) hanyalah sekadar contoh. Ada juga yang gila kekuasaan, gila foto, cinta pada rumah, dan hal dunia lainnya.  Intinya, segala hal dunia yang menjauhkan dari perintah Allah, maka dianggap sebagai budak dari dunia tersebut. Tandanya adalah kalau dunia didapat, ia rida. Sedangkan, kalau dunia tidak didapat, ia murka. Ia tidak rida pada takdir Allah. Sekadar memiliki dan mengumpulkan dunia tidaklah tercela. Yang tercela adalah memiliki dan mengumpulkan lebih dari kadar hajat lalu menjauhkan seseorang dari Allah, menjauhkan dari beramal saleh. Kalau harta tetap mengantarkan kepada amal saleh, tentu hal itu tidak tercela. Makna “Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida” ada dua makna. Makna pertama, berkaitan dengan takdir yang Allah tetapkan. Jika ia ditakdirkan rezeki, ia rida. Jika tidak ditakdirkan, ia murka. Makna kedua, ia rida jika diberi harta syari yang berhak ia peroleh. Jika tidak diberi harta syari yang berhak ia  dapat, ia murka. Kedua makna ini sama-sama menunjukkan bahwa ia rida dan murka tergantung pada harta. Hadits ini menunjukkan celaan bagi yang terlalu bergantung pada dunia. Dunia hanyalah dijadikan tujuan utama. Tandanya adalah hatinya lalai dari mengingat dan beribadah kepada Allah. Ada harta yang manusia butuhkan dan ada harta yang manusia tidak butuhkan. Jangan sampai hati bergantung pada dunia yang tidak menjadi kebutuhan hidupnya sehingga akhirnya memiliki ketergantungan hati kepada selain Allah, bertawakal kepada selain Allah.     Baca juga: Jangan Terjangkiti Penyakit Tanda Cinta Dunia Hamba Allah dan Budak Dunia (Perkataan Ibnu Taimiyah) Khutbah Jumat, Tanda Cinta Dunia   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 10:149-151. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayaan. 5:78-79.   —   Rabu pagi, 12 Syawal 1444 H (3 Mei 2023) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbudak dunia budak harta bulughul maram adab bulughul maram akhlak cinta dunia cinta harta hamba Allah syubhat wara zuhud
Apa saja tanda kita telah menjadi budak harta atau budak dunia? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan agar kita jauhi sifat budak dunia.   Daftar Isi tutup 1. Hadits #1478 2. Faedah dari hadits 2.1. Referensi:   Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani  بَابُ الزُّهْدِ وَالوَرَعِ Bab Zuhud dan Wara’   Hadits #1478 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ( قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { تَعِسَ عَبْدُ اَلدِّينَارِ, وَالدِّرْهَمِ, وَالْقَطِيفَةِ, إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ, وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ } أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah budak dinar, dirham, dan qathifah (jenis pakaian berbeludru atau kain tenunan berbulu). Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6435]   Faedah dari hadits Maksud ta’isa dalam hadits adalah doa celaka, menunjukkan jelek, jauh. Yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah semangat dalam mencari dunia dan merendahkan diri sehingga yang menjadi budak semangat dalam mengumpulkan harta, hanya sibuk menjaganya. Orang seperti inilah yang dianggap sebagai pelayan dan budak harta. Ia tenggelam dalam syahwat dunia dan mencarinya. Penyebutan dinar, dirham, dan qathifah (pakaian) hanyalah sekadar contoh. Ada juga yang gila kekuasaan, gila foto, cinta pada rumah, dan hal dunia lainnya.  Intinya, segala hal dunia yang menjauhkan dari perintah Allah, maka dianggap sebagai budak dari dunia tersebut. Tandanya adalah kalau dunia didapat, ia rida. Sedangkan, kalau dunia tidak didapat, ia murka. Ia tidak rida pada takdir Allah. Sekadar memiliki dan mengumpulkan dunia tidaklah tercela. Yang tercela adalah memiliki dan mengumpulkan lebih dari kadar hajat lalu menjauhkan seseorang dari Allah, menjauhkan dari beramal saleh. Kalau harta tetap mengantarkan kepada amal saleh, tentu hal itu tidak tercela. Makna “Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida” ada dua makna. Makna pertama, berkaitan dengan takdir yang Allah tetapkan. Jika ia ditakdirkan rezeki, ia rida. Jika tidak ditakdirkan, ia murka. Makna kedua, ia rida jika diberi harta syari yang berhak ia peroleh. Jika tidak diberi harta syari yang berhak ia  dapat, ia murka. Kedua makna ini sama-sama menunjukkan bahwa ia rida dan murka tergantung pada harta. Hadits ini menunjukkan celaan bagi yang terlalu bergantung pada dunia. Dunia hanyalah dijadikan tujuan utama. Tandanya adalah hatinya lalai dari mengingat dan beribadah kepada Allah. Ada harta yang manusia butuhkan dan ada harta yang manusia tidak butuhkan. Jangan sampai hati bergantung pada dunia yang tidak menjadi kebutuhan hidupnya sehingga akhirnya memiliki ketergantungan hati kepada selain Allah, bertawakal kepada selain Allah.     Baca juga: Jangan Terjangkiti Penyakit Tanda Cinta Dunia Hamba Allah dan Budak Dunia (Perkataan Ibnu Taimiyah) Khutbah Jumat, Tanda Cinta Dunia   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 10:149-151. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayaan. 5:78-79.   —   Rabu pagi, 12 Syawal 1444 H (3 Mei 2023) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbudak dunia budak harta bulughul maram adab bulughul maram akhlak cinta dunia cinta harta hamba Allah syubhat wara zuhud


Apa saja tanda kita telah menjadi budak harta atau budak dunia? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan agar kita jauhi sifat budak dunia.   Daftar Isi tutup 1. Hadits #1478 2. Faedah dari hadits 2.1. Referensi:   Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani  بَابُ الزُّهْدِ وَالوَرَعِ Bab Zuhud dan Wara’   Hadits #1478 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ( قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { تَعِسَ عَبْدُ اَلدِّينَارِ, وَالدِّرْهَمِ, وَالْقَطِيفَةِ, إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ, وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ } أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah budak dinar, dirham, dan qathifah (jenis pakaian berbeludru atau kain tenunan berbulu). Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6435]   Faedah dari hadits Maksud ta’isa dalam hadits adalah doa celaka, menunjukkan jelek, jauh. Yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah semangat dalam mencari dunia dan merendahkan diri sehingga yang menjadi budak semangat dalam mengumpulkan harta, hanya sibuk menjaganya. Orang seperti inilah yang dianggap sebagai pelayan dan budak harta. Ia tenggelam dalam syahwat dunia dan mencarinya. Penyebutan dinar, dirham, dan qathifah (pakaian) hanyalah sekadar contoh. Ada juga yang gila kekuasaan, gila foto, cinta pada rumah, dan hal dunia lainnya.  Intinya, segala hal dunia yang menjauhkan dari perintah Allah, maka dianggap sebagai budak dari dunia tersebut. Tandanya adalah kalau dunia didapat, ia rida. Sedangkan, kalau dunia tidak didapat, ia murka. Ia tidak rida pada takdir Allah. Sekadar memiliki dan mengumpulkan dunia tidaklah tercela. Yang tercela adalah memiliki dan mengumpulkan lebih dari kadar hajat lalu menjauhkan seseorang dari Allah, menjauhkan dari beramal saleh. Kalau harta tetap mengantarkan kepada amal saleh, tentu hal itu tidak tercela. Makna “Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida” ada dua makna. Makna pertama, berkaitan dengan takdir yang Allah tetapkan. Jika ia ditakdirkan rezeki, ia rida. Jika tidak ditakdirkan, ia murka. Makna kedua, ia rida jika diberi harta syari yang berhak ia peroleh. Jika tidak diberi harta syari yang berhak ia  dapat, ia murka. Kedua makna ini sama-sama menunjukkan bahwa ia rida dan murka tergantung pada harta. Hadits ini menunjukkan celaan bagi yang terlalu bergantung pada dunia. Dunia hanyalah dijadikan tujuan utama. Tandanya adalah hatinya lalai dari mengingat dan beribadah kepada Allah. Ada harta yang manusia butuhkan dan ada harta yang manusia tidak butuhkan. Jangan sampai hati bergantung pada dunia yang tidak menjadi kebutuhan hidupnya sehingga akhirnya memiliki ketergantungan hati kepada selain Allah, bertawakal kepada selain Allah.     Baca juga: Jangan Terjangkiti Penyakit Tanda Cinta Dunia Hamba Allah dan Budak Dunia (Perkataan Ibnu Taimiyah) Khutbah Jumat, Tanda Cinta Dunia   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 10:149-151. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayaan. 5:78-79.   —   Rabu pagi, 12 Syawal 1444 H (3 Mei 2023) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbudak dunia budak harta bulughul maram adab bulughul maram akhlak cinta dunia cinta harta hamba Allah syubhat wara zuhud

Mengenal Hak Orang Tua

Tidak dipungkiri keutamaan orang tua atas anak. Orang tua merupakan sebab hadirnya anak di dunia. Bagi keduanya terdapat hak yang sangat besar. Orang tua telah mengasuhnya sejak kecil dan penuh letih demi istirahat sang anak. Terjaga di malam hari demi tidurnya. Ibu mengandungmu di perutnya dan menghidupi dengan memberi makan yang bergizi dan sehat selama 9 bulan, seperti yang diisyaratkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar (berbuat baik) kepada dua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)Kemudian setelah melahirkan, ibu mengasuh dan menyusui selama 2 tahun dengan penuh keletihan, kepayahan, dan kesulitan. Begitu pula ayah, bekerja untuk menghidupimu, agar menguatkanmu sejak Anda kecil hingga Anda mampu berdiri sendiri. Berusaha dalam mendidikmu dan menasihatimu. Anda tidak menguasai atas dirimu kemudharatan maupun kebermanfaatan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala perintahkan anak agar berbuat baik (berbakti) dan bersyukur kepada keduanya, “bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)Allah Ta’ala berfirman,[the_ad_placement id="tengah-artikel"] وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 23-24)Hak orang tua atasmu adalah berbuat baik dengan berbakti kepada keduanya, dengan perkataan dan perbuatan, dengan harta dan raga, mematuhi perintahnya selain perintah kemaksiatan kepada Allah Ta’ala dan perintah yang bukan akan mencelakakanmu. Berkata lemah lembut kepadanya, berwajah berseri di hadapannya, melayani mereka, jangan bosan merawatnya ketika mereka sudah tua, sakit, dan lemah. Tidak merasa keberatan atas semua itu karena Anda akan tua seperti mereka suatu saat nanti.Anda akan menjadi ayah seperti keduanya. Anda juga akan tua hidup bersama anak-anakmu jika Anda ditakdirkan hidup menua bersama mereka. Anda akan membutuhkan bakti anak-anakmu sebagaimana kedua orang tuamu kini membutuhkan baktimu.Jika Anda mampu mewujudkan baktimu kepada orang tua, maka bergembiralah dengan balasan pahala yang berlimpah, dan balasan yang setimpal. Maka, barangsiapa yang berbakti kepada orang tua, maka anak-anaknya pun nanti akan berbakti kepadanya. Barangsiapa yang durhaka kepada ayahnya, begitu pula anak-anaknya nanti akan durhaka padanya. Balasan akan sesuai dengan amal yang dilakukan, sebagaimana Anda memperlakukan, demikian Anda akan diperlakukan. Allah Ta’ala telah menjadikan kedudukan orang tua adalah kedudukan yang besar dan tinggi dalam agama di mana Allah Ta’ala jadikan haknya adalah hak yang harus dipenuhi setelah hak Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam,وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)Nabi shallallahu ‘alahi wasallam mendahulukan berbakti kepada kedua orang tua di atas jihad fii sabilillah, seperti dalam hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, amal apa yang paling dicintai Allah?’ Beliau shallallahu ‘alahi wasallam berkata, ‘Shalat pada waktunya.’ Aku berkata, ‘Lalu, amal apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alahi wasallam berkata, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku berkata, ‘Lalu, amal apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alahi wasallam berkata, ‘Jihad fii sabilillah.'” (HR. Bukhori No. 527dan Muslim No. 85)Hal ini menunjukkan pentingnya hak kedua orang tua yang banyak dilalaikan manusia. Justru banyak yang durhaka dan memutus hubungan. Anda bisa melihat seorang anak yang tidak memperhatikan hak ibu dan ayahnya. Betapa banyak pula yang meremehkan dan merendahkan orang tuanya, maka mereka akan mendapatkan balasan yang semisal cepat atau lambat.Demikian. Semoga bermanfaat.Baca juga: Menghadapi Orang Tua Yang Bermaksiat***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquuq Da’at ilaihaa Al-Fithratu wa Qarartuha Asy-Syari’ah karya Syekh Sholeh bin Utsaimin rahimahullah.Tags: berbakti kepada orang tuahak orang tuakewajiban anak

Mengenal Hak Orang Tua

Tidak dipungkiri keutamaan orang tua atas anak. Orang tua merupakan sebab hadirnya anak di dunia. Bagi keduanya terdapat hak yang sangat besar. Orang tua telah mengasuhnya sejak kecil dan penuh letih demi istirahat sang anak. Terjaga di malam hari demi tidurnya. Ibu mengandungmu di perutnya dan menghidupi dengan memberi makan yang bergizi dan sehat selama 9 bulan, seperti yang diisyaratkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar (berbuat baik) kepada dua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)Kemudian setelah melahirkan, ibu mengasuh dan menyusui selama 2 tahun dengan penuh keletihan, kepayahan, dan kesulitan. Begitu pula ayah, bekerja untuk menghidupimu, agar menguatkanmu sejak Anda kecil hingga Anda mampu berdiri sendiri. Berusaha dalam mendidikmu dan menasihatimu. Anda tidak menguasai atas dirimu kemudharatan maupun kebermanfaatan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala perintahkan anak agar berbuat baik (berbakti) dan bersyukur kepada keduanya, “bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)Allah Ta’ala berfirman,[the_ad_placement id="tengah-artikel"] وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 23-24)Hak orang tua atasmu adalah berbuat baik dengan berbakti kepada keduanya, dengan perkataan dan perbuatan, dengan harta dan raga, mematuhi perintahnya selain perintah kemaksiatan kepada Allah Ta’ala dan perintah yang bukan akan mencelakakanmu. Berkata lemah lembut kepadanya, berwajah berseri di hadapannya, melayani mereka, jangan bosan merawatnya ketika mereka sudah tua, sakit, dan lemah. Tidak merasa keberatan atas semua itu karena Anda akan tua seperti mereka suatu saat nanti.Anda akan menjadi ayah seperti keduanya. Anda juga akan tua hidup bersama anak-anakmu jika Anda ditakdirkan hidup menua bersama mereka. Anda akan membutuhkan bakti anak-anakmu sebagaimana kedua orang tuamu kini membutuhkan baktimu.Jika Anda mampu mewujudkan baktimu kepada orang tua, maka bergembiralah dengan balasan pahala yang berlimpah, dan balasan yang setimpal. Maka, barangsiapa yang berbakti kepada orang tua, maka anak-anaknya pun nanti akan berbakti kepadanya. Barangsiapa yang durhaka kepada ayahnya, begitu pula anak-anaknya nanti akan durhaka padanya. Balasan akan sesuai dengan amal yang dilakukan, sebagaimana Anda memperlakukan, demikian Anda akan diperlakukan. Allah Ta’ala telah menjadikan kedudukan orang tua adalah kedudukan yang besar dan tinggi dalam agama di mana Allah Ta’ala jadikan haknya adalah hak yang harus dipenuhi setelah hak Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam,وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)Nabi shallallahu ‘alahi wasallam mendahulukan berbakti kepada kedua orang tua di atas jihad fii sabilillah, seperti dalam hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, amal apa yang paling dicintai Allah?’ Beliau shallallahu ‘alahi wasallam berkata, ‘Shalat pada waktunya.’ Aku berkata, ‘Lalu, amal apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alahi wasallam berkata, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku berkata, ‘Lalu, amal apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alahi wasallam berkata, ‘Jihad fii sabilillah.'” (HR. Bukhori No. 527dan Muslim No. 85)Hal ini menunjukkan pentingnya hak kedua orang tua yang banyak dilalaikan manusia. Justru banyak yang durhaka dan memutus hubungan. Anda bisa melihat seorang anak yang tidak memperhatikan hak ibu dan ayahnya. Betapa banyak pula yang meremehkan dan merendahkan orang tuanya, maka mereka akan mendapatkan balasan yang semisal cepat atau lambat.Demikian. Semoga bermanfaat.Baca juga: Menghadapi Orang Tua Yang Bermaksiat***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquuq Da’at ilaihaa Al-Fithratu wa Qarartuha Asy-Syari’ah karya Syekh Sholeh bin Utsaimin rahimahullah.Tags: berbakti kepada orang tuahak orang tuakewajiban anak
Tidak dipungkiri keutamaan orang tua atas anak. Orang tua merupakan sebab hadirnya anak di dunia. Bagi keduanya terdapat hak yang sangat besar. Orang tua telah mengasuhnya sejak kecil dan penuh letih demi istirahat sang anak. Terjaga di malam hari demi tidurnya. Ibu mengandungmu di perutnya dan menghidupi dengan memberi makan yang bergizi dan sehat selama 9 bulan, seperti yang diisyaratkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar (berbuat baik) kepada dua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)Kemudian setelah melahirkan, ibu mengasuh dan menyusui selama 2 tahun dengan penuh keletihan, kepayahan, dan kesulitan. Begitu pula ayah, bekerja untuk menghidupimu, agar menguatkanmu sejak Anda kecil hingga Anda mampu berdiri sendiri. Berusaha dalam mendidikmu dan menasihatimu. Anda tidak menguasai atas dirimu kemudharatan maupun kebermanfaatan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala perintahkan anak agar berbuat baik (berbakti) dan bersyukur kepada keduanya, “bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)Allah Ta’ala berfirman,[the_ad_placement id="tengah-artikel"] وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 23-24)Hak orang tua atasmu adalah berbuat baik dengan berbakti kepada keduanya, dengan perkataan dan perbuatan, dengan harta dan raga, mematuhi perintahnya selain perintah kemaksiatan kepada Allah Ta’ala dan perintah yang bukan akan mencelakakanmu. Berkata lemah lembut kepadanya, berwajah berseri di hadapannya, melayani mereka, jangan bosan merawatnya ketika mereka sudah tua, sakit, dan lemah. Tidak merasa keberatan atas semua itu karena Anda akan tua seperti mereka suatu saat nanti.Anda akan menjadi ayah seperti keduanya. Anda juga akan tua hidup bersama anak-anakmu jika Anda ditakdirkan hidup menua bersama mereka. Anda akan membutuhkan bakti anak-anakmu sebagaimana kedua orang tuamu kini membutuhkan baktimu.Jika Anda mampu mewujudkan baktimu kepada orang tua, maka bergembiralah dengan balasan pahala yang berlimpah, dan balasan yang setimpal. Maka, barangsiapa yang berbakti kepada orang tua, maka anak-anaknya pun nanti akan berbakti kepadanya. Barangsiapa yang durhaka kepada ayahnya, begitu pula anak-anaknya nanti akan durhaka padanya. Balasan akan sesuai dengan amal yang dilakukan, sebagaimana Anda memperlakukan, demikian Anda akan diperlakukan. Allah Ta’ala telah menjadikan kedudukan orang tua adalah kedudukan yang besar dan tinggi dalam agama di mana Allah Ta’ala jadikan haknya adalah hak yang harus dipenuhi setelah hak Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam,وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)Nabi shallallahu ‘alahi wasallam mendahulukan berbakti kepada kedua orang tua di atas jihad fii sabilillah, seperti dalam hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, amal apa yang paling dicintai Allah?’ Beliau shallallahu ‘alahi wasallam berkata, ‘Shalat pada waktunya.’ Aku berkata, ‘Lalu, amal apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alahi wasallam berkata, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku berkata, ‘Lalu, amal apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alahi wasallam berkata, ‘Jihad fii sabilillah.'” (HR. Bukhori No. 527dan Muslim No. 85)Hal ini menunjukkan pentingnya hak kedua orang tua yang banyak dilalaikan manusia. Justru banyak yang durhaka dan memutus hubungan. Anda bisa melihat seorang anak yang tidak memperhatikan hak ibu dan ayahnya. Betapa banyak pula yang meremehkan dan merendahkan orang tuanya, maka mereka akan mendapatkan balasan yang semisal cepat atau lambat.Demikian. Semoga bermanfaat.Baca juga: Menghadapi Orang Tua Yang Bermaksiat***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquuq Da’at ilaihaa Al-Fithratu wa Qarartuha Asy-Syari’ah karya Syekh Sholeh bin Utsaimin rahimahullah.Tags: berbakti kepada orang tuahak orang tuakewajiban anak


Tidak dipungkiri keutamaan orang tua atas anak. Orang tua merupakan sebab hadirnya anak di dunia. Bagi keduanya terdapat hak yang sangat besar. Orang tua telah mengasuhnya sejak kecil dan penuh letih demi istirahat sang anak. Terjaga di malam hari demi tidurnya. Ibu mengandungmu di perutnya dan menghidupi dengan memberi makan yang bergizi dan sehat selama 9 bulan, seperti yang diisyaratkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar (berbuat baik) kepada dua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)Kemudian setelah melahirkan, ibu mengasuh dan menyusui selama 2 tahun dengan penuh keletihan, kepayahan, dan kesulitan. Begitu pula ayah, bekerja untuk menghidupimu, agar menguatkanmu sejak Anda kecil hingga Anda mampu berdiri sendiri. Berusaha dalam mendidikmu dan menasihatimu. Anda tidak menguasai atas dirimu kemudharatan maupun kebermanfaatan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala perintahkan anak agar berbuat baik (berbakti) dan bersyukur kepada keduanya, “bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)Allah Ta’ala berfirman,[the_ad_placement id="tengah-artikel"] وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 23-24)Hak orang tua atasmu adalah berbuat baik dengan berbakti kepada keduanya, dengan perkataan dan perbuatan, dengan harta dan raga, mematuhi perintahnya selain perintah kemaksiatan kepada Allah Ta’ala dan perintah yang bukan akan mencelakakanmu. Berkata lemah lembut kepadanya, berwajah berseri di hadapannya, melayani mereka, jangan bosan merawatnya ketika mereka sudah tua, sakit, dan lemah. Tidak merasa keberatan atas semua itu karena Anda akan tua seperti mereka suatu saat nanti.Anda akan menjadi ayah seperti keduanya. Anda juga akan tua hidup bersama anak-anakmu jika Anda ditakdirkan hidup menua bersama mereka. Anda akan membutuhkan bakti anak-anakmu sebagaimana kedua orang tuamu kini membutuhkan baktimu.Jika Anda mampu mewujudkan baktimu kepada orang tua, maka bergembiralah dengan balasan pahala yang berlimpah, dan balasan yang setimpal. Maka, barangsiapa yang berbakti kepada orang tua, maka anak-anaknya pun nanti akan berbakti kepadanya. Barangsiapa yang durhaka kepada ayahnya, begitu pula anak-anaknya nanti akan durhaka padanya. Balasan akan sesuai dengan amal yang dilakukan, sebagaimana Anda memperlakukan, demikian Anda akan diperlakukan. Allah Ta’ala telah menjadikan kedudukan orang tua adalah kedudukan yang besar dan tinggi dalam agama di mana Allah Ta’ala jadikan haknya adalah hak yang harus dipenuhi setelah hak Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam,وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)Nabi shallallahu ‘alahi wasallam mendahulukan berbakti kepada kedua orang tua di atas jihad fii sabilillah, seperti dalam hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, amal apa yang paling dicintai Allah?’ Beliau shallallahu ‘alahi wasallam berkata, ‘Shalat pada waktunya.’ Aku berkata, ‘Lalu, amal apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alahi wasallam berkata, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku berkata, ‘Lalu, amal apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alahi wasallam berkata, ‘Jihad fii sabilillah.'” (HR. Bukhori No. 527dan Muslim No. 85)Hal ini menunjukkan pentingnya hak kedua orang tua yang banyak dilalaikan manusia. Justru banyak yang durhaka dan memutus hubungan. Anda bisa melihat seorang anak yang tidak memperhatikan hak ibu dan ayahnya. Betapa banyak pula yang meremehkan dan merendahkan orang tuanya, maka mereka akan mendapatkan balasan yang semisal cepat atau lambat.Demikian. Semoga bermanfaat.Baca juga: Menghadapi Orang Tua Yang Bermaksiat***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquuq Da’at ilaihaa Al-Fithratu wa Qarartuha Asy-Syari’ah karya Syekh Sholeh bin Utsaimin rahimahullah.Tags: berbakti kepada orang tuahak orang tuakewajiban anak

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 4)

Daftar Isi Tiga tujuan penciptaan menjadi satuBuah menunaikan tujuan hidupTegar di atas jalan kebahagiaanTiga tujuan penciptaan menjadi satuJika Anda pikirkan lagi lebih dalam, ternyata tiga tujuan penciptaan ini pada dasarnya adalah satu paket atau satu kesatuan. Bagaimana mungkin? Iya, tentunya karena ia berasal dari sumber yang sama, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.Seperti yang sudah Anda baca sebelumnya, bahwa pengetahuan hamba terhadap Rabb-Nya berbanding lurus dengan mahabbah, raja’, khauf, tawakal, dan berbagai amalan hati seorang hamba. Semakin buta seorang hamba kepada Penciptanya, maka semakin lalai dan durhaka ia kepada-Nya. Sebaliknya, semakin besar pengetahuan seorang hamba kepada Rabb-Nya, maka semakin ia taat dan tunduk kepada-Nya. Pengetahuan dan ilmu tentang Rabb-Nya ini pun akan membuahkan amal, yakni ia akan beribadah kepada Rabb-Nya dengan sebaik-baiknya ibadah, melalui amalan lisan, dan anggota badan. Dan jika ia mencapai tingkatan ilmu dan amal tertinggi, maka ia akan beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya. [1]Maka, perhatikanlah hubungan keduanya, makrifatullah dan ibadah, dengan ujian! Bahwasanya ujian itu turun dari atas langit, dari Allah ‘Azza wa Jalla, kepada hamba yang ada di bawah, untuk membedakan dan memisahkan antara hamba yang beriman dan hamba yang kufur. Ujian yang empat macam tersebut kemudian menghampiri hamba. Barangsiapa yang menyambut ujian tersebut dan menegakkannya, atas dasar ilmu dan imannya kepada Rabb-nya, maka ia menjadi ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, ibadah ini berasal dari hamba Allah yang ada di bawah dan ditujukan kepada Rabb-Nya semata yang ada di atas. Adapun mereka yang mengabaikan keempat ujian tersebut, maka baginya dosa dan penderitaan. Karena ia sejatinya ia telah lalai memelihara benih kehidupannya, yang mana buahnya adalah kebahagiaan sejati.Buah menunaikan tujuan hidupSetelah Anda memahami tujuan penciptaan, kehidupan, dan kematian, tiba saatnya Anda mengenal buah yang Anda akan petik tatkala Anda mewujudkan tujuan hidup yang Allah tetapkan bagi seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami limpahkan kepadanya kehidupan yang baik.” [2]Demikianlah, imbalan dan buah yang hanya bisa dinikmati oleh manusia-manusia pilihan, yaitu  manusia yang menegakkan amal saleh yang dilandasi keimanan kepada Allah Ta’ala. Adalah Allah yang akan memberikan jaminan kepada mereka berupa kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Dan, sebaliknya kebahagiaan hakiki ini tidak mungkin diberikan kepada mereka yang kufur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Alangkah indahnya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menerangkan keadaan orang-orang mukmin yang menjadikan setiap ujian baik perintah dan larangan, maupun nikmat dan musibah sebagai ladang amal saleh, di mana buahnya adalah kebaikan dan kebahagiaan hidup baginya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu mengandung kebaikan. Dan hal ini tidaklah ditemukan, kecuali pada diri seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Sehingga hal itu baik baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan keburukan, maka ia bersabar. Dan hal itu pun baik baginya.” [3]Demikianlah, kesudahan bagi mereka yang menegakkan tujuan penciptaan mereka. Namun, yang menjadi masalah, seringkali kita salah memahami makna kebahagiaan hidup itu sendiri. Sebagian manusia memahami bahwa kebahagiaan hidup di dunia itu haruslah berupa kehidupan yang terus-menerus tenang, lancar, tanpa hambatan, dan tanpa bala musibah yang menghimpit dada dan mendatangkan kesedihan. Maka, mari kita renungkan lagi hal ini pada bab penutup berikut.Baca juga: Untuk Apa Kamu Hidup?Tegar di atas jalan kebahagiaanSebelumnya, telah sampai kepada kita janji Allah bahwa buah amal saleh bagi seorang hamba adalah kebahagiaan hidup. Namun, perlu Anda pahami bahwa kebahagiaan hidup yang hakiki adalah ketika seseorang telah mencapai tempat yang penuh dengan kenikmatan abadi, yang tidak diselingi kesedihan sama sekali, yakni surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selama Anda hidup di dunia, selama Anda masih bernyawa, maka Anda dan seluruh manusia pasti akan menemui ujian-ujian dalam setiap etape kehidupan Anda. Bahkan, di alam kubur dan padang masyhar sekali pun manusia itu masih akan merasakan penat dan kelelahan-kelelahan.Akan tetapi, yang membedakan orang orang mukmin dan orang kafir adalah, ketika menghadapi ujian-ujian tersebut, Allah akan membersamai orang-orang mukmin, sehingga ujian itu menjadi ringan baginya. Zat Yang Mahabesar dan Mahakuasa atas segala sesuatu berada di sisinya, sehingga ujian sebesar apapun akan terasa kecil bagi seorang mukmin. Sebaliknya, Allah akan membiarkan dan meninggalkan orang-orang kafir bersendirian ketika mereka menghadapi ujian-ujian yang ada. Sehingga ujian kecil pun akan menjadi besar dan berat bagi mereka.Tentu Anda sudah mendengar bahwa di surga, selain kenikmatan-kenikmatan yang ada, juga ada tambahan padanya [4], yakni para penduduk surga akan melihat wajah Allah Ta’ala di hari kiamat kelak [5]. Dan ini adalah puncak kenikmatan dan kebahagiaan bagi seorang hamba, yang tidak ada taranya dan tidak ada bandingannya. Maka, seorang hamba yang beriman akan menjadikan pertemuan dengan Rabbnya sebagai momen yang paling ia nantikan. Sebagaimana seorang pencinta merindukan pertemuan dengan orang yang ia kasihi. Maka, seorang hamba yang beriman memiliki kesadaran penuh akan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan padanya. Dia adalah Zat yang paling menginginkan kebaikan dan kebahagiaan baginya. Zat yang berlari padanya, ketika ia datang dengan ketaatan, tobat, dan tangis penyesalan atas dosa-dosa yang telah menghitamkan hati. Zat yang telah menunjukinya jalan kebenaran serta memberinya taufik dan hidayah agar bisa tegar di atas jalan itu hingga datangnya haqqul yaqin. Demikianlah, dua buah kenikmatan yang tidak pernah terbetik di hati, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak mampu diimajinasikan oleh akal manusia, yakni surga dan wajah Allah ‘Azza wa Jalla.Maka, mari kita sederhanakan kisah ini. Bermula dengan pengenalan seorang hamba terhadap Allah. Disusul dengan sambutan sang hamba terhadap ujian-ujian kehidupan sembari merealisasikannya menjadi ibadah. Dan kisahnya berujung bahagia dengan perjumpaan sang hamba dengan Rabb-Nya. Lillahi – billahi – ilallahi. Karena Allah (ikhlas) – bersama Allah (ittiba’), dan menuju (bertemu) Allah. Maka, benarlah kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Semakin Anda mengenal Allah, maka semakin Anda ingin dekat dengan-Nya, dan semakin Anda ingin bertemu dengan-Nya. Demikianlah permisalannya. Hanya hamba yang benar-benar mengenal Rabbnyalah yang kemudian bisa mengenali-Nya. Dan hanya hamba yang benar-benar mengenali Rabbnyalah yang dapat menemui-Nya, tanpa hijab dan tanpa perantara, di surga yang penuh dengan kenikmatan nan abadi.Maka, jika surga dan wajah Allah adalah ganjarannya, maka tentu ujiannya tidak semudah yang dibayangkan. Dalam hukum kebiasaan manusia berbunyi, ‘Semakin besar keuntungan yang akan diraih, maka semakin besar usaha yang harus dikeluarkan.’ Oleh karena itu, ketika Allah Ta’ala menciptakan surga, Dia liputi surga itu dengan hal-hal yang dibenci oleh jiwa manusia. Sebaliknya, ketika Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia liputi neraka itu dengan hal-hal yang disenangi oleh jiwa manusia [6]. Maka, bersama dengan ujian yang Allah turunkan kepada hamba tersebut, Allah bekali manusia dengan hati yang di dalamnya terjadi pertempuran antara keimanan dan hawa nafsu, antara bisikan malaikat dan rayuan setan, serta antara ajakan kepada kebaikan dan keburukan.Demikianlah, ujian dan kesulitan yang harus saya dan Anda hadapi untuk meraih surga Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, ingatlah selalu dalam setiap titik perjalanan hidup Anda, bahwa di balik beratnya ketaatan dan ibadah yang Anda lakukan, ada surga Allah yang sedang menunggu. Sebaliknya, di balik kelalaian dan memperturutkan hawa nafsu, ada neraka Allah yang sedang menanti, waliyyadzu billah. Maka, nasihat untuk saya dan Anda, “Tegarlah di atas jalan kebahagiaan dan hadapilah segala ujian dengan hati yang lapang, hingga datangnya hari yang ditentukan.”[Selesai]Kembali ke bagian 3 Mulai dari bagian 1 ***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.[1] HR. Muslim. Ketika menjelaskan makna ihsan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak bisa melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”[2] QS. An-Nahl ayat 97.[3] HR. Muslim no. 2999.[4] QS. Yunus ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”[5] HR. Bukhari no. 554 dan Muslim no. 633. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya.”[6] HR. Tirmidzi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam bersabda, “Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam pergi ke surga sambil berfirman, ‘Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’” Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan, “Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang berita surga, kecuali ingin memasuk ke dalamnya.’ Kemudian Allah memerintahkan kepada surga sehingga ia diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa). Lalu, Allah Ta’ala memerintahkan Jibril, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!’ Maka, Jibril pun kembali ke surga dan ia melihat bahwasanya surga telah diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu sungguh aku khawatir tidak ada seorang pun yang dapat  memasukinya!’Kemudian Allah memberi perintah, ‘Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’ Maka, ketika berada di neraka terdapat api yang  menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk, Jibril pun kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu tidak ada seorang pun yang ingin masuk ke dalamnya. Kemudian Allah Ta’ala memberi perintah kepada neraka agar ia dipenuhi dengan perkara-perkara yang disukai oleh nafsu dan syahwat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalilah padanya!’ Jibril pun kembali ke neraka dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada seorang pun dari hamba-Mu yang bisa selamat dari siksanya.'”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 4)

Daftar Isi Tiga tujuan penciptaan menjadi satuBuah menunaikan tujuan hidupTegar di atas jalan kebahagiaanTiga tujuan penciptaan menjadi satuJika Anda pikirkan lagi lebih dalam, ternyata tiga tujuan penciptaan ini pada dasarnya adalah satu paket atau satu kesatuan. Bagaimana mungkin? Iya, tentunya karena ia berasal dari sumber yang sama, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.Seperti yang sudah Anda baca sebelumnya, bahwa pengetahuan hamba terhadap Rabb-Nya berbanding lurus dengan mahabbah, raja’, khauf, tawakal, dan berbagai amalan hati seorang hamba. Semakin buta seorang hamba kepada Penciptanya, maka semakin lalai dan durhaka ia kepada-Nya. Sebaliknya, semakin besar pengetahuan seorang hamba kepada Rabb-Nya, maka semakin ia taat dan tunduk kepada-Nya. Pengetahuan dan ilmu tentang Rabb-Nya ini pun akan membuahkan amal, yakni ia akan beribadah kepada Rabb-Nya dengan sebaik-baiknya ibadah, melalui amalan lisan, dan anggota badan. Dan jika ia mencapai tingkatan ilmu dan amal tertinggi, maka ia akan beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya. [1]Maka, perhatikanlah hubungan keduanya, makrifatullah dan ibadah, dengan ujian! Bahwasanya ujian itu turun dari atas langit, dari Allah ‘Azza wa Jalla, kepada hamba yang ada di bawah, untuk membedakan dan memisahkan antara hamba yang beriman dan hamba yang kufur. Ujian yang empat macam tersebut kemudian menghampiri hamba. Barangsiapa yang menyambut ujian tersebut dan menegakkannya, atas dasar ilmu dan imannya kepada Rabb-nya, maka ia menjadi ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, ibadah ini berasal dari hamba Allah yang ada di bawah dan ditujukan kepada Rabb-Nya semata yang ada di atas. Adapun mereka yang mengabaikan keempat ujian tersebut, maka baginya dosa dan penderitaan. Karena ia sejatinya ia telah lalai memelihara benih kehidupannya, yang mana buahnya adalah kebahagiaan sejati.Buah menunaikan tujuan hidupSetelah Anda memahami tujuan penciptaan, kehidupan, dan kematian, tiba saatnya Anda mengenal buah yang Anda akan petik tatkala Anda mewujudkan tujuan hidup yang Allah tetapkan bagi seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami limpahkan kepadanya kehidupan yang baik.” [2]Demikianlah, imbalan dan buah yang hanya bisa dinikmati oleh manusia-manusia pilihan, yaitu  manusia yang menegakkan amal saleh yang dilandasi keimanan kepada Allah Ta’ala. Adalah Allah yang akan memberikan jaminan kepada mereka berupa kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Dan, sebaliknya kebahagiaan hakiki ini tidak mungkin diberikan kepada mereka yang kufur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Alangkah indahnya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menerangkan keadaan orang-orang mukmin yang menjadikan setiap ujian baik perintah dan larangan, maupun nikmat dan musibah sebagai ladang amal saleh, di mana buahnya adalah kebaikan dan kebahagiaan hidup baginya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu mengandung kebaikan. Dan hal ini tidaklah ditemukan, kecuali pada diri seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Sehingga hal itu baik baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan keburukan, maka ia bersabar. Dan hal itu pun baik baginya.” [3]Demikianlah, kesudahan bagi mereka yang menegakkan tujuan penciptaan mereka. Namun, yang menjadi masalah, seringkali kita salah memahami makna kebahagiaan hidup itu sendiri. Sebagian manusia memahami bahwa kebahagiaan hidup di dunia itu haruslah berupa kehidupan yang terus-menerus tenang, lancar, tanpa hambatan, dan tanpa bala musibah yang menghimpit dada dan mendatangkan kesedihan. Maka, mari kita renungkan lagi hal ini pada bab penutup berikut.Baca juga: Untuk Apa Kamu Hidup?Tegar di atas jalan kebahagiaanSebelumnya, telah sampai kepada kita janji Allah bahwa buah amal saleh bagi seorang hamba adalah kebahagiaan hidup. Namun, perlu Anda pahami bahwa kebahagiaan hidup yang hakiki adalah ketika seseorang telah mencapai tempat yang penuh dengan kenikmatan abadi, yang tidak diselingi kesedihan sama sekali, yakni surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selama Anda hidup di dunia, selama Anda masih bernyawa, maka Anda dan seluruh manusia pasti akan menemui ujian-ujian dalam setiap etape kehidupan Anda. Bahkan, di alam kubur dan padang masyhar sekali pun manusia itu masih akan merasakan penat dan kelelahan-kelelahan.Akan tetapi, yang membedakan orang orang mukmin dan orang kafir adalah, ketika menghadapi ujian-ujian tersebut, Allah akan membersamai orang-orang mukmin, sehingga ujian itu menjadi ringan baginya. Zat Yang Mahabesar dan Mahakuasa atas segala sesuatu berada di sisinya, sehingga ujian sebesar apapun akan terasa kecil bagi seorang mukmin. Sebaliknya, Allah akan membiarkan dan meninggalkan orang-orang kafir bersendirian ketika mereka menghadapi ujian-ujian yang ada. Sehingga ujian kecil pun akan menjadi besar dan berat bagi mereka.Tentu Anda sudah mendengar bahwa di surga, selain kenikmatan-kenikmatan yang ada, juga ada tambahan padanya [4], yakni para penduduk surga akan melihat wajah Allah Ta’ala di hari kiamat kelak [5]. Dan ini adalah puncak kenikmatan dan kebahagiaan bagi seorang hamba, yang tidak ada taranya dan tidak ada bandingannya. Maka, seorang hamba yang beriman akan menjadikan pertemuan dengan Rabbnya sebagai momen yang paling ia nantikan. Sebagaimana seorang pencinta merindukan pertemuan dengan orang yang ia kasihi. Maka, seorang hamba yang beriman memiliki kesadaran penuh akan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan padanya. Dia adalah Zat yang paling menginginkan kebaikan dan kebahagiaan baginya. Zat yang berlari padanya, ketika ia datang dengan ketaatan, tobat, dan tangis penyesalan atas dosa-dosa yang telah menghitamkan hati. Zat yang telah menunjukinya jalan kebenaran serta memberinya taufik dan hidayah agar bisa tegar di atas jalan itu hingga datangnya haqqul yaqin. Demikianlah, dua buah kenikmatan yang tidak pernah terbetik di hati, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak mampu diimajinasikan oleh akal manusia, yakni surga dan wajah Allah ‘Azza wa Jalla.Maka, mari kita sederhanakan kisah ini. Bermula dengan pengenalan seorang hamba terhadap Allah. Disusul dengan sambutan sang hamba terhadap ujian-ujian kehidupan sembari merealisasikannya menjadi ibadah. Dan kisahnya berujung bahagia dengan perjumpaan sang hamba dengan Rabb-Nya. Lillahi – billahi – ilallahi. Karena Allah (ikhlas) – bersama Allah (ittiba’), dan menuju (bertemu) Allah. Maka, benarlah kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Semakin Anda mengenal Allah, maka semakin Anda ingin dekat dengan-Nya, dan semakin Anda ingin bertemu dengan-Nya. Demikianlah permisalannya. Hanya hamba yang benar-benar mengenal Rabbnyalah yang kemudian bisa mengenali-Nya. Dan hanya hamba yang benar-benar mengenali Rabbnyalah yang dapat menemui-Nya, tanpa hijab dan tanpa perantara, di surga yang penuh dengan kenikmatan nan abadi.Maka, jika surga dan wajah Allah adalah ganjarannya, maka tentu ujiannya tidak semudah yang dibayangkan. Dalam hukum kebiasaan manusia berbunyi, ‘Semakin besar keuntungan yang akan diraih, maka semakin besar usaha yang harus dikeluarkan.’ Oleh karena itu, ketika Allah Ta’ala menciptakan surga, Dia liputi surga itu dengan hal-hal yang dibenci oleh jiwa manusia. Sebaliknya, ketika Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia liputi neraka itu dengan hal-hal yang disenangi oleh jiwa manusia [6]. Maka, bersama dengan ujian yang Allah turunkan kepada hamba tersebut, Allah bekali manusia dengan hati yang di dalamnya terjadi pertempuran antara keimanan dan hawa nafsu, antara bisikan malaikat dan rayuan setan, serta antara ajakan kepada kebaikan dan keburukan.Demikianlah, ujian dan kesulitan yang harus saya dan Anda hadapi untuk meraih surga Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, ingatlah selalu dalam setiap titik perjalanan hidup Anda, bahwa di balik beratnya ketaatan dan ibadah yang Anda lakukan, ada surga Allah yang sedang menunggu. Sebaliknya, di balik kelalaian dan memperturutkan hawa nafsu, ada neraka Allah yang sedang menanti, waliyyadzu billah. Maka, nasihat untuk saya dan Anda, “Tegarlah di atas jalan kebahagiaan dan hadapilah segala ujian dengan hati yang lapang, hingga datangnya hari yang ditentukan.”[Selesai]Kembali ke bagian 3 Mulai dari bagian 1 ***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.[1] HR. Muslim. Ketika menjelaskan makna ihsan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak bisa melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”[2] QS. An-Nahl ayat 97.[3] HR. Muslim no. 2999.[4] QS. Yunus ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”[5] HR. Bukhari no. 554 dan Muslim no. 633. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya.”[6] HR. Tirmidzi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam bersabda, “Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam pergi ke surga sambil berfirman, ‘Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’” Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan, “Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang berita surga, kecuali ingin memasuk ke dalamnya.’ Kemudian Allah memerintahkan kepada surga sehingga ia diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa). Lalu, Allah Ta’ala memerintahkan Jibril, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!’ Maka, Jibril pun kembali ke surga dan ia melihat bahwasanya surga telah diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu sungguh aku khawatir tidak ada seorang pun yang dapat  memasukinya!’Kemudian Allah memberi perintah, ‘Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’ Maka, ketika berada di neraka terdapat api yang  menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk, Jibril pun kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu tidak ada seorang pun yang ingin masuk ke dalamnya. Kemudian Allah Ta’ala memberi perintah kepada neraka agar ia dipenuhi dengan perkara-perkara yang disukai oleh nafsu dan syahwat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalilah padanya!’ Jibril pun kembali ke neraka dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada seorang pun dari hamba-Mu yang bisa selamat dari siksanya.'”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah
Daftar Isi Tiga tujuan penciptaan menjadi satuBuah menunaikan tujuan hidupTegar di atas jalan kebahagiaanTiga tujuan penciptaan menjadi satuJika Anda pikirkan lagi lebih dalam, ternyata tiga tujuan penciptaan ini pada dasarnya adalah satu paket atau satu kesatuan. Bagaimana mungkin? Iya, tentunya karena ia berasal dari sumber yang sama, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.Seperti yang sudah Anda baca sebelumnya, bahwa pengetahuan hamba terhadap Rabb-Nya berbanding lurus dengan mahabbah, raja’, khauf, tawakal, dan berbagai amalan hati seorang hamba. Semakin buta seorang hamba kepada Penciptanya, maka semakin lalai dan durhaka ia kepada-Nya. Sebaliknya, semakin besar pengetahuan seorang hamba kepada Rabb-Nya, maka semakin ia taat dan tunduk kepada-Nya. Pengetahuan dan ilmu tentang Rabb-Nya ini pun akan membuahkan amal, yakni ia akan beribadah kepada Rabb-Nya dengan sebaik-baiknya ibadah, melalui amalan lisan, dan anggota badan. Dan jika ia mencapai tingkatan ilmu dan amal tertinggi, maka ia akan beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya. [1]Maka, perhatikanlah hubungan keduanya, makrifatullah dan ibadah, dengan ujian! Bahwasanya ujian itu turun dari atas langit, dari Allah ‘Azza wa Jalla, kepada hamba yang ada di bawah, untuk membedakan dan memisahkan antara hamba yang beriman dan hamba yang kufur. Ujian yang empat macam tersebut kemudian menghampiri hamba. Barangsiapa yang menyambut ujian tersebut dan menegakkannya, atas dasar ilmu dan imannya kepada Rabb-nya, maka ia menjadi ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, ibadah ini berasal dari hamba Allah yang ada di bawah dan ditujukan kepada Rabb-Nya semata yang ada di atas. Adapun mereka yang mengabaikan keempat ujian tersebut, maka baginya dosa dan penderitaan. Karena ia sejatinya ia telah lalai memelihara benih kehidupannya, yang mana buahnya adalah kebahagiaan sejati.Buah menunaikan tujuan hidupSetelah Anda memahami tujuan penciptaan, kehidupan, dan kematian, tiba saatnya Anda mengenal buah yang Anda akan petik tatkala Anda mewujudkan tujuan hidup yang Allah tetapkan bagi seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami limpahkan kepadanya kehidupan yang baik.” [2]Demikianlah, imbalan dan buah yang hanya bisa dinikmati oleh manusia-manusia pilihan, yaitu  manusia yang menegakkan amal saleh yang dilandasi keimanan kepada Allah Ta’ala. Adalah Allah yang akan memberikan jaminan kepada mereka berupa kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Dan, sebaliknya kebahagiaan hakiki ini tidak mungkin diberikan kepada mereka yang kufur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Alangkah indahnya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menerangkan keadaan orang-orang mukmin yang menjadikan setiap ujian baik perintah dan larangan, maupun nikmat dan musibah sebagai ladang amal saleh, di mana buahnya adalah kebaikan dan kebahagiaan hidup baginya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu mengandung kebaikan. Dan hal ini tidaklah ditemukan, kecuali pada diri seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Sehingga hal itu baik baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan keburukan, maka ia bersabar. Dan hal itu pun baik baginya.” [3]Demikianlah, kesudahan bagi mereka yang menegakkan tujuan penciptaan mereka. Namun, yang menjadi masalah, seringkali kita salah memahami makna kebahagiaan hidup itu sendiri. Sebagian manusia memahami bahwa kebahagiaan hidup di dunia itu haruslah berupa kehidupan yang terus-menerus tenang, lancar, tanpa hambatan, dan tanpa bala musibah yang menghimpit dada dan mendatangkan kesedihan. Maka, mari kita renungkan lagi hal ini pada bab penutup berikut.Baca juga: Untuk Apa Kamu Hidup?Tegar di atas jalan kebahagiaanSebelumnya, telah sampai kepada kita janji Allah bahwa buah amal saleh bagi seorang hamba adalah kebahagiaan hidup. Namun, perlu Anda pahami bahwa kebahagiaan hidup yang hakiki adalah ketika seseorang telah mencapai tempat yang penuh dengan kenikmatan abadi, yang tidak diselingi kesedihan sama sekali, yakni surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selama Anda hidup di dunia, selama Anda masih bernyawa, maka Anda dan seluruh manusia pasti akan menemui ujian-ujian dalam setiap etape kehidupan Anda. Bahkan, di alam kubur dan padang masyhar sekali pun manusia itu masih akan merasakan penat dan kelelahan-kelelahan.Akan tetapi, yang membedakan orang orang mukmin dan orang kafir adalah, ketika menghadapi ujian-ujian tersebut, Allah akan membersamai orang-orang mukmin, sehingga ujian itu menjadi ringan baginya. Zat Yang Mahabesar dan Mahakuasa atas segala sesuatu berada di sisinya, sehingga ujian sebesar apapun akan terasa kecil bagi seorang mukmin. Sebaliknya, Allah akan membiarkan dan meninggalkan orang-orang kafir bersendirian ketika mereka menghadapi ujian-ujian yang ada. Sehingga ujian kecil pun akan menjadi besar dan berat bagi mereka.Tentu Anda sudah mendengar bahwa di surga, selain kenikmatan-kenikmatan yang ada, juga ada tambahan padanya [4], yakni para penduduk surga akan melihat wajah Allah Ta’ala di hari kiamat kelak [5]. Dan ini adalah puncak kenikmatan dan kebahagiaan bagi seorang hamba, yang tidak ada taranya dan tidak ada bandingannya. Maka, seorang hamba yang beriman akan menjadikan pertemuan dengan Rabbnya sebagai momen yang paling ia nantikan. Sebagaimana seorang pencinta merindukan pertemuan dengan orang yang ia kasihi. Maka, seorang hamba yang beriman memiliki kesadaran penuh akan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan padanya. Dia adalah Zat yang paling menginginkan kebaikan dan kebahagiaan baginya. Zat yang berlari padanya, ketika ia datang dengan ketaatan, tobat, dan tangis penyesalan atas dosa-dosa yang telah menghitamkan hati. Zat yang telah menunjukinya jalan kebenaran serta memberinya taufik dan hidayah agar bisa tegar di atas jalan itu hingga datangnya haqqul yaqin. Demikianlah, dua buah kenikmatan yang tidak pernah terbetik di hati, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak mampu diimajinasikan oleh akal manusia, yakni surga dan wajah Allah ‘Azza wa Jalla.Maka, mari kita sederhanakan kisah ini. Bermula dengan pengenalan seorang hamba terhadap Allah. Disusul dengan sambutan sang hamba terhadap ujian-ujian kehidupan sembari merealisasikannya menjadi ibadah. Dan kisahnya berujung bahagia dengan perjumpaan sang hamba dengan Rabb-Nya. Lillahi – billahi – ilallahi. Karena Allah (ikhlas) – bersama Allah (ittiba’), dan menuju (bertemu) Allah. Maka, benarlah kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Semakin Anda mengenal Allah, maka semakin Anda ingin dekat dengan-Nya, dan semakin Anda ingin bertemu dengan-Nya. Demikianlah permisalannya. Hanya hamba yang benar-benar mengenal Rabbnyalah yang kemudian bisa mengenali-Nya. Dan hanya hamba yang benar-benar mengenali Rabbnyalah yang dapat menemui-Nya, tanpa hijab dan tanpa perantara, di surga yang penuh dengan kenikmatan nan abadi.Maka, jika surga dan wajah Allah adalah ganjarannya, maka tentu ujiannya tidak semudah yang dibayangkan. Dalam hukum kebiasaan manusia berbunyi, ‘Semakin besar keuntungan yang akan diraih, maka semakin besar usaha yang harus dikeluarkan.’ Oleh karena itu, ketika Allah Ta’ala menciptakan surga, Dia liputi surga itu dengan hal-hal yang dibenci oleh jiwa manusia. Sebaliknya, ketika Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia liputi neraka itu dengan hal-hal yang disenangi oleh jiwa manusia [6]. Maka, bersama dengan ujian yang Allah turunkan kepada hamba tersebut, Allah bekali manusia dengan hati yang di dalamnya terjadi pertempuran antara keimanan dan hawa nafsu, antara bisikan malaikat dan rayuan setan, serta antara ajakan kepada kebaikan dan keburukan.Demikianlah, ujian dan kesulitan yang harus saya dan Anda hadapi untuk meraih surga Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, ingatlah selalu dalam setiap titik perjalanan hidup Anda, bahwa di balik beratnya ketaatan dan ibadah yang Anda lakukan, ada surga Allah yang sedang menunggu. Sebaliknya, di balik kelalaian dan memperturutkan hawa nafsu, ada neraka Allah yang sedang menanti, waliyyadzu billah. Maka, nasihat untuk saya dan Anda, “Tegarlah di atas jalan kebahagiaan dan hadapilah segala ujian dengan hati yang lapang, hingga datangnya hari yang ditentukan.”[Selesai]Kembali ke bagian 3 Mulai dari bagian 1 ***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.[1] HR. Muslim. Ketika menjelaskan makna ihsan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak bisa melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”[2] QS. An-Nahl ayat 97.[3] HR. Muslim no. 2999.[4] QS. Yunus ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”[5] HR. Bukhari no. 554 dan Muslim no. 633. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya.”[6] HR. Tirmidzi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam bersabda, “Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam pergi ke surga sambil berfirman, ‘Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’” Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan, “Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang berita surga, kecuali ingin memasuk ke dalamnya.’ Kemudian Allah memerintahkan kepada surga sehingga ia diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa). Lalu, Allah Ta’ala memerintahkan Jibril, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!’ Maka, Jibril pun kembali ke surga dan ia melihat bahwasanya surga telah diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu sungguh aku khawatir tidak ada seorang pun yang dapat  memasukinya!’Kemudian Allah memberi perintah, ‘Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’ Maka, ketika berada di neraka terdapat api yang  menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk, Jibril pun kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu tidak ada seorang pun yang ingin masuk ke dalamnya. Kemudian Allah Ta’ala memberi perintah kepada neraka agar ia dipenuhi dengan perkara-perkara yang disukai oleh nafsu dan syahwat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalilah padanya!’ Jibril pun kembali ke neraka dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada seorang pun dari hamba-Mu yang bisa selamat dari siksanya.'”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah


Daftar Isi Tiga tujuan penciptaan menjadi satuBuah menunaikan tujuan hidupTegar di atas jalan kebahagiaanTiga tujuan penciptaan menjadi satuJika Anda pikirkan lagi lebih dalam, ternyata tiga tujuan penciptaan ini pada dasarnya adalah satu paket atau satu kesatuan. Bagaimana mungkin? Iya, tentunya karena ia berasal dari sumber yang sama, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.Seperti yang sudah Anda baca sebelumnya, bahwa pengetahuan hamba terhadap Rabb-Nya berbanding lurus dengan mahabbah, raja’, khauf, tawakal, dan berbagai amalan hati seorang hamba. Semakin buta seorang hamba kepada Penciptanya, maka semakin lalai dan durhaka ia kepada-Nya. Sebaliknya, semakin besar pengetahuan seorang hamba kepada Rabb-Nya, maka semakin ia taat dan tunduk kepada-Nya. Pengetahuan dan ilmu tentang Rabb-Nya ini pun akan membuahkan amal, yakni ia akan beribadah kepada Rabb-Nya dengan sebaik-baiknya ibadah, melalui amalan lisan, dan anggota badan. Dan jika ia mencapai tingkatan ilmu dan amal tertinggi, maka ia akan beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya. [1]Maka, perhatikanlah hubungan keduanya, makrifatullah dan ibadah, dengan ujian! Bahwasanya ujian itu turun dari atas langit, dari Allah ‘Azza wa Jalla, kepada hamba yang ada di bawah, untuk membedakan dan memisahkan antara hamba yang beriman dan hamba yang kufur. Ujian yang empat macam tersebut kemudian menghampiri hamba. Barangsiapa yang menyambut ujian tersebut dan menegakkannya, atas dasar ilmu dan imannya kepada Rabb-nya, maka ia menjadi ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, ibadah ini berasal dari hamba Allah yang ada di bawah dan ditujukan kepada Rabb-Nya semata yang ada di atas. Adapun mereka yang mengabaikan keempat ujian tersebut, maka baginya dosa dan penderitaan. Karena ia sejatinya ia telah lalai memelihara benih kehidupannya, yang mana buahnya adalah kebahagiaan sejati.Buah menunaikan tujuan hidupSetelah Anda memahami tujuan penciptaan, kehidupan, dan kematian, tiba saatnya Anda mengenal buah yang Anda akan petik tatkala Anda mewujudkan tujuan hidup yang Allah tetapkan bagi seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami limpahkan kepadanya kehidupan yang baik.” [2]Demikianlah, imbalan dan buah yang hanya bisa dinikmati oleh manusia-manusia pilihan, yaitu  manusia yang menegakkan amal saleh yang dilandasi keimanan kepada Allah Ta’ala. Adalah Allah yang akan memberikan jaminan kepada mereka berupa kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Dan, sebaliknya kebahagiaan hakiki ini tidak mungkin diberikan kepada mereka yang kufur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Alangkah indahnya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menerangkan keadaan orang-orang mukmin yang menjadikan setiap ujian baik perintah dan larangan, maupun nikmat dan musibah sebagai ladang amal saleh, di mana buahnya adalah kebaikan dan kebahagiaan hidup baginya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu mengandung kebaikan. Dan hal ini tidaklah ditemukan, kecuali pada diri seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Sehingga hal itu baik baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan keburukan, maka ia bersabar. Dan hal itu pun baik baginya.” [3]Demikianlah, kesudahan bagi mereka yang menegakkan tujuan penciptaan mereka. Namun, yang menjadi masalah, seringkali kita salah memahami makna kebahagiaan hidup itu sendiri. Sebagian manusia memahami bahwa kebahagiaan hidup di dunia itu haruslah berupa kehidupan yang terus-menerus tenang, lancar, tanpa hambatan, dan tanpa bala musibah yang menghimpit dada dan mendatangkan kesedihan. Maka, mari kita renungkan lagi hal ini pada bab penutup berikut.Baca juga: Untuk Apa Kamu Hidup?Tegar di atas jalan kebahagiaanSebelumnya, telah sampai kepada kita janji Allah bahwa buah amal saleh bagi seorang hamba adalah kebahagiaan hidup. Namun, perlu Anda pahami bahwa kebahagiaan hidup yang hakiki adalah ketika seseorang telah mencapai tempat yang penuh dengan kenikmatan abadi, yang tidak diselingi kesedihan sama sekali, yakni surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selama Anda hidup di dunia, selama Anda masih bernyawa, maka Anda dan seluruh manusia pasti akan menemui ujian-ujian dalam setiap etape kehidupan Anda. Bahkan, di alam kubur dan padang masyhar sekali pun manusia itu masih akan merasakan penat dan kelelahan-kelelahan.Akan tetapi, yang membedakan orang orang mukmin dan orang kafir adalah, ketika menghadapi ujian-ujian tersebut, Allah akan membersamai orang-orang mukmin, sehingga ujian itu menjadi ringan baginya. Zat Yang Mahabesar dan Mahakuasa atas segala sesuatu berada di sisinya, sehingga ujian sebesar apapun akan terasa kecil bagi seorang mukmin. Sebaliknya, Allah akan membiarkan dan meninggalkan orang-orang kafir bersendirian ketika mereka menghadapi ujian-ujian yang ada. Sehingga ujian kecil pun akan menjadi besar dan berat bagi mereka.Tentu Anda sudah mendengar bahwa di surga, selain kenikmatan-kenikmatan yang ada, juga ada tambahan padanya [4], yakni para penduduk surga akan melihat wajah Allah Ta’ala di hari kiamat kelak [5]. Dan ini adalah puncak kenikmatan dan kebahagiaan bagi seorang hamba, yang tidak ada taranya dan tidak ada bandingannya. Maka, seorang hamba yang beriman akan menjadikan pertemuan dengan Rabbnya sebagai momen yang paling ia nantikan. Sebagaimana seorang pencinta merindukan pertemuan dengan orang yang ia kasihi. Maka, seorang hamba yang beriman memiliki kesadaran penuh akan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan padanya. Dia adalah Zat yang paling menginginkan kebaikan dan kebahagiaan baginya. Zat yang berlari padanya, ketika ia datang dengan ketaatan, tobat, dan tangis penyesalan atas dosa-dosa yang telah menghitamkan hati. Zat yang telah menunjukinya jalan kebenaran serta memberinya taufik dan hidayah agar bisa tegar di atas jalan itu hingga datangnya haqqul yaqin. Demikianlah, dua buah kenikmatan yang tidak pernah terbetik di hati, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak mampu diimajinasikan oleh akal manusia, yakni surga dan wajah Allah ‘Azza wa Jalla.Maka, mari kita sederhanakan kisah ini. Bermula dengan pengenalan seorang hamba terhadap Allah. Disusul dengan sambutan sang hamba terhadap ujian-ujian kehidupan sembari merealisasikannya menjadi ibadah. Dan kisahnya berujung bahagia dengan perjumpaan sang hamba dengan Rabb-Nya. Lillahi – billahi – ilallahi. Karena Allah (ikhlas) – bersama Allah (ittiba’), dan menuju (bertemu) Allah. Maka, benarlah kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Semakin Anda mengenal Allah, maka semakin Anda ingin dekat dengan-Nya, dan semakin Anda ingin bertemu dengan-Nya. Demikianlah permisalannya. Hanya hamba yang benar-benar mengenal Rabbnyalah yang kemudian bisa mengenali-Nya. Dan hanya hamba yang benar-benar mengenali Rabbnyalah yang dapat menemui-Nya, tanpa hijab dan tanpa perantara, di surga yang penuh dengan kenikmatan nan abadi.Maka, jika surga dan wajah Allah adalah ganjarannya, maka tentu ujiannya tidak semudah yang dibayangkan. Dalam hukum kebiasaan manusia berbunyi, ‘Semakin besar keuntungan yang akan diraih, maka semakin besar usaha yang harus dikeluarkan.’ Oleh karena itu, ketika Allah Ta’ala menciptakan surga, Dia liputi surga itu dengan hal-hal yang dibenci oleh jiwa manusia. Sebaliknya, ketika Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia liputi neraka itu dengan hal-hal yang disenangi oleh jiwa manusia [6]. Maka, bersama dengan ujian yang Allah turunkan kepada hamba tersebut, Allah bekali manusia dengan hati yang di dalamnya terjadi pertempuran antara keimanan dan hawa nafsu, antara bisikan malaikat dan rayuan setan, serta antara ajakan kepada kebaikan dan keburukan.Demikianlah, ujian dan kesulitan yang harus saya dan Anda hadapi untuk meraih surga Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, ingatlah selalu dalam setiap titik perjalanan hidup Anda, bahwa di balik beratnya ketaatan dan ibadah yang Anda lakukan, ada surga Allah yang sedang menunggu. Sebaliknya, di balik kelalaian dan memperturutkan hawa nafsu, ada neraka Allah yang sedang menanti, waliyyadzu billah. Maka, nasihat untuk saya dan Anda, “Tegarlah di atas jalan kebahagiaan dan hadapilah segala ujian dengan hati yang lapang, hingga datangnya hari yang ditentukan.”[Selesai]Kembali ke bagian 3 Mulai dari bagian 1 ***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.[1] HR. Muslim. Ketika menjelaskan makna ihsan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak bisa melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”[2] QS. An-Nahl ayat 97.[3] HR. Muslim no. 2999.[4] QS. Yunus ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”[5] HR. Bukhari no. 554 dan Muslim no. 633. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya.”[6] HR. Tirmidzi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam bersabda, “Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam pergi ke surga sambil berfirman, ‘Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’” Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan, “Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang berita surga, kecuali ingin memasuk ke dalamnya.’ Kemudian Allah memerintahkan kepada surga sehingga ia diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa). Lalu, Allah Ta’ala memerintahkan Jibril, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!’ Maka, Jibril pun kembali ke surga dan ia melihat bahwasanya surga telah diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu sungguh aku khawatir tidak ada seorang pun yang dapat  memasukinya!’Kemudian Allah memberi perintah, ‘Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’ Maka, ketika berada di neraka terdapat api yang  menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk, Jibril pun kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu tidak ada seorang pun yang ingin masuk ke dalamnya. Kemudian Allah Ta’ala memberi perintah kepada neraka agar ia dipenuhi dengan perkara-perkara yang disukai oleh nafsu dan syahwat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalilah padanya!’ Jibril pun kembali ke neraka dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada seorang pun dari hamba-Mu yang bisa selamat dari siksanya.'”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Sebaiknya Muazin Bersuara Keras dan Indah – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar

Seorang muazin harus punya suara yang lantang,karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ajarkan itu pada Bilal, karena suaranya lebih bagus daripada suaramu.” (HR. Abu Dawud) Para ulama berkata bahwa sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,bahwa suaranya lebih bagus daripada suaramu, ada dua makna:makna pertama hukumnya wajibdan makna kedua hukumnya sunah. Adapun makna yang wajib, maksudnyabahwa setiap muazin wajib melantunkan azandengan suara yang lantang atau tinggisehingga bisa didengar walaupun oleh orang yang jauh. Maksudnya, walaupun seseorang berada di tempat yang jauh dari muazin,karena suara yang keras adalah kewajiban bagi muazin,karena orang yang tidak memperdengarkan suaranya pada manusiamaka dia bukanlah seorang muazin karena suaranya tidak terdengar. Makna kedua dari sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“… karena suaranya lebih bagus daripada suaramu,…”maknanya adalah suaranya yang lebih indah, dan ini merupakan karunia dari Allah Jalla wa ʿAlā,karena sebagian orang berbeda dengan yang lainnyadalam tebal dan tipisnya suara,dan lembut dan kasarnya suaranya. Ini hukumnya sunah dan tidak menjadi syarat sahnya azan. ===== أَنَّ هَذَا الْمُؤَذِّنَ يَلْزَمُهُ أَنْ يَكُونَ صَيِّتًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْهُ بِلَالًا فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا قَالُوا: وَفِي مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا أَمْرَانِ أَحَدُهُمَا عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَالْأَمْرُ الثَّانِي عَلَى سَبِيلِ النَّدْبِ أَمَّا الَّذِي هُوَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ وَاجِبًا عَلَى كُلِّ الْمُؤَذِّنِ بِأَنْ يَكُونَ صَيِّتًا أَيْ صَوْتُهُ مُرْتَفِعٌ فَيُسْتَمَعُ… فَيُسْمَعُ إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنْهُ بَعِيدًا أَيْ… وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنِ الْمُؤَذِّنِ فِي مَكَانٍ بَعِيدٍ لِأَنَّ كَوْنَهُ صَيِّتًا هَذَا وَاجِبٌ فِي الْمُؤَذِّنِ إِذْ مَنْ لَا يُسْمِعُ النَّاسَ صَوْتَهُ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ مُؤَذِّنًا إِذْ لَا جَهْرَ فِيهِ الْأَمْرُ الثَّانِي مِنْ مَعَانِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا بِمَعْنَى أَنَّهُ أَجْمَلُ صَوْتًا وَهَذِهِ مَوَاهِبُ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَخْتَلِفُ عَنْ غَيْرِهِ فِي ضَخَامَةِ صَوْتِهِ وَرِقَّتِهِ وَفِي جَمَالِهِ وَخُشُونَتِهِ وَهَذَا مِنْ بَابِ النَّدْبِ لَا مِنْ بَابِ الشَّرْطِ فِي صِحَّةِ الْأَذَانِ

Sebaiknya Muazin Bersuara Keras dan Indah – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar

Seorang muazin harus punya suara yang lantang,karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ajarkan itu pada Bilal, karena suaranya lebih bagus daripada suaramu.” (HR. Abu Dawud) Para ulama berkata bahwa sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,bahwa suaranya lebih bagus daripada suaramu, ada dua makna:makna pertama hukumnya wajibdan makna kedua hukumnya sunah. Adapun makna yang wajib, maksudnyabahwa setiap muazin wajib melantunkan azandengan suara yang lantang atau tinggisehingga bisa didengar walaupun oleh orang yang jauh. Maksudnya, walaupun seseorang berada di tempat yang jauh dari muazin,karena suara yang keras adalah kewajiban bagi muazin,karena orang yang tidak memperdengarkan suaranya pada manusiamaka dia bukanlah seorang muazin karena suaranya tidak terdengar. Makna kedua dari sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“… karena suaranya lebih bagus daripada suaramu,…”maknanya adalah suaranya yang lebih indah, dan ini merupakan karunia dari Allah Jalla wa ʿAlā,karena sebagian orang berbeda dengan yang lainnyadalam tebal dan tipisnya suara,dan lembut dan kasarnya suaranya. Ini hukumnya sunah dan tidak menjadi syarat sahnya azan. ===== أَنَّ هَذَا الْمُؤَذِّنَ يَلْزَمُهُ أَنْ يَكُونَ صَيِّتًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْهُ بِلَالًا فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا قَالُوا: وَفِي مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا أَمْرَانِ أَحَدُهُمَا عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَالْأَمْرُ الثَّانِي عَلَى سَبِيلِ النَّدْبِ أَمَّا الَّذِي هُوَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ وَاجِبًا عَلَى كُلِّ الْمُؤَذِّنِ بِأَنْ يَكُونَ صَيِّتًا أَيْ صَوْتُهُ مُرْتَفِعٌ فَيُسْتَمَعُ… فَيُسْمَعُ إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنْهُ بَعِيدًا أَيْ… وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنِ الْمُؤَذِّنِ فِي مَكَانٍ بَعِيدٍ لِأَنَّ كَوْنَهُ صَيِّتًا هَذَا وَاجِبٌ فِي الْمُؤَذِّنِ إِذْ مَنْ لَا يُسْمِعُ النَّاسَ صَوْتَهُ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ مُؤَذِّنًا إِذْ لَا جَهْرَ فِيهِ الْأَمْرُ الثَّانِي مِنْ مَعَانِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا بِمَعْنَى أَنَّهُ أَجْمَلُ صَوْتًا وَهَذِهِ مَوَاهِبُ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَخْتَلِفُ عَنْ غَيْرِهِ فِي ضَخَامَةِ صَوْتِهِ وَرِقَّتِهِ وَفِي جَمَالِهِ وَخُشُونَتِهِ وَهَذَا مِنْ بَابِ النَّدْبِ لَا مِنْ بَابِ الشَّرْطِ فِي صِحَّةِ الْأَذَانِ
Seorang muazin harus punya suara yang lantang,karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ajarkan itu pada Bilal, karena suaranya lebih bagus daripada suaramu.” (HR. Abu Dawud) Para ulama berkata bahwa sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,bahwa suaranya lebih bagus daripada suaramu, ada dua makna:makna pertama hukumnya wajibdan makna kedua hukumnya sunah. Adapun makna yang wajib, maksudnyabahwa setiap muazin wajib melantunkan azandengan suara yang lantang atau tinggisehingga bisa didengar walaupun oleh orang yang jauh. Maksudnya, walaupun seseorang berada di tempat yang jauh dari muazin,karena suara yang keras adalah kewajiban bagi muazin,karena orang yang tidak memperdengarkan suaranya pada manusiamaka dia bukanlah seorang muazin karena suaranya tidak terdengar. Makna kedua dari sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“… karena suaranya lebih bagus daripada suaramu,…”maknanya adalah suaranya yang lebih indah, dan ini merupakan karunia dari Allah Jalla wa ʿAlā,karena sebagian orang berbeda dengan yang lainnyadalam tebal dan tipisnya suara,dan lembut dan kasarnya suaranya. Ini hukumnya sunah dan tidak menjadi syarat sahnya azan. ===== أَنَّ هَذَا الْمُؤَذِّنَ يَلْزَمُهُ أَنْ يَكُونَ صَيِّتًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْهُ بِلَالًا فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا قَالُوا: وَفِي مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا أَمْرَانِ أَحَدُهُمَا عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَالْأَمْرُ الثَّانِي عَلَى سَبِيلِ النَّدْبِ أَمَّا الَّذِي هُوَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ وَاجِبًا عَلَى كُلِّ الْمُؤَذِّنِ بِأَنْ يَكُونَ صَيِّتًا أَيْ صَوْتُهُ مُرْتَفِعٌ فَيُسْتَمَعُ… فَيُسْمَعُ إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنْهُ بَعِيدًا أَيْ… وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنِ الْمُؤَذِّنِ فِي مَكَانٍ بَعِيدٍ لِأَنَّ كَوْنَهُ صَيِّتًا هَذَا وَاجِبٌ فِي الْمُؤَذِّنِ إِذْ مَنْ لَا يُسْمِعُ النَّاسَ صَوْتَهُ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ مُؤَذِّنًا إِذْ لَا جَهْرَ فِيهِ الْأَمْرُ الثَّانِي مِنْ مَعَانِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا بِمَعْنَى أَنَّهُ أَجْمَلُ صَوْتًا وَهَذِهِ مَوَاهِبُ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَخْتَلِفُ عَنْ غَيْرِهِ فِي ضَخَامَةِ صَوْتِهِ وَرِقَّتِهِ وَفِي جَمَالِهِ وَخُشُونَتِهِ وَهَذَا مِنْ بَابِ النَّدْبِ لَا مِنْ بَابِ الشَّرْطِ فِي صِحَّةِ الْأَذَانِ


Seorang muazin harus punya suara yang lantang,karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ajarkan itu pada Bilal, karena suaranya lebih bagus daripada suaramu.” (HR. Abu Dawud) Para ulama berkata bahwa sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,bahwa suaranya lebih bagus daripada suaramu, ada dua makna:makna pertama hukumnya wajibdan makna kedua hukumnya sunah. Adapun makna yang wajib, maksudnyabahwa setiap muazin wajib melantunkan azandengan suara yang lantang atau tinggisehingga bisa didengar walaupun oleh orang yang jauh. Maksudnya, walaupun seseorang berada di tempat yang jauh dari muazin,karena suara yang keras adalah kewajiban bagi muazin,karena orang yang tidak memperdengarkan suaranya pada manusiamaka dia bukanlah seorang muazin karena suaranya tidak terdengar. Makna kedua dari sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“… karena suaranya lebih bagus daripada suaramu,…”maknanya adalah suaranya yang lebih indah, dan ini merupakan karunia dari Allah Jalla wa ʿAlā,karena sebagian orang berbeda dengan yang lainnyadalam tebal dan tipisnya suara,dan lembut dan kasarnya suaranya. Ini hukumnya sunah dan tidak menjadi syarat sahnya azan. ===== أَنَّ هَذَا الْمُؤَذِّنَ يَلْزَمُهُ أَنْ يَكُونَ صَيِّتًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْهُ بِلَالًا فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا قَالُوا: وَفِي مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا أَمْرَانِ أَحَدُهُمَا عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَالْأَمْرُ الثَّانِي عَلَى سَبِيلِ النَّدْبِ أَمَّا الَّذِي هُوَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ وَاجِبًا عَلَى كُلِّ الْمُؤَذِّنِ بِأَنْ يَكُونَ صَيِّتًا أَيْ صَوْتُهُ مُرْتَفِعٌ فَيُسْتَمَعُ… فَيُسْمَعُ إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنْهُ بَعِيدًا أَيْ… وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنِ الْمُؤَذِّنِ فِي مَكَانٍ بَعِيدٍ لِأَنَّ كَوْنَهُ صَيِّتًا هَذَا وَاجِبٌ فِي الْمُؤَذِّنِ إِذْ مَنْ لَا يُسْمِعُ النَّاسَ صَوْتَهُ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ مُؤَذِّنًا إِذْ لَا جَهْرَ فِيهِ الْأَمْرُ الثَّانِي مِنْ مَعَانِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا بِمَعْنَى أَنَّهُ أَجْمَلُ صَوْتًا وَهَذِهِ مَوَاهِبُ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَخْتَلِفُ عَنْ غَيْرِهِ فِي ضَخَامَةِ صَوْتِهِ وَرِقَّتِهِ وَفِي جَمَالِهِ وَخُشُونَتِهِ وَهَذَا مِنْ بَابِ النَّدْبِ لَا مِنْ بَابِ الشَّرْطِ فِي صِحَّةِ الْأَذَانِ

Siapa Itu Zindiq?

Pertanyaan: Siapakah yang dimaksud dengan orang zindiq? Mohon pencerahannya ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya wal Mursaliin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Istilah zindiq kita dapati dalam banyak literatur sebagai orang yang dicela oleh para ulama. Istilah ini juga sebenarnya terdapat dalam hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنه سيكونُ في أمتي مسخٌ وقذفٌ وهو في الزِّنديقيَّةِ والقَدَريَّةِ “Akan terjadi di tengah umatku peristiwa maskhun (diubahnya wajah manusia menjadi buruk) dan qadzfun (manusia dijatuhi bebatuan dari atas). Itu akan terjadi pada az-zindiqiyyah dan al-qadariyah” (HR. At-Tirmidzi no.2153, Ibnu Majah no.4061, Ahmad no.6208). Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah menshahihkan hadits di atas dalam Takhrij Musnad Ahmad (9/74). Namun hadits ini didhaifkan oleh jumhur ulama hadits karena terdapat perawi Rusydain bin Sa’ad Al-Mishri yang merupakan perawi yang dha’if. Istilah zindiq kita dapati lebih banyak dari kalam para ulama terdahulu. Al-Barbahari rahimahullah dalam matan Syarhus Sunnah mengatakan: وإذا سمعت الرجل تأتيه بالأثر فلا يريده ويريد القرآن، فلا يشك أنه رجل قد احتوى على الزندقة، فقم من عنده ودعه “Jika engkau mendengar seseorang yang disampaikan atsar (hadits). Namun ia menolaknya dan ia hanya menginginkan Al-Qur’an. Maka tidak ragu lagi bahwa orang tersebut telah diliputi oleh zandaqah, tinggalkanlah dan biarkanlah ia”. Makhul rahimahullah, seorang ulama tabi’in dari Syam, beliau mengatakan: من عبد الله بالحب وحده فهو زنديق، ومن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ، ومن عبده بالخوف وحده فهو حروري، ومن عبده بالحب والخوف والرجاء فهو مؤمن موحد “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta saja, maka ia zindiq. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa harap saja, maka ia murjiah. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut saja, maka ia haruri (khawarij). Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta, rasa takut dan rasa harap, maka ia mukmin yang bertauhid” (Ihya’ Ulumiddin, 4/257). Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan: من قال: القُرْآنُ مخلوقٌ، فهو زِنديقٌ “Siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka ia zindiq” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/111). Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah juga mengatakan: من زعم أنَّ قَولَ اللهِ عَزَّ وجَلَّ: يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [النمل:9]  مخلوقٌ، فهو كافِرٌ زِنديقٌ حَلالٌ دَمُه “Siapa yang mengklaim bahwa firman Allah ta’ala (yang artinya) : “Wahai Musa sesungguhnya Aku adalah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Naml: 9) adalah makhluk, maka ia kafir zindiq dan halal darahnya” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/107). Dan masih banyak lagi kalam para ulama yang mencela orang zindiq. Makna Zindiq Zindiq secara bahasa artinya sempit. Dalam Lisanul Arab disebutkan: والزَّنْدَقةُ: الضِّيقُ، وقيل الزِّنْدِيقُ منه لأنه ضيّق على نفسه “Az-zandaqah artinya: sempit. Sebagian ahli bahasa mengatakan bahwa dari makna ini diambil kata “zindiq“, karena orang zindiq membuat dirinya berada dalam kesempitan”. Adapun secara istilah, dijelaskan dalam Al-Qamus Al-Muhith karya Fairuzabadi rahimahullah: زِنْديقُ: من الثَّنَوِيَّةِ، أو القائلُ بالنُّورِ والظُّلْمَةِ، أو مَن لا يُؤْمِنُ بالآخِرَةِ وبالرُّبوبِيَّةِ، أو مَن يُبْطِنُ الكُفْرَ ويُظْهِرُ الإِيمانَ “Zindiq adalah tsanawiyah (orang yang meyakini ada dua tuhan), atau orang yang menyembah Tuhan cahaya dan Tuhan kegelapan, atau orang yang tidak meyakini hari Akhirat dan tidak meyakini adanya Tuhan, atau orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keimanan”. Zindiq adalah sebutan untuk orang yang meyakini zandaqah. Sedangkan zandaqah dalam Mu’jam Al-Wasith disebutkan: الزَّنْدَقَة : القولُ بأَزليَّة العالم، وأُطلق على الزرادشتيّة، والمانوية، وغيرهم من الثنوية، وتُوُسِّع فيه فأُطلق على كل شاكٍّ، أو ضالٍّ، أو ملحد “Az-zandaqah adalah keyakinan bahwa alam itu azali (bukan ciptaan Tuhan), sebutan ini juga digunakan untuk aliran Zoroaster dan Manikheisme serta semua aliran Dualisme (aliran yang meyakini adanya dua Tuhan) lainnya. Namun penggunaannya meluas untuk semua orang yang ragu dalam imannya atau orang sesat atau orang atheis”. Namun jumhur ulama sering menggunakan istilah zindiq untuk orang munafik. Dalam Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah dijelaskan, والزندقة عند جمهور الفقهاء إظهار الإسلام وإبطان الكفر، فالزنديق هو من يظهر الإسلام ويبطن الكفر، قال الدسوقي: وهو المسمى في الصدر الأول منافقاً، ويسميه الفقهاء زنديقاً. وعند الحنفية وبعض الشافعية الزندقة: عدم التدين بدين، أو هي القول ببقاء الدهر واعتقاد أن الأموال والحرم مشتركة “Az-zandaqah menurut jumhur fuqaha adalah perbuatan menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekufuran. Maka zindiq adalah orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran. Ad-Dasuqi mengatakan: orang seperti ini disebut oleh para ulama terdahulu sebagai munafik, sedangkan oleh para fuqaha disebut sebagai zindiq. Menurut ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Syafi’iyyah, az-zandaqah adalah orang yang tidak punya agama, atau orang meyakini bahwa tidak ada hari kiamat dan meyakini bahwa harta sebanding dengan kehormatan” (Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 25/48). Kesimpulannya, istilah zindiq mencakup beberapa makna berikut ini: Orang munafik. Dan ini makna yang dimaksud oleh mayoritas ulama. Orang atheis yang tidak meyakini adanya tuhan. Orang Majusi atau Zoroaster, atau semua aliran yang meyakini ada dua tuhan. Orang yang tidak punya agama. Orang yang mengingkari hari Kiamat.  Orang yang ragu dalam imannya. Jika kita melihat semua cakupan makna dari zindiq di atas, maka kita mengetahui bahwa zandaqah adalah salah satu bentuk kekufuran. Orang yang zindiq, maka ia kafir. Dewan Fatwa Islamweb menjelaskan: واتفق الفقهاء على أن الزندقة كفر، وعلى أن ما ورد في القرآن والسنة من ذكر المنافقين يتناول الزنديق “Para fuqaha sepakat bahwa zandaqah adalah kekufuran. Dan semua dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyebutkan orang munafik, juga mencakup orang zindiq” (Fatwa Islamweb no. 52193). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Arti Mimpi, Siap Menikah Menurut Islam, Pertanyaan Jual Beli Dalam Islam, Doa Jiarah, Jodoh Pasti Bertemu Menurut Islam, Jumlah Surga Dan Neraka Visited 646 times, 4 visit(s) today Post Views: 485 QRIS donasi Yufid

Siapa Itu Zindiq?

Pertanyaan: Siapakah yang dimaksud dengan orang zindiq? Mohon pencerahannya ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya wal Mursaliin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Istilah zindiq kita dapati dalam banyak literatur sebagai orang yang dicela oleh para ulama. Istilah ini juga sebenarnya terdapat dalam hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنه سيكونُ في أمتي مسخٌ وقذفٌ وهو في الزِّنديقيَّةِ والقَدَريَّةِ “Akan terjadi di tengah umatku peristiwa maskhun (diubahnya wajah manusia menjadi buruk) dan qadzfun (manusia dijatuhi bebatuan dari atas). Itu akan terjadi pada az-zindiqiyyah dan al-qadariyah” (HR. At-Tirmidzi no.2153, Ibnu Majah no.4061, Ahmad no.6208). Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah menshahihkan hadits di atas dalam Takhrij Musnad Ahmad (9/74). Namun hadits ini didhaifkan oleh jumhur ulama hadits karena terdapat perawi Rusydain bin Sa’ad Al-Mishri yang merupakan perawi yang dha’if. Istilah zindiq kita dapati lebih banyak dari kalam para ulama terdahulu. Al-Barbahari rahimahullah dalam matan Syarhus Sunnah mengatakan: وإذا سمعت الرجل تأتيه بالأثر فلا يريده ويريد القرآن، فلا يشك أنه رجل قد احتوى على الزندقة، فقم من عنده ودعه “Jika engkau mendengar seseorang yang disampaikan atsar (hadits). Namun ia menolaknya dan ia hanya menginginkan Al-Qur’an. Maka tidak ragu lagi bahwa orang tersebut telah diliputi oleh zandaqah, tinggalkanlah dan biarkanlah ia”. Makhul rahimahullah, seorang ulama tabi’in dari Syam, beliau mengatakan: من عبد الله بالحب وحده فهو زنديق، ومن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ، ومن عبده بالخوف وحده فهو حروري، ومن عبده بالحب والخوف والرجاء فهو مؤمن موحد “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta saja, maka ia zindiq. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa harap saja, maka ia murjiah. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut saja, maka ia haruri (khawarij). Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta, rasa takut dan rasa harap, maka ia mukmin yang bertauhid” (Ihya’ Ulumiddin, 4/257). Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan: من قال: القُرْآنُ مخلوقٌ، فهو زِنديقٌ “Siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka ia zindiq” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/111). Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah juga mengatakan: من زعم أنَّ قَولَ اللهِ عَزَّ وجَلَّ: يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [النمل:9]  مخلوقٌ، فهو كافِرٌ زِنديقٌ حَلالٌ دَمُه “Siapa yang mengklaim bahwa firman Allah ta’ala (yang artinya) : “Wahai Musa sesungguhnya Aku adalah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Naml: 9) adalah makhluk, maka ia kafir zindiq dan halal darahnya” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/107). Dan masih banyak lagi kalam para ulama yang mencela orang zindiq. Makna Zindiq Zindiq secara bahasa artinya sempit. Dalam Lisanul Arab disebutkan: والزَّنْدَقةُ: الضِّيقُ، وقيل الزِّنْدِيقُ منه لأنه ضيّق على نفسه “Az-zandaqah artinya: sempit. Sebagian ahli bahasa mengatakan bahwa dari makna ini diambil kata “zindiq“, karena orang zindiq membuat dirinya berada dalam kesempitan”. Adapun secara istilah, dijelaskan dalam Al-Qamus Al-Muhith karya Fairuzabadi rahimahullah: زِنْديقُ: من الثَّنَوِيَّةِ، أو القائلُ بالنُّورِ والظُّلْمَةِ، أو مَن لا يُؤْمِنُ بالآخِرَةِ وبالرُّبوبِيَّةِ، أو مَن يُبْطِنُ الكُفْرَ ويُظْهِرُ الإِيمانَ “Zindiq adalah tsanawiyah (orang yang meyakini ada dua tuhan), atau orang yang menyembah Tuhan cahaya dan Tuhan kegelapan, atau orang yang tidak meyakini hari Akhirat dan tidak meyakini adanya Tuhan, atau orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keimanan”. Zindiq adalah sebutan untuk orang yang meyakini zandaqah. Sedangkan zandaqah dalam Mu’jam Al-Wasith disebutkan: الزَّنْدَقَة : القولُ بأَزليَّة العالم، وأُطلق على الزرادشتيّة، والمانوية، وغيرهم من الثنوية، وتُوُسِّع فيه فأُطلق على كل شاكٍّ، أو ضالٍّ، أو ملحد “Az-zandaqah adalah keyakinan bahwa alam itu azali (bukan ciptaan Tuhan), sebutan ini juga digunakan untuk aliran Zoroaster dan Manikheisme serta semua aliran Dualisme (aliran yang meyakini adanya dua Tuhan) lainnya. Namun penggunaannya meluas untuk semua orang yang ragu dalam imannya atau orang sesat atau orang atheis”. Namun jumhur ulama sering menggunakan istilah zindiq untuk orang munafik. Dalam Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah dijelaskan, والزندقة عند جمهور الفقهاء إظهار الإسلام وإبطان الكفر، فالزنديق هو من يظهر الإسلام ويبطن الكفر، قال الدسوقي: وهو المسمى في الصدر الأول منافقاً، ويسميه الفقهاء زنديقاً. وعند الحنفية وبعض الشافعية الزندقة: عدم التدين بدين، أو هي القول ببقاء الدهر واعتقاد أن الأموال والحرم مشتركة “Az-zandaqah menurut jumhur fuqaha adalah perbuatan menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekufuran. Maka zindiq adalah orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran. Ad-Dasuqi mengatakan: orang seperti ini disebut oleh para ulama terdahulu sebagai munafik, sedangkan oleh para fuqaha disebut sebagai zindiq. Menurut ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Syafi’iyyah, az-zandaqah adalah orang yang tidak punya agama, atau orang meyakini bahwa tidak ada hari kiamat dan meyakini bahwa harta sebanding dengan kehormatan” (Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 25/48). Kesimpulannya, istilah zindiq mencakup beberapa makna berikut ini: Orang munafik. Dan ini makna yang dimaksud oleh mayoritas ulama. Orang atheis yang tidak meyakini adanya tuhan. Orang Majusi atau Zoroaster, atau semua aliran yang meyakini ada dua tuhan. Orang yang tidak punya agama. Orang yang mengingkari hari Kiamat.  Orang yang ragu dalam imannya. Jika kita melihat semua cakupan makna dari zindiq di atas, maka kita mengetahui bahwa zandaqah adalah salah satu bentuk kekufuran. Orang yang zindiq, maka ia kafir. Dewan Fatwa Islamweb menjelaskan: واتفق الفقهاء على أن الزندقة كفر، وعلى أن ما ورد في القرآن والسنة من ذكر المنافقين يتناول الزنديق “Para fuqaha sepakat bahwa zandaqah adalah kekufuran. Dan semua dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyebutkan orang munafik, juga mencakup orang zindiq” (Fatwa Islamweb no. 52193). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Arti Mimpi, Siap Menikah Menurut Islam, Pertanyaan Jual Beli Dalam Islam, Doa Jiarah, Jodoh Pasti Bertemu Menurut Islam, Jumlah Surga Dan Neraka Visited 646 times, 4 visit(s) today Post Views: 485 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Siapakah yang dimaksud dengan orang zindiq? Mohon pencerahannya ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya wal Mursaliin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Istilah zindiq kita dapati dalam banyak literatur sebagai orang yang dicela oleh para ulama. Istilah ini juga sebenarnya terdapat dalam hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنه سيكونُ في أمتي مسخٌ وقذفٌ وهو في الزِّنديقيَّةِ والقَدَريَّةِ “Akan terjadi di tengah umatku peristiwa maskhun (diubahnya wajah manusia menjadi buruk) dan qadzfun (manusia dijatuhi bebatuan dari atas). Itu akan terjadi pada az-zindiqiyyah dan al-qadariyah” (HR. At-Tirmidzi no.2153, Ibnu Majah no.4061, Ahmad no.6208). Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah menshahihkan hadits di atas dalam Takhrij Musnad Ahmad (9/74). Namun hadits ini didhaifkan oleh jumhur ulama hadits karena terdapat perawi Rusydain bin Sa’ad Al-Mishri yang merupakan perawi yang dha’if. Istilah zindiq kita dapati lebih banyak dari kalam para ulama terdahulu. Al-Barbahari rahimahullah dalam matan Syarhus Sunnah mengatakan: وإذا سمعت الرجل تأتيه بالأثر فلا يريده ويريد القرآن، فلا يشك أنه رجل قد احتوى على الزندقة، فقم من عنده ودعه “Jika engkau mendengar seseorang yang disampaikan atsar (hadits). Namun ia menolaknya dan ia hanya menginginkan Al-Qur’an. Maka tidak ragu lagi bahwa orang tersebut telah diliputi oleh zandaqah, tinggalkanlah dan biarkanlah ia”. Makhul rahimahullah, seorang ulama tabi’in dari Syam, beliau mengatakan: من عبد الله بالحب وحده فهو زنديق، ومن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ، ومن عبده بالخوف وحده فهو حروري، ومن عبده بالحب والخوف والرجاء فهو مؤمن موحد “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta saja, maka ia zindiq. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa harap saja, maka ia murjiah. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut saja, maka ia haruri (khawarij). Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta, rasa takut dan rasa harap, maka ia mukmin yang bertauhid” (Ihya’ Ulumiddin, 4/257). Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan: من قال: القُرْآنُ مخلوقٌ، فهو زِنديقٌ “Siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka ia zindiq” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/111). Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah juga mengatakan: من زعم أنَّ قَولَ اللهِ عَزَّ وجَلَّ: يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [النمل:9]  مخلوقٌ، فهو كافِرٌ زِنديقٌ حَلالٌ دَمُه “Siapa yang mengklaim bahwa firman Allah ta’ala (yang artinya) : “Wahai Musa sesungguhnya Aku adalah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Naml: 9) adalah makhluk, maka ia kafir zindiq dan halal darahnya” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/107). Dan masih banyak lagi kalam para ulama yang mencela orang zindiq. Makna Zindiq Zindiq secara bahasa artinya sempit. Dalam Lisanul Arab disebutkan: والزَّنْدَقةُ: الضِّيقُ، وقيل الزِّنْدِيقُ منه لأنه ضيّق على نفسه “Az-zandaqah artinya: sempit. Sebagian ahli bahasa mengatakan bahwa dari makna ini diambil kata “zindiq“, karena orang zindiq membuat dirinya berada dalam kesempitan”. Adapun secara istilah, dijelaskan dalam Al-Qamus Al-Muhith karya Fairuzabadi rahimahullah: زِنْديقُ: من الثَّنَوِيَّةِ، أو القائلُ بالنُّورِ والظُّلْمَةِ، أو مَن لا يُؤْمِنُ بالآخِرَةِ وبالرُّبوبِيَّةِ، أو مَن يُبْطِنُ الكُفْرَ ويُظْهِرُ الإِيمانَ “Zindiq adalah tsanawiyah (orang yang meyakini ada dua tuhan), atau orang yang menyembah Tuhan cahaya dan Tuhan kegelapan, atau orang yang tidak meyakini hari Akhirat dan tidak meyakini adanya Tuhan, atau orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keimanan”. Zindiq adalah sebutan untuk orang yang meyakini zandaqah. Sedangkan zandaqah dalam Mu’jam Al-Wasith disebutkan: الزَّنْدَقَة : القولُ بأَزليَّة العالم، وأُطلق على الزرادشتيّة، والمانوية، وغيرهم من الثنوية، وتُوُسِّع فيه فأُطلق على كل شاكٍّ، أو ضالٍّ، أو ملحد “Az-zandaqah adalah keyakinan bahwa alam itu azali (bukan ciptaan Tuhan), sebutan ini juga digunakan untuk aliran Zoroaster dan Manikheisme serta semua aliran Dualisme (aliran yang meyakini adanya dua Tuhan) lainnya. Namun penggunaannya meluas untuk semua orang yang ragu dalam imannya atau orang sesat atau orang atheis”. Namun jumhur ulama sering menggunakan istilah zindiq untuk orang munafik. Dalam Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah dijelaskan, والزندقة عند جمهور الفقهاء إظهار الإسلام وإبطان الكفر، فالزنديق هو من يظهر الإسلام ويبطن الكفر، قال الدسوقي: وهو المسمى في الصدر الأول منافقاً، ويسميه الفقهاء زنديقاً. وعند الحنفية وبعض الشافعية الزندقة: عدم التدين بدين، أو هي القول ببقاء الدهر واعتقاد أن الأموال والحرم مشتركة “Az-zandaqah menurut jumhur fuqaha adalah perbuatan menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekufuran. Maka zindiq adalah orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran. Ad-Dasuqi mengatakan: orang seperti ini disebut oleh para ulama terdahulu sebagai munafik, sedangkan oleh para fuqaha disebut sebagai zindiq. Menurut ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Syafi’iyyah, az-zandaqah adalah orang yang tidak punya agama, atau orang meyakini bahwa tidak ada hari kiamat dan meyakini bahwa harta sebanding dengan kehormatan” (Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 25/48). Kesimpulannya, istilah zindiq mencakup beberapa makna berikut ini: Orang munafik. Dan ini makna yang dimaksud oleh mayoritas ulama. Orang atheis yang tidak meyakini adanya tuhan. Orang Majusi atau Zoroaster, atau semua aliran yang meyakini ada dua tuhan. Orang yang tidak punya agama. Orang yang mengingkari hari Kiamat.  Orang yang ragu dalam imannya. Jika kita melihat semua cakupan makna dari zindiq di atas, maka kita mengetahui bahwa zandaqah adalah salah satu bentuk kekufuran. Orang yang zindiq, maka ia kafir. Dewan Fatwa Islamweb menjelaskan: واتفق الفقهاء على أن الزندقة كفر، وعلى أن ما ورد في القرآن والسنة من ذكر المنافقين يتناول الزنديق “Para fuqaha sepakat bahwa zandaqah adalah kekufuran. Dan semua dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyebutkan orang munafik, juga mencakup orang zindiq” (Fatwa Islamweb no. 52193). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Arti Mimpi, Siap Menikah Menurut Islam, Pertanyaan Jual Beli Dalam Islam, Doa Jiarah, Jodoh Pasti Bertemu Menurut Islam, Jumlah Surga Dan Neraka Visited 646 times, 4 visit(s) today Post Views: 485 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Siapakah yang dimaksud dengan orang zindiq? Mohon pencerahannya ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya wal Mursaliin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Istilah zindiq kita dapati dalam banyak literatur sebagai orang yang dicela oleh para ulama. Istilah ini juga sebenarnya terdapat dalam hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنه سيكونُ في أمتي مسخٌ وقذفٌ وهو في الزِّنديقيَّةِ والقَدَريَّةِ “Akan terjadi di tengah umatku peristiwa maskhun (diubahnya wajah manusia menjadi buruk) dan qadzfun (manusia dijatuhi bebatuan dari atas). Itu akan terjadi pada az-zindiqiyyah dan al-qadariyah” (HR. At-Tirmidzi no.2153, Ibnu Majah no.4061, Ahmad no.6208). Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah menshahihkan hadits di atas dalam Takhrij Musnad Ahmad (9/74). Namun hadits ini didhaifkan oleh jumhur ulama hadits karena terdapat perawi Rusydain bin Sa’ad Al-Mishri yang merupakan perawi yang dha’if. Istilah zindiq kita dapati lebih banyak dari kalam para ulama terdahulu. Al-Barbahari rahimahullah dalam matan Syarhus Sunnah mengatakan: وإذا سمعت الرجل تأتيه بالأثر فلا يريده ويريد القرآن، فلا يشك أنه رجل قد احتوى على الزندقة، فقم من عنده ودعه “Jika engkau mendengar seseorang yang disampaikan atsar (hadits). Namun ia menolaknya dan ia hanya menginginkan Al-Qur’an. Maka tidak ragu lagi bahwa orang tersebut telah diliputi oleh zandaqah, tinggalkanlah dan biarkanlah ia”. Makhul rahimahullah, seorang ulama tabi’in dari Syam, beliau mengatakan: من عبد الله بالحب وحده فهو زنديق، ومن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ، ومن عبده بالخوف وحده فهو حروري، ومن عبده بالحب والخوف والرجاء فهو مؤمن موحد “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta saja, maka ia zindiq. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa harap saja, maka ia murjiah. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut saja, maka ia haruri (khawarij). Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta, rasa takut dan rasa harap, maka ia mukmin yang bertauhid” (Ihya’ Ulumiddin, 4/257). Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan: من قال: القُرْآنُ مخلوقٌ، فهو زِنديقٌ “Siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka ia zindiq” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/111). Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah juga mengatakan: من زعم أنَّ قَولَ اللهِ عَزَّ وجَلَّ: يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [النمل:9]  مخلوقٌ، فهو كافِرٌ زِنديقٌ حَلالٌ دَمُه “Siapa yang mengklaim bahwa firman Allah ta’ala (yang artinya) : “Wahai Musa sesungguhnya Aku adalah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Naml: 9) adalah makhluk, maka ia kafir zindiq dan halal darahnya” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/107). Dan masih banyak lagi kalam para ulama yang mencela orang zindiq. Makna Zindiq Zindiq secara bahasa artinya sempit. Dalam Lisanul Arab disebutkan: والزَّنْدَقةُ: الضِّيقُ، وقيل الزِّنْدِيقُ منه لأنه ضيّق على نفسه “Az-zandaqah artinya: sempit. Sebagian ahli bahasa mengatakan bahwa dari makna ini diambil kata “zindiq“, karena orang zindiq membuat dirinya berada dalam kesempitan”. Adapun secara istilah, dijelaskan dalam Al-Qamus Al-Muhith karya Fairuzabadi rahimahullah: زِنْديقُ: من الثَّنَوِيَّةِ، أو القائلُ بالنُّورِ والظُّلْمَةِ، أو مَن لا يُؤْمِنُ بالآخِرَةِ وبالرُّبوبِيَّةِ، أو مَن يُبْطِنُ الكُفْرَ ويُظْهِرُ الإِيمانَ “Zindiq adalah tsanawiyah (orang yang meyakini ada dua tuhan), atau orang yang menyembah Tuhan cahaya dan Tuhan kegelapan, atau orang yang tidak meyakini hari Akhirat dan tidak meyakini adanya Tuhan, atau orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keimanan”. Zindiq adalah sebutan untuk orang yang meyakini zandaqah. Sedangkan zandaqah dalam Mu’jam Al-Wasith disebutkan: الزَّنْدَقَة : القولُ بأَزليَّة العالم، وأُطلق على الزرادشتيّة، والمانوية، وغيرهم من الثنوية، وتُوُسِّع فيه فأُطلق على كل شاكٍّ، أو ضالٍّ، أو ملحد “Az-zandaqah adalah keyakinan bahwa alam itu azali (bukan ciptaan Tuhan), sebutan ini juga digunakan untuk aliran Zoroaster dan Manikheisme serta semua aliran Dualisme (aliran yang meyakini adanya dua Tuhan) lainnya. Namun penggunaannya meluas untuk semua orang yang ragu dalam imannya atau orang sesat atau orang atheis”. Namun jumhur ulama sering menggunakan istilah zindiq untuk orang munafik. Dalam Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah dijelaskan, والزندقة عند جمهور الفقهاء إظهار الإسلام وإبطان الكفر، فالزنديق هو من يظهر الإسلام ويبطن الكفر، قال الدسوقي: وهو المسمى في الصدر الأول منافقاً، ويسميه الفقهاء زنديقاً. وعند الحنفية وبعض الشافعية الزندقة: عدم التدين بدين، أو هي القول ببقاء الدهر واعتقاد أن الأموال والحرم مشتركة “Az-zandaqah menurut jumhur fuqaha adalah perbuatan menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekufuran. Maka zindiq adalah orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran. Ad-Dasuqi mengatakan: orang seperti ini disebut oleh para ulama terdahulu sebagai munafik, sedangkan oleh para fuqaha disebut sebagai zindiq. Menurut ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Syafi’iyyah, az-zandaqah adalah orang yang tidak punya agama, atau orang meyakini bahwa tidak ada hari kiamat dan meyakini bahwa harta sebanding dengan kehormatan” (Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 25/48). Kesimpulannya, istilah zindiq mencakup beberapa makna berikut ini: Orang munafik. Dan ini makna yang dimaksud oleh mayoritas ulama. Orang atheis yang tidak meyakini adanya tuhan. Orang Majusi atau Zoroaster, atau semua aliran yang meyakini ada dua tuhan. Orang yang tidak punya agama. Orang yang mengingkari hari Kiamat.  Orang yang ragu dalam imannya. Jika kita melihat semua cakupan makna dari zindiq di atas, maka kita mengetahui bahwa zandaqah adalah salah satu bentuk kekufuran. Orang yang zindiq, maka ia kafir. Dewan Fatwa Islamweb menjelaskan: واتفق الفقهاء على أن الزندقة كفر، وعلى أن ما ورد في القرآن والسنة من ذكر المنافقين يتناول الزنديق “Para fuqaha sepakat bahwa zandaqah adalah kekufuran. Dan semua dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyebutkan orang munafik, juga mencakup orang zindiq” (Fatwa Islamweb no. 52193). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Arti Mimpi, Siap Menikah Menurut Islam, Pertanyaan Jual Beli Dalam Islam, Doa Jiarah, Jodoh Pasti Bertemu Menurut Islam, Jumlah Surga Dan Neraka Visited 646 times, 4 visit(s) today Post Views: 485 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hadis: Larangan Mencela Orang yang Sudah Meninggal Dunia

Daftar Isi Teks hadisFaedah pertamaFaedah keduaFaedah ketigaTeks hadisDiriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا“Janganlah kalian mencela (menyebutkan kejelekan atau keburukan) orang yang sudah meninggal dunia, karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari no. 1393)Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الْأَحْيَاءَ“Janganlah kalian menghina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.” (HR. Tirmizi no. 1982, dinilai sahih oleh Al-Albani)Terdapat beberapa faedah yang bisa diambil dari dua hadis di atas, di antaranya:Faedah pertamaHadis di atas berisi larangan mencela orang yang sudah meninggal dunia atau merendahkan kehormatannya. Hal ini karena kalimat larangan dalam hadis di atas, yaitu لَا تَسُبُّوا (Janganlah kalian mencela), menunjukkan hukum haram. Sebagaimana hal itu adalah hukum asal yang ditunjukkan oleh kalimat larangan. Sebagian ulama berdalil dengan hadis tersebut untuk melarang mencela orang yang sudah meninggal secara mutlak, baik muslim atau kafir, orang saleh maupun fasik, berdasarkan makna umum yang ditunjukkan oleh hadis, yaitu (الْأَمْوَات) (semua orang yang sudah meninggal dunia, siapapun mereka).Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa hadis tersebut bersifat khusus berkaitan dengan orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin. Karena termasuk dalam ibadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah dengan mencela orang-orang kafir. Alasan yang lain, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “karena mereka telah sampai (mendapatkan) apa yang telah mereka kerjakan.” Hal ini adalah isyarat bahwa yang Rasulullah maksudkan adalah orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin.Terdapat pendapat ketiga yang memberikan rincian dalam masalah ini. Yaitu, boleh menyebutkan kejelekan dan keburukan orang kafir yang sudah meninggal dunia, apabila hal itu tidak menyakiti kerabatnya yang muslim. Jika tidak ada kerabatnya yang muslim yang tersakiti, atau memang ketika di masa hidupnya orang kafir tersebut menyakiti kaum muslimin, maka tidak mengapa menyebutkan kejelekan-kejelekannya.Adapun jika orang yang sudah meninggal tersebut adalah muslim, maka tidak boleh mencela atau menjatuhkan kehormatannya. Perbuatan ini termasuk dalam ghibah. Kecuali jika orang tersebut adalah orang fasik yang terdapat maslahat dengan menyebutkan kejelekannya. Dalam hal ini, diperbolehkan menyebutkan kejelekannya untuk memperingatkan kaum muslimin darinya. Bukan dengan maksud untuk mencela, akan tetapi agar kaum muslimin yang masih hidup mendapatkan peringatan tentang orang tersebut. Misalnya, para ulama sepakat tentang bolehnya mencela atau menyebutkan kejelekan perawi (misalnya perawi tersebut adalah seorang pendusta atau buruk hapalannya), baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Hal ini karena adanya maslahat untuk menjaga As-Sunnah. Jika tidak terdapat maslahat, maka wajib menjaga diri dari perbuatan tersebut.Baca juga: Amalan yang Bermanfaat Bagi MayitFaedah keduaHadis di atas mengisyaratkan hikmah mengapa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu terlarang, yaitu:Hikmah pertama, karena mereka telah mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, baik berupa kebaikan ataupun keburukan. Sehingga tidak ada lagi manfaat mencela mereka. Tidak sebagaimana jika mereka masih hidup di dunia, bisa saja mereka mendapatkan manfaat. Hal ini karena bisa jadi mereka sadar atau introspeksi diri ketika mendapatkan kritikan atau celaan.Hikmah kedua, karena mencela orang yang sudah meninggal dunia bisa menyakiti kerabatnya yang masih hidup, sebagaimana disebutkan dalam hadis Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, tidak boleh dipahami bahwa boleh mencela apabila tidak ada kerabat yang tersakiti. Misalnya, ketika jenazah tersebut memang tidak memiliki kerabat atau ketika kerabatnya tidak mengetahui hal itu. Hal ini karena mencela orang yang sudah meninggal dunia itu karena adanya hikmah yang pertama. Apabila muncul efek kedua (menyakiti kerabat), maka perbuatan itu menjadi terlarang karena dua sisi.Hikmah ketiga, bahwa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu termasuk dalam ghibah yang terlarang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang ghibah,ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ“Ghibah adalah kamu menyebutkan kejelekan saudaramu mengenai yang dia tidak sukai (untuk didengarkan orang lain).” (HR. Muslim no. 2589)Termasuk dalam hadis di atas adalah jika orang yang di-ghibah itu masih hidup atau sudah meninggal dunia. Imam Bukhari rahimahullah membuat satu judul bab dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (2: 202), “Melakukan ghibah terhadap orang yang sudah meninggal dunia.”Ibnu Bathal rahimahullah berkata, “Mencela orang yang sudah meninggal dunia itu seperti melakukan ghibah terhadap orang yang masih hidup.” (Syarh Ibnu Bathal ‘ala Shahih Al-Bukhari, 3: 354)Faedah ketigaTerdapat dalam Shahih Bukhari, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجَبَتْ. ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: وَجَبَتْ. فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pasti baginya.’ Kemudian mereka melewati jenazah yang lain, lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka beliau pun bersabda, ‘Pasti baginya.’Kemudian Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan pasti baginya?’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga. Sedangkan jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.’” (HR. Bukhari no. 1367)Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menyebutkan kebaikan ataupun keburukan orang yang sudah meninggal dunia ketika ada hajat (kebutuhan). Dan hal itu tidak termasuk dalam ghibah. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari perbuatan tersebut. Atau bisa jadi orang yang mereka cela tersebut sudah terkenal dengan kefasikan atau kejelekannya sehingga dikhawatirkan ada kaum muslimin yang ikut-ikutan mencontohnya. Sehingga celaan tersebut termasuk dalam peringatan kepada kaum muslimin yang masih hidup. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Doa untuk Kedua Orang Tua yang Meninggal Dunia***@Rumah Kasongan, 28 Ramadan 1444/ 19 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 385-387).Tags: laranganmencela mayitmencela orang mati

Hadis: Larangan Mencela Orang yang Sudah Meninggal Dunia

Daftar Isi Teks hadisFaedah pertamaFaedah keduaFaedah ketigaTeks hadisDiriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا“Janganlah kalian mencela (menyebutkan kejelekan atau keburukan) orang yang sudah meninggal dunia, karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari no. 1393)Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الْأَحْيَاءَ“Janganlah kalian menghina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.” (HR. Tirmizi no. 1982, dinilai sahih oleh Al-Albani)Terdapat beberapa faedah yang bisa diambil dari dua hadis di atas, di antaranya:Faedah pertamaHadis di atas berisi larangan mencela orang yang sudah meninggal dunia atau merendahkan kehormatannya. Hal ini karena kalimat larangan dalam hadis di atas, yaitu لَا تَسُبُّوا (Janganlah kalian mencela), menunjukkan hukum haram. Sebagaimana hal itu adalah hukum asal yang ditunjukkan oleh kalimat larangan. Sebagian ulama berdalil dengan hadis tersebut untuk melarang mencela orang yang sudah meninggal secara mutlak, baik muslim atau kafir, orang saleh maupun fasik, berdasarkan makna umum yang ditunjukkan oleh hadis, yaitu (الْأَمْوَات) (semua orang yang sudah meninggal dunia, siapapun mereka).Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa hadis tersebut bersifat khusus berkaitan dengan orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin. Karena termasuk dalam ibadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah dengan mencela orang-orang kafir. Alasan yang lain, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “karena mereka telah sampai (mendapatkan) apa yang telah mereka kerjakan.” Hal ini adalah isyarat bahwa yang Rasulullah maksudkan adalah orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin.Terdapat pendapat ketiga yang memberikan rincian dalam masalah ini. Yaitu, boleh menyebutkan kejelekan dan keburukan orang kafir yang sudah meninggal dunia, apabila hal itu tidak menyakiti kerabatnya yang muslim. Jika tidak ada kerabatnya yang muslim yang tersakiti, atau memang ketika di masa hidupnya orang kafir tersebut menyakiti kaum muslimin, maka tidak mengapa menyebutkan kejelekan-kejelekannya.Adapun jika orang yang sudah meninggal tersebut adalah muslim, maka tidak boleh mencela atau menjatuhkan kehormatannya. Perbuatan ini termasuk dalam ghibah. Kecuali jika orang tersebut adalah orang fasik yang terdapat maslahat dengan menyebutkan kejelekannya. Dalam hal ini, diperbolehkan menyebutkan kejelekannya untuk memperingatkan kaum muslimin darinya. Bukan dengan maksud untuk mencela, akan tetapi agar kaum muslimin yang masih hidup mendapatkan peringatan tentang orang tersebut. Misalnya, para ulama sepakat tentang bolehnya mencela atau menyebutkan kejelekan perawi (misalnya perawi tersebut adalah seorang pendusta atau buruk hapalannya), baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Hal ini karena adanya maslahat untuk menjaga As-Sunnah. Jika tidak terdapat maslahat, maka wajib menjaga diri dari perbuatan tersebut.Baca juga: Amalan yang Bermanfaat Bagi MayitFaedah keduaHadis di atas mengisyaratkan hikmah mengapa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu terlarang, yaitu:Hikmah pertama, karena mereka telah mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, baik berupa kebaikan ataupun keburukan. Sehingga tidak ada lagi manfaat mencela mereka. Tidak sebagaimana jika mereka masih hidup di dunia, bisa saja mereka mendapatkan manfaat. Hal ini karena bisa jadi mereka sadar atau introspeksi diri ketika mendapatkan kritikan atau celaan.Hikmah kedua, karena mencela orang yang sudah meninggal dunia bisa menyakiti kerabatnya yang masih hidup, sebagaimana disebutkan dalam hadis Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, tidak boleh dipahami bahwa boleh mencela apabila tidak ada kerabat yang tersakiti. Misalnya, ketika jenazah tersebut memang tidak memiliki kerabat atau ketika kerabatnya tidak mengetahui hal itu. Hal ini karena mencela orang yang sudah meninggal dunia itu karena adanya hikmah yang pertama. Apabila muncul efek kedua (menyakiti kerabat), maka perbuatan itu menjadi terlarang karena dua sisi.Hikmah ketiga, bahwa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu termasuk dalam ghibah yang terlarang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang ghibah,ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ“Ghibah adalah kamu menyebutkan kejelekan saudaramu mengenai yang dia tidak sukai (untuk didengarkan orang lain).” (HR. Muslim no. 2589)Termasuk dalam hadis di atas adalah jika orang yang di-ghibah itu masih hidup atau sudah meninggal dunia. Imam Bukhari rahimahullah membuat satu judul bab dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (2: 202), “Melakukan ghibah terhadap orang yang sudah meninggal dunia.”Ibnu Bathal rahimahullah berkata, “Mencela orang yang sudah meninggal dunia itu seperti melakukan ghibah terhadap orang yang masih hidup.” (Syarh Ibnu Bathal ‘ala Shahih Al-Bukhari, 3: 354)Faedah ketigaTerdapat dalam Shahih Bukhari, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجَبَتْ. ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: وَجَبَتْ. فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pasti baginya.’ Kemudian mereka melewati jenazah yang lain, lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka beliau pun bersabda, ‘Pasti baginya.’Kemudian Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan pasti baginya?’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga. Sedangkan jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.’” (HR. Bukhari no. 1367)Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menyebutkan kebaikan ataupun keburukan orang yang sudah meninggal dunia ketika ada hajat (kebutuhan). Dan hal itu tidak termasuk dalam ghibah. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari perbuatan tersebut. Atau bisa jadi orang yang mereka cela tersebut sudah terkenal dengan kefasikan atau kejelekannya sehingga dikhawatirkan ada kaum muslimin yang ikut-ikutan mencontohnya. Sehingga celaan tersebut termasuk dalam peringatan kepada kaum muslimin yang masih hidup. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Doa untuk Kedua Orang Tua yang Meninggal Dunia***@Rumah Kasongan, 28 Ramadan 1444/ 19 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 385-387).Tags: laranganmencela mayitmencela orang mati
Daftar Isi Teks hadisFaedah pertamaFaedah keduaFaedah ketigaTeks hadisDiriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا“Janganlah kalian mencela (menyebutkan kejelekan atau keburukan) orang yang sudah meninggal dunia, karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari no. 1393)Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الْأَحْيَاءَ“Janganlah kalian menghina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.” (HR. Tirmizi no. 1982, dinilai sahih oleh Al-Albani)Terdapat beberapa faedah yang bisa diambil dari dua hadis di atas, di antaranya:Faedah pertamaHadis di atas berisi larangan mencela orang yang sudah meninggal dunia atau merendahkan kehormatannya. Hal ini karena kalimat larangan dalam hadis di atas, yaitu لَا تَسُبُّوا (Janganlah kalian mencela), menunjukkan hukum haram. Sebagaimana hal itu adalah hukum asal yang ditunjukkan oleh kalimat larangan. Sebagian ulama berdalil dengan hadis tersebut untuk melarang mencela orang yang sudah meninggal secara mutlak, baik muslim atau kafir, orang saleh maupun fasik, berdasarkan makna umum yang ditunjukkan oleh hadis, yaitu (الْأَمْوَات) (semua orang yang sudah meninggal dunia, siapapun mereka).Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa hadis tersebut bersifat khusus berkaitan dengan orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin. Karena termasuk dalam ibadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah dengan mencela orang-orang kafir. Alasan yang lain, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “karena mereka telah sampai (mendapatkan) apa yang telah mereka kerjakan.” Hal ini adalah isyarat bahwa yang Rasulullah maksudkan adalah orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin.Terdapat pendapat ketiga yang memberikan rincian dalam masalah ini. Yaitu, boleh menyebutkan kejelekan dan keburukan orang kafir yang sudah meninggal dunia, apabila hal itu tidak menyakiti kerabatnya yang muslim. Jika tidak ada kerabatnya yang muslim yang tersakiti, atau memang ketika di masa hidupnya orang kafir tersebut menyakiti kaum muslimin, maka tidak mengapa menyebutkan kejelekan-kejelekannya.Adapun jika orang yang sudah meninggal tersebut adalah muslim, maka tidak boleh mencela atau menjatuhkan kehormatannya. Perbuatan ini termasuk dalam ghibah. Kecuali jika orang tersebut adalah orang fasik yang terdapat maslahat dengan menyebutkan kejelekannya. Dalam hal ini, diperbolehkan menyebutkan kejelekannya untuk memperingatkan kaum muslimin darinya. Bukan dengan maksud untuk mencela, akan tetapi agar kaum muslimin yang masih hidup mendapatkan peringatan tentang orang tersebut. Misalnya, para ulama sepakat tentang bolehnya mencela atau menyebutkan kejelekan perawi (misalnya perawi tersebut adalah seorang pendusta atau buruk hapalannya), baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Hal ini karena adanya maslahat untuk menjaga As-Sunnah. Jika tidak terdapat maslahat, maka wajib menjaga diri dari perbuatan tersebut.Baca juga: Amalan yang Bermanfaat Bagi MayitFaedah keduaHadis di atas mengisyaratkan hikmah mengapa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu terlarang, yaitu:Hikmah pertama, karena mereka telah mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, baik berupa kebaikan ataupun keburukan. Sehingga tidak ada lagi manfaat mencela mereka. Tidak sebagaimana jika mereka masih hidup di dunia, bisa saja mereka mendapatkan manfaat. Hal ini karena bisa jadi mereka sadar atau introspeksi diri ketika mendapatkan kritikan atau celaan.Hikmah kedua, karena mencela orang yang sudah meninggal dunia bisa menyakiti kerabatnya yang masih hidup, sebagaimana disebutkan dalam hadis Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, tidak boleh dipahami bahwa boleh mencela apabila tidak ada kerabat yang tersakiti. Misalnya, ketika jenazah tersebut memang tidak memiliki kerabat atau ketika kerabatnya tidak mengetahui hal itu. Hal ini karena mencela orang yang sudah meninggal dunia itu karena adanya hikmah yang pertama. Apabila muncul efek kedua (menyakiti kerabat), maka perbuatan itu menjadi terlarang karena dua sisi.Hikmah ketiga, bahwa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu termasuk dalam ghibah yang terlarang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang ghibah,ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ“Ghibah adalah kamu menyebutkan kejelekan saudaramu mengenai yang dia tidak sukai (untuk didengarkan orang lain).” (HR. Muslim no. 2589)Termasuk dalam hadis di atas adalah jika orang yang di-ghibah itu masih hidup atau sudah meninggal dunia. Imam Bukhari rahimahullah membuat satu judul bab dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (2: 202), “Melakukan ghibah terhadap orang yang sudah meninggal dunia.”Ibnu Bathal rahimahullah berkata, “Mencela orang yang sudah meninggal dunia itu seperti melakukan ghibah terhadap orang yang masih hidup.” (Syarh Ibnu Bathal ‘ala Shahih Al-Bukhari, 3: 354)Faedah ketigaTerdapat dalam Shahih Bukhari, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجَبَتْ. ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: وَجَبَتْ. فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pasti baginya.’ Kemudian mereka melewati jenazah yang lain, lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka beliau pun bersabda, ‘Pasti baginya.’Kemudian Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan pasti baginya?’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga. Sedangkan jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.’” (HR. Bukhari no. 1367)Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menyebutkan kebaikan ataupun keburukan orang yang sudah meninggal dunia ketika ada hajat (kebutuhan). Dan hal itu tidak termasuk dalam ghibah. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari perbuatan tersebut. Atau bisa jadi orang yang mereka cela tersebut sudah terkenal dengan kefasikan atau kejelekannya sehingga dikhawatirkan ada kaum muslimin yang ikut-ikutan mencontohnya. Sehingga celaan tersebut termasuk dalam peringatan kepada kaum muslimin yang masih hidup. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Doa untuk Kedua Orang Tua yang Meninggal Dunia***@Rumah Kasongan, 28 Ramadan 1444/ 19 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 385-387).Tags: laranganmencela mayitmencela orang mati


Daftar Isi Teks hadisFaedah pertamaFaedah keduaFaedah ketigaTeks hadisDiriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا“Janganlah kalian mencela (menyebutkan kejelekan atau keburukan) orang yang sudah meninggal dunia, karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari no. 1393)Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الْأَحْيَاءَ“Janganlah kalian menghina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.” (HR. Tirmizi no. 1982, dinilai sahih oleh Al-Albani)Terdapat beberapa faedah yang bisa diambil dari dua hadis di atas, di antaranya:Faedah pertamaHadis di atas berisi larangan mencela orang yang sudah meninggal dunia atau merendahkan kehormatannya. Hal ini karena kalimat larangan dalam hadis di atas, yaitu لَا تَسُبُّوا (Janganlah kalian mencela), menunjukkan hukum haram. Sebagaimana hal itu adalah hukum asal yang ditunjukkan oleh kalimat larangan. Sebagian ulama berdalil dengan hadis tersebut untuk melarang mencela orang yang sudah meninggal secara mutlak, baik muslim atau kafir, orang saleh maupun fasik, berdasarkan makna umum yang ditunjukkan oleh hadis, yaitu (الْأَمْوَات) (semua orang yang sudah meninggal dunia, siapapun mereka).Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa hadis tersebut bersifat khusus berkaitan dengan orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin. Karena termasuk dalam ibadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah dengan mencela orang-orang kafir. Alasan yang lain, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “karena mereka telah sampai (mendapatkan) apa yang telah mereka kerjakan.” Hal ini adalah isyarat bahwa yang Rasulullah maksudkan adalah orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin.Terdapat pendapat ketiga yang memberikan rincian dalam masalah ini. Yaitu, boleh menyebutkan kejelekan dan keburukan orang kafir yang sudah meninggal dunia, apabila hal itu tidak menyakiti kerabatnya yang muslim. Jika tidak ada kerabatnya yang muslim yang tersakiti, atau memang ketika di masa hidupnya orang kafir tersebut menyakiti kaum muslimin, maka tidak mengapa menyebutkan kejelekan-kejelekannya.Adapun jika orang yang sudah meninggal tersebut adalah muslim, maka tidak boleh mencela atau menjatuhkan kehormatannya. Perbuatan ini termasuk dalam ghibah. Kecuali jika orang tersebut adalah orang fasik yang terdapat maslahat dengan menyebutkan kejelekannya. Dalam hal ini, diperbolehkan menyebutkan kejelekannya untuk memperingatkan kaum muslimin darinya. Bukan dengan maksud untuk mencela, akan tetapi agar kaum muslimin yang masih hidup mendapatkan peringatan tentang orang tersebut. Misalnya, para ulama sepakat tentang bolehnya mencela atau menyebutkan kejelekan perawi (misalnya perawi tersebut adalah seorang pendusta atau buruk hapalannya), baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Hal ini karena adanya maslahat untuk menjaga As-Sunnah. Jika tidak terdapat maslahat, maka wajib menjaga diri dari perbuatan tersebut.Baca juga: Amalan yang Bermanfaat Bagi MayitFaedah keduaHadis di atas mengisyaratkan hikmah mengapa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu terlarang, yaitu:Hikmah pertama, karena mereka telah mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, baik berupa kebaikan ataupun keburukan. Sehingga tidak ada lagi manfaat mencela mereka. Tidak sebagaimana jika mereka masih hidup di dunia, bisa saja mereka mendapatkan manfaat. Hal ini karena bisa jadi mereka sadar atau introspeksi diri ketika mendapatkan kritikan atau celaan.Hikmah kedua, karena mencela orang yang sudah meninggal dunia bisa menyakiti kerabatnya yang masih hidup, sebagaimana disebutkan dalam hadis Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, tidak boleh dipahami bahwa boleh mencela apabila tidak ada kerabat yang tersakiti. Misalnya, ketika jenazah tersebut memang tidak memiliki kerabat atau ketika kerabatnya tidak mengetahui hal itu. Hal ini karena mencela orang yang sudah meninggal dunia itu karena adanya hikmah yang pertama. Apabila muncul efek kedua (menyakiti kerabat), maka perbuatan itu menjadi terlarang karena dua sisi.Hikmah ketiga, bahwa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu termasuk dalam ghibah yang terlarang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang ghibah,ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ“Ghibah adalah kamu menyebutkan kejelekan saudaramu mengenai yang dia tidak sukai (untuk didengarkan orang lain).” (HR. Muslim no. 2589)Termasuk dalam hadis di atas adalah jika orang yang di-ghibah itu masih hidup atau sudah meninggal dunia. Imam Bukhari rahimahullah membuat satu judul bab dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (2: 202), “Melakukan ghibah terhadap orang yang sudah meninggal dunia.”Ibnu Bathal rahimahullah berkata, “Mencela orang yang sudah meninggal dunia itu seperti melakukan ghibah terhadap orang yang masih hidup.” (Syarh Ibnu Bathal ‘ala Shahih Al-Bukhari, 3: 354)Faedah ketigaTerdapat dalam Shahih Bukhari, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجَبَتْ. ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: وَجَبَتْ. فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pasti baginya.’ Kemudian mereka melewati jenazah yang lain, lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka beliau pun bersabda, ‘Pasti baginya.’Kemudian Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan pasti baginya?’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga. Sedangkan jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.’” (HR. Bukhari no. 1367)Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menyebutkan kebaikan ataupun keburukan orang yang sudah meninggal dunia ketika ada hajat (kebutuhan). Dan hal itu tidak termasuk dalam ghibah. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari perbuatan tersebut. Atau bisa jadi orang yang mereka cela tersebut sudah terkenal dengan kefasikan atau kejelekannya sehingga dikhawatirkan ada kaum muslimin yang ikut-ikutan mencontohnya. Sehingga celaan tersebut termasuk dalam peringatan kepada kaum muslimin yang masih hidup. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Doa untuk Kedua Orang Tua yang Meninggal Dunia***@Rumah Kasongan, 28 Ramadan 1444/ 19 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 385-387).Tags: laranganmencela mayitmencela orang mati

Untungnya Puasa Syawal Pahalanya Besar & Mudah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #nasehatulama

Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal saleh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannyadengan bersabda, “Barang siapa yang telah berpuasa Ramadan, lalu melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim) Makna hadis ini adalah barang siapa yang selesai puasa Ramadan,lalu berpuasa enam hari lagi di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun.Makna “ad-Dahr” yakni tahun. Hal ini karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat.Jadi puasa di bulan Ramadan setara dengan puasa 10 bulan,dan puasa 6 hari di bulan Syawal setara dengan puasa 60 hari, yakni 2 bulan. Jika kamu tambahkan 2 bulan ini dengan 10 bulan,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh. Oleh sebab itu, hendaklah seorang Muslim berusaha untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal ini,karena pahalanya besar dan mudah dilakukan. ==== صِيَامُ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ عَمَلٌ صَالِحٌ قَدْ حَثَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ السَّنَةِ الْمَقْصُودُ بِالدَّهْرِ يَعْنِي السَّنَةَ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَنْ عَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ عَنْ سِتِّينَ يَوْمًا أَيْ عَنْ شَهْرَيْنِ فَإِذَا أَضَفْتَ الشَّهْرَيْنِ إِلَى عَشْرَةِ أَشْهُرٍ عَادَلَ ذَلِكَ السَّنَةَ كُلَّهَا وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى صِيَامِ هَذِهِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَإِنَّ الْأَجْرَ عَظِيمٌ وَالْعَمَلُ يَسِيرٌ

Untungnya Puasa Syawal Pahalanya Besar & Mudah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #nasehatulama

Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal saleh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannyadengan bersabda, “Barang siapa yang telah berpuasa Ramadan, lalu melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim) Makna hadis ini adalah barang siapa yang selesai puasa Ramadan,lalu berpuasa enam hari lagi di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun.Makna “ad-Dahr” yakni tahun. Hal ini karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat.Jadi puasa di bulan Ramadan setara dengan puasa 10 bulan,dan puasa 6 hari di bulan Syawal setara dengan puasa 60 hari, yakni 2 bulan. Jika kamu tambahkan 2 bulan ini dengan 10 bulan,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh. Oleh sebab itu, hendaklah seorang Muslim berusaha untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal ini,karena pahalanya besar dan mudah dilakukan. ==== صِيَامُ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ عَمَلٌ صَالِحٌ قَدْ حَثَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ السَّنَةِ الْمَقْصُودُ بِالدَّهْرِ يَعْنِي السَّنَةَ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَنْ عَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ عَنْ سِتِّينَ يَوْمًا أَيْ عَنْ شَهْرَيْنِ فَإِذَا أَضَفْتَ الشَّهْرَيْنِ إِلَى عَشْرَةِ أَشْهُرٍ عَادَلَ ذَلِكَ السَّنَةَ كُلَّهَا وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى صِيَامِ هَذِهِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَإِنَّ الْأَجْرَ عَظِيمٌ وَالْعَمَلُ يَسِيرٌ
Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal saleh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannyadengan bersabda, “Barang siapa yang telah berpuasa Ramadan, lalu melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim) Makna hadis ini adalah barang siapa yang selesai puasa Ramadan,lalu berpuasa enam hari lagi di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun.Makna “ad-Dahr” yakni tahun. Hal ini karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat.Jadi puasa di bulan Ramadan setara dengan puasa 10 bulan,dan puasa 6 hari di bulan Syawal setara dengan puasa 60 hari, yakni 2 bulan. Jika kamu tambahkan 2 bulan ini dengan 10 bulan,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh. Oleh sebab itu, hendaklah seorang Muslim berusaha untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal ini,karena pahalanya besar dan mudah dilakukan. ==== صِيَامُ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ عَمَلٌ صَالِحٌ قَدْ حَثَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ السَّنَةِ الْمَقْصُودُ بِالدَّهْرِ يَعْنِي السَّنَةَ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَنْ عَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ عَنْ سِتِّينَ يَوْمًا أَيْ عَنْ شَهْرَيْنِ فَإِذَا أَضَفْتَ الشَّهْرَيْنِ إِلَى عَشْرَةِ أَشْهُرٍ عَادَلَ ذَلِكَ السَّنَةَ كُلَّهَا وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى صِيَامِ هَذِهِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَإِنَّ الْأَجْرَ عَظِيمٌ وَالْعَمَلُ يَسِيرٌ


Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal saleh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannyadengan bersabda, “Barang siapa yang telah berpuasa Ramadan, lalu melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim) Makna hadis ini adalah barang siapa yang selesai puasa Ramadan,lalu berpuasa enam hari lagi di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun.Makna “ad-Dahr” yakni tahun. Hal ini karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat.Jadi puasa di bulan Ramadan setara dengan puasa 10 bulan,dan puasa 6 hari di bulan Syawal setara dengan puasa 60 hari, yakni 2 bulan. Jika kamu tambahkan 2 bulan ini dengan 10 bulan,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh. Oleh sebab itu, hendaklah seorang Muslim berusaha untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal ini,karena pahalanya besar dan mudah dilakukan. ==== صِيَامُ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ عَمَلٌ صَالِحٌ قَدْ حَثَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ السَّنَةِ الْمَقْصُودُ بِالدَّهْرِ يَعْنِي السَّنَةَ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَنْ عَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ عَنْ سِتِّينَ يَوْمًا أَيْ عَنْ شَهْرَيْنِ فَإِذَا أَضَفْتَ الشَّهْرَيْنِ إِلَى عَشْرَةِ أَشْهُرٍ عَادَلَ ذَلِكَ السَّنَةَ كُلَّهَا وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى صِيَامِ هَذِهِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَإِنَّ الْأَجْرَ عَظِيمٌ وَالْعَمَلُ يَسِيرٌ

Maksud Ayat “Sembahlah Allah Sampai Datang Yakin”

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dalam ayat yang berbunyi “Sembahlah Allah sampai datang yakin?”. Apakah berarti jika sudah yakin maka tidak perlu lagi beribadah? Mohon pencerahannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasshahbihi ajma’in, amma ba’du. Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin” (QS. Al-Hijr: 99). Ayat ini tidak bermakna bahwa jika seseorang sudah yakin, maka tidak perlu lagi beribadah, sebagaimana pemahaman sebagian orang sufi.  Al-yaqin dalam ayat ini maknanya adalah al-maut (kematian). Karena kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang, sehingga disebut al yaqin. Ini ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits dari Ummul ‘Ala, bibi dari Hizam bin Hakim, radhiyallahu’anhuma, ia berkata: طَارَ لَنَا عُثْمَانُ بنُ مَظْعُونٍ في السُّكْنَى، حِينَ اقْتَرَعَتِ الأنْصَارُ علَى سُكْنَى المُهَاجِرِينَ، فَاشْتَكَى فَمَرَّضْنَاهُ حتَّى تُوُفِّيَ، ثُمَّ جَعَلْنَاهُ في أثْوَابِهِ، فَدَخَلَ عَلَيْنَا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقُلتُ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أبَا السَّائِبِ، فَشَهَادَتي عَلَيْكَ لقَدْ أكْرَمَكَ اللَّهُ، قالَ: وما يُدْرِيكِ قُلتُ: لا أدْرِي واللَّهِ، قالَ: أمَّا هو فقَدْ جَاءَهُ اليَقِينُ، إنِّي لَأَرْجُو له الخَيْرَ مِنَ اللَّهِ “Utsman bin Mazh’un pernah mendatangi kami dalam sebuah hunian ketika orang Anshar sedang membagikan pembagian ghanimah untuk kaum Muhajirin. Ia (Utsman) mengeluhkan tentang sakitnya, lalu kami merawatnya hingga akhirnya ia meninggal. Kemudian kami mengkafaninya dengan kain-kainnya. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menemui kami. Dan aku (Ummul ‘Ala) berkata (kepada jenazah Utsman): “Semoga Allah merahmati engkau wahai Abu Sa`ib, aku bersaksi atas kebaikanmu, sungguh Allah telah memuliakanmu (dengan kehadiran Rasulullah)”. Nabi bertanya: “Dari mana engkau tahu Allah telah memuliakan Utsman?” Aku jawab: “Demi Allah saya tidak tahu wahai Rasulullah”. Nabi lalu bersabda: “Sungguh telah datang kepadanya al-yaqin (kematian), dan aku berharap ia mendapatkan kebaikan dari Allah” (HR. Al-Bukhari no. 7018). Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan kematian dengan al-yaqin.  Dan tafsiran ini juga kesepakatan seluruh ahli tafsir. Mereka semua sepakat bahwa al-yaqin maknanya adalah kematian. Al-Qurthubi menjelaskan: قوله تعالى : واعبد ربك حتى يأتيك اليقين فيه مسألة واحدة : وهو أن اليقين الموت “Firman Allah ta’ala [Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin] dalam hal ini hanya ada satu pendapat. Yaitu bahwa al yaqin maknanya adalah kematian” (Tafsir Al-Qurthubi, 13/264). Maka makna ayat ini adalah perintah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan juga umat beliau untuk beribadah selama masih hidup. Sebagaimana perkataan Nabi Isa ‘alaihissalam yang disebutkan dalam Al-Qur’an: وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “Allah telah menjadikan aku penuh keberkahan dimanapun aku berada, dan Allah telah perintahkan aku untuk shalat dan membayar zakat selama aku masih hidup” (QS. Maryam: 31). Ayat ini juga bantahan untuk orang-orang sufi dan yang semisal mereka, yang memaknai secara keliru ayat di atas. Karena seorang Nabi saja diperintahkan untuk beribadah sampai wafat. Maka bagaimana mungkin orang yang bukan Nabi boleh berhenti beribadah ketika sudah mencapai derajat yakin? Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Orang-orang malahidah (atheis) berdalil secara keliru dengan ayat di atas, karena menafsirkan al yaqin dengan al ma’rifah (mengenal). Jika seseorang sudah sampai pada derajat mengenal Allah maka gugur darinya beban syariat. Ini adalah kekufuran, kesesatan dan kejahilan. Karena para Nabi dan pengikutnya saja yang mana mereka adalah orang-orang yang paling mengenal Allah, bahkan mengenal hak-hak Allah dan sifat-sifat Allah, serta mengenal apa saja yang berhak diserahkan kepada Allah berupa pengagungan, mereka semua orang-orang yang paling maksimal dan paling banyak dalam beribadah kepada Allah. Bahkan mereka secara kontinu melakukan amalan-amalan kebaikan sampai mereka diwafatkan. Namun al-yaqin yang ada dalam ayat di atas maksudnya adalah kematian” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/554). As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas: استمر في جميع الأوقات على التقرب إلى الله بأنواع العبادات، فامتثل صلى الله عليه وسلم أمر ربه، فلم يزل دائبا في العبادة، حتى أتاه اليقين من ربه صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا “Rasulullah diperintahkan untuk terus-menerus beribadah kepada Allah di setiap waktu dengan berbagai jenis ibadah. Dan beliau melaksanakan perintah Rabb-nya tersebut. Beliau senantiasa dalam keadaan ibadah kepada Allah sampai datang kepadanya kematian dari Rabb-nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau” (Taisir Karimirrahman, hal. 435). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bacaan Imam Meluruskan Shaf Sesuai Sunnah, Hukum Meninggalkan Sholat, Doa Ziarah Kubur Dalam Islam, Kunyah, Shalat Nisfu Syaban, Pengertian Aliran Syiah Visited 337 times, 2 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid

Maksud Ayat “Sembahlah Allah Sampai Datang Yakin”

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dalam ayat yang berbunyi “Sembahlah Allah sampai datang yakin?”. Apakah berarti jika sudah yakin maka tidak perlu lagi beribadah? Mohon pencerahannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasshahbihi ajma’in, amma ba’du. Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin” (QS. Al-Hijr: 99). Ayat ini tidak bermakna bahwa jika seseorang sudah yakin, maka tidak perlu lagi beribadah, sebagaimana pemahaman sebagian orang sufi.  Al-yaqin dalam ayat ini maknanya adalah al-maut (kematian). Karena kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang, sehingga disebut al yaqin. Ini ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits dari Ummul ‘Ala, bibi dari Hizam bin Hakim, radhiyallahu’anhuma, ia berkata: طَارَ لَنَا عُثْمَانُ بنُ مَظْعُونٍ في السُّكْنَى، حِينَ اقْتَرَعَتِ الأنْصَارُ علَى سُكْنَى المُهَاجِرِينَ، فَاشْتَكَى فَمَرَّضْنَاهُ حتَّى تُوُفِّيَ، ثُمَّ جَعَلْنَاهُ في أثْوَابِهِ، فَدَخَلَ عَلَيْنَا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقُلتُ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أبَا السَّائِبِ، فَشَهَادَتي عَلَيْكَ لقَدْ أكْرَمَكَ اللَّهُ، قالَ: وما يُدْرِيكِ قُلتُ: لا أدْرِي واللَّهِ، قالَ: أمَّا هو فقَدْ جَاءَهُ اليَقِينُ، إنِّي لَأَرْجُو له الخَيْرَ مِنَ اللَّهِ “Utsman bin Mazh’un pernah mendatangi kami dalam sebuah hunian ketika orang Anshar sedang membagikan pembagian ghanimah untuk kaum Muhajirin. Ia (Utsman) mengeluhkan tentang sakitnya, lalu kami merawatnya hingga akhirnya ia meninggal. Kemudian kami mengkafaninya dengan kain-kainnya. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menemui kami. Dan aku (Ummul ‘Ala) berkata (kepada jenazah Utsman): “Semoga Allah merahmati engkau wahai Abu Sa`ib, aku bersaksi atas kebaikanmu, sungguh Allah telah memuliakanmu (dengan kehadiran Rasulullah)”. Nabi bertanya: “Dari mana engkau tahu Allah telah memuliakan Utsman?” Aku jawab: “Demi Allah saya tidak tahu wahai Rasulullah”. Nabi lalu bersabda: “Sungguh telah datang kepadanya al-yaqin (kematian), dan aku berharap ia mendapatkan kebaikan dari Allah” (HR. Al-Bukhari no. 7018). Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan kematian dengan al-yaqin.  Dan tafsiran ini juga kesepakatan seluruh ahli tafsir. Mereka semua sepakat bahwa al-yaqin maknanya adalah kematian. Al-Qurthubi menjelaskan: قوله تعالى : واعبد ربك حتى يأتيك اليقين فيه مسألة واحدة : وهو أن اليقين الموت “Firman Allah ta’ala [Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin] dalam hal ini hanya ada satu pendapat. Yaitu bahwa al yaqin maknanya adalah kematian” (Tafsir Al-Qurthubi, 13/264). Maka makna ayat ini adalah perintah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan juga umat beliau untuk beribadah selama masih hidup. Sebagaimana perkataan Nabi Isa ‘alaihissalam yang disebutkan dalam Al-Qur’an: وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “Allah telah menjadikan aku penuh keberkahan dimanapun aku berada, dan Allah telah perintahkan aku untuk shalat dan membayar zakat selama aku masih hidup” (QS. Maryam: 31). Ayat ini juga bantahan untuk orang-orang sufi dan yang semisal mereka, yang memaknai secara keliru ayat di atas. Karena seorang Nabi saja diperintahkan untuk beribadah sampai wafat. Maka bagaimana mungkin orang yang bukan Nabi boleh berhenti beribadah ketika sudah mencapai derajat yakin? Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Orang-orang malahidah (atheis) berdalil secara keliru dengan ayat di atas, karena menafsirkan al yaqin dengan al ma’rifah (mengenal). Jika seseorang sudah sampai pada derajat mengenal Allah maka gugur darinya beban syariat. Ini adalah kekufuran, kesesatan dan kejahilan. Karena para Nabi dan pengikutnya saja yang mana mereka adalah orang-orang yang paling mengenal Allah, bahkan mengenal hak-hak Allah dan sifat-sifat Allah, serta mengenal apa saja yang berhak diserahkan kepada Allah berupa pengagungan, mereka semua orang-orang yang paling maksimal dan paling banyak dalam beribadah kepada Allah. Bahkan mereka secara kontinu melakukan amalan-amalan kebaikan sampai mereka diwafatkan. Namun al-yaqin yang ada dalam ayat di atas maksudnya adalah kematian” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/554). As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas: استمر في جميع الأوقات على التقرب إلى الله بأنواع العبادات، فامتثل صلى الله عليه وسلم أمر ربه، فلم يزل دائبا في العبادة، حتى أتاه اليقين من ربه صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا “Rasulullah diperintahkan untuk terus-menerus beribadah kepada Allah di setiap waktu dengan berbagai jenis ibadah. Dan beliau melaksanakan perintah Rabb-nya tersebut. Beliau senantiasa dalam keadaan ibadah kepada Allah sampai datang kepadanya kematian dari Rabb-nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau” (Taisir Karimirrahman, hal. 435). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bacaan Imam Meluruskan Shaf Sesuai Sunnah, Hukum Meninggalkan Sholat, Doa Ziarah Kubur Dalam Islam, Kunyah, Shalat Nisfu Syaban, Pengertian Aliran Syiah Visited 337 times, 2 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apa yang dimaksud dalam ayat yang berbunyi “Sembahlah Allah sampai datang yakin?”. Apakah berarti jika sudah yakin maka tidak perlu lagi beribadah? Mohon pencerahannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasshahbihi ajma’in, amma ba’du. Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin” (QS. Al-Hijr: 99). Ayat ini tidak bermakna bahwa jika seseorang sudah yakin, maka tidak perlu lagi beribadah, sebagaimana pemahaman sebagian orang sufi.  Al-yaqin dalam ayat ini maknanya adalah al-maut (kematian). Karena kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang, sehingga disebut al yaqin. Ini ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits dari Ummul ‘Ala, bibi dari Hizam bin Hakim, radhiyallahu’anhuma, ia berkata: طَارَ لَنَا عُثْمَانُ بنُ مَظْعُونٍ في السُّكْنَى، حِينَ اقْتَرَعَتِ الأنْصَارُ علَى سُكْنَى المُهَاجِرِينَ، فَاشْتَكَى فَمَرَّضْنَاهُ حتَّى تُوُفِّيَ، ثُمَّ جَعَلْنَاهُ في أثْوَابِهِ، فَدَخَلَ عَلَيْنَا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقُلتُ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أبَا السَّائِبِ، فَشَهَادَتي عَلَيْكَ لقَدْ أكْرَمَكَ اللَّهُ، قالَ: وما يُدْرِيكِ قُلتُ: لا أدْرِي واللَّهِ، قالَ: أمَّا هو فقَدْ جَاءَهُ اليَقِينُ، إنِّي لَأَرْجُو له الخَيْرَ مِنَ اللَّهِ “Utsman bin Mazh’un pernah mendatangi kami dalam sebuah hunian ketika orang Anshar sedang membagikan pembagian ghanimah untuk kaum Muhajirin. Ia (Utsman) mengeluhkan tentang sakitnya, lalu kami merawatnya hingga akhirnya ia meninggal. Kemudian kami mengkafaninya dengan kain-kainnya. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menemui kami. Dan aku (Ummul ‘Ala) berkata (kepada jenazah Utsman): “Semoga Allah merahmati engkau wahai Abu Sa`ib, aku bersaksi atas kebaikanmu, sungguh Allah telah memuliakanmu (dengan kehadiran Rasulullah)”. Nabi bertanya: “Dari mana engkau tahu Allah telah memuliakan Utsman?” Aku jawab: “Demi Allah saya tidak tahu wahai Rasulullah”. Nabi lalu bersabda: “Sungguh telah datang kepadanya al-yaqin (kematian), dan aku berharap ia mendapatkan kebaikan dari Allah” (HR. Al-Bukhari no. 7018). Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan kematian dengan al-yaqin.  Dan tafsiran ini juga kesepakatan seluruh ahli tafsir. Mereka semua sepakat bahwa al-yaqin maknanya adalah kematian. Al-Qurthubi menjelaskan: قوله تعالى : واعبد ربك حتى يأتيك اليقين فيه مسألة واحدة : وهو أن اليقين الموت “Firman Allah ta’ala [Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin] dalam hal ini hanya ada satu pendapat. Yaitu bahwa al yaqin maknanya adalah kematian” (Tafsir Al-Qurthubi, 13/264). Maka makna ayat ini adalah perintah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan juga umat beliau untuk beribadah selama masih hidup. Sebagaimana perkataan Nabi Isa ‘alaihissalam yang disebutkan dalam Al-Qur’an: وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “Allah telah menjadikan aku penuh keberkahan dimanapun aku berada, dan Allah telah perintahkan aku untuk shalat dan membayar zakat selama aku masih hidup” (QS. Maryam: 31). Ayat ini juga bantahan untuk orang-orang sufi dan yang semisal mereka, yang memaknai secara keliru ayat di atas. Karena seorang Nabi saja diperintahkan untuk beribadah sampai wafat. Maka bagaimana mungkin orang yang bukan Nabi boleh berhenti beribadah ketika sudah mencapai derajat yakin? Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Orang-orang malahidah (atheis) berdalil secara keliru dengan ayat di atas, karena menafsirkan al yaqin dengan al ma’rifah (mengenal). Jika seseorang sudah sampai pada derajat mengenal Allah maka gugur darinya beban syariat. Ini adalah kekufuran, kesesatan dan kejahilan. Karena para Nabi dan pengikutnya saja yang mana mereka adalah orang-orang yang paling mengenal Allah, bahkan mengenal hak-hak Allah dan sifat-sifat Allah, serta mengenal apa saja yang berhak diserahkan kepada Allah berupa pengagungan, mereka semua orang-orang yang paling maksimal dan paling banyak dalam beribadah kepada Allah. Bahkan mereka secara kontinu melakukan amalan-amalan kebaikan sampai mereka diwafatkan. Namun al-yaqin yang ada dalam ayat di atas maksudnya adalah kematian” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/554). As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas: استمر في جميع الأوقات على التقرب إلى الله بأنواع العبادات، فامتثل صلى الله عليه وسلم أمر ربه، فلم يزل دائبا في العبادة، حتى أتاه اليقين من ربه صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا “Rasulullah diperintahkan untuk terus-menerus beribadah kepada Allah di setiap waktu dengan berbagai jenis ibadah. Dan beliau melaksanakan perintah Rabb-nya tersebut. Beliau senantiasa dalam keadaan ibadah kepada Allah sampai datang kepadanya kematian dari Rabb-nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau” (Taisir Karimirrahman, hal. 435). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bacaan Imam Meluruskan Shaf Sesuai Sunnah, Hukum Meninggalkan Sholat, Doa Ziarah Kubur Dalam Islam, Kunyah, Shalat Nisfu Syaban, Pengertian Aliran Syiah Visited 337 times, 2 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Apa yang dimaksud dalam ayat yang berbunyi “Sembahlah Allah sampai datang yakin?”. Apakah berarti jika sudah yakin maka tidak perlu lagi beribadah? Mohon pencerahannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasshahbihi ajma’in, amma ba’du. Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin” (QS. Al-Hijr: 99). Ayat ini tidak bermakna bahwa jika seseorang sudah yakin, maka tidak perlu lagi beribadah, sebagaimana pemahaman sebagian orang sufi.  Al-yaqin dalam ayat ini maknanya adalah al-maut (kematian). Karena kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang, sehingga disebut al yaqin. Ini ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits dari Ummul ‘Ala, bibi dari Hizam bin Hakim, radhiyallahu’anhuma, ia berkata: طَارَ لَنَا عُثْمَانُ بنُ مَظْعُونٍ في السُّكْنَى، حِينَ اقْتَرَعَتِ الأنْصَارُ علَى سُكْنَى المُهَاجِرِينَ، فَاشْتَكَى فَمَرَّضْنَاهُ حتَّى تُوُفِّيَ، ثُمَّ جَعَلْنَاهُ في أثْوَابِهِ، فَدَخَلَ عَلَيْنَا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقُلتُ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أبَا السَّائِبِ، فَشَهَادَتي عَلَيْكَ لقَدْ أكْرَمَكَ اللَّهُ، قالَ: وما يُدْرِيكِ قُلتُ: لا أدْرِي واللَّهِ، قالَ: أمَّا هو فقَدْ جَاءَهُ اليَقِينُ، إنِّي لَأَرْجُو له الخَيْرَ مِنَ اللَّهِ “Utsman bin Mazh’un pernah mendatangi kami dalam sebuah hunian ketika orang Anshar sedang membagikan pembagian ghanimah untuk kaum Muhajirin. Ia (Utsman) mengeluhkan tentang sakitnya, lalu kami merawatnya hingga akhirnya ia meninggal. Kemudian kami mengkafaninya dengan kain-kainnya. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menemui kami. Dan aku (Ummul ‘Ala) berkata (kepada jenazah Utsman): “Semoga Allah merahmati engkau wahai Abu Sa`ib, aku bersaksi atas kebaikanmu, sungguh Allah telah memuliakanmu (dengan kehadiran Rasulullah)”. Nabi bertanya: “Dari mana engkau tahu Allah telah memuliakan Utsman?” Aku jawab: “Demi Allah saya tidak tahu wahai Rasulullah”. Nabi lalu bersabda: “Sungguh telah datang kepadanya al-yaqin (kematian), dan aku berharap ia mendapatkan kebaikan dari Allah” (HR. Al-Bukhari no. 7018). Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan kematian dengan al-yaqin.  Dan tafsiran ini juga kesepakatan seluruh ahli tafsir. Mereka semua sepakat bahwa al-yaqin maknanya adalah kematian. Al-Qurthubi menjelaskan: قوله تعالى : واعبد ربك حتى يأتيك اليقين فيه مسألة واحدة : وهو أن اليقين الموت “Firman Allah ta’ala [Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin] dalam hal ini hanya ada satu pendapat. Yaitu bahwa al yaqin maknanya adalah kematian” (Tafsir Al-Qurthubi, 13/264). Maka makna ayat ini adalah perintah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan juga umat beliau untuk beribadah selama masih hidup. Sebagaimana perkataan Nabi Isa ‘alaihissalam yang disebutkan dalam Al-Qur’an: وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “Allah telah menjadikan aku penuh keberkahan dimanapun aku berada, dan Allah telah perintahkan aku untuk shalat dan membayar zakat selama aku masih hidup” (QS. Maryam: 31). Ayat ini juga bantahan untuk orang-orang sufi dan yang semisal mereka, yang memaknai secara keliru ayat di atas. Karena seorang Nabi saja diperintahkan untuk beribadah sampai wafat. Maka bagaimana mungkin orang yang bukan Nabi boleh berhenti beribadah ketika sudah mencapai derajat yakin? Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Orang-orang malahidah (atheis) berdalil secara keliru dengan ayat di atas, karena menafsirkan al yaqin dengan al ma’rifah (mengenal). Jika seseorang sudah sampai pada derajat mengenal Allah maka gugur darinya beban syariat. Ini adalah kekufuran, kesesatan dan kejahilan. Karena para Nabi dan pengikutnya saja yang mana mereka adalah orang-orang yang paling mengenal Allah, bahkan mengenal hak-hak Allah dan sifat-sifat Allah, serta mengenal apa saja yang berhak diserahkan kepada Allah berupa pengagungan, mereka semua orang-orang yang paling maksimal dan paling banyak dalam beribadah kepada Allah. Bahkan mereka secara kontinu melakukan amalan-amalan kebaikan sampai mereka diwafatkan. Namun al-yaqin yang ada dalam ayat di atas maksudnya adalah kematian” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/554). As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas: استمر في جميع الأوقات على التقرب إلى الله بأنواع العبادات، فامتثل صلى الله عليه وسلم أمر ربه، فلم يزل دائبا في العبادة، حتى أتاه اليقين من ربه صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا “Rasulullah diperintahkan untuk terus-menerus beribadah kepada Allah di setiap waktu dengan berbagai jenis ibadah. Dan beliau melaksanakan perintah Rabb-nya tersebut. Beliau senantiasa dalam keadaan ibadah kepada Allah sampai datang kepadanya kematian dari Rabb-nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau” (Taisir Karimirrahman, hal. 435). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bacaan Imam Meluruskan Shaf Sesuai Sunnah, Hukum Meninggalkan Sholat, Doa Ziarah Kubur Dalam Islam, Kunyah, Shalat Nisfu Syaban, Pengertian Aliran Syiah Visited 337 times, 2 visit(s) today Post Views: 428 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengenal Hak Rasulullah

Hak Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam adalah hak yang terbesar di antara para makhluk. Tidak ada hal yang lebih besar dari hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِّتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلً“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 8-9)Oleh karena itu, wajib bagi Anda untuk mendahulukan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas kecintaan kepada manusia lainnya, termasuk diri Anda, anak, dan orang tua Anda sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يُؤْمِنُ أحدُكم حتى أكونَ أحبَّ إليه من ولدِهِ ، ووالدِهِ ، والناسِ أجمعينَ“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku (Muhammad) menjadi orang yang paling dicintai dari anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di antara hak-hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah memuliakannya, menghormatinya, mengagungkannya dengan pengagungan yang tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Dan mengagungkan kehidupannya, sunahnya, diri beliau yang mulia, memuliakannya setelah wafatnya, dan juga memuliakan sunah dan syariat lurus yang diajarkan beliau. Barangsiapa yang melihat bagaimana para sahabat memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya Anda akan mengenal bagaimana generasi utama menegakkan hak atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Urwah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada kaumnya, kaum Quraisy, ketika diutus untuk bernegosiasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menata perjanjian Hudaibiyah,“Aku pernah berjumpa dengan para raja, kisra, kaisar, dan Najasyi. Aku tidak pernah melihat satu pun yang mengagungkannya dari para sahabatnya seperti pengagungan sahabat Muhammad kepada Muhammad. Jika ia memerintahnya, mereka bersegera memenuhi perintahnya. Jika ia berwudu, mereka nyaris berkelahi demi merebut air sisa wudunya. Jika ia berbicara, mereka merendahkan suaranya di hadapannya. Mereka tidak mampu menatapnya karena penghormatan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2581)Demikianlah para sahabat radhiyallahu ‘anhum memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada mereka dari akhlak yang mulia, kelembutan diri, dan kerendahan hati. Dan seandainya engkau bersikap keras dan kasar, niscaya mereka akan berpaling dari sisimu.Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:Pertama: Membenarkan kabar yang dibawanya dari kabar-kabar terdahulu dan yang akan datang.Kedua: Mematuhi perintahnya dan menjauhi apa yang dilarang dan yang tidak disukainya.Ketiga: Mengimani bahwa petunjuknya adalah petunjuk yang paling sempurna dan syariat yang dibawanya adalah syariat yang paling sempurna.Keempat: Tidak mendahulukan undang-undang dan hukum lain sebagai landasan di atas syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65)قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ali Imran: 31)Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membela syariat dan petunjuknya dengan kekuatan yang seseorang mampu melakukannya, dengan mempertimbangkan metode apa yang digunakannya untuk membela. Jika musuhnya berperang dengan menggunakan hujah (argumentasi) dan syubhat, maka pembelaan dengan ilmu dan membantah hujah dan syubhatnya, dan menjelaskan kerusakan pemikirannya. Jika musuh menyerang dengan senjata dan perang, pembelaan juga dengan yang semisal dengan itu. Mustahil bagi seorang mukmin mendengar perlawanan terhadap syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan terhadap diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, lantas ia hanya diam saja atas semua itu sedangkan ia mampu untuk melawannya. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Pentingnya Mengenal Sifat Fisik Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquq Da’at ilaihaa Al-Fithrotu wa Qarartuhaa Asy-Syari’ah karya Syekh Sholeh bin Utsaimin rahimahullah.Tags: cinta Rasulullahhak rasulullahrasulullah

Mengenal Hak Rasulullah

Hak Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam adalah hak yang terbesar di antara para makhluk. Tidak ada hal yang lebih besar dari hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِّتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلً“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 8-9)Oleh karena itu, wajib bagi Anda untuk mendahulukan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas kecintaan kepada manusia lainnya, termasuk diri Anda, anak, dan orang tua Anda sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يُؤْمِنُ أحدُكم حتى أكونَ أحبَّ إليه من ولدِهِ ، ووالدِهِ ، والناسِ أجمعينَ“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku (Muhammad) menjadi orang yang paling dicintai dari anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di antara hak-hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah memuliakannya, menghormatinya, mengagungkannya dengan pengagungan yang tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Dan mengagungkan kehidupannya, sunahnya, diri beliau yang mulia, memuliakannya setelah wafatnya, dan juga memuliakan sunah dan syariat lurus yang diajarkan beliau. Barangsiapa yang melihat bagaimana para sahabat memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya Anda akan mengenal bagaimana generasi utama menegakkan hak atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Urwah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada kaumnya, kaum Quraisy, ketika diutus untuk bernegosiasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menata perjanjian Hudaibiyah,“Aku pernah berjumpa dengan para raja, kisra, kaisar, dan Najasyi. Aku tidak pernah melihat satu pun yang mengagungkannya dari para sahabatnya seperti pengagungan sahabat Muhammad kepada Muhammad. Jika ia memerintahnya, mereka bersegera memenuhi perintahnya. Jika ia berwudu, mereka nyaris berkelahi demi merebut air sisa wudunya. Jika ia berbicara, mereka merendahkan suaranya di hadapannya. Mereka tidak mampu menatapnya karena penghormatan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2581)Demikianlah para sahabat radhiyallahu ‘anhum memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada mereka dari akhlak yang mulia, kelembutan diri, dan kerendahan hati. Dan seandainya engkau bersikap keras dan kasar, niscaya mereka akan berpaling dari sisimu.Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:Pertama: Membenarkan kabar yang dibawanya dari kabar-kabar terdahulu dan yang akan datang.Kedua: Mematuhi perintahnya dan menjauhi apa yang dilarang dan yang tidak disukainya.Ketiga: Mengimani bahwa petunjuknya adalah petunjuk yang paling sempurna dan syariat yang dibawanya adalah syariat yang paling sempurna.Keempat: Tidak mendahulukan undang-undang dan hukum lain sebagai landasan di atas syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65)قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ali Imran: 31)Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membela syariat dan petunjuknya dengan kekuatan yang seseorang mampu melakukannya, dengan mempertimbangkan metode apa yang digunakannya untuk membela. Jika musuhnya berperang dengan menggunakan hujah (argumentasi) dan syubhat, maka pembelaan dengan ilmu dan membantah hujah dan syubhatnya, dan menjelaskan kerusakan pemikirannya. Jika musuh menyerang dengan senjata dan perang, pembelaan juga dengan yang semisal dengan itu. Mustahil bagi seorang mukmin mendengar perlawanan terhadap syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan terhadap diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, lantas ia hanya diam saja atas semua itu sedangkan ia mampu untuk melawannya. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Pentingnya Mengenal Sifat Fisik Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquq Da’at ilaihaa Al-Fithrotu wa Qarartuhaa Asy-Syari’ah karya Syekh Sholeh bin Utsaimin rahimahullah.Tags: cinta Rasulullahhak rasulullahrasulullah
Hak Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam adalah hak yang terbesar di antara para makhluk. Tidak ada hal yang lebih besar dari hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِّتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلً“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 8-9)Oleh karena itu, wajib bagi Anda untuk mendahulukan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas kecintaan kepada manusia lainnya, termasuk diri Anda, anak, dan orang tua Anda sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يُؤْمِنُ أحدُكم حتى أكونَ أحبَّ إليه من ولدِهِ ، ووالدِهِ ، والناسِ أجمعينَ“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku (Muhammad) menjadi orang yang paling dicintai dari anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di antara hak-hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah memuliakannya, menghormatinya, mengagungkannya dengan pengagungan yang tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Dan mengagungkan kehidupannya, sunahnya, diri beliau yang mulia, memuliakannya setelah wafatnya, dan juga memuliakan sunah dan syariat lurus yang diajarkan beliau. Barangsiapa yang melihat bagaimana para sahabat memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya Anda akan mengenal bagaimana generasi utama menegakkan hak atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Urwah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada kaumnya, kaum Quraisy, ketika diutus untuk bernegosiasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menata perjanjian Hudaibiyah,“Aku pernah berjumpa dengan para raja, kisra, kaisar, dan Najasyi. Aku tidak pernah melihat satu pun yang mengagungkannya dari para sahabatnya seperti pengagungan sahabat Muhammad kepada Muhammad. Jika ia memerintahnya, mereka bersegera memenuhi perintahnya. Jika ia berwudu, mereka nyaris berkelahi demi merebut air sisa wudunya. Jika ia berbicara, mereka merendahkan suaranya di hadapannya. Mereka tidak mampu menatapnya karena penghormatan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2581)Demikianlah para sahabat radhiyallahu ‘anhum memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada mereka dari akhlak yang mulia, kelembutan diri, dan kerendahan hati. Dan seandainya engkau bersikap keras dan kasar, niscaya mereka akan berpaling dari sisimu.Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:Pertama: Membenarkan kabar yang dibawanya dari kabar-kabar terdahulu dan yang akan datang.Kedua: Mematuhi perintahnya dan menjauhi apa yang dilarang dan yang tidak disukainya.Ketiga: Mengimani bahwa petunjuknya adalah petunjuk yang paling sempurna dan syariat yang dibawanya adalah syariat yang paling sempurna.Keempat: Tidak mendahulukan undang-undang dan hukum lain sebagai landasan di atas syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65)قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ali Imran: 31)Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membela syariat dan petunjuknya dengan kekuatan yang seseorang mampu melakukannya, dengan mempertimbangkan metode apa yang digunakannya untuk membela. Jika musuhnya berperang dengan menggunakan hujah (argumentasi) dan syubhat, maka pembelaan dengan ilmu dan membantah hujah dan syubhatnya, dan menjelaskan kerusakan pemikirannya. Jika musuh menyerang dengan senjata dan perang, pembelaan juga dengan yang semisal dengan itu. Mustahil bagi seorang mukmin mendengar perlawanan terhadap syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan terhadap diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, lantas ia hanya diam saja atas semua itu sedangkan ia mampu untuk melawannya. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Pentingnya Mengenal Sifat Fisik Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquq Da’at ilaihaa Al-Fithrotu wa Qarartuhaa Asy-Syari’ah karya Syekh Sholeh bin Utsaimin rahimahullah.Tags: cinta Rasulullahhak rasulullahrasulullah


Hak Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam adalah hak yang terbesar di antara para makhluk. Tidak ada hal yang lebih besar dari hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِّتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلً“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 8-9)Oleh karena itu, wajib bagi Anda untuk mendahulukan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas kecintaan kepada manusia lainnya, termasuk diri Anda, anak, dan orang tua Anda sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يُؤْمِنُ أحدُكم حتى أكونَ أحبَّ إليه من ولدِهِ ، ووالدِهِ ، والناسِ أجمعينَ“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku (Muhammad) menjadi orang yang paling dicintai dari anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di antara hak-hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah memuliakannya, menghormatinya, mengagungkannya dengan pengagungan yang tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Dan mengagungkan kehidupannya, sunahnya, diri beliau yang mulia, memuliakannya setelah wafatnya, dan juga memuliakan sunah dan syariat lurus yang diajarkan beliau. Barangsiapa yang melihat bagaimana para sahabat memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya Anda akan mengenal bagaimana generasi utama menegakkan hak atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Urwah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada kaumnya, kaum Quraisy, ketika diutus untuk bernegosiasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menata perjanjian Hudaibiyah,“Aku pernah berjumpa dengan para raja, kisra, kaisar, dan Najasyi. Aku tidak pernah melihat satu pun yang mengagungkannya dari para sahabatnya seperti pengagungan sahabat Muhammad kepada Muhammad. Jika ia memerintahnya, mereka bersegera memenuhi perintahnya. Jika ia berwudu, mereka nyaris berkelahi demi merebut air sisa wudunya. Jika ia berbicara, mereka merendahkan suaranya di hadapannya. Mereka tidak mampu menatapnya karena penghormatan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2581)Demikianlah para sahabat radhiyallahu ‘anhum memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada mereka dari akhlak yang mulia, kelembutan diri, dan kerendahan hati. Dan seandainya engkau bersikap keras dan kasar, niscaya mereka akan berpaling dari sisimu.Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:Pertama: Membenarkan kabar yang dibawanya dari kabar-kabar terdahulu dan yang akan datang.Kedua: Mematuhi perintahnya dan menjauhi apa yang dilarang dan yang tidak disukainya.Ketiga: Mengimani bahwa petunjuknya adalah petunjuk yang paling sempurna dan syariat yang dibawanya adalah syariat yang paling sempurna.Keempat: Tidak mendahulukan undang-undang dan hukum lain sebagai landasan di atas syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65)قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ali Imran: 31)Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membela syariat dan petunjuknya dengan kekuatan yang seseorang mampu melakukannya, dengan mempertimbangkan metode apa yang digunakannya untuk membela. Jika musuhnya berperang dengan menggunakan hujah (argumentasi) dan syubhat, maka pembelaan dengan ilmu dan membantah hujah dan syubhatnya, dan menjelaskan kerusakan pemikirannya. Jika musuh menyerang dengan senjata dan perang, pembelaan juga dengan yang semisal dengan itu. Mustahil bagi seorang mukmin mendengar perlawanan terhadap syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan terhadap diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, lantas ia hanya diam saja atas semua itu sedangkan ia mampu untuk melawannya. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Pentingnya Mengenal Sifat Fisik Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquq Da’at ilaihaa Al-Fithrotu wa Qarartuhaa Asy-Syari’ah karya Syekh Sholeh bin Utsaimin rahimahullah.Tags: cinta Rasulullahhak rasulullahrasulullah

Beramal Tanpa Panduan

Bismillah.Di antara bentuk kesalahpahaman yang tersebar di tengah masyarakat muslim adalah melandaskan amal kepada niat semata. Yang penting ikhlas, atau yang penting niatnya baik, dan sebagainya. Kerancuan berpikir seperti ini telah dijawab oleh Imam Bukhari rahimahullah. Di dalam Kitabul Ilmi dari Shahih Bukhari beliau membuat bab dengan judul ‘Bab Ilmu sebelum ucapan dan amalan.’Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh harus memenuhi 2 kriteria: 1) ikhlas karena Allah dan 2) mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehilangan syarat pertama membuat pelakunya terjerumus ke dalam syirik. Kehilangan syarat kedua membuatnya jatuh ke dalam bid’ah.Contoh orang yang beramal tanpa ikhlas adalah tiga orang yang pertama kali diadili dan menjadi bahan bakar neraka: 1) orang yang berjihad untuk mencari pujian, 2) orang yang membaca Al-Qur’an dan mencari ilmu untuk mencari sanjungan, dan 3) orang yang berinfak supaya dikenal sebagai dermawan. Allah berfirman,وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka lakukan, kemudian Kami jadikan ia bagi debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tentang ikhlas sangat penting dalam menjaga amal dari kerusakan. Para ulama memiliki perhatian yang sangat besar untuk memahamkan kaum muslimin tentang makna ikhlas. Sebagaimana menjaga amal agar sesuai dengan tuntunan dibutuhkan ilmu, maka menjaga amal agar ikhlas juga perlu bekal ilmu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kebaikan seorang muslim sangat erat kaitannya dengan ilmu dan pemahamannya dalam agama. Tidak cukup bermodal semangat. Karena orang yang beramal tanpa ilmu akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.Karena itulah setiap kali salat kita berdoa kepada Allah meminta petunjuk jalan yang lurus. Hakikat jalan lurus atau shirathal mustaqim adalah mengenali kebenaran dan beramal dengannya. Dengan demikian, untuk bisa mendapatkan ilmu seorang muslim membutuhkan pertolongan Allah dan petunjuk dari-Nya.Malik bin Dinar berkata, “Barangsiapa menimba ilmu untuk beramal, maka Allah akan memberikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menimba ilmu bukan untuk beramal, maka semakin banyak ilmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 575-576)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal, namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25)Oleh sebab itu, kita dapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang bersemangat untuk menimba ilmu sekaligus mengamalkannya. Tidaklah mereka melewati sekitar sepuluh ayat, melainkan mereka berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya. Mereka berkata, “Maka kami mempelajari ilmu dan amal secara bersama-sama.” (lihat Al-‘Ilmu, Wasa’iluhu wa Tsimaaruhu oleh Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, hal. 19)Amal itu mencakup iman kepada Allah, menunaikan ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tercakup dalam amal ini berbagai bentuk ibadah khusus yang bersifat pribadi maupun ibadah-ibadah yang memberikan faedah luas kepada orang lain. Ibadah khusus misalnya salat, puasa, haji. Adapun ibadah yang meluas faedahnya antara lain amar makruf nahi mungkar, jihad di jalan Allah, dsb. Amal inilah yang menjadi buah dari ilmu. Barangsiapa beramal tanpa ilmu, menyerupai kaum nasrani. Dan barangsiapa berilmu tetapi tidak beramal dengannya, menyerupai kaum Yahudi. (lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 22)Allah berfirman, أَلَمۡ یَأۡنِ لِلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا یَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِیرࣱ مِّنۡهُمۡ فَـٰسِقُونَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ یُحۡیِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ قَدۡ بَیَّنَّا لَكُمُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ“Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk/khusyuk hati mereka karena mengingat Allah dan kebenaran yang turun, dan janganlah mereka itu menjadi seperti orang-orang yang diberikan kitab sebelumnya. Masa yang panjang berlalu, maka hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi setelah kematiannya. Sungguh Kami telah menerangkan kepada kalian ayat-ayat, mudah-mudahan kalian mau memikirkan.” (QS. Al-Hadid: 16-17)Sebagaimana bumi yang mati menjadi hidup kembali dengan siraman air hujan dari langit, maka demikian pula hati yang mati dan keras akan menjadi hidup dan bercahaya dengan siraman petunjuk dan taufik dari Rabb penguasa langit dan bumi. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Maka, demikian pula hati, tidak akan mungkin dia menjadi hidup dan merasakan kelezatan hidup serta menikmatan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan Al-Qur’an ini. Tanpa Al-Qur’an dan tanpa beramal dengannya seorang insan hanya akan menjalani kehidupan ini seperti kehidupan binatang, bukan kehidupan yang hakiki.” (lihat Hablullah Al-Mamdud, hlm. 9)Dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, “Iman itu memiliki dua pilar. Yang pertama adalah mengenali ajaran yang dibawa oleh Rasul dan mengilmuinya. Yang kedua adalah membenarkan ajaran itu dalam bentuk ucapan dan amalan. Pembenaran tanpa landasan ilmu dan pemahaman adalah mustahil. Karena pembenaran merupakan cabang dan konsekuensi dari keberadaan sesuatu yang diyakini kebenarannya. Kalau begitu maka kedudukan ilmu dalam keimanan seperti peranan ruh di dalam jasad.” (lihat nukilan ini dalam kitab ‘Ibadatul ‘Umri karya Syekh Abdurrahman as-Sanad hafizhahullah, hal. 10)Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: beramalmanhaj salafpanduan

Beramal Tanpa Panduan

Bismillah.Di antara bentuk kesalahpahaman yang tersebar di tengah masyarakat muslim adalah melandaskan amal kepada niat semata. Yang penting ikhlas, atau yang penting niatnya baik, dan sebagainya. Kerancuan berpikir seperti ini telah dijawab oleh Imam Bukhari rahimahullah. Di dalam Kitabul Ilmi dari Shahih Bukhari beliau membuat bab dengan judul ‘Bab Ilmu sebelum ucapan dan amalan.’Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh harus memenuhi 2 kriteria: 1) ikhlas karena Allah dan 2) mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehilangan syarat pertama membuat pelakunya terjerumus ke dalam syirik. Kehilangan syarat kedua membuatnya jatuh ke dalam bid’ah.Contoh orang yang beramal tanpa ikhlas adalah tiga orang yang pertama kali diadili dan menjadi bahan bakar neraka: 1) orang yang berjihad untuk mencari pujian, 2) orang yang membaca Al-Qur’an dan mencari ilmu untuk mencari sanjungan, dan 3) orang yang berinfak supaya dikenal sebagai dermawan. Allah berfirman,وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka lakukan, kemudian Kami jadikan ia bagi debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tentang ikhlas sangat penting dalam menjaga amal dari kerusakan. Para ulama memiliki perhatian yang sangat besar untuk memahamkan kaum muslimin tentang makna ikhlas. Sebagaimana menjaga amal agar sesuai dengan tuntunan dibutuhkan ilmu, maka menjaga amal agar ikhlas juga perlu bekal ilmu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kebaikan seorang muslim sangat erat kaitannya dengan ilmu dan pemahamannya dalam agama. Tidak cukup bermodal semangat. Karena orang yang beramal tanpa ilmu akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.Karena itulah setiap kali salat kita berdoa kepada Allah meminta petunjuk jalan yang lurus. Hakikat jalan lurus atau shirathal mustaqim adalah mengenali kebenaran dan beramal dengannya. Dengan demikian, untuk bisa mendapatkan ilmu seorang muslim membutuhkan pertolongan Allah dan petunjuk dari-Nya.Malik bin Dinar berkata, “Barangsiapa menimba ilmu untuk beramal, maka Allah akan memberikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menimba ilmu bukan untuk beramal, maka semakin banyak ilmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 575-576)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal, namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25)Oleh sebab itu, kita dapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang bersemangat untuk menimba ilmu sekaligus mengamalkannya. Tidaklah mereka melewati sekitar sepuluh ayat, melainkan mereka berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya. Mereka berkata, “Maka kami mempelajari ilmu dan amal secara bersama-sama.” (lihat Al-‘Ilmu, Wasa’iluhu wa Tsimaaruhu oleh Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, hal. 19)Amal itu mencakup iman kepada Allah, menunaikan ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tercakup dalam amal ini berbagai bentuk ibadah khusus yang bersifat pribadi maupun ibadah-ibadah yang memberikan faedah luas kepada orang lain. Ibadah khusus misalnya salat, puasa, haji. Adapun ibadah yang meluas faedahnya antara lain amar makruf nahi mungkar, jihad di jalan Allah, dsb. Amal inilah yang menjadi buah dari ilmu. Barangsiapa beramal tanpa ilmu, menyerupai kaum nasrani. Dan barangsiapa berilmu tetapi tidak beramal dengannya, menyerupai kaum Yahudi. (lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 22)Allah berfirman, أَلَمۡ یَأۡنِ لِلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا یَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِیرࣱ مِّنۡهُمۡ فَـٰسِقُونَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ یُحۡیِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ قَدۡ بَیَّنَّا لَكُمُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ“Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk/khusyuk hati mereka karena mengingat Allah dan kebenaran yang turun, dan janganlah mereka itu menjadi seperti orang-orang yang diberikan kitab sebelumnya. Masa yang panjang berlalu, maka hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi setelah kematiannya. Sungguh Kami telah menerangkan kepada kalian ayat-ayat, mudah-mudahan kalian mau memikirkan.” (QS. Al-Hadid: 16-17)Sebagaimana bumi yang mati menjadi hidup kembali dengan siraman air hujan dari langit, maka demikian pula hati yang mati dan keras akan menjadi hidup dan bercahaya dengan siraman petunjuk dan taufik dari Rabb penguasa langit dan bumi. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Maka, demikian pula hati, tidak akan mungkin dia menjadi hidup dan merasakan kelezatan hidup serta menikmatan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan Al-Qur’an ini. Tanpa Al-Qur’an dan tanpa beramal dengannya seorang insan hanya akan menjalani kehidupan ini seperti kehidupan binatang, bukan kehidupan yang hakiki.” (lihat Hablullah Al-Mamdud, hlm. 9)Dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, “Iman itu memiliki dua pilar. Yang pertama adalah mengenali ajaran yang dibawa oleh Rasul dan mengilmuinya. Yang kedua adalah membenarkan ajaran itu dalam bentuk ucapan dan amalan. Pembenaran tanpa landasan ilmu dan pemahaman adalah mustahil. Karena pembenaran merupakan cabang dan konsekuensi dari keberadaan sesuatu yang diyakini kebenarannya. Kalau begitu maka kedudukan ilmu dalam keimanan seperti peranan ruh di dalam jasad.” (lihat nukilan ini dalam kitab ‘Ibadatul ‘Umri karya Syekh Abdurrahman as-Sanad hafizhahullah, hal. 10)Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: beramalmanhaj salafpanduan
Bismillah.Di antara bentuk kesalahpahaman yang tersebar di tengah masyarakat muslim adalah melandaskan amal kepada niat semata. Yang penting ikhlas, atau yang penting niatnya baik, dan sebagainya. Kerancuan berpikir seperti ini telah dijawab oleh Imam Bukhari rahimahullah. Di dalam Kitabul Ilmi dari Shahih Bukhari beliau membuat bab dengan judul ‘Bab Ilmu sebelum ucapan dan amalan.’Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh harus memenuhi 2 kriteria: 1) ikhlas karena Allah dan 2) mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehilangan syarat pertama membuat pelakunya terjerumus ke dalam syirik. Kehilangan syarat kedua membuatnya jatuh ke dalam bid’ah.Contoh orang yang beramal tanpa ikhlas adalah tiga orang yang pertama kali diadili dan menjadi bahan bakar neraka: 1) orang yang berjihad untuk mencari pujian, 2) orang yang membaca Al-Qur’an dan mencari ilmu untuk mencari sanjungan, dan 3) orang yang berinfak supaya dikenal sebagai dermawan. Allah berfirman,وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka lakukan, kemudian Kami jadikan ia bagi debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tentang ikhlas sangat penting dalam menjaga amal dari kerusakan. Para ulama memiliki perhatian yang sangat besar untuk memahamkan kaum muslimin tentang makna ikhlas. Sebagaimana menjaga amal agar sesuai dengan tuntunan dibutuhkan ilmu, maka menjaga amal agar ikhlas juga perlu bekal ilmu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kebaikan seorang muslim sangat erat kaitannya dengan ilmu dan pemahamannya dalam agama. Tidak cukup bermodal semangat. Karena orang yang beramal tanpa ilmu akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.Karena itulah setiap kali salat kita berdoa kepada Allah meminta petunjuk jalan yang lurus. Hakikat jalan lurus atau shirathal mustaqim adalah mengenali kebenaran dan beramal dengannya. Dengan demikian, untuk bisa mendapatkan ilmu seorang muslim membutuhkan pertolongan Allah dan petunjuk dari-Nya.Malik bin Dinar berkata, “Barangsiapa menimba ilmu untuk beramal, maka Allah akan memberikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menimba ilmu bukan untuk beramal, maka semakin banyak ilmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 575-576)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal, namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25)Oleh sebab itu, kita dapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang bersemangat untuk menimba ilmu sekaligus mengamalkannya. Tidaklah mereka melewati sekitar sepuluh ayat, melainkan mereka berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya. Mereka berkata, “Maka kami mempelajari ilmu dan amal secara bersama-sama.” (lihat Al-‘Ilmu, Wasa’iluhu wa Tsimaaruhu oleh Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, hal. 19)Amal itu mencakup iman kepada Allah, menunaikan ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tercakup dalam amal ini berbagai bentuk ibadah khusus yang bersifat pribadi maupun ibadah-ibadah yang memberikan faedah luas kepada orang lain. Ibadah khusus misalnya salat, puasa, haji. Adapun ibadah yang meluas faedahnya antara lain amar makruf nahi mungkar, jihad di jalan Allah, dsb. Amal inilah yang menjadi buah dari ilmu. Barangsiapa beramal tanpa ilmu, menyerupai kaum nasrani. Dan barangsiapa berilmu tetapi tidak beramal dengannya, menyerupai kaum Yahudi. (lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 22)Allah berfirman, أَلَمۡ یَأۡنِ لِلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا یَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِیرࣱ مِّنۡهُمۡ فَـٰسِقُونَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ یُحۡیِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ قَدۡ بَیَّنَّا لَكُمُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ“Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk/khusyuk hati mereka karena mengingat Allah dan kebenaran yang turun, dan janganlah mereka itu menjadi seperti orang-orang yang diberikan kitab sebelumnya. Masa yang panjang berlalu, maka hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi setelah kematiannya. Sungguh Kami telah menerangkan kepada kalian ayat-ayat, mudah-mudahan kalian mau memikirkan.” (QS. Al-Hadid: 16-17)Sebagaimana bumi yang mati menjadi hidup kembali dengan siraman air hujan dari langit, maka demikian pula hati yang mati dan keras akan menjadi hidup dan bercahaya dengan siraman petunjuk dan taufik dari Rabb penguasa langit dan bumi. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Maka, demikian pula hati, tidak akan mungkin dia menjadi hidup dan merasakan kelezatan hidup serta menikmatan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan Al-Qur’an ini. Tanpa Al-Qur’an dan tanpa beramal dengannya seorang insan hanya akan menjalani kehidupan ini seperti kehidupan binatang, bukan kehidupan yang hakiki.” (lihat Hablullah Al-Mamdud, hlm. 9)Dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, “Iman itu memiliki dua pilar. Yang pertama adalah mengenali ajaran yang dibawa oleh Rasul dan mengilmuinya. Yang kedua adalah membenarkan ajaran itu dalam bentuk ucapan dan amalan. Pembenaran tanpa landasan ilmu dan pemahaman adalah mustahil. Karena pembenaran merupakan cabang dan konsekuensi dari keberadaan sesuatu yang diyakini kebenarannya. Kalau begitu maka kedudukan ilmu dalam keimanan seperti peranan ruh di dalam jasad.” (lihat nukilan ini dalam kitab ‘Ibadatul ‘Umri karya Syekh Abdurrahman as-Sanad hafizhahullah, hal. 10)Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: beramalmanhaj salafpanduan


Bismillah.Di antara bentuk kesalahpahaman yang tersebar di tengah masyarakat muslim adalah melandaskan amal kepada niat semata. Yang penting ikhlas, atau yang penting niatnya baik, dan sebagainya. Kerancuan berpikir seperti ini telah dijawab oleh Imam Bukhari rahimahullah. Di dalam Kitabul Ilmi dari Shahih Bukhari beliau membuat bab dengan judul ‘Bab Ilmu sebelum ucapan dan amalan.’Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh harus memenuhi 2 kriteria: 1) ikhlas karena Allah dan 2) mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehilangan syarat pertama membuat pelakunya terjerumus ke dalam syirik. Kehilangan syarat kedua membuatnya jatuh ke dalam bid’ah.Contoh orang yang beramal tanpa ikhlas adalah tiga orang yang pertama kali diadili dan menjadi bahan bakar neraka: 1) orang yang berjihad untuk mencari pujian, 2) orang yang membaca Al-Qur’an dan mencari ilmu untuk mencari sanjungan, dan 3) orang yang berinfak supaya dikenal sebagai dermawan. Allah berfirman,وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka lakukan, kemudian Kami jadikan ia bagi debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tentang ikhlas sangat penting dalam menjaga amal dari kerusakan. Para ulama memiliki perhatian yang sangat besar untuk memahamkan kaum muslimin tentang makna ikhlas. Sebagaimana menjaga amal agar sesuai dengan tuntunan dibutuhkan ilmu, maka menjaga amal agar ikhlas juga perlu bekal ilmu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kebaikan seorang muslim sangat erat kaitannya dengan ilmu dan pemahamannya dalam agama. Tidak cukup bermodal semangat. Karena orang yang beramal tanpa ilmu akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.Karena itulah setiap kali salat kita berdoa kepada Allah meminta petunjuk jalan yang lurus. Hakikat jalan lurus atau shirathal mustaqim adalah mengenali kebenaran dan beramal dengannya. Dengan demikian, untuk bisa mendapatkan ilmu seorang muslim membutuhkan pertolongan Allah dan petunjuk dari-Nya.Malik bin Dinar berkata, “Barangsiapa menimba ilmu untuk beramal, maka Allah akan memberikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menimba ilmu bukan untuk beramal, maka semakin banyak ilmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 575-576)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal, namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25)Oleh sebab itu, kita dapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang bersemangat untuk menimba ilmu sekaligus mengamalkannya. Tidaklah mereka melewati sekitar sepuluh ayat, melainkan mereka berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya. Mereka berkata, “Maka kami mempelajari ilmu dan amal secara bersama-sama.” (lihat Al-‘Ilmu, Wasa’iluhu wa Tsimaaruhu oleh Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, hal. 19)Amal itu mencakup iman kepada Allah, menunaikan ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tercakup dalam amal ini berbagai bentuk ibadah khusus yang bersifat pribadi maupun ibadah-ibadah yang memberikan faedah luas kepada orang lain. Ibadah khusus misalnya salat, puasa, haji. Adapun ibadah yang meluas faedahnya antara lain amar makruf nahi mungkar, jihad di jalan Allah, dsb. Amal inilah yang menjadi buah dari ilmu. Barangsiapa beramal tanpa ilmu, menyerupai kaum nasrani. Dan barangsiapa berilmu tetapi tidak beramal dengannya, menyerupai kaum Yahudi. (lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 22)Allah berfirman, أَلَمۡ یَأۡنِ لِلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا یَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِیرࣱ مِّنۡهُمۡ فَـٰسِقُونَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ یُحۡیِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ قَدۡ بَیَّنَّا لَكُمُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ“Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk/khusyuk hati mereka karena mengingat Allah dan kebenaran yang turun, dan janganlah mereka itu menjadi seperti orang-orang yang diberikan kitab sebelumnya. Masa yang panjang berlalu, maka hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi setelah kematiannya. Sungguh Kami telah menerangkan kepada kalian ayat-ayat, mudah-mudahan kalian mau memikirkan.” (QS. Al-Hadid: 16-17)Sebagaimana bumi yang mati menjadi hidup kembali dengan siraman air hujan dari langit, maka demikian pula hati yang mati dan keras akan menjadi hidup dan bercahaya dengan siraman petunjuk dan taufik dari Rabb penguasa langit dan bumi. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Maka, demikian pula hati, tidak akan mungkin dia menjadi hidup dan merasakan kelezatan hidup serta menikmatan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan Al-Qur’an ini. Tanpa Al-Qur’an dan tanpa beramal dengannya seorang insan hanya akan menjalani kehidupan ini seperti kehidupan binatang, bukan kehidupan yang hakiki.” (lihat Hablullah Al-Mamdud, hlm. 9)Dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, “Iman itu memiliki dua pilar. Yang pertama adalah mengenali ajaran yang dibawa oleh Rasul dan mengilmuinya. Yang kedua adalah membenarkan ajaran itu dalam bentuk ucapan dan amalan. Pembenaran tanpa landasan ilmu dan pemahaman adalah mustahil. Karena pembenaran merupakan cabang dan konsekuensi dari keberadaan sesuatu yang diyakini kebenarannya. Kalau begitu maka kedudukan ilmu dalam keimanan seperti peranan ruh di dalam jasad.” (lihat nukilan ini dalam kitab ‘Ibadatul ‘Umri karya Syekh Abdurrahman as-Sanad hafizhahullah, hal. 10)Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: beramalmanhaj salafpanduan

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 3)

Daftar Isi Beribadah kepada Allah semataDiuji oleh Allah Ta’alaPerintahLaranganNikmatMusibahBeribadah kepada Allah semataIbadah adalah kata yang sakral dan diagungkan manusia. Sejatinya, ibadah ini merupakan konsekuensi dari tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Para ulama menyebutnya dengan istilah tauhid uluhiyah atau tauhid ubudiyah. Oleh karena itu, seseorang yang mengenal Allah, melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tidaklah cukup baginya sampai ia kemudian menegakkan tauhid uluhiyah, dengan beribadah hanya kepada-Nya. Karena jika ia benar-benar mengenal Rabb-Nya, maka ia akan menaati-Nya. Sementara Dialah yang telah berfirman dalam salah satu ayat-Nya yang mulia,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku semata”. [1]Dan ketahuilah, tidaklah ibadah itu sampai kepada-Nya, kecuali Anda penuhi dua syarat, seperti yang disimpulkan oleh para ulama:Pertama: Ikhlas karena Allah Ta’ala. [2]Kedua: Ittiba’ dengan mengikuti syariat yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. [3]Dan inilah konsekuensi dari dua kalimat syahadat yang Anda ucapkan. Bahwasanya Anda bersaksi hanya Allah sajalah sesembahan yang berhak untuk Anda sembah, dan Muhammad adalah utusan-Nya yang harus Anda ikuti, taati, dan tetapi petunjuk dan sunah-sunah yang dibawanya.Maka, seorang hamba yang sekadar beribadah, namun di saat bersamaan ia beribadah kepada sesembahan lain selain Allah, seperti berdoa kepada wali, Nabi, atau malaikat, atau ia beribadah karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka ia telah merusak syarat yang pertama. Begitu juga, jika ia sekadar beribadah, namun menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melakukan perkara-perkara baru dalam agama yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena mengedepankan hawa nafsu serta perkataan ulama atau guru yang ia muliakan, maka ibadahnya tertolak dengan rusaknya syarat yang kedua. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” [4]Maka, perhatikanlah dua hal ini. Jika ia cacat, maka sia-sialah ibadah Anda. Sia-sialah tujuan penciptaan Anda. Namun, seperti apa realisasi ibadah ini? Apakah ia melulu tentang salat, zakat, puasa, zikir, dan melakukan wirid lainnya? Ternyata tidak! Maka, untuk memahaminya, simaklah tujuan ketiga dari penciptaan Anda, yakni untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Baca juga: Dua Syarat Diterimanya IbadahDiuji oleh Allah Ta’alaSebuah ujian di sekolah atau di universitas diadakan, di antaranya untuk mengukur kemampuan pelajar atau mengevaluasi hasil belajar mereka selama menuntut ilmu. Bahkan, ada di antara ujian itu yang bertujuan untuk menyeleksi siswa, apakah patut untuk diberikan tanda kelulusan ataukah tidak. Bagaimana dengan ujian Allah terhadap manusia? Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“(Dialah Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya.” [5]Di dalam ayat yang agung ini, Allah Ta’ala menegaskan bahwa di antara tujuan penciptaan manusia, yang Dia hidupkan kemudian matikan, adalah untuk menguji mereka, siapakah di antara anak Adam tersebut yang mewujudkan amalan terbaiknya kepada Allah Ta’ala. Maka, pertanyaan berikutnya adalah seperti apakah bentuk ujian yang Allah berikan kepada umat manusia. Apakah ia seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang, bahwa ujian itu semata-mata tentang kesempitan hidup, musibah, dan penderitaan yang menyapa mereka. Jika kita menghimpun seluruh dalil-dalil dan perkataan ulama, maka dapat disimpulkan bahwa ujian itu ada dua pasang atau empat macam: yaitu perintah dan larangan [6], lalu nikmat dan musibah [7].Ketahuilah, bahwa ketika keempat ujian tersebut Anda penuhi sesuai dengan yang Allah kehendaki, maka ia akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala, dan dijanjikan dengan ganjaran pahala serta kebahagiaan hidup. Sebaliknya, jika Anda menyia-nyiakan apa yang dikehendaki dari ujian tersebut, maka Anda akan mendapatkan dosa dan terancam dengan siksa dan penderitaan.PerintahAllah telah memerintahkan berbagai perkara, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi yang jika dilaksanakan bisa bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Menegakkan salat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu, berzikir, berbakti kepada orang tua, menafkahi keluarga, menjenguk tetangga yang sakit, mengurus jenazah kaum muslimin. Semua ini adalah amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yang jika dilaksanakan akan bernilai ibadah di sisinya, dan bisa bernilai dosa ketika ditinggalkan, tentunya jika ia hukum asalnya wajib untuk dikerjakan.LaranganSaat manusia diuji dengan memerintahkan mereka melakukan amalan tertentu, mereka juga di saat bersamaan dilarang dari perkara-perkara tertentu, yang pada dasarnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, baik diketahui secara jelas keburukan dan bahayanya atau tidak. Maka, di antaranya Allah melarang mengkonsumsi minuman yang memabukkan serta makanan tertentu seperti bangkai, daging babi dan darah, melarang transaksi ribawi, melarang mendengarkan alat musik, dan melarang mendekati zina. Kerusakan yang diakibatkan perkara-perkara ini tentu bisa diketahui dan diakui oleh orang-orang yang memiliki akal yang jernih. Seseorang yang meninggalkan seluruh larangan ini karena Allah akan terhitung melakukan ibadah di sisi-Nya dan patut mendapat ganjaran berupa pahala dan janji berupa surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas BeribadahNikmatSetiap detik nikmat datang dari Allah kepada setiap hamba, tanpa terkecuali kepada Anda. Bahkan, nikmat ini mengalir terus menerus dari seseorang lahir hingga ia mati. Nikmat mata yang bisa melihat benda dekat dan jauh. Nikmat telinga yang bisa mendengar bisikan maupun teriakan. Nikmat jantung yang berdegup normal nan stabil demi memompa darah ke seluruh tubuh. Nikmat paru yang kembang kempis menarik dan membuang udara. Nikmat ginjal yang bekerja keras menyaring darah dan menghasilkan urin. Nikmat hati yang memproduksi cairan empedu sekaligus menawarkan racun. Nikmat 206 tulang dan 360 persendian yang memungkinkan Anda bisa bergerak dan berakitivas tanpa hambatan. Bahkan, nikmat trilyunan sel normal yang sampai saat ini jumlah pastinya masih jadi perdebatan ilmiah.Semuanya patut Anda syukuri setiap bagiannya. Dan nikmat ini adalah salah salah satu bentuk ujian Allah yang paling halus bagi seorang hamba. Anda hanya akan dianggap lulus dari ujian ini ketika anda mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Dan jika anda melakukannya, ia akan terhitung sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, sekaligus Allah akan tambahkan nikmat yang lain. Namun ketahuilah, sampai kapanpun, Anda tidak akan sanggup melakukannya. Karena saking banyaknya nikmat yang ada pada Anda, sementara Anda masih butuh nikmat yang satu untuk mensyukuri nikmat yang lainnya. Maka, tidak ada habisnya perputaran nikmat tersebut. Sedangkan manusia lebih banyak lalai dan kufur terhadap nikmat yang Allah berikan pada mereka. Padahal syukur nikmat itu wajib. Sehingga yang lupa bersyukur, akan berdosa atas kelengahannya.MusibahJika nikmat bernilai ibadah ketika disyukuri, bagaimana dengan musibah yang menimpa Anda? Maka, tentunya ia akan bernilai ibadah tatkala Anda sabar menghadapi musibah yang datang. Namun, patut Anda renungkan, sebanyak apapun bala yang menimpa Anda, seberat apapun musibah yang melanda diri Anda, tidaklah ia sebanding dengan nikmat yang mengalir dalam hidup Anda. Karena musibah itu datangnya hanya sekali-kali. Sementara nikmat datangnya setiap saat. Jika musibah yang datang membuat badan atau hati menjadi sakit, maka tidak lama berselang, Allah akan hilangkan sakit yang ada di tubuh atau di hati Anda, sampai-sampai Anda mungkin lupa pernah mendapat cobaan tersebut. Maka lupa ini, menjadi nikmat tersendiri bagi Anda.Oleh karena itu, atas ujian berupa musibah, wajib bagi seorang hamba untuk bersabar dengannya. Bagi mereka yang bersabar, Allah akan ganjar pahala, kelapangan, kenyamanan, kelegaan, kesejukan, ketenteraman, ketenangan, serta kebahagiaan setelahnya. Sebaliknya bagi mereka yang tidak bisa bersabar, maka ia akan bernilai dosa dan Allah akan tambahkan musibah itu dengan semakin sempitnya hati, sehingga ia akan semakin merana, semakin menderita, semakin sengsara, dan semakin sedih karena musibah tersebut sekaligus akibat dosa atas kelalaiannya dari bersabar.Meskipun demikian, bersamaan dengan sifat hamba yang lemah dan seringkali lengah, Rabb mereka adalah Zat yang penuh dengan ampunan, bahkan Dia ‘Azza Wa Jalla menanti tobat hamba-hamba-Nya. Sehingga seorang  hamba yang melanggar sebagian dari ujian tersebut dan terjatuh kepada dosa, kemudian dia segera bertobat, maka Allah akan ampuni dosa hamba tersebut dan menggantinya jadi kebaikan, bahkan meskipun dosanya sepenuh bumi. [8] Dialah Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.Maka, inilah makna ibadah yang sesungguhnya. Seperti yang diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,” الْعِبَادَةُ ” هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ :مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah sebutan yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi maupun yang tampak.” [9]Oleh karena itu, seseorang yang memiliki ilmu akan perkara ini, bisa menjadikan setiap hal dalam kesehariannya sebagai ibadah. Dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dari makan, bekerja, hingga buang air, semuanya  akan bernilai ibadah. Dari mendapat nikmat hingga tertimpa sakit semuanya bisa ia transformasi menjadi pahala akhirat. Demikianlah kehidupan seorang hamba yang alim dan diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Ia menjadikan setiap waktu, tempat, aktivitas, dan kondisi sebagai bentuk ibadah dan penghambaan diri kepada Rabb-nya.Kembali ke bagian 2 Lanjut ke bagian 4***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Az-Zariyat ayat 56.[2] QS. Al-Kahfi ayat 110. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia biasa seperti engkau, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan engkau hanyalah satu saja.” Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.“[3] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[4] QS. Al-Furqan ayat 23.[5] QS. Al-Mulk ayat 2.[6] QS. Al-Insan ayat 2-3. “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”Ketika menafsirkan ayat ini, sebagian ulama menjelaskan bahwa ujian yang ada di ayat ini berupa perintah dan larangan, serta kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh hamba.[7] QS. Al-Anbiya ayat 35. Allah Ta’ala berfirman, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”Dalam ayat ini, sebagian ulama, di antaranya Ibnu Katsir, menafsirkan keburukan dan kebaikan berupa musibah dan nikmat yang didatangkan kepada hamba.[8] HR. At-Tirmidzi nomor 3540. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi itu pula.”[9] Majmu’ah Al-Fatawa, 10: 149.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 3)

Daftar Isi Beribadah kepada Allah semataDiuji oleh Allah Ta’alaPerintahLaranganNikmatMusibahBeribadah kepada Allah semataIbadah adalah kata yang sakral dan diagungkan manusia. Sejatinya, ibadah ini merupakan konsekuensi dari tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Para ulama menyebutnya dengan istilah tauhid uluhiyah atau tauhid ubudiyah. Oleh karena itu, seseorang yang mengenal Allah, melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tidaklah cukup baginya sampai ia kemudian menegakkan tauhid uluhiyah, dengan beribadah hanya kepada-Nya. Karena jika ia benar-benar mengenal Rabb-Nya, maka ia akan menaati-Nya. Sementara Dialah yang telah berfirman dalam salah satu ayat-Nya yang mulia,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku semata”. [1]Dan ketahuilah, tidaklah ibadah itu sampai kepada-Nya, kecuali Anda penuhi dua syarat, seperti yang disimpulkan oleh para ulama:Pertama: Ikhlas karena Allah Ta’ala. [2]Kedua: Ittiba’ dengan mengikuti syariat yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. [3]Dan inilah konsekuensi dari dua kalimat syahadat yang Anda ucapkan. Bahwasanya Anda bersaksi hanya Allah sajalah sesembahan yang berhak untuk Anda sembah, dan Muhammad adalah utusan-Nya yang harus Anda ikuti, taati, dan tetapi petunjuk dan sunah-sunah yang dibawanya.Maka, seorang hamba yang sekadar beribadah, namun di saat bersamaan ia beribadah kepada sesembahan lain selain Allah, seperti berdoa kepada wali, Nabi, atau malaikat, atau ia beribadah karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka ia telah merusak syarat yang pertama. Begitu juga, jika ia sekadar beribadah, namun menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melakukan perkara-perkara baru dalam agama yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena mengedepankan hawa nafsu serta perkataan ulama atau guru yang ia muliakan, maka ibadahnya tertolak dengan rusaknya syarat yang kedua. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” [4]Maka, perhatikanlah dua hal ini. Jika ia cacat, maka sia-sialah ibadah Anda. Sia-sialah tujuan penciptaan Anda. Namun, seperti apa realisasi ibadah ini? Apakah ia melulu tentang salat, zakat, puasa, zikir, dan melakukan wirid lainnya? Ternyata tidak! Maka, untuk memahaminya, simaklah tujuan ketiga dari penciptaan Anda, yakni untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Baca juga: Dua Syarat Diterimanya IbadahDiuji oleh Allah Ta’alaSebuah ujian di sekolah atau di universitas diadakan, di antaranya untuk mengukur kemampuan pelajar atau mengevaluasi hasil belajar mereka selama menuntut ilmu. Bahkan, ada di antara ujian itu yang bertujuan untuk menyeleksi siswa, apakah patut untuk diberikan tanda kelulusan ataukah tidak. Bagaimana dengan ujian Allah terhadap manusia? Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“(Dialah Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya.” [5]Di dalam ayat yang agung ini, Allah Ta’ala menegaskan bahwa di antara tujuan penciptaan manusia, yang Dia hidupkan kemudian matikan, adalah untuk menguji mereka, siapakah di antara anak Adam tersebut yang mewujudkan amalan terbaiknya kepada Allah Ta’ala. Maka, pertanyaan berikutnya adalah seperti apakah bentuk ujian yang Allah berikan kepada umat manusia. Apakah ia seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang, bahwa ujian itu semata-mata tentang kesempitan hidup, musibah, dan penderitaan yang menyapa mereka. Jika kita menghimpun seluruh dalil-dalil dan perkataan ulama, maka dapat disimpulkan bahwa ujian itu ada dua pasang atau empat macam: yaitu perintah dan larangan [6], lalu nikmat dan musibah [7].Ketahuilah, bahwa ketika keempat ujian tersebut Anda penuhi sesuai dengan yang Allah kehendaki, maka ia akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala, dan dijanjikan dengan ganjaran pahala serta kebahagiaan hidup. Sebaliknya, jika Anda menyia-nyiakan apa yang dikehendaki dari ujian tersebut, maka Anda akan mendapatkan dosa dan terancam dengan siksa dan penderitaan.PerintahAllah telah memerintahkan berbagai perkara, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi yang jika dilaksanakan bisa bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Menegakkan salat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu, berzikir, berbakti kepada orang tua, menafkahi keluarga, menjenguk tetangga yang sakit, mengurus jenazah kaum muslimin. Semua ini adalah amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yang jika dilaksanakan akan bernilai ibadah di sisinya, dan bisa bernilai dosa ketika ditinggalkan, tentunya jika ia hukum asalnya wajib untuk dikerjakan.LaranganSaat manusia diuji dengan memerintahkan mereka melakukan amalan tertentu, mereka juga di saat bersamaan dilarang dari perkara-perkara tertentu, yang pada dasarnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, baik diketahui secara jelas keburukan dan bahayanya atau tidak. Maka, di antaranya Allah melarang mengkonsumsi minuman yang memabukkan serta makanan tertentu seperti bangkai, daging babi dan darah, melarang transaksi ribawi, melarang mendengarkan alat musik, dan melarang mendekati zina. Kerusakan yang diakibatkan perkara-perkara ini tentu bisa diketahui dan diakui oleh orang-orang yang memiliki akal yang jernih. Seseorang yang meninggalkan seluruh larangan ini karena Allah akan terhitung melakukan ibadah di sisi-Nya dan patut mendapat ganjaran berupa pahala dan janji berupa surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas BeribadahNikmatSetiap detik nikmat datang dari Allah kepada setiap hamba, tanpa terkecuali kepada Anda. Bahkan, nikmat ini mengalir terus menerus dari seseorang lahir hingga ia mati. Nikmat mata yang bisa melihat benda dekat dan jauh. Nikmat telinga yang bisa mendengar bisikan maupun teriakan. Nikmat jantung yang berdegup normal nan stabil demi memompa darah ke seluruh tubuh. Nikmat paru yang kembang kempis menarik dan membuang udara. Nikmat ginjal yang bekerja keras menyaring darah dan menghasilkan urin. Nikmat hati yang memproduksi cairan empedu sekaligus menawarkan racun. Nikmat 206 tulang dan 360 persendian yang memungkinkan Anda bisa bergerak dan berakitivas tanpa hambatan. Bahkan, nikmat trilyunan sel normal yang sampai saat ini jumlah pastinya masih jadi perdebatan ilmiah.Semuanya patut Anda syukuri setiap bagiannya. Dan nikmat ini adalah salah salah satu bentuk ujian Allah yang paling halus bagi seorang hamba. Anda hanya akan dianggap lulus dari ujian ini ketika anda mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Dan jika anda melakukannya, ia akan terhitung sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, sekaligus Allah akan tambahkan nikmat yang lain. Namun ketahuilah, sampai kapanpun, Anda tidak akan sanggup melakukannya. Karena saking banyaknya nikmat yang ada pada Anda, sementara Anda masih butuh nikmat yang satu untuk mensyukuri nikmat yang lainnya. Maka, tidak ada habisnya perputaran nikmat tersebut. Sedangkan manusia lebih banyak lalai dan kufur terhadap nikmat yang Allah berikan pada mereka. Padahal syukur nikmat itu wajib. Sehingga yang lupa bersyukur, akan berdosa atas kelengahannya.MusibahJika nikmat bernilai ibadah ketika disyukuri, bagaimana dengan musibah yang menimpa Anda? Maka, tentunya ia akan bernilai ibadah tatkala Anda sabar menghadapi musibah yang datang. Namun, patut Anda renungkan, sebanyak apapun bala yang menimpa Anda, seberat apapun musibah yang melanda diri Anda, tidaklah ia sebanding dengan nikmat yang mengalir dalam hidup Anda. Karena musibah itu datangnya hanya sekali-kali. Sementara nikmat datangnya setiap saat. Jika musibah yang datang membuat badan atau hati menjadi sakit, maka tidak lama berselang, Allah akan hilangkan sakit yang ada di tubuh atau di hati Anda, sampai-sampai Anda mungkin lupa pernah mendapat cobaan tersebut. Maka lupa ini, menjadi nikmat tersendiri bagi Anda.Oleh karena itu, atas ujian berupa musibah, wajib bagi seorang hamba untuk bersabar dengannya. Bagi mereka yang bersabar, Allah akan ganjar pahala, kelapangan, kenyamanan, kelegaan, kesejukan, ketenteraman, ketenangan, serta kebahagiaan setelahnya. Sebaliknya bagi mereka yang tidak bisa bersabar, maka ia akan bernilai dosa dan Allah akan tambahkan musibah itu dengan semakin sempitnya hati, sehingga ia akan semakin merana, semakin menderita, semakin sengsara, dan semakin sedih karena musibah tersebut sekaligus akibat dosa atas kelalaiannya dari bersabar.Meskipun demikian, bersamaan dengan sifat hamba yang lemah dan seringkali lengah, Rabb mereka adalah Zat yang penuh dengan ampunan, bahkan Dia ‘Azza Wa Jalla menanti tobat hamba-hamba-Nya. Sehingga seorang  hamba yang melanggar sebagian dari ujian tersebut dan terjatuh kepada dosa, kemudian dia segera bertobat, maka Allah akan ampuni dosa hamba tersebut dan menggantinya jadi kebaikan, bahkan meskipun dosanya sepenuh bumi. [8] Dialah Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.Maka, inilah makna ibadah yang sesungguhnya. Seperti yang diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,” الْعِبَادَةُ ” هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ :مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah sebutan yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi maupun yang tampak.” [9]Oleh karena itu, seseorang yang memiliki ilmu akan perkara ini, bisa menjadikan setiap hal dalam kesehariannya sebagai ibadah. Dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dari makan, bekerja, hingga buang air, semuanya  akan bernilai ibadah. Dari mendapat nikmat hingga tertimpa sakit semuanya bisa ia transformasi menjadi pahala akhirat. Demikianlah kehidupan seorang hamba yang alim dan diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Ia menjadikan setiap waktu, tempat, aktivitas, dan kondisi sebagai bentuk ibadah dan penghambaan diri kepada Rabb-nya.Kembali ke bagian 2 Lanjut ke bagian 4***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Az-Zariyat ayat 56.[2] QS. Al-Kahfi ayat 110. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia biasa seperti engkau, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan engkau hanyalah satu saja.” Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.“[3] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[4] QS. Al-Furqan ayat 23.[5] QS. Al-Mulk ayat 2.[6] QS. Al-Insan ayat 2-3. “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”Ketika menafsirkan ayat ini, sebagian ulama menjelaskan bahwa ujian yang ada di ayat ini berupa perintah dan larangan, serta kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh hamba.[7] QS. Al-Anbiya ayat 35. Allah Ta’ala berfirman, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”Dalam ayat ini, sebagian ulama, di antaranya Ibnu Katsir, menafsirkan keburukan dan kebaikan berupa musibah dan nikmat yang didatangkan kepada hamba.[8] HR. At-Tirmidzi nomor 3540. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi itu pula.”[9] Majmu’ah Al-Fatawa, 10: 149.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah
Daftar Isi Beribadah kepada Allah semataDiuji oleh Allah Ta’alaPerintahLaranganNikmatMusibahBeribadah kepada Allah semataIbadah adalah kata yang sakral dan diagungkan manusia. Sejatinya, ibadah ini merupakan konsekuensi dari tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Para ulama menyebutnya dengan istilah tauhid uluhiyah atau tauhid ubudiyah. Oleh karena itu, seseorang yang mengenal Allah, melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tidaklah cukup baginya sampai ia kemudian menegakkan tauhid uluhiyah, dengan beribadah hanya kepada-Nya. Karena jika ia benar-benar mengenal Rabb-Nya, maka ia akan menaati-Nya. Sementara Dialah yang telah berfirman dalam salah satu ayat-Nya yang mulia,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku semata”. [1]Dan ketahuilah, tidaklah ibadah itu sampai kepada-Nya, kecuali Anda penuhi dua syarat, seperti yang disimpulkan oleh para ulama:Pertama: Ikhlas karena Allah Ta’ala. [2]Kedua: Ittiba’ dengan mengikuti syariat yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. [3]Dan inilah konsekuensi dari dua kalimat syahadat yang Anda ucapkan. Bahwasanya Anda bersaksi hanya Allah sajalah sesembahan yang berhak untuk Anda sembah, dan Muhammad adalah utusan-Nya yang harus Anda ikuti, taati, dan tetapi petunjuk dan sunah-sunah yang dibawanya.Maka, seorang hamba yang sekadar beribadah, namun di saat bersamaan ia beribadah kepada sesembahan lain selain Allah, seperti berdoa kepada wali, Nabi, atau malaikat, atau ia beribadah karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka ia telah merusak syarat yang pertama. Begitu juga, jika ia sekadar beribadah, namun menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melakukan perkara-perkara baru dalam agama yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena mengedepankan hawa nafsu serta perkataan ulama atau guru yang ia muliakan, maka ibadahnya tertolak dengan rusaknya syarat yang kedua. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” [4]Maka, perhatikanlah dua hal ini. Jika ia cacat, maka sia-sialah ibadah Anda. Sia-sialah tujuan penciptaan Anda. Namun, seperti apa realisasi ibadah ini? Apakah ia melulu tentang salat, zakat, puasa, zikir, dan melakukan wirid lainnya? Ternyata tidak! Maka, untuk memahaminya, simaklah tujuan ketiga dari penciptaan Anda, yakni untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Baca juga: Dua Syarat Diterimanya IbadahDiuji oleh Allah Ta’alaSebuah ujian di sekolah atau di universitas diadakan, di antaranya untuk mengukur kemampuan pelajar atau mengevaluasi hasil belajar mereka selama menuntut ilmu. Bahkan, ada di antara ujian itu yang bertujuan untuk menyeleksi siswa, apakah patut untuk diberikan tanda kelulusan ataukah tidak. Bagaimana dengan ujian Allah terhadap manusia? Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“(Dialah Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya.” [5]Di dalam ayat yang agung ini, Allah Ta’ala menegaskan bahwa di antara tujuan penciptaan manusia, yang Dia hidupkan kemudian matikan, adalah untuk menguji mereka, siapakah di antara anak Adam tersebut yang mewujudkan amalan terbaiknya kepada Allah Ta’ala. Maka, pertanyaan berikutnya adalah seperti apakah bentuk ujian yang Allah berikan kepada umat manusia. Apakah ia seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang, bahwa ujian itu semata-mata tentang kesempitan hidup, musibah, dan penderitaan yang menyapa mereka. Jika kita menghimpun seluruh dalil-dalil dan perkataan ulama, maka dapat disimpulkan bahwa ujian itu ada dua pasang atau empat macam: yaitu perintah dan larangan [6], lalu nikmat dan musibah [7].Ketahuilah, bahwa ketika keempat ujian tersebut Anda penuhi sesuai dengan yang Allah kehendaki, maka ia akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala, dan dijanjikan dengan ganjaran pahala serta kebahagiaan hidup. Sebaliknya, jika Anda menyia-nyiakan apa yang dikehendaki dari ujian tersebut, maka Anda akan mendapatkan dosa dan terancam dengan siksa dan penderitaan.PerintahAllah telah memerintahkan berbagai perkara, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi yang jika dilaksanakan bisa bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Menegakkan salat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu, berzikir, berbakti kepada orang tua, menafkahi keluarga, menjenguk tetangga yang sakit, mengurus jenazah kaum muslimin. Semua ini adalah amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yang jika dilaksanakan akan bernilai ibadah di sisinya, dan bisa bernilai dosa ketika ditinggalkan, tentunya jika ia hukum asalnya wajib untuk dikerjakan.LaranganSaat manusia diuji dengan memerintahkan mereka melakukan amalan tertentu, mereka juga di saat bersamaan dilarang dari perkara-perkara tertentu, yang pada dasarnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, baik diketahui secara jelas keburukan dan bahayanya atau tidak. Maka, di antaranya Allah melarang mengkonsumsi minuman yang memabukkan serta makanan tertentu seperti bangkai, daging babi dan darah, melarang transaksi ribawi, melarang mendengarkan alat musik, dan melarang mendekati zina. Kerusakan yang diakibatkan perkara-perkara ini tentu bisa diketahui dan diakui oleh orang-orang yang memiliki akal yang jernih. Seseorang yang meninggalkan seluruh larangan ini karena Allah akan terhitung melakukan ibadah di sisi-Nya dan patut mendapat ganjaran berupa pahala dan janji berupa surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas BeribadahNikmatSetiap detik nikmat datang dari Allah kepada setiap hamba, tanpa terkecuali kepada Anda. Bahkan, nikmat ini mengalir terus menerus dari seseorang lahir hingga ia mati. Nikmat mata yang bisa melihat benda dekat dan jauh. Nikmat telinga yang bisa mendengar bisikan maupun teriakan. Nikmat jantung yang berdegup normal nan stabil demi memompa darah ke seluruh tubuh. Nikmat paru yang kembang kempis menarik dan membuang udara. Nikmat ginjal yang bekerja keras menyaring darah dan menghasilkan urin. Nikmat hati yang memproduksi cairan empedu sekaligus menawarkan racun. Nikmat 206 tulang dan 360 persendian yang memungkinkan Anda bisa bergerak dan berakitivas tanpa hambatan. Bahkan, nikmat trilyunan sel normal yang sampai saat ini jumlah pastinya masih jadi perdebatan ilmiah.Semuanya patut Anda syukuri setiap bagiannya. Dan nikmat ini adalah salah salah satu bentuk ujian Allah yang paling halus bagi seorang hamba. Anda hanya akan dianggap lulus dari ujian ini ketika anda mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Dan jika anda melakukannya, ia akan terhitung sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, sekaligus Allah akan tambahkan nikmat yang lain. Namun ketahuilah, sampai kapanpun, Anda tidak akan sanggup melakukannya. Karena saking banyaknya nikmat yang ada pada Anda, sementara Anda masih butuh nikmat yang satu untuk mensyukuri nikmat yang lainnya. Maka, tidak ada habisnya perputaran nikmat tersebut. Sedangkan manusia lebih banyak lalai dan kufur terhadap nikmat yang Allah berikan pada mereka. Padahal syukur nikmat itu wajib. Sehingga yang lupa bersyukur, akan berdosa atas kelengahannya.MusibahJika nikmat bernilai ibadah ketika disyukuri, bagaimana dengan musibah yang menimpa Anda? Maka, tentunya ia akan bernilai ibadah tatkala Anda sabar menghadapi musibah yang datang. Namun, patut Anda renungkan, sebanyak apapun bala yang menimpa Anda, seberat apapun musibah yang melanda diri Anda, tidaklah ia sebanding dengan nikmat yang mengalir dalam hidup Anda. Karena musibah itu datangnya hanya sekali-kali. Sementara nikmat datangnya setiap saat. Jika musibah yang datang membuat badan atau hati menjadi sakit, maka tidak lama berselang, Allah akan hilangkan sakit yang ada di tubuh atau di hati Anda, sampai-sampai Anda mungkin lupa pernah mendapat cobaan tersebut. Maka lupa ini, menjadi nikmat tersendiri bagi Anda.Oleh karena itu, atas ujian berupa musibah, wajib bagi seorang hamba untuk bersabar dengannya. Bagi mereka yang bersabar, Allah akan ganjar pahala, kelapangan, kenyamanan, kelegaan, kesejukan, ketenteraman, ketenangan, serta kebahagiaan setelahnya. Sebaliknya bagi mereka yang tidak bisa bersabar, maka ia akan bernilai dosa dan Allah akan tambahkan musibah itu dengan semakin sempitnya hati, sehingga ia akan semakin merana, semakin menderita, semakin sengsara, dan semakin sedih karena musibah tersebut sekaligus akibat dosa atas kelalaiannya dari bersabar.Meskipun demikian, bersamaan dengan sifat hamba yang lemah dan seringkali lengah, Rabb mereka adalah Zat yang penuh dengan ampunan, bahkan Dia ‘Azza Wa Jalla menanti tobat hamba-hamba-Nya. Sehingga seorang  hamba yang melanggar sebagian dari ujian tersebut dan terjatuh kepada dosa, kemudian dia segera bertobat, maka Allah akan ampuni dosa hamba tersebut dan menggantinya jadi kebaikan, bahkan meskipun dosanya sepenuh bumi. [8] Dialah Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.Maka, inilah makna ibadah yang sesungguhnya. Seperti yang diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,” الْعِبَادَةُ ” هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ :مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah sebutan yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi maupun yang tampak.” [9]Oleh karena itu, seseorang yang memiliki ilmu akan perkara ini, bisa menjadikan setiap hal dalam kesehariannya sebagai ibadah. Dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dari makan, bekerja, hingga buang air, semuanya  akan bernilai ibadah. Dari mendapat nikmat hingga tertimpa sakit semuanya bisa ia transformasi menjadi pahala akhirat. Demikianlah kehidupan seorang hamba yang alim dan diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Ia menjadikan setiap waktu, tempat, aktivitas, dan kondisi sebagai bentuk ibadah dan penghambaan diri kepada Rabb-nya.Kembali ke bagian 2 Lanjut ke bagian 4***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Az-Zariyat ayat 56.[2] QS. Al-Kahfi ayat 110. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia biasa seperti engkau, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan engkau hanyalah satu saja.” Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.“[3] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[4] QS. Al-Furqan ayat 23.[5] QS. Al-Mulk ayat 2.[6] QS. Al-Insan ayat 2-3. “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”Ketika menafsirkan ayat ini, sebagian ulama menjelaskan bahwa ujian yang ada di ayat ini berupa perintah dan larangan, serta kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh hamba.[7] QS. Al-Anbiya ayat 35. Allah Ta’ala berfirman, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”Dalam ayat ini, sebagian ulama, di antaranya Ibnu Katsir, menafsirkan keburukan dan kebaikan berupa musibah dan nikmat yang didatangkan kepada hamba.[8] HR. At-Tirmidzi nomor 3540. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi itu pula.”[9] Majmu’ah Al-Fatawa, 10: 149.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah


Daftar Isi Beribadah kepada Allah semataDiuji oleh Allah Ta’alaPerintahLaranganNikmatMusibahBeribadah kepada Allah semataIbadah adalah kata yang sakral dan diagungkan manusia. Sejatinya, ibadah ini merupakan konsekuensi dari tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Para ulama menyebutnya dengan istilah tauhid uluhiyah atau tauhid ubudiyah. Oleh karena itu, seseorang yang mengenal Allah, melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tidaklah cukup baginya sampai ia kemudian menegakkan tauhid uluhiyah, dengan beribadah hanya kepada-Nya. Karena jika ia benar-benar mengenal Rabb-Nya, maka ia akan menaati-Nya. Sementara Dialah yang telah berfirman dalam salah satu ayat-Nya yang mulia,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku semata”. [1]Dan ketahuilah, tidaklah ibadah itu sampai kepada-Nya, kecuali Anda penuhi dua syarat, seperti yang disimpulkan oleh para ulama:Pertama: Ikhlas karena Allah Ta’ala. [2]Kedua: Ittiba’ dengan mengikuti syariat yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. [3]Dan inilah konsekuensi dari dua kalimat syahadat yang Anda ucapkan. Bahwasanya Anda bersaksi hanya Allah sajalah sesembahan yang berhak untuk Anda sembah, dan Muhammad adalah utusan-Nya yang harus Anda ikuti, taati, dan tetapi petunjuk dan sunah-sunah yang dibawanya.Maka, seorang hamba yang sekadar beribadah, namun di saat bersamaan ia beribadah kepada sesembahan lain selain Allah, seperti berdoa kepada wali, Nabi, atau malaikat, atau ia beribadah karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka ia telah merusak syarat yang pertama. Begitu juga, jika ia sekadar beribadah, namun menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melakukan perkara-perkara baru dalam agama yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena mengedepankan hawa nafsu serta perkataan ulama atau guru yang ia muliakan, maka ibadahnya tertolak dengan rusaknya syarat yang kedua. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” [4]Maka, perhatikanlah dua hal ini. Jika ia cacat, maka sia-sialah ibadah Anda. Sia-sialah tujuan penciptaan Anda. Namun, seperti apa realisasi ibadah ini? Apakah ia melulu tentang salat, zakat, puasa, zikir, dan melakukan wirid lainnya? Ternyata tidak! Maka, untuk memahaminya, simaklah tujuan ketiga dari penciptaan Anda, yakni untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Baca juga: Dua Syarat Diterimanya IbadahDiuji oleh Allah Ta’alaSebuah ujian di sekolah atau di universitas diadakan, di antaranya untuk mengukur kemampuan pelajar atau mengevaluasi hasil belajar mereka selama menuntut ilmu. Bahkan, ada di antara ujian itu yang bertujuan untuk menyeleksi siswa, apakah patut untuk diberikan tanda kelulusan ataukah tidak. Bagaimana dengan ujian Allah terhadap manusia? Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“(Dialah Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya.” [5]Di dalam ayat yang agung ini, Allah Ta’ala menegaskan bahwa di antara tujuan penciptaan manusia, yang Dia hidupkan kemudian matikan, adalah untuk menguji mereka, siapakah di antara anak Adam tersebut yang mewujudkan amalan terbaiknya kepada Allah Ta’ala. Maka, pertanyaan berikutnya adalah seperti apakah bentuk ujian yang Allah berikan kepada umat manusia. Apakah ia seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang, bahwa ujian itu semata-mata tentang kesempitan hidup, musibah, dan penderitaan yang menyapa mereka. Jika kita menghimpun seluruh dalil-dalil dan perkataan ulama, maka dapat disimpulkan bahwa ujian itu ada dua pasang atau empat macam: yaitu perintah dan larangan [6], lalu nikmat dan musibah [7].Ketahuilah, bahwa ketika keempat ujian tersebut Anda penuhi sesuai dengan yang Allah kehendaki, maka ia akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala, dan dijanjikan dengan ganjaran pahala serta kebahagiaan hidup. Sebaliknya, jika Anda menyia-nyiakan apa yang dikehendaki dari ujian tersebut, maka Anda akan mendapatkan dosa dan terancam dengan siksa dan penderitaan.PerintahAllah telah memerintahkan berbagai perkara, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi yang jika dilaksanakan bisa bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Menegakkan salat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu, berzikir, berbakti kepada orang tua, menafkahi keluarga, menjenguk tetangga yang sakit, mengurus jenazah kaum muslimin. Semua ini adalah amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yang jika dilaksanakan akan bernilai ibadah di sisinya, dan bisa bernilai dosa ketika ditinggalkan, tentunya jika ia hukum asalnya wajib untuk dikerjakan.LaranganSaat manusia diuji dengan memerintahkan mereka melakukan amalan tertentu, mereka juga di saat bersamaan dilarang dari perkara-perkara tertentu, yang pada dasarnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, baik diketahui secara jelas keburukan dan bahayanya atau tidak. Maka, di antaranya Allah melarang mengkonsumsi minuman yang memabukkan serta makanan tertentu seperti bangkai, daging babi dan darah, melarang transaksi ribawi, melarang mendengarkan alat musik, dan melarang mendekati zina. Kerusakan yang diakibatkan perkara-perkara ini tentu bisa diketahui dan diakui oleh orang-orang yang memiliki akal yang jernih. Seseorang yang meninggalkan seluruh larangan ini karena Allah akan terhitung melakukan ibadah di sisi-Nya dan patut mendapat ganjaran berupa pahala dan janji berupa surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas BeribadahNikmatSetiap detik nikmat datang dari Allah kepada setiap hamba, tanpa terkecuali kepada Anda. Bahkan, nikmat ini mengalir terus menerus dari seseorang lahir hingga ia mati. Nikmat mata yang bisa melihat benda dekat dan jauh. Nikmat telinga yang bisa mendengar bisikan maupun teriakan. Nikmat jantung yang berdegup normal nan stabil demi memompa darah ke seluruh tubuh. Nikmat paru yang kembang kempis menarik dan membuang udara. Nikmat ginjal yang bekerja keras menyaring darah dan menghasilkan urin. Nikmat hati yang memproduksi cairan empedu sekaligus menawarkan racun. Nikmat 206 tulang dan 360 persendian yang memungkinkan Anda bisa bergerak dan berakitivas tanpa hambatan. Bahkan, nikmat trilyunan sel normal yang sampai saat ini jumlah pastinya masih jadi perdebatan ilmiah.Semuanya patut Anda syukuri setiap bagiannya. Dan nikmat ini adalah salah salah satu bentuk ujian Allah yang paling halus bagi seorang hamba. Anda hanya akan dianggap lulus dari ujian ini ketika anda mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Dan jika anda melakukannya, ia akan terhitung sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, sekaligus Allah akan tambahkan nikmat yang lain. Namun ketahuilah, sampai kapanpun, Anda tidak akan sanggup melakukannya. Karena saking banyaknya nikmat yang ada pada Anda, sementara Anda masih butuh nikmat yang satu untuk mensyukuri nikmat yang lainnya. Maka, tidak ada habisnya perputaran nikmat tersebut. Sedangkan manusia lebih banyak lalai dan kufur terhadap nikmat yang Allah berikan pada mereka. Padahal syukur nikmat itu wajib. Sehingga yang lupa bersyukur, akan berdosa atas kelengahannya.MusibahJika nikmat bernilai ibadah ketika disyukuri, bagaimana dengan musibah yang menimpa Anda? Maka, tentunya ia akan bernilai ibadah tatkala Anda sabar menghadapi musibah yang datang. Namun, patut Anda renungkan, sebanyak apapun bala yang menimpa Anda, seberat apapun musibah yang melanda diri Anda, tidaklah ia sebanding dengan nikmat yang mengalir dalam hidup Anda. Karena musibah itu datangnya hanya sekali-kali. Sementara nikmat datangnya setiap saat. Jika musibah yang datang membuat badan atau hati menjadi sakit, maka tidak lama berselang, Allah akan hilangkan sakit yang ada di tubuh atau di hati Anda, sampai-sampai Anda mungkin lupa pernah mendapat cobaan tersebut. Maka lupa ini, menjadi nikmat tersendiri bagi Anda.Oleh karena itu, atas ujian berupa musibah, wajib bagi seorang hamba untuk bersabar dengannya. Bagi mereka yang bersabar, Allah akan ganjar pahala, kelapangan, kenyamanan, kelegaan, kesejukan, ketenteraman, ketenangan, serta kebahagiaan setelahnya. Sebaliknya bagi mereka yang tidak bisa bersabar, maka ia akan bernilai dosa dan Allah akan tambahkan musibah itu dengan semakin sempitnya hati, sehingga ia akan semakin merana, semakin menderita, semakin sengsara, dan semakin sedih karena musibah tersebut sekaligus akibat dosa atas kelalaiannya dari bersabar.Meskipun demikian, bersamaan dengan sifat hamba yang lemah dan seringkali lengah, Rabb mereka adalah Zat yang penuh dengan ampunan, bahkan Dia ‘Azza Wa Jalla menanti tobat hamba-hamba-Nya. Sehingga seorang  hamba yang melanggar sebagian dari ujian tersebut dan terjatuh kepada dosa, kemudian dia segera bertobat, maka Allah akan ampuni dosa hamba tersebut dan menggantinya jadi kebaikan, bahkan meskipun dosanya sepenuh bumi. [8] Dialah Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.Maka, inilah makna ibadah yang sesungguhnya. Seperti yang diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,” الْعِبَادَةُ ” هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ :مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah sebutan yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi maupun yang tampak.” [9]Oleh karena itu, seseorang yang memiliki ilmu akan perkara ini, bisa menjadikan setiap hal dalam kesehariannya sebagai ibadah. Dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dari makan, bekerja, hingga buang air, semuanya  akan bernilai ibadah. Dari mendapat nikmat hingga tertimpa sakit semuanya bisa ia transformasi menjadi pahala akhirat. Demikianlah kehidupan seorang hamba yang alim dan diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Ia menjadikan setiap waktu, tempat, aktivitas, dan kondisi sebagai bentuk ibadah dan penghambaan diri kepada Rabb-nya.Kembali ke bagian 2 Lanjut ke bagian 4***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Az-Zariyat ayat 56.[2] QS. Al-Kahfi ayat 110. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia biasa seperti engkau, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan engkau hanyalah satu saja.” Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.“[3] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[4] QS. Al-Furqan ayat 23.[5] QS. Al-Mulk ayat 2.[6] QS. Al-Insan ayat 2-3. “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”Ketika menafsirkan ayat ini, sebagian ulama menjelaskan bahwa ujian yang ada di ayat ini berupa perintah dan larangan, serta kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh hamba.[7] QS. Al-Anbiya ayat 35. Allah Ta’ala berfirman, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”Dalam ayat ini, sebagian ulama, di antaranya Ibnu Katsir, menafsirkan keburukan dan kebaikan berupa musibah dan nikmat yang didatangkan kepada hamba.[8] HR. At-Tirmidzi nomor 3540. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi itu pula.”[9] Majmu’ah Al-Fatawa, 10: 149.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah
Prev     Next