Dianjurkan untuk Memperbagus Kain Kafan

Dari Jabir radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ“Jika salah seorang dari kalian mengkafani saudaranya, maka hendaknya ia memperbagus kain kafannya.” (HR. Muslim no. 943)Faedah hadisDi dalam hadis ini, terdapat anjuran untuk memperbagus kain kafan. Maksud “memperbagus” di sini dapat ditinjau dari dua sisi:Pertama, memilih kain kafan yang baik, yaitu kain kafan yang berwarna putih sebagaimana telah dijelaskan pada hadis yang lain. Juga kain kafan yang bisa membungkus jenazah.Kedua, memperbagus ketika mengafani jenazah. Yaitu kain kafan tersebut membungkus jenazah sesuai dengan tata cara yang dijelaskan oleh syariat.Sehingga, makna “memperbagus” di sini mencakup memilih jenis kain kafannya dan juga mengafani jenazah tersebut sesuai dengan tata cara yang telah dijelaskan oleh syariat. (Tashiilul Ilmaam, 3: 32-33)Hadis ini menjelaskan bahwa memperbagus kain kafan merupakan sesuatu yang dituntut oleh syariat.Syekh Abdullah Al-Fauzan hafizahullah menjelaskan, “Memperbagus ini baik dengan kain kafan itu sendiri yang harus bagus, yaitu berwarna putih, bersih, dan membungkus keseluruhan badan jenazah. Dan juga bagus dari sisi tata cara membungkus jenazah dengan kain kafan sesuai dengan tata cara yang telah dijelaskan sebelumnya.” (Minhatul ‘Allam, 4: 271)Al-Baghawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ‘bagus’ di sini adalah dari sisi kain tersebut berwarna putih dan bersih, bukan kain kafan yang mahal (mewah).” (Syarhus Sunnah, 5: 315)An-Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ‘bagus’ di sini adalah bersih, suci, tebal (tidak terlalu tipis, pent.), bisa membungkus jenazah, dan pertengahan (tidak berlebihan). Tidaklah yang dimaksud dengan ‘bagus’ itu yang mahal atau berlebih-lebihan (mewah).” (Syarh Shahih Muslim, 7: 15)Oleh karena itu, hendaknya kita tidak berlebih-lebihan dalam masalah ini, yaitu dengan membeli kain kafan yang harganya sangat mahal dan mewah dengan tujuan untuk berbangga-bangga. Hal ini karena kain kafan tersebut juga akan cepat dimakan oleh tanah dan akhirnya cepat rusak dan tidak bernilai. Sehingga, membeli kain kafan yang sangat mahal dan mewah termasuk dalam menghambur-hamburkan harta.BACA JUGA: Dianjurkannya Kain Kafan Berwarna PutihInilah keteladanan dari sahabat yang mulia, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Diceritakan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,دَخَلْتُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: فِي كَمْ كَفَّنْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَتْ: «فِي ثَلاَثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ، لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلاَ عِمَامَةٌ» وَقَالَ لَهَا: فِي أَيِّ يَوْمٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَتْ: «يَوْمَ الِاثْنَيْنِ» قَالَ: فَأَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالَتْ: «يَوْمُ الِاثْنَيْنِ» قَالَ: أَرْجُو فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ اللَّيْلِ، فَنَظَرَ إِلَى ثَوْبٍ عَلَيْهِ، كَانَ يُمَرَّضُ فِيهِ بِهِ رَدْعٌ مِنْ زَعْفَرَانٍ، فَقَالَ: اغْسِلُوا ثَوْبِي هَذَا وَزِيدُوا عَلَيْهِ ثَوْبَيْنِ، فَكَفِّنُونِي فِيهَا، قُلْتُ: إِنَّ هَذَا خَلَقٌ، قَالَ: إِنَّ الحَيَّ أَحَقُّ بِالْجَدِيدِ مِنَ المَيِّتِ، إِنَّمَا هُوَ لِلْمُهْلَةِ فَلَمْ يُتَوَفَّ حَتَّى أَمْسَى مِنْ لَيْلَةِ الثُّلاَثَاءِ، وَدُفِنَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَAku pernah masuk menemui Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, lalu dia berkata, “Berapa lembar kain kalian mengafani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Dia berkata, “Dalam tiga lembar kain putih buatan negeri Yaman dan tidak dipakaikan baju dan juga tidak sorban.” Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Hari apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Hari Senin.” Lalu dia berkata lagi, “Sekarang ini hari apa?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Sekarang hari Senin.” Abu Bakar berkata, “Aku berharap umurku sampai malam ini saja.”Lalu, dia memandang baju yang dipakainya sejak dia menderita sakit yang ketika itu bajunya sudah kotor terkena minyak za’faran (kunyit) pada sebagiannya kemudian berkata, “Cucilah bajuku ini dan tambahkanlah dengan dua baju lain untuk mengafaniku dengannya.” Aku berkata, “Baju ini sudah usang.” Maka dia menjawab, “Orang yang hidup lebih pantas untuk mengenakan yang baru daripada orang yang sudah mati. Kain itu hanya untuk mewadahi nanah mayat.” Kemudian dia tidak wafat hingga menjelang malam Selasa (di mana akhirnya wafat) lalu ia dikuburkan sebelum pagi. (HR. Bukhari no. 1387)Dalam sebuah hadis dha’if disebutkan,لَا تَغَالَوْا فِي الْكَفَنِ، فَإِنَّهُ يُسْلَبُهُ سَلْبًا سَرِيعًا“Janganlah kalian bermewah-mewah dalam mengafani, karena sesungguhnya kain tersebut akan cepat rusak.” (HR. Abu Dawud no. 3154, dinilai dha’if oleh Syekh Albani)BACA JUGA:Mengenggam Dunia, Ketika Meninggal Hanya Membawa KafanFikih Pengurusan Jenazah (3): Mengantarkan Jenazah ke MakamWallahu Ta’ala a’lam.***@Rumah Kasongan, 29 Jumadil akhirah 1444/ 22 Januari 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idTags: Aqidahaqidah islamfikihfikih islamfikih mengurus jenazahkain kafannasihatnasihat islampengurusan jenazah

Dianjurkan untuk Memperbagus Kain Kafan

Dari Jabir radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ“Jika salah seorang dari kalian mengkafani saudaranya, maka hendaknya ia memperbagus kain kafannya.” (HR. Muslim no. 943)Faedah hadisDi dalam hadis ini, terdapat anjuran untuk memperbagus kain kafan. Maksud “memperbagus” di sini dapat ditinjau dari dua sisi:Pertama, memilih kain kafan yang baik, yaitu kain kafan yang berwarna putih sebagaimana telah dijelaskan pada hadis yang lain. Juga kain kafan yang bisa membungkus jenazah.Kedua, memperbagus ketika mengafani jenazah. Yaitu kain kafan tersebut membungkus jenazah sesuai dengan tata cara yang dijelaskan oleh syariat.Sehingga, makna “memperbagus” di sini mencakup memilih jenis kain kafannya dan juga mengafani jenazah tersebut sesuai dengan tata cara yang telah dijelaskan oleh syariat. (Tashiilul Ilmaam, 3: 32-33)Hadis ini menjelaskan bahwa memperbagus kain kafan merupakan sesuatu yang dituntut oleh syariat.Syekh Abdullah Al-Fauzan hafizahullah menjelaskan, “Memperbagus ini baik dengan kain kafan itu sendiri yang harus bagus, yaitu berwarna putih, bersih, dan membungkus keseluruhan badan jenazah. Dan juga bagus dari sisi tata cara membungkus jenazah dengan kain kafan sesuai dengan tata cara yang telah dijelaskan sebelumnya.” (Minhatul ‘Allam, 4: 271)Al-Baghawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ‘bagus’ di sini adalah dari sisi kain tersebut berwarna putih dan bersih, bukan kain kafan yang mahal (mewah).” (Syarhus Sunnah, 5: 315)An-Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ‘bagus’ di sini adalah bersih, suci, tebal (tidak terlalu tipis, pent.), bisa membungkus jenazah, dan pertengahan (tidak berlebihan). Tidaklah yang dimaksud dengan ‘bagus’ itu yang mahal atau berlebih-lebihan (mewah).” (Syarh Shahih Muslim, 7: 15)Oleh karena itu, hendaknya kita tidak berlebih-lebihan dalam masalah ini, yaitu dengan membeli kain kafan yang harganya sangat mahal dan mewah dengan tujuan untuk berbangga-bangga. Hal ini karena kain kafan tersebut juga akan cepat dimakan oleh tanah dan akhirnya cepat rusak dan tidak bernilai. Sehingga, membeli kain kafan yang sangat mahal dan mewah termasuk dalam menghambur-hamburkan harta.BACA JUGA: Dianjurkannya Kain Kafan Berwarna PutihInilah keteladanan dari sahabat yang mulia, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Diceritakan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,دَخَلْتُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: فِي كَمْ كَفَّنْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَتْ: «فِي ثَلاَثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ، لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلاَ عِمَامَةٌ» وَقَالَ لَهَا: فِي أَيِّ يَوْمٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَتْ: «يَوْمَ الِاثْنَيْنِ» قَالَ: فَأَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالَتْ: «يَوْمُ الِاثْنَيْنِ» قَالَ: أَرْجُو فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ اللَّيْلِ، فَنَظَرَ إِلَى ثَوْبٍ عَلَيْهِ، كَانَ يُمَرَّضُ فِيهِ بِهِ رَدْعٌ مِنْ زَعْفَرَانٍ، فَقَالَ: اغْسِلُوا ثَوْبِي هَذَا وَزِيدُوا عَلَيْهِ ثَوْبَيْنِ، فَكَفِّنُونِي فِيهَا، قُلْتُ: إِنَّ هَذَا خَلَقٌ، قَالَ: إِنَّ الحَيَّ أَحَقُّ بِالْجَدِيدِ مِنَ المَيِّتِ، إِنَّمَا هُوَ لِلْمُهْلَةِ فَلَمْ يُتَوَفَّ حَتَّى أَمْسَى مِنْ لَيْلَةِ الثُّلاَثَاءِ، وَدُفِنَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَAku pernah masuk menemui Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, lalu dia berkata, “Berapa lembar kain kalian mengafani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Dia berkata, “Dalam tiga lembar kain putih buatan negeri Yaman dan tidak dipakaikan baju dan juga tidak sorban.” Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Hari apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Hari Senin.” Lalu dia berkata lagi, “Sekarang ini hari apa?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Sekarang hari Senin.” Abu Bakar berkata, “Aku berharap umurku sampai malam ini saja.”Lalu, dia memandang baju yang dipakainya sejak dia menderita sakit yang ketika itu bajunya sudah kotor terkena minyak za’faran (kunyit) pada sebagiannya kemudian berkata, “Cucilah bajuku ini dan tambahkanlah dengan dua baju lain untuk mengafaniku dengannya.” Aku berkata, “Baju ini sudah usang.” Maka dia menjawab, “Orang yang hidup lebih pantas untuk mengenakan yang baru daripada orang yang sudah mati. Kain itu hanya untuk mewadahi nanah mayat.” Kemudian dia tidak wafat hingga menjelang malam Selasa (di mana akhirnya wafat) lalu ia dikuburkan sebelum pagi. (HR. Bukhari no. 1387)Dalam sebuah hadis dha’if disebutkan,لَا تَغَالَوْا فِي الْكَفَنِ، فَإِنَّهُ يُسْلَبُهُ سَلْبًا سَرِيعًا“Janganlah kalian bermewah-mewah dalam mengafani, karena sesungguhnya kain tersebut akan cepat rusak.” (HR. Abu Dawud no. 3154, dinilai dha’if oleh Syekh Albani)BACA JUGA:Mengenggam Dunia, Ketika Meninggal Hanya Membawa KafanFikih Pengurusan Jenazah (3): Mengantarkan Jenazah ke MakamWallahu Ta’ala a’lam.***@Rumah Kasongan, 29 Jumadil akhirah 1444/ 22 Januari 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idTags: Aqidahaqidah islamfikihfikih islamfikih mengurus jenazahkain kafannasihatnasihat islampengurusan jenazah
Dari Jabir radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ“Jika salah seorang dari kalian mengkafani saudaranya, maka hendaknya ia memperbagus kain kafannya.” (HR. Muslim no. 943)Faedah hadisDi dalam hadis ini, terdapat anjuran untuk memperbagus kain kafan. Maksud “memperbagus” di sini dapat ditinjau dari dua sisi:Pertama, memilih kain kafan yang baik, yaitu kain kafan yang berwarna putih sebagaimana telah dijelaskan pada hadis yang lain. Juga kain kafan yang bisa membungkus jenazah.Kedua, memperbagus ketika mengafani jenazah. Yaitu kain kafan tersebut membungkus jenazah sesuai dengan tata cara yang dijelaskan oleh syariat.Sehingga, makna “memperbagus” di sini mencakup memilih jenis kain kafannya dan juga mengafani jenazah tersebut sesuai dengan tata cara yang telah dijelaskan oleh syariat. (Tashiilul Ilmaam, 3: 32-33)Hadis ini menjelaskan bahwa memperbagus kain kafan merupakan sesuatu yang dituntut oleh syariat.Syekh Abdullah Al-Fauzan hafizahullah menjelaskan, “Memperbagus ini baik dengan kain kafan itu sendiri yang harus bagus, yaitu berwarna putih, bersih, dan membungkus keseluruhan badan jenazah. Dan juga bagus dari sisi tata cara membungkus jenazah dengan kain kafan sesuai dengan tata cara yang telah dijelaskan sebelumnya.” (Minhatul ‘Allam, 4: 271)Al-Baghawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ‘bagus’ di sini adalah dari sisi kain tersebut berwarna putih dan bersih, bukan kain kafan yang mahal (mewah).” (Syarhus Sunnah, 5: 315)An-Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ‘bagus’ di sini adalah bersih, suci, tebal (tidak terlalu tipis, pent.), bisa membungkus jenazah, dan pertengahan (tidak berlebihan). Tidaklah yang dimaksud dengan ‘bagus’ itu yang mahal atau berlebih-lebihan (mewah).” (Syarh Shahih Muslim, 7: 15)Oleh karena itu, hendaknya kita tidak berlebih-lebihan dalam masalah ini, yaitu dengan membeli kain kafan yang harganya sangat mahal dan mewah dengan tujuan untuk berbangga-bangga. Hal ini karena kain kafan tersebut juga akan cepat dimakan oleh tanah dan akhirnya cepat rusak dan tidak bernilai. Sehingga, membeli kain kafan yang sangat mahal dan mewah termasuk dalam menghambur-hamburkan harta.BACA JUGA: Dianjurkannya Kain Kafan Berwarna PutihInilah keteladanan dari sahabat yang mulia, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Diceritakan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,دَخَلْتُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: فِي كَمْ كَفَّنْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَتْ: «فِي ثَلاَثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ، لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلاَ عِمَامَةٌ» وَقَالَ لَهَا: فِي أَيِّ يَوْمٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَتْ: «يَوْمَ الِاثْنَيْنِ» قَالَ: فَأَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالَتْ: «يَوْمُ الِاثْنَيْنِ» قَالَ: أَرْجُو فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ اللَّيْلِ، فَنَظَرَ إِلَى ثَوْبٍ عَلَيْهِ، كَانَ يُمَرَّضُ فِيهِ بِهِ رَدْعٌ مِنْ زَعْفَرَانٍ، فَقَالَ: اغْسِلُوا ثَوْبِي هَذَا وَزِيدُوا عَلَيْهِ ثَوْبَيْنِ، فَكَفِّنُونِي فِيهَا، قُلْتُ: إِنَّ هَذَا خَلَقٌ، قَالَ: إِنَّ الحَيَّ أَحَقُّ بِالْجَدِيدِ مِنَ المَيِّتِ، إِنَّمَا هُوَ لِلْمُهْلَةِ فَلَمْ يُتَوَفَّ حَتَّى أَمْسَى مِنْ لَيْلَةِ الثُّلاَثَاءِ، وَدُفِنَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَAku pernah masuk menemui Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, lalu dia berkata, “Berapa lembar kain kalian mengafani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Dia berkata, “Dalam tiga lembar kain putih buatan negeri Yaman dan tidak dipakaikan baju dan juga tidak sorban.” Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Hari apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Hari Senin.” Lalu dia berkata lagi, “Sekarang ini hari apa?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Sekarang hari Senin.” Abu Bakar berkata, “Aku berharap umurku sampai malam ini saja.”Lalu, dia memandang baju yang dipakainya sejak dia menderita sakit yang ketika itu bajunya sudah kotor terkena minyak za’faran (kunyit) pada sebagiannya kemudian berkata, “Cucilah bajuku ini dan tambahkanlah dengan dua baju lain untuk mengafaniku dengannya.” Aku berkata, “Baju ini sudah usang.” Maka dia menjawab, “Orang yang hidup lebih pantas untuk mengenakan yang baru daripada orang yang sudah mati. Kain itu hanya untuk mewadahi nanah mayat.” Kemudian dia tidak wafat hingga menjelang malam Selasa (di mana akhirnya wafat) lalu ia dikuburkan sebelum pagi. (HR. Bukhari no. 1387)Dalam sebuah hadis dha’if disebutkan,لَا تَغَالَوْا فِي الْكَفَنِ، فَإِنَّهُ يُسْلَبُهُ سَلْبًا سَرِيعًا“Janganlah kalian bermewah-mewah dalam mengafani, karena sesungguhnya kain tersebut akan cepat rusak.” (HR. Abu Dawud no. 3154, dinilai dha’if oleh Syekh Albani)BACA JUGA:Mengenggam Dunia, Ketika Meninggal Hanya Membawa KafanFikih Pengurusan Jenazah (3): Mengantarkan Jenazah ke MakamWallahu Ta’ala a’lam.***@Rumah Kasongan, 29 Jumadil akhirah 1444/ 22 Januari 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idTags: Aqidahaqidah islamfikihfikih islamfikih mengurus jenazahkain kafannasihatnasihat islampengurusan jenazah


Dari Jabir radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ“Jika salah seorang dari kalian mengkafani saudaranya, maka hendaknya ia memperbagus kain kafannya.” (HR. Muslim no. 943)Faedah hadisDi dalam hadis ini, terdapat anjuran untuk memperbagus kain kafan. Maksud “memperbagus” di sini dapat ditinjau dari dua sisi:Pertama, memilih kain kafan yang baik, yaitu kain kafan yang berwarna putih sebagaimana telah dijelaskan pada hadis yang lain. Juga kain kafan yang bisa membungkus jenazah.Kedua, memperbagus ketika mengafani jenazah. Yaitu kain kafan tersebut membungkus jenazah sesuai dengan tata cara yang dijelaskan oleh syariat.Sehingga, makna “memperbagus” di sini mencakup memilih jenis kain kafannya dan juga mengafani jenazah tersebut sesuai dengan tata cara yang telah dijelaskan oleh syariat. (Tashiilul Ilmaam, 3: 32-33)Hadis ini menjelaskan bahwa memperbagus kain kafan merupakan sesuatu yang dituntut oleh syariat.Syekh Abdullah Al-Fauzan hafizahullah menjelaskan, “Memperbagus ini baik dengan kain kafan itu sendiri yang harus bagus, yaitu berwarna putih, bersih, dan membungkus keseluruhan badan jenazah. Dan juga bagus dari sisi tata cara membungkus jenazah dengan kain kafan sesuai dengan tata cara yang telah dijelaskan sebelumnya.” (Minhatul ‘Allam, 4: 271)Al-Baghawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ‘bagus’ di sini adalah dari sisi kain tersebut berwarna putih dan bersih, bukan kain kafan yang mahal (mewah).” (Syarhus Sunnah, 5: 315)An-Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ‘bagus’ di sini adalah bersih, suci, tebal (tidak terlalu tipis, pent.), bisa membungkus jenazah, dan pertengahan (tidak berlebihan). Tidaklah yang dimaksud dengan ‘bagus’ itu yang mahal atau berlebih-lebihan (mewah).” (Syarh Shahih Muslim, 7: 15)Oleh karena itu, hendaknya kita tidak berlebih-lebihan dalam masalah ini, yaitu dengan membeli kain kafan yang harganya sangat mahal dan mewah dengan tujuan untuk berbangga-bangga. Hal ini karena kain kafan tersebut juga akan cepat dimakan oleh tanah dan akhirnya cepat rusak dan tidak bernilai. Sehingga, membeli kain kafan yang sangat mahal dan mewah termasuk dalam menghambur-hamburkan harta.BACA JUGA: Dianjurkannya Kain Kafan Berwarna PutihInilah keteladanan dari sahabat yang mulia, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Diceritakan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,دَخَلْتُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: فِي كَمْ كَفَّنْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَتْ: «فِي ثَلاَثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ، لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلاَ عِمَامَةٌ» وَقَالَ لَهَا: فِي أَيِّ يَوْمٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَتْ: «يَوْمَ الِاثْنَيْنِ» قَالَ: فَأَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالَتْ: «يَوْمُ الِاثْنَيْنِ» قَالَ: أَرْجُو فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ اللَّيْلِ، فَنَظَرَ إِلَى ثَوْبٍ عَلَيْهِ، كَانَ يُمَرَّضُ فِيهِ بِهِ رَدْعٌ مِنْ زَعْفَرَانٍ، فَقَالَ: اغْسِلُوا ثَوْبِي هَذَا وَزِيدُوا عَلَيْهِ ثَوْبَيْنِ، فَكَفِّنُونِي فِيهَا، قُلْتُ: إِنَّ هَذَا خَلَقٌ، قَالَ: إِنَّ الحَيَّ أَحَقُّ بِالْجَدِيدِ مِنَ المَيِّتِ، إِنَّمَا هُوَ لِلْمُهْلَةِ فَلَمْ يُتَوَفَّ حَتَّى أَمْسَى مِنْ لَيْلَةِ الثُّلاَثَاءِ، وَدُفِنَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَAku pernah masuk menemui Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, lalu dia berkata, “Berapa lembar kain kalian mengafani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Dia berkata, “Dalam tiga lembar kain putih buatan negeri Yaman dan tidak dipakaikan baju dan juga tidak sorban.” Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Hari apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Hari Senin.” Lalu dia berkata lagi, “Sekarang ini hari apa?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Sekarang hari Senin.” Abu Bakar berkata, “Aku berharap umurku sampai malam ini saja.”Lalu, dia memandang baju yang dipakainya sejak dia menderita sakit yang ketika itu bajunya sudah kotor terkena minyak za’faran (kunyit) pada sebagiannya kemudian berkata, “Cucilah bajuku ini dan tambahkanlah dengan dua baju lain untuk mengafaniku dengannya.” Aku berkata, “Baju ini sudah usang.” Maka dia menjawab, “Orang yang hidup lebih pantas untuk mengenakan yang baru daripada orang yang sudah mati. Kain itu hanya untuk mewadahi nanah mayat.” Kemudian dia tidak wafat hingga menjelang malam Selasa (di mana akhirnya wafat) lalu ia dikuburkan sebelum pagi. (HR. Bukhari no. 1387)Dalam sebuah hadis dha’if disebutkan,لَا تَغَالَوْا فِي الْكَفَنِ، فَإِنَّهُ يُسْلَبُهُ سَلْبًا سَرِيعًا“Janganlah kalian bermewah-mewah dalam mengafani, karena sesungguhnya kain tersebut akan cepat rusak.” (HR. Abu Dawud no. 3154, dinilai dha’if oleh Syekh Albani)BACA JUGA:Mengenggam Dunia, Ketika Meninggal Hanya Membawa KafanFikih Pengurusan Jenazah (3): Mengantarkan Jenazah ke MakamWallahu Ta’ala a’lam.***@Rumah Kasongan, 29 Jumadil akhirah 1444/ 22 Januari 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idTags: Aqidahaqidah islamfikihfikih islamfikih mengurus jenazahkain kafannasihatnasihat islampengurusan jenazah

Bagaimana Salat Orang yang Lupa Wudhu? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

“Apa hukum orang yang salat tanpa bersuci karena lupa?”Ia wajib mengulangi wudhu, atau salat.Ia wajib berwudhu terlebih dahulu dan mengulangi salatnya. Mengapa ia tidak diberi uzur karena lupa dalam hal ini?Kami katakan, karena ini dalam perkara meninggalkan yang diperintahkan.Dalam hal meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, tidak dapat diberi uzur, baik itu karena tidak tahu atau lupa. Jadi, ia harus berwudhu dan mengulangi salat.Lain halnya jika di pakaian atau badannya terdapat benda najis,tapi ia lupa atau tidak tahu keberadaannya,dan ia tidak mengetahuinya kecuali setelah selesai salat, maka salatnya tetap sah. Karena meninggalkan hal najis termasuk dalam perkara meninggalkan yang dilarang.Dalam hal meninggalkan perkara yang dilarang, dapat diberi uzur karena tidak tahu atau lupa. Ini berlaku dalam seluruh jenis ibadah.Sebagai contoh, dalam ibadah puasa.Dalam ibadah puasa, jika seseorang makan atau minum karena lupa,maka puasanya sah, karena ini dalam hal melakukan perkara yang dilarang,ia diberi uzur karena tidak tahu atau lupa. Namun, jika ia tidak berniat di malam hari untuk berpuasa besokkarena tidak tahu telah masuk bulan Ramadan,maka ia wajib mengganti puasa hari tersebut, dan tidak mendapat uzur karena ketidaktahuannya. Dalam haji, jika seseorang melakukan salah satu larangan ihram,seperti memakai parfum karena lupaatau menutup kepalanya karena lupa—jika ia laki-laki—maka tidak mengapa baginya. Atau ia melakukan itu karena tidak tahu.Namun, jika orang itu—sebagai contoh—meninggalkan salah satu kewajiban dalam haji,seperti tidak menginap di Mina karena tidak tahu kewajiban itu atau lupamaka ia wajib membayar dam (denda), atau tidak melakukan lempar jumrah karena tidak tahu kewajiban itu atau lupa, maka ia wajib membayar dam. Jadi, ini adalah kaidah yang berlaku secara umum dalam semua jenis ibadah:(1) Dalam hal meninggalkan perkara yang diperintahkan, maka tidak diberi uzur, baik itu karena tidak tahu atau lupa.(2) Adapun dalam hal melakukan perkara yang dilarang, maka mendapat uzur jika tidak tahu atau lupa. ==== مَا حُكْمُ مَنْ صَلَّى بِدُونِ طَهَارَةٍ نَاسِيًا؟ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ أَوِ الصَّلَاةَ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَوَضَّأَ وَأَنْ يُعِيدَ الصَّلَاةَ لِمَاذَا لَا يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ فِي هَذِهِ الْحَالِ؟ نَقُولُ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَأْمُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيْهِ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ فَلَا بُدَّ أَنْ يَتَوَضَّأَ وَأَنْ يُعِيدَ الصَّلَاةَ بِخِلَافِ مَا لَوْ كَانَ عَلَى لِبَاسِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا لَهَا أَوْ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَعْلَمْ بِهَا إِلَّا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ اجْتِنَابَ النَّجَاسَةِ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ وَهَذَا مُطَّرِدٌ فِي الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا فَمَثَلًا عَلَى سَبِيلِ الْمِثَالِ فِي الصِّيَامِ فِي الصِّيَامِ لَوْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا صَوْمُهُ صَحِيحٌ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ لَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ جَاهِلًا بِدُخُولِ شَهْرِ رَمَضَانَ يَجِبُ عَلَيْهِ قَضَاءَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَا يُعْذَرُ بِالْجَهْلِ فِي الْحَجِّ لَوْ فَعَلَ مَحْظُورًا مِنْ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ تَطَيَّبَ نَاسِيًا غَطَّى رَأْسَهُ نَاسِيًا إِذَا كَانَ رَجُلًا فَلَيْسَ عَلَيْهِ شَيْءٌ أَوْ جَاهِلًا لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ مَثَلًا تَرَكَ وَاجِبًا مِنْ وَاجِبَاتِ الْحَجِّ مَثَلًا لَمْ يَبِتْ بِمِنَى جَاهِلًا أَوْ نَاسِيًا فَعَلَيْهِ دَمٌ تَرَكَ الرَّمْيَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا فَعَلَيْهِ دَمٌ فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ فِي أَبْوَابِ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا أَنَّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَان وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابُ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ

Bagaimana Salat Orang yang Lupa Wudhu? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

“Apa hukum orang yang salat tanpa bersuci karena lupa?”Ia wajib mengulangi wudhu, atau salat.Ia wajib berwudhu terlebih dahulu dan mengulangi salatnya. Mengapa ia tidak diberi uzur karena lupa dalam hal ini?Kami katakan, karena ini dalam perkara meninggalkan yang diperintahkan.Dalam hal meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, tidak dapat diberi uzur, baik itu karena tidak tahu atau lupa. Jadi, ia harus berwudhu dan mengulangi salat.Lain halnya jika di pakaian atau badannya terdapat benda najis,tapi ia lupa atau tidak tahu keberadaannya,dan ia tidak mengetahuinya kecuali setelah selesai salat, maka salatnya tetap sah. Karena meninggalkan hal najis termasuk dalam perkara meninggalkan yang dilarang.Dalam hal meninggalkan perkara yang dilarang, dapat diberi uzur karena tidak tahu atau lupa. Ini berlaku dalam seluruh jenis ibadah.Sebagai contoh, dalam ibadah puasa.Dalam ibadah puasa, jika seseorang makan atau minum karena lupa,maka puasanya sah, karena ini dalam hal melakukan perkara yang dilarang,ia diberi uzur karena tidak tahu atau lupa. Namun, jika ia tidak berniat di malam hari untuk berpuasa besokkarena tidak tahu telah masuk bulan Ramadan,maka ia wajib mengganti puasa hari tersebut, dan tidak mendapat uzur karena ketidaktahuannya. Dalam haji, jika seseorang melakukan salah satu larangan ihram,seperti memakai parfum karena lupaatau menutup kepalanya karena lupa—jika ia laki-laki—maka tidak mengapa baginya. Atau ia melakukan itu karena tidak tahu.Namun, jika orang itu—sebagai contoh—meninggalkan salah satu kewajiban dalam haji,seperti tidak menginap di Mina karena tidak tahu kewajiban itu atau lupamaka ia wajib membayar dam (denda), atau tidak melakukan lempar jumrah karena tidak tahu kewajiban itu atau lupa, maka ia wajib membayar dam. Jadi, ini adalah kaidah yang berlaku secara umum dalam semua jenis ibadah:(1) Dalam hal meninggalkan perkara yang diperintahkan, maka tidak diberi uzur, baik itu karena tidak tahu atau lupa.(2) Adapun dalam hal melakukan perkara yang dilarang, maka mendapat uzur jika tidak tahu atau lupa. ==== مَا حُكْمُ مَنْ صَلَّى بِدُونِ طَهَارَةٍ نَاسِيًا؟ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ أَوِ الصَّلَاةَ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَوَضَّأَ وَأَنْ يُعِيدَ الصَّلَاةَ لِمَاذَا لَا يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ فِي هَذِهِ الْحَالِ؟ نَقُولُ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَأْمُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيْهِ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ فَلَا بُدَّ أَنْ يَتَوَضَّأَ وَأَنْ يُعِيدَ الصَّلَاةَ بِخِلَافِ مَا لَوْ كَانَ عَلَى لِبَاسِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا لَهَا أَوْ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَعْلَمْ بِهَا إِلَّا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ اجْتِنَابَ النَّجَاسَةِ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ وَهَذَا مُطَّرِدٌ فِي الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا فَمَثَلًا عَلَى سَبِيلِ الْمِثَالِ فِي الصِّيَامِ فِي الصِّيَامِ لَوْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا صَوْمُهُ صَحِيحٌ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ لَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ جَاهِلًا بِدُخُولِ شَهْرِ رَمَضَانَ يَجِبُ عَلَيْهِ قَضَاءَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَا يُعْذَرُ بِالْجَهْلِ فِي الْحَجِّ لَوْ فَعَلَ مَحْظُورًا مِنْ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ تَطَيَّبَ نَاسِيًا غَطَّى رَأْسَهُ نَاسِيًا إِذَا كَانَ رَجُلًا فَلَيْسَ عَلَيْهِ شَيْءٌ أَوْ جَاهِلًا لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ مَثَلًا تَرَكَ وَاجِبًا مِنْ وَاجِبَاتِ الْحَجِّ مَثَلًا لَمْ يَبِتْ بِمِنَى جَاهِلًا أَوْ نَاسِيًا فَعَلَيْهِ دَمٌ تَرَكَ الرَّمْيَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا فَعَلَيْهِ دَمٌ فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ فِي أَبْوَابِ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا أَنَّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَان وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابُ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ
“Apa hukum orang yang salat tanpa bersuci karena lupa?”Ia wajib mengulangi wudhu, atau salat.Ia wajib berwudhu terlebih dahulu dan mengulangi salatnya. Mengapa ia tidak diberi uzur karena lupa dalam hal ini?Kami katakan, karena ini dalam perkara meninggalkan yang diperintahkan.Dalam hal meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, tidak dapat diberi uzur, baik itu karena tidak tahu atau lupa. Jadi, ia harus berwudhu dan mengulangi salat.Lain halnya jika di pakaian atau badannya terdapat benda najis,tapi ia lupa atau tidak tahu keberadaannya,dan ia tidak mengetahuinya kecuali setelah selesai salat, maka salatnya tetap sah. Karena meninggalkan hal najis termasuk dalam perkara meninggalkan yang dilarang.Dalam hal meninggalkan perkara yang dilarang, dapat diberi uzur karena tidak tahu atau lupa. Ini berlaku dalam seluruh jenis ibadah.Sebagai contoh, dalam ibadah puasa.Dalam ibadah puasa, jika seseorang makan atau minum karena lupa,maka puasanya sah, karena ini dalam hal melakukan perkara yang dilarang,ia diberi uzur karena tidak tahu atau lupa. Namun, jika ia tidak berniat di malam hari untuk berpuasa besokkarena tidak tahu telah masuk bulan Ramadan,maka ia wajib mengganti puasa hari tersebut, dan tidak mendapat uzur karena ketidaktahuannya. Dalam haji, jika seseorang melakukan salah satu larangan ihram,seperti memakai parfum karena lupaatau menutup kepalanya karena lupa—jika ia laki-laki—maka tidak mengapa baginya. Atau ia melakukan itu karena tidak tahu.Namun, jika orang itu—sebagai contoh—meninggalkan salah satu kewajiban dalam haji,seperti tidak menginap di Mina karena tidak tahu kewajiban itu atau lupamaka ia wajib membayar dam (denda), atau tidak melakukan lempar jumrah karena tidak tahu kewajiban itu atau lupa, maka ia wajib membayar dam. Jadi, ini adalah kaidah yang berlaku secara umum dalam semua jenis ibadah:(1) Dalam hal meninggalkan perkara yang diperintahkan, maka tidak diberi uzur, baik itu karena tidak tahu atau lupa.(2) Adapun dalam hal melakukan perkara yang dilarang, maka mendapat uzur jika tidak tahu atau lupa. ==== مَا حُكْمُ مَنْ صَلَّى بِدُونِ طَهَارَةٍ نَاسِيًا؟ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ أَوِ الصَّلَاةَ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَوَضَّأَ وَأَنْ يُعِيدَ الصَّلَاةَ لِمَاذَا لَا يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ فِي هَذِهِ الْحَالِ؟ نَقُولُ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَأْمُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيْهِ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ فَلَا بُدَّ أَنْ يَتَوَضَّأَ وَأَنْ يُعِيدَ الصَّلَاةَ بِخِلَافِ مَا لَوْ كَانَ عَلَى لِبَاسِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا لَهَا أَوْ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَعْلَمْ بِهَا إِلَّا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ اجْتِنَابَ النَّجَاسَةِ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ وَهَذَا مُطَّرِدٌ فِي الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا فَمَثَلًا عَلَى سَبِيلِ الْمِثَالِ فِي الصِّيَامِ فِي الصِّيَامِ لَوْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا صَوْمُهُ صَحِيحٌ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ لَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ جَاهِلًا بِدُخُولِ شَهْرِ رَمَضَانَ يَجِبُ عَلَيْهِ قَضَاءَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَا يُعْذَرُ بِالْجَهْلِ فِي الْحَجِّ لَوْ فَعَلَ مَحْظُورًا مِنْ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ تَطَيَّبَ نَاسِيًا غَطَّى رَأْسَهُ نَاسِيًا إِذَا كَانَ رَجُلًا فَلَيْسَ عَلَيْهِ شَيْءٌ أَوْ جَاهِلًا لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ مَثَلًا تَرَكَ وَاجِبًا مِنْ وَاجِبَاتِ الْحَجِّ مَثَلًا لَمْ يَبِتْ بِمِنَى جَاهِلًا أَوْ نَاسِيًا فَعَلَيْهِ دَمٌ تَرَكَ الرَّمْيَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا فَعَلَيْهِ دَمٌ فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ فِي أَبْوَابِ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا أَنَّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَان وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابُ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ


“Apa hukum orang yang salat tanpa bersuci karena lupa?”Ia wajib mengulangi wudhu, atau salat.Ia wajib berwudhu terlebih dahulu dan mengulangi salatnya. Mengapa ia tidak diberi uzur karena lupa dalam hal ini?Kami katakan, karena ini dalam perkara meninggalkan yang diperintahkan.Dalam hal meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, tidak dapat diberi uzur, baik itu karena tidak tahu atau lupa. Jadi, ia harus berwudhu dan mengulangi salat.Lain halnya jika di pakaian atau badannya terdapat benda najis,tapi ia lupa atau tidak tahu keberadaannya,dan ia tidak mengetahuinya kecuali setelah selesai salat, maka salatnya tetap sah. Karena meninggalkan hal najis termasuk dalam perkara meninggalkan yang dilarang.Dalam hal meninggalkan perkara yang dilarang, dapat diberi uzur karena tidak tahu atau lupa. Ini berlaku dalam seluruh jenis ibadah.Sebagai contoh, dalam ibadah puasa.Dalam ibadah puasa, jika seseorang makan atau minum karena lupa,maka puasanya sah, karena ini dalam hal melakukan perkara yang dilarang,ia diberi uzur karena tidak tahu atau lupa. Namun, jika ia tidak berniat di malam hari untuk berpuasa besokkarena tidak tahu telah masuk bulan Ramadan,maka ia wajib mengganti puasa hari tersebut, dan tidak mendapat uzur karena ketidaktahuannya. Dalam haji, jika seseorang melakukan salah satu larangan ihram,seperti memakai parfum karena lupaatau menutup kepalanya karena lupa—jika ia laki-laki—maka tidak mengapa baginya. Atau ia melakukan itu karena tidak tahu.Namun, jika orang itu—sebagai contoh—meninggalkan salah satu kewajiban dalam haji,seperti tidak menginap di Mina karena tidak tahu kewajiban itu atau lupamaka ia wajib membayar dam (denda), atau tidak melakukan lempar jumrah karena tidak tahu kewajiban itu atau lupa, maka ia wajib membayar dam. Jadi, ini adalah kaidah yang berlaku secara umum dalam semua jenis ibadah:(1) Dalam hal meninggalkan perkara yang diperintahkan, maka tidak diberi uzur, baik itu karena tidak tahu atau lupa.(2) Adapun dalam hal melakukan perkara yang dilarang, maka mendapat uzur jika tidak tahu atau lupa. ==== مَا حُكْمُ مَنْ صَلَّى بِدُونِ طَهَارَةٍ نَاسِيًا؟ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ أَوِ الصَّلَاةَ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَوَضَّأَ وَأَنْ يُعِيدَ الصَّلَاةَ لِمَاذَا لَا يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ فِي هَذِهِ الْحَالِ؟ نَقُولُ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَأْمُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيْهِ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ فَلَا بُدَّ أَنْ يَتَوَضَّأَ وَأَنْ يُعِيدَ الصَّلَاةَ بِخِلَافِ مَا لَوْ كَانَ عَلَى لِبَاسِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا لَهَا أَوْ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَعْلَمْ بِهَا إِلَّا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ اجْتِنَابَ النَّجَاسَةِ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ وَهَذَا مُطَّرِدٌ فِي الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا فَمَثَلًا عَلَى سَبِيلِ الْمِثَالِ فِي الصِّيَامِ فِي الصِّيَامِ لَوْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا صَوْمُهُ صَحِيحٌ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ لَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ جَاهِلًا بِدُخُولِ شَهْرِ رَمَضَانَ يَجِبُ عَلَيْهِ قَضَاءَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَا يُعْذَرُ بِالْجَهْلِ فِي الْحَجِّ لَوْ فَعَلَ مَحْظُورًا مِنْ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ تَطَيَّبَ نَاسِيًا غَطَّى رَأْسَهُ نَاسِيًا إِذَا كَانَ رَجُلًا فَلَيْسَ عَلَيْهِ شَيْءٌ أَوْ جَاهِلًا لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ مَثَلًا تَرَكَ وَاجِبًا مِنْ وَاجِبَاتِ الْحَجِّ مَثَلًا لَمْ يَبِتْ بِمِنَى جَاهِلًا أَوْ نَاسِيًا فَعَلَيْهِ دَمٌ تَرَكَ الرَّمْيَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا فَعَلَيْهِ دَمٌ فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ فِي أَبْوَابِ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا أَنَّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَان وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابُ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ

Kita Bisa Raih Ketenangan dengan Membaca Al-Qur’an, Termasuk pula Surah Al-Kahfi

Kita bisa raih ketenangan dengan membaca Al-Qur’an, termasuk surah Al-Kahfi.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an Hadits #998 Ketenangan Ketika Membaca Surah Al-Kahfi وَعَنِ البَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ ، وَعِنْدَهُ فَرَسٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ ، فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدْنُو ، وَجَعَلَ فَرَسُه يَنْفِرُ مِنْهَا ، فَلَمَّا أصْبَحَ أتَى النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ : (( تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلقُرْآنِ )) متفقٌ عَلَيْهِ . (( الشَّطَنُ )) بفتحِ الشينِ المعجمة والطاءِ المهملة : الحَبْلُ . Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada seseorang yang sedang membaca surah Al-Kahfi. Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat dengan dua utas tali. Lalu ia ditutupi segumpal awan, kemudian mulailah awan itu mendekatinya, dan kudanya lari dari awan tersebut. Ketika pagi tiba, ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menceritakan kejadian itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Itu adalah ketenangan yang turun karena Al-Qur’an.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 5011 dan Muslim, no. 795]. Syathon adalah utas tali.   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan surah Al-Kahfi. Allah tampakkan kepada sebagian hamba di antara tanda kuasa-Nya untuk menambah keimanannya. Makin seseorang dekat dengan Al-Qur’an, ia akan makin mendapatkan ketenangan, ia makin khusyuk dan tunduk kepada Allah. Hadits ini menunjukkan adanya karamah para wali. Membaca Al-Qur’an adalah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits ini menunjukkan keutamaan istimaa’ (mendengarkan) Al-Qur’an.   Baca juga: Jangan Lupa Membaca Surah Al-Kahfi pada Hari Jumat   Referensi: Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Muhammad bin Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Ali bin Adam bin Musa Al-Itiyubia Al-Wallawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 16:279. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:207. Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 395-396.   – Diselesaikan pada 4 Rajab 1444 H, 26 Januari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran belajar al quran hasad membaca Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shahibul quran surat al kahfi

Kita Bisa Raih Ketenangan dengan Membaca Al-Qur’an, Termasuk pula Surah Al-Kahfi

Kita bisa raih ketenangan dengan membaca Al-Qur’an, termasuk surah Al-Kahfi.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an Hadits #998 Ketenangan Ketika Membaca Surah Al-Kahfi وَعَنِ البَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ ، وَعِنْدَهُ فَرَسٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ ، فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدْنُو ، وَجَعَلَ فَرَسُه يَنْفِرُ مِنْهَا ، فَلَمَّا أصْبَحَ أتَى النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ : (( تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلقُرْآنِ )) متفقٌ عَلَيْهِ . (( الشَّطَنُ )) بفتحِ الشينِ المعجمة والطاءِ المهملة : الحَبْلُ . Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada seseorang yang sedang membaca surah Al-Kahfi. Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat dengan dua utas tali. Lalu ia ditutupi segumpal awan, kemudian mulailah awan itu mendekatinya, dan kudanya lari dari awan tersebut. Ketika pagi tiba, ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menceritakan kejadian itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Itu adalah ketenangan yang turun karena Al-Qur’an.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 5011 dan Muslim, no. 795]. Syathon adalah utas tali.   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan surah Al-Kahfi. Allah tampakkan kepada sebagian hamba di antara tanda kuasa-Nya untuk menambah keimanannya. Makin seseorang dekat dengan Al-Qur’an, ia akan makin mendapatkan ketenangan, ia makin khusyuk dan tunduk kepada Allah. Hadits ini menunjukkan adanya karamah para wali. Membaca Al-Qur’an adalah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits ini menunjukkan keutamaan istimaa’ (mendengarkan) Al-Qur’an.   Baca juga: Jangan Lupa Membaca Surah Al-Kahfi pada Hari Jumat   Referensi: Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Muhammad bin Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Ali bin Adam bin Musa Al-Itiyubia Al-Wallawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 16:279. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:207. Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 395-396.   – Diselesaikan pada 4 Rajab 1444 H, 26 Januari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran belajar al quran hasad membaca Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shahibul quran surat al kahfi
Kita bisa raih ketenangan dengan membaca Al-Qur’an, termasuk surah Al-Kahfi.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an Hadits #998 Ketenangan Ketika Membaca Surah Al-Kahfi وَعَنِ البَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ ، وَعِنْدَهُ فَرَسٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ ، فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدْنُو ، وَجَعَلَ فَرَسُه يَنْفِرُ مِنْهَا ، فَلَمَّا أصْبَحَ أتَى النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ : (( تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلقُرْآنِ )) متفقٌ عَلَيْهِ . (( الشَّطَنُ )) بفتحِ الشينِ المعجمة والطاءِ المهملة : الحَبْلُ . Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada seseorang yang sedang membaca surah Al-Kahfi. Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat dengan dua utas tali. Lalu ia ditutupi segumpal awan, kemudian mulailah awan itu mendekatinya, dan kudanya lari dari awan tersebut. Ketika pagi tiba, ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menceritakan kejadian itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Itu adalah ketenangan yang turun karena Al-Qur’an.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 5011 dan Muslim, no. 795]. Syathon adalah utas tali.   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan surah Al-Kahfi. Allah tampakkan kepada sebagian hamba di antara tanda kuasa-Nya untuk menambah keimanannya. Makin seseorang dekat dengan Al-Qur’an, ia akan makin mendapatkan ketenangan, ia makin khusyuk dan tunduk kepada Allah. Hadits ini menunjukkan adanya karamah para wali. Membaca Al-Qur’an adalah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits ini menunjukkan keutamaan istimaa’ (mendengarkan) Al-Qur’an.   Baca juga: Jangan Lupa Membaca Surah Al-Kahfi pada Hari Jumat   Referensi: Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Muhammad bin Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Ali bin Adam bin Musa Al-Itiyubia Al-Wallawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 16:279. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:207. Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 395-396.   – Diselesaikan pada 4 Rajab 1444 H, 26 Januari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran belajar al quran hasad membaca Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shahibul quran surat al kahfi


Kita bisa raih ketenangan dengan membaca Al-Qur’an, termasuk surah Al-Kahfi.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an Hadits #998 Ketenangan Ketika Membaca Surah Al-Kahfi وَعَنِ البَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ ، وَعِنْدَهُ فَرَسٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ ، فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدْنُو ، وَجَعَلَ فَرَسُه يَنْفِرُ مِنْهَا ، فَلَمَّا أصْبَحَ أتَى النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ : (( تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلقُرْآنِ )) متفقٌ عَلَيْهِ . (( الشَّطَنُ )) بفتحِ الشينِ المعجمة والطاءِ المهملة : الحَبْلُ . Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada seseorang yang sedang membaca surah Al-Kahfi. Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat dengan dua utas tali. Lalu ia ditutupi segumpal awan, kemudian mulailah awan itu mendekatinya, dan kudanya lari dari awan tersebut. Ketika pagi tiba, ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menceritakan kejadian itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Itu adalah ketenangan yang turun karena Al-Qur’an.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 5011 dan Muslim, no. 795]. Syathon adalah utas tali.   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan surah Al-Kahfi. Allah tampakkan kepada sebagian hamba di antara tanda kuasa-Nya untuk menambah keimanannya. Makin seseorang dekat dengan Al-Qur’an, ia akan makin mendapatkan ketenangan, ia makin khusyuk dan tunduk kepada Allah. Hadits ini menunjukkan adanya karamah para wali. Membaca Al-Qur’an adalah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits ini menunjukkan keutamaan istimaa’ (mendengarkan) Al-Qur’an.   Baca juga: Jangan Lupa Membaca Surah Al-Kahfi pada Hari Jumat   Referensi: Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Muhammad bin Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Ali bin Adam bin Musa Al-Itiyubia Al-Wallawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 16:279. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:207. Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 395-396.   – Diselesaikan pada 4 Rajab 1444 H, 26 Januari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran belajar al quran hasad membaca Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shahibul quran surat al kahfi

Apakah Taat pada Suami dalam Segala Hal?

Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustadz, izin bertanya. Apakah ketaatan istri kepada suaminya itu dalam segala perkara? Mohon penjelasannya. Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Allah ta’ala telah menjadikan para suami sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Sebagaimana firman Allah ta’ala, الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. An-Nisa: 34). Sudah sepatutnya seorang pemimpin untuk ditaati. Ketika ketaatan ditinggalkan maka hancurlah organisasi rumah tangga yang dijalankan. Oleh karena itulah, Allah dan Rasul-Nya dalam banyak dalil memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya, kecuali dalam perkara yang diharamkan. Meninggalkan ketaatan kepada suami merupakan dosa besar, sebaliknya ketaatan kepadanya diganjar dengan pahala yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan” (HR. Ibnu Hibban no.4163. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no.2411). Namun ketaatan kepada suami ada batasannya. Ketaatan tersebut tidak boleh dalam perkara maksiat dan perkara yang membahayakan! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq” (HR. Ahmad no.19904, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Al-Musnad). Maka dalam perkara maksiat, istri tidak wajib mentaati suaminya. Seperti jika suami meminta istrinya untuk melepas jilbab atau membuka aurat di depan umum, maka tidak boleh taat kepada suaminya dalam masalah ini.  Demikian juga tidak wajib taat kepada suami dalam perkara yang tidak ma’ruf. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ “Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR. Bukhari no.7257 dan Muslim no.1840). Yang dimaksud perkara yang ma’ruf adalah perkara yang dianggap baik oleh akal sehat dan syari’at. Perkara yang ma’ruf didefinisikan oleh As Sa’di rahimahullah: المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه “Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196). Sehingga tidak wajib taat kepada suami jika diperintahkan untuk melakukan perkara yang membahayakan dan tidak sesuai dengan akal sehat. Seperti jika suami memerintahkan istrinya untuk melukai dirinya sendiri, atau untuk terjun ke jurang, ini tidak wajib ditaati karena termasuk perkara yang membahayakan.  Demikian juga misalnya suami memerintahkan istrinya untuk berjalan jongkok keliling kampung, atau untuk melumuri badannya dengan telur, atau untuk berjoget-joget di depan rumah, maka ini semua tidak wajib ditaati. Karena ketaatan ini hanya dalam perkara yang ma’ruf. Maka kesimpulannya, wajib taat kepada suami dalam segala perkara baik ibadah maupun muamalah, baik yang disenangi oleh istri ataupun yang tidak disenangi, kecuali dalam perkara maksiat dan perkara yang tidak ma’ruf. Wajibkah istri taat pada suami dalam perkara khilafiyah? Ketaatan istri pada suami dalam masalah khilafiyah ijtihadiyah ada rinciannya. Rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini hukumnya wajib atau sunnah, dan pelaksanaannya tidak terkait dan tidak melalaikan hak-hak suami, maka istri tidak wajib taat kepada suami. Contoh:  Istri ingin mengeluarkan zakat perhiasan, dengan keyakinan itu wajib. Suami berkeyakinan tidak wajib zakat atas perhiasan dan melarang istrinya bayar zakat. Dan urusan pembayaran zakat tidak terkait dengan hak suami. Maka istri tidak wajib menaati suami dalam hal ini. Kedua Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini hukumnya sunnah, dan pelaksanaannya terkait dengan hak-hak suami atau bisa melalaikan hak-hak suami, maka wajib taat kepada suami jika dilarang. Contoh:  Istri ingin puasa sunnah, namun dilarang oleh suami. Maka istri wajib taat kepada suami. Karena pelaksanaan puasa terkait dengan hak-hak suami. Ketiga Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini hukumnya mubah (boleh), maka istri wajib taat kepada suami. Contoh: Istri berkeyakinan boleh membuka wajah, tidak wajib pakai cadar. Maka istri wajib taat kepada suami jika diperintahkan memakai cadar. Keempat Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini wajib, atau haram atau bid’ah, maka istri tidak boleh taat kepada suami jika suami berbeda pendapat. Contoh: Istri meyakini wajib menutup wajah di depan non mahram. Sedangkan suami meyakini boleh membuka wajah. Maka istri tidak boleh taat ketika diperintahkan untuk membuka wajah di depan non mahram. Hendaknya suami lebih diprioritaskan dibanding orang-orang lain Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لو كان يَنْبَغي لأحدٍ أنْ يَسجُدَ لأحدٍ، لأمَرْتُ المرأةُ أنْ تَسجُدَ لزَوجِها “Andaikan dibolehkan bagi seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya” (HR. At Tirmidzi no.1159, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no.3490). Hadits ini menunjukkan bahwa suami memiliki hak paling besar bagi seorang istri, setelah Allah dan Rasul-Nya. Dalam hadits lain, ketika ada sahabiyah mengeluhkan suaminya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam justru bersabda: انظُري أينَ أنت منهُ فإنَّهُ جنَّتُكِ أو نارُكِ “Hendaknya engkau perhatikan bagaimana perlakuanmu terhadap suamimu. Karena ia adalah surgamu dan nerakamu” (HR. Al-Hakim no.2769, Al-Baihaqi no.15103, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Bahkan hak suami lebih besar daripada hak orang tua, bagi sang istri. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)” (QS. An-Nisa: 34). Ini menunjukkan bahwa wajib bagi istri untuk taat kepada suaminya secara mutlak. Taat untuk memberikan pelayanan kepada suami, untuk safar bersama suami, untuk tinggal bersama suami, dan perkara-perkara lainnya. Sebagaimana juga ditunjukkan oleh sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam…. Taat kepada suaminya itu sebagaimana taatnya ia kepada kedua orang tuanya. Karena semua bentuk ketaatan kepada kedua orang tuanya, kini telah berpindah kepada suaminya” (Majmu Al-Fatawa, 32/260-261). Semoga Allah ta’ala memberi taufik.  Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Istighfar Yang Paling Baik, Doa Orang Terkena Fitnah, Doa Pulang Haji, Hukum Menjilat, Bacaan Sholat Ied Adha, Dzikir Sesudah Sholat Nu Visited 589 times, 3 visit(s) today Post Views: 821 QRIS donasi Yufid

Apakah Taat pada Suami dalam Segala Hal?

Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustadz, izin bertanya. Apakah ketaatan istri kepada suaminya itu dalam segala perkara? Mohon penjelasannya. Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Allah ta’ala telah menjadikan para suami sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Sebagaimana firman Allah ta’ala, الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. An-Nisa: 34). Sudah sepatutnya seorang pemimpin untuk ditaati. Ketika ketaatan ditinggalkan maka hancurlah organisasi rumah tangga yang dijalankan. Oleh karena itulah, Allah dan Rasul-Nya dalam banyak dalil memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya, kecuali dalam perkara yang diharamkan. Meninggalkan ketaatan kepada suami merupakan dosa besar, sebaliknya ketaatan kepadanya diganjar dengan pahala yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan” (HR. Ibnu Hibban no.4163. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no.2411). Namun ketaatan kepada suami ada batasannya. Ketaatan tersebut tidak boleh dalam perkara maksiat dan perkara yang membahayakan! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq” (HR. Ahmad no.19904, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Al-Musnad). Maka dalam perkara maksiat, istri tidak wajib mentaati suaminya. Seperti jika suami meminta istrinya untuk melepas jilbab atau membuka aurat di depan umum, maka tidak boleh taat kepada suaminya dalam masalah ini.  Demikian juga tidak wajib taat kepada suami dalam perkara yang tidak ma’ruf. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ “Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR. Bukhari no.7257 dan Muslim no.1840). Yang dimaksud perkara yang ma’ruf adalah perkara yang dianggap baik oleh akal sehat dan syari’at. Perkara yang ma’ruf didefinisikan oleh As Sa’di rahimahullah: المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه “Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196). Sehingga tidak wajib taat kepada suami jika diperintahkan untuk melakukan perkara yang membahayakan dan tidak sesuai dengan akal sehat. Seperti jika suami memerintahkan istrinya untuk melukai dirinya sendiri, atau untuk terjun ke jurang, ini tidak wajib ditaati karena termasuk perkara yang membahayakan.  Demikian juga misalnya suami memerintahkan istrinya untuk berjalan jongkok keliling kampung, atau untuk melumuri badannya dengan telur, atau untuk berjoget-joget di depan rumah, maka ini semua tidak wajib ditaati. Karena ketaatan ini hanya dalam perkara yang ma’ruf. Maka kesimpulannya, wajib taat kepada suami dalam segala perkara baik ibadah maupun muamalah, baik yang disenangi oleh istri ataupun yang tidak disenangi, kecuali dalam perkara maksiat dan perkara yang tidak ma’ruf. Wajibkah istri taat pada suami dalam perkara khilafiyah? Ketaatan istri pada suami dalam masalah khilafiyah ijtihadiyah ada rinciannya. Rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini hukumnya wajib atau sunnah, dan pelaksanaannya tidak terkait dan tidak melalaikan hak-hak suami, maka istri tidak wajib taat kepada suami. Contoh:  Istri ingin mengeluarkan zakat perhiasan, dengan keyakinan itu wajib. Suami berkeyakinan tidak wajib zakat atas perhiasan dan melarang istrinya bayar zakat. Dan urusan pembayaran zakat tidak terkait dengan hak suami. Maka istri tidak wajib menaati suami dalam hal ini. Kedua Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini hukumnya sunnah, dan pelaksanaannya terkait dengan hak-hak suami atau bisa melalaikan hak-hak suami, maka wajib taat kepada suami jika dilarang. Contoh:  Istri ingin puasa sunnah, namun dilarang oleh suami. Maka istri wajib taat kepada suami. Karena pelaksanaan puasa terkait dengan hak-hak suami. Ketiga Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini hukumnya mubah (boleh), maka istri wajib taat kepada suami. Contoh: Istri berkeyakinan boleh membuka wajah, tidak wajib pakai cadar. Maka istri wajib taat kepada suami jika diperintahkan memakai cadar. Keempat Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini wajib, atau haram atau bid’ah, maka istri tidak boleh taat kepada suami jika suami berbeda pendapat. Contoh: Istri meyakini wajib menutup wajah di depan non mahram. Sedangkan suami meyakini boleh membuka wajah. Maka istri tidak boleh taat ketika diperintahkan untuk membuka wajah di depan non mahram. Hendaknya suami lebih diprioritaskan dibanding orang-orang lain Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لو كان يَنْبَغي لأحدٍ أنْ يَسجُدَ لأحدٍ، لأمَرْتُ المرأةُ أنْ تَسجُدَ لزَوجِها “Andaikan dibolehkan bagi seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya” (HR. At Tirmidzi no.1159, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no.3490). Hadits ini menunjukkan bahwa suami memiliki hak paling besar bagi seorang istri, setelah Allah dan Rasul-Nya. Dalam hadits lain, ketika ada sahabiyah mengeluhkan suaminya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam justru bersabda: انظُري أينَ أنت منهُ فإنَّهُ جنَّتُكِ أو نارُكِ “Hendaknya engkau perhatikan bagaimana perlakuanmu terhadap suamimu. Karena ia adalah surgamu dan nerakamu” (HR. Al-Hakim no.2769, Al-Baihaqi no.15103, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Bahkan hak suami lebih besar daripada hak orang tua, bagi sang istri. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)” (QS. An-Nisa: 34). Ini menunjukkan bahwa wajib bagi istri untuk taat kepada suaminya secara mutlak. Taat untuk memberikan pelayanan kepada suami, untuk safar bersama suami, untuk tinggal bersama suami, dan perkara-perkara lainnya. Sebagaimana juga ditunjukkan oleh sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam…. Taat kepada suaminya itu sebagaimana taatnya ia kepada kedua orang tuanya. Karena semua bentuk ketaatan kepada kedua orang tuanya, kini telah berpindah kepada suaminya” (Majmu Al-Fatawa, 32/260-261). Semoga Allah ta’ala memberi taufik.  Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Istighfar Yang Paling Baik, Doa Orang Terkena Fitnah, Doa Pulang Haji, Hukum Menjilat, Bacaan Sholat Ied Adha, Dzikir Sesudah Sholat Nu Visited 589 times, 3 visit(s) today Post Views: 821 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustadz, izin bertanya. Apakah ketaatan istri kepada suaminya itu dalam segala perkara? Mohon penjelasannya. Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Allah ta’ala telah menjadikan para suami sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Sebagaimana firman Allah ta’ala, الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. An-Nisa: 34). Sudah sepatutnya seorang pemimpin untuk ditaati. Ketika ketaatan ditinggalkan maka hancurlah organisasi rumah tangga yang dijalankan. Oleh karena itulah, Allah dan Rasul-Nya dalam banyak dalil memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya, kecuali dalam perkara yang diharamkan. Meninggalkan ketaatan kepada suami merupakan dosa besar, sebaliknya ketaatan kepadanya diganjar dengan pahala yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan” (HR. Ibnu Hibban no.4163. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no.2411). Namun ketaatan kepada suami ada batasannya. Ketaatan tersebut tidak boleh dalam perkara maksiat dan perkara yang membahayakan! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq” (HR. Ahmad no.19904, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Al-Musnad). Maka dalam perkara maksiat, istri tidak wajib mentaati suaminya. Seperti jika suami meminta istrinya untuk melepas jilbab atau membuka aurat di depan umum, maka tidak boleh taat kepada suaminya dalam masalah ini.  Demikian juga tidak wajib taat kepada suami dalam perkara yang tidak ma’ruf. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ “Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR. Bukhari no.7257 dan Muslim no.1840). Yang dimaksud perkara yang ma’ruf adalah perkara yang dianggap baik oleh akal sehat dan syari’at. Perkara yang ma’ruf didefinisikan oleh As Sa’di rahimahullah: المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه “Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196). Sehingga tidak wajib taat kepada suami jika diperintahkan untuk melakukan perkara yang membahayakan dan tidak sesuai dengan akal sehat. Seperti jika suami memerintahkan istrinya untuk melukai dirinya sendiri, atau untuk terjun ke jurang, ini tidak wajib ditaati karena termasuk perkara yang membahayakan.  Demikian juga misalnya suami memerintahkan istrinya untuk berjalan jongkok keliling kampung, atau untuk melumuri badannya dengan telur, atau untuk berjoget-joget di depan rumah, maka ini semua tidak wajib ditaati. Karena ketaatan ini hanya dalam perkara yang ma’ruf. Maka kesimpulannya, wajib taat kepada suami dalam segala perkara baik ibadah maupun muamalah, baik yang disenangi oleh istri ataupun yang tidak disenangi, kecuali dalam perkara maksiat dan perkara yang tidak ma’ruf. Wajibkah istri taat pada suami dalam perkara khilafiyah? Ketaatan istri pada suami dalam masalah khilafiyah ijtihadiyah ada rinciannya. Rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini hukumnya wajib atau sunnah, dan pelaksanaannya tidak terkait dan tidak melalaikan hak-hak suami, maka istri tidak wajib taat kepada suami. Contoh:  Istri ingin mengeluarkan zakat perhiasan, dengan keyakinan itu wajib. Suami berkeyakinan tidak wajib zakat atas perhiasan dan melarang istrinya bayar zakat. Dan urusan pembayaran zakat tidak terkait dengan hak suami. Maka istri tidak wajib menaati suami dalam hal ini. Kedua Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini hukumnya sunnah, dan pelaksanaannya terkait dengan hak-hak suami atau bisa melalaikan hak-hak suami, maka wajib taat kepada suami jika dilarang. Contoh:  Istri ingin puasa sunnah, namun dilarang oleh suami. Maka istri wajib taat kepada suami. Karena pelaksanaan puasa terkait dengan hak-hak suami. Ketiga Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini hukumnya mubah (boleh), maka istri wajib taat kepada suami. Contoh: Istri berkeyakinan boleh membuka wajah, tidak wajib pakai cadar. Maka istri wajib taat kepada suami jika diperintahkan memakai cadar. Keempat Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini wajib, atau haram atau bid’ah, maka istri tidak boleh taat kepada suami jika suami berbeda pendapat. Contoh: Istri meyakini wajib menutup wajah di depan non mahram. Sedangkan suami meyakini boleh membuka wajah. Maka istri tidak boleh taat ketika diperintahkan untuk membuka wajah di depan non mahram. Hendaknya suami lebih diprioritaskan dibanding orang-orang lain Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لو كان يَنْبَغي لأحدٍ أنْ يَسجُدَ لأحدٍ، لأمَرْتُ المرأةُ أنْ تَسجُدَ لزَوجِها “Andaikan dibolehkan bagi seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya” (HR. At Tirmidzi no.1159, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no.3490). Hadits ini menunjukkan bahwa suami memiliki hak paling besar bagi seorang istri, setelah Allah dan Rasul-Nya. Dalam hadits lain, ketika ada sahabiyah mengeluhkan suaminya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam justru bersabda: انظُري أينَ أنت منهُ فإنَّهُ جنَّتُكِ أو نارُكِ “Hendaknya engkau perhatikan bagaimana perlakuanmu terhadap suamimu. Karena ia adalah surgamu dan nerakamu” (HR. Al-Hakim no.2769, Al-Baihaqi no.15103, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Bahkan hak suami lebih besar daripada hak orang tua, bagi sang istri. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)” (QS. An-Nisa: 34). Ini menunjukkan bahwa wajib bagi istri untuk taat kepada suaminya secara mutlak. Taat untuk memberikan pelayanan kepada suami, untuk safar bersama suami, untuk tinggal bersama suami, dan perkara-perkara lainnya. Sebagaimana juga ditunjukkan oleh sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam…. Taat kepada suaminya itu sebagaimana taatnya ia kepada kedua orang tuanya. Karena semua bentuk ketaatan kepada kedua orang tuanya, kini telah berpindah kepada suaminya” (Majmu Al-Fatawa, 32/260-261). Semoga Allah ta’ala memberi taufik.  Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Istighfar Yang Paling Baik, Doa Orang Terkena Fitnah, Doa Pulang Haji, Hukum Menjilat, Bacaan Sholat Ied Adha, Dzikir Sesudah Sholat Nu Visited 589 times, 3 visit(s) today Post Views: 821 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1469318467&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustadz, izin bertanya. Apakah ketaatan istri kepada suaminya itu dalam segala perkara? Mohon penjelasannya. Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Allah ta’ala telah menjadikan para suami sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Sebagaimana firman Allah ta’ala, الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. An-Nisa: 34). Sudah sepatutnya seorang pemimpin untuk ditaati. Ketika ketaatan ditinggalkan maka hancurlah organisasi rumah tangga yang dijalankan. Oleh karena itulah, Allah dan Rasul-Nya dalam banyak dalil memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya, kecuali dalam perkara yang diharamkan. Meninggalkan ketaatan kepada suami merupakan dosa besar, sebaliknya ketaatan kepadanya diganjar dengan pahala yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan” (HR. Ibnu Hibban no.4163. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no.2411). Namun ketaatan kepada suami ada batasannya. Ketaatan tersebut tidak boleh dalam perkara maksiat dan perkara yang membahayakan! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq” (HR. Ahmad no.19904, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Al-Musnad). Maka dalam perkara maksiat, istri tidak wajib mentaati suaminya. Seperti jika suami meminta istrinya untuk melepas jilbab atau membuka aurat di depan umum, maka tidak boleh taat kepada suaminya dalam masalah ini.  Demikian juga tidak wajib taat kepada suami dalam perkara yang tidak ma’ruf. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ “Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR. Bukhari no.7257 dan Muslim no.1840). Yang dimaksud perkara yang ma’ruf adalah perkara yang dianggap baik oleh akal sehat dan syari’at. Perkara yang ma’ruf didefinisikan oleh As Sa’di rahimahullah: المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه “Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196). Sehingga tidak wajib taat kepada suami jika diperintahkan untuk melakukan perkara yang membahayakan dan tidak sesuai dengan akal sehat. Seperti jika suami memerintahkan istrinya untuk melukai dirinya sendiri, atau untuk terjun ke jurang, ini tidak wajib ditaati karena termasuk perkara yang membahayakan.  Demikian juga misalnya suami memerintahkan istrinya untuk berjalan jongkok keliling kampung, atau untuk melumuri badannya dengan telur, atau untuk berjoget-joget di depan rumah, maka ini semua tidak wajib ditaati. Karena ketaatan ini hanya dalam perkara yang ma’ruf. Maka kesimpulannya, wajib taat kepada suami dalam segala perkara baik ibadah maupun muamalah, baik yang disenangi oleh istri ataupun yang tidak disenangi, kecuali dalam perkara maksiat dan perkara yang tidak ma’ruf. Wajibkah istri taat pada suami dalam perkara khilafiyah? Ketaatan istri pada suami dalam masalah khilafiyah ijtihadiyah ada rinciannya. Rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini hukumnya wajib atau sunnah, dan pelaksanaannya tidak terkait dan tidak melalaikan hak-hak suami, maka istri tidak wajib taat kepada suami. Contoh:  Istri ingin mengeluarkan zakat perhiasan, dengan keyakinan itu wajib. Suami berkeyakinan tidak wajib zakat atas perhiasan dan melarang istrinya bayar zakat. Dan urusan pembayaran zakat tidak terkait dengan hak suami. Maka istri tidak wajib menaati suami dalam hal ini. Kedua Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini hukumnya sunnah, dan pelaksanaannya terkait dengan hak-hak suami atau bisa melalaikan hak-hak suami, maka wajib taat kepada suami jika dilarang. Contoh:  Istri ingin puasa sunnah, namun dilarang oleh suami. Maka istri wajib taat kepada suami. Karena pelaksanaan puasa terkait dengan hak-hak suami. Ketiga Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini hukumnya mubah (boleh), maka istri wajib taat kepada suami. Contoh: Istri berkeyakinan boleh membuka wajah, tidak wajib pakai cadar. Maka istri wajib taat kepada suami jika diperintahkan memakai cadar. Keempat Dalam masalah khilafiyah, istri meyakini wajib, atau haram atau bid’ah, maka istri tidak boleh taat kepada suami jika suami berbeda pendapat. Contoh: Istri meyakini wajib menutup wajah di depan non mahram. Sedangkan suami meyakini boleh membuka wajah. Maka istri tidak boleh taat ketika diperintahkan untuk membuka wajah di depan non mahram. Hendaknya suami lebih diprioritaskan dibanding orang-orang lain Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لو كان يَنْبَغي لأحدٍ أنْ يَسجُدَ لأحدٍ، لأمَرْتُ المرأةُ أنْ تَسجُدَ لزَوجِها “Andaikan dibolehkan bagi seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya” (HR. At Tirmidzi no.1159, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no.3490). Hadits ini menunjukkan bahwa suami memiliki hak paling besar bagi seorang istri, setelah Allah dan Rasul-Nya. Dalam hadits lain, ketika ada sahabiyah mengeluhkan suaminya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam justru bersabda: انظُري أينَ أنت منهُ فإنَّهُ جنَّتُكِ أو نارُكِ “Hendaknya engkau perhatikan bagaimana perlakuanmu terhadap suamimu. Karena ia adalah surgamu dan nerakamu” (HR. Al-Hakim no.2769, Al-Baihaqi no.15103, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Bahkan hak suami lebih besar daripada hak orang tua, bagi sang istri. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)” (QS. An-Nisa: 34). Ini menunjukkan bahwa wajib bagi istri untuk taat kepada suaminya secara mutlak. Taat untuk memberikan pelayanan kepada suami, untuk safar bersama suami, untuk tinggal bersama suami, dan perkara-perkara lainnya. Sebagaimana juga ditunjukkan oleh sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam…. Taat kepada suaminya itu sebagaimana taatnya ia kepada kedua orang tuanya. Karena semua bentuk ketaatan kepada kedua orang tuanya, kini telah berpindah kepada suaminya” (Majmu Al-Fatawa, 32/260-261). Semoga Allah ta’ala memberi taufik.  Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Istighfar Yang Paling Baik, Doa Orang Terkena Fitnah, Doa Pulang Haji, Hukum Menjilat, Bacaan Sholat Ied Adha, Dzikir Sesudah Sholat Nu Visited 589 times, 3 visit(s) today Post Views: 821 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Rahasia Hidupnya Hati Anda – Syaikh Abdul Karim al-Khudair #NasehatUlama

“Apa yang ada dalam benak Andatentang seseorang yang jika petunjuknya hilang dari diri Anda,dan tidak ada walaupun sekejap mata,maka hati Anda akan rusakdan menjadi seperti ikan yang terpisah dari airlalu diletakkan di atas panci? Maka keadaan seorang hamba yang hatinya terpisahdengan apa yang dibawa oleh para rasuladalah seperti ini keadaannya, bahkan lebih parah!Namun hal ini tidak dirasakankecuali oleh hati yang hidup. Tidak ada yang merasakannya kecuali oleh hati yang hidup,”demikian Ibnul Qayyim berkata.Lalu dia berkata,“Si mayat tidak akan menderita karena luka.”Jika hati telah mati, maka tiada lagi faedahnya.“Orang yang rendah diri akan terhina, …”ini perkataan al-Mutanabbi,“… dan si mayat tidak akan menderita karena luka.” Lalu Ibnul Qayyim berkata,“Jika kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat, ….”“Jika kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhiratterikat dengan petunjuk Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam, maka wajib bagi orang yang menghendaki kebaikan bagi dirinyadan mendambakan keselamatan dan kebahagiannyauntuk mengetahui petunjuk, biografi, dan segala yang terkait dengan beliau, yang dengannya dia keluar dari kelompok orang yang tidak mengenalnya, ….”“… yang dengannya dia keluar dari kelompok orang yang tidak mengenalnya,dan masuk dalam golongan para pengikutnya,pendukung setianya, dan kelompoknya. Orang-orang dalam hal ini ada yang sedikit, ada yang banyak, ….”Maksudnya ada orang yang memiliki sedikit ilmu tentangnyadan ada yang memiliki banyak ilmu tentangnya. “… dan ada yang terhalang,” Maksudnya ada yang tidak mengilmuinya sama sekali.“… dan keutamaan ada di tangan Allah, yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sungguh, Allah Maha Memiliki keutamaan yang agung.”Betapa indah apa yang dikatakan oleh Sufyan bin ‘Uyainahyang diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam mukadimah kitabal-Jāmiʿ li Akhlāq ar-Rāwī wa Ādāb as-Sāmiʿi, diriwayatkan dari Sufyan bahwa dia pernah mengatakan,“Sesungguhnya Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam adalah standar agung.Beliau adalah standar agunguntuk menilai segala sesuatu berdasarkan akhlak, sirah, dan petunjuk beliau.Segala yang bersesuaian dengannya adalah kebenarandan segala yang bertentangan dengannya adalah kebatilan.” ==== وَمَا ظَنُّكَ بِمَنْ إِذَا غَابَ عَنْكَ هَدْيُهُ وَمَا جَاءَ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ فَسَدَ قَلْبُكَ وَصَارَ كَالْحُوتِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ وَوُضِعَ فِي الْمِقْلَاةِ؟ فَحَالُ الْعَبْدِ عِنْدَ مُفَارَقَةِ قَلْبِهِ لِمَا جَاءَ بِهِ الرُّسُلُ كَهَذِهِ الْحَالِ بَلْ أَعْظَمُ وَلَكِنْ لَا يُحِسُّ بِهَذَا إِلَّا قَلْبٌ حَيٌّ لَا يُحِسُّ بِهَذَا إِلَّا قَلْبٌ حَيٌّ يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ ثُمَّ قَالَ وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامُ إِذَا مَاتَ الْقَلْبُ مَا فِي فَائِدَةٍ مَنْ يَهُنْ يَسْهُلِ الهَوَانُ عَلَيهِ يَقُولُ الْمُتَنَبِّي وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامُ ثُمَّ يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَإِذَا كَانَتْ سَعَادَةُ الْعَبْدِ فِي الدَّارَيْنِ وَإِذَا كَانَتْ سَعَادَةُ الْعَبْدِ فِي الدَّارَيْنِ مُتَعَلِّقَةً بِهَدْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَجِبُ عَلَى كُلِّ مَنْ نَصَحَ نَفْسَهُ وَأَحَبَّ نَجَاتَهَا وَسَعَادَتَهَا أَنْ يَعْرِفَ مِنْ هَدْيِهِ وَسِيْرَتِهِ وَشَأْنِهِ مَا يَخْرُجُ بِهِ عَنِ الْجَاهِلِينَ بِهِ مَا يَخْرُجُ بِهِ عَنِ الْجَاهِلِينَ بِهِ وَيَدْخُلَ… أَوْ وَيَدْخُلُ… وَيَدْخُلُ بِهِ فِي عِدَادِ أَتْبَاعِهِ وَشِيْعَتِهِ وَحِزْبِهِ وَالنَّاسُ فِي هَذَا بَيْنَ مُسْتَقِلٍّ وَمُسْتَكْثِرٍ يَعْنِي عِنْدَ أَحَدٍ عِنْدَهُ شَيْءٌ يَسِيرٌ وَأَحَدٌ عِنْدَهُ شَيْءٌ كَثِيرٌ وَمَحْرُومٌ أَحَدٌ مَا عِنْدَهُ شَيْءٌ الْبَتَّةَ وَالْفَضْلُ بِيَدِ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَهُ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ فِيمَا رَوَاهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي مُقَدَّمَةِ الْجَامِعِ لِأَخْلَاقِ الرَّاوِيِّ وَآدَابِ السَّامِعِ عَنْ سُفْيَانَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْمِيزَانُ الْأَكْبَرُ هُوَ الْمِيزَانُ الْأَكْبَرُ فَعَلَيْهِ تُعْرَضُ الْأَشْيَاءُ عَلَى خُلُقِهِ وَسِيْرَتِهِ وَهَدْيِهِ فَمَا وَافَقَهَا فَهُوَ الْحَقُّ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ الْبَاطِلُ

Rahasia Hidupnya Hati Anda – Syaikh Abdul Karim al-Khudair #NasehatUlama

“Apa yang ada dalam benak Andatentang seseorang yang jika petunjuknya hilang dari diri Anda,dan tidak ada walaupun sekejap mata,maka hati Anda akan rusakdan menjadi seperti ikan yang terpisah dari airlalu diletakkan di atas panci? Maka keadaan seorang hamba yang hatinya terpisahdengan apa yang dibawa oleh para rasuladalah seperti ini keadaannya, bahkan lebih parah!Namun hal ini tidak dirasakankecuali oleh hati yang hidup. Tidak ada yang merasakannya kecuali oleh hati yang hidup,”demikian Ibnul Qayyim berkata.Lalu dia berkata,“Si mayat tidak akan menderita karena luka.”Jika hati telah mati, maka tiada lagi faedahnya.“Orang yang rendah diri akan terhina, …”ini perkataan al-Mutanabbi,“… dan si mayat tidak akan menderita karena luka.” Lalu Ibnul Qayyim berkata,“Jika kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat, ….”“Jika kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhiratterikat dengan petunjuk Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam, maka wajib bagi orang yang menghendaki kebaikan bagi dirinyadan mendambakan keselamatan dan kebahagiannyauntuk mengetahui petunjuk, biografi, dan segala yang terkait dengan beliau, yang dengannya dia keluar dari kelompok orang yang tidak mengenalnya, ….”“… yang dengannya dia keluar dari kelompok orang yang tidak mengenalnya,dan masuk dalam golongan para pengikutnya,pendukung setianya, dan kelompoknya. Orang-orang dalam hal ini ada yang sedikit, ada yang banyak, ….”Maksudnya ada orang yang memiliki sedikit ilmu tentangnyadan ada yang memiliki banyak ilmu tentangnya. “… dan ada yang terhalang,” Maksudnya ada yang tidak mengilmuinya sama sekali.“… dan keutamaan ada di tangan Allah, yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sungguh, Allah Maha Memiliki keutamaan yang agung.”Betapa indah apa yang dikatakan oleh Sufyan bin ‘Uyainahyang diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam mukadimah kitabal-Jāmiʿ li Akhlāq ar-Rāwī wa Ādāb as-Sāmiʿi, diriwayatkan dari Sufyan bahwa dia pernah mengatakan,“Sesungguhnya Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam adalah standar agung.Beliau adalah standar agunguntuk menilai segala sesuatu berdasarkan akhlak, sirah, dan petunjuk beliau.Segala yang bersesuaian dengannya adalah kebenarandan segala yang bertentangan dengannya adalah kebatilan.” ==== وَمَا ظَنُّكَ بِمَنْ إِذَا غَابَ عَنْكَ هَدْيُهُ وَمَا جَاءَ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ فَسَدَ قَلْبُكَ وَصَارَ كَالْحُوتِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ وَوُضِعَ فِي الْمِقْلَاةِ؟ فَحَالُ الْعَبْدِ عِنْدَ مُفَارَقَةِ قَلْبِهِ لِمَا جَاءَ بِهِ الرُّسُلُ كَهَذِهِ الْحَالِ بَلْ أَعْظَمُ وَلَكِنْ لَا يُحِسُّ بِهَذَا إِلَّا قَلْبٌ حَيٌّ لَا يُحِسُّ بِهَذَا إِلَّا قَلْبٌ حَيٌّ يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ ثُمَّ قَالَ وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامُ إِذَا مَاتَ الْقَلْبُ مَا فِي فَائِدَةٍ مَنْ يَهُنْ يَسْهُلِ الهَوَانُ عَلَيهِ يَقُولُ الْمُتَنَبِّي وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامُ ثُمَّ يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَإِذَا كَانَتْ سَعَادَةُ الْعَبْدِ فِي الدَّارَيْنِ وَإِذَا كَانَتْ سَعَادَةُ الْعَبْدِ فِي الدَّارَيْنِ مُتَعَلِّقَةً بِهَدْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَجِبُ عَلَى كُلِّ مَنْ نَصَحَ نَفْسَهُ وَأَحَبَّ نَجَاتَهَا وَسَعَادَتَهَا أَنْ يَعْرِفَ مِنْ هَدْيِهِ وَسِيْرَتِهِ وَشَأْنِهِ مَا يَخْرُجُ بِهِ عَنِ الْجَاهِلِينَ بِهِ مَا يَخْرُجُ بِهِ عَنِ الْجَاهِلِينَ بِهِ وَيَدْخُلَ… أَوْ وَيَدْخُلُ… وَيَدْخُلُ بِهِ فِي عِدَادِ أَتْبَاعِهِ وَشِيْعَتِهِ وَحِزْبِهِ وَالنَّاسُ فِي هَذَا بَيْنَ مُسْتَقِلٍّ وَمُسْتَكْثِرٍ يَعْنِي عِنْدَ أَحَدٍ عِنْدَهُ شَيْءٌ يَسِيرٌ وَأَحَدٌ عِنْدَهُ شَيْءٌ كَثِيرٌ وَمَحْرُومٌ أَحَدٌ مَا عِنْدَهُ شَيْءٌ الْبَتَّةَ وَالْفَضْلُ بِيَدِ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَهُ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ فِيمَا رَوَاهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي مُقَدَّمَةِ الْجَامِعِ لِأَخْلَاقِ الرَّاوِيِّ وَآدَابِ السَّامِعِ عَنْ سُفْيَانَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْمِيزَانُ الْأَكْبَرُ هُوَ الْمِيزَانُ الْأَكْبَرُ فَعَلَيْهِ تُعْرَضُ الْأَشْيَاءُ عَلَى خُلُقِهِ وَسِيْرَتِهِ وَهَدْيِهِ فَمَا وَافَقَهَا فَهُوَ الْحَقُّ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ الْبَاطِلُ
“Apa yang ada dalam benak Andatentang seseorang yang jika petunjuknya hilang dari diri Anda,dan tidak ada walaupun sekejap mata,maka hati Anda akan rusakdan menjadi seperti ikan yang terpisah dari airlalu diletakkan di atas panci? Maka keadaan seorang hamba yang hatinya terpisahdengan apa yang dibawa oleh para rasuladalah seperti ini keadaannya, bahkan lebih parah!Namun hal ini tidak dirasakankecuali oleh hati yang hidup. Tidak ada yang merasakannya kecuali oleh hati yang hidup,”demikian Ibnul Qayyim berkata.Lalu dia berkata,“Si mayat tidak akan menderita karena luka.”Jika hati telah mati, maka tiada lagi faedahnya.“Orang yang rendah diri akan terhina, …”ini perkataan al-Mutanabbi,“… dan si mayat tidak akan menderita karena luka.” Lalu Ibnul Qayyim berkata,“Jika kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat, ….”“Jika kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhiratterikat dengan petunjuk Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam, maka wajib bagi orang yang menghendaki kebaikan bagi dirinyadan mendambakan keselamatan dan kebahagiannyauntuk mengetahui petunjuk, biografi, dan segala yang terkait dengan beliau, yang dengannya dia keluar dari kelompok orang yang tidak mengenalnya, ….”“… yang dengannya dia keluar dari kelompok orang yang tidak mengenalnya,dan masuk dalam golongan para pengikutnya,pendukung setianya, dan kelompoknya. Orang-orang dalam hal ini ada yang sedikit, ada yang banyak, ….”Maksudnya ada orang yang memiliki sedikit ilmu tentangnyadan ada yang memiliki banyak ilmu tentangnya. “… dan ada yang terhalang,” Maksudnya ada yang tidak mengilmuinya sama sekali.“… dan keutamaan ada di tangan Allah, yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sungguh, Allah Maha Memiliki keutamaan yang agung.”Betapa indah apa yang dikatakan oleh Sufyan bin ‘Uyainahyang diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam mukadimah kitabal-Jāmiʿ li Akhlāq ar-Rāwī wa Ādāb as-Sāmiʿi, diriwayatkan dari Sufyan bahwa dia pernah mengatakan,“Sesungguhnya Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam adalah standar agung.Beliau adalah standar agunguntuk menilai segala sesuatu berdasarkan akhlak, sirah, dan petunjuk beliau.Segala yang bersesuaian dengannya adalah kebenarandan segala yang bertentangan dengannya adalah kebatilan.” ==== وَمَا ظَنُّكَ بِمَنْ إِذَا غَابَ عَنْكَ هَدْيُهُ وَمَا جَاءَ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ فَسَدَ قَلْبُكَ وَصَارَ كَالْحُوتِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ وَوُضِعَ فِي الْمِقْلَاةِ؟ فَحَالُ الْعَبْدِ عِنْدَ مُفَارَقَةِ قَلْبِهِ لِمَا جَاءَ بِهِ الرُّسُلُ كَهَذِهِ الْحَالِ بَلْ أَعْظَمُ وَلَكِنْ لَا يُحِسُّ بِهَذَا إِلَّا قَلْبٌ حَيٌّ لَا يُحِسُّ بِهَذَا إِلَّا قَلْبٌ حَيٌّ يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ ثُمَّ قَالَ وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامُ إِذَا مَاتَ الْقَلْبُ مَا فِي فَائِدَةٍ مَنْ يَهُنْ يَسْهُلِ الهَوَانُ عَلَيهِ يَقُولُ الْمُتَنَبِّي وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامُ ثُمَّ يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَإِذَا كَانَتْ سَعَادَةُ الْعَبْدِ فِي الدَّارَيْنِ وَإِذَا كَانَتْ سَعَادَةُ الْعَبْدِ فِي الدَّارَيْنِ مُتَعَلِّقَةً بِهَدْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَجِبُ عَلَى كُلِّ مَنْ نَصَحَ نَفْسَهُ وَأَحَبَّ نَجَاتَهَا وَسَعَادَتَهَا أَنْ يَعْرِفَ مِنْ هَدْيِهِ وَسِيْرَتِهِ وَشَأْنِهِ مَا يَخْرُجُ بِهِ عَنِ الْجَاهِلِينَ بِهِ مَا يَخْرُجُ بِهِ عَنِ الْجَاهِلِينَ بِهِ وَيَدْخُلَ… أَوْ وَيَدْخُلُ… وَيَدْخُلُ بِهِ فِي عِدَادِ أَتْبَاعِهِ وَشِيْعَتِهِ وَحِزْبِهِ وَالنَّاسُ فِي هَذَا بَيْنَ مُسْتَقِلٍّ وَمُسْتَكْثِرٍ يَعْنِي عِنْدَ أَحَدٍ عِنْدَهُ شَيْءٌ يَسِيرٌ وَأَحَدٌ عِنْدَهُ شَيْءٌ كَثِيرٌ وَمَحْرُومٌ أَحَدٌ مَا عِنْدَهُ شَيْءٌ الْبَتَّةَ وَالْفَضْلُ بِيَدِ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَهُ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ فِيمَا رَوَاهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي مُقَدَّمَةِ الْجَامِعِ لِأَخْلَاقِ الرَّاوِيِّ وَآدَابِ السَّامِعِ عَنْ سُفْيَانَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْمِيزَانُ الْأَكْبَرُ هُوَ الْمِيزَانُ الْأَكْبَرُ فَعَلَيْهِ تُعْرَضُ الْأَشْيَاءُ عَلَى خُلُقِهِ وَسِيْرَتِهِ وَهَدْيِهِ فَمَا وَافَقَهَا فَهُوَ الْحَقُّ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ الْبَاطِلُ


“Apa yang ada dalam benak Andatentang seseorang yang jika petunjuknya hilang dari diri Anda,dan tidak ada walaupun sekejap mata,maka hati Anda akan rusakdan menjadi seperti ikan yang terpisah dari airlalu diletakkan di atas panci? Maka keadaan seorang hamba yang hatinya terpisahdengan apa yang dibawa oleh para rasuladalah seperti ini keadaannya, bahkan lebih parah!Namun hal ini tidak dirasakankecuali oleh hati yang hidup. Tidak ada yang merasakannya kecuali oleh hati yang hidup,”demikian Ibnul Qayyim berkata.Lalu dia berkata,“Si mayat tidak akan menderita karena luka.”Jika hati telah mati, maka tiada lagi faedahnya.“Orang yang rendah diri akan terhina, …”ini perkataan al-Mutanabbi,“… dan si mayat tidak akan menderita karena luka.” Lalu Ibnul Qayyim berkata,“Jika kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat, ….”“Jika kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhiratterikat dengan petunjuk Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam, maka wajib bagi orang yang menghendaki kebaikan bagi dirinyadan mendambakan keselamatan dan kebahagiannyauntuk mengetahui petunjuk, biografi, dan segala yang terkait dengan beliau, yang dengannya dia keluar dari kelompok orang yang tidak mengenalnya, ….”“… yang dengannya dia keluar dari kelompok orang yang tidak mengenalnya,dan masuk dalam golongan para pengikutnya,pendukung setianya, dan kelompoknya. Orang-orang dalam hal ini ada yang sedikit, ada yang banyak, ….”Maksudnya ada orang yang memiliki sedikit ilmu tentangnyadan ada yang memiliki banyak ilmu tentangnya. “… dan ada yang terhalang,” Maksudnya ada yang tidak mengilmuinya sama sekali.“… dan keutamaan ada di tangan Allah, yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sungguh, Allah Maha Memiliki keutamaan yang agung.”Betapa indah apa yang dikatakan oleh Sufyan bin ‘Uyainahyang diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam mukadimah kitabal-Jāmiʿ li Akhlāq ar-Rāwī wa Ādāb as-Sāmiʿi, diriwayatkan dari Sufyan bahwa dia pernah mengatakan,“Sesungguhnya Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam adalah standar agung.Beliau adalah standar agunguntuk menilai segala sesuatu berdasarkan akhlak, sirah, dan petunjuk beliau.Segala yang bersesuaian dengannya adalah kebenarandan segala yang bertentangan dengannya adalah kebatilan.” ==== وَمَا ظَنُّكَ بِمَنْ إِذَا غَابَ عَنْكَ هَدْيُهُ وَمَا جَاءَ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ فَسَدَ قَلْبُكَ وَصَارَ كَالْحُوتِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ وَوُضِعَ فِي الْمِقْلَاةِ؟ فَحَالُ الْعَبْدِ عِنْدَ مُفَارَقَةِ قَلْبِهِ لِمَا جَاءَ بِهِ الرُّسُلُ كَهَذِهِ الْحَالِ بَلْ أَعْظَمُ وَلَكِنْ لَا يُحِسُّ بِهَذَا إِلَّا قَلْبٌ حَيٌّ لَا يُحِسُّ بِهَذَا إِلَّا قَلْبٌ حَيٌّ يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ ثُمَّ قَالَ وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامُ إِذَا مَاتَ الْقَلْبُ مَا فِي فَائِدَةٍ مَنْ يَهُنْ يَسْهُلِ الهَوَانُ عَلَيهِ يَقُولُ الْمُتَنَبِّي وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامُ ثُمَّ يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَإِذَا كَانَتْ سَعَادَةُ الْعَبْدِ فِي الدَّارَيْنِ وَإِذَا كَانَتْ سَعَادَةُ الْعَبْدِ فِي الدَّارَيْنِ مُتَعَلِّقَةً بِهَدْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَجِبُ عَلَى كُلِّ مَنْ نَصَحَ نَفْسَهُ وَأَحَبَّ نَجَاتَهَا وَسَعَادَتَهَا أَنْ يَعْرِفَ مِنْ هَدْيِهِ وَسِيْرَتِهِ وَشَأْنِهِ مَا يَخْرُجُ بِهِ عَنِ الْجَاهِلِينَ بِهِ مَا يَخْرُجُ بِهِ عَنِ الْجَاهِلِينَ بِهِ وَيَدْخُلَ… أَوْ وَيَدْخُلُ… وَيَدْخُلُ بِهِ فِي عِدَادِ أَتْبَاعِهِ وَشِيْعَتِهِ وَحِزْبِهِ وَالنَّاسُ فِي هَذَا بَيْنَ مُسْتَقِلٍّ وَمُسْتَكْثِرٍ يَعْنِي عِنْدَ أَحَدٍ عِنْدَهُ شَيْءٌ يَسِيرٌ وَأَحَدٌ عِنْدَهُ شَيْءٌ كَثِيرٌ وَمَحْرُومٌ أَحَدٌ مَا عِنْدَهُ شَيْءٌ الْبَتَّةَ وَالْفَضْلُ بِيَدِ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَهُ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ فِيمَا رَوَاهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي مُقَدَّمَةِ الْجَامِعِ لِأَخْلَاقِ الرَّاوِيِّ وَآدَابِ السَّامِعِ عَنْ سُفْيَانَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْمِيزَانُ الْأَكْبَرُ هُوَ الْمِيزَانُ الْأَكْبَرُ فَعَلَيْهِ تُعْرَضُ الْأَشْيَاءُ عَلَى خُلُقِهِ وَسِيْرَتِهِ وَهَدْيِهِ فَمَا وَافَقَهَا فَهُوَ الْحَقُّ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ الْبَاطِلُ

3 Cara Salat Witir 11 Rakaat – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Salat Witir yang paling sempurna adalah sebelas rakaat.Salat Witir yang paling sempurna dalam mazhab Hambaliadalah sebelas rakaat.[CARA PERTAMA]Dianjurkan baginya untuk mengerjakansalat tersebut dua rakaat dua rakaat,dengan salam di setiap dua rakaat tersebut,lalu menutupnya dengan rakaat kesebelas,lalu menutupnya dengan rakaat kesebelas.[CARA KEDUA]Dia juga boleh mengerjakan sepuluh rakaat sekaligus,lalu duduk tasyahud,kemudian berdiri untuk mengerjakan rakaat terakhir,lalu duduk tasyahud,kemudian salam.[CARA KETIGA]Dia juga boleh mengerjakan semuanya sekaligus 11 rakaat.Dia juga boleh mengerjakan semuanya sekaligus 11 rakaat,tanpa duduk tasyahud kecuali di rakaat terakhir.Jadi, Salat Witir yang paling sempurna adalah sebelas rakaatyang memiliki tiga cara berbeda.Jadi, Salat Witir sebelas rakaatbisa dikerjakan dengan tiga cara:Pertama, dengan salam di setiap dua rakaathingga menyelesaikan sepuluh rakaat,kemudian salat satu rakaat lagi.Kedua, dengan mengerjakannya sepuluh rakaat,lalu duduk tasyahud lalu berdiri,kemudian mengerjakan satu rakaat lalu tasyahudkemudian salam.Ketiga, dengan mengerjakan sebelas rakaat sekaligustanpa duduk tasyahud kecuali di akhir rakaatuntuk tasyahud, lalu salam.Cara pertama lebih utamakarena sesuai dengan sunah.Adapun cara kedua dan ketiga hukumnya boleh. ===== وَأَعْلَى الْكَمَالِ فِي الْوِتْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ وَأَعْلَى الْكَمَالِ فِي الْوِتْرِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَيُسْتَحَبُّ لَهُ إِذَا صَلَّاهَا أَنْ يُصَلِّيَ مَثْنَى مَثْنَى فَيُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَخْتِمُ بِالرَّكْعَةِ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ ثُمَّ يَخْتِمُ بِالرَّكْعَةِ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ وَلَهُ أَنْ يَسْرُدَ عَشْرًا ثُمَّ يَجْلِسُ فَيَتَشَهَّدُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي الرَّكْعَةَ الْأَخِيرَةَ ثُمَّ يَجْلِسُ وَيَتَشَهَّدُ ثُمَّ يُسَلِّمُ وَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا سَرْدًا وَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا سَرْدًا وَلَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي آخِرِهِ فَأَكْمَلُ صَلَاةِ الْوِتْرِ الْإِحْدَى عَشْرَةَ لَهَا ثَلَاثُ صِفَاتٍ فَالصَّلَاةُ الْإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وِتْرًا لَهَا ثَلَاثُ صِفَاتٍ الْأُوْلَى أَنْ يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكَعَتَيْنِ حَتَّى تَتِمَّ عَشْرًا ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَةً وَاحِدَةً وَالثَّانِيَةُ أَنْ يُصَلِّيَ عَشْرًا ثُمَّ يَتَشَهَّدَ ثُمَّ يَقُومَ فَيُصَلِّيَ رَكْعَةً ثُمَّ يَتَشَهَّدَ فَيُسَلِّمَ وَالثَّالِثَةُ أَنْ يُصَلِّيَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً سَرْدًا لَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي آخِرِهَا فَيَتَشَهَّدَ وَيُسَلِّمَ وَالْأُوْلَى أَفْضَلُهَا لِمُوَافَقَتِهَا السُّنَّةَ وَالثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ جَائِزَتَانِ

3 Cara Salat Witir 11 Rakaat – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Salat Witir yang paling sempurna adalah sebelas rakaat.Salat Witir yang paling sempurna dalam mazhab Hambaliadalah sebelas rakaat.[CARA PERTAMA]Dianjurkan baginya untuk mengerjakansalat tersebut dua rakaat dua rakaat,dengan salam di setiap dua rakaat tersebut,lalu menutupnya dengan rakaat kesebelas,lalu menutupnya dengan rakaat kesebelas.[CARA KEDUA]Dia juga boleh mengerjakan sepuluh rakaat sekaligus,lalu duduk tasyahud,kemudian berdiri untuk mengerjakan rakaat terakhir,lalu duduk tasyahud,kemudian salam.[CARA KETIGA]Dia juga boleh mengerjakan semuanya sekaligus 11 rakaat.Dia juga boleh mengerjakan semuanya sekaligus 11 rakaat,tanpa duduk tasyahud kecuali di rakaat terakhir.Jadi, Salat Witir yang paling sempurna adalah sebelas rakaatyang memiliki tiga cara berbeda.Jadi, Salat Witir sebelas rakaatbisa dikerjakan dengan tiga cara:Pertama, dengan salam di setiap dua rakaathingga menyelesaikan sepuluh rakaat,kemudian salat satu rakaat lagi.Kedua, dengan mengerjakannya sepuluh rakaat,lalu duduk tasyahud lalu berdiri,kemudian mengerjakan satu rakaat lalu tasyahudkemudian salam.Ketiga, dengan mengerjakan sebelas rakaat sekaligustanpa duduk tasyahud kecuali di akhir rakaatuntuk tasyahud, lalu salam.Cara pertama lebih utamakarena sesuai dengan sunah.Adapun cara kedua dan ketiga hukumnya boleh. ===== وَأَعْلَى الْكَمَالِ فِي الْوِتْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ وَأَعْلَى الْكَمَالِ فِي الْوِتْرِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَيُسْتَحَبُّ لَهُ إِذَا صَلَّاهَا أَنْ يُصَلِّيَ مَثْنَى مَثْنَى فَيُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَخْتِمُ بِالرَّكْعَةِ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ ثُمَّ يَخْتِمُ بِالرَّكْعَةِ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ وَلَهُ أَنْ يَسْرُدَ عَشْرًا ثُمَّ يَجْلِسُ فَيَتَشَهَّدُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي الرَّكْعَةَ الْأَخِيرَةَ ثُمَّ يَجْلِسُ وَيَتَشَهَّدُ ثُمَّ يُسَلِّمُ وَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا سَرْدًا وَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا سَرْدًا وَلَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي آخِرِهِ فَأَكْمَلُ صَلَاةِ الْوِتْرِ الْإِحْدَى عَشْرَةَ لَهَا ثَلَاثُ صِفَاتٍ فَالصَّلَاةُ الْإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وِتْرًا لَهَا ثَلَاثُ صِفَاتٍ الْأُوْلَى أَنْ يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكَعَتَيْنِ حَتَّى تَتِمَّ عَشْرًا ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَةً وَاحِدَةً وَالثَّانِيَةُ أَنْ يُصَلِّيَ عَشْرًا ثُمَّ يَتَشَهَّدَ ثُمَّ يَقُومَ فَيُصَلِّيَ رَكْعَةً ثُمَّ يَتَشَهَّدَ فَيُسَلِّمَ وَالثَّالِثَةُ أَنْ يُصَلِّيَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً سَرْدًا لَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي آخِرِهَا فَيَتَشَهَّدَ وَيُسَلِّمَ وَالْأُوْلَى أَفْضَلُهَا لِمُوَافَقَتِهَا السُّنَّةَ وَالثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ جَائِزَتَانِ
Salat Witir yang paling sempurna adalah sebelas rakaat.Salat Witir yang paling sempurna dalam mazhab Hambaliadalah sebelas rakaat.[CARA PERTAMA]Dianjurkan baginya untuk mengerjakansalat tersebut dua rakaat dua rakaat,dengan salam di setiap dua rakaat tersebut,lalu menutupnya dengan rakaat kesebelas,lalu menutupnya dengan rakaat kesebelas.[CARA KEDUA]Dia juga boleh mengerjakan sepuluh rakaat sekaligus,lalu duduk tasyahud,kemudian berdiri untuk mengerjakan rakaat terakhir,lalu duduk tasyahud,kemudian salam.[CARA KETIGA]Dia juga boleh mengerjakan semuanya sekaligus 11 rakaat.Dia juga boleh mengerjakan semuanya sekaligus 11 rakaat,tanpa duduk tasyahud kecuali di rakaat terakhir.Jadi, Salat Witir yang paling sempurna adalah sebelas rakaatyang memiliki tiga cara berbeda.Jadi, Salat Witir sebelas rakaatbisa dikerjakan dengan tiga cara:Pertama, dengan salam di setiap dua rakaathingga menyelesaikan sepuluh rakaat,kemudian salat satu rakaat lagi.Kedua, dengan mengerjakannya sepuluh rakaat,lalu duduk tasyahud lalu berdiri,kemudian mengerjakan satu rakaat lalu tasyahudkemudian salam.Ketiga, dengan mengerjakan sebelas rakaat sekaligustanpa duduk tasyahud kecuali di akhir rakaatuntuk tasyahud, lalu salam.Cara pertama lebih utamakarena sesuai dengan sunah.Adapun cara kedua dan ketiga hukumnya boleh. ===== وَأَعْلَى الْكَمَالِ فِي الْوِتْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ وَأَعْلَى الْكَمَالِ فِي الْوِتْرِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَيُسْتَحَبُّ لَهُ إِذَا صَلَّاهَا أَنْ يُصَلِّيَ مَثْنَى مَثْنَى فَيُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَخْتِمُ بِالرَّكْعَةِ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ ثُمَّ يَخْتِمُ بِالرَّكْعَةِ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ وَلَهُ أَنْ يَسْرُدَ عَشْرًا ثُمَّ يَجْلِسُ فَيَتَشَهَّدُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي الرَّكْعَةَ الْأَخِيرَةَ ثُمَّ يَجْلِسُ وَيَتَشَهَّدُ ثُمَّ يُسَلِّمُ وَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا سَرْدًا وَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا سَرْدًا وَلَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي آخِرِهِ فَأَكْمَلُ صَلَاةِ الْوِتْرِ الْإِحْدَى عَشْرَةَ لَهَا ثَلَاثُ صِفَاتٍ فَالصَّلَاةُ الْإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وِتْرًا لَهَا ثَلَاثُ صِفَاتٍ الْأُوْلَى أَنْ يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكَعَتَيْنِ حَتَّى تَتِمَّ عَشْرًا ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَةً وَاحِدَةً وَالثَّانِيَةُ أَنْ يُصَلِّيَ عَشْرًا ثُمَّ يَتَشَهَّدَ ثُمَّ يَقُومَ فَيُصَلِّيَ رَكْعَةً ثُمَّ يَتَشَهَّدَ فَيُسَلِّمَ وَالثَّالِثَةُ أَنْ يُصَلِّيَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً سَرْدًا لَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي آخِرِهَا فَيَتَشَهَّدَ وَيُسَلِّمَ وَالْأُوْلَى أَفْضَلُهَا لِمُوَافَقَتِهَا السُّنَّةَ وَالثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ جَائِزَتَانِ


Salat Witir yang paling sempurna adalah sebelas rakaat.Salat Witir yang paling sempurna dalam mazhab Hambaliadalah sebelas rakaat.[CARA PERTAMA]Dianjurkan baginya untuk mengerjakansalat tersebut dua rakaat dua rakaat,dengan salam di setiap dua rakaat tersebut,lalu menutupnya dengan rakaat kesebelas,lalu menutupnya dengan rakaat kesebelas.[CARA KEDUA]Dia juga boleh mengerjakan sepuluh rakaat sekaligus,lalu duduk tasyahud,kemudian berdiri untuk mengerjakan rakaat terakhir,lalu duduk tasyahud,kemudian salam.[CARA KETIGA]Dia juga boleh mengerjakan semuanya sekaligus 11 rakaat.Dia juga boleh mengerjakan semuanya sekaligus 11 rakaat,tanpa duduk tasyahud kecuali di rakaat terakhir.Jadi, Salat Witir yang paling sempurna adalah sebelas rakaatyang memiliki tiga cara berbeda.Jadi, Salat Witir sebelas rakaatbisa dikerjakan dengan tiga cara:Pertama, dengan salam di setiap dua rakaathingga menyelesaikan sepuluh rakaat,kemudian salat satu rakaat lagi.Kedua, dengan mengerjakannya sepuluh rakaat,lalu duduk tasyahud lalu berdiri,kemudian mengerjakan satu rakaat lalu tasyahudkemudian salam.Ketiga, dengan mengerjakan sebelas rakaat sekaligustanpa duduk tasyahud kecuali di akhir rakaatuntuk tasyahud, lalu salam.Cara pertama lebih utamakarena sesuai dengan sunah.Adapun cara kedua dan ketiga hukumnya boleh. ===== وَأَعْلَى الْكَمَالِ فِي الْوِتْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ وَأَعْلَى الْكَمَالِ فِي الْوِتْرِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَيُسْتَحَبُّ لَهُ إِذَا صَلَّاهَا أَنْ يُصَلِّيَ مَثْنَى مَثْنَى فَيُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَخْتِمُ بِالرَّكْعَةِ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ ثُمَّ يَخْتِمُ بِالرَّكْعَةِ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ وَلَهُ أَنْ يَسْرُدَ عَشْرًا ثُمَّ يَجْلِسُ فَيَتَشَهَّدُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي الرَّكْعَةَ الْأَخِيرَةَ ثُمَّ يَجْلِسُ وَيَتَشَهَّدُ ثُمَّ يُسَلِّمُ وَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا سَرْدًا وَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا سَرْدًا وَلَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي آخِرِهِ فَأَكْمَلُ صَلَاةِ الْوِتْرِ الْإِحْدَى عَشْرَةَ لَهَا ثَلَاثُ صِفَاتٍ فَالصَّلَاةُ الْإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وِتْرًا لَهَا ثَلَاثُ صِفَاتٍ الْأُوْلَى أَنْ يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكَعَتَيْنِ حَتَّى تَتِمَّ عَشْرًا ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَةً وَاحِدَةً وَالثَّانِيَةُ أَنْ يُصَلِّيَ عَشْرًا ثُمَّ يَتَشَهَّدَ ثُمَّ يَقُومَ فَيُصَلِّيَ رَكْعَةً ثُمَّ يَتَشَهَّدَ فَيُسَلِّمَ وَالثَّالِثَةُ أَنْ يُصَلِّيَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً سَرْدًا لَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي آخِرِهَا فَيَتَشَهَّدَ وَيُسَلِّمَ وَالْأُوْلَى أَفْضَلُهَا لِمُوَافَقَتِهَا السُّنَّةَ وَالثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ جَائِزَتَانِ

Matan Taqrib: Larangan Bagi Wanita Haidh, Nifas, Orang Junub, dan Orang yang Berhadats

Apa saja larangan bagi wanita haidh, nifas, orang junub, dan orang yang berhadats?   Daftar Isi tutup 1. Larangan shalat dan puasa untuk wanita haidh dan nifas 2. Larangan wanita haidh dan junub membaca Al-Qur’an 3. Larangan menyentuh dan membawa Al-Qur’an bagi orang yang berhadats (wanita haidh, nifas, orang junub, dan berhadats kecil) 4. Larangan wanita haidh dan junub masuk masjid 5. Larangan thawaf bagi wanita haidh 6. Larangan hubungan intim dengan wanita haidh dan nifas 7. Larangan Bercumbu dengan Wanita Haidh pada Wilayah Antara Pusar dan Lutut 7.1. Asal tidak sampai hubungan intim di kemaluan 8. Larangan talak ketika haidh 9. Larangan shalat bagi orang yang berhadats 10. Larangan thawaf dalam keadaan berhadats 10.1. Referensi: Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan, وَيَحْرُمُ بِالحَيْضِ وَالنِّفَاسِ ثَمَانِيَّةُ أَشْيَاءَ الصَّلاَةُ وَالصَّوْمُ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَدُخُوْلُ المَسْجِدِ وَالطَّوَافُ وَالوَطْءُ وَالاِسْتِمْتَاعُ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ. Yang diharamkan untuk wanita haidh dan nifas ada delapan hal: Shalat Puasa Membaca Al-Qur’an Menyentuh dan membawa mushaf Masuk masjid Thawaf Berhubungan intim Bercumbu antara pusar dan lutut. وَيَحْرُمُ عَلَى الجُنُبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ : الصَّلاَةُ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَالطَّوَافُ وَاللُّبْثُ فِي المَسْجِدِ. Yang diharamkan untuk orang junub ada lima hal: Shalat Membaca Al-Qur’an Menyentuh dan membawa mushaf Thawaf Berdiam di masjid. وَيَحْرُمُ عَلَى المُحْدِثِ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ: الصَّلاَةُ وَ الطَّوَافُ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ. Yang diharamkan untuk orang yang berhadats ada tiga hal: Shalat Thawaf Menyentuh dan membawa mushaf – Larangan shalat dan puasa untuk wanita haidh dan nifas Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya, ما بَالُ الحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، ولَا تَقْضِي الصَّلَاةَ “Kenapa sampai wanita haidh mengqadha puasa, tetapi tidak mengqadha shalat?” Aisyah berkata,  أحَرُورِيَّةٌ أنْتِ؟ “Apakah kamu seorang Haruriyah?” Ia menjawab, لَسْتُ بحَرُورِيَّةٍ، ولَكِنِّي أسْأَلُ “Saya bukan Haruriyah, saya hanya sekadar bertanya.” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, كانَ يُصِيبُنَا ذلكَ، فَنُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّوْمِ، ولَا نُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّلَاةِ “Dahulu kami mengalami haidh, kami hanya diperintah mengqadha’ puasa, tetapi kami tidak diperintah untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Bukhari, no. 321 dan Muslim, no. 335) Catatan: Larangan shalat bagi wanita haidh ini berlaku untuk shalat fardhu, shalat sunnah, maupun shalat jenazah. Jika wanita haidh itu wudhu, lalu mengerjakan shalat, shalatnya batal dan ia berdosa. Baca juga: Datang Haidh dan Belum Shalat Zhuhur Qadha’ Shalat bagi Wanita Haidh    Larangan wanita haidh dan junub membaca Al-Qur’an Hadits yang melarang hal ini adalah, لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلاَ الْحَائِضُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ “Tidak boleh bagi orang junub dan haidh membaca Al-Qur’an.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Baihaqi. Hadits ini DHA’IF, lihat Shahih Al-Jaami’, no. 6364) Untuk wanita haidh, yang TEPAT, masih boleh membaca Al-Qur’an, asalkan tidak menyentuh mushaf langsung. Sedangkan untuk orang junub tidak boleh membaca Al-Qur’an, kecuali untuk niatan selain tilawah. Catatan: Wanita haidh dan nifas masih dibolehkan membaca Al-Qur’an ketika khauf (khawatir), untuk maksud berdoa, takut lupa, atau keadaan darurat untuk belajar. Para ulama empat madzhab sepakat bahwa haram bagi orang yang junub membaca Al-Qur’an. Dalil pendukungnya adalah hadits berikut dari ‘Ali bin Abi Thalib, أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ لا يَحْجُبُهُ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جُنُبًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidaklah melarang dari membaca Al-Qur’an sedikit pun juga kecuali dalam keadaan junub.” (HR. Ibnu Hibban, 3:79; Abu Ya’la dalam musnadnya, 1:400. Husain Salim Asad menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Baca juga: Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Orang Junub Orang Junub Tidak Didekati Malaikat   Larangan menyentuh dan membawa Al-Qur’an bagi orang yang berhadats (wanita haidh, nifas, orang junub, dan berhadats kecil) Allah Ta’ala berfirman, لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 79). Catatan: Boleh membawa mushaf dalam keadaan berhadats dengan tumpukan barang yang lain, asalkan Al-Qur’an di tengah, tetapi niatannya adalah membawa tumpukan barang, bukan membawa mushaf. Baca juga: Menyentuh Mushaf bagi Orang Berhadats   Larangan wanita haidh dan junub masuk masjid Dalam hadits disebutkan, لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ “Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haidh dan orang yang junub.” (HR. Abu Daud, no. 232. Hadits ini DHA’IF menurut Syaikh Al-Albani). Catatan: Jumhur ulama berpendapat bahwa orang junub tidak boleh berdiam di masjid, hanya boleh melewati saja. Larangan ini berdasarkan surah An-Nisaa’ ayat 43. Yang dimaksud ayat, janganlah mendekati shalat adalah janganlah mendekati tempat shalat yaitu masjid. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. An-Nisaa’: 43). Tidaklah ada hadits yang melarang wanita haidh memasuki masjid kecuali hadits yang dikaji kali ini. Sedangkan pengqiyasan wanita haidh dengan orang junub tidaklah tepat karena orang junub masih bisa segera bersuci. Sehingga pendapat yang tepat, wanita haidh masih boleh berdiam di masjid, yang penting tidak mengotori masjid. Jika wanita haidh sekadar lewat saja atau mengambil sesuatu di masjid, hukumnya boleh. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, نَاوِلِيْنِى الخُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ. “Ambilkan untukku khumrah (sajadah kecil) dari masjid.” “Sesungguhnya aku sedang haid”, jawab ‘Aisyah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya haidhmu itu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim, no. 298). Baca juga: Penjelasan Bulughul Maram, Bolehnya Wanita Haidh Masuk Masjid Orang Haidh dan Junub Tidak Boleh Masuk Masjid?   Larangan thawaf bagi wanita haidh Ketika ‘Aisyah haid saat haji, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”  (HR. Bukhari, no. 305 dan Muslim, no. 1211) Baca juga: Mendapati Haidh Ketika Thawaf Ifadhah   Larangan hubungan intim dengan wanita haidh dan nifas Allah Ta’ala berfirman, وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222) Catatan: – Menyetubuhi wanita saat haidh termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja, atas pilihan sendiri dan dalam keadaan punya ilmu akan haramnya. Namun, untuk perbuatan ini tidak ada kafarah, yang ada adalah bertaubat dengan taubatan nasuhah (taubat yang tulus) dan tidak mengulanginya lagi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- “Barang siapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi, no. 135; Ibnu Majah, no. 639; Abu Daud, no. 3904. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Baca juga: Bersetubuh Saat Haidh   Larangan Bercumbu dengan Wanita Haidh pada Wilayah Antara Pusar dan Lutut Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai yang halal bagi laki-laki pada istrinya ketika istri tersebut haidh. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ما فوقَ الإزارِ “Selain yang ditutupi sarung (berarti selain antara pusar dan lutut).” (HR. Abu Daud, no. 213. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini DHA’IF). Catatan: Boleh mencumbu wanita haidh di pusar dan lututnya, yang telarang adalah pada wilayah antara pusar dan lutut.   Asal tidak sampai hubungan intim di kemaluan Boleh bercumbu dengan wanita haidh selama tidak melakukan jima’ di kemaluan. Dalam hadits disebutkan, اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ “Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haidh) selain jimak (di kemaluan).” (HR. Muslim no. 302) Dalam riwayat yang muttafaqun ‘alaih disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُبَاشِرَهَا ، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِى فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا . قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَمْلِكُ إِرْبَهُ Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami hadidh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haidh, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?”   (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haidh di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haidh atau selain kemaluannya. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, لَكِنْ لَهُ أَنْ يَسْتَمْتِعَ مِنْ الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ بِمَا فَوْقَ الْإِزَارِ وَسَوَاءٌ اسْتَمْتَعَ مِنْهَا بِفَمِهِ أَوْ بِيَدِهِ أَوْ بِرِجْلِهِ فَلَوْ وَطِئَهَا فِي بَطْنِهَا وَاسْتَمْنَى جَازَ . وَلَوْ اسْتَمْتَعَ بِفَخِذَيْهَا فَفِي جَوَازِهِ نِزَاعٌ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ . “Boleh bagi seorang suami mencumbu wanita haidh atau wanita yang mengalami nifas selain wilayah sarungnya (berarti selain antara pusar dan lutut). Ia boleh mencumbunya dengan mulut, tangan atau kakinya. Seandainya ia menyetubuhinya di perutnya, lalu keluarlah mani, maka itu masih dibolehkan. Namun jika ia mencumbu istrinya pada kedua paha istrinya (belum sampai kemaluan, pen), maka tentang bolehnya diperselisihkan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 21:624) Baca juga: Bersetubuh dengan Wanita Setelah Darah Berhenti, Tetapi Belum Mandi Wajib   Larangan talak ketika haidh Dari Anas bin Sirin, ia berkata, سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ قَالَ طَلَّقَ ابْنُ عُمَرَ امْرَأَتَهُ وَهْىَ حَائِضٌ ، فَذَكَرَ عُمَرُ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « لِيُرَاجِعْهَا » . قُلْتُ تُحْتَسَبُ قَالَ « فَمَهْ » “Aku mendengar Ibnu ‘Umar berkata bahwa ia telah mentalak istrinya dalam keadaan haid. Lantas ‘Umar mengadukan hal ini pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Suruh ia untuk rujuk.” Aku (Anas berkata pada Ibnu ‘Umar), “Apakah hal itu dianggap jatuh talak?” Ibnu ‘Umar menjawab, “Kalau tidak teranggap, lalu apa?” (HR. Bukhari, no. 5252 dan Muslim, no. 1471) Talak ketika haidh dan sebelum suci dengan mandi atau tayamum tetap HARAM, walau talak tersebut dianggap jatuh. Baca juga: Talak Ketika Haidh   Larangan shalat bagi orang yang berhadats Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ “Allah tidaklah menerima shalat salah seorang di antara kalian ketika ia berhadats sampai ia berwudhu.” Ahdatsa berarti muncul hadats yaitu sesuatu yang keluar dari salah satu dari dua jalan atau pembatal wudhu lainnya. (HR. Bukhari, no. 6954 dan Muslim, no. 225) Baca juga: Orang Berhadats Tidak Diterima Shalatnya   Larangan thawaf dalam keadaan berhadats Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الطَّوافُ حَولَ البيتِ مِثلُ الصَّلاةِ، إلَّا أنَّكم تتكلَّمونَ فيه، فمن تكلَّمَ فيه فلا يتكَلَّمنَّ إلَّا بخيرٍ “Thawaf sekitar Kabah adalah seperti shalat. Namun, thawaf dibolehkan untuk berbicara. Siapa yang mau berbicara, berbicaralah hanya dalam kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 960; Ad-Darimi, no. 1847; Ibnu Majah, no. 3836. Hadits ini dinyatakan sahih oleh Ibnu Al-Mulaqqin, dihasankan oleh Ibnu Hajar, dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani). Baca Juga: Matan Taqrib: Cara Membersihkan Najis agar Bisa Suci Kembali Matan Taqrib: Seputar Darah Haidh, Nifas, dan Istihadhah   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. Berbagai tulisan di web Rumaysho.Com   – Diselesaikan pada 4 Rajab 1444 H, 26 Januari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsdarah haidh darah nifas datang haidh hadats haidh istihadhah junub larangan bagi wanita haidh matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah nifas wanita nifas

Matan Taqrib: Larangan Bagi Wanita Haidh, Nifas, Orang Junub, dan Orang yang Berhadats

Apa saja larangan bagi wanita haidh, nifas, orang junub, dan orang yang berhadats?   Daftar Isi tutup 1. Larangan shalat dan puasa untuk wanita haidh dan nifas 2. Larangan wanita haidh dan junub membaca Al-Qur’an 3. Larangan menyentuh dan membawa Al-Qur’an bagi orang yang berhadats (wanita haidh, nifas, orang junub, dan berhadats kecil) 4. Larangan wanita haidh dan junub masuk masjid 5. Larangan thawaf bagi wanita haidh 6. Larangan hubungan intim dengan wanita haidh dan nifas 7. Larangan Bercumbu dengan Wanita Haidh pada Wilayah Antara Pusar dan Lutut 7.1. Asal tidak sampai hubungan intim di kemaluan 8. Larangan talak ketika haidh 9. Larangan shalat bagi orang yang berhadats 10. Larangan thawaf dalam keadaan berhadats 10.1. Referensi: Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan, وَيَحْرُمُ بِالحَيْضِ وَالنِّفَاسِ ثَمَانِيَّةُ أَشْيَاءَ الصَّلاَةُ وَالصَّوْمُ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَدُخُوْلُ المَسْجِدِ وَالطَّوَافُ وَالوَطْءُ وَالاِسْتِمْتَاعُ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ. Yang diharamkan untuk wanita haidh dan nifas ada delapan hal: Shalat Puasa Membaca Al-Qur’an Menyentuh dan membawa mushaf Masuk masjid Thawaf Berhubungan intim Bercumbu antara pusar dan lutut. وَيَحْرُمُ عَلَى الجُنُبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ : الصَّلاَةُ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَالطَّوَافُ وَاللُّبْثُ فِي المَسْجِدِ. Yang diharamkan untuk orang junub ada lima hal: Shalat Membaca Al-Qur’an Menyentuh dan membawa mushaf Thawaf Berdiam di masjid. وَيَحْرُمُ عَلَى المُحْدِثِ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ: الصَّلاَةُ وَ الطَّوَافُ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ. Yang diharamkan untuk orang yang berhadats ada tiga hal: Shalat Thawaf Menyentuh dan membawa mushaf – Larangan shalat dan puasa untuk wanita haidh dan nifas Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya, ما بَالُ الحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، ولَا تَقْضِي الصَّلَاةَ “Kenapa sampai wanita haidh mengqadha puasa, tetapi tidak mengqadha shalat?” Aisyah berkata,  أحَرُورِيَّةٌ أنْتِ؟ “Apakah kamu seorang Haruriyah?” Ia menjawab, لَسْتُ بحَرُورِيَّةٍ، ولَكِنِّي أسْأَلُ “Saya bukan Haruriyah, saya hanya sekadar bertanya.” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, كانَ يُصِيبُنَا ذلكَ، فَنُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّوْمِ، ولَا نُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّلَاةِ “Dahulu kami mengalami haidh, kami hanya diperintah mengqadha’ puasa, tetapi kami tidak diperintah untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Bukhari, no. 321 dan Muslim, no. 335) Catatan: Larangan shalat bagi wanita haidh ini berlaku untuk shalat fardhu, shalat sunnah, maupun shalat jenazah. Jika wanita haidh itu wudhu, lalu mengerjakan shalat, shalatnya batal dan ia berdosa. Baca juga: Datang Haidh dan Belum Shalat Zhuhur Qadha’ Shalat bagi Wanita Haidh    Larangan wanita haidh dan junub membaca Al-Qur’an Hadits yang melarang hal ini adalah, لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلاَ الْحَائِضُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ “Tidak boleh bagi orang junub dan haidh membaca Al-Qur’an.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Baihaqi. Hadits ini DHA’IF, lihat Shahih Al-Jaami’, no. 6364) Untuk wanita haidh, yang TEPAT, masih boleh membaca Al-Qur’an, asalkan tidak menyentuh mushaf langsung. Sedangkan untuk orang junub tidak boleh membaca Al-Qur’an, kecuali untuk niatan selain tilawah. Catatan: Wanita haidh dan nifas masih dibolehkan membaca Al-Qur’an ketika khauf (khawatir), untuk maksud berdoa, takut lupa, atau keadaan darurat untuk belajar. Para ulama empat madzhab sepakat bahwa haram bagi orang yang junub membaca Al-Qur’an. Dalil pendukungnya adalah hadits berikut dari ‘Ali bin Abi Thalib, أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ لا يَحْجُبُهُ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جُنُبًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidaklah melarang dari membaca Al-Qur’an sedikit pun juga kecuali dalam keadaan junub.” (HR. Ibnu Hibban, 3:79; Abu Ya’la dalam musnadnya, 1:400. Husain Salim Asad menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Baca juga: Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Orang Junub Orang Junub Tidak Didekati Malaikat   Larangan menyentuh dan membawa Al-Qur’an bagi orang yang berhadats (wanita haidh, nifas, orang junub, dan berhadats kecil) Allah Ta’ala berfirman, لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 79). Catatan: Boleh membawa mushaf dalam keadaan berhadats dengan tumpukan barang yang lain, asalkan Al-Qur’an di tengah, tetapi niatannya adalah membawa tumpukan barang, bukan membawa mushaf. Baca juga: Menyentuh Mushaf bagi Orang Berhadats   Larangan wanita haidh dan junub masuk masjid Dalam hadits disebutkan, لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ “Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haidh dan orang yang junub.” (HR. Abu Daud, no. 232. Hadits ini DHA’IF menurut Syaikh Al-Albani). Catatan: Jumhur ulama berpendapat bahwa orang junub tidak boleh berdiam di masjid, hanya boleh melewati saja. Larangan ini berdasarkan surah An-Nisaa’ ayat 43. Yang dimaksud ayat, janganlah mendekati shalat adalah janganlah mendekati tempat shalat yaitu masjid. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. An-Nisaa’: 43). Tidaklah ada hadits yang melarang wanita haidh memasuki masjid kecuali hadits yang dikaji kali ini. Sedangkan pengqiyasan wanita haidh dengan orang junub tidaklah tepat karena orang junub masih bisa segera bersuci. Sehingga pendapat yang tepat, wanita haidh masih boleh berdiam di masjid, yang penting tidak mengotori masjid. Jika wanita haidh sekadar lewat saja atau mengambil sesuatu di masjid, hukumnya boleh. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, نَاوِلِيْنِى الخُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ. “Ambilkan untukku khumrah (sajadah kecil) dari masjid.” “Sesungguhnya aku sedang haid”, jawab ‘Aisyah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya haidhmu itu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim, no. 298). Baca juga: Penjelasan Bulughul Maram, Bolehnya Wanita Haidh Masuk Masjid Orang Haidh dan Junub Tidak Boleh Masuk Masjid?   Larangan thawaf bagi wanita haidh Ketika ‘Aisyah haid saat haji, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”  (HR. Bukhari, no. 305 dan Muslim, no. 1211) Baca juga: Mendapati Haidh Ketika Thawaf Ifadhah   Larangan hubungan intim dengan wanita haidh dan nifas Allah Ta’ala berfirman, وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222) Catatan: – Menyetubuhi wanita saat haidh termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja, atas pilihan sendiri dan dalam keadaan punya ilmu akan haramnya. Namun, untuk perbuatan ini tidak ada kafarah, yang ada adalah bertaubat dengan taubatan nasuhah (taubat yang tulus) dan tidak mengulanginya lagi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- “Barang siapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi, no. 135; Ibnu Majah, no. 639; Abu Daud, no. 3904. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Baca juga: Bersetubuh Saat Haidh   Larangan Bercumbu dengan Wanita Haidh pada Wilayah Antara Pusar dan Lutut Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai yang halal bagi laki-laki pada istrinya ketika istri tersebut haidh. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ما فوقَ الإزارِ “Selain yang ditutupi sarung (berarti selain antara pusar dan lutut).” (HR. Abu Daud, no. 213. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini DHA’IF). Catatan: Boleh mencumbu wanita haidh di pusar dan lututnya, yang telarang adalah pada wilayah antara pusar dan lutut.   Asal tidak sampai hubungan intim di kemaluan Boleh bercumbu dengan wanita haidh selama tidak melakukan jima’ di kemaluan. Dalam hadits disebutkan, اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ “Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haidh) selain jimak (di kemaluan).” (HR. Muslim no. 302) Dalam riwayat yang muttafaqun ‘alaih disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُبَاشِرَهَا ، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِى فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا . قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَمْلِكُ إِرْبَهُ Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami hadidh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haidh, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?”   (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haidh di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haidh atau selain kemaluannya. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, لَكِنْ لَهُ أَنْ يَسْتَمْتِعَ مِنْ الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ بِمَا فَوْقَ الْإِزَارِ وَسَوَاءٌ اسْتَمْتَعَ مِنْهَا بِفَمِهِ أَوْ بِيَدِهِ أَوْ بِرِجْلِهِ فَلَوْ وَطِئَهَا فِي بَطْنِهَا وَاسْتَمْنَى جَازَ . وَلَوْ اسْتَمْتَعَ بِفَخِذَيْهَا فَفِي جَوَازِهِ نِزَاعٌ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ . “Boleh bagi seorang suami mencumbu wanita haidh atau wanita yang mengalami nifas selain wilayah sarungnya (berarti selain antara pusar dan lutut). Ia boleh mencumbunya dengan mulut, tangan atau kakinya. Seandainya ia menyetubuhinya di perutnya, lalu keluarlah mani, maka itu masih dibolehkan. Namun jika ia mencumbu istrinya pada kedua paha istrinya (belum sampai kemaluan, pen), maka tentang bolehnya diperselisihkan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 21:624) Baca juga: Bersetubuh dengan Wanita Setelah Darah Berhenti, Tetapi Belum Mandi Wajib   Larangan talak ketika haidh Dari Anas bin Sirin, ia berkata, سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ قَالَ طَلَّقَ ابْنُ عُمَرَ امْرَأَتَهُ وَهْىَ حَائِضٌ ، فَذَكَرَ عُمَرُ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « لِيُرَاجِعْهَا » . قُلْتُ تُحْتَسَبُ قَالَ « فَمَهْ » “Aku mendengar Ibnu ‘Umar berkata bahwa ia telah mentalak istrinya dalam keadaan haid. Lantas ‘Umar mengadukan hal ini pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Suruh ia untuk rujuk.” Aku (Anas berkata pada Ibnu ‘Umar), “Apakah hal itu dianggap jatuh talak?” Ibnu ‘Umar menjawab, “Kalau tidak teranggap, lalu apa?” (HR. Bukhari, no. 5252 dan Muslim, no. 1471) Talak ketika haidh dan sebelum suci dengan mandi atau tayamum tetap HARAM, walau talak tersebut dianggap jatuh. Baca juga: Talak Ketika Haidh   Larangan shalat bagi orang yang berhadats Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ “Allah tidaklah menerima shalat salah seorang di antara kalian ketika ia berhadats sampai ia berwudhu.” Ahdatsa berarti muncul hadats yaitu sesuatu yang keluar dari salah satu dari dua jalan atau pembatal wudhu lainnya. (HR. Bukhari, no. 6954 dan Muslim, no. 225) Baca juga: Orang Berhadats Tidak Diterima Shalatnya   Larangan thawaf dalam keadaan berhadats Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الطَّوافُ حَولَ البيتِ مِثلُ الصَّلاةِ، إلَّا أنَّكم تتكلَّمونَ فيه، فمن تكلَّمَ فيه فلا يتكَلَّمنَّ إلَّا بخيرٍ “Thawaf sekitar Kabah adalah seperti shalat. Namun, thawaf dibolehkan untuk berbicara. Siapa yang mau berbicara, berbicaralah hanya dalam kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 960; Ad-Darimi, no. 1847; Ibnu Majah, no. 3836. Hadits ini dinyatakan sahih oleh Ibnu Al-Mulaqqin, dihasankan oleh Ibnu Hajar, dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani). Baca Juga: Matan Taqrib: Cara Membersihkan Najis agar Bisa Suci Kembali Matan Taqrib: Seputar Darah Haidh, Nifas, dan Istihadhah   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. Berbagai tulisan di web Rumaysho.Com   – Diselesaikan pada 4 Rajab 1444 H, 26 Januari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsdarah haidh darah nifas datang haidh hadats haidh istihadhah junub larangan bagi wanita haidh matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah nifas wanita nifas
Apa saja larangan bagi wanita haidh, nifas, orang junub, dan orang yang berhadats?   Daftar Isi tutup 1. Larangan shalat dan puasa untuk wanita haidh dan nifas 2. Larangan wanita haidh dan junub membaca Al-Qur’an 3. Larangan menyentuh dan membawa Al-Qur’an bagi orang yang berhadats (wanita haidh, nifas, orang junub, dan berhadats kecil) 4. Larangan wanita haidh dan junub masuk masjid 5. Larangan thawaf bagi wanita haidh 6. Larangan hubungan intim dengan wanita haidh dan nifas 7. Larangan Bercumbu dengan Wanita Haidh pada Wilayah Antara Pusar dan Lutut 7.1. Asal tidak sampai hubungan intim di kemaluan 8. Larangan talak ketika haidh 9. Larangan shalat bagi orang yang berhadats 10. Larangan thawaf dalam keadaan berhadats 10.1. Referensi: Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan, وَيَحْرُمُ بِالحَيْضِ وَالنِّفَاسِ ثَمَانِيَّةُ أَشْيَاءَ الصَّلاَةُ وَالصَّوْمُ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَدُخُوْلُ المَسْجِدِ وَالطَّوَافُ وَالوَطْءُ وَالاِسْتِمْتَاعُ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ. Yang diharamkan untuk wanita haidh dan nifas ada delapan hal: Shalat Puasa Membaca Al-Qur’an Menyentuh dan membawa mushaf Masuk masjid Thawaf Berhubungan intim Bercumbu antara pusar dan lutut. وَيَحْرُمُ عَلَى الجُنُبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ : الصَّلاَةُ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَالطَّوَافُ وَاللُّبْثُ فِي المَسْجِدِ. Yang diharamkan untuk orang junub ada lima hal: Shalat Membaca Al-Qur’an Menyentuh dan membawa mushaf Thawaf Berdiam di masjid. وَيَحْرُمُ عَلَى المُحْدِثِ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ: الصَّلاَةُ وَ الطَّوَافُ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ. Yang diharamkan untuk orang yang berhadats ada tiga hal: Shalat Thawaf Menyentuh dan membawa mushaf – Larangan shalat dan puasa untuk wanita haidh dan nifas Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya, ما بَالُ الحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، ولَا تَقْضِي الصَّلَاةَ “Kenapa sampai wanita haidh mengqadha puasa, tetapi tidak mengqadha shalat?” Aisyah berkata,  أحَرُورِيَّةٌ أنْتِ؟ “Apakah kamu seorang Haruriyah?” Ia menjawab, لَسْتُ بحَرُورِيَّةٍ، ولَكِنِّي أسْأَلُ “Saya bukan Haruriyah, saya hanya sekadar bertanya.” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, كانَ يُصِيبُنَا ذلكَ، فَنُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّوْمِ، ولَا نُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّلَاةِ “Dahulu kami mengalami haidh, kami hanya diperintah mengqadha’ puasa, tetapi kami tidak diperintah untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Bukhari, no. 321 dan Muslim, no. 335) Catatan: Larangan shalat bagi wanita haidh ini berlaku untuk shalat fardhu, shalat sunnah, maupun shalat jenazah. Jika wanita haidh itu wudhu, lalu mengerjakan shalat, shalatnya batal dan ia berdosa. Baca juga: Datang Haidh dan Belum Shalat Zhuhur Qadha’ Shalat bagi Wanita Haidh    Larangan wanita haidh dan junub membaca Al-Qur’an Hadits yang melarang hal ini adalah, لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلاَ الْحَائِضُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ “Tidak boleh bagi orang junub dan haidh membaca Al-Qur’an.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Baihaqi. Hadits ini DHA’IF, lihat Shahih Al-Jaami’, no. 6364) Untuk wanita haidh, yang TEPAT, masih boleh membaca Al-Qur’an, asalkan tidak menyentuh mushaf langsung. Sedangkan untuk orang junub tidak boleh membaca Al-Qur’an, kecuali untuk niatan selain tilawah. Catatan: Wanita haidh dan nifas masih dibolehkan membaca Al-Qur’an ketika khauf (khawatir), untuk maksud berdoa, takut lupa, atau keadaan darurat untuk belajar. Para ulama empat madzhab sepakat bahwa haram bagi orang yang junub membaca Al-Qur’an. Dalil pendukungnya adalah hadits berikut dari ‘Ali bin Abi Thalib, أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ لا يَحْجُبُهُ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جُنُبًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidaklah melarang dari membaca Al-Qur’an sedikit pun juga kecuali dalam keadaan junub.” (HR. Ibnu Hibban, 3:79; Abu Ya’la dalam musnadnya, 1:400. Husain Salim Asad menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Baca juga: Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Orang Junub Orang Junub Tidak Didekati Malaikat   Larangan menyentuh dan membawa Al-Qur’an bagi orang yang berhadats (wanita haidh, nifas, orang junub, dan berhadats kecil) Allah Ta’ala berfirman, لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 79). Catatan: Boleh membawa mushaf dalam keadaan berhadats dengan tumpukan barang yang lain, asalkan Al-Qur’an di tengah, tetapi niatannya adalah membawa tumpukan barang, bukan membawa mushaf. Baca juga: Menyentuh Mushaf bagi Orang Berhadats   Larangan wanita haidh dan junub masuk masjid Dalam hadits disebutkan, لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ “Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haidh dan orang yang junub.” (HR. Abu Daud, no. 232. Hadits ini DHA’IF menurut Syaikh Al-Albani). Catatan: Jumhur ulama berpendapat bahwa orang junub tidak boleh berdiam di masjid, hanya boleh melewati saja. Larangan ini berdasarkan surah An-Nisaa’ ayat 43. Yang dimaksud ayat, janganlah mendekati shalat adalah janganlah mendekati tempat shalat yaitu masjid. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. An-Nisaa’: 43). Tidaklah ada hadits yang melarang wanita haidh memasuki masjid kecuali hadits yang dikaji kali ini. Sedangkan pengqiyasan wanita haidh dengan orang junub tidaklah tepat karena orang junub masih bisa segera bersuci. Sehingga pendapat yang tepat, wanita haidh masih boleh berdiam di masjid, yang penting tidak mengotori masjid. Jika wanita haidh sekadar lewat saja atau mengambil sesuatu di masjid, hukumnya boleh. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, نَاوِلِيْنِى الخُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ. “Ambilkan untukku khumrah (sajadah kecil) dari masjid.” “Sesungguhnya aku sedang haid”, jawab ‘Aisyah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya haidhmu itu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim, no. 298). Baca juga: Penjelasan Bulughul Maram, Bolehnya Wanita Haidh Masuk Masjid Orang Haidh dan Junub Tidak Boleh Masuk Masjid?   Larangan thawaf bagi wanita haidh Ketika ‘Aisyah haid saat haji, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”  (HR. Bukhari, no. 305 dan Muslim, no. 1211) Baca juga: Mendapati Haidh Ketika Thawaf Ifadhah   Larangan hubungan intim dengan wanita haidh dan nifas Allah Ta’ala berfirman, وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222) Catatan: – Menyetubuhi wanita saat haidh termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja, atas pilihan sendiri dan dalam keadaan punya ilmu akan haramnya. Namun, untuk perbuatan ini tidak ada kafarah, yang ada adalah bertaubat dengan taubatan nasuhah (taubat yang tulus) dan tidak mengulanginya lagi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- “Barang siapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi, no. 135; Ibnu Majah, no. 639; Abu Daud, no. 3904. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Baca juga: Bersetubuh Saat Haidh   Larangan Bercumbu dengan Wanita Haidh pada Wilayah Antara Pusar dan Lutut Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai yang halal bagi laki-laki pada istrinya ketika istri tersebut haidh. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ما فوقَ الإزارِ “Selain yang ditutupi sarung (berarti selain antara pusar dan lutut).” (HR. Abu Daud, no. 213. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini DHA’IF). Catatan: Boleh mencumbu wanita haidh di pusar dan lututnya, yang telarang adalah pada wilayah antara pusar dan lutut.   Asal tidak sampai hubungan intim di kemaluan Boleh bercumbu dengan wanita haidh selama tidak melakukan jima’ di kemaluan. Dalam hadits disebutkan, اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ “Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haidh) selain jimak (di kemaluan).” (HR. Muslim no. 302) Dalam riwayat yang muttafaqun ‘alaih disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُبَاشِرَهَا ، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِى فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا . قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَمْلِكُ إِرْبَهُ Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami hadidh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haidh, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?”   (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haidh di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haidh atau selain kemaluannya. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, لَكِنْ لَهُ أَنْ يَسْتَمْتِعَ مِنْ الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ بِمَا فَوْقَ الْإِزَارِ وَسَوَاءٌ اسْتَمْتَعَ مِنْهَا بِفَمِهِ أَوْ بِيَدِهِ أَوْ بِرِجْلِهِ فَلَوْ وَطِئَهَا فِي بَطْنِهَا وَاسْتَمْنَى جَازَ . وَلَوْ اسْتَمْتَعَ بِفَخِذَيْهَا فَفِي جَوَازِهِ نِزَاعٌ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ . “Boleh bagi seorang suami mencumbu wanita haidh atau wanita yang mengalami nifas selain wilayah sarungnya (berarti selain antara pusar dan lutut). Ia boleh mencumbunya dengan mulut, tangan atau kakinya. Seandainya ia menyetubuhinya di perutnya, lalu keluarlah mani, maka itu masih dibolehkan. Namun jika ia mencumbu istrinya pada kedua paha istrinya (belum sampai kemaluan, pen), maka tentang bolehnya diperselisihkan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 21:624) Baca juga: Bersetubuh dengan Wanita Setelah Darah Berhenti, Tetapi Belum Mandi Wajib   Larangan talak ketika haidh Dari Anas bin Sirin, ia berkata, سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ قَالَ طَلَّقَ ابْنُ عُمَرَ امْرَأَتَهُ وَهْىَ حَائِضٌ ، فَذَكَرَ عُمَرُ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « لِيُرَاجِعْهَا » . قُلْتُ تُحْتَسَبُ قَالَ « فَمَهْ » “Aku mendengar Ibnu ‘Umar berkata bahwa ia telah mentalak istrinya dalam keadaan haid. Lantas ‘Umar mengadukan hal ini pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Suruh ia untuk rujuk.” Aku (Anas berkata pada Ibnu ‘Umar), “Apakah hal itu dianggap jatuh talak?” Ibnu ‘Umar menjawab, “Kalau tidak teranggap, lalu apa?” (HR. Bukhari, no. 5252 dan Muslim, no. 1471) Talak ketika haidh dan sebelum suci dengan mandi atau tayamum tetap HARAM, walau talak tersebut dianggap jatuh. Baca juga: Talak Ketika Haidh   Larangan shalat bagi orang yang berhadats Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ “Allah tidaklah menerima shalat salah seorang di antara kalian ketika ia berhadats sampai ia berwudhu.” Ahdatsa berarti muncul hadats yaitu sesuatu yang keluar dari salah satu dari dua jalan atau pembatal wudhu lainnya. (HR. Bukhari, no. 6954 dan Muslim, no. 225) Baca juga: Orang Berhadats Tidak Diterima Shalatnya   Larangan thawaf dalam keadaan berhadats Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الطَّوافُ حَولَ البيتِ مِثلُ الصَّلاةِ، إلَّا أنَّكم تتكلَّمونَ فيه، فمن تكلَّمَ فيه فلا يتكَلَّمنَّ إلَّا بخيرٍ “Thawaf sekitar Kabah adalah seperti shalat. Namun, thawaf dibolehkan untuk berbicara. Siapa yang mau berbicara, berbicaralah hanya dalam kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 960; Ad-Darimi, no. 1847; Ibnu Majah, no. 3836. Hadits ini dinyatakan sahih oleh Ibnu Al-Mulaqqin, dihasankan oleh Ibnu Hajar, dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani). Baca Juga: Matan Taqrib: Cara Membersihkan Najis agar Bisa Suci Kembali Matan Taqrib: Seputar Darah Haidh, Nifas, dan Istihadhah   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. Berbagai tulisan di web Rumaysho.Com   – Diselesaikan pada 4 Rajab 1444 H, 26 Januari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsdarah haidh darah nifas datang haidh hadats haidh istihadhah junub larangan bagi wanita haidh matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah nifas wanita nifas


Apa saja larangan bagi wanita haidh, nifas, orang junub, dan orang yang berhadats?   Daftar Isi tutup 1. Larangan shalat dan puasa untuk wanita haidh dan nifas 2. Larangan wanita haidh dan junub membaca Al-Qur’an 3. Larangan menyentuh dan membawa Al-Qur’an bagi orang yang berhadats (wanita haidh, nifas, orang junub, dan berhadats kecil) 4. Larangan wanita haidh dan junub masuk masjid 5. Larangan thawaf bagi wanita haidh 6. Larangan hubungan intim dengan wanita haidh dan nifas 7. Larangan Bercumbu dengan Wanita Haidh pada Wilayah Antara Pusar dan Lutut 7.1. Asal tidak sampai hubungan intim di kemaluan 8. Larangan talak ketika haidh 9. Larangan shalat bagi orang yang berhadats 10. Larangan thawaf dalam keadaan berhadats 10.1. Referensi: Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan, وَيَحْرُمُ بِالحَيْضِ وَالنِّفَاسِ ثَمَانِيَّةُ أَشْيَاءَ الصَّلاَةُ وَالصَّوْمُ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَدُخُوْلُ المَسْجِدِ وَالطَّوَافُ وَالوَطْءُ وَالاِسْتِمْتَاعُ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ. Yang diharamkan untuk wanita haidh dan nifas ada delapan hal: Shalat Puasa Membaca Al-Qur’an Menyentuh dan membawa mushaf Masuk masjid Thawaf Berhubungan intim Bercumbu antara pusar dan lutut. وَيَحْرُمُ عَلَى الجُنُبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ : الصَّلاَةُ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَالطَّوَافُ وَاللُّبْثُ فِي المَسْجِدِ. Yang diharamkan untuk orang junub ada lima hal: Shalat Membaca Al-Qur’an Menyentuh dan membawa mushaf Thawaf Berdiam di masjid. وَيَحْرُمُ عَلَى المُحْدِثِ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ: الصَّلاَةُ وَ الطَّوَافُ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ. Yang diharamkan untuk orang yang berhadats ada tiga hal: Shalat Thawaf Menyentuh dan membawa mushaf – Larangan shalat dan puasa untuk wanita haidh dan nifas Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya, ما بَالُ الحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، ولَا تَقْضِي الصَّلَاةَ “Kenapa sampai wanita haidh mengqadha puasa, tetapi tidak mengqadha shalat?” Aisyah berkata,  أحَرُورِيَّةٌ أنْتِ؟ “Apakah kamu seorang Haruriyah?” Ia menjawab, لَسْتُ بحَرُورِيَّةٍ، ولَكِنِّي أسْأَلُ “Saya bukan Haruriyah, saya hanya sekadar bertanya.” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, كانَ يُصِيبُنَا ذلكَ، فَنُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّوْمِ، ولَا نُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّلَاةِ “Dahulu kami mengalami haidh, kami hanya diperintah mengqadha’ puasa, tetapi kami tidak diperintah untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Bukhari, no. 321 dan Muslim, no. 335) Catatan: Larangan shalat bagi wanita haidh ini berlaku untuk shalat fardhu, shalat sunnah, maupun shalat jenazah. Jika wanita haidh itu wudhu, lalu mengerjakan shalat, shalatnya batal dan ia berdosa. Baca juga: Datang Haidh dan Belum Shalat Zhuhur Qadha’ Shalat bagi Wanita Haidh    Larangan wanita haidh dan junub membaca Al-Qur’an Hadits yang melarang hal ini adalah, لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلاَ الْحَائِضُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ “Tidak boleh bagi orang junub dan haidh membaca Al-Qur’an.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Baihaqi. Hadits ini DHA’IF, lihat Shahih Al-Jaami’, no. 6364) Untuk wanita haidh, yang TEPAT, masih boleh membaca Al-Qur’an, asalkan tidak menyentuh mushaf langsung. Sedangkan untuk orang junub tidak boleh membaca Al-Qur’an, kecuali untuk niatan selain tilawah. Catatan: Wanita haidh dan nifas masih dibolehkan membaca Al-Qur’an ketika khauf (khawatir), untuk maksud berdoa, takut lupa, atau keadaan darurat untuk belajar. Para ulama empat madzhab sepakat bahwa haram bagi orang yang junub membaca Al-Qur’an. Dalil pendukungnya adalah hadits berikut dari ‘Ali bin Abi Thalib, أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ لا يَحْجُبُهُ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جُنُبًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidaklah melarang dari membaca Al-Qur’an sedikit pun juga kecuali dalam keadaan junub.” (HR. Ibnu Hibban, 3:79; Abu Ya’la dalam musnadnya, 1:400. Husain Salim Asad menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Baca juga: Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Orang Junub Orang Junub Tidak Didekati Malaikat   Larangan menyentuh dan membawa Al-Qur’an bagi orang yang berhadats (wanita haidh, nifas, orang junub, dan berhadats kecil) Allah Ta’ala berfirman, لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 79). Catatan: Boleh membawa mushaf dalam keadaan berhadats dengan tumpukan barang yang lain, asalkan Al-Qur’an di tengah, tetapi niatannya adalah membawa tumpukan barang, bukan membawa mushaf. Baca juga: Menyentuh Mushaf bagi Orang Berhadats   Larangan wanita haidh dan junub masuk masjid Dalam hadits disebutkan, لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ “Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haidh dan orang yang junub.” (HR. Abu Daud, no. 232. Hadits ini DHA’IF menurut Syaikh Al-Albani). Catatan: Jumhur ulama berpendapat bahwa orang junub tidak boleh berdiam di masjid, hanya boleh melewati saja. Larangan ini berdasarkan surah An-Nisaa’ ayat 43. Yang dimaksud ayat, janganlah mendekati shalat adalah janganlah mendekati tempat shalat yaitu masjid. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. An-Nisaa’: 43). Tidaklah ada hadits yang melarang wanita haidh memasuki masjid kecuali hadits yang dikaji kali ini. Sedangkan pengqiyasan wanita haidh dengan orang junub tidaklah tepat karena orang junub masih bisa segera bersuci. Sehingga pendapat yang tepat, wanita haidh masih boleh berdiam di masjid, yang penting tidak mengotori masjid. Jika wanita haidh sekadar lewat saja atau mengambil sesuatu di masjid, hukumnya boleh. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, نَاوِلِيْنِى الخُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ. “Ambilkan untukku khumrah (sajadah kecil) dari masjid.” “Sesungguhnya aku sedang haid”, jawab ‘Aisyah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya haidhmu itu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim, no. 298). Baca juga: Penjelasan Bulughul Maram, Bolehnya Wanita Haidh Masuk Masjid Orang Haidh dan Junub Tidak Boleh Masuk Masjid?   Larangan thawaf bagi wanita haidh Ketika ‘Aisyah haid saat haji, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”  (HR. Bukhari, no. 305 dan Muslim, no. 1211) Baca juga: Mendapati Haidh Ketika Thawaf Ifadhah   Larangan hubungan intim dengan wanita haidh dan nifas Allah Ta’ala berfirman, وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222) Catatan: – Menyetubuhi wanita saat haidh termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja, atas pilihan sendiri dan dalam keadaan punya ilmu akan haramnya. Namun, untuk perbuatan ini tidak ada kafarah, yang ada adalah bertaubat dengan taubatan nasuhah (taubat yang tulus) dan tidak mengulanginya lagi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- “Barang siapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi, no. 135; Ibnu Majah, no. 639; Abu Daud, no. 3904. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Baca juga: Bersetubuh Saat Haidh   Larangan Bercumbu dengan Wanita Haidh pada Wilayah Antara Pusar dan Lutut Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai yang halal bagi laki-laki pada istrinya ketika istri tersebut haidh. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ما فوقَ الإزارِ “Selain yang ditutupi sarung (berarti selain antara pusar dan lutut).” (HR. Abu Daud, no. 213. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini DHA’IF). Catatan: Boleh mencumbu wanita haidh di pusar dan lututnya, yang telarang adalah pada wilayah antara pusar dan lutut.   Asal tidak sampai hubungan intim di kemaluan Boleh bercumbu dengan wanita haidh selama tidak melakukan jima’ di kemaluan. Dalam hadits disebutkan, اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ “Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haidh) selain jimak (di kemaluan).” (HR. Muslim no. 302) Dalam riwayat yang muttafaqun ‘alaih disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُبَاشِرَهَا ، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِى فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا . قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَمْلِكُ إِرْبَهُ Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami hadidh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haidh, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?”   (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haidh di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haidh atau selain kemaluannya. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, لَكِنْ لَهُ أَنْ يَسْتَمْتِعَ مِنْ الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ بِمَا فَوْقَ الْإِزَارِ وَسَوَاءٌ اسْتَمْتَعَ مِنْهَا بِفَمِهِ أَوْ بِيَدِهِ أَوْ بِرِجْلِهِ فَلَوْ وَطِئَهَا فِي بَطْنِهَا وَاسْتَمْنَى جَازَ . وَلَوْ اسْتَمْتَعَ بِفَخِذَيْهَا فَفِي جَوَازِهِ نِزَاعٌ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ . “Boleh bagi seorang suami mencumbu wanita haidh atau wanita yang mengalami nifas selain wilayah sarungnya (berarti selain antara pusar dan lutut). Ia boleh mencumbunya dengan mulut, tangan atau kakinya. Seandainya ia menyetubuhinya di perutnya, lalu keluarlah mani, maka itu masih dibolehkan. Namun jika ia mencumbu istrinya pada kedua paha istrinya (belum sampai kemaluan, pen), maka tentang bolehnya diperselisihkan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 21:624) Baca juga: Bersetubuh dengan Wanita Setelah Darah Berhenti, Tetapi Belum Mandi Wajib   Larangan talak ketika haidh Dari Anas bin Sirin, ia berkata, سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ قَالَ طَلَّقَ ابْنُ عُمَرَ امْرَأَتَهُ وَهْىَ حَائِضٌ ، فَذَكَرَ عُمَرُ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « لِيُرَاجِعْهَا » . قُلْتُ تُحْتَسَبُ قَالَ « فَمَهْ » “Aku mendengar Ibnu ‘Umar berkata bahwa ia telah mentalak istrinya dalam keadaan haid. Lantas ‘Umar mengadukan hal ini pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Suruh ia untuk rujuk.” Aku (Anas berkata pada Ibnu ‘Umar), “Apakah hal itu dianggap jatuh talak?” Ibnu ‘Umar menjawab, “Kalau tidak teranggap, lalu apa?” (HR. Bukhari, no. 5252 dan Muslim, no. 1471) Talak ketika haidh dan sebelum suci dengan mandi atau tayamum tetap HARAM, walau talak tersebut dianggap jatuh. Baca juga: Talak Ketika Haidh   Larangan shalat bagi orang yang berhadats Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ “Allah tidaklah menerima shalat salah seorang di antara kalian ketika ia berhadats sampai ia berwudhu.” Ahdatsa berarti muncul hadats yaitu sesuatu yang keluar dari salah satu dari dua jalan atau pembatal wudhu lainnya. (HR. Bukhari, no. 6954 dan Muslim, no. 225) Baca juga: Orang Berhadats Tidak Diterima Shalatnya   Larangan thawaf dalam keadaan berhadats Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الطَّوافُ حَولَ البيتِ مِثلُ الصَّلاةِ، إلَّا أنَّكم تتكلَّمونَ فيه، فمن تكلَّمَ فيه فلا يتكَلَّمنَّ إلَّا بخيرٍ “Thawaf sekitar Kabah adalah seperti shalat. Namun, thawaf dibolehkan untuk berbicara. Siapa yang mau berbicara, berbicaralah hanya dalam kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 960; Ad-Darimi, no. 1847; Ibnu Majah, no. 3836. Hadits ini dinyatakan sahih oleh Ibnu Al-Mulaqqin, dihasankan oleh Ibnu Hajar, dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani). Baca Juga: Matan Taqrib: Cara Membersihkan Najis agar Bisa Suci Kembali Matan Taqrib: Seputar Darah Haidh, Nifas, dan Istihadhah   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. Berbagai tulisan di web Rumaysho.Com   – Diselesaikan pada 4 Rajab 1444 H, 26 Januari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsdarah haidh darah nifas datang haidh hadats haidh istihadhah junub larangan bagi wanita haidh matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah nifas wanita nifas

Dua Orang yang Tidak Perlu Salat Tahiyatul Masjid – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Dikecualikan dalam mazhab Hambalikesunahan salat (Tahiyatul Masjid)bagi orang yang masuk masjiddan hendak duduk di dalamnya, dikecualikan dua orang: [PERTAMA]Khatib ketika masuk masjid untuk berkhutbah,ia bisa langsung menuju mimbar.Jika ia telah mengucapkan salam (untuk khutbah), ia langsung duduk. Ketika ia selesai dari khutbah pertama dalam Khutbah Jumat dan lainnya, ia juga langsung duduk,tanpa perlu Salat Tahiyatul Masjid terlebih dahulu sebelum duduk. [KEDUA]Orang yang masuk masjid untuk mendirikan Salat Id di dalam masjid,ia tidak disunahkan untuk melakukan Salat Tahiyatul Masjid dua rakaat. ==== وَاسْتُثْنِيَ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ مِنِ اسْتِحْبَابِ صَلَاتِهِمَا لِمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَأَرَادَ الْجُلُوسَ فِيهِ اثْنَانِ أَحَدُهُمَا الْخَطِيبُ إِذَا دَخَلَ لِلْخُطْبَةِ فَإِنَّهُ يَقْصِدُ إِلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ إِذَا سَلَّمَ جَلَسَ وَإِذَا فَرَغَ مِنْ خُطْبَتِهِ الْأُولَى فِي جُمُعَةٍ وَغَيْرِهَا جَلَسَ أَيْضًا وَلَم يُصَلِّ تَحِيَّةً قَبْلَ جُلُوسِهِ وَالْآخَرُ مَنْ دَخَلَ لِصَلَاةِ عِيدٍ فِي الْمَسْجِدِ فَإِنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ لَهُ تَحِيَّتُهُ بِالرَّكْعَتَيْنِ

Dua Orang yang Tidak Perlu Salat Tahiyatul Masjid – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Dikecualikan dalam mazhab Hambalikesunahan salat (Tahiyatul Masjid)bagi orang yang masuk masjiddan hendak duduk di dalamnya, dikecualikan dua orang: [PERTAMA]Khatib ketika masuk masjid untuk berkhutbah,ia bisa langsung menuju mimbar.Jika ia telah mengucapkan salam (untuk khutbah), ia langsung duduk. Ketika ia selesai dari khutbah pertama dalam Khutbah Jumat dan lainnya, ia juga langsung duduk,tanpa perlu Salat Tahiyatul Masjid terlebih dahulu sebelum duduk. [KEDUA]Orang yang masuk masjid untuk mendirikan Salat Id di dalam masjid,ia tidak disunahkan untuk melakukan Salat Tahiyatul Masjid dua rakaat. ==== وَاسْتُثْنِيَ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ مِنِ اسْتِحْبَابِ صَلَاتِهِمَا لِمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَأَرَادَ الْجُلُوسَ فِيهِ اثْنَانِ أَحَدُهُمَا الْخَطِيبُ إِذَا دَخَلَ لِلْخُطْبَةِ فَإِنَّهُ يَقْصِدُ إِلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ إِذَا سَلَّمَ جَلَسَ وَإِذَا فَرَغَ مِنْ خُطْبَتِهِ الْأُولَى فِي جُمُعَةٍ وَغَيْرِهَا جَلَسَ أَيْضًا وَلَم يُصَلِّ تَحِيَّةً قَبْلَ جُلُوسِهِ وَالْآخَرُ مَنْ دَخَلَ لِصَلَاةِ عِيدٍ فِي الْمَسْجِدِ فَإِنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ لَهُ تَحِيَّتُهُ بِالرَّكْعَتَيْنِ
Dikecualikan dalam mazhab Hambalikesunahan salat (Tahiyatul Masjid)bagi orang yang masuk masjiddan hendak duduk di dalamnya, dikecualikan dua orang: [PERTAMA]Khatib ketika masuk masjid untuk berkhutbah,ia bisa langsung menuju mimbar.Jika ia telah mengucapkan salam (untuk khutbah), ia langsung duduk. Ketika ia selesai dari khutbah pertama dalam Khutbah Jumat dan lainnya, ia juga langsung duduk,tanpa perlu Salat Tahiyatul Masjid terlebih dahulu sebelum duduk. [KEDUA]Orang yang masuk masjid untuk mendirikan Salat Id di dalam masjid,ia tidak disunahkan untuk melakukan Salat Tahiyatul Masjid dua rakaat. ==== وَاسْتُثْنِيَ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ مِنِ اسْتِحْبَابِ صَلَاتِهِمَا لِمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَأَرَادَ الْجُلُوسَ فِيهِ اثْنَانِ أَحَدُهُمَا الْخَطِيبُ إِذَا دَخَلَ لِلْخُطْبَةِ فَإِنَّهُ يَقْصِدُ إِلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ إِذَا سَلَّمَ جَلَسَ وَإِذَا فَرَغَ مِنْ خُطْبَتِهِ الْأُولَى فِي جُمُعَةٍ وَغَيْرِهَا جَلَسَ أَيْضًا وَلَم يُصَلِّ تَحِيَّةً قَبْلَ جُلُوسِهِ وَالْآخَرُ مَنْ دَخَلَ لِصَلَاةِ عِيدٍ فِي الْمَسْجِدِ فَإِنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ لَهُ تَحِيَّتُهُ بِالرَّكْعَتَيْنِ


Dikecualikan dalam mazhab Hambalikesunahan salat (Tahiyatul Masjid)bagi orang yang masuk masjiddan hendak duduk di dalamnya, dikecualikan dua orang: [PERTAMA]Khatib ketika masuk masjid untuk berkhutbah,ia bisa langsung menuju mimbar.Jika ia telah mengucapkan salam (untuk khutbah), ia langsung duduk. Ketika ia selesai dari khutbah pertama dalam Khutbah Jumat dan lainnya, ia juga langsung duduk,tanpa perlu Salat Tahiyatul Masjid terlebih dahulu sebelum duduk. [KEDUA]Orang yang masuk masjid untuk mendirikan Salat Id di dalam masjid,ia tidak disunahkan untuk melakukan Salat Tahiyatul Masjid dua rakaat. ==== وَاسْتُثْنِيَ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ مِنِ اسْتِحْبَابِ صَلَاتِهِمَا لِمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَأَرَادَ الْجُلُوسَ فِيهِ اثْنَانِ أَحَدُهُمَا الْخَطِيبُ إِذَا دَخَلَ لِلْخُطْبَةِ فَإِنَّهُ يَقْصِدُ إِلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ إِذَا سَلَّمَ جَلَسَ وَإِذَا فَرَغَ مِنْ خُطْبَتِهِ الْأُولَى فِي جُمُعَةٍ وَغَيْرِهَا جَلَسَ أَيْضًا وَلَم يُصَلِّ تَحِيَّةً قَبْلَ جُلُوسِهِ وَالْآخَرُ مَنْ دَخَلَ لِصَلَاةِ عِيدٍ فِي الْمَسْجِدِ فَإِنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ لَهُ تَحِيَّتُهُ بِالرَّكْعَتَيْنِ

Lebih Baik Bersuara atau Tidak ketika Membaca al-Quran? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Tapi apakah yang lebih utama membaca al-Quran dengan menggerakkan lisan saja tanpa suaraatau membacanya dengan mengeraskan suara? Sekarang kamu dapat menemukan sebagian orangyang banyak membaca al-Quran, tapi saat ia membaca dari mushaf, kamu tidak mendengar suaranya,padahal ia menggerakkan lisannya. Ini termasuk membaca, dan ia mendapat pahala darinya.Namun, mana yang lebih baik? Membaca hanya dengan menggerakkan lisan, tanpa suaraatau membaca dengan disertai suara? Ya? Bagus! Lebih baik disertai suara,tapi suaranya tidak keras agar tidak mengganggu orang yang ada di kanan dan kirinya. Hal ini karena jika membaca tanpa disertai suara, bagaimana ia dapat memperindah bacaan al-Quran?!Bagaimana ia dapat membaca al-Quran dengan tartil?! Allah Ta’ala berfirman, “Bacalah al-Quran dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4). Bagaimana ia membaca dengan tartil, sedangkan bacaannya tidak bersuara?Ia tidak mengeraskan suaranya saat membaca al-Quran. Bagaimana ia dapat mentartilkannya?Lalu bagaimana juga ia dapat memperindah bacaan al-Quran jika tanpa suara?Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan golongan kami, orang yang tidak memperindah bacaan al-Quran.” (HR. Bukhari) Dalam hadis lain disebutkan, “Hiasilah al-Quran dengan suara kalian!” (HR. Abu Daud)Bagaimana ia dapat memperindah bacaan?Selain itu, para malaikat juga menyimak orang yang membaca al-Quran. Mereka menyimak bacaannya, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih.Bagaimana mereka akan mendengarkannya, sedangkan ia tidak mengeraskan suaranya?! Jadi, yang lebih baik adalah mengangkat suaranya sedikitdengan kadar yang tidak mengganggu orang yang ada di kanan dan kirinya.Jadi, ada dua golongan berlebihan dan satu golongan pertengahan. Ada sebagian orang yang tidak terdengar suaranya saat membaca al-Quran.Orang ini melewatkan keutamaan membaca dengan tartil dan memperindah suara,serta beberapa sunah lain yang ada dalam membaca al-Quran. Sebaliknya, ada orang yang mengeraskan suaranya sehingga mengganggu orang-orang yang salat di sekitarnya.Ini juga salah,karena dapat mengganggu kaum Muslimin. Yang seharusnya adalah mengeraskan suaranya dengan kadar yang tidak mengganggu orang di sekitarnya.Ya?Hadis, “Orang yang membaca al-Quran dengan pelan seperti orang sedekah secara rahasia; dan orang yang membaca dengan keras seperti orang yang sedekah terang-terangan.” (HR. An-Nasai) Pertama, sanadnya diperselisihkan, sebagian ulama menganggapnya lemah.Seandainya itu sahih, maka makna membaca dengan pelan yakni dengan suara yang tidak keras. Bacaannya tidak keras sekali sehingga dapat mengganggu orang lain.Karena dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa yang dituntut dari pembaca al-Quran adalah tartil. Yang diminta darinya adalah melagukan dan membaguskan suara.Yang diminta darinya adalah memperindah suara saat membaca.Ini semua tidak dapat tercapai kecuali jika ia membaca dengan disertai suara. ==== لَكِنْ هَلِ الْأَفْضَلُ أَنْ يَقْرَأَ بِتَحْرِيكِ اللِّسَانِ مِنْ غَيْرِ صَوْتٍ أَوْ أَنْ يَقْرَأَ مَعَ رَفْعِ الصَّوْتِ؟ الْآنَ يَعْنِي تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ كَثِيرَ الْقِرَاءَةِ لِلْقُرْآنِ لَكِنْ مَعَ الْمُصْحَفِ مَا تَسْمَعُ الصَّوْتَ وَهُوَ يُحَرِّكُ لِسَانَهُ هَذِهِ تُعْتَبَرُ قِرَاءَةً وَيُؤْجَرُ عَلَيْهَا لَكِنْ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ؟ أَنْ يَقْرَأَ مُحَرِّكَ اللِّسَانِ مِنْ غَيْرِ صَوْتٍ أَوْ يَصْحَبُ هَذِهِ الْقِرَاءَةَ الصَّوْتُ نَعَمْ؟ أَحْسَنْتَ يَصْحَبُهَا صَوْتٌ لَكِنْ يَكُونُ الصَّوْتُ غَيْرَ مُرْتَفِعٍ بِحَيْثُ يُؤْذِيْ مَنْ عَنْ يَمِينِهِ وَيَسَارِهِ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يَصْحَبْهَا صَوْتٌ كَيْفَ يَكُونُ التَّغَنِّي بِالْقُرْآنِ؟ كَيْفَ يَكُونُ تَرْتِيلُ الْقُرْآنِ؟ وَاللهُ تَعَالَى يَقُولُ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا كَيْفَ يُرَتِّلُ الْقُرْآنَ وَهُوَ لَيْسَ عِنْدَهُ الصَّوْتُ عِنْدَ التِّلَاوَةِ مَا يَرْفَعُ صَوْتَهُ عِنْدَ التِّلَاوَةِ كَيْف يُرَتِّلُ الْقُرْآنَ عِنْدَ التِّلَاوَةِ؟ ثُمَّ أَيْضًا كَيْفَ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِ صَوْتٍ؟ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ الْحَدِيثُ الْآخَرُ زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ كَيْفَ يَكُونُ التَّغَنِّي؟ ثُمَّ أَيْضًا الْمَلَائِكَةُ تَسْتَمِعُ لِمَنْ يَتْلُو الْقُرْآنَ تَسْتَمِعُ لَهُ كَمَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ فَكَيْفَ تَسْتَمِعُ لَهُ وَهُوَ لَمْ يَرْفَعْ صَوْتَهُ؟ فَالْأَفْضَلُ أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ قَلِيلًا بِالْقَدْرِ الَّذِي لَا يُشَوِّشُ عَلَى مَنْ عَنْ يَمِينِهِ وَيَسَارِهِ فَيَعْنِي هُنَاكَ طَرَفَانِ وَوَسَطٌ هُنَاكَ بَعْضُ النَّاسِ لَا تَسْمَعُ لَهُ صَوْتًا وَهَذَا يَفُوتُهُ التَّرْتِيْلُ وَالتَّغَنِّي وَيَعْنِي بَعْضُ السُّنَنِ الْوَارِدَةِ فِي التِّلَاوَةِ وَعَلَى عَكْسِهِمْ مَنْ يَرْفَعُ صَوْتَهُ رَفْعًا يُؤْذِيَ مَنْ حَوْلَهُ مِنَ الْمُصَلِّينَ هَذَا أَيْضًا خَطَأٌ لِأَنَّ هَذِهِ فِيهِ أَذِيَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمَطْلُوبُ أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ بِالْقَدْرِ الَّذِي لَا يُؤْذِي مَنْ حَوْلَهُ نَعَمْ؟ حَدِيثُ الْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ وَالْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ أَوَّلًا فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يُضَعِّفُهُ وَلَوْ ثَبَتَ فَالْمَقْصُودُ أَنَّهُ يُسِرُّ يَعْنِي بِصَوْتٍ لَا يَرْفَعُ لَيْسَ فِيهِ رَفْعٌ لَيْسَ فِيهِ رَفْعٌ بِحَيْثُ يُؤْذِي الْآخَرِيْنَ لِأَنَّ الْأَدِلَّةَ أَيْضًا تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمَطْلُوبَ مِنْ قَارِئِ الْقُرْآنِ التَّرْتِيْلُ وَالْمَطْلُوبُ هُوَ التَّغَنِّي وَالْمَطْلُوبُ هُوَ تَحْسِيْنُ الصَّوْتِ وَالْمَطْلُوبُ هُوَ تَزْيِيْنُ الصَّوْتِ بِالتِّلَاوَةِ هَذِهِ كُلُّهَا لَا تَتَحَقَّقُ إِلَّا إِذَا صَحِبَ التِّلَاوَةَ صَوْتٌ

Lebih Baik Bersuara atau Tidak ketika Membaca al-Quran? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Tapi apakah yang lebih utama membaca al-Quran dengan menggerakkan lisan saja tanpa suaraatau membacanya dengan mengeraskan suara? Sekarang kamu dapat menemukan sebagian orangyang banyak membaca al-Quran, tapi saat ia membaca dari mushaf, kamu tidak mendengar suaranya,padahal ia menggerakkan lisannya. Ini termasuk membaca, dan ia mendapat pahala darinya.Namun, mana yang lebih baik? Membaca hanya dengan menggerakkan lisan, tanpa suaraatau membaca dengan disertai suara? Ya? Bagus! Lebih baik disertai suara,tapi suaranya tidak keras agar tidak mengganggu orang yang ada di kanan dan kirinya. Hal ini karena jika membaca tanpa disertai suara, bagaimana ia dapat memperindah bacaan al-Quran?!Bagaimana ia dapat membaca al-Quran dengan tartil?! Allah Ta’ala berfirman, “Bacalah al-Quran dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4). Bagaimana ia membaca dengan tartil, sedangkan bacaannya tidak bersuara?Ia tidak mengeraskan suaranya saat membaca al-Quran. Bagaimana ia dapat mentartilkannya?Lalu bagaimana juga ia dapat memperindah bacaan al-Quran jika tanpa suara?Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan golongan kami, orang yang tidak memperindah bacaan al-Quran.” (HR. Bukhari) Dalam hadis lain disebutkan, “Hiasilah al-Quran dengan suara kalian!” (HR. Abu Daud)Bagaimana ia dapat memperindah bacaan?Selain itu, para malaikat juga menyimak orang yang membaca al-Quran. Mereka menyimak bacaannya, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih.Bagaimana mereka akan mendengarkannya, sedangkan ia tidak mengeraskan suaranya?! Jadi, yang lebih baik adalah mengangkat suaranya sedikitdengan kadar yang tidak mengganggu orang yang ada di kanan dan kirinya.Jadi, ada dua golongan berlebihan dan satu golongan pertengahan. Ada sebagian orang yang tidak terdengar suaranya saat membaca al-Quran.Orang ini melewatkan keutamaan membaca dengan tartil dan memperindah suara,serta beberapa sunah lain yang ada dalam membaca al-Quran. Sebaliknya, ada orang yang mengeraskan suaranya sehingga mengganggu orang-orang yang salat di sekitarnya.Ini juga salah,karena dapat mengganggu kaum Muslimin. Yang seharusnya adalah mengeraskan suaranya dengan kadar yang tidak mengganggu orang di sekitarnya.Ya?Hadis, “Orang yang membaca al-Quran dengan pelan seperti orang sedekah secara rahasia; dan orang yang membaca dengan keras seperti orang yang sedekah terang-terangan.” (HR. An-Nasai) Pertama, sanadnya diperselisihkan, sebagian ulama menganggapnya lemah.Seandainya itu sahih, maka makna membaca dengan pelan yakni dengan suara yang tidak keras. Bacaannya tidak keras sekali sehingga dapat mengganggu orang lain.Karena dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa yang dituntut dari pembaca al-Quran adalah tartil. Yang diminta darinya adalah melagukan dan membaguskan suara.Yang diminta darinya adalah memperindah suara saat membaca.Ini semua tidak dapat tercapai kecuali jika ia membaca dengan disertai suara. ==== لَكِنْ هَلِ الْأَفْضَلُ أَنْ يَقْرَأَ بِتَحْرِيكِ اللِّسَانِ مِنْ غَيْرِ صَوْتٍ أَوْ أَنْ يَقْرَأَ مَعَ رَفْعِ الصَّوْتِ؟ الْآنَ يَعْنِي تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ كَثِيرَ الْقِرَاءَةِ لِلْقُرْآنِ لَكِنْ مَعَ الْمُصْحَفِ مَا تَسْمَعُ الصَّوْتَ وَهُوَ يُحَرِّكُ لِسَانَهُ هَذِهِ تُعْتَبَرُ قِرَاءَةً وَيُؤْجَرُ عَلَيْهَا لَكِنْ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ؟ أَنْ يَقْرَأَ مُحَرِّكَ اللِّسَانِ مِنْ غَيْرِ صَوْتٍ أَوْ يَصْحَبُ هَذِهِ الْقِرَاءَةَ الصَّوْتُ نَعَمْ؟ أَحْسَنْتَ يَصْحَبُهَا صَوْتٌ لَكِنْ يَكُونُ الصَّوْتُ غَيْرَ مُرْتَفِعٍ بِحَيْثُ يُؤْذِيْ مَنْ عَنْ يَمِينِهِ وَيَسَارِهِ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يَصْحَبْهَا صَوْتٌ كَيْفَ يَكُونُ التَّغَنِّي بِالْقُرْآنِ؟ كَيْفَ يَكُونُ تَرْتِيلُ الْقُرْآنِ؟ وَاللهُ تَعَالَى يَقُولُ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا كَيْفَ يُرَتِّلُ الْقُرْآنَ وَهُوَ لَيْسَ عِنْدَهُ الصَّوْتُ عِنْدَ التِّلَاوَةِ مَا يَرْفَعُ صَوْتَهُ عِنْدَ التِّلَاوَةِ كَيْف يُرَتِّلُ الْقُرْآنَ عِنْدَ التِّلَاوَةِ؟ ثُمَّ أَيْضًا كَيْفَ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِ صَوْتٍ؟ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ الْحَدِيثُ الْآخَرُ زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ كَيْفَ يَكُونُ التَّغَنِّي؟ ثُمَّ أَيْضًا الْمَلَائِكَةُ تَسْتَمِعُ لِمَنْ يَتْلُو الْقُرْآنَ تَسْتَمِعُ لَهُ كَمَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ فَكَيْفَ تَسْتَمِعُ لَهُ وَهُوَ لَمْ يَرْفَعْ صَوْتَهُ؟ فَالْأَفْضَلُ أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ قَلِيلًا بِالْقَدْرِ الَّذِي لَا يُشَوِّشُ عَلَى مَنْ عَنْ يَمِينِهِ وَيَسَارِهِ فَيَعْنِي هُنَاكَ طَرَفَانِ وَوَسَطٌ هُنَاكَ بَعْضُ النَّاسِ لَا تَسْمَعُ لَهُ صَوْتًا وَهَذَا يَفُوتُهُ التَّرْتِيْلُ وَالتَّغَنِّي وَيَعْنِي بَعْضُ السُّنَنِ الْوَارِدَةِ فِي التِّلَاوَةِ وَعَلَى عَكْسِهِمْ مَنْ يَرْفَعُ صَوْتَهُ رَفْعًا يُؤْذِيَ مَنْ حَوْلَهُ مِنَ الْمُصَلِّينَ هَذَا أَيْضًا خَطَأٌ لِأَنَّ هَذِهِ فِيهِ أَذِيَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمَطْلُوبُ أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ بِالْقَدْرِ الَّذِي لَا يُؤْذِي مَنْ حَوْلَهُ نَعَمْ؟ حَدِيثُ الْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ وَالْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ أَوَّلًا فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يُضَعِّفُهُ وَلَوْ ثَبَتَ فَالْمَقْصُودُ أَنَّهُ يُسِرُّ يَعْنِي بِصَوْتٍ لَا يَرْفَعُ لَيْسَ فِيهِ رَفْعٌ لَيْسَ فِيهِ رَفْعٌ بِحَيْثُ يُؤْذِي الْآخَرِيْنَ لِأَنَّ الْأَدِلَّةَ أَيْضًا تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمَطْلُوبَ مِنْ قَارِئِ الْقُرْآنِ التَّرْتِيْلُ وَالْمَطْلُوبُ هُوَ التَّغَنِّي وَالْمَطْلُوبُ هُوَ تَحْسِيْنُ الصَّوْتِ وَالْمَطْلُوبُ هُوَ تَزْيِيْنُ الصَّوْتِ بِالتِّلَاوَةِ هَذِهِ كُلُّهَا لَا تَتَحَقَّقُ إِلَّا إِذَا صَحِبَ التِّلَاوَةَ صَوْتٌ
Tapi apakah yang lebih utama membaca al-Quran dengan menggerakkan lisan saja tanpa suaraatau membacanya dengan mengeraskan suara? Sekarang kamu dapat menemukan sebagian orangyang banyak membaca al-Quran, tapi saat ia membaca dari mushaf, kamu tidak mendengar suaranya,padahal ia menggerakkan lisannya. Ini termasuk membaca, dan ia mendapat pahala darinya.Namun, mana yang lebih baik? Membaca hanya dengan menggerakkan lisan, tanpa suaraatau membaca dengan disertai suara? Ya? Bagus! Lebih baik disertai suara,tapi suaranya tidak keras agar tidak mengganggu orang yang ada di kanan dan kirinya. Hal ini karena jika membaca tanpa disertai suara, bagaimana ia dapat memperindah bacaan al-Quran?!Bagaimana ia dapat membaca al-Quran dengan tartil?! Allah Ta’ala berfirman, “Bacalah al-Quran dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4). Bagaimana ia membaca dengan tartil, sedangkan bacaannya tidak bersuara?Ia tidak mengeraskan suaranya saat membaca al-Quran. Bagaimana ia dapat mentartilkannya?Lalu bagaimana juga ia dapat memperindah bacaan al-Quran jika tanpa suara?Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan golongan kami, orang yang tidak memperindah bacaan al-Quran.” (HR. Bukhari) Dalam hadis lain disebutkan, “Hiasilah al-Quran dengan suara kalian!” (HR. Abu Daud)Bagaimana ia dapat memperindah bacaan?Selain itu, para malaikat juga menyimak orang yang membaca al-Quran. Mereka menyimak bacaannya, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih.Bagaimana mereka akan mendengarkannya, sedangkan ia tidak mengeraskan suaranya?! Jadi, yang lebih baik adalah mengangkat suaranya sedikitdengan kadar yang tidak mengganggu orang yang ada di kanan dan kirinya.Jadi, ada dua golongan berlebihan dan satu golongan pertengahan. Ada sebagian orang yang tidak terdengar suaranya saat membaca al-Quran.Orang ini melewatkan keutamaan membaca dengan tartil dan memperindah suara,serta beberapa sunah lain yang ada dalam membaca al-Quran. Sebaliknya, ada orang yang mengeraskan suaranya sehingga mengganggu orang-orang yang salat di sekitarnya.Ini juga salah,karena dapat mengganggu kaum Muslimin. Yang seharusnya adalah mengeraskan suaranya dengan kadar yang tidak mengganggu orang di sekitarnya.Ya?Hadis, “Orang yang membaca al-Quran dengan pelan seperti orang sedekah secara rahasia; dan orang yang membaca dengan keras seperti orang yang sedekah terang-terangan.” (HR. An-Nasai) Pertama, sanadnya diperselisihkan, sebagian ulama menganggapnya lemah.Seandainya itu sahih, maka makna membaca dengan pelan yakni dengan suara yang tidak keras. Bacaannya tidak keras sekali sehingga dapat mengganggu orang lain.Karena dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa yang dituntut dari pembaca al-Quran adalah tartil. Yang diminta darinya adalah melagukan dan membaguskan suara.Yang diminta darinya adalah memperindah suara saat membaca.Ini semua tidak dapat tercapai kecuali jika ia membaca dengan disertai suara. ==== لَكِنْ هَلِ الْأَفْضَلُ أَنْ يَقْرَأَ بِتَحْرِيكِ اللِّسَانِ مِنْ غَيْرِ صَوْتٍ أَوْ أَنْ يَقْرَأَ مَعَ رَفْعِ الصَّوْتِ؟ الْآنَ يَعْنِي تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ كَثِيرَ الْقِرَاءَةِ لِلْقُرْآنِ لَكِنْ مَعَ الْمُصْحَفِ مَا تَسْمَعُ الصَّوْتَ وَهُوَ يُحَرِّكُ لِسَانَهُ هَذِهِ تُعْتَبَرُ قِرَاءَةً وَيُؤْجَرُ عَلَيْهَا لَكِنْ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ؟ أَنْ يَقْرَأَ مُحَرِّكَ اللِّسَانِ مِنْ غَيْرِ صَوْتٍ أَوْ يَصْحَبُ هَذِهِ الْقِرَاءَةَ الصَّوْتُ نَعَمْ؟ أَحْسَنْتَ يَصْحَبُهَا صَوْتٌ لَكِنْ يَكُونُ الصَّوْتُ غَيْرَ مُرْتَفِعٍ بِحَيْثُ يُؤْذِيْ مَنْ عَنْ يَمِينِهِ وَيَسَارِهِ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يَصْحَبْهَا صَوْتٌ كَيْفَ يَكُونُ التَّغَنِّي بِالْقُرْآنِ؟ كَيْفَ يَكُونُ تَرْتِيلُ الْقُرْآنِ؟ وَاللهُ تَعَالَى يَقُولُ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا كَيْفَ يُرَتِّلُ الْقُرْآنَ وَهُوَ لَيْسَ عِنْدَهُ الصَّوْتُ عِنْدَ التِّلَاوَةِ مَا يَرْفَعُ صَوْتَهُ عِنْدَ التِّلَاوَةِ كَيْف يُرَتِّلُ الْقُرْآنَ عِنْدَ التِّلَاوَةِ؟ ثُمَّ أَيْضًا كَيْفَ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِ صَوْتٍ؟ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ الْحَدِيثُ الْآخَرُ زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ كَيْفَ يَكُونُ التَّغَنِّي؟ ثُمَّ أَيْضًا الْمَلَائِكَةُ تَسْتَمِعُ لِمَنْ يَتْلُو الْقُرْآنَ تَسْتَمِعُ لَهُ كَمَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ فَكَيْفَ تَسْتَمِعُ لَهُ وَهُوَ لَمْ يَرْفَعْ صَوْتَهُ؟ فَالْأَفْضَلُ أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ قَلِيلًا بِالْقَدْرِ الَّذِي لَا يُشَوِّشُ عَلَى مَنْ عَنْ يَمِينِهِ وَيَسَارِهِ فَيَعْنِي هُنَاكَ طَرَفَانِ وَوَسَطٌ هُنَاكَ بَعْضُ النَّاسِ لَا تَسْمَعُ لَهُ صَوْتًا وَهَذَا يَفُوتُهُ التَّرْتِيْلُ وَالتَّغَنِّي وَيَعْنِي بَعْضُ السُّنَنِ الْوَارِدَةِ فِي التِّلَاوَةِ وَعَلَى عَكْسِهِمْ مَنْ يَرْفَعُ صَوْتَهُ رَفْعًا يُؤْذِيَ مَنْ حَوْلَهُ مِنَ الْمُصَلِّينَ هَذَا أَيْضًا خَطَأٌ لِأَنَّ هَذِهِ فِيهِ أَذِيَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمَطْلُوبُ أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ بِالْقَدْرِ الَّذِي لَا يُؤْذِي مَنْ حَوْلَهُ نَعَمْ؟ حَدِيثُ الْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ وَالْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ أَوَّلًا فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يُضَعِّفُهُ وَلَوْ ثَبَتَ فَالْمَقْصُودُ أَنَّهُ يُسِرُّ يَعْنِي بِصَوْتٍ لَا يَرْفَعُ لَيْسَ فِيهِ رَفْعٌ لَيْسَ فِيهِ رَفْعٌ بِحَيْثُ يُؤْذِي الْآخَرِيْنَ لِأَنَّ الْأَدِلَّةَ أَيْضًا تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمَطْلُوبَ مِنْ قَارِئِ الْقُرْآنِ التَّرْتِيْلُ وَالْمَطْلُوبُ هُوَ التَّغَنِّي وَالْمَطْلُوبُ هُوَ تَحْسِيْنُ الصَّوْتِ وَالْمَطْلُوبُ هُوَ تَزْيِيْنُ الصَّوْتِ بِالتِّلَاوَةِ هَذِهِ كُلُّهَا لَا تَتَحَقَّقُ إِلَّا إِذَا صَحِبَ التِّلَاوَةَ صَوْتٌ


Tapi apakah yang lebih utama membaca al-Quran dengan menggerakkan lisan saja tanpa suaraatau membacanya dengan mengeraskan suara? Sekarang kamu dapat menemukan sebagian orangyang banyak membaca al-Quran, tapi saat ia membaca dari mushaf, kamu tidak mendengar suaranya,padahal ia menggerakkan lisannya. Ini termasuk membaca, dan ia mendapat pahala darinya.Namun, mana yang lebih baik? Membaca hanya dengan menggerakkan lisan, tanpa suaraatau membaca dengan disertai suara? Ya? Bagus! Lebih baik disertai suara,tapi suaranya tidak keras agar tidak mengganggu orang yang ada di kanan dan kirinya. Hal ini karena jika membaca tanpa disertai suara, bagaimana ia dapat memperindah bacaan al-Quran?!Bagaimana ia dapat membaca al-Quran dengan tartil?! Allah Ta’ala berfirman, “Bacalah al-Quran dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4). Bagaimana ia membaca dengan tartil, sedangkan bacaannya tidak bersuara?Ia tidak mengeraskan suaranya saat membaca al-Quran. Bagaimana ia dapat mentartilkannya?Lalu bagaimana juga ia dapat memperindah bacaan al-Quran jika tanpa suara?Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan golongan kami, orang yang tidak memperindah bacaan al-Quran.” (HR. Bukhari) Dalam hadis lain disebutkan, “Hiasilah al-Quran dengan suara kalian!” (HR. Abu Daud)Bagaimana ia dapat memperindah bacaan?Selain itu, para malaikat juga menyimak orang yang membaca al-Quran. Mereka menyimak bacaannya, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih.Bagaimana mereka akan mendengarkannya, sedangkan ia tidak mengeraskan suaranya?! Jadi, yang lebih baik adalah mengangkat suaranya sedikitdengan kadar yang tidak mengganggu orang yang ada di kanan dan kirinya.Jadi, ada dua golongan berlebihan dan satu golongan pertengahan. Ada sebagian orang yang tidak terdengar suaranya saat membaca al-Quran.Orang ini melewatkan keutamaan membaca dengan tartil dan memperindah suara,serta beberapa sunah lain yang ada dalam membaca al-Quran. Sebaliknya, ada orang yang mengeraskan suaranya sehingga mengganggu orang-orang yang salat di sekitarnya.Ini juga salah,karena dapat mengganggu kaum Muslimin. Yang seharusnya adalah mengeraskan suaranya dengan kadar yang tidak mengganggu orang di sekitarnya.Ya?Hadis, “Orang yang membaca al-Quran dengan pelan seperti orang sedekah secara rahasia; dan orang yang membaca dengan keras seperti orang yang sedekah terang-terangan.” (HR. An-Nasai) Pertama, sanadnya diperselisihkan, sebagian ulama menganggapnya lemah.Seandainya itu sahih, maka makna membaca dengan pelan yakni dengan suara yang tidak keras. Bacaannya tidak keras sekali sehingga dapat mengganggu orang lain.Karena dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa yang dituntut dari pembaca al-Quran adalah tartil. Yang diminta darinya adalah melagukan dan membaguskan suara.Yang diminta darinya adalah memperindah suara saat membaca.Ini semua tidak dapat tercapai kecuali jika ia membaca dengan disertai suara. ==== لَكِنْ هَلِ الْأَفْضَلُ أَنْ يَقْرَأَ بِتَحْرِيكِ اللِّسَانِ مِنْ غَيْرِ صَوْتٍ أَوْ أَنْ يَقْرَأَ مَعَ رَفْعِ الصَّوْتِ؟ الْآنَ يَعْنِي تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ كَثِيرَ الْقِرَاءَةِ لِلْقُرْآنِ لَكِنْ مَعَ الْمُصْحَفِ مَا تَسْمَعُ الصَّوْتَ وَهُوَ يُحَرِّكُ لِسَانَهُ هَذِهِ تُعْتَبَرُ قِرَاءَةً وَيُؤْجَرُ عَلَيْهَا لَكِنْ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ؟ أَنْ يَقْرَأَ مُحَرِّكَ اللِّسَانِ مِنْ غَيْرِ صَوْتٍ أَوْ يَصْحَبُ هَذِهِ الْقِرَاءَةَ الصَّوْتُ نَعَمْ؟ أَحْسَنْتَ يَصْحَبُهَا صَوْتٌ لَكِنْ يَكُونُ الصَّوْتُ غَيْرَ مُرْتَفِعٍ بِحَيْثُ يُؤْذِيْ مَنْ عَنْ يَمِينِهِ وَيَسَارِهِ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يَصْحَبْهَا صَوْتٌ كَيْفَ يَكُونُ التَّغَنِّي بِالْقُرْآنِ؟ كَيْفَ يَكُونُ تَرْتِيلُ الْقُرْآنِ؟ وَاللهُ تَعَالَى يَقُولُ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا كَيْفَ يُرَتِّلُ الْقُرْآنَ وَهُوَ لَيْسَ عِنْدَهُ الصَّوْتُ عِنْدَ التِّلَاوَةِ مَا يَرْفَعُ صَوْتَهُ عِنْدَ التِّلَاوَةِ كَيْف يُرَتِّلُ الْقُرْآنَ عِنْدَ التِّلَاوَةِ؟ ثُمَّ أَيْضًا كَيْفَ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِ صَوْتٍ؟ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ الْحَدِيثُ الْآخَرُ زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ كَيْفَ يَكُونُ التَّغَنِّي؟ ثُمَّ أَيْضًا الْمَلَائِكَةُ تَسْتَمِعُ لِمَنْ يَتْلُو الْقُرْآنَ تَسْتَمِعُ لَهُ كَمَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ فَكَيْفَ تَسْتَمِعُ لَهُ وَهُوَ لَمْ يَرْفَعْ صَوْتَهُ؟ فَالْأَفْضَلُ أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ قَلِيلًا بِالْقَدْرِ الَّذِي لَا يُشَوِّشُ عَلَى مَنْ عَنْ يَمِينِهِ وَيَسَارِهِ فَيَعْنِي هُنَاكَ طَرَفَانِ وَوَسَطٌ هُنَاكَ بَعْضُ النَّاسِ لَا تَسْمَعُ لَهُ صَوْتًا وَهَذَا يَفُوتُهُ التَّرْتِيْلُ وَالتَّغَنِّي وَيَعْنِي بَعْضُ السُّنَنِ الْوَارِدَةِ فِي التِّلَاوَةِ وَعَلَى عَكْسِهِمْ مَنْ يَرْفَعُ صَوْتَهُ رَفْعًا يُؤْذِيَ مَنْ حَوْلَهُ مِنَ الْمُصَلِّينَ هَذَا أَيْضًا خَطَأٌ لِأَنَّ هَذِهِ فِيهِ أَذِيَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمَطْلُوبُ أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ بِالْقَدْرِ الَّذِي لَا يُؤْذِي مَنْ حَوْلَهُ نَعَمْ؟ حَدِيثُ الْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ وَالْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ أَوَّلًا فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يُضَعِّفُهُ وَلَوْ ثَبَتَ فَالْمَقْصُودُ أَنَّهُ يُسِرُّ يَعْنِي بِصَوْتٍ لَا يَرْفَعُ لَيْسَ فِيهِ رَفْعٌ لَيْسَ فِيهِ رَفْعٌ بِحَيْثُ يُؤْذِي الْآخَرِيْنَ لِأَنَّ الْأَدِلَّةَ أَيْضًا تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمَطْلُوبَ مِنْ قَارِئِ الْقُرْآنِ التَّرْتِيْلُ وَالْمَطْلُوبُ هُوَ التَّغَنِّي وَالْمَطْلُوبُ هُوَ تَحْسِيْنُ الصَّوْتِ وَالْمَطْلُوبُ هُوَ تَزْيِيْنُ الصَّوْتِ بِالتِّلَاوَةِ هَذِهِ كُلُّهَا لَا تَتَحَقَّقُ إِلَّا إِذَا صَحِبَ التِّلَاوَةَ صَوْتٌ

Aku Harus Jujur – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Wahai muslim, jagalah kejujuran!Terutama jujur kepada Allah,kemudian jujur kepada sesama makhluk. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Kalian harus jujur,karena kejujuran itu membimbing pada keimanan,dan keimanan akan membimbing pada kebaikan.Sungguh, seseorang benar-benar berlaku jujurdan memelihara kejujurannya, hingga tertulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hindarilah kedustaan,karena kedustaan akan menggiring kepada kejahatan,dan kejahatan akan menjerumuskan ke neraka.Sungguh, seseorang benar-benar berdustadan terus-menerus berdusta, hingga ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim) Oleh karena itu, seorang muslim harus berkomitmenterhadap dirinya untuk jujur dalam ​​berbicaradan menjauhi dusta,baik ketika memuji maupun mencaci,atau saat serius maupun bercanda. Semua amalan kita tertulis untuk kita.“Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jadi, seorang muslim harus mengintrospeksi dirinya sendirisebelum dihadapkan pada hari perhitungan (kiamat). ==== الْزَمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُ الصِّدْقَ مَعَ اللهِ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ ثُمَّ مَعَ الْخَلْقِ فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَالْفُجُورُ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا فَلْيَحْرَصْ الْمُسْلِمُ عَلَى أَنْ يَتَعَاهَدَ نَفْسَهُ بِصِدْقِ الْحَدِيثِ وَأَنْ يَتَجَنَّبَ الْكَذِبَ لَا فِي مَدْحٍ وَلَا فِي ذَمٍّ وَلَا فِي جِدٍّ وَلَا فِي هَزْلٍ أَعْمَالُنَا كُلُّهَا مَكْتُوبَةٌ عَلَيْنَا مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ فَلَيَحْرِصْ الْمُسْلِمُ عَلَى أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ قَبْلَ أَنْ يُعْرَضَ عَلَى الْحِسَابِ

Aku Harus Jujur – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Wahai muslim, jagalah kejujuran!Terutama jujur kepada Allah,kemudian jujur kepada sesama makhluk. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Kalian harus jujur,karena kejujuran itu membimbing pada keimanan,dan keimanan akan membimbing pada kebaikan.Sungguh, seseorang benar-benar berlaku jujurdan memelihara kejujurannya, hingga tertulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hindarilah kedustaan,karena kedustaan akan menggiring kepada kejahatan,dan kejahatan akan menjerumuskan ke neraka.Sungguh, seseorang benar-benar berdustadan terus-menerus berdusta, hingga ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim) Oleh karena itu, seorang muslim harus berkomitmenterhadap dirinya untuk jujur dalam ​​berbicaradan menjauhi dusta,baik ketika memuji maupun mencaci,atau saat serius maupun bercanda. Semua amalan kita tertulis untuk kita.“Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jadi, seorang muslim harus mengintrospeksi dirinya sendirisebelum dihadapkan pada hari perhitungan (kiamat). ==== الْزَمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُ الصِّدْقَ مَعَ اللهِ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ ثُمَّ مَعَ الْخَلْقِ فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَالْفُجُورُ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا فَلْيَحْرَصْ الْمُسْلِمُ عَلَى أَنْ يَتَعَاهَدَ نَفْسَهُ بِصِدْقِ الْحَدِيثِ وَأَنْ يَتَجَنَّبَ الْكَذِبَ لَا فِي مَدْحٍ وَلَا فِي ذَمٍّ وَلَا فِي جِدٍّ وَلَا فِي هَزْلٍ أَعْمَالُنَا كُلُّهَا مَكْتُوبَةٌ عَلَيْنَا مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ فَلَيَحْرِصْ الْمُسْلِمُ عَلَى أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ قَبْلَ أَنْ يُعْرَضَ عَلَى الْحِسَابِ
Wahai muslim, jagalah kejujuran!Terutama jujur kepada Allah,kemudian jujur kepada sesama makhluk. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Kalian harus jujur,karena kejujuran itu membimbing pada keimanan,dan keimanan akan membimbing pada kebaikan.Sungguh, seseorang benar-benar berlaku jujurdan memelihara kejujurannya, hingga tertulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hindarilah kedustaan,karena kedustaan akan menggiring kepada kejahatan,dan kejahatan akan menjerumuskan ke neraka.Sungguh, seseorang benar-benar berdustadan terus-menerus berdusta, hingga ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim) Oleh karena itu, seorang muslim harus berkomitmenterhadap dirinya untuk jujur dalam ​​berbicaradan menjauhi dusta,baik ketika memuji maupun mencaci,atau saat serius maupun bercanda. Semua amalan kita tertulis untuk kita.“Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jadi, seorang muslim harus mengintrospeksi dirinya sendirisebelum dihadapkan pada hari perhitungan (kiamat). ==== الْزَمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُ الصِّدْقَ مَعَ اللهِ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ ثُمَّ مَعَ الْخَلْقِ فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَالْفُجُورُ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا فَلْيَحْرَصْ الْمُسْلِمُ عَلَى أَنْ يَتَعَاهَدَ نَفْسَهُ بِصِدْقِ الْحَدِيثِ وَأَنْ يَتَجَنَّبَ الْكَذِبَ لَا فِي مَدْحٍ وَلَا فِي ذَمٍّ وَلَا فِي جِدٍّ وَلَا فِي هَزْلٍ أَعْمَالُنَا كُلُّهَا مَكْتُوبَةٌ عَلَيْنَا مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ فَلَيَحْرِصْ الْمُسْلِمُ عَلَى أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ قَبْلَ أَنْ يُعْرَضَ عَلَى الْحِسَابِ


Wahai muslim, jagalah kejujuran!Terutama jujur kepada Allah,kemudian jujur kepada sesama makhluk. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Kalian harus jujur,karena kejujuran itu membimbing pada keimanan,dan keimanan akan membimbing pada kebaikan.Sungguh, seseorang benar-benar berlaku jujurdan memelihara kejujurannya, hingga tertulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hindarilah kedustaan,karena kedustaan akan menggiring kepada kejahatan,dan kejahatan akan menjerumuskan ke neraka.Sungguh, seseorang benar-benar berdustadan terus-menerus berdusta, hingga ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim) Oleh karena itu, seorang muslim harus berkomitmenterhadap dirinya untuk jujur dalam ​​berbicaradan menjauhi dusta,baik ketika memuji maupun mencaci,atau saat serius maupun bercanda. Semua amalan kita tertulis untuk kita.“Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jadi, seorang muslim harus mengintrospeksi dirinya sendirisebelum dihadapkan pada hari perhitungan (kiamat). ==== الْزَمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُ الصِّدْقَ مَعَ اللهِ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ ثُمَّ مَعَ الْخَلْقِ فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَالْفُجُورُ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا فَلْيَحْرَصْ الْمُسْلِمُ عَلَى أَنْ يَتَعَاهَدَ نَفْسَهُ بِصِدْقِ الْحَدِيثِ وَأَنْ يَتَجَنَّبَ الْكَذِبَ لَا فِي مَدْحٍ وَلَا فِي ذَمٍّ وَلَا فِي جِدٍّ وَلَا فِي هَزْلٍ أَعْمَالُنَا كُلُّهَا مَكْتُوبَةٌ عَلَيْنَا مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ فَلَيَحْرِصْ الْمُسْلِمُ عَلَى أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ قَبْلَ أَنْ يُعْرَضَ عَلَى الْحِسَابِ

Apakah Jin Dapat Menyerupai Manusia – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Ahsanallahu ilaikum. Pertanyaannya: Apakah jin dapat menyerupa sebagai manusia?Mereka dapat menyerupa sebagai manusia, selagi mereka dapat,menyerupa dalam bentuk anjing,atau dalam bentuk ular. Dan inilah yang dijelaskan kepada para sahabat pada…saat Perang Uhud.Ada seorang sahabat dari kaum Anshar yang menikah,lalu hendak pulang ke rumah pada waktu zuhur di suatu hari. Saat sahabat itu sampai, ternyata istrinya—yang merupakan pengantin baru—ada di depan pintu.Maka sahabat itu marah terhadap istrinya.Istrinya berkata, “Jangan terburu-buru marah, lihatlah!”Saat sahabat itu masuk rumah, ternyata ada ular besaryang melingkar di atas kasur. Maka sahabat itu segera menusuknya dengan tombak, saat itu juga.Sehingga tidak diketahui, apakah ular itu yang lebih dahulu mati atau sahabat itu yang wafat terlebih dahulu. Kaum Anshar pun berkata, “Aku berharap kepada Allah, semoga ia masih hidup.”Setelah melihatnya, Nabi berkata, “Adapun sahabat kalian ini telah meninggal.Dan rumah-rumah ini mungkin dihuni oleh ular-ular.Jika kalian melihatnya, maka usirlah ia selama tiga hari. Jika ia masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah ia,karena ia adalah setan.”Jika ia tidak lagi terlihat setelah diusir, (maka tidak perlu dibunuh). Namun yang boleh dibunuh langsung adalah ular yang terputus ekornya dan ular yang punya dua garis hitam di punggungnya,tanpa harus memperingatkannya. Karena sepertinya setan tidak dapat menyerupa sebagaiular yang terputus ekornya dan ular yang punya dua garis hitam di punggungnya. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ هَلِ الْجِنُّ يَتَمَثَّلُونَ عَلَى صُورَةِ الْإِنْسِ؟ هُمْ يَتَمَثَّلُونَ مَا دَامَتْ أَنَّهُم يُمْكِنُ أَنْ يَتَزَيُّوا بِصُورَةِ كَلْبٍ أَوْ بِصُورَةِ أَفْعَى وَهُوَ الَّذِي كَانَ يُبَيِّنُهُ لِلصَّحَابَةِ فِي يَوْمِ أُحُدٍ رَجُلٌ مِنَ الصَّحَابَةِ مِنَ الْأَنْصَارِ تَزَوَّجَ وَأَرَادَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْبَيْتِ ظُهْرًا فِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ فَلَمَّا جَاءَ وَإِذَا بِامْرَأَتِهِ وَهِيَ عَرُوسٌ عِنْدَ بَابِ الْمَنْزِلِ فَغَضِبَ عَلَيْهَا فَقَالَتْ لَا تَعْجَلْ اُنْظُرْ فَلَمَّا دَخَلَ وَإِذَا أَفْعًى كَبِيرَةً الْتَوَتْ عَلَى الْفِرَاشِ فَمَا كَانَ مِنْهُ إِلَّا أَنْ طَعَنَهَا بِالرُّمْحِ فِي الْحَالِ فَلَا يُدْرَى هَلْ مَاتَتِ الأَفْعَى هَذِهِ أَوَّلًا أَمْ هُوَ مَاتَ فِي الْحَالِ صُرِعَ فَقَالَ الْأَنْصَارُ يَعْنِي أَرْجُو اللهَ أَنْ يَحْيَى قَالَ أَمَّا صَاحِبُكُمْ فَقَد مَاتَ يَقُوْلُ النَّبِيُّ لَمَّا رَآهُ وَإِنَّ هَذِهِ الْبُيُوتَ لَهَا جِنَّانٌ يَعْنِي قَدْ يَسْكُنُهَا إِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْهَا فَحَرِّجُوْهُ ثَلَاثًا ثَلَاثَ أَيَّامٍ فَإِنْ ظَهَرَ لَكُمْ بَعْدَهَا فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ الشَّيْطَانُ وَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ يَعْنِي غَابَ عَنْكُمْ بِهَذَا التَّحْرِيْجِ إِلَّا أَنَّ الَّذِي أَذِنَ بِقَتْلِ الْأَبْتَرَ وَذَا الطُّفْيَتَيْنِ وَبِدُونِ التَّحْرِيجِ لِأَنَّهُ مَا يَبْدُو أَنَّ الشَّيَاطِينَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَتَصَوَّرَ بِالْأَبْتَرِ وَلَا بِذِي الطُّفْيَتَيْنِ

Apakah Jin Dapat Menyerupai Manusia – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Ahsanallahu ilaikum. Pertanyaannya: Apakah jin dapat menyerupa sebagai manusia?Mereka dapat menyerupa sebagai manusia, selagi mereka dapat,menyerupa dalam bentuk anjing,atau dalam bentuk ular. Dan inilah yang dijelaskan kepada para sahabat pada…saat Perang Uhud.Ada seorang sahabat dari kaum Anshar yang menikah,lalu hendak pulang ke rumah pada waktu zuhur di suatu hari. Saat sahabat itu sampai, ternyata istrinya—yang merupakan pengantin baru—ada di depan pintu.Maka sahabat itu marah terhadap istrinya.Istrinya berkata, “Jangan terburu-buru marah, lihatlah!”Saat sahabat itu masuk rumah, ternyata ada ular besaryang melingkar di atas kasur. Maka sahabat itu segera menusuknya dengan tombak, saat itu juga.Sehingga tidak diketahui, apakah ular itu yang lebih dahulu mati atau sahabat itu yang wafat terlebih dahulu. Kaum Anshar pun berkata, “Aku berharap kepada Allah, semoga ia masih hidup.”Setelah melihatnya, Nabi berkata, “Adapun sahabat kalian ini telah meninggal.Dan rumah-rumah ini mungkin dihuni oleh ular-ular.Jika kalian melihatnya, maka usirlah ia selama tiga hari. Jika ia masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah ia,karena ia adalah setan.”Jika ia tidak lagi terlihat setelah diusir, (maka tidak perlu dibunuh). Namun yang boleh dibunuh langsung adalah ular yang terputus ekornya dan ular yang punya dua garis hitam di punggungnya,tanpa harus memperingatkannya. Karena sepertinya setan tidak dapat menyerupa sebagaiular yang terputus ekornya dan ular yang punya dua garis hitam di punggungnya. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ هَلِ الْجِنُّ يَتَمَثَّلُونَ عَلَى صُورَةِ الْإِنْسِ؟ هُمْ يَتَمَثَّلُونَ مَا دَامَتْ أَنَّهُم يُمْكِنُ أَنْ يَتَزَيُّوا بِصُورَةِ كَلْبٍ أَوْ بِصُورَةِ أَفْعَى وَهُوَ الَّذِي كَانَ يُبَيِّنُهُ لِلصَّحَابَةِ فِي يَوْمِ أُحُدٍ رَجُلٌ مِنَ الصَّحَابَةِ مِنَ الْأَنْصَارِ تَزَوَّجَ وَأَرَادَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْبَيْتِ ظُهْرًا فِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ فَلَمَّا جَاءَ وَإِذَا بِامْرَأَتِهِ وَهِيَ عَرُوسٌ عِنْدَ بَابِ الْمَنْزِلِ فَغَضِبَ عَلَيْهَا فَقَالَتْ لَا تَعْجَلْ اُنْظُرْ فَلَمَّا دَخَلَ وَإِذَا أَفْعًى كَبِيرَةً الْتَوَتْ عَلَى الْفِرَاشِ فَمَا كَانَ مِنْهُ إِلَّا أَنْ طَعَنَهَا بِالرُّمْحِ فِي الْحَالِ فَلَا يُدْرَى هَلْ مَاتَتِ الأَفْعَى هَذِهِ أَوَّلًا أَمْ هُوَ مَاتَ فِي الْحَالِ صُرِعَ فَقَالَ الْأَنْصَارُ يَعْنِي أَرْجُو اللهَ أَنْ يَحْيَى قَالَ أَمَّا صَاحِبُكُمْ فَقَد مَاتَ يَقُوْلُ النَّبِيُّ لَمَّا رَآهُ وَإِنَّ هَذِهِ الْبُيُوتَ لَهَا جِنَّانٌ يَعْنِي قَدْ يَسْكُنُهَا إِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْهَا فَحَرِّجُوْهُ ثَلَاثًا ثَلَاثَ أَيَّامٍ فَإِنْ ظَهَرَ لَكُمْ بَعْدَهَا فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ الشَّيْطَانُ وَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ يَعْنِي غَابَ عَنْكُمْ بِهَذَا التَّحْرِيْجِ إِلَّا أَنَّ الَّذِي أَذِنَ بِقَتْلِ الْأَبْتَرَ وَذَا الطُّفْيَتَيْنِ وَبِدُونِ التَّحْرِيجِ لِأَنَّهُ مَا يَبْدُو أَنَّ الشَّيَاطِينَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَتَصَوَّرَ بِالْأَبْتَرِ وَلَا بِذِي الطُّفْيَتَيْنِ
Ahsanallahu ilaikum. Pertanyaannya: Apakah jin dapat menyerupa sebagai manusia?Mereka dapat menyerupa sebagai manusia, selagi mereka dapat,menyerupa dalam bentuk anjing,atau dalam bentuk ular. Dan inilah yang dijelaskan kepada para sahabat pada…saat Perang Uhud.Ada seorang sahabat dari kaum Anshar yang menikah,lalu hendak pulang ke rumah pada waktu zuhur di suatu hari. Saat sahabat itu sampai, ternyata istrinya—yang merupakan pengantin baru—ada di depan pintu.Maka sahabat itu marah terhadap istrinya.Istrinya berkata, “Jangan terburu-buru marah, lihatlah!”Saat sahabat itu masuk rumah, ternyata ada ular besaryang melingkar di atas kasur. Maka sahabat itu segera menusuknya dengan tombak, saat itu juga.Sehingga tidak diketahui, apakah ular itu yang lebih dahulu mati atau sahabat itu yang wafat terlebih dahulu. Kaum Anshar pun berkata, “Aku berharap kepada Allah, semoga ia masih hidup.”Setelah melihatnya, Nabi berkata, “Adapun sahabat kalian ini telah meninggal.Dan rumah-rumah ini mungkin dihuni oleh ular-ular.Jika kalian melihatnya, maka usirlah ia selama tiga hari. Jika ia masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah ia,karena ia adalah setan.”Jika ia tidak lagi terlihat setelah diusir, (maka tidak perlu dibunuh). Namun yang boleh dibunuh langsung adalah ular yang terputus ekornya dan ular yang punya dua garis hitam di punggungnya,tanpa harus memperingatkannya. Karena sepertinya setan tidak dapat menyerupa sebagaiular yang terputus ekornya dan ular yang punya dua garis hitam di punggungnya. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ هَلِ الْجِنُّ يَتَمَثَّلُونَ عَلَى صُورَةِ الْإِنْسِ؟ هُمْ يَتَمَثَّلُونَ مَا دَامَتْ أَنَّهُم يُمْكِنُ أَنْ يَتَزَيُّوا بِصُورَةِ كَلْبٍ أَوْ بِصُورَةِ أَفْعَى وَهُوَ الَّذِي كَانَ يُبَيِّنُهُ لِلصَّحَابَةِ فِي يَوْمِ أُحُدٍ رَجُلٌ مِنَ الصَّحَابَةِ مِنَ الْأَنْصَارِ تَزَوَّجَ وَأَرَادَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْبَيْتِ ظُهْرًا فِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ فَلَمَّا جَاءَ وَإِذَا بِامْرَأَتِهِ وَهِيَ عَرُوسٌ عِنْدَ بَابِ الْمَنْزِلِ فَغَضِبَ عَلَيْهَا فَقَالَتْ لَا تَعْجَلْ اُنْظُرْ فَلَمَّا دَخَلَ وَإِذَا أَفْعًى كَبِيرَةً الْتَوَتْ عَلَى الْفِرَاشِ فَمَا كَانَ مِنْهُ إِلَّا أَنْ طَعَنَهَا بِالرُّمْحِ فِي الْحَالِ فَلَا يُدْرَى هَلْ مَاتَتِ الأَفْعَى هَذِهِ أَوَّلًا أَمْ هُوَ مَاتَ فِي الْحَالِ صُرِعَ فَقَالَ الْأَنْصَارُ يَعْنِي أَرْجُو اللهَ أَنْ يَحْيَى قَالَ أَمَّا صَاحِبُكُمْ فَقَد مَاتَ يَقُوْلُ النَّبِيُّ لَمَّا رَآهُ وَإِنَّ هَذِهِ الْبُيُوتَ لَهَا جِنَّانٌ يَعْنِي قَدْ يَسْكُنُهَا إِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْهَا فَحَرِّجُوْهُ ثَلَاثًا ثَلَاثَ أَيَّامٍ فَإِنْ ظَهَرَ لَكُمْ بَعْدَهَا فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ الشَّيْطَانُ وَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ يَعْنِي غَابَ عَنْكُمْ بِهَذَا التَّحْرِيْجِ إِلَّا أَنَّ الَّذِي أَذِنَ بِقَتْلِ الْأَبْتَرَ وَذَا الطُّفْيَتَيْنِ وَبِدُونِ التَّحْرِيجِ لِأَنَّهُ مَا يَبْدُو أَنَّ الشَّيَاطِينَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَتَصَوَّرَ بِالْأَبْتَرِ وَلَا بِذِي الطُّفْيَتَيْنِ


Ahsanallahu ilaikum. Pertanyaannya: Apakah jin dapat menyerupa sebagai manusia?Mereka dapat menyerupa sebagai manusia, selagi mereka dapat,menyerupa dalam bentuk anjing,atau dalam bentuk ular. Dan inilah yang dijelaskan kepada para sahabat pada…saat Perang Uhud.Ada seorang sahabat dari kaum Anshar yang menikah,lalu hendak pulang ke rumah pada waktu zuhur di suatu hari. Saat sahabat itu sampai, ternyata istrinya—yang merupakan pengantin baru—ada di depan pintu.Maka sahabat itu marah terhadap istrinya.Istrinya berkata, “Jangan terburu-buru marah, lihatlah!”Saat sahabat itu masuk rumah, ternyata ada ular besaryang melingkar di atas kasur. Maka sahabat itu segera menusuknya dengan tombak, saat itu juga.Sehingga tidak diketahui, apakah ular itu yang lebih dahulu mati atau sahabat itu yang wafat terlebih dahulu. Kaum Anshar pun berkata, “Aku berharap kepada Allah, semoga ia masih hidup.”Setelah melihatnya, Nabi berkata, “Adapun sahabat kalian ini telah meninggal.Dan rumah-rumah ini mungkin dihuni oleh ular-ular.Jika kalian melihatnya, maka usirlah ia selama tiga hari. Jika ia masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah ia,karena ia adalah setan.”Jika ia tidak lagi terlihat setelah diusir, (maka tidak perlu dibunuh). Namun yang boleh dibunuh langsung adalah ular yang terputus ekornya dan ular yang punya dua garis hitam di punggungnya,tanpa harus memperingatkannya. Karena sepertinya setan tidak dapat menyerupa sebagaiular yang terputus ekornya dan ular yang punya dua garis hitam di punggungnya. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ هَلِ الْجِنُّ يَتَمَثَّلُونَ عَلَى صُورَةِ الْإِنْسِ؟ هُمْ يَتَمَثَّلُونَ مَا دَامَتْ أَنَّهُم يُمْكِنُ أَنْ يَتَزَيُّوا بِصُورَةِ كَلْبٍ أَوْ بِصُورَةِ أَفْعَى وَهُوَ الَّذِي كَانَ يُبَيِّنُهُ لِلصَّحَابَةِ فِي يَوْمِ أُحُدٍ رَجُلٌ مِنَ الصَّحَابَةِ مِنَ الْأَنْصَارِ تَزَوَّجَ وَأَرَادَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْبَيْتِ ظُهْرًا فِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ فَلَمَّا جَاءَ وَإِذَا بِامْرَأَتِهِ وَهِيَ عَرُوسٌ عِنْدَ بَابِ الْمَنْزِلِ فَغَضِبَ عَلَيْهَا فَقَالَتْ لَا تَعْجَلْ اُنْظُرْ فَلَمَّا دَخَلَ وَإِذَا أَفْعًى كَبِيرَةً الْتَوَتْ عَلَى الْفِرَاشِ فَمَا كَانَ مِنْهُ إِلَّا أَنْ طَعَنَهَا بِالرُّمْحِ فِي الْحَالِ فَلَا يُدْرَى هَلْ مَاتَتِ الأَفْعَى هَذِهِ أَوَّلًا أَمْ هُوَ مَاتَ فِي الْحَالِ صُرِعَ فَقَالَ الْأَنْصَارُ يَعْنِي أَرْجُو اللهَ أَنْ يَحْيَى قَالَ أَمَّا صَاحِبُكُمْ فَقَد مَاتَ يَقُوْلُ النَّبِيُّ لَمَّا رَآهُ وَإِنَّ هَذِهِ الْبُيُوتَ لَهَا جِنَّانٌ يَعْنِي قَدْ يَسْكُنُهَا إِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْهَا فَحَرِّجُوْهُ ثَلَاثًا ثَلَاثَ أَيَّامٍ فَإِنْ ظَهَرَ لَكُمْ بَعْدَهَا فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ الشَّيْطَانُ وَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ يَعْنِي غَابَ عَنْكُمْ بِهَذَا التَّحْرِيْجِ إِلَّا أَنَّ الَّذِي أَذِنَ بِقَتْلِ الْأَبْتَرَ وَذَا الطُّفْيَتَيْنِ وَبِدُونِ التَّحْرِيجِ لِأَنَّهُ مَا يَبْدُو أَنَّ الشَّيَاطِينَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَتَصَوَّرَ بِالْأَبْتَرِ وَلَا بِذِي الطُّفْيَتَيْنِ

Fikih Pengurusan Jenazah (4): Persiapan Menguburkan Mayit

Baca pembahasan sebelumnya Fikih Pengurusan Jenazah (3): Mengantarkan Jenazah ke Makam Daftar Isi sembunyikan 1. Hukum menguburkan mayit 2. Waktu pemakaman 3. Larangan duduk sebelum mayit dikuburkan 4. Tempat memakamkan mayit 5. Memindahkan mayit ke daerah lain sebelum dimakamkan 6. Bentuk lubang kuburan Hukum menguburkan mayitMenguburkan mayit hukumya fardhu kifayah. Andaikan ada seorang muslim di suatu daerah meninggal dunia dan tidak ada seorang muslim pun yang menguburkannya, maka seluruh penduduk daerah tersebut berdosa. Namun, ketika sudah ada sebagian muslim yang mencukupi untuk menguburkannya, maka kewajibannya gugur dari kaum muslimin yang lain.Allah Ta’ala berfirman,فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ“Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya” (QS. Al-Maidah: 31)Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ كِفَاتًا أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا“Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul. Bagi orang-orang hidup dan orang-orang mati.” (QS. Al-Mursalat: 25–26)Allah Ta’ala juga berfirman,ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ“Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya.” (QS. ‘Abasa: 21)Ayat-ayat di atas menunjukkan disyariatkannya menguburkan orang yang telah meninggal.Dalam hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اذهبوا، فادْفِنوا صاحِبَكم“Segeralah beranjak dan kuburkan teman kalian itu…!” (HR. Muslim no. 2236)Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang para syuhada,ادفِنوا القَتْلى في مصارِعِهم“Kuburkanlah orang yang terbunuh di tempat mereka berperang.” (HR. Abu Daud no. 3165, At-Tirmidzi no. 1717, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa menguburkan orang yang mati hukumnya wajib. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkannya dengan kalimat perintah. Ibnul Mundzir rahimahullah mengatakan,وأجمعوا على أنَّ دَفْنَ المَيِّت لازِمٌ  واجِبٌ على النَّاسِ لا يَسَعُهم تَرْكُه عند الإمكانِ، ومن قام به منهم سقط فَرْضُ ذلك على سائِرِ المُسلمين“Para ulama ijma’ (sepakat), menguburkan mayit itu wajib. Sehingga wajib bagi orang-orang untuk melakukannya dan tidak boleh meninggalkannya, selama masih memungkinkan. Dan jika sudah ada yang melakukannya, gugur kewajibannya dari kaum muslimin yang lain.” (Al-Ijma‘, hal. 44)BACA JUGA: Bolehkah Perempuan Mengiringi Jenazah?Waktu pemakamanWaktu untuk memakamkan mayit adalah masalah yang longgar. Pada asalnya pemakaman boleh dilakukan kapan pun, dengan berusaha menyegerakan pemakaman mayit dan tidak menundanya tanpa uzur.Namun, para ulama melarang untuk memakamkan mayit pada tiga waktu terlarang sebagaimana waktu terlarang salat. Dalam hadis dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,ثلاثُ ساعاتٍ كان رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم ينهانا أن نُصَلِّيَ فيهنَّ، وأن نَقْبُرَ فيهِنَّ موتانا: حين تَطْلُعُ الشَّمْسُ بازغةً حتى ترتفِعَ، وحين يقومُ قائِمُ الظَّهيرةِ حتى تزولَ، وحين تَضَيَّفُ الشَّمْسُ للغُروبِ“Ada tiga waktu yang dahulu dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk salat dan menguburkan orang meninggal di antara kami. Yaitu, (1) ketika baru saja matahari terbit sampai agak meninggi, (2) ketika matahari tegak lurus sampai sedikit bergeser, dan (3) ketika matahari hampir tenggelam.” (HR. Muslim no. 831)Adapun melakukan pemakaman di malam hari, para ulama empat mazhab membolehkannya. Berdasarkan hadis dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,أنَّ رسولَ الله صلَّى الله عليه وسلَّم، مرَّ بقبرٍ قد دُفِنَ ليلًا، فقال: متى دُفِنَ هذا؟ قالوا: البارحةَ، قال: أفَلَا آذَنْتُموني؟ قالوا: دفنَّاه في ظُلْمَةِ اللَّيلِ، فكَرِهْنا أن نُوقِظَك، فقام، فصَفَفْنا خَلْفَه، قال ابنُ عبَّاس: وأنا فيهم، فصلَّى عليه“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati kuburan yang jenazahnya dikuburkan di malam hari. Beliau bersabda, ‘Kapan ia dikuburkan?’ Para sahabat menjawab, ‘Tadi malam, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Mengapa kalian tidak memberitahu aku?’ Para sahabat menjawab, ‘Tadi malam kami menguburkannya di kegelapan malam. Kami tidak ingin membangunkan Anda, wahai Rasulullah.’ Kemudian Rasulullah berdiri dan menyusunkan dalam saf di belakang beliau. Ibnu Abbas mengatakan, ‘Aku salah satu di antara mereka.’ Kemudian Rasulullah dan para sahabat pun melakukan salat (jenazah) untuknya.” (HR. Bukhari no. 1321, Muslim no. 954)BACA JUGA: Hukum Memakamkan Jenazah di Malam HariLarangan duduk sebelum mayit dikuburkanTerdapat larangan bagi para pengiring jenazah untuk duduk di area pemakaman sebelum mayit dimakamkan. Karena terdapat larangannya dalam hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إذا اتَّبَعْتم جِنازة، فلا تجلسوا حتى تُوضَعَ“Jika kalian mengiringi jenazah, maka jangan duduk sampai ia dimasukkan ke liang kubur.” (HR. Bukhari no. 1310, Muslim no. 959)Dari hadis ini, sebagian ulama mengatakan bahwa duduknya para pengiring jenazah sebelum mayit dimakamkan, hukumnya makruh. Ini pendapat mazhab Hanafi, Hambali, Ibnul Qayyim dan Asy-Syaukani. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syekh Ibnu Baz dan Syekh Ibnu Al-‘Utsaimin.Namun, Malikiyah dan Syafi’iyyah membolehkan hal tersebut berdasarkan dalil hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang bicara tentang tata cara pengurusan jenazah. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,إِنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم قامَ، ثُمَّ قَعَدَ“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri ketika menunggu jenazah, kemudian setelah itu beliau duduk.” (HR. Muslim no. 962)Mereka memaknai perkataan “kemudian setelah itu beliau duduk” sebagai nasakh. Yakni, larangan untuk duduk sebelum mayit dikuburkan telah mansukh (dihapus).Namun, yang lebih berhati-hati adalah memilih pendapat yang pertama, karena perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih didahulukan daripada perbuatan beliau. Demikian juga, tidak duduk sebelum mayit dikuburkan ini lebih memberikan penghormatan kepada mayit. Wallahu a’lam.Tempat memakamkan mayitTempat yang paling utama untuk memakamkan mayit seorang muslim adalah di pemakaman kaum muslimin. Ini adalah pendapat ulama 4 mazhab. Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa memakamkan jenazah kaum muslimin di pemakaman Baqi’. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,حديثُ الدَّفنِ بالبقيعِ صحيحٌ متواتِر“Hadis tentang memakamkan jenazah di Baqi’ statusnya shahih mutawatir.” (Al-Majmu‘, 5: 282)Manfaat yang didapatkan jika jenazah dimakamkan di pemakaman kaum muslimin di antaranya:Pertama: Akan banyak didoakan oleh orang-orang yang berziarah kubur atau melewati pemakaman. (Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 2: 379)Kedua: Menyerupai perkampungan akhirat di mana kaum mukminin semua berkumpul kelak di akhirat. (Syarah Muntahal Iradat karya Al-Buhuti, 1: 376)Ketiga: Lebih sedikit mudaratnya bagi keluarga mayit. (Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 2: 379)Dan pemakaman kaum muslimin hendaknya dipisah dengan pemakaman nonmuslim. Sebagaimana hadis dari Basyir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,بَيْنَمَا أَنَا أُمَاشِي رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَرَّ بِقُبُورِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ : ( لَقَدْ سَبَقَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيرًا ) ثَلاَثًا ، ثُمَّ مَرَّ بِقُبُورِ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ :( لَقَدْ أَدْرَكَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيرًا )“Ketika aku menjadi teman jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami melewati pemakaman kaum musyrikin. Beliau bersabda, ‘Sungguh dahulu (ketika hidup) mereka merasakan banyak kebaikan.’ Beliau katakan ini 3x. Kemudian kami melewati pemakaman kaum muslimin, beliau bersabda, ‘Sungguh mereka sekarang mendapatkan kebaikan yang banyak.’” (HR. Abu Daud no. 3230, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Hadis ini menunjukkan bahwa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat adalah mereka memisahkan pemakaman kaum muslimin dengan pemakaman nonmuslim.Dan ulama sepakat akan hal ini. Dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah disebutkan,اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ دَفْنُ مُسْلِمٍ فِي مَقْبَرَةِ الْكُفَّارِ وَعَكْسُهُ إِلاَّ لِضَرُورَةٍ“Para fuqaha sepakat bahwa diharamkan memakamkan muslim di pemakaman orang kafir atau sebaliknya, kecuali jika darurat.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 19: 21)Jenazah muslim boleh dimakamkan di pemakaman nonmuslim atau pemakaman umum yang tercampur antara muslim dan nonmuslim jika kondisinya darurat. Semisal tidak ada lahan lain, atau lahan pemakaman harus membeli dengan harga mahal, atau pemerintah memaksa untuk dimakamkan di sana.Jumhur ulama dari Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Malikiyah membolehkan untuk memakamkan mayit di rumah.  Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimakamkan di rumah ‘Aisyah. Demikian juga Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma, dimakamkan di samping makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah ‘Aisyah.Namun, yang rajih dan lebih hati-hati adalah pendapat yang melarang memakamkan mayit di rumah. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا تَجْعلوا بُيُوتَكم مقابِرَ“Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan!” (HR. Muslim no. 780)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Wajib memakamkan mayit di pemakaman kaum muslimin, tidak boleh di rumahnya. Adapun Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma dimakamkan di rumah ‘Aisyah karena mereka berdua adalah sahabat yang istimewa bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga pemakaman beliau bertiga di dalam rumah adalah pemakaman yang khusus. Berdasarkan ijtihad dari sebagian sahabat.” (At-Ta’liq ‘ala Riyadhis Shalihin ‘ala Qira’ah, Syekh Muhammad Ilyas, no. 168)BACA JUGA: Hukum Menunda Pemakaman JenazahMemindahkan mayit ke daerah lain sebelum dimakamkanYang paling utama bagi mayit adalah dimakamkan di tempat ia meninggal. Ibnul Munzir rahimahullah mengatakan,يُستَحَبُّ أن يُدْفَنَ المَيِّتُ في البلدِ الذي تُوُفِّيَ فيه، على هذا كان الأمْرُ على عهدِ رسولِ الله صلَّى الله عليه وسلَّم، وعليه عوامُّ أهلِ العِلْمِ، وكذلك تفعلُ العامَّة في عامَّة البلدان“Dianjurkan untuk memakamkan mayit di daerah tempat ia wafat. Itulah yang biasa dilakukan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga keumuman praktek para ulama. Dan ini pula yang dipraktekkan oleh keumuman kaum muslimin di berbagai negeri.” (Al-Ausath, 5: 516)Namun, dibolehkan untuk memindahkan mayit ke daerah lain jika ada kebutuhan. Ini adalah pendapat mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali. Imam Malik rahimahullah mengatakan,إنَّ سعدَ بنَ أبي وقَّاصٍ وسعيدَ بنَ زيدٍ ماتا بالعقيقِ، فحُمِلَا إلى المدينةِ، ودُفِنَا بها“Sa’ad bin Abi Waqqash dan Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma keduanya wafat di Al-‘Aqiq. Namun, kemudian jenazahnya dibawa ke Madinah dan dimakamkan di sana.” (Al-Muwatha’, no. 977)Bentuk lubang kuburanAda dua bentuk lubang kuburan yang biasa digunakan, yaitu syaq dan lahd (lahad). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,اللَّحْدُ: الشَّقُّ فِي جَانِبِ الْقَبْرِ؛ فيَحْفِر في أرضِ القَبْرِ مِمَّا يلي القبلةَ مكانًا يُوضَع المَيِّت فيه. والشَّقُّ هو أن يَحْفِرَ في أرض القَبرِ شقًّا يَضَعُ المَيِّتَ فيه، ويَسْقِفُه عليه بشيءٍ“Lahad adalah lubang yang berada di sisi dinding kuburan. Digali lubang pada dasar kuburan yang menghadap kiblat, untuk tempat diletakkannya mayit. Adapun syaq adalah lubang yang digali pada dasar kuburan, sehingga bisa ditutup dari bagian atasnya.” (Al-Mughni, 2: 371-372)Kesimpulannya, lahad itu dibagian pinggir, sedangkan syaq itu di bagian tengah dari lubang kubur.Ulama 4 mazhab sepakat bahwa lahad lebih utama dari pada syaq. Berdasarkan hadis dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,الْحَدُوا لي لَحْدًا، وانصِبوا عليَّ اللَّبِنَ نَصْبًا، كما صُنِعَ برسولِ الله صلَّى الله عليه وسلَّم“(Jika aku meninggal), buatlah liang lahad untukku, dan tegakkanlah di atasku batu bata. Sebagaimana yang dilakukan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim no. 966).Wallahu a’lam.BACA JUGA: Fikih Pengurusan Jenazah (2): Shalat Jenazah ***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.idTags: doa untuk jenazahfikihfikih jenazahfikih pengurusan jenazahjenazahmemandikan jenazahmengubur jenazahmenguburkan jenazahshalat jenazahshalat jenazah 0

Fikih Pengurusan Jenazah (4): Persiapan Menguburkan Mayit

Baca pembahasan sebelumnya Fikih Pengurusan Jenazah (3): Mengantarkan Jenazah ke Makam Daftar Isi sembunyikan 1. Hukum menguburkan mayit 2. Waktu pemakaman 3. Larangan duduk sebelum mayit dikuburkan 4. Tempat memakamkan mayit 5. Memindahkan mayit ke daerah lain sebelum dimakamkan 6. Bentuk lubang kuburan Hukum menguburkan mayitMenguburkan mayit hukumya fardhu kifayah. Andaikan ada seorang muslim di suatu daerah meninggal dunia dan tidak ada seorang muslim pun yang menguburkannya, maka seluruh penduduk daerah tersebut berdosa. Namun, ketika sudah ada sebagian muslim yang mencukupi untuk menguburkannya, maka kewajibannya gugur dari kaum muslimin yang lain.Allah Ta’ala berfirman,فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ“Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya” (QS. Al-Maidah: 31)Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ كِفَاتًا أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا“Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul. Bagi orang-orang hidup dan orang-orang mati.” (QS. Al-Mursalat: 25–26)Allah Ta’ala juga berfirman,ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ“Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya.” (QS. ‘Abasa: 21)Ayat-ayat di atas menunjukkan disyariatkannya menguburkan orang yang telah meninggal.Dalam hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اذهبوا، فادْفِنوا صاحِبَكم“Segeralah beranjak dan kuburkan teman kalian itu…!” (HR. Muslim no. 2236)Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang para syuhada,ادفِنوا القَتْلى في مصارِعِهم“Kuburkanlah orang yang terbunuh di tempat mereka berperang.” (HR. Abu Daud no. 3165, At-Tirmidzi no. 1717, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa menguburkan orang yang mati hukumnya wajib. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkannya dengan kalimat perintah. Ibnul Mundzir rahimahullah mengatakan,وأجمعوا على أنَّ دَفْنَ المَيِّت لازِمٌ  واجِبٌ على النَّاسِ لا يَسَعُهم تَرْكُه عند الإمكانِ، ومن قام به منهم سقط فَرْضُ ذلك على سائِرِ المُسلمين“Para ulama ijma’ (sepakat), menguburkan mayit itu wajib. Sehingga wajib bagi orang-orang untuk melakukannya dan tidak boleh meninggalkannya, selama masih memungkinkan. Dan jika sudah ada yang melakukannya, gugur kewajibannya dari kaum muslimin yang lain.” (Al-Ijma‘, hal. 44)BACA JUGA: Bolehkah Perempuan Mengiringi Jenazah?Waktu pemakamanWaktu untuk memakamkan mayit adalah masalah yang longgar. Pada asalnya pemakaman boleh dilakukan kapan pun, dengan berusaha menyegerakan pemakaman mayit dan tidak menundanya tanpa uzur.Namun, para ulama melarang untuk memakamkan mayit pada tiga waktu terlarang sebagaimana waktu terlarang salat. Dalam hadis dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,ثلاثُ ساعاتٍ كان رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم ينهانا أن نُصَلِّيَ فيهنَّ، وأن نَقْبُرَ فيهِنَّ موتانا: حين تَطْلُعُ الشَّمْسُ بازغةً حتى ترتفِعَ، وحين يقومُ قائِمُ الظَّهيرةِ حتى تزولَ، وحين تَضَيَّفُ الشَّمْسُ للغُروبِ“Ada tiga waktu yang dahulu dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk salat dan menguburkan orang meninggal di antara kami. Yaitu, (1) ketika baru saja matahari terbit sampai agak meninggi, (2) ketika matahari tegak lurus sampai sedikit bergeser, dan (3) ketika matahari hampir tenggelam.” (HR. Muslim no. 831)Adapun melakukan pemakaman di malam hari, para ulama empat mazhab membolehkannya. Berdasarkan hadis dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,أنَّ رسولَ الله صلَّى الله عليه وسلَّم، مرَّ بقبرٍ قد دُفِنَ ليلًا، فقال: متى دُفِنَ هذا؟ قالوا: البارحةَ، قال: أفَلَا آذَنْتُموني؟ قالوا: دفنَّاه في ظُلْمَةِ اللَّيلِ، فكَرِهْنا أن نُوقِظَك، فقام، فصَفَفْنا خَلْفَه، قال ابنُ عبَّاس: وأنا فيهم، فصلَّى عليه“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati kuburan yang jenazahnya dikuburkan di malam hari. Beliau bersabda, ‘Kapan ia dikuburkan?’ Para sahabat menjawab, ‘Tadi malam, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Mengapa kalian tidak memberitahu aku?’ Para sahabat menjawab, ‘Tadi malam kami menguburkannya di kegelapan malam. Kami tidak ingin membangunkan Anda, wahai Rasulullah.’ Kemudian Rasulullah berdiri dan menyusunkan dalam saf di belakang beliau. Ibnu Abbas mengatakan, ‘Aku salah satu di antara mereka.’ Kemudian Rasulullah dan para sahabat pun melakukan salat (jenazah) untuknya.” (HR. Bukhari no. 1321, Muslim no. 954)BACA JUGA: Hukum Memakamkan Jenazah di Malam HariLarangan duduk sebelum mayit dikuburkanTerdapat larangan bagi para pengiring jenazah untuk duduk di area pemakaman sebelum mayit dimakamkan. Karena terdapat larangannya dalam hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إذا اتَّبَعْتم جِنازة، فلا تجلسوا حتى تُوضَعَ“Jika kalian mengiringi jenazah, maka jangan duduk sampai ia dimasukkan ke liang kubur.” (HR. Bukhari no. 1310, Muslim no. 959)Dari hadis ini, sebagian ulama mengatakan bahwa duduknya para pengiring jenazah sebelum mayit dimakamkan, hukumnya makruh. Ini pendapat mazhab Hanafi, Hambali, Ibnul Qayyim dan Asy-Syaukani. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syekh Ibnu Baz dan Syekh Ibnu Al-‘Utsaimin.Namun, Malikiyah dan Syafi’iyyah membolehkan hal tersebut berdasarkan dalil hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang bicara tentang tata cara pengurusan jenazah. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,إِنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم قامَ، ثُمَّ قَعَدَ“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri ketika menunggu jenazah, kemudian setelah itu beliau duduk.” (HR. Muslim no. 962)Mereka memaknai perkataan “kemudian setelah itu beliau duduk” sebagai nasakh. Yakni, larangan untuk duduk sebelum mayit dikuburkan telah mansukh (dihapus).Namun, yang lebih berhati-hati adalah memilih pendapat yang pertama, karena perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih didahulukan daripada perbuatan beliau. Demikian juga, tidak duduk sebelum mayit dikuburkan ini lebih memberikan penghormatan kepada mayit. Wallahu a’lam.Tempat memakamkan mayitTempat yang paling utama untuk memakamkan mayit seorang muslim adalah di pemakaman kaum muslimin. Ini adalah pendapat ulama 4 mazhab. Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa memakamkan jenazah kaum muslimin di pemakaman Baqi’. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,حديثُ الدَّفنِ بالبقيعِ صحيحٌ متواتِر“Hadis tentang memakamkan jenazah di Baqi’ statusnya shahih mutawatir.” (Al-Majmu‘, 5: 282)Manfaat yang didapatkan jika jenazah dimakamkan di pemakaman kaum muslimin di antaranya:Pertama: Akan banyak didoakan oleh orang-orang yang berziarah kubur atau melewati pemakaman. (Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 2: 379)Kedua: Menyerupai perkampungan akhirat di mana kaum mukminin semua berkumpul kelak di akhirat. (Syarah Muntahal Iradat karya Al-Buhuti, 1: 376)Ketiga: Lebih sedikit mudaratnya bagi keluarga mayit. (Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 2: 379)Dan pemakaman kaum muslimin hendaknya dipisah dengan pemakaman nonmuslim. Sebagaimana hadis dari Basyir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,بَيْنَمَا أَنَا أُمَاشِي رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَرَّ بِقُبُورِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ : ( لَقَدْ سَبَقَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيرًا ) ثَلاَثًا ، ثُمَّ مَرَّ بِقُبُورِ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ :( لَقَدْ أَدْرَكَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيرًا )“Ketika aku menjadi teman jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami melewati pemakaman kaum musyrikin. Beliau bersabda, ‘Sungguh dahulu (ketika hidup) mereka merasakan banyak kebaikan.’ Beliau katakan ini 3x. Kemudian kami melewati pemakaman kaum muslimin, beliau bersabda, ‘Sungguh mereka sekarang mendapatkan kebaikan yang banyak.’” (HR. Abu Daud no. 3230, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Hadis ini menunjukkan bahwa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat adalah mereka memisahkan pemakaman kaum muslimin dengan pemakaman nonmuslim.Dan ulama sepakat akan hal ini. Dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah disebutkan,اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ دَفْنُ مُسْلِمٍ فِي مَقْبَرَةِ الْكُفَّارِ وَعَكْسُهُ إِلاَّ لِضَرُورَةٍ“Para fuqaha sepakat bahwa diharamkan memakamkan muslim di pemakaman orang kafir atau sebaliknya, kecuali jika darurat.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 19: 21)Jenazah muslim boleh dimakamkan di pemakaman nonmuslim atau pemakaman umum yang tercampur antara muslim dan nonmuslim jika kondisinya darurat. Semisal tidak ada lahan lain, atau lahan pemakaman harus membeli dengan harga mahal, atau pemerintah memaksa untuk dimakamkan di sana.Jumhur ulama dari Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Malikiyah membolehkan untuk memakamkan mayit di rumah.  Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimakamkan di rumah ‘Aisyah. Demikian juga Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma, dimakamkan di samping makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah ‘Aisyah.Namun, yang rajih dan lebih hati-hati adalah pendapat yang melarang memakamkan mayit di rumah. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا تَجْعلوا بُيُوتَكم مقابِرَ“Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan!” (HR. Muslim no. 780)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Wajib memakamkan mayit di pemakaman kaum muslimin, tidak boleh di rumahnya. Adapun Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma dimakamkan di rumah ‘Aisyah karena mereka berdua adalah sahabat yang istimewa bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga pemakaman beliau bertiga di dalam rumah adalah pemakaman yang khusus. Berdasarkan ijtihad dari sebagian sahabat.” (At-Ta’liq ‘ala Riyadhis Shalihin ‘ala Qira’ah, Syekh Muhammad Ilyas, no. 168)BACA JUGA: Hukum Menunda Pemakaman JenazahMemindahkan mayit ke daerah lain sebelum dimakamkanYang paling utama bagi mayit adalah dimakamkan di tempat ia meninggal. Ibnul Munzir rahimahullah mengatakan,يُستَحَبُّ أن يُدْفَنَ المَيِّتُ في البلدِ الذي تُوُفِّيَ فيه، على هذا كان الأمْرُ على عهدِ رسولِ الله صلَّى الله عليه وسلَّم، وعليه عوامُّ أهلِ العِلْمِ، وكذلك تفعلُ العامَّة في عامَّة البلدان“Dianjurkan untuk memakamkan mayit di daerah tempat ia wafat. Itulah yang biasa dilakukan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga keumuman praktek para ulama. Dan ini pula yang dipraktekkan oleh keumuman kaum muslimin di berbagai negeri.” (Al-Ausath, 5: 516)Namun, dibolehkan untuk memindahkan mayit ke daerah lain jika ada kebutuhan. Ini adalah pendapat mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali. Imam Malik rahimahullah mengatakan,إنَّ سعدَ بنَ أبي وقَّاصٍ وسعيدَ بنَ زيدٍ ماتا بالعقيقِ، فحُمِلَا إلى المدينةِ، ودُفِنَا بها“Sa’ad bin Abi Waqqash dan Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma keduanya wafat di Al-‘Aqiq. Namun, kemudian jenazahnya dibawa ke Madinah dan dimakamkan di sana.” (Al-Muwatha’, no. 977)Bentuk lubang kuburanAda dua bentuk lubang kuburan yang biasa digunakan, yaitu syaq dan lahd (lahad). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,اللَّحْدُ: الشَّقُّ فِي جَانِبِ الْقَبْرِ؛ فيَحْفِر في أرضِ القَبْرِ مِمَّا يلي القبلةَ مكانًا يُوضَع المَيِّت فيه. والشَّقُّ هو أن يَحْفِرَ في أرض القَبرِ شقًّا يَضَعُ المَيِّتَ فيه، ويَسْقِفُه عليه بشيءٍ“Lahad adalah lubang yang berada di sisi dinding kuburan. Digali lubang pada dasar kuburan yang menghadap kiblat, untuk tempat diletakkannya mayit. Adapun syaq adalah lubang yang digali pada dasar kuburan, sehingga bisa ditutup dari bagian atasnya.” (Al-Mughni, 2: 371-372)Kesimpulannya, lahad itu dibagian pinggir, sedangkan syaq itu di bagian tengah dari lubang kubur.Ulama 4 mazhab sepakat bahwa lahad lebih utama dari pada syaq. Berdasarkan hadis dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,الْحَدُوا لي لَحْدًا، وانصِبوا عليَّ اللَّبِنَ نَصْبًا، كما صُنِعَ برسولِ الله صلَّى الله عليه وسلَّم“(Jika aku meninggal), buatlah liang lahad untukku, dan tegakkanlah di atasku batu bata. Sebagaimana yang dilakukan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim no. 966).Wallahu a’lam.BACA JUGA: Fikih Pengurusan Jenazah (2): Shalat Jenazah ***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.idTags: doa untuk jenazahfikihfikih jenazahfikih pengurusan jenazahjenazahmemandikan jenazahmengubur jenazahmenguburkan jenazahshalat jenazahshalat jenazah 0
Baca pembahasan sebelumnya Fikih Pengurusan Jenazah (3): Mengantarkan Jenazah ke Makam Daftar Isi sembunyikan 1. Hukum menguburkan mayit 2. Waktu pemakaman 3. Larangan duduk sebelum mayit dikuburkan 4. Tempat memakamkan mayit 5. Memindahkan mayit ke daerah lain sebelum dimakamkan 6. Bentuk lubang kuburan Hukum menguburkan mayitMenguburkan mayit hukumya fardhu kifayah. Andaikan ada seorang muslim di suatu daerah meninggal dunia dan tidak ada seorang muslim pun yang menguburkannya, maka seluruh penduduk daerah tersebut berdosa. Namun, ketika sudah ada sebagian muslim yang mencukupi untuk menguburkannya, maka kewajibannya gugur dari kaum muslimin yang lain.Allah Ta’ala berfirman,فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ“Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya” (QS. Al-Maidah: 31)Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ كِفَاتًا أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا“Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul. Bagi orang-orang hidup dan orang-orang mati.” (QS. Al-Mursalat: 25–26)Allah Ta’ala juga berfirman,ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ“Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya.” (QS. ‘Abasa: 21)Ayat-ayat di atas menunjukkan disyariatkannya menguburkan orang yang telah meninggal.Dalam hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اذهبوا، فادْفِنوا صاحِبَكم“Segeralah beranjak dan kuburkan teman kalian itu…!” (HR. Muslim no. 2236)Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang para syuhada,ادفِنوا القَتْلى في مصارِعِهم“Kuburkanlah orang yang terbunuh di tempat mereka berperang.” (HR. Abu Daud no. 3165, At-Tirmidzi no. 1717, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa menguburkan orang yang mati hukumnya wajib. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkannya dengan kalimat perintah. Ibnul Mundzir rahimahullah mengatakan,وأجمعوا على أنَّ دَفْنَ المَيِّت لازِمٌ  واجِبٌ على النَّاسِ لا يَسَعُهم تَرْكُه عند الإمكانِ، ومن قام به منهم سقط فَرْضُ ذلك على سائِرِ المُسلمين“Para ulama ijma’ (sepakat), menguburkan mayit itu wajib. Sehingga wajib bagi orang-orang untuk melakukannya dan tidak boleh meninggalkannya, selama masih memungkinkan. Dan jika sudah ada yang melakukannya, gugur kewajibannya dari kaum muslimin yang lain.” (Al-Ijma‘, hal. 44)BACA JUGA: Bolehkah Perempuan Mengiringi Jenazah?Waktu pemakamanWaktu untuk memakamkan mayit adalah masalah yang longgar. Pada asalnya pemakaman boleh dilakukan kapan pun, dengan berusaha menyegerakan pemakaman mayit dan tidak menundanya tanpa uzur.Namun, para ulama melarang untuk memakamkan mayit pada tiga waktu terlarang sebagaimana waktu terlarang salat. Dalam hadis dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,ثلاثُ ساعاتٍ كان رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم ينهانا أن نُصَلِّيَ فيهنَّ، وأن نَقْبُرَ فيهِنَّ موتانا: حين تَطْلُعُ الشَّمْسُ بازغةً حتى ترتفِعَ، وحين يقومُ قائِمُ الظَّهيرةِ حتى تزولَ، وحين تَضَيَّفُ الشَّمْسُ للغُروبِ“Ada tiga waktu yang dahulu dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk salat dan menguburkan orang meninggal di antara kami. Yaitu, (1) ketika baru saja matahari terbit sampai agak meninggi, (2) ketika matahari tegak lurus sampai sedikit bergeser, dan (3) ketika matahari hampir tenggelam.” (HR. Muslim no. 831)Adapun melakukan pemakaman di malam hari, para ulama empat mazhab membolehkannya. Berdasarkan hadis dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,أنَّ رسولَ الله صلَّى الله عليه وسلَّم، مرَّ بقبرٍ قد دُفِنَ ليلًا، فقال: متى دُفِنَ هذا؟ قالوا: البارحةَ، قال: أفَلَا آذَنْتُموني؟ قالوا: دفنَّاه في ظُلْمَةِ اللَّيلِ، فكَرِهْنا أن نُوقِظَك، فقام، فصَفَفْنا خَلْفَه، قال ابنُ عبَّاس: وأنا فيهم، فصلَّى عليه“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati kuburan yang jenazahnya dikuburkan di malam hari. Beliau bersabda, ‘Kapan ia dikuburkan?’ Para sahabat menjawab, ‘Tadi malam, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Mengapa kalian tidak memberitahu aku?’ Para sahabat menjawab, ‘Tadi malam kami menguburkannya di kegelapan malam. Kami tidak ingin membangunkan Anda, wahai Rasulullah.’ Kemudian Rasulullah berdiri dan menyusunkan dalam saf di belakang beliau. Ibnu Abbas mengatakan, ‘Aku salah satu di antara mereka.’ Kemudian Rasulullah dan para sahabat pun melakukan salat (jenazah) untuknya.” (HR. Bukhari no. 1321, Muslim no. 954)BACA JUGA: Hukum Memakamkan Jenazah di Malam HariLarangan duduk sebelum mayit dikuburkanTerdapat larangan bagi para pengiring jenazah untuk duduk di area pemakaman sebelum mayit dimakamkan. Karena terdapat larangannya dalam hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إذا اتَّبَعْتم جِنازة، فلا تجلسوا حتى تُوضَعَ“Jika kalian mengiringi jenazah, maka jangan duduk sampai ia dimasukkan ke liang kubur.” (HR. Bukhari no. 1310, Muslim no. 959)Dari hadis ini, sebagian ulama mengatakan bahwa duduknya para pengiring jenazah sebelum mayit dimakamkan, hukumnya makruh. Ini pendapat mazhab Hanafi, Hambali, Ibnul Qayyim dan Asy-Syaukani. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syekh Ibnu Baz dan Syekh Ibnu Al-‘Utsaimin.Namun, Malikiyah dan Syafi’iyyah membolehkan hal tersebut berdasarkan dalil hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang bicara tentang tata cara pengurusan jenazah. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,إِنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم قامَ، ثُمَّ قَعَدَ“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri ketika menunggu jenazah, kemudian setelah itu beliau duduk.” (HR. Muslim no. 962)Mereka memaknai perkataan “kemudian setelah itu beliau duduk” sebagai nasakh. Yakni, larangan untuk duduk sebelum mayit dikuburkan telah mansukh (dihapus).Namun, yang lebih berhati-hati adalah memilih pendapat yang pertama, karena perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih didahulukan daripada perbuatan beliau. Demikian juga, tidak duduk sebelum mayit dikuburkan ini lebih memberikan penghormatan kepada mayit. Wallahu a’lam.Tempat memakamkan mayitTempat yang paling utama untuk memakamkan mayit seorang muslim adalah di pemakaman kaum muslimin. Ini adalah pendapat ulama 4 mazhab. Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa memakamkan jenazah kaum muslimin di pemakaman Baqi’. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,حديثُ الدَّفنِ بالبقيعِ صحيحٌ متواتِر“Hadis tentang memakamkan jenazah di Baqi’ statusnya shahih mutawatir.” (Al-Majmu‘, 5: 282)Manfaat yang didapatkan jika jenazah dimakamkan di pemakaman kaum muslimin di antaranya:Pertama: Akan banyak didoakan oleh orang-orang yang berziarah kubur atau melewati pemakaman. (Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 2: 379)Kedua: Menyerupai perkampungan akhirat di mana kaum mukminin semua berkumpul kelak di akhirat. (Syarah Muntahal Iradat karya Al-Buhuti, 1: 376)Ketiga: Lebih sedikit mudaratnya bagi keluarga mayit. (Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 2: 379)Dan pemakaman kaum muslimin hendaknya dipisah dengan pemakaman nonmuslim. Sebagaimana hadis dari Basyir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,بَيْنَمَا أَنَا أُمَاشِي رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَرَّ بِقُبُورِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ : ( لَقَدْ سَبَقَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيرًا ) ثَلاَثًا ، ثُمَّ مَرَّ بِقُبُورِ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ :( لَقَدْ أَدْرَكَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيرًا )“Ketika aku menjadi teman jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami melewati pemakaman kaum musyrikin. Beliau bersabda, ‘Sungguh dahulu (ketika hidup) mereka merasakan banyak kebaikan.’ Beliau katakan ini 3x. Kemudian kami melewati pemakaman kaum muslimin, beliau bersabda, ‘Sungguh mereka sekarang mendapatkan kebaikan yang banyak.’” (HR. Abu Daud no. 3230, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Hadis ini menunjukkan bahwa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat adalah mereka memisahkan pemakaman kaum muslimin dengan pemakaman nonmuslim.Dan ulama sepakat akan hal ini. Dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah disebutkan,اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ دَفْنُ مُسْلِمٍ فِي مَقْبَرَةِ الْكُفَّارِ وَعَكْسُهُ إِلاَّ لِضَرُورَةٍ“Para fuqaha sepakat bahwa diharamkan memakamkan muslim di pemakaman orang kafir atau sebaliknya, kecuali jika darurat.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 19: 21)Jenazah muslim boleh dimakamkan di pemakaman nonmuslim atau pemakaman umum yang tercampur antara muslim dan nonmuslim jika kondisinya darurat. Semisal tidak ada lahan lain, atau lahan pemakaman harus membeli dengan harga mahal, atau pemerintah memaksa untuk dimakamkan di sana.Jumhur ulama dari Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Malikiyah membolehkan untuk memakamkan mayit di rumah.  Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimakamkan di rumah ‘Aisyah. Demikian juga Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma, dimakamkan di samping makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah ‘Aisyah.Namun, yang rajih dan lebih hati-hati adalah pendapat yang melarang memakamkan mayit di rumah. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا تَجْعلوا بُيُوتَكم مقابِرَ“Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan!” (HR. Muslim no. 780)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Wajib memakamkan mayit di pemakaman kaum muslimin, tidak boleh di rumahnya. Adapun Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma dimakamkan di rumah ‘Aisyah karena mereka berdua adalah sahabat yang istimewa bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga pemakaman beliau bertiga di dalam rumah adalah pemakaman yang khusus. Berdasarkan ijtihad dari sebagian sahabat.” (At-Ta’liq ‘ala Riyadhis Shalihin ‘ala Qira’ah, Syekh Muhammad Ilyas, no. 168)BACA JUGA: Hukum Menunda Pemakaman JenazahMemindahkan mayit ke daerah lain sebelum dimakamkanYang paling utama bagi mayit adalah dimakamkan di tempat ia meninggal. Ibnul Munzir rahimahullah mengatakan,يُستَحَبُّ أن يُدْفَنَ المَيِّتُ في البلدِ الذي تُوُفِّيَ فيه، على هذا كان الأمْرُ على عهدِ رسولِ الله صلَّى الله عليه وسلَّم، وعليه عوامُّ أهلِ العِلْمِ، وكذلك تفعلُ العامَّة في عامَّة البلدان“Dianjurkan untuk memakamkan mayit di daerah tempat ia wafat. Itulah yang biasa dilakukan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga keumuman praktek para ulama. Dan ini pula yang dipraktekkan oleh keumuman kaum muslimin di berbagai negeri.” (Al-Ausath, 5: 516)Namun, dibolehkan untuk memindahkan mayit ke daerah lain jika ada kebutuhan. Ini adalah pendapat mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali. Imam Malik rahimahullah mengatakan,إنَّ سعدَ بنَ أبي وقَّاصٍ وسعيدَ بنَ زيدٍ ماتا بالعقيقِ، فحُمِلَا إلى المدينةِ، ودُفِنَا بها“Sa’ad bin Abi Waqqash dan Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma keduanya wafat di Al-‘Aqiq. Namun, kemudian jenazahnya dibawa ke Madinah dan dimakamkan di sana.” (Al-Muwatha’, no. 977)Bentuk lubang kuburanAda dua bentuk lubang kuburan yang biasa digunakan, yaitu syaq dan lahd (lahad). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,اللَّحْدُ: الشَّقُّ فِي جَانِبِ الْقَبْرِ؛ فيَحْفِر في أرضِ القَبْرِ مِمَّا يلي القبلةَ مكانًا يُوضَع المَيِّت فيه. والشَّقُّ هو أن يَحْفِرَ في أرض القَبرِ شقًّا يَضَعُ المَيِّتَ فيه، ويَسْقِفُه عليه بشيءٍ“Lahad adalah lubang yang berada di sisi dinding kuburan. Digali lubang pada dasar kuburan yang menghadap kiblat, untuk tempat diletakkannya mayit. Adapun syaq adalah lubang yang digali pada dasar kuburan, sehingga bisa ditutup dari bagian atasnya.” (Al-Mughni, 2: 371-372)Kesimpulannya, lahad itu dibagian pinggir, sedangkan syaq itu di bagian tengah dari lubang kubur.Ulama 4 mazhab sepakat bahwa lahad lebih utama dari pada syaq. Berdasarkan hadis dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,الْحَدُوا لي لَحْدًا، وانصِبوا عليَّ اللَّبِنَ نَصْبًا، كما صُنِعَ برسولِ الله صلَّى الله عليه وسلَّم“(Jika aku meninggal), buatlah liang lahad untukku, dan tegakkanlah di atasku batu bata. Sebagaimana yang dilakukan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim no. 966).Wallahu a’lam.BACA JUGA: Fikih Pengurusan Jenazah (2): Shalat Jenazah ***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.idTags: doa untuk jenazahfikihfikih jenazahfikih pengurusan jenazahjenazahmemandikan jenazahmengubur jenazahmenguburkan jenazahshalat jenazahshalat jenazah 0


Baca pembahasan sebelumnya Fikih Pengurusan Jenazah (3): Mengantarkan Jenazah ke Makam Daftar Isi sembunyikan 1. Hukum menguburkan mayit 2. Waktu pemakaman 3. Larangan duduk sebelum mayit dikuburkan 4. Tempat memakamkan mayit 5. Memindahkan mayit ke daerah lain sebelum dimakamkan 6. Bentuk lubang kuburan Hukum menguburkan mayitMenguburkan mayit hukumya fardhu kifayah. Andaikan ada seorang muslim di suatu daerah meninggal dunia dan tidak ada seorang muslim pun yang menguburkannya, maka seluruh penduduk daerah tersebut berdosa. Namun, ketika sudah ada sebagian muslim yang mencukupi untuk menguburkannya, maka kewajibannya gugur dari kaum muslimin yang lain.Allah Ta’ala berfirman,فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ“Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya” (QS. Al-Maidah: 31)Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ كِفَاتًا أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا“Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul. Bagi orang-orang hidup dan orang-orang mati.” (QS. Al-Mursalat: 25–26)Allah Ta’ala juga berfirman,ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ“Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya.” (QS. ‘Abasa: 21)Ayat-ayat di atas menunjukkan disyariatkannya menguburkan orang yang telah meninggal.Dalam hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اذهبوا، فادْفِنوا صاحِبَكم“Segeralah beranjak dan kuburkan teman kalian itu…!” (HR. Muslim no. 2236)Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang para syuhada,ادفِنوا القَتْلى في مصارِعِهم“Kuburkanlah orang yang terbunuh di tempat mereka berperang.” (HR. Abu Daud no. 3165, At-Tirmidzi no. 1717, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa menguburkan orang yang mati hukumnya wajib. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkannya dengan kalimat perintah. Ibnul Mundzir rahimahullah mengatakan,وأجمعوا على أنَّ دَفْنَ المَيِّت لازِمٌ  واجِبٌ على النَّاسِ لا يَسَعُهم تَرْكُه عند الإمكانِ، ومن قام به منهم سقط فَرْضُ ذلك على سائِرِ المُسلمين“Para ulama ijma’ (sepakat), menguburkan mayit itu wajib. Sehingga wajib bagi orang-orang untuk melakukannya dan tidak boleh meninggalkannya, selama masih memungkinkan. Dan jika sudah ada yang melakukannya, gugur kewajibannya dari kaum muslimin yang lain.” (Al-Ijma‘, hal. 44)BACA JUGA: Bolehkah Perempuan Mengiringi Jenazah?Waktu pemakamanWaktu untuk memakamkan mayit adalah masalah yang longgar. Pada asalnya pemakaman boleh dilakukan kapan pun, dengan berusaha menyegerakan pemakaman mayit dan tidak menundanya tanpa uzur.Namun, para ulama melarang untuk memakamkan mayit pada tiga waktu terlarang sebagaimana waktu terlarang salat. Dalam hadis dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,ثلاثُ ساعاتٍ كان رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم ينهانا أن نُصَلِّيَ فيهنَّ، وأن نَقْبُرَ فيهِنَّ موتانا: حين تَطْلُعُ الشَّمْسُ بازغةً حتى ترتفِعَ، وحين يقومُ قائِمُ الظَّهيرةِ حتى تزولَ، وحين تَضَيَّفُ الشَّمْسُ للغُروبِ“Ada tiga waktu yang dahulu dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk salat dan menguburkan orang meninggal di antara kami. Yaitu, (1) ketika baru saja matahari terbit sampai agak meninggi, (2) ketika matahari tegak lurus sampai sedikit bergeser, dan (3) ketika matahari hampir tenggelam.” (HR. Muslim no. 831)Adapun melakukan pemakaman di malam hari, para ulama empat mazhab membolehkannya. Berdasarkan hadis dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,أنَّ رسولَ الله صلَّى الله عليه وسلَّم، مرَّ بقبرٍ قد دُفِنَ ليلًا، فقال: متى دُفِنَ هذا؟ قالوا: البارحةَ، قال: أفَلَا آذَنْتُموني؟ قالوا: دفنَّاه في ظُلْمَةِ اللَّيلِ، فكَرِهْنا أن نُوقِظَك، فقام، فصَفَفْنا خَلْفَه، قال ابنُ عبَّاس: وأنا فيهم، فصلَّى عليه“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati kuburan yang jenazahnya dikuburkan di malam hari. Beliau bersabda, ‘Kapan ia dikuburkan?’ Para sahabat menjawab, ‘Tadi malam, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Mengapa kalian tidak memberitahu aku?’ Para sahabat menjawab, ‘Tadi malam kami menguburkannya di kegelapan malam. Kami tidak ingin membangunkan Anda, wahai Rasulullah.’ Kemudian Rasulullah berdiri dan menyusunkan dalam saf di belakang beliau. Ibnu Abbas mengatakan, ‘Aku salah satu di antara mereka.’ Kemudian Rasulullah dan para sahabat pun melakukan salat (jenazah) untuknya.” (HR. Bukhari no. 1321, Muslim no. 954)BACA JUGA: Hukum Memakamkan Jenazah di Malam HariLarangan duduk sebelum mayit dikuburkanTerdapat larangan bagi para pengiring jenazah untuk duduk di area pemakaman sebelum mayit dimakamkan. Karena terdapat larangannya dalam hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إذا اتَّبَعْتم جِنازة، فلا تجلسوا حتى تُوضَعَ“Jika kalian mengiringi jenazah, maka jangan duduk sampai ia dimasukkan ke liang kubur.” (HR. Bukhari no. 1310, Muslim no. 959)Dari hadis ini, sebagian ulama mengatakan bahwa duduknya para pengiring jenazah sebelum mayit dimakamkan, hukumnya makruh. Ini pendapat mazhab Hanafi, Hambali, Ibnul Qayyim dan Asy-Syaukani. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syekh Ibnu Baz dan Syekh Ibnu Al-‘Utsaimin.Namun, Malikiyah dan Syafi’iyyah membolehkan hal tersebut berdasarkan dalil hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang bicara tentang tata cara pengurusan jenazah. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,إِنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم قامَ، ثُمَّ قَعَدَ“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri ketika menunggu jenazah, kemudian setelah itu beliau duduk.” (HR. Muslim no. 962)Mereka memaknai perkataan “kemudian setelah itu beliau duduk” sebagai nasakh. Yakni, larangan untuk duduk sebelum mayit dikuburkan telah mansukh (dihapus).Namun, yang lebih berhati-hati adalah memilih pendapat yang pertama, karena perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih didahulukan daripada perbuatan beliau. Demikian juga, tidak duduk sebelum mayit dikuburkan ini lebih memberikan penghormatan kepada mayit. Wallahu a’lam.Tempat memakamkan mayitTempat yang paling utama untuk memakamkan mayit seorang muslim adalah di pemakaman kaum muslimin. Ini adalah pendapat ulama 4 mazhab. Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa memakamkan jenazah kaum muslimin di pemakaman Baqi’. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,حديثُ الدَّفنِ بالبقيعِ صحيحٌ متواتِر“Hadis tentang memakamkan jenazah di Baqi’ statusnya shahih mutawatir.” (Al-Majmu‘, 5: 282)Manfaat yang didapatkan jika jenazah dimakamkan di pemakaman kaum muslimin di antaranya:Pertama: Akan banyak didoakan oleh orang-orang yang berziarah kubur atau melewati pemakaman. (Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 2: 379)Kedua: Menyerupai perkampungan akhirat di mana kaum mukminin semua berkumpul kelak di akhirat. (Syarah Muntahal Iradat karya Al-Buhuti, 1: 376)Ketiga: Lebih sedikit mudaratnya bagi keluarga mayit. (Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 2: 379)Dan pemakaman kaum muslimin hendaknya dipisah dengan pemakaman nonmuslim. Sebagaimana hadis dari Basyir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,بَيْنَمَا أَنَا أُمَاشِي رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَرَّ بِقُبُورِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ : ( لَقَدْ سَبَقَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيرًا ) ثَلاَثًا ، ثُمَّ مَرَّ بِقُبُورِ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ :( لَقَدْ أَدْرَكَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيرًا )“Ketika aku menjadi teman jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami melewati pemakaman kaum musyrikin. Beliau bersabda, ‘Sungguh dahulu (ketika hidup) mereka merasakan banyak kebaikan.’ Beliau katakan ini 3x. Kemudian kami melewati pemakaman kaum muslimin, beliau bersabda, ‘Sungguh mereka sekarang mendapatkan kebaikan yang banyak.’” (HR. Abu Daud no. 3230, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Hadis ini menunjukkan bahwa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat adalah mereka memisahkan pemakaman kaum muslimin dengan pemakaman nonmuslim.Dan ulama sepakat akan hal ini. Dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah disebutkan,اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ دَفْنُ مُسْلِمٍ فِي مَقْبَرَةِ الْكُفَّارِ وَعَكْسُهُ إِلاَّ لِضَرُورَةٍ“Para fuqaha sepakat bahwa diharamkan memakamkan muslim di pemakaman orang kafir atau sebaliknya, kecuali jika darurat.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 19: 21)Jenazah muslim boleh dimakamkan di pemakaman nonmuslim atau pemakaman umum yang tercampur antara muslim dan nonmuslim jika kondisinya darurat. Semisal tidak ada lahan lain, atau lahan pemakaman harus membeli dengan harga mahal, atau pemerintah memaksa untuk dimakamkan di sana.Jumhur ulama dari Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Malikiyah membolehkan untuk memakamkan mayit di rumah.  Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimakamkan di rumah ‘Aisyah. Demikian juga Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma, dimakamkan di samping makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah ‘Aisyah.Namun, yang rajih dan lebih hati-hati adalah pendapat yang melarang memakamkan mayit di rumah. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا تَجْعلوا بُيُوتَكم مقابِرَ“Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan!” (HR. Muslim no. 780)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Wajib memakamkan mayit di pemakaman kaum muslimin, tidak boleh di rumahnya. Adapun Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma dimakamkan di rumah ‘Aisyah karena mereka berdua adalah sahabat yang istimewa bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga pemakaman beliau bertiga di dalam rumah adalah pemakaman yang khusus. Berdasarkan ijtihad dari sebagian sahabat.” (At-Ta’liq ‘ala Riyadhis Shalihin ‘ala Qira’ah, Syekh Muhammad Ilyas, no. 168)BACA JUGA: Hukum Menunda Pemakaman JenazahMemindahkan mayit ke daerah lain sebelum dimakamkanYang paling utama bagi mayit adalah dimakamkan di tempat ia meninggal. Ibnul Munzir rahimahullah mengatakan,يُستَحَبُّ أن يُدْفَنَ المَيِّتُ في البلدِ الذي تُوُفِّيَ فيه، على هذا كان الأمْرُ على عهدِ رسولِ الله صلَّى الله عليه وسلَّم، وعليه عوامُّ أهلِ العِلْمِ، وكذلك تفعلُ العامَّة في عامَّة البلدان“Dianjurkan untuk memakamkan mayit di daerah tempat ia wafat. Itulah yang biasa dilakukan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga keumuman praktek para ulama. Dan ini pula yang dipraktekkan oleh keumuman kaum muslimin di berbagai negeri.” (Al-Ausath, 5: 516)Namun, dibolehkan untuk memindahkan mayit ke daerah lain jika ada kebutuhan. Ini adalah pendapat mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali. Imam Malik rahimahullah mengatakan,إنَّ سعدَ بنَ أبي وقَّاصٍ وسعيدَ بنَ زيدٍ ماتا بالعقيقِ، فحُمِلَا إلى المدينةِ، ودُفِنَا بها“Sa’ad bin Abi Waqqash dan Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma keduanya wafat di Al-‘Aqiq. Namun, kemudian jenazahnya dibawa ke Madinah dan dimakamkan di sana.” (Al-Muwatha’, no. 977)Bentuk lubang kuburanAda dua bentuk lubang kuburan yang biasa digunakan, yaitu syaq dan lahd (lahad). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,اللَّحْدُ: الشَّقُّ فِي جَانِبِ الْقَبْرِ؛ فيَحْفِر في أرضِ القَبْرِ مِمَّا يلي القبلةَ مكانًا يُوضَع المَيِّت فيه. والشَّقُّ هو أن يَحْفِرَ في أرض القَبرِ شقًّا يَضَعُ المَيِّتَ فيه، ويَسْقِفُه عليه بشيءٍ“Lahad adalah lubang yang berada di sisi dinding kuburan. Digali lubang pada dasar kuburan yang menghadap kiblat, untuk tempat diletakkannya mayit. Adapun syaq adalah lubang yang digali pada dasar kuburan, sehingga bisa ditutup dari bagian atasnya.” (Al-Mughni, 2: 371-372)Kesimpulannya, lahad itu dibagian pinggir, sedangkan syaq itu di bagian tengah dari lubang kubur.Ulama 4 mazhab sepakat bahwa lahad lebih utama dari pada syaq. Berdasarkan hadis dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,الْحَدُوا لي لَحْدًا، وانصِبوا عليَّ اللَّبِنَ نَصْبًا، كما صُنِعَ برسولِ الله صلَّى الله عليه وسلَّم“(Jika aku meninggal), buatlah liang lahad untukku, dan tegakkanlah di atasku batu bata. Sebagaimana yang dilakukan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim no. 966).Wallahu a’lam.BACA JUGA: Fikih Pengurusan Jenazah (2): Shalat Jenazah ***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: www.muslim.or.idTags: doa untuk jenazahfikihfikih jenazahfikih pengurusan jenazahjenazahmemandikan jenazahmengubur jenazahmenguburkan jenazahshalat jenazahshalat jenazah 0

Cara Jitu Melatih Akhlak Mulia – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Hulu (permulaan) akhlak terpujidan pangkalnya, sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama,adalah al-Hilm (sabar dan lemah lembut). Sebagian ulama mengatakan bahwa pangkal segala akhlak adalah at-Tawadhu’ (rendah hati).Namun, sebagian lain mengatakan bahwa pangkalnya adalah al-Hilm (sabar dan lemah lembut). Wahai saudara-saudara, salah satu cara terbaik untuk mendapatkan al-Hilm (sabar dan lemah lembut),adalah berusaha bersikap sabar dan lembut, serta membiasakannya. Oleh sebab itu, ketika ditanyakan kepada Ahnaf bin Qais,beliau telah dijadikan perumpamaan untuk al-Hilm (sabar dan lemah lembut),“Benarkah Anda orang yang halim (sabar dan lemah lembut)?”Beliau berkata, “Saya bukan orang yang dan sabar dan lembut, namun berusaha bersabar dan berlemah lembut.” Jadi, al-Hilm adalah dengan berusaha bersikap sabar dan lemah lembut,sebagaimana hadis yang telah lalu, yang diriwayatkan kepada kita. Semakin seseorang berusaha untuk mendapatkan akhlak mulia ini,niscaya jika dia berhasil, maka akhlak-akhlak lainnya akan mengikutinya. Akhlak terpuji lainnya akan tumbuh setelahnya, dari arahandan sikap lembut yang telah seseorang dapatkan.Adapun salah satu sebab terbesar untuk meraihnya adalah dengan berpuasa. Berikut ini adalah sebuah hadis agung untuk Anda, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Puasa adalah perisai, …” (HR. Muslim) yaitu yang menghalangi seseorang dari azab Allah ʿAzza wa Jalla,dan membentenginya dari akhlak-akhlak tercela,karena hadis ini mutlak. Di antara yang menunjukkan makna kedua ini adalah akhir hadisnya.Lihat apa yang beliau sabdakan!“Puasa adalah perisai, …” artinya yang akan menghalangi dan mencegah Anda,yaitu penghalang antara Anda dan akhlak-akhlak tercela. Ini adalah salah satu tafsiran sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,mengingat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah diberi Jawāmiʿ al-Kalim (kalimat ringkas yang padat makna). Beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai,jika seorang dari kalian sedang berpuasa,maka jangan berkata keji, berbuat fasik, atau mencaci maki. Jika ada seseorang yang menghinanya atau mengajak bertikai,hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” (Muttafaqun ‘alaihi)“Jika ada seseorang yang menghinanya atau mengajaknya bertikai,hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” (Muttafaqun ‘alaihi) Maksud sabda beliau, “mengajak bertikai” adalah,para ulama mengatakan, bahwa bertikai, bisa dengan tangan,atau mungkin juga dengan lisan. Istilah ini ada dalam bahasa orang Arab.Sebagian masyarakat di Jazirah Arab masih menyebut “bertengkar” dengan istilah “perang”. Wahai saudara-saudara, dalam hadis ini,Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa seorang Muslim,jika ada seseorang yang berselisih dengannya, lalu mencelanya,disebut mencela jika dilakukan secara zalim, tanpa ada alasan yang benar. Itulah kenapa yang demikian itu tidak ada kisasnya.Dan dia mencela, bukan karena untuk memperingatkan atau menegur. Jadi, itu benar-benar perbuatan zalim dan aniaya.“Jika ada seseorang yang menghinanya atau mengajak bertikai,hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, melalui hadis ini, ingin menjelaskan tiga perkarakepada siapa pun yang mendapatkan sesuatu yang berpotensi menyulut amarahnya,dan membuatnya kehilangan kelembutan sikapnya. Nabi menjelaskan kepadanya tiga perkara:Pertama, jangan membalas perbuatan zalim dengan perbuatan yang semisalnya.Jangan membalas kezaliman dengan kezaliman. Jangan membalas perbuatan aniaya. Hendaknya ia menahan diri.Itu sebabnya Nabi tidak bersabda, “Balas dia!”melainkan bersabda, “… Hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” Kedua, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannyaagar mengatakan, “Aku sedang berpuasa.”Bahkan para ahli Fikih, dan ini merupakan pendapat yang terkenal, dan juga menjadi pendapat pilihan Syekh Taqiyyuddin,bahwa dia dianjurkan untuk mengeraskan ucapannya,yaitu dengan mengangkat suara dan mengatakannya dengan suara yang lantang, sehingga didengar oleh orang yang mencelanya,mengajaknya bertikai, atau menzaliminya,hendaknya dia mengatakan, “Aku sedang berpuasa.” Alasannya, yaitu anjuran mengeraskan suaranya,karena mengucapkan kalimat ini akan menjadi pelajaran untuk dirinya sendiridan peringatan untuk orang lain. Pelajaran untuk dirinya sendiri, “Aku menahan diri, karenamematuhi perintah Allah ʿAzza wa Jalla,dan mengikuti apa yang diarahkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.” Juga peringatan kepada orang lain, bahwa dia menahan diribukan karena tidak mampu, takut, atau lemah,melainkan dia kuat karena Allah ʿAzza wa Jalla. Ketiga, yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini,bagi seorang Muslim, melalui hadis ini,meskipun ini tidak termaktub dalam kitab Sahihain,melainkan ada tambahan yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Sahihnya, bahwa beliau bersabda,“Jika kamu berdiri, maka duduklah!”Tambahan ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam hadis yang sama. Di sini Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa jika seseorang dicela oleh orang lain,atau diajak bertikai, yang mana hal itu pasti akan menyulut amarahnya, dan meningkatkan hasrat untuk berbuat aniaya dalam dirinya,di saat seperti itu, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyuruhnyauntuk duduk jika dia sedang berdiri,atau berbaring jika dia sedang duduk. Disebutkan juga dalam hadis lain,agar dia pergi, lalu berwudu. ==== سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ الْحَسَنَةِ وَمَرَدُّهَا كَمَا ذَكَرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَيْهِ وَهُوَ الْحِلْمُ فَإِنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ: إِنَّ سَيِّدَ الْأَخْلَاقِ التَّوَاضُعُ وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ: إِنَّ سَيِّدَ الْأَخْلَاقِ الْحِلْمُ الْحِلْمُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُكْسِبُهُ التَّحَلُّمُ وَالتَّعَوُّدُ عَلَيْهِ وَلِذَا قِيلَ لِأَحْنَفَ بْنِ قَيسٍ وَقَدْ كَانَ يُضْرَبُ بِهِ الْمَثَلُ فِي الْحِلْمِ هَلْ أَنْتَ حَلِيمٌ؟ قَالَ: لَسْتُ حَلِيمًا وَإِنَّمَا أَتَحَلَّمُ إِذَنِ الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ كَمَا رُوِيْنَا فِي الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ وَكُلَّمَا سَعَى الْمَرْءُ فِي الْاِكْتِسَابِ بِهَذَا الْخُلُقِ الْكَرِيمِ الَّذِي مَنِ اكْتَسَبَهُ كَانَتِ الْأَخْلَاقُ تَبَعًا بَعْدَهُ وَكَانَتِ الْأَخْلَاقُ تَأْتِي بَعْدَ ذَلِكَ فِي سَوْقِهِ وَفِي مَجْرَاهُ إِذَا اكْتَسَبَهُ الْمَرْءُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ اكْتِسَابِهِ الصَّوْمُ وَإِلَيْكَ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ أَيْ حَاجِبٌ بَيْنَ الْمَرْءِ وَبَيْنَ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحَاجِبٌ بَيْنَ الْمَرْءِ وَبَيْنَ مَسَاوِئِ الْأَخْلَاقِ كَذَلِكَ إِذِ الْحَدِيثُ مُطْلَقٌ وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْمَعْنَى الثَّانِي تَتِمَّةُ الْحَدِيثِ انْظُرْ مَاذَا قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَحْجُزُكَ وَيَمْنَعُكَ وَيَكُونُ حَاجِزًا بَيْنَكَ وَبَيْنَ مَسَاوِئِ الْأَخْلَاقِ وَهَذَا مِنْ أَحَدِ مَعَانِي كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُوتِيَ جَوَامِعَ الْكَلِمِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَفْسُقْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ قَاتَلَهُ قَالُوا: إِمَّا أَنْ تَكُونَ الْمُقَاتِلَةُ بِالْيَدِ وَقَدْ تَكُونُ الْمُقَاتِلَةُ بِاللِّسَانِ وَهِيَ مُسْتَخْدَمَةٌ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ وَمَا زَالَ بَعْضُ أَبْنَاءِ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ يُسَمُّونَ الْمُحَاجَجَةَ قِتَالًا إِذَنْ أَيُُّهَا الْإِخْوَةُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا اعْتَرَضَ عَلَيْهِ أَحَدٌ فَسَبَّهُ وَالسَّبُّ لَا يَكُونُ إِلَّا بِظُلْمٍ مِنْ غَيْرِ بِمُوجِبٍ وَلِذَا فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ قِصَاصًا وَلَا يَكُونُ مِنْ بَابِ التَّنْبِيهِ وَالتَّصْحِيحِ وَإِنَّمَا هُوَ اعْتِدَاءٌ وَظُلْمٌ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ ثَلَاثَةَ أُمُورٍ لِمَنْ جَاءَهُ أَمْرٌ يَكُونُ مُثِيرًا لِغَضَبِهِ وَسَبَبًا فِي تَرْكِهِ لِحِلْمِهِ بَيَّنَ لَهُ ثَلَاثَةَ أُمُورٍ الْأَمْرَ الْأَوَّلَ أَنْ لَا يَرُدَّ الظُّلْمَ بِمِثْلِهِ وَأَلَّا يَرُدَّ الْاِعْتِدَاءَ بِاعْتِدَاءٍ وَأَلَّا يَرُدَّ الْاِعْتِدَاءَ وَإِنَّمَا يَمْتَنِعُ وَلِذَا لَمْ يَقُلْ: اعْتَدِ عَلَيْهِ وَإِنَّمَا قَالَ: فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالْأَمْرَ الثَّانِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يَقُولَ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ حَتَّى قَالَ فُقَهَاؤُنَا وَهُوَ مَشْهُورُ الْمَذْهَبِ وَاخْتِيَارُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّينِ كَذَلِكَ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَجْهَرَ بِهَا وَأَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ فَلْيَقُلْ بِصَوْتٍ مُرْتَفِعٍ يُسْمِعُ هَذَا الَّذِي سَابَّهُ أَوْ قَاتَلَهُ وَاعْتَدَى عَلَيْهِ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَيْ فِي كَلَامِهِ وَجَهْرِهِ بِلَفْظِهِ أَنَّهُ إِذَا تَكَلَّمَ هَذَا الْكَلَامَ فَإِنَّهُ تَأْدِيبٌ لِنَفْسِهِ وَتَنْبِيهٌ لِغَيْرِهِ فَتَأْدِيبٌ لِنَفْسِهِ أَنَّنِي إِنَّمَا امْتَنَعْتُ امْتِثَالًا لِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَامْتِثَالًا لِمَا أَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَنْبِيهٌ لِغِيْرِهِ أَنَّ هَذَا الْاِمْتِنَاعَ لَيْسَ عَجْزًا وَلَا خَوَرًا وَلَا ضَعْفًا وَإِنَّمَا هُوَ سَبَبُ قُوَّةٍ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْأَمْرَ الثَّالِثَ الَّذِي بَيَّنَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ لِلْمُسْلِمِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِ صَحِيحٍ وَإِنَّمَا جَاءَ عِنْدَ ابْنِ خُزَيمَةَ فِي صَحِيحِهِ زِيَادَةٌ قَالَ وَإِنْ كُنْتَ قَائِمًا فَاجْلِسْ وَهَذِهِ الزِّيَادَةُ عِنْدَ ابْنِ خُزَيمَةَ فِي نَفْسِ الْحَدِيثِ فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلَا بُدَّ وَأَنْ يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبٌ فِي مَبَادِي غَضَبِهِ وَفِي ارْتِفَاعِ سُؤْرَةِ الدَّافِعِ لِلظُّلْمِ عِنْدَهُ فَحِينَئِذٍ أَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَجْلِسَ إِنْ كَانَ قَائِمًا وَإِنْ كَانَ جَالِسًا فَلْيَضْطَجِعْ وَقَدْ جَاءَ فِي غَيْرِ هَذَا الْحَدِيثِ أَنْ يَقُومَ وَأَنْ يَتَوَضَّأَ

Cara Jitu Melatih Akhlak Mulia – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Hulu (permulaan) akhlak terpujidan pangkalnya, sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama,adalah al-Hilm (sabar dan lemah lembut). Sebagian ulama mengatakan bahwa pangkal segala akhlak adalah at-Tawadhu’ (rendah hati).Namun, sebagian lain mengatakan bahwa pangkalnya adalah al-Hilm (sabar dan lemah lembut). Wahai saudara-saudara, salah satu cara terbaik untuk mendapatkan al-Hilm (sabar dan lemah lembut),adalah berusaha bersikap sabar dan lembut, serta membiasakannya. Oleh sebab itu, ketika ditanyakan kepada Ahnaf bin Qais,beliau telah dijadikan perumpamaan untuk al-Hilm (sabar dan lemah lembut),“Benarkah Anda orang yang halim (sabar dan lemah lembut)?”Beliau berkata, “Saya bukan orang yang dan sabar dan lembut, namun berusaha bersabar dan berlemah lembut.” Jadi, al-Hilm adalah dengan berusaha bersikap sabar dan lemah lembut,sebagaimana hadis yang telah lalu, yang diriwayatkan kepada kita. Semakin seseorang berusaha untuk mendapatkan akhlak mulia ini,niscaya jika dia berhasil, maka akhlak-akhlak lainnya akan mengikutinya. Akhlak terpuji lainnya akan tumbuh setelahnya, dari arahandan sikap lembut yang telah seseorang dapatkan.Adapun salah satu sebab terbesar untuk meraihnya adalah dengan berpuasa. Berikut ini adalah sebuah hadis agung untuk Anda, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Puasa adalah perisai, …” (HR. Muslim) yaitu yang menghalangi seseorang dari azab Allah ʿAzza wa Jalla,dan membentenginya dari akhlak-akhlak tercela,karena hadis ini mutlak. Di antara yang menunjukkan makna kedua ini adalah akhir hadisnya.Lihat apa yang beliau sabdakan!“Puasa adalah perisai, …” artinya yang akan menghalangi dan mencegah Anda,yaitu penghalang antara Anda dan akhlak-akhlak tercela. Ini adalah salah satu tafsiran sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,mengingat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah diberi Jawāmiʿ al-Kalim (kalimat ringkas yang padat makna). Beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai,jika seorang dari kalian sedang berpuasa,maka jangan berkata keji, berbuat fasik, atau mencaci maki. Jika ada seseorang yang menghinanya atau mengajak bertikai,hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” (Muttafaqun ‘alaihi)“Jika ada seseorang yang menghinanya atau mengajaknya bertikai,hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” (Muttafaqun ‘alaihi) Maksud sabda beliau, “mengajak bertikai” adalah,para ulama mengatakan, bahwa bertikai, bisa dengan tangan,atau mungkin juga dengan lisan. Istilah ini ada dalam bahasa orang Arab.Sebagian masyarakat di Jazirah Arab masih menyebut “bertengkar” dengan istilah “perang”. Wahai saudara-saudara, dalam hadis ini,Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa seorang Muslim,jika ada seseorang yang berselisih dengannya, lalu mencelanya,disebut mencela jika dilakukan secara zalim, tanpa ada alasan yang benar. Itulah kenapa yang demikian itu tidak ada kisasnya.Dan dia mencela, bukan karena untuk memperingatkan atau menegur. Jadi, itu benar-benar perbuatan zalim dan aniaya.“Jika ada seseorang yang menghinanya atau mengajak bertikai,hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, melalui hadis ini, ingin menjelaskan tiga perkarakepada siapa pun yang mendapatkan sesuatu yang berpotensi menyulut amarahnya,dan membuatnya kehilangan kelembutan sikapnya. Nabi menjelaskan kepadanya tiga perkara:Pertama, jangan membalas perbuatan zalim dengan perbuatan yang semisalnya.Jangan membalas kezaliman dengan kezaliman. Jangan membalas perbuatan aniaya. Hendaknya ia menahan diri.Itu sebabnya Nabi tidak bersabda, “Balas dia!”melainkan bersabda, “… Hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” Kedua, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannyaagar mengatakan, “Aku sedang berpuasa.”Bahkan para ahli Fikih, dan ini merupakan pendapat yang terkenal, dan juga menjadi pendapat pilihan Syekh Taqiyyuddin,bahwa dia dianjurkan untuk mengeraskan ucapannya,yaitu dengan mengangkat suara dan mengatakannya dengan suara yang lantang, sehingga didengar oleh orang yang mencelanya,mengajaknya bertikai, atau menzaliminya,hendaknya dia mengatakan, “Aku sedang berpuasa.” Alasannya, yaitu anjuran mengeraskan suaranya,karena mengucapkan kalimat ini akan menjadi pelajaran untuk dirinya sendiridan peringatan untuk orang lain. Pelajaran untuk dirinya sendiri, “Aku menahan diri, karenamematuhi perintah Allah ʿAzza wa Jalla,dan mengikuti apa yang diarahkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.” Juga peringatan kepada orang lain, bahwa dia menahan diribukan karena tidak mampu, takut, atau lemah,melainkan dia kuat karena Allah ʿAzza wa Jalla. Ketiga, yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini,bagi seorang Muslim, melalui hadis ini,meskipun ini tidak termaktub dalam kitab Sahihain,melainkan ada tambahan yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Sahihnya, bahwa beliau bersabda,“Jika kamu berdiri, maka duduklah!”Tambahan ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam hadis yang sama. Di sini Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa jika seseorang dicela oleh orang lain,atau diajak bertikai, yang mana hal itu pasti akan menyulut amarahnya, dan meningkatkan hasrat untuk berbuat aniaya dalam dirinya,di saat seperti itu, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyuruhnyauntuk duduk jika dia sedang berdiri,atau berbaring jika dia sedang duduk. Disebutkan juga dalam hadis lain,agar dia pergi, lalu berwudu. ==== سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ الْحَسَنَةِ وَمَرَدُّهَا كَمَا ذَكَرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَيْهِ وَهُوَ الْحِلْمُ فَإِنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ: إِنَّ سَيِّدَ الْأَخْلَاقِ التَّوَاضُعُ وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ: إِنَّ سَيِّدَ الْأَخْلَاقِ الْحِلْمُ الْحِلْمُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُكْسِبُهُ التَّحَلُّمُ وَالتَّعَوُّدُ عَلَيْهِ وَلِذَا قِيلَ لِأَحْنَفَ بْنِ قَيسٍ وَقَدْ كَانَ يُضْرَبُ بِهِ الْمَثَلُ فِي الْحِلْمِ هَلْ أَنْتَ حَلِيمٌ؟ قَالَ: لَسْتُ حَلِيمًا وَإِنَّمَا أَتَحَلَّمُ إِذَنِ الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ كَمَا رُوِيْنَا فِي الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ وَكُلَّمَا سَعَى الْمَرْءُ فِي الْاِكْتِسَابِ بِهَذَا الْخُلُقِ الْكَرِيمِ الَّذِي مَنِ اكْتَسَبَهُ كَانَتِ الْأَخْلَاقُ تَبَعًا بَعْدَهُ وَكَانَتِ الْأَخْلَاقُ تَأْتِي بَعْدَ ذَلِكَ فِي سَوْقِهِ وَفِي مَجْرَاهُ إِذَا اكْتَسَبَهُ الْمَرْءُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ اكْتِسَابِهِ الصَّوْمُ وَإِلَيْكَ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ أَيْ حَاجِبٌ بَيْنَ الْمَرْءِ وَبَيْنَ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحَاجِبٌ بَيْنَ الْمَرْءِ وَبَيْنَ مَسَاوِئِ الْأَخْلَاقِ كَذَلِكَ إِذِ الْحَدِيثُ مُطْلَقٌ وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْمَعْنَى الثَّانِي تَتِمَّةُ الْحَدِيثِ انْظُرْ مَاذَا قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَحْجُزُكَ وَيَمْنَعُكَ وَيَكُونُ حَاجِزًا بَيْنَكَ وَبَيْنَ مَسَاوِئِ الْأَخْلَاقِ وَهَذَا مِنْ أَحَدِ مَعَانِي كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُوتِيَ جَوَامِعَ الْكَلِمِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَفْسُقْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ قَاتَلَهُ قَالُوا: إِمَّا أَنْ تَكُونَ الْمُقَاتِلَةُ بِالْيَدِ وَقَدْ تَكُونُ الْمُقَاتِلَةُ بِاللِّسَانِ وَهِيَ مُسْتَخْدَمَةٌ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ وَمَا زَالَ بَعْضُ أَبْنَاءِ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ يُسَمُّونَ الْمُحَاجَجَةَ قِتَالًا إِذَنْ أَيُُّهَا الْإِخْوَةُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا اعْتَرَضَ عَلَيْهِ أَحَدٌ فَسَبَّهُ وَالسَّبُّ لَا يَكُونُ إِلَّا بِظُلْمٍ مِنْ غَيْرِ بِمُوجِبٍ وَلِذَا فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ قِصَاصًا وَلَا يَكُونُ مِنْ بَابِ التَّنْبِيهِ وَالتَّصْحِيحِ وَإِنَّمَا هُوَ اعْتِدَاءٌ وَظُلْمٌ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ ثَلَاثَةَ أُمُورٍ لِمَنْ جَاءَهُ أَمْرٌ يَكُونُ مُثِيرًا لِغَضَبِهِ وَسَبَبًا فِي تَرْكِهِ لِحِلْمِهِ بَيَّنَ لَهُ ثَلَاثَةَ أُمُورٍ الْأَمْرَ الْأَوَّلَ أَنْ لَا يَرُدَّ الظُّلْمَ بِمِثْلِهِ وَأَلَّا يَرُدَّ الْاِعْتِدَاءَ بِاعْتِدَاءٍ وَأَلَّا يَرُدَّ الْاِعْتِدَاءَ وَإِنَّمَا يَمْتَنِعُ وَلِذَا لَمْ يَقُلْ: اعْتَدِ عَلَيْهِ وَإِنَّمَا قَالَ: فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالْأَمْرَ الثَّانِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يَقُولَ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ حَتَّى قَالَ فُقَهَاؤُنَا وَهُوَ مَشْهُورُ الْمَذْهَبِ وَاخْتِيَارُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّينِ كَذَلِكَ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَجْهَرَ بِهَا وَأَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ فَلْيَقُلْ بِصَوْتٍ مُرْتَفِعٍ يُسْمِعُ هَذَا الَّذِي سَابَّهُ أَوْ قَاتَلَهُ وَاعْتَدَى عَلَيْهِ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَيْ فِي كَلَامِهِ وَجَهْرِهِ بِلَفْظِهِ أَنَّهُ إِذَا تَكَلَّمَ هَذَا الْكَلَامَ فَإِنَّهُ تَأْدِيبٌ لِنَفْسِهِ وَتَنْبِيهٌ لِغَيْرِهِ فَتَأْدِيبٌ لِنَفْسِهِ أَنَّنِي إِنَّمَا امْتَنَعْتُ امْتِثَالًا لِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَامْتِثَالًا لِمَا أَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَنْبِيهٌ لِغِيْرِهِ أَنَّ هَذَا الْاِمْتِنَاعَ لَيْسَ عَجْزًا وَلَا خَوَرًا وَلَا ضَعْفًا وَإِنَّمَا هُوَ سَبَبُ قُوَّةٍ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْأَمْرَ الثَّالِثَ الَّذِي بَيَّنَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ لِلْمُسْلِمِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِ صَحِيحٍ وَإِنَّمَا جَاءَ عِنْدَ ابْنِ خُزَيمَةَ فِي صَحِيحِهِ زِيَادَةٌ قَالَ وَإِنْ كُنْتَ قَائِمًا فَاجْلِسْ وَهَذِهِ الزِّيَادَةُ عِنْدَ ابْنِ خُزَيمَةَ فِي نَفْسِ الْحَدِيثِ فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلَا بُدَّ وَأَنْ يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبٌ فِي مَبَادِي غَضَبِهِ وَفِي ارْتِفَاعِ سُؤْرَةِ الدَّافِعِ لِلظُّلْمِ عِنْدَهُ فَحِينَئِذٍ أَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَجْلِسَ إِنْ كَانَ قَائِمًا وَإِنْ كَانَ جَالِسًا فَلْيَضْطَجِعْ وَقَدْ جَاءَ فِي غَيْرِ هَذَا الْحَدِيثِ أَنْ يَقُومَ وَأَنْ يَتَوَضَّأَ
Hulu (permulaan) akhlak terpujidan pangkalnya, sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama,adalah al-Hilm (sabar dan lemah lembut). Sebagian ulama mengatakan bahwa pangkal segala akhlak adalah at-Tawadhu’ (rendah hati).Namun, sebagian lain mengatakan bahwa pangkalnya adalah al-Hilm (sabar dan lemah lembut). Wahai saudara-saudara, salah satu cara terbaik untuk mendapatkan al-Hilm (sabar dan lemah lembut),adalah berusaha bersikap sabar dan lembut, serta membiasakannya. Oleh sebab itu, ketika ditanyakan kepada Ahnaf bin Qais,beliau telah dijadikan perumpamaan untuk al-Hilm (sabar dan lemah lembut),“Benarkah Anda orang yang halim (sabar dan lemah lembut)?”Beliau berkata, “Saya bukan orang yang dan sabar dan lembut, namun berusaha bersabar dan berlemah lembut.” Jadi, al-Hilm adalah dengan berusaha bersikap sabar dan lemah lembut,sebagaimana hadis yang telah lalu, yang diriwayatkan kepada kita. Semakin seseorang berusaha untuk mendapatkan akhlak mulia ini,niscaya jika dia berhasil, maka akhlak-akhlak lainnya akan mengikutinya. Akhlak terpuji lainnya akan tumbuh setelahnya, dari arahandan sikap lembut yang telah seseorang dapatkan.Adapun salah satu sebab terbesar untuk meraihnya adalah dengan berpuasa. Berikut ini adalah sebuah hadis agung untuk Anda, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Puasa adalah perisai, …” (HR. Muslim) yaitu yang menghalangi seseorang dari azab Allah ʿAzza wa Jalla,dan membentenginya dari akhlak-akhlak tercela,karena hadis ini mutlak. Di antara yang menunjukkan makna kedua ini adalah akhir hadisnya.Lihat apa yang beliau sabdakan!“Puasa adalah perisai, …” artinya yang akan menghalangi dan mencegah Anda,yaitu penghalang antara Anda dan akhlak-akhlak tercela. Ini adalah salah satu tafsiran sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,mengingat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah diberi Jawāmiʿ al-Kalim (kalimat ringkas yang padat makna). Beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai,jika seorang dari kalian sedang berpuasa,maka jangan berkata keji, berbuat fasik, atau mencaci maki. Jika ada seseorang yang menghinanya atau mengajak bertikai,hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” (Muttafaqun ‘alaihi)“Jika ada seseorang yang menghinanya atau mengajaknya bertikai,hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” (Muttafaqun ‘alaihi) Maksud sabda beliau, “mengajak bertikai” adalah,para ulama mengatakan, bahwa bertikai, bisa dengan tangan,atau mungkin juga dengan lisan. Istilah ini ada dalam bahasa orang Arab.Sebagian masyarakat di Jazirah Arab masih menyebut “bertengkar” dengan istilah “perang”. Wahai saudara-saudara, dalam hadis ini,Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa seorang Muslim,jika ada seseorang yang berselisih dengannya, lalu mencelanya,disebut mencela jika dilakukan secara zalim, tanpa ada alasan yang benar. Itulah kenapa yang demikian itu tidak ada kisasnya.Dan dia mencela, bukan karena untuk memperingatkan atau menegur. Jadi, itu benar-benar perbuatan zalim dan aniaya.“Jika ada seseorang yang menghinanya atau mengajak bertikai,hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, melalui hadis ini, ingin menjelaskan tiga perkarakepada siapa pun yang mendapatkan sesuatu yang berpotensi menyulut amarahnya,dan membuatnya kehilangan kelembutan sikapnya. Nabi menjelaskan kepadanya tiga perkara:Pertama, jangan membalas perbuatan zalim dengan perbuatan yang semisalnya.Jangan membalas kezaliman dengan kezaliman. Jangan membalas perbuatan aniaya. Hendaknya ia menahan diri.Itu sebabnya Nabi tidak bersabda, “Balas dia!”melainkan bersabda, “… Hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” Kedua, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannyaagar mengatakan, “Aku sedang berpuasa.”Bahkan para ahli Fikih, dan ini merupakan pendapat yang terkenal, dan juga menjadi pendapat pilihan Syekh Taqiyyuddin,bahwa dia dianjurkan untuk mengeraskan ucapannya,yaitu dengan mengangkat suara dan mengatakannya dengan suara yang lantang, sehingga didengar oleh orang yang mencelanya,mengajaknya bertikai, atau menzaliminya,hendaknya dia mengatakan, “Aku sedang berpuasa.” Alasannya, yaitu anjuran mengeraskan suaranya,karena mengucapkan kalimat ini akan menjadi pelajaran untuk dirinya sendiridan peringatan untuk orang lain. Pelajaran untuk dirinya sendiri, “Aku menahan diri, karenamematuhi perintah Allah ʿAzza wa Jalla,dan mengikuti apa yang diarahkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.” Juga peringatan kepada orang lain, bahwa dia menahan diribukan karena tidak mampu, takut, atau lemah,melainkan dia kuat karena Allah ʿAzza wa Jalla. Ketiga, yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini,bagi seorang Muslim, melalui hadis ini,meskipun ini tidak termaktub dalam kitab Sahihain,melainkan ada tambahan yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Sahihnya, bahwa beliau bersabda,“Jika kamu berdiri, maka duduklah!”Tambahan ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam hadis yang sama. Di sini Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa jika seseorang dicela oleh orang lain,atau diajak bertikai, yang mana hal itu pasti akan menyulut amarahnya, dan meningkatkan hasrat untuk berbuat aniaya dalam dirinya,di saat seperti itu, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyuruhnyauntuk duduk jika dia sedang berdiri,atau berbaring jika dia sedang duduk. Disebutkan juga dalam hadis lain,agar dia pergi, lalu berwudu. ==== سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ الْحَسَنَةِ وَمَرَدُّهَا كَمَا ذَكَرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَيْهِ وَهُوَ الْحِلْمُ فَإِنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ: إِنَّ سَيِّدَ الْأَخْلَاقِ التَّوَاضُعُ وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ: إِنَّ سَيِّدَ الْأَخْلَاقِ الْحِلْمُ الْحِلْمُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُكْسِبُهُ التَّحَلُّمُ وَالتَّعَوُّدُ عَلَيْهِ وَلِذَا قِيلَ لِأَحْنَفَ بْنِ قَيسٍ وَقَدْ كَانَ يُضْرَبُ بِهِ الْمَثَلُ فِي الْحِلْمِ هَلْ أَنْتَ حَلِيمٌ؟ قَالَ: لَسْتُ حَلِيمًا وَإِنَّمَا أَتَحَلَّمُ إِذَنِ الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ كَمَا رُوِيْنَا فِي الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ وَكُلَّمَا سَعَى الْمَرْءُ فِي الْاِكْتِسَابِ بِهَذَا الْخُلُقِ الْكَرِيمِ الَّذِي مَنِ اكْتَسَبَهُ كَانَتِ الْأَخْلَاقُ تَبَعًا بَعْدَهُ وَكَانَتِ الْأَخْلَاقُ تَأْتِي بَعْدَ ذَلِكَ فِي سَوْقِهِ وَفِي مَجْرَاهُ إِذَا اكْتَسَبَهُ الْمَرْءُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ اكْتِسَابِهِ الصَّوْمُ وَإِلَيْكَ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ أَيْ حَاجِبٌ بَيْنَ الْمَرْءِ وَبَيْنَ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحَاجِبٌ بَيْنَ الْمَرْءِ وَبَيْنَ مَسَاوِئِ الْأَخْلَاقِ كَذَلِكَ إِذِ الْحَدِيثُ مُطْلَقٌ وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْمَعْنَى الثَّانِي تَتِمَّةُ الْحَدِيثِ انْظُرْ مَاذَا قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَحْجُزُكَ وَيَمْنَعُكَ وَيَكُونُ حَاجِزًا بَيْنَكَ وَبَيْنَ مَسَاوِئِ الْأَخْلَاقِ وَهَذَا مِنْ أَحَدِ مَعَانِي كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُوتِيَ جَوَامِعَ الْكَلِمِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَفْسُقْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ قَاتَلَهُ قَالُوا: إِمَّا أَنْ تَكُونَ الْمُقَاتِلَةُ بِالْيَدِ وَقَدْ تَكُونُ الْمُقَاتِلَةُ بِاللِّسَانِ وَهِيَ مُسْتَخْدَمَةٌ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ وَمَا زَالَ بَعْضُ أَبْنَاءِ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ يُسَمُّونَ الْمُحَاجَجَةَ قِتَالًا إِذَنْ أَيُُّهَا الْإِخْوَةُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا اعْتَرَضَ عَلَيْهِ أَحَدٌ فَسَبَّهُ وَالسَّبُّ لَا يَكُونُ إِلَّا بِظُلْمٍ مِنْ غَيْرِ بِمُوجِبٍ وَلِذَا فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ قِصَاصًا وَلَا يَكُونُ مِنْ بَابِ التَّنْبِيهِ وَالتَّصْحِيحِ وَإِنَّمَا هُوَ اعْتِدَاءٌ وَظُلْمٌ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ ثَلَاثَةَ أُمُورٍ لِمَنْ جَاءَهُ أَمْرٌ يَكُونُ مُثِيرًا لِغَضَبِهِ وَسَبَبًا فِي تَرْكِهِ لِحِلْمِهِ بَيَّنَ لَهُ ثَلَاثَةَ أُمُورٍ الْأَمْرَ الْأَوَّلَ أَنْ لَا يَرُدَّ الظُّلْمَ بِمِثْلِهِ وَأَلَّا يَرُدَّ الْاِعْتِدَاءَ بِاعْتِدَاءٍ وَأَلَّا يَرُدَّ الْاِعْتِدَاءَ وَإِنَّمَا يَمْتَنِعُ وَلِذَا لَمْ يَقُلْ: اعْتَدِ عَلَيْهِ وَإِنَّمَا قَالَ: فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالْأَمْرَ الثَّانِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يَقُولَ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ حَتَّى قَالَ فُقَهَاؤُنَا وَهُوَ مَشْهُورُ الْمَذْهَبِ وَاخْتِيَارُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّينِ كَذَلِكَ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَجْهَرَ بِهَا وَأَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ فَلْيَقُلْ بِصَوْتٍ مُرْتَفِعٍ يُسْمِعُ هَذَا الَّذِي سَابَّهُ أَوْ قَاتَلَهُ وَاعْتَدَى عَلَيْهِ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَيْ فِي كَلَامِهِ وَجَهْرِهِ بِلَفْظِهِ أَنَّهُ إِذَا تَكَلَّمَ هَذَا الْكَلَامَ فَإِنَّهُ تَأْدِيبٌ لِنَفْسِهِ وَتَنْبِيهٌ لِغَيْرِهِ فَتَأْدِيبٌ لِنَفْسِهِ أَنَّنِي إِنَّمَا امْتَنَعْتُ امْتِثَالًا لِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَامْتِثَالًا لِمَا أَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَنْبِيهٌ لِغِيْرِهِ أَنَّ هَذَا الْاِمْتِنَاعَ لَيْسَ عَجْزًا وَلَا خَوَرًا وَلَا ضَعْفًا وَإِنَّمَا هُوَ سَبَبُ قُوَّةٍ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْأَمْرَ الثَّالِثَ الَّذِي بَيَّنَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ لِلْمُسْلِمِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِ صَحِيحٍ وَإِنَّمَا جَاءَ عِنْدَ ابْنِ خُزَيمَةَ فِي صَحِيحِهِ زِيَادَةٌ قَالَ وَإِنْ كُنْتَ قَائِمًا فَاجْلِسْ وَهَذِهِ الزِّيَادَةُ عِنْدَ ابْنِ خُزَيمَةَ فِي نَفْسِ الْحَدِيثِ فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلَا بُدَّ وَأَنْ يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبٌ فِي مَبَادِي غَضَبِهِ وَفِي ارْتِفَاعِ سُؤْرَةِ الدَّافِعِ لِلظُّلْمِ عِنْدَهُ فَحِينَئِذٍ أَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَجْلِسَ إِنْ كَانَ قَائِمًا وَإِنْ كَانَ جَالِسًا فَلْيَضْطَجِعْ وَقَدْ جَاءَ فِي غَيْرِ هَذَا الْحَدِيثِ أَنْ يَقُومَ وَأَنْ يَتَوَضَّأَ


Hulu (permulaan) akhlak terpujidan pangkalnya, sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama,adalah al-Hilm (sabar dan lemah lembut). Sebagian ulama mengatakan bahwa pangkal segala akhlak adalah at-Tawadhu’ (rendah hati).Namun, sebagian lain mengatakan bahwa pangkalnya adalah al-Hilm (sabar dan lemah lembut). Wahai saudara-saudara, salah satu cara terbaik untuk mendapatkan al-Hilm (sabar dan lemah lembut),adalah berusaha bersikap sabar dan lembut, serta membiasakannya. Oleh sebab itu, ketika ditanyakan kepada Ahnaf bin Qais,beliau telah dijadikan perumpamaan untuk al-Hilm (sabar dan lemah lembut),“Benarkah Anda orang yang halim (sabar dan lemah lembut)?”Beliau berkata, “Saya bukan orang yang dan sabar dan lembut, namun berusaha bersabar dan berlemah lembut.” Jadi, al-Hilm adalah dengan berusaha bersikap sabar dan lemah lembut,sebagaimana hadis yang telah lalu, yang diriwayatkan kepada kita. Semakin seseorang berusaha untuk mendapatkan akhlak mulia ini,niscaya jika dia berhasil, maka akhlak-akhlak lainnya akan mengikutinya. Akhlak terpuji lainnya akan tumbuh setelahnya, dari arahandan sikap lembut yang telah seseorang dapatkan.Adapun salah satu sebab terbesar untuk meraihnya adalah dengan berpuasa. Berikut ini adalah sebuah hadis agung untuk Anda, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Puasa adalah perisai, …” (HR. Muslim) yaitu yang menghalangi seseorang dari azab Allah ʿAzza wa Jalla,dan membentenginya dari akhlak-akhlak tercela,karena hadis ini mutlak. Di antara yang menunjukkan makna kedua ini adalah akhir hadisnya.Lihat apa yang beliau sabdakan!“Puasa adalah perisai, …” artinya yang akan menghalangi dan mencegah Anda,yaitu penghalang antara Anda dan akhlak-akhlak tercela. Ini adalah salah satu tafsiran sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,mengingat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah diberi Jawāmiʿ al-Kalim (kalimat ringkas yang padat makna). Beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai,jika seorang dari kalian sedang berpuasa,maka jangan berkata keji, berbuat fasik, atau mencaci maki. Jika ada seseorang yang menghinanya atau mengajak bertikai,hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” (Muttafaqun ‘alaihi)“Jika ada seseorang yang menghinanya atau mengajaknya bertikai,hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” (Muttafaqun ‘alaihi) Maksud sabda beliau, “mengajak bertikai” adalah,para ulama mengatakan, bahwa bertikai, bisa dengan tangan,atau mungkin juga dengan lisan. Istilah ini ada dalam bahasa orang Arab.Sebagian masyarakat di Jazirah Arab masih menyebut “bertengkar” dengan istilah “perang”. Wahai saudara-saudara, dalam hadis ini,Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa seorang Muslim,jika ada seseorang yang berselisih dengannya, lalu mencelanya,disebut mencela jika dilakukan secara zalim, tanpa ada alasan yang benar. Itulah kenapa yang demikian itu tidak ada kisasnya.Dan dia mencela, bukan karena untuk memperingatkan atau menegur. Jadi, itu benar-benar perbuatan zalim dan aniaya.“Jika ada seseorang yang menghinanya atau mengajak bertikai,hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, melalui hadis ini, ingin menjelaskan tiga perkarakepada siapa pun yang mendapatkan sesuatu yang berpotensi menyulut amarahnya,dan membuatnya kehilangan kelembutan sikapnya. Nabi menjelaskan kepadanya tiga perkara:Pertama, jangan membalas perbuatan zalim dengan perbuatan yang semisalnya.Jangan membalas kezaliman dengan kezaliman. Jangan membalas perbuatan aniaya. Hendaknya ia menahan diri.Itu sebabnya Nabi tidak bersabda, “Balas dia!”melainkan bersabda, “… Hendaknya dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” Kedua, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannyaagar mengatakan, “Aku sedang berpuasa.”Bahkan para ahli Fikih, dan ini merupakan pendapat yang terkenal, dan juga menjadi pendapat pilihan Syekh Taqiyyuddin,bahwa dia dianjurkan untuk mengeraskan ucapannya,yaitu dengan mengangkat suara dan mengatakannya dengan suara yang lantang, sehingga didengar oleh orang yang mencelanya,mengajaknya bertikai, atau menzaliminya,hendaknya dia mengatakan, “Aku sedang berpuasa.” Alasannya, yaitu anjuran mengeraskan suaranya,karena mengucapkan kalimat ini akan menjadi pelajaran untuk dirinya sendiridan peringatan untuk orang lain. Pelajaran untuk dirinya sendiri, “Aku menahan diri, karenamematuhi perintah Allah ʿAzza wa Jalla,dan mengikuti apa yang diarahkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.” Juga peringatan kepada orang lain, bahwa dia menahan diribukan karena tidak mampu, takut, atau lemah,melainkan dia kuat karena Allah ʿAzza wa Jalla. Ketiga, yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini,bagi seorang Muslim, melalui hadis ini,meskipun ini tidak termaktub dalam kitab Sahihain,melainkan ada tambahan yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Sahihnya, bahwa beliau bersabda,“Jika kamu berdiri, maka duduklah!”Tambahan ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam hadis yang sama. Di sini Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa jika seseorang dicela oleh orang lain,atau diajak bertikai, yang mana hal itu pasti akan menyulut amarahnya, dan meningkatkan hasrat untuk berbuat aniaya dalam dirinya,di saat seperti itu, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyuruhnyauntuk duduk jika dia sedang berdiri,atau berbaring jika dia sedang duduk. Disebutkan juga dalam hadis lain,agar dia pergi, lalu berwudu. ==== سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ الْحَسَنَةِ وَمَرَدُّهَا كَمَا ذَكَرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَيْهِ وَهُوَ الْحِلْمُ فَإِنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ: إِنَّ سَيِّدَ الْأَخْلَاقِ التَّوَاضُعُ وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ: إِنَّ سَيِّدَ الْأَخْلَاقِ الْحِلْمُ الْحِلْمُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُكْسِبُهُ التَّحَلُّمُ وَالتَّعَوُّدُ عَلَيْهِ وَلِذَا قِيلَ لِأَحْنَفَ بْنِ قَيسٍ وَقَدْ كَانَ يُضْرَبُ بِهِ الْمَثَلُ فِي الْحِلْمِ هَلْ أَنْتَ حَلِيمٌ؟ قَالَ: لَسْتُ حَلِيمًا وَإِنَّمَا أَتَحَلَّمُ إِذَنِ الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ كَمَا رُوِيْنَا فِي الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ وَكُلَّمَا سَعَى الْمَرْءُ فِي الْاِكْتِسَابِ بِهَذَا الْخُلُقِ الْكَرِيمِ الَّذِي مَنِ اكْتَسَبَهُ كَانَتِ الْأَخْلَاقُ تَبَعًا بَعْدَهُ وَكَانَتِ الْأَخْلَاقُ تَأْتِي بَعْدَ ذَلِكَ فِي سَوْقِهِ وَفِي مَجْرَاهُ إِذَا اكْتَسَبَهُ الْمَرْءُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ اكْتِسَابِهِ الصَّوْمُ وَإِلَيْكَ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ أَيْ حَاجِبٌ بَيْنَ الْمَرْءِ وَبَيْنَ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحَاجِبٌ بَيْنَ الْمَرْءِ وَبَيْنَ مَسَاوِئِ الْأَخْلَاقِ كَذَلِكَ إِذِ الْحَدِيثُ مُطْلَقٌ وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْمَعْنَى الثَّانِي تَتِمَّةُ الْحَدِيثِ انْظُرْ مَاذَا قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَحْجُزُكَ وَيَمْنَعُكَ وَيَكُونُ حَاجِزًا بَيْنَكَ وَبَيْنَ مَسَاوِئِ الْأَخْلَاقِ وَهَذَا مِنْ أَحَدِ مَعَانِي كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُوتِيَ جَوَامِعَ الْكَلِمِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَفْسُقْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ قَاتَلَهُ قَالُوا: إِمَّا أَنْ تَكُونَ الْمُقَاتِلَةُ بِالْيَدِ وَقَدْ تَكُونُ الْمُقَاتِلَةُ بِاللِّسَانِ وَهِيَ مُسْتَخْدَمَةٌ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ وَمَا زَالَ بَعْضُ أَبْنَاءِ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ يُسَمُّونَ الْمُحَاجَجَةَ قِتَالًا إِذَنْ أَيُُّهَا الْإِخْوَةُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا اعْتَرَضَ عَلَيْهِ أَحَدٌ فَسَبَّهُ وَالسَّبُّ لَا يَكُونُ إِلَّا بِظُلْمٍ مِنْ غَيْرِ بِمُوجِبٍ وَلِذَا فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ قِصَاصًا وَلَا يَكُونُ مِنْ بَابِ التَّنْبِيهِ وَالتَّصْحِيحِ وَإِنَّمَا هُوَ اعْتِدَاءٌ وَظُلْمٌ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ ثَلَاثَةَ أُمُورٍ لِمَنْ جَاءَهُ أَمْرٌ يَكُونُ مُثِيرًا لِغَضَبِهِ وَسَبَبًا فِي تَرْكِهِ لِحِلْمِهِ بَيَّنَ لَهُ ثَلَاثَةَ أُمُورٍ الْأَمْرَ الْأَوَّلَ أَنْ لَا يَرُدَّ الظُّلْمَ بِمِثْلِهِ وَأَلَّا يَرُدَّ الْاِعْتِدَاءَ بِاعْتِدَاءٍ وَأَلَّا يَرُدَّ الْاِعْتِدَاءَ وَإِنَّمَا يَمْتَنِعُ وَلِذَا لَمْ يَقُلْ: اعْتَدِ عَلَيْهِ وَإِنَّمَا قَالَ: فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالْأَمْرَ الثَّانِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يَقُولَ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ حَتَّى قَالَ فُقَهَاؤُنَا وَهُوَ مَشْهُورُ الْمَذْهَبِ وَاخْتِيَارُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّينِ كَذَلِكَ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَجْهَرَ بِهَا وَأَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ فَلْيَقُلْ بِصَوْتٍ مُرْتَفِعٍ يُسْمِعُ هَذَا الَّذِي سَابَّهُ أَوْ قَاتَلَهُ وَاعْتَدَى عَلَيْهِ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَيْ فِي كَلَامِهِ وَجَهْرِهِ بِلَفْظِهِ أَنَّهُ إِذَا تَكَلَّمَ هَذَا الْكَلَامَ فَإِنَّهُ تَأْدِيبٌ لِنَفْسِهِ وَتَنْبِيهٌ لِغَيْرِهِ فَتَأْدِيبٌ لِنَفْسِهِ أَنَّنِي إِنَّمَا امْتَنَعْتُ امْتِثَالًا لِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَامْتِثَالًا لِمَا أَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَنْبِيهٌ لِغِيْرِهِ أَنَّ هَذَا الْاِمْتِنَاعَ لَيْسَ عَجْزًا وَلَا خَوَرًا وَلَا ضَعْفًا وَإِنَّمَا هُوَ سَبَبُ قُوَّةٍ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْأَمْرَ الثَّالِثَ الَّذِي بَيَّنَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ لِلْمُسْلِمِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِ صَحِيحٍ وَإِنَّمَا جَاءَ عِنْدَ ابْنِ خُزَيمَةَ فِي صَحِيحِهِ زِيَادَةٌ قَالَ وَإِنْ كُنْتَ قَائِمًا فَاجْلِسْ وَهَذِهِ الزِّيَادَةُ عِنْدَ ابْنِ خُزَيمَةَ فِي نَفْسِ الْحَدِيثِ فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلَا بُدَّ وَأَنْ يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبٌ فِي مَبَادِي غَضَبِهِ وَفِي ارْتِفَاعِ سُؤْرَةِ الدَّافِعِ لِلظُّلْمِ عِنْدَهُ فَحِينَئِذٍ أَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَجْلِسَ إِنْ كَانَ قَائِمًا وَإِنْ كَانَ جَالِسًا فَلْيَضْطَجِعْ وَقَدْ جَاءَ فِي غَيْرِ هَذَا الْحَدِيثِ أَنْ يَقُومَ وَأَنْ يَتَوَضَّأَ
Prev     Next