Tabarruk Kepada Jasad Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أنَّ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ أَتَى مِنًى، فأتَى الجَمْرَةَ فَرَمَاهَا، ثُمَّ أَتَى مَنْزِلَهُ بمِنًى وَنَحَرَ، ثُمَّ قالَ لِلْحَلَّاقِ: خُذْ، وَأَشَارَ إلى جَانِبِهِ الأيْمَنِ، ثُمَّ الأيْسَرِ، ثُمَّ جَعَلَ يُعْطِيهِ النَّاسَ. [وفي رواية]: فَقالَ في رِوَايَتِهِ، لِلْحَلَّاقِ هَا وَأَشَارَ بيَدِهِ إلى الجَانِبِ الأيْمَنِ هَكَذَا، فَقَسَمَ شَعَرَهُ بيْنَ مَن يَلِيهِ، قالَ: ثُمَّ أَشَارَ إلى الحَلَّاقِ وإلَى الجَانِبِ الأيْسَرِ، فَحَلَقَهُ فأعْطَاهُ أُمَّ سُلَيْمٍ. وَأَمَّا في رِوَايَةِ أَبِي كُرَيْبٍ قالَ: فَبَدَأَ بالشِّقِّ الأيْمَنِ، فَوَزَّعَهُ الشَّعَرَةَ وَالشَّعَرَتَيْنِ بيْنَ النَّاسِ، ثُمَّ قالَ: بالأيْسَرِ فَصَنَعَ به مِثْلَ ذلكَ، ثُمَّ قالَ: هَا هُنَا أَبُو طَلْحَةَ؟ فَدَفَعَهُ إلى أَبِي طَلْحَةَ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di Mina. Beliau lalu datang ke Jamratul ‘Aqabah lalu melakukan jumrah. Kemudian beliau pergi ke tempatnya di Mina, dan menyembelih hewan kurban di sana. Sesudah itu, beliau berkata kepada tukang cukur, ‘Cukurlah rambutku!’ Sembari memberi isyarat ke kepalanya sebelah kanan dan kiri. Lalu, beliau memberikan rambutnya kepada orang banyak.” Dalam riwayat lain: “Sembari memberi isyarat ke arah kepala bagian kanannya seperti ini. Lalu, beliau membagi-bagikan rambutnya kepada mereka yang berada di sekitar beliau. Setelah itu, beliau memberi isyarat kembali ke arah kepala bagian kiri, lalu tukang cukur itu pun mencukurnya. Lalu, beliau pun memberikan rambut itu kepada Ummu Sulaim.” Adapun dalam riwayat Abu Kuraib, ia menyebutkan, “Tukang cukur itu pun memulainya dari rambut sebelah kanan seraya membagikannya kepada orang-orang, baru pindah ke sebelah kiri dan juga berbuat seperti itu. Kemudian beliau bersabda, ‘Ambilah ini wahai Abu Thalhah.’ Akhirnya beliau pun memberikannya kepada Abu Thalhah.” (HR. Muslim no. 1305) Penjelasan hadisHadis di atas dan hadis semisalnya sering dijadikan sebagai dalih untuk melakukan tabarruk (ngalap berkah) kepada jasad atau bekas-bekas orang saleh. Seperti ulama, ustaz, kiai, habib, wali, dan orang saleh secara umum.Tidak diragukan lagi bahwa memang Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam itu pada tubuhnya dan benda-benda yang pernah beliau gunakan, itu semua mengandung keberkahan. Keberkahan ini sama besarnya seperti berkahnya perbuatan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Ini sebagai tanda bahwa Allah memuliakan semua nabi dan rasul-Nya ‘alaihis shalatu wassalaam. Oleh karena itulah, para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wasallam ber-tabarruk (mencari keberkahan) dari tubuh Nabi shallallahu ’alaihi wasallam serta dari benda-benda yang pernah beliau gunakan semasa hidupnya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pun membolehkan perbuatan tersebut dan tidak mengingkarinya, sebagaimana dalam hadis di atas.Para sahabat juga ber-tabarruk dengan ludah dan keringat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Al-Hakam radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ‘Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata,واللَّهِ إنْ رَأَيْتُ مَلِكًا قَطُّ يُعَظِّمُهُ أصْحَابُهُ ما يُعَظِّمُ أصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُحَمَّدًا؛ واللَّهِ إنْ تَنَخَّمَ نُخَامَةً إلَّا وقَعَتْ في كَفِّ رَجُلٍ منهمْ، فَدَلَكَ بهَا وجْهَهُ وجِلْدَهُ، وإذَا أمَرَهُمُ ابْتَدَرُوا أمْرَهُ، وإذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ علَى وَضُوئِهِ، وإذَا تَكَلَّمَ خَفَضُوا أصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ، وما يُحِدُّونَ إلَيْهِ النَّظَرَ تَعْظِيمًا له“Demi Allah, tidak pernah aku melihat raja yang diagungkan sebagaimana pengagungan para sahabat Nabi kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demi Allah, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meludah, kecuali pasti akan jatuh di telapak tangan salah seorang dari sahabatnya, kemudian orang itu pun menggosokkan ludah Nabi kepada wajah dan kulitnya. Dan bila Nabi memberi suatu perintah kepada mereka, mereka pun bergegas melaksanakan perintah beliau. Dan apabila beliau hendak berwudu, para sahabatnya hampir berkelahi karena berebut sisa wudu Nabi. Bila Nabi berbicara, mereka merendahkan suara mereka di hadapan Nabi. Dan mereka tidak pernah menajamkan pandangan kepada Nabi, sebagai bentuk pengagungan mereka terhadap Nabi.” (HR. Bukhari no. 2731)Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha berkata,أنَّ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ كانَ يَأْتِيهَا فَيَقِيلُ عِنْدَهَا فَتَبْسُطُ له نِطْعًا فَيَقِيلُ عليه، وَكانَ كَثِيرَ العَرَقِ، فَكَانَتْ تَجْمَعُ عَرَقَهُ فَتَجْعَلُهُ في الطِّيبِ وَالْقَوَارِيرِ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: يا أُمَّ سُلَيْمٍ ما هذا؟ قالَتْ: عَرَقُكَ أَدُوفُ به طِيبِي“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah datang ke rumah Ummu Sulaim untuk tidur siang di sana. Maka, Ummu Sulaim pun menghamparkan karpet kulit agar Nabi tidur di atasnya. Ternyata, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidur, beliau banyak berkeringat. Ummu Sulaim pun mengumpulkan keringat beliau dan memasukkannya ke dalam tempat minyak wangi dan botol-botol. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai Ummu Sulaim, Apa ini?” Ummu Sulaim menjawab, “Ini adalah keringatmu yang aku campur dengan minyak wangiku.” (HR. Muslim no.2332)Dan hadis-hadis lainnya yang sahih, yang menunjukkan bahwa para sahabat ber-tabarruk kepada jasad dan bekas-bekas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Juga generasi salaf setelah mereka, ber-tabarruk dengan benda-benda yang pernah beliau gunakan. Seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau menyimpan rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia pun berkata,لأن تكون عندي شعرة منه أحب إلي من الدنيا وما فيها“Aku memiliki sehelai rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari no. 170)Ini semua menunjukkan bahwa tabarruk yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung sesuatu yang dapat mencacati tauhid uluhiyyah ataupun tauhid rububiyyah.Dan bolehnya ber-tabarruk kepada jasad dan peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama. Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, “Para ulama sepakat tentang disyariatkannya ber-tabarruk kepada asar (peninggalan) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan para ulama yang menulis sirah, syamail (keutamaan-keutamaan), dan hadis Nabi, telah memaparkan berbagai hadis yang menunjukkan tabarruk-nya para sahabat yang mulia terhadap asar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berbagai bentuknya.” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 70/10)Namun, minimalnya ada dua poin penting dalam masalah ini:PertamaTabarruk dengan benda-benda peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang, sulit dipastikan validitas benda-benda tersebut bahwa benar itu milik beliau. Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah mengatakan, “Kita ketahui bersama bahwa asar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa pakaian, rambut, benda bekas pakai beliau, itu semua telah sirna dimakan waktu. Dan tidak ada yang bisa memastikan keberadaan benda-benda tersebut secara pasti di zaman sekarang. Jika demikian adanya, maka ber-tabarruk dengan asar Nabi di zaman sekarang, menjadi pembahasan yang tidak memiliki poin. Dan sudah menjadi perkara yang ada di tataran teori saja. Sehingga masalah ini tidak perlu diperpanjang.” (At-Tawasul Anwa’uhu wa Ahkamuhu, hal. 144)Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan, “Bahwasanya tidak mungkin lagi untuk memastikan bahwa rambut yang diklaim ini adalah benar rambut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun yang disebutkan sebagian orang, bahwa rambut Nabi sekarang ada di Majma’ Al-Atsar Mesir, ini tidak benar. Dan yang paling penting adalah asar Nabi yang maknawi, yaitu syariat beliau. Adapun asar yang sifatnya fisik, ia adalah asar yang dicintai oleh hati. Namun, yang lebih penting lagi untuk diperhatikan adalah atsar syar’i (yaitu ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).” (Durus Syaikh Ibnul Utsaimin, 11: 64)KeduaRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam telah membolehkan para sahabat ber-tabarruk kepada beliau sebagaimana diterangkan di atas. Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah boleh ber-tabarruk dengan cara yang sama kepada orang-orang saleh selain Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam?Tidak ada satu perkataan pun dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam yang memerintahkan umatnya untuk ber-tabarruk kepada para sahabatnya ataupun orang-orang yang selain sahabat Nabi. Baik ber-tabarruk dengan jasad maupun dengan bekas-bekas peninggalan mereka. Tidak pernah sedikit pun Rasulullah mengajarkan hal tersebut. Demikian juga, tidak ada satu pun riwayat yang dinukil dari para sahabat bahwa mereka ber-tabarruk kepada orang selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, baik ketika masa Rasulullah masih hidup, apalagi ketika beliau sudah wafat. Tidak ada riwayat yang menceritakan bahwa para sahabat ber-tabarruk kepada sesama sahabat Nabi yang termasuk As-Sabiquun Al-Awwalun (orang-orang yang pertama kali memeluk Islam) misalnya, atau kepada Khulafa Ar Rasyidin (padahal mereka adalah sahabat Nabi yang paling mulia), atau ber-tabarruk kepada sepuluh orang sahabat yang sudah dijamin surga, atau kepada yang lainnya.Imam Asy-Syathibi rahimahullah dalam kitab beliau Al-I’tisham, beliau menjelaskan masalah ini dengan panjang lebar, “Para sahabat radhiyallahu ’anhum, setelah wafatnya Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, tidak ada seorang pun di antara mereka yang melakukan perbuatan itu (ber-tabarruk) kepada orang setelah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Padahal sepeninggal beliau, tidak ada manusia yang lebih mulia dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ’anhu, karena beliaulah pengganti Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Namun, para sahabat tidak pernah ber-tabarruk kepada Abu Bakar. Tidak pernah pula ber-tabarruk kepada Umar bin Khattab, padahal Umar bin Khattab adalah manusia yang paling mulia setelah Abu Bakar. Tidak pernah pula ber-tabarruk kepada Utsman bin Affan, tidak pernah pula ber-tabarruk kepada Ali, tidak pernah pula ber-tabarruk salah seorang dari sahabat Nabi pun. Padahal merekalah orang-orang yang paling mulia dari seluruh umat. Dan tidak diketahui adanya satu riwayat pun yang sahih bahwa mereka ber-tabarruk kepada selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dengan salah satu dari cara yang disebutkan (maksudnya ber-tabarruk dengan rambut, baju, atau sisa air wudu, atau semacamnya). Para sahabat Nabi hanya mencukupkan diri mereka dengan meneladani perbuatan, perkataan, jalan hidup yang mereka ambil dari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Ini semua menunjukkan bahwa para sahabat bersepakat (ijma) untuk meninggalkan perbuatan tersebut.” (Al-I’tisham, 2: 8-9).Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Ber-tabarruk dengan bekas-bekas peninggalan orang-orang saleh tidaklah dibolehkan. Hal itu hanya dibolehkan khusus terhadap Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Karena Allah memang telah menjadikan jasad dan kulit beliau mengandung keberkahan. Adapun orang lain tidak bisa di-qiyas-kan kepada beliau, karena dua alasan:Pertama, para sahabat tidak pernah melakukan hal tersebut terhadap orang lain selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Andai perbuatan itu baik, tentu para sahabat Nabi-lah yang sudah terlebih dahulu melakukannya.Kedua, menutup jalan menuju kesyirikan. Karena ber-tabarruk kepada bekas-bekas peninggalan orang saleh selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mengantarkan kepada ghuluw dan ibadah kepada selain Allah. Sehingga wajib untuk dicegah.” (Fathul Bari [3: 130], [1: 144] yang di-ta’liq oleh Syaikh Ibnu Baaz)Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga: Angka Keramat***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.idTags: amalan bid'ahAqidahaqidah islambahaya bid'ahbelajar tauhidBid'ahcinta nabifikih tabarrukManhajmanhaj salafngalap berkahtabarrukTauhid

Tabarruk Kepada Jasad Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أنَّ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ أَتَى مِنًى، فأتَى الجَمْرَةَ فَرَمَاهَا، ثُمَّ أَتَى مَنْزِلَهُ بمِنًى وَنَحَرَ، ثُمَّ قالَ لِلْحَلَّاقِ: خُذْ، وَأَشَارَ إلى جَانِبِهِ الأيْمَنِ، ثُمَّ الأيْسَرِ، ثُمَّ جَعَلَ يُعْطِيهِ النَّاسَ. [وفي رواية]: فَقالَ في رِوَايَتِهِ، لِلْحَلَّاقِ هَا وَأَشَارَ بيَدِهِ إلى الجَانِبِ الأيْمَنِ هَكَذَا، فَقَسَمَ شَعَرَهُ بيْنَ مَن يَلِيهِ، قالَ: ثُمَّ أَشَارَ إلى الحَلَّاقِ وإلَى الجَانِبِ الأيْسَرِ، فَحَلَقَهُ فأعْطَاهُ أُمَّ سُلَيْمٍ. وَأَمَّا في رِوَايَةِ أَبِي كُرَيْبٍ قالَ: فَبَدَأَ بالشِّقِّ الأيْمَنِ، فَوَزَّعَهُ الشَّعَرَةَ وَالشَّعَرَتَيْنِ بيْنَ النَّاسِ، ثُمَّ قالَ: بالأيْسَرِ فَصَنَعَ به مِثْلَ ذلكَ، ثُمَّ قالَ: هَا هُنَا أَبُو طَلْحَةَ؟ فَدَفَعَهُ إلى أَبِي طَلْحَةَ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di Mina. Beliau lalu datang ke Jamratul ‘Aqabah lalu melakukan jumrah. Kemudian beliau pergi ke tempatnya di Mina, dan menyembelih hewan kurban di sana. Sesudah itu, beliau berkata kepada tukang cukur, ‘Cukurlah rambutku!’ Sembari memberi isyarat ke kepalanya sebelah kanan dan kiri. Lalu, beliau memberikan rambutnya kepada orang banyak.” Dalam riwayat lain: “Sembari memberi isyarat ke arah kepala bagian kanannya seperti ini. Lalu, beliau membagi-bagikan rambutnya kepada mereka yang berada di sekitar beliau. Setelah itu, beliau memberi isyarat kembali ke arah kepala bagian kiri, lalu tukang cukur itu pun mencukurnya. Lalu, beliau pun memberikan rambut itu kepada Ummu Sulaim.” Adapun dalam riwayat Abu Kuraib, ia menyebutkan, “Tukang cukur itu pun memulainya dari rambut sebelah kanan seraya membagikannya kepada orang-orang, baru pindah ke sebelah kiri dan juga berbuat seperti itu. Kemudian beliau bersabda, ‘Ambilah ini wahai Abu Thalhah.’ Akhirnya beliau pun memberikannya kepada Abu Thalhah.” (HR. Muslim no. 1305) Penjelasan hadisHadis di atas dan hadis semisalnya sering dijadikan sebagai dalih untuk melakukan tabarruk (ngalap berkah) kepada jasad atau bekas-bekas orang saleh. Seperti ulama, ustaz, kiai, habib, wali, dan orang saleh secara umum.Tidak diragukan lagi bahwa memang Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam itu pada tubuhnya dan benda-benda yang pernah beliau gunakan, itu semua mengandung keberkahan. Keberkahan ini sama besarnya seperti berkahnya perbuatan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Ini sebagai tanda bahwa Allah memuliakan semua nabi dan rasul-Nya ‘alaihis shalatu wassalaam. Oleh karena itulah, para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wasallam ber-tabarruk (mencari keberkahan) dari tubuh Nabi shallallahu ’alaihi wasallam serta dari benda-benda yang pernah beliau gunakan semasa hidupnya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pun membolehkan perbuatan tersebut dan tidak mengingkarinya, sebagaimana dalam hadis di atas.Para sahabat juga ber-tabarruk dengan ludah dan keringat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Al-Hakam radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ‘Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata,واللَّهِ إنْ رَأَيْتُ مَلِكًا قَطُّ يُعَظِّمُهُ أصْحَابُهُ ما يُعَظِّمُ أصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُحَمَّدًا؛ واللَّهِ إنْ تَنَخَّمَ نُخَامَةً إلَّا وقَعَتْ في كَفِّ رَجُلٍ منهمْ، فَدَلَكَ بهَا وجْهَهُ وجِلْدَهُ، وإذَا أمَرَهُمُ ابْتَدَرُوا أمْرَهُ، وإذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ علَى وَضُوئِهِ، وإذَا تَكَلَّمَ خَفَضُوا أصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ، وما يُحِدُّونَ إلَيْهِ النَّظَرَ تَعْظِيمًا له“Demi Allah, tidak pernah aku melihat raja yang diagungkan sebagaimana pengagungan para sahabat Nabi kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demi Allah, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meludah, kecuali pasti akan jatuh di telapak tangan salah seorang dari sahabatnya, kemudian orang itu pun menggosokkan ludah Nabi kepada wajah dan kulitnya. Dan bila Nabi memberi suatu perintah kepada mereka, mereka pun bergegas melaksanakan perintah beliau. Dan apabila beliau hendak berwudu, para sahabatnya hampir berkelahi karena berebut sisa wudu Nabi. Bila Nabi berbicara, mereka merendahkan suara mereka di hadapan Nabi. Dan mereka tidak pernah menajamkan pandangan kepada Nabi, sebagai bentuk pengagungan mereka terhadap Nabi.” (HR. Bukhari no. 2731)Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha berkata,أنَّ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ كانَ يَأْتِيهَا فَيَقِيلُ عِنْدَهَا فَتَبْسُطُ له نِطْعًا فَيَقِيلُ عليه، وَكانَ كَثِيرَ العَرَقِ، فَكَانَتْ تَجْمَعُ عَرَقَهُ فَتَجْعَلُهُ في الطِّيبِ وَالْقَوَارِيرِ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: يا أُمَّ سُلَيْمٍ ما هذا؟ قالَتْ: عَرَقُكَ أَدُوفُ به طِيبِي“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah datang ke rumah Ummu Sulaim untuk tidur siang di sana. Maka, Ummu Sulaim pun menghamparkan karpet kulit agar Nabi tidur di atasnya. Ternyata, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidur, beliau banyak berkeringat. Ummu Sulaim pun mengumpulkan keringat beliau dan memasukkannya ke dalam tempat minyak wangi dan botol-botol. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai Ummu Sulaim, Apa ini?” Ummu Sulaim menjawab, “Ini adalah keringatmu yang aku campur dengan minyak wangiku.” (HR. Muslim no.2332)Dan hadis-hadis lainnya yang sahih, yang menunjukkan bahwa para sahabat ber-tabarruk kepada jasad dan bekas-bekas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Juga generasi salaf setelah mereka, ber-tabarruk dengan benda-benda yang pernah beliau gunakan. Seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau menyimpan rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia pun berkata,لأن تكون عندي شعرة منه أحب إلي من الدنيا وما فيها“Aku memiliki sehelai rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari no. 170)Ini semua menunjukkan bahwa tabarruk yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung sesuatu yang dapat mencacati tauhid uluhiyyah ataupun tauhid rububiyyah.Dan bolehnya ber-tabarruk kepada jasad dan peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama. Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, “Para ulama sepakat tentang disyariatkannya ber-tabarruk kepada asar (peninggalan) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan para ulama yang menulis sirah, syamail (keutamaan-keutamaan), dan hadis Nabi, telah memaparkan berbagai hadis yang menunjukkan tabarruk-nya para sahabat yang mulia terhadap asar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berbagai bentuknya.” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 70/10)Namun, minimalnya ada dua poin penting dalam masalah ini:PertamaTabarruk dengan benda-benda peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang, sulit dipastikan validitas benda-benda tersebut bahwa benar itu milik beliau. Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah mengatakan, “Kita ketahui bersama bahwa asar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa pakaian, rambut, benda bekas pakai beliau, itu semua telah sirna dimakan waktu. Dan tidak ada yang bisa memastikan keberadaan benda-benda tersebut secara pasti di zaman sekarang. Jika demikian adanya, maka ber-tabarruk dengan asar Nabi di zaman sekarang, menjadi pembahasan yang tidak memiliki poin. Dan sudah menjadi perkara yang ada di tataran teori saja. Sehingga masalah ini tidak perlu diperpanjang.” (At-Tawasul Anwa’uhu wa Ahkamuhu, hal. 144)Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan, “Bahwasanya tidak mungkin lagi untuk memastikan bahwa rambut yang diklaim ini adalah benar rambut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun yang disebutkan sebagian orang, bahwa rambut Nabi sekarang ada di Majma’ Al-Atsar Mesir, ini tidak benar. Dan yang paling penting adalah asar Nabi yang maknawi, yaitu syariat beliau. Adapun asar yang sifatnya fisik, ia adalah asar yang dicintai oleh hati. Namun, yang lebih penting lagi untuk diperhatikan adalah atsar syar’i (yaitu ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).” (Durus Syaikh Ibnul Utsaimin, 11: 64)KeduaRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam telah membolehkan para sahabat ber-tabarruk kepada beliau sebagaimana diterangkan di atas. Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah boleh ber-tabarruk dengan cara yang sama kepada orang-orang saleh selain Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam?Tidak ada satu perkataan pun dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam yang memerintahkan umatnya untuk ber-tabarruk kepada para sahabatnya ataupun orang-orang yang selain sahabat Nabi. Baik ber-tabarruk dengan jasad maupun dengan bekas-bekas peninggalan mereka. Tidak pernah sedikit pun Rasulullah mengajarkan hal tersebut. Demikian juga, tidak ada satu pun riwayat yang dinukil dari para sahabat bahwa mereka ber-tabarruk kepada orang selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, baik ketika masa Rasulullah masih hidup, apalagi ketika beliau sudah wafat. Tidak ada riwayat yang menceritakan bahwa para sahabat ber-tabarruk kepada sesama sahabat Nabi yang termasuk As-Sabiquun Al-Awwalun (orang-orang yang pertama kali memeluk Islam) misalnya, atau kepada Khulafa Ar Rasyidin (padahal mereka adalah sahabat Nabi yang paling mulia), atau ber-tabarruk kepada sepuluh orang sahabat yang sudah dijamin surga, atau kepada yang lainnya.Imam Asy-Syathibi rahimahullah dalam kitab beliau Al-I’tisham, beliau menjelaskan masalah ini dengan panjang lebar, “Para sahabat radhiyallahu ’anhum, setelah wafatnya Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, tidak ada seorang pun di antara mereka yang melakukan perbuatan itu (ber-tabarruk) kepada orang setelah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Padahal sepeninggal beliau, tidak ada manusia yang lebih mulia dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ’anhu, karena beliaulah pengganti Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Namun, para sahabat tidak pernah ber-tabarruk kepada Abu Bakar. Tidak pernah pula ber-tabarruk kepada Umar bin Khattab, padahal Umar bin Khattab adalah manusia yang paling mulia setelah Abu Bakar. Tidak pernah pula ber-tabarruk kepada Utsman bin Affan, tidak pernah pula ber-tabarruk kepada Ali, tidak pernah pula ber-tabarruk salah seorang dari sahabat Nabi pun. Padahal merekalah orang-orang yang paling mulia dari seluruh umat. Dan tidak diketahui adanya satu riwayat pun yang sahih bahwa mereka ber-tabarruk kepada selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dengan salah satu dari cara yang disebutkan (maksudnya ber-tabarruk dengan rambut, baju, atau sisa air wudu, atau semacamnya). Para sahabat Nabi hanya mencukupkan diri mereka dengan meneladani perbuatan, perkataan, jalan hidup yang mereka ambil dari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Ini semua menunjukkan bahwa para sahabat bersepakat (ijma) untuk meninggalkan perbuatan tersebut.” (Al-I’tisham, 2: 8-9).Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Ber-tabarruk dengan bekas-bekas peninggalan orang-orang saleh tidaklah dibolehkan. Hal itu hanya dibolehkan khusus terhadap Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Karena Allah memang telah menjadikan jasad dan kulit beliau mengandung keberkahan. Adapun orang lain tidak bisa di-qiyas-kan kepada beliau, karena dua alasan:Pertama, para sahabat tidak pernah melakukan hal tersebut terhadap orang lain selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Andai perbuatan itu baik, tentu para sahabat Nabi-lah yang sudah terlebih dahulu melakukannya.Kedua, menutup jalan menuju kesyirikan. Karena ber-tabarruk kepada bekas-bekas peninggalan orang saleh selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mengantarkan kepada ghuluw dan ibadah kepada selain Allah. Sehingga wajib untuk dicegah.” (Fathul Bari [3: 130], [1: 144] yang di-ta’liq oleh Syaikh Ibnu Baaz)Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga: Angka Keramat***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.idTags: amalan bid'ahAqidahaqidah islambahaya bid'ahbelajar tauhidBid'ahcinta nabifikih tabarrukManhajmanhaj salafngalap berkahtabarrukTauhid
Dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أنَّ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ أَتَى مِنًى، فأتَى الجَمْرَةَ فَرَمَاهَا، ثُمَّ أَتَى مَنْزِلَهُ بمِنًى وَنَحَرَ، ثُمَّ قالَ لِلْحَلَّاقِ: خُذْ، وَأَشَارَ إلى جَانِبِهِ الأيْمَنِ، ثُمَّ الأيْسَرِ، ثُمَّ جَعَلَ يُعْطِيهِ النَّاسَ. [وفي رواية]: فَقالَ في رِوَايَتِهِ، لِلْحَلَّاقِ هَا وَأَشَارَ بيَدِهِ إلى الجَانِبِ الأيْمَنِ هَكَذَا، فَقَسَمَ شَعَرَهُ بيْنَ مَن يَلِيهِ، قالَ: ثُمَّ أَشَارَ إلى الحَلَّاقِ وإلَى الجَانِبِ الأيْسَرِ، فَحَلَقَهُ فأعْطَاهُ أُمَّ سُلَيْمٍ. وَأَمَّا في رِوَايَةِ أَبِي كُرَيْبٍ قالَ: فَبَدَأَ بالشِّقِّ الأيْمَنِ، فَوَزَّعَهُ الشَّعَرَةَ وَالشَّعَرَتَيْنِ بيْنَ النَّاسِ، ثُمَّ قالَ: بالأيْسَرِ فَصَنَعَ به مِثْلَ ذلكَ، ثُمَّ قالَ: هَا هُنَا أَبُو طَلْحَةَ؟ فَدَفَعَهُ إلى أَبِي طَلْحَةَ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di Mina. Beliau lalu datang ke Jamratul ‘Aqabah lalu melakukan jumrah. Kemudian beliau pergi ke tempatnya di Mina, dan menyembelih hewan kurban di sana. Sesudah itu, beliau berkata kepada tukang cukur, ‘Cukurlah rambutku!’ Sembari memberi isyarat ke kepalanya sebelah kanan dan kiri. Lalu, beliau memberikan rambutnya kepada orang banyak.” Dalam riwayat lain: “Sembari memberi isyarat ke arah kepala bagian kanannya seperti ini. Lalu, beliau membagi-bagikan rambutnya kepada mereka yang berada di sekitar beliau. Setelah itu, beliau memberi isyarat kembali ke arah kepala bagian kiri, lalu tukang cukur itu pun mencukurnya. Lalu, beliau pun memberikan rambut itu kepada Ummu Sulaim.” Adapun dalam riwayat Abu Kuraib, ia menyebutkan, “Tukang cukur itu pun memulainya dari rambut sebelah kanan seraya membagikannya kepada orang-orang, baru pindah ke sebelah kiri dan juga berbuat seperti itu. Kemudian beliau bersabda, ‘Ambilah ini wahai Abu Thalhah.’ Akhirnya beliau pun memberikannya kepada Abu Thalhah.” (HR. Muslim no. 1305) Penjelasan hadisHadis di atas dan hadis semisalnya sering dijadikan sebagai dalih untuk melakukan tabarruk (ngalap berkah) kepada jasad atau bekas-bekas orang saleh. Seperti ulama, ustaz, kiai, habib, wali, dan orang saleh secara umum.Tidak diragukan lagi bahwa memang Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam itu pada tubuhnya dan benda-benda yang pernah beliau gunakan, itu semua mengandung keberkahan. Keberkahan ini sama besarnya seperti berkahnya perbuatan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Ini sebagai tanda bahwa Allah memuliakan semua nabi dan rasul-Nya ‘alaihis shalatu wassalaam. Oleh karena itulah, para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wasallam ber-tabarruk (mencari keberkahan) dari tubuh Nabi shallallahu ’alaihi wasallam serta dari benda-benda yang pernah beliau gunakan semasa hidupnya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pun membolehkan perbuatan tersebut dan tidak mengingkarinya, sebagaimana dalam hadis di atas.Para sahabat juga ber-tabarruk dengan ludah dan keringat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Al-Hakam radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ‘Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata,واللَّهِ إنْ رَأَيْتُ مَلِكًا قَطُّ يُعَظِّمُهُ أصْحَابُهُ ما يُعَظِّمُ أصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُحَمَّدًا؛ واللَّهِ إنْ تَنَخَّمَ نُخَامَةً إلَّا وقَعَتْ في كَفِّ رَجُلٍ منهمْ، فَدَلَكَ بهَا وجْهَهُ وجِلْدَهُ، وإذَا أمَرَهُمُ ابْتَدَرُوا أمْرَهُ، وإذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ علَى وَضُوئِهِ، وإذَا تَكَلَّمَ خَفَضُوا أصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ، وما يُحِدُّونَ إلَيْهِ النَّظَرَ تَعْظِيمًا له“Demi Allah, tidak pernah aku melihat raja yang diagungkan sebagaimana pengagungan para sahabat Nabi kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demi Allah, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meludah, kecuali pasti akan jatuh di telapak tangan salah seorang dari sahabatnya, kemudian orang itu pun menggosokkan ludah Nabi kepada wajah dan kulitnya. Dan bila Nabi memberi suatu perintah kepada mereka, mereka pun bergegas melaksanakan perintah beliau. Dan apabila beliau hendak berwudu, para sahabatnya hampir berkelahi karena berebut sisa wudu Nabi. Bila Nabi berbicara, mereka merendahkan suara mereka di hadapan Nabi. Dan mereka tidak pernah menajamkan pandangan kepada Nabi, sebagai bentuk pengagungan mereka terhadap Nabi.” (HR. Bukhari no. 2731)Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha berkata,أنَّ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ كانَ يَأْتِيهَا فَيَقِيلُ عِنْدَهَا فَتَبْسُطُ له نِطْعًا فَيَقِيلُ عليه، وَكانَ كَثِيرَ العَرَقِ، فَكَانَتْ تَجْمَعُ عَرَقَهُ فَتَجْعَلُهُ في الطِّيبِ وَالْقَوَارِيرِ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: يا أُمَّ سُلَيْمٍ ما هذا؟ قالَتْ: عَرَقُكَ أَدُوفُ به طِيبِي“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah datang ke rumah Ummu Sulaim untuk tidur siang di sana. Maka, Ummu Sulaim pun menghamparkan karpet kulit agar Nabi tidur di atasnya. Ternyata, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidur, beliau banyak berkeringat. Ummu Sulaim pun mengumpulkan keringat beliau dan memasukkannya ke dalam tempat minyak wangi dan botol-botol. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai Ummu Sulaim, Apa ini?” Ummu Sulaim menjawab, “Ini adalah keringatmu yang aku campur dengan minyak wangiku.” (HR. Muslim no.2332)Dan hadis-hadis lainnya yang sahih, yang menunjukkan bahwa para sahabat ber-tabarruk kepada jasad dan bekas-bekas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Juga generasi salaf setelah mereka, ber-tabarruk dengan benda-benda yang pernah beliau gunakan. Seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau menyimpan rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia pun berkata,لأن تكون عندي شعرة منه أحب إلي من الدنيا وما فيها“Aku memiliki sehelai rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari no. 170)Ini semua menunjukkan bahwa tabarruk yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung sesuatu yang dapat mencacati tauhid uluhiyyah ataupun tauhid rububiyyah.Dan bolehnya ber-tabarruk kepada jasad dan peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama. Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, “Para ulama sepakat tentang disyariatkannya ber-tabarruk kepada asar (peninggalan) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan para ulama yang menulis sirah, syamail (keutamaan-keutamaan), dan hadis Nabi, telah memaparkan berbagai hadis yang menunjukkan tabarruk-nya para sahabat yang mulia terhadap asar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berbagai bentuknya.” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 70/10)Namun, minimalnya ada dua poin penting dalam masalah ini:PertamaTabarruk dengan benda-benda peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang, sulit dipastikan validitas benda-benda tersebut bahwa benar itu milik beliau. Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah mengatakan, “Kita ketahui bersama bahwa asar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa pakaian, rambut, benda bekas pakai beliau, itu semua telah sirna dimakan waktu. Dan tidak ada yang bisa memastikan keberadaan benda-benda tersebut secara pasti di zaman sekarang. Jika demikian adanya, maka ber-tabarruk dengan asar Nabi di zaman sekarang, menjadi pembahasan yang tidak memiliki poin. Dan sudah menjadi perkara yang ada di tataran teori saja. Sehingga masalah ini tidak perlu diperpanjang.” (At-Tawasul Anwa’uhu wa Ahkamuhu, hal. 144)Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan, “Bahwasanya tidak mungkin lagi untuk memastikan bahwa rambut yang diklaim ini adalah benar rambut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun yang disebutkan sebagian orang, bahwa rambut Nabi sekarang ada di Majma’ Al-Atsar Mesir, ini tidak benar. Dan yang paling penting adalah asar Nabi yang maknawi, yaitu syariat beliau. Adapun asar yang sifatnya fisik, ia adalah asar yang dicintai oleh hati. Namun, yang lebih penting lagi untuk diperhatikan adalah atsar syar’i (yaitu ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).” (Durus Syaikh Ibnul Utsaimin, 11: 64)KeduaRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam telah membolehkan para sahabat ber-tabarruk kepada beliau sebagaimana diterangkan di atas. Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah boleh ber-tabarruk dengan cara yang sama kepada orang-orang saleh selain Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam?Tidak ada satu perkataan pun dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam yang memerintahkan umatnya untuk ber-tabarruk kepada para sahabatnya ataupun orang-orang yang selain sahabat Nabi. Baik ber-tabarruk dengan jasad maupun dengan bekas-bekas peninggalan mereka. Tidak pernah sedikit pun Rasulullah mengajarkan hal tersebut. Demikian juga, tidak ada satu pun riwayat yang dinukil dari para sahabat bahwa mereka ber-tabarruk kepada orang selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, baik ketika masa Rasulullah masih hidup, apalagi ketika beliau sudah wafat. Tidak ada riwayat yang menceritakan bahwa para sahabat ber-tabarruk kepada sesama sahabat Nabi yang termasuk As-Sabiquun Al-Awwalun (orang-orang yang pertama kali memeluk Islam) misalnya, atau kepada Khulafa Ar Rasyidin (padahal mereka adalah sahabat Nabi yang paling mulia), atau ber-tabarruk kepada sepuluh orang sahabat yang sudah dijamin surga, atau kepada yang lainnya.Imam Asy-Syathibi rahimahullah dalam kitab beliau Al-I’tisham, beliau menjelaskan masalah ini dengan panjang lebar, “Para sahabat radhiyallahu ’anhum, setelah wafatnya Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, tidak ada seorang pun di antara mereka yang melakukan perbuatan itu (ber-tabarruk) kepada orang setelah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Padahal sepeninggal beliau, tidak ada manusia yang lebih mulia dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ’anhu, karena beliaulah pengganti Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Namun, para sahabat tidak pernah ber-tabarruk kepada Abu Bakar. Tidak pernah pula ber-tabarruk kepada Umar bin Khattab, padahal Umar bin Khattab adalah manusia yang paling mulia setelah Abu Bakar. Tidak pernah pula ber-tabarruk kepada Utsman bin Affan, tidak pernah pula ber-tabarruk kepada Ali, tidak pernah pula ber-tabarruk salah seorang dari sahabat Nabi pun. Padahal merekalah orang-orang yang paling mulia dari seluruh umat. Dan tidak diketahui adanya satu riwayat pun yang sahih bahwa mereka ber-tabarruk kepada selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dengan salah satu dari cara yang disebutkan (maksudnya ber-tabarruk dengan rambut, baju, atau sisa air wudu, atau semacamnya). Para sahabat Nabi hanya mencukupkan diri mereka dengan meneladani perbuatan, perkataan, jalan hidup yang mereka ambil dari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Ini semua menunjukkan bahwa para sahabat bersepakat (ijma) untuk meninggalkan perbuatan tersebut.” (Al-I’tisham, 2: 8-9).Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Ber-tabarruk dengan bekas-bekas peninggalan orang-orang saleh tidaklah dibolehkan. Hal itu hanya dibolehkan khusus terhadap Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Karena Allah memang telah menjadikan jasad dan kulit beliau mengandung keberkahan. Adapun orang lain tidak bisa di-qiyas-kan kepada beliau, karena dua alasan:Pertama, para sahabat tidak pernah melakukan hal tersebut terhadap orang lain selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Andai perbuatan itu baik, tentu para sahabat Nabi-lah yang sudah terlebih dahulu melakukannya.Kedua, menutup jalan menuju kesyirikan. Karena ber-tabarruk kepada bekas-bekas peninggalan orang saleh selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mengantarkan kepada ghuluw dan ibadah kepada selain Allah. Sehingga wajib untuk dicegah.” (Fathul Bari [3: 130], [1: 144] yang di-ta’liq oleh Syaikh Ibnu Baaz)Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga: Angka Keramat***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.idTags: amalan bid'ahAqidahaqidah islambahaya bid'ahbelajar tauhidBid'ahcinta nabifikih tabarrukManhajmanhaj salafngalap berkahtabarrukTauhid


Dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أنَّ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ أَتَى مِنًى، فأتَى الجَمْرَةَ فَرَمَاهَا، ثُمَّ أَتَى مَنْزِلَهُ بمِنًى وَنَحَرَ، ثُمَّ قالَ لِلْحَلَّاقِ: خُذْ، وَأَشَارَ إلى جَانِبِهِ الأيْمَنِ، ثُمَّ الأيْسَرِ، ثُمَّ جَعَلَ يُعْطِيهِ النَّاسَ. [وفي رواية]: فَقالَ في رِوَايَتِهِ، لِلْحَلَّاقِ هَا وَأَشَارَ بيَدِهِ إلى الجَانِبِ الأيْمَنِ هَكَذَا، فَقَسَمَ شَعَرَهُ بيْنَ مَن يَلِيهِ، قالَ: ثُمَّ أَشَارَ إلى الحَلَّاقِ وإلَى الجَانِبِ الأيْسَرِ، فَحَلَقَهُ فأعْطَاهُ أُمَّ سُلَيْمٍ. وَأَمَّا في رِوَايَةِ أَبِي كُرَيْبٍ قالَ: فَبَدَأَ بالشِّقِّ الأيْمَنِ، فَوَزَّعَهُ الشَّعَرَةَ وَالشَّعَرَتَيْنِ بيْنَ النَّاسِ، ثُمَّ قالَ: بالأيْسَرِ فَصَنَعَ به مِثْلَ ذلكَ، ثُمَّ قالَ: هَا هُنَا أَبُو طَلْحَةَ؟ فَدَفَعَهُ إلى أَبِي طَلْحَةَ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di Mina. Beliau lalu datang ke Jamratul ‘Aqabah lalu melakukan jumrah. Kemudian beliau pergi ke tempatnya di Mina, dan menyembelih hewan kurban di sana. Sesudah itu, beliau berkata kepada tukang cukur, ‘Cukurlah rambutku!’ Sembari memberi isyarat ke kepalanya sebelah kanan dan kiri. Lalu, beliau memberikan rambutnya kepada orang banyak.” Dalam riwayat lain: “Sembari memberi isyarat ke arah kepala bagian kanannya seperti ini. Lalu, beliau membagi-bagikan rambutnya kepada mereka yang berada di sekitar beliau. Setelah itu, beliau memberi isyarat kembali ke arah kepala bagian kiri, lalu tukang cukur itu pun mencukurnya. Lalu, beliau pun memberikan rambut itu kepada Ummu Sulaim.” Adapun dalam riwayat Abu Kuraib, ia menyebutkan, “Tukang cukur itu pun memulainya dari rambut sebelah kanan seraya membagikannya kepada orang-orang, baru pindah ke sebelah kiri dan juga berbuat seperti itu. Kemudian beliau bersabda, ‘Ambilah ini wahai Abu Thalhah.’ Akhirnya beliau pun memberikannya kepada Abu Thalhah.” (HR. Muslim no. 1305) Penjelasan hadisHadis di atas dan hadis semisalnya sering dijadikan sebagai dalih untuk melakukan tabarruk (ngalap berkah) kepada jasad atau bekas-bekas orang saleh. Seperti ulama, ustaz, kiai, habib, wali, dan orang saleh secara umum.Tidak diragukan lagi bahwa memang Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam itu pada tubuhnya dan benda-benda yang pernah beliau gunakan, itu semua mengandung keberkahan. Keberkahan ini sama besarnya seperti berkahnya perbuatan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Ini sebagai tanda bahwa Allah memuliakan semua nabi dan rasul-Nya ‘alaihis shalatu wassalaam. Oleh karena itulah, para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wasallam ber-tabarruk (mencari keberkahan) dari tubuh Nabi shallallahu ’alaihi wasallam serta dari benda-benda yang pernah beliau gunakan semasa hidupnya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pun membolehkan perbuatan tersebut dan tidak mengingkarinya, sebagaimana dalam hadis di atas.Para sahabat juga ber-tabarruk dengan ludah dan keringat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Al-Hakam radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ‘Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata,واللَّهِ إنْ رَأَيْتُ مَلِكًا قَطُّ يُعَظِّمُهُ أصْحَابُهُ ما يُعَظِّمُ أصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُحَمَّدًا؛ واللَّهِ إنْ تَنَخَّمَ نُخَامَةً إلَّا وقَعَتْ في كَفِّ رَجُلٍ منهمْ، فَدَلَكَ بهَا وجْهَهُ وجِلْدَهُ، وإذَا أمَرَهُمُ ابْتَدَرُوا أمْرَهُ، وإذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ علَى وَضُوئِهِ، وإذَا تَكَلَّمَ خَفَضُوا أصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ، وما يُحِدُّونَ إلَيْهِ النَّظَرَ تَعْظِيمًا له“Demi Allah, tidak pernah aku melihat raja yang diagungkan sebagaimana pengagungan para sahabat Nabi kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demi Allah, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meludah, kecuali pasti akan jatuh di telapak tangan salah seorang dari sahabatnya, kemudian orang itu pun menggosokkan ludah Nabi kepada wajah dan kulitnya. Dan bila Nabi memberi suatu perintah kepada mereka, mereka pun bergegas melaksanakan perintah beliau. Dan apabila beliau hendak berwudu, para sahabatnya hampir berkelahi karena berebut sisa wudu Nabi. Bila Nabi berbicara, mereka merendahkan suara mereka di hadapan Nabi. Dan mereka tidak pernah menajamkan pandangan kepada Nabi, sebagai bentuk pengagungan mereka terhadap Nabi.” (HR. Bukhari no. 2731)Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha berkata,أنَّ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ كانَ يَأْتِيهَا فَيَقِيلُ عِنْدَهَا فَتَبْسُطُ له نِطْعًا فَيَقِيلُ عليه، وَكانَ كَثِيرَ العَرَقِ، فَكَانَتْ تَجْمَعُ عَرَقَهُ فَتَجْعَلُهُ في الطِّيبِ وَالْقَوَارِيرِ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: يا أُمَّ سُلَيْمٍ ما هذا؟ قالَتْ: عَرَقُكَ أَدُوفُ به طِيبِي“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah datang ke rumah Ummu Sulaim untuk tidur siang di sana. Maka, Ummu Sulaim pun menghamparkan karpet kulit agar Nabi tidur di atasnya. Ternyata, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidur, beliau banyak berkeringat. Ummu Sulaim pun mengumpulkan keringat beliau dan memasukkannya ke dalam tempat minyak wangi dan botol-botol. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai Ummu Sulaim, Apa ini?” Ummu Sulaim menjawab, “Ini adalah keringatmu yang aku campur dengan minyak wangiku.” (HR. Muslim no.2332)Dan hadis-hadis lainnya yang sahih, yang menunjukkan bahwa para sahabat ber-tabarruk kepada jasad dan bekas-bekas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Juga generasi salaf setelah mereka, ber-tabarruk dengan benda-benda yang pernah beliau gunakan. Seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau menyimpan rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia pun berkata,لأن تكون عندي شعرة منه أحب إلي من الدنيا وما فيها“Aku memiliki sehelai rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari no. 170)Ini semua menunjukkan bahwa tabarruk yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung sesuatu yang dapat mencacati tauhid uluhiyyah ataupun tauhid rububiyyah.Dan bolehnya ber-tabarruk kepada jasad dan peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama. Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, “Para ulama sepakat tentang disyariatkannya ber-tabarruk kepada asar (peninggalan) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan para ulama yang menulis sirah, syamail (keutamaan-keutamaan), dan hadis Nabi, telah memaparkan berbagai hadis yang menunjukkan tabarruk-nya para sahabat yang mulia terhadap asar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berbagai bentuknya.” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 70/10)Namun, minimalnya ada dua poin penting dalam masalah ini:PertamaTabarruk dengan benda-benda peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang, sulit dipastikan validitas benda-benda tersebut bahwa benar itu milik beliau. Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah mengatakan, “Kita ketahui bersama bahwa asar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa pakaian, rambut, benda bekas pakai beliau, itu semua telah sirna dimakan waktu. Dan tidak ada yang bisa memastikan keberadaan benda-benda tersebut secara pasti di zaman sekarang. Jika demikian adanya, maka ber-tabarruk dengan asar Nabi di zaman sekarang, menjadi pembahasan yang tidak memiliki poin. Dan sudah menjadi perkara yang ada di tataran teori saja. Sehingga masalah ini tidak perlu diperpanjang.” (At-Tawasul Anwa’uhu wa Ahkamuhu, hal. 144)Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan, “Bahwasanya tidak mungkin lagi untuk memastikan bahwa rambut yang diklaim ini adalah benar rambut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun yang disebutkan sebagian orang, bahwa rambut Nabi sekarang ada di Majma’ Al-Atsar Mesir, ini tidak benar. Dan yang paling penting adalah asar Nabi yang maknawi, yaitu syariat beliau. Adapun asar yang sifatnya fisik, ia adalah asar yang dicintai oleh hati. Namun, yang lebih penting lagi untuk diperhatikan adalah atsar syar’i (yaitu ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).” (Durus Syaikh Ibnul Utsaimin, 11: 64)KeduaRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam telah membolehkan para sahabat ber-tabarruk kepada beliau sebagaimana diterangkan di atas. Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah boleh ber-tabarruk dengan cara yang sama kepada orang-orang saleh selain Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam?Tidak ada satu perkataan pun dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam yang memerintahkan umatnya untuk ber-tabarruk kepada para sahabatnya ataupun orang-orang yang selain sahabat Nabi. Baik ber-tabarruk dengan jasad maupun dengan bekas-bekas peninggalan mereka. Tidak pernah sedikit pun Rasulullah mengajarkan hal tersebut. Demikian juga, tidak ada satu pun riwayat yang dinukil dari para sahabat bahwa mereka ber-tabarruk kepada orang selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, baik ketika masa Rasulullah masih hidup, apalagi ketika beliau sudah wafat. Tidak ada riwayat yang menceritakan bahwa para sahabat ber-tabarruk kepada sesama sahabat Nabi yang termasuk As-Sabiquun Al-Awwalun (orang-orang yang pertama kali memeluk Islam) misalnya, atau kepada Khulafa Ar Rasyidin (padahal mereka adalah sahabat Nabi yang paling mulia), atau ber-tabarruk kepada sepuluh orang sahabat yang sudah dijamin surga, atau kepada yang lainnya.Imam Asy-Syathibi rahimahullah dalam kitab beliau Al-I’tisham, beliau menjelaskan masalah ini dengan panjang lebar, “Para sahabat radhiyallahu ’anhum, setelah wafatnya Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, tidak ada seorang pun di antara mereka yang melakukan perbuatan itu (ber-tabarruk) kepada orang setelah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Padahal sepeninggal beliau, tidak ada manusia yang lebih mulia dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ’anhu, karena beliaulah pengganti Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Namun, para sahabat tidak pernah ber-tabarruk kepada Abu Bakar. Tidak pernah pula ber-tabarruk kepada Umar bin Khattab, padahal Umar bin Khattab adalah manusia yang paling mulia setelah Abu Bakar. Tidak pernah pula ber-tabarruk kepada Utsman bin Affan, tidak pernah pula ber-tabarruk kepada Ali, tidak pernah pula ber-tabarruk salah seorang dari sahabat Nabi pun. Padahal merekalah orang-orang yang paling mulia dari seluruh umat. Dan tidak diketahui adanya satu riwayat pun yang sahih bahwa mereka ber-tabarruk kepada selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dengan salah satu dari cara yang disebutkan (maksudnya ber-tabarruk dengan rambut, baju, atau sisa air wudu, atau semacamnya). Para sahabat Nabi hanya mencukupkan diri mereka dengan meneladani perbuatan, perkataan, jalan hidup yang mereka ambil dari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Ini semua menunjukkan bahwa para sahabat bersepakat (ijma) untuk meninggalkan perbuatan tersebut.” (Al-I’tisham, 2: 8-9).Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Ber-tabarruk dengan bekas-bekas peninggalan orang-orang saleh tidaklah dibolehkan. Hal itu hanya dibolehkan khusus terhadap Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Karena Allah memang telah menjadikan jasad dan kulit beliau mengandung keberkahan. Adapun orang lain tidak bisa di-qiyas-kan kepada beliau, karena dua alasan:Pertama, para sahabat tidak pernah melakukan hal tersebut terhadap orang lain selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Andai perbuatan itu baik, tentu para sahabat Nabi-lah yang sudah terlebih dahulu melakukannya.Kedua, menutup jalan menuju kesyirikan. Karena ber-tabarruk kepada bekas-bekas peninggalan orang saleh selain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mengantarkan kepada ghuluw dan ibadah kepada selain Allah. Sehingga wajib untuk dicegah.” (Fathul Bari [3: 130], [1: 144] yang di-ta’liq oleh Syaikh Ibnu Baaz)Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga: Angka Keramat***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.idTags: amalan bid'ahAqidahaqidah islambahaya bid'ahbelajar tauhidBid'ahcinta nabifikih tabarrukManhajmanhaj salafngalap berkahtabarrukTauhid

Buah Khuldi

Buah Khuldi adalah penamaan buah untuk nama pohon yang Allah ‘Azza Wajalla larang Nabi Adam dan istri beliau untuk mendekatinya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla,وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ“Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!” (QS. Al-Baqarah: 35) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,نوع من أنواع شجر الجنة; الله أعلم بها، وإنما نهاهما عنها امتحانا وابتلاء“Pohon ini merupakan salah satu pohon surga. Allah yang lebih tahu tentang hal tersebut. Akan tetapi, yang jelas Allah larang keduanya mendekati pohon tersebut sebagai bentuk ujian (patuh ataukah tidak).” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 49)Akan tetapi, setan berupaya sedemikian kuat untuk menjerumuskan Nabi Adam dan Hawa ‘alaihimassalam agar tidak mematuhi perintah Rabbnya. Dalam sebuah riwayat [1] disebutkan bahwa setan berpura-pura menangis dengan tangisan yang menyayat sehingga mengundang iba keduanya. Setan mengaku bersedih jika keduanya nanti tidak akan menjumpai nikmat seperti ini, sampai ia berkata,يا آدم هَل أدلك على شجرة الخلد ومُلك لا يبلى؟ وقال:”ما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة إلا أن تكونا مَلَكين أو تكونا من الخالدين، وقاسمهما إني لكما لمن الناصحين”“Wahai Adam, maukah kutunjukkan manfaat pohon Khuld yang nantinya kamu akan menjadi malaikat di sini yang tidak akan lenyap? Rabbmu melarangmu memakannya agar engkau tidak menjadi malaikat dan kekal di sini. (Bahkan setan sampai bersumpah) dan mengatakan bahwa, aku ini benar-benar memberi saran yang baik untukmu.” [2]Rayuan setan ini pun masuk ke dalam hati Adam dan Hawa dan keduanya menuruti bisikan tersebut. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطٰنُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وٗرِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْءٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهٰىكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَا مَلَكَيْنِ اَوْ تَكُوْنَا مِنَ الْخٰلِدِيْنَ“Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya yang berakibat tampak pada keduanya sesuatu yang tertutup dari aurat keduanya. Ia (setan) berkata, ‘Tuhanmu tidak melarang kamu berdua untuk mendekati pohon ini, kecuali (karena Dia tidak senang) kamu berdua menjadi malaikat atau kamu berdua termasuk orang-orang yang kekal (dalam surga).’” (QS. Al-A’raf: 20)Allah pun memberikan teguran dengan menampakkan aurat lahir mereka karena telah melanggar apa-apa yang Allah perintahkan. Hal ini menunjukkan, bahwa kemaksiatan dalam hati sekalipun akan berdampak pada lahiriah manusia. Syekh As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan ayat ini dengan mengatakan,ظهرت عورة كل منهما بعد ما كانت مستورة، فصار للعري الباطن من التقوى في هذه الحال أثر في اللباس الظاهر، حتى انخلع فظهرت عوراتهما، ولما ظهرت عوراتهما خَجِلا وجَعَلا يخصفان على عوراتهما من أوراق شجر الجنة، ليستترا بذلك“Nampaklah aurat keduanya satu sama lain, setelah sebelumnya tertutup. Keterbukaan batin (karena melanggar ketentuan Allah) memberikan efek kepada keterbukaan lahiriah (terbukanya aurat). Sampai benar-benar tidak ada yang menutupi aurat mereka dan nampaklah aurat keduanya. Mereka pun berupaya menutupinya karena malu dengan dedaunan surga.” [3]Jika Nabi Adam ‘alaihissalam langsung Allah tegur, bagaimana dengan kita yang bahkan kedekatan kita dengan Allah Ta’ala tidak sebagaimana kedekatan Nabi Adam ‘alaihissalam?! Semoga Allah jaga kita dari perbuatan ingkar kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Syekh Abdul Qodir Jaelani—Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Thabari dalam Tafsir-nya no. 747 (1: 529).[2] Diriwayatkan oleh At-Thabari dalam Tafsir-nya no. 747 (1: 529).[3] Tafsir As-Sa’diy, hal. 285.—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.idTags: adabakhiratAkhlakalam akhiratapa itu Buah KhuldiAqidahaqidah islamBuah KhuldiManhajmengenal Buah Khuldipengertian Buah Khuldisurgatebtabg Buah Khuldi

Buah Khuldi

Buah Khuldi adalah penamaan buah untuk nama pohon yang Allah ‘Azza Wajalla larang Nabi Adam dan istri beliau untuk mendekatinya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla,وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ“Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!” (QS. Al-Baqarah: 35) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,نوع من أنواع شجر الجنة; الله أعلم بها، وإنما نهاهما عنها امتحانا وابتلاء“Pohon ini merupakan salah satu pohon surga. Allah yang lebih tahu tentang hal tersebut. Akan tetapi, yang jelas Allah larang keduanya mendekati pohon tersebut sebagai bentuk ujian (patuh ataukah tidak).” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 49)Akan tetapi, setan berupaya sedemikian kuat untuk menjerumuskan Nabi Adam dan Hawa ‘alaihimassalam agar tidak mematuhi perintah Rabbnya. Dalam sebuah riwayat [1] disebutkan bahwa setan berpura-pura menangis dengan tangisan yang menyayat sehingga mengundang iba keduanya. Setan mengaku bersedih jika keduanya nanti tidak akan menjumpai nikmat seperti ini, sampai ia berkata,يا آدم هَل أدلك على شجرة الخلد ومُلك لا يبلى؟ وقال:”ما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة إلا أن تكونا مَلَكين أو تكونا من الخالدين، وقاسمهما إني لكما لمن الناصحين”“Wahai Adam, maukah kutunjukkan manfaat pohon Khuld yang nantinya kamu akan menjadi malaikat di sini yang tidak akan lenyap? Rabbmu melarangmu memakannya agar engkau tidak menjadi malaikat dan kekal di sini. (Bahkan setan sampai bersumpah) dan mengatakan bahwa, aku ini benar-benar memberi saran yang baik untukmu.” [2]Rayuan setan ini pun masuk ke dalam hati Adam dan Hawa dan keduanya menuruti bisikan tersebut. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطٰنُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وٗرِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْءٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهٰىكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَا مَلَكَيْنِ اَوْ تَكُوْنَا مِنَ الْخٰلِدِيْنَ“Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya yang berakibat tampak pada keduanya sesuatu yang tertutup dari aurat keduanya. Ia (setan) berkata, ‘Tuhanmu tidak melarang kamu berdua untuk mendekati pohon ini, kecuali (karena Dia tidak senang) kamu berdua menjadi malaikat atau kamu berdua termasuk orang-orang yang kekal (dalam surga).’” (QS. Al-A’raf: 20)Allah pun memberikan teguran dengan menampakkan aurat lahir mereka karena telah melanggar apa-apa yang Allah perintahkan. Hal ini menunjukkan, bahwa kemaksiatan dalam hati sekalipun akan berdampak pada lahiriah manusia. Syekh As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan ayat ini dengan mengatakan,ظهرت عورة كل منهما بعد ما كانت مستورة، فصار للعري الباطن من التقوى في هذه الحال أثر في اللباس الظاهر، حتى انخلع فظهرت عوراتهما، ولما ظهرت عوراتهما خَجِلا وجَعَلا يخصفان على عوراتهما من أوراق شجر الجنة، ليستترا بذلك“Nampaklah aurat keduanya satu sama lain, setelah sebelumnya tertutup. Keterbukaan batin (karena melanggar ketentuan Allah) memberikan efek kepada keterbukaan lahiriah (terbukanya aurat). Sampai benar-benar tidak ada yang menutupi aurat mereka dan nampaklah aurat keduanya. Mereka pun berupaya menutupinya karena malu dengan dedaunan surga.” [3]Jika Nabi Adam ‘alaihissalam langsung Allah tegur, bagaimana dengan kita yang bahkan kedekatan kita dengan Allah Ta’ala tidak sebagaimana kedekatan Nabi Adam ‘alaihissalam?! Semoga Allah jaga kita dari perbuatan ingkar kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Syekh Abdul Qodir Jaelani—Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Thabari dalam Tafsir-nya no. 747 (1: 529).[2] Diriwayatkan oleh At-Thabari dalam Tafsir-nya no. 747 (1: 529).[3] Tafsir As-Sa’diy, hal. 285.—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.idTags: adabakhiratAkhlakalam akhiratapa itu Buah KhuldiAqidahaqidah islamBuah KhuldiManhajmengenal Buah Khuldipengertian Buah Khuldisurgatebtabg Buah Khuldi
Buah Khuldi adalah penamaan buah untuk nama pohon yang Allah ‘Azza Wajalla larang Nabi Adam dan istri beliau untuk mendekatinya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla,وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ“Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!” (QS. Al-Baqarah: 35) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,نوع من أنواع شجر الجنة; الله أعلم بها، وإنما نهاهما عنها امتحانا وابتلاء“Pohon ini merupakan salah satu pohon surga. Allah yang lebih tahu tentang hal tersebut. Akan tetapi, yang jelas Allah larang keduanya mendekati pohon tersebut sebagai bentuk ujian (patuh ataukah tidak).” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 49)Akan tetapi, setan berupaya sedemikian kuat untuk menjerumuskan Nabi Adam dan Hawa ‘alaihimassalam agar tidak mematuhi perintah Rabbnya. Dalam sebuah riwayat [1] disebutkan bahwa setan berpura-pura menangis dengan tangisan yang menyayat sehingga mengundang iba keduanya. Setan mengaku bersedih jika keduanya nanti tidak akan menjumpai nikmat seperti ini, sampai ia berkata,يا آدم هَل أدلك على شجرة الخلد ومُلك لا يبلى؟ وقال:”ما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة إلا أن تكونا مَلَكين أو تكونا من الخالدين، وقاسمهما إني لكما لمن الناصحين”“Wahai Adam, maukah kutunjukkan manfaat pohon Khuld yang nantinya kamu akan menjadi malaikat di sini yang tidak akan lenyap? Rabbmu melarangmu memakannya agar engkau tidak menjadi malaikat dan kekal di sini. (Bahkan setan sampai bersumpah) dan mengatakan bahwa, aku ini benar-benar memberi saran yang baik untukmu.” [2]Rayuan setan ini pun masuk ke dalam hati Adam dan Hawa dan keduanya menuruti bisikan tersebut. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطٰنُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وٗرِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْءٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهٰىكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَا مَلَكَيْنِ اَوْ تَكُوْنَا مِنَ الْخٰلِدِيْنَ“Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya yang berakibat tampak pada keduanya sesuatu yang tertutup dari aurat keduanya. Ia (setan) berkata, ‘Tuhanmu tidak melarang kamu berdua untuk mendekati pohon ini, kecuali (karena Dia tidak senang) kamu berdua menjadi malaikat atau kamu berdua termasuk orang-orang yang kekal (dalam surga).’” (QS. Al-A’raf: 20)Allah pun memberikan teguran dengan menampakkan aurat lahir mereka karena telah melanggar apa-apa yang Allah perintahkan. Hal ini menunjukkan, bahwa kemaksiatan dalam hati sekalipun akan berdampak pada lahiriah manusia. Syekh As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan ayat ini dengan mengatakan,ظهرت عورة كل منهما بعد ما كانت مستورة، فصار للعري الباطن من التقوى في هذه الحال أثر في اللباس الظاهر، حتى انخلع فظهرت عوراتهما، ولما ظهرت عوراتهما خَجِلا وجَعَلا يخصفان على عوراتهما من أوراق شجر الجنة، ليستترا بذلك“Nampaklah aurat keduanya satu sama lain, setelah sebelumnya tertutup. Keterbukaan batin (karena melanggar ketentuan Allah) memberikan efek kepada keterbukaan lahiriah (terbukanya aurat). Sampai benar-benar tidak ada yang menutupi aurat mereka dan nampaklah aurat keduanya. Mereka pun berupaya menutupinya karena malu dengan dedaunan surga.” [3]Jika Nabi Adam ‘alaihissalam langsung Allah tegur, bagaimana dengan kita yang bahkan kedekatan kita dengan Allah Ta’ala tidak sebagaimana kedekatan Nabi Adam ‘alaihissalam?! Semoga Allah jaga kita dari perbuatan ingkar kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Syekh Abdul Qodir Jaelani—Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Thabari dalam Tafsir-nya no. 747 (1: 529).[2] Diriwayatkan oleh At-Thabari dalam Tafsir-nya no. 747 (1: 529).[3] Tafsir As-Sa’diy, hal. 285.—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.idTags: adabakhiratAkhlakalam akhiratapa itu Buah KhuldiAqidahaqidah islamBuah KhuldiManhajmengenal Buah Khuldipengertian Buah Khuldisurgatebtabg Buah Khuldi


Buah Khuldi adalah penamaan buah untuk nama pohon yang Allah ‘Azza Wajalla larang Nabi Adam dan istri beliau untuk mendekatinya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla,وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ“Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!” (QS. Al-Baqarah: 35) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,نوع من أنواع شجر الجنة; الله أعلم بها، وإنما نهاهما عنها امتحانا وابتلاء“Pohon ini merupakan salah satu pohon surga. Allah yang lebih tahu tentang hal tersebut. Akan tetapi, yang jelas Allah larang keduanya mendekati pohon tersebut sebagai bentuk ujian (patuh ataukah tidak).” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 49)Akan tetapi, setan berupaya sedemikian kuat untuk menjerumuskan Nabi Adam dan Hawa ‘alaihimassalam agar tidak mematuhi perintah Rabbnya. Dalam sebuah riwayat [1] disebutkan bahwa setan berpura-pura menangis dengan tangisan yang menyayat sehingga mengundang iba keduanya. Setan mengaku bersedih jika keduanya nanti tidak akan menjumpai nikmat seperti ini, sampai ia berkata,يا آدم هَل أدلك على شجرة الخلد ومُلك لا يبلى؟ وقال:”ما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة إلا أن تكونا مَلَكين أو تكونا من الخالدين، وقاسمهما إني لكما لمن الناصحين”“Wahai Adam, maukah kutunjukkan manfaat pohon Khuld yang nantinya kamu akan menjadi malaikat di sini yang tidak akan lenyap? Rabbmu melarangmu memakannya agar engkau tidak menjadi malaikat dan kekal di sini. (Bahkan setan sampai bersumpah) dan mengatakan bahwa, aku ini benar-benar memberi saran yang baik untukmu.” [2]Rayuan setan ini pun masuk ke dalam hati Adam dan Hawa dan keduanya menuruti bisikan tersebut. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطٰنُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وٗرِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْءٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهٰىكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَا مَلَكَيْنِ اَوْ تَكُوْنَا مِنَ الْخٰلِدِيْنَ“Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya yang berakibat tampak pada keduanya sesuatu yang tertutup dari aurat keduanya. Ia (setan) berkata, ‘Tuhanmu tidak melarang kamu berdua untuk mendekati pohon ini, kecuali (karena Dia tidak senang) kamu berdua menjadi malaikat atau kamu berdua termasuk orang-orang yang kekal (dalam surga).’” (QS. Al-A’raf: 20)Allah pun memberikan teguran dengan menampakkan aurat lahir mereka karena telah melanggar apa-apa yang Allah perintahkan. Hal ini menunjukkan, bahwa kemaksiatan dalam hati sekalipun akan berdampak pada lahiriah manusia. Syekh As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan ayat ini dengan mengatakan,ظهرت عورة كل منهما بعد ما كانت مستورة، فصار للعري الباطن من التقوى في هذه الحال أثر في اللباس الظاهر، حتى انخلع فظهرت عوراتهما، ولما ظهرت عوراتهما خَجِلا وجَعَلا يخصفان على عوراتهما من أوراق شجر الجنة، ليستترا بذلك“Nampaklah aurat keduanya satu sama lain, setelah sebelumnya tertutup. Keterbukaan batin (karena melanggar ketentuan Allah) memberikan efek kepada keterbukaan lahiriah (terbukanya aurat). Sampai benar-benar tidak ada yang menutupi aurat mereka dan nampaklah aurat keduanya. Mereka pun berupaya menutupinya karena malu dengan dedaunan surga.” [3]Jika Nabi Adam ‘alaihissalam langsung Allah tegur, bagaimana dengan kita yang bahkan kedekatan kita dengan Allah Ta’ala tidak sebagaimana kedekatan Nabi Adam ‘alaihissalam?! Semoga Allah jaga kita dari perbuatan ingkar kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Syekh Abdul Qodir Jaelani—Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Thabari dalam Tafsir-nya no. 747 (1: 529).[2] Diriwayatkan oleh At-Thabari dalam Tafsir-nya no. 747 (1: 529).[3] Tafsir As-Sa’diy, hal. 285.—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.idTags: adabakhiratAkhlakalam akhiratapa itu Buah KhuldiAqidahaqidah islamBuah KhuldiManhajmengenal Buah Khuldipengertian Buah Khuldisurgatebtabg Buah Khuldi

Minuman Menjijikkan Pecandu Miras di Neraka – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Kemudian beliau juga menyebutkan hadis yang ketigayang berkenaan dengan miras dan hukuman yang ditimbulkannya,bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang mati dalam keadaan kecanduan miras, …”“Barang siapa yang mati dalam keadaan kecanduan miras, …” Ini juga masalah lain darinya,masalah lain akibat miras,bahwa orang yang sudah mencicipinyadan menenggaknya sekali atau dua kali, itu akan membuatnya ingin lagi dan lagi sampaipada titik yang diistilahkan dengan kecanduan. Kecanduan adalah penyakit yang sangat mengerikandan bahaya yang besar bagi seorang hamba. “Barang siapa yang mati dalam keadaan kecanduan miras,niscaya Allah akan Memberinya minum dari sungai Ghūṯah.”Ditanyakan, “Apakah sungai Ghūṯah itu?” Beliau bersabda, “Sungai yang mengalir dari kemaluan para pelacuryang bau kemaluan mereka sudah cukup menyakiti penduduk neraka.” (HR. Ibnu Hibban) Jika bau kemaluan mereka saja sudah menyakiti penduduk neraka,lalu bagaimana dengan orang yang meminumnya? Cairan yang keluar ini,yang mengalir dengan bau busuk, tengik, dan menjijikan ini, diminum!“… niscaya Allah akan Memberinya minum dari sungai Ghūṯah.” Sungai Ghūṯah ini mengalir dari kemaluan para pelacur.Mengalir dari kemaluan para pelacur! Orang berakal ketika merenungkan hal seperti iniakan mendapati peredam yang kuat dan pendorong yang besar baginyauntuk menjauhi penyakit ini. Dengan membaca tiga hadis ini,—dan ada banyak hadis-hadis serupa dalam sunah—apakah pantas orang yang berakal dan yang peduli terhadap dirinya untuk mengabaikan hadis-hadis ini dan meneruskan menenggak mirasseraya berkata, “Aku husnuzan saja, Allah tidak akan mengazabku”!? Inilah maksud Ibnul Qayyim ketika membawakan hadis-hadis ini.Jika pemahaman yang disangka sebagian orang ini diterapkan,niscaya akan menggugurkan semua hadis-hadis ancaman,sehingga tidak ada artinya lagi. Tidak akan ada lagi artinya dan hilang pengaruhnya.Hadis-hadis ini adalah penghalang kemaksiatan,berupa hukuman-hukuman yang disiapkan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Perhatikan kalimat yang tersebut dalam hadis ini,beliau bersabda, “… melainkan wajib bagi Allah untuk Memberinya minum …” Ancaman ini memberi pengaruh kuat bagi orang yang berakaldan tidak samar lagi menjadi penghalang dan peredam maksiat.Demikian. ==== ثُمَّ ذَكَرَ هَذَا الْحَدِيثَ الثَّالِثَ أَيْضًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالْخَمْرِ وَالْعُقُوبَاتِ الَّتِي عَلَيْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ مَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ هُنَا أَيْضًا مُشْكِلَةٌ فِيهِ مُشْكِلَةٌ فِي الْخَمْرِ أَنَّ مَنْ دَخَلَ فِيهَا مَنْ دَخَلَ فِيهَا شَرِبَهُ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ يَسْتَدْرِجُهُ هَذَا الْأَمْرُ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ فِيمَا يُسَمَّى الْإِدْمَانَ وَالْإِدْمَانُ أَيْضًا آفَةٌ خَطِيرَةٌ جِدًّا وَمَضَرَّةٌ جَسِيْمَةٌ عَلَى الْعَبْدِ فَمَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ سَقَاهُ اللهُ مِنْ نَهْرِ الْغُوطَةِ قِيلَ وَمَا نَهْرُ الْغُوطَةِ؟ قَالَ: نَهْرٌ يَجْرِي مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيحُ فُرُوجِهِنَّ – رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ إِذَا كَانَ يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيحُ فُرُوجِهِنَّ فَكَيْفَ بِمَنْ يَشْرَبُ؟ هَذَا السَّائِلُ الَّذِي يَخْرُجُ السَّائِلُ النَّتِنُ الْخَبِيثُ المُؤْذِي يَشْرَبُهُ سَقَاهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ نَهْرِ الْغُوطَةِ نَهْرُ الْغُوطَةِ هَذَا الَّذِي يَخْرُجُ مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ وَالْعَاقِلُ عِنْدَمَا يَتَأَمَّلُ فِي مِثْلِ هَذَا يَجِدُ فِيهِ رَادِعًا عَظِيمًا وَمُوْقِظًا كَبِيرًا لِلْمَرْءِ أَنْ يَتَجَنَّبَ هَذِهِ الْآفَةَ فَمَعَ قِرَاءَةِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ الثَّلَاثَةِ وَلَهَا نَظَائِرُ فِي السُّنَّةِ كَثِيرَةٌ أَيَلِيقُ بِعَاقِلٍ نَاصِحٍ لِنَفْسِهِ أَنْ يُهْمِلَ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ وَيَسْتَمِرَّ فِي شُرْبِ الْخَمْرِ وَيَقُولُ: أَنَا أُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ أَلَّا يُعَذِّبَنِي؟ هَذَا مَقْصُودُ ابْنِ الْقَيِّمِ بِإِيرَادِهِ مِثْلَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَلَوْ أُعْمِلَ هَذَا الْفَهْمُ الَّذِي يَفْهَمُهُ بَعْضُ النَّاسِ لَعُطِّلَ جَمِيعُ أَحَادِيثِ الْوَعِيدِ وَلَمْ يُصْبِحْ لَهَا مَعْنًى لَمْ يُصْبِحْ لَهَا أَيُّ مَعْنًى وَلَمْ يُصْبِحْ لَهَا أَيُّ أَثَرٍ فَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ هَذِهِ زَاجِرَةٌ وَهِيَ عُقُوبَاتٌ أَعَدَّهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى انْظُرْ يَعْنِي الْجُمْلَةَ الَّتِي وَرَدَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ: إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُسْقِيَهُ هَذَا الْوَعِيدُ يَأْخُذُ بِقُلُوبِ الْعُقَلَاءِ مَأْخَذًا قَوِيًّا وَفِيهِ مِنَ الزَّجْرِ وَالرَّدْعِ مَا لَا يَخْفَى نَعَمْ

Minuman Menjijikkan Pecandu Miras di Neraka – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Kemudian beliau juga menyebutkan hadis yang ketigayang berkenaan dengan miras dan hukuman yang ditimbulkannya,bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang mati dalam keadaan kecanduan miras, …”“Barang siapa yang mati dalam keadaan kecanduan miras, …” Ini juga masalah lain darinya,masalah lain akibat miras,bahwa orang yang sudah mencicipinyadan menenggaknya sekali atau dua kali, itu akan membuatnya ingin lagi dan lagi sampaipada titik yang diistilahkan dengan kecanduan. Kecanduan adalah penyakit yang sangat mengerikandan bahaya yang besar bagi seorang hamba. “Barang siapa yang mati dalam keadaan kecanduan miras,niscaya Allah akan Memberinya minum dari sungai Ghūṯah.”Ditanyakan, “Apakah sungai Ghūṯah itu?” Beliau bersabda, “Sungai yang mengalir dari kemaluan para pelacuryang bau kemaluan mereka sudah cukup menyakiti penduduk neraka.” (HR. Ibnu Hibban) Jika bau kemaluan mereka saja sudah menyakiti penduduk neraka,lalu bagaimana dengan orang yang meminumnya? Cairan yang keluar ini,yang mengalir dengan bau busuk, tengik, dan menjijikan ini, diminum!“… niscaya Allah akan Memberinya minum dari sungai Ghūṯah.” Sungai Ghūṯah ini mengalir dari kemaluan para pelacur.Mengalir dari kemaluan para pelacur! Orang berakal ketika merenungkan hal seperti iniakan mendapati peredam yang kuat dan pendorong yang besar baginyauntuk menjauhi penyakit ini. Dengan membaca tiga hadis ini,—dan ada banyak hadis-hadis serupa dalam sunah—apakah pantas orang yang berakal dan yang peduli terhadap dirinya untuk mengabaikan hadis-hadis ini dan meneruskan menenggak mirasseraya berkata, “Aku husnuzan saja, Allah tidak akan mengazabku”!? Inilah maksud Ibnul Qayyim ketika membawakan hadis-hadis ini.Jika pemahaman yang disangka sebagian orang ini diterapkan,niscaya akan menggugurkan semua hadis-hadis ancaman,sehingga tidak ada artinya lagi. Tidak akan ada lagi artinya dan hilang pengaruhnya.Hadis-hadis ini adalah penghalang kemaksiatan,berupa hukuman-hukuman yang disiapkan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Perhatikan kalimat yang tersebut dalam hadis ini,beliau bersabda, “… melainkan wajib bagi Allah untuk Memberinya minum …” Ancaman ini memberi pengaruh kuat bagi orang yang berakaldan tidak samar lagi menjadi penghalang dan peredam maksiat.Demikian. ==== ثُمَّ ذَكَرَ هَذَا الْحَدِيثَ الثَّالِثَ أَيْضًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالْخَمْرِ وَالْعُقُوبَاتِ الَّتِي عَلَيْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ مَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ هُنَا أَيْضًا مُشْكِلَةٌ فِيهِ مُشْكِلَةٌ فِي الْخَمْرِ أَنَّ مَنْ دَخَلَ فِيهَا مَنْ دَخَلَ فِيهَا شَرِبَهُ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ يَسْتَدْرِجُهُ هَذَا الْأَمْرُ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ فِيمَا يُسَمَّى الْإِدْمَانَ وَالْإِدْمَانُ أَيْضًا آفَةٌ خَطِيرَةٌ جِدًّا وَمَضَرَّةٌ جَسِيْمَةٌ عَلَى الْعَبْدِ فَمَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ سَقَاهُ اللهُ مِنْ نَهْرِ الْغُوطَةِ قِيلَ وَمَا نَهْرُ الْغُوطَةِ؟ قَالَ: نَهْرٌ يَجْرِي مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيحُ فُرُوجِهِنَّ – رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ إِذَا كَانَ يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيحُ فُرُوجِهِنَّ فَكَيْفَ بِمَنْ يَشْرَبُ؟ هَذَا السَّائِلُ الَّذِي يَخْرُجُ السَّائِلُ النَّتِنُ الْخَبِيثُ المُؤْذِي يَشْرَبُهُ سَقَاهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ نَهْرِ الْغُوطَةِ نَهْرُ الْغُوطَةِ هَذَا الَّذِي يَخْرُجُ مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ وَالْعَاقِلُ عِنْدَمَا يَتَأَمَّلُ فِي مِثْلِ هَذَا يَجِدُ فِيهِ رَادِعًا عَظِيمًا وَمُوْقِظًا كَبِيرًا لِلْمَرْءِ أَنْ يَتَجَنَّبَ هَذِهِ الْآفَةَ فَمَعَ قِرَاءَةِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ الثَّلَاثَةِ وَلَهَا نَظَائِرُ فِي السُّنَّةِ كَثِيرَةٌ أَيَلِيقُ بِعَاقِلٍ نَاصِحٍ لِنَفْسِهِ أَنْ يُهْمِلَ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ وَيَسْتَمِرَّ فِي شُرْبِ الْخَمْرِ وَيَقُولُ: أَنَا أُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ أَلَّا يُعَذِّبَنِي؟ هَذَا مَقْصُودُ ابْنِ الْقَيِّمِ بِإِيرَادِهِ مِثْلَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَلَوْ أُعْمِلَ هَذَا الْفَهْمُ الَّذِي يَفْهَمُهُ بَعْضُ النَّاسِ لَعُطِّلَ جَمِيعُ أَحَادِيثِ الْوَعِيدِ وَلَمْ يُصْبِحْ لَهَا مَعْنًى لَمْ يُصْبِحْ لَهَا أَيُّ مَعْنًى وَلَمْ يُصْبِحْ لَهَا أَيُّ أَثَرٍ فَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ هَذِهِ زَاجِرَةٌ وَهِيَ عُقُوبَاتٌ أَعَدَّهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى انْظُرْ يَعْنِي الْجُمْلَةَ الَّتِي وَرَدَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ: إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُسْقِيَهُ هَذَا الْوَعِيدُ يَأْخُذُ بِقُلُوبِ الْعُقَلَاءِ مَأْخَذًا قَوِيًّا وَفِيهِ مِنَ الزَّجْرِ وَالرَّدْعِ مَا لَا يَخْفَى نَعَمْ
Kemudian beliau juga menyebutkan hadis yang ketigayang berkenaan dengan miras dan hukuman yang ditimbulkannya,bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang mati dalam keadaan kecanduan miras, …”“Barang siapa yang mati dalam keadaan kecanduan miras, …” Ini juga masalah lain darinya,masalah lain akibat miras,bahwa orang yang sudah mencicipinyadan menenggaknya sekali atau dua kali, itu akan membuatnya ingin lagi dan lagi sampaipada titik yang diistilahkan dengan kecanduan. Kecanduan adalah penyakit yang sangat mengerikandan bahaya yang besar bagi seorang hamba. “Barang siapa yang mati dalam keadaan kecanduan miras,niscaya Allah akan Memberinya minum dari sungai Ghūṯah.”Ditanyakan, “Apakah sungai Ghūṯah itu?” Beliau bersabda, “Sungai yang mengalir dari kemaluan para pelacuryang bau kemaluan mereka sudah cukup menyakiti penduduk neraka.” (HR. Ibnu Hibban) Jika bau kemaluan mereka saja sudah menyakiti penduduk neraka,lalu bagaimana dengan orang yang meminumnya? Cairan yang keluar ini,yang mengalir dengan bau busuk, tengik, dan menjijikan ini, diminum!“… niscaya Allah akan Memberinya minum dari sungai Ghūṯah.” Sungai Ghūṯah ini mengalir dari kemaluan para pelacur.Mengalir dari kemaluan para pelacur! Orang berakal ketika merenungkan hal seperti iniakan mendapati peredam yang kuat dan pendorong yang besar baginyauntuk menjauhi penyakit ini. Dengan membaca tiga hadis ini,—dan ada banyak hadis-hadis serupa dalam sunah—apakah pantas orang yang berakal dan yang peduli terhadap dirinya untuk mengabaikan hadis-hadis ini dan meneruskan menenggak mirasseraya berkata, “Aku husnuzan saja, Allah tidak akan mengazabku”!? Inilah maksud Ibnul Qayyim ketika membawakan hadis-hadis ini.Jika pemahaman yang disangka sebagian orang ini diterapkan,niscaya akan menggugurkan semua hadis-hadis ancaman,sehingga tidak ada artinya lagi. Tidak akan ada lagi artinya dan hilang pengaruhnya.Hadis-hadis ini adalah penghalang kemaksiatan,berupa hukuman-hukuman yang disiapkan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Perhatikan kalimat yang tersebut dalam hadis ini,beliau bersabda, “… melainkan wajib bagi Allah untuk Memberinya minum …” Ancaman ini memberi pengaruh kuat bagi orang yang berakaldan tidak samar lagi menjadi penghalang dan peredam maksiat.Demikian. ==== ثُمَّ ذَكَرَ هَذَا الْحَدِيثَ الثَّالِثَ أَيْضًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالْخَمْرِ وَالْعُقُوبَاتِ الَّتِي عَلَيْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ مَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ هُنَا أَيْضًا مُشْكِلَةٌ فِيهِ مُشْكِلَةٌ فِي الْخَمْرِ أَنَّ مَنْ دَخَلَ فِيهَا مَنْ دَخَلَ فِيهَا شَرِبَهُ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ يَسْتَدْرِجُهُ هَذَا الْأَمْرُ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ فِيمَا يُسَمَّى الْإِدْمَانَ وَالْإِدْمَانُ أَيْضًا آفَةٌ خَطِيرَةٌ جِدًّا وَمَضَرَّةٌ جَسِيْمَةٌ عَلَى الْعَبْدِ فَمَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ سَقَاهُ اللهُ مِنْ نَهْرِ الْغُوطَةِ قِيلَ وَمَا نَهْرُ الْغُوطَةِ؟ قَالَ: نَهْرٌ يَجْرِي مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيحُ فُرُوجِهِنَّ – رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ إِذَا كَانَ يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيحُ فُرُوجِهِنَّ فَكَيْفَ بِمَنْ يَشْرَبُ؟ هَذَا السَّائِلُ الَّذِي يَخْرُجُ السَّائِلُ النَّتِنُ الْخَبِيثُ المُؤْذِي يَشْرَبُهُ سَقَاهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ نَهْرِ الْغُوطَةِ نَهْرُ الْغُوطَةِ هَذَا الَّذِي يَخْرُجُ مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ وَالْعَاقِلُ عِنْدَمَا يَتَأَمَّلُ فِي مِثْلِ هَذَا يَجِدُ فِيهِ رَادِعًا عَظِيمًا وَمُوْقِظًا كَبِيرًا لِلْمَرْءِ أَنْ يَتَجَنَّبَ هَذِهِ الْآفَةَ فَمَعَ قِرَاءَةِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ الثَّلَاثَةِ وَلَهَا نَظَائِرُ فِي السُّنَّةِ كَثِيرَةٌ أَيَلِيقُ بِعَاقِلٍ نَاصِحٍ لِنَفْسِهِ أَنْ يُهْمِلَ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ وَيَسْتَمِرَّ فِي شُرْبِ الْخَمْرِ وَيَقُولُ: أَنَا أُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ أَلَّا يُعَذِّبَنِي؟ هَذَا مَقْصُودُ ابْنِ الْقَيِّمِ بِإِيرَادِهِ مِثْلَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَلَوْ أُعْمِلَ هَذَا الْفَهْمُ الَّذِي يَفْهَمُهُ بَعْضُ النَّاسِ لَعُطِّلَ جَمِيعُ أَحَادِيثِ الْوَعِيدِ وَلَمْ يُصْبِحْ لَهَا مَعْنًى لَمْ يُصْبِحْ لَهَا أَيُّ مَعْنًى وَلَمْ يُصْبِحْ لَهَا أَيُّ أَثَرٍ فَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ هَذِهِ زَاجِرَةٌ وَهِيَ عُقُوبَاتٌ أَعَدَّهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى انْظُرْ يَعْنِي الْجُمْلَةَ الَّتِي وَرَدَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ: إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُسْقِيَهُ هَذَا الْوَعِيدُ يَأْخُذُ بِقُلُوبِ الْعُقَلَاءِ مَأْخَذًا قَوِيًّا وَفِيهِ مِنَ الزَّجْرِ وَالرَّدْعِ مَا لَا يَخْفَى نَعَمْ


Kemudian beliau juga menyebutkan hadis yang ketigayang berkenaan dengan miras dan hukuman yang ditimbulkannya,bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang mati dalam keadaan kecanduan miras, …”“Barang siapa yang mati dalam keadaan kecanduan miras, …” Ini juga masalah lain darinya,masalah lain akibat miras,bahwa orang yang sudah mencicipinyadan menenggaknya sekali atau dua kali, itu akan membuatnya ingin lagi dan lagi sampaipada titik yang diistilahkan dengan kecanduan. Kecanduan adalah penyakit yang sangat mengerikandan bahaya yang besar bagi seorang hamba. “Barang siapa yang mati dalam keadaan kecanduan miras,niscaya Allah akan Memberinya minum dari sungai Ghūṯah.”Ditanyakan, “Apakah sungai Ghūṯah itu?” Beliau bersabda, “Sungai yang mengalir dari kemaluan para pelacuryang bau kemaluan mereka sudah cukup menyakiti penduduk neraka.” (HR. Ibnu Hibban) Jika bau kemaluan mereka saja sudah menyakiti penduduk neraka,lalu bagaimana dengan orang yang meminumnya? Cairan yang keluar ini,yang mengalir dengan bau busuk, tengik, dan menjijikan ini, diminum!“… niscaya Allah akan Memberinya minum dari sungai Ghūṯah.” Sungai Ghūṯah ini mengalir dari kemaluan para pelacur.Mengalir dari kemaluan para pelacur! Orang berakal ketika merenungkan hal seperti iniakan mendapati peredam yang kuat dan pendorong yang besar baginyauntuk menjauhi penyakit ini. Dengan membaca tiga hadis ini,—dan ada banyak hadis-hadis serupa dalam sunah—apakah pantas orang yang berakal dan yang peduli terhadap dirinya untuk mengabaikan hadis-hadis ini dan meneruskan menenggak mirasseraya berkata, “Aku husnuzan saja, Allah tidak akan mengazabku”!? Inilah maksud Ibnul Qayyim ketika membawakan hadis-hadis ini.Jika pemahaman yang disangka sebagian orang ini diterapkan,niscaya akan menggugurkan semua hadis-hadis ancaman,sehingga tidak ada artinya lagi. Tidak akan ada lagi artinya dan hilang pengaruhnya.Hadis-hadis ini adalah penghalang kemaksiatan,berupa hukuman-hukuman yang disiapkan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Perhatikan kalimat yang tersebut dalam hadis ini,beliau bersabda, “… melainkan wajib bagi Allah untuk Memberinya minum …” Ancaman ini memberi pengaruh kuat bagi orang yang berakaldan tidak samar lagi menjadi penghalang dan peredam maksiat.Demikian. ==== ثُمَّ ذَكَرَ هَذَا الْحَدِيثَ الثَّالِثَ أَيْضًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالْخَمْرِ وَالْعُقُوبَاتِ الَّتِي عَلَيْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ مَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ هُنَا أَيْضًا مُشْكِلَةٌ فِيهِ مُشْكِلَةٌ فِي الْخَمْرِ أَنَّ مَنْ دَخَلَ فِيهَا مَنْ دَخَلَ فِيهَا شَرِبَهُ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ يَسْتَدْرِجُهُ هَذَا الْأَمْرُ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ فِيمَا يُسَمَّى الْإِدْمَانَ وَالْإِدْمَانُ أَيْضًا آفَةٌ خَطِيرَةٌ جِدًّا وَمَضَرَّةٌ جَسِيْمَةٌ عَلَى الْعَبْدِ فَمَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ سَقَاهُ اللهُ مِنْ نَهْرِ الْغُوطَةِ قِيلَ وَمَا نَهْرُ الْغُوطَةِ؟ قَالَ: نَهْرٌ يَجْرِي مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيحُ فُرُوجِهِنَّ – رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ إِذَا كَانَ يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيحُ فُرُوجِهِنَّ فَكَيْفَ بِمَنْ يَشْرَبُ؟ هَذَا السَّائِلُ الَّذِي يَخْرُجُ السَّائِلُ النَّتِنُ الْخَبِيثُ المُؤْذِي يَشْرَبُهُ سَقَاهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ نَهْرِ الْغُوطَةِ نَهْرُ الْغُوطَةِ هَذَا الَّذِي يَخْرُجُ مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ وَالْعَاقِلُ عِنْدَمَا يَتَأَمَّلُ فِي مِثْلِ هَذَا يَجِدُ فِيهِ رَادِعًا عَظِيمًا وَمُوْقِظًا كَبِيرًا لِلْمَرْءِ أَنْ يَتَجَنَّبَ هَذِهِ الْآفَةَ فَمَعَ قِرَاءَةِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ الثَّلَاثَةِ وَلَهَا نَظَائِرُ فِي السُّنَّةِ كَثِيرَةٌ أَيَلِيقُ بِعَاقِلٍ نَاصِحٍ لِنَفْسِهِ أَنْ يُهْمِلَ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ وَيَسْتَمِرَّ فِي شُرْبِ الْخَمْرِ وَيَقُولُ: أَنَا أُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ أَلَّا يُعَذِّبَنِي؟ هَذَا مَقْصُودُ ابْنِ الْقَيِّمِ بِإِيرَادِهِ مِثْلَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَلَوْ أُعْمِلَ هَذَا الْفَهْمُ الَّذِي يَفْهَمُهُ بَعْضُ النَّاسِ لَعُطِّلَ جَمِيعُ أَحَادِيثِ الْوَعِيدِ وَلَمْ يُصْبِحْ لَهَا مَعْنًى لَمْ يُصْبِحْ لَهَا أَيُّ مَعْنًى وَلَمْ يُصْبِحْ لَهَا أَيُّ أَثَرٍ فَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ هَذِهِ زَاجِرَةٌ وَهِيَ عُقُوبَاتٌ أَعَدَّهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى انْظُرْ يَعْنِي الْجُمْلَةَ الَّتِي وَرَدَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ: إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُسْقِيَهُ هَذَا الْوَعِيدُ يَأْخُذُ بِقُلُوبِ الْعُقَلَاءِ مَأْخَذًا قَوِيًّا وَفِيهِ مِنَ الزَّجْرِ وَالرَّدْعِ مَا لَا يَخْفَى نَعَمْ

Apakah Anak Kecil yang Belum Baligh Juga Ditanya di Alam Kubur?

Pertanyaan: Jika ada anak kecil yang mati ketika belum baligh, apakah ia juga akan mengalami pertanyaan di alam kubur? Jika iya, bukankah ia belum memiliki dosa? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Pertama, pertanyaan di alam kubur itu benar adanya. Ini ditunjukkan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ para ulama Ahlussunnah. Sehingga wajib kita mengimani adanya pertanyaan di alam kubur oleh dua Malaikat.  Dari Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إِذَا أُقْعِدَ الْمُؤْمِنُ فِى قَبْرِهِ أُتِىَ ، ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ ) “Jika seorang mukmin telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan: ’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rasuulullaah’. Itulah yang dimaksud al-qauluts tsabit dalam firman Allah ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al-qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: 27)” (HR. Bukhari no.1369, Muslim no.7398). Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu ia berkata, كان النبيُّ صلَّى الله عليه وسلَّم، إذا فَرَغَ مِن دَفْنِ المَيِّت وَقَفَ عليه، فقال: استغْفِروا لأخيكم، وسَلُوا له بالتَّثبيتِ؛ فإنَّه الآن يُسْأَلُ “Biasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam setelah selesai menguburkan mayit, beliau berdiri sejenak di sisi kuburan lalu bersabda: Mintalah ampunan untuk saudara kalian ini, dan mintalah agar ia diberi kemudahan dalam menghadapi pertanyaan kubur, karena ia sekarang sedang ditanya” (HR. Abu Daud no. 3221, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud). Dan keyakinan tentang adanya pertanyaan di alam kubur adalah ijma ulama, tidak ada ikhtilaf di antara ulama Ahlussunnah. Ibnu Bathal rahimahullah mengatakan: أن عذاب القبر حق، وأهل السنة مجمعون على الإيمان به والتصديق، ولا ينكره إلا مبتدعة “Adzab kubur itu benar adanya. Ahlussunnah bersepakat untuk mengimaninya dan membenarkannya. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali ahlul bid’ah” (Syarhu Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/38). Kedua, adapun tentang pertanyaan kubur bagi anak kecil yang belum baligh, ada khilaf ulama dalam masalah ini. Sebagian ulama berpandangan bahwa anak kecil yang wafat dalam keadaan belum baligh, mereka tidak mengalami fitnah kubur. Ini pendapatnya Al-Qadhi Abu Ya’la dan Ibnu Aqil rahimahumallah. Argumen mereka, karena anak kecil itu belum terkena beban syari’at dan diangkat pena catatan amalan dari mereka. Sehingga mereka pun tidak dibebani dengan pertanyaan di alam kubur. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa anak kecil yang belum baligh pun akan ditanya di alam kubur. Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada tentang fitnah kubur. Yang dikecualikan hanya para Nabi dan para syuhada. Juga sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih, bahwa anak kecil pun akan mengalami dhaghthah (penghimpitan) di alam kubur. Yaitu hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda ketika ada seorang anak kecil yang meninggal: لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ القَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَبِيُّ “Andaikan ada orang yang selamat dari penghimpitan di alam kubur, sungguh anak ini akan selamat” (HR. Ath -Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (4/121), dishahihkan Al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2164).  Pendapat ini dipilih oleh para murid imam Asy-Syafi’i, demikian juga merupakan pendapat imam Ahmad bin Hambal, imam Malik dan diklaim oleh Abul Hasan Al-Asy’ari sebagai madzhab Ahlussunnah.  Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Memakai Gigi Palsu, Doa Mau Nikah, Bacaan Sami'allahu Liman Hamidah, Ukuran Air 2 Kulah, Di Dalam Surga, Contoh Kuburan Islam Visited 228 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid

Apakah Anak Kecil yang Belum Baligh Juga Ditanya di Alam Kubur?

Pertanyaan: Jika ada anak kecil yang mati ketika belum baligh, apakah ia juga akan mengalami pertanyaan di alam kubur? Jika iya, bukankah ia belum memiliki dosa? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Pertama, pertanyaan di alam kubur itu benar adanya. Ini ditunjukkan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ para ulama Ahlussunnah. Sehingga wajib kita mengimani adanya pertanyaan di alam kubur oleh dua Malaikat.  Dari Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إِذَا أُقْعِدَ الْمُؤْمِنُ فِى قَبْرِهِ أُتِىَ ، ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ ) “Jika seorang mukmin telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan: ’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rasuulullaah’. Itulah yang dimaksud al-qauluts tsabit dalam firman Allah ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al-qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: 27)” (HR. Bukhari no.1369, Muslim no.7398). Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu ia berkata, كان النبيُّ صلَّى الله عليه وسلَّم، إذا فَرَغَ مِن دَفْنِ المَيِّت وَقَفَ عليه، فقال: استغْفِروا لأخيكم، وسَلُوا له بالتَّثبيتِ؛ فإنَّه الآن يُسْأَلُ “Biasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam setelah selesai menguburkan mayit, beliau berdiri sejenak di sisi kuburan lalu bersabda: Mintalah ampunan untuk saudara kalian ini, dan mintalah agar ia diberi kemudahan dalam menghadapi pertanyaan kubur, karena ia sekarang sedang ditanya” (HR. Abu Daud no. 3221, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud). Dan keyakinan tentang adanya pertanyaan di alam kubur adalah ijma ulama, tidak ada ikhtilaf di antara ulama Ahlussunnah. Ibnu Bathal rahimahullah mengatakan: أن عذاب القبر حق، وأهل السنة مجمعون على الإيمان به والتصديق، ولا ينكره إلا مبتدعة “Adzab kubur itu benar adanya. Ahlussunnah bersepakat untuk mengimaninya dan membenarkannya. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali ahlul bid’ah” (Syarhu Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/38). Kedua, adapun tentang pertanyaan kubur bagi anak kecil yang belum baligh, ada khilaf ulama dalam masalah ini. Sebagian ulama berpandangan bahwa anak kecil yang wafat dalam keadaan belum baligh, mereka tidak mengalami fitnah kubur. Ini pendapatnya Al-Qadhi Abu Ya’la dan Ibnu Aqil rahimahumallah. Argumen mereka, karena anak kecil itu belum terkena beban syari’at dan diangkat pena catatan amalan dari mereka. Sehingga mereka pun tidak dibebani dengan pertanyaan di alam kubur. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa anak kecil yang belum baligh pun akan ditanya di alam kubur. Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada tentang fitnah kubur. Yang dikecualikan hanya para Nabi dan para syuhada. Juga sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih, bahwa anak kecil pun akan mengalami dhaghthah (penghimpitan) di alam kubur. Yaitu hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda ketika ada seorang anak kecil yang meninggal: لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ القَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَبِيُّ “Andaikan ada orang yang selamat dari penghimpitan di alam kubur, sungguh anak ini akan selamat” (HR. Ath -Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (4/121), dishahihkan Al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2164).  Pendapat ini dipilih oleh para murid imam Asy-Syafi’i, demikian juga merupakan pendapat imam Ahmad bin Hambal, imam Malik dan diklaim oleh Abul Hasan Al-Asy’ari sebagai madzhab Ahlussunnah.  Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Memakai Gigi Palsu, Doa Mau Nikah, Bacaan Sami'allahu Liman Hamidah, Ukuran Air 2 Kulah, Di Dalam Surga, Contoh Kuburan Islam Visited 228 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Jika ada anak kecil yang mati ketika belum baligh, apakah ia juga akan mengalami pertanyaan di alam kubur? Jika iya, bukankah ia belum memiliki dosa? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Pertama, pertanyaan di alam kubur itu benar adanya. Ini ditunjukkan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ para ulama Ahlussunnah. Sehingga wajib kita mengimani adanya pertanyaan di alam kubur oleh dua Malaikat.  Dari Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إِذَا أُقْعِدَ الْمُؤْمِنُ فِى قَبْرِهِ أُتِىَ ، ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ ) “Jika seorang mukmin telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan: ’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rasuulullaah’. Itulah yang dimaksud al-qauluts tsabit dalam firman Allah ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al-qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: 27)” (HR. Bukhari no.1369, Muslim no.7398). Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu ia berkata, كان النبيُّ صلَّى الله عليه وسلَّم، إذا فَرَغَ مِن دَفْنِ المَيِّت وَقَفَ عليه، فقال: استغْفِروا لأخيكم، وسَلُوا له بالتَّثبيتِ؛ فإنَّه الآن يُسْأَلُ “Biasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam setelah selesai menguburkan mayit, beliau berdiri sejenak di sisi kuburan lalu bersabda: Mintalah ampunan untuk saudara kalian ini, dan mintalah agar ia diberi kemudahan dalam menghadapi pertanyaan kubur, karena ia sekarang sedang ditanya” (HR. Abu Daud no. 3221, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud). Dan keyakinan tentang adanya pertanyaan di alam kubur adalah ijma ulama, tidak ada ikhtilaf di antara ulama Ahlussunnah. Ibnu Bathal rahimahullah mengatakan: أن عذاب القبر حق، وأهل السنة مجمعون على الإيمان به والتصديق، ولا ينكره إلا مبتدعة “Adzab kubur itu benar adanya. Ahlussunnah bersepakat untuk mengimaninya dan membenarkannya. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali ahlul bid’ah” (Syarhu Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/38). Kedua, adapun tentang pertanyaan kubur bagi anak kecil yang belum baligh, ada khilaf ulama dalam masalah ini. Sebagian ulama berpandangan bahwa anak kecil yang wafat dalam keadaan belum baligh, mereka tidak mengalami fitnah kubur. Ini pendapatnya Al-Qadhi Abu Ya’la dan Ibnu Aqil rahimahumallah. Argumen mereka, karena anak kecil itu belum terkena beban syari’at dan diangkat pena catatan amalan dari mereka. Sehingga mereka pun tidak dibebani dengan pertanyaan di alam kubur. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa anak kecil yang belum baligh pun akan ditanya di alam kubur. Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada tentang fitnah kubur. Yang dikecualikan hanya para Nabi dan para syuhada. Juga sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih, bahwa anak kecil pun akan mengalami dhaghthah (penghimpitan) di alam kubur. Yaitu hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda ketika ada seorang anak kecil yang meninggal: لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ القَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَبِيُّ “Andaikan ada orang yang selamat dari penghimpitan di alam kubur, sungguh anak ini akan selamat” (HR. Ath -Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (4/121), dishahihkan Al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2164).  Pendapat ini dipilih oleh para murid imam Asy-Syafi’i, demikian juga merupakan pendapat imam Ahmad bin Hambal, imam Malik dan diklaim oleh Abul Hasan Al-Asy’ari sebagai madzhab Ahlussunnah.  Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Memakai Gigi Palsu, Doa Mau Nikah, Bacaan Sami'allahu Liman Hamidah, Ukuran Air 2 Kulah, Di Dalam Surga, Contoh Kuburan Islam Visited 228 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1469318032&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Jika ada anak kecil yang mati ketika belum baligh, apakah ia juga akan mengalami pertanyaan di alam kubur? Jika iya, bukankah ia belum memiliki dosa? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Pertama, pertanyaan di alam kubur itu benar adanya. Ini ditunjukkan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ para ulama Ahlussunnah. Sehingga wajib kita mengimani adanya pertanyaan di alam kubur oleh dua Malaikat.  Dari Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إِذَا أُقْعِدَ الْمُؤْمِنُ فِى قَبْرِهِ أُتِىَ ، ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ ) “Jika seorang mukmin telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan: ’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rasuulullaah’. Itulah yang dimaksud al-qauluts tsabit dalam firman Allah ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al-qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: 27)” (HR. Bukhari no.1369, Muslim no.7398). Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu ia berkata, كان النبيُّ صلَّى الله عليه وسلَّم، إذا فَرَغَ مِن دَفْنِ المَيِّت وَقَفَ عليه، فقال: استغْفِروا لأخيكم، وسَلُوا له بالتَّثبيتِ؛ فإنَّه الآن يُسْأَلُ “Biasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam setelah selesai menguburkan mayit, beliau berdiri sejenak di sisi kuburan lalu bersabda: Mintalah ampunan untuk saudara kalian ini, dan mintalah agar ia diberi kemudahan dalam menghadapi pertanyaan kubur, karena ia sekarang sedang ditanya” (HR. Abu Daud no. 3221, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud). Dan keyakinan tentang adanya pertanyaan di alam kubur adalah ijma ulama, tidak ada ikhtilaf di antara ulama Ahlussunnah. Ibnu Bathal rahimahullah mengatakan: أن عذاب القبر حق، وأهل السنة مجمعون على الإيمان به والتصديق، ولا ينكره إلا مبتدعة “Adzab kubur itu benar adanya. Ahlussunnah bersepakat untuk mengimaninya dan membenarkannya. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali ahlul bid’ah” (Syarhu Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/38). Kedua, adapun tentang pertanyaan kubur bagi anak kecil yang belum baligh, ada khilaf ulama dalam masalah ini. Sebagian ulama berpandangan bahwa anak kecil yang wafat dalam keadaan belum baligh, mereka tidak mengalami fitnah kubur. Ini pendapatnya Al-Qadhi Abu Ya’la dan Ibnu Aqil rahimahumallah. Argumen mereka, karena anak kecil itu belum terkena beban syari’at dan diangkat pena catatan amalan dari mereka. Sehingga mereka pun tidak dibebani dengan pertanyaan di alam kubur. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa anak kecil yang belum baligh pun akan ditanya di alam kubur. Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada tentang fitnah kubur. Yang dikecualikan hanya para Nabi dan para syuhada. Juga sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih, bahwa anak kecil pun akan mengalami dhaghthah (penghimpitan) di alam kubur. Yaitu hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda ketika ada seorang anak kecil yang meninggal: لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ القَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَبِيُّ “Andaikan ada orang yang selamat dari penghimpitan di alam kubur, sungguh anak ini akan selamat” (HR. Ath -Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (4/121), dishahihkan Al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2164).  Pendapat ini dipilih oleh para murid imam Asy-Syafi’i, demikian juga merupakan pendapat imam Ahmad bin Hambal, imam Malik dan diklaim oleh Abul Hasan Al-Asy’ari sebagai madzhab Ahlussunnah.  Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Memakai Gigi Palsu, Doa Mau Nikah, Bacaan Sami'allahu Liman Hamidah, Ukuran Air 2 Kulah, Di Dalam Surga, Contoh Kuburan Islam Visited 228 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam

Doa merupakan senjata utama seorang mukmin. Dan ia merupakan ibadah yang dibawa oleh para utusan. Termasuk di antaranya adalah doa Nabi Yunus ‘alaihissalam. Allah ‘Azza Wajalla menyebutkannya dalam Al-Qur’an,وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ“(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’” (QS. Al-Anbiya: 87) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda dalam sebuah hadis,دعوةُ ذي النُّونِ إذ دعا وهو في بطنِ الحوتِ لا إلهَ إلَّا أنتَ سبحانَك إنِّي كنتُ من الظالمينَ فإنَّه لم يدعُ بها رجلٌ مسلمٌ في شيءٍ قطُّ إلَّا استجاب اللهُ له“Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam tatkala beliau terperangkap di perut ikan adalah “laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzaalimiin”. Sungguh, tidaklah seorang muslim membacanya terus menerus, kecuali Allah akan kabulkan keinginannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3505)Doa ini menyimpan kandungan yang begitu luar biasa, yaitu pengakuan seorang hamba akan kesempurnaan uluhiyah Allah ‘Azza Wajalla. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu,فأقر لله تعالى بكمال الألوهية، ونزهه عن كل نقص، وعيب وآفة، واعترف بظلم نفسه وجنايته“Di dalam doa ini, Nabi Yunus ‘alaihissalam mengakui kesempurnaan dan keesaan Allah dalam hal peribadahan yang khusus untuk-Nya, menyucikan-Nya dari segala macam bentuk kekurangan, aib, dan cacat. Serta mengakui diri sendiri sebagai seorang yang berlaku zalim (berbuat salah).” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 529)Tidak ada hal yang lebih agung dibandingkan pengakuan seorang hamba akan keesaan Allah ‘Azza Wajalla atau tauhidnya. Karena itulah tujuan diciptakan manusia. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Al-Hakim At-Tirmidzi rahimahullahu menyebutkan keutamaan doa ini,العَبْد إِذا وَحده وَنفى عَنهُ الشّرك ثمَّ نزهه عَمَّا رَآهُ عَلَيْهِ من السوء واعترف بِأَنَّهُ من الظَّالِمين تكرم عَلَيْهِ ربه وتفضل على العَبْد فَلم يخيبه فِيمَا أمل وَرَجا وَكَذَلِكَ وعد الله فِي تَنْزِيله الْكَرِيم“Tatkala seorang hamba mengesakan Allah, tidak melakukan kesyirikan, kemudian menyucikannya dari segala macam keburukan, dan mengakui dirinya sebagai hamba yang zalim, maka Allah akan muliakan ia dan beri keutamaan, Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan dan keinginannya. Demikianlah yang Allah janjikan di dalam Al-Qur’an yang mulia.” (Nawadir Al-Ushul fii Ahadits Al-Rasul, 2: 24)Wallahu a’lamBaca Juga: Doa Setelah Adzan***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.idTags: do'adoa nabiDzikiribadahnabi yunus

Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam

Doa merupakan senjata utama seorang mukmin. Dan ia merupakan ibadah yang dibawa oleh para utusan. Termasuk di antaranya adalah doa Nabi Yunus ‘alaihissalam. Allah ‘Azza Wajalla menyebutkannya dalam Al-Qur’an,وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ“(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’” (QS. Al-Anbiya: 87) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda dalam sebuah hadis,دعوةُ ذي النُّونِ إذ دعا وهو في بطنِ الحوتِ لا إلهَ إلَّا أنتَ سبحانَك إنِّي كنتُ من الظالمينَ فإنَّه لم يدعُ بها رجلٌ مسلمٌ في شيءٍ قطُّ إلَّا استجاب اللهُ له“Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam tatkala beliau terperangkap di perut ikan adalah “laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzaalimiin”. Sungguh, tidaklah seorang muslim membacanya terus menerus, kecuali Allah akan kabulkan keinginannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3505)Doa ini menyimpan kandungan yang begitu luar biasa, yaitu pengakuan seorang hamba akan kesempurnaan uluhiyah Allah ‘Azza Wajalla. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu,فأقر لله تعالى بكمال الألوهية، ونزهه عن كل نقص، وعيب وآفة، واعترف بظلم نفسه وجنايته“Di dalam doa ini, Nabi Yunus ‘alaihissalam mengakui kesempurnaan dan keesaan Allah dalam hal peribadahan yang khusus untuk-Nya, menyucikan-Nya dari segala macam bentuk kekurangan, aib, dan cacat. Serta mengakui diri sendiri sebagai seorang yang berlaku zalim (berbuat salah).” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 529)Tidak ada hal yang lebih agung dibandingkan pengakuan seorang hamba akan keesaan Allah ‘Azza Wajalla atau tauhidnya. Karena itulah tujuan diciptakan manusia. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Al-Hakim At-Tirmidzi rahimahullahu menyebutkan keutamaan doa ini,العَبْد إِذا وَحده وَنفى عَنهُ الشّرك ثمَّ نزهه عَمَّا رَآهُ عَلَيْهِ من السوء واعترف بِأَنَّهُ من الظَّالِمين تكرم عَلَيْهِ ربه وتفضل على العَبْد فَلم يخيبه فِيمَا أمل وَرَجا وَكَذَلِكَ وعد الله فِي تَنْزِيله الْكَرِيم“Tatkala seorang hamba mengesakan Allah, tidak melakukan kesyirikan, kemudian menyucikannya dari segala macam keburukan, dan mengakui dirinya sebagai hamba yang zalim, maka Allah akan muliakan ia dan beri keutamaan, Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan dan keinginannya. Demikianlah yang Allah janjikan di dalam Al-Qur’an yang mulia.” (Nawadir Al-Ushul fii Ahadits Al-Rasul, 2: 24)Wallahu a’lamBaca Juga: Doa Setelah Adzan***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.idTags: do'adoa nabiDzikiribadahnabi yunus
Doa merupakan senjata utama seorang mukmin. Dan ia merupakan ibadah yang dibawa oleh para utusan. Termasuk di antaranya adalah doa Nabi Yunus ‘alaihissalam. Allah ‘Azza Wajalla menyebutkannya dalam Al-Qur’an,وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ“(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’” (QS. Al-Anbiya: 87) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda dalam sebuah hadis,دعوةُ ذي النُّونِ إذ دعا وهو في بطنِ الحوتِ لا إلهَ إلَّا أنتَ سبحانَك إنِّي كنتُ من الظالمينَ فإنَّه لم يدعُ بها رجلٌ مسلمٌ في شيءٍ قطُّ إلَّا استجاب اللهُ له“Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam tatkala beliau terperangkap di perut ikan adalah “laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzaalimiin”. Sungguh, tidaklah seorang muslim membacanya terus menerus, kecuali Allah akan kabulkan keinginannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3505)Doa ini menyimpan kandungan yang begitu luar biasa, yaitu pengakuan seorang hamba akan kesempurnaan uluhiyah Allah ‘Azza Wajalla. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu,فأقر لله تعالى بكمال الألوهية، ونزهه عن كل نقص، وعيب وآفة، واعترف بظلم نفسه وجنايته“Di dalam doa ini, Nabi Yunus ‘alaihissalam mengakui kesempurnaan dan keesaan Allah dalam hal peribadahan yang khusus untuk-Nya, menyucikan-Nya dari segala macam bentuk kekurangan, aib, dan cacat. Serta mengakui diri sendiri sebagai seorang yang berlaku zalim (berbuat salah).” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 529)Tidak ada hal yang lebih agung dibandingkan pengakuan seorang hamba akan keesaan Allah ‘Azza Wajalla atau tauhidnya. Karena itulah tujuan diciptakan manusia. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Al-Hakim At-Tirmidzi rahimahullahu menyebutkan keutamaan doa ini,العَبْد إِذا وَحده وَنفى عَنهُ الشّرك ثمَّ نزهه عَمَّا رَآهُ عَلَيْهِ من السوء واعترف بِأَنَّهُ من الظَّالِمين تكرم عَلَيْهِ ربه وتفضل على العَبْد فَلم يخيبه فِيمَا أمل وَرَجا وَكَذَلِكَ وعد الله فِي تَنْزِيله الْكَرِيم“Tatkala seorang hamba mengesakan Allah, tidak melakukan kesyirikan, kemudian menyucikannya dari segala macam keburukan, dan mengakui dirinya sebagai hamba yang zalim, maka Allah akan muliakan ia dan beri keutamaan, Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan dan keinginannya. Demikianlah yang Allah janjikan di dalam Al-Qur’an yang mulia.” (Nawadir Al-Ushul fii Ahadits Al-Rasul, 2: 24)Wallahu a’lamBaca Juga: Doa Setelah Adzan***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.idTags: do'adoa nabiDzikiribadahnabi yunus


Doa merupakan senjata utama seorang mukmin. Dan ia merupakan ibadah yang dibawa oleh para utusan. Termasuk di antaranya adalah doa Nabi Yunus ‘alaihissalam. Allah ‘Azza Wajalla menyebutkannya dalam Al-Qur’an,وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ“(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’” (QS. Al-Anbiya: 87) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda dalam sebuah hadis,دعوةُ ذي النُّونِ إذ دعا وهو في بطنِ الحوتِ لا إلهَ إلَّا أنتَ سبحانَك إنِّي كنتُ من الظالمينَ فإنَّه لم يدعُ بها رجلٌ مسلمٌ في شيءٍ قطُّ إلَّا استجاب اللهُ له“Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam tatkala beliau terperangkap di perut ikan adalah “laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzaalimiin”. Sungguh, tidaklah seorang muslim membacanya terus menerus, kecuali Allah akan kabulkan keinginannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3505)Doa ini menyimpan kandungan yang begitu luar biasa, yaitu pengakuan seorang hamba akan kesempurnaan uluhiyah Allah ‘Azza Wajalla. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu,فأقر لله تعالى بكمال الألوهية، ونزهه عن كل نقص، وعيب وآفة، واعترف بظلم نفسه وجنايته“Di dalam doa ini, Nabi Yunus ‘alaihissalam mengakui kesempurnaan dan keesaan Allah dalam hal peribadahan yang khusus untuk-Nya, menyucikan-Nya dari segala macam bentuk kekurangan, aib, dan cacat. Serta mengakui diri sendiri sebagai seorang yang berlaku zalim (berbuat salah).” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 529)Tidak ada hal yang lebih agung dibandingkan pengakuan seorang hamba akan keesaan Allah ‘Azza Wajalla atau tauhidnya. Karena itulah tujuan diciptakan manusia. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Al-Hakim At-Tirmidzi rahimahullahu menyebutkan keutamaan doa ini,العَبْد إِذا وَحده وَنفى عَنهُ الشّرك ثمَّ نزهه عَمَّا رَآهُ عَلَيْهِ من السوء واعترف بِأَنَّهُ من الظَّالِمين تكرم عَلَيْهِ ربه وتفضل على العَبْد فَلم يخيبه فِيمَا أمل وَرَجا وَكَذَلِكَ وعد الله فِي تَنْزِيله الْكَرِيم“Tatkala seorang hamba mengesakan Allah, tidak melakukan kesyirikan, kemudian menyucikannya dari segala macam keburukan, dan mengakui dirinya sebagai hamba yang zalim, maka Allah akan muliakan ia dan beri keutamaan, Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan dan keinginannya. Demikianlah yang Allah janjikan di dalam Al-Qur’an yang mulia.” (Nawadir Al-Ushul fii Ahadits Al-Rasul, 2: 24)Wallahu a’lamBaca Juga: Doa Setelah Adzan***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.idTags: do'adoa nabiDzikiribadahnabi yunus

Thawaf ataukah Shalat Tahiyatul Masjid Ketika Memasuki Masjidil Haram?

Manakah yang dilakukan ketika memasuki Masjidil Haram, apakah shalat tahiyatul masjid ataukah thawaf?   Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan dalam fatawanya yang diringkas sebagai berikut. Orang yang masuk Masjidil Haram ada dua keadaan: Yang masuk untuk bermaksud melakukan thawaf untuk haji, umrah, atau sekadar melakukan thawaf sunnah. Maka yang dilakukan pertama kali adalah thawaf. Orang seperti ini tidak disyariatkan melakukan shalat tahiyatul masjid sebelum thawaf. Karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan sahabatnya tidaklah pernah melakukan seperti itu. Jumhur ahli fikih berpendapat seperti itu. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah sedikit ulama seperti Ibnu ‘Aqil dari kalangan Hambali sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Syarh ‘Umdah Al-Fiqh. Yang dikecualikan dalam hal ini adalah jika masuk Masjidil Haram dalam keadaan sangat padat sehingga sulit untuk langsung thawaf. Hendaklah melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid, lalu menunggu sampai suasana tidak terlalu padat untuk memulai thawaf.  Yang masuk untuk bermaksud shalat, duduk, menghadiri majelis ilmu, berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau ibadah lainnya, maka disunnahkan melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid karena keumuman hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ “Apabila di antara kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah ia duduk hingga shalat dua rakaat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1163 dan Muslim, no. 714) Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (10:306) disebutkan, “Jumhur ahli fikih berpendapat bahwa tahiyatul Masjidil Haram adalah melakukan thawaf untuk orang yang baru memasuki Makkah, baik ia adalah pedagang, orang yang berhaji, atau selainnya. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, إن النبي صلى الله عليه وسلم حين قدم مكة توضأ , ثم طاف بالبيت “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika masuk Makkah, beliau berwudhu, kemudian melakukan thawaf keliling Kabah.” (HR. Bukhari, no. 1614). Dua rakaat tahiyatul Masjidil Haram sudah dicukupi dengan dua rakaat bakda thawaf. Adapun penduduk Makkah yang tidak diperintahkan untuk thawaf atau tidak masuk untuk thawaf, ia ingin melakukan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, maka tahiyatul Masjidil Haram untuknya adalah shalat sebagaimana yang dilakukan untuk menghormati masjid lainnya.” Demikian secara ringkas.  Lihat bahasan Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 106318.   Referensi: https://islamqa.info/amp/ar/answers/106318   Baca juga:  Thawaf dan Shalat pada Waktu Terlarang Hormati Masjid dengan Tahiyatul Masjid Waktu Shalat dan Waktu Terlarang untuk Shalat (Safinatun Naja)   –   Diselesaikan di Madinah, 5 Syakban 1444 H, 25 Februari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara umrah fikih umrah shalat tahiyatul masjid thawaf thawaf keliling kabah

Thawaf ataukah Shalat Tahiyatul Masjid Ketika Memasuki Masjidil Haram?

Manakah yang dilakukan ketika memasuki Masjidil Haram, apakah shalat tahiyatul masjid ataukah thawaf?   Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan dalam fatawanya yang diringkas sebagai berikut. Orang yang masuk Masjidil Haram ada dua keadaan: Yang masuk untuk bermaksud melakukan thawaf untuk haji, umrah, atau sekadar melakukan thawaf sunnah. Maka yang dilakukan pertama kali adalah thawaf. Orang seperti ini tidak disyariatkan melakukan shalat tahiyatul masjid sebelum thawaf. Karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan sahabatnya tidaklah pernah melakukan seperti itu. Jumhur ahli fikih berpendapat seperti itu. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah sedikit ulama seperti Ibnu ‘Aqil dari kalangan Hambali sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Syarh ‘Umdah Al-Fiqh. Yang dikecualikan dalam hal ini adalah jika masuk Masjidil Haram dalam keadaan sangat padat sehingga sulit untuk langsung thawaf. Hendaklah melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid, lalu menunggu sampai suasana tidak terlalu padat untuk memulai thawaf.  Yang masuk untuk bermaksud shalat, duduk, menghadiri majelis ilmu, berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau ibadah lainnya, maka disunnahkan melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid karena keumuman hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ “Apabila di antara kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah ia duduk hingga shalat dua rakaat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1163 dan Muslim, no. 714) Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (10:306) disebutkan, “Jumhur ahli fikih berpendapat bahwa tahiyatul Masjidil Haram adalah melakukan thawaf untuk orang yang baru memasuki Makkah, baik ia adalah pedagang, orang yang berhaji, atau selainnya. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, إن النبي صلى الله عليه وسلم حين قدم مكة توضأ , ثم طاف بالبيت “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika masuk Makkah, beliau berwudhu, kemudian melakukan thawaf keliling Kabah.” (HR. Bukhari, no. 1614). Dua rakaat tahiyatul Masjidil Haram sudah dicukupi dengan dua rakaat bakda thawaf. Adapun penduduk Makkah yang tidak diperintahkan untuk thawaf atau tidak masuk untuk thawaf, ia ingin melakukan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, maka tahiyatul Masjidil Haram untuknya adalah shalat sebagaimana yang dilakukan untuk menghormati masjid lainnya.” Demikian secara ringkas.  Lihat bahasan Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 106318.   Referensi: https://islamqa.info/amp/ar/answers/106318   Baca juga:  Thawaf dan Shalat pada Waktu Terlarang Hormati Masjid dengan Tahiyatul Masjid Waktu Shalat dan Waktu Terlarang untuk Shalat (Safinatun Naja)   –   Diselesaikan di Madinah, 5 Syakban 1444 H, 25 Februari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara umrah fikih umrah shalat tahiyatul masjid thawaf thawaf keliling kabah
Manakah yang dilakukan ketika memasuki Masjidil Haram, apakah shalat tahiyatul masjid ataukah thawaf?   Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan dalam fatawanya yang diringkas sebagai berikut. Orang yang masuk Masjidil Haram ada dua keadaan: Yang masuk untuk bermaksud melakukan thawaf untuk haji, umrah, atau sekadar melakukan thawaf sunnah. Maka yang dilakukan pertama kali adalah thawaf. Orang seperti ini tidak disyariatkan melakukan shalat tahiyatul masjid sebelum thawaf. Karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan sahabatnya tidaklah pernah melakukan seperti itu. Jumhur ahli fikih berpendapat seperti itu. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah sedikit ulama seperti Ibnu ‘Aqil dari kalangan Hambali sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Syarh ‘Umdah Al-Fiqh. Yang dikecualikan dalam hal ini adalah jika masuk Masjidil Haram dalam keadaan sangat padat sehingga sulit untuk langsung thawaf. Hendaklah melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid, lalu menunggu sampai suasana tidak terlalu padat untuk memulai thawaf.  Yang masuk untuk bermaksud shalat, duduk, menghadiri majelis ilmu, berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau ibadah lainnya, maka disunnahkan melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid karena keumuman hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ “Apabila di antara kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah ia duduk hingga shalat dua rakaat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1163 dan Muslim, no. 714) Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (10:306) disebutkan, “Jumhur ahli fikih berpendapat bahwa tahiyatul Masjidil Haram adalah melakukan thawaf untuk orang yang baru memasuki Makkah, baik ia adalah pedagang, orang yang berhaji, atau selainnya. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, إن النبي صلى الله عليه وسلم حين قدم مكة توضأ , ثم طاف بالبيت “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika masuk Makkah, beliau berwudhu, kemudian melakukan thawaf keliling Kabah.” (HR. Bukhari, no. 1614). Dua rakaat tahiyatul Masjidil Haram sudah dicukupi dengan dua rakaat bakda thawaf. Adapun penduduk Makkah yang tidak diperintahkan untuk thawaf atau tidak masuk untuk thawaf, ia ingin melakukan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, maka tahiyatul Masjidil Haram untuknya adalah shalat sebagaimana yang dilakukan untuk menghormati masjid lainnya.” Demikian secara ringkas.  Lihat bahasan Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 106318.   Referensi: https://islamqa.info/amp/ar/answers/106318   Baca juga:  Thawaf dan Shalat pada Waktu Terlarang Hormati Masjid dengan Tahiyatul Masjid Waktu Shalat dan Waktu Terlarang untuk Shalat (Safinatun Naja)   –   Diselesaikan di Madinah, 5 Syakban 1444 H, 25 Februari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara umrah fikih umrah shalat tahiyatul masjid thawaf thawaf keliling kabah


Manakah yang dilakukan ketika memasuki Masjidil Haram, apakah shalat tahiyatul masjid ataukah thawaf?   Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan dalam fatawanya yang diringkas sebagai berikut. Orang yang masuk Masjidil Haram ada dua keadaan: Yang masuk untuk bermaksud melakukan thawaf untuk haji, umrah, atau sekadar melakukan thawaf sunnah. Maka yang dilakukan pertama kali adalah thawaf. Orang seperti ini tidak disyariatkan melakukan shalat tahiyatul masjid sebelum thawaf. Karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan sahabatnya tidaklah pernah melakukan seperti itu. Jumhur ahli fikih berpendapat seperti itu. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah sedikit ulama seperti Ibnu ‘Aqil dari kalangan Hambali sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Syarh ‘Umdah Al-Fiqh. Yang dikecualikan dalam hal ini adalah jika masuk Masjidil Haram dalam keadaan sangat padat sehingga sulit untuk langsung thawaf. Hendaklah melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid, lalu menunggu sampai suasana tidak terlalu padat untuk memulai thawaf.  Yang masuk untuk bermaksud shalat, duduk, menghadiri majelis ilmu, berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau ibadah lainnya, maka disunnahkan melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid karena keumuman hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ “Apabila di antara kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah ia duduk hingga shalat dua rakaat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1163 dan Muslim, no. 714) Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (10:306) disebutkan, “Jumhur ahli fikih berpendapat bahwa tahiyatul Masjidil Haram adalah melakukan thawaf untuk orang yang baru memasuki Makkah, baik ia adalah pedagang, orang yang berhaji, atau selainnya. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, إن النبي صلى الله عليه وسلم حين قدم مكة توضأ , ثم طاف بالبيت “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika masuk Makkah, beliau berwudhu, kemudian melakukan thawaf keliling Kabah.” (HR. Bukhari, no. 1614). Dua rakaat tahiyatul Masjidil Haram sudah dicukupi dengan dua rakaat bakda thawaf. Adapun penduduk Makkah yang tidak diperintahkan untuk thawaf atau tidak masuk untuk thawaf, ia ingin melakukan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, maka tahiyatul Masjidil Haram untuknya adalah shalat sebagaimana yang dilakukan untuk menghormati masjid lainnya.” Demikian secara ringkas.  Lihat bahasan Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 106318.   Referensi: https://islamqa.info/amp/ar/answers/106318   Baca juga:  Thawaf dan Shalat pada Waktu Terlarang Hormati Masjid dengan Tahiyatul Masjid Waktu Shalat dan Waktu Terlarang untuk Shalat (Safinatun Naja)   –   Diselesaikan di Madinah, 5 Syakban 1444 H, 25 Februari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara umrah fikih umrah shalat tahiyatul masjid thawaf thawaf keliling kabah

Biografi Syekh Abdul Qodir Jaelani

Nama beliau sangat masyhur di kalangan kaum muslimin Indonesia. Namun, sedikit kaum muslimin yang mengetahui biografi beliau, bahkan untuk versi ringkasnya sekali pun. Berikut adalah sedikit ulasan yang semoga membantu menambah pengetahuan setiap dari kita tentang sosok Syekh Abdul Qodir Jaelani. Daftar Isi sembunyikan 1. Nasab 2. Pujian ulama terhadap beliau 3. Bagaimana sikap yang dibenarkan terhadap beliau?! NasabBeliau adalah seorang alim yang zuhud dan bernama Abu Muhammad Abdul Qodir bin Musa bin Abdullah Jaelani. Beliau lahir pada tahun 471 H di Jailan (salah satu desa di Tubrustan). Banyak mendengar ilmu dari Al-Baqilany, Ahmad bin Al-Mudzaffar, dan Abul Qasim Ibn Bayyan. Sementara murid-murid beliau yang masyhur adalah As-Sam’ani, Abdul Ghani Al-Maqdisy, dan Ibnu Qudamah.Pujian ulama terhadap beliauImam Adz-Dzahabi rahimahullahu mengatakan, الشيخ الإمام العالم الزاهد العارف القدوة شيخ الإسلام علم الأولياء“Seorang syekh, imam, alim, orang yang zuhud, bijak, dan teladan, berjuluk Syekh Al-Islam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 20: 439)Begitu pun Imam As-Sam’ani rahimahullahu mengatakan,كان عبد القادر من أهل جيلان إمام الحنابلة وشيخهم في عصره ، فقيه ، صالح ، ديِّن ، خيِّر ، كثير الذكر ، دائم الفكر ، سريع الدمعة“Abdul Qodir Jaelani adalah asli desa Jailan, termasuk di antara imam mazhab Hanbali dan Syekh mazhab di masanya, seorang yang faqih, seorang yang saleh, taat, baik, banyak berzikir, senang merenung, dan mudah sekali menitikkan air mata.” (Siyar A’lam An-Nubala, 20: 441)Namun, ulama juga menyelipkan beberapa hal yang perlu untuk dikaji ulang tentang hal-hal yang dinisbatkan kepada beliau. Seperti yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullahu, وكان له سمت حسن ، وصمت ، غير الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ، وكان فيه تزهد كثير ، له أحوال صالحة ومكاشفات ، ولأتباعه وأصحابه فيه مقالات ، ويذكرون عنه أقوالا وأفعالا ومكاشفات أكثرها مغالاة ، وقد كان صالحاً ورِعاً ، وقد صنَّف كتاب ” الغُنية ” و ” فتوح الغيب ” ، وفيهما أشياء حسنة ، وذكر فيهما أحاديث ضعيفة وموضوعة ، وبالجملة كان من سادات المشايخ“Beliau memiliki perangai yang terpuji dan banyak diam, kecuali untuk urusan amar makruf nahi mungkar. Beliau juga termasuk pribadi yang zuhud, memiliki banyak kebaikan, dan firasat-firasat. Para pengikut dan murid beliau banyak menceritakan tentang hal ini, baik ucapan maupun perbuatan beliau, akan tetapi mayoritasnya terlalu berlebihan. Beliau adalah seorang yang saleh lagi warak. Menulis dua kitab, Al-Ghunyah dan Futuhul Ghaib yang menyimpan kebaikan dan juga ada hadis lemah maupun palsu. Tapi secara umum, beliau adalah termasuk seorang ulama.” (Al-Bidayah wan-Nihayah, 12: 768)Bagaimana sikap yang dibenarkan terhadap beliau?!Di tengah dua kubu yang berseberangan, yakni kubu yang begitu mengelu-elukan sosok Syekh Abdul Qodir Jaelani dan sosok yang mencela beliau, maka ahlussunnah wal jamaah berusaha menempatkan beliau sebagaimana kedudukan dan kemuliaannya. Dijelaskan oleh Syekh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy hafidzahullahu,نعم عبد القادر الجيلاني من الصالحين، ومن الحنابلة ولكن الناس عكفوا على قبره، وغلوا فيه ودعوه من دون الله، وهو لا يرضى بذلك“Betul, beliau termasuk dari kalangan orang-orang saleh dan ulama dari kalangan ulama mazhab Hanbali. Akan tetapi, sungguh disayangkan jika sebagian orang beriktikaf di kubur beliau dan berlebih-lebihan (bahkan sampai) berdoa kepada beliau dan bukan kepada Allah sementara beliau sendiri tidak akan rida dengan hal demikian.” (Dikutip dari kanal: saaid.net)Wallahu a’lamBaca Juga: Doa Nabi Sulaiman—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.idTags: biografibiografi ulamakisah ulamamengenal ulama

Biografi Syekh Abdul Qodir Jaelani

Nama beliau sangat masyhur di kalangan kaum muslimin Indonesia. Namun, sedikit kaum muslimin yang mengetahui biografi beliau, bahkan untuk versi ringkasnya sekali pun. Berikut adalah sedikit ulasan yang semoga membantu menambah pengetahuan setiap dari kita tentang sosok Syekh Abdul Qodir Jaelani. Daftar Isi sembunyikan 1. Nasab 2. Pujian ulama terhadap beliau 3. Bagaimana sikap yang dibenarkan terhadap beliau?! NasabBeliau adalah seorang alim yang zuhud dan bernama Abu Muhammad Abdul Qodir bin Musa bin Abdullah Jaelani. Beliau lahir pada tahun 471 H di Jailan (salah satu desa di Tubrustan). Banyak mendengar ilmu dari Al-Baqilany, Ahmad bin Al-Mudzaffar, dan Abul Qasim Ibn Bayyan. Sementara murid-murid beliau yang masyhur adalah As-Sam’ani, Abdul Ghani Al-Maqdisy, dan Ibnu Qudamah.Pujian ulama terhadap beliauImam Adz-Dzahabi rahimahullahu mengatakan, الشيخ الإمام العالم الزاهد العارف القدوة شيخ الإسلام علم الأولياء“Seorang syekh, imam, alim, orang yang zuhud, bijak, dan teladan, berjuluk Syekh Al-Islam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 20: 439)Begitu pun Imam As-Sam’ani rahimahullahu mengatakan,كان عبد القادر من أهل جيلان إمام الحنابلة وشيخهم في عصره ، فقيه ، صالح ، ديِّن ، خيِّر ، كثير الذكر ، دائم الفكر ، سريع الدمعة“Abdul Qodir Jaelani adalah asli desa Jailan, termasuk di antara imam mazhab Hanbali dan Syekh mazhab di masanya, seorang yang faqih, seorang yang saleh, taat, baik, banyak berzikir, senang merenung, dan mudah sekali menitikkan air mata.” (Siyar A’lam An-Nubala, 20: 441)Namun, ulama juga menyelipkan beberapa hal yang perlu untuk dikaji ulang tentang hal-hal yang dinisbatkan kepada beliau. Seperti yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullahu, وكان له سمت حسن ، وصمت ، غير الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ، وكان فيه تزهد كثير ، له أحوال صالحة ومكاشفات ، ولأتباعه وأصحابه فيه مقالات ، ويذكرون عنه أقوالا وأفعالا ومكاشفات أكثرها مغالاة ، وقد كان صالحاً ورِعاً ، وقد صنَّف كتاب ” الغُنية ” و ” فتوح الغيب ” ، وفيهما أشياء حسنة ، وذكر فيهما أحاديث ضعيفة وموضوعة ، وبالجملة كان من سادات المشايخ“Beliau memiliki perangai yang terpuji dan banyak diam, kecuali untuk urusan amar makruf nahi mungkar. Beliau juga termasuk pribadi yang zuhud, memiliki banyak kebaikan, dan firasat-firasat. Para pengikut dan murid beliau banyak menceritakan tentang hal ini, baik ucapan maupun perbuatan beliau, akan tetapi mayoritasnya terlalu berlebihan. Beliau adalah seorang yang saleh lagi warak. Menulis dua kitab, Al-Ghunyah dan Futuhul Ghaib yang menyimpan kebaikan dan juga ada hadis lemah maupun palsu. Tapi secara umum, beliau adalah termasuk seorang ulama.” (Al-Bidayah wan-Nihayah, 12: 768)Bagaimana sikap yang dibenarkan terhadap beliau?!Di tengah dua kubu yang berseberangan, yakni kubu yang begitu mengelu-elukan sosok Syekh Abdul Qodir Jaelani dan sosok yang mencela beliau, maka ahlussunnah wal jamaah berusaha menempatkan beliau sebagaimana kedudukan dan kemuliaannya. Dijelaskan oleh Syekh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy hafidzahullahu,نعم عبد القادر الجيلاني من الصالحين، ومن الحنابلة ولكن الناس عكفوا على قبره، وغلوا فيه ودعوه من دون الله، وهو لا يرضى بذلك“Betul, beliau termasuk dari kalangan orang-orang saleh dan ulama dari kalangan ulama mazhab Hanbali. Akan tetapi, sungguh disayangkan jika sebagian orang beriktikaf di kubur beliau dan berlebih-lebihan (bahkan sampai) berdoa kepada beliau dan bukan kepada Allah sementara beliau sendiri tidak akan rida dengan hal demikian.” (Dikutip dari kanal: saaid.net)Wallahu a’lamBaca Juga: Doa Nabi Sulaiman—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.idTags: biografibiografi ulamakisah ulamamengenal ulama
Nama beliau sangat masyhur di kalangan kaum muslimin Indonesia. Namun, sedikit kaum muslimin yang mengetahui biografi beliau, bahkan untuk versi ringkasnya sekali pun. Berikut adalah sedikit ulasan yang semoga membantu menambah pengetahuan setiap dari kita tentang sosok Syekh Abdul Qodir Jaelani. Daftar Isi sembunyikan 1. Nasab 2. Pujian ulama terhadap beliau 3. Bagaimana sikap yang dibenarkan terhadap beliau?! NasabBeliau adalah seorang alim yang zuhud dan bernama Abu Muhammad Abdul Qodir bin Musa bin Abdullah Jaelani. Beliau lahir pada tahun 471 H di Jailan (salah satu desa di Tubrustan). Banyak mendengar ilmu dari Al-Baqilany, Ahmad bin Al-Mudzaffar, dan Abul Qasim Ibn Bayyan. Sementara murid-murid beliau yang masyhur adalah As-Sam’ani, Abdul Ghani Al-Maqdisy, dan Ibnu Qudamah.Pujian ulama terhadap beliauImam Adz-Dzahabi rahimahullahu mengatakan, الشيخ الإمام العالم الزاهد العارف القدوة شيخ الإسلام علم الأولياء“Seorang syekh, imam, alim, orang yang zuhud, bijak, dan teladan, berjuluk Syekh Al-Islam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 20: 439)Begitu pun Imam As-Sam’ani rahimahullahu mengatakan,كان عبد القادر من أهل جيلان إمام الحنابلة وشيخهم في عصره ، فقيه ، صالح ، ديِّن ، خيِّر ، كثير الذكر ، دائم الفكر ، سريع الدمعة“Abdul Qodir Jaelani adalah asli desa Jailan, termasuk di antara imam mazhab Hanbali dan Syekh mazhab di masanya, seorang yang faqih, seorang yang saleh, taat, baik, banyak berzikir, senang merenung, dan mudah sekali menitikkan air mata.” (Siyar A’lam An-Nubala, 20: 441)Namun, ulama juga menyelipkan beberapa hal yang perlu untuk dikaji ulang tentang hal-hal yang dinisbatkan kepada beliau. Seperti yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullahu, وكان له سمت حسن ، وصمت ، غير الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ، وكان فيه تزهد كثير ، له أحوال صالحة ومكاشفات ، ولأتباعه وأصحابه فيه مقالات ، ويذكرون عنه أقوالا وأفعالا ومكاشفات أكثرها مغالاة ، وقد كان صالحاً ورِعاً ، وقد صنَّف كتاب ” الغُنية ” و ” فتوح الغيب ” ، وفيهما أشياء حسنة ، وذكر فيهما أحاديث ضعيفة وموضوعة ، وبالجملة كان من سادات المشايخ“Beliau memiliki perangai yang terpuji dan banyak diam, kecuali untuk urusan amar makruf nahi mungkar. Beliau juga termasuk pribadi yang zuhud, memiliki banyak kebaikan, dan firasat-firasat. Para pengikut dan murid beliau banyak menceritakan tentang hal ini, baik ucapan maupun perbuatan beliau, akan tetapi mayoritasnya terlalu berlebihan. Beliau adalah seorang yang saleh lagi warak. Menulis dua kitab, Al-Ghunyah dan Futuhul Ghaib yang menyimpan kebaikan dan juga ada hadis lemah maupun palsu. Tapi secara umum, beliau adalah termasuk seorang ulama.” (Al-Bidayah wan-Nihayah, 12: 768)Bagaimana sikap yang dibenarkan terhadap beliau?!Di tengah dua kubu yang berseberangan, yakni kubu yang begitu mengelu-elukan sosok Syekh Abdul Qodir Jaelani dan sosok yang mencela beliau, maka ahlussunnah wal jamaah berusaha menempatkan beliau sebagaimana kedudukan dan kemuliaannya. Dijelaskan oleh Syekh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy hafidzahullahu,نعم عبد القادر الجيلاني من الصالحين، ومن الحنابلة ولكن الناس عكفوا على قبره، وغلوا فيه ودعوه من دون الله، وهو لا يرضى بذلك“Betul, beliau termasuk dari kalangan orang-orang saleh dan ulama dari kalangan ulama mazhab Hanbali. Akan tetapi, sungguh disayangkan jika sebagian orang beriktikaf di kubur beliau dan berlebih-lebihan (bahkan sampai) berdoa kepada beliau dan bukan kepada Allah sementara beliau sendiri tidak akan rida dengan hal demikian.” (Dikutip dari kanal: saaid.net)Wallahu a’lamBaca Juga: Doa Nabi Sulaiman—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.idTags: biografibiografi ulamakisah ulamamengenal ulama


Nama beliau sangat masyhur di kalangan kaum muslimin Indonesia. Namun, sedikit kaum muslimin yang mengetahui biografi beliau, bahkan untuk versi ringkasnya sekali pun. Berikut adalah sedikit ulasan yang semoga membantu menambah pengetahuan setiap dari kita tentang sosok Syekh Abdul Qodir Jaelani. Daftar Isi sembunyikan 1. Nasab 2. Pujian ulama terhadap beliau 3. Bagaimana sikap yang dibenarkan terhadap beliau?! NasabBeliau adalah seorang alim yang zuhud dan bernama Abu Muhammad Abdul Qodir bin Musa bin Abdullah Jaelani. Beliau lahir pada tahun 471 H di Jailan (salah satu desa di Tubrustan). Banyak mendengar ilmu dari Al-Baqilany, Ahmad bin Al-Mudzaffar, dan Abul Qasim Ibn Bayyan. Sementara murid-murid beliau yang masyhur adalah As-Sam’ani, Abdul Ghani Al-Maqdisy, dan Ibnu Qudamah.Pujian ulama terhadap beliauImam Adz-Dzahabi rahimahullahu mengatakan, الشيخ الإمام العالم الزاهد العارف القدوة شيخ الإسلام علم الأولياء“Seorang syekh, imam, alim, orang yang zuhud, bijak, dan teladan, berjuluk Syekh Al-Islam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 20: 439)Begitu pun Imam As-Sam’ani rahimahullahu mengatakan,كان عبد القادر من أهل جيلان إمام الحنابلة وشيخهم في عصره ، فقيه ، صالح ، ديِّن ، خيِّر ، كثير الذكر ، دائم الفكر ، سريع الدمعة“Abdul Qodir Jaelani adalah asli desa Jailan, termasuk di antara imam mazhab Hanbali dan Syekh mazhab di masanya, seorang yang faqih, seorang yang saleh, taat, baik, banyak berzikir, senang merenung, dan mudah sekali menitikkan air mata.” (Siyar A’lam An-Nubala, 20: 441)Namun, ulama juga menyelipkan beberapa hal yang perlu untuk dikaji ulang tentang hal-hal yang dinisbatkan kepada beliau. Seperti yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullahu, وكان له سمت حسن ، وصمت ، غير الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ، وكان فيه تزهد كثير ، له أحوال صالحة ومكاشفات ، ولأتباعه وأصحابه فيه مقالات ، ويذكرون عنه أقوالا وأفعالا ومكاشفات أكثرها مغالاة ، وقد كان صالحاً ورِعاً ، وقد صنَّف كتاب ” الغُنية ” و ” فتوح الغيب ” ، وفيهما أشياء حسنة ، وذكر فيهما أحاديث ضعيفة وموضوعة ، وبالجملة كان من سادات المشايخ“Beliau memiliki perangai yang terpuji dan banyak diam, kecuali untuk urusan amar makruf nahi mungkar. Beliau juga termasuk pribadi yang zuhud, memiliki banyak kebaikan, dan firasat-firasat. Para pengikut dan murid beliau banyak menceritakan tentang hal ini, baik ucapan maupun perbuatan beliau, akan tetapi mayoritasnya terlalu berlebihan. Beliau adalah seorang yang saleh lagi warak. Menulis dua kitab, Al-Ghunyah dan Futuhul Ghaib yang menyimpan kebaikan dan juga ada hadis lemah maupun palsu. Tapi secara umum, beliau adalah termasuk seorang ulama.” (Al-Bidayah wan-Nihayah, 12: 768)Bagaimana sikap yang dibenarkan terhadap beliau?!Di tengah dua kubu yang berseberangan, yakni kubu yang begitu mengelu-elukan sosok Syekh Abdul Qodir Jaelani dan sosok yang mencela beliau, maka ahlussunnah wal jamaah berusaha menempatkan beliau sebagaimana kedudukan dan kemuliaannya. Dijelaskan oleh Syekh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy hafidzahullahu,نعم عبد القادر الجيلاني من الصالحين، ومن الحنابلة ولكن الناس عكفوا على قبره، وغلوا فيه ودعوه من دون الله، وهو لا يرضى بذلك“Betul, beliau termasuk dari kalangan orang-orang saleh dan ulama dari kalangan ulama mazhab Hanbali. Akan tetapi, sungguh disayangkan jika sebagian orang beriktikaf di kubur beliau dan berlebih-lebihan (bahkan sampai) berdoa kepada beliau dan bukan kepada Allah sementara beliau sendiri tidak akan rida dengan hal demikian.” (Dikutip dari kanal: saaid.net)Wallahu a’lamBaca Juga: Doa Nabi Sulaiman—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.idTags: biografibiografi ulamakisah ulamamengenal ulama

Apakah Zodiak dan Ramalan Termasuk Sihir?

علم التنجيم والعرافة السؤال أحسن الله إليكم صاحب الفضيلة ، هذا سائل يقول: هل يدخل في السحر علم التنجيم وعلم العرافة ؟ Pertanyaan: Syeikh yang mulia, semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda, apakah ilmu Nujum (zodiak) dan ramalan termasuk sihir? الاحابة سبق لكم في كتاب التوحيد أن من أنواع السحر، من أقتبس شعبة من النجوم، فالتنجيم منه شي من أنواع السحر، من إقتبس شعبة من النجوم فقد أقتبس شعبة من السحر زاد ما زاد، نعم التنجيم منه، نوع يكون من أنواع السحر. والعرافة: العراف قد يكون ساحر نعم، وقد يكون عرافاً فقط. والعراف: هو إلي يخبر عن الأشياء الغائبة، تخمينات، وتوقعات وهمية وظنية، قد يصادف، قد يصادف الصحيح، لا من أنه يطلع هو على الغيب، ولكن صادف تخرص، وصادف قضاءاً وقدراً، هذا هو العراف الذي يخبر عن الأشياء بمقدمات يخمن بها، ويحبس بها الأمور، وهو كذاب ، لكن قد يصادف قضاءاً وقدراً، فيقع الشيء لا بخبره، وإنما بقضاء الله وقدره. Jawaban: Telah lewat pembahasannya dalam kitab Tauhid bahwa di antara macam-macam sihir ada yang ilmunya diambil dari cabang ilmu Nujum, sebagaimana di antara ilmu Nujum juga merupakan cabang dari jenis-jenis sihir.  Jadi, barang siapa menggunakan jenis tertentu dari ilmu Nujum, artinya dia menggunakan jenis tertentu dari ilmu sihir, semakin tinggi ilmu Nujum-nya semakin tinggi sihir yang digunakan.  Jadi, ilmu Nujum termasuk sihir, termasuk salah satu macam ilmu sihir.  Adapun ilmu ramal, peramal terkadang adalah seorang tukang sihir, tapi terkadang hanya menebak-nebak saja. Karena peramal adalah orang yang memberitahukan kejadian yang gaib (tidak kasatmata), bisa dengan memperkirakan, memproyeksikan, dengan persangkaan atau menebak saja, yang kebetulan atau terkadang sesuai realita, bukan karena dia mengetahui perkara yang gaib, sehingga terkadang terbukti keliru atau kebetulan sama dengan takdir dan ketetapan Allah. Ini adalah tukang ramal yang mengabarkan sesuatu dengan tanda-tanda yang dia perkirakan atau perkara-perkara yang dia perhitungkan, ini adalah seorang pendusta (bukan penyihir, pent.), tapi terkadang ramalannya sesuai dengan takdir dan ketetapan-Nya, dan kejadian terjadi bukan karena mengikuti ramalannya melainkan karena takdir dan ketetapan-Nya semata. Syaikh Shalih al-Fauzan (semoga Allah menjaga beliau)  1Ilmu Nujum adalah meramal kejadian-kejadian di bumi berdasarkan petunjuk keadaan bintang. Lihat Majmūʿ Fatāwā (XXXV/192) Sumber: https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/10463 LINK PDF 🔍 Tata Cara Sholat Istisqo, Hukum Menjual Tanah Wakaf, Apakah Bekicot Haram, Ramalan Hari Kiamat Dalam Islam, Cara Mengobati Orang Kesurupan Dengan Tenaga Dalam, Doa Alkafirun Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 319 QRIS donasi Yufid

Apakah Zodiak dan Ramalan Termasuk Sihir?

علم التنجيم والعرافة السؤال أحسن الله إليكم صاحب الفضيلة ، هذا سائل يقول: هل يدخل في السحر علم التنجيم وعلم العرافة ؟ Pertanyaan: Syeikh yang mulia, semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda, apakah ilmu Nujum (zodiak) dan ramalan termasuk sihir? الاحابة سبق لكم في كتاب التوحيد أن من أنواع السحر، من أقتبس شعبة من النجوم، فالتنجيم منه شي من أنواع السحر، من إقتبس شعبة من النجوم فقد أقتبس شعبة من السحر زاد ما زاد، نعم التنجيم منه، نوع يكون من أنواع السحر. والعرافة: العراف قد يكون ساحر نعم، وقد يكون عرافاً فقط. والعراف: هو إلي يخبر عن الأشياء الغائبة، تخمينات، وتوقعات وهمية وظنية، قد يصادف، قد يصادف الصحيح، لا من أنه يطلع هو على الغيب، ولكن صادف تخرص، وصادف قضاءاً وقدراً، هذا هو العراف الذي يخبر عن الأشياء بمقدمات يخمن بها، ويحبس بها الأمور، وهو كذاب ، لكن قد يصادف قضاءاً وقدراً، فيقع الشيء لا بخبره، وإنما بقضاء الله وقدره. Jawaban: Telah lewat pembahasannya dalam kitab Tauhid bahwa di antara macam-macam sihir ada yang ilmunya diambil dari cabang ilmu Nujum, sebagaimana di antara ilmu Nujum juga merupakan cabang dari jenis-jenis sihir.  Jadi, barang siapa menggunakan jenis tertentu dari ilmu Nujum, artinya dia menggunakan jenis tertentu dari ilmu sihir, semakin tinggi ilmu Nujum-nya semakin tinggi sihir yang digunakan.  Jadi, ilmu Nujum termasuk sihir, termasuk salah satu macam ilmu sihir.  Adapun ilmu ramal, peramal terkadang adalah seorang tukang sihir, tapi terkadang hanya menebak-nebak saja. Karena peramal adalah orang yang memberitahukan kejadian yang gaib (tidak kasatmata), bisa dengan memperkirakan, memproyeksikan, dengan persangkaan atau menebak saja, yang kebetulan atau terkadang sesuai realita, bukan karena dia mengetahui perkara yang gaib, sehingga terkadang terbukti keliru atau kebetulan sama dengan takdir dan ketetapan Allah. Ini adalah tukang ramal yang mengabarkan sesuatu dengan tanda-tanda yang dia perkirakan atau perkara-perkara yang dia perhitungkan, ini adalah seorang pendusta (bukan penyihir, pent.), tapi terkadang ramalannya sesuai dengan takdir dan ketetapan-Nya, dan kejadian terjadi bukan karena mengikuti ramalannya melainkan karena takdir dan ketetapan-Nya semata. Syaikh Shalih al-Fauzan (semoga Allah menjaga beliau)  1Ilmu Nujum adalah meramal kejadian-kejadian di bumi berdasarkan petunjuk keadaan bintang. Lihat Majmūʿ Fatāwā (XXXV/192) Sumber: https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/10463 LINK PDF 🔍 Tata Cara Sholat Istisqo, Hukum Menjual Tanah Wakaf, Apakah Bekicot Haram, Ramalan Hari Kiamat Dalam Islam, Cara Mengobati Orang Kesurupan Dengan Tenaga Dalam, Doa Alkafirun Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 319 QRIS donasi Yufid
علم التنجيم والعرافة السؤال أحسن الله إليكم صاحب الفضيلة ، هذا سائل يقول: هل يدخل في السحر علم التنجيم وعلم العرافة ؟ Pertanyaan: Syeikh yang mulia, semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda, apakah ilmu Nujum (zodiak) dan ramalan termasuk sihir? الاحابة سبق لكم في كتاب التوحيد أن من أنواع السحر، من أقتبس شعبة من النجوم، فالتنجيم منه شي من أنواع السحر، من إقتبس شعبة من النجوم فقد أقتبس شعبة من السحر زاد ما زاد، نعم التنجيم منه، نوع يكون من أنواع السحر. والعرافة: العراف قد يكون ساحر نعم، وقد يكون عرافاً فقط. والعراف: هو إلي يخبر عن الأشياء الغائبة، تخمينات، وتوقعات وهمية وظنية، قد يصادف، قد يصادف الصحيح، لا من أنه يطلع هو على الغيب، ولكن صادف تخرص، وصادف قضاءاً وقدراً، هذا هو العراف الذي يخبر عن الأشياء بمقدمات يخمن بها، ويحبس بها الأمور، وهو كذاب ، لكن قد يصادف قضاءاً وقدراً، فيقع الشيء لا بخبره، وإنما بقضاء الله وقدره. Jawaban: Telah lewat pembahasannya dalam kitab Tauhid bahwa di antara macam-macam sihir ada yang ilmunya diambil dari cabang ilmu Nujum, sebagaimana di antara ilmu Nujum juga merupakan cabang dari jenis-jenis sihir.  Jadi, barang siapa menggunakan jenis tertentu dari ilmu Nujum, artinya dia menggunakan jenis tertentu dari ilmu sihir, semakin tinggi ilmu Nujum-nya semakin tinggi sihir yang digunakan.  Jadi, ilmu Nujum termasuk sihir, termasuk salah satu macam ilmu sihir.  Adapun ilmu ramal, peramal terkadang adalah seorang tukang sihir, tapi terkadang hanya menebak-nebak saja. Karena peramal adalah orang yang memberitahukan kejadian yang gaib (tidak kasatmata), bisa dengan memperkirakan, memproyeksikan, dengan persangkaan atau menebak saja, yang kebetulan atau terkadang sesuai realita, bukan karena dia mengetahui perkara yang gaib, sehingga terkadang terbukti keliru atau kebetulan sama dengan takdir dan ketetapan Allah. Ini adalah tukang ramal yang mengabarkan sesuatu dengan tanda-tanda yang dia perkirakan atau perkara-perkara yang dia perhitungkan, ini adalah seorang pendusta (bukan penyihir, pent.), tapi terkadang ramalannya sesuai dengan takdir dan ketetapan-Nya, dan kejadian terjadi bukan karena mengikuti ramalannya melainkan karena takdir dan ketetapan-Nya semata. Syaikh Shalih al-Fauzan (semoga Allah menjaga beliau)  1Ilmu Nujum adalah meramal kejadian-kejadian di bumi berdasarkan petunjuk keadaan bintang. Lihat Majmūʿ Fatāwā (XXXV/192) Sumber: https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/10463 LINK PDF 🔍 Tata Cara Sholat Istisqo, Hukum Menjual Tanah Wakaf, Apakah Bekicot Haram, Ramalan Hari Kiamat Dalam Islam, Cara Mengobati Orang Kesurupan Dengan Tenaga Dalam, Doa Alkafirun Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 319 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1469318932&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> علم التنجيم والعرافة السؤال أحسن الله إليكم صاحب الفضيلة ، هذا سائل يقول: هل يدخل في السحر علم التنجيم وعلم العرافة ؟ Pertanyaan: Syeikh yang mulia, semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda, apakah ilmu Nujum (zodiak) dan ramalan termasuk sihir? الاحابة سبق لكم في كتاب التوحيد أن من أنواع السحر، من أقتبس شعبة من النجوم، فالتنجيم منه شي من أنواع السحر، من إقتبس شعبة من النجوم فقد أقتبس شعبة من السحر زاد ما زاد، نعم التنجيم منه، نوع يكون من أنواع السحر. والعرافة: العراف قد يكون ساحر نعم، وقد يكون عرافاً فقط. والعراف: هو إلي يخبر عن الأشياء الغائبة، تخمينات، وتوقعات وهمية وظنية، قد يصادف، قد يصادف الصحيح، لا من أنه يطلع هو على الغيب، ولكن صادف تخرص، وصادف قضاءاً وقدراً، هذا هو العراف الذي يخبر عن الأشياء بمقدمات يخمن بها، ويحبس بها الأمور، وهو كذاب ، لكن قد يصادف قضاءاً وقدراً، فيقع الشيء لا بخبره، وإنما بقضاء الله وقدره. Jawaban: Telah lewat pembahasannya dalam kitab Tauhid bahwa di antara macam-macam sihir ada yang ilmunya diambil dari cabang ilmu Nujum, sebagaimana di antara ilmu Nujum juga merupakan cabang dari jenis-jenis sihir.  Jadi, barang siapa menggunakan jenis tertentu dari ilmu Nujum, artinya dia menggunakan jenis tertentu dari ilmu sihir, semakin tinggi ilmu Nujum-nya semakin tinggi sihir yang digunakan.  Jadi, ilmu Nujum termasuk sihir, termasuk salah satu macam ilmu sihir.  Adapun ilmu ramal, peramal terkadang adalah seorang tukang sihir, tapi terkadang hanya menebak-nebak saja. Karena peramal adalah orang yang memberitahukan kejadian yang gaib (tidak kasatmata), bisa dengan memperkirakan, memproyeksikan, dengan persangkaan atau menebak saja, yang kebetulan atau terkadang sesuai realita, bukan karena dia mengetahui perkara yang gaib, sehingga terkadang terbukti keliru atau kebetulan sama dengan takdir dan ketetapan Allah. Ini adalah tukang ramal yang mengabarkan sesuatu dengan tanda-tanda yang dia perkirakan atau perkara-perkara yang dia perhitungkan, ini adalah seorang pendusta (bukan penyihir, pent.), tapi terkadang ramalannya sesuai dengan takdir dan ketetapan-Nya, dan kejadian terjadi bukan karena mengikuti ramalannya melainkan karena takdir dan ketetapan-Nya semata. Syaikh Shalih al-Fauzan (semoga Allah menjaga beliau)  1Ilmu Nujum adalah meramal kejadian-kejadian di bumi berdasarkan petunjuk keadaan bintang. Lihat Majmūʿ Fatāwā (XXXV/192) Sumber: https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/10463 LINK PDF 🔍 Tata Cara Sholat Istisqo, Hukum Menjual Tanah Wakaf, Apakah Bekicot Haram, Ramalan Hari Kiamat Dalam Islam, Cara Mengobati Orang Kesurupan Dengan Tenaga Dalam, Doa Alkafirun Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 319 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Inilah Dalil dan Fatwa Ulama Mengenai Bolehnya Umrah Berulang Kali dalam Sekali Safar

Lembaga Fatwa Darul Ifta’ dari Yordania ditanya mengenai apakah boleh umrah dilakukan lebih dari sekali dalam sekali safar, baik melalukan umrah untuk diri sendiri ataukah untuk orang tua. Karena safar untuk umrah yang ditetapkan hanya terbatas kurang lebih 10 hari. Jawaban yang diberikan oleh Darul Ifta’ Urduniyyah: Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Sayyidinaa Rasulullah.  Orang yang berumrah boleh menunaikan umrah lebih dari sekali dalam sekali safar, baik berumrah untuk dirinya sendiri ataukah untuk orang tuanya yang sakitnya tak kunjung sembuh yang tidak mampu berumrah. Namun, syaratnya yang mengumrahkan harus sudah berumrah untuk dirinya sendiri. Bahkan mengulangi umrah termasuk dalam fadhilah amal, keutamaan beramal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا “Umrah ke umrah itu menghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Muslim) Syarat pertama untuk sahnya umrah kedua bagi yang sudah berada di dalam Makkah, ia hendaknya keluar ke tanah halal terdekat, seperti Tan’im. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah umrah dua kali pada haji Wada’ kurang dari 20 hari. Umrah pertama yaitu berangkat dari Madinah. Umrah kedua adalah berihram dari Tan’im sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut ini. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مَعَهَا أَخَاهَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ فَأَعْمَرَهَا مِنْ التَّنْعِيمِ. متفق عليه. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus bersamanya saudaranya ‘Abdurrahman, ia diperintahkan berumrah dari Tan’im. (Muttafaqun ‘alaih) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika seseorang tinggal di Makkah atau singgah di Makkah lantas berkeinginan untuk umrah, maka miqatnya adalah miqat terdekat. Inilah pendapat dari Imam Syafii. Para ulama Syafiiyah pun menyepakatinya. Para ulama Syafiiyah berpendapat bahwa cukup baginya untuk mencapai tanah halal walau hanya satu langkah dari arah mana saja selama itu sudah masuk tanah halal. Itu adalah miqat yang wajib. Adapun yang disunnahkan adalah mengambil miqat untuk umrah dari Ji’ronah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berumrah dari Ji’ronah. Jika tidak bisa, maka lewat Tan’im karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada Aisyah untuk mengambil miqat dari Tan’im. Tan’im ini adalah miqat terdekat dari Baitullah. Jika tidak bisa pula, bisa mengambil miqat dari Hudaibiyyah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam shalat di situ. Urutan miqat dari segi keutamaan adalah Ji’ronah, Tan’im, lalu Hudaibiyyah. Inilah yang disebutkan ulama Syafiiyah dan mereka menyepakatinya dan tidak ada ikhtilaf di dalamnya. Lihat Al-Majmu’, 7:211 dan Mughi Al-Muhtaj, 2:229. Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan bahwa tidak ada ikhtilaf mengenai bolehnya umrah bagi orang yang berada di Makkah untuk orang yang bermukim atau yang mendatangi Makkah. Ibnu Qudamah berkata, “Siapa saja yang berada di Makkah, maka itu adalah miqat untuk haji. Jika ia ingin berumrah, maka hendaklah ia keluar menuju tanah halal. Kami tidak mengetahui ada perselisihan mengenai hal ini. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada ‘Abdurrahman untuk membantu Aisyah berumah dari Tan’im.” (Al-Mughni, 3:11) Kesimpulannya, mengulangi umrah, melakukannya lebih dari sekali dalam sekali safar itu DIBOLEHKAN. Tidak ada dalil yang melarang hal ini. Kebanyakan ulama membolehkannya.  Wallahu Ta’ala a’lam.  Ada juga ulama lain yang membolehkan umrah berulang kali dalam sekali safar adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dalam perkataannya: وأحب أن يأخذ عمرة أخرى لنفسه أو لغيره فلا حرج في ذلك، لكن يأخذها من الحل يخرج من مكة إلى الحل، التنعيم أو الجعرانة أو غيرهما فيحرم من هناك ثم يدخل فيطوف ويسعى ويقصر، سواء عن نفسه أو عن ميت من أقاربه وأحبابه أو عن عاجز شيخ كبير أو عجوز كبيرة عاجزين عن العمرة فلا بأس. “Aku menyukai jika ada yang mengambil umrah yang kedua untuk diri sendiri atau untuk yang lain, tidaklah masalah untuk itu. Namun, ia hendaklah keluar dari Makkah menuju tanah halal seperti Tan’im atau Ji’ronah atau selainnya. Ia berihram dari tempat tersebut, kemudian masuk, lalu melakukan thawaf dan sa’i, serta tahallul (taqshir). Ia boleh melakukan umrah tersebut untuk dirinya sendiri ataukah untuk mayat dari kerabat dan orang-orang yang ia cintai. Ia juga masih boleh melakukan umrah untuk orang yang tidak mampu karena usianya sudah sepuh sehingga tidak mampu berumrah. Seperti itu tidaklah masalah.” Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah dalam Al-Minhaj Al-Qawim berkata, يسنُّ الإكثار من العمرة، ولو في اليوم الواحد؛ إذ هي أفضل من الطواف على المعتمد “Disunnahkan memperbanyak umrah walaupun dalam satu hari. Amalan tersebut lebih afdal daripada memperbanyak thawaf. Demikian pendapat mu’tamad (pendapat resmi dalam madzhab Syafii).” Baca juga: Ulama yang Tidak Membolehkan Berulang Kali Umrah dalam Sekali Safar   Referensi: https://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=271#.Y_hHGhY1vVY https://binbaz.org.sa/fatwas/12595/حكم-تكرار-العمرة-في-نفس-الموسم   –   Diselesaikan di Madinah, 4 Syakban 1444 H, 24 Februari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara umrah fikih safar fikih umrah keutamaan umrah

Inilah Dalil dan Fatwa Ulama Mengenai Bolehnya Umrah Berulang Kali dalam Sekali Safar

Lembaga Fatwa Darul Ifta’ dari Yordania ditanya mengenai apakah boleh umrah dilakukan lebih dari sekali dalam sekali safar, baik melalukan umrah untuk diri sendiri ataukah untuk orang tua. Karena safar untuk umrah yang ditetapkan hanya terbatas kurang lebih 10 hari. Jawaban yang diberikan oleh Darul Ifta’ Urduniyyah: Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Sayyidinaa Rasulullah.  Orang yang berumrah boleh menunaikan umrah lebih dari sekali dalam sekali safar, baik berumrah untuk dirinya sendiri ataukah untuk orang tuanya yang sakitnya tak kunjung sembuh yang tidak mampu berumrah. Namun, syaratnya yang mengumrahkan harus sudah berumrah untuk dirinya sendiri. Bahkan mengulangi umrah termasuk dalam fadhilah amal, keutamaan beramal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا “Umrah ke umrah itu menghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Muslim) Syarat pertama untuk sahnya umrah kedua bagi yang sudah berada di dalam Makkah, ia hendaknya keluar ke tanah halal terdekat, seperti Tan’im. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah umrah dua kali pada haji Wada’ kurang dari 20 hari. Umrah pertama yaitu berangkat dari Madinah. Umrah kedua adalah berihram dari Tan’im sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut ini. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مَعَهَا أَخَاهَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ فَأَعْمَرَهَا مِنْ التَّنْعِيمِ. متفق عليه. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus bersamanya saudaranya ‘Abdurrahman, ia diperintahkan berumrah dari Tan’im. (Muttafaqun ‘alaih) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika seseorang tinggal di Makkah atau singgah di Makkah lantas berkeinginan untuk umrah, maka miqatnya adalah miqat terdekat. Inilah pendapat dari Imam Syafii. Para ulama Syafiiyah pun menyepakatinya. Para ulama Syafiiyah berpendapat bahwa cukup baginya untuk mencapai tanah halal walau hanya satu langkah dari arah mana saja selama itu sudah masuk tanah halal. Itu adalah miqat yang wajib. Adapun yang disunnahkan adalah mengambil miqat untuk umrah dari Ji’ronah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berumrah dari Ji’ronah. Jika tidak bisa, maka lewat Tan’im karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada Aisyah untuk mengambil miqat dari Tan’im. Tan’im ini adalah miqat terdekat dari Baitullah. Jika tidak bisa pula, bisa mengambil miqat dari Hudaibiyyah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam shalat di situ. Urutan miqat dari segi keutamaan adalah Ji’ronah, Tan’im, lalu Hudaibiyyah. Inilah yang disebutkan ulama Syafiiyah dan mereka menyepakatinya dan tidak ada ikhtilaf di dalamnya. Lihat Al-Majmu’, 7:211 dan Mughi Al-Muhtaj, 2:229. Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan bahwa tidak ada ikhtilaf mengenai bolehnya umrah bagi orang yang berada di Makkah untuk orang yang bermukim atau yang mendatangi Makkah. Ibnu Qudamah berkata, “Siapa saja yang berada di Makkah, maka itu adalah miqat untuk haji. Jika ia ingin berumrah, maka hendaklah ia keluar menuju tanah halal. Kami tidak mengetahui ada perselisihan mengenai hal ini. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada ‘Abdurrahman untuk membantu Aisyah berumah dari Tan’im.” (Al-Mughni, 3:11) Kesimpulannya, mengulangi umrah, melakukannya lebih dari sekali dalam sekali safar itu DIBOLEHKAN. Tidak ada dalil yang melarang hal ini. Kebanyakan ulama membolehkannya.  Wallahu Ta’ala a’lam.  Ada juga ulama lain yang membolehkan umrah berulang kali dalam sekali safar adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dalam perkataannya: وأحب أن يأخذ عمرة أخرى لنفسه أو لغيره فلا حرج في ذلك، لكن يأخذها من الحل يخرج من مكة إلى الحل، التنعيم أو الجعرانة أو غيرهما فيحرم من هناك ثم يدخل فيطوف ويسعى ويقصر، سواء عن نفسه أو عن ميت من أقاربه وأحبابه أو عن عاجز شيخ كبير أو عجوز كبيرة عاجزين عن العمرة فلا بأس. “Aku menyukai jika ada yang mengambil umrah yang kedua untuk diri sendiri atau untuk yang lain, tidaklah masalah untuk itu. Namun, ia hendaklah keluar dari Makkah menuju tanah halal seperti Tan’im atau Ji’ronah atau selainnya. Ia berihram dari tempat tersebut, kemudian masuk, lalu melakukan thawaf dan sa’i, serta tahallul (taqshir). Ia boleh melakukan umrah tersebut untuk dirinya sendiri ataukah untuk mayat dari kerabat dan orang-orang yang ia cintai. Ia juga masih boleh melakukan umrah untuk orang yang tidak mampu karena usianya sudah sepuh sehingga tidak mampu berumrah. Seperti itu tidaklah masalah.” Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah dalam Al-Minhaj Al-Qawim berkata, يسنُّ الإكثار من العمرة، ولو في اليوم الواحد؛ إذ هي أفضل من الطواف على المعتمد “Disunnahkan memperbanyak umrah walaupun dalam satu hari. Amalan tersebut lebih afdal daripada memperbanyak thawaf. Demikian pendapat mu’tamad (pendapat resmi dalam madzhab Syafii).” Baca juga: Ulama yang Tidak Membolehkan Berulang Kali Umrah dalam Sekali Safar   Referensi: https://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=271#.Y_hHGhY1vVY https://binbaz.org.sa/fatwas/12595/حكم-تكرار-العمرة-في-نفس-الموسم   –   Diselesaikan di Madinah, 4 Syakban 1444 H, 24 Februari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara umrah fikih safar fikih umrah keutamaan umrah
Lembaga Fatwa Darul Ifta’ dari Yordania ditanya mengenai apakah boleh umrah dilakukan lebih dari sekali dalam sekali safar, baik melalukan umrah untuk diri sendiri ataukah untuk orang tua. Karena safar untuk umrah yang ditetapkan hanya terbatas kurang lebih 10 hari. Jawaban yang diberikan oleh Darul Ifta’ Urduniyyah: Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Sayyidinaa Rasulullah.  Orang yang berumrah boleh menunaikan umrah lebih dari sekali dalam sekali safar, baik berumrah untuk dirinya sendiri ataukah untuk orang tuanya yang sakitnya tak kunjung sembuh yang tidak mampu berumrah. Namun, syaratnya yang mengumrahkan harus sudah berumrah untuk dirinya sendiri. Bahkan mengulangi umrah termasuk dalam fadhilah amal, keutamaan beramal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا “Umrah ke umrah itu menghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Muslim) Syarat pertama untuk sahnya umrah kedua bagi yang sudah berada di dalam Makkah, ia hendaknya keluar ke tanah halal terdekat, seperti Tan’im. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah umrah dua kali pada haji Wada’ kurang dari 20 hari. Umrah pertama yaitu berangkat dari Madinah. Umrah kedua adalah berihram dari Tan’im sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut ini. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مَعَهَا أَخَاهَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ فَأَعْمَرَهَا مِنْ التَّنْعِيمِ. متفق عليه. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus bersamanya saudaranya ‘Abdurrahman, ia diperintahkan berumrah dari Tan’im. (Muttafaqun ‘alaih) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika seseorang tinggal di Makkah atau singgah di Makkah lantas berkeinginan untuk umrah, maka miqatnya adalah miqat terdekat. Inilah pendapat dari Imam Syafii. Para ulama Syafiiyah pun menyepakatinya. Para ulama Syafiiyah berpendapat bahwa cukup baginya untuk mencapai tanah halal walau hanya satu langkah dari arah mana saja selama itu sudah masuk tanah halal. Itu adalah miqat yang wajib. Adapun yang disunnahkan adalah mengambil miqat untuk umrah dari Ji’ronah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berumrah dari Ji’ronah. Jika tidak bisa, maka lewat Tan’im karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada Aisyah untuk mengambil miqat dari Tan’im. Tan’im ini adalah miqat terdekat dari Baitullah. Jika tidak bisa pula, bisa mengambil miqat dari Hudaibiyyah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam shalat di situ. Urutan miqat dari segi keutamaan adalah Ji’ronah, Tan’im, lalu Hudaibiyyah. Inilah yang disebutkan ulama Syafiiyah dan mereka menyepakatinya dan tidak ada ikhtilaf di dalamnya. Lihat Al-Majmu’, 7:211 dan Mughi Al-Muhtaj, 2:229. Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan bahwa tidak ada ikhtilaf mengenai bolehnya umrah bagi orang yang berada di Makkah untuk orang yang bermukim atau yang mendatangi Makkah. Ibnu Qudamah berkata, “Siapa saja yang berada di Makkah, maka itu adalah miqat untuk haji. Jika ia ingin berumrah, maka hendaklah ia keluar menuju tanah halal. Kami tidak mengetahui ada perselisihan mengenai hal ini. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada ‘Abdurrahman untuk membantu Aisyah berumah dari Tan’im.” (Al-Mughni, 3:11) Kesimpulannya, mengulangi umrah, melakukannya lebih dari sekali dalam sekali safar itu DIBOLEHKAN. Tidak ada dalil yang melarang hal ini. Kebanyakan ulama membolehkannya.  Wallahu Ta’ala a’lam.  Ada juga ulama lain yang membolehkan umrah berulang kali dalam sekali safar adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dalam perkataannya: وأحب أن يأخذ عمرة أخرى لنفسه أو لغيره فلا حرج في ذلك، لكن يأخذها من الحل يخرج من مكة إلى الحل، التنعيم أو الجعرانة أو غيرهما فيحرم من هناك ثم يدخل فيطوف ويسعى ويقصر، سواء عن نفسه أو عن ميت من أقاربه وأحبابه أو عن عاجز شيخ كبير أو عجوز كبيرة عاجزين عن العمرة فلا بأس. “Aku menyukai jika ada yang mengambil umrah yang kedua untuk diri sendiri atau untuk yang lain, tidaklah masalah untuk itu. Namun, ia hendaklah keluar dari Makkah menuju tanah halal seperti Tan’im atau Ji’ronah atau selainnya. Ia berihram dari tempat tersebut, kemudian masuk, lalu melakukan thawaf dan sa’i, serta tahallul (taqshir). Ia boleh melakukan umrah tersebut untuk dirinya sendiri ataukah untuk mayat dari kerabat dan orang-orang yang ia cintai. Ia juga masih boleh melakukan umrah untuk orang yang tidak mampu karena usianya sudah sepuh sehingga tidak mampu berumrah. Seperti itu tidaklah masalah.” Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah dalam Al-Minhaj Al-Qawim berkata, يسنُّ الإكثار من العمرة، ولو في اليوم الواحد؛ إذ هي أفضل من الطواف على المعتمد “Disunnahkan memperbanyak umrah walaupun dalam satu hari. Amalan tersebut lebih afdal daripada memperbanyak thawaf. Demikian pendapat mu’tamad (pendapat resmi dalam madzhab Syafii).” Baca juga: Ulama yang Tidak Membolehkan Berulang Kali Umrah dalam Sekali Safar   Referensi: https://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=271#.Y_hHGhY1vVY https://binbaz.org.sa/fatwas/12595/حكم-تكرار-العمرة-في-نفس-الموسم   –   Diselesaikan di Madinah, 4 Syakban 1444 H, 24 Februari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara umrah fikih safar fikih umrah keutamaan umrah


Lembaga Fatwa Darul Ifta’ dari Yordania ditanya mengenai apakah boleh umrah dilakukan lebih dari sekali dalam sekali safar, baik melalukan umrah untuk diri sendiri ataukah untuk orang tua. Karena safar untuk umrah yang ditetapkan hanya terbatas kurang lebih 10 hari. Jawaban yang diberikan oleh Darul Ifta’ Urduniyyah: Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Sayyidinaa Rasulullah.  Orang yang berumrah boleh menunaikan umrah lebih dari sekali dalam sekali safar, baik berumrah untuk dirinya sendiri ataukah untuk orang tuanya yang sakitnya tak kunjung sembuh yang tidak mampu berumrah. Namun, syaratnya yang mengumrahkan harus sudah berumrah untuk dirinya sendiri. Bahkan mengulangi umrah termasuk dalam fadhilah amal, keutamaan beramal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا “Umrah ke umrah itu menghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Muslim) Syarat pertama untuk sahnya umrah kedua bagi yang sudah berada di dalam Makkah, ia hendaknya keluar ke tanah halal terdekat, seperti Tan’im. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah umrah dua kali pada haji Wada’ kurang dari 20 hari. Umrah pertama yaitu berangkat dari Madinah. Umrah kedua adalah berihram dari Tan’im sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut ini. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مَعَهَا أَخَاهَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ فَأَعْمَرَهَا مِنْ التَّنْعِيمِ. متفق عليه. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus bersamanya saudaranya ‘Abdurrahman, ia diperintahkan berumrah dari Tan’im. (Muttafaqun ‘alaih) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika seseorang tinggal di Makkah atau singgah di Makkah lantas berkeinginan untuk umrah, maka miqatnya adalah miqat terdekat. Inilah pendapat dari Imam Syafii. Para ulama Syafiiyah pun menyepakatinya. Para ulama Syafiiyah berpendapat bahwa cukup baginya untuk mencapai tanah halal walau hanya satu langkah dari arah mana saja selama itu sudah masuk tanah halal. Itu adalah miqat yang wajib. Adapun yang disunnahkan adalah mengambil miqat untuk umrah dari Ji’ronah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berumrah dari Ji’ronah. Jika tidak bisa, maka lewat Tan’im karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada Aisyah untuk mengambil miqat dari Tan’im. Tan’im ini adalah miqat terdekat dari Baitullah. Jika tidak bisa pula, bisa mengambil miqat dari Hudaibiyyah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam shalat di situ. Urutan miqat dari segi keutamaan adalah Ji’ronah, Tan’im, lalu Hudaibiyyah. Inilah yang disebutkan ulama Syafiiyah dan mereka menyepakatinya dan tidak ada ikhtilaf di dalamnya. Lihat Al-Majmu’, 7:211 dan Mughi Al-Muhtaj, 2:229. Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan bahwa tidak ada ikhtilaf mengenai bolehnya umrah bagi orang yang berada di Makkah untuk orang yang bermukim atau yang mendatangi Makkah. Ibnu Qudamah berkata, “Siapa saja yang berada di Makkah, maka itu adalah miqat untuk haji. Jika ia ingin berumrah, maka hendaklah ia keluar menuju tanah halal. Kami tidak mengetahui ada perselisihan mengenai hal ini. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada ‘Abdurrahman untuk membantu Aisyah berumah dari Tan’im.” (Al-Mughni, 3:11) Kesimpulannya, mengulangi umrah, melakukannya lebih dari sekali dalam sekali safar itu DIBOLEHKAN. Tidak ada dalil yang melarang hal ini. Kebanyakan ulama membolehkannya.  Wallahu Ta’ala a’lam.  Ada juga ulama lain yang membolehkan umrah berulang kali dalam sekali safar adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dalam perkataannya: وأحب أن يأخذ عمرة أخرى لنفسه أو لغيره فلا حرج في ذلك، لكن يأخذها من الحل يخرج من مكة إلى الحل، التنعيم أو الجعرانة أو غيرهما فيحرم من هناك ثم يدخل فيطوف ويسعى ويقصر، سواء عن نفسه أو عن ميت من أقاربه وأحبابه أو عن عاجز شيخ كبير أو عجوز كبيرة عاجزين عن العمرة فلا بأس. “Aku menyukai jika ada yang mengambil umrah yang kedua untuk diri sendiri atau untuk yang lain, tidaklah masalah untuk itu. Namun, ia hendaklah keluar dari Makkah menuju tanah halal seperti Tan’im atau Ji’ronah atau selainnya. Ia berihram dari tempat tersebut, kemudian masuk, lalu melakukan thawaf dan sa’i, serta tahallul (taqshir). Ia boleh melakukan umrah tersebut untuk dirinya sendiri ataukah untuk mayat dari kerabat dan orang-orang yang ia cintai. Ia juga masih boleh melakukan umrah untuk orang yang tidak mampu karena usianya sudah sepuh sehingga tidak mampu berumrah. Seperti itu tidaklah masalah.” Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah dalam Al-Minhaj Al-Qawim berkata, يسنُّ الإكثار من العمرة، ولو في اليوم الواحد؛ إذ هي أفضل من الطواف على المعتمد “Disunnahkan memperbanyak umrah walaupun dalam satu hari. Amalan tersebut lebih afdal daripada memperbanyak thawaf. Demikian pendapat mu’tamad (pendapat resmi dalam madzhab Syafii).” Baca juga: Ulama yang Tidak Membolehkan Berulang Kali Umrah dalam Sekali Safar   Referensi: https://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=271#.Y_hHGhY1vVY https://binbaz.org.sa/fatwas/12595/حكم-تكرار-العمرة-في-نفس-الموسم   –   Diselesaikan di Madinah, 4 Syakban 1444 H, 24 Februari 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara umrah fikih safar fikih umrah keutamaan umrah

Doa ketika Mendengar Suara Petir – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Apa yang harus diucapkan ketika mendengar suara petir?Diriwayatkan dari Abu Hurairah. Ini diriwayatkan secara marfu sampai Rasulullah, hanya saja ini tidak sahih, akan tetapiriwayat ini terhenti sampai Abu Hurairah. SUBHAANA MAN YUSABBIHUR-RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIH. Doa ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dan juga dari sebagian sahabat lainnya. ==== مَاذَا يُقَالُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ؟ رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ رُوِيَ مَرْفُوعًا لَكِنَّهُ لَا يَثْبُتُ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا مَوْقُوفًا عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ سُبْحَانَ مَنْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ فَهَذَا يَعْنِي رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَيْضًا عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ

Doa ketika Mendengar Suara Petir – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Apa yang harus diucapkan ketika mendengar suara petir?Diriwayatkan dari Abu Hurairah. Ini diriwayatkan secara marfu sampai Rasulullah, hanya saja ini tidak sahih, akan tetapiriwayat ini terhenti sampai Abu Hurairah. SUBHAANA MAN YUSABBIHUR-RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIH. Doa ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dan juga dari sebagian sahabat lainnya. ==== مَاذَا يُقَالُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ؟ رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ رُوِيَ مَرْفُوعًا لَكِنَّهُ لَا يَثْبُتُ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا مَوْقُوفًا عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ سُبْحَانَ مَنْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ فَهَذَا يَعْنِي رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَيْضًا عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ
Apa yang harus diucapkan ketika mendengar suara petir?Diriwayatkan dari Abu Hurairah. Ini diriwayatkan secara marfu sampai Rasulullah, hanya saja ini tidak sahih, akan tetapiriwayat ini terhenti sampai Abu Hurairah. SUBHAANA MAN YUSABBIHUR-RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIH. Doa ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dan juga dari sebagian sahabat lainnya. ==== مَاذَا يُقَالُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ؟ رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ رُوِيَ مَرْفُوعًا لَكِنَّهُ لَا يَثْبُتُ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا مَوْقُوفًا عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ سُبْحَانَ مَنْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ فَهَذَا يَعْنِي رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَيْضًا عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ


Apa yang harus diucapkan ketika mendengar suara petir?Diriwayatkan dari Abu Hurairah. Ini diriwayatkan secara marfu sampai Rasulullah, hanya saja ini tidak sahih, akan tetapiriwayat ini terhenti sampai Abu Hurairah. SUBHAANA MAN YUSABBIHUR-RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIH. Doa ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dan juga dari sebagian sahabat lainnya. ==== مَاذَا يُقَالُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ؟ رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ رُوِيَ مَرْفُوعًا لَكِنَّهُ لَا يَثْبُتُ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا مَوْقُوفًا عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ سُبْحَانَ مَنْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ فَهَذَا يَعْنِي رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَيْضًا عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ

Tidak Tahu yang Allah Maafkan – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kemudian penulis—semoga Allah Taʿālā Merahmatinya—menyebutkansatu kaidah bermanfaat, yang juga telah diisyaratkanoleh Abul Abbas Ibnu Taimiyah al-H̱afīd dan muridnya, Ibnul Qayyim,tentang ketidaktahuan seorang hamba yang dimaafkan. Kesimpulannya, bahwa ketidaktahuan yang mungkin bagi seorang hambauntuk menghilangkan dan menyingkirkannya tidak menjadi hujah baginya (untuk dimaafkan). Seorang hamba hanya dimaafkan pada ketidaktahuan yang tidak mungkin baginyauntuk menghilangkan dan menolaknya,sehingga dia masih memiliki keinginan dan kecintaan terhadap ilmu,untuk mengetahui ilmu agama yang wajib dia ketahui, hanya saja, dia tidak mampu merealisasikannya,karena dia hidup di negeri yang jauh atau terpencil,atau di negara kafir, atau karena sebab-sebab lainnya. Penulis—semoga Allah Taʿālā Merahmatinya—memiliki satu pembahasan khususyang menjelaskan ketidaktahuan seorang hamba yang dimaafkandan ketidaktahuan yang tidak dimaafkan baginya, yang mana intinya adalah bahwa ketidaktahuan seorang hambayang disertai kemampuan untuk menghilangkan dan menyingkirkannya,maka dia tidak dimaafkan dalam keadaan ini. Adapun ketidaktahuan yang seorang hamba tidak mampuuntuk menghilangkan dan menyingkirkannya, maka dia dimaafkan. ==== ثُمَّ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى قَاعِدَةً نَافِعَةً أَشَارَ إِلَى مِثْلِهَا أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيمِيَّةَ الْحَفِيدُ وَتِلْمِيذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِيمَا يُعْذَرُ فِيهِ الْعَبْدُ مِنَ الْجَهْلِ وَحَاصِلُهَا أَنَّ الْجَهْلَ الَّذِي يُمْكِنُ الْعَبْدُ دَفْعُهُ وَرَفْعُهُ لَيْسَ حُجَّةً لَهُ وَإِنَّمَا يُعْذَرُ الْعَبْدُ فِي جَهْلٍ لَا يَتَمَكَّنُ مِنْ رَفْعِهِ وَدَفْعِهِ فَتَكُونُ عِنْدَ الْعَبْدِ إِرَادَةٌ لِلْعِلْمِ وَمَحَبَّةٌ لَهُ فِي مَعْرِفَةِ دِيْنِهِ الَّذِي يَلْزَمُهُ لَكِنْ لَا مُكْنَةَ لَهُ عَلَى ذَلِكَ لِنُشُئِهِ فِي بَلْدَةٍ بَعِيدَةٍ أَوْ بَادِيَةٍ أَوْ بِلَادِ الْكُفْرِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ وَلِلْمُصَنِّفِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَرْقٌ مُفْرَدٌ فِي بَيَانِ مَا يُعْذَرُ بِهِ الْعَبْدُ مِنَ الْجَهْلِ وَمَا لَا يُعْذَرُ بِهِ مِنَ الْجَهْلِ وَمَرَدُّهُ إِلَى أَنَّ الْجَهْلَ الَّذِي لِلْعَبْدِ فِيهِ قُدْرَةٌ عَلَى دَفْعِهِ وَرَفْعِهِ لَا يُعْذَرُ الْعَبْدُ مَعَهُ أَمَّا الْجَهْلُ الَّذِي لَا مُكْنَةَ لِلْعَبْدِ عَلَى دَفْعِهِ وَرَفْعِهِ فَإِنَّهُ يَكُونُ عُذْرًا لَهُ

Tidak Tahu yang Allah Maafkan – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kemudian penulis—semoga Allah Taʿālā Merahmatinya—menyebutkansatu kaidah bermanfaat, yang juga telah diisyaratkanoleh Abul Abbas Ibnu Taimiyah al-H̱afīd dan muridnya, Ibnul Qayyim,tentang ketidaktahuan seorang hamba yang dimaafkan. Kesimpulannya, bahwa ketidaktahuan yang mungkin bagi seorang hambauntuk menghilangkan dan menyingkirkannya tidak menjadi hujah baginya (untuk dimaafkan). Seorang hamba hanya dimaafkan pada ketidaktahuan yang tidak mungkin baginyauntuk menghilangkan dan menolaknya,sehingga dia masih memiliki keinginan dan kecintaan terhadap ilmu,untuk mengetahui ilmu agama yang wajib dia ketahui, hanya saja, dia tidak mampu merealisasikannya,karena dia hidup di negeri yang jauh atau terpencil,atau di negara kafir, atau karena sebab-sebab lainnya. Penulis—semoga Allah Taʿālā Merahmatinya—memiliki satu pembahasan khususyang menjelaskan ketidaktahuan seorang hamba yang dimaafkandan ketidaktahuan yang tidak dimaafkan baginya, yang mana intinya adalah bahwa ketidaktahuan seorang hambayang disertai kemampuan untuk menghilangkan dan menyingkirkannya,maka dia tidak dimaafkan dalam keadaan ini. Adapun ketidaktahuan yang seorang hamba tidak mampuuntuk menghilangkan dan menyingkirkannya, maka dia dimaafkan. ==== ثُمَّ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى قَاعِدَةً نَافِعَةً أَشَارَ إِلَى مِثْلِهَا أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيمِيَّةَ الْحَفِيدُ وَتِلْمِيذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِيمَا يُعْذَرُ فِيهِ الْعَبْدُ مِنَ الْجَهْلِ وَحَاصِلُهَا أَنَّ الْجَهْلَ الَّذِي يُمْكِنُ الْعَبْدُ دَفْعُهُ وَرَفْعُهُ لَيْسَ حُجَّةً لَهُ وَإِنَّمَا يُعْذَرُ الْعَبْدُ فِي جَهْلٍ لَا يَتَمَكَّنُ مِنْ رَفْعِهِ وَدَفْعِهِ فَتَكُونُ عِنْدَ الْعَبْدِ إِرَادَةٌ لِلْعِلْمِ وَمَحَبَّةٌ لَهُ فِي مَعْرِفَةِ دِيْنِهِ الَّذِي يَلْزَمُهُ لَكِنْ لَا مُكْنَةَ لَهُ عَلَى ذَلِكَ لِنُشُئِهِ فِي بَلْدَةٍ بَعِيدَةٍ أَوْ بَادِيَةٍ أَوْ بِلَادِ الْكُفْرِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ وَلِلْمُصَنِّفِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَرْقٌ مُفْرَدٌ فِي بَيَانِ مَا يُعْذَرُ بِهِ الْعَبْدُ مِنَ الْجَهْلِ وَمَا لَا يُعْذَرُ بِهِ مِنَ الْجَهْلِ وَمَرَدُّهُ إِلَى أَنَّ الْجَهْلَ الَّذِي لِلْعَبْدِ فِيهِ قُدْرَةٌ عَلَى دَفْعِهِ وَرَفْعِهِ لَا يُعْذَرُ الْعَبْدُ مَعَهُ أَمَّا الْجَهْلُ الَّذِي لَا مُكْنَةَ لِلْعَبْدِ عَلَى دَفْعِهِ وَرَفْعِهِ فَإِنَّهُ يَكُونُ عُذْرًا لَهُ
Kemudian penulis—semoga Allah Taʿālā Merahmatinya—menyebutkansatu kaidah bermanfaat, yang juga telah diisyaratkanoleh Abul Abbas Ibnu Taimiyah al-H̱afīd dan muridnya, Ibnul Qayyim,tentang ketidaktahuan seorang hamba yang dimaafkan. Kesimpulannya, bahwa ketidaktahuan yang mungkin bagi seorang hambauntuk menghilangkan dan menyingkirkannya tidak menjadi hujah baginya (untuk dimaafkan). Seorang hamba hanya dimaafkan pada ketidaktahuan yang tidak mungkin baginyauntuk menghilangkan dan menolaknya,sehingga dia masih memiliki keinginan dan kecintaan terhadap ilmu,untuk mengetahui ilmu agama yang wajib dia ketahui, hanya saja, dia tidak mampu merealisasikannya,karena dia hidup di negeri yang jauh atau terpencil,atau di negara kafir, atau karena sebab-sebab lainnya. Penulis—semoga Allah Taʿālā Merahmatinya—memiliki satu pembahasan khususyang menjelaskan ketidaktahuan seorang hamba yang dimaafkandan ketidaktahuan yang tidak dimaafkan baginya, yang mana intinya adalah bahwa ketidaktahuan seorang hambayang disertai kemampuan untuk menghilangkan dan menyingkirkannya,maka dia tidak dimaafkan dalam keadaan ini. Adapun ketidaktahuan yang seorang hamba tidak mampuuntuk menghilangkan dan menyingkirkannya, maka dia dimaafkan. ==== ثُمَّ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى قَاعِدَةً نَافِعَةً أَشَارَ إِلَى مِثْلِهَا أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيمِيَّةَ الْحَفِيدُ وَتِلْمِيذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِيمَا يُعْذَرُ فِيهِ الْعَبْدُ مِنَ الْجَهْلِ وَحَاصِلُهَا أَنَّ الْجَهْلَ الَّذِي يُمْكِنُ الْعَبْدُ دَفْعُهُ وَرَفْعُهُ لَيْسَ حُجَّةً لَهُ وَإِنَّمَا يُعْذَرُ الْعَبْدُ فِي جَهْلٍ لَا يَتَمَكَّنُ مِنْ رَفْعِهِ وَدَفْعِهِ فَتَكُونُ عِنْدَ الْعَبْدِ إِرَادَةٌ لِلْعِلْمِ وَمَحَبَّةٌ لَهُ فِي مَعْرِفَةِ دِيْنِهِ الَّذِي يَلْزَمُهُ لَكِنْ لَا مُكْنَةَ لَهُ عَلَى ذَلِكَ لِنُشُئِهِ فِي بَلْدَةٍ بَعِيدَةٍ أَوْ بَادِيَةٍ أَوْ بِلَادِ الْكُفْرِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ وَلِلْمُصَنِّفِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَرْقٌ مُفْرَدٌ فِي بَيَانِ مَا يُعْذَرُ بِهِ الْعَبْدُ مِنَ الْجَهْلِ وَمَا لَا يُعْذَرُ بِهِ مِنَ الْجَهْلِ وَمَرَدُّهُ إِلَى أَنَّ الْجَهْلَ الَّذِي لِلْعَبْدِ فِيهِ قُدْرَةٌ عَلَى دَفْعِهِ وَرَفْعِهِ لَا يُعْذَرُ الْعَبْدُ مَعَهُ أَمَّا الْجَهْلُ الَّذِي لَا مُكْنَةَ لِلْعَبْدِ عَلَى دَفْعِهِ وَرَفْعِهِ فَإِنَّهُ يَكُونُ عُذْرًا لَهُ


Kemudian penulis—semoga Allah Taʿālā Merahmatinya—menyebutkansatu kaidah bermanfaat, yang juga telah diisyaratkanoleh Abul Abbas Ibnu Taimiyah al-H̱afīd dan muridnya, Ibnul Qayyim,tentang ketidaktahuan seorang hamba yang dimaafkan. Kesimpulannya, bahwa ketidaktahuan yang mungkin bagi seorang hambauntuk menghilangkan dan menyingkirkannya tidak menjadi hujah baginya (untuk dimaafkan). Seorang hamba hanya dimaafkan pada ketidaktahuan yang tidak mungkin baginyauntuk menghilangkan dan menolaknya,sehingga dia masih memiliki keinginan dan kecintaan terhadap ilmu,untuk mengetahui ilmu agama yang wajib dia ketahui, hanya saja, dia tidak mampu merealisasikannya,karena dia hidup di negeri yang jauh atau terpencil,atau di negara kafir, atau karena sebab-sebab lainnya. Penulis—semoga Allah Taʿālā Merahmatinya—memiliki satu pembahasan khususyang menjelaskan ketidaktahuan seorang hamba yang dimaafkandan ketidaktahuan yang tidak dimaafkan baginya, yang mana intinya adalah bahwa ketidaktahuan seorang hambayang disertai kemampuan untuk menghilangkan dan menyingkirkannya,maka dia tidak dimaafkan dalam keadaan ini. Adapun ketidaktahuan yang seorang hamba tidak mampuuntuk menghilangkan dan menyingkirkannya, maka dia dimaafkan. ==== ثُمَّ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى قَاعِدَةً نَافِعَةً أَشَارَ إِلَى مِثْلِهَا أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيمِيَّةَ الْحَفِيدُ وَتِلْمِيذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِيمَا يُعْذَرُ فِيهِ الْعَبْدُ مِنَ الْجَهْلِ وَحَاصِلُهَا أَنَّ الْجَهْلَ الَّذِي يُمْكِنُ الْعَبْدُ دَفْعُهُ وَرَفْعُهُ لَيْسَ حُجَّةً لَهُ وَإِنَّمَا يُعْذَرُ الْعَبْدُ فِي جَهْلٍ لَا يَتَمَكَّنُ مِنْ رَفْعِهِ وَدَفْعِهِ فَتَكُونُ عِنْدَ الْعَبْدِ إِرَادَةٌ لِلْعِلْمِ وَمَحَبَّةٌ لَهُ فِي مَعْرِفَةِ دِيْنِهِ الَّذِي يَلْزَمُهُ لَكِنْ لَا مُكْنَةَ لَهُ عَلَى ذَلِكَ لِنُشُئِهِ فِي بَلْدَةٍ بَعِيدَةٍ أَوْ بَادِيَةٍ أَوْ بِلَادِ الْكُفْرِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ وَلِلْمُصَنِّفِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَرْقٌ مُفْرَدٌ فِي بَيَانِ مَا يُعْذَرُ بِهِ الْعَبْدُ مِنَ الْجَهْلِ وَمَا لَا يُعْذَرُ بِهِ مِنَ الْجَهْلِ وَمَرَدُّهُ إِلَى أَنَّ الْجَهْلَ الَّذِي لِلْعَبْدِ فِيهِ قُدْرَةٌ عَلَى دَفْعِهِ وَرَفْعِهِ لَا يُعْذَرُ الْعَبْدُ مَعَهُ أَمَّا الْجَهْلُ الَّذِي لَا مُكْنَةَ لِلْعَبْدِ عَلَى دَفْعِهِ وَرَفْعِهِ فَإِنَّهُ يَكُونُ عُذْرًا لَهُ

Banyak Tumbuhan Hijau di Arab, Kiamat Sudah Dekat?

Pertanyaan: Saya melihat di negeri-negeri Arab yang awalnya tandus sudah mulai menghijau di sebagian tempat. Banyak pohon-pohon dan tumbuhan yang menghijaukan gurun dan pegunungan. Apakah ini salah satu tanda kiamat yang disebutkan di dalam hadits? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa manwalah, amma ba’du, Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا تَقُومُ السَّاعَةُ حتَّى يَكْثُرَ المالُ ويَفِيضَ، حتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بزَكاةِ مالِهِ فلا يَجِدُ أحَدًا يَقْبَلُها منه، وحتَّى تَعُودَ أرْضُ العَرَبِ مُرُوجًا وأَنْهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai harta (di tangan manusia) menjadi sangat banyak dan melimpah. Dan sampai banyak orang yang ingin membayar zakat namun tidak mendapati orang yang mau menerimanya. Dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Muslim no. 157). Dalam riwayat lain: لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يكثُرَ الهَرجُ وحتَّى تعودَ أرضُ العرَبِ مُروجًا وأنهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai banyak terjadi perang dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Ibnu Hibban no. 6700, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah di tahun 1413 H pernah menjelaskan bahwa menghijaunya Jazirah Arab merupakan salah satu tanda kiamat yang telah terjadi. Beliau rahimahullah mengatakan, المروج هي البساتين والمزارع والأنهار معروفة المياه التي تجري على سطح الأرض وإذا نظرنا إلى واقعنا اليوم وجدنا أن الشطر الثاني من الحديث قد وجد وهو أن جزيرة العرب تلك الجزيرة القاحلة صارت الآن مروجاً وأنهاراً كيف صارت أنهارا؟ بما ينبع فيها من المياه والآبار الإرتوازية وغيرها وأما كونها مروجاً فهذا ظاهر وأما الأموال فلا شك أنها كثيرة بأيدي الناس لكن لم تصل إلى حد أن الرجل يخرج بزكاته لا يجد من يقبضها فهذا لم يكن حتى الآن ولكنه سيكون فهو من أشراط الساعة إذا وجد فالساعة قريبة “Al-muruj maksudnya kebun-kebun dan tumbuh-tumbuhan. Al-anhar sudah kita ketahui, maknanya adalah air yang mengalir di permukaan tanah. Jika kita melihat realita zaman sekarang ini, kita telah dapati bahwa bagian kedua dari hadits ini sudah terjadi. Bahwa Jazirah Arab yang kering sekarang telah menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai. Lalu apa yang dimaksud dengan banyak sungai-sungai? Yaitu banyak mengalir aliran air dan sumur-sumur artesis dan semisalnya. Adapun banyaknya kebun, ini sudah jelas.  Sedangkan melimpahnya harta, tidak ragu lagi ini sudah terjadi pada sebagian orang. Namun belum sampai pada level adanya orang-orang yang berzakat namun tidak ada orang yang mau menerimanya. Ini belum terjadi di zaman sekarang. Namun pasti akan terjadi, karena ia salah satu tanda hari kiamat. Jika kita telah dapati ini, maka kiamat sudah dekat” (Fatawa Al-Haram Al-Makki, no. 2B, tahun 1413 H) Di tahun-tahun ini, kita dapati lebih banyak lagi daerah gurun dan pegunungan di negeri Arab yang telah menghijau bahkan lebih lebat dan lebih hijau lagi dari sebelumnya. Namun tentunya apa yang terjadi di tahun-tahun ini belum sepenuhnya seperti yang digambarkan dalam hadits. Karena disebutkan dalam hadits lain bahwa Jazirah Arab akan penuh dengan kebun-kebun dan banyak sekali sungai-sungai. Dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ عَيْنَ تَبُوكَ … يُوشِكُ يَا مُعَاذُ إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا “Sesungguhnya kalian besok insyaAllah akan mendatangi mata air di Tabuk… dan sungguh wahai Mu’adz, andaikan umurmu panjang, engkau akan melihat di sini (Tabuk) akan dipenuhi dengan kebun-kebun” (HR. Muslim no.706). Dan realita pada saat ini, Jazirah Arab masih didominasi oleh gurun-gurun yang tandus daripada kebun-kebun dan sungai-sungai. Sehingga walaupun sudah terjadi, tanda kiamat berupa kembalinya negeri Arab menjadi kebun-kebun, belum terjadi secara sempurna.  Namun tentunya tidak layak kita mengatakan bahwa kiamat masih jauh. Bahkan kiamat itu sudah dekat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:  اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ “Kiamat sudah dekat, dan bulan telah terbelah” (QS. Al-Qamar: 1). Maka hendaknya kita meyakini bahwa Kiamat itu dekat, terlepas dari fenomena di atas sudah benar-benar terjadi atau belum. Dengan meyakini bahwa Kiamat sudah dekat, kita akan lebih bersegera untuk beramal shalih, lebih takut untuk melakukan maksiat dan lebih bersemangat untuk mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: يا رسولَ اللَّهِ أيُّ المؤمنينَ أفضلُ ؟ قالَ : أَحسنُهُم خُلقًا ، قالَ : فأيُّ المؤمنينَ أَكْيَسُ ؟ قالَ : أَكْثرُهُم للمَوتِ ذِكْرًا ، وأحسنُهُم لما بعدَهُ استِعدادًا ، أولئِكَ الأَكْياسُ “Wahai Rasulullah, orang mukmin mana yang paling utama? Nabi menjawab: Yang paling baik akhlaknya. Orang Anshar bertanya lagi: Lalu orang mukmin mana yang paling cerdas? Nabi menjawab: Yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik dalam menyiapkan bekal untuk akhiratnya, itulah orang-orang yang cerdas” (HR. Ibnu Majah no. 3454, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Keutamaan Bulan Sya'ban Dan Amalannya, Syahadat Orang Syiah, Makanan Di Surga, Innalillahiwainnailaihirojiun Doa, Surah Pendek Sholat, Kitab Taurat Untuk Agama Apa Visited 71 times, 1 visit(s) today Post Views: 229 QRIS donasi Yufid

Banyak Tumbuhan Hijau di Arab, Kiamat Sudah Dekat?

Pertanyaan: Saya melihat di negeri-negeri Arab yang awalnya tandus sudah mulai menghijau di sebagian tempat. Banyak pohon-pohon dan tumbuhan yang menghijaukan gurun dan pegunungan. Apakah ini salah satu tanda kiamat yang disebutkan di dalam hadits? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa manwalah, amma ba’du, Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا تَقُومُ السَّاعَةُ حتَّى يَكْثُرَ المالُ ويَفِيضَ، حتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بزَكاةِ مالِهِ فلا يَجِدُ أحَدًا يَقْبَلُها منه، وحتَّى تَعُودَ أرْضُ العَرَبِ مُرُوجًا وأَنْهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai harta (di tangan manusia) menjadi sangat banyak dan melimpah. Dan sampai banyak orang yang ingin membayar zakat namun tidak mendapati orang yang mau menerimanya. Dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Muslim no. 157). Dalam riwayat lain: لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يكثُرَ الهَرجُ وحتَّى تعودَ أرضُ العرَبِ مُروجًا وأنهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai banyak terjadi perang dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Ibnu Hibban no. 6700, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah di tahun 1413 H pernah menjelaskan bahwa menghijaunya Jazirah Arab merupakan salah satu tanda kiamat yang telah terjadi. Beliau rahimahullah mengatakan, المروج هي البساتين والمزارع والأنهار معروفة المياه التي تجري على سطح الأرض وإذا نظرنا إلى واقعنا اليوم وجدنا أن الشطر الثاني من الحديث قد وجد وهو أن جزيرة العرب تلك الجزيرة القاحلة صارت الآن مروجاً وأنهاراً كيف صارت أنهارا؟ بما ينبع فيها من المياه والآبار الإرتوازية وغيرها وأما كونها مروجاً فهذا ظاهر وأما الأموال فلا شك أنها كثيرة بأيدي الناس لكن لم تصل إلى حد أن الرجل يخرج بزكاته لا يجد من يقبضها فهذا لم يكن حتى الآن ولكنه سيكون فهو من أشراط الساعة إذا وجد فالساعة قريبة “Al-muruj maksudnya kebun-kebun dan tumbuh-tumbuhan. Al-anhar sudah kita ketahui, maknanya adalah air yang mengalir di permukaan tanah. Jika kita melihat realita zaman sekarang ini, kita telah dapati bahwa bagian kedua dari hadits ini sudah terjadi. Bahwa Jazirah Arab yang kering sekarang telah menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai. Lalu apa yang dimaksud dengan banyak sungai-sungai? Yaitu banyak mengalir aliran air dan sumur-sumur artesis dan semisalnya. Adapun banyaknya kebun, ini sudah jelas.  Sedangkan melimpahnya harta, tidak ragu lagi ini sudah terjadi pada sebagian orang. Namun belum sampai pada level adanya orang-orang yang berzakat namun tidak ada orang yang mau menerimanya. Ini belum terjadi di zaman sekarang. Namun pasti akan terjadi, karena ia salah satu tanda hari kiamat. Jika kita telah dapati ini, maka kiamat sudah dekat” (Fatawa Al-Haram Al-Makki, no. 2B, tahun 1413 H) Di tahun-tahun ini, kita dapati lebih banyak lagi daerah gurun dan pegunungan di negeri Arab yang telah menghijau bahkan lebih lebat dan lebih hijau lagi dari sebelumnya. Namun tentunya apa yang terjadi di tahun-tahun ini belum sepenuhnya seperti yang digambarkan dalam hadits. Karena disebutkan dalam hadits lain bahwa Jazirah Arab akan penuh dengan kebun-kebun dan banyak sekali sungai-sungai. Dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ عَيْنَ تَبُوكَ … يُوشِكُ يَا مُعَاذُ إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا “Sesungguhnya kalian besok insyaAllah akan mendatangi mata air di Tabuk… dan sungguh wahai Mu’adz, andaikan umurmu panjang, engkau akan melihat di sini (Tabuk) akan dipenuhi dengan kebun-kebun” (HR. Muslim no.706). Dan realita pada saat ini, Jazirah Arab masih didominasi oleh gurun-gurun yang tandus daripada kebun-kebun dan sungai-sungai. Sehingga walaupun sudah terjadi, tanda kiamat berupa kembalinya negeri Arab menjadi kebun-kebun, belum terjadi secara sempurna.  Namun tentunya tidak layak kita mengatakan bahwa kiamat masih jauh. Bahkan kiamat itu sudah dekat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:  اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ “Kiamat sudah dekat, dan bulan telah terbelah” (QS. Al-Qamar: 1). Maka hendaknya kita meyakini bahwa Kiamat itu dekat, terlepas dari fenomena di atas sudah benar-benar terjadi atau belum. Dengan meyakini bahwa Kiamat sudah dekat, kita akan lebih bersegera untuk beramal shalih, lebih takut untuk melakukan maksiat dan lebih bersemangat untuk mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: يا رسولَ اللَّهِ أيُّ المؤمنينَ أفضلُ ؟ قالَ : أَحسنُهُم خُلقًا ، قالَ : فأيُّ المؤمنينَ أَكْيَسُ ؟ قالَ : أَكْثرُهُم للمَوتِ ذِكْرًا ، وأحسنُهُم لما بعدَهُ استِعدادًا ، أولئِكَ الأَكْياسُ “Wahai Rasulullah, orang mukmin mana yang paling utama? Nabi menjawab: Yang paling baik akhlaknya. Orang Anshar bertanya lagi: Lalu orang mukmin mana yang paling cerdas? Nabi menjawab: Yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik dalam menyiapkan bekal untuk akhiratnya, itulah orang-orang yang cerdas” (HR. Ibnu Majah no. 3454, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Keutamaan Bulan Sya'ban Dan Amalannya, Syahadat Orang Syiah, Makanan Di Surga, Innalillahiwainnailaihirojiun Doa, Surah Pendek Sholat, Kitab Taurat Untuk Agama Apa Visited 71 times, 1 visit(s) today Post Views: 229 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Saya melihat di negeri-negeri Arab yang awalnya tandus sudah mulai menghijau di sebagian tempat. Banyak pohon-pohon dan tumbuhan yang menghijaukan gurun dan pegunungan. Apakah ini salah satu tanda kiamat yang disebutkan di dalam hadits? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa manwalah, amma ba’du, Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا تَقُومُ السَّاعَةُ حتَّى يَكْثُرَ المالُ ويَفِيضَ، حتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بزَكاةِ مالِهِ فلا يَجِدُ أحَدًا يَقْبَلُها منه، وحتَّى تَعُودَ أرْضُ العَرَبِ مُرُوجًا وأَنْهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai harta (di tangan manusia) menjadi sangat banyak dan melimpah. Dan sampai banyak orang yang ingin membayar zakat namun tidak mendapati orang yang mau menerimanya. Dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Muslim no. 157). Dalam riwayat lain: لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يكثُرَ الهَرجُ وحتَّى تعودَ أرضُ العرَبِ مُروجًا وأنهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai banyak terjadi perang dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Ibnu Hibban no. 6700, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah di tahun 1413 H pernah menjelaskan bahwa menghijaunya Jazirah Arab merupakan salah satu tanda kiamat yang telah terjadi. Beliau rahimahullah mengatakan, المروج هي البساتين والمزارع والأنهار معروفة المياه التي تجري على سطح الأرض وإذا نظرنا إلى واقعنا اليوم وجدنا أن الشطر الثاني من الحديث قد وجد وهو أن جزيرة العرب تلك الجزيرة القاحلة صارت الآن مروجاً وأنهاراً كيف صارت أنهارا؟ بما ينبع فيها من المياه والآبار الإرتوازية وغيرها وأما كونها مروجاً فهذا ظاهر وأما الأموال فلا شك أنها كثيرة بأيدي الناس لكن لم تصل إلى حد أن الرجل يخرج بزكاته لا يجد من يقبضها فهذا لم يكن حتى الآن ولكنه سيكون فهو من أشراط الساعة إذا وجد فالساعة قريبة “Al-muruj maksudnya kebun-kebun dan tumbuh-tumbuhan. Al-anhar sudah kita ketahui, maknanya adalah air yang mengalir di permukaan tanah. Jika kita melihat realita zaman sekarang ini, kita telah dapati bahwa bagian kedua dari hadits ini sudah terjadi. Bahwa Jazirah Arab yang kering sekarang telah menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai. Lalu apa yang dimaksud dengan banyak sungai-sungai? Yaitu banyak mengalir aliran air dan sumur-sumur artesis dan semisalnya. Adapun banyaknya kebun, ini sudah jelas.  Sedangkan melimpahnya harta, tidak ragu lagi ini sudah terjadi pada sebagian orang. Namun belum sampai pada level adanya orang-orang yang berzakat namun tidak ada orang yang mau menerimanya. Ini belum terjadi di zaman sekarang. Namun pasti akan terjadi, karena ia salah satu tanda hari kiamat. Jika kita telah dapati ini, maka kiamat sudah dekat” (Fatawa Al-Haram Al-Makki, no. 2B, tahun 1413 H) Di tahun-tahun ini, kita dapati lebih banyak lagi daerah gurun dan pegunungan di negeri Arab yang telah menghijau bahkan lebih lebat dan lebih hijau lagi dari sebelumnya. Namun tentunya apa yang terjadi di tahun-tahun ini belum sepenuhnya seperti yang digambarkan dalam hadits. Karena disebutkan dalam hadits lain bahwa Jazirah Arab akan penuh dengan kebun-kebun dan banyak sekali sungai-sungai. Dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ عَيْنَ تَبُوكَ … يُوشِكُ يَا مُعَاذُ إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا “Sesungguhnya kalian besok insyaAllah akan mendatangi mata air di Tabuk… dan sungguh wahai Mu’adz, andaikan umurmu panjang, engkau akan melihat di sini (Tabuk) akan dipenuhi dengan kebun-kebun” (HR. Muslim no.706). Dan realita pada saat ini, Jazirah Arab masih didominasi oleh gurun-gurun yang tandus daripada kebun-kebun dan sungai-sungai. Sehingga walaupun sudah terjadi, tanda kiamat berupa kembalinya negeri Arab menjadi kebun-kebun, belum terjadi secara sempurna.  Namun tentunya tidak layak kita mengatakan bahwa kiamat masih jauh. Bahkan kiamat itu sudah dekat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:  اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ “Kiamat sudah dekat, dan bulan telah terbelah” (QS. Al-Qamar: 1). Maka hendaknya kita meyakini bahwa Kiamat itu dekat, terlepas dari fenomena di atas sudah benar-benar terjadi atau belum. Dengan meyakini bahwa Kiamat sudah dekat, kita akan lebih bersegera untuk beramal shalih, lebih takut untuk melakukan maksiat dan lebih bersemangat untuk mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: يا رسولَ اللَّهِ أيُّ المؤمنينَ أفضلُ ؟ قالَ : أَحسنُهُم خُلقًا ، قالَ : فأيُّ المؤمنينَ أَكْيَسُ ؟ قالَ : أَكْثرُهُم للمَوتِ ذِكْرًا ، وأحسنُهُم لما بعدَهُ استِعدادًا ، أولئِكَ الأَكْياسُ “Wahai Rasulullah, orang mukmin mana yang paling utama? Nabi menjawab: Yang paling baik akhlaknya. Orang Anshar bertanya lagi: Lalu orang mukmin mana yang paling cerdas? Nabi menjawab: Yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik dalam menyiapkan bekal untuk akhiratnya, itulah orang-orang yang cerdas” (HR. Ibnu Majah no. 3454, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Keutamaan Bulan Sya'ban Dan Amalannya, Syahadat Orang Syiah, Makanan Di Surga, Innalillahiwainnailaihirojiun Doa, Surah Pendek Sholat, Kitab Taurat Untuk Agama Apa Visited 71 times, 1 visit(s) today Post Views: 229 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1469319178&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Saya melihat di negeri-negeri Arab yang awalnya tandus sudah mulai menghijau di sebagian tempat. Banyak pohon-pohon dan tumbuhan yang menghijaukan gurun dan pegunungan. Apakah ini salah satu tanda kiamat yang disebutkan di dalam hadits? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa manwalah, amma ba’du, Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا تَقُومُ السَّاعَةُ حتَّى يَكْثُرَ المالُ ويَفِيضَ، حتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بزَكاةِ مالِهِ فلا يَجِدُ أحَدًا يَقْبَلُها منه، وحتَّى تَعُودَ أرْضُ العَرَبِ مُرُوجًا وأَنْهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai harta (di tangan manusia) menjadi sangat banyak dan melimpah. Dan sampai banyak orang yang ingin membayar zakat namun tidak mendapati orang yang mau menerimanya. Dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Muslim no. 157). Dalam riwayat lain: لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يكثُرَ الهَرجُ وحتَّى تعودَ أرضُ العرَبِ مُروجًا وأنهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai banyak terjadi perang dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Ibnu Hibban no. 6700, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah di tahun 1413 H pernah menjelaskan bahwa menghijaunya Jazirah Arab merupakan salah satu tanda kiamat yang telah terjadi. Beliau rahimahullah mengatakan, المروج هي البساتين والمزارع والأنهار معروفة المياه التي تجري على سطح الأرض وإذا نظرنا إلى واقعنا اليوم وجدنا أن الشطر الثاني من الحديث قد وجد وهو أن جزيرة العرب تلك الجزيرة القاحلة صارت الآن مروجاً وأنهاراً كيف صارت أنهارا؟ بما ينبع فيها من المياه والآبار الإرتوازية وغيرها وأما كونها مروجاً فهذا ظاهر وأما الأموال فلا شك أنها كثيرة بأيدي الناس لكن لم تصل إلى حد أن الرجل يخرج بزكاته لا يجد من يقبضها فهذا لم يكن حتى الآن ولكنه سيكون فهو من أشراط الساعة إذا وجد فالساعة قريبة “Al-muruj maksudnya kebun-kebun dan tumbuh-tumbuhan. Al-anhar sudah kita ketahui, maknanya adalah air yang mengalir di permukaan tanah. Jika kita melihat realita zaman sekarang ini, kita telah dapati bahwa bagian kedua dari hadits ini sudah terjadi. Bahwa Jazirah Arab yang kering sekarang telah menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai. Lalu apa yang dimaksud dengan banyak sungai-sungai? Yaitu banyak mengalir aliran air dan sumur-sumur artesis dan semisalnya. Adapun banyaknya kebun, ini sudah jelas.  Sedangkan melimpahnya harta, tidak ragu lagi ini sudah terjadi pada sebagian orang. Namun belum sampai pada level adanya orang-orang yang berzakat namun tidak ada orang yang mau menerimanya. Ini belum terjadi di zaman sekarang. Namun pasti akan terjadi, karena ia salah satu tanda hari kiamat. Jika kita telah dapati ini, maka kiamat sudah dekat” (Fatawa Al-Haram Al-Makki, no. 2B, tahun 1413 H) Di tahun-tahun ini, kita dapati lebih banyak lagi daerah gurun dan pegunungan di negeri Arab yang telah menghijau bahkan lebih lebat dan lebih hijau lagi dari sebelumnya. Namun tentunya apa yang terjadi di tahun-tahun ini belum sepenuhnya seperti yang digambarkan dalam hadits. Karena disebutkan dalam hadits lain bahwa Jazirah Arab akan penuh dengan kebun-kebun dan banyak sekali sungai-sungai. Dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ عَيْنَ تَبُوكَ … يُوشِكُ يَا مُعَاذُ إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا “Sesungguhnya kalian besok insyaAllah akan mendatangi mata air di Tabuk… dan sungguh wahai Mu’adz, andaikan umurmu panjang, engkau akan melihat di sini (Tabuk) akan dipenuhi dengan kebun-kebun” (HR. Muslim no.706). Dan realita pada saat ini, Jazirah Arab masih didominasi oleh gurun-gurun yang tandus daripada kebun-kebun dan sungai-sungai. Sehingga walaupun sudah terjadi, tanda kiamat berupa kembalinya negeri Arab menjadi kebun-kebun, belum terjadi secara sempurna.  Namun tentunya tidak layak kita mengatakan bahwa kiamat masih jauh. Bahkan kiamat itu sudah dekat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:  اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ “Kiamat sudah dekat, dan bulan telah terbelah” (QS. Al-Qamar: 1). Maka hendaknya kita meyakini bahwa Kiamat itu dekat, terlepas dari fenomena di atas sudah benar-benar terjadi atau belum. Dengan meyakini bahwa Kiamat sudah dekat, kita akan lebih bersegera untuk beramal shalih, lebih takut untuk melakukan maksiat dan lebih bersemangat untuk mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: يا رسولَ اللَّهِ أيُّ المؤمنينَ أفضلُ ؟ قالَ : أَحسنُهُم خُلقًا ، قالَ : فأيُّ المؤمنينَ أَكْيَسُ ؟ قالَ : أَكْثرُهُم للمَوتِ ذِكْرًا ، وأحسنُهُم لما بعدَهُ استِعدادًا ، أولئِكَ الأَكْياسُ “Wahai Rasulullah, orang mukmin mana yang paling utama? Nabi menjawab: Yang paling baik akhlaknya. Orang Anshar bertanya lagi: Lalu orang mukmin mana yang paling cerdas? Nabi menjawab: Yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik dalam menyiapkan bekal untuk akhiratnya, itulah orang-orang yang cerdas” (HR. Ibnu Majah no. 3454, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Keutamaan Bulan Sya'ban Dan Amalannya, Syahadat Orang Syiah, Makanan Di Surga, Innalillahiwainnailaihirojiun Doa, Surah Pendek Sholat, Kitab Taurat Untuk Agama Apa Visited 71 times, 1 visit(s) today Post Views: 229 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next