Fatwa Ulama: Maksud Pertengahan (Wasathiyyah) dalam Beragama

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan pertengahan (wasathiyyah) dalam beragama? Jawaban: Yang dimaksud dengan pertengahan (wasathiyyah) dalam beragama adalah seseorang tidak melampaui batas sehingga dia melewati batasan yang telah Allah tetapkan. Dia juga tidak meremehkan sehingga mengurangi dari batasan yang telah Allah tetapkan. Sehingga pertengahan dalam beragama itu dicapai melalui berpegang teguh dengan sejarah perjalanan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan al-ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama adalah melampaui batas, dan at-taqshir adalah mengurangi (sehingga tidak mencapai batasan minimal dalam agama, pent.). Contohnya, ada seseorang yang berkata, “Aku ingin salat malam dan tidak tidur setiap hari. Karena salat adalah ibadah yang paling utama. Sehingga aku senang menghidupkan seluruh malamku dengan ibadah salat.” Maka, kita katakan, “Ini adalah berlebih-lebihan dalam agama Allah dan dia tidak berada di atas kebenaran.” Telah tejadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semisal contoh di atas. Sekelompok orang berkumpul, dan sebagian mereka berkata, “Aku akan salat dan tidak tidur.” Yang lain berkata, “Aku akan puasa dan tidak berbuka.” Orang ketiga berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengetahui perkataan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي “Ada apa dengan mereka? Mereka berkata begini dan begitu, padahal aku sendiri salat dan juga tidur, berpuasa dan juga berbuka, dan aku juga menikahi wanita. Maka, siapa yang saja yang membenci sunahku, berarti bukan dari golonganku.” (HR. Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401) Mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berlepas diri dari mereka. Hal ini karena mereka membenci sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang di dalamnya diajarkan untuk berpuasa dan juga berbuka; salat dan juga tidur; dan juga menikahi wanita. Sedangkan orang yang meremehkan (muqashshir) adalah orang yang mengatakan, “Aku tidak butuh ibadah sunah. Aku tidak mengerjakan ibadah sunah dan hanya mengerjakan ibadah yang wajib saja.” Terkadang, orang ini juga meremehkan (meninggalkan) ibadah wajib. Inilah orang yang meremehkan agama. Sedangkan orang yang pertengahan adalah yang berjalan di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan khulafaur rasyidin radhiyallahu ‘anhum. Contoh yang lain, ada tiga orang dan di hadapan mereka ada satu orang fasik. Salah seorang di antara mereka berkata, “Aku tidak mengucapkan salam kepada orang fasik ini, aku meng-hajr-nya [1], aku menjauhinya, dan tidak berbicara kepadanya.” Orang kedua berkata, “Aku berteman dengan orang fasik ini, mengucapkan salam kepadanya, aku bermanis muka (tersenyum) kepadanya, aku mengajaknya bersamaku, dan aku memenuhi undangannya. Bagiku, dia seperti orang saleh.” Orang ketiga berkata, “Aku membenci orang fasik ini karena kefasikannya, dan aku mencintainya karena keimanannya. Aku tidak meng-hajr-nya, kecuali jika hajr tersebut merupakan sebab baginya untuk dapat memperbaiki diri. Apabila hajr tersebut tidak berdampak pada perbaikan dirinya, bahkan dapat menyebabkan bertambahnya kefasikannya, maka aku tidak meng-hajr-nya.” Maka, kita katakan bahwa orang pertama adalah orang yang berlebih-lebihan (mufrith), termasuk dalam ghuluw dalam beragama; sedangkan orang kedua adalah orang yang meremehkan (mufarrith atau muqashshir); dan orang ketiga adalah orang yang pertengahan (mutawassith). Demikianlah, kita katakan dalam seluruh ibadah dan muamalah kepada sesama makhluk. Di dalamnya ada sikap meremehkan, berlebih-lebihan, atau sikap pertengahan. Baca juga: Sikap Pertengahan Umat Islam, Antara Yahudi Dan Nashrani Contoh ketiga, seorang suami yang bagaikan tawanan istrinya, istrinya bebas berbuat sekehendak hatinya, suaminya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan dosa, juga tidak memotivasinya untuk berbuat kebaikan. Istrinya telah menguasai akal sang suami dan jadilah istrinya itu sebagai pemimpinnya. Suami jenis yang lain (jenis kedua), dia zalim (kejam) terhadap istrinya, sombong dan sewenang-wenang kepada istrinya. Dia tidak peduli dengan keadaan istri, seakan-akan istrinya itu lebih hina daripada pembantu. Sedangkan suami jenis ketiga adalah seorang suami yang pertengahan. Dia bermuamalah kepada istrinya sebagaimana yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya perintahkan, وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (QS. Al-Baqarah: 228) لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ “Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah. Jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan rida dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469) Suami yang terakhir ini (suami ketiga) adalah suami yang bersikap pertengahan. Suami kedua adalah suami yang berlebih-lebihan dalam bermuamalah kepada istri, sedangkan suami pertama adalah suami yang muqashshir. Analogikanlah contoh-contoh ini dengan permasalahan muamalah dan ibadah yang lainnya. Baca juga: Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah *** @Rumah Kasongan, 24 Muharram 1445/ 11 Agustus 2023 Penerjemah: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Diterjemahkan dari kitab Fatawa Arkanil Islam, hal. 29-32, pertanyaan no. 7. Tags: pertengahanwasathiyyah

Fatwa Ulama: Maksud Pertengahan (Wasathiyyah) dalam Beragama

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan pertengahan (wasathiyyah) dalam beragama? Jawaban: Yang dimaksud dengan pertengahan (wasathiyyah) dalam beragama adalah seseorang tidak melampaui batas sehingga dia melewati batasan yang telah Allah tetapkan. Dia juga tidak meremehkan sehingga mengurangi dari batasan yang telah Allah tetapkan. Sehingga pertengahan dalam beragama itu dicapai melalui berpegang teguh dengan sejarah perjalanan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan al-ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama adalah melampaui batas, dan at-taqshir adalah mengurangi (sehingga tidak mencapai batasan minimal dalam agama, pent.). Contohnya, ada seseorang yang berkata, “Aku ingin salat malam dan tidak tidur setiap hari. Karena salat adalah ibadah yang paling utama. Sehingga aku senang menghidupkan seluruh malamku dengan ibadah salat.” Maka, kita katakan, “Ini adalah berlebih-lebihan dalam agama Allah dan dia tidak berada di atas kebenaran.” Telah tejadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semisal contoh di atas. Sekelompok orang berkumpul, dan sebagian mereka berkata, “Aku akan salat dan tidak tidur.” Yang lain berkata, “Aku akan puasa dan tidak berbuka.” Orang ketiga berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengetahui perkataan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي “Ada apa dengan mereka? Mereka berkata begini dan begitu, padahal aku sendiri salat dan juga tidur, berpuasa dan juga berbuka, dan aku juga menikahi wanita. Maka, siapa yang saja yang membenci sunahku, berarti bukan dari golonganku.” (HR. Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401) Mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berlepas diri dari mereka. Hal ini karena mereka membenci sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang di dalamnya diajarkan untuk berpuasa dan juga berbuka; salat dan juga tidur; dan juga menikahi wanita. Sedangkan orang yang meremehkan (muqashshir) adalah orang yang mengatakan, “Aku tidak butuh ibadah sunah. Aku tidak mengerjakan ibadah sunah dan hanya mengerjakan ibadah yang wajib saja.” Terkadang, orang ini juga meremehkan (meninggalkan) ibadah wajib. Inilah orang yang meremehkan agama. Sedangkan orang yang pertengahan adalah yang berjalan di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan khulafaur rasyidin radhiyallahu ‘anhum. Contoh yang lain, ada tiga orang dan di hadapan mereka ada satu orang fasik. Salah seorang di antara mereka berkata, “Aku tidak mengucapkan salam kepada orang fasik ini, aku meng-hajr-nya [1], aku menjauhinya, dan tidak berbicara kepadanya.” Orang kedua berkata, “Aku berteman dengan orang fasik ini, mengucapkan salam kepadanya, aku bermanis muka (tersenyum) kepadanya, aku mengajaknya bersamaku, dan aku memenuhi undangannya. Bagiku, dia seperti orang saleh.” Orang ketiga berkata, “Aku membenci orang fasik ini karena kefasikannya, dan aku mencintainya karena keimanannya. Aku tidak meng-hajr-nya, kecuali jika hajr tersebut merupakan sebab baginya untuk dapat memperbaiki diri. Apabila hajr tersebut tidak berdampak pada perbaikan dirinya, bahkan dapat menyebabkan bertambahnya kefasikannya, maka aku tidak meng-hajr-nya.” Maka, kita katakan bahwa orang pertama adalah orang yang berlebih-lebihan (mufrith), termasuk dalam ghuluw dalam beragama; sedangkan orang kedua adalah orang yang meremehkan (mufarrith atau muqashshir); dan orang ketiga adalah orang yang pertengahan (mutawassith). Demikianlah, kita katakan dalam seluruh ibadah dan muamalah kepada sesama makhluk. Di dalamnya ada sikap meremehkan, berlebih-lebihan, atau sikap pertengahan. Baca juga: Sikap Pertengahan Umat Islam, Antara Yahudi Dan Nashrani Contoh ketiga, seorang suami yang bagaikan tawanan istrinya, istrinya bebas berbuat sekehendak hatinya, suaminya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan dosa, juga tidak memotivasinya untuk berbuat kebaikan. Istrinya telah menguasai akal sang suami dan jadilah istrinya itu sebagai pemimpinnya. Suami jenis yang lain (jenis kedua), dia zalim (kejam) terhadap istrinya, sombong dan sewenang-wenang kepada istrinya. Dia tidak peduli dengan keadaan istri, seakan-akan istrinya itu lebih hina daripada pembantu. Sedangkan suami jenis ketiga adalah seorang suami yang pertengahan. Dia bermuamalah kepada istrinya sebagaimana yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya perintahkan, وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (QS. Al-Baqarah: 228) لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ “Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah. Jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan rida dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469) Suami yang terakhir ini (suami ketiga) adalah suami yang bersikap pertengahan. Suami kedua adalah suami yang berlebih-lebihan dalam bermuamalah kepada istri, sedangkan suami pertama adalah suami yang muqashshir. Analogikanlah contoh-contoh ini dengan permasalahan muamalah dan ibadah yang lainnya. Baca juga: Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah *** @Rumah Kasongan, 24 Muharram 1445/ 11 Agustus 2023 Penerjemah: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Diterjemahkan dari kitab Fatawa Arkanil Islam, hal. 29-32, pertanyaan no. 7. Tags: pertengahanwasathiyyah
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan pertengahan (wasathiyyah) dalam beragama? Jawaban: Yang dimaksud dengan pertengahan (wasathiyyah) dalam beragama adalah seseorang tidak melampaui batas sehingga dia melewati batasan yang telah Allah tetapkan. Dia juga tidak meremehkan sehingga mengurangi dari batasan yang telah Allah tetapkan. Sehingga pertengahan dalam beragama itu dicapai melalui berpegang teguh dengan sejarah perjalanan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan al-ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama adalah melampaui batas, dan at-taqshir adalah mengurangi (sehingga tidak mencapai batasan minimal dalam agama, pent.). Contohnya, ada seseorang yang berkata, “Aku ingin salat malam dan tidak tidur setiap hari. Karena salat adalah ibadah yang paling utama. Sehingga aku senang menghidupkan seluruh malamku dengan ibadah salat.” Maka, kita katakan, “Ini adalah berlebih-lebihan dalam agama Allah dan dia tidak berada di atas kebenaran.” Telah tejadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semisal contoh di atas. Sekelompok orang berkumpul, dan sebagian mereka berkata, “Aku akan salat dan tidak tidur.” Yang lain berkata, “Aku akan puasa dan tidak berbuka.” Orang ketiga berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengetahui perkataan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي “Ada apa dengan mereka? Mereka berkata begini dan begitu, padahal aku sendiri salat dan juga tidur, berpuasa dan juga berbuka, dan aku juga menikahi wanita. Maka, siapa yang saja yang membenci sunahku, berarti bukan dari golonganku.” (HR. Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401) Mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berlepas diri dari mereka. Hal ini karena mereka membenci sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang di dalamnya diajarkan untuk berpuasa dan juga berbuka; salat dan juga tidur; dan juga menikahi wanita. Sedangkan orang yang meremehkan (muqashshir) adalah orang yang mengatakan, “Aku tidak butuh ibadah sunah. Aku tidak mengerjakan ibadah sunah dan hanya mengerjakan ibadah yang wajib saja.” Terkadang, orang ini juga meremehkan (meninggalkan) ibadah wajib. Inilah orang yang meremehkan agama. Sedangkan orang yang pertengahan adalah yang berjalan di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan khulafaur rasyidin radhiyallahu ‘anhum. Contoh yang lain, ada tiga orang dan di hadapan mereka ada satu orang fasik. Salah seorang di antara mereka berkata, “Aku tidak mengucapkan salam kepada orang fasik ini, aku meng-hajr-nya [1], aku menjauhinya, dan tidak berbicara kepadanya.” Orang kedua berkata, “Aku berteman dengan orang fasik ini, mengucapkan salam kepadanya, aku bermanis muka (tersenyum) kepadanya, aku mengajaknya bersamaku, dan aku memenuhi undangannya. Bagiku, dia seperti orang saleh.” Orang ketiga berkata, “Aku membenci orang fasik ini karena kefasikannya, dan aku mencintainya karena keimanannya. Aku tidak meng-hajr-nya, kecuali jika hajr tersebut merupakan sebab baginya untuk dapat memperbaiki diri. Apabila hajr tersebut tidak berdampak pada perbaikan dirinya, bahkan dapat menyebabkan bertambahnya kefasikannya, maka aku tidak meng-hajr-nya.” Maka, kita katakan bahwa orang pertama adalah orang yang berlebih-lebihan (mufrith), termasuk dalam ghuluw dalam beragama; sedangkan orang kedua adalah orang yang meremehkan (mufarrith atau muqashshir); dan orang ketiga adalah orang yang pertengahan (mutawassith). Demikianlah, kita katakan dalam seluruh ibadah dan muamalah kepada sesama makhluk. Di dalamnya ada sikap meremehkan, berlebih-lebihan, atau sikap pertengahan. Baca juga: Sikap Pertengahan Umat Islam, Antara Yahudi Dan Nashrani Contoh ketiga, seorang suami yang bagaikan tawanan istrinya, istrinya bebas berbuat sekehendak hatinya, suaminya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan dosa, juga tidak memotivasinya untuk berbuat kebaikan. Istrinya telah menguasai akal sang suami dan jadilah istrinya itu sebagai pemimpinnya. Suami jenis yang lain (jenis kedua), dia zalim (kejam) terhadap istrinya, sombong dan sewenang-wenang kepada istrinya. Dia tidak peduli dengan keadaan istri, seakan-akan istrinya itu lebih hina daripada pembantu. Sedangkan suami jenis ketiga adalah seorang suami yang pertengahan. Dia bermuamalah kepada istrinya sebagaimana yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya perintahkan, وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (QS. Al-Baqarah: 228) لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ “Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah. Jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan rida dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469) Suami yang terakhir ini (suami ketiga) adalah suami yang bersikap pertengahan. Suami kedua adalah suami yang berlebih-lebihan dalam bermuamalah kepada istri, sedangkan suami pertama adalah suami yang muqashshir. Analogikanlah contoh-contoh ini dengan permasalahan muamalah dan ibadah yang lainnya. Baca juga: Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah *** @Rumah Kasongan, 24 Muharram 1445/ 11 Agustus 2023 Penerjemah: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Diterjemahkan dari kitab Fatawa Arkanil Islam, hal. 29-32, pertanyaan no. 7. Tags: pertengahanwasathiyyah


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan pertengahan (wasathiyyah) dalam beragama? Jawaban: Yang dimaksud dengan pertengahan (wasathiyyah) dalam beragama adalah seseorang tidak melampaui batas sehingga dia melewati batasan yang telah Allah tetapkan. Dia juga tidak meremehkan sehingga mengurangi dari batasan yang telah Allah tetapkan. Sehingga pertengahan dalam beragama itu dicapai melalui berpegang teguh dengan sejarah perjalanan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan al-ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama adalah melampaui batas, dan at-taqshir adalah mengurangi (sehingga tidak mencapai batasan minimal dalam agama, pent.). Contohnya, ada seseorang yang berkata, “Aku ingin salat malam dan tidak tidur setiap hari. Karena salat adalah ibadah yang paling utama. Sehingga aku senang menghidupkan seluruh malamku dengan ibadah salat.” Maka, kita katakan, “Ini adalah berlebih-lebihan dalam agama Allah dan dia tidak berada di atas kebenaran.” Telah tejadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semisal contoh di atas. Sekelompok orang berkumpul, dan sebagian mereka berkata, “Aku akan salat dan tidak tidur.” Yang lain berkata, “Aku akan puasa dan tidak berbuka.” Orang ketiga berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengetahui perkataan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي “Ada apa dengan mereka? Mereka berkata begini dan begitu, padahal aku sendiri salat dan juga tidur, berpuasa dan juga berbuka, dan aku juga menikahi wanita. Maka, siapa yang saja yang membenci sunahku, berarti bukan dari golonganku.” (HR. Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401) Mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berlepas diri dari mereka. Hal ini karena mereka membenci sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang di dalamnya diajarkan untuk berpuasa dan juga berbuka; salat dan juga tidur; dan juga menikahi wanita. Sedangkan orang yang meremehkan (muqashshir) adalah orang yang mengatakan, “Aku tidak butuh ibadah sunah. Aku tidak mengerjakan ibadah sunah dan hanya mengerjakan ibadah yang wajib saja.” Terkadang, orang ini juga meremehkan (meninggalkan) ibadah wajib. Inilah orang yang meremehkan agama. Sedangkan orang yang pertengahan adalah yang berjalan di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan khulafaur rasyidin radhiyallahu ‘anhum. Contoh yang lain, ada tiga orang dan di hadapan mereka ada satu orang fasik. Salah seorang di antara mereka berkata, “Aku tidak mengucapkan salam kepada orang fasik ini, aku meng-hajr-nya [1], aku menjauhinya, dan tidak berbicara kepadanya.” Orang kedua berkata, “Aku berteman dengan orang fasik ini, mengucapkan salam kepadanya, aku bermanis muka (tersenyum) kepadanya, aku mengajaknya bersamaku, dan aku memenuhi undangannya. Bagiku, dia seperti orang saleh.” Orang ketiga berkata, “Aku membenci orang fasik ini karena kefasikannya, dan aku mencintainya karena keimanannya. Aku tidak meng-hajr-nya, kecuali jika hajr tersebut merupakan sebab baginya untuk dapat memperbaiki diri. Apabila hajr tersebut tidak berdampak pada perbaikan dirinya, bahkan dapat menyebabkan bertambahnya kefasikannya, maka aku tidak meng-hajr-nya.” Maka, kita katakan bahwa orang pertama adalah orang yang berlebih-lebihan (mufrith), termasuk dalam ghuluw dalam beragama; sedangkan orang kedua adalah orang yang meremehkan (mufarrith atau muqashshir); dan orang ketiga adalah orang yang pertengahan (mutawassith). Demikianlah, kita katakan dalam seluruh ibadah dan muamalah kepada sesama makhluk. Di dalamnya ada sikap meremehkan, berlebih-lebihan, atau sikap pertengahan. Baca juga: Sikap Pertengahan Umat Islam, Antara Yahudi Dan Nashrani Contoh ketiga, seorang suami yang bagaikan tawanan istrinya, istrinya bebas berbuat sekehendak hatinya, suaminya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan dosa, juga tidak memotivasinya untuk berbuat kebaikan. Istrinya telah menguasai akal sang suami dan jadilah istrinya itu sebagai pemimpinnya. Suami jenis yang lain (jenis kedua), dia zalim (kejam) terhadap istrinya, sombong dan sewenang-wenang kepada istrinya. Dia tidak peduli dengan keadaan istri, seakan-akan istrinya itu lebih hina daripada pembantu. Sedangkan suami jenis ketiga adalah seorang suami yang pertengahan. Dia bermuamalah kepada istrinya sebagaimana yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya perintahkan, وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (QS. Al-Baqarah: 228) لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ “Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah. Jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan rida dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469) Suami yang terakhir ini (suami ketiga) adalah suami yang bersikap pertengahan. Suami kedua adalah suami yang berlebih-lebihan dalam bermuamalah kepada istri, sedangkan suami pertama adalah suami yang muqashshir. Analogikanlah contoh-contoh ini dengan permasalahan muamalah dan ibadah yang lainnya. Baca juga: Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah *** @Rumah Kasongan, 24 Muharram 1445/ 11 Agustus 2023 Penerjemah: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Diterjemahkan dari kitab Fatawa Arkanil Islam, hal. 29-32, pertanyaan no. 7. Tags: pertengahanwasathiyyah

Yang Terluput dari Doa Orang yang Terzalimi

Daftar Isi Toggle Kekhawatiran terhadap kezalimanAturan syariat terhadap perbuatan zalimHak seorang mazlumHal yang sering luput dari doa seorang mazlum Ketika anda merasa disakiti oleh seseorang, baik secara fisik maupun verbal, apa yang ada di benak anda? Apakah anda ingin langsung membalas dengan pukulan seimbang bahkan lebih sakit? Atau anda diam dan bersabar bahwa peristiwa itu adalah hanya ujian kehidupan untuk anda? Saudaraku, perhatikanlah, bahwa menyakiti orang lain adalah kezaliman dan orang yang melakukannya disebut zalim. Sedangkan orang yang menjadi objek kezaliman itu adalah mazlum. Lantas, sebagai seorang yang mazlum, apa yang sebaiknya anda lakukan sebagai seorang mukmin? Bukankah doa orang yang terzalimi itu maqbul? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ: دَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ “Tiga doa mustajab, yaitu: doa orang yang sedang berpuasa, doa orang yang terzalimi, dan doa musafir.” (HR. At-Thabrani (1313), Baihaqi (648), dan Asy-Syajari (1014), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Kekhawatiran terhadap kezaliman Pada dasarnya, fitrah manusia tidak ingin disakiti, ingin hidup aman dan tenteram tanpa gangguan siapa pun. Namun, pada kenyataannya, di luar daripada kendali diri, ada saja yang menyinggung atau menyakiti hati, bahkan fisiknya dengan berbagai motif hingga berujung pada kegelisahan, kesengsaraan, hingga hilangnya nyawa. Namun, sebagai seorang mukmin, kita wajib meyakini bahwa selama iman dan takwa terpatri di hati kita yang kemudian dibenarkan oleh keistikamahan kita dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, yakinlah bahwa Allah Ta’ala senantiasa akan melindungi kita dari segala marabahaya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضࣲ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَـٰلَمِینَ “Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.” (QS. Al-Baqarah: 251) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573) Oleh karenanya, memahami kebesaran rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala yang diberikan kepada kita, sudah sepatutnya kita tidak mengkhawatirkan segala hal yang buruk yang datang dari makhluk selama kita tetap berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Aturan syariat terhadap perbuatan zalim Sesungguhnya, ketentuan syariat secara paripurna telah menegaskan bagaimana keadilan dan kebijaksanaan Allah Ta’ala dalam mengatur berbagai persoalan kehidupan umat manusia. Termasuk dalam urusan pidana maupun urusan keperdataan di mana di dalamnya diatur bagaimana hukum yang seharusnya diterapkan kepada para pelaku kezaliman. Allah Ta’ala berfirman, وَكَتَبۡنَا عَلَیۡهِمۡ فِیهَاۤ أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَیۡنَ بِٱلۡعَیۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصࣱۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةࣱ لَّهُۥۚ وَمَن لَّمۡ یَحۡكُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ “Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qiṣāṣ-nya (balasan yang sama). Barangsiapa melepaskan (hak qiṣāṣ)nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim”. (QS. Al-Ma’idah: 45) Oleh karenanya, tidak terlarang bagi kita yang terzalimi untuk mengambil hak (balasan) qisas terhadap suatu perbuatan zalim yang menimpa diri kita sesuai dengan ketentuan syariat yang telah digariskan. Tapi, satu hal yang perlu diingat, bahwa apabila kita merelakan dan memaafkan perbuatan zalim tersebut, maka kita akan memperoleh keuntungan berupa penghapusan dosa-dosa kita. Baca juga: Janganlah Berbuat Zalim! Hak seorang mazlum Hal yang sering kita dengar terkait dengan sikap terhadap suatu kezaliman adalah bahwa doa orang terzalimi itu maqbul sebagaimana makna hadis yang telah disebutkan di atas. Dan yang sering teringat juga bahwa sebagian orang yang terzalimi mendoakan hal yang buruk menimpa orang yang menzaliminya. Saudaraku, sekilas terlihat memang tidak ada yang salah dalam hal ini. Mendoakan keburukan bagi orang yang menzalimi adalah hak seorang mazlum. Bahkan, meskipun orang mazlum tersebut adalah kafir. Sebagaimana hadis Rasulullah yang disebutkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ أيُّوبَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْأَسَدِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ “Yahya bin Ishaq mengabarkan kepadaku (Imam Ahmad). Ia berkata, ‘Yahya bin Ayyub mengabarkan kepadaku.’ Ia berkata, ‘Abu Abdillah Al-Asadi berkata, ‘Aku mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, meskipun ia orang kafir. Sesungguhnya tak ada penghalang baginya.’” (Musnad Ahmad, no. 12549) Hal yang sering luput dari doa seorang mazlum Sekali lagi, berdoa adalah hak seorang hamba, terlebih seorang mazlum yang jelas-jelas mengalami kezaliman dari seorang zalim. Berdoa apa pun yang ia ingin ucapkan, bahkan memohon agar Allah Ta’ala membalas perbuatan zalim kepada orang yang melakukan kezailman tersebut. Namun, bukankah tanpa mendoakan keburukan terhadap seorang zalim tersebut, Allah Ta’ala tetap memberikan balasan? Ingatlah firman Allah Ta’ala, فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al Zalzalah: 7-8) Oleh karenanya, hendaklah kita memanfaatkan momen maqbul-nya doa saat terzalimi tersebut dengan memohon karunia dan inayah dari Allah Ta’ala agar diberikan keistikamahan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Meminta kebahagiaan dunia dan akhirat berupa jodoh, keturunan yang banyak, rezeki yang melimpah, umur yang panjang, keistikamahan dalam keimanan dan ketakwaan, dan kasih sayang Allah di dunia dan akhirat-Nya agar kelak menjadi ahli surga yang didamba-dambakan seluruh makhluk di seluruh tempat dan seluruh zaman. Hal inilah yang sering luput dari doa seorang mazlum. Mereka hanya cenderung mendoakan balasan setimpal kepada orang yang menzalimi. Padahal, sudah pasti, dengan kemahaadilan Allah Ta’ala, pastilah suatu kezaliman akan dibalas dengan kezaliman. Allah Ta’ala berfirman, وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal.” (QS. As-Syura: 40) Ingatlah bahwa doa yang maqbul adalah bagian dari kasih sayang Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang sedang ditimpa ujian kesabaran. Karena dengannya, Allah menghapus dosa-dosanya dan mengabulkan doa-doanya. Maka, berdoalah untuk kebaikan dunia dan akhiratmu saat engkau dizalimi. Wallahu a’lam. Baca juga: Muslim Mayoritas Tidak Boleh Menzalimi Non-Muslim Minoritas *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: doa mustajabkezalimanorang terzalimi

Yang Terluput dari Doa Orang yang Terzalimi

Daftar Isi Toggle Kekhawatiran terhadap kezalimanAturan syariat terhadap perbuatan zalimHak seorang mazlumHal yang sering luput dari doa seorang mazlum Ketika anda merasa disakiti oleh seseorang, baik secara fisik maupun verbal, apa yang ada di benak anda? Apakah anda ingin langsung membalas dengan pukulan seimbang bahkan lebih sakit? Atau anda diam dan bersabar bahwa peristiwa itu adalah hanya ujian kehidupan untuk anda? Saudaraku, perhatikanlah, bahwa menyakiti orang lain adalah kezaliman dan orang yang melakukannya disebut zalim. Sedangkan orang yang menjadi objek kezaliman itu adalah mazlum. Lantas, sebagai seorang yang mazlum, apa yang sebaiknya anda lakukan sebagai seorang mukmin? Bukankah doa orang yang terzalimi itu maqbul? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ: دَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ “Tiga doa mustajab, yaitu: doa orang yang sedang berpuasa, doa orang yang terzalimi, dan doa musafir.” (HR. At-Thabrani (1313), Baihaqi (648), dan Asy-Syajari (1014), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Kekhawatiran terhadap kezaliman Pada dasarnya, fitrah manusia tidak ingin disakiti, ingin hidup aman dan tenteram tanpa gangguan siapa pun. Namun, pada kenyataannya, di luar daripada kendali diri, ada saja yang menyinggung atau menyakiti hati, bahkan fisiknya dengan berbagai motif hingga berujung pada kegelisahan, kesengsaraan, hingga hilangnya nyawa. Namun, sebagai seorang mukmin, kita wajib meyakini bahwa selama iman dan takwa terpatri di hati kita yang kemudian dibenarkan oleh keistikamahan kita dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, yakinlah bahwa Allah Ta’ala senantiasa akan melindungi kita dari segala marabahaya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضࣲ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَـٰلَمِینَ “Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.” (QS. Al-Baqarah: 251) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573) Oleh karenanya, memahami kebesaran rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala yang diberikan kepada kita, sudah sepatutnya kita tidak mengkhawatirkan segala hal yang buruk yang datang dari makhluk selama kita tetap berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Aturan syariat terhadap perbuatan zalim Sesungguhnya, ketentuan syariat secara paripurna telah menegaskan bagaimana keadilan dan kebijaksanaan Allah Ta’ala dalam mengatur berbagai persoalan kehidupan umat manusia. Termasuk dalam urusan pidana maupun urusan keperdataan di mana di dalamnya diatur bagaimana hukum yang seharusnya diterapkan kepada para pelaku kezaliman. Allah Ta’ala berfirman, وَكَتَبۡنَا عَلَیۡهِمۡ فِیهَاۤ أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَیۡنَ بِٱلۡعَیۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصࣱۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةࣱ لَّهُۥۚ وَمَن لَّمۡ یَحۡكُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ “Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qiṣāṣ-nya (balasan yang sama). Barangsiapa melepaskan (hak qiṣāṣ)nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim”. (QS. Al-Ma’idah: 45) Oleh karenanya, tidak terlarang bagi kita yang terzalimi untuk mengambil hak (balasan) qisas terhadap suatu perbuatan zalim yang menimpa diri kita sesuai dengan ketentuan syariat yang telah digariskan. Tapi, satu hal yang perlu diingat, bahwa apabila kita merelakan dan memaafkan perbuatan zalim tersebut, maka kita akan memperoleh keuntungan berupa penghapusan dosa-dosa kita. Baca juga: Janganlah Berbuat Zalim! Hak seorang mazlum Hal yang sering kita dengar terkait dengan sikap terhadap suatu kezaliman adalah bahwa doa orang terzalimi itu maqbul sebagaimana makna hadis yang telah disebutkan di atas. Dan yang sering teringat juga bahwa sebagian orang yang terzalimi mendoakan hal yang buruk menimpa orang yang menzaliminya. Saudaraku, sekilas terlihat memang tidak ada yang salah dalam hal ini. Mendoakan keburukan bagi orang yang menzalimi adalah hak seorang mazlum. Bahkan, meskipun orang mazlum tersebut adalah kafir. Sebagaimana hadis Rasulullah yang disebutkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ أيُّوبَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْأَسَدِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ “Yahya bin Ishaq mengabarkan kepadaku (Imam Ahmad). Ia berkata, ‘Yahya bin Ayyub mengabarkan kepadaku.’ Ia berkata, ‘Abu Abdillah Al-Asadi berkata, ‘Aku mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, meskipun ia orang kafir. Sesungguhnya tak ada penghalang baginya.’” (Musnad Ahmad, no. 12549) Hal yang sering luput dari doa seorang mazlum Sekali lagi, berdoa adalah hak seorang hamba, terlebih seorang mazlum yang jelas-jelas mengalami kezaliman dari seorang zalim. Berdoa apa pun yang ia ingin ucapkan, bahkan memohon agar Allah Ta’ala membalas perbuatan zalim kepada orang yang melakukan kezailman tersebut. Namun, bukankah tanpa mendoakan keburukan terhadap seorang zalim tersebut, Allah Ta’ala tetap memberikan balasan? Ingatlah firman Allah Ta’ala, فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al Zalzalah: 7-8) Oleh karenanya, hendaklah kita memanfaatkan momen maqbul-nya doa saat terzalimi tersebut dengan memohon karunia dan inayah dari Allah Ta’ala agar diberikan keistikamahan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Meminta kebahagiaan dunia dan akhirat berupa jodoh, keturunan yang banyak, rezeki yang melimpah, umur yang panjang, keistikamahan dalam keimanan dan ketakwaan, dan kasih sayang Allah di dunia dan akhirat-Nya agar kelak menjadi ahli surga yang didamba-dambakan seluruh makhluk di seluruh tempat dan seluruh zaman. Hal inilah yang sering luput dari doa seorang mazlum. Mereka hanya cenderung mendoakan balasan setimpal kepada orang yang menzalimi. Padahal, sudah pasti, dengan kemahaadilan Allah Ta’ala, pastilah suatu kezaliman akan dibalas dengan kezaliman. Allah Ta’ala berfirman, وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal.” (QS. As-Syura: 40) Ingatlah bahwa doa yang maqbul adalah bagian dari kasih sayang Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang sedang ditimpa ujian kesabaran. Karena dengannya, Allah menghapus dosa-dosanya dan mengabulkan doa-doanya. Maka, berdoalah untuk kebaikan dunia dan akhiratmu saat engkau dizalimi. Wallahu a’lam. Baca juga: Muslim Mayoritas Tidak Boleh Menzalimi Non-Muslim Minoritas *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: doa mustajabkezalimanorang terzalimi
Daftar Isi Toggle Kekhawatiran terhadap kezalimanAturan syariat terhadap perbuatan zalimHak seorang mazlumHal yang sering luput dari doa seorang mazlum Ketika anda merasa disakiti oleh seseorang, baik secara fisik maupun verbal, apa yang ada di benak anda? Apakah anda ingin langsung membalas dengan pukulan seimbang bahkan lebih sakit? Atau anda diam dan bersabar bahwa peristiwa itu adalah hanya ujian kehidupan untuk anda? Saudaraku, perhatikanlah, bahwa menyakiti orang lain adalah kezaliman dan orang yang melakukannya disebut zalim. Sedangkan orang yang menjadi objek kezaliman itu adalah mazlum. Lantas, sebagai seorang yang mazlum, apa yang sebaiknya anda lakukan sebagai seorang mukmin? Bukankah doa orang yang terzalimi itu maqbul? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ: دَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ “Tiga doa mustajab, yaitu: doa orang yang sedang berpuasa, doa orang yang terzalimi, dan doa musafir.” (HR. At-Thabrani (1313), Baihaqi (648), dan Asy-Syajari (1014), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Kekhawatiran terhadap kezaliman Pada dasarnya, fitrah manusia tidak ingin disakiti, ingin hidup aman dan tenteram tanpa gangguan siapa pun. Namun, pada kenyataannya, di luar daripada kendali diri, ada saja yang menyinggung atau menyakiti hati, bahkan fisiknya dengan berbagai motif hingga berujung pada kegelisahan, kesengsaraan, hingga hilangnya nyawa. Namun, sebagai seorang mukmin, kita wajib meyakini bahwa selama iman dan takwa terpatri di hati kita yang kemudian dibenarkan oleh keistikamahan kita dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, yakinlah bahwa Allah Ta’ala senantiasa akan melindungi kita dari segala marabahaya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضࣲ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَـٰلَمِینَ “Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.” (QS. Al-Baqarah: 251) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573) Oleh karenanya, memahami kebesaran rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala yang diberikan kepada kita, sudah sepatutnya kita tidak mengkhawatirkan segala hal yang buruk yang datang dari makhluk selama kita tetap berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Aturan syariat terhadap perbuatan zalim Sesungguhnya, ketentuan syariat secara paripurna telah menegaskan bagaimana keadilan dan kebijaksanaan Allah Ta’ala dalam mengatur berbagai persoalan kehidupan umat manusia. Termasuk dalam urusan pidana maupun urusan keperdataan di mana di dalamnya diatur bagaimana hukum yang seharusnya diterapkan kepada para pelaku kezaliman. Allah Ta’ala berfirman, وَكَتَبۡنَا عَلَیۡهِمۡ فِیهَاۤ أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَیۡنَ بِٱلۡعَیۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصࣱۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةࣱ لَّهُۥۚ وَمَن لَّمۡ یَحۡكُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ “Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qiṣāṣ-nya (balasan yang sama). Barangsiapa melepaskan (hak qiṣāṣ)nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim”. (QS. Al-Ma’idah: 45) Oleh karenanya, tidak terlarang bagi kita yang terzalimi untuk mengambil hak (balasan) qisas terhadap suatu perbuatan zalim yang menimpa diri kita sesuai dengan ketentuan syariat yang telah digariskan. Tapi, satu hal yang perlu diingat, bahwa apabila kita merelakan dan memaafkan perbuatan zalim tersebut, maka kita akan memperoleh keuntungan berupa penghapusan dosa-dosa kita. Baca juga: Janganlah Berbuat Zalim! Hak seorang mazlum Hal yang sering kita dengar terkait dengan sikap terhadap suatu kezaliman adalah bahwa doa orang terzalimi itu maqbul sebagaimana makna hadis yang telah disebutkan di atas. Dan yang sering teringat juga bahwa sebagian orang yang terzalimi mendoakan hal yang buruk menimpa orang yang menzaliminya. Saudaraku, sekilas terlihat memang tidak ada yang salah dalam hal ini. Mendoakan keburukan bagi orang yang menzalimi adalah hak seorang mazlum. Bahkan, meskipun orang mazlum tersebut adalah kafir. Sebagaimana hadis Rasulullah yang disebutkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ أيُّوبَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْأَسَدِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ “Yahya bin Ishaq mengabarkan kepadaku (Imam Ahmad). Ia berkata, ‘Yahya bin Ayyub mengabarkan kepadaku.’ Ia berkata, ‘Abu Abdillah Al-Asadi berkata, ‘Aku mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, meskipun ia orang kafir. Sesungguhnya tak ada penghalang baginya.’” (Musnad Ahmad, no. 12549) Hal yang sering luput dari doa seorang mazlum Sekali lagi, berdoa adalah hak seorang hamba, terlebih seorang mazlum yang jelas-jelas mengalami kezaliman dari seorang zalim. Berdoa apa pun yang ia ingin ucapkan, bahkan memohon agar Allah Ta’ala membalas perbuatan zalim kepada orang yang melakukan kezailman tersebut. Namun, bukankah tanpa mendoakan keburukan terhadap seorang zalim tersebut, Allah Ta’ala tetap memberikan balasan? Ingatlah firman Allah Ta’ala, فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al Zalzalah: 7-8) Oleh karenanya, hendaklah kita memanfaatkan momen maqbul-nya doa saat terzalimi tersebut dengan memohon karunia dan inayah dari Allah Ta’ala agar diberikan keistikamahan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Meminta kebahagiaan dunia dan akhirat berupa jodoh, keturunan yang banyak, rezeki yang melimpah, umur yang panjang, keistikamahan dalam keimanan dan ketakwaan, dan kasih sayang Allah di dunia dan akhirat-Nya agar kelak menjadi ahli surga yang didamba-dambakan seluruh makhluk di seluruh tempat dan seluruh zaman. Hal inilah yang sering luput dari doa seorang mazlum. Mereka hanya cenderung mendoakan balasan setimpal kepada orang yang menzalimi. Padahal, sudah pasti, dengan kemahaadilan Allah Ta’ala, pastilah suatu kezaliman akan dibalas dengan kezaliman. Allah Ta’ala berfirman, وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal.” (QS. As-Syura: 40) Ingatlah bahwa doa yang maqbul adalah bagian dari kasih sayang Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang sedang ditimpa ujian kesabaran. Karena dengannya, Allah menghapus dosa-dosanya dan mengabulkan doa-doanya. Maka, berdoalah untuk kebaikan dunia dan akhiratmu saat engkau dizalimi. Wallahu a’lam. Baca juga: Muslim Mayoritas Tidak Boleh Menzalimi Non-Muslim Minoritas *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: doa mustajabkezalimanorang terzalimi


Daftar Isi Toggle Kekhawatiran terhadap kezalimanAturan syariat terhadap perbuatan zalimHak seorang mazlumHal yang sering luput dari doa seorang mazlum Ketika anda merasa disakiti oleh seseorang, baik secara fisik maupun verbal, apa yang ada di benak anda? Apakah anda ingin langsung membalas dengan pukulan seimbang bahkan lebih sakit? Atau anda diam dan bersabar bahwa peristiwa itu adalah hanya ujian kehidupan untuk anda? Saudaraku, perhatikanlah, bahwa menyakiti orang lain adalah kezaliman dan orang yang melakukannya disebut zalim. Sedangkan orang yang menjadi objek kezaliman itu adalah mazlum. Lantas, sebagai seorang yang mazlum, apa yang sebaiknya anda lakukan sebagai seorang mukmin? Bukankah doa orang yang terzalimi itu maqbul? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ: دَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ “Tiga doa mustajab, yaitu: doa orang yang sedang berpuasa, doa orang yang terzalimi, dan doa musafir.” (HR. At-Thabrani (1313), Baihaqi (648), dan Asy-Syajari (1014), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Kekhawatiran terhadap kezaliman Pada dasarnya, fitrah manusia tidak ingin disakiti, ingin hidup aman dan tenteram tanpa gangguan siapa pun. Namun, pada kenyataannya, di luar daripada kendali diri, ada saja yang menyinggung atau menyakiti hati, bahkan fisiknya dengan berbagai motif hingga berujung pada kegelisahan, kesengsaraan, hingga hilangnya nyawa. Namun, sebagai seorang mukmin, kita wajib meyakini bahwa selama iman dan takwa terpatri di hati kita yang kemudian dibenarkan oleh keistikamahan kita dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, yakinlah bahwa Allah Ta’ala senantiasa akan melindungi kita dari segala marabahaya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضࣲ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَـٰلَمِینَ “Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.” (QS. Al-Baqarah: 251) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573) Oleh karenanya, memahami kebesaran rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala yang diberikan kepada kita, sudah sepatutnya kita tidak mengkhawatirkan segala hal yang buruk yang datang dari makhluk selama kita tetap berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Aturan syariat terhadap perbuatan zalim Sesungguhnya, ketentuan syariat secara paripurna telah menegaskan bagaimana keadilan dan kebijaksanaan Allah Ta’ala dalam mengatur berbagai persoalan kehidupan umat manusia. Termasuk dalam urusan pidana maupun urusan keperdataan di mana di dalamnya diatur bagaimana hukum yang seharusnya diterapkan kepada para pelaku kezaliman. Allah Ta’ala berfirman, وَكَتَبۡنَا عَلَیۡهِمۡ فِیهَاۤ أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَیۡنَ بِٱلۡعَیۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصࣱۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةࣱ لَّهُۥۚ وَمَن لَّمۡ یَحۡكُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ “Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qiṣāṣ-nya (balasan yang sama). Barangsiapa melepaskan (hak qiṣāṣ)nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim”. (QS. Al-Ma’idah: 45) Oleh karenanya, tidak terlarang bagi kita yang terzalimi untuk mengambil hak (balasan) qisas terhadap suatu perbuatan zalim yang menimpa diri kita sesuai dengan ketentuan syariat yang telah digariskan. Tapi, satu hal yang perlu diingat, bahwa apabila kita merelakan dan memaafkan perbuatan zalim tersebut, maka kita akan memperoleh keuntungan berupa penghapusan dosa-dosa kita. Baca juga: Janganlah Berbuat Zalim! Hak seorang mazlum Hal yang sering kita dengar terkait dengan sikap terhadap suatu kezaliman adalah bahwa doa orang terzalimi itu maqbul sebagaimana makna hadis yang telah disebutkan di atas. Dan yang sering teringat juga bahwa sebagian orang yang terzalimi mendoakan hal yang buruk menimpa orang yang menzaliminya. Saudaraku, sekilas terlihat memang tidak ada yang salah dalam hal ini. Mendoakan keburukan bagi orang yang menzalimi adalah hak seorang mazlum. Bahkan, meskipun orang mazlum tersebut adalah kafir. Sebagaimana hadis Rasulullah yang disebutkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ أيُّوبَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْأَسَدِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ “Yahya bin Ishaq mengabarkan kepadaku (Imam Ahmad). Ia berkata, ‘Yahya bin Ayyub mengabarkan kepadaku.’ Ia berkata, ‘Abu Abdillah Al-Asadi berkata, ‘Aku mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, meskipun ia orang kafir. Sesungguhnya tak ada penghalang baginya.’” (Musnad Ahmad, no. 12549) Hal yang sering luput dari doa seorang mazlum Sekali lagi, berdoa adalah hak seorang hamba, terlebih seorang mazlum yang jelas-jelas mengalami kezaliman dari seorang zalim. Berdoa apa pun yang ia ingin ucapkan, bahkan memohon agar Allah Ta’ala membalas perbuatan zalim kepada orang yang melakukan kezailman tersebut. Namun, bukankah tanpa mendoakan keburukan terhadap seorang zalim tersebut, Allah Ta’ala tetap memberikan balasan? Ingatlah firman Allah Ta’ala, فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al Zalzalah: 7-8) Oleh karenanya, hendaklah kita memanfaatkan momen maqbul-nya doa saat terzalimi tersebut dengan memohon karunia dan inayah dari Allah Ta’ala agar diberikan keistikamahan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Meminta kebahagiaan dunia dan akhirat berupa jodoh, keturunan yang banyak, rezeki yang melimpah, umur yang panjang, keistikamahan dalam keimanan dan ketakwaan, dan kasih sayang Allah di dunia dan akhirat-Nya agar kelak menjadi ahli surga yang didamba-dambakan seluruh makhluk di seluruh tempat dan seluruh zaman. Hal inilah yang sering luput dari doa seorang mazlum. Mereka hanya cenderung mendoakan balasan setimpal kepada orang yang menzalimi. Padahal, sudah pasti, dengan kemahaadilan Allah Ta’ala, pastilah suatu kezaliman akan dibalas dengan kezaliman. Allah Ta’ala berfirman, وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal.” (QS. As-Syura: 40) Ingatlah bahwa doa yang maqbul adalah bagian dari kasih sayang Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang sedang ditimpa ujian kesabaran. Karena dengannya, Allah menghapus dosa-dosanya dan mengabulkan doa-doanya. Maka, berdoalah untuk kebaikan dunia dan akhiratmu saat engkau dizalimi. Wallahu a’lam. Baca juga: Muslim Mayoritas Tidak Boleh Menzalimi Non-Muslim Minoritas *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: doa mustajabkezalimanorang terzalimi

Tipu Daya Judi Slot dan Pinjol

Daftar Isi Toggle Perangkap slot (judi online) dan pinjolJauhilah pinjol dan judi, agar tidak merugi Dalam syariat Islam dan bimbingan yang diberikan dalam Islam, kita tidak diperkenankan untuk mengambil harta orang lain dengan cara yang batil (salah). Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka (saling rida) di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29) Makna suka sama suka (saling rida) dalam ayat di atas tidak berlaku untuk transaksi yang melanggar syariat seperti riba (misal pinjol), jual beli barang haram, termasuk di dalamnya judi atau slot. Allah Ta’ala memberikan peringatan dan larangan untuk perbuatan judi, إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90) إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu! (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 91) Tujuan setan menggoda manusia untuk melakukan perbuatan judi adalah untuk menanamkan permusuhan dan kebencian antar sesama juga menghalangi manusia untuk jauh dari mengingat Allah Ta’ala. Perangkap slot (judi online) dan pinjol Mencintai dan keinginan untuk mendapatkan harta merupakan fitrah (kecenderungan) yang dimiliki oleh manusia. Oleh karenanya, mereka berusaha dan berlomba-lomba untuk mengejar dan memilikinya. Bahkan, untuk mendapatkannya, segala cara akan ditempuh, tidak peduli apakah halal atau haram. Allah Ta’ala berfirman, زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14) Allah Ta’ala juga berfirman, وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا “Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20) Di antara cara untuk mendapatkan harta yang sebagian besar disukai orang adalah dengan judi dan riba yang di era modern ini menjelma di dunia online dengan sebutan slot (judi online) dan pinjol (pinjaman online). Ada keterkaitan antara slot dan pinjol yang ada saat ini. Pada awalnya, orang akan tertarik bermain slot dengan iming-iming yang menakjubkan. Ketika ia bermain sekali, dua, atau tiga kali, ia akan dipancing dengan kemenangan yang menguntungkan. Inilah perangkap yang akan menimbulkan rasa ketagihan. Kemudian saat bermain selanjutnya, dia akan membuang banyak harta untuk ditaruhkan agar menadapatkan hasil yang melimpah. Akan tetapi, ia kalah dan masuk ke perangkap selanjutnya yang akan menimbulkan rasa penasaran sehingga tetap bermain dengan harapan minimal kembali hartanya yang hilang. Dan ternyata, ia ditipu dengan kekalahan yang berulang. Akhirnya, tatkala ia kalah terus-menerus dan hartanya habis, ia akan memaksakan dan tergiur ke pinjaman online (riba). Inilah perangkap yang berujung penyesalan, karena malah akan menguras dan menyita banyak harta juga aset yang ia miliki karena tidak mampu mengembalikan bunga yang begitu fantastis. Banyak orang yang bercerai, membunuh, mencuri, dan melakukan kejahatan lainnya disebabkan karena jerat slot dan pinjol yang memperdaya. Baca juga: Inilah 10 Dalil Haramnya Judi Jauhilah pinjol dan judi, agar tidak merugi Allah Ta’ala mengecam sekaligus mengingatkan agar manusia jangan sampai terlena oleh harta, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ “Dan barangsiapa berkata kepada kawannya, ‘Mari aku ajak kamu berjudi’, hendaklah dia bersedekah!” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari hadis di atas dapat kita ketahui bahwa sekedar berucap untuk mengajak judi saja sudah terkena dosa dan diperintahkan untuk membayar kaffarah (penebus dosa) dengan bersedekah. Maka apabila melakukannya, tentu dosa dan azab yang akan didapatkan lebih besar lagi. Kerugian akibat judi dan riba (pinjol) tidak hanya akan dirasakan di dunia, tetapi juga akan diazab oleh Allah Ta’ala di akhirat. يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar …'” (QS. Al-Baqarah: 219) Allah Ta’ala juga berfirman, فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275) Semoga Allah Ta’ala menjaga dan melindungi kita dari segala keburukan. Baca juga: Bahaya Memakan Harta Riba *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: judi slotpinjoltipu daya setan

Tipu Daya Judi Slot dan Pinjol

Daftar Isi Toggle Perangkap slot (judi online) dan pinjolJauhilah pinjol dan judi, agar tidak merugi Dalam syariat Islam dan bimbingan yang diberikan dalam Islam, kita tidak diperkenankan untuk mengambil harta orang lain dengan cara yang batil (salah). Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka (saling rida) di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29) Makna suka sama suka (saling rida) dalam ayat di atas tidak berlaku untuk transaksi yang melanggar syariat seperti riba (misal pinjol), jual beli barang haram, termasuk di dalamnya judi atau slot. Allah Ta’ala memberikan peringatan dan larangan untuk perbuatan judi, إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90) إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu! (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 91) Tujuan setan menggoda manusia untuk melakukan perbuatan judi adalah untuk menanamkan permusuhan dan kebencian antar sesama juga menghalangi manusia untuk jauh dari mengingat Allah Ta’ala. Perangkap slot (judi online) dan pinjol Mencintai dan keinginan untuk mendapatkan harta merupakan fitrah (kecenderungan) yang dimiliki oleh manusia. Oleh karenanya, mereka berusaha dan berlomba-lomba untuk mengejar dan memilikinya. Bahkan, untuk mendapatkannya, segala cara akan ditempuh, tidak peduli apakah halal atau haram. Allah Ta’ala berfirman, زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14) Allah Ta’ala juga berfirman, وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا “Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20) Di antara cara untuk mendapatkan harta yang sebagian besar disukai orang adalah dengan judi dan riba yang di era modern ini menjelma di dunia online dengan sebutan slot (judi online) dan pinjol (pinjaman online). Ada keterkaitan antara slot dan pinjol yang ada saat ini. Pada awalnya, orang akan tertarik bermain slot dengan iming-iming yang menakjubkan. Ketika ia bermain sekali, dua, atau tiga kali, ia akan dipancing dengan kemenangan yang menguntungkan. Inilah perangkap yang akan menimbulkan rasa ketagihan. Kemudian saat bermain selanjutnya, dia akan membuang banyak harta untuk ditaruhkan agar menadapatkan hasil yang melimpah. Akan tetapi, ia kalah dan masuk ke perangkap selanjutnya yang akan menimbulkan rasa penasaran sehingga tetap bermain dengan harapan minimal kembali hartanya yang hilang. Dan ternyata, ia ditipu dengan kekalahan yang berulang. Akhirnya, tatkala ia kalah terus-menerus dan hartanya habis, ia akan memaksakan dan tergiur ke pinjaman online (riba). Inilah perangkap yang berujung penyesalan, karena malah akan menguras dan menyita banyak harta juga aset yang ia miliki karena tidak mampu mengembalikan bunga yang begitu fantastis. Banyak orang yang bercerai, membunuh, mencuri, dan melakukan kejahatan lainnya disebabkan karena jerat slot dan pinjol yang memperdaya. Baca juga: Inilah 10 Dalil Haramnya Judi Jauhilah pinjol dan judi, agar tidak merugi Allah Ta’ala mengecam sekaligus mengingatkan agar manusia jangan sampai terlena oleh harta, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ “Dan barangsiapa berkata kepada kawannya, ‘Mari aku ajak kamu berjudi’, hendaklah dia bersedekah!” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari hadis di atas dapat kita ketahui bahwa sekedar berucap untuk mengajak judi saja sudah terkena dosa dan diperintahkan untuk membayar kaffarah (penebus dosa) dengan bersedekah. Maka apabila melakukannya, tentu dosa dan azab yang akan didapatkan lebih besar lagi. Kerugian akibat judi dan riba (pinjol) tidak hanya akan dirasakan di dunia, tetapi juga akan diazab oleh Allah Ta’ala di akhirat. يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar …'” (QS. Al-Baqarah: 219) Allah Ta’ala juga berfirman, فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275) Semoga Allah Ta’ala menjaga dan melindungi kita dari segala keburukan. Baca juga: Bahaya Memakan Harta Riba *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: judi slotpinjoltipu daya setan
Daftar Isi Toggle Perangkap slot (judi online) dan pinjolJauhilah pinjol dan judi, agar tidak merugi Dalam syariat Islam dan bimbingan yang diberikan dalam Islam, kita tidak diperkenankan untuk mengambil harta orang lain dengan cara yang batil (salah). Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka (saling rida) di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29) Makna suka sama suka (saling rida) dalam ayat di atas tidak berlaku untuk transaksi yang melanggar syariat seperti riba (misal pinjol), jual beli barang haram, termasuk di dalamnya judi atau slot. Allah Ta’ala memberikan peringatan dan larangan untuk perbuatan judi, إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90) إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu! (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 91) Tujuan setan menggoda manusia untuk melakukan perbuatan judi adalah untuk menanamkan permusuhan dan kebencian antar sesama juga menghalangi manusia untuk jauh dari mengingat Allah Ta’ala. Perangkap slot (judi online) dan pinjol Mencintai dan keinginan untuk mendapatkan harta merupakan fitrah (kecenderungan) yang dimiliki oleh manusia. Oleh karenanya, mereka berusaha dan berlomba-lomba untuk mengejar dan memilikinya. Bahkan, untuk mendapatkannya, segala cara akan ditempuh, tidak peduli apakah halal atau haram. Allah Ta’ala berfirman, زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14) Allah Ta’ala juga berfirman, وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا “Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20) Di antara cara untuk mendapatkan harta yang sebagian besar disukai orang adalah dengan judi dan riba yang di era modern ini menjelma di dunia online dengan sebutan slot (judi online) dan pinjol (pinjaman online). Ada keterkaitan antara slot dan pinjol yang ada saat ini. Pada awalnya, orang akan tertarik bermain slot dengan iming-iming yang menakjubkan. Ketika ia bermain sekali, dua, atau tiga kali, ia akan dipancing dengan kemenangan yang menguntungkan. Inilah perangkap yang akan menimbulkan rasa ketagihan. Kemudian saat bermain selanjutnya, dia akan membuang banyak harta untuk ditaruhkan agar menadapatkan hasil yang melimpah. Akan tetapi, ia kalah dan masuk ke perangkap selanjutnya yang akan menimbulkan rasa penasaran sehingga tetap bermain dengan harapan minimal kembali hartanya yang hilang. Dan ternyata, ia ditipu dengan kekalahan yang berulang. Akhirnya, tatkala ia kalah terus-menerus dan hartanya habis, ia akan memaksakan dan tergiur ke pinjaman online (riba). Inilah perangkap yang berujung penyesalan, karena malah akan menguras dan menyita banyak harta juga aset yang ia miliki karena tidak mampu mengembalikan bunga yang begitu fantastis. Banyak orang yang bercerai, membunuh, mencuri, dan melakukan kejahatan lainnya disebabkan karena jerat slot dan pinjol yang memperdaya. Baca juga: Inilah 10 Dalil Haramnya Judi Jauhilah pinjol dan judi, agar tidak merugi Allah Ta’ala mengecam sekaligus mengingatkan agar manusia jangan sampai terlena oleh harta, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ “Dan barangsiapa berkata kepada kawannya, ‘Mari aku ajak kamu berjudi’, hendaklah dia bersedekah!” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari hadis di atas dapat kita ketahui bahwa sekedar berucap untuk mengajak judi saja sudah terkena dosa dan diperintahkan untuk membayar kaffarah (penebus dosa) dengan bersedekah. Maka apabila melakukannya, tentu dosa dan azab yang akan didapatkan lebih besar lagi. Kerugian akibat judi dan riba (pinjol) tidak hanya akan dirasakan di dunia, tetapi juga akan diazab oleh Allah Ta’ala di akhirat. يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar …'” (QS. Al-Baqarah: 219) Allah Ta’ala juga berfirman, فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275) Semoga Allah Ta’ala menjaga dan melindungi kita dari segala keburukan. Baca juga: Bahaya Memakan Harta Riba *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: judi slotpinjoltipu daya setan


Daftar Isi Toggle Perangkap slot (judi online) dan pinjolJauhilah pinjol dan judi, agar tidak merugi Dalam syariat Islam dan bimbingan yang diberikan dalam Islam, kita tidak diperkenankan untuk mengambil harta orang lain dengan cara yang batil (salah). Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka (saling rida) di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29) Makna suka sama suka (saling rida) dalam ayat di atas tidak berlaku untuk transaksi yang melanggar syariat seperti riba (misal pinjol), jual beli barang haram, termasuk di dalamnya judi atau slot. Allah Ta’ala memberikan peringatan dan larangan untuk perbuatan judi, إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90) إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu! (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 91) Tujuan setan menggoda manusia untuk melakukan perbuatan judi adalah untuk menanamkan permusuhan dan kebencian antar sesama juga menghalangi manusia untuk jauh dari mengingat Allah Ta’ala. Perangkap slot (judi online) dan pinjol Mencintai dan keinginan untuk mendapatkan harta merupakan fitrah (kecenderungan) yang dimiliki oleh manusia. Oleh karenanya, mereka berusaha dan berlomba-lomba untuk mengejar dan memilikinya. Bahkan, untuk mendapatkannya, segala cara akan ditempuh, tidak peduli apakah halal atau haram. Allah Ta’ala berfirman, زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14) Allah Ta’ala juga berfirman, وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا “Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20) Di antara cara untuk mendapatkan harta yang sebagian besar disukai orang adalah dengan judi dan riba yang di era modern ini menjelma di dunia online dengan sebutan slot (judi online) dan pinjol (pinjaman online). Ada keterkaitan antara slot dan pinjol yang ada saat ini. Pada awalnya, orang akan tertarik bermain slot dengan iming-iming yang menakjubkan. Ketika ia bermain sekali, dua, atau tiga kali, ia akan dipancing dengan kemenangan yang menguntungkan. Inilah perangkap yang akan menimbulkan rasa ketagihan. Kemudian saat bermain selanjutnya, dia akan membuang banyak harta untuk ditaruhkan agar menadapatkan hasil yang melimpah. Akan tetapi, ia kalah dan masuk ke perangkap selanjutnya yang akan menimbulkan rasa penasaran sehingga tetap bermain dengan harapan minimal kembali hartanya yang hilang. Dan ternyata, ia ditipu dengan kekalahan yang berulang. Akhirnya, tatkala ia kalah terus-menerus dan hartanya habis, ia akan memaksakan dan tergiur ke pinjaman online (riba). Inilah perangkap yang berujung penyesalan, karena malah akan menguras dan menyita banyak harta juga aset yang ia miliki karena tidak mampu mengembalikan bunga yang begitu fantastis. Banyak orang yang bercerai, membunuh, mencuri, dan melakukan kejahatan lainnya disebabkan karena jerat slot dan pinjol yang memperdaya. Baca juga: Inilah 10 Dalil Haramnya Judi Jauhilah pinjol dan judi, agar tidak merugi Allah Ta’ala mengecam sekaligus mengingatkan agar manusia jangan sampai terlena oleh harta, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ “Dan barangsiapa berkata kepada kawannya, ‘Mari aku ajak kamu berjudi’, hendaklah dia bersedekah!” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari hadis di atas dapat kita ketahui bahwa sekedar berucap untuk mengajak judi saja sudah terkena dosa dan diperintahkan untuk membayar kaffarah (penebus dosa) dengan bersedekah. Maka apabila melakukannya, tentu dosa dan azab yang akan didapatkan lebih besar lagi. Kerugian akibat judi dan riba (pinjol) tidak hanya akan dirasakan di dunia, tetapi juga akan diazab oleh Allah Ta’ala di akhirat. يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar …'” (QS. Al-Baqarah: 219) Allah Ta’ala juga berfirman, فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275) Semoga Allah Ta’ala menjaga dan melindungi kita dari segala keburukan. Baca juga: Bahaya Memakan Harta Riba *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: judi slotpinjoltipu daya setan

Tantangan Dakwah Kampus

Bismillah. Apa yang sering kita dengar mengenai para mahasiswa? Mungkin kita pernah mendengar mengenai gerakan mahasiswa yang menggerakkan unjuk rasa untuk melancarkan kritik kepada berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil kepada rakyatnya. Atau mungkin kita pernah mendengar tentang fenomena pergaulan bebas yang merusak moral dan akhlak remaja. Dakwah kampus yang selama ini dianggap menjadi bagian dari solusi pun ternyata tidak sepi dari sorotan. Apa yang menimpa pada sebagian aktivis dakwah kampus dengan terjun dalam dunia politik praktis pun telah sedikit banyak menggambarkan betapa kemurnian dakwah Islam ini seringkali terkotori oleh berbagai ambisi dan kepentingan dunia sesaat. Mereka yang merekrut para mahasiswa untuk aktif membantu program dakwah, tetapi pada akhirnya menjadikan anak-anak muda ini sebagai kader partai politik demi mengumpulkan suara. Saudaraku yang dirahmati Allah, perjuangan para da’i tauhid dan sunah di sepanjang masa senantiasa berhadapan dengan tantangan dan hambatan. Tidak terkecuali dalam berupaya memberikan pencerahan dan bimbingan bagi kaum mahasiswa. Karena medan dakwah manusia ini (seperti dikatakan para ulama) adalah dada-dada manusia, yaitu hati mereka. Sementara keadaan hati manusia itu berbeda-beda dan memiliki tingkat kepekaan yang tidak sama dalam menerima atau menyambut hidayah yang turun kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman, وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ “Dan tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan (yang benar) selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa untuk memperbaiki kondisi masyarakat ini termasuk di dalamnya para mahasiswa adalah harus senantiasa dengan memprioritas perbaikan akidah dan pemurnian tauhid di dalam hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun di awal-awal dakwahnya di Makkah bertemu dan berhadapan dengan banyak pemuda dan mereka itulah yang lebih mudah menerima dakwah beliau dibandingkan dengan kebanyakan kalangan tua yang menjadi tokoh sentral di tengah kaumnya. Lihatlah sosok Ali bin Abi Thalib serta para sahabat lainnya yang relatif masih muda dibandingkan sosok para pembesar Quraisy, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan kawan-kawannya yang dengan keras menolak dakwah tauhid. Hal ini menunjukkan bahwa kaum muda memiliki potensi besar dalam menerima hidayah dan ikut berjuang menyebarkannya. Lain dengan kaum tua yang kental dengan tradisi serta keyakinan nenek-moyang yang telah mendarah-daging dalam dirinya. Di antara tantangan terbesar di dalam perkembangan dakwah kampus itu adalah para mahasiswa atau anak muda itu sendiri. Karena dalam usia muda banyak sekali godaan dan gaya hidup menyimpang yang terbuka lebar di hadapannya. Terlebih pada saat seperti sekarang ini, ketika jendela informasi dan teknologi komunikasi begitu pesat. Atmosfer kebebasan ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi membawa kebaikan dan di sisi lain justru bisa mencelakakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فيهما كثيرٌ من الناس: الصحةُ، والفراغُ “Ada dua nikmat yang banyak orang merugi dan tertipu oleh keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari) Secara umum para mahasiswa dan generasi muda adalah mereka yang paling banyak merasakan nikmat sehat dan waktu luang ini. Sehingga tidak jarang kita melihat atau mendengar anak-anak muda dan mahasiswa yang asyik bermain game, nonton konser, nongkrong di kafe, cuci mata di mal, dan lain sebagainya. Di sisi lain, mungkin tidak banyak pelaku kegiatan semacam itu yang berasal dari kalangan tua, walaupun bisa jadi fenomena seperti ini tetap ada di antara mereka. Para ulama kita memberikan petuah dan nasihat bahwa orang yang selalu bersangka baik kepada dirinya, maka sesungguhnya dia adalah orang yang paling bodoh tentang dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang bersangka buruk kepada dirinya, justru itulah tanda bahwa dia memahami karakter dan sifat manusia. Sebab manusia ini diciptakan dalam keadaan lemah. Dia membawa sifat zalim dan berada dalam kebodohan. Ia juga dibelit oleh hawa nafsu dan perasaan. Belum lagi warisan tradisi dan gaya hidup negatif yang bertebaran di tengah masyarakat. Dengan demikian, seorang mahasiswa patut untuk selalu waspada dalam memperbaiki keadaan dirinya. Waspada dari berbagai pintu kerusakan, baik yang muncul dari arah fitnah syubhat (kerancuan pemikiran) dan rusaknya keyakinan maupun dari arah fitnah syahwat (kesenangan yang terlarang). Baca juga: Menjadi Mahasantri, Mahasiswa Plus Santri Menjadi sosok mahasiswa yang tetap istikamah di tengah badai fitnah adalah sebuah perjuangan yang tidak kenal lelah. Di lingkungan kos mungkin dia akan bertemu dengan sosok para mahasiswa yang tidak peduli dengan salat dan agamanya. Yang mereka pikirkan hanya nilai IPK dan peluang dunia kerja atau pacar yang cantik jelita. Hari demi hari dilalui tanpa pernah menghampiri majelis ilmu dan menyimak nasihat iman untuk hatinya. Dia hadir salat Jumat pun dengan rasa kantuk yang berkuasa saat khatib berbicara. Dia berada di barisan saf yang belakang demi mendapatkan kesempatan lebih dulu untuk mengambil nasi Jumat yang disediakan oleh takmir. Dunia kampus saat ini mungkin sudah berbeda jauh dengan dunia kampus 10 tahun atau 20 tahun yang lalu. Rasa hormat kepada dosen atau kepada kakak angkatan pun mungkin tidak seperti dulu. Padahal menghormati orang yang lebih tua dan lebih berilmu (apalagi dalam ilmu agama) adalah bagian dari ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Hal ini bisa dengan mudah kita lihat ketika kita membuka media sosial, ketika orang dengan mudah berkomentar dan menjelek-jelekkan orang lain yang bisa jadi secara umur dan ilmu lebih senior darinya. Banyak hal yang telah berubah dan merosot dalam adab berbicara atau menulis di media sosial. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصْمُت “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata-kata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim) Di antara bukti besarnya kerusakan yang menimpa generasi muda dan mahasiswa ini adalah munculnya gerakan massa yang disebut dengan istilah demonstrasi atau unjuk rasa. Sejak tahun 98, kita pernah mendengar demo besar-besaran yang bertujuan untuk menggulingkan penguasa di negeri ini. Akibatnya, berbagai kerusakan dan kerugian merembet ke mana-mana. Mereka ingin menolak keburukan tapi dengan mendatangkan keburukan yang lebih besar. Sehingga melayanglah sekian banyak nyawa dan diambilnya harta dengan cara yang zalim dan nista. Masih teringat di telinga kami teriakan para demonstran pada hari itu “Gantung, gantung Soeharto!” Sebuah seruan yang mengandung ‘penghalalan’ darah kaum muslimin yang tidak mereka sadari. Belum lagi, jika kita cermati, tidak sedikit para mahasiwa yang masih saja terbelenggu oleh doktrin demokrasi. Semboyan mereka adalah “suara rakyat suara tuhan”. Oleh sebab itu, banyak orang yang mengaku pejuang keadilan, tetapi membela berbagai bentuk penyimpangan dengan atas nama demokrasi. Mereka menyerukan kebebasan ala sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mereka menghendaki kebebasan tanpa batas bagi kaum wanita sehingga tidak ada lagi kewajiban untuk menutup aurat, tidak ada lagi kewajiban untuk berbakti kepada suaminya, dan tidak ada lagi larangan bagi wanita untuk menjadi pemimpin negara. Bahkan, belakangan ini kembali marak tuntutan para pejuang HAM yang ingin melegalkan berbagai penyimpangan seksual dengan dalih menghargai hak manusia dan kebebasan mereka. Subhanallah! Dakwah kampus hanya akan menjadi angan-angan apabila para mahasiswa dan civitas akademika di suatu perguruan tinggi tidak punya kepedulian kepada agamanya. Padahal, kepedulian kepada agama dan pemahaman tentang Islam inilah yang menjadi gerbang kebaikan dan kemajuan umat di masa depan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من يُرِدِ الله به خيرا يُفَقِّهْهُ في الدين “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim) Kemuliaan suatu kaum tergantung pada komitmen mereka untuk mempelajari Kitabullah dan menebarkan keindahan ajarannya kepada manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيرُكُم من تعلَّمَ القرآنَ وعلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, إن اللهَ يَرفعُ بهذا الكِتابِ أقْواماً ويَضَعُ به آخَرِينَ “Sesungguhnya Allah memuliakan dengan sebab Kitab ini suatu kaum dan akan merendahkan dengannya sebagian kaum yang lain.” (HR. Muslim) Kemuliaan seperti apa yang dirindukan negeri ini, apabila para mahasiswanya sibuk dengan permainan dan musik-musik sehingga lupa dari tadabbur Al-Qur’an dan ilmu agama?! Baca juga: Peran Dakwah Mahasiswa terhadap Pembentukan Karakter Bangsa *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: Dakwah Kampusdakwah mahasiswamahasiswa muslim

Tantangan Dakwah Kampus

Bismillah. Apa yang sering kita dengar mengenai para mahasiswa? Mungkin kita pernah mendengar mengenai gerakan mahasiswa yang menggerakkan unjuk rasa untuk melancarkan kritik kepada berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil kepada rakyatnya. Atau mungkin kita pernah mendengar tentang fenomena pergaulan bebas yang merusak moral dan akhlak remaja. Dakwah kampus yang selama ini dianggap menjadi bagian dari solusi pun ternyata tidak sepi dari sorotan. Apa yang menimpa pada sebagian aktivis dakwah kampus dengan terjun dalam dunia politik praktis pun telah sedikit banyak menggambarkan betapa kemurnian dakwah Islam ini seringkali terkotori oleh berbagai ambisi dan kepentingan dunia sesaat. Mereka yang merekrut para mahasiswa untuk aktif membantu program dakwah, tetapi pada akhirnya menjadikan anak-anak muda ini sebagai kader partai politik demi mengumpulkan suara. Saudaraku yang dirahmati Allah, perjuangan para da’i tauhid dan sunah di sepanjang masa senantiasa berhadapan dengan tantangan dan hambatan. Tidak terkecuali dalam berupaya memberikan pencerahan dan bimbingan bagi kaum mahasiswa. Karena medan dakwah manusia ini (seperti dikatakan para ulama) adalah dada-dada manusia, yaitu hati mereka. Sementara keadaan hati manusia itu berbeda-beda dan memiliki tingkat kepekaan yang tidak sama dalam menerima atau menyambut hidayah yang turun kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman, وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ “Dan tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan (yang benar) selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa untuk memperbaiki kondisi masyarakat ini termasuk di dalamnya para mahasiswa adalah harus senantiasa dengan memprioritas perbaikan akidah dan pemurnian tauhid di dalam hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun di awal-awal dakwahnya di Makkah bertemu dan berhadapan dengan banyak pemuda dan mereka itulah yang lebih mudah menerima dakwah beliau dibandingkan dengan kebanyakan kalangan tua yang menjadi tokoh sentral di tengah kaumnya. Lihatlah sosok Ali bin Abi Thalib serta para sahabat lainnya yang relatif masih muda dibandingkan sosok para pembesar Quraisy, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan kawan-kawannya yang dengan keras menolak dakwah tauhid. Hal ini menunjukkan bahwa kaum muda memiliki potensi besar dalam menerima hidayah dan ikut berjuang menyebarkannya. Lain dengan kaum tua yang kental dengan tradisi serta keyakinan nenek-moyang yang telah mendarah-daging dalam dirinya. Di antara tantangan terbesar di dalam perkembangan dakwah kampus itu adalah para mahasiswa atau anak muda itu sendiri. Karena dalam usia muda banyak sekali godaan dan gaya hidup menyimpang yang terbuka lebar di hadapannya. Terlebih pada saat seperti sekarang ini, ketika jendela informasi dan teknologi komunikasi begitu pesat. Atmosfer kebebasan ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi membawa kebaikan dan di sisi lain justru bisa mencelakakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فيهما كثيرٌ من الناس: الصحةُ، والفراغُ “Ada dua nikmat yang banyak orang merugi dan tertipu oleh keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari) Secara umum para mahasiswa dan generasi muda adalah mereka yang paling banyak merasakan nikmat sehat dan waktu luang ini. Sehingga tidak jarang kita melihat atau mendengar anak-anak muda dan mahasiswa yang asyik bermain game, nonton konser, nongkrong di kafe, cuci mata di mal, dan lain sebagainya. Di sisi lain, mungkin tidak banyak pelaku kegiatan semacam itu yang berasal dari kalangan tua, walaupun bisa jadi fenomena seperti ini tetap ada di antara mereka. Para ulama kita memberikan petuah dan nasihat bahwa orang yang selalu bersangka baik kepada dirinya, maka sesungguhnya dia adalah orang yang paling bodoh tentang dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang bersangka buruk kepada dirinya, justru itulah tanda bahwa dia memahami karakter dan sifat manusia. Sebab manusia ini diciptakan dalam keadaan lemah. Dia membawa sifat zalim dan berada dalam kebodohan. Ia juga dibelit oleh hawa nafsu dan perasaan. Belum lagi warisan tradisi dan gaya hidup negatif yang bertebaran di tengah masyarakat. Dengan demikian, seorang mahasiswa patut untuk selalu waspada dalam memperbaiki keadaan dirinya. Waspada dari berbagai pintu kerusakan, baik yang muncul dari arah fitnah syubhat (kerancuan pemikiran) dan rusaknya keyakinan maupun dari arah fitnah syahwat (kesenangan yang terlarang). Baca juga: Menjadi Mahasantri, Mahasiswa Plus Santri Menjadi sosok mahasiswa yang tetap istikamah di tengah badai fitnah adalah sebuah perjuangan yang tidak kenal lelah. Di lingkungan kos mungkin dia akan bertemu dengan sosok para mahasiswa yang tidak peduli dengan salat dan agamanya. Yang mereka pikirkan hanya nilai IPK dan peluang dunia kerja atau pacar yang cantik jelita. Hari demi hari dilalui tanpa pernah menghampiri majelis ilmu dan menyimak nasihat iman untuk hatinya. Dia hadir salat Jumat pun dengan rasa kantuk yang berkuasa saat khatib berbicara. Dia berada di barisan saf yang belakang demi mendapatkan kesempatan lebih dulu untuk mengambil nasi Jumat yang disediakan oleh takmir. Dunia kampus saat ini mungkin sudah berbeda jauh dengan dunia kampus 10 tahun atau 20 tahun yang lalu. Rasa hormat kepada dosen atau kepada kakak angkatan pun mungkin tidak seperti dulu. Padahal menghormati orang yang lebih tua dan lebih berilmu (apalagi dalam ilmu agama) adalah bagian dari ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Hal ini bisa dengan mudah kita lihat ketika kita membuka media sosial, ketika orang dengan mudah berkomentar dan menjelek-jelekkan orang lain yang bisa jadi secara umur dan ilmu lebih senior darinya. Banyak hal yang telah berubah dan merosot dalam adab berbicara atau menulis di media sosial. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصْمُت “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata-kata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim) Di antara bukti besarnya kerusakan yang menimpa generasi muda dan mahasiswa ini adalah munculnya gerakan massa yang disebut dengan istilah demonstrasi atau unjuk rasa. Sejak tahun 98, kita pernah mendengar demo besar-besaran yang bertujuan untuk menggulingkan penguasa di negeri ini. Akibatnya, berbagai kerusakan dan kerugian merembet ke mana-mana. Mereka ingin menolak keburukan tapi dengan mendatangkan keburukan yang lebih besar. Sehingga melayanglah sekian banyak nyawa dan diambilnya harta dengan cara yang zalim dan nista. Masih teringat di telinga kami teriakan para demonstran pada hari itu “Gantung, gantung Soeharto!” Sebuah seruan yang mengandung ‘penghalalan’ darah kaum muslimin yang tidak mereka sadari. Belum lagi, jika kita cermati, tidak sedikit para mahasiwa yang masih saja terbelenggu oleh doktrin demokrasi. Semboyan mereka adalah “suara rakyat suara tuhan”. Oleh sebab itu, banyak orang yang mengaku pejuang keadilan, tetapi membela berbagai bentuk penyimpangan dengan atas nama demokrasi. Mereka menyerukan kebebasan ala sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mereka menghendaki kebebasan tanpa batas bagi kaum wanita sehingga tidak ada lagi kewajiban untuk menutup aurat, tidak ada lagi kewajiban untuk berbakti kepada suaminya, dan tidak ada lagi larangan bagi wanita untuk menjadi pemimpin negara. Bahkan, belakangan ini kembali marak tuntutan para pejuang HAM yang ingin melegalkan berbagai penyimpangan seksual dengan dalih menghargai hak manusia dan kebebasan mereka. Subhanallah! Dakwah kampus hanya akan menjadi angan-angan apabila para mahasiswa dan civitas akademika di suatu perguruan tinggi tidak punya kepedulian kepada agamanya. Padahal, kepedulian kepada agama dan pemahaman tentang Islam inilah yang menjadi gerbang kebaikan dan kemajuan umat di masa depan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من يُرِدِ الله به خيرا يُفَقِّهْهُ في الدين “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim) Kemuliaan suatu kaum tergantung pada komitmen mereka untuk mempelajari Kitabullah dan menebarkan keindahan ajarannya kepada manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيرُكُم من تعلَّمَ القرآنَ وعلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, إن اللهَ يَرفعُ بهذا الكِتابِ أقْواماً ويَضَعُ به آخَرِينَ “Sesungguhnya Allah memuliakan dengan sebab Kitab ini suatu kaum dan akan merendahkan dengannya sebagian kaum yang lain.” (HR. Muslim) Kemuliaan seperti apa yang dirindukan negeri ini, apabila para mahasiswanya sibuk dengan permainan dan musik-musik sehingga lupa dari tadabbur Al-Qur’an dan ilmu agama?! Baca juga: Peran Dakwah Mahasiswa terhadap Pembentukan Karakter Bangsa *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: Dakwah Kampusdakwah mahasiswamahasiswa muslim
Bismillah. Apa yang sering kita dengar mengenai para mahasiswa? Mungkin kita pernah mendengar mengenai gerakan mahasiswa yang menggerakkan unjuk rasa untuk melancarkan kritik kepada berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil kepada rakyatnya. Atau mungkin kita pernah mendengar tentang fenomena pergaulan bebas yang merusak moral dan akhlak remaja. Dakwah kampus yang selama ini dianggap menjadi bagian dari solusi pun ternyata tidak sepi dari sorotan. Apa yang menimpa pada sebagian aktivis dakwah kampus dengan terjun dalam dunia politik praktis pun telah sedikit banyak menggambarkan betapa kemurnian dakwah Islam ini seringkali terkotori oleh berbagai ambisi dan kepentingan dunia sesaat. Mereka yang merekrut para mahasiswa untuk aktif membantu program dakwah, tetapi pada akhirnya menjadikan anak-anak muda ini sebagai kader partai politik demi mengumpulkan suara. Saudaraku yang dirahmati Allah, perjuangan para da’i tauhid dan sunah di sepanjang masa senantiasa berhadapan dengan tantangan dan hambatan. Tidak terkecuali dalam berupaya memberikan pencerahan dan bimbingan bagi kaum mahasiswa. Karena medan dakwah manusia ini (seperti dikatakan para ulama) adalah dada-dada manusia, yaitu hati mereka. Sementara keadaan hati manusia itu berbeda-beda dan memiliki tingkat kepekaan yang tidak sama dalam menerima atau menyambut hidayah yang turun kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman, وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ “Dan tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan (yang benar) selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa untuk memperbaiki kondisi masyarakat ini termasuk di dalamnya para mahasiswa adalah harus senantiasa dengan memprioritas perbaikan akidah dan pemurnian tauhid di dalam hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun di awal-awal dakwahnya di Makkah bertemu dan berhadapan dengan banyak pemuda dan mereka itulah yang lebih mudah menerima dakwah beliau dibandingkan dengan kebanyakan kalangan tua yang menjadi tokoh sentral di tengah kaumnya. Lihatlah sosok Ali bin Abi Thalib serta para sahabat lainnya yang relatif masih muda dibandingkan sosok para pembesar Quraisy, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan kawan-kawannya yang dengan keras menolak dakwah tauhid. Hal ini menunjukkan bahwa kaum muda memiliki potensi besar dalam menerima hidayah dan ikut berjuang menyebarkannya. Lain dengan kaum tua yang kental dengan tradisi serta keyakinan nenek-moyang yang telah mendarah-daging dalam dirinya. Di antara tantangan terbesar di dalam perkembangan dakwah kampus itu adalah para mahasiswa atau anak muda itu sendiri. Karena dalam usia muda banyak sekali godaan dan gaya hidup menyimpang yang terbuka lebar di hadapannya. Terlebih pada saat seperti sekarang ini, ketika jendela informasi dan teknologi komunikasi begitu pesat. Atmosfer kebebasan ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi membawa kebaikan dan di sisi lain justru bisa mencelakakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فيهما كثيرٌ من الناس: الصحةُ، والفراغُ “Ada dua nikmat yang banyak orang merugi dan tertipu oleh keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari) Secara umum para mahasiswa dan generasi muda adalah mereka yang paling banyak merasakan nikmat sehat dan waktu luang ini. Sehingga tidak jarang kita melihat atau mendengar anak-anak muda dan mahasiswa yang asyik bermain game, nonton konser, nongkrong di kafe, cuci mata di mal, dan lain sebagainya. Di sisi lain, mungkin tidak banyak pelaku kegiatan semacam itu yang berasal dari kalangan tua, walaupun bisa jadi fenomena seperti ini tetap ada di antara mereka. Para ulama kita memberikan petuah dan nasihat bahwa orang yang selalu bersangka baik kepada dirinya, maka sesungguhnya dia adalah orang yang paling bodoh tentang dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang bersangka buruk kepada dirinya, justru itulah tanda bahwa dia memahami karakter dan sifat manusia. Sebab manusia ini diciptakan dalam keadaan lemah. Dia membawa sifat zalim dan berada dalam kebodohan. Ia juga dibelit oleh hawa nafsu dan perasaan. Belum lagi warisan tradisi dan gaya hidup negatif yang bertebaran di tengah masyarakat. Dengan demikian, seorang mahasiswa patut untuk selalu waspada dalam memperbaiki keadaan dirinya. Waspada dari berbagai pintu kerusakan, baik yang muncul dari arah fitnah syubhat (kerancuan pemikiran) dan rusaknya keyakinan maupun dari arah fitnah syahwat (kesenangan yang terlarang). Baca juga: Menjadi Mahasantri, Mahasiswa Plus Santri Menjadi sosok mahasiswa yang tetap istikamah di tengah badai fitnah adalah sebuah perjuangan yang tidak kenal lelah. Di lingkungan kos mungkin dia akan bertemu dengan sosok para mahasiswa yang tidak peduli dengan salat dan agamanya. Yang mereka pikirkan hanya nilai IPK dan peluang dunia kerja atau pacar yang cantik jelita. Hari demi hari dilalui tanpa pernah menghampiri majelis ilmu dan menyimak nasihat iman untuk hatinya. Dia hadir salat Jumat pun dengan rasa kantuk yang berkuasa saat khatib berbicara. Dia berada di barisan saf yang belakang demi mendapatkan kesempatan lebih dulu untuk mengambil nasi Jumat yang disediakan oleh takmir. Dunia kampus saat ini mungkin sudah berbeda jauh dengan dunia kampus 10 tahun atau 20 tahun yang lalu. Rasa hormat kepada dosen atau kepada kakak angkatan pun mungkin tidak seperti dulu. Padahal menghormati orang yang lebih tua dan lebih berilmu (apalagi dalam ilmu agama) adalah bagian dari ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Hal ini bisa dengan mudah kita lihat ketika kita membuka media sosial, ketika orang dengan mudah berkomentar dan menjelek-jelekkan orang lain yang bisa jadi secara umur dan ilmu lebih senior darinya. Banyak hal yang telah berubah dan merosot dalam adab berbicara atau menulis di media sosial. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصْمُت “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata-kata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim) Di antara bukti besarnya kerusakan yang menimpa generasi muda dan mahasiswa ini adalah munculnya gerakan massa yang disebut dengan istilah demonstrasi atau unjuk rasa. Sejak tahun 98, kita pernah mendengar demo besar-besaran yang bertujuan untuk menggulingkan penguasa di negeri ini. Akibatnya, berbagai kerusakan dan kerugian merembet ke mana-mana. Mereka ingin menolak keburukan tapi dengan mendatangkan keburukan yang lebih besar. Sehingga melayanglah sekian banyak nyawa dan diambilnya harta dengan cara yang zalim dan nista. Masih teringat di telinga kami teriakan para demonstran pada hari itu “Gantung, gantung Soeharto!” Sebuah seruan yang mengandung ‘penghalalan’ darah kaum muslimin yang tidak mereka sadari. Belum lagi, jika kita cermati, tidak sedikit para mahasiwa yang masih saja terbelenggu oleh doktrin demokrasi. Semboyan mereka adalah “suara rakyat suara tuhan”. Oleh sebab itu, banyak orang yang mengaku pejuang keadilan, tetapi membela berbagai bentuk penyimpangan dengan atas nama demokrasi. Mereka menyerukan kebebasan ala sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mereka menghendaki kebebasan tanpa batas bagi kaum wanita sehingga tidak ada lagi kewajiban untuk menutup aurat, tidak ada lagi kewajiban untuk berbakti kepada suaminya, dan tidak ada lagi larangan bagi wanita untuk menjadi pemimpin negara. Bahkan, belakangan ini kembali marak tuntutan para pejuang HAM yang ingin melegalkan berbagai penyimpangan seksual dengan dalih menghargai hak manusia dan kebebasan mereka. Subhanallah! Dakwah kampus hanya akan menjadi angan-angan apabila para mahasiswa dan civitas akademika di suatu perguruan tinggi tidak punya kepedulian kepada agamanya. Padahal, kepedulian kepada agama dan pemahaman tentang Islam inilah yang menjadi gerbang kebaikan dan kemajuan umat di masa depan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من يُرِدِ الله به خيرا يُفَقِّهْهُ في الدين “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim) Kemuliaan suatu kaum tergantung pada komitmen mereka untuk mempelajari Kitabullah dan menebarkan keindahan ajarannya kepada manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيرُكُم من تعلَّمَ القرآنَ وعلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, إن اللهَ يَرفعُ بهذا الكِتابِ أقْواماً ويَضَعُ به آخَرِينَ “Sesungguhnya Allah memuliakan dengan sebab Kitab ini suatu kaum dan akan merendahkan dengannya sebagian kaum yang lain.” (HR. Muslim) Kemuliaan seperti apa yang dirindukan negeri ini, apabila para mahasiswanya sibuk dengan permainan dan musik-musik sehingga lupa dari tadabbur Al-Qur’an dan ilmu agama?! Baca juga: Peran Dakwah Mahasiswa terhadap Pembentukan Karakter Bangsa *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: Dakwah Kampusdakwah mahasiswamahasiswa muslim


Bismillah. Apa yang sering kita dengar mengenai para mahasiswa? Mungkin kita pernah mendengar mengenai gerakan mahasiswa yang menggerakkan unjuk rasa untuk melancarkan kritik kepada berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil kepada rakyatnya. Atau mungkin kita pernah mendengar tentang fenomena pergaulan bebas yang merusak moral dan akhlak remaja. Dakwah kampus yang selama ini dianggap menjadi bagian dari solusi pun ternyata tidak sepi dari sorotan. Apa yang menimpa pada sebagian aktivis dakwah kampus dengan terjun dalam dunia politik praktis pun telah sedikit banyak menggambarkan betapa kemurnian dakwah Islam ini seringkali terkotori oleh berbagai ambisi dan kepentingan dunia sesaat. Mereka yang merekrut para mahasiswa untuk aktif membantu program dakwah, tetapi pada akhirnya menjadikan anak-anak muda ini sebagai kader partai politik demi mengumpulkan suara. Saudaraku yang dirahmati Allah, perjuangan para da’i tauhid dan sunah di sepanjang masa senantiasa berhadapan dengan tantangan dan hambatan. Tidak terkecuali dalam berupaya memberikan pencerahan dan bimbingan bagi kaum mahasiswa. Karena medan dakwah manusia ini (seperti dikatakan para ulama) adalah dada-dada manusia, yaitu hati mereka. Sementara keadaan hati manusia itu berbeda-beda dan memiliki tingkat kepekaan yang tidak sama dalam menerima atau menyambut hidayah yang turun kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman, وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ “Dan tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan (yang benar) selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa untuk memperbaiki kondisi masyarakat ini termasuk di dalamnya para mahasiswa adalah harus senantiasa dengan memprioritas perbaikan akidah dan pemurnian tauhid di dalam hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun di awal-awal dakwahnya di Makkah bertemu dan berhadapan dengan banyak pemuda dan mereka itulah yang lebih mudah menerima dakwah beliau dibandingkan dengan kebanyakan kalangan tua yang menjadi tokoh sentral di tengah kaumnya. Lihatlah sosok Ali bin Abi Thalib serta para sahabat lainnya yang relatif masih muda dibandingkan sosok para pembesar Quraisy, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan kawan-kawannya yang dengan keras menolak dakwah tauhid. Hal ini menunjukkan bahwa kaum muda memiliki potensi besar dalam menerima hidayah dan ikut berjuang menyebarkannya. Lain dengan kaum tua yang kental dengan tradisi serta keyakinan nenek-moyang yang telah mendarah-daging dalam dirinya. Di antara tantangan terbesar di dalam perkembangan dakwah kampus itu adalah para mahasiswa atau anak muda itu sendiri. Karena dalam usia muda banyak sekali godaan dan gaya hidup menyimpang yang terbuka lebar di hadapannya. Terlebih pada saat seperti sekarang ini, ketika jendela informasi dan teknologi komunikasi begitu pesat. Atmosfer kebebasan ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi membawa kebaikan dan di sisi lain justru bisa mencelakakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فيهما كثيرٌ من الناس: الصحةُ، والفراغُ “Ada dua nikmat yang banyak orang merugi dan tertipu oleh keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari) Secara umum para mahasiswa dan generasi muda adalah mereka yang paling banyak merasakan nikmat sehat dan waktu luang ini. Sehingga tidak jarang kita melihat atau mendengar anak-anak muda dan mahasiswa yang asyik bermain game, nonton konser, nongkrong di kafe, cuci mata di mal, dan lain sebagainya. Di sisi lain, mungkin tidak banyak pelaku kegiatan semacam itu yang berasal dari kalangan tua, walaupun bisa jadi fenomena seperti ini tetap ada di antara mereka. Para ulama kita memberikan petuah dan nasihat bahwa orang yang selalu bersangka baik kepada dirinya, maka sesungguhnya dia adalah orang yang paling bodoh tentang dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang bersangka buruk kepada dirinya, justru itulah tanda bahwa dia memahami karakter dan sifat manusia. Sebab manusia ini diciptakan dalam keadaan lemah. Dia membawa sifat zalim dan berada dalam kebodohan. Ia juga dibelit oleh hawa nafsu dan perasaan. Belum lagi warisan tradisi dan gaya hidup negatif yang bertebaran di tengah masyarakat. Dengan demikian, seorang mahasiswa patut untuk selalu waspada dalam memperbaiki keadaan dirinya. Waspada dari berbagai pintu kerusakan, baik yang muncul dari arah fitnah syubhat (kerancuan pemikiran) dan rusaknya keyakinan maupun dari arah fitnah syahwat (kesenangan yang terlarang). Baca juga: Menjadi Mahasantri, Mahasiswa Plus Santri Menjadi sosok mahasiswa yang tetap istikamah di tengah badai fitnah adalah sebuah perjuangan yang tidak kenal lelah. Di lingkungan kos mungkin dia akan bertemu dengan sosok para mahasiswa yang tidak peduli dengan salat dan agamanya. Yang mereka pikirkan hanya nilai IPK dan peluang dunia kerja atau pacar yang cantik jelita. Hari demi hari dilalui tanpa pernah menghampiri majelis ilmu dan menyimak nasihat iman untuk hatinya. Dia hadir salat Jumat pun dengan rasa kantuk yang berkuasa saat khatib berbicara. Dia berada di barisan saf yang belakang demi mendapatkan kesempatan lebih dulu untuk mengambil nasi Jumat yang disediakan oleh takmir. Dunia kampus saat ini mungkin sudah berbeda jauh dengan dunia kampus 10 tahun atau 20 tahun yang lalu. Rasa hormat kepada dosen atau kepada kakak angkatan pun mungkin tidak seperti dulu. Padahal menghormati orang yang lebih tua dan lebih berilmu (apalagi dalam ilmu agama) adalah bagian dari ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Hal ini bisa dengan mudah kita lihat ketika kita membuka media sosial, ketika orang dengan mudah berkomentar dan menjelek-jelekkan orang lain yang bisa jadi secara umur dan ilmu lebih senior darinya. Banyak hal yang telah berubah dan merosot dalam adab berbicara atau menulis di media sosial. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصْمُت “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata-kata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim) Di antara bukti besarnya kerusakan yang menimpa generasi muda dan mahasiswa ini adalah munculnya gerakan massa yang disebut dengan istilah demonstrasi atau unjuk rasa. Sejak tahun 98, kita pernah mendengar demo besar-besaran yang bertujuan untuk menggulingkan penguasa di negeri ini. Akibatnya, berbagai kerusakan dan kerugian merembet ke mana-mana. Mereka ingin menolak keburukan tapi dengan mendatangkan keburukan yang lebih besar. Sehingga melayanglah sekian banyak nyawa dan diambilnya harta dengan cara yang zalim dan nista. Masih teringat di telinga kami teriakan para demonstran pada hari itu “Gantung, gantung Soeharto!” Sebuah seruan yang mengandung ‘penghalalan’ darah kaum muslimin yang tidak mereka sadari. Belum lagi, jika kita cermati, tidak sedikit para mahasiwa yang masih saja terbelenggu oleh doktrin demokrasi. Semboyan mereka adalah “suara rakyat suara tuhan”. Oleh sebab itu, banyak orang yang mengaku pejuang keadilan, tetapi membela berbagai bentuk penyimpangan dengan atas nama demokrasi. Mereka menyerukan kebebasan ala sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mereka menghendaki kebebasan tanpa batas bagi kaum wanita sehingga tidak ada lagi kewajiban untuk menutup aurat, tidak ada lagi kewajiban untuk berbakti kepada suaminya, dan tidak ada lagi larangan bagi wanita untuk menjadi pemimpin negara. Bahkan, belakangan ini kembali marak tuntutan para pejuang HAM yang ingin melegalkan berbagai penyimpangan seksual dengan dalih menghargai hak manusia dan kebebasan mereka. Subhanallah! Dakwah kampus hanya akan menjadi angan-angan apabila para mahasiswa dan civitas akademika di suatu perguruan tinggi tidak punya kepedulian kepada agamanya. Padahal, kepedulian kepada agama dan pemahaman tentang Islam inilah yang menjadi gerbang kebaikan dan kemajuan umat di masa depan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من يُرِدِ الله به خيرا يُفَقِّهْهُ في الدين “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim) Kemuliaan suatu kaum tergantung pada komitmen mereka untuk mempelajari Kitabullah dan menebarkan keindahan ajarannya kepada manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيرُكُم من تعلَّمَ القرآنَ وعلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, إن اللهَ يَرفعُ بهذا الكِتابِ أقْواماً ويَضَعُ به آخَرِينَ “Sesungguhnya Allah memuliakan dengan sebab Kitab ini suatu kaum dan akan merendahkan dengannya sebagian kaum yang lain.” (HR. Muslim) Kemuliaan seperti apa yang dirindukan negeri ini, apabila para mahasiswanya sibuk dengan permainan dan musik-musik sehingga lupa dari tadabbur Al-Qur’an dan ilmu agama?! Baca juga: Peran Dakwah Mahasiswa terhadap Pembentukan Karakter Bangsa *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: Dakwah Kampusdakwah mahasiswamahasiswa muslim

10 Tips Liburan Bersama Keluarga yang Menyenangkan dan Bawa Berkah

Apa saja tips liburan bersama keluarga agar lebih menyenangkan dan bawa berkah? Daftar Isi tutup 1. TIPS LIBURAN BERSAMA KELUARGA AGAR LEBIH BERKAH 1.1. 1. Sesuaikan isi dompet (jangan sampai berhutang). 1.2. 2. Perhatikan waktu shalat, pilih liburan yang mudah untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu. 1.3. 3. Pelajari fikih safar. 1.4. 4. Cari makanan yang halal. 1.5. 5. Tetap memperhatikan aturan syariat, misalnya: jangan bermudah-mudahan membuka aurat. 1.6. 6. Perhatikan teman yang membersamai saat berlibur, yaitu teman yang senantiasa mengajak untuk ibadah dan menjauhi maksiat. 1.7. 7. Manfaatkan waktu dengan baik. Walau bersafar, tetaplah menjaga dzikir pagi dan petang, serta amalan-amalan saleh lainnya. 1.8. 8. Perhatikan waktu cuti, jangan sampai berlebih melebihi masa cuti karena seorang muslim hendaklah memenuhi perjanjiannya. 1.9. 9. Banyak bersabar dan tahan emosi karena waktu liburan akan banyak berinteraksi dengan orang dengan berbagai macam karakter. 1.10. 10. Liburan ke Jogja yuk! 2. Tonton Video Tips Liburan Bersama Keluarga oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Pertama-tama yang sebaiknya diingat, di balik kesibukan mencari nafkah dan bekerja, hendaklah seorang ayah menyediakan waktu berlibur dengan keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membenarkan apa yang disampaikan oleh Salman pada Abu Darda’ karena Salman melihat Abu Darda’ tidak memperhatikan istri dan keluarganya dengan baik (tidak ada waktu yang diberi untuk keluarga). Nasihat tersebut sebagai berikut, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.” (HR. Bukhari, no. 1968). Artinya, kita diperintahkan untuk membagi waktu dengan bijak, yaitu waktu untuk beribadah kepada Allah, waktu untuk keluarga, dan waktu untuk istirahat badan. Wahai para ayah, sempatkanlah waktu berlibur bersama istri dan anak-anak. Kebersamaan bersama keluarga akan membangun kehangatan, komunikasi yang baik, bahkan akan mengurangi konflik dan kesalahpahaman yang selama ini terjadi.   TIPS LIBURAN BERSAMA KELUARGA AGAR LEBIH BERKAH 1. Sesuaikan isi dompet (jangan sampai berhutang). Allah Ta’ala berfirman, لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath-Thalaq: 7). Ayat ini mengajarkan agar memberi nafkah sesuai kemampuan. Maka berbelanja dan berlibur perhatikanlah kemampuan, bahasa lainnya adalah PERHATIKAN ISI DOMPET. Baca juga: Besaran Nafkah Suami pada Istri dan Keluarga   2. Perhatikan waktu shalat, pilih liburan yang mudah untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu. Semoga dengan rutin menjaga shalat meskipun dalam keadaan safar dan berlibur, Allah menghapus dosa kita antara shalat yang satu dan shalat yang berikutnya. Dari ‘Utsman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّى صَلاَةً إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِى تَلِيهَا “Tidaklah seorang muslim memperbagus wudhunya, lantas ia mengerjakan shalat melainkan Allah mengampuni baginya dosa di antara shalat tersebut dan shalat berikutnya.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 227) Baca juga: Keutamaan Shalat Lima Waktu   3. Pelajari fikih safar. Di antaranya yang mesti dipelajari: kapan disebut safar, kapan disebut mukim sehingga boleh menjamak dan mengqashar shalat, cara menjamak shalat, baik dengan jamak takdim dan jamak takhir, cara mengqashar shalat, cara bersuci baik dengan wudhu atau tayamum, cara shalat di kendaraan, yaitu di bus, kapal, kereta, atau pesawat. Baca juga: Aturan Jamak dan Qashar Shalat dari Safinatun Naja   4. Cari makanan yang halal. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا “Sesungguhnya Allah itu thayyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thayyib (baik).” (HR. Muslim, no. 1015) Baca juga: Pengaruh Makanan yang Haram   5. Tetap memperhatikan aturan syariat, misalnya: jangan bermudah-mudahan membuka aurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Dalam hadits disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128) Baca juga: Petaka bagi Muslimah yang Buka-Buka Aurat   6. Perhatikan teman yang membersamai saat berlibur, yaitu teman yang senantiasa mengajak untuk ibadah dan menjauhi maksiat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada kita untuk mencari teman yang baik dengan membuat ibarat berteman dengan pemilik minyak wangi, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa) Baca juga: Pengaruh Treman Bergaul yang Baik Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab, الصَّاحِبُ سَاحِبٌ “ٍSifat sahabat itu bisa saling mempengaruhi.” Baca juga: Manfaat Teman yang Baik   7. Manfaatkan waktu dengan baik. Walau bersafar, tetaplah menjaga dzikir pagi dan petang, serta amalan-amalan saleh lainnya. Karena nikmat waktu akan ditanya, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu)”. (QS At Takaatsur: 8) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, kita banyak lalai ketika sehat dan punya waktu luang sebagaimana disebutkan dalam hadits, نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ “Ada dua kenikmatan yang banyak dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (Muttafaqun ‘alaih) Para ulama mengatakan, الوَقْتُ أَنْفَاس لاَ تَعُوْدُ “Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.” Baca juga: Waktu Laksana Pedang   8. Perhatikan waktu cuti, jangan sampai berlebih melebihi masa cuti karena seorang muslim hendaklah memenuhi perjanjiannya. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَوْفُوا۟ بِٱلْعُقُودِ “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (QS. Al-Maidah: 1) Dalam kaidah fikih disebutkan, الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا “Kaum muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram.”   9. Banyak bersabar dan tahan emosi karena waktu liburan akan banyak berinteraksi dengan orang dengan berbagai macam karakter. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Kiat Bersabar Ketika Disakiti   10. Liburan ke Jogja yuk! Kalau saran kami, liburan ke Jogja saja yuk mengikuti “Rihlah Keluarga Sakinah bersama MT. Shafiyah Shalehah dan Rumaysho”. Insya Allah tips-tips yang disampaikan di atas akan bisa didapatkan semuanya. Rihlah ini terbatas hanya untuk 50 keluarga dan akan dibersamai empat Ustadz: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Ustadz Ammi Nur Baits Ustadz Abu Salma Muhammad Ustadz Erlan Iskandar Tema yang diangkat dari Rihlah Keluarga Sakinah ini adalah seputar permasalahan keluarga, yaitu seni memahami pasangan, menjadi ayah dan ibu yang baik, mengatasi konflik keluarga, dan bagaimana timbul saling cinta di dalam keluarga. Anda bisa berlibur bersama keluarga dan sambil mendapatkan ilmu agama, begitu pula bisa dapat kesempatan konsultasi secara khusus bersama empat pembicara di atas. Bagi yang membawa anak-anak akan ditemani oleh Ustadz Erlan Iskandar dan Tim AMCA. Kenapa memilih liburan ke Jogja? Jogja sendiri memiliki banyak keistimewaan, salah satunya penduduk yang ramah tamah, banyak tempat bersejarah, berbagai universitas di Jogja dijadikan tempat mengenyam pendidikan yang lebih baik, tempat wisatanya mengasyikkan (di antaranya pantai-pantai selatan yang indah), dan beli jajanan di Jogja masih relatif murah dibanding kota lainnya. Dalam rihlah kali ini, para peserta selain gali ilmu, juga akan berkunjung ke Pantai Mesra Gunungkidul dan menikmati menu masakan ndeso (seperti sayur lombok ijo) di Pondok Pesantren Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul (binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal). Masakan tersebut dibuat khusus dari ibu mertua. Baca juga: Rihlah Keluarga Sakinah, 22 – 24 Desember 2023 Info Rihlah Keluarga Sakinah: Bu Partini: 0821 352 58838 Bu Vika: 0812 903 55060   Semoga Allah mudahkan untuk berliburan bersama keluarga. Semoga Allah senantiasa berkahi dan memberi kemudahan.   Tonton Video Tips Liburan Bersama Keluarga oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal    – Selesai ditulis di YIA Kulonprogo, 9 Rabiul Awwal 1445 H, 25 September 2023 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagskeluarga sakinah liburan liburan keluarga rihlah tips liburan

10 Tips Liburan Bersama Keluarga yang Menyenangkan dan Bawa Berkah

Apa saja tips liburan bersama keluarga agar lebih menyenangkan dan bawa berkah? Daftar Isi tutup 1. TIPS LIBURAN BERSAMA KELUARGA AGAR LEBIH BERKAH 1.1. 1. Sesuaikan isi dompet (jangan sampai berhutang). 1.2. 2. Perhatikan waktu shalat, pilih liburan yang mudah untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu. 1.3. 3. Pelajari fikih safar. 1.4. 4. Cari makanan yang halal. 1.5. 5. Tetap memperhatikan aturan syariat, misalnya: jangan bermudah-mudahan membuka aurat. 1.6. 6. Perhatikan teman yang membersamai saat berlibur, yaitu teman yang senantiasa mengajak untuk ibadah dan menjauhi maksiat. 1.7. 7. Manfaatkan waktu dengan baik. Walau bersafar, tetaplah menjaga dzikir pagi dan petang, serta amalan-amalan saleh lainnya. 1.8. 8. Perhatikan waktu cuti, jangan sampai berlebih melebihi masa cuti karena seorang muslim hendaklah memenuhi perjanjiannya. 1.9. 9. Banyak bersabar dan tahan emosi karena waktu liburan akan banyak berinteraksi dengan orang dengan berbagai macam karakter. 1.10. 10. Liburan ke Jogja yuk! 2. Tonton Video Tips Liburan Bersama Keluarga oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Pertama-tama yang sebaiknya diingat, di balik kesibukan mencari nafkah dan bekerja, hendaklah seorang ayah menyediakan waktu berlibur dengan keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membenarkan apa yang disampaikan oleh Salman pada Abu Darda’ karena Salman melihat Abu Darda’ tidak memperhatikan istri dan keluarganya dengan baik (tidak ada waktu yang diberi untuk keluarga). Nasihat tersebut sebagai berikut, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.” (HR. Bukhari, no. 1968). Artinya, kita diperintahkan untuk membagi waktu dengan bijak, yaitu waktu untuk beribadah kepada Allah, waktu untuk keluarga, dan waktu untuk istirahat badan. Wahai para ayah, sempatkanlah waktu berlibur bersama istri dan anak-anak. Kebersamaan bersama keluarga akan membangun kehangatan, komunikasi yang baik, bahkan akan mengurangi konflik dan kesalahpahaman yang selama ini terjadi.   TIPS LIBURAN BERSAMA KELUARGA AGAR LEBIH BERKAH 1. Sesuaikan isi dompet (jangan sampai berhutang). Allah Ta’ala berfirman, لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath-Thalaq: 7). Ayat ini mengajarkan agar memberi nafkah sesuai kemampuan. Maka berbelanja dan berlibur perhatikanlah kemampuan, bahasa lainnya adalah PERHATIKAN ISI DOMPET. Baca juga: Besaran Nafkah Suami pada Istri dan Keluarga   2. Perhatikan waktu shalat, pilih liburan yang mudah untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu. Semoga dengan rutin menjaga shalat meskipun dalam keadaan safar dan berlibur, Allah menghapus dosa kita antara shalat yang satu dan shalat yang berikutnya. Dari ‘Utsman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّى صَلاَةً إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِى تَلِيهَا “Tidaklah seorang muslim memperbagus wudhunya, lantas ia mengerjakan shalat melainkan Allah mengampuni baginya dosa di antara shalat tersebut dan shalat berikutnya.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 227) Baca juga: Keutamaan Shalat Lima Waktu   3. Pelajari fikih safar. Di antaranya yang mesti dipelajari: kapan disebut safar, kapan disebut mukim sehingga boleh menjamak dan mengqashar shalat, cara menjamak shalat, baik dengan jamak takdim dan jamak takhir, cara mengqashar shalat, cara bersuci baik dengan wudhu atau tayamum, cara shalat di kendaraan, yaitu di bus, kapal, kereta, atau pesawat. Baca juga: Aturan Jamak dan Qashar Shalat dari Safinatun Naja   4. Cari makanan yang halal. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا “Sesungguhnya Allah itu thayyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thayyib (baik).” (HR. Muslim, no. 1015) Baca juga: Pengaruh Makanan yang Haram   5. Tetap memperhatikan aturan syariat, misalnya: jangan bermudah-mudahan membuka aurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Dalam hadits disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128) Baca juga: Petaka bagi Muslimah yang Buka-Buka Aurat   6. Perhatikan teman yang membersamai saat berlibur, yaitu teman yang senantiasa mengajak untuk ibadah dan menjauhi maksiat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada kita untuk mencari teman yang baik dengan membuat ibarat berteman dengan pemilik minyak wangi, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa) Baca juga: Pengaruh Treman Bergaul yang Baik Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab, الصَّاحِبُ سَاحِبٌ “ٍSifat sahabat itu bisa saling mempengaruhi.” Baca juga: Manfaat Teman yang Baik   7. Manfaatkan waktu dengan baik. Walau bersafar, tetaplah menjaga dzikir pagi dan petang, serta amalan-amalan saleh lainnya. Karena nikmat waktu akan ditanya, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu)”. (QS At Takaatsur: 8) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, kita banyak lalai ketika sehat dan punya waktu luang sebagaimana disebutkan dalam hadits, نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ “Ada dua kenikmatan yang banyak dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (Muttafaqun ‘alaih) Para ulama mengatakan, الوَقْتُ أَنْفَاس لاَ تَعُوْدُ “Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.” Baca juga: Waktu Laksana Pedang   8. Perhatikan waktu cuti, jangan sampai berlebih melebihi masa cuti karena seorang muslim hendaklah memenuhi perjanjiannya. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَوْفُوا۟ بِٱلْعُقُودِ “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (QS. Al-Maidah: 1) Dalam kaidah fikih disebutkan, الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا “Kaum muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram.”   9. Banyak bersabar dan tahan emosi karena waktu liburan akan banyak berinteraksi dengan orang dengan berbagai macam karakter. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Kiat Bersabar Ketika Disakiti   10. Liburan ke Jogja yuk! Kalau saran kami, liburan ke Jogja saja yuk mengikuti “Rihlah Keluarga Sakinah bersama MT. Shafiyah Shalehah dan Rumaysho”. Insya Allah tips-tips yang disampaikan di atas akan bisa didapatkan semuanya. Rihlah ini terbatas hanya untuk 50 keluarga dan akan dibersamai empat Ustadz: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Ustadz Ammi Nur Baits Ustadz Abu Salma Muhammad Ustadz Erlan Iskandar Tema yang diangkat dari Rihlah Keluarga Sakinah ini adalah seputar permasalahan keluarga, yaitu seni memahami pasangan, menjadi ayah dan ibu yang baik, mengatasi konflik keluarga, dan bagaimana timbul saling cinta di dalam keluarga. Anda bisa berlibur bersama keluarga dan sambil mendapatkan ilmu agama, begitu pula bisa dapat kesempatan konsultasi secara khusus bersama empat pembicara di atas. Bagi yang membawa anak-anak akan ditemani oleh Ustadz Erlan Iskandar dan Tim AMCA. Kenapa memilih liburan ke Jogja? Jogja sendiri memiliki banyak keistimewaan, salah satunya penduduk yang ramah tamah, banyak tempat bersejarah, berbagai universitas di Jogja dijadikan tempat mengenyam pendidikan yang lebih baik, tempat wisatanya mengasyikkan (di antaranya pantai-pantai selatan yang indah), dan beli jajanan di Jogja masih relatif murah dibanding kota lainnya. Dalam rihlah kali ini, para peserta selain gali ilmu, juga akan berkunjung ke Pantai Mesra Gunungkidul dan menikmati menu masakan ndeso (seperti sayur lombok ijo) di Pondok Pesantren Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul (binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal). Masakan tersebut dibuat khusus dari ibu mertua. Baca juga: Rihlah Keluarga Sakinah, 22 – 24 Desember 2023 Info Rihlah Keluarga Sakinah: Bu Partini: 0821 352 58838 Bu Vika: 0812 903 55060   Semoga Allah mudahkan untuk berliburan bersama keluarga. Semoga Allah senantiasa berkahi dan memberi kemudahan.   Tonton Video Tips Liburan Bersama Keluarga oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal    – Selesai ditulis di YIA Kulonprogo, 9 Rabiul Awwal 1445 H, 25 September 2023 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagskeluarga sakinah liburan liburan keluarga rihlah tips liburan
Apa saja tips liburan bersama keluarga agar lebih menyenangkan dan bawa berkah? Daftar Isi tutup 1. TIPS LIBURAN BERSAMA KELUARGA AGAR LEBIH BERKAH 1.1. 1. Sesuaikan isi dompet (jangan sampai berhutang). 1.2. 2. Perhatikan waktu shalat, pilih liburan yang mudah untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu. 1.3. 3. Pelajari fikih safar. 1.4. 4. Cari makanan yang halal. 1.5. 5. Tetap memperhatikan aturan syariat, misalnya: jangan bermudah-mudahan membuka aurat. 1.6. 6. Perhatikan teman yang membersamai saat berlibur, yaitu teman yang senantiasa mengajak untuk ibadah dan menjauhi maksiat. 1.7. 7. Manfaatkan waktu dengan baik. Walau bersafar, tetaplah menjaga dzikir pagi dan petang, serta amalan-amalan saleh lainnya. 1.8. 8. Perhatikan waktu cuti, jangan sampai berlebih melebihi masa cuti karena seorang muslim hendaklah memenuhi perjanjiannya. 1.9. 9. Banyak bersabar dan tahan emosi karena waktu liburan akan banyak berinteraksi dengan orang dengan berbagai macam karakter. 1.10. 10. Liburan ke Jogja yuk! 2. Tonton Video Tips Liburan Bersama Keluarga oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Pertama-tama yang sebaiknya diingat, di balik kesibukan mencari nafkah dan bekerja, hendaklah seorang ayah menyediakan waktu berlibur dengan keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membenarkan apa yang disampaikan oleh Salman pada Abu Darda’ karena Salman melihat Abu Darda’ tidak memperhatikan istri dan keluarganya dengan baik (tidak ada waktu yang diberi untuk keluarga). Nasihat tersebut sebagai berikut, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.” (HR. Bukhari, no. 1968). Artinya, kita diperintahkan untuk membagi waktu dengan bijak, yaitu waktu untuk beribadah kepada Allah, waktu untuk keluarga, dan waktu untuk istirahat badan. Wahai para ayah, sempatkanlah waktu berlibur bersama istri dan anak-anak. Kebersamaan bersama keluarga akan membangun kehangatan, komunikasi yang baik, bahkan akan mengurangi konflik dan kesalahpahaman yang selama ini terjadi.   TIPS LIBURAN BERSAMA KELUARGA AGAR LEBIH BERKAH 1. Sesuaikan isi dompet (jangan sampai berhutang). Allah Ta’ala berfirman, لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath-Thalaq: 7). Ayat ini mengajarkan agar memberi nafkah sesuai kemampuan. Maka berbelanja dan berlibur perhatikanlah kemampuan, bahasa lainnya adalah PERHATIKAN ISI DOMPET. Baca juga: Besaran Nafkah Suami pada Istri dan Keluarga   2. Perhatikan waktu shalat, pilih liburan yang mudah untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu. Semoga dengan rutin menjaga shalat meskipun dalam keadaan safar dan berlibur, Allah menghapus dosa kita antara shalat yang satu dan shalat yang berikutnya. Dari ‘Utsman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّى صَلاَةً إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِى تَلِيهَا “Tidaklah seorang muslim memperbagus wudhunya, lantas ia mengerjakan shalat melainkan Allah mengampuni baginya dosa di antara shalat tersebut dan shalat berikutnya.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 227) Baca juga: Keutamaan Shalat Lima Waktu   3. Pelajari fikih safar. Di antaranya yang mesti dipelajari: kapan disebut safar, kapan disebut mukim sehingga boleh menjamak dan mengqashar shalat, cara menjamak shalat, baik dengan jamak takdim dan jamak takhir, cara mengqashar shalat, cara bersuci baik dengan wudhu atau tayamum, cara shalat di kendaraan, yaitu di bus, kapal, kereta, atau pesawat. Baca juga: Aturan Jamak dan Qashar Shalat dari Safinatun Naja   4. Cari makanan yang halal. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا “Sesungguhnya Allah itu thayyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thayyib (baik).” (HR. Muslim, no. 1015) Baca juga: Pengaruh Makanan yang Haram   5. Tetap memperhatikan aturan syariat, misalnya: jangan bermudah-mudahan membuka aurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Dalam hadits disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128) Baca juga: Petaka bagi Muslimah yang Buka-Buka Aurat   6. Perhatikan teman yang membersamai saat berlibur, yaitu teman yang senantiasa mengajak untuk ibadah dan menjauhi maksiat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada kita untuk mencari teman yang baik dengan membuat ibarat berteman dengan pemilik minyak wangi, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa) Baca juga: Pengaruh Treman Bergaul yang Baik Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab, الصَّاحِبُ سَاحِبٌ “ٍSifat sahabat itu bisa saling mempengaruhi.” Baca juga: Manfaat Teman yang Baik   7. Manfaatkan waktu dengan baik. Walau bersafar, tetaplah menjaga dzikir pagi dan petang, serta amalan-amalan saleh lainnya. Karena nikmat waktu akan ditanya, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu)”. (QS At Takaatsur: 8) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, kita banyak lalai ketika sehat dan punya waktu luang sebagaimana disebutkan dalam hadits, نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ “Ada dua kenikmatan yang banyak dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (Muttafaqun ‘alaih) Para ulama mengatakan, الوَقْتُ أَنْفَاس لاَ تَعُوْدُ “Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.” Baca juga: Waktu Laksana Pedang   8. Perhatikan waktu cuti, jangan sampai berlebih melebihi masa cuti karena seorang muslim hendaklah memenuhi perjanjiannya. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَوْفُوا۟ بِٱلْعُقُودِ “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (QS. Al-Maidah: 1) Dalam kaidah fikih disebutkan, الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا “Kaum muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram.”   9. Banyak bersabar dan tahan emosi karena waktu liburan akan banyak berinteraksi dengan orang dengan berbagai macam karakter. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Kiat Bersabar Ketika Disakiti   10. Liburan ke Jogja yuk! Kalau saran kami, liburan ke Jogja saja yuk mengikuti “Rihlah Keluarga Sakinah bersama MT. Shafiyah Shalehah dan Rumaysho”. Insya Allah tips-tips yang disampaikan di atas akan bisa didapatkan semuanya. Rihlah ini terbatas hanya untuk 50 keluarga dan akan dibersamai empat Ustadz: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Ustadz Ammi Nur Baits Ustadz Abu Salma Muhammad Ustadz Erlan Iskandar Tema yang diangkat dari Rihlah Keluarga Sakinah ini adalah seputar permasalahan keluarga, yaitu seni memahami pasangan, menjadi ayah dan ibu yang baik, mengatasi konflik keluarga, dan bagaimana timbul saling cinta di dalam keluarga. Anda bisa berlibur bersama keluarga dan sambil mendapatkan ilmu agama, begitu pula bisa dapat kesempatan konsultasi secara khusus bersama empat pembicara di atas. Bagi yang membawa anak-anak akan ditemani oleh Ustadz Erlan Iskandar dan Tim AMCA. Kenapa memilih liburan ke Jogja? Jogja sendiri memiliki banyak keistimewaan, salah satunya penduduk yang ramah tamah, banyak tempat bersejarah, berbagai universitas di Jogja dijadikan tempat mengenyam pendidikan yang lebih baik, tempat wisatanya mengasyikkan (di antaranya pantai-pantai selatan yang indah), dan beli jajanan di Jogja masih relatif murah dibanding kota lainnya. Dalam rihlah kali ini, para peserta selain gali ilmu, juga akan berkunjung ke Pantai Mesra Gunungkidul dan menikmati menu masakan ndeso (seperti sayur lombok ijo) di Pondok Pesantren Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul (binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal). Masakan tersebut dibuat khusus dari ibu mertua. Baca juga: Rihlah Keluarga Sakinah, 22 – 24 Desember 2023 Info Rihlah Keluarga Sakinah: Bu Partini: 0821 352 58838 Bu Vika: 0812 903 55060   Semoga Allah mudahkan untuk berliburan bersama keluarga. Semoga Allah senantiasa berkahi dan memberi kemudahan.   Tonton Video Tips Liburan Bersama Keluarga oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal    – Selesai ditulis di YIA Kulonprogo, 9 Rabiul Awwal 1445 H, 25 September 2023 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagskeluarga sakinah liburan liburan keluarga rihlah tips liburan


Apa saja tips liburan bersama keluarga agar lebih menyenangkan dan bawa berkah? Daftar Isi tutup 1. TIPS LIBURAN BERSAMA KELUARGA AGAR LEBIH BERKAH 1.1. 1. Sesuaikan isi dompet (jangan sampai berhutang). 1.2. 2. Perhatikan waktu shalat, pilih liburan yang mudah untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu. 1.3. 3. Pelajari fikih safar. 1.4. 4. Cari makanan yang halal. 1.5. 5. Tetap memperhatikan aturan syariat, misalnya: jangan bermudah-mudahan membuka aurat. 1.6. 6. Perhatikan teman yang membersamai saat berlibur, yaitu teman yang senantiasa mengajak untuk ibadah dan menjauhi maksiat. 1.7. 7. Manfaatkan waktu dengan baik. Walau bersafar, tetaplah menjaga dzikir pagi dan petang, serta amalan-amalan saleh lainnya. 1.8. 8. Perhatikan waktu cuti, jangan sampai berlebih melebihi masa cuti karena seorang muslim hendaklah memenuhi perjanjiannya. 1.9. 9. Banyak bersabar dan tahan emosi karena waktu liburan akan banyak berinteraksi dengan orang dengan berbagai macam karakter. 1.10. 10. Liburan ke Jogja yuk! 2. Tonton Video Tips Liburan Bersama Keluarga oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Pertama-tama yang sebaiknya diingat, di balik kesibukan mencari nafkah dan bekerja, hendaklah seorang ayah menyediakan waktu berlibur dengan keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membenarkan apa yang disampaikan oleh Salman pada Abu Darda’ karena Salman melihat Abu Darda’ tidak memperhatikan istri dan keluarganya dengan baik (tidak ada waktu yang diberi untuk keluarga). Nasihat tersebut sebagai berikut, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.” (HR. Bukhari, no. 1968). Artinya, kita diperintahkan untuk membagi waktu dengan bijak, yaitu waktu untuk beribadah kepada Allah, waktu untuk keluarga, dan waktu untuk istirahat badan. Wahai para ayah, sempatkanlah waktu berlibur bersama istri dan anak-anak. Kebersamaan bersama keluarga akan membangun kehangatan, komunikasi yang baik, bahkan akan mengurangi konflik dan kesalahpahaman yang selama ini terjadi.   TIPS LIBURAN BERSAMA KELUARGA AGAR LEBIH BERKAH 1. Sesuaikan isi dompet (jangan sampai berhutang). Allah Ta’ala berfirman, لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath-Thalaq: 7). Ayat ini mengajarkan agar memberi nafkah sesuai kemampuan. Maka berbelanja dan berlibur perhatikanlah kemampuan, bahasa lainnya adalah PERHATIKAN ISI DOMPET. Baca juga: Besaran Nafkah Suami pada Istri dan Keluarga   2. Perhatikan waktu shalat, pilih liburan yang mudah untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu. Semoga dengan rutin menjaga shalat meskipun dalam keadaan safar dan berlibur, Allah menghapus dosa kita antara shalat yang satu dan shalat yang berikutnya. Dari ‘Utsman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّى صَلاَةً إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِى تَلِيهَا “Tidaklah seorang muslim memperbagus wudhunya, lantas ia mengerjakan shalat melainkan Allah mengampuni baginya dosa di antara shalat tersebut dan shalat berikutnya.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 227) Baca juga: Keutamaan Shalat Lima Waktu   3. Pelajari fikih safar. Di antaranya yang mesti dipelajari: kapan disebut safar, kapan disebut mukim sehingga boleh menjamak dan mengqashar shalat, cara menjamak shalat, baik dengan jamak takdim dan jamak takhir, cara mengqashar shalat, cara bersuci baik dengan wudhu atau tayamum, cara shalat di kendaraan, yaitu di bus, kapal, kereta, atau pesawat. Baca juga: Aturan Jamak dan Qashar Shalat dari Safinatun Naja   4. Cari makanan yang halal. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا “Sesungguhnya Allah itu thayyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thayyib (baik).” (HR. Muslim, no. 1015) Baca juga: Pengaruh Makanan yang Haram   5. Tetap memperhatikan aturan syariat, misalnya: jangan bermudah-mudahan membuka aurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Dalam hadits disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128) Baca juga: Petaka bagi Muslimah yang Buka-Buka Aurat   6. Perhatikan teman yang membersamai saat berlibur, yaitu teman yang senantiasa mengajak untuk ibadah dan menjauhi maksiat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada kita untuk mencari teman yang baik dengan membuat ibarat berteman dengan pemilik minyak wangi, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa) Baca juga: Pengaruh Treman Bergaul yang Baik Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab, الصَّاحِبُ سَاحِبٌ “ٍSifat sahabat itu bisa saling mempengaruhi.” Baca juga: Manfaat Teman yang Baik   7. Manfaatkan waktu dengan baik. Walau bersafar, tetaplah menjaga dzikir pagi dan petang, serta amalan-amalan saleh lainnya. Karena nikmat waktu akan ditanya, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu)”. (QS At Takaatsur: 8) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, kita banyak lalai ketika sehat dan punya waktu luang sebagaimana disebutkan dalam hadits, نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ “Ada dua kenikmatan yang banyak dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (Muttafaqun ‘alaih) Para ulama mengatakan, الوَقْتُ أَنْفَاس لاَ تَعُوْدُ “Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.” Baca juga: Waktu Laksana Pedang   8. Perhatikan waktu cuti, jangan sampai berlebih melebihi masa cuti karena seorang muslim hendaklah memenuhi perjanjiannya. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَوْفُوا۟ بِٱلْعُقُودِ “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (QS. Al-Maidah: 1) Dalam kaidah fikih disebutkan, الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا “Kaum muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram.”   9. Banyak bersabar dan tahan emosi karena waktu liburan akan banyak berinteraksi dengan orang dengan berbagai macam karakter. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Kiat Bersabar Ketika Disakiti   10. Liburan ke Jogja yuk! Kalau saran kami, liburan ke Jogja saja yuk mengikuti “Rihlah Keluarga Sakinah bersama MT. Shafiyah Shalehah dan Rumaysho”. Insya Allah tips-tips yang disampaikan di atas akan bisa didapatkan semuanya. Rihlah ini terbatas hanya untuk 50 keluarga dan akan dibersamai empat Ustadz: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Ustadz Ammi Nur Baits Ustadz Abu Salma Muhammad Ustadz Erlan Iskandar Tema yang diangkat dari Rihlah Keluarga Sakinah ini adalah seputar permasalahan keluarga, yaitu seni memahami pasangan, menjadi ayah dan ibu yang baik, mengatasi konflik keluarga, dan bagaimana timbul saling cinta di dalam keluarga. Anda bisa berlibur bersama keluarga dan sambil mendapatkan ilmu agama, begitu pula bisa dapat kesempatan konsultasi secara khusus bersama empat pembicara di atas. Bagi yang membawa anak-anak akan ditemani oleh Ustadz Erlan Iskandar dan Tim AMCA. Kenapa memilih liburan ke Jogja? Jogja sendiri memiliki banyak keistimewaan, salah satunya penduduk yang ramah tamah, banyak tempat bersejarah, berbagai universitas di Jogja dijadikan tempat mengenyam pendidikan yang lebih baik, tempat wisatanya mengasyikkan (di antaranya pantai-pantai selatan yang indah), dan beli jajanan di Jogja masih relatif murah dibanding kota lainnya. Dalam rihlah kali ini, para peserta selain gali ilmu, juga akan berkunjung ke Pantai Mesra Gunungkidul dan menikmati menu masakan ndeso (seperti sayur lombok ijo) di Pondok Pesantren Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul (binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal). Masakan tersebut dibuat khusus dari ibu mertua. Baca juga: Rihlah Keluarga Sakinah, 22 – 24 Desember 2023 Info Rihlah Keluarga Sakinah: Bu Partini: 0821 352 58838 Bu Vika: 0812 903 55060   Semoga Allah mudahkan untuk berliburan bersama keluarga. Semoga Allah senantiasa berkahi dan memberi kemudahan.   Tonton Video Tips Liburan Bersama Keluarga oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal <span style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" data-mce-type="bookmark" class="mce_SELRES_start"></span>   – Selesai ditulis di YIA Kulonprogo, 9 Rabiul Awwal 1445 H, 25 September 2023 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagskeluarga sakinah liburan liburan keluarga rihlah tips liburan

Hukum Anak Kecil Menjadi Imam Shalat, Sahkah?

Bagaimana jika anak kecil (sudah tamyiz), tetapi belum baligh, apakah boleh menjadi imam shalat berjamaah?   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #411 4. Imam Anak Kecil Belum Baligh 5. Faedah hadits 5.1. Referensi: Hadits #411 Imam Anak Kecil Belum Baligh عَنْ عَمْرو بْنِ سَلِمَةَ قَالَ: قَالَ أَبِي: جِئْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقّاً،قَالَ: «فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآناً»، قَالَ: فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآناً مِنِّي، فَقَدَّمُونِي، وَأَنَا ابْنُ سِتِّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ. Dari ‘Amr bin Salimah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa bapaknya berkata, “Aku sampaikan sesuatu yang benar-benar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bila waktu shalat telah datang, maka hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan azan dan hendaknya orang yang paling banyak menghafal Al-Qur’an di antara kalian menjadi imam.” Amr berkata, “Lalu mereka memeriksa dan tidak ada seorang pun yang lebih banyak menghafal Al-Qur’an melebihi diriku. Kemudian mereka menyarankan padaku untuk maju menjadi imam, padahal usiaku masih enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari, Abu Daud, dan An-Nasai) [HR. Bukhari, no. 4302; Abu Daud, no. 585; An-Nasai, 2:80].   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa yang lebih banyak hafalan Al-Qur’an lebih didahulukan menjadi imam. Aqra’ dalam hadits lainnya yang dimaksudkan adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Namun, Imam Syafii rahimahullah mengatakan al-aqra’ dari kalangan sahabat adalah yang paling fakih. Urutan yang menjadi imam dalam madzhab Syafii: (1) yang paling fakih, (2) yang paling banyak hafalan, (3) yang paling wara’, (4) yang paling tua, (5) yang paling baik nasabnya, (6) yang paling bagus penyebutannya, (7) yang paling bersih bajunya, (8) yang paling bagus suaranya, (9) yang paling bagus akhlaknya, (10) yang paling bagus wajahnya. Namun, jika di masjid ada imam tetap, maka ia lebih didahulukan. Lihat Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii, hlm. 107. Anak kecil sah menjadi imam dalam shalat fardhu jika memang ia pandai membaca Al-Qur’an, ia memahami Al-Qur’an, dan sudah tamyiz. Anak kecil boleh mengimami orang dewasa dan yang berusia tua. Namun, imam anak kecil yang memimpin kaum baligh/ dewasa itu khilaful awla (menyelisihi hal yang utama). Menjadi imam lebih utama daripada menjadi muazin. Karena muazin tidak diberikan syarat tertentu.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:397-400. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:27-28. Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Hlm. 107.   Baca juga: Kenapa Shalat Berjamaah Berpahala 27 Derajat? Hukum Anak Kecil Naik Haji Aturan Shalat Berjamaah dari Safinatun Naja       Diselesaikan pada Malam Senin, 9 Rabiul Awwal 1445 H, 24 September 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsanak kecil anak kecil menjadi imam shalat bulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam hukum shalat berjamaah imam shalat keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid

Hukum Anak Kecil Menjadi Imam Shalat, Sahkah?

Bagaimana jika anak kecil (sudah tamyiz), tetapi belum baligh, apakah boleh menjadi imam shalat berjamaah?   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #411 4. Imam Anak Kecil Belum Baligh 5. Faedah hadits 5.1. Referensi: Hadits #411 Imam Anak Kecil Belum Baligh عَنْ عَمْرو بْنِ سَلِمَةَ قَالَ: قَالَ أَبِي: جِئْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقّاً،قَالَ: «فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآناً»، قَالَ: فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآناً مِنِّي، فَقَدَّمُونِي، وَأَنَا ابْنُ سِتِّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ. Dari ‘Amr bin Salimah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa bapaknya berkata, “Aku sampaikan sesuatu yang benar-benar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bila waktu shalat telah datang, maka hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan azan dan hendaknya orang yang paling banyak menghafal Al-Qur’an di antara kalian menjadi imam.” Amr berkata, “Lalu mereka memeriksa dan tidak ada seorang pun yang lebih banyak menghafal Al-Qur’an melebihi diriku. Kemudian mereka menyarankan padaku untuk maju menjadi imam, padahal usiaku masih enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari, Abu Daud, dan An-Nasai) [HR. Bukhari, no. 4302; Abu Daud, no. 585; An-Nasai, 2:80].   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa yang lebih banyak hafalan Al-Qur’an lebih didahulukan menjadi imam. Aqra’ dalam hadits lainnya yang dimaksudkan adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Namun, Imam Syafii rahimahullah mengatakan al-aqra’ dari kalangan sahabat adalah yang paling fakih. Urutan yang menjadi imam dalam madzhab Syafii: (1) yang paling fakih, (2) yang paling banyak hafalan, (3) yang paling wara’, (4) yang paling tua, (5) yang paling baik nasabnya, (6) yang paling bagus penyebutannya, (7) yang paling bersih bajunya, (8) yang paling bagus suaranya, (9) yang paling bagus akhlaknya, (10) yang paling bagus wajahnya. Namun, jika di masjid ada imam tetap, maka ia lebih didahulukan. Lihat Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii, hlm. 107. Anak kecil sah menjadi imam dalam shalat fardhu jika memang ia pandai membaca Al-Qur’an, ia memahami Al-Qur’an, dan sudah tamyiz. Anak kecil boleh mengimami orang dewasa dan yang berusia tua. Namun, imam anak kecil yang memimpin kaum baligh/ dewasa itu khilaful awla (menyelisihi hal yang utama). Menjadi imam lebih utama daripada menjadi muazin. Karena muazin tidak diberikan syarat tertentu.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:397-400. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:27-28. Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Hlm. 107.   Baca juga: Kenapa Shalat Berjamaah Berpahala 27 Derajat? Hukum Anak Kecil Naik Haji Aturan Shalat Berjamaah dari Safinatun Naja       Diselesaikan pada Malam Senin, 9 Rabiul Awwal 1445 H, 24 September 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsanak kecil anak kecil menjadi imam shalat bulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam hukum shalat berjamaah imam shalat keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid
Bagaimana jika anak kecil (sudah tamyiz), tetapi belum baligh, apakah boleh menjadi imam shalat berjamaah?   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #411 4. Imam Anak Kecil Belum Baligh 5. Faedah hadits 5.1. Referensi: Hadits #411 Imam Anak Kecil Belum Baligh عَنْ عَمْرو بْنِ سَلِمَةَ قَالَ: قَالَ أَبِي: جِئْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقّاً،قَالَ: «فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآناً»، قَالَ: فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآناً مِنِّي، فَقَدَّمُونِي، وَأَنَا ابْنُ سِتِّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ. Dari ‘Amr bin Salimah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa bapaknya berkata, “Aku sampaikan sesuatu yang benar-benar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bila waktu shalat telah datang, maka hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan azan dan hendaknya orang yang paling banyak menghafal Al-Qur’an di antara kalian menjadi imam.” Amr berkata, “Lalu mereka memeriksa dan tidak ada seorang pun yang lebih banyak menghafal Al-Qur’an melebihi diriku. Kemudian mereka menyarankan padaku untuk maju menjadi imam, padahal usiaku masih enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari, Abu Daud, dan An-Nasai) [HR. Bukhari, no. 4302; Abu Daud, no. 585; An-Nasai, 2:80].   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa yang lebih banyak hafalan Al-Qur’an lebih didahulukan menjadi imam. Aqra’ dalam hadits lainnya yang dimaksudkan adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Namun, Imam Syafii rahimahullah mengatakan al-aqra’ dari kalangan sahabat adalah yang paling fakih. Urutan yang menjadi imam dalam madzhab Syafii: (1) yang paling fakih, (2) yang paling banyak hafalan, (3) yang paling wara’, (4) yang paling tua, (5) yang paling baik nasabnya, (6) yang paling bagus penyebutannya, (7) yang paling bersih bajunya, (8) yang paling bagus suaranya, (9) yang paling bagus akhlaknya, (10) yang paling bagus wajahnya. Namun, jika di masjid ada imam tetap, maka ia lebih didahulukan. Lihat Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii, hlm. 107. Anak kecil sah menjadi imam dalam shalat fardhu jika memang ia pandai membaca Al-Qur’an, ia memahami Al-Qur’an, dan sudah tamyiz. Anak kecil boleh mengimami orang dewasa dan yang berusia tua. Namun, imam anak kecil yang memimpin kaum baligh/ dewasa itu khilaful awla (menyelisihi hal yang utama). Menjadi imam lebih utama daripada menjadi muazin. Karena muazin tidak diberikan syarat tertentu.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:397-400. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:27-28. Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Hlm. 107.   Baca juga: Kenapa Shalat Berjamaah Berpahala 27 Derajat? Hukum Anak Kecil Naik Haji Aturan Shalat Berjamaah dari Safinatun Naja       Diselesaikan pada Malam Senin, 9 Rabiul Awwal 1445 H, 24 September 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsanak kecil anak kecil menjadi imam shalat bulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam hukum shalat berjamaah imam shalat keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid


Bagaimana jika anak kecil (sudah tamyiz), tetapi belum baligh, apakah boleh menjadi imam shalat berjamaah?   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #411 4. Imam Anak Kecil Belum Baligh 5. Faedah hadits 5.1. Referensi: Hadits #411 Imam Anak Kecil Belum Baligh عَنْ عَمْرو بْنِ سَلِمَةَ قَالَ: قَالَ أَبِي: جِئْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقّاً،قَالَ: «فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآناً»، قَالَ: فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآناً مِنِّي، فَقَدَّمُونِي، وَأَنَا ابْنُ سِتِّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ. Dari ‘Amr bin Salimah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa bapaknya berkata, “Aku sampaikan sesuatu yang benar-benar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bila waktu shalat telah datang, maka hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan azan dan hendaknya orang yang paling banyak menghafal Al-Qur’an di antara kalian menjadi imam.” Amr berkata, “Lalu mereka memeriksa dan tidak ada seorang pun yang lebih banyak menghafal Al-Qur’an melebihi diriku. Kemudian mereka menyarankan padaku untuk maju menjadi imam, padahal usiaku masih enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari, Abu Daud, dan An-Nasai) [HR. Bukhari, no. 4302; Abu Daud, no. 585; An-Nasai, 2:80].   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa yang lebih banyak hafalan Al-Qur’an lebih didahulukan menjadi imam. Aqra’ dalam hadits lainnya yang dimaksudkan adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Namun, Imam Syafii rahimahullah mengatakan al-aqra’ dari kalangan sahabat adalah yang paling fakih. Urutan yang menjadi imam dalam madzhab Syafii: (1) yang paling fakih, (2) yang paling banyak hafalan, (3) yang paling wara’, (4) yang paling tua, (5) yang paling baik nasabnya, (6) yang paling bagus penyebutannya, (7) yang paling bersih bajunya, (8) yang paling bagus suaranya, (9) yang paling bagus akhlaknya, (10) yang paling bagus wajahnya. Namun, jika di masjid ada imam tetap, maka ia lebih didahulukan. Lihat Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii, hlm. 107. Anak kecil sah menjadi imam dalam shalat fardhu jika memang ia pandai membaca Al-Qur’an, ia memahami Al-Qur’an, dan sudah tamyiz. Anak kecil boleh mengimami orang dewasa dan yang berusia tua. Namun, imam anak kecil yang memimpin kaum baligh/ dewasa itu khilaful awla (menyelisihi hal yang utama). Menjadi imam lebih utama daripada menjadi muazin. Karena muazin tidak diberikan syarat tertentu.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:397-400. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:27-28. Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Hlm. 107.   Baca juga: Kenapa Shalat Berjamaah Berpahala 27 Derajat? Hukum Anak Kecil Naik Haji Aturan Shalat Berjamaah dari Safinatun Naja       Diselesaikan pada Malam Senin, 9 Rabiul Awwal 1445 H, 24 September 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsanak kecil anak kecil menjadi imam shalat bulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam hukum shalat berjamaah imam shalat keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid

Inilah Alasan Kenapa Sebaiknya Imam Memperingan Shalat Berjamaah

Apa alasan kenapa sebaiknya Imam memperingan shalat berjamaah?   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #410 3.1. Faedah hadits 3.1.1. Referensi: Hadits #410 ـ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمُ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهمُ الصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الحَاجَةِ، فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang hendaknya ia memperingan shalatnya karena sesungguhnya di antara mereka ada anak kecil, orang dewasa, orang yang lemah, dan orang yang punya hajat duniawi. Bila ia shalat sendiri, maka ia silakan shalat sekehendaknya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 703 dan Muslim, no. 467]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil, hendaklah imam memperingan shalat dengan tetap memperhatikan sunnah-sunnah shalat. Jika shalat sendirian, silakan memperlama shalat semaunya dengan memperlama bacaan, rukuk, sujud, dan tasyahud. Adapun iktidal dan duduk di antara dua sujud tidak dibuat lama karena bukanlah bagian yang diperintahkan untuk lama. Hendaklah tidak memperlama bacaan sampai mengakibatkan shalat dikerjakan keluar dari waktunya. Memperlama bacaan termasuk maslahat, sedangkan mengerjakan shalat sampai keluar waktunya adalah mafsadat. Meninggalkan mafsadat dalam hal ini lebih utama. Dalam kaidah fikih disebutkan: دَرْأُ المَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ المَصَالِحِ “Menghindari mafsadat (mudarat) lebih didahulukan daripada mengambil maslahat (manfaat).” Baca juga: Jika Dua Maslahat dan Mafsadat Bertabrakan   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:393-396. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:29-30.   Baca juga: Kenapa Shalat Berjamaah Berpahala 27 Derajat? Yang Lebih Duduk, Itulah yang Lebih Berhak Aturan Shalat Berjamaah dari Safinatun Naja       Diselesaikan pada Malam Senin, 9 Rabiul Awwal 1445 H, 24 September 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid

Inilah Alasan Kenapa Sebaiknya Imam Memperingan Shalat Berjamaah

Apa alasan kenapa sebaiknya Imam memperingan shalat berjamaah?   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #410 3.1. Faedah hadits 3.1.1. Referensi: Hadits #410 ـ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمُ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهمُ الصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الحَاجَةِ، فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang hendaknya ia memperingan shalatnya karena sesungguhnya di antara mereka ada anak kecil, orang dewasa, orang yang lemah, dan orang yang punya hajat duniawi. Bila ia shalat sendiri, maka ia silakan shalat sekehendaknya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 703 dan Muslim, no. 467]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil, hendaklah imam memperingan shalat dengan tetap memperhatikan sunnah-sunnah shalat. Jika shalat sendirian, silakan memperlama shalat semaunya dengan memperlama bacaan, rukuk, sujud, dan tasyahud. Adapun iktidal dan duduk di antara dua sujud tidak dibuat lama karena bukanlah bagian yang diperintahkan untuk lama. Hendaklah tidak memperlama bacaan sampai mengakibatkan shalat dikerjakan keluar dari waktunya. Memperlama bacaan termasuk maslahat, sedangkan mengerjakan shalat sampai keluar waktunya adalah mafsadat. Meninggalkan mafsadat dalam hal ini lebih utama. Dalam kaidah fikih disebutkan: دَرْأُ المَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ المَصَالِحِ “Menghindari mafsadat (mudarat) lebih didahulukan daripada mengambil maslahat (manfaat).” Baca juga: Jika Dua Maslahat dan Mafsadat Bertabrakan   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:393-396. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:29-30.   Baca juga: Kenapa Shalat Berjamaah Berpahala 27 Derajat? Yang Lebih Duduk, Itulah yang Lebih Berhak Aturan Shalat Berjamaah dari Safinatun Naja       Diselesaikan pada Malam Senin, 9 Rabiul Awwal 1445 H, 24 September 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid
Apa alasan kenapa sebaiknya Imam memperingan shalat berjamaah?   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #410 3.1. Faedah hadits 3.1.1. Referensi: Hadits #410 ـ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمُ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهمُ الصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الحَاجَةِ، فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang hendaknya ia memperingan shalatnya karena sesungguhnya di antara mereka ada anak kecil, orang dewasa, orang yang lemah, dan orang yang punya hajat duniawi. Bila ia shalat sendiri, maka ia silakan shalat sekehendaknya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 703 dan Muslim, no. 467]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil, hendaklah imam memperingan shalat dengan tetap memperhatikan sunnah-sunnah shalat. Jika shalat sendirian, silakan memperlama shalat semaunya dengan memperlama bacaan, rukuk, sujud, dan tasyahud. Adapun iktidal dan duduk di antara dua sujud tidak dibuat lama karena bukanlah bagian yang diperintahkan untuk lama. Hendaklah tidak memperlama bacaan sampai mengakibatkan shalat dikerjakan keluar dari waktunya. Memperlama bacaan termasuk maslahat, sedangkan mengerjakan shalat sampai keluar waktunya adalah mafsadat. Meninggalkan mafsadat dalam hal ini lebih utama. Dalam kaidah fikih disebutkan: دَرْأُ المَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ المَصَالِحِ “Menghindari mafsadat (mudarat) lebih didahulukan daripada mengambil maslahat (manfaat).” Baca juga: Jika Dua Maslahat dan Mafsadat Bertabrakan   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:393-396. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:29-30.   Baca juga: Kenapa Shalat Berjamaah Berpahala 27 Derajat? Yang Lebih Duduk, Itulah yang Lebih Berhak Aturan Shalat Berjamaah dari Safinatun Naja       Diselesaikan pada Malam Senin, 9 Rabiul Awwal 1445 H, 24 September 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid


Apa alasan kenapa sebaiknya Imam memperingan shalat berjamaah?   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #410 3.1. Faedah hadits 3.1.1. Referensi: Hadits #410 ـ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمُ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهمُ الصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الحَاجَةِ، فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang hendaknya ia memperingan shalatnya karena sesungguhnya di antara mereka ada anak kecil, orang dewasa, orang yang lemah, dan orang yang punya hajat duniawi. Bila ia shalat sendiri, maka ia silakan shalat sekehendaknya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 703 dan Muslim, no. 467]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil, hendaklah imam memperingan shalat dengan tetap memperhatikan sunnah-sunnah shalat. Jika shalat sendirian, silakan memperlama shalat semaunya dengan memperlama bacaan, rukuk, sujud, dan tasyahud. Adapun iktidal dan duduk di antara dua sujud tidak dibuat lama karena bukanlah bagian yang diperintahkan untuk lama. Hendaklah tidak memperlama bacaan sampai mengakibatkan shalat dikerjakan keluar dari waktunya. Memperlama bacaan termasuk maslahat, sedangkan mengerjakan shalat sampai keluar waktunya adalah mafsadat. Meninggalkan mafsadat dalam hal ini lebih utama. Dalam kaidah fikih disebutkan: دَرْأُ المَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ المَصَالِحِ “Menghindari mafsadat (mudarat) lebih didahulukan daripada mengambil maslahat (manfaat).” Baca juga: Jika Dua Maslahat dan Mafsadat Bertabrakan   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:393-396. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:29-30.   Baca juga: Kenapa Shalat Berjamaah Berpahala 27 Derajat? Yang Lebih Duduk, Itulah yang Lebih Berhak Aturan Shalat Berjamaah dari Safinatun Naja       Diselesaikan pada Malam Senin, 9 Rabiul Awwal 1445 H, 24 September 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid

Metode Dakwah untuk Orang Awam

Dakwah merupakan amalan yang agung di dalam Islam. Tidaklah setiap rasul yang diutus di muka bumi, melainkan mereka mengemban amanah yang mulia ini. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla, ۞ شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ وَمَا تَفَرَّقُوْٓا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَّبِّكَ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى لَّقُضِيَ بَيْنَهُمْۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْرِثُوا الْكِتٰبَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيْبٍ فَلِذٰلِكَ فَادْعُ ۚوَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْۚ وَقُلْ اٰمَنْتُ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنْ كِتٰبٍۚ وَاُمِرْتُ لِاَعْدِلَ بَيْنَكُمْ ۗ اَللّٰهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۗ لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۗ لَاحُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ ۗ اَللّٰهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۚوَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ ۗ “Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga) kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: ‘Tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.’ Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya). Mereka (Ahlul kitab) tidak berpecah-belah, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (tentang kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Seandainya tidak karena suatu ketetapan yang telah terlebih dahulu ada dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Sesungguhnya orang-orang yang mewarisi kitab suci (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Nabi Muhammad) benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentangnya (Al-Qur’an) itu. Oleh karena itu, serulah (mereka untuk beriman), tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Nabi Muhammad), dan janganlah mengikuti keinginan mereka. Katakanlah, ‘Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagimu perbuatanmu. Tidak (perlu) ada pertengkaran di antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali.’” (QS. Asy-Syura: 13-15) Begitu pun dalam firman Allah ‘Azza Wajalla, لِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوْهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِى الْاَمْرِ وَادْعُ اِلٰى رَبِّكَۗ اِنَّكَ لَعَلٰى هُدًى مُّسْتَقِيْمٍ وَاِنْ جَادَلُوْكَ فَقُلِ اللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ اَللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ “Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang (harus) mereka amalkan. Mereka sekali-kali tidak boleh membantahmu (Nabi Muhammad) dalam urusan (syariat) itu dan serulah (mereka) kepada Tuhanmu. Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar berada di atas petunjuk yang lurus. Jika mereka membantahmu, katakanlah, ‘Allah lebih tahu tentang apa yang kamu kerjakan.’ Allah akan memutuskan di antara kamu pada hari Kiamat apa yang selalu kamu perselisihkan. Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya hal itu sudah terdapat dalam Kitab (Lauhul mahfuz). Sesungguhnya yang demikian sangat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 67-70) Syekh Abdurrahman As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan, ولهذا أمر الله رسوله أن يدعو إلى ربه بالحكمة والموعظة الحسنة، ويمضي على ذلك، سواء اعترض المعترضون أم لا وأنه لا ينبغي أن يثنيك عن الدعوة شيء “Oleh karenanya, Allah memerintahkan Rasul-Nya agar menyeru manusia kepada Allah dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Dan biarkan apapun yang terjadi setelahnya. Entah orang-orang yang ingkar menolaknya atau tidak. Hendaknya semua hal yang terjadi di dalam dakwah ini tidak menggentarkanmu sedikit pun.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 545) Dan berdakwah merupakan perbuatan yang mulia yang langsung dipuji oleh Allah ‘Azza Wajalla dalam Al-Qur’an, وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri).’?” (QS. Fusshilat: 33) Syekh Abdurrahman As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan, لا أحد أحسن قولا. أي: كلامًا وطريقة، وحالة {مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ} بتعليم الجاهلين، ووعظ الغافلين والمعرضين، ومجادلة المبطلين، بالأمر بعبادة الله، بجميع أنواعها، والحث عليها، وتحسينها مهما أمكن، والزجر عما نهى الله عنه، وتقبيحه بكل طريق يوجب تركه، خصوصًا من هذه الدعوة إلى أصل دين الإسلام وتحسينه، ومجادلة أعدائه بالتي هي أحسن، والنهي عما يضاده من الكفر والشرك، والأمر بالمعروف، والنهي عن المنكر “Tidak ada yang lebih baik ucapan dan gerak-geriknya melebihi orang-orang yang menyeru manusia ke jalan Rabbnya dengan mengajarkan kepada mereka yang tidak tahu urusan agama, memperingatkan mereka yang lalai, mendebat mereka yang mengingkari, memerintahkan manusia dan memotivasi mereka untuk beribadah kepada Allah. Dan terus memperbaikinya tanpa lelah. Melarang dari berbuat yang dilarang Allah, berusaha menampakkan betapa buruknya perkara yang diharamkan Allah agar manusia meninggalkannya dan kembali ke jalan Islam. Serta mendebat musuh-musuh Islam dengan cara yang baik, melarang perbuatan-perbuatan yang berseberangan dengan nilai Islam, seperti kekufuran dan kesyirikan, mengajak kepada yang makruf, dan melarang dari kemungkaran.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 749) Begitu pun disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bahwa mengajak satu orang saja kepada kebaikan itu lebih baik dibandingkan kendaraan yang paling megah sekalipun, فواللهِ لأنْ يهْدي اللهُ بك رجلًا واحدًا خيرٌ لك من أنْ يكونَ لك حُمرِ النعمِ “Demi Allah! Jika ada seseorang yang Allah berikan petunjuk dengan sebab engkau, niscaya itu lebih baik bagimu melebihi unta merah.” (HR. Muslim no. 2406) Namun, tentu saja berdakwah tidak dengan sembarang cara. Terlebih kepada orang-orang awam yang belum banyak mengerti tentang masalah agama. Mengilmui kondisi mereka dan bagaimana cara mendakwahinya adalah salah satu hal yang wajib dikuasai oleh seorang dai. Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu, والبصيرة تكون فيما يدعو إليه بأن يكون الداعية عالماً بالحكم الشرعي، وفي كيفية الدعوة، وفي حال ‌المدعو “Termasuk di antara bashirah (kecakapan) seseorang dalam berdakwah adalah mengilmui tentang konten dakwah, yaitu hukum syar’i, tentang bagaimana cara berdakwah, dan tentang kondisi objek dakwah.” (Syarh Al-Ushul Al-Tsalatsah, hal. 22) Baca juga: Langkah-Langkah Praktis Mengetahui Hadits Shahih Bagi Orang Awam Lantas, bagaimana cara mendakwahi masyarakat yang masih awam kepada kebaikan? Syekh Rabi bin Hadi Al-Madkhali rahimahullahu pernah ditanya pertanyaan yang mirip dan beliau menjawab, الله وضع لنا منهجاً للدعوة إلى إليه، الله قال لنبيه : { ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ } [النحل:١٢٥] الدعوة إلى الله بالحكمة، والحكمة هي العلم والبيان والحجة فتدعو بالعلم وبالأخلاق الطيبة وبالرفق واللين، العامي وغير العامي، لكن العامي أكثر تقبلاً، وقد يقبل منك الحق بدون مجادلة، فإن احتاج إلى مجادلة، كان عنده شيء من المناعة، شيء من التعلق بالباطل فجادله بالتي هي أحسن : { وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (٣٥) } [فصلت:٣٤-٣٥]، فما يعطى هذه الحكمة إلاّ ذو حظ عظيم . “Allah sudah menentukan tata cara untuk berdakwah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla kepada Nabi-Nya, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125) (Di dalam ayat ini disebutkan) bahwa berdakwah kepada Allah dilakukan dengan cara yang hikmah. Yang dimaksud hikmah adalah dakwah dengan disertai ilmu, akhlak yang terpuji, lemah lembut, baik untuk orang awam maupun yang tidak awam. Bahkan, seringkali yang awam lebih mudah menerima dibandingkan yang lainnya. Mereka akan menerima penjelasan darimu tanpa banyak mendebat. Tetapi, jika memang butuh untuk diadakan debat, karena ada sedikit sanggahan dari mereka, karena kebiasaannya berinteraksi dengan kebatilan, maka debatlah mereka dengan cara yang baik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ “Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia. (Sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan, kecuali kepada orang-orang yang sabar; dan tidak (pula) dianugerahkan, kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fusshilat: 34-35) Perhatikan, bahwa tidaklah Allah memberikan sikap hikmah dalam berdakwah ini, kecuali itulah pertanda bahwa dai tersebut telah mendapatkan keberuntungan yang teramat besar.” (Dikutip dari laman اقوال ومقالات الشيخ ربيع المدخلي) Semoga Allah limpahkan ilmu dan akhlak yang baik kepada kita, sehingga orang awam tergerak mengamalkan kebaikan karena melihat contoh yang baik pula. Barakallahu fikum. Baca juga: Sikap Terbaik Terhadap Orang Awam *** Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.id Tags: metode dakwahmetode dakwah nabiorang awam

Metode Dakwah untuk Orang Awam

Dakwah merupakan amalan yang agung di dalam Islam. Tidaklah setiap rasul yang diutus di muka bumi, melainkan mereka mengemban amanah yang mulia ini. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla, ۞ شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ وَمَا تَفَرَّقُوْٓا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَّبِّكَ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى لَّقُضِيَ بَيْنَهُمْۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْرِثُوا الْكِتٰبَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيْبٍ فَلِذٰلِكَ فَادْعُ ۚوَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْۚ وَقُلْ اٰمَنْتُ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنْ كِتٰبٍۚ وَاُمِرْتُ لِاَعْدِلَ بَيْنَكُمْ ۗ اَللّٰهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۗ لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۗ لَاحُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ ۗ اَللّٰهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۚوَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ ۗ “Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga) kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: ‘Tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.’ Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya). Mereka (Ahlul kitab) tidak berpecah-belah, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (tentang kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Seandainya tidak karena suatu ketetapan yang telah terlebih dahulu ada dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Sesungguhnya orang-orang yang mewarisi kitab suci (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Nabi Muhammad) benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentangnya (Al-Qur’an) itu. Oleh karena itu, serulah (mereka untuk beriman), tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Nabi Muhammad), dan janganlah mengikuti keinginan mereka. Katakanlah, ‘Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagimu perbuatanmu. Tidak (perlu) ada pertengkaran di antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali.’” (QS. Asy-Syura: 13-15) Begitu pun dalam firman Allah ‘Azza Wajalla, لِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوْهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِى الْاَمْرِ وَادْعُ اِلٰى رَبِّكَۗ اِنَّكَ لَعَلٰى هُدًى مُّسْتَقِيْمٍ وَاِنْ جَادَلُوْكَ فَقُلِ اللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ اَللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ “Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang (harus) mereka amalkan. Mereka sekali-kali tidak boleh membantahmu (Nabi Muhammad) dalam urusan (syariat) itu dan serulah (mereka) kepada Tuhanmu. Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar berada di atas petunjuk yang lurus. Jika mereka membantahmu, katakanlah, ‘Allah lebih tahu tentang apa yang kamu kerjakan.’ Allah akan memutuskan di antara kamu pada hari Kiamat apa yang selalu kamu perselisihkan. Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya hal itu sudah terdapat dalam Kitab (Lauhul mahfuz). Sesungguhnya yang demikian sangat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 67-70) Syekh Abdurrahman As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan, ولهذا أمر الله رسوله أن يدعو إلى ربه بالحكمة والموعظة الحسنة، ويمضي على ذلك، سواء اعترض المعترضون أم لا وأنه لا ينبغي أن يثنيك عن الدعوة شيء “Oleh karenanya, Allah memerintahkan Rasul-Nya agar menyeru manusia kepada Allah dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Dan biarkan apapun yang terjadi setelahnya. Entah orang-orang yang ingkar menolaknya atau tidak. Hendaknya semua hal yang terjadi di dalam dakwah ini tidak menggentarkanmu sedikit pun.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 545) Dan berdakwah merupakan perbuatan yang mulia yang langsung dipuji oleh Allah ‘Azza Wajalla dalam Al-Qur’an, وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri).’?” (QS. Fusshilat: 33) Syekh Abdurrahman As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan, لا أحد أحسن قولا. أي: كلامًا وطريقة، وحالة {مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ} بتعليم الجاهلين، ووعظ الغافلين والمعرضين، ومجادلة المبطلين، بالأمر بعبادة الله، بجميع أنواعها، والحث عليها، وتحسينها مهما أمكن، والزجر عما نهى الله عنه، وتقبيحه بكل طريق يوجب تركه، خصوصًا من هذه الدعوة إلى أصل دين الإسلام وتحسينه، ومجادلة أعدائه بالتي هي أحسن، والنهي عما يضاده من الكفر والشرك، والأمر بالمعروف، والنهي عن المنكر “Tidak ada yang lebih baik ucapan dan gerak-geriknya melebihi orang-orang yang menyeru manusia ke jalan Rabbnya dengan mengajarkan kepada mereka yang tidak tahu urusan agama, memperingatkan mereka yang lalai, mendebat mereka yang mengingkari, memerintahkan manusia dan memotivasi mereka untuk beribadah kepada Allah. Dan terus memperbaikinya tanpa lelah. Melarang dari berbuat yang dilarang Allah, berusaha menampakkan betapa buruknya perkara yang diharamkan Allah agar manusia meninggalkannya dan kembali ke jalan Islam. Serta mendebat musuh-musuh Islam dengan cara yang baik, melarang perbuatan-perbuatan yang berseberangan dengan nilai Islam, seperti kekufuran dan kesyirikan, mengajak kepada yang makruf, dan melarang dari kemungkaran.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 749) Begitu pun disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bahwa mengajak satu orang saja kepada kebaikan itu lebih baik dibandingkan kendaraan yang paling megah sekalipun, فواللهِ لأنْ يهْدي اللهُ بك رجلًا واحدًا خيرٌ لك من أنْ يكونَ لك حُمرِ النعمِ “Demi Allah! Jika ada seseorang yang Allah berikan petunjuk dengan sebab engkau, niscaya itu lebih baik bagimu melebihi unta merah.” (HR. Muslim no. 2406) Namun, tentu saja berdakwah tidak dengan sembarang cara. Terlebih kepada orang-orang awam yang belum banyak mengerti tentang masalah agama. Mengilmui kondisi mereka dan bagaimana cara mendakwahinya adalah salah satu hal yang wajib dikuasai oleh seorang dai. Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu, والبصيرة تكون فيما يدعو إليه بأن يكون الداعية عالماً بالحكم الشرعي، وفي كيفية الدعوة، وفي حال ‌المدعو “Termasuk di antara bashirah (kecakapan) seseorang dalam berdakwah adalah mengilmui tentang konten dakwah, yaitu hukum syar’i, tentang bagaimana cara berdakwah, dan tentang kondisi objek dakwah.” (Syarh Al-Ushul Al-Tsalatsah, hal. 22) Baca juga: Langkah-Langkah Praktis Mengetahui Hadits Shahih Bagi Orang Awam Lantas, bagaimana cara mendakwahi masyarakat yang masih awam kepada kebaikan? Syekh Rabi bin Hadi Al-Madkhali rahimahullahu pernah ditanya pertanyaan yang mirip dan beliau menjawab, الله وضع لنا منهجاً للدعوة إلى إليه، الله قال لنبيه : { ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ } [النحل:١٢٥] الدعوة إلى الله بالحكمة، والحكمة هي العلم والبيان والحجة فتدعو بالعلم وبالأخلاق الطيبة وبالرفق واللين، العامي وغير العامي، لكن العامي أكثر تقبلاً، وقد يقبل منك الحق بدون مجادلة، فإن احتاج إلى مجادلة، كان عنده شيء من المناعة، شيء من التعلق بالباطل فجادله بالتي هي أحسن : { وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (٣٥) } [فصلت:٣٤-٣٥]، فما يعطى هذه الحكمة إلاّ ذو حظ عظيم . “Allah sudah menentukan tata cara untuk berdakwah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla kepada Nabi-Nya, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125) (Di dalam ayat ini disebutkan) bahwa berdakwah kepada Allah dilakukan dengan cara yang hikmah. Yang dimaksud hikmah adalah dakwah dengan disertai ilmu, akhlak yang terpuji, lemah lembut, baik untuk orang awam maupun yang tidak awam. Bahkan, seringkali yang awam lebih mudah menerima dibandingkan yang lainnya. Mereka akan menerima penjelasan darimu tanpa banyak mendebat. Tetapi, jika memang butuh untuk diadakan debat, karena ada sedikit sanggahan dari mereka, karena kebiasaannya berinteraksi dengan kebatilan, maka debatlah mereka dengan cara yang baik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ “Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia. (Sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan, kecuali kepada orang-orang yang sabar; dan tidak (pula) dianugerahkan, kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fusshilat: 34-35) Perhatikan, bahwa tidaklah Allah memberikan sikap hikmah dalam berdakwah ini, kecuali itulah pertanda bahwa dai tersebut telah mendapatkan keberuntungan yang teramat besar.” (Dikutip dari laman اقوال ومقالات الشيخ ربيع المدخلي) Semoga Allah limpahkan ilmu dan akhlak yang baik kepada kita, sehingga orang awam tergerak mengamalkan kebaikan karena melihat contoh yang baik pula. Barakallahu fikum. Baca juga: Sikap Terbaik Terhadap Orang Awam *** Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.id Tags: metode dakwahmetode dakwah nabiorang awam
Dakwah merupakan amalan yang agung di dalam Islam. Tidaklah setiap rasul yang diutus di muka bumi, melainkan mereka mengemban amanah yang mulia ini. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla, ۞ شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ وَمَا تَفَرَّقُوْٓا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَّبِّكَ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى لَّقُضِيَ بَيْنَهُمْۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْرِثُوا الْكِتٰبَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيْبٍ فَلِذٰلِكَ فَادْعُ ۚوَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْۚ وَقُلْ اٰمَنْتُ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنْ كِتٰبٍۚ وَاُمِرْتُ لِاَعْدِلَ بَيْنَكُمْ ۗ اَللّٰهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۗ لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۗ لَاحُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ ۗ اَللّٰهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۚوَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ ۗ “Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga) kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: ‘Tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.’ Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya). Mereka (Ahlul kitab) tidak berpecah-belah, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (tentang kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Seandainya tidak karena suatu ketetapan yang telah terlebih dahulu ada dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Sesungguhnya orang-orang yang mewarisi kitab suci (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Nabi Muhammad) benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentangnya (Al-Qur’an) itu. Oleh karena itu, serulah (mereka untuk beriman), tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Nabi Muhammad), dan janganlah mengikuti keinginan mereka. Katakanlah, ‘Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagimu perbuatanmu. Tidak (perlu) ada pertengkaran di antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali.’” (QS. Asy-Syura: 13-15) Begitu pun dalam firman Allah ‘Azza Wajalla, لِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوْهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِى الْاَمْرِ وَادْعُ اِلٰى رَبِّكَۗ اِنَّكَ لَعَلٰى هُدًى مُّسْتَقِيْمٍ وَاِنْ جَادَلُوْكَ فَقُلِ اللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ اَللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ “Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang (harus) mereka amalkan. Mereka sekali-kali tidak boleh membantahmu (Nabi Muhammad) dalam urusan (syariat) itu dan serulah (mereka) kepada Tuhanmu. Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar berada di atas petunjuk yang lurus. Jika mereka membantahmu, katakanlah, ‘Allah lebih tahu tentang apa yang kamu kerjakan.’ Allah akan memutuskan di antara kamu pada hari Kiamat apa yang selalu kamu perselisihkan. Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya hal itu sudah terdapat dalam Kitab (Lauhul mahfuz). Sesungguhnya yang demikian sangat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 67-70) Syekh Abdurrahman As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan, ولهذا أمر الله رسوله أن يدعو إلى ربه بالحكمة والموعظة الحسنة، ويمضي على ذلك، سواء اعترض المعترضون أم لا وأنه لا ينبغي أن يثنيك عن الدعوة شيء “Oleh karenanya, Allah memerintahkan Rasul-Nya agar menyeru manusia kepada Allah dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Dan biarkan apapun yang terjadi setelahnya. Entah orang-orang yang ingkar menolaknya atau tidak. Hendaknya semua hal yang terjadi di dalam dakwah ini tidak menggentarkanmu sedikit pun.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 545) Dan berdakwah merupakan perbuatan yang mulia yang langsung dipuji oleh Allah ‘Azza Wajalla dalam Al-Qur’an, وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri).’?” (QS. Fusshilat: 33) Syekh Abdurrahman As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan, لا أحد أحسن قولا. أي: كلامًا وطريقة، وحالة {مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ} بتعليم الجاهلين، ووعظ الغافلين والمعرضين، ومجادلة المبطلين، بالأمر بعبادة الله، بجميع أنواعها، والحث عليها، وتحسينها مهما أمكن، والزجر عما نهى الله عنه، وتقبيحه بكل طريق يوجب تركه، خصوصًا من هذه الدعوة إلى أصل دين الإسلام وتحسينه، ومجادلة أعدائه بالتي هي أحسن، والنهي عما يضاده من الكفر والشرك، والأمر بالمعروف، والنهي عن المنكر “Tidak ada yang lebih baik ucapan dan gerak-geriknya melebihi orang-orang yang menyeru manusia ke jalan Rabbnya dengan mengajarkan kepada mereka yang tidak tahu urusan agama, memperingatkan mereka yang lalai, mendebat mereka yang mengingkari, memerintahkan manusia dan memotivasi mereka untuk beribadah kepada Allah. Dan terus memperbaikinya tanpa lelah. Melarang dari berbuat yang dilarang Allah, berusaha menampakkan betapa buruknya perkara yang diharamkan Allah agar manusia meninggalkannya dan kembali ke jalan Islam. Serta mendebat musuh-musuh Islam dengan cara yang baik, melarang perbuatan-perbuatan yang berseberangan dengan nilai Islam, seperti kekufuran dan kesyirikan, mengajak kepada yang makruf, dan melarang dari kemungkaran.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 749) Begitu pun disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bahwa mengajak satu orang saja kepada kebaikan itu lebih baik dibandingkan kendaraan yang paling megah sekalipun, فواللهِ لأنْ يهْدي اللهُ بك رجلًا واحدًا خيرٌ لك من أنْ يكونَ لك حُمرِ النعمِ “Demi Allah! Jika ada seseorang yang Allah berikan petunjuk dengan sebab engkau, niscaya itu lebih baik bagimu melebihi unta merah.” (HR. Muslim no. 2406) Namun, tentu saja berdakwah tidak dengan sembarang cara. Terlebih kepada orang-orang awam yang belum banyak mengerti tentang masalah agama. Mengilmui kondisi mereka dan bagaimana cara mendakwahinya adalah salah satu hal yang wajib dikuasai oleh seorang dai. Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu, والبصيرة تكون فيما يدعو إليه بأن يكون الداعية عالماً بالحكم الشرعي، وفي كيفية الدعوة، وفي حال ‌المدعو “Termasuk di antara bashirah (kecakapan) seseorang dalam berdakwah adalah mengilmui tentang konten dakwah, yaitu hukum syar’i, tentang bagaimana cara berdakwah, dan tentang kondisi objek dakwah.” (Syarh Al-Ushul Al-Tsalatsah, hal. 22) Baca juga: Langkah-Langkah Praktis Mengetahui Hadits Shahih Bagi Orang Awam Lantas, bagaimana cara mendakwahi masyarakat yang masih awam kepada kebaikan? Syekh Rabi bin Hadi Al-Madkhali rahimahullahu pernah ditanya pertanyaan yang mirip dan beliau menjawab, الله وضع لنا منهجاً للدعوة إلى إليه، الله قال لنبيه : { ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ } [النحل:١٢٥] الدعوة إلى الله بالحكمة، والحكمة هي العلم والبيان والحجة فتدعو بالعلم وبالأخلاق الطيبة وبالرفق واللين، العامي وغير العامي، لكن العامي أكثر تقبلاً، وقد يقبل منك الحق بدون مجادلة، فإن احتاج إلى مجادلة، كان عنده شيء من المناعة، شيء من التعلق بالباطل فجادله بالتي هي أحسن : { وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (٣٥) } [فصلت:٣٤-٣٥]، فما يعطى هذه الحكمة إلاّ ذو حظ عظيم . “Allah sudah menentukan tata cara untuk berdakwah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla kepada Nabi-Nya, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125) (Di dalam ayat ini disebutkan) bahwa berdakwah kepada Allah dilakukan dengan cara yang hikmah. Yang dimaksud hikmah adalah dakwah dengan disertai ilmu, akhlak yang terpuji, lemah lembut, baik untuk orang awam maupun yang tidak awam. Bahkan, seringkali yang awam lebih mudah menerima dibandingkan yang lainnya. Mereka akan menerima penjelasan darimu tanpa banyak mendebat. Tetapi, jika memang butuh untuk diadakan debat, karena ada sedikit sanggahan dari mereka, karena kebiasaannya berinteraksi dengan kebatilan, maka debatlah mereka dengan cara yang baik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ “Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia. (Sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan, kecuali kepada orang-orang yang sabar; dan tidak (pula) dianugerahkan, kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fusshilat: 34-35) Perhatikan, bahwa tidaklah Allah memberikan sikap hikmah dalam berdakwah ini, kecuali itulah pertanda bahwa dai tersebut telah mendapatkan keberuntungan yang teramat besar.” (Dikutip dari laman اقوال ومقالات الشيخ ربيع المدخلي) Semoga Allah limpahkan ilmu dan akhlak yang baik kepada kita, sehingga orang awam tergerak mengamalkan kebaikan karena melihat contoh yang baik pula. Barakallahu fikum. Baca juga: Sikap Terbaik Terhadap Orang Awam *** Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.id Tags: metode dakwahmetode dakwah nabiorang awam


Dakwah merupakan amalan yang agung di dalam Islam. Tidaklah setiap rasul yang diutus di muka bumi, melainkan mereka mengemban amanah yang mulia ini. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla, ۞ شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ وَمَا تَفَرَّقُوْٓا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَّبِّكَ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى لَّقُضِيَ بَيْنَهُمْۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْرِثُوا الْكِتٰبَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيْبٍ فَلِذٰلِكَ فَادْعُ ۚوَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْۚ وَقُلْ اٰمَنْتُ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنْ كِتٰبٍۚ وَاُمِرْتُ لِاَعْدِلَ بَيْنَكُمْ ۗ اَللّٰهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۗ لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۗ لَاحُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ ۗ اَللّٰهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۚوَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ ۗ “Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga) kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: ‘Tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.’ Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya). Mereka (Ahlul kitab) tidak berpecah-belah, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (tentang kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Seandainya tidak karena suatu ketetapan yang telah terlebih dahulu ada dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Sesungguhnya orang-orang yang mewarisi kitab suci (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Nabi Muhammad) benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentangnya (Al-Qur’an) itu. Oleh karena itu, serulah (mereka untuk beriman), tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Nabi Muhammad), dan janganlah mengikuti keinginan mereka. Katakanlah, ‘Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagimu perbuatanmu. Tidak (perlu) ada pertengkaran di antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali.’” (QS. Asy-Syura: 13-15) Begitu pun dalam firman Allah ‘Azza Wajalla, لِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوْهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِى الْاَمْرِ وَادْعُ اِلٰى رَبِّكَۗ اِنَّكَ لَعَلٰى هُدًى مُّسْتَقِيْمٍ وَاِنْ جَادَلُوْكَ فَقُلِ اللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ اَللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ “Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang (harus) mereka amalkan. Mereka sekali-kali tidak boleh membantahmu (Nabi Muhammad) dalam urusan (syariat) itu dan serulah (mereka) kepada Tuhanmu. Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar berada di atas petunjuk yang lurus. Jika mereka membantahmu, katakanlah, ‘Allah lebih tahu tentang apa yang kamu kerjakan.’ Allah akan memutuskan di antara kamu pada hari Kiamat apa yang selalu kamu perselisihkan. Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya hal itu sudah terdapat dalam Kitab (Lauhul mahfuz). Sesungguhnya yang demikian sangat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 67-70) Syekh Abdurrahman As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan, ولهذا أمر الله رسوله أن يدعو إلى ربه بالحكمة والموعظة الحسنة، ويمضي على ذلك، سواء اعترض المعترضون أم لا وأنه لا ينبغي أن يثنيك عن الدعوة شيء “Oleh karenanya, Allah memerintahkan Rasul-Nya agar menyeru manusia kepada Allah dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Dan biarkan apapun yang terjadi setelahnya. Entah orang-orang yang ingkar menolaknya atau tidak. Hendaknya semua hal yang terjadi di dalam dakwah ini tidak menggentarkanmu sedikit pun.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 545) Dan berdakwah merupakan perbuatan yang mulia yang langsung dipuji oleh Allah ‘Azza Wajalla dalam Al-Qur’an, وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri).’?” (QS. Fusshilat: 33) Syekh Abdurrahman As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan, لا أحد أحسن قولا. أي: كلامًا وطريقة، وحالة {مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ} بتعليم الجاهلين، ووعظ الغافلين والمعرضين، ومجادلة المبطلين، بالأمر بعبادة الله، بجميع أنواعها، والحث عليها، وتحسينها مهما أمكن، والزجر عما نهى الله عنه، وتقبيحه بكل طريق يوجب تركه، خصوصًا من هذه الدعوة إلى أصل دين الإسلام وتحسينه، ومجادلة أعدائه بالتي هي أحسن، والنهي عما يضاده من الكفر والشرك، والأمر بالمعروف، والنهي عن المنكر “Tidak ada yang lebih baik ucapan dan gerak-geriknya melebihi orang-orang yang menyeru manusia ke jalan Rabbnya dengan mengajarkan kepada mereka yang tidak tahu urusan agama, memperingatkan mereka yang lalai, mendebat mereka yang mengingkari, memerintahkan manusia dan memotivasi mereka untuk beribadah kepada Allah. Dan terus memperbaikinya tanpa lelah. Melarang dari berbuat yang dilarang Allah, berusaha menampakkan betapa buruknya perkara yang diharamkan Allah agar manusia meninggalkannya dan kembali ke jalan Islam. Serta mendebat musuh-musuh Islam dengan cara yang baik, melarang perbuatan-perbuatan yang berseberangan dengan nilai Islam, seperti kekufuran dan kesyirikan, mengajak kepada yang makruf, dan melarang dari kemungkaran.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 749) Begitu pun disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bahwa mengajak satu orang saja kepada kebaikan itu lebih baik dibandingkan kendaraan yang paling megah sekalipun, فواللهِ لأنْ يهْدي اللهُ بك رجلًا واحدًا خيرٌ لك من أنْ يكونَ لك حُمرِ النعمِ “Demi Allah! Jika ada seseorang yang Allah berikan petunjuk dengan sebab engkau, niscaya itu lebih baik bagimu melebihi unta merah.” (HR. Muslim no. 2406) Namun, tentu saja berdakwah tidak dengan sembarang cara. Terlebih kepada orang-orang awam yang belum banyak mengerti tentang masalah agama. Mengilmui kondisi mereka dan bagaimana cara mendakwahinya adalah salah satu hal yang wajib dikuasai oleh seorang dai. Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu, والبصيرة تكون فيما يدعو إليه بأن يكون الداعية عالماً بالحكم الشرعي، وفي كيفية الدعوة، وفي حال ‌المدعو “Termasuk di antara bashirah (kecakapan) seseorang dalam berdakwah adalah mengilmui tentang konten dakwah, yaitu hukum syar’i, tentang bagaimana cara berdakwah, dan tentang kondisi objek dakwah.” (Syarh Al-Ushul Al-Tsalatsah, hal. 22) Baca juga: Langkah-Langkah Praktis Mengetahui Hadits Shahih Bagi Orang Awam Lantas, bagaimana cara mendakwahi masyarakat yang masih awam kepada kebaikan? Syekh Rabi bin Hadi Al-Madkhali rahimahullahu pernah ditanya pertanyaan yang mirip dan beliau menjawab, الله وضع لنا منهجاً للدعوة إلى إليه، الله قال لنبيه : { ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ } [النحل:١٢٥] الدعوة إلى الله بالحكمة، والحكمة هي العلم والبيان والحجة فتدعو بالعلم وبالأخلاق الطيبة وبالرفق واللين، العامي وغير العامي، لكن العامي أكثر تقبلاً، وقد يقبل منك الحق بدون مجادلة، فإن احتاج إلى مجادلة، كان عنده شيء من المناعة، شيء من التعلق بالباطل فجادله بالتي هي أحسن : { وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (٣٥) } [فصلت:٣٤-٣٥]، فما يعطى هذه الحكمة إلاّ ذو حظ عظيم . “Allah sudah menentukan tata cara untuk berdakwah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla kepada Nabi-Nya, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125) (Di dalam ayat ini disebutkan) bahwa berdakwah kepada Allah dilakukan dengan cara yang hikmah. Yang dimaksud hikmah adalah dakwah dengan disertai ilmu, akhlak yang terpuji, lemah lembut, baik untuk orang awam maupun yang tidak awam. Bahkan, seringkali yang awam lebih mudah menerima dibandingkan yang lainnya. Mereka akan menerima penjelasan darimu tanpa banyak mendebat. Tetapi, jika memang butuh untuk diadakan debat, karena ada sedikit sanggahan dari mereka, karena kebiasaannya berinteraksi dengan kebatilan, maka debatlah mereka dengan cara yang baik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ “Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia. (Sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan, kecuali kepada orang-orang yang sabar; dan tidak (pula) dianugerahkan, kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fusshilat: 34-35) Perhatikan, bahwa tidaklah Allah memberikan sikap hikmah dalam berdakwah ini, kecuali itulah pertanda bahwa dai tersebut telah mendapatkan keberuntungan yang teramat besar.” (Dikutip dari laman اقوال ومقالات الشيخ ربيع المدخلي) Semoga Allah limpahkan ilmu dan akhlak yang baik kepada kita, sehingga orang awam tergerak mengamalkan kebaikan karena melihat contoh yang baik pula. Barakallahu fikum. Baca juga: Sikap Terbaik Terhadap Orang Awam *** Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.id Tags: metode dakwahmetode dakwah nabiorang awam

Teks Khotbah Jumat: Bahaya Kezaliman dan Berlaku Semena-Mena

Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.  يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.  أَمَّا بَعْدُ:  فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ   Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, baik dengan mentaati seluruh perintah-Nya ataupun dengan meninggalkan seluruh kemaksiatan kepada-Nya. Karena dengan ketakwaan inilah Allah Ta’ala menghapus kesalahan-kesalahan kita dan dengannya pula pahala kebaikan kita akan dilipatgandakan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. At-Talaq: 5). Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala mengharamkan kezaliman untuk diri-Nya sendiri, mengharamkannya juga untuk para hamba-Nya serta melarang hamba-hamba-Nya dari saling menzalimi di antara mereka sendiri. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi, يا عِبَادِي، إنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ علَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فلا تَظَالَمُوا ”Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Akupun jadikan kezaliman itu di antara kalian sebagai sesuatu yang haram. Maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 2577). Saudaraku, kita hidup di zaman yang sangat memprihatinkan. Zaman dimana kezaliman menyebar luas di tengah masyarakat. Bahkan di rumah-rumah kaum muslimin sekalipun, kezaliman itu sangat mudah dijumpai. Betapa banyak ayah yang menzalimi anak-anaknya dan keluarganya, seorang anak yang menzalimi orang tuanya sendiri, dan beragam kasus serupa yang terkadang tak dapat dinalar oleh akal sehat. Kezaliman ini juga sangat mudah kita temukan dalam hubungan bertetangga. Betapa banyak tetangga yang satu menzalimi yang lainnya, menyakitinya atau merampas hak-haknya. Kezaliman juga sangat mudah kita jumpai dalam ranah hukum dan pengadilan. Betapa banyak orang yang dihukum dengan semena-mena, dituduh dengan tuduhan palsu, dirampas, dan dipalak hartanya, atau bahkan dipaksa harus menyuap untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, naudzubillahi min dzalik. Wahai saudaraku yang masih melakukan kezaliman, ingatlah selalu salah satu firman Allah Ta’ala, وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ ەۗ اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْاَبْصَارُۙ “Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42). Pada hari itu, Allah Ta’ala tegakkan keadilan dan Allah Ta’ala berikan setiap hak kepada pemilik sebenarnya. Sungguh Allah Mahaadil, benar-benar tidak akan menzalimi siapapun; bahkan seekor hewan ternak sekalipun akan diadili karena seekor hewan lainnya yang tanduknya patah karena dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, لَتُؤَدُّنَّ الحُقُوقَ إلى أهْلِها يَومَ القِيامَةِ، حتَّى يُقادَ لِلشّاةِ الجَلْحاءِ، مِنَ الشَّاةِ القَرْناءِ “Semua hak itu pasti akan dipenuhi pada hari kiamat kelak, hingga kambing bertanduk pun akan dituntut untuk dibalas oleh kambing yang tidak bertanduk.” (HR. Muslim no. 2582). Jemaah Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya mengingatkan kita semua dari bahaya perbuatan zalim ini. Di antaranya beliau bersabda, اتَّقُوا الظُّلمَ ؛ فإنَّ الظُّلمَ ظُلُماتٌ يومَ القيامةِ ”Hindarilah kezhaliman, karena kezhaliman itu mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim no. 2578). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, إنَّ اللَّهَ عزَّ وجلَّ يُمْلِي لِلظّالِمِ، فإذا أخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ، ثُمَّ قَرَأَ وكَذلكَ أخْذُ رَبِّكَ، إذا أخَذَ القُرَى وهي ظالِمَةٌ إنَّ أخْذَهُ ألِيمٌ شَدِيدٌ “Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya.” Selanjutnya beliau membaca ayat, “Dan begitulah azab Rabb-mu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras.” (HR. Bukhari no. 4686 dan Muslim no. 2583). Lihatlah bagaimana hukuman dan keadilan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang yang berbuat zalim di akhirat kelak. Allah Ta’ala ambil kebaikan dan pahala orang yang berbuat zalim untuk diberikan kepada orang-orang yang telah dizaliminya. Jika kebaikannya telah habis atau ia tidak memiliki kebaikan, maka ia akan menanggung dosa-dosa orang yang telah ia zalimi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن كَانَتْ له مَظْلِمَةٌ لأخِيهِ مِن عِرْضِهِ أَوْ شيءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ منه اليَومَ، قَبْلَ أَنْ لا يَكونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إنْ كانَ له عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ منه بقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ، وإنْ لَمْ تَكُنْ له حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِن سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عليه “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun, hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, (nanti pada hari kiamat) apabila dia memiliki amal saleh, maka akan diambil darinya sebanyak kezalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2449). Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بيَمِينِهِ، فقَدْ أَوْجَبَ اللَّهُ له النَّارَ، وَحَرَّمَ عليه الجَنَّةَ فَقالَ له رَجُلٌ: وإنْ كانَ شيئًا يَسِيرًا يا رَسُولَ اللهِ؟ قالَ: وإنْ قَضِيبًا مِن أَرَاكٍ “Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan neraka untuknya, dan mengharamkan surga atasnya.” Maka seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun itu sesuatu yang sepele?” Beliau menjawab, “Meskipun itu hanya kayu siwak.” (HR. Muslim no. 137). Marilah wahai saudaraku, segeralah meminta maaf, menunaikan hak-hak yang tertunda untuk orang-orang yang pernah kita zalimi, mintalah keikhlasan sebelum hari kiamat itu datang. Hari di mana tidak berguna lagi penyesalan, harta, dan apapun yang kita miliki. Saudaraku, jemaat Jum’at yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala, Kezaliman adalah nama yang mencakup seluruh perkara keji, buruk, dan tindakan semena-mena. Kezaliman wahai hamba Allah adalah kegelapan yang dapat mengubah kondisi dan menghancurkan sebuah bangsa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وكَذلكَ أخْذُ رَبِّكَ، إذا أخَذَ القُرَى وهي ظالِمَةٌ إنَّ أخْذَهُ ألِيمٌ شَدِيدٌ “Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat.” (QS. Hud no. 102). أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca juga: Ahlusunah Membela Kezaliman Penguasa? Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala, Ayat yang kita bacakan di penghujung khutbah pertama tadi merupakan pertanda bahwa bisa jadi sebuah kezaliman akan Allah segerakan hukumannya di dunia. Sungguh kezaliman merupakan salah satu dosa dan kemaksiatan yang pelakunya telah mendapatkan ancaman di dunia ini tanpa mengurangi hukumannya di akhirat kelak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ما مِن ذَنْبٍ أجدَرُ أن يُعجِّلَ اللهُ تعالى لصاحبِهِ العُقوبةَ في الدُّنيا، مع مايدَّخِرُ له في الآخِرةِ، مِثْلُ البَغْيِ، وقَطيعةِ الرَّحِمِ. “Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas Allah Ta’ala percepat siksaannya di dunia bagi pelakunya, selain apa yang Allah siapkan baginya di akhirat, daripada perbuatan zalim dan memutus kekerabatan.” (HR. Abu Daud no. 4092, Tirmidzi no. 2511, Ibnu Majah no. 4211, dan Ahmad no. 20374). Tidakkah takut orang-orang yang berbuat kezaliman dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam wasiatnya kepada Muadz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman? Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, واتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ؛ فإنَّه ليسَ بيْنَهُ وبيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ ”Takutlah engkau dengan doa orang yang dizalimi. Karena tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah.” (HR. Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19). Sungguh doa orang yang terzalimi merupakan salah satu doa yang paling mustajab. Jika ia mendoakan keburukan bagi orang yang menzaliminya, maka sangat mudah bagi Allah Ta’ala untuk mengabulkannya. Bahkan apabila yang terzalimi tersebut adalah orang yang tidak beragama Islam atau orang yang fasik dan gemar bermaksiat sekalipun, maka Allah sangat mudah untuk mengabulkannya dan tidak ada penghalang antara doanya tersebut dengan Allah Ta’ala. Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menekankan, دعوةُ المظلومِ مُستجابةٌ ، وإن كان فاجرًا ففُجورُه على نفسِه “Doa orang yang dizalimi itu mustajab dan sangat mudah dikabulkan, sekalipun doa tersebut dari orang yang jahat. Karena kejahatannya itu memudharatkan dirinya (tanpa memengaruhi keterkabulan doa tadi).” (HR. Ahmad no. 8781 dan At-Thayaalisi no. 2450). Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, Mungkin banyak dari kaum muslimin yang tangannya selamat dari menumpahkan darah kaum muslimin, atau selamat dari merampas harta orang lain, hingga kemudian ia mengira bahwa dirinya telah bebas dan selamat dari perbuatan zalim dan selamat juga dari doa orang orang terzalimi. Dia lupa bahwa kezaliman memiliki beragam bentuk; ada kezaliman terhadap sanak famili dan saudara, ada juga kezaliman terhadap anak sendiri dan istri. Oleh karena itu, bertakwalah wahai saudaraku, berlakulah adil dan bijaksana dalam setiap tanggung jawab yang kita pikul, lemah lembutlah kepada anak-anak kita, kepada istri kita, dan kepada tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar kita. Jangan sampai, amal kebaikan dan pahala yang telah susah payah kita kumpulkan dan kita kerjakan di dunia ini hilang dengan mudahnya dan berpindah tangan kepada orang-orang yang telah kita zalimi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, تَعَوَّذوا باللهِ مِنَ الفَقرِ والقِلَّةِ، والذِّلَّةِ، وأنْ تَظلِمَ أو تُظلَمَ. “Hendaklah kalian berlindung kepada Allah dari kefakiran, merasa kurang dan kehinaan, berbuat zalim atau dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1544, An-Nasa’i no. 5461, Ibnu Majah no. 3842 dan Ahmad no. 10973). Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berbuat zalim dan semena-mena, berikanlah kami kebijaksanaan dalam bertindak dan karuniakanlah kami keadilan dalam setiap tindakan yang kami lakukan. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Syirik adalah Kezaliman Terbesar *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kezalimankhotbah jumatsemena-mena

Teks Khotbah Jumat: Bahaya Kezaliman dan Berlaku Semena-Mena

Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.  يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.  أَمَّا بَعْدُ:  فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ   Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, baik dengan mentaati seluruh perintah-Nya ataupun dengan meninggalkan seluruh kemaksiatan kepada-Nya. Karena dengan ketakwaan inilah Allah Ta’ala menghapus kesalahan-kesalahan kita dan dengannya pula pahala kebaikan kita akan dilipatgandakan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. At-Talaq: 5). Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala mengharamkan kezaliman untuk diri-Nya sendiri, mengharamkannya juga untuk para hamba-Nya serta melarang hamba-hamba-Nya dari saling menzalimi di antara mereka sendiri. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi, يا عِبَادِي، إنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ علَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فلا تَظَالَمُوا ”Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Akupun jadikan kezaliman itu di antara kalian sebagai sesuatu yang haram. Maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 2577). Saudaraku, kita hidup di zaman yang sangat memprihatinkan. Zaman dimana kezaliman menyebar luas di tengah masyarakat. Bahkan di rumah-rumah kaum muslimin sekalipun, kezaliman itu sangat mudah dijumpai. Betapa banyak ayah yang menzalimi anak-anaknya dan keluarganya, seorang anak yang menzalimi orang tuanya sendiri, dan beragam kasus serupa yang terkadang tak dapat dinalar oleh akal sehat. Kezaliman ini juga sangat mudah kita temukan dalam hubungan bertetangga. Betapa banyak tetangga yang satu menzalimi yang lainnya, menyakitinya atau merampas hak-haknya. Kezaliman juga sangat mudah kita jumpai dalam ranah hukum dan pengadilan. Betapa banyak orang yang dihukum dengan semena-mena, dituduh dengan tuduhan palsu, dirampas, dan dipalak hartanya, atau bahkan dipaksa harus menyuap untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, naudzubillahi min dzalik. Wahai saudaraku yang masih melakukan kezaliman, ingatlah selalu salah satu firman Allah Ta’ala, وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ ەۗ اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْاَبْصَارُۙ “Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42). Pada hari itu, Allah Ta’ala tegakkan keadilan dan Allah Ta’ala berikan setiap hak kepada pemilik sebenarnya. Sungguh Allah Mahaadil, benar-benar tidak akan menzalimi siapapun; bahkan seekor hewan ternak sekalipun akan diadili karena seekor hewan lainnya yang tanduknya patah karena dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, لَتُؤَدُّنَّ الحُقُوقَ إلى أهْلِها يَومَ القِيامَةِ، حتَّى يُقادَ لِلشّاةِ الجَلْحاءِ، مِنَ الشَّاةِ القَرْناءِ “Semua hak itu pasti akan dipenuhi pada hari kiamat kelak, hingga kambing bertanduk pun akan dituntut untuk dibalas oleh kambing yang tidak bertanduk.” (HR. Muslim no. 2582). Jemaah Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya mengingatkan kita semua dari bahaya perbuatan zalim ini. Di antaranya beliau bersabda, اتَّقُوا الظُّلمَ ؛ فإنَّ الظُّلمَ ظُلُماتٌ يومَ القيامةِ ”Hindarilah kezhaliman, karena kezhaliman itu mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim no. 2578). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, إنَّ اللَّهَ عزَّ وجلَّ يُمْلِي لِلظّالِمِ، فإذا أخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ، ثُمَّ قَرَأَ وكَذلكَ أخْذُ رَبِّكَ، إذا أخَذَ القُرَى وهي ظالِمَةٌ إنَّ أخْذَهُ ألِيمٌ شَدِيدٌ “Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya.” Selanjutnya beliau membaca ayat, “Dan begitulah azab Rabb-mu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras.” (HR. Bukhari no. 4686 dan Muslim no. 2583). Lihatlah bagaimana hukuman dan keadilan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang yang berbuat zalim di akhirat kelak. Allah Ta’ala ambil kebaikan dan pahala orang yang berbuat zalim untuk diberikan kepada orang-orang yang telah dizaliminya. Jika kebaikannya telah habis atau ia tidak memiliki kebaikan, maka ia akan menanggung dosa-dosa orang yang telah ia zalimi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن كَانَتْ له مَظْلِمَةٌ لأخِيهِ مِن عِرْضِهِ أَوْ شيءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ منه اليَومَ، قَبْلَ أَنْ لا يَكونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إنْ كانَ له عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ منه بقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ، وإنْ لَمْ تَكُنْ له حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِن سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عليه “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun, hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, (nanti pada hari kiamat) apabila dia memiliki amal saleh, maka akan diambil darinya sebanyak kezalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2449). Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بيَمِينِهِ، فقَدْ أَوْجَبَ اللَّهُ له النَّارَ، وَحَرَّمَ عليه الجَنَّةَ فَقالَ له رَجُلٌ: وإنْ كانَ شيئًا يَسِيرًا يا رَسُولَ اللهِ؟ قالَ: وإنْ قَضِيبًا مِن أَرَاكٍ “Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan neraka untuknya, dan mengharamkan surga atasnya.” Maka seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun itu sesuatu yang sepele?” Beliau menjawab, “Meskipun itu hanya kayu siwak.” (HR. Muslim no. 137). Marilah wahai saudaraku, segeralah meminta maaf, menunaikan hak-hak yang tertunda untuk orang-orang yang pernah kita zalimi, mintalah keikhlasan sebelum hari kiamat itu datang. Hari di mana tidak berguna lagi penyesalan, harta, dan apapun yang kita miliki. Saudaraku, jemaat Jum’at yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala, Kezaliman adalah nama yang mencakup seluruh perkara keji, buruk, dan tindakan semena-mena. Kezaliman wahai hamba Allah adalah kegelapan yang dapat mengubah kondisi dan menghancurkan sebuah bangsa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وكَذلكَ أخْذُ رَبِّكَ، إذا أخَذَ القُرَى وهي ظالِمَةٌ إنَّ أخْذَهُ ألِيمٌ شَدِيدٌ “Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat.” (QS. Hud no. 102). أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca juga: Ahlusunah Membela Kezaliman Penguasa? Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala, Ayat yang kita bacakan di penghujung khutbah pertama tadi merupakan pertanda bahwa bisa jadi sebuah kezaliman akan Allah segerakan hukumannya di dunia. Sungguh kezaliman merupakan salah satu dosa dan kemaksiatan yang pelakunya telah mendapatkan ancaman di dunia ini tanpa mengurangi hukumannya di akhirat kelak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ما مِن ذَنْبٍ أجدَرُ أن يُعجِّلَ اللهُ تعالى لصاحبِهِ العُقوبةَ في الدُّنيا، مع مايدَّخِرُ له في الآخِرةِ، مِثْلُ البَغْيِ، وقَطيعةِ الرَّحِمِ. “Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas Allah Ta’ala percepat siksaannya di dunia bagi pelakunya, selain apa yang Allah siapkan baginya di akhirat, daripada perbuatan zalim dan memutus kekerabatan.” (HR. Abu Daud no. 4092, Tirmidzi no. 2511, Ibnu Majah no. 4211, dan Ahmad no. 20374). Tidakkah takut orang-orang yang berbuat kezaliman dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam wasiatnya kepada Muadz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman? Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, واتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ؛ فإنَّه ليسَ بيْنَهُ وبيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ ”Takutlah engkau dengan doa orang yang dizalimi. Karena tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah.” (HR. Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19). Sungguh doa orang yang terzalimi merupakan salah satu doa yang paling mustajab. Jika ia mendoakan keburukan bagi orang yang menzaliminya, maka sangat mudah bagi Allah Ta’ala untuk mengabulkannya. Bahkan apabila yang terzalimi tersebut adalah orang yang tidak beragama Islam atau orang yang fasik dan gemar bermaksiat sekalipun, maka Allah sangat mudah untuk mengabulkannya dan tidak ada penghalang antara doanya tersebut dengan Allah Ta’ala. Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menekankan, دعوةُ المظلومِ مُستجابةٌ ، وإن كان فاجرًا ففُجورُه على نفسِه “Doa orang yang dizalimi itu mustajab dan sangat mudah dikabulkan, sekalipun doa tersebut dari orang yang jahat. Karena kejahatannya itu memudharatkan dirinya (tanpa memengaruhi keterkabulan doa tadi).” (HR. Ahmad no. 8781 dan At-Thayaalisi no. 2450). Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, Mungkin banyak dari kaum muslimin yang tangannya selamat dari menumpahkan darah kaum muslimin, atau selamat dari merampas harta orang lain, hingga kemudian ia mengira bahwa dirinya telah bebas dan selamat dari perbuatan zalim dan selamat juga dari doa orang orang terzalimi. Dia lupa bahwa kezaliman memiliki beragam bentuk; ada kezaliman terhadap sanak famili dan saudara, ada juga kezaliman terhadap anak sendiri dan istri. Oleh karena itu, bertakwalah wahai saudaraku, berlakulah adil dan bijaksana dalam setiap tanggung jawab yang kita pikul, lemah lembutlah kepada anak-anak kita, kepada istri kita, dan kepada tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar kita. Jangan sampai, amal kebaikan dan pahala yang telah susah payah kita kumpulkan dan kita kerjakan di dunia ini hilang dengan mudahnya dan berpindah tangan kepada orang-orang yang telah kita zalimi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, تَعَوَّذوا باللهِ مِنَ الفَقرِ والقِلَّةِ، والذِّلَّةِ، وأنْ تَظلِمَ أو تُظلَمَ. “Hendaklah kalian berlindung kepada Allah dari kefakiran, merasa kurang dan kehinaan, berbuat zalim atau dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1544, An-Nasa’i no. 5461, Ibnu Majah no. 3842 dan Ahmad no. 10973). Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berbuat zalim dan semena-mena, berikanlah kami kebijaksanaan dalam bertindak dan karuniakanlah kami keadilan dalam setiap tindakan yang kami lakukan. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Syirik adalah Kezaliman Terbesar *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kezalimankhotbah jumatsemena-mena
Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.  يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.  أَمَّا بَعْدُ:  فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ   Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, baik dengan mentaati seluruh perintah-Nya ataupun dengan meninggalkan seluruh kemaksiatan kepada-Nya. Karena dengan ketakwaan inilah Allah Ta’ala menghapus kesalahan-kesalahan kita dan dengannya pula pahala kebaikan kita akan dilipatgandakan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. At-Talaq: 5). Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala mengharamkan kezaliman untuk diri-Nya sendiri, mengharamkannya juga untuk para hamba-Nya serta melarang hamba-hamba-Nya dari saling menzalimi di antara mereka sendiri. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi, يا عِبَادِي، إنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ علَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فلا تَظَالَمُوا ”Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Akupun jadikan kezaliman itu di antara kalian sebagai sesuatu yang haram. Maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 2577). Saudaraku, kita hidup di zaman yang sangat memprihatinkan. Zaman dimana kezaliman menyebar luas di tengah masyarakat. Bahkan di rumah-rumah kaum muslimin sekalipun, kezaliman itu sangat mudah dijumpai. Betapa banyak ayah yang menzalimi anak-anaknya dan keluarganya, seorang anak yang menzalimi orang tuanya sendiri, dan beragam kasus serupa yang terkadang tak dapat dinalar oleh akal sehat. Kezaliman ini juga sangat mudah kita temukan dalam hubungan bertetangga. Betapa banyak tetangga yang satu menzalimi yang lainnya, menyakitinya atau merampas hak-haknya. Kezaliman juga sangat mudah kita jumpai dalam ranah hukum dan pengadilan. Betapa banyak orang yang dihukum dengan semena-mena, dituduh dengan tuduhan palsu, dirampas, dan dipalak hartanya, atau bahkan dipaksa harus menyuap untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, naudzubillahi min dzalik. Wahai saudaraku yang masih melakukan kezaliman, ingatlah selalu salah satu firman Allah Ta’ala, وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ ەۗ اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْاَبْصَارُۙ “Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42). Pada hari itu, Allah Ta’ala tegakkan keadilan dan Allah Ta’ala berikan setiap hak kepada pemilik sebenarnya. Sungguh Allah Mahaadil, benar-benar tidak akan menzalimi siapapun; bahkan seekor hewan ternak sekalipun akan diadili karena seekor hewan lainnya yang tanduknya patah karena dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, لَتُؤَدُّنَّ الحُقُوقَ إلى أهْلِها يَومَ القِيامَةِ، حتَّى يُقادَ لِلشّاةِ الجَلْحاءِ، مِنَ الشَّاةِ القَرْناءِ “Semua hak itu pasti akan dipenuhi pada hari kiamat kelak, hingga kambing bertanduk pun akan dituntut untuk dibalas oleh kambing yang tidak bertanduk.” (HR. Muslim no. 2582). Jemaah Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya mengingatkan kita semua dari bahaya perbuatan zalim ini. Di antaranya beliau bersabda, اتَّقُوا الظُّلمَ ؛ فإنَّ الظُّلمَ ظُلُماتٌ يومَ القيامةِ ”Hindarilah kezhaliman, karena kezhaliman itu mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim no. 2578). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, إنَّ اللَّهَ عزَّ وجلَّ يُمْلِي لِلظّالِمِ، فإذا أخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ، ثُمَّ قَرَأَ وكَذلكَ أخْذُ رَبِّكَ، إذا أخَذَ القُرَى وهي ظالِمَةٌ إنَّ أخْذَهُ ألِيمٌ شَدِيدٌ “Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya.” Selanjutnya beliau membaca ayat, “Dan begitulah azab Rabb-mu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras.” (HR. Bukhari no. 4686 dan Muslim no. 2583). Lihatlah bagaimana hukuman dan keadilan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang yang berbuat zalim di akhirat kelak. Allah Ta’ala ambil kebaikan dan pahala orang yang berbuat zalim untuk diberikan kepada orang-orang yang telah dizaliminya. Jika kebaikannya telah habis atau ia tidak memiliki kebaikan, maka ia akan menanggung dosa-dosa orang yang telah ia zalimi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن كَانَتْ له مَظْلِمَةٌ لأخِيهِ مِن عِرْضِهِ أَوْ شيءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ منه اليَومَ، قَبْلَ أَنْ لا يَكونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إنْ كانَ له عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ منه بقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ، وإنْ لَمْ تَكُنْ له حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِن سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عليه “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun, hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, (nanti pada hari kiamat) apabila dia memiliki amal saleh, maka akan diambil darinya sebanyak kezalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2449). Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بيَمِينِهِ، فقَدْ أَوْجَبَ اللَّهُ له النَّارَ، وَحَرَّمَ عليه الجَنَّةَ فَقالَ له رَجُلٌ: وإنْ كانَ شيئًا يَسِيرًا يا رَسُولَ اللهِ؟ قالَ: وإنْ قَضِيبًا مِن أَرَاكٍ “Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan neraka untuknya, dan mengharamkan surga atasnya.” Maka seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun itu sesuatu yang sepele?” Beliau menjawab, “Meskipun itu hanya kayu siwak.” (HR. Muslim no. 137). Marilah wahai saudaraku, segeralah meminta maaf, menunaikan hak-hak yang tertunda untuk orang-orang yang pernah kita zalimi, mintalah keikhlasan sebelum hari kiamat itu datang. Hari di mana tidak berguna lagi penyesalan, harta, dan apapun yang kita miliki. Saudaraku, jemaat Jum’at yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala, Kezaliman adalah nama yang mencakup seluruh perkara keji, buruk, dan tindakan semena-mena. Kezaliman wahai hamba Allah adalah kegelapan yang dapat mengubah kondisi dan menghancurkan sebuah bangsa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وكَذلكَ أخْذُ رَبِّكَ، إذا أخَذَ القُرَى وهي ظالِمَةٌ إنَّ أخْذَهُ ألِيمٌ شَدِيدٌ “Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat.” (QS. Hud no. 102). أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca juga: Ahlusunah Membela Kezaliman Penguasa? Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala, Ayat yang kita bacakan di penghujung khutbah pertama tadi merupakan pertanda bahwa bisa jadi sebuah kezaliman akan Allah segerakan hukumannya di dunia. Sungguh kezaliman merupakan salah satu dosa dan kemaksiatan yang pelakunya telah mendapatkan ancaman di dunia ini tanpa mengurangi hukumannya di akhirat kelak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ما مِن ذَنْبٍ أجدَرُ أن يُعجِّلَ اللهُ تعالى لصاحبِهِ العُقوبةَ في الدُّنيا، مع مايدَّخِرُ له في الآخِرةِ، مِثْلُ البَغْيِ، وقَطيعةِ الرَّحِمِ. “Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas Allah Ta’ala percepat siksaannya di dunia bagi pelakunya, selain apa yang Allah siapkan baginya di akhirat, daripada perbuatan zalim dan memutus kekerabatan.” (HR. Abu Daud no. 4092, Tirmidzi no. 2511, Ibnu Majah no. 4211, dan Ahmad no. 20374). Tidakkah takut orang-orang yang berbuat kezaliman dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam wasiatnya kepada Muadz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman? Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, واتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ؛ فإنَّه ليسَ بيْنَهُ وبيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ ”Takutlah engkau dengan doa orang yang dizalimi. Karena tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah.” (HR. Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19). Sungguh doa orang yang terzalimi merupakan salah satu doa yang paling mustajab. Jika ia mendoakan keburukan bagi orang yang menzaliminya, maka sangat mudah bagi Allah Ta’ala untuk mengabulkannya. Bahkan apabila yang terzalimi tersebut adalah orang yang tidak beragama Islam atau orang yang fasik dan gemar bermaksiat sekalipun, maka Allah sangat mudah untuk mengabulkannya dan tidak ada penghalang antara doanya tersebut dengan Allah Ta’ala. Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menekankan, دعوةُ المظلومِ مُستجابةٌ ، وإن كان فاجرًا ففُجورُه على نفسِه “Doa orang yang dizalimi itu mustajab dan sangat mudah dikabulkan, sekalipun doa tersebut dari orang yang jahat. Karena kejahatannya itu memudharatkan dirinya (tanpa memengaruhi keterkabulan doa tadi).” (HR. Ahmad no. 8781 dan At-Thayaalisi no. 2450). Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, Mungkin banyak dari kaum muslimin yang tangannya selamat dari menumpahkan darah kaum muslimin, atau selamat dari merampas harta orang lain, hingga kemudian ia mengira bahwa dirinya telah bebas dan selamat dari perbuatan zalim dan selamat juga dari doa orang orang terzalimi. Dia lupa bahwa kezaliman memiliki beragam bentuk; ada kezaliman terhadap sanak famili dan saudara, ada juga kezaliman terhadap anak sendiri dan istri. Oleh karena itu, bertakwalah wahai saudaraku, berlakulah adil dan bijaksana dalam setiap tanggung jawab yang kita pikul, lemah lembutlah kepada anak-anak kita, kepada istri kita, dan kepada tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar kita. Jangan sampai, amal kebaikan dan pahala yang telah susah payah kita kumpulkan dan kita kerjakan di dunia ini hilang dengan mudahnya dan berpindah tangan kepada orang-orang yang telah kita zalimi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, تَعَوَّذوا باللهِ مِنَ الفَقرِ والقِلَّةِ، والذِّلَّةِ، وأنْ تَظلِمَ أو تُظلَمَ. “Hendaklah kalian berlindung kepada Allah dari kefakiran, merasa kurang dan kehinaan, berbuat zalim atau dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1544, An-Nasa’i no. 5461, Ibnu Majah no. 3842 dan Ahmad no. 10973). Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berbuat zalim dan semena-mena, berikanlah kami kebijaksanaan dalam bertindak dan karuniakanlah kami keadilan dalam setiap tindakan yang kami lakukan. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Syirik adalah Kezaliman Terbesar *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kezalimankhotbah jumatsemena-mena


Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.  يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.  أَمَّا بَعْدُ:  فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ   Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, baik dengan mentaati seluruh perintah-Nya ataupun dengan meninggalkan seluruh kemaksiatan kepada-Nya. Karena dengan ketakwaan inilah Allah Ta’ala menghapus kesalahan-kesalahan kita dan dengannya pula pahala kebaikan kita akan dilipatgandakan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. At-Talaq: 5). Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala mengharamkan kezaliman untuk diri-Nya sendiri, mengharamkannya juga untuk para hamba-Nya serta melarang hamba-hamba-Nya dari saling menzalimi di antara mereka sendiri. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi, يا عِبَادِي، إنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ علَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فلا تَظَالَمُوا ”Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Akupun jadikan kezaliman itu di antara kalian sebagai sesuatu yang haram. Maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 2577). Saudaraku, kita hidup di zaman yang sangat memprihatinkan. Zaman dimana kezaliman menyebar luas di tengah masyarakat. Bahkan di rumah-rumah kaum muslimin sekalipun, kezaliman itu sangat mudah dijumpai. Betapa banyak ayah yang menzalimi anak-anaknya dan keluarganya, seorang anak yang menzalimi orang tuanya sendiri, dan beragam kasus serupa yang terkadang tak dapat dinalar oleh akal sehat. Kezaliman ini juga sangat mudah kita temukan dalam hubungan bertetangga. Betapa banyak tetangga yang satu menzalimi yang lainnya, menyakitinya atau merampas hak-haknya. Kezaliman juga sangat mudah kita jumpai dalam ranah hukum dan pengadilan. Betapa banyak orang yang dihukum dengan semena-mena, dituduh dengan tuduhan palsu, dirampas, dan dipalak hartanya, atau bahkan dipaksa harus menyuap untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, naudzubillahi min dzalik. Wahai saudaraku yang masih melakukan kezaliman, ingatlah selalu salah satu firman Allah Ta’ala, وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ ەۗ اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْاَبْصَارُۙ “Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42). Pada hari itu, Allah Ta’ala tegakkan keadilan dan Allah Ta’ala berikan setiap hak kepada pemilik sebenarnya. Sungguh Allah Mahaadil, benar-benar tidak akan menzalimi siapapun; bahkan seekor hewan ternak sekalipun akan diadili karena seekor hewan lainnya yang tanduknya patah karena dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, لَتُؤَدُّنَّ الحُقُوقَ إلى أهْلِها يَومَ القِيامَةِ، حتَّى يُقادَ لِلشّاةِ الجَلْحاءِ، مِنَ الشَّاةِ القَرْناءِ “Semua hak itu pasti akan dipenuhi pada hari kiamat kelak, hingga kambing bertanduk pun akan dituntut untuk dibalas oleh kambing yang tidak bertanduk.” (HR. Muslim no. 2582). Jemaah Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya mengingatkan kita semua dari bahaya perbuatan zalim ini. Di antaranya beliau bersabda, اتَّقُوا الظُّلمَ ؛ فإنَّ الظُّلمَ ظُلُماتٌ يومَ القيامةِ ”Hindarilah kezhaliman, karena kezhaliman itu mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim no. 2578). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, إنَّ اللَّهَ عزَّ وجلَّ يُمْلِي لِلظّالِمِ، فإذا أخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ، ثُمَّ قَرَأَ وكَذلكَ أخْذُ رَبِّكَ، إذا أخَذَ القُرَى وهي ظالِمَةٌ إنَّ أخْذَهُ ألِيمٌ شَدِيدٌ “Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya.” Selanjutnya beliau membaca ayat, “Dan begitulah azab Rabb-mu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras.” (HR. Bukhari no. 4686 dan Muslim no. 2583). Lihatlah bagaimana hukuman dan keadilan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang yang berbuat zalim di akhirat kelak. Allah Ta’ala ambil kebaikan dan pahala orang yang berbuat zalim untuk diberikan kepada orang-orang yang telah dizaliminya. Jika kebaikannya telah habis atau ia tidak memiliki kebaikan, maka ia akan menanggung dosa-dosa orang yang telah ia zalimi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن كَانَتْ له مَظْلِمَةٌ لأخِيهِ مِن عِرْضِهِ أَوْ شيءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ منه اليَومَ، قَبْلَ أَنْ لا يَكونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إنْ كانَ له عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ منه بقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ، وإنْ لَمْ تَكُنْ له حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِن سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عليه “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun, hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, (nanti pada hari kiamat) apabila dia memiliki amal saleh, maka akan diambil darinya sebanyak kezalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2449). Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بيَمِينِهِ، فقَدْ أَوْجَبَ اللَّهُ له النَّارَ، وَحَرَّمَ عليه الجَنَّةَ فَقالَ له رَجُلٌ: وإنْ كانَ شيئًا يَسِيرًا يا رَسُولَ اللهِ؟ قالَ: وإنْ قَضِيبًا مِن أَرَاكٍ “Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan neraka untuknya, dan mengharamkan surga atasnya.” Maka seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun itu sesuatu yang sepele?” Beliau menjawab, “Meskipun itu hanya kayu siwak.” (HR. Muslim no. 137). Marilah wahai saudaraku, segeralah meminta maaf, menunaikan hak-hak yang tertunda untuk orang-orang yang pernah kita zalimi, mintalah keikhlasan sebelum hari kiamat itu datang. Hari di mana tidak berguna lagi penyesalan, harta, dan apapun yang kita miliki. Saudaraku, jemaat Jum’at yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala, Kezaliman adalah nama yang mencakup seluruh perkara keji, buruk, dan tindakan semena-mena. Kezaliman wahai hamba Allah adalah kegelapan yang dapat mengubah kondisi dan menghancurkan sebuah bangsa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وكَذلكَ أخْذُ رَبِّكَ، إذا أخَذَ القُرَى وهي ظالِمَةٌ إنَّ أخْذَهُ ألِيمٌ شَدِيدٌ “Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat.” (QS. Hud no. 102). أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca juga: Ahlusunah Membela Kezaliman Penguasa? Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala, Ayat yang kita bacakan di penghujung khutbah pertama tadi merupakan pertanda bahwa bisa jadi sebuah kezaliman akan Allah segerakan hukumannya di dunia. Sungguh kezaliman merupakan salah satu dosa dan kemaksiatan yang pelakunya telah mendapatkan ancaman di dunia ini tanpa mengurangi hukumannya di akhirat kelak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ما مِن ذَنْبٍ أجدَرُ أن يُعجِّلَ اللهُ تعالى لصاحبِهِ العُقوبةَ في الدُّنيا، مع مايدَّخِرُ له في الآخِرةِ، مِثْلُ البَغْيِ، وقَطيعةِ الرَّحِمِ. “Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas Allah Ta’ala percepat siksaannya di dunia bagi pelakunya, selain apa yang Allah siapkan baginya di akhirat, daripada perbuatan zalim dan memutus kekerabatan.” (HR. Abu Daud no. 4092, Tirmidzi no. 2511, Ibnu Majah no. 4211, dan Ahmad no. 20374). Tidakkah takut orang-orang yang berbuat kezaliman dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam wasiatnya kepada Muadz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman? Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, واتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ؛ فإنَّه ليسَ بيْنَهُ وبيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ ”Takutlah engkau dengan doa orang yang dizalimi. Karena tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah.” (HR. Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19). Sungguh doa orang yang terzalimi merupakan salah satu doa yang paling mustajab. Jika ia mendoakan keburukan bagi orang yang menzaliminya, maka sangat mudah bagi Allah Ta’ala untuk mengabulkannya. Bahkan apabila yang terzalimi tersebut adalah orang yang tidak beragama Islam atau orang yang fasik dan gemar bermaksiat sekalipun, maka Allah sangat mudah untuk mengabulkannya dan tidak ada penghalang antara doanya tersebut dengan Allah Ta’ala. Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menekankan, دعوةُ المظلومِ مُستجابةٌ ، وإن كان فاجرًا ففُجورُه على نفسِه “Doa orang yang dizalimi itu mustajab dan sangat mudah dikabulkan, sekalipun doa tersebut dari orang yang jahat. Karena kejahatannya itu memudharatkan dirinya (tanpa memengaruhi keterkabulan doa tadi).” (HR. Ahmad no. 8781 dan At-Thayaalisi no. 2450). Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, Mungkin banyak dari kaum muslimin yang tangannya selamat dari menumpahkan darah kaum muslimin, atau selamat dari merampas harta orang lain, hingga kemudian ia mengira bahwa dirinya telah bebas dan selamat dari perbuatan zalim dan selamat juga dari doa orang orang terzalimi. Dia lupa bahwa kezaliman memiliki beragam bentuk; ada kezaliman terhadap sanak famili dan saudara, ada juga kezaliman terhadap anak sendiri dan istri. Oleh karena itu, bertakwalah wahai saudaraku, berlakulah adil dan bijaksana dalam setiap tanggung jawab yang kita pikul, lemah lembutlah kepada anak-anak kita, kepada istri kita, dan kepada tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar kita. Jangan sampai, amal kebaikan dan pahala yang telah susah payah kita kumpulkan dan kita kerjakan di dunia ini hilang dengan mudahnya dan berpindah tangan kepada orang-orang yang telah kita zalimi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, تَعَوَّذوا باللهِ مِنَ الفَقرِ والقِلَّةِ، والذِّلَّةِ، وأنْ تَظلِمَ أو تُظلَمَ. “Hendaklah kalian berlindung kepada Allah dari kefakiran, merasa kurang dan kehinaan, berbuat zalim atau dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1544, An-Nasa’i no. 5461, Ibnu Majah no. 3842 dan Ahmad no. 10973). Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berbuat zalim dan semena-mena, berikanlah kami kebijaksanaan dalam bertindak dan karuniakanlah kami keadilan dalam setiap tindakan yang kami lakukan. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Syirik adalah Kezaliman Terbesar *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kezalimankhotbah jumatsemena-mena

Kapan Kita Ditekankan untuk Membaca Basmalah?

Daftar Isi Toggle Yang pertama: Dibaca secara lengkap, yaitu “Bismillahirrahmanirrahim”Saat membaca Al-Qur’anDi permulaan penulisan buku-buku, surat-menyurat, naskah khotbah, dan jurnal ilmiahYang kedua: Dengan mengucapkan “bismillah” sajaKetika berwuduSaat menaiki kendaraanSaat menyembelih dan berburuSebelum makanSebelum melakukan hubungan suami istriKetika keluar rumahKetika hendak masuk ke dalam kamar mandiSaat mendapati rasa sakit pada salah satu anggota tubuhSaat hendak meletakkan mayit ke dalam liang lahadSaat menutup pintu, mematikan lampu, menutup wadah air, dan tempat makan di malam hariKetika akan tidur di malam hari Muslim yang baik adalah muslim yang menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai role model, suri teladan bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari dan berusaha meniru dan melaksanakan setiap detail kehidupannya sesuai dengan tata cara (sunah) yang telah beliau ajarkan. Seribu tahun lalu Rasulullah telah menyampaikan kepada umatnya agar selalu menapaki sunah-sunah beliau. Beliau bersabda yang artinya, “Maka, wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunahku (cara yang telah aku lakukan).” (HR. Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676) Di antara sunah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa lakukan dan beliau ajarkan kepada umatnya adalah mengucapkan basmalah di setiap aktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Pada pembahasan kali ini, kami akan paparkan beberapa kondisi yang sangat ditekankan untuk mengucapkan basmalah, kondisi-kondisi di mana terdapat dalil dan hadis yang sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan basmalah di dalamnya. Di dalam membaca serta mengamalkannya tuntunan mengucapkan basmalah, terdapat dua lafaz berbeda yang berbeda juga kapan dibacanya. Yang pertama: Dibaca secara lengkap, yaitu “Bismillahirrahmanirrahim” Saat membaca Al-Qur’an Terkhusus ketika mulai membaca awal-awal surah yang ada di dalamnya, kecuali pada surah Bara’ah (At-Taubah). Karena basmalah merupakan ayat yang diturunkan bersamaan dengan setiap surah di dalam Al-Qur’an, kecuali surah Bara’ah. Oleh karenanya, basmalah ditulis di setiap permulaan surah dalam Al-Qur’an, walaupun ia bukanlah termasuk ayat pada surat tersebut secara spesifik. Di permulaan penulisan buku-buku, surat-menyurat, naskah khotbah, dan jurnal ilmiah Hal ini merupakan salah satu bentuk meniru dan mencontoh Al-Qur’an dan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena beliau memulai surat-surat yang beliau tulis untuk para raja dengannya, sebagaimana surat beliau kepada Heraclius kaisar Romawi. Beliau memulai suratnya dengan, بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله، إلى هرقل عظيم الروم “Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad, Utusan Allah, kepada Heraclius, yang agung di Roma.” Hal ini juga dilakukan oleh nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana surat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada Bilqis. Allah Ta’ala mengisahkan, قَالَتۡ يٰۤاَيُّهَا الۡمَلَؤُا اِنِّىۡۤ اُلۡقِىَ اِلَىَّ كِتٰبٌ كَرِيۡمٌ * اِنَّهٗ مِنۡ سُلَيۡمٰنَ وَاِنَّهٗ بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيۡمِۙ * اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَىَّ وَاۡتُوۡنِىۡ مُسۡلِمِيۡنَ Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.” Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml: 29-31) Para pendahulu dan penerus bangsa ini juga telah menggunakan dan mengaplikasikannya di dalam buku-buku, surat, pidato, dan artikel mereka. Baca juga: Apakah Perlu Membaca Basmalah di Setiap Memulai Aktivitas? Yang kedua: Dengan mengucapkan “bismillah” saja Hal ini diperintahkan untuk diucapkan pada beberapa kondisi: Ketika berwudu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ “Tidak ada salat bagi yang tidak memiliki wudu. Dan tidak ada wudu bagi yang tidak membaca bismillah di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini hasan) Sebagian ulama mendaifkan hadis ini, namun dari berbagai jalur, hadis ini menjadi kuat. Sedangkan pe-nafi-an (peniadaan) yang disebutkan dalam hadis adalah peniadaan kesempurnaan dan bukan keabsahan wudunya. Jadi, maksudnya adalah wudunya tidak sempurna, bukan berarti tidak sah. Saat menaiki kendaraan Allah Ta’ala berfirman, وَقَالَ ٱرْكَبُوا۟ فِيهَا بِسْمِ ٱللَّهِ مَجْر۪ىٰهَا وَمُرْسَىٰهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ “Dan Nuh berkata, ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Hud: 41) Di dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu yang panjang, hadis yang mengisahkan kendaraan ontanya, disebutkan di dalamnya, ثُمَّ قالَ لِي: ارْكَبْ باسْمِ اللَّهِ “Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, ‘Naikilah kendaraan untamu dengan mengucapkan bismillah (dengan menyebut nama Allah).’” (HR. Muslim no. 715) Saat menyembelih dan berburu Berdasarkan firman Allah Ta’ala, فَكُلُوْا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ بِاٰيٰتِهٖ مُؤْمِنِيْنَ “Maka, makanlah dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am: 118) Dan juga firman Allah, فَكُلُوا۟ مِمَّآ أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَٱذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَيْهِ ۖ “Maka, makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya).” (QS. Al-Ma’idah: 4) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, إذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ المُعَلَّمَ، وَذَكَرْتَ اسْمَ اللهِ عليه فَكُلْ “Apabila kamu melepas anjing pemburu yang terlatih setelah kamu menyebut nama Allah ketika melepasnya, makanlah tangkapannya.” (HR. Muslim no. 1929) Sebelum makan Berdasarkan hadis yang sangat masyhur tentang nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang anak, يا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وكُلْ بيَمِينِكَ، وكُلْ ممَّا يَلِيكَ فَما زَالَتْ تِلكَ طِعْمَتي بَعْدُ “Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa yang di hadapanmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022) Sebelum melakukan hubungan suami istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَمَا لو أنَّ أحَدَهُمْ يَقولُ حِينَ يَأْتي أهْلَهُ: باسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطانَ، وجَنِّبِ الشَّيْطانَ ما رَزَقْتَنا، ثُمَّ قُدِّرَ بيْنَهُما في ذلكَ، أوْ قُضِيَ ولَدٌ؛ لَمْ يَضُرَّهُ شَيطانٌ أبَدًا. “Sekiranya saat mereka mendatangi isterinya membaca, ‘Bismillahi allahumma jannibnisy syaithaana wa jannibisy syaithaana ma razaqtanaa.’ Lalu mereka pun ditakdirkan mendapat keturunan dari hasil pergaulan itu, atau mereka dikaruniai anak, maka ia tidak akan diganggu oleh setan selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5165 dan Muslim no. 1434) Baca juga: Lebih Utama Memulai Chat dengan Basmalah atau Salam? Ketika keluar rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ﺇِﺫَﺍ ﺧَﺮَﺝَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻟَﺎ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻟَﺎ ﻗُﻮَّﺓَ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻳُﻘَﺎﻝُ ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ : ﻫُﺪِﻳﺖَ، ﻭَﻛُﻔِﻴﺖَ، ﻭَﻭُﻗِﻴﺖَ، ﻓَﺘَﺘَﻨَﺤَّﻰ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﺁﺧَﺮُ : ﻛَﻴْﻒَ ﻟَﻚَ ﺑِﺮَﺟُﻞٍ ﻗَﺪْ ﻫُﺪِﻱَ ﻭَﻛُﻔِﻲَ ﻭَﻭُﻗِﻲَ؟ “Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa, “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan, kecuali dengan-Nya). Maka, disampaikan kepadanya, ‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’ Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu, salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’ (HR. Abu Daud no. 5095 dan An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9917) Ketika hendak masuk ke dalam kamar mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, سَتْرُ ما بينَ أَعْيُنِ الجِنِّ و عَوْرَاتِ بَنِي آدمَ إذا دخلَ أحدُهُمْ الخلاء أنْ يقولَ : بسمِ اللهِ “Penutup antara mata jin dan aurat manusia yaitu, apabila seorang dari mereka melepaskan pakaian mengucapkan, ‘Bismillah (dengan menyebut nama Allah).’” (HR. Tirmidzi no. 606 dan Ibnu Majah no. 297) Saat mendapati rasa sakit pada salah satu anggota tubuh Jika seorang muslim merasakan sakit pada salah satu anggota tubuhnya, disyariatkan baginya untuk meletakkan tangan kanannya pada bagian yang sakit tersebut sembari membaca bismillah dan membaca doa yang telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada sahabat Utsman bin Abi Al-Ash radhiyallahu ‘anhu saat ia mengeluhkan rasa sakit yang tak kunjung sembuh pada tubuhnya, ضَعْ يَدَكَ علَى الَّذي تَأَلَّمَ مِن جَسَدِكَ، وَقُلْ: باسْمِ اللهِ، ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ باللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِن شَرِّ ما أَجِدُ وَأُحَاذِرُ “Letakkan tanganmu pada tempat yang sakit di badanmu dan ucapkanlah, ‘Bismillah.’ sebanyak tiga kali. Dan ucapkan juga sebanyak tujuh kali, ‘Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-nya, dari keburukan apa yang kurasakan dan kukhawatirkan.’” (HR. Muslim no. 2202) Saat hendak meletakkan mayit ke dalam liang lahad Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كان إذا وَضع الميتَ في القبرِ قال باسمِ اللهِ وباللهِ وعلى مِلَّةِ وفي لفظ وعلى سُنَّةِ رسولِ اللهِ “Bahwasanya apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan mayit di dalam kubur, maka beliau mengatakan, “Bismillahi wabillahi wa’alamillati” dan dalam riwayat lain dengan lafadz “wa’ala sunnati rasulillah” (Dengan nama Allah dan aku bersumpah dengan nama-Nya serta di atas ajaran/sunah Rasulullah).” (HR. Abu Dawud no. 3213, Tirmidzi no. 1046, dan Ibnu Majah no. 1550) Saat menutup pintu, mematikan lampu, menutup wadah air, dan tempat makan di malam hari Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إذا كانَ جُنْحُ اللَّيْلِ -أوْ أمْسَيْتُمْ- فَكُفُّوا صِبْيانَكُمْ؛ فإنَّ الشَّياطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فإذا ذَهَبَ ساعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخلُّوهُمْ، فأغْلِقُوا الأبْوابَ، واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ؛ فإنَّ الشَّيْطانَ لا يَفْتَحُ بابًا مُغْلَقًا، وأَوْكُوا قِرَبَكُمْ واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، ولو أنْ تَعْرُضُوا عليها شَيئًا، وأَطْفِئُوا مَصابِيحَكُمْ “Apabila malam mulai gelap atau malam telah tiba (waktu magrib), maka tahanlah anak-anak kalian (agar tidak keluar dari rumah), karena saat itu setan berkeliaran. Apabila hari sudah malam, maka lepaskanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu (rumah kalian) dan sebutlah nama Allah, karena setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup. Ikatlah wadah (air minum) kalian sambil menyebut nama Allah dan tutup pula bejana-bejana kalian sambil menyebut nama Allah walaupun hanya dengan menaruh sesuatu di atasnya, dan matikanlah lampu-lampu kalian.” (HR. Bukhari no. 5623 dan Muslim no. 2012) Ketika akan tidur di malam hari Berdasarkan hadis, أن رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، كان إذا أخذ مضجعَه من الليلِ قال: بسم اللهِ وضعتُ جنبي، اللهم اغفر لي ذنبي، وأخْسئْ شيطاني، وفكَّ رِهاني، واجعلني في النديِّ الأعلى. “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersiap tidur di malam hari, beliau berdoa, (yang artinya), ‘Ya Allah, aku rebahkan diriku. Ampunilah semua dosaku, cacatkanlah setanku, lepaskanlah gadaiku, dan jadikanlah aku berada pada jajaran yang tinggi bersama malaikat.’” (HR. Abu Dawud no. 5054) Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang mampu menjalankan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari, tak terkecuali mengamalkan hadis-hadis yang berkaitan dengan bacaan basmalah yang baru saja kita paparkan sebelumnya. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu A’lam bisshawab. Baca juga: Fawaid Seputar Basmalah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: basmalahbismillahbismillahirrahmanirrahim

Kapan Kita Ditekankan untuk Membaca Basmalah?

Daftar Isi Toggle Yang pertama: Dibaca secara lengkap, yaitu “Bismillahirrahmanirrahim”Saat membaca Al-Qur’anDi permulaan penulisan buku-buku, surat-menyurat, naskah khotbah, dan jurnal ilmiahYang kedua: Dengan mengucapkan “bismillah” sajaKetika berwuduSaat menaiki kendaraanSaat menyembelih dan berburuSebelum makanSebelum melakukan hubungan suami istriKetika keluar rumahKetika hendak masuk ke dalam kamar mandiSaat mendapati rasa sakit pada salah satu anggota tubuhSaat hendak meletakkan mayit ke dalam liang lahadSaat menutup pintu, mematikan lampu, menutup wadah air, dan tempat makan di malam hariKetika akan tidur di malam hari Muslim yang baik adalah muslim yang menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai role model, suri teladan bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari dan berusaha meniru dan melaksanakan setiap detail kehidupannya sesuai dengan tata cara (sunah) yang telah beliau ajarkan. Seribu tahun lalu Rasulullah telah menyampaikan kepada umatnya agar selalu menapaki sunah-sunah beliau. Beliau bersabda yang artinya, “Maka, wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunahku (cara yang telah aku lakukan).” (HR. Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676) Di antara sunah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa lakukan dan beliau ajarkan kepada umatnya adalah mengucapkan basmalah di setiap aktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Pada pembahasan kali ini, kami akan paparkan beberapa kondisi yang sangat ditekankan untuk mengucapkan basmalah, kondisi-kondisi di mana terdapat dalil dan hadis yang sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan basmalah di dalamnya. Di dalam membaca serta mengamalkannya tuntunan mengucapkan basmalah, terdapat dua lafaz berbeda yang berbeda juga kapan dibacanya. Yang pertama: Dibaca secara lengkap, yaitu “Bismillahirrahmanirrahim” Saat membaca Al-Qur’an Terkhusus ketika mulai membaca awal-awal surah yang ada di dalamnya, kecuali pada surah Bara’ah (At-Taubah). Karena basmalah merupakan ayat yang diturunkan bersamaan dengan setiap surah di dalam Al-Qur’an, kecuali surah Bara’ah. Oleh karenanya, basmalah ditulis di setiap permulaan surah dalam Al-Qur’an, walaupun ia bukanlah termasuk ayat pada surat tersebut secara spesifik. Di permulaan penulisan buku-buku, surat-menyurat, naskah khotbah, dan jurnal ilmiah Hal ini merupakan salah satu bentuk meniru dan mencontoh Al-Qur’an dan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena beliau memulai surat-surat yang beliau tulis untuk para raja dengannya, sebagaimana surat beliau kepada Heraclius kaisar Romawi. Beliau memulai suratnya dengan, بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله، إلى هرقل عظيم الروم “Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad, Utusan Allah, kepada Heraclius, yang agung di Roma.” Hal ini juga dilakukan oleh nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana surat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada Bilqis. Allah Ta’ala mengisahkan, قَالَتۡ يٰۤاَيُّهَا الۡمَلَؤُا اِنِّىۡۤ اُلۡقِىَ اِلَىَّ كِتٰبٌ كَرِيۡمٌ * اِنَّهٗ مِنۡ سُلَيۡمٰنَ وَاِنَّهٗ بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيۡمِۙ * اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَىَّ وَاۡتُوۡنِىۡ مُسۡلِمِيۡنَ Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.” Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml: 29-31) Para pendahulu dan penerus bangsa ini juga telah menggunakan dan mengaplikasikannya di dalam buku-buku, surat, pidato, dan artikel mereka. Baca juga: Apakah Perlu Membaca Basmalah di Setiap Memulai Aktivitas? Yang kedua: Dengan mengucapkan “bismillah” saja Hal ini diperintahkan untuk diucapkan pada beberapa kondisi: Ketika berwudu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ “Tidak ada salat bagi yang tidak memiliki wudu. Dan tidak ada wudu bagi yang tidak membaca bismillah di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini hasan) Sebagian ulama mendaifkan hadis ini, namun dari berbagai jalur, hadis ini menjadi kuat. Sedangkan pe-nafi-an (peniadaan) yang disebutkan dalam hadis adalah peniadaan kesempurnaan dan bukan keabsahan wudunya. Jadi, maksudnya adalah wudunya tidak sempurna, bukan berarti tidak sah. Saat menaiki kendaraan Allah Ta’ala berfirman, وَقَالَ ٱرْكَبُوا۟ فِيهَا بِسْمِ ٱللَّهِ مَجْر۪ىٰهَا وَمُرْسَىٰهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ “Dan Nuh berkata, ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Hud: 41) Di dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu yang panjang, hadis yang mengisahkan kendaraan ontanya, disebutkan di dalamnya, ثُمَّ قالَ لِي: ارْكَبْ باسْمِ اللَّهِ “Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, ‘Naikilah kendaraan untamu dengan mengucapkan bismillah (dengan menyebut nama Allah).’” (HR. Muslim no. 715) Saat menyembelih dan berburu Berdasarkan firman Allah Ta’ala, فَكُلُوْا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ بِاٰيٰتِهٖ مُؤْمِنِيْنَ “Maka, makanlah dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am: 118) Dan juga firman Allah, فَكُلُوا۟ مِمَّآ أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَٱذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَيْهِ ۖ “Maka, makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya).” (QS. Al-Ma’idah: 4) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, إذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ المُعَلَّمَ، وَذَكَرْتَ اسْمَ اللهِ عليه فَكُلْ “Apabila kamu melepas anjing pemburu yang terlatih setelah kamu menyebut nama Allah ketika melepasnya, makanlah tangkapannya.” (HR. Muslim no. 1929) Sebelum makan Berdasarkan hadis yang sangat masyhur tentang nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang anak, يا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وكُلْ بيَمِينِكَ، وكُلْ ممَّا يَلِيكَ فَما زَالَتْ تِلكَ طِعْمَتي بَعْدُ “Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa yang di hadapanmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022) Sebelum melakukan hubungan suami istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَمَا لو أنَّ أحَدَهُمْ يَقولُ حِينَ يَأْتي أهْلَهُ: باسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطانَ، وجَنِّبِ الشَّيْطانَ ما رَزَقْتَنا، ثُمَّ قُدِّرَ بيْنَهُما في ذلكَ، أوْ قُضِيَ ولَدٌ؛ لَمْ يَضُرَّهُ شَيطانٌ أبَدًا. “Sekiranya saat mereka mendatangi isterinya membaca, ‘Bismillahi allahumma jannibnisy syaithaana wa jannibisy syaithaana ma razaqtanaa.’ Lalu mereka pun ditakdirkan mendapat keturunan dari hasil pergaulan itu, atau mereka dikaruniai anak, maka ia tidak akan diganggu oleh setan selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5165 dan Muslim no. 1434) Baca juga: Lebih Utama Memulai Chat dengan Basmalah atau Salam? Ketika keluar rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ﺇِﺫَﺍ ﺧَﺮَﺝَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻟَﺎ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻟَﺎ ﻗُﻮَّﺓَ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻳُﻘَﺎﻝُ ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ : ﻫُﺪِﻳﺖَ، ﻭَﻛُﻔِﻴﺖَ، ﻭَﻭُﻗِﻴﺖَ، ﻓَﺘَﺘَﻨَﺤَّﻰ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﺁﺧَﺮُ : ﻛَﻴْﻒَ ﻟَﻚَ ﺑِﺮَﺟُﻞٍ ﻗَﺪْ ﻫُﺪِﻱَ ﻭَﻛُﻔِﻲَ ﻭَﻭُﻗِﻲَ؟ “Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa, “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan, kecuali dengan-Nya). Maka, disampaikan kepadanya, ‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’ Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu, salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’ (HR. Abu Daud no. 5095 dan An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9917) Ketika hendak masuk ke dalam kamar mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, سَتْرُ ما بينَ أَعْيُنِ الجِنِّ و عَوْرَاتِ بَنِي آدمَ إذا دخلَ أحدُهُمْ الخلاء أنْ يقولَ : بسمِ اللهِ “Penutup antara mata jin dan aurat manusia yaitu, apabila seorang dari mereka melepaskan pakaian mengucapkan, ‘Bismillah (dengan menyebut nama Allah).’” (HR. Tirmidzi no. 606 dan Ibnu Majah no. 297) Saat mendapati rasa sakit pada salah satu anggota tubuh Jika seorang muslim merasakan sakit pada salah satu anggota tubuhnya, disyariatkan baginya untuk meletakkan tangan kanannya pada bagian yang sakit tersebut sembari membaca bismillah dan membaca doa yang telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada sahabat Utsman bin Abi Al-Ash radhiyallahu ‘anhu saat ia mengeluhkan rasa sakit yang tak kunjung sembuh pada tubuhnya, ضَعْ يَدَكَ علَى الَّذي تَأَلَّمَ مِن جَسَدِكَ، وَقُلْ: باسْمِ اللهِ، ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ باللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِن شَرِّ ما أَجِدُ وَأُحَاذِرُ “Letakkan tanganmu pada tempat yang sakit di badanmu dan ucapkanlah, ‘Bismillah.’ sebanyak tiga kali. Dan ucapkan juga sebanyak tujuh kali, ‘Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-nya, dari keburukan apa yang kurasakan dan kukhawatirkan.’” (HR. Muslim no. 2202) Saat hendak meletakkan mayit ke dalam liang lahad Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كان إذا وَضع الميتَ في القبرِ قال باسمِ اللهِ وباللهِ وعلى مِلَّةِ وفي لفظ وعلى سُنَّةِ رسولِ اللهِ “Bahwasanya apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan mayit di dalam kubur, maka beliau mengatakan, “Bismillahi wabillahi wa’alamillati” dan dalam riwayat lain dengan lafadz “wa’ala sunnati rasulillah” (Dengan nama Allah dan aku bersumpah dengan nama-Nya serta di atas ajaran/sunah Rasulullah).” (HR. Abu Dawud no. 3213, Tirmidzi no. 1046, dan Ibnu Majah no. 1550) Saat menutup pintu, mematikan lampu, menutup wadah air, dan tempat makan di malam hari Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إذا كانَ جُنْحُ اللَّيْلِ -أوْ أمْسَيْتُمْ- فَكُفُّوا صِبْيانَكُمْ؛ فإنَّ الشَّياطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فإذا ذَهَبَ ساعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخلُّوهُمْ، فأغْلِقُوا الأبْوابَ، واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ؛ فإنَّ الشَّيْطانَ لا يَفْتَحُ بابًا مُغْلَقًا، وأَوْكُوا قِرَبَكُمْ واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، ولو أنْ تَعْرُضُوا عليها شَيئًا، وأَطْفِئُوا مَصابِيحَكُمْ “Apabila malam mulai gelap atau malam telah tiba (waktu magrib), maka tahanlah anak-anak kalian (agar tidak keluar dari rumah), karena saat itu setan berkeliaran. Apabila hari sudah malam, maka lepaskanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu (rumah kalian) dan sebutlah nama Allah, karena setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup. Ikatlah wadah (air minum) kalian sambil menyebut nama Allah dan tutup pula bejana-bejana kalian sambil menyebut nama Allah walaupun hanya dengan menaruh sesuatu di atasnya, dan matikanlah lampu-lampu kalian.” (HR. Bukhari no. 5623 dan Muslim no. 2012) Ketika akan tidur di malam hari Berdasarkan hadis, أن رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، كان إذا أخذ مضجعَه من الليلِ قال: بسم اللهِ وضعتُ جنبي، اللهم اغفر لي ذنبي، وأخْسئْ شيطاني، وفكَّ رِهاني، واجعلني في النديِّ الأعلى. “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersiap tidur di malam hari, beliau berdoa, (yang artinya), ‘Ya Allah, aku rebahkan diriku. Ampunilah semua dosaku, cacatkanlah setanku, lepaskanlah gadaiku, dan jadikanlah aku berada pada jajaran yang tinggi bersama malaikat.’” (HR. Abu Dawud no. 5054) Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang mampu menjalankan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari, tak terkecuali mengamalkan hadis-hadis yang berkaitan dengan bacaan basmalah yang baru saja kita paparkan sebelumnya. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu A’lam bisshawab. Baca juga: Fawaid Seputar Basmalah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: basmalahbismillahbismillahirrahmanirrahim
Daftar Isi Toggle Yang pertama: Dibaca secara lengkap, yaitu “Bismillahirrahmanirrahim”Saat membaca Al-Qur’anDi permulaan penulisan buku-buku, surat-menyurat, naskah khotbah, dan jurnal ilmiahYang kedua: Dengan mengucapkan “bismillah” sajaKetika berwuduSaat menaiki kendaraanSaat menyembelih dan berburuSebelum makanSebelum melakukan hubungan suami istriKetika keluar rumahKetika hendak masuk ke dalam kamar mandiSaat mendapati rasa sakit pada salah satu anggota tubuhSaat hendak meletakkan mayit ke dalam liang lahadSaat menutup pintu, mematikan lampu, menutup wadah air, dan tempat makan di malam hariKetika akan tidur di malam hari Muslim yang baik adalah muslim yang menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai role model, suri teladan bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari dan berusaha meniru dan melaksanakan setiap detail kehidupannya sesuai dengan tata cara (sunah) yang telah beliau ajarkan. Seribu tahun lalu Rasulullah telah menyampaikan kepada umatnya agar selalu menapaki sunah-sunah beliau. Beliau bersabda yang artinya, “Maka, wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunahku (cara yang telah aku lakukan).” (HR. Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676) Di antara sunah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa lakukan dan beliau ajarkan kepada umatnya adalah mengucapkan basmalah di setiap aktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Pada pembahasan kali ini, kami akan paparkan beberapa kondisi yang sangat ditekankan untuk mengucapkan basmalah, kondisi-kondisi di mana terdapat dalil dan hadis yang sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan basmalah di dalamnya. Di dalam membaca serta mengamalkannya tuntunan mengucapkan basmalah, terdapat dua lafaz berbeda yang berbeda juga kapan dibacanya. Yang pertama: Dibaca secara lengkap, yaitu “Bismillahirrahmanirrahim” Saat membaca Al-Qur’an Terkhusus ketika mulai membaca awal-awal surah yang ada di dalamnya, kecuali pada surah Bara’ah (At-Taubah). Karena basmalah merupakan ayat yang diturunkan bersamaan dengan setiap surah di dalam Al-Qur’an, kecuali surah Bara’ah. Oleh karenanya, basmalah ditulis di setiap permulaan surah dalam Al-Qur’an, walaupun ia bukanlah termasuk ayat pada surat tersebut secara spesifik. Di permulaan penulisan buku-buku, surat-menyurat, naskah khotbah, dan jurnal ilmiah Hal ini merupakan salah satu bentuk meniru dan mencontoh Al-Qur’an dan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena beliau memulai surat-surat yang beliau tulis untuk para raja dengannya, sebagaimana surat beliau kepada Heraclius kaisar Romawi. Beliau memulai suratnya dengan, بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله، إلى هرقل عظيم الروم “Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad, Utusan Allah, kepada Heraclius, yang agung di Roma.” Hal ini juga dilakukan oleh nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana surat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada Bilqis. Allah Ta’ala mengisahkan, قَالَتۡ يٰۤاَيُّهَا الۡمَلَؤُا اِنِّىۡۤ اُلۡقِىَ اِلَىَّ كِتٰبٌ كَرِيۡمٌ * اِنَّهٗ مِنۡ سُلَيۡمٰنَ وَاِنَّهٗ بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيۡمِۙ * اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَىَّ وَاۡتُوۡنِىۡ مُسۡلِمِيۡنَ Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.” Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml: 29-31) Para pendahulu dan penerus bangsa ini juga telah menggunakan dan mengaplikasikannya di dalam buku-buku, surat, pidato, dan artikel mereka. Baca juga: Apakah Perlu Membaca Basmalah di Setiap Memulai Aktivitas? Yang kedua: Dengan mengucapkan “bismillah” saja Hal ini diperintahkan untuk diucapkan pada beberapa kondisi: Ketika berwudu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ “Tidak ada salat bagi yang tidak memiliki wudu. Dan tidak ada wudu bagi yang tidak membaca bismillah di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini hasan) Sebagian ulama mendaifkan hadis ini, namun dari berbagai jalur, hadis ini menjadi kuat. Sedangkan pe-nafi-an (peniadaan) yang disebutkan dalam hadis adalah peniadaan kesempurnaan dan bukan keabsahan wudunya. Jadi, maksudnya adalah wudunya tidak sempurna, bukan berarti tidak sah. Saat menaiki kendaraan Allah Ta’ala berfirman, وَقَالَ ٱرْكَبُوا۟ فِيهَا بِسْمِ ٱللَّهِ مَجْر۪ىٰهَا وَمُرْسَىٰهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ “Dan Nuh berkata, ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Hud: 41) Di dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu yang panjang, hadis yang mengisahkan kendaraan ontanya, disebutkan di dalamnya, ثُمَّ قالَ لِي: ارْكَبْ باسْمِ اللَّهِ “Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, ‘Naikilah kendaraan untamu dengan mengucapkan bismillah (dengan menyebut nama Allah).’” (HR. Muslim no. 715) Saat menyembelih dan berburu Berdasarkan firman Allah Ta’ala, فَكُلُوْا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ بِاٰيٰتِهٖ مُؤْمِنِيْنَ “Maka, makanlah dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am: 118) Dan juga firman Allah, فَكُلُوا۟ مِمَّآ أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَٱذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَيْهِ ۖ “Maka, makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya).” (QS. Al-Ma’idah: 4) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, إذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ المُعَلَّمَ، وَذَكَرْتَ اسْمَ اللهِ عليه فَكُلْ “Apabila kamu melepas anjing pemburu yang terlatih setelah kamu menyebut nama Allah ketika melepasnya, makanlah tangkapannya.” (HR. Muslim no. 1929) Sebelum makan Berdasarkan hadis yang sangat masyhur tentang nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang anak, يا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وكُلْ بيَمِينِكَ، وكُلْ ممَّا يَلِيكَ فَما زَالَتْ تِلكَ طِعْمَتي بَعْدُ “Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa yang di hadapanmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022) Sebelum melakukan hubungan suami istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَمَا لو أنَّ أحَدَهُمْ يَقولُ حِينَ يَأْتي أهْلَهُ: باسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطانَ، وجَنِّبِ الشَّيْطانَ ما رَزَقْتَنا، ثُمَّ قُدِّرَ بيْنَهُما في ذلكَ، أوْ قُضِيَ ولَدٌ؛ لَمْ يَضُرَّهُ شَيطانٌ أبَدًا. “Sekiranya saat mereka mendatangi isterinya membaca, ‘Bismillahi allahumma jannibnisy syaithaana wa jannibisy syaithaana ma razaqtanaa.’ Lalu mereka pun ditakdirkan mendapat keturunan dari hasil pergaulan itu, atau mereka dikaruniai anak, maka ia tidak akan diganggu oleh setan selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5165 dan Muslim no. 1434) Baca juga: Lebih Utama Memulai Chat dengan Basmalah atau Salam? Ketika keluar rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ﺇِﺫَﺍ ﺧَﺮَﺝَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻟَﺎ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻟَﺎ ﻗُﻮَّﺓَ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻳُﻘَﺎﻝُ ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ : ﻫُﺪِﻳﺖَ، ﻭَﻛُﻔِﻴﺖَ، ﻭَﻭُﻗِﻴﺖَ، ﻓَﺘَﺘَﻨَﺤَّﻰ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﺁﺧَﺮُ : ﻛَﻴْﻒَ ﻟَﻚَ ﺑِﺮَﺟُﻞٍ ﻗَﺪْ ﻫُﺪِﻱَ ﻭَﻛُﻔِﻲَ ﻭَﻭُﻗِﻲَ؟ “Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa, “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan, kecuali dengan-Nya). Maka, disampaikan kepadanya, ‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’ Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu, salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’ (HR. Abu Daud no. 5095 dan An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9917) Ketika hendak masuk ke dalam kamar mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, سَتْرُ ما بينَ أَعْيُنِ الجِنِّ و عَوْرَاتِ بَنِي آدمَ إذا دخلَ أحدُهُمْ الخلاء أنْ يقولَ : بسمِ اللهِ “Penutup antara mata jin dan aurat manusia yaitu, apabila seorang dari mereka melepaskan pakaian mengucapkan, ‘Bismillah (dengan menyebut nama Allah).’” (HR. Tirmidzi no. 606 dan Ibnu Majah no. 297) Saat mendapati rasa sakit pada salah satu anggota tubuh Jika seorang muslim merasakan sakit pada salah satu anggota tubuhnya, disyariatkan baginya untuk meletakkan tangan kanannya pada bagian yang sakit tersebut sembari membaca bismillah dan membaca doa yang telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada sahabat Utsman bin Abi Al-Ash radhiyallahu ‘anhu saat ia mengeluhkan rasa sakit yang tak kunjung sembuh pada tubuhnya, ضَعْ يَدَكَ علَى الَّذي تَأَلَّمَ مِن جَسَدِكَ، وَقُلْ: باسْمِ اللهِ، ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ باللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِن شَرِّ ما أَجِدُ وَأُحَاذِرُ “Letakkan tanganmu pada tempat yang sakit di badanmu dan ucapkanlah, ‘Bismillah.’ sebanyak tiga kali. Dan ucapkan juga sebanyak tujuh kali, ‘Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-nya, dari keburukan apa yang kurasakan dan kukhawatirkan.’” (HR. Muslim no. 2202) Saat hendak meletakkan mayit ke dalam liang lahad Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كان إذا وَضع الميتَ في القبرِ قال باسمِ اللهِ وباللهِ وعلى مِلَّةِ وفي لفظ وعلى سُنَّةِ رسولِ اللهِ “Bahwasanya apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan mayit di dalam kubur, maka beliau mengatakan, “Bismillahi wabillahi wa’alamillati” dan dalam riwayat lain dengan lafadz “wa’ala sunnati rasulillah” (Dengan nama Allah dan aku bersumpah dengan nama-Nya serta di atas ajaran/sunah Rasulullah).” (HR. Abu Dawud no. 3213, Tirmidzi no. 1046, dan Ibnu Majah no. 1550) Saat menutup pintu, mematikan lampu, menutup wadah air, dan tempat makan di malam hari Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إذا كانَ جُنْحُ اللَّيْلِ -أوْ أمْسَيْتُمْ- فَكُفُّوا صِبْيانَكُمْ؛ فإنَّ الشَّياطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فإذا ذَهَبَ ساعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخلُّوهُمْ، فأغْلِقُوا الأبْوابَ، واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ؛ فإنَّ الشَّيْطانَ لا يَفْتَحُ بابًا مُغْلَقًا، وأَوْكُوا قِرَبَكُمْ واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، ولو أنْ تَعْرُضُوا عليها شَيئًا، وأَطْفِئُوا مَصابِيحَكُمْ “Apabila malam mulai gelap atau malam telah tiba (waktu magrib), maka tahanlah anak-anak kalian (agar tidak keluar dari rumah), karena saat itu setan berkeliaran. Apabila hari sudah malam, maka lepaskanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu (rumah kalian) dan sebutlah nama Allah, karena setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup. Ikatlah wadah (air minum) kalian sambil menyebut nama Allah dan tutup pula bejana-bejana kalian sambil menyebut nama Allah walaupun hanya dengan menaruh sesuatu di atasnya, dan matikanlah lampu-lampu kalian.” (HR. Bukhari no. 5623 dan Muslim no. 2012) Ketika akan tidur di malam hari Berdasarkan hadis, أن رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، كان إذا أخذ مضجعَه من الليلِ قال: بسم اللهِ وضعتُ جنبي، اللهم اغفر لي ذنبي، وأخْسئْ شيطاني، وفكَّ رِهاني، واجعلني في النديِّ الأعلى. “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersiap tidur di malam hari, beliau berdoa, (yang artinya), ‘Ya Allah, aku rebahkan diriku. Ampunilah semua dosaku, cacatkanlah setanku, lepaskanlah gadaiku, dan jadikanlah aku berada pada jajaran yang tinggi bersama malaikat.’” (HR. Abu Dawud no. 5054) Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang mampu menjalankan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari, tak terkecuali mengamalkan hadis-hadis yang berkaitan dengan bacaan basmalah yang baru saja kita paparkan sebelumnya. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu A’lam bisshawab. Baca juga: Fawaid Seputar Basmalah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: basmalahbismillahbismillahirrahmanirrahim


Daftar Isi Toggle Yang pertama: Dibaca secara lengkap, yaitu “Bismillahirrahmanirrahim”Saat membaca Al-Qur’anDi permulaan penulisan buku-buku, surat-menyurat, naskah khotbah, dan jurnal ilmiahYang kedua: Dengan mengucapkan “bismillah” sajaKetika berwuduSaat menaiki kendaraanSaat menyembelih dan berburuSebelum makanSebelum melakukan hubungan suami istriKetika keluar rumahKetika hendak masuk ke dalam kamar mandiSaat mendapati rasa sakit pada salah satu anggota tubuhSaat hendak meletakkan mayit ke dalam liang lahadSaat menutup pintu, mematikan lampu, menutup wadah air, dan tempat makan di malam hariKetika akan tidur di malam hari Muslim yang baik adalah muslim yang menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai role model, suri teladan bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari dan berusaha meniru dan melaksanakan setiap detail kehidupannya sesuai dengan tata cara (sunah) yang telah beliau ajarkan. Seribu tahun lalu Rasulullah telah menyampaikan kepada umatnya agar selalu menapaki sunah-sunah beliau. Beliau bersabda yang artinya, “Maka, wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunahku (cara yang telah aku lakukan).” (HR. Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676) Di antara sunah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa lakukan dan beliau ajarkan kepada umatnya adalah mengucapkan basmalah di setiap aktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Pada pembahasan kali ini, kami akan paparkan beberapa kondisi yang sangat ditekankan untuk mengucapkan basmalah, kondisi-kondisi di mana terdapat dalil dan hadis yang sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan basmalah di dalamnya. Di dalam membaca serta mengamalkannya tuntunan mengucapkan basmalah, terdapat dua lafaz berbeda yang berbeda juga kapan dibacanya. Yang pertama: Dibaca secara lengkap, yaitu “Bismillahirrahmanirrahim” Saat membaca Al-Qur’an Terkhusus ketika mulai membaca awal-awal surah yang ada di dalamnya, kecuali pada surah Bara’ah (At-Taubah). Karena basmalah merupakan ayat yang diturunkan bersamaan dengan setiap surah di dalam Al-Qur’an, kecuali surah Bara’ah. Oleh karenanya, basmalah ditulis di setiap permulaan surah dalam Al-Qur’an, walaupun ia bukanlah termasuk ayat pada surat tersebut secara spesifik. Di permulaan penulisan buku-buku, surat-menyurat, naskah khotbah, dan jurnal ilmiah Hal ini merupakan salah satu bentuk meniru dan mencontoh Al-Qur’an dan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena beliau memulai surat-surat yang beliau tulis untuk para raja dengannya, sebagaimana surat beliau kepada Heraclius kaisar Romawi. Beliau memulai suratnya dengan, بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله، إلى هرقل عظيم الروم “Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad, Utusan Allah, kepada Heraclius, yang agung di Roma.” Hal ini juga dilakukan oleh nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana surat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada Bilqis. Allah Ta’ala mengisahkan, قَالَتۡ يٰۤاَيُّهَا الۡمَلَؤُا اِنِّىۡۤ اُلۡقِىَ اِلَىَّ كِتٰبٌ كَرِيۡمٌ * اِنَّهٗ مِنۡ سُلَيۡمٰنَ وَاِنَّهٗ بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيۡمِۙ * اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَىَّ وَاۡتُوۡنِىۡ مُسۡلِمِيۡنَ Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.” Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml: 29-31) Para pendahulu dan penerus bangsa ini juga telah menggunakan dan mengaplikasikannya di dalam buku-buku, surat, pidato, dan artikel mereka. Baca juga: Apakah Perlu Membaca Basmalah di Setiap Memulai Aktivitas? Yang kedua: Dengan mengucapkan “bismillah” saja Hal ini diperintahkan untuk diucapkan pada beberapa kondisi: Ketika berwudu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ “Tidak ada salat bagi yang tidak memiliki wudu. Dan tidak ada wudu bagi yang tidak membaca bismillah di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini hasan) Sebagian ulama mendaifkan hadis ini, namun dari berbagai jalur, hadis ini menjadi kuat. Sedangkan pe-nafi-an (peniadaan) yang disebutkan dalam hadis adalah peniadaan kesempurnaan dan bukan keabsahan wudunya. Jadi, maksudnya adalah wudunya tidak sempurna, bukan berarti tidak sah. Saat menaiki kendaraan Allah Ta’ala berfirman, وَقَالَ ٱرْكَبُوا۟ فِيهَا بِسْمِ ٱللَّهِ مَجْر۪ىٰهَا وَمُرْسَىٰهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ “Dan Nuh berkata, ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Hud: 41) Di dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu yang panjang, hadis yang mengisahkan kendaraan ontanya, disebutkan di dalamnya, ثُمَّ قالَ لِي: ارْكَبْ باسْمِ اللَّهِ “Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, ‘Naikilah kendaraan untamu dengan mengucapkan bismillah (dengan menyebut nama Allah).’” (HR. Muslim no. 715) Saat menyembelih dan berburu Berdasarkan firman Allah Ta’ala, فَكُلُوْا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ بِاٰيٰتِهٖ مُؤْمِنِيْنَ “Maka, makanlah dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am: 118) Dan juga firman Allah, فَكُلُوا۟ مِمَّآ أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَٱذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَيْهِ ۖ “Maka, makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya).” (QS. Al-Ma’idah: 4) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, إذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ المُعَلَّمَ، وَذَكَرْتَ اسْمَ اللهِ عليه فَكُلْ “Apabila kamu melepas anjing pemburu yang terlatih setelah kamu menyebut nama Allah ketika melepasnya, makanlah tangkapannya.” (HR. Muslim no. 1929) Sebelum makan Berdasarkan hadis yang sangat masyhur tentang nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang anak, يا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وكُلْ بيَمِينِكَ، وكُلْ ممَّا يَلِيكَ فَما زَالَتْ تِلكَ طِعْمَتي بَعْدُ “Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa yang di hadapanmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022) Sebelum melakukan hubungan suami istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَمَا لو أنَّ أحَدَهُمْ يَقولُ حِينَ يَأْتي أهْلَهُ: باسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطانَ، وجَنِّبِ الشَّيْطانَ ما رَزَقْتَنا، ثُمَّ قُدِّرَ بيْنَهُما في ذلكَ، أوْ قُضِيَ ولَدٌ؛ لَمْ يَضُرَّهُ شَيطانٌ أبَدًا. “Sekiranya saat mereka mendatangi isterinya membaca, ‘Bismillahi allahumma jannibnisy syaithaana wa jannibisy syaithaana ma razaqtanaa.’ Lalu mereka pun ditakdirkan mendapat keturunan dari hasil pergaulan itu, atau mereka dikaruniai anak, maka ia tidak akan diganggu oleh setan selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5165 dan Muslim no. 1434) Baca juga: Lebih Utama Memulai Chat dengan Basmalah atau Salam? Ketika keluar rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ﺇِﺫَﺍ ﺧَﺮَﺝَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻟَﺎ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻟَﺎ ﻗُﻮَّﺓَ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻳُﻘَﺎﻝُ ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ : ﻫُﺪِﻳﺖَ، ﻭَﻛُﻔِﻴﺖَ، ﻭَﻭُﻗِﻴﺖَ، ﻓَﺘَﺘَﻨَﺤَّﻰ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﺁﺧَﺮُ : ﻛَﻴْﻒَ ﻟَﻚَ ﺑِﺮَﺟُﻞٍ ﻗَﺪْ ﻫُﺪِﻱَ ﻭَﻛُﻔِﻲَ ﻭَﻭُﻗِﻲَ؟ “Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa, “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan, kecuali dengan-Nya). Maka, disampaikan kepadanya, ‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’ Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu, salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’ (HR. Abu Daud no. 5095 dan An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9917) Ketika hendak masuk ke dalam kamar mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, سَتْرُ ما بينَ أَعْيُنِ الجِنِّ و عَوْرَاتِ بَنِي آدمَ إذا دخلَ أحدُهُمْ الخلاء أنْ يقولَ : بسمِ اللهِ “Penutup antara mata jin dan aurat manusia yaitu, apabila seorang dari mereka melepaskan pakaian mengucapkan, ‘Bismillah (dengan menyebut nama Allah).’” (HR. Tirmidzi no. 606 dan Ibnu Majah no. 297) Saat mendapati rasa sakit pada salah satu anggota tubuh Jika seorang muslim merasakan sakit pada salah satu anggota tubuhnya, disyariatkan baginya untuk meletakkan tangan kanannya pada bagian yang sakit tersebut sembari membaca bismillah dan membaca doa yang telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada sahabat Utsman bin Abi Al-Ash radhiyallahu ‘anhu saat ia mengeluhkan rasa sakit yang tak kunjung sembuh pada tubuhnya, ضَعْ يَدَكَ علَى الَّذي تَأَلَّمَ مِن جَسَدِكَ، وَقُلْ: باسْمِ اللهِ، ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ باللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِن شَرِّ ما أَجِدُ وَأُحَاذِرُ “Letakkan tanganmu pada tempat yang sakit di badanmu dan ucapkanlah, ‘Bismillah.’ sebanyak tiga kali. Dan ucapkan juga sebanyak tujuh kali, ‘Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-nya, dari keburukan apa yang kurasakan dan kukhawatirkan.’” (HR. Muslim no. 2202) Saat hendak meletakkan mayit ke dalam liang lahad Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كان إذا وَضع الميتَ في القبرِ قال باسمِ اللهِ وباللهِ وعلى مِلَّةِ وفي لفظ وعلى سُنَّةِ رسولِ اللهِ “Bahwasanya apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan mayit di dalam kubur, maka beliau mengatakan, “Bismillahi wabillahi wa’alamillati” dan dalam riwayat lain dengan lafadz “wa’ala sunnati rasulillah” (Dengan nama Allah dan aku bersumpah dengan nama-Nya serta di atas ajaran/sunah Rasulullah).” (HR. Abu Dawud no. 3213, Tirmidzi no. 1046, dan Ibnu Majah no. 1550) Saat menutup pintu, mematikan lampu, menutup wadah air, dan tempat makan di malam hari Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إذا كانَ جُنْحُ اللَّيْلِ -أوْ أمْسَيْتُمْ- فَكُفُّوا صِبْيانَكُمْ؛ فإنَّ الشَّياطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فإذا ذَهَبَ ساعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخلُّوهُمْ، فأغْلِقُوا الأبْوابَ، واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ؛ فإنَّ الشَّيْطانَ لا يَفْتَحُ بابًا مُغْلَقًا، وأَوْكُوا قِرَبَكُمْ واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ واذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، ولو أنْ تَعْرُضُوا عليها شَيئًا، وأَطْفِئُوا مَصابِيحَكُمْ “Apabila malam mulai gelap atau malam telah tiba (waktu magrib), maka tahanlah anak-anak kalian (agar tidak keluar dari rumah), karena saat itu setan berkeliaran. Apabila hari sudah malam, maka lepaskanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu (rumah kalian) dan sebutlah nama Allah, karena setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup. Ikatlah wadah (air minum) kalian sambil menyebut nama Allah dan tutup pula bejana-bejana kalian sambil menyebut nama Allah walaupun hanya dengan menaruh sesuatu di atasnya, dan matikanlah lampu-lampu kalian.” (HR. Bukhari no. 5623 dan Muslim no. 2012) Ketika akan tidur di malam hari Berdasarkan hadis, أن رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، كان إذا أخذ مضجعَه من الليلِ قال: بسم اللهِ وضعتُ جنبي، اللهم اغفر لي ذنبي، وأخْسئْ شيطاني، وفكَّ رِهاني، واجعلني في النديِّ الأعلى. “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersiap tidur di malam hari, beliau berdoa, (yang artinya), ‘Ya Allah, aku rebahkan diriku. Ampunilah semua dosaku, cacatkanlah setanku, lepaskanlah gadaiku, dan jadikanlah aku berada pada jajaran yang tinggi bersama malaikat.’” (HR. Abu Dawud no. 5054) Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang mampu menjalankan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari, tak terkecuali mengamalkan hadis-hadis yang berkaitan dengan bacaan basmalah yang baru saja kita paparkan sebelumnya. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu A’lam bisshawab. Baca juga: Fawaid Seputar Basmalah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: basmalahbismillahbismillahirrahmanirrahim

Fatwa Ulama: Pengaruh Iman kepada Hari Akhir pada Akidah Seorang Muslim

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Jemaah bertanya, “Apakah pengaruh keimanan kepada hari akhir pada akidah seorang muslim?” Jawaban: Alhamdulillah rabbil ‘alamin, wa shallallahu wasallam ‘ala nabiyyina muhammadin wa ashhabihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumi ad-din. Iman terhadap hari akhir merupakan satu di antara rukun iman yang enam. Rukun iman yang pernah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau ditanya oleh Jibril mengenai iman ini. Beliau menjawab, أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir …” Pengaruh keimanan ini pada hati dan amal seorang mukmin sangat besar. Jika seorang mukmin beriman kepada hari akhir, maka dia akan beramal untuknya (hari akhir, pent.). Beramal untuk hari akhir adalah dengan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dan meninggalkan larangan Allah dan Rasul-Nya. Jika keimanan kepada hari akhir sirna, maka akan sirna pula seluruh keimanan. Karena ia (iman kepada hari akhir, pent.) adalah satu di antara rukun iman. Kehilangan satu dari rukun iman, maka dia kehilangan seluruh iman, sedangkan iman itu tidak terbagi-bagi. Seseorang hendaknya beriman dengan seluruh rukun iman. Jika tidak, hilanglah seluruh keimanannya. Pengaruh keimanan kepada hari akhir sangat agung. Allah Tabaraka wa Ta’ala menyebutkannya di banyak tempat di dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman menerangkan bahwa ingkar terhadap hari akhir adalah kekafiran, زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ “Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.’” (QS. At-Tagabun: 8) Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bersumpah bahwa akan dibangkitkan. Allah menjelaskan bahwa hal tersebut mudah bagi Allah, وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ . Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الأَعْلَى فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Ar-Rum: 27) Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Penyesalan di Hari Akhir *** Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/12932 Tags: akidahiman kepada hari akhirmuslim

Fatwa Ulama: Pengaruh Iman kepada Hari Akhir pada Akidah Seorang Muslim

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Jemaah bertanya, “Apakah pengaruh keimanan kepada hari akhir pada akidah seorang muslim?” Jawaban: Alhamdulillah rabbil ‘alamin, wa shallallahu wasallam ‘ala nabiyyina muhammadin wa ashhabihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumi ad-din. Iman terhadap hari akhir merupakan satu di antara rukun iman yang enam. Rukun iman yang pernah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau ditanya oleh Jibril mengenai iman ini. Beliau menjawab, أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir …” Pengaruh keimanan ini pada hati dan amal seorang mukmin sangat besar. Jika seorang mukmin beriman kepada hari akhir, maka dia akan beramal untuknya (hari akhir, pent.). Beramal untuk hari akhir adalah dengan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dan meninggalkan larangan Allah dan Rasul-Nya. Jika keimanan kepada hari akhir sirna, maka akan sirna pula seluruh keimanan. Karena ia (iman kepada hari akhir, pent.) adalah satu di antara rukun iman. Kehilangan satu dari rukun iman, maka dia kehilangan seluruh iman, sedangkan iman itu tidak terbagi-bagi. Seseorang hendaknya beriman dengan seluruh rukun iman. Jika tidak, hilanglah seluruh keimanannya. Pengaruh keimanan kepada hari akhir sangat agung. Allah Tabaraka wa Ta’ala menyebutkannya di banyak tempat di dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman menerangkan bahwa ingkar terhadap hari akhir adalah kekafiran, زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ “Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.’” (QS. At-Tagabun: 8) Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bersumpah bahwa akan dibangkitkan. Allah menjelaskan bahwa hal tersebut mudah bagi Allah, وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ . Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الأَعْلَى فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Ar-Rum: 27) Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Penyesalan di Hari Akhir *** Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/12932 Tags: akidahiman kepada hari akhirmuslim
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Jemaah bertanya, “Apakah pengaruh keimanan kepada hari akhir pada akidah seorang muslim?” Jawaban: Alhamdulillah rabbil ‘alamin, wa shallallahu wasallam ‘ala nabiyyina muhammadin wa ashhabihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumi ad-din. Iman terhadap hari akhir merupakan satu di antara rukun iman yang enam. Rukun iman yang pernah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau ditanya oleh Jibril mengenai iman ini. Beliau menjawab, أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir …” Pengaruh keimanan ini pada hati dan amal seorang mukmin sangat besar. Jika seorang mukmin beriman kepada hari akhir, maka dia akan beramal untuknya (hari akhir, pent.). Beramal untuk hari akhir adalah dengan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dan meninggalkan larangan Allah dan Rasul-Nya. Jika keimanan kepada hari akhir sirna, maka akan sirna pula seluruh keimanan. Karena ia (iman kepada hari akhir, pent.) adalah satu di antara rukun iman. Kehilangan satu dari rukun iman, maka dia kehilangan seluruh iman, sedangkan iman itu tidak terbagi-bagi. Seseorang hendaknya beriman dengan seluruh rukun iman. Jika tidak, hilanglah seluruh keimanannya. Pengaruh keimanan kepada hari akhir sangat agung. Allah Tabaraka wa Ta’ala menyebutkannya di banyak tempat di dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman menerangkan bahwa ingkar terhadap hari akhir adalah kekafiran, زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ “Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.’” (QS. At-Tagabun: 8) Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bersumpah bahwa akan dibangkitkan. Allah menjelaskan bahwa hal tersebut mudah bagi Allah, وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ . Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الأَعْلَى فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Ar-Rum: 27) Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Penyesalan di Hari Akhir *** Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/12932 Tags: akidahiman kepada hari akhirmuslim


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Jemaah bertanya, “Apakah pengaruh keimanan kepada hari akhir pada akidah seorang muslim?” Jawaban: Alhamdulillah rabbil ‘alamin, wa shallallahu wasallam ‘ala nabiyyina muhammadin wa ashhabihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumi ad-din. Iman terhadap hari akhir merupakan satu di antara rukun iman yang enam. Rukun iman yang pernah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau ditanya oleh Jibril mengenai iman ini. Beliau menjawab, أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir …” Pengaruh keimanan ini pada hati dan amal seorang mukmin sangat besar. Jika seorang mukmin beriman kepada hari akhir, maka dia akan beramal untuknya (hari akhir, pent.). Beramal untuk hari akhir adalah dengan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dan meninggalkan larangan Allah dan Rasul-Nya. Jika keimanan kepada hari akhir sirna, maka akan sirna pula seluruh keimanan. Karena ia (iman kepada hari akhir, pent.) adalah satu di antara rukun iman. Kehilangan satu dari rukun iman, maka dia kehilangan seluruh iman, sedangkan iman itu tidak terbagi-bagi. Seseorang hendaknya beriman dengan seluruh rukun iman. Jika tidak, hilanglah seluruh keimanannya. Pengaruh keimanan kepada hari akhir sangat agung. Allah Tabaraka wa Ta’ala menyebutkannya di banyak tempat di dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman menerangkan bahwa ingkar terhadap hari akhir adalah kekafiran, زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ “Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.’” (QS. At-Tagabun: 8) Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bersumpah bahwa akan dibangkitkan. Allah menjelaskan bahwa hal tersebut mudah bagi Allah, وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ . Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الأَعْلَى فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Ar-Rum: 27) Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Penyesalan di Hari Akhir *** Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/12932 Tags: akidahiman kepada hari akhirmuslim

Fatwa Ulama: Apakah Benar Penghafal Al-Quran 30 Juz Tidak Akan Masuk Neraka?

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Semoga Allah memperbaiki kondisi engkau. Seorang wanita bertanya, “Wahai Syekh, apakah benar penghafal Al-Qur’an 30 juz akan Allah haramkan dari api neraka?” Jawaban: Saya tidak mengetahui hal tersebut datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagi yang menghafal Al-Qur’an 30 juz atau hanya sebagiannya, maka Al-Qur’an akan datang sebagai hujjah untuknya (yang membela dirinya, pent.) atau sebaliknya, (menjadi) hujjah atas dirinya. Al-Qur’an akan datang menjadi hujjah baginya itu tidak terhadap semua penghafal Al-Qur’an. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, القرآن حجة لك أو عليك “Al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau hujjah atasmu.” Maka, jika seseorang beramal dengan Al-Qur’an, membenarkan beritanya, dan menerima hukum-hukumnya, maka Al-Qur’an akan menjadi hujjah baginya. Namun, jika seseorang berpaling dan menjauh darinya, maka Al-Qur’an akan datang menjadi hujjah atas dirinya. Allah Ta’ala berfirman, فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى ەۙ فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى وَكَذٰلِكَ نَجْزِيْ مَنْ اَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْۢ بِاٰيٰتِ رَبِّهٖۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَشَدُّ وَاَبْقٰى “Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?’ Dia (Allah) berfirman, ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.’ Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS. Thoha: 123-127) Akan tetapi, saya mengajak saudaraku muslim, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menghafal kitabullah. Karena kitabullah tabaraka wa ta’ala adalah harta simpanan dan ghanimah. Jika seseorang menghafalnya, maka dia dapat membacanya di setiap waktu, di setiap tempat, kecuali di waktu dan tempat yang terlarang membacanya di sana. Dia dapat membacanya saat berbaring di atas tempat tidur, di pasar, saat jalan ke masjid, atau saat perjalanan ke sekolah, atau saat berjalan ke majelis zikir, atau saat akan pergi berdagang. Dan Al-Qur’an itu tidak sama seperti hal yang lain. Al-Qur’an yang mulia itu setiap hurufnya mengandung kebaikan. Setiap kebaikannya diganjar dengan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat, dan dengan ganjaran yang berlipat-lipat. Seorang yang senantiasa men-tadaburi (merenungkan makna) Al-Qur’an akan menambah kecintaannya pada Allah Ta’ala, dan bertambah (pula) pengagungannya. Sehingga Al-Qur’an menjadi teman baginya yang senantiasa dibacanya, sebaliknya dia akan sedih dengan jauh darinya. Nasihatku untuk saudara muslim seluruhnya, saya nasihatkan untuk bersemangat menghafal Al-Qur’an, dan terlebih pada pemuda. Hal ini karena dengan menghafal di usia muda, dia akan mendapatkan dua keutamaan: Pertama: Pemuda lebih mudah mengingat/menghafal dibandingkan yang tua. Kedua: Pemuda lebih jarang lupa dibandingkan yang tua. Maka, kedua hal ini merupakan keutamaan yang pertama. Yang kedua kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk dari orang yang membaca kitabullah dengan sebenar-benarnya bacaan. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Wajibnya Mempelajari dan Mentadabburi al-Qur’an *** Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/12445 Tags: Al-Quranmasuk nerakapenghafal qur'an

Fatwa Ulama: Apakah Benar Penghafal Al-Quran 30 Juz Tidak Akan Masuk Neraka?

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Semoga Allah memperbaiki kondisi engkau. Seorang wanita bertanya, “Wahai Syekh, apakah benar penghafal Al-Qur’an 30 juz akan Allah haramkan dari api neraka?” Jawaban: Saya tidak mengetahui hal tersebut datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagi yang menghafal Al-Qur’an 30 juz atau hanya sebagiannya, maka Al-Qur’an akan datang sebagai hujjah untuknya (yang membela dirinya, pent.) atau sebaliknya, (menjadi) hujjah atas dirinya. Al-Qur’an akan datang menjadi hujjah baginya itu tidak terhadap semua penghafal Al-Qur’an. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, القرآن حجة لك أو عليك “Al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau hujjah atasmu.” Maka, jika seseorang beramal dengan Al-Qur’an, membenarkan beritanya, dan menerima hukum-hukumnya, maka Al-Qur’an akan menjadi hujjah baginya. Namun, jika seseorang berpaling dan menjauh darinya, maka Al-Qur’an akan datang menjadi hujjah atas dirinya. Allah Ta’ala berfirman, فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى ەۙ فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى وَكَذٰلِكَ نَجْزِيْ مَنْ اَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْۢ بِاٰيٰتِ رَبِّهٖۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَشَدُّ وَاَبْقٰى “Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?’ Dia (Allah) berfirman, ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.’ Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS. Thoha: 123-127) Akan tetapi, saya mengajak saudaraku muslim, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menghafal kitabullah. Karena kitabullah tabaraka wa ta’ala adalah harta simpanan dan ghanimah. Jika seseorang menghafalnya, maka dia dapat membacanya di setiap waktu, di setiap tempat, kecuali di waktu dan tempat yang terlarang membacanya di sana. Dia dapat membacanya saat berbaring di atas tempat tidur, di pasar, saat jalan ke masjid, atau saat perjalanan ke sekolah, atau saat berjalan ke majelis zikir, atau saat akan pergi berdagang. Dan Al-Qur’an itu tidak sama seperti hal yang lain. Al-Qur’an yang mulia itu setiap hurufnya mengandung kebaikan. Setiap kebaikannya diganjar dengan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat, dan dengan ganjaran yang berlipat-lipat. Seorang yang senantiasa men-tadaburi (merenungkan makna) Al-Qur’an akan menambah kecintaannya pada Allah Ta’ala, dan bertambah (pula) pengagungannya. Sehingga Al-Qur’an menjadi teman baginya yang senantiasa dibacanya, sebaliknya dia akan sedih dengan jauh darinya. Nasihatku untuk saudara muslim seluruhnya, saya nasihatkan untuk bersemangat menghafal Al-Qur’an, dan terlebih pada pemuda. Hal ini karena dengan menghafal di usia muda, dia akan mendapatkan dua keutamaan: Pertama: Pemuda lebih mudah mengingat/menghafal dibandingkan yang tua. Kedua: Pemuda lebih jarang lupa dibandingkan yang tua. Maka, kedua hal ini merupakan keutamaan yang pertama. Yang kedua kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk dari orang yang membaca kitabullah dengan sebenar-benarnya bacaan. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Wajibnya Mempelajari dan Mentadabburi al-Qur’an *** Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/12445 Tags: Al-Quranmasuk nerakapenghafal qur'an
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Semoga Allah memperbaiki kondisi engkau. Seorang wanita bertanya, “Wahai Syekh, apakah benar penghafal Al-Qur’an 30 juz akan Allah haramkan dari api neraka?” Jawaban: Saya tidak mengetahui hal tersebut datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagi yang menghafal Al-Qur’an 30 juz atau hanya sebagiannya, maka Al-Qur’an akan datang sebagai hujjah untuknya (yang membela dirinya, pent.) atau sebaliknya, (menjadi) hujjah atas dirinya. Al-Qur’an akan datang menjadi hujjah baginya itu tidak terhadap semua penghafal Al-Qur’an. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, القرآن حجة لك أو عليك “Al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau hujjah atasmu.” Maka, jika seseorang beramal dengan Al-Qur’an, membenarkan beritanya, dan menerima hukum-hukumnya, maka Al-Qur’an akan menjadi hujjah baginya. Namun, jika seseorang berpaling dan menjauh darinya, maka Al-Qur’an akan datang menjadi hujjah atas dirinya. Allah Ta’ala berfirman, فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى ەۙ فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى وَكَذٰلِكَ نَجْزِيْ مَنْ اَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْۢ بِاٰيٰتِ رَبِّهٖۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَشَدُّ وَاَبْقٰى “Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?’ Dia (Allah) berfirman, ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.’ Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS. Thoha: 123-127) Akan tetapi, saya mengajak saudaraku muslim, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menghafal kitabullah. Karena kitabullah tabaraka wa ta’ala adalah harta simpanan dan ghanimah. Jika seseorang menghafalnya, maka dia dapat membacanya di setiap waktu, di setiap tempat, kecuali di waktu dan tempat yang terlarang membacanya di sana. Dia dapat membacanya saat berbaring di atas tempat tidur, di pasar, saat jalan ke masjid, atau saat perjalanan ke sekolah, atau saat berjalan ke majelis zikir, atau saat akan pergi berdagang. Dan Al-Qur’an itu tidak sama seperti hal yang lain. Al-Qur’an yang mulia itu setiap hurufnya mengandung kebaikan. Setiap kebaikannya diganjar dengan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat, dan dengan ganjaran yang berlipat-lipat. Seorang yang senantiasa men-tadaburi (merenungkan makna) Al-Qur’an akan menambah kecintaannya pada Allah Ta’ala, dan bertambah (pula) pengagungannya. Sehingga Al-Qur’an menjadi teman baginya yang senantiasa dibacanya, sebaliknya dia akan sedih dengan jauh darinya. Nasihatku untuk saudara muslim seluruhnya, saya nasihatkan untuk bersemangat menghafal Al-Qur’an, dan terlebih pada pemuda. Hal ini karena dengan menghafal di usia muda, dia akan mendapatkan dua keutamaan: Pertama: Pemuda lebih mudah mengingat/menghafal dibandingkan yang tua. Kedua: Pemuda lebih jarang lupa dibandingkan yang tua. Maka, kedua hal ini merupakan keutamaan yang pertama. Yang kedua kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk dari orang yang membaca kitabullah dengan sebenar-benarnya bacaan. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Wajibnya Mempelajari dan Mentadabburi al-Qur’an *** Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/12445 Tags: Al-Quranmasuk nerakapenghafal qur'an


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Semoga Allah memperbaiki kondisi engkau. Seorang wanita bertanya, “Wahai Syekh, apakah benar penghafal Al-Qur’an 30 juz akan Allah haramkan dari api neraka?” Jawaban: Saya tidak mengetahui hal tersebut datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagi yang menghafal Al-Qur’an 30 juz atau hanya sebagiannya, maka Al-Qur’an akan datang sebagai hujjah untuknya (yang membela dirinya, pent.) atau sebaliknya, (menjadi) hujjah atas dirinya. Al-Qur’an akan datang menjadi hujjah baginya itu tidak terhadap semua penghafal Al-Qur’an. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, القرآن حجة لك أو عليك “Al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau hujjah atasmu.” Maka, jika seseorang beramal dengan Al-Qur’an, membenarkan beritanya, dan menerima hukum-hukumnya, maka Al-Qur’an akan menjadi hujjah baginya. Namun, jika seseorang berpaling dan menjauh darinya, maka Al-Qur’an akan datang menjadi hujjah atas dirinya. Allah Ta’ala berfirman, فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى ەۙ فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى وَكَذٰلِكَ نَجْزِيْ مَنْ اَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْۢ بِاٰيٰتِ رَبِّهٖۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَشَدُّ وَاَبْقٰى “Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?’ Dia (Allah) berfirman, ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.’ Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS. Thoha: 123-127) Akan tetapi, saya mengajak saudaraku muslim, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menghafal kitabullah. Karena kitabullah tabaraka wa ta’ala adalah harta simpanan dan ghanimah. Jika seseorang menghafalnya, maka dia dapat membacanya di setiap waktu, di setiap tempat, kecuali di waktu dan tempat yang terlarang membacanya di sana. Dia dapat membacanya saat berbaring di atas tempat tidur, di pasar, saat jalan ke masjid, atau saat perjalanan ke sekolah, atau saat berjalan ke majelis zikir, atau saat akan pergi berdagang. Dan Al-Qur’an itu tidak sama seperti hal yang lain. Al-Qur’an yang mulia itu setiap hurufnya mengandung kebaikan. Setiap kebaikannya diganjar dengan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat, dan dengan ganjaran yang berlipat-lipat. Seorang yang senantiasa men-tadaburi (merenungkan makna) Al-Qur’an akan menambah kecintaannya pada Allah Ta’ala, dan bertambah (pula) pengagungannya. Sehingga Al-Qur’an menjadi teman baginya yang senantiasa dibacanya, sebaliknya dia akan sedih dengan jauh darinya. Nasihatku untuk saudara muslim seluruhnya, saya nasihatkan untuk bersemangat menghafal Al-Qur’an, dan terlebih pada pemuda. Hal ini karena dengan menghafal di usia muda, dia akan mendapatkan dua keutamaan: Pertama: Pemuda lebih mudah mengingat/menghafal dibandingkan yang tua. Kedua: Pemuda lebih jarang lupa dibandingkan yang tua. Maka, kedua hal ini merupakan keutamaan yang pertama. Yang kedua kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk dari orang yang membaca kitabullah dengan sebenar-benarnya bacaan. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Wajibnya Mempelajari dan Mentadabburi al-Qur’an *** Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/12445 Tags: Al-Quranmasuk nerakapenghafal qur'an

Jangan Pernah Merasa Berjasa kepada Allah dengan Ibadahmu – Syaikh Shalih Sindi #nasehatulama

Dalam kitab Taʿẓīm Qadriṣ Ṣalāhkarya al-Marwazī —Semoga Allah Merahmatinya—beliau meriwayatkan sebuah hadis dari salah seorang Sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Sanadnya tidak mengapa.” Hadis ini mengagumkan!Dalam hadis ini beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengabarkanbahwa di antara para malaikat, ada sekelompok malaikat yang selalu bersujud kepada Allahsejak Allah Menciptakan langit dan bumitanpa pernah mengangkat kepala mereka,dan tidak akan mengangkatnya kecuali pada hari Kiamat. Allah juga Memiliki sekelompok malaikat yang selalu rukuksejak Allah Menciptakan langit dan bumitanpa pernah mengangkat kepala mereka,dan tidak akan mengangkatnya kecuali pada hari Kiamat. Ketika mereka mengangkat kepala mereka,mereka memandang wajah Allahlalu berkata, “Maha Suci Engkau,kami belum beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya ibadah.” Sujud tanpa hentidan rukuk tanpa terputus,tapi akhirnya (mereka berkata), “Kami belum beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya ibadah.” Jadi, hati-hati, saudara-saudara!Jangan sampai seseorang teperdayaatau merasa berjasa kepada Tuhannya dengan ibadahnya. Lihat dari diri Anda,dan saksikan kealpaan dalam diri Anda!Akuilah bahwa Anda lalai dalam menunaikan hak Allahdan zalim terhadap diri Anda sendiri. Ketahuilah bahwa Allah ʿAzza wa Jalla Mencintai itu dari Anda.Betapa dekatnya Anda dengan rahmat dan Ampunan-Nyajika Anda seperti itu! ==== فِي كِتَابِ تَعْظِيمِ قَدْرِ الصَّلَاةِ لِلْمَرْوَزِيِّ رَحِمَهُ اللهُ أَخْرَجَ حَدِيثًا عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ كَثِيرٍ فِي تَفْسِيرِهِ إِسْنَادُهُ لَا بَأْسَ بِهِ عَجِيبٌ هَذَا الْحَدِيثُ أَخْبَرَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مَلَائِكَةٌ سَاجِدُونَ لِلهِ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضَ لَا يَرْفَعُونَ رُؤُوسَهُمْ وَلَا يَرْفَعُونَهَا إِلَّا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِنَّ لِلهِ الْمَلَائِكَةَ رَاكِعُونَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضَ لَا يَرْفَعُونَ رُؤُوسَهُمْ وَلَا يَرْفَعُونَهَا إِلَّا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَإِذَا رَفَعُوا رُؤُوسَهُمْ نَظَرُوا إِلَى وَجْهِ اللهِ فَقَالُوا: سُبْحَانَكَ مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ سَجْدَةٌ مُسْتَمِرَّةٌ وَرُكُوعٌ مُسْتَمِرٌّ وَالنَّتِيجَةُ: مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ إِذَنْ حَذَارِي يَا إِخْوَتَاهُ مِنْ أَنْ يَغْتَرَّ الْإِنْسَانُ أَوْ أَنْ يَمُنَّ عَلَى رَبِّهِ بِعِبَادَتِهِ اِشْهَدْ مِنْ نَفْسِكَ اِشْهَدْ فِي نَفْسِكَ التَّقْصِيرَ وَاعْتَرِفْ بِأَنَّكَ مُقَصِّرٌ فِي حَقِّ اللهِ ظَالِمٌ بِنَفْسِكَ وَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ مِنْكَ ذَلِكَ فَمَا أَقْرَبَ رَحْمَتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ إِلَيْكَ إِنْ كُنْتَ كَذَلِكَ

Jangan Pernah Merasa Berjasa kepada Allah dengan Ibadahmu – Syaikh Shalih Sindi #nasehatulama

Dalam kitab Taʿẓīm Qadriṣ Ṣalāhkarya al-Marwazī —Semoga Allah Merahmatinya—beliau meriwayatkan sebuah hadis dari salah seorang Sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Sanadnya tidak mengapa.” Hadis ini mengagumkan!Dalam hadis ini beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengabarkanbahwa di antara para malaikat, ada sekelompok malaikat yang selalu bersujud kepada Allahsejak Allah Menciptakan langit dan bumitanpa pernah mengangkat kepala mereka,dan tidak akan mengangkatnya kecuali pada hari Kiamat. Allah juga Memiliki sekelompok malaikat yang selalu rukuksejak Allah Menciptakan langit dan bumitanpa pernah mengangkat kepala mereka,dan tidak akan mengangkatnya kecuali pada hari Kiamat. Ketika mereka mengangkat kepala mereka,mereka memandang wajah Allahlalu berkata, “Maha Suci Engkau,kami belum beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya ibadah.” Sujud tanpa hentidan rukuk tanpa terputus,tapi akhirnya (mereka berkata), “Kami belum beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya ibadah.” Jadi, hati-hati, saudara-saudara!Jangan sampai seseorang teperdayaatau merasa berjasa kepada Tuhannya dengan ibadahnya. Lihat dari diri Anda,dan saksikan kealpaan dalam diri Anda!Akuilah bahwa Anda lalai dalam menunaikan hak Allahdan zalim terhadap diri Anda sendiri. Ketahuilah bahwa Allah ʿAzza wa Jalla Mencintai itu dari Anda.Betapa dekatnya Anda dengan rahmat dan Ampunan-Nyajika Anda seperti itu! ==== فِي كِتَابِ تَعْظِيمِ قَدْرِ الصَّلَاةِ لِلْمَرْوَزِيِّ رَحِمَهُ اللهُ أَخْرَجَ حَدِيثًا عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ كَثِيرٍ فِي تَفْسِيرِهِ إِسْنَادُهُ لَا بَأْسَ بِهِ عَجِيبٌ هَذَا الْحَدِيثُ أَخْبَرَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مَلَائِكَةٌ سَاجِدُونَ لِلهِ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضَ لَا يَرْفَعُونَ رُؤُوسَهُمْ وَلَا يَرْفَعُونَهَا إِلَّا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِنَّ لِلهِ الْمَلَائِكَةَ رَاكِعُونَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضَ لَا يَرْفَعُونَ رُؤُوسَهُمْ وَلَا يَرْفَعُونَهَا إِلَّا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَإِذَا رَفَعُوا رُؤُوسَهُمْ نَظَرُوا إِلَى وَجْهِ اللهِ فَقَالُوا: سُبْحَانَكَ مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ سَجْدَةٌ مُسْتَمِرَّةٌ وَرُكُوعٌ مُسْتَمِرٌّ وَالنَّتِيجَةُ: مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ إِذَنْ حَذَارِي يَا إِخْوَتَاهُ مِنْ أَنْ يَغْتَرَّ الْإِنْسَانُ أَوْ أَنْ يَمُنَّ عَلَى رَبِّهِ بِعِبَادَتِهِ اِشْهَدْ مِنْ نَفْسِكَ اِشْهَدْ فِي نَفْسِكَ التَّقْصِيرَ وَاعْتَرِفْ بِأَنَّكَ مُقَصِّرٌ فِي حَقِّ اللهِ ظَالِمٌ بِنَفْسِكَ وَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ مِنْكَ ذَلِكَ فَمَا أَقْرَبَ رَحْمَتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ إِلَيْكَ إِنْ كُنْتَ كَذَلِكَ
Dalam kitab Taʿẓīm Qadriṣ Ṣalāhkarya al-Marwazī —Semoga Allah Merahmatinya—beliau meriwayatkan sebuah hadis dari salah seorang Sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Sanadnya tidak mengapa.” Hadis ini mengagumkan!Dalam hadis ini beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengabarkanbahwa di antara para malaikat, ada sekelompok malaikat yang selalu bersujud kepada Allahsejak Allah Menciptakan langit dan bumitanpa pernah mengangkat kepala mereka,dan tidak akan mengangkatnya kecuali pada hari Kiamat. Allah juga Memiliki sekelompok malaikat yang selalu rukuksejak Allah Menciptakan langit dan bumitanpa pernah mengangkat kepala mereka,dan tidak akan mengangkatnya kecuali pada hari Kiamat. Ketika mereka mengangkat kepala mereka,mereka memandang wajah Allahlalu berkata, “Maha Suci Engkau,kami belum beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya ibadah.” Sujud tanpa hentidan rukuk tanpa terputus,tapi akhirnya (mereka berkata), “Kami belum beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya ibadah.” Jadi, hati-hati, saudara-saudara!Jangan sampai seseorang teperdayaatau merasa berjasa kepada Tuhannya dengan ibadahnya. Lihat dari diri Anda,dan saksikan kealpaan dalam diri Anda!Akuilah bahwa Anda lalai dalam menunaikan hak Allahdan zalim terhadap diri Anda sendiri. Ketahuilah bahwa Allah ʿAzza wa Jalla Mencintai itu dari Anda.Betapa dekatnya Anda dengan rahmat dan Ampunan-Nyajika Anda seperti itu! ==== فِي كِتَابِ تَعْظِيمِ قَدْرِ الصَّلَاةِ لِلْمَرْوَزِيِّ رَحِمَهُ اللهُ أَخْرَجَ حَدِيثًا عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ كَثِيرٍ فِي تَفْسِيرِهِ إِسْنَادُهُ لَا بَأْسَ بِهِ عَجِيبٌ هَذَا الْحَدِيثُ أَخْبَرَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مَلَائِكَةٌ سَاجِدُونَ لِلهِ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضَ لَا يَرْفَعُونَ رُؤُوسَهُمْ وَلَا يَرْفَعُونَهَا إِلَّا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِنَّ لِلهِ الْمَلَائِكَةَ رَاكِعُونَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضَ لَا يَرْفَعُونَ رُؤُوسَهُمْ وَلَا يَرْفَعُونَهَا إِلَّا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَإِذَا رَفَعُوا رُؤُوسَهُمْ نَظَرُوا إِلَى وَجْهِ اللهِ فَقَالُوا: سُبْحَانَكَ مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ سَجْدَةٌ مُسْتَمِرَّةٌ وَرُكُوعٌ مُسْتَمِرٌّ وَالنَّتِيجَةُ: مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ إِذَنْ حَذَارِي يَا إِخْوَتَاهُ مِنْ أَنْ يَغْتَرَّ الْإِنْسَانُ أَوْ أَنْ يَمُنَّ عَلَى رَبِّهِ بِعِبَادَتِهِ اِشْهَدْ مِنْ نَفْسِكَ اِشْهَدْ فِي نَفْسِكَ التَّقْصِيرَ وَاعْتَرِفْ بِأَنَّكَ مُقَصِّرٌ فِي حَقِّ اللهِ ظَالِمٌ بِنَفْسِكَ وَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ مِنْكَ ذَلِكَ فَمَا أَقْرَبَ رَحْمَتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ إِلَيْكَ إِنْ كُنْتَ كَذَلِكَ


Dalam kitab Taʿẓīm Qadriṣ Ṣalāhkarya al-Marwazī —Semoga Allah Merahmatinya—beliau meriwayatkan sebuah hadis dari salah seorang Sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Sanadnya tidak mengapa.” Hadis ini mengagumkan!Dalam hadis ini beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengabarkanbahwa di antara para malaikat, ada sekelompok malaikat yang selalu bersujud kepada Allahsejak Allah Menciptakan langit dan bumitanpa pernah mengangkat kepala mereka,dan tidak akan mengangkatnya kecuali pada hari Kiamat. Allah juga Memiliki sekelompok malaikat yang selalu rukuksejak Allah Menciptakan langit dan bumitanpa pernah mengangkat kepala mereka,dan tidak akan mengangkatnya kecuali pada hari Kiamat. Ketika mereka mengangkat kepala mereka,mereka memandang wajah Allahlalu berkata, “Maha Suci Engkau,kami belum beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya ibadah.” Sujud tanpa hentidan rukuk tanpa terputus,tapi akhirnya (mereka berkata), “Kami belum beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya ibadah.” Jadi, hati-hati, saudara-saudara!Jangan sampai seseorang teperdayaatau merasa berjasa kepada Tuhannya dengan ibadahnya. Lihat dari diri Anda,dan saksikan kealpaan dalam diri Anda!Akuilah bahwa Anda lalai dalam menunaikan hak Allahdan zalim terhadap diri Anda sendiri. Ketahuilah bahwa Allah ʿAzza wa Jalla Mencintai itu dari Anda.Betapa dekatnya Anda dengan rahmat dan Ampunan-Nyajika Anda seperti itu! ==== فِي كِتَابِ تَعْظِيمِ قَدْرِ الصَّلَاةِ لِلْمَرْوَزِيِّ رَحِمَهُ اللهُ أَخْرَجَ حَدِيثًا عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ كَثِيرٍ فِي تَفْسِيرِهِ إِسْنَادُهُ لَا بَأْسَ بِهِ عَجِيبٌ هَذَا الْحَدِيثُ أَخْبَرَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مَلَائِكَةٌ سَاجِدُونَ لِلهِ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضَ لَا يَرْفَعُونَ رُؤُوسَهُمْ وَلَا يَرْفَعُونَهَا إِلَّا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِنَّ لِلهِ الْمَلَائِكَةَ رَاكِعُونَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضَ لَا يَرْفَعُونَ رُؤُوسَهُمْ وَلَا يَرْفَعُونَهَا إِلَّا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَإِذَا رَفَعُوا رُؤُوسَهُمْ نَظَرُوا إِلَى وَجْهِ اللهِ فَقَالُوا: سُبْحَانَكَ مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ سَجْدَةٌ مُسْتَمِرَّةٌ وَرُكُوعٌ مُسْتَمِرٌّ وَالنَّتِيجَةُ: مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ إِذَنْ حَذَارِي يَا إِخْوَتَاهُ مِنْ أَنْ يَغْتَرَّ الْإِنْسَانُ أَوْ أَنْ يَمُنَّ عَلَى رَبِّهِ بِعِبَادَتِهِ اِشْهَدْ مِنْ نَفْسِكَ اِشْهَدْ فِي نَفْسِكَ التَّقْصِيرَ وَاعْتَرِفْ بِأَنَّكَ مُقَصِّرٌ فِي حَقِّ اللهِ ظَالِمٌ بِنَفْسِكَ وَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ مِنْكَ ذَلِكَ فَمَا أَقْرَبَ رَحْمَتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ إِلَيْكَ إِنْ كُنْتَ كَذَلِكَ

Tentang Syirik yang Mungkin Anda Salah Paham – Syaikh Shalih Sindi #NasehatUlama

Penulis mengatakan, “Mereka juga berdoa kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālāsiang dan malam.”Masalahnya bukan mereka tidak menetapkan adanya Allah. Masalahnya bukan mereka tidak meyakinibahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur.Masalahnya bukan mereka tidak mau beribadah kepada Allah. Masalahnya bukan pada semua itu.Masalahnya adalah mereka mempersembahkan ibadah untuk Allahdan mempersekutukan-Nya dengan selain-Nyadalam beribadah kepada Allah. Inilah hakikat syirik:menyandingkan antara Allah dan selain Allahdalam perkara yang tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya kepada-Nya. Inilah hakikat syirik.Hakikat syirik bukanlah mengingkari wujud Allah.Hakikat syirik bukanlah tidak menyembah Allah. Sama sekali bukan! Hakikat syirikyang dilakukan oleh orang-orang musyrikadalah karena mereka mempersekutukan Allah dengan selain Allahdalam perkara yang tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya kepada-Nya Subẖānahu wa Taʿālā. Ibadah adalah hak murni hanya untuk Allah ʿAzza wa Jalla saja,sementara kaum ini, mereka tidak menunaikan hak ini. Mereka dahulu juga beribadah, berdoa,bersedekah, dan melakukan tawaf, sai,dan haji, dan seterusnya seperti yang telah kita pelajari. Namun semua initidak cukup untuk membuat mereka menjadi orang muslim. ==== قَالَ: كَمَا كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَيْلًا وَنَهَارًا لَيْسَتِ الْمُشْكِلَةُ أَنَّهُمْ مَا يُثْبِتُونَ وُجُودَ اللهِ لَيْسَتِ الْمُشْكِلَةُ أَنَّهُمْ لَا يَعْتَقِدُونَ أَنَّهُ خَالِقٌ رَازِقٌ مُدَبِّرٌ لَيْسَتِ الْمُشْكِلَةُ فِي أَنَّهُمْ أَعْرَضُوا عَنْ عِبَادَةِ اللهِ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ مُشْكِلَةً الْمُشْكِلَةُ هِيَ أَنَّهُمْ يَتَوَجَّهُونَ لِلهِ بِالْعِبَادَةِ وَيَجْمَعُونَ غَيْرَهُ مَعَهُ فِي عِبَادَةِ اللهِ وَهَذَا هُوَ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ جَمْعُ غَيْرِ اللهِ مَعَ اللهِ فِيمَا لَا يَجُوزُ إِلَّا لَهُ هَذِهِ هِيَ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ لَيْسَتْ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ هِيَ إِنْكَارُ وُجُودِ اللهِ لَيْسَتْ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ أَلَّا يَعْبُدُوا اللهَ كَلَّا! حَقِيقَةُ الشِّرْكِ الَّذِي حَصَلَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ أَنَّهُمْ يَجْمَعُونَ غَيْرَ اللهِ مَعَ اللهِ فِيمَا لَا يَجُوزُ إِلَّا لَهُ وَحْدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَالْعِبَادَةُ حَقٌّ خَالِصٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْقَوْمُ مَا قَامُوا بِأَدَاءِ هَذَا الْحَقِّ فَكَانُوا يَعْبُدُونَ يَدْعُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَيَطُوفُونَ وَيَسْعَوْنَ وَيَحُجُّونَ إِلَى آخِرِ مَا تَعَلَّمْنَا وَلَكِنَّ هَذَا لَمْ يَكُنْ كَافِيًا فِي كَوْنِهِمْ مُسْلِمِينَ

Tentang Syirik yang Mungkin Anda Salah Paham – Syaikh Shalih Sindi #NasehatUlama

Penulis mengatakan, “Mereka juga berdoa kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālāsiang dan malam.”Masalahnya bukan mereka tidak menetapkan adanya Allah. Masalahnya bukan mereka tidak meyakinibahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur.Masalahnya bukan mereka tidak mau beribadah kepada Allah. Masalahnya bukan pada semua itu.Masalahnya adalah mereka mempersembahkan ibadah untuk Allahdan mempersekutukan-Nya dengan selain-Nyadalam beribadah kepada Allah. Inilah hakikat syirik:menyandingkan antara Allah dan selain Allahdalam perkara yang tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya kepada-Nya. Inilah hakikat syirik.Hakikat syirik bukanlah mengingkari wujud Allah.Hakikat syirik bukanlah tidak menyembah Allah. Sama sekali bukan! Hakikat syirikyang dilakukan oleh orang-orang musyrikadalah karena mereka mempersekutukan Allah dengan selain Allahdalam perkara yang tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya kepada-Nya Subẖānahu wa Taʿālā. Ibadah adalah hak murni hanya untuk Allah ʿAzza wa Jalla saja,sementara kaum ini, mereka tidak menunaikan hak ini. Mereka dahulu juga beribadah, berdoa,bersedekah, dan melakukan tawaf, sai,dan haji, dan seterusnya seperti yang telah kita pelajari. Namun semua initidak cukup untuk membuat mereka menjadi orang muslim. ==== قَالَ: كَمَا كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَيْلًا وَنَهَارًا لَيْسَتِ الْمُشْكِلَةُ أَنَّهُمْ مَا يُثْبِتُونَ وُجُودَ اللهِ لَيْسَتِ الْمُشْكِلَةُ أَنَّهُمْ لَا يَعْتَقِدُونَ أَنَّهُ خَالِقٌ رَازِقٌ مُدَبِّرٌ لَيْسَتِ الْمُشْكِلَةُ فِي أَنَّهُمْ أَعْرَضُوا عَنْ عِبَادَةِ اللهِ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ مُشْكِلَةً الْمُشْكِلَةُ هِيَ أَنَّهُمْ يَتَوَجَّهُونَ لِلهِ بِالْعِبَادَةِ وَيَجْمَعُونَ غَيْرَهُ مَعَهُ فِي عِبَادَةِ اللهِ وَهَذَا هُوَ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ جَمْعُ غَيْرِ اللهِ مَعَ اللهِ فِيمَا لَا يَجُوزُ إِلَّا لَهُ هَذِهِ هِيَ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ لَيْسَتْ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ هِيَ إِنْكَارُ وُجُودِ اللهِ لَيْسَتْ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ أَلَّا يَعْبُدُوا اللهَ كَلَّا! حَقِيقَةُ الشِّرْكِ الَّذِي حَصَلَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ أَنَّهُمْ يَجْمَعُونَ غَيْرَ اللهِ مَعَ اللهِ فِيمَا لَا يَجُوزُ إِلَّا لَهُ وَحْدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَالْعِبَادَةُ حَقٌّ خَالِصٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْقَوْمُ مَا قَامُوا بِأَدَاءِ هَذَا الْحَقِّ فَكَانُوا يَعْبُدُونَ يَدْعُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَيَطُوفُونَ وَيَسْعَوْنَ وَيَحُجُّونَ إِلَى آخِرِ مَا تَعَلَّمْنَا وَلَكِنَّ هَذَا لَمْ يَكُنْ كَافِيًا فِي كَوْنِهِمْ مُسْلِمِينَ
Penulis mengatakan, “Mereka juga berdoa kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālāsiang dan malam.”Masalahnya bukan mereka tidak menetapkan adanya Allah. Masalahnya bukan mereka tidak meyakinibahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur.Masalahnya bukan mereka tidak mau beribadah kepada Allah. Masalahnya bukan pada semua itu.Masalahnya adalah mereka mempersembahkan ibadah untuk Allahdan mempersekutukan-Nya dengan selain-Nyadalam beribadah kepada Allah. Inilah hakikat syirik:menyandingkan antara Allah dan selain Allahdalam perkara yang tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya kepada-Nya. Inilah hakikat syirik.Hakikat syirik bukanlah mengingkari wujud Allah.Hakikat syirik bukanlah tidak menyembah Allah. Sama sekali bukan! Hakikat syirikyang dilakukan oleh orang-orang musyrikadalah karena mereka mempersekutukan Allah dengan selain Allahdalam perkara yang tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya kepada-Nya Subẖānahu wa Taʿālā. Ibadah adalah hak murni hanya untuk Allah ʿAzza wa Jalla saja,sementara kaum ini, mereka tidak menunaikan hak ini. Mereka dahulu juga beribadah, berdoa,bersedekah, dan melakukan tawaf, sai,dan haji, dan seterusnya seperti yang telah kita pelajari. Namun semua initidak cukup untuk membuat mereka menjadi orang muslim. ==== قَالَ: كَمَا كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَيْلًا وَنَهَارًا لَيْسَتِ الْمُشْكِلَةُ أَنَّهُمْ مَا يُثْبِتُونَ وُجُودَ اللهِ لَيْسَتِ الْمُشْكِلَةُ أَنَّهُمْ لَا يَعْتَقِدُونَ أَنَّهُ خَالِقٌ رَازِقٌ مُدَبِّرٌ لَيْسَتِ الْمُشْكِلَةُ فِي أَنَّهُمْ أَعْرَضُوا عَنْ عِبَادَةِ اللهِ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ مُشْكِلَةً الْمُشْكِلَةُ هِيَ أَنَّهُمْ يَتَوَجَّهُونَ لِلهِ بِالْعِبَادَةِ وَيَجْمَعُونَ غَيْرَهُ مَعَهُ فِي عِبَادَةِ اللهِ وَهَذَا هُوَ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ جَمْعُ غَيْرِ اللهِ مَعَ اللهِ فِيمَا لَا يَجُوزُ إِلَّا لَهُ هَذِهِ هِيَ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ لَيْسَتْ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ هِيَ إِنْكَارُ وُجُودِ اللهِ لَيْسَتْ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ أَلَّا يَعْبُدُوا اللهَ كَلَّا! حَقِيقَةُ الشِّرْكِ الَّذِي حَصَلَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ أَنَّهُمْ يَجْمَعُونَ غَيْرَ اللهِ مَعَ اللهِ فِيمَا لَا يَجُوزُ إِلَّا لَهُ وَحْدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَالْعِبَادَةُ حَقٌّ خَالِصٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْقَوْمُ مَا قَامُوا بِأَدَاءِ هَذَا الْحَقِّ فَكَانُوا يَعْبُدُونَ يَدْعُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَيَطُوفُونَ وَيَسْعَوْنَ وَيَحُجُّونَ إِلَى آخِرِ مَا تَعَلَّمْنَا وَلَكِنَّ هَذَا لَمْ يَكُنْ كَافِيًا فِي كَوْنِهِمْ مُسْلِمِينَ


Penulis mengatakan, “Mereka juga berdoa kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālāsiang dan malam.”Masalahnya bukan mereka tidak menetapkan adanya Allah. Masalahnya bukan mereka tidak meyakinibahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur.Masalahnya bukan mereka tidak mau beribadah kepada Allah. Masalahnya bukan pada semua itu.Masalahnya adalah mereka mempersembahkan ibadah untuk Allahdan mempersekutukan-Nya dengan selain-Nyadalam beribadah kepada Allah. Inilah hakikat syirik:menyandingkan antara Allah dan selain Allahdalam perkara yang tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya kepada-Nya. Inilah hakikat syirik.Hakikat syirik bukanlah mengingkari wujud Allah.Hakikat syirik bukanlah tidak menyembah Allah. Sama sekali bukan! Hakikat syirikyang dilakukan oleh orang-orang musyrikadalah karena mereka mempersekutukan Allah dengan selain Allahdalam perkara yang tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya kepada-Nya Subẖānahu wa Taʿālā. Ibadah adalah hak murni hanya untuk Allah ʿAzza wa Jalla saja,sementara kaum ini, mereka tidak menunaikan hak ini. Mereka dahulu juga beribadah, berdoa,bersedekah, dan melakukan tawaf, sai,dan haji, dan seterusnya seperti yang telah kita pelajari. Namun semua initidak cukup untuk membuat mereka menjadi orang muslim. ==== قَالَ: كَمَا كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَيْلًا وَنَهَارًا لَيْسَتِ الْمُشْكِلَةُ أَنَّهُمْ مَا يُثْبِتُونَ وُجُودَ اللهِ لَيْسَتِ الْمُشْكِلَةُ أَنَّهُمْ لَا يَعْتَقِدُونَ أَنَّهُ خَالِقٌ رَازِقٌ مُدَبِّرٌ لَيْسَتِ الْمُشْكِلَةُ فِي أَنَّهُمْ أَعْرَضُوا عَنْ عِبَادَةِ اللهِ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ مُشْكِلَةً الْمُشْكِلَةُ هِيَ أَنَّهُمْ يَتَوَجَّهُونَ لِلهِ بِالْعِبَادَةِ وَيَجْمَعُونَ غَيْرَهُ مَعَهُ فِي عِبَادَةِ اللهِ وَهَذَا هُوَ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ جَمْعُ غَيْرِ اللهِ مَعَ اللهِ فِيمَا لَا يَجُوزُ إِلَّا لَهُ هَذِهِ هِيَ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ لَيْسَتْ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ هِيَ إِنْكَارُ وُجُودِ اللهِ لَيْسَتْ حَقِيقَةُ الشِّرْكِ أَلَّا يَعْبُدُوا اللهَ كَلَّا! حَقِيقَةُ الشِّرْكِ الَّذِي حَصَلَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ أَنَّهُمْ يَجْمَعُونَ غَيْرَ اللهِ مَعَ اللهِ فِيمَا لَا يَجُوزُ إِلَّا لَهُ وَحْدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَالْعِبَادَةُ حَقٌّ خَالِصٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْقَوْمُ مَا قَامُوا بِأَدَاءِ هَذَا الْحَقِّ فَكَانُوا يَعْبُدُونَ يَدْعُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَيَطُوفُونَ وَيَسْعَوْنَ وَيَحُجُّونَ إِلَى آخِرِ مَا تَعَلَّمْنَا وَلَكِنَّ هَذَا لَمْ يَكُنْ كَافِيًا فِي كَوْنِهِمْ مُسْلِمِينَ
Prev     Next