Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 1)

Daftar Isi Sebuah prologTujuan penciptaanSebuah prologSaya ingin merasakan kebahagiaan di dalam hidup saya. Ya, itulah hal yang didambakan setiap manusia, tidak terkecuali Anda. Dan jika Anda cermati, kebahagiaan ini pada dasarnya adalah buah dari kehendak atau cita-cita yang berhasil diraih oleh seseorang. Hasil panen yang melimpah akan sangat menggembirakan seorang petani. Lulus ujian dengan predikat terbaik akan menyukacitakan dan mendatangkan senyuman lebar pada seorang pelajar. Menang tender akan membuat seorang pengusaha atau kontraktor tertawa sambil melompat kegirangan. Lahirnya anak yang didambakan akan membungahkan para ayah dan membuatnya lalai akan peluh yang ada di kening sang istri. Begitu juga berbagai hal lain yang dimimpikan manusia, tentunya akan melahirkan kebahagiaan di dalam hati mereka, tatkala apa yang diangan-angankan tersebut berhasil ia capai.Demikianlah remah-remah kebahagiaan yang Allah Ta’ala simpankan di kotak-kotak kehidupan manusia. Seperti itulah kebahagiaan semu yang dibagikan kepada setiap hamba yang bernyawa. Namun, tahukah Anda? Kebahagiaan yang hakiki tidaklah dirasakan semua insan. Mengapa? Karena ia ditempatkan di kotak khusus yang hanya bisa diraih oleh manusia-manusia istimewa. Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh mereka yang menemukan dan mewujudkan perkara paling penting di dalam hidup mereka. Apakah itu? Hal terpenting dari hidup adalah tujuan kehidupan itu sendiri. Yakni tujuan penciptaan manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam raya, termasuk Anda.Tujuan penciptaanCoba Anda pikirkan dan perhatikan keadaaan di sekitar Anda! Bahwa segala gerak dan diam yang dilakukan oleh makhluk, pasti memiliki tujuan. Dari ayam yang berkokok ketika dini hari, burung-burung yang berterbangan di atas angkasa, hewan melata yang bertebaran di permukaan bumi, sampai singa pejantan yang mengendus keberadaan singa betina, semuanya itu memiliki tujuan. Termasuk seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, dari ia bangun tidur hingga tidur lagi, pasti memiliki tujuan yang ia ingin capai.Jika makhluk saja memiliki keinginan yang ingin ia raih, bagaimana lagi dengan Sang Khalik yang menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dan segala isinya, merajai, serta mengatur seluruh detak dan perputaran di alam semesta? Tentu lebih-lebih lagi, bahwa Dia pasti memiliki kehendak yang ingin diwujudkan. Simaklah apa yang Allah katakan tentang perkara ini,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu (sekedar) main-main?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tentu akan mengatakan,  “Tidak, ya Rabb!” Dengan demikian, apakah tujuan Allah mengadakan semua yang ada di jagad raya ini? Tentunya kita sebagai manusia tidak bisa menebak dan menerkanya. Mengapa? Karena ia perkara yang transeden dan di luar jangkauan akal manusia. Namun, Allah tidak membiarkan anak Adam terombang-ambing mencari sendiri tujuan kehidupan mereka. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam kepada setiap generasi untuk menyampaikan hikmah kehidupan dan kematian. Bersama mereka ‘alaihimussalam, Allah Ta’ala turunkan kitab-kitab serta suhuf-suhuf sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar para hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaan tersebut secara benar.Di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala setidaknya menyebutkan 3 tujuan pewujudan manusia bersama ciptaan yang lain, yaitu: 1) untuk mengenal Allah Ta‘ala; 2) untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata; dan 3) untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Lanjut ke bagian 2***Disarikan pada Malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 1)

Daftar Isi Sebuah prologTujuan penciptaanSebuah prologSaya ingin merasakan kebahagiaan di dalam hidup saya. Ya, itulah hal yang didambakan setiap manusia, tidak terkecuali Anda. Dan jika Anda cermati, kebahagiaan ini pada dasarnya adalah buah dari kehendak atau cita-cita yang berhasil diraih oleh seseorang. Hasil panen yang melimpah akan sangat menggembirakan seorang petani. Lulus ujian dengan predikat terbaik akan menyukacitakan dan mendatangkan senyuman lebar pada seorang pelajar. Menang tender akan membuat seorang pengusaha atau kontraktor tertawa sambil melompat kegirangan. Lahirnya anak yang didambakan akan membungahkan para ayah dan membuatnya lalai akan peluh yang ada di kening sang istri. Begitu juga berbagai hal lain yang dimimpikan manusia, tentunya akan melahirkan kebahagiaan di dalam hati mereka, tatkala apa yang diangan-angankan tersebut berhasil ia capai.Demikianlah remah-remah kebahagiaan yang Allah Ta’ala simpankan di kotak-kotak kehidupan manusia. Seperti itulah kebahagiaan semu yang dibagikan kepada setiap hamba yang bernyawa. Namun, tahukah Anda? Kebahagiaan yang hakiki tidaklah dirasakan semua insan. Mengapa? Karena ia ditempatkan di kotak khusus yang hanya bisa diraih oleh manusia-manusia istimewa. Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh mereka yang menemukan dan mewujudkan perkara paling penting di dalam hidup mereka. Apakah itu? Hal terpenting dari hidup adalah tujuan kehidupan itu sendiri. Yakni tujuan penciptaan manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam raya, termasuk Anda.Tujuan penciptaanCoba Anda pikirkan dan perhatikan keadaaan di sekitar Anda! Bahwa segala gerak dan diam yang dilakukan oleh makhluk, pasti memiliki tujuan. Dari ayam yang berkokok ketika dini hari, burung-burung yang berterbangan di atas angkasa, hewan melata yang bertebaran di permukaan bumi, sampai singa pejantan yang mengendus keberadaan singa betina, semuanya itu memiliki tujuan. Termasuk seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, dari ia bangun tidur hingga tidur lagi, pasti memiliki tujuan yang ia ingin capai.Jika makhluk saja memiliki keinginan yang ingin ia raih, bagaimana lagi dengan Sang Khalik yang menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dan segala isinya, merajai, serta mengatur seluruh detak dan perputaran di alam semesta? Tentu lebih-lebih lagi, bahwa Dia pasti memiliki kehendak yang ingin diwujudkan. Simaklah apa yang Allah katakan tentang perkara ini,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu (sekedar) main-main?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tentu akan mengatakan,  “Tidak, ya Rabb!” Dengan demikian, apakah tujuan Allah mengadakan semua yang ada di jagad raya ini? Tentunya kita sebagai manusia tidak bisa menebak dan menerkanya. Mengapa? Karena ia perkara yang transeden dan di luar jangkauan akal manusia. Namun, Allah tidak membiarkan anak Adam terombang-ambing mencari sendiri tujuan kehidupan mereka. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam kepada setiap generasi untuk menyampaikan hikmah kehidupan dan kematian. Bersama mereka ‘alaihimussalam, Allah Ta’ala turunkan kitab-kitab serta suhuf-suhuf sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar para hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaan tersebut secara benar.Di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala setidaknya menyebutkan 3 tujuan pewujudan manusia bersama ciptaan yang lain, yaitu: 1) untuk mengenal Allah Ta‘ala; 2) untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata; dan 3) untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Lanjut ke bagian 2***Disarikan pada Malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah
Daftar Isi Sebuah prologTujuan penciptaanSebuah prologSaya ingin merasakan kebahagiaan di dalam hidup saya. Ya, itulah hal yang didambakan setiap manusia, tidak terkecuali Anda. Dan jika Anda cermati, kebahagiaan ini pada dasarnya adalah buah dari kehendak atau cita-cita yang berhasil diraih oleh seseorang. Hasil panen yang melimpah akan sangat menggembirakan seorang petani. Lulus ujian dengan predikat terbaik akan menyukacitakan dan mendatangkan senyuman lebar pada seorang pelajar. Menang tender akan membuat seorang pengusaha atau kontraktor tertawa sambil melompat kegirangan. Lahirnya anak yang didambakan akan membungahkan para ayah dan membuatnya lalai akan peluh yang ada di kening sang istri. Begitu juga berbagai hal lain yang dimimpikan manusia, tentunya akan melahirkan kebahagiaan di dalam hati mereka, tatkala apa yang diangan-angankan tersebut berhasil ia capai.Demikianlah remah-remah kebahagiaan yang Allah Ta’ala simpankan di kotak-kotak kehidupan manusia. Seperti itulah kebahagiaan semu yang dibagikan kepada setiap hamba yang bernyawa. Namun, tahukah Anda? Kebahagiaan yang hakiki tidaklah dirasakan semua insan. Mengapa? Karena ia ditempatkan di kotak khusus yang hanya bisa diraih oleh manusia-manusia istimewa. Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh mereka yang menemukan dan mewujudkan perkara paling penting di dalam hidup mereka. Apakah itu? Hal terpenting dari hidup adalah tujuan kehidupan itu sendiri. Yakni tujuan penciptaan manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam raya, termasuk Anda.Tujuan penciptaanCoba Anda pikirkan dan perhatikan keadaaan di sekitar Anda! Bahwa segala gerak dan diam yang dilakukan oleh makhluk, pasti memiliki tujuan. Dari ayam yang berkokok ketika dini hari, burung-burung yang berterbangan di atas angkasa, hewan melata yang bertebaran di permukaan bumi, sampai singa pejantan yang mengendus keberadaan singa betina, semuanya itu memiliki tujuan. Termasuk seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, dari ia bangun tidur hingga tidur lagi, pasti memiliki tujuan yang ia ingin capai.Jika makhluk saja memiliki keinginan yang ingin ia raih, bagaimana lagi dengan Sang Khalik yang menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dan segala isinya, merajai, serta mengatur seluruh detak dan perputaran di alam semesta? Tentu lebih-lebih lagi, bahwa Dia pasti memiliki kehendak yang ingin diwujudkan. Simaklah apa yang Allah katakan tentang perkara ini,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu (sekedar) main-main?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tentu akan mengatakan,  “Tidak, ya Rabb!” Dengan demikian, apakah tujuan Allah mengadakan semua yang ada di jagad raya ini? Tentunya kita sebagai manusia tidak bisa menebak dan menerkanya. Mengapa? Karena ia perkara yang transeden dan di luar jangkauan akal manusia. Namun, Allah tidak membiarkan anak Adam terombang-ambing mencari sendiri tujuan kehidupan mereka. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam kepada setiap generasi untuk menyampaikan hikmah kehidupan dan kematian. Bersama mereka ‘alaihimussalam, Allah Ta’ala turunkan kitab-kitab serta suhuf-suhuf sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar para hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaan tersebut secara benar.Di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala setidaknya menyebutkan 3 tujuan pewujudan manusia bersama ciptaan yang lain, yaitu: 1) untuk mengenal Allah Ta‘ala; 2) untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata; dan 3) untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Lanjut ke bagian 2***Disarikan pada Malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah


Daftar Isi Sebuah prologTujuan penciptaanSebuah prologSaya ingin merasakan kebahagiaan di dalam hidup saya. Ya, itulah hal yang didambakan setiap manusia, tidak terkecuali Anda. Dan jika Anda cermati, kebahagiaan ini pada dasarnya adalah buah dari kehendak atau cita-cita yang berhasil diraih oleh seseorang. Hasil panen yang melimpah akan sangat menggembirakan seorang petani. Lulus ujian dengan predikat terbaik akan menyukacitakan dan mendatangkan senyuman lebar pada seorang pelajar. Menang tender akan membuat seorang pengusaha atau kontraktor tertawa sambil melompat kegirangan. Lahirnya anak yang didambakan akan membungahkan para ayah dan membuatnya lalai akan peluh yang ada di kening sang istri. Begitu juga berbagai hal lain yang dimimpikan manusia, tentunya akan melahirkan kebahagiaan di dalam hati mereka, tatkala apa yang diangan-angankan tersebut berhasil ia capai.Demikianlah remah-remah kebahagiaan yang Allah Ta’ala simpankan di kotak-kotak kehidupan manusia. Seperti itulah kebahagiaan semu yang dibagikan kepada setiap hamba yang bernyawa. Namun, tahukah Anda? Kebahagiaan yang hakiki tidaklah dirasakan semua insan. Mengapa? Karena ia ditempatkan di kotak khusus yang hanya bisa diraih oleh manusia-manusia istimewa. Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh mereka yang menemukan dan mewujudkan perkara paling penting di dalam hidup mereka. Apakah itu? Hal terpenting dari hidup adalah tujuan kehidupan itu sendiri. Yakni tujuan penciptaan manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam raya, termasuk Anda.Tujuan penciptaanCoba Anda pikirkan dan perhatikan keadaaan di sekitar Anda! Bahwa segala gerak dan diam yang dilakukan oleh makhluk, pasti memiliki tujuan. Dari ayam yang berkokok ketika dini hari, burung-burung yang berterbangan di atas angkasa, hewan melata yang bertebaran di permukaan bumi, sampai singa pejantan yang mengendus keberadaan singa betina, semuanya itu memiliki tujuan. Termasuk seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, dari ia bangun tidur hingga tidur lagi, pasti memiliki tujuan yang ia ingin capai.Jika makhluk saja memiliki keinginan yang ingin ia raih, bagaimana lagi dengan Sang Khalik yang menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dan segala isinya, merajai, serta mengatur seluruh detak dan perputaran di alam semesta? Tentu lebih-lebih lagi, bahwa Dia pasti memiliki kehendak yang ingin diwujudkan. Simaklah apa yang Allah katakan tentang perkara ini,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu (sekedar) main-main?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tentu akan mengatakan,  “Tidak, ya Rabb!” Dengan demikian, apakah tujuan Allah mengadakan semua yang ada di jagad raya ini? Tentunya kita sebagai manusia tidak bisa menebak dan menerkanya. Mengapa? Karena ia perkara yang transeden dan di luar jangkauan akal manusia. Namun, Allah tidak membiarkan anak Adam terombang-ambing mencari sendiri tujuan kehidupan mereka. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam kepada setiap generasi untuk menyampaikan hikmah kehidupan dan kematian. Bersama mereka ‘alaihimussalam, Allah Ta’ala turunkan kitab-kitab serta suhuf-suhuf sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar para hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaan tersebut secara benar.Di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala setidaknya menyebutkan 3 tujuan pewujudan manusia bersama ciptaan yang lain, yaitu: 1) untuk mengenal Allah Ta‘ala; 2) untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata; dan 3) untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Lanjut ke bagian 2***Disarikan pada Malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Khotbah Salat Idulfitri: Tugas Kita Setelah Ramadan Pergi

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ چالَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأما بعد،فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخير الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وكل ضلالة في الناراَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ واللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر وَلِلَهِ الْحَمْدُMa’asyiral muslimin rahimakumullah.Jemaah salat Idulfitri yang semoga senantiasa dirahmati dan dilindungi oleh Allah Ta’ala.Di hari yang berbahagia ini, marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena ketakwaan merupakan sebab seorang hamba mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala. Allah berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)Sungguh, manusia yang paling mulia di muka bumi ini bukanlah mereka yang memiliki harta yang mewah, bukan juga mereka yang memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi, mereka yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Yaitu, mereka yang senantiasa menunaikan segala kewajiban yang telah diperintahkan dan menjauhi segala kemaksiatan yang dilarang.Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi mulia, suri teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, dan para sahabatnya.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Hari raya Idulfitri sejatinya adalah bentuk pengagungan kita kepada Allah Sang Maha Pencipta atas limpahan rezeki yang begitu banyak. Di antaranya adalah nikmat kesempatan menyelesaikan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan, nikmat kesempatan mengisi malam-malamnya dengan salat tarawih dan bacaan Al-Qur’an. Hari raya Idulfitri sekaligus merupakan kegembiraan seusai menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala, dengan harapan semoga apa yang telah kita lakukan di bulan ini diterima oleh Allah, mendapatkan pahala yang besar serta ganjaran yang berlipat.Jemaah salat Idulfitri yang berbahagia, seorang muslim tentu harus berbesar hati bahwa amalannya akan diterima Allah Ta’ala. Hanya saja rasa harap (raja’) ini harus diimbangi dengan rasa khawatir (khauf) bahwa amal kita bisa jadi belum diterima oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan seorang hamba tidak semuanya diterima. Allah Ta’ala hanya akan menerima amal ibadah dan ketaatan yang dilandasi dengan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Allah hanyalah menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Kondisi inilah yang membuat sebagian ulama di masa silam merasa resah ketika Idulfitri. Mereka resah, bukan karena tidak punya baju baru. Mereka resah, bukan karena jauh dari keluarga. Mereka resah karena mereka tidak tahu, apakah amalannya selama bulan Ramadan diterima oleh Allah Ta’ala ataukah tidak.Mu’alla bin Al-Fadhl rahimahullah, seorang ulama tabi’uttabi’in, menceritakan kondisi para sahabat,كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُم رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنهُمْ“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudahnya, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 264)Oleh karena itu juga, ketika saling bertemu dengan saudara dan kawan kerabat di hari raya Idulfitri, ucapan yang diamalkan oleh para sahabat dan kita dianjurkan untuk memperbanyaknya adalahتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ“Semoga Allah Ta’ala menerima (seluruh amal perbuatan) dari kami dan dari kalian.”Sebuah doa berisi harapan semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita dan saudara yang kita temui.Baca juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJamaah salat Idulfitri yang berbahagia.Selama bulan Ramadan, kita telah banyak belajar. Belajar untuk menyesuaikan diri dengan aturan syariat. Belajar juga untuk menjadi orang baik. Yang harus kita ingat, perjuangan menjadi hamba Allah yang baik tidak boleh hanya dilakukan ketika Ramadan saja. Menjadi hamba Allah yang baik harus berlanjut dan berkesinambungan sepanjang kehidupan kita. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ“Istikamahlah sebagaimana kamu diperintahkan.” (QS. Hud: 112)Setelah bulan Ramadan yang penuh dengan kebaikan ini pergi, tugas kita yang paling utama adalah beristikamah, konsisten, dan kontinyu di dalam menjalankan segala perintah Allah Ta’ala. Sebagaimana hal ini Allah Ta’ala perintahkan dalam ayat yang baru saja kita baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5861 dan Muslim no. 782, 783)Lantas, bagaimana caranya agar kita mudah beristikamah setelah perginya bulan Ramadan yang mulia ini?Pertama, jangan pernah tinggalkan amalan wajib.Ada beberapa ibadah dan amalan yang telah Allah Ta’ala wajibkan kepada setiap muslim. Jangan sampai kewajiban kewajiban tersebut kita tinggalkan dan kita sia-siakan ataupun dikerjakan di luar waktu yang telah ditentukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ حُرُمَاتٍ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا“Sesungguhnya Allah menetapkan beberapa kewajiban. Oleh karena itu, jangan kalian menyepelekannya. Allah mengharamkan beberapa larangan, jangan kalian melanggarnya. Dan Allah menetapkan beberapa aturan, jangan melampaui batasnya.” (HR. Daruquthni no. 4445)Ketahuilah, kewajiban yang paling utama adalah menjaga salat lima waktu secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah bagi perempuan.Kedua, rutinkan amal sunah yang ringan.Menjaga rutinitas amalan sunah sekalipun itu ringan, akan membuat ibadah kita kepada Allah Ta’ala selalu terjaga. Karena ingin kita rutinkan, maka cobalah yang ringan terlebih dahulu.Dimampukan oleh Allah dengan keluasan rezeki? Bersedekahlah secara rutin, penuhi kebutuhan saudara, kerabat terdekat kita. Mudah untuk bangun malam? Rutinkan bangun di sepertiga malam terakhir walau sesaat. Sungguh, amalan-amalan sunah yang sedikit dan ringan ini, jika kita lakukan secara kontinyu dan konsisten tentu lebih baik dari amalan yang besar, namun jarang kita lakukan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Wahai para manusia, beramallah sesuai dengan kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan.” (HR. Bukhari no. 5861)Di antara amalan sunah yang bisa kita kerjakan setelah perginya bulan Ramadan ini adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Puasa ini boleh dilakukan di tanggal berapa pun pada bulan Syawal. Mau dilakukan secara berurutan ataupun terpisah, maka ini tidak masalah.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Tips ketiga untuk menjaga keistikamahan kita selepas Ramadan adalah berteman dengan orang saleh.Mengapa? Karena teman memiliki pengaruh besar bagi seseorang. Jangan sampai, teman-teman yang kita miliki menyeret diri kita ke jurang bahaya sementara kita tidak menyadarinya. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik lagi saleh. Jikalau kita tidak mampu menyamai kesalehan mereka, minimal akan mendapatkan keberkahan dan nasihat-nasihat baik mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً“Perumpamaan teman orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)Tips keempat yang akan membantu kita untuk terus istikamah adalah tidak pernah lupa berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan menjadi hamba yang istikamah.Seorang hamba tidak akan bisa menjadi baik dan istikamah, kecuali berkat pertolongan dan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, di antara bentuk semangat kita untuk menjadi baik dan istikamah adalah banyak memohon agar dibantu oleh Allah Ta’ala menjadi hamba yang baik.Salah satu doa yang bisa kita rutinkan untuk kita baca setelah selesai salat adalah,اللَّهُمَّ أَعِنّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Ya Allah bantulah kami agar senantiasa bisa berzikir (mengingat-Mu), bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud no. 1522)Jemaah salat Idulfitri yang dirahmati Allah Ta’ala,Di antara sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berkhotbah Idulfitri adalah memberikan nasihat khusus untuk kaum muslimah. Maka, di sini kami sampaikan nasihat kepada ibu-ibu dan wanita muslimah semuanya untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Senantiasalah selalu dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Bertakwalah kepada Allah dalam setiap gerakan dan kegiatan, berucaplah dengan jujur, jauhi gibah, dan berpakaianlah dengan pakaian yang menutup aurat. Ingatlah selalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما ترَكتُ بعدي فتنةً هي أضرُّ على الرِّجالِ مِن النساءِ“Tidaklah ada sepeninggalku ujian/cobaan yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki daripada ujian/cobaan wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)Jadilah wanita yang menjaga diri dan menjaga kehormatan. Jauhilah zina dan sebab-sebabnya. Karena Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا“Dan janganlah kalian mendekati zina. (Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Jemaah yang berbahagia,Nasihat terakhir kami adalah sebuah nasihat yang disampaikan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, Beliau mengatakan,لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد * لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب“Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru tanpa cacat. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah ibadah dan ketaatannya. Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.”Allahu akbar… Allahu akbar… Laa ilaaha illallahu wallahu akbar… Allahu akbar walillahil hamd…Akhir kata, marilah kita berdoa memohon kepada Allah, agar diberikan sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat, dimudahkan juga istikamah, dan konsisten dalam beramal. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan kemudahan bagi kaum muslimin Indonesia secara khusus dan kaum muslimin di segala penjuru dunia secara umum dalam setiap kesulitan dan musibah yang menimpa, berikut jalan keluar terbaik dalam menghadapi setiap masalah mereka.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌاَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَارَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِوصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلمBaca juga: Khotbah Salat Idul Fitri: Menggali Mutiara dari Idul Fitri***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khotbahkhotbah idul fitriteks khotbah idul fitri

Khotbah Salat Idulfitri: Tugas Kita Setelah Ramadan Pergi

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ چالَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأما بعد،فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخير الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وكل ضلالة في الناراَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ واللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر وَلِلَهِ الْحَمْدُMa’asyiral muslimin rahimakumullah.Jemaah salat Idulfitri yang semoga senantiasa dirahmati dan dilindungi oleh Allah Ta’ala.Di hari yang berbahagia ini, marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena ketakwaan merupakan sebab seorang hamba mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala. Allah berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)Sungguh, manusia yang paling mulia di muka bumi ini bukanlah mereka yang memiliki harta yang mewah, bukan juga mereka yang memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi, mereka yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Yaitu, mereka yang senantiasa menunaikan segala kewajiban yang telah diperintahkan dan menjauhi segala kemaksiatan yang dilarang.Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi mulia, suri teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, dan para sahabatnya.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Hari raya Idulfitri sejatinya adalah bentuk pengagungan kita kepada Allah Sang Maha Pencipta atas limpahan rezeki yang begitu banyak. Di antaranya adalah nikmat kesempatan menyelesaikan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan, nikmat kesempatan mengisi malam-malamnya dengan salat tarawih dan bacaan Al-Qur’an. Hari raya Idulfitri sekaligus merupakan kegembiraan seusai menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala, dengan harapan semoga apa yang telah kita lakukan di bulan ini diterima oleh Allah, mendapatkan pahala yang besar serta ganjaran yang berlipat.Jemaah salat Idulfitri yang berbahagia, seorang muslim tentu harus berbesar hati bahwa amalannya akan diterima Allah Ta’ala. Hanya saja rasa harap (raja’) ini harus diimbangi dengan rasa khawatir (khauf) bahwa amal kita bisa jadi belum diterima oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan seorang hamba tidak semuanya diterima. Allah Ta’ala hanya akan menerima amal ibadah dan ketaatan yang dilandasi dengan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Allah hanyalah menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Kondisi inilah yang membuat sebagian ulama di masa silam merasa resah ketika Idulfitri. Mereka resah, bukan karena tidak punya baju baru. Mereka resah, bukan karena jauh dari keluarga. Mereka resah karena mereka tidak tahu, apakah amalannya selama bulan Ramadan diterima oleh Allah Ta’ala ataukah tidak.Mu’alla bin Al-Fadhl rahimahullah, seorang ulama tabi’uttabi’in, menceritakan kondisi para sahabat,كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُم رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنهُمْ“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudahnya, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 264)Oleh karena itu juga, ketika saling bertemu dengan saudara dan kawan kerabat di hari raya Idulfitri, ucapan yang diamalkan oleh para sahabat dan kita dianjurkan untuk memperbanyaknya adalahتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ“Semoga Allah Ta’ala menerima (seluruh amal perbuatan) dari kami dan dari kalian.”Sebuah doa berisi harapan semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita dan saudara yang kita temui.Baca juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJamaah salat Idulfitri yang berbahagia.Selama bulan Ramadan, kita telah banyak belajar. Belajar untuk menyesuaikan diri dengan aturan syariat. Belajar juga untuk menjadi orang baik. Yang harus kita ingat, perjuangan menjadi hamba Allah yang baik tidak boleh hanya dilakukan ketika Ramadan saja. Menjadi hamba Allah yang baik harus berlanjut dan berkesinambungan sepanjang kehidupan kita. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ“Istikamahlah sebagaimana kamu diperintahkan.” (QS. Hud: 112)Setelah bulan Ramadan yang penuh dengan kebaikan ini pergi, tugas kita yang paling utama adalah beristikamah, konsisten, dan kontinyu di dalam menjalankan segala perintah Allah Ta’ala. Sebagaimana hal ini Allah Ta’ala perintahkan dalam ayat yang baru saja kita baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5861 dan Muslim no. 782, 783)Lantas, bagaimana caranya agar kita mudah beristikamah setelah perginya bulan Ramadan yang mulia ini?Pertama, jangan pernah tinggalkan amalan wajib.Ada beberapa ibadah dan amalan yang telah Allah Ta’ala wajibkan kepada setiap muslim. Jangan sampai kewajiban kewajiban tersebut kita tinggalkan dan kita sia-siakan ataupun dikerjakan di luar waktu yang telah ditentukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ حُرُمَاتٍ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا“Sesungguhnya Allah menetapkan beberapa kewajiban. Oleh karena itu, jangan kalian menyepelekannya. Allah mengharamkan beberapa larangan, jangan kalian melanggarnya. Dan Allah menetapkan beberapa aturan, jangan melampaui batasnya.” (HR. Daruquthni no. 4445)Ketahuilah, kewajiban yang paling utama adalah menjaga salat lima waktu secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah bagi perempuan.Kedua, rutinkan amal sunah yang ringan.Menjaga rutinitas amalan sunah sekalipun itu ringan, akan membuat ibadah kita kepada Allah Ta’ala selalu terjaga. Karena ingin kita rutinkan, maka cobalah yang ringan terlebih dahulu.Dimampukan oleh Allah dengan keluasan rezeki? Bersedekahlah secara rutin, penuhi kebutuhan saudara, kerabat terdekat kita. Mudah untuk bangun malam? Rutinkan bangun di sepertiga malam terakhir walau sesaat. Sungguh, amalan-amalan sunah yang sedikit dan ringan ini, jika kita lakukan secara kontinyu dan konsisten tentu lebih baik dari amalan yang besar, namun jarang kita lakukan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Wahai para manusia, beramallah sesuai dengan kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan.” (HR. Bukhari no. 5861)Di antara amalan sunah yang bisa kita kerjakan setelah perginya bulan Ramadan ini adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Puasa ini boleh dilakukan di tanggal berapa pun pada bulan Syawal. Mau dilakukan secara berurutan ataupun terpisah, maka ini tidak masalah.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Tips ketiga untuk menjaga keistikamahan kita selepas Ramadan adalah berteman dengan orang saleh.Mengapa? Karena teman memiliki pengaruh besar bagi seseorang. Jangan sampai, teman-teman yang kita miliki menyeret diri kita ke jurang bahaya sementara kita tidak menyadarinya. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik lagi saleh. Jikalau kita tidak mampu menyamai kesalehan mereka, minimal akan mendapatkan keberkahan dan nasihat-nasihat baik mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً“Perumpamaan teman orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)Tips keempat yang akan membantu kita untuk terus istikamah adalah tidak pernah lupa berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan menjadi hamba yang istikamah.Seorang hamba tidak akan bisa menjadi baik dan istikamah, kecuali berkat pertolongan dan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, di antara bentuk semangat kita untuk menjadi baik dan istikamah adalah banyak memohon agar dibantu oleh Allah Ta’ala menjadi hamba yang baik.Salah satu doa yang bisa kita rutinkan untuk kita baca setelah selesai salat adalah,اللَّهُمَّ أَعِنّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Ya Allah bantulah kami agar senantiasa bisa berzikir (mengingat-Mu), bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud no. 1522)Jemaah salat Idulfitri yang dirahmati Allah Ta’ala,Di antara sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berkhotbah Idulfitri adalah memberikan nasihat khusus untuk kaum muslimah. Maka, di sini kami sampaikan nasihat kepada ibu-ibu dan wanita muslimah semuanya untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Senantiasalah selalu dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Bertakwalah kepada Allah dalam setiap gerakan dan kegiatan, berucaplah dengan jujur, jauhi gibah, dan berpakaianlah dengan pakaian yang menutup aurat. Ingatlah selalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما ترَكتُ بعدي فتنةً هي أضرُّ على الرِّجالِ مِن النساءِ“Tidaklah ada sepeninggalku ujian/cobaan yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki daripada ujian/cobaan wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)Jadilah wanita yang menjaga diri dan menjaga kehormatan. Jauhilah zina dan sebab-sebabnya. Karena Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا“Dan janganlah kalian mendekati zina. (Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Jemaah yang berbahagia,Nasihat terakhir kami adalah sebuah nasihat yang disampaikan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, Beliau mengatakan,لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد * لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب“Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru tanpa cacat. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah ibadah dan ketaatannya. Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.”Allahu akbar… Allahu akbar… Laa ilaaha illallahu wallahu akbar… Allahu akbar walillahil hamd…Akhir kata, marilah kita berdoa memohon kepada Allah, agar diberikan sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat, dimudahkan juga istikamah, dan konsisten dalam beramal. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan kemudahan bagi kaum muslimin Indonesia secara khusus dan kaum muslimin di segala penjuru dunia secara umum dalam setiap kesulitan dan musibah yang menimpa, berikut jalan keluar terbaik dalam menghadapi setiap masalah mereka.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌاَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَارَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِوصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلمBaca juga: Khotbah Salat Idul Fitri: Menggali Mutiara dari Idul Fitri***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khotbahkhotbah idul fitriteks khotbah idul fitri
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ چالَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأما بعد،فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخير الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وكل ضلالة في الناراَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ واللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر وَلِلَهِ الْحَمْدُMa’asyiral muslimin rahimakumullah.Jemaah salat Idulfitri yang semoga senantiasa dirahmati dan dilindungi oleh Allah Ta’ala.Di hari yang berbahagia ini, marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena ketakwaan merupakan sebab seorang hamba mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala. Allah berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)Sungguh, manusia yang paling mulia di muka bumi ini bukanlah mereka yang memiliki harta yang mewah, bukan juga mereka yang memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi, mereka yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Yaitu, mereka yang senantiasa menunaikan segala kewajiban yang telah diperintahkan dan menjauhi segala kemaksiatan yang dilarang.Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi mulia, suri teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, dan para sahabatnya.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Hari raya Idulfitri sejatinya adalah bentuk pengagungan kita kepada Allah Sang Maha Pencipta atas limpahan rezeki yang begitu banyak. Di antaranya adalah nikmat kesempatan menyelesaikan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan, nikmat kesempatan mengisi malam-malamnya dengan salat tarawih dan bacaan Al-Qur’an. Hari raya Idulfitri sekaligus merupakan kegembiraan seusai menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala, dengan harapan semoga apa yang telah kita lakukan di bulan ini diterima oleh Allah, mendapatkan pahala yang besar serta ganjaran yang berlipat.Jemaah salat Idulfitri yang berbahagia, seorang muslim tentu harus berbesar hati bahwa amalannya akan diterima Allah Ta’ala. Hanya saja rasa harap (raja’) ini harus diimbangi dengan rasa khawatir (khauf) bahwa amal kita bisa jadi belum diterima oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan seorang hamba tidak semuanya diterima. Allah Ta’ala hanya akan menerima amal ibadah dan ketaatan yang dilandasi dengan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Allah hanyalah menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Kondisi inilah yang membuat sebagian ulama di masa silam merasa resah ketika Idulfitri. Mereka resah, bukan karena tidak punya baju baru. Mereka resah, bukan karena jauh dari keluarga. Mereka resah karena mereka tidak tahu, apakah amalannya selama bulan Ramadan diterima oleh Allah Ta’ala ataukah tidak.Mu’alla bin Al-Fadhl rahimahullah, seorang ulama tabi’uttabi’in, menceritakan kondisi para sahabat,كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُم رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنهُمْ“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudahnya, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 264)Oleh karena itu juga, ketika saling bertemu dengan saudara dan kawan kerabat di hari raya Idulfitri, ucapan yang diamalkan oleh para sahabat dan kita dianjurkan untuk memperbanyaknya adalahتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ“Semoga Allah Ta’ala menerima (seluruh amal perbuatan) dari kami dan dari kalian.”Sebuah doa berisi harapan semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita dan saudara yang kita temui.Baca juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJamaah salat Idulfitri yang berbahagia.Selama bulan Ramadan, kita telah banyak belajar. Belajar untuk menyesuaikan diri dengan aturan syariat. Belajar juga untuk menjadi orang baik. Yang harus kita ingat, perjuangan menjadi hamba Allah yang baik tidak boleh hanya dilakukan ketika Ramadan saja. Menjadi hamba Allah yang baik harus berlanjut dan berkesinambungan sepanjang kehidupan kita. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ“Istikamahlah sebagaimana kamu diperintahkan.” (QS. Hud: 112)Setelah bulan Ramadan yang penuh dengan kebaikan ini pergi, tugas kita yang paling utama adalah beristikamah, konsisten, dan kontinyu di dalam menjalankan segala perintah Allah Ta’ala. Sebagaimana hal ini Allah Ta’ala perintahkan dalam ayat yang baru saja kita baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5861 dan Muslim no. 782, 783)Lantas, bagaimana caranya agar kita mudah beristikamah setelah perginya bulan Ramadan yang mulia ini?Pertama, jangan pernah tinggalkan amalan wajib.Ada beberapa ibadah dan amalan yang telah Allah Ta’ala wajibkan kepada setiap muslim. Jangan sampai kewajiban kewajiban tersebut kita tinggalkan dan kita sia-siakan ataupun dikerjakan di luar waktu yang telah ditentukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ حُرُمَاتٍ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا“Sesungguhnya Allah menetapkan beberapa kewajiban. Oleh karena itu, jangan kalian menyepelekannya. Allah mengharamkan beberapa larangan, jangan kalian melanggarnya. Dan Allah menetapkan beberapa aturan, jangan melampaui batasnya.” (HR. Daruquthni no. 4445)Ketahuilah, kewajiban yang paling utama adalah menjaga salat lima waktu secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah bagi perempuan.Kedua, rutinkan amal sunah yang ringan.Menjaga rutinitas amalan sunah sekalipun itu ringan, akan membuat ibadah kita kepada Allah Ta’ala selalu terjaga. Karena ingin kita rutinkan, maka cobalah yang ringan terlebih dahulu.Dimampukan oleh Allah dengan keluasan rezeki? Bersedekahlah secara rutin, penuhi kebutuhan saudara, kerabat terdekat kita. Mudah untuk bangun malam? Rutinkan bangun di sepertiga malam terakhir walau sesaat. Sungguh, amalan-amalan sunah yang sedikit dan ringan ini, jika kita lakukan secara kontinyu dan konsisten tentu lebih baik dari amalan yang besar, namun jarang kita lakukan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Wahai para manusia, beramallah sesuai dengan kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan.” (HR. Bukhari no. 5861)Di antara amalan sunah yang bisa kita kerjakan setelah perginya bulan Ramadan ini adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Puasa ini boleh dilakukan di tanggal berapa pun pada bulan Syawal. Mau dilakukan secara berurutan ataupun terpisah, maka ini tidak masalah.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Tips ketiga untuk menjaga keistikamahan kita selepas Ramadan adalah berteman dengan orang saleh.Mengapa? Karena teman memiliki pengaruh besar bagi seseorang. Jangan sampai, teman-teman yang kita miliki menyeret diri kita ke jurang bahaya sementara kita tidak menyadarinya. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik lagi saleh. Jikalau kita tidak mampu menyamai kesalehan mereka, minimal akan mendapatkan keberkahan dan nasihat-nasihat baik mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً“Perumpamaan teman orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)Tips keempat yang akan membantu kita untuk terus istikamah adalah tidak pernah lupa berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan menjadi hamba yang istikamah.Seorang hamba tidak akan bisa menjadi baik dan istikamah, kecuali berkat pertolongan dan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, di antara bentuk semangat kita untuk menjadi baik dan istikamah adalah banyak memohon agar dibantu oleh Allah Ta’ala menjadi hamba yang baik.Salah satu doa yang bisa kita rutinkan untuk kita baca setelah selesai salat adalah,اللَّهُمَّ أَعِنّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Ya Allah bantulah kami agar senantiasa bisa berzikir (mengingat-Mu), bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud no. 1522)Jemaah salat Idulfitri yang dirahmati Allah Ta’ala,Di antara sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berkhotbah Idulfitri adalah memberikan nasihat khusus untuk kaum muslimah. Maka, di sini kami sampaikan nasihat kepada ibu-ibu dan wanita muslimah semuanya untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Senantiasalah selalu dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Bertakwalah kepada Allah dalam setiap gerakan dan kegiatan, berucaplah dengan jujur, jauhi gibah, dan berpakaianlah dengan pakaian yang menutup aurat. Ingatlah selalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما ترَكتُ بعدي فتنةً هي أضرُّ على الرِّجالِ مِن النساءِ“Tidaklah ada sepeninggalku ujian/cobaan yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki daripada ujian/cobaan wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)Jadilah wanita yang menjaga diri dan menjaga kehormatan. Jauhilah zina dan sebab-sebabnya. Karena Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا“Dan janganlah kalian mendekati zina. (Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Jemaah yang berbahagia,Nasihat terakhir kami adalah sebuah nasihat yang disampaikan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, Beliau mengatakan,لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد * لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب“Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru tanpa cacat. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah ibadah dan ketaatannya. Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.”Allahu akbar… Allahu akbar… Laa ilaaha illallahu wallahu akbar… Allahu akbar walillahil hamd…Akhir kata, marilah kita berdoa memohon kepada Allah, agar diberikan sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat, dimudahkan juga istikamah, dan konsisten dalam beramal. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan kemudahan bagi kaum muslimin Indonesia secara khusus dan kaum muslimin di segala penjuru dunia secara umum dalam setiap kesulitan dan musibah yang menimpa, berikut jalan keluar terbaik dalam menghadapi setiap masalah mereka.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌاَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَارَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِوصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلمBaca juga: Khotbah Salat Idul Fitri: Menggali Mutiara dari Idul Fitri***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khotbahkhotbah idul fitriteks khotbah idul fitri


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ چالَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأما بعد،فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخير الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وكل ضلالة في الناراَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر، لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ واللَّهُ اَكْبَر، اَللَّهُ اَكْبَر وَلِلَهِ الْحَمْدُMa’asyiral muslimin rahimakumullah.Jemaah salat Idulfitri yang semoga senantiasa dirahmati dan dilindungi oleh Allah Ta’ala.Di hari yang berbahagia ini, marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena ketakwaan merupakan sebab seorang hamba mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala. Allah berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)Sungguh, manusia yang paling mulia di muka bumi ini bukanlah mereka yang memiliki harta yang mewah, bukan juga mereka yang memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi, mereka yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Yaitu, mereka yang senantiasa menunaikan segala kewajiban yang telah diperintahkan dan menjauhi segala kemaksiatan yang dilarang.Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi mulia, suri teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, dan para sahabatnya.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Hari raya Idulfitri sejatinya adalah bentuk pengagungan kita kepada Allah Sang Maha Pencipta atas limpahan rezeki yang begitu banyak. Di antaranya adalah nikmat kesempatan menyelesaikan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan, nikmat kesempatan mengisi malam-malamnya dengan salat tarawih dan bacaan Al-Qur’an. Hari raya Idulfitri sekaligus merupakan kegembiraan seusai menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala, dengan harapan semoga apa yang telah kita lakukan di bulan ini diterima oleh Allah, mendapatkan pahala yang besar serta ganjaran yang berlipat.Jemaah salat Idulfitri yang berbahagia, seorang muslim tentu harus berbesar hati bahwa amalannya akan diterima Allah Ta’ala. Hanya saja rasa harap (raja’) ini harus diimbangi dengan rasa khawatir (khauf) bahwa amal kita bisa jadi belum diterima oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan seorang hamba tidak semuanya diterima. Allah Ta’ala hanya akan menerima amal ibadah dan ketaatan yang dilandasi dengan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Allah hanyalah menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Kondisi inilah yang membuat sebagian ulama di masa silam merasa resah ketika Idulfitri. Mereka resah, bukan karena tidak punya baju baru. Mereka resah, bukan karena jauh dari keluarga. Mereka resah karena mereka tidak tahu, apakah amalannya selama bulan Ramadan diterima oleh Allah Ta’ala ataukah tidak.Mu’alla bin Al-Fadhl rahimahullah, seorang ulama tabi’uttabi’in, menceritakan kondisi para sahabat,كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُم رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنهُمْ“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudahnya, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 264)Oleh karena itu juga, ketika saling bertemu dengan saudara dan kawan kerabat di hari raya Idulfitri, ucapan yang diamalkan oleh para sahabat dan kita dianjurkan untuk memperbanyaknya adalahتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ“Semoga Allah Ta’ala menerima (seluruh amal perbuatan) dari kami dan dari kalian.”Sebuah doa berisi harapan semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita dan saudara yang kita temui.Baca juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُJamaah salat Idulfitri yang berbahagia.Selama bulan Ramadan, kita telah banyak belajar. Belajar untuk menyesuaikan diri dengan aturan syariat. Belajar juga untuk menjadi orang baik. Yang harus kita ingat, perjuangan menjadi hamba Allah yang baik tidak boleh hanya dilakukan ketika Ramadan saja. Menjadi hamba Allah yang baik harus berlanjut dan berkesinambungan sepanjang kehidupan kita. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ“Istikamahlah sebagaimana kamu diperintahkan.” (QS. Hud: 112)Setelah bulan Ramadan yang penuh dengan kebaikan ini pergi, tugas kita yang paling utama adalah beristikamah, konsisten, dan kontinyu di dalam menjalankan segala perintah Allah Ta’ala. Sebagaimana hal ini Allah Ta’ala perintahkan dalam ayat yang baru saja kita baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5861 dan Muslim no. 782, 783)Lantas, bagaimana caranya agar kita mudah beristikamah setelah perginya bulan Ramadan yang mulia ini?Pertama, jangan pernah tinggalkan amalan wajib.Ada beberapa ibadah dan amalan yang telah Allah Ta’ala wajibkan kepada setiap muslim. Jangan sampai kewajiban kewajiban tersebut kita tinggalkan dan kita sia-siakan ataupun dikerjakan di luar waktu yang telah ditentukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ حُرُمَاتٍ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا“Sesungguhnya Allah menetapkan beberapa kewajiban. Oleh karena itu, jangan kalian menyepelekannya. Allah mengharamkan beberapa larangan, jangan kalian melanggarnya. Dan Allah menetapkan beberapa aturan, jangan melampaui batasnya.” (HR. Daruquthni no. 4445)Ketahuilah, kewajiban yang paling utama adalah menjaga salat lima waktu secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah bagi perempuan.Kedua, rutinkan amal sunah yang ringan.Menjaga rutinitas amalan sunah sekalipun itu ringan, akan membuat ibadah kita kepada Allah Ta’ala selalu terjaga. Karena ingin kita rutinkan, maka cobalah yang ringan terlebih dahulu.Dimampukan oleh Allah dengan keluasan rezeki? Bersedekahlah secara rutin, penuhi kebutuhan saudara, kerabat terdekat kita. Mudah untuk bangun malam? Rutinkan bangun di sepertiga malam terakhir walau sesaat. Sungguh, amalan-amalan sunah yang sedikit dan ringan ini, jika kita lakukan secara kontinyu dan konsisten tentu lebih baik dari amalan yang besar, namun jarang kita lakukan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Wahai para manusia, beramallah sesuai dengan kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan.” (HR. Bukhari no. 5861)Di antara amalan sunah yang bisa kita kerjakan setelah perginya bulan Ramadan ini adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Puasa ini boleh dilakukan di tanggal berapa pun pada bulan Syawal. Mau dilakukan secara berurutan ataupun terpisah, maka ini tidak masalah.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Tips ketiga untuk menjaga keistikamahan kita selepas Ramadan adalah berteman dengan orang saleh.Mengapa? Karena teman memiliki pengaruh besar bagi seseorang. Jangan sampai, teman-teman yang kita miliki menyeret diri kita ke jurang bahaya sementara kita tidak menyadarinya. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik lagi saleh. Jikalau kita tidak mampu menyamai kesalehan mereka, minimal akan mendapatkan keberkahan dan nasihat-nasihat baik mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً“Perumpamaan teman orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)Tips keempat yang akan membantu kita untuk terus istikamah adalah tidak pernah lupa berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan menjadi hamba yang istikamah.Seorang hamba tidak akan bisa menjadi baik dan istikamah, kecuali berkat pertolongan dan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, di antara bentuk semangat kita untuk menjadi baik dan istikamah adalah banyak memohon agar dibantu oleh Allah Ta’ala menjadi hamba yang baik.Salah satu doa yang bisa kita rutinkan untuk kita baca setelah selesai salat adalah,اللَّهُمَّ أَعِنّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Ya Allah bantulah kami agar senantiasa bisa berzikir (mengingat-Mu), bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud no. 1522)Jemaah salat Idulfitri yang dirahmati Allah Ta’ala,Di antara sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berkhotbah Idulfitri adalah memberikan nasihat khusus untuk kaum muslimah. Maka, di sini kami sampaikan nasihat kepada ibu-ibu dan wanita muslimah semuanya untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Senantiasalah selalu dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Bertakwalah kepada Allah dalam setiap gerakan dan kegiatan, berucaplah dengan jujur, jauhi gibah, dan berpakaianlah dengan pakaian yang menutup aurat. Ingatlah selalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما ترَكتُ بعدي فتنةً هي أضرُّ على الرِّجالِ مِن النساءِ“Tidaklah ada sepeninggalku ujian/cobaan yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki daripada ujian/cobaan wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)Jadilah wanita yang menjaga diri dan menjaga kehormatan. Jauhilah zina dan sebab-sebabnya. Karena Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا“Dan janganlah kalian mendekati zina. (Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Jemaah yang berbahagia,Nasihat terakhir kami adalah sebuah nasihat yang disampaikan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, Beliau mengatakan,لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد * لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب“Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru tanpa cacat. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah ibadah dan ketaatannya. Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.”Allahu akbar… Allahu akbar… Laa ilaaha illallahu wallahu akbar… Allahu akbar walillahil hamd…Akhir kata, marilah kita berdoa memohon kepada Allah, agar diberikan sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat, dimudahkan juga istikamah, dan konsisten dalam beramal. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan kemudahan bagi kaum muslimin Indonesia secara khusus dan kaum muslimin di segala penjuru dunia secara umum dalam setiap kesulitan dan musibah yang menimpa, berikut jalan keluar terbaik dalam menghadapi setiap masalah mereka.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌاَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَارَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِوصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلمBaca juga: Khotbah Salat Idul Fitri: Menggali Mutiara dari Idul Fitri***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khotbahkhotbah idul fitriteks khotbah idul fitri

Khutbah Idul Fitri | Jaga Hati, Jangan Lalai Setelah Ramadhan

Jagalah hati, janganlah lalai bakda Ramadhan. Penyakit bakda Ramadhan adalah ghaflah, hati yang lalai. Semoga Allah menjaga hati kita agar terus istiqamah. Perhatikan dalam khutbah Idul Fitri 1444 H kali ini.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? 1.2. Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? 1.3. Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. 1.4. Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati 2. Khutbah Kedua 3. Aturan Khutbah Idulfitri 4. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: 5. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021:   Khutbah Pertama   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah … Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak bosan-bosannya kita memanjatkan puji syukur kepada Allah atas limpahan rahmat dan karunia sehingga terus berada dalam keadaan sehat wal afiat dan diberi umur panjang. Lebih dari itu semua, Allah masih memberikan kepada kita nikmat iman dan Islam yang patut kita syukuri dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk muhasabah diri dengan memperbaiki ketakwaan kita, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.” Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman.   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Bakda Ramadhan, kita diharapkan menjadi lebih baik. Ramadhan ibaratnya adalah seperti sekolah. Kemudian ketika kita selesai dari sekolah tersebut, kita mengaplikasikan amalan kita di bulan lainnya. Karena namanya pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang bisa dipraktikkan. Istilah para ulama adalah, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” Seharusnya kebaikan di bulan Ramadhan bisa berlanjut bakda Ramadhan. Shalat lima waktu bisa dilanjutkan dengan shalat lima waktu secara rutin. Shalat berjamaah (apalagi ditekankan bagi kaum pria) bisa dilanjutkan dengan shalat berjamaah bakda Ramadhan kecuali ada uzur, seperti hujan yang menyulitkan, sakit, dan darurat buang hajat. Shalat tarawih bisa dilanjutkan dengan shalat tahajud, bakda bangun tidur malam, bisa dengan rakaat yang kita mampu. Shalat witir bisa dilanjutkan bisa dilanjutkan dengan shalat witir bakda Ramadhan, bisa dilakukan bakda Isyak langsung, sebelum tidur, atau di akhir malam sebelum masuk Shubuh. Shalat rawatib 12 rakaat dalam sehari yang dijamin akan dibangunkan istana di surga bisa dilanjutkan bakda Ramadhan. Ingat, shalat qabliyah itu berarti shalat yang dilakukan ketika waktu shalat wajib itu masuk, yang penting masih di waktunya, bisa dilakukan sebelum ataukah sesudah shalat wajib. Sedangkan, shalat bakdiyah adalah shalat yang dilakukan bakda shalat wajib, tidak boleh sebelum shalat wajib. Membaca Al-Qur’an pun bisa dirutinkan bakda Ramadhan, bagi yang punya hafalan bisa mengulang hafalannya di dalam shalat sunnah, atau bisa sambil memegang mushaf (seperti dalam gawai/ gadget) kemudian dibaca ketika shalat tahajud atau shalat Dhuha. Al-Qur’an pun bisa dibaca kala waktu senggang, begitu pula dibaca saat menunggu antrian daripada hanya sekadar melihat status medsos yang “unfaedah” (tak manfaat). Sedekah bisa dilanjutkan dengan sedekah berikutnya bakda Ramadhan. Puasa Ramadhan bisa disempurnakan dengan puasa Syawal agar mendapatkan pahala puasa setahun penuh, dengan catatan baiknya membayar qadha’ dahulu barulah puasa Syawal. Pokoknya kebaikan di bulan Ramadhan, baiknya terus dilanjutkan. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para hadirin rahimakumullah … Namun, cobaan sejatinya memang kita dapati bakda Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan sendiri, maksiat itu berkurang dan kebaikan itu Allah mudahkan dengan ditandai terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka, serta setan diikat. Bakda Ramadhan, keadaan ini berbeda. Keadaan kembali mendapatkan ujian dengan mudahnya kita meninggalkan kebaikan, bahkan kewajiban, dan terjerumus dalam maksiat.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? Kita kurang memperhatikan ibadah wajib. Kalau pun memperhatikan ibadah wajib, ada kekurangan dalam yang sunnah atau kita merasa “sudah lah cukup dengan wajib saja”. Kebiasaan kita juga menganggap maksiat bahkan dosa besar sebagai hal yang biasa. Inilah yang disebut ghaflah, lalai. Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah kelalain karena sedikit menjaga diri dan kurang sadar.” Sedangkan, Al-Jirjani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah mengikuti hawa nafsu yang disukai.” (Mufsidaat Al-Quluub karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, hlm. 90) Ada kelalaian yang keadaannya layaknya binatang ternak, hanya paham makan, minum, tidur, bersenang-senang, dan istirahat. Inilah yang Allah sebutkan, وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ “Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12). Na’udzu billahi min dzalik, semoga Allah melindungi kita semua dari sifat semacam ini. Inilah yang disebut dengan ghaflah taammah, kelalaian yang sempurna. Ada pula kelalaian yang sifatnya terkadang datang, terkadang hilang, seperti yang terjadi pada orang saleh. Kelalaian yang bisa langsung hilang karena ingat akhirat, kelalaian ini disebut ghaflah ‘aaridhoh. Dalam ayat disebutkan, إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201) Ada juga kelalaian yang ada pada akhli maksiat atau orang fasik yang berulang terus menerus. Kelalaian seperti ini disebut ghaflah mutakarriroh. Kelalaian semacam ini perlu diingatkan kapan pun sehingga para ahli maksiat bisa kembali ke jalan yang benar, shirothol mustaqim.   Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? Pertama: Ingin terus rehat atau beristirahat. Kedua: Semangat dalam mencari kelezatan dunia hingga menerjang yang haram. Ketiga: Karena sudah mati rasa terhadap dosa. Keempat: Mengikuti hawa nafsu. Kelima: Sibuk dengan kerja dan mencari nafkah. Keenam: Waktu dihabiskan dengan permainan, games, dan gadget (gawai). Ketujuh: Hidup mewah dengan pakaian, makanan dan kelezatan dunia. Kedelapan: Cinta dunia dan merasa hidup lama. Kesembilan: Berteman dengan orang-orang yang lalai (ghaflah). Kesepuluh: Banyak sibuk dengan hal mubah.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. Enggan duduk dalam majelis ilmu untuk mempelajari agama. Enggan mempelajari Al-Qur’an dengan membaca, memahami dan menghafalkannya serta mendalami ilmu di dalamnya. Enggan berdzikir kepada Allah. Enggan membaca dan menghafalkan dzikir yang bisa digunakan untuk melindungi diri. Lalai dalam memperhatikan niat. Beramal namun tidak memperhatikan manakah amalan yang lebih prioritas dari yang lainnya.   Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati Berada dalam majelis ilmu. Rajin berdzikir. Rajin berdoa. Shalat malam. Ziarah kubur. Tadabbur keadaan sekitar kita seperti merenungkan kematian yang ada di sekeliling kita. Mengingat surga dan neraka. Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Kiat penting lainnya untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati adalah berteman dengan orang saleh, berada di sekeliling orang baik, dan meninggalkan orang-orang yang ghaflah (lalai). Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28) Keadaan teman itu dalam mendukung menjadi baik sangat penting. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “Arwah itu adalah bala tentara yang berlimpah dan bermacam (masing-masing ada kesesuaian dalam hal kebaikan dan keburukan). Yang sudah saling kenal (cocok), maka akan menyatu. Yang tidak saling kenal (tidak cocok), pasti akan berpisah.” (HR. Bukhari, no. 3158 dan Muslim, no. 2638). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini, فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Orang jelek pun demikian akan berkumpul dengan orang jelek.” (Syarh Shahih Muslim, 16:185). Teman yang paling dekat adalah pasangan suami istri, karena berada dalam satu atap dan selalu bersama. Baca juga: Kisah Ashabul Kahfi dan Pelajaran di Dalamnya اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Terakhir, yang dapat menguatkan istiqamah agar sekolah Ramadhan bisa terus berlanjut bakda Ramadhan adalah dengan terus berdoa. Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini, ْكَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم “Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …   Semoga doa-doa kita dapat meneguhkan kita sehingga bisa terus istiqamah bakda Ramadhan. Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam iman dan amal saleh, hingga diberikan kepada kita semua husnul khatimah. ْأَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.   Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.   Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   – Aturan Khutbah Idulfitri 1. Khutbah Idulfitri adalah sunnah setelah shalat Id. 2. Khutbah Idulfitri ada dua kali khutbah. Rukun dan sunnahnya sama dengan khutbah Jumat. 3. Disunnahkan khutbah dengan mimbar, boleh juga berkhutbah dengan duduk. 4. Khutbah pertama diawali dengan sembilan kali takbir. Khutbah kedua diawali dengan tujuh kali takbir. 5. Rukun khutbatain (dua khutbah) ada 5, yaitu [1] memuji Allah pada kedua khutbah, [2] bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua khutbah, [3] berwasiat takwa pada kedua khutbah, [4] membaca ayat Al-Qur’an di salah satu keduanya, dan [5] mendoakan orang-orang beriman lelaki dan peremuan di khutbah terakhir. 6. Jamaah disunnahkan mendengarkan khutbah. Namun, mendengarkan khutbah Idulfitri bukanlah syarat sahnya shalat Id. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:555-556. Lihat pula Kifayah Al-Akhyar, hlm. 200.   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: “Realisasi Syukur Bakda Ramadhan”   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021: “Berbuka Ketika Berjumpa dengan Allah” – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 1 Syawal 1444 H, Sabtu pagi penuh berkah di hari Idulfitri Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa meninggalkan shalat ghaflah hati bersih jaga hati khutbah hari raya khutbah idul fitri lalai

Khutbah Idul Fitri | Jaga Hati, Jangan Lalai Setelah Ramadhan

Jagalah hati, janganlah lalai bakda Ramadhan. Penyakit bakda Ramadhan adalah ghaflah, hati yang lalai. Semoga Allah menjaga hati kita agar terus istiqamah. Perhatikan dalam khutbah Idul Fitri 1444 H kali ini.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? 1.2. Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? 1.3. Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. 1.4. Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati 2. Khutbah Kedua 3. Aturan Khutbah Idulfitri 4. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: 5. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021:   Khutbah Pertama   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah … Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak bosan-bosannya kita memanjatkan puji syukur kepada Allah atas limpahan rahmat dan karunia sehingga terus berada dalam keadaan sehat wal afiat dan diberi umur panjang. Lebih dari itu semua, Allah masih memberikan kepada kita nikmat iman dan Islam yang patut kita syukuri dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk muhasabah diri dengan memperbaiki ketakwaan kita, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.” Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman.   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Bakda Ramadhan, kita diharapkan menjadi lebih baik. Ramadhan ibaratnya adalah seperti sekolah. Kemudian ketika kita selesai dari sekolah tersebut, kita mengaplikasikan amalan kita di bulan lainnya. Karena namanya pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang bisa dipraktikkan. Istilah para ulama adalah, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” Seharusnya kebaikan di bulan Ramadhan bisa berlanjut bakda Ramadhan. Shalat lima waktu bisa dilanjutkan dengan shalat lima waktu secara rutin. Shalat berjamaah (apalagi ditekankan bagi kaum pria) bisa dilanjutkan dengan shalat berjamaah bakda Ramadhan kecuali ada uzur, seperti hujan yang menyulitkan, sakit, dan darurat buang hajat. Shalat tarawih bisa dilanjutkan dengan shalat tahajud, bakda bangun tidur malam, bisa dengan rakaat yang kita mampu. Shalat witir bisa dilanjutkan bisa dilanjutkan dengan shalat witir bakda Ramadhan, bisa dilakukan bakda Isyak langsung, sebelum tidur, atau di akhir malam sebelum masuk Shubuh. Shalat rawatib 12 rakaat dalam sehari yang dijamin akan dibangunkan istana di surga bisa dilanjutkan bakda Ramadhan. Ingat, shalat qabliyah itu berarti shalat yang dilakukan ketika waktu shalat wajib itu masuk, yang penting masih di waktunya, bisa dilakukan sebelum ataukah sesudah shalat wajib. Sedangkan, shalat bakdiyah adalah shalat yang dilakukan bakda shalat wajib, tidak boleh sebelum shalat wajib. Membaca Al-Qur’an pun bisa dirutinkan bakda Ramadhan, bagi yang punya hafalan bisa mengulang hafalannya di dalam shalat sunnah, atau bisa sambil memegang mushaf (seperti dalam gawai/ gadget) kemudian dibaca ketika shalat tahajud atau shalat Dhuha. Al-Qur’an pun bisa dibaca kala waktu senggang, begitu pula dibaca saat menunggu antrian daripada hanya sekadar melihat status medsos yang “unfaedah” (tak manfaat). Sedekah bisa dilanjutkan dengan sedekah berikutnya bakda Ramadhan. Puasa Ramadhan bisa disempurnakan dengan puasa Syawal agar mendapatkan pahala puasa setahun penuh, dengan catatan baiknya membayar qadha’ dahulu barulah puasa Syawal. Pokoknya kebaikan di bulan Ramadhan, baiknya terus dilanjutkan. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para hadirin rahimakumullah … Namun, cobaan sejatinya memang kita dapati bakda Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan sendiri, maksiat itu berkurang dan kebaikan itu Allah mudahkan dengan ditandai terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka, serta setan diikat. Bakda Ramadhan, keadaan ini berbeda. Keadaan kembali mendapatkan ujian dengan mudahnya kita meninggalkan kebaikan, bahkan kewajiban, dan terjerumus dalam maksiat.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? Kita kurang memperhatikan ibadah wajib. Kalau pun memperhatikan ibadah wajib, ada kekurangan dalam yang sunnah atau kita merasa “sudah lah cukup dengan wajib saja”. Kebiasaan kita juga menganggap maksiat bahkan dosa besar sebagai hal yang biasa. Inilah yang disebut ghaflah, lalai. Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah kelalain karena sedikit menjaga diri dan kurang sadar.” Sedangkan, Al-Jirjani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah mengikuti hawa nafsu yang disukai.” (Mufsidaat Al-Quluub karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, hlm. 90) Ada kelalaian yang keadaannya layaknya binatang ternak, hanya paham makan, minum, tidur, bersenang-senang, dan istirahat. Inilah yang Allah sebutkan, وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ “Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12). Na’udzu billahi min dzalik, semoga Allah melindungi kita semua dari sifat semacam ini. Inilah yang disebut dengan ghaflah taammah, kelalaian yang sempurna. Ada pula kelalaian yang sifatnya terkadang datang, terkadang hilang, seperti yang terjadi pada orang saleh. Kelalaian yang bisa langsung hilang karena ingat akhirat, kelalaian ini disebut ghaflah ‘aaridhoh. Dalam ayat disebutkan, إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201) Ada juga kelalaian yang ada pada akhli maksiat atau orang fasik yang berulang terus menerus. Kelalaian seperti ini disebut ghaflah mutakarriroh. Kelalaian semacam ini perlu diingatkan kapan pun sehingga para ahli maksiat bisa kembali ke jalan yang benar, shirothol mustaqim.   Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? Pertama: Ingin terus rehat atau beristirahat. Kedua: Semangat dalam mencari kelezatan dunia hingga menerjang yang haram. Ketiga: Karena sudah mati rasa terhadap dosa. Keempat: Mengikuti hawa nafsu. Kelima: Sibuk dengan kerja dan mencari nafkah. Keenam: Waktu dihabiskan dengan permainan, games, dan gadget (gawai). Ketujuh: Hidup mewah dengan pakaian, makanan dan kelezatan dunia. Kedelapan: Cinta dunia dan merasa hidup lama. Kesembilan: Berteman dengan orang-orang yang lalai (ghaflah). Kesepuluh: Banyak sibuk dengan hal mubah.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. Enggan duduk dalam majelis ilmu untuk mempelajari agama. Enggan mempelajari Al-Qur’an dengan membaca, memahami dan menghafalkannya serta mendalami ilmu di dalamnya. Enggan berdzikir kepada Allah. Enggan membaca dan menghafalkan dzikir yang bisa digunakan untuk melindungi diri. Lalai dalam memperhatikan niat. Beramal namun tidak memperhatikan manakah amalan yang lebih prioritas dari yang lainnya.   Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati Berada dalam majelis ilmu. Rajin berdzikir. Rajin berdoa. Shalat malam. Ziarah kubur. Tadabbur keadaan sekitar kita seperti merenungkan kematian yang ada di sekeliling kita. Mengingat surga dan neraka. Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Kiat penting lainnya untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati adalah berteman dengan orang saleh, berada di sekeliling orang baik, dan meninggalkan orang-orang yang ghaflah (lalai). Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28) Keadaan teman itu dalam mendukung menjadi baik sangat penting. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “Arwah itu adalah bala tentara yang berlimpah dan bermacam (masing-masing ada kesesuaian dalam hal kebaikan dan keburukan). Yang sudah saling kenal (cocok), maka akan menyatu. Yang tidak saling kenal (tidak cocok), pasti akan berpisah.” (HR. Bukhari, no. 3158 dan Muslim, no. 2638). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini, فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Orang jelek pun demikian akan berkumpul dengan orang jelek.” (Syarh Shahih Muslim, 16:185). Teman yang paling dekat adalah pasangan suami istri, karena berada dalam satu atap dan selalu bersama. Baca juga: Kisah Ashabul Kahfi dan Pelajaran di Dalamnya اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Terakhir, yang dapat menguatkan istiqamah agar sekolah Ramadhan bisa terus berlanjut bakda Ramadhan adalah dengan terus berdoa. Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini, ْكَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم “Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …   Semoga doa-doa kita dapat meneguhkan kita sehingga bisa terus istiqamah bakda Ramadhan. Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam iman dan amal saleh, hingga diberikan kepada kita semua husnul khatimah. ْأَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.   Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.   Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   – Aturan Khutbah Idulfitri 1. Khutbah Idulfitri adalah sunnah setelah shalat Id. 2. Khutbah Idulfitri ada dua kali khutbah. Rukun dan sunnahnya sama dengan khutbah Jumat. 3. Disunnahkan khutbah dengan mimbar, boleh juga berkhutbah dengan duduk. 4. Khutbah pertama diawali dengan sembilan kali takbir. Khutbah kedua diawali dengan tujuh kali takbir. 5. Rukun khutbatain (dua khutbah) ada 5, yaitu [1] memuji Allah pada kedua khutbah, [2] bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua khutbah, [3] berwasiat takwa pada kedua khutbah, [4] membaca ayat Al-Qur’an di salah satu keduanya, dan [5] mendoakan orang-orang beriman lelaki dan peremuan di khutbah terakhir. 6. Jamaah disunnahkan mendengarkan khutbah. Namun, mendengarkan khutbah Idulfitri bukanlah syarat sahnya shalat Id. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:555-556. Lihat pula Kifayah Al-Akhyar, hlm. 200.   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: “Realisasi Syukur Bakda Ramadhan”   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021: “Berbuka Ketika Berjumpa dengan Allah” – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 1 Syawal 1444 H, Sabtu pagi penuh berkah di hari Idulfitri Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa meninggalkan shalat ghaflah hati bersih jaga hati khutbah hari raya khutbah idul fitri lalai
Jagalah hati, janganlah lalai bakda Ramadhan. Penyakit bakda Ramadhan adalah ghaflah, hati yang lalai. Semoga Allah menjaga hati kita agar terus istiqamah. Perhatikan dalam khutbah Idul Fitri 1444 H kali ini.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? 1.2. Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? 1.3. Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. 1.4. Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati 2. Khutbah Kedua 3. Aturan Khutbah Idulfitri 4. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: 5. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021:   Khutbah Pertama   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah … Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak bosan-bosannya kita memanjatkan puji syukur kepada Allah atas limpahan rahmat dan karunia sehingga terus berada dalam keadaan sehat wal afiat dan diberi umur panjang. Lebih dari itu semua, Allah masih memberikan kepada kita nikmat iman dan Islam yang patut kita syukuri dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk muhasabah diri dengan memperbaiki ketakwaan kita, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.” Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman.   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Bakda Ramadhan, kita diharapkan menjadi lebih baik. Ramadhan ibaratnya adalah seperti sekolah. Kemudian ketika kita selesai dari sekolah tersebut, kita mengaplikasikan amalan kita di bulan lainnya. Karena namanya pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang bisa dipraktikkan. Istilah para ulama adalah, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” Seharusnya kebaikan di bulan Ramadhan bisa berlanjut bakda Ramadhan. Shalat lima waktu bisa dilanjutkan dengan shalat lima waktu secara rutin. Shalat berjamaah (apalagi ditekankan bagi kaum pria) bisa dilanjutkan dengan shalat berjamaah bakda Ramadhan kecuali ada uzur, seperti hujan yang menyulitkan, sakit, dan darurat buang hajat. Shalat tarawih bisa dilanjutkan dengan shalat tahajud, bakda bangun tidur malam, bisa dengan rakaat yang kita mampu. Shalat witir bisa dilanjutkan bisa dilanjutkan dengan shalat witir bakda Ramadhan, bisa dilakukan bakda Isyak langsung, sebelum tidur, atau di akhir malam sebelum masuk Shubuh. Shalat rawatib 12 rakaat dalam sehari yang dijamin akan dibangunkan istana di surga bisa dilanjutkan bakda Ramadhan. Ingat, shalat qabliyah itu berarti shalat yang dilakukan ketika waktu shalat wajib itu masuk, yang penting masih di waktunya, bisa dilakukan sebelum ataukah sesudah shalat wajib. Sedangkan, shalat bakdiyah adalah shalat yang dilakukan bakda shalat wajib, tidak boleh sebelum shalat wajib. Membaca Al-Qur’an pun bisa dirutinkan bakda Ramadhan, bagi yang punya hafalan bisa mengulang hafalannya di dalam shalat sunnah, atau bisa sambil memegang mushaf (seperti dalam gawai/ gadget) kemudian dibaca ketika shalat tahajud atau shalat Dhuha. Al-Qur’an pun bisa dibaca kala waktu senggang, begitu pula dibaca saat menunggu antrian daripada hanya sekadar melihat status medsos yang “unfaedah” (tak manfaat). Sedekah bisa dilanjutkan dengan sedekah berikutnya bakda Ramadhan. Puasa Ramadhan bisa disempurnakan dengan puasa Syawal agar mendapatkan pahala puasa setahun penuh, dengan catatan baiknya membayar qadha’ dahulu barulah puasa Syawal. Pokoknya kebaikan di bulan Ramadhan, baiknya terus dilanjutkan. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para hadirin rahimakumullah … Namun, cobaan sejatinya memang kita dapati bakda Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan sendiri, maksiat itu berkurang dan kebaikan itu Allah mudahkan dengan ditandai terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka, serta setan diikat. Bakda Ramadhan, keadaan ini berbeda. Keadaan kembali mendapatkan ujian dengan mudahnya kita meninggalkan kebaikan, bahkan kewajiban, dan terjerumus dalam maksiat.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? Kita kurang memperhatikan ibadah wajib. Kalau pun memperhatikan ibadah wajib, ada kekurangan dalam yang sunnah atau kita merasa “sudah lah cukup dengan wajib saja”. Kebiasaan kita juga menganggap maksiat bahkan dosa besar sebagai hal yang biasa. Inilah yang disebut ghaflah, lalai. Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah kelalain karena sedikit menjaga diri dan kurang sadar.” Sedangkan, Al-Jirjani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah mengikuti hawa nafsu yang disukai.” (Mufsidaat Al-Quluub karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, hlm. 90) Ada kelalaian yang keadaannya layaknya binatang ternak, hanya paham makan, minum, tidur, bersenang-senang, dan istirahat. Inilah yang Allah sebutkan, وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ “Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12). Na’udzu billahi min dzalik, semoga Allah melindungi kita semua dari sifat semacam ini. Inilah yang disebut dengan ghaflah taammah, kelalaian yang sempurna. Ada pula kelalaian yang sifatnya terkadang datang, terkadang hilang, seperti yang terjadi pada orang saleh. Kelalaian yang bisa langsung hilang karena ingat akhirat, kelalaian ini disebut ghaflah ‘aaridhoh. Dalam ayat disebutkan, إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201) Ada juga kelalaian yang ada pada akhli maksiat atau orang fasik yang berulang terus menerus. Kelalaian seperti ini disebut ghaflah mutakarriroh. Kelalaian semacam ini perlu diingatkan kapan pun sehingga para ahli maksiat bisa kembali ke jalan yang benar, shirothol mustaqim.   Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? Pertama: Ingin terus rehat atau beristirahat. Kedua: Semangat dalam mencari kelezatan dunia hingga menerjang yang haram. Ketiga: Karena sudah mati rasa terhadap dosa. Keempat: Mengikuti hawa nafsu. Kelima: Sibuk dengan kerja dan mencari nafkah. Keenam: Waktu dihabiskan dengan permainan, games, dan gadget (gawai). Ketujuh: Hidup mewah dengan pakaian, makanan dan kelezatan dunia. Kedelapan: Cinta dunia dan merasa hidup lama. Kesembilan: Berteman dengan orang-orang yang lalai (ghaflah). Kesepuluh: Banyak sibuk dengan hal mubah.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. Enggan duduk dalam majelis ilmu untuk mempelajari agama. Enggan mempelajari Al-Qur’an dengan membaca, memahami dan menghafalkannya serta mendalami ilmu di dalamnya. Enggan berdzikir kepada Allah. Enggan membaca dan menghafalkan dzikir yang bisa digunakan untuk melindungi diri. Lalai dalam memperhatikan niat. Beramal namun tidak memperhatikan manakah amalan yang lebih prioritas dari yang lainnya.   Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati Berada dalam majelis ilmu. Rajin berdzikir. Rajin berdoa. Shalat malam. Ziarah kubur. Tadabbur keadaan sekitar kita seperti merenungkan kematian yang ada di sekeliling kita. Mengingat surga dan neraka. Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Kiat penting lainnya untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati adalah berteman dengan orang saleh, berada di sekeliling orang baik, dan meninggalkan orang-orang yang ghaflah (lalai). Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28) Keadaan teman itu dalam mendukung menjadi baik sangat penting. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “Arwah itu adalah bala tentara yang berlimpah dan bermacam (masing-masing ada kesesuaian dalam hal kebaikan dan keburukan). Yang sudah saling kenal (cocok), maka akan menyatu. Yang tidak saling kenal (tidak cocok), pasti akan berpisah.” (HR. Bukhari, no. 3158 dan Muslim, no. 2638). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini, فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Orang jelek pun demikian akan berkumpul dengan orang jelek.” (Syarh Shahih Muslim, 16:185). Teman yang paling dekat adalah pasangan suami istri, karena berada dalam satu atap dan selalu bersama. Baca juga: Kisah Ashabul Kahfi dan Pelajaran di Dalamnya اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Terakhir, yang dapat menguatkan istiqamah agar sekolah Ramadhan bisa terus berlanjut bakda Ramadhan adalah dengan terus berdoa. Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini, ْكَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم “Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …   Semoga doa-doa kita dapat meneguhkan kita sehingga bisa terus istiqamah bakda Ramadhan. Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam iman dan amal saleh, hingga diberikan kepada kita semua husnul khatimah. ْأَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.   Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.   Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   – Aturan Khutbah Idulfitri 1. Khutbah Idulfitri adalah sunnah setelah shalat Id. 2. Khutbah Idulfitri ada dua kali khutbah. Rukun dan sunnahnya sama dengan khutbah Jumat. 3. Disunnahkan khutbah dengan mimbar, boleh juga berkhutbah dengan duduk. 4. Khutbah pertama diawali dengan sembilan kali takbir. Khutbah kedua diawali dengan tujuh kali takbir. 5. Rukun khutbatain (dua khutbah) ada 5, yaitu [1] memuji Allah pada kedua khutbah, [2] bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua khutbah, [3] berwasiat takwa pada kedua khutbah, [4] membaca ayat Al-Qur’an di salah satu keduanya, dan [5] mendoakan orang-orang beriman lelaki dan peremuan di khutbah terakhir. 6. Jamaah disunnahkan mendengarkan khutbah. Namun, mendengarkan khutbah Idulfitri bukanlah syarat sahnya shalat Id. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:555-556. Lihat pula Kifayah Al-Akhyar, hlm. 200.   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: “Realisasi Syukur Bakda Ramadhan”   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021: “Berbuka Ketika Berjumpa dengan Allah” – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 1 Syawal 1444 H, Sabtu pagi penuh berkah di hari Idulfitri Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa meninggalkan shalat ghaflah hati bersih jaga hati khutbah hari raya khutbah idul fitri lalai


Jagalah hati, janganlah lalai bakda Ramadhan. Penyakit bakda Ramadhan adalah ghaflah, hati yang lalai. Semoga Allah menjaga hati kita agar terus istiqamah. Perhatikan dalam khutbah Idul Fitri 1444 H kali ini.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? 1.2. Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? 1.3. Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. 1.4. Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati 2. Khutbah Kedua 3. Aturan Khutbah Idulfitri 4. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: 5. Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021:   Khutbah Pertama   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah … Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak bosan-bosannya kita memanjatkan puji syukur kepada Allah atas limpahan rahmat dan karunia sehingga terus berada dalam keadaan sehat wal afiat dan diberi umur panjang. Lebih dari itu semua, Allah masih memberikan kepada kita nikmat iman dan Islam yang patut kita syukuri dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk muhasabah diri dengan memperbaiki ketakwaan kita, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.” Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman.   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Bakda Ramadhan, kita diharapkan menjadi lebih baik. Ramadhan ibaratnya adalah seperti sekolah. Kemudian ketika kita selesai dari sekolah tersebut, kita mengaplikasikan amalan kita di bulan lainnya. Karena namanya pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang bisa dipraktikkan. Istilah para ulama adalah, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” Seharusnya kebaikan di bulan Ramadhan bisa berlanjut bakda Ramadhan. Shalat lima waktu bisa dilanjutkan dengan shalat lima waktu secara rutin. Shalat berjamaah (apalagi ditekankan bagi kaum pria) bisa dilanjutkan dengan shalat berjamaah bakda Ramadhan kecuali ada uzur, seperti hujan yang menyulitkan, sakit, dan darurat buang hajat. Shalat tarawih bisa dilanjutkan dengan shalat tahajud, bakda bangun tidur malam, bisa dengan rakaat yang kita mampu. Shalat witir bisa dilanjutkan bisa dilanjutkan dengan shalat witir bakda Ramadhan, bisa dilakukan bakda Isyak langsung, sebelum tidur, atau di akhir malam sebelum masuk Shubuh. Shalat rawatib 12 rakaat dalam sehari yang dijamin akan dibangunkan istana di surga bisa dilanjutkan bakda Ramadhan. Ingat, shalat qabliyah itu berarti shalat yang dilakukan ketika waktu shalat wajib itu masuk, yang penting masih di waktunya, bisa dilakukan sebelum ataukah sesudah shalat wajib. Sedangkan, shalat bakdiyah adalah shalat yang dilakukan bakda shalat wajib, tidak boleh sebelum shalat wajib. Membaca Al-Qur’an pun bisa dirutinkan bakda Ramadhan, bagi yang punya hafalan bisa mengulang hafalannya di dalam shalat sunnah, atau bisa sambil memegang mushaf (seperti dalam gawai/ gadget) kemudian dibaca ketika shalat tahajud atau shalat Dhuha. Al-Qur’an pun bisa dibaca kala waktu senggang, begitu pula dibaca saat menunggu antrian daripada hanya sekadar melihat status medsos yang “unfaedah” (tak manfaat). Sedekah bisa dilanjutkan dengan sedekah berikutnya bakda Ramadhan. Puasa Ramadhan bisa disempurnakan dengan puasa Syawal agar mendapatkan pahala puasa setahun penuh, dengan catatan baiknya membayar qadha’ dahulu barulah puasa Syawal. Pokoknya kebaikan di bulan Ramadhan, baiknya terus dilanjutkan. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para hadirin rahimakumullah … Namun, cobaan sejatinya memang kita dapati bakda Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan sendiri, maksiat itu berkurang dan kebaikan itu Allah mudahkan dengan ditandai terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka, serta setan diikat. Bakda Ramadhan, keadaan ini berbeda. Keadaan kembali mendapatkan ujian dengan mudahnya kita meninggalkan kebaikan, bahkan kewajiban, dan terjerumus dalam maksiat.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Lihat saja apa yang terjadi bakda Ramadhan? Kita kurang memperhatikan ibadah wajib. Kalau pun memperhatikan ibadah wajib, ada kekurangan dalam yang sunnah atau kita merasa “sudah lah cukup dengan wajib saja”. Kebiasaan kita juga menganggap maksiat bahkan dosa besar sebagai hal yang biasa. Inilah yang disebut ghaflah, lalai. Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah kelalain karena sedikit menjaga diri dan kurang sadar.” Sedangkan, Al-Jirjani rahimahullah berkata, “Ghaflah adalah mengikuti hawa nafsu yang disukai.” (Mufsidaat Al-Quluub karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, hlm. 90) Ada kelalaian yang keadaannya layaknya binatang ternak, hanya paham makan, minum, tidur, bersenang-senang, dan istirahat. Inilah yang Allah sebutkan, وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ “Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12). Na’udzu billahi min dzalik, semoga Allah melindungi kita semua dari sifat semacam ini. Inilah yang disebut dengan ghaflah taammah, kelalaian yang sempurna. Ada pula kelalaian yang sifatnya terkadang datang, terkadang hilang, seperti yang terjadi pada orang saleh. Kelalaian yang bisa langsung hilang karena ingat akhirat, kelalaian ini disebut ghaflah ‘aaridhoh. Dalam ayat disebutkan, إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201) Ada juga kelalaian yang ada pada akhli maksiat atau orang fasik yang berulang terus menerus. Kelalaian seperti ini disebut ghaflah mutakarriroh. Kelalaian semacam ini perlu diingatkan kapan pun sehingga para ahli maksiat bisa kembali ke jalan yang benar, shirothol mustaqim.   Apa saja yang menyebabkan hati kita lalai? Pertama: Ingin terus rehat atau beristirahat. Kedua: Semangat dalam mencari kelezatan dunia hingga menerjang yang haram. Ketiga: Karena sudah mati rasa terhadap dosa. Keempat: Mengikuti hawa nafsu. Kelima: Sibuk dengan kerja dan mencari nafkah. Keenam: Waktu dihabiskan dengan permainan, games, dan gadget (gawai). Ketujuh: Hidup mewah dengan pakaian, makanan dan kelezatan dunia. Kedelapan: Cinta dunia dan merasa hidup lama. Kesembilan: Berteman dengan orang-orang yang lalai (ghaflah). Kesepuluh: Banyak sibuk dengan hal mubah.   Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini. Enggan duduk dalam majelis ilmu untuk mempelajari agama. Enggan mempelajari Al-Qur’an dengan membaca, memahami dan menghafalkannya serta mendalami ilmu di dalamnya. Enggan berdzikir kepada Allah. Enggan membaca dan menghafalkan dzikir yang bisa digunakan untuk melindungi diri. Lalai dalam memperhatikan niat. Beramal namun tidak memperhatikan manakah amalan yang lebih prioritas dari yang lainnya.   Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati Berada dalam majelis ilmu. Rajin berdzikir. Rajin berdoa. Shalat malam. Ziarah kubur. Tadabbur keadaan sekitar kita seperti merenungkan kematian yang ada di sekeliling kita. Mengingat surga dan neraka. Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Kiat penting lainnya untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian), kelalaian hati adalah berteman dengan orang saleh, berada di sekeliling orang baik, dan meninggalkan orang-orang yang ghaflah (lalai). Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28) Keadaan teman itu dalam mendukung menjadi baik sangat penting. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “Arwah itu adalah bala tentara yang berlimpah dan bermacam (masing-masing ada kesesuaian dalam hal kebaikan dan keburukan). Yang sudah saling kenal (cocok), maka akan menyatu. Yang tidak saling kenal (tidak cocok), pasti akan berpisah.” (HR. Bukhari, no. 3158 dan Muslim, no. 2638). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini, فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Orang jelek pun demikian akan berkumpul dengan orang jelek.” (Syarh Shahih Muslim, 16:185). Teman yang paling dekat adalah pasangan suami istri, karena berada dalam satu atap dan selalu bersama. Baca juga: Kisah Ashabul Kahfi dan Pelajaran di Dalamnya اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Terakhir, yang dapat menguatkan istiqamah agar sekolah Ramadhan bisa terus berlanjut bakda Ramadhan adalah dengan terus berdoa. Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini, ْكَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم “Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)   اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …   Semoga doa-doa kita dapat meneguhkan kita sehingga bisa terus istiqamah bakda Ramadhan. Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam iman dan amal saleh, hingga diberikan kepada kita semua husnul khatimah. ْأَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.   Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.   Baca juga: Khutbah Jumat, Kita yang Selalu Lalai   – Aturan Khutbah Idulfitri 1. Khutbah Idulfitri adalah sunnah setelah shalat Id. 2. Khutbah Idulfitri ada dua kali khutbah. Rukun dan sunnahnya sama dengan khutbah Jumat. 3. Disunnahkan khutbah dengan mimbar, boleh juga berkhutbah dengan duduk. 4. Khutbah pertama diawali dengan sembilan kali takbir. Khutbah kedua diawali dengan tujuh kali takbir. 5. Rukun khutbatain (dua khutbah) ada 5, yaitu [1] memuji Allah pada kedua khutbah, [2] bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua khutbah, [3] berwasiat takwa pada kedua khutbah, [4] membaca ayat Al-Qur’an di salah satu keduanya, dan [5] mendoakan orang-orang beriman lelaki dan peremuan di khutbah terakhir. 6. Jamaah disunnahkan mendengarkan khutbah. Namun, mendengarkan khutbah Idulfitri bukanlah syarat sahnya shalat Id. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:555-556. Lihat pula Kifayah Al-Akhyar, hlm. 200.   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2022: “Realisasi Syukur Bakda Ramadhan”   Silakan Unduh Naskah Khutbah Idulfitri 2021: “Berbuka Ketika Berjumpa dengan Allah” – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 1 Syawal 1444 H, Sabtu pagi penuh berkah di hari Idulfitri Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa meninggalkan shalat ghaflah hati bersih jaga hati khutbah hari raya khutbah idul fitri lalai

Mengenal Hak Allah Ta’ala

Hak Allah Ta’ala merupakan hak yang paling utama, wajib (ditunaikan) dan paling agung di antara hak-hak yang lain. Karena hak Allah Ta’ala merupakan hak yang Maha Pencipta, Mahaagung, Maha Penguasa, Maha Pengatur atas segala urusan. Hak pemilik segalanya yang nyata. Yang hidup kekal mengurus makhluk-Nya. Yang dengannya tegak langit dan bumi. Dia pula yang telah menciptakan segala sesuatu, kemudian menetapkan takdirnya dengan kebijaksaannya yang nyata. Hak Allah Ta’ala yang Dia telah menghadirkan Anda (di dunia) dari yang tidak ada dan dari sesuatu yang tidak pernah disebutkan sebelumnya. Hak Allah Ta’ala yang telah mengurus diri Anda dengan memberikan berbagai kenikmatan. Di mana Anda berada di perut ibu dalam 3 tahap kegelapan yang tidak satu pun makhluk yang sanggup memberikan makanan yang bergizi, menjadi sumber perkembangan dan kehidupanmu. Mengalirkan air susu untukmu dari dua payudara. Menghadirkan dua orang tua untukmu. Dia pula yang menyediakan dan mempersiapkan segala sesuatu untukmu. Menyediakanmu dengan kenikmatan, akal, dan pemahaman. Dan mempersiapkanmu dengan mampu menerima itu semua dengan cara memanfaatkannya.Allah Ta’ala berfirman,وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)Seandainya Anda tertutup dari melihat keutamaan-Nya tersebut walau sekejap mata, pasti Anda akan binasa. Seandainya Anda terhalang dari kasih sayang-Nya, Anda tidak mampu hidup di dunia. Jika demikian besar karunia dan rahmat Allah Ta’ala pada Anda, maka sesungguhnya hak-Nya atasmu adalah hak yang terbesar. Karena sesungguhnya hak itu adalah hak penciptamu, pengatur hidupmu, dan penolongmu. Dan Dia tidak menginginkan darimu rezeki dan tidak juga makan.Allah Ta’ala berfirman,لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Taha: 132)Sesungguhnya Allah Ta’ala hanya menginginkan dari Anda satu perkara yang maslahatnya juga untuk dirimu sendiri. Allah Ta’ala menginginkan Anda agar hanya beribadah kepada Allah Ta’ala semata tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Allah Ta’ala befirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Baca juga: Hukum Menuntut HakAllah Ta’ala menginginkan Anda agar menjadi hamba bagi-Nya dengan segala makna ‘ubudiyah (penghambaan). Karena Dia juga merupakan Rabbmu dengan segala kesempurnaan makna Rububiyah. Menjadi hamba-Nya yang merasa rendah di hadapan-Nya, yang tunduk pada-Nya, mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan membenarkan yang dikabarkan-Nya. Karena Anda melihat nikmat-Nya bergantian satu per satu pada dirimu secara sempurna. Apakah Anda tidak malu kemudian membalas semua nikmat ini dengan kekufuran?Seandainya ada seseorang yang memiliki keutamaan bagi diri Anda, Anda sangat malu dan enggan untuk melawannya dengan bermaksiat dan menyelisihinya. Lantas, bagaimana dengan Rabbmu yang seluruh keutamaan dan nikmat padamu tidak lain adalah dari-Nya? Segala bahaya yang dijauhkan darimu adalah dari bagian kasih sayang-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)Ini adalah hak yang Allah Ta’ala wajibkan bagi diri-Nya. Kemudahan bagi mereka yang Allah Ta’ala mudahkan. Karena Allah Ta’ala tidak pernah menjadikan agama ini sulit, sempit, dan sukar. Allah Ta’ala berfirman,وَجَٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ ۚ هُوَ ٱجْتَبَىٰكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَٰهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِى هَٰذَا لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu. Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini. Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)Sesungguhnya itu adalah akidah yang utama, keimanan yang benar, buah amal saleh, keimanan dengan hal gaib, dan keimanan dengan yang nyata. Sebagai pondasi rasa cinta dan penghormatan. Buah akhirnya ikhlas dan ketekunan.Salat 5 waktu sehari semalam menjadi sebab Allah Ta’ala hapuskan kesalahan, meninggikan derajat, memperbaiki hati dan keadaan, sesuai kadar seorang hamba dalam ketaatannya. Allah Ta’ala berfirman,فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Imran bin Husain, ketika Imran sedang sakit, “Salatlah dalam keadaan berdiri, jika kamu tidak mampu dalam keadaan duduk, jika tidak mampu berbaring.” (HR. Bukhari no. 1117)Zakat merupakan salah satu jalan bagi pemilik harta untuk menunaikan kebutuhan orang fakir dan miskin, serta ibnu sabil (musafir), gharim dan yang lainnya dari penerima zakat. Allah Ta’ala berfirman,فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Hajj: 78)Puasa di bulan Ramadan. Jika sakit atau safar, maka (puasalah) sebanyak hari yang ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain. Jika tidak mampu puasa karena kesulitan yang menetap, maka berilah makan orang miskin sejumlah hari yang tidak berpuasa.Haji ke baitullah merupakan salah amal saleh bagi yang mampu.Beberapa hal di atas merupakan pokok-pokok hak Allah Ta’ala. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Hanya Meminta Hak, namun Melupakan Kewajiban***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquuq Da’at ilaihaa Alfithrotu wa Qorortuhaa Asy-Syari’ah karya Syeikh Sholeh bin Utsaimin rahimahullahTags: Allahhak allahkewajiban hamba

Mengenal Hak Allah Ta’ala

Hak Allah Ta’ala merupakan hak yang paling utama, wajib (ditunaikan) dan paling agung di antara hak-hak yang lain. Karena hak Allah Ta’ala merupakan hak yang Maha Pencipta, Mahaagung, Maha Penguasa, Maha Pengatur atas segala urusan. Hak pemilik segalanya yang nyata. Yang hidup kekal mengurus makhluk-Nya. Yang dengannya tegak langit dan bumi. Dia pula yang telah menciptakan segala sesuatu, kemudian menetapkan takdirnya dengan kebijaksaannya yang nyata. Hak Allah Ta’ala yang Dia telah menghadirkan Anda (di dunia) dari yang tidak ada dan dari sesuatu yang tidak pernah disebutkan sebelumnya. Hak Allah Ta’ala yang telah mengurus diri Anda dengan memberikan berbagai kenikmatan. Di mana Anda berada di perut ibu dalam 3 tahap kegelapan yang tidak satu pun makhluk yang sanggup memberikan makanan yang bergizi, menjadi sumber perkembangan dan kehidupanmu. Mengalirkan air susu untukmu dari dua payudara. Menghadirkan dua orang tua untukmu. Dia pula yang menyediakan dan mempersiapkan segala sesuatu untukmu. Menyediakanmu dengan kenikmatan, akal, dan pemahaman. Dan mempersiapkanmu dengan mampu menerima itu semua dengan cara memanfaatkannya.Allah Ta’ala berfirman,وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)Seandainya Anda tertutup dari melihat keutamaan-Nya tersebut walau sekejap mata, pasti Anda akan binasa. Seandainya Anda terhalang dari kasih sayang-Nya, Anda tidak mampu hidup di dunia. Jika demikian besar karunia dan rahmat Allah Ta’ala pada Anda, maka sesungguhnya hak-Nya atasmu adalah hak yang terbesar. Karena sesungguhnya hak itu adalah hak penciptamu, pengatur hidupmu, dan penolongmu. Dan Dia tidak menginginkan darimu rezeki dan tidak juga makan.Allah Ta’ala berfirman,لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Taha: 132)Sesungguhnya Allah Ta’ala hanya menginginkan dari Anda satu perkara yang maslahatnya juga untuk dirimu sendiri. Allah Ta’ala menginginkan Anda agar hanya beribadah kepada Allah Ta’ala semata tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Allah Ta’ala befirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Baca juga: Hukum Menuntut HakAllah Ta’ala menginginkan Anda agar menjadi hamba bagi-Nya dengan segala makna ‘ubudiyah (penghambaan). Karena Dia juga merupakan Rabbmu dengan segala kesempurnaan makna Rububiyah. Menjadi hamba-Nya yang merasa rendah di hadapan-Nya, yang tunduk pada-Nya, mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan membenarkan yang dikabarkan-Nya. Karena Anda melihat nikmat-Nya bergantian satu per satu pada dirimu secara sempurna. Apakah Anda tidak malu kemudian membalas semua nikmat ini dengan kekufuran?Seandainya ada seseorang yang memiliki keutamaan bagi diri Anda, Anda sangat malu dan enggan untuk melawannya dengan bermaksiat dan menyelisihinya. Lantas, bagaimana dengan Rabbmu yang seluruh keutamaan dan nikmat padamu tidak lain adalah dari-Nya? Segala bahaya yang dijauhkan darimu adalah dari bagian kasih sayang-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)Ini adalah hak yang Allah Ta’ala wajibkan bagi diri-Nya. Kemudahan bagi mereka yang Allah Ta’ala mudahkan. Karena Allah Ta’ala tidak pernah menjadikan agama ini sulit, sempit, dan sukar. Allah Ta’ala berfirman,وَجَٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ ۚ هُوَ ٱجْتَبَىٰكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَٰهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِى هَٰذَا لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu. Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini. Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)Sesungguhnya itu adalah akidah yang utama, keimanan yang benar, buah amal saleh, keimanan dengan hal gaib, dan keimanan dengan yang nyata. Sebagai pondasi rasa cinta dan penghormatan. Buah akhirnya ikhlas dan ketekunan.Salat 5 waktu sehari semalam menjadi sebab Allah Ta’ala hapuskan kesalahan, meninggikan derajat, memperbaiki hati dan keadaan, sesuai kadar seorang hamba dalam ketaatannya. Allah Ta’ala berfirman,فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Imran bin Husain, ketika Imran sedang sakit, “Salatlah dalam keadaan berdiri, jika kamu tidak mampu dalam keadaan duduk, jika tidak mampu berbaring.” (HR. Bukhari no. 1117)Zakat merupakan salah satu jalan bagi pemilik harta untuk menunaikan kebutuhan orang fakir dan miskin, serta ibnu sabil (musafir), gharim dan yang lainnya dari penerima zakat. Allah Ta’ala berfirman,فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Hajj: 78)Puasa di bulan Ramadan. Jika sakit atau safar, maka (puasalah) sebanyak hari yang ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain. Jika tidak mampu puasa karena kesulitan yang menetap, maka berilah makan orang miskin sejumlah hari yang tidak berpuasa.Haji ke baitullah merupakan salah amal saleh bagi yang mampu.Beberapa hal di atas merupakan pokok-pokok hak Allah Ta’ala. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Hanya Meminta Hak, namun Melupakan Kewajiban***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquuq Da’at ilaihaa Alfithrotu wa Qorortuhaa Asy-Syari’ah karya Syeikh Sholeh bin Utsaimin rahimahullahTags: Allahhak allahkewajiban hamba
Hak Allah Ta’ala merupakan hak yang paling utama, wajib (ditunaikan) dan paling agung di antara hak-hak yang lain. Karena hak Allah Ta’ala merupakan hak yang Maha Pencipta, Mahaagung, Maha Penguasa, Maha Pengatur atas segala urusan. Hak pemilik segalanya yang nyata. Yang hidup kekal mengurus makhluk-Nya. Yang dengannya tegak langit dan bumi. Dia pula yang telah menciptakan segala sesuatu, kemudian menetapkan takdirnya dengan kebijaksaannya yang nyata. Hak Allah Ta’ala yang Dia telah menghadirkan Anda (di dunia) dari yang tidak ada dan dari sesuatu yang tidak pernah disebutkan sebelumnya. Hak Allah Ta’ala yang telah mengurus diri Anda dengan memberikan berbagai kenikmatan. Di mana Anda berada di perut ibu dalam 3 tahap kegelapan yang tidak satu pun makhluk yang sanggup memberikan makanan yang bergizi, menjadi sumber perkembangan dan kehidupanmu. Mengalirkan air susu untukmu dari dua payudara. Menghadirkan dua orang tua untukmu. Dia pula yang menyediakan dan mempersiapkan segala sesuatu untukmu. Menyediakanmu dengan kenikmatan, akal, dan pemahaman. Dan mempersiapkanmu dengan mampu menerima itu semua dengan cara memanfaatkannya.Allah Ta’ala berfirman,وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)Seandainya Anda tertutup dari melihat keutamaan-Nya tersebut walau sekejap mata, pasti Anda akan binasa. Seandainya Anda terhalang dari kasih sayang-Nya, Anda tidak mampu hidup di dunia. Jika demikian besar karunia dan rahmat Allah Ta’ala pada Anda, maka sesungguhnya hak-Nya atasmu adalah hak yang terbesar. Karena sesungguhnya hak itu adalah hak penciptamu, pengatur hidupmu, dan penolongmu. Dan Dia tidak menginginkan darimu rezeki dan tidak juga makan.Allah Ta’ala berfirman,لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Taha: 132)Sesungguhnya Allah Ta’ala hanya menginginkan dari Anda satu perkara yang maslahatnya juga untuk dirimu sendiri. Allah Ta’ala menginginkan Anda agar hanya beribadah kepada Allah Ta’ala semata tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Allah Ta’ala befirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Baca juga: Hukum Menuntut HakAllah Ta’ala menginginkan Anda agar menjadi hamba bagi-Nya dengan segala makna ‘ubudiyah (penghambaan). Karena Dia juga merupakan Rabbmu dengan segala kesempurnaan makna Rububiyah. Menjadi hamba-Nya yang merasa rendah di hadapan-Nya, yang tunduk pada-Nya, mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan membenarkan yang dikabarkan-Nya. Karena Anda melihat nikmat-Nya bergantian satu per satu pada dirimu secara sempurna. Apakah Anda tidak malu kemudian membalas semua nikmat ini dengan kekufuran?Seandainya ada seseorang yang memiliki keutamaan bagi diri Anda, Anda sangat malu dan enggan untuk melawannya dengan bermaksiat dan menyelisihinya. Lantas, bagaimana dengan Rabbmu yang seluruh keutamaan dan nikmat padamu tidak lain adalah dari-Nya? Segala bahaya yang dijauhkan darimu adalah dari bagian kasih sayang-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)Ini adalah hak yang Allah Ta’ala wajibkan bagi diri-Nya. Kemudahan bagi mereka yang Allah Ta’ala mudahkan. Karena Allah Ta’ala tidak pernah menjadikan agama ini sulit, sempit, dan sukar. Allah Ta’ala berfirman,وَجَٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ ۚ هُوَ ٱجْتَبَىٰكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَٰهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِى هَٰذَا لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu. Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini. Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)Sesungguhnya itu adalah akidah yang utama, keimanan yang benar, buah amal saleh, keimanan dengan hal gaib, dan keimanan dengan yang nyata. Sebagai pondasi rasa cinta dan penghormatan. Buah akhirnya ikhlas dan ketekunan.Salat 5 waktu sehari semalam menjadi sebab Allah Ta’ala hapuskan kesalahan, meninggikan derajat, memperbaiki hati dan keadaan, sesuai kadar seorang hamba dalam ketaatannya. Allah Ta’ala berfirman,فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Imran bin Husain, ketika Imran sedang sakit, “Salatlah dalam keadaan berdiri, jika kamu tidak mampu dalam keadaan duduk, jika tidak mampu berbaring.” (HR. Bukhari no. 1117)Zakat merupakan salah satu jalan bagi pemilik harta untuk menunaikan kebutuhan orang fakir dan miskin, serta ibnu sabil (musafir), gharim dan yang lainnya dari penerima zakat. Allah Ta’ala berfirman,فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Hajj: 78)Puasa di bulan Ramadan. Jika sakit atau safar, maka (puasalah) sebanyak hari yang ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain. Jika tidak mampu puasa karena kesulitan yang menetap, maka berilah makan orang miskin sejumlah hari yang tidak berpuasa.Haji ke baitullah merupakan salah amal saleh bagi yang mampu.Beberapa hal di atas merupakan pokok-pokok hak Allah Ta’ala. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Hanya Meminta Hak, namun Melupakan Kewajiban***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquuq Da’at ilaihaa Alfithrotu wa Qorortuhaa Asy-Syari’ah karya Syeikh Sholeh bin Utsaimin rahimahullahTags: Allahhak allahkewajiban hamba


Hak Allah Ta’ala merupakan hak yang paling utama, wajib (ditunaikan) dan paling agung di antara hak-hak yang lain. Karena hak Allah Ta’ala merupakan hak yang Maha Pencipta, Mahaagung, Maha Penguasa, Maha Pengatur atas segala urusan. Hak pemilik segalanya yang nyata. Yang hidup kekal mengurus makhluk-Nya. Yang dengannya tegak langit dan bumi. Dia pula yang telah menciptakan segala sesuatu, kemudian menetapkan takdirnya dengan kebijaksaannya yang nyata. Hak Allah Ta’ala yang Dia telah menghadirkan Anda (di dunia) dari yang tidak ada dan dari sesuatu yang tidak pernah disebutkan sebelumnya. Hak Allah Ta’ala yang telah mengurus diri Anda dengan memberikan berbagai kenikmatan. Di mana Anda berada di perut ibu dalam 3 tahap kegelapan yang tidak satu pun makhluk yang sanggup memberikan makanan yang bergizi, menjadi sumber perkembangan dan kehidupanmu. Mengalirkan air susu untukmu dari dua payudara. Menghadirkan dua orang tua untukmu. Dia pula yang menyediakan dan mempersiapkan segala sesuatu untukmu. Menyediakanmu dengan kenikmatan, akal, dan pemahaman. Dan mempersiapkanmu dengan mampu menerima itu semua dengan cara memanfaatkannya.Allah Ta’ala berfirman,وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)Seandainya Anda tertutup dari melihat keutamaan-Nya tersebut walau sekejap mata, pasti Anda akan binasa. Seandainya Anda terhalang dari kasih sayang-Nya, Anda tidak mampu hidup di dunia. Jika demikian besar karunia dan rahmat Allah Ta’ala pada Anda, maka sesungguhnya hak-Nya atasmu adalah hak yang terbesar. Karena sesungguhnya hak itu adalah hak penciptamu, pengatur hidupmu, dan penolongmu. Dan Dia tidak menginginkan darimu rezeki dan tidak juga makan.Allah Ta’ala berfirman,لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Taha: 132)Sesungguhnya Allah Ta’ala hanya menginginkan dari Anda satu perkara yang maslahatnya juga untuk dirimu sendiri. Allah Ta’ala menginginkan Anda agar hanya beribadah kepada Allah Ta’ala semata tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Allah Ta’ala befirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Baca juga: Hukum Menuntut HakAllah Ta’ala menginginkan Anda agar menjadi hamba bagi-Nya dengan segala makna ‘ubudiyah (penghambaan). Karena Dia juga merupakan Rabbmu dengan segala kesempurnaan makna Rububiyah. Menjadi hamba-Nya yang merasa rendah di hadapan-Nya, yang tunduk pada-Nya, mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan membenarkan yang dikabarkan-Nya. Karena Anda melihat nikmat-Nya bergantian satu per satu pada dirimu secara sempurna. Apakah Anda tidak malu kemudian membalas semua nikmat ini dengan kekufuran?Seandainya ada seseorang yang memiliki keutamaan bagi diri Anda, Anda sangat malu dan enggan untuk melawannya dengan bermaksiat dan menyelisihinya. Lantas, bagaimana dengan Rabbmu yang seluruh keutamaan dan nikmat padamu tidak lain adalah dari-Nya? Segala bahaya yang dijauhkan darimu adalah dari bagian kasih sayang-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)Ini adalah hak yang Allah Ta’ala wajibkan bagi diri-Nya. Kemudahan bagi mereka yang Allah Ta’ala mudahkan. Karena Allah Ta’ala tidak pernah menjadikan agama ini sulit, sempit, dan sukar. Allah Ta’ala berfirman,وَجَٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ ۚ هُوَ ٱجْتَبَىٰكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَٰهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِى هَٰذَا لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu. Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini. Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)Sesungguhnya itu adalah akidah yang utama, keimanan yang benar, buah amal saleh, keimanan dengan hal gaib, dan keimanan dengan yang nyata. Sebagai pondasi rasa cinta dan penghormatan. Buah akhirnya ikhlas dan ketekunan.Salat 5 waktu sehari semalam menjadi sebab Allah Ta’ala hapuskan kesalahan, meninggikan derajat, memperbaiki hati dan keadaan, sesuai kadar seorang hamba dalam ketaatannya. Allah Ta’ala berfirman,فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Imran bin Husain, ketika Imran sedang sakit, “Salatlah dalam keadaan berdiri, jika kamu tidak mampu dalam keadaan duduk, jika tidak mampu berbaring.” (HR. Bukhari no. 1117)Zakat merupakan salah satu jalan bagi pemilik harta untuk menunaikan kebutuhan orang fakir dan miskin, serta ibnu sabil (musafir), gharim dan yang lainnya dari penerima zakat. Allah Ta’ala berfirman,فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِٱللَّهِ هُوَ مَوْلَىٰكُمْ ۖ فَنِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ“Maka, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Hajj: 78)Puasa di bulan Ramadan. Jika sakit atau safar, maka (puasalah) sebanyak hari yang ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain. Jika tidak mampu puasa karena kesulitan yang menetap, maka berilah makan orang miskin sejumlah hari yang tidak berpuasa.Haji ke baitullah merupakan salah amal saleh bagi yang mampu.Beberapa hal di atas merupakan pokok-pokok hak Allah Ta’ala. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Hanya Meminta Hak, namun Melupakan Kewajiban***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquuq Da’at ilaihaa Alfithrotu wa Qorortuhaa Asy-Syari’ah karya Syeikh Sholeh bin Utsaimin rahimahullahTags: Allahhak allahkewajiban hamba

Jangan Kasih Kendor: Terus Semangat Membaca al-Quran! – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Oleh sebab itu, wahai Saudara-Saudara,hendaklah kita bersungguh-sungguh untukmembaca al-Quran di bulan yang penuh berkah ini, bulannya al-Quran.Paling tidak seorang Muslim dapat mengkhatamkannya minimal satu kali.Ini batas minimal. Ada beberapa orang yang dapat mengkhatamkannya beberapa kali.Kisah-kisah dari para salaf dalam hal ini sangat menakjubkan.Diriwayatkan dari Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran sekali sehari di bulan Ramadan. Imam asy-Syafi’i, banyak disebutkan dalam buku-buku biografi yang menulis tentang beliau,bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan sebanyak 60 kali,yakni dalam sehari semalam dua kali khatam. Dulu saya mengira ini adalah hal yang dilebih-lebihkan,hingga aku pergi ke tempat pengajaran al-Quran dan bertemu dengan orang-orang di sanayang dapat mengkhatamkan al-Quran sebanyak dua kali dalam sehari semalam, dan mereka masih hidup hingga sekarang. Karena orang yang mahir membaca al-Quran dapat mengkhatamkannya dalam waktu 7 hingga 7,5 jam.Ia terus melantunkan al-Quran dengan lisannya di mana pun.Lisannya terus membaca al-Quran, kapan pun, di mana pun. Demikian juga diriwayatkan dari beberapa ulama salaf,bahwa mereka mengkhatamkan al-Quran setiap hari sekali,dan sebagian lain dari mereka khatam dalam dua hari sekali. Adapun hadis, “Tidak akan paham al-Quran, orang yang selesai membacanya kurang dari tiga hari.” Pertama, sanad hadis ini diperselisihkan.Andaikan hadis ini sahih, maka seperti yang dikatakan Ibnu Rajab rahimahullah,bahwa itu dikecualikan di waktu-waktu yang utama seperti di bulan Ramadan. Saya mengenal orang-orang yang masih hidup hingga sekarang,kalaulah bukan karena mereka tidak suka disebut, niscaya saya akan sebutkan beberapa nama mereka. Mereka dapat mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan setiap hari sekali.Setiap hari satu kali khatam.Ini adalah karunia dari Allah, dan karunia-Nya ini diberikan kepada yang Dia kehendaki. Maka, wahai Saudara Muslimku, hendaklah kamu berusaha memperbanyak bacaan al-Qurandan mengkhatamkannya beberapa kali. ==== وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَنْبَغِي أَنْ نَحْرِصَ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ شَهْرِ الْقَرَآنِ وَأَنْ يَعْنِي عَلَى الْأَقَلِّ أَنْ يَخْتِمَهُ الْمُسْلِمُ الْحَدَّ الْأَدْنَى خَتْمَةً وَاحِدَةً هَذَا الْحَدُّ الْأَدْنَى وَهُنَاكَ مَنْ يَخْتِمُهُ عِدَّةَ خَتَمَاتِ وَالْآثَارُ عَنِ السَّلَفِ فِي ذَلِكَ عَجِيبَةٌ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ اسْتَفَاضَ فِي تَرَاجِمِ مَنْ تَرْجَمُوا لَهُ أَنَّهُ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ سِتِّينَ خَتْمَةً يَعْنِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَكُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ هَذَا مُبَالَغًا فِيهِ حَتَّى ذَهَبْتُ لِمَقْرَأَةٍ قُرْآنِيَّةٍ فَوَجَدْتُ فِيهَا أُنَاسًا يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَهُمْ أَحْيَاءٌ يُرْزَقُونَ لِأَنَّ الْمَاهِرَ بِالْقُرْآنِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتِمَ الْقُرْآنَ فِي قَرَابَةِ سَبْعِ سَاعَاتٍ أَوْ سَبْعِ سَاعَاتٍ وَنِصْفٍ لَكِنَّ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا رُوِيَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً وَبَعْضُهُمْ فِي كُلِّ يَوْمَيْنِ خَتْمَةً وَأَمَّا حَدِيثُ لَا يَفْقَهُ الْقُرْآنَ مَنْ قَرَأَهُ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ فَهَذَا أَوَّلًا فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَكَمَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ الْأَوْقَاتُ الْفَاضِلَةُ مِثْلُ رَمَضَانَ وَأَعْرِفُ أُنَاسًا أَحْيَاءً يُرْزَقُونَ لَوْلَا أَنَّهُمْ لَا يَرْغَبُونَ التَّصْرِيحَ بِأَسْمَائِهِمْ لَذَكَرْتُ بَعْضَهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً هَذَا فَضْلُ اللهِ وَفَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَخْتِمَهُ عِدَّةَ خَتَمَاتٍ

Jangan Kasih Kendor: Terus Semangat Membaca al-Quran! – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Oleh sebab itu, wahai Saudara-Saudara,hendaklah kita bersungguh-sungguh untukmembaca al-Quran di bulan yang penuh berkah ini, bulannya al-Quran.Paling tidak seorang Muslim dapat mengkhatamkannya minimal satu kali.Ini batas minimal. Ada beberapa orang yang dapat mengkhatamkannya beberapa kali.Kisah-kisah dari para salaf dalam hal ini sangat menakjubkan.Diriwayatkan dari Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran sekali sehari di bulan Ramadan. Imam asy-Syafi’i, banyak disebutkan dalam buku-buku biografi yang menulis tentang beliau,bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan sebanyak 60 kali,yakni dalam sehari semalam dua kali khatam. Dulu saya mengira ini adalah hal yang dilebih-lebihkan,hingga aku pergi ke tempat pengajaran al-Quran dan bertemu dengan orang-orang di sanayang dapat mengkhatamkan al-Quran sebanyak dua kali dalam sehari semalam, dan mereka masih hidup hingga sekarang. Karena orang yang mahir membaca al-Quran dapat mengkhatamkannya dalam waktu 7 hingga 7,5 jam.Ia terus melantunkan al-Quran dengan lisannya di mana pun.Lisannya terus membaca al-Quran, kapan pun, di mana pun. Demikian juga diriwayatkan dari beberapa ulama salaf,bahwa mereka mengkhatamkan al-Quran setiap hari sekali,dan sebagian lain dari mereka khatam dalam dua hari sekali. Adapun hadis, “Tidak akan paham al-Quran, orang yang selesai membacanya kurang dari tiga hari.” Pertama, sanad hadis ini diperselisihkan.Andaikan hadis ini sahih, maka seperti yang dikatakan Ibnu Rajab rahimahullah,bahwa itu dikecualikan di waktu-waktu yang utama seperti di bulan Ramadan. Saya mengenal orang-orang yang masih hidup hingga sekarang,kalaulah bukan karena mereka tidak suka disebut, niscaya saya akan sebutkan beberapa nama mereka. Mereka dapat mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan setiap hari sekali.Setiap hari satu kali khatam.Ini adalah karunia dari Allah, dan karunia-Nya ini diberikan kepada yang Dia kehendaki. Maka, wahai Saudara Muslimku, hendaklah kamu berusaha memperbanyak bacaan al-Qurandan mengkhatamkannya beberapa kali. ==== وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَنْبَغِي أَنْ نَحْرِصَ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ شَهْرِ الْقَرَآنِ وَأَنْ يَعْنِي عَلَى الْأَقَلِّ أَنْ يَخْتِمَهُ الْمُسْلِمُ الْحَدَّ الْأَدْنَى خَتْمَةً وَاحِدَةً هَذَا الْحَدُّ الْأَدْنَى وَهُنَاكَ مَنْ يَخْتِمُهُ عِدَّةَ خَتَمَاتِ وَالْآثَارُ عَنِ السَّلَفِ فِي ذَلِكَ عَجِيبَةٌ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ اسْتَفَاضَ فِي تَرَاجِمِ مَنْ تَرْجَمُوا لَهُ أَنَّهُ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ سِتِّينَ خَتْمَةً يَعْنِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَكُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ هَذَا مُبَالَغًا فِيهِ حَتَّى ذَهَبْتُ لِمَقْرَأَةٍ قُرْآنِيَّةٍ فَوَجَدْتُ فِيهَا أُنَاسًا يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَهُمْ أَحْيَاءٌ يُرْزَقُونَ لِأَنَّ الْمَاهِرَ بِالْقُرْآنِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتِمَ الْقُرْآنَ فِي قَرَابَةِ سَبْعِ سَاعَاتٍ أَوْ سَبْعِ سَاعَاتٍ وَنِصْفٍ لَكِنَّ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا رُوِيَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً وَبَعْضُهُمْ فِي كُلِّ يَوْمَيْنِ خَتْمَةً وَأَمَّا حَدِيثُ لَا يَفْقَهُ الْقُرْآنَ مَنْ قَرَأَهُ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ فَهَذَا أَوَّلًا فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَكَمَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ الْأَوْقَاتُ الْفَاضِلَةُ مِثْلُ رَمَضَانَ وَأَعْرِفُ أُنَاسًا أَحْيَاءً يُرْزَقُونَ لَوْلَا أَنَّهُمْ لَا يَرْغَبُونَ التَّصْرِيحَ بِأَسْمَائِهِمْ لَذَكَرْتُ بَعْضَهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً هَذَا فَضْلُ اللهِ وَفَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَخْتِمَهُ عِدَّةَ خَتَمَاتٍ
Oleh sebab itu, wahai Saudara-Saudara,hendaklah kita bersungguh-sungguh untukmembaca al-Quran di bulan yang penuh berkah ini, bulannya al-Quran.Paling tidak seorang Muslim dapat mengkhatamkannya minimal satu kali.Ini batas minimal. Ada beberapa orang yang dapat mengkhatamkannya beberapa kali.Kisah-kisah dari para salaf dalam hal ini sangat menakjubkan.Diriwayatkan dari Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran sekali sehari di bulan Ramadan. Imam asy-Syafi’i, banyak disebutkan dalam buku-buku biografi yang menulis tentang beliau,bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan sebanyak 60 kali,yakni dalam sehari semalam dua kali khatam. Dulu saya mengira ini adalah hal yang dilebih-lebihkan,hingga aku pergi ke tempat pengajaran al-Quran dan bertemu dengan orang-orang di sanayang dapat mengkhatamkan al-Quran sebanyak dua kali dalam sehari semalam, dan mereka masih hidup hingga sekarang. Karena orang yang mahir membaca al-Quran dapat mengkhatamkannya dalam waktu 7 hingga 7,5 jam.Ia terus melantunkan al-Quran dengan lisannya di mana pun.Lisannya terus membaca al-Quran, kapan pun, di mana pun. Demikian juga diriwayatkan dari beberapa ulama salaf,bahwa mereka mengkhatamkan al-Quran setiap hari sekali,dan sebagian lain dari mereka khatam dalam dua hari sekali. Adapun hadis, “Tidak akan paham al-Quran, orang yang selesai membacanya kurang dari tiga hari.” Pertama, sanad hadis ini diperselisihkan.Andaikan hadis ini sahih, maka seperti yang dikatakan Ibnu Rajab rahimahullah,bahwa itu dikecualikan di waktu-waktu yang utama seperti di bulan Ramadan. Saya mengenal orang-orang yang masih hidup hingga sekarang,kalaulah bukan karena mereka tidak suka disebut, niscaya saya akan sebutkan beberapa nama mereka. Mereka dapat mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan setiap hari sekali.Setiap hari satu kali khatam.Ini adalah karunia dari Allah, dan karunia-Nya ini diberikan kepada yang Dia kehendaki. Maka, wahai Saudara Muslimku, hendaklah kamu berusaha memperbanyak bacaan al-Qurandan mengkhatamkannya beberapa kali. ==== وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَنْبَغِي أَنْ نَحْرِصَ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ شَهْرِ الْقَرَآنِ وَأَنْ يَعْنِي عَلَى الْأَقَلِّ أَنْ يَخْتِمَهُ الْمُسْلِمُ الْحَدَّ الْأَدْنَى خَتْمَةً وَاحِدَةً هَذَا الْحَدُّ الْأَدْنَى وَهُنَاكَ مَنْ يَخْتِمُهُ عِدَّةَ خَتَمَاتِ وَالْآثَارُ عَنِ السَّلَفِ فِي ذَلِكَ عَجِيبَةٌ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ اسْتَفَاضَ فِي تَرَاجِمِ مَنْ تَرْجَمُوا لَهُ أَنَّهُ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ سِتِّينَ خَتْمَةً يَعْنِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَكُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ هَذَا مُبَالَغًا فِيهِ حَتَّى ذَهَبْتُ لِمَقْرَأَةٍ قُرْآنِيَّةٍ فَوَجَدْتُ فِيهَا أُنَاسًا يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَهُمْ أَحْيَاءٌ يُرْزَقُونَ لِأَنَّ الْمَاهِرَ بِالْقُرْآنِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتِمَ الْقُرْآنَ فِي قَرَابَةِ سَبْعِ سَاعَاتٍ أَوْ سَبْعِ سَاعَاتٍ وَنِصْفٍ لَكِنَّ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا رُوِيَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً وَبَعْضُهُمْ فِي كُلِّ يَوْمَيْنِ خَتْمَةً وَأَمَّا حَدِيثُ لَا يَفْقَهُ الْقُرْآنَ مَنْ قَرَأَهُ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ فَهَذَا أَوَّلًا فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَكَمَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ الْأَوْقَاتُ الْفَاضِلَةُ مِثْلُ رَمَضَانَ وَأَعْرِفُ أُنَاسًا أَحْيَاءً يُرْزَقُونَ لَوْلَا أَنَّهُمْ لَا يَرْغَبُونَ التَّصْرِيحَ بِأَسْمَائِهِمْ لَذَكَرْتُ بَعْضَهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً هَذَا فَضْلُ اللهِ وَفَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَخْتِمَهُ عِدَّةَ خَتَمَاتٍ


Oleh sebab itu, wahai Saudara-Saudara,hendaklah kita bersungguh-sungguh untukmembaca al-Quran di bulan yang penuh berkah ini, bulannya al-Quran.Paling tidak seorang Muslim dapat mengkhatamkannya minimal satu kali.Ini batas minimal. Ada beberapa orang yang dapat mengkhatamkannya beberapa kali.Kisah-kisah dari para salaf dalam hal ini sangat menakjubkan.Diriwayatkan dari Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran sekali sehari di bulan Ramadan. Imam asy-Syafi’i, banyak disebutkan dalam buku-buku biografi yang menulis tentang beliau,bahwa beliau mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan sebanyak 60 kali,yakni dalam sehari semalam dua kali khatam. Dulu saya mengira ini adalah hal yang dilebih-lebihkan,hingga aku pergi ke tempat pengajaran al-Quran dan bertemu dengan orang-orang di sanayang dapat mengkhatamkan al-Quran sebanyak dua kali dalam sehari semalam, dan mereka masih hidup hingga sekarang. Karena orang yang mahir membaca al-Quran dapat mengkhatamkannya dalam waktu 7 hingga 7,5 jam.Ia terus melantunkan al-Quran dengan lisannya di mana pun.Lisannya terus membaca al-Quran, kapan pun, di mana pun. Demikian juga diriwayatkan dari beberapa ulama salaf,bahwa mereka mengkhatamkan al-Quran setiap hari sekali,dan sebagian lain dari mereka khatam dalam dua hari sekali. Adapun hadis, “Tidak akan paham al-Quran, orang yang selesai membacanya kurang dari tiga hari.” Pertama, sanad hadis ini diperselisihkan.Andaikan hadis ini sahih, maka seperti yang dikatakan Ibnu Rajab rahimahullah,bahwa itu dikecualikan di waktu-waktu yang utama seperti di bulan Ramadan. Saya mengenal orang-orang yang masih hidup hingga sekarang,kalaulah bukan karena mereka tidak suka disebut, niscaya saya akan sebutkan beberapa nama mereka. Mereka dapat mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadan setiap hari sekali.Setiap hari satu kali khatam.Ini adalah karunia dari Allah, dan karunia-Nya ini diberikan kepada yang Dia kehendaki. Maka, wahai Saudara Muslimku, hendaklah kamu berusaha memperbanyak bacaan al-Qurandan mengkhatamkannya beberapa kali. ==== وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَنْبَغِي أَنْ نَحْرِصَ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ شَهْرِ الْقَرَآنِ وَأَنْ يَعْنِي عَلَى الْأَقَلِّ أَنْ يَخْتِمَهُ الْمُسْلِمُ الْحَدَّ الْأَدْنَى خَتْمَةً وَاحِدَةً هَذَا الْحَدُّ الْأَدْنَى وَهُنَاكَ مَنْ يَخْتِمُهُ عِدَّةَ خَتَمَاتِ وَالْآثَارُ عَنِ السَّلَفِ فِي ذَلِكَ عَجِيبَةٌ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ اسْتَفَاضَ فِي تَرَاجِمِ مَنْ تَرْجَمُوا لَهُ أَنَّهُ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ سِتِّينَ خَتْمَةً يَعْنِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَكُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ هَذَا مُبَالَغًا فِيهِ حَتَّى ذَهَبْتُ لِمَقْرَأَةٍ قُرْآنِيَّةٍ فَوَجَدْتُ فِيهَا أُنَاسًا يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَتْمَتَيْنِ وَهُمْ أَحْيَاءٌ يُرْزَقُونَ لِأَنَّ الْمَاهِرَ بِالْقُرْآنِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتِمَ الْقُرْآنَ فِي قَرَابَةِ سَبْعِ سَاعَاتٍ أَوْ سَبْعِ سَاعَاتٍ وَنِصْفٍ لَكِنَّ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا رُوِيَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً وَبَعْضُهُمْ فِي كُلِّ يَوْمَيْنِ خَتْمَةً وَأَمَّا حَدِيثُ لَا يَفْقَهُ الْقُرْآنَ مَنْ قَرَأَهُ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ فَهَذَا أَوَّلًا فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ وَعَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهِ فَكَمَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ الْأَوْقَاتُ الْفَاضِلَةُ مِثْلُ رَمَضَانَ وَأَعْرِفُ أُنَاسًا أَحْيَاءً يُرْزَقُونَ لَوْلَا أَنَّهُمْ لَا يَرْغَبُونَ التَّصْرِيحَ بِأَسْمَائِهِمْ لَذَكَرْتُ بَعْضَهُمْ يَخْتِمُونَ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً هَذَا فَضْلُ اللهِ وَفَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمُ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْإِكْثَارِ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَخْتِمَهُ عِدَّةَ خَتَمَاتٍ

Khutbah Jumat: Jangan Ganggu Orang Lain di Hari Raya

Jangan mengganggu orang lain di hari raya, di antaranya lewat takbiran yang kadang menimbulkan kebisingan dan suara petasan.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin. Shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala berfirman, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Hendaklah mengqadha’ puasa yang belum disempurnakan karena sakit, safar, dan uzur lainnya. Lalu berdzikirlah kepada Allah ketika telah selesai dari ibadah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62) Dzikir setelah selesai ibadah inilah yang Allah perintahkan dalam ibadah lainnya. Dalam ibadah haji disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200) Dalam ibadah shalat disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisaa’: 103) Dalam ibadah shalat Jumat disebutkan, فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak (berdzikirlah pada-Nya) supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10). Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Jumat  Juga dalam shalat lima waktu disebutkan, فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ ٱلْغُرُوبِ وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَٰرَ ٱلسُّجُودِ “Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” (QS. Qaaf: 39-40) Dalam hadits juga ada perintah saat bakda shalat lima waktu untuk membaca tasbih, tahmid, dan takbir. Ibnu ‘Abbas rahimahullah berkata,  مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إلا بِالتَّكْبِيرِ “Kami tidaklah mengetahui shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu selesai melainkan karena mendengar ucapan takbir.” (HR. Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583) Baca juga: Mengeraskan Dzikir Bakda Shalat Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kebanyakan ulama berdalil bahwa ada perintah takbir pada Idulfitri karena ayat, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185) Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62. Baca juga: Inilah Lafazh Takbir Hari Raya Idulfitri Namun, lafazh takbir lebih-lebih saat takbir keliling jangan dinodai dengan: mengganggu orang lain musik joget-joget melupakan waktu shalat Kadang ada yang takbiran keliling sampai larut malam dan tak ingat waktu. Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat Isya dan begadang (yang tidak manfaat) setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568). Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan, “Tidur sebelum Isya dimakruhkan karena dikhawatirkan melewatkan waktu shalat Isya. Sedangkan begadang bakda Isya dimakruhkan pada perkara yang bukan untuk menuntut ilmu, kebaikan, dan hajat. Namun, jika maksud begadang demi ilmu dan menunaikan hajat, seperti itu dibolehkan.” (Al-‘Aridhah, Ibnul ‘Arabi, 1:227, dinukil dari Al-Haajatu Asy-Syar’iyyah Hududuha wa Qawa’iduhaa, hlm. 131) Mereka yang melakukan takbiran keliling juga kadang mengganggu muslim yang lain dengan suara yang bising. Dari Jabir bin ‘Abdullah dan ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallambersabda, الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari, no. 10, 6484 dan Muslim, no. 40) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun hanya menyakiti seekor semut.” (Syarh Al-Bukhari, 1:38)      Selain takbir keliling, yang mengganggu juga di hari raya adalah suara petasan yang bising. Petasan ini termasuk mengganggu dan tabdzir. Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26-27). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud tabdzir ada dua pendapat di kalangan para ulama: Tabdzir berarti mengeluarkan harta bukan pada jalan yang benar. Tabdzir berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubadzdzir adalah orang yang menyalahgunakan, merusak, dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaad Al-Masiir, 5:27-28) Petasan ini dapat mengganggu orang lain, yang sedang sakit atau yang sedang butuh istirahat. Bahkan petasan dalam mencelakakan orang yang membunyikan sendiri. Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain) [Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250] Baca selengkapnya: Hadits Arbain 32, Tidak Boleh Memberikan Mudarat Sengaja atau pun Tidak   Semoga Allah memberkahi amalan kita di bulan Ramadhan, menerima amalan kita di bulan Ramadhan. Semoga Allah memberkahi kita di hari fitri. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ   — Jumat siang, 30 Ramadhan 1444 H, 21 April 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya cara shalat idul fitri hari raya idul fitri khutbah idul fitri shalat idul fitri ucapan selamat di hari raya

Khutbah Jumat: Jangan Ganggu Orang Lain di Hari Raya

Jangan mengganggu orang lain di hari raya, di antaranya lewat takbiran yang kadang menimbulkan kebisingan dan suara petasan.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin. Shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala berfirman, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Hendaklah mengqadha’ puasa yang belum disempurnakan karena sakit, safar, dan uzur lainnya. Lalu berdzikirlah kepada Allah ketika telah selesai dari ibadah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62) Dzikir setelah selesai ibadah inilah yang Allah perintahkan dalam ibadah lainnya. Dalam ibadah haji disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200) Dalam ibadah shalat disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisaa’: 103) Dalam ibadah shalat Jumat disebutkan, فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak (berdzikirlah pada-Nya) supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10). Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Jumat  Juga dalam shalat lima waktu disebutkan, فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ ٱلْغُرُوبِ وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَٰرَ ٱلسُّجُودِ “Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” (QS. Qaaf: 39-40) Dalam hadits juga ada perintah saat bakda shalat lima waktu untuk membaca tasbih, tahmid, dan takbir. Ibnu ‘Abbas rahimahullah berkata,  مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إلا بِالتَّكْبِيرِ “Kami tidaklah mengetahui shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu selesai melainkan karena mendengar ucapan takbir.” (HR. Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583) Baca juga: Mengeraskan Dzikir Bakda Shalat Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kebanyakan ulama berdalil bahwa ada perintah takbir pada Idulfitri karena ayat, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185) Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62. Baca juga: Inilah Lafazh Takbir Hari Raya Idulfitri Namun, lafazh takbir lebih-lebih saat takbir keliling jangan dinodai dengan: mengganggu orang lain musik joget-joget melupakan waktu shalat Kadang ada yang takbiran keliling sampai larut malam dan tak ingat waktu. Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat Isya dan begadang (yang tidak manfaat) setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568). Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan, “Tidur sebelum Isya dimakruhkan karena dikhawatirkan melewatkan waktu shalat Isya. Sedangkan begadang bakda Isya dimakruhkan pada perkara yang bukan untuk menuntut ilmu, kebaikan, dan hajat. Namun, jika maksud begadang demi ilmu dan menunaikan hajat, seperti itu dibolehkan.” (Al-‘Aridhah, Ibnul ‘Arabi, 1:227, dinukil dari Al-Haajatu Asy-Syar’iyyah Hududuha wa Qawa’iduhaa, hlm. 131) Mereka yang melakukan takbiran keliling juga kadang mengganggu muslim yang lain dengan suara yang bising. Dari Jabir bin ‘Abdullah dan ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallambersabda, الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari, no. 10, 6484 dan Muslim, no. 40) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun hanya menyakiti seekor semut.” (Syarh Al-Bukhari, 1:38)      Selain takbir keliling, yang mengganggu juga di hari raya adalah suara petasan yang bising. Petasan ini termasuk mengganggu dan tabdzir. Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26-27). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud tabdzir ada dua pendapat di kalangan para ulama: Tabdzir berarti mengeluarkan harta bukan pada jalan yang benar. Tabdzir berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubadzdzir adalah orang yang menyalahgunakan, merusak, dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaad Al-Masiir, 5:27-28) Petasan ini dapat mengganggu orang lain, yang sedang sakit atau yang sedang butuh istirahat. Bahkan petasan dalam mencelakakan orang yang membunyikan sendiri. Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain) [Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250] Baca selengkapnya: Hadits Arbain 32, Tidak Boleh Memberikan Mudarat Sengaja atau pun Tidak   Semoga Allah memberkahi amalan kita di bulan Ramadhan, menerima amalan kita di bulan Ramadhan. Semoga Allah memberkahi kita di hari fitri. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ   — Jumat siang, 30 Ramadhan 1444 H, 21 April 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya cara shalat idul fitri hari raya idul fitri khutbah idul fitri shalat idul fitri ucapan selamat di hari raya
Jangan mengganggu orang lain di hari raya, di antaranya lewat takbiran yang kadang menimbulkan kebisingan dan suara petasan.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin. Shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala berfirman, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Hendaklah mengqadha’ puasa yang belum disempurnakan karena sakit, safar, dan uzur lainnya. Lalu berdzikirlah kepada Allah ketika telah selesai dari ibadah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62) Dzikir setelah selesai ibadah inilah yang Allah perintahkan dalam ibadah lainnya. Dalam ibadah haji disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200) Dalam ibadah shalat disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisaa’: 103) Dalam ibadah shalat Jumat disebutkan, فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak (berdzikirlah pada-Nya) supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10). Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Jumat  Juga dalam shalat lima waktu disebutkan, فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ ٱلْغُرُوبِ وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَٰرَ ٱلسُّجُودِ “Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” (QS. Qaaf: 39-40) Dalam hadits juga ada perintah saat bakda shalat lima waktu untuk membaca tasbih, tahmid, dan takbir. Ibnu ‘Abbas rahimahullah berkata,  مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إلا بِالتَّكْبِيرِ “Kami tidaklah mengetahui shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu selesai melainkan karena mendengar ucapan takbir.” (HR. Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583) Baca juga: Mengeraskan Dzikir Bakda Shalat Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kebanyakan ulama berdalil bahwa ada perintah takbir pada Idulfitri karena ayat, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185) Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62. Baca juga: Inilah Lafazh Takbir Hari Raya Idulfitri Namun, lafazh takbir lebih-lebih saat takbir keliling jangan dinodai dengan: mengganggu orang lain musik joget-joget melupakan waktu shalat Kadang ada yang takbiran keliling sampai larut malam dan tak ingat waktu. Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat Isya dan begadang (yang tidak manfaat) setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568). Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan, “Tidur sebelum Isya dimakruhkan karena dikhawatirkan melewatkan waktu shalat Isya. Sedangkan begadang bakda Isya dimakruhkan pada perkara yang bukan untuk menuntut ilmu, kebaikan, dan hajat. Namun, jika maksud begadang demi ilmu dan menunaikan hajat, seperti itu dibolehkan.” (Al-‘Aridhah, Ibnul ‘Arabi, 1:227, dinukil dari Al-Haajatu Asy-Syar’iyyah Hududuha wa Qawa’iduhaa, hlm. 131) Mereka yang melakukan takbiran keliling juga kadang mengganggu muslim yang lain dengan suara yang bising. Dari Jabir bin ‘Abdullah dan ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallambersabda, الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari, no. 10, 6484 dan Muslim, no. 40) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun hanya menyakiti seekor semut.” (Syarh Al-Bukhari, 1:38)      Selain takbir keliling, yang mengganggu juga di hari raya adalah suara petasan yang bising. Petasan ini termasuk mengganggu dan tabdzir. Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26-27). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud tabdzir ada dua pendapat di kalangan para ulama: Tabdzir berarti mengeluarkan harta bukan pada jalan yang benar. Tabdzir berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubadzdzir adalah orang yang menyalahgunakan, merusak, dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaad Al-Masiir, 5:27-28) Petasan ini dapat mengganggu orang lain, yang sedang sakit atau yang sedang butuh istirahat. Bahkan petasan dalam mencelakakan orang yang membunyikan sendiri. Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain) [Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250] Baca selengkapnya: Hadits Arbain 32, Tidak Boleh Memberikan Mudarat Sengaja atau pun Tidak   Semoga Allah memberkahi amalan kita di bulan Ramadhan, menerima amalan kita di bulan Ramadhan. Semoga Allah memberkahi kita di hari fitri. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ   — Jumat siang, 30 Ramadhan 1444 H, 21 April 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya cara shalat idul fitri hari raya idul fitri khutbah idul fitri shalat idul fitri ucapan selamat di hari raya


Jangan mengganggu orang lain di hari raya, di antaranya lewat takbiran yang kadang menimbulkan kebisingan dan suara petasan.     Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin. Shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala berfirman, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Hendaklah mengqadha’ puasa yang belum disempurnakan karena sakit, safar, dan uzur lainnya. Lalu berdzikirlah kepada Allah ketika telah selesai dari ibadah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62) Dzikir setelah selesai ibadah inilah yang Allah perintahkan dalam ibadah lainnya. Dalam ibadah haji disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200) Dalam ibadah shalat disebutkan, فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisaa’: 103) Dalam ibadah shalat Jumat disebutkan, فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak (berdzikirlah pada-Nya) supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10). Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Jumat  Juga dalam shalat lima waktu disebutkan, فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ ٱلْغُرُوبِ وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَٰرَ ٱلسُّجُودِ “Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” (QS. Qaaf: 39-40) Dalam hadits juga ada perintah saat bakda shalat lima waktu untuk membaca tasbih, tahmid, dan takbir. Ibnu ‘Abbas rahimahullah berkata,  مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إلا بِالتَّكْبِيرِ “Kami tidaklah mengetahui shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu selesai melainkan karena mendengar ucapan takbir.” (HR. Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583) Baca juga: Mengeraskan Dzikir Bakda Shalat Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kebanyakan ulama berdalil bahwa ada perintah takbir pada Idulfitri karena ayat, وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185) Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62. Baca juga: Inilah Lafazh Takbir Hari Raya Idulfitri Namun, lafazh takbir lebih-lebih saat takbir keliling jangan dinodai dengan: mengganggu orang lain musik joget-joget melupakan waktu shalat Kadang ada yang takbiran keliling sampai larut malam dan tak ingat waktu. Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat Isya dan begadang (yang tidak manfaat) setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568). Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan, “Tidur sebelum Isya dimakruhkan karena dikhawatirkan melewatkan waktu shalat Isya. Sedangkan begadang bakda Isya dimakruhkan pada perkara yang bukan untuk menuntut ilmu, kebaikan, dan hajat. Namun, jika maksud begadang demi ilmu dan menunaikan hajat, seperti itu dibolehkan.” (Al-‘Aridhah, Ibnul ‘Arabi, 1:227, dinukil dari Al-Haajatu Asy-Syar’iyyah Hududuha wa Qawa’iduhaa, hlm. 131) Mereka yang melakukan takbiran keliling juga kadang mengganggu muslim yang lain dengan suara yang bising. Dari Jabir bin ‘Abdullah dan ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallambersabda, الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari, no. 10, 6484 dan Muslim, no. 40) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun hanya menyakiti seekor semut.” (Syarh Al-Bukhari, 1:38)   <span style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" data-mce-type="bookmark" class="mce_SELRES_start"></span>   Selain takbir keliling, yang mengganggu juga di hari raya adalah suara petasan yang bising. Petasan ini termasuk mengganggu dan tabdzir. Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26-27). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud tabdzir ada dua pendapat di kalangan para ulama: Tabdzir berarti mengeluarkan harta bukan pada jalan yang benar. Tabdzir berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubadzdzir adalah orang yang menyalahgunakan, merusak, dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaad Al-Masiir, 5:27-28) Petasan ini dapat mengganggu orang lain, yang sedang sakit atau yang sedang butuh istirahat. Bahkan petasan dalam mencelakakan orang yang membunyikan sendiri. Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain) [Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250] Baca selengkapnya: Hadits Arbain 32, Tidak Boleh Memberikan Mudarat Sengaja atau pun Tidak   Semoga Allah memberkahi amalan kita di bulan Ramadhan, menerima amalan kita di bulan Ramadhan. Semoga Allah memberkahi kita di hari fitri. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ   — Jumat siang, 30 Ramadhan 1444 H, 21 April 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya cara shalat idul fitri hari raya idul fitri khutbah idul fitri shalat idul fitri ucapan selamat di hari raya

Inilah Alasan Puasa Itu Khusus untuk Allah – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Betapa agung dan tingginya derajat puasa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, Allah berfirman–sebagaimana yang disampaikan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam Hadis Qudsi– Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri.Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat,kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya demi diri-Ku.” Ini menunjukkan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkan ibadah ini untuk diri-Nya,karena ia adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya. Salat dapat dilihat manusiaHaji dapat dilihat manusia.Zakat dapat dilihat manusia,hingga ucapan dua kalimat syahadat juga dapat didengar manusia.Demikian juga dengan jihad.Demikian pula dengan muamalat. Sedangkan puasa adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya.Ia merupakan niat untuk meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,untuk mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkannya bagi diri-Nya dan berfirman, “Ia (puasa) adalah untuk-Ku”Yakni ia adalah ibadah yang khusus,tidak mengandung hal-hal yang menimbulkan seseorang berbuat riya,karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Meskipun, pelakunya masih dapat menceritakannya untuk riya,tapi pada asalnya tidak menimbulkan riya, karena ia menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Karena ia berupa sikap meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,demi mengharap apa yang ada di sisi Allah, mengharap pahala dari Allah dan balasan di negeri akhirat. Maka Allah mengkhususkan amalan ini dengan keutamaan tersebut, “Kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.”Allah juga menjadikan pahala dan balasannyatidak terbatas. Namun, Allah Jalla wa ‘Ala akan membalasnya sesuai dengan yang Dia kehendaki,berupa pelipatgandaan pahala yang banyak. ==== عِظَمِ شَأْنِ الصَّوْمِ وَمَنْزِلَتِهِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِهَذَا يَقُولُ سُبْحَانَهُ فِيمَا رَوَاهُ عَنْهُ نَبِيُّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ جَلَّ وَعَلَا كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّ هَذِهِ الْعِبَادَةَ لِنَفْسِهِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ الصَّلَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ الْحَجُّ يَرَاهُ النَّاسُ الزَّكَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ حَتَّى شَهَادَتَانِ يَسْمَعُهَا النَّاسُ هَكَذَا الْجِهَادُ هَكَذَا الْمُعَامَلَاتُ أَمَّا الصَّوْمُ هُوَ سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ نِيَّةٌ بِتَرْكِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْجِمَاعِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّهُ بِنَفْسِهِ وَقَالَ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي يَعْنِي عِبَادَةٌ خَاصَّةٌ لَيْسَ فِيهَا مَا يَدْعُو إِلَى الرِّيَاءِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَإِنْ كَانَ قَدْ يَتَحَدَّثُ بِهَا مُرَائِيًا لَكِن الْأَصْلُ أَنَّهَا لَا نَصِيبَ لِلرِّيَاءِ فِيهَا لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ لِأَنَّهَا مُجَرَّدُ تَرْكِ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَجِمَاعٍ يَبْتَغِي مَا عِنْدَ اللهِ يُرِيدُ ثَوَابَ اللهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَاخْتَصَّ اللهُ عَمَلَهُ بِهَذَا الْفَضْلِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَجَعَلَ ثَوَابَهُ وَجَزَاءَهُ غَيْرَ مُحَدَّدٍ بَلْ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا يُجَازِيْهِ بِمَا يَشَاءُ مِنَ الْمُضَاعَفَةِ مُضَاعَفَةِ الْأُجُورِ

Inilah Alasan Puasa Itu Khusus untuk Allah – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Betapa agung dan tingginya derajat puasa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, Allah berfirman–sebagaimana yang disampaikan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam Hadis Qudsi– Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri.Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat,kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya demi diri-Ku.” Ini menunjukkan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkan ibadah ini untuk diri-Nya,karena ia adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya. Salat dapat dilihat manusiaHaji dapat dilihat manusia.Zakat dapat dilihat manusia,hingga ucapan dua kalimat syahadat juga dapat didengar manusia.Demikian juga dengan jihad.Demikian pula dengan muamalat. Sedangkan puasa adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya.Ia merupakan niat untuk meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,untuk mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkannya bagi diri-Nya dan berfirman, “Ia (puasa) adalah untuk-Ku”Yakni ia adalah ibadah yang khusus,tidak mengandung hal-hal yang menimbulkan seseorang berbuat riya,karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Meskipun, pelakunya masih dapat menceritakannya untuk riya,tapi pada asalnya tidak menimbulkan riya, karena ia menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Karena ia berupa sikap meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,demi mengharap apa yang ada di sisi Allah, mengharap pahala dari Allah dan balasan di negeri akhirat. Maka Allah mengkhususkan amalan ini dengan keutamaan tersebut, “Kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.”Allah juga menjadikan pahala dan balasannyatidak terbatas. Namun, Allah Jalla wa ‘Ala akan membalasnya sesuai dengan yang Dia kehendaki,berupa pelipatgandaan pahala yang banyak. ==== عِظَمِ شَأْنِ الصَّوْمِ وَمَنْزِلَتِهِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِهَذَا يَقُولُ سُبْحَانَهُ فِيمَا رَوَاهُ عَنْهُ نَبِيُّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ جَلَّ وَعَلَا كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّ هَذِهِ الْعِبَادَةَ لِنَفْسِهِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ الصَّلَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ الْحَجُّ يَرَاهُ النَّاسُ الزَّكَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ حَتَّى شَهَادَتَانِ يَسْمَعُهَا النَّاسُ هَكَذَا الْجِهَادُ هَكَذَا الْمُعَامَلَاتُ أَمَّا الصَّوْمُ هُوَ سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ نِيَّةٌ بِتَرْكِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْجِمَاعِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّهُ بِنَفْسِهِ وَقَالَ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي يَعْنِي عِبَادَةٌ خَاصَّةٌ لَيْسَ فِيهَا مَا يَدْعُو إِلَى الرِّيَاءِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَإِنْ كَانَ قَدْ يَتَحَدَّثُ بِهَا مُرَائِيًا لَكِن الْأَصْلُ أَنَّهَا لَا نَصِيبَ لِلرِّيَاءِ فِيهَا لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ لِأَنَّهَا مُجَرَّدُ تَرْكِ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَجِمَاعٍ يَبْتَغِي مَا عِنْدَ اللهِ يُرِيدُ ثَوَابَ اللهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَاخْتَصَّ اللهُ عَمَلَهُ بِهَذَا الْفَضْلِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَجَعَلَ ثَوَابَهُ وَجَزَاءَهُ غَيْرَ مُحَدَّدٍ بَلْ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا يُجَازِيْهِ بِمَا يَشَاءُ مِنَ الْمُضَاعَفَةِ مُضَاعَفَةِ الْأُجُورِ
Betapa agung dan tingginya derajat puasa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, Allah berfirman–sebagaimana yang disampaikan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam Hadis Qudsi– Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri.Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat,kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya demi diri-Ku.” Ini menunjukkan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkan ibadah ini untuk diri-Nya,karena ia adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya. Salat dapat dilihat manusiaHaji dapat dilihat manusia.Zakat dapat dilihat manusia,hingga ucapan dua kalimat syahadat juga dapat didengar manusia.Demikian juga dengan jihad.Demikian pula dengan muamalat. Sedangkan puasa adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya.Ia merupakan niat untuk meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,untuk mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkannya bagi diri-Nya dan berfirman, “Ia (puasa) adalah untuk-Ku”Yakni ia adalah ibadah yang khusus,tidak mengandung hal-hal yang menimbulkan seseorang berbuat riya,karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Meskipun, pelakunya masih dapat menceritakannya untuk riya,tapi pada asalnya tidak menimbulkan riya, karena ia menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Karena ia berupa sikap meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,demi mengharap apa yang ada di sisi Allah, mengharap pahala dari Allah dan balasan di negeri akhirat. Maka Allah mengkhususkan amalan ini dengan keutamaan tersebut, “Kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.”Allah juga menjadikan pahala dan balasannyatidak terbatas. Namun, Allah Jalla wa ‘Ala akan membalasnya sesuai dengan yang Dia kehendaki,berupa pelipatgandaan pahala yang banyak. ==== عِظَمِ شَأْنِ الصَّوْمِ وَمَنْزِلَتِهِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِهَذَا يَقُولُ سُبْحَانَهُ فِيمَا رَوَاهُ عَنْهُ نَبِيُّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ جَلَّ وَعَلَا كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّ هَذِهِ الْعِبَادَةَ لِنَفْسِهِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ الصَّلَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ الْحَجُّ يَرَاهُ النَّاسُ الزَّكَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ حَتَّى شَهَادَتَانِ يَسْمَعُهَا النَّاسُ هَكَذَا الْجِهَادُ هَكَذَا الْمُعَامَلَاتُ أَمَّا الصَّوْمُ هُوَ سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ نِيَّةٌ بِتَرْكِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْجِمَاعِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّهُ بِنَفْسِهِ وَقَالَ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي يَعْنِي عِبَادَةٌ خَاصَّةٌ لَيْسَ فِيهَا مَا يَدْعُو إِلَى الرِّيَاءِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَإِنْ كَانَ قَدْ يَتَحَدَّثُ بِهَا مُرَائِيًا لَكِن الْأَصْلُ أَنَّهَا لَا نَصِيبَ لِلرِّيَاءِ فِيهَا لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ لِأَنَّهَا مُجَرَّدُ تَرْكِ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَجِمَاعٍ يَبْتَغِي مَا عِنْدَ اللهِ يُرِيدُ ثَوَابَ اللهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَاخْتَصَّ اللهُ عَمَلَهُ بِهَذَا الْفَضْلِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَجَعَلَ ثَوَابَهُ وَجَزَاءَهُ غَيْرَ مُحَدَّدٍ بَلْ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا يُجَازِيْهِ بِمَا يَشَاءُ مِنَ الْمُضَاعَفَةِ مُضَاعَفَةِ الْأُجُورِ


Betapa agung dan tingginya derajat puasa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, Allah berfirman–sebagaimana yang disampaikan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam Hadis Qudsi– Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri.Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat,kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya demi diri-Ku.” Ini menunjukkan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkan ibadah ini untuk diri-Nya,karena ia adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya. Salat dapat dilihat manusiaHaji dapat dilihat manusia.Zakat dapat dilihat manusia,hingga ucapan dua kalimat syahadat juga dapat didengar manusia.Demikian juga dengan jihad.Demikian pula dengan muamalat. Sedangkan puasa adalah rahasia di antara seorang hamba dengan Tuhannya.Ia merupakan niat untuk meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,untuk mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Allah Jalla wa ‘Ala mengkhususkannya bagi diri-Nya dan berfirman, “Ia (puasa) adalah untuk-Ku”Yakni ia adalah ibadah yang khusus,tidak mengandung hal-hal yang menimbulkan seseorang berbuat riya,karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Meskipun, pelakunya masih dapat menceritakannya untuk riya,tapi pada asalnya tidak menimbulkan riya, karena ia menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Karena ia berupa sikap meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan,demi mengharap apa yang ada di sisi Allah, mengharap pahala dari Allah dan balasan di negeri akhirat. Maka Allah mengkhususkan amalan ini dengan keutamaan tersebut, “Kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.”Allah juga menjadikan pahala dan balasannyatidak terbatas. Namun, Allah Jalla wa ‘Ala akan membalasnya sesuai dengan yang Dia kehendaki,berupa pelipatgandaan pahala yang banyak. ==== عِظَمِ شَأْنِ الصَّوْمِ وَمَنْزِلَتِهِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِهَذَا يَقُولُ سُبْحَانَهُ فِيمَا رَوَاهُ عَنْهُ نَبِيُّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ جَلَّ وَعَلَا كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّ هَذِهِ الْعِبَادَةَ لِنَفْسِهِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ الصَّلَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ الْحَجُّ يَرَاهُ النَّاسُ الزَّكَاةُ يَرَاهَا النَّاسُ حَتَّى شَهَادَتَانِ يَسْمَعُهَا النَّاسُ هَكَذَا الْجِهَادُ هَكَذَا الْمُعَامَلَاتُ أَمَّا الصَّوْمُ هُوَ سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ نِيَّةٌ بِتَرْكِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْجِمَاعِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا اخْتَصَّهُ بِنَفْسِهِ وَقَالَ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي يَعْنِي عِبَادَةٌ خَاصَّةٌ لَيْسَ فِيهَا مَا يَدْعُو إِلَى الرِّيَاءِ لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَإِنْ كَانَ قَدْ يَتَحَدَّثُ بِهَا مُرَائِيًا لَكِن الْأَصْلُ أَنَّهَا لَا نَصِيبَ لِلرِّيَاءِ فِيهَا لِأَنَّهَا سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ لِأَنَّهَا مُجَرَّدُ تَرْكِ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَجِمَاعٍ يَبْتَغِي مَا عِنْدَ اللهِ يُرِيدُ ثَوَابَ اللهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَاخْتَصَّ اللهُ عَمَلَهُ بِهَذَا الْفَضْلِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَجَعَلَ ثَوَابَهُ وَجَزَاءَهُ غَيْرَ مُحَدَّدٍ بَلْ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا يُجَازِيْهِ بِمَا يَشَاءُ مِنَ الْمُضَاعَفَةِ مُضَاعَفَةِ الْأُجُورِ

Bolehkah Berpuasa Saat Ada yang Sudah Berlebaran Duluan?

Bolehkah berpuasa saat ada yang sudah berlebaran duluan? Tahun 2023, Idul Fitri akan ada dua hari di negeri kita ini: Jumat, 21 April 2023, saudara kita dari Muhammadiyah berhari raya karena hasil dari hisab Wujudul Hilal, posisi hilal sudah ada di atas ufuk lebih dari nol derajat.  Sabtu, 22 April 2023, saudara kita dari NU, Persatuan Islam (Persis), dan pemerintah sebagaimana hasil hisab imkanur rukyat yang memakai kriteria Neo MABIMS (Mentri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), di mana tinggi hilal masih di bawah tiga derajat.  Baca juga: Polemik Idul Fitri 2023 dan Penetapan 1 Syawal 1444 H     Lihat postingan ini di Instagram   Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal (@mabduhtuasikal) Bagi yang bertaklid kepada Muhammadiyah bahwa lebaran jatuh pada hari Jumat, maka ia wajib konsekuen bahwa hari itu adalah tanggal 1 Syawal, sehingga haram baginya untuk melakukan puasa. Namun, bagi yang mengikuti pemerintah bahwa lebaran jatuh pada hari Sabtu, maka ia juga harus konsekuen bahwa hari Jumat itu masih tanggal 30 Ramadhan (istikmal). Sehingga haram baginya untuk tidak berpuasa di dalam bulan Ramadhan yang diyakininya. Haramnya berpuasa di hari raya sama dengan haramnya tidak puasa secara sengaja di bulan Ramadhan. Tinggal pilih saja, mau taklid dengan hasil ijtihad yang mana? Jika seseorang mau bertaklid kepada hasil ketetapan pemerintah yang sah, maka ia harus konsekuen untuk tetap puasa di hari Jumat. Karena dalam keyakinannya, hari Jumat itu masih termasuk bulan Ramadhan. Bagi seorang muslim, berpuasa di bulan Ramadhan itu hukumnya wajib. Bila ditinggalkan secara sengaja, maka hukumnya DOSA BESAR. Coba perhatikan dalil berikut yang menunjukkan dosanya orang yang enggan puasa padahal masih waktunya berpuasa (belum lebaran). Dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, beliau Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah”. Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25). Baca juga: Akibat Enggan Menunaikan Puasa Ramadhan Adapun ada orang lain yang telah meyakini bahwa hari Jumat sudah lebaran, tidak ada pengaruhnya dan tidak menjadi sebab harus tidak puasa. Sebab mereka yang lebaran hari Jumat telah bertaklid kepada ulama mereka. Sedangkan, yang berlebaran di hari Sabtu, bertaklid kepada ulama yang lain lagi. Masing-masing silakan menjalankan ibadah sesuai dengan hasil ijtihad yang diyakininya. Adapun dalil dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ “Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani). Hadits di atas bukanlah menjadi dalil atas keharusan tidak puasa di hari Jumat bagi yang meyakini lebaran jatuh di hari Sabtu. Mengapa? Karena dalil di atas tidak berlaku bila hanya ada sebagian orang yang sudah berbuka duluan, tetapi berlaku bila yang melakukannya mayoritas muslim bersama dengan pemerintahnya. Nanti bagaimana kalau misalnya hari Rabu ada yang berijtihad sudah lebaran, apakah umat Islam se-Indonesia harus tidak puasa sejak hari Rabu, Kamis dan Jumat? Berarti mereka secara sengaja tidak puasa di hari-hari Ramadhan. Bayangkan betapa besar dosanya. Dalil di atas sebenarnya justru berlaku sebaliknya dari apa yang disalah-pahami, bahwa seharusnya setiap muslim mengikuti ijtihad mayoritas muslimin dan pemerintahnya. Bukan sebaliknya, yang mayoritas harus ikut kepada yang minoritas. Sebagian ulama menafsirkan hadits tersebut bahwa yang dimaksudkan adalah berpuasa dan berhari raya dengan al jama’ah (pemerintah) dan kaum muslimin. (Majmu’ah Al-Fatawa, 25:115) Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits di atas dengan berkata, وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ “Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Baca juga: Sabar Menunggu Keputusan Pemerintah dalam Berpuasa dan Berhari Raya Kembalikanlah Keputusan Hari Raya kepada Pemerintah   Begitu pula, jika Saudi Arabia sudah berlebaran duluan dan sudah bertakbir, bukan berarti Indonesia tidak berpuasa lagi. Baca juga: Apabila Terjadi Perbedaan Hari Raya antara Indonesia dan Saudi Arabia   Namun, sekali lagi, urusan lebaran jatuh pada hari apa, adalah masalah ijtihadiyah dan khilafiyah. Mereka yang ijtihadnya benar, akan dapat dua pahala dan yang salah tidak akan berdosa. Bahkan tetap akan dapat pahala meski cuma satu pahalanya saja. Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْر “Apabila seorang hakim menghukumi lalu berijtihad dan benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia menghukumi lalu berijtihad dan salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352) Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin. Semoga suatu saat nanti, di negeri kita ini, hari raya itu tidak berbeda-beda lagi dan terus bersatu.   – Kamis, 20 April 2023, 29 Ramadhan 1444 H @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya fikih lebaran hari raya hukum tidak puasa idul fithri idul fitri lebaran puasa ramadhan

Bolehkah Berpuasa Saat Ada yang Sudah Berlebaran Duluan?

Bolehkah berpuasa saat ada yang sudah berlebaran duluan? Tahun 2023, Idul Fitri akan ada dua hari di negeri kita ini: Jumat, 21 April 2023, saudara kita dari Muhammadiyah berhari raya karena hasil dari hisab Wujudul Hilal, posisi hilal sudah ada di atas ufuk lebih dari nol derajat.  Sabtu, 22 April 2023, saudara kita dari NU, Persatuan Islam (Persis), dan pemerintah sebagaimana hasil hisab imkanur rukyat yang memakai kriteria Neo MABIMS (Mentri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), di mana tinggi hilal masih di bawah tiga derajat.  Baca juga: Polemik Idul Fitri 2023 dan Penetapan 1 Syawal 1444 H     Lihat postingan ini di Instagram   Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal (@mabduhtuasikal) Bagi yang bertaklid kepada Muhammadiyah bahwa lebaran jatuh pada hari Jumat, maka ia wajib konsekuen bahwa hari itu adalah tanggal 1 Syawal, sehingga haram baginya untuk melakukan puasa. Namun, bagi yang mengikuti pemerintah bahwa lebaran jatuh pada hari Sabtu, maka ia juga harus konsekuen bahwa hari Jumat itu masih tanggal 30 Ramadhan (istikmal). Sehingga haram baginya untuk tidak berpuasa di dalam bulan Ramadhan yang diyakininya. Haramnya berpuasa di hari raya sama dengan haramnya tidak puasa secara sengaja di bulan Ramadhan. Tinggal pilih saja, mau taklid dengan hasil ijtihad yang mana? Jika seseorang mau bertaklid kepada hasil ketetapan pemerintah yang sah, maka ia harus konsekuen untuk tetap puasa di hari Jumat. Karena dalam keyakinannya, hari Jumat itu masih termasuk bulan Ramadhan. Bagi seorang muslim, berpuasa di bulan Ramadhan itu hukumnya wajib. Bila ditinggalkan secara sengaja, maka hukumnya DOSA BESAR. Coba perhatikan dalil berikut yang menunjukkan dosanya orang yang enggan puasa padahal masih waktunya berpuasa (belum lebaran). Dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, beliau Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah”. Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25). Baca juga: Akibat Enggan Menunaikan Puasa Ramadhan Adapun ada orang lain yang telah meyakini bahwa hari Jumat sudah lebaran, tidak ada pengaruhnya dan tidak menjadi sebab harus tidak puasa. Sebab mereka yang lebaran hari Jumat telah bertaklid kepada ulama mereka. Sedangkan, yang berlebaran di hari Sabtu, bertaklid kepada ulama yang lain lagi. Masing-masing silakan menjalankan ibadah sesuai dengan hasil ijtihad yang diyakininya. Adapun dalil dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ “Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani). Hadits di atas bukanlah menjadi dalil atas keharusan tidak puasa di hari Jumat bagi yang meyakini lebaran jatuh di hari Sabtu. Mengapa? Karena dalil di atas tidak berlaku bila hanya ada sebagian orang yang sudah berbuka duluan, tetapi berlaku bila yang melakukannya mayoritas muslim bersama dengan pemerintahnya. Nanti bagaimana kalau misalnya hari Rabu ada yang berijtihad sudah lebaran, apakah umat Islam se-Indonesia harus tidak puasa sejak hari Rabu, Kamis dan Jumat? Berarti mereka secara sengaja tidak puasa di hari-hari Ramadhan. Bayangkan betapa besar dosanya. Dalil di atas sebenarnya justru berlaku sebaliknya dari apa yang disalah-pahami, bahwa seharusnya setiap muslim mengikuti ijtihad mayoritas muslimin dan pemerintahnya. Bukan sebaliknya, yang mayoritas harus ikut kepada yang minoritas. Sebagian ulama menafsirkan hadits tersebut bahwa yang dimaksudkan adalah berpuasa dan berhari raya dengan al jama’ah (pemerintah) dan kaum muslimin. (Majmu’ah Al-Fatawa, 25:115) Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits di atas dengan berkata, وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ “Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Baca juga: Sabar Menunggu Keputusan Pemerintah dalam Berpuasa dan Berhari Raya Kembalikanlah Keputusan Hari Raya kepada Pemerintah   Begitu pula, jika Saudi Arabia sudah berlebaran duluan dan sudah bertakbir, bukan berarti Indonesia tidak berpuasa lagi. Baca juga: Apabila Terjadi Perbedaan Hari Raya antara Indonesia dan Saudi Arabia   Namun, sekali lagi, urusan lebaran jatuh pada hari apa, adalah masalah ijtihadiyah dan khilafiyah. Mereka yang ijtihadnya benar, akan dapat dua pahala dan yang salah tidak akan berdosa. Bahkan tetap akan dapat pahala meski cuma satu pahalanya saja. Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْر “Apabila seorang hakim menghukumi lalu berijtihad dan benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia menghukumi lalu berijtihad dan salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352) Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin. Semoga suatu saat nanti, di negeri kita ini, hari raya itu tidak berbeda-beda lagi dan terus bersatu.   – Kamis, 20 April 2023, 29 Ramadhan 1444 H @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya fikih lebaran hari raya hukum tidak puasa idul fithri idul fitri lebaran puasa ramadhan
Bolehkah berpuasa saat ada yang sudah berlebaran duluan? Tahun 2023, Idul Fitri akan ada dua hari di negeri kita ini: Jumat, 21 April 2023, saudara kita dari Muhammadiyah berhari raya karena hasil dari hisab Wujudul Hilal, posisi hilal sudah ada di atas ufuk lebih dari nol derajat.  Sabtu, 22 April 2023, saudara kita dari NU, Persatuan Islam (Persis), dan pemerintah sebagaimana hasil hisab imkanur rukyat yang memakai kriteria Neo MABIMS (Mentri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), di mana tinggi hilal masih di bawah tiga derajat.  Baca juga: Polemik Idul Fitri 2023 dan Penetapan 1 Syawal 1444 H     Lihat postingan ini di Instagram   Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal (@mabduhtuasikal) Bagi yang bertaklid kepada Muhammadiyah bahwa lebaran jatuh pada hari Jumat, maka ia wajib konsekuen bahwa hari itu adalah tanggal 1 Syawal, sehingga haram baginya untuk melakukan puasa. Namun, bagi yang mengikuti pemerintah bahwa lebaran jatuh pada hari Sabtu, maka ia juga harus konsekuen bahwa hari Jumat itu masih tanggal 30 Ramadhan (istikmal). Sehingga haram baginya untuk tidak berpuasa di dalam bulan Ramadhan yang diyakininya. Haramnya berpuasa di hari raya sama dengan haramnya tidak puasa secara sengaja di bulan Ramadhan. Tinggal pilih saja, mau taklid dengan hasil ijtihad yang mana? Jika seseorang mau bertaklid kepada hasil ketetapan pemerintah yang sah, maka ia harus konsekuen untuk tetap puasa di hari Jumat. Karena dalam keyakinannya, hari Jumat itu masih termasuk bulan Ramadhan. Bagi seorang muslim, berpuasa di bulan Ramadhan itu hukumnya wajib. Bila ditinggalkan secara sengaja, maka hukumnya DOSA BESAR. Coba perhatikan dalil berikut yang menunjukkan dosanya orang yang enggan puasa padahal masih waktunya berpuasa (belum lebaran). Dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, beliau Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah”. Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25). Baca juga: Akibat Enggan Menunaikan Puasa Ramadhan Adapun ada orang lain yang telah meyakini bahwa hari Jumat sudah lebaran, tidak ada pengaruhnya dan tidak menjadi sebab harus tidak puasa. Sebab mereka yang lebaran hari Jumat telah bertaklid kepada ulama mereka. Sedangkan, yang berlebaran di hari Sabtu, bertaklid kepada ulama yang lain lagi. Masing-masing silakan menjalankan ibadah sesuai dengan hasil ijtihad yang diyakininya. Adapun dalil dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ “Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani). Hadits di atas bukanlah menjadi dalil atas keharusan tidak puasa di hari Jumat bagi yang meyakini lebaran jatuh di hari Sabtu. Mengapa? Karena dalil di atas tidak berlaku bila hanya ada sebagian orang yang sudah berbuka duluan, tetapi berlaku bila yang melakukannya mayoritas muslim bersama dengan pemerintahnya. Nanti bagaimana kalau misalnya hari Rabu ada yang berijtihad sudah lebaran, apakah umat Islam se-Indonesia harus tidak puasa sejak hari Rabu, Kamis dan Jumat? Berarti mereka secara sengaja tidak puasa di hari-hari Ramadhan. Bayangkan betapa besar dosanya. Dalil di atas sebenarnya justru berlaku sebaliknya dari apa yang disalah-pahami, bahwa seharusnya setiap muslim mengikuti ijtihad mayoritas muslimin dan pemerintahnya. Bukan sebaliknya, yang mayoritas harus ikut kepada yang minoritas. Sebagian ulama menafsirkan hadits tersebut bahwa yang dimaksudkan adalah berpuasa dan berhari raya dengan al jama’ah (pemerintah) dan kaum muslimin. (Majmu’ah Al-Fatawa, 25:115) Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits di atas dengan berkata, وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ “Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Baca juga: Sabar Menunggu Keputusan Pemerintah dalam Berpuasa dan Berhari Raya Kembalikanlah Keputusan Hari Raya kepada Pemerintah   Begitu pula, jika Saudi Arabia sudah berlebaran duluan dan sudah bertakbir, bukan berarti Indonesia tidak berpuasa lagi. Baca juga: Apabila Terjadi Perbedaan Hari Raya antara Indonesia dan Saudi Arabia   Namun, sekali lagi, urusan lebaran jatuh pada hari apa, adalah masalah ijtihadiyah dan khilafiyah. Mereka yang ijtihadnya benar, akan dapat dua pahala dan yang salah tidak akan berdosa. Bahkan tetap akan dapat pahala meski cuma satu pahalanya saja. Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْر “Apabila seorang hakim menghukumi lalu berijtihad dan benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia menghukumi lalu berijtihad dan salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352) Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin. Semoga suatu saat nanti, di negeri kita ini, hari raya itu tidak berbeda-beda lagi dan terus bersatu.   – Kamis, 20 April 2023, 29 Ramadhan 1444 H @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya fikih lebaran hari raya hukum tidak puasa idul fithri idul fitri lebaran puasa ramadhan


Bolehkah berpuasa saat ada yang sudah berlebaran duluan? Tahun 2023, Idul Fitri akan ada dua hari di negeri kita ini: Jumat, 21 April 2023, saudara kita dari Muhammadiyah berhari raya karena hasil dari hisab Wujudul Hilal, posisi hilal sudah ada di atas ufuk lebih dari nol derajat.  Sabtu, 22 April 2023, saudara kita dari NU, Persatuan Islam (Persis), dan pemerintah sebagaimana hasil hisab imkanur rukyat yang memakai kriteria Neo MABIMS (Mentri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), di mana tinggi hilal masih di bawah tiga derajat.  Baca juga: Polemik Idul Fitri 2023 dan Penetapan 1 Syawal 1444 H     Lihat postingan ini di Instagram   Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal (@mabduhtuasikal) Bagi yang bertaklid kepada Muhammadiyah bahwa lebaran jatuh pada hari Jumat, maka ia wajib konsekuen bahwa hari itu adalah tanggal 1 Syawal, sehingga haram baginya untuk melakukan puasa. Namun, bagi yang mengikuti pemerintah bahwa lebaran jatuh pada hari Sabtu, maka ia juga harus konsekuen bahwa hari Jumat itu masih tanggal 30 Ramadhan (istikmal). Sehingga haram baginya untuk tidak berpuasa di dalam bulan Ramadhan yang diyakininya. Haramnya berpuasa di hari raya sama dengan haramnya tidak puasa secara sengaja di bulan Ramadhan. Tinggal pilih saja, mau taklid dengan hasil ijtihad yang mana? Jika seseorang mau bertaklid kepada hasil ketetapan pemerintah yang sah, maka ia harus konsekuen untuk tetap puasa di hari Jumat. Karena dalam keyakinannya, hari Jumat itu masih termasuk bulan Ramadhan. Bagi seorang muslim, berpuasa di bulan Ramadhan itu hukumnya wajib. Bila ditinggalkan secara sengaja, maka hukumnya DOSA BESAR. Coba perhatikan dalil berikut yang menunjukkan dosanya orang yang enggan puasa padahal masih waktunya berpuasa (belum lebaran). Dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, beliau Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah”. Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25). Baca juga: Akibat Enggan Menunaikan Puasa Ramadhan Adapun ada orang lain yang telah meyakini bahwa hari Jumat sudah lebaran, tidak ada pengaruhnya dan tidak menjadi sebab harus tidak puasa. Sebab mereka yang lebaran hari Jumat telah bertaklid kepada ulama mereka. Sedangkan, yang berlebaran di hari Sabtu, bertaklid kepada ulama yang lain lagi. Masing-masing silakan menjalankan ibadah sesuai dengan hasil ijtihad yang diyakininya. Adapun dalil dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ “Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani). Hadits di atas bukanlah menjadi dalil atas keharusan tidak puasa di hari Jumat bagi yang meyakini lebaran jatuh di hari Sabtu. Mengapa? Karena dalil di atas tidak berlaku bila hanya ada sebagian orang yang sudah berbuka duluan, tetapi berlaku bila yang melakukannya mayoritas muslim bersama dengan pemerintahnya. Nanti bagaimana kalau misalnya hari Rabu ada yang berijtihad sudah lebaran, apakah umat Islam se-Indonesia harus tidak puasa sejak hari Rabu, Kamis dan Jumat? Berarti mereka secara sengaja tidak puasa di hari-hari Ramadhan. Bayangkan betapa besar dosanya. Dalil di atas sebenarnya justru berlaku sebaliknya dari apa yang disalah-pahami, bahwa seharusnya setiap muslim mengikuti ijtihad mayoritas muslimin dan pemerintahnya. Bukan sebaliknya, yang mayoritas harus ikut kepada yang minoritas. Sebagian ulama menafsirkan hadits tersebut bahwa yang dimaksudkan adalah berpuasa dan berhari raya dengan al jama’ah (pemerintah) dan kaum muslimin. (Majmu’ah Al-Fatawa, 25:115) Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits di atas dengan berkata, وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ “Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Baca juga: Sabar Menunggu Keputusan Pemerintah dalam Berpuasa dan Berhari Raya Kembalikanlah Keputusan Hari Raya kepada Pemerintah   Begitu pula, jika Saudi Arabia sudah berlebaran duluan dan sudah bertakbir, bukan berarti Indonesia tidak berpuasa lagi. Baca juga: Apabila Terjadi Perbedaan Hari Raya antara Indonesia dan Saudi Arabia   Namun, sekali lagi, urusan lebaran jatuh pada hari apa, adalah masalah ijtihadiyah dan khilafiyah. Mereka yang ijtihadnya benar, akan dapat dua pahala dan yang salah tidak akan berdosa. Bahkan tetap akan dapat pahala meski cuma satu pahalanya saja. Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْر “Apabila seorang hakim menghukumi lalu berijtihad dan benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia menghukumi lalu berijtihad dan salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352) Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin. Semoga suatu saat nanti, di negeri kita ini, hari raya itu tidak berbeda-beda lagi dan terus bersatu.   – Kamis, 20 April 2023, 29 Ramadhan 1444 H @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari raya fikih lebaran hari raya hukum tidak puasa idul fithri idul fitri lebaran puasa ramadhan

Fatwa: Apakah Wanita Salat di Hotel Makkah Itu Lebih Baik daripada Salat di Masjidilharam?

Bismillah.Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,Syekh Al-Albani rahimahullah pernah berfatwa dengan fatwa sebagai berikut: [1]Pertanyaan:Seorang wanita bertanya, “Dalam hadis,صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في المسجد‘Salat seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada salatnya di masjid.’Apabila seorang wanita sedang berada di Makkah, apakah salatnya di hotel lebih baik daripada salat di Masjidilharam?”Jawaban Syekh Al-Albani rahimahullah:Jelas, tentulah! Yakni, salat wanita di mana pun ia berada, di negeri mana pun ia singgah, meskipun ia sedang di Makkah, atau di Madinah, atau di Baitul Maqdis, maka salatnya di tempat tinggalnya (termasuk rumah atau hotel, pent.) lebih utama daripada di masjid.Demikian pula bagi seorang laki-laki, apabila terkait dengan salat sunah, maka lebih utama ia salat sunah di rumahnya. Dan (yang lebih utama) bukan di masjid, meskipun itu di Masjidilharam. Hal ini berdasarkan dua dalil [2] berikut ini:Dalil pertama (dalil umum): Keumuman sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam  dalam kisah salat tarawih di bulan Ramadan. Saat beliau ‘alaihish shalatu wassalam mengimami orang-orang pada malam pertama, kedua, dan ketiga dengan kisah rinci yang sudah diketahui (dalam versi kisah lengkapnya, pent). Lalu, mereka berkumpul pada malam yang keempat, namun Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam tidaklah keluar mengimami, sampai sebagian orang yang lalai melempar beberapa kerikil ke pintu beliau. Kemudian beliau keluar menemui mereka sambil marah. Beliau pun bersabda kepada mereka,إنه لم يخفَ عليَّ مكانكم هذا ، وعمدًا فعلت ذلك ، فصلوا – أيها الناس – في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Bahwa aku sebenarnya tahu kehadiran kalian (di masjid untuk salat bersamaku), dan sengaja aku lakukan ini [3]. Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki [4] yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu) [5].” [6]Maka, sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).” Ini mencakup seluruh salat sunah dan mencakup seluruh salat wajib juga. [7]Ini dalil pertama, dan sebagaimana telah kami sebutkan di awal jawaban bahwa ini berarti berdalil dengan dalil umum,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Baca juga: Perbedaan antara Salat Wajib dan Salat SunahDalil kedua (dalil khusus): Dalil khusus ketika datang seorang sahabat di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya dengan pertanyaan semisal pertanyaan di atas:“Apakah saya salat sunah di masjid atau di rumah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidakkah engkau tahu betapa dekatnya rumahku dengan masjidku?” Ia pun menjawab : “Ya.” Beliau bersabda,فأفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Salat seorang laki-laki  yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Setelah kita mengetahui jawaban terkait dengan salat wanita (di hotel) tersebut. Dan kami telah tambahkan jawaban tentang masalah yang terkadang terbetik pada benak sebagian manusia, terkait dengan salat sunah bagi laki-laki. (Maka di sini perlu) saya tekankan tentang orang yang sedang berada di masjid-masjid yang memiliki keutamaan khusus, seperti Masjidilharam, Masjid An-Nabawi, dan Masjidilaqsa. Bahwa salat wajib wanita di rumahnya dan salat sunah laki-laki di rumahnya atau di tempat tinggal mana pun (hotel, dan semisalnya, pent) bukan berarti (keafdalan salat di rumah tersebut) dikecualikan jika dilakukan di Masjidilharam, atau Masjid An-Nabawi, atau Masjidilaqsa. Sehingga (tidaklah berarti) salat sunah pria atau salat wajib wanita itu lebih utama dilakukan di ketiga masjid tersebut (daripada di rumah). [8]Maksudnya begini. Sebagaimana kalian ketahui sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam dalam Shahih Muslim,صلاة في مسجدي هذا بألف صلاة مما سواه من المساجد ؛ إلا المسجد الحرام“Salat di masjidku ini (pahalanya) seribu kali lipat salat di masjid-masjid lainnya, kecuali Masjidilharam.”Dalam hadis lainnya, selain dalam Shahih Muslim, namun hadis ini adalah hadis yang sahih juga, (yaitu) dalam Shahih Ibnu Hibban dan selainnya,والصلاة في مكَّة بمائة ألف صلاة“Salat di (Masjidilharam) Makkah itu (berpahala) seratus ribu kali lipat salat.” [9]Jadi, seorang laki-laki apabila salat sunah di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat. Dan wanita pun apabila salat di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat.Akan tetapi, seorang laki-laki jika salat sunah di rumahnya dan wanita apabila salat wajib di rumahnya, maka masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat. (Ya, benar-benar) masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat.Inilah (konsekuensi) makna salat wanita itu lebih utama di rumahnya dan salat sunah laki-laki itu lebih utama di rumahnya. [Selesai Fatwa Syekh Al-Albani rahimahullah. [10]KesimpulanPertama: Salat wanita di rumahnya atau di hotel secara sendirian, atau bersama temannya di apartemen itu lebih baik dan lebih utama dibanding salatnya di Masjidilharam atau Masjid An-Nabawi. Meskipun hukum ia salat di masjid tersebut boleh. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ“Jangan kalian mencegah istri-istri kalian dari minta izin pergi ke masjid, namun (salat di) rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka (daripada di masjid).”(Hadis riwayat Abu Dawud, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud)عن أم حُمَيد امرأة أبي حميد الساعدي رضي الله عنها قالت : ” يا رسول الله : إني أحب الصلاة معك ، قال : ( قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي ، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِيDari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya senang salat bersama Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, ”Saya tahu, engkau senang salat bersamaku, tetapi salatmu di kamar tidurmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di ruang keluargamu. Dan salatmu di ruang keluargamu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di rumahmu [11]. Dan salatmu di rumahmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjid kaummu. Dan salatmu di masjid kaummu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjidku.” (HR. Ahmad, dan Syekh Al-Albani menilai hadis ini hasan dalam Kitab Shahihut Targhib wat-Tarhib)Kedua: Tidak mengapa seorang wanita salat di masjid. Terlebih lagi jika salat di masjid pada kondisi tertentu menyebabkan lebih khusyuk dan lebih semangat dalam beribadah kepada Allah semata, karena adanya gangguan kekhusyukan dan kesempurnaan salat jika dilakukan di rumah, sebagaimana fatwa Samahatul Mufti Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berikut ini:Pertanyaan:“Apa hukum salat tarawih bagi wanita di rumahnya? Dan apakah yang afdal ia salat di rumah atau di masjid?”Beliau menjawab:“Tergantung keadaannya. Jika ia mampu melakukannya di rumah, bisa kosentrasi melakukan salat tersebut dan tidak disibukkan dengan kesibukan, baik berupa mengurus anak atau perkerjaan rumah tangga (lainnya), maka salat di rumahnya lebih utama (afdal). Namun, jika ia memandang bahwa salat di masjid itu (menyebabkan) ia lebih semangat melakukannya karena ia makmum dibelakang seorang imam. Dan lebih semangat baginya dengan menyaksikan para wanita muslimah (lainnya) salat, maka dalam hal ini tidak ada larangannya.” [12]Wallahu a’lamBaca juga: Jangan Tinggalkan Salat***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[2] Maksudnya dalil tentang salat sunah bagi laki-laki lebih baik di rumah.[3] Beliau tidak keluar mengimami mereka.[4]  Maksud: al-mar’u dalam hadis di atas adalah seorang laki-laki. Berdasarkan hadis tentang salat wanita itu lebih utama di rumahnya, baik salat sunah maupun salat wajib lima waktu. Wallahu a’lam.[5] Berdasarkan dalil-dalil lainnya, maka maksud hadis ini adalah salat sunah yang disyariatkan dilakukan di masjid dan di rumah sekaligus. Jenis salat seperti inilah yang lebih utama dikerjakan di rumah. Dengan demikian, dikecualikan dari kandungan hadis ini adalah jenis salat sunah yang disyariatkan dilakukan hanya di masjid (salat Tahiyyatul Masjid) dan salat sunah yang disyariatkan berjemaah di masjid (salat tarawih, salat istisqa’, salat gerhana, salat Idul Fithri dan Adha saat hujan). Wallahu a’lam.[6] Kisah lengkapnya ada dalam Shahihul Bukhari.[7] Maksudnya, sebelum disertakan lafaz pengecualian, “kecuali salat wajib (lima waktu).”[8] Maksudnya: pria (untuk salat sunah) dan wanita lebih utama salat di rumah atau hotel daripada salat di ketiga masjid tersebut. Wallahu a’lam.[9] Dibandingkan dengan salat di masjid selainnya yang tidak memiliki keutamaan pahala khusus. Karena apabila dibandingkan dengan salat di masjid yang ada keutamaan pahala khususnya, maka perbandingannya sesuai dengan keutamaannya yang terdapat dalam dalil. Contohnya dalam hadis yang sahih bahwa keutamaan salat di Masjidilharam itu seratus kali lipat salat di Masjid An-Nabawi. Wallahu a’lam[10] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[11] Ruangan yang lebih terbuka di dalam rumah, lihat perbedaan bait, hujrah, dan dar di https://irtaqi.net/2020/06/28/apa-bedanya-dar-hujrah-dan-bait/[12] Silahkan mendengarkan rekaman suara fatwa ini: http://www.albaidha.net/vb/attachmen…8&d=1435230130Tags: HajihotelmakkahsalatumrohWanita

Fatwa: Apakah Wanita Salat di Hotel Makkah Itu Lebih Baik daripada Salat di Masjidilharam?

Bismillah.Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,Syekh Al-Albani rahimahullah pernah berfatwa dengan fatwa sebagai berikut: [1]Pertanyaan:Seorang wanita bertanya, “Dalam hadis,صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في المسجد‘Salat seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada salatnya di masjid.’Apabila seorang wanita sedang berada di Makkah, apakah salatnya di hotel lebih baik daripada salat di Masjidilharam?”Jawaban Syekh Al-Albani rahimahullah:Jelas, tentulah! Yakni, salat wanita di mana pun ia berada, di negeri mana pun ia singgah, meskipun ia sedang di Makkah, atau di Madinah, atau di Baitul Maqdis, maka salatnya di tempat tinggalnya (termasuk rumah atau hotel, pent.) lebih utama daripada di masjid.Demikian pula bagi seorang laki-laki, apabila terkait dengan salat sunah, maka lebih utama ia salat sunah di rumahnya. Dan (yang lebih utama) bukan di masjid, meskipun itu di Masjidilharam. Hal ini berdasarkan dua dalil [2] berikut ini:Dalil pertama (dalil umum): Keumuman sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam  dalam kisah salat tarawih di bulan Ramadan. Saat beliau ‘alaihish shalatu wassalam mengimami orang-orang pada malam pertama, kedua, dan ketiga dengan kisah rinci yang sudah diketahui (dalam versi kisah lengkapnya, pent). Lalu, mereka berkumpul pada malam yang keempat, namun Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam tidaklah keluar mengimami, sampai sebagian orang yang lalai melempar beberapa kerikil ke pintu beliau. Kemudian beliau keluar menemui mereka sambil marah. Beliau pun bersabda kepada mereka,إنه لم يخفَ عليَّ مكانكم هذا ، وعمدًا فعلت ذلك ، فصلوا – أيها الناس – في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Bahwa aku sebenarnya tahu kehadiran kalian (di masjid untuk salat bersamaku), dan sengaja aku lakukan ini [3]. Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki [4] yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu) [5].” [6]Maka, sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).” Ini mencakup seluruh salat sunah dan mencakup seluruh salat wajib juga. [7]Ini dalil pertama, dan sebagaimana telah kami sebutkan di awal jawaban bahwa ini berarti berdalil dengan dalil umum,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Baca juga: Perbedaan antara Salat Wajib dan Salat SunahDalil kedua (dalil khusus): Dalil khusus ketika datang seorang sahabat di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya dengan pertanyaan semisal pertanyaan di atas:“Apakah saya salat sunah di masjid atau di rumah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidakkah engkau tahu betapa dekatnya rumahku dengan masjidku?” Ia pun menjawab : “Ya.” Beliau bersabda,فأفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Salat seorang laki-laki  yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Setelah kita mengetahui jawaban terkait dengan salat wanita (di hotel) tersebut. Dan kami telah tambahkan jawaban tentang masalah yang terkadang terbetik pada benak sebagian manusia, terkait dengan salat sunah bagi laki-laki. (Maka di sini perlu) saya tekankan tentang orang yang sedang berada di masjid-masjid yang memiliki keutamaan khusus, seperti Masjidilharam, Masjid An-Nabawi, dan Masjidilaqsa. Bahwa salat wajib wanita di rumahnya dan salat sunah laki-laki di rumahnya atau di tempat tinggal mana pun (hotel, dan semisalnya, pent) bukan berarti (keafdalan salat di rumah tersebut) dikecualikan jika dilakukan di Masjidilharam, atau Masjid An-Nabawi, atau Masjidilaqsa. Sehingga (tidaklah berarti) salat sunah pria atau salat wajib wanita itu lebih utama dilakukan di ketiga masjid tersebut (daripada di rumah). [8]Maksudnya begini. Sebagaimana kalian ketahui sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam dalam Shahih Muslim,صلاة في مسجدي هذا بألف صلاة مما سواه من المساجد ؛ إلا المسجد الحرام“Salat di masjidku ini (pahalanya) seribu kali lipat salat di masjid-masjid lainnya, kecuali Masjidilharam.”Dalam hadis lainnya, selain dalam Shahih Muslim, namun hadis ini adalah hadis yang sahih juga, (yaitu) dalam Shahih Ibnu Hibban dan selainnya,والصلاة في مكَّة بمائة ألف صلاة“Salat di (Masjidilharam) Makkah itu (berpahala) seratus ribu kali lipat salat.” [9]Jadi, seorang laki-laki apabila salat sunah di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat. Dan wanita pun apabila salat di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat.Akan tetapi, seorang laki-laki jika salat sunah di rumahnya dan wanita apabila salat wajib di rumahnya, maka masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat. (Ya, benar-benar) masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat.Inilah (konsekuensi) makna salat wanita itu lebih utama di rumahnya dan salat sunah laki-laki itu lebih utama di rumahnya. [Selesai Fatwa Syekh Al-Albani rahimahullah. [10]KesimpulanPertama: Salat wanita di rumahnya atau di hotel secara sendirian, atau bersama temannya di apartemen itu lebih baik dan lebih utama dibanding salatnya di Masjidilharam atau Masjid An-Nabawi. Meskipun hukum ia salat di masjid tersebut boleh. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ“Jangan kalian mencegah istri-istri kalian dari minta izin pergi ke masjid, namun (salat di) rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka (daripada di masjid).”(Hadis riwayat Abu Dawud, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud)عن أم حُمَيد امرأة أبي حميد الساعدي رضي الله عنها قالت : ” يا رسول الله : إني أحب الصلاة معك ، قال : ( قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي ، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِيDari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya senang salat bersama Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, ”Saya tahu, engkau senang salat bersamaku, tetapi salatmu di kamar tidurmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di ruang keluargamu. Dan salatmu di ruang keluargamu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di rumahmu [11]. Dan salatmu di rumahmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjid kaummu. Dan salatmu di masjid kaummu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjidku.” (HR. Ahmad, dan Syekh Al-Albani menilai hadis ini hasan dalam Kitab Shahihut Targhib wat-Tarhib)Kedua: Tidak mengapa seorang wanita salat di masjid. Terlebih lagi jika salat di masjid pada kondisi tertentu menyebabkan lebih khusyuk dan lebih semangat dalam beribadah kepada Allah semata, karena adanya gangguan kekhusyukan dan kesempurnaan salat jika dilakukan di rumah, sebagaimana fatwa Samahatul Mufti Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berikut ini:Pertanyaan:“Apa hukum salat tarawih bagi wanita di rumahnya? Dan apakah yang afdal ia salat di rumah atau di masjid?”Beliau menjawab:“Tergantung keadaannya. Jika ia mampu melakukannya di rumah, bisa kosentrasi melakukan salat tersebut dan tidak disibukkan dengan kesibukan, baik berupa mengurus anak atau perkerjaan rumah tangga (lainnya), maka salat di rumahnya lebih utama (afdal). Namun, jika ia memandang bahwa salat di masjid itu (menyebabkan) ia lebih semangat melakukannya karena ia makmum dibelakang seorang imam. Dan lebih semangat baginya dengan menyaksikan para wanita muslimah (lainnya) salat, maka dalam hal ini tidak ada larangannya.” [12]Wallahu a’lamBaca juga: Jangan Tinggalkan Salat***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[2] Maksudnya dalil tentang salat sunah bagi laki-laki lebih baik di rumah.[3] Beliau tidak keluar mengimami mereka.[4]  Maksud: al-mar’u dalam hadis di atas adalah seorang laki-laki. Berdasarkan hadis tentang salat wanita itu lebih utama di rumahnya, baik salat sunah maupun salat wajib lima waktu. Wallahu a’lam.[5] Berdasarkan dalil-dalil lainnya, maka maksud hadis ini adalah salat sunah yang disyariatkan dilakukan di masjid dan di rumah sekaligus. Jenis salat seperti inilah yang lebih utama dikerjakan di rumah. Dengan demikian, dikecualikan dari kandungan hadis ini adalah jenis salat sunah yang disyariatkan dilakukan hanya di masjid (salat Tahiyyatul Masjid) dan salat sunah yang disyariatkan berjemaah di masjid (salat tarawih, salat istisqa’, salat gerhana, salat Idul Fithri dan Adha saat hujan). Wallahu a’lam.[6] Kisah lengkapnya ada dalam Shahihul Bukhari.[7] Maksudnya, sebelum disertakan lafaz pengecualian, “kecuali salat wajib (lima waktu).”[8] Maksudnya: pria (untuk salat sunah) dan wanita lebih utama salat di rumah atau hotel daripada salat di ketiga masjid tersebut. Wallahu a’lam.[9] Dibandingkan dengan salat di masjid selainnya yang tidak memiliki keutamaan pahala khusus. Karena apabila dibandingkan dengan salat di masjid yang ada keutamaan pahala khususnya, maka perbandingannya sesuai dengan keutamaannya yang terdapat dalam dalil. Contohnya dalam hadis yang sahih bahwa keutamaan salat di Masjidilharam itu seratus kali lipat salat di Masjid An-Nabawi. Wallahu a’lam[10] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[11] Ruangan yang lebih terbuka di dalam rumah, lihat perbedaan bait, hujrah, dan dar di https://irtaqi.net/2020/06/28/apa-bedanya-dar-hujrah-dan-bait/[12] Silahkan mendengarkan rekaman suara fatwa ini: http://www.albaidha.net/vb/attachmen…8&d=1435230130Tags: HajihotelmakkahsalatumrohWanita
Bismillah.Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,Syekh Al-Albani rahimahullah pernah berfatwa dengan fatwa sebagai berikut: [1]Pertanyaan:Seorang wanita bertanya, “Dalam hadis,صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في المسجد‘Salat seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada salatnya di masjid.’Apabila seorang wanita sedang berada di Makkah, apakah salatnya di hotel lebih baik daripada salat di Masjidilharam?”Jawaban Syekh Al-Albani rahimahullah:Jelas, tentulah! Yakni, salat wanita di mana pun ia berada, di negeri mana pun ia singgah, meskipun ia sedang di Makkah, atau di Madinah, atau di Baitul Maqdis, maka salatnya di tempat tinggalnya (termasuk rumah atau hotel, pent.) lebih utama daripada di masjid.Demikian pula bagi seorang laki-laki, apabila terkait dengan salat sunah, maka lebih utama ia salat sunah di rumahnya. Dan (yang lebih utama) bukan di masjid, meskipun itu di Masjidilharam. Hal ini berdasarkan dua dalil [2] berikut ini:Dalil pertama (dalil umum): Keumuman sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam  dalam kisah salat tarawih di bulan Ramadan. Saat beliau ‘alaihish shalatu wassalam mengimami orang-orang pada malam pertama, kedua, dan ketiga dengan kisah rinci yang sudah diketahui (dalam versi kisah lengkapnya, pent). Lalu, mereka berkumpul pada malam yang keempat, namun Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam tidaklah keluar mengimami, sampai sebagian orang yang lalai melempar beberapa kerikil ke pintu beliau. Kemudian beliau keluar menemui mereka sambil marah. Beliau pun bersabda kepada mereka,إنه لم يخفَ عليَّ مكانكم هذا ، وعمدًا فعلت ذلك ، فصلوا – أيها الناس – في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Bahwa aku sebenarnya tahu kehadiran kalian (di masjid untuk salat bersamaku), dan sengaja aku lakukan ini [3]. Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki [4] yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu) [5].” [6]Maka, sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).” Ini mencakup seluruh salat sunah dan mencakup seluruh salat wajib juga. [7]Ini dalil pertama, dan sebagaimana telah kami sebutkan di awal jawaban bahwa ini berarti berdalil dengan dalil umum,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Baca juga: Perbedaan antara Salat Wajib dan Salat SunahDalil kedua (dalil khusus): Dalil khusus ketika datang seorang sahabat di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya dengan pertanyaan semisal pertanyaan di atas:“Apakah saya salat sunah di masjid atau di rumah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidakkah engkau tahu betapa dekatnya rumahku dengan masjidku?” Ia pun menjawab : “Ya.” Beliau bersabda,فأفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Salat seorang laki-laki  yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Setelah kita mengetahui jawaban terkait dengan salat wanita (di hotel) tersebut. Dan kami telah tambahkan jawaban tentang masalah yang terkadang terbetik pada benak sebagian manusia, terkait dengan salat sunah bagi laki-laki. (Maka di sini perlu) saya tekankan tentang orang yang sedang berada di masjid-masjid yang memiliki keutamaan khusus, seperti Masjidilharam, Masjid An-Nabawi, dan Masjidilaqsa. Bahwa salat wajib wanita di rumahnya dan salat sunah laki-laki di rumahnya atau di tempat tinggal mana pun (hotel, dan semisalnya, pent) bukan berarti (keafdalan salat di rumah tersebut) dikecualikan jika dilakukan di Masjidilharam, atau Masjid An-Nabawi, atau Masjidilaqsa. Sehingga (tidaklah berarti) salat sunah pria atau salat wajib wanita itu lebih utama dilakukan di ketiga masjid tersebut (daripada di rumah). [8]Maksudnya begini. Sebagaimana kalian ketahui sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam dalam Shahih Muslim,صلاة في مسجدي هذا بألف صلاة مما سواه من المساجد ؛ إلا المسجد الحرام“Salat di masjidku ini (pahalanya) seribu kali lipat salat di masjid-masjid lainnya, kecuali Masjidilharam.”Dalam hadis lainnya, selain dalam Shahih Muslim, namun hadis ini adalah hadis yang sahih juga, (yaitu) dalam Shahih Ibnu Hibban dan selainnya,والصلاة في مكَّة بمائة ألف صلاة“Salat di (Masjidilharam) Makkah itu (berpahala) seratus ribu kali lipat salat.” [9]Jadi, seorang laki-laki apabila salat sunah di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat. Dan wanita pun apabila salat di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat.Akan tetapi, seorang laki-laki jika salat sunah di rumahnya dan wanita apabila salat wajib di rumahnya, maka masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat. (Ya, benar-benar) masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat.Inilah (konsekuensi) makna salat wanita itu lebih utama di rumahnya dan salat sunah laki-laki itu lebih utama di rumahnya. [Selesai Fatwa Syekh Al-Albani rahimahullah. [10]KesimpulanPertama: Salat wanita di rumahnya atau di hotel secara sendirian, atau bersama temannya di apartemen itu lebih baik dan lebih utama dibanding salatnya di Masjidilharam atau Masjid An-Nabawi. Meskipun hukum ia salat di masjid tersebut boleh. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ“Jangan kalian mencegah istri-istri kalian dari minta izin pergi ke masjid, namun (salat di) rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka (daripada di masjid).”(Hadis riwayat Abu Dawud, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud)عن أم حُمَيد امرأة أبي حميد الساعدي رضي الله عنها قالت : ” يا رسول الله : إني أحب الصلاة معك ، قال : ( قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي ، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِيDari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya senang salat bersama Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, ”Saya tahu, engkau senang salat bersamaku, tetapi salatmu di kamar tidurmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di ruang keluargamu. Dan salatmu di ruang keluargamu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di rumahmu [11]. Dan salatmu di rumahmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjid kaummu. Dan salatmu di masjid kaummu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjidku.” (HR. Ahmad, dan Syekh Al-Albani menilai hadis ini hasan dalam Kitab Shahihut Targhib wat-Tarhib)Kedua: Tidak mengapa seorang wanita salat di masjid. Terlebih lagi jika salat di masjid pada kondisi tertentu menyebabkan lebih khusyuk dan lebih semangat dalam beribadah kepada Allah semata, karena adanya gangguan kekhusyukan dan kesempurnaan salat jika dilakukan di rumah, sebagaimana fatwa Samahatul Mufti Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berikut ini:Pertanyaan:“Apa hukum salat tarawih bagi wanita di rumahnya? Dan apakah yang afdal ia salat di rumah atau di masjid?”Beliau menjawab:“Tergantung keadaannya. Jika ia mampu melakukannya di rumah, bisa kosentrasi melakukan salat tersebut dan tidak disibukkan dengan kesibukan, baik berupa mengurus anak atau perkerjaan rumah tangga (lainnya), maka salat di rumahnya lebih utama (afdal). Namun, jika ia memandang bahwa salat di masjid itu (menyebabkan) ia lebih semangat melakukannya karena ia makmum dibelakang seorang imam. Dan lebih semangat baginya dengan menyaksikan para wanita muslimah (lainnya) salat, maka dalam hal ini tidak ada larangannya.” [12]Wallahu a’lamBaca juga: Jangan Tinggalkan Salat***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[2] Maksudnya dalil tentang salat sunah bagi laki-laki lebih baik di rumah.[3] Beliau tidak keluar mengimami mereka.[4]  Maksud: al-mar’u dalam hadis di atas adalah seorang laki-laki. Berdasarkan hadis tentang salat wanita itu lebih utama di rumahnya, baik salat sunah maupun salat wajib lima waktu. Wallahu a’lam.[5] Berdasarkan dalil-dalil lainnya, maka maksud hadis ini adalah salat sunah yang disyariatkan dilakukan di masjid dan di rumah sekaligus. Jenis salat seperti inilah yang lebih utama dikerjakan di rumah. Dengan demikian, dikecualikan dari kandungan hadis ini adalah jenis salat sunah yang disyariatkan dilakukan hanya di masjid (salat Tahiyyatul Masjid) dan salat sunah yang disyariatkan berjemaah di masjid (salat tarawih, salat istisqa’, salat gerhana, salat Idul Fithri dan Adha saat hujan). Wallahu a’lam.[6] Kisah lengkapnya ada dalam Shahihul Bukhari.[7] Maksudnya, sebelum disertakan lafaz pengecualian, “kecuali salat wajib (lima waktu).”[8] Maksudnya: pria (untuk salat sunah) dan wanita lebih utama salat di rumah atau hotel daripada salat di ketiga masjid tersebut. Wallahu a’lam.[9] Dibandingkan dengan salat di masjid selainnya yang tidak memiliki keutamaan pahala khusus. Karena apabila dibandingkan dengan salat di masjid yang ada keutamaan pahala khususnya, maka perbandingannya sesuai dengan keutamaannya yang terdapat dalam dalil. Contohnya dalam hadis yang sahih bahwa keutamaan salat di Masjidilharam itu seratus kali lipat salat di Masjid An-Nabawi. Wallahu a’lam[10] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[11] Ruangan yang lebih terbuka di dalam rumah, lihat perbedaan bait, hujrah, dan dar di https://irtaqi.net/2020/06/28/apa-bedanya-dar-hujrah-dan-bait/[12] Silahkan mendengarkan rekaman suara fatwa ini: http://www.albaidha.net/vb/attachmen…8&d=1435230130Tags: HajihotelmakkahsalatumrohWanita


Bismillah.Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,Syekh Al-Albani rahimahullah pernah berfatwa dengan fatwa sebagai berikut: [1]Pertanyaan:Seorang wanita bertanya, “Dalam hadis,صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في المسجد‘Salat seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada salatnya di masjid.’Apabila seorang wanita sedang berada di Makkah, apakah salatnya di hotel lebih baik daripada salat di Masjidilharam?”Jawaban Syekh Al-Albani rahimahullah:Jelas, tentulah! Yakni, salat wanita di mana pun ia berada, di negeri mana pun ia singgah, meskipun ia sedang di Makkah, atau di Madinah, atau di Baitul Maqdis, maka salatnya di tempat tinggalnya (termasuk rumah atau hotel, pent.) lebih utama daripada di masjid.Demikian pula bagi seorang laki-laki, apabila terkait dengan salat sunah, maka lebih utama ia salat sunah di rumahnya. Dan (yang lebih utama) bukan di masjid, meskipun itu di Masjidilharam. Hal ini berdasarkan dua dalil [2] berikut ini:Dalil pertama (dalil umum): Keumuman sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam  dalam kisah salat tarawih di bulan Ramadan. Saat beliau ‘alaihish shalatu wassalam mengimami orang-orang pada malam pertama, kedua, dan ketiga dengan kisah rinci yang sudah diketahui (dalam versi kisah lengkapnya, pent). Lalu, mereka berkumpul pada malam yang keempat, namun Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam tidaklah keluar mengimami, sampai sebagian orang yang lalai melempar beberapa kerikil ke pintu beliau. Kemudian beliau keluar menemui mereka sambil marah. Beliau pun bersabda kepada mereka,إنه لم يخفَ عليَّ مكانكم هذا ، وعمدًا فعلت ذلك ، فصلوا – أيها الناس – في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Bahwa aku sebenarnya tahu kehadiran kalian (di masjid untuk salat bersamaku), dan sengaja aku lakukan ini [3]. Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki [4] yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu) [5].” [6]Maka, sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).” Ini mencakup seluruh salat sunah dan mencakup seluruh salat wajib juga. [7]Ini dalil pertama, dan sebagaimana telah kami sebutkan di awal jawaban bahwa ini berarti berdalil dengan dalil umum,فصلوا أيها الناس في بيوتكم ؛ فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Wahai manusia, salatlah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya salat seorang laki-laki yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Baca juga: Perbedaan antara Salat Wajib dan Salat SunahDalil kedua (dalil khusus): Dalil khusus ketika datang seorang sahabat di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya dengan pertanyaan semisal pertanyaan di atas:“Apakah saya salat sunah di masjid atau di rumah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidakkah engkau tahu betapa dekatnya rumahku dengan masjidku?” Ia pun menjawab : “Ya.” Beliau bersabda,فأفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة“Salat seorang laki-laki  yang paling utama itu di rumahnya, kecuali salat wajib (lima waktu).”Setelah kita mengetahui jawaban terkait dengan salat wanita (di hotel) tersebut. Dan kami telah tambahkan jawaban tentang masalah yang terkadang terbetik pada benak sebagian manusia, terkait dengan salat sunah bagi laki-laki. (Maka di sini perlu) saya tekankan tentang orang yang sedang berada di masjid-masjid yang memiliki keutamaan khusus, seperti Masjidilharam, Masjid An-Nabawi, dan Masjidilaqsa. Bahwa salat wajib wanita di rumahnya dan salat sunah laki-laki di rumahnya atau di tempat tinggal mana pun (hotel, dan semisalnya, pent) bukan berarti (keafdalan salat di rumah tersebut) dikecualikan jika dilakukan di Masjidilharam, atau Masjid An-Nabawi, atau Masjidilaqsa. Sehingga (tidaklah berarti) salat sunah pria atau salat wajib wanita itu lebih utama dilakukan di ketiga masjid tersebut (daripada di rumah). [8]Maksudnya begini. Sebagaimana kalian ketahui sabda Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam dalam Shahih Muslim,صلاة في مسجدي هذا بألف صلاة مما سواه من المساجد ؛ إلا المسجد الحرام“Salat di masjidku ini (pahalanya) seribu kali lipat salat di masjid-masjid lainnya, kecuali Masjidilharam.”Dalam hadis lainnya, selain dalam Shahih Muslim, namun hadis ini adalah hadis yang sahih juga, (yaitu) dalam Shahih Ibnu Hibban dan selainnya,والصلاة في مكَّة بمائة ألف صلاة“Salat di (Masjidilharam) Makkah itu (berpahala) seratus ribu kali lipat salat.” [9]Jadi, seorang laki-laki apabila salat sunah di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat. Dan wanita pun apabila salat di Masjidilharam, maka ia dapat pahala seratus ribu kali lipat salat.Akan tetapi, seorang laki-laki jika salat sunah di rumahnya dan wanita apabila salat wajib di rumahnya, maka masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat. (Ya, benar-benar) masing-masing salat tersebut berpahala lebih dari seratus ribu kali lipat salat.Inilah (konsekuensi) makna salat wanita itu lebih utama di rumahnya dan salat sunah laki-laki itu lebih utama di rumahnya. [Selesai Fatwa Syekh Al-Albani rahimahullah. [10]KesimpulanPertama: Salat wanita di rumahnya atau di hotel secara sendirian, atau bersama temannya di apartemen itu lebih baik dan lebih utama dibanding salatnya di Masjidilharam atau Masjid An-Nabawi. Meskipun hukum ia salat di masjid tersebut boleh. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ“Jangan kalian mencegah istri-istri kalian dari minta izin pergi ke masjid, namun (salat di) rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka (daripada di masjid).”(Hadis riwayat Abu Dawud, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud)عن أم حُمَيد امرأة أبي حميد الساعدي رضي الله عنها قالت : ” يا رسول الله : إني أحب الصلاة معك ، قال : ( قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي ، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِيDari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya senang salat bersama Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, ”Saya tahu, engkau senang salat bersamaku, tetapi salatmu di kamar tidurmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di ruang keluargamu. Dan salatmu di ruang keluargamu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di rumahmu [11]. Dan salatmu di rumahmu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjid kaummu. Dan salatmu di masjid kaummu itu lebih baik bagimu dibanding salatmu di masjidku.” (HR. Ahmad, dan Syekh Al-Albani menilai hadis ini hasan dalam Kitab Shahihut Targhib wat-Tarhib)Kedua: Tidak mengapa seorang wanita salat di masjid. Terlebih lagi jika salat di masjid pada kondisi tertentu menyebabkan lebih khusyuk dan lebih semangat dalam beribadah kepada Allah semata, karena adanya gangguan kekhusyukan dan kesempurnaan salat jika dilakukan di rumah, sebagaimana fatwa Samahatul Mufti Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berikut ini:Pertanyaan:“Apa hukum salat tarawih bagi wanita di rumahnya? Dan apakah yang afdal ia salat di rumah atau di masjid?”Beliau menjawab:“Tergantung keadaannya. Jika ia mampu melakukannya di rumah, bisa kosentrasi melakukan salat tersebut dan tidak disibukkan dengan kesibukan, baik berupa mengurus anak atau perkerjaan rumah tangga (lainnya), maka salat di rumahnya lebih utama (afdal). Namun, jika ia memandang bahwa salat di masjid itu (menyebabkan) ia lebih semangat melakukannya karena ia makmum dibelakang seorang imam. Dan lebih semangat baginya dengan menyaksikan para wanita muslimah (lainnya) salat, maka dalam hal ini tidak ada larangannya.” [12]Wallahu a’lamBaca juga: Jangan Tinggalkan Salat***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[2] Maksudnya dalil tentang salat sunah bagi laki-laki lebih baik di rumah.[3] Beliau tidak keluar mengimami mereka.[4]  Maksud: al-mar’u dalam hadis di atas adalah seorang laki-laki. Berdasarkan hadis tentang salat wanita itu lebih utama di rumahnya, baik salat sunah maupun salat wajib lima waktu. Wallahu a’lam.[5] Berdasarkan dalil-dalil lainnya, maka maksud hadis ini adalah salat sunah yang disyariatkan dilakukan di masjid dan di rumah sekaligus. Jenis salat seperti inilah yang lebih utama dikerjakan di rumah. Dengan demikian, dikecualikan dari kandungan hadis ini adalah jenis salat sunah yang disyariatkan dilakukan hanya di masjid (salat Tahiyyatul Masjid) dan salat sunah yang disyariatkan berjemaah di masjid (salat tarawih, salat istisqa’, salat gerhana, salat Idul Fithri dan Adha saat hujan). Wallahu a’lam.[6] Kisah lengkapnya ada dalam Shahihul Bukhari.[7] Maksudnya, sebelum disertakan lafaz pengecualian, “kecuali salat wajib (lima waktu).”[8] Maksudnya: pria (untuk salat sunah) dan wanita lebih utama salat di rumah atau hotel daripada salat di ketiga masjid tersebut. Wallahu a’lam.[9] Dibandingkan dengan salat di masjid selainnya yang tidak memiliki keutamaan pahala khusus. Karena apabila dibandingkan dengan salat di masjid yang ada keutamaan pahala khususnya, maka perbandingannya sesuai dengan keutamaannya yang terdapat dalam dalil. Contohnya dalam hadis yang sahih bahwa keutamaan salat di Masjidilharam itu seratus kali lipat salat di Masjid An-Nabawi. Wallahu a’lam[10] https://www.al-albany.com/audios/content/3828/[11] Ruangan yang lebih terbuka di dalam rumah, lihat perbedaan bait, hujrah, dan dar di https://irtaqi.net/2020/06/28/apa-bedanya-dar-hujrah-dan-bait/[12] Silahkan mendengarkan rekaman suara fatwa ini: http://www.albaidha.net/vb/attachmen…8&d=1435230130Tags: HajihotelmakkahsalatumrohWanita

Nasihat Mengesankan Syaikh bin Baz di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Dia berkata, “Adakah nasihatberkenaan dengan datangnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan?” Nasihat untuk diri saya dan Anda,hendaknya kita sungguh-sungguh berdoaagar Allah Memberi kita taufik untuk beramal saleh di dalamnya, karena tidak ada jalan untuk melakukan ketaatan-ketaatan ini,kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Oleh karena itu, sepatutnya di antara doa dari masing-masing kitaadalah memohon Tuhannya agar Menolongnya melakukan ketaatan di malam tersebut, di samping bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebabnya,serta memohon kepada Allah keistikamahandan tambahan kebaikan di malam tersebut. Sungguh, jika sudah tertanam dalam diri seseorangbahwa dalam sepuluh hari tersebut ada sebuah malam yang agung,yakni Lailatul Qadar yang telah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Firmankan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar,dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1 – 3) Artinya bahwa ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu tahunyang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak tahu kapan umurnya berakhirdan barangkali dia tidak berjumpa dengan bulan ini kecuali di tahun ini saja,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mencabut nyawanya. Jika ini sudah tertanam dalam hatinya,niscaya ini menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya untuk beramal salehdalam sepuluh malam terakhir ini. Hendaknya hal ini menjadi motivasi terbesar yang mendorong Andabersemangat dalam kesungguhan beramal di sepuluh malam ini,dengan harapan Anda mendapatkan Lailatul Qadar ini, yang mana Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri bersungguh-sungguh mencarinyadan berwasiat kepada para Sahabat beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam untuk mencarinya, dan menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau,sebagaimana tersebut dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah—semoga Allah Meridainya— “Barang siapa salat saat Lailatul Qadar,niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini,sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah, di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumhilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran ini,dan mengingat-ingat ganjaran ini,serta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā agar Menolong kita beramal saleh,Memudahkan kita menambahnya,dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. Sebagai tambahan nasihat, perlu diperhatikanbahwa seseorang tidak perlu mengikuti informasi tentang mimpi-mimpiyang menyebutkan bahwa tahun iniLailatul Qadar terjadi pada tanggal kesekian atau kesekian. Mimpi-mimpi semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan,kecuali setelah selesainya sepuluh malam ini,sekadar untuk melegakan dan menggembirakan diri. Adapun jika menjadi dasar untuk beramal,maka ini bertentangan dengan perintah syariat,karena mimpi adalah takdir sedangkan hukum adalah syariat,di mana seorang harus beribadah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan takdir. ===== يَقُولُ هَلْ مِنْ نَصِيحَةٍ بِقُدُومِ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ؟ النَّصِيحَةُ لِي وَلَكُمْ أَنْ نَجْتَهِدَ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يُوَفِّقَنَا اللهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيهَا فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْقِيَامِ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ إِلَّا بِالْاِسْتِعَانَةِ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ دُعَاءِ أَحَدِنَا سُؤَالَ رَبِّهِ أَنْ يُعِينَهُ عَلَى الطَّاعَةِ فِيهَا مَعَ الْاِجْتِهَادِ عَلَى بَذْلِ الْأَسْبَابِ فِي ذَلِكَ وَسُؤَالِ اللهِ الثَّبَاتَ وَالزِّيَادَةَ مِنَ الْخَيْرِ فِيهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا حَقَّقَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ هَذِهِ الْعَشْرَ فِيهَا لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيهَا إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ أَيْ الْعِبَادَةُ فِيهَا خَيرٌ مِنْ عِبَادِةِ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ثُمَّ رَأَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مُنْتَهَى عُمُرِهِ وَأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يُدْرِكُ إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَقَرَ هَذَا فِي قَلْبِهِ كَانَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُوقُهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَلْيَكُنْ هَذَا الْحَادِي أَعْظَمَ حَادٍ يَسُوقُكَ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِجْتِهَادِ فِي الْعَمَلِ فِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ رَجَاءً أَنْ تُصِيبَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْتِمَاسِهَا وَيُوصِي أَصْحَابَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْتِمَاسِهَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ فَضْلَهَا فَيَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا وَمِمَّا يُنَبَّهُ إِلَيْهِ بَسْطًا فِي النُّصْحِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوِّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى تِطْلَابِ الرُّؤَى الْمَنَامِيَّةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا أَنَّ هَذِهِ السَّنَةَ تَكُونَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَذَا وَكَذَا أَوْ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ لَا يُعَوَّلُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْمَرَائِيِّ إِلَّا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ وَتَكُونُ لِلْاِسْتِئْنَاسِ وَالْفَرَحِ أَمَّا أَنْ تَكُونَ أَصْلًا لِلْعَمَلِ فَهَذَا يُخَالِفُ أَمْرَ الشَّرْعِ لِأَنَّ الرُّؤَى قَدَرِيَّةٌ وَالْأَحْكَامُ شَرْعِيَّةٌ وَالْعَبْدُ مُتَعَبَّدٌ بِالشَّرْعِ لَا بِالْقَدَرِ

Nasihat Mengesankan Syaikh bin Baz di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Dia berkata, “Adakah nasihatberkenaan dengan datangnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan?” Nasihat untuk diri saya dan Anda,hendaknya kita sungguh-sungguh berdoaagar Allah Memberi kita taufik untuk beramal saleh di dalamnya, karena tidak ada jalan untuk melakukan ketaatan-ketaatan ini,kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Oleh karena itu, sepatutnya di antara doa dari masing-masing kitaadalah memohon Tuhannya agar Menolongnya melakukan ketaatan di malam tersebut, di samping bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebabnya,serta memohon kepada Allah keistikamahandan tambahan kebaikan di malam tersebut. Sungguh, jika sudah tertanam dalam diri seseorangbahwa dalam sepuluh hari tersebut ada sebuah malam yang agung,yakni Lailatul Qadar yang telah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Firmankan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar,dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1 – 3) Artinya bahwa ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu tahunyang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak tahu kapan umurnya berakhirdan barangkali dia tidak berjumpa dengan bulan ini kecuali di tahun ini saja,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mencabut nyawanya. Jika ini sudah tertanam dalam hatinya,niscaya ini menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya untuk beramal salehdalam sepuluh malam terakhir ini. Hendaknya hal ini menjadi motivasi terbesar yang mendorong Andabersemangat dalam kesungguhan beramal di sepuluh malam ini,dengan harapan Anda mendapatkan Lailatul Qadar ini, yang mana Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri bersungguh-sungguh mencarinyadan berwasiat kepada para Sahabat beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam untuk mencarinya, dan menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau,sebagaimana tersebut dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah—semoga Allah Meridainya— “Barang siapa salat saat Lailatul Qadar,niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini,sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah, di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumhilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran ini,dan mengingat-ingat ganjaran ini,serta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā agar Menolong kita beramal saleh,Memudahkan kita menambahnya,dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. Sebagai tambahan nasihat, perlu diperhatikanbahwa seseorang tidak perlu mengikuti informasi tentang mimpi-mimpiyang menyebutkan bahwa tahun iniLailatul Qadar terjadi pada tanggal kesekian atau kesekian. Mimpi-mimpi semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan,kecuali setelah selesainya sepuluh malam ini,sekadar untuk melegakan dan menggembirakan diri. Adapun jika menjadi dasar untuk beramal,maka ini bertentangan dengan perintah syariat,karena mimpi adalah takdir sedangkan hukum adalah syariat,di mana seorang harus beribadah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan takdir. ===== يَقُولُ هَلْ مِنْ نَصِيحَةٍ بِقُدُومِ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ؟ النَّصِيحَةُ لِي وَلَكُمْ أَنْ نَجْتَهِدَ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يُوَفِّقَنَا اللهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيهَا فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْقِيَامِ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ إِلَّا بِالْاِسْتِعَانَةِ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ دُعَاءِ أَحَدِنَا سُؤَالَ رَبِّهِ أَنْ يُعِينَهُ عَلَى الطَّاعَةِ فِيهَا مَعَ الْاِجْتِهَادِ عَلَى بَذْلِ الْأَسْبَابِ فِي ذَلِكَ وَسُؤَالِ اللهِ الثَّبَاتَ وَالزِّيَادَةَ مِنَ الْخَيْرِ فِيهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا حَقَّقَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ هَذِهِ الْعَشْرَ فِيهَا لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيهَا إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ أَيْ الْعِبَادَةُ فِيهَا خَيرٌ مِنْ عِبَادِةِ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ثُمَّ رَأَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مُنْتَهَى عُمُرِهِ وَأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يُدْرِكُ إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَقَرَ هَذَا فِي قَلْبِهِ كَانَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُوقُهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَلْيَكُنْ هَذَا الْحَادِي أَعْظَمَ حَادٍ يَسُوقُكَ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِجْتِهَادِ فِي الْعَمَلِ فِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ رَجَاءً أَنْ تُصِيبَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْتِمَاسِهَا وَيُوصِي أَصْحَابَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْتِمَاسِهَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ فَضْلَهَا فَيَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا وَمِمَّا يُنَبَّهُ إِلَيْهِ بَسْطًا فِي النُّصْحِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوِّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى تِطْلَابِ الرُّؤَى الْمَنَامِيَّةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا أَنَّ هَذِهِ السَّنَةَ تَكُونَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَذَا وَكَذَا أَوْ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ لَا يُعَوَّلُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْمَرَائِيِّ إِلَّا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ وَتَكُونُ لِلْاِسْتِئْنَاسِ وَالْفَرَحِ أَمَّا أَنْ تَكُونَ أَصْلًا لِلْعَمَلِ فَهَذَا يُخَالِفُ أَمْرَ الشَّرْعِ لِأَنَّ الرُّؤَى قَدَرِيَّةٌ وَالْأَحْكَامُ شَرْعِيَّةٌ وَالْعَبْدُ مُتَعَبَّدٌ بِالشَّرْعِ لَا بِالْقَدَرِ
Dia berkata, “Adakah nasihatberkenaan dengan datangnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan?” Nasihat untuk diri saya dan Anda,hendaknya kita sungguh-sungguh berdoaagar Allah Memberi kita taufik untuk beramal saleh di dalamnya, karena tidak ada jalan untuk melakukan ketaatan-ketaatan ini,kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Oleh karena itu, sepatutnya di antara doa dari masing-masing kitaadalah memohon Tuhannya agar Menolongnya melakukan ketaatan di malam tersebut, di samping bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebabnya,serta memohon kepada Allah keistikamahandan tambahan kebaikan di malam tersebut. Sungguh, jika sudah tertanam dalam diri seseorangbahwa dalam sepuluh hari tersebut ada sebuah malam yang agung,yakni Lailatul Qadar yang telah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Firmankan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar,dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1 – 3) Artinya bahwa ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu tahunyang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak tahu kapan umurnya berakhirdan barangkali dia tidak berjumpa dengan bulan ini kecuali di tahun ini saja,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mencabut nyawanya. Jika ini sudah tertanam dalam hatinya,niscaya ini menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya untuk beramal salehdalam sepuluh malam terakhir ini. Hendaknya hal ini menjadi motivasi terbesar yang mendorong Andabersemangat dalam kesungguhan beramal di sepuluh malam ini,dengan harapan Anda mendapatkan Lailatul Qadar ini, yang mana Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri bersungguh-sungguh mencarinyadan berwasiat kepada para Sahabat beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam untuk mencarinya, dan menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau,sebagaimana tersebut dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah—semoga Allah Meridainya— “Barang siapa salat saat Lailatul Qadar,niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini,sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah, di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumhilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran ini,dan mengingat-ingat ganjaran ini,serta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā agar Menolong kita beramal saleh,Memudahkan kita menambahnya,dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. Sebagai tambahan nasihat, perlu diperhatikanbahwa seseorang tidak perlu mengikuti informasi tentang mimpi-mimpiyang menyebutkan bahwa tahun iniLailatul Qadar terjadi pada tanggal kesekian atau kesekian. Mimpi-mimpi semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan,kecuali setelah selesainya sepuluh malam ini,sekadar untuk melegakan dan menggembirakan diri. Adapun jika menjadi dasar untuk beramal,maka ini bertentangan dengan perintah syariat,karena mimpi adalah takdir sedangkan hukum adalah syariat,di mana seorang harus beribadah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan takdir. ===== يَقُولُ هَلْ مِنْ نَصِيحَةٍ بِقُدُومِ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ؟ النَّصِيحَةُ لِي وَلَكُمْ أَنْ نَجْتَهِدَ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يُوَفِّقَنَا اللهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيهَا فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْقِيَامِ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ إِلَّا بِالْاِسْتِعَانَةِ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ دُعَاءِ أَحَدِنَا سُؤَالَ رَبِّهِ أَنْ يُعِينَهُ عَلَى الطَّاعَةِ فِيهَا مَعَ الْاِجْتِهَادِ عَلَى بَذْلِ الْأَسْبَابِ فِي ذَلِكَ وَسُؤَالِ اللهِ الثَّبَاتَ وَالزِّيَادَةَ مِنَ الْخَيْرِ فِيهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا حَقَّقَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ هَذِهِ الْعَشْرَ فِيهَا لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيهَا إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ أَيْ الْعِبَادَةُ فِيهَا خَيرٌ مِنْ عِبَادِةِ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ثُمَّ رَأَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مُنْتَهَى عُمُرِهِ وَأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يُدْرِكُ إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَقَرَ هَذَا فِي قَلْبِهِ كَانَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُوقُهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَلْيَكُنْ هَذَا الْحَادِي أَعْظَمَ حَادٍ يَسُوقُكَ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِجْتِهَادِ فِي الْعَمَلِ فِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ رَجَاءً أَنْ تُصِيبَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْتِمَاسِهَا وَيُوصِي أَصْحَابَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْتِمَاسِهَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ فَضْلَهَا فَيَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا وَمِمَّا يُنَبَّهُ إِلَيْهِ بَسْطًا فِي النُّصْحِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوِّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى تِطْلَابِ الرُّؤَى الْمَنَامِيَّةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا أَنَّ هَذِهِ السَّنَةَ تَكُونَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَذَا وَكَذَا أَوْ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ لَا يُعَوَّلُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْمَرَائِيِّ إِلَّا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ وَتَكُونُ لِلْاِسْتِئْنَاسِ وَالْفَرَحِ أَمَّا أَنْ تَكُونَ أَصْلًا لِلْعَمَلِ فَهَذَا يُخَالِفُ أَمْرَ الشَّرْعِ لِأَنَّ الرُّؤَى قَدَرِيَّةٌ وَالْأَحْكَامُ شَرْعِيَّةٌ وَالْعَبْدُ مُتَعَبَّدٌ بِالشَّرْعِ لَا بِالْقَدَرِ


Dia berkata, “Adakah nasihatberkenaan dengan datangnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan?” Nasihat untuk diri saya dan Anda,hendaknya kita sungguh-sungguh berdoaagar Allah Memberi kita taufik untuk beramal saleh di dalamnya, karena tidak ada jalan untuk melakukan ketaatan-ketaatan ini,kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā. Oleh karena itu, sepatutnya di antara doa dari masing-masing kitaadalah memohon Tuhannya agar Menolongnya melakukan ketaatan di malam tersebut, di samping bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebabnya,serta memohon kepada Allah keistikamahandan tambahan kebaikan di malam tersebut. Sungguh, jika sudah tertanam dalam diri seseorangbahwa dalam sepuluh hari tersebut ada sebuah malam yang agung,yakni Lailatul Qadar yang telah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Firmankan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadar,dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu?Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1 – 3) Artinya bahwa ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu tahunyang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak tahu kapan umurnya berakhirdan barangkali dia tidak berjumpa dengan bulan ini kecuali di tahun ini saja,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mencabut nyawanya. Jika ini sudah tertanam dalam hatinya,niscaya ini menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya untuk beramal salehdalam sepuluh malam terakhir ini. Hendaknya hal ini menjadi motivasi terbesar yang mendorong Andabersemangat dalam kesungguhan beramal di sepuluh malam ini,dengan harapan Anda mendapatkan Lailatul Qadar ini, yang mana Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri bersungguh-sungguh mencarinyadan berwasiat kepada para Sahabat beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam untuk mencarinya, dan menjelaskan keutamaannya dengan sabda beliau,sebagaimana tersebut dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah—semoga Allah Meridainya— “Barang siapa salat saat Lailatul Qadar,niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini,sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah, di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumhilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran ini,dan mengingat-ingat ganjaran ini,serta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā agar Menolong kita beramal saleh,Memudahkan kita menambahnya,dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. Sebagai tambahan nasihat, perlu diperhatikanbahwa seseorang tidak perlu mengikuti informasi tentang mimpi-mimpiyang menyebutkan bahwa tahun iniLailatul Qadar terjadi pada tanggal kesekian atau kesekian. Mimpi-mimpi semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan,kecuali setelah selesainya sepuluh malam ini,sekadar untuk melegakan dan menggembirakan diri. Adapun jika menjadi dasar untuk beramal,maka ini bertentangan dengan perintah syariat,karena mimpi adalah takdir sedangkan hukum adalah syariat,di mana seorang harus beribadah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan takdir. ===== يَقُولُ هَلْ مِنْ نَصِيحَةٍ بِقُدُومِ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ؟ النَّصِيحَةُ لِي وَلَكُمْ أَنْ نَجْتَهِدَ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يُوَفِّقَنَا اللهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيهَا فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْقِيَامِ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ إِلَّا بِالْاِسْتِعَانَةِ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ دُعَاءِ أَحَدِنَا سُؤَالَ رَبِّهِ أَنْ يُعِينَهُ عَلَى الطَّاعَةِ فِيهَا مَعَ الْاِجْتِهَادِ عَلَى بَذْلِ الْأَسْبَابِ فِي ذَلِكَ وَسُؤَالِ اللهِ الثَّبَاتَ وَالزِّيَادَةَ مِنَ الْخَيْرِ فِيهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا حَقَّقَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ هَذِهِ الْعَشْرَ فِيهَا لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيهَا إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ أَيْ الْعِبَادَةُ فِيهَا خَيرٌ مِنْ عِبَادِةِ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ثُمَّ رَأَى أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مُنْتَهَى عُمُرِهِ وَأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يُدْرِكُ إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَقَرَ هَذَا فِي قَلْبِهِ كَانَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُوقُهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَلْيَكُنْ هَذَا الْحَادِي أَعْظَمَ حَادٍ يَسُوقُكَ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِجْتِهَادِ فِي الْعَمَلِ فِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ رَجَاءً أَنْ تُصِيبَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْتِمَاسِهَا وَيُوصِي أَصْحَابَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْتِمَاسِهَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ فَضْلَهَا فَيَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا وَمِمَّا يُنَبَّهُ إِلَيْهِ بَسْطًا فِي النُّصْحِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوِّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى تِطْلَابِ الرُّؤَى الْمَنَامِيَّةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا أَنَّ هَذِهِ السَّنَةَ تَكُونَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ كَذَا وَكَذَا أَوْ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ لَا يُعَوَّلُ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْمَرَائِيِّ إِلَّا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ وَتَكُونُ لِلْاِسْتِئْنَاسِ وَالْفَرَحِ أَمَّا أَنْ تَكُونَ أَصْلًا لِلْعَمَلِ فَهَذَا يُخَالِفُ أَمْرَ الشَّرْعِ لِأَنَّ الرُّؤَى قَدَرِيَّةٌ وَالْأَحْكَامُ شَرْعِيَّةٌ وَالْعَبْدُ مُتَعَبَّدٌ بِالشَّرْعِ لَا بِالْقَدَرِ

Tiga Wasiat bagi Mereka yang Hendak atau Sedang Beriktikaf

Setidaknya ada tiga wasiat berharga yang diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah kepada mereka yang hendak atau sedang melakukan iktikaf di bulan Ramadan yang mulia ini.Daftar Isi Yang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailYang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanYang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.“Barangsiapa menghidupkan (salat) malam pada bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Maksudnya adalah menghidupkan malam-malam di bulan Ramadan dengan dipenuhi rasa percaya akan adanya balasan kebaikan dan ancaman pada perintah-perintah Allah Ta’ala. Mengerjakan amal-amal di malam tersebut dengan mengharap rahmat Allah Ta’ala. Apa keutamaannya? Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.Saat engkau keluar dari rumah, baik itu dengan niat beriktikaf ataupun untuk meramaikan dan memakmurkan masjid dengan ikut serta dalam pelaksanaan salat malam dan tarawih, maka keluarlah dengan keadaan tidak ada di hati kalian, melainkan Allah Ta’ala. Keluarlah dengan penuh pengharapan akan rahmat-Nya. Sungguh, ketika engkau keluar dalam kondisi seperti ini, maka tidaklah engkau mengangkat kakimu, kecuali akan diangkat derajatmu beberapa derajat. Dan tidaklah engkau menjejakkan kakimu, kecuali dihapus darimu keburukan dan kejelekan-kejelekan.Keluarlah dengan keadaan engkau tidak berniat untuk riya’ ataupun sum’ah sama sekali. Karena Allah Ta’ala memberikan balasan kepada seorang hamba sesuai dengan kadar keikhlasannya. Sungguh merupakan kerugian bagi siapapun yang tidak bisa ikhlas dalam qiyamullail-nya. Betapa banyak kaki yang pegal dan bengkak karena lamanya berdiri di tengah malam untuk salat malam, namun tidak ada yang didapatkannya melainkan rasa capek dan lelah saja.Lalu, hal apa yang bisa menyelamatkan seorang hamba dari bahaya riya’ ini?Saudaraku, berusahalah untuk senantiasa ikhlas. Camkan dalam hatimu bahwa engkau butuh rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Keluarlah dari rumah dengan keadaan engkau merasa bahwa di hari kiamat nanti engkau butuh dengan langkah-langkah yang engkau pijakkan untuk menuju masjid ini. Saat berdiri dan bersujud, ingatlah bahwa engkau akan butuh rakaat-rakaat dan sujud-sujud tersebut saat -wal ‘iyadzhu billah- kuburanmu menjadi sempit.Sungguh, siapapun yang keluar dari rumahnya sedang hatinya telah dipenuhi dengan keikhlasan, maka akan Allah tanamkan di hatinya rasa manis dan ketenangan dalam membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Engkau akan dapati bahwa diri kita akan  menjadi khusyuk dan penuh dengan ketundukan kepada Allah Ta’ala.Seorang hamba tidaklah keluar dari rumahnya untuk beribadah ikhlas karena Allah Ta’ala, melainkan ia akan senantiasa mendapatkan taufik dan petunjuk dalam setiap gerak-gerik ibadahnya.Baca juga: Bagaimana Saya Bisa Ikhlas di Setiap Amal?Yang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahSaudaraku, jangan sampai amalan yang hukumnya sunah melalaikan dirimu dari amalan yang hukumnya wajib. Sesungguhnya cerdasnya kita dalam mengatur skala prioritas dalam beribadah termasuk salah satu sebab mendapatkan keridaan Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala tidak ingin ditaati apabila di dalamnya terdapat kemaksiatan kepada-Nya.Jika kegiatan iktikaf kita bertabrakan dengan berbakti kepada orang tua, bertabrakan dengan pemenuhan hak anak-anak, atau membuat istri melakukan hal-hal yang diharamkan, maka dahulukanlah perkara-perkara yang Allah perintahkan untuk didahulukan. Jangan khawatir terlewat dari keutamaan iktikaf, karena Allah Ta’ala pasti akan memberikanmu pahala sejauh niatan yang engkau niatkan, meskipun engkau tidak jadi melakukannya.Di dalam hadis yang sahih, Allah Ta’ala berfirman,وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه“Tidak ada amal saleh yang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal saleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam).” (HR. Bukhari no. 6502)Jika orang tuamu memintamu untuk datang dan berbakti kepadanya, maka dahulukanlah berbakti kepada keduanya daripada beriktikaf. Karena dekat dengan orang tua dan memenuhi panggilannya lebih mulia dan lebih utama daripada beriktikaf, meskipun iktikaf tersebut dilakukan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan ada seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata,يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم قالَ ارجَع فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ منَ الجانبِ الآخَرِ فقلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرَةَ قالَ وَيحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قلتُ نعَم يا رسولَ اللَّهِ قالَ فارجِع إليْها فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ من أمامِهِ فقُلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم يا رَسولَ اللَّهِ قالَ ويحَكَ الزَم رِجلَها فثمَّ الجنَّةُ“’Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari sisi yang lain. Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah! Aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatanginya dari sisi depan, aku katakan; ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya! Wahai Rasulullah!’ Rasulullah bersabda, ‘Celakalah kau! Tetaplah berada pada kedua kakinya dan di situlah terdapat surga.’” (HR. Ibnu Majah no. 2259)Wahai mereka yang mendambakan surga Allah Ta’ala! Wahai mereka yang menginginkan kesuksesan dengan mendapatkan kasih sayang Allah Ta’ala! Berbaktilah kepada kedua orang tuamu! Berbuat baiklah kepada keduanya! Hiduplah di tengah mereka! Berkatalah dengan lembut dan baik kepada keduanya! Sungguh, engkau akan mendapatkan kemuliaan dari Allah karenanya.Saudaraku, tidak mengherankan bila ada sebagian manusia yang beriktikaf, rajin beribadah, namun hatinya tetap keras. Al-Qur’an tidak membekas di hatinya. Hidupnya kacau balau. Kesemuanya itu bisa jadi karena buruknya dia dalam mengatur skala prioritas ketika beribadah. Berusahalah wahai saudaraku untuk mendahulukan dan mengutamakan amal ibadah wajib dari yang selainnya.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam BeramalKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanSaat engkau masuk ke masjid, maka masuklah dengan memberikan semua hak-hak masjid yang ada. Baik itu dengan fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Ataupun memaksimalkan waktu untuk melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi hal-hal terlarang ataupun sia-sia.Ingatlah bahwa diri kita ini sedang meninggalkan keluarga. Kita meninggalkan juga kumpul-kumpul dan canda tawa bersama sanak kerabat. Kesemuanya itu demi mengharap rahmat, ampunan, dan kecintaan Allah Ta’ala. Kesemuanya itu agar engkau bisa fokus beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai engkau hancurkan hal tersebut dengan banyak mengobrol. Engkau memindahkan obrolan dan tongkrongan yang biasa dilakukan di luar masjid ke dalam masjid. Atau bahkan, canda tawa, senda gurau berlebihan yang sampai pada tahap saling ejek dan menggunjing?!Sungguh duduknya mereka yang melakukan semua itu di rumahnya lebih baik dari melakukannya di masjid. Karena perbuatannya tersebut akan membahayakan dirinya sendiri dan mengganggu orang lain.Betapa banyak, orang yang ingin fokus beribadah menjadi terganggu karena adanya hal-hal seperti ini. Tidak jenak dalam beribadah karena kegaduhan dan keributan yang terjadi di dalam masjid. Iktikaf macam apa yang pada akhirnya mengganggu orang lain?!Syekh Muhammad Al-Amiin As-Syinqithi rahimahullah lalu menyebutkan sebuah kisah,“Aku pernah menyaksikan sendiri orang-orang saleh (saat itu aku masih kanak-kanak). Saat mereka masuk ke masjid Nabawi untuk beriktikaf, mereka berjalan dengan keadaan mata mereka selalu menunduk mengarah ke kaki. Lalu jika aku datangi mereka, mereka sedang mendirikan salat dengan ditutupi oleh tirai-tirai. Di waktu itulah aku dapati kelezatan. Bacaan Qur’an mereka terdengar. Isak tangis mereka pecah karena rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala. Kami saat itu masih kecil. Kami datang kepada mereka di antara kain-kain yang mereka jadikan pembatas dan tenda. Terdengar salah seorang dari mereka berucap, “Astaghfirullah.” (Aku memohon ampunan kepadamu ya Allah), dalam keadaan ia dipenuhi dengan rintihan dan tangisan. Sungguh apa yang aku dengar dari ucapan-ucapan mereka merupakan hal terindah yang pernah kudengar.”Ke manakah perginya orang-orang yang jujur dalam ibadahnya?! Ke manakah perginya orang-orang yang beriktikaf, lalu saat malam datang menjelang dahi-dahi mereka membekas karena banyaknya sujud yang mereka lakukan?! Ke manakah perginya mereka yang malam-malamnya dipenuhi dengan bermunajat dan beribadah kepada Allah Ta’ala?! Sungguh, telah hilang manisnya beribadah dan beriktikaf karena waktu-waktu yang ada justru dipenuhi dengan obrolan sia-sia dan tidak ada manfaatnya.Marilah saudaraku, berkacalah dan ikutilah petunjuk dan tata cara beribadah yang sudah dicontohkan para salaf terdahulu. Sungguh iktikaf adalah madrasah yang melatih seseorang untuk terbiasa berduaan dengan Allah Ta’ala saja. Jikalau bukan seperti itu, lalu untuk apa seseorang meninggalkan rumah dan keluarga yang di dalamnya ia memiliki hak-hak dan kewajiban?Lihatlah bagaimana semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beriktikaf. Beliau kencangkan sarung beliau. Beliau bangunkan semua keluarga beliau. Beliau hidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Kesemuanya itu karena besarnya keutamaan beriktikaf dan beribadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, serta besarnya keutamaan beribadah di dalam masjid.Sebagian ulama saat menafsirkan firman Allah Ta’ala,وَالْفَجْرِۙ * وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“Demi fajar, demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)Mereka berkata, “Malam yang sepuluh itu adalah sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Allah Ta’ala bersumpah dengannya di dalam kitab-Nya untuk mengingatkan akan besarnya keagungan sepuluh malam terakhir tersebut.”Berusahalah untuk jujur dalam iktikaf yang kita lakukan. Isilah hari-hari iktikaf yang ada dengan amal ibadah dan kebaikan. Jauhkanlah diri ini dari hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Masuklah ke dalam masjid dengan memberikan hak-haknya dan menghormati kedudukannya.Wallahu a’lam bisshwab.Diterjemahkan dari kitab Durusun li As-Syaikh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah dengan beberapa penyesuaian dan penambahan.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas Beribadah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: Iktikafnasihatwasiat

Tiga Wasiat bagi Mereka yang Hendak atau Sedang Beriktikaf

Setidaknya ada tiga wasiat berharga yang diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah kepada mereka yang hendak atau sedang melakukan iktikaf di bulan Ramadan yang mulia ini.Daftar Isi Yang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailYang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanYang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.“Barangsiapa menghidupkan (salat) malam pada bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Maksudnya adalah menghidupkan malam-malam di bulan Ramadan dengan dipenuhi rasa percaya akan adanya balasan kebaikan dan ancaman pada perintah-perintah Allah Ta’ala. Mengerjakan amal-amal di malam tersebut dengan mengharap rahmat Allah Ta’ala. Apa keutamaannya? Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.Saat engkau keluar dari rumah, baik itu dengan niat beriktikaf ataupun untuk meramaikan dan memakmurkan masjid dengan ikut serta dalam pelaksanaan salat malam dan tarawih, maka keluarlah dengan keadaan tidak ada di hati kalian, melainkan Allah Ta’ala. Keluarlah dengan penuh pengharapan akan rahmat-Nya. Sungguh, ketika engkau keluar dalam kondisi seperti ini, maka tidaklah engkau mengangkat kakimu, kecuali akan diangkat derajatmu beberapa derajat. Dan tidaklah engkau menjejakkan kakimu, kecuali dihapus darimu keburukan dan kejelekan-kejelekan.Keluarlah dengan keadaan engkau tidak berniat untuk riya’ ataupun sum’ah sama sekali. Karena Allah Ta’ala memberikan balasan kepada seorang hamba sesuai dengan kadar keikhlasannya. Sungguh merupakan kerugian bagi siapapun yang tidak bisa ikhlas dalam qiyamullail-nya. Betapa banyak kaki yang pegal dan bengkak karena lamanya berdiri di tengah malam untuk salat malam, namun tidak ada yang didapatkannya melainkan rasa capek dan lelah saja.Lalu, hal apa yang bisa menyelamatkan seorang hamba dari bahaya riya’ ini?Saudaraku, berusahalah untuk senantiasa ikhlas. Camkan dalam hatimu bahwa engkau butuh rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Keluarlah dari rumah dengan keadaan engkau merasa bahwa di hari kiamat nanti engkau butuh dengan langkah-langkah yang engkau pijakkan untuk menuju masjid ini. Saat berdiri dan bersujud, ingatlah bahwa engkau akan butuh rakaat-rakaat dan sujud-sujud tersebut saat -wal ‘iyadzhu billah- kuburanmu menjadi sempit.Sungguh, siapapun yang keluar dari rumahnya sedang hatinya telah dipenuhi dengan keikhlasan, maka akan Allah tanamkan di hatinya rasa manis dan ketenangan dalam membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Engkau akan dapati bahwa diri kita akan  menjadi khusyuk dan penuh dengan ketundukan kepada Allah Ta’ala.Seorang hamba tidaklah keluar dari rumahnya untuk beribadah ikhlas karena Allah Ta’ala, melainkan ia akan senantiasa mendapatkan taufik dan petunjuk dalam setiap gerak-gerik ibadahnya.Baca juga: Bagaimana Saya Bisa Ikhlas di Setiap Amal?Yang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahSaudaraku, jangan sampai amalan yang hukumnya sunah melalaikan dirimu dari amalan yang hukumnya wajib. Sesungguhnya cerdasnya kita dalam mengatur skala prioritas dalam beribadah termasuk salah satu sebab mendapatkan keridaan Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala tidak ingin ditaati apabila di dalamnya terdapat kemaksiatan kepada-Nya.Jika kegiatan iktikaf kita bertabrakan dengan berbakti kepada orang tua, bertabrakan dengan pemenuhan hak anak-anak, atau membuat istri melakukan hal-hal yang diharamkan, maka dahulukanlah perkara-perkara yang Allah perintahkan untuk didahulukan. Jangan khawatir terlewat dari keutamaan iktikaf, karena Allah Ta’ala pasti akan memberikanmu pahala sejauh niatan yang engkau niatkan, meskipun engkau tidak jadi melakukannya.Di dalam hadis yang sahih, Allah Ta’ala berfirman,وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه“Tidak ada amal saleh yang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal saleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam).” (HR. Bukhari no. 6502)Jika orang tuamu memintamu untuk datang dan berbakti kepadanya, maka dahulukanlah berbakti kepada keduanya daripada beriktikaf. Karena dekat dengan orang tua dan memenuhi panggilannya lebih mulia dan lebih utama daripada beriktikaf, meskipun iktikaf tersebut dilakukan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan ada seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata,يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم قالَ ارجَع فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ منَ الجانبِ الآخَرِ فقلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرَةَ قالَ وَيحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قلتُ نعَم يا رسولَ اللَّهِ قالَ فارجِع إليْها فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ من أمامِهِ فقُلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم يا رَسولَ اللَّهِ قالَ ويحَكَ الزَم رِجلَها فثمَّ الجنَّةُ“’Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari sisi yang lain. Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah! Aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatanginya dari sisi depan, aku katakan; ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya! Wahai Rasulullah!’ Rasulullah bersabda, ‘Celakalah kau! Tetaplah berada pada kedua kakinya dan di situlah terdapat surga.’” (HR. Ibnu Majah no. 2259)Wahai mereka yang mendambakan surga Allah Ta’ala! Wahai mereka yang menginginkan kesuksesan dengan mendapatkan kasih sayang Allah Ta’ala! Berbaktilah kepada kedua orang tuamu! Berbuat baiklah kepada keduanya! Hiduplah di tengah mereka! Berkatalah dengan lembut dan baik kepada keduanya! Sungguh, engkau akan mendapatkan kemuliaan dari Allah karenanya.Saudaraku, tidak mengherankan bila ada sebagian manusia yang beriktikaf, rajin beribadah, namun hatinya tetap keras. Al-Qur’an tidak membekas di hatinya. Hidupnya kacau balau. Kesemuanya itu bisa jadi karena buruknya dia dalam mengatur skala prioritas ketika beribadah. Berusahalah wahai saudaraku untuk mendahulukan dan mengutamakan amal ibadah wajib dari yang selainnya.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam BeramalKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanSaat engkau masuk ke masjid, maka masuklah dengan memberikan semua hak-hak masjid yang ada. Baik itu dengan fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Ataupun memaksimalkan waktu untuk melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi hal-hal terlarang ataupun sia-sia.Ingatlah bahwa diri kita ini sedang meninggalkan keluarga. Kita meninggalkan juga kumpul-kumpul dan canda tawa bersama sanak kerabat. Kesemuanya itu demi mengharap rahmat, ampunan, dan kecintaan Allah Ta’ala. Kesemuanya itu agar engkau bisa fokus beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai engkau hancurkan hal tersebut dengan banyak mengobrol. Engkau memindahkan obrolan dan tongkrongan yang biasa dilakukan di luar masjid ke dalam masjid. Atau bahkan, canda tawa, senda gurau berlebihan yang sampai pada tahap saling ejek dan menggunjing?!Sungguh duduknya mereka yang melakukan semua itu di rumahnya lebih baik dari melakukannya di masjid. Karena perbuatannya tersebut akan membahayakan dirinya sendiri dan mengganggu orang lain.Betapa banyak, orang yang ingin fokus beribadah menjadi terganggu karena adanya hal-hal seperti ini. Tidak jenak dalam beribadah karena kegaduhan dan keributan yang terjadi di dalam masjid. Iktikaf macam apa yang pada akhirnya mengganggu orang lain?!Syekh Muhammad Al-Amiin As-Syinqithi rahimahullah lalu menyebutkan sebuah kisah,“Aku pernah menyaksikan sendiri orang-orang saleh (saat itu aku masih kanak-kanak). Saat mereka masuk ke masjid Nabawi untuk beriktikaf, mereka berjalan dengan keadaan mata mereka selalu menunduk mengarah ke kaki. Lalu jika aku datangi mereka, mereka sedang mendirikan salat dengan ditutupi oleh tirai-tirai. Di waktu itulah aku dapati kelezatan. Bacaan Qur’an mereka terdengar. Isak tangis mereka pecah karena rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala. Kami saat itu masih kecil. Kami datang kepada mereka di antara kain-kain yang mereka jadikan pembatas dan tenda. Terdengar salah seorang dari mereka berucap, “Astaghfirullah.” (Aku memohon ampunan kepadamu ya Allah), dalam keadaan ia dipenuhi dengan rintihan dan tangisan. Sungguh apa yang aku dengar dari ucapan-ucapan mereka merupakan hal terindah yang pernah kudengar.”Ke manakah perginya orang-orang yang jujur dalam ibadahnya?! Ke manakah perginya orang-orang yang beriktikaf, lalu saat malam datang menjelang dahi-dahi mereka membekas karena banyaknya sujud yang mereka lakukan?! Ke manakah perginya mereka yang malam-malamnya dipenuhi dengan bermunajat dan beribadah kepada Allah Ta’ala?! Sungguh, telah hilang manisnya beribadah dan beriktikaf karena waktu-waktu yang ada justru dipenuhi dengan obrolan sia-sia dan tidak ada manfaatnya.Marilah saudaraku, berkacalah dan ikutilah petunjuk dan tata cara beribadah yang sudah dicontohkan para salaf terdahulu. Sungguh iktikaf adalah madrasah yang melatih seseorang untuk terbiasa berduaan dengan Allah Ta’ala saja. Jikalau bukan seperti itu, lalu untuk apa seseorang meninggalkan rumah dan keluarga yang di dalamnya ia memiliki hak-hak dan kewajiban?Lihatlah bagaimana semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beriktikaf. Beliau kencangkan sarung beliau. Beliau bangunkan semua keluarga beliau. Beliau hidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Kesemuanya itu karena besarnya keutamaan beriktikaf dan beribadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, serta besarnya keutamaan beribadah di dalam masjid.Sebagian ulama saat menafsirkan firman Allah Ta’ala,وَالْفَجْرِۙ * وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“Demi fajar, demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)Mereka berkata, “Malam yang sepuluh itu adalah sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Allah Ta’ala bersumpah dengannya di dalam kitab-Nya untuk mengingatkan akan besarnya keagungan sepuluh malam terakhir tersebut.”Berusahalah untuk jujur dalam iktikaf yang kita lakukan. Isilah hari-hari iktikaf yang ada dengan amal ibadah dan kebaikan. Jauhkanlah diri ini dari hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Masuklah ke dalam masjid dengan memberikan hak-haknya dan menghormati kedudukannya.Wallahu a’lam bisshwab.Diterjemahkan dari kitab Durusun li As-Syaikh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah dengan beberapa penyesuaian dan penambahan.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas Beribadah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: Iktikafnasihatwasiat
Setidaknya ada tiga wasiat berharga yang diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah kepada mereka yang hendak atau sedang melakukan iktikaf di bulan Ramadan yang mulia ini.Daftar Isi Yang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailYang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanYang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.“Barangsiapa menghidupkan (salat) malam pada bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Maksudnya adalah menghidupkan malam-malam di bulan Ramadan dengan dipenuhi rasa percaya akan adanya balasan kebaikan dan ancaman pada perintah-perintah Allah Ta’ala. Mengerjakan amal-amal di malam tersebut dengan mengharap rahmat Allah Ta’ala. Apa keutamaannya? Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.Saat engkau keluar dari rumah, baik itu dengan niat beriktikaf ataupun untuk meramaikan dan memakmurkan masjid dengan ikut serta dalam pelaksanaan salat malam dan tarawih, maka keluarlah dengan keadaan tidak ada di hati kalian, melainkan Allah Ta’ala. Keluarlah dengan penuh pengharapan akan rahmat-Nya. Sungguh, ketika engkau keluar dalam kondisi seperti ini, maka tidaklah engkau mengangkat kakimu, kecuali akan diangkat derajatmu beberapa derajat. Dan tidaklah engkau menjejakkan kakimu, kecuali dihapus darimu keburukan dan kejelekan-kejelekan.Keluarlah dengan keadaan engkau tidak berniat untuk riya’ ataupun sum’ah sama sekali. Karena Allah Ta’ala memberikan balasan kepada seorang hamba sesuai dengan kadar keikhlasannya. Sungguh merupakan kerugian bagi siapapun yang tidak bisa ikhlas dalam qiyamullail-nya. Betapa banyak kaki yang pegal dan bengkak karena lamanya berdiri di tengah malam untuk salat malam, namun tidak ada yang didapatkannya melainkan rasa capek dan lelah saja.Lalu, hal apa yang bisa menyelamatkan seorang hamba dari bahaya riya’ ini?Saudaraku, berusahalah untuk senantiasa ikhlas. Camkan dalam hatimu bahwa engkau butuh rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Keluarlah dari rumah dengan keadaan engkau merasa bahwa di hari kiamat nanti engkau butuh dengan langkah-langkah yang engkau pijakkan untuk menuju masjid ini. Saat berdiri dan bersujud, ingatlah bahwa engkau akan butuh rakaat-rakaat dan sujud-sujud tersebut saat -wal ‘iyadzhu billah- kuburanmu menjadi sempit.Sungguh, siapapun yang keluar dari rumahnya sedang hatinya telah dipenuhi dengan keikhlasan, maka akan Allah tanamkan di hatinya rasa manis dan ketenangan dalam membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Engkau akan dapati bahwa diri kita akan  menjadi khusyuk dan penuh dengan ketundukan kepada Allah Ta’ala.Seorang hamba tidaklah keluar dari rumahnya untuk beribadah ikhlas karena Allah Ta’ala, melainkan ia akan senantiasa mendapatkan taufik dan petunjuk dalam setiap gerak-gerik ibadahnya.Baca juga: Bagaimana Saya Bisa Ikhlas di Setiap Amal?Yang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahSaudaraku, jangan sampai amalan yang hukumnya sunah melalaikan dirimu dari amalan yang hukumnya wajib. Sesungguhnya cerdasnya kita dalam mengatur skala prioritas dalam beribadah termasuk salah satu sebab mendapatkan keridaan Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala tidak ingin ditaati apabila di dalamnya terdapat kemaksiatan kepada-Nya.Jika kegiatan iktikaf kita bertabrakan dengan berbakti kepada orang tua, bertabrakan dengan pemenuhan hak anak-anak, atau membuat istri melakukan hal-hal yang diharamkan, maka dahulukanlah perkara-perkara yang Allah perintahkan untuk didahulukan. Jangan khawatir terlewat dari keutamaan iktikaf, karena Allah Ta’ala pasti akan memberikanmu pahala sejauh niatan yang engkau niatkan, meskipun engkau tidak jadi melakukannya.Di dalam hadis yang sahih, Allah Ta’ala berfirman,وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه“Tidak ada amal saleh yang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal saleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam).” (HR. Bukhari no. 6502)Jika orang tuamu memintamu untuk datang dan berbakti kepadanya, maka dahulukanlah berbakti kepada keduanya daripada beriktikaf. Karena dekat dengan orang tua dan memenuhi panggilannya lebih mulia dan lebih utama daripada beriktikaf, meskipun iktikaf tersebut dilakukan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan ada seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata,يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم قالَ ارجَع فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ منَ الجانبِ الآخَرِ فقلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرَةَ قالَ وَيحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قلتُ نعَم يا رسولَ اللَّهِ قالَ فارجِع إليْها فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ من أمامِهِ فقُلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم يا رَسولَ اللَّهِ قالَ ويحَكَ الزَم رِجلَها فثمَّ الجنَّةُ“’Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari sisi yang lain. Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah! Aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatanginya dari sisi depan, aku katakan; ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya! Wahai Rasulullah!’ Rasulullah bersabda, ‘Celakalah kau! Tetaplah berada pada kedua kakinya dan di situlah terdapat surga.’” (HR. Ibnu Majah no. 2259)Wahai mereka yang mendambakan surga Allah Ta’ala! Wahai mereka yang menginginkan kesuksesan dengan mendapatkan kasih sayang Allah Ta’ala! Berbaktilah kepada kedua orang tuamu! Berbuat baiklah kepada keduanya! Hiduplah di tengah mereka! Berkatalah dengan lembut dan baik kepada keduanya! Sungguh, engkau akan mendapatkan kemuliaan dari Allah karenanya.Saudaraku, tidak mengherankan bila ada sebagian manusia yang beriktikaf, rajin beribadah, namun hatinya tetap keras. Al-Qur’an tidak membekas di hatinya. Hidupnya kacau balau. Kesemuanya itu bisa jadi karena buruknya dia dalam mengatur skala prioritas ketika beribadah. Berusahalah wahai saudaraku untuk mendahulukan dan mengutamakan amal ibadah wajib dari yang selainnya.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam BeramalKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanSaat engkau masuk ke masjid, maka masuklah dengan memberikan semua hak-hak masjid yang ada. Baik itu dengan fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Ataupun memaksimalkan waktu untuk melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi hal-hal terlarang ataupun sia-sia.Ingatlah bahwa diri kita ini sedang meninggalkan keluarga. Kita meninggalkan juga kumpul-kumpul dan canda tawa bersama sanak kerabat. Kesemuanya itu demi mengharap rahmat, ampunan, dan kecintaan Allah Ta’ala. Kesemuanya itu agar engkau bisa fokus beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai engkau hancurkan hal tersebut dengan banyak mengobrol. Engkau memindahkan obrolan dan tongkrongan yang biasa dilakukan di luar masjid ke dalam masjid. Atau bahkan, canda tawa, senda gurau berlebihan yang sampai pada tahap saling ejek dan menggunjing?!Sungguh duduknya mereka yang melakukan semua itu di rumahnya lebih baik dari melakukannya di masjid. Karena perbuatannya tersebut akan membahayakan dirinya sendiri dan mengganggu orang lain.Betapa banyak, orang yang ingin fokus beribadah menjadi terganggu karena adanya hal-hal seperti ini. Tidak jenak dalam beribadah karena kegaduhan dan keributan yang terjadi di dalam masjid. Iktikaf macam apa yang pada akhirnya mengganggu orang lain?!Syekh Muhammad Al-Amiin As-Syinqithi rahimahullah lalu menyebutkan sebuah kisah,“Aku pernah menyaksikan sendiri orang-orang saleh (saat itu aku masih kanak-kanak). Saat mereka masuk ke masjid Nabawi untuk beriktikaf, mereka berjalan dengan keadaan mata mereka selalu menunduk mengarah ke kaki. Lalu jika aku datangi mereka, mereka sedang mendirikan salat dengan ditutupi oleh tirai-tirai. Di waktu itulah aku dapati kelezatan. Bacaan Qur’an mereka terdengar. Isak tangis mereka pecah karena rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala. Kami saat itu masih kecil. Kami datang kepada mereka di antara kain-kain yang mereka jadikan pembatas dan tenda. Terdengar salah seorang dari mereka berucap, “Astaghfirullah.” (Aku memohon ampunan kepadamu ya Allah), dalam keadaan ia dipenuhi dengan rintihan dan tangisan. Sungguh apa yang aku dengar dari ucapan-ucapan mereka merupakan hal terindah yang pernah kudengar.”Ke manakah perginya orang-orang yang jujur dalam ibadahnya?! Ke manakah perginya orang-orang yang beriktikaf, lalu saat malam datang menjelang dahi-dahi mereka membekas karena banyaknya sujud yang mereka lakukan?! Ke manakah perginya mereka yang malam-malamnya dipenuhi dengan bermunajat dan beribadah kepada Allah Ta’ala?! Sungguh, telah hilang manisnya beribadah dan beriktikaf karena waktu-waktu yang ada justru dipenuhi dengan obrolan sia-sia dan tidak ada manfaatnya.Marilah saudaraku, berkacalah dan ikutilah petunjuk dan tata cara beribadah yang sudah dicontohkan para salaf terdahulu. Sungguh iktikaf adalah madrasah yang melatih seseorang untuk terbiasa berduaan dengan Allah Ta’ala saja. Jikalau bukan seperti itu, lalu untuk apa seseorang meninggalkan rumah dan keluarga yang di dalamnya ia memiliki hak-hak dan kewajiban?Lihatlah bagaimana semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beriktikaf. Beliau kencangkan sarung beliau. Beliau bangunkan semua keluarga beliau. Beliau hidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Kesemuanya itu karena besarnya keutamaan beriktikaf dan beribadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, serta besarnya keutamaan beribadah di dalam masjid.Sebagian ulama saat menafsirkan firman Allah Ta’ala,وَالْفَجْرِۙ * وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“Demi fajar, demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)Mereka berkata, “Malam yang sepuluh itu adalah sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Allah Ta’ala bersumpah dengannya di dalam kitab-Nya untuk mengingatkan akan besarnya keagungan sepuluh malam terakhir tersebut.”Berusahalah untuk jujur dalam iktikaf yang kita lakukan. Isilah hari-hari iktikaf yang ada dengan amal ibadah dan kebaikan. Jauhkanlah diri ini dari hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Masuklah ke dalam masjid dengan memberikan hak-haknya dan menghormati kedudukannya.Wallahu a’lam bisshwab.Diterjemahkan dari kitab Durusun li As-Syaikh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah dengan beberapa penyesuaian dan penambahan.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas Beribadah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: Iktikafnasihatwasiat


Setidaknya ada tiga wasiat berharga yang diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah kepada mereka yang hendak atau sedang melakukan iktikaf di bulan Ramadan yang mulia ini.Daftar Isi Yang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailYang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanYang pertama: Hadirkan niat yang ikhlas di dalam melaksanakan iktikaf dan qiyamullailNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.“Barangsiapa menghidupkan (salat) malam pada bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)Maksudnya adalah menghidupkan malam-malam di bulan Ramadan dengan dipenuhi rasa percaya akan adanya balasan kebaikan dan ancaman pada perintah-perintah Allah Ta’ala. Mengerjakan amal-amal di malam tersebut dengan mengharap rahmat Allah Ta’ala. Apa keutamaannya? Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.Saat engkau keluar dari rumah, baik itu dengan niat beriktikaf ataupun untuk meramaikan dan memakmurkan masjid dengan ikut serta dalam pelaksanaan salat malam dan tarawih, maka keluarlah dengan keadaan tidak ada di hati kalian, melainkan Allah Ta’ala. Keluarlah dengan penuh pengharapan akan rahmat-Nya. Sungguh, ketika engkau keluar dalam kondisi seperti ini, maka tidaklah engkau mengangkat kakimu, kecuali akan diangkat derajatmu beberapa derajat. Dan tidaklah engkau menjejakkan kakimu, kecuali dihapus darimu keburukan dan kejelekan-kejelekan.Keluarlah dengan keadaan engkau tidak berniat untuk riya’ ataupun sum’ah sama sekali. Karena Allah Ta’ala memberikan balasan kepada seorang hamba sesuai dengan kadar keikhlasannya. Sungguh merupakan kerugian bagi siapapun yang tidak bisa ikhlas dalam qiyamullail-nya. Betapa banyak kaki yang pegal dan bengkak karena lamanya berdiri di tengah malam untuk salat malam, namun tidak ada yang didapatkannya melainkan rasa capek dan lelah saja.Lalu, hal apa yang bisa menyelamatkan seorang hamba dari bahaya riya’ ini?Saudaraku, berusahalah untuk senantiasa ikhlas. Camkan dalam hatimu bahwa engkau butuh rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Keluarlah dari rumah dengan keadaan engkau merasa bahwa di hari kiamat nanti engkau butuh dengan langkah-langkah yang engkau pijakkan untuk menuju masjid ini. Saat berdiri dan bersujud, ingatlah bahwa engkau akan butuh rakaat-rakaat dan sujud-sujud tersebut saat -wal ‘iyadzhu billah- kuburanmu menjadi sempit.Sungguh, siapapun yang keluar dari rumahnya sedang hatinya telah dipenuhi dengan keikhlasan, maka akan Allah tanamkan di hatinya rasa manis dan ketenangan dalam membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Engkau akan dapati bahwa diri kita akan  menjadi khusyuk dan penuh dengan ketundukan kepada Allah Ta’ala.Seorang hamba tidaklah keluar dari rumahnya untuk beribadah ikhlas karena Allah Ta’ala, melainkan ia akan senantiasa mendapatkan taufik dan petunjuk dalam setiap gerak-gerik ibadahnya.Baca juga: Bagaimana Saya Bisa Ikhlas di Setiap Amal?Yang kedua: Dahulukan amal ibadah yang wajib dari amal ibadah yang hukumnya sunahSaudaraku, jangan sampai amalan yang hukumnya sunah melalaikan dirimu dari amalan yang hukumnya wajib. Sesungguhnya cerdasnya kita dalam mengatur skala prioritas dalam beribadah termasuk salah satu sebab mendapatkan keridaan Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala tidak ingin ditaati apabila di dalamnya terdapat kemaksiatan kepada-Nya.Jika kegiatan iktikaf kita bertabrakan dengan berbakti kepada orang tua, bertabrakan dengan pemenuhan hak anak-anak, atau membuat istri melakukan hal-hal yang diharamkan, maka dahulukanlah perkara-perkara yang Allah perintahkan untuk didahulukan. Jangan khawatir terlewat dari keutamaan iktikaf, karena Allah Ta’ala pasti akan memberikanmu pahala sejauh niatan yang engkau niatkan, meskipun engkau tidak jadi melakukannya.Di dalam hadis yang sahih, Allah Ta’ala berfirman,وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه“Tidak ada amal saleh yang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal saleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam).” (HR. Bukhari no. 6502)Jika orang tuamu memintamu untuk datang dan berbakti kepadanya, maka dahulukanlah berbakti kepada keduanya daripada beriktikaf. Karena dekat dengan orang tua dan memenuhi panggilannya lebih mulia dan lebih utama daripada beriktikaf, meskipun iktikaf tersebut dilakukan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan ada seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata,يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم قالَ ارجَع فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ منَ الجانبِ الآخَرِ فقلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرَةَ قالَ وَيحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قلتُ نعَم يا رسولَ اللَّهِ قالَ فارجِع إليْها فبِرَّها ثمَّ أتيتُهُ من أمامِهِ فقُلتُ يا رسولَ اللَّهِ إنِّي كنتُ أردتُ الجِهادَ معَكَ أبتغي بذلِكَ وجْهَ اللَّهِ والدَّارَ الآخرةَ قالَ ويحَكَ أحيَّةٌ أمُّكَ قُلتُ نعَم يا رَسولَ اللَّهِ قالَ ويحَكَ الزَم رِجلَها فثمَّ الجنَّةُ“’Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari sisi yang lain. Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah! Aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatanginya dari sisi depan, aku katakan; ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari rida Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?’ la menjawab, ‘Ya! Wahai Rasulullah!’ Rasulullah bersabda, ‘Celakalah kau! Tetaplah berada pada kedua kakinya dan di situlah terdapat surga.’” (HR. Ibnu Majah no. 2259)Wahai mereka yang mendambakan surga Allah Ta’ala! Wahai mereka yang menginginkan kesuksesan dengan mendapatkan kasih sayang Allah Ta’ala! Berbaktilah kepada kedua orang tuamu! Berbuat baiklah kepada keduanya! Hiduplah di tengah mereka! Berkatalah dengan lembut dan baik kepada keduanya! Sungguh, engkau akan mendapatkan kemuliaan dari Allah karenanya.Saudaraku, tidak mengherankan bila ada sebagian manusia yang beriktikaf, rajin beribadah, namun hatinya tetap keras. Al-Qur’an tidak membekas di hatinya. Hidupnya kacau balau. Kesemuanya itu bisa jadi karena buruknya dia dalam mengatur skala prioritas ketika beribadah. Berusahalah wahai saudaraku untuk mendahulukan dan mengutamakan amal ibadah wajib dari yang selainnya.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam BeramalKetiga: Maksimalkan waktu untuk beribadah dan jauhkan diri dari perkara yang menyia-nyiakanSaat engkau masuk ke masjid, maka masuklah dengan memberikan semua hak-hak masjid yang ada. Baik itu dengan fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Ataupun memaksimalkan waktu untuk melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi hal-hal terlarang ataupun sia-sia.Ingatlah bahwa diri kita ini sedang meninggalkan keluarga. Kita meninggalkan juga kumpul-kumpul dan canda tawa bersama sanak kerabat. Kesemuanya itu demi mengharap rahmat, ampunan, dan kecintaan Allah Ta’ala. Kesemuanya itu agar engkau bisa fokus beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai engkau hancurkan hal tersebut dengan banyak mengobrol. Engkau memindahkan obrolan dan tongkrongan yang biasa dilakukan di luar masjid ke dalam masjid. Atau bahkan, canda tawa, senda gurau berlebihan yang sampai pada tahap saling ejek dan menggunjing?!Sungguh duduknya mereka yang melakukan semua itu di rumahnya lebih baik dari melakukannya di masjid. Karena perbuatannya tersebut akan membahayakan dirinya sendiri dan mengganggu orang lain.Betapa banyak, orang yang ingin fokus beribadah menjadi terganggu karena adanya hal-hal seperti ini. Tidak jenak dalam beribadah karena kegaduhan dan keributan yang terjadi di dalam masjid. Iktikaf macam apa yang pada akhirnya mengganggu orang lain?!Syekh Muhammad Al-Amiin As-Syinqithi rahimahullah lalu menyebutkan sebuah kisah,“Aku pernah menyaksikan sendiri orang-orang saleh (saat itu aku masih kanak-kanak). Saat mereka masuk ke masjid Nabawi untuk beriktikaf, mereka berjalan dengan keadaan mata mereka selalu menunduk mengarah ke kaki. Lalu jika aku datangi mereka, mereka sedang mendirikan salat dengan ditutupi oleh tirai-tirai. Di waktu itulah aku dapati kelezatan. Bacaan Qur’an mereka terdengar. Isak tangis mereka pecah karena rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala. Kami saat itu masih kecil. Kami datang kepada mereka di antara kain-kain yang mereka jadikan pembatas dan tenda. Terdengar salah seorang dari mereka berucap, “Astaghfirullah.” (Aku memohon ampunan kepadamu ya Allah), dalam keadaan ia dipenuhi dengan rintihan dan tangisan. Sungguh apa yang aku dengar dari ucapan-ucapan mereka merupakan hal terindah yang pernah kudengar.”Ke manakah perginya orang-orang yang jujur dalam ibadahnya?! Ke manakah perginya orang-orang yang beriktikaf, lalu saat malam datang menjelang dahi-dahi mereka membekas karena banyaknya sujud yang mereka lakukan?! Ke manakah perginya mereka yang malam-malamnya dipenuhi dengan bermunajat dan beribadah kepada Allah Ta’ala?! Sungguh, telah hilang manisnya beribadah dan beriktikaf karena waktu-waktu yang ada justru dipenuhi dengan obrolan sia-sia dan tidak ada manfaatnya.Marilah saudaraku, berkacalah dan ikutilah petunjuk dan tata cara beribadah yang sudah dicontohkan para salaf terdahulu. Sungguh iktikaf adalah madrasah yang melatih seseorang untuk terbiasa berduaan dengan Allah Ta’ala saja. Jikalau bukan seperti itu, lalu untuk apa seseorang meninggalkan rumah dan keluarga yang di dalamnya ia memiliki hak-hak dan kewajiban?Lihatlah bagaimana semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beriktikaf. Beliau kencangkan sarung beliau. Beliau bangunkan semua keluarga beliau. Beliau hidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Kesemuanya itu karena besarnya keutamaan beriktikaf dan beribadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, serta besarnya keutamaan beribadah di dalam masjid.Sebagian ulama saat menafsirkan firman Allah Ta’ala,وَالْفَجْرِۙ * وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“Demi fajar, demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)Mereka berkata, “Malam yang sepuluh itu adalah sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Allah Ta’ala bersumpah dengannya di dalam kitab-Nya untuk mengingatkan akan besarnya keagungan sepuluh malam terakhir tersebut.”Berusahalah untuk jujur dalam iktikaf yang kita lakukan. Isilah hari-hari iktikaf yang ada dengan amal ibadah dan kebaikan. Jauhkanlah diri ini dari hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Masuklah ke dalam masjid dengan memberikan hak-haknya dan menghormati kedudukannya.Wallahu a’lam bisshwab.Diterjemahkan dari kitab Durusun li As-Syaikh Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithi rahimahullah dengan beberapa penyesuaian dan penambahan.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas Beribadah***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: Iktikafnasihatwasiat

Beberapa Amalan yang Besar Pahalanya di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Barang siapa yang Salat Malam di sepuluh malam terakhir, ia pasti mendapat Lailatul Qadar. Ini adalah hari-hari dan malam-malam yang agung, disyariatkan bagi seorang mukmin untuk memanfaatkannyadengan berbagai bentuk kebaikan, seperti membaca, menadaburi dan memahami al-Quran, bertasbih, bertahlil, bertakbir, beristighfar,bersedekah, menjenguk orang sakit,mengantarkan jenazah ke pemakaman, dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya,demi mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Berlomba-lomba dan bersegera dalam segala kebaikan. Janganlah ia menjadi seperti orang-orang yang berpaling dan lalaiyang melewati waktu-waktu yang penuh kebaikan dengan kelalaian, maka ia harus melawan nafsunya,melawan hawa nafsunya dalam hal ini, dan bersegera menjemput sebab-sebab kebaikan dan waktu-waktu yang baik. Oleh sebab itu, para salaf radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum selalu memotivasi untuk memanfaatkan keutamaan-keutamaan inidengan membaca al-Quran, ibadah, salat, zikir,sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya, juga dengan iktikaf dan lain sebagainya. Ini adalah waktu yang terus berlalu dengan hal-hal yang tersimpan di dalamnya.Ada orang yang menyimpan di dalamnya kebaikan dan amal saleh,dan ada orang lain yang menyimpan di dalamnya keburukan dan amal kejelekan. La haula wa la quwwata illa billah. Sedangkan orang yang berakal, cerdik, dan cerdasadalah orang yang berusaha untuk menyimpan kebaikan di dalamnya, seperti banyak membaca al-Quran,banyak bertasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, juga banyak berdoa,banyak melakukan salat, istighfar, sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Yakni ia memberi perhatian besar pada hari-hari dan malam-malam ini,karena ini adalah hari-hari yang terbatas, ia akan berlalu bersama yang ada di dalamnya. Orang yang cerdas akan memperhatikannya dan mengkhususkannya dengan perhatian lebih,karena mengharap pahala Allah dan takut dari siksa-Nya.Kita memohon kepada Allah taufik, penerimaan, dan ampunan bagi kita semua ==== مَنْ قَامَ الْعَشْرَ الْأَخِيرَةَ أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ هَذِهِ أَيَّامٌ عَظِيمَةٌ وَلَيَالِي عَظِيمَةٌ يُشْرَعُ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَغْتَنِمَهَا بِأَنْوَاعِ الْخَيْرِ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَالتَّعَقُّلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالاِسْتِغْفَارِ وَالصَّدَقَةِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَهُ وَيُنَافِسُ وَيُسَارِعُ فِي كُلِّ خَيْرٍ لَا يَكُنْ كَالْمُعْرِضِيْنَ وَالْغَافِلِيْنَ تَمُرُّهُمْ أَوْقَاتُ الْفَضَائِلِ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ بَلْ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ فِيْهِ وَيُسَارِعُ أَسْبَابَ الْخَيْرِ وَأَوْقَاتَ الْخَيْرِ وَلِهَذَا كَانَ السَّلَفُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَأَرْضَاهُمْ يُحَرِّضُونَ عَلَى اغْتِنَامِ هَذِهِ الْفَضَائِلِ بِالْقِرَاءَةِ وَالتَّعَبُّدِ وَالصَّلَاةِ وَالذِّكْرُ وَالصَّدَقَاتِ وَغَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ وَالِاعْتِكَافِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَهِيَ أَوْقَاتٌ تَمُرُّ بِمَا فِيهَا خَزَائِنُ هَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الْخَيْرَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَهَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الشَّرَّ وَالْعَمَلَ السَّيِّءَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَالْعَاقِلُ وَالْحَازِمُ وَالْكَيِّسُ الذَّيْ يَحْرِصُ أَنْ يَخْزِنَ فِيهَا الْخَيْرَ مِنْ كَثْرَةِ الْقِرَاءَةِ كَثْرَةِ التَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ كَثْرَةِ الدُّعَاءِ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ كَثْرَةِ الِاسْتِغْفَارِ كَثْرَةِ الصَّدَقَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَعْنِي يَعْتَنِي بِهَذِهِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي لِأَنَّهَا أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ وَمَحْدُودَةٌ تَفُوْتُ بِمَا فِيهَا فَالْحَازِمُ يَعْتَنِي بِهَا وَيَخُصُّهَا بِمَزِيدِ عِنَايَةٍ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ نَسْأَلُ اللهَ لِلْجَمِيعِ التَّوْفِيقَ وَالْقَبُولَ وَالْمَغْفِرَةَ

Beberapa Amalan yang Besar Pahalanya di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh bin Baz #NasehatUlama

Barang siapa yang Salat Malam di sepuluh malam terakhir, ia pasti mendapat Lailatul Qadar. Ini adalah hari-hari dan malam-malam yang agung, disyariatkan bagi seorang mukmin untuk memanfaatkannyadengan berbagai bentuk kebaikan, seperti membaca, menadaburi dan memahami al-Quran, bertasbih, bertahlil, bertakbir, beristighfar,bersedekah, menjenguk orang sakit,mengantarkan jenazah ke pemakaman, dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya,demi mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Berlomba-lomba dan bersegera dalam segala kebaikan. Janganlah ia menjadi seperti orang-orang yang berpaling dan lalaiyang melewati waktu-waktu yang penuh kebaikan dengan kelalaian, maka ia harus melawan nafsunya,melawan hawa nafsunya dalam hal ini, dan bersegera menjemput sebab-sebab kebaikan dan waktu-waktu yang baik. Oleh sebab itu, para salaf radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum selalu memotivasi untuk memanfaatkan keutamaan-keutamaan inidengan membaca al-Quran, ibadah, salat, zikir,sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya, juga dengan iktikaf dan lain sebagainya. Ini adalah waktu yang terus berlalu dengan hal-hal yang tersimpan di dalamnya.Ada orang yang menyimpan di dalamnya kebaikan dan amal saleh,dan ada orang lain yang menyimpan di dalamnya keburukan dan amal kejelekan. La haula wa la quwwata illa billah. Sedangkan orang yang berakal, cerdik, dan cerdasadalah orang yang berusaha untuk menyimpan kebaikan di dalamnya, seperti banyak membaca al-Quran,banyak bertasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, juga banyak berdoa,banyak melakukan salat, istighfar, sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Yakni ia memberi perhatian besar pada hari-hari dan malam-malam ini,karena ini adalah hari-hari yang terbatas, ia akan berlalu bersama yang ada di dalamnya. Orang yang cerdas akan memperhatikannya dan mengkhususkannya dengan perhatian lebih,karena mengharap pahala Allah dan takut dari siksa-Nya.Kita memohon kepada Allah taufik, penerimaan, dan ampunan bagi kita semua ==== مَنْ قَامَ الْعَشْرَ الْأَخِيرَةَ أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ هَذِهِ أَيَّامٌ عَظِيمَةٌ وَلَيَالِي عَظِيمَةٌ يُشْرَعُ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَغْتَنِمَهَا بِأَنْوَاعِ الْخَيْرِ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَالتَّعَقُّلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالاِسْتِغْفَارِ وَالصَّدَقَةِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَهُ وَيُنَافِسُ وَيُسَارِعُ فِي كُلِّ خَيْرٍ لَا يَكُنْ كَالْمُعْرِضِيْنَ وَالْغَافِلِيْنَ تَمُرُّهُمْ أَوْقَاتُ الْفَضَائِلِ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ بَلْ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ فِيْهِ وَيُسَارِعُ أَسْبَابَ الْخَيْرِ وَأَوْقَاتَ الْخَيْرِ وَلِهَذَا كَانَ السَّلَفُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَأَرْضَاهُمْ يُحَرِّضُونَ عَلَى اغْتِنَامِ هَذِهِ الْفَضَائِلِ بِالْقِرَاءَةِ وَالتَّعَبُّدِ وَالصَّلَاةِ وَالذِّكْرُ وَالصَّدَقَاتِ وَغَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ وَالِاعْتِكَافِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَهِيَ أَوْقَاتٌ تَمُرُّ بِمَا فِيهَا خَزَائِنُ هَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الْخَيْرَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَهَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الشَّرَّ وَالْعَمَلَ السَّيِّءَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَالْعَاقِلُ وَالْحَازِمُ وَالْكَيِّسُ الذَّيْ يَحْرِصُ أَنْ يَخْزِنَ فِيهَا الْخَيْرَ مِنْ كَثْرَةِ الْقِرَاءَةِ كَثْرَةِ التَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ كَثْرَةِ الدُّعَاءِ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ كَثْرَةِ الِاسْتِغْفَارِ كَثْرَةِ الصَّدَقَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَعْنِي يَعْتَنِي بِهَذِهِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي لِأَنَّهَا أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ وَمَحْدُودَةٌ تَفُوْتُ بِمَا فِيهَا فَالْحَازِمُ يَعْتَنِي بِهَا وَيَخُصُّهَا بِمَزِيدِ عِنَايَةٍ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ نَسْأَلُ اللهَ لِلْجَمِيعِ التَّوْفِيقَ وَالْقَبُولَ وَالْمَغْفِرَةَ
Barang siapa yang Salat Malam di sepuluh malam terakhir, ia pasti mendapat Lailatul Qadar. Ini adalah hari-hari dan malam-malam yang agung, disyariatkan bagi seorang mukmin untuk memanfaatkannyadengan berbagai bentuk kebaikan, seperti membaca, menadaburi dan memahami al-Quran, bertasbih, bertahlil, bertakbir, beristighfar,bersedekah, menjenguk orang sakit,mengantarkan jenazah ke pemakaman, dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya,demi mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Berlomba-lomba dan bersegera dalam segala kebaikan. Janganlah ia menjadi seperti orang-orang yang berpaling dan lalaiyang melewati waktu-waktu yang penuh kebaikan dengan kelalaian, maka ia harus melawan nafsunya,melawan hawa nafsunya dalam hal ini, dan bersegera menjemput sebab-sebab kebaikan dan waktu-waktu yang baik. Oleh sebab itu, para salaf radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum selalu memotivasi untuk memanfaatkan keutamaan-keutamaan inidengan membaca al-Quran, ibadah, salat, zikir,sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya, juga dengan iktikaf dan lain sebagainya. Ini adalah waktu yang terus berlalu dengan hal-hal yang tersimpan di dalamnya.Ada orang yang menyimpan di dalamnya kebaikan dan amal saleh,dan ada orang lain yang menyimpan di dalamnya keburukan dan amal kejelekan. La haula wa la quwwata illa billah. Sedangkan orang yang berakal, cerdik, dan cerdasadalah orang yang berusaha untuk menyimpan kebaikan di dalamnya, seperti banyak membaca al-Quran,banyak bertasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, juga banyak berdoa,banyak melakukan salat, istighfar, sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Yakni ia memberi perhatian besar pada hari-hari dan malam-malam ini,karena ini adalah hari-hari yang terbatas, ia akan berlalu bersama yang ada di dalamnya. Orang yang cerdas akan memperhatikannya dan mengkhususkannya dengan perhatian lebih,karena mengharap pahala Allah dan takut dari siksa-Nya.Kita memohon kepada Allah taufik, penerimaan, dan ampunan bagi kita semua ==== مَنْ قَامَ الْعَشْرَ الْأَخِيرَةَ أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ هَذِهِ أَيَّامٌ عَظِيمَةٌ وَلَيَالِي عَظِيمَةٌ يُشْرَعُ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَغْتَنِمَهَا بِأَنْوَاعِ الْخَيْرِ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَالتَّعَقُّلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالاِسْتِغْفَارِ وَالصَّدَقَةِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَهُ وَيُنَافِسُ وَيُسَارِعُ فِي كُلِّ خَيْرٍ لَا يَكُنْ كَالْمُعْرِضِيْنَ وَالْغَافِلِيْنَ تَمُرُّهُمْ أَوْقَاتُ الْفَضَائِلِ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ بَلْ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ فِيْهِ وَيُسَارِعُ أَسْبَابَ الْخَيْرِ وَأَوْقَاتَ الْخَيْرِ وَلِهَذَا كَانَ السَّلَفُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَأَرْضَاهُمْ يُحَرِّضُونَ عَلَى اغْتِنَامِ هَذِهِ الْفَضَائِلِ بِالْقِرَاءَةِ وَالتَّعَبُّدِ وَالصَّلَاةِ وَالذِّكْرُ وَالصَّدَقَاتِ وَغَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ وَالِاعْتِكَافِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَهِيَ أَوْقَاتٌ تَمُرُّ بِمَا فِيهَا خَزَائِنُ هَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الْخَيْرَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَهَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الشَّرَّ وَالْعَمَلَ السَّيِّءَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَالْعَاقِلُ وَالْحَازِمُ وَالْكَيِّسُ الذَّيْ يَحْرِصُ أَنْ يَخْزِنَ فِيهَا الْخَيْرَ مِنْ كَثْرَةِ الْقِرَاءَةِ كَثْرَةِ التَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ كَثْرَةِ الدُّعَاءِ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ كَثْرَةِ الِاسْتِغْفَارِ كَثْرَةِ الصَّدَقَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَعْنِي يَعْتَنِي بِهَذِهِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي لِأَنَّهَا أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ وَمَحْدُودَةٌ تَفُوْتُ بِمَا فِيهَا فَالْحَازِمُ يَعْتَنِي بِهَا وَيَخُصُّهَا بِمَزِيدِ عِنَايَةٍ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ نَسْأَلُ اللهَ لِلْجَمِيعِ التَّوْفِيقَ وَالْقَبُولَ وَالْمَغْفِرَةَ


Barang siapa yang Salat Malam di sepuluh malam terakhir, ia pasti mendapat Lailatul Qadar. Ini adalah hari-hari dan malam-malam yang agung, disyariatkan bagi seorang mukmin untuk memanfaatkannyadengan berbagai bentuk kebaikan, seperti membaca, menadaburi dan memahami al-Quran, bertasbih, bertahlil, bertakbir, beristighfar,bersedekah, menjenguk orang sakit,mengantarkan jenazah ke pemakaman, dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya,demi mengharap pahala dari Allah dan takut dari siksaan-Nya. Berlomba-lomba dan bersegera dalam segala kebaikan. Janganlah ia menjadi seperti orang-orang yang berpaling dan lalaiyang melewati waktu-waktu yang penuh kebaikan dengan kelalaian, maka ia harus melawan nafsunya,melawan hawa nafsunya dalam hal ini, dan bersegera menjemput sebab-sebab kebaikan dan waktu-waktu yang baik. Oleh sebab itu, para salaf radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum selalu memotivasi untuk memanfaatkan keutamaan-keutamaan inidengan membaca al-Quran, ibadah, salat, zikir,sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya, juga dengan iktikaf dan lain sebagainya. Ini adalah waktu yang terus berlalu dengan hal-hal yang tersimpan di dalamnya.Ada orang yang menyimpan di dalamnya kebaikan dan amal saleh,dan ada orang lain yang menyimpan di dalamnya keburukan dan amal kejelekan. La haula wa la quwwata illa billah. Sedangkan orang yang berakal, cerdik, dan cerdasadalah orang yang berusaha untuk menyimpan kebaikan di dalamnya, seperti banyak membaca al-Quran,banyak bertasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, juga banyak berdoa,banyak melakukan salat, istighfar, sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Yakni ia memberi perhatian besar pada hari-hari dan malam-malam ini,karena ini adalah hari-hari yang terbatas, ia akan berlalu bersama yang ada di dalamnya. Orang yang cerdas akan memperhatikannya dan mengkhususkannya dengan perhatian lebih,karena mengharap pahala Allah dan takut dari siksa-Nya.Kita memohon kepada Allah taufik, penerimaan, dan ampunan bagi kita semua ==== مَنْ قَامَ الْعَشْرَ الْأَخِيرَةَ أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ هَذِهِ أَيَّامٌ عَظِيمَةٌ وَلَيَالِي عَظِيمَةٌ يُشْرَعُ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَغْتَنِمَهَا بِأَنْوَاعِ الْخَيْرِ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَالتَّعَقُّلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالاِسْتِغْفَارِ وَالصَّدَقَةِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَهُ وَيُنَافِسُ وَيُسَارِعُ فِي كُلِّ خَيْرٍ لَا يَكُنْ كَالْمُعْرِضِيْنَ وَالْغَافِلِيْنَ تَمُرُّهُمْ أَوْقَاتُ الْفَضَائِلِ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ بَلْ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ فِيْهِ وَيُسَارِعُ أَسْبَابَ الْخَيْرِ وَأَوْقَاتَ الْخَيْرِ وَلِهَذَا كَانَ السَّلَفُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَأَرْضَاهُمْ يُحَرِّضُونَ عَلَى اغْتِنَامِ هَذِهِ الْفَضَائِلِ بِالْقِرَاءَةِ وَالتَّعَبُّدِ وَالصَّلَاةِ وَالذِّكْرُ وَالصَّدَقَاتِ وَغَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ وَالِاعْتِكَافِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَهِيَ أَوْقَاتٌ تَمُرُّ بِمَا فِيهَا خَزَائِنُ هَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الْخَيْرَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَهَذَا يَخْزِنُ فِيهَا الشَّرَّ وَالْعَمَلَ السَّيِّءَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَالْعَاقِلُ وَالْحَازِمُ وَالْكَيِّسُ الذَّيْ يَحْرِصُ أَنْ يَخْزِنَ فِيهَا الْخَيْرَ مِنْ كَثْرَةِ الْقِرَاءَةِ كَثْرَةِ التَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ كَثْرَةِ الدُّعَاءِ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ كَثْرَةِ الِاسْتِغْفَارِ كَثْرَةِ الصَّدَقَةِ إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ يَعْنِي يَعْتَنِي بِهَذِهِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي لِأَنَّهَا أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ وَمَحْدُودَةٌ تَفُوْتُ بِمَا فِيهَا فَالْحَازِمُ يَعْتَنِي بِهَا وَيَخُصُّهَا بِمَزِيدِ عِنَايَةٍ يَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَيَخْشَى عِقَابَ اللهِ نَسْأَلُ اللهَ لِلْجَمِيعِ التَّوْفِيقَ وَالْقَبُولَ وَالْمَغْفِرَةَ

Apa Satu Amalan Terbaik di 10 Hari Terakhir Ramadan? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Apa yang paling afdal dilakukan seorang Muslimdi sepuluh malam terakhir bulan Ramadan?Yang paling afdal dilakukan adalah apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu salat. Karena yang tampak dari beliau ‘alaihis shalatu wassalam adalah mendirikan salat pada mayoritas waktu malam-malam itu.Namun, beliau hanya salat berjamaah dengan para sahabat selama tiga malam,sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dan lainnya. Para sahabat salat dengan beliau pada malam ke-23 Ramadan hingga sepertiga malam pertama.Lalu mereka salat dengan beliau pada malam ke-25 Ramadan hingga tengah malam. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, andai engkau salat sunah lagi dengan kami di sisa waktu malam kita ini.”Yakni andai saja engkau melanjutkan salat bersama kami hingga waktu terbitnya fajar. Lalu beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab,“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai, maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai,maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”Ini adalah keutamaan yang besar. Barang siapa yang salat dengan imam, hingga imam itu salam dari rakaat terakhir,maka ditulis baginya pahala salat sepanjang malam.Lalu Nabi salat bersama para sahabat pada malam ke-27 Ramadanhingga mendekati waktu terbitnya fajar. Para sahabat berkata, “Hingga kami khawatir tidak sempat makan sahur.”Ini menunjukkan penguatan ibadah pada malam ke-27 Ramadan melebihi malam-malam lainnya. Jadi, dulu Nabi ‘alaihis shalatu wassalammenyibukkan diri pada sepuluh malam terakhir Ramadan ini dengan mendirikan salat. Maka jika kamu dapat menggunakan seluruh atau mayoritas waktumu untuk salat, maka lakukanlah,karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amal yang paling dicintai oleh Allah–seperti yang disebutkan dalam Shahihain–lalu beliau menjawab, “Salat.” Salat adalah ibadah dan amal yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, diriwayatkan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka memperbanyak ibadah salat. Disebutkan dalam biografi Imam Ahmad bin Hambal–dan ini kisah yang masyhur tentang beliau–bahwa dulu beliau mendirikan salat sunah karena Allah Ta’ala–bukan salat fardu–dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Lalu saat beliau menjadi lemah setelah menghadapi ujian yang menimpanya, beliau mendirikan salat 150 rakaat.Dulu al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, penulis kitab Umdatul Ahkammencontoh Imam Ahmad dalam hal ini, sehingga beliau juga mendirikan salat 300 rakaat. Karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilahbahwa tidaklah kamu bersujud satu kalikecuali dengan sujud itu Allah mengangkat satu derajatmu dan menghapus satu dosamu. Juga amalan lainnya adalah doa, karena doa di malam-malam ini mudah dikabulkan.Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menyebutkan ayat tentang doa di tengah ayat-ayat tentang puasa: “Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku dekat …” (QS. al-Baqarah: 186)Ayat sebelumnya adalah, “Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan al-Quran …” Sedangkan ayat setelahnya, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu …”Mengapa ayat tentang doa ada di tengah ayat-ayat tentang puasa? Untuk menjadi isyarat bahwa orang yang berpuasa hendaklah memperbanyak doa,dan doa di bulan ini mudah untuk dikabulkan.Terlebih lagi di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Seorang Muslim juga hendaknya berusaha keras dalam menjalankan segala bentuk amal saleh.Bagi orang yang dimudahkan untuk menjalankan iktikaf, maka itu lebih afdal, dan ini adalah sunah. Namun, bagi yang tidak dimudahkan untuk itu, maka ia dapat beriktikaf di malam-malam ganjil atau di malam yang dapat ia lakukan.Jika tidak juga dimudahkan untuk melakukan hal-hal itu,maka paling tidak ia mengurangi kesibukannya dengan duniadan menambah waktu yang ia khususkan untuk beribadah. ==== مَا أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ الْمُسْلِمُ فِي لَيَالِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ مَا فَعَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّلَاةُ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُومُ مُعْظَمَ اللَّيْلِ فِي تِلْكَ اللَّيَالِي لَكِنْ صَلَّى مَعَهُ الصَّحَابَةُ ثَلَاثَ لَيَالٍ كَمَا عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَصَلَّى بِهِمْ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ يَعْنِي لَوْ أَكْمَلْتَ بِنَا إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ وَهَذَا فَضْلٌ عَظِيمٌ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يُسَلِّمَ مِنَ الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ يُكْتَبُ لَهُ أَجْرُ قِيَامِ لَيْلَةٍ كَامِلَةٍ ثُمَّ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ إِلَى قَرِيبٍ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ يَقُولُ الصَّحَابَةُ حَتَّى خَشِيْنَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ يَعْنِي السُّحُورُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى تَأَكُّدِ لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهَا فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَشْتَغِلُ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ بِالصَّلَاةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُشْغِلَ وَقْتَكَ أَوْ أَكْثَرَهُ بِالصَّلَاةِ فَافْعَلْ فَإِنَّ الصَّلَاةَ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَحَبِّ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ الصَّلَاةُ الصَّلَاةُ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ أَحَبُّ عَمَلٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُكْثِرُونَ مِنَ الصَّلَاةِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ هَذَا مَشْهُورٌ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي لِلهِ تَعَالَى فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ تَطَوُّعًا مِنْ غَيْرِ فَرِيضَةٍ ثَلَاثُ مِئَةِ رَكْعَةٍ وَلَمَّا ضَعُفَ بَعْدَ الْمِحْنَةِ الَّتِي حَصَلَتْ لَهُ أَصْبَحَ يُصَلِّي مِئَةً وَخَمْسِينَ الْحَافِظُ عَبْدُ الْغَنِيِّ الْمَقْدِسِيُّ صَاحِبُ عُمْدَةِ الْأَحْكَامِ كَانَ يَقْتَدِي بِالْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي هَذَا يُصَلِّي ثَلَاثَ مِئَةِ رَكْعَةٍ لِأَنَّ الصَّلَاةَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً كَذَلِكَ أَيْضًا الدُّعَاءُ فَإِنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَلِهَذَا ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى آيَةَ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ الْآيَةُ الَّتِي قَبْلَهَا شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَالْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَاأُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ لِمَاذَا كَانَتْ آيَةُ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ؟ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلصَّائِمِ أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذَا الشَّهْرِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ خَاصَّةً فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَجْتَهِدُ الْمُسْلِمُ بِكُلِّ مَا هُوَ عَمَلٌ صَالِحٌ الَّذِي تَيَسَّرَ لَهُ أَنْ يَعْتَكِفَ فَهَذَا هُوَ الْأَفْضَلُ وَهُوَ السُّنَّةُ إِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ يَعْتَكِفُ لَيَالِيَ الْوِتْرِ أَوْ مَا تَيَسَّرَ مِنْهَا فَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ هَذَا وَلَا ذَاكَ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يُخَفِّفَ مَشَاغِلَهُ فِي الدُّنْيَا وَأَنْ يَزِيدَ مِنَ الْوَقْتِ الْمُخَصَّصِ لِلْعِبَادَةِ

Apa Satu Amalan Terbaik di 10 Hari Terakhir Ramadan? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Apa yang paling afdal dilakukan seorang Muslimdi sepuluh malam terakhir bulan Ramadan?Yang paling afdal dilakukan adalah apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu salat. Karena yang tampak dari beliau ‘alaihis shalatu wassalam adalah mendirikan salat pada mayoritas waktu malam-malam itu.Namun, beliau hanya salat berjamaah dengan para sahabat selama tiga malam,sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dan lainnya. Para sahabat salat dengan beliau pada malam ke-23 Ramadan hingga sepertiga malam pertama.Lalu mereka salat dengan beliau pada malam ke-25 Ramadan hingga tengah malam. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, andai engkau salat sunah lagi dengan kami di sisa waktu malam kita ini.”Yakni andai saja engkau melanjutkan salat bersama kami hingga waktu terbitnya fajar. Lalu beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab,“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai, maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai,maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”Ini adalah keutamaan yang besar. Barang siapa yang salat dengan imam, hingga imam itu salam dari rakaat terakhir,maka ditulis baginya pahala salat sepanjang malam.Lalu Nabi salat bersama para sahabat pada malam ke-27 Ramadanhingga mendekati waktu terbitnya fajar. Para sahabat berkata, “Hingga kami khawatir tidak sempat makan sahur.”Ini menunjukkan penguatan ibadah pada malam ke-27 Ramadan melebihi malam-malam lainnya. Jadi, dulu Nabi ‘alaihis shalatu wassalammenyibukkan diri pada sepuluh malam terakhir Ramadan ini dengan mendirikan salat. Maka jika kamu dapat menggunakan seluruh atau mayoritas waktumu untuk salat, maka lakukanlah,karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amal yang paling dicintai oleh Allah–seperti yang disebutkan dalam Shahihain–lalu beliau menjawab, “Salat.” Salat adalah ibadah dan amal yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, diriwayatkan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka memperbanyak ibadah salat. Disebutkan dalam biografi Imam Ahmad bin Hambal–dan ini kisah yang masyhur tentang beliau–bahwa dulu beliau mendirikan salat sunah karena Allah Ta’ala–bukan salat fardu–dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Lalu saat beliau menjadi lemah setelah menghadapi ujian yang menimpanya, beliau mendirikan salat 150 rakaat.Dulu al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, penulis kitab Umdatul Ahkammencontoh Imam Ahmad dalam hal ini, sehingga beliau juga mendirikan salat 300 rakaat. Karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilahbahwa tidaklah kamu bersujud satu kalikecuali dengan sujud itu Allah mengangkat satu derajatmu dan menghapus satu dosamu. Juga amalan lainnya adalah doa, karena doa di malam-malam ini mudah dikabulkan.Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menyebutkan ayat tentang doa di tengah ayat-ayat tentang puasa: “Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku dekat …” (QS. al-Baqarah: 186)Ayat sebelumnya adalah, “Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan al-Quran …” Sedangkan ayat setelahnya, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu …”Mengapa ayat tentang doa ada di tengah ayat-ayat tentang puasa? Untuk menjadi isyarat bahwa orang yang berpuasa hendaklah memperbanyak doa,dan doa di bulan ini mudah untuk dikabulkan.Terlebih lagi di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Seorang Muslim juga hendaknya berusaha keras dalam menjalankan segala bentuk amal saleh.Bagi orang yang dimudahkan untuk menjalankan iktikaf, maka itu lebih afdal, dan ini adalah sunah. Namun, bagi yang tidak dimudahkan untuk itu, maka ia dapat beriktikaf di malam-malam ganjil atau di malam yang dapat ia lakukan.Jika tidak juga dimudahkan untuk melakukan hal-hal itu,maka paling tidak ia mengurangi kesibukannya dengan duniadan menambah waktu yang ia khususkan untuk beribadah. ==== مَا أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ الْمُسْلِمُ فِي لَيَالِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ مَا فَعَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّلَاةُ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُومُ مُعْظَمَ اللَّيْلِ فِي تِلْكَ اللَّيَالِي لَكِنْ صَلَّى مَعَهُ الصَّحَابَةُ ثَلَاثَ لَيَالٍ كَمَا عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَصَلَّى بِهِمْ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ يَعْنِي لَوْ أَكْمَلْتَ بِنَا إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ وَهَذَا فَضْلٌ عَظِيمٌ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يُسَلِّمَ مِنَ الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ يُكْتَبُ لَهُ أَجْرُ قِيَامِ لَيْلَةٍ كَامِلَةٍ ثُمَّ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ إِلَى قَرِيبٍ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ يَقُولُ الصَّحَابَةُ حَتَّى خَشِيْنَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ يَعْنِي السُّحُورُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى تَأَكُّدِ لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهَا فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَشْتَغِلُ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ بِالصَّلَاةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُشْغِلَ وَقْتَكَ أَوْ أَكْثَرَهُ بِالصَّلَاةِ فَافْعَلْ فَإِنَّ الصَّلَاةَ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَحَبِّ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ الصَّلَاةُ الصَّلَاةُ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ أَحَبُّ عَمَلٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُكْثِرُونَ مِنَ الصَّلَاةِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ هَذَا مَشْهُورٌ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي لِلهِ تَعَالَى فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ تَطَوُّعًا مِنْ غَيْرِ فَرِيضَةٍ ثَلَاثُ مِئَةِ رَكْعَةٍ وَلَمَّا ضَعُفَ بَعْدَ الْمِحْنَةِ الَّتِي حَصَلَتْ لَهُ أَصْبَحَ يُصَلِّي مِئَةً وَخَمْسِينَ الْحَافِظُ عَبْدُ الْغَنِيِّ الْمَقْدِسِيُّ صَاحِبُ عُمْدَةِ الْأَحْكَامِ كَانَ يَقْتَدِي بِالْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي هَذَا يُصَلِّي ثَلَاثَ مِئَةِ رَكْعَةٍ لِأَنَّ الصَّلَاةَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً كَذَلِكَ أَيْضًا الدُّعَاءُ فَإِنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَلِهَذَا ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى آيَةَ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ الْآيَةُ الَّتِي قَبْلَهَا شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَالْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَاأُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ لِمَاذَا كَانَتْ آيَةُ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ؟ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلصَّائِمِ أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذَا الشَّهْرِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ خَاصَّةً فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَجْتَهِدُ الْمُسْلِمُ بِكُلِّ مَا هُوَ عَمَلٌ صَالِحٌ الَّذِي تَيَسَّرَ لَهُ أَنْ يَعْتَكِفَ فَهَذَا هُوَ الْأَفْضَلُ وَهُوَ السُّنَّةُ إِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ يَعْتَكِفُ لَيَالِيَ الْوِتْرِ أَوْ مَا تَيَسَّرَ مِنْهَا فَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ هَذَا وَلَا ذَاكَ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يُخَفِّفَ مَشَاغِلَهُ فِي الدُّنْيَا وَأَنْ يَزِيدَ مِنَ الْوَقْتِ الْمُخَصَّصِ لِلْعِبَادَةِ
Apa yang paling afdal dilakukan seorang Muslimdi sepuluh malam terakhir bulan Ramadan?Yang paling afdal dilakukan adalah apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu salat. Karena yang tampak dari beliau ‘alaihis shalatu wassalam adalah mendirikan salat pada mayoritas waktu malam-malam itu.Namun, beliau hanya salat berjamaah dengan para sahabat selama tiga malam,sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dan lainnya. Para sahabat salat dengan beliau pada malam ke-23 Ramadan hingga sepertiga malam pertama.Lalu mereka salat dengan beliau pada malam ke-25 Ramadan hingga tengah malam. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, andai engkau salat sunah lagi dengan kami di sisa waktu malam kita ini.”Yakni andai saja engkau melanjutkan salat bersama kami hingga waktu terbitnya fajar. Lalu beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab,“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai, maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai,maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”Ini adalah keutamaan yang besar. Barang siapa yang salat dengan imam, hingga imam itu salam dari rakaat terakhir,maka ditulis baginya pahala salat sepanjang malam.Lalu Nabi salat bersama para sahabat pada malam ke-27 Ramadanhingga mendekati waktu terbitnya fajar. Para sahabat berkata, “Hingga kami khawatir tidak sempat makan sahur.”Ini menunjukkan penguatan ibadah pada malam ke-27 Ramadan melebihi malam-malam lainnya. Jadi, dulu Nabi ‘alaihis shalatu wassalammenyibukkan diri pada sepuluh malam terakhir Ramadan ini dengan mendirikan salat. Maka jika kamu dapat menggunakan seluruh atau mayoritas waktumu untuk salat, maka lakukanlah,karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amal yang paling dicintai oleh Allah–seperti yang disebutkan dalam Shahihain–lalu beliau menjawab, “Salat.” Salat adalah ibadah dan amal yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, diriwayatkan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka memperbanyak ibadah salat. Disebutkan dalam biografi Imam Ahmad bin Hambal–dan ini kisah yang masyhur tentang beliau–bahwa dulu beliau mendirikan salat sunah karena Allah Ta’ala–bukan salat fardu–dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Lalu saat beliau menjadi lemah setelah menghadapi ujian yang menimpanya, beliau mendirikan salat 150 rakaat.Dulu al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, penulis kitab Umdatul Ahkammencontoh Imam Ahmad dalam hal ini, sehingga beliau juga mendirikan salat 300 rakaat. Karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilahbahwa tidaklah kamu bersujud satu kalikecuali dengan sujud itu Allah mengangkat satu derajatmu dan menghapus satu dosamu. Juga amalan lainnya adalah doa, karena doa di malam-malam ini mudah dikabulkan.Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menyebutkan ayat tentang doa di tengah ayat-ayat tentang puasa: “Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku dekat …” (QS. al-Baqarah: 186)Ayat sebelumnya adalah, “Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan al-Quran …” Sedangkan ayat setelahnya, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu …”Mengapa ayat tentang doa ada di tengah ayat-ayat tentang puasa? Untuk menjadi isyarat bahwa orang yang berpuasa hendaklah memperbanyak doa,dan doa di bulan ini mudah untuk dikabulkan.Terlebih lagi di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Seorang Muslim juga hendaknya berusaha keras dalam menjalankan segala bentuk amal saleh.Bagi orang yang dimudahkan untuk menjalankan iktikaf, maka itu lebih afdal, dan ini adalah sunah. Namun, bagi yang tidak dimudahkan untuk itu, maka ia dapat beriktikaf di malam-malam ganjil atau di malam yang dapat ia lakukan.Jika tidak juga dimudahkan untuk melakukan hal-hal itu,maka paling tidak ia mengurangi kesibukannya dengan duniadan menambah waktu yang ia khususkan untuk beribadah. ==== مَا أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ الْمُسْلِمُ فِي لَيَالِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ مَا فَعَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّلَاةُ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُومُ مُعْظَمَ اللَّيْلِ فِي تِلْكَ اللَّيَالِي لَكِنْ صَلَّى مَعَهُ الصَّحَابَةُ ثَلَاثَ لَيَالٍ كَمَا عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَصَلَّى بِهِمْ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ يَعْنِي لَوْ أَكْمَلْتَ بِنَا إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ وَهَذَا فَضْلٌ عَظِيمٌ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يُسَلِّمَ مِنَ الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ يُكْتَبُ لَهُ أَجْرُ قِيَامِ لَيْلَةٍ كَامِلَةٍ ثُمَّ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ إِلَى قَرِيبٍ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ يَقُولُ الصَّحَابَةُ حَتَّى خَشِيْنَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ يَعْنِي السُّحُورُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى تَأَكُّدِ لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهَا فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَشْتَغِلُ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ بِالصَّلَاةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُشْغِلَ وَقْتَكَ أَوْ أَكْثَرَهُ بِالصَّلَاةِ فَافْعَلْ فَإِنَّ الصَّلَاةَ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَحَبِّ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ الصَّلَاةُ الصَّلَاةُ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ أَحَبُّ عَمَلٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُكْثِرُونَ مِنَ الصَّلَاةِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ هَذَا مَشْهُورٌ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي لِلهِ تَعَالَى فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ تَطَوُّعًا مِنْ غَيْرِ فَرِيضَةٍ ثَلَاثُ مِئَةِ رَكْعَةٍ وَلَمَّا ضَعُفَ بَعْدَ الْمِحْنَةِ الَّتِي حَصَلَتْ لَهُ أَصْبَحَ يُصَلِّي مِئَةً وَخَمْسِينَ الْحَافِظُ عَبْدُ الْغَنِيِّ الْمَقْدِسِيُّ صَاحِبُ عُمْدَةِ الْأَحْكَامِ كَانَ يَقْتَدِي بِالْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي هَذَا يُصَلِّي ثَلَاثَ مِئَةِ رَكْعَةٍ لِأَنَّ الصَّلَاةَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً كَذَلِكَ أَيْضًا الدُّعَاءُ فَإِنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَلِهَذَا ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى آيَةَ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ الْآيَةُ الَّتِي قَبْلَهَا شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَالْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَاأُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ لِمَاذَا كَانَتْ آيَةُ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ؟ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلصَّائِمِ أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذَا الشَّهْرِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ خَاصَّةً فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَجْتَهِدُ الْمُسْلِمُ بِكُلِّ مَا هُوَ عَمَلٌ صَالِحٌ الَّذِي تَيَسَّرَ لَهُ أَنْ يَعْتَكِفَ فَهَذَا هُوَ الْأَفْضَلُ وَهُوَ السُّنَّةُ إِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ يَعْتَكِفُ لَيَالِيَ الْوِتْرِ أَوْ مَا تَيَسَّرَ مِنْهَا فَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ هَذَا وَلَا ذَاكَ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يُخَفِّفَ مَشَاغِلَهُ فِي الدُّنْيَا وَأَنْ يَزِيدَ مِنَ الْوَقْتِ الْمُخَصَّصِ لِلْعِبَادَةِ


Apa yang paling afdal dilakukan seorang Muslimdi sepuluh malam terakhir bulan Ramadan?Yang paling afdal dilakukan adalah apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu salat. Karena yang tampak dari beliau ‘alaihis shalatu wassalam adalah mendirikan salat pada mayoritas waktu malam-malam itu.Namun, beliau hanya salat berjamaah dengan para sahabat selama tiga malam,sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dan lainnya. Para sahabat salat dengan beliau pada malam ke-23 Ramadan hingga sepertiga malam pertama.Lalu mereka salat dengan beliau pada malam ke-25 Ramadan hingga tengah malam. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, andai engkau salat sunah lagi dengan kami di sisa waktu malam kita ini.”Yakni andai saja engkau melanjutkan salat bersama kami hingga waktu terbitnya fajar. Lalu beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab,“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai, maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”“Barang siapa yang salat berjamaah dengan imam hingga imam itu selesai,maka ditulis baginya salat sepanjang malam.”Ini adalah keutamaan yang besar. Barang siapa yang salat dengan imam, hingga imam itu salam dari rakaat terakhir,maka ditulis baginya pahala salat sepanjang malam.Lalu Nabi salat bersama para sahabat pada malam ke-27 Ramadanhingga mendekati waktu terbitnya fajar. Para sahabat berkata, “Hingga kami khawatir tidak sempat makan sahur.”Ini menunjukkan penguatan ibadah pada malam ke-27 Ramadan melebihi malam-malam lainnya. Jadi, dulu Nabi ‘alaihis shalatu wassalammenyibukkan diri pada sepuluh malam terakhir Ramadan ini dengan mendirikan salat. Maka jika kamu dapat menggunakan seluruh atau mayoritas waktumu untuk salat, maka lakukanlah,karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amal yang paling dicintai oleh Allah–seperti yang disebutkan dalam Shahihain–lalu beliau menjawab, “Salat.” Salat adalah ibadah dan amal yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Oleh sebab itu, diriwayatkan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka memperbanyak ibadah salat. Disebutkan dalam biografi Imam Ahmad bin Hambal–dan ini kisah yang masyhur tentang beliau–bahwa dulu beliau mendirikan salat sunah karena Allah Ta’ala–bukan salat fardu–dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Lalu saat beliau menjadi lemah setelah menghadapi ujian yang menimpanya, beliau mendirikan salat 150 rakaat.Dulu al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, penulis kitab Umdatul Ahkammencontoh Imam Ahmad dalam hal ini, sehingga beliau juga mendirikan salat 300 rakaat. Karena salat adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilahbahwa tidaklah kamu bersujud satu kalikecuali dengan sujud itu Allah mengangkat satu derajatmu dan menghapus satu dosamu. Juga amalan lainnya adalah doa, karena doa di malam-malam ini mudah dikabulkan.Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menyebutkan ayat tentang doa di tengah ayat-ayat tentang puasa: “Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku dekat …” (QS. al-Baqarah: 186)Ayat sebelumnya adalah, “Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan al-Quran …” Sedangkan ayat setelahnya, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu …”Mengapa ayat tentang doa ada di tengah ayat-ayat tentang puasa? Untuk menjadi isyarat bahwa orang yang berpuasa hendaklah memperbanyak doa,dan doa di bulan ini mudah untuk dikabulkan.Terlebih lagi di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Seorang Muslim juga hendaknya berusaha keras dalam menjalankan segala bentuk amal saleh.Bagi orang yang dimudahkan untuk menjalankan iktikaf, maka itu lebih afdal, dan ini adalah sunah. Namun, bagi yang tidak dimudahkan untuk itu, maka ia dapat beriktikaf di malam-malam ganjil atau di malam yang dapat ia lakukan.Jika tidak juga dimudahkan untuk melakukan hal-hal itu,maka paling tidak ia mengurangi kesibukannya dengan duniadan menambah waktu yang ia khususkan untuk beribadah. ==== مَا أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ الْمُسْلِمُ فِي لَيَالِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ أَفْضَلُ مَا يَفْعَلُهُ مَا فَعَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّلَاةُ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُومُ مُعْظَمَ اللَّيْلِ فِي تِلْكَ اللَّيَالِي لَكِنْ صَلَّى مَعَهُ الصَّحَابَةُ ثَلَاثَ لَيَالٍ كَمَا عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَصَلَّى بِهِمْ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّوا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ يَعْنِي لَوْ أَكْمَلْتَ بِنَا إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ وَهَذَا فَضْلٌ عَظِيمٌ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يُسَلِّمَ مِنَ الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ يُكْتَبُ لَهُ أَجْرُ قِيَامِ لَيْلَةٍ كَامِلَةٍ ثُمَّ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ إِلَى قَرِيبٍ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ يَقُولُ الصَّحَابَةُ حَتَّى خَشِيْنَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ يَعْنِي السُّحُورُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى تَأَكُّدِ لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهَا فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَشْتَغِلُ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي اللَّيَالِي الْعَشْرِ بِالصَّلَاةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُشْغِلَ وَقْتَكَ أَوْ أَكْثَرَهُ بِالصَّلَاةِ فَافْعَلْ فَإِنَّ الصَّلَاةَ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَحَبِّ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ الصَّلَاةُ الصَّلَاةُ هِيَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ أَحَبُّ عَمَلٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُكْثِرُونَ مِنَ الصَّلَاةِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ هَذَا مَشْهُورٌ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي لِلهِ تَعَالَى فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ تَطَوُّعًا مِنْ غَيْرِ فَرِيضَةٍ ثَلَاثُ مِئَةِ رَكْعَةٍ وَلَمَّا ضَعُفَ بَعْدَ الْمِحْنَةِ الَّتِي حَصَلَتْ لَهُ أَصْبَحَ يُصَلِّي مِئَةً وَخَمْسِينَ الْحَافِظُ عَبْدُ الْغَنِيِّ الْمَقْدِسِيُّ صَاحِبُ عُمْدَةِ الْأَحْكَامِ كَانَ يَقْتَدِي بِالْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي هَذَا يُصَلِّي ثَلَاثَ مِئَةِ رَكْعَةٍ لِأَنَّ الصَّلَاةَ أَحَبُّ عِبَادَةٍ إِلَى اللهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً كَذَلِكَ أَيْضًا الدُّعَاءُ فَإِنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَلِهَذَا ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى آيَةَ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ الْآيَةُ الَّتِي قَبْلَهَا شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَالْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَاأُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ لِمَاذَا كَانَتْ آيَةُ الدُّعَاءِ وَسَطَ آيَاتِ الصِّيَامِ؟ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلصَّائِمِ أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنَّ الدُّعَاءَ فِي هَذَا الشَّهْرِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ خَاصَّةً فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَجْتَهِدُ الْمُسْلِمُ بِكُلِّ مَا هُوَ عَمَلٌ صَالِحٌ الَّذِي تَيَسَّرَ لَهُ أَنْ يَعْتَكِفَ فَهَذَا هُوَ الْأَفْضَلُ وَهُوَ السُّنَّةُ إِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ يَعْتَكِفُ لَيَالِيَ الْوِتْرِ أَوْ مَا تَيَسَّرَ مِنْهَا فَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ هَذَا وَلَا ذَاكَ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يُخَفِّفَ مَشَاغِلَهُ فِي الدُّنْيَا وَأَنْ يَزِيدَ مِنَ الْوَقْتِ الْمُخَصَّصِ لِلْعِبَادَةِ

Semalam Saja Lalu Dosamu Diampuni – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

“Barang siapa salat saat Lailatul Qadar, niscaya diampunidosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini, sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah,di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumakan hilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran inidan mengingat-ingat ganjaran iniserta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālāagar Menolong kita dalam beramal saleh,Memudahkan kita untuk terus menambahnya, dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. ==== مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الْأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا

Semalam Saja Lalu Dosamu Diampuni – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

“Barang siapa salat saat Lailatul Qadar, niscaya diampunidosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini, sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah,di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumakan hilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran inidan mengingat-ingat ganjaran iniserta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālāagar Menolong kita dalam beramal saleh,Memudahkan kita untuk terus menambahnya, dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. ==== مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الْأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا
“Barang siapa salat saat Lailatul Qadar, niscaya diampunidosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini, sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah,di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumakan hilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran inidan mengingat-ingat ganjaran iniserta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālāagar Menolong kita dalam beramal saleh,Memudahkan kita untuk terus menambahnya, dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. ==== مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الْأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا


“Barang siapa salat saat Lailatul Qadar, niscaya diampunidosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Jika seseorang diampuni dosa-dosanya yang telah laludengan salat di satu malam di antara sepuluh malam ini, sungguh ini adalah sebesar-besarnya ganimah yang diperoleh tanpa susah payah,di mana Anda hanya bersungguh-sungguh beramal di sepuluh malam ini,lalu Anda mendapatkan satu malam,yang kemudian dosa-dosa Anda yang telah lalu diampuni. Jadi, keburukan-keburukan di masa lalu yang telah Anda lakukanterhadap diri Anda atau terhadap orang lain secara umumakan hilang seluruhnya! Jika Anda salat bertepatan dengan Lailatul Qadar,lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Menerimanya dari Anda. Ketika hati sudah memahami gambaran inidan mengingat-ingat ganjaran iniserta mengerti bahwa ajal tidak diketahui waktunya, dan bahwa seseorang akan kembali kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,niscaya dia akan mengerti bahwa tekadnya adalah bersungguh-sungguh beramal saleh. Aku memohon kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālāagar Menolong kita dalam beramal saleh,Memudahkan kita untuk terus menambahnya, dan Mengizinkan kita mendapatkan Lailatul Qadardan ampunan dosa di malam tersebut. ==== مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ يُغْفَرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ بِقِيَامِ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ عَشْرِ لَيَالٍ كَانَ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الْبَارِدَةِ فَإِنَّكَ لَا تَعْمَلُ مُجْتَهِدًا إِلَّا فِي عَشْرٍ ثُمَّ تُصِيبُ لَيْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يُغْفَرُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذُنُوبِكَ فَسَيِّئَاتُكَ السَّالِفَةُ مِمَّا جَنَيتَهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِكَ أَوْ فِي عَامَّةِ النَّاسِ تَزُولُ كُلُّهَا إِذَا وَافَقْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَائِمًا فَقَبِلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْكَ فَمَتَى شَهِدَ الْقَلْبُ هَذَا الْمَشْهَدَ وَاسْتَحْضَرَ هَذَا الْأَجْرَ وَعَلِمَ أَنَّ مِيقَاتَ الْأَجَلِ مَجْهُولٌ وَأَنَّ الْعَبْدَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَنْقُولٌ رَأَى أَنَّ الْحَزْمَ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَأَسْأَلُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَأَنْ يُيَسِّرَ لَنَا الزِّيَادَةَ فِيهَا وَأَنْ يَرْزُقَنَا مُوَافَقَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَغْفِرَةَ الذُّنُوبِ فِيهَا
Prev     Next