Sebaiknya Muazin Bersuara Keras dan Indah – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar

Seorang muazin harus punya suara yang lantang,karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ajarkan itu pada Bilal, karena suaranya lebih bagus daripada suaramu.” (HR. Abu Dawud) Para ulama berkata bahwa sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,bahwa suaranya lebih bagus daripada suaramu, ada dua makna:makna pertama hukumnya wajibdan makna kedua hukumnya sunah. Adapun makna yang wajib, maksudnyabahwa setiap muazin wajib melantunkan azandengan suara yang lantang atau tinggisehingga bisa didengar walaupun oleh orang yang jauh. Maksudnya, walaupun seseorang berada di tempat yang jauh dari muazin,karena suara yang keras adalah kewajiban bagi muazin,karena orang yang tidak memperdengarkan suaranya pada manusiamaka dia bukanlah seorang muazin karena suaranya tidak terdengar. Makna kedua dari sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“… karena suaranya lebih bagus daripada suaramu,…”maknanya adalah suaranya yang lebih indah, dan ini merupakan karunia dari Allah Jalla wa ʿAlā,karena sebagian orang berbeda dengan yang lainnyadalam tebal dan tipisnya suara,dan lembut dan kasarnya suaranya. Ini hukumnya sunah dan tidak menjadi syarat sahnya azan. ===== أَنَّ هَذَا الْمُؤَذِّنَ يَلْزَمُهُ أَنْ يَكُونَ صَيِّتًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْهُ بِلَالًا فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا قَالُوا: وَفِي مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا أَمْرَانِ أَحَدُهُمَا عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَالْأَمْرُ الثَّانِي عَلَى سَبِيلِ النَّدْبِ أَمَّا الَّذِي هُوَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ وَاجِبًا عَلَى كُلِّ الْمُؤَذِّنِ بِأَنْ يَكُونَ صَيِّتًا أَيْ صَوْتُهُ مُرْتَفِعٌ فَيُسْتَمَعُ… فَيُسْمَعُ إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنْهُ بَعِيدًا أَيْ… وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنِ الْمُؤَذِّنِ فِي مَكَانٍ بَعِيدٍ لِأَنَّ كَوْنَهُ صَيِّتًا هَذَا وَاجِبٌ فِي الْمُؤَذِّنِ إِذْ مَنْ لَا يُسْمِعُ النَّاسَ صَوْتَهُ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ مُؤَذِّنًا إِذْ لَا جَهْرَ فِيهِ الْأَمْرُ الثَّانِي مِنْ مَعَانِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا بِمَعْنَى أَنَّهُ أَجْمَلُ صَوْتًا وَهَذِهِ مَوَاهِبُ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَخْتَلِفُ عَنْ غَيْرِهِ فِي ضَخَامَةِ صَوْتِهِ وَرِقَّتِهِ وَفِي جَمَالِهِ وَخُشُونَتِهِ وَهَذَا مِنْ بَابِ النَّدْبِ لَا مِنْ بَابِ الشَّرْطِ فِي صِحَّةِ الْأَذَانِ

Sebaiknya Muazin Bersuara Keras dan Indah – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar

Seorang muazin harus punya suara yang lantang,karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ajarkan itu pada Bilal, karena suaranya lebih bagus daripada suaramu.” (HR. Abu Dawud) Para ulama berkata bahwa sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,bahwa suaranya lebih bagus daripada suaramu, ada dua makna:makna pertama hukumnya wajibdan makna kedua hukumnya sunah. Adapun makna yang wajib, maksudnyabahwa setiap muazin wajib melantunkan azandengan suara yang lantang atau tinggisehingga bisa didengar walaupun oleh orang yang jauh. Maksudnya, walaupun seseorang berada di tempat yang jauh dari muazin,karena suara yang keras adalah kewajiban bagi muazin,karena orang yang tidak memperdengarkan suaranya pada manusiamaka dia bukanlah seorang muazin karena suaranya tidak terdengar. Makna kedua dari sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“… karena suaranya lebih bagus daripada suaramu,…”maknanya adalah suaranya yang lebih indah, dan ini merupakan karunia dari Allah Jalla wa ʿAlā,karena sebagian orang berbeda dengan yang lainnyadalam tebal dan tipisnya suara,dan lembut dan kasarnya suaranya. Ini hukumnya sunah dan tidak menjadi syarat sahnya azan. ===== أَنَّ هَذَا الْمُؤَذِّنَ يَلْزَمُهُ أَنْ يَكُونَ صَيِّتًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْهُ بِلَالًا فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا قَالُوا: وَفِي مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا أَمْرَانِ أَحَدُهُمَا عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَالْأَمْرُ الثَّانِي عَلَى سَبِيلِ النَّدْبِ أَمَّا الَّذِي هُوَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ وَاجِبًا عَلَى كُلِّ الْمُؤَذِّنِ بِأَنْ يَكُونَ صَيِّتًا أَيْ صَوْتُهُ مُرْتَفِعٌ فَيُسْتَمَعُ… فَيُسْمَعُ إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنْهُ بَعِيدًا أَيْ… وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنِ الْمُؤَذِّنِ فِي مَكَانٍ بَعِيدٍ لِأَنَّ كَوْنَهُ صَيِّتًا هَذَا وَاجِبٌ فِي الْمُؤَذِّنِ إِذْ مَنْ لَا يُسْمِعُ النَّاسَ صَوْتَهُ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ مُؤَذِّنًا إِذْ لَا جَهْرَ فِيهِ الْأَمْرُ الثَّانِي مِنْ مَعَانِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا بِمَعْنَى أَنَّهُ أَجْمَلُ صَوْتًا وَهَذِهِ مَوَاهِبُ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَخْتَلِفُ عَنْ غَيْرِهِ فِي ضَخَامَةِ صَوْتِهِ وَرِقَّتِهِ وَفِي جَمَالِهِ وَخُشُونَتِهِ وَهَذَا مِنْ بَابِ النَّدْبِ لَا مِنْ بَابِ الشَّرْطِ فِي صِحَّةِ الْأَذَانِ
Seorang muazin harus punya suara yang lantang,karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ajarkan itu pada Bilal, karena suaranya lebih bagus daripada suaramu.” (HR. Abu Dawud) Para ulama berkata bahwa sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,bahwa suaranya lebih bagus daripada suaramu, ada dua makna:makna pertama hukumnya wajibdan makna kedua hukumnya sunah. Adapun makna yang wajib, maksudnyabahwa setiap muazin wajib melantunkan azandengan suara yang lantang atau tinggisehingga bisa didengar walaupun oleh orang yang jauh. Maksudnya, walaupun seseorang berada di tempat yang jauh dari muazin,karena suara yang keras adalah kewajiban bagi muazin,karena orang yang tidak memperdengarkan suaranya pada manusiamaka dia bukanlah seorang muazin karena suaranya tidak terdengar. Makna kedua dari sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“… karena suaranya lebih bagus daripada suaramu,…”maknanya adalah suaranya yang lebih indah, dan ini merupakan karunia dari Allah Jalla wa ʿAlā,karena sebagian orang berbeda dengan yang lainnyadalam tebal dan tipisnya suara,dan lembut dan kasarnya suaranya. Ini hukumnya sunah dan tidak menjadi syarat sahnya azan. ===== أَنَّ هَذَا الْمُؤَذِّنَ يَلْزَمُهُ أَنْ يَكُونَ صَيِّتًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْهُ بِلَالًا فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا قَالُوا: وَفِي مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا أَمْرَانِ أَحَدُهُمَا عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَالْأَمْرُ الثَّانِي عَلَى سَبِيلِ النَّدْبِ أَمَّا الَّذِي هُوَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ وَاجِبًا عَلَى كُلِّ الْمُؤَذِّنِ بِأَنْ يَكُونَ صَيِّتًا أَيْ صَوْتُهُ مُرْتَفِعٌ فَيُسْتَمَعُ… فَيُسْمَعُ إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنْهُ بَعِيدًا أَيْ… وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنِ الْمُؤَذِّنِ فِي مَكَانٍ بَعِيدٍ لِأَنَّ كَوْنَهُ صَيِّتًا هَذَا وَاجِبٌ فِي الْمُؤَذِّنِ إِذْ مَنْ لَا يُسْمِعُ النَّاسَ صَوْتَهُ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ مُؤَذِّنًا إِذْ لَا جَهْرَ فِيهِ الْأَمْرُ الثَّانِي مِنْ مَعَانِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا بِمَعْنَى أَنَّهُ أَجْمَلُ صَوْتًا وَهَذِهِ مَوَاهِبُ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَخْتَلِفُ عَنْ غَيْرِهِ فِي ضَخَامَةِ صَوْتِهِ وَرِقَّتِهِ وَفِي جَمَالِهِ وَخُشُونَتِهِ وَهَذَا مِنْ بَابِ النَّدْبِ لَا مِنْ بَابِ الشَّرْطِ فِي صِحَّةِ الْأَذَانِ


Seorang muazin harus punya suara yang lantang,karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ajarkan itu pada Bilal, karena suaranya lebih bagus daripada suaramu.” (HR. Abu Dawud) Para ulama berkata bahwa sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,bahwa suaranya lebih bagus daripada suaramu, ada dua makna:makna pertama hukumnya wajibdan makna kedua hukumnya sunah. Adapun makna yang wajib, maksudnyabahwa setiap muazin wajib melantunkan azandengan suara yang lantang atau tinggisehingga bisa didengar walaupun oleh orang yang jauh. Maksudnya, walaupun seseorang berada di tempat yang jauh dari muazin,karena suara yang keras adalah kewajiban bagi muazin,karena orang yang tidak memperdengarkan suaranya pada manusiamaka dia bukanlah seorang muazin karena suaranya tidak terdengar. Makna kedua dari sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam“… karena suaranya lebih bagus daripada suaramu,…”maknanya adalah suaranya yang lebih indah, dan ini merupakan karunia dari Allah Jalla wa ʿAlā,karena sebagian orang berbeda dengan yang lainnyadalam tebal dan tipisnya suara,dan lembut dan kasarnya suaranya. Ini hukumnya sunah dan tidak menjadi syarat sahnya azan. ===== أَنَّ هَذَا الْمُؤَذِّنَ يَلْزَمُهُ أَنْ يَكُونَ صَيِّتًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْهُ بِلَالًا فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا قَالُوا: وَفِي مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا أَمْرَانِ أَحَدُهُمَا عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَالْأَمْرُ الثَّانِي عَلَى سَبِيلِ النَّدْبِ أَمَّا الَّذِي هُوَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ وَاجِبًا عَلَى كُلِّ الْمُؤَذِّنِ بِأَنْ يَكُونَ صَيِّتًا أَيْ صَوْتُهُ مُرْتَفِعٌ فَيُسْتَمَعُ… فَيُسْمَعُ إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنْهُ بَعِيدًا أَيْ… وَإِنْ كَانَ الْمَرْءُ عَنِ الْمُؤَذِّنِ فِي مَكَانٍ بَعِيدٍ لِأَنَّ كَوْنَهُ صَيِّتًا هَذَا وَاجِبٌ فِي الْمُؤَذِّنِ إِذْ مَنْ لَا يُسْمِعُ النَّاسَ صَوْتَهُ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ مُؤَذِّنًا إِذْ لَا جَهْرَ فِيهِ الْأَمْرُ الثَّانِي مِنْ مَعَانِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا بِمَعْنَى أَنَّهُ أَجْمَلُ صَوْتًا وَهَذِهِ مَوَاهِبُ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَخْتَلِفُ عَنْ غَيْرِهِ فِي ضَخَامَةِ صَوْتِهِ وَرِقَّتِهِ وَفِي جَمَالِهِ وَخُشُونَتِهِ وَهَذَا مِنْ بَابِ النَّدْبِ لَا مِنْ بَابِ الشَّرْطِ فِي صِحَّةِ الْأَذَانِ

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 4)

Daftar Isi Tiga tujuan penciptaan menjadi satuBuah menunaikan tujuan hidupTegar di atas jalan kebahagiaanTiga tujuan penciptaan menjadi satuJika Anda pikirkan lagi lebih dalam, ternyata tiga tujuan penciptaan ini pada dasarnya adalah satu paket atau satu kesatuan. Bagaimana mungkin? Iya, tentunya karena ia berasal dari sumber yang sama, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.Seperti yang sudah Anda baca sebelumnya, bahwa pengetahuan hamba terhadap Rabb-Nya berbanding lurus dengan mahabbah, raja’, khauf, tawakal, dan berbagai amalan hati seorang hamba. Semakin buta seorang hamba kepada Penciptanya, maka semakin lalai dan durhaka ia kepada-Nya. Sebaliknya, semakin besar pengetahuan seorang hamba kepada Rabb-Nya, maka semakin ia taat dan tunduk kepada-Nya. Pengetahuan dan ilmu tentang Rabb-Nya ini pun akan membuahkan amal, yakni ia akan beribadah kepada Rabb-Nya dengan sebaik-baiknya ibadah, melalui amalan lisan, dan anggota badan. Dan jika ia mencapai tingkatan ilmu dan amal tertinggi, maka ia akan beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya. [1]Maka, perhatikanlah hubungan keduanya, makrifatullah dan ibadah, dengan ujian! Bahwasanya ujian itu turun dari atas langit, dari Allah ‘Azza wa Jalla, kepada hamba yang ada di bawah, untuk membedakan dan memisahkan antara hamba yang beriman dan hamba yang kufur. Ujian yang empat macam tersebut kemudian menghampiri hamba. Barangsiapa yang menyambut ujian tersebut dan menegakkannya, atas dasar ilmu dan imannya kepada Rabb-nya, maka ia menjadi ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, ibadah ini berasal dari hamba Allah yang ada di bawah dan ditujukan kepada Rabb-Nya semata yang ada di atas. Adapun mereka yang mengabaikan keempat ujian tersebut, maka baginya dosa dan penderitaan. Karena ia sejatinya ia telah lalai memelihara benih kehidupannya, yang mana buahnya adalah kebahagiaan sejati.Buah menunaikan tujuan hidupSetelah Anda memahami tujuan penciptaan, kehidupan, dan kematian, tiba saatnya Anda mengenal buah yang Anda akan petik tatkala Anda mewujudkan tujuan hidup yang Allah tetapkan bagi seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami limpahkan kepadanya kehidupan yang baik.” [2]Demikianlah, imbalan dan buah yang hanya bisa dinikmati oleh manusia-manusia pilihan, yaitu  manusia yang menegakkan amal saleh yang dilandasi keimanan kepada Allah Ta’ala. Adalah Allah yang akan memberikan jaminan kepada mereka berupa kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Dan, sebaliknya kebahagiaan hakiki ini tidak mungkin diberikan kepada mereka yang kufur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Alangkah indahnya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menerangkan keadaan orang-orang mukmin yang menjadikan setiap ujian baik perintah dan larangan, maupun nikmat dan musibah sebagai ladang amal saleh, di mana buahnya adalah kebaikan dan kebahagiaan hidup baginya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu mengandung kebaikan. Dan hal ini tidaklah ditemukan, kecuali pada diri seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Sehingga hal itu baik baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan keburukan, maka ia bersabar. Dan hal itu pun baik baginya.” [3]Demikianlah, kesudahan bagi mereka yang menegakkan tujuan penciptaan mereka. Namun, yang menjadi masalah, seringkali kita salah memahami makna kebahagiaan hidup itu sendiri. Sebagian manusia memahami bahwa kebahagiaan hidup di dunia itu haruslah berupa kehidupan yang terus-menerus tenang, lancar, tanpa hambatan, dan tanpa bala musibah yang menghimpit dada dan mendatangkan kesedihan. Maka, mari kita renungkan lagi hal ini pada bab penutup berikut.Baca juga: Untuk Apa Kamu Hidup?Tegar di atas jalan kebahagiaanSebelumnya, telah sampai kepada kita janji Allah bahwa buah amal saleh bagi seorang hamba adalah kebahagiaan hidup. Namun, perlu Anda pahami bahwa kebahagiaan hidup yang hakiki adalah ketika seseorang telah mencapai tempat yang penuh dengan kenikmatan abadi, yang tidak diselingi kesedihan sama sekali, yakni surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selama Anda hidup di dunia, selama Anda masih bernyawa, maka Anda dan seluruh manusia pasti akan menemui ujian-ujian dalam setiap etape kehidupan Anda. Bahkan, di alam kubur dan padang masyhar sekali pun manusia itu masih akan merasakan penat dan kelelahan-kelelahan.Akan tetapi, yang membedakan orang orang mukmin dan orang kafir adalah, ketika menghadapi ujian-ujian tersebut, Allah akan membersamai orang-orang mukmin, sehingga ujian itu menjadi ringan baginya. Zat Yang Mahabesar dan Mahakuasa atas segala sesuatu berada di sisinya, sehingga ujian sebesar apapun akan terasa kecil bagi seorang mukmin. Sebaliknya, Allah akan membiarkan dan meninggalkan orang-orang kafir bersendirian ketika mereka menghadapi ujian-ujian yang ada. Sehingga ujian kecil pun akan menjadi besar dan berat bagi mereka.Tentu Anda sudah mendengar bahwa di surga, selain kenikmatan-kenikmatan yang ada, juga ada tambahan padanya [4], yakni para penduduk surga akan melihat wajah Allah Ta’ala di hari kiamat kelak [5]. Dan ini adalah puncak kenikmatan dan kebahagiaan bagi seorang hamba, yang tidak ada taranya dan tidak ada bandingannya. Maka, seorang hamba yang beriman akan menjadikan pertemuan dengan Rabbnya sebagai momen yang paling ia nantikan. Sebagaimana seorang pencinta merindukan pertemuan dengan orang yang ia kasihi. Maka, seorang hamba yang beriman memiliki kesadaran penuh akan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan padanya. Dia adalah Zat yang paling menginginkan kebaikan dan kebahagiaan baginya. Zat yang berlari padanya, ketika ia datang dengan ketaatan, tobat, dan tangis penyesalan atas dosa-dosa yang telah menghitamkan hati. Zat yang telah menunjukinya jalan kebenaran serta memberinya taufik dan hidayah agar bisa tegar di atas jalan itu hingga datangnya haqqul yaqin. Demikianlah, dua buah kenikmatan yang tidak pernah terbetik di hati, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak mampu diimajinasikan oleh akal manusia, yakni surga dan wajah Allah ‘Azza wa Jalla.Maka, mari kita sederhanakan kisah ini. Bermula dengan pengenalan seorang hamba terhadap Allah. Disusul dengan sambutan sang hamba terhadap ujian-ujian kehidupan sembari merealisasikannya menjadi ibadah. Dan kisahnya berujung bahagia dengan perjumpaan sang hamba dengan Rabb-Nya. Lillahi – billahi – ilallahi. Karena Allah (ikhlas) – bersama Allah (ittiba’), dan menuju (bertemu) Allah. Maka, benarlah kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Semakin Anda mengenal Allah, maka semakin Anda ingin dekat dengan-Nya, dan semakin Anda ingin bertemu dengan-Nya. Demikianlah permisalannya. Hanya hamba yang benar-benar mengenal Rabbnyalah yang kemudian bisa mengenali-Nya. Dan hanya hamba yang benar-benar mengenali Rabbnyalah yang dapat menemui-Nya, tanpa hijab dan tanpa perantara, di surga yang penuh dengan kenikmatan nan abadi.Maka, jika surga dan wajah Allah adalah ganjarannya, maka tentu ujiannya tidak semudah yang dibayangkan. Dalam hukum kebiasaan manusia berbunyi, ‘Semakin besar keuntungan yang akan diraih, maka semakin besar usaha yang harus dikeluarkan.’ Oleh karena itu, ketika Allah Ta’ala menciptakan surga, Dia liputi surga itu dengan hal-hal yang dibenci oleh jiwa manusia. Sebaliknya, ketika Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia liputi neraka itu dengan hal-hal yang disenangi oleh jiwa manusia [6]. Maka, bersama dengan ujian yang Allah turunkan kepada hamba tersebut, Allah bekali manusia dengan hati yang di dalamnya terjadi pertempuran antara keimanan dan hawa nafsu, antara bisikan malaikat dan rayuan setan, serta antara ajakan kepada kebaikan dan keburukan.Demikianlah, ujian dan kesulitan yang harus saya dan Anda hadapi untuk meraih surga Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, ingatlah selalu dalam setiap titik perjalanan hidup Anda, bahwa di balik beratnya ketaatan dan ibadah yang Anda lakukan, ada surga Allah yang sedang menunggu. Sebaliknya, di balik kelalaian dan memperturutkan hawa nafsu, ada neraka Allah yang sedang menanti, waliyyadzu billah. Maka, nasihat untuk saya dan Anda, “Tegarlah di atas jalan kebahagiaan dan hadapilah segala ujian dengan hati yang lapang, hingga datangnya hari yang ditentukan.”[Selesai]Kembali ke bagian 3 Mulai dari bagian 1 ***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.[1] HR. Muslim. Ketika menjelaskan makna ihsan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak bisa melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”[2] QS. An-Nahl ayat 97.[3] HR. Muslim no. 2999.[4] QS. Yunus ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”[5] HR. Bukhari no. 554 dan Muslim no. 633. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya.”[6] HR. Tirmidzi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam bersabda, “Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam pergi ke surga sambil berfirman, ‘Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’” Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan, “Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang berita surga, kecuali ingin memasuk ke dalamnya.’ Kemudian Allah memerintahkan kepada surga sehingga ia diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa). Lalu, Allah Ta’ala memerintahkan Jibril, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!’ Maka, Jibril pun kembali ke surga dan ia melihat bahwasanya surga telah diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu sungguh aku khawatir tidak ada seorang pun yang dapat  memasukinya!’Kemudian Allah memberi perintah, ‘Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’ Maka, ketika berada di neraka terdapat api yang  menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk, Jibril pun kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu tidak ada seorang pun yang ingin masuk ke dalamnya. Kemudian Allah Ta’ala memberi perintah kepada neraka agar ia dipenuhi dengan perkara-perkara yang disukai oleh nafsu dan syahwat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalilah padanya!’ Jibril pun kembali ke neraka dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada seorang pun dari hamba-Mu yang bisa selamat dari siksanya.'”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 4)

Daftar Isi Tiga tujuan penciptaan menjadi satuBuah menunaikan tujuan hidupTegar di atas jalan kebahagiaanTiga tujuan penciptaan menjadi satuJika Anda pikirkan lagi lebih dalam, ternyata tiga tujuan penciptaan ini pada dasarnya adalah satu paket atau satu kesatuan. Bagaimana mungkin? Iya, tentunya karena ia berasal dari sumber yang sama, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.Seperti yang sudah Anda baca sebelumnya, bahwa pengetahuan hamba terhadap Rabb-Nya berbanding lurus dengan mahabbah, raja’, khauf, tawakal, dan berbagai amalan hati seorang hamba. Semakin buta seorang hamba kepada Penciptanya, maka semakin lalai dan durhaka ia kepada-Nya. Sebaliknya, semakin besar pengetahuan seorang hamba kepada Rabb-Nya, maka semakin ia taat dan tunduk kepada-Nya. Pengetahuan dan ilmu tentang Rabb-Nya ini pun akan membuahkan amal, yakni ia akan beribadah kepada Rabb-Nya dengan sebaik-baiknya ibadah, melalui amalan lisan, dan anggota badan. Dan jika ia mencapai tingkatan ilmu dan amal tertinggi, maka ia akan beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya. [1]Maka, perhatikanlah hubungan keduanya, makrifatullah dan ibadah, dengan ujian! Bahwasanya ujian itu turun dari atas langit, dari Allah ‘Azza wa Jalla, kepada hamba yang ada di bawah, untuk membedakan dan memisahkan antara hamba yang beriman dan hamba yang kufur. Ujian yang empat macam tersebut kemudian menghampiri hamba. Barangsiapa yang menyambut ujian tersebut dan menegakkannya, atas dasar ilmu dan imannya kepada Rabb-nya, maka ia menjadi ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, ibadah ini berasal dari hamba Allah yang ada di bawah dan ditujukan kepada Rabb-Nya semata yang ada di atas. Adapun mereka yang mengabaikan keempat ujian tersebut, maka baginya dosa dan penderitaan. Karena ia sejatinya ia telah lalai memelihara benih kehidupannya, yang mana buahnya adalah kebahagiaan sejati.Buah menunaikan tujuan hidupSetelah Anda memahami tujuan penciptaan, kehidupan, dan kematian, tiba saatnya Anda mengenal buah yang Anda akan petik tatkala Anda mewujudkan tujuan hidup yang Allah tetapkan bagi seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami limpahkan kepadanya kehidupan yang baik.” [2]Demikianlah, imbalan dan buah yang hanya bisa dinikmati oleh manusia-manusia pilihan, yaitu  manusia yang menegakkan amal saleh yang dilandasi keimanan kepada Allah Ta’ala. Adalah Allah yang akan memberikan jaminan kepada mereka berupa kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Dan, sebaliknya kebahagiaan hakiki ini tidak mungkin diberikan kepada mereka yang kufur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Alangkah indahnya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menerangkan keadaan orang-orang mukmin yang menjadikan setiap ujian baik perintah dan larangan, maupun nikmat dan musibah sebagai ladang amal saleh, di mana buahnya adalah kebaikan dan kebahagiaan hidup baginya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu mengandung kebaikan. Dan hal ini tidaklah ditemukan, kecuali pada diri seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Sehingga hal itu baik baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan keburukan, maka ia bersabar. Dan hal itu pun baik baginya.” [3]Demikianlah, kesudahan bagi mereka yang menegakkan tujuan penciptaan mereka. Namun, yang menjadi masalah, seringkali kita salah memahami makna kebahagiaan hidup itu sendiri. Sebagian manusia memahami bahwa kebahagiaan hidup di dunia itu haruslah berupa kehidupan yang terus-menerus tenang, lancar, tanpa hambatan, dan tanpa bala musibah yang menghimpit dada dan mendatangkan kesedihan. Maka, mari kita renungkan lagi hal ini pada bab penutup berikut.Baca juga: Untuk Apa Kamu Hidup?Tegar di atas jalan kebahagiaanSebelumnya, telah sampai kepada kita janji Allah bahwa buah amal saleh bagi seorang hamba adalah kebahagiaan hidup. Namun, perlu Anda pahami bahwa kebahagiaan hidup yang hakiki adalah ketika seseorang telah mencapai tempat yang penuh dengan kenikmatan abadi, yang tidak diselingi kesedihan sama sekali, yakni surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selama Anda hidup di dunia, selama Anda masih bernyawa, maka Anda dan seluruh manusia pasti akan menemui ujian-ujian dalam setiap etape kehidupan Anda. Bahkan, di alam kubur dan padang masyhar sekali pun manusia itu masih akan merasakan penat dan kelelahan-kelelahan.Akan tetapi, yang membedakan orang orang mukmin dan orang kafir adalah, ketika menghadapi ujian-ujian tersebut, Allah akan membersamai orang-orang mukmin, sehingga ujian itu menjadi ringan baginya. Zat Yang Mahabesar dan Mahakuasa atas segala sesuatu berada di sisinya, sehingga ujian sebesar apapun akan terasa kecil bagi seorang mukmin. Sebaliknya, Allah akan membiarkan dan meninggalkan orang-orang kafir bersendirian ketika mereka menghadapi ujian-ujian yang ada. Sehingga ujian kecil pun akan menjadi besar dan berat bagi mereka.Tentu Anda sudah mendengar bahwa di surga, selain kenikmatan-kenikmatan yang ada, juga ada tambahan padanya [4], yakni para penduduk surga akan melihat wajah Allah Ta’ala di hari kiamat kelak [5]. Dan ini adalah puncak kenikmatan dan kebahagiaan bagi seorang hamba, yang tidak ada taranya dan tidak ada bandingannya. Maka, seorang hamba yang beriman akan menjadikan pertemuan dengan Rabbnya sebagai momen yang paling ia nantikan. Sebagaimana seorang pencinta merindukan pertemuan dengan orang yang ia kasihi. Maka, seorang hamba yang beriman memiliki kesadaran penuh akan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan padanya. Dia adalah Zat yang paling menginginkan kebaikan dan kebahagiaan baginya. Zat yang berlari padanya, ketika ia datang dengan ketaatan, tobat, dan tangis penyesalan atas dosa-dosa yang telah menghitamkan hati. Zat yang telah menunjukinya jalan kebenaran serta memberinya taufik dan hidayah agar bisa tegar di atas jalan itu hingga datangnya haqqul yaqin. Demikianlah, dua buah kenikmatan yang tidak pernah terbetik di hati, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak mampu diimajinasikan oleh akal manusia, yakni surga dan wajah Allah ‘Azza wa Jalla.Maka, mari kita sederhanakan kisah ini. Bermula dengan pengenalan seorang hamba terhadap Allah. Disusul dengan sambutan sang hamba terhadap ujian-ujian kehidupan sembari merealisasikannya menjadi ibadah. Dan kisahnya berujung bahagia dengan perjumpaan sang hamba dengan Rabb-Nya. Lillahi – billahi – ilallahi. Karena Allah (ikhlas) – bersama Allah (ittiba’), dan menuju (bertemu) Allah. Maka, benarlah kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Semakin Anda mengenal Allah, maka semakin Anda ingin dekat dengan-Nya, dan semakin Anda ingin bertemu dengan-Nya. Demikianlah permisalannya. Hanya hamba yang benar-benar mengenal Rabbnyalah yang kemudian bisa mengenali-Nya. Dan hanya hamba yang benar-benar mengenali Rabbnyalah yang dapat menemui-Nya, tanpa hijab dan tanpa perantara, di surga yang penuh dengan kenikmatan nan abadi.Maka, jika surga dan wajah Allah adalah ganjarannya, maka tentu ujiannya tidak semudah yang dibayangkan. Dalam hukum kebiasaan manusia berbunyi, ‘Semakin besar keuntungan yang akan diraih, maka semakin besar usaha yang harus dikeluarkan.’ Oleh karena itu, ketika Allah Ta’ala menciptakan surga, Dia liputi surga itu dengan hal-hal yang dibenci oleh jiwa manusia. Sebaliknya, ketika Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia liputi neraka itu dengan hal-hal yang disenangi oleh jiwa manusia [6]. Maka, bersama dengan ujian yang Allah turunkan kepada hamba tersebut, Allah bekali manusia dengan hati yang di dalamnya terjadi pertempuran antara keimanan dan hawa nafsu, antara bisikan malaikat dan rayuan setan, serta antara ajakan kepada kebaikan dan keburukan.Demikianlah, ujian dan kesulitan yang harus saya dan Anda hadapi untuk meraih surga Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, ingatlah selalu dalam setiap titik perjalanan hidup Anda, bahwa di balik beratnya ketaatan dan ibadah yang Anda lakukan, ada surga Allah yang sedang menunggu. Sebaliknya, di balik kelalaian dan memperturutkan hawa nafsu, ada neraka Allah yang sedang menanti, waliyyadzu billah. Maka, nasihat untuk saya dan Anda, “Tegarlah di atas jalan kebahagiaan dan hadapilah segala ujian dengan hati yang lapang, hingga datangnya hari yang ditentukan.”[Selesai]Kembali ke bagian 3 Mulai dari bagian 1 ***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.[1] HR. Muslim. Ketika menjelaskan makna ihsan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak bisa melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”[2] QS. An-Nahl ayat 97.[3] HR. Muslim no. 2999.[4] QS. Yunus ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”[5] HR. Bukhari no. 554 dan Muslim no. 633. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya.”[6] HR. Tirmidzi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam bersabda, “Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam pergi ke surga sambil berfirman, ‘Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’” Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan, “Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang berita surga, kecuali ingin memasuk ke dalamnya.’ Kemudian Allah memerintahkan kepada surga sehingga ia diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa). Lalu, Allah Ta’ala memerintahkan Jibril, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!’ Maka, Jibril pun kembali ke surga dan ia melihat bahwasanya surga telah diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu sungguh aku khawatir tidak ada seorang pun yang dapat  memasukinya!’Kemudian Allah memberi perintah, ‘Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’ Maka, ketika berada di neraka terdapat api yang  menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk, Jibril pun kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu tidak ada seorang pun yang ingin masuk ke dalamnya. Kemudian Allah Ta’ala memberi perintah kepada neraka agar ia dipenuhi dengan perkara-perkara yang disukai oleh nafsu dan syahwat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalilah padanya!’ Jibril pun kembali ke neraka dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada seorang pun dari hamba-Mu yang bisa selamat dari siksanya.'”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah
Daftar Isi Tiga tujuan penciptaan menjadi satuBuah menunaikan tujuan hidupTegar di atas jalan kebahagiaanTiga tujuan penciptaan menjadi satuJika Anda pikirkan lagi lebih dalam, ternyata tiga tujuan penciptaan ini pada dasarnya adalah satu paket atau satu kesatuan. Bagaimana mungkin? Iya, tentunya karena ia berasal dari sumber yang sama, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.Seperti yang sudah Anda baca sebelumnya, bahwa pengetahuan hamba terhadap Rabb-Nya berbanding lurus dengan mahabbah, raja’, khauf, tawakal, dan berbagai amalan hati seorang hamba. Semakin buta seorang hamba kepada Penciptanya, maka semakin lalai dan durhaka ia kepada-Nya. Sebaliknya, semakin besar pengetahuan seorang hamba kepada Rabb-Nya, maka semakin ia taat dan tunduk kepada-Nya. Pengetahuan dan ilmu tentang Rabb-Nya ini pun akan membuahkan amal, yakni ia akan beribadah kepada Rabb-Nya dengan sebaik-baiknya ibadah, melalui amalan lisan, dan anggota badan. Dan jika ia mencapai tingkatan ilmu dan amal tertinggi, maka ia akan beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya. [1]Maka, perhatikanlah hubungan keduanya, makrifatullah dan ibadah, dengan ujian! Bahwasanya ujian itu turun dari atas langit, dari Allah ‘Azza wa Jalla, kepada hamba yang ada di bawah, untuk membedakan dan memisahkan antara hamba yang beriman dan hamba yang kufur. Ujian yang empat macam tersebut kemudian menghampiri hamba. Barangsiapa yang menyambut ujian tersebut dan menegakkannya, atas dasar ilmu dan imannya kepada Rabb-nya, maka ia menjadi ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, ibadah ini berasal dari hamba Allah yang ada di bawah dan ditujukan kepada Rabb-Nya semata yang ada di atas. Adapun mereka yang mengabaikan keempat ujian tersebut, maka baginya dosa dan penderitaan. Karena ia sejatinya ia telah lalai memelihara benih kehidupannya, yang mana buahnya adalah kebahagiaan sejati.Buah menunaikan tujuan hidupSetelah Anda memahami tujuan penciptaan, kehidupan, dan kematian, tiba saatnya Anda mengenal buah yang Anda akan petik tatkala Anda mewujudkan tujuan hidup yang Allah tetapkan bagi seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami limpahkan kepadanya kehidupan yang baik.” [2]Demikianlah, imbalan dan buah yang hanya bisa dinikmati oleh manusia-manusia pilihan, yaitu  manusia yang menegakkan amal saleh yang dilandasi keimanan kepada Allah Ta’ala. Adalah Allah yang akan memberikan jaminan kepada mereka berupa kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Dan, sebaliknya kebahagiaan hakiki ini tidak mungkin diberikan kepada mereka yang kufur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Alangkah indahnya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menerangkan keadaan orang-orang mukmin yang menjadikan setiap ujian baik perintah dan larangan, maupun nikmat dan musibah sebagai ladang amal saleh, di mana buahnya adalah kebaikan dan kebahagiaan hidup baginya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu mengandung kebaikan. Dan hal ini tidaklah ditemukan, kecuali pada diri seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Sehingga hal itu baik baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan keburukan, maka ia bersabar. Dan hal itu pun baik baginya.” [3]Demikianlah, kesudahan bagi mereka yang menegakkan tujuan penciptaan mereka. Namun, yang menjadi masalah, seringkali kita salah memahami makna kebahagiaan hidup itu sendiri. Sebagian manusia memahami bahwa kebahagiaan hidup di dunia itu haruslah berupa kehidupan yang terus-menerus tenang, lancar, tanpa hambatan, dan tanpa bala musibah yang menghimpit dada dan mendatangkan kesedihan. Maka, mari kita renungkan lagi hal ini pada bab penutup berikut.Baca juga: Untuk Apa Kamu Hidup?Tegar di atas jalan kebahagiaanSebelumnya, telah sampai kepada kita janji Allah bahwa buah amal saleh bagi seorang hamba adalah kebahagiaan hidup. Namun, perlu Anda pahami bahwa kebahagiaan hidup yang hakiki adalah ketika seseorang telah mencapai tempat yang penuh dengan kenikmatan abadi, yang tidak diselingi kesedihan sama sekali, yakni surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selama Anda hidup di dunia, selama Anda masih bernyawa, maka Anda dan seluruh manusia pasti akan menemui ujian-ujian dalam setiap etape kehidupan Anda. Bahkan, di alam kubur dan padang masyhar sekali pun manusia itu masih akan merasakan penat dan kelelahan-kelelahan.Akan tetapi, yang membedakan orang orang mukmin dan orang kafir adalah, ketika menghadapi ujian-ujian tersebut, Allah akan membersamai orang-orang mukmin, sehingga ujian itu menjadi ringan baginya. Zat Yang Mahabesar dan Mahakuasa atas segala sesuatu berada di sisinya, sehingga ujian sebesar apapun akan terasa kecil bagi seorang mukmin. Sebaliknya, Allah akan membiarkan dan meninggalkan orang-orang kafir bersendirian ketika mereka menghadapi ujian-ujian yang ada. Sehingga ujian kecil pun akan menjadi besar dan berat bagi mereka.Tentu Anda sudah mendengar bahwa di surga, selain kenikmatan-kenikmatan yang ada, juga ada tambahan padanya [4], yakni para penduduk surga akan melihat wajah Allah Ta’ala di hari kiamat kelak [5]. Dan ini adalah puncak kenikmatan dan kebahagiaan bagi seorang hamba, yang tidak ada taranya dan tidak ada bandingannya. Maka, seorang hamba yang beriman akan menjadikan pertemuan dengan Rabbnya sebagai momen yang paling ia nantikan. Sebagaimana seorang pencinta merindukan pertemuan dengan orang yang ia kasihi. Maka, seorang hamba yang beriman memiliki kesadaran penuh akan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan padanya. Dia adalah Zat yang paling menginginkan kebaikan dan kebahagiaan baginya. Zat yang berlari padanya, ketika ia datang dengan ketaatan, tobat, dan tangis penyesalan atas dosa-dosa yang telah menghitamkan hati. Zat yang telah menunjukinya jalan kebenaran serta memberinya taufik dan hidayah agar bisa tegar di atas jalan itu hingga datangnya haqqul yaqin. Demikianlah, dua buah kenikmatan yang tidak pernah terbetik di hati, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak mampu diimajinasikan oleh akal manusia, yakni surga dan wajah Allah ‘Azza wa Jalla.Maka, mari kita sederhanakan kisah ini. Bermula dengan pengenalan seorang hamba terhadap Allah. Disusul dengan sambutan sang hamba terhadap ujian-ujian kehidupan sembari merealisasikannya menjadi ibadah. Dan kisahnya berujung bahagia dengan perjumpaan sang hamba dengan Rabb-Nya. Lillahi – billahi – ilallahi. Karena Allah (ikhlas) – bersama Allah (ittiba’), dan menuju (bertemu) Allah. Maka, benarlah kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Semakin Anda mengenal Allah, maka semakin Anda ingin dekat dengan-Nya, dan semakin Anda ingin bertemu dengan-Nya. Demikianlah permisalannya. Hanya hamba yang benar-benar mengenal Rabbnyalah yang kemudian bisa mengenali-Nya. Dan hanya hamba yang benar-benar mengenali Rabbnyalah yang dapat menemui-Nya, tanpa hijab dan tanpa perantara, di surga yang penuh dengan kenikmatan nan abadi.Maka, jika surga dan wajah Allah adalah ganjarannya, maka tentu ujiannya tidak semudah yang dibayangkan. Dalam hukum kebiasaan manusia berbunyi, ‘Semakin besar keuntungan yang akan diraih, maka semakin besar usaha yang harus dikeluarkan.’ Oleh karena itu, ketika Allah Ta’ala menciptakan surga, Dia liputi surga itu dengan hal-hal yang dibenci oleh jiwa manusia. Sebaliknya, ketika Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia liputi neraka itu dengan hal-hal yang disenangi oleh jiwa manusia [6]. Maka, bersama dengan ujian yang Allah turunkan kepada hamba tersebut, Allah bekali manusia dengan hati yang di dalamnya terjadi pertempuran antara keimanan dan hawa nafsu, antara bisikan malaikat dan rayuan setan, serta antara ajakan kepada kebaikan dan keburukan.Demikianlah, ujian dan kesulitan yang harus saya dan Anda hadapi untuk meraih surga Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, ingatlah selalu dalam setiap titik perjalanan hidup Anda, bahwa di balik beratnya ketaatan dan ibadah yang Anda lakukan, ada surga Allah yang sedang menunggu. Sebaliknya, di balik kelalaian dan memperturutkan hawa nafsu, ada neraka Allah yang sedang menanti, waliyyadzu billah. Maka, nasihat untuk saya dan Anda, “Tegarlah di atas jalan kebahagiaan dan hadapilah segala ujian dengan hati yang lapang, hingga datangnya hari yang ditentukan.”[Selesai]Kembali ke bagian 3 Mulai dari bagian 1 ***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.[1] HR. Muslim. Ketika menjelaskan makna ihsan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak bisa melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”[2] QS. An-Nahl ayat 97.[3] HR. Muslim no. 2999.[4] QS. Yunus ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”[5] HR. Bukhari no. 554 dan Muslim no. 633. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya.”[6] HR. Tirmidzi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam bersabda, “Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam pergi ke surga sambil berfirman, ‘Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’” Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan, “Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang berita surga, kecuali ingin memasuk ke dalamnya.’ Kemudian Allah memerintahkan kepada surga sehingga ia diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa). Lalu, Allah Ta’ala memerintahkan Jibril, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!’ Maka, Jibril pun kembali ke surga dan ia melihat bahwasanya surga telah diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu sungguh aku khawatir tidak ada seorang pun yang dapat  memasukinya!’Kemudian Allah memberi perintah, ‘Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’ Maka, ketika berada di neraka terdapat api yang  menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk, Jibril pun kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu tidak ada seorang pun yang ingin masuk ke dalamnya. Kemudian Allah Ta’ala memberi perintah kepada neraka agar ia dipenuhi dengan perkara-perkara yang disukai oleh nafsu dan syahwat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalilah padanya!’ Jibril pun kembali ke neraka dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada seorang pun dari hamba-Mu yang bisa selamat dari siksanya.'”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah


Daftar Isi Tiga tujuan penciptaan menjadi satuBuah menunaikan tujuan hidupTegar di atas jalan kebahagiaanTiga tujuan penciptaan menjadi satuJika Anda pikirkan lagi lebih dalam, ternyata tiga tujuan penciptaan ini pada dasarnya adalah satu paket atau satu kesatuan. Bagaimana mungkin? Iya, tentunya karena ia berasal dari sumber yang sama, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.Seperti yang sudah Anda baca sebelumnya, bahwa pengetahuan hamba terhadap Rabb-Nya berbanding lurus dengan mahabbah, raja’, khauf, tawakal, dan berbagai amalan hati seorang hamba. Semakin buta seorang hamba kepada Penciptanya, maka semakin lalai dan durhaka ia kepada-Nya. Sebaliknya, semakin besar pengetahuan seorang hamba kepada Rabb-Nya, maka semakin ia taat dan tunduk kepada-Nya. Pengetahuan dan ilmu tentang Rabb-Nya ini pun akan membuahkan amal, yakni ia akan beribadah kepada Rabb-Nya dengan sebaik-baiknya ibadah, melalui amalan lisan, dan anggota badan. Dan jika ia mencapai tingkatan ilmu dan amal tertinggi, maka ia akan beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya. [1]Maka, perhatikanlah hubungan keduanya, makrifatullah dan ibadah, dengan ujian! Bahwasanya ujian itu turun dari atas langit, dari Allah ‘Azza wa Jalla, kepada hamba yang ada di bawah, untuk membedakan dan memisahkan antara hamba yang beriman dan hamba yang kufur. Ujian yang empat macam tersebut kemudian menghampiri hamba. Barangsiapa yang menyambut ujian tersebut dan menegakkannya, atas dasar ilmu dan imannya kepada Rabb-nya, maka ia menjadi ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, ibadah ini berasal dari hamba Allah yang ada di bawah dan ditujukan kepada Rabb-Nya semata yang ada di atas. Adapun mereka yang mengabaikan keempat ujian tersebut, maka baginya dosa dan penderitaan. Karena ia sejatinya ia telah lalai memelihara benih kehidupannya, yang mana buahnya adalah kebahagiaan sejati.Buah menunaikan tujuan hidupSetelah Anda memahami tujuan penciptaan, kehidupan, dan kematian, tiba saatnya Anda mengenal buah yang Anda akan petik tatkala Anda mewujudkan tujuan hidup yang Allah tetapkan bagi seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami limpahkan kepadanya kehidupan yang baik.” [2]Demikianlah, imbalan dan buah yang hanya bisa dinikmati oleh manusia-manusia pilihan, yaitu  manusia yang menegakkan amal saleh yang dilandasi keimanan kepada Allah Ta’ala. Adalah Allah yang akan memberikan jaminan kepada mereka berupa kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Dan, sebaliknya kebahagiaan hakiki ini tidak mungkin diberikan kepada mereka yang kufur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Alangkah indahnya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menerangkan keadaan orang-orang mukmin yang menjadikan setiap ujian baik perintah dan larangan, maupun nikmat dan musibah sebagai ladang amal saleh, di mana buahnya adalah kebaikan dan kebahagiaan hidup baginya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu mengandung kebaikan. Dan hal ini tidaklah ditemukan, kecuali pada diri seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Sehingga hal itu baik baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan keburukan, maka ia bersabar. Dan hal itu pun baik baginya.” [3]Demikianlah, kesudahan bagi mereka yang menegakkan tujuan penciptaan mereka. Namun, yang menjadi masalah, seringkali kita salah memahami makna kebahagiaan hidup itu sendiri. Sebagian manusia memahami bahwa kebahagiaan hidup di dunia itu haruslah berupa kehidupan yang terus-menerus tenang, lancar, tanpa hambatan, dan tanpa bala musibah yang menghimpit dada dan mendatangkan kesedihan. Maka, mari kita renungkan lagi hal ini pada bab penutup berikut.Baca juga: Untuk Apa Kamu Hidup?Tegar di atas jalan kebahagiaanSebelumnya, telah sampai kepada kita janji Allah bahwa buah amal saleh bagi seorang hamba adalah kebahagiaan hidup. Namun, perlu Anda pahami bahwa kebahagiaan hidup yang hakiki adalah ketika seseorang telah mencapai tempat yang penuh dengan kenikmatan abadi, yang tidak diselingi kesedihan sama sekali, yakni surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selama Anda hidup di dunia, selama Anda masih bernyawa, maka Anda dan seluruh manusia pasti akan menemui ujian-ujian dalam setiap etape kehidupan Anda. Bahkan, di alam kubur dan padang masyhar sekali pun manusia itu masih akan merasakan penat dan kelelahan-kelelahan.Akan tetapi, yang membedakan orang orang mukmin dan orang kafir adalah, ketika menghadapi ujian-ujian tersebut, Allah akan membersamai orang-orang mukmin, sehingga ujian itu menjadi ringan baginya. Zat Yang Mahabesar dan Mahakuasa atas segala sesuatu berada di sisinya, sehingga ujian sebesar apapun akan terasa kecil bagi seorang mukmin. Sebaliknya, Allah akan membiarkan dan meninggalkan orang-orang kafir bersendirian ketika mereka menghadapi ujian-ujian yang ada. Sehingga ujian kecil pun akan menjadi besar dan berat bagi mereka.Tentu Anda sudah mendengar bahwa di surga, selain kenikmatan-kenikmatan yang ada, juga ada tambahan padanya [4], yakni para penduduk surga akan melihat wajah Allah Ta’ala di hari kiamat kelak [5]. Dan ini adalah puncak kenikmatan dan kebahagiaan bagi seorang hamba, yang tidak ada taranya dan tidak ada bandingannya. Maka, seorang hamba yang beriman akan menjadikan pertemuan dengan Rabbnya sebagai momen yang paling ia nantikan. Sebagaimana seorang pencinta merindukan pertemuan dengan orang yang ia kasihi. Maka, seorang hamba yang beriman memiliki kesadaran penuh akan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan padanya. Dia adalah Zat yang paling menginginkan kebaikan dan kebahagiaan baginya. Zat yang berlari padanya, ketika ia datang dengan ketaatan, tobat, dan tangis penyesalan atas dosa-dosa yang telah menghitamkan hati. Zat yang telah menunjukinya jalan kebenaran serta memberinya taufik dan hidayah agar bisa tegar di atas jalan itu hingga datangnya haqqul yaqin. Demikianlah, dua buah kenikmatan yang tidak pernah terbetik di hati, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak mampu diimajinasikan oleh akal manusia, yakni surga dan wajah Allah ‘Azza wa Jalla.Maka, mari kita sederhanakan kisah ini. Bermula dengan pengenalan seorang hamba terhadap Allah. Disusul dengan sambutan sang hamba terhadap ujian-ujian kehidupan sembari merealisasikannya menjadi ibadah. Dan kisahnya berujung bahagia dengan perjumpaan sang hamba dengan Rabb-Nya. Lillahi – billahi – ilallahi. Karena Allah (ikhlas) – bersama Allah (ittiba’), dan menuju (bertemu) Allah. Maka, benarlah kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Semakin Anda mengenal Allah, maka semakin Anda ingin dekat dengan-Nya, dan semakin Anda ingin bertemu dengan-Nya. Demikianlah permisalannya. Hanya hamba yang benar-benar mengenal Rabbnyalah yang kemudian bisa mengenali-Nya. Dan hanya hamba yang benar-benar mengenali Rabbnyalah yang dapat menemui-Nya, tanpa hijab dan tanpa perantara, di surga yang penuh dengan kenikmatan nan abadi.Maka, jika surga dan wajah Allah adalah ganjarannya, maka tentu ujiannya tidak semudah yang dibayangkan. Dalam hukum kebiasaan manusia berbunyi, ‘Semakin besar keuntungan yang akan diraih, maka semakin besar usaha yang harus dikeluarkan.’ Oleh karena itu, ketika Allah Ta’ala menciptakan surga, Dia liputi surga itu dengan hal-hal yang dibenci oleh jiwa manusia. Sebaliknya, ketika Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia liputi neraka itu dengan hal-hal yang disenangi oleh jiwa manusia [6]. Maka, bersama dengan ujian yang Allah turunkan kepada hamba tersebut, Allah bekali manusia dengan hati yang di dalamnya terjadi pertempuran antara keimanan dan hawa nafsu, antara bisikan malaikat dan rayuan setan, serta antara ajakan kepada kebaikan dan keburukan.Demikianlah, ujian dan kesulitan yang harus saya dan Anda hadapi untuk meraih surga Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, ingatlah selalu dalam setiap titik perjalanan hidup Anda, bahwa di balik beratnya ketaatan dan ibadah yang Anda lakukan, ada surga Allah yang sedang menunggu. Sebaliknya, di balik kelalaian dan memperturutkan hawa nafsu, ada neraka Allah yang sedang menanti, waliyyadzu billah. Maka, nasihat untuk saya dan Anda, “Tegarlah di atas jalan kebahagiaan dan hadapilah segala ujian dengan hati yang lapang, hingga datangnya hari yang ditentukan.”[Selesai]Kembali ke bagian 3 Mulai dari bagian 1 ***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.[1] HR. Muslim. Ketika menjelaskan makna ihsan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak bisa melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”[2] QS. An-Nahl ayat 97.[3] HR. Muslim no. 2999.[4] QS. Yunus ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”[5] HR. Bukhari no. 554 dan Muslim no. 633. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya.”[6] HR. Tirmidzi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam bersabda, “Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam pergi ke surga sambil berfirman, ‘Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’” Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan, “Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang berita surga, kecuali ingin memasuk ke dalamnya.’ Kemudian Allah memerintahkan kepada surga sehingga ia diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa). Lalu, Allah Ta’ala memerintahkan Jibril, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!’ Maka, Jibril pun kembali ke surga dan ia melihat bahwasanya surga telah diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu sungguh aku khawatir tidak ada seorang pun yang dapat  memasukinya!’Kemudian Allah memberi perintah, ‘Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!’ Maka, ketika berada di neraka terdapat api yang  menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk, Jibril pun kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu tidak ada seorang pun yang ingin masuk ke dalamnya. Kemudian Allah Ta’ala memberi perintah kepada neraka agar ia dipenuhi dengan perkara-perkara yang disukai oleh nafsu dan syahwat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalilah padanya!’ Jibril pun kembali ke neraka dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada seorang pun dari hamba-Mu yang bisa selamat dari siksanya.'”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Siapa Itu Zindiq?

Pertanyaan: Siapakah yang dimaksud dengan orang zindiq? Mohon pencerahannya ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya wal Mursaliin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Istilah zindiq kita dapati dalam banyak literatur sebagai orang yang dicela oleh para ulama. Istilah ini juga sebenarnya terdapat dalam hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنه سيكونُ في أمتي مسخٌ وقذفٌ وهو في الزِّنديقيَّةِ والقَدَريَّةِ “Akan terjadi di tengah umatku peristiwa maskhun (diubahnya wajah manusia menjadi buruk) dan qadzfun (manusia dijatuhi bebatuan dari atas). Itu akan terjadi pada az-zindiqiyyah dan al-qadariyah” (HR. At-Tirmidzi no.2153, Ibnu Majah no.4061, Ahmad no.6208). Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah menshahihkan hadits di atas dalam Takhrij Musnad Ahmad (9/74). Namun hadits ini didhaifkan oleh jumhur ulama hadits karena terdapat perawi Rusydain bin Sa’ad Al-Mishri yang merupakan perawi yang dha’if. Istilah zindiq kita dapati lebih banyak dari kalam para ulama terdahulu. Al-Barbahari rahimahullah dalam matan Syarhus Sunnah mengatakan: وإذا سمعت الرجل تأتيه بالأثر فلا يريده ويريد القرآن، فلا يشك أنه رجل قد احتوى على الزندقة، فقم من عنده ودعه “Jika engkau mendengar seseorang yang disampaikan atsar (hadits). Namun ia menolaknya dan ia hanya menginginkan Al-Qur’an. Maka tidak ragu lagi bahwa orang tersebut telah diliputi oleh zandaqah, tinggalkanlah dan biarkanlah ia”. Makhul rahimahullah, seorang ulama tabi’in dari Syam, beliau mengatakan: من عبد الله بالحب وحده فهو زنديق، ومن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ، ومن عبده بالخوف وحده فهو حروري، ومن عبده بالحب والخوف والرجاء فهو مؤمن موحد “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta saja, maka ia zindiq. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa harap saja, maka ia murjiah. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut saja, maka ia haruri (khawarij). Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta, rasa takut dan rasa harap, maka ia mukmin yang bertauhid” (Ihya’ Ulumiddin, 4/257). Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan: من قال: القُرْآنُ مخلوقٌ، فهو زِنديقٌ “Siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka ia zindiq” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/111). Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah juga mengatakan: من زعم أنَّ قَولَ اللهِ عَزَّ وجَلَّ: يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [النمل:9]  مخلوقٌ، فهو كافِرٌ زِنديقٌ حَلالٌ دَمُه “Siapa yang mengklaim bahwa firman Allah ta’ala (yang artinya) : “Wahai Musa sesungguhnya Aku adalah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Naml: 9) adalah makhluk, maka ia kafir zindiq dan halal darahnya” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/107). Dan masih banyak lagi kalam para ulama yang mencela orang zindiq. Makna Zindiq Zindiq secara bahasa artinya sempit. Dalam Lisanul Arab disebutkan: والزَّنْدَقةُ: الضِّيقُ، وقيل الزِّنْدِيقُ منه لأنه ضيّق على نفسه “Az-zandaqah artinya: sempit. Sebagian ahli bahasa mengatakan bahwa dari makna ini diambil kata “zindiq“, karena orang zindiq membuat dirinya berada dalam kesempitan”. Adapun secara istilah, dijelaskan dalam Al-Qamus Al-Muhith karya Fairuzabadi rahimahullah: زِنْديقُ: من الثَّنَوِيَّةِ، أو القائلُ بالنُّورِ والظُّلْمَةِ، أو مَن لا يُؤْمِنُ بالآخِرَةِ وبالرُّبوبِيَّةِ، أو مَن يُبْطِنُ الكُفْرَ ويُظْهِرُ الإِيمانَ “Zindiq adalah tsanawiyah (orang yang meyakini ada dua tuhan), atau orang yang menyembah Tuhan cahaya dan Tuhan kegelapan, atau orang yang tidak meyakini hari Akhirat dan tidak meyakini adanya Tuhan, atau orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keimanan”. Zindiq adalah sebutan untuk orang yang meyakini zandaqah. Sedangkan zandaqah dalam Mu’jam Al-Wasith disebutkan: الزَّنْدَقَة : القولُ بأَزليَّة العالم، وأُطلق على الزرادشتيّة، والمانوية، وغيرهم من الثنوية، وتُوُسِّع فيه فأُطلق على كل شاكٍّ، أو ضالٍّ، أو ملحد “Az-zandaqah adalah keyakinan bahwa alam itu azali (bukan ciptaan Tuhan), sebutan ini juga digunakan untuk aliran Zoroaster dan Manikheisme serta semua aliran Dualisme (aliran yang meyakini adanya dua Tuhan) lainnya. Namun penggunaannya meluas untuk semua orang yang ragu dalam imannya atau orang sesat atau orang atheis”. Namun jumhur ulama sering menggunakan istilah zindiq untuk orang munafik. Dalam Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah dijelaskan, والزندقة عند جمهور الفقهاء إظهار الإسلام وإبطان الكفر، فالزنديق هو من يظهر الإسلام ويبطن الكفر، قال الدسوقي: وهو المسمى في الصدر الأول منافقاً، ويسميه الفقهاء زنديقاً. وعند الحنفية وبعض الشافعية الزندقة: عدم التدين بدين، أو هي القول ببقاء الدهر واعتقاد أن الأموال والحرم مشتركة “Az-zandaqah menurut jumhur fuqaha adalah perbuatan menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekufuran. Maka zindiq adalah orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran. Ad-Dasuqi mengatakan: orang seperti ini disebut oleh para ulama terdahulu sebagai munafik, sedangkan oleh para fuqaha disebut sebagai zindiq. Menurut ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Syafi’iyyah, az-zandaqah adalah orang yang tidak punya agama, atau orang meyakini bahwa tidak ada hari kiamat dan meyakini bahwa harta sebanding dengan kehormatan” (Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 25/48). Kesimpulannya, istilah zindiq mencakup beberapa makna berikut ini: Orang munafik. Dan ini makna yang dimaksud oleh mayoritas ulama. Orang atheis yang tidak meyakini adanya tuhan. Orang Majusi atau Zoroaster, atau semua aliran yang meyakini ada dua tuhan. Orang yang tidak punya agama. Orang yang mengingkari hari Kiamat.  Orang yang ragu dalam imannya. Jika kita melihat semua cakupan makna dari zindiq di atas, maka kita mengetahui bahwa zandaqah adalah salah satu bentuk kekufuran. Orang yang zindiq, maka ia kafir. Dewan Fatwa Islamweb menjelaskan: واتفق الفقهاء على أن الزندقة كفر، وعلى أن ما ورد في القرآن والسنة من ذكر المنافقين يتناول الزنديق “Para fuqaha sepakat bahwa zandaqah adalah kekufuran. Dan semua dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyebutkan orang munafik, juga mencakup orang zindiq” (Fatwa Islamweb no. 52193). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Arti Mimpi, Siap Menikah Menurut Islam, Pertanyaan Jual Beli Dalam Islam, Doa Jiarah, Jodoh Pasti Bertemu Menurut Islam, Jumlah Surga Dan Neraka Visited 646 times, 4 visit(s) today Post Views: 485 QRIS donasi Yufid

Siapa Itu Zindiq?

Pertanyaan: Siapakah yang dimaksud dengan orang zindiq? Mohon pencerahannya ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya wal Mursaliin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Istilah zindiq kita dapati dalam banyak literatur sebagai orang yang dicela oleh para ulama. Istilah ini juga sebenarnya terdapat dalam hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنه سيكونُ في أمتي مسخٌ وقذفٌ وهو في الزِّنديقيَّةِ والقَدَريَّةِ “Akan terjadi di tengah umatku peristiwa maskhun (diubahnya wajah manusia menjadi buruk) dan qadzfun (manusia dijatuhi bebatuan dari atas). Itu akan terjadi pada az-zindiqiyyah dan al-qadariyah” (HR. At-Tirmidzi no.2153, Ibnu Majah no.4061, Ahmad no.6208). Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah menshahihkan hadits di atas dalam Takhrij Musnad Ahmad (9/74). Namun hadits ini didhaifkan oleh jumhur ulama hadits karena terdapat perawi Rusydain bin Sa’ad Al-Mishri yang merupakan perawi yang dha’if. Istilah zindiq kita dapati lebih banyak dari kalam para ulama terdahulu. Al-Barbahari rahimahullah dalam matan Syarhus Sunnah mengatakan: وإذا سمعت الرجل تأتيه بالأثر فلا يريده ويريد القرآن، فلا يشك أنه رجل قد احتوى على الزندقة، فقم من عنده ودعه “Jika engkau mendengar seseorang yang disampaikan atsar (hadits). Namun ia menolaknya dan ia hanya menginginkan Al-Qur’an. Maka tidak ragu lagi bahwa orang tersebut telah diliputi oleh zandaqah, tinggalkanlah dan biarkanlah ia”. Makhul rahimahullah, seorang ulama tabi’in dari Syam, beliau mengatakan: من عبد الله بالحب وحده فهو زنديق، ومن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ، ومن عبده بالخوف وحده فهو حروري، ومن عبده بالحب والخوف والرجاء فهو مؤمن موحد “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta saja, maka ia zindiq. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa harap saja, maka ia murjiah. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut saja, maka ia haruri (khawarij). Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta, rasa takut dan rasa harap, maka ia mukmin yang bertauhid” (Ihya’ Ulumiddin, 4/257). Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan: من قال: القُرْآنُ مخلوقٌ، فهو زِنديقٌ “Siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka ia zindiq” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/111). Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah juga mengatakan: من زعم أنَّ قَولَ اللهِ عَزَّ وجَلَّ: يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [النمل:9]  مخلوقٌ، فهو كافِرٌ زِنديقٌ حَلالٌ دَمُه “Siapa yang mengklaim bahwa firman Allah ta’ala (yang artinya) : “Wahai Musa sesungguhnya Aku adalah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Naml: 9) adalah makhluk, maka ia kafir zindiq dan halal darahnya” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/107). Dan masih banyak lagi kalam para ulama yang mencela orang zindiq. Makna Zindiq Zindiq secara bahasa artinya sempit. Dalam Lisanul Arab disebutkan: والزَّنْدَقةُ: الضِّيقُ، وقيل الزِّنْدِيقُ منه لأنه ضيّق على نفسه “Az-zandaqah artinya: sempit. Sebagian ahli bahasa mengatakan bahwa dari makna ini diambil kata “zindiq“, karena orang zindiq membuat dirinya berada dalam kesempitan”. Adapun secara istilah, dijelaskan dalam Al-Qamus Al-Muhith karya Fairuzabadi rahimahullah: زِنْديقُ: من الثَّنَوِيَّةِ، أو القائلُ بالنُّورِ والظُّلْمَةِ، أو مَن لا يُؤْمِنُ بالآخِرَةِ وبالرُّبوبِيَّةِ، أو مَن يُبْطِنُ الكُفْرَ ويُظْهِرُ الإِيمانَ “Zindiq adalah tsanawiyah (orang yang meyakini ada dua tuhan), atau orang yang menyembah Tuhan cahaya dan Tuhan kegelapan, atau orang yang tidak meyakini hari Akhirat dan tidak meyakini adanya Tuhan, atau orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keimanan”. Zindiq adalah sebutan untuk orang yang meyakini zandaqah. Sedangkan zandaqah dalam Mu’jam Al-Wasith disebutkan: الزَّنْدَقَة : القولُ بأَزليَّة العالم، وأُطلق على الزرادشتيّة، والمانوية، وغيرهم من الثنوية، وتُوُسِّع فيه فأُطلق على كل شاكٍّ، أو ضالٍّ، أو ملحد “Az-zandaqah adalah keyakinan bahwa alam itu azali (bukan ciptaan Tuhan), sebutan ini juga digunakan untuk aliran Zoroaster dan Manikheisme serta semua aliran Dualisme (aliran yang meyakini adanya dua Tuhan) lainnya. Namun penggunaannya meluas untuk semua orang yang ragu dalam imannya atau orang sesat atau orang atheis”. Namun jumhur ulama sering menggunakan istilah zindiq untuk orang munafik. Dalam Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah dijelaskan, والزندقة عند جمهور الفقهاء إظهار الإسلام وإبطان الكفر، فالزنديق هو من يظهر الإسلام ويبطن الكفر، قال الدسوقي: وهو المسمى في الصدر الأول منافقاً، ويسميه الفقهاء زنديقاً. وعند الحنفية وبعض الشافعية الزندقة: عدم التدين بدين، أو هي القول ببقاء الدهر واعتقاد أن الأموال والحرم مشتركة “Az-zandaqah menurut jumhur fuqaha adalah perbuatan menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekufuran. Maka zindiq adalah orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran. Ad-Dasuqi mengatakan: orang seperti ini disebut oleh para ulama terdahulu sebagai munafik, sedangkan oleh para fuqaha disebut sebagai zindiq. Menurut ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Syafi’iyyah, az-zandaqah adalah orang yang tidak punya agama, atau orang meyakini bahwa tidak ada hari kiamat dan meyakini bahwa harta sebanding dengan kehormatan” (Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 25/48). Kesimpulannya, istilah zindiq mencakup beberapa makna berikut ini: Orang munafik. Dan ini makna yang dimaksud oleh mayoritas ulama. Orang atheis yang tidak meyakini adanya tuhan. Orang Majusi atau Zoroaster, atau semua aliran yang meyakini ada dua tuhan. Orang yang tidak punya agama. Orang yang mengingkari hari Kiamat.  Orang yang ragu dalam imannya. Jika kita melihat semua cakupan makna dari zindiq di atas, maka kita mengetahui bahwa zandaqah adalah salah satu bentuk kekufuran. Orang yang zindiq, maka ia kafir. Dewan Fatwa Islamweb menjelaskan: واتفق الفقهاء على أن الزندقة كفر، وعلى أن ما ورد في القرآن والسنة من ذكر المنافقين يتناول الزنديق “Para fuqaha sepakat bahwa zandaqah adalah kekufuran. Dan semua dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyebutkan orang munafik, juga mencakup orang zindiq” (Fatwa Islamweb no. 52193). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Arti Mimpi, Siap Menikah Menurut Islam, Pertanyaan Jual Beli Dalam Islam, Doa Jiarah, Jodoh Pasti Bertemu Menurut Islam, Jumlah Surga Dan Neraka Visited 646 times, 4 visit(s) today Post Views: 485 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Siapakah yang dimaksud dengan orang zindiq? Mohon pencerahannya ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya wal Mursaliin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Istilah zindiq kita dapati dalam banyak literatur sebagai orang yang dicela oleh para ulama. Istilah ini juga sebenarnya terdapat dalam hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنه سيكونُ في أمتي مسخٌ وقذفٌ وهو في الزِّنديقيَّةِ والقَدَريَّةِ “Akan terjadi di tengah umatku peristiwa maskhun (diubahnya wajah manusia menjadi buruk) dan qadzfun (manusia dijatuhi bebatuan dari atas). Itu akan terjadi pada az-zindiqiyyah dan al-qadariyah” (HR. At-Tirmidzi no.2153, Ibnu Majah no.4061, Ahmad no.6208). Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah menshahihkan hadits di atas dalam Takhrij Musnad Ahmad (9/74). Namun hadits ini didhaifkan oleh jumhur ulama hadits karena terdapat perawi Rusydain bin Sa’ad Al-Mishri yang merupakan perawi yang dha’if. Istilah zindiq kita dapati lebih banyak dari kalam para ulama terdahulu. Al-Barbahari rahimahullah dalam matan Syarhus Sunnah mengatakan: وإذا سمعت الرجل تأتيه بالأثر فلا يريده ويريد القرآن، فلا يشك أنه رجل قد احتوى على الزندقة، فقم من عنده ودعه “Jika engkau mendengar seseorang yang disampaikan atsar (hadits). Namun ia menolaknya dan ia hanya menginginkan Al-Qur’an. Maka tidak ragu lagi bahwa orang tersebut telah diliputi oleh zandaqah, tinggalkanlah dan biarkanlah ia”. Makhul rahimahullah, seorang ulama tabi’in dari Syam, beliau mengatakan: من عبد الله بالحب وحده فهو زنديق، ومن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ، ومن عبده بالخوف وحده فهو حروري، ومن عبده بالحب والخوف والرجاء فهو مؤمن موحد “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta saja, maka ia zindiq. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa harap saja, maka ia murjiah. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut saja, maka ia haruri (khawarij). Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta, rasa takut dan rasa harap, maka ia mukmin yang bertauhid” (Ihya’ Ulumiddin, 4/257). Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan: من قال: القُرْآنُ مخلوقٌ، فهو زِنديقٌ “Siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka ia zindiq” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/111). Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah juga mengatakan: من زعم أنَّ قَولَ اللهِ عَزَّ وجَلَّ: يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [النمل:9]  مخلوقٌ، فهو كافِرٌ زِنديقٌ حَلالٌ دَمُه “Siapa yang mengklaim bahwa firman Allah ta’ala (yang artinya) : “Wahai Musa sesungguhnya Aku adalah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Naml: 9) adalah makhluk, maka ia kafir zindiq dan halal darahnya” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/107). Dan masih banyak lagi kalam para ulama yang mencela orang zindiq. Makna Zindiq Zindiq secara bahasa artinya sempit. Dalam Lisanul Arab disebutkan: والزَّنْدَقةُ: الضِّيقُ، وقيل الزِّنْدِيقُ منه لأنه ضيّق على نفسه “Az-zandaqah artinya: sempit. Sebagian ahli bahasa mengatakan bahwa dari makna ini diambil kata “zindiq“, karena orang zindiq membuat dirinya berada dalam kesempitan”. Adapun secara istilah, dijelaskan dalam Al-Qamus Al-Muhith karya Fairuzabadi rahimahullah: زِنْديقُ: من الثَّنَوِيَّةِ، أو القائلُ بالنُّورِ والظُّلْمَةِ، أو مَن لا يُؤْمِنُ بالآخِرَةِ وبالرُّبوبِيَّةِ، أو مَن يُبْطِنُ الكُفْرَ ويُظْهِرُ الإِيمانَ “Zindiq adalah tsanawiyah (orang yang meyakini ada dua tuhan), atau orang yang menyembah Tuhan cahaya dan Tuhan kegelapan, atau orang yang tidak meyakini hari Akhirat dan tidak meyakini adanya Tuhan, atau orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keimanan”. Zindiq adalah sebutan untuk orang yang meyakini zandaqah. Sedangkan zandaqah dalam Mu’jam Al-Wasith disebutkan: الزَّنْدَقَة : القولُ بأَزليَّة العالم، وأُطلق على الزرادشتيّة، والمانوية، وغيرهم من الثنوية، وتُوُسِّع فيه فأُطلق على كل شاكٍّ، أو ضالٍّ، أو ملحد “Az-zandaqah adalah keyakinan bahwa alam itu azali (bukan ciptaan Tuhan), sebutan ini juga digunakan untuk aliran Zoroaster dan Manikheisme serta semua aliran Dualisme (aliran yang meyakini adanya dua Tuhan) lainnya. Namun penggunaannya meluas untuk semua orang yang ragu dalam imannya atau orang sesat atau orang atheis”. Namun jumhur ulama sering menggunakan istilah zindiq untuk orang munafik. Dalam Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah dijelaskan, والزندقة عند جمهور الفقهاء إظهار الإسلام وإبطان الكفر، فالزنديق هو من يظهر الإسلام ويبطن الكفر، قال الدسوقي: وهو المسمى في الصدر الأول منافقاً، ويسميه الفقهاء زنديقاً. وعند الحنفية وبعض الشافعية الزندقة: عدم التدين بدين، أو هي القول ببقاء الدهر واعتقاد أن الأموال والحرم مشتركة “Az-zandaqah menurut jumhur fuqaha adalah perbuatan menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekufuran. Maka zindiq adalah orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran. Ad-Dasuqi mengatakan: orang seperti ini disebut oleh para ulama terdahulu sebagai munafik, sedangkan oleh para fuqaha disebut sebagai zindiq. Menurut ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Syafi’iyyah, az-zandaqah adalah orang yang tidak punya agama, atau orang meyakini bahwa tidak ada hari kiamat dan meyakini bahwa harta sebanding dengan kehormatan” (Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 25/48). Kesimpulannya, istilah zindiq mencakup beberapa makna berikut ini: Orang munafik. Dan ini makna yang dimaksud oleh mayoritas ulama. Orang atheis yang tidak meyakini adanya tuhan. Orang Majusi atau Zoroaster, atau semua aliran yang meyakini ada dua tuhan. Orang yang tidak punya agama. Orang yang mengingkari hari Kiamat.  Orang yang ragu dalam imannya. Jika kita melihat semua cakupan makna dari zindiq di atas, maka kita mengetahui bahwa zandaqah adalah salah satu bentuk kekufuran. Orang yang zindiq, maka ia kafir. Dewan Fatwa Islamweb menjelaskan: واتفق الفقهاء على أن الزندقة كفر، وعلى أن ما ورد في القرآن والسنة من ذكر المنافقين يتناول الزنديق “Para fuqaha sepakat bahwa zandaqah adalah kekufuran. Dan semua dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyebutkan orang munafik, juga mencakup orang zindiq” (Fatwa Islamweb no. 52193). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Arti Mimpi, Siap Menikah Menurut Islam, Pertanyaan Jual Beli Dalam Islam, Doa Jiarah, Jodoh Pasti Bertemu Menurut Islam, Jumlah Surga Dan Neraka Visited 646 times, 4 visit(s) today Post Views: 485 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Siapakah yang dimaksud dengan orang zindiq? Mohon pencerahannya ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya wal Mursaliin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Istilah zindiq kita dapati dalam banyak literatur sebagai orang yang dicela oleh para ulama. Istilah ini juga sebenarnya terdapat dalam hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنه سيكونُ في أمتي مسخٌ وقذفٌ وهو في الزِّنديقيَّةِ والقَدَريَّةِ “Akan terjadi di tengah umatku peristiwa maskhun (diubahnya wajah manusia menjadi buruk) dan qadzfun (manusia dijatuhi bebatuan dari atas). Itu akan terjadi pada az-zindiqiyyah dan al-qadariyah” (HR. At-Tirmidzi no.2153, Ibnu Majah no.4061, Ahmad no.6208). Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah menshahihkan hadits di atas dalam Takhrij Musnad Ahmad (9/74). Namun hadits ini didhaifkan oleh jumhur ulama hadits karena terdapat perawi Rusydain bin Sa’ad Al-Mishri yang merupakan perawi yang dha’if. Istilah zindiq kita dapati lebih banyak dari kalam para ulama terdahulu. Al-Barbahari rahimahullah dalam matan Syarhus Sunnah mengatakan: وإذا سمعت الرجل تأتيه بالأثر فلا يريده ويريد القرآن، فلا يشك أنه رجل قد احتوى على الزندقة، فقم من عنده ودعه “Jika engkau mendengar seseorang yang disampaikan atsar (hadits). Namun ia menolaknya dan ia hanya menginginkan Al-Qur’an. Maka tidak ragu lagi bahwa orang tersebut telah diliputi oleh zandaqah, tinggalkanlah dan biarkanlah ia”. Makhul rahimahullah, seorang ulama tabi’in dari Syam, beliau mengatakan: من عبد الله بالحب وحده فهو زنديق، ومن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ، ومن عبده بالخوف وحده فهو حروري، ومن عبده بالحب والخوف والرجاء فهو مؤمن موحد “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta saja, maka ia zindiq. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa harap saja, maka ia murjiah. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut saja, maka ia haruri (khawarij). Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta, rasa takut dan rasa harap, maka ia mukmin yang bertauhid” (Ihya’ Ulumiddin, 4/257). Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan: من قال: القُرْآنُ مخلوقٌ، فهو زِنديقٌ “Siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka ia zindiq” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/111). Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah juga mengatakan: من زعم أنَّ قَولَ اللهِ عَزَّ وجَلَّ: يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [النمل:9]  مخلوقٌ، فهو كافِرٌ زِنديقٌ حَلالٌ دَمُه “Siapa yang mengklaim bahwa firman Allah ta’ala (yang artinya) : “Wahai Musa sesungguhnya Aku adalah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Naml: 9) adalah makhluk, maka ia kafir zindiq dan halal darahnya” (As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, 1/107). Dan masih banyak lagi kalam para ulama yang mencela orang zindiq. Makna Zindiq Zindiq secara bahasa artinya sempit. Dalam Lisanul Arab disebutkan: والزَّنْدَقةُ: الضِّيقُ، وقيل الزِّنْدِيقُ منه لأنه ضيّق على نفسه “Az-zandaqah artinya: sempit. Sebagian ahli bahasa mengatakan bahwa dari makna ini diambil kata “zindiq“, karena orang zindiq membuat dirinya berada dalam kesempitan”. Adapun secara istilah, dijelaskan dalam Al-Qamus Al-Muhith karya Fairuzabadi rahimahullah: زِنْديقُ: من الثَّنَوِيَّةِ، أو القائلُ بالنُّورِ والظُّلْمَةِ، أو مَن لا يُؤْمِنُ بالآخِرَةِ وبالرُّبوبِيَّةِ، أو مَن يُبْطِنُ الكُفْرَ ويُظْهِرُ الإِيمانَ “Zindiq adalah tsanawiyah (orang yang meyakini ada dua tuhan), atau orang yang menyembah Tuhan cahaya dan Tuhan kegelapan, atau orang yang tidak meyakini hari Akhirat dan tidak meyakini adanya Tuhan, atau orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keimanan”. Zindiq adalah sebutan untuk orang yang meyakini zandaqah. Sedangkan zandaqah dalam Mu’jam Al-Wasith disebutkan: الزَّنْدَقَة : القولُ بأَزليَّة العالم، وأُطلق على الزرادشتيّة، والمانوية، وغيرهم من الثنوية، وتُوُسِّع فيه فأُطلق على كل شاكٍّ، أو ضالٍّ، أو ملحد “Az-zandaqah adalah keyakinan bahwa alam itu azali (bukan ciptaan Tuhan), sebutan ini juga digunakan untuk aliran Zoroaster dan Manikheisme serta semua aliran Dualisme (aliran yang meyakini adanya dua Tuhan) lainnya. Namun penggunaannya meluas untuk semua orang yang ragu dalam imannya atau orang sesat atau orang atheis”. Namun jumhur ulama sering menggunakan istilah zindiq untuk orang munafik. Dalam Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah dijelaskan, والزندقة عند جمهور الفقهاء إظهار الإسلام وإبطان الكفر، فالزنديق هو من يظهر الإسلام ويبطن الكفر، قال الدسوقي: وهو المسمى في الصدر الأول منافقاً، ويسميه الفقهاء زنديقاً. وعند الحنفية وبعض الشافعية الزندقة: عدم التدين بدين، أو هي القول ببقاء الدهر واعتقاد أن الأموال والحرم مشتركة “Az-zandaqah menurut jumhur fuqaha adalah perbuatan menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekufuran. Maka zindiq adalah orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran. Ad-Dasuqi mengatakan: orang seperti ini disebut oleh para ulama terdahulu sebagai munafik, sedangkan oleh para fuqaha disebut sebagai zindiq. Menurut ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Syafi’iyyah, az-zandaqah adalah orang yang tidak punya agama, atau orang meyakini bahwa tidak ada hari kiamat dan meyakini bahwa harta sebanding dengan kehormatan” (Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, 25/48). Kesimpulannya, istilah zindiq mencakup beberapa makna berikut ini: Orang munafik. Dan ini makna yang dimaksud oleh mayoritas ulama. Orang atheis yang tidak meyakini adanya tuhan. Orang Majusi atau Zoroaster, atau semua aliran yang meyakini ada dua tuhan. Orang yang tidak punya agama. Orang yang mengingkari hari Kiamat.  Orang yang ragu dalam imannya. Jika kita melihat semua cakupan makna dari zindiq di atas, maka kita mengetahui bahwa zandaqah adalah salah satu bentuk kekufuran. Orang yang zindiq, maka ia kafir. Dewan Fatwa Islamweb menjelaskan: واتفق الفقهاء على أن الزندقة كفر، وعلى أن ما ورد في القرآن والسنة من ذكر المنافقين يتناول الزنديق “Para fuqaha sepakat bahwa zandaqah adalah kekufuran. Dan semua dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyebutkan orang munafik, juga mencakup orang zindiq” (Fatwa Islamweb no. 52193). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Arti Mimpi, Siap Menikah Menurut Islam, Pertanyaan Jual Beli Dalam Islam, Doa Jiarah, Jodoh Pasti Bertemu Menurut Islam, Jumlah Surga Dan Neraka Visited 646 times, 4 visit(s) today Post Views: 485 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hadis: Larangan Mencela Orang yang Sudah Meninggal Dunia

Daftar Isi Teks hadisFaedah pertamaFaedah keduaFaedah ketigaTeks hadisDiriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا“Janganlah kalian mencela (menyebutkan kejelekan atau keburukan) orang yang sudah meninggal dunia, karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari no. 1393)Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الْأَحْيَاءَ“Janganlah kalian menghina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.” (HR. Tirmizi no. 1982, dinilai sahih oleh Al-Albani)Terdapat beberapa faedah yang bisa diambil dari dua hadis di atas, di antaranya:Faedah pertamaHadis di atas berisi larangan mencela orang yang sudah meninggal dunia atau merendahkan kehormatannya. Hal ini karena kalimat larangan dalam hadis di atas, yaitu لَا تَسُبُّوا (Janganlah kalian mencela), menunjukkan hukum haram. Sebagaimana hal itu adalah hukum asal yang ditunjukkan oleh kalimat larangan. Sebagian ulama berdalil dengan hadis tersebut untuk melarang mencela orang yang sudah meninggal secara mutlak, baik muslim atau kafir, orang saleh maupun fasik, berdasarkan makna umum yang ditunjukkan oleh hadis, yaitu (الْأَمْوَات) (semua orang yang sudah meninggal dunia, siapapun mereka).Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa hadis tersebut bersifat khusus berkaitan dengan orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin. Karena termasuk dalam ibadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah dengan mencela orang-orang kafir. Alasan yang lain, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “karena mereka telah sampai (mendapatkan) apa yang telah mereka kerjakan.” Hal ini adalah isyarat bahwa yang Rasulullah maksudkan adalah orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin.Terdapat pendapat ketiga yang memberikan rincian dalam masalah ini. Yaitu, boleh menyebutkan kejelekan dan keburukan orang kafir yang sudah meninggal dunia, apabila hal itu tidak menyakiti kerabatnya yang muslim. Jika tidak ada kerabatnya yang muslim yang tersakiti, atau memang ketika di masa hidupnya orang kafir tersebut menyakiti kaum muslimin, maka tidak mengapa menyebutkan kejelekan-kejelekannya.Adapun jika orang yang sudah meninggal tersebut adalah muslim, maka tidak boleh mencela atau menjatuhkan kehormatannya. Perbuatan ini termasuk dalam ghibah. Kecuali jika orang tersebut adalah orang fasik yang terdapat maslahat dengan menyebutkan kejelekannya. Dalam hal ini, diperbolehkan menyebutkan kejelekannya untuk memperingatkan kaum muslimin darinya. Bukan dengan maksud untuk mencela, akan tetapi agar kaum muslimin yang masih hidup mendapatkan peringatan tentang orang tersebut. Misalnya, para ulama sepakat tentang bolehnya mencela atau menyebutkan kejelekan perawi (misalnya perawi tersebut adalah seorang pendusta atau buruk hapalannya), baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Hal ini karena adanya maslahat untuk menjaga As-Sunnah. Jika tidak terdapat maslahat, maka wajib menjaga diri dari perbuatan tersebut.Baca juga: Amalan yang Bermanfaat Bagi MayitFaedah keduaHadis di atas mengisyaratkan hikmah mengapa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu terlarang, yaitu:Hikmah pertama, karena mereka telah mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, baik berupa kebaikan ataupun keburukan. Sehingga tidak ada lagi manfaat mencela mereka. Tidak sebagaimana jika mereka masih hidup di dunia, bisa saja mereka mendapatkan manfaat. Hal ini karena bisa jadi mereka sadar atau introspeksi diri ketika mendapatkan kritikan atau celaan.Hikmah kedua, karena mencela orang yang sudah meninggal dunia bisa menyakiti kerabatnya yang masih hidup, sebagaimana disebutkan dalam hadis Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, tidak boleh dipahami bahwa boleh mencela apabila tidak ada kerabat yang tersakiti. Misalnya, ketika jenazah tersebut memang tidak memiliki kerabat atau ketika kerabatnya tidak mengetahui hal itu. Hal ini karena mencela orang yang sudah meninggal dunia itu karena adanya hikmah yang pertama. Apabila muncul efek kedua (menyakiti kerabat), maka perbuatan itu menjadi terlarang karena dua sisi.Hikmah ketiga, bahwa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu termasuk dalam ghibah yang terlarang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang ghibah,ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ“Ghibah adalah kamu menyebutkan kejelekan saudaramu mengenai yang dia tidak sukai (untuk didengarkan orang lain).” (HR. Muslim no. 2589)Termasuk dalam hadis di atas adalah jika orang yang di-ghibah itu masih hidup atau sudah meninggal dunia. Imam Bukhari rahimahullah membuat satu judul bab dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (2: 202), “Melakukan ghibah terhadap orang yang sudah meninggal dunia.”Ibnu Bathal rahimahullah berkata, “Mencela orang yang sudah meninggal dunia itu seperti melakukan ghibah terhadap orang yang masih hidup.” (Syarh Ibnu Bathal ‘ala Shahih Al-Bukhari, 3: 354)Faedah ketigaTerdapat dalam Shahih Bukhari, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجَبَتْ. ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: وَجَبَتْ. فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pasti baginya.’ Kemudian mereka melewati jenazah yang lain, lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka beliau pun bersabda, ‘Pasti baginya.’Kemudian Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan pasti baginya?’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga. Sedangkan jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.’” (HR. Bukhari no. 1367)Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menyebutkan kebaikan ataupun keburukan orang yang sudah meninggal dunia ketika ada hajat (kebutuhan). Dan hal itu tidak termasuk dalam ghibah. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari perbuatan tersebut. Atau bisa jadi orang yang mereka cela tersebut sudah terkenal dengan kefasikan atau kejelekannya sehingga dikhawatirkan ada kaum muslimin yang ikut-ikutan mencontohnya. Sehingga celaan tersebut termasuk dalam peringatan kepada kaum muslimin yang masih hidup. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Doa untuk Kedua Orang Tua yang Meninggal Dunia***@Rumah Kasongan, 28 Ramadan 1444/ 19 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 385-387).Tags: laranganmencela mayitmencela orang mati

Hadis: Larangan Mencela Orang yang Sudah Meninggal Dunia

Daftar Isi Teks hadisFaedah pertamaFaedah keduaFaedah ketigaTeks hadisDiriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا“Janganlah kalian mencela (menyebutkan kejelekan atau keburukan) orang yang sudah meninggal dunia, karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari no. 1393)Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الْأَحْيَاءَ“Janganlah kalian menghina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.” (HR. Tirmizi no. 1982, dinilai sahih oleh Al-Albani)Terdapat beberapa faedah yang bisa diambil dari dua hadis di atas, di antaranya:Faedah pertamaHadis di atas berisi larangan mencela orang yang sudah meninggal dunia atau merendahkan kehormatannya. Hal ini karena kalimat larangan dalam hadis di atas, yaitu لَا تَسُبُّوا (Janganlah kalian mencela), menunjukkan hukum haram. Sebagaimana hal itu adalah hukum asal yang ditunjukkan oleh kalimat larangan. Sebagian ulama berdalil dengan hadis tersebut untuk melarang mencela orang yang sudah meninggal secara mutlak, baik muslim atau kafir, orang saleh maupun fasik, berdasarkan makna umum yang ditunjukkan oleh hadis, yaitu (الْأَمْوَات) (semua orang yang sudah meninggal dunia, siapapun mereka).Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa hadis tersebut bersifat khusus berkaitan dengan orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin. Karena termasuk dalam ibadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah dengan mencela orang-orang kafir. Alasan yang lain, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “karena mereka telah sampai (mendapatkan) apa yang telah mereka kerjakan.” Hal ini adalah isyarat bahwa yang Rasulullah maksudkan adalah orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin.Terdapat pendapat ketiga yang memberikan rincian dalam masalah ini. Yaitu, boleh menyebutkan kejelekan dan keburukan orang kafir yang sudah meninggal dunia, apabila hal itu tidak menyakiti kerabatnya yang muslim. Jika tidak ada kerabatnya yang muslim yang tersakiti, atau memang ketika di masa hidupnya orang kafir tersebut menyakiti kaum muslimin, maka tidak mengapa menyebutkan kejelekan-kejelekannya.Adapun jika orang yang sudah meninggal tersebut adalah muslim, maka tidak boleh mencela atau menjatuhkan kehormatannya. Perbuatan ini termasuk dalam ghibah. Kecuali jika orang tersebut adalah orang fasik yang terdapat maslahat dengan menyebutkan kejelekannya. Dalam hal ini, diperbolehkan menyebutkan kejelekannya untuk memperingatkan kaum muslimin darinya. Bukan dengan maksud untuk mencela, akan tetapi agar kaum muslimin yang masih hidup mendapatkan peringatan tentang orang tersebut. Misalnya, para ulama sepakat tentang bolehnya mencela atau menyebutkan kejelekan perawi (misalnya perawi tersebut adalah seorang pendusta atau buruk hapalannya), baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Hal ini karena adanya maslahat untuk menjaga As-Sunnah. Jika tidak terdapat maslahat, maka wajib menjaga diri dari perbuatan tersebut.Baca juga: Amalan yang Bermanfaat Bagi MayitFaedah keduaHadis di atas mengisyaratkan hikmah mengapa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu terlarang, yaitu:Hikmah pertama, karena mereka telah mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, baik berupa kebaikan ataupun keburukan. Sehingga tidak ada lagi manfaat mencela mereka. Tidak sebagaimana jika mereka masih hidup di dunia, bisa saja mereka mendapatkan manfaat. Hal ini karena bisa jadi mereka sadar atau introspeksi diri ketika mendapatkan kritikan atau celaan.Hikmah kedua, karena mencela orang yang sudah meninggal dunia bisa menyakiti kerabatnya yang masih hidup, sebagaimana disebutkan dalam hadis Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, tidak boleh dipahami bahwa boleh mencela apabila tidak ada kerabat yang tersakiti. Misalnya, ketika jenazah tersebut memang tidak memiliki kerabat atau ketika kerabatnya tidak mengetahui hal itu. Hal ini karena mencela orang yang sudah meninggal dunia itu karena adanya hikmah yang pertama. Apabila muncul efek kedua (menyakiti kerabat), maka perbuatan itu menjadi terlarang karena dua sisi.Hikmah ketiga, bahwa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu termasuk dalam ghibah yang terlarang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang ghibah,ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ“Ghibah adalah kamu menyebutkan kejelekan saudaramu mengenai yang dia tidak sukai (untuk didengarkan orang lain).” (HR. Muslim no. 2589)Termasuk dalam hadis di atas adalah jika orang yang di-ghibah itu masih hidup atau sudah meninggal dunia. Imam Bukhari rahimahullah membuat satu judul bab dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (2: 202), “Melakukan ghibah terhadap orang yang sudah meninggal dunia.”Ibnu Bathal rahimahullah berkata, “Mencela orang yang sudah meninggal dunia itu seperti melakukan ghibah terhadap orang yang masih hidup.” (Syarh Ibnu Bathal ‘ala Shahih Al-Bukhari, 3: 354)Faedah ketigaTerdapat dalam Shahih Bukhari, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجَبَتْ. ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: وَجَبَتْ. فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pasti baginya.’ Kemudian mereka melewati jenazah yang lain, lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka beliau pun bersabda, ‘Pasti baginya.’Kemudian Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan pasti baginya?’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga. Sedangkan jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.’” (HR. Bukhari no. 1367)Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menyebutkan kebaikan ataupun keburukan orang yang sudah meninggal dunia ketika ada hajat (kebutuhan). Dan hal itu tidak termasuk dalam ghibah. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari perbuatan tersebut. Atau bisa jadi orang yang mereka cela tersebut sudah terkenal dengan kefasikan atau kejelekannya sehingga dikhawatirkan ada kaum muslimin yang ikut-ikutan mencontohnya. Sehingga celaan tersebut termasuk dalam peringatan kepada kaum muslimin yang masih hidup. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Doa untuk Kedua Orang Tua yang Meninggal Dunia***@Rumah Kasongan, 28 Ramadan 1444/ 19 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 385-387).Tags: laranganmencela mayitmencela orang mati
Daftar Isi Teks hadisFaedah pertamaFaedah keduaFaedah ketigaTeks hadisDiriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا“Janganlah kalian mencela (menyebutkan kejelekan atau keburukan) orang yang sudah meninggal dunia, karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari no. 1393)Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الْأَحْيَاءَ“Janganlah kalian menghina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.” (HR. Tirmizi no. 1982, dinilai sahih oleh Al-Albani)Terdapat beberapa faedah yang bisa diambil dari dua hadis di atas, di antaranya:Faedah pertamaHadis di atas berisi larangan mencela orang yang sudah meninggal dunia atau merendahkan kehormatannya. Hal ini karena kalimat larangan dalam hadis di atas, yaitu لَا تَسُبُّوا (Janganlah kalian mencela), menunjukkan hukum haram. Sebagaimana hal itu adalah hukum asal yang ditunjukkan oleh kalimat larangan. Sebagian ulama berdalil dengan hadis tersebut untuk melarang mencela orang yang sudah meninggal secara mutlak, baik muslim atau kafir, orang saleh maupun fasik, berdasarkan makna umum yang ditunjukkan oleh hadis, yaitu (الْأَمْوَات) (semua orang yang sudah meninggal dunia, siapapun mereka).Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa hadis tersebut bersifat khusus berkaitan dengan orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin. Karena termasuk dalam ibadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah dengan mencela orang-orang kafir. Alasan yang lain, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “karena mereka telah sampai (mendapatkan) apa yang telah mereka kerjakan.” Hal ini adalah isyarat bahwa yang Rasulullah maksudkan adalah orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin.Terdapat pendapat ketiga yang memberikan rincian dalam masalah ini. Yaitu, boleh menyebutkan kejelekan dan keburukan orang kafir yang sudah meninggal dunia, apabila hal itu tidak menyakiti kerabatnya yang muslim. Jika tidak ada kerabatnya yang muslim yang tersakiti, atau memang ketika di masa hidupnya orang kafir tersebut menyakiti kaum muslimin, maka tidak mengapa menyebutkan kejelekan-kejelekannya.Adapun jika orang yang sudah meninggal tersebut adalah muslim, maka tidak boleh mencela atau menjatuhkan kehormatannya. Perbuatan ini termasuk dalam ghibah. Kecuali jika orang tersebut adalah orang fasik yang terdapat maslahat dengan menyebutkan kejelekannya. Dalam hal ini, diperbolehkan menyebutkan kejelekannya untuk memperingatkan kaum muslimin darinya. Bukan dengan maksud untuk mencela, akan tetapi agar kaum muslimin yang masih hidup mendapatkan peringatan tentang orang tersebut. Misalnya, para ulama sepakat tentang bolehnya mencela atau menyebutkan kejelekan perawi (misalnya perawi tersebut adalah seorang pendusta atau buruk hapalannya), baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Hal ini karena adanya maslahat untuk menjaga As-Sunnah. Jika tidak terdapat maslahat, maka wajib menjaga diri dari perbuatan tersebut.Baca juga: Amalan yang Bermanfaat Bagi MayitFaedah keduaHadis di atas mengisyaratkan hikmah mengapa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu terlarang, yaitu:Hikmah pertama, karena mereka telah mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, baik berupa kebaikan ataupun keburukan. Sehingga tidak ada lagi manfaat mencela mereka. Tidak sebagaimana jika mereka masih hidup di dunia, bisa saja mereka mendapatkan manfaat. Hal ini karena bisa jadi mereka sadar atau introspeksi diri ketika mendapatkan kritikan atau celaan.Hikmah kedua, karena mencela orang yang sudah meninggal dunia bisa menyakiti kerabatnya yang masih hidup, sebagaimana disebutkan dalam hadis Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, tidak boleh dipahami bahwa boleh mencela apabila tidak ada kerabat yang tersakiti. Misalnya, ketika jenazah tersebut memang tidak memiliki kerabat atau ketika kerabatnya tidak mengetahui hal itu. Hal ini karena mencela orang yang sudah meninggal dunia itu karena adanya hikmah yang pertama. Apabila muncul efek kedua (menyakiti kerabat), maka perbuatan itu menjadi terlarang karena dua sisi.Hikmah ketiga, bahwa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu termasuk dalam ghibah yang terlarang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang ghibah,ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ“Ghibah adalah kamu menyebutkan kejelekan saudaramu mengenai yang dia tidak sukai (untuk didengarkan orang lain).” (HR. Muslim no. 2589)Termasuk dalam hadis di atas adalah jika orang yang di-ghibah itu masih hidup atau sudah meninggal dunia. Imam Bukhari rahimahullah membuat satu judul bab dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (2: 202), “Melakukan ghibah terhadap orang yang sudah meninggal dunia.”Ibnu Bathal rahimahullah berkata, “Mencela orang yang sudah meninggal dunia itu seperti melakukan ghibah terhadap orang yang masih hidup.” (Syarh Ibnu Bathal ‘ala Shahih Al-Bukhari, 3: 354)Faedah ketigaTerdapat dalam Shahih Bukhari, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجَبَتْ. ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: وَجَبَتْ. فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pasti baginya.’ Kemudian mereka melewati jenazah yang lain, lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka beliau pun bersabda, ‘Pasti baginya.’Kemudian Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan pasti baginya?’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga. Sedangkan jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.’” (HR. Bukhari no. 1367)Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menyebutkan kebaikan ataupun keburukan orang yang sudah meninggal dunia ketika ada hajat (kebutuhan). Dan hal itu tidak termasuk dalam ghibah. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari perbuatan tersebut. Atau bisa jadi orang yang mereka cela tersebut sudah terkenal dengan kefasikan atau kejelekannya sehingga dikhawatirkan ada kaum muslimin yang ikut-ikutan mencontohnya. Sehingga celaan tersebut termasuk dalam peringatan kepada kaum muslimin yang masih hidup. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Doa untuk Kedua Orang Tua yang Meninggal Dunia***@Rumah Kasongan, 28 Ramadan 1444/ 19 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 385-387).Tags: laranganmencela mayitmencela orang mati


Daftar Isi Teks hadisFaedah pertamaFaedah keduaFaedah ketigaTeks hadisDiriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا“Janganlah kalian mencela (menyebutkan kejelekan atau keburukan) orang yang sudah meninggal dunia, karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari no. 1393)Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الْأَحْيَاءَ“Janganlah kalian menghina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.” (HR. Tirmizi no. 1982, dinilai sahih oleh Al-Albani)Terdapat beberapa faedah yang bisa diambil dari dua hadis di atas, di antaranya:Faedah pertamaHadis di atas berisi larangan mencela orang yang sudah meninggal dunia atau merendahkan kehormatannya. Hal ini karena kalimat larangan dalam hadis di atas, yaitu لَا تَسُبُّوا (Janganlah kalian mencela), menunjukkan hukum haram. Sebagaimana hal itu adalah hukum asal yang ditunjukkan oleh kalimat larangan. Sebagian ulama berdalil dengan hadis tersebut untuk melarang mencela orang yang sudah meninggal secara mutlak, baik muslim atau kafir, orang saleh maupun fasik, berdasarkan makna umum yang ditunjukkan oleh hadis, yaitu (الْأَمْوَات) (semua orang yang sudah meninggal dunia, siapapun mereka).Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa hadis tersebut bersifat khusus berkaitan dengan orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin. Karena termasuk dalam ibadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah dengan mencela orang-orang kafir. Alasan yang lain, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “karena mereka telah sampai (mendapatkan) apa yang telah mereka kerjakan.” Hal ini adalah isyarat bahwa yang Rasulullah maksudkan adalah orang yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum muslimin.Terdapat pendapat ketiga yang memberikan rincian dalam masalah ini. Yaitu, boleh menyebutkan kejelekan dan keburukan orang kafir yang sudah meninggal dunia, apabila hal itu tidak menyakiti kerabatnya yang muslim. Jika tidak ada kerabatnya yang muslim yang tersakiti, atau memang ketika di masa hidupnya orang kafir tersebut menyakiti kaum muslimin, maka tidak mengapa menyebutkan kejelekan-kejelekannya.Adapun jika orang yang sudah meninggal tersebut adalah muslim, maka tidak boleh mencela atau menjatuhkan kehormatannya. Perbuatan ini termasuk dalam ghibah. Kecuali jika orang tersebut adalah orang fasik yang terdapat maslahat dengan menyebutkan kejelekannya. Dalam hal ini, diperbolehkan menyebutkan kejelekannya untuk memperingatkan kaum muslimin darinya. Bukan dengan maksud untuk mencela, akan tetapi agar kaum muslimin yang masih hidup mendapatkan peringatan tentang orang tersebut. Misalnya, para ulama sepakat tentang bolehnya mencela atau menyebutkan kejelekan perawi (misalnya perawi tersebut adalah seorang pendusta atau buruk hapalannya), baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Hal ini karena adanya maslahat untuk menjaga As-Sunnah. Jika tidak terdapat maslahat, maka wajib menjaga diri dari perbuatan tersebut.Baca juga: Amalan yang Bermanfaat Bagi MayitFaedah keduaHadis di atas mengisyaratkan hikmah mengapa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu terlarang, yaitu:Hikmah pertama, karena mereka telah mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, baik berupa kebaikan ataupun keburukan. Sehingga tidak ada lagi manfaat mencela mereka. Tidak sebagaimana jika mereka masih hidup di dunia, bisa saja mereka mendapatkan manfaat. Hal ini karena bisa jadi mereka sadar atau introspeksi diri ketika mendapatkan kritikan atau celaan.Hikmah kedua, karena mencela orang yang sudah meninggal dunia bisa menyakiti kerabatnya yang masih hidup, sebagaimana disebutkan dalam hadis Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, tidak boleh dipahami bahwa boleh mencela apabila tidak ada kerabat yang tersakiti. Misalnya, ketika jenazah tersebut memang tidak memiliki kerabat atau ketika kerabatnya tidak mengetahui hal itu. Hal ini karena mencela orang yang sudah meninggal dunia itu karena adanya hikmah yang pertama. Apabila muncul efek kedua (menyakiti kerabat), maka perbuatan itu menjadi terlarang karena dua sisi.Hikmah ketiga, bahwa mencela orang yang sudah meninggal dunia itu termasuk dalam ghibah yang terlarang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang ghibah,ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ“Ghibah adalah kamu menyebutkan kejelekan saudaramu mengenai yang dia tidak sukai (untuk didengarkan orang lain).” (HR. Muslim no. 2589)Termasuk dalam hadis di atas adalah jika orang yang di-ghibah itu masih hidup atau sudah meninggal dunia. Imam Bukhari rahimahullah membuat satu judul bab dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (2: 202), “Melakukan ghibah terhadap orang yang sudah meninggal dunia.”Ibnu Bathal rahimahullah berkata, “Mencela orang yang sudah meninggal dunia itu seperti melakukan ghibah terhadap orang yang masih hidup.” (Syarh Ibnu Bathal ‘ala Shahih Al-Bukhari, 3: 354)Faedah ketigaTerdapat dalam Shahih Bukhari, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجَبَتْ. ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: وَجَبَتْ. فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pasti baginya.’ Kemudian mereka melewati jenazah yang lain, lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka beliau pun bersabda, ‘Pasti baginya.’Kemudian Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan pasti baginya?’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga. Sedangkan jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.’” (HR. Bukhari no. 1367)Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menyebutkan kebaikan ataupun keburukan orang yang sudah meninggal dunia ketika ada hajat (kebutuhan). Dan hal itu tidak termasuk dalam ghibah. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari perbuatan tersebut. Atau bisa jadi orang yang mereka cela tersebut sudah terkenal dengan kefasikan atau kejelekannya sehingga dikhawatirkan ada kaum muslimin yang ikut-ikutan mencontohnya. Sehingga celaan tersebut termasuk dalam peringatan kepada kaum muslimin yang masih hidup. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Doa untuk Kedua Orang Tua yang Meninggal Dunia***@Rumah Kasongan, 28 Ramadan 1444/ 19 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 385-387).Tags: laranganmencela mayitmencela orang mati

Untungnya Puasa Syawal Pahalanya Besar & Mudah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #nasehatulama

Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal saleh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannyadengan bersabda, “Barang siapa yang telah berpuasa Ramadan, lalu melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim) Makna hadis ini adalah barang siapa yang selesai puasa Ramadan,lalu berpuasa enam hari lagi di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun.Makna “ad-Dahr” yakni tahun. Hal ini karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat.Jadi puasa di bulan Ramadan setara dengan puasa 10 bulan,dan puasa 6 hari di bulan Syawal setara dengan puasa 60 hari, yakni 2 bulan. Jika kamu tambahkan 2 bulan ini dengan 10 bulan,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh. Oleh sebab itu, hendaklah seorang Muslim berusaha untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal ini,karena pahalanya besar dan mudah dilakukan. ==== صِيَامُ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ عَمَلٌ صَالِحٌ قَدْ حَثَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ السَّنَةِ الْمَقْصُودُ بِالدَّهْرِ يَعْنِي السَّنَةَ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَنْ عَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ عَنْ سِتِّينَ يَوْمًا أَيْ عَنْ شَهْرَيْنِ فَإِذَا أَضَفْتَ الشَّهْرَيْنِ إِلَى عَشْرَةِ أَشْهُرٍ عَادَلَ ذَلِكَ السَّنَةَ كُلَّهَا وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى صِيَامِ هَذِهِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَإِنَّ الْأَجْرَ عَظِيمٌ وَالْعَمَلُ يَسِيرٌ

Untungnya Puasa Syawal Pahalanya Besar & Mudah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #nasehatulama

Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal saleh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannyadengan bersabda, “Barang siapa yang telah berpuasa Ramadan, lalu melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim) Makna hadis ini adalah barang siapa yang selesai puasa Ramadan,lalu berpuasa enam hari lagi di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun.Makna “ad-Dahr” yakni tahun. Hal ini karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat.Jadi puasa di bulan Ramadan setara dengan puasa 10 bulan,dan puasa 6 hari di bulan Syawal setara dengan puasa 60 hari, yakni 2 bulan. Jika kamu tambahkan 2 bulan ini dengan 10 bulan,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh. Oleh sebab itu, hendaklah seorang Muslim berusaha untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal ini,karena pahalanya besar dan mudah dilakukan. ==== صِيَامُ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ عَمَلٌ صَالِحٌ قَدْ حَثَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ السَّنَةِ الْمَقْصُودُ بِالدَّهْرِ يَعْنِي السَّنَةَ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَنْ عَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ عَنْ سِتِّينَ يَوْمًا أَيْ عَنْ شَهْرَيْنِ فَإِذَا أَضَفْتَ الشَّهْرَيْنِ إِلَى عَشْرَةِ أَشْهُرٍ عَادَلَ ذَلِكَ السَّنَةَ كُلَّهَا وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى صِيَامِ هَذِهِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَإِنَّ الْأَجْرَ عَظِيمٌ وَالْعَمَلُ يَسِيرٌ
Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal saleh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannyadengan bersabda, “Barang siapa yang telah berpuasa Ramadan, lalu melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim) Makna hadis ini adalah barang siapa yang selesai puasa Ramadan,lalu berpuasa enam hari lagi di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun.Makna “ad-Dahr” yakni tahun. Hal ini karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat.Jadi puasa di bulan Ramadan setara dengan puasa 10 bulan,dan puasa 6 hari di bulan Syawal setara dengan puasa 60 hari, yakni 2 bulan. Jika kamu tambahkan 2 bulan ini dengan 10 bulan,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh. Oleh sebab itu, hendaklah seorang Muslim berusaha untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal ini,karena pahalanya besar dan mudah dilakukan. ==== صِيَامُ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ عَمَلٌ صَالِحٌ قَدْ حَثَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ السَّنَةِ الْمَقْصُودُ بِالدَّهْرِ يَعْنِي السَّنَةَ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَنْ عَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ عَنْ سِتِّينَ يَوْمًا أَيْ عَنْ شَهْرَيْنِ فَإِذَا أَضَفْتَ الشَّهْرَيْنِ إِلَى عَشْرَةِ أَشْهُرٍ عَادَلَ ذَلِكَ السَّنَةَ كُلَّهَا وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى صِيَامِ هَذِهِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَإِنَّ الْأَجْرَ عَظِيمٌ وَالْعَمَلُ يَسِيرٌ


Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal saleh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannyadengan bersabda, “Barang siapa yang telah berpuasa Ramadan, lalu melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim) Makna hadis ini adalah barang siapa yang selesai puasa Ramadan,lalu berpuasa enam hari lagi di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun.Makna “ad-Dahr” yakni tahun. Hal ini karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat.Jadi puasa di bulan Ramadan setara dengan puasa 10 bulan,dan puasa 6 hari di bulan Syawal setara dengan puasa 60 hari, yakni 2 bulan. Jika kamu tambahkan 2 bulan ini dengan 10 bulan,maka itu setara dengan puasa satu tahun penuh. Oleh sebab itu, hendaklah seorang Muslim berusaha untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal ini,karena pahalanya besar dan mudah dilakukan. ==== صِيَامُ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ عَمَلٌ صَالِحٌ قَدْ حَثَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ السَّنَةِ الْمَقْصُودُ بِالدَّهْرِ يَعْنِي السَّنَةَ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَنْ عَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ عَنْ سِتِّينَ يَوْمًا أَيْ عَنْ شَهْرَيْنِ فَإِذَا أَضَفْتَ الشَّهْرَيْنِ إِلَى عَشْرَةِ أَشْهُرٍ عَادَلَ ذَلِكَ السَّنَةَ كُلَّهَا وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى صِيَامِ هَذِهِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَإِنَّ الْأَجْرَ عَظِيمٌ وَالْعَمَلُ يَسِيرٌ

Maksud Ayat “Sembahlah Allah Sampai Datang Yakin”

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dalam ayat yang berbunyi “Sembahlah Allah sampai datang yakin?”. Apakah berarti jika sudah yakin maka tidak perlu lagi beribadah? Mohon pencerahannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasshahbihi ajma’in, amma ba’du. Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin” (QS. Al-Hijr: 99). Ayat ini tidak bermakna bahwa jika seseorang sudah yakin, maka tidak perlu lagi beribadah, sebagaimana pemahaman sebagian orang sufi.  Al-yaqin dalam ayat ini maknanya adalah al-maut (kematian). Karena kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang, sehingga disebut al yaqin. Ini ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits dari Ummul ‘Ala, bibi dari Hizam bin Hakim, radhiyallahu’anhuma, ia berkata: طَارَ لَنَا عُثْمَانُ بنُ مَظْعُونٍ في السُّكْنَى، حِينَ اقْتَرَعَتِ الأنْصَارُ علَى سُكْنَى المُهَاجِرِينَ، فَاشْتَكَى فَمَرَّضْنَاهُ حتَّى تُوُفِّيَ، ثُمَّ جَعَلْنَاهُ في أثْوَابِهِ، فَدَخَلَ عَلَيْنَا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقُلتُ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أبَا السَّائِبِ، فَشَهَادَتي عَلَيْكَ لقَدْ أكْرَمَكَ اللَّهُ، قالَ: وما يُدْرِيكِ قُلتُ: لا أدْرِي واللَّهِ، قالَ: أمَّا هو فقَدْ جَاءَهُ اليَقِينُ، إنِّي لَأَرْجُو له الخَيْرَ مِنَ اللَّهِ “Utsman bin Mazh’un pernah mendatangi kami dalam sebuah hunian ketika orang Anshar sedang membagikan pembagian ghanimah untuk kaum Muhajirin. Ia (Utsman) mengeluhkan tentang sakitnya, lalu kami merawatnya hingga akhirnya ia meninggal. Kemudian kami mengkafaninya dengan kain-kainnya. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menemui kami. Dan aku (Ummul ‘Ala) berkata (kepada jenazah Utsman): “Semoga Allah merahmati engkau wahai Abu Sa`ib, aku bersaksi atas kebaikanmu, sungguh Allah telah memuliakanmu (dengan kehadiran Rasulullah)”. Nabi bertanya: “Dari mana engkau tahu Allah telah memuliakan Utsman?” Aku jawab: “Demi Allah saya tidak tahu wahai Rasulullah”. Nabi lalu bersabda: “Sungguh telah datang kepadanya al-yaqin (kematian), dan aku berharap ia mendapatkan kebaikan dari Allah” (HR. Al-Bukhari no. 7018). Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan kematian dengan al-yaqin.  Dan tafsiran ini juga kesepakatan seluruh ahli tafsir. Mereka semua sepakat bahwa al-yaqin maknanya adalah kematian. Al-Qurthubi menjelaskan: قوله تعالى : واعبد ربك حتى يأتيك اليقين فيه مسألة واحدة : وهو أن اليقين الموت “Firman Allah ta’ala [Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin] dalam hal ini hanya ada satu pendapat. Yaitu bahwa al yaqin maknanya adalah kematian” (Tafsir Al-Qurthubi, 13/264). Maka makna ayat ini adalah perintah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan juga umat beliau untuk beribadah selama masih hidup. Sebagaimana perkataan Nabi Isa ‘alaihissalam yang disebutkan dalam Al-Qur’an: وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “Allah telah menjadikan aku penuh keberkahan dimanapun aku berada, dan Allah telah perintahkan aku untuk shalat dan membayar zakat selama aku masih hidup” (QS. Maryam: 31). Ayat ini juga bantahan untuk orang-orang sufi dan yang semisal mereka, yang memaknai secara keliru ayat di atas. Karena seorang Nabi saja diperintahkan untuk beribadah sampai wafat. Maka bagaimana mungkin orang yang bukan Nabi boleh berhenti beribadah ketika sudah mencapai derajat yakin? Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Orang-orang malahidah (atheis) berdalil secara keliru dengan ayat di atas, karena menafsirkan al yaqin dengan al ma’rifah (mengenal). Jika seseorang sudah sampai pada derajat mengenal Allah maka gugur darinya beban syariat. Ini adalah kekufuran, kesesatan dan kejahilan. Karena para Nabi dan pengikutnya saja yang mana mereka adalah orang-orang yang paling mengenal Allah, bahkan mengenal hak-hak Allah dan sifat-sifat Allah, serta mengenal apa saja yang berhak diserahkan kepada Allah berupa pengagungan, mereka semua orang-orang yang paling maksimal dan paling banyak dalam beribadah kepada Allah. Bahkan mereka secara kontinu melakukan amalan-amalan kebaikan sampai mereka diwafatkan. Namun al-yaqin yang ada dalam ayat di atas maksudnya adalah kematian” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/554). As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas: استمر في جميع الأوقات على التقرب إلى الله بأنواع العبادات، فامتثل صلى الله عليه وسلم أمر ربه، فلم يزل دائبا في العبادة، حتى أتاه اليقين من ربه صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا “Rasulullah diperintahkan untuk terus-menerus beribadah kepada Allah di setiap waktu dengan berbagai jenis ibadah. Dan beliau melaksanakan perintah Rabb-nya tersebut. Beliau senantiasa dalam keadaan ibadah kepada Allah sampai datang kepadanya kematian dari Rabb-nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau” (Taisir Karimirrahman, hal. 435). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bacaan Imam Meluruskan Shaf Sesuai Sunnah, Hukum Meninggalkan Sholat, Doa Ziarah Kubur Dalam Islam, Kunyah, Shalat Nisfu Syaban, Pengertian Aliran Syiah Visited 337 times, 2 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid

Maksud Ayat “Sembahlah Allah Sampai Datang Yakin”

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dalam ayat yang berbunyi “Sembahlah Allah sampai datang yakin?”. Apakah berarti jika sudah yakin maka tidak perlu lagi beribadah? Mohon pencerahannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasshahbihi ajma’in, amma ba’du. Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin” (QS. Al-Hijr: 99). Ayat ini tidak bermakna bahwa jika seseorang sudah yakin, maka tidak perlu lagi beribadah, sebagaimana pemahaman sebagian orang sufi.  Al-yaqin dalam ayat ini maknanya adalah al-maut (kematian). Karena kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang, sehingga disebut al yaqin. Ini ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits dari Ummul ‘Ala, bibi dari Hizam bin Hakim, radhiyallahu’anhuma, ia berkata: طَارَ لَنَا عُثْمَانُ بنُ مَظْعُونٍ في السُّكْنَى، حِينَ اقْتَرَعَتِ الأنْصَارُ علَى سُكْنَى المُهَاجِرِينَ، فَاشْتَكَى فَمَرَّضْنَاهُ حتَّى تُوُفِّيَ، ثُمَّ جَعَلْنَاهُ في أثْوَابِهِ، فَدَخَلَ عَلَيْنَا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقُلتُ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أبَا السَّائِبِ، فَشَهَادَتي عَلَيْكَ لقَدْ أكْرَمَكَ اللَّهُ، قالَ: وما يُدْرِيكِ قُلتُ: لا أدْرِي واللَّهِ، قالَ: أمَّا هو فقَدْ جَاءَهُ اليَقِينُ، إنِّي لَأَرْجُو له الخَيْرَ مِنَ اللَّهِ “Utsman bin Mazh’un pernah mendatangi kami dalam sebuah hunian ketika orang Anshar sedang membagikan pembagian ghanimah untuk kaum Muhajirin. Ia (Utsman) mengeluhkan tentang sakitnya, lalu kami merawatnya hingga akhirnya ia meninggal. Kemudian kami mengkafaninya dengan kain-kainnya. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menemui kami. Dan aku (Ummul ‘Ala) berkata (kepada jenazah Utsman): “Semoga Allah merahmati engkau wahai Abu Sa`ib, aku bersaksi atas kebaikanmu, sungguh Allah telah memuliakanmu (dengan kehadiran Rasulullah)”. Nabi bertanya: “Dari mana engkau tahu Allah telah memuliakan Utsman?” Aku jawab: “Demi Allah saya tidak tahu wahai Rasulullah”. Nabi lalu bersabda: “Sungguh telah datang kepadanya al-yaqin (kematian), dan aku berharap ia mendapatkan kebaikan dari Allah” (HR. Al-Bukhari no. 7018). Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan kematian dengan al-yaqin.  Dan tafsiran ini juga kesepakatan seluruh ahli tafsir. Mereka semua sepakat bahwa al-yaqin maknanya adalah kematian. Al-Qurthubi menjelaskan: قوله تعالى : واعبد ربك حتى يأتيك اليقين فيه مسألة واحدة : وهو أن اليقين الموت “Firman Allah ta’ala [Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin] dalam hal ini hanya ada satu pendapat. Yaitu bahwa al yaqin maknanya adalah kematian” (Tafsir Al-Qurthubi, 13/264). Maka makna ayat ini adalah perintah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan juga umat beliau untuk beribadah selama masih hidup. Sebagaimana perkataan Nabi Isa ‘alaihissalam yang disebutkan dalam Al-Qur’an: وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “Allah telah menjadikan aku penuh keberkahan dimanapun aku berada, dan Allah telah perintahkan aku untuk shalat dan membayar zakat selama aku masih hidup” (QS. Maryam: 31). Ayat ini juga bantahan untuk orang-orang sufi dan yang semisal mereka, yang memaknai secara keliru ayat di atas. Karena seorang Nabi saja diperintahkan untuk beribadah sampai wafat. Maka bagaimana mungkin orang yang bukan Nabi boleh berhenti beribadah ketika sudah mencapai derajat yakin? Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Orang-orang malahidah (atheis) berdalil secara keliru dengan ayat di atas, karena menafsirkan al yaqin dengan al ma’rifah (mengenal). Jika seseorang sudah sampai pada derajat mengenal Allah maka gugur darinya beban syariat. Ini adalah kekufuran, kesesatan dan kejahilan. Karena para Nabi dan pengikutnya saja yang mana mereka adalah orang-orang yang paling mengenal Allah, bahkan mengenal hak-hak Allah dan sifat-sifat Allah, serta mengenal apa saja yang berhak diserahkan kepada Allah berupa pengagungan, mereka semua orang-orang yang paling maksimal dan paling banyak dalam beribadah kepada Allah. Bahkan mereka secara kontinu melakukan amalan-amalan kebaikan sampai mereka diwafatkan. Namun al-yaqin yang ada dalam ayat di atas maksudnya adalah kematian” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/554). As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas: استمر في جميع الأوقات على التقرب إلى الله بأنواع العبادات، فامتثل صلى الله عليه وسلم أمر ربه، فلم يزل دائبا في العبادة، حتى أتاه اليقين من ربه صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا “Rasulullah diperintahkan untuk terus-menerus beribadah kepada Allah di setiap waktu dengan berbagai jenis ibadah. Dan beliau melaksanakan perintah Rabb-nya tersebut. Beliau senantiasa dalam keadaan ibadah kepada Allah sampai datang kepadanya kematian dari Rabb-nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau” (Taisir Karimirrahman, hal. 435). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bacaan Imam Meluruskan Shaf Sesuai Sunnah, Hukum Meninggalkan Sholat, Doa Ziarah Kubur Dalam Islam, Kunyah, Shalat Nisfu Syaban, Pengertian Aliran Syiah Visited 337 times, 2 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apa yang dimaksud dalam ayat yang berbunyi “Sembahlah Allah sampai datang yakin?”. Apakah berarti jika sudah yakin maka tidak perlu lagi beribadah? Mohon pencerahannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasshahbihi ajma’in, amma ba’du. Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin” (QS. Al-Hijr: 99). Ayat ini tidak bermakna bahwa jika seseorang sudah yakin, maka tidak perlu lagi beribadah, sebagaimana pemahaman sebagian orang sufi.  Al-yaqin dalam ayat ini maknanya adalah al-maut (kematian). Karena kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang, sehingga disebut al yaqin. Ini ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits dari Ummul ‘Ala, bibi dari Hizam bin Hakim, radhiyallahu’anhuma, ia berkata: طَارَ لَنَا عُثْمَانُ بنُ مَظْعُونٍ في السُّكْنَى، حِينَ اقْتَرَعَتِ الأنْصَارُ علَى سُكْنَى المُهَاجِرِينَ، فَاشْتَكَى فَمَرَّضْنَاهُ حتَّى تُوُفِّيَ، ثُمَّ جَعَلْنَاهُ في أثْوَابِهِ، فَدَخَلَ عَلَيْنَا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقُلتُ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أبَا السَّائِبِ، فَشَهَادَتي عَلَيْكَ لقَدْ أكْرَمَكَ اللَّهُ، قالَ: وما يُدْرِيكِ قُلتُ: لا أدْرِي واللَّهِ، قالَ: أمَّا هو فقَدْ جَاءَهُ اليَقِينُ، إنِّي لَأَرْجُو له الخَيْرَ مِنَ اللَّهِ “Utsman bin Mazh’un pernah mendatangi kami dalam sebuah hunian ketika orang Anshar sedang membagikan pembagian ghanimah untuk kaum Muhajirin. Ia (Utsman) mengeluhkan tentang sakitnya, lalu kami merawatnya hingga akhirnya ia meninggal. Kemudian kami mengkafaninya dengan kain-kainnya. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menemui kami. Dan aku (Ummul ‘Ala) berkata (kepada jenazah Utsman): “Semoga Allah merahmati engkau wahai Abu Sa`ib, aku bersaksi atas kebaikanmu, sungguh Allah telah memuliakanmu (dengan kehadiran Rasulullah)”. Nabi bertanya: “Dari mana engkau tahu Allah telah memuliakan Utsman?” Aku jawab: “Demi Allah saya tidak tahu wahai Rasulullah”. Nabi lalu bersabda: “Sungguh telah datang kepadanya al-yaqin (kematian), dan aku berharap ia mendapatkan kebaikan dari Allah” (HR. Al-Bukhari no. 7018). Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan kematian dengan al-yaqin.  Dan tafsiran ini juga kesepakatan seluruh ahli tafsir. Mereka semua sepakat bahwa al-yaqin maknanya adalah kematian. Al-Qurthubi menjelaskan: قوله تعالى : واعبد ربك حتى يأتيك اليقين فيه مسألة واحدة : وهو أن اليقين الموت “Firman Allah ta’ala [Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin] dalam hal ini hanya ada satu pendapat. Yaitu bahwa al yaqin maknanya adalah kematian” (Tafsir Al-Qurthubi, 13/264). Maka makna ayat ini adalah perintah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan juga umat beliau untuk beribadah selama masih hidup. Sebagaimana perkataan Nabi Isa ‘alaihissalam yang disebutkan dalam Al-Qur’an: وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “Allah telah menjadikan aku penuh keberkahan dimanapun aku berada, dan Allah telah perintahkan aku untuk shalat dan membayar zakat selama aku masih hidup” (QS. Maryam: 31). Ayat ini juga bantahan untuk orang-orang sufi dan yang semisal mereka, yang memaknai secara keliru ayat di atas. Karena seorang Nabi saja diperintahkan untuk beribadah sampai wafat. Maka bagaimana mungkin orang yang bukan Nabi boleh berhenti beribadah ketika sudah mencapai derajat yakin? Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Orang-orang malahidah (atheis) berdalil secara keliru dengan ayat di atas, karena menafsirkan al yaqin dengan al ma’rifah (mengenal). Jika seseorang sudah sampai pada derajat mengenal Allah maka gugur darinya beban syariat. Ini adalah kekufuran, kesesatan dan kejahilan. Karena para Nabi dan pengikutnya saja yang mana mereka adalah orang-orang yang paling mengenal Allah, bahkan mengenal hak-hak Allah dan sifat-sifat Allah, serta mengenal apa saja yang berhak diserahkan kepada Allah berupa pengagungan, mereka semua orang-orang yang paling maksimal dan paling banyak dalam beribadah kepada Allah. Bahkan mereka secara kontinu melakukan amalan-amalan kebaikan sampai mereka diwafatkan. Namun al-yaqin yang ada dalam ayat di atas maksudnya adalah kematian” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/554). As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas: استمر في جميع الأوقات على التقرب إلى الله بأنواع العبادات، فامتثل صلى الله عليه وسلم أمر ربه، فلم يزل دائبا في العبادة، حتى أتاه اليقين من ربه صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا “Rasulullah diperintahkan untuk terus-menerus beribadah kepada Allah di setiap waktu dengan berbagai jenis ibadah. Dan beliau melaksanakan perintah Rabb-nya tersebut. Beliau senantiasa dalam keadaan ibadah kepada Allah sampai datang kepadanya kematian dari Rabb-nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau” (Taisir Karimirrahman, hal. 435). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bacaan Imam Meluruskan Shaf Sesuai Sunnah, Hukum Meninggalkan Sholat, Doa Ziarah Kubur Dalam Islam, Kunyah, Shalat Nisfu Syaban, Pengertian Aliran Syiah Visited 337 times, 2 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Apa yang dimaksud dalam ayat yang berbunyi “Sembahlah Allah sampai datang yakin?”. Apakah berarti jika sudah yakin maka tidak perlu lagi beribadah? Mohon pencerahannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasshahbihi ajma’in, amma ba’du. Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin” (QS. Al-Hijr: 99). Ayat ini tidak bermakna bahwa jika seseorang sudah yakin, maka tidak perlu lagi beribadah, sebagaimana pemahaman sebagian orang sufi.  Al-yaqin dalam ayat ini maknanya adalah al-maut (kematian). Karena kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang, sehingga disebut al yaqin. Ini ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits dari Ummul ‘Ala, bibi dari Hizam bin Hakim, radhiyallahu’anhuma, ia berkata: طَارَ لَنَا عُثْمَانُ بنُ مَظْعُونٍ في السُّكْنَى، حِينَ اقْتَرَعَتِ الأنْصَارُ علَى سُكْنَى المُهَاجِرِينَ، فَاشْتَكَى فَمَرَّضْنَاهُ حتَّى تُوُفِّيَ، ثُمَّ جَعَلْنَاهُ في أثْوَابِهِ، فَدَخَلَ عَلَيْنَا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقُلتُ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أبَا السَّائِبِ، فَشَهَادَتي عَلَيْكَ لقَدْ أكْرَمَكَ اللَّهُ، قالَ: وما يُدْرِيكِ قُلتُ: لا أدْرِي واللَّهِ، قالَ: أمَّا هو فقَدْ جَاءَهُ اليَقِينُ، إنِّي لَأَرْجُو له الخَيْرَ مِنَ اللَّهِ “Utsman bin Mazh’un pernah mendatangi kami dalam sebuah hunian ketika orang Anshar sedang membagikan pembagian ghanimah untuk kaum Muhajirin. Ia (Utsman) mengeluhkan tentang sakitnya, lalu kami merawatnya hingga akhirnya ia meninggal. Kemudian kami mengkafaninya dengan kain-kainnya. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menemui kami. Dan aku (Ummul ‘Ala) berkata (kepada jenazah Utsman): “Semoga Allah merahmati engkau wahai Abu Sa`ib, aku bersaksi atas kebaikanmu, sungguh Allah telah memuliakanmu (dengan kehadiran Rasulullah)”. Nabi bertanya: “Dari mana engkau tahu Allah telah memuliakan Utsman?” Aku jawab: “Demi Allah saya tidak tahu wahai Rasulullah”. Nabi lalu bersabda: “Sungguh telah datang kepadanya al-yaqin (kematian), dan aku berharap ia mendapatkan kebaikan dari Allah” (HR. Al-Bukhari no. 7018). Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan kematian dengan al-yaqin.  Dan tafsiran ini juga kesepakatan seluruh ahli tafsir. Mereka semua sepakat bahwa al-yaqin maknanya adalah kematian. Al-Qurthubi menjelaskan: قوله تعالى : واعبد ربك حتى يأتيك اليقين فيه مسألة واحدة : وهو أن اليقين الموت “Firman Allah ta’ala [Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin] dalam hal ini hanya ada satu pendapat. Yaitu bahwa al yaqin maknanya adalah kematian” (Tafsir Al-Qurthubi, 13/264). Maka makna ayat ini adalah perintah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan juga umat beliau untuk beribadah selama masih hidup. Sebagaimana perkataan Nabi Isa ‘alaihissalam yang disebutkan dalam Al-Qur’an: وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “Allah telah menjadikan aku penuh keberkahan dimanapun aku berada, dan Allah telah perintahkan aku untuk shalat dan membayar zakat selama aku masih hidup” (QS. Maryam: 31). Ayat ini juga bantahan untuk orang-orang sufi dan yang semisal mereka, yang memaknai secara keliru ayat di atas. Karena seorang Nabi saja diperintahkan untuk beribadah sampai wafat. Maka bagaimana mungkin orang yang bukan Nabi boleh berhenti beribadah ketika sudah mencapai derajat yakin? Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Orang-orang malahidah (atheis) berdalil secara keliru dengan ayat di atas, karena menafsirkan al yaqin dengan al ma’rifah (mengenal). Jika seseorang sudah sampai pada derajat mengenal Allah maka gugur darinya beban syariat. Ini adalah kekufuran, kesesatan dan kejahilan. Karena para Nabi dan pengikutnya saja yang mana mereka adalah orang-orang yang paling mengenal Allah, bahkan mengenal hak-hak Allah dan sifat-sifat Allah, serta mengenal apa saja yang berhak diserahkan kepada Allah berupa pengagungan, mereka semua orang-orang yang paling maksimal dan paling banyak dalam beribadah kepada Allah. Bahkan mereka secara kontinu melakukan amalan-amalan kebaikan sampai mereka diwafatkan. Namun al-yaqin yang ada dalam ayat di atas maksudnya adalah kematian” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/554). As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas: استمر في جميع الأوقات على التقرب إلى الله بأنواع العبادات، فامتثل صلى الله عليه وسلم أمر ربه، فلم يزل دائبا في العبادة، حتى أتاه اليقين من ربه صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا “Rasulullah diperintahkan untuk terus-menerus beribadah kepada Allah di setiap waktu dengan berbagai jenis ibadah. Dan beliau melaksanakan perintah Rabb-nya tersebut. Beliau senantiasa dalam keadaan ibadah kepada Allah sampai datang kepadanya kematian dari Rabb-nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau” (Taisir Karimirrahman, hal. 435). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bacaan Imam Meluruskan Shaf Sesuai Sunnah, Hukum Meninggalkan Sholat, Doa Ziarah Kubur Dalam Islam, Kunyah, Shalat Nisfu Syaban, Pengertian Aliran Syiah Visited 337 times, 2 visit(s) today Post Views: 428 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengenal Hak Rasulullah

Hak Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam adalah hak yang terbesar di antara para makhluk. Tidak ada hal yang lebih besar dari hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِّتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلً“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 8-9)Oleh karena itu, wajib bagi Anda untuk mendahulukan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas kecintaan kepada manusia lainnya, termasuk diri Anda, anak, dan orang tua Anda sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يُؤْمِنُ أحدُكم حتى أكونَ أحبَّ إليه من ولدِهِ ، ووالدِهِ ، والناسِ أجمعينَ“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku (Muhammad) menjadi orang yang paling dicintai dari anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di antara hak-hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah memuliakannya, menghormatinya, mengagungkannya dengan pengagungan yang tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Dan mengagungkan kehidupannya, sunahnya, diri beliau yang mulia, memuliakannya setelah wafatnya, dan juga memuliakan sunah dan syariat lurus yang diajarkan beliau. Barangsiapa yang melihat bagaimana para sahabat memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya Anda akan mengenal bagaimana generasi utama menegakkan hak atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Urwah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada kaumnya, kaum Quraisy, ketika diutus untuk bernegosiasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menata perjanjian Hudaibiyah,“Aku pernah berjumpa dengan para raja, kisra, kaisar, dan Najasyi. Aku tidak pernah melihat satu pun yang mengagungkannya dari para sahabatnya seperti pengagungan sahabat Muhammad kepada Muhammad. Jika ia memerintahnya, mereka bersegera memenuhi perintahnya. Jika ia berwudu, mereka nyaris berkelahi demi merebut air sisa wudunya. Jika ia berbicara, mereka merendahkan suaranya di hadapannya. Mereka tidak mampu menatapnya karena penghormatan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2581)Demikianlah para sahabat radhiyallahu ‘anhum memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada mereka dari akhlak yang mulia, kelembutan diri, dan kerendahan hati. Dan seandainya engkau bersikap keras dan kasar, niscaya mereka akan berpaling dari sisimu.Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:Pertama: Membenarkan kabar yang dibawanya dari kabar-kabar terdahulu dan yang akan datang.Kedua: Mematuhi perintahnya dan menjauhi apa yang dilarang dan yang tidak disukainya.Ketiga: Mengimani bahwa petunjuknya adalah petunjuk yang paling sempurna dan syariat yang dibawanya adalah syariat yang paling sempurna.Keempat: Tidak mendahulukan undang-undang dan hukum lain sebagai landasan di atas syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65)قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ali Imran: 31)Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membela syariat dan petunjuknya dengan kekuatan yang seseorang mampu melakukannya, dengan mempertimbangkan metode apa yang digunakannya untuk membela. Jika musuhnya berperang dengan menggunakan hujah (argumentasi) dan syubhat, maka pembelaan dengan ilmu dan membantah hujah dan syubhatnya, dan menjelaskan kerusakan pemikirannya. Jika musuh menyerang dengan senjata dan perang, pembelaan juga dengan yang semisal dengan itu. Mustahil bagi seorang mukmin mendengar perlawanan terhadap syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan terhadap diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, lantas ia hanya diam saja atas semua itu sedangkan ia mampu untuk melawannya. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Pentingnya Mengenal Sifat Fisik Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquq Da’at ilaihaa Al-Fithrotu wa Qarartuhaa Asy-Syari’ah karya Syekh Sholeh bin Utsaimin rahimahullah.Tags: cinta Rasulullahhak rasulullahrasulullah

Mengenal Hak Rasulullah

Hak Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam adalah hak yang terbesar di antara para makhluk. Tidak ada hal yang lebih besar dari hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِّتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلً“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 8-9)Oleh karena itu, wajib bagi Anda untuk mendahulukan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas kecintaan kepada manusia lainnya, termasuk diri Anda, anak, dan orang tua Anda sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يُؤْمِنُ أحدُكم حتى أكونَ أحبَّ إليه من ولدِهِ ، ووالدِهِ ، والناسِ أجمعينَ“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku (Muhammad) menjadi orang yang paling dicintai dari anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di antara hak-hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah memuliakannya, menghormatinya, mengagungkannya dengan pengagungan yang tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Dan mengagungkan kehidupannya, sunahnya, diri beliau yang mulia, memuliakannya setelah wafatnya, dan juga memuliakan sunah dan syariat lurus yang diajarkan beliau. Barangsiapa yang melihat bagaimana para sahabat memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya Anda akan mengenal bagaimana generasi utama menegakkan hak atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Urwah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada kaumnya, kaum Quraisy, ketika diutus untuk bernegosiasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menata perjanjian Hudaibiyah,“Aku pernah berjumpa dengan para raja, kisra, kaisar, dan Najasyi. Aku tidak pernah melihat satu pun yang mengagungkannya dari para sahabatnya seperti pengagungan sahabat Muhammad kepada Muhammad. Jika ia memerintahnya, mereka bersegera memenuhi perintahnya. Jika ia berwudu, mereka nyaris berkelahi demi merebut air sisa wudunya. Jika ia berbicara, mereka merendahkan suaranya di hadapannya. Mereka tidak mampu menatapnya karena penghormatan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2581)Demikianlah para sahabat radhiyallahu ‘anhum memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada mereka dari akhlak yang mulia, kelembutan diri, dan kerendahan hati. Dan seandainya engkau bersikap keras dan kasar, niscaya mereka akan berpaling dari sisimu.Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:Pertama: Membenarkan kabar yang dibawanya dari kabar-kabar terdahulu dan yang akan datang.Kedua: Mematuhi perintahnya dan menjauhi apa yang dilarang dan yang tidak disukainya.Ketiga: Mengimani bahwa petunjuknya adalah petunjuk yang paling sempurna dan syariat yang dibawanya adalah syariat yang paling sempurna.Keempat: Tidak mendahulukan undang-undang dan hukum lain sebagai landasan di atas syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65)قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ali Imran: 31)Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membela syariat dan petunjuknya dengan kekuatan yang seseorang mampu melakukannya, dengan mempertimbangkan metode apa yang digunakannya untuk membela. Jika musuhnya berperang dengan menggunakan hujah (argumentasi) dan syubhat, maka pembelaan dengan ilmu dan membantah hujah dan syubhatnya, dan menjelaskan kerusakan pemikirannya. Jika musuh menyerang dengan senjata dan perang, pembelaan juga dengan yang semisal dengan itu. Mustahil bagi seorang mukmin mendengar perlawanan terhadap syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan terhadap diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, lantas ia hanya diam saja atas semua itu sedangkan ia mampu untuk melawannya. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Pentingnya Mengenal Sifat Fisik Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquq Da’at ilaihaa Al-Fithrotu wa Qarartuhaa Asy-Syari’ah karya Syekh Sholeh bin Utsaimin rahimahullah.Tags: cinta Rasulullahhak rasulullahrasulullah
Hak Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam adalah hak yang terbesar di antara para makhluk. Tidak ada hal yang lebih besar dari hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِّتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلً“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 8-9)Oleh karena itu, wajib bagi Anda untuk mendahulukan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas kecintaan kepada manusia lainnya, termasuk diri Anda, anak, dan orang tua Anda sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يُؤْمِنُ أحدُكم حتى أكونَ أحبَّ إليه من ولدِهِ ، ووالدِهِ ، والناسِ أجمعينَ“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku (Muhammad) menjadi orang yang paling dicintai dari anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di antara hak-hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah memuliakannya, menghormatinya, mengagungkannya dengan pengagungan yang tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Dan mengagungkan kehidupannya, sunahnya, diri beliau yang mulia, memuliakannya setelah wafatnya, dan juga memuliakan sunah dan syariat lurus yang diajarkan beliau. Barangsiapa yang melihat bagaimana para sahabat memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya Anda akan mengenal bagaimana generasi utama menegakkan hak atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Urwah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada kaumnya, kaum Quraisy, ketika diutus untuk bernegosiasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menata perjanjian Hudaibiyah,“Aku pernah berjumpa dengan para raja, kisra, kaisar, dan Najasyi. Aku tidak pernah melihat satu pun yang mengagungkannya dari para sahabatnya seperti pengagungan sahabat Muhammad kepada Muhammad. Jika ia memerintahnya, mereka bersegera memenuhi perintahnya. Jika ia berwudu, mereka nyaris berkelahi demi merebut air sisa wudunya. Jika ia berbicara, mereka merendahkan suaranya di hadapannya. Mereka tidak mampu menatapnya karena penghormatan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2581)Demikianlah para sahabat radhiyallahu ‘anhum memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada mereka dari akhlak yang mulia, kelembutan diri, dan kerendahan hati. Dan seandainya engkau bersikap keras dan kasar, niscaya mereka akan berpaling dari sisimu.Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:Pertama: Membenarkan kabar yang dibawanya dari kabar-kabar terdahulu dan yang akan datang.Kedua: Mematuhi perintahnya dan menjauhi apa yang dilarang dan yang tidak disukainya.Ketiga: Mengimani bahwa petunjuknya adalah petunjuk yang paling sempurna dan syariat yang dibawanya adalah syariat yang paling sempurna.Keempat: Tidak mendahulukan undang-undang dan hukum lain sebagai landasan di atas syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65)قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ali Imran: 31)Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membela syariat dan petunjuknya dengan kekuatan yang seseorang mampu melakukannya, dengan mempertimbangkan metode apa yang digunakannya untuk membela. Jika musuhnya berperang dengan menggunakan hujah (argumentasi) dan syubhat, maka pembelaan dengan ilmu dan membantah hujah dan syubhatnya, dan menjelaskan kerusakan pemikirannya. Jika musuh menyerang dengan senjata dan perang, pembelaan juga dengan yang semisal dengan itu. Mustahil bagi seorang mukmin mendengar perlawanan terhadap syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan terhadap diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, lantas ia hanya diam saja atas semua itu sedangkan ia mampu untuk melawannya. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Pentingnya Mengenal Sifat Fisik Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquq Da’at ilaihaa Al-Fithrotu wa Qarartuhaa Asy-Syari’ah karya Syekh Sholeh bin Utsaimin rahimahullah.Tags: cinta Rasulullahhak rasulullahrasulullah


Hak Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam adalah hak yang terbesar di antara para makhluk. Tidak ada hal yang lebih besar dari hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِّتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلً“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 8-9)Oleh karena itu, wajib bagi Anda untuk mendahulukan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas kecintaan kepada manusia lainnya, termasuk diri Anda, anak, dan orang tua Anda sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يُؤْمِنُ أحدُكم حتى أكونَ أحبَّ إليه من ولدِهِ ، ووالدِهِ ، والناسِ أجمعينَ“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku (Muhammad) menjadi orang yang paling dicintai dari anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di antara hak-hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah memuliakannya, menghormatinya, mengagungkannya dengan pengagungan yang tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Dan mengagungkan kehidupannya, sunahnya, diri beliau yang mulia, memuliakannya setelah wafatnya, dan juga memuliakan sunah dan syariat lurus yang diajarkan beliau. Barangsiapa yang melihat bagaimana para sahabat memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya Anda akan mengenal bagaimana generasi utama menegakkan hak atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Urwah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada kaumnya, kaum Quraisy, ketika diutus untuk bernegosiasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menata perjanjian Hudaibiyah,“Aku pernah berjumpa dengan para raja, kisra, kaisar, dan Najasyi. Aku tidak pernah melihat satu pun yang mengagungkannya dari para sahabatnya seperti pengagungan sahabat Muhammad kepada Muhammad. Jika ia memerintahnya, mereka bersegera memenuhi perintahnya. Jika ia berwudu, mereka nyaris berkelahi demi merebut air sisa wudunya. Jika ia berbicara, mereka merendahkan suaranya di hadapannya. Mereka tidak mampu menatapnya karena penghormatan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2581)Demikianlah para sahabat radhiyallahu ‘anhum memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada mereka dari akhlak yang mulia, kelembutan diri, dan kerendahan hati. Dan seandainya engkau bersikap keras dan kasar, niscaya mereka akan berpaling dari sisimu.Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:Pertama: Membenarkan kabar yang dibawanya dari kabar-kabar terdahulu dan yang akan datang.Kedua: Mematuhi perintahnya dan menjauhi apa yang dilarang dan yang tidak disukainya.Ketiga: Mengimani bahwa petunjuknya adalah petunjuk yang paling sempurna dan syariat yang dibawanya adalah syariat yang paling sempurna.Keempat: Tidak mendahulukan undang-undang dan hukum lain sebagai landasan di atas syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65)قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ali Imran: 31)Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membela syariat dan petunjuknya dengan kekuatan yang seseorang mampu melakukannya, dengan mempertimbangkan metode apa yang digunakannya untuk membela. Jika musuhnya berperang dengan menggunakan hujah (argumentasi) dan syubhat, maka pembelaan dengan ilmu dan membantah hujah dan syubhatnya, dan menjelaskan kerusakan pemikirannya. Jika musuh menyerang dengan senjata dan perang, pembelaan juga dengan yang semisal dengan itu. Mustahil bagi seorang mukmin mendengar perlawanan terhadap syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan terhadap diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, lantas ia hanya diam saja atas semua itu sedangkan ia mampu untuk melawannya. Demikian, semoga bermanfaat.Baca juga: Pentingnya Mengenal Sifat Fisik Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Huquq Da’at ilaihaa Al-Fithrotu wa Qarartuhaa Asy-Syari’ah karya Syekh Sholeh bin Utsaimin rahimahullah.Tags: cinta Rasulullahhak rasulullahrasulullah

Beramal Tanpa Panduan

Bismillah.Di antara bentuk kesalahpahaman yang tersebar di tengah masyarakat muslim adalah melandaskan amal kepada niat semata. Yang penting ikhlas, atau yang penting niatnya baik, dan sebagainya. Kerancuan berpikir seperti ini telah dijawab oleh Imam Bukhari rahimahullah. Di dalam Kitabul Ilmi dari Shahih Bukhari beliau membuat bab dengan judul ‘Bab Ilmu sebelum ucapan dan amalan.’Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh harus memenuhi 2 kriteria: 1) ikhlas karena Allah dan 2) mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehilangan syarat pertama membuat pelakunya terjerumus ke dalam syirik. Kehilangan syarat kedua membuatnya jatuh ke dalam bid’ah.Contoh orang yang beramal tanpa ikhlas adalah tiga orang yang pertama kali diadili dan menjadi bahan bakar neraka: 1) orang yang berjihad untuk mencari pujian, 2) orang yang membaca Al-Qur’an dan mencari ilmu untuk mencari sanjungan, dan 3) orang yang berinfak supaya dikenal sebagai dermawan. Allah berfirman,وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka lakukan, kemudian Kami jadikan ia bagi debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tentang ikhlas sangat penting dalam menjaga amal dari kerusakan. Para ulama memiliki perhatian yang sangat besar untuk memahamkan kaum muslimin tentang makna ikhlas. Sebagaimana menjaga amal agar sesuai dengan tuntunan dibutuhkan ilmu, maka menjaga amal agar ikhlas juga perlu bekal ilmu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kebaikan seorang muslim sangat erat kaitannya dengan ilmu dan pemahamannya dalam agama. Tidak cukup bermodal semangat. Karena orang yang beramal tanpa ilmu akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.Karena itulah setiap kali salat kita berdoa kepada Allah meminta petunjuk jalan yang lurus. Hakikat jalan lurus atau shirathal mustaqim adalah mengenali kebenaran dan beramal dengannya. Dengan demikian, untuk bisa mendapatkan ilmu seorang muslim membutuhkan pertolongan Allah dan petunjuk dari-Nya.Malik bin Dinar berkata, “Barangsiapa menimba ilmu untuk beramal, maka Allah akan memberikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menimba ilmu bukan untuk beramal, maka semakin banyak ilmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 575-576)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal, namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25)Oleh sebab itu, kita dapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang bersemangat untuk menimba ilmu sekaligus mengamalkannya. Tidaklah mereka melewati sekitar sepuluh ayat, melainkan mereka berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya. Mereka berkata, “Maka kami mempelajari ilmu dan amal secara bersama-sama.” (lihat Al-‘Ilmu, Wasa’iluhu wa Tsimaaruhu oleh Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, hal. 19)Amal itu mencakup iman kepada Allah, menunaikan ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tercakup dalam amal ini berbagai bentuk ibadah khusus yang bersifat pribadi maupun ibadah-ibadah yang memberikan faedah luas kepada orang lain. Ibadah khusus misalnya salat, puasa, haji. Adapun ibadah yang meluas faedahnya antara lain amar makruf nahi mungkar, jihad di jalan Allah, dsb. Amal inilah yang menjadi buah dari ilmu. Barangsiapa beramal tanpa ilmu, menyerupai kaum nasrani. Dan barangsiapa berilmu tetapi tidak beramal dengannya, menyerupai kaum Yahudi. (lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 22)Allah berfirman, أَلَمۡ یَأۡنِ لِلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا یَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِیرࣱ مِّنۡهُمۡ فَـٰسِقُونَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ یُحۡیِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ قَدۡ بَیَّنَّا لَكُمُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ“Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk/khusyuk hati mereka karena mengingat Allah dan kebenaran yang turun, dan janganlah mereka itu menjadi seperti orang-orang yang diberikan kitab sebelumnya. Masa yang panjang berlalu, maka hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi setelah kematiannya. Sungguh Kami telah menerangkan kepada kalian ayat-ayat, mudah-mudahan kalian mau memikirkan.” (QS. Al-Hadid: 16-17)Sebagaimana bumi yang mati menjadi hidup kembali dengan siraman air hujan dari langit, maka demikian pula hati yang mati dan keras akan menjadi hidup dan bercahaya dengan siraman petunjuk dan taufik dari Rabb penguasa langit dan bumi. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Maka, demikian pula hati, tidak akan mungkin dia menjadi hidup dan merasakan kelezatan hidup serta menikmatan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan Al-Qur’an ini. Tanpa Al-Qur’an dan tanpa beramal dengannya seorang insan hanya akan menjalani kehidupan ini seperti kehidupan binatang, bukan kehidupan yang hakiki.” (lihat Hablullah Al-Mamdud, hlm. 9)Dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, “Iman itu memiliki dua pilar. Yang pertama adalah mengenali ajaran yang dibawa oleh Rasul dan mengilmuinya. Yang kedua adalah membenarkan ajaran itu dalam bentuk ucapan dan amalan. Pembenaran tanpa landasan ilmu dan pemahaman adalah mustahil. Karena pembenaran merupakan cabang dan konsekuensi dari keberadaan sesuatu yang diyakini kebenarannya. Kalau begitu maka kedudukan ilmu dalam keimanan seperti peranan ruh di dalam jasad.” (lihat nukilan ini dalam kitab ‘Ibadatul ‘Umri karya Syekh Abdurrahman as-Sanad hafizhahullah, hal. 10)Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: beramalmanhaj salafpanduan

Beramal Tanpa Panduan

Bismillah.Di antara bentuk kesalahpahaman yang tersebar di tengah masyarakat muslim adalah melandaskan amal kepada niat semata. Yang penting ikhlas, atau yang penting niatnya baik, dan sebagainya. Kerancuan berpikir seperti ini telah dijawab oleh Imam Bukhari rahimahullah. Di dalam Kitabul Ilmi dari Shahih Bukhari beliau membuat bab dengan judul ‘Bab Ilmu sebelum ucapan dan amalan.’Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh harus memenuhi 2 kriteria: 1) ikhlas karena Allah dan 2) mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehilangan syarat pertama membuat pelakunya terjerumus ke dalam syirik. Kehilangan syarat kedua membuatnya jatuh ke dalam bid’ah.Contoh orang yang beramal tanpa ikhlas adalah tiga orang yang pertama kali diadili dan menjadi bahan bakar neraka: 1) orang yang berjihad untuk mencari pujian, 2) orang yang membaca Al-Qur’an dan mencari ilmu untuk mencari sanjungan, dan 3) orang yang berinfak supaya dikenal sebagai dermawan. Allah berfirman,وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka lakukan, kemudian Kami jadikan ia bagi debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tentang ikhlas sangat penting dalam menjaga amal dari kerusakan. Para ulama memiliki perhatian yang sangat besar untuk memahamkan kaum muslimin tentang makna ikhlas. Sebagaimana menjaga amal agar sesuai dengan tuntunan dibutuhkan ilmu, maka menjaga amal agar ikhlas juga perlu bekal ilmu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kebaikan seorang muslim sangat erat kaitannya dengan ilmu dan pemahamannya dalam agama. Tidak cukup bermodal semangat. Karena orang yang beramal tanpa ilmu akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.Karena itulah setiap kali salat kita berdoa kepada Allah meminta petunjuk jalan yang lurus. Hakikat jalan lurus atau shirathal mustaqim adalah mengenali kebenaran dan beramal dengannya. Dengan demikian, untuk bisa mendapatkan ilmu seorang muslim membutuhkan pertolongan Allah dan petunjuk dari-Nya.Malik bin Dinar berkata, “Barangsiapa menimba ilmu untuk beramal, maka Allah akan memberikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menimba ilmu bukan untuk beramal, maka semakin banyak ilmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 575-576)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal, namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25)Oleh sebab itu, kita dapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang bersemangat untuk menimba ilmu sekaligus mengamalkannya. Tidaklah mereka melewati sekitar sepuluh ayat, melainkan mereka berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya. Mereka berkata, “Maka kami mempelajari ilmu dan amal secara bersama-sama.” (lihat Al-‘Ilmu, Wasa’iluhu wa Tsimaaruhu oleh Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, hal. 19)Amal itu mencakup iman kepada Allah, menunaikan ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tercakup dalam amal ini berbagai bentuk ibadah khusus yang bersifat pribadi maupun ibadah-ibadah yang memberikan faedah luas kepada orang lain. Ibadah khusus misalnya salat, puasa, haji. Adapun ibadah yang meluas faedahnya antara lain amar makruf nahi mungkar, jihad di jalan Allah, dsb. Amal inilah yang menjadi buah dari ilmu. Barangsiapa beramal tanpa ilmu, menyerupai kaum nasrani. Dan barangsiapa berilmu tetapi tidak beramal dengannya, menyerupai kaum Yahudi. (lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 22)Allah berfirman, أَلَمۡ یَأۡنِ لِلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا یَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِیرࣱ مِّنۡهُمۡ فَـٰسِقُونَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ یُحۡیِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ قَدۡ بَیَّنَّا لَكُمُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ“Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk/khusyuk hati mereka karena mengingat Allah dan kebenaran yang turun, dan janganlah mereka itu menjadi seperti orang-orang yang diberikan kitab sebelumnya. Masa yang panjang berlalu, maka hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi setelah kematiannya. Sungguh Kami telah menerangkan kepada kalian ayat-ayat, mudah-mudahan kalian mau memikirkan.” (QS. Al-Hadid: 16-17)Sebagaimana bumi yang mati menjadi hidup kembali dengan siraman air hujan dari langit, maka demikian pula hati yang mati dan keras akan menjadi hidup dan bercahaya dengan siraman petunjuk dan taufik dari Rabb penguasa langit dan bumi. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Maka, demikian pula hati, tidak akan mungkin dia menjadi hidup dan merasakan kelezatan hidup serta menikmatan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan Al-Qur’an ini. Tanpa Al-Qur’an dan tanpa beramal dengannya seorang insan hanya akan menjalani kehidupan ini seperti kehidupan binatang, bukan kehidupan yang hakiki.” (lihat Hablullah Al-Mamdud, hlm. 9)Dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, “Iman itu memiliki dua pilar. Yang pertama adalah mengenali ajaran yang dibawa oleh Rasul dan mengilmuinya. Yang kedua adalah membenarkan ajaran itu dalam bentuk ucapan dan amalan. Pembenaran tanpa landasan ilmu dan pemahaman adalah mustahil. Karena pembenaran merupakan cabang dan konsekuensi dari keberadaan sesuatu yang diyakini kebenarannya. Kalau begitu maka kedudukan ilmu dalam keimanan seperti peranan ruh di dalam jasad.” (lihat nukilan ini dalam kitab ‘Ibadatul ‘Umri karya Syekh Abdurrahman as-Sanad hafizhahullah, hal. 10)Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: beramalmanhaj salafpanduan
Bismillah.Di antara bentuk kesalahpahaman yang tersebar di tengah masyarakat muslim adalah melandaskan amal kepada niat semata. Yang penting ikhlas, atau yang penting niatnya baik, dan sebagainya. Kerancuan berpikir seperti ini telah dijawab oleh Imam Bukhari rahimahullah. Di dalam Kitabul Ilmi dari Shahih Bukhari beliau membuat bab dengan judul ‘Bab Ilmu sebelum ucapan dan amalan.’Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh harus memenuhi 2 kriteria: 1) ikhlas karena Allah dan 2) mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehilangan syarat pertama membuat pelakunya terjerumus ke dalam syirik. Kehilangan syarat kedua membuatnya jatuh ke dalam bid’ah.Contoh orang yang beramal tanpa ikhlas adalah tiga orang yang pertama kali diadili dan menjadi bahan bakar neraka: 1) orang yang berjihad untuk mencari pujian, 2) orang yang membaca Al-Qur’an dan mencari ilmu untuk mencari sanjungan, dan 3) orang yang berinfak supaya dikenal sebagai dermawan. Allah berfirman,وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka lakukan, kemudian Kami jadikan ia bagi debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tentang ikhlas sangat penting dalam menjaga amal dari kerusakan. Para ulama memiliki perhatian yang sangat besar untuk memahamkan kaum muslimin tentang makna ikhlas. Sebagaimana menjaga amal agar sesuai dengan tuntunan dibutuhkan ilmu, maka menjaga amal agar ikhlas juga perlu bekal ilmu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kebaikan seorang muslim sangat erat kaitannya dengan ilmu dan pemahamannya dalam agama. Tidak cukup bermodal semangat. Karena orang yang beramal tanpa ilmu akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.Karena itulah setiap kali salat kita berdoa kepada Allah meminta petunjuk jalan yang lurus. Hakikat jalan lurus atau shirathal mustaqim adalah mengenali kebenaran dan beramal dengannya. Dengan demikian, untuk bisa mendapatkan ilmu seorang muslim membutuhkan pertolongan Allah dan petunjuk dari-Nya.Malik bin Dinar berkata, “Barangsiapa menimba ilmu untuk beramal, maka Allah akan memberikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menimba ilmu bukan untuk beramal, maka semakin banyak ilmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 575-576)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal, namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25)Oleh sebab itu, kita dapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang bersemangat untuk menimba ilmu sekaligus mengamalkannya. Tidaklah mereka melewati sekitar sepuluh ayat, melainkan mereka berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya. Mereka berkata, “Maka kami mempelajari ilmu dan amal secara bersama-sama.” (lihat Al-‘Ilmu, Wasa’iluhu wa Tsimaaruhu oleh Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, hal. 19)Amal itu mencakup iman kepada Allah, menunaikan ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tercakup dalam amal ini berbagai bentuk ibadah khusus yang bersifat pribadi maupun ibadah-ibadah yang memberikan faedah luas kepada orang lain. Ibadah khusus misalnya salat, puasa, haji. Adapun ibadah yang meluas faedahnya antara lain amar makruf nahi mungkar, jihad di jalan Allah, dsb. Amal inilah yang menjadi buah dari ilmu. Barangsiapa beramal tanpa ilmu, menyerupai kaum nasrani. Dan barangsiapa berilmu tetapi tidak beramal dengannya, menyerupai kaum Yahudi. (lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 22)Allah berfirman, أَلَمۡ یَأۡنِ لِلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا یَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِیرࣱ مِّنۡهُمۡ فَـٰسِقُونَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ یُحۡیِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ قَدۡ بَیَّنَّا لَكُمُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ“Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk/khusyuk hati mereka karena mengingat Allah dan kebenaran yang turun, dan janganlah mereka itu menjadi seperti orang-orang yang diberikan kitab sebelumnya. Masa yang panjang berlalu, maka hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi setelah kematiannya. Sungguh Kami telah menerangkan kepada kalian ayat-ayat, mudah-mudahan kalian mau memikirkan.” (QS. Al-Hadid: 16-17)Sebagaimana bumi yang mati menjadi hidup kembali dengan siraman air hujan dari langit, maka demikian pula hati yang mati dan keras akan menjadi hidup dan bercahaya dengan siraman petunjuk dan taufik dari Rabb penguasa langit dan bumi. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Maka, demikian pula hati, tidak akan mungkin dia menjadi hidup dan merasakan kelezatan hidup serta menikmatan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan Al-Qur’an ini. Tanpa Al-Qur’an dan tanpa beramal dengannya seorang insan hanya akan menjalani kehidupan ini seperti kehidupan binatang, bukan kehidupan yang hakiki.” (lihat Hablullah Al-Mamdud, hlm. 9)Dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, “Iman itu memiliki dua pilar. Yang pertama adalah mengenali ajaran yang dibawa oleh Rasul dan mengilmuinya. Yang kedua adalah membenarkan ajaran itu dalam bentuk ucapan dan amalan. Pembenaran tanpa landasan ilmu dan pemahaman adalah mustahil. Karena pembenaran merupakan cabang dan konsekuensi dari keberadaan sesuatu yang diyakini kebenarannya. Kalau begitu maka kedudukan ilmu dalam keimanan seperti peranan ruh di dalam jasad.” (lihat nukilan ini dalam kitab ‘Ibadatul ‘Umri karya Syekh Abdurrahman as-Sanad hafizhahullah, hal. 10)Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: beramalmanhaj salafpanduan


Bismillah.Di antara bentuk kesalahpahaman yang tersebar di tengah masyarakat muslim adalah melandaskan amal kepada niat semata. Yang penting ikhlas, atau yang penting niatnya baik, dan sebagainya. Kerancuan berpikir seperti ini telah dijawab oleh Imam Bukhari rahimahullah. Di dalam Kitabul Ilmi dari Shahih Bukhari beliau membuat bab dengan judul ‘Bab Ilmu sebelum ucapan dan amalan.’Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh harus memenuhi 2 kriteria: 1) ikhlas karena Allah dan 2) mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehilangan syarat pertama membuat pelakunya terjerumus ke dalam syirik. Kehilangan syarat kedua membuatnya jatuh ke dalam bid’ah.Contoh orang yang beramal tanpa ikhlas adalah tiga orang yang pertama kali diadili dan menjadi bahan bakar neraka: 1) orang yang berjihad untuk mencari pujian, 2) orang yang membaca Al-Qur’an dan mencari ilmu untuk mencari sanjungan, dan 3) orang yang berinfak supaya dikenal sebagai dermawan. Allah berfirman,وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka lakukan, kemudian Kami jadikan ia bagi debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tentang ikhlas sangat penting dalam menjaga amal dari kerusakan. Para ulama memiliki perhatian yang sangat besar untuk memahamkan kaum muslimin tentang makna ikhlas. Sebagaimana menjaga amal agar sesuai dengan tuntunan dibutuhkan ilmu, maka menjaga amal agar ikhlas juga perlu bekal ilmu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kebaikan seorang muslim sangat erat kaitannya dengan ilmu dan pemahamannya dalam agama. Tidak cukup bermodal semangat. Karena orang yang beramal tanpa ilmu akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.Karena itulah setiap kali salat kita berdoa kepada Allah meminta petunjuk jalan yang lurus. Hakikat jalan lurus atau shirathal mustaqim adalah mengenali kebenaran dan beramal dengannya. Dengan demikian, untuk bisa mendapatkan ilmu seorang muslim membutuhkan pertolongan Allah dan petunjuk dari-Nya.Malik bin Dinar berkata, “Barangsiapa menimba ilmu untuk beramal, maka Allah akan memberikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menimba ilmu bukan untuk beramal, maka semakin banyak ilmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 575-576)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal, namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25)Oleh sebab itu, kita dapati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang bersemangat untuk menimba ilmu sekaligus mengamalkannya. Tidaklah mereka melewati sekitar sepuluh ayat, melainkan mereka berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya. Mereka berkata, “Maka kami mempelajari ilmu dan amal secara bersama-sama.” (lihat Al-‘Ilmu, Wasa’iluhu wa Tsimaaruhu oleh Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, hal. 19)Amal itu mencakup iman kepada Allah, menunaikan ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tercakup dalam amal ini berbagai bentuk ibadah khusus yang bersifat pribadi maupun ibadah-ibadah yang memberikan faedah luas kepada orang lain. Ibadah khusus misalnya salat, puasa, haji. Adapun ibadah yang meluas faedahnya antara lain amar makruf nahi mungkar, jihad di jalan Allah, dsb. Amal inilah yang menjadi buah dari ilmu. Barangsiapa beramal tanpa ilmu, menyerupai kaum nasrani. Dan barangsiapa berilmu tetapi tidak beramal dengannya, menyerupai kaum Yahudi. (lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 22)Allah berfirman, أَلَمۡ یَأۡنِ لِلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا یَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِیرࣱ مِّنۡهُمۡ فَـٰسِقُونَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ یُحۡیِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ قَدۡ بَیَّنَّا لَكُمُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ“Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk/khusyuk hati mereka karena mengingat Allah dan kebenaran yang turun, dan janganlah mereka itu menjadi seperti orang-orang yang diberikan kitab sebelumnya. Masa yang panjang berlalu, maka hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi setelah kematiannya. Sungguh Kami telah menerangkan kepada kalian ayat-ayat, mudah-mudahan kalian mau memikirkan.” (QS. Al-Hadid: 16-17)Sebagaimana bumi yang mati menjadi hidup kembali dengan siraman air hujan dari langit, maka demikian pula hati yang mati dan keras akan menjadi hidup dan bercahaya dengan siraman petunjuk dan taufik dari Rabb penguasa langit dan bumi. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Maka, demikian pula hati, tidak akan mungkin dia menjadi hidup dan merasakan kelezatan hidup serta menikmatan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kecuali dengan Al-Qur’an ini. Tanpa Al-Qur’an dan tanpa beramal dengannya seorang insan hanya akan menjalani kehidupan ini seperti kehidupan binatang, bukan kehidupan yang hakiki.” (lihat Hablullah Al-Mamdud, hlm. 9)Dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, “Iman itu memiliki dua pilar. Yang pertama adalah mengenali ajaran yang dibawa oleh Rasul dan mengilmuinya. Yang kedua adalah membenarkan ajaran itu dalam bentuk ucapan dan amalan. Pembenaran tanpa landasan ilmu dan pemahaman adalah mustahil. Karena pembenaran merupakan cabang dan konsekuensi dari keberadaan sesuatu yang diyakini kebenarannya. Kalau begitu maka kedudukan ilmu dalam keimanan seperti peranan ruh di dalam jasad.” (lihat nukilan ini dalam kitab ‘Ibadatul ‘Umri karya Syekh Abdurrahman as-Sanad hafizhahullah, hal. 10)Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: beramalmanhaj salafpanduan

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 3)

Daftar Isi Beribadah kepada Allah semataDiuji oleh Allah Ta’alaPerintahLaranganNikmatMusibahBeribadah kepada Allah semataIbadah adalah kata yang sakral dan diagungkan manusia. Sejatinya, ibadah ini merupakan konsekuensi dari tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Para ulama menyebutnya dengan istilah tauhid uluhiyah atau tauhid ubudiyah. Oleh karena itu, seseorang yang mengenal Allah, melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tidaklah cukup baginya sampai ia kemudian menegakkan tauhid uluhiyah, dengan beribadah hanya kepada-Nya. Karena jika ia benar-benar mengenal Rabb-Nya, maka ia akan menaati-Nya. Sementara Dialah yang telah berfirman dalam salah satu ayat-Nya yang mulia,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku semata”. [1]Dan ketahuilah, tidaklah ibadah itu sampai kepada-Nya, kecuali Anda penuhi dua syarat, seperti yang disimpulkan oleh para ulama:Pertama: Ikhlas karena Allah Ta’ala. [2]Kedua: Ittiba’ dengan mengikuti syariat yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. [3]Dan inilah konsekuensi dari dua kalimat syahadat yang Anda ucapkan. Bahwasanya Anda bersaksi hanya Allah sajalah sesembahan yang berhak untuk Anda sembah, dan Muhammad adalah utusan-Nya yang harus Anda ikuti, taati, dan tetapi petunjuk dan sunah-sunah yang dibawanya.Maka, seorang hamba yang sekadar beribadah, namun di saat bersamaan ia beribadah kepada sesembahan lain selain Allah, seperti berdoa kepada wali, Nabi, atau malaikat, atau ia beribadah karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka ia telah merusak syarat yang pertama. Begitu juga, jika ia sekadar beribadah, namun menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melakukan perkara-perkara baru dalam agama yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena mengedepankan hawa nafsu serta perkataan ulama atau guru yang ia muliakan, maka ibadahnya tertolak dengan rusaknya syarat yang kedua. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” [4]Maka, perhatikanlah dua hal ini. Jika ia cacat, maka sia-sialah ibadah Anda. Sia-sialah tujuan penciptaan Anda. Namun, seperti apa realisasi ibadah ini? Apakah ia melulu tentang salat, zakat, puasa, zikir, dan melakukan wirid lainnya? Ternyata tidak! Maka, untuk memahaminya, simaklah tujuan ketiga dari penciptaan Anda, yakni untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Baca juga: Dua Syarat Diterimanya IbadahDiuji oleh Allah Ta’alaSebuah ujian di sekolah atau di universitas diadakan, di antaranya untuk mengukur kemampuan pelajar atau mengevaluasi hasil belajar mereka selama menuntut ilmu. Bahkan, ada di antara ujian itu yang bertujuan untuk menyeleksi siswa, apakah patut untuk diberikan tanda kelulusan ataukah tidak. Bagaimana dengan ujian Allah terhadap manusia? Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“(Dialah Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya.” [5]Di dalam ayat yang agung ini, Allah Ta’ala menegaskan bahwa di antara tujuan penciptaan manusia, yang Dia hidupkan kemudian matikan, adalah untuk menguji mereka, siapakah di antara anak Adam tersebut yang mewujudkan amalan terbaiknya kepada Allah Ta’ala. Maka, pertanyaan berikutnya adalah seperti apakah bentuk ujian yang Allah berikan kepada umat manusia. Apakah ia seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang, bahwa ujian itu semata-mata tentang kesempitan hidup, musibah, dan penderitaan yang menyapa mereka. Jika kita menghimpun seluruh dalil-dalil dan perkataan ulama, maka dapat disimpulkan bahwa ujian itu ada dua pasang atau empat macam: yaitu perintah dan larangan [6], lalu nikmat dan musibah [7].Ketahuilah, bahwa ketika keempat ujian tersebut Anda penuhi sesuai dengan yang Allah kehendaki, maka ia akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala, dan dijanjikan dengan ganjaran pahala serta kebahagiaan hidup. Sebaliknya, jika Anda menyia-nyiakan apa yang dikehendaki dari ujian tersebut, maka Anda akan mendapatkan dosa dan terancam dengan siksa dan penderitaan.PerintahAllah telah memerintahkan berbagai perkara, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi yang jika dilaksanakan bisa bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Menegakkan salat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu, berzikir, berbakti kepada orang tua, menafkahi keluarga, menjenguk tetangga yang sakit, mengurus jenazah kaum muslimin. Semua ini adalah amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yang jika dilaksanakan akan bernilai ibadah di sisinya, dan bisa bernilai dosa ketika ditinggalkan, tentunya jika ia hukum asalnya wajib untuk dikerjakan.LaranganSaat manusia diuji dengan memerintahkan mereka melakukan amalan tertentu, mereka juga di saat bersamaan dilarang dari perkara-perkara tertentu, yang pada dasarnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, baik diketahui secara jelas keburukan dan bahayanya atau tidak. Maka, di antaranya Allah melarang mengkonsumsi minuman yang memabukkan serta makanan tertentu seperti bangkai, daging babi dan darah, melarang transaksi ribawi, melarang mendengarkan alat musik, dan melarang mendekati zina. Kerusakan yang diakibatkan perkara-perkara ini tentu bisa diketahui dan diakui oleh orang-orang yang memiliki akal yang jernih. Seseorang yang meninggalkan seluruh larangan ini karena Allah akan terhitung melakukan ibadah di sisi-Nya dan patut mendapat ganjaran berupa pahala dan janji berupa surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas BeribadahNikmatSetiap detik nikmat datang dari Allah kepada setiap hamba, tanpa terkecuali kepada Anda. Bahkan, nikmat ini mengalir terus menerus dari seseorang lahir hingga ia mati. Nikmat mata yang bisa melihat benda dekat dan jauh. Nikmat telinga yang bisa mendengar bisikan maupun teriakan. Nikmat jantung yang berdegup normal nan stabil demi memompa darah ke seluruh tubuh. Nikmat paru yang kembang kempis menarik dan membuang udara. Nikmat ginjal yang bekerja keras menyaring darah dan menghasilkan urin. Nikmat hati yang memproduksi cairan empedu sekaligus menawarkan racun. Nikmat 206 tulang dan 360 persendian yang memungkinkan Anda bisa bergerak dan berakitivas tanpa hambatan. Bahkan, nikmat trilyunan sel normal yang sampai saat ini jumlah pastinya masih jadi perdebatan ilmiah.Semuanya patut Anda syukuri setiap bagiannya. Dan nikmat ini adalah salah salah satu bentuk ujian Allah yang paling halus bagi seorang hamba. Anda hanya akan dianggap lulus dari ujian ini ketika anda mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Dan jika anda melakukannya, ia akan terhitung sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, sekaligus Allah akan tambahkan nikmat yang lain. Namun ketahuilah, sampai kapanpun, Anda tidak akan sanggup melakukannya. Karena saking banyaknya nikmat yang ada pada Anda, sementara Anda masih butuh nikmat yang satu untuk mensyukuri nikmat yang lainnya. Maka, tidak ada habisnya perputaran nikmat tersebut. Sedangkan manusia lebih banyak lalai dan kufur terhadap nikmat yang Allah berikan pada mereka. Padahal syukur nikmat itu wajib. Sehingga yang lupa bersyukur, akan berdosa atas kelengahannya.MusibahJika nikmat bernilai ibadah ketika disyukuri, bagaimana dengan musibah yang menimpa Anda? Maka, tentunya ia akan bernilai ibadah tatkala Anda sabar menghadapi musibah yang datang. Namun, patut Anda renungkan, sebanyak apapun bala yang menimpa Anda, seberat apapun musibah yang melanda diri Anda, tidaklah ia sebanding dengan nikmat yang mengalir dalam hidup Anda. Karena musibah itu datangnya hanya sekali-kali. Sementara nikmat datangnya setiap saat. Jika musibah yang datang membuat badan atau hati menjadi sakit, maka tidak lama berselang, Allah akan hilangkan sakit yang ada di tubuh atau di hati Anda, sampai-sampai Anda mungkin lupa pernah mendapat cobaan tersebut. Maka lupa ini, menjadi nikmat tersendiri bagi Anda.Oleh karena itu, atas ujian berupa musibah, wajib bagi seorang hamba untuk bersabar dengannya. Bagi mereka yang bersabar, Allah akan ganjar pahala, kelapangan, kenyamanan, kelegaan, kesejukan, ketenteraman, ketenangan, serta kebahagiaan setelahnya. Sebaliknya bagi mereka yang tidak bisa bersabar, maka ia akan bernilai dosa dan Allah akan tambahkan musibah itu dengan semakin sempitnya hati, sehingga ia akan semakin merana, semakin menderita, semakin sengsara, dan semakin sedih karena musibah tersebut sekaligus akibat dosa atas kelalaiannya dari bersabar.Meskipun demikian, bersamaan dengan sifat hamba yang lemah dan seringkali lengah, Rabb mereka adalah Zat yang penuh dengan ampunan, bahkan Dia ‘Azza Wa Jalla menanti tobat hamba-hamba-Nya. Sehingga seorang  hamba yang melanggar sebagian dari ujian tersebut dan terjatuh kepada dosa, kemudian dia segera bertobat, maka Allah akan ampuni dosa hamba tersebut dan menggantinya jadi kebaikan, bahkan meskipun dosanya sepenuh bumi. [8] Dialah Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.Maka, inilah makna ibadah yang sesungguhnya. Seperti yang diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,” الْعِبَادَةُ ” هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ :مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah sebutan yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi maupun yang tampak.” [9]Oleh karena itu, seseorang yang memiliki ilmu akan perkara ini, bisa menjadikan setiap hal dalam kesehariannya sebagai ibadah. Dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dari makan, bekerja, hingga buang air, semuanya  akan bernilai ibadah. Dari mendapat nikmat hingga tertimpa sakit semuanya bisa ia transformasi menjadi pahala akhirat. Demikianlah kehidupan seorang hamba yang alim dan diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Ia menjadikan setiap waktu, tempat, aktivitas, dan kondisi sebagai bentuk ibadah dan penghambaan diri kepada Rabb-nya.Kembali ke bagian 2 Lanjut ke bagian 4***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Az-Zariyat ayat 56.[2] QS. Al-Kahfi ayat 110. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia biasa seperti engkau, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan engkau hanyalah satu saja.” Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.“[3] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[4] QS. Al-Furqan ayat 23.[5] QS. Al-Mulk ayat 2.[6] QS. Al-Insan ayat 2-3. “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”Ketika menafsirkan ayat ini, sebagian ulama menjelaskan bahwa ujian yang ada di ayat ini berupa perintah dan larangan, serta kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh hamba.[7] QS. Al-Anbiya ayat 35. Allah Ta’ala berfirman, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”Dalam ayat ini, sebagian ulama, di antaranya Ibnu Katsir, menafsirkan keburukan dan kebaikan berupa musibah dan nikmat yang didatangkan kepada hamba.[8] HR. At-Tirmidzi nomor 3540. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi itu pula.”[9] Majmu’ah Al-Fatawa, 10: 149.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 3)

Daftar Isi Beribadah kepada Allah semataDiuji oleh Allah Ta’alaPerintahLaranganNikmatMusibahBeribadah kepada Allah semataIbadah adalah kata yang sakral dan diagungkan manusia. Sejatinya, ibadah ini merupakan konsekuensi dari tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Para ulama menyebutnya dengan istilah tauhid uluhiyah atau tauhid ubudiyah. Oleh karena itu, seseorang yang mengenal Allah, melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tidaklah cukup baginya sampai ia kemudian menegakkan tauhid uluhiyah, dengan beribadah hanya kepada-Nya. Karena jika ia benar-benar mengenal Rabb-Nya, maka ia akan menaati-Nya. Sementara Dialah yang telah berfirman dalam salah satu ayat-Nya yang mulia,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku semata”. [1]Dan ketahuilah, tidaklah ibadah itu sampai kepada-Nya, kecuali Anda penuhi dua syarat, seperti yang disimpulkan oleh para ulama:Pertama: Ikhlas karena Allah Ta’ala. [2]Kedua: Ittiba’ dengan mengikuti syariat yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. [3]Dan inilah konsekuensi dari dua kalimat syahadat yang Anda ucapkan. Bahwasanya Anda bersaksi hanya Allah sajalah sesembahan yang berhak untuk Anda sembah, dan Muhammad adalah utusan-Nya yang harus Anda ikuti, taati, dan tetapi petunjuk dan sunah-sunah yang dibawanya.Maka, seorang hamba yang sekadar beribadah, namun di saat bersamaan ia beribadah kepada sesembahan lain selain Allah, seperti berdoa kepada wali, Nabi, atau malaikat, atau ia beribadah karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka ia telah merusak syarat yang pertama. Begitu juga, jika ia sekadar beribadah, namun menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melakukan perkara-perkara baru dalam agama yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena mengedepankan hawa nafsu serta perkataan ulama atau guru yang ia muliakan, maka ibadahnya tertolak dengan rusaknya syarat yang kedua. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” [4]Maka, perhatikanlah dua hal ini. Jika ia cacat, maka sia-sialah ibadah Anda. Sia-sialah tujuan penciptaan Anda. Namun, seperti apa realisasi ibadah ini? Apakah ia melulu tentang salat, zakat, puasa, zikir, dan melakukan wirid lainnya? Ternyata tidak! Maka, untuk memahaminya, simaklah tujuan ketiga dari penciptaan Anda, yakni untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Baca juga: Dua Syarat Diterimanya IbadahDiuji oleh Allah Ta’alaSebuah ujian di sekolah atau di universitas diadakan, di antaranya untuk mengukur kemampuan pelajar atau mengevaluasi hasil belajar mereka selama menuntut ilmu. Bahkan, ada di antara ujian itu yang bertujuan untuk menyeleksi siswa, apakah patut untuk diberikan tanda kelulusan ataukah tidak. Bagaimana dengan ujian Allah terhadap manusia? Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“(Dialah Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya.” [5]Di dalam ayat yang agung ini, Allah Ta’ala menegaskan bahwa di antara tujuan penciptaan manusia, yang Dia hidupkan kemudian matikan, adalah untuk menguji mereka, siapakah di antara anak Adam tersebut yang mewujudkan amalan terbaiknya kepada Allah Ta’ala. Maka, pertanyaan berikutnya adalah seperti apakah bentuk ujian yang Allah berikan kepada umat manusia. Apakah ia seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang, bahwa ujian itu semata-mata tentang kesempitan hidup, musibah, dan penderitaan yang menyapa mereka. Jika kita menghimpun seluruh dalil-dalil dan perkataan ulama, maka dapat disimpulkan bahwa ujian itu ada dua pasang atau empat macam: yaitu perintah dan larangan [6], lalu nikmat dan musibah [7].Ketahuilah, bahwa ketika keempat ujian tersebut Anda penuhi sesuai dengan yang Allah kehendaki, maka ia akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala, dan dijanjikan dengan ganjaran pahala serta kebahagiaan hidup. Sebaliknya, jika Anda menyia-nyiakan apa yang dikehendaki dari ujian tersebut, maka Anda akan mendapatkan dosa dan terancam dengan siksa dan penderitaan.PerintahAllah telah memerintahkan berbagai perkara, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi yang jika dilaksanakan bisa bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Menegakkan salat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu, berzikir, berbakti kepada orang tua, menafkahi keluarga, menjenguk tetangga yang sakit, mengurus jenazah kaum muslimin. Semua ini adalah amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yang jika dilaksanakan akan bernilai ibadah di sisinya, dan bisa bernilai dosa ketika ditinggalkan, tentunya jika ia hukum asalnya wajib untuk dikerjakan.LaranganSaat manusia diuji dengan memerintahkan mereka melakukan amalan tertentu, mereka juga di saat bersamaan dilarang dari perkara-perkara tertentu, yang pada dasarnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, baik diketahui secara jelas keburukan dan bahayanya atau tidak. Maka, di antaranya Allah melarang mengkonsumsi minuman yang memabukkan serta makanan tertentu seperti bangkai, daging babi dan darah, melarang transaksi ribawi, melarang mendengarkan alat musik, dan melarang mendekati zina. Kerusakan yang diakibatkan perkara-perkara ini tentu bisa diketahui dan diakui oleh orang-orang yang memiliki akal yang jernih. Seseorang yang meninggalkan seluruh larangan ini karena Allah akan terhitung melakukan ibadah di sisi-Nya dan patut mendapat ganjaran berupa pahala dan janji berupa surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas BeribadahNikmatSetiap detik nikmat datang dari Allah kepada setiap hamba, tanpa terkecuali kepada Anda. Bahkan, nikmat ini mengalir terus menerus dari seseorang lahir hingga ia mati. Nikmat mata yang bisa melihat benda dekat dan jauh. Nikmat telinga yang bisa mendengar bisikan maupun teriakan. Nikmat jantung yang berdegup normal nan stabil demi memompa darah ke seluruh tubuh. Nikmat paru yang kembang kempis menarik dan membuang udara. Nikmat ginjal yang bekerja keras menyaring darah dan menghasilkan urin. Nikmat hati yang memproduksi cairan empedu sekaligus menawarkan racun. Nikmat 206 tulang dan 360 persendian yang memungkinkan Anda bisa bergerak dan berakitivas tanpa hambatan. Bahkan, nikmat trilyunan sel normal yang sampai saat ini jumlah pastinya masih jadi perdebatan ilmiah.Semuanya patut Anda syukuri setiap bagiannya. Dan nikmat ini adalah salah salah satu bentuk ujian Allah yang paling halus bagi seorang hamba. Anda hanya akan dianggap lulus dari ujian ini ketika anda mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Dan jika anda melakukannya, ia akan terhitung sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, sekaligus Allah akan tambahkan nikmat yang lain. Namun ketahuilah, sampai kapanpun, Anda tidak akan sanggup melakukannya. Karena saking banyaknya nikmat yang ada pada Anda, sementara Anda masih butuh nikmat yang satu untuk mensyukuri nikmat yang lainnya. Maka, tidak ada habisnya perputaran nikmat tersebut. Sedangkan manusia lebih banyak lalai dan kufur terhadap nikmat yang Allah berikan pada mereka. Padahal syukur nikmat itu wajib. Sehingga yang lupa bersyukur, akan berdosa atas kelengahannya.MusibahJika nikmat bernilai ibadah ketika disyukuri, bagaimana dengan musibah yang menimpa Anda? Maka, tentunya ia akan bernilai ibadah tatkala Anda sabar menghadapi musibah yang datang. Namun, patut Anda renungkan, sebanyak apapun bala yang menimpa Anda, seberat apapun musibah yang melanda diri Anda, tidaklah ia sebanding dengan nikmat yang mengalir dalam hidup Anda. Karena musibah itu datangnya hanya sekali-kali. Sementara nikmat datangnya setiap saat. Jika musibah yang datang membuat badan atau hati menjadi sakit, maka tidak lama berselang, Allah akan hilangkan sakit yang ada di tubuh atau di hati Anda, sampai-sampai Anda mungkin lupa pernah mendapat cobaan tersebut. Maka lupa ini, menjadi nikmat tersendiri bagi Anda.Oleh karena itu, atas ujian berupa musibah, wajib bagi seorang hamba untuk bersabar dengannya. Bagi mereka yang bersabar, Allah akan ganjar pahala, kelapangan, kenyamanan, kelegaan, kesejukan, ketenteraman, ketenangan, serta kebahagiaan setelahnya. Sebaliknya bagi mereka yang tidak bisa bersabar, maka ia akan bernilai dosa dan Allah akan tambahkan musibah itu dengan semakin sempitnya hati, sehingga ia akan semakin merana, semakin menderita, semakin sengsara, dan semakin sedih karena musibah tersebut sekaligus akibat dosa atas kelalaiannya dari bersabar.Meskipun demikian, bersamaan dengan sifat hamba yang lemah dan seringkali lengah, Rabb mereka adalah Zat yang penuh dengan ampunan, bahkan Dia ‘Azza Wa Jalla menanti tobat hamba-hamba-Nya. Sehingga seorang  hamba yang melanggar sebagian dari ujian tersebut dan terjatuh kepada dosa, kemudian dia segera bertobat, maka Allah akan ampuni dosa hamba tersebut dan menggantinya jadi kebaikan, bahkan meskipun dosanya sepenuh bumi. [8] Dialah Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.Maka, inilah makna ibadah yang sesungguhnya. Seperti yang diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,” الْعِبَادَةُ ” هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ :مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah sebutan yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi maupun yang tampak.” [9]Oleh karena itu, seseorang yang memiliki ilmu akan perkara ini, bisa menjadikan setiap hal dalam kesehariannya sebagai ibadah. Dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dari makan, bekerja, hingga buang air, semuanya  akan bernilai ibadah. Dari mendapat nikmat hingga tertimpa sakit semuanya bisa ia transformasi menjadi pahala akhirat. Demikianlah kehidupan seorang hamba yang alim dan diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Ia menjadikan setiap waktu, tempat, aktivitas, dan kondisi sebagai bentuk ibadah dan penghambaan diri kepada Rabb-nya.Kembali ke bagian 2 Lanjut ke bagian 4***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Az-Zariyat ayat 56.[2] QS. Al-Kahfi ayat 110. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia biasa seperti engkau, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan engkau hanyalah satu saja.” Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.“[3] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[4] QS. Al-Furqan ayat 23.[5] QS. Al-Mulk ayat 2.[6] QS. Al-Insan ayat 2-3. “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”Ketika menafsirkan ayat ini, sebagian ulama menjelaskan bahwa ujian yang ada di ayat ini berupa perintah dan larangan, serta kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh hamba.[7] QS. Al-Anbiya ayat 35. Allah Ta’ala berfirman, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”Dalam ayat ini, sebagian ulama, di antaranya Ibnu Katsir, menafsirkan keburukan dan kebaikan berupa musibah dan nikmat yang didatangkan kepada hamba.[8] HR. At-Tirmidzi nomor 3540. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi itu pula.”[9] Majmu’ah Al-Fatawa, 10: 149.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah
Daftar Isi Beribadah kepada Allah semataDiuji oleh Allah Ta’alaPerintahLaranganNikmatMusibahBeribadah kepada Allah semataIbadah adalah kata yang sakral dan diagungkan manusia. Sejatinya, ibadah ini merupakan konsekuensi dari tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Para ulama menyebutnya dengan istilah tauhid uluhiyah atau tauhid ubudiyah. Oleh karena itu, seseorang yang mengenal Allah, melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tidaklah cukup baginya sampai ia kemudian menegakkan tauhid uluhiyah, dengan beribadah hanya kepada-Nya. Karena jika ia benar-benar mengenal Rabb-Nya, maka ia akan menaati-Nya. Sementara Dialah yang telah berfirman dalam salah satu ayat-Nya yang mulia,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku semata”. [1]Dan ketahuilah, tidaklah ibadah itu sampai kepada-Nya, kecuali Anda penuhi dua syarat, seperti yang disimpulkan oleh para ulama:Pertama: Ikhlas karena Allah Ta’ala. [2]Kedua: Ittiba’ dengan mengikuti syariat yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. [3]Dan inilah konsekuensi dari dua kalimat syahadat yang Anda ucapkan. Bahwasanya Anda bersaksi hanya Allah sajalah sesembahan yang berhak untuk Anda sembah, dan Muhammad adalah utusan-Nya yang harus Anda ikuti, taati, dan tetapi petunjuk dan sunah-sunah yang dibawanya.Maka, seorang hamba yang sekadar beribadah, namun di saat bersamaan ia beribadah kepada sesembahan lain selain Allah, seperti berdoa kepada wali, Nabi, atau malaikat, atau ia beribadah karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka ia telah merusak syarat yang pertama. Begitu juga, jika ia sekadar beribadah, namun menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melakukan perkara-perkara baru dalam agama yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena mengedepankan hawa nafsu serta perkataan ulama atau guru yang ia muliakan, maka ibadahnya tertolak dengan rusaknya syarat yang kedua. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” [4]Maka, perhatikanlah dua hal ini. Jika ia cacat, maka sia-sialah ibadah Anda. Sia-sialah tujuan penciptaan Anda. Namun, seperti apa realisasi ibadah ini? Apakah ia melulu tentang salat, zakat, puasa, zikir, dan melakukan wirid lainnya? Ternyata tidak! Maka, untuk memahaminya, simaklah tujuan ketiga dari penciptaan Anda, yakni untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Baca juga: Dua Syarat Diterimanya IbadahDiuji oleh Allah Ta’alaSebuah ujian di sekolah atau di universitas diadakan, di antaranya untuk mengukur kemampuan pelajar atau mengevaluasi hasil belajar mereka selama menuntut ilmu. Bahkan, ada di antara ujian itu yang bertujuan untuk menyeleksi siswa, apakah patut untuk diberikan tanda kelulusan ataukah tidak. Bagaimana dengan ujian Allah terhadap manusia? Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“(Dialah Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya.” [5]Di dalam ayat yang agung ini, Allah Ta’ala menegaskan bahwa di antara tujuan penciptaan manusia, yang Dia hidupkan kemudian matikan, adalah untuk menguji mereka, siapakah di antara anak Adam tersebut yang mewujudkan amalan terbaiknya kepada Allah Ta’ala. Maka, pertanyaan berikutnya adalah seperti apakah bentuk ujian yang Allah berikan kepada umat manusia. Apakah ia seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang, bahwa ujian itu semata-mata tentang kesempitan hidup, musibah, dan penderitaan yang menyapa mereka. Jika kita menghimpun seluruh dalil-dalil dan perkataan ulama, maka dapat disimpulkan bahwa ujian itu ada dua pasang atau empat macam: yaitu perintah dan larangan [6], lalu nikmat dan musibah [7].Ketahuilah, bahwa ketika keempat ujian tersebut Anda penuhi sesuai dengan yang Allah kehendaki, maka ia akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala, dan dijanjikan dengan ganjaran pahala serta kebahagiaan hidup. Sebaliknya, jika Anda menyia-nyiakan apa yang dikehendaki dari ujian tersebut, maka Anda akan mendapatkan dosa dan terancam dengan siksa dan penderitaan.PerintahAllah telah memerintahkan berbagai perkara, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi yang jika dilaksanakan bisa bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Menegakkan salat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu, berzikir, berbakti kepada orang tua, menafkahi keluarga, menjenguk tetangga yang sakit, mengurus jenazah kaum muslimin. Semua ini adalah amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yang jika dilaksanakan akan bernilai ibadah di sisinya, dan bisa bernilai dosa ketika ditinggalkan, tentunya jika ia hukum asalnya wajib untuk dikerjakan.LaranganSaat manusia diuji dengan memerintahkan mereka melakukan amalan tertentu, mereka juga di saat bersamaan dilarang dari perkara-perkara tertentu, yang pada dasarnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, baik diketahui secara jelas keburukan dan bahayanya atau tidak. Maka, di antaranya Allah melarang mengkonsumsi minuman yang memabukkan serta makanan tertentu seperti bangkai, daging babi dan darah, melarang transaksi ribawi, melarang mendengarkan alat musik, dan melarang mendekati zina. Kerusakan yang diakibatkan perkara-perkara ini tentu bisa diketahui dan diakui oleh orang-orang yang memiliki akal yang jernih. Seseorang yang meninggalkan seluruh larangan ini karena Allah akan terhitung melakukan ibadah di sisi-Nya dan patut mendapat ganjaran berupa pahala dan janji berupa surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas BeribadahNikmatSetiap detik nikmat datang dari Allah kepada setiap hamba, tanpa terkecuali kepada Anda. Bahkan, nikmat ini mengalir terus menerus dari seseorang lahir hingga ia mati. Nikmat mata yang bisa melihat benda dekat dan jauh. Nikmat telinga yang bisa mendengar bisikan maupun teriakan. Nikmat jantung yang berdegup normal nan stabil demi memompa darah ke seluruh tubuh. Nikmat paru yang kembang kempis menarik dan membuang udara. Nikmat ginjal yang bekerja keras menyaring darah dan menghasilkan urin. Nikmat hati yang memproduksi cairan empedu sekaligus menawarkan racun. Nikmat 206 tulang dan 360 persendian yang memungkinkan Anda bisa bergerak dan berakitivas tanpa hambatan. Bahkan, nikmat trilyunan sel normal yang sampai saat ini jumlah pastinya masih jadi perdebatan ilmiah.Semuanya patut Anda syukuri setiap bagiannya. Dan nikmat ini adalah salah salah satu bentuk ujian Allah yang paling halus bagi seorang hamba. Anda hanya akan dianggap lulus dari ujian ini ketika anda mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Dan jika anda melakukannya, ia akan terhitung sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, sekaligus Allah akan tambahkan nikmat yang lain. Namun ketahuilah, sampai kapanpun, Anda tidak akan sanggup melakukannya. Karena saking banyaknya nikmat yang ada pada Anda, sementara Anda masih butuh nikmat yang satu untuk mensyukuri nikmat yang lainnya. Maka, tidak ada habisnya perputaran nikmat tersebut. Sedangkan manusia lebih banyak lalai dan kufur terhadap nikmat yang Allah berikan pada mereka. Padahal syukur nikmat itu wajib. Sehingga yang lupa bersyukur, akan berdosa atas kelengahannya.MusibahJika nikmat bernilai ibadah ketika disyukuri, bagaimana dengan musibah yang menimpa Anda? Maka, tentunya ia akan bernilai ibadah tatkala Anda sabar menghadapi musibah yang datang. Namun, patut Anda renungkan, sebanyak apapun bala yang menimpa Anda, seberat apapun musibah yang melanda diri Anda, tidaklah ia sebanding dengan nikmat yang mengalir dalam hidup Anda. Karena musibah itu datangnya hanya sekali-kali. Sementara nikmat datangnya setiap saat. Jika musibah yang datang membuat badan atau hati menjadi sakit, maka tidak lama berselang, Allah akan hilangkan sakit yang ada di tubuh atau di hati Anda, sampai-sampai Anda mungkin lupa pernah mendapat cobaan tersebut. Maka lupa ini, menjadi nikmat tersendiri bagi Anda.Oleh karena itu, atas ujian berupa musibah, wajib bagi seorang hamba untuk bersabar dengannya. Bagi mereka yang bersabar, Allah akan ganjar pahala, kelapangan, kenyamanan, kelegaan, kesejukan, ketenteraman, ketenangan, serta kebahagiaan setelahnya. Sebaliknya bagi mereka yang tidak bisa bersabar, maka ia akan bernilai dosa dan Allah akan tambahkan musibah itu dengan semakin sempitnya hati, sehingga ia akan semakin merana, semakin menderita, semakin sengsara, dan semakin sedih karena musibah tersebut sekaligus akibat dosa atas kelalaiannya dari bersabar.Meskipun demikian, bersamaan dengan sifat hamba yang lemah dan seringkali lengah, Rabb mereka adalah Zat yang penuh dengan ampunan, bahkan Dia ‘Azza Wa Jalla menanti tobat hamba-hamba-Nya. Sehingga seorang  hamba yang melanggar sebagian dari ujian tersebut dan terjatuh kepada dosa, kemudian dia segera bertobat, maka Allah akan ampuni dosa hamba tersebut dan menggantinya jadi kebaikan, bahkan meskipun dosanya sepenuh bumi. [8] Dialah Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.Maka, inilah makna ibadah yang sesungguhnya. Seperti yang diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,” الْعِبَادَةُ ” هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ :مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah sebutan yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi maupun yang tampak.” [9]Oleh karena itu, seseorang yang memiliki ilmu akan perkara ini, bisa menjadikan setiap hal dalam kesehariannya sebagai ibadah. Dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dari makan, bekerja, hingga buang air, semuanya  akan bernilai ibadah. Dari mendapat nikmat hingga tertimpa sakit semuanya bisa ia transformasi menjadi pahala akhirat. Demikianlah kehidupan seorang hamba yang alim dan diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Ia menjadikan setiap waktu, tempat, aktivitas, dan kondisi sebagai bentuk ibadah dan penghambaan diri kepada Rabb-nya.Kembali ke bagian 2 Lanjut ke bagian 4***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Az-Zariyat ayat 56.[2] QS. Al-Kahfi ayat 110. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia biasa seperti engkau, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan engkau hanyalah satu saja.” Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.“[3] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[4] QS. Al-Furqan ayat 23.[5] QS. Al-Mulk ayat 2.[6] QS. Al-Insan ayat 2-3. “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”Ketika menafsirkan ayat ini, sebagian ulama menjelaskan bahwa ujian yang ada di ayat ini berupa perintah dan larangan, serta kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh hamba.[7] QS. Al-Anbiya ayat 35. Allah Ta’ala berfirman, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”Dalam ayat ini, sebagian ulama, di antaranya Ibnu Katsir, menafsirkan keburukan dan kebaikan berupa musibah dan nikmat yang didatangkan kepada hamba.[8] HR. At-Tirmidzi nomor 3540. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi itu pula.”[9] Majmu’ah Al-Fatawa, 10: 149.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah


Daftar Isi Beribadah kepada Allah semataDiuji oleh Allah Ta’alaPerintahLaranganNikmatMusibahBeribadah kepada Allah semataIbadah adalah kata yang sakral dan diagungkan manusia. Sejatinya, ibadah ini merupakan konsekuensi dari tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Para ulama menyebutnya dengan istilah tauhid uluhiyah atau tauhid ubudiyah. Oleh karena itu, seseorang yang mengenal Allah, melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tidaklah cukup baginya sampai ia kemudian menegakkan tauhid uluhiyah, dengan beribadah hanya kepada-Nya. Karena jika ia benar-benar mengenal Rabb-Nya, maka ia akan menaati-Nya. Sementara Dialah yang telah berfirman dalam salah satu ayat-Nya yang mulia,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku semata”. [1]Dan ketahuilah, tidaklah ibadah itu sampai kepada-Nya, kecuali Anda penuhi dua syarat, seperti yang disimpulkan oleh para ulama:Pertama: Ikhlas karena Allah Ta’ala. [2]Kedua: Ittiba’ dengan mengikuti syariat yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. [3]Dan inilah konsekuensi dari dua kalimat syahadat yang Anda ucapkan. Bahwasanya Anda bersaksi hanya Allah sajalah sesembahan yang berhak untuk Anda sembah, dan Muhammad adalah utusan-Nya yang harus Anda ikuti, taati, dan tetapi petunjuk dan sunah-sunah yang dibawanya.Maka, seorang hamba yang sekadar beribadah, namun di saat bersamaan ia beribadah kepada sesembahan lain selain Allah, seperti berdoa kepada wali, Nabi, atau malaikat, atau ia beribadah karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka ia telah merusak syarat yang pertama. Begitu juga, jika ia sekadar beribadah, namun menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melakukan perkara-perkara baru dalam agama yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena mengedepankan hawa nafsu serta perkataan ulama atau guru yang ia muliakan, maka ibadahnya tertolak dengan rusaknya syarat yang kedua. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (seperti) debu yang berterbangan.” [4]Maka, perhatikanlah dua hal ini. Jika ia cacat, maka sia-sialah ibadah Anda. Sia-sialah tujuan penciptaan Anda. Namun, seperti apa realisasi ibadah ini? Apakah ia melulu tentang salat, zakat, puasa, zikir, dan melakukan wirid lainnya? Ternyata tidak! Maka, untuk memahaminya, simaklah tujuan ketiga dari penciptaan Anda, yakni untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Baca juga: Dua Syarat Diterimanya IbadahDiuji oleh Allah Ta’alaSebuah ujian di sekolah atau di universitas diadakan, di antaranya untuk mengukur kemampuan pelajar atau mengevaluasi hasil belajar mereka selama menuntut ilmu. Bahkan, ada di antara ujian itu yang bertujuan untuk menyeleksi siswa, apakah patut untuk diberikan tanda kelulusan ataukah tidak. Bagaimana dengan ujian Allah terhadap manusia? Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“(Dialah Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya.” [5]Di dalam ayat yang agung ini, Allah Ta’ala menegaskan bahwa di antara tujuan penciptaan manusia, yang Dia hidupkan kemudian matikan, adalah untuk menguji mereka, siapakah di antara anak Adam tersebut yang mewujudkan amalan terbaiknya kepada Allah Ta’ala. Maka, pertanyaan berikutnya adalah seperti apakah bentuk ujian yang Allah berikan kepada umat manusia. Apakah ia seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang, bahwa ujian itu semata-mata tentang kesempitan hidup, musibah, dan penderitaan yang menyapa mereka. Jika kita menghimpun seluruh dalil-dalil dan perkataan ulama, maka dapat disimpulkan bahwa ujian itu ada dua pasang atau empat macam: yaitu perintah dan larangan [6], lalu nikmat dan musibah [7].Ketahuilah, bahwa ketika keempat ujian tersebut Anda penuhi sesuai dengan yang Allah kehendaki, maka ia akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala, dan dijanjikan dengan ganjaran pahala serta kebahagiaan hidup. Sebaliknya, jika Anda menyia-nyiakan apa yang dikehendaki dari ujian tersebut, maka Anda akan mendapatkan dosa dan terancam dengan siksa dan penderitaan.PerintahAllah telah memerintahkan berbagai perkara, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi yang jika dilaksanakan bisa bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Menegakkan salat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu, berzikir, berbakti kepada orang tua, menafkahi keluarga, menjenguk tetangga yang sakit, mengurus jenazah kaum muslimin. Semua ini adalah amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yang jika dilaksanakan akan bernilai ibadah di sisinya, dan bisa bernilai dosa ketika ditinggalkan, tentunya jika ia hukum asalnya wajib untuk dikerjakan.LaranganSaat manusia diuji dengan memerintahkan mereka melakukan amalan tertentu, mereka juga di saat bersamaan dilarang dari perkara-perkara tertentu, yang pada dasarnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, baik diketahui secara jelas keburukan dan bahayanya atau tidak. Maka, di antaranya Allah melarang mengkonsumsi minuman yang memabukkan serta makanan tertentu seperti bangkai, daging babi dan darah, melarang transaksi ribawi, melarang mendengarkan alat musik, dan melarang mendekati zina. Kerusakan yang diakibatkan perkara-perkara ini tentu bisa diketahui dan diakui oleh orang-orang yang memiliki akal yang jernih. Seseorang yang meninggalkan seluruh larangan ini karena Allah akan terhitung melakukan ibadah di sisi-Nya dan patut mendapat ganjaran berupa pahala dan janji berupa surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Baca juga: Untukmu yang Sedang Malas BeribadahNikmatSetiap detik nikmat datang dari Allah kepada setiap hamba, tanpa terkecuali kepada Anda. Bahkan, nikmat ini mengalir terus menerus dari seseorang lahir hingga ia mati. Nikmat mata yang bisa melihat benda dekat dan jauh. Nikmat telinga yang bisa mendengar bisikan maupun teriakan. Nikmat jantung yang berdegup normal nan stabil demi memompa darah ke seluruh tubuh. Nikmat paru yang kembang kempis menarik dan membuang udara. Nikmat ginjal yang bekerja keras menyaring darah dan menghasilkan urin. Nikmat hati yang memproduksi cairan empedu sekaligus menawarkan racun. Nikmat 206 tulang dan 360 persendian yang memungkinkan Anda bisa bergerak dan berakitivas tanpa hambatan. Bahkan, nikmat trilyunan sel normal yang sampai saat ini jumlah pastinya masih jadi perdebatan ilmiah.Semuanya patut Anda syukuri setiap bagiannya. Dan nikmat ini adalah salah salah satu bentuk ujian Allah yang paling halus bagi seorang hamba. Anda hanya akan dianggap lulus dari ujian ini ketika anda mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Dan jika anda melakukannya, ia akan terhitung sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, sekaligus Allah akan tambahkan nikmat yang lain. Namun ketahuilah, sampai kapanpun, Anda tidak akan sanggup melakukannya. Karena saking banyaknya nikmat yang ada pada Anda, sementara Anda masih butuh nikmat yang satu untuk mensyukuri nikmat yang lainnya. Maka, tidak ada habisnya perputaran nikmat tersebut. Sedangkan manusia lebih banyak lalai dan kufur terhadap nikmat yang Allah berikan pada mereka. Padahal syukur nikmat itu wajib. Sehingga yang lupa bersyukur, akan berdosa atas kelengahannya.MusibahJika nikmat bernilai ibadah ketika disyukuri, bagaimana dengan musibah yang menimpa Anda? Maka, tentunya ia akan bernilai ibadah tatkala Anda sabar menghadapi musibah yang datang. Namun, patut Anda renungkan, sebanyak apapun bala yang menimpa Anda, seberat apapun musibah yang melanda diri Anda, tidaklah ia sebanding dengan nikmat yang mengalir dalam hidup Anda. Karena musibah itu datangnya hanya sekali-kali. Sementara nikmat datangnya setiap saat. Jika musibah yang datang membuat badan atau hati menjadi sakit, maka tidak lama berselang, Allah akan hilangkan sakit yang ada di tubuh atau di hati Anda, sampai-sampai Anda mungkin lupa pernah mendapat cobaan tersebut. Maka lupa ini, menjadi nikmat tersendiri bagi Anda.Oleh karena itu, atas ujian berupa musibah, wajib bagi seorang hamba untuk bersabar dengannya. Bagi mereka yang bersabar, Allah akan ganjar pahala, kelapangan, kenyamanan, kelegaan, kesejukan, ketenteraman, ketenangan, serta kebahagiaan setelahnya. Sebaliknya bagi mereka yang tidak bisa bersabar, maka ia akan bernilai dosa dan Allah akan tambahkan musibah itu dengan semakin sempitnya hati, sehingga ia akan semakin merana, semakin menderita, semakin sengsara, dan semakin sedih karena musibah tersebut sekaligus akibat dosa atas kelalaiannya dari bersabar.Meskipun demikian, bersamaan dengan sifat hamba yang lemah dan seringkali lengah, Rabb mereka adalah Zat yang penuh dengan ampunan, bahkan Dia ‘Azza Wa Jalla menanti tobat hamba-hamba-Nya. Sehingga seorang  hamba yang melanggar sebagian dari ujian tersebut dan terjatuh kepada dosa, kemudian dia segera bertobat, maka Allah akan ampuni dosa hamba tersebut dan menggantinya jadi kebaikan, bahkan meskipun dosanya sepenuh bumi. [8] Dialah Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.Maka, inilah makna ibadah yang sesungguhnya. Seperti yang diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,” الْعِبَادَةُ ” هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ :مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah sebutan yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi maupun yang tampak.” [9]Oleh karena itu, seseorang yang memiliki ilmu akan perkara ini, bisa menjadikan setiap hal dalam kesehariannya sebagai ibadah. Dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dari makan, bekerja, hingga buang air, semuanya  akan bernilai ibadah. Dari mendapat nikmat hingga tertimpa sakit semuanya bisa ia transformasi menjadi pahala akhirat. Demikianlah kehidupan seorang hamba yang alim dan diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Ia menjadikan setiap waktu, tempat, aktivitas, dan kondisi sebagai bentuk ibadah dan penghambaan diri kepada Rabb-nya.Kembali ke bagian 2 Lanjut ke bagian 4***Disarikan pada malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Az-Zariyat ayat 56.[2] QS. Al-Kahfi ayat 110. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia biasa seperti engkau, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan engkau hanyalah satu saja.” Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.“[3] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[4] QS. Al-Furqan ayat 23.[5] QS. Al-Mulk ayat 2.[6] QS. Al-Insan ayat 2-3. “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”Ketika menafsirkan ayat ini, sebagian ulama menjelaskan bahwa ujian yang ada di ayat ini berupa perintah dan larangan, serta kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh hamba.[7] QS. Al-Anbiya ayat 35. Allah Ta’ala berfirman, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”Dalam ayat ini, sebagian ulama, di antaranya Ibnu Katsir, menafsirkan keburukan dan kebaikan berupa musibah dan nikmat yang didatangkan kepada hamba.[8] HR. At-Tirmidzi nomor 3540. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi itu pula.”[9] Majmu’ah Al-Fatawa, 10: 149.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Tanda Diterimanya Amal di Bulan Ramadan

Tak terasa, bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini telah meninggalkan kita. Bulan yang penuh kemuliaan, ampunan, dan keberkahan ini telah pergi. Tak ada yang tertinggal, kecuali rasa senang karena telah Allah berikan kemampuan dan taufik untuk bisa maksimal di dalam memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan baik ataupun rasa penyesalan karena belum bisa memaksimalkannya.Saat kesempatan agung ini telah pergi, tersisa beberapa pertanyaan pada diri kita, apakah Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan yang mulia ini? Apakah puasa yang kita lakukan, salat tarawih yang kita langsungkan, sedekah yang kita berikan, bacaan Al-Qur’an yang kita lantunkan, semuanya itu diterima oleh Allah Ta’ala? Ataukah kesemuanya itu berubah menjadi serpihan debu yang berterbangan tiada arti?Lalu, adakah tanda-tanda yang bisa menunjukkan bahwa amalan-amalan kita telah diterima oleh Ta’ala?Daftar Isi Harus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaTanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaPertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaKedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaKetiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanHarus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaUntuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah maksimal dalam melaksanakan ibadah di penghujung bulan Ramadan ini? Sudahkan kita memanfaatkan detik-detik akhir bulan Ramadan ini dengan memperbanyak amal dan bacaan Al-Qur’an? Ataukah justru di penghujung Ramadan ini intensitas amal ibadah kita menjadi berkurang karena kesibukan duniawi yang melalaikan?Dalam sebuah hadis sahih riwayat Al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ الجَنَّةِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وإنَّه لَمِنْ أهْلِ النَّارِ، ويَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ النَّارِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وهو مِن أهْلِ الجَنَّةِ“Sungguh, seseorang (kadang) beramal dengan amalan penghuni surga di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni neraka. (Sebaliknya), Seseorang beramal dengan amalan penghuni neraka di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni surga.” (HR. Bukhari no. 2898 dan Muslim no. 112)Dalam riwayat lain terdapat tambahan,وإنَّما الأعمالُ بالخواتيمِ“Dan amalan-amalan itu tergantung akhirnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 340).Pada hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk tidak berbangga diri dengan amalan yang telah kita lakukan. Beliau juga menegaskan kepada kita akan pentingnya istikamah dalam beramal hingga akhir. Karena diri kita tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup yang akan kita lalui, tak pernah tahu juga akhir dari amalan yang kita lakukan.Saudaraku, terlebih lagi di penghujung bulan Ramadan yang mulia ini. Di mana sepertiga akhir bulan Ramadan merupakan waktu yang paling afdal dan paling utama. Sepuluh hari terakhir inilah yang Nabi selalu jaga ibadahnya. Beliau hidupkan malam-malamnya dengan ketaatan serta beliau bangunkan seluruh keluarganya. Tidak sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kita saat ini, saat memasuki penghujung Ramadan, bukan masjid yang mereka ramaikan, tapi justru jalanan dan pusat perbelanjaan.Baca juga: Ramadan Yang MembekasTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaSesungguhnya diterimanya amalan seorang hamba atau tidaknya adalah salah satu hal gaib (tak kasat mata) yang tidak diketahui hakikatnya, kecuali oleh Allah Ta’ala. Allahlah satu-satunya Zat yang mengetahui amalan siapa yang diterima dan amalan siapa yang tertolak.Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu, bahwasanya beliau menyeru pada malam terakhir bulan Ramadan,ياَ لَيْتَ شِعْرِي مَن هَذَا المَقْبُول فَنُهَنِّيْهِ وَمَنْ هَذَا المَحْرُوم فنعزيه.“Aduhai, andai aku tahu siapakah yang diterima amalannya pastilah kami akan mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa yang diharamkan darinya, maka kami akan berbela sungkawa padanya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 210)Para sahabat pun sangat khawatir amalan mereka di bulan Ramadan tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Mualla’ bin Al-Fadhl rahimahullah mengatakan,كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان،ويدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم.“Dahulu kala mereka berdoa kepada Allah Ta’ala selama enam bulan agar Allah Ta’ala pertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Mereka juga berdoa selama enam bulan (setelahnya) agar Allah Ta’ala menerima (amal ibadah) mereka (di bulan Ramadan).”Lihat juga bagaimana Al-Khalil Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kekasih Allah Ta’ala. Ketika membangun pondasi-pondasi Ka’bah dan itu merupakan sebuah amal kebaikan, ia berdoa,رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)Beliau yang merupakan kekasih Allah saja khawatir, dan berharap agar amal ibadahnya diterima oleh Allah Ta’ala. Lalu, bagaimana dengan kita?! Tentu kita harus lebih khawatir dan takut apabila amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah Ta’ala.Tanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaAdapun pertanda diterimanya amal ibadah seorang hamba secara umum, maka ada beberapa tanda yang bisa kita perhatikan.Pertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaSyekh Binbaz rahimahullah pernah ditanya perihal tanda-tanda diterimanya amal-amal saleh yang dilakukan seorang hamba. Kemudian rahimahullah beliau menjawab,فمن علامات القبول: انشراح الصدر، والاستقامة على الخير، والمسارعة إلى الطاعات، والحذر من السيئات، فإذا قل شره، وكثر خيره، وانشرح صدره للخير؛ فهذه من علامات التوفيق والقبول، أن تكون حاله أحسن. نعم.“Maka, di antara tanda-tanda diterimanya (sebuah amal): lapangnya dada, istikamah di atas kebaikan, bergegas dalam ketaatan, berhati-hati dari keburukan dan dosa. Saat intensitas kejelekannya menjadi sedikit, kebaikannya bertambah dan hatinya merasa tenang kepada kebaikan. Maka, inilah tanda-tanda taufik dan diterimanya amalan, yaitu keadaan dan kondisinya berubah menjadi lebih baik.” (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi)Kedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaSeorang hamba yang amalannya diterima oleh Allah Ta’ala, maka ia akan diberikan taufik untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnya. Karena sejatinya amal saleh dan kebaikan merupakan rantai yang tak terputus. Selesai melakukan sebuah ketaatan, maka akan datang ketaatan berikutnya. Dalam surah Al-Lail Allah Ta’ala berfirman,فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ * فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ“Maka, barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al-Lail: 5-7)Beberapa ahli tafsir dan di antaranya Syekh Muhammad Al-Asyqar rahimahullah saat menyebutkan ayat ini mengatakan, “Maka Kami akan memudahkannya untuk berinfak di jalan kebaikan dan untuk berbuat amal ketaatan.” (Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir)Hal ini sejalan juga dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَليْكُم بِالصِّدقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ“Berbuatlah jujur, karena kejujuran akan mengantarkanmu pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkanmu kepada surga.” (HR. Muslim no. 2607)Saat Allah menerima puasa kita di bulan Ramadan, maka selepas bulan Ramadan diri kita pun insyaAllah akan dimudahkan untuk mengerjakan puasa-puasa lainnya. Yang paling dekat dengan bulan Ramadan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَن صامَ رَمَضانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتًّا مِن شَوَّالٍ، كانَ كَصِيامِ الدَّهْرِ.“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama satu tahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Ketiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanAmal saleh yang diterima oleh Allah Ta’ala maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Yang paling besar dan paling mudah untuk dirasakan adalah kebahagiaan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,مَن عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ, أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجزِيَنَّهُم أَجرَهُم بِأَحسَنِ مَا كَانُوا يَعمَلُونَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Kebahagiaan di sini termasuk di antaranya adalah rezeki yang halal dan rasa cukup terhadap pemberian Allah Ta’ala.Saat seseorang telah beramal dan melakukan berbagai macam amalan, namun ia tidak merasa bahagia dan tenang, maka ia perlu curiga dan takut, jangan-jangan amal ibadah yang selama ini dilakukannya belum diterima oleh Allah Ta’ala. Jangan-jangan ia tidak ikhlas di dalam mengerjakannya. Jangan-jangan amal ibadah yang dilakukannya tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Oleh karenanya, wahai saudaraku, jangan lepaskan Ramadan ini begitu saja.Dengan selesainya bulan Ramadan bukan berarti semangat kita dalam beramal menjadi lemah, kemaksiatan yang sebelumnya kita lakukan kembali dilakukan.Perbanyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar Allah menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan di bulan yang mulia ini. Karena Allah-lah satu-satunya yang akan memberikan taufik kepada kita dan Dia-lah satu-satunya yang akan menerima dan menghitung amal ibadah kita. Allah Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَـاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً إِذًا لأَذَقْنَـاكَ ضِعْفَ الْحَيَواةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيْرًا“Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka. Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) dua kali lipat di dunia ini dan dua kali lipat setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (QS. Al-Isra’ : 74-75)Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Merindukan Ramadan***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: amal di bulan ramadanamal diterimaramadan

Tanda Diterimanya Amal di Bulan Ramadan

Tak terasa, bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini telah meninggalkan kita. Bulan yang penuh kemuliaan, ampunan, dan keberkahan ini telah pergi. Tak ada yang tertinggal, kecuali rasa senang karena telah Allah berikan kemampuan dan taufik untuk bisa maksimal di dalam memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan baik ataupun rasa penyesalan karena belum bisa memaksimalkannya.Saat kesempatan agung ini telah pergi, tersisa beberapa pertanyaan pada diri kita, apakah Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan yang mulia ini? Apakah puasa yang kita lakukan, salat tarawih yang kita langsungkan, sedekah yang kita berikan, bacaan Al-Qur’an yang kita lantunkan, semuanya itu diterima oleh Allah Ta’ala? Ataukah kesemuanya itu berubah menjadi serpihan debu yang berterbangan tiada arti?Lalu, adakah tanda-tanda yang bisa menunjukkan bahwa amalan-amalan kita telah diterima oleh Ta’ala?Daftar Isi Harus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaTanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaPertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaKedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaKetiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanHarus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaUntuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah maksimal dalam melaksanakan ibadah di penghujung bulan Ramadan ini? Sudahkan kita memanfaatkan detik-detik akhir bulan Ramadan ini dengan memperbanyak amal dan bacaan Al-Qur’an? Ataukah justru di penghujung Ramadan ini intensitas amal ibadah kita menjadi berkurang karena kesibukan duniawi yang melalaikan?Dalam sebuah hadis sahih riwayat Al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ الجَنَّةِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وإنَّه لَمِنْ أهْلِ النَّارِ، ويَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ النَّارِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وهو مِن أهْلِ الجَنَّةِ“Sungguh, seseorang (kadang) beramal dengan amalan penghuni surga di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni neraka. (Sebaliknya), Seseorang beramal dengan amalan penghuni neraka di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni surga.” (HR. Bukhari no. 2898 dan Muslim no. 112)Dalam riwayat lain terdapat tambahan,وإنَّما الأعمالُ بالخواتيمِ“Dan amalan-amalan itu tergantung akhirnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 340).Pada hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk tidak berbangga diri dengan amalan yang telah kita lakukan. Beliau juga menegaskan kepada kita akan pentingnya istikamah dalam beramal hingga akhir. Karena diri kita tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup yang akan kita lalui, tak pernah tahu juga akhir dari amalan yang kita lakukan.Saudaraku, terlebih lagi di penghujung bulan Ramadan yang mulia ini. Di mana sepertiga akhir bulan Ramadan merupakan waktu yang paling afdal dan paling utama. Sepuluh hari terakhir inilah yang Nabi selalu jaga ibadahnya. Beliau hidupkan malam-malamnya dengan ketaatan serta beliau bangunkan seluruh keluarganya. Tidak sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kita saat ini, saat memasuki penghujung Ramadan, bukan masjid yang mereka ramaikan, tapi justru jalanan dan pusat perbelanjaan.Baca juga: Ramadan Yang MembekasTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaSesungguhnya diterimanya amalan seorang hamba atau tidaknya adalah salah satu hal gaib (tak kasat mata) yang tidak diketahui hakikatnya, kecuali oleh Allah Ta’ala. Allahlah satu-satunya Zat yang mengetahui amalan siapa yang diterima dan amalan siapa yang tertolak.Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu, bahwasanya beliau menyeru pada malam terakhir bulan Ramadan,ياَ لَيْتَ شِعْرِي مَن هَذَا المَقْبُول فَنُهَنِّيْهِ وَمَنْ هَذَا المَحْرُوم فنعزيه.“Aduhai, andai aku tahu siapakah yang diterima amalannya pastilah kami akan mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa yang diharamkan darinya, maka kami akan berbela sungkawa padanya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 210)Para sahabat pun sangat khawatir amalan mereka di bulan Ramadan tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Mualla’ bin Al-Fadhl rahimahullah mengatakan,كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان،ويدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم.“Dahulu kala mereka berdoa kepada Allah Ta’ala selama enam bulan agar Allah Ta’ala pertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Mereka juga berdoa selama enam bulan (setelahnya) agar Allah Ta’ala menerima (amal ibadah) mereka (di bulan Ramadan).”Lihat juga bagaimana Al-Khalil Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kekasih Allah Ta’ala. Ketika membangun pondasi-pondasi Ka’bah dan itu merupakan sebuah amal kebaikan, ia berdoa,رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)Beliau yang merupakan kekasih Allah saja khawatir, dan berharap agar amal ibadahnya diterima oleh Allah Ta’ala. Lalu, bagaimana dengan kita?! Tentu kita harus lebih khawatir dan takut apabila amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah Ta’ala.Tanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaAdapun pertanda diterimanya amal ibadah seorang hamba secara umum, maka ada beberapa tanda yang bisa kita perhatikan.Pertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaSyekh Binbaz rahimahullah pernah ditanya perihal tanda-tanda diterimanya amal-amal saleh yang dilakukan seorang hamba. Kemudian rahimahullah beliau menjawab,فمن علامات القبول: انشراح الصدر، والاستقامة على الخير، والمسارعة إلى الطاعات، والحذر من السيئات، فإذا قل شره، وكثر خيره، وانشرح صدره للخير؛ فهذه من علامات التوفيق والقبول، أن تكون حاله أحسن. نعم.“Maka, di antara tanda-tanda diterimanya (sebuah amal): lapangnya dada, istikamah di atas kebaikan, bergegas dalam ketaatan, berhati-hati dari keburukan dan dosa. Saat intensitas kejelekannya menjadi sedikit, kebaikannya bertambah dan hatinya merasa tenang kepada kebaikan. Maka, inilah tanda-tanda taufik dan diterimanya amalan, yaitu keadaan dan kondisinya berubah menjadi lebih baik.” (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi)Kedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaSeorang hamba yang amalannya diterima oleh Allah Ta’ala, maka ia akan diberikan taufik untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnya. Karena sejatinya amal saleh dan kebaikan merupakan rantai yang tak terputus. Selesai melakukan sebuah ketaatan, maka akan datang ketaatan berikutnya. Dalam surah Al-Lail Allah Ta’ala berfirman,فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ * فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ“Maka, barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al-Lail: 5-7)Beberapa ahli tafsir dan di antaranya Syekh Muhammad Al-Asyqar rahimahullah saat menyebutkan ayat ini mengatakan, “Maka Kami akan memudahkannya untuk berinfak di jalan kebaikan dan untuk berbuat amal ketaatan.” (Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir)Hal ini sejalan juga dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَليْكُم بِالصِّدقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ“Berbuatlah jujur, karena kejujuran akan mengantarkanmu pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkanmu kepada surga.” (HR. Muslim no. 2607)Saat Allah menerima puasa kita di bulan Ramadan, maka selepas bulan Ramadan diri kita pun insyaAllah akan dimudahkan untuk mengerjakan puasa-puasa lainnya. Yang paling dekat dengan bulan Ramadan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَن صامَ رَمَضانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتًّا مِن شَوَّالٍ، كانَ كَصِيامِ الدَّهْرِ.“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama satu tahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Ketiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanAmal saleh yang diterima oleh Allah Ta’ala maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Yang paling besar dan paling mudah untuk dirasakan adalah kebahagiaan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,مَن عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ, أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجزِيَنَّهُم أَجرَهُم بِأَحسَنِ مَا كَانُوا يَعمَلُونَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Kebahagiaan di sini termasuk di antaranya adalah rezeki yang halal dan rasa cukup terhadap pemberian Allah Ta’ala.Saat seseorang telah beramal dan melakukan berbagai macam amalan, namun ia tidak merasa bahagia dan tenang, maka ia perlu curiga dan takut, jangan-jangan amal ibadah yang selama ini dilakukannya belum diterima oleh Allah Ta’ala. Jangan-jangan ia tidak ikhlas di dalam mengerjakannya. Jangan-jangan amal ibadah yang dilakukannya tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Oleh karenanya, wahai saudaraku, jangan lepaskan Ramadan ini begitu saja.Dengan selesainya bulan Ramadan bukan berarti semangat kita dalam beramal menjadi lemah, kemaksiatan yang sebelumnya kita lakukan kembali dilakukan.Perbanyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar Allah menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan di bulan yang mulia ini. Karena Allah-lah satu-satunya yang akan memberikan taufik kepada kita dan Dia-lah satu-satunya yang akan menerima dan menghitung amal ibadah kita. Allah Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَـاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً إِذًا لأَذَقْنَـاكَ ضِعْفَ الْحَيَواةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيْرًا“Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka. Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) dua kali lipat di dunia ini dan dua kali lipat setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (QS. Al-Isra’ : 74-75)Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Merindukan Ramadan***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: amal di bulan ramadanamal diterimaramadan
Tak terasa, bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini telah meninggalkan kita. Bulan yang penuh kemuliaan, ampunan, dan keberkahan ini telah pergi. Tak ada yang tertinggal, kecuali rasa senang karena telah Allah berikan kemampuan dan taufik untuk bisa maksimal di dalam memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan baik ataupun rasa penyesalan karena belum bisa memaksimalkannya.Saat kesempatan agung ini telah pergi, tersisa beberapa pertanyaan pada diri kita, apakah Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan yang mulia ini? Apakah puasa yang kita lakukan, salat tarawih yang kita langsungkan, sedekah yang kita berikan, bacaan Al-Qur’an yang kita lantunkan, semuanya itu diterima oleh Allah Ta’ala? Ataukah kesemuanya itu berubah menjadi serpihan debu yang berterbangan tiada arti?Lalu, adakah tanda-tanda yang bisa menunjukkan bahwa amalan-amalan kita telah diterima oleh Ta’ala?Daftar Isi Harus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaTanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaPertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaKedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaKetiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanHarus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaUntuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah maksimal dalam melaksanakan ibadah di penghujung bulan Ramadan ini? Sudahkan kita memanfaatkan detik-detik akhir bulan Ramadan ini dengan memperbanyak amal dan bacaan Al-Qur’an? Ataukah justru di penghujung Ramadan ini intensitas amal ibadah kita menjadi berkurang karena kesibukan duniawi yang melalaikan?Dalam sebuah hadis sahih riwayat Al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ الجَنَّةِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وإنَّه لَمِنْ أهْلِ النَّارِ، ويَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ النَّارِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وهو مِن أهْلِ الجَنَّةِ“Sungguh, seseorang (kadang) beramal dengan amalan penghuni surga di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni neraka. (Sebaliknya), Seseorang beramal dengan amalan penghuni neraka di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni surga.” (HR. Bukhari no. 2898 dan Muslim no. 112)Dalam riwayat lain terdapat tambahan,وإنَّما الأعمالُ بالخواتيمِ“Dan amalan-amalan itu tergantung akhirnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 340).Pada hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk tidak berbangga diri dengan amalan yang telah kita lakukan. Beliau juga menegaskan kepada kita akan pentingnya istikamah dalam beramal hingga akhir. Karena diri kita tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup yang akan kita lalui, tak pernah tahu juga akhir dari amalan yang kita lakukan.Saudaraku, terlebih lagi di penghujung bulan Ramadan yang mulia ini. Di mana sepertiga akhir bulan Ramadan merupakan waktu yang paling afdal dan paling utama. Sepuluh hari terakhir inilah yang Nabi selalu jaga ibadahnya. Beliau hidupkan malam-malamnya dengan ketaatan serta beliau bangunkan seluruh keluarganya. Tidak sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kita saat ini, saat memasuki penghujung Ramadan, bukan masjid yang mereka ramaikan, tapi justru jalanan dan pusat perbelanjaan.Baca juga: Ramadan Yang MembekasTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaSesungguhnya diterimanya amalan seorang hamba atau tidaknya adalah salah satu hal gaib (tak kasat mata) yang tidak diketahui hakikatnya, kecuali oleh Allah Ta’ala. Allahlah satu-satunya Zat yang mengetahui amalan siapa yang diterima dan amalan siapa yang tertolak.Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu, bahwasanya beliau menyeru pada malam terakhir bulan Ramadan,ياَ لَيْتَ شِعْرِي مَن هَذَا المَقْبُول فَنُهَنِّيْهِ وَمَنْ هَذَا المَحْرُوم فنعزيه.“Aduhai, andai aku tahu siapakah yang diterima amalannya pastilah kami akan mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa yang diharamkan darinya, maka kami akan berbela sungkawa padanya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 210)Para sahabat pun sangat khawatir amalan mereka di bulan Ramadan tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Mualla’ bin Al-Fadhl rahimahullah mengatakan,كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان،ويدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم.“Dahulu kala mereka berdoa kepada Allah Ta’ala selama enam bulan agar Allah Ta’ala pertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Mereka juga berdoa selama enam bulan (setelahnya) agar Allah Ta’ala menerima (amal ibadah) mereka (di bulan Ramadan).”Lihat juga bagaimana Al-Khalil Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kekasih Allah Ta’ala. Ketika membangun pondasi-pondasi Ka’bah dan itu merupakan sebuah amal kebaikan, ia berdoa,رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)Beliau yang merupakan kekasih Allah saja khawatir, dan berharap agar amal ibadahnya diterima oleh Allah Ta’ala. Lalu, bagaimana dengan kita?! Tentu kita harus lebih khawatir dan takut apabila amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah Ta’ala.Tanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaAdapun pertanda diterimanya amal ibadah seorang hamba secara umum, maka ada beberapa tanda yang bisa kita perhatikan.Pertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaSyekh Binbaz rahimahullah pernah ditanya perihal tanda-tanda diterimanya amal-amal saleh yang dilakukan seorang hamba. Kemudian rahimahullah beliau menjawab,فمن علامات القبول: انشراح الصدر، والاستقامة على الخير، والمسارعة إلى الطاعات، والحذر من السيئات، فإذا قل شره، وكثر خيره، وانشرح صدره للخير؛ فهذه من علامات التوفيق والقبول، أن تكون حاله أحسن. نعم.“Maka, di antara tanda-tanda diterimanya (sebuah amal): lapangnya dada, istikamah di atas kebaikan, bergegas dalam ketaatan, berhati-hati dari keburukan dan dosa. Saat intensitas kejelekannya menjadi sedikit, kebaikannya bertambah dan hatinya merasa tenang kepada kebaikan. Maka, inilah tanda-tanda taufik dan diterimanya amalan, yaitu keadaan dan kondisinya berubah menjadi lebih baik.” (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi)Kedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaSeorang hamba yang amalannya diterima oleh Allah Ta’ala, maka ia akan diberikan taufik untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnya. Karena sejatinya amal saleh dan kebaikan merupakan rantai yang tak terputus. Selesai melakukan sebuah ketaatan, maka akan datang ketaatan berikutnya. Dalam surah Al-Lail Allah Ta’ala berfirman,فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ * فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ“Maka, barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al-Lail: 5-7)Beberapa ahli tafsir dan di antaranya Syekh Muhammad Al-Asyqar rahimahullah saat menyebutkan ayat ini mengatakan, “Maka Kami akan memudahkannya untuk berinfak di jalan kebaikan dan untuk berbuat amal ketaatan.” (Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir)Hal ini sejalan juga dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَليْكُم بِالصِّدقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ“Berbuatlah jujur, karena kejujuran akan mengantarkanmu pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkanmu kepada surga.” (HR. Muslim no. 2607)Saat Allah menerima puasa kita di bulan Ramadan, maka selepas bulan Ramadan diri kita pun insyaAllah akan dimudahkan untuk mengerjakan puasa-puasa lainnya. Yang paling dekat dengan bulan Ramadan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَن صامَ رَمَضانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتًّا مِن شَوَّالٍ، كانَ كَصِيامِ الدَّهْرِ.“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama satu tahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Ketiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanAmal saleh yang diterima oleh Allah Ta’ala maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Yang paling besar dan paling mudah untuk dirasakan adalah kebahagiaan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,مَن عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ, أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجزِيَنَّهُم أَجرَهُم بِأَحسَنِ مَا كَانُوا يَعمَلُونَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Kebahagiaan di sini termasuk di antaranya adalah rezeki yang halal dan rasa cukup terhadap pemberian Allah Ta’ala.Saat seseorang telah beramal dan melakukan berbagai macam amalan, namun ia tidak merasa bahagia dan tenang, maka ia perlu curiga dan takut, jangan-jangan amal ibadah yang selama ini dilakukannya belum diterima oleh Allah Ta’ala. Jangan-jangan ia tidak ikhlas di dalam mengerjakannya. Jangan-jangan amal ibadah yang dilakukannya tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Oleh karenanya, wahai saudaraku, jangan lepaskan Ramadan ini begitu saja.Dengan selesainya bulan Ramadan bukan berarti semangat kita dalam beramal menjadi lemah, kemaksiatan yang sebelumnya kita lakukan kembali dilakukan.Perbanyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar Allah menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan di bulan yang mulia ini. Karena Allah-lah satu-satunya yang akan memberikan taufik kepada kita dan Dia-lah satu-satunya yang akan menerima dan menghitung amal ibadah kita. Allah Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَـاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً إِذًا لأَذَقْنَـاكَ ضِعْفَ الْحَيَواةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيْرًا“Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka. Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) dua kali lipat di dunia ini dan dua kali lipat setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (QS. Al-Isra’ : 74-75)Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Merindukan Ramadan***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: amal di bulan ramadanamal diterimaramadan


Tak terasa, bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini telah meninggalkan kita. Bulan yang penuh kemuliaan, ampunan, dan keberkahan ini telah pergi. Tak ada yang tertinggal, kecuali rasa senang karena telah Allah berikan kemampuan dan taufik untuk bisa maksimal di dalam memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan baik ataupun rasa penyesalan karena belum bisa memaksimalkannya.Saat kesempatan agung ini telah pergi, tersisa beberapa pertanyaan pada diri kita, apakah Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan yang mulia ini? Apakah puasa yang kita lakukan, salat tarawih yang kita langsungkan, sedekah yang kita berikan, bacaan Al-Qur’an yang kita lantunkan, semuanya itu diterima oleh Allah Ta’ala? Ataukah kesemuanya itu berubah menjadi serpihan debu yang berterbangan tiada arti?Lalu, adakah tanda-tanda yang bisa menunjukkan bahwa amalan-amalan kita telah diterima oleh Ta’ala?Daftar Isi Harus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaTanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaPertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaKedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaKetiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanHarus kita ingat bersama, sebuah amal tergantung akhirnyaUntuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah maksimal dalam melaksanakan ibadah di penghujung bulan Ramadan ini? Sudahkan kita memanfaatkan detik-detik akhir bulan Ramadan ini dengan memperbanyak amal dan bacaan Al-Qur’an? Ataukah justru di penghujung Ramadan ini intensitas amal ibadah kita menjadi berkurang karena kesibukan duniawi yang melalaikan?Dalam sebuah hadis sahih riwayat Al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ الجَنَّةِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وإنَّه لَمِنْ أهْلِ النَّارِ، ويَعْمَلُ بعَمَلِ أهْلِ النَّارِ، فِيما يَبْدُو لِلنَّاسِ، وهو مِن أهْلِ الجَنَّةِ“Sungguh, seseorang (kadang) beramal dengan amalan penghuni surga di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni neraka. (Sebaliknya), Seseorang beramal dengan amalan penghuni neraka di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni surga.” (HR. Bukhari no. 2898 dan Muslim no. 112)Dalam riwayat lain terdapat tambahan,وإنَّما الأعمالُ بالخواتيمِ“Dan amalan-amalan itu tergantung akhirnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 340).Pada hadis tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk tidak berbangga diri dengan amalan yang telah kita lakukan. Beliau juga menegaskan kepada kita akan pentingnya istikamah dalam beramal hingga akhir. Karena diri kita tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup yang akan kita lalui, tak pernah tahu juga akhir dari amalan yang kita lakukan.Saudaraku, terlebih lagi di penghujung bulan Ramadan yang mulia ini. Di mana sepertiga akhir bulan Ramadan merupakan waktu yang paling afdal dan paling utama. Sepuluh hari terakhir inilah yang Nabi selalu jaga ibadahnya. Beliau hidupkan malam-malamnya dengan ketaatan serta beliau bangunkan seluruh keluarganya. Tidak sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kita saat ini, saat memasuki penghujung Ramadan, bukan masjid yang mereka ramaikan, tapi justru jalanan dan pusat perbelanjaan.Baca juga: Ramadan Yang MembekasTak ada yang bisa menjamin, bahwa amalan kita pasti diterima Allah Ta’alaSesungguhnya diterimanya amalan seorang hamba atau tidaknya adalah salah satu hal gaib (tak kasat mata) yang tidak diketahui hakikatnya, kecuali oleh Allah Ta’ala. Allahlah satu-satunya Zat yang mengetahui amalan siapa yang diterima dan amalan siapa yang tertolak.Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu, bahwasanya beliau menyeru pada malam terakhir bulan Ramadan,ياَ لَيْتَ شِعْرِي مَن هَذَا المَقْبُول فَنُهَنِّيْهِ وَمَنْ هَذَا المَحْرُوم فنعزيه.“Aduhai, andai aku tahu siapakah yang diterima amalannya pastilah kami akan mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa yang diharamkan darinya, maka kami akan berbela sungkawa padanya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 210)Para sahabat pun sangat khawatir amalan mereka di bulan Ramadan tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Mualla’ bin Al-Fadhl rahimahullah mengatakan,كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان،ويدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم.“Dahulu kala mereka berdoa kepada Allah Ta’ala selama enam bulan agar Allah Ta’ala pertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Mereka juga berdoa selama enam bulan (setelahnya) agar Allah Ta’ala menerima (amal ibadah) mereka (di bulan Ramadan).”Lihat juga bagaimana Al-Khalil Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kekasih Allah Ta’ala. Ketika membangun pondasi-pondasi Ka’bah dan itu merupakan sebuah amal kebaikan, ia berdoa,رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)Beliau yang merupakan kekasih Allah saja khawatir, dan berharap agar amal ibadahnya diterima oleh Allah Ta’ala. Lalu, bagaimana dengan kita?! Tentu kita harus lebih khawatir dan takut apabila amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah Ta’ala.Tanda-tanda umum diterimanya amal ibadah seorang hambaAdapun pertanda diterimanya amal ibadah seorang hamba secara umum, maka ada beberapa tanda yang bisa kita perhatikan.Pertama: Kondisi seseorang setelah melakukan ketaatan lebih baik dari sebelumnyaSyekh Binbaz rahimahullah pernah ditanya perihal tanda-tanda diterimanya amal-amal saleh yang dilakukan seorang hamba. Kemudian rahimahullah beliau menjawab,فمن علامات القبول: انشراح الصدر، والاستقامة على الخير، والمسارعة إلى الطاعات، والحذر من السيئات، فإذا قل شره، وكثر خيره، وانشرح صدره للخير؛ فهذه من علامات التوفيق والقبول، أن تكون حاله أحسن. نعم.“Maka, di antara tanda-tanda diterimanya (sebuah amal): lapangnya dada, istikamah di atas kebaikan, bergegas dalam ketaatan, berhati-hati dari keburukan dan dosa. Saat intensitas kejelekannya menjadi sedikit, kebaikannya bertambah dan hatinya merasa tenang kepada kebaikan. Maka, inilah tanda-tanda taufik dan diterimanya amalan, yaitu keadaan dan kondisinya berubah menjadi lebih baik.” (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi)Kedua: Dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnyaSeorang hamba yang amalannya diterima oleh Allah Ta’ala, maka ia akan diberikan taufik untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan lain setelahnya. Karena sejatinya amal saleh dan kebaikan merupakan rantai yang tak terputus. Selesai melakukan sebuah ketaatan, maka akan datang ketaatan berikutnya. Dalam surah Al-Lail Allah Ta’ala berfirman,فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ * فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ“Maka, barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al-Lail: 5-7)Beberapa ahli tafsir dan di antaranya Syekh Muhammad Al-Asyqar rahimahullah saat menyebutkan ayat ini mengatakan, “Maka Kami akan memudahkannya untuk berinfak di jalan kebaikan dan untuk berbuat amal ketaatan.” (Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir)Hal ini sejalan juga dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَليْكُم بِالصِّدقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ“Berbuatlah jujur, karena kejujuran akan mengantarkanmu pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkanmu kepada surga.” (HR. Muslim no. 2607)Saat Allah menerima puasa kita di bulan Ramadan, maka selepas bulan Ramadan diri kita pun insyaAllah akan dimudahkan untuk mengerjakan puasa-puasa lainnya. Yang paling dekat dengan bulan Ramadan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَن صامَ رَمَضانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتًّا مِن شَوَّالٍ، كانَ كَصِيامِ الدَّهْرِ.“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama satu tahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)Ketiga: Ada pengaruh positif yang dirasakan setelah beramal di bulan RamadanAmal saleh yang diterima oleh Allah Ta’ala maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Yang paling besar dan paling mudah untuk dirasakan adalah kebahagiaan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,مَن عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ, أَو أُنثَى وَهُوَ مُؤمِنٌ فَلَنُحيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجزِيَنَّهُم أَجرَهُم بِأَحسَنِ مَا كَانُوا يَعمَلُونَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Kebahagiaan di sini termasuk di antaranya adalah rezeki yang halal dan rasa cukup terhadap pemberian Allah Ta’ala.Saat seseorang telah beramal dan melakukan berbagai macam amalan, namun ia tidak merasa bahagia dan tenang, maka ia perlu curiga dan takut, jangan-jangan amal ibadah yang selama ini dilakukannya belum diterima oleh Allah Ta’ala. Jangan-jangan ia tidak ikhlas di dalam mengerjakannya. Jangan-jangan amal ibadah yang dilakukannya tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Oleh karenanya, wahai saudaraku, jangan lepaskan Ramadan ini begitu saja.Dengan selesainya bulan Ramadan bukan berarti semangat kita dalam beramal menjadi lemah, kemaksiatan yang sebelumnya kita lakukan kembali dilakukan.Perbanyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar Allah menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan di bulan yang mulia ini. Karena Allah-lah satu-satunya yang akan memberikan taufik kepada kita dan Dia-lah satu-satunya yang akan menerima dan menghitung amal ibadah kita. Allah Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَـاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً إِذًا لأَذَقْنَـاكَ ضِعْفَ الْحَيَواةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيْرًا“Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka. Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) dua kali lipat di dunia ini dan dua kali lipat setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (QS. Al-Isra’ : 74-75)Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Merindukan Ramadan***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: amal di bulan ramadanamal diterimaramadan

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 2)

Mengenal Allah Ta’alaTentang kewajiban hamba untuk mengenal Rabbnya, renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا“Allahlah yang telah menciptakan tujuh langit dan demikian pula dengan bumi. Perintah Allah berlaku di antara keduanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” [1]Maka, pada ayat ini, Allah Ta’ala menyampaikan kepada segenap hamba bahwa tujuan penciptaan langit dan bumi beserta segala ketetapan yang belaku di antara keduanya adalah agar hamba tersebut mengenal Allah. Rabb yang telah menciptakan dirinya beserta seluruh makhluk selainnya. Maka, sudah sepatutnya seorang hamba mencari tahu siapakah Allah dan seperti apa Dia Subhanahu Wa Ta’ala?Pengetahuan umum tentang Allah, bisa diperoleh seorang hamba melalui tafakkur terhadap ayat-ayat kauniyah atau melalui ciptaan-ciptaan-Nya. Bahwasanya segala kerumitan, kompleksitas, dan keragaman yang ada pada makhluk, dari tingkatan atom, molekul, sel, organisme hidup, bumi, langit, dan seluruh alam semesta, menunjukkan bahwa keberadaan mereka tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Mereka tidak mungkin muncul secara tiba-tiba dan tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri. Pasti ada Intelligent Design (perancangan cerdas) di balik segala hal yang mengada. Ada Zat Yang Mahasempurna ilmu dan kuasanya yang telah menciptakan mereka. Dan bahwasanya Zat itu pasti tunggal dan Maha Esa (Al-Ahad). Karena jika ia berbilang, tentu para pencipta itu akan saling tanding menghasilkan ciptaan terbaik versi mereka masing-masing, dan terjadilah kehancuran dunia akibat peperangan mereka [2]. Namun, Mahasuci Allah dari yang demikian. Buktinya, dunia ini masih tegak tanpa cacat sedikit pun. Dia, Allah Ta’ala, sangat jauh dari apa yang disangkakan oleh manusia yang lemah dan terbatas daya nalarnya.Adapun pengetahuan rinci tentang Allah, dan ini hanya didapatkan sebagian kecil saja, tentu harus diambil dari ayat-ayat qauliyah. Melalui apa yang Dia sampaikan sendiri kepada hamba-Nya melalui kitab-Nya. Yakni, melalui Al-Qur’an yang Mulia. Karena tidak ada yang lebih mengenal diri-Nya, kecuali Dia sendiri ‘Azza wa Jalla. Begitu juga, kabar tentang-Nya dapat diperoleh melalui sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni melalui hadis-hadis yang sahih. Karena dialah hamba yang paling dekat dengan-Nya dan beliau mendapatkan pengetahuan langsung tentang Rabb-Nya dari-Nya sendiri ‘Azza wa Jalla. Selain itu, makrifat tentang Allah ini harus diambil sesuai dengan  pemahaman para salaf, yakni para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Karena kepada merekalah Al-Qur’an turun dan kepada mereka jugalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara secara langsung.Di antara pengetahuan yang disarikan dari kedua sumber tersebut adalah bahwa Allah Ta’ala adalah Zat yang azali yang tidak bermula dan tidak berakhir. Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir [3]. Di suatu masa, setelah menciptakan ‘Arsy sebagai makhluk pertama [4], kemudian Allah menciptakan sang pena dan memerintahkannya untuk menuliskan seluruh kejadian pada makhluk dari awal hingga akhir, di dalam sebuah kitab yang terjaga, lauhul mahfudz [5]. Lima puluh ribu tahun setelah itu, Allah kemudian menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dalam enam masa [6]. Begitu juga Allah ciptakan kursi, surga, neraka, malaikat, jin, manusia, hewan, dan seluruh yang ada. Dialah Allah, Rabb semesta alam. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dan segala sesuatu selain dia adalah fana.Dialah Zat yang memiliki nama-nama yang terindah (asma’ul husna) [7] dan sifat-sifat yang Mahasempurna dan Mahatinggi (sifatul ‘ulya) [8]. Dan inilah poros, sumber, serta sebab asal muasal segala sesuatu. Seluruh ciptaan dan kejadian yang menimpa makhluk adalah pengejawantahan dari seluruh sifat-sifat yang Dia Subhanahu wa Ta’ala miliki [9].Dialah Yang Maha Pencipta (Al-Khaliq), maka seluruh makhluk menjadi ada. Dialah yang Maha Menguasai (Al-Qadir) dan Maha Mengatur lagi Maha Memelihara (Al-Muhaimin), sampai-sampai matahari, bumi, bulan, dan planet-planet yang beredar di orbitnya serta berputar pada porosnya, tidak bergeser sedikitpun darinya. Semuanya atas pengaturan dan kuasa Yang Maha Merajai (Al-Malik). Dialah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) yang kebaikan-kebaikan-Nya dinantikan seluruh makhluk, baik ikan-ikan di kedalaman lautan, burung-burung di awang-awang, hingga semut-semut yang berbiak di bawah permukaan tanah.Dialah Al-Bashir (Yang Maha Melihat), As-Sami’ (Yang Maha Mendengar), dan Al-Mujib (Yang Maha Mengabulkan) yang mengijabah doa hamba-Nya yang berada di tiga lapis kegelapan [10]. Dialah Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun) dan At-Tawwab (Maha Menerima tobat) yang kepada-Nya manusia yang lengah dan lemah bermaksiat. Bahkan, kegembiraan Allah terhadap tobat hambanya melebihi kegembiraan seorang pengelana yang kehilangan tunggangannya, kemudian tiba-tiba tunggangan itu muncul di hadapannya setelah ia kehilangan harapan dan berputus asa [11]. Seorang hamba yang datang mendekat kepada-Nya sambil berjalan, maka Dia akan menghampiri dan menyambut hamba-Nya dalam keadaan berlari [12].Sungguh Dialah Rabb Yang Mahabaik (Al-Barr) yang kebaikannya tidak bisa Anda hitung dan tidak bisa pula Anda rinci. Dialah Yang Mahakaya (Al-Ghani) yang tidak membutuhkan rezeki, ibadah, pujian, dan ketaatan hamba-Nya. Bahkan, merekalah yang butuh kepada rahmat dan kasih sayang-Nya. Dan, jika seluruh makhluk berkumpul untuk menghitung nikmat yang diberikan kepada mereka, niscaya mereka tidak akan mampu menghitungnya [13].Begitu pula pengetahuan dan ilmu Allah, sempurna dari segala sisinya. Dialah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui hingga yang rinci) yang ilmunya mencakup yang nampak maupun yang tersembunyi, serta yang global maupun yang detail. Mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Bahkan ia mengetahui segala yang tidak terjadi jika ia terjadi. Pengetahuannya meliputi segala hal dan tidak berbatas [14].Sungguh, Dialah Al-Kabir (Yang Mahabesar). Ia ciptakan manusia dari tanah dan mani yang hina [15], kemudian ia tempatkan mereka sebagai khalifah di atas permukaan bumi [16], di langit lapis pertama. Kemudian, langit pertama ini diliputi oleh langit kedua, yang jarak antara keduanya sejauh 500 tahun perjalanan. Begitu juga langit ketiga, langit keempat, hingga langit ketujuh, saling melingkupi satu sama lain, yang jaraknya masing-masing juga 500 tahun perjalanan. Kemudian tujuh langit ini diliputi oleh kursi Allah [17]. Yang perbandingannya seperti cincin dilemparkan di atas padang pasir.Begitu juga kursi Allah diliputi oleh ‘Arsy-Nya, yang perbandingannya juga seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir [18]. ‘Arsy inilah makhluk-Nya yang paling besar, yang dipikul oleh delapan malaikat [19]. Dan salah satu malaikat pemikul ‘Arsy, jarak antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan [20]. Dan Allah tentu jauh lebih besar dibandingkan semua ini. Dan ia ber-istiwa di atas ‘Arsy [21], di atas semua makhluk-Nya. Dialah  Allah, Rabb Yang Mahaagung lagi Mahabesar. Sementara Anda hanyalah debu dan atom di antara makhluk-makhluk-Nya yang ada.Maka, apa yang baru Anda baca, berkisar pada dua dari tiga jenis tauhid yang biasa dibicarakan oleh para ulama, yakni tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Pengenalan seorang hamba pada dua jenis tauhid ini berbanding lurus dengan kecintaan dan ketundukannya kepada Rabb-Nya. Semakin ia mengenal Rabb-Nya, maka ia akan semakin taat, semakin khusyuk, semakin berharap, dan semakin cinta kepada-Nya, sekaligus semakin takut akan murka dan siksa-Nya. Sikap ini kemudian akan melahirkan penghambaan diri yang sejati berupa ibadah kepada Allah saja, yang merupakan tujuan kedua penciptaan seorang hamba.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3 ***Disarikan pada Malam 20 Ramadhan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan Rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Ath-Thalaq ayat 12.[2] QS. Al-Anbiya ayat 22. Allah Ta’ala berfirman, “Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, sudah barang tentu keduanya itu telah rusak binasa. Maka, Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.”[3] QS. Al-Hadid ayat 3. Allah Ta’ala berfirman, “Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir, Azh-Zhahir dan Al-Bathin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”[4] HR. Muslim no. 2653. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”[5] HR. Tirmidzi no. 2155. “Sesungguhnya (makhluk) yang pertama Allah ciptakan (sesudah ‘Arsy) adalah pena, kemudian Allah berfirman, “Tulislah!” Pena bertanya, “Apa yang harus aku tulis?” Allah kemudian berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu dan kejadian yang terjadi padanya selamanya!” (Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih).[6] QS. Hud ayat 7. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air.”[7] QS. Al-A’raf ayat 180. Allah Ta’ala berfirman, “Milik Allah sajalah nama-nama yang terindah (asmaul husna). Oleh karena itu, memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama terindah itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nantinya, mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat.”[8] QS. An-Nahl ayat 60. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang tidak beriman terhadap kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang jelek; dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”[9] Dalam kitabnya, Fiqh Al-Asma Al-Husna, Syekh Abdurrazzaq menuliskan, “…. bahwasanya seluruh yang ada di alam semesta ini,  dari langit dan bumi, matahari dan bulan, malam dan siang, gunung-gunung, lautan, gerak dan diamnya makhluk, semuanya termasuk bagian dari konsekuensi dan pengaruh nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. (Fiqh Al-Asma Al-Husna, hal. 22, karya Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, Penerbit: Daar At-Tauhid Li-An-Nasyr)[10] QS. Al-Anbiya ayat 87 . Di dalam ayat yang mulia ini, Nabi Yunus ‘alahis salam yang berada di lapis  kegelapan (kegelapan di dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan tatkala malam yang gulita), berdoa kepada Rabbnya, “Bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim.”[11] HR. Muslim no. 2747. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Sesungguhnya kegembiraan Allah terhadap tobat hamba-Nya tatkala ia bertobat kepada-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (gurun pasir), kemudian hewan tunggangannya itu lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalannya, berupa makanan dan minuman. Sampai-sampai ia pun berputus asa.Setelah itu, ia pergi ke sebuah pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan hati yang kehilangan harapan. Tiba-tiba ketika ia dalam kondisi demikian, tunggangannya tampak berdiri di sebelahnya. Kemudian ia mengikatnya. Karena saking gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah mengucapkan hal yang salah karena sangat bergembira.”[12] HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675. Di dalam hadis ini, Rasulullah bersabda, “ … Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”[13] QS. An-Nahl ayat 18. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kalian hendak menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[14] QS. Al-Kahfi ayat 109. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (mencatat) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah (air) lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (juga).'”[15] QS. Al-Hijr ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”QS. Yasin ayat 77. Allah Ta’ala berfirman, “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakan ia dari setetes air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”[16] QS. Al-Baqarah ayat 30. Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[17] HR. Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid, hal. 105 dan Al-Baihaqi dalam ‘Al-Asma wa Ash-Shifat, hal. 401. Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Antara langit dunia dengan langit berikutnya memiliki jarak lima ratus tahun, dan jarak antara masing-masing langit sejauh lima ratus tahun. Antara langit ketujuh dengan kursi memiliki jarak lima ratus tahun. Sedangkan jarak antara kursi dengan air sejauh lima ratus tahun. Kursi terdapat di atas air, sedangkan Allah berada di atas kursi. Tidak ada dari amal-amal kalian yang tersembunyi bagi-Nya.”[18] HR. As-Suyuthi dalam Ad-Durul Mantsur, 1: 328. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kursi Allah, permisalannya seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir. Sedangkan, ‘Arsy Allah itu jauh lebih besar dibandingkan kursi Allah, permisalannya seperti padang pasir dibandingkan cincin tersebut.”[19] QS. Al-Haaqqah ayat 17. Allah Ta’ala berfirman, “Dan para malaikat berada di penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat membawa ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.”[20] HR. Abu Daud no. 4727. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah yang memikul ‘Arsy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya berjarak sejauh tujuh ratus tahun perjalanan.”[21] QS. Thaha ayat 5. Allah Ta’ala berfirman, “(Allah) Yang Maha Penyayang beristiwa di atas ‘Arsy.”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 2)

Mengenal Allah Ta’alaTentang kewajiban hamba untuk mengenal Rabbnya, renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا“Allahlah yang telah menciptakan tujuh langit dan demikian pula dengan bumi. Perintah Allah berlaku di antara keduanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” [1]Maka, pada ayat ini, Allah Ta’ala menyampaikan kepada segenap hamba bahwa tujuan penciptaan langit dan bumi beserta segala ketetapan yang belaku di antara keduanya adalah agar hamba tersebut mengenal Allah. Rabb yang telah menciptakan dirinya beserta seluruh makhluk selainnya. Maka, sudah sepatutnya seorang hamba mencari tahu siapakah Allah dan seperti apa Dia Subhanahu Wa Ta’ala?Pengetahuan umum tentang Allah, bisa diperoleh seorang hamba melalui tafakkur terhadap ayat-ayat kauniyah atau melalui ciptaan-ciptaan-Nya. Bahwasanya segala kerumitan, kompleksitas, dan keragaman yang ada pada makhluk, dari tingkatan atom, molekul, sel, organisme hidup, bumi, langit, dan seluruh alam semesta, menunjukkan bahwa keberadaan mereka tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Mereka tidak mungkin muncul secara tiba-tiba dan tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri. Pasti ada Intelligent Design (perancangan cerdas) di balik segala hal yang mengada. Ada Zat Yang Mahasempurna ilmu dan kuasanya yang telah menciptakan mereka. Dan bahwasanya Zat itu pasti tunggal dan Maha Esa (Al-Ahad). Karena jika ia berbilang, tentu para pencipta itu akan saling tanding menghasilkan ciptaan terbaik versi mereka masing-masing, dan terjadilah kehancuran dunia akibat peperangan mereka [2]. Namun, Mahasuci Allah dari yang demikian. Buktinya, dunia ini masih tegak tanpa cacat sedikit pun. Dia, Allah Ta’ala, sangat jauh dari apa yang disangkakan oleh manusia yang lemah dan terbatas daya nalarnya.Adapun pengetahuan rinci tentang Allah, dan ini hanya didapatkan sebagian kecil saja, tentu harus diambil dari ayat-ayat qauliyah. Melalui apa yang Dia sampaikan sendiri kepada hamba-Nya melalui kitab-Nya. Yakni, melalui Al-Qur’an yang Mulia. Karena tidak ada yang lebih mengenal diri-Nya, kecuali Dia sendiri ‘Azza wa Jalla. Begitu juga, kabar tentang-Nya dapat diperoleh melalui sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni melalui hadis-hadis yang sahih. Karena dialah hamba yang paling dekat dengan-Nya dan beliau mendapatkan pengetahuan langsung tentang Rabb-Nya dari-Nya sendiri ‘Azza wa Jalla. Selain itu, makrifat tentang Allah ini harus diambil sesuai dengan  pemahaman para salaf, yakni para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Karena kepada merekalah Al-Qur’an turun dan kepada mereka jugalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara secara langsung.Di antara pengetahuan yang disarikan dari kedua sumber tersebut adalah bahwa Allah Ta’ala adalah Zat yang azali yang tidak bermula dan tidak berakhir. Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir [3]. Di suatu masa, setelah menciptakan ‘Arsy sebagai makhluk pertama [4], kemudian Allah menciptakan sang pena dan memerintahkannya untuk menuliskan seluruh kejadian pada makhluk dari awal hingga akhir, di dalam sebuah kitab yang terjaga, lauhul mahfudz [5]. Lima puluh ribu tahun setelah itu, Allah kemudian menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dalam enam masa [6]. Begitu juga Allah ciptakan kursi, surga, neraka, malaikat, jin, manusia, hewan, dan seluruh yang ada. Dialah Allah, Rabb semesta alam. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dan segala sesuatu selain dia adalah fana.Dialah Zat yang memiliki nama-nama yang terindah (asma’ul husna) [7] dan sifat-sifat yang Mahasempurna dan Mahatinggi (sifatul ‘ulya) [8]. Dan inilah poros, sumber, serta sebab asal muasal segala sesuatu. Seluruh ciptaan dan kejadian yang menimpa makhluk adalah pengejawantahan dari seluruh sifat-sifat yang Dia Subhanahu wa Ta’ala miliki [9].Dialah Yang Maha Pencipta (Al-Khaliq), maka seluruh makhluk menjadi ada. Dialah yang Maha Menguasai (Al-Qadir) dan Maha Mengatur lagi Maha Memelihara (Al-Muhaimin), sampai-sampai matahari, bumi, bulan, dan planet-planet yang beredar di orbitnya serta berputar pada porosnya, tidak bergeser sedikitpun darinya. Semuanya atas pengaturan dan kuasa Yang Maha Merajai (Al-Malik). Dialah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) yang kebaikan-kebaikan-Nya dinantikan seluruh makhluk, baik ikan-ikan di kedalaman lautan, burung-burung di awang-awang, hingga semut-semut yang berbiak di bawah permukaan tanah.Dialah Al-Bashir (Yang Maha Melihat), As-Sami’ (Yang Maha Mendengar), dan Al-Mujib (Yang Maha Mengabulkan) yang mengijabah doa hamba-Nya yang berada di tiga lapis kegelapan [10]. Dialah Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun) dan At-Tawwab (Maha Menerima tobat) yang kepada-Nya manusia yang lengah dan lemah bermaksiat. Bahkan, kegembiraan Allah terhadap tobat hambanya melebihi kegembiraan seorang pengelana yang kehilangan tunggangannya, kemudian tiba-tiba tunggangan itu muncul di hadapannya setelah ia kehilangan harapan dan berputus asa [11]. Seorang hamba yang datang mendekat kepada-Nya sambil berjalan, maka Dia akan menghampiri dan menyambut hamba-Nya dalam keadaan berlari [12].Sungguh Dialah Rabb Yang Mahabaik (Al-Barr) yang kebaikannya tidak bisa Anda hitung dan tidak bisa pula Anda rinci. Dialah Yang Mahakaya (Al-Ghani) yang tidak membutuhkan rezeki, ibadah, pujian, dan ketaatan hamba-Nya. Bahkan, merekalah yang butuh kepada rahmat dan kasih sayang-Nya. Dan, jika seluruh makhluk berkumpul untuk menghitung nikmat yang diberikan kepada mereka, niscaya mereka tidak akan mampu menghitungnya [13].Begitu pula pengetahuan dan ilmu Allah, sempurna dari segala sisinya. Dialah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui hingga yang rinci) yang ilmunya mencakup yang nampak maupun yang tersembunyi, serta yang global maupun yang detail. Mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Bahkan ia mengetahui segala yang tidak terjadi jika ia terjadi. Pengetahuannya meliputi segala hal dan tidak berbatas [14].Sungguh, Dialah Al-Kabir (Yang Mahabesar). Ia ciptakan manusia dari tanah dan mani yang hina [15], kemudian ia tempatkan mereka sebagai khalifah di atas permukaan bumi [16], di langit lapis pertama. Kemudian, langit pertama ini diliputi oleh langit kedua, yang jarak antara keduanya sejauh 500 tahun perjalanan. Begitu juga langit ketiga, langit keempat, hingga langit ketujuh, saling melingkupi satu sama lain, yang jaraknya masing-masing juga 500 tahun perjalanan. Kemudian tujuh langit ini diliputi oleh kursi Allah [17]. Yang perbandingannya seperti cincin dilemparkan di atas padang pasir.Begitu juga kursi Allah diliputi oleh ‘Arsy-Nya, yang perbandingannya juga seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir [18]. ‘Arsy inilah makhluk-Nya yang paling besar, yang dipikul oleh delapan malaikat [19]. Dan salah satu malaikat pemikul ‘Arsy, jarak antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan [20]. Dan Allah tentu jauh lebih besar dibandingkan semua ini. Dan ia ber-istiwa di atas ‘Arsy [21], di atas semua makhluk-Nya. Dialah  Allah, Rabb Yang Mahaagung lagi Mahabesar. Sementara Anda hanyalah debu dan atom di antara makhluk-makhluk-Nya yang ada.Maka, apa yang baru Anda baca, berkisar pada dua dari tiga jenis tauhid yang biasa dibicarakan oleh para ulama, yakni tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Pengenalan seorang hamba pada dua jenis tauhid ini berbanding lurus dengan kecintaan dan ketundukannya kepada Rabb-Nya. Semakin ia mengenal Rabb-Nya, maka ia akan semakin taat, semakin khusyuk, semakin berharap, dan semakin cinta kepada-Nya, sekaligus semakin takut akan murka dan siksa-Nya. Sikap ini kemudian akan melahirkan penghambaan diri yang sejati berupa ibadah kepada Allah saja, yang merupakan tujuan kedua penciptaan seorang hamba.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3 ***Disarikan pada Malam 20 Ramadhan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan Rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Ath-Thalaq ayat 12.[2] QS. Al-Anbiya ayat 22. Allah Ta’ala berfirman, “Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, sudah barang tentu keduanya itu telah rusak binasa. Maka, Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.”[3] QS. Al-Hadid ayat 3. Allah Ta’ala berfirman, “Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir, Azh-Zhahir dan Al-Bathin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”[4] HR. Muslim no. 2653. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”[5] HR. Tirmidzi no. 2155. “Sesungguhnya (makhluk) yang pertama Allah ciptakan (sesudah ‘Arsy) adalah pena, kemudian Allah berfirman, “Tulislah!” Pena bertanya, “Apa yang harus aku tulis?” Allah kemudian berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu dan kejadian yang terjadi padanya selamanya!” (Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih).[6] QS. Hud ayat 7. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air.”[7] QS. Al-A’raf ayat 180. Allah Ta’ala berfirman, “Milik Allah sajalah nama-nama yang terindah (asmaul husna). Oleh karena itu, memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama terindah itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nantinya, mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat.”[8] QS. An-Nahl ayat 60. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang tidak beriman terhadap kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang jelek; dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”[9] Dalam kitabnya, Fiqh Al-Asma Al-Husna, Syekh Abdurrazzaq menuliskan, “…. bahwasanya seluruh yang ada di alam semesta ini,  dari langit dan bumi, matahari dan bulan, malam dan siang, gunung-gunung, lautan, gerak dan diamnya makhluk, semuanya termasuk bagian dari konsekuensi dan pengaruh nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. (Fiqh Al-Asma Al-Husna, hal. 22, karya Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, Penerbit: Daar At-Tauhid Li-An-Nasyr)[10] QS. Al-Anbiya ayat 87 . Di dalam ayat yang mulia ini, Nabi Yunus ‘alahis salam yang berada di lapis  kegelapan (kegelapan di dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan tatkala malam yang gulita), berdoa kepada Rabbnya, “Bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim.”[11] HR. Muslim no. 2747. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Sesungguhnya kegembiraan Allah terhadap tobat hamba-Nya tatkala ia bertobat kepada-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (gurun pasir), kemudian hewan tunggangannya itu lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalannya, berupa makanan dan minuman. Sampai-sampai ia pun berputus asa.Setelah itu, ia pergi ke sebuah pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan hati yang kehilangan harapan. Tiba-tiba ketika ia dalam kondisi demikian, tunggangannya tampak berdiri di sebelahnya. Kemudian ia mengikatnya. Karena saking gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah mengucapkan hal yang salah karena sangat bergembira.”[12] HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675. Di dalam hadis ini, Rasulullah bersabda, “ … Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”[13] QS. An-Nahl ayat 18. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kalian hendak menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[14] QS. Al-Kahfi ayat 109. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (mencatat) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah (air) lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (juga).'”[15] QS. Al-Hijr ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”QS. Yasin ayat 77. Allah Ta’ala berfirman, “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakan ia dari setetes air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”[16] QS. Al-Baqarah ayat 30. Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[17] HR. Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid, hal. 105 dan Al-Baihaqi dalam ‘Al-Asma wa Ash-Shifat, hal. 401. Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Antara langit dunia dengan langit berikutnya memiliki jarak lima ratus tahun, dan jarak antara masing-masing langit sejauh lima ratus tahun. Antara langit ketujuh dengan kursi memiliki jarak lima ratus tahun. Sedangkan jarak antara kursi dengan air sejauh lima ratus tahun. Kursi terdapat di atas air, sedangkan Allah berada di atas kursi. Tidak ada dari amal-amal kalian yang tersembunyi bagi-Nya.”[18] HR. As-Suyuthi dalam Ad-Durul Mantsur, 1: 328. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kursi Allah, permisalannya seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir. Sedangkan, ‘Arsy Allah itu jauh lebih besar dibandingkan kursi Allah, permisalannya seperti padang pasir dibandingkan cincin tersebut.”[19] QS. Al-Haaqqah ayat 17. Allah Ta’ala berfirman, “Dan para malaikat berada di penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat membawa ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.”[20] HR. Abu Daud no. 4727. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah yang memikul ‘Arsy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya berjarak sejauh tujuh ratus tahun perjalanan.”[21] QS. Thaha ayat 5. Allah Ta’ala berfirman, “(Allah) Yang Maha Penyayang beristiwa di atas ‘Arsy.”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah
Mengenal Allah Ta’alaTentang kewajiban hamba untuk mengenal Rabbnya, renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا“Allahlah yang telah menciptakan tujuh langit dan demikian pula dengan bumi. Perintah Allah berlaku di antara keduanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” [1]Maka, pada ayat ini, Allah Ta’ala menyampaikan kepada segenap hamba bahwa tujuan penciptaan langit dan bumi beserta segala ketetapan yang belaku di antara keduanya adalah agar hamba tersebut mengenal Allah. Rabb yang telah menciptakan dirinya beserta seluruh makhluk selainnya. Maka, sudah sepatutnya seorang hamba mencari tahu siapakah Allah dan seperti apa Dia Subhanahu Wa Ta’ala?Pengetahuan umum tentang Allah, bisa diperoleh seorang hamba melalui tafakkur terhadap ayat-ayat kauniyah atau melalui ciptaan-ciptaan-Nya. Bahwasanya segala kerumitan, kompleksitas, dan keragaman yang ada pada makhluk, dari tingkatan atom, molekul, sel, organisme hidup, bumi, langit, dan seluruh alam semesta, menunjukkan bahwa keberadaan mereka tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Mereka tidak mungkin muncul secara tiba-tiba dan tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri. Pasti ada Intelligent Design (perancangan cerdas) di balik segala hal yang mengada. Ada Zat Yang Mahasempurna ilmu dan kuasanya yang telah menciptakan mereka. Dan bahwasanya Zat itu pasti tunggal dan Maha Esa (Al-Ahad). Karena jika ia berbilang, tentu para pencipta itu akan saling tanding menghasilkan ciptaan terbaik versi mereka masing-masing, dan terjadilah kehancuran dunia akibat peperangan mereka [2]. Namun, Mahasuci Allah dari yang demikian. Buktinya, dunia ini masih tegak tanpa cacat sedikit pun. Dia, Allah Ta’ala, sangat jauh dari apa yang disangkakan oleh manusia yang lemah dan terbatas daya nalarnya.Adapun pengetahuan rinci tentang Allah, dan ini hanya didapatkan sebagian kecil saja, tentu harus diambil dari ayat-ayat qauliyah. Melalui apa yang Dia sampaikan sendiri kepada hamba-Nya melalui kitab-Nya. Yakni, melalui Al-Qur’an yang Mulia. Karena tidak ada yang lebih mengenal diri-Nya, kecuali Dia sendiri ‘Azza wa Jalla. Begitu juga, kabar tentang-Nya dapat diperoleh melalui sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni melalui hadis-hadis yang sahih. Karena dialah hamba yang paling dekat dengan-Nya dan beliau mendapatkan pengetahuan langsung tentang Rabb-Nya dari-Nya sendiri ‘Azza wa Jalla. Selain itu, makrifat tentang Allah ini harus diambil sesuai dengan  pemahaman para salaf, yakni para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Karena kepada merekalah Al-Qur’an turun dan kepada mereka jugalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara secara langsung.Di antara pengetahuan yang disarikan dari kedua sumber tersebut adalah bahwa Allah Ta’ala adalah Zat yang azali yang tidak bermula dan tidak berakhir. Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir [3]. Di suatu masa, setelah menciptakan ‘Arsy sebagai makhluk pertama [4], kemudian Allah menciptakan sang pena dan memerintahkannya untuk menuliskan seluruh kejadian pada makhluk dari awal hingga akhir, di dalam sebuah kitab yang terjaga, lauhul mahfudz [5]. Lima puluh ribu tahun setelah itu, Allah kemudian menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dalam enam masa [6]. Begitu juga Allah ciptakan kursi, surga, neraka, malaikat, jin, manusia, hewan, dan seluruh yang ada. Dialah Allah, Rabb semesta alam. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dan segala sesuatu selain dia adalah fana.Dialah Zat yang memiliki nama-nama yang terindah (asma’ul husna) [7] dan sifat-sifat yang Mahasempurna dan Mahatinggi (sifatul ‘ulya) [8]. Dan inilah poros, sumber, serta sebab asal muasal segala sesuatu. Seluruh ciptaan dan kejadian yang menimpa makhluk adalah pengejawantahan dari seluruh sifat-sifat yang Dia Subhanahu wa Ta’ala miliki [9].Dialah Yang Maha Pencipta (Al-Khaliq), maka seluruh makhluk menjadi ada. Dialah yang Maha Menguasai (Al-Qadir) dan Maha Mengatur lagi Maha Memelihara (Al-Muhaimin), sampai-sampai matahari, bumi, bulan, dan planet-planet yang beredar di orbitnya serta berputar pada porosnya, tidak bergeser sedikitpun darinya. Semuanya atas pengaturan dan kuasa Yang Maha Merajai (Al-Malik). Dialah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) yang kebaikan-kebaikan-Nya dinantikan seluruh makhluk, baik ikan-ikan di kedalaman lautan, burung-burung di awang-awang, hingga semut-semut yang berbiak di bawah permukaan tanah.Dialah Al-Bashir (Yang Maha Melihat), As-Sami’ (Yang Maha Mendengar), dan Al-Mujib (Yang Maha Mengabulkan) yang mengijabah doa hamba-Nya yang berada di tiga lapis kegelapan [10]. Dialah Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun) dan At-Tawwab (Maha Menerima tobat) yang kepada-Nya manusia yang lengah dan lemah bermaksiat. Bahkan, kegembiraan Allah terhadap tobat hambanya melebihi kegembiraan seorang pengelana yang kehilangan tunggangannya, kemudian tiba-tiba tunggangan itu muncul di hadapannya setelah ia kehilangan harapan dan berputus asa [11]. Seorang hamba yang datang mendekat kepada-Nya sambil berjalan, maka Dia akan menghampiri dan menyambut hamba-Nya dalam keadaan berlari [12].Sungguh Dialah Rabb Yang Mahabaik (Al-Barr) yang kebaikannya tidak bisa Anda hitung dan tidak bisa pula Anda rinci. Dialah Yang Mahakaya (Al-Ghani) yang tidak membutuhkan rezeki, ibadah, pujian, dan ketaatan hamba-Nya. Bahkan, merekalah yang butuh kepada rahmat dan kasih sayang-Nya. Dan, jika seluruh makhluk berkumpul untuk menghitung nikmat yang diberikan kepada mereka, niscaya mereka tidak akan mampu menghitungnya [13].Begitu pula pengetahuan dan ilmu Allah, sempurna dari segala sisinya. Dialah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui hingga yang rinci) yang ilmunya mencakup yang nampak maupun yang tersembunyi, serta yang global maupun yang detail. Mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Bahkan ia mengetahui segala yang tidak terjadi jika ia terjadi. Pengetahuannya meliputi segala hal dan tidak berbatas [14].Sungguh, Dialah Al-Kabir (Yang Mahabesar). Ia ciptakan manusia dari tanah dan mani yang hina [15], kemudian ia tempatkan mereka sebagai khalifah di atas permukaan bumi [16], di langit lapis pertama. Kemudian, langit pertama ini diliputi oleh langit kedua, yang jarak antara keduanya sejauh 500 tahun perjalanan. Begitu juga langit ketiga, langit keempat, hingga langit ketujuh, saling melingkupi satu sama lain, yang jaraknya masing-masing juga 500 tahun perjalanan. Kemudian tujuh langit ini diliputi oleh kursi Allah [17]. Yang perbandingannya seperti cincin dilemparkan di atas padang pasir.Begitu juga kursi Allah diliputi oleh ‘Arsy-Nya, yang perbandingannya juga seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir [18]. ‘Arsy inilah makhluk-Nya yang paling besar, yang dipikul oleh delapan malaikat [19]. Dan salah satu malaikat pemikul ‘Arsy, jarak antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan [20]. Dan Allah tentu jauh lebih besar dibandingkan semua ini. Dan ia ber-istiwa di atas ‘Arsy [21], di atas semua makhluk-Nya. Dialah  Allah, Rabb Yang Mahaagung lagi Mahabesar. Sementara Anda hanyalah debu dan atom di antara makhluk-makhluk-Nya yang ada.Maka, apa yang baru Anda baca, berkisar pada dua dari tiga jenis tauhid yang biasa dibicarakan oleh para ulama, yakni tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Pengenalan seorang hamba pada dua jenis tauhid ini berbanding lurus dengan kecintaan dan ketundukannya kepada Rabb-Nya. Semakin ia mengenal Rabb-Nya, maka ia akan semakin taat, semakin khusyuk, semakin berharap, dan semakin cinta kepada-Nya, sekaligus semakin takut akan murka dan siksa-Nya. Sikap ini kemudian akan melahirkan penghambaan diri yang sejati berupa ibadah kepada Allah saja, yang merupakan tujuan kedua penciptaan seorang hamba.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3 ***Disarikan pada Malam 20 Ramadhan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan Rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Ath-Thalaq ayat 12.[2] QS. Al-Anbiya ayat 22. Allah Ta’ala berfirman, “Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, sudah barang tentu keduanya itu telah rusak binasa. Maka, Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.”[3] QS. Al-Hadid ayat 3. Allah Ta’ala berfirman, “Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir, Azh-Zhahir dan Al-Bathin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”[4] HR. Muslim no. 2653. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”[5] HR. Tirmidzi no. 2155. “Sesungguhnya (makhluk) yang pertama Allah ciptakan (sesudah ‘Arsy) adalah pena, kemudian Allah berfirman, “Tulislah!” Pena bertanya, “Apa yang harus aku tulis?” Allah kemudian berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu dan kejadian yang terjadi padanya selamanya!” (Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih).[6] QS. Hud ayat 7. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air.”[7] QS. Al-A’raf ayat 180. Allah Ta’ala berfirman, “Milik Allah sajalah nama-nama yang terindah (asmaul husna). Oleh karena itu, memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama terindah itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nantinya, mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat.”[8] QS. An-Nahl ayat 60. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang tidak beriman terhadap kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang jelek; dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”[9] Dalam kitabnya, Fiqh Al-Asma Al-Husna, Syekh Abdurrazzaq menuliskan, “…. bahwasanya seluruh yang ada di alam semesta ini,  dari langit dan bumi, matahari dan bulan, malam dan siang, gunung-gunung, lautan, gerak dan diamnya makhluk, semuanya termasuk bagian dari konsekuensi dan pengaruh nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. (Fiqh Al-Asma Al-Husna, hal. 22, karya Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, Penerbit: Daar At-Tauhid Li-An-Nasyr)[10] QS. Al-Anbiya ayat 87 . Di dalam ayat yang mulia ini, Nabi Yunus ‘alahis salam yang berada di lapis  kegelapan (kegelapan di dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan tatkala malam yang gulita), berdoa kepada Rabbnya, “Bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim.”[11] HR. Muslim no. 2747. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Sesungguhnya kegembiraan Allah terhadap tobat hamba-Nya tatkala ia bertobat kepada-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (gurun pasir), kemudian hewan tunggangannya itu lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalannya, berupa makanan dan minuman. Sampai-sampai ia pun berputus asa.Setelah itu, ia pergi ke sebuah pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan hati yang kehilangan harapan. Tiba-tiba ketika ia dalam kondisi demikian, tunggangannya tampak berdiri di sebelahnya. Kemudian ia mengikatnya. Karena saking gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah mengucapkan hal yang salah karena sangat bergembira.”[12] HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675. Di dalam hadis ini, Rasulullah bersabda, “ … Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”[13] QS. An-Nahl ayat 18. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kalian hendak menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[14] QS. Al-Kahfi ayat 109. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (mencatat) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah (air) lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (juga).'”[15] QS. Al-Hijr ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”QS. Yasin ayat 77. Allah Ta’ala berfirman, “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakan ia dari setetes air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”[16] QS. Al-Baqarah ayat 30. Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[17] HR. Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid, hal. 105 dan Al-Baihaqi dalam ‘Al-Asma wa Ash-Shifat, hal. 401. Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Antara langit dunia dengan langit berikutnya memiliki jarak lima ratus tahun, dan jarak antara masing-masing langit sejauh lima ratus tahun. Antara langit ketujuh dengan kursi memiliki jarak lima ratus tahun. Sedangkan jarak antara kursi dengan air sejauh lima ratus tahun. Kursi terdapat di atas air, sedangkan Allah berada di atas kursi. Tidak ada dari amal-amal kalian yang tersembunyi bagi-Nya.”[18] HR. As-Suyuthi dalam Ad-Durul Mantsur, 1: 328. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kursi Allah, permisalannya seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir. Sedangkan, ‘Arsy Allah itu jauh lebih besar dibandingkan kursi Allah, permisalannya seperti padang pasir dibandingkan cincin tersebut.”[19] QS. Al-Haaqqah ayat 17. Allah Ta’ala berfirman, “Dan para malaikat berada di penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat membawa ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.”[20] HR. Abu Daud no. 4727. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah yang memikul ‘Arsy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya berjarak sejauh tujuh ratus tahun perjalanan.”[21] QS. Thaha ayat 5. Allah Ta’ala berfirman, “(Allah) Yang Maha Penyayang beristiwa di atas ‘Arsy.”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah


Mengenal Allah Ta’alaTentang kewajiban hamba untuk mengenal Rabbnya, renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا“Allahlah yang telah menciptakan tujuh langit dan demikian pula dengan bumi. Perintah Allah berlaku di antara keduanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” [1]Maka, pada ayat ini, Allah Ta’ala menyampaikan kepada segenap hamba bahwa tujuan penciptaan langit dan bumi beserta segala ketetapan yang belaku di antara keduanya adalah agar hamba tersebut mengenal Allah. Rabb yang telah menciptakan dirinya beserta seluruh makhluk selainnya. Maka, sudah sepatutnya seorang hamba mencari tahu siapakah Allah dan seperti apa Dia Subhanahu Wa Ta’ala?Pengetahuan umum tentang Allah, bisa diperoleh seorang hamba melalui tafakkur terhadap ayat-ayat kauniyah atau melalui ciptaan-ciptaan-Nya. Bahwasanya segala kerumitan, kompleksitas, dan keragaman yang ada pada makhluk, dari tingkatan atom, molekul, sel, organisme hidup, bumi, langit, dan seluruh alam semesta, menunjukkan bahwa keberadaan mereka tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Mereka tidak mungkin muncul secara tiba-tiba dan tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri. Pasti ada Intelligent Design (perancangan cerdas) di balik segala hal yang mengada. Ada Zat Yang Mahasempurna ilmu dan kuasanya yang telah menciptakan mereka. Dan bahwasanya Zat itu pasti tunggal dan Maha Esa (Al-Ahad). Karena jika ia berbilang, tentu para pencipta itu akan saling tanding menghasilkan ciptaan terbaik versi mereka masing-masing, dan terjadilah kehancuran dunia akibat peperangan mereka [2]. Namun, Mahasuci Allah dari yang demikian. Buktinya, dunia ini masih tegak tanpa cacat sedikit pun. Dia, Allah Ta’ala, sangat jauh dari apa yang disangkakan oleh manusia yang lemah dan terbatas daya nalarnya.Adapun pengetahuan rinci tentang Allah, dan ini hanya didapatkan sebagian kecil saja, tentu harus diambil dari ayat-ayat qauliyah. Melalui apa yang Dia sampaikan sendiri kepada hamba-Nya melalui kitab-Nya. Yakni, melalui Al-Qur’an yang Mulia. Karena tidak ada yang lebih mengenal diri-Nya, kecuali Dia sendiri ‘Azza wa Jalla. Begitu juga, kabar tentang-Nya dapat diperoleh melalui sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni melalui hadis-hadis yang sahih. Karena dialah hamba yang paling dekat dengan-Nya dan beliau mendapatkan pengetahuan langsung tentang Rabb-Nya dari-Nya sendiri ‘Azza wa Jalla. Selain itu, makrifat tentang Allah ini harus diambil sesuai dengan  pemahaman para salaf, yakni para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Karena kepada merekalah Al-Qur’an turun dan kepada mereka jugalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara secara langsung.Di antara pengetahuan yang disarikan dari kedua sumber tersebut adalah bahwa Allah Ta’ala adalah Zat yang azali yang tidak bermula dan tidak berakhir. Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir [3]. Di suatu masa, setelah menciptakan ‘Arsy sebagai makhluk pertama [4], kemudian Allah menciptakan sang pena dan memerintahkannya untuk menuliskan seluruh kejadian pada makhluk dari awal hingga akhir, di dalam sebuah kitab yang terjaga, lauhul mahfudz [5]. Lima puluh ribu tahun setelah itu, Allah kemudian menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dalam enam masa [6]. Begitu juga Allah ciptakan kursi, surga, neraka, malaikat, jin, manusia, hewan, dan seluruh yang ada. Dialah Allah, Rabb semesta alam. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dan segala sesuatu selain dia adalah fana.Dialah Zat yang memiliki nama-nama yang terindah (asma’ul husna) [7] dan sifat-sifat yang Mahasempurna dan Mahatinggi (sifatul ‘ulya) [8]. Dan inilah poros, sumber, serta sebab asal muasal segala sesuatu. Seluruh ciptaan dan kejadian yang menimpa makhluk adalah pengejawantahan dari seluruh sifat-sifat yang Dia Subhanahu wa Ta’ala miliki [9].Dialah Yang Maha Pencipta (Al-Khaliq), maka seluruh makhluk menjadi ada. Dialah yang Maha Menguasai (Al-Qadir) dan Maha Mengatur lagi Maha Memelihara (Al-Muhaimin), sampai-sampai matahari, bumi, bulan, dan planet-planet yang beredar di orbitnya serta berputar pada porosnya, tidak bergeser sedikitpun darinya. Semuanya atas pengaturan dan kuasa Yang Maha Merajai (Al-Malik). Dialah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) yang kebaikan-kebaikan-Nya dinantikan seluruh makhluk, baik ikan-ikan di kedalaman lautan, burung-burung di awang-awang, hingga semut-semut yang berbiak di bawah permukaan tanah.Dialah Al-Bashir (Yang Maha Melihat), As-Sami’ (Yang Maha Mendengar), dan Al-Mujib (Yang Maha Mengabulkan) yang mengijabah doa hamba-Nya yang berada di tiga lapis kegelapan [10]. Dialah Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun) dan At-Tawwab (Maha Menerima tobat) yang kepada-Nya manusia yang lengah dan lemah bermaksiat. Bahkan, kegembiraan Allah terhadap tobat hambanya melebihi kegembiraan seorang pengelana yang kehilangan tunggangannya, kemudian tiba-tiba tunggangan itu muncul di hadapannya setelah ia kehilangan harapan dan berputus asa [11]. Seorang hamba yang datang mendekat kepada-Nya sambil berjalan, maka Dia akan menghampiri dan menyambut hamba-Nya dalam keadaan berlari [12].Sungguh Dialah Rabb Yang Mahabaik (Al-Barr) yang kebaikannya tidak bisa Anda hitung dan tidak bisa pula Anda rinci. Dialah Yang Mahakaya (Al-Ghani) yang tidak membutuhkan rezeki, ibadah, pujian, dan ketaatan hamba-Nya. Bahkan, merekalah yang butuh kepada rahmat dan kasih sayang-Nya. Dan, jika seluruh makhluk berkumpul untuk menghitung nikmat yang diberikan kepada mereka, niscaya mereka tidak akan mampu menghitungnya [13].Begitu pula pengetahuan dan ilmu Allah, sempurna dari segala sisinya. Dialah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui hingga yang rinci) yang ilmunya mencakup yang nampak maupun yang tersembunyi, serta yang global maupun yang detail. Mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Bahkan ia mengetahui segala yang tidak terjadi jika ia terjadi. Pengetahuannya meliputi segala hal dan tidak berbatas [14].Sungguh, Dialah Al-Kabir (Yang Mahabesar). Ia ciptakan manusia dari tanah dan mani yang hina [15], kemudian ia tempatkan mereka sebagai khalifah di atas permukaan bumi [16], di langit lapis pertama. Kemudian, langit pertama ini diliputi oleh langit kedua, yang jarak antara keduanya sejauh 500 tahun perjalanan. Begitu juga langit ketiga, langit keempat, hingga langit ketujuh, saling melingkupi satu sama lain, yang jaraknya masing-masing juga 500 tahun perjalanan. Kemudian tujuh langit ini diliputi oleh kursi Allah [17]. Yang perbandingannya seperti cincin dilemparkan di atas padang pasir.Begitu juga kursi Allah diliputi oleh ‘Arsy-Nya, yang perbandingannya juga seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir [18]. ‘Arsy inilah makhluk-Nya yang paling besar, yang dipikul oleh delapan malaikat [19]. Dan salah satu malaikat pemikul ‘Arsy, jarak antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan [20]. Dan Allah tentu jauh lebih besar dibandingkan semua ini. Dan ia ber-istiwa di atas ‘Arsy [21], di atas semua makhluk-Nya. Dialah  Allah, Rabb Yang Mahaagung lagi Mahabesar. Sementara Anda hanyalah debu dan atom di antara makhluk-makhluk-Nya yang ada.Maka, apa yang baru Anda baca, berkisar pada dua dari tiga jenis tauhid yang biasa dibicarakan oleh para ulama, yakni tauhid asma wa shifat dan tauhid rububiyah. Pengenalan seorang hamba pada dua jenis tauhid ini berbanding lurus dengan kecintaan dan ketundukannya kepada Rabb-Nya. Semakin ia mengenal Rabb-Nya, maka ia akan semakin taat, semakin khusyuk, semakin berharap, dan semakin cinta kepada-Nya, sekaligus semakin takut akan murka dan siksa-Nya. Sikap ini kemudian akan melahirkan penghambaan diri yang sejati berupa ibadah kepada Allah saja, yang merupakan tujuan kedua penciptaan seorang hamba.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3 ***Disarikan pada Malam 20 Ramadhan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan Rahmat dan ampunan dari Rabb-NyaPenulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id[1] QS. Ath-Thalaq ayat 12.[2] QS. Al-Anbiya ayat 22. Allah Ta’ala berfirman, “Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, sudah barang tentu keduanya itu telah rusak binasa. Maka, Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.”[3] QS. Al-Hadid ayat 3. Allah Ta’ala berfirman, “Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir, Azh-Zhahir dan Al-Bathin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”[4] HR. Muslim no. 2653. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”[5] HR. Tirmidzi no. 2155. “Sesungguhnya (makhluk) yang pertama Allah ciptakan (sesudah ‘Arsy) adalah pena, kemudian Allah berfirman, “Tulislah!” Pena bertanya, “Apa yang harus aku tulis?” Allah kemudian berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu dan kejadian yang terjadi padanya selamanya!” (Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih).[6] QS. Hud ayat 7. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air.”[7] QS. Al-A’raf ayat 180. Allah Ta’ala berfirman, “Milik Allah sajalah nama-nama yang terindah (asmaul husna). Oleh karena itu, memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama terindah itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nantinya, mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat.”[8] QS. An-Nahl ayat 60. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang tidak beriman terhadap kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang jelek; dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”[9] Dalam kitabnya, Fiqh Al-Asma Al-Husna, Syekh Abdurrazzaq menuliskan, “…. bahwasanya seluruh yang ada di alam semesta ini,  dari langit dan bumi, matahari dan bulan, malam dan siang, gunung-gunung, lautan, gerak dan diamnya makhluk, semuanya termasuk bagian dari konsekuensi dan pengaruh nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. (Fiqh Al-Asma Al-Husna, hal. 22, karya Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, Penerbit: Daar At-Tauhid Li-An-Nasyr)[10] QS. Al-Anbiya ayat 87 . Di dalam ayat yang mulia ini, Nabi Yunus ‘alahis salam yang berada di lapis  kegelapan (kegelapan di dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan tatkala malam yang gulita), berdoa kepada Rabbnya, “Bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah, selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim.”[11] HR. Muslim no. 2747. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Sesungguhnya kegembiraan Allah terhadap tobat hamba-Nya tatkala ia bertobat kepada-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (gurun pasir), kemudian hewan tunggangannya itu lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalannya, berupa makanan dan minuman. Sampai-sampai ia pun berputus asa.Setelah itu, ia pergi ke sebuah pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan hati yang kehilangan harapan. Tiba-tiba ketika ia dalam kondisi demikian, tunggangannya tampak berdiri di sebelahnya. Kemudian ia mengikatnya. Karena saking gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah mengucapkan hal yang salah karena sangat bergembira.”[12] HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675. Di dalam hadis ini, Rasulullah bersabda, “ … Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”[13] QS. An-Nahl ayat 18. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kalian hendak menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[14] QS. Al-Kahfi ayat 109. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (mencatat) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah (air) lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (juga).'”[15] QS. Al-Hijr ayat 26. Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”QS. Yasin ayat 77. Allah Ta’ala berfirman, “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakan ia dari setetes air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”[16] QS. Al-Baqarah ayat 30. Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[17] HR. Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid, hal. 105 dan Al-Baihaqi dalam ‘Al-Asma wa Ash-Shifat, hal. 401. Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Antara langit dunia dengan langit berikutnya memiliki jarak lima ratus tahun, dan jarak antara masing-masing langit sejauh lima ratus tahun. Antara langit ketujuh dengan kursi memiliki jarak lima ratus tahun. Sedangkan jarak antara kursi dengan air sejauh lima ratus tahun. Kursi terdapat di atas air, sedangkan Allah berada di atas kursi. Tidak ada dari amal-amal kalian yang tersembunyi bagi-Nya.”[18] HR. As-Suyuthi dalam Ad-Durul Mantsur, 1: 328. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kursi Allah, permisalannya seperti cincin yang dilemparkan di atas padang pasir. Sedangkan, ‘Arsy Allah itu jauh lebih besar dibandingkan kursi Allah, permisalannya seperti padang pasir dibandingkan cincin tersebut.”[19] QS. Al-Haaqqah ayat 17. Allah Ta’ala berfirman, “Dan para malaikat berada di penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat membawa ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.”[20] HR. Abu Daud no. 4727. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah yang memikul ‘Arsy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya berjarak sejauh tujuh ratus tahun perjalanan.”[21] QS. Thaha ayat 5. Allah Ta’ala berfirman, “(Allah) Yang Maha Penyayang beristiwa di atas ‘Arsy.”Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Antara Peleburan Dosa di Dunia dan di Akhirat (Bag. 2)

Bismillah.Wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaPeleburan dosa di duniaPeleburan dosa di alam barzakhPeleburan dosa di padang mahsyarPeleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)Peleburan dosa di nerakaSurga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaSebelum kita mempelajari peleburan dosa, perlu kita ketahui mengapa harus ada peleburan dosa? Jawabannya adalah karena surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosa. Allah Ta’ala berfirman,وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, telah bersih kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)Orang yang masih membawa dosa bukanlah orang baik yang layak masuk surga. Maka, dosanya haruslah dibersihkan agar bisa masuk surga, seperti pembersihan emas dari karatnya. Dan pembersihan dosa ini bisa terjadi di 5 tempat, yaitu: 1) dunia; 2) alam barzakh; 3) padang mahsyar; 4) qantharah; dan 5) neraka.Peleburan dosa di duniaPembersihan dosa di dunia itu dengan 4 bentuk, yaitu:Pertama: TobatDosa apapun apabila seorang bertobat darinya dengan memenuhi syarat-syarat diterimanya tobat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana dalam surah Az-Zumar ayat 53, surah An-Nur ayat 31, juga berdasarkan surah Al-Furqan ayat 68 sampai 70.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. (Yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)Kedua: Istigfar Istigfar adalah doa. Bisa dikabulkan sehingga diampuni, bisa juga tidak. Tetapi, kalau diiringi tobat yang memenuhi syarat diterimanya, maka pasti dosa diampuni, sebagaimana dalam hadis riwayat Tirmidzi (dengan derajat hasan).Ketiga: Amal salehAmal saleh adalah pelebur dosa. Pendapat terkuat adalah pada asalnya melebur dosa kecil saja. Namun, sebagian amalan saleh yang berkualitas bisa melebur dosa besar, hanya saja berat untuk melakukan amalan saleh berkualitas itu. Hal ini sebagaimana dalam surah Hud ayat 114. Allah Ta’ala berfirman,وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”Keempat: MusibahMusibah adalah pelebur dosa. Hal ini sebagaimana dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Dan dosa yang terlebur hanyalah dosa kecil, meskipun tanpa sabar. Sedangkan jika dengan sabar, maka dosa terlebur, plus dapat pahala.Baca juga: Di Balik Musibah yang MenimpaPeleburan dosa di alam barzakhPembersihan dosa di alam barzakh itu dengan 3 bentuk:Pertama: Salat jenazah, istigfar, dan doa di dalamnya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya hadis riwayat Muslim.Kedua: Kengerian alam kubur.Ketiga: Beberapa amal orang yang hidup untuk mayit, seperti: doa, istigfar, hadiah pahala (sedekah, haji, puasa atas nama mayit, dan lain-lain). Hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Peleburan dosa di padang mahsyarPembersihan dosa di padang mahsyar itu ada empat bentuk, yaitu:Pertama: Kengerian hari kiamat. (QS. Al-Hajj: 2)يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ“(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu). Semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya. Dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya. Dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.”Kedua: Penderitaan di padang Mahsyar.Ketiga: Syafa’at. Dalilnya banyak, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Keempat: Maaf dari Allah Ta’ala.Peleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)“Ketika orang-orang beriman telah mampu melewati neraka, mereka tertahan di qantharah, sebuah tempat antara surga dan neraka. Lalu, mereka saling qishash terkait dengan kezaliman yang pernah mereka lakukan ketika di dunia sampai bersih dan suci. Baru setelah itu, mereka diizinkan masuk surga.” (HR. Bukhari)Peleburan dosa di nerakaApabila masih tersisa dosa setelah pembersihan di tiga tempat, yaitu: di alam dunia, alam barzakh dan padang mahsyar, maka haruslah dibersihkan dosa yang masih tersisa itu di neraka. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita darinya.Sedangkan penghuni neraka dari kalangan muslimin masih bisa dikeluarkan dari neraka dengan 2 bentuk:Pertama: Syafa’at sebelum tertunaikan azab baginya dengan lengkap.Kedua: Pembersihan dosa sampai lengkap jatah azab baginya, lalu dengan rahmat Allah, ia keluar dari neraka.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: bahaya dosadosapenghapus dosa

Antara Peleburan Dosa di Dunia dan di Akhirat (Bag. 2)

Bismillah.Wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaPeleburan dosa di duniaPeleburan dosa di alam barzakhPeleburan dosa di padang mahsyarPeleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)Peleburan dosa di nerakaSurga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaSebelum kita mempelajari peleburan dosa, perlu kita ketahui mengapa harus ada peleburan dosa? Jawabannya adalah karena surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosa. Allah Ta’ala berfirman,وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, telah bersih kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)Orang yang masih membawa dosa bukanlah orang baik yang layak masuk surga. Maka, dosanya haruslah dibersihkan agar bisa masuk surga, seperti pembersihan emas dari karatnya. Dan pembersihan dosa ini bisa terjadi di 5 tempat, yaitu: 1) dunia; 2) alam barzakh; 3) padang mahsyar; 4) qantharah; dan 5) neraka.Peleburan dosa di duniaPembersihan dosa di dunia itu dengan 4 bentuk, yaitu:Pertama: TobatDosa apapun apabila seorang bertobat darinya dengan memenuhi syarat-syarat diterimanya tobat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana dalam surah Az-Zumar ayat 53, surah An-Nur ayat 31, juga berdasarkan surah Al-Furqan ayat 68 sampai 70.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. (Yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)Kedua: Istigfar Istigfar adalah doa. Bisa dikabulkan sehingga diampuni, bisa juga tidak. Tetapi, kalau diiringi tobat yang memenuhi syarat diterimanya, maka pasti dosa diampuni, sebagaimana dalam hadis riwayat Tirmidzi (dengan derajat hasan).Ketiga: Amal salehAmal saleh adalah pelebur dosa. Pendapat terkuat adalah pada asalnya melebur dosa kecil saja. Namun, sebagian amalan saleh yang berkualitas bisa melebur dosa besar, hanya saja berat untuk melakukan amalan saleh berkualitas itu. Hal ini sebagaimana dalam surah Hud ayat 114. Allah Ta’ala berfirman,وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”Keempat: MusibahMusibah adalah pelebur dosa. Hal ini sebagaimana dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Dan dosa yang terlebur hanyalah dosa kecil, meskipun tanpa sabar. Sedangkan jika dengan sabar, maka dosa terlebur, plus dapat pahala.Baca juga: Di Balik Musibah yang MenimpaPeleburan dosa di alam barzakhPembersihan dosa di alam barzakh itu dengan 3 bentuk:Pertama: Salat jenazah, istigfar, dan doa di dalamnya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya hadis riwayat Muslim.Kedua: Kengerian alam kubur.Ketiga: Beberapa amal orang yang hidup untuk mayit, seperti: doa, istigfar, hadiah pahala (sedekah, haji, puasa atas nama mayit, dan lain-lain). Hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Peleburan dosa di padang mahsyarPembersihan dosa di padang mahsyar itu ada empat bentuk, yaitu:Pertama: Kengerian hari kiamat. (QS. Al-Hajj: 2)يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ“(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu). Semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya. Dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya. Dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.”Kedua: Penderitaan di padang Mahsyar.Ketiga: Syafa’at. Dalilnya banyak, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Keempat: Maaf dari Allah Ta’ala.Peleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)“Ketika orang-orang beriman telah mampu melewati neraka, mereka tertahan di qantharah, sebuah tempat antara surga dan neraka. Lalu, mereka saling qishash terkait dengan kezaliman yang pernah mereka lakukan ketika di dunia sampai bersih dan suci. Baru setelah itu, mereka diizinkan masuk surga.” (HR. Bukhari)Peleburan dosa di nerakaApabila masih tersisa dosa setelah pembersihan di tiga tempat, yaitu: di alam dunia, alam barzakh dan padang mahsyar, maka haruslah dibersihkan dosa yang masih tersisa itu di neraka. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita darinya.Sedangkan penghuni neraka dari kalangan muslimin masih bisa dikeluarkan dari neraka dengan 2 bentuk:Pertama: Syafa’at sebelum tertunaikan azab baginya dengan lengkap.Kedua: Pembersihan dosa sampai lengkap jatah azab baginya, lalu dengan rahmat Allah, ia keluar dari neraka.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: bahaya dosadosapenghapus dosa
Bismillah.Wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaPeleburan dosa di duniaPeleburan dosa di alam barzakhPeleburan dosa di padang mahsyarPeleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)Peleburan dosa di nerakaSurga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaSebelum kita mempelajari peleburan dosa, perlu kita ketahui mengapa harus ada peleburan dosa? Jawabannya adalah karena surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosa. Allah Ta’ala berfirman,وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, telah bersih kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)Orang yang masih membawa dosa bukanlah orang baik yang layak masuk surga. Maka, dosanya haruslah dibersihkan agar bisa masuk surga, seperti pembersihan emas dari karatnya. Dan pembersihan dosa ini bisa terjadi di 5 tempat, yaitu: 1) dunia; 2) alam barzakh; 3) padang mahsyar; 4) qantharah; dan 5) neraka.Peleburan dosa di duniaPembersihan dosa di dunia itu dengan 4 bentuk, yaitu:Pertama: TobatDosa apapun apabila seorang bertobat darinya dengan memenuhi syarat-syarat diterimanya tobat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana dalam surah Az-Zumar ayat 53, surah An-Nur ayat 31, juga berdasarkan surah Al-Furqan ayat 68 sampai 70.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. (Yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)Kedua: Istigfar Istigfar adalah doa. Bisa dikabulkan sehingga diampuni, bisa juga tidak. Tetapi, kalau diiringi tobat yang memenuhi syarat diterimanya, maka pasti dosa diampuni, sebagaimana dalam hadis riwayat Tirmidzi (dengan derajat hasan).Ketiga: Amal salehAmal saleh adalah pelebur dosa. Pendapat terkuat adalah pada asalnya melebur dosa kecil saja. Namun, sebagian amalan saleh yang berkualitas bisa melebur dosa besar, hanya saja berat untuk melakukan amalan saleh berkualitas itu. Hal ini sebagaimana dalam surah Hud ayat 114. Allah Ta’ala berfirman,وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”Keempat: MusibahMusibah adalah pelebur dosa. Hal ini sebagaimana dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Dan dosa yang terlebur hanyalah dosa kecil, meskipun tanpa sabar. Sedangkan jika dengan sabar, maka dosa terlebur, plus dapat pahala.Baca juga: Di Balik Musibah yang MenimpaPeleburan dosa di alam barzakhPembersihan dosa di alam barzakh itu dengan 3 bentuk:Pertama: Salat jenazah, istigfar, dan doa di dalamnya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya hadis riwayat Muslim.Kedua: Kengerian alam kubur.Ketiga: Beberapa amal orang yang hidup untuk mayit, seperti: doa, istigfar, hadiah pahala (sedekah, haji, puasa atas nama mayit, dan lain-lain). Hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Peleburan dosa di padang mahsyarPembersihan dosa di padang mahsyar itu ada empat bentuk, yaitu:Pertama: Kengerian hari kiamat. (QS. Al-Hajj: 2)يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ“(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu). Semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya. Dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya. Dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.”Kedua: Penderitaan di padang Mahsyar.Ketiga: Syafa’at. Dalilnya banyak, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Keempat: Maaf dari Allah Ta’ala.Peleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)“Ketika orang-orang beriman telah mampu melewati neraka, mereka tertahan di qantharah, sebuah tempat antara surga dan neraka. Lalu, mereka saling qishash terkait dengan kezaliman yang pernah mereka lakukan ketika di dunia sampai bersih dan suci. Baru setelah itu, mereka diizinkan masuk surga.” (HR. Bukhari)Peleburan dosa di nerakaApabila masih tersisa dosa setelah pembersihan di tiga tempat, yaitu: di alam dunia, alam barzakh dan padang mahsyar, maka haruslah dibersihkan dosa yang masih tersisa itu di neraka. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita darinya.Sedangkan penghuni neraka dari kalangan muslimin masih bisa dikeluarkan dari neraka dengan 2 bentuk:Pertama: Syafa’at sebelum tertunaikan azab baginya dengan lengkap.Kedua: Pembersihan dosa sampai lengkap jatah azab baginya, lalu dengan rahmat Allah, ia keluar dari neraka.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: bahaya dosadosapenghapus dosa


Bismillah.Wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaPeleburan dosa di duniaPeleburan dosa di alam barzakhPeleburan dosa di padang mahsyarPeleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)Peleburan dosa di nerakaSurga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosaSebelum kita mempelajari peleburan dosa, perlu kita ketahui mengapa harus ada peleburan dosa? Jawabannya adalah karena surga adalah tempat orang-orang baik yang bersih dari dosa. Allah Ta’ala berfirman,وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, telah bersih kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)Orang yang masih membawa dosa bukanlah orang baik yang layak masuk surga. Maka, dosanya haruslah dibersihkan agar bisa masuk surga, seperti pembersihan emas dari karatnya. Dan pembersihan dosa ini bisa terjadi di 5 tempat, yaitu: 1) dunia; 2) alam barzakh; 3) padang mahsyar; 4) qantharah; dan 5) neraka.Peleburan dosa di duniaPembersihan dosa di dunia itu dengan 4 bentuk, yaitu:Pertama: TobatDosa apapun apabila seorang bertobat darinya dengan memenuhi syarat-syarat diterimanya tobat, maka akan diampuni oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana dalam surah Az-Zumar ayat 53, surah An-Nur ayat 31, juga berdasarkan surah Al-Furqan ayat 68 sampai 70.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. (Yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)Kedua: Istigfar Istigfar adalah doa. Bisa dikabulkan sehingga diampuni, bisa juga tidak. Tetapi, kalau diiringi tobat yang memenuhi syarat diterimanya, maka pasti dosa diampuni, sebagaimana dalam hadis riwayat Tirmidzi (dengan derajat hasan).Ketiga: Amal salehAmal saleh adalah pelebur dosa. Pendapat terkuat adalah pada asalnya melebur dosa kecil saja. Namun, sebagian amalan saleh yang berkualitas bisa melebur dosa besar, hanya saja berat untuk melakukan amalan saleh berkualitas itu. Hal ini sebagaimana dalam surah Hud ayat 114. Allah Ta’ala berfirman,وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”Keempat: MusibahMusibah adalah pelebur dosa. Hal ini sebagaimana dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Dan dosa yang terlebur hanyalah dosa kecil, meskipun tanpa sabar. Sedangkan jika dengan sabar, maka dosa terlebur, plus dapat pahala.Baca juga: Di Balik Musibah yang MenimpaPeleburan dosa di alam barzakhPembersihan dosa di alam barzakh itu dengan 3 bentuk:Pertama: Salat jenazah, istigfar, dan doa di dalamnya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya hadis riwayat Muslim.Kedua: Kengerian alam kubur.Ketiga: Beberapa amal orang yang hidup untuk mayit, seperti: doa, istigfar, hadiah pahala (sedekah, haji, puasa atas nama mayit, dan lain-lain). Hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Peleburan dosa di padang mahsyarPembersihan dosa di padang mahsyar itu ada empat bentuk, yaitu:Pertama: Kengerian hari kiamat. (QS. Al-Hajj: 2)يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ“(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu). Semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya. Dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya. Dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.”Kedua: Penderitaan di padang Mahsyar.Ketiga: Syafa’at. Dalilnya banyak, di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Keempat: Maaf dari Allah Ta’ala.Peleburan dosa di qantharah (Jembatan antara neraka dan surga)“Ketika orang-orang beriman telah mampu melewati neraka, mereka tertahan di qantharah, sebuah tempat antara surga dan neraka. Lalu, mereka saling qishash terkait dengan kezaliman yang pernah mereka lakukan ketika di dunia sampai bersih dan suci. Baru setelah itu, mereka diizinkan masuk surga.” (HR. Bukhari)Peleburan dosa di nerakaApabila masih tersisa dosa setelah pembersihan di tiga tempat, yaitu: di alam dunia, alam barzakh dan padang mahsyar, maka haruslah dibersihkan dosa yang masih tersisa itu di neraka. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita darinya.Sedangkan penghuni neraka dari kalangan muslimin masih bisa dikeluarkan dari neraka dengan 2 bentuk:Pertama: Syafa’at sebelum tertunaikan azab baginya dengan lengkap.Kedua: Pembersihan dosa sampai lengkap jatah azab baginya, lalu dengan rahmat Allah, ia keluar dari neraka.Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: bahaya dosadosapenghapus dosa

Antara Peleburan Dosa di Dunia dan di Akhirat (Bag. 3)

Bismillah, wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Syarat-syarat tobatIslamIkhlasMenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaSebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Syarat-syarat tobatTobat adalah termasuk pelebur dosa yang terbesar. Tidak ada satu pun dosa yang sanggup berhadapan dengan tobat. Oleh karena itu, di bagian terahir dari serial tulisan ini, kami akan bawakan tujuh syarat agar tobat diterima oleh Allah Ta’ala:IslamAllah Ta’ala tidaklah menerima tobat jika pelakunya masih kafir. Karena kekafiran itu menggugurkan seluruh amal, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan seandainya mereka (para nabi) menyekutukan(-Nya), maka akan gugur dari mereka semua apa yang mereka lakukan.” (QS. Al-An’am: 88)Demikian pula, dalam surah Ibrahim ayat 26 dengan tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa tidak diterima amal apapun jika disertai dengan kesyirikan (kekafiran) [1]. Sedangkan tobat itu sendiri adalah amalan saleh.IkhlasAllah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 146,إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّه فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا   “Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”MenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaDalil dari 3 syarat ini adalah firman Allah Ta’ala di surah Ali ‘Imran ayat 135 dan 136,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ     “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan buruk yang mereka lakukan, sedangkan mereka mengetahui.”أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ   “Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”Syekh Bin Baz rahimahullah menjelaskan ayat di atas [2] bahwa maksud “tidak meneruskan perbuatan maksiat” adalah syarat sahnya tobat. Dan tidaklah bisa terlaksana hal ini, kecuali dengan meninggalkan maksiat dan berhenti darinya serta bertekad bulat tidak mengulanginya lagi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Menyesal adalah tobat.”  (HR. Ahmad, sahih)Sebagian ulama menjelaskan bahwa tobat cukup terealisir dengan menyesal, karena menyesal berkonsekuensi seseorang berhenti dari dosa dan bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Keduanya tumbuh dari sikap menyesal. [3]Sebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nisa’ ayat 18,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan keburukan (yang) hingga apabila datang sakaratul maut kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ الله عزَّ وجَلَّ يقْبَلُ توْبة العبْدِ مَا لَم يُغرْغرِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama rohnya belum sampai ke tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)Maksudnya adalah apabila seseorang sudah merasakan sakitnya sakaratul maut karena proses pencabutan roh sudah sampai tenggorokan. Ketika itu, seseorang telah melihat malaikat maut dan telah yakin ia akan segera mati serta tak bisa kembali ke dunia lagi. Maka, tobat pada kondisi itu tidak diterima oleh Allah, karena yang dijadikan patokan adalah iman kepada perkara gaib. [4]Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 158,هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ   “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).'”Maksud “datangnya ayat dari Tuhanmu” dalam firman Allah di atas adalah terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya (barat), sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat), niscaya Allah akan terima tobatnya.” (HR. Muslim)Salah satu saja dari ketujuh syarat ini tidak ada pada diri seseorang, maka tobatnya tidaklah diterima oleh Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.[Selesai]Kembali ke bagian 2 Mulai dari bagian 1***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Adab Asy-Syar’iyyah (https://Islamweb.net/ar/library/index.php?page=bookcontents&idfrom=44&idto=44&bk_no=43&ID=25)[2] https://binbaz.org.sa/fatwas/2232/ادلة-شروط-التوبة[3] Fathul Bari (https://Islamqa.info/ar/answers/289765/)[4] https://www.dorar.net/hadith/sharh/65540Tags: bahaya dosadosapenghapus dosa

Antara Peleburan Dosa di Dunia dan di Akhirat (Bag. 3)

Bismillah, wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Syarat-syarat tobatIslamIkhlasMenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaSebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Syarat-syarat tobatTobat adalah termasuk pelebur dosa yang terbesar. Tidak ada satu pun dosa yang sanggup berhadapan dengan tobat. Oleh karena itu, di bagian terahir dari serial tulisan ini, kami akan bawakan tujuh syarat agar tobat diterima oleh Allah Ta’ala:IslamAllah Ta’ala tidaklah menerima tobat jika pelakunya masih kafir. Karena kekafiran itu menggugurkan seluruh amal, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan seandainya mereka (para nabi) menyekutukan(-Nya), maka akan gugur dari mereka semua apa yang mereka lakukan.” (QS. Al-An’am: 88)Demikian pula, dalam surah Ibrahim ayat 26 dengan tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa tidak diterima amal apapun jika disertai dengan kesyirikan (kekafiran) [1]. Sedangkan tobat itu sendiri adalah amalan saleh.IkhlasAllah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 146,إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّه فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا   “Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”MenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaDalil dari 3 syarat ini adalah firman Allah Ta’ala di surah Ali ‘Imran ayat 135 dan 136,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ     “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan buruk yang mereka lakukan, sedangkan mereka mengetahui.”أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ   “Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”Syekh Bin Baz rahimahullah menjelaskan ayat di atas [2] bahwa maksud “tidak meneruskan perbuatan maksiat” adalah syarat sahnya tobat. Dan tidaklah bisa terlaksana hal ini, kecuali dengan meninggalkan maksiat dan berhenti darinya serta bertekad bulat tidak mengulanginya lagi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Menyesal adalah tobat.”  (HR. Ahmad, sahih)Sebagian ulama menjelaskan bahwa tobat cukup terealisir dengan menyesal, karena menyesal berkonsekuensi seseorang berhenti dari dosa dan bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Keduanya tumbuh dari sikap menyesal. [3]Sebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nisa’ ayat 18,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan keburukan (yang) hingga apabila datang sakaratul maut kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ الله عزَّ وجَلَّ يقْبَلُ توْبة العبْدِ مَا لَم يُغرْغرِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama rohnya belum sampai ke tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)Maksudnya adalah apabila seseorang sudah merasakan sakitnya sakaratul maut karena proses pencabutan roh sudah sampai tenggorokan. Ketika itu, seseorang telah melihat malaikat maut dan telah yakin ia akan segera mati serta tak bisa kembali ke dunia lagi. Maka, tobat pada kondisi itu tidak diterima oleh Allah, karena yang dijadikan patokan adalah iman kepada perkara gaib. [4]Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 158,هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ   “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).'”Maksud “datangnya ayat dari Tuhanmu” dalam firman Allah di atas adalah terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya (barat), sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat), niscaya Allah akan terima tobatnya.” (HR. Muslim)Salah satu saja dari ketujuh syarat ini tidak ada pada diri seseorang, maka tobatnya tidaklah diterima oleh Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.[Selesai]Kembali ke bagian 2 Mulai dari bagian 1***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Adab Asy-Syar’iyyah (https://Islamweb.net/ar/library/index.php?page=bookcontents&idfrom=44&idto=44&bk_no=43&ID=25)[2] https://binbaz.org.sa/fatwas/2232/ادلة-شروط-التوبة[3] Fathul Bari (https://Islamqa.info/ar/answers/289765/)[4] https://www.dorar.net/hadith/sharh/65540Tags: bahaya dosadosapenghapus dosa
Bismillah, wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Syarat-syarat tobatIslamIkhlasMenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaSebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Syarat-syarat tobatTobat adalah termasuk pelebur dosa yang terbesar. Tidak ada satu pun dosa yang sanggup berhadapan dengan tobat. Oleh karena itu, di bagian terahir dari serial tulisan ini, kami akan bawakan tujuh syarat agar tobat diterima oleh Allah Ta’ala:IslamAllah Ta’ala tidaklah menerima tobat jika pelakunya masih kafir. Karena kekafiran itu menggugurkan seluruh amal, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan seandainya mereka (para nabi) menyekutukan(-Nya), maka akan gugur dari mereka semua apa yang mereka lakukan.” (QS. Al-An’am: 88)Demikian pula, dalam surah Ibrahim ayat 26 dengan tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa tidak diterima amal apapun jika disertai dengan kesyirikan (kekafiran) [1]. Sedangkan tobat itu sendiri adalah amalan saleh.IkhlasAllah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 146,إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّه فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا   “Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”MenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaDalil dari 3 syarat ini adalah firman Allah Ta’ala di surah Ali ‘Imran ayat 135 dan 136,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ     “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan buruk yang mereka lakukan, sedangkan mereka mengetahui.”أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ   “Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”Syekh Bin Baz rahimahullah menjelaskan ayat di atas [2] bahwa maksud “tidak meneruskan perbuatan maksiat” adalah syarat sahnya tobat. Dan tidaklah bisa terlaksana hal ini, kecuali dengan meninggalkan maksiat dan berhenti darinya serta bertekad bulat tidak mengulanginya lagi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Menyesal adalah tobat.”  (HR. Ahmad, sahih)Sebagian ulama menjelaskan bahwa tobat cukup terealisir dengan menyesal, karena menyesal berkonsekuensi seseorang berhenti dari dosa dan bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Keduanya tumbuh dari sikap menyesal. [3]Sebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nisa’ ayat 18,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan keburukan (yang) hingga apabila datang sakaratul maut kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ الله عزَّ وجَلَّ يقْبَلُ توْبة العبْدِ مَا لَم يُغرْغرِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama rohnya belum sampai ke tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)Maksudnya adalah apabila seseorang sudah merasakan sakitnya sakaratul maut karena proses pencabutan roh sudah sampai tenggorokan. Ketika itu, seseorang telah melihat malaikat maut dan telah yakin ia akan segera mati serta tak bisa kembali ke dunia lagi. Maka, tobat pada kondisi itu tidak diterima oleh Allah, karena yang dijadikan patokan adalah iman kepada perkara gaib. [4]Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 158,هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ   “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).'”Maksud “datangnya ayat dari Tuhanmu” dalam firman Allah di atas adalah terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya (barat), sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat), niscaya Allah akan terima tobatnya.” (HR. Muslim)Salah satu saja dari ketujuh syarat ini tidak ada pada diri seseorang, maka tobatnya tidaklah diterima oleh Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.[Selesai]Kembali ke bagian 2 Mulai dari bagian 1***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Adab Asy-Syar’iyyah (https://Islamweb.net/ar/library/index.php?page=bookcontents&idfrom=44&idto=44&bk_no=43&ID=25)[2] https://binbaz.org.sa/fatwas/2232/ادلة-شروط-التوبة[3] Fathul Bari (https://Islamqa.info/ar/answers/289765/)[4] https://www.dorar.net/hadith/sharh/65540Tags: bahaya dosadosapenghapus dosa


Bismillah, wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Daftar Isi Syarat-syarat tobatIslamIkhlasMenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaSebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Syarat-syarat tobatTobat adalah termasuk pelebur dosa yang terbesar. Tidak ada satu pun dosa yang sanggup berhadapan dengan tobat. Oleh karena itu, di bagian terahir dari serial tulisan ini, kami akan bawakan tujuh syarat agar tobat diterima oleh Allah Ta’ala:IslamAllah Ta’ala tidaklah menerima tobat jika pelakunya masih kafir. Karena kekafiran itu menggugurkan seluruh amal, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan seandainya mereka (para nabi) menyekutukan(-Nya), maka akan gugur dari mereka semua apa yang mereka lakukan.” (QS. Al-An’am: 88)Demikian pula, dalam surah Ibrahim ayat 26 dengan tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa tidak diterima amal apapun jika disertai dengan kesyirikan (kekafiran) [1]. Sedangkan tobat itu sendiri adalah amalan saleh.IkhlasAllah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 146,إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّه فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا   “Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”MenyesalBerhenti dari dosa saat itu jugaBertekad bulat untuk tidak mengulanginyaDalil dari 3 syarat ini adalah firman Allah Ta’ala di surah Ali ‘Imran ayat 135 dan 136,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ     “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan buruk yang mereka lakukan, sedangkan mereka mengetahui.”أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ   “Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”Syekh Bin Baz rahimahullah menjelaskan ayat di atas [2] bahwa maksud “tidak meneruskan perbuatan maksiat” adalah syarat sahnya tobat. Dan tidaklah bisa terlaksana hal ini, kecuali dengan meninggalkan maksiat dan berhenti darinya serta bertekad bulat tidak mengulanginya lagi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Menyesal adalah tobat.”  (HR. Ahmad, sahih)Sebagian ulama menjelaskan bahwa tobat cukup terealisir dengan menyesal, karena menyesal berkonsekuensi seseorang berhenti dari dosa dan bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Keduanya tumbuh dari sikap menyesal. [3]Sebelum sakaratul maut (sebelum roh sampai tenggorokan)Firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nisa’ ayat 18,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan keburukan (yang) hingga apabila datang sakaratul maut kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ الله عزَّ وجَلَّ يقْبَلُ توْبة العبْدِ مَا لَم يُغرْغرِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama rohnya belum sampai ke tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)Maksudnya adalah apabila seseorang sudah merasakan sakitnya sakaratul maut karena proses pencabutan roh sudah sampai tenggorokan. Ketika itu, seseorang telah melihat malaikat maut dan telah yakin ia akan segera mati serta tak bisa kembali ke dunia lagi. Maka, tobat pada kondisi itu tidak diterima oleh Allah, karena yang dijadikan patokan adalah iman kepada perkara gaib. [4]Sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat)Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 158,هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ   “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).'”Maksud “datangnya ayat dari Tuhanmu” dalam firman Allah di atas adalah terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya (barat), sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat), niscaya Allah akan terima tobatnya.” (HR. Muslim)Salah satu saja dari ketujuh syarat ini tidak ada pada diri seseorang, maka tobatnya tidaklah diterima oleh Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.[Selesai]Kembali ke bagian 2 Mulai dari bagian 1***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Adab Asy-Syar’iyyah (https://Islamweb.net/ar/library/index.php?page=bookcontents&idfrom=44&idto=44&bk_no=43&ID=25)[2] https://binbaz.org.sa/fatwas/2232/ادلة-شروط-التوبة[3] Fathul Bari (https://Islamqa.info/ar/answers/289765/)[4] https://www.dorar.net/hadith/sharh/65540Tags: bahaya dosadosapenghapus dosa

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 1)

Daftar Isi Sebuah prologTujuan penciptaanSebuah prologSaya ingin merasakan kebahagiaan di dalam hidup saya. Ya, itulah hal yang didambakan setiap manusia, tidak terkecuali Anda. Dan jika Anda cermati, kebahagiaan ini pada dasarnya adalah buah dari kehendak atau cita-cita yang berhasil diraih oleh seseorang. Hasil panen yang melimpah akan sangat menggembirakan seorang petani. Lulus ujian dengan predikat terbaik akan menyukacitakan dan mendatangkan senyuman lebar pada seorang pelajar. Menang tender akan membuat seorang pengusaha atau kontraktor tertawa sambil melompat kegirangan. Lahirnya anak yang didambakan akan membungahkan para ayah dan membuatnya lalai akan peluh yang ada di kening sang istri. Begitu juga berbagai hal lain yang dimimpikan manusia, tentunya akan melahirkan kebahagiaan di dalam hati mereka, tatkala apa yang diangan-angankan tersebut berhasil ia capai.Demikianlah remah-remah kebahagiaan yang Allah Ta’ala simpankan di kotak-kotak kehidupan manusia. Seperti itulah kebahagiaan semu yang dibagikan kepada setiap hamba yang bernyawa. Namun, tahukah Anda? Kebahagiaan yang hakiki tidaklah dirasakan semua insan. Mengapa? Karena ia ditempatkan di kotak khusus yang hanya bisa diraih oleh manusia-manusia istimewa. Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh mereka yang menemukan dan mewujudkan perkara paling penting di dalam hidup mereka. Apakah itu? Hal terpenting dari hidup adalah tujuan kehidupan itu sendiri. Yakni tujuan penciptaan manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam raya, termasuk Anda.Tujuan penciptaanCoba Anda pikirkan dan perhatikan keadaaan di sekitar Anda! Bahwa segala gerak dan diam yang dilakukan oleh makhluk, pasti memiliki tujuan. Dari ayam yang berkokok ketika dini hari, burung-burung yang berterbangan di atas angkasa, hewan melata yang bertebaran di permukaan bumi, sampai singa pejantan yang mengendus keberadaan singa betina, semuanya itu memiliki tujuan. Termasuk seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, dari ia bangun tidur hingga tidur lagi, pasti memiliki tujuan yang ia ingin capai.Jika makhluk saja memiliki keinginan yang ingin ia raih, bagaimana lagi dengan Sang Khalik yang menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dan segala isinya, merajai, serta mengatur seluruh detak dan perputaran di alam semesta? Tentu lebih-lebih lagi, bahwa Dia pasti memiliki kehendak yang ingin diwujudkan. Simaklah apa yang Allah katakan tentang perkara ini,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu (sekedar) main-main?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tentu akan mengatakan,  “Tidak, ya Rabb!” Dengan demikian, apakah tujuan Allah mengadakan semua yang ada di jagad raya ini? Tentunya kita sebagai manusia tidak bisa menebak dan menerkanya. Mengapa? Karena ia perkara yang transeden dan di luar jangkauan akal manusia. Namun, Allah tidak membiarkan anak Adam terombang-ambing mencari sendiri tujuan kehidupan mereka. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam kepada setiap generasi untuk menyampaikan hikmah kehidupan dan kematian. Bersama mereka ‘alaihimussalam, Allah Ta’ala turunkan kitab-kitab serta suhuf-suhuf sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar para hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaan tersebut secara benar.Di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala setidaknya menyebutkan 3 tujuan pewujudan manusia bersama ciptaan yang lain, yaitu: 1) untuk mengenal Allah Ta‘ala; 2) untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata; dan 3) untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Lanjut ke bagian 2***Disarikan pada Malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah

Tegar di Atas Jalan Kebahagiaan (Bag. 1)

Daftar Isi Sebuah prologTujuan penciptaanSebuah prologSaya ingin merasakan kebahagiaan di dalam hidup saya. Ya, itulah hal yang didambakan setiap manusia, tidak terkecuali Anda. Dan jika Anda cermati, kebahagiaan ini pada dasarnya adalah buah dari kehendak atau cita-cita yang berhasil diraih oleh seseorang. Hasil panen yang melimpah akan sangat menggembirakan seorang petani. Lulus ujian dengan predikat terbaik akan menyukacitakan dan mendatangkan senyuman lebar pada seorang pelajar. Menang tender akan membuat seorang pengusaha atau kontraktor tertawa sambil melompat kegirangan. Lahirnya anak yang didambakan akan membungahkan para ayah dan membuatnya lalai akan peluh yang ada di kening sang istri. Begitu juga berbagai hal lain yang dimimpikan manusia, tentunya akan melahirkan kebahagiaan di dalam hati mereka, tatkala apa yang diangan-angankan tersebut berhasil ia capai.Demikianlah remah-remah kebahagiaan yang Allah Ta’ala simpankan di kotak-kotak kehidupan manusia. Seperti itulah kebahagiaan semu yang dibagikan kepada setiap hamba yang bernyawa. Namun, tahukah Anda? Kebahagiaan yang hakiki tidaklah dirasakan semua insan. Mengapa? Karena ia ditempatkan di kotak khusus yang hanya bisa diraih oleh manusia-manusia istimewa. Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh mereka yang menemukan dan mewujudkan perkara paling penting di dalam hidup mereka. Apakah itu? Hal terpenting dari hidup adalah tujuan kehidupan itu sendiri. Yakni tujuan penciptaan manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam raya, termasuk Anda.Tujuan penciptaanCoba Anda pikirkan dan perhatikan keadaaan di sekitar Anda! Bahwa segala gerak dan diam yang dilakukan oleh makhluk, pasti memiliki tujuan. Dari ayam yang berkokok ketika dini hari, burung-burung yang berterbangan di atas angkasa, hewan melata yang bertebaran di permukaan bumi, sampai singa pejantan yang mengendus keberadaan singa betina, semuanya itu memiliki tujuan. Termasuk seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, dari ia bangun tidur hingga tidur lagi, pasti memiliki tujuan yang ia ingin capai.Jika makhluk saja memiliki keinginan yang ingin ia raih, bagaimana lagi dengan Sang Khalik yang menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dan segala isinya, merajai, serta mengatur seluruh detak dan perputaran di alam semesta? Tentu lebih-lebih lagi, bahwa Dia pasti memiliki kehendak yang ingin diwujudkan. Simaklah apa yang Allah katakan tentang perkara ini,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu (sekedar) main-main?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tentu akan mengatakan,  “Tidak, ya Rabb!” Dengan demikian, apakah tujuan Allah mengadakan semua yang ada di jagad raya ini? Tentunya kita sebagai manusia tidak bisa menebak dan menerkanya. Mengapa? Karena ia perkara yang transeden dan di luar jangkauan akal manusia. Namun, Allah tidak membiarkan anak Adam terombang-ambing mencari sendiri tujuan kehidupan mereka. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam kepada setiap generasi untuk menyampaikan hikmah kehidupan dan kematian. Bersama mereka ‘alaihimussalam, Allah Ta’ala turunkan kitab-kitab serta suhuf-suhuf sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar para hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaan tersebut secara benar.Di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala setidaknya menyebutkan 3 tujuan pewujudan manusia bersama ciptaan yang lain, yaitu: 1) untuk mengenal Allah Ta‘ala; 2) untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata; dan 3) untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Lanjut ke bagian 2***Disarikan pada Malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah
Daftar Isi Sebuah prologTujuan penciptaanSebuah prologSaya ingin merasakan kebahagiaan di dalam hidup saya. Ya, itulah hal yang didambakan setiap manusia, tidak terkecuali Anda. Dan jika Anda cermati, kebahagiaan ini pada dasarnya adalah buah dari kehendak atau cita-cita yang berhasil diraih oleh seseorang. Hasil panen yang melimpah akan sangat menggembirakan seorang petani. Lulus ujian dengan predikat terbaik akan menyukacitakan dan mendatangkan senyuman lebar pada seorang pelajar. Menang tender akan membuat seorang pengusaha atau kontraktor tertawa sambil melompat kegirangan. Lahirnya anak yang didambakan akan membungahkan para ayah dan membuatnya lalai akan peluh yang ada di kening sang istri. Begitu juga berbagai hal lain yang dimimpikan manusia, tentunya akan melahirkan kebahagiaan di dalam hati mereka, tatkala apa yang diangan-angankan tersebut berhasil ia capai.Demikianlah remah-remah kebahagiaan yang Allah Ta’ala simpankan di kotak-kotak kehidupan manusia. Seperti itulah kebahagiaan semu yang dibagikan kepada setiap hamba yang bernyawa. Namun, tahukah Anda? Kebahagiaan yang hakiki tidaklah dirasakan semua insan. Mengapa? Karena ia ditempatkan di kotak khusus yang hanya bisa diraih oleh manusia-manusia istimewa. Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh mereka yang menemukan dan mewujudkan perkara paling penting di dalam hidup mereka. Apakah itu? Hal terpenting dari hidup adalah tujuan kehidupan itu sendiri. Yakni tujuan penciptaan manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam raya, termasuk Anda.Tujuan penciptaanCoba Anda pikirkan dan perhatikan keadaaan di sekitar Anda! Bahwa segala gerak dan diam yang dilakukan oleh makhluk, pasti memiliki tujuan. Dari ayam yang berkokok ketika dini hari, burung-burung yang berterbangan di atas angkasa, hewan melata yang bertebaran di permukaan bumi, sampai singa pejantan yang mengendus keberadaan singa betina, semuanya itu memiliki tujuan. Termasuk seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, dari ia bangun tidur hingga tidur lagi, pasti memiliki tujuan yang ia ingin capai.Jika makhluk saja memiliki keinginan yang ingin ia raih, bagaimana lagi dengan Sang Khalik yang menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dan segala isinya, merajai, serta mengatur seluruh detak dan perputaran di alam semesta? Tentu lebih-lebih lagi, bahwa Dia pasti memiliki kehendak yang ingin diwujudkan. Simaklah apa yang Allah katakan tentang perkara ini,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu (sekedar) main-main?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tentu akan mengatakan,  “Tidak, ya Rabb!” Dengan demikian, apakah tujuan Allah mengadakan semua yang ada di jagad raya ini? Tentunya kita sebagai manusia tidak bisa menebak dan menerkanya. Mengapa? Karena ia perkara yang transeden dan di luar jangkauan akal manusia. Namun, Allah tidak membiarkan anak Adam terombang-ambing mencari sendiri tujuan kehidupan mereka. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam kepada setiap generasi untuk menyampaikan hikmah kehidupan dan kematian. Bersama mereka ‘alaihimussalam, Allah Ta’ala turunkan kitab-kitab serta suhuf-suhuf sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar para hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaan tersebut secara benar.Di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala setidaknya menyebutkan 3 tujuan pewujudan manusia bersama ciptaan yang lain, yaitu: 1) untuk mengenal Allah Ta‘ala; 2) untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata; dan 3) untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Lanjut ke bagian 2***Disarikan pada Malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah


Daftar Isi Sebuah prologTujuan penciptaanSebuah prologSaya ingin merasakan kebahagiaan di dalam hidup saya. Ya, itulah hal yang didambakan setiap manusia, tidak terkecuali Anda. Dan jika Anda cermati, kebahagiaan ini pada dasarnya adalah buah dari kehendak atau cita-cita yang berhasil diraih oleh seseorang. Hasil panen yang melimpah akan sangat menggembirakan seorang petani. Lulus ujian dengan predikat terbaik akan menyukacitakan dan mendatangkan senyuman lebar pada seorang pelajar. Menang tender akan membuat seorang pengusaha atau kontraktor tertawa sambil melompat kegirangan. Lahirnya anak yang didambakan akan membungahkan para ayah dan membuatnya lalai akan peluh yang ada di kening sang istri. Begitu juga berbagai hal lain yang dimimpikan manusia, tentunya akan melahirkan kebahagiaan di dalam hati mereka, tatkala apa yang diangan-angankan tersebut berhasil ia capai.Demikianlah remah-remah kebahagiaan yang Allah Ta’ala simpankan di kotak-kotak kehidupan manusia. Seperti itulah kebahagiaan semu yang dibagikan kepada setiap hamba yang bernyawa. Namun, tahukah Anda? Kebahagiaan yang hakiki tidaklah dirasakan semua insan. Mengapa? Karena ia ditempatkan di kotak khusus yang hanya bisa diraih oleh manusia-manusia istimewa. Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh mereka yang menemukan dan mewujudkan perkara paling penting di dalam hidup mereka. Apakah itu? Hal terpenting dari hidup adalah tujuan kehidupan itu sendiri. Yakni tujuan penciptaan manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam raya, termasuk Anda.Tujuan penciptaanCoba Anda pikirkan dan perhatikan keadaaan di sekitar Anda! Bahwa segala gerak dan diam yang dilakukan oleh makhluk, pasti memiliki tujuan. Dari ayam yang berkokok ketika dini hari, burung-burung yang berterbangan di atas angkasa, hewan melata yang bertebaran di permukaan bumi, sampai singa pejantan yang mengendus keberadaan singa betina, semuanya itu memiliki tujuan. Termasuk seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, dari ia bangun tidur hingga tidur lagi, pasti memiliki tujuan yang ia ingin capai.Jika makhluk saja memiliki keinginan yang ingin ia raih, bagaimana lagi dengan Sang Khalik yang menciptakan tujuh lapis langit beserta bumi dan segala isinya, merajai, serta mengatur seluruh detak dan perputaran di alam semesta? Tentu lebih-lebih lagi, bahwa Dia pasti memiliki kehendak yang ingin diwujudkan. Simaklah apa yang Allah katakan tentang perkara ini,أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu (sekedar) main-main?” (QS. Al-Mu’minun: 115)Orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tentu akan mengatakan,  “Tidak, ya Rabb!” Dengan demikian, apakah tujuan Allah mengadakan semua yang ada di jagad raya ini? Tentunya kita sebagai manusia tidak bisa menebak dan menerkanya. Mengapa? Karena ia perkara yang transeden dan di luar jangkauan akal manusia. Namun, Allah tidak membiarkan anak Adam terombang-ambing mencari sendiri tujuan kehidupan mereka. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam kepada setiap generasi untuk menyampaikan hikmah kehidupan dan kematian. Bersama mereka ‘alaihimussalam, Allah Ta’ala turunkan kitab-kitab serta suhuf-suhuf sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar para hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaan tersebut secara benar.Di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala setidaknya menyebutkan 3 tujuan pewujudan manusia bersama ciptaan yang lain, yaitu: 1) untuk mengenal Allah Ta‘ala; 2) untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata; dan 3) untuk diuji oleh Allah Ta’ala.Lanjut ke bagian 2***Disarikan pada Malam 20 Ramadan 1444 HDi bawah langit kota Yogyakarta,Oleh Al-Faqir yang membutuhkan rahmat dan ampunan dari Rabb-Nya,Penulis: Sudarmono Ahmad Tahir, S.Si., M.Biotech.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Untuk terjemahan Al-Qur’an dan Hadis, sebagiannya berdasarkan referensi dan artikel yang ada di website Muslim.or.id, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan Almanhaj.or.id.Tags: jalan luruskebahagiaan sejatitegar di atas sunnah
Prev     Next