Bimbingan Islam dalam Menyikapi Kesalahan Orang Lain

Daftar Isi Toggle Kapan dianjurkan taghaful?Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiatKedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak AllahTeladan Nabi dalam menyikapi kesalahanPertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ahKedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi Kita sebagai seorang beriman harus senantiasa sadar bahwa setiap orang pasti pernah terjerumus ke dalam kesalahan. Bahkan, dua manusia yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala (Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimassalam) pun juga pernah berbuat kesalahan. Tiada manusia yang sempurna. Jika kita ingin mencari pasangan, teman atau guru yang tidak memiliki kesalahan, maka selama-lamanya kita tidak akan pernah mendapatkannya. Islam membimbing kepada kita terkait bagaimana menyikapi berbagai kesalahan tersebut. Sikap yang dianjurkan dan dituntunkan adalah dengan bersikap taghaful (yaitu pura-pura tidak tahu dan mengabaikan kesalahan). Imam Syafi’i rahimahullah berkata, اَللَّبِيْبُ الْعَاقِلُ هُوَ الْفَطِنُ الْمُتَغَافِلُ “Orang yang cerdik pandai adalah orang yang taghaful.” (Lihat Mu’jam Ibn al Muqri`, 51) Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُل “Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda terkait terpujinya sifat taghaful, وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara!” (HR. Bukhari) Kapan dianjurkan taghaful? Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiat Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan istri dan pembantu beliau (Anas Bin Malik) adalah seringkali tidak menyalahkan mereka terhadap perkara dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي “Orang yang paling baik (akhlaknya) di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku.” (HR. Tirmidzi, lihat As-Sahihah, no. 285) Anas bin Malik mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling besar kasih sayangnya. “Suatu hari (sewaktu Anas masih kecil pen.), beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku berangkat, tetapi aku malah (terlupa) menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar, bukan melaksanakan tugas Rasulullah. Aku ingin bermain bersama mereka. Aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan tersenyum, beliau bersabda, ‘Wahai Unais (panggilan sayang Nabi ke Anas bin Malik), apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?’ Maka, aku pun salah tingkah, kemudian aku menjawab, ‘Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’” (HR. Muslim) Kedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak Allah Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika yang dicaci maki dan dihina adalah diri beliau pribadi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membalas. Allah Ta’ala berfirman, وَ لَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَ أُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ وَ لَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِ اْلمـُرْسَلِينَ “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am: 34) Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan suatu kisah tentang seorang Nabi di antara para nabi. Ia dipukul oleh kaumnya dan meneteskan darahnya. Lalu, ia sambil mengusap darah pada wajahnya ia berkata, اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim) Begitu pula tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilempari batu di Thaif, maka Allah utus malaikat penjaga gunung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diperintahkan melakukan apa saja untuk membalas orang-orang di Thaif. Malaikat (penjaga) gunung memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam, lalu berkata, “Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain (dua gunung di kota Makkah).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab, بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “(Tidak), namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Baca juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri? Teladan Nabi dalam menyikapi kesalahan Pertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ah Hatib bin Balta’ah merupakan salah satu sahabat Nabi yang ikut perang Badar dan berhijrah. Dan para sahabat yang ikut perang Badar mendapatkan keridaan Allah dan dijamin surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لن يدخلَ النارَ رجلٌ شَهِد بدرًا والحُدَيْبِيَة “Tidak akan masuk neraka orang yang ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiah.” (HR. Ahmad) إِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Sesungguhnya Allah mengawasi ahli Badar, lalu berfirman, ‘Lakukanlah apa yang kalian inginkan, karena sungguh, kalian telah Aku ampuni.'” (HR. Ahmad, 3: 322-323) Kesalahan yang pernah dilakukan adalah membocorkan rahasia kaum muslimin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berencana untuk menaklukkan kembali kota Makkah dari tangan kaum kafir Quraisy. Hatib menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada orang-orang Makkah untuk membocorkan strategi penyerangan dengan mengutus seseorang untuk membawa surat yang ditulisnya ke Makkah. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahuinya melalui malaikat jibril, sehingga beberapa sahabat diutus untuk mencegat perempuan pembawa surat itu. Tatkala Hatib disidang, maka ia berkata, “Jangan hukum Aku, wahai Rasulullah. Demi Allah, sesungguhnya aku ini beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak murtad dan tidak pula menukar agamaku. Wahai Rasulullah, kaum muhajirin yang ada di Makkah memiliki orang-orang yang melindungi keluarganya, sementara aku tidak. Aku bermaksud meminta tolong kepada mereka supaya tidak mengganggu keluargaku!” Para sahabat yang marah tetap menilai bahwa Hatib telah berkhianat bahkan Umar bin Khatab berkata, “Biarkan Aku penggal lehernya. Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.” Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkan dan mengingatkan tentang firman Allah di atas. (Lihat HR. Bukhari no. 4890 melalui https://dorar.net/hadith/sharh/6334, lihat Siyar A’lam al-Nubala’, 3: 32 dan Fatawa Mu’asirah oleh Al-Qaradhawi, hal. 176-177) Kedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُم،ْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ بَلْ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَة،ُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّه،ِ قَالَتْ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ (رواه مسلم) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan, ‘Assaamu ‘alaikum (racun/kematian bagimu).'” ‘Aisyah menjawab, “Bal ‘alaikumus saam wal la’nah. (Justru bagi kalian kematian dan laknat).” Maka, Rasulullah menasihati, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka?” Jawab beliau, “Ya, aku mendengarnya, dan aku telah menjawab, ‘wa’alaikum.’” (HR. Muslim) Dari hadis di atas menunjukkan bahwa tidak setiap keburukan harus dibalas dengan keburukan dan dianjurkan untuk mengabaikan tindakan bodoh orang yang jahat selagi tidak menimbulkan mafsadat (kerusakan). Baca juga: Kesalahan Memahami Makna Laa Ilaaha Illallah *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyikapi kesalahantaghaful

Bimbingan Islam dalam Menyikapi Kesalahan Orang Lain

Daftar Isi Toggle Kapan dianjurkan taghaful?Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiatKedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak AllahTeladan Nabi dalam menyikapi kesalahanPertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ahKedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi Kita sebagai seorang beriman harus senantiasa sadar bahwa setiap orang pasti pernah terjerumus ke dalam kesalahan. Bahkan, dua manusia yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala (Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimassalam) pun juga pernah berbuat kesalahan. Tiada manusia yang sempurna. Jika kita ingin mencari pasangan, teman atau guru yang tidak memiliki kesalahan, maka selama-lamanya kita tidak akan pernah mendapatkannya. Islam membimbing kepada kita terkait bagaimana menyikapi berbagai kesalahan tersebut. Sikap yang dianjurkan dan dituntunkan adalah dengan bersikap taghaful (yaitu pura-pura tidak tahu dan mengabaikan kesalahan). Imam Syafi’i rahimahullah berkata, اَللَّبِيْبُ الْعَاقِلُ هُوَ الْفَطِنُ الْمُتَغَافِلُ “Orang yang cerdik pandai adalah orang yang taghaful.” (Lihat Mu’jam Ibn al Muqri`, 51) Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُل “Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda terkait terpujinya sifat taghaful, وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara!” (HR. Bukhari) Kapan dianjurkan taghaful? Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiat Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan istri dan pembantu beliau (Anas Bin Malik) adalah seringkali tidak menyalahkan mereka terhadap perkara dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي “Orang yang paling baik (akhlaknya) di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku.” (HR. Tirmidzi, lihat As-Sahihah, no. 285) Anas bin Malik mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling besar kasih sayangnya. “Suatu hari (sewaktu Anas masih kecil pen.), beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku berangkat, tetapi aku malah (terlupa) menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar, bukan melaksanakan tugas Rasulullah. Aku ingin bermain bersama mereka. Aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan tersenyum, beliau bersabda, ‘Wahai Unais (panggilan sayang Nabi ke Anas bin Malik), apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?’ Maka, aku pun salah tingkah, kemudian aku menjawab, ‘Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’” (HR. Muslim) Kedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak Allah Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika yang dicaci maki dan dihina adalah diri beliau pribadi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membalas. Allah Ta’ala berfirman, وَ لَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَ أُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ وَ لَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِ اْلمـُرْسَلِينَ “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am: 34) Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan suatu kisah tentang seorang Nabi di antara para nabi. Ia dipukul oleh kaumnya dan meneteskan darahnya. Lalu, ia sambil mengusap darah pada wajahnya ia berkata, اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim) Begitu pula tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilempari batu di Thaif, maka Allah utus malaikat penjaga gunung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diperintahkan melakukan apa saja untuk membalas orang-orang di Thaif. Malaikat (penjaga) gunung memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam, lalu berkata, “Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain (dua gunung di kota Makkah).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab, بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “(Tidak), namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Baca juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri? Teladan Nabi dalam menyikapi kesalahan Pertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ah Hatib bin Balta’ah merupakan salah satu sahabat Nabi yang ikut perang Badar dan berhijrah. Dan para sahabat yang ikut perang Badar mendapatkan keridaan Allah dan dijamin surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لن يدخلَ النارَ رجلٌ شَهِد بدرًا والحُدَيْبِيَة “Tidak akan masuk neraka orang yang ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiah.” (HR. Ahmad) إِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Sesungguhnya Allah mengawasi ahli Badar, lalu berfirman, ‘Lakukanlah apa yang kalian inginkan, karena sungguh, kalian telah Aku ampuni.'” (HR. Ahmad, 3: 322-323) Kesalahan yang pernah dilakukan adalah membocorkan rahasia kaum muslimin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berencana untuk menaklukkan kembali kota Makkah dari tangan kaum kafir Quraisy. Hatib menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada orang-orang Makkah untuk membocorkan strategi penyerangan dengan mengutus seseorang untuk membawa surat yang ditulisnya ke Makkah. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahuinya melalui malaikat jibril, sehingga beberapa sahabat diutus untuk mencegat perempuan pembawa surat itu. Tatkala Hatib disidang, maka ia berkata, “Jangan hukum Aku, wahai Rasulullah. Demi Allah, sesungguhnya aku ini beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak murtad dan tidak pula menukar agamaku. Wahai Rasulullah, kaum muhajirin yang ada di Makkah memiliki orang-orang yang melindungi keluarganya, sementara aku tidak. Aku bermaksud meminta tolong kepada mereka supaya tidak mengganggu keluargaku!” Para sahabat yang marah tetap menilai bahwa Hatib telah berkhianat bahkan Umar bin Khatab berkata, “Biarkan Aku penggal lehernya. Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.” Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkan dan mengingatkan tentang firman Allah di atas. (Lihat HR. Bukhari no. 4890 melalui https://dorar.net/hadith/sharh/6334, lihat Siyar A’lam al-Nubala’, 3: 32 dan Fatawa Mu’asirah oleh Al-Qaradhawi, hal. 176-177) Kedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُم،ْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ بَلْ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَة،ُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّه،ِ قَالَتْ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ (رواه مسلم) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan, ‘Assaamu ‘alaikum (racun/kematian bagimu).'” ‘Aisyah menjawab, “Bal ‘alaikumus saam wal la’nah. (Justru bagi kalian kematian dan laknat).” Maka, Rasulullah menasihati, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka?” Jawab beliau, “Ya, aku mendengarnya, dan aku telah menjawab, ‘wa’alaikum.’” (HR. Muslim) Dari hadis di atas menunjukkan bahwa tidak setiap keburukan harus dibalas dengan keburukan dan dianjurkan untuk mengabaikan tindakan bodoh orang yang jahat selagi tidak menimbulkan mafsadat (kerusakan). Baca juga: Kesalahan Memahami Makna Laa Ilaaha Illallah *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyikapi kesalahantaghaful
Daftar Isi Toggle Kapan dianjurkan taghaful?Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiatKedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak AllahTeladan Nabi dalam menyikapi kesalahanPertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ahKedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi Kita sebagai seorang beriman harus senantiasa sadar bahwa setiap orang pasti pernah terjerumus ke dalam kesalahan. Bahkan, dua manusia yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala (Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimassalam) pun juga pernah berbuat kesalahan. Tiada manusia yang sempurna. Jika kita ingin mencari pasangan, teman atau guru yang tidak memiliki kesalahan, maka selama-lamanya kita tidak akan pernah mendapatkannya. Islam membimbing kepada kita terkait bagaimana menyikapi berbagai kesalahan tersebut. Sikap yang dianjurkan dan dituntunkan adalah dengan bersikap taghaful (yaitu pura-pura tidak tahu dan mengabaikan kesalahan). Imam Syafi’i rahimahullah berkata, اَللَّبِيْبُ الْعَاقِلُ هُوَ الْفَطِنُ الْمُتَغَافِلُ “Orang yang cerdik pandai adalah orang yang taghaful.” (Lihat Mu’jam Ibn al Muqri`, 51) Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُل “Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda terkait terpujinya sifat taghaful, وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara!” (HR. Bukhari) Kapan dianjurkan taghaful? Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiat Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan istri dan pembantu beliau (Anas Bin Malik) adalah seringkali tidak menyalahkan mereka terhadap perkara dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي “Orang yang paling baik (akhlaknya) di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku.” (HR. Tirmidzi, lihat As-Sahihah, no. 285) Anas bin Malik mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling besar kasih sayangnya. “Suatu hari (sewaktu Anas masih kecil pen.), beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku berangkat, tetapi aku malah (terlupa) menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar, bukan melaksanakan tugas Rasulullah. Aku ingin bermain bersama mereka. Aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan tersenyum, beliau bersabda, ‘Wahai Unais (panggilan sayang Nabi ke Anas bin Malik), apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?’ Maka, aku pun salah tingkah, kemudian aku menjawab, ‘Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’” (HR. Muslim) Kedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak Allah Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika yang dicaci maki dan dihina adalah diri beliau pribadi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membalas. Allah Ta’ala berfirman, وَ لَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَ أُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ وَ لَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِ اْلمـُرْسَلِينَ “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am: 34) Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan suatu kisah tentang seorang Nabi di antara para nabi. Ia dipukul oleh kaumnya dan meneteskan darahnya. Lalu, ia sambil mengusap darah pada wajahnya ia berkata, اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim) Begitu pula tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilempari batu di Thaif, maka Allah utus malaikat penjaga gunung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diperintahkan melakukan apa saja untuk membalas orang-orang di Thaif. Malaikat (penjaga) gunung memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam, lalu berkata, “Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain (dua gunung di kota Makkah).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab, بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “(Tidak), namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Baca juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri? Teladan Nabi dalam menyikapi kesalahan Pertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ah Hatib bin Balta’ah merupakan salah satu sahabat Nabi yang ikut perang Badar dan berhijrah. Dan para sahabat yang ikut perang Badar mendapatkan keridaan Allah dan dijamin surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لن يدخلَ النارَ رجلٌ شَهِد بدرًا والحُدَيْبِيَة “Tidak akan masuk neraka orang yang ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiah.” (HR. Ahmad) إِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Sesungguhnya Allah mengawasi ahli Badar, lalu berfirman, ‘Lakukanlah apa yang kalian inginkan, karena sungguh, kalian telah Aku ampuni.'” (HR. Ahmad, 3: 322-323) Kesalahan yang pernah dilakukan adalah membocorkan rahasia kaum muslimin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berencana untuk menaklukkan kembali kota Makkah dari tangan kaum kafir Quraisy. Hatib menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada orang-orang Makkah untuk membocorkan strategi penyerangan dengan mengutus seseorang untuk membawa surat yang ditulisnya ke Makkah. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahuinya melalui malaikat jibril, sehingga beberapa sahabat diutus untuk mencegat perempuan pembawa surat itu. Tatkala Hatib disidang, maka ia berkata, “Jangan hukum Aku, wahai Rasulullah. Demi Allah, sesungguhnya aku ini beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak murtad dan tidak pula menukar agamaku. Wahai Rasulullah, kaum muhajirin yang ada di Makkah memiliki orang-orang yang melindungi keluarganya, sementara aku tidak. Aku bermaksud meminta tolong kepada mereka supaya tidak mengganggu keluargaku!” Para sahabat yang marah tetap menilai bahwa Hatib telah berkhianat bahkan Umar bin Khatab berkata, “Biarkan Aku penggal lehernya. Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.” Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkan dan mengingatkan tentang firman Allah di atas. (Lihat HR. Bukhari no. 4890 melalui https://dorar.net/hadith/sharh/6334, lihat Siyar A’lam al-Nubala’, 3: 32 dan Fatawa Mu’asirah oleh Al-Qaradhawi, hal. 176-177) Kedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُم،ْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ بَلْ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَة،ُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّه،ِ قَالَتْ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ (رواه مسلم) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan, ‘Assaamu ‘alaikum (racun/kematian bagimu).'” ‘Aisyah menjawab, “Bal ‘alaikumus saam wal la’nah. (Justru bagi kalian kematian dan laknat).” Maka, Rasulullah menasihati, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka?” Jawab beliau, “Ya, aku mendengarnya, dan aku telah menjawab, ‘wa’alaikum.’” (HR. Muslim) Dari hadis di atas menunjukkan bahwa tidak setiap keburukan harus dibalas dengan keburukan dan dianjurkan untuk mengabaikan tindakan bodoh orang yang jahat selagi tidak menimbulkan mafsadat (kerusakan). Baca juga: Kesalahan Memahami Makna Laa Ilaaha Illallah *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyikapi kesalahantaghaful


Daftar Isi Toggle Kapan dianjurkan taghaful?Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiatKedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak AllahTeladan Nabi dalam menyikapi kesalahanPertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ahKedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi Kita sebagai seorang beriman harus senantiasa sadar bahwa setiap orang pasti pernah terjerumus ke dalam kesalahan. Bahkan, dua manusia yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala (Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimassalam) pun juga pernah berbuat kesalahan. Tiada manusia yang sempurna. Jika kita ingin mencari pasangan, teman atau guru yang tidak memiliki kesalahan, maka selama-lamanya kita tidak akan pernah mendapatkannya. Islam membimbing kepada kita terkait bagaimana menyikapi berbagai kesalahan tersebut. Sikap yang dianjurkan dan dituntunkan adalah dengan bersikap taghaful (yaitu pura-pura tidak tahu dan mengabaikan kesalahan). Imam Syafi’i rahimahullah berkata, اَللَّبِيْبُ الْعَاقِلُ هُوَ الْفَطِنُ الْمُتَغَافِلُ “Orang yang cerdik pandai adalah orang yang taghaful.” (Lihat Mu’jam Ibn al Muqri`, 51) Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُل “Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda terkait terpujinya sifat taghaful, وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara!” (HR. Bukhari) Kapan dianjurkan taghaful? Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiat Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan istri dan pembantu beliau (Anas Bin Malik) adalah seringkali tidak menyalahkan mereka terhadap perkara dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي “Orang yang paling baik (akhlaknya) di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku.” (HR. Tirmidzi, lihat As-Sahihah, no. 285) Anas bin Malik mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling besar kasih sayangnya. “Suatu hari (sewaktu Anas masih kecil pen.), beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku berangkat, tetapi aku malah (terlupa) menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar, bukan melaksanakan tugas Rasulullah. Aku ingin bermain bersama mereka. Aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan tersenyum, beliau bersabda, ‘Wahai Unais (panggilan sayang Nabi ke Anas bin Malik), apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?’ Maka, aku pun salah tingkah, kemudian aku menjawab, ‘Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’” (HR. Muslim) Kedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak Allah Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika yang dicaci maki dan dihina adalah diri beliau pribadi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membalas. Allah Ta’ala berfirman, وَ لَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَ أُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ وَ لَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِ اْلمـُرْسَلِينَ “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am: 34) Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan suatu kisah tentang seorang Nabi di antara para nabi. Ia dipukul oleh kaumnya dan meneteskan darahnya. Lalu, ia sambil mengusap darah pada wajahnya ia berkata, اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim) Begitu pula tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilempari batu di Thaif, maka Allah utus malaikat penjaga gunung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diperintahkan melakukan apa saja untuk membalas orang-orang di Thaif. Malaikat (penjaga) gunung memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam, lalu berkata, “Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain (dua gunung di kota Makkah).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab, بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “(Tidak), namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Baca juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri? Teladan Nabi dalam menyikapi kesalahan Pertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ah Hatib bin Balta’ah merupakan salah satu sahabat Nabi yang ikut perang Badar dan berhijrah. Dan para sahabat yang ikut perang Badar mendapatkan keridaan Allah dan dijamin surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لن يدخلَ النارَ رجلٌ شَهِد بدرًا والحُدَيْبِيَة “Tidak akan masuk neraka orang yang ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiah.” (HR. Ahmad) إِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Sesungguhnya Allah mengawasi ahli Badar, lalu berfirman, ‘Lakukanlah apa yang kalian inginkan, karena sungguh, kalian telah Aku ampuni.'” (HR. Ahmad, 3: 322-323) Kesalahan yang pernah dilakukan adalah membocorkan rahasia kaum muslimin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berencana untuk menaklukkan kembali kota Makkah dari tangan kaum kafir Quraisy. Hatib menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada orang-orang Makkah untuk membocorkan strategi penyerangan dengan mengutus seseorang untuk membawa surat yang ditulisnya ke Makkah. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahuinya melalui malaikat jibril, sehingga beberapa sahabat diutus untuk mencegat perempuan pembawa surat itu. Tatkala Hatib disidang, maka ia berkata, “Jangan hukum Aku, wahai Rasulullah. Demi Allah, sesungguhnya aku ini beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak murtad dan tidak pula menukar agamaku. Wahai Rasulullah, kaum muhajirin yang ada di Makkah memiliki orang-orang yang melindungi keluarganya, sementara aku tidak. Aku bermaksud meminta tolong kepada mereka supaya tidak mengganggu keluargaku!” Para sahabat yang marah tetap menilai bahwa Hatib telah berkhianat bahkan Umar bin Khatab berkata, “Biarkan Aku penggal lehernya. Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.” Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkan dan mengingatkan tentang firman Allah di atas. (Lihat HR. Bukhari no. 4890 melalui https://dorar.net/hadith/sharh/6334, lihat Siyar A’lam al-Nubala’, 3: 32 dan Fatawa Mu’asirah oleh Al-Qaradhawi, hal. 176-177) Kedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُم،ْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ بَلْ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَة،ُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّه،ِ قَالَتْ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ (رواه مسلم) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan, ‘Assaamu ‘alaikum (racun/kematian bagimu).'” ‘Aisyah menjawab, “Bal ‘alaikumus saam wal la’nah. (Justru bagi kalian kematian dan laknat).” Maka, Rasulullah menasihati, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka?” Jawab beliau, “Ya, aku mendengarnya, dan aku telah menjawab, ‘wa’alaikum.’” (HR. Muslim) Dari hadis di atas menunjukkan bahwa tidak setiap keburukan harus dibalas dengan keburukan dan dianjurkan untuk mengabaikan tindakan bodoh orang yang jahat selagi tidak menimbulkan mafsadat (kerusakan). Baca juga: Kesalahan Memahami Makna Laa Ilaaha Illallah *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyikapi kesalahantaghaful

Keutamaan Masjid al-Aqsa

فضائل المسجد الأقصى Keutamaan Masjid al-Aqṣā يزداد ألم المسلمين وأسفهم يوماً بعد يوم على الحال التي آل إليه المسجد الأقصى من تسلط اليهود المجرمين عليه وانتهاكهم لحرمته واعتدائهم على قدسيته ومكانته وارتكابهم فيه ومع أهله أنواعاً كثيرة من التعديات والإجرام Derita umat Islam dan duka mereka semakin hari semakin bertambah melihat bagaimana Masjid al-Aqṣā yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi durjana. Mereka melanggar kesuciannya, mengotori kemuliaan dan kedudukannya, dan berbuat nista terhadapnya dan para penghuninya dengan berbagai macam pelanggaran dan kejahatan. والمسجد الأقصى مسجد عظيم مبارك له مكانة عالية في نفوس المؤمنين ومنزلة رفيعة في قلوبهم ، فهو مسجد قد خص في الكتاب والسنة بميزات كثيرة وخصائص عديدة وفضائل جمة تدل على رفيع مكانته وعظيم قدره  Masjid al-Aqṣā adalah masjid yang mulia dan diberkahi, yang memiliki status yang mulia dalam jiwa orang-orang beriman dan kedudukan yang tinggi di dalam hati mereka. Inilah masjid yang dalam Kitab dan sunah secara khusus disebutkan keunggulannya bermacam-macam, karakteristik yang banyak, dan keutamaannya melimpah yang menunjukkan statusnya yang tinggi dan kedudukannya yang agung. فمن فضائل المسجد الأقصى أنه أحد المساجد الثلاثة المفضلة التي لا يجوز شد الرِّحال بنية التعبُّد إلا إليها ، فعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ : الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى)) [1]. Salah satu keutamaan Masjid al-Aqṣā adalah statusnya yang merupakan salah satu dari tiga masjid utama yang mana ada larangan untuk bersafar ke suatu masjid dengan niat beribadah kecuali ke tiga masjid tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Tidak boleh ‘mengikat pelana’ —maksudnya melakukan perjalanan— kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Masjidil Aqṣā.” [1] ومن فضائله أنه ثاني مسجد وضع في الأرض ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ )) قَالَ قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى )) ، قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ : (( أَرْبَعُونَ سَنَةً ، ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيهِ )) [2]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah masjid kedua yang diletakkan di muka bumi. Diriwayatkan dari Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di muka bumi?’ Beliau bersabda, ‘Masjidil Haram.'” Abu Dzar mengisahkan, “Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda, ‘Kemudian Masjidil Aqṣā.’ Aku bertanya, ‘Berapa lama selisih waktu antara keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun, kemudian di mana saja kamu mendapati (waktu) salat, maka salatlah karena di situlah keutamaannya.'” [2] ومن فضائله أنه قبلة المسلمين الأولى قبل نسخ القبلة وتحويلها إلى الكعبة ، فعن البراء رضي الله عنه قال : ((صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ – أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ – شَهْرًا ثُمَّ صَرَفَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ )) [3]. Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah kiblat pertama umat Islam sebelum ada nasakh arah kiblat dan dipindahkan ke Ka’bah. Diriwayatkan dari al-Barāʾ —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Kami pernah salat bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan —atau tujuh belas bulan— lalu dipindahkan ke arah kiblat (Ka’bah). [3] ومن فضائله أنه مسجد في أرض مباركة ، قال الله تعالى : {سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ } [الإسراء:1] . وقد قيل : لو لم تكن لهذا المسجد إلا هذه الفضيلة لكانت كافية . Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah masjid yang terletak di tanah yang berkah. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Mahasuci (Allah) Yang telah Memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqṣā yang telah Kami Berkahi sekelilingnya, …” (QS. Al-Isra’: 1). Oleh karena itu, ada sebuah pernyataan dilontarkan, “Andai masjid ini tidak memiliki keutamaan apapun kecuali keutamaan ini, maka ini sudah cukup.”  وأرضه هي أرض المحشر والمنشر ، فعن ميمونة مولاة النبي صلى الله عليه وسلم قالت : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ قَالَ (( أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَالْمَنْشَرِ … )) [4]. Tanahnya adalah tanah al-Maẖsyar dan al-Mansyar. Diriwayatkan dari Maimunah —bekas budak Rasulullah—, dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berikan aku penjelasan tentang Baitul Maqdis.’ Beliau menjawab, ‘Ia adalah tempat al-Maẖsyar (berkumpulnya manusia untuk dihisab, pent.) dan al-Mansyar (dibangkitkannya manusia setelah kematian, pent.).'” [4]  ومن فضائله أنه مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومنه عُرج به إلى السماء ، فعن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ)) [5]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah tujuan isra Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan permulaan mikraj beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ke langit. Diriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Didatangkan Burāq kepadaku, yaitu binatang tunggangan yang berwarna putih, lebih besar daripada keledai tetapi lebih kecil dari bagal. Ia meletakkan tubuhnya hingga perutnya menyentuh pangkal tubuhnya.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengisahkan, “Lantas aku menungganginya sehingga aku tiba di Baitul Maqdis.” Beliau bersabda, “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid yang biasanya juga para Nabi mengikat di situ.” Beliau melanjutnya, “Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan melakukan salat dua rakaat, kemudian aku keluar dan didatangi oleh Jibril ʿAlaihis Salām yang datang dengan membawa satu bejana berisi arak dan satu bejana berisi susu, maka aku memilih susu. Jibril ʿAlaihis Salām lantas berkata, ‘Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah,’ lalu ia membawaku naik menuju langit.” [5] ومن فضائله أن الصلاة فيه تضاعف ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : تَذَاكَرْنَا وَنَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ: مَسْجِدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَوْ مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيهِ ، وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى ، وَلَيُوشِكَنَّ أَنْ لَا يَكُونَ لِلرَّجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ الْأَرْضِ حَيْثُ يَرَى مِنْهُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا – أَوْ قَالَ: خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا – )) [6] Di antara keutamaannya, bahwa salat di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Diriwayatkan Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—dia berkata, “Kami saling bertukar pendapat di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang mana yang lebih utama, masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam atau Baitul Maqdis. Lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Satu salat di masjidku ini lebih utama daripada empat salat di sana, sungguh itulah sebaik-baik tempat salat. Sesungguhnya, hampir-hampir tiba masanya di mana seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya yang dari tempat itu dia bisa melihat Baitul Maqdis tapi itu lebih baik baginya dari dunia seluruhnya — atau, lebih baik dari dunia dan segala isinya.” [6] وهذا علم من أعلام نبوته صلى الله عليه وسلم ، حيث بيَّن ما سيؤول إليه المسجد الأقصى مع تعلُّق قلوب المسلمين به وأن مؤامرات الأعداء على المسجد الأقصى ستزداد ، حتى إن المؤمن ليتمنى أن يكون له موضع صغير يطلُّ منه على المسجد الأقصى ويكون ذلك أحبَّ إليه من الدنيا وما فيها  Ini adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kenabian beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, di mana beliau menjelaskan apa yang akan terjadi pada Masjidil Aqṣā serta keterikatan hati umat Islam dengannya dan bahwa konsipirasi musuh-musuh Islam terhadap Masjidil Aqṣā yang semakin menguat akan membuat orang beriman berangan-angan ingin memiliki secuil tempat yang dekat dari Masjidil Aqṣā yang mana hal itu akan lebih dicintainya daripada dunia dan seisinya.  ومن فضائله ما ورد في حديث عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ ثَلَاثًا : حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ ، وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لَأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ، وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ )) فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا ، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ)) [7]. Di antara keutamaannya juga adalah apa yang disebutkan dalam hadis Abdullah bin Amr bin al-ʿĀṣ —Semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Ketika Nabi Sulaiman bin Daud ʿAlaihimas Salām merampungkan pembangunan Baitul Maqdis, beliau ʿAlaihis Salām memohon kepada Allah tiga permintaan, (1) keputusan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, (2) kekuasaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun setelahnya, (3) dan agar tak seorang pun yang datang ke Masjidil Aqṣā dengan niat semata-mata untuk salat di dalamnya kecuali dihapuskan segala kesalahannya sehingga dia menjadi seperti ketika hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda, “Adapun permintaannya yang pertama dan kedua telah dikabulkan dan aku berharap semoga yang ketiga juga Allah Kabulkan.” [7] إنه لا يخفى على أيِّ مسلم ما يعانيه المسلمون في فلسطين من آلام وقتل وتشريد بسبب توالي الاعتداء الغاشم عليهم من اليهود المعتدين الغاصبين ، ولا يخفى أيضاً حاجة المسلمين في فلسطين وضرورتهم إلى الكساء والطعام والدواء . ولذا فإنَّ من الواجب على المسلمين المسارعة إلى نجدتهم ومدِّ يد المساعدة لهم والوقوف معهم في محنتهم حتى يتمكنوا من مقاومة عدوهم الذي يملك العدة والعتاد  Tidak samar bagi muslim manapun penderitaan yang dialami oleh kaum muslimin di Palestina, dari rasa sakit, pembunuhan, hingga pengusiran akibat serangan brutal yang bertubi-tubi oleh para penjajah lalim Yahudi. Tidak samar pula bagaimana kebutuhan dan hajat kaum muslimin di Palestina akan sandang, pangan, dan obat-obatan. Oleh karena itu, wajib bagi umat Islam untuk bersegera menyelamatkan mereka, mengulurkan tangan kepada mereka, dan berdiri bersama mereka dalam penderitaan mereka sehingga mereka dapat melawan musuh-musuh mereka yang memiliki persiapan dan peralatan lengkap. والله جل وعلا يثيب المؤمن على ما يقدِّم لإخوانه ثواباً عاجلاً وثواباً أخروياً يجد جزاءه في يوم لا ينفع فيه مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم ، قال الله تعالى {وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا } [المزمل:20] ، وقال تعالى : {وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ } [سبأ:39] . وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ …)) [8]. وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : (( … وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ )) [9]. Allah Subẖānahu wa Taʿālā akan Memberi ganjaran kepada orang beriman atas apa yang dia berikan untuk saudara-saudaranya dengan balasan di dunia dan ganjaran di akhirat. Dia akan mendapatkan balasannya pada hari di mana harta dan anak tidak lagi berguna kecuali jika dia datang menemui Allah dengan hati selamat. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Dia Subẖānahu wa Taʿālā juga Berfirman, “… dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan Menggantinya, karena Dialah Sang Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39). Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” [8] Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Sedekah itu memadamkan (menghapus) kesalahan seperti air memadamkan api.” [9] فجودوا عليهم أيها المسلمون بما أعطاكم الله ، واعطفوا عليهم يبارك لكم في مالكم ويخلف عليكم بخير ويضاعف لكم الأجر والثواب ، فعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (( …وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ)) [10] . Oleh sebab itu, berdermalah untuk mereka, wahai kaum muslimin! Bersimpatilah kepada mereka, agar Allah Memberkahi harta kalian, Mengganti untuk kalian dengan kebaikan, dan Melipat gandakan ganjaran dan pahala kalian. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan Membantu kebutuhannya.” [10]  وأن نكثر لهم من الدعاء بأن يجبر ضعفهم ويقوي شوكتهم ، وأن يرد كيد المعتدين في نحورهم ، وأن يكف بأس الذين كفروا والله أشد بأساً وأشد تنكيلا ، وأن يطهِّر المسجد الأقصى من أيدي الظلمة المعتدين والبغاة الغاصبين إنه سميع مجيب . ********* ________________ Hendaknya kita juga memperbanyak doa untuk mereka agar Allah Menutupi kelemahan mereka, Menguatkan kekuatan mereka, Mengembalikan makar orang-orang zalim ke leher-leher mereka sendiri, Menghentikan kekerasan dari orang-orang kafir, karena sesungguhnya Allah lebih dahsyat kekuatan-Nya dan lebih keras siksaan-Nya, dan Mensucikan Masjidil Aqṣā dari tangan-tangan orang zalim yang melampaui batas dan para penjajah yang membangkang, sesungguhnya Dia Subẖānahu wa Taʿālā Maha Mendengar dan Menjawab doa.  ********* ________________ [1] رواه البخاري (1189) ، ومسلم (1397) . [2] رواه البخاري (3366) ، ومسلم (520) . [3] رواه البخاري (4492) ، ومسلم (525) . [4] رواه ابن ماجه (1407) ، وصحح الألباني رحمه الله هذا القسم في (تخريج أحاديث فضائل الشام) رقم (4) . [5] رواه مسلم (162) . [6] رواه الحاكم (4/509) وصححه ، ووافقه الذهبي . [7] رواه النسائي (693) ، وابن ماجه (1408) وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح الترغيب) (1178) . [8] رواه مسلم (2588) . [9] رواه الترمذي (2616) ، وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح سنن الترمذي) (2110) . [10] رواه البخاري (2442) ، ومسلم (2580) . [1] Diriwayatkan oleh Bukhari (1189) dan Muslim (1397). [2] Diriwayatkan oleh Bukhari (3366) dan Muslim (520). [3] Diriwayatkan oleh Bukhari (4492) dan Muslim (525). [4] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1407), dan bagian ini disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Takhrīj Aẖādīts Faḏāil asy-Syām No. (4). [5] Diriwayatkan oleh Muslim (162). [6] Diriwayatkan oleh al-Hakim (4/509) dan dia menyahihkannya serta disetujui oleh az-Zahabi. [7] Diriwayatkan oleh an-Nasa’i (693) dan Ibnu Majah (1408), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ at-Targhīb (1178). [8] Diriwayatkan oleh Muslim (2588). [9] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2616), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ Sunan at-Tirmidzī (2110). [10] Diriwayatkan oleh Bukhari (2442) dan Muslim (2580). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2563 PDF sumber artikel 🔍 Naqsabandiyah, Diganggu Jin Saat Tidur, Panitia Qurban Idul Adha, Kumpulan Kehidupan Di Alam Barzah, Anak Hasil Perkawinan Jin Dan Manusia, Cara Mengatasi Istri Keras Kepala Visited 56 times, 1 visit(s) today Post Views: 280

Keutamaan Masjid al-Aqsa

فضائل المسجد الأقصى Keutamaan Masjid al-Aqṣā يزداد ألم المسلمين وأسفهم يوماً بعد يوم على الحال التي آل إليه المسجد الأقصى من تسلط اليهود المجرمين عليه وانتهاكهم لحرمته واعتدائهم على قدسيته ومكانته وارتكابهم فيه ومع أهله أنواعاً كثيرة من التعديات والإجرام Derita umat Islam dan duka mereka semakin hari semakin bertambah melihat bagaimana Masjid al-Aqṣā yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi durjana. Mereka melanggar kesuciannya, mengotori kemuliaan dan kedudukannya, dan berbuat nista terhadapnya dan para penghuninya dengan berbagai macam pelanggaran dan kejahatan. والمسجد الأقصى مسجد عظيم مبارك له مكانة عالية في نفوس المؤمنين ومنزلة رفيعة في قلوبهم ، فهو مسجد قد خص في الكتاب والسنة بميزات كثيرة وخصائص عديدة وفضائل جمة تدل على رفيع مكانته وعظيم قدره  Masjid al-Aqṣā adalah masjid yang mulia dan diberkahi, yang memiliki status yang mulia dalam jiwa orang-orang beriman dan kedudukan yang tinggi di dalam hati mereka. Inilah masjid yang dalam Kitab dan sunah secara khusus disebutkan keunggulannya bermacam-macam, karakteristik yang banyak, dan keutamaannya melimpah yang menunjukkan statusnya yang tinggi dan kedudukannya yang agung. فمن فضائل المسجد الأقصى أنه أحد المساجد الثلاثة المفضلة التي لا يجوز شد الرِّحال بنية التعبُّد إلا إليها ، فعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ : الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى)) [1]. Salah satu keutamaan Masjid al-Aqṣā adalah statusnya yang merupakan salah satu dari tiga masjid utama yang mana ada larangan untuk bersafar ke suatu masjid dengan niat beribadah kecuali ke tiga masjid tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Tidak boleh ‘mengikat pelana’ —maksudnya melakukan perjalanan— kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Masjidil Aqṣā.” [1] ومن فضائله أنه ثاني مسجد وضع في الأرض ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ )) قَالَ قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى )) ، قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ : (( أَرْبَعُونَ سَنَةً ، ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيهِ )) [2]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah masjid kedua yang diletakkan di muka bumi. Diriwayatkan dari Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di muka bumi?’ Beliau bersabda, ‘Masjidil Haram.'” Abu Dzar mengisahkan, “Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda, ‘Kemudian Masjidil Aqṣā.’ Aku bertanya, ‘Berapa lama selisih waktu antara keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun, kemudian di mana saja kamu mendapati (waktu) salat, maka salatlah karena di situlah keutamaannya.'” [2] ومن فضائله أنه قبلة المسلمين الأولى قبل نسخ القبلة وتحويلها إلى الكعبة ، فعن البراء رضي الله عنه قال : ((صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ – أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ – شَهْرًا ثُمَّ صَرَفَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ )) [3]. Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah kiblat pertama umat Islam sebelum ada nasakh arah kiblat dan dipindahkan ke Ka’bah. Diriwayatkan dari al-Barāʾ —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Kami pernah salat bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan —atau tujuh belas bulan— lalu dipindahkan ke arah kiblat (Ka’bah). [3] ومن فضائله أنه مسجد في أرض مباركة ، قال الله تعالى : {سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ } [الإسراء:1] . وقد قيل : لو لم تكن لهذا المسجد إلا هذه الفضيلة لكانت كافية . Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah masjid yang terletak di tanah yang berkah. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Mahasuci (Allah) Yang telah Memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqṣā yang telah Kami Berkahi sekelilingnya, …” (QS. Al-Isra’: 1). Oleh karena itu, ada sebuah pernyataan dilontarkan, “Andai masjid ini tidak memiliki keutamaan apapun kecuali keutamaan ini, maka ini sudah cukup.”  وأرضه هي أرض المحشر والمنشر ، فعن ميمونة مولاة النبي صلى الله عليه وسلم قالت : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ قَالَ (( أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَالْمَنْشَرِ … )) [4]. Tanahnya adalah tanah al-Maẖsyar dan al-Mansyar. Diriwayatkan dari Maimunah —bekas budak Rasulullah—, dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berikan aku penjelasan tentang Baitul Maqdis.’ Beliau menjawab, ‘Ia adalah tempat al-Maẖsyar (berkumpulnya manusia untuk dihisab, pent.) dan al-Mansyar (dibangkitkannya manusia setelah kematian, pent.).'” [4]  ومن فضائله أنه مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومنه عُرج به إلى السماء ، فعن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ)) [5]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah tujuan isra Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan permulaan mikraj beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ke langit. Diriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Didatangkan Burāq kepadaku, yaitu binatang tunggangan yang berwarna putih, lebih besar daripada keledai tetapi lebih kecil dari bagal. Ia meletakkan tubuhnya hingga perutnya menyentuh pangkal tubuhnya.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengisahkan, “Lantas aku menungganginya sehingga aku tiba di Baitul Maqdis.” Beliau bersabda, “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid yang biasanya juga para Nabi mengikat di situ.” Beliau melanjutnya, “Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan melakukan salat dua rakaat, kemudian aku keluar dan didatangi oleh Jibril ʿAlaihis Salām yang datang dengan membawa satu bejana berisi arak dan satu bejana berisi susu, maka aku memilih susu. Jibril ʿAlaihis Salām lantas berkata, ‘Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah,’ lalu ia membawaku naik menuju langit.” [5] ومن فضائله أن الصلاة فيه تضاعف ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : تَذَاكَرْنَا وَنَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ: مَسْجِدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَوْ مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيهِ ، وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى ، وَلَيُوشِكَنَّ أَنْ لَا يَكُونَ لِلرَّجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ الْأَرْضِ حَيْثُ يَرَى مِنْهُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا – أَوْ قَالَ: خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا – )) [6] Di antara keutamaannya, bahwa salat di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Diriwayatkan Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—dia berkata, “Kami saling bertukar pendapat di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang mana yang lebih utama, masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam atau Baitul Maqdis. Lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Satu salat di masjidku ini lebih utama daripada empat salat di sana, sungguh itulah sebaik-baik tempat salat. Sesungguhnya, hampir-hampir tiba masanya di mana seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya yang dari tempat itu dia bisa melihat Baitul Maqdis tapi itu lebih baik baginya dari dunia seluruhnya — atau, lebih baik dari dunia dan segala isinya.” [6] وهذا علم من أعلام نبوته صلى الله عليه وسلم ، حيث بيَّن ما سيؤول إليه المسجد الأقصى مع تعلُّق قلوب المسلمين به وأن مؤامرات الأعداء على المسجد الأقصى ستزداد ، حتى إن المؤمن ليتمنى أن يكون له موضع صغير يطلُّ منه على المسجد الأقصى ويكون ذلك أحبَّ إليه من الدنيا وما فيها  Ini adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kenabian beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, di mana beliau menjelaskan apa yang akan terjadi pada Masjidil Aqṣā serta keterikatan hati umat Islam dengannya dan bahwa konsipirasi musuh-musuh Islam terhadap Masjidil Aqṣā yang semakin menguat akan membuat orang beriman berangan-angan ingin memiliki secuil tempat yang dekat dari Masjidil Aqṣā yang mana hal itu akan lebih dicintainya daripada dunia dan seisinya.  ومن فضائله ما ورد في حديث عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ ثَلَاثًا : حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ ، وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لَأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ، وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ )) فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا ، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ)) [7]. Di antara keutamaannya juga adalah apa yang disebutkan dalam hadis Abdullah bin Amr bin al-ʿĀṣ —Semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Ketika Nabi Sulaiman bin Daud ʿAlaihimas Salām merampungkan pembangunan Baitul Maqdis, beliau ʿAlaihis Salām memohon kepada Allah tiga permintaan, (1) keputusan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, (2) kekuasaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun setelahnya, (3) dan agar tak seorang pun yang datang ke Masjidil Aqṣā dengan niat semata-mata untuk salat di dalamnya kecuali dihapuskan segala kesalahannya sehingga dia menjadi seperti ketika hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda, “Adapun permintaannya yang pertama dan kedua telah dikabulkan dan aku berharap semoga yang ketiga juga Allah Kabulkan.” [7] إنه لا يخفى على أيِّ مسلم ما يعانيه المسلمون في فلسطين من آلام وقتل وتشريد بسبب توالي الاعتداء الغاشم عليهم من اليهود المعتدين الغاصبين ، ولا يخفى أيضاً حاجة المسلمين في فلسطين وضرورتهم إلى الكساء والطعام والدواء . ولذا فإنَّ من الواجب على المسلمين المسارعة إلى نجدتهم ومدِّ يد المساعدة لهم والوقوف معهم في محنتهم حتى يتمكنوا من مقاومة عدوهم الذي يملك العدة والعتاد  Tidak samar bagi muslim manapun penderitaan yang dialami oleh kaum muslimin di Palestina, dari rasa sakit, pembunuhan, hingga pengusiran akibat serangan brutal yang bertubi-tubi oleh para penjajah lalim Yahudi. Tidak samar pula bagaimana kebutuhan dan hajat kaum muslimin di Palestina akan sandang, pangan, dan obat-obatan. Oleh karena itu, wajib bagi umat Islam untuk bersegera menyelamatkan mereka, mengulurkan tangan kepada mereka, dan berdiri bersama mereka dalam penderitaan mereka sehingga mereka dapat melawan musuh-musuh mereka yang memiliki persiapan dan peralatan lengkap. والله جل وعلا يثيب المؤمن على ما يقدِّم لإخوانه ثواباً عاجلاً وثواباً أخروياً يجد جزاءه في يوم لا ينفع فيه مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم ، قال الله تعالى {وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا } [المزمل:20] ، وقال تعالى : {وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ } [سبأ:39] . وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ …)) [8]. وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : (( … وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ )) [9]. Allah Subẖānahu wa Taʿālā akan Memberi ganjaran kepada orang beriman atas apa yang dia berikan untuk saudara-saudaranya dengan balasan di dunia dan ganjaran di akhirat. Dia akan mendapatkan balasannya pada hari di mana harta dan anak tidak lagi berguna kecuali jika dia datang menemui Allah dengan hati selamat. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Dia Subẖānahu wa Taʿālā juga Berfirman, “… dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan Menggantinya, karena Dialah Sang Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39). Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” [8] Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Sedekah itu memadamkan (menghapus) kesalahan seperti air memadamkan api.” [9] فجودوا عليهم أيها المسلمون بما أعطاكم الله ، واعطفوا عليهم يبارك لكم في مالكم ويخلف عليكم بخير ويضاعف لكم الأجر والثواب ، فعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (( …وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ)) [10] . Oleh sebab itu, berdermalah untuk mereka, wahai kaum muslimin! Bersimpatilah kepada mereka, agar Allah Memberkahi harta kalian, Mengganti untuk kalian dengan kebaikan, dan Melipat gandakan ganjaran dan pahala kalian. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan Membantu kebutuhannya.” [10]  وأن نكثر لهم من الدعاء بأن يجبر ضعفهم ويقوي شوكتهم ، وأن يرد كيد المعتدين في نحورهم ، وأن يكف بأس الذين كفروا والله أشد بأساً وأشد تنكيلا ، وأن يطهِّر المسجد الأقصى من أيدي الظلمة المعتدين والبغاة الغاصبين إنه سميع مجيب . ********* ________________ Hendaknya kita juga memperbanyak doa untuk mereka agar Allah Menutupi kelemahan mereka, Menguatkan kekuatan mereka, Mengembalikan makar orang-orang zalim ke leher-leher mereka sendiri, Menghentikan kekerasan dari orang-orang kafir, karena sesungguhnya Allah lebih dahsyat kekuatan-Nya dan lebih keras siksaan-Nya, dan Mensucikan Masjidil Aqṣā dari tangan-tangan orang zalim yang melampaui batas dan para penjajah yang membangkang, sesungguhnya Dia Subẖānahu wa Taʿālā Maha Mendengar dan Menjawab doa.  ********* ________________ [1] رواه البخاري (1189) ، ومسلم (1397) . [2] رواه البخاري (3366) ، ومسلم (520) . [3] رواه البخاري (4492) ، ومسلم (525) . [4] رواه ابن ماجه (1407) ، وصحح الألباني رحمه الله هذا القسم في (تخريج أحاديث فضائل الشام) رقم (4) . [5] رواه مسلم (162) . [6] رواه الحاكم (4/509) وصححه ، ووافقه الذهبي . [7] رواه النسائي (693) ، وابن ماجه (1408) وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح الترغيب) (1178) . [8] رواه مسلم (2588) . [9] رواه الترمذي (2616) ، وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح سنن الترمذي) (2110) . [10] رواه البخاري (2442) ، ومسلم (2580) . [1] Diriwayatkan oleh Bukhari (1189) dan Muslim (1397). [2] Diriwayatkan oleh Bukhari (3366) dan Muslim (520). [3] Diriwayatkan oleh Bukhari (4492) dan Muslim (525). [4] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1407), dan bagian ini disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Takhrīj Aẖādīts Faḏāil asy-Syām No. (4). [5] Diriwayatkan oleh Muslim (162). [6] Diriwayatkan oleh al-Hakim (4/509) dan dia menyahihkannya serta disetujui oleh az-Zahabi. [7] Diriwayatkan oleh an-Nasa’i (693) dan Ibnu Majah (1408), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ at-Targhīb (1178). [8] Diriwayatkan oleh Muslim (2588). [9] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2616), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ Sunan at-Tirmidzī (2110). [10] Diriwayatkan oleh Bukhari (2442) dan Muslim (2580). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2563 PDF sumber artikel 🔍 Naqsabandiyah, Diganggu Jin Saat Tidur, Panitia Qurban Idul Adha, Kumpulan Kehidupan Di Alam Barzah, Anak Hasil Perkawinan Jin Dan Manusia, Cara Mengatasi Istri Keras Kepala Visited 56 times, 1 visit(s) today Post Views: 280
فضائل المسجد الأقصى Keutamaan Masjid al-Aqṣā يزداد ألم المسلمين وأسفهم يوماً بعد يوم على الحال التي آل إليه المسجد الأقصى من تسلط اليهود المجرمين عليه وانتهاكهم لحرمته واعتدائهم على قدسيته ومكانته وارتكابهم فيه ومع أهله أنواعاً كثيرة من التعديات والإجرام Derita umat Islam dan duka mereka semakin hari semakin bertambah melihat bagaimana Masjid al-Aqṣā yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi durjana. Mereka melanggar kesuciannya, mengotori kemuliaan dan kedudukannya, dan berbuat nista terhadapnya dan para penghuninya dengan berbagai macam pelanggaran dan kejahatan. والمسجد الأقصى مسجد عظيم مبارك له مكانة عالية في نفوس المؤمنين ومنزلة رفيعة في قلوبهم ، فهو مسجد قد خص في الكتاب والسنة بميزات كثيرة وخصائص عديدة وفضائل جمة تدل على رفيع مكانته وعظيم قدره  Masjid al-Aqṣā adalah masjid yang mulia dan diberkahi, yang memiliki status yang mulia dalam jiwa orang-orang beriman dan kedudukan yang tinggi di dalam hati mereka. Inilah masjid yang dalam Kitab dan sunah secara khusus disebutkan keunggulannya bermacam-macam, karakteristik yang banyak, dan keutamaannya melimpah yang menunjukkan statusnya yang tinggi dan kedudukannya yang agung. فمن فضائل المسجد الأقصى أنه أحد المساجد الثلاثة المفضلة التي لا يجوز شد الرِّحال بنية التعبُّد إلا إليها ، فعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ : الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى)) [1]. Salah satu keutamaan Masjid al-Aqṣā adalah statusnya yang merupakan salah satu dari tiga masjid utama yang mana ada larangan untuk bersafar ke suatu masjid dengan niat beribadah kecuali ke tiga masjid tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Tidak boleh ‘mengikat pelana’ —maksudnya melakukan perjalanan— kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Masjidil Aqṣā.” [1] ومن فضائله أنه ثاني مسجد وضع في الأرض ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ )) قَالَ قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى )) ، قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ : (( أَرْبَعُونَ سَنَةً ، ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيهِ )) [2]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah masjid kedua yang diletakkan di muka bumi. Diriwayatkan dari Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di muka bumi?’ Beliau bersabda, ‘Masjidil Haram.'” Abu Dzar mengisahkan, “Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda, ‘Kemudian Masjidil Aqṣā.’ Aku bertanya, ‘Berapa lama selisih waktu antara keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun, kemudian di mana saja kamu mendapati (waktu) salat, maka salatlah karena di situlah keutamaannya.'” [2] ومن فضائله أنه قبلة المسلمين الأولى قبل نسخ القبلة وتحويلها إلى الكعبة ، فعن البراء رضي الله عنه قال : ((صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ – أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ – شَهْرًا ثُمَّ صَرَفَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ )) [3]. Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah kiblat pertama umat Islam sebelum ada nasakh arah kiblat dan dipindahkan ke Ka’bah. Diriwayatkan dari al-Barāʾ —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Kami pernah salat bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan —atau tujuh belas bulan— lalu dipindahkan ke arah kiblat (Ka’bah). [3] ومن فضائله أنه مسجد في أرض مباركة ، قال الله تعالى : {سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ } [الإسراء:1] . وقد قيل : لو لم تكن لهذا المسجد إلا هذه الفضيلة لكانت كافية . Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah masjid yang terletak di tanah yang berkah. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Mahasuci (Allah) Yang telah Memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqṣā yang telah Kami Berkahi sekelilingnya, …” (QS. Al-Isra’: 1). Oleh karena itu, ada sebuah pernyataan dilontarkan, “Andai masjid ini tidak memiliki keutamaan apapun kecuali keutamaan ini, maka ini sudah cukup.”  وأرضه هي أرض المحشر والمنشر ، فعن ميمونة مولاة النبي صلى الله عليه وسلم قالت : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ قَالَ (( أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَالْمَنْشَرِ … )) [4]. Tanahnya adalah tanah al-Maẖsyar dan al-Mansyar. Diriwayatkan dari Maimunah —bekas budak Rasulullah—, dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berikan aku penjelasan tentang Baitul Maqdis.’ Beliau menjawab, ‘Ia adalah tempat al-Maẖsyar (berkumpulnya manusia untuk dihisab, pent.) dan al-Mansyar (dibangkitkannya manusia setelah kematian, pent.).'” [4]  ومن فضائله أنه مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومنه عُرج به إلى السماء ، فعن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ)) [5]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah tujuan isra Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan permulaan mikraj beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ke langit. Diriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Didatangkan Burāq kepadaku, yaitu binatang tunggangan yang berwarna putih, lebih besar daripada keledai tetapi lebih kecil dari bagal. Ia meletakkan tubuhnya hingga perutnya menyentuh pangkal tubuhnya.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengisahkan, “Lantas aku menungganginya sehingga aku tiba di Baitul Maqdis.” Beliau bersabda, “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid yang biasanya juga para Nabi mengikat di situ.” Beliau melanjutnya, “Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan melakukan salat dua rakaat, kemudian aku keluar dan didatangi oleh Jibril ʿAlaihis Salām yang datang dengan membawa satu bejana berisi arak dan satu bejana berisi susu, maka aku memilih susu. Jibril ʿAlaihis Salām lantas berkata, ‘Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah,’ lalu ia membawaku naik menuju langit.” [5] ومن فضائله أن الصلاة فيه تضاعف ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : تَذَاكَرْنَا وَنَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ: مَسْجِدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَوْ مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيهِ ، وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى ، وَلَيُوشِكَنَّ أَنْ لَا يَكُونَ لِلرَّجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ الْأَرْضِ حَيْثُ يَرَى مِنْهُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا – أَوْ قَالَ: خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا – )) [6] Di antara keutamaannya, bahwa salat di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Diriwayatkan Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—dia berkata, “Kami saling bertukar pendapat di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang mana yang lebih utama, masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam atau Baitul Maqdis. Lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Satu salat di masjidku ini lebih utama daripada empat salat di sana, sungguh itulah sebaik-baik tempat salat. Sesungguhnya, hampir-hampir tiba masanya di mana seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya yang dari tempat itu dia bisa melihat Baitul Maqdis tapi itu lebih baik baginya dari dunia seluruhnya — atau, lebih baik dari dunia dan segala isinya.” [6] وهذا علم من أعلام نبوته صلى الله عليه وسلم ، حيث بيَّن ما سيؤول إليه المسجد الأقصى مع تعلُّق قلوب المسلمين به وأن مؤامرات الأعداء على المسجد الأقصى ستزداد ، حتى إن المؤمن ليتمنى أن يكون له موضع صغير يطلُّ منه على المسجد الأقصى ويكون ذلك أحبَّ إليه من الدنيا وما فيها  Ini adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kenabian beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, di mana beliau menjelaskan apa yang akan terjadi pada Masjidil Aqṣā serta keterikatan hati umat Islam dengannya dan bahwa konsipirasi musuh-musuh Islam terhadap Masjidil Aqṣā yang semakin menguat akan membuat orang beriman berangan-angan ingin memiliki secuil tempat yang dekat dari Masjidil Aqṣā yang mana hal itu akan lebih dicintainya daripada dunia dan seisinya.  ومن فضائله ما ورد في حديث عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ ثَلَاثًا : حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ ، وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لَأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ، وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ )) فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا ، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ)) [7]. Di antara keutamaannya juga adalah apa yang disebutkan dalam hadis Abdullah bin Amr bin al-ʿĀṣ —Semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Ketika Nabi Sulaiman bin Daud ʿAlaihimas Salām merampungkan pembangunan Baitul Maqdis, beliau ʿAlaihis Salām memohon kepada Allah tiga permintaan, (1) keputusan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, (2) kekuasaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun setelahnya, (3) dan agar tak seorang pun yang datang ke Masjidil Aqṣā dengan niat semata-mata untuk salat di dalamnya kecuali dihapuskan segala kesalahannya sehingga dia menjadi seperti ketika hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda, “Adapun permintaannya yang pertama dan kedua telah dikabulkan dan aku berharap semoga yang ketiga juga Allah Kabulkan.” [7] إنه لا يخفى على أيِّ مسلم ما يعانيه المسلمون في فلسطين من آلام وقتل وتشريد بسبب توالي الاعتداء الغاشم عليهم من اليهود المعتدين الغاصبين ، ولا يخفى أيضاً حاجة المسلمين في فلسطين وضرورتهم إلى الكساء والطعام والدواء . ولذا فإنَّ من الواجب على المسلمين المسارعة إلى نجدتهم ومدِّ يد المساعدة لهم والوقوف معهم في محنتهم حتى يتمكنوا من مقاومة عدوهم الذي يملك العدة والعتاد  Tidak samar bagi muslim manapun penderitaan yang dialami oleh kaum muslimin di Palestina, dari rasa sakit, pembunuhan, hingga pengusiran akibat serangan brutal yang bertubi-tubi oleh para penjajah lalim Yahudi. Tidak samar pula bagaimana kebutuhan dan hajat kaum muslimin di Palestina akan sandang, pangan, dan obat-obatan. Oleh karena itu, wajib bagi umat Islam untuk bersegera menyelamatkan mereka, mengulurkan tangan kepada mereka, dan berdiri bersama mereka dalam penderitaan mereka sehingga mereka dapat melawan musuh-musuh mereka yang memiliki persiapan dan peralatan lengkap. والله جل وعلا يثيب المؤمن على ما يقدِّم لإخوانه ثواباً عاجلاً وثواباً أخروياً يجد جزاءه في يوم لا ينفع فيه مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم ، قال الله تعالى {وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا } [المزمل:20] ، وقال تعالى : {وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ } [سبأ:39] . وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ …)) [8]. وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : (( … وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ )) [9]. Allah Subẖānahu wa Taʿālā akan Memberi ganjaran kepada orang beriman atas apa yang dia berikan untuk saudara-saudaranya dengan balasan di dunia dan ganjaran di akhirat. Dia akan mendapatkan balasannya pada hari di mana harta dan anak tidak lagi berguna kecuali jika dia datang menemui Allah dengan hati selamat. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Dia Subẖānahu wa Taʿālā juga Berfirman, “… dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan Menggantinya, karena Dialah Sang Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39). Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” [8] Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Sedekah itu memadamkan (menghapus) kesalahan seperti air memadamkan api.” [9] فجودوا عليهم أيها المسلمون بما أعطاكم الله ، واعطفوا عليهم يبارك لكم في مالكم ويخلف عليكم بخير ويضاعف لكم الأجر والثواب ، فعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (( …وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ)) [10] . Oleh sebab itu, berdermalah untuk mereka, wahai kaum muslimin! Bersimpatilah kepada mereka, agar Allah Memberkahi harta kalian, Mengganti untuk kalian dengan kebaikan, dan Melipat gandakan ganjaran dan pahala kalian. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan Membantu kebutuhannya.” [10]  وأن نكثر لهم من الدعاء بأن يجبر ضعفهم ويقوي شوكتهم ، وأن يرد كيد المعتدين في نحورهم ، وأن يكف بأس الذين كفروا والله أشد بأساً وأشد تنكيلا ، وأن يطهِّر المسجد الأقصى من أيدي الظلمة المعتدين والبغاة الغاصبين إنه سميع مجيب . ********* ________________ Hendaknya kita juga memperbanyak doa untuk mereka agar Allah Menutupi kelemahan mereka, Menguatkan kekuatan mereka, Mengembalikan makar orang-orang zalim ke leher-leher mereka sendiri, Menghentikan kekerasan dari orang-orang kafir, karena sesungguhnya Allah lebih dahsyat kekuatan-Nya dan lebih keras siksaan-Nya, dan Mensucikan Masjidil Aqṣā dari tangan-tangan orang zalim yang melampaui batas dan para penjajah yang membangkang, sesungguhnya Dia Subẖānahu wa Taʿālā Maha Mendengar dan Menjawab doa.  ********* ________________ [1] رواه البخاري (1189) ، ومسلم (1397) . [2] رواه البخاري (3366) ، ومسلم (520) . [3] رواه البخاري (4492) ، ومسلم (525) . [4] رواه ابن ماجه (1407) ، وصحح الألباني رحمه الله هذا القسم في (تخريج أحاديث فضائل الشام) رقم (4) . [5] رواه مسلم (162) . [6] رواه الحاكم (4/509) وصححه ، ووافقه الذهبي . [7] رواه النسائي (693) ، وابن ماجه (1408) وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح الترغيب) (1178) . [8] رواه مسلم (2588) . [9] رواه الترمذي (2616) ، وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح سنن الترمذي) (2110) . [10] رواه البخاري (2442) ، ومسلم (2580) . [1] Diriwayatkan oleh Bukhari (1189) dan Muslim (1397). [2] Diriwayatkan oleh Bukhari (3366) dan Muslim (520). [3] Diriwayatkan oleh Bukhari (4492) dan Muslim (525). [4] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1407), dan bagian ini disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Takhrīj Aẖādīts Faḏāil asy-Syām No. (4). [5] Diriwayatkan oleh Muslim (162). [6] Diriwayatkan oleh al-Hakim (4/509) dan dia menyahihkannya serta disetujui oleh az-Zahabi. [7] Diriwayatkan oleh an-Nasa’i (693) dan Ibnu Majah (1408), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ at-Targhīb (1178). [8] Diriwayatkan oleh Muslim (2588). [9] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2616), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ Sunan at-Tirmidzī (2110). [10] Diriwayatkan oleh Bukhari (2442) dan Muslim (2580). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2563 PDF sumber artikel 🔍 Naqsabandiyah, Diganggu Jin Saat Tidur, Panitia Qurban Idul Adha, Kumpulan Kehidupan Di Alam Barzah, Anak Hasil Perkawinan Jin Dan Manusia, Cara Mengatasi Istri Keras Kepala Visited 56 times, 1 visit(s) today Post Views: 280


فضائل المسجد الأقصى Keutamaan Masjid al-Aqṣā يزداد ألم المسلمين وأسفهم يوماً بعد يوم على الحال التي آل إليه المسجد الأقصى من تسلط اليهود المجرمين عليه وانتهاكهم لحرمته واعتدائهم على قدسيته ومكانته وارتكابهم فيه ومع أهله أنواعاً كثيرة من التعديات والإجرام Derita umat Islam dan duka mereka semakin hari semakin bertambah melihat bagaimana Masjid al-Aqṣā yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi durjana. Mereka melanggar kesuciannya, mengotori kemuliaan dan kedudukannya, dan berbuat nista terhadapnya dan para penghuninya dengan berbagai macam pelanggaran dan kejahatan. والمسجد الأقصى مسجد عظيم مبارك له مكانة عالية في نفوس المؤمنين ومنزلة رفيعة في قلوبهم ، فهو مسجد قد خص في الكتاب والسنة بميزات كثيرة وخصائص عديدة وفضائل جمة تدل على رفيع مكانته وعظيم قدره  Masjid al-Aqṣā adalah masjid yang mulia dan diberkahi, yang memiliki status yang mulia dalam jiwa orang-orang beriman dan kedudukan yang tinggi di dalam hati mereka. Inilah masjid yang dalam Kitab dan sunah secara khusus disebutkan keunggulannya bermacam-macam, karakteristik yang banyak, dan keutamaannya melimpah yang menunjukkan statusnya yang tinggi dan kedudukannya yang agung. فمن فضائل المسجد الأقصى أنه أحد المساجد الثلاثة المفضلة التي لا يجوز شد الرِّحال بنية التعبُّد إلا إليها ، فعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ : الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى)) [1]. Salah satu keutamaan Masjid al-Aqṣā adalah statusnya yang merupakan salah satu dari tiga masjid utama yang mana ada larangan untuk bersafar ke suatu masjid dengan niat beribadah kecuali ke tiga masjid tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Tidak boleh ‘mengikat pelana’ —maksudnya melakukan perjalanan— kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Masjidil Aqṣā.” [1] ومن فضائله أنه ثاني مسجد وضع في الأرض ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ )) قَالَ قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى )) ، قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ : (( أَرْبَعُونَ سَنَةً ، ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيهِ )) [2]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah masjid kedua yang diletakkan di muka bumi. Diriwayatkan dari Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di muka bumi?’ Beliau bersabda, ‘Masjidil Haram.'” Abu Dzar mengisahkan, “Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda, ‘Kemudian Masjidil Aqṣā.’ Aku bertanya, ‘Berapa lama selisih waktu antara keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun, kemudian di mana saja kamu mendapati (waktu) salat, maka salatlah karena di situlah keutamaannya.'” [2] ومن فضائله أنه قبلة المسلمين الأولى قبل نسخ القبلة وتحويلها إلى الكعبة ، فعن البراء رضي الله عنه قال : ((صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ – أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ – شَهْرًا ثُمَّ صَرَفَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ )) [3]. Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah kiblat pertama umat Islam sebelum ada nasakh arah kiblat dan dipindahkan ke Ka’bah. Diriwayatkan dari al-Barāʾ —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Kami pernah salat bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan —atau tujuh belas bulan— lalu dipindahkan ke arah kiblat (Ka’bah). [3] ومن فضائله أنه مسجد في أرض مباركة ، قال الله تعالى : {سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ } [الإسراء:1] . وقد قيل : لو لم تكن لهذا المسجد إلا هذه الفضيلة لكانت كافية . Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah masjid yang terletak di tanah yang berkah. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Mahasuci (Allah) Yang telah Memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqṣā yang telah Kami Berkahi sekelilingnya, …” (QS. Al-Isra’: 1). Oleh karena itu, ada sebuah pernyataan dilontarkan, “Andai masjid ini tidak memiliki keutamaan apapun kecuali keutamaan ini, maka ini sudah cukup.”  وأرضه هي أرض المحشر والمنشر ، فعن ميمونة مولاة النبي صلى الله عليه وسلم قالت : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ قَالَ (( أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَالْمَنْشَرِ … )) [4]. Tanahnya adalah tanah al-Maẖsyar dan al-Mansyar. Diriwayatkan dari Maimunah —bekas budak Rasulullah—, dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berikan aku penjelasan tentang Baitul Maqdis.’ Beliau menjawab, ‘Ia adalah tempat al-Maẖsyar (berkumpulnya manusia untuk dihisab, pent.) dan al-Mansyar (dibangkitkannya manusia setelah kematian, pent.).'” [4]  ومن فضائله أنه مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومنه عُرج به إلى السماء ، فعن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ)) [5]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah tujuan isra Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan permulaan mikraj beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ke langit. Diriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Didatangkan Burāq kepadaku, yaitu binatang tunggangan yang berwarna putih, lebih besar daripada keledai tetapi lebih kecil dari bagal. Ia meletakkan tubuhnya hingga perutnya menyentuh pangkal tubuhnya.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengisahkan, “Lantas aku menungganginya sehingga aku tiba di Baitul Maqdis.” Beliau bersabda, “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid yang biasanya juga para Nabi mengikat di situ.” Beliau melanjutnya, “Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan melakukan salat dua rakaat, kemudian aku keluar dan didatangi oleh Jibril ʿAlaihis Salām yang datang dengan membawa satu bejana berisi arak dan satu bejana berisi susu, maka aku memilih susu. Jibril ʿAlaihis Salām lantas berkata, ‘Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah,’ lalu ia membawaku naik menuju langit.” [5] ومن فضائله أن الصلاة فيه تضاعف ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : تَذَاكَرْنَا وَنَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ: مَسْجِدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَوْ مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيهِ ، وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى ، وَلَيُوشِكَنَّ أَنْ لَا يَكُونَ لِلرَّجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ الْأَرْضِ حَيْثُ يَرَى مِنْهُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا – أَوْ قَالَ: خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا – )) [6] Di antara keutamaannya, bahwa salat di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Diriwayatkan Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—dia berkata, “Kami saling bertukar pendapat di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang mana yang lebih utama, masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam atau Baitul Maqdis. Lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Satu salat di masjidku ini lebih utama daripada empat salat di sana, sungguh itulah sebaik-baik tempat salat. Sesungguhnya, hampir-hampir tiba masanya di mana seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya yang dari tempat itu dia bisa melihat Baitul Maqdis tapi itu lebih baik baginya dari dunia seluruhnya — atau, lebih baik dari dunia dan segala isinya.” [6] وهذا علم من أعلام نبوته صلى الله عليه وسلم ، حيث بيَّن ما سيؤول إليه المسجد الأقصى مع تعلُّق قلوب المسلمين به وأن مؤامرات الأعداء على المسجد الأقصى ستزداد ، حتى إن المؤمن ليتمنى أن يكون له موضع صغير يطلُّ منه على المسجد الأقصى ويكون ذلك أحبَّ إليه من الدنيا وما فيها  Ini adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kenabian beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, di mana beliau menjelaskan apa yang akan terjadi pada Masjidil Aqṣā serta keterikatan hati umat Islam dengannya dan bahwa konsipirasi musuh-musuh Islam terhadap Masjidil Aqṣā yang semakin menguat akan membuat orang beriman berangan-angan ingin memiliki secuil tempat yang dekat dari Masjidil Aqṣā yang mana hal itu akan lebih dicintainya daripada dunia dan seisinya.  ومن فضائله ما ورد في حديث عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ ثَلَاثًا : حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ ، وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لَأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ، وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ )) فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا ، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ)) [7]. Di antara keutamaannya juga adalah apa yang disebutkan dalam hadis Abdullah bin Amr bin al-ʿĀṣ —Semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Ketika Nabi Sulaiman bin Daud ʿAlaihimas Salām merampungkan pembangunan Baitul Maqdis, beliau ʿAlaihis Salām memohon kepada Allah tiga permintaan, (1) keputusan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, (2) kekuasaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun setelahnya, (3) dan agar tak seorang pun yang datang ke Masjidil Aqṣā dengan niat semata-mata untuk salat di dalamnya kecuali dihapuskan segala kesalahannya sehingga dia menjadi seperti ketika hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda, “Adapun permintaannya yang pertama dan kedua telah dikabulkan dan aku berharap semoga yang ketiga juga Allah Kabulkan.” [7] إنه لا يخفى على أيِّ مسلم ما يعانيه المسلمون في فلسطين من آلام وقتل وتشريد بسبب توالي الاعتداء الغاشم عليهم من اليهود المعتدين الغاصبين ، ولا يخفى أيضاً حاجة المسلمين في فلسطين وضرورتهم إلى الكساء والطعام والدواء . ولذا فإنَّ من الواجب على المسلمين المسارعة إلى نجدتهم ومدِّ يد المساعدة لهم والوقوف معهم في محنتهم حتى يتمكنوا من مقاومة عدوهم الذي يملك العدة والعتاد  Tidak samar bagi muslim manapun penderitaan yang dialami oleh kaum muslimin di Palestina, dari rasa sakit, pembunuhan, hingga pengusiran akibat serangan brutal yang bertubi-tubi oleh para penjajah lalim Yahudi. Tidak samar pula bagaimana kebutuhan dan hajat kaum muslimin di Palestina akan sandang, pangan, dan obat-obatan. Oleh karena itu, wajib bagi umat Islam untuk bersegera menyelamatkan mereka, mengulurkan tangan kepada mereka, dan berdiri bersama mereka dalam penderitaan mereka sehingga mereka dapat melawan musuh-musuh mereka yang memiliki persiapan dan peralatan lengkap. والله جل وعلا يثيب المؤمن على ما يقدِّم لإخوانه ثواباً عاجلاً وثواباً أخروياً يجد جزاءه في يوم لا ينفع فيه مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم ، قال الله تعالى {وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا } [المزمل:20] ، وقال تعالى : {وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ } [سبأ:39] . وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ …)) [8]. وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : (( … وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ )) [9]. Allah Subẖānahu wa Taʿālā akan Memberi ganjaran kepada orang beriman atas apa yang dia berikan untuk saudara-saudaranya dengan balasan di dunia dan ganjaran di akhirat. Dia akan mendapatkan balasannya pada hari di mana harta dan anak tidak lagi berguna kecuali jika dia datang menemui Allah dengan hati selamat. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Dia Subẖānahu wa Taʿālā juga Berfirman, “… dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan Menggantinya, karena Dialah Sang Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39). Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” [8] Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Sedekah itu memadamkan (menghapus) kesalahan seperti air memadamkan api.” [9] فجودوا عليهم أيها المسلمون بما أعطاكم الله ، واعطفوا عليهم يبارك لكم في مالكم ويخلف عليكم بخير ويضاعف لكم الأجر والثواب ، فعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (( …وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ)) [10] . Oleh sebab itu, berdermalah untuk mereka, wahai kaum muslimin! Bersimpatilah kepada mereka, agar Allah Memberkahi harta kalian, Mengganti untuk kalian dengan kebaikan, dan Melipat gandakan ganjaran dan pahala kalian. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan Membantu kebutuhannya.” [10]  وأن نكثر لهم من الدعاء بأن يجبر ضعفهم ويقوي شوكتهم ، وأن يرد كيد المعتدين في نحورهم ، وأن يكف بأس الذين كفروا والله أشد بأساً وأشد تنكيلا ، وأن يطهِّر المسجد الأقصى من أيدي الظلمة المعتدين والبغاة الغاصبين إنه سميع مجيب . ********* ________________ Hendaknya kita juga memperbanyak doa untuk mereka agar Allah Menutupi kelemahan mereka, Menguatkan kekuatan mereka, Mengembalikan makar orang-orang zalim ke leher-leher mereka sendiri, Menghentikan kekerasan dari orang-orang kafir, karena sesungguhnya Allah lebih dahsyat kekuatan-Nya dan lebih keras siksaan-Nya, dan Mensucikan Masjidil Aqṣā dari tangan-tangan orang zalim yang melampaui batas dan para penjajah yang membangkang, sesungguhnya Dia Subẖānahu wa Taʿālā Maha Mendengar dan Menjawab doa.  ********* ________________ [1] رواه البخاري (1189) ، ومسلم (1397) . [2] رواه البخاري (3366) ، ومسلم (520) . [3] رواه البخاري (4492) ، ومسلم (525) . [4] رواه ابن ماجه (1407) ، وصحح الألباني رحمه الله هذا القسم في (تخريج أحاديث فضائل الشام) رقم (4) . [5] رواه مسلم (162) . [6] رواه الحاكم (4/509) وصححه ، ووافقه الذهبي . [7] رواه النسائي (693) ، وابن ماجه (1408) وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح الترغيب) (1178) . [8] رواه مسلم (2588) . [9] رواه الترمذي (2616) ، وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح سنن الترمذي) (2110) . [10] رواه البخاري (2442) ، ومسلم (2580) . [1] Diriwayatkan oleh Bukhari (1189) dan Muslim (1397). [2] Diriwayatkan oleh Bukhari (3366) dan Muslim (520). [3] Diriwayatkan oleh Bukhari (4492) dan Muslim (525). [4] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1407), dan bagian ini disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Takhrīj Aẖādīts Faḏāil asy-Syām No. (4). [5] Diriwayatkan oleh Muslim (162). [6] Diriwayatkan oleh al-Hakim (4/509) dan dia menyahihkannya serta disetujui oleh az-Zahabi. [7] Diriwayatkan oleh an-Nasa’i (693) dan Ibnu Majah (1408), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ at-Targhīb (1178). [8] Diriwayatkan oleh Muslim (2588). [9] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2616), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ Sunan at-Tirmidzī (2110). [10] Diriwayatkan oleh Bukhari (2442) dan Muslim (2580). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2563 PDF sumber artikel 🔍 Naqsabandiyah, Diganggu Jin Saat Tidur, Panitia Qurban Idul Adha, Kumpulan Kehidupan Di Alam Barzah, Anak Hasil Perkawinan Jin Dan Manusia, Cara Mengatasi Istri Keras Kepala Visited 56 times, 1 visit(s) today Post Views: 280

Awas, Jangan Sampai Salah Orientasi dalam Kehidupan Ini!

Daftar Isi Toggle Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuanKehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnyaBerbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnyaDengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Akhir-akhir ini, baik di jagat maya maupun di dunia nyata, sering kita jumpai orang-orang ramai memamerkan harta dan kekayaannya, flexing jabatan dan pekerjaan, memajang foto kemewahan dan hal-hal yang berbau duniawi. Mirisnya, tidak sedikit dari mereka yang beragama Islam, yang seharusnya telah mengetahui, bahwa hal semacam ini merupakan salah satu bentuk akhlak yang tidak terpuji. Sebuah kebiasaan yang akan menyakiti hati orang-orang tidak mampu, mempengaruhi hati orang-orang yang menyaksikannya, dan seringkali akan merubah persepsi orang lain akan orientasi dan tujuan hidup yang sebenarnya. Wahai saudaraku, jangan pernah lupa bahwa yang Allah Ta’ala perintahkan untuk diusahakan dan diupayakan dengan keras dan susah payah adalah kehidupan akhirat. Adapun kehidupan dunia, maka diambil secukupnya saja. Allah Ta’ala berfirman, وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77) Allah Ta’ala juga berfirman, وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuan Jika kehidupan ini diumpamakan dengan sebuah perjalanan, maka dunia tempat kita berada sekarang layaknya pohon yang seorang musafir berhenti sebentar di bawahnya untuk berteduh kemudian melanjutkan perjalanannya. Atau layaknya terminal transit di mana seorang penumpang hanya turun sebentar kemudian melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ما لي وما للدُّنيا ، ما أنا في الدُّنيا إلَّا كراكبٍ استَظلَّ تحتَ شجرةٍ ثمَّ راحَ وترَكَها. “Ada apa gerangan antara diriku dengan dunia ini?! Tidaklah perumpamaan aku dengan dunia ini, kecuali layaknya seorang pengendara/ penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebatang pohon, lalu istirahat sejenak, dan kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377, Ibnu Majah no. 4109 dan Ahmad no. 3709) Saudaraku, Allah Ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita perihal hakikat kehidupan ini di banyak ayat dan hadis. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20) Allah jadikan kehidupan dunia ini sebagai tempat ujian dan bukan tempat tujuan. Allah Ta’ala berfirman, تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ {1} الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ {2} “Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2) Sejatinya, kehidupan dunia ini Allah Ta’ala peruntukkan untuk orang-orang kafir dan bukan untuk kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ. “Dunia adalah (seperti) penjara bagi orang beriman dan (menjadi) ‘surga’ bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2965) Dunia bagi seorang mukmin layaknya penjara. Di dalamnya ia akan menghadapi banyak ujian dan cobaan, di mana dirinya harus bersabar menahan dan menghadapi beratnya fitnah syahwat dan syubhat yang senantiasa menyerangnya. Sedangkan bagi orang kafir, maka dunia ini layaknya surga bagi mereka, karena rezeki mereka akan Allah sempurnakan di dunia ini. Sedangkan di akhirat nanti, mereka tak akan mendapatkan apapun, kecuali azab yang pedih. Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hakikat kehidupan akhirat, وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 17) Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, kekal abadi tiada akhirnya. Siapa saja yang mau beriman dan beramal saleh dalam kehidupan dunianya, maka ia akan mendapatkan surga yang kekal dan tidak akan terputus kenikmatannya. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ لَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيْلًا “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (QS. An-Nisa’: 57) Sebaliknya, siapa saja yang kufur kepada Allah Ta’ala, menyekutukannya, dan tidak mau beriman kepada-Nya, maka sungguh ia akan mendapatkan azab pedih tak berkesudahan di neraka, waliyyadzu billah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فيِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَآ أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6) Berbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya Sungguh sangat mengherankan jika ada manusia yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya, mengejar kebahagiaan semu dengan mengorbankan agama dan amalan salehnya. Padahal dia mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenarnya bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya. Mereka yang bekerja keras dan beramal saleh untuk kehidupan akhirat, maka akan mendapatkan kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia sekaligus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97) Imam As-Sa’di rahimahullah, seorang ahli tafsir terkemuka, tatkala menafsirkan ayat ini mengatakan, “(Kehidupan yang baik) adalah dengan pemberian ketentraman hati dan ketenangan jiwa serta tiada menoleh kepada obyek yang mengganggu hatinya, dan Allah memberinya rezeki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” Allah Ta’ala juga menetapkan bahwa seseorang yang beramal lalu menjadikan akhirat sebagai orientasi dan tujuan hiddupnya, maka pahalanya akan dilipatgandakan, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (QS. As-Syura: 20) Sebaliknya, siapapun yang mendahulukan dunia dan menjadikannya sebagai tujuan kehidupannya, maka Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ “Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat.” (QS. As-Syura: 20) Allah Ta’ala penuhi apa-apa yang telah menjadi haknya dari rezeki mereka di dunia ini. Sedangkan di akhirat kelak, dia tidak akan mendapatkan apapun dari amalannya. Allah Ta’ala juga berfirman menjelaskan betapa adilnya Allah Ta’ala dan betapa meruginya siapapun yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan di akhirat lenyaplah semua yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16) Dengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Saudaraku, di tengah maraknya orang-orang yang pamer harta dan pencapaian dunia, serta banyaknya bisikan dan godaan untuk berambisi mencari harta dan ketenaran, tidak ada yang dapat menentramkan diri kita, selain mengingat bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan kehidupan akhiratlah yang kekal abadi lagi sempurna. Janganlah merasa silau dan iri dengan keadaan orang-orang kafir di dunia! Jangan pula merasa dengki dengan siapapun yang Allah berikan keluasaan rezeki dalam kehidupan dunia ini! Allah Ta’ala berfirman, لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Ali ‘Imran: 196-197) Perbanyak amal saleh, fokus terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi diri kita di akhirat nanti! Ambillah dari dunia ini apa yang mencukupi kebutuhanmu saja dan jangan sampai kesibukan duniamu melalaikanmu dari beramal saleh untuk akhiratmu! Tinggalkan apapun yang tidak bermanfaat bagimu! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, إنَّك لنْ تَدَعَ شَيئًا للهِ إلَّا بدَّلَك اللهُ به ما هو خَيرٌ لك منه “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR Ahmad no. 23074) Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam beramal saleh dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan kita. Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendahulukan akhirat daripada dunia. Limpahkan kebaikan kepada kami di dunia ini, demikian pula di akhirat. Amin Ya Rabbal ‘alamin. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: orientasi kehidupantujuan hidup

Awas, Jangan Sampai Salah Orientasi dalam Kehidupan Ini!

Daftar Isi Toggle Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuanKehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnyaBerbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnyaDengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Akhir-akhir ini, baik di jagat maya maupun di dunia nyata, sering kita jumpai orang-orang ramai memamerkan harta dan kekayaannya, flexing jabatan dan pekerjaan, memajang foto kemewahan dan hal-hal yang berbau duniawi. Mirisnya, tidak sedikit dari mereka yang beragama Islam, yang seharusnya telah mengetahui, bahwa hal semacam ini merupakan salah satu bentuk akhlak yang tidak terpuji. Sebuah kebiasaan yang akan menyakiti hati orang-orang tidak mampu, mempengaruhi hati orang-orang yang menyaksikannya, dan seringkali akan merubah persepsi orang lain akan orientasi dan tujuan hidup yang sebenarnya. Wahai saudaraku, jangan pernah lupa bahwa yang Allah Ta’ala perintahkan untuk diusahakan dan diupayakan dengan keras dan susah payah adalah kehidupan akhirat. Adapun kehidupan dunia, maka diambil secukupnya saja. Allah Ta’ala berfirman, وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77) Allah Ta’ala juga berfirman, وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuan Jika kehidupan ini diumpamakan dengan sebuah perjalanan, maka dunia tempat kita berada sekarang layaknya pohon yang seorang musafir berhenti sebentar di bawahnya untuk berteduh kemudian melanjutkan perjalanannya. Atau layaknya terminal transit di mana seorang penumpang hanya turun sebentar kemudian melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ما لي وما للدُّنيا ، ما أنا في الدُّنيا إلَّا كراكبٍ استَظلَّ تحتَ شجرةٍ ثمَّ راحَ وترَكَها. “Ada apa gerangan antara diriku dengan dunia ini?! Tidaklah perumpamaan aku dengan dunia ini, kecuali layaknya seorang pengendara/ penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebatang pohon, lalu istirahat sejenak, dan kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377, Ibnu Majah no. 4109 dan Ahmad no. 3709) Saudaraku, Allah Ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita perihal hakikat kehidupan ini di banyak ayat dan hadis. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20) Allah jadikan kehidupan dunia ini sebagai tempat ujian dan bukan tempat tujuan. Allah Ta’ala berfirman, تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ {1} الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ {2} “Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2) Sejatinya, kehidupan dunia ini Allah Ta’ala peruntukkan untuk orang-orang kafir dan bukan untuk kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ. “Dunia adalah (seperti) penjara bagi orang beriman dan (menjadi) ‘surga’ bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2965) Dunia bagi seorang mukmin layaknya penjara. Di dalamnya ia akan menghadapi banyak ujian dan cobaan, di mana dirinya harus bersabar menahan dan menghadapi beratnya fitnah syahwat dan syubhat yang senantiasa menyerangnya. Sedangkan bagi orang kafir, maka dunia ini layaknya surga bagi mereka, karena rezeki mereka akan Allah sempurnakan di dunia ini. Sedangkan di akhirat nanti, mereka tak akan mendapatkan apapun, kecuali azab yang pedih. Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hakikat kehidupan akhirat, وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 17) Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, kekal abadi tiada akhirnya. Siapa saja yang mau beriman dan beramal saleh dalam kehidupan dunianya, maka ia akan mendapatkan surga yang kekal dan tidak akan terputus kenikmatannya. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ لَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيْلًا “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (QS. An-Nisa’: 57) Sebaliknya, siapa saja yang kufur kepada Allah Ta’ala, menyekutukannya, dan tidak mau beriman kepada-Nya, maka sungguh ia akan mendapatkan azab pedih tak berkesudahan di neraka, waliyyadzu billah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فيِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَآ أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6) Berbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya Sungguh sangat mengherankan jika ada manusia yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya, mengejar kebahagiaan semu dengan mengorbankan agama dan amalan salehnya. Padahal dia mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenarnya bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya. Mereka yang bekerja keras dan beramal saleh untuk kehidupan akhirat, maka akan mendapatkan kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia sekaligus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97) Imam As-Sa’di rahimahullah, seorang ahli tafsir terkemuka, tatkala menafsirkan ayat ini mengatakan, “(Kehidupan yang baik) adalah dengan pemberian ketentraman hati dan ketenangan jiwa serta tiada menoleh kepada obyek yang mengganggu hatinya, dan Allah memberinya rezeki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” Allah Ta’ala juga menetapkan bahwa seseorang yang beramal lalu menjadikan akhirat sebagai orientasi dan tujuan hiddupnya, maka pahalanya akan dilipatgandakan, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (QS. As-Syura: 20) Sebaliknya, siapapun yang mendahulukan dunia dan menjadikannya sebagai tujuan kehidupannya, maka Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ “Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat.” (QS. As-Syura: 20) Allah Ta’ala penuhi apa-apa yang telah menjadi haknya dari rezeki mereka di dunia ini. Sedangkan di akhirat kelak, dia tidak akan mendapatkan apapun dari amalannya. Allah Ta’ala juga berfirman menjelaskan betapa adilnya Allah Ta’ala dan betapa meruginya siapapun yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan di akhirat lenyaplah semua yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16) Dengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Saudaraku, di tengah maraknya orang-orang yang pamer harta dan pencapaian dunia, serta banyaknya bisikan dan godaan untuk berambisi mencari harta dan ketenaran, tidak ada yang dapat menentramkan diri kita, selain mengingat bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan kehidupan akhiratlah yang kekal abadi lagi sempurna. Janganlah merasa silau dan iri dengan keadaan orang-orang kafir di dunia! Jangan pula merasa dengki dengan siapapun yang Allah berikan keluasaan rezeki dalam kehidupan dunia ini! Allah Ta’ala berfirman, لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Ali ‘Imran: 196-197) Perbanyak amal saleh, fokus terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi diri kita di akhirat nanti! Ambillah dari dunia ini apa yang mencukupi kebutuhanmu saja dan jangan sampai kesibukan duniamu melalaikanmu dari beramal saleh untuk akhiratmu! Tinggalkan apapun yang tidak bermanfaat bagimu! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, إنَّك لنْ تَدَعَ شَيئًا للهِ إلَّا بدَّلَك اللهُ به ما هو خَيرٌ لك منه “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR Ahmad no. 23074) Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam beramal saleh dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan kita. Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendahulukan akhirat daripada dunia. Limpahkan kebaikan kepada kami di dunia ini, demikian pula di akhirat. Amin Ya Rabbal ‘alamin. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: orientasi kehidupantujuan hidup
Daftar Isi Toggle Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuanKehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnyaBerbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnyaDengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Akhir-akhir ini, baik di jagat maya maupun di dunia nyata, sering kita jumpai orang-orang ramai memamerkan harta dan kekayaannya, flexing jabatan dan pekerjaan, memajang foto kemewahan dan hal-hal yang berbau duniawi. Mirisnya, tidak sedikit dari mereka yang beragama Islam, yang seharusnya telah mengetahui, bahwa hal semacam ini merupakan salah satu bentuk akhlak yang tidak terpuji. Sebuah kebiasaan yang akan menyakiti hati orang-orang tidak mampu, mempengaruhi hati orang-orang yang menyaksikannya, dan seringkali akan merubah persepsi orang lain akan orientasi dan tujuan hidup yang sebenarnya. Wahai saudaraku, jangan pernah lupa bahwa yang Allah Ta’ala perintahkan untuk diusahakan dan diupayakan dengan keras dan susah payah adalah kehidupan akhirat. Adapun kehidupan dunia, maka diambil secukupnya saja. Allah Ta’ala berfirman, وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77) Allah Ta’ala juga berfirman, وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuan Jika kehidupan ini diumpamakan dengan sebuah perjalanan, maka dunia tempat kita berada sekarang layaknya pohon yang seorang musafir berhenti sebentar di bawahnya untuk berteduh kemudian melanjutkan perjalanannya. Atau layaknya terminal transit di mana seorang penumpang hanya turun sebentar kemudian melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ما لي وما للدُّنيا ، ما أنا في الدُّنيا إلَّا كراكبٍ استَظلَّ تحتَ شجرةٍ ثمَّ راحَ وترَكَها. “Ada apa gerangan antara diriku dengan dunia ini?! Tidaklah perumpamaan aku dengan dunia ini, kecuali layaknya seorang pengendara/ penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebatang pohon, lalu istirahat sejenak, dan kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377, Ibnu Majah no. 4109 dan Ahmad no. 3709) Saudaraku, Allah Ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita perihal hakikat kehidupan ini di banyak ayat dan hadis. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20) Allah jadikan kehidupan dunia ini sebagai tempat ujian dan bukan tempat tujuan. Allah Ta’ala berfirman, تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ {1} الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ {2} “Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2) Sejatinya, kehidupan dunia ini Allah Ta’ala peruntukkan untuk orang-orang kafir dan bukan untuk kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ. “Dunia adalah (seperti) penjara bagi orang beriman dan (menjadi) ‘surga’ bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2965) Dunia bagi seorang mukmin layaknya penjara. Di dalamnya ia akan menghadapi banyak ujian dan cobaan, di mana dirinya harus bersabar menahan dan menghadapi beratnya fitnah syahwat dan syubhat yang senantiasa menyerangnya. Sedangkan bagi orang kafir, maka dunia ini layaknya surga bagi mereka, karena rezeki mereka akan Allah sempurnakan di dunia ini. Sedangkan di akhirat nanti, mereka tak akan mendapatkan apapun, kecuali azab yang pedih. Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hakikat kehidupan akhirat, وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 17) Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, kekal abadi tiada akhirnya. Siapa saja yang mau beriman dan beramal saleh dalam kehidupan dunianya, maka ia akan mendapatkan surga yang kekal dan tidak akan terputus kenikmatannya. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ لَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيْلًا “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (QS. An-Nisa’: 57) Sebaliknya, siapa saja yang kufur kepada Allah Ta’ala, menyekutukannya, dan tidak mau beriman kepada-Nya, maka sungguh ia akan mendapatkan azab pedih tak berkesudahan di neraka, waliyyadzu billah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فيِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَآ أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6) Berbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya Sungguh sangat mengherankan jika ada manusia yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya, mengejar kebahagiaan semu dengan mengorbankan agama dan amalan salehnya. Padahal dia mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenarnya bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya. Mereka yang bekerja keras dan beramal saleh untuk kehidupan akhirat, maka akan mendapatkan kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia sekaligus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97) Imam As-Sa’di rahimahullah, seorang ahli tafsir terkemuka, tatkala menafsirkan ayat ini mengatakan, “(Kehidupan yang baik) adalah dengan pemberian ketentraman hati dan ketenangan jiwa serta tiada menoleh kepada obyek yang mengganggu hatinya, dan Allah memberinya rezeki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” Allah Ta’ala juga menetapkan bahwa seseorang yang beramal lalu menjadikan akhirat sebagai orientasi dan tujuan hiddupnya, maka pahalanya akan dilipatgandakan, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (QS. As-Syura: 20) Sebaliknya, siapapun yang mendahulukan dunia dan menjadikannya sebagai tujuan kehidupannya, maka Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ “Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat.” (QS. As-Syura: 20) Allah Ta’ala penuhi apa-apa yang telah menjadi haknya dari rezeki mereka di dunia ini. Sedangkan di akhirat kelak, dia tidak akan mendapatkan apapun dari amalannya. Allah Ta’ala juga berfirman menjelaskan betapa adilnya Allah Ta’ala dan betapa meruginya siapapun yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan di akhirat lenyaplah semua yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16) Dengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Saudaraku, di tengah maraknya orang-orang yang pamer harta dan pencapaian dunia, serta banyaknya bisikan dan godaan untuk berambisi mencari harta dan ketenaran, tidak ada yang dapat menentramkan diri kita, selain mengingat bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan kehidupan akhiratlah yang kekal abadi lagi sempurna. Janganlah merasa silau dan iri dengan keadaan orang-orang kafir di dunia! Jangan pula merasa dengki dengan siapapun yang Allah berikan keluasaan rezeki dalam kehidupan dunia ini! Allah Ta’ala berfirman, لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Ali ‘Imran: 196-197) Perbanyak amal saleh, fokus terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi diri kita di akhirat nanti! Ambillah dari dunia ini apa yang mencukupi kebutuhanmu saja dan jangan sampai kesibukan duniamu melalaikanmu dari beramal saleh untuk akhiratmu! Tinggalkan apapun yang tidak bermanfaat bagimu! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, إنَّك لنْ تَدَعَ شَيئًا للهِ إلَّا بدَّلَك اللهُ به ما هو خَيرٌ لك منه “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR Ahmad no. 23074) Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam beramal saleh dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan kita. Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendahulukan akhirat daripada dunia. Limpahkan kebaikan kepada kami di dunia ini, demikian pula di akhirat. Amin Ya Rabbal ‘alamin. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: orientasi kehidupantujuan hidup


Daftar Isi Toggle Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuanKehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnyaBerbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnyaDengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Akhir-akhir ini, baik di jagat maya maupun di dunia nyata, sering kita jumpai orang-orang ramai memamerkan harta dan kekayaannya, flexing jabatan dan pekerjaan, memajang foto kemewahan dan hal-hal yang berbau duniawi. Mirisnya, tidak sedikit dari mereka yang beragama Islam, yang seharusnya telah mengetahui, bahwa hal semacam ini merupakan salah satu bentuk akhlak yang tidak terpuji. Sebuah kebiasaan yang akan menyakiti hati orang-orang tidak mampu, mempengaruhi hati orang-orang yang menyaksikannya, dan seringkali akan merubah persepsi orang lain akan orientasi dan tujuan hidup yang sebenarnya. Wahai saudaraku, jangan pernah lupa bahwa yang Allah Ta’ala perintahkan untuk diusahakan dan diupayakan dengan keras dan susah payah adalah kehidupan akhirat. Adapun kehidupan dunia, maka diambil secukupnya saja. Allah Ta’ala berfirman, وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77) Allah Ta’ala juga berfirman, وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuan Jika kehidupan ini diumpamakan dengan sebuah perjalanan, maka dunia tempat kita berada sekarang layaknya pohon yang seorang musafir berhenti sebentar di bawahnya untuk berteduh kemudian melanjutkan perjalanannya. Atau layaknya terminal transit di mana seorang penumpang hanya turun sebentar kemudian melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ما لي وما للدُّنيا ، ما أنا في الدُّنيا إلَّا كراكبٍ استَظلَّ تحتَ شجرةٍ ثمَّ راحَ وترَكَها. “Ada apa gerangan antara diriku dengan dunia ini?! Tidaklah perumpamaan aku dengan dunia ini, kecuali layaknya seorang pengendara/ penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebatang pohon, lalu istirahat sejenak, dan kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377, Ibnu Majah no. 4109 dan Ahmad no. 3709) Saudaraku, Allah Ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita perihal hakikat kehidupan ini di banyak ayat dan hadis. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20) Allah jadikan kehidupan dunia ini sebagai tempat ujian dan bukan tempat tujuan. Allah Ta’ala berfirman, تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ {1} الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ {2} “Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2) Sejatinya, kehidupan dunia ini Allah Ta’ala peruntukkan untuk orang-orang kafir dan bukan untuk kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ. “Dunia adalah (seperti) penjara bagi orang beriman dan (menjadi) ‘surga’ bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2965) Dunia bagi seorang mukmin layaknya penjara. Di dalamnya ia akan menghadapi banyak ujian dan cobaan, di mana dirinya harus bersabar menahan dan menghadapi beratnya fitnah syahwat dan syubhat yang senantiasa menyerangnya. Sedangkan bagi orang kafir, maka dunia ini layaknya surga bagi mereka, karena rezeki mereka akan Allah sempurnakan di dunia ini. Sedangkan di akhirat nanti, mereka tak akan mendapatkan apapun, kecuali azab yang pedih. Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hakikat kehidupan akhirat, وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 17) Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, kekal abadi tiada akhirnya. Siapa saja yang mau beriman dan beramal saleh dalam kehidupan dunianya, maka ia akan mendapatkan surga yang kekal dan tidak akan terputus kenikmatannya. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ لَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيْلًا “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (QS. An-Nisa’: 57) Sebaliknya, siapa saja yang kufur kepada Allah Ta’ala, menyekutukannya, dan tidak mau beriman kepada-Nya, maka sungguh ia akan mendapatkan azab pedih tak berkesudahan di neraka, waliyyadzu billah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فيِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَآ أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6) Berbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya Sungguh sangat mengherankan jika ada manusia yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya, mengejar kebahagiaan semu dengan mengorbankan agama dan amalan salehnya. Padahal dia mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenarnya bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya. Mereka yang bekerja keras dan beramal saleh untuk kehidupan akhirat, maka akan mendapatkan kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia sekaligus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97) Imam As-Sa’di rahimahullah, seorang ahli tafsir terkemuka, tatkala menafsirkan ayat ini mengatakan, “(Kehidupan yang baik) adalah dengan pemberian ketentraman hati dan ketenangan jiwa serta tiada menoleh kepada obyek yang mengganggu hatinya, dan Allah memberinya rezeki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” Allah Ta’ala juga menetapkan bahwa seseorang yang beramal lalu menjadikan akhirat sebagai orientasi dan tujuan hiddupnya, maka pahalanya akan dilipatgandakan, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (QS. As-Syura: 20) Sebaliknya, siapapun yang mendahulukan dunia dan menjadikannya sebagai tujuan kehidupannya, maka Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ “Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat.” (QS. As-Syura: 20) Allah Ta’ala penuhi apa-apa yang telah menjadi haknya dari rezeki mereka di dunia ini. Sedangkan di akhirat kelak, dia tidak akan mendapatkan apapun dari amalannya. Allah Ta’ala juga berfirman menjelaskan betapa adilnya Allah Ta’ala dan betapa meruginya siapapun yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan di akhirat lenyaplah semua yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16) Dengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Saudaraku, di tengah maraknya orang-orang yang pamer harta dan pencapaian dunia, serta banyaknya bisikan dan godaan untuk berambisi mencari harta dan ketenaran, tidak ada yang dapat menentramkan diri kita, selain mengingat bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan kehidupan akhiratlah yang kekal abadi lagi sempurna. Janganlah merasa silau dan iri dengan keadaan orang-orang kafir di dunia! Jangan pula merasa dengki dengan siapapun yang Allah berikan keluasaan rezeki dalam kehidupan dunia ini! Allah Ta’ala berfirman, لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Ali ‘Imran: 196-197) Perbanyak amal saleh, fokus terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi diri kita di akhirat nanti! Ambillah dari dunia ini apa yang mencukupi kebutuhanmu saja dan jangan sampai kesibukan duniamu melalaikanmu dari beramal saleh untuk akhiratmu! Tinggalkan apapun yang tidak bermanfaat bagimu! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, إنَّك لنْ تَدَعَ شَيئًا للهِ إلَّا بدَّلَك اللهُ به ما هو خَيرٌ لك منه “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR Ahmad no. 23074) Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam beramal saleh dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan kita. Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendahulukan akhirat daripada dunia. Limpahkan kebaikan kepada kami di dunia ini, demikian pula di akhirat. Amin Ya Rabbal ‘alamin. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: orientasi kehidupantujuan hidup

Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia

Daftar Isi Toggle Orang yang terbiasa dengan kemaksiatanTanda kesuksesan tidak selalu fisikOrang yang terus diujiUjian sebagai penyucian jiwaJangan terjebak ilusi dunia Dalam menjalani kehidupan ini, kadangkala kita menilai keberuntungan dan kesialan seseorang dari apa yang kita lihat di permukaan. Namun, kita lupa bahwa apa yang tampak di mata bisa jadi berbeda dengan realitas sebenarnya. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan, belum tentu hidupnya benar-benar bahagia di hadapan Allah Ta’ala. Sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, kita seringkali hanya melihat segala sesuatu dari perspektif yang sempit, yaitu dari sudut pandang duniawi. Kita terjebak dalam definisi kebahagiaan dan kesuksesan yang didasarkan pada harta, kekuasaan, kepopuleran, atau kesenangan fisik. Padahal, keberuntungan seseorang tidak semata-mata diukur dari segi material atau apa yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai kenikmatan di dunia ini, mungkin justru menjadi belenggu bagi kehidupan akhirat seseorang. Di sisi lain, orang yang terlihat mengalami kesulitan dan cobaan di dunia ini, bisa jadi justru berada dalam rahmat dan lindungan Allah Ta’ala. Cobaan dan kesulitan seringkali menjadi cara Allah Ta’ala untuk menguji dan menyucikan hamba-Nya, sekaligus menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang orang yang paling berat ujiannya di dunia. Maka, beliau menjawab, الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185) Maka, Saudaraku! Hal ini merupakan tanda bahwa cobaan dan kesulitan bukanlah hukuman, melainkan tanda kasih sayang dan perhatian Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang dipilih untuk ditempa agar menjadi lebih baik. Orang yang terbiasa dengan kemaksiatan Sebagian dari kita mungkin melihat orang yang terbiasa melakukan dosa, namun tampaknya tidak mendapat teguran dari Allah Ta’ala. Sebagian besar mereka menikmati kehidupan dunia, kaya raya, dan memiliki kesehatan yang baik. Namun, sebenarnya, kondisi ini justru bisa menjadi merupakan petaka bagi mereka. Hal itu tidak lain pertanda bahwa Allah Ta’ala telah berpaling dari mereka dan membiarkan mereka terus menerus dalam kesesatan hingga ajal menjemput. wal’iyadzu billah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ “Apabila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, 4: 145) Istidraj merupakan salah satu bentuk cara Allah Ta’ala menarik seseorang dengan lembut menuju kebinasaan. Orang yang terus menerus dalam kemaksiatan, namun tidak mendapatkan teguran, mungkin tidak sadar bahwa mereka sedang ditarik perlahan ke jurang kehancuran. Ini adalah tanda bahwa Allah mungkin telah meninggalkannya. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita Tanda kesuksesan tidak selalu fisik Salah satu kesalahan persepsi adalah menganggap bahwa kemakmuran dan keberhasilan dunia merupakan tanda rida dan keberkahan dari Allah. Namun, dalam banyak kasus, kekayaan, dan kesenangan dunia dapat menjadi fitnah bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya harta, anak-anak adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28) Kesenangan dunia seperti harta dan anak bukanlah ukuran kesuksesan hakiki di mata Allah, melainkan bisa jadi adalah fitnah yang menguji keimanan dan kesabaran seseorang. Penting juga diingat bahwa di antara hal yang merugikan bagi seorang hamba adalah ketika ia terus menerus mendapatkan kesenangan dunia tanpa hambatan dan hatinya bisa menjadi terpaut dan lupa akan akhirat. Ketika seseorang terlalu cinta dunia, ia akan cenderung melakukan apapun untuk mempertahankan dan meningkatkan kesenangannya, bahkan jika itu berarti melanggar perintah Allah. Perhatikanlah! Inilah contoh nyata dari bagaimana seseorang yang tampak sukses di mata manusia, namun sebenarnya berada dalam bahaya besar karena jauh dari rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu waspada terhadap godaan dunia dan memastikan bahwa hati kita selalu terpaut pada Allah dan akhirat. Orang yang terus diuji Sebaliknya, ada orang yang hidupnya penuh dengan ujian dan cobaan. Mereka mungkin sering sakit, kehilangan, atau mengalami kesulitan hidup. Namun, ujian ini sebenarnya bisa menjadi bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Dengan ujian, dosa-dosa kita dihapuskan. Selain itu, kesabaran dalam menghadapi ujian merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang bersabar akan mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya, besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Baca juga: Sumber Kebahagiaan Duniawi Ujian sebagai penyucian jiwa Setiap ujian dan cobaan yang menimpa seorang muslim bukanlah tanpa alasan. Allah memberikan ujian sebagai bentuk penyucian jiwa dan pembersihan dosa. Sebagaimana emas yang semakin berkilau setelah dilebur dalam api, demikian pula jiwa seorang mukmin yang bersabar dalam menghadapi ujian akan semakin murni. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Dalil ini menegaskan bahwa kesulitan dan rasa sakit yang kita alami dalam hidup ini memiliki hikmah, yaitu menghapuskan dosa-dosa kita, sebagaimana daun yang gugur dari pohon. Saat kita dicoba, sebenarnya itu adalah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita. Melalui ujian, Allah ingin mengangkat derajat kita dan menguji kekuatan iman kita. Ujian yang datang bertubi-tubi menunjukkan bahwa Allah ingin menguji kekuatan iman kita dan mengangkat derajat kita. Jadi, bukannya harus merasa putus asa, kita seharusnya menyambut ujian sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas iman kita. Jangan terjebak ilusi dunia Saudaraku, jangan mudah teperdaya dengan apa yang kita lihat di permukaan. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan belum tentu lebih baik kedudukannya di sisi Allah. Dan orang yang penuh cobaan, jika dia bersabar, mungkin justru mendapat cinta dan rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu mengintrospeksi diri dan memastikan bahwa kita tidak terjebak dalam ilusi dunia. Semoga kita selalu diberikan hidayah untuk selalu dekat dengan Allah, menjauhi dosa, dan bersabar dalam setiap ujian. Amin. Dalam setiap nafas dan detik kehidupan, ada hikmah yang Allah sematkan bagi hamba-Nya. Setiap kejadian, baik yang tampak indah maupun yang tampak menyakitkan, memiliki pelajaran yang mungkin tersembunyi di balik tabir kehidupan. Seperti emas yang mesti melewati proses pemurnian dengan api sebelum ia berkilau, demikian pula jiwa kita. Ujian dan cobaan adalah cara Allah memurnikan, menguatkan, dan mendekatkan kita pada-Nya. Dengan demikian, kita semestinya tidak hanya fokus pada apa yang tampak, tetapi mencari makna yang lebih dalam dari setiap peristiwa. Penting pula bagi kita untuk selalu menjaga hati dan niat dalam setiap tindakan. Karena bukan hanya perbuatan yang dilihat Allah, tetapi juga niat dan isi hati kita. Bisa jadi seseorang tampak bahagia dan sejahtera di mata dunia, namun hatinya kosong dan jauh dari keberkahan. Sebaliknya, seseorang yang tampak dilanda cobaan, namun hatinya penuh dengan kesabaran dan tawakal, mungkin mendapat tempat yang istimewa di sisi Allah. Oleh karena itu, jangan hanya menilai dari luarnya saja, tetapi introspeksi dan perbaiki selalu isi hati dan niat kita. Sehingga kita bisa menjalani hidup dengan penuh makna dan berkah. Baca juga: Mengikuti Gemerlap Dunia Itu Tidak Ada Habisnya *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: budak duniailusi dunia

Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia

Daftar Isi Toggle Orang yang terbiasa dengan kemaksiatanTanda kesuksesan tidak selalu fisikOrang yang terus diujiUjian sebagai penyucian jiwaJangan terjebak ilusi dunia Dalam menjalani kehidupan ini, kadangkala kita menilai keberuntungan dan kesialan seseorang dari apa yang kita lihat di permukaan. Namun, kita lupa bahwa apa yang tampak di mata bisa jadi berbeda dengan realitas sebenarnya. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan, belum tentu hidupnya benar-benar bahagia di hadapan Allah Ta’ala. Sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, kita seringkali hanya melihat segala sesuatu dari perspektif yang sempit, yaitu dari sudut pandang duniawi. Kita terjebak dalam definisi kebahagiaan dan kesuksesan yang didasarkan pada harta, kekuasaan, kepopuleran, atau kesenangan fisik. Padahal, keberuntungan seseorang tidak semata-mata diukur dari segi material atau apa yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai kenikmatan di dunia ini, mungkin justru menjadi belenggu bagi kehidupan akhirat seseorang. Di sisi lain, orang yang terlihat mengalami kesulitan dan cobaan di dunia ini, bisa jadi justru berada dalam rahmat dan lindungan Allah Ta’ala. Cobaan dan kesulitan seringkali menjadi cara Allah Ta’ala untuk menguji dan menyucikan hamba-Nya, sekaligus menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang orang yang paling berat ujiannya di dunia. Maka, beliau menjawab, الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185) Maka, Saudaraku! Hal ini merupakan tanda bahwa cobaan dan kesulitan bukanlah hukuman, melainkan tanda kasih sayang dan perhatian Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang dipilih untuk ditempa agar menjadi lebih baik. Orang yang terbiasa dengan kemaksiatan Sebagian dari kita mungkin melihat orang yang terbiasa melakukan dosa, namun tampaknya tidak mendapat teguran dari Allah Ta’ala. Sebagian besar mereka menikmati kehidupan dunia, kaya raya, dan memiliki kesehatan yang baik. Namun, sebenarnya, kondisi ini justru bisa menjadi merupakan petaka bagi mereka. Hal itu tidak lain pertanda bahwa Allah Ta’ala telah berpaling dari mereka dan membiarkan mereka terus menerus dalam kesesatan hingga ajal menjemput. wal’iyadzu billah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ “Apabila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, 4: 145) Istidraj merupakan salah satu bentuk cara Allah Ta’ala menarik seseorang dengan lembut menuju kebinasaan. Orang yang terus menerus dalam kemaksiatan, namun tidak mendapatkan teguran, mungkin tidak sadar bahwa mereka sedang ditarik perlahan ke jurang kehancuran. Ini adalah tanda bahwa Allah mungkin telah meninggalkannya. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita Tanda kesuksesan tidak selalu fisik Salah satu kesalahan persepsi adalah menganggap bahwa kemakmuran dan keberhasilan dunia merupakan tanda rida dan keberkahan dari Allah. Namun, dalam banyak kasus, kekayaan, dan kesenangan dunia dapat menjadi fitnah bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya harta, anak-anak adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28) Kesenangan dunia seperti harta dan anak bukanlah ukuran kesuksesan hakiki di mata Allah, melainkan bisa jadi adalah fitnah yang menguji keimanan dan kesabaran seseorang. Penting juga diingat bahwa di antara hal yang merugikan bagi seorang hamba adalah ketika ia terus menerus mendapatkan kesenangan dunia tanpa hambatan dan hatinya bisa menjadi terpaut dan lupa akan akhirat. Ketika seseorang terlalu cinta dunia, ia akan cenderung melakukan apapun untuk mempertahankan dan meningkatkan kesenangannya, bahkan jika itu berarti melanggar perintah Allah. Perhatikanlah! Inilah contoh nyata dari bagaimana seseorang yang tampak sukses di mata manusia, namun sebenarnya berada dalam bahaya besar karena jauh dari rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu waspada terhadap godaan dunia dan memastikan bahwa hati kita selalu terpaut pada Allah dan akhirat. Orang yang terus diuji Sebaliknya, ada orang yang hidupnya penuh dengan ujian dan cobaan. Mereka mungkin sering sakit, kehilangan, atau mengalami kesulitan hidup. Namun, ujian ini sebenarnya bisa menjadi bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Dengan ujian, dosa-dosa kita dihapuskan. Selain itu, kesabaran dalam menghadapi ujian merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang bersabar akan mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya, besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Baca juga: Sumber Kebahagiaan Duniawi Ujian sebagai penyucian jiwa Setiap ujian dan cobaan yang menimpa seorang muslim bukanlah tanpa alasan. Allah memberikan ujian sebagai bentuk penyucian jiwa dan pembersihan dosa. Sebagaimana emas yang semakin berkilau setelah dilebur dalam api, demikian pula jiwa seorang mukmin yang bersabar dalam menghadapi ujian akan semakin murni. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Dalil ini menegaskan bahwa kesulitan dan rasa sakit yang kita alami dalam hidup ini memiliki hikmah, yaitu menghapuskan dosa-dosa kita, sebagaimana daun yang gugur dari pohon. Saat kita dicoba, sebenarnya itu adalah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita. Melalui ujian, Allah ingin mengangkat derajat kita dan menguji kekuatan iman kita. Ujian yang datang bertubi-tubi menunjukkan bahwa Allah ingin menguji kekuatan iman kita dan mengangkat derajat kita. Jadi, bukannya harus merasa putus asa, kita seharusnya menyambut ujian sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas iman kita. Jangan terjebak ilusi dunia Saudaraku, jangan mudah teperdaya dengan apa yang kita lihat di permukaan. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan belum tentu lebih baik kedudukannya di sisi Allah. Dan orang yang penuh cobaan, jika dia bersabar, mungkin justru mendapat cinta dan rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu mengintrospeksi diri dan memastikan bahwa kita tidak terjebak dalam ilusi dunia. Semoga kita selalu diberikan hidayah untuk selalu dekat dengan Allah, menjauhi dosa, dan bersabar dalam setiap ujian. Amin. Dalam setiap nafas dan detik kehidupan, ada hikmah yang Allah sematkan bagi hamba-Nya. Setiap kejadian, baik yang tampak indah maupun yang tampak menyakitkan, memiliki pelajaran yang mungkin tersembunyi di balik tabir kehidupan. Seperti emas yang mesti melewati proses pemurnian dengan api sebelum ia berkilau, demikian pula jiwa kita. Ujian dan cobaan adalah cara Allah memurnikan, menguatkan, dan mendekatkan kita pada-Nya. Dengan demikian, kita semestinya tidak hanya fokus pada apa yang tampak, tetapi mencari makna yang lebih dalam dari setiap peristiwa. Penting pula bagi kita untuk selalu menjaga hati dan niat dalam setiap tindakan. Karena bukan hanya perbuatan yang dilihat Allah, tetapi juga niat dan isi hati kita. Bisa jadi seseorang tampak bahagia dan sejahtera di mata dunia, namun hatinya kosong dan jauh dari keberkahan. Sebaliknya, seseorang yang tampak dilanda cobaan, namun hatinya penuh dengan kesabaran dan tawakal, mungkin mendapat tempat yang istimewa di sisi Allah. Oleh karena itu, jangan hanya menilai dari luarnya saja, tetapi introspeksi dan perbaiki selalu isi hati dan niat kita. Sehingga kita bisa menjalani hidup dengan penuh makna dan berkah. Baca juga: Mengikuti Gemerlap Dunia Itu Tidak Ada Habisnya *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: budak duniailusi dunia
Daftar Isi Toggle Orang yang terbiasa dengan kemaksiatanTanda kesuksesan tidak selalu fisikOrang yang terus diujiUjian sebagai penyucian jiwaJangan terjebak ilusi dunia Dalam menjalani kehidupan ini, kadangkala kita menilai keberuntungan dan kesialan seseorang dari apa yang kita lihat di permukaan. Namun, kita lupa bahwa apa yang tampak di mata bisa jadi berbeda dengan realitas sebenarnya. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan, belum tentu hidupnya benar-benar bahagia di hadapan Allah Ta’ala. Sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, kita seringkali hanya melihat segala sesuatu dari perspektif yang sempit, yaitu dari sudut pandang duniawi. Kita terjebak dalam definisi kebahagiaan dan kesuksesan yang didasarkan pada harta, kekuasaan, kepopuleran, atau kesenangan fisik. Padahal, keberuntungan seseorang tidak semata-mata diukur dari segi material atau apa yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai kenikmatan di dunia ini, mungkin justru menjadi belenggu bagi kehidupan akhirat seseorang. Di sisi lain, orang yang terlihat mengalami kesulitan dan cobaan di dunia ini, bisa jadi justru berada dalam rahmat dan lindungan Allah Ta’ala. Cobaan dan kesulitan seringkali menjadi cara Allah Ta’ala untuk menguji dan menyucikan hamba-Nya, sekaligus menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang orang yang paling berat ujiannya di dunia. Maka, beliau menjawab, الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185) Maka, Saudaraku! Hal ini merupakan tanda bahwa cobaan dan kesulitan bukanlah hukuman, melainkan tanda kasih sayang dan perhatian Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang dipilih untuk ditempa agar menjadi lebih baik. Orang yang terbiasa dengan kemaksiatan Sebagian dari kita mungkin melihat orang yang terbiasa melakukan dosa, namun tampaknya tidak mendapat teguran dari Allah Ta’ala. Sebagian besar mereka menikmati kehidupan dunia, kaya raya, dan memiliki kesehatan yang baik. Namun, sebenarnya, kondisi ini justru bisa menjadi merupakan petaka bagi mereka. Hal itu tidak lain pertanda bahwa Allah Ta’ala telah berpaling dari mereka dan membiarkan mereka terus menerus dalam kesesatan hingga ajal menjemput. wal’iyadzu billah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ “Apabila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, 4: 145) Istidraj merupakan salah satu bentuk cara Allah Ta’ala menarik seseorang dengan lembut menuju kebinasaan. Orang yang terus menerus dalam kemaksiatan, namun tidak mendapatkan teguran, mungkin tidak sadar bahwa mereka sedang ditarik perlahan ke jurang kehancuran. Ini adalah tanda bahwa Allah mungkin telah meninggalkannya. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita Tanda kesuksesan tidak selalu fisik Salah satu kesalahan persepsi adalah menganggap bahwa kemakmuran dan keberhasilan dunia merupakan tanda rida dan keberkahan dari Allah. Namun, dalam banyak kasus, kekayaan, dan kesenangan dunia dapat menjadi fitnah bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya harta, anak-anak adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28) Kesenangan dunia seperti harta dan anak bukanlah ukuran kesuksesan hakiki di mata Allah, melainkan bisa jadi adalah fitnah yang menguji keimanan dan kesabaran seseorang. Penting juga diingat bahwa di antara hal yang merugikan bagi seorang hamba adalah ketika ia terus menerus mendapatkan kesenangan dunia tanpa hambatan dan hatinya bisa menjadi terpaut dan lupa akan akhirat. Ketika seseorang terlalu cinta dunia, ia akan cenderung melakukan apapun untuk mempertahankan dan meningkatkan kesenangannya, bahkan jika itu berarti melanggar perintah Allah. Perhatikanlah! Inilah contoh nyata dari bagaimana seseorang yang tampak sukses di mata manusia, namun sebenarnya berada dalam bahaya besar karena jauh dari rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu waspada terhadap godaan dunia dan memastikan bahwa hati kita selalu terpaut pada Allah dan akhirat. Orang yang terus diuji Sebaliknya, ada orang yang hidupnya penuh dengan ujian dan cobaan. Mereka mungkin sering sakit, kehilangan, atau mengalami kesulitan hidup. Namun, ujian ini sebenarnya bisa menjadi bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Dengan ujian, dosa-dosa kita dihapuskan. Selain itu, kesabaran dalam menghadapi ujian merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang bersabar akan mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya, besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Baca juga: Sumber Kebahagiaan Duniawi Ujian sebagai penyucian jiwa Setiap ujian dan cobaan yang menimpa seorang muslim bukanlah tanpa alasan. Allah memberikan ujian sebagai bentuk penyucian jiwa dan pembersihan dosa. Sebagaimana emas yang semakin berkilau setelah dilebur dalam api, demikian pula jiwa seorang mukmin yang bersabar dalam menghadapi ujian akan semakin murni. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Dalil ini menegaskan bahwa kesulitan dan rasa sakit yang kita alami dalam hidup ini memiliki hikmah, yaitu menghapuskan dosa-dosa kita, sebagaimana daun yang gugur dari pohon. Saat kita dicoba, sebenarnya itu adalah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita. Melalui ujian, Allah ingin mengangkat derajat kita dan menguji kekuatan iman kita. Ujian yang datang bertubi-tubi menunjukkan bahwa Allah ingin menguji kekuatan iman kita dan mengangkat derajat kita. Jadi, bukannya harus merasa putus asa, kita seharusnya menyambut ujian sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas iman kita. Jangan terjebak ilusi dunia Saudaraku, jangan mudah teperdaya dengan apa yang kita lihat di permukaan. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan belum tentu lebih baik kedudukannya di sisi Allah. Dan orang yang penuh cobaan, jika dia bersabar, mungkin justru mendapat cinta dan rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu mengintrospeksi diri dan memastikan bahwa kita tidak terjebak dalam ilusi dunia. Semoga kita selalu diberikan hidayah untuk selalu dekat dengan Allah, menjauhi dosa, dan bersabar dalam setiap ujian. Amin. Dalam setiap nafas dan detik kehidupan, ada hikmah yang Allah sematkan bagi hamba-Nya. Setiap kejadian, baik yang tampak indah maupun yang tampak menyakitkan, memiliki pelajaran yang mungkin tersembunyi di balik tabir kehidupan. Seperti emas yang mesti melewati proses pemurnian dengan api sebelum ia berkilau, demikian pula jiwa kita. Ujian dan cobaan adalah cara Allah memurnikan, menguatkan, dan mendekatkan kita pada-Nya. Dengan demikian, kita semestinya tidak hanya fokus pada apa yang tampak, tetapi mencari makna yang lebih dalam dari setiap peristiwa. Penting pula bagi kita untuk selalu menjaga hati dan niat dalam setiap tindakan. Karena bukan hanya perbuatan yang dilihat Allah, tetapi juga niat dan isi hati kita. Bisa jadi seseorang tampak bahagia dan sejahtera di mata dunia, namun hatinya kosong dan jauh dari keberkahan. Sebaliknya, seseorang yang tampak dilanda cobaan, namun hatinya penuh dengan kesabaran dan tawakal, mungkin mendapat tempat yang istimewa di sisi Allah. Oleh karena itu, jangan hanya menilai dari luarnya saja, tetapi introspeksi dan perbaiki selalu isi hati dan niat kita. Sehingga kita bisa menjalani hidup dengan penuh makna dan berkah. Baca juga: Mengikuti Gemerlap Dunia Itu Tidak Ada Habisnya *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: budak duniailusi dunia


Daftar Isi Toggle Orang yang terbiasa dengan kemaksiatanTanda kesuksesan tidak selalu fisikOrang yang terus diujiUjian sebagai penyucian jiwaJangan terjebak ilusi dunia Dalam menjalani kehidupan ini, kadangkala kita menilai keberuntungan dan kesialan seseorang dari apa yang kita lihat di permukaan. Namun, kita lupa bahwa apa yang tampak di mata bisa jadi berbeda dengan realitas sebenarnya. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan, belum tentu hidupnya benar-benar bahagia di hadapan Allah Ta’ala. Sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, kita seringkali hanya melihat segala sesuatu dari perspektif yang sempit, yaitu dari sudut pandang duniawi. Kita terjebak dalam definisi kebahagiaan dan kesuksesan yang didasarkan pada harta, kekuasaan, kepopuleran, atau kesenangan fisik. Padahal, keberuntungan seseorang tidak semata-mata diukur dari segi material atau apa yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai kenikmatan di dunia ini, mungkin justru menjadi belenggu bagi kehidupan akhirat seseorang. Di sisi lain, orang yang terlihat mengalami kesulitan dan cobaan di dunia ini, bisa jadi justru berada dalam rahmat dan lindungan Allah Ta’ala. Cobaan dan kesulitan seringkali menjadi cara Allah Ta’ala untuk menguji dan menyucikan hamba-Nya, sekaligus menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang orang yang paling berat ujiannya di dunia. Maka, beliau menjawab, الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185) Maka, Saudaraku! Hal ini merupakan tanda bahwa cobaan dan kesulitan bukanlah hukuman, melainkan tanda kasih sayang dan perhatian Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang dipilih untuk ditempa agar menjadi lebih baik. Orang yang terbiasa dengan kemaksiatan Sebagian dari kita mungkin melihat orang yang terbiasa melakukan dosa, namun tampaknya tidak mendapat teguran dari Allah Ta’ala. Sebagian besar mereka menikmati kehidupan dunia, kaya raya, dan memiliki kesehatan yang baik. Namun, sebenarnya, kondisi ini justru bisa menjadi merupakan petaka bagi mereka. Hal itu tidak lain pertanda bahwa Allah Ta’ala telah berpaling dari mereka dan membiarkan mereka terus menerus dalam kesesatan hingga ajal menjemput. wal’iyadzu billah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ “Apabila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, 4: 145) Istidraj merupakan salah satu bentuk cara Allah Ta’ala menarik seseorang dengan lembut menuju kebinasaan. Orang yang terus menerus dalam kemaksiatan, namun tidak mendapatkan teguran, mungkin tidak sadar bahwa mereka sedang ditarik perlahan ke jurang kehancuran. Ini adalah tanda bahwa Allah mungkin telah meninggalkannya. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita Tanda kesuksesan tidak selalu fisik Salah satu kesalahan persepsi adalah menganggap bahwa kemakmuran dan keberhasilan dunia merupakan tanda rida dan keberkahan dari Allah. Namun, dalam banyak kasus, kekayaan, dan kesenangan dunia dapat menjadi fitnah bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya harta, anak-anak adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28) Kesenangan dunia seperti harta dan anak bukanlah ukuran kesuksesan hakiki di mata Allah, melainkan bisa jadi adalah fitnah yang menguji keimanan dan kesabaran seseorang. Penting juga diingat bahwa di antara hal yang merugikan bagi seorang hamba adalah ketika ia terus menerus mendapatkan kesenangan dunia tanpa hambatan dan hatinya bisa menjadi terpaut dan lupa akan akhirat. Ketika seseorang terlalu cinta dunia, ia akan cenderung melakukan apapun untuk mempertahankan dan meningkatkan kesenangannya, bahkan jika itu berarti melanggar perintah Allah. Perhatikanlah! Inilah contoh nyata dari bagaimana seseorang yang tampak sukses di mata manusia, namun sebenarnya berada dalam bahaya besar karena jauh dari rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu waspada terhadap godaan dunia dan memastikan bahwa hati kita selalu terpaut pada Allah dan akhirat. Orang yang terus diuji Sebaliknya, ada orang yang hidupnya penuh dengan ujian dan cobaan. Mereka mungkin sering sakit, kehilangan, atau mengalami kesulitan hidup. Namun, ujian ini sebenarnya bisa menjadi bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Dengan ujian, dosa-dosa kita dihapuskan. Selain itu, kesabaran dalam menghadapi ujian merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang bersabar akan mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya, besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Baca juga: Sumber Kebahagiaan Duniawi Ujian sebagai penyucian jiwa Setiap ujian dan cobaan yang menimpa seorang muslim bukanlah tanpa alasan. Allah memberikan ujian sebagai bentuk penyucian jiwa dan pembersihan dosa. Sebagaimana emas yang semakin berkilau setelah dilebur dalam api, demikian pula jiwa seorang mukmin yang bersabar dalam menghadapi ujian akan semakin murni. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Dalil ini menegaskan bahwa kesulitan dan rasa sakit yang kita alami dalam hidup ini memiliki hikmah, yaitu menghapuskan dosa-dosa kita, sebagaimana daun yang gugur dari pohon. Saat kita dicoba, sebenarnya itu adalah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita. Melalui ujian, Allah ingin mengangkat derajat kita dan menguji kekuatan iman kita. Ujian yang datang bertubi-tubi menunjukkan bahwa Allah ingin menguji kekuatan iman kita dan mengangkat derajat kita. Jadi, bukannya harus merasa putus asa, kita seharusnya menyambut ujian sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas iman kita. Jangan terjebak ilusi dunia Saudaraku, jangan mudah teperdaya dengan apa yang kita lihat di permukaan. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan belum tentu lebih baik kedudukannya di sisi Allah. Dan orang yang penuh cobaan, jika dia bersabar, mungkin justru mendapat cinta dan rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu mengintrospeksi diri dan memastikan bahwa kita tidak terjebak dalam ilusi dunia. Semoga kita selalu diberikan hidayah untuk selalu dekat dengan Allah, menjauhi dosa, dan bersabar dalam setiap ujian. Amin. Dalam setiap nafas dan detik kehidupan, ada hikmah yang Allah sematkan bagi hamba-Nya. Setiap kejadian, baik yang tampak indah maupun yang tampak menyakitkan, memiliki pelajaran yang mungkin tersembunyi di balik tabir kehidupan. Seperti emas yang mesti melewati proses pemurnian dengan api sebelum ia berkilau, demikian pula jiwa kita. Ujian dan cobaan adalah cara Allah memurnikan, menguatkan, dan mendekatkan kita pada-Nya. Dengan demikian, kita semestinya tidak hanya fokus pada apa yang tampak, tetapi mencari makna yang lebih dalam dari setiap peristiwa. Penting pula bagi kita untuk selalu menjaga hati dan niat dalam setiap tindakan. Karena bukan hanya perbuatan yang dilihat Allah, tetapi juga niat dan isi hati kita. Bisa jadi seseorang tampak bahagia dan sejahtera di mata dunia, namun hatinya kosong dan jauh dari keberkahan. Sebaliknya, seseorang yang tampak dilanda cobaan, namun hatinya penuh dengan kesabaran dan tawakal, mungkin mendapat tempat yang istimewa di sisi Allah. Oleh karena itu, jangan hanya menilai dari luarnya saja, tetapi introspeksi dan perbaiki selalu isi hati dan niat kita. Sehingga kita bisa menjalani hidup dengan penuh makna dan berkah. Baca juga: Mengikuti Gemerlap Dunia Itu Tidak Ada Habisnya *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: budak duniailusi dunia

Refleksi Lembaga Dakwah Islam sebagai Solusi Problematika Pemuda Saat Ini

Problematika dan isu di kalangan pemuda sosial di Indonesia selalu ramai diperbincangkan hingga saat ini khususnya mengenai gaya hidup dan kesejahteraan atau kemandirian finansial. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya keberagaman latar belakang problematika masyarakat, baik dari etnis, agama, cara pandang kehidupan, latar belakang pendidikan, dan sosial. Dari adanya hal tersebut menjadi sebab masyarakat indonesia menghadapi berbagai macam masalah kesejahteraan sosial yang berpengaruh pada segi dan tingkatan ketakwaan seseorang. Dalam satu dasawarsa terakhir, beberapa tragedi kemanusiaan yang memilukan sekaligus mengkhawatirkan berlangsung silih berganti di negara kita. Serentetan peristiwa kerusuhan sosial (riots) itu telah menarik perhatian semua orang tentang apa yang terjadi di negara yang terkenal kedamaian dan keamanannya ini. Berbagai konflik sosial yang terjadi merupakan bagian dari a dinamic change. Hal ini sebagai suatu penyebab sifat positif telah berubah menjadi negatif dan menimbulkan berbagai masalah dalam masyarakat. Eskalasi konflik dan problematika hidup yang kian bertambah, berdampak pada berkembangnya konflik yang tidak hanya horizontal akan tetapi juga vertikal. Hal demikian menjadi pertanyaan besar bagi kebanyakan masyarakat di indonesia dalam mencari penyebab dan solusi dari semua ini. Kerumitan dalam mengurai penyebab dan latar belakang adanya konflik yang seakan muncul dengan berurutan tanpa kenal waktu merebak di hampir semua tempat di tanah air. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menemukan formula jitu untuk mencari solusi dan obat penawar. Adanya bentuk, jenis, dan eskalasi konflik, serta problematika yang beragam, beragam pula faktor penyebab dan faktor pemantiknya. Adanya konflik di dalam masyarakat dapat disebabkan karena adanya faktor kepentingan, faktor agama, faktor sosial, faktor politik, pendidikan, kesehatan, faktor ekonomi, budaya, etnis, dan ideologis. Hanya saja, faktor agama, ekonomi, dan politik sering dianggap sebagai faktor yang dominan dibanding dengan dua faktor yang disebutkan terakhir. Hal tersebut terlihat di lapangan bahwa konflik yang sering terjadi di lapangan kerap menggunakan pendekatan dan membawa simbol-simbol agama. Seperti contoh adanya pembubaran pengajian, lalu perusakan tempat peribadatan, penyerangan dan amuk masa, atau bahkan pembunuhan terhadap penganut agama tertentu. Namun, jika dikaji lebih dalam dan dianalisis kembali bahwasanya konflik etnis, agama, dan ideologi ternyata hanyalah menjadi faktor yang mengikuti atau mengekor dari adanya penyebab konflik yang lebih masif dan kompleks dengan membawa latar belakang kesenjangan sosial, kesenjangan kesejahteraan, ekonomi, dan politik. Meskipun adanya hal demikian, tidak ada salahnya jika kemudian teramat penting konflik yang terjadi dikarenakan faktor etnis, agama, dan ideologis bagi umat beragama untuk mengkaji dan menemukan langkah dan cara dalam menyelesaikan masalah secara efektif bagi penghayatan, pengamalan dan kebebasan dalam menjalankan sebuah ibadah sekaligus merdeka dalam menjalankannya dan menyebarkan ajaran agama Islam di tengah masyarakat Indonesia. Dasar aliran atau golongan agama Islam yang dibagi menjadi berbagai golongan, ada sekurangnya 73 golongan yang telah disampaikan oleh perawi hadis berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wasallam bersabda, عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.’” [1] Dari kausalitas (sebab akibat) di atas menjadi satu alasan mengapa kemudian penting belajar agama yang syar’i dan sesuai sunah. Sebagai salah satu cara, yakni dengan mengikuti dan aktif dalam forum komunitas dakwah atau ikut serta dalam agenda lembaga yang bergerak dalam menghimpun dan berusaha berdakwah dalam hal kebaikan dan kebenaran. Lembaga dakwah itu sendiri tidak hanya menaruh perhatian terhadap dakwah untuk kalangan orang yang sudah paham, akan tetapi boleh diakses siapa saja termasuk di dalamnya pemuda, semisal mahasiswa yang ada di kampus dalam memberikan perluasan makna dalam gerak dakwahnya di kalangan pemuda. Memulai dari hal sederhana yang bisa dijalankan bersama dengan berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda sehingga menghadirkan kebaikan dan solusi keumatan melalui dakwah inklusif di berbagai kalangan umat muslim, baik kalangan pemuda saat ini atau masyarakat pada umumnya. Yakni, berkolaborasi dengan berbagai lembaga dakwah Islam dan organisasi dakwah baik di internal kampus ataupun lembaga dakwah Islam yang ada di lingkungan masyarakat. Di tengah dinamika Lembaga Dakwah yang sangat komplek dan banyak muncul lembaga dakwah di Indonesia. Lembaga Dakwah di Kampus atau yang banyak di kalangan masyarakat secara langsung terlibat dalam membantu mengatasi masalah problematika masyarakat dan problematika keagamaan, khususnya dalam dakwah kampus (pemuda) yang ditengarai oleh aktivis dakwah di kampus. Tentu hal ini menjadi suatu hal yang selaras dengan semangat dakwah dalam mengatasi dan mempersiapan agent of change melalui pemuda, khususnya yang punya pengaruh besar di kalangan pemuda masa kini dalam kampus. Dapat diperoleh simpulan mengenai agenda Lembaga Dakwah Islam mampu menjadi wadah kebaikan dakwah yang mampu mewadahi aktivitas dalam berdakwah untuk menangkal dan mengurangi problematika umat. Atau sederhananya adalah mengurangi masalah dalam masyarakat di Indonesia melalui pendekatan dan pengelolaan kegiatan dan agenda keagamaan, dalam hal ini melalui dakwah di kampus atau dakwah kepemudaan dan masyarakat. Baca juga: Peran Pemuda Muslim di Zaman Milenial *** Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Keterangan: Hadis ini diriwayatkan oleh: Abu Dawud, Kitab As-Sunnah, Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafaz hadis di atas adalah lafaz Abu Dawud. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, Bab Maa Jaa-a fiftiraqi Hadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata, “Hadis ini hasan sahih.” (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 7:397-398) Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Umam, no. 3991. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad, 2:332, tanpa menyebutkan kata “Nashara.” Al-Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak, Kitabul Iman, 1:6, dan ia berkata, “Hadis ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.” Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawariduzh Zhamaan, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834. Abu Ya’la Al-Maushiliy, dalam kitabnya Al-Musnad: Musnad Abu Hurairah, no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut). Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya As-Sunnah, Bab Fii ma Akhbara bihin Nabiyyu -shallallaahu ‘alaihi wasallam- anna Ummatahu Sataftariqu, 1:33, no. 66. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Diniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah?, 1:374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san Mu’thi. Al-Ajurri, dalam kitab Asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Dinihi, 1:306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman Ad-Damiiji. Perawi Hadis: Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy. Imam Abu Hatim berkata, “Ia baik hadisnya, ditulis hadisnya dan dia adalah seorang Syekh (guru).” Imam An-Nasa’i berkata, “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.” Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ia adalah seorang Syekh yang terkenal dan hasan hadisnya.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata, “Ia seorang perawi yang benar, hanya padanya ada beberapa kesalahan.” (Lihat Al-Jarhu wat-Ta’dilu, 8:30-31, Mizanul I’tidal 3:673 no. 8015, Tahdzibut Tahdzib 9:333-334, Taqribut Tahdzib 2:119 no. 6208) Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah, Abu Zur’ah berkata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat Tahdzibut Tahdzib, 12:115, Taqribut Tahdzib, 2:409 no. 8177) Tags: lembaga dakwahproblematika pemuda

Refleksi Lembaga Dakwah Islam sebagai Solusi Problematika Pemuda Saat Ini

Problematika dan isu di kalangan pemuda sosial di Indonesia selalu ramai diperbincangkan hingga saat ini khususnya mengenai gaya hidup dan kesejahteraan atau kemandirian finansial. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya keberagaman latar belakang problematika masyarakat, baik dari etnis, agama, cara pandang kehidupan, latar belakang pendidikan, dan sosial. Dari adanya hal tersebut menjadi sebab masyarakat indonesia menghadapi berbagai macam masalah kesejahteraan sosial yang berpengaruh pada segi dan tingkatan ketakwaan seseorang. Dalam satu dasawarsa terakhir, beberapa tragedi kemanusiaan yang memilukan sekaligus mengkhawatirkan berlangsung silih berganti di negara kita. Serentetan peristiwa kerusuhan sosial (riots) itu telah menarik perhatian semua orang tentang apa yang terjadi di negara yang terkenal kedamaian dan keamanannya ini. Berbagai konflik sosial yang terjadi merupakan bagian dari a dinamic change. Hal ini sebagai suatu penyebab sifat positif telah berubah menjadi negatif dan menimbulkan berbagai masalah dalam masyarakat. Eskalasi konflik dan problematika hidup yang kian bertambah, berdampak pada berkembangnya konflik yang tidak hanya horizontal akan tetapi juga vertikal. Hal demikian menjadi pertanyaan besar bagi kebanyakan masyarakat di indonesia dalam mencari penyebab dan solusi dari semua ini. Kerumitan dalam mengurai penyebab dan latar belakang adanya konflik yang seakan muncul dengan berurutan tanpa kenal waktu merebak di hampir semua tempat di tanah air. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menemukan formula jitu untuk mencari solusi dan obat penawar. Adanya bentuk, jenis, dan eskalasi konflik, serta problematika yang beragam, beragam pula faktor penyebab dan faktor pemantiknya. Adanya konflik di dalam masyarakat dapat disebabkan karena adanya faktor kepentingan, faktor agama, faktor sosial, faktor politik, pendidikan, kesehatan, faktor ekonomi, budaya, etnis, dan ideologis. Hanya saja, faktor agama, ekonomi, dan politik sering dianggap sebagai faktor yang dominan dibanding dengan dua faktor yang disebutkan terakhir. Hal tersebut terlihat di lapangan bahwa konflik yang sering terjadi di lapangan kerap menggunakan pendekatan dan membawa simbol-simbol agama. Seperti contoh adanya pembubaran pengajian, lalu perusakan tempat peribadatan, penyerangan dan amuk masa, atau bahkan pembunuhan terhadap penganut agama tertentu. Namun, jika dikaji lebih dalam dan dianalisis kembali bahwasanya konflik etnis, agama, dan ideologi ternyata hanyalah menjadi faktor yang mengikuti atau mengekor dari adanya penyebab konflik yang lebih masif dan kompleks dengan membawa latar belakang kesenjangan sosial, kesenjangan kesejahteraan, ekonomi, dan politik. Meskipun adanya hal demikian, tidak ada salahnya jika kemudian teramat penting konflik yang terjadi dikarenakan faktor etnis, agama, dan ideologis bagi umat beragama untuk mengkaji dan menemukan langkah dan cara dalam menyelesaikan masalah secara efektif bagi penghayatan, pengamalan dan kebebasan dalam menjalankan sebuah ibadah sekaligus merdeka dalam menjalankannya dan menyebarkan ajaran agama Islam di tengah masyarakat Indonesia. Dasar aliran atau golongan agama Islam yang dibagi menjadi berbagai golongan, ada sekurangnya 73 golongan yang telah disampaikan oleh perawi hadis berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wasallam bersabda, عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.’” [1] Dari kausalitas (sebab akibat) di atas menjadi satu alasan mengapa kemudian penting belajar agama yang syar’i dan sesuai sunah. Sebagai salah satu cara, yakni dengan mengikuti dan aktif dalam forum komunitas dakwah atau ikut serta dalam agenda lembaga yang bergerak dalam menghimpun dan berusaha berdakwah dalam hal kebaikan dan kebenaran. Lembaga dakwah itu sendiri tidak hanya menaruh perhatian terhadap dakwah untuk kalangan orang yang sudah paham, akan tetapi boleh diakses siapa saja termasuk di dalamnya pemuda, semisal mahasiswa yang ada di kampus dalam memberikan perluasan makna dalam gerak dakwahnya di kalangan pemuda. Memulai dari hal sederhana yang bisa dijalankan bersama dengan berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda sehingga menghadirkan kebaikan dan solusi keumatan melalui dakwah inklusif di berbagai kalangan umat muslim, baik kalangan pemuda saat ini atau masyarakat pada umumnya. Yakni, berkolaborasi dengan berbagai lembaga dakwah Islam dan organisasi dakwah baik di internal kampus ataupun lembaga dakwah Islam yang ada di lingkungan masyarakat. Di tengah dinamika Lembaga Dakwah yang sangat komplek dan banyak muncul lembaga dakwah di Indonesia. Lembaga Dakwah di Kampus atau yang banyak di kalangan masyarakat secara langsung terlibat dalam membantu mengatasi masalah problematika masyarakat dan problematika keagamaan, khususnya dalam dakwah kampus (pemuda) yang ditengarai oleh aktivis dakwah di kampus. Tentu hal ini menjadi suatu hal yang selaras dengan semangat dakwah dalam mengatasi dan mempersiapan agent of change melalui pemuda, khususnya yang punya pengaruh besar di kalangan pemuda masa kini dalam kampus. Dapat diperoleh simpulan mengenai agenda Lembaga Dakwah Islam mampu menjadi wadah kebaikan dakwah yang mampu mewadahi aktivitas dalam berdakwah untuk menangkal dan mengurangi problematika umat. Atau sederhananya adalah mengurangi masalah dalam masyarakat di Indonesia melalui pendekatan dan pengelolaan kegiatan dan agenda keagamaan, dalam hal ini melalui dakwah di kampus atau dakwah kepemudaan dan masyarakat. Baca juga: Peran Pemuda Muslim di Zaman Milenial *** Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Keterangan: Hadis ini diriwayatkan oleh: Abu Dawud, Kitab As-Sunnah, Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafaz hadis di atas adalah lafaz Abu Dawud. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, Bab Maa Jaa-a fiftiraqi Hadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata, “Hadis ini hasan sahih.” (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 7:397-398) Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Umam, no. 3991. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad, 2:332, tanpa menyebutkan kata “Nashara.” Al-Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak, Kitabul Iman, 1:6, dan ia berkata, “Hadis ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.” Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawariduzh Zhamaan, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834. Abu Ya’la Al-Maushiliy, dalam kitabnya Al-Musnad: Musnad Abu Hurairah, no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut). Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya As-Sunnah, Bab Fii ma Akhbara bihin Nabiyyu -shallallaahu ‘alaihi wasallam- anna Ummatahu Sataftariqu, 1:33, no. 66. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Diniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah?, 1:374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san Mu’thi. Al-Ajurri, dalam kitab Asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Dinihi, 1:306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman Ad-Damiiji. Perawi Hadis: Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy. Imam Abu Hatim berkata, “Ia baik hadisnya, ditulis hadisnya dan dia adalah seorang Syekh (guru).” Imam An-Nasa’i berkata, “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.” Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ia adalah seorang Syekh yang terkenal dan hasan hadisnya.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata, “Ia seorang perawi yang benar, hanya padanya ada beberapa kesalahan.” (Lihat Al-Jarhu wat-Ta’dilu, 8:30-31, Mizanul I’tidal 3:673 no. 8015, Tahdzibut Tahdzib 9:333-334, Taqribut Tahdzib 2:119 no. 6208) Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah, Abu Zur’ah berkata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat Tahdzibut Tahdzib, 12:115, Taqribut Tahdzib, 2:409 no. 8177) Tags: lembaga dakwahproblematika pemuda
Problematika dan isu di kalangan pemuda sosial di Indonesia selalu ramai diperbincangkan hingga saat ini khususnya mengenai gaya hidup dan kesejahteraan atau kemandirian finansial. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya keberagaman latar belakang problematika masyarakat, baik dari etnis, agama, cara pandang kehidupan, latar belakang pendidikan, dan sosial. Dari adanya hal tersebut menjadi sebab masyarakat indonesia menghadapi berbagai macam masalah kesejahteraan sosial yang berpengaruh pada segi dan tingkatan ketakwaan seseorang. Dalam satu dasawarsa terakhir, beberapa tragedi kemanusiaan yang memilukan sekaligus mengkhawatirkan berlangsung silih berganti di negara kita. Serentetan peristiwa kerusuhan sosial (riots) itu telah menarik perhatian semua orang tentang apa yang terjadi di negara yang terkenal kedamaian dan keamanannya ini. Berbagai konflik sosial yang terjadi merupakan bagian dari a dinamic change. Hal ini sebagai suatu penyebab sifat positif telah berubah menjadi negatif dan menimbulkan berbagai masalah dalam masyarakat. Eskalasi konflik dan problematika hidup yang kian bertambah, berdampak pada berkembangnya konflik yang tidak hanya horizontal akan tetapi juga vertikal. Hal demikian menjadi pertanyaan besar bagi kebanyakan masyarakat di indonesia dalam mencari penyebab dan solusi dari semua ini. Kerumitan dalam mengurai penyebab dan latar belakang adanya konflik yang seakan muncul dengan berurutan tanpa kenal waktu merebak di hampir semua tempat di tanah air. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menemukan formula jitu untuk mencari solusi dan obat penawar. Adanya bentuk, jenis, dan eskalasi konflik, serta problematika yang beragam, beragam pula faktor penyebab dan faktor pemantiknya. Adanya konflik di dalam masyarakat dapat disebabkan karena adanya faktor kepentingan, faktor agama, faktor sosial, faktor politik, pendidikan, kesehatan, faktor ekonomi, budaya, etnis, dan ideologis. Hanya saja, faktor agama, ekonomi, dan politik sering dianggap sebagai faktor yang dominan dibanding dengan dua faktor yang disebutkan terakhir. Hal tersebut terlihat di lapangan bahwa konflik yang sering terjadi di lapangan kerap menggunakan pendekatan dan membawa simbol-simbol agama. Seperti contoh adanya pembubaran pengajian, lalu perusakan tempat peribadatan, penyerangan dan amuk masa, atau bahkan pembunuhan terhadap penganut agama tertentu. Namun, jika dikaji lebih dalam dan dianalisis kembali bahwasanya konflik etnis, agama, dan ideologi ternyata hanyalah menjadi faktor yang mengikuti atau mengekor dari adanya penyebab konflik yang lebih masif dan kompleks dengan membawa latar belakang kesenjangan sosial, kesenjangan kesejahteraan, ekonomi, dan politik. Meskipun adanya hal demikian, tidak ada salahnya jika kemudian teramat penting konflik yang terjadi dikarenakan faktor etnis, agama, dan ideologis bagi umat beragama untuk mengkaji dan menemukan langkah dan cara dalam menyelesaikan masalah secara efektif bagi penghayatan, pengamalan dan kebebasan dalam menjalankan sebuah ibadah sekaligus merdeka dalam menjalankannya dan menyebarkan ajaran agama Islam di tengah masyarakat Indonesia. Dasar aliran atau golongan agama Islam yang dibagi menjadi berbagai golongan, ada sekurangnya 73 golongan yang telah disampaikan oleh perawi hadis berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wasallam bersabda, عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.’” [1] Dari kausalitas (sebab akibat) di atas menjadi satu alasan mengapa kemudian penting belajar agama yang syar’i dan sesuai sunah. Sebagai salah satu cara, yakni dengan mengikuti dan aktif dalam forum komunitas dakwah atau ikut serta dalam agenda lembaga yang bergerak dalam menghimpun dan berusaha berdakwah dalam hal kebaikan dan kebenaran. Lembaga dakwah itu sendiri tidak hanya menaruh perhatian terhadap dakwah untuk kalangan orang yang sudah paham, akan tetapi boleh diakses siapa saja termasuk di dalamnya pemuda, semisal mahasiswa yang ada di kampus dalam memberikan perluasan makna dalam gerak dakwahnya di kalangan pemuda. Memulai dari hal sederhana yang bisa dijalankan bersama dengan berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda sehingga menghadirkan kebaikan dan solusi keumatan melalui dakwah inklusif di berbagai kalangan umat muslim, baik kalangan pemuda saat ini atau masyarakat pada umumnya. Yakni, berkolaborasi dengan berbagai lembaga dakwah Islam dan organisasi dakwah baik di internal kampus ataupun lembaga dakwah Islam yang ada di lingkungan masyarakat. Di tengah dinamika Lembaga Dakwah yang sangat komplek dan banyak muncul lembaga dakwah di Indonesia. Lembaga Dakwah di Kampus atau yang banyak di kalangan masyarakat secara langsung terlibat dalam membantu mengatasi masalah problematika masyarakat dan problematika keagamaan, khususnya dalam dakwah kampus (pemuda) yang ditengarai oleh aktivis dakwah di kampus. Tentu hal ini menjadi suatu hal yang selaras dengan semangat dakwah dalam mengatasi dan mempersiapan agent of change melalui pemuda, khususnya yang punya pengaruh besar di kalangan pemuda masa kini dalam kampus. Dapat diperoleh simpulan mengenai agenda Lembaga Dakwah Islam mampu menjadi wadah kebaikan dakwah yang mampu mewadahi aktivitas dalam berdakwah untuk menangkal dan mengurangi problematika umat. Atau sederhananya adalah mengurangi masalah dalam masyarakat di Indonesia melalui pendekatan dan pengelolaan kegiatan dan agenda keagamaan, dalam hal ini melalui dakwah di kampus atau dakwah kepemudaan dan masyarakat. Baca juga: Peran Pemuda Muslim di Zaman Milenial *** Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Keterangan: Hadis ini diriwayatkan oleh: Abu Dawud, Kitab As-Sunnah, Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafaz hadis di atas adalah lafaz Abu Dawud. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, Bab Maa Jaa-a fiftiraqi Hadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata, “Hadis ini hasan sahih.” (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 7:397-398) Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Umam, no. 3991. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad, 2:332, tanpa menyebutkan kata “Nashara.” Al-Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak, Kitabul Iman, 1:6, dan ia berkata, “Hadis ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.” Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawariduzh Zhamaan, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834. Abu Ya’la Al-Maushiliy, dalam kitabnya Al-Musnad: Musnad Abu Hurairah, no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut). Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya As-Sunnah, Bab Fii ma Akhbara bihin Nabiyyu -shallallaahu ‘alaihi wasallam- anna Ummatahu Sataftariqu, 1:33, no. 66. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Diniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah?, 1:374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san Mu’thi. Al-Ajurri, dalam kitab Asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Dinihi, 1:306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman Ad-Damiiji. Perawi Hadis: Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy. Imam Abu Hatim berkata, “Ia baik hadisnya, ditulis hadisnya dan dia adalah seorang Syekh (guru).” Imam An-Nasa’i berkata, “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.” Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ia adalah seorang Syekh yang terkenal dan hasan hadisnya.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata, “Ia seorang perawi yang benar, hanya padanya ada beberapa kesalahan.” (Lihat Al-Jarhu wat-Ta’dilu, 8:30-31, Mizanul I’tidal 3:673 no. 8015, Tahdzibut Tahdzib 9:333-334, Taqribut Tahdzib 2:119 no. 6208) Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah, Abu Zur’ah berkata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat Tahdzibut Tahdzib, 12:115, Taqribut Tahdzib, 2:409 no. 8177) Tags: lembaga dakwahproblematika pemuda


Problematika dan isu di kalangan pemuda sosial di Indonesia selalu ramai diperbincangkan hingga saat ini khususnya mengenai gaya hidup dan kesejahteraan atau kemandirian finansial. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya keberagaman latar belakang problematika masyarakat, baik dari etnis, agama, cara pandang kehidupan, latar belakang pendidikan, dan sosial. Dari adanya hal tersebut menjadi sebab masyarakat indonesia menghadapi berbagai macam masalah kesejahteraan sosial yang berpengaruh pada segi dan tingkatan ketakwaan seseorang. Dalam satu dasawarsa terakhir, beberapa tragedi kemanusiaan yang memilukan sekaligus mengkhawatirkan berlangsung silih berganti di negara kita. Serentetan peristiwa kerusuhan sosial (riots) itu telah menarik perhatian semua orang tentang apa yang terjadi di negara yang terkenal kedamaian dan keamanannya ini. Berbagai konflik sosial yang terjadi merupakan bagian dari a dinamic change. Hal ini sebagai suatu penyebab sifat positif telah berubah menjadi negatif dan menimbulkan berbagai masalah dalam masyarakat. Eskalasi konflik dan problematika hidup yang kian bertambah, berdampak pada berkembangnya konflik yang tidak hanya horizontal akan tetapi juga vertikal. Hal demikian menjadi pertanyaan besar bagi kebanyakan masyarakat di indonesia dalam mencari penyebab dan solusi dari semua ini. Kerumitan dalam mengurai penyebab dan latar belakang adanya konflik yang seakan muncul dengan berurutan tanpa kenal waktu merebak di hampir semua tempat di tanah air. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menemukan formula jitu untuk mencari solusi dan obat penawar. Adanya bentuk, jenis, dan eskalasi konflik, serta problematika yang beragam, beragam pula faktor penyebab dan faktor pemantiknya. Adanya konflik di dalam masyarakat dapat disebabkan karena adanya faktor kepentingan, faktor agama, faktor sosial, faktor politik, pendidikan, kesehatan, faktor ekonomi, budaya, etnis, dan ideologis. Hanya saja, faktor agama, ekonomi, dan politik sering dianggap sebagai faktor yang dominan dibanding dengan dua faktor yang disebutkan terakhir. Hal tersebut terlihat di lapangan bahwa konflik yang sering terjadi di lapangan kerap menggunakan pendekatan dan membawa simbol-simbol agama. Seperti contoh adanya pembubaran pengajian, lalu perusakan tempat peribadatan, penyerangan dan amuk masa, atau bahkan pembunuhan terhadap penganut agama tertentu. Namun, jika dikaji lebih dalam dan dianalisis kembali bahwasanya konflik etnis, agama, dan ideologi ternyata hanyalah menjadi faktor yang mengikuti atau mengekor dari adanya penyebab konflik yang lebih masif dan kompleks dengan membawa latar belakang kesenjangan sosial, kesenjangan kesejahteraan, ekonomi, dan politik. Meskipun adanya hal demikian, tidak ada salahnya jika kemudian teramat penting konflik yang terjadi dikarenakan faktor etnis, agama, dan ideologis bagi umat beragama untuk mengkaji dan menemukan langkah dan cara dalam menyelesaikan masalah secara efektif bagi penghayatan, pengamalan dan kebebasan dalam menjalankan sebuah ibadah sekaligus merdeka dalam menjalankannya dan menyebarkan ajaran agama Islam di tengah masyarakat Indonesia. Dasar aliran atau golongan agama Islam yang dibagi menjadi berbagai golongan, ada sekurangnya 73 golongan yang telah disampaikan oleh perawi hadis berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wasallam bersabda, عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.’” [1] Dari kausalitas (sebab akibat) di atas menjadi satu alasan mengapa kemudian penting belajar agama yang syar’i dan sesuai sunah. Sebagai salah satu cara, yakni dengan mengikuti dan aktif dalam forum komunitas dakwah atau ikut serta dalam agenda lembaga yang bergerak dalam menghimpun dan berusaha berdakwah dalam hal kebaikan dan kebenaran. Lembaga dakwah itu sendiri tidak hanya menaruh perhatian terhadap dakwah untuk kalangan orang yang sudah paham, akan tetapi boleh diakses siapa saja termasuk di dalamnya pemuda, semisal mahasiswa yang ada di kampus dalam memberikan perluasan makna dalam gerak dakwahnya di kalangan pemuda. Memulai dari hal sederhana yang bisa dijalankan bersama dengan berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda sehingga menghadirkan kebaikan dan solusi keumatan melalui dakwah inklusif di berbagai kalangan umat muslim, baik kalangan pemuda saat ini atau masyarakat pada umumnya. Yakni, berkolaborasi dengan berbagai lembaga dakwah Islam dan organisasi dakwah baik di internal kampus ataupun lembaga dakwah Islam yang ada di lingkungan masyarakat. Di tengah dinamika Lembaga Dakwah yang sangat komplek dan banyak muncul lembaga dakwah di Indonesia. Lembaga Dakwah di Kampus atau yang banyak di kalangan masyarakat secara langsung terlibat dalam membantu mengatasi masalah problematika masyarakat dan problematika keagamaan, khususnya dalam dakwah kampus (pemuda) yang ditengarai oleh aktivis dakwah di kampus. Tentu hal ini menjadi suatu hal yang selaras dengan semangat dakwah dalam mengatasi dan mempersiapan agent of change melalui pemuda, khususnya yang punya pengaruh besar di kalangan pemuda masa kini dalam kampus. Dapat diperoleh simpulan mengenai agenda Lembaga Dakwah Islam mampu menjadi wadah kebaikan dakwah yang mampu mewadahi aktivitas dalam berdakwah untuk menangkal dan mengurangi problematika umat. Atau sederhananya adalah mengurangi masalah dalam masyarakat di Indonesia melalui pendekatan dan pengelolaan kegiatan dan agenda keagamaan, dalam hal ini melalui dakwah di kampus atau dakwah kepemudaan dan masyarakat. Baca juga: Peran Pemuda Muslim di Zaman Milenial *** Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Keterangan: Hadis ini diriwayatkan oleh: Abu Dawud, Kitab As-Sunnah, Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafaz hadis di atas adalah lafaz Abu Dawud. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, Bab Maa Jaa-a fiftiraqi Hadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata, “Hadis ini hasan sahih.” (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 7:397-398) Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Umam, no. 3991. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad, 2:332, tanpa menyebutkan kata “Nashara.” Al-Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak, Kitabul Iman, 1:6, dan ia berkata, “Hadis ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.” Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawariduzh Zhamaan, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834. Abu Ya’la Al-Maushiliy, dalam kitabnya Al-Musnad: Musnad Abu Hurairah, no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut). Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya As-Sunnah, Bab Fii ma Akhbara bihin Nabiyyu -shallallaahu ‘alaihi wasallam- anna Ummatahu Sataftariqu, 1:33, no. 66. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Diniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah?, 1:374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san Mu’thi. Al-Ajurri, dalam kitab Asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Dinihi, 1:306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman Ad-Damiiji. Perawi Hadis: Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy. Imam Abu Hatim berkata, “Ia baik hadisnya, ditulis hadisnya dan dia adalah seorang Syekh (guru).” Imam An-Nasa’i berkata, “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.” Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ia adalah seorang Syekh yang terkenal dan hasan hadisnya.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata, “Ia seorang perawi yang benar, hanya padanya ada beberapa kesalahan.” (Lihat Al-Jarhu wat-Ta’dilu, 8:30-31, Mizanul I’tidal 3:673 no. 8015, Tahdzibut Tahdzib 9:333-334, Taqribut Tahdzib 2:119 no. 6208) Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah, Abu Zur’ah berkata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat Tahdzibut Tahdzib, 12:115, Taqribut Tahdzib, 2:409 no. 8177) Tags: lembaga dakwahproblematika pemuda

Hikmah dalam Berdakwah (Bag. 2): Keutamaan dan Rukun Hikmah

Daftar Isi Toggle Keutamaan hikmahHikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallahBersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamBarangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyakHikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuHikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnyaRukun hikmahRukun pertama: Ilmu syar’iRukun kedua: Al-hilmu (tenang)Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Keutamaan hikmah Hikmah memiliki keutamaan yang banyak, di antaranya: Hikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallah Oleh karena itu, Allah perintahkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersikap hikmah dalam berdakwah mengajak manusia kepada-Nya. Allah berfirman, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ “Dakwahilah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” (QS. An-Nahl: 125) Bersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sehingga didapatkan keberkahan, keselamatan dari kesalahan, dan lebih mudah diterima oleh objek dakwah. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari Akhir dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) Barangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyak Allah Ta’ala berfirman, يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269) Hikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu Dengan sebab doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjadi salah satu ulama tafsir di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas, اللَّهُمْ عَلَّمْهُ الْحِكْمَةَ “Ya Allah, ajarkanlah hikmah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari) Hikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnya Dalam Shahihain, Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا حَسَدَ إِلا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak ada hasad (yang terpuji), kecuali pada dua perkara: 1) seseorang yang Allah beri harta, lalu ia infakkan semua di jalan Allah, dan 2) seseorang yang Allah beri hikmah, lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya (kepada manusia).’” Baca juga: Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia Rukun hikmah Hikmah memiliki tiga rukun. Ketiga rukun ini adalah pilar-pilar penegak sikap hikmah dalam berdakwah. Rukun pertama: Ilmu syar’i Rukun pertama adalah ilmu syar’i, yaitu Al-Qur’an dan hadis dengan pemahaman dan pengamalan salaf saleh. Ilmu syar’i adalah rukun hikmah yang terbesar di antara tiga rukun hikmah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berilmu syar’i sebelum berucap dan beramal saleh. Allah Ta’ala berfirman, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka, ilmuilah (ketahuilah), bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” (QS. Muhammad: 19) Dalam ayat ini, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ “Maka, ilmuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah.” Allah perintahkan untuk berilmu syar’i, sebelum beramal saleh. وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” Hal ini menunjukkan bahwa berilmu syar’i lebih didahulukan daripada beramal saleh. Karena ilmu syar’i itu syarat sahnya amal saleh, baik berupa ucapan dan perbuatan termasuk amal saleh berupa bersikap hikmah dalam berdakwah ilallah. Semua itu tidaklah mungkin terwujud kecuali dengan berilmu syar’i terlebih dahulu. Orang yang hikmah/bijak dalam berdakwah itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, menilai serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan as-sunah). Dia melandaskan sikap-sikapnya di atas dalil-dalil dari Kitab dan sunah serta pemahaman salaf saleh. Inilah orang yang bijak dan hikmah yang sesungguhnya. Mustahil bisa bersikap bijak apabila seseorang menyelisihi Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, sebagaimana mustahil disebut bijaksana jika tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh. Orang yang ingin bijak dalam dalam berdakwah, haruslah berilmu syar’i, harus belajar Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, dan harus mengamalkannya. Sehingga benar ucapan dan perbuatannya, tepat materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta tepat dalam segala halnya. Dari sinilah terlihat jelas kekeliruan sebagian da’i yang tidak belajar ilmu tauhid atau tidak mengajarkannya kepada masyarakat. Padahal, ilmu tauhid adalah ilmu syar’i yang teragung dan perintah Allah yang paling penting . Bagaimana seorang da’i bisa disebut bersikap hikmah dalam dakwahnya, jika ia tidak mempelajari dan mengajarkan tauhid dan tidak mengajak masyarakat untuk bertauhid, justru ikut larut ke dalam adat istiadat masyarakat yang berbau kesyirikan dengan dalih bersikap hikmah dalam berdakwah! Jelas ini salah, bahkan menyelisihi rukun bijaksana/hikmah terpenting, yaitu menyelisihi ilmu syar’i teragung, yaitu ilmu tauhid! Rukun kedua: Al-hilmu (tenang) Hilm itu tenang, karena pandai menahan dan mengendalikan diri, tidak mudah terpancing emosi saat menghadapi hal-hal yang tidak disukai. Hilm itu sikap moderat/tengah-tengah antara cepat emosi dan cuek masa bodoh, tidak peduli. Hilm itu sikap yang dibutuhkan seorang da’i saat terpancing emosinya atau saat menghadapi perkara yang tidak disukainya. Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Al-anah itu sikap moderat/tengah-tengah antara terburu-buru sebelum waktunya dan berlambat-lambat padahal sudah datang waktunya. Seorang da’i yang memiliki sifat anah itu suka berhati-hati mempertimbangkan akibat suatu perkara yang dihadapinya dengan matang, tidak grusa-grusu, konfirmasi, dan tabayyun dulu. Dicek dulu kebenaran sebuah berita dan dipertimbangkan dulu akibatnya jika ingin melangkah, sehingga bersikap dengan pertimbangan matang. Barangsiapa yang suka terburu-buru dalam berdakwah dan ingin segera memetik buahnya sebelum waktunya, justru biasanya malah gagal mendapatkannya. Bahkan bisa jadi mendapatkan kebalikan yang diharapkan, merusaknya lebih besar daripada membangunnya. من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه “Barangsiapa yang terburu-buru sebelum waktunya, maka justru akan terhalangi dari mencapai keinginannya.” Sebaliknya, barangsiapa yang berlambat-lambat malas berdakwah, maka ia akan terluput dari hasil dakwah yang diridai Allah. Maka, seorang da’i yang suka berhati-hati mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, inilah da’i yang hikmah/bijak. Ia akan bersegera bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan yang matang, tuntutannya segera bertindak. Ia akan menunda bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan matang, ia perlu menundanya. Dalil sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah) Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dia berbeda dengan sikap teman-temannya saat sampai ke kota Madinah. Mereka langsung menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa mengganti pakaian safar mereka dan tanpa mempersiapkan diri sebagaimana mestinya. Hal ini karena demikian inginnya segera melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, tidaklah demikian dengan Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu. Dengan tenangnya, ia mengganti baju safarnya dengan baju yang indah, mempersiapkan diri dengan baik sebelum menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Atas sikap tenangnya, tidak terburu-buru dan berhati-hatinya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memujinya, إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang Allah cintai: sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah).” (HR. Muslim) Kembali ke bagian 1: Definisi dan Keutamaan Dakwah Ilallah Lanjut ke bagian 3: Tingkatan Hikmah dalam Berdakwah *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: keutamaan hikmahrukun hikmah

Hikmah dalam Berdakwah (Bag. 2): Keutamaan dan Rukun Hikmah

Daftar Isi Toggle Keutamaan hikmahHikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallahBersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamBarangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyakHikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuHikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnyaRukun hikmahRukun pertama: Ilmu syar’iRukun kedua: Al-hilmu (tenang)Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Keutamaan hikmah Hikmah memiliki keutamaan yang banyak, di antaranya: Hikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallah Oleh karena itu, Allah perintahkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersikap hikmah dalam berdakwah mengajak manusia kepada-Nya. Allah berfirman, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ “Dakwahilah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” (QS. An-Nahl: 125) Bersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sehingga didapatkan keberkahan, keselamatan dari kesalahan, dan lebih mudah diterima oleh objek dakwah. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari Akhir dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) Barangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyak Allah Ta’ala berfirman, يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269) Hikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu Dengan sebab doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjadi salah satu ulama tafsir di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas, اللَّهُمْ عَلَّمْهُ الْحِكْمَةَ “Ya Allah, ajarkanlah hikmah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari) Hikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnya Dalam Shahihain, Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا حَسَدَ إِلا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak ada hasad (yang terpuji), kecuali pada dua perkara: 1) seseorang yang Allah beri harta, lalu ia infakkan semua di jalan Allah, dan 2) seseorang yang Allah beri hikmah, lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya (kepada manusia).’” Baca juga: Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia Rukun hikmah Hikmah memiliki tiga rukun. Ketiga rukun ini adalah pilar-pilar penegak sikap hikmah dalam berdakwah. Rukun pertama: Ilmu syar’i Rukun pertama adalah ilmu syar’i, yaitu Al-Qur’an dan hadis dengan pemahaman dan pengamalan salaf saleh. Ilmu syar’i adalah rukun hikmah yang terbesar di antara tiga rukun hikmah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berilmu syar’i sebelum berucap dan beramal saleh. Allah Ta’ala berfirman, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka, ilmuilah (ketahuilah), bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” (QS. Muhammad: 19) Dalam ayat ini, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ “Maka, ilmuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah.” Allah perintahkan untuk berilmu syar’i, sebelum beramal saleh. وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” Hal ini menunjukkan bahwa berilmu syar’i lebih didahulukan daripada beramal saleh. Karena ilmu syar’i itu syarat sahnya amal saleh, baik berupa ucapan dan perbuatan termasuk amal saleh berupa bersikap hikmah dalam berdakwah ilallah. Semua itu tidaklah mungkin terwujud kecuali dengan berilmu syar’i terlebih dahulu. Orang yang hikmah/bijak dalam berdakwah itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, menilai serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan as-sunah). Dia melandaskan sikap-sikapnya di atas dalil-dalil dari Kitab dan sunah serta pemahaman salaf saleh. Inilah orang yang bijak dan hikmah yang sesungguhnya. Mustahil bisa bersikap bijak apabila seseorang menyelisihi Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, sebagaimana mustahil disebut bijaksana jika tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh. Orang yang ingin bijak dalam dalam berdakwah, haruslah berilmu syar’i, harus belajar Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, dan harus mengamalkannya. Sehingga benar ucapan dan perbuatannya, tepat materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta tepat dalam segala halnya. Dari sinilah terlihat jelas kekeliruan sebagian da’i yang tidak belajar ilmu tauhid atau tidak mengajarkannya kepada masyarakat. Padahal, ilmu tauhid adalah ilmu syar’i yang teragung dan perintah Allah yang paling penting . Bagaimana seorang da’i bisa disebut bersikap hikmah dalam dakwahnya, jika ia tidak mempelajari dan mengajarkan tauhid dan tidak mengajak masyarakat untuk bertauhid, justru ikut larut ke dalam adat istiadat masyarakat yang berbau kesyirikan dengan dalih bersikap hikmah dalam berdakwah! Jelas ini salah, bahkan menyelisihi rukun bijaksana/hikmah terpenting, yaitu menyelisihi ilmu syar’i teragung, yaitu ilmu tauhid! Rukun kedua: Al-hilmu (tenang) Hilm itu tenang, karena pandai menahan dan mengendalikan diri, tidak mudah terpancing emosi saat menghadapi hal-hal yang tidak disukai. Hilm itu sikap moderat/tengah-tengah antara cepat emosi dan cuek masa bodoh, tidak peduli. Hilm itu sikap yang dibutuhkan seorang da’i saat terpancing emosinya atau saat menghadapi perkara yang tidak disukainya. Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Al-anah itu sikap moderat/tengah-tengah antara terburu-buru sebelum waktunya dan berlambat-lambat padahal sudah datang waktunya. Seorang da’i yang memiliki sifat anah itu suka berhati-hati mempertimbangkan akibat suatu perkara yang dihadapinya dengan matang, tidak grusa-grusu, konfirmasi, dan tabayyun dulu. Dicek dulu kebenaran sebuah berita dan dipertimbangkan dulu akibatnya jika ingin melangkah, sehingga bersikap dengan pertimbangan matang. Barangsiapa yang suka terburu-buru dalam berdakwah dan ingin segera memetik buahnya sebelum waktunya, justru biasanya malah gagal mendapatkannya. Bahkan bisa jadi mendapatkan kebalikan yang diharapkan, merusaknya lebih besar daripada membangunnya. من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه “Barangsiapa yang terburu-buru sebelum waktunya, maka justru akan terhalangi dari mencapai keinginannya.” Sebaliknya, barangsiapa yang berlambat-lambat malas berdakwah, maka ia akan terluput dari hasil dakwah yang diridai Allah. Maka, seorang da’i yang suka berhati-hati mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, inilah da’i yang hikmah/bijak. Ia akan bersegera bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan yang matang, tuntutannya segera bertindak. Ia akan menunda bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan matang, ia perlu menundanya. Dalil sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah) Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dia berbeda dengan sikap teman-temannya saat sampai ke kota Madinah. Mereka langsung menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa mengganti pakaian safar mereka dan tanpa mempersiapkan diri sebagaimana mestinya. Hal ini karena demikian inginnya segera melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, tidaklah demikian dengan Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu. Dengan tenangnya, ia mengganti baju safarnya dengan baju yang indah, mempersiapkan diri dengan baik sebelum menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Atas sikap tenangnya, tidak terburu-buru dan berhati-hatinya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memujinya, إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang Allah cintai: sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah).” (HR. Muslim) Kembali ke bagian 1: Definisi dan Keutamaan Dakwah Ilallah Lanjut ke bagian 3: Tingkatan Hikmah dalam Berdakwah *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: keutamaan hikmahrukun hikmah
Daftar Isi Toggle Keutamaan hikmahHikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallahBersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamBarangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyakHikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuHikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnyaRukun hikmahRukun pertama: Ilmu syar’iRukun kedua: Al-hilmu (tenang)Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Keutamaan hikmah Hikmah memiliki keutamaan yang banyak, di antaranya: Hikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallah Oleh karena itu, Allah perintahkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersikap hikmah dalam berdakwah mengajak manusia kepada-Nya. Allah berfirman, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ “Dakwahilah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” (QS. An-Nahl: 125) Bersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sehingga didapatkan keberkahan, keselamatan dari kesalahan, dan lebih mudah diterima oleh objek dakwah. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari Akhir dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) Barangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyak Allah Ta’ala berfirman, يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269) Hikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu Dengan sebab doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjadi salah satu ulama tafsir di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas, اللَّهُمْ عَلَّمْهُ الْحِكْمَةَ “Ya Allah, ajarkanlah hikmah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari) Hikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnya Dalam Shahihain, Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا حَسَدَ إِلا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak ada hasad (yang terpuji), kecuali pada dua perkara: 1) seseorang yang Allah beri harta, lalu ia infakkan semua di jalan Allah, dan 2) seseorang yang Allah beri hikmah, lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya (kepada manusia).’” Baca juga: Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia Rukun hikmah Hikmah memiliki tiga rukun. Ketiga rukun ini adalah pilar-pilar penegak sikap hikmah dalam berdakwah. Rukun pertama: Ilmu syar’i Rukun pertama adalah ilmu syar’i, yaitu Al-Qur’an dan hadis dengan pemahaman dan pengamalan salaf saleh. Ilmu syar’i adalah rukun hikmah yang terbesar di antara tiga rukun hikmah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berilmu syar’i sebelum berucap dan beramal saleh. Allah Ta’ala berfirman, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka, ilmuilah (ketahuilah), bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” (QS. Muhammad: 19) Dalam ayat ini, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ “Maka, ilmuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah.” Allah perintahkan untuk berilmu syar’i, sebelum beramal saleh. وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” Hal ini menunjukkan bahwa berilmu syar’i lebih didahulukan daripada beramal saleh. Karena ilmu syar’i itu syarat sahnya amal saleh, baik berupa ucapan dan perbuatan termasuk amal saleh berupa bersikap hikmah dalam berdakwah ilallah. Semua itu tidaklah mungkin terwujud kecuali dengan berilmu syar’i terlebih dahulu. Orang yang hikmah/bijak dalam berdakwah itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, menilai serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan as-sunah). Dia melandaskan sikap-sikapnya di atas dalil-dalil dari Kitab dan sunah serta pemahaman salaf saleh. Inilah orang yang bijak dan hikmah yang sesungguhnya. Mustahil bisa bersikap bijak apabila seseorang menyelisihi Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, sebagaimana mustahil disebut bijaksana jika tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh. Orang yang ingin bijak dalam dalam berdakwah, haruslah berilmu syar’i, harus belajar Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, dan harus mengamalkannya. Sehingga benar ucapan dan perbuatannya, tepat materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta tepat dalam segala halnya. Dari sinilah terlihat jelas kekeliruan sebagian da’i yang tidak belajar ilmu tauhid atau tidak mengajarkannya kepada masyarakat. Padahal, ilmu tauhid adalah ilmu syar’i yang teragung dan perintah Allah yang paling penting . Bagaimana seorang da’i bisa disebut bersikap hikmah dalam dakwahnya, jika ia tidak mempelajari dan mengajarkan tauhid dan tidak mengajak masyarakat untuk bertauhid, justru ikut larut ke dalam adat istiadat masyarakat yang berbau kesyirikan dengan dalih bersikap hikmah dalam berdakwah! Jelas ini salah, bahkan menyelisihi rukun bijaksana/hikmah terpenting, yaitu menyelisihi ilmu syar’i teragung, yaitu ilmu tauhid! Rukun kedua: Al-hilmu (tenang) Hilm itu tenang, karena pandai menahan dan mengendalikan diri, tidak mudah terpancing emosi saat menghadapi hal-hal yang tidak disukai. Hilm itu sikap moderat/tengah-tengah antara cepat emosi dan cuek masa bodoh, tidak peduli. Hilm itu sikap yang dibutuhkan seorang da’i saat terpancing emosinya atau saat menghadapi perkara yang tidak disukainya. Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Al-anah itu sikap moderat/tengah-tengah antara terburu-buru sebelum waktunya dan berlambat-lambat padahal sudah datang waktunya. Seorang da’i yang memiliki sifat anah itu suka berhati-hati mempertimbangkan akibat suatu perkara yang dihadapinya dengan matang, tidak grusa-grusu, konfirmasi, dan tabayyun dulu. Dicek dulu kebenaran sebuah berita dan dipertimbangkan dulu akibatnya jika ingin melangkah, sehingga bersikap dengan pertimbangan matang. Barangsiapa yang suka terburu-buru dalam berdakwah dan ingin segera memetik buahnya sebelum waktunya, justru biasanya malah gagal mendapatkannya. Bahkan bisa jadi mendapatkan kebalikan yang diharapkan, merusaknya lebih besar daripada membangunnya. من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه “Barangsiapa yang terburu-buru sebelum waktunya, maka justru akan terhalangi dari mencapai keinginannya.” Sebaliknya, barangsiapa yang berlambat-lambat malas berdakwah, maka ia akan terluput dari hasil dakwah yang diridai Allah. Maka, seorang da’i yang suka berhati-hati mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, inilah da’i yang hikmah/bijak. Ia akan bersegera bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan yang matang, tuntutannya segera bertindak. Ia akan menunda bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan matang, ia perlu menundanya. Dalil sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah) Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dia berbeda dengan sikap teman-temannya saat sampai ke kota Madinah. Mereka langsung menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa mengganti pakaian safar mereka dan tanpa mempersiapkan diri sebagaimana mestinya. Hal ini karena demikian inginnya segera melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, tidaklah demikian dengan Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu. Dengan tenangnya, ia mengganti baju safarnya dengan baju yang indah, mempersiapkan diri dengan baik sebelum menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Atas sikap tenangnya, tidak terburu-buru dan berhati-hatinya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memujinya, إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang Allah cintai: sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah).” (HR. Muslim) Kembali ke bagian 1: Definisi dan Keutamaan Dakwah Ilallah Lanjut ke bagian 3: Tingkatan Hikmah dalam Berdakwah *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: keutamaan hikmahrukun hikmah


Daftar Isi Toggle Keutamaan hikmahHikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallahBersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamBarangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyakHikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuHikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnyaRukun hikmahRukun pertama: Ilmu syar’iRukun kedua: Al-hilmu (tenang)Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Keutamaan hikmah Hikmah memiliki keutamaan yang banyak, di antaranya: Hikmah termasuk sebab dan sarana terpenting dalam berdakwah ilallah Oleh karena itu, Allah perintahkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersikap hikmah dalam berdakwah mengajak manusia kepada-Nya. Allah berfirman, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ “Dakwahilah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” (QS. An-Nahl: 125) Bersikap hikmah berarti mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Sehingga didapatkan keberkahan, keselamatan dari kesalahan, dan lebih mudah diterima oleh objek dakwah. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari Akhir dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) Barangsiapa yang diberi hikmah, berarti ia mendapatkan kebaikan yang banyak Allah Ta’ala berfirman, يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269) Hikmah adalah isi doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu Dengan sebab doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjadi salah satu ulama tafsir di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Ibnu Abbas, اللَّهُمْ عَلَّمْهُ الْحِكْمَةَ “Ya Allah, ajarkanlah hikmah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari) Hikmah adalah salah satu perkara yang seseorang terpuji jika hasad terhadapnya Dalam Shahihain, Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا حَسَدَ إِلا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak ada hasad (yang terpuji), kecuali pada dua perkara: 1) seseorang yang Allah beri harta, lalu ia infakkan semua di jalan Allah, dan 2) seseorang yang Allah beri hikmah, lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya (kepada manusia).’” Baca juga: Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia Rukun hikmah Hikmah memiliki tiga rukun. Ketiga rukun ini adalah pilar-pilar penegak sikap hikmah dalam berdakwah. Rukun pertama: Ilmu syar’i Rukun pertama adalah ilmu syar’i, yaitu Al-Qur’an dan hadis dengan pemahaman dan pengamalan salaf saleh. Ilmu syar’i adalah rukun hikmah yang terbesar di antara tiga rukun hikmah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berilmu syar’i sebelum berucap dan beramal saleh. Allah Ta’ala berfirman, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka, ilmuilah (ketahuilah), bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” (QS. Muhammad: 19) Dalam ayat ini, فَأَعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ “Maka, ilmuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah.” Allah perintahkan untuk berilmu syar’i, sebelum beramal saleh. وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin pria dan wanita.” Hal ini menunjukkan bahwa berilmu syar’i lebih didahulukan daripada beramal saleh. Karena ilmu syar’i itu syarat sahnya amal saleh, baik berupa ucapan dan perbuatan termasuk amal saleh berupa bersikap hikmah dalam berdakwah ilallah. Semua itu tidaklah mungkin terwujud kecuali dengan berilmu syar’i terlebih dahulu. Orang yang hikmah/bijak dalam berdakwah itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, menilai serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan as-sunah). Dia melandaskan sikap-sikapnya di atas dalil-dalil dari Kitab dan sunah serta pemahaman salaf saleh. Inilah orang yang bijak dan hikmah yang sesungguhnya. Mustahil bisa bersikap bijak apabila seseorang menyelisihi Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, sebagaimana mustahil disebut bijaksana jika tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh. Orang yang ingin bijak dalam dalam berdakwah, haruslah berilmu syar’i, harus belajar Al-Qur’an dan as-sunah dengan manhaj salaf saleh, dan harus mengamalkannya. Sehingga benar ucapan dan perbuatannya, tepat materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta tepat dalam segala halnya. Dari sinilah terlihat jelas kekeliruan sebagian da’i yang tidak belajar ilmu tauhid atau tidak mengajarkannya kepada masyarakat. Padahal, ilmu tauhid adalah ilmu syar’i yang teragung dan perintah Allah yang paling penting . Bagaimana seorang da’i bisa disebut bersikap hikmah dalam dakwahnya, jika ia tidak mempelajari dan mengajarkan tauhid dan tidak mengajak masyarakat untuk bertauhid, justru ikut larut ke dalam adat istiadat masyarakat yang berbau kesyirikan dengan dalih bersikap hikmah dalam berdakwah! Jelas ini salah, bahkan menyelisihi rukun bijaksana/hikmah terpenting, yaitu menyelisihi ilmu syar’i teragung, yaitu ilmu tauhid! Rukun kedua: Al-hilmu (tenang) Hilm itu tenang, karena pandai menahan dan mengendalikan diri, tidak mudah terpancing emosi saat menghadapi hal-hal yang tidak disukai. Hilm itu sikap moderat/tengah-tengah antara cepat emosi dan cuek masa bodoh, tidak peduli. Hilm itu sikap yang dibutuhkan seorang da’i saat terpancing emosinya atau saat menghadapi perkara yang tidak disukainya. Rukun ketiga: Al-anah (berhati-hati dengan pertimbangan matang) Al-anah itu sikap moderat/tengah-tengah antara terburu-buru sebelum waktunya dan berlambat-lambat padahal sudah datang waktunya. Seorang da’i yang memiliki sifat anah itu suka berhati-hati mempertimbangkan akibat suatu perkara yang dihadapinya dengan matang, tidak grusa-grusu, konfirmasi, dan tabayyun dulu. Dicek dulu kebenaran sebuah berita dan dipertimbangkan dulu akibatnya jika ingin melangkah, sehingga bersikap dengan pertimbangan matang. Barangsiapa yang suka terburu-buru dalam berdakwah dan ingin segera memetik buahnya sebelum waktunya, justru biasanya malah gagal mendapatkannya. Bahkan bisa jadi mendapatkan kebalikan yang diharapkan, merusaknya lebih besar daripada membangunnya. من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه “Barangsiapa yang terburu-buru sebelum waktunya, maka justru akan terhalangi dari mencapai keinginannya.” Sebaliknya, barangsiapa yang berlambat-lambat malas berdakwah, maka ia akan terluput dari hasil dakwah yang diridai Allah. Maka, seorang da’i yang suka berhati-hati mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, inilah da’i yang hikmah/bijak. Ia akan bersegera bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan yang matang, tuntutannya segera bertindak. Ia akan menunda bertindak jika memang berdasarkan pertimbangan matang, ia perlu menundanya. Dalil sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah) Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dia berbeda dengan sikap teman-temannya saat sampai ke kota Madinah. Mereka langsung menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa mengganti pakaian safar mereka dan tanpa mempersiapkan diri sebagaimana mestinya. Hal ini karena demikian inginnya segera melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, tidaklah demikian dengan Al-Asyaj radhiyallahu ‘anhu. Dengan tenangnya, ia mengganti baju safarnya dengan baju yang indah, mempersiapkan diri dengan baik sebelum menemui beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Atas sikap tenangnya, tidak terburu-buru dan berhati-hatinya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memujinya, إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang Allah cintai: sikap tenang (hilm) dan suka berhati-hati (anah).” (HR. Muslim) Kembali ke bagian 1: Definisi dan Keutamaan Dakwah Ilallah Lanjut ke bagian 3: Tingkatan Hikmah dalam Berdakwah *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: keutamaan hikmahrukun hikmah

Hikmah dalam Berdakwah (Bag. 1): Definisi dan Keutamaan Dakwah Ilallah

Daftar Isi Toggle Definisi dakwah ilallah dan keutamaannyaDefinisi dakwah ilallahKeutamaan dakwah ilallahDefinisi hikmahSecara istilah syar’iDefinisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Definisi dakwah ilallah dan keutamaannya Inti “dakwah ilallah” adalah mengajarkan Islam kepada manusia dan menerapkannya agar manusia mengetahui dan mencontohnya. Definisi dakwah ilallah Hanya saja, para ulama rahimahumullah memiliki anekaragam ungkapan dalam mendefinisikan secara rinci istilah “dakwah ilallah”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan dakwah ilallah dengan menjelaskan materi dakwah yang terpenting untuk disampaikan dalam berdakwah, kemudian ajakan untuk melaksanakan semua bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah semata secara bertingkat dari dasar sampai tingkatan sempurna, yaitu: Islam, iman, dan ihsan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menuturkan dalam Majmu’ Fatawa [1], الدعوة إلى الله هي الدعوة إلى الإيمان به، وبما جاءت به رسله، بتصديقهم فيما أخبروا به، وطاعتهم فيما أمروا، وذلك يتضمن الدعوة إلى الشهادتين، وإقامة الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت، والدعوة إلى الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله والإيمان بالقدر خيره وشره، والدعوة إلى أن يعبد العبد ربه كأنه يراه، فإن هذه الدرجات الثلاث التي هي: الإسلام والإيمان والإحسان، داخلة في الدين، كما في الحديث الصحيح:((هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم)) “Dakwah ilallah (mengajak manusia kepada Allah) adalah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah dan beriman kepada ajaran yang dibawa oleh para rasul-Nya, dengan membenarkan apa yang mereka kabarkan, serta menaati apa yang mereka perintahkan. Dan dakwah ilallah ini mengandung: 1) Ajakan kepada (rukun Islam, yaitu) dua kalimat syahadat, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, serta menunaikan haji ke Baitullah. 2) Serta mengandung ajakan kepada (rukun iman, yaitu:) iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, dan iman kepada takdir, baik perkara yang ditakdirkan itu baik maupun buruk. 3) Demikian pula ajakan (kepada rukun Ihsan, yaitu) agar seorang hamba beribadah kepada Rabbnya seolah-olah ia melihat-Nya. Karena sesungguhnya tiga tingkatan ini, yaitu Islam, iman dan ihsan, semuanya termasuk dalam cakupan agama Islam ini. Sebagaimana dalam hadis sahih, هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم Ini adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) Keutamaan dakwah ilallah Banyak keutamaan berdakwah mengajak manusia kepada Allah (dakwah ilallah), di antaranya: Pertama: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah adalah manusia yang paling baik ucapannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (QS. Fushshilat: 33) Kedua: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah termasuk golongan manusia yang terbaik. كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ “Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110) Baca juga: Tantangan Dakwah Kampus Definisi hikmah Secara istilah syar’i Kata “hikmah/bijaksana” banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis. Dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari 19 ayat. Dan para ulama berbeda-beda dalam menafsirkan makna “hikmah” dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis hingga mencapai 29 tafsir. Di antaranya adalah yang disebutkan dalam kitab Al-Hikmah fid Da’wah ilallah [2]: Hikmah itu kenabian. Hikmah itu Al-Qur’an dan pemahamannya. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Hikmah itu mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Hikmah itu ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Hikmah itu takut kepada Allah. Hikmah itu sunah. Hikmah itu wara’ dalam melaksanakan agama Allah. Hikmah itu berilmu dan beramal. Hikmah itu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Definisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan ucapan Mujahid rahimahullah berikut ini, وَقَالَ مُجَاهِدٌ: الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ “Mujahid rahimahullah berkata, ‘(Hikmah adalah) tepat dalam berucap dan bertindak.’” Tafsir-tafsir hikmah selain itu, pada hakikatnya adalah memperinci makna hikmah, yaitu: tentang sumbernya, cara mendapatkannya, buahnya, dan konsekuensinya. Penjelasan: Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Dan tidak mungkin seseorang bisa tepat dalam berucap dan bertindak, kecuali harus: Pertama: Mempelajari kebenaran yang sumbernya Al-Quran dan Al-Hadis dengan manhaj salaf saleh dan mengamalkannya. Kedua: Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Menempatkan ucapan dan perbuatan sesuai dengan materi yang tepat, cara yang tepat, sasaran yang tepat, kondisi yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat, hak yang tepat, urutan yang tepat, serta sesuai dalam segala halnya. Oleh karena itu, disebutkan pula ucapan Malik bin Anas rahimahullah dalam kitabTafsir Al-Qurthubi , وَقَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ: الْحِكْمَةُ الْمَعْرِفَةُ بِدِينِ اللَّهِ وَالْفِقْهِ فِيهِ وَالِاتِّبَاعِ لَهُ “Malik bin Anas rahimahullah berkata, ‘Hikmah itu mengetahui agama Allah, memahami, serta mengikutinya.’” Maksudnya adalah mengetahui kebenaran, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadis, kemudian mengamalkannya. Penulis kitab Manazil, Syaikhul Islam Abdullah Al-Anshari Al-Harawi, berkata ketika mendefinisikan hikmah, وضْعُ الشَّيْءِ في مَوْضِعِهِ “Menempatkan sesuatu pada tempatnya.” Jadi, berdasarkan penjelasan Malik bin Anas dan Syekh Al-Harawi di atas, hikmah itu sumbernya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis. Oleh karena itu, untuk bisa hikmah, seseorang harus mempelajari keduanya dan mengamalkannya. Dan hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak dengan memperhatikan ketepatan materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta ketepatan dalam segala halnya. Tepat materinya, yaitu: isi ucapan dan bentuk perbuatannya tepat. Tepat caranya, yaitu: cara berucapnya tepat dengan menggunakan kata-kata yang paling mudah dipahami dan paling mudah diterima di hati dan cara bertindaknya pun tepat. Tepat sasarannya, yaitu: obyek yg diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat kondisinya, yaitu: keadaan orang yang diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat waktunya, yaitu: saatnya tepat. Tepat tempatnya, yaitu: tempat untuk bicara dan berbuat adalah tempat yang tepat. Tepat haknya, yaitu: memberikan hak sesuai kedudukan pemilik hak. Termasuk menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukan dan jabatannya. Tepat urutannya, yaitu: mendahulukan yang terpenting lalu yang penting setelahnya. Oleh karena itu, orang yang hikmah/bijak itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, sehingga profilnya adalah orang yang suka hati-hati dan tidak terburu-buru dan menilai segala sesuatu serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah) Kesimpulan cakupan hikmah/bijaksana Berdasarkan penjelasan di atas, tampak jelas bahwa cakupan hikmah dalam berdakwah ilallah itu luas. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak berarti lembut, toleransi, dan mengalah terus pada seluruh keadaan. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak hanya mencakup ucapan yang lembut, mendorong semangat, menahan diri dari amarah, memaafkan saja. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan, tempat, waktu, objek dakwah, dan seluruh sisi pertimbangan lainnya. Hikmah itu menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka tertuntut untuk: 1) meletakkan ucapan yang lembut pada tempatnya, 2) meletakkan mau’izhah hasanah pada tempatnya, 3) meletakkan berdebat yang baik pada tempatnya, 4) meletakkan orang yang zalim pada tempatnya, dan 5) meletakkan sikap tegas dan ucapan yang keras pada tempatnya. Intinya, hikmah itu lembut pada saat tuntutannya lembut, dan keras pada saat tuntutannya keras. Adapun bersikap keras saat tuntutannya lembut, maka ini namanya kaku dan melampaui batasan syariat Islam. Sedangkan bersikap lembut padahal tuntutannya keras, ini namanya lemah dan hina. Lanjut ke bagian 2: Keutamaan dan Rukun Hikmah *** Penulis: Sa’id Abu ‘Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] https://www.alukah.net/sharia/0/68785/ [2] Al-Hikmah  fid Da’wah Ilallah, hal. 32, Dr. Sa’id Al-Qahthani Tags: definisi dakwah ilallahdefinisi hikmah

Hikmah dalam Berdakwah (Bag. 1): Definisi dan Keutamaan Dakwah Ilallah

Daftar Isi Toggle Definisi dakwah ilallah dan keutamaannyaDefinisi dakwah ilallahKeutamaan dakwah ilallahDefinisi hikmahSecara istilah syar’iDefinisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Definisi dakwah ilallah dan keutamaannya Inti “dakwah ilallah” adalah mengajarkan Islam kepada manusia dan menerapkannya agar manusia mengetahui dan mencontohnya. Definisi dakwah ilallah Hanya saja, para ulama rahimahumullah memiliki anekaragam ungkapan dalam mendefinisikan secara rinci istilah “dakwah ilallah”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan dakwah ilallah dengan menjelaskan materi dakwah yang terpenting untuk disampaikan dalam berdakwah, kemudian ajakan untuk melaksanakan semua bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah semata secara bertingkat dari dasar sampai tingkatan sempurna, yaitu: Islam, iman, dan ihsan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menuturkan dalam Majmu’ Fatawa [1], الدعوة إلى الله هي الدعوة إلى الإيمان به، وبما جاءت به رسله، بتصديقهم فيما أخبروا به، وطاعتهم فيما أمروا، وذلك يتضمن الدعوة إلى الشهادتين، وإقامة الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت، والدعوة إلى الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله والإيمان بالقدر خيره وشره، والدعوة إلى أن يعبد العبد ربه كأنه يراه، فإن هذه الدرجات الثلاث التي هي: الإسلام والإيمان والإحسان، داخلة في الدين، كما في الحديث الصحيح:((هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم)) “Dakwah ilallah (mengajak manusia kepada Allah) adalah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah dan beriman kepada ajaran yang dibawa oleh para rasul-Nya, dengan membenarkan apa yang mereka kabarkan, serta menaati apa yang mereka perintahkan. Dan dakwah ilallah ini mengandung: 1) Ajakan kepada (rukun Islam, yaitu) dua kalimat syahadat, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, serta menunaikan haji ke Baitullah. 2) Serta mengandung ajakan kepada (rukun iman, yaitu:) iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, dan iman kepada takdir, baik perkara yang ditakdirkan itu baik maupun buruk. 3) Demikian pula ajakan (kepada rukun Ihsan, yaitu) agar seorang hamba beribadah kepada Rabbnya seolah-olah ia melihat-Nya. Karena sesungguhnya tiga tingkatan ini, yaitu Islam, iman dan ihsan, semuanya termasuk dalam cakupan agama Islam ini. Sebagaimana dalam hadis sahih, هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم Ini adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) Keutamaan dakwah ilallah Banyak keutamaan berdakwah mengajak manusia kepada Allah (dakwah ilallah), di antaranya: Pertama: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah adalah manusia yang paling baik ucapannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (QS. Fushshilat: 33) Kedua: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah termasuk golongan manusia yang terbaik. كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ “Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110) Baca juga: Tantangan Dakwah Kampus Definisi hikmah Secara istilah syar’i Kata “hikmah/bijaksana” banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis. Dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari 19 ayat. Dan para ulama berbeda-beda dalam menafsirkan makna “hikmah” dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis hingga mencapai 29 tafsir. Di antaranya adalah yang disebutkan dalam kitab Al-Hikmah fid Da’wah ilallah [2]: Hikmah itu kenabian. Hikmah itu Al-Qur’an dan pemahamannya. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Hikmah itu mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Hikmah itu ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Hikmah itu takut kepada Allah. Hikmah itu sunah. Hikmah itu wara’ dalam melaksanakan agama Allah. Hikmah itu berilmu dan beramal. Hikmah itu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Definisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan ucapan Mujahid rahimahullah berikut ini, وَقَالَ مُجَاهِدٌ: الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ “Mujahid rahimahullah berkata, ‘(Hikmah adalah) tepat dalam berucap dan bertindak.’” Tafsir-tafsir hikmah selain itu, pada hakikatnya adalah memperinci makna hikmah, yaitu: tentang sumbernya, cara mendapatkannya, buahnya, dan konsekuensinya. Penjelasan: Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Dan tidak mungkin seseorang bisa tepat dalam berucap dan bertindak, kecuali harus: Pertama: Mempelajari kebenaran yang sumbernya Al-Quran dan Al-Hadis dengan manhaj salaf saleh dan mengamalkannya. Kedua: Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Menempatkan ucapan dan perbuatan sesuai dengan materi yang tepat, cara yang tepat, sasaran yang tepat, kondisi yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat, hak yang tepat, urutan yang tepat, serta sesuai dalam segala halnya. Oleh karena itu, disebutkan pula ucapan Malik bin Anas rahimahullah dalam kitabTafsir Al-Qurthubi , وَقَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ: الْحِكْمَةُ الْمَعْرِفَةُ بِدِينِ اللَّهِ وَالْفِقْهِ فِيهِ وَالِاتِّبَاعِ لَهُ “Malik bin Anas rahimahullah berkata, ‘Hikmah itu mengetahui agama Allah, memahami, serta mengikutinya.’” Maksudnya adalah mengetahui kebenaran, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadis, kemudian mengamalkannya. Penulis kitab Manazil, Syaikhul Islam Abdullah Al-Anshari Al-Harawi, berkata ketika mendefinisikan hikmah, وضْعُ الشَّيْءِ في مَوْضِعِهِ “Menempatkan sesuatu pada tempatnya.” Jadi, berdasarkan penjelasan Malik bin Anas dan Syekh Al-Harawi di atas, hikmah itu sumbernya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis. Oleh karena itu, untuk bisa hikmah, seseorang harus mempelajari keduanya dan mengamalkannya. Dan hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak dengan memperhatikan ketepatan materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta ketepatan dalam segala halnya. Tepat materinya, yaitu: isi ucapan dan bentuk perbuatannya tepat. Tepat caranya, yaitu: cara berucapnya tepat dengan menggunakan kata-kata yang paling mudah dipahami dan paling mudah diterima di hati dan cara bertindaknya pun tepat. Tepat sasarannya, yaitu: obyek yg diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat kondisinya, yaitu: keadaan orang yang diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat waktunya, yaitu: saatnya tepat. Tepat tempatnya, yaitu: tempat untuk bicara dan berbuat adalah tempat yang tepat. Tepat haknya, yaitu: memberikan hak sesuai kedudukan pemilik hak. Termasuk menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukan dan jabatannya. Tepat urutannya, yaitu: mendahulukan yang terpenting lalu yang penting setelahnya. Oleh karena itu, orang yang hikmah/bijak itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, sehingga profilnya adalah orang yang suka hati-hati dan tidak terburu-buru dan menilai segala sesuatu serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah) Kesimpulan cakupan hikmah/bijaksana Berdasarkan penjelasan di atas, tampak jelas bahwa cakupan hikmah dalam berdakwah ilallah itu luas. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak berarti lembut, toleransi, dan mengalah terus pada seluruh keadaan. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak hanya mencakup ucapan yang lembut, mendorong semangat, menahan diri dari amarah, memaafkan saja. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan, tempat, waktu, objek dakwah, dan seluruh sisi pertimbangan lainnya. Hikmah itu menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka tertuntut untuk: 1) meletakkan ucapan yang lembut pada tempatnya, 2) meletakkan mau’izhah hasanah pada tempatnya, 3) meletakkan berdebat yang baik pada tempatnya, 4) meletakkan orang yang zalim pada tempatnya, dan 5) meletakkan sikap tegas dan ucapan yang keras pada tempatnya. Intinya, hikmah itu lembut pada saat tuntutannya lembut, dan keras pada saat tuntutannya keras. Adapun bersikap keras saat tuntutannya lembut, maka ini namanya kaku dan melampaui batasan syariat Islam. Sedangkan bersikap lembut padahal tuntutannya keras, ini namanya lemah dan hina. Lanjut ke bagian 2: Keutamaan dan Rukun Hikmah *** Penulis: Sa’id Abu ‘Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] https://www.alukah.net/sharia/0/68785/ [2] Al-Hikmah  fid Da’wah Ilallah, hal. 32, Dr. Sa’id Al-Qahthani Tags: definisi dakwah ilallahdefinisi hikmah
Daftar Isi Toggle Definisi dakwah ilallah dan keutamaannyaDefinisi dakwah ilallahKeutamaan dakwah ilallahDefinisi hikmahSecara istilah syar’iDefinisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Definisi dakwah ilallah dan keutamaannya Inti “dakwah ilallah” adalah mengajarkan Islam kepada manusia dan menerapkannya agar manusia mengetahui dan mencontohnya. Definisi dakwah ilallah Hanya saja, para ulama rahimahumullah memiliki anekaragam ungkapan dalam mendefinisikan secara rinci istilah “dakwah ilallah”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan dakwah ilallah dengan menjelaskan materi dakwah yang terpenting untuk disampaikan dalam berdakwah, kemudian ajakan untuk melaksanakan semua bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah semata secara bertingkat dari dasar sampai tingkatan sempurna, yaitu: Islam, iman, dan ihsan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menuturkan dalam Majmu’ Fatawa [1], الدعوة إلى الله هي الدعوة إلى الإيمان به، وبما جاءت به رسله، بتصديقهم فيما أخبروا به، وطاعتهم فيما أمروا، وذلك يتضمن الدعوة إلى الشهادتين، وإقامة الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت، والدعوة إلى الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله والإيمان بالقدر خيره وشره، والدعوة إلى أن يعبد العبد ربه كأنه يراه، فإن هذه الدرجات الثلاث التي هي: الإسلام والإيمان والإحسان، داخلة في الدين، كما في الحديث الصحيح:((هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم)) “Dakwah ilallah (mengajak manusia kepada Allah) adalah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah dan beriman kepada ajaran yang dibawa oleh para rasul-Nya, dengan membenarkan apa yang mereka kabarkan, serta menaati apa yang mereka perintahkan. Dan dakwah ilallah ini mengandung: 1) Ajakan kepada (rukun Islam, yaitu) dua kalimat syahadat, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, serta menunaikan haji ke Baitullah. 2) Serta mengandung ajakan kepada (rukun iman, yaitu:) iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, dan iman kepada takdir, baik perkara yang ditakdirkan itu baik maupun buruk. 3) Demikian pula ajakan (kepada rukun Ihsan, yaitu) agar seorang hamba beribadah kepada Rabbnya seolah-olah ia melihat-Nya. Karena sesungguhnya tiga tingkatan ini, yaitu Islam, iman dan ihsan, semuanya termasuk dalam cakupan agama Islam ini. Sebagaimana dalam hadis sahih, هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم Ini adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) Keutamaan dakwah ilallah Banyak keutamaan berdakwah mengajak manusia kepada Allah (dakwah ilallah), di antaranya: Pertama: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah adalah manusia yang paling baik ucapannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (QS. Fushshilat: 33) Kedua: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah termasuk golongan manusia yang terbaik. كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ “Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110) Baca juga: Tantangan Dakwah Kampus Definisi hikmah Secara istilah syar’i Kata “hikmah/bijaksana” banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis. Dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari 19 ayat. Dan para ulama berbeda-beda dalam menafsirkan makna “hikmah” dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis hingga mencapai 29 tafsir. Di antaranya adalah yang disebutkan dalam kitab Al-Hikmah fid Da’wah ilallah [2]: Hikmah itu kenabian. Hikmah itu Al-Qur’an dan pemahamannya. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Hikmah itu mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Hikmah itu ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Hikmah itu takut kepada Allah. Hikmah itu sunah. Hikmah itu wara’ dalam melaksanakan agama Allah. Hikmah itu berilmu dan beramal. Hikmah itu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Definisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan ucapan Mujahid rahimahullah berikut ini, وَقَالَ مُجَاهِدٌ: الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ “Mujahid rahimahullah berkata, ‘(Hikmah adalah) tepat dalam berucap dan bertindak.’” Tafsir-tafsir hikmah selain itu, pada hakikatnya adalah memperinci makna hikmah, yaitu: tentang sumbernya, cara mendapatkannya, buahnya, dan konsekuensinya. Penjelasan: Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Dan tidak mungkin seseorang bisa tepat dalam berucap dan bertindak, kecuali harus: Pertama: Mempelajari kebenaran yang sumbernya Al-Quran dan Al-Hadis dengan manhaj salaf saleh dan mengamalkannya. Kedua: Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Menempatkan ucapan dan perbuatan sesuai dengan materi yang tepat, cara yang tepat, sasaran yang tepat, kondisi yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat, hak yang tepat, urutan yang tepat, serta sesuai dalam segala halnya. Oleh karena itu, disebutkan pula ucapan Malik bin Anas rahimahullah dalam kitabTafsir Al-Qurthubi , وَقَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ: الْحِكْمَةُ الْمَعْرِفَةُ بِدِينِ اللَّهِ وَالْفِقْهِ فِيهِ وَالِاتِّبَاعِ لَهُ “Malik bin Anas rahimahullah berkata, ‘Hikmah itu mengetahui agama Allah, memahami, serta mengikutinya.’” Maksudnya adalah mengetahui kebenaran, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadis, kemudian mengamalkannya. Penulis kitab Manazil, Syaikhul Islam Abdullah Al-Anshari Al-Harawi, berkata ketika mendefinisikan hikmah, وضْعُ الشَّيْءِ في مَوْضِعِهِ “Menempatkan sesuatu pada tempatnya.” Jadi, berdasarkan penjelasan Malik bin Anas dan Syekh Al-Harawi di atas, hikmah itu sumbernya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis. Oleh karena itu, untuk bisa hikmah, seseorang harus mempelajari keduanya dan mengamalkannya. Dan hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak dengan memperhatikan ketepatan materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta ketepatan dalam segala halnya. Tepat materinya, yaitu: isi ucapan dan bentuk perbuatannya tepat. Tepat caranya, yaitu: cara berucapnya tepat dengan menggunakan kata-kata yang paling mudah dipahami dan paling mudah diterima di hati dan cara bertindaknya pun tepat. Tepat sasarannya, yaitu: obyek yg diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat kondisinya, yaitu: keadaan orang yang diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat waktunya, yaitu: saatnya tepat. Tepat tempatnya, yaitu: tempat untuk bicara dan berbuat adalah tempat yang tepat. Tepat haknya, yaitu: memberikan hak sesuai kedudukan pemilik hak. Termasuk menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukan dan jabatannya. Tepat urutannya, yaitu: mendahulukan yang terpenting lalu yang penting setelahnya. Oleh karena itu, orang yang hikmah/bijak itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, sehingga profilnya adalah orang yang suka hati-hati dan tidak terburu-buru dan menilai segala sesuatu serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah) Kesimpulan cakupan hikmah/bijaksana Berdasarkan penjelasan di atas, tampak jelas bahwa cakupan hikmah dalam berdakwah ilallah itu luas. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak berarti lembut, toleransi, dan mengalah terus pada seluruh keadaan. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak hanya mencakup ucapan yang lembut, mendorong semangat, menahan diri dari amarah, memaafkan saja. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan, tempat, waktu, objek dakwah, dan seluruh sisi pertimbangan lainnya. Hikmah itu menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka tertuntut untuk: 1) meletakkan ucapan yang lembut pada tempatnya, 2) meletakkan mau’izhah hasanah pada tempatnya, 3) meletakkan berdebat yang baik pada tempatnya, 4) meletakkan orang yang zalim pada tempatnya, dan 5) meletakkan sikap tegas dan ucapan yang keras pada tempatnya. Intinya, hikmah itu lembut pada saat tuntutannya lembut, dan keras pada saat tuntutannya keras. Adapun bersikap keras saat tuntutannya lembut, maka ini namanya kaku dan melampaui batasan syariat Islam. Sedangkan bersikap lembut padahal tuntutannya keras, ini namanya lemah dan hina. Lanjut ke bagian 2: Keutamaan dan Rukun Hikmah *** Penulis: Sa’id Abu ‘Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] https://www.alukah.net/sharia/0/68785/ [2] Al-Hikmah  fid Da’wah Ilallah, hal. 32, Dr. Sa’id Al-Qahthani Tags: definisi dakwah ilallahdefinisi hikmah


Daftar Isi Toggle Definisi dakwah ilallah dan keutamaannyaDefinisi dakwah ilallahKeutamaan dakwah ilallahDefinisi hikmahSecara istilah syar’iDefinisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Definisi dakwah ilallah dan keutamaannya Inti “dakwah ilallah” adalah mengajarkan Islam kepada manusia dan menerapkannya agar manusia mengetahui dan mencontohnya. Definisi dakwah ilallah Hanya saja, para ulama rahimahumullah memiliki anekaragam ungkapan dalam mendefinisikan secara rinci istilah “dakwah ilallah”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan dakwah ilallah dengan menjelaskan materi dakwah yang terpenting untuk disampaikan dalam berdakwah, kemudian ajakan untuk melaksanakan semua bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah semata secara bertingkat dari dasar sampai tingkatan sempurna, yaitu: Islam, iman, dan ihsan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menuturkan dalam Majmu’ Fatawa [1], الدعوة إلى الله هي الدعوة إلى الإيمان به، وبما جاءت به رسله، بتصديقهم فيما أخبروا به، وطاعتهم فيما أمروا، وذلك يتضمن الدعوة إلى الشهادتين، وإقامة الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت، والدعوة إلى الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله والإيمان بالقدر خيره وشره، والدعوة إلى أن يعبد العبد ربه كأنه يراه، فإن هذه الدرجات الثلاث التي هي: الإسلام والإيمان والإحسان، داخلة في الدين، كما في الحديث الصحيح:((هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم)) “Dakwah ilallah (mengajak manusia kepada Allah) adalah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah dan beriman kepada ajaran yang dibawa oleh para rasul-Nya, dengan membenarkan apa yang mereka kabarkan, serta menaati apa yang mereka perintahkan. Dan dakwah ilallah ini mengandung: 1) Ajakan kepada (rukun Islam, yaitu) dua kalimat syahadat, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, serta menunaikan haji ke Baitullah. 2) Serta mengandung ajakan kepada (rukun iman, yaitu:) iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, dan iman kepada takdir, baik perkara yang ditakdirkan itu baik maupun buruk. 3) Demikian pula ajakan (kepada rukun Ihsan, yaitu) agar seorang hamba beribadah kepada Rabbnya seolah-olah ia melihat-Nya. Karena sesungguhnya tiga tingkatan ini, yaitu Islam, iman dan ihsan, semuanya termasuk dalam cakupan agama Islam ini. Sebagaimana dalam hadis sahih, هذا جبريل جاءكم يعلمكم دينكم Ini adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) Keutamaan dakwah ilallah Banyak keutamaan berdakwah mengajak manusia kepada Allah (dakwah ilallah), di antaranya: Pertama: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah adalah manusia yang paling baik ucapannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (QS. Fushshilat: 33) Kedua: Dai yang berdakwah mengajak manusia kepada Allah termasuk golongan manusia yang terbaik. كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ “Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110) Baca juga: Tantangan Dakwah Kampus Definisi hikmah Secara istilah syar’i Kata “hikmah/bijaksana” banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis. Dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari 19 ayat. Dan para ulama berbeda-beda dalam menafsirkan makna “hikmah” dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis hingga mencapai 29 tafsir. Di antaranya adalah yang disebutkan dalam kitab Al-Hikmah fid Da’wah ilallah [2]: Hikmah itu kenabian. Hikmah itu Al-Qur’an dan pemahamannya. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Hikmah itu mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Hikmah itu ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Hikmah itu takut kepada Allah. Hikmah itu sunah. Hikmah itu wara’ dalam melaksanakan agama Allah. Hikmah itu berilmu dan beramal. Hikmah itu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Definisi hikmah yang paling universal adalah definisi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan ucapan Mujahid rahimahullah berikut ini, وَقَالَ مُجَاهِدٌ: الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ “Mujahid rahimahullah berkata, ‘(Hikmah adalah) tepat dalam berucap dan bertindak.’” Tafsir-tafsir hikmah selain itu, pada hakikatnya adalah memperinci makna hikmah, yaitu: tentang sumbernya, cara mendapatkannya, buahnya, dan konsekuensinya. Penjelasan: Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak. Dan tidak mungkin seseorang bisa tepat dalam berucap dan bertindak, kecuali harus: Pertama: Mempelajari kebenaran yang sumbernya Al-Quran dan Al-Hadis dengan manhaj salaf saleh dan mengamalkannya. Kedua: Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Menempatkan ucapan dan perbuatan sesuai dengan materi yang tepat, cara yang tepat, sasaran yang tepat, kondisi yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat, hak yang tepat, urutan yang tepat, serta sesuai dalam segala halnya. Oleh karena itu, disebutkan pula ucapan Malik bin Anas rahimahullah dalam kitabTafsir Al-Qurthubi , وَقَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ: الْحِكْمَةُ الْمَعْرِفَةُ بِدِينِ اللَّهِ وَالْفِقْهِ فِيهِ وَالِاتِّبَاعِ لَهُ “Malik bin Anas rahimahullah berkata, ‘Hikmah itu mengetahui agama Allah, memahami, serta mengikutinya.’” Maksudnya adalah mengetahui kebenaran, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadis, kemudian mengamalkannya. Penulis kitab Manazil, Syaikhul Islam Abdullah Al-Anshari Al-Harawi, berkata ketika mendefinisikan hikmah, وضْعُ الشَّيْءِ في مَوْضِعِهِ “Menempatkan sesuatu pada tempatnya.” Jadi, berdasarkan penjelasan Malik bin Anas dan Syekh Al-Harawi di atas, hikmah itu sumbernya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis. Oleh karena itu, untuk bisa hikmah, seseorang harus mempelajari keduanya dan mengamalkannya. Dan hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak dengan memperhatikan ketepatan materinya, caranya, sasarannya, kondisinya, waktunya, tempatnya, haknya, urutannya, serta ketepatan dalam segala halnya. Tepat materinya, yaitu: isi ucapan dan bentuk perbuatannya tepat. Tepat caranya, yaitu: cara berucapnya tepat dengan menggunakan kata-kata yang paling mudah dipahami dan paling mudah diterima di hati dan cara bertindaknya pun tepat. Tepat sasarannya, yaitu: obyek yg diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat kondisinya, yaitu: keadaan orang yang diajak bicara dan yang disikapi tepat. Tepat waktunya, yaitu: saatnya tepat. Tepat tempatnya, yaitu: tempat untuk bicara dan berbuat adalah tempat yang tepat. Tepat haknya, yaitu: memberikan hak sesuai kedudukan pemilik hak. Termasuk menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukan dan jabatannya. Tepat urutannya, yaitu: mendahulukan yang terpenting lalu yang penting setelahnya. Oleh karena itu, orang yang hikmah/bijak itu mempertimbangkan sesuatu dari segala sisi dengan matang, sehingga profilnya adalah orang yang suka hati-hati dan tidak terburu-buru dan menilai segala sesuatu serta mendasari segala sesuatu dengan ilmu syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah) Kesimpulan cakupan hikmah/bijaksana Berdasarkan penjelasan di atas, tampak jelas bahwa cakupan hikmah dalam berdakwah ilallah itu luas. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak berarti lembut, toleransi, dan mengalah terus pada seluruh keadaan. Hikmah dalam berdakwah ilallah itu tidak hanya mencakup ucapan yang lembut, mendorong semangat, menahan diri dari amarah, memaafkan saja. Hikmah itu tepat dalam berucap dan bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan, tempat, waktu, objek dakwah, dan seluruh sisi pertimbangan lainnya. Hikmah itu menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka tertuntut untuk: 1) meletakkan ucapan yang lembut pada tempatnya, 2) meletakkan mau’izhah hasanah pada tempatnya, 3) meletakkan berdebat yang baik pada tempatnya, 4) meletakkan orang yang zalim pada tempatnya, dan 5) meletakkan sikap tegas dan ucapan yang keras pada tempatnya. Intinya, hikmah itu lembut pada saat tuntutannya lembut, dan keras pada saat tuntutannya keras. Adapun bersikap keras saat tuntutannya lembut, maka ini namanya kaku dan melampaui batasan syariat Islam. Sedangkan bersikap lembut padahal tuntutannya keras, ini namanya lemah dan hina. Lanjut ke bagian 2: Keutamaan dan Rukun Hikmah *** Penulis: Sa’id Abu ‘Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] https://www.alukah.net/sharia/0/68785/ [2] Al-Hikmah  fid Da’wah Ilallah, hal. 32, Dr. Sa’id Al-Qahthani Tags: definisi dakwah ilallahdefinisi hikmah

Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 1)

Daftar Isi Toggle Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatuKecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampakKebodohan Kesyirikan adalah bentuk kemunduran yang berdampak pada fitrah dan merupakan penyakit yang menyerang hati. Ia merupakan penyakit yang paling ditakuti dan dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan menjangkiti kita, para umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ الرِّياَءُ “Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah syirik kecil tersebut, wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad no. 23630 dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman no. 6831) Jika riya’ saja, yang termasuk ke dalam syirik kecil dan hanya membatalkan amalan tertentu, beliau takutkan, maka bagaimana lagi dengan syirik besar yang akan membatalkan seluruh amal?? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa kesyirikan akan kembali menyebar dan merebak di akhir zaman. لَا تَقُوم السَّاعَة حَتَّى تَضْطَرِب أَلَيَات نِسَاء دَوْس حَوْل ذِي الْخَلَصَة ، وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدهَا دَوْس فِي الْجَاهِلِيَّة بِتَبَالَة “Kiamat tidak akan terjadi hingga wanita-wanita Daus tawaf mengelilingi Dzul Khalashah. Yaitu, berhala yang disembah oleh Daus di masa Jahiliyah di Tabalah.“ (HR. Bukhari dan Muslim) Tidak dapat dipungkiri, kita hidup di zaman di mana kesyirikan sangat lazim kita jumpai, baik itu di dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Kesyirikan (sayangnya) seringkali dijadikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi. Saat panen hasil laut, mereka melarung sesajen ke tengah lautan. Kata mereka, hal ini sebagai bentuk syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa halangan dan musibah. Sungguh miris, sampai-sampai di dunia maya sekalipun kesyirikan kerap kita jumpai, baik itu iklan ramalan nasib, meyakini sesuatu sebagai sebab atas terjadinya sesuatu yang bukan pada tempatnya, hingga sajian video dan konten yang menampilkan praktik perdukunan dan kesyirikan. Saudaraku, layaknya penyakit-penyakit lainnya yang menyerang tubuh manusia, kesyirikan juga memiliki sebab-sebab yang berpotensi besar menjerumuskam manusia ke dalamnya. Sebab-sebab yang wajib kita waspadai dan kita hindari. Berikut ini adalah sebab-sebab utama terjerumusnya manusia ke dalam kesyirikan. Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu Jiwa kita dilahirkan untuk mengagumi sesuatu yang memiliki kelebihan dan keunggulan dari yang lainnya. Namun, penyimpangan syirik ini muncul justru salah satunya karena pemuliaan dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu. Sampai-sampai, jika seseorang telah berlebihan di dalam mengagungkan dan mengkultuskan seseorang, ia akan memalingkan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala kepada yang diagungkan dan dikaguminya tersebut. Ia sucikan sosok yang dikaguminya tersebut dan ia anggap bahwa sosok tersebut tidak memiliki dosa dan kesalahan. Padahal, pengkultusan dan penyucian itu hanyalah milik Allah semata. Rasa kagum yang ia lakukan tersebut pada akhirnya membuatnya terjatuh ke dalam jurang kesyirikan. Hal inilah yang menjadi sebab terjadinya kesyirikan pertama di muka bumi ini. Allah Ta’ala mengisahkan di dalam surah Nuh, قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاَّ خَسَارًا * وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا * وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa‘, Yagus, Ya‘uq dan Nasr.” (QS. Nuh: 21-23) Kelima orang tersebut adalah orang-orang saleh dari kaum Nuh ‘alaihis salam. Berawal dari rasa takjub dan kagum yang berlebih-lebihan terhadap kesalehan mereka, hingga kemudian saat mereka telah meninggal dunia, rasa kagum tersebut berubah menjadi pengagungan dan pembuatan patung-patung mereka. Setelah berselang beberapa waktu, akhirnya kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam mengkultuskan dan menyembah mereka. Sebagian manusia yang lain terjatuh ke dalam kesyirikan karena pengkultusan dan pengagungan mereka terhadap benda-benda langit tertentu. Sebagaimana kisah kaum Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang menyembah bintang, matahari, dan bulan. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ “Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fussilat: 37) Tentu saja, hal inipun berlaku bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Banyak sekali dari mereka yang mengaku muslim, akan tetapi beribadah kepada kuburan dan mayit yang sudah tidak bisa lagi memberi manfaat. Tidak mengherankan juga jika sebagian manusia yang lainnya ada yang mengkultuskan dan mengagungkan sapi hingga monyet. Semuanya itu tidak lain dan tidak bukan karena kekaguman dan rasa takjub mereka yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu. Baca juga: Cinta, Sumber Terjadinya Syirik Kecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampak Fitrah dan akal sehat manusia rentan terhadap penyakit. Jika dia tidak konsisten di dalam merawat dan melindunginya dari penyakit-penyakit yang akan menjangkitinya, hingga kemudian dia kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang tidak berwujud dan tidak nampak serta sedikit demi sedikit membatasi perhatiannya hanya pada lingkup yang nyata dan nampak saja, maka kelalaiannya tersebut akan meluas sampai dia benar-benar membuang panca inderanya dari hal-hal yang tidak nampak oleh dirinya. Hal inilah yang terjadi pada Bani Israil ketika mereka mengatakan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.” (QS. Al-Baqarah: 55) Di ayat yang lain Allah Ta’ala mengisahkan kisah mereka, قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ Mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Musa) menjawab, “Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 138) Kelalaian yang ekstrim inilah yang berujung pada pengingkaran sama sekali terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah Ta’ala. Kepercayaan bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya tanpa adanya kuasa Allah Ta’ala di dalamnya, hanya mempercayai sains dan penelitian serta beragam kepercayaan lainnya yang meniadakan kuasa dan keberadaan Allah Ta’ala inilah yang disebut dengan Atheisme, di mana mirisnya hal ini telah melanda sebagian besar masyarakat di era sekarang. Baca juga: Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan Kebodohan Tidak dapat dipungkiri, kebodohan merupakan sebab utama ketidakpatuhan kebanyakan umat kepada Nabi mereka dan penolakan mereka dari beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67) Nabi Musa ‘alaihis salam berlindung kepada Allah Ta’ala agar tidak menjadikannya sebagai salah satu bagian dari kaumnya yang bodoh, yang dengan kebodohannya tersebut pada akhirnya menuduh Nabi Musa menyampaikan dan mendakwahkan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala menceritakan bagaimana perdebatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kaumnya dalam masalah tauhid dan syirik, قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ “Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?” (QS. Az-Zumar: 64) Sekiranya mereka yang mengajak berdebat tersebut tidak bodoh dan mempunyai ilmu pengetahuan bahwasanya Allah Yang Mahasempurna dari segala sisi-Nya adalah yang berhak untuk diibadahi dan bukan yang selain-Nya yang lemah dari segala sisinya, tentu permintaan semacam ini tidak akan keluar dari lisan mereka. Karena mereka tahu bahwa menyembah selain Allah Ta’ala termasuk kesyirikan yang dapat menghapus semua amal-amal kebaikan dan tidak akan diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat dengan sebenar-benarnya tobat. Sungguh kebodohan akan menutup pintu hidayah dan taufik kepada kebenaran. Menjadikan seorang manusia kolot dan keras kepala, sulit menerima kebenaran, kemudiaan tidak mau mengakuinya. Naudzubillahi min dzalika kullihi. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak seperti setan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi.” Wallahu A’lam bisshawab. [Bersambung] Lanjut ke bagian 2: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 2) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik

Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 1)

Daftar Isi Toggle Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatuKecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampakKebodohan Kesyirikan adalah bentuk kemunduran yang berdampak pada fitrah dan merupakan penyakit yang menyerang hati. Ia merupakan penyakit yang paling ditakuti dan dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan menjangkiti kita, para umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ الرِّياَءُ “Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah syirik kecil tersebut, wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad no. 23630 dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman no. 6831) Jika riya’ saja, yang termasuk ke dalam syirik kecil dan hanya membatalkan amalan tertentu, beliau takutkan, maka bagaimana lagi dengan syirik besar yang akan membatalkan seluruh amal?? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa kesyirikan akan kembali menyebar dan merebak di akhir zaman. لَا تَقُوم السَّاعَة حَتَّى تَضْطَرِب أَلَيَات نِسَاء دَوْس حَوْل ذِي الْخَلَصَة ، وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدهَا دَوْس فِي الْجَاهِلِيَّة بِتَبَالَة “Kiamat tidak akan terjadi hingga wanita-wanita Daus tawaf mengelilingi Dzul Khalashah. Yaitu, berhala yang disembah oleh Daus di masa Jahiliyah di Tabalah.“ (HR. Bukhari dan Muslim) Tidak dapat dipungkiri, kita hidup di zaman di mana kesyirikan sangat lazim kita jumpai, baik itu di dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Kesyirikan (sayangnya) seringkali dijadikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi. Saat panen hasil laut, mereka melarung sesajen ke tengah lautan. Kata mereka, hal ini sebagai bentuk syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa halangan dan musibah. Sungguh miris, sampai-sampai di dunia maya sekalipun kesyirikan kerap kita jumpai, baik itu iklan ramalan nasib, meyakini sesuatu sebagai sebab atas terjadinya sesuatu yang bukan pada tempatnya, hingga sajian video dan konten yang menampilkan praktik perdukunan dan kesyirikan. Saudaraku, layaknya penyakit-penyakit lainnya yang menyerang tubuh manusia, kesyirikan juga memiliki sebab-sebab yang berpotensi besar menjerumuskam manusia ke dalamnya. Sebab-sebab yang wajib kita waspadai dan kita hindari. Berikut ini adalah sebab-sebab utama terjerumusnya manusia ke dalam kesyirikan. Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu Jiwa kita dilahirkan untuk mengagumi sesuatu yang memiliki kelebihan dan keunggulan dari yang lainnya. Namun, penyimpangan syirik ini muncul justru salah satunya karena pemuliaan dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu. Sampai-sampai, jika seseorang telah berlebihan di dalam mengagungkan dan mengkultuskan seseorang, ia akan memalingkan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala kepada yang diagungkan dan dikaguminya tersebut. Ia sucikan sosok yang dikaguminya tersebut dan ia anggap bahwa sosok tersebut tidak memiliki dosa dan kesalahan. Padahal, pengkultusan dan penyucian itu hanyalah milik Allah semata. Rasa kagum yang ia lakukan tersebut pada akhirnya membuatnya terjatuh ke dalam jurang kesyirikan. Hal inilah yang menjadi sebab terjadinya kesyirikan pertama di muka bumi ini. Allah Ta’ala mengisahkan di dalam surah Nuh, قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاَّ خَسَارًا * وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا * وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa‘, Yagus, Ya‘uq dan Nasr.” (QS. Nuh: 21-23) Kelima orang tersebut adalah orang-orang saleh dari kaum Nuh ‘alaihis salam. Berawal dari rasa takjub dan kagum yang berlebih-lebihan terhadap kesalehan mereka, hingga kemudian saat mereka telah meninggal dunia, rasa kagum tersebut berubah menjadi pengagungan dan pembuatan patung-patung mereka. Setelah berselang beberapa waktu, akhirnya kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam mengkultuskan dan menyembah mereka. Sebagian manusia yang lain terjatuh ke dalam kesyirikan karena pengkultusan dan pengagungan mereka terhadap benda-benda langit tertentu. Sebagaimana kisah kaum Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang menyembah bintang, matahari, dan bulan. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ “Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fussilat: 37) Tentu saja, hal inipun berlaku bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Banyak sekali dari mereka yang mengaku muslim, akan tetapi beribadah kepada kuburan dan mayit yang sudah tidak bisa lagi memberi manfaat. Tidak mengherankan juga jika sebagian manusia yang lainnya ada yang mengkultuskan dan mengagungkan sapi hingga monyet. Semuanya itu tidak lain dan tidak bukan karena kekaguman dan rasa takjub mereka yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu. Baca juga: Cinta, Sumber Terjadinya Syirik Kecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampak Fitrah dan akal sehat manusia rentan terhadap penyakit. Jika dia tidak konsisten di dalam merawat dan melindunginya dari penyakit-penyakit yang akan menjangkitinya, hingga kemudian dia kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang tidak berwujud dan tidak nampak serta sedikit demi sedikit membatasi perhatiannya hanya pada lingkup yang nyata dan nampak saja, maka kelalaiannya tersebut akan meluas sampai dia benar-benar membuang panca inderanya dari hal-hal yang tidak nampak oleh dirinya. Hal inilah yang terjadi pada Bani Israil ketika mereka mengatakan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.” (QS. Al-Baqarah: 55) Di ayat yang lain Allah Ta’ala mengisahkan kisah mereka, قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ Mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Musa) menjawab, “Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 138) Kelalaian yang ekstrim inilah yang berujung pada pengingkaran sama sekali terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah Ta’ala. Kepercayaan bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya tanpa adanya kuasa Allah Ta’ala di dalamnya, hanya mempercayai sains dan penelitian serta beragam kepercayaan lainnya yang meniadakan kuasa dan keberadaan Allah Ta’ala inilah yang disebut dengan Atheisme, di mana mirisnya hal ini telah melanda sebagian besar masyarakat di era sekarang. Baca juga: Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan Kebodohan Tidak dapat dipungkiri, kebodohan merupakan sebab utama ketidakpatuhan kebanyakan umat kepada Nabi mereka dan penolakan mereka dari beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67) Nabi Musa ‘alaihis salam berlindung kepada Allah Ta’ala agar tidak menjadikannya sebagai salah satu bagian dari kaumnya yang bodoh, yang dengan kebodohannya tersebut pada akhirnya menuduh Nabi Musa menyampaikan dan mendakwahkan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala menceritakan bagaimana perdebatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kaumnya dalam masalah tauhid dan syirik, قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ “Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?” (QS. Az-Zumar: 64) Sekiranya mereka yang mengajak berdebat tersebut tidak bodoh dan mempunyai ilmu pengetahuan bahwasanya Allah Yang Mahasempurna dari segala sisi-Nya adalah yang berhak untuk diibadahi dan bukan yang selain-Nya yang lemah dari segala sisinya, tentu permintaan semacam ini tidak akan keluar dari lisan mereka. Karena mereka tahu bahwa menyembah selain Allah Ta’ala termasuk kesyirikan yang dapat menghapus semua amal-amal kebaikan dan tidak akan diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat dengan sebenar-benarnya tobat. Sungguh kebodohan akan menutup pintu hidayah dan taufik kepada kebenaran. Menjadikan seorang manusia kolot dan keras kepala, sulit menerima kebenaran, kemudiaan tidak mau mengakuinya. Naudzubillahi min dzalika kullihi. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak seperti setan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi.” Wallahu A’lam bisshawab. [Bersambung] Lanjut ke bagian 2: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 2) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik
Daftar Isi Toggle Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatuKecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampakKebodohan Kesyirikan adalah bentuk kemunduran yang berdampak pada fitrah dan merupakan penyakit yang menyerang hati. Ia merupakan penyakit yang paling ditakuti dan dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan menjangkiti kita, para umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ الرِّياَءُ “Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah syirik kecil tersebut, wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad no. 23630 dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman no. 6831) Jika riya’ saja, yang termasuk ke dalam syirik kecil dan hanya membatalkan amalan tertentu, beliau takutkan, maka bagaimana lagi dengan syirik besar yang akan membatalkan seluruh amal?? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa kesyirikan akan kembali menyebar dan merebak di akhir zaman. لَا تَقُوم السَّاعَة حَتَّى تَضْطَرِب أَلَيَات نِسَاء دَوْس حَوْل ذِي الْخَلَصَة ، وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدهَا دَوْس فِي الْجَاهِلِيَّة بِتَبَالَة “Kiamat tidak akan terjadi hingga wanita-wanita Daus tawaf mengelilingi Dzul Khalashah. Yaitu, berhala yang disembah oleh Daus di masa Jahiliyah di Tabalah.“ (HR. Bukhari dan Muslim) Tidak dapat dipungkiri, kita hidup di zaman di mana kesyirikan sangat lazim kita jumpai, baik itu di dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Kesyirikan (sayangnya) seringkali dijadikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi. Saat panen hasil laut, mereka melarung sesajen ke tengah lautan. Kata mereka, hal ini sebagai bentuk syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa halangan dan musibah. Sungguh miris, sampai-sampai di dunia maya sekalipun kesyirikan kerap kita jumpai, baik itu iklan ramalan nasib, meyakini sesuatu sebagai sebab atas terjadinya sesuatu yang bukan pada tempatnya, hingga sajian video dan konten yang menampilkan praktik perdukunan dan kesyirikan. Saudaraku, layaknya penyakit-penyakit lainnya yang menyerang tubuh manusia, kesyirikan juga memiliki sebab-sebab yang berpotensi besar menjerumuskam manusia ke dalamnya. Sebab-sebab yang wajib kita waspadai dan kita hindari. Berikut ini adalah sebab-sebab utama terjerumusnya manusia ke dalam kesyirikan. Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu Jiwa kita dilahirkan untuk mengagumi sesuatu yang memiliki kelebihan dan keunggulan dari yang lainnya. Namun, penyimpangan syirik ini muncul justru salah satunya karena pemuliaan dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu. Sampai-sampai, jika seseorang telah berlebihan di dalam mengagungkan dan mengkultuskan seseorang, ia akan memalingkan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala kepada yang diagungkan dan dikaguminya tersebut. Ia sucikan sosok yang dikaguminya tersebut dan ia anggap bahwa sosok tersebut tidak memiliki dosa dan kesalahan. Padahal, pengkultusan dan penyucian itu hanyalah milik Allah semata. Rasa kagum yang ia lakukan tersebut pada akhirnya membuatnya terjatuh ke dalam jurang kesyirikan. Hal inilah yang menjadi sebab terjadinya kesyirikan pertama di muka bumi ini. Allah Ta’ala mengisahkan di dalam surah Nuh, قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاَّ خَسَارًا * وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا * وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa‘, Yagus, Ya‘uq dan Nasr.” (QS. Nuh: 21-23) Kelima orang tersebut adalah orang-orang saleh dari kaum Nuh ‘alaihis salam. Berawal dari rasa takjub dan kagum yang berlebih-lebihan terhadap kesalehan mereka, hingga kemudian saat mereka telah meninggal dunia, rasa kagum tersebut berubah menjadi pengagungan dan pembuatan patung-patung mereka. Setelah berselang beberapa waktu, akhirnya kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam mengkultuskan dan menyembah mereka. Sebagian manusia yang lain terjatuh ke dalam kesyirikan karena pengkultusan dan pengagungan mereka terhadap benda-benda langit tertentu. Sebagaimana kisah kaum Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang menyembah bintang, matahari, dan bulan. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ “Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fussilat: 37) Tentu saja, hal inipun berlaku bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Banyak sekali dari mereka yang mengaku muslim, akan tetapi beribadah kepada kuburan dan mayit yang sudah tidak bisa lagi memberi manfaat. Tidak mengherankan juga jika sebagian manusia yang lainnya ada yang mengkultuskan dan mengagungkan sapi hingga monyet. Semuanya itu tidak lain dan tidak bukan karena kekaguman dan rasa takjub mereka yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu. Baca juga: Cinta, Sumber Terjadinya Syirik Kecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampak Fitrah dan akal sehat manusia rentan terhadap penyakit. Jika dia tidak konsisten di dalam merawat dan melindunginya dari penyakit-penyakit yang akan menjangkitinya, hingga kemudian dia kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang tidak berwujud dan tidak nampak serta sedikit demi sedikit membatasi perhatiannya hanya pada lingkup yang nyata dan nampak saja, maka kelalaiannya tersebut akan meluas sampai dia benar-benar membuang panca inderanya dari hal-hal yang tidak nampak oleh dirinya. Hal inilah yang terjadi pada Bani Israil ketika mereka mengatakan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.” (QS. Al-Baqarah: 55) Di ayat yang lain Allah Ta’ala mengisahkan kisah mereka, قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ Mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Musa) menjawab, “Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 138) Kelalaian yang ekstrim inilah yang berujung pada pengingkaran sama sekali terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah Ta’ala. Kepercayaan bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya tanpa adanya kuasa Allah Ta’ala di dalamnya, hanya mempercayai sains dan penelitian serta beragam kepercayaan lainnya yang meniadakan kuasa dan keberadaan Allah Ta’ala inilah yang disebut dengan Atheisme, di mana mirisnya hal ini telah melanda sebagian besar masyarakat di era sekarang. Baca juga: Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan Kebodohan Tidak dapat dipungkiri, kebodohan merupakan sebab utama ketidakpatuhan kebanyakan umat kepada Nabi mereka dan penolakan mereka dari beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67) Nabi Musa ‘alaihis salam berlindung kepada Allah Ta’ala agar tidak menjadikannya sebagai salah satu bagian dari kaumnya yang bodoh, yang dengan kebodohannya tersebut pada akhirnya menuduh Nabi Musa menyampaikan dan mendakwahkan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala menceritakan bagaimana perdebatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kaumnya dalam masalah tauhid dan syirik, قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ “Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?” (QS. Az-Zumar: 64) Sekiranya mereka yang mengajak berdebat tersebut tidak bodoh dan mempunyai ilmu pengetahuan bahwasanya Allah Yang Mahasempurna dari segala sisi-Nya adalah yang berhak untuk diibadahi dan bukan yang selain-Nya yang lemah dari segala sisinya, tentu permintaan semacam ini tidak akan keluar dari lisan mereka. Karena mereka tahu bahwa menyembah selain Allah Ta’ala termasuk kesyirikan yang dapat menghapus semua amal-amal kebaikan dan tidak akan diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat dengan sebenar-benarnya tobat. Sungguh kebodohan akan menutup pintu hidayah dan taufik kepada kebenaran. Menjadikan seorang manusia kolot dan keras kepala, sulit menerima kebenaran, kemudiaan tidak mau mengakuinya. Naudzubillahi min dzalika kullihi. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak seperti setan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi.” Wallahu A’lam bisshawab. [Bersambung] Lanjut ke bagian 2: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 2) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik


Daftar Isi Toggle Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatuKecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampakKebodohan Kesyirikan adalah bentuk kemunduran yang berdampak pada fitrah dan merupakan penyakit yang menyerang hati. Ia merupakan penyakit yang paling ditakuti dan dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan menjangkiti kita, para umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ الرِّياَءُ “Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah syirik kecil tersebut, wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad no. 23630 dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman no. 6831) Jika riya’ saja, yang termasuk ke dalam syirik kecil dan hanya membatalkan amalan tertentu, beliau takutkan, maka bagaimana lagi dengan syirik besar yang akan membatalkan seluruh amal?? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa kesyirikan akan kembali menyebar dan merebak di akhir zaman. لَا تَقُوم السَّاعَة حَتَّى تَضْطَرِب أَلَيَات نِسَاء دَوْس حَوْل ذِي الْخَلَصَة ، وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدهَا دَوْس فِي الْجَاهِلِيَّة بِتَبَالَة “Kiamat tidak akan terjadi hingga wanita-wanita Daus tawaf mengelilingi Dzul Khalashah. Yaitu, berhala yang disembah oleh Daus di masa Jahiliyah di Tabalah.“ (HR. Bukhari dan Muslim) Tidak dapat dipungkiri, kita hidup di zaman di mana kesyirikan sangat lazim kita jumpai, baik itu di dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Kesyirikan (sayangnya) seringkali dijadikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi. Saat panen hasil laut, mereka melarung sesajen ke tengah lautan. Kata mereka, hal ini sebagai bentuk syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa halangan dan musibah. Sungguh miris, sampai-sampai di dunia maya sekalipun kesyirikan kerap kita jumpai, baik itu iklan ramalan nasib, meyakini sesuatu sebagai sebab atas terjadinya sesuatu yang bukan pada tempatnya, hingga sajian video dan konten yang menampilkan praktik perdukunan dan kesyirikan. Saudaraku, layaknya penyakit-penyakit lainnya yang menyerang tubuh manusia, kesyirikan juga memiliki sebab-sebab yang berpotensi besar menjerumuskam manusia ke dalamnya. Sebab-sebab yang wajib kita waspadai dan kita hindari. Berikut ini adalah sebab-sebab utama terjerumusnya manusia ke dalam kesyirikan. Kekaguman dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu Jiwa kita dilahirkan untuk mengagumi sesuatu yang memiliki kelebihan dan keunggulan dari yang lainnya. Namun, penyimpangan syirik ini muncul justru salah satunya karena pemuliaan dan pengagungan yang berlebihan terhadap sesuatu. Sampai-sampai, jika seseorang telah berlebihan di dalam mengagungkan dan mengkultuskan seseorang, ia akan memalingkan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala kepada yang diagungkan dan dikaguminya tersebut. Ia sucikan sosok yang dikaguminya tersebut dan ia anggap bahwa sosok tersebut tidak memiliki dosa dan kesalahan. Padahal, pengkultusan dan penyucian itu hanyalah milik Allah semata. Rasa kagum yang ia lakukan tersebut pada akhirnya membuatnya terjatuh ke dalam jurang kesyirikan. Hal inilah yang menjadi sebab terjadinya kesyirikan pertama di muka bumi ini. Allah Ta’ala mengisahkan di dalam surah Nuh, قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاَّ خَسَارًا * وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا * وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa‘, Yagus, Ya‘uq dan Nasr.” (QS. Nuh: 21-23) Kelima orang tersebut adalah orang-orang saleh dari kaum Nuh ‘alaihis salam. Berawal dari rasa takjub dan kagum yang berlebih-lebihan terhadap kesalehan mereka, hingga kemudian saat mereka telah meninggal dunia, rasa kagum tersebut berubah menjadi pengagungan dan pembuatan patung-patung mereka. Setelah berselang beberapa waktu, akhirnya kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam mengkultuskan dan menyembah mereka. Sebagian manusia yang lain terjatuh ke dalam kesyirikan karena pengkultusan dan pengagungan mereka terhadap benda-benda langit tertentu. Sebagaimana kisah kaum Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang menyembah bintang, matahari, dan bulan. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ “Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fussilat: 37) Tentu saja, hal inipun berlaku bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Banyak sekali dari mereka yang mengaku muslim, akan tetapi beribadah kepada kuburan dan mayit yang sudah tidak bisa lagi memberi manfaat. Tidak mengherankan juga jika sebagian manusia yang lainnya ada yang mengkultuskan dan mengagungkan sapi hingga monyet. Semuanya itu tidak lain dan tidak bukan karena kekaguman dan rasa takjub mereka yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu. Baca juga: Cinta, Sumber Terjadinya Syirik Kecondongan hanya mengimani dan mempercayai yang nampak dan berwujud saja, serta luput dan lalai dari sesuatu yang tidak nampak Fitrah dan akal sehat manusia rentan terhadap penyakit. Jika dia tidak konsisten di dalam merawat dan melindunginya dari penyakit-penyakit yang akan menjangkitinya, hingga kemudian dia kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang tidak berwujud dan tidak nampak serta sedikit demi sedikit membatasi perhatiannya hanya pada lingkup yang nyata dan nampak saja, maka kelalaiannya tersebut akan meluas sampai dia benar-benar membuang panca inderanya dari hal-hal yang tidak nampak oleh dirinya. Hal inilah yang terjadi pada Bani Israil ketika mereka mengatakan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.” (QS. Al-Baqarah: 55) Di ayat yang lain Allah Ta’ala mengisahkan kisah mereka, قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ Mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Musa) menjawab, “Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 138) Kelalaian yang ekstrim inilah yang berujung pada pengingkaran sama sekali terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah Ta’ala. Kepercayaan bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya tanpa adanya kuasa Allah Ta’ala di dalamnya, hanya mempercayai sains dan penelitian serta beragam kepercayaan lainnya yang meniadakan kuasa dan keberadaan Allah Ta’ala inilah yang disebut dengan Atheisme, di mana mirisnya hal ini telah melanda sebagian besar masyarakat di era sekarang. Baca juga: Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan Kebodohan Tidak dapat dipungkiri, kebodohan merupakan sebab utama ketidakpatuhan kebanyakan umat kepada Nabi mereka dan penolakan mereka dari beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67) Nabi Musa ‘alaihis salam berlindung kepada Allah Ta’ala agar tidak menjadikannya sebagai salah satu bagian dari kaumnya yang bodoh, yang dengan kebodohannya tersebut pada akhirnya menuduh Nabi Musa menyampaikan dan mendakwahkan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala menceritakan bagaimana perdebatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kaumnya dalam masalah tauhid dan syirik, قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ “Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?” (QS. Az-Zumar: 64) Sekiranya mereka yang mengajak berdebat tersebut tidak bodoh dan mempunyai ilmu pengetahuan bahwasanya Allah Yang Mahasempurna dari segala sisi-Nya adalah yang berhak untuk diibadahi dan bukan yang selain-Nya yang lemah dari segala sisinya, tentu permintaan semacam ini tidak akan keluar dari lisan mereka. Karena mereka tahu bahwa menyembah selain Allah Ta’ala termasuk kesyirikan yang dapat menghapus semua amal-amal kebaikan dan tidak akan diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat dengan sebenar-benarnya tobat. Sungguh kebodohan akan menutup pintu hidayah dan taufik kepada kebenaran. Menjadikan seorang manusia kolot dan keras kepala, sulit menerima kebenaran, kemudiaan tidak mau mengakuinya. Naudzubillahi min dzalika kullihi. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak seperti setan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi.” Wallahu A’lam bisshawab. [Bersambung] Lanjut ke bagian 2: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 2) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik

Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 2)

Daftar Isi Toggle Mengikuti hawa nafsu dan syahwatRasa sombongIkut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalilSetan dan tipu dayanyaBerpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Mengikuti hawa nafsu dan syahwat Hawa nafsu dan syahwat merupakan salah satu faktor utama yang membuat seseorang menyimpang dari fitrahnya serta membawanya kepada kemusyrikan dan kesesatan. Siapapun yang mengikuti keinginan dan kemauan hatinya kemudian bersembunyi di balik syahwatnya, maka ia akan merasa sempit terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan dan perintahkan. Allah Ta’ala  berfirman, فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59) Allah Ta’ala juga berfirman, فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan (hawa nafsu) mereka.” (QS. Al-Qasas: 50) Allah Ta’ala menyebutkan bahwa penghalang seseorang dari menjawab panggilan dan seruan dakwah Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hawa nafsu yang telah menguasainya. Karena hawa nafsu inilah, hati ini berpaling dari terangnya hidayah menuju gelapnya kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas bahwa hawa nafsu merupakan salah satu sebab berpalingnya kaum musyrikin dari seruan para nabi-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, كُلَّمَا جَآءَهُمْ رَسُولٌۢ بِمَا لَا تَهْوَىٰٓ أَنفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا۟ وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ “Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Ma’idah: 70) Lihatlah, bagaimana buruknya pengaruh hawa nafsu terhadap perilaku dan keputusan seseorang. Hanya karena Nabi tersebut membawa perintah yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan serta merta mereka dustakan atau bahkan mereka bunuh. Begitu pula dalam hal kesyirikan, seseorang yang terbiasa mengikuti hawa nafsunya, maka bisa saja ia sampai pada tahap “menuhankan” hawa nafsunya tersebut. Melakukan kemaksiatan, syirik kecil, bahkan syirik besar karena mengikuti kemauan hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman, أفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka, siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah: 23) Baca juga: Tundukan Hawa Nafsu Demi Ikut Dalil Rasa sombong Kesombongan ini memiliki tingkatan. Diawali dengan penghinaan terhadap manusia dan merasa jumawa serta lebih tinggi kedudukannya dari mereka, dan berakhir dengan perasaan angkuh serta merasa tidak butuh untuk beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Kesemuanya ini merupakan perilaku tercela yang hanya muncul dari jiwa yang sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ» “Tidak akan masuk surga orang yang masih memiliki sikap sombong di dalam hatinya walau seberat biji sawi.” Maka, ada seorang sahabat yang bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya orang menyukai kalau pakaiannya itu bagus dan sandalnya bagus.” Maka, Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah yang mencintai keindahan. (Yang dinamakan) sombong ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91) Al-Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa kesombongan merupakan salah satu sebab kekufuran dan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Raja Namrud, أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّي الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنْ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنْ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258) Di dalam kisah Fir’aun, Allah Ta’ala juga mengisahkan, وَنَادٰى فِرْعَوْنُ فِيْ قَوْمِهٖ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَيْسَ لِيْ مُلْكُ مِصْرَ وَهٰذِهِ الْاَنْهٰرُ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِيْۚ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَۗ * اَمْ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ مَهِيْنٌ ەۙ وَّلَا يَكَادُ يُبِيْنُ “Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, ‘Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku? Apakah kamu tidak melihat? Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?’” (QS. Az-Zukhruf: 52) Pada kedua ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa pembangkangan dan ketidakpatuhan kedua raja tersebut terhadap seruan dakwah dan kesyirikan mereka kepada Allah Ta’ala, tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kepongahan dan kesombongan yang ada di hati mereka. Dalam hal ini, Allah Ta’ala menyebutkan sebuah kaidah yang menyeluruh terkait penyakit kesombongan ini. Ia berfirman, اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْ ۙاِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Ghafir: 56) Saat seseorang telah dibutakan oleh kesombongan, maka yang ada di hati mereka hanyalah ambisi untuk menguasai dan menyombongkan diri di depan kebenaran. Tidak peduli siapa yang menyampaikannya, tidak peduli apapun kebenarannya, maka akan mereka tolak. Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah Ikut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalil Perbuatan semacam inilah yang pada akhirnya menyebabkan tersebarnya fenomena-fenomena kesyirikan  di tengah kita serta membuat kesyirikan tersebut terus berlanjut melalui zaman yang panjang. Ikut-Ikutan secara membabi buta serta berlebih-lebihan di dalam mencintai adat istiadat yang berlaku akan membawa seseorang pada jurang kemusyrikan dan kesesatan. Bersikukuh di dalam sebuah kesyirikan karena beralasan bahwa hal tersebut telah dilakukan sejak lama oleh nenek moyangnya terdahulu, lalu takut untuk meninggalkan kesyirikan tersebut karena menganggap bahwa hal itu merupakan bentuk pelecehan terhadap budaya leluhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan mereka adalah sebab susahnya hidayah masuk ke dalam diri seseorang. Allah Ta’ala berfirman, وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ “Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf: 23) Tidak hanya di zaman dahulu saja, di zaman sekarang sering kita jumpai orang musyrik tetap berada dalam kemusyrikannya dengan dalih ini. Meskipun telah sampai kepada mereka dalil- dalil dan bukti-bukti yang begitu banyak akan kesesatan yang mereka lakukan. Setan dan tipu dayanya Allah Ta’ala berfirman, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ “Dahulu manusia itu adalah umat yang satu. Maka, Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213) Dahulu kala, manusia dari zaman Nabi Adam sampai zaman Nabi Nuh ‘alaihimas salam beriman kepada Allah Ta’ala, kemudian setan menghasut dan menipu mereka hingga terjadilah perselisihan di antara mereka sendiri. Ketika itu, tipuan pertama setan kepada manusia adalah dengan memperdaya mereka untuk berdiam diri dan duduk-duduk di kuburan orang-orang saleh serta membuat lukisan dan patung mereka dengan dalih agar senantiasa mengingat-ingat kesalehan dan kebaikan orang-orang saleh tersebut. Hingga terjadilah kesyirikan pertama di bumi ini ketika setan sukses menipu kaum Nuh ‘alaihis salam untuk menyembah patung-patung dan lukisan-lukisan yang telah mereka buat tersebut. Syekhul Islam dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan, “Seperti inilah  keadaan kebanyakan ahli bid’ah, sesat, dan kaum musyrik yang mengaku-ngaku menjadi bagian dari umat ini. Salah seorang dari mereka berdoa dan memohon pertolongan kepada gurunya dan syekhnya yang dia hormati sedangkan gurunya tersebut telah meninggal. Dia saksikan bahwa gurunya tersebut mendatanginya dengan terbang di udara, membantunya untuk menolak beberapa keburukan yang tidak disukainya, atau berdialog dengannya mengenai sebagian hal yang ia tanyakan kepadanya. Dia tidak mengetahui bahwa setan-setan itu berubah wujud menyerupai gurunya untuk menyesatkan mereka, sehingga nampak baik di mata mereka kesyirikan kepada Allah Ta’ala, berdoa kepada selain-Nya, dan meminta tolong kepada selain-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 17: 456 secara ringkas) Baca juga: Jangan Ikuti Langkah Setan Berpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Pemalsuan hadis dan kebohongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah sesuatu yang spontan. Melainkan sebuah rencana yang sudah terorganisir yang diciptakan oleh para ahli bid’ah untuk melawan Islam sebagai bentuk pelampiasan akan kebencian mereka yang terpendam. Mereka berupaya untuk membuat hadis-hadis palsu dan menyebarkannya di tengah masyarakat, menciptakan hadis-hadis palsu yang bertentangan dengan konsep tauhid. Seperti hadis yang berbunyi, إذا أعيتكم الأمورُ فعليكم بأهلِ القبورِ ، أو فاستعينوا بأهلِ القبورِ “Jika kalian sedang dirundung masalah, maka kembalilah kepada ahli kubur atau mintalah pertolongan kepada ahli kubur.” Hadis ini atau yang semisalnya, sengaja mereka buat untuk menghalalkan perkara-perkara yang telah dilarang Allah Ta’ala dan Nabi-Nya, baik itu membolehkan meminta tolong kepada ahli kubur yang telah meninggal dunia, atupun perbuatan kesyirikan dan kemaksiatan lainnya. Begitu pula dengan mimpi-mimpi orang-orang yang dianggap sebagai wali. Mimpi-mimpi yang mendukung mereka untuk berbuat kesyirikan, berlebih-lebihan di dalam mengkultuskan seseorang ataupun mengagungkannya melewati batas yang diperbolehkan oleh syariat ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan anak cucu kita dari terjatuh ke dalam perbuatan syirik, menjauhkan kita dari segala macam wasilah dan sebab yang akan mengantarkan kita ke dalam jurang kesyirikan dan kemaksiatan. اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.“ Berdoalah sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) Wallahu A’lam bisshawab. [Selesai] Kembali ke bagian 1: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 1) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik

Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 2)

Daftar Isi Toggle Mengikuti hawa nafsu dan syahwatRasa sombongIkut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalilSetan dan tipu dayanyaBerpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Mengikuti hawa nafsu dan syahwat Hawa nafsu dan syahwat merupakan salah satu faktor utama yang membuat seseorang menyimpang dari fitrahnya serta membawanya kepada kemusyrikan dan kesesatan. Siapapun yang mengikuti keinginan dan kemauan hatinya kemudian bersembunyi di balik syahwatnya, maka ia akan merasa sempit terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan dan perintahkan. Allah Ta’ala  berfirman, فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59) Allah Ta’ala juga berfirman, فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan (hawa nafsu) mereka.” (QS. Al-Qasas: 50) Allah Ta’ala menyebutkan bahwa penghalang seseorang dari menjawab panggilan dan seruan dakwah Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hawa nafsu yang telah menguasainya. Karena hawa nafsu inilah, hati ini berpaling dari terangnya hidayah menuju gelapnya kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas bahwa hawa nafsu merupakan salah satu sebab berpalingnya kaum musyrikin dari seruan para nabi-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, كُلَّمَا جَآءَهُمْ رَسُولٌۢ بِمَا لَا تَهْوَىٰٓ أَنفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا۟ وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ “Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Ma’idah: 70) Lihatlah, bagaimana buruknya pengaruh hawa nafsu terhadap perilaku dan keputusan seseorang. Hanya karena Nabi tersebut membawa perintah yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan serta merta mereka dustakan atau bahkan mereka bunuh. Begitu pula dalam hal kesyirikan, seseorang yang terbiasa mengikuti hawa nafsunya, maka bisa saja ia sampai pada tahap “menuhankan” hawa nafsunya tersebut. Melakukan kemaksiatan, syirik kecil, bahkan syirik besar karena mengikuti kemauan hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman, أفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka, siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah: 23) Baca juga: Tundukan Hawa Nafsu Demi Ikut Dalil Rasa sombong Kesombongan ini memiliki tingkatan. Diawali dengan penghinaan terhadap manusia dan merasa jumawa serta lebih tinggi kedudukannya dari mereka, dan berakhir dengan perasaan angkuh serta merasa tidak butuh untuk beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Kesemuanya ini merupakan perilaku tercela yang hanya muncul dari jiwa yang sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ» “Tidak akan masuk surga orang yang masih memiliki sikap sombong di dalam hatinya walau seberat biji sawi.” Maka, ada seorang sahabat yang bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya orang menyukai kalau pakaiannya itu bagus dan sandalnya bagus.” Maka, Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah yang mencintai keindahan. (Yang dinamakan) sombong ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91) Al-Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa kesombongan merupakan salah satu sebab kekufuran dan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Raja Namrud, أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّي الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنْ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنْ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258) Di dalam kisah Fir’aun, Allah Ta’ala juga mengisahkan, وَنَادٰى فِرْعَوْنُ فِيْ قَوْمِهٖ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَيْسَ لِيْ مُلْكُ مِصْرَ وَهٰذِهِ الْاَنْهٰرُ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِيْۚ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَۗ * اَمْ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ مَهِيْنٌ ەۙ وَّلَا يَكَادُ يُبِيْنُ “Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, ‘Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku? Apakah kamu tidak melihat? Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?’” (QS. Az-Zukhruf: 52) Pada kedua ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa pembangkangan dan ketidakpatuhan kedua raja tersebut terhadap seruan dakwah dan kesyirikan mereka kepada Allah Ta’ala, tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kepongahan dan kesombongan yang ada di hati mereka. Dalam hal ini, Allah Ta’ala menyebutkan sebuah kaidah yang menyeluruh terkait penyakit kesombongan ini. Ia berfirman, اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْ ۙاِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Ghafir: 56) Saat seseorang telah dibutakan oleh kesombongan, maka yang ada di hati mereka hanyalah ambisi untuk menguasai dan menyombongkan diri di depan kebenaran. Tidak peduli siapa yang menyampaikannya, tidak peduli apapun kebenarannya, maka akan mereka tolak. Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah Ikut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalil Perbuatan semacam inilah yang pada akhirnya menyebabkan tersebarnya fenomena-fenomena kesyirikan  di tengah kita serta membuat kesyirikan tersebut terus berlanjut melalui zaman yang panjang. Ikut-Ikutan secara membabi buta serta berlebih-lebihan di dalam mencintai adat istiadat yang berlaku akan membawa seseorang pada jurang kemusyrikan dan kesesatan. Bersikukuh di dalam sebuah kesyirikan karena beralasan bahwa hal tersebut telah dilakukan sejak lama oleh nenek moyangnya terdahulu, lalu takut untuk meninggalkan kesyirikan tersebut karena menganggap bahwa hal itu merupakan bentuk pelecehan terhadap budaya leluhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan mereka adalah sebab susahnya hidayah masuk ke dalam diri seseorang. Allah Ta’ala berfirman, وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ “Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf: 23) Tidak hanya di zaman dahulu saja, di zaman sekarang sering kita jumpai orang musyrik tetap berada dalam kemusyrikannya dengan dalih ini. Meskipun telah sampai kepada mereka dalil- dalil dan bukti-bukti yang begitu banyak akan kesesatan yang mereka lakukan. Setan dan tipu dayanya Allah Ta’ala berfirman, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ “Dahulu manusia itu adalah umat yang satu. Maka, Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213) Dahulu kala, manusia dari zaman Nabi Adam sampai zaman Nabi Nuh ‘alaihimas salam beriman kepada Allah Ta’ala, kemudian setan menghasut dan menipu mereka hingga terjadilah perselisihan di antara mereka sendiri. Ketika itu, tipuan pertama setan kepada manusia adalah dengan memperdaya mereka untuk berdiam diri dan duduk-duduk di kuburan orang-orang saleh serta membuat lukisan dan patung mereka dengan dalih agar senantiasa mengingat-ingat kesalehan dan kebaikan orang-orang saleh tersebut. Hingga terjadilah kesyirikan pertama di bumi ini ketika setan sukses menipu kaum Nuh ‘alaihis salam untuk menyembah patung-patung dan lukisan-lukisan yang telah mereka buat tersebut. Syekhul Islam dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan, “Seperti inilah  keadaan kebanyakan ahli bid’ah, sesat, dan kaum musyrik yang mengaku-ngaku menjadi bagian dari umat ini. Salah seorang dari mereka berdoa dan memohon pertolongan kepada gurunya dan syekhnya yang dia hormati sedangkan gurunya tersebut telah meninggal. Dia saksikan bahwa gurunya tersebut mendatanginya dengan terbang di udara, membantunya untuk menolak beberapa keburukan yang tidak disukainya, atau berdialog dengannya mengenai sebagian hal yang ia tanyakan kepadanya. Dia tidak mengetahui bahwa setan-setan itu berubah wujud menyerupai gurunya untuk menyesatkan mereka, sehingga nampak baik di mata mereka kesyirikan kepada Allah Ta’ala, berdoa kepada selain-Nya, dan meminta tolong kepada selain-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 17: 456 secara ringkas) Baca juga: Jangan Ikuti Langkah Setan Berpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Pemalsuan hadis dan kebohongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah sesuatu yang spontan. Melainkan sebuah rencana yang sudah terorganisir yang diciptakan oleh para ahli bid’ah untuk melawan Islam sebagai bentuk pelampiasan akan kebencian mereka yang terpendam. Mereka berupaya untuk membuat hadis-hadis palsu dan menyebarkannya di tengah masyarakat, menciptakan hadis-hadis palsu yang bertentangan dengan konsep tauhid. Seperti hadis yang berbunyi, إذا أعيتكم الأمورُ فعليكم بأهلِ القبورِ ، أو فاستعينوا بأهلِ القبورِ “Jika kalian sedang dirundung masalah, maka kembalilah kepada ahli kubur atau mintalah pertolongan kepada ahli kubur.” Hadis ini atau yang semisalnya, sengaja mereka buat untuk menghalalkan perkara-perkara yang telah dilarang Allah Ta’ala dan Nabi-Nya, baik itu membolehkan meminta tolong kepada ahli kubur yang telah meninggal dunia, atupun perbuatan kesyirikan dan kemaksiatan lainnya. Begitu pula dengan mimpi-mimpi orang-orang yang dianggap sebagai wali. Mimpi-mimpi yang mendukung mereka untuk berbuat kesyirikan, berlebih-lebihan di dalam mengkultuskan seseorang ataupun mengagungkannya melewati batas yang diperbolehkan oleh syariat ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan anak cucu kita dari terjatuh ke dalam perbuatan syirik, menjauhkan kita dari segala macam wasilah dan sebab yang akan mengantarkan kita ke dalam jurang kesyirikan dan kemaksiatan. اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.“ Berdoalah sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) Wallahu A’lam bisshawab. [Selesai] Kembali ke bagian 1: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 1) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik
Daftar Isi Toggle Mengikuti hawa nafsu dan syahwatRasa sombongIkut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalilSetan dan tipu dayanyaBerpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Mengikuti hawa nafsu dan syahwat Hawa nafsu dan syahwat merupakan salah satu faktor utama yang membuat seseorang menyimpang dari fitrahnya serta membawanya kepada kemusyrikan dan kesesatan. Siapapun yang mengikuti keinginan dan kemauan hatinya kemudian bersembunyi di balik syahwatnya, maka ia akan merasa sempit terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan dan perintahkan. Allah Ta’ala  berfirman, فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59) Allah Ta’ala juga berfirman, فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan (hawa nafsu) mereka.” (QS. Al-Qasas: 50) Allah Ta’ala menyebutkan bahwa penghalang seseorang dari menjawab panggilan dan seruan dakwah Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hawa nafsu yang telah menguasainya. Karena hawa nafsu inilah, hati ini berpaling dari terangnya hidayah menuju gelapnya kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas bahwa hawa nafsu merupakan salah satu sebab berpalingnya kaum musyrikin dari seruan para nabi-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, كُلَّمَا جَآءَهُمْ رَسُولٌۢ بِمَا لَا تَهْوَىٰٓ أَنفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا۟ وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ “Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Ma’idah: 70) Lihatlah, bagaimana buruknya pengaruh hawa nafsu terhadap perilaku dan keputusan seseorang. Hanya karena Nabi tersebut membawa perintah yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan serta merta mereka dustakan atau bahkan mereka bunuh. Begitu pula dalam hal kesyirikan, seseorang yang terbiasa mengikuti hawa nafsunya, maka bisa saja ia sampai pada tahap “menuhankan” hawa nafsunya tersebut. Melakukan kemaksiatan, syirik kecil, bahkan syirik besar karena mengikuti kemauan hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman, أفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka, siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah: 23) Baca juga: Tundukan Hawa Nafsu Demi Ikut Dalil Rasa sombong Kesombongan ini memiliki tingkatan. Diawali dengan penghinaan terhadap manusia dan merasa jumawa serta lebih tinggi kedudukannya dari mereka, dan berakhir dengan perasaan angkuh serta merasa tidak butuh untuk beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Kesemuanya ini merupakan perilaku tercela yang hanya muncul dari jiwa yang sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ» “Tidak akan masuk surga orang yang masih memiliki sikap sombong di dalam hatinya walau seberat biji sawi.” Maka, ada seorang sahabat yang bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya orang menyukai kalau pakaiannya itu bagus dan sandalnya bagus.” Maka, Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah yang mencintai keindahan. (Yang dinamakan) sombong ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91) Al-Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa kesombongan merupakan salah satu sebab kekufuran dan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Raja Namrud, أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّي الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنْ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنْ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258) Di dalam kisah Fir’aun, Allah Ta’ala juga mengisahkan, وَنَادٰى فِرْعَوْنُ فِيْ قَوْمِهٖ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَيْسَ لِيْ مُلْكُ مِصْرَ وَهٰذِهِ الْاَنْهٰرُ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِيْۚ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَۗ * اَمْ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ مَهِيْنٌ ەۙ وَّلَا يَكَادُ يُبِيْنُ “Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, ‘Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku? Apakah kamu tidak melihat? Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?’” (QS. Az-Zukhruf: 52) Pada kedua ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa pembangkangan dan ketidakpatuhan kedua raja tersebut terhadap seruan dakwah dan kesyirikan mereka kepada Allah Ta’ala, tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kepongahan dan kesombongan yang ada di hati mereka. Dalam hal ini, Allah Ta’ala menyebutkan sebuah kaidah yang menyeluruh terkait penyakit kesombongan ini. Ia berfirman, اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْ ۙاِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Ghafir: 56) Saat seseorang telah dibutakan oleh kesombongan, maka yang ada di hati mereka hanyalah ambisi untuk menguasai dan menyombongkan diri di depan kebenaran. Tidak peduli siapa yang menyampaikannya, tidak peduli apapun kebenarannya, maka akan mereka tolak. Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah Ikut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalil Perbuatan semacam inilah yang pada akhirnya menyebabkan tersebarnya fenomena-fenomena kesyirikan  di tengah kita serta membuat kesyirikan tersebut terus berlanjut melalui zaman yang panjang. Ikut-Ikutan secara membabi buta serta berlebih-lebihan di dalam mencintai adat istiadat yang berlaku akan membawa seseorang pada jurang kemusyrikan dan kesesatan. Bersikukuh di dalam sebuah kesyirikan karena beralasan bahwa hal tersebut telah dilakukan sejak lama oleh nenek moyangnya terdahulu, lalu takut untuk meninggalkan kesyirikan tersebut karena menganggap bahwa hal itu merupakan bentuk pelecehan terhadap budaya leluhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan mereka adalah sebab susahnya hidayah masuk ke dalam diri seseorang. Allah Ta’ala berfirman, وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ “Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf: 23) Tidak hanya di zaman dahulu saja, di zaman sekarang sering kita jumpai orang musyrik tetap berada dalam kemusyrikannya dengan dalih ini. Meskipun telah sampai kepada mereka dalil- dalil dan bukti-bukti yang begitu banyak akan kesesatan yang mereka lakukan. Setan dan tipu dayanya Allah Ta’ala berfirman, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ “Dahulu manusia itu adalah umat yang satu. Maka, Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213) Dahulu kala, manusia dari zaman Nabi Adam sampai zaman Nabi Nuh ‘alaihimas salam beriman kepada Allah Ta’ala, kemudian setan menghasut dan menipu mereka hingga terjadilah perselisihan di antara mereka sendiri. Ketika itu, tipuan pertama setan kepada manusia adalah dengan memperdaya mereka untuk berdiam diri dan duduk-duduk di kuburan orang-orang saleh serta membuat lukisan dan patung mereka dengan dalih agar senantiasa mengingat-ingat kesalehan dan kebaikan orang-orang saleh tersebut. Hingga terjadilah kesyirikan pertama di bumi ini ketika setan sukses menipu kaum Nuh ‘alaihis salam untuk menyembah patung-patung dan lukisan-lukisan yang telah mereka buat tersebut. Syekhul Islam dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan, “Seperti inilah  keadaan kebanyakan ahli bid’ah, sesat, dan kaum musyrik yang mengaku-ngaku menjadi bagian dari umat ini. Salah seorang dari mereka berdoa dan memohon pertolongan kepada gurunya dan syekhnya yang dia hormati sedangkan gurunya tersebut telah meninggal. Dia saksikan bahwa gurunya tersebut mendatanginya dengan terbang di udara, membantunya untuk menolak beberapa keburukan yang tidak disukainya, atau berdialog dengannya mengenai sebagian hal yang ia tanyakan kepadanya. Dia tidak mengetahui bahwa setan-setan itu berubah wujud menyerupai gurunya untuk menyesatkan mereka, sehingga nampak baik di mata mereka kesyirikan kepada Allah Ta’ala, berdoa kepada selain-Nya, dan meminta tolong kepada selain-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 17: 456 secara ringkas) Baca juga: Jangan Ikuti Langkah Setan Berpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Pemalsuan hadis dan kebohongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah sesuatu yang spontan. Melainkan sebuah rencana yang sudah terorganisir yang diciptakan oleh para ahli bid’ah untuk melawan Islam sebagai bentuk pelampiasan akan kebencian mereka yang terpendam. Mereka berupaya untuk membuat hadis-hadis palsu dan menyebarkannya di tengah masyarakat, menciptakan hadis-hadis palsu yang bertentangan dengan konsep tauhid. Seperti hadis yang berbunyi, إذا أعيتكم الأمورُ فعليكم بأهلِ القبورِ ، أو فاستعينوا بأهلِ القبورِ “Jika kalian sedang dirundung masalah, maka kembalilah kepada ahli kubur atau mintalah pertolongan kepada ahli kubur.” Hadis ini atau yang semisalnya, sengaja mereka buat untuk menghalalkan perkara-perkara yang telah dilarang Allah Ta’ala dan Nabi-Nya, baik itu membolehkan meminta tolong kepada ahli kubur yang telah meninggal dunia, atupun perbuatan kesyirikan dan kemaksiatan lainnya. Begitu pula dengan mimpi-mimpi orang-orang yang dianggap sebagai wali. Mimpi-mimpi yang mendukung mereka untuk berbuat kesyirikan, berlebih-lebihan di dalam mengkultuskan seseorang ataupun mengagungkannya melewati batas yang diperbolehkan oleh syariat ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan anak cucu kita dari terjatuh ke dalam perbuatan syirik, menjauhkan kita dari segala macam wasilah dan sebab yang akan mengantarkan kita ke dalam jurang kesyirikan dan kemaksiatan. اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.“ Berdoalah sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) Wallahu A’lam bisshawab. [Selesai] Kembali ke bagian 1: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 1) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik


Daftar Isi Toggle Mengikuti hawa nafsu dan syahwatRasa sombongIkut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalilSetan dan tipu dayanyaBerpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Mengikuti hawa nafsu dan syahwat Hawa nafsu dan syahwat merupakan salah satu faktor utama yang membuat seseorang menyimpang dari fitrahnya serta membawanya kepada kemusyrikan dan kesesatan. Siapapun yang mengikuti keinginan dan kemauan hatinya kemudian bersembunyi di balik syahwatnya, maka ia akan merasa sempit terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan dan perintahkan. Allah Ta’ala  berfirman, فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59) Allah Ta’ala juga berfirman, فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan (hawa nafsu) mereka.” (QS. Al-Qasas: 50) Allah Ta’ala menyebutkan bahwa penghalang seseorang dari menjawab panggilan dan seruan dakwah Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hawa nafsu yang telah menguasainya. Karena hawa nafsu inilah, hati ini berpaling dari terangnya hidayah menuju gelapnya kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas bahwa hawa nafsu merupakan salah satu sebab berpalingnya kaum musyrikin dari seruan para nabi-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, كُلَّمَا جَآءَهُمْ رَسُولٌۢ بِمَا لَا تَهْوَىٰٓ أَنفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا۟ وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ “Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Ma’idah: 70) Lihatlah, bagaimana buruknya pengaruh hawa nafsu terhadap perilaku dan keputusan seseorang. Hanya karena Nabi tersebut membawa perintah yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan serta merta mereka dustakan atau bahkan mereka bunuh. Begitu pula dalam hal kesyirikan, seseorang yang terbiasa mengikuti hawa nafsunya, maka bisa saja ia sampai pada tahap “menuhankan” hawa nafsunya tersebut. Melakukan kemaksiatan, syirik kecil, bahkan syirik besar karena mengikuti kemauan hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman, أفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka, siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah: 23) Baca juga: Tundukan Hawa Nafsu Demi Ikut Dalil Rasa sombong Kesombongan ini memiliki tingkatan. Diawali dengan penghinaan terhadap manusia dan merasa jumawa serta lebih tinggi kedudukannya dari mereka, dan berakhir dengan perasaan angkuh serta merasa tidak butuh untuk beribadah dan menyembah Allah Ta’ala. Kesemuanya ini merupakan perilaku tercela yang hanya muncul dari jiwa yang sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ» “Tidak akan masuk surga orang yang masih memiliki sikap sombong di dalam hatinya walau seberat biji sawi.” Maka, ada seorang sahabat yang bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya orang menyukai kalau pakaiannya itu bagus dan sandalnya bagus.” Maka, Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah yang mencintai keindahan. (Yang dinamakan) sombong ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91) Al-Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa kesombongan merupakan salah satu sebab kekufuran dan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Raja Namrud, أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّي الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنْ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنْ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258) Di dalam kisah Fir’aun, Allah Ta’ala juga mengisahkan, وَنَادٰى فِرْعَوْنُ فِيْ قَوْمِهٖ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَيْسَ لِيْ مُلْكُ مِصْرَ وَهٰذِهِ الْاَنْهٰرُ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِيْۚ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَۗ * اَمْ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ مَهِيْنٌ ەۙ وَّلَا يَكَادُ يُبِيْنُ “Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, ‘Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku? Apakah kamu tidak melihat? Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?’” (QS. Az-Zukhruf: 52) Pada kedua ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa pembangkangan dan ketidakpatuhan kedua raja tersebut terhadap seruan dakwah dan kesyirikan mereka kepada Allah Ta’ala, tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kepongahan dan kesombongan yang ada di hati mereka. Dalam hal ini, Allah Ta’ala menyebutkan sebuah kaidah yang menyeluruh terkait penyakit kesombongan ini. Ia berfirman, اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْ ۙاِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Ghafir: 56) Saat seseorang telah dibutakan oleh kesombongan, maka yang ada di hati mereka hanyalah ambisi untuk menguasai dan menyombongkan diri di depan kebenaran. Tidak peduli siapa yang menyampaikannya, tidak peduli apapun kebenarannya, maka akan mereka tolak. Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah Ikut-ikutan secara membabi buta dan menjunjung adat-istiadat yang tidak bersumber dari dalil Perbuatan semacam inilah yang pada akhirnya menyebabkan tersebarnya fenomena-fenomena kesyirikan  di tengah kita serta membuat kesyirikan tersebut terus berlanjut melalui zaman yang panjang. Ikut-Ikutan secara membabi buta serta berlebih-lebihan di dalam mencintai adat istiadat yang berlaku akan membawa seseorang pada jurang kemusyrikan dan kesesatan. Bersikukuh di dalam sebuah kesyirikan karena beralasan bahwa hal tersebut telah dilakukan sejak lama oleh nenek moyangnya terdahulu, lalu takut untuk meninggalkan kesyirikan tersebut karena menganggap bahwa hal itu merupakan bentuk pelecehan terhadap budaya leluhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan mereka adalah sebab susahnya hidayah masuk ke dalam diri seseorang. Allah Ta’ala berfirman, وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ “Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf: 23) Tidak hanya di zaman dahulu saja, di zaman sekarang sering kita jumpai orang musyrik tetap berada dalam kemusyrikannya dengan dalih ini. Meskipun telah sampai kepada mereka dalil- dalil dan bukti-bukti yang begitu banyak akan kesesatan yang mereka lakukan. Setan dan tipu dayanya Allah Ta’ala berfirman, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ “Dahulu manusia itu adalah umat yang satu. Maka, Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213) Dahulu kala, manusia dari zaman Nabi Adam sampai zaman Nabi Nuh ‘alaihimas salam beriman kepada Allah Ta’ala, kemudian setan menghasut dan menipu mereka hingga terjadilah perselisihan di antara mereka sendiri. Ketika itu, tipuan pertama setan kepada manusia adalah dengan memperdaya mereka untuk berdiam diri dan duduk-duduk di kuburan orang-orang saleh serta membuat lukisan dan patung mereka dengan dalih agar senantiasa mengingat-ingat kesalehan dan kebaikan orang-orang saleh tersebut. Hingga terjadilah kesyirikan pertama di bumi ini ketika setan sukses menipu kaum Nuh ‘alaihis salam untuk menyembah patung-patung dan lukisan-lukisan yang telah mereka buat tersebut. Syekhul Islam dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan, “Seperti inilah  keadaan kebanyakan ahli bid’ah, sesat, dan kaum musyrik yang mengaku-ngaku menjadi bagian dari umat ini. Salah seorang dari mereka berdoa dan memohon pertolongan kepada gurunya dan syekhnya yang dia hormati sedangkan gurunya tersebut telah meninggal. Dia saksikan bahwa gurunya tersebut mendatanginya dengan terbang di udara, membantunya untuk menolak beberapa keburukan yang tidak disukainya, atau berdialog dengannya mengenai sebagian hal yang ia tanyakan kepadanya. Dia tidak mengetahui bahwa setan-setan itu berubah wujud menyerupai gurunya untuk menyesatkan mereka, sehingga nampak baik di mata mereka kesyirikan kepada Allah Ta’ala, berdoa kepada selain-Nya, dan meminta tolong kepada selain-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 17: 456 secara ringkas) Baca juga: Jangan Ikuti Langkah Setan Berpegang dengan riwayat-riwayat palsu dan mimpi-mimpi yang batil Pemalsuan hadis dan kebohongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah sesuatu yang spontan. Melainkan sebuah rencana yang sudah terorganisir yang diciptakan oleh para ahli bid’ah untuk melawan Islam sebagai bentuk pelampiasan akan kebencian mereka yang terpendam. Mereka berupaya untuk membuat hadis-hadis palsu dan menyebarkannya di tengah masyarakat, menciptakan hadis-hadis palsu yang bertentangan dengan konsep tauhid. Seperti hadis yang berbunyi, إذا أعيتكم الأمورُ فعليكم بأهلِ القبورِ ، أو فاستعينوا بأهلِ القبورِ “Jika kalian sedang dirundung masalah, maka kembalilah kepada ahli kubur atau mintalah pertolongan kepada ahli kubur.” Hadis ini atau yang semisalnya, sengaja mereka buat untuk menghalalkan perkara-perkara yang telah dilarang Allah Ta’ala dan Nabi-Nya, baik itu membolehkan meminta tolong kepada ahli kubur yang telah meninggal dunia, atupun perbuatan kesyirikan dan kemaksiatan lainnya. Begitu pula dengan mimpi-mimpi orang-orang yang dianggap sebagai wali. Mimpi-mimpi yang mendukung mereka untuk berbuat kesyirikan, berlebih-lebihan di dalam mengkultuskan seseorang ataupun mengagungkannya melewati batas yang diperbolehkan oleh syariat ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan anak cucu kita dari terjatuh ke dalam perbuatan syirik, menjauhkan kita dari segala macam wasilah dan sebab yang akan mengantarkan kita ke dalam jurang kesyirikan dan kemaksiatan. اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.“ Berdoalah sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) Wallahu A’lam bisshawab. [Selesai] Kembali ke bagian 1: Inilah Sebab-Sebab Terjatuh ke Dalam Kesyirikan (Bag. 1) *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: kesyirikanpenyebab syirik

Laporan Produksi Yufid Bulan September 2023

Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara GRATIS untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 14 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, di antaranya ada Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah lebih dari 19.000 (sembilan belas ribu) video terpublikasi dan dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4,5 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 1 miliar kali. Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sejak tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar Anda para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produktivitas tim Yufid, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama. Channel YouTube YUFID.TV Jumlah Video : 16.756 Jumlah Subscribers : 3.894.918 Total Tayangan Video (Total Views) : 653.113.321 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 110 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 4.677.411 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 374.381 Jam Penambahan Subscribers : +15.933 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 111 video. Channel YouTube YUFID EDU Jumlah Video : 2.160 Jumlah Subscribers : 294.051 Total Tayangan Video (Total Views) : 20.272.781 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 18 video Tayangan Rentang September (Views/Month) : 148.265 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 7.827 Jam Penambahan Subscribers : +1.552 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 51 video. Channel YouTube YUFID KIDS Jumlah Video : 81 Jumlah Subscribers : 389.292 Total Tayangan Video (Total Views) : 115.247.620 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 1 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.955.732 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 173.712 Jam Penambahan Subscribers : +9.158 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video. Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272 Jumlah Subscribers : 4.499 Total Tayangan Video (Total Views) : 445.635 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.783 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 696 Jam Penambahan Subscribers : +47 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Jumlah Video : 545 Jumlah Subscribers : 43.600 Total Tayangan Video (Total Views) : 2.412.769 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 105.195 kali ditonton Penambahan Subscribers Perbulan : +1200 Instagram Yufid TV Total Konten : 3.540 Total Pengikut : 1.142.605 Rata-Rata Produksi : 48 Konten/bulan Penambahan Follower : +8.049 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Instagram Yufid Network Total Konten : 3.619 Total Pengikut : 499.340 Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulan Penambahan Follower : +3.575 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 akun Instagram Yufid TV & Yufid Network telah memposting 35 konten. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 6 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids & Mograph telah mempublikasikan 1 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.940 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1.846 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.071 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 378 audio dan rata-rata menghasilkan 20 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV.  Pada produksi terakhir bulan September 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 8 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.227 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 7 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2474 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 27.999 file mp3 dengan total ukuran 391 Gb dan pada bulan September 2023 ini telah mempublikasikan 275 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan September 2023 ini saja telah didengarkan 34.321 kali dan telah di download sebanyak 1.500 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.976.403 kata dengan rata-rata produksi per bulan 49 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023, project terjemahan ini telah memproduksi 83.154 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.346 artikel dengan total durasi audio 197 jam dengan rata-rata perekaman 32 artikel per bulan.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan September 2023. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Talqin Adalah, Hukum Shalat Tarawih Berjamaah Di Rumah, Ilmu Kanuragan Menurut Islam, Bulan Baik Menurut Islam, Al Quran Kecil Harga, Tata Cara Sholat Ghoib Visited 3 times, 1 visit(s) today Post Views: 178 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan September 2023

Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara GRATIS untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 14 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, di antaranya ada Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah lebih dari 19.000 (sembilan belas ribu) video terpublikasi dan dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4,5 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 1 miliar kali. Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sejak tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar Anda para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produktivitas tim Yufid, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama. Channel YouTube YUFID.TV Jumlah Video : 16.756 Jumlah Subscribers : 3.894.918 Total Tayangan Video (Total Views) : 653.113.321 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 110 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 4.677.411 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 374.381 Jam Penambahan Subscribers : +15.933 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 111 video. Channel YouTube YUFID EDU Jumlah Video : 2.160 Jumlah Subscribers : 294.051 Total Tayangan Video (Total Views) : 20.272.781 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 18 video Tayangan Rentang September (Views/Month) : 148.265 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 7.827 Jam Penambahan Subscribers : +1.552 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 51 video. Channel YouTube YUFID KIDS Jumlah Video : 81 Jumlah Subscribers : 389.292 Total Tayangan Video (Total Views) : 115.247.620 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 1 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.955.732 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 173.712 Jam Penambahan Subscribers : +9.158 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video. Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272 Jumlah Subscribers : 4.499 Total Tayangan Video (Total Views) : 445.635 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.783 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 696 Jam Penambahan Subscribers : +47 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Jumlah Video : 545 Jumlah Subscribers : 43.600 Total Tayangan Video (Total Views) : 2.412.769 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 105.195 kali ditonton Penambahan Subscribers Perbulan : +1200 Instagram Yufid TV Total Konten : 3.540 Total Pengikut : 1.142.605 Rata-Rata Produksi : 48 Konten/bulan Penambahan Follower : +8.049 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Instagram Yufid Network Total Konten : 3.619 Total Pengikut : 499.340 Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulan Penambahan Follower : +3.575 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 akun Instagram Yufid TV & Yufid Network telah memposting 35 konten. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 6 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids & Mograph telah mempublikasikan 1 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.940 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1.846 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.071 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 378 audio dan rata-rata menghasilkan 20 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV.  Pada produksi terakhir bulan September 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 8 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.227 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 7 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2474 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 27.999 file mp3 dengan total ukuran 391 Gb dan pada bulan September 2023 ini telah mempublikasikan 275 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan September 2023 ini saja telah didengarkan 34.321 kali dan telah di download sebanyak 1.500 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.976.403 kata dengan rata-rata produksi per bulan 49 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023, project terjemahan ini telah memproduksi 83.154 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.346 artikel dengan total durasi audio 197 jam dengan rata-rata perekaman 32 artikel per bulan.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan September 2023. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Talqin Adalah, Hukum Shalat Tarawih Berjamaah Di Rumah, Ilmu Kanuragan Menurut Islam, Bulan Baik Menurut Islam, Al Quran Kecil Harga, Tata Cara Sholat Ghoib Visited 3 times, 1 visit(s) today Post Views: 178 QRIS donasi Yufid
Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara GRATIS untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 14 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, di antaranya ada Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah lebih dari 19.000 (sembilan belas ribu) video terpublikasi dan dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4,5 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 1 miliar kali. Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sejak tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar Anda para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produktivitas tim Yufid, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama. Channel YouTube YUFID.TV Jumlah Video : 16.756 Jumlah Subscribers : 3.894.918 Total Tayangan Video (Total Views) : 653.113.321 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 110 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 4.677.411 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 374.381 Jam Penambahan Subscribers : +15.933 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 111 video. Channel YouTube YUFID EDU Jumlah Video : 2.160 Jumlah Subscribers : 294.051 Total Tayangan Video (Total Views) : 20.272.781 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 18 video Tayangan Rentang September (Views/Month) : 148.265 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 7.827 Jam Penambahan Subscribers : +1.552 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 51 video. Channel YouTube YUFID KIDS Jumlah Video : 81 Jumlah Subscribers : 389.292 Total Tayangan Video (Total Views) : 115.247.620 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 1 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.955.732 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 173.712 Jam Penambahan Subscribers : +9.158 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video. Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272 Jumlah Subscribers : 4.499 Total Tayangan Video (Total Views) : 445.635 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.783 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 696 Jam Penambahan Subscribers : +47 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Jumlah Video : 545 Jumlah Subscribers : 43.600 Total Tayangan Video (Total Views) : 2.412.769 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 105.195 kali ditonton Penambahan Subscribers Perbulan : +1200 Instagram Yufid TV Total Konten : 3.540 Total Pengikut : 1.142.605 Rata-Rata Produksi : 48 Konten/bulan Penambahan Follower : +8.049 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Instagram Yufid Network Total Konten : 3.619 Total Pengikut : 499.340 Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulan Penambahan Follower : +3.575 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 akun Instagram Yufid TV & Yufid Network telah memposting 35 konten. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 6 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids & Mograph telah mempublikasikan 1 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.940 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1.846 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.071 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 378 audio dan rata-rata menghasilkan 20 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV.  Pada produksi terakhir bulan September 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 8 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.227 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 7 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2474 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 27.999 file mp3 dengan total ukuran 391 Gb dan pada bulan September 2023 ini telah mempublikasikan 275 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan September 2023 ini saja telah didengarkan 34.321 kali dan telah di download sebanyak 1.500 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.976.403 kata dengan rata-rata produksi per bulan 49 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023, project terjemahan ini telah memproduksi 83.154 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.346 artikel dengan total durasi audio 197 jam dengan rata-rata perekaman 32 artikel per bulan.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan September 2023. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Talqin Adalah, Hukum Shalat Tarawih Berjamaah Di Rumah, Ilmu Kanuragan Menurut Islam, Bulan Baik Menurut Islam, Al Quran Kecil Harga, Tata Cara Sholat Ghoib Visited 3 times, 1 visit(s) today Post Views: 178 QRIS donasi Yufid


Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara GRATIS untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 14 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, di antaranya ada Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah lebih dari 19.000 (sembilan belas ribu) video terpublikasi dan dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4,5 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 1 miliar kali. Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sejak tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar Anda para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produktivitas tim Yufid, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama. Channel YouTube YUFID.TV Jumlah Video : 16.756 Jumlah Subscribers : 3.894.918 Total Tayangan Video (Total Views) : 653.113.321 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 110 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 4.677.411 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 374.381 Jam Penambahan Subscribers : +15.933 <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/EPLr_BpswfArL2J_Zjyswr57Mfdd5T3VXyiYdiFrhgpYwza79EFFHI5uIoV5Ci4FiFWK7eowu1v7bcIApMGUaMwgIi5oc4wezmw-4bwM4WGDF4Dx-oDm-cjRNPxPYFkA6P3Zpz5HFvZHh2WeCQ9pjyU" alt="" width="512" height="384"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 111 video. Channel YouTube YUFID EDU Jumlah Video : 2.160 Jumlah Subscribers : 294.051 Total Tayangan Video (Total Views) : 20.272.781 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 18 video Tayangan Rentang September (Views/Month) : 148.265 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 7.827 Jam Penambahan Subscribers : +1.552 <img decoding="async" src="https://lh6.googleusercontent.com/IpFPyJu2dQZqKOqUP1PvFYEcpbnRL7Jy_pdQxaVP8q3wtY2WFO59yNM580clCQ3yaTMiC0N9YZX12nP4u9lORE8YiQxyKmSwIsGyyxyPI5bNDZ7sj1jd2uOndmbUKBHapnj9fqQw20yXRLZIkYVGdmA" alt="" width="512"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 51 video. Channel YouTube YUFID KIDS Jumlah Video : 81 Jumlah Subscribers : 389.292 Total Tayangan Video (Total Views) : 115.247.620 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 1 video Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.955.732 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 173.712 Jam Penambahan Subscribers : +9.158 <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/CD_PW34Q86fqI6Wx0AUSSjYdP1Ynn3i02DOAw2FoFUVXwKJjawCQk9gqE70zs6Yul38FOrUcubjX0UnkIDbi_F7S3WjkLP4KC54j4c_2dQlmIXHfEBtcVCmM0nWme9zohuZmU7c468vk7ungO6PpBg4" alt="" width="512"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video. Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272 Jumlah Subscribers : 4.499 Total Tayangan Video (Total Views) : 445.635 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 2.783 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang September (Watch time/Month) : 696 Jam Penambahan Subscribers : +47 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Jumlah Video : 545 Jumlah Subscribers : 43.600 Total Tayangan Video (Total Views) : 2.412.769 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulan Tayangan Video Rentang September (Views/Month) : 105.195 kali ditonton Penambahan Subscribers Perbulan : +1200 Instagram Yufid TV Total Konten : 3.540 Total Pengikut : 1.142.605 Rata-Rata Produksi : 48 Konten/bulan Penambahan Follower : +8.049 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Instagram Yufid Network Total Konten : 3.619 Total Pengikut : 499.340 Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulan Penambahan Follower : +3.575 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/iRlOh0nHh2Ma8ipzCixcYOE60sBnrTU6Z5vhbdhdLEPKEiBZKaEPW895ExV7666dhxBd1xI8fR0-S8UVCKEbwdtrsIHb-y5EzKvFYu4s_iRh7mcoB8E1JEhEfAHv4M-oWCCMNkVWTxq5tidwumjlPpE" alt="" width="512"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 akun Instagram Yufid TV & Yufid Network telah memposting 35 konten. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/G6du2BKXdud4lg3wmX_ranMu16cNENZ4i-fJn3E6M0JLDlJL6z7gsgIoLwFtq0cQCuWQ6QQUbEt-BBXUiUb-96sKco_wJ7ohCohQeOt414EaHL7nPDJrl5eC2uizcTSgQgx_qqpq09wmWbcR9sWiuOk" alt="" width="512"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 6 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/0JLPjWj8QTmnJ8LTk1iAp6PBrjAUlvMpx3dLaBdwnV9lv3IKDynFgsf_pmHqs_0VZMZSOJiIQROSPPYvDdL_XkvF-Svobe3jT8q69v4HvNW3XYLkQjdIAuZFeJwAvfhTx8VHVSIk45caQADFKm8gHfw" alt="" width="512"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023 channel Yufid Kids & Mograph telah mempublikasikan 1 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.940 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1.846 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.071 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 378 audio dan rata-rata menghasilkan 20 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV.  Pada produksi terakhir bulan September 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 8 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.227 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 7 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2474 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan September 2023, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 27.999 file mp3 dengan total ukuran 391 Gb dan pada bulan September 2023 ini telah mempublikasikan 275 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan September 2023 ini saja telah didengarkan 34.321 kali dan telah di download sebanyak 1.500 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.976.403 kata dengan rata-rata produksi per bulan 49 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan September 2023, project terjemahan ini telah memproduksi 83.154 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.346 artikel dengan total durasi audio 197 jam dengan rata-rata perekaman 32 artikel per bulan.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan September 2023. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Talqin Adalah, Hukum Shalat Tarawih Berjamaah Di Rumah, Ilmu Kanuragan Menurut Islam, Bulan Baik Menurut Islam, Al Quran Kecil Harga, Tata Cara Sholat Ghoib Visited 3 times, 1 visit(s) today Post Views: 178 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hadis: Hukum Menaburkan Debu Tanah di Atas Kubur

Daftar Isi Toggle Teks hadis dan status kesahihannyaKandungan hadis Teks hadis dan status kesahihannya Berkaitan dengan menaburkan debu di atas kubur, terdapat hadis-hadis berikut ini. Dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ دُفِنَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ صَلَّى عَلَيْهِ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا، وَحَثَى عَلَى قَبْرِهِ بِيَدِهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنَ التُّرَابِ وَهُوَ قَائِمٌ عِنْدَ رَأْسِهِ “Ketika Utsman bin Mazh’un dimakamkan, aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan jenazahnya, bertakbir empat kali, menaburkan debu tanah dengan tangannya di atas pusara kuburnya sebanyak tiga kali dalam keadaan berdiri di sisi kepalanya.” (HR. Ad-Daruquthni, 2: 76) Status hadis ini dha’if jiddan, bahkan maudhu’, karena di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Al-Qasim bin ‘Abdullah Al-‘Umari dan ‘Ashim bin ‘Ubaidillah. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 347) Selain riwayat di atas, terdapat sebuah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan suatu jenazah, kemudian mendatangi kuburannya. Beliau menaburkan debu tanah di atasnya tiga kali ke bagian atas kepala jenazah.” (HR. Ibnu Majah no. 1565) Hadis ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama ahli hadis. Hadis ini dinilai sahih oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i (Al-Khulashah, 2: 1019) dan Al-Bushiri (Az-Zawaaid, 1: 511). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Sanad hadis ini zahirnya sahih.” (At-Talkhis, 2: 139) Hadis ini juga dinilai sahih oleh Al-Albani (Al-Irwa’ no. 751 dan Al-Misykat no. 1720) dan dinilai hasan oleh Syekh Abdullah Alu Bassam (Taudhihul Ahkam, 3: 247). Akan tetapi, hadis ini dinilai batil oleh Abu Hatim. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau rahimahullah berkata, “Hadis ini batil.” (Al-‘Ilal, hal. 483) Setelah membahas perselisihan status kesahihan dua hadis di atas, Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Yang tampak bagiku, wallahu a’lam, bahwa berkaitan dengan masalah ini, tidak ada satu pun hadis yang secara jelas menjelaskan disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, terdapat riwayat dari sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari ‘Umair bin Sa’d, bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menaburkan debu di atas kubur Yazid bin Al-Mukaffaf sebanyak dua atau tiga kali [1].” (Minhatul ‘Allam, 4: 349) Baca juga: Tuntunan dalam Membuat Lahad dan Batu Nisan untuk Kubur Kandungan hadis Hadis ini adalah dalil disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga untuk berserikat dalam mendapatkan pahala menguburkan jenazah. Hal ini lebih bisa mengingatkan kematian dan tempat kembali seseorang di akhirat bagi mereka yang masih memiliki hati yang hidup. Banyak ulama ahli fikih menganjurkan menaburkan debu setelah liang lahad selesai ditutup, berdasarkan hadis-hadis yang menyebutkan masalah ini dan saling menguatkan satu sama lain. Demikian pula, ditambah dengan adanya atsar dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum. (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3: 331) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam berkata, “Menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah syariat untuk umatnya dan juga untuk bersama-sama (berserikat) dalam mendapatkan pahala memakamkan jenazah.” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam juga berkata, “Siapa saja yang tidak terlibat langsung dalam menguburkan jenazah, dianjurkan untuk menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali di atas kubur. Hal ini dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dalam rangka saling membantu (berserikat) dalam menunaikan kewajiban (fardhu kifayah) untuk memakamkan (jenazah).” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa manusia bisa saja berdesak-desakan di pemakaman ketika ingin menaburkan debu tanah di atas pusara makam ketika proses pemakaman jenazah selesai dilakukan. Dan bisa jadi mereka meninggalkan perkara sunah lainnya, yang paling penting adalah berdiri dan mendoakan jenazah untuk diberikan keteguhan dalam menjawab pertanyaan kubur. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. [2] Baca juga: Tatacara Memasukkan Jenazah ke Liang Kubur *** @Kantor Pogung, 9 Shafar 1445/ 26 Agustus 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] HR. Abdur Razaq (3: 501), Ibnu Abi Syaibah (3: 331), dan Al-Baihaqi (3: 410). Sanadnya sahih sebagaimana disebutkan oleh Al-Albani di Al-Irwa’ (3: 202) [2] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 347-349) dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3: 247-248). Kutipan-kutipan selain dari dua kitab di atas adalah melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam. Tags: kuburmenaburkan debu

Hadis: Hukum Menaburkan Debu Tanah di Atas Kubur

Daftar Isi Toggle Teks hadis dan status kesahihannyaKandungan hadis Teks hadis dan status kesahihannya Berkaitan dengan menaburkan debu di atas kubur, terdapat hadis-hadis berikut ini. Dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ دُفِنَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ صَلَّى عَلَيْهِ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا، وَحَثَى عَلَى قَبْرِهِ بِيَدِهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنَ التُّرَابِ وَهُوَ قَائِمٌ عِنْدَ رَأْسِهِ “Ketika Utsman bin Mazh’un dimakamkan, aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan jenazahnya, bertakbir empat kali, menaburkan debu tanah dengan tangannya di atas pusara kuburnya sebanyak tiga kali dalam keadaan berdiri di sisi kepalanya.” (HR. Ad-Daruquthni, 2: 76) Status hadis ini dha’if jiddan, bahkan maudhu’, karena di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Al-Qasim bin ‘Abdullah Al-‘Umari dan ‘Ashim bin ‘Ubaidillah. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 347) Selain riwayat di atas, terdapat sebuah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan suatu jenazah, kemudian mendatangi kuburannya. Beliau menaburkan debu tanah di atasnya tiga kali ke bagian atas kepala jenazah.” (HR. Ibnu Majah no. 1565) Hadis ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama ahli hadis. Hadis ini dinilai sahih oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i (Al-Khulashah, 2: 1019) dan Al-Bushiri (Az-Zawaaid, 1: 511). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Sanad hadis ini zahirnya sahih.” (At-Talkhis, 2: 139) Hadis ini juga dinilai sahih oleh Al-Albani (Al-Irwa’ no. 751 dan Al-Misykat no. 1720) dan dinilai hasan oleh Syekh Abdullah Alu Bassam (Taudhihul Ahkam, 3: 247). Akan tetapi, hadis ini dinilai batil oleh Abu Hatim. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau rahimahullah berkata, “Hadis ini batil.” (Al-‘Ilal, hal. 483) Setelah membahas perselisihan status kesahihan dua hadis di atas, Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Yang tampak bagiku, wallahu a’lam, bahwa berkaitan dengan masalah ini, tidak ada satu pun hadis yang secara jelas menjelaskan disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, terdapat riwayat dari sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari ‘Umair bin Sa’d, bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menaburkan debu di atas kubur Yazid bin Al-Mukaffaf sebanyak dua atau tiga kali [1].” (Minhatul ‘Allam, 4: 349) Baca juga: Tuntunan dalam Membuat Lahad dan Batu Nisan untuk Kubur Kandungan hadis Hadis ini adalah dalil disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga untuk berserikat dalam mendapatkan pahala menguburkan jenazah. Hal ini lebih bisa mengingatkan kematian dan tempat kembali seseorang di akhirat bagi mereka yang masih memiliki hati yang hidup. Banyak ulama ahli fikih menganjurkan menaburkan debu setelah liang lahad selesai ditutup, berdasarkan hadis-hadis yang menyebutkan masalah ini dan saling menguatkan satu sama lain. Demikian pula, ditambah dengan adanya atsar dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum. (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3: 331) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam berkata, “Menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah syariat untuk umatnya dan juga untuk bersama-sama (berserikat) dalam mendapatkan pahala memakamkan jenazah.” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam juga berkata, “Siapa saja yang tidak terlibat langsung dalam menguburkan jenazah, dianjurkan untuk menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali di atas kubur. Hal ini dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dalam rangka saling membantu (berserikat) dalam menunaikan kewajiban (fardhu kifayah) untuk memakamkan (jenazah).” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa manusia bisa saja berdesak-desakan di pemakaman ketika ingin menaburkan debu tanah di atas pusara makam ketika proses pemakaman jenazah selesai dilakukan. Dan bisa jadi mereka meninggalkan perkara sunah lainnya, yang paling penting adalah berdiri dan mendoakan jenazah untuk diberikan keteguhan dalam menjawab pertanyaan kubur. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. [2] Baca juga: Tatacara Memasukkan Jenazah ke Liang Kubur *** @Kantor Pogung, 9 Shafar 1445/ 26 Agustus 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] HR. Abdur Razaq (3: 501), Ibnu Abi Syaibah (3: 331), dan Al-Baihaqi (3: 410). Sanadnya sahih sebagaimana disebutkan oleh Al-Albani di Al-Irwa’ (3: 202) [2] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 347-349) dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3: 247-248). Kutipan-kutipan selain dari dua kitab di atas adalah melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam. Tags: kuburmenaburkan debu
Daftar Isi Toggle Teks hadis dan status kesahihannyaKandungan hadis Teks hadis dan status kesahihannya Berkaitan dengan menaburkan debu di atas kubur, terdapat hadis-hadis berikut ini. Dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ دُفِنَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ صَلَّى عَلَيْهِ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا، وَحَثَى عَلَى قَبْرِهِ بِيَدِهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنَ التُّرَابِ وَهُوَ قَائِمٌ عِنْدَ رَأْسِهِ “Ketika Utsman bin Mazh’un dimakamkan, aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan jenazahnya, bertakbir empat kali, menaburkan debu tanah dengan tangannya di atas pusara kuburnya sebanyak tiga kali dalam keadaan berdiri di sisi kepalanya.” (HR. Ad-Daruquthni, 2: 76) Status hadis ini dha’if jiddan, bahkan maudhu’, karena di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Al-Qasim bin ‘Abdullah Al-‘Umari dan ‘Ashim bin ‘Ubaidillah. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 347) Selain riwayat di atas, terdapat sebuah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan suatu jenazah, kemudian mendatangi kuburannya. Beliau menaburkan debu tanah di atasnya tiga kali ke bagian atas kepala jenazah.” (HR. Ibnu Majah no. 1565) Hadis ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama ahli hadis. Hadis ini dinilai sahih oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i (Al-Khulashah, 2: 1019) dan Al-Bushiri (Az-Zawaaid, 1: 511). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Sanad hadis ini zahirnya sahih.” (At-Talkhis, 2: 139) Hadis ini juga dinilai sahih oleh Al-Albani (Al-Irwa’ no. 751 dan Al-Misykat no. 1720) dan dinilai hasan oleh Syekh Abdullah Alu Bassam (Taudhihul Ahkam, 3: 247). Akan tetapi, hadis ini dinilai batil oleh Abu Hatim. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau rahimahullah berkata, “Hadis ini batil.” (Al-‘Ilal, hal. 483) Setelah membahas perselisihan status kesahihan dua hadis di atas, Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Yang tampak bagiku, wallahu a’lam, bahwa berkaitan dengan masalah ini, tidak ada satu pun hadis yang secara jelas menjelaskan disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, terdapat riwayat dari sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari ‘Umair bin Sa’d, bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menaburkan debu di atas kubur Yazid bin Al-Mukaffaf sebanyak dua atau tiga kali [1].” (Minhatul ‘Allam, 4: 349) Baca juga: Tuntunan dalam Membuat Lahad dan Batu Nisan untuk Kubur Kandungan hadis Hadis ini adalah dalil disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga untuk berserikat dalam mendapatkan pahala menguburkan jenazah. Hal ini lebih bisa mengingatkan kematian dan tempat kembali seseorang di akhirat bagi mereka yang masih memiliki hati yang hidup. Banyak ulama ahli fikih menganjurkan menaburkan debu setelah liang lahad selesai ditutup, berdasarkan hadis-hadis yang menyebutkan masalah ini dan saling menguatkan satu sama lain. Demikian pula, ditambah dengan adanya atsar dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum. (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3: 331) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam berkata, “Menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah syariat untuk umatnya dan juga untuk bersama-sama (berserikat) dalam mendapatkan pahala memakamkan jenazah.” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam juga berkata, “Siapa saja yang tidak terlibat langsung dalam menguburkan jenazah, dianjurkan untuk menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali di atas kubur. Hal ini dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dalam rangka saling membantu (berserikat) dalam menunaikan kewajiban (fardhu kifayah) untuk memakamkan (jenazah).” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa manusia bisa saja berdesak-desakan di pemakaman ketika ingin menaburkan debu tanah di atas pusara makam ketika proses pemakaman jenazah selesai dilakukan. Dan bisa jadi mereka meninggalkan perkara sunah lainnya, yang paling penting adalah berdiri dan mendoakan jenazah untuk diberikan keteguhan dalam menjawab pertanyaan kubur. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. [2] Baca juga: Tatacara Memasukkan Jenazah ke Liang Kubur *** @Kantor Pogung, 9 Shafar 1445/ 26 Agustus 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] HR. Abdur Razaq (3: 501), Ibnu Abi Syaibah (3: 331), dan Al-Baihaqi (3: 410). Sanadnya sahih sebagaimana disebutkan oleh Al-Albani di Al-Irwa’ (3: 202) [2] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 347-349) dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3: 247-248). Kutipan-kutipan selain dari dua kitab di atas adalah melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam. Tags: kuburmenaburkan debu


Daftar Isi Toggle Teks hadis dan status kesahihannyaKandungan hadis Teks hadis dan status kesahihannya Berkaitan dengan menaburkan debu di atas kubur, terdapat hadis-hadis berikut ini. Dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ دُفِنَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ صَلَّى عَلَيْهِ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا، وَحَثَى عَلَى قَبْرِهِ بِيَدِهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنَ التُّرَابِ وَهُوَ قَائِمٌ عِنْدَ رَأْسِهِ “Ketika Utsman bin Mazh’un dimakamkan, aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan jenazahnya, bertakbir empat kali, menaburkan debu tanah dengan tangannya di atas pusara kuburnya sebanyak tiga kali dalam keadaan berdiri di sisi kepalanya.” (HR. Ad-Daruquthni, 2: 76) Status hadis ini dha’if jiddan, bahkan maudhu’, karena di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Al-Qasim bin ‘Abdullah Al-‘Umari dan ‘Ashim bin ‘Ubaidillah. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 347) Selain riwayat di atas, terdapat sebuah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkan suatu jenazah, kemudian mendatangi kuburannya. Beliau menaburkan debu tanah di atasnya tiga kali ke bagian atas kepala jenazah.” (HR. Ibnu Majah no. 1565) Hadis ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama ahli hadis. Hadis ini dinilai sahih oleh An-Nawawi Asy-Syafi’i (Al-Khulashah, 2: 1019) dan Al-Bushiri (Az-Zawaaid, 1: 511). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Sanad hadis ini zahirnya sahih.” (At-Talkhis, 2: 139) Hadis ini juga dinilai sahih oleh Al-Albani (Al-Irwa’ no. 751 dan Al-Misykat no. 1720) dan dinilai hasan oleh Syekh Abdullah Alu Bassam (Taudhihul Ahkam, 3: 247). Akan tetapi, hadis ini dinilai batil oleh Abu Hatim. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau rahimahullah berkata, “Hadis ini batil.” (Al-‘Ilal, hal. 483) Setelah membahas perselisihan status kesahihan dua hadis di atas, Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Yang tampak bagiku, wallahu a’lam, bahwa berkaitan dengan masalah ini, tidak ada satu pun hadis yang secara jelas menjelaskan disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, terdapat riwayat dari sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari ‘Umair bin Sa’d, bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menaburkan debu di atas kubur Yazid bin Al-Mukaffaf sebanyak dua atau tiga kali [1].” (Minhatul ‘Allam, 4: 349) Baca juga: Tuntunan dalam Membuat Lahad dan Batu Nisan untuk Kubur Kandungan hadis Hadis ini adalah dalil disyariatkannya menaburkan debu di atas kubur, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga untuk berserikat dalam mendapatkan pahala menguburkan jenazah. Hal ini lebih bisa mengingatkan kematian dan tempat kembali seseorang di akhirat bagi mereka yang masih memiliki hati yang hidup. Banyak ulama ahli fikih menganjurkan menaburkan debu setelah liang lahad selesai ditutup, berdasarkan hadis-hadis yang menyebutkan masalah ini dan saling menguatkan satu sama lain. Demikian pula, ditambah dengan adanya atsar dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum. (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3: 331) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam berkata, “Menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah syariat untuk umatnya dan juga untuk bersama-sama (berserikat) dalam mendapatkan pahala memakamkan jenazah.” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Syekh ‘Abdullah Alu Bassam juga berkata, “Siapa saja yang tidak terlibat langsung dalam menguburkan jenazah, dianjurkan untuk menaburkan debu tanah sebanyak tiga kali di atas kubur. Hal ini dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dalam rangka saling membantu (berserikat) dalam menunaikan kewajiban (fardhu kifayah) untuk memakamkan (jenazah).” (Taudhihul Ahkam, 3: 248) Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa manusia bisa saja berdesak-desakan di pemakaman ketika ingin menaburkan debu tanah di atas pusara makam ketika proses pemakaman jenazah selesai dilakukan. Dan bisa jadi mereka meninggalkan perkara sunah lainnya, yang paling penting adalah berdiri dan mendoakan jenazah untuk diberikan keteguhan dalam menjawab pertanyaan kubur. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. [2] Baca juga: Tatacara Memasukkan Jenazah ke Liang Kubur *** @Kantor Pogung, 9 Shafar 1445/ 26 Agustus 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] HR. Abdur Razaq (3: 501), Ibnu Abi Syaibah (3: 331), dan Al-Baihaqi (3: 410). Sanadnya sahih sebagaimana disebutkan oleh Al-Albani di Al-Irwa’ (3: 202) [2] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 347-349) dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3: 247-248). Kutipan-kutipan selain dari dua kitab di atas adalah melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam. Tags: kuburmenaburkan debu

Bagaimana Orang Awam Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama?

Pertanyaan: Bagaimana semestinya orang awam menyikapi perbedaan pendapat di antara ulama? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Dalam menyikapi khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara para ulama, hendaknya kita berusaha menimbangnya dengan dalil. Allah ta’ala berfirman: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 59). Allah ta’ala juga berfirman: وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ “Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah” (QS. Asy-Syura: 10). Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ “Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Abu Daud no.4607, Ibnu Majah no.42, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud). Al-‘Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan: “Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah itu menghilangkan permusuhan dan perselisihan. Karena tidak ada orang (Muslim) yang menolak Al-Qur’an. Maka jika Anda katakan kepada seseorang: Ambil saja pendapat imam Fulan atau ulama Fulan, ia tidak akan merasa tenang. Namun jika Anda katakan kepadanya: Kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, jika ia memiliki iman, maka pasti ia akan merasa tenang dan akan rujuk” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 21). Beliau juga mengatakan: “Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang berkesesuaian dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 24). Maka dakwah yang mengajak untuk membiarkan umat taqlid pada pendapat madzhab masing-masing, ormas masing-masing, partai masing-masing mempersilakan memilih pendapat mana saja, ini adalah dakwah yang keliru. Syaikh Shalih Al-Fauzan melanjutkan: “Adapun yang mengatakan: ‘biarkan mereka mengikuti pendapat madzhab masing-masing, biarkan mereka mengikuti akidah mereka masing-masing, setiap orang bebas berpendapat dan menuntut kebebasan berkeyakinan dan berpendapat’, ini adalah kekeliruan. Yang Allah larang dalam firman-Nya (yang artinya): ‘berpegang-teguhlah pada tali Allah kalian semuanya, dan janganlah berpecah-belah‘ (QS. Al Imran: 103). Maka wajib bagi kita untuk bersatu di atas Kitabullah dalam menyelesaikan perselisihan di antara kita.” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 18).  Adapun orang awam yang tidak tahu dalil dan tidak bisa memahaminya, maka ia boleh taqlid kepada fatwa ulama atau kepada pendapat madzhab. Selama ia belum mengetahui ilmunya. Ia boleh taqlid pada pendapat ulama yang ia yakini ilmunya dan diyakini ulama tersebut istiqamah berpegang pada dalil yang shahih. Bukan sekedar mengikuti pendapat yang enak dan mudah. Allah ta’ala berfirman: فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا “Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga kalian akan menyimpang dari kebenaran” (QS. An-Nisa: 135). Sulaiman At Taimi rahimahullah berkata, لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ ، أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ ، اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ “Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172). Adapun ketika ia memahami dalil dan ia sudah mengetahui ilmu, maka ia tidak boleh taqlid buta kepada pendapat ulama atau pendapat madzhab yang menyelisihi dalil. Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan: “Ini tergantung kondisi masing-masing orang. Orang awam dan penuntut ilmu pemula mereka hanya bisa sebatas taqlid kepada ulama yang mereka percayai ilmunya dan ketaqwaannya. Maka boleh bagi dia untuk taqlid kepada salah satu madzhab yang merupakan madzhab Ahlussunnah. Adapun muta’allim (orang yang serius belajar agama), yang ia memiliki kemampuan untuk menilai mana pendapat ulama yang kuat dan mana pendapat yang lemah, maka wajib baginya untuk memilih pendapat yang ditegakkan dengan dalil dari pendapat-pendapat para imam madzhab yang empat ataupun ulama yang lain. Orang yang demikian wajib mengamalkan dalil, karena ia memiliki kemampuan untuk itu. Adapun manusia secara umum, mereka berbeda-beda keadaannya, tidak hanya berada pada satu tingkatan saja. Maka taqlid tidak diharamkan secara mutlak dan tidak diwajibkan secara mutlak. Namun yang tepat adalah sesuai dengan kondisi masing-masing orang. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. Al-Anbiya: 7). Oleh karena itu, tidak boleh seseorang mengambil pendapat ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya atau sesuai dengan seleranya. Sehingga ia mencari-cari pendapat yang ringan dan mudah yang tidak ditegakkan dengan dalil. Karena mereka hanya ingin menuruti selera dan hawa nafsunya. Ini tidak diperbolehkan. Yang semestinya dilakukan adalah memilih pendapat ulama yang ditegakkan dengan dalil jika ia memiliki kemampuan untuk menimbang kuat-lemahnya pendapat” (Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan, 2/704). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufiq. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Mendalami Islam, Hukum Tambal Gigi, Kenapa Ada Sholat Jumat, Hukum Rujuk Dalam Islam, Lagu Takbir, Doa Minta Jodoh Dalam Al Quran Visited 179 times, 2 visit(s) today Post Views: 342 QRIS donasi Yufid

Bagaimana Orang Awam Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama?

Pertanyaan: Bagaimana semestinya orang awam menyikapi perbedaan pendapat di antara ulama? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Dalam menyikapi khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara para ulama, hendaknya kita berusaha menimbangnya dengan dalil. Allah ta’ala berfirman: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 59). Allah ta’ala juga berfirman: وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ “Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah” (QS. Asy-Syura: 10). Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ “Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Abu Daud no.4607, Ibnu Majah no.42, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud). Al-‘Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan: “Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah itu menghilangkan permusuhan dan perselisihan. Karena tidak ada orang (Muslim) yang menolak Al-Qur’an. Maka jika Anda katakan kepada seseorang: Ambil saja pendapat imam Fulan atau ulama Fulan, ia tidak akan merasa tenang. Namun jika Anda katakan kepadanya: Kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, jika ia memiliki iman, maka pasti ia akan merasa tenang dan akan rujuk” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 21). Beliau juga mengatakan: “Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang berkesesuaian dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 24). Maka dakwah yang mengajak untuk membiarkan umat taqlid pada pendapat madzhab masing-masing, ormas masing-masing, partai masing-masing mempersilakan memilih pendapat mana saja, ini adalah dakwah yang keliru. Syaikh Shalih Al-Fauzan melanjutkan: “Adapun yang mengatakan: ‘biarkan mereka mengikuti pendapat madzhab masing-masing, biarkan mereka mengikuti akidah mereka masing-masing, setiap orang bebas berpendapat dan menuntut kebebasan berkeyakinan dan berpendapat’, ini adalah kekeliruan. Yang Allah larang dalam firman-Nya (yang artinya): ‘berpegang-teguhlah pada tali Allah kalian semuanya, dan janganlah berpecah-belah‘ (QS. Al Imran: 103). Maka wajib bagi kita untuk bersatu di atas Kitabullah dalam menyelesaikan perselisihan di antara kita.” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 18).  Adapun orang awam yang tidak tahu dalil dan tidak bisa memahaminya, maka ia boleh taqlid kepada fatwa ulama atau kepada pendapat madzhab. Selama ia belum mengetahui ilmunya. Ia boleh taqlid pada pendapat ulama yang ia yakini ilmunya dan diyakini ulama tersebut istiqamah berpegang pada dalil yang shahih. Bukan sekedar mengikuti pendapat yang enak dan mudah. Allah ta’ala berfirman: فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا “Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga kalian akan menyimpang dari kebenaran” (QS. An-Nisa: 135). Sulaiman At Taimi rahimahullah berkata, لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ ، أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ ، اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ “Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172). Adapun ketika ia memahami dalil dan ia sudah mengetahui ilmu, maka ia tidak boleh taqlid buta kepada pendapat ulama atau pendapat madzhab yang menyelisihi dalil. Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan: “Ini tergantung kondisi masing-masing orang. Orang awam dan penuntut ilmu pemula mereka hanya bisa sebatas taqlid kepada ulama yang mereka percayai ilmunya dan ketaqwaannya. Maka boleh bagi dia untuk taqlid kepada salah satu madzhab yang merupakan madzhab Ahlussunnah. Adapun muta’allim (orang yang serius belajar agama), yang ia memiliki kemampuan untuk menilai mana pendapat ulama yang kuat dan mana pendapat yang lemah, maka wajib baginya untuk memilih pendapat yang ditegakkan dengan dalil dari pendapat-pendapat para imam madzhab yang empat ataupun ulama yang lain. Orang yang demikian wajib mengamalkan dalil, karena ia memiliki kemampuan untuk itu. Adapun manusia secara umum, mereka berbeda-beda keadaannya, tidak hanya berada pada satu tingkatan saja. Maka taqlid tidak diharamkan secara mutlak dan tidak diwajibkan secara mutlak. Namun yang tepat adalah sesuai dengan kondisi masing-masing orang. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. Al-Anbiya: 7). Oleh karena itu, tidak boleh seseorang mengambil pendapat ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya atau sesuai dengan seleranya. Sehingga ia mencari-cari pendapat yang ringan dan mudah yang tidak ditegakkan dengan dalil. Karena mereka hanya ingin menuruti selera dan hawa nafsunya. Ini tidak diperbolehkan. Yang semestinya dilakukan adalah memilih pendapat ulama yang ditegakkan dengan dalil jika ia memiliki kemampuan untuk menimbang kuat-lemahnya pendapat” (Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan, 2/704). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufiq. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Mendalami Islam, Hukum Tambal Gigi, Kenapa Ada Sholat Jumat, Hukum Rujuk Dalam Islam, Lagu Takbir, Doa Minta Jodoh Dalam Al Quran Visited 179 times, 2 visit(s) today Post Views: 342 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Bagaimana semestinya orang awam menyikapi perbedaan pendapat di antara ulama? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Dalam menyikapi khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara para ulama, hendaknya kita berusaha menimbangnya dengan dalil. Allah ta’ala berfirman: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 59). Allah ta’ala juga berfirman: وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ “Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah” (QS. Asy-Syura: 10). Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ “Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Abu Daud no.4607, Ibnu Majah no.42, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud). Al-‘Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan: “Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah itu menghilangkan permusuhan dan perselisihan. Karena tidak ada orang (Muslim) yang menolak Al-Qur’an. Maka jika Anda katakan kepada seseorang: Ambil saja pendapat imam Fulan atau ulama Fulan, ia tidak akan merasa tenang. Namun jika Anda katakan kepadanya: Kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, jika ia memiliki iman, maka pasti ia akan merasa tenang dan akan rujuk” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 21). Beliau juga mengatakan: “Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang berkesesuaian dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 24). Maka dakwah yang mengajak untuk membiarkan umat taqlid pada pendapat madzhab masing-masing, ormas masing-masing, partai masing-masing mempersilakan memilih pendapat mana saja, ini adalah dakwah yang keliru. Syaikh Shalih Al-Fauzan melanjutkan: “Adapun yang mengatakan: ‘biarkan mereka mengikuti pendapat madzhab masing-masing, biarkan mereka mengikuti akidah mereka masing-masing, setiap orang bebas berpendapat dan menuntut kebebasan berkeyakinan dan berpendapat’, ini adalah kekeliruan. Yang Allah larang dalam firman-Nya (yang artinya): ‘berpegang-teguhlah pada tali Allah kalian semuanya, dan janganlah berpecah-belah‘ (QS. Al Imran: 103). Maka wajib bagi kita untuk bersatu di atas Kitabullah dalam menyelesaikan perselisihan di antara kita.” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 18).  Adapun orang awam yang tidak tahu dalil dan tidak bisa memahaminya, maka ia boleh taqlid kepada fatwa ulama atau kepada pendapat madzhab. Selama ia belum mengetahui ilmunya. Ia boleh taqlid pada pendapat ulama yang ia yakini ilmunya dan diyakini ulama tersebut istiqamah berpegang pada dalil yang shahih. Bukan sekedar mengikuti pendapat yang enak dan mudah. Allah ta’ala berfirman: فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا “Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga kalian akan menyimpang dari kebenaran” (QS. An-Nisa: 135). Sulaiman At Taimi rahimahullah berkata, لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ ، أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ ، اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ “Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172). Adapun ketika ia memahami dalil dan ia sudah mengetahui ilmu, maka ia tidak boleh taqlid buta kepada pendapat ulama atau pendapat madzhab yang menyelisihi dalil. Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan: “Ini tergantung kondisi masing-masing orang. Orang awam dan penuntut ilmu pemula mereka hanya bisa sebatas taqlid kepada ulama yang mereka percayai ilmunya dan ketaqwaannya. Maka boleh bagi dia untuk taqlid kepada salah satu madzhab yang merupakan madzhab Ahlussunnah. Adapun muta’allim (orang yang serius belajar agama), yang ia memiliki kemampuan untuk menilai mana pendapat ulama yang kuat dan mana pendapat yang lemah, maka wajib baginya untuk memilih pendapat yang ditegakkan dengan dalil dari pendapat-pendapat para imam madzhab yang empat ataupun ulama yang lain. Orang yang demikian wajib mengamalkan dalil, karena ia memiliki kemampuan untuk itu. Adapun manusia secara umum, mereka berbeda-beda keadaannya, tidak hanya berada pada satu tingkatan saja. Maka taqlid tidak diharamkan secara mutlak dan tidak diwajibkan secara mutlak. Namun yang tepat adalah sesuai dengan kondisi masing-masing orang. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. Al-Anbiya: 7). Oleh karena itu, tidak boleh seseorang mengambil pendapat ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya atau sesuai dengan seleranya. Sehingga ia mencari-cari pendapat yang ringan dan mudah yang tidak ditegakkan dengan dalil. Karena mereka hanya ingin menuruti selera dan hawa nafsunya. Ini tidak diperbolehkan. Yang semestinya dilakukan adalah memilih pendapat ulama yang ditegakkan dengan dalil jika ia memiliki kemampuan untuk menimbang kuat-lemahnya pendapat” (Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan, 2/704). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufiq. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Mendalami Islam, Hukum Tambal Gigi, Kenapa Ada Sholat Jumat, Hukum Rujuk Dalam Islam, Lagu Takbir, Doa Minta Jodoh Dalam Al Quran Visited 179 times, 2 visit(s) today Post Views: 342 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Bagaimana semestinya orang awam menyikapi perbedaan pendapat di antara ulama? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Dalam menyikapi khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara para ulama, hendaknya kita berusaha menimbangnya dengan dalil. Allah ta’ala berfirman: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 59). Allah ta’ala juga berfirman: وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ “Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah” (QS. Asy-Syura: 10). Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ “Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Abu Daud no.4607, Ibnu Majah no.42, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud). Al-‘Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan: “Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah itu menghilangkan permusuhan dan perselisihan. Karena tidak ada orang (Muslim) yang menolak Al-Qur’an. Maka jika Anda katakan kepada seseorang: Ambil saja pendapat imam Fulan atau ulama Fulan, ia tidak akan merasa tenang. Namun jika Anda katakan kepadanya: Kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, jika ia memiliki iman, maka pasti ia akan merasa tenang dan akan rujuk” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 21). Beliau juga mengatakan: “Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang berkesesuaian dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 24). Maka dakwah yang mengajak untuk membiarkan umat taqlid pada pendapat madzhab masing-masing, ormas masing-masing, partai masing-masing mempersilakan memilih pendapat mana saja, ini adalah dakwah yang keliru. Syaikh Shalih Al-Fauzan melanjutkan: “Adapun yang mengatakan: ‘biarkan mereka mengikuti pendapat madzhab masing-masing, biarkan mereka mengikuti akidah mereka masing-masing, setiap orang bebas berpendapat dan menuntut kebebasan berkeyakinan dan berpendapat’, ini adalah kekeliruan. Yang Allah larang dalam firman-Nya (yang artinya): ‘berpegang-teguhlah pada tali Allah kalian semuanya, dan janganlah berpecah-belah‘ (QS. Al Imran: 103). Maka wajib bagi kita untuk bersatu di atas Kitabullah dalam menyelesaikan perselisihan di antara kita.” (Syarah Al-Ushul As-Sittah, hal. 18).  Adapun orang awam yang tidak tahu dalil dan tidak bisa memahaminya, maka ia boleh taqlid kepada fatwa ulama atau kepada pendapat madzhab. Selama ia belum mengetahui ilmunya. Ia boleh taqlid pada pendapat ulama yang ia yakini ilmunya dan diyakini ulama tersebut istiqamah berpegang pada dalil yang shahih. Bukan sekedar mengikuti pendapat yang enak dan mudah. Allah ta’ala berfirman: فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا “Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga kalian akan menyimpang dari kebenaran” (QS. An-Nisa: 135). Sulaiman At Taimi rahimahullah berkata, لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ ، أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ ، اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ “Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172). Adapun ketika ia memahami dalil dan ia sudah mengetahui ilmu, maka ia tidak boleh taqlid buta kepada pendapat ulama atau pendapat madzhab yang menyelisihi dalil. Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan: “Ini tergantung kondisi masing-masing orang. Orang awam dan penuntut ilmu pemula mereka hanya bisa sebatas taqlid kepada ulama yang mereka percayai ilmunya dan ketaqwaannya. Maka boleh bagi dia untuk taqlid kepada salah satu madzhab yang merupakan madzhab Ahlussunnah. Adapun muta’allim (orang yang serius belajar agama), yang ia memiliki kemampuan untuk menilai mana pendapat ulama yang kuat dan mana pendapat yang lemah, maka wajib baginya untuk memilih pendapat yang ditegakkan dengan dalil dari pendapat-pendapat para imam madzhab yang empat ataupun ulama yang lain. Orang yang demikian wajib mengamalkan dalil, karena ia memiliki kemampuan untuk itu. Adapun manusia secara umum, mereka berbeda-beda keadaannya, tidak hanya berada pada satu tingkatan saja. Maka taqlid tidak diharamkan secara mutlak dan tidak diwajibkan secara mutlak. Namun yang tepat adalah sesuai dengan kondisi masing-masing orang. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. Al-Anbiya: 7). Oleh karena itu, tidak boleh seseorang mengambil pendapat ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya atau sesuai dengan seleranya. Sehingga ia mencari-cari pendapat yang ringan dan mudah yang tidak ditegakkan dengan dalil. Karena mereka hanya ingin menuruti selera dan hawa nafsunya. Ini tidak diperbolehkan. Yang semestinya dilakukan adalah memilih pendapat ulama yang ditegakkan dengan dalil jika ia memiliki kemampuan untuk menimbang kuat-lemahnya pendapat” (Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan, 2/704). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufiq. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Mendalami Islam, Hukum Tambal Gigi, Kenapa Ada Sholat Jumat, Hukum Rujuk Dalam Islam, Lagu Takbir, Doa Minta Jodoh Dalam Al Quran Visited 179 times, 2 visit(s) today Post Views: 342 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Fatwa Ulama: Makna Sabar Terletak di Awal Musibah

Fatwa Syekh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz   Pertanyaan: Saya pernah mendengar hadis berbunyi,   الصبر عند الصدمة الأولى “Sabar itu terletak di awal musibah.” Apakah makna hadis tersebut?   Jawaban: Hadis tersebut adalah hadis sahih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang wanita sedang menangisi seseorang, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatinya. Lalu wanita itu berkata, إليك عني فإنك لم تصب بمثل مصيبتي “Pergilah dariku! Sesungguhnya kamu tidak pernah tertimpa musibah seperti yang aku alami.” Ketika wanita tersebut dikabarkan bahwa yang berbicara kepadanya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya. Dia tidak menjumpai orang yang menjaga rumahnya, lalu dia meminta izin masuk dan mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia tadi tidak mengenalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda kepadanya, إنما الصبر عند الصدمة الأولى “Sesungguhnya kesabaran terletak di awal musibah.” Yaitu, maknanya adalah sabar yang terkandung di dalamnya pahala adalah kesabaran pada saat awal terjadi musibah, wafatnya saudara, sakit, atau sesuatu yang merugikan seseorang. Dia bersabar dan berharap pahala, tidak mengeluh, tidak berkata buruk, dan tidak melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan saat awal musibah dialami. Maka, dia akan dibalas pahala atas hal tersebut. Adapun jika dia telah melakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan, kemudian bersabar setelahnya, maka kesabarannya tidak bermanfaat. Kesabaran harus dilakukan. Ia akan bersabar. Ia akan terhibur setelahnya seiring waktu. Sabar demikian layaknya kesabaran binatang ternak, maka tidak bermanfaat sama sekali. Sabar yang mendapatkan pahala yang besar adalah kesabaran di awal musibah, di awal turunnya musibah, dari musibah kematian atau selainnya. Dia menerima tanpa mengeluh, tanpa menarik-narik rambut, merobek pakaian, tanpa berteriak dengan seruan rapatan. Demikianlah kesabaran. Justru dia menerima dan memohon taufik kepada Rabbnya, dia bekata, إنا لله وإنا إليه راجعون، قدر الله وما شاء فعل “Sesungguhnya kami adalah milik Allah. Dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nya kembali. Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” Kemudian tidak mengeluh, tidak melakukan tindakan yang tidak pantas, tidak berkata buruk. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binbaz.org.sa/fatwas/16935/ معنى-حديث-انما-الصبر-عند-الصدمة-الاولى Tags: musibahsabar

Fatwa Ulama: Makna Sabar Terletak di Awal Musibah

Fatwa Syekh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz   Pertanyaan: Saya pernah mendengar hadis berbunyi,   الصبر عند الصدمة الأولى “Sabar itu terletak di awal musibah.” Apakah makna hadis tersebut?   Jawaban: Hadis tersebut adalah hadis sahih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang wanita sedang menangisi seseorang, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatinya. Lalu wanita itu berkata, إليك عني فإنك لم تصب بمثل مصيبتي “Pergilah dariku! Sesungguhnya kamu tidak pernah tertimpa musibah seperti yang aku alami.” Ketika wanita tersebut dikabarkan bahwa yang berbicara kepadanya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya. Dia tidak menjumpai orang yang menjaga rumahnya, lalu dia meminta izin masuk dan mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia tadi tidak mengenalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda kepadanya, إنما الصبر عند الصدمة الأولى “Sesungguhnya kesabaran terletak di awal musibah.” Yaitu, maknanya adalah sabar yang terkandung di dalamnya pahala adalah kesabaran pada saat awal terjadi musibah, wafatnya saudara, sakit, atau sesuatu yang merugikan seseorang. Dia bersabar dan berharap pahala, tidak mengeluh, tidak berkata buruk, dan tidak melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan saat awal musibah dialami. Maka, dia akan dibalas pahala atas hal tersebut. Adapun jika dia telah melakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan, kemudian bersabar setelahnya, maka kesabarannya tidak bermanfaat. Kesabaran harus dilakukan. Ia akan bersabar. Ia akan terhibur setelahnya seiring waktu. Sabar demikian layaknya kesabaran binatang ternak, maka tidak bermanfaat sama sekali. Sabar yang mendapatkan pahala yang besar adalah kesabaran di awal musibah, di awal turunnya musibah, dari musibah kematian atau selainnya. Dia menerima tanpa mengeluh, tanpa menarik-narik rambut, merobek pakaian, tanpa berteriak dengan seruan rapatan. Demikianlah kesabaran. Justru dia menerima dan memohon taufik kepada Rabbnya, dia bekata, إنا لله وإنا إليه راجعون، قدر الله وما شاء فعل “Sesungguhnya kami adalah milik Allah. Dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nya kembali. Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” Kemudian tidak mengeluh, tidak melakukan tindakan yang tidak pantas, tidak berkata buruk. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binbaz.org.sa/fatwas/16935/ معنى-حديث-انما-الصبر-عند-الصدمة-الاولى Tags: musibahsabar
Fatwa Syekh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz   Pertanyaan: Saya pernah mendengar hadis berbunyi,   الصبر عند الصدمة الأولى “Sabar itu terletak di awal musibah.” Apakah makna hadis tersebut?   Jawaban: Hadis tersebut adalah hadis sahih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang wanita sedang menangisi seseorang, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatinya. Lalu wanita itu berkata, إليك عني فإنك لم تصب بمثل مصيبتي “Pergilah dariku! Sesungguhnya kamu tidak pernah tertimpa musibah seperti yang aku alami.” Ketika wanita tersebut dikabarkan bahwa yang berbicara kepadanya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya. Dia tidak menjumpai orang yang menjaga rumahnya, lalu dia meminta izin masuk dan mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia tadi tidak mengenalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda kepadanya, إنما الصبر عند الصدمة الأولى “Sesungguhnya kesabaran terletak di awal musibah.” Yaitu, maknanya adalah sabar yang terkandung di dalamnya pahala adalah kesabaran pada saat awal terjadi musibah, wafatnya saudara, sakit, atau sesuatu yang merugikan seseorang. Dia bersabar dan berharap pahala, tidak mengeluh, tidak berkata buruk, dan tidak melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan saat awal musibah dialami. Maka, dia akan dibalas pahala atas hal tersebut. Adapun jika dia telah melakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan, kemudian bersabar setelahnya, maka kesabarannya tidak bermanfaat. Kesabaran harus dilakukan. Ia akan bersabar. Ia akan terhibur setelahnya seiring waktu. Sabar demikian layaknya kesabaran binatang ternak, maka tidak bermanfaat sama sekali. Sabar yang mendapatkan pahala yang besar adalah kesabaran di awal musibah, di awal turunnya musibah, dari musibah kematian atau selainnya. Dia menerima tanpa mengeluh, tanpa menarik-narik rambut, merobek pakaian, tanpa berteriak dengan seruan rapatan. Demikianlah kesabaran. Justru dia menerima dan memohon taufik kepada Rabbnya, dia bekata, إنا لله وإنا إليه راجعون، قدر الله وما شاء فعل “Sesungguhnya kami adalah milik Allah. Dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nya kembali. Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” Kemudian tidak mengeluh, tidak melakukan tindakan yang tidak pantas, tidak berkata buruk. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binbaz.org.sa/fatwas/16935/ معنى-حديث-انما-الصبر-عند-الصدمة-الاولى Tags: musibahsabar


Fatwa Syekh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz   Pertanyaan: Saya pernah mendengar hadis berbunyi,   الصبر عند الصدمة الأولى “Sabar itu terletak di awal musibah.” Apakah makna hadis tersebut?   Jawaban: Hadis tersebut adalah hadis sahih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang wanita sedang menangisi seseorang, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatinya. Lalu wanita itu berkata, إليك عني فإنك لم تصب بمثل مصيبتي “Pergilah dariku! Sesungguhnya kamu tidak pernah tertimpa musibah seperti yang aku alami.” Ketika wanita tersebut dikabarkan bahwa yang berbicara kepadanya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya. Dia tidak menjumpai orang yang menjaga rumahnya, lalu dia meminta izin masuk dan mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia tadi tidak mengenalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda kepadanya, إنما الصبر عند الصدمة الأولى “Sesungguhnya kesabaran terletak di awal musibah.” Yaitu, maknanya adalah sabar yang terkandung di dalamnya pahala adalah kesabaran pada saat awal terjadi musibah, wafatnya saudara, sakit, atau sesuatu yang merugikan seseorang. Dia bersabar dan berharap pahala, tidak mengeluh, tidak berkata buruk, dan tidak melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan saat awal musibah dialami. Maka, dia akan dibalas pahala atas hal tersebut. Adapun jika dia telah melakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan, kemudian bersabar setelahnya, maka kesabarannya tidak bermanfaat. Kesabaran harus dilakukan. Ia akan bersabar. Ia akan terhibur setelahnya seiring waktu. Sabar demikian layaknya kesabaran binatang ternak, maka tidak bermanfaat sama sekali. Sabar yang mendapatkan pahala yang besar adalah kesabaran di awal musibah, di awal turunnya musibah, dari musibah kematian atau selainnya. Dia menerima tanpa mengeluh, tanpa menarik-narik rambut, merobek pakaian, tanpa berteriak dengan seruan rapatan. Demikianlah kesabaran. Justru dia menerima dan memohon taufik kepada Rabbnya, dia bekata, إنا لله وإنا إليه راجعون، قدر الله وما شاء فعل “Sesungguhnya kami adalah milik Allah. Dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nya kembali. Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” Kemudian tidak mengeluh, tidak melakukan tindakan yang tidak pantas, tidak berkata buruk. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binbaz.org.sa/fatwas/16935/ معنى-حديث-انما-الصبر-عند-الصدمة-الاولى Tags: musibahsabar

Fatwa Ulama: Makna Allah Mencintai Keindahan

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Begitu pula, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu hadis yang maknanya bahwa Allah Ta’ala mencintai seseorang yang menunjukkan jejak nikmat pada dirinya. Saya telah membaca kisah sahabat dalam buku sekolah. Saya belajar bagaimana kezuhudan dan wara’ mereka radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum. (Mereka) sederhana dalam makan dan berpakaian di tengah kekayaan dan banyaknya harta yang mereka miliki. Sampai-sampai ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu mengenakan pakaian yang sama seperti orang yang bekerja untuknya. Pertanyaannya, apakah makna kedua hadis tersebut di atas bertentangan? Apakah bagi penuntut ilmu harus berpenampilan sesuai dengan status ekonominya atau dia harus berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuai batasan syariat Islam tanpa berlebihan? Apa makna perintah menyebut nikmat seperti perkataan Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!”   Jawaban: Hadis pertama, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika seseorang berkata, إن الرجل يحب أن يكون نعله حسناً وثوبه حسناً “Sesungguhnya seseorang menyukai mengenakan sepatu bagus dan pakaian bagus.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Maknanya yaitu Allah mencintai keindahan dalam pakaian, sepatu, baju mantel, baju pelindung, dalam rangka menampakkan nikmat Allah Ta’ala. Ini maksud hadis yang disebutkan di atas. Jika Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba, Dia menyukai jika jejak nikmat tersebut tampak sesuai dengan kadar nikmat yang diberikan. Nikmat harta, jejaknya berupa seseorang memperbanyak infak kepada kebaikan, demikian juga berpakaian yang pantas sesuai dengan dirinya. Hingga sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya seorang yang kaya jika berpakaian dengan pakaian para fakir, maka dia terhitung mengenakan pakaian syuhrah (tampil beda).” Akan tetapi, jika terdapat kebutuhan dalam berpakaian dengan pakaian fakir, seperti jika tinggal di tengah masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, maka lebih baik berpakaian sebagaimana mereka agar tidak menyakiti hati-hati mereka. Dalam hal ini seseorang akan diberikan balasan pahala atas niatnya. Ganjaran didapat sesuai apa yang diniatkannya. Adapun firman Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!” Yang diinginkan dari ayat ini adalah seorang hendaknya menampakkan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas dirinya dengan menunjukkan keutamaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada dirinya. Bahwa dia mampu mewujudkan semua kenikmatan tersebut bukan karena kekuatan dan upaya dirinya, akan tetapi atas nikmat Allah. Tahadduts dengan nikmat Allah dapat berupa ucapan dan perbuatan. Melalui ucapan dapat seperti perkataan, “Sesungguhnya Allah telah menganugerahi kekayaan setelah sebelumnya saya seorang fakir”, “Allah telah mengaruniakan keturunan kepadaku setelah aku sebelumnya tidak memilikinya”, dan perkataan lain yang semisal itu, “Sungguh Allah telah menunjukkan hidayah kepadaku di mana aku sebelumnya seorang yang jauh dari hidayah.” Tahadduts dengan perbuatan dapat dengan melakukan kegiatan yang sesuai dengan nikmat tersebut. Jika dia seorang alim (berilmu), maka dengan mengajarkan manusia. Jika seorang kaya, dengan memberi kepada sesama. Jika seorang yang kuat, dengan membela orang yang lemah. Adapun tentang perkataan penanya bahwa sebagian sahabat hidup sederhana, maka ini adalah di antara bentuk tawadhu’. Agar orang di sekitar mereka tidak sedih hati karena mereka belum mampu berpakaian yang semisal dengan itu, atau makan dengan makanan yang semisal itu. Seseorang dalam hal ini harus mempertimbangkan kemaslahatan. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Keindahan Asmaul Husna *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/10080 Tags: Allah mencintai keindahanFatwa Ulama

Fatwa Ulama: Makna Allah Mencintai Keindahan

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Begitu pula, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu hadis yang maknanya bahwa Allah Ta’ala mencintai seseorang yang menunjukkan jejak nikmat pada dirinya. Saya telah membaca kisah sahabat dalam buku sekolah. Saya belajar bagaimana kezuhudan dan wara’ mereka radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum. (Mereka) sederhana dalam makan dan berpakaian di tengah kekayaan dan banyaknya harta yang mereka miliki. Sampai-sampai ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu mengenakan pakaian yang sama seperti orang yang bekerja untuknya. Pertanyaannya, apakah makna kedua hadis tersebut di atas bertentangan? Apakah bagi penuntut ilmu harus berpenampilan sesuai dengan status ekonominya atau dia harus berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuai batasan syariat Islam tanpa berlebihan? Apa makna perintah menyebut nikmat seperti perkataan Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!”   Jawaban: Hadis pertama, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika seseorang berkata, إن الرجل يحب أن يكون نعله حسناً وثوبه حسناً “Sesungguhnya seseorang menyukai mengenakan sepatu bagus dan pakaian bagus.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Maknanya yaitu Allah mencintai keindahan dalam pakaian, sepatu, baju mantel, baju pelindung, dalam rangka menampakkan nikmat Allah Ta’ala. Ini maksud hadis yang disebutkan di atas. Jika Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba, Dia menyukai jika jejak nikmat tersebut tampak sesuai dengan kadar nikmat yang diberikan. Nikmat harta, jejaknya berupa seseorang memperbanyak infak kepada kebaikan, demikian juga berpakaian yang pantas sesuai dengan dirinya. Hingga sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya seorang yang kaya jika berpakaian dengan pakaian para fakir, maka dia terhitung mengenakan pakaian syuhrah (tampil beda).” Akan tetapi, jika terdapat kebutuhan dalam berpakaian dengan pakaian fakir, seperti jika tinggal di tengah masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, maka lebih baik berpakaian sebagaimana mereka agar tidak menyakiti hati-hati mereka. Dalam hal ini seseorang akan diberikan balasan pahala atas niatnya. Ganjaran didapat sesuai apa yang diniatkannya. Adapun firman Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!” Yang diinginkan dari ayat ini adalah seorang hendaknya menampakkan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas dirinya dengan menunjukkan keutamaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada dirinya. Bahwa dia mampu mewujudkan semua kenikmatan tersebut bukan karena kekuatan dan upaya dirinya, akan tetapi atas nikmat Allah. Tahadduts dengan nikmat Allah dapat berupa ucapan dan perbuatan. Melalui ucapan dapat seperti perkataan, “Sesungguhnya Allah telah menganugerahi kekayaan setelah sebelumnya saya seorang fakir”, “Allah telah mengaruniakan keturunan kepadaku setelah aku sebelumnya tidak memilikinya”, dan perkataan lain yang semisal itu, “Sungguh Allah telah menunjukkan hidayah kepadaku di mana aku sebelumnya seorang yang jauh dari hidayah.” Tahadduts dengan perbuatan dapat dengan melakukan kegiatan yang sesuai dengan nikmat tersebut. Jika dia seorang alim (berilmu), maka dengan mengajarkan manusia. Jika seorang kaya, dengan memberi kepada sesama. Jika seorang yang kuat, dengan membela orang yang lemah. Adapun tentang perkataan penanya bahwa sebagian sahabat hidup sederhana, maka ini adalah di antara bentuk tawadhu’. Agar orang di sekitar mereka tidak sedih hati karena mereka belum mampu berpakaian yang semisal dengan itu, atau makan dengan makanan yang semisal itu. Seseorang dalam hal ini harus mempertimbangkan kemaslahatan. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Keindahan Asmaul Husna *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/10080 Tags: Allah mencintai keindahanFatwa Ulama
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Begitu pula, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu hadis yang maknanya bahwa Allah Ta’ala mencintai seseorang yang menunjukkan jejak nikmat pada dirinya. Saya telah membaca kisah sahabat dalam buku sekolah. Saya belajar bagaimana kezuhudan dan wara’ mereka radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum. (Mereka) sederhana dalam makan dan berpakaian di tengah kekayaan dan banyaknya harta yang mereka miliki. Sampai-sampai ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu mengenakan pakaian yang sama seperti orang yang bekerja untuknya. Pertanyaannya, apakah makna kedua hadis tersebut di atas bertentangan? Apakah bagi penuntut ilmu harus berpenampilan sesuai dengan status ekonominya atau dia harus berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuai batasan syariat Islam tanpa berlebihan? Apa makna perintah menyebut nikmat seperti perkataan Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!”   Jawaban: Hadis pertama, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika seseorang berkata, إن الرجل يحب أن يكون نعله حسناً وثوبه حسناً “Sesungguhnya seseorang menyukai mengenakan sepatu bagus dan pakaian bagus.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Maknanya yaitu Allah mencintai keindahan dalam pakaian, sepatu, baju mantel, baju pelindung, dalam rangka menampakkan nikmat Allah Ta’ala. Ini maksud hadis yang disebutkan di atas. Jika Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba, Dia menyukai jika jejak nikmat tersebut tampak sesuai dengan kadar nikmat yang diberikan. Nikmat harta, jejaknya berupa seseorang memperbanyak infak kepada kebaikan, demikian juga berpakaian yang pantas sesuai dengan dirinya. Hingga sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya seorang yang kaya jika berpakaian dengan pakaian para fakir, maka dia terhitung mengenakan pakaian syuhrah (tampil beda).” Akan tetapi, jika terdapat kebutuhan dalam berpakaian dengan pakaian fakir, seperti jika tinggal di tengah masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, maka lebih baik berpakaian sebagaimana mereka agar tidak menyakiti hati-hati mereka. Dalam hal ini seseorang akan diberikan balasan pahala atas niatnya. Ganjaran didapat sesuai apa yang diniatkannya. Adapun firman Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!” Yang diinginkan dari ayat ini adalah seorang hendaknya menampakkan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas dirinya dengan menunjukkan keutamaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada dirinya. Bahwa dia mampu mewujudkan semua kenikmatan tersebut bukan karena kekuatan dan upaya dirinya, akan tetapi atas nikmat Allah. Tahadduts dengan nikmat Allah dapat berupa ucapan dan perbuatan. Melalui ucapan dapat seperti perkataan, “Sesungguhnya Allah telah menganugerahi kekayaan setelah sebelumnya saya seorang fakir”, “Allah telah mengaruniakan keturunan kepadaku setelah aku sebelumnya tidak memilikinya”, dan perkataan lain yang semisal itu, “Sungguh Allah telah menunjukkan hidayah kepadaku di mana aku sebelumnya seorang yang jauh dari hidayah.” Tahadduts dengan perbuatan dapat dengan melakukan kegiatan yang sesuai dengan nikmat tersebut. Jika dia seorang alim (berilmu), maka dengan mengajarkan manusia. Jika seorang kaya, dengan memberi kepada sesama. Jika seorang yang kuat, dengan membela orang yang lemah. Adapun tentang perkataan penanya bahwa sebagian sahabat hidup sederhana, maka ini adalah di antara bentuk tawadhu’. Agar orang di sekitar mereka tidak sedih hati karena mereka belum mampu berpakaian yang semisal dengan itu, atau makan dengan makanan yang semisal itu. Seseorang dalam hal ini harus mempertimbangkan kemaslahatan. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Keindahan Asmaul Husna *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/10080 Tags: Allah mencintai keindahanFatwa Ulama


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin   Pertanyaan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Begitu pula, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu hadis yang maknanya bahwa Allah Ta’ala mencintai seseorang yang menunjukkan jejak nikmat pada dirinya. Saya telah membaca kisah sahabat dalam buku sekolah. Saya belajar bagaimana kezuhudan dan wara’ mereka radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum. (Mereka) sederhana dalam makan dan berpakaian di tengah kekayaan dan banyaknya harta yang mereka miliki. Sampai-sampai ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu mengenakan pakaian yang sama seperti orang yang bekerja untuknya. Pertanyaannya, apakah makna kedua hadis tersebut di atas bertentangan? Apakah bagi penuntut ilmu harus berpenampilan sesuai dengan status ekonominya atau dia harus berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuai batasan syariat Islam tanpa berlebihan? Apa makna perintah menyebut nikmat seperti perkataan Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!”   Jawaban: Hadis pertama, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika seseorang berkata, إن الرجل يحب أن يكون نعله حسناً وثوبه حسناً “Sesungguhnya seseorang menyukai mengenakan sepatu bagus dan pakaian bagus.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الله جميل يحب الجمال “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah Yang mencintai keindahan.” Maknanya yaitu Allah mencintai keindahan dalam pakaian, sepatu, baju mantel, baju pelindung, dalam rangka menampakkan nikmat Allah Ta’ala. Ini maksud hadis yang disebutkan di atas. Jika Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba, Dia menyukai jika jejak nikmat tersebut tampak sesuai dengan kadar nikmat yang diberikan. Nikmat harta, jejaknya berupa seseorang memperbanyak infak kepada kebaikan, demikian juga berpakaian yang pantas sesuai dengan dirinya. Hingga sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya seorang yang kaya jika berpakaian dengan pakaian para fakir, maka dia terhitung mengenakan pakaian syuhrah (tampil beda).” Akan tetapi, jika terdapat kebutuhan dalam berpakaian dengan pakaian fakir, seperti jika tinggal di tengah masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, maka lebih baik berpakaian sebagaimana mereka agar tidak menyakiti hati-hati mereka. Dalam hal ini seseorang akan diberikan balasan pahala atas niatnya. Ganjaran didapat sesuai apa yang diniatkannya. Adapun firman Allah Ta’ala, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan atas nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah!” Yang diinginkan dari ayat ini adalah seorang hendaknya menampakkan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas dirinya dengan menunjukkan keutamaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada dirinya. Bahwa dia mampu mewujudkan semua kenikmatan tersebut bukan karena kekuatan dan upaya dirinya, akan tetapi atas nikmat Allah. Tahadduts dengan nikmat Allah dapat berupa ucapan dan perbuatan. Melalui ucapan dapat seperti perkataan, “Sesungguhnya Allah telah menganugerahi kekayaan setelah sebelumnya saya seorang fakir”, “Allah telah mengaruniakan keturunan kepadaku setelah aku sebelumnya tidak memilikinya”, dan perkataan lain yang semisal itu, “Sungguh Allah telah menunjukkan hidayah kepadaku di mana aku sebelumnya seorang yang jauh dari hidayah.” Tahadduts dengan perbuatan dapat dengan melakukan kegiatan yang sesuai dengan nikmat tersebut. Jika dia seorang alim (berilmu), maka dengan mengajarkan manusia. Jika seorang kaya, dengan memberi kepada sesama. Jika seorang yang kuat, dengan membela orang yang lemah. Adapun tentang perkataan penanya bahwa sebagian sahabat hidup sederhana, maka ini adalah di antara bentuk tawadhu’. Agar orang di sekitar mereka tidak sedih hati karena mereka belum mampu berpakaian yang semisal dengan itu, atau makan dengan makanan yang semisal itu. Seseorang dalam hal ini harus mempertimbangkan kemaslahatan. Demikian. Semoga bermanfaat. Baca juga: Keindahan Asmaul Husna *** Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/content/10080 Tags: Allah mencintai keindahanFatwa Ulama
Prev     Next