Haji, Hikmah dan Pensyariatannya

Bagaimana dalil pensyariatan dan hikmah ibadah haji?   Daftar Isi tutup 1. Pensyariatan Haji 2. Hikmah Pensyariatan Haji   Pensyariatan Haji Haji merupakan bagian dari rukun Islam. Menurut pendapat terkuat, haji itu disyariatkan setelah Fathul Makkah, pada tahun kesembilan Hijrah. Lihat pembahasan Minhah Al-‘Allam, 5:156. Allah Ta’ala berfirman, وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imron: 97). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, « أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ». فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di tengah-tengah kami. Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan haji bagi kalian, maka berhajilah.” Lantas ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah setiap tahun (kami mesti berhaji)?” Beliau lantas diam, sampai orang tadi bertanya hingga tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Seandainya aku mengatakan ‘iya’, maka tentu haji akan diwajibkan bagi kalian setiap tahun, dan belum tentu kalian sanggup.” (HR. Muslim, no. 1337). Sungguh banyak sekali hadits yang menyebutkan wajibnya haji hingga mencapai derajat mutawatir (jalur yang amat banyak) sehingga kita dapat memastikan hukum haji itu wajib. Para ulama pun sepakat bahwa hukum haji itu wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu. Bahkan kewajiban haji termasuk perkara al-ma’lum minad diini bidh dhoruroh (dengan sendirinya sudah diketahui wajibnya) dan yang mengingkari kewajibannya dinyatakan  kafir. Lihat bahasan di buku “Fikih Haji dan Umrah“, terbitan Rumaysho.   Hikmah Pensyariatan Haji Terdapat maslahat besar agama dan dunia. Haji adalah bentuk ibadah kepada Allah dengan menunaikan manasik. Dalam haji, ada pengorbanan harta. Dalam haji, badan itu capek karena beribadah kepada Allah. Dalam haji, ada kedermawanan. Dalam haji, tampak kaum muslimin bersatu. Dalam haji, kaum muslimin saling mengenal dan saling menolong. Dalam haji, saling menunjuki satu dan lainnya. Manfaat dalam haji disebutkan di antaranya pada firman Allah Ta’ala, لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) Lihat pembahasan Minhah Al-‘Allam, 5:156-157. –   Diselesaikan di Jogja, 4 Dzulqa’dah 1444 H, 24 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji hikmah haji

Haji, Hikmah dan Pensyariatannya

Bagaimana dalil pensyariatan dan hikmah ibadah haji?   Daftar Isi tutup 1. Pensyariatan Haji 2. Hikmah Pensyariatan Haji   Pensyariatan Haji Haji merupakan bagian dari rukun Islam. Menurut pendapat terkuat, haji itu disyariatkan setelah Fathul Makkah, pada tahun kesembilan Hijrah. Lihat pembahasan Minhah Al-‘Allam, 5:156. Allah Ta’ala berfirman, وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imron: 97). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, « أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ». فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di tengah-tengah kami. Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan haji bagi kalian, maka berhajilah.” Lantas ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah setiap tahun (kami mesti berhaji)?” Beliau lantas diam, sampai orang tadi bertanya hingga tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Seandainya aku mengatakan ‘iya’, maka tentu haji akan diwajibkan bagi kalian setiap tahun, dan belum tentu kalian sanggup.” (HR. Muslim, no. 1337). Sungguh banyak sekali hadits yang menyebutkan wajibnya haji hingga mencapai derajat mutawatir (jalur yang amat banyak) sehingga kita dapat memastikan hukum haji itu wajib. Para ulama pun sepakat bahwa hukum haji itu wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu. Bahkan kewajiban haji termasuk perkara al-ma’lum minad diini bidh dhoruroh (dengan sendirinya sudah diketahui wajibnya) dan yang mengingkari kewajibannya dinyatakan  kafir. Lihat bahasan di buku “Fikih Haji dan Umrah“, terbitan Rumaysho.   Hikmah Pensyariatan Haji Terdapat maslahat besar agama dan dunia. Haji adalah bentuk ibadah kepada Allah dengan menunaikan manasik. Dalam haji, ada pengorbanan harta. Dalam haji, badan itu capek karena beribadah kepada Allah. Dalam haji, ada kedermawanan. Dalam haji, tampak kaum muslimin bersatu. Dalam haji, kaum muslimin saling mengenal dan saling menolong. Dalam haji, saling menunjuki satu dan lainnya. Manfaat dalam haji disebutkan di antaranya pada firman Allah Ta’ala, لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) Lihat pembahasan Minhah Al-‘Allam, 5:156-157. –   Diselesaikan di Jogja, 4 Dzulqa’dah 1444 H, 24 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji hikmah haji
Bagaimana dalil pensyariatan dan hikmah ibadah haji?   Daftar Isi tutup 1. Pensyariatan Haji 2. Hikmah Pensyariatan Haji   Pensyariatan Haji Haji merupakan bagian dari rukun Islam. Menurut pendapat terkuat, haji itu disyariatkan setelah Fathul Makkah, pada tahun kesembilan Hijrah. Lihat pembahasan Minhah Al-‘Allam, 5:156. Allah Ta’ala berfirman, وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imron: 97). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, « أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ». فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di tengah-tengah kami. Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan haji bagi kalian, maka berhajilah.” Lantas ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah setiap tahun (kami mesti berhaji)?” Beliau lantas diam, sampai orang tadi bertanya hingga tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Seandainya aku mengatakan ‘iya’, maka tentu haji akan diwajibkan bagi kalian setiap tahun, dan belum tentu kalian sanggup.” (HR. Muslim, no. 1337). Sungguh banyak sekali hadits yang menyebutkan wajibnya haji hingga mencapai derajat mutawatir (jalur yang amat banyak) sehingga kita dapat memastikan hukum haji itu wajib. Para ulama pun sepakat bahwa hukum haji itu wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu. Bahkan kewajiban haji termasuk perkara al-ma’lum minad diini bidh dhoruroh (dengan sendirinya sudah diketahui wajibnya) dan yang mengingkari kewajibannya dinyatakan  kafir. Lihat bahasan di buku “Fikih Haji dan Umrah“, terbitan Rumaysho.   Hikmah Pensyariatan Haji Terdapat maslahat besar agama dan dunia. Haji adalah bentuk ibadah kepada Allah dengan menunaikan manasik. Dalam haji, ada pengorbanan harta. Dalam haji, badan itu capek karena beribadah kepada Allah. Dalam haji, ada kedermawanan. Dalam haji, tampak kaum muslimin bersatu. Dalam haji, kaum muslimin saling mengenal dan saling menolong. Dalam haji, saling menunjuki satu dan lainnya. Manfaat dalam haji disebutkan di antaranya pada firman Allah Ta’ala, لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) Lihat pembahasan Minhah Al-‘Allam, 5:156-157. –   Diselesaikan di Jogja, 4 Dzulqa’dah 1444 H, 24 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji hikmah haji


Bagaimana dalil pensyariatan dan hikmah ibadah haji?   Daftar Isi tutup 1. Pensyariatan Haji 2. Hikmah Pensyariatan Haji   Pensyariatan Haji Haji merupakan bagian dari rukun Islam. Menurut pendapat terkuat, haji itu disyariatkan setelah Fathul Makkah, pada tahun kesembilan Hijrah. Lihat pembahasan Minhah Al-‘Allam, 5:156. Allah Ta’ala berfirman, وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imron: 97). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, « أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ». فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di tengah-tengah kami. Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan haji bagi kalian, maka berhajilah.” Lantas ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah setiap tahun (kami mesti berhaji)?” Beliau lantas diam, sampai orang tadi bertanya hingga tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Seandainya aku mengatakan ‘iya’, maka tentu haji akan diwajibkan bagi kalian setiap tahun, dan belum tentu kalian sanggup.” (HR. Muslim, no. 1337). Sungguh banyak sekali hadits yang menyebutkan wajibnya haji hingga mencapai derajat mutawatir (jalur yang amat banyak) sehingga kita dapat memastikan hukum haji itu wajib. Para ulama pun sepakat bahwa hukum haji itu wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu. Bahkan kewajiban haji termasuk perkara al-ma’lum minad diini bidh dhoruroh (dengan sendirinya sudah diketahui wajibnya) dan yang mengingkari kewajibannya dinyatakan  kafir. Lihat bahasan di buku “Fikih Haji dan Umrah“, terbitan Rumaysho.   Hikmah Pensyariatan Haji Terdapat maslahat besar agama dan dunia. Haji adalah bentuk ibadah kepada Allah dengan menunaikan manasik. Dalam haji, ada pengorbanan harta. Dalam haji, badan itu capek karena beribadah kepada Allah. Dalam haji, ada kedermawanan. Dalam haji, tampak kaum muslimin bersatu. Dalam haji, kaum muslimin saling mengenal dan saling menolong. Dalam haji, saling menunjuki satu dan lainnya. Manfaat dalam haji disebutkan di antaranya pada firman Allah Ta’ala, لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) Lihat pembahasan Minhah Al-‘Allam, 5:156-157. –   Diselesaikan di Jogja, 4 Dzulqa’dah 1444 H, 24 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji hikmah haji

Sudah Tahu Perbedaan Haji dan Umrah, Berikut Penjelasannya

Secara pengertian haji dan umrah itu berbeda. Juga dilihat dari sisi ibadah, umrah dan haji berbeda sekali. Haji lebih lengkap dibandingkan umrah.   Daftar Isi tutup 1. Pengertian Haji dan Umrah 2. Rukun dan Wajib pada Haji dan Umrah 2.1. Rukun haji 2.2. Rukun umrah 2.3. Wajib haji 2.4. Wajib umrah   Pengertian Haji dan Umrah Haji secara bahasa bisa dibaca al-hajju atau al-hijju. Makna haji secara bahasa adalah al-qashdu, yaitu niat, maksud, cita-cita, tujuan, akhir, gol, sasaran, target. Sedangkan, makna haji secara istilah syari adalah menuju Makkah dan tempat ibadah lainnya (masya’ir) untuk menunaikan manasik pada waktu yang khusus (tertentu). ‘Umrah secara bahasa berarti ziyarah, yaitu mengunjungi. ‘Umrah secara istilah syari berarti ziarah ke Baitullah untuk menunaikan manasik. Manasik umrah adalah ihram, thawaf, sai, tahallul (menggundul atau memendekkan rambut). Sedangkan manasik haji sama seperti umrah, tetapi ada tambahan terkait ibadah di masya’ir (tempat pelaksanaan ibadah haji) seperti wukuf, mabit, dan melempar jumrah. Lihat pembahasan Minhah Al-‘Allam, 5:156-157. Itu dari sisi pengertian. Sedangkan dari sisi ibadah dilihat dari rukun dan wajib, keduanya berbeda. Ibadah haji lebih komplet dibandingkan umrah. Coba perhatikan rukun dan wajib umrah sebagaimana berikut ini.   Rukun dan Wajib pada Haji dan Umrah Rukun haji Ihram dengan niat, Wukuf di Arafah, Thawaf ifadhah, Sa’i antara Shafa dan Marwah, Halq (mencukur habis) atau taqshir (menipiskan), dan Tertib dalam mengerjakan semua rukun.   Rukun umrah Sama dengan haji kecuali wukuf di Arafah. Ihram, Thawaf umrah, Sa’i umrah, Halq atau taqshir, dan Tertib.   Wajib haji Ihram dari miqat, Mabit di Muzdalifah, Melempar jumrah ‘Aqabah tujuh kali pada 10 Dzulhijjah, Melepar jumrah di tiga titik, jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah pada hari tasyrik, Mabit di Mina selama hari tasyrik, Menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan ketika ihram, dan Thawaf wada’.   Wajib umrah Ihram dari miqat. Menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan ketika ihram. Lihat bahasan di buku “Fikih Haji dan Umrah“, terbitan Rumaysho.   Semoga sudah memahami perbedaan antara umrah dan haji. Semoga Allah mudahkan untuk melakukan keduanya.   –   Diselesaikan di Jogja, 4 Dzulqa’dah 1444 H, 24 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah fikih haji fikih umrah haji

Sudah Tahu Perbedaan Haji dan Umrah, Berikut Penjelasannya

Secara pengertian haji dan umrah itu berbeda. Juga dilihat dari sisi ibadah, umrah dan haji berbeda sekali. Haji lebih lengkap dibandingkan umrah.   Daftar Isi tutup 1. Pengertian Haji dan Umrah 2. Rukun dan Wajib pada Haji dan Umrah 2.1. Rukun haji 2.2. Rukun umrah 2.3. Wajib haji 2.4. Wajib umrah   Pengertian Haji dan Umrah Haji secara bahasa bisa dibaca al-hajju atau al-hijju. Makna haji secara bahasa adalah al-qashdu, yaitu niat, maksud, cita-cita, tujuan, akhir, gol, sasaran, target. Sedangkan, makna haji secara istilah syari adalah menuju Makkah dan tempat ibadah lainnya (masya’ir) untuk menunaikan manasik pada waktu yang khusus (tertentu). ‘Umrah secara bahasa berarti ziyarah, yaitu mengunjungi. ‘Umrah secara istilah syari berarti ziarah ke Baitullah untuk menunaikan manasik. Manasik umrah adalah ihram, thawaf, sai, tahallul (menggundul atau memendekkan rambut). Sedangkan manasik haji sama seperti umrah, tetapi ada tambahan terkait ibadah di masya’ir (tempat pelaksanaan ibadah haji) seperti wukuf, mabit, dan melempar jumrah. Lihat pembahasan Minhah Al-‘Allam, 5:156-157. Itu dari sisi pengertian. Sedangkan dari sisi ibadah dilihat dari rukun dan wajib, keduanya berbeda. Ibadah haji lebih komplet dibandingkan umrah. Coba perhatikan rukun dan wajib umrah sebagaimana berikut ini.   Rukun dan Wajib pada Haji dan Umrah Rukun haji Ihram dengan niat, Wukuf di Arafah, Thawaf ifadhah, Sa’i antara Shafa dan Marwah, Halq (mencukur habis) atau taqshir (menipiskan), dan Tertib dalam mengerjakan semua rukun.   Rukun umrah Sama dengan haji kecuali wukuf di Arafah. Ihram, Thawaf umrah, Sa’i umrah, Halq atau taqshir, dan Tertib.   Wajib haji Ihram dari miqat, Mabit di Muzdalifah, Melempar jumrah ‘Aqabah tujuh kali pada 10 Dzulhijjah, Melepar jumrah di tiga titik, jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah pada hari tasyrik, Mabit di Mina selama hari tasyrik, Menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan ketika ihram, dan Thawaf wada’.   Wajib umrah Ihram dari miqat. Menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan ketika ihram. Lihat bahasan di buku “Fikih Haji dan Umrah“, terbitan Rumaysho.   Semoga sudah memahami perbedaan antara umrah dan haji. Semoga Allah mudahkan untuk melakukan keduanya.   –   Diselesaikan di Jogja, 4 Dzulqa’dah 1444 H, 24 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah fikih haji fikih umrah haji
Secara pengertian haji dan umrah itu berbeda. Juga dilihat dari sisi ibadah, umrah dan haji berbeda sekali. Haji lebih lengkap dibandingkan umrah.   Daftar Isi tutup 1. Pengertian Haji dan Umrah 2. Rukun dan Wajib pada Haji dan Umrah 2.1. Rukun haji 2.2. Rukun umrah 2.3. Wajib haji 2.4. Wajib umrah   Pengertian Haji dan Umrah Haji secara bahasa bisa dibaca al-hajju atau al-hijju. Makna haji secara bahasa adalah al-qashdu, yaitu niat, maksud, cita-cita, tujuan, akhir, gol, sasaran, target. Sedangkan, makna haji secara istilah syari adalah menuju Makkah dan tempat ibadah lainnya (masya’ir) untuk menunaikan manasik pada waktu yang khusus (tertentu). ‘Umrah secara bahasa berarti ziyarah, yaitu mengunjungi. ‘Umrah secara istilah syari berarti ziarah ke Baitullah untuk menunaikan manasik. Manasik umrah adalah ihram, thawaf, sai, tahallul (menggundul atau memendekkan rambut). Sedangkan manasik haji sama seperti umrah, tetapi ada tambahan terkait ibadah di masya’ir (tempat pelaksanaan ibadah haji) seperti wukuf, mabit, dan melempar jumrah. Lihat pembahasan Minhah Al-‘Allam, 5:156-157. Itu dari sisi pengertian. Sedangkan dari sisi ibadah dilihat dari rukun dan wajib, keduanya berbeda. Ibadah haji lebih komplet dibandingkan umrah. Coba perhatikan rukun dan wajib umrah sebagaimana berikut ini.   Rukun dan Wajib pada Haji dan Umrah Rukun haji Ihram dengan niat, Wukuf di Arafah, Thawaf ifadhah, Sa’i antara Shafa dan Marwah, Halq (mencukur habis) atau taqshir (menipiskan), dan Tertib dalam mengerjakan semua rukun.   Rukun umrah Sama dengan haji kecuali wukuf di Arafah. Ihram, Thawaf umrah, Sa’i umrah, Halq atau taqshir, dan Tertib.   Wajib haji Ihram dari miqat, Mabit di Muzdalifah, Melempar jumrah ‘Aqabah tujuh kali pada 10 Dzulhijjah, Melepar jumrah di tiga titik, jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah pada hari tasyrik, Mabit di Mina selama hari tasyrik, Menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan ketika ihram, dan Thawaf wada’.   Wajib umrah Ihram dari miqat. Menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan ketika ihram. Lihat bahasan di buku “Fikih Haji dan Umrah“, terbitan Rumaysho.   Semoga sudah memahami perbedaan antara umrah dan haji. Semoga Allah mudahkan untuk melakukan keduanya.   –   Diselesaikan di Jogja, 4 Dzulqa’dah 1444 H, 24 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah fikih haji fikih umrah haji


Secara pengertian haji dan umrah itu berbeda. Juga dilihat dari sisi ibadah, umrah dan haji berbeda sekali. Haji lebih lengkap dibandingkan umrah.   Daftar Isi tutup 1. Pengertian Haji dan Umrah 2. Rukun dan Wajib pada Haji dan Umrah 2.1. Rukun haji 2.2. Rukun umrah 2.3. Wajib haji 2.4. Wajib umrah   Pengertian Haji dan Umrah Haji secara bahasa bisa dibaca al-hajju atau al-hijju. Makna haji secara bahasa adalah al-qashdu, yaitu niat, maksud, cita-cita, tujuan, akhir, gol, sasaran, target. Sedangkan, makna haji secara istilah syari adalah menuju Makkah dan tempat ibadah lainnya (masya’ir) untuk menunaikan manasik pada waktu yang khusus (tertentu). ‘Umrah secara bahasa berarti ziyarah, yaitu mengunjungi. ‘Umrah secara istilah syari berarti ziarah ke Baitullah untuk menunaikan manasik. Manasik umrah adalah ihram, thawaf, sai, tahallul (menggundul atau memendekkan rambut). Sedangkan manasik haji sama seperti umrah, tetapi ada tambahan terkait ibadah di masya’ir (tempat pelaksanaan ibadah haji) seperti wukuf, mabit, dan melempar jumrah. Lihat pembahasan Minhah Al-‘Allam, 5:156-157. Itu dari sisi pengertian. Sedangkan dari sisi ibadah dilihat dari rukun dan wajib, keduanya berbeda. Ibadah haji lebih komplet dibandingkan umrah. Coba perhatikan rukun dan wajib umrah sebagaimana berikut ini.   Rukun dan Wajib pada Haji dan Umrah Rukun haji Ihram dengan niat, Wukuf di Arafah, Thawaf ifadhah, Sa’i antara Shafa dan Marwah, Halq (mencukur habis) atau taqshir (menipiskan), dan Tertib dalam mengerjakan semua rukun.   Rukun umrah Sama dengan haji kecuali wukuf di Arafah. Ihram, Thawaf umrah, Sa’i umrah, Halq atau taqshir, dan Tertib.   Wajib haji Ihram dari miqat, Mabit di Muzdalifah, Melempar jumrah ‘Aqabah tujuh kali pada 10 Dzulhijjah, Melepar jumrah di tiga titik, jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah pada hari tasyrik, Mabit di Mina selama hari tasyrik, Menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan ketika ihram, dan Thawaf wada’.   Wajib umrah Ihram dari miqat. Menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan ketika ihram. Lihat bahasan di buku “Fikih Haji dan Umrah“, terbitan Rumaysho.   Semoga sudah memahami perbedaan antara umrah dan haji. Semoga Allah mudahkan untuk melakukan keduanya.   –   Diselesaikan di Jogja, 4 Dzulqa’dah 1444 H, 24 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah fikih haji fikih umrah haji

Masihkah Terbuka Pintu Tobat?

Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar. Selawat dan salam semoga tercurah kepada sang pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, Nabi akhir zaman pembawa rahmat bagi segenap alam. Amma ba’du.Tobat adalah nikmat yang sangat besar bagi seorang hamba. Karena dengan bertobat kepada Allah, maka seorang hamba kembali kepada jalan ketaatan dan amal saleh setelah sebelumnya dia terjerumus dan terseret dalam arus dosa dan kemaksiatan. Maka, menjadi harapan setiap muslim untuk terus bertobat dalam setiap hari yang dia lalui karena dia menyadari bahwa dirinya penuh dengan dosa dan kekurangan dalam mengabdi kepada Ar-Rahman.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima tobat pelaku dosa di siang hari dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima tobat pelaku dosa di malam hari, sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya.” (HR. Muslim)Kesempatan untuk bertobat masih terus terbuka selama nyawa belum berada di tenggorokan. Tidakkah kita mengingat kisah seorang pembunuh 100 nyawa yang masih diberi kesempatan bertobat dan Allah pun menerima tobatnya. Tidakkah kita ingat kisah tobatnya Ka’ab bin Malik dan teman-temannya radhiyallahu ’anhum yang diabadikan di dalam Al-Qur’an, sebagai pelajaran, peringatan, dan nasihat bagi setiap insan beriman.Daftar Isi Bertobat dari keteledoranWajibnya bersabar dan bersyukurBertobat dari keteledoranNikmat yang Allah berikan kepada kita tiada terhingga, tetapi seringkali kita tidak menunaikan syukur atasnya dengan baik. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hakikat syukur adalah mengakui limpahan nikmat (dari Allah) dan berusaha menunaikan pengabdian (kepada-Nya). Barangsiapa yang perkara ini semakin banyak muncul dari dirinya, maka dia disebut sebagai syakuur (orang yang pandai bersyukur). Dari sanalah, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan, “Betapa sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (lihat Fath Al-Bari, tahqiq Syaibatul Hamdi, 3: 20)Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hak-hak Allah itu terlalu agung sehingga para hamba tidak akan bisa menunaikan hak-hak Allah secara sepenuhnya. Sebab, nikmat-nikmat dari-Nya amat besar sehingga terlalu banyak untuk bisa dihingga (dihitung). Meskipun demikian, mereka selalu berusaha untuk menjadi orang-orang yang patuh di pagi hari dan menjadi orang-orang yang selalu bertobat di sore hari.” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari oleh Ibnu Baththal, 3: 122)Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata, “Sungguh apabila aku mendapatkan kesehatan dan kelapangan kemudian aku menunaikan syukur, itu jauh lebih aku sukai daripada aku tertimpa cobaan (musibah) sehingga aku harus bersabar menghadapinya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 441)Abu Abdillah Ar-Razi rahimahullah berkata, “Sufyan bin ‘Uyainah berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya di antara bentuk syukur atas nikmat-nikmat Allah adalah dengan engkau memuji-Nya atas hal itu dan engkau gunakan nikmat-nikmat itu di atas ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu, bukanlah orang yang bersyukur kepada Allah orang yang menggunakan nikmat-nikmat dari-Nya justru untuk melakukan maksiat (kedurhakaan) kepada-Nya.’” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 441)Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Orang yang bersyukur itu adalah orang yang mengetahui (menyadari) bahwa nikmat itu berasal dari Allah Ta’ala. Allah memberikan nikmat itu kepadanya untuk melihat bagaimana dia bersyukur, bagaimana dirinya bersabar?” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah al-Auliya’, hal. 441)Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Barangsiapa yang memandang tidak ada kenikmatan dari Allah kepada dirinya selain hanya dalam urusan makanan dan minumannya, sungguh telah sedikit fikih/ilmunya dan telah datang azab pada dirinya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 885)Baca juga: Tata Cara Salat TobatWajibnya bersabar dan bersyukurAbu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah berkata, “Setiap kenikmatan yang tidak semakin menambah kedekatan kepada Allah ‘Azza  Wa Jalla, maka pada hakikatnya hal itu adalah bencana.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 888)Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ’anhu berkata, “Kami diuji dengan kesulitan, maka kami pun bisa bersabar. Akan tetapi, tatkala kami diuji dengan kesenangan, maka kami pun tidak bisa bersabar.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 163)Yazid bin Maisarah rahimahullah berkata, “Tidaklah berbahaya suatu nikmat jika ia dibarengi dengan syukur. Tidaklah berbahaya musibah jika ia dibarengi dengan sabar. Sungguh, musibah yang menimpa pada saat melakukan ketaatan kepada Allah, itu jauh lebih baik daripada nikmat yang dirasakan ketika berbuat maksiat kepada Allah.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 164)Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah menjadi fakih (ahli ilmu) barangsiapa yang tidak bisa menganggap bahwa musibah (duniawi) adalah nikmat (agama) dan kelapangan (dunia) adalah musibah.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 165)Bisyr bin Al-Harits rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengetahui seorang pun, kecuali dia pasti tertimpa cobaan. Seorang yang Allah berikan kelapangan pada rezekinya, maka Allah ingin melihat bagaimana dia menunaikan syukur atas hal itu. Dan seorang yang Allah ‘Azza Wajalla cabut sebagian dari rezekinya, ketika itu Allah ingin melihat bagaimanakah dia bisa bersabar.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 172)Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Ibnu Katsir rahimahullah menyimpulkan bahwa makna ayat di atas adalah, “Sesungguhnya Aku menciptakan mereka tidak lain untuk Aku perintahkan mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena kebutuhan-Ku kepada mereka.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim [7: 425])Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Bahkan, ibadah kepada Allah, ma’rifat, tauhid, dan syukur kepada-Nya, itulah sumber kebahagiaan hati setiap insan. Itulah kelezatan tertinggi bagi hati. Kenikmatan terindah yang hanya akan diraih oleh orang-orang yang memang layak untuk mendapatkannya…” (lihat Adh-Dhau’ Al-Munir ‘ala At-Tafsir [5: 97])Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Dia (Allah) tidaklah membutuhkan ibadahmu. Seandainya kamu kafir, maka kerajaan Allah tidak akan berkurang. Bahkan, kamulah yang membutuhkan diri-Nya. Kamu yang memerlukan ibadah itu. Salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah memerintahkanmu beribadah kepada-Nya demi kemaslahatan dirimu. Jika kamu beribadah kepada-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Ibadah menjadi sebab Allah memuliakan kedudukanmu di dunia dan di akhirat. Jadi, siapakah yang memetik manfaat dari ibadah? Yang memetik manfaat dari ibadah adalah hamba. Adapun Allah Jalla Wa ‘Ala, Dia tidak membutuhkan makhluk-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 15-16)Baca juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: bertobat kepada Allahpintu tobattobat

Masihkah Terbuka Pintu Tobat?

Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar. Selawat dan salam semoga tercurah kepada sang pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, Nabi akhir zaman pembawa rahmat bagi segenap alam. Amma ba’du.Tobat adalah nikmat yang sangat besar bagi seorang hamba. Karena dengan bertobat kepada Allah, maka seorang hamba kembali kepada jalan ketaatan dan amal saleh setelah sebelumnya dia terjerumus dan terseret dalam arus dosa dan kemaksiatan. Maka, menjadi harapan setiap muslim untuk terus bertobat dalam setiap hari yang dia lalui karena dia menyadari bahwa dirinya penuh dengan dosa dan kekurangan dalam mengabdi kepada Ar-Rahman.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima tobat pelaku dosa di siang hari dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima tobat pelaku dosa di malam hari, sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya.” (HR. Muslim)Kesempatan untuk bertobat masih terus terbuka selama nyawa belum berada di tenggorokan. Tidakkah kita mengingat kisah seorang pembunuh 100 nyawa yang masih diberi kesempatan bertobat dan Allah pun menerima tobatnya. Tidakkah kita ingat kisah tobatnya Ka’ab bin Malik dan teman-temannya radhiyallahu ’anhum yang diabadikan di dalam Al-Qur’an, sebagai pelajaran, peringatan, dan nasihat bagi setiap insan beriman.Daftar Isi Bertobat dari keteledoranWajibnya bersabar dan bersyukurBertobat dari keteledoranNikmat yang Allah berikan kepada kita tiada terhingga, tetapi seringkali kita tidak menunaikan syukur atasnya dengan baik. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hakikat syukur adalah mengakui limpahan nikmat (dari Allah) dan berusaha menunaikan pengabdian (kepada-Nya). Barangsiapa yang perkara ini semakin banyak muncul dari dirinya, maka dia disebut sebagai syakuur (orang yang pandai bersyukur). Dari sanalah, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan, “Betapa sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (lihat Fath Al-Bari, tahqiq Syaibatul Hamdi, 3: 20)Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hak-hak Allah itu terlalu agung sehingga para hamba tidak akan bisa menunaikan hak-hak Allah secara sepenuhnya. Sebab, nikmat-nikmat dari-Nya amat besar sehingga terlalu banyak untuk bisa dihingga (dihitung). Meskipun demikian, mereka selalu berusaha untuk menjadi orang-orang yang patuh di pagi hari dan menjadi orang-orang yang selalu bertobat di sore hari.” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari oleh Ibnu Baththal, 3: 122)Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata, “Sungguh apabila aku mendapatkan kesehatan dan kelapangan kemudian aku menunaikan syukur, itu jauh lebih aku sukai daripada aku tertimpa cobaan (musibah) sehingga aku harus bersabar menghadapinya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 441)Abu Abdillah Ar-Razi rahimahullah berkata, “Sufyan bin ‘Uyainah berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya di antara bentuk syukur atas nikmat-nikmat Allah adalah dengan engkau memuji-Nya atas hal itu dan engkau gunakan nikmat-nikmat itu di atas ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu, bukanlah orang yang bersyukur kepada Allah orang yang menggunakan nikmat-nikmat dari-Nya justru untuk melakukan maksiat (kedurhakaan) kepada-Nya.’” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 441)Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Orang yang bersyukur itu adalah orang yang mengetahui (menyadari) bahwa nikmat itu berasal dari Allah Ta’ala. Allah memberikan nikmat itu kepadanya untuk melihat bagaimana dia bersyukur, bagaimana dirinya bersabar?” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah al-Auliya’, hal. 441)Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Barangsiapa yang memandang tidak ada kenikmatan dari Allah kepada dirinya selain hanya dalam urusan makanan dan minumannya, sungguh telah sedikit fikih/ilmunya dan telah datang azab pada dirinya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 885)Baca juga: Tata Cara Salat TobatWajibnya bersabar dan bersyukurAbu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah berkata, “Setiap kenikmatan yang tidak semakin menambah kedekatan kepada Allah ‘Azza  Wa Jalla, maka pada hakikatnya hal itu adalah bencana.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 888)Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ’anhu berkata, “Kami diuji dengan kesulitan, maka kami pun bisa bersabar. Akan tetapi, tatkala kami diuji dengan kesenangan, maka kami pun tidak bisa bersabar.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 163)Yazid bin Maisarah rahimahullah berkata, “Tidaklah berbahaya suatu nikmat jika ia dibarengi dengan syukur. Tidaklah berbahaya musibah jika ia dibarengi dengan sabar. Sungguh, musibah yang menimpa pada saat melakukan ketaatan kepada Allah, itu jauh lebih baik daripada nikmat yang dirasakan ketika berbuat maksiat kepada Allah.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 164)Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah menjadi fakih (ahli ilmu) barangsiapa yang tidak bisa menganggap bahwa musibah (duniawi) adalah nikmat (agama) dan kelapangan (dunia) adalah musibah.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 165)Bisyr bin Al-Harits rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengetahui seorang pun, kecuali dia pasti tertimpa cobaan. Seorang yang Allah berikan kelapangan pada rezekinya, maka Allah ingin melihat bagaimana dia menunaikan syukur atas hal itu. Dan seorang yang Allah ‘Azza Wajalla cabut sebagian dari rezekinya, ketika itu Allah ingin melihat bagaimanakah dia bisa bersabar.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 172)Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Ibnu Katsir rahimahullah menyimpulkan bahwa makna ayat di atas adalah, “Sesungguhnya Aku menciptakan mereka tidak lain untuk Aku perintahkan mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena kebutuhan-Ku kepada mereka.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim [7: 425])Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Bahkan, ibadah kepada Allah, ma’rifat, tauhid, dan syukur kepada-Nya, itulah sumber kebahagiaan hati setiap insan. Itulah kelezatan tertinggi bagi hati. Kenikmatan terindah yang hanya akan diraih oleh orang-orang yang memang layak untuk mendapatkannya…” (lihat Adh-Dhau’ Al-Munir ‘ala At-Tafsir [5: 97])Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Dia (Allah) tidaklah membutuhkan ibadahmu. Seandainya kamu kafir, maka kerajaan Allah tidak akan berkurang. Bahkan, kamulah yang membutuhkan diri-Nya. Kamu yang memerlukan ibadah itu. Salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah memerintahkanmu beribadah kepada-Nya demi kemaslahatan dirimu. Jika kamu beribadah kepada-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Ibadah menjadi sebab Allah memuliakan kedudukanmu di dunia dan di akhirat. Jadi, siapakah yang memetik manfaat dari ibadah? Yang memetik manfaat dari ibadah adalah hamba. Adapun Allah Jalla Wa ‘Ala, Dia tidak membutuhkan makhluk-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 15-16)Baca juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: bertobat kepada Allahpintu tobattobat
Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar. Selawat dan salam semoga tercurah kepada sang pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, Nabi akhir zaman pembawa rahmat bagi segenap alam. Amma ba’du.Tobat adalah nikmat yang sangat besar bagi seorang hamba. Karena dengan bertobat kepada Allah, maka seorang hamba kembali kepada jalan ketaatan dan amal saleh setelah sebelumnya dia terjerumus dan terseret dalam arus dosa dan kemaksiatan. Maka, menjadi harapan setiap muslim untuk terus bertobat dalam setiap hari yang dia lalui karena dia menyadari bahwa dirinya penuh dengan dosa dan kekurangan dalam mengabdi kepada Ar-Rahman.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima tobat pelaku dosa di siang hari dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima tobat pelaku dosa di malam hari, sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya.” (HR. Muslim)Kesempatan untuk bertobat masih terus terbuka selama nyawa belum berada di tenggorokan. Tidakkah kita mengingat kisah seorang pembunuh 100 nyawa yang masih diberi kesempatan bertobat dan Allah pun menerima tobatnya. Tidakkah kita ingat kisah tobatnya Ka’ab bin Malik dan teman-temannya radhiyallahu ’anhum yang diabadikan di dalam Al-Qur’an, sebagai pelajaran, peringatan, dan nasihat bagi setiap insan beriman.Daftar Isi Bertobat dari keteledoranWajibnya bersabar dan bersyukurBertobat dari keteledoranNikmat yang Allah berikan kepada kita tiada terhingga, tetapi seringkali kita tidak menunaikan syukur atasnya dengan baik. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hakikat syukur adalah mengakui limpahan nikmat (dari Allah) dan berusaha menunaikan pengabdian (kepada-Nya). Barangsiapa yang perkara ini semakin banyak muncul dari dirinya, maka dia disebut sebagai syakuur (orang yang pandai bersyukur). Dari sanalah, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan, “Betapa sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (lihat Fath Al-Bari, tahqiq Syaibatul Hamdi, 3: 20)Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hak-hak Allah itu terlalu agung sehingga para hamba tidak akan bisa menunaikan hak-hak Allah secara sepenuhnya. Sebab, nikmat-nikmat dari-Nya amat besar sehingga terlalu banyak untuk bisa dihingga (dihitung). Meskipun demikian, mereka selalu berusaha untuk menjadi orang-orang yang patuh di pagi hari dan menjadi orang-orang yang selalu bertobat di sore hari.” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari oleh Ibnu Baththal, 3: 122)Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata, “Sungguh apabila aku mendapatkan kesehatan dan kelapangan kemudian aku menunaikan syukur, itu jauh lebih aku sukai daripada aku tertimpa cobaan (musibah) sehingga aku harus bersabar menghadapinya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 441)Abu Abdillah Ar-Razi rahimahullah berkata, “Sufyan bin ‘Uyainah berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya di antara bentuk syukur atas nikmat-nikmat Allah adalah dengan engkau memuji-Nya atas hal itu dan engkau gunakan nikmat-nikmat itu di atas ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu, bukanlah orang yang bersyukur kepada Allah orang yang menggunakan nikmat-nikmat dari-Nya justru untuk melakukan maksiat (kedurhakaan) kepada-Nya.’” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 441)Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Orang yang bersyukur itu adalah orang yang mengetahui (menyadari) bahwa nikmat itu berasal dari Allah Ta’ala. Allah memberikan nikmat itu kepadanya untuk melihat bagaimana dia bersyukur, bagaimana dirinya bersabar?” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah al-Auliya’, hal. 441)Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Barangsiapa yang memandang tidak ada kenikmatan dari Allah kepada dirinya selain hanya dalam urusan makanan dan minumannya, sungguh telah sedikit fikih/ilmunya dan telah datang azab pada dirinya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 885)Baca juga: Tata Cara Salat TobatWajibnya bersabar dan bersyukurAbu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah berkata, “Setiap kenikmatan yang tidak semakin menambah kedekatan kepada Allah ‘Azza  Wa Jalla, maka pada hakikatnya hal itu adalah bencana.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 888)Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ’anhu berkata, “Kami diuji dengan kesulitan, maka kami pun bisa bersabar. Akan tetapi, tatkala kami diuji dengan kesenangan, maka kami pun tidak bisa bersabar.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 163)Yazid bin Maisarah rahimahullah berkata, “Tidaklah berbahaya suatu nikmat jika ia dibarengi dengan syukur. Tidaklah berbahaya musibah jika ia dibarengi dengan sabar. Sungguh, musibah yang menimpa pada saat melakukan ketaatan kepada Allah, itu jauh lebih baik daripada nikmat yang dirasakan ketika berbuat maksiat kepada Allah.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 164)Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah menjadi fakih (ahli ilmu) barangsiapa yang tidak bisa menganggap bahwa musibah (duniawi) adalah nikmat (agama) dan kelapangan (dunia) adalah musibah.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 165)Bisyr bin Al-Harits rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengetahui seorang pun, kecuali dia pasti tertimpa cobaan. Seorang yang Allah berikan kelapangan pada rezekinya, maka Allah ingin melihat bagaimana dia menunaikan syukur atas hal itu. Dan seorang yang Allah ‘Azza Wajalla cabut sebagian dari rezekinya, ketika itu Allah ingin melihat bagaimanakah dia bisa bersabar.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 172)Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Ibnu Katsir rahimahullah menyimpulkan bahwa makna ayat di atas adalah, “Sesungguhnya Aku menciptakan mereka tidak lain untuk Aku perintahkan mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena kebutuhan-Ku kepada mereka.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim [7: 425])Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Bahkan, ibadah kepada Allah, ma’rifat, tauhid, dan syukur kepada-Nya, itulah sumber kebahagiaan hati setiap insan. Itulah kelezatan tertinggi bagi hati. Kenikmatan terindah yang hanya akan diraih oleh orang-orang yang memang layak untuk mendapatkannya…” (lihat Adh-Dhau’ Al-Munir ‘ala At-Tafsir [5: 97])Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Dia (Allah) tidaklah membutuhkan ibadahmu. Seandainya kamu kafir, maka kerajaan Allah tidak akan berkurang. Bahkan, kamulah yang membutuhkan diri-Nya. Kamu yang memerlukan ibadah itu. Salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah memerintahkanmu beribadah kepada-Nya demi kemaslahatan dirimu. Jika kamu beribadah kepada-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Ibadah menjadi sebab Allah memuliakan kedudukanmu di dunia dan di akhirat. Jadi, siapakah yang memetik manfaat dari ibadah? Yang memetik manfaat dari ibadah adalah hamba. Adapun Allah Jalla Wa ‘Ala, Dia tidak membutuhkan makhluk-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 15-16)Baca juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: bertobat kepada Allahpintu tobattobat


Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar. Selawat dan salam semoga tercurah kepada sang pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, Nabi akhir zaman pembawa rahmat bagi segenap alam. Amma ba’du.Tobat adalah nikmat yang sangat besar bagi seorang hamba. Karena dengan bertobat kepada Allah, maka seorang hamba kembali kepada jalan ketaatan dan amal saleh setelah sebelumnya dia terjerumus dan terseret dalam arus dosa dan kemaksiatan. Maka, menjadi harapan setiap muslim untuk terus bertobat dalam setiap hari yang dia lalui karena dia menyadari bahwa dirinya penuh dengan dosa dan kekurangan dalam mengabdi kepada Ar-Rahman.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima tobat pelaku dosa di siang hari dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima tobat pelaku dosa di malam hari, sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya.” (HR. Muslim)Kesempatan untuk bertobat masih terus terbuka selama nyawa belum berada di tenggorokan. Tidakkah kita mengingat kisah seorang pembunuh 100 nyawa yang masih diberi kesempatan bertobat dan Allah pun menerima tobatnya. Tidakkah kita ingat kisah tobatnya Ka’ab bin Malik dan teman-temannya radhiyallahu ’anhum yang diabadikan di dalam Al-Qur’an, sebagai pelajaran, peringatan, dan nasihat bagi setiap insan beriman.Daftar Isi Bertobat dari keteledoranWajibnya bersabar dan bersyukurBertobat dari keteledoranNikmat yang Allah berikan kepada kita tiada terhingga, tetapi seringkali kita tidak menunaikan syukur atasnya dengan baik. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hakikat syukur adalah mengakui limpahan nikmat (dari Allah) dan berusaha menunaikan pengabdian (kepada-Nya). Barangsiapa yang perkara ini semakin banyak muncul dari dirinya, maka dia disebut sebagai syakuur (orang yang pandai bersyukur). Dari sanalah, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan, “Betapa sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (lihat Fath Al-Bari, tahqiq Syaibatul Hamdi, 3: 20)Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hak-hak Allah itu terlalu agung sehingga para hamba tidak akan bisa menunaikan hak-hak Allah secara sepenuhnya. Sebab, nikmat-nikmat dari-Nya amat besar sehingga terlalu banyak untuk bisa dihingga (dihitung). Meskipun demikian, mereka selalu berusaha untuk menjadi orang-orang yang patuh di pagi hari dan menjadi orang-orang yang selalu bertobat di sore hari.” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari oleh Ibnu Baththal, 3: 122)Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata, “Sungguh apabila aku mendapatkan kesehatan dan kelapangan kemudian aku menunaikan syukur, itu jauh lebih aku sukai daripada aku tertimpa cobaan (musibah) sehingga aku harus bersabar menghadapinya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 441)Abu Abdillah Ar-Razi rahimahullah berkata, “Sufyan bin ‘Uyainah berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya di antara bentuk syukur atas nikmat-nikmat Allah adalah dengan engkau memuji-Nya atas hal itu dan engkau gunakan nikmat-nikmat itu di atas ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu, bukanlah orang yang bersyukur kepada Allah orang yang menggunakan nikmat-nikmat dari-Nya justru untuk melakukan maksiat (kedurhakaan) kepada-Nya.’” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 441)Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Orang yang bersyukur itu adalah orang yang mengetahui (menyadari) bahwa nikmat itu berasal dari Allah Ta’ala. Allah memberikan nikmat itu kepadanya untuk melihat bagaimana dia bersyukur, bagaimana dirinya bersabar?” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah al-Auliya’, hal. 441)Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Barangsiapa yang memandang tidak ada kenikmatan dari Allah kepada dirinya selain hanya dalam urusan makanan dan minumannya, sungguh telah sedikit fikih/ilmunya dan telah datang azab pada dirinya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 885)Baca juga: Tata Cara Salat TobatWajibnya bersabar dan bersyukurAbu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah berkata, “Setiap kenikmatan yang tidak semakin menambah kedekatan kepada Allah ‘Azza  Wa Jalla, maka pada hakikatnya hal itu adalah bencana.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 888)Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ’anhu berkata, “Kami diuji dengan kesulitan, maka kami pun bisa bersabar. Akan tetapi, tatkala kami diuji dengan kesenangan, maka kami pun tidak bisa bersabar.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 163)Yazid bin Maisarah rahimahullah berkata, “Tidaklah berbahaya suatu nikmat jika ia dibarengi dengan syukur. Tidaklah berbahaya musibah jika ia dibarengi dengan sabar. Sungguh, musibah yang menimpa pada saat melakukan ketaatan kepada Allah, itu jauh lebih baik daripada nikmat yang dirasakan ketika berbuat maksiat kepada Allah.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 164)Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah menjadi fakih (ahli ilmu) barangsiapa yang tidak bisa menganggap bahwa musibah (duniawi) adalah nikmat (agama) dan kelapangan (dunia) adalah musibah.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 165)Bisyr bin Al-Harits rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengetahui seorang pun, kecuali dia pasti tertimpa cobaan. Seorang yang Allah berikan kelapangan pada rezekinya, maka Allah ingin melihat bagaimana dia menunaikan syukur atas hal itu. Dan seorang yang Allah ‘Azza Wajalla cabut sebagian dari rezekinya, ketika itu Allah ingin melihat bagaimanakah dia bisa bersabar.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 172)Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Ibnu Katsir rahimahullah menyimpulkan bahwa makna ayat di atas adalah, “Sesungguhnya Aku menciptakan mereka tidak lain untuk Aku perintahkan mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena kebutuhan-Ku kepada mereka.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim [7: 425])Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Bahkan, ibadah kepada Allah, ma’rifat, tauhid, dan syukur kepada-Nya, itulah sumber kebahagiaan hati setiap insan. Itulah kelezatan tertinggi bagi hati. Kenikmatan terindah yang hanya akan diraih oleh orang-orang yang memang layak untuk mendapatkannya…” (lihat Adh-Dhau’ Al-Munir ‘ala At-Tafsir [5: 97])Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Dia (Allah) tidaklah membutuhkan ibadahmu. Seandainya kamu kafir, maka kerajaan Allah tidak akan berkurang. Bahkan, kamulah yang membutuhkan diri-Nya. Kamu yang memerlukan ibadah itu. Salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah memerintahkanmu beribadah kepada-Nya demi kemaslahatan dirimu. Jika kamu beribadah kepada-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Ibadah menjadi sebab Allah memuliakan kedudukanmu di dunia dan di akhirat. Jadi, siapakah yang memetik manfaat dari ibadah? Yang memetik manfaat dari ibadah adalah hamba. Adapun Allah Jalla Wa ‘Ala, Dia tidak membutuhkan makhluk-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 15-16)Baca juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: bertobat kepada Allahpintu tobattobat

Dua Perasaan Manusia ketika Beramal Saleh – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Mereka, meskipun telah melakukan ketaatan-ketaatan tersebut,tetap memandang diri mereka dengan pandangan kekurangan dan aib,seperti yang beliau katakan, “… dengan pandangan kealpaan dan kekurangan.” Mereka tidak memandang amalan merekadengan pandangan teperdaya dan merasa tinggi di sisi Allah ʿAzza wa Jalla.Mereka sedikit pun tidak melihat bahwa diri mereka baik,karena mereka melakukan ketaatan itu semata-matakarena karunia dari Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Orang yang mengerjakan ketaatan dan mengamalkannyaakan merasakan satu dari dua perasaan dalam dirinya: Pertama, perasaan butuh dan hati yang takut.Perasaan butuh dan hati yang takut. Kedua, perasaan sombong dan teperdaya.Perasaan sombong dan teperdaya. Sebagian orang jika telah melakukan ketaatanakan bertambah rasa takut dan butuhnya kepada Allah. Dia memandang bahwa ketaatan tersebut adalah karena taufik dari Allah,dan bahwa dia tidak akan mampu melakukannya sedikit pun,kecuali dengan pertolongan Allah. Namun sebagian manusia jika telah melakukan ketaatanakan teperdaya dengannya dan merasa besar di hadapan Allah dan manusia.Dia selalu merasa hebat dengan ketaatan ini. Itulah yang dimaksud oleh Said bin Jubair yang mengatakanbahwa ada seseorang yang mengerjakan kebaikantetapi masuk neraka karenanya. Artinya, bahwa dia melakukan kebaikantapi membuatnya sombong dan teperdayasehingga menjadi sebab dia masuk neraka, maka bagi seorang hamba yang bisa melakukan ketaatan seyogianyamerasa remuk redam di hadapan Allah dan memohon kepada-Nya tambahan,sebagai wujud syukur kepada-Nya atas taufik kepada ibadah yang dianugerahkan kepadanya. Jadi, ketaatan yang dikerjakan oleh salah seorang dari kitatidaklah dilakukan karena harta, asal-usul, atau warna kulitnya,maupun kedudukan dan kepemimpinannya. Dia melakukannya semata-mata karena taufik Allah Subẖānahu wa Taʿālā kepadanya. Jadi, barang siapa yang semakin remuk hati di hadapan Allah dan semakin butuh kepada-Nya,maka kualitas ibadahnya semakin bertambah dan meningkat. Barang siapa yang teperdaya dengan kebaikannya dan semakin sombong kepada manusia,maka kebaikan itu akan menjadi sebab kesengsaraan,kerugian, dan kecelakaan baginya. Demikian. ==== وَهُمْ مَعَ فِعْلِهِمْ تِلْكَ الطَّاعَاتِ يَنْظُرُونَ إِلَى أَنْفُسِهِمْ بِعَيْنِ النَّقْصِ وَالْعَيْبِ كَمَا قَالَ: مَعَ رُؤْيَةِ التَّقْصِيرِ وَالنُّقْصَانِ فَهُمْ لَا يَنْظُرُونَ إِلَى أَعْمَالِهِمْ بِعَيْنِ الاِغْتِرَارِ وَالإِدْلَالِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا يَرَونَ لِأَنْفُسِهِمْ شَيْئًا وَإِنَّمَا وُفِّقُوا إِلَى هَذِهِ الطَّاعَاتِ بِفَضْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْفَاعِلُونَ الطَّاعَاتِ الْعَامِلُونَ بِهَا لَهُمْ مَعَ أَنْفُسِهِمْ مَقَامَانِ أَحَدُهُمَا مَقَامُ الاِفْتِقَارِ وَالاِنْكِسَارِ مَقَامُ الاِفْتِقَارِ وَالاِنْكِسَارِ وَالْآخَرُ مَقَامُ الاِسْتِكْبَارِ وَالاِغْتِرَارِ مَقَامُ الاِسْتِكْبَارِ وَالاِغْتِرَارِ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ إِذَا فَعَلَ الطَّاعَةَ زَادَ اِنْكِسَارُهُ لِلهِ وَافْتِقَارُهُ لَهُ فَهُوَ يَرَى أَنَّ تِلْكَ الطَّاعَةَ بِتَوْفِيقِ اللهِ لَهُ وَأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا بِعَوْنٍ مِنَ اللهِ وَمِنَ الْخَلْقِ مَنْ إِذَا فَعَلَ الطَّاعَةَ اِغْتَرَّ بِهَا وَاسْتَكْبَرَ عَلَى اللهِ وَعَلَى خَلْقِهِ فَهُوَ دَائِمُ الإِدْلَاءِ بِهَذِهِ الطَّاعَةِ وَإِيَّاهُ قَصَدَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ فِي قَوْلِهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلَ الْحَسَنَةَ يَدْخُلُ بِهَا النَّارَ وَتَفْسِيرُهُ أَنَّهُ يَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَتُكْسِبُهُ اسْتِكْبَارًا وَاغْتِرَارًا فَتَكُونُ سَبَبَ دُخُولِهِ النَّارَ فَاللَّائِقُ بِالْعَبْدِ إِذَا وُفِّقَ لِلطَّاعَاتِ أَنْ يَنْكَسِرَ لِلهِ وَأَنْ يَطْلُبَ الزِّيَادَةَ مِنْهَا شُكْرًا لِلهِ عَلَى مَا أَسْدَى إِلَيْهِ مِنَ التَّوْفِيقِ لِلْعِبَادَةِ فَالطَّاعَةُ الَّتِي يُصِيبُهَا أَحَدُنَا لَا يَسْتَمِدُّهَا مِنْ مَالِهِ أَوْ مِنْ أَصْلِهِ أَوْ مِنْ لَوْنِهِ مِنْ جَاهِهِ أَوْ مِنْ رِئَاسَتِهِ وَإِنَّمَا يَسْتَمِدُّهَا مِنْ تَوْفِيقِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ فَمَنْ زَادَ انْكِسَارُهُ لِلهِ وَافْتِقَارُهُ لَهُ زَادَ مَقَامُهُ فِي الْعُبُودِيَّةِ وَارْتَفَعَ وَمَنِ اغْتَرَّ بِحَسَنَاتِهِ وَاسْتَكْبَرَ بِهَا عَلَى الْخَلْقِ كَانَتْ تِلْكَ الْحَسَنَاتُ سَبَبًا لِشَقَائِهِ وَخُسْرَانِهِ وَبَوَارِهِ نَعَمْ

Dua Perasaan Manusia ketika Beramal Saleh – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Mereka, meskipun telah melakukan ketaatan-ketaatan tersebut,tetap memandang diri mereka dengan pandangan kekurangan dan aib,seperti yang beliau katakan, “… dengan pandangan kealpaan dan kekurangan.” Mereka tidak memandang amalan merekadengan pandangan teperdaya dan merasa tinggi di sisi Allah ʿAzza wa Jalla.Mereka sedikit pun tidak melihat bahwa diri mereka baik,karena mereka melakukan ketaatan itu semata-matakarena karunia dari Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Orang yang mengerjakan ketaatan dan mengamalkannyaakan merasakan satu dari dua perasaan dalam dirinya: Pertama, perasaan butuh dan hati yang takut.Perasaan butuh dan hati yang takut. Kedua, perasaan sombong dan teperdaya.Perasaan sombong dan teperdaya. Sebagian orang jika telah melakukan ketaatanakan bertambah rasa takut dan butuhnya kepada Allah. Dia memandang bahwa ketaatan tersebut adalah karena taufik dari Allah,dan bahwa dia tidak akan mampu melakukannya sedikit pun,kecuali dengan pertolongan Allah. Namun sebagian manusia jika telah melakukan ketaatanakan teperdaya dengannya dan merasa besar di hadapan Allah dan manusia.Dia selalu merasa hebat dengan ketaatan ini. Itulah yang dimaksud oleh Said bin Jubair yang mengatakanbahwa ada seseorang yang mengerjakan kebaikantetapi masuk neraka karenanya. Artinya, bahwa dia melakukan kebaikantapi membuatnya sombong dan teperdayasehingga menjadi sebab dia masuk neraka, maka bagi seorang hamba yang bisa melakukan ketaatan seyogianyamerasa remuk redam di hadapan Allah dan memohon kepada-Nya tambahan,sebagai wujud syukur kepada-Nya atas taufik kepada ibadah yang dianugerahkan kepadanya. Jadi, ketaatan yang dikerjakan oleh salah seorang dari kitatidaklah dilakukan karena harta, asal-usul, atau warna kulitnya,maupun kedudukan dan kepemimpinannya. Dia melakukannya semata-mata karena taufik Allah Subẖānahu wa Taʿālā kepadanya. Jadi, barang siapa yang semakin remuk hati di hadapan Allah dan semakin butuh kepada-Nya,maka kualitas ibadahnya semakin bertambah dan meningkat. Barang siapa yang teperdaya dengan kebaikannya dan semakin sombong kepada manusia,maka kebaikan itu akan menjadi sebab kesengsaraan,kerugian, dan kecelakaan baginya. Demikian. ==== وَهُمْ مَعَ فِعْلِهِمْ تِلْكَ الطَّاعَاتِ يَنْظُرُونَ إِلَى أَنْفُسِهِمْ بِعَيْنِ النَّقْصِ وَالْعَيْبِ كَمَا قَالَ: مَعَ رُؤْيَةِ التَّقْصِيرِ وَالنُّقْصَانِ فَهُمْ لَا يَنْظُرُونَ إِلَى أَعْمَالِهِمْ بِعَيْنِ الاِغْتِرَارِ وَالإِدْلَالِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا يَرَونَ لِأَنْفُسِهِمْ شَيْئًا وَإِنَّمَا وُفِّقُوا إِلَى هَذِهِ الطَّاعَاتِ بِفَضْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْفَاعِلُونَ الطَّاعَاتِ الْعَامِلُونَ بِهَا لَهُمْ مَعَ أَنْفُسِهِمْ مَقَامَانِ أَحَدُهُمَا مَقَامُ الاِفْتِقَارِ وَالاِنْكِسَارِ مَقَامُ الاِفْتِقَارِ وَالاِنْكِسَارِ وَالْآخَرُ مَقَامُ الاِسْتِكْبَارِ وَالاِغْتِرَارِ مَقَامُ الاِسْتِكْبَارِ وَالاِغْتِرَارِ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ إِذَا فَعَلَ الطَّاعَةَ زَادَ اِنْكِسَارُهُ لِلهِ وَافْتِقَارُهُ لَهُ فَهُوَ يَرَى أَنَّ تِلْكَ الطَّاعَةَ بِتَوْفِيقِ اللهِ لَهُ وَأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا بِعَوْنٍ مِنَ اللهِ وَمِنَ الْخَلْقِ مَنْ إِذَا فَعَلَ الطَّاعَةَ اِغْتَرَّ بِهَا وَاسْتَكْبَرَ عَلَى اللهِ وَعَلَى خَلْقِهِ فَهُوَ دَائِمُ الإِدْلَاءِ بِهَذِهِ الطَّاعَةِ وَإِيَّاهُ قَصَدَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ فِي قَوْلِهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلَ الْحَسَنَةَ يَدْخُلُ بِهَا النَّارَ وَتَفْسِيرُهُ أَنَّهُ يَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَتُكْسِبُهُ اسْتِكْبَارًا وَاغْتِرَارًا فَتَكُونُ سَبَبَ دُخُولِهِ النَّارَ فَاللَّائِقُ بِالْعَبْدِ إِذَا وُفِّقَ لِلطَّاعَاتِ أَنْ يَنْكَسِرَ لِلهِ وَأَنْ يَطْلُبَ الزِّيَادَةَ مِنْهَا شُكْرًا لِلهِ عَلَى مَا أَسْدَى إِلَيْهِ مِنَ التَّوْفِيقِ لِلْعِبَادَةِ فَالطَّاعَةُ الَّتِي يُصِيبُهَا أَحَدُنَا لَا يَسْتَمِدُّهَا مِنْ مَالِهِ أَوْ مِنْ أَصْلِهِ أَوْ مِنْ لَوْنِهِ مِنْ جَاهِهِ أَوْ مِنْ رِئَاسَتِهِ وَإِنَّمَا يَسْتَمِدُّهَا مِنْ تَوْفِيقِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ فَمَنْ زَادَ انْكِسَارُهُ لِلهِ وَافْتِقَارُهُ لَهُ زَادَ مَقَامُهُ فِي الْعُبُودِيَّةِ وَارْتَفَعَ وَمَنِ اغْتَرَّ بِحَسَنَاتِهِ وَاسْتَكْبَرَ بِهَا عَلَى الْخَلْقِ كَانَتْ تِلْكَ الْحَسَنَاتُ سَبَبًا لِشَقَائِهِ وَخُسْرَانِهِ وَبَوَارِهِ نَعَمْ
Mereka, meskipun telah melakukan ketaatan-ketaatan tersebut,tetap memandang diri mereka dengan pandangan kekurangan dan aib,seperti yang beliau katakan, “… dengan pandangan kealpaan dan kekurangan.” Mereka tidak memandang amalan merekadengan pandangan teperdaya dan merasa tinggi di sisi Allah ʿAzza wa Jalla.Mereka sedikit pun tidak melihat bahwa diri mereka baik,karena mereka melakukan ketaatan itu semata-matakarena karunia dari Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Orang yang mengerjakan ketaatan dan mengamalkannyaakan merasakan satu dari dua perasaan dalam dirinya: Pertama, perasaan butuh dan hati yang takut.Perasaan butuh dan hati yang takut. Kedua, perasaan sombong dan teperdaya.Perasaan sombong dan teperdaya. Sebagian orang jika telah melakukan ketaatanakan bertambah rasa takut dan butuhnya kepada Allah. Dia memandang bahwa ketaatan tersebut adalah karena taufik dari Allah,dan bahwa dia tidak akan mampu melakukannya sedikit pun,kecuali dengan pertolongan Allah. Namun sebagian manusia jika telah melakukan ketaatanakan teperdaya dengannya dan merasa besar di hadapan Allah dan manusia.Dia selalu merasa hebat dengan ketaatan ini. Itulah yang dimaksud oleh Said bin Jubair yang mengatakanbahwa ada seseorang yang mengerjakan kebaikantetapi masuk neraka karenanya. Artinya, bahwa dia melakukan kebaikantapi membuatnya sombong dan teperdayasehingga menjadi sebab dia masuk neraka, maka bagi seorang hamba yang bisa melakukan ketaatan seyogianyamerasa remuk redam di hadapan Allah dan memohon kepada-Nya tambahan,sebagai wujud syukur kepada-Nya atas taufik kepada ibadah yang dianugerahkan kepadanya. Jadi, ketaatan yang dikerjakan oleh salah seorang dari kitatidaklah dilakukan karena harta, asal-usul, atau warna kulitnya,maupun kedudukan dan kepemimpinannya. Dia melakukannya semata-mata karena taufik Allah Subẖānahu wa Taʿālā kepadanya. Jadi, barang siapa yang semakin remuk hati di hadapan Allah dan semakin butuh kepada-Nya,maka kualitas ibadahnya semakin bertambah dan meningkat. Barang siapa yang teperdaya dengan kebaikannya dan semakin sombong kepada manusia,maka kebaikan itu akan menjadi sebab kesengsaraan,kerugian, dan kecelakaan baginya. Demikian. ==== وَهُمْ مَعَ فِعْلِهِمْ تِلْكَ الطَّاعَاتِ يَنْظُرُونَ إِلَى أَنْفُسِهِمْ بِعَيْنِ النَّقْصِ وَالْعَيْبِ كَمَا قَالَ: مَعَ رُؤْيَةِ التَّقْصِيرِ وَالنُّقْصَانِ فَهُمْ لَا يَنْظُرُونَ إِلَى أَعْمَالِهِمْ بِعَيْنِ الاِغْتِرَارِ وَالإِدْلَالِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا يَرَونَ لِأَنْفُسِهِمْ شَيْئًا وَإِنَّمَا وُفِّقُوا إِلَى هَذِهِ الطَّاعَاتِ بِفَضْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْفَاعِلُونَ الطَّاعَاتِ الْعَامِلُونَ بِهَا لَهُمْ مَعَ أَنْفُسِهِمْ مَقَامَانِ أَحَدُهُمَا مَقَامُ الاِفْتِقَارِ وَالاِنْكِسَارِ مَقَامُ الاِفْتِقَارِ وَالاِنْكِسَارِ وَالْآخَرُ مَقَامُ الاِسْتِكْبَارِ وَالاِغْتِرَارِ مَقَامُ الاِسْتِكْبَارِ وَالاِغْتِرَارِ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ إِذَا فَعَلَ الطَّاعَةَ زَادَ اِنْكِسَارُهُ لِلهِ وَافْتِقَارُهُ لَهُ فَهُوَ يَرَى أَنَّ تِلْكَ الطَّاعَةَ بِتَوْفِيقِ اللهِ لَهُ وَأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا بِعَوْنٍ مِنَ اللهِ وَمِنَ الْخَلْقِ مَنْ إِذَا فَعَلَ الطَّاعَةَ اِغْتَرَّ بِهَا وَاسْتَكْبَرَ عَلَى اللهِ وَعَلَى خَلْقِهِ فَهُوَ دَائِمُ الإِدْلَاءِ بِهَذِهِ الطَّاعَةِ وَإِيَّاهُ قَصَدَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ فِي قَوْلِهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلَ الْحَسَنَةَ يَدْخُلُ بِهَا النَّارَ وَتَفْسِيرُهُ أَنَّهُ يَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَتُكْسِبُهُ اسْتِكْبَارًا وَاغْتِرَارًا فَتَكُونُ سَبَبَ دُخُولِهِ النَّارَ فَاللَّائِقُ بِالْعَبْدِ إِذَا وُفِّقَ لِلطَّاعَاتِ أَنْ يَنْكَسِرَ لِلهِ وَأَنْ يَطْلُبَ الزِّيَادَةَ مِنْهَا شُكْرًا لِلهِ عَلَى مَا أَسْدَى إِلَيْهِ مِنَ التَّوْفِيقِ لِلْعِبَادَةِ فَالطَّاعَةُ الَّتِي يُصِيبُهَا أَحَدُنَا لَا يَسْتَمِدُّهَا مِنْ مَالِهِ أَوْ مِنْ أَصْلِهِ أَوْ مِنْ لَوْنِهِ مِنْ جَاهِهِ أَوْ مِنْ رِئَاسَتِهِ وَإِنَّمَا يَسْتَمِدُّهَا مِنْ تَوْفِيقِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ فَمَنْ زَادَ انْكِسَارُهُ لِلهِ وَافْتِقَارُهُ لَهُ زَادَ مَقَامُهُ فِي الْعُبُودِيَّةِ وَارْتَفَعَ وَمَنِ اغْتَرَّ بِحَسَنَاتِهِ وَاسْتَكْبَرَ بِهَا عَلَى الْخَلْقِ كَانَتْ تِلْكَ الْحَسَنَاتُ سَبَبًا لِشَقَائِهِ وَخُسْرَانِهِ وَبَوَارِهِ نَعَمْ


Mereka, meskipun telah melakukan ketaatan-ketaatan tersebut,tetap memandang diri mereka dengan pandangan kekurangan dan aib,seperti yang beliau katakan, “… dengan pandangan kealpaan dan kekurangan.” Mereka tidak memandang amalan merekadengan pandangan teperdaya dan merasa tinggi di sisi Allah ʿAzza wa Jalla.Mereka sedikit pun tidak melihat bahwa diri mereka baik,karena mereka melakukan ketaatan itu semata-matakarena karunia dari Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Orang yang mengerjakan ketaatan dan mengamalkannyaakan merasakan satu dari dua perasaan dalam dirinya: Pertama, perasaan butuh dan hati yang takut.Perasaan butuh dan hati yang takut. Kedua, perasaan sombong dan teperdaya.Perasaan sombong dan teperdaya. Sebagian orang jika telah melakukan ketaatanakan bertambah rasa takut dan butuhnya kepada Allah. Dia memandang bahwa ketaatan tersebut adalah karena taufik dari Allah,dan bahwa dia tidak akan mampu melakukannya sedikit pun,kecuali dengan pertolongan Allah. Namun sebagian manusia jika telah melakukan ketaatanakan teperdaya dengannya dan merasa besar di hadapan Allah dan manusia.Dia selalu merasa hebat dengan ketaatan ini. Itulah yang dimaksud oleh Said bin Jubair yang mengatakanbahwa ada seseorang yang mengerjakan kebaikantetapi masuk neraka karenanya. Artinya, bahwa dia melakukan kebaikantapi membuatnya sombong dan teperdayasehingga menjadi sebab dia masuk neraka, maka bagi seorang hamba yang bisa melakukan ketaatan seyogianyamerasa remuk redam di hadapan Allah dan memohon kepada-Nya tambahan,sebagai wujud syukur kepada-Nya atas taufik kepada ibadah yang dianugerahkan kepadanya. Jadi, ketaatan yang dikerjakan oleh salah seorang dari kitatidaklah dilakukan karena harta, asal-usul, atau warna kulitnya,maupun kedudukan dan kepemimpinannya. Dia melakukannya semata-mata karena taufik Allah Subẖānahu wa Taʿālā kepadanya. Jadi, barang siapa yang semakin remuk hati di hadapan Allah dan semakin butuh kepada-Nya,maka kualitas ibadahnya semakin bertambah dan meningkat. Barang siapa yang teperdaya dengan kebaikannya dan semakin sombong kepada manusia,maka kebaikan itu akan menjadi sebab kesengsaraan,kerugian, dan kecelakaan baginya. Demikian. ==== وَهُمْ مَعَ فِعْلِهِمْ تِلْكَ الطَّاعَاتِ يَنْظُرُونَ إِلَى أَنْفُسِهِمْ بِعَيْنِ النَّقْصِ وَالْعَيْبِ كَمَا قَالَ: مَعَ رُؤْيَةِ التَّقْصِيرِ وَالنُّقْصَانِ فَهُمْ لَا يَنْظُرُونَ إِلَى أَعْمَالِهِمْ بِعَيْنِ الاِغْتِرَارِ وَالإِدْلَالِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا يَرَونَ لِأَنْفُسِهِمْ شَيْئًا وَإِنَّمَا وُفِّقُوا إِلَى هَذِهِ الطَّاعَاتِ بِفَضْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْفَاعِلُونَ الطَّاعَاتِ الْعَامِلُونَ بِهَا لَهُمْ مَعَ أَنْفُسِهِمْ مَقَامَانِ أَحَدُهُمَا مَقَامُ الاِفْتِقَارِ وَالاِنْكِسَارِ مَقَامُ الاِفْتِقَارِ وَالاِنْكِسَارِ وَالْآخَرُ مَقَامُ الاِسْتِكْبَارِ وَالاِغْتِرَارِ مَقَامُ الاِسْتِكْبَارِ وَالاِغْتِرَارِ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ إِذَا فَعَلَ الطَّاعَةَ زَادَ اِنْكِسَارُهُ لِلهِ وَافْتِقَارُهُ لَهُ فَهُوَ يَرَى أَنَّ تِلْكَ الطَّاعَةَ بِتَوْفِيقِ اللهِ لَهُ وَأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا بِعَوْنٍ مِنَ اللهِ وَمِنَ الْخَلْقِ مَنْ إِذَا فَعَلَ الطَّاعَةَ اِغْتَرَّ بِهَا وَاسْتَكْبَرَ عَلَى اللهِ وَعَلَى خَلْقِهِ فَهُوَ دَائِمُ الإِدْلَاءِ بِهَذِهِ الطَّاعَةِ وَإِيَّاهُ قَصَدَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ فِي قَوْلِهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلَ الْحَسَنَةَ يَدْخُلُ بِهَا النَّارَ وَتَفْسِيرُهُ أَنَّهُ يَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَتُكْسِبُهُ اسْتِكْبَارًا وَاغْتِرَارًا فَتَكُونُ سَبَبَ دُخُولِهِ النَّارَ فَاللَّائِقُ بِالْعَبْدِ إِذَا وُفِّقَ لِلطَّاعَاتِ أَنْ يَنْكَسِرَ لِلهِ وَأَنْ يَطْلُبَ الزِّيَادَةَ مِنْهَا شُكْرًا لِلهِ عَلَى مَا أَسْدَى إِلَيْهِ مِنَ التَّوْفِيقِ لِلْعِبَادَةِ فَالطَّاعَةُ الَّتِي يُصِيبُهَا أَحَدُنَا لَا يَسْتَمِدُّهَا مِنْ مَالِهِ أَوْ مِنْ أَصْلِهِ أَوْ مِنْ لَوْنِهِ مِنْ جَاهِهِ أَوْ مِنْ رِئَاسَتِهِ وَإِنَّمَا يَسْتَمِدُّهَا مِنْ تَوْفِيقِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ فَمَنْ زَادَ انْكِسَارُهُ لِلهِ وَافْتِقَارُهُ لَهُ زَادَ مَقَامُهُ فِي الْعُبُودِيَّةِ وَارْتَفَعَ وَمَنِ اغْتَرَّ بِحَسَنَاتِهِ وَاسْتَكْبَرَ بِهَا عَلَى الْخَلْقِ كَانَتْ تِلْكَ الْحَسَنَاتُ سَبَبًا لِشَقَائِهِ وَخُسْرَانِهِ وَبَوَارِهِ نَعَمْ

40-an Amalan Saat Safar Umrah di Tanah Suci

Melaksanakan ibadah umrah merupakan dambaan setiap muslim di seluruh dunia. Umrah menjadi momen yang sangat istimewa dan membahagiakan, karena selain memperoleh pahala yang besar, juga bisa mempererat hubungan dengan Sang Pencipta. Namun, untuk memperoleh manfaat maksimal dari umrah, perlu adanya persiapan yang matang dan pemahaman yang baik tentang amalan yang harus dilakukan selama di tanah suci. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dibahas sekitar 40 amalan penting yang sebaiknya dilakukan saat safar umrah, agar dapat memperoleh manfaat maksimal dari ibadah tersebut.   Daftar Isi tutup 1. 1. Jaga shalat lima waktu. 2. 2. Jaga shalat pada awal waktu. 3. 3. Jaga shalat secara berjamaah di masjid. 4. 4. Jaga takbiratul ihram bersama imam. 5. 5. Manfaatkan keringanan jamak dan qashar shalat. 6. 6. Bisa tetap menjaga shalat sunnah rawatib selama tak kesulitan. 7. 7. Jangan sampai tinggalkan shalat sunnah Fajar. 8. 8. Dapat pahala qirath lewat shalat jenazah dan mengantarkan jenazah ke kubur. 8.1. Rukun shalat jenazah 8.2. Doa shalat jenazah setelah takbir ketiga 8.3. Doa khusus untuk jenazah anak kecil 8.4. Doa shalat jenazah setelah takbir keempat 9. 9. Belajar agama di masjid Nabawi. 10. 10. Menjaga wudhu. 11. 11. Perbanyak ibadah dan doa di Raudhah. 12. 12. Perbanyak shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. 13. 13. Pahala umrah dengan shalat di Masjid Quba 14. 14. Setiap kali mendengarkan azan, jawablah dan berdoa setelah itu. 15. 15. Manfaatkanlah tempat yang mulia di tanah suci untuk berdoa. 16. 16. Manfaatkan doa saat menjadi musafir selama perjalanan. 16.1. Adab penting dalam berdoa 17. 17. Jagalah dzikir pagi dan petang. 18. 18. Menjalankan ibadah umrah dengan memenuhi rukun, wajib, dan berusaha menjauhkan diri dari larangan ihram. 19. Rukun Umrah 20. Wajib Umrah 20.1. Video Tata Cara Umrah 20.2. Yang penting saat umrah adalah jangan melakukan larangan ihram: 20.3. Ada beberapa dam yang perlu diperhatikan karena melakukan pelanggaran: 21. 19. Lakukanlah umrah berulang kali. 22. 20. Masih boleh melakukan badal umrah. 23. 21. Perbanyak Thawaf. 24. 22. Shalat bakda thawaf di belakang Maqam Ibrahim. 25. 23. Perbanyak doa, baca Al-Qur’an, atau dzikir ketika thawaf dan berdoa sapu jagad antara rukun Yamani dan Hajar Aswad. 26. 24. Ambil berkah lewat air zam-zam dan berdoa saat meminumnya. 27. 25. Ambil ibrah dari perjalanan hidup nabi di Makkah dan Madinah. 28. 26. Membantu orang yang susah saat berumrah. 29. 27. Perbanyak Talbiyah 30. 28. Perbanyak baca Al-Qur’an. 31. 29. Jaga shalat tahajud di tanah suci. 32. 30. Rutinkan Shalat Witir 33. 31. Jaga Shalat Isyraq 34. 32. Jaga Shalat Dhuha 35. 33. Masuk dan keluar masjid, jangan lupa baca membaca dzikirnya. Masuk dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri. 35.1. Doa masuk masjid 35.2. Doa keluar masjid 36. 34. Bersabar ketika tinggal di Madinah. 37. 35. Pada hari Jumat, jangan lupa membaca surah Al-Kahfi. 38. 36. Manfaatkan doa di hari Jumat. 39. 37. Ziarah kubur, misal ke kuburan Baqi’. 40. 38. Bersedekah air. 41. 39. Bersabar, jangan sampai berdebat kusir, jangan sampai bermaksiat saat berumrah. 42. 40. Ingat, siapkan oleh-oleh pada orang-orang terdekat. 43. 41. Jangan lupa doakan saudaramu saat berada di tanah suci. 44. 42. Jaga keistiqamah bakda umrah hingga akhir hayat. 45. 43. Melakukan shalat sunnah ketika tiba dari safar umrah di masjid terdekat. 46. 44. Bertekad untuk berhaji bagi yang belum berhaji. 47. 45. Berharap kepada Allah agar bisa kembali ke tanah suci lagi.   1. Jaga shalat lima waktu. Karena tak sedikit yang saat perjalanan safar umrah meninggalkan shalat lima waktu, terutama saat di pesawat. Bahkan mereka tidak mengqadha’nya sekali pun. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ “(Pembeda) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257). Baca juga: Bahaya Meninggalkan Shalat  Manfaat dari menjaga shalat lima waktu dalam sehari amatlah besar yaitu dapat menggugurkan dosa sebagimana disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari, no. 528 dan Muslim, no. 667)   2. Jaga shalat pada awal waktu. Selama safar umrah, jagalah shalat pada awal waktu, itulah yang lebih afdal. Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdal. Beliau menjawab, الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا “Shalat pada awal waktu.” (HR. Abu Daud, no. 426. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih) Ada juga perintah shalat pada waktunya, berarti shalat tersebut dilakukan ketika waktu shalat sudah masuk dan masih di waktunya, tidak sampai keluar waktu. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا “Shalat pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbuat baik kepada orang tua.” Aku berkata lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 7534 dan Muslim, no. 85) Itulah yang dimaksud dengan ayat, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238). Ayat ini memerintahkan untuk melaksanakan shalat pada waktunya masing-masing, kecuali ada sebab bisa menjamak shalat.  Baca juga: Jagalah Shalat pada Waktunya   3. Jaga shalat secara berjamaah di masjid. Mengenai keutamaan shalat berjamaah disebutkan dalam hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam mengakhirkan shalat Isyak sampai tengah malam. Kemudian beliau menghadap kami setelah shalat, lalu bersabda, صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً “Shalat berjamaah itu lebih baik 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650) Shalat berjamaah di masjid itu lebih utama daripada shalat berjamaah di selain masjid. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:171. Masjid yang dimaksud di sini adalah tempat diselenggarakannya shalat secara rutin di dalamnya. Lihat Shalah Al-Mu’min, 2:561. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ ، فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ في بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوبَةَ “Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781). Sedangkan shalat terbaik untuk wanita adalah di rumahnya, walau sendirian. Pahalanya pun sudah sama seperti ia berjamaah ke masjid. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا “Shalat seorang wanita di kamar khusus untuknya lebih afdal daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya. Shalat wanita di kamar kecilnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari shalatnya di kamarnya.” (HR. Abu Daud, no. 570. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Lihat pengertian hadits ini dalam ‘Aun Al-Ma’bud, 2: 225). Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ “Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” (HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya). Baca juga: Shalat Wanita di Masjid Ternyata Kalah Utama dengan Shalat Wanita di Rumahnya Namun, karena saat umrah, para wanita berada di masjid yang utama (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) yang pahalanya berlipat-lipat, maka disarankan untuk tetap ke masjid supaya meraih pahala melimpah.   4. Jaga takbiratul ihram bersama imam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِى جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ “Siapa yang melaksanakan shalat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, ia tidak luput dari takbiratul ihram bersama imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua hal yaitu terbebas dari siksa neraka dan terbebas dari kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, no. 241. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2652) Mendapati KEUTAMAAN TAKBIR PERTAMA BERSAMA IMAM adalah ketika makmum mengucapkan takbiratul ihram setelah takbiratul ihramnya imam. Baca juga: Berbagai Bentuk Idrok (Mendapati Imam dalam Shalat) Ada kisah disampaikan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi (salah seorang ulama Syafi’i) bahwa ada seorang yang mencuri 400 unta milik Abu Umamah Al-Bahili, juga 40 hamba sahayanya. Ia pun sedih lantas menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Ini barangkali karena engkau sering luput dari takbiratul ihram bersama imam.” Abu Umamah pun berkata, “Wahai Rasulullah, jadi seperti itukah akibatnya jika luput dari takbiratul ihram bersama imam?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bahkan itu lebih parah dari hilangnya unta sepenuh bumi.” (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi dalam Al-Qaul At-Taam fii Ahkam Al-Ma’mum wa Al-Imam, hlm. 43).   5. Manfaatkan keringanan jamak dan qashar shalat. Jamak shalat adalah mengerjakan dua shalat dikerjakan pada satu waktu. Sedangkan qashar shalat adalah meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Dalil mengenai qashar shalat saat safar. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisaa’: 101). Adapun dalil dari hadits, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِى السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ – رضى الله عنهم “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidaklah pernah menambah lebih dari dua rakaat (untuk shalat yang aslinya empat rakaat) ketika safar beliau. Begitu pula Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhum melakukan seperti itu pula.” (HR. Bukhari no. 1102) Dalil mengenai jamak shalat. Allah Ta’ala berfirman, أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra’: 78). Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengambil pelajaran dari ayat ini bahwa Shalat Zhuhur dan Ashar boleh dijamak pada satu waktu karena ada uzur, begitu pula shalat Maghrib dan Isyak. Karena Allah menggabungkan masing-masing dari dua shalat tersebut untuk satu waktu bagi yang memiliki uzur. Sedangkan bagi yang tidak memilik uzur, shalatnya tetap dua waktu (tidak digabungkan). (Taysirul Lathifil Mannan, hlm. 114-115). Sebab jamak shalat adalah karena safar, sakit, hujan yang menyulitkan, sedangkan sebab qashar shalat adalah karena safar saja.   6. Bisa tetap menjaga shalat sunnah rawatib selama tak kesulitan. Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhuma–istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummahatul mukminin–, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ “Barang siapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728) Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ “Barang siapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dalam Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb disebutkan: Jika seseorang shalat bersama orang-orang yang tidak mengqashar shalat, yang lebih afdhal adalah ia melakukan shalat sunnah rawatib. Karena ketika itu jadinya ia dikenakan hukum orang-orang yang mukim, sehingga ia diperintah tetap melaksakanan shalat sunnah rawatib. Namun jika ditinggalkan, tidaklah mengapa. Akan tetapi jika shalat musafir tidak diqashar (karena bermakmum di belakang imam mukim, -pen), maka yang lebih afdhal adalah ia melaksanakan shalat sunnah rawatib. Akan tetapi, jika shalatnya diqashar, yang terbaik adalah meninggalkan shalat rawatib Zhuhur, (Maghrib, -pen) dan ‘Isya. Adapun shalat dua rakaat sebelum Shubuh, tetap dikerjakan ketika safar maupun saat mukim. Demikian juga shalat witir bagi musafir, tetap dikerjakan. Sama halnya pula shalat sunnah dua raka’at sebelum Shubuh. Adapun sunnah rawatib Magrib, Zhuhur, dan ‘Isya, yang lebih afdhal adalah meninggalkannya bagi para musafir jika mereka mengqashar shalat. (Fatwa Nuur ‘ala Ad-Darb, 10: 382) Baca juga: Shalat Sunnah Rawatib bagi Musafir ketika Shalat di Belakang Imam Mukim Shalat rawatib itu ada dua macam: Shalat rawatib muakkad (yang sangat ditekankan), ada 10 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib ghairu muakkad (tidak terlalu ditekankan), ada 12 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib muakkad, ada 10 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Shubuh 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Magrib 2 rakaat bakdiyah Isya Shalat rawatib ghairu muakkad, ada 12 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 4 rakaat qabliyah Ashar 2 rakaat qabliyah Magrib 2 rakaat qabliyah Isya Rincian di atas diringkas dari Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:532-536. Baca juga: Penjelasan Lengkap Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad   7. Jangan sampai tinggalkan shalat sunnah Fajar. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ “Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat dibanding dengan shalat sunnah dua raka’at sebelum Fajar” (HR. Muslim, no. 724). Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqashar shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qabliyah dan bakdiyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh (sunnah Fajar). Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar.” (Zaadul Ma’ad, 1:456). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu perhatian pada shalat sunnah fajar karena keutamaannya yang luar biasa. Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah qabliyah Shubuh adalah hadits dari ‘Aisyah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا “Dua rakaat sunnah fajar (shalat sunnah qabliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim, no. 725). Dalam lafaz lain, ‘Aisyah berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara mengenai dua rakaat ketika telah terbih fajar shubuh, لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا “Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” (HR. Muslim, no. 725). Baca juga: Apakah Musafir Tetap Mengerjakan Shalat Sunnah? Pengertian “lebih baik dari dunia dan seisinya” adalah shalat sunnah Fajar lebih baik daripada harta, keluarga, anak, dan perhiasan dunia lainnya yang seandainya manusia memiliki semuanya tetap masih kalah dengan keutamaan shalat sunnah Fajar. Kebahagiaan akhirat tentu lebih utama daripada kebahagiaan dunia karena akhirat itu kekal, sedangkan dunia itu akan fana. Baca juga: Shalat Sunnah Fajar Lebih Baik daripada Dunia Seisinya, Apa Maksudnya?   8. Dapat pahala qirath lewat shalat jenazah dan mengantarkan jenazah ke kubur. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ  . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ  مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ “Barang siapa yang menghadiri prosesi jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barang siapa yang menghadiri prosesi jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari, no. 1325 dan Muslim, no. 945) Dalam riwayat Muslim disebutkan, مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ « أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ. “Barang siapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” “Ukuran paling kecil dari dua qiroth adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim, no. 945)   Rukun shalat jenazah [1] niat, [2] empat kali takbir, [3] berdiri bagi yang mampu, [4] membaca Al-Fatihah, [5] membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah takbir kedua, [6] mendoakan mayat setelah takbir ketiga, dan [7] salam. Baca juga: Fikih Pengurusan Jenazah   Doa shalat jenazah setelah takbir ketiga Di antara yang bisa dibaca pada doa setelah takbir ketiga: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ Allahummaghfirla-hu warham-hu wa ‘aafi-hi wa’fu ‘an-hu wa akrim nuzula-hu, wa wassi’ madkhola-hu, waghsil-hu bil maa-i wats tsalji wal barod wa naqqi-hi minal khothoyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danaas, wa abdil-hu daaron khoirom min daari-hi, wa ahlan khoirom min ahli-hi, wa zawjan khoirom min zawji-hi, wa ad-khilkul jannata, wa a’idz-hu min ‘adzabil qobri wa ‘adzabin naar. “Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim no. 963) Catatan: Doa di atas berlaku untuk mayit laki-laki. Jika mayit perempuan, maka kata –hu atau –hi diganti dengan –haa. Contoh “Allahummaghfirla-haa warham-haa …”. Doa di atas dibaca setelah takbir ketiga dari shalat jenazah.   Doa khusus untuk jenazah anak kecil اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا Allahummaj’ahu lanaa farothon wa salafan wa ajron “Ya Allah! Jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik serta pahala buat kami”. (HR. Bukhari secara mu’allaq -tanpa sanad- dalam Kitab Al-Janaiz, 65 bab Membaca Fatihatul Kitab Atas Jenazah 2: 113)   Doa shalat jenazah setelah takbir keempat اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّ بَعْدَهُ وَاغْفِرْلَناَ وَلَهُ Allahumma laa tahrimnaa ajro-hu wa laa taftinnaa ba’da-hu waghfir lanaa wa la-hu “Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memperoleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya, ampunilah kami dan ampunilah dia”. Untuk mayit perempuan, kata –hu diganti –haa. Baca juga: Bacaan Shalat Jenazah   9. Belajar agama di masjid Nabawi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ لِيُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. “Barang siapa masuk masjid kami ini (Masjid Nabawi) untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka ia seperti orang yang berperang di jalan Allah.” (HR. Ahmad, no. 8428)   10. Menjaga wudhu. Dari Abu Buraidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam di pagi hari memanggil Bilal lalu berkata, يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِى إِلَى الْجَنَّةِ مَا دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَطُّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى “Wahai Bilal, kenapa engkau mendahuluiku masuk surga? Aku tidaklah masuk surga sama sekali melainkan aku mendengar suara sendalmu di hadapanku. Aku memasuki surga di malam hari dan aku dengar suara sendalmu di hadapanku.” Bilal menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِى حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَىَّ رَكْعَتَيْنِ “Wahai Rasulullah, aku biasa tidak meninggalkan shalat dua rakaat sedikit pun. Setiap kali aku berhadats, aku lantas berwudhu dan aku membebani diriku dengan shalat dua rakaat setelah itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3689 dan Ahmad, 5:354. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits tersebut hasan) Syaikh Abu Malik dalam Fiqhus Sunnah lin Nisaa’ (hlm. 49) menyatakan bahwa disunnahkan berwudhu setiap kali wudhu tersebut batal karena adanya hadats. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Disunnahkan menjaga wudhu atau diri dalam keadaan suci. Termasuk juga kala tidur dalam keadaan suci.” (Kitab Matan Al Idhoh, hlm. 20).   11. Perbanyak ibadah dan doa di Raudhah. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Siapa saja yang menziarahi masjid Nabawi untuk shalat dua rakaat di Raudhah, tempat yang mulia atau mengerjakan shalat sunnah semampu dia karena ada hadits yang menjelaskan keutamaan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ “Antara rumahku dan mimbarku adalah di antara taman surga.” (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 1391) Dari Yazid bin Abi ‘Ubaid, ia berkata, “Aku datang bersama Salamah bin Al-Akwa’, lalu aku shalat di Raudhah Syarif. Aku berkata: Wahai Abu Muslim, mengapa engkau sengaja shalat di Raudhah. Ia lantas menjawab, “Aku pernah melihat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersengaja shalat di Raudhah.” (HR. Bukhari, no. 502 dan Muslim, no. 509). Namun, shalat di Raudhah hendaknya tidak sampai bertindak melampaui batas terhadap yang lain (dengan mendorong, atau bertindak kasar) atau malah menyulitkan orang yang lemah. (Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 36863) Catatan penting: Dalam Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah disebutkan bahwa seluruh tempat di masjid Nabawi dalam hal pahala itu sama. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram.” (HR. Muslim, no. 1394)   12. Perbanyak shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1.000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad, 3:343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 1173.) Baca juga: Pahala Shalat di Makkah 100.000 Kali Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi   13. Pahala umrah dengan shalat di Masjid Quba Dari Usaid bin Zhuhair Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلاَةُ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ كَعُمْرَةٍ “Shalat di Masjid Quba’, (pahalanya) seperti umrah.”(HR. Tirmidzi, no. 324 dan Ibnu Majah, no. 1411. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَصَلَّى فِيهِ صَلاَةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ “Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu ia mendatangi masjid Quba’, lantas ia melaksanakan shalat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah, no. 1412, An-Nasai, no. 700. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).   14. Setiap kali mendengarkan azan, jawablah dan berdoa setelah itu. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ “Jika kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muazin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya (memberi ampunan kepadanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim, no. 384). Ada lima amalan yang bisa diamalkan ketika mendengarkan azan shalat lima waktu sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. (1) mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muazin. (2) bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Allahumma sholli ‘ala Muhammad atau membaca shalawat ibrahimiyyah seperti yang dibaca saat tasyahud. (3) minta kepada Allah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wasilah dan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah: Allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah. (4) membaca: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa, sebagaimana disebutkan dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash. (5) memanjatkan doa sesuai yang diinginkan. (Lihat Jalaa-ul Afham, hlm. 329-331) Baca juga: 5 Amalan Ketika Mendengar Azan Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا “Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara azan dan iqamah, maka berdoalah (kala itu).” (HR. Ahmad, 3:155. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Baca juga: Doa antara Azan dan Iqamah   15. Manfaatkanlah tempat yang mulia di tanah suci untuk berdoa. Misal: di Masjidil Haram, di Hijr Ismail, di Multazam, di bukit Shafa dan Marwah saat sai, dan Raudhah di Masjid Nabawi. Ingat, doa itu besar pengaruhnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ “Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Taala selain doa.” (HR. Tirmidzi, no. 3370; Ibnu Majah, no. 3829, Ahmad, 2:362. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Yang penting doa dengan penuh rasa optimis. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Baca juga: Allah Dekat dengan Orang yang Berdoa Yakinlah bahwa doa akan memudahkan urusan kita. Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَلاَ يَزِيدُ فِى الْعُمُرِ إِلاَّ الْبِرُّ “Yang dapat menolak takdir hanyalah doa. Yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 2139 dalam Kitab Al-Qadr, Bab “Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa”. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 154, 1:286-288, menyatakan bahwa hadits ini hasan.) Baca juga:  Doa Dapat Mengubah Takdir 7 Catatan Mengenai Doa   16. Manfaatkan doa saat menjadi musafir selama perjalanan. Dalam hadits disebutkan, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ “Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) doa yang tidak diragukan lagi, yaitu: (1) doa orang yang terzalimi, (2) doa seorang musafir, (3) doa jelek orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad, 12:479, no. 7510, Tirmidzi, 4:314, no. 1905, Ibnu Majah, 2:1270, no. 3862. Syaikh Al-Albani menghasankan hadits ini). Di antara sebab terkabulnya doa disebutkan dalam hadits Arbain no. 10: Keadaan dalam perjalanan jauh (safar). Meminta dalam keadaan sangat butuh (genting). Menengadahkan tangan ke langit. Memanggil Allah dengan panggilan “Yaa Rabbii” (wahai Rabb-ku) atau memuji Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, misalnya: “Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam” (wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kemuliaan), “Yaa Mujiibas Saa’iliin” (wahai Rabb yang Mengabulkan doa orang yang meminta kepada-Mu), dan lain-lain. Baca juga: Hadits Arbain 10, Halal Berpengaruh pada Doa Kita Adab penting dalam berdoa Tidak terburu-buru dalam meminta terkabulnya doa dengan mengatakan, “Aku sudah terus berdoa, tetapi tak juga terkabul.” Menghadirkan hati ketika memanjatkan doa. Percaya kepada janji Allah bahwa doa itu terkabul. Memilih waktu terbaik untuk berdoa. Benar-benar merasa membutuhkan Allah. Menghadap kiblat. Berdoa dalam keadaan suci. Mengangkat tangan saat berdoa. Memuji Allah di awal doa, lalu bersalawat pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahului dengan taubat dan istigfar, seperti doa Nabi Yunus ‘alaihis salam yang mengakui kezalimannya terlebih dahulu: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Artinya: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang berbuat aniaya). Meminta dengan penuh pengharapan yang besar dan rasa takut. Bertawassul dengan nama dan sifat Allah. Mendahului doa dengan sedekah. Memilih doa yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Diambil dari buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup)   17. Jagalah dzikir pagi dan petang. Imam Nawawi dalam Shahih Muslim membawakan bab dengan judul “Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat Shubuh dan keutamaan masjid“. Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in, Simak bin Harb. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh, أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- “Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?” Jabir menjawab, نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ الصُّبْحَ أَوِ الْغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِى أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ. “Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.” (HR. Muslim, no. 670) Imam Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir setelah Shubuh dan duduk di tempat shalat jika tidak memiliki udzur (halangan). Al-Qadhi mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama. Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdoa hingga terbit matahari.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 8:29, Asy-Syamilah) Baca juga: Malas Beraktivitas Karena Lupa Dzikir Membaca dzikir pada pagi dan petang termasuk menjalani perintah Allah untuk memperbanyak dzikir sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat, وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرَاً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan berdzikirlah pada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا () وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا () “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42). Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Dzikir yang banyak adalah dengan membaca tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), tasbih (subhanallah), takbir (Allahu Akbar) dan perkataan lainnya yang mendekatkan diri kepada Allah. Yang paling minimal adalah kita merutinkan dzikir pagi-petang, dzikir bakda shalat lima waktu, dzikir ketika muncul sebab tertentu. Dzikir ini baiknya dirutinkan di setiap waktu dan keadaan.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 706) Baca juga: Disuruh Dzikir yang Banyak Manfaat berdzikir di antaranya disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wabil Ash-Shayyib: Senantiasa berdzikir kepada Allah menyebabkan seseorang tidak mungkin melupakan-Nya. Orang yang melupakan Allah adalah sebab sengsara dirinya dalam kehidupannya dan di hari ia dikembalikan. Seseorang yang melupakan Allah menyebabkan ia melupakan dirinya dan maslahat untuk dirinya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19) Baca juga: 51 Keutamaan Dzikir Waktu dzikir pagi: dari terbit fajar Shubuh hingga menjelang Zhuhur. Waktu dzikir petang: dari tenggelam matahari hingga pertengahan malam.   18. Menjalankan ibadah umrah dengan memenuhi rukun, wajib, dan berusaha menjauhkan diri dari larangan ihram.  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Haji mabrur tidak ada balasan untuknya melainkan surga.” (HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349) Baca juga: Keutamaan Umrah   Rukun Umrah Ihram, Thawaf umrah, Sa’i umrah, Halq atau taqshir (tahallul), dan Tertib.   Wajib Umrah Ihram dari miqat. Menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan ketika ihram.   Video Tata Cara Umrah   Yang penting saat umrah adalah jangan melakukan larangan ihram: Memakai pakaian yang meliputi (membentuk lekuk tubuh, seperti pakaian, celana), khusus laki-laki, Menutup kepala, baik seluruh atau sebagiannya, Menutup sebagian atau seluruh wajah serta memakai sarung tangan (bagi wanita), Memakai wewangian atau sejenisnya di badan, baju, atau tempat tidur (berlaku bagi laki-laki dan perempuan), Memakai minyak untuk rambut atau jenggot, Berjimak, Menghilangkan sebagian rambut atau kuku, Berburu hewan liar darat yang bisa dimakan, Memotong tumbuhan yang berada di tanah haram, kecuali idzkhir dan sejenisnya, dan Melaksanakan akad nikah.   Ada beberapa dam yang perlu diperhatikan karena melakukan pelanggaran: Pertama: Dam yang wajib dibayarkan karena meninggalkan nusuk (yaitu meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, contoh: tidak ihram dari miqat), dam ini secara berurutan adalah: Seekor kambing yang memenuhi syarat untuk qurban. Jika tidak mendapati, puasa sepuluh hari, di mana tiga hari di tanah suci dan tujuh hari apabila telah kembali ke tanah air. Kedua: Dam yang wajib dibayarkan karena mencukur (contoh: mencukur seluruh rambut kepala atau tiga helai saja) dan at-taraffuh (bersenang-senang, contoh: memakai wewangian dan minyak), dam ini berdasarkan pilihan: Seekor kambing yang memenuhi syarat untuk qurban. Puasa tiga hari. Bersedekah tiga sha’ kepada enam orang miskin, masing-masing orang miskin mendapatkan setengah sha’ makanan yang sah diberikan untuk zakat fitrah. Ketiga: Dam yang wajib yang dibayarkan karena berhubungan intim. Dam ini secara berurutan adalah: Satu ekor unta. Jika tidak mendapati, maka satu ekor sapi. Jika tidak mendapati, maka tujuh ekor kambing. Jika masih tidak mendapati, maka ia menilai unta (dengan uang) dan membeli makanan dengan harganya dan menyedekahkannya. Jika tidak mendapati, ia puasa satu hari untuk setiap mud.   19. Lakukanlah umrah berulang kali. Orang yang berumrah boleh menunaikan umrah lebih dari sekali dalam sekali safar, baik berumrah untuk dirinya sendiri ataukah untuk orang tuanya yang sakitnya tak kunjung sembuh yang tidak mampu berumrah. Namun, syaratnya yang mengumrahkan harus sudah berumrah untuk dirinya sendiri. Bahkan mengulangi umrah termasuk dalam fadhilah amal, amalan yang utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا “Umrah ke umrah itu menghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Muslim) Syarat pertama untuk sahnya umrah kedua bagi yang sudah berada di dalam Makkah, ia hendaknya keluar ke tanah halal terdekat, seperti Tan’im. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah umrah dua kali pada haji Wada’ kurang dari 20 hari. Umrah pertama yaitu berangkat dari Madinah. Umrah kedua adalah berihram dari Tan’im sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut ini. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مَعَهَا أَخَاهَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ فَأَعْمَرَهَا مِنْ التَّنْعِيمِ. متفق عليه. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus bersamanya saudaranya ‘Abdurrahman, ia diperintahkan berumrah dari Tan’im. (Muttafaqun ‘alaih) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika seseorang tinggal di Makkah atau singgah di Makkah lantas berkeinginan untuk umrah, maka miqatnya adalah miqat terdekat. Inilah pendapat dari Imam Syafii. Para ulama Syafiiyah pun menyepakatinya. Para ulama Syafiiyah berpendapat bahwa cukup baginya untuk mencapai tanah halal walau hanya satu langkah dari arah mana saja selama itu sudah masuk tanah halal. Itu adalah miqat yang wajib. Adapun yang disunnahkan adalah mengambil miqat untuk umrah dari Ji’ronah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berumrah dari Ji’ronah. Jika tidak bisa, maka lewat Tan’im karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada Aisyah untuk mengambil miqat dari Tan’im. Tan’im ini adalah miqat terdekat dari Baitullah. Jika tidak bisa pula, bisa mengambil miqat dari Hudaibiyyah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam shalat di situ. Urutan miqat dari segi keutamaan adalah Ji’ronah, Tan’im, lalu Hudaibiyyah. Inilah yang disebutkan ulama Syafiiyah dan mereka menyepakatinya dan tidak ada ikhtilaf di dalamnya. Lihat Al-Majmu’, 7:211 dan Mughi Al-Muhtaj, 2:229. Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah dalam Al-Minhaj Al-Qawim berkata, يسنُّ الإكثار من العمرة، ولو في اليوم الواحد؛ إذ هي أفضل من الطواف على المعتمد “Disunnahkan memperbanyak umrah walaupun dalam satu hari. Amalan tersebut lebih afdal daripada memperbanyak thawaf. Demikian pendapat mu’tamad (pendapat resmi dalam madzhab Syafii).” Baca juga: Inilah Dalil dan Fatwa Ulama Mengenai Bolehnya Umrah Berulang Kali dalam Sekali Safar   20. Masih boleh melakukan badal umrah. Ulama Syafiiyah berpendapat bahwa boleh ada badal atau menggantikan menunaikan umrah dari yang lain jika yang digantikan adalah mayat atau orang yang masih hidup, tetapi tidak lagi memiliki kemampuan untuk menunaikannya sendiri. Syarat badal umrah adalah: (1) yang membadalkan sudah pernah berumrah, (2) membadalkan hanya untuk satu orang. Kalau badal haji, ada dalilnya sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ. قَالَ « مَنْ شُبْرُمَةَ ». قَالَ أَخٌ لِى أَوْ قَرِيبٌ لِى. قَالَ « حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ ». قَالَ لاَ. قَالَ « حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ » Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang mengucapkan, “Labbaik ‘an Syubrumah (aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah, atas nama Syubrumah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Memangnya siapa Syubrumah?” Ia menjawab, “Syubrumah adalah saudaraku atau kerabatku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Engkau sudah berhaji untuk dirimu?” Ia menjawab, “Belum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memberi saran, “Berhajilah untuk dirimu dahulu, barulah berhaji atas nama Syubrumah.” (HR. Abu Daud, no. 1811. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani berbeda penilaiannya, beliau menyatakan hadits ini sahih). Para ulama berkata bahwa hukum badal umrah sama dengan hukum badal haji.   Baca juga: Badal Umrah, Adakah Dalilnya? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Mengumrahkan orang yang telah meninggal dunia itu dibolehkan, begitu pula untuk orang yang tidak mampu untuk menunaikan umrah untuk dirinya sendiri karena sudah sepuh atau menderita penyakit yang sulit diharapkan sembuhnya. Yang membadalkan umrah termasuk orang yang berbuat baik dan akan mendapatkan ganjaran. Orang yang membadalkan jika dibayar untuk hal ini juga dibolehkan. Namun, hendaklah orang yang membadalkan dipilih–menurut sangkaan kuat–adalah orang yang saleh dan paham hukum. Yang menjadi wakil (penerima kuasa) meniatkan untuk menunaikan umrah orang lain atau orang yang memberi kuasa mengabarkan kalau ia mewakilkan pada orang lain. Karena orang yang memberi kuasa telah rida dengan penggantian tersebut karena ia menaruh percaya. Namun, jika yang membadalkan itu dua orang, maka tidaklah diterima.” (Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 142234) Catatan: Badal umrah hanya boleh untuk mereka yang belum pernah berumrah. Jika sudah pernah berumrah, maka boleh dibadalkan jika ada wasiat.   21. Perbanyak Thawaf. Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ, لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْل أوْ نَهَارٍ “Wahai Bani Abdu Manaf, janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” (HR. Abu Daud, no. 1894; Tirmidzi, no. 868, An-Nasai, 1:284; Ibnu Majah, no. 1254; Ahmad, 27:297, Ibnu Hibban, 1552, 1553, 1554. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih, perawinya perawi Muslim. Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:210-211) Hadits ini menunjukkan bahwa boleh melakukan thawaf pada waktu kapan pun, begitu pula shalat sunnah bakda thawaf boleh dilakukan pada waktu apa pun, meskipun pada waktu terlarang untuk shalat dikarenakan shalat sunnah bakda thawaf adalah shalat sunnah yang punya sebab. Baca juga: Thawaf Bebas pada Waktu Kapan Pun Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan dalam fatawanya yang diringkas sebagai berikut. Orang yang masuk Masjidil Haram ada dua keadaan: Yang masuk untuk bermaksud melakukan thawaf untuk haji, umrah, atau sekadar melakukan thawaf sunnah, maka yang dilakukan pertama kali adalah thawaf. Orang seperti ini tidak disyariatkan melakukan shalat tahiyatul masjid sebelum thawaf. Karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan sahabatnya tidaklah pernah melakukan seperti itu. Jumhur ahli fikih berpendapat seperti itu. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah sedikit ulama seperti Ibnu ‘Aqil dari kalangan Hambali sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Syarh ‘Umdah Al-Fiqh. Yang dikecualikan dalam hal ini adalah jika masuk Masjidil Haram dalam keadaan sangat padat sehingga sulit untuk langsung thawaf. Hendaklah melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid, lalu menunggu sampai suasana tidak terlalu padat untuk memulai thawaf.  Yang masuk untuk bermaksud shalat, duduk, menghadiri majelis ilmu, berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau ibadah lainnya, maka disunnahkan melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid karena keumuman hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ “Apabila di antara kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah ia duduk hingga shalat dua rakaat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1163 dan Muslim, no. 714) Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (10:306) disebutkan, “Jumhur ahli fikih berpendapat bahwa tahiyatul Masjidil Haram adalah melakukan thawaf untuk orang yang baru memasuki Makkah, baik ia adalah pedagang, orang yang berhaji, atau selainnya. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, إن النبي صلى الله عليه وسلم حين قدم مكة توضأ , ثم طاف بالبيت “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika masuk Makkah, beliau berwudhu, kemudian melakukan thawaf keliling Kabah.” (HR. Bukhari, no. 1614). Dua rakaat tahiyatul Masjidil Haram sudah dicukupi dengan dua rakaat bakda thawaf. Adapun penduduk Makkah yang tidak diperintahkan untuk thawaf atau tidak masuk untuk thawaf, ia ingin melakukan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, maka tahiyatul Masjidil Haram untuknya adalah shalat sebagaimana yang dilakukan untuk menghormati masjid lainnya.” Demikian secara ringkas.  Lihat bahasan Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 106318. Baca juga: Thawaf ataukah Shalat Tahiyatul Masjid ketika Masuk Masjidil Haram? Beberapa Penjelasan tentang Thawaf   22. Shalat bakda thawaf di belakang Maqam Ibrahim. Surah yang dibaca pada shalat dua rakaat: rakaat pertama, surah Al-Kaafiruun; rakaat kedua, surah Al-Ikhlas. Dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang amat panjang disebutkan, فجعل المقام بينه وبين البيت [ فصلى ركعتين ] فكان يقرأ في الركعتين : ( قل هو الله أحد ) و ( قل يا أيها الكافرون ) ( وفي رواية : ( قل يا أيها الكافرون ) و ( قل هو الله أحد ) “Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan maqam Ibrahim antara dirinya dan Ka’bah, lalu beliau laksanakan shalat dua rakaat. Dalam dua rakaat tersebut, beliau membaca Qulhuwallahu ahad (surah Al-Ikhlas) dan Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surah Al-Kafirun). Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surah Al Kafirun) dan Qulhuwallahu ahad (surah Al Ikhlas).” (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 56) Baca juga: Waktu Membaca Surah Al-Ikhlas   23. Perbanyak doa, baca Al-Qur’an, atau dzikir ketika thawaf dan berdoa sapu jagad antara rukun Yamani dan Hajar Aswad. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ فَأَقِلُّوا مِنْ الْكَلَامِ “Thawaf di Ka’bah seperti shalat, tetapi di dalamnya dibolehkan sedikit bicara.” (HR. An-Nasai, no. 2922) Dalam hadits lainnya disebutkan, الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلاَةٌ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَحَلَّ فِيهِ الْمَنْطِقَ ، فَمَنْ نَطَقَ فِيهِ فَلاَ يَنْطِقْ إِلاَّ بِخَيْرٍ “Thawaf di Ka’bah seperti shalat, tetapi Allah masih membolehkan berbicara saat itu. Barang siapa yang berbicara ketika thawaf, maka janganlah ia berkata selain berkata yang benar.” (HR. Ad-Darimi, no. 1847 dan Ibnu Hibban, no. 3836). Baca juga: Wudhu Batal di Pertengahan Thawaf  Dari ‘Abdullah bin As-Saaib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ (رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di antara dua rukun: Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirooti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka). ” (HR. Abu Daud ,no. 1892. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Sunnah-Sunnah Thawaf   24. Ambil berkah lewat air zam-zam dan berdoa saat meminumnya. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ “Air zam-zam sesuai keinginan ketika meminumnya.” (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Lihat Al Maqosid Al Hasanah, As Sakhowiy hal. 359. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1165) [Maksudnya doa apa saja yang diucapkan ketika meminumnya adalah doa yang mustajab]. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ketika meminum air zam-zam, beliau berdoa: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً ناَفِعاً ، وَرِزْقاً وَاسِعاً وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ “Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon waasi’an wa syifa-an min kulli daa-in” [Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, ilmu yang bermanfaat, rizqi yang melimpah, dan kesembuhan dari setiap penyakit]. Namun, riwayat ini adalah riwayat yang dho’if (lemah). (Lihat Dho’if At Targhib no. 750, Syaikh Al Albani)   25. Ambil ibrah dari perjalanan hidup nabi di Makkah dan Madinah. Allah Ta’ala berfiman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).   26. Membantu orang yang susah saat berumrah. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ “Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580). Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).   27. Perbanyak Talbiyah Talbiyah secara tinjauan bahasa berarti menjawab yang memanggil. Talbiyah ini dimutlakkan pada menegakkan ketaatan. Sedangkan talbiyah secara syari adalah perkataan orang yang berihram “LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA, LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK (artinya: Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujaan dan nikmat adalah milik-Mu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu). Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, أنَّ تلبيةَ رسولِ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم: لبَّيكَ اللهمَّ لبَّيكَ، لبَّيكَ لا شريكَ لك لبَّيكَ؛ إنَّ الحمدَ والنِّعمةَ لك والمُلْك، لا شريكَ لك “Talbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA, LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK.” (HR. Bukhari, no. 1549 dan Muslim, no. 1184) Talbiyah adalah sunnah dalam ihram sebagaimana pendpaat dalam madzhab Syafiiyah, Hambali, dan dipilih oleh Ibnu Baz dan Ibnu ‘Utsaimin. Dari Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ayahnya (Ibnu ‘Umar), ia berkata, سَمِعْتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهِ عليه وسَلَّم يُهِلُّ مُلَبِّدًا، يقول: لبَّيك اللَّهُمَّ لبَّيْك، لبَّيْك لا شريكَ لك لبَّيْك، إنَّ الحمْدَ والنِّعمَةَ لك والمُلْك، لا شريكَ لك. لا يزيدُ على هؤلاءِ الكَلِماتِ. وإنَّ عبدَ اللهِ بنَ عُمَرَ رَضِي الله عنهما كان يقول: كان رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسَلَّم يركَعُ بذي الحُلَيفة ركعتينِ، ثم إذا استوت به النَّاقَةُ قائمةً عند مسجِدِ ذي الحُلَيفة، أهلَّ بهؤلاءِ الكَلِماتِ “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertalbiyah: LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA, LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK. Beliau tidak menambah lebih dari kalimat tersebut. Sesungguhnya ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat di Dzulhulaifah dua rakaat. Ketika beliau telah menaiki unta, beliau menghadap Masjid Dzulhulaifah, beliau bertalbiyah dengan kalimat tersebut.” (HR. Bukhari, no. 5915 dan Muslim, no. 1184) Catatan: Talbiyah termasuk dzikir dan tidak wajib saat umrah maupun haji sebagaimana dzikir lainnya dalam umrah dan haji. Pria disunnahkan mengeraskan suara saat membaca talbiyah, wanita disunnahkan tidak mengeraskan suaranya, yaitu bertalbiyah dengan sirr yang cukup didengar sendiri. Disunnahkan bertalbiyah dari awal ihram dan talbiyah untuk umrah berakhir ketika akan mulai thawaf umrah.   28. Perbanyak baca Al-Qur’an. Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ : رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ ،وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ : لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ ، وَمَثلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الرَّيحَانَةِ : رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ : لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ “Permisalan orang yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah utrujah, bau dan rasanya enak. Permisalan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah kurma, tidak beraroma, tetapi rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan raihanah, baunya menyenangkan, tetapi rasanya pahit. Permisalan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan hanzhalah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5059 dan Muslim, no. 797)   29. Jaga shalat tahajud di tanah suci. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا عَبْدَ اللهِ! لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ “Wahai ‘Abdullah, janganlah seperti si fulan. Dahulu ia rajin mengerjakan shalat malam, tetapi sekarang ia meninggalkannya.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1152 dan Muslim, no. 1159, 185) Ingat, shalat tahajud harus didahului dengan tidur malam. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79) Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya berkata, “Tahajud itu setelah bangun tidur. ‘Alqamah, Al-Aswad, Ibrahim An-Nakha’i, dan selainnya berkata seperti itu. Makna tahajud dalam bahasa Arab seperti itu. Hadits-hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tahajud itu setelah bangun tidur.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:103) Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzammil: 6). Nasyia’atal lail berarti bangun di waktu malam. Inilah yang dimaksudkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas secara mu’allaq dengan shighah jazm (tegas). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (17:474) berkata, “Nasyiatal lail menurut kebanyakan ulama adalah seseorang yang bangun setelah tidur. Tahajud itu bukanlah pada awal malam. Inilah yang tepat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempraktikkan seperti itu. Hadits yang menerangkan seperti ini adalah mutawatir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tahajud pasti setelah bangun malam, bukan bangun antara dua ‘Isyak.” Baca juga: Shalat Tahajud Didahului Tidur Malam (Bahasan Bulughul Maram) Tahajud itu Dilakukan Setelah Bangun Tidur Malam   30. Rutinkan Shalat Witir Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ “Witir itu dianjurkan pada setiap muslim. Siapa yang suka melakukan shalat witir dengan lima rakaat, maka lakukanlah. Siapa yang suka melakukan shalat witir dengan tiga rakaat, maka lakukanlah. Siapa yang suka melakukan shalat witir dengan satu rakaat, maka lakukanlah.” (HR. Abu Daud, no. 1422; An-Nasai, 3:238; Ibnu Majah, no. 1190; Ibnu Hibban, 6:170. Perawi hadits ini terpercaya. Hadits ini dinyatakan marfu’ oleh sebagian ulama, ada pula yang menyatakan mawquf). Baca juga: Hukum Shalat Witir dan Cara Pengerjaannya Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَصَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً “Jadikanlah shalat witir sebagai penutup shalat malam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1998 dan Muslim, no. 751, 151)   31. Jaga Shalat Isyraq Shalat isyraq adalah shalat Dhuha yang dikerjakan pada awal waktu. Waktu pengerjaannya adalah 15 menit setelah matahari terbit. Caranya adalah: (1) lakukan shalat Shubuh berjamaah bagi laki-laki di masjid atau bagi perempuan di rumah, (2) melaksanakan shalat dua rakaat pada saat matahari meninggi (15 menit setelah matahari terbit). Dengan shalat isyraq akan mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ “Barang siapa yang mengerjakan shalat Shubuh dengan berjamaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 174, 181, 209. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, 1: 189 mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ » “Barang siapa yang melaksanakan shalat Shubuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umrah.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi, no. 586. Syaikh Muhammad Bazmul menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi, hasan dilihat dari jalur lain) Baca juga: Shalat Isyraq Dilakukan Wanita di Rumah Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, كَانَ النبيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا صَلَّى الفَجْرَ تَرَبَّعَ في مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَسْنَاء “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu apabila telah melakukan shalat Shubuh, beliau duduk bersila di tempat duduknya sampai terbitnya matahari yang putih indah sinarnya.” (HR. Muslim, no. 4851; Abu Daud, no. 4850) Baca juga: Duduk Setelah Shalat Shubuh lalu Shalat Isyraq    32. Jaga Shalat Dhuha Shalat Dhuha itu dikerjakan ketika matahari meninggi, 15 menit setelah matahari terbit sampai menjelang Zhuhur. Rakaat minimal adalah 2 rakaat, rakaat maksimal tidaklah dibatasi. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar makruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim, no.  720). Shalat Dhuha paling afdal dilakukan saat makin siang sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut. أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) yaitu ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim no. 748). Artinya, ketika kondisi panas di akhir waktu. Imam Nawawi mengatakan, “Inilah waktu utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula ulama Syafiiyah mengatakan bahwa ini adalah waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 28) Baca juga: Waktu Shalat Dhuha   33. Masuk dan keluar masjid, jangan lupa baca membaca dzikirnya. Masuk dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri. Doa masuk masjid بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ “BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLOHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWAABA ROHMATIK (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah kepadaku pintu rahmat-Mu).”(HR. Ibnu Majah, no. 771 dan Tirmidzi, no. 314. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Doa keluar masjid بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ فَضْلِكَ “BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLOHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWABAA FADHLIK (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah padaku pintu karunia-Mu).”(HR. Ibnu Majah, no. 771 dan Tirmidzi, no. 314. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   34. Bersabar ketika tinggal di Madinah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَاءِ الْمَدِينَةِ وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا “Tidaklah seseorang dari umatku sabar terhadap cobaan Madinah dan kerasnya (kesusahannya), kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat.” [HR. Muslim] Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا “Tidaklah seseorang sabar terhadap kesusahannya (Madinah) kemudian dia mati, kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya, atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat. Jika dia seorang Muslim.” [HR. Muslim] Ujian berupa kesusahan dan penyakit yang muncul bagi orang yang datang kemudian tinggal di kota Madinah bisa berupa kesulitan mencari mata pencaharian atau bisa berupa penyakit yang muncul akibat cuaca yang ekstrim semisal demam. Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah, beliau berkata, واللأواء في اللغة الشدة , ( نقله الباحث من الصحاح للجوهري ) , وعطف الشدة عليها للتفسير أو التأكيد , أو أن ( اللأواء ) المراد بها ضيق المعيشةوتعسر الكسب , والشدة : ما يصيب الإنسان في بدنه بسبب شدة الحر والبرد ونحو ذلك “Al-Awa’ secara bahasa adalah keras (syiddah), al-awa’ disambung dengan kata keras (syiddah) untuk penekanan. Dan yang dimaksud dengan kesempitan hidup di madinah adalah sulitnya mencari mata pencaharian. Adapun maksud kata keras (syiddah) adalah apa yang menimpa manusia pada badannya (penyakit) akibat ekstrimnya cuaca panas dan dingin (di kota Madinah).” [Mura’atul Mafatih syarh Misykatul Mashabih 9/514-515]   35. Pada hari Jumat, jangan lupa membaca surah Al-Kahfi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ “Barang siapa yang membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini SAHIH sebagaimana dalam Shahih At-Targhib, no. 736) Baca juga: Keutamaan Membaca Surah Al-Kahfi dan Waktunya 36. Manfaatkan doa di hari Jumat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hari Jumat. Beliau bersabda, فِيهَا سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْألُ اللهَ شَيْئاً ، إِلاَّ أعْطَاهُ إيّاهُ )) وَأشَارَ بيَدِهِ يُقَلِّلُهَا. “Di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba yang muslim tepat pada saat itu berdiri shalat meminta sesuatu kepada Allah, melainkan Allah pasti memberikan kepadanya.” Beliau pun mengisyaratkan dengan tangannya untuk menggambarkan sedikitnya (sebentarnya) waktu tersebut. (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 935 dan Muslim, no. 852)   37. Ziarah kubur, misal ke kuburan Baqi’. Yang dibaca ketika ziarah kubur adalah: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ ASSALAMU ’ALAIKUM AHLAD-DIYAAR MINAL MU’MINIIN WAL MUSLIM, WA INNA INSYAA ALLOOHU BIKUM LA-LAAHIQUUN, WA AS-ALULLOOHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH. “Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan para sahabat ketika keluar menuju kubur dengan membaca doa di atas. Hadits di atas dari Sulaiman bin Buraidah, dari bapaknya. (HR. Muslim, no. 975)   38. Bersedekah air. Dari Sa’id bahwasanya Sa’ad mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْجَبُ إِلَيْكَ قَالَ « الْمَاءُ ». “Sedekah apa yang paling engkau sukai.” Jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah air.” (HR. Abu Daud, no. 1679 dan An-Nasai, no. 3694; 3695; Ibnu Majah, no. 3684. Hadits ini tidak bersambung, Sa’id bin Al-Musayyib tidak bercumpa dengan Sa’ad bin ‘Ubadah. Hadits ini punya syawahid atau penguat tetapi dhaif. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain sebagaimana disebutkan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 962).   39. Bersabar, jangan sampai berdebat kusir, jangan sampai bermaksiat saat berumrah. Allah Ta’ala berfirman, ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)   40. Ingat, siapkan oleh-oleh pada orang-orang terdekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَهَادَوْا تَحَابُّوا “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hal itu akan membuat kalian saling mencintai.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 6/169, hasan) Saling memberi hadiah merupakan salah satu faktor yang menumbuhkan rasa saling mencintai di antara kaum muslimin. Oleh karena itu, seorang penyair Arab menyatakan dalam sebuah sya’ir: هدايا الناس بعضهم لبعض تولد في قلوبهم الوصال Hadiah yang diberikan oleh sebagian orang kepada yang lain bisa menumbuhkan rasa saling mencintai di hati mereka.   41. Jangan lupa doakan saudaramu saat berada di tanah suci. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الغَيْبِ إِلاَّ قَالَ المَلَكُ : وَلَكَ بِمِثْلٍ “Tidaklah seorang hamba muslim yang berdoa untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya, melainkan malaikat berkata, ‘Dan untukmu seperti doamu.’” (HR. Muslim, no. 7231) Dalam lafaz yang lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ المَرْءِ المُسْلِمِ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ المَلَكُ المُوَكَّلُ بِهِ : آمِينَ ، وَلَكَ بِمِثْلٍ “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya pasti dikabulkan. Di dekat kepala orang tersebut ada malaikat yang diberi tugas untuk itu. Setiap kali seorang muslim berdoa kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diberi tugas itu berkata, “Aamiin, dan untukmu seperti doa itu.” (HR. Muslim, no. 2733) Di dalam Kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari disebutkan bab: Bab 278 – Doa Seseorang kepada Saudaranya di Saat Saudaranya Tidak Mengetahuinya. Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, قدمت عليهم الشام، فوجدت أم الدرداء في البيت، ولم أجد أبا الدرداء. قالت: أتريد الحج العام ؟ قلت : نعم. قالت: فادع الله لنا بخير؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummud Darda’ (ibu mertua Shafwan) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abud Darda’ (bapak mertua Shafwan). Ummu Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan padaku karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,” إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”. قال: فلقيت أبا الدرداء في السوق، فقال مثل ذلك، يأثر عن النبي صلى الله عليه وسلم. “Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia mendapatkan hadits tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Hadits ini sahih) Lihat Ash Shohihah (1399): [Muslim: 48-Kitab Adz Dzikr wad Du’aa’, hal. 88] Baca juga: Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak Mengetahuinya   42. Jaga keistiqamah bakda umrah hingga akhir hayat. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30) Mujahid, ‘Ikrimah, dan Zaid bin Aslam menafsirkan ayat di atas, “Janganlah takut pada akhirat yang akan kalian hadapi dan janganlah bersedih dengan dunia yang kalian tinggalkan yaitu anak, keluarga, harta dan tanggungan utang. Karena para malaikat nanti yang akan mengurusnya.” Baca juga: Kiat Agar Istiqamah Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barang siapa mengucapkan laa ilaha illallah karena mencari wajah Allah kemudian amalnya ditutup dengannya, maka ia masuk surga. Barang siapa berpuasa karena mencari wajah Allah kemudian amalnya diakhiri dengannya, maka ia masuk surga. Barang siapa bersedekah kemudian itu menjadi amalan terakhirnya, maka ia masuk surga.” (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ahkam Al-Janaiz, hlm. 58. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Baca juga: Tanda Husnul Khatimah Syafiq Al-Balkhi rahimahullah berkata bahwa ada empat cara untuk istiqamah, Tidak meninggalkan perintah Allah karena sedang mengalami musibah. 2. Tidak meninggalkan perintah Allah karena kesibukan dunia. 3. Tidak mengikuti komentar orang lain dan mengedepankan hawa nafsu sendiri. 4. Beramal sesuai Al-Quran dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hilyah Al-Auliya’, 8:17, dinukil dari At-Tadzhib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hlm. 50).   43. Melakukan shalat sunnah ketika tiba dari safar umrah di masjid terdekat. Ada satu sunnah yang bisa dilakukan oleh musafir termasuk pula bagi jamaah haji yang baru pulang dari safar adalah melakukan shalat sunnah dua rakaat di masjid terdekat ketika tiba dari safar. Niatannya adalah shalat dua rakaat ketika tiba dari safar. Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, ‎أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ ضُحًى دَخَلَ الْمَسْجِدَ ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika tiba dari safar pada waktu Dhuha, beliau memasuki masjid kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat sebelum beliau duduk.” (HR. Bukhari, no. 3088) Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau mengatakan, “Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. Tatkala kami tiba di Madinah, beliau mengatakan padaku, ‎ادْخُلِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ “Masukilah masjid dan lakukanlah shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari, no. 3087) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa shalat ini adalah shalat ketika baru datang dari safar, shalat ini bukanlah shalat tahiyatul masjid. Dari perkataan Imam Nawawi ini tampak jelas bahwa shalat sunnah yang dimaksud itu berbeda dengan shalat sunnah tahiyatul masjid. Dengan melakukan shalat ini, shalat tahiyatul masjid menjadi gugur. Cara melakukan shalat ini sama seperti shalat yang lain, tentu dengan membaca surah Al-Fatihah dan surah yang mudah dibaca setelah itu.   44. Bertekad untuk berhaji bagi yang belum berhaji. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Tabaraka wa Ta’ala. Beliau bersabda, نَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ. “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barang siapa yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat mengerjakan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat hingga perlipatan yang banyak.” (HR. Bukhari, no. 6491 dan Muslim, no. 131 di kitab sahih keduanya dengan lafaz ini). Baca juga: 7 Amalan Berpahala Haji Orang yang punya hamm dalam kebaikan lantas tidak dilakukan ada beberapa bentuk: Melakukan sebab, tetapi tidak mendapatinya. Orang seperti ini mendapatkan kebaikan yang sempurna. Sudah punya hamm dan azam, tetapi ditinggalkan karena ada kebaikan yang lebih afdal. Orang seperti ini akan mendapatkan pahala kebaikan yang lebih tinggi (lebih sempurna). Sedangkan, untuk amalan yang ditinggalkan (yang lebih rendah) dicatat mendapatkan pahala dari hamm (tekadnya). Jika meninggalkan amalan karena kemalasan. Misalnya, sudah berniat mau mengerjakan shalat sunnah Dhuha. Lantas ada teman yang mengajak untuk jalan. Ia diberi ganjaran sebatas niatannya saja, tetapi tidak diberi balasan untuk perbuatan karena tidak dilakukan tanpa ada uzur.   45. Berharap kepada Allah agar bisa kembali ke tanah suci lagi. Allah Ta’ala berfirman, ‎فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37) Syaikh As-Sa’di menjelaskan ayat ini: setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke Kabah, maka semakin bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya dan kerinduannya.     Semoga melalui 40-an amalan saat safar umrah ini diharapkan para jamaah yang melaksanakan ibadah umrah dapat memperoleh manfaat yang besar dan pahala yang berlimpah. Dengan tetap menjaga keistiqamahan dalam menjalankan amalan-amalan ini, semoga umrah yang dilakukan menjadi ladang amal yang bermanfaat dan dapat membawa perubahan positif dalam kehidupan. Selamat beribadah dan semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan berkah-Nya kepada kita semua.   –   Diselesaikan di Jogja, 27 Rajab 1444 H, diperbaharui lagi pagi hari 22 Dzulhijjah 1444 H, 11 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan amalan ringan cara umrah fikih safar keutamaan umrah kumpulan amalan ringan

40-an Amalan Saat Safar Umrah di Tanah Suci

Melaksanakan ibadah umrah merupakan dambaan setiap muslim di seluruh dunia. Umrah menjadi momen yang sangat istimewa dan membahagiakan, karena selain memperoleh pahala yang besar, juga bisa mempererat hubungan dengan Sang Pencipta. Namun, untuk memperoleh manfaat maksimal dari umrah, perlu adanya persiapan yang matang dan pemahaman yang baik tentang amalan yang harus dilakukan selama di tanah suci. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dibahas sekitar 40 amalan penting yang sebaiknya dilakukan saat safar umrah, agar dapat memperoleh manfaat maksimal dari ibadah tersebut.   Daftar Isi tutup 1. 1. Jaga shalat lima waktu. 2. 2. Jaga shalat pada awal waktu. 3. 3. Jaga shalat secara berjamaah di masjid. 4. 4. Jaga takbiratul ihram bersama imam. 5. 5. Manfaatkan keringanan jamak dan qashar shalat. 6. 6. Bisa tetap menjaga shalat sunnah rawatib selama tak kesulitan. 7. 7. Jangan sampai tinggalkan shalat sunnah Fajar. 8. 8. Dapat pahala qirath lewat shalat jenazah dan mengantarkan jenazah ke kubur. 8.1. Rukun shalat jenazah 8.2. Doa shalat jenazah setelah takbir ketiga 8.3. Doa khusus untuk jenazah anak kecil 8.4. Doa shalat jenazah setelah takbir keempat 9. 9. Belajar agama di masjid Nabawi. 10. 10. Menjaga wudhu. 11. 11. Perbanyak ibadah dan doa di Raudhah. 12. 12. Perbanyak shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. 13. 13. Pahala umrah dengan shalat di Masjid Quba 14. 14. Setiap kali mendengarkan azan, jawablah dan berdoa setelah itu. 15. 15. Manfaatkanlah tempat yang mulia di tanah suci untuk berdoa. 16. 16. Manfaatkan doa saat menjadi musafir selama perjalanan. 16.1. Adab penting dalam berdoa 17. 17. Jagalah dzikir pagi dan petang. 18. 18. Menjalankan ibadah umrah dengan memenuhi rukun, wajib, dan berusaha menjauhkan diri dari larangan ihram. 19. Rukun Umrah 20. Wajib Umrah 20.1. Video Tata Cara Umrah 20.2. Yang penting saat umrah adalah jangan melakukan larangan ihram: 20.3. Ada beberapa dam yang perlu diperhatikan karena melakukan pelanggaran: 21. 19. Lakukanlah umrah berulang kali. 22. 20. Masih boleh melakukan badal umrah. 23. 21. Perbanyak Thawaf. 24. 22. Shalat bakda thawaf di belakang Maqam Ibrahim. 25. 23. Perbanyak doa, baca Al-Qur’an, atau dzikir ketika thawaf dan berdoa sapu jagad antara rukun Yamani dan Hajar Aswad. 26. 24. Ambil berkah lewat air zam-zam dan berdoa saat meminumnya. 27. 25. Ambil ibrah dari perjalanan hidup nabi di Makkah dan Madinah. 28. 26. Membantu orang yang susah saat berumrah. 29. 27. Perbanyak Talbiyah 30. 28. Perbanyak baca Al-Qur’an. 31. 29. Jaga shalat tahajud di tanah suci. 32. 30. Rutinkan Shalat Witir 33. 31. Jaga Shalat Isyraq 34. 32. Jaga Shalat Dhuha 35. 33. Masuk dan keluar masjid, jangan lupa baca membaca dzikirnya. Masuk dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri. 35.1. Doa masuk masjid 35.2. Doa keluar masjid 36. 34. Bersabar ketika tinggal di Madinah. 37. 35. Pada hari Jumat, jangan lupa membaca surah Al-Kahfi. 38. 36. Manfaatkan doa di hari Jumat. 39. 37. Ziarah kubur, misal ke kuburan Baqi’. 40. 38. Bersedekah air. 41. 39. Bersabar, jangan sampai berdebat kusir, jangan sampai bermaksiat saat berumrah. 42. 40. Ingat, siapkan oleh-oleh pada orang-orang terdekat. 43. 41. Jangan lupa doakan saudaramu saat berada di tanah suci. 44. 42. Jaga keistiqamah bakda umrah hingga akhir hayat. 45. 43. Melakukan shalat sunnah ketika tiba dari safar umrah di masjid terdekat. 46. 44. Bertekad untuk berhaji bagi yang belum berhaji. 47. 45. Berharap kepada Allah agar bisa kembali ke tanah suci lagi.   1. Jaga shalat lima waktu. Karena tak sedikit yang saat perjalanan safar umrah meninggalkan shalat lima waktu, terutama saat di pesawat. Bahkan mereka tidak mengqadha’nya sekali pun. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ “(Pembeda) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257). Baca juga: Bahaya Meninggalkan Shalat  Manfaat dari menjaga shalat lima waktu dalam sehari amatlah besar yaitu dapat menggugurkan dosa sebagimana disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari, no. 528 dan Muslim, no. 667)   2. Jaga shalat pada awal waktu. Selama safar umrah, jagalah shalat pada awal waktu, itulah yang lebih afdal. Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdal. Beliau menjawab, الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا “Shalat pada awal waktu.” (HR. Abu Daud, no. 426. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih) Ada juga perintah shalat pada waktunya, berarti shalat tersebut dilakukan ketika waktu shalat sudah masuk dan masih di waktunya, tidak sampai keluar waktu. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا “Shalat pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbuat baik kepada orang tua.” Aku berkata lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 7534 dan Muslim, no. 85) Itulah yang dimaksud dengan ayat, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238). Ayat ini memerintahkan untuk melaksanakan shalat pada waktunya masing-masing, kecuali ada sebab bisa menjamak shalat.  Baca juga: Jagalah Shalat pada Waktunya   3. Jaga shalat secara berjamaah di masjid. Mengenai keutamaan shalat berjamaah disebutkan dalam hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam mengakhirkan shalat Isyak sampai tengah malam. Kemudian beliau menghadap kami setelah shalat, lalu bersabda, صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً “Shalat berjamaah itu lebih baik 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650) Shalat berjamaah di masjid itu lebih utama daripada shalat berjamaah di selain masjid. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:171. Masjid yang dimaksud di sini adalah tempat diselenggarakannya shalat secara rutin di dalamnya. Lihat Shalah Al-Mu’min, 2:561. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ ، فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ في بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوبَةَ “Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781). Sedangkan shalat terbaik untuk wanita adalah di rumahnya, walau sendirian. Pahalanya pun sudah sama seperti ia berjamaah ke masjid. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا “Shalat seorang wanita di kamar khusus untuknya lebih afdal daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya. Shalat wanita di kamar kecilnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari shalatnya di kamarnya.” (HR. Abu Daud, no. 570. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Lihat pengertian hadits ini dalam ‘Aun Al-Ma’bud, 2: 225). Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ “Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” (HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya). Baca juga: Shalat Wanita di Masjid Ternyata Kalah Utama dengan Shalat Wanita di Rumahnya Namun, karena saat umrah, para wanita berada di masjid yang utama (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) yang pahalanya berlipat-lipat, maka disarankan untuk tetap ke masjid supaya meraih pahala melimpah.   4. Jaga takbiratul ihram bersama imam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِى جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ “Siapa yang melaksanakan shalat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, ia tidak luput dari takbiratul ihram bersama imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua hal yaitu terbebas dari siksa neraka dan terbebas dari kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, no. 241. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2652) Mendapati KEUTAMAAN TAKBIR PERTAMA BERSAMA IMAM adalah ketika makmum mengucapkan takbiratul ihram setelah takbiratul ihramnya imam. Baca juga: Berbagai Bentuk Idrok (Mendapati Imam dalam Shalat) Ada kisah disampaikan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi (salah seorang ulama Syafi’i) bahwa ada seorang yang mencuri 400 unta milik Abu Umamah Al-Bahili, juga 40 hamba sahayanya. Ia pun sedih lantas menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Ini barangkali karena engkau sering luput dari takbiratul ihram bersama imam.” Abu Umamah pun berkata, “Wahai Rasulullah, jadi seperti itukah akibatnya jika luput dari takbiratul ihram bersama imam?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bahkan itu lebih parah dari hilangnya unta sepenuh bumi.” (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi dalam Al-Qaul At-Taam fii Ahkam Al-Ma’mum wa Al-Imam, hlm. 43).   5. Manfaatkan keringanan jamak dan qashar shalat. Jamak shalat adalah mengerjakan dua shalat dikerjakan pada satu waktu. Sedangkan qashar shalat adalah meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Dalil mengenai qashar shalat saat safar. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisaa’: 101). Adapun dalil dari hadits, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِى السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ – رضى الله عنهم “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidaklah pernah menambah lebih dari dua rakaat (untuk shalat yang aslinya empat rakaat) ketika safar beliau. Begitu pula Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhum melakukan seperti itu pula.” (HR. Bukhari no. 1102) Dalil mengenai jamak shalat. Allah Ta’ala berfirman, أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra’: 78). Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengambil pelajaran dari ayat ini bahwa Shalat Zhuhur dan Ashar boleh dijamak pada satu waktu karena ada uzur, begitu pula shalat Maghrib dan Isyak. Karena Allah menggabungkan masing-masing dari dua shalat tersebut untuk satu waktu bagi yang memiliki uzur. Sedangkan bagi yang tidak memilik uzur, shalatnya tetap dua waktu (tidak digabungkan). (Taysirul Lathifil Mannan, hlm. 114-115). Sebab jamak shalat adalah karena safar, sakit, hujan yang menyulitkan, sedangkan sebab qashar shalat adalah karena safar saja.   6. Bisa tetap menjaga shalat sunnah rawatib selama tak kesulitan. Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhuma–istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummahatul mukminin–, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ “Barang siapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728) Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ “Barang siapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dalam Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb disebutkan: Jika seseorang shalat bersama orang-orang yang tidak mengqashar shalat, yang lebih afdhal adalah ia melakukan shalat sunnah rawatib. Karena ketika itu jadinya ia dikenakan hukum orang-orang yang mukim, sehingga ia diperintah tetap melaksakanan shalat sunnah rawatib. Namun jika ditinggalkan, tidaklah mengapa. Akan tetapi jika shalat musafir tidak diqashar (karena bermakmum di belakang imam mukim, -pen), maka yang lebih afdhal adalah ia melaksanakan shalat sunnah rawatib. Akan tetapi, jika shalatnya diqashar, yang terbaik adalah meninggalkan shalat rawatib Zhuhur, (Maghrib, -pen) dan ‘Isya. Adapun shalat dua rakaat sebelum Shubuh, tetap dikerjakan ketika safar maupun saat mukim. Demikian juga shalat witir bagi musafir, tetap dikerjakan. Sama halnya pula shalat sunnah dua raka’at sebelum Shubuh. Adapun sunnah rawatib Magrib, Zhuhur, dan ‘Isya, yang lebih afdhal adalah meninggalkannya bagi para musafir jika mereka mengqashar shalat. (Fatwa Nuur ‘ala Ad-Darb, 10: 382) Baca juga: Shalat Sunnah Rawatib bagi Musafir ketika Shalat di Belakang Imam Mukim Shalat rawatib itu ada dua macam: Shalat rawatib muakkad (yang sangat ditekankan), ada 10 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib ghairu muakkad (tidak terlalu ditekankan), ada 12 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib muakkad, ada 10 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Shubuh 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Magrib 2 rakaat bakdiyah Isya Shalat rawatib ghairu muakkad, ada 12 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 4 rakaat qabliyah Ashar 2 rakaat qabliyah Magrib 2 rakaat qabliyah Isya Rincian di atas diringkas dari Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:532-536. Baca juga: Penjelasan Lengkap Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad   7. Jangan sampai tinggalkan shalat sunnah Fajar. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ “Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat dibanding dengan shalat sunnah dua raka’at sebelum Fajar” (HR. Muslim, no. 724). Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqashar shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qabliyah dan bakdiyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh (sunnah Fajar). Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar.” (Zaadul Ma’ad, 1:456). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu perhatian pada shalat sunnah fajar karena keutamaannya yang luar biasa. Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah qabliyah Shubuh adalah hadits dari ‘Aisyah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا “Dua rakaat sunnah fajar (shalat sunnah qabliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim, no. 725). Dalam lafaz lain, ‘Aisyah berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara mengenai dua rakaat ketika telah terbih fajar shubuh, لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا “Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” (HR. Muslim, no. 725). Baca juga: Apakah Musafir Tetap Mengerjakan Shalat Sunnah? Pengertian “lebih baik dari dunia dan seisinya” adalah shalat sunnah Fajar lebih baik daripada harta, keluarga, anak, dan perhiasan dunia lainnya yang seandainya manusia memiliki semuanya tetap masih kalah dengan keutamaan shalat sunnah Fajar. Kebahagiaan akhirat tentu lebih utama daripada kebahagiaan dunia karena akhirat itu kekal, sedangkan dunia itu akan fana. Baca juga: Shalat Sunnah Fajar Lebih Baik daripada Dunia Seisinya, Apa Maksudnya?   8. Dapat pahala qirath lewat shalat jenazah dan mengantarkan jenazah ke kubur. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ  . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ  مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ “Barang siapa yang menghadiri prosesi jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barang siapa yang menghadiri prosesi jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari, no. 1325 dan Muslim, no. 945) Dalam riwayat Muslim disebutkan, مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ « أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ. “Barang siapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” “Ukuran paling kecil dari dua qiroth adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim, no. 945)   Rukun shalat jenazah [1] niat, [2] empat kali takbir, [3] berdiri bagi yang mampu, [4] membaca Al-Fatihah, [5] membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah takbir kedua, [6] mendoakan mayat setelah takbir ketiga, dan [7] salam. Baca juga: Fikih Pengurusan Jenazah   Doa shalat jenazah setelah takbir ketiga Di antara yang bisa dibaca pada doa setelah takbir ketiga: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ Allahummaghfirla-hu warham-hu wa ‘aafi-hi wa’fu ‘an-hu wa akrim nuzula-hu, wa wassi’ madkhola-hu, waghsil-hu bil maa-i wats tsalji wal barod wa naqqi-hi minal khothoyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danaas, wa abdil-hu daaron khoirom min daari-hi, wa ahlan khoirom min ahli-hi, wa zawjan khoirom min zawji-hi, wa ad-khilkul jannata, wa a’idz-hu min ‘adzabil qobri wa ‘adzabin naar. “Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim no. 963) Catatan: Doa di atas berlaku untuk mayit laki-laki. Jika mayit perempuan, maka kata –hu atau –hi diganti dengan –haa. Contoh “Allahummaghfirla-haa warham-haa …”. Doa di atas dibaca setelah takbir ketiga dari shalat jenazah.   Doa khusus untuk jenazah anak kecil اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا Allahummaj’ahu lanaa farothon wa salafan wa ajron “Ya Allah! Jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik serta pahala buat kami”. (HR. Bukhari secara mu’allaq -tanpa sanad- dalam Kitab Al-Janaiz, 65 bab Membaca Fatihatul Kitab Atas Jenazah 2: 113)   Doa shalat jenazah setelah takbir keempat اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّ بَعْدَهُ وَاغْفِرْلَناَ وَلَهُ Allahumma laa tahrimnaa ajro-hu wa laa taftinnaa ba’da-hu waghfir lanaa wa la-hu “Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memperoleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya, ampunilah kami dan ampunilah dia”. Untuk mayit perempuan, kata –hu diganti –haa. Baca juga: Bacaan Shalat Jenazah   9. Belajar agama di masjid Nabawi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ لِيُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. “Barang siapa masuk masjid kami ini (Masjid Nabawi) untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka ia seperti orang yang berperang di jalan Allah.” (HR. Ahmad, no. 8428)   10. Menjaga wudhu. Dari Abu Buraidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam di pagi hari memanggil Bilal lalu berkata, يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِى إِلَى الْجَنَّةِ مَا دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَطُّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى “Wahai Bilal, kenapa engkau mendahuluiku masuk surga? Aku tidaklah masuk surga sama sekali melainkan aku mendengar suara sendalmu di hadapanku. Aku memasuki surga di malam hari dan aku dengar suara sendalmu di hadapanku.” Bilal menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِى حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَىَّ رَكْعَتَيْنِ “Wahai Rasulullah, aku biasa tidak meninggalkan shalat dua rakaat sedikit pun. Setiap kali aku berhadats, aku lantas berwudhu dan aku membebani diriku dengan shalat dua rakaat setelah itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3689 dan Ahmad, 5:354. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits tersebut hasan) Syaikh Abu Malik dalam Fiqhus Sunnah lin Nisaa’ (hlm. 49) menyatakan bahwa disunnahkan berwudhu setiap kali wudhu tersebut batal karena adanya hadats. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Disunnahkan menjaga wudhu atau diri dalam keadaan suci. Termasuk juga kala tidur dalam keadaan suci.” (Kitab Matan Al Idhoh, hlm. 20).   11. Perbanyak ibadah dan doa di Raudhah. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Siapa saja yang menziarahi masjid Nabawi untuk shalat dua rakaat di Raudhah, tempat yang mulia atau mengerjakan shalat sunnah semampu dia karena ada hadits yang menjelaskan keutamaan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ “Antara rumahku dan mimbarku adalah di antara taman surga.” (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 1391) Dari Yazid bin Abi ‘Ubaid, ia berkata, “Aku datang bersama Salamah bin Al-Akwa’, lalu aku shalat di Raudhah Syarif. Aku berkata: Wahai Abu Muslim, mengapa engkau sengaja shalat di Raudhah. Ia lantas menjawab, “Aku pernah melihat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersengaja shalat di Raudhah.” (HR. Bukhari, no. 502 dan Muslim, no. 509). Namun, shalat di Raudhah hendaknya tidak sampai bertindak melampaui batas terhadap yang lain (dengan mendorong, atau bertindak kasar) atau malah menyulitkan orang yang lemah. (Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 36863) Catatan penting: Dalam Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah disebutkan bahwa seluruh tempat di masjid Nabawi dalam hal pahala itu sama. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram.” (HR. Muslim, no. 1394)   12. Perbanyak shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1.000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad, 3:343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 1173.) Baca juga: Pahala Shalat di Makkah 100.000 Kali Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi   13. Pahala umrah dengan shalat di Masjid Quba Dari Usaid bin Zhuhair Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلاَةُ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ كَعُمْرَةٍ “Shalat di Masjid Quba’, (pahalanya) seperti umrah.”(HR. Tirmidzi, no. 324 dan Ibnu Majah, no. 1411. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَصَلَّى فِيهِ صَلاَةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ “Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu ia mendatangi masjid Quba’, lantas ia melaksanakan shalat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah, no. 1412, An-Nasai, no. 700. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).   14. Setiap kali mendengarkan azan, jawablah dan berdoa setelah itu. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ “Jika kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muazin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya (memberi ampunan kepadanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim, no. 384). Ada lima amalan yang bisa diamalkan ketika mendengarkan azan shalat lima waktu sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. (1) mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muazin. (2) bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Allahumma sholli ‘ala Muhammad atau membaca shalawat ibrahimiyyah seperti yang dibaca saat tasyahud. (3) minta kepada Allah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wasilah dan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah: Allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah. (4) membaca: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa, sebagaimana disebutkan dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash. (5) memanjatkan doa sesuai yang diinginkan. (Lihat Jalaa-ul Afham, hlm. 329-331) Baca juga: 5 Amalan Ketika Mendengar Azan Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا “Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara azan dan iqamah, maka berdoalah (kala itu).” (HR. Ahmad, 3:155. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Baca juga: Doa antara Azan dan Iqamah   15. Manfaatkanlah tempat yang mulia di tanah suci untuk berdoa. Misal: di Masjidil Haram, di Hijr Ismail, di Multazam, di bukit Shafa dan Marwah saat sai, dan Raudhah di Masjid Nabawi. Ingat, doa itu besar pengaruhnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ “Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Taala selain doa.” (HR. Tirmidzi, no. 3370; Ibnu Majah, no. 3829, Ahmad, 2:362. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Yang penting doa dengan penuh rasa optimis. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Baca juga: Allah Dekat dengan Orang yang Berdoa Yakinlah bahwa doa akan memudahkan urusan kita. Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَلاَ يَزِيدُ فِى الْعُمُرِ إِلاَّ الْبِرُّ “Yang dapat menolak takdir hanyalah doa. Yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 2139 dalam Kitab Al-Qadr, Bab “Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa”. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 154, 1:286-288, menyatakan bahwa hadits ini hasan.) Baca juga:  Doa Dapat Mengubah Takdir 7 Catatan Mengenai Doa   16. Manfaatkan doa saat menjadi musafir selama perjalanan. Dalam hadits disebutkan, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ “Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) doa yang tidak diragukan lagi, yaitu: (1) doa orang yang terzalimi, (2) doa seorang musafir, (3) doa jelek orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad, 12:479, no. 7510, Tirmidzi, 4:314, no. 1905, Ibnu Majah, 2:1270, no. 3862. Syaikh Al-Albani menghasankan hadits ini). Di antara sebab terkabulnya doa disebutkan dalam hadits Arbain no. 10: Keadaan dalam perjalanan jauh (safar). Meminta dalam keadaan sangat butuh (genting). Menengadahkan tangan ke langit. Memanggil Allah dengan panggilan “Yaa Rabbii” (wahai Rabb-ku) atau memuji Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, misalnya: “Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam” (wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kemuliaan), “Yaa Mujiibas Saa’iliin” (wahai Rabb yang Mengabulkan doa orang yang meminta kepada-Mu), dan lain-lain. Baca juga: Hadits Arbain 10, Halal Berpengaruh pada Doa Kita Adab penting dalam berdoa Tidak terburu-buru dalam meminta terkabulnya doa dengan mengatakan, “Aku sudah terus berdoa, tetapi tak juga terkabul.” Menghadirkan hati ketika memanjatkan doa. Percaya kepada janji Allah bahwa doa itu terkabul. Memilih waktu terbaik untuk berdoa. Benar-benar merasa membutuhkan Allah. Menghadap kiblat. Berdoa dalam keadaan suci. Mengangkat tangan saat berdoa. Memuji Allah di awal doa, lalu bersalawat pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahului dengan taubat dan istigfar, seperti doa Nabi Yunus ‘alaihis salam yang mengakui kezalimannya terlebih dahulu: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Artinya: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang berbuat aniaya). Meminta dengan penuh pengharapan yang besar dan rasa takut. Bertawassul dengan nama dan sifat Allah. Mendahului doa dengan sedekah. Memilih doa yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Diambil dari buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup)   17. Jagalah dzikir pagi dan petang. Imam Nawawi dalam Shahih Muslim membawakan bab dengan judul “Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat Shubuh dan keutamaan masjid“. Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in, Simak bin Harb. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh, أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- “Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?” Jabir menjawab, نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ الصُّبْحَ أَوِ الْغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِى أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ. “Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.” (HR. Muslim, no. 670) Imam Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir setelah Shubuh dan duduk di tempat shalat jika tidak memiliki udzur (halangan). Al-Qadhi mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama. Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdoa hingga terbit matahari.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 8:29, Asy-Syamilah) Baca juga: Malas Beraktivitas Karena Lupa Dzikir Membaca dzikir pada pagi dan petang termasuk menjalani perintah Allah untuk memperbanyak dzikir sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat, وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرَاً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan berdzikirlah pada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا () وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا () “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42). Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Dzikir yang banyak adalah dengan membaca tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), tasbih (subhanallah), takbir (Allahu Akbar) dan perkataan lainnya yang mendekatkan diri kepada Allah. Yang paling minimal adalah kita merutinkan dzikir pagi-petang, dzikir bakda shalat lima waktu, dzikir ketika muncul sebab tertentu. Dzikir ini baiknya dirutinkan di setiap waktu dan keadaan.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 706) Baca juga: Disuruh Dzikir yang Banyak Manfaat berdzikir di antaranya disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wabil Ash-Shayyib: Senantiasa berdzikir kepada Allah menyebabkan seseorang tidak mungkin melupakan-Nya. Orang yang melupakan Allah adalah sebab sengsara dirinya dalam kehidupannya dan di hari ia dikembalikan. Seseorang yang melupakan Allah menyebabkan ia melupakan dirinya dan maslahat untuk dirinya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19) Baca juga: 51 Keutamaan Dzikir Waktu dzikir pagi: dari terbit fajar Shubuh hingga menjelang Zhuhur. Waktu dzikir petang: dari tenggelam matahari hingga pertengahan malam.   18. Menjalankan ibadah umrah dengan memenuhi rukun, wajib, dan berusaha menjauhkan diri dari larangan ihram.  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Haji mabrur tidak ada balasan untuknya melainkan surga.” (HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349) Baca juga: Keutamaan Umrah   Rukun Umrah Ihram, Thawaf umrah, Sa’i umrah, Halq atau taqshir (tahallul), dan Tertib.   Wajib Umrah Ihram dari miqat. Menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan ketika ihram.   Video Tata Cara Umrah   Yang penting saat umrah adalah jangan melakukan larangan ihram: Memakai pakaian yang meliputi (membentuk lekuk tubuh, seperti pakaian, celana), khusus laki-laki, Menutup kepala, baik seluruh atau sebagiannya, Menutup sebagian atau seluruh wajah serta memakai sarung tangan (bagi wanita), Memakai wewangian atau sejenisnya di badan, baju, atau tempat tidur (berlaku bagi laki-laki dan perempuan), Memakai minyak untuk rambut atau jenggot, Berjimak, Menghilangkan sebagian rambut atau kuku, Berburu hewan liar darat yang bisa dimakan, Memotong tumbuhan yang berada di tanah haram, kecuali idzkhir dan sejenisnya, dan Melaksanakan akad nikah.   Ada beberapa dam yang perlu diperhatikan karena melakukan pelanggaran: Pertama: Dam yang wajib dibayarkan karena meninggalkan nusuk (yaitu meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, contoh: tidak ihram dari miqat), dam ini secara berurutan adalah: Seekor kambing yang memenuhi syarat untuk qurban. Jika tidak mendapati, puasa sepuluh hari, di mana tiga hari di tanah suci dan tujuh hari apabila telah kembali ke tanah air. Kedua: Dam yang wajib dibayarkan karena mencukur (contoh: mencukur seluruh rambut kepala atau tiga helai saja) dan at-taraffuh (bersenang-senang, contoh: memakai wewangian dan minyak), dam ini berdasarkan pilihan: Seekor kambing yang memenuhi syarat untuk qurban. Puasa tiga hari. Bersedekah tiga sha’ kepada enam orang miskin, masing-masing orang miskin mendapatkan setengah sha’ makanan yang sah diberikan untuk zakat fitrah. Ketiga: Dam yang wajib yang dibayarkan karena berhubungan intim. Dam ini secara berurutan adalah: Satu ekor unta. Jika tidak mendapati, maka satu ekor sapi. Jika tidak mendapati, maka tujuh ekor kambing. Jika masih tidak mendapati, maka ia menilai unta (dengan uang) dan membeli makanan dengan harganya dan menyedekahkannya. Jika tidak mendapati, ia puasa satu hari untuk setiap mud.   19. Lakukanlah umrah berulang kali. Orang yang berumrah boleh menunaikan umrah lebih dari sekali dalam sekali safar, baik berumrah untuk dirinya sendiri ataukah untuk orang tuanya yang sakitnya tak kunjung sembuh yang tidak mampu berumrah. Namun, syaratnya yang mengumrahkan harus sudah berumrah untuk dirinya sendiri. Bahkan mengulangi umrah termasuk dalam fadhilah amal, amalan yang utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا “Umrah ke umrah itu menghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Muslim) Syarat pertama untuk sahnya umrah kedua bagi yang sudah berada di dalam Makkah, ia hendaknya keluar ke tanah halal terdekat, seperti Tan’im. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah umrah dua kali pada haji Wada’ kurang dari 20 hari. Umrah pertama yaitu berangkat dari Madinah. Umrah kedua adalah berihram dari Tan’im sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut ini. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مَعَهَا أَخَاهَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ فَأَعْمَرَهَا مِنْ التَّنْعِيمِ. متفق عليه. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus bersamanya saudaranya ‘Abdurrahman, ia diperintahkan berumrah dari Tan’im. (Muttafaqun ‘alaih) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika seseorang tinggal di Makkah atau singgah di Makkah lantas berkeinginan untuk umrah, maka miqatnya adalah miqat terdekat. Inilah pendapat dari Imam Syafii. Para ulama Syafiiyah pun menyepakatinya. Para ulama Syafiiyah berpendapat bahwa cukup baginya untuk mencapai tanah halal walau hanya satu langkah dari arah mana saja selama itu sudah masuk tanah halal. Itu adalah miqat yang wajib. Adapun yang disunnahkan adalah mengambil miqat untuk umrah dari Ji’ronah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berumrah dari Ji’ronah. Jika tidak bisa, maka lewat Tan’im karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada Aisyah untuk mengambil miqat dari Tan’im. Tan’im ini adalah miqat terdekat dari Baitullah. Jika tidak bisa pula, bisa mengambil miqat dari Hudaibiyyah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam shalat di situ. Urutan miqat dari segi keutamaan adalah Ji’ronah, Tan’im, lalu Hudaibiyyah. Inilah yang disebutkan ulama Syafiiyah dan mereka menyepakatinya dan tidak ada ikhtilaf di dalamnya. Lihat Al-Majmu’, 7:211 dan Mughi Al-Muhtaj, 2:229. Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah dalam Al-Minhaj Al-Qawim berkata, يسنُّ الإكثار من العمرة، ولو في اليوم الواحد؛ إذ هي أفضل من الطواف على المعتمد “Disunnahkan memperbanyak umrah walaupun dalam satu hari. Amalan tersebut lebih afdal daripada memperbanyak thawaf. Demikian pendapat mu’tamad (pendapat resmi dalam madzhab Syafii).” Baca juga: Inilah Dalil dan Fatwa Ulama Mengenai Bolehnya Umrah Berulang Kali dalam Sekali Safar   20. Masih boleh melakukan badal umrah. Ulama Syafiiyah berpendapat bahwa boleh ada badal atau menggantikan menunaikan umrah dari yang lain jika yang digantikan adalah mayat atau orang yang masih hidup, tetapi tidak lagi memiliki kemampuan untuk menunaikannya sendiri. Syarat badal umrah adalah: (1) yang membadalkan sudah pernah berumrah, (2) membadalkan hanya untuk satu orang. Kalau badal haji, ada dalilnya sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ. قَالَ « مَنْ شُبْرُمَةَ ». قَالَ أَخٌ لِى أَوْ قَرِيبٌ لِى. قَالَ « حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ ». قَالَ لاَ. قَالَ « حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ » Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang mengucapkan, “Labbaik ‘an Syubrumah (aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah, atas nama Syubrumah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Memangnya siapa Syubrumah?” Ia menjawab, “Syubrumah adalah saudaraku atau kerabatku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Engkau sudah berhaji untuk dirimu?” Ia menjawab, “Belum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memberi saran, “Berhajilah untuk dirimu dahulu, barulah berhaji atas nama Syubrumah.” (HR. Abu Daud, no. 1811. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani berbeda penilaiannya, beliau menyatakan hadits ini sahih). Para ulama berkata bahwa hukum badal umrah sama dengan hukum badal haji.   Baca juga: Badal Umrah, Adakah Dalilnya? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Mengumrahkan orang yang telah meninggal dunia itu dibolehkan, begitu pula untuk orang yang tidak mampu untuk menunaikan umrah untuk dirinya sendiri karena sudah sepuh atau menderita penyakit yang sulit diharapkan sembuhnya. Yang membadalkan umrah termasuk orang yang berbuat baik dan akan mendapatkan ganjaran. Orang yang membadalkan jika dibayar untuk hal ini juga dibolehkan. Namun, hendaklah orang yang membadalkan dipilih–menurut sangkaan kuat–adalah orang yang saleh dan paham hukum. Yang menjadi wakil (penerima kuasa) meniatkan untuk menunaikan umrah orang lain atau orang yang memberi kuasa mengabarkan kalau ia mewakilkan pada orang lain. Karena orang yang memberi kuasa telah rida dengan penggantian tersebut karena ia menaruh percaya. Namun, jika yang membadalkan itu dua orang, maka tidaklah diterima.” (Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 142234) Catatan: Badal umrah hanya boleh untuk mereka yang belum pernah berumrah. Jika sudah pernah berumrah, maka boleh dibadalkan jika ada wasiat.   21. Perbanyak Thawaf. Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ, لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْل أوْ نَهَارٍ “Wahai Bani Abdu Manaf, janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” (HR. Abu Daud, no. 1894; Tirmidzi, no. 868, An-Nasai, 1:284; Ibnu Majah, no. 1254; Ahmad, 27:297, Ibnu Hibban, 1552, 1553, 1554. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih, perawinya perawi Muslim. Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:210-211) Hadits ini menunjukkan bahwa boleh melakukan thawaf pada waktu kapan pun, begitu pula shalat sunnah bakda thawaf boleh dilakukan pada waktu apa pun, meskipun pada waktu terlarang untuk shalat dikarenakan shalat sunnah bakda thawaf adalah shalat sunnah yang punya sebab. Baca juga: Thawaf Bebas pada Waktu Kapan Pun Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan dalam fatawanya yang diringkas sebagai berikut. Orang yang masuk Masjidil Haram ada dua keadaan: Yang masuk untuk bermaksud melakukan thawaf untuk haji, umrah, atau sekadar melakukan thawaf sunnah, maka yang dilakukan pertama kali adalah thawaf. Orang seperti ini tidak disyariatkan melakukan shalat tahiyatul masjid sebelum thawaf. Karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan sahabatnya tidaklah pernah melakukan seperti itu. Jumhur ahli fikih berpendapat seperti itu. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah sedikit ulama seperti Ibnu ‘Aqil dari kalangan Hambali sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Syarh ‘Umdah Al-Fiqh. Yang dikecualikan dalam hal ini adalah jika masuk Masjidil Haram dalam keadaan sangat padat sehingga sulit untuk langsung thawaf. Hendaklah melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid, lalu menunggu sampai suasana tidak terlalu padat untuk memulai thawaf.  Yang masuk untuk bermaksud shalat, duduk, menghadiri majelis ilmu, berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau ibadah lainnya, maka disunnahkan melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid karena keumuman hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ “Apabila di antara kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah ia duduk hingga shalat dua rakaat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1163 dan Muslim, no. 714) Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (10:306) disebutkan, “Jumhur ahli fikih berpendapat bahwa tahiyatul Masjidil Haram adalah melakukan thawaf untuk orang yang baru memasuki Makkah, baik ia adalah pedagang, orang yang berhaji, atau selainnya. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, إن النبي صلى الله عليه وسلم حين قدم مكة توضأ , ثم طاف بالبيت “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika masuk Makkah, beliau berwudhu, kemudian melakukan thawaf keliling Kabah.” (HR. Bukhari, no. 1614). Dua rakaat tahiyatul Masjidil Haram sudah dicukupi dengan dua rakaat bakda thawaf. Adapun penduduk Makkah yang tidak diperintahkan untuk thawaf atau tidak masuk untuk thawaf, ia ingin melakukan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, maka tahiyatul Masjidil Haram untuknya adalah shalat sebagaimana yang dilakukan untuk menghormati masjid lainnya.” Demikian secara ringkas.  Lihat bahasan Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 106318. Baca juga: Thawaf ataukah Shalat Tahiyatul Masjid ketika Masuk Masjidil Haram? Beberapa Penjelasan tentang Thawaf   22. Shalat bakda thawaf di belakang Maqam Ibrahim. Surah yang dibaca pada shalat dua rakaat: rakaat pertama, surah Al-Kaafiruun; rakaat kedua, surah Al-Ikhlas. Dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang amat panjang disebutkan, فجعل المقام بينه وبين البيت [ فصلى ركعتين ] فكان يقرأ في الركعتين : ( قل هو الله أحد ) و ( قل يا أيها الكافرون ) ( وفي رواية : ( قل يا أيها الكافرون ) و ( قل هو الله أحد ) “Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan maqam Ibrahim antara dirinya dan Ka’bah, lalu beliau laksanakan shalat dua rakaat. Dalam dua rakaat tersebut, beliau membaca Qulhuwallahu ahad (surah Al-Ikhlas) dan Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surah Al-Kafirun). Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surah Al Kafirun) dan Qulhuwallahu ahad (surah Al Ikhlas).” (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 56) Baca juga: Waktu Membaca Surah Al-Ikhlas   23. Perbanyak doa, baca Al-Qur’an, atau dzikir ketika thawaf dan berdoa sapu jagad antara rukun Yamani dan Hajar Aswad. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ فَأَقِلُّوا مِنْ الْكَلَامِ “Thawaf di Ka’bah seperti shalat, tetapi di dalamnya dibolehkan sedikit bicara.” (HR. An-Nasai, no. 2922) Dalam hadits lainnya disebutkan, الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلاَةٌ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَحَلَّ فِيهِ الْمَنْطِقَ ، فَمَنْ نَطَقَ فِيهِ فَلاَ يَنْطِقْ إِلاَّ بِخَيْرٍ “Thawaf di Ka’bah seperti shalat, tetapi Allah masih membolehkan berbicara saat itu. Barang siapa yang berbicara ketika thawaf, maka janganlah ia berkata selain berkata yang benar.” (HR. Ad-Darimi, no. 1847 dan Ibnu Hibban, no. 3836). Baca juga: Wudhu Batal di Pertengahan Thawaf  Dari ‘Abdullah bin As-Saaib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ (رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di antara dua rukun: Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirooti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka). ” (HR. Abu Daud ,no. 1892. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Sunnah-Sunnah Thawaf   24. Ambil berkah lewat air zam-zam dan berdoa saat meminumnya. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ “Air zam-zam sesuai keinginan ketika meminumnya.” (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Lihat Al Maqosid Al Hasanah, As Sakhowiy hal. 359. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1165) [Maksudnya doa apa saja yang diucapkan ketika meminumnya adalah doa yang mustajab]. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ketika meminum air zam-zam, beliau berdoa: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً ناَفِعاً ، وَرِزْقاً وَاسِعاً وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ “Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon waasi’an wa syifa-an min kulli daa-in” [Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, ilmu yang bermanfaat, rizqi yang melimpah, dan kesembuhan dari setiap penyakit]. Namun, riwayat ini adalah riwayat yang dho’if (lemah). (Lihat Dho’if At Targhib no. 750, Syaikh Al Albani)   25. Ambil ibrah dari perjalanan hidup nabi di Makkah dan Madinah. Allah Ta’ala berfiman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).   26. Membantu orang yang susah saat berumrah. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ “Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580). Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).   27. Perbanyak Talbiyah Talbiyah secara tinjauan bahasa berarti menjawab yang memanggil. Talbiyah ini dimutlakkan pada menegakkan ketaatan. Sedangkan talbiyah secara syari adalah perkataan orang yang berihram “LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA, LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK (artinya: Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujaan dan nikmat adalah milik-Mu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu). Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, أنَّ تلبيةَ رسولِ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم: لبَّيكَ اللهمَّ لبَّيكَ، لبَّيكَ لا شريكَ لك لبَّيكَ؛ إنَّ الحمدَ والنِّعمةَ لك والمُلْك، لا شريكَ لك “Talbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA, LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK.” (HR. Bukhari, no. 1549 dan Muslim, no. 1184) Talbiyah adalah sunnah dalam ihram sebagaimana pendpaat dalam madzhab Syafiiyah, Hambali, dan dipilih oleh Ibnu Baz dan Ibnu ‘Utsaimin. Dari Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ayahnya (Ibnu ‘Umar), ia berkata, سَمِعْتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهِ عليه وسَلَّم يُهِلُّ مُلَبِّدًا، يقول: لبَّيك اللَّهُمَّ لبَّيْك، لبَّيْك لا شريكَ لك لبَّيْك، إنَّ الحمْدَ والنِّعمَةَ لك والمُلْك، لا شريكَ لك. لا يزيدُ على هؤلاءِ الكَلِماتِ. وإنَّ عبدَ اللهِ بنَ عُمَرَ رَضِي الله عنهما كان يقول: كان رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسَلَّم يركَعُ بذي الحُلَيفة ركعتينِ، ثم إذا استوت به النَّاقَةُ قائمةً عند مسجِدِ ذي الحُلَيفة، أهلَّ بهؤلاءِ الكَلِماتِ “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertalbiyah: LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA, LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK. Beliau tidak menambah lebih dari kalimat tersebut. Sesungguhnya ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat di Dzulhulaifah dua rakaat. Ketika beliau telah menaiki unta, beliau menghadap Masjid Dzulhulaifah, beliau bertalbiyah dengan kalimat tersebut.” (HR. Bukhari, no. 5915 dan Muslim, no. 1184) Catatan: Talbiyah termasuk dzikir dan tidak wajib saat umrah maupun haji sebagaimana dzikir lainnya dalam umrah dan haji. Pria disunnahkan mengeraskan suara saat membaca talbiyah, wanita disunnahkan tidak mengeraskan suaranya, yaitu bertalbiyah dengan sirr yang cukup didengar sendiri. Disunnahkan bertalbiyah dari awal ihram dan talbiyah untuk umrah berakhir ketika akan mulai thawaf umrah.   28. Perbanyak baca Al-Qur’an. Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ : رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ ،وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ : لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ ، وَمَثلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الرَّيحَانَةِ : رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ : لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ “Permisalan orang yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah utrujah, bau dan rasanya enak. Permisalan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah kurma, tidak beraroma, tetapi rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan raihanah, baunya menyenangkan, tetapi rasanya pahit. Permisalan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan hanzhalah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5059 dan Muslim, no. 797)   29. Jaga shalat tahajud di tanah suci. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا عَبْدَ اللهِ! لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ “Wahai ‘Abdullah, janganlah seperti si fulan. Dahulu ia rajin mengerjakan shalat malam, tetapi sekarang ia meninggalkannya.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1152 dan Muslim, no. 1159, 185) Ingat, shalat tahajud harus didahului dengan tidur malam. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79) Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya berkata, “Tahajud itu setelah bangun tidur. ‘Alqamah, Al-Aswad, Ibrahim An-Nakha’i, dan selainnya berkata seperti itu. Makna tahajud dalam bahasa Arab seperti itu. Hadits-hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tahajud itu setelah bangun tidur.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:103) Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzammil: 6). Nasyia’atal lail berarti bangun di waktu malam. Inilah yang dimaksudkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas secara mu’allaq dengan shighah jazm (tegas). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (17:474) berkata, “Nasyiatal lail menurut kebanyakan ulama adalah seseorang yang bangun setelah tidur. Tahajud itu bukanlah pada awal malam. Inilah yang tepat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempraktikkan seperti itu. Hadits yang menerangkan seperti ini adalah mutawatir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tahajud pasti setelah bangun malam, bukan bangun antara dua ‘Isyak.” Baca juga: Shalat Tahajud Didahului Tidur Malam (Bahasan Bulughul Maram) Tahajud itu Dilakukan Setelah Bangun Tidur Malam   30. Rutinkan Shalat Witir Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ “Witir itu dianjurkan pada setiap muslim. Siapa yang suka melakukan shalat witir dengan lima rakaat, maka lakukanlah. Siapa yang suka melakukan shalat witir dengan tiga rakaat, maka lakukanlah. Siapa yang suka melakukan shalat witir dengan satu rakaat, maka lakukanlah.” (HR. Abu Daud, no. 1422; An-Nasai, 3:238; Ibnu Majah, no. 1190; Ibnu Hibban, 6:170. Perawi hadits ini terpercaya. Hadits ini dinyatakan marfu’ oleh sebagian ulama, ada pula yang menyatakan mawquf). Baca juga: Hukum Shalat Witir dan Cara Pengerjaannya Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَصَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً “Jadikanlah shalat witir sebagai penutup shalat malam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1998 dan Muslim, no. 751, 151)   31. Jaga Shalat Isyraq Shalat isyraq adalah shalat Dhuha yang dikerjakan pada awal waktu. Waktu pengerjaannya adalah 15 menit setelah matahari terbit. Caranya adalah: (1) lakukan shalat Shubuh berjamaah bagi laki-laki di masjid atau bagi perempuan di rumah, (2) melaksanakan shalat dua rakaat pada saat matahari meninggi (15 menit setelah matahari terbit). Dengan shalat isyraq akan mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ “Barang siapa yang mengerjakan shalat Shubuh dengan berjamaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 174, 181, 209. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, 1: 189 mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ » “Barang siapa yang melaksanakan shalat Shubuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umrah.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi, no. 586. Syaikh Muhammad Bazmul menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi, hasan dilihat dari jalur lain) Baca juga: Shalat Isyraq Dilakukan Wanita di Rumah Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, كَانَ النبيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا صَلَّى الفَجْرَ تَرَبَّعَ في مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَسْنَاء “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu apabila telah melakukan shalat Shubuh, beliau duduk bersila di tempat duduknya sampai terbitnya matahari yang putih indah sinarnya.” (HR. Muslim, no. 4851; Abu Daud, no. 4850) Baca juga: Duduk Setelah Shalat Shubuh lalu Shalat Isyraq    32. Jaga Shalat Dhuha Shalat Dhuha itu dikerjakan ketika matahari meninggi, 15 menit setelah matahari terbit sampai menjelang Zhuhur. Rakaat minimal adalah 2 rakaat, rakaat maksimal tidaklah dibatasi. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar makruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim, no.  720). Shalat Dhuha paling afdal dilakukan saat makin siang sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut. أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) yaitu ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim no. 748). Artinya, ketika kondisi panas di akhir waktu. Imam Nawawi mengatakan, “Inilah waktu utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula ulama Syafiiyah mengatakan bahwa ini adalah waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 28) Baca juga: Waktu Shalat Dhuha   33. Masuk dan keluar masjid, jangan lupa baca membaca dzikirnya. Masuk dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri. Doa masuk masjid بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ “BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLOHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWAABA ROHMATIK (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah kepadaku pintu rahmat-Mu).”(HR. Ibnu Majah, no. 771 dan Tirmidzi, no. 314. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Doa keluar masjid بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ فَضْلِكَ “BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLOHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWABAA FADHLIK (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah padaku pintu karunia-Mu).”(HR. Ibnu Majah, no. 771 dan Tirmidzi, no. 314. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   34. Bersabar ketika tinggal di Madinah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَاءِ الْمَدِينَةِ وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا “Tidaklah seseorang dari umatku sabar terhadap cobaan Madinah dan kerasnya (kesusahannya), kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat.” [HR. Muslim] Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا “Tidaklah seseorang sabar terhadap kesusahannya (Madinah) kemudian dia mati, kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya, atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat. Jika dia seorang Muslim.” [HR. Muslim] Ujian berupa kesusahan dan penyakit yang muncul bagi orang yang datang kemudian tinggal di kota Madinah bisa berupa kesulitan mencari mata pencaharian atau bisa berupa penyakit yang muncul akibat cuaca yang ekstrim semisal demam. Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah, beliau berkata, واللأواء في اللغة الشدة , ( نقله الباحث من الصحاح للجوهري ) , وعطف الشدة عليها للتفسير أو التأكيد , أو أن ( اللأواء ) المراد بها ضيق المعيشةوتعسر الكسب , والشدة : ما يصيب الإنسان في بدنه بسبب شدة الحر والبرد ونحو ذلك “Al-Awa’ secara bahasa adalah keras (syiddah), al-awa’ disambung dengan kata keras (syiddah) untuk penekanan. Dan yang dimaksud dengan kesempitan hidup di madinah adalah sulitnya mencari mata pencaharian. Adapun maksud kata keras (syiddah) adalah apa yang menimpa manusia pada badannya (penyakit) akibat ekstrimnya cuaca panas dan dingin (di kota Madinah).” [Mura’atul Mafatih syarh Misykatul Mashabih 9/514-515]   35. Pada hari Jumat, jangan lupa membaca surah Al-Kahfi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ “Barang siapa yang membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini SAHIH sebagaimana dalam Shahih At-Targhib, no. 736) Baca juga: Keutamaan Membaca Surah Al-Kahfi dan Waktunya 36. Manfaatkan doa di hari Jumat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hari Jumat. Beliau bersabda, فِيهَا سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْألُ اللهَ شَيْئاً ، إِلاَّ أعْطَاهُ إيّاهُ )) وَأشَارَ بيَدِهِ يُقَلِّلُهَا. “Di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba yang muslim tepat pada saat itu berdiri shalat meminta sesuatu kepada Allah, melainkan Allah pasti memberikan kepadanya.” Beliau pun mengisyaratkan dengan tangannya untuk menggambarkan sedikitnya (sebentarnya) waktu tersebut. (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 935 dan Muslim, no. 852)   37. Ziarah kubur, misal ke kuburan Baqi’. Yang dibaca ketika ziarah kubur adalah: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ ASSALAMU ’ALAIKUM AHLAD-DIYAAR MINAL MU’MINIIN WAL MUSLIM, WA INNA INSYAA ALLOOHU BIKUM LA-LAAHIQUUN, WA AS-ALULLOOHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH. “Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan para sahabat ketika keluar menuju kubur dengan membaca doa di atas. Hadits di atas dari Sulaiman bin Buraidah, dari bapaknya. (HR. Muslim, no. 975)   38. Bersedekah air. Dari Sa’id bahwasanya Sa’ad mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْجَبُ إِلَيْكَ قَالَ « الْمَاءُ ». “Sedekah apa yang paling engkau sukai.” Jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah air.” (HR. Abu Daud, no. 1679 dan An-Nasai, no. 3694; 3695; Ibnu Majah, no. 3684. Hadits ini tidak bersambung, Sa’id bin Al-Musayyib tidak bercumpa dengan Sa’ad bin ‘Ubadah. Hadits ini punya syawahid atau penguat tetapi dhaif. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain sebagaimana disebutkan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 962).   39. Bersabar, jangan sampai berdebat kusir, jangan sampai bermaksiat saat berumrah. Allah Ta’ala berfirman, ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)   40. Ingat, siapkan oleh-oleh pada orang-orang terdekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَهَادَوْا تَحَابُّوا “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hal itu akan membuat kalian saling mencintai.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 6/169, hasan) Saling memberi hadiah merupakan salah satu faktor yang menumbuhkan rasa saling mencintai di antara kaum muslimin. Oleh karena itu, seorang penyair Arab menyatakan dalam sebuah sya’ir: هدايا الناس بعضهم لبعض تولد في قلوبهم الوصال Hadiah yang diberikan oleh sebagian orang kepada yang lain bisa menumbuhkan rasa saling mencintai di hati mereka.   41. Jangan lupa doakan saudaramu saat berada di tanah suci. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الغَيْبِ إِلاَّ قَالَ المَلَكُ : وَلَكَ بِمِثْلٍ “Tidaklah seorang hamba muslim yang berdoa untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya, melainkan malaikat berkata, ‘Dan untukmu seperti doamu.’” (HR. Muslim, no. 7231) Dalam lafaz yang lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ المَرْءِ المُسْلِمِ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ المَلَكُ المُوَكَّلُ بِهِ : آمِينَ ، وَلَكَ بِمِثْلٍ “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya pasti dikabulkan. Di dekat kepala orang tersebut ada malaikat yang diberi tugas untuk itu. Setiap kali seorang muslim berdoa kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diberi tugas itu berkata, “Aamiin, dan untukmu seperti doa itu.” (HR. Muslim, no. 2733) Di dalam Kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari disebutkan bab: Bab 278 – Doa Seseorang kepada Saudaranya di Saat Saudaranya Tidak Mengetahuinya. Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, قدمت عليهم الشام، فوجدت أم الدرداء في البيت، ولم أجد أبا الدرداء. قالت: أتريد الحج العام ؟ قلت : نعم. قالت: فادع الله لنا بخير؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummud Darda’ (ibu mertua Shafwan) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abud Darda’ (bapak mertua Shafwan). Ummu Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan padaku karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,” إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”. قال: فلقيت أبا الدرداء في السوق، فقال مثل ذلك، يأثر عن النبي صلى الله عليه وسلم. “Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia mendapatkan hadits tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Hadits ini sahih) Lihat Ash Shohihah (1399): [Muslim: 48-Kitab Adz Dzikr wad Du’aa’, hal. 88] Baca juga: Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak Mengetahuinya   42. Jaga keistiqamah bakda umrah hingga akhir hayat. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30) Mujahid, ‘Ikrimah, dan Zaid bin Aslam menafsirkan ayat di atas, “Janganlah takut pada akhirat yang akan kalian hadapi dan janganlah bersedih dengan dunia yang kalian tinggalkan yaitu anak, keluarga, harta dan tanggungan utang. Karena para malaikat nanti yang akan mengurusnya.” Baca juga: Kiat Agar Istiqamah Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barang siapa mengucapkan laa ilaha illallah karena mencari wajah Allah kemudian amalnya ditutup dengannya, maka ia masuk surga. Barang siapa berpuasa karena mencari wajah Allah kemudian amalnya diakhiri dengannya, maka ia masuk surga. Barang siapa bersedekah kemudian itu menjadi amalan terakhirnya, maka ia masuk surga.” (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ahkam Al-Janaiz, hlm. 58. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Baca juga: Tanda Husnul Khatimah Syafiq Al-Balkhi rahimahullah berkata bahwa ada empat cara untuk istiqamah, Tidak meninggalkan perintah Allah karena sedang mengalami musibah. 2. Tidak meninggalkan perintah Allah karena kesibukan dunia. 3. Tidak mengikuti komentar orang lain dan mengedepankan hawa nafsu sendiri. 4. Beramal sesuai Al-Quran dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hilyah Al-Auliya’, 8:17, dinukil dari At-Tadzhib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hlm. 50).   43. Melakukan shalat sunnah ketika tiba dari safar umrah di masjid terdekat. Ada satu sunnah yang bisa dilakukan oleh musafir termasuk pula bagi jamaah haji yang baru pulang dari safar adalah melakukan shalat sunnah dua rakaat di masjid terdekat ketika tiba dari safar. Niatannya adalah shalat dua rakaat ketika tiba dari safar. Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, ‎أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ ضُحًى دَخَلَ الْمَسْجِدَ ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika tiba dari safar pada waktu Dhuha, beliau memasuki masjid kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat sebelum beliau duduk.” (HR. Bukhari, no. 3088) Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau mengatakan, “Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. Tatkala kami tiba di Madinah, beliau mengatakan padaku, ‎ادْخُلِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ “Masukilah masjid dan lakukanlah shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari, no. 3087) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa shalat ini adalah shalat ketika baru datang dari safar, shalat ini bukanlah shalat tahiyatul masjid. Dari perkataan Imam Nawawi ini tampak jelas bahwa shalat sunnah yang dimaksud itu berbeda dengan shalat sunnah tahiyatul masjid. Dengan melakukan shalat ini, shalat tahiyatul masjid menjadi gugur. Cara melakukan shalat ini sama seperti shalat yang lain, tentu dengan membaca surah Al-Fatihah dan surah yang mudah dibaca setelah itu.   44. Bertekad untuk berhaji bagi yang belum berhaji. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Tabaraka wa Ta’ala. Beliau bersabda, نَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ. “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barang siapa yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat mengerjakan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat hingga perlipatan yang banyak.” (HR. Bukhari, no. 6491 dan Muslim, no. 131 di kitab sahih keduanya dengan lafaz ini). Baca juga: 7 Amalan Berpahala Haji Orang yang punya hamm dalam kebaikan lantas tidak dilakukan ada beberapa bentuk: Melakukan sebab, tetapi tidak mendapatinya. Orang seperti ini mendapatkan kebaikan yang sempurna. Sudah punya hamm dan azam, tetapi ditinggalkan karena ada kebaikan yang lebih afdal. Orang seperti ini akan mendapatkan pahala kebaikan yang lebih tinggi (lebih sempurna). Sedangkan, untuk amalan yang ditinggalkan (yang lebih rendah) dicatat mendapatkan pahala dari hamm (tekadnya). Jika meninggalkan amalan karena kemalasan. Misalnya, sudah berniat mau mengerjakan shalat sunnah Dhuha. Lantas ada teman yang mengajak untuk jalan. Ia diberi ganjaran sebatas niatannya saja, tetapi tidak diberi balasan untuk perbuatan karena tidak dilakukan tanpa ada uzur.   45. Berharap kepada Allah agar bisa kembali ke tanah suci lagi. Allah Ta’ala berfirman, ‎فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37) Syaikh As-Sa’di menjelaskan ayat ini: setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke Kabah, maka semakin bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya dan kerinduannya.     Semoga melalui 40-an amalan saat safar umrah ini diharapkan para jamaah yang melaksanakan ibadah umrah dapat memperoleh manfaat yang besar dan pahala yang berlimpah. Dengan tetap menjaga keistiqamahan dalam menjalankan amalan-amalan ini, semoga umrah yang dilakukan menjadi ladang amal yang bermanfaat dan dapat membawa perubahan positif dalam kehidupan. Selamat beribadah dan semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan berkah-Nya kepada kita semua.   –   Diselesaikan di Jogja, 27 Rajab 1444 H, diperbaharui lagi pagi hari 22 Dzulhijjah 1444 H, 11 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan amalan ringan cara umrah fikih safar keutamaan umrah kumpulan amalan ringan
Melaksanakan ibadah umrah merupakan dambaan setiap muslim di seluruh dunia. Umrah menjadi momen yang sangat istimewa dan membahagiakan, karena selain memperoleh pahala yang besar, juga bisa mempererat hubungan dengan Sang Pencipta. Namun, untuk memperoleh manfaat maksimal dari umrah, perlu adanya persiapan yang matang dan pemahaman yang baik tentang amalan yang harus dilakukan selama di tanah suci. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dibahas sekitar 40 amalan penting yang sebaiknya dilakukan saat safar umrah, agar dapat memperoleh manfaat maksimal dari ibadah tersebut.   Daftar Isi tutup 1. 1. Jaga shalat lima waktu. 2. 2. Jaga shalat pada awal waktu. 3. 3. Jaga shalat secara berjamaah di masjid. 4. 4. Jaga takbiratul ihram bersama imam. 5. 5. Manfaatkan keringanan jamak dan qashar shalat. 6. 6. Bisa tetap menjaga shalat sunnah rawatib selama tak kesulitan. 7. 7. Jangan sampai tinggalkan shalat sunnah Fajar. 8. 8. Dapat pahala qirath lewat shalat jenazah dan mengantarkan jenazah ke kubur. 8.1. Rukun shalat jenazah 8.2. Doa shalat jenazah setelah takbir ketiga 8.3. Doa khusus untuk jenazah anak kecil 8.4. Doa shalat jenazah setelah takbir keempat 9. 9. Belajar agama di masjid Nabawi. 10. 10. Menjaga wudhu. 11. 11. Perbanyak ibadah dan doa di Raudhah. 12. 12. Perbanyak shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. 13. 13. Pahala umrah dengan shalat di Masjid Quba 14. 14. Setiap kali mendengarkan azan, jawablah dan berdoa setelah itu. 15. 15. Manfaatkanlah tempat yang mulia di tanah suci untuk berdoa. 16. 16. Manfaatkan doa saat menjadi musafir selama perjalanan. 16.1. Adab penting dalam berdoa 17. 17. Jagalah dzikir pagi dan petang. 18. 18. Menjalankan ibadah umrah dengan memenuhi rukun, wajib, dan berusaha menjauhkan diri dari larangan ihram. 19. Rukun Umrah 20. Wajib Umrah 20.1. Video Tata Cara Umrah 20.2. Yang penting saat umrah adalah jangan melakukan larangan ihram: 20.3. Ada beberapa dam yang perlu diperhatikan karena melakukan pelanggaran: 21. 19. Lakukanlah umrah berulang kali. 22. 20. Masih boleh melakukan badal umrah. 23. 21. Perbanyak Thawaf. 24. 22. Shalat bakda thawaf di belakang Maqam Ibrahim. 25. 23. Perbanyak doa, baca Al-Qur’an, atau dzikir ketika thawaf dan berdoa sapu jagad antara rukun Yamani dan Hajar Aswad. 26. 24. Ambil berkah lewat air zam-zam dan berdoa saat meminumnya. 27. 25. Ambil ibrah dari perjalanan hidup nabi di Makkah dan Madinah. 28. 26. Membantu orang yang susah saat berumrah. 29. 27. Perbanyak Talbiyah 30. 28. Perbanyak baca Al-Qur’an. 31. 29. Jaga shalat tahajud di tanah suci. 32. 30. Rutinkan Shalat Witir 33. 31. Jaga Shalat Isyraq 34. 32. Jaga Shalat Dhuha 35. 33. Masuk dan keluar masjid, jangan lupa baca membaca dzikirnya. Masuk dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri. 35.1. Doa masuk masjid 35.2. Doa keluar masjid 36. 34. Bersabar ketika tinggal di Madinah. 37. 35. Pada hari Jumat, jangan lupa membaca surah Al-Kahfi. 38. 36. Manfaatkan doa di hari Jumat. 39. 37. Ziarah kubur, misal ke kuburan Baqi’. 40. 38. Bersedekah air. 41. 39. Bersabar, jangan sampai berdebat kusir, jangan sampai bermaksiat saat berumrah. 42. 40. Ingat, siapkan oleh-oleh pada orang-orang terdekat. 43. 41. Jangan lupa doakan saudaramu saat berada di tanah suci. 44. 42. Jaga keistiqamah bakda umrah hingga akhir hayat. 45. 43. Melakukan shalat sunnah ketika tiba dari safar umrah di masjid terdekat. 46. 44. Bertekad untuk berhaji bagi yang belum berhaji. 47. 45. Berharap kepada Allah agar bisa kembali ke tanah suci lagi.   1. Jaga shalat lima waktu. Karena tak sedikit yang saat perjalanan safar umrah meninggalkan shalat lima waktu, terutama saat di pesawat. Bahkan mereka tidak mengqadha’nya sekali pun. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ “(Pembeda) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257). Baca juga: Bahaya Meninggalkan Shalat  Manfaat dari menjaga shalat lima waktu dalam sehari amatlah besar yaitu dapat menggugurkan dosa sebagimana disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari, no. 528 dan Muslim, no. 667)   2. Jaga shalat pada awal waktu. Selama safar umrah, jagalah shalat pada awal waktu, itulah yang lebih afdal. Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdal. Beliau menjawab, الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا “Shalat pada awal waktu.” (HR. Abu Daud, no. 426. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih) Ada juga perintah shalat pada waktunya, berarti shalat tersebut dilakukan ketika waktu shalat sudah masuk dan masih di waktunya, tidak sampai keluar waktu. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا “Shalat pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbuat baik kepada orang tua.” Aku berkata lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 7534 dan Muslim, no. 85) Itulah yang dimaksud dengan ayat, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238). Ayat ini memerintahkan untuk melaksanakan shalat pada waktunya masing-masing, kecuali ada sebab bisa menjamak shalat.  Baca juga: Jagalah Shalat pada Waktunya   3. Jaga shalat secara berjamaah di masjid. Mengenai keutamaan shalat berjamaah disebutkan dalam hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam mengakhirkan shalat Isyak sampai tengah malam. Kemudian beliau menghadap kami setelah shalat, lalu bersabda, صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً “Shalat berjamaah itu lebih baik 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650) Shalat berjamaah di masjid itu lebih utama daripada shalat berjamaah di selain masjid. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:171. Masjid yang dimaksud di sini adalah tempat diselenggarakannya shalat secara rutin di dalamnya. Lihat Shalah Al-Mu’min, 2:561. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ ، فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ في بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوبَةَ “Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781). Sedangkan shalat terbaik untuk wanita adalah di rumahnya, walau sendirian. Pahalanya pun sudah sama seperti ia berjamaah ke masjid. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا “Shalat seorang wanita di kamar khusus untuknya lebih afdal daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya. Shalat wanita di kamar kecilnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari shalatnya di kamarnya.” (HR. Abu Daud, no. 570. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Lihat pengertian hadits ini dalam ‘Aun Al-Ma’bud, 2: 225). Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ “Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” (HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya). Baca juga: Shalat Wanita di Masjid Ternyata Kalah Utama dengan Shalat Wanita di Rumahnya Namun, karena saat umrah, para wanita berada di masjid yang utama (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) yang pahalanya berlipat-lipat, maka disarankan untuk tetap ke masjid supaya meraih pahala melimpah.   4. Jaga takbiratul ihram bersama imam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِى جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ “Siapa yang melaksanakan shalat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, ia tidak luput dari takbiratul ihram bersama imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua hal yaitu terbebas dari siksa neraka dan terbebas dari kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, no. 241. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2652) Mendapati KEUTAMAAN TAKBIR PERTAMA BERSAMA IMAM adalah ketika makmum mengucapkan takbiratul ihram setelah takbiratul ihramnya imam. Baca juga: Berbagai Bentuk Idrok (Mendapati Imam dalam Shalat) Ada kisah disampaikan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi (salah seorang ulama Syafi’i) bahwa ada seorang yang mencuri 400 unta milik Abu Umamah Al-Bahili, juga 40 hamba sahayanya. Ia pun sedih lantas menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Ini barangkali karena engkau sering luput dari takbiratul ihram bersama imam.” Abu Umamah pun berkata, “Wahai Rasulullah, jadi seperti itukah akibatnya jika luput dari takbiratul ihram bersama imam?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bahkan itu lebih parah dari hilangnya unta sepenuh bumi.” (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi dalam Al-Qaul At-Taam fii Ahkam Al-Ma’mum wa Al-Imam, hlm. 43).   5. Manfaatkan keringanan jamak dan qashar shalat. Jamak shalat adalah mengerjakan dua shalat dikerjakan pada satu waktu. Sedangkan qashar shalat adalah meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Dalil mengenai qashar shalat saat safar. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisaa’: 101). Adapun dalil dari hadits, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِى السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ – رضى الله عنهم “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidaklah pernah menambah lebih dari dua rakaat (untuk shalat yang aslinya empat rakaat) ketika safar beliau. Begitu pula Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhum melakukan seperti itu pula.” (HR. Bukhari no. 1102) Dalil mengenai jamak shalat. Allah Ta’ala berfirman, أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra’: 78). Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengambil pelajaran dari ayat ini bahwa Shalat Zhuhur dan Ashar boleh dijamak pada satu waktu karena ada uzur, begitu pula shalat Maghrib dan Isyak. Karena Allah menggabungkan masing-masing dari dua shalat tersebut untuk satu waktu bagi yang memiliki uzur. Sedangkan bagi yang tidak memilik uzur, shalatnya tetap dua waktu (tidak digabungkan). (Taysirul Lathifil Mannan, hlm. 114-115). Sebab jamak shalat adalah karena safar, sakit, hujan yang menyulitkan, sedangkan sebab qashar shalat adalah karena safar saja.   6. Bisa tetap menjaga shalat sunnah rawatib selama tak kesulitan. Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhuma–istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummahatul mukminin–, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ “Barang siapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728) Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ “Barang siapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dalam Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb disebutkan: Jika seseorang shalat bersama orang-orang yang tidak mengqashar shalat, yang lebih afdhal adalah ia melakukan shalat sunnah rawatib. Karena ketika itu jadinya ia dikenakan hukum orang-orang yang mukim, sehingga ia diperintah tetap melaksakanan shalat sunnah rawatib. Namun jika ditinggalkan, tidaklah mengapa. Akan tetapi jika shalat musafir tidak diqashar (karena bermakmum di belakang imam mukim, -pen), maka yang lebih afdhal adalah ia melaksanakan shalat sunnah rawatib. Akan tetapi, jika shalatnya diqashar, yang terbaik adalah meninggalkan shalat rawatib Zhuhur, (Maghrib, -pen) dan ‘Isya. Adapun shalat dua rakaat sebelum Shubuh, tetap dikerjakan ketika safar maupun saat mukim. Demikian juga shalat witir bagi musafir, tetap dikerjakan. Sama halnya pula shalat sunnah dua raka’at sebelum Shubuh. Adapun sunnah rawatib Magrib, Zhuhur, dan ‘Isya, yang lebih afdhal adalah meninggalkannya bagi para musafir jika mereka mengqashar shalat. (Fatwa Nuur ‘ala Ad-Darb, 10: 382) Baca juga: Shalat Sunnah Rawatib bagi Musafir ketika Shalat di Belakang Imam Mukim Shalat rawatib itu ada dua macam: Shalat rawatib muakkad (yang sangat ditekankan), ada 10 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib ghairu muakkad (tidak terlalu ditekankan), ada 12 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib muakkad, ada 10 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Shubuh 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Magrib 2 rakaat bakdiyah Isya Shalat rawatib ghairu muakkad, ada 12 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 4 rakaat qabliyah Ashar 2 rakaat qabliyah Magrib 2 rakaat qabliyah Isya Rincian di atas diringkas dari Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:532-536. Baca juga: Penjelasan Lengkap Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad   7. Jangan sampai tinggalkan shalat sunnah Fajar. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ “Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat dibanding dengan shalat sunnah dua raka’at sebelum Fajar” (HR. Muslim, no. 724). Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqashar shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qabliyah dan bakdiyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh (sunnah Fajar). Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar.” (Zaadul Ma’ad, 1:456). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu perhatian pada shalat sunnah fajar karena keutamaannya yang luar biasa. Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah qabliyah Shubuh adalah hadits dari ‘Aisyah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا “Dua rakaat sunnah fajar (shalat sunnah qabliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim, no. 725). Dalam lafaz lain, ‘Aisyah berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara mengenai dua rakaat ketika telah terbih fajar shubuh, لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا “Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” (HR. Muslim, no. 725). Baca juga: Apakah Musafir Tetap Mengerjakan Shalat Sunnah? Pengertian “lebih baik dari dunia dan seisinya” adalah shalat sunnah Fajar lebih baik daripada harta, keluarga, anak, dan perhiasan dunia lainnya yang seandainya manusia memiliki semuanya tetap masih kalah dengan keutamaan shalat sunnah Fajar. Kebahagiaan akhirat tentu lebih utama daripada kebahagiaan dunia karena akhirat itu kekal, sedangkan dunia itu akan fana. Baca juga: Shalat Sunnah Fajar Lebih Baik daripada Dunia Seisinya, Apa Maksudnya?   8. Dapat pahala qirath lewat shalat jenazah dan mengantarkan jenazah ke kubur. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ  . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ  مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ “Barang siapa yang menghadiri prosesi jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barang siapa yang menghadiri prosesi jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari, no. 1325 dan Muslim, no. 945) Dalam riwayat Muslim disebutkan, مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ « أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ. “Barang siapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” “Ukuran paling kecil dari dua qiroth adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim, no. 945)   Rukun shalat jenazah [1] niat, [2] empat kali takbir, [3] berdiri bagi yang mampu, [4] membaca Al-Fatihah, [5] membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah takbir kedua, [6] mendoakan mayat setelah takbir ketiga, dan [7] salam. Baca juga: Fikih Pengurusan Jenazah   Doa shalat jenazah setelah takbir ketiga Di antara yang bisa dibaca pada doa setelah takbir ketiga: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ Allahummaghfirla-hu warham-hu wa ‘aafi-hi wa’fu ‘an-hu wa akrim nuzula-hu, wa wassi’ madkhola-hu, waghsil-hu bil maa-i wats tsalji wal barod wa naqqi-hi minal khothoyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danaas, wa abdil-hu daaron khoirom min daari-hi, wa ahlan khoirom min ahli-hi, wa zawjan khoirom min zawji-hi, wa ad-khilkul jannata, wa a’idz-hu min ‘adzabil qobri wa ‘adzabin naar. “Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim no. 963) Catatan: Doa di atas berlaku untuk mayit laki-laki. Jika mayit perempuan, maka kata –hu atau –hi diganti dengan –haa. Contoh “Allahummaghfirla-haa warham-haa …”. Doa di atas dibaca setelah takbir ketiga dari shalat jenazah.   Doa khusus untuk jenazah anak kecil اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا Allahummaj’ahu lanaa farothon wa salafan wa ajron “Ya Allah! Jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik serta pahala buat kami”. (HR. Bukhari secara mu’allaq -tanpa sanad- dalam Kitab Al-Janaiz, 65 bab Membaca Fatihatul Kitab Atas Jenazah 2: 113)   Doa shalat jenazah setelah takbir keempat اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّ بَعْدَهُ وَاغْفِرْلَناَ وَلَهُ Allahumma laa tahrimnaa ajro-hu wa laa taftinnaa ba’da-hu waghfir lanaa wa la-hu “Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memperoleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya, ampunilah kami dan ampunilah dia”. Untuk mayit perempuan, kata –hu diganti –haa. Baca juga: Bacaan Shalat Jenazah   9. Belajar agama di masjid Nabawi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ لِيُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. “Barang siapa masuk masjid kami ini (Masjid Nabawi) untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka ia seperti orang yang berperang di jalan Allah.” (HR. Ahmad, no. 8428)   10. Menjaga wudhu. Dari Abu Buraidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam di pagi hari memanggil Bilal lalu berkata, يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِى إِلَى الْجَنَّةِ مَا دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَطُّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى “Wahai Bilal, kenapa engkau mendahuluiku masuk surga? Aku tidaklah masuk surga sama sekali melainkan aku mendengar suara sendalmu di hadapanku. Aku memasuki surga di malam hari dan aku dengar suara sendalmu di hadapanku.” Bilal menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِى حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَىَّ رَكْعَتَيْنِ “Wahai Rasulullah, aku biasa tidak meninggalkan shalat dua rakaat sedikit pun. Setiap kali aku berhadats, aku lantas berwudhu dan aku membebani diriku dengan shalat dua rakaat setelah itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3689 dan Ahmad, 5:354. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits tersebut hasan) Syaikh Abu Malik dalam Fiqhus Sunnah lin Nisaa’ (hlm. 49) menyatakan bahwa disunnahkan berwudhu setiap kali wudhu tersebut batal karena adanya hadats. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Disunnahkan menjaga wudhu atau diri dalam keadaan suci. Termasuk juga kala tidur dalam keadaan suci.” (Kitab Matan Al Idhoh, hlm. 20).   11. Perbanyak ibadah dan doa di Raudhah. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Siapa saja yang menziarahi masjid Nabawi untuk shalat dua rakaat di Raudhah, tempat yang mulia atau mengerjakan shalat sunnah semampu dia karena ada hadits yang menjelaskan keutamaan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ “Antara rumahku dan mimbarku adalah di antara taman surga.” (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 1391) Dari Yazid bin Abi ‘Ubaid, ia berkata, “Aku datang bersama Salamah bin Al-Akwa’, lalu aku shalat di Raudhah Syarif. Aku berkata: Wahai Abu Muslim, mengapa engkau sengaja shalat di Raudhah. Ia lantas menjawab, “Aku pernah melihat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersengaja shalat di Raudhah.” (HR. Bukhari, no. 502 dan Muslim, no. 509). Namun, shalat di Raudhah hendaknya tidak sampai bertindak melampaui batas terhadap yang lain (dengan mendorong, atau bertindak kasar) atau malah menyulitkan orang yang lemah. (Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 36863) Catatan penting: Dalam Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah disebutkan bahwa seluruh tempat di masjid Nabawi dalam hal pahala itu sama. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram.” (HR. Muslim, no. 1394)   12. Perbanyak shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1.000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad, 3:343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 1173.) Baca juga: Pahala Shalat di Makkah 100.000 Kali Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi   13. Pahala umrah dengan shalat di Masjid Quba Dari Usaid bin Zhuhair Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلاَةُ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ كَعُمْرَةٍ “Shalat di Masjid Quba’, (pahalanya) seperti umrah.”(HR. Tirmidzi, no. 324 dan Ibnu Majah, no. 1411. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَصَلَّى فِيهِ صَلاَةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ “Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu ia mendatangi masjid Quba’, lantas ia melaksanakan shalat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah, no. 1412, An-Nasai, no. 700. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).   14. Setiap kali mendengarkan azan, jawablah dan berdoa setelah itu. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ “Jika kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muazin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya (memberi ampunan kepadanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim, no. 384). Ada lima amalan yang bisa diamalkan ketika mendengarkan azan shalat lima waktu sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. (1) mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muazin. (2) bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Allahumma sholli ‘ala Muhammad atau membaca shalawat ibrahimiyyah seperti yang dibaca saat tasyahud. (3) minta kepada Allah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wasilah dan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah: Allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah. (4) membaca: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa, sebagaimana disebutkan dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash. (5) memanjatkan doa sesuai yang diinginkan. (Lihat Jalaa-ul Afham, hlm. 329-331) Baca juga: 5 Amalan Ketika Mendengar Azan Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا “Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara azan dan iqamah, maka berdoalah (kala itu).” (HR. Ahmad, 3:155. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Baca juga: Doa antara Azan dan Iqamah   15. Manfaatkanlah tempat yang mulia di tanah suci untuk berdoa. Misal: di Masjidil Haram, di Hijr Ismail, di Multazam, di bukit Shafa dan Marwah saat sai, dan Raudhah di Masjid Nabawi. Ingat, doa itu besar pengaruhnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ “Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Taala selain doa.” (HR. Tirmidzi, no. 3370; Ibnu Majah, no. 3829, Ahmad, 2:362. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Yang penting doa dengan penuh rasa optimis. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Baca juga: Allah Dekat dengan Orang yang Berdoa Yakinlah bahwa doa akan memudahkan urusan kita. Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَلاَ يَزِيدُ فِى الْعُمُرِ إِلاَّ الْبِرُّ “Yang dapat menolak takdir hanyalah doa. Yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 2139 dalam Kitab Al-Qadr, Bab “Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa”. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 154, 1:286-288, menyatakan bahwa hadits ini hasan.) Baca juga:  Doa Dapat Mengubah Takdir 7 Catatan Mengenai Doa   16. Manfaatkan doa saat menjadi musafir selama perjalanan. Dalam hadits disebutkan, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ “Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) doa yang tidak diragukan lagi, yaitu: (1) doa orang yang terzalimi, (2) doa seorang musafir, (3) doa jelek orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad, 12:479, no. 7510, Tirmidzi, 4:314, no. 1905, Ibnu Majah, 2:1270, no. 3862. Syaikh Al-Albani menghasankan hadits ini). Di antara sebab terkabulnya doa disebutkan dalam hadits Arbain no. 10: Keadaan dalam perjalanan jauh (safar). Meminta dalam keadaan sangat butuh (genting). Menengadahkan tangan ke langit. Memanggil Allah dengan panggilan “Yaa Rabbii” (wahai Rabb-ku) atau memuji Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, misalnya: “Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam” (wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kemuliaan), “Yaa Mujiibas Saa’iliin” (wahai Rabb yang Mengabulkan doa orang yang meminta kepada-Mu), dan lain-lain. Baca juga: Hadits Arbain 10, Halal Berpengaruh pada Doa Kita Adab penting dalam berdoa Tidak terburu-buru dalam meminta terkabulnya doa dengan mengatakan, “Aku sudah terus berdoa, tetapi tak juga terkabul.” Menghadirkan hati ketika memanjatkan doa. Percaya kepada janji Allah bahwa doa itu terkabul. Memilih waktu terbaik untuk berdoa. Benar-benar merasa membutuhkan Allah. Menghadap kiblat. Berdoa dalam keadaan suci. Mengangkat tangan saat berdoa. Memuji Allah di awal doa, lalu bersalawat pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahului dengan taubat dan istigfar, seperti doa Nabi Yunus ‘alaihis salam yang mengakui kezalimannya terlebih dahulu: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Artinya: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang berbuat aniaya). Meminta dengan penuh pengharapan yang besar dan rasa takut. Bertawassul dengan nama dan sifat Allah. Mendahului doa dengan sedekah. Memilih doa yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Diambil dari buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup)   17. Jagalah dzikir pagi dan petang. Imam Nawawi dalam Shahih Muslim membawakan bab dengan judul “Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat Shubuh dan keutamaan masjid“. Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in, Simak bin Harb. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh, أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- “Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?” Jabir menjawab, نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ الصُّبْحَ أَوِ الْغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِى أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ. “Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.” (HR. Muslim, no. 670) Imam Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir setelah Shubuh dan duduk di tempat shalat jika tidak memiliki udzur (halangan). Al-Qadhi mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama. Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdoa hingga terbit matahari.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 8:29, Asy-Syamilah) Baca juga: Malas Beraktivitas Karena Lupa Dzikir Membaca dzikir pada pagi dan petang termasuk menjalani perintah Allah untuk memperbanyak dzikir sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat, وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرَاً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan berdzikirlah pada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا () وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا () “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42). Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Dzikir yang banyak adalah dengan membaca tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), tasbih (subhanallah), takbir (Allahu Akbar) dan perkataan lainnya yang mendekatkan diri kepada Allah. Yang paling minimal adalah kita merutinkan dzikir pagi-petang, dzikir bakda shalat lima waktu, dzikir ketika muncul sebab tertentu. Dzikir ini baiknya dirutinkan di setiap waktu dan keadaan.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 706) Baca juga: Disuruh Dzikir yang Banyak Manfaat berdzikir di antaranya disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wabil Ash-Shayyib: Senantiasa berdzikir kepada Allah menyebabkan seseorang tidak mungkin melupakan-Nya. Orang yang melupakan Allah adalah sebab sengsara dirinya dalam kehidupannya dan di hari ia dikembalikan. Seseorang yang melupakan Allah menyebabkan ia melupakan dirinya dan maslahat untuk dirinya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19) Baca juga: 51 Keutamaan Dzikir Waktu dzikir pagi: dari terbit fajar Shubuh hingga menjelang Zhuhur. Waktu dzikir petang: dari tenggelam matahari hingga pertengahan malam.   18. Menjalankan ibadah umrah dengan memenuhi rukun, wajib, dan berusaha menjauhkan diri dari larangan ihram.  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Haji mabrur tidak ada balasan untuknya melainkan surga.” (HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349) Baca juga: Keutamaan Umrah   Rukun Umrah Ihram, Thawaf umrah, Sa’i umrah, Halq atau taqshir (tahallul), dan Tertib.   Wajib Umrah Ihram dari miqat. Menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan ketika ihram.   Video Tata Cara Umrah   Yang penting saat umrah adalah jangan melakukan larangan ihram: Memakai pakaian yang meliputi (membentuk lekuk tubuh, seperti pakaian, celana), khusus laki-laki, Menutup kepala, baik seluruh atau sebagiannya, Menutup sebagian atau seluruh wajah serta memakai sarung tangan (bagi wanita), Memakai wewangian atau sejenisnya di badan, baju, atau tempat tidur (berlaku bagi laki-laki dan perempuan), Memakai minyak untuk rambut atau jenggot, Berjimak, Menghilangkan sebagian rambut atau kuku, Berburu hewan liar darat yang bisa dimakan, Memotong tumbuhan yang berada di tanah haram, kecuali idzkhir dan sejenisnya, dan Melaksanakan akad nikah.   Ada beberapa dam yang perlu diperhatikan karena melakukan pelanggaran: Pertama: Dam yang wajib dibayarkan karena meninggalkan nusuk (yaitu meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, contoh: tidak ihram dari miqat), dam ini secara berurutan adalah: Seekor kambing yang memenuhi syarat untuk qurban. Jika tidak mendapati, puasa sepuluh hari, di mana tiga hari di tanah suci dan tujuh hari apabila telah kembali ke tanah air. Kedua: Dam yang wajib dibayarkan karena mencukur (contoh: mencukur seluruh rambut kepala atau tiga helai saja) dan at-taraffuh (bersenang-senang, contoh: memakai wewangian dan minyak), dam ini berdasarkan pilihan: Seekor kambing yang memenuhi syarat untuk qurban. Puasa tiga hari. Bersedekah tiga sha’ kepada enam orang miskin, masing-masing orang miskin mendapatkan setengah sha’ makanan yang sah diberikan untuk zakat fitrah. Ketiga: Dam yang wajib yang dibayarkan karena berhubungan intim. Dam ini secara berurutan adalah: Satu ekor unta. Jika tidak mendapati, maka satu ekor sapi. Jika tidak mendapati, maka tujuh ekor kambing. Jika masih tidak mendapati, maka ia menilai unta (dengan uang) dan membeli makanan dengan harganya dan menyedekahkannya. Jika tidak mendapati, ia puasa satu hari untuk setiap mud.   19. Lakukanlah umrah berulang kali. Orang yang berumrah boleh menunaikan umrah lebih dari sekali dalam sekali safar, baik berumrah untuk dirinya sendiri ataukah untuk orang tuanya yang sakitnya tak kunjung sembuh yang tidak mampu berumrah. Namun, syaratnya yang mengumrahkan harus sudah berumrah untuk dirinya sendiri. Bahkan mengulangi umrah termasuk dalam fadhilah amal, amalan yang utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا “Umrah ke umrah itu menghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Muslim) Syarat pertama untuk sahnya umrah kedua bagi yang sudah berada di dalam Makkah, ia hendaknya keluar ke tanah halal terdekat, seperti Tan’im. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah umrah dua kali pada haji Wada’ kurang dari 20 hari. Umrah pertama yaitu berangkat dari Madinah. Umrah kedua adalah berihram dari Tan’im sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut ini. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مَعَهَا أَخَاهَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ فَأَعْمَرَهَا مِنْ التَّنْعِيمِ. متفق عليه. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus bersamanya saudaranya ‘Abdurrahman, ia diperintahkan berumrah dari Tan’im. (Muttafaqun ‘alaih) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika seseorang tinggal di Makkah atau singgah di Makkah lantas berkeinginan untuk umrah, maka miqatnya adalah miqat terdekat. Inilah pendapat dari Imam Syafii. Para ulama Syafiiyah pun menyepakatinya. Para ulama Syafiiyah berpendapat bahwa cukup baginya untuk mencapai tanah halal walau hanya satu langkah dari arah mana saja selama itu sudah masuk tanah halal. Itu adalah miqat yang wajib. Adapun yang disunnahkan adalah mengambil miqat untuk umrah dari Ji’ronah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berumrah dari Ji’ronah. Jika tidak bisa, maka lewat Tan’im karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada Aisyah untuk mengambil miqat dari Tan’im. Tan’im ini adalah miqat terdekat dari Baitullah. Jika tidak bisa pula, bisa mengambil miqat dari Hudaibiyyah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam shalat di situ. Urutan miqat dari segi keutamaan adalah Ji’ronah, Tan’im, lalu Hudaibiyyah. Inilah yang disebutkan ulama Syafiiyah dan mereka menyepakatinya dan tidak ada ikhtilaf di dalamnya. Lihat Al-Majmu’, 7:211 dan Mughi Al-Muhtaj, 2:229. Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah dalam Al-Minhaj Al-Qawim berkata, يسنُّ الإكثار من العمرة، ولو في اليوم الواحد؛ إذ هي أفضل من الطواف على المعتمد “Disunnahkan memperbanyak umrah walaupun dalam satu hari. Amalan tersebut lebih afdal daripada memperbanyak thawaf. Demikian pendapat mu’tamad (pendapat resmi dalam madzhab Syafii).” Baca juga: Inilah Dalil dan Fatwa Ulama Mengenai Bolehnya Umrah Berulang Kali dalam Sekali Safar   20. Masih boleh melakukan badal umrah. Ulama Syafiiyah berpendapat bahwa boleh ada badal atau menggantikan menunaikan umrah dari yang lain jika yang digantikan adalah mayat atau orang yang masih hidup, tetapi tidak lagi memiliki kemampuan untuk menunaikannya sendiri. Syarat badal umrah adalah: (1) yang membadalkan sudah pernah berumrah, (2) membadalkan hanya untuk satu orang. Kalau badal haji, ada dalilnya sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ. قَالَ « مَنْ شُبْرُمَةَ ». قَالَ أَخٌ لِى أَوْ قَرِيبٌ لِى. قَالَ « حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ ». قَالَ لاَ. قَالَ « حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ » Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang mengucapkan, “Labbaik ‘an Syubrumah (aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah, atas nama Syubrumah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Memangnya siapa Syubrumah?” Ia menjawab, “Syubrumah adalah saudaraku atau kerabatku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Engkau sudah berhaji untuk dirimu?” Ia menjawab, “Belum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memberi saran, “Berhajilah untuk dirimu dahulu, barulah berhaji atas nama Syubrumah.” (HR. Abu Daud, no. 1811. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani berbeda penilaiannya, beliau menyatakan hadits ini sahih). Para ulama berkata bahwa hukum badal umrah sama dengan hukum badal haji.   Baca juga: Badal Umrah, Adakah Dalilnya? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Mengumrahkan orang yang telah meninggal dunia itu dibolehkan, begitu pula untuk orang yang tidak mampu untuk menunaikan umrah untuk dirinya sendiri karena sudah sepuh atau menderita penyakit yang sulit diharapkan sembuhnya. Yang membadalkan umrah termasuk orang yang berbuat baik dan akan mendapatkan ganjaran. Orang yang membadalkan jika dibayar untuk hal ini juga dibolehkan. Namun, hendaklah orang yang membadalkan dipilih–menurut sangkaan kuat–adalah orang yang saleh dan paham hukum. Yang menjadi wakil (penerima kuasa) meniatkan untuk menunaikan umrah orang lain atau orang yang memberi kuasa mengabarkan kalau ia mewakilkan pada orang lain. Karena orang yang memberi kuasa telah rida dengan penggantian tersebut karena ia menaruh percaya. Namun, jika yang membadalkan itu dua orang, maka tidaklah diterima.” (Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 142234) Catatan: Badal umrah hanya boleh untuk mereka yang belum pernah berumrah. Jika sudah pernah berumrah, maka boleh dibadalkan jika ada wasiat.   21. Perbanyak Thawaf. Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ, لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْل أوْ نَهَارٍ “Wahai Bani Abdu Manaf, janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” (HR. Abu Daud, no. 1894; Tirmidzi, no. 868, An-Nasai, 1:284; Ibnu Majah, no. 1254; Ahmad, 27:297, Ibnu Hibban, 1552, 1553, 1554. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih, perawinya perawi Muslim. Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:210-211) Hadits ini menunjukkan bahwa boleh melakukan thawaf pada waktu kapan pun, begitu pula shalat sunnah bakda thawaf boleh dilakukan pada waktu apa pun, meskipun pada waktu terlarang untuk shalat dikarenakan shalat sunnah bakda thawaf adalah shalat sunnah yang punya sebab. Baca juga: Thawaf Bebas pada Waktu Kapan Pun Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan dalam fatawanya yang diringkas sebagai berikut. Orang yang masuk Masjidil Haram ada dua keadaan: Yang masuk untuk bermaksud melakukan thawaf untuk haji, umrah, atau sekadar melakukan thawaf sunnah, maka yang dilakukan pertama kali adalah thawaf. Orang seperti ini tidak disyariatkan melakukan shalat tahiyatul masjid sebelum thawaf. Karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan sahabatnya tidaklah pernah melakukan seperti itu. Jumhur ahli fikih berpendapat seperti itu. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah sedikit ulama seperti Ibnu ‘Aqil dari kalangan Hambali sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Syarh ‘Umdah Al-Fiqh. Yang dikecualikan dalam hal ini adalah jika masuk Masjidil Haram dalam keadaan sangat padat sehingga sulit untuk langsung thawaf. Hendaklah melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid, lalu menunggu sampai suasana tidak terlalu padat untuk memulai thawaf.  Yang masuk untuk bermaksud shalat, duduk, menghadiri majelis ilmu, berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau ibadah lainnya, maka disunnahkan melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid karena keumuman hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ “Apabila di antara kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah ia duduk hingga shalat dua rakaat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1163 dan Muslim, no. 714) Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (10:306) disebutkan, “Jumhur ahli fikih berpendapat bahwa tahiyatul Masjidil Haram adalah melakukan thawaf untuk orang yang baru memasuki Makkah, baik ia adalah pedagang, orang yang berhaji, atau selainnya. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, إن النبي صلى الله عليه وسلم حين قدم مكة توضأ , ثم طاف بالبيت “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika masuk Makkah, beliau berwudhu, kemudian melakukan thawaf keliling Kabah.” (HR. Bukhari, no. 1614). Dua rakaat tahiyatul Masjidil Haram sudah dicukupi dengan dua rakaat bakda thawaf. Adapun penduduk Makkah yang tidak diperintahkan untuk thawaf atau tidak masuk untuk thawaf, ia ingin melakukan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, maka tahiyatul Masjidil Haram untuknya adalah shalat sebagaimana yang dilakukan untuk menghormati masjid lainnya.” Demikian secara ringkas.  Lihat bahasan Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 106318. Baca juga: Thawaf ataukah Shalat Tahiyatul Masjid ketika Masuk Masjidil Haram? Beberapa Penjelasan tentang Thawaf   22. Shalat bakda thawaf di belakang Maqam Ibrahim. Surah yang dibaca pada shalat dua rakaat: rakaat pertama, surah Al-Kaafiruun; rakaat kedua, surah Al-Ikhlas. Dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang amat panjang disebutkan, فجعل المقام بينه وبين البيت [ فصلى ركعتين ] فكان يقرأ في الركعتين : ( قل هو الله أحد ) و ( قل يا أيها الكافرون ) ( وفي رواية : ( قل يا أيها الكافرون ) و ( قل هو الله أحد ) “Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan maqam Ibrahim antara dirinya dan Ka’bah, lalu beliau laksanakan shalat dua rakaat. Dalam dua rakaat tersebut, beliau membaca Qulhuwallahu ahad (surah Al-Ikhlas) dan Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surah Al-Kafirun). Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surah Al Kafirun) dan Qulhuwallahu ahad (surah Al Ikhlas).” (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 56) Baca juga: Waktu Membaca Surah Al-Ikhlas   23. Perbanyak doa, baca Al-Qur’an, atau dzikir ketika thawaf dan berdoa sapu jagad antara rukun Yamani dan Hajar Aswad. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ فَأَقِلُّوا مِنْ الْكَلَامِ “Thawaf di Ka’bah seperti shalat, tetapi di dalamnya dibolehkan sedikit bicara.” (HR. An-Nasai, no. 2922) Dalam hadits lainnya disebutkan, الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلاَةٌ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَحَلَّ فِيهِ الْمَنْطِقَ ، فَمَنْ نَطَقَ فِيهِ فَلاَ يَنْطِقْ إِلاَّ بِخَيْرٍ “Thawaf di Ka’bah seperti shalat, tetapi Allah masih membolehkan berbicara saat itu. Barang siapa yang berbicara ketika thawaf, maka janganlah ia berkata selain berkata yang benar.” (HR. Ad-Darimi, no. 1847 dan Ibnu Hibban, no. 3836). Baca juga: Wudhu Batal di Pertengahan Thawaf  Dari ‘Abdullah bin As-Saaib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ (رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di antara dua rukun: Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirooti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka). ” (HR. Abu Daud ,no. 1892. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Sunnah-Sunnah Thawaf   24. Ambil berkah lewat air zam-zam dan berdoa saat meminumnya. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ “Air zam-zam sesuai keinginan ketika meminumnya.” (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Lihat Al Maqosid Al Hasanah, As Sakhowiy hal. 359. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1165) [Maksudnya doa apa saja yang diucapkan ketika meminumnya adalah doa yang mustajab]. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ketika meminum air zam-zam, beliau berdoa: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً ناَفِعاً ، وَرِزْقاً وَاسِعاً وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ “Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon waasi’an wa syifa-an min kulli daa-in” [Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, ilmu yang bermanfaat, rizqi yang melimpah, dan kesembuhan dari setiap penyakit]. Namun, riwayat ini adalah riwayat yang dho’if (lemah). (Lihat Dho’if At Targhib no. 750, Syaikh Al Albani)   25. Ambil ibrah dari perjalanan hidup nabi di Makkah dan Madinah. Allah Ta’ala berfiman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).   26. Membantu orang yang susah saat berumrah. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ “Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580). Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).   27. Perbanyak Talbiyah Talbiyah secara tinjauan bahasa berarti menjawab yang memanggil. Talbiyah ini dimutlakkan pada menegakkan ketaatan. Sedangkan talbiyah secara syari adalah perkataan orang yang berihram “LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA, LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK (artinya: Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujaan dan nikmat adalah milik-Mu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu). Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, أنَّ تلبيةَ رسولِ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم: لبَّيكَ اللهمَّ لبَّيكَ، لبَّيكَ لا شريكَ لك لبَّيكَ؛ إنَّ الحمدَ والنِّعمةَ لك والمُلْك، لا شريكَ لك “Talbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA, LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK.” (HR. Bukhari, no. 1549 dan Muslim, no. 1184) Talbiyah adalah sunnah dalam ihram sebagaimana pendpaat dalam madzhab Syafiiyah, Hambali, dan dipilih oleh Ibnu Baz dan Ibnu ‘Utsaimin. Dari Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ayahnya (Ibnu ‘Umar), ia berkata, سَمِعْتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهِ عليه وسَلَّم يُهِلُّ مُلَبِّدًا، يقول: لبَّيك اللَّهُمَّ لبَّيْك، لبَّيْك لا شريكَ لك لبَّيْك، إنَّ الحمْدَ والنِّعمَةَ لك والمُلْك، لا شريكَ لك. لا يزيدُ على هؤلاءِ الكَلِماتِ. وإنَّ عبدَ اللهِ بنَ عُمَرَ رَضِي الله عنهما كان يقول: كان رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسَلَّم يركَعُ بذي الحُلَيفة ركعتينِ، ثم إذا استوت به النَّاقَةُ قائمةً عند مسجِدِ ذي الحُلَيفة، أهلَّ بهؤلاءِ الكَلِماتِ “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertalbiyah: LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA, LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK. Beliau tidak menambah lebih dari kalimat tersebut. Sesungguhnya ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat di Dzulhulaifah dua rakaat. Ketika beliau telah menaiki unta, beliau menghadap Masjid Dzulhulaifah, beliau bertalbiyah dengan kalimat tersebut.” (HR. Bukhari, no. 5915 dan Muslim, no. 1184) Catatan: Talbiyah termasuk dzikir dan tidak wajib saat umrah maupun haji sebagaimana dzikir lainnya dalam umrah dan haji. Pria disunnahkan mengeraskan suara saat membaca talbiyah, wanita disunnahkan tidak mengeraskan suaranya, yaitu bertalbiyah dengan sirr yang cukup didengar sendiri. Disunnahkan bertalbiyah dari awal ihram dan talbiyah untuk umrah berakhir ketika akan mulai thawaf umrah.   28. Perbanyak baca Al-Qur’an. Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ : رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ ،وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ : لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ ، وَمَثلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الرَّيحَانَةِ : رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ : لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ “Permisalan orang yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah utrujah, bau dan rasanya enak. Permisalan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah kurma, tidak beraroma, tetapi rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan raihanah, baunya menyenangkan, tetapi rasanya pahit. Permisalan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan hanzhalah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5059 dan Muslim, no. 797)   29. Jaga shalat tahajud di tanah suci. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا عَبْدَ اللهِ! لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ “Wahai ‘Abdullah, janganlah seperti si fulan. Dahulu ia rajin mengerjakan shalat malam, tetapi sekarang ia meninggalkannya.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1152 dan Muslim, no. 1159, 185) Ingat, shalat tahajud harus didahului dengan tidur malam. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79) Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya berkata, “Tahajud itu setelah bangun tidur. ‘Alqamah, Al-Aswad, Ibrahim An-Nakha’i, dan selainnya berkata seperti itu. Makna tahajud dalam bahasa Arab seperti itu. Hadits-hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tahajud itu setelah bangun tidur.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:103) Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzammil: 6). Nasyia’atal lail berarti bangun di waktu malam. Inilah yang dimaksudkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas secara mu’allaq dengan shighah jazm (tegas). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (17:474) berkata, “Nasyiatal lail menurut kebanyakan ulama adalah seseorang yang bangun setelah tidur. Tahajud itu bukanlah pada awal malam. Inilah yang tepat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempraktikkan seperti itu. Hadits yang menerangkan seperti ini adalah mutawatir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tahajud pasti setelah bangun malam, bukan bangun antara dua ‘Isyak.” Baca juga: Shalat Tahajud Didahului Tidur Malam (Bahasan Bulughul Maram) Tahajud itu Dilakukan Setelah Bangun Tidur Malam   30. Rutinkan Shalat Witir Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ “Witir itu dianjurkan pada setiap muslim. Siapa yang suka melakukan shalat witir dengan lima rakaat, maka lakukanlah. Siapa yang suka melakukan shalat witir dengan tiga rakaat, maka lakukanlah. Siapa yang suka melakukan shalat witir dengan satu rakaat, maka lakukanlah.” (HR. Abu Daud, no. 1422; An-Nasai, 3:238; Ibnu Majah, no. 1190; Ibnu Hibban, 6:170. Perawi hadits ini terpercaya. Hadits ini dinyatakan marfu’ oleh sebagian ulama, ada pula yang menyatakan mawquf). Baca juga: Hukum Shalat Witir dan Cara Pengerjaannya Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَصَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً “Jadikanlah shalat witir sebagai penutup shalat malam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1998 dan Muslim, no. 751, 151)   31. Jaga Shalat Isyraq Shalat isyraq adalah shalat Dhuha yang dikerjakan pada awal waktu. Waktu pengerjaannya adalah 15 menit setelah matahari terbit. Caranya adalah: (1) lakukan shalat Shubuh berjamaah bagi laki-laki di masjid atau bagi perempuan di rumah, (2) melaksanakan shalat dua rakaat pada saat matahari meninggi (15 menit setelah matahari terbit). Dengan shalat isyraq akan mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ “Barang siapa yang mengerjakan shalat Shubuh dengan berjamaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 174, 181, 209. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, 1: 189 mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ » “Barang siapa yang melaksanakan shalat Shubuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umrah.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi, no. 586. Syaikh Muhammad Bazmul menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi, hasan dilihat dari jalur lain) Baca juga: Shalat Isyraq Dilakukan Wanita di Rumah Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, كَانَ النبيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا صَلَّى الفَجْرَ تَرَبَّعَ في مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَسْنَاء “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu apabila telah melakukan shalat Shubuh, beliau duduk bersila di tempat duduknya sampai terbitnya matahari yang putih indah sinarnya.” (HR. Muslim, no. 4851; Abu Daud, no. 4850) Baca juga: Duduk Setelah Shalat Shubuh lalu Shalat Isyraq    32. Jaga Shalat Dhuha Shalat Dhuha itu dikerjakan ketika matahari meninggi, 15 menit setelah matahari terbit sampai menjelang Zhuhur. Rakaat minimal adalah 2 rakaat, rakaat maksimal tidaklah dibatasi. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar makruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim, no.  720). Shalat Dhuha paling afdal dilakukan saat makin siang sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut. أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) yaitu ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim no. 748). Artinya, ketika kondisi panas di akhir waktu. Imam Nawawi mengatakan, “Inilah waktu utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula ulama Syafiiyah mengatakan bahwa ini adalah waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 28) Baca juga: Waktu Shalat Dhuha   33. Masuk dan keluar masjid, jangan lupa baca membaca dzikirnya. Masuk dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri. Doa masuk masjid بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ “BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLOHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWAABA ROHMATIK (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah kepadaku pintu rahmat-Mu).”(HR. Ibnu Majah, no. 771 dan Tirmidzi, no. 314. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Doa keluar masjid بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ فَضْلِكَ “BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLOHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWABAA FADHLIK (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah padaku pintu karunia-Mu).”(HR. Ibnu Majah, no. 771 dan Tirmidzi, no. 314. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   34. Bersabar ketika tinggal di Madinah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَاءِ الْمَدِينَةِ وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا “Tidaklah seseorang dari umatku sabar terhadap cobaan Madinah dan kerasnya (kesusahannya), kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat.” [HR. Muslim] Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا “Tidaklah seseorang sabar terhadap kesusahannya (Madinah) kemudian dia mati, kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya, atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat. Jika dia seorang Muslim.” [HR. Muslim] Ujian berupa kesusahan dan penyakit yang muncul bagi orang yang datang kemudian tinggal di kota Madinah bisa berupa kesulitan mencari mata pencaharian atau bisa berupa penyakit yang muncul akibat cuaca yang ekstrim semisal demam. Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah, beliau berkata, واللأواء في اللغة الشدة , ( نقله الباحث من الصحاح للجوهري ) , وعطف الشدة عليها للتفسير أو التأكيد , أو أن ( اللأواء ) المراد بها ضيق المعيشةوتعسر الكسب , والشدة : ما يصيب الإنسان في بدنه بسبب شدة الحر والبرد ونحو ذلك “Al-Awa’ secara bahasa adalah keras (syiddah), al-awa’ disambung dengan kata keras (syiddah) untuk penekanan. Dan yang dimaksud dengan kesempitan hidup di madinah adalah sulitnya mencari mata pencaharian. Adapun maksud kata keras (syiddah) adalah apa yang menimpa manusia pada badannya (penyakit) akibat ekstrimnya cuaca panas dan dingin (di kota Madinah).” [Mura’atul Mafatih syarh Misykatul Mashabih 9/514-515]   35. Pada hari Jumat, jangan lupa membaca surah Al-Kahfi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ “Barang siapa yang membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini SAHIH sebagaimana dalam Shahih At-Targhib, no. 736) Baca juga: Keutamaan Membaca Surah Al-Kahfi dan Waktunya 36. Manfaatkan doa di hari Jumat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hari Jumat. Beliau bersabda, فِيهَا سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْألُ اللهَ شَيْئاً ، إِلاَّ أعْطَاهُ إيّاهُ )) وَأشَارَ بيَدِهِ يُقَلِّلُهَا. “Di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba yang muslim tepat pada saat itu berdiri shalat meminta sesuatu kepada Allah, melainkan Allah pasti memberikan kepadanya.” Beliau pun mengisyaratkan dengan tangannya untuk menggambarkan sedikitnya (sebentarnya) waktu tersebut. (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 935 dan Muslim, no. 852)   37. Ziarah kubur, misal ke kuburan Baqi’. Yang dibaca ketika ziarah kubur adalah: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ ASSALAMU ’ALAIKUM AHLAD-DIYAAR MINAL MU’MINIIN WAL MUSLIM, WA INNA INSYAA ALLOOHU BIKUM LA-LAAHIQUUN, WA AS-ALULLOOHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH. “Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan para sahabat ketika keluar menuju kubur dengan membaca doa di atas. Hadits di atas dari Sulaiman bin Buraidah, dari bapaknya. (HR. Muslim, no. 975)   38. Bersedekah air. Dari Sa’id bahwasanya Sa’ad mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْجَبُ إِلَيْكَ قَالَ « الْمَاءُ ». “Sedekah apa yang paling engkau sukai.” Jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah air.” (HR. Abu Daud, no. 1679 dan An-Nasai, no. 3694; 3695; Ibnu Majah, no. 3684. Hadits ini tidak bersambung, Sa’id bin Al-Musayyib tidak bercumpa dengan Sa’ad bin ‘Ubadah. Hadits ini punya syawahid atau penguat tetapi dhaif. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain sebagaimana disebutkan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 962).   39. Bersabar, jangan sampai berdebat kusir, jangan sampai bermaksiat saat berumrah. Allah Ta’ala berfirman, ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)   40. Ingat, siapkan oleh-oleh pada orang-orang terdekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَهَادَوْا تَحَابُّوا “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hal itu akan membuat kalian saling mencintai.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 6/169, hasan) Saling memberi hadiah merupakan salah satu faktor yang menumbuhkan rasa saling mencintai di antara kaum muslimin. Oleh karena itu, seorang penyair Arab menyatakan dalam sebuah sya’ir: هدايا الناس بعضهم لبعض تولد في قلوبهم الوصال Hadiah yang diberikan oleh sebagian orang kepada yang lain bisa menumbuhkan rasa saling mencintai di hati mereka.   41. Jangan lupa doakan saudaramu saat berada di tanah suci. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الغَيْبِ إِلاَّ قَالَ المَلَكُ : وَلَكَ بِمِثْلٍ “Tidaklah seorang hamba muslim yang berdoa untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya, melainkan malaikat berkata, ‘Dan untukmu seperti doamu.’” (HR. Muslim, no. 7231) Dalam lafaz yang lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ المَرْءِ المُسْلِمِ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ المَلَكُ المُوَكَّلُ بِهِ : آمِينَ ، وَلَكَ بِمِثْلٍ “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya pasti dikabulkan. Di dekat kepala orang tersebut ada malaikat yang diberi tugas untuk itu. Setiap kali seorang muslim berdoa kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diberi tugas itu berkata, “Aamiin, dan untukmu seperti doa itu.” (HR. Muslim, no. 2733) Di dalam Kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari disebutkan bab: Bab 278 – Doa Seseorang kepada Saudaranya di Saat Saudaranya Tidak Mengetahuinya. Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, قدمت عليهم الشام، فوجدت أم الدرداء في البيت، ولم أجد أبا الدرداء. قالت: أتريد الحج العام ؟ قلت : نعم. قالت: فادع الله لنا بخير؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummud Darda’ (ibu mertua Shafwan) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abud Darda’ (bapak mertua Shafwan). Ummu Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan padaku karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,” إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”. قال: فلقيت أبا الدرداء في السوق، فقال مثل ذلك، يأثر عن النبي صلى الله عليه وسلم. “Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia mendapatkan hadits tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Hadits ini sahih) Lihat Ash Shohihah (1399): [Muslim: 48-Kitab Adz Dzikr wad Du’aa’, hal. 88] Baca juga: Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak Mengetahuinya   42. Jaga keistiqamah bakda umrah hingga akhir hayat. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30) Mujahid, ‘Ikrimah, dan Zaid bin Aslam menafsirkan ayat di atas, “Janganlah takut pada akhirat yang akan kalian hadapi dan janganlah bersedih dengan dunia yang kalian tinggalkan yaitu anak, keluarga, harta dan tanggungan utang. Karena para malaikat nanti yang akan mengurusnya.” Baca juga: Kiat Agar Istiqamah Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barang siapa mengucapkan laa ilaha illallah karena mencari wajah Allah kemudian amalnya ditutup dengannya, maka ia masuk surga. Barang siapa berpuasa karena mencari wajah Allah kemudian amalnya diakhiri dengannya, maka ia masuk surga. Barang siapa bersedekah kemudian itu menjadi amalan terakhirnya, maka ia masuk surga.” (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ahkam Al-Janaiz, hlm. 58. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Baca juga: Tanda Husnul Khatimah Syafiq Al-Balkhi rahimahullah berkata bahwa ada empat cara untuk istiqamah, Tidak meninggalkan perintah Allah karena sedang mengalami musibah. 2. Tidak meninggalkan perintah Allah karena kesibukan dunia. 3. Tidak mengikuti komentar orang lain dan mengedepankan hawa nafsu sendiri. 4. Beramal sesuai Al-Quran dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hilyah Al-Auliya’, 8:17, dinukil dari At-Tadzhib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hlm. 50).   43. Melakukan shalat sunnah ketika tiba dari safar umrah di masjid terdekat. Ada satu sunnah yang bisa dilakukan oleh musafir termasuk pula bagi jamaah haji yang baru pulang dari safar adalah melakukan shalat sunnah dua rakaat di masjid terdekat ketika tiba dari safar. Niatannya adalah shalat dua rakaat ketika tiba dari safar. Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, ‎أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ ضُحًى دَخَلَ الْمَسْجِدَ ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika tiba dari safar pada waktu Dhuha, beliau memasuki masjid kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat sebelum beliau duduk.” (HR. Bukhari, no. 3088) Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau mengatakan, “Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. Tatkala kami tiba di Madinah, beliau mengatakan padaku, ‎ادْخُلِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ “Masukilah masjid dan lakukanlah shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari, no. 3087) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa shalat ini adalah shalat ketika baru datang dari safar, shalat ini bukanlah shalat tahiyatul masjid. Dari perkataan Imam Nawawi ini tampak jelas bahwa shalat sunnah yang dimaksud itu berbeda dengan shalat sunnah tahiyatul masjid. Dengan melakukan shalat ini, shalat tahiyatul masjid menjadi gugur. Cara melakukan shalat ini sama seperti shalat yang lain, tentu dengan membaca surah Al-Fatihah dan surah yang mudah dibaca setelah itu.   44. Bertekad untuk berhaji bagi yang belum berhaji. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Tabaraka wa Ta’ala. Beliau bersabda, نَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ. “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barang siapa yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat mengerjakan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat hingga perlipatan yang banyak.” (HR. Bukhari, no. 6491 dan Muslim, no. 131 di kitab sahih keduanya dengan lafaz ini). Baca juga: 7 Amalan Berpahala Haji Orang yang punya hamm dalam kebaikan lantas tidak dilakukan ada beberapa bentuk: Melakukan sebab, tetapi tidak mendapatinya. Orang seperti ini mendapatkan kebaikan yang sempurna. Sudah punya hamm dan azam, tetapi ditinggalkan karena ada kebaikan yang lebih afdal. Orang seperti ini akan mendapatkan pahala kebaikan yang lebih tinggi (lebih sempurna). Sedangkan, untuk amalan yang ditinggalkan (yang lebih rendah) dicatat mendapatkan pahala dari hamm (tekadnya). Jika meninggalkan amalan karena kemalasan. Misalnya, sudah berniat mau mengerjakan shalat sunnah Dhuha. Lantas ada teman yang mengajak untuk jalan. Ia diberi ganjaran sebatas niatannya saja, tetapi tidak diberi balasan untuk perbuatan karena tidak dilakukan tanpa ada uzur.   45. Berharap kepada Allah agar bisa kembali ke tanah suci lagi. Allah Ta’ala berfirman, ‎فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37) Syaikh As-Sa’di menjelaskan ayat ini: setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke Kabah, maka semakin bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya dan kerinduannya.     Semoga melalui 40-an amalan saat safar umrah ini diharapkan para jamaah yang melaksanakan ibadah umrah dapat memperoleh manfaat yang besar dan pahala yang berlimpah. Dengan tetap menjaga keistiqamahan dalam menjalankan amalan-amalan ini, semoga umrah yang dilakukan menjadi ladang amal yang bermanfaat dan dapat membawa perubahan positif dalam kehidupan. Selamat beribadah dan semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan berkah-Nya kepada kita semua.   –   Diselesaikan di Jogja, 27 Rajab 1444 H, diperbaharui lagi pagi hari 22 Dzulhijjah 1444 H, 11 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan amalan ringan cara umrah fikih safar keutamaan umrah kumpulan amalan ringan


Melaksanakan ibadah umrah merupakan dambaan setiap muslim di seluruh dunia. Umrah menjadi momen yang sangat istimewa dan membahagiakan, karena selain memperoleh pahala yang besar, juga bisa mempererat hubungan dengan Sang Pencipta. Namun, untuk memperoleh manfaat maksimal dari umrah, perlu adanya persiapan yang matang dan pemahaman yang baik tentang amalan yang harus dilakukan selama di tanah suci. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dibahas sekitar 40 amalan penting yang sebaiknya dilakukan saat safar umrah, agar dapat memperoleh manfaat maksimal dari ibadah tersebut.   Daftar Isi tutup 1. 1. Jaga shalat lima waktu. 2. 2. Jaga shalat pada awal waktu. 3. 3. Jaga shalat secara berjamaah di masjid. 4. 4. Jaga takbiratul ihram bersama imam. 5. 5. Manfaatkan keringanan jamak dan qashar shalat. 6. 6. Bisa tetap menjaga shalat sunnah rawatib selama tak kesulitan. 7. 7. Jangan sampai tinggalkan shalat sunnah Fajar. 8. 8. Dapat pahala qirath lewat shalat jenazah dan mengantarkan jenazah ke kubur. 8.1. Rukun shalat jenazah 8.2. Doa shalat jenazah setelah takbir ketiga 8.3. Doa khusus untuk jenazah anak kecil 8.4. Doa shalat jenazah setelah takbir keempat 9. 9. Belajar agama di masjid Nabawi. 10. 10. Menjaga wudhu. 11. 11. Perbanyak ibadah dan doa di Raudhah. 12. 12. Perbanyak shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. 13. 13. Pahala umrah dengan shalat di Masjid Quba 14. 14. Setiap kali mendengarkan azan, jawablah dan berdoa setelah itu. 15. 15. Manfaatkanlah tempat yang mulia di tanah suci untuk berdoa. 16. 16. Manfaatkan doa saat menjadi musafir selama perjalanan. 16.1. Adab penting dalam berdoa 17. 17. Jagalah dzikir pagi dan petang. 18. 18. Menjalankan ibadah umrah dengan memenuhi rukun, wajib, dan berusaha menjauhkan diri dari larangan ihram. 19. Rukun Umrah 20. Wajib Umrah 20.1. Video Tata Cara Umrah 20.2. Yang penting saat umrah adalah jangan melakukan larangan ihram: 20.3. Ada beberapa dam yang perlu diperhatikan karena melakukan pelanggaran: 21. 19. Lakukanlah umrah berulang kali. 22. 20. Masih boleh melakukan badal umrah. 23. 21. Perbanyak Thawaf. 24. 22. Shalat bakda thawaf di belakang Maqam Ibrahim. 25. 23. Perbanyak doa, baca Al-Qur’an, atau dzikir ketika thawaf dan berdoa sapu jagad antara rukun Yamani dan Hajar Aswad. 26. 24. Ambil berkah lewat air zam-zam dan berdoa saat meminumnya. 27. 25. Ambil ibrah dari perjalanan hidup nabi di Makkah dan Madinah. 28. 26. Membantu orang yang susah saat berumrah. 29. 27. Perbanyak Talbiyah 30. 28. Perbanyak baca Al-Qur’an. 31. 29. Jaga shalat tahajud di tanah suci. 32. 30. Rutinkan Shalat Witir 33. 31. Jaga Shalat Isyraq 34. 32. Jaga Shalat Dhuha 35. 33. Masuk dan keluar masjid, jangan lupa baca membaca dzikirnya. Masuk dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri. 35.1. Doa masuk masjid 35.2. Doa keluar masjid 36. 34. Bersabar ketika tinggal di Madinah. 37. 35. Pada hari Jumat, jangan lupa membaca surah Al-Kahfi. 38. 36. Manfaatkan doa di hari Jumat. 39. 37. Ziarah kubur, misal ke kuburan Baqi’. 40. 38. Bersedekah air. 41. 39. Bersabar, jangan sampai berdebat kusir, jangan sampai bermaksiat saat berumrah. 42. 40. Ingat, siapkan oleh-oleh pada orang-orang terdekat. 43. 41. Jangan lupa doakan saudaramu saat berada di tanah suci. 44. 42. Jaga keistiqamah bakda umrah hingga akhir hayat. 45. 43. Melakukan shalat sunnah ketika tiba dari safar umrah di masjid terdekat. 46. 44. Bertekad untuk berhaji bagi yang belum berhaji. 47. 45. Berharap kepada Allah agar bisa kembali ke tanah suci lagi.   1. Jaga shalat lima waktu. Karena tak sedikit yang saat perjalanan safar umrah meninggalkan shalat lima waktu, terutama saat di pesawat. Bahkan mereka tidak mengqadha’nya sekali pun. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ “(Pembeda) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257). Baca juga: Bahaya Meninggalkan Shalat  Manfaat dari menjaga shalat lima waktu dalam sehari amatlah besar yaitu dapat menggugurkan dosa sebagimana disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari, no. 528 dan Muslim, no. 667)   2. Jaga shalat pada awal waktu. Selama safar umrah, jagalah shalat pada awal waktu, itulah yang lebih afdal. Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdal. Beliau menjawab, الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا “Shalat pada awal waktu.” (HR. Abu Daud, no. 426. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih) Ada juga perintah shalat pada waktunya, berarti shalat tersebut dilakukan ketika waktu shalat sudah masuk dan masih di waktunya, tidak sampai keluar waktu. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا “Shalat pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbuat baik kepada orang tua.” Aku berkata lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 7534 dan Muslim, no. 85) Itulah yang dimaksud dengan ayat, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238). Ayat ini memerintahkan untuk melaksanakan shalat pada waktunya masing-masing, kecuali ada sebab bisa menjamak shalat.  Baca juga: Jagalah Shalat pada Waktunya   3. Jaga shalat secara berjamaah di masjid. Mengenai keutamaan shalat berjamaah disebutkan dalam hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam mengakhirkan shalat Isyak sampai tengah malam. Kemudian beliau menghadap kami setelah shalat, lalu bersabda, صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً “Shalat berjamaah itu lebih baik 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650) Shalat berjamaah di masjid itu lebih utama daripada shalat berjamaah di selain masjid. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:171. Masjid yang dimaksud di sini adalah tempat diselenggarakannya shalat secara rutin di dalamnya. Lihat Shalah Al-Mu’min, 2:561. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ ، فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ في بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوبَةَ “Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781). Sedangkan shalat terbaik untuk wanita adalah di rumahnya, walau sendirian. Pahalanya pun sudah sama seperti ia berjamaah ke masjid. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا “Shalat seorang wanita di kamar khusus untuknya lebih afdal daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya. Shalat wanita di kamar kecilnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari shalatnya di kamarnya.” (HR. Abu Daud, no. 570. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Lihat pengertian hadits ini dalam ‘Aun Al-Ma’bud, 2: 225). Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ “Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” (HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya). Baca juga: Shalat Wanita di Masjid Ternyata Kalah Utama dengan Shalat Wanita di Rumahnya Namun, karena saat umrah, para wanita berada di masjid yang utama (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) yang pahalanya berlipat-lipat, maka disarankan untuk tetap ke masjid supaya meraih pahala melimpah.   4. Jaga takbiratul ihram bersama imam. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِى جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ “Siapa yang melaksanakan shalat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, ia tidak luput dari takbiratul ihram bersama imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua hal yaitu terbebas dari siksa neraka dan terbebas dari kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, no. 241. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2652) Mendapati KEUTAMAAN TAKBIR PERTAMA BERSAMA IMAM adalah ketika makmum mengucapkan takbiratul ihram setelah takbiratul ihramnya imam. Baca juga: Berbagai Bentuk Idrok (Mendapati Imam dalam Shalat) Ada kisah disampaikan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi (salah seorang ulama Syafi’i) bahwa ada seorang yang mencuri 400 unta milik Abu Umamah Al-Bahili, juga 40 hamba sahayanya. Ia pun sedih lantas menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Ini barangkali karena engkau sering luput dari takbiratul ihram bersama imam.” Abu Umamah pun berkata, “Wahai Rasulullah, jadi seperti itukah akibatnya jika luput dari takbiratul ihram bersama imam?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bahkan itu lebih parah dari hilangnya unta sepenuh bumi.” (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi dalam Al-Qaul At-Taam fii Ahkam Al-Ma’mum wa Al-Imam, hlm. 43).   5. Manfaatkan keringanan jamak dan qashar shalat. Jamak shalat adalah mengerjakan dua shalat dikerjakan pada satu waktu. Sedangkan qashar shalat adalah meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Dalil mengenai qashar shalat saat safar. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisaa’: 101). Adapun dalil dari hadits, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِى السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ – رضى الله عنهم “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidaklah pernah menambah lebih dari dua rakaat (untuk shalat yang aslinya empat rakaat) ketika safar beliau. Begitu pula Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhum melakukan seperti itu pula.” (HR. Bukhari no. 1102) Dalil mengenai jamak shalat. Allah Ta’ala berfirman, أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra’: 78). Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengambil pelajaran dari ayat ini bahwa Shalat Zhuhur dan Ashar boleh dijamak pada satu waktu karena ada uzur, begitu pula shalat Maghrib dan Isyak. Karena Allah menggabungkan masing-masing dari dua shalat tersebut untuk satu waktu bagi yang memiliki uzur. Sedangkan bagi yang tidak memilik uzur, shalatnya tetap dua waktu (tidak digabungkan). (Taysirul Lathifil Mannan, hlm. 114-115). Sebab jamak shalat adalah karena safar, sakit, hujan yang menyulitkan, sedangkan sebab qashar shalat adalah karena safar saja.   6. Bisa tetap menjaga shalat sunnah rawatib selama tak kesulitan. Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhuma–istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummahatul mukminin–, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ “Barang siapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728) Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ “Barang siapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dalam Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb disebutkan: Jika seseorang shalat bersama orang-orang yang tidak mengqashar shalat, yang lebih afdhal adalah ia melakukan shalat sunnah rawatib. Karena ketika itu jadinya ia dikenakan hukum orang-orang yang mukim, sehingga ia diperintah tetap melaksakanan shalat sunnah rawatib. Namun jika ditinggalkan, tidaklah mengapa. Akan tetapi jika shalat musafir tidak diqashar (karena bermakmum di belakang imam mukim, -pen), maka yang lebih afdhal adalah ia melaksanakan shalat sunnah rawatib. Akan tetapi, jika shalatnya diqashar, yang terbaik adalah meninggalkan shalat rawatib Zhuhur, (Maghrib, -pen) dan ‘Isya. Adapun shalat dua rakaat sebelum Shubuh, tetap dikerjakan ketika safar maupun saat mukim. Demikian juga shalat witir bagi musafir, tetap dikerjakan. Sama halnya pula shalat sunnah dua raka’at sebelum Shubuh. Adapun sunnah rawatib Magrib, Zhuhur, dan ‘Isya, yang lebih afdhal adalah meninggalkannya bagi para musafir jika mereka mengqashar shalat. (Fatwa Nuur ‘ala Ad-Darb, 10: 382) Baca juga: Shalat Sunnah Rawatib bagi Musafir ketika Shalat di Belakang Imam Mukim Shalat rawatib itu ada dua macam: Shalat rawatib muakkad (yang sangat ditekankan), ada 10 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib ghairu muakkad (tidak terlalu ditekankan), ada 12 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib muakkad, ada 10 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Shubuh 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Magrib 2 rakaat bakdiyah Isya Shalat rawatib ghairu muakkad, ada 12 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 4 rakaat qabliyah Ashar 2 rakaat qabliyah Magrib 2 rakaat qabliyah Isya Rincian di atas diringkas dari Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:532-536. Baca juga: Penjelasan Lengkap Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad   7. Jangan sampai tinggalkan shalat sunnah Fajar. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ “Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat dibanding dengan shalat sunnah dua raka’at sebelum Fajar” (HR. Muslim, no. 724). Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqashar shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qabliyah dan bakdiyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh (sunnah Fajar). Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar.” (Zaadul Ma’ad, 1:456). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu perhatian pada shalat sunnah fajar karena keutamaannya yang luar biasa. Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah qabliyah Shubuh adalah hadits dari ‘Aisyah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا “Dua rakaat sunnah fajar (shalat sunnah qabliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim, no. 725). Dalam lafaz lain, ‘Aisyah berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara mengenai dua rakaat ketika telah terbih fajar shubuh, لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا “Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” (HR. Muslim, no. 725). Baca juga: Apakah Musafir Tetap Mengerjakan Shalat Sunnah? Pengertian “lebih baik dari dunia dan seisinya” adalah shalat sunnah Fajar lebih baik daripada harta, keluarga, anak, dan perhiasan dunia lainnya yang seandainya manusia memiliki semuanya tetap masih kalah dengan keutamaan shalat sunnah Fajar. Kebahagiaan akhirat tentu lebih utama daripada kebahagiaan dunia karena akhirat itu kekal, sedangkan dunia itu akan fana. Baca juga: Shalat Sunnah Fajar Lebih Baik daripada Dunia Seisinya, Apa Maksudnya?   8. Dapat pahala qirath lewat shalat jenazah dan mengantarkan jenazah ke kubur. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ  . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ  مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ “Barang siapa yang menghadiri prosesi jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barang siapa yang menghadiri prosesi jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari, no. 1325 dan Muslim, no. 945) Dalam riwayat Muslim disebutkan, مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ « أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ. “Barang siapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” “Ukuran paling kecil dari dua qiroth adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim, no. 945)   Rukun shalat jenazah [1] niat, [2] empat kali takbir, [3] berdiri bagi yang mampu, [4] membaca Al-Fatihah, [5] membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah takbir kedua, [6] mendoakan mayat setelah takbir ketiga, dan [7] salam. Baca juga: Fikih Pengurusan Jenazah   Doa shalat jenazah setelah takbir ketiga Di antara yang bisa dibaca pada doa setelah takbir ketiga: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ Allahummaghfirla-hu warham-hu wa ‘aafi-hi wa’fu ‘an-hu wa akrim nuzula-hu, wa wassi’ madkhola-hu, waghsil-hu bil maa-i wats tsalji wal barod wa naqqi-hi minal khothoyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danaas, wa abdil-hu daaron khoirom min daari-hi, wa ahlan khoirom min ahli-hi, wa zawjan khoirom min zawji-hi, wa ad-khilkul jannata, wa a’idz-hu min ‘adzabil qobri wa ‘adzabin naar. “Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim no. 963) Catatan: Doa di atas berlaku untuk mayit laki-laki. Jika mayit perempuan, maka kata –hu atau –hi diganti dengan –haa. Contoh “Allahummaghfirla-haa warham-haa …”. Doa di atas dibaca setelah takbir ketiga dari shalat jenazah.   Doa khusus untuk jenazah anak kecil اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا Allahummaj’ahu lanaa farothon wa salafan wa ajron “Ya Allah! Jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik serta pahala buat kami”. (HR. Bukhari secara mu’allaq -tanpa sanad- dalam Kitab Al-Janaiz, 65 bab Membaca Fatihatul Kitab Atas Jenazah 2: 113)   Doa shalat jenazah setelah takbir keempat اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّ بَعْدَهُ وَاغْفِرْلَناَ وَلَهُ Allahumma laa tahrimnaa ajro-hu wa laa taftinnaa ba’da-hu waghfir lanaa wa la-hu “Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memperoleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya, ampunilah kami dan ampunilah dia”. Untuk mayit perempuan, kata –hu diganti –haa. Baca juga: Bacaan Shalat Jenazah   9. Belajar agama di masjid Nabawi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ لِيُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. “Barang siapa masuk masjid kami ini (Masjid Nabawi) untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka ia seperti orang yang berperang di jalan Allah.” (HR. Ahmad, no. 8428)   10. Menjaga wudhu. Dari Abu Buraidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam di pagi hari memanggil Bilal lalu berkata, يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِى إِلَى الْجَنَّةِ مَا دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَطُّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى “Wahai Bilal, kenapa engkau mendahuluiku masuk surga? Aku tidaklah masuk surga sama sekali melainkan aku mendengar suara sendalmu di hadapanku. Aku memasuki surga di malam hari dan aku dengar suara sendalmu di hadapanku.” Bilal menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِى حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَىَّ رَكْعَتَيْنِ “Wahai Rasulullah, aku biasa tidak meninggalkan shalat dua rakaat sedikit pun. Setiap kali aku berhadats, aku lantas berwudhu dan aku membebani diriku dengan shalat dua rakaat setelah itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3689 dan Ahmad, 5:354. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits tersebut hasan) Syaikh Abu Malik dalam Fiqhus Sunnah lin Nisaa’ (hlm. 49) menyatakan bahwa disunnahkan berwudhu setiap kali wudhu tersebut batal karena adanya hadats. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Disunnahkan menjaga wudhu atau diri dalam keadaan suci. Termasuk juga kala tidur dalam keadaan suci.” (Kitab Matan Al Idhoh, hlm. 20).   11. Perbanyak ibadah dan doa di Raudhah. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Siapa saja yang menziarahi masjid Nabawi untuk shalat dua rakaat di Raudhah, tempat yang mulia atau mengerjakan shalat sunnah semampu dia karena ada hadits yang menjelaskan keutamaan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ “Antara rumahku dan mimbarku adalah di antara taman surga.” (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 1391) Dari Yazid bin Abi ‘Ubaid, ia berkata, “Aku datang bersama Salamah bin Al-Akwa’, lalu aku shalat di Raudhah Syarif. Aku berkata: Wahai Abu Muslim, mengapa engkau sengaja shalat di Raudhah. Ia lantas menjawab, “Aku pernah melihat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersengaja shalat di Raudhah.” (HR. Bukhari, no. 502 dan Muslim, no. 509). Namun, shalat di Raudhah hendaknya tidak sampai bertindak melampaui batas terhadap yang lain (dengan mendorong, atau bertindak kasar) atau malah menyulitkan orang yang lemah. (Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 36863) Catatan penting: Dalam Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah disebutkan bahwa seluruh tempat di masjid Nabawi dalam hal pahala itu sama. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram.” (HR. Muslim, no. 1394)   12. Perbanyak shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1.000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad, 3:343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 1173.) Baca juga: Pahala Shalat di Makkah 100.000 Kali Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi   13. Pahala umrah dengan shalat di Masjid Quba Dari Usaid bin Zhuhair Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلاَةُ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ كَعُمْرَةٍ “Shalat di Masjid Quba’, (pahalanya) seperti umrah.”(HR. Tirmidzi, no. 324 dan Ibnu Majah, no. 1411. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَصَلَّى فِيهِ صَلاَةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ “Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu ia mendatangi masjid Quba’, lantas ia melaksanakan shalat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah, no. 1412, An-Nasai, no. 700. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).   14. Setiap kali mendengarkan azan, jawablah dan berdoa setelah itu. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ “Jika kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muazin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya (memberi ampunan kepadanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim, no. 384). Ada lima amalan yang bisa diamalkan ketika mendengarkan azan shalat lima waktu sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. (1) mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muazin. (2) bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Allahumma sholli ‘ala Muhammad atau membaca shalawat ibrahimiyyah seperti yang dibaca saat tasyahud. (3) minta kepada Allah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wasilah dan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah: Allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah. (4) membaca: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa, sebagaimana disebutkan dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash. (5) memanjatkan doa sesuai yang diinginkan. (Lihat Jalaa-ul Afham, hlm. 329-331) Baca juga: 5 Amalan Ketika Mendengar Azan Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا “Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara azan dan iqamah, maka berdoalah (kala itu).” (HR. Ahmad, 3:155. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Baca juga: Doa antara Azan dan Iqamah   15. Manfaatkanlah tempat yang mulia di tanah suci untuk berdoa. Misal: di Masjidil Haram, di Hijr Ismail, di Multazam, di bukit Shafa dan Marwah saat sai, dan Raudhah di Masjid Nabawi. Ingat, doa itu besar pengaruhnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ “Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Taala selain doa.” (HR. Tirmidzi, no. 3370; Ibnu Majah, no. 3829, Ahmad, 2:362. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Yang penting doa dengan penuh rasa optimis. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Baca juga: Allah Dekat dengan Orang yang Berdoa Yakinlah bahwa doa akan memudahkan urusan kita. Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَلاَ يَزِيدُ فِى الْعُمُرِ إِلاَّ الْبِرُّ “Yang dapat menolak takdir hanyalah doa. Yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 2139 dalam Kitab Al-Qadr, Bab “Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa”. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 154, 1:286-288, menyatakan bahwa hadits ini hasan.) Baca juga:  Doa Dapat Mengubah Takdir 7 Catatan Mengenai Doa   16. Manfaatkan doa saat menjadi musafir selama perjalanan. Dalam hadits disebutkan, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ “Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) doa yang tidak diragukan lagi, yaitu: (1) doa orang yang terzalimi, (2) doa seorang musafir, (3) doa jelek orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad, 12:479, no. 7510, Tirmidzi, 4:314, no. 1905, Ibnu Majah, 2:1270, no. 3862. Syaikh Al-Albani menghasankan hadits ini). Di antara sebab terkabulnya doa disebutkan dalam hadits Arbain no. 10: Keadaan dalam perjalanan jauh (safar). Meminta dalam keadaan sangat butuh (genting). Menengadahkan tangan ke langit. Memanggil Allah dengan panggilan “Yaa Rabbii” (wahai Rabb-ku) atau memuji Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, misalnya: “Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam” (wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kemuliaan), “Yaa Mujiibas Saa’iliin” (wahai Rabb yang Mengabulkan doa orang yang meminta kepada-Mu), dan lain-lain. Baca juga: Hadits Arbain 10, Halal Berpengaruh pada Doa Kita Adab penting dalam berdoa Tidak terburu-buru dalam meminta terkabulnya doa dengan mengatakan, “Aku sudah terus berdoa, tetapi tak juga terkabul.” Menghadirkan hati ketika memanjatkan doa. Percaya kepada janji Allah bahwa doa itu terkabul. Memilih waktu terbaik untuk berdoa. Benar-benar merasa membutuhkan Allah. Menghadap kiblat. Berdoa dalam keadaan suci. Mengangkat tangan saat berdoa. Memuji Allah di awal doa, lalu bersalawat pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahului dengan taubat dan istigfar, seperti doa Nabi Yunus ‘alaihis salam yang mengakui kezalimannya terlebih dahulu: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Artinya: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang berbuat aniaya). Meminta dengan penuh pengharapan yang besar dan rasa takut. Bertawassul dengan nama dan sifat Allah. Mendahului doa dengan sedekah. Memilih doa yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Diambil dari buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup)   17. Jagalah dzikir pagi dan petang. Imam Nawawi dalam Shahih Muslim membawakan bab dengan judul “Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat Shubuh dan keutamaan masjid“. Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in, Simak bin Harb. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh, أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- “Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?” Jabir menjawab, نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ الصُّبْحَ أَوِ الْغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِى أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ. “Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.” (HR. Muslim, no. 670) Imam Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir setelah Shubuh dan duduk di tempat shalat jika tidak memiliki udzur (halangan). Al-Qadhi mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama. Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdoa hingga terbit matahari.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 8:29, Asy-Syamilah) Baca juga: Malas Beraktivitas Karena Lupa Dzikir Membaca dzikir pada pagi dan petang termasuk menjalani perintah Allah untuk memperbanyak dzikir sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat, وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرَاً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan berdzikirlah pada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا () وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا () “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42). Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Dzikir yang banyak adalah dengan membaca tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), tasbih (subhanallah), takbir (Allahu Akbar) dan perkataan lainnya yang mendekatkan diri kepada Allah. Yang paling minimal adalah kita merutinkan dzikir pagi-petang, dzikir bakda shalat lima waktu, dzikir ketika muncul sebab tertentu. Dzikir ini baiknya dirutinkan di setiap waktu dan keadaan.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 706) Baca juga: Disuruh Dzikir yang Banyak Manfaat berdzikir di antaranya disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wabil Ash-Shayyib: Senantiasa berdzikir kepada Allah menyebabkan seseorang tidak mungkin melupakan-Nya. Orang yang melupakan Allah adalah sebab sengsara dirinya dalam kehidupannya dan di hari ia dikembalikan. Seseorang yang melupakan Allah menyebabkan ia melupakan dirinya dan maslahat untuk dirinya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19) Baca juga: 51 Keutamaan Dzikir Waktu dzikir pagi: dari terbit fajar Shubuh hingga menjelang Zhuhur. Waktu dzikir petang: dari tenggelam matahari hingga pertengahan malam.   18. Menjalankan ibadah umrah dengan memenuhi rukun, wajib, dan berusaha menjauhkan diri dari larangan ihram.  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Haji mabrur tidak ada balasan untuknya melainkan surga.” (HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349) Baca juga: Keutamaan Umrah   Rukun Umrah Ihram, Thawaf umrah, Sa’i umrah, Halq atau taqshir (tahallul), dan Tertib.   Wajib Umrah Ihram dari miqat. Menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan ketika ihram.   Video Tata Cara Umrah   Yang penting saat umrah adalah jangan melakukan larangan ihram: Memakai pakaian yang meliputi (membentuk lekuk tubuh, seperti pakaian, celana), khusus laki-laki, Menutup kepala, baik seluruh atau sebagiannya, Menutup sebagian atau seluruh wajah serta memakai sarung tangan (bagi wanita), Memakai wewangian atau sejenisnya di badan, baju, atau tempat tidur (berlaku bagi laki-laki dan perempuan), Memakai minyak untuk rambut atau jenggot, Berjimak, Menghilangkan sebagian rambut atau kuku, Berburu hewan liar darat yang bisa dimakan, Memotong tumbuhan yang berada di tanah haram, kecuali idzkhir dan sejenisnya, dan Melaksanakan akad nikah.   Ada beberapa dam yang perlu diperhatikan karena melakukan pelanggaran: Pertama: Dam yang wajib dibayarkan karena meninggalkan nusuk (yaitu meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, contoh: tidak ihram dari miqat), dam ini secara berurutan adalah: Seekor kambing yang memenuhi syarat untuk qurban. Jika tidak mendapati, puasa sepuluh hari, di mana tiga hari di tanah suci dan tujuh hari apabila telah kembali ke tanah air. Kedua: Dam yang wajib dibayarkan karena mencukur (contoh: mencukur seluruh rambut kepala atau tiga helai saja) dan at-taraffuh (bersenang-senang, contoh: memakai wewangian dan minyak), dam ini berdasarkan pilihan: Seekor kambing yang memenuhi syarat untuk qurban. Puasa tiga hari. Bersedekah tiga sha’ kepada enam orang miskin, masing-masing orang miskin mendapatkan setengah sha’ makanan yang sah diberikan untuk zakat fitrah. Ketiga: Dam yang wajib yang dibayarkan karena berhubungan intim. Dam ini secara berurutan adalah: Satu ekor unta. Jika tidak mendapati, maka satu ekor sapi. Jika tidak mendapati, maka tujuh ekor kambing. Jika masih tidak mendapati, maka ia menilai unta (dengan uang) dan membeli makanan dengan harganya dan menyedekahkannya. Jika tidak mendapati, ia puasa satu hari untuk setiap mud.   19. Lakukanlah umrah berulang kali. Orang yang berumrah boleh menunaikan umrah lebih dari sekali dalam sekali safar, baik berumrah untuk dirinya sendiri ataukah untuk orang tuanya yang sakitnya tak kunjung sembuh yang tidak mampu berumrah. Namun, syaratnya yang mengumrahkan harus sudah berumrah untuk dirinya sendiri. Bahkan mengulangi umrah termasuk dalam fadhilah amal, amalan yang utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا “Umrah ke umrah itu menghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Muslim) Syarat pertama untuk sahnya umrah kedua bagi yang sudah berada di dalam Makkah, ia hendaknya keluar ke tanah halal terdekat, seperti Tan’im. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah umrah dua kali pada haji Wada’ kurang dari 20 hari. Umrah pertama yaitu berangkat dari Madinah. Umrah kedua adalah berihram dari Tan’im sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut ini. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مَعَهَا أَخَاهَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ فَأَعْمَرَهَا مِنْ التَّنْعِيمِ. متفق عليه. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus bersamanya saudaranya ‘Abdurrahman, ia diperintahkan berumrah dari Tan’im. (Muttafaqun ‘alaih) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika seseorang tinggal di Makkah atau singgah di Makkah lantas berkeinginan untuk umrah, maka miqatnya adalah miqat terdekat. Inilah pendapat dari Imam Syafii. Para ulama Syafiiyah pun menyepakatinya. Para ulama Syafiiyah berpendapat bahwa cukup baginya untuk mencapai tanah halal walau hanya satu langkah dari arah mana saja selama itu sudah masuk tanah halal. Itu adalah miqat yang wajib. Adapun yang disunnahkan adalah mengambil miqat untuk umrah dari Ji’ronah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berumrah dari Ji’ronah. Jika tidak bisa, maka lewat Tan’im karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada Aisyah untuk mengambil miqat dari Tan’im. Tan’im ini adalah miqat terdekat dari Baitullah. Jika tidak bisa pula, bisa mengambil miqat dari Hudaibiyyah. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam shalat di situ. Urutan miqat dari segi keutamaan adalah Ji’ronah, Tan’im, lalu Hudaibiyyah. Inilah yang disebutkan ulama Syafiiyah dan mereka menyepakatinya dan tidak ada ikhtilaf di dalamnya. Lihat Al-Majmu’, 7:211 dan Mughi Al-Muhtaj, 2:229. Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah dalam Al-Minhaj Al-Qawim berkata, يسنُّ الإكثار من العمرة، ولو في اليوم الواحد؛ إذ هي أفضل من الطواف على المعتمد “Disunnahkan memperbanyak umrah walaupun dalam satu hari. Amalan tersebut lebih afdal daripada memperbanyak thawaf. Demikian pendapat mu’tamad (pendapat resmi dalam madzhab Syafii).” Baca juga: Inilah Dalil dan Fatwa Ulama Mengenai Bolehnya Umrah Berulang Kali dalam Sekali Safar   20. Masih boleh melakukan badal umrah. Ulama Syafiiyah berpendapat bahwa boleh ada badal atau menggantikan menunaikan umrah dari yang lain jika yang digantikan adalah mayat atau orang yang masih hidup, tetapi tidak lagi memiliki kemampuan untuk menunaikannya sendiri. Syarat badal umrah adalah: (1) yang membadalkan sudah pernah berumrah, (2) membadalkan hanya untuk satu orang. Kalau badal haji, ada dalilnya sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ. قَالَ « مَنْ شُبْرُمَةَ ». قَالَ أَخٌ لِى أَوْ قَرِيبٌ لِى. قَالَ « حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ ». قَالَ لاَ. قَالَ « حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ » Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang mengucapkan, “Labbaik ‘an Syubrumah (aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah, atas nama Syubrumah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Memangnya siapa Syubrumah?” Ia menjawab, “Syubrumah adalah saudaraku atau kerabatku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Engkau sudah berhaji untuk dirimu?” Ia menjawab, “Belum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memberi saran, “Berhajilah untuk dirimu dahulu, barulah berhaji atas nama Syubrumah.” (HR. Abu Daud, no. 1811. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani berbeda penilaiannya, beliau menyatakan hadits ini sahih). Para ulama berkata bahwa hukum badal umrah sama dengan hukum badal haji.   Baca juga: Badal Umrah, Adakah Dalilnya? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Mengumrahkan orang yang telah meninggal dunia itu dibolehkan, begitu pula untuk orang yang tidak mampu untuk menunaikan umrah untuk dirinya sendiri karena sudah sepuh atau menderita penyakit yang sulit diharapkan sembuhnya. Yang membadalkan umrah termasuk orang yang berbuat baik dan akan mendapatkan ganjaran. Orang yang membadalkan jika dibayar untuk hal ini juga dibolehkan. Namun, hendaklah orang yang membadalkan dipilih–menurut sangkaan kuat–adalah orang yang saleh dan paham hukum. Yang menjadi wakil (penerima kuasa) meniatkan untuk menunaikan umrah orang lain atau orang yang memberi kuasa mengabarkan kalau ia mewakilkan pada orang lain. Karena orang yang memberi kuasa telah rida dengan penggantian tersebut karena ia menaruh percaya. Namun, jika yang membadalkan itu dua orang, maka tidaklah diterima.” (Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 142234) Catatan: Badal umrah hanya boleh untuk mereka yang belum pernah berumrah. Jika sudah pernah berumrah, maka boleh dibadalkan jika ada wasiat.   21. Perbanyak Thawaf. Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ, لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْل أوْ نَهَارٍ “Wahai Bani Abdu Manaf, janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” (HR. Abu Daud, no. 1894; Tirmidzi, no. 868, An-Nasai, 1:284; Ibnu Majah, no. 1254; Ahmad, 27:297, Ibnu Hibban, 1552, 1553, 1554. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih, perawinya perawi Muslim. Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:210-211) Hadits ini menunjukkan bahwa boleh melakukan thawaf pada waktu kapan pun, begitu pula shalat sunnah bakda thawaf boleh dilakukan pada waktu apa pun, meskipun pada waktu terlarang untuk shalat dikarenakan shalat sunnah bakda thawaf adalah shalat sunnah yang punya sebab. Baca juga: Thawaf Bebas pada Waktu Kapan Pun Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan dalam fatawanya yang diringkas sebagai berikut. Orang yang masuk Masjidil Haram ada dua keadaan: Yang masuk untuk bermaksud melakukan thawaf untuk haji, umrah, atau sekadar melakukan thawaf sunnah, maka yang dilakukan pertama kali adalah thawaf. Orang seperti ini tidak disyariatkan melakukan shalat tahiyatul masjid sebelum thawaf. Karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan sahabatnya tidaklah pernah melakukan seperti itu. Jumhur ahli fikih berpendapat seperti itu. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah sedikit ulama seperti Ibnu ‘Aqil dari kalangan Hambali sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Syarh ‘Umdah Al-Fiqh. Yang dikecualikan dalam hal ini adalah jika masuk Masjidil Haram dalam keadaan sangat padat sehingga sulit untuk langsung thawaf. Hendaklah melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid, lalu menunggu sampai suasana tidak terlalu padat untuk memulai thawaf.  Yang masuk untuk bermaksud shalat, duduk, menghadiri majelis ilmu, berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau ibadah lainnya, maka disunnahkan melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid karena keumuman hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,  إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ “Apabila di antara kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah ia duduk hingga shalat dua rakaat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1163 dan Muslim, no. 714) Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (10:306) disebutkan, “Jumhur ahli fikih berpendapat bahwa tahiyatul Masjidil Haram adalah melakukan thawaf untuk orang yang baru memasuki Makkah, baik ia adalah pedagang, orang yang berhaji, atau selainnya. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, إن النبي صلى الله عليه وسلم حين قدم مكة توضأ , ثم طاف بالبيت “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika masuk Makkah, beliau berwudhu, kemudian melakukan thawaf keliling Kabah.” (HR. Bukhari, no. 1614). Dua rakaat tahiyatul Masjidil Haram sudah dicukupi dengan dua rakaat bakda thawaf. Adapun penduduk Makkah yang tidak diperintahkan untuk thawaf atau tidak masuk untuk thawaf, ia ingin melakukan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, maka tahiyatul Masjidil Haram untuknya adalah shalat sebagaimana yang dilakukan untuk menghormati masjid lainnya.” Demikian secara ringkas.  Lihat bahasan Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 106318. Baca juga: Thawaf ataukah Shalat Tahiyatul Masjid ketika Masuk Masjidil Haram? Beberapa Penjelasan tentang Thawaf   22. Shalat bakda thawaf di belakang Maqam Ibrahim. Surah yang dibaca pada shalat dua rakaat: rakaat pertama, surah Al-Kaafiruun; rakaat kedua, surah Al-Ikhlas. Dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang amat panjang disebutkan, فجعل المقام بينه وبين البيت [ فصلى ركعتين ] فكان يقرأ في الركعتين : ( قل هو الله أحد ) و ( قل يا أيها الكافرون ) ( وفي رواية : ( قل يا أيها الكافرون ) و ( قل هو الله أحد ) “Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan maqam Ibrahim antara dirinya dan Ka’bah, lalu beliau laksanakan shalat dua rakaat. Dalam dua rakaat tersebut, beliau membaca Qulhuwallahu ahad (surah Al-Ikhlas) dan Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surah Al-Kafirun). Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surah Al Kafirun) dan Qulhuwallahu ahad (surah Al Ikhlas).” (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 56) Baca juga: Waktu Membaca Surah Al-Ikhlas   23. Perbanyak doa, baca Al-Qur’an, atau dzikir ketika thawaf dan berdoa sapu jagad antara rukun Yamani dan Hajar Aswad. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ فَأَقِلُّوا مِنْ الْكَلَامِ “Thawaf di Ka’bah seperti shalat, tetapi di dalamnya dibolehkan sedikit bicara.” (HR. An-Nasai, no. 2922) Dalam hadits lainnya disebutkan, الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلاَةٌ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَحَلَّ فِيهِ الْمَنْطِقَ ، فَمَنْ نَطَقَ فِيهِ فَلاَ يَنْطِقْ إِلاَّ بِخَيْرٍ “Thawaf di Ka’bah seperti shalat, tetapi Allah masih membolehkan berbicara saat itu. Barang siapa yang berbicara ketika thawaf, maka janganlah ia berkata selain berkata yang benar.” (HR. Ad-Darimi, no. 1847 dan Ibnu Hibban, no. 3836). Baca juga: Wudhu Batal di Pertengahan Thawaf  Dari ‘Abdullah bin As-Saaib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ (رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di antara dua rukun: Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirooti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka). ” (HR. Abu Daud ,no. 1892. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Sunnah-Sunnah Thawaf   24. Ambil berkah lewat air zam-zam dan berdoa saat meminumnya. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ “Air zam-zam sesuai keinginan ketika meminumnya.” (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Lihat Al Maqosid Al Hasanah, As Sakhowiy hal. 359. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1165) [Maksudnya doa apa saja yang diucapkan ketika meminumnya adalah doa yang mustajab]. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ketika meminum air zam-zam, beliau berdoa: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً ناَفِعاً ، وَرِزْقاً وَاسِعاً وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ “Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon waasi’an wa syifa-an min kulli daa-in” [Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, ilmu yang bermanfaat, rizqi yang melimpah, dan kesembuhan dari setiap penyakit]. Namun, riwayat ini adalah riwayat yang dho’if (lemah). (Lihat Dho’if At Targhib no. 750, Syaikh Al Albani)   25. Ambil ibrah dari perjalanan hidup nabi di Makkah dan Madinah. Allah Ta’ala berfiman, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).   26. Membantu orang yang susah saat berumrah. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ “Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580). Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).   27. Perbanyak Talbiyah Talbiyah secara tinjauan bahasa berarti menjawab yang memanggil. Talbiyah ini dimutlakkan pada menegakkan ketaatan. Sedangkan talbiyah secara syari adalah perkataan orang yang berihram “LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA, LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK (artinya: Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujaan dan nikmat adalah milik-Mu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu). Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, أنَّ تلبيةَ رسولِ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم: لبَّيكَ اللهمَّ لبَّيكَ، لبَّيكَ لا شريكَ لك لبَّيكَ؛ إنَّ الحمدَ والنِّعمةَ لك والمُلْك، لا شريكَ لك “Talbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA, LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK.” (HR. Bukhari, no. 1549 dan Muslim, no. 1184) Talbiyah adalah sunnah dalam ihram sebagaimana pendpaat dalam madzhab Syafiiyah, Hambali, dan dipilih oleh Ibnu Baz dan Ibnu ‘Utsaimin. Dari Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ayahnya (Ibnu ‘Umar), ia berkata, سَمِعْتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهِ عليه وسَلَّم يُهِلُّ مُلَبِّدًا، يقول: لبَّيك اللَّهُمَّ لبَّيْك، لبَّيْك لا شريكَ لك لبَّيْك، إنَّ الحمْدَ والنِّعمَةَ لك والمُلْك، لا شريكَ لك. لا يزيدُ على هؤلاءِ الكَلِماتِ. وإنَّ عبدَ اللهِ بنَ عُمَرَ رَضِي الله عنهما كان يقول: كان رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسَلَّم يركَعُ بذي الحُلَيفة ركعتينِ، ثم إذا استوت به النَّاقَةُ قائمةً عند مسجِدِ ذي الحُلَيفة، أهلَّ بهؤلاءِ الكَلِماتِ “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertalbiyah: LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA, LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK. Beliau tidak menambah lebih dari kalimat tersebut. Sesungguhnya ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat di Dzulhulaifah dua rakaat. Ketika beliau telah menaiki unta, beliau menghadap Masjid Dzulhulaifah, beliau bertalbiyah dengan kalimat tersebut.” (HR. Bukhari, no. 5915 dan Muslim, no. 1184) Catatan: Talbiyah termasuk dzikir dan tidak wajib saat umrah maupun haji sebagaimana dzikir lainnya dalam umrah dan haji. Pria disunnahkan mengeraskan suara saat membaca talbiyah, wanita disunnahkan tidak mengeraskan suaranya, yaitu bertalbiyah dengan sirr yang cukup didengar sendiri. Disunnahkan bertalbiyah dari awal ihram dan talbiyah untuk umrah berakhir ketika akan mulai thawaf umrah.   28. Perbanyak baca Al-Qur’an. Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ : رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ ،وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ : لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ ، وَمَثلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الرَّيحَانَةِ : رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ : لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ “Permisalan orang yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah utrujah, bau dan rasanya enak. Permisalan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah kurma, tidak beraroma, tetapi rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan raihanah, baunya menyenangkan, tetapi rasanya pahit. Permisalan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan hanzhalah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5059 dan Muslim, no. 797)   29. Jaga shalat tahajud di tanah suci. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا عَبْدَ اللهِ! لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ “Wahai ‘Abdullah, janganlah seperti si fulan. Dahulu ia rajin mengerjakan shalat malam, tetapi sekarang ia meninggalkannya.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1152 dan Muslim, no. 1159, 185) Ingat, shalat tahajud harus didahului dengan tidur malam. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79) Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya berkata, “Tahajud itu setelah bangun tidur. ‘Alqamah, Al-Aswad, Ibrahim An-Nakha’i, dan selainnya berkata seperti itu. Makna tahajud dalam bahasa Arab seperti itu. Hadits-hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tahajud itu setelah bangun tidur.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:103) Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzammil: 6). Nasyia’atal lail berarti bangun di waktu malam. Inilah yang dimaksudkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas secara mu’allaq dengan shighah jazm (tegas). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (17:474) berkata, “Nasyiatal lail menurut kebanyakan ulama adalah seseorang yang bangun setelah tidur. Tahajud itu bukanlah pada awal malam. Inilah yang tepat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempraktikkan seperti itu. Hadits yang menerangkan seperti ini adalah mutawatir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tahajud pasti setelah bangun malam, bukan bangun antara dua ‘Isyak.” Baca juga: Shalat Tahajud Didahului Tidur Malam (Bahasan Bulughul Maram) Tahajud itu Dilakukan Setelah Bangun Tidur Malam   30. Rutinkan Shalat Witir Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ “Witir itu dianjurkan pada setiap muslim. Siapa yang suka melakukan shalat witir dengan lima rakaat, maka lakukanlah. Siapa yang suka melakukan shalat witir dengan tiga rakaat, maka lakukanlah. Siapa yang suka melakukan shalat witir dengan satu rakaat, maka lakukanlah.” (HR. Abu Daud, no. 1422; An-Nasai, 3:238; Ibnu Majah, no. 1190; Ibnu Hibban, 6:170. Perawi hadits ini terpercaya. Hadits ini dinyatakan marfu’ oleh sebagian ulama, ada pula yang menyatakan mawquf). Baca juga: Hukum Shalat Witir dan Cara Pengerjaannya Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَصَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً “Jadikanlah shalat witir sebagai penutup shalat malam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1998 dan Muslim, no. 751, 151)   31. Jaga Shalat Isyraq Shalat isyraq adalah shalat Dhuha yang dikerjakan pada awal waktu. Waktu pengerjaannya adalah 15 menit setelah matahari terbit. Caranya adalah: (1) lakukan shalat Shubuh berjamaah bagi laki-laki di masjid atau bagi perempuan di rumah, (2) melaksanakan shalat dua rakaat pada saat matahari meninggi (15 menit setelah matahari terbit). Dengan shalat isyraq akan mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ “Barang siapa yang mengerjakan shalat Shubuh dengan berjamaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 174, 181, 209. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, 1: 189 mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ » “Barang siapa yang melaksanakan shalat Shubuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umrah.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi, no. 586. Syaikh Muhammad Bazmul menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi, hasan dilihat dari jalur lain) Baca juga: Shalat Isyraq Dilakukan Wanita di Rumah Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, كَانَ النبيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا صَلَّى الفَجْرَ تَرَبَّعَ في مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَسْنَاء “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu apabila telah melakukan shalat Shubuh, beliau duduk bersila di tempat duduknya sampai terbitnya matahari yang putih indah sinarnya.” (HR. Muslim, no. 4851; Abu Daud, no. 4850) Baca juga: Duduk Setelah Shalat Shubuh lalu Shalat Isyraq    32. Jaga Shalat Dhuha Shalat Dhuha itu dikerjakan ketika matahari meninggi, 15 menit setelah matahari terbit sampai menjelang Zhuhur. Rakaat minimal adalah 2 rakaat, rakaat maksimal tidaklah dibatasi. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar makruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim, no.  720). Shalat Dhuha paling afdal dilakukan saat makin siang sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut. أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) yaitu ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim no. 748). Artinya, ketika kondisi panas di akhir waktu. Imam Nawawi mengatakan, “Inilah waktu utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula ulama Syafiiyah mengatakan bahwa ini adalah waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 28) Baca juga: Waktu Shalat Dhuha   33. Masuk dan keluar masjid, jangan lupa baca membaca dzikirnya. Masuk dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri. Doa masuk masjid بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ “BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLOHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWAABA ROHMATIK (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah kepadaku pintu rahmat-Mu).”(HR. Ibnu Majah, no. 771 dan Tirmidzi, no. 314. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Doa keluar masjid بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ فَضْلِكَ “BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLOHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWABAA FADHLIK (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah padaku pintu karunia-Mu).”(HR. Ibnu Majah, no. 771 dan Tirmidzi, no. 314. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   34. Bersabar ketika tinggal di Madinah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَاءِ الْمَدِينَةِ وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا “Tidaklah seseorang dari umatku sabar terhadap cobaan Madinah dan kerasnya (kesusahannya), kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat.” [HR. Muslim] Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا “Tidaklah seseorang sabar terhadap kesusahannya (Madinah) kemudian dia mati, kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya, atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat. Jika dia seorang Muslim.” [HR. Muslim] Ujian berupa kesusahan dan penyakit yang muncul bagi orang yang datang kemudian tinggal di kota Madinah bisa berupa kesulitan mencari mata pencaharian atau bisa berupa penyakit yang muncul akibat cuaca yang ekstrim semisal demam. Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah, beliau berkata, واللأواء في اللغة الشدة , ( نقله الباحث من الصحاح للجوهري ) , وعطف الشدة عليها للتفسير أو التأكيد , أو أن ( اللأواء ) المراد بها ضيق المعيشةوتعسر الكسب , والشدة : ما يصيب الإنسان في بدنه بسبب شدة الحر والبرد ونحو ذلك “Al-Awa’ secara bahasa adalah keras (syiddah), al-awa’ disambung dengan kata keras (syiddah) untuk penekanan. Dan yang dimaksud dengan kesempitan hidup di madinah adalah sulitnya mencari mata pencaharian. Adapun maksud kata keras (syiddah) adalah apa yang menimpa manusia pada badannya (penyakit) akibat ekstrimnya cuaca panas dan dingin (di kota Madinah).” [Mura’atul Mafatih syarh Misykatul Mashabih 9/514-515]   35. Pada hari Jumat, jangan lupa membaca surah Al-Kahfi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ “Barang siapa yang membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini SAHIH sebagaimana dalam Shahih At-Targhib, no. 736) Baca juga: Keutamaan Membaca Surah Al-Kahfi dan Waktunya 36. Manfaatkan doa di hari Jumat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hari Jumat. Beliau bersabda, فِيهَا سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْألُ اللهَ شَيْئاً ، إِلاَّ أعْطَاهُ إيّاهُ )) وَأشَارَ بيَدِهِ يُقَلِّلُهَا. “Di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba yang muslim tepat pada saat itu berdiri shalat meminta sesuatu kepada Allah, melainkan Allah pasti memberikan kepadanya.” Beliau pun mengisyaratkan dengan tangannya untuk menggambarkan sedikitnya (sebentarnya) waktu tersebut. (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 935 dan Muslim, no. 852)   37. Ziarah kubur, misal ke kuburan Baqi’. Yang dibaca ketika ziarah kubur adalah: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ ASSALAMU ’ALAIKUM AHLAD-DIYAAR MINAL MU’MINIIN WAL MUSLIM, WA INNA INSYAA ALLOOHU BIKUM LA-LAAHIQUUN, WA AS-ALULLOOHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH. “Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan para sahabat ketika keluar menuju kubur dengan membaca doa di atas. Hadits di atas dari Sulaiman bin Buraidah, dari bapaknya. (HR. Muslim, no. 975)   38. Bersedekah air. Dari Sa’id bahwasanya Sa’ad mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْجَبُ إِلَيْكَ قَالَ « الْمَاءُ ». “Sedekah apa yang paling engkau sukai.” Jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah air.” (HR. Abu Daud, no. 1679 dan An-Nasai, no. 3694; 3695; Ibnu Majah, no. 3684. Hadits ini tidak bersambung, Sa’id bin Al-Musayyib tidak bercumpa dengan Sa’ad bin ‘Ubadah. Hadits ini punya syawahid atau penguat tetapi dhaif. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain sebagaimana disebutkan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 962).   39. Bersabar, jangan sampai berdebat kusir, jangan sampai bermaksiat saat berumrah. Allah Ta’ala berfirman, ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)   40. Ingat, siapkan oleh-oleh pada orang-orang terdekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَهَادَوْا تَحَابُّوا “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hal itu akan membuat kalian saling mencintai.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 6/169, hasan) Saling memberi hadiah merupakan salah satu faktor yang menumbuhkan rasa saling mencintai di antara kaum muslimin. Oleh karena itu, seorang penyair Arab menyatakan dalam sebuah sya’ir: هدايا الناس بعضهم لبعض تولد في قلوبهم الوصال Hadiah yang diberikan oleh sebagian orang kepada yang lain bisa menumbuhkan rasa saling mencintai di hati mereka.   41. Jangan lupa doakan saudaramu saat berada di tanah suci. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الغَيْبِ إِلاَّ قَالَ المَلَكُ : وَلَكَ بِمِثْلٍ “Tidaklah seorang hamba muslim yang berdoa untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya, melainkan malaikat berkata, ‘Dan untukmu seperti doamu.’” (HR. Muslim, no. 7231) Dalam lafaz yang lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ المَرْءِ المُسْلِمِ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ المَلَكُ المُوَكَّلُ بِهِ : آمِينَ ، وَلَكَ بِمِثْلٍ “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya pasti dikabulkan. Di dekat kepala orang tersebut ada malaikat yang diberi tugas untuk itu. Setiap kali seorang muslim berdoa kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diberi tugas itu berkata, “Aamiin, dan untukmu seperti doa itu.” (HR. Muslim, no. 2733) Di dalam Kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari disebutkan bab: Bab 278 – Doa Seseorang kepada Saudaranya di Saat Saudaranya Tidak Mengetahuinya. Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, قدمت عليهم الشام، فوجدت أم الدرداء في البيت، ولم أجد أبا الدرداء. قالت: أتريد الحج العام ؟ قلت : نعم. قالت: فادع الله لنا بخير؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummud Darda’ (ibu mertua Shafwan) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abud Darda’ (bapak mertua Shafwan). Ummu Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan padaku karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,” إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”. قال: فلقيت أبا الدرداء في السوق، فقال مثل ذلك، يأثر عن النبي صلى الله عليه وسلم. “Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia mendapatkan hadits tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Hadits ini sahih) Lihat Ash Shohihah (1399): [Muslim: 48-Kitab Adz Dzikr wad Du’aa’, hal. 88] Baca juga: Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak Mengetahuinya   42. Jaga keistiqamah bakda umrah hingga akhir hayat. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30) Mujahid, ‘Ikrimah, dan Zaid bin Aslam menafsirkan ayat di atas, “Janganlah takut pada akhirat yang akan kalian hadapi dan janganlah bersedih dengan dunia yang kalian tinggalkan yaitu anak, keluarga, harta dan tanggungan utang. Karena para malaikat nanti yang akan mengurusnya.” Baca juga: Kiat Agar Istiqamah Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barang siapa mengucapkan laa ilaha illallah karena mencari wajah Allah kemudian amalnya ditutup dengannya, maka ia masuk surga. Barang siapa berpuasa karena mencari wajah Allah kemudian amalnya diakhiri dengannya, maka ia masuk surga. Barang siapa bersedekah kemudian itu menjadi amalan terakhirnya, maka ia masuk surga.” (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ahkam Al-Janaiz, hlm. 58. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Baca juga: Tanda Husnul Khatimah Syafiq Al-Balkhi rahimahullah berkata bahwa ada empat cara untuk istiqamah, Tidak meninggalkan perintah Allah karena sedang mengalami musibah. 2. Tidak meninggalkan perintah Allah karena kesibukan dunia. 3. Tidak mengikuti komentar orang lain dan mengedepankan hawa nafsu sendiri. 4. Beramal sesuai Al-Quran dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hilyah Al-Auliya’, 8:17, dinukil dari At-Tadzhib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hlm. 50).   43. Melakukan shalat sunnah ketika tiba dari safar umrah di masjid terdekat. Ada satu sunnah yang bisa dilakukan oleh musafir termasuk pula bagi jamaah haji yang baru pulang dari safar adalah melakukan shalat sunnah dua rakaat di masjid terdekat ketika tiba dari safar. Niatannya adalah shalat dua rakaat ketika tiba dari safar. Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, ‎أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ ضُحًى دَخَلَ الْمَسْجِدَ ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika tiba dari safar pada waktu Dhuha, beliau memasuki masjid kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat sebelum beliau duduk.” (HR. Bukhari, no. 3088) Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau mengatakan, “Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. Tatkala kami tiba di Madinah, beliau mengatakan padaku, ‎ادْخُلِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ “Masukilah masjid dan lakukanlah shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari, no. 3087) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa shalat ini adalah shalat ketika baru datang dari safar, shalat ini bukanlah shalat tahiyatul masjid. Dari perkataan Imam Nawawi ini tampak jelas bahwa shalat sunnah yang dimaksud itu berbeda dengan shalat sunnah tahiyatul masjid. Dengan melakukan shalat ini, shalat tahiyatul masjid menjadi gugur. Cara melakukan shalat ini sama seperti shalat yang lain, tentu dengan membaca surah Al-Fatihah dan surah yang mudah dibaca setelah itu.   44. Bertekad untuk berhaji bagi yang belum berhaji. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Tabaraka wa Ta’ala. Beliau bersabda, نَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ. “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barang siapa yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat mengerjakan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat hingga perlipatan yang banyak.” (HR. Bukhari, no. 6491 dan Muslim, no. 131 di kitab sahih keduanya dengan lafaz ini). Baca juga: 7 Amalan Berpahala Haji Orang yang punya hamm dalam kebaikan lantas tidak dilakukan ada beberapa bentuk: Melakukan sebab, tetapi tidak mendapatinya. Orang seperti ini mendapatkan kebaikan yang sempurna. Sudah punya hamm dan azam, tetapi ditinggalkan karena ada kebaikan yang lebih afdal. Orang seperti ini akan mendapatkan pahala kebaikan yang lebih tinggi (lebih sempurna). Sedangkan, untuk amalan yang ditinggalkan (yang lebih rendah) dicatat mendapatkan pahala dari hamm (tekadnya). Jika meninggalkan amalan karena kemalasan. Misalnya, sudah berniat mau mengerjakan shalat sunnah Dhuha. Lantas ada teman yang mengajak untuk jalan. Ia diberi ganjaran sebatas niatannya saja, tetapi tidak diberi balasan untuk perbuatan karena tidak dilakukan tanpa ada uzur.   45. Berharap kepada Allah agar bisa kembali ke tanah suci lagi. Allah Ta’ala berfirman, ‎فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37) Syaikh As-Sa’di menjelaskan ayat ini: setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke Kabah, maka semakin bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya dan kerinduannya.     Semoga melalui 40-an amalan saat safar umrah ini diharapkan para jamaah yang melaksanakan ibadah umrah dapat memperoleh manfaat yang besar dan pahala yang berlimpah. Dengan tetap menjaga keistiqamahan dalam menjalankan amalan-amalan ini, semoga umrah yang dilakukan menjadi ladang amal yang bermanfaat dan dapat membawa perubahan positif dalam kehidupan. Selamat beribadah dan semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan berkah-Nya kepada kita semua.   –   Diselesaikan di Jogja, 27 Rajab 1444 H, diperbaharui lagi pagi hari 22 Dzulhijjah 1444 H, 11 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan amalan ringan cara umrah fikih safar keutamaan umrah kumpulan amalan ringan

Buah Syukur

Syukur merupakan salah satu sifat seorang mukmin. Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda tentang keadaan seorang mukmin, “Sungguh menakjubkan keadaan (urusan) seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Dan yang demikian itu tidak terjadi, kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 7692)Syukur mempunyai banyak buah (faedah) yang dapat dipetik. Semuanya kembali kepada hamba dan tiada satu pun yang kembali kepada Allah. Apabila seorang hamba bersyukur, maka sejatinya dia telah bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri.Sebaliknya, apabila seorang hamba kufur (mengingkari) nikmat, maka kekufurannya itu akan merugikan dirinya sendiri pula. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam pernah berkata sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Qur’an,هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia”. (QS. An-Naml: 40)Buah-buah dari syukur antara lain adalah sebagai berikut:Daftar Isi Selamat dari azab (siksa) AllahMendapatkan rida AllahDikhususkan dengan nikmat dan anugerah hidayahTerpelihara dan terjaganya nikmatDitambahkannya nikmatBalasan syukur tidak terikat kehendak AllahDikabulkannya doaSelamat dari azab (siksa) AllahAllah tidak akan mengazab seseorang selama ia mau beriman dan bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا“Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 147)Ibnu Jarir rahimahullah berkata, ”Sesungguhnya Allah Jalla Tsanaauhu tidak akan menyiksa orang yang bersyukur dan beriman.” (Tafsir Ath-Thabari, 4: 338)Mendapatkan rida AllahBuah syukur yang kedua sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa akan mendapatkan rida dari Allah Ta’ala. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,“Sungguh Allah benar-benar rida kepada seorang hamba yang memakan suatu makanan, lalu mengucapkan alhamdulillah atas makanan tersebut, atau meminum suatu minuman, lalu mengucapkan alhamdulillah atas minuman tersebut.” (HR. Muslim no. 2734)Dikhususkan dengan nikmat dan anugerah hidayahSungguh Allah telah mengabarkan kepada hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dengan dikhususkan sebagai hamba yang mendapat hidayah.Allah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, ‘Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah (hidayah) Allah kepada mereka?’ (Allah berfirman), ‘Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?’” (QS. Al-An’am: 53)Ibnu Jarir rahimahullah berkata, “Allah lebih mengetahui mana di antara hamba-hamba-Nya yang bersyukur maupun kufur. Dan nikmat hidayah diberikan kepada mereka yang senantiasa bersyukur.” (Tafsir Ath-Thabari, 5: 204)Baca juga: Makna Dan Hakikat Hidayah AllahTerpelihara dan terjaganya nikmatSyukur adalah penjaga (pengawal) nikmat dari segala sebab yang mengakibatkan hilangnya nikmat tersebut. Oleh karena itu, sebagian ulama menamakan syukur itu sebagai pengikat nikmat karena syukur itu mengikat nikmat sehingga tidak lepas dan kabur.Umar bin Abdul Azis rahimahullah berkata, ”Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada Allah.” (Syu’abul Iman, no. 4546)Ditambahkannya nikmatAllah Ta’ala telah menjanjikan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa Allah akan memberikan tambahan nikmat kepada orang-orang yang bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)Mungkin ada orang-orang di sekitar kita yang usahanya tidak sekeras kita, namun Allah berikan nikmat yang banyak kepadanya. Hal ini bisa jadi disebabkan karena besarnya rasa syukurnya kepada Allah.Balasan syukur tidak terikat kehendak AllahAllah Ta’ala menggantungkan banyak balasan (pahala) suatu amal dengan kehendak, seperti firman Allah,بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ“(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki.” (QS. Al-An’am: 41)يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ“Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ali Imran: 129)وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. Al-Baqarah: 212)وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ“Dan Allah menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. At-Taubah: 15)Adapun syukur, maka Allah tidak gandengkan dengan kehendak, tetapi langsung Allah balas. Allah Ta’ala berfirman,وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ“Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ“Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145).Dikabulkannya doaIbrahim bin Adham, seorang tokoh tabi’in pernah ditanya, “Mengapa kami berdoa, namun tidak dikabulkan?” Dia menjawab,“Karena kalian mengenal Allah, tetapi tidak menaati-Nya.”“Kalian mengenal Rasulullah, tetapi kalian tidak mengikuti sunnahnya.”“Kalian mengetahui Al-Quran, tetapi tidak mengamalkannya.”“Kalian memakan nikmat-nikmat Allah, namun kalian tidak mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.” “Kalian mengetahui surga, namun tidak memburunya. Dan kalian mengetahui neraka, namun tidak berlari darinya.”“Kalian mengetahui setan, namun tidak memeranginya malah menyepakatinya.”“Kalian mengetahui kematian, namun tidak bersiap untuknya dan kalian menguburkan orang mati, namun tidak mengambil pelajaran dan kalian meninggalkan aib-aib kalian sendiri, namun sibuk dengan aib-aib orang lain.” (Tafsir Ath-Thabari, 2: 303)Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan kita dan seluruh kaum muslimin untuk bisa menjadi hamba yang bersyukur dan menjadikan kita termasuk ke dalam golongan hamba yang pandai bersyukur. Aamiin.Baca juga: Doa-Doa Dari Al Qur’an***Penulis: Arif Muhammad N.Arikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari A’malul Qulub bab As-Syukur, hal. 306-308 karya Syekh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhahullah.Tags: bersyukur pada Allahbuah syukurhamba yang bersyukur

Buah Syukur

Syukur merupakan salah satu sifat seorang mukmin. Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda tentang keadaan seorang mukmin, “Sungguh menakjubkan keadaan (urusan) seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Dan yang demikian itu tidak terjadi, kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 7692)Syukur mempunyai banyak buah (faedah) yang dapat dipetik. Semuanya kembali kepada hamba dan tiada satu pun yang kembali kepada Allah. Apabila seorang hamba bersyukur, maka sejatinya dia telah bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri.Sebaliknya, apabila seorang hamba kufur (mengingkari) nikmat, maka kekufurannya itu akan merugikan dirinya sendiri pula. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam pernah berkata sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Qur’an,هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia”. (QS. An-Naml: 40)Buah-buah dari syukur antara lain adalah sebagai berikut:Daftar Isi Selamat dari azab (siksa) AllahMendapatkan rida AllahDikhususkan dengan nikmat dan anugerah hidayahTerpelihara dan terjaganya nikmatDitambahkannya nikmatBalasan syukur tidak terikat kehendak AllahDikabulkannya doaSelamat dari azab (siksa) AllahAllah tidak akan mengazab seseorang selama ia mau beriman dan bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا“Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 147)Ibnu Jarir rahimahullah berkata, ”Sesungguhnya Allah Jalla Tsanaauhu tidak akan menyiksa orang yang bersyukur dan beriman.” (Tafsir Ath-Thabari, 4: 338)Mendapatkan rida AllahBuah syukur yang kedua sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa akan mendapatkan rida dari Allah Ta’ala. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,“Sungguh Allah benar-benar rida kepada seorang hamba yang memakan suatu makanan, lalu mengucapkan alhamdulillah atas makanan tersebut, atau meminum suatu minuman, lalu mengucapkan alhamdulillah atas minuman tersebut.” (HR. Muslim no. 2734)Dikhususkan dengan nikmat dan anugerah hidayahSungguh Allah telah mengabarkan kepada hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dengan dikhususkan sebagai hamba yang mendapat hidayah.Allah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, ‘Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah (hidayah) Allah kepada mereka?’ (Allah berfirman), ‘Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?’” (QS. Al-An’am: 53)Ibnu Jarir rahimahullah berkata, “Allah lebih mengetahui mana di antara hamba-hamba-Nya yang bersyukur maupun kufur. Dan nikmat hidayah diberikan kepada mereka yang senantiasa bersyukur.” (Tafsir Ath-Thabari, 5: 204)Baca juga: Makna Dan Hakikat Hidayah AllahTerpelihara dan terjaganya nikmatSyukur adalah penjaga (pengawal) nikmat dari segala sebab yang mengakibatkan hilangnya nikmat tersebut. Oleh karena itu, sebagian ulama menamakan syukur itu sebagai pengikat nikmat karena syukur itu mengikat nikmat sehingga tidak lepas dan kabur.Umar bin Abdul Azis rahimahullah berkata, ”Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada Allah.” (Syu’abul Iman, no. 4546)Ditambahkannya nikmatAllah Ta’ala telah menjanjikan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa Allah akan memberikan tambahan nikmat kepada orang-orang yang bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)Mungkin ada orang-orang di sekitar kita yang usahanya tidak sekeras kita, namun Allah berikan nikmat yang banyak kepadanya. Hal ini bisa jadi disebabkan karena besarnya rasa syukurnya kepada Allah.Balasan syukur tidak terikat kehendak AllahAllah Ta’ala menggantungkan banyak balasan (pahala) suatu amal dengan kehendak, seperti firman Allah,بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ“(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki.” (QS. Al-An’am: 41)يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ“Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ali Imran: 129)وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. Al-Baqarah: 212)وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ“Dan Allah menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. At-Taubah: 15)Adapun syukur, maka Allah tidak gandengkan dengan kehendak, tetapi langsung Allah balas. Allah Ta’ala berfirman,وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ“Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ“Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145).Dikabulkannya doaIbrahim bin Adham, seorang tokoh tabi’in pernah ditanya, “Mengapa kami berdoa, namun tidak dikabulkan?” Dia menjawab,“Karena kalian mengenal Allah, tetapi tidak menaati-Nya.”“Kalian mengenal Rasulullah, tetapi kalian tidak mengikuti sunnahnya.”“Kalian mengetahui Al-Quran, tetapi tidak mengamalkannya.”“Kalian memakan nikmat-nikmat Allah, namun kalian tidak mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.” “Kalian mengetahui surga, namun tidak memburunya. Dan kalian mengetahui neraka, namun tidak berlari darinya.”“Kalian mengetahui setan, namun tidak memeranginya malah menyepakatinya.”“Kalian mengetahui kematian, namun tidak bersiap untuknya dan kalian menguburkan orang mati, namun tidak mengambil pelajaran dan kalian meninggalkan aib-aib kalian sendiri, namun sibuk dengan aib-aib orang lain.” (Tafsir Ath-Thabari, 2: 303)Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan kita dan seluruh kaum muslimin untuk bisa menjadi hamba yang bersyukur dan menjadikan kita termasuk ke dalam golongan hamba yang pandai bersyukur. Aamiin.Baca juga: Doa-Doa Dari Al Qur’an***Penulis: Arif Muhammad N.Arikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari A’malul Qulub bab As-Syukur, hal. 306-308 karya Syekh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhahullah.Tags: bersyukur pada Allahbuah syukurhamba yang bersyukur
Syukur merupakan salah satu sifat seorang mukmin. Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda tentang keadaan seorang mukmin, “Sungguh menakjubkan keadaan (urusan) seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Dan yang demikian itu tidak terjadi, kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 7692)Syukur mempunyai banyak buah (faedah) yang dapat dipetik. Semuanya kembali kepada hamba dan tiada satu pun yang kembali kepada Allah. Apabila seorang hamba bersyukur, maka sejatinya dia telah bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri.Sebaliknya, apabila seorang hamba kufur (mengingkari) nikmat, maka kekufurannya itu akan merugikan dirinya sendiri pula. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam pernah berkata sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Qur’an,هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia”. (QS. An-Naml: 40)Buah-buah dari syukur antara lain adalah sebagai berikut:Daftar Isi Selamat dari azab (siksa) AllahMendapatkan rida AllahDikhususkan dengan nikmat dan anugerah hidayahTerpelihara dan terjaganya nikmatDitambahkannya nikmatBalasan syukur tidak terikat kehendak AllahDikabulkannya doaSelamat dari azab (siksa) AllahAllah tidak akan mengazab seseorang selama ia mau beriman dan bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا“Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 147)Ibnu Jarir rahimahullah berkata, ”Sesungguhnya Allah Jalla Tsanaauhu tidak akan menyiksa orang yang bersyukur dan beriman.” (Tafsir Ath-Thabari, 4: 338)Mendapatkan rida AllahBuah syukur yang kedua sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa akan mendapatkan rida dari Allah Ta’ala. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,“Sungguh Allah benar-benar rida kepada seorang hamba yang memakan suatu makanan, lalu mengucapkan alhamdulillah atas makanan tersebut, atau meminum suatu minuman, lalu mengucapkan alhamdulillah atas minuman tersebut.” (HR. Muslim no. 2734)Dikhususkan dengan nikmat dan anugerah hidayahSungguh Allah telah mengabarkan kepada hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dengan dikhususkan sebagai hamba yang mendapat hidayah.Allah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, ‘Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah (hidayah) Allah kepada mereka?’ (Allah berfirman), ‘Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?’” (QS. Al-An’am: 53)Ibnu Jarir rahimahullah berkata, “Allah lebih mengetahui mana di antara hamba-hamba-Nya yang bersyukur maupun kufur. Dan nikmat hidayah diberikan kepada mereka yang senantiasa bersyukur.” (Tafsir Ath-Thabari, 5: 204)Baca juga: Makna Dan Hakikat Hidayah AllahTerpelihara dan terjaganya nikmatSyukur adalah penjaga (pengawal) nikmat dari segala sebab yang mengakibatkan hilangnya nikmat tersebut. Oleh karena itu, sebagian ulama menamakan syukur itu sebagai pengikat nikmat karena syukur itu mengikat nikmat sehingga tidak lepas dan kabur.Umar bin Abdul Azis rahimahullah berkata, ”Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada Allah.” (Syu’abul Iman, no. 4546)Ditambahkannya nikmatAllah Ta’ala telah menjanjikan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa Allah akan memberikan tambahan nikmat kepada orang-orang yang bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)Mungkin ada orang-orang di sekitar kita yang usahanya tidak sekeras kita, namun Allah berikan nikmat yang banyak kepadanya. Hal ini bisa jadi disebabkan karena besarnya rasa syukurnya kepada Allah.Balasan syukur tidak terikat kehendak AllahAllah Ta’ala menggantungkan banyak balasan (pahala) suatu amal dengan kehendak, seperti firman Allah,بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ“(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki.” (QS. Al-An’am: 41)يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ“Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ali Imran: 129)وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. Al-Baqarah: 212)وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ“Dan Allah menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. At-Taubah: 15)Adapun syukur, maka Allah tidak gandengkan dengan kehendak, tetapi langsung Allah balas. Allah Ta’ala berfirman,وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ“Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ“Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145).Dikabulkannya doaIbrahim bin Adham, seorang tokoh tabi’in pernah ditanya, “Mengapa kami berdoa, namun tidak dikabulkan?” Dia menjawab,“Karena kalian mengenal Allah, tetapi tidak menaati-Nya.”“Kalian mengenal Rasulullah, tetapi kalian tidak mengikuti sunnahnya.”“Kalian mengetahui Al-Quran, tetapi tidak mengamalkannya.”“Kalian memakan nikmat-nikmat Allah, namun kalian tidak mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.” “Kalian mengetahui surga, namun tidak memburunya. Dan kalian mengetahui neraka, namun tidak berlari darinya.”“Kalian mengetahui setan, namun tidak memeranginya malah menyepakatinya.”“Kalian mengetahui kematian, namun tidak bersiap untuknya dan kalian menguburkan orang mati, namun tidak mengambil pelajaran dan kalian meninggalkan aib-aib kalian sendiri, namun sibuk dengan aib-aib orang lain.” (Tafsir Ath-Thabari, 2: 303)Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan kita dan seluruh kaum muslimin untuk bisa menjadi hamba yang bersyukur dan menjadikan kita termasuk ke dalam golongan hamba yang pandai bersyukur. Aamiin.Baca juga: Doa-Doa Dari Al Qur’an***Penulis: Arif Muhammad N.Arikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari A’malul Qulub bab As-Syukur, hal. 306-308 karya Syekh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhahullah.Tags: bersyukur pada Allahbuah syukurhamba yang bersyukur


Syukur merupakan salah satu sifat seorang mukmin. Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda tentang keadaan seorang mukmin, “Sungguh menakjubkan keadaan (urusan) seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Dan yang demikian itu tidak terjadi, kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 7692)Syukur mempunyai banyak buah (faedah) yang dapat dipetik. Semuanya kembali kepada hamba dan tiada satu pun yang kembali kepada Allah. Apabila seorang hamba bersyukur, maka sejatinya dia telah bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri.Sebaliknya, apabila seorang hamba kufur (mengingkari) nikmat, maka kekufurannya itu akan merugikan dirinya sendiri pula. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam pernah berkata sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Qur’an,هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia”. (QS. An-Naml: 40)Buah-buah dari syukur antara lain adalah sebagai berikut:Daftar Isi Selamat dari azab (siksa) AllahMendapatkan rida AllahDikhususkan dengan nikmat dan anugerah hidayahTerpelihara dan terjaganya nikmatDitambahkannya nikmatBalasan syukur tidak terikat kehendak AllahDikabulkannya doaSelamat dari azab (siksa) AllahAllah tidak akan mengazab seseorang selama ia mau beriman dan bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا“Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 147)Ibnu Jarir rahimahullah berkata, ”Sesungguhnya Allah Jalla Tsanaauhu tidak akan menyiksa orang yang bersyukur dan beriman.” (Tafsir Ath-Thabari, 4: 338)Mendapatkan rida AllahBuah syukur yang kedua sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa akan mendapatkan rida dari Allah Ta’ala. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,“Sungguh Allah benar-benar rida kepada seorang hamba yang memakan suatu makanan, lalu mengucapkan alhamdulillah atas makanan tersebut, atau meminum suatu minuman, lalu mengucapkan alhamdulillah atas minuman tersebut.” (HR. Muslim no. 2734)Dikhususkan dengan nikmat dan anugerah hidayahSungguh Allah telah mengabarkan kepada hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dengan dikhususkan sebagai hamba yang mendapat hidayah.Allah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, ‘Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah (hidayah) Allah kepada mereka?’ (Allah berfirman), ‘Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?’” (QS. Al-An’am: 53)Ibnu Jarir rahimahullah berkata, “Allah lebih mengetahui mana di antara hamba-hamba-Nya yang bersyukur maupun kufur. Dan nikmat hidayah diberikan kepada mereka yang senantiasa bersyukur.” (Tafsir Ath-Thabari, 5: 204)Baca juga: Makna Dan Hakikat Hidayah AllahTerpelihara dan terjaganya nikmatSyukur adalah penjaga (pengawal) nikmat dari segala sebab yang mengakibatkan hilangnya nikmat tersebut. Oleh karena itu, sebagian ulama menamakan syukur itu sebagai pengikat nikmat karena syukur itu mengikat nikmat sehingga tidak lepas dan kabur.Umar bin Abdul Azis rahimahullah berkata, ”Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada Allah.” (Syu’abul Iman, no. 4546)Ditambahkannya nikmatAllah Ta’ala telah menjanjikan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa Allah akan memberikan tambahan nikmat kepada orang-orang yang bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)Mungkin ada orang-orang di sekitar kita yang usahanya tidak sekeras kita, namun Allah berikan nikmat yang banyak kepadanya. Hal ini bisa jadi disebabkan karena besarnya rasa syukurnya kepada Allah.Balasan syukur tidak terikat kehendak AllahAllah Ta’ala menggantungkan banyak balasan (pahala) suatu amal dengan kehendak, seperti firman Allah,بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ“(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki.” (QS. Al-An’am: 41)يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ“Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ali Imran: 129)وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. Al-Baqarah: 212)وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ“Dan Allah menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. At-Taubah: 15)Adapun syukur, maka Allah tidak gandengkan dengan kehendak, tetapi langsung Allah balas. Allah Ta’ala berfirman,وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ“Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ“Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145).Dikabulkannya doaIbrahim bin Adham, seorang tokoh tabi’in pernah ditanya, “Mengapa kami berdoa, namun tidak dikabulkan?” Dia menjawab,“Karena kalian mengenal Allah, tetapi tidak menaati-Nya.”“Kalian mengenal Rasulullah, tetapi kalian tidak mengikuti sunnahnya.”“Kalian mengetahui Al-Quran, tetapi tidak mengamalkannya.”“Kalian memakan nikmat-nikmat Allah, namun kalian tidak mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.” “Kalian mengetahui surga, namun tidak memburunya. Dan kalian mengetahui neraka, namun tidak berlari darinya.”“Kalian mengetahui setan, namun tidak memeranginya malah menyepakatinya.”“Kalian mengetahui kematian, namun tidak bersiap untuknya dan kalian menguburkan orang mati, namun tidak mengambil pelajaran dan kalian meninggalkan aib-aib kalian sendiri, namun sibuk dengan aib-aib orang lain.” (Tafsir Ath-Thabari, 2: 303)Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan kita dan seluruh kaum muslimin untuk bisa menjadi hamba yang bersyukur dan menjadikan kita termasuk ke dalam golongan hamba yang pandai bersyukur. Aamiin.Baca juga: Doa-Doa Dari Al Qur’an***Penulis: Arif Muhammad N.Arikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari A’malul Qulub bab As-Syukur, hal. 306-308 karya Syekh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhahullah.Tags: bersyukur pada Allahbuah syukurhamba yang bersyukur

Sampai Kapan Belajar Akidah?

Bismillah (dengan menyebut nama Allah). Hanya kepada-Nya kita bertawakal.Saudaraku yang dirahmati Allah, di antara perkara paling mendasar yang wajib diketahui oleh setiap muslim dan muslimah adalah apa tujuan Allah menciptakan kita di alam dunia ini. Hal ini sudah begitu jelas diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Allah berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud beribadah di sini bukan sekadar melaksanakan salat atau membayar zakat. Lebih daripada itu, ibadah yang dituntut ialah yang dimurnikan untuk Allah semata alias bertauhid.Dalam sebagian risalahnya, Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ibadah tidaklah dikatakan sebagai ibadah, kecuali apabila disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya salat itu tidaklah dikatakan salat, kecuali jika disertai dengan thaharah (bersuci).”Daftar Isi Apa beda tauhid dengan ibadah?Apa hubungan tauhid dengan akidah?Penjelasan ulama tentang akidahApa beda tauhid dengan ibadah?Ya, mungkin kita bertanya-tanya. Apakah perbedaan antara tauhid dengan ibadah? Perlu kita pahami bahwa secara bahasa Arab, ibadah itu mengandung makna perendahan diri dan ketundukan. Adapun dalam istilah agama, yang dimaksud dengan ibadah itu mencakup puncak kecintaan dan puncak perendahan diri kepada Allah. Ibadah itu diwujudkan dalam bentuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Ada juga yang memberikan definisi ibadah yang lebih luas, yaitu segala hal yang dicintai dan diridai oleh Allah berupa ucapan dan perbuatan yang lahir maupun batin. Definisi ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam risalah Al-’Ubudiyah.Dari situlah para ulama membagi ibadah menjadi tiga bentuk: 1) ada ibadah dengan lisan; 2) ada ibadah dengan anggota badan; dan 3) ada ibadah dengan hati. Adapun istilah tauhid dalam bahasa Arab bermakna menunggalkan atau menjadikan sesuatu sebagai satu-satunya. Dalam pengertian agama, tauhid yang dimaksud adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Dengan kata lain, menujukan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah tidak kepada selain-Nya. Tauhid ini juga sering diungkapkan dengan istilah ikhlas sebagaimana banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an.Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya, “Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahli kitab, maka hendaklah yang paling pertama kamu serukan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim. Ini adalah lafal Bukhari. Dalam redaksi riwayat lainnya disebutkan dengan ungkapan “Hendaklah yang paling pertama kamu serukan kepada mereka adalah syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah.”)Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita adalah ibadah yang bersih dari syirik. Tidak boleh kita beribadah kepada Allah, tetapi di sisi lain kita juga mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Allah berfirman,وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ“Dan sembahlah Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa’: 36)Allah juga berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِیَّاهُ“Dan Rabbmu telah menetapkan bahwa janganlah kalian beribadah, kecuali kepada-Nya.” (QS. Al-Isra’: 23)Kemudian hal ini juga menegaskan kepada kita bahwasanya tauhid bukan semata-mata keyakinan bahwa Allah menjadi satu-satunya pencipta dan pengatur alam semesta. Adapun keimanan bahwa Allah merupakan pencipta alam ini serta yang mengatur segala urusan merupakan sebuah keyakinan yang sudah dimiliki oleh kaum musyrikin Quraisy. Keyakinan seperti itu juga belum cukup untuk memasukkan pemiliknya ke dalam agama Islam.Baca juga: Makna TauhidApa hubungan tauhid dengan akidah?Ya, sebagian kita mungkin juga bertanya. Apa kaitan antara tauhid (sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas) dengan istilah akidah. Bukankah akidah itu perkara keyakinan yang ada di dalam hati. Hal ini akan mudah dimengerti apabila kita melihat kepada penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang iman (sebagaimana disebutkan dalam hadis Jibril) bahwa iman itu adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan seterusnya. Iman kepada Allah inilah yang biasa disebut dengan istilah tauhid oleh para ulama. Oleh sebab itu, Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa tauhid ini merupakan pokoknya keimanan.Dalam sebuah riwayat disebutkan ucapan Hasan Al-Bashri rahimahullah, “Bukanlah iman itu hanya dengan berangan-angan atau memperindah penampilan. Akan tetapi, iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Dengan bahasa lain, iman itu mencakup keyakinan hati dan amal dengan anggota badan. Intisari keimanan kepada Allah sendiri ada pada kalimat laa ilaha illallah atau kalimat tauhid. Di dalamnya terkandung pengakuan dan keyakinan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Menetapkan bahwa Allah yang berhak disembah dan menolak segala bentuk sesembahan selain-Nya. Inilah yang diserukan oleh setiap rasul kepada kaumnya. Allah berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl : 36) Imam Malik rahimahullah menafsirkan thaghut sebagai segala bentuk sesembahan selain Allah.Maksudnya, jika kita meyakini bahwa hanya Allah sesembahan yang benar, maka kita juga harus tunduk beribadah kepada Allah semata, melakukan amal saleh, dan menjauhi syirik. Tidak cukup bermodalkan keyakinan tanpa disertai dengan amal ibadah kepada Allah. Oleh sebab itu, Allah berfirman,وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan untuk-Nya agama (amal) dengan hanif (bertauhid), dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Demikian pula sebaliknya, tidak cukup ucapan dengan lisan atau syahadat jika tidak disertai dengan keyakinan di dalam hati tentang keesaan Allah dalam hal ibadah dan wajibnya mengimani apa-apa yang wajib diimani. Oleh sebab itu, ucapan syahadat dari kaum munafikin tidak bermanfaat di akhirat. Bahkan, mereka dihukum di kerak neraka yang paling bawah selama-lamanya disebabkan ucapan mereka hanya di lisan dan tidak disertai dengan keyakinan hati. Pada hakikatnya, mereka itu adalah para pembohong, menampakkan beriman padahal hatinya penuh dengan kekafiran.Baca juga: Membekali Diri Dengan TauhidPenjelasan ulama tentang akidahSyekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Akidah adalah hal-hal yang diyakini di dalam hati dan dipastikan olehnya. Ia disebut dengan akidah, bisa juga disebut dengan ‘iman’ sebagaimana para salaf dahulu menamainya dengan istilah ‘iman’. Dan ia juga bisa disebut dengan nama ‘as-sunnah’.Oleh sebab itulah, anda temukan bahwasanya karya-karya ulama salaf itu berbeda-beda namanya. Sebagian diberi judul ‘Iman’ atau ‘Ushul (pokok keimanan)’. Sebagian yang lain diberi judul dengan nama ‘As-Sunnah’. Seperti contohnya adalah kitab As-Sunnah karya Abdullah putra Imam Ahmad, kitab As-Sunnah karya Al-Atsram. Demikian pula kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah karya Al-Lalika’i. Di antara para ulama ada yang menyebut perkara akidah dengan sebutan ‘iman’. Di antara ulama juga ada yang menyebutnya dengan nama ‘akidah’. Dan di antara mereka ada yang menamainya dengan sebutan ‘tauhid’.Itu adalah nama-nama yang berbeda, akan tetapi maknanya satu. Setiap nama ini diambil dari dalil-dalil. Ia bukan sekedar istilah buatan manusia sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian kalangan. Dari sanalah para ulama memberikan perhatian besar terhadap masalah ini, yaitu persoalan akidah, iman, atau as-sunnah.Mereka mencurahkan perhatian yang sangat besar terhadap hal ini. Mereka menekuni hal ini dengan serius. Mereka pun menyusun banyak karya tulis untuk menjelaskan masalah ini, menerangkan pokok-pokoknya, dan menjabarkan dalil-dalilnya. Karena masalah ini menjadi asas (pondasi) tegaknya agama. Mereka menulis dalam bidang ini baik dalam bentuk prosa ataupun sajak. Di dalamnya mereka kumpulkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.” (lihat Syarh Ad-Durrah Al-Mudhiyyah, hal. 13)Dari keterangan beliau di atas, kita juga bisa menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya tauhid ini juga merupakan nama lain dari akidah dalam istilah yang digunakan oleh para ulama salaf. Mari kita simak keterangan beliau di kitab lain yang menunjukkan bahwa maksud utama dari penjelasan akidah oleh para ulama bukan sekedar keyakinan tetapi juga mencakup ibadah kepada Allah. Karena akidah saja tanpa amal ibadah kepada Allah tidak akan diterima di sisi Allah.Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Akidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan akidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apa pun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan akidahnya.” (lihat Ia’nat Al-Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid [1: 17] cet. Mu’assasah Ar-Risalah)Meskipun demikian, kita tidak menafikan bahwa akidah dalam artian keyakinan hati memang memiliki peran dan kedudukan yang sangat agung di dalam Islam. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah menerangkan bahwa kedudukan akidah bagi ilmu-ilmu maupun amal-amal yang lain laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Laksana pokok bagi sebatang pohon. Sebagaimana halnya sebuah bangunan tidak bisa berdiri tanpa pondasi dan pohon tidak akan tegak tanpa pokok-pokoknya, maka demikian pula amal dan ilmu yang dimiliki seseorang tidak akan bermanfaat tanpa akidah yang lurus.Oleh sebab itu, perhatian kepada masalah akidah harus lebih diutamakan daripada perhatian kepada masalah-masalah apa pun. Apakah itu kebutuhan makanan, minuman, atau pakaian. Karena akidah itulah yang akan memberikan kepada seorang mukmin kehidupan yang sejati, yang dengannya jiwanya menjadi bersih, amalnya menjadi benar dan ketaatan bisa diterima. Dan dengan sebab itu pula derajatnya akan semakin meninggi di hadapan Allah ‘Azza Wajalla. (lihat Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Aqidah Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi, hal. 8 cet. I, 1424 H)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Barangsiapa yang mencermati syariat, pada sumber-sumber maupun ajaran-ajarannya. Dia akan mengetahui betapa erat kaitan antara amalan anggota badan dengan amalan hati. Bahwa amalan anggota badan tidak akan bermanfaat tanpanya. Dan amalan hati lebih wajib daripada amalan anggota badan. Apakah yang membedakan antara mukmin dengan munafik kalau bukan karena amalan yang tertanam di dalam hati masing-masing di antara mereka berdua? Penghambaan (ibadah) hati itu lebih agung daripada ibadah anggota badan, lebih banyak, dan lebih kontinyu. Karena ibadah hati wajib di sepanjang waktu.(lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 14-15)Dengan begitu, kita bisa memahami bahwa belajar akidah itu tidak boleh berhenti. Karena akidah itu merupakan bagian dari amalan hati yang wajib di sepanjang waktu. Sementara hati manusia ini sering berbolak-balik, terkadang ia condong kepada kebaikan, tetapi terkadang ia juga condong kepada keburukan. Begitu pula belajar tauhid tidak boleh ditinggalkan karena tauhid inilah syarat diterimanya seluruh amalan. Allah berfirman,إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِینَ مِنۡ أَنصَارࣲ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (QS. Al-Ma’idah: 72)Wallahu a’lam bish-shawaab.Baca juga: Hakekat dan Kedudukan Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: akidah islambelajar agamabelajar akidah

Sampai Kapan Belajar Akidah?

Bismillah (dengan menyebut nama Allah). Hanya kepada-Nya kita bertawakal.Saudaraku yang dirahmati Allah, di antara perkara paling mendasar yang wajib diketahui oleh setiap muslim dan muslimah adalah apa tujuan Allah menciptakan kita di alam dunia ini. Hal ini sudah begitu jelas diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Allah berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud beribadah di sini bukan sekadar melaksanakan salat atau membayar zakat. Lebih daripada itu, ibadah yang dituntut ialah yang dimurnikan untuk Allah semata alias bertauhid.Dalam sebagian risalahnya, Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ibadah tidaklah dikatakan sebagai ibadah, kecuali apabila disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya salat itu tidaklah dikatakan salat, kecuali jika disertai dengan thaharah (bersuci).”Daftar Isi Apa beda tauhid dengan ibadah?Apa hubungan tauhid dengan akidah?Penjelasan ulama tentang akidahApa beda tauhid dengan ibadah?Ya, mungkin kita bertanya-tanya. Apakah perbedaan antara tauhid dengan ibadah? Perlu kita pahami bahwa secara bahasa Arab, ibadah itu mengandung makna perendahan diri dan ketundukan. Adapun dalam istilah agama, yang dimaksud dengan ibadah itu mencakup puncak kecintaan dan puncak perendahan diri kepada Allah. Ibadah itu diwujudkan dalam bentuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Ada juga yang memberikan definisi ibadah yang lebih luas, yaitu segala hal yang dicintai dan diridai oleh Allah berupa ucapan dan perbuatan yang lahir maupun batin. Definisi ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam risalah Al-’Ubudiyah.Dari situlah para ulama membagi ibadah menjadi tiga bentuk: 1) ada ibadah dengan lisan; 2) ada ibadah dengan anggota badan; dan 3) ada ibadah dengan hati. Adapun istilah tauhid dalam bahasa Arab bermakna menunggalkan atau menjadikan sesuatu sebagai satu-satunya. Dalam pengertian agama, tauhid yang dimaksud adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Dengan kata lain, menujukan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah tidak kepada selain-Nya. Tauhid ini juga sering diungkapkan dengan istilah ikhlas sebagaimana banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an.Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya, “Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahli kitab, maka hendaklah yang paling pertama kamu serukan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim. Ini adalah lafal Bukhari. Dalam redaksi riwayat lainnya disebutkan dengan ungkapan “Hendaklah yang paling pertama kamu serukan kepada mereka adalah syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah.”)Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita adalah ibadah yang bersih dari syirik. Tidak boleh kita beribadah kepada Allah, tetapi di sisi lain kita juga mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Allah berfirman,وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ“Dan sembahlah Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa’: 36)Allah juga berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِیَّاهُ“Dan Rabbmu telah menetapkan bahwa janganlah kalian beribadah, kecuali kepada-Nya.” (QS. Al-Isra’: 23)Kemudian hal ini juga menegaskan kepada kita bahwasanya tauhid bukan semata-mata keyakinan bahwa Allah menjadi satu-satunya pencipta dan pengatur alam semesta. Adapun keimanan bahwa Allah merupakan pencipta alam ini serta yang mengatur segala urusan merupakan sebuah keyakinan yang sudah dimiliki oleh kaum musyrikin Quraisy. Keyakinan seperti itu juga belum cukup untuk memasukkan pemiliknya ke dalam agama Islam.Baca juga: Makna TauhidApa hubungan tauhid dengan akidah?Ya, sebagian kita mungkin juga bertanya. Apa kaitan antara tauhid (sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas) dengan istilah akidah. Bukankah akidah itu perkara keyakinan yang ada di dalam hati. Hal ini akan mudah dimengerti apabila kita melihat kepada penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang iman (sebagaimana disebutkan dalam hadis Jibril) bahwa iman itu adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan seterusnya. Iman kepada Allah inilah yang biasa disebut dengan istilah tauhid oleh para ulama. Oleh sebab itu, Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa tauhid ini merupakan pokoknya keimanan.Dalam sebuah riwayat disebutkan ucapan Hasan Al-Bashri rahimahullah, “Bukanlah iman itu hanya dengan berangan-angan atau memperindah penampilan. Akan tetapi, iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Dengan bahasa lain, iman itu mencakup keyakinan hati dan amal dengan anggota badan. Intisari keimanan kepada Allah sendiri ada pada kalimat laa ilaha illallah atau kalimat tauhid. Di dalamnya terkandung pengakuan dan keyakinan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Menetapkan bahwa Allah yang berhak disembah dan menolak segala bentuk sesembahan selain-Nya. Inilah yang diserukan oleh setiap rasul kepada kaumnya. Allah berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl : 36) Imam Malik rahimahullah menafsirkan thaghut sebagai segala bentuk sesembahan selain Allah.Maksudnya, jika kita meyakini bahwa hanya Allah sesembahan yang benar, maka kita juga harus tunduk beribadah kepada Allah semata, melakukan amal saleh, dan menjauhi syirik. Tidak cukup bermodalkan keyakinan tanpa disertai dengan amal ibadah kepada Allah. Oleh sebab itu, Allah berfirman,وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan untuk-Nya agama (amal) dengan hanif (bertauhid), dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Demikian pula sebaliknya, tidak cukup ucapan dengan lisan atau syahadat jika tidak disertai dengan keyakinan di dalam hati tentang keesaan Allah dalam hal ibadah dan wajibnya mengimani apa-apa yang wajib diimani. Oleh sebab itu, ucapan syahadat dari kaum munafikin tidak bermanfaat di akhirat. Bahkan, mereka dihukum di kerak neraka yang paling bawah selama-lamanya disebabkan ucapan mereka hanya di lisan dan tidak disertai dengan keyakinan hati. Pada hakikatnya, mereka itu adalah para pembohong, menampakkan beriman padahal hatinya penuh dengan kekafiran.Baca juga: Membekali Diri Dengan TauhidPenjelasan ulama tentang akidahSyekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Akidah adalah hal-hal yang diyakini di dalam hati dan dipastikan olehnya. Ia disebut dengan akidah, bisa juga disebut dengan ‘iman’ sebagaimana para salaf dahulu menamainya dengan istilah ‘iman’. Dan ia juga bisa disebut dengan nama ‘as-sunnah’.Oleh sebab itulah, anda temukan bahwasanya karya-karya ulama salaf itu berbeda-beda namanya. Sebagian diberi judul ‘Iman’ atau ‘Ushul (pokok keimanan)’. Sebagian yang lain diberi judul dengan nama ‘As-Sunnah’. Seperti contohnya adalah kitab As-Sunnah karya Abdullah putra Imam Ahmad, kitab As-Sunnah karya Al-Atsram. Demikian pula kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah karya Al-Lalika’i. Di antara para ulama ada yang menyebut perkara akidah dengan sebutan ‘iman’. Di antara ulama juga ada yang menyebutnya dengan nama ‘akidah’. Dan di antara mereka ada yang menamainya dengan sebutan ‘tauhid’.Itu adalah nama-nama yang berbeda, akan tetapi maknanya satu. Setiap nama ini diambil dari dalil-dalil. Ia bukan sekedar istilah buatan manusia sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian kalangan. Dari sanalah para ulama memberikan perhatian besar terhadap masalah ini, yaitu persoalan akidah, iman, atau as-sunnah.Mereka mencurahkan perhatian yang sangat besar terhadap hal ini. Mereka menekuni hal ini dengan serius. Mereka pun menyusun banyak karya tulis untuk menjelaskan masalah ini, menerangkan pokok-pokoknya, dan menjabarkan dalil-dalilnya. Karena masalah ini menjadi asas (pondasi) tegaknya agama. Mereka menulis dalam bidang ini baik dalam bentuk prosa ataupun sajak. Di dalamnya mereka kumpulkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.” (lihat Syarh Ad-Durrah Al-Mudhiyyah, hal. 13)Dari keterangan beliau di atas, kita juga bisa menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya tauhid ini juga merupakan nama lain dari akidah dalam istilah yang digunakan oleh para ulama salaf. Mari kita simak keterangan beliau di kitab lain yang menunjukkan bahwa maksud utama dari penjelasan akidah oleh para ulama bukan sekedar keyakinan tetapi juga mencakup ibadah kepada Allah. Karena akidah saja tanpa amal ibadah kepada Allah tidak akan diterima di sisi Allah.Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Akidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan akidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apa pun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan akidahnya.” (lihat Ia’nat Al-Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid [1: 17] cet. Mu’assasah Ar-Risalah)Meskipun demikian, kita tidak menafikan bahwa akidah dalam artian keyakinan hati memang memiliki peran dan kedudukan yang sangat agung di dalam Islam. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah menerangkan bahwa kedudukan akidah bagi ilmu-ilmu maupun amal-amal yang lain laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Laksana pokok bagi sebatang pohon. Sebagaimana halnya sebuah bangunan tidak bisa berdiri tanpa pondasi dan pohon tidak akan tegak tanpa pokok-pokoknya, maka demikian pula amal dan ilmu yang dimiliki seseorang tidak akan bermanfaat tanpa akidah yang lurus.Oleh sebab itu, perhatian kepada masalah akidah harus lebih diutamakan daripada perhatian kepada masalah-masalah apa pun. Apakah itu kebutuhan makanan, minuman, atau pakaian. Karena akidah itulah yang akan memberikan kepada seorang mukmin kehidupan yang sejati, yang dengannya jiwanya menjadi bersih, amalnya menjadi benar dan ketaatan bisa diterima. Dan dengan sebab itu pula derajatnya akan semakin meninggi di hadapan Allah ‘Azza Wajalla. (lihat Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Aqidah Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi, hal. 8 cet. I, 1424 H)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Barangsiapa yang mencermati syariat, pada sumber-sumber maupun ajaran-ajarannya. Dia akan mengetahui betapa erat kaitan antara amalan anggota badan dengan amalan hati. Bahwa amalan anggota badan tidak akan bermanfaat tanpanya. Dan amalan hati lebih wajib daripada amalan anggota badan. Apakah yang membedakan antara mukmin dengan munafik kalau bukan karena amalan yang tertanam di dalam hati masing-masing di antara mereka berdua? Penghambaan (ibadah) hati itu lebih agung daripada ibadah anggota badan, lebih banyak, dan lebih kontinyu. Karena ibadah hati wajib di sepanjang waktu.(lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 14-15)Dengan begitu, kita bisa memahami bahwa belajar akidah itu tidak boleh berhenti. Karena akidah itu merupakan bagian dari amalan hati yang wajib di sepanjang waktu. Sementara hati manusia ini sering berbolak-balik, terkadang ia condong kepada kebaikan, tetapi terkadang ia juga condong kepada keburukan. Begitu pula belajar tauhid tidak boleh ditinggalkan karena tauhid inilah syarat diterimanya seluruh amalan. Allah berfirman,إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِینَ مِنۡ أَنصَارࣲ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (QS. Al-Ma’idah: 72)Wallahu a’lam bish-shawaab.Baca juga: Hakekat dan Kedudukan Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: akidah islambelajar agamabelajar akidah
Bismillah (dengan menyebut nama Allah). Hanya kepada-Nya kita bertawakal.Saudaraku yang dirahmati Allah, di antara perkara paling mendasar yang wajib diketahui oleh setiap muslim dan muslimah adalah apa tujuan Allah menciptakan kita di alam dunia ini. Hal ini sudah begitu jelas diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Allah berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud beribadah di sini bukan sekadar melaksanakan salat atau membayar zakat. Lebih daripada itu, ibadah yang dituntut ialah yang dimurnikan untuk Allah semata alias bertauhid.Dalam sebagian risalahnya, Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ibadah tidaklah dikatakan sebagai ibadah, kecuali apabila disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya salat itu tidaklah dikatakan salat, kecuali jika disertai dengan thaharah (bersuci).”Daftar Isi Apa beda tauhid dengan ibadah?Apa hubungan tauhid dengan akidah?Penjelasan ulama tentang akidahApa beda tauhid dengan ibadah?Ya, mungkin kita bertanya-tanya. Apakah perbedaan antara tauhid dengan ibadah? Perlu kita pahami bahwa secara bahasa Arab, ibadah itu mengandung makna perendahan diri dan ketundukan. Adapun dalam istilah agama, yang dimaksud dengan ibadah itu mencakup puncak kecintaan dan puncak perendahan diri kepada Allah. Ibadah itu diwujudkan dalam bentuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Ada juga yang memberikan definisi ibadah yang lebih luas, yaitu segala hal yang dicintai dan diridai oleh Allah berupa ucapan dan perbuatan yang lahir maupun batin. Definisi ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam risalah Al-’Ubudiyah.Dari situlah para ulama membagi ibadah menjadi tiga bentuk: 1) ada ibadah dengan lisan; 2) ada ibadah dengan anggota badan; dan 3) ada ibadah dengan hati. Adapun istilah tauhid dalam bahasa Arab bermakna menunggalkan atau menjadikan sesuatu sebagai satu-satunya. Dalam pengertian agama, tauhid yang dimaksud adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Dengan kata lain, menujukan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah tidak kepada selain-Nya. Tauhid ini juga sering diungkapkan dengan istilah ikhlas sebagaimana banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an.Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya, “Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahli kitab, maka hendaklah yang paling pertama kamu serukan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim. Ini adalah lafal Bukhari. Dalam redaksi riwayat lainnya disebutkan dengan ungkapan “Hendaklah yang paling pertama kamu serukan kepada mereka adalah syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah.”)Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita adalah ibadah yang bersih dari syirik. Tidak boleh kita beribadah kepada Allah, tetapi di sisi lain kita juga mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Allah berfirman,وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ“Dan sembahlah Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa’: 36)Allah juga berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِیَّاهُ“Dan Rabbmu telah menetapkan bahwa janganlah kalian beribadah, kecuali kepada-Nya.” (QS. Al-Isra’: 23)Kemudian hal ini juga menegaskan kepada kita bahwasanya tauhid bukan semata-mata keyakinan bahwa Allah menjadi satu-satunya pencipta dan pengatur alam semesta. Adapun keimanan bahwa Allah merupakan pencipta alam ini serta yang mengatur segala urusan merupakan sebuah keyakinan yang sudah dimiliki oleh kaum musyrikin Quraisy. Keyakinan seperti itu juga belum cukup untuk memasukkan pemiliknya ke dalam agama Islam.Baca juga: Makna TauhidApa hubungan tauhid dengan akidah?Ya, sebagian kita mungkin juga bertanya. Apa kaitan antara tauhid (sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas) dengan istilah akidah. Bukankah akidah itu perkara keyakinan yang ada di dalam hati. Hal ini akan mudah dimengerti apabila kita melihat kepada penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang iman (sebagaimana disebutkan dalam hadis Jibril) bahwa iman itu adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan seterusnya. Iman kepada Allah inilah yang biasa disebut dengan istilah tauhid oleh para ulama. Oleh sebab itu, Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa tauhid ini merupakan pokoknya keimanan.Dalam sebuah riwayat disebutkan ucapan Hasan Al-Bashri rahimahullah, “Bukanlah iman itu hanya dengan berangan-angan atau memperindah penampilan. Akan tetapi, iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Dengan bahasa lain, iman itu mencakup keyakinan hati dan amal dengan anggota badan. Intisari keimanan kepada Allah sendiri ada pada kalimat laa ilaha illallah atau kalimat tauhid. Di dalamnya terkandung pengakuan dan keyakinan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Menetapkan bahwa Allah yang berhak disembah dan menolak segala bentuk sesembahan selain-Nya. Inilah yang diserukan oleh setiap rasul kepada kaumnya. Allah berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl : 36) Imam Malik rahimahullah menafsirkan thaghut sebagai segala bentuk sesembahan selain Allah.Maksudnya, jika kita meyakini bahwa hanya Allah sesembahan yang benar, maka kita juga harus tunduk beribadah kepada Allah semata, melakukan amal saleh, dan menjauhi syirik. Tidak cukup bermodalkan keyakinan tanpa disertai dengan amal ibadah kepada Allah. Oleh sebab itu, Allah berfirman,وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan untuk-Nya agama (amal) dengan hanif (bertauhid), dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Demikian pula sebaliknya, tidak cukup ucapan dengan lisan atau syahadat jika tidak disertai dengan keyakinan di dalam hati tentang keesaan Allah dalam hal ibadah dan wajibnya mengimani apa-apa yang wajib diimani. Oleh sebab itu, ucapan syahadat dari kaum munafikin tidak bermanfaat di akhirat. Bahkan, mereka dihukum di kerak neraka yang paling bawah selama-lamanya disebabkan ucapan mereka hanya di lisan dan tidak disertai dengan keyakinan hati. Pada hakikatnya, mereka itu adalah para pembohong, menampakkan beriman padahal hatinya penuh dengan kekafiran.Baca juga: Membekali Diri Dengan TauhidPenjelasan ulama tentang akidahSyekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Akidah adalah hal-hal yang diyakini di dalam hati dan dipastikan olehnya. Ia disebut dengan akidah, bisa juga disebut dengan ‘iman’ sebagaimana para salaf dahulu menamainya dengan istilah ‘iman’. Dan ia juga bisa disebut dengan nama ‘as-sunnah’.Oleh sebab itulah, anda temukan bahwasanya karya-karya ulama salaf itu berbeda-beda namanya. Sebagian diberi judul ‘Iman’ atau ‘Ushul (pokok keimanan)’. Sebagian yang lain diberi judul dengan nama ‘As-Sunnah’. Seperti contohnya adalah kitab As-Sunnah karya Abdullah putra Imam Ahmad, kitab As-Sunnah karya Al-Atsram. Demikian pula kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah karya Al-Lalika’i. Di antara para ulama ada yang menyebut perkara akidah dengan sebutan ‘iman’. Di antara ulama juga ada yang menyebutnya dengan nama ‘akidah’. Dan di antara mereka ada yang menamainya dengan sebutan ‘tauhid’.Itu adalah nama-nama yang berbeda, akan tetapi maknanya satu. Setiap nama ini diambil dari dalil-dalil. Ia bukan sekedar istilah buatan manusia sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian kalangan. Dari sanalah para ulama memberikan perhatian besar terhadap masalah ini, yaitu persoalan akidah, iman, atau as-sunnah.Mereka mencurahkan perhatian yang sangat besar terhadap hal ini. Mereka menekuni hal ini dengan serius. Mereka pun menyusun banyak karya tulis untuk menjelaskan masalah ini, menerangkan pokok-pokoknya, dan menjabarkan dalil-dalilnya. Karena masalah ini menjadi asas (pondasi) tegaknya agama. Mereka menulis dalam bidang ini baik dalam bentuk prosa ataupun sajak. Di dalamnya mereka kumpulkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.” (lihat Syarh Ad-Durrah Al-Mudhiyyah, hal. 13)Dari keterangan beliau di atas, kita juga bisa menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya tauhid ini juga merupakan nama lain dari akidah dalam istilah yang digunakan oleh para ulama salaf. Mari kita simak keterangan beliau di kitab lain yang menunjukkan bahwa maksud utama dari penjelasan akidah oleh para ulama bukan sekedar keyakinan tetapi juga mencakup ibadah kepada Allah. Karena akidah saja tanpa amal ibadah kepada Allah tidak akan diterima di sisi Allah.Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Akidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan akidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apa pun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan akidahnya.” (lihat Ia’nat Al-Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid [1: 17] cet. Mu’assasah Ar-Risalah)Meskipun demikian, kita tidak menafikan bahwa akidah dalam artian keyakinan hati memang memiliki peran dan kedudukan yang sangat agung di dalam Islam. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah menerangkan bahwa kedudukan akidah bagi ilmu-ilmu maupun amal-amal yang lain laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Laksana pokok bagi sebatang pohon. Sebagaimana halnya sebuah bangunan tidak bisa berdiri tanpa pondasi dan pohon tidak akan tegak tanpa pokok-pokoknya, maka demikian pula amal dan ilmu yang dimiliki seseorang tidak akan bermanfaat tanpa akidah yang lurus.Oleh sebab itu, perhatian kepada masalah akidah harus lebih diutamakan daripada perhatian kepada masalah-masalah apa pun. Apakah itu kebutuhan makanan, minuman, atau pakaian. Karena akidah itulah yang akan memberikan kepada seorang mukmin kehidupan yang sejati, yang dengannya jiwanya menjadi bersih, amalnya menjadi benar dan ketaatan bisa diterima. Dan dengan sebab itu pula derajatnya akan semakin meninggi di hadapan Allah ‘Azza Wajalla. (lihat Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Aqidah Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi, hal. 8 cet. I, 1424 H)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Barangsiapa yang mencermati syariat, pada sumber-sumber maupun ajaran-ajarannya. Dia akan mengetahui betapa erat kaitan antara amalan anggota badan dengan amalan hati. Bahwa amalan anggota badan tidak akan bermanfaat tanpanya. Dan amalan hati lebih wajib daripada amalan anggota badan. Apakah yang membedakan antara mukmin dengan munafik kalau bukan karena amalan yang tertanam di dalam hati masing-masing di antara mereka berdua? Penghambaan (ibadah) hati itu lebih agung daripada ibadah anggota badan, lebih banyak, dan lebih kontinyu. Karena ibadah hati wajib di sepanjang waktu.(lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 14-15)Dengan begitu, kita bisa memahami bahwa belajar akidah itu tidak boleh berhenti. Karena akidah itu merupakan bagian dari amalan hati yang wajib di sepanjang waktu. Sementara hati manusia ini sering berbolak-balik, terkadang ia condong kepada kebaikan, tetapi terkadang ia juga condong kepada keburukan. Begitu pula belajar tauhid tidak boleh ditinggalkan karena tauhid inilah syarat diterimanya seluruh amalan. Allah berfirman,إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِینَ مِنۡ أَنصَارࣲ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (QS. Al-Ma’idah: 72)Wallahu a’lam bish-shawaab.Baca juga: Hakekat dan Kedudukan Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: akidah islambelajar agamabelajar akidah


Bismillah (dengan menyebut nama Allah). Hanya kepada-Nya kita bertawakal.Saudaraku yang dirahmati Allah, di antara perkara paling mendasar yang wajib diketahui oleh setiap muslim dan muslimah adalah apa tujuan Allah menciptakan kita di alam dunia ini. Hal ini sudah begitu jelas diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Allah berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud beribadah di sini bukan sekadar melaksanakan salat atau membayar zakat. Lebih daripada itu, ibadah yang dituntut ialah yang dimurnikan untuk Allah semata alias bertauhid.Dalam sebagian risalahnya, Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ibadah tidaklah dikatakan sebagai ibadah, kecuali apabila disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya salat itu tidaklah dikatakan salat, kecuali jika disertai dengan thaharah (bersuci).”Daftar Isi Apa beda tauhid dengan ibadah?Apa hubungan tauhid dengan akidah?Penjelasan ulama tentang akidahApa beda tauhid dengan ibadah?Ya, mungkin kita bertanya-tanya. Apakah perbedaan antara tauhid dengan ibadah? Perlu kita pahami bahwa secara bahasa Arab, ibadah itu mengandung makna perendahan diri dan ketundukan. Adapun dalam istilah agama, yang dimaksud dengan ibadah itu mencakup puncak kecintaan dan puncak perendahan diri kepada Allah. Ibadah itu diwujudkan dalam bentuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Ada juga yang memberikan definisi ibadah yang lebih luas, yaitu segala hal yang dicintai dan diridai oleh Allah berupa ucapan dan perbuatan yang lahir maupun batin. Definisi ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam risalah Al-’Ubudiyah.Dari situlah para ulama membagi ibadah menjadi tiga bentuk: 1) ada ibadah dengan lisan; 2) ada ibadah dengan anggota badan; dan 3) ada ibadah dengan hati. Adapun istilah tauhid dalam bahasa Arab bermakna menunggalkan atau menjadikan sesuatu sebagai satu-satunya. Dalam pengertian agama, tauhid yang dimaksud adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Dengan kata lain, menujukan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah tidak kepada selain-Nya. Tauhid ini juga sering diungkapkan dengan istilah ikhlas sebagaimana banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an.Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya, “Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahli kitab, maka hendaklah yang paling pertama kamu serukan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim. Ini adalah lafal Bukhari. Dalam redaksi riwayat lainnya disebutkan dengan ungkapan “Hendaklah yang paling pertama kamu serukan kepada mereka adalah syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah.”)Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita adalah ibadah yang bersih dari syirik. Tidak boleh kita beribadah kepada Allah, tetapi di sisi lain kita juga mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Allah berfirman,وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ“Dan sembahlah Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa’: 36)Allah juga berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِیَّاهُ“Dan Rabbmu telah menetapkan bahwa janganlah kalian beribadah, kecuali kepada-Nya.” (QS. Al-Isra’: 23)Kemudian hal ini juga menegaskan kepada kita bahwasanya tauhid bukan semata-mata keyakinan bahwa Allah menjadi satu-satunya pencipta dan pengatur alam semesta. Adapun keimanan bahwa Allah merupakan pencipta alam ini serta yang mengatur segala urusan merupakan sebuah keyakinan yang sudah dimiliki oleh kaum musyrikin Quraisy. Keyakinan seperti itu juga belum cukup untuk memasukkan pemiliknya ke dalam agama Islam.Baca juga: Makna TauhidApa hubungan tauhid dengan akidah?Ya, sebagian kita mungkin juga bertanya. Apa kaitan antara tauhid (sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas) dengan istilah akidah. Bukankah akidah itu perkara keyakinan yang ada di dalam hati. Hal ini akan mudah dimengerti apabila kita melihat kepada penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang iman (sebagaimana disebutkan dalam hadis Jibril) bahwa iman itu adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan seterusnya. Iman kepada Allah inilah yang biasa disebut dengan istilah tauhid oleh para ulama. Oleh sebab itu, Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa tauhid ini merupakan pokoknya keimanan.Dalam sebuah riwayat disebutkan ucapan Hasan Al-Bashri rahimahullah, “Bukanlah iman itu hanya dengan berangan-angan atau memperindah penampilan. Akan tetapi, iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Dengan bahasa lain, iman itu mencakup keyakinan hati dan amal dengan anggota badan. Intisari keimanan kepada Allah sendiri ada pada kalimat laa ilaha illallah atau kalimat tauhid. Di dalamnya terkandung pengakuan dan keyakinan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Menetapkan bahwa Allah yang berhak disembah dan menolak segala bentuk sesembahan selain-Nya. Inilah yang diserukan oleh setiap rasul kepada kaumnya. Allah berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl : 36) Imam Malik rahimahullah menafsirkan thaghut sebagai segala bentuk sesembahan selain Allah.Maksudnya, jika kita meyakini bahwa hanya Allah sesembahan yang benar, maka kita juga harus tunduk beribadah kepada Allah semata, melakukan amal saleh, dan menjauhi syirik. Tidak cukup bermodalkan keyakinan tanpa disertai dengan amal ibadah kepada Allah. Oleh sebab itu, Allah berfirman,وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan untuk-Nya agama (amal) dengan hanif (bertauhid), dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Demikian pula sebaliknya, tidak cukup ucapan dengan lisan atau syahadat jika tidak disertai dengan keyakinan di dalam hati tentang keesaan Allah dalam hal ibadah dan wajibnya mengimani apa-apa yang wajib diimani. Oleh sebab itu, ucapan syahadat dari kaum munafikin tidak bermanfaat di akhirat. Bahkan, mereka dihukum di kerak neraka yang paling bawah selama-lamanya disebabkan ucapan mereka hanya di lisan dan tidak disertai dengan keyakinan hati. Pada hakikatnya, mereka itu adalah para pembohong, menampakkan beriman padahal hatinya penuh dengan kekafiran.Baca juga: Membekali Diri Dengan TauhidPenjelasan ulama tentang akidahSyekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Akidah adalah hal-hal yang diyakini di dalam hati dan dipastikan olehnya. Ia disebut dengan akidah, bisa juga disebut dengan ‘iman’ sebagaimana para salaf dahulu menamainya dengan istilah ‘iman’. Dan ia juga bisa disebut dengan nama ‘as-sunnah’.Oleh sebab itulah, anda temukan bahwasanya karya-karya ulama salaf itu berbeda-beda namanya. Sebagian diberi judul ‘Iman’ atau ‘Ushul (pokok keimanan)’. Sebagian yang lain diberi judul dengan nama ‘As-Sunnah’. Seperti contohnya adalah kitab As-Sunnah karya Abdullah putra Imam Ahmad, kitab As-Sunnah karya Al-Atsram. Demikian pula kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah karya Al-Lalika’i. Di antara para ulama ada yang menyebut perkara akidah dengan sebutan ‘iman’. Di antara ulama juga ada yang menyebutnya dengan nama ‘akidah’. Dan di antara mereka ada yang menamainya dengan sebutan ‘tauhid’.Itu adalah nama-nama yang berbeda, akan tetapi maknanya satu. Setiap nama ini diambil dari dalil-dalil. Ia bukan sekedar istilah buatan manusia sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian kalangan. Dari sanalah para ulama memberikan perhatian besar terhadap masalah ini, yaitu persoalan akidah, iman, atau as-sunnah.Mereka mencurahkan perhatian yang sangat besar terhadap hal ini. Mereka menekuni hal ini dengan serius. Mereka pun menyusun banyak karya tulis untuk menjelaskan masalah ini, menerangkan pokok-pokoknya, dan menjabarkan dalil-dalilnya. Karena masalah ini menjadi asas (pondasi) tegaknya agama. Mereka menulis dalam bidang ini baik dalam bentuk prosa ataupun sajak. Di dalamnya mereka kumpulkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.” (lihat Syarh Ad-Durrah Al-Mudhiyyah, hal. 13)Dari keterangan beliau di atas, kita juga bisa menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya tauhid ini juga merupakan nama lain dari akidah dalam istilah yang digunakan oleh para ulama salaf. Mari kita simak keterangan beliau di kitab lain yang menunjukkan bahwa maksud utama dari penjelasan akidah oleh para ulama bukan sekedar keyakinan tetapi juga mencakup ibadah kepada Allah. Karena akidah saja tanpa amal ibadah kepada Allah tidak akan diterima di sisi Allah.Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Akidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan akidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apa pun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan akidahnya.” (lihat Ia’nat Al-Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid [1: 17] cet. Mu’assasah Ar-Risalah)Meskipun demikian, kita tidak menafikan bahwa akidah dalam artian keyakinan hati memang memiliki peran dan kedudukan yang sangat agung di dalam Islam. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah menerangkan bahwa kedudukan akidah bagi ilmu-ilmu maupun amal-amal yang lain laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Laksana pokok bagi sebatang pohon. Sebagaimana halnya sebuah bangunan tidak bisa berdiri tanpa pondasi dan pohon tidak akan tegak tanpa pokok-pokoknya, maka demikian pula amal dan ilmu yang dimiliki seseorang tidak akan bermanfaat tanpa akidah yang lurus.Oleh sebab itu, perhatian kepada masalah akidah harus lebih diutamakan daripada perhatian kepada masalah-masalah apa pun. Apakah itu kebutuhan makanan, minuman, atau pakaian. Karena akidah itulah yang akan memberikan kepada seorang mukmin kehidupan yang sejati, yang dengannya jiwanya menjadi bersih, amalnya menjadi benar dan ketaatan bisa diterima. Dan dengan sebab itu pula derajatnya akan semakin meninggi di hadapan Allah ‘Azza Wajalla. (lihat Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Aqidah Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi, hal. 8 cet. I, 1424 H)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Barangsiapa yang mencermati syariat, pada sumber-sumber maupun ajaran-ajarannya. Dia akan mengetahui betapa erat kaitan antara amalan anggota badan dengan amalan hati. Bahwa amalan anggota badan tidak akan bermanfaat tanpanya. Dan amalan hati lebih wajib daripada amalan anggota badan. Apakah yang membedakan antara mukmin dengan munafik kalau bukan karena amalan yang tertanam di dalam hati masing-masing di antara mereka berdua? Penghambaan (ibadah) hati itu lebih agung daripada ibadah anggota badan, lebih banyak, dan lebih kontinyu. Karena ibadah hati wajib di sepanjang waktu.(lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 14-15)Dengan begitu, kita bisa memahami bahwa belajar akidah itu tidak boleh berhenti. Karena akidah itu merupakan bagian dari amalan hati yang wajib di sepanjang waktu. Sementara hati manusia ini sering berbolak-balik, terkadang ia condong kepada kebaikan, tetapi terkadang ia juga condong kepada keburukan. Begitu pula belajar tauhid tidak boleh ditinggalkan karena tauhid inilah syarat diterimanya seluruh amalan. Allah berfirman,إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِینَ مِنۡ أَنصَارࣲ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (QS. Al-Ma’idah: 72)Wallahu a’lam bish-shawaab.Baca juga: Hakekat dan Kedudukan Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: akidah islambelajar agamabelajar akidah

Tips Agar Tetap Semangat Beramal setelah Ramadan – Syaikh Muhammad al Ma’yuf #NasehatUlama

Amalan-amalan yang Anda lakukan di bulan Ramadan haruslahikhlas hanya mengharap wajah Allah ʿAzza wa Jalladan bersesuaian dengan syariat Allah,yakni Kitabullah dan sunah Rasul-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Sesungguhnya amal bukanlah amal saleh kecuali terpenuhi dua syarat utamanya:Syarat pertama, mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah ʿAzza wa Jalla,di mana seseorang tidak memiliki maksud apa pundalam amal saleh yang dia lakukankecuali hanya mengharap wajah ʿAzza wa Jalla. Syarat kedua, amalan tersebut haruslahsesuai dengan aturan Kitab Allah Taʿālā dan sunah Rasul-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.Termasuk perkara yang berkaitan dengan keikhlasan, bahwa amalan tersebutharus datang dari dalam hati Anda, wahai hamba Allah,sehingga Anda membaca al-Quran dengan hati sebelum dengan lisan Anda. Anda mengerjakan amal saleh sembari menghadirkan niat dari dalam hati Andabahwa Anda ingin mendekatkan diri kepada Allah ʿAzza wa Jalla,karena amal-amal tersebut jika sampai ke hati dan datang dari hati, maka orang yang melakukannya tidak akan berhenti darinya selamanya,karena dalam amal-amal saleh initerdapat kelezatan yang tidak tertandingi dengan kelezatan dunia,jika memang di dunia ini benar-benar ada kelezatan. Ketika seseorang sudah bisa merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah ʿAzza wa Jalla,akankah dia meninggalkannya? Tidak mungkin dia meninggalkan sumber kelezatan dirinya,ketentraman, kebahagiaan, dan kesenangannya. Namun, wahai saudara-saudara, kelezatan ini menuntut seseorang melawan hawa nafsunya,selalu dan senantiasa bermuhasabah diri,memeriksa keadaan dirinya,dan memperhatikan amalnya yang telah laluserta kealpaan yang pernah terjadi, karena kealpaan kita di masa mendatangadalah akibat dari kealpaan kita di masa lalu,sebagaimana ketekunan Anda, wahai hamba Allah, di masa mendatangdibangun di atas ketekunan Anda di masa lalu—setelah taufik dari Allah ʿAzza wa Jalla. Inilah sebabnya Tuhan kita ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya),“Adapun orang yang memberikan (hartanya) dan bertakwa,dan membenarkan (adanya pahala) kebaikan,maka akan Kami Mudahkan baginya jalan kemudahan.” (QS. Al-Lail: 5 – 7) Dia dimudahkan kepada kemudahan di masa mendatang,karena dia bersedekah, bertakwa, dan membenarkan ganjaran yang baik.“Adapun orang yang kikir dan merasa tidak butuh (dengan Allah),dan mendustakan (adanya pahala) kebaikan,maka akan Kami Mudahkan baginya jalan kesulitan.” (QS. Al-Lail: 8 – 10) Dia dimudahkan kepada kesulitan —semoga Allah Melindungi kita—karena dia melakukan sebab-sebabnya.Seperti kata pepatah bahwa kebaikan memanggil, “Saudariku! Saudariku!”Pun keburukan memanggil, “Saudariku! Saudariku!” Ketika seseorang bersungguh-sungguh menyempurnakan amalannya,mengikhlaskannya demi wajah Tuhannya,dan mengikuti nas-nas syariat,setelah itu mengupayakan diterimanya amal tersebutdan mengusahakannya semaksimal mungkin,maka ini adalah perkara yang teramat penting, karena jika amal Anda diterima, wahai hamba Allah,maka berarti Anda mendapatkan kebaikan dari segala kebaikan.Allah Taʿālā Berfirman tentang penerimaan amal (yang artinya),“Sesungguhnya Allah hanya Menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27) ==== أَنْ تَكُونَ أَعْمَالُكَ الَّتِي تُؤَدِّيهَا فِي رَمَضَانَ خَالِصَةً لِوَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مُتَّبِعًا فِيهَا شَرْعَ اللهِ كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ الْعَمَلَ لَا يَكُونُ صَالِحًا إِلَّا بِشَرْطَيْنِ أَسَاسِيَّيْنِ الشَّرْطُ الأَوَّلُ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ بِحَيْثُ لَا يَكُونُ لِلْإِنْسَانِ أَيُّ مَقْصَدٍ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ الَّذِي يَعْمَلُهُ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ هَذَا الْعَمَلُ عَلَى نَهْجِ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِمَّا يَتَّصِلُ بِالْإِخْلَاصِ أَنْ تَكُونَ هَذِهِ الأَعْمَالُ صَادِرَةً مِنْ قَلْبِكَ يَا عَبْدَ اللهِ فَتَقْرَأُ الْقَرْآنَ بِقَلْبِكَ قَبْلَ لِسَانِكَ وَتُؤَدِّي الأَعْمَالَ وَأَنْتَ تَسْتَحْضِرُ النِّيَّةَ مِنْ قَلْبِكَ مُتَقَرِّبًا بِهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ هَذِهِ الأَعْمَالَ إِذَا لَامَسَتِ الْقُلُوبَ وَصَدَرَتْ مِنْهَا لَا يُمْكَنُ أَنْ يَنْقَطِعَ صَاحِبُهَا أَبَدًا لِأَنَّ هَذِهِ الأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ لَهَا لَذَّةٌ لَا تُدَانِيهَا لَذَّةٌ فِي الدُّنْيَا إِنْ كَانَ فِي الدُّنْيَا مِنَ اللَّذَّةِ فَإِذَا وَصَلَ الإِنْسَانُ إِلَى أَنْ يَتَلَذَّذَ بِطَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَلْ يَتْرُكُهَا؟ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَتْرُكَ مَصْدَرًا لِلَذَّتِهِ وَأُنْسِهِ وَسَعَادَتِهِ وَسُرُورِهِ لَكِنَّ هَذِهِ اللَّذَّةَ يَا إِخْوَانُ تَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ لِلنُّفُوسِ وَمُحَاسَبَةٍ لَهَا دَائِمًا وَأَبَدًا وَأَنْ يُفَتِّشَ الْإِنْسَانُ عَنْ نَفْسِهِ وَيَنْظُرَ فِي سَالِفِ عَمَلِهِ وَمَا حَصَلَ مِنْهُ مِنَ التَّقْصِيرِ فَإِنَّ تَقْصِيرَنَا فِي الْمُسْتَقْبَلِ نَاتِجٌ عَنِ التَّقْصِيرِ فِي الْمَاضِي وَنَشَاطَكَ يَا عَبْدَ اللهِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مَبْنِيٌّ عَلَى نَشَاطِكَ فِي الْمَاضِي بَعْدَ تَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِهَذَا يَقُولُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى يُسِّرَ فِي الْمُسْتَقْبَلِ لِلْيُسْرَى لِأَنَّهُ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى إِنَّمَا يُسِّرَتْ لَهُ الْعُسْرَى عِيَاذًا بِاللهِ لِأَنَّهُ فَعَلَ أَسْبَابَهَا وَالْحَسَنَةُ كَمَا قِيلَ تَقُولُ أُخْتِي أُخْتِي وَالسَّيِّئَةُ تَقُولُ أُخْتِي أُخْتِي فَإِذَا حَرَصَ الإِنْسَانُ عَلَى إِتْقَانِ عَمَلِهِ وَإِخْلَاصِهِ لِوَجْهِ رَبِّهِ وَاكْتِفَاءِ الْأَثَرِ فِيهِ يَتَلَمَّسُ بَعْدَ ذَلِكَ قَبُولَ الْعَمَلِ وَيَحْرِصُ عَلَيْهِ غَايَةَ الْحِرْصِ فَهَذَا أَمْرٌ غَايَةٌ فِي الأَهَمِّيَّةِ لِأَنَّهُ إِذَا تُقُبِّلَ عَمَلُكَ يَا عَبْدَ اللهِ وحَصَلَ لَكَ الْخَيْرُ كُلُّ الْخَيْرِ وَاللهُ تَعَالَى قَالَ فِي قَبُولِ الْعَمَلِ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Tips Agar Tetap Semangat Beramal setelah Ramadan – Syaikh Muhammad al Ma’yuf #NasehatUlama

Amalan-amalan yang Anda lakukan di bulan Ramadan haruslahikhlas hanya mengharap wajah Allah ʿAzza wa Jalladan bersesuaian dengan syariat Allah,yakni Kitabullah dan sunah Rasul-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Sesungguhnya amal bukanlah amal saleh kecuali terpenuhi dua syarat utamanya:Syarat pertama, mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah ʿAzza wa Jalla,di mana seseorang tidak memiliki maksud apa pundalam amal saleh yang dia lakukankecuali hanya mengharap wajah ʿAzza wa Jalla. Syarat kedua, amalan tersebut haruslahsesuai dengan aturan Kitab Allah Taʿālā dan sunah Rasul-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.Termasuk perkara yang berkaitan dengan keikhlasan, bahwa amalan tersebutharus datang dari dalam hati Anda, wahai hamba Allah,sehingga Anda membaca al-Quran dengan hati sebelum dengan lisan Anda. Anda mengerjakan amal saleh sembari menghadirkan niat dari dalam hati Andabahwa Anda ingin mendekatkan diri kepada Allah ʿAzza wa Jalla,karena amal-amal tersebut jika sampai ke hati dan datang dari hati, maka orang yang melakukannya tidak akan berhenti darinya selamanya,karena dalam amal-amal saleh initerdapat kelezatan yang tidak tertandingi dengan kelezatan dunia,jika memang di dunia ini benar-benar ada kelezatan. Ketika seseorang sudah bisa merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah ʿAzza wa Jalla,akankah dia meninggalkannya? Tidak mungkin dia meninggalkan sumber kelezatan dirinya,ketentraman, kebahagiaan, dan kesenangannya. Namun, wahai saudara-saudara, kelezatan ini menuntut seseorang melawan hawa nafsunya,selalu dan senantiasa bermuhasabah diri,memeriksa keadaan dirinya,dan memperhatikan amalnya yang telah laluserta kealpaan yang pernah terjadi, karena kealpaan kita di masa mendatangadalah akibat dari kealpaan kita di masa lalu,sebagaimana ketekunan Anda, wahai hamba Allah, di masa mendatangdibangun di atas ketekunan Anda di masa lalu—setelah taufik dari Allah ʿAzza wa Jalla. Inilah sebabnya Tuhan kita ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya),“Adapun orang yang memberikan (hartanya) dan bertakwa,dan membenarkan (adanya pahala) kebaikan,maka akan Kami Mudahkan baginya jalan kemudahan.” (QS. Al-Lail: 5 – 7) Dia dimudahkan kepada kemudahan di masa mendatang,karena dia bersedekah, bertakwa, dan membenarkan ganjaran yang baik.“Adapun orang yang kikir dan merasa tidak butuh (dengan Allah),dan mendustakan (adanya pahala) kebaikan,maka akan Kami Mudahkan baginya jalan kesulitan.” (QS. Al-Lail: 8 – 10) Dia dimudahkan kepada kesulitan —semoga Allah Melindungi kita—karena dia melakukan sebab-sebabnya.Seperti kata pepatah bahwa kebaikan memanggil, “Saudariku! Saudariku!”Pun keburukan memanggil, “Saudariku! Saudariku!” Ketika seseorang bersungguh-sungguh menyempurnakan amalannya,mengikhlaskannya demi wajah Tuhannya,dan mengikuti nas-nas syariat,setelah itu mengupayakan diterimanya amal tersebutdan mengusahakannya semaksimal mungkin,maka ini adalah perkara yang teramat penting, karena jika amal Anda diterima, wahai hamba Allah,maka berarti Anda mendapatkan kebaikan dari segala kebaikan.Allah Taʿālā Berfirman tentang penerimaan amal (yang artinya),“Sesungguhnya Allah hanya Menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27) ==== أَنْ تَكُونَ أَعْمَالُكَ الَّتِي تُؤَدِّيهَا فِي رَمَضَانَ خَالِصَةً لِوَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مُتَّبِعًا فِيهَا شَرْعَ اللهِ كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ الْعَمَلَ لَا يَكُونُ صَالِحًا إِلَّا بِشَرْطَيْنِ أَسَاسِيَّيْنِ الشَّرْطُ الأَوَّلُ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ بِحَيْثُ لَا يَكُونُ لِلْإِنْسَانِ أَيُّ مَقْصَدٍ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ الَّذِي يَعْمَلُهُ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ هَذَا الْعَمَلُ عَلَى نَهْجِ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِمَّا يَتَّصِلُ بِالْإِخْلَاصِ أَنْ تَكُونَ هَذِهِ الأَعْمَالُ صَادِرَةً مِنْ قَلْبِكَ يَا عَبْدَ اللهِ فَتَقْرَأُ الْقَرْآنَ بِقَلْبِكَ قَبْلَ لِسَانِكَ وَتُؤَدِّي الأَعْمَالَ وَأَنْتَ تَسْتَحْضِرُ النِّيَّةَ مِنْ قَلْبِكَ مُتَقَرِّبًا بِهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ هَذِهِ الأَعْمَالَ إِذَا لَامَسَتِ الْقُلُوبَ وَصَدَرَتْ مِنْهَا لَا يُمْكَنُ أَنْ يَنْقَطِعَ صَاحِبُهَا أَبَدًا لِأَنَّ هَذِهِ الأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ لَهَا لَذَّةٌ لَا تُدَانِيهَا لَذَّةٌ فِي الدُّنْيَا إِنْ كَانَ فِي الدُّنْيَا مِنَ اللَّذَّةِ فَإِذَا وَصَلَ الإِنْسَانُ إِلَى أَنْ يَتَلَذَّذَ بِطَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَلْ يَتْرُكُهَا؟ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَتْرُكَ مَصْدَرًا لِلَذَّتِهِ وَأُنْسِهِ وَسَعَادَتِهِ وَسُرُورِهِ لَكِنَّ هَذِهِ اللَّذَّةَ يَا إِخْوَانُ تَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ لِلنُّفُوسِ وَمُحَاسَبَةٍ لَهَا دَائِمًا وَأَبَدًا وَأَنْ يُفَتِّشَ الْإِنْسَانُ عَنْ نَفْسِهِ وَيَنْظُرَ فِي سَالِفِ عَمَلِهِ وَمَا حَصَلَ مِنْهُ مِنَ التَّقْصِيرِ فَإِنَّ تَقْصِيرَنَا فِي الْمُسْتَقْبَلِ نَاتِجٌ عَنِ التَّقْصِيرِ فِي الْمَاضِي وَنَشَاطَكَ يَا عَبْدَ اللهِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مَبْنِيٌّ عَلَى نَشَاطِكَ فِي الْمَاضِي بَعْدَ تَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِهَذَا يَقُولُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى يُسِّرَ فِي الْمُسْتَقْبَلِ لِلْيُسْرَى لِأَنَّهُ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى إِنَّمَا يُسِّرَتْ لَهُ الْعُسْرَى عِيَاذًا بِاللهِ لِأَنَّهُ فَعَلَ أَسْبَابَهَا وَالْحَسَنَةُ كَمَا قِيلَ تَقُولُ أُخْتِي أُخْتِي وَالسَّيِّئَةُ تَقُولُ أُخْتِي أُخْتِي فَإِذَا حَرَصَ الإِنْسَانُ عَلَى إِتْقَانِ عَمَلِهِ وَإِخْلَاصِهِ لِوَجْهِ رَبِّهِ وَاكْتِفَاءِ الْأَثَرِ فِيهِ يَتَلَمَّسُ بَعْدَ ذَلِكَ قَبُولَ الْعَمَلِ وَيَحْرِصُ عَلَيْهِ غَايَةَ الْحِرْصِ فَهَذَا أَمْرٌ غَايَةٌ فِي الأَهَمِّيَّةِ لِأَنَّهُ إِذَا تُقُبِّلَ عَمَلُكَ يَا عَبْدَ اللهِ وحَصَلَ لَكَ الْخَيْرُ كُلُّ الْخَيْرِ وَاللهُ تَعَالَى قَالَ فِي قَبُولِ الْعَمَلِ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Amalan-amalan yang Anda lakukan di bulan Ramadan haruslahikhlas hanya mengharap wajah Allah ʿAzza wa Jalladan bersesuaian dengan syariat Allah,yakni Kitabullah dan sunah Rasul-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Sesungguhnya amal bukanlah amal saleh kecuali terpenuhi dua syarat utamanya:Syarat pertama, mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah ʿAzza wa Jalla,di mana seseorang tidak memiliki maksud apa pundalam amal saleh yang dia lakukankecuali hanya mengharap wajah ʿAzza wa Jalla. Syarat kedua, amalan tersebut haruslahsesuai dengan aturan Kitab Allah Taʿālā dan sunah Rasul-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.Termasuk perkara yang berkaitan dengan keikhlasan, bahwa amalan tersebutharus datang dari dalam hati Anda, wahai hamba Allah,sehingga Anda membaca al-Quran dengan hati sebelum dengan lisan Anda. Anda mengerjakan amal saleh sembari menghadirkan niat dari dalam hati Andabahwa Anda ingin mendekatkan diri kepada Allah ʿAzza wa Jalla,karena amal-amal tersebut jika sampai ke hati dan datang dari hati, maka orang yang melakukannya tidak akan berhenti darinya selamanya,karena dalam amal-amal saleh initerdapat kelezatan yang tidak tertandingi dengan kelezatan dunia,jika memang di dunia ini benar-benar ada kelezatan. Ketika seseorang sudah bisa merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah ʿAzza wa Jalla,akankah dia meninggalkannya? Tidak mungkin dia meninggalkan sumber kelezatan dirinya,ketentraman, kebahagiaan, dan kesenangannya. Namun, wahai saudara-saudara, kelezatan ini menuntut seseorang melawan hawa nafsunya,selalu dan senantiasa bermuhasabah diri,memeriksa keadaan dirinya,dan memperhatikan amalnya yang telah laluserta kealpaan yang pernah terjadi, karena kealpaan kita di masa mendatangadalah akibat dari kealpaan kita di masa lalu,sebagaimana ketekunan Anda, wahai hamba Allah, di masa mendatangdibangun di atas ketekunan Anda di masa lalu—setelah taufik dari Allah ʿAzza wa Jalla. Inilah sebabnya Tuhan kita ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya),“Adapun orang yang memberikan (hartanya) dan bertakwa,dan membenarkan (adanya pahala) kebaikan,maka akan Kami Mudahkan baginya jalan kemudahan.” (QS. Al-Lail: 5 – 7) Dia dimudahkan kepada kemudahan di masa mendatang,karena dia bersedekah, bertakwa, dan membenarkan ganjaran yang baik.“Adapun orang yang kikir dan merasa tidak butuh (dengan Allah),dan mendustakan (adanya pahala) kebaikan,maka akan Kami Mudahkan baginya jalan kesulitan.” (QS. Al-Lail: 8 – 10) Dia dimudahkan kepada kesulitan —semoga Allah Melindungi kita—karena dia melakukan sebab-sebabnya.Seperti kata pepatah bahwa kebaikan memanggil, “Saudariku! Saudariku!”Pun keburukan memanggil, “Saudariku! Saudariku!” Ketika seseorang bersungguh-sungguh menyempurnakan amalannya,mengikhlaskannya demi wajah Tuhannya,dan mengikuti nas-nas syariat,setelah itu mengupayakan diterimanya amal tersebutdan mengusahakannya semaksimal mungkin,maka ini adalah perkara yang teramat penting, karena jika amal Anda diterima, wahai hamba Allah,maka berarti Anda mendapatkan kebaikan dari segala kebaikan.Allah Taʿālā Berfirman tentang penerimaan amal (yang artinya),“Sesungguhnya Allah hanya Menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27) ==== أَنْ تَكُونَ أَعْمَالُكَ الَّتِي تُؤَدِّيهَا فِي رَمَضَانَ خَالِصَةً لِوَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مُتَّبِعًا فِيهَا شَرْعَ اللهِ كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ الْعَمَلَ لَا يَكُونُ صَالِحًا إِلَّا بِشَرْطَيْنِ أَسَاسِيَّيْنِ الشَّرْطُ الأَوَّلُ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ بِحَيْثُ لَا يَكُونُ لِلْإِنْسَانِ أَيُّ مَقْصَدٍ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ الَّذِي يَعْمَلُهُ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ هَذَا الْعَمَلُ عَلَى نَهْجِ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِمَّا يَتَّصِلُ بِالْإِخْلَاصِ أَنْ تَكُونَ هَذِهِ الأَعْمَالُ صَادِرَةً مِنْ قَلْبِكَ يَا عَبْدَ اللهِ فَتَقْرَأُ الْقَرْآنَ بِقَلْبِكَ قَبْلَ لِسَانِكَ وَتُؤَدِّي الأَعْمَالَ وَأَنْتَ تَسْتَحْضِرُ النِّيَّةَ مِنْ قَلْبِكَ مُتَقَرِّبًا بِهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ هَذِهِ الأَعْمَالَ إِذَا لَامَسَتِ الْقُلُوبَ وَصَدَرَتْ مِنْهَا لَا يُمْكَنُ أَنْ يَنْقَطِعَ صَاحِبُهَا أَبَدًا لِأَنَّ هَذِهِ الأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ لَهَا لَذَّةٌ لَا تُدَانِيهَا لَذَّةٌ فِي الدُّنْيَا إِنْ كَانَ فِي الدُّنْيَا مِنَ اللَّذَّةِ فَإِذَا وَصَلَ الإِنْسَانُ إِلَى أَنْ يَتَلَذَّذَ بِطَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَلْ يَتْرُكُهَا؟ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَتْرُكَ مَصْدَرًا لِلَذَّتِهِ وَأُنْسِهِ وَسَعَادَتِهِ وَسُرُورِهِ لَكِنَّ هَذِهِ اللَّذَّةَ يَا إِخْوَانُ تَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ لِلنُّفُوسِ وَمُحَاسَبَةٍ لَهَا دَائِمًا وَأَبَدًا وَأَنْ يُفَتِّشَ الْإِنْسَانُ عَنْ نَفْسِهِ وَيَنْظُرَ فِي سَالِفِ عَمَلِهِ وَمَا حَصَلَ مِنْهُ مِنَ التَّقْصِيرِ فَإِنَّ تَقْصِيرَنَا فِي الْمُسْتَقْبَلِ نَاتِجٌ عَنِ التَّقْصِيرِ فِي الْمَاضِي وَنَشَاطَكَ يَا عَبْدَ اللهِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مَبْنِيٌّ عَلَى نَشَاطِكَ فِي الْمَاضِي بَعْدَ تَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِهَذَا يَقُولُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى يُسِّرَ فِي الْمُسْتَقْبَلِ لِلْيُسْرَى لِأَنَّهُ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى إِنَّمَا يُسِّرَتْ لَهُ الْعُسْرَى عِيَاذًا بِاللهِ لِأَنَّهُ فَعَلَ أَسْبَابَهَا وَالْحَسَنَةُ كَمَا قِيلَ تَقُولُ أُخْتِي أُخْتِي وَالسَّيِّئَةُ تَقُولُ أُخْتِي أُخْتِي فَإِذَا حَرَصَ الإِنْسَانُ عَلَى إِتْقَانِ عَمَلِهِ وَإِخْلَاصِهِ لِوَجْهِ رَبِّهِ وَاكْتِفَاءِ الْأَثَرِ فِيهِ يَتَلَمَّسُ بَعْدَ ذَلِكَ قَبُولَ الْعَمَلِ وَيَحْرِصُ عَلَيْهِ غَايَةَ الْحِرْصِ فَهَذَا أَمْرٌ غَايَةٌ فِي الأَهَمِّيَّةِ لِأَنَّهُ إِذَا تُقُبِّلَ عَمَلُكَ يَا عَبْدَ اللهِ وحَصَلَ لَكَ الْخَيْرُ كُلُّ الْخَيْرِ وَاللهُ تَعَالَى قَالَ فِي قَبُولِ الْعَمَلِ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ


Amalan-amalan yang Anda lakukan di bulan Ramadan haruslahikhlas hanya mengharap wajah Allah ʿAzza wa Jalladan bersesuaian dengan syariat Allah,yakni Kitabullah dan sunah Rasul-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Sesungguhnya amal bukanlah amal saleh kecuali terpenuhi dua syarat utamanya:Syarat pertama, mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah ʿAzza wa Jalla,di mana seseorang tidak memiliki maksud apa pundalam amal saleh yang dia lakukankecuali hanya mengharap wajah ʿAzza wa Jalla. Syarat kedua, amalan tersebut haruslahsesuai dengan aturan Kitab Allah Taʿālā dan sunah Rasul-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.Termasuk perkara yang berkaitan dengan keikhlasan, bahwa amalan tersebutharus datang dari dalam hati Anda, wahai hamba Allah,sehingga Anda membaca al-Quran dengan hati sebelum dengan lisan Anda. Anda mengerjakan amal saleh sembari menghadirkan niat dari dalam hati Andabahwa Anda ingin mendekatkan diri kepada Allah ʿAzza wa Jalla,karena amal-amal tersebut jika sampai ke hati dan datang dari hati, maka orang yang melakukannya tidak akan berhenti darinya selamanya,karena dalam amal-amal saleh initerdapat kelezatan yang tidak tertandingi dengan kelezatan dunia,jika memang di dunia ini benar-benar ada kelezatan. Ketika seseorang sudah bisa merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah ʿAzza wa Jalla,akankah dia meninggalkannya? Tidak mungkin dia meninggalkan sumber kelezatan dirinya,ketentraman, kebahagiaan, dan kesenangannya. Namun, wahai saudara-saudara, kelezatan ini menuntut seseorang melawan hawa nafsunya,selalu dan senantiasa bermuhasabah diri,memeriksa keadaan dirinya,dan memperhatikan amalnya yang telah laluserta kealpaan yang pernah terjadi, karena kealpaan kita di masa mendatangadalah akibat dari kealpaan kita di masa lalu,sebagaimana ketekunan Anda, wahai hamba Allah, di masa mendatangdibangun di atas ketekunan Anda di masa lalu—setelah taufik dari Allah ʿAzza wa Jalla. Inilah sebabnya Tuhan kita ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya),“Adapun orang yang memberikan (hartanya) dan bertakwa,dan membenarkan (adanya pahala) kebaikan,maka akan Kami Mudahkan baginya jalan kemudahan.” (QS. Al-Lail: 5 – 7) Dia dimudahkan kepada kemudahan di masa mendatang,karena dia bersedekah, bertakwa, dan membenarkan ganjaran yang baik.“Adapun orang yang kikir dan merasa tidak butuh (dengan Allah),dan mendustakan (adanya pahala) kebaikan,maka akan Kami Mudahkan baginya jalan kesulitan.” (QS. Al-Lail: 8 – 10) Dia dimudahkan kepada kesulitan —semoga Allah Melindungi kita—karena dia melakukan sebab-sebabnya.Seperti kata pepatah bahwa kebaikan memanggil, “Saudariku! Saudariku!”Pun keburukan memanggil, “Saudariku! Saudariku!” Ketika seseorang bersungguh-sungguh menyempurnakan amalannya,mengikhlaskannya demi wajah Tuhannya,dan mengikuti nas-nas syariat,setelah itu mengupayakan diterimanya amal tersebutdan mengusahakannya semaksimal mungkin,maka ini adalah perkara yang teramat penting, karena jika amal Anda diterima, wahai hamba Allah,maka berarti Anda mendapatkan kebaikan dari segala kebaikan.Allah Taʿālā Berfirman tentang penerimaan amal (yang artinya),“Sesungguhnya Allah hanya Menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27) ==== أَنْ تَكُونَ أَعْمَالُكَ الَّتِي تُؤَدِّيهَا فِي رَمَضَانَ خَالِصَةً لِوَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مُتَّبِعًا فِيهَا شَرْعَ اللهِ كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ الْعَمَلَ لَا يَكُونُ صَالِحًا إِلَّا بِشَرْطَيْنِ أَسَاسِيَّيْنِ الشَّرْطُ الأَوَّلُ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ بِحَيْثُ لَا يَكُونُ لِلْإِنْسَانِ أَيُّ مَقْصَدٍ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ الَّذِي يَعْمَلُهُ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ هَذَا الْعَمَلُ عَلَى نَهْجِ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِمَّا يَتَّصِلُ بِالْإِخْلَاصِ أَنْ تَكُونَ هَذِهِ الأَعْمَالُ صَادِرَةً مِنْ قَلْبِكَ يَا عَبْدَ اللهِ فَتَقْرَأُ الْقَرْآنَ بِقَلْبِكَ قَبْلَ لِسَانِكَ وَتُؤَدِّي الأَعْمَالَ وَأَنْتَ تَسْتَحْضِرُ النِّيَّةَ مِنْ قَلْبِكَ مُتَقَرِّبًا بِهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ هَذِهِ الأَعْمَالَ إِذَا لَامَسَتِ الْقُلُوبَ وَصَدَرَتْ مِنْهَا لَا يُمْكَنُ أَنْ يَنْقَطِعَ صَاحِبُهَا أَبَدًا لِأَنَّ هَذِهِ الأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ لَهَا لَذَّةٌ لَا تُدَانِيهَا لَذَّةٌ فِي الدُّنْيَا إِنْ كَانَ فِي الدُّنْيَا مِنَ اللَّذَّةِ فَإِذَا وَصَلَ الإِنْسَانُ إِلَى أَنْ يَتَلَذَّذَ بِطَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَلْ يَتْرُكُهَا؟ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَتْرُكَ مَصْدَرًا لِلَذَّتِهِ وَأُنْسِهِ وَسَعَادَتِهِ وَسُرُورِهِ لَكِنَّ هَذِهِ اللَّذَّةَ يَا إِخْوَانُ تَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ لِلنُّفُوسِ وَمُحَاسَبَةٍ لَهَا دَائِمًا وَأَبَدًا وَأَنْ يُفَتِّشَ الْإِنْسَانُ عَنْ نَفْسِهِ وَيَنْظُرَ فِي سَالِفِ عَمَلِهِ وَمَا حَصَلَ مِنْهُ مِنَ التَّقْصِيرِ فَإِنَّ تَقْصِيرَنَا فِي الْمُسْتَقْبَلِ نَاتِجٌ عَنِ التَّقْصِيرِ فِي الْمَاضِي وَنَشَاطَكَ يَا عَبْدَ اللهِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مَبْنِيٌّ عَلَى نَشَاطِكَ فِي الْمَاضِي بَعْدَ تَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِهَذَا يَقُولُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى يُسِّرَ فِي الْمُسْتَقْبَلِ لِلْيُسْرَى لِأَنَّهُ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى إِنَّمَا يُسِّرَتْ لَهُ الْعُسْرَى عِيَاذًا بِاللهِ لِأَنَّهُ فَعَلَ أَسْبَابَهَا وَالْحَسَنَةُ كَمَا قِيلَ تَقُولُ أُخْتِي أُخْتِي وَالسَّيِّئَةُ تَقُولُ أُخْتِي أُخْتِي فَإِذَا حَرَصَ الإِنْسَانُ عَلَى إِتْقَانِ عَمَلِهِ وَإِخْلَاصِهِ لِوَجْهِ رَبِّهِ وَاكْتِفَاءِ الْأَثَرِ فِيهِ يَتَلَمَّسُ بَعْدَ ذَلِكَ قَبُولَ الْعَمَلِ وَيَحْرِصُ عَلَيْهِ غَايَةَ الْحِرْصِ فَهَذَا أَمْرٌ غَايَةٌ فِي الأَهَمِّيَّةِ لِأَنَّهُ إِذَا تُقُبِّلَ عَمَلُكَ يَا عَبْدَ اللهِ وحَصَلَ لَكَ الْخَيْرُ كُلُّ الْخَيْرِ وَاللهُ تَعَالَى قَالَ فِي قَبُولِ الْعَمَلِ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Menjauhi Dosa Gibah

Hubungan sosial dalam masyarakat tergambar dari komunikasi yang dibangun dalam pergaulan sehari-hari, khususnya di kalangan anak muda. Hal ini juga tidak terlepas di kalangan kaum tua. Namun sayang, disadari atau tidak, kita kadangkala terjerumus pada perbuatan dosa. Dosa itu dikenal dengan nama “gibah”.Percakapan dan diskusi dalam hubungan sosial tersebut seakan terasa hambar jika tidak membicarakan tentang seseorang, baik dari segi positif maupun negatifnya. Orang yang dibicarakan tersebut umumnya tidak berada di tengah-tengah percakapan atau diskusi tersebut.Kita pun menyadari bahwa sebagian besar topik pembicaraan itu terkadang berkaitan dengan aib seseorang yang semestinya kita jaga dan tidak dibicarakan. Meskipun kita tahu kebenaran tentang aib tersebut. Namun, rasa-rasanya godaan setan dan dorongan nafsu untuk tetap membicarakan aib orang lain seakan tak terbendung sehingga tanpa sadar kita telah melakukan perbuatan menggibahi saudara kita sendiri. Wal’iyadzu billah.Daftar Isi Gibah dalam definisi syariatAgar terhindar dari perbuatan gibahPertama: Menjauh dari lingkungan yang burukKedua: Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaatMenjaga aib orang lain = Menutupi aib diri sendiriGibah dalam definisi syariatPerhatikan hadis berikut:قيل يا رسولَ اللهِ ما الغيبةُ ؟ قال : ذِكرُك أخاك بما يكرهُ . قال : أرأيتَ إن كان فيه ما أقولُ ؟ قال : إن كان فيه ما تقولُ فقد اغتبتَه ، وإن لم يكنْ فيه ما تقولُ فقد بهَتَّهRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Ya Rasulullah, apakah gibah itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “(Gibah) adalah engkau menyebutkan perkara yang tidak disukai saudaramu.” Beliau ditanya, “Bagaimana pendapat engkau, jika yang aku ceritakan tentang saudaraku benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Jika yang engkau katakan benar ada padanya, maka sungguh engkau telah menggibahinya. Namun, jika tidak, maka engkau telah menebarkan kedustaan atasnya.” (HR. Muslim (2589), Abu Daud (4874),  At-Tirmidzi (1934), An-Nasa’i (11518), dan Ahmad (8985), disahihkan oleh Al-Albani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Gibah bersumber dari prasangka. Padahal setiap pikiran memiliki keterbatasan. Hanya saja banyak manusia yang tidak menyadarinya sehingga cukup mudah berprasangka, menghakimi, bahkan menyimpulkan hal-hal yang berkaitan dengan sisi buruk orang lain. Wal’iyadzu billah.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujarat: 11)Saudaraku, renungkanlah! Meski aib orang yang kita bicarakan itu adalah nyata, selama hal itu merupakan perkara yang tidak disukai oleh orang yang kita bicarakan, maka tetap menjadi hal yang terlarang dalam agama. Karena itulah yang disebut dengan gibah. Sedangkan jika hal itu tidak benar adanya, maka kita telah berbuat kedustaan.Prasangka adalah awal mula daripada perbuatan gibah karena prasangka membawa seseorang untuk mencari keburukan orang lain. Bayangkan, dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa perumpamaan orang yang menggunjing (menggibah) adalah bagaikan memakan daging saudaranya yang telah mati. Hal ini menunjukkan bahwa sungguh gibah adalah perbuatan yang menjijikkan yang seharusnya kita jauhi.Baca juga: 3 Rangkaian Dosa: Buruk Sangka, Tajassus dan GhibahAgar terhindar dari perbuatan gibahPertama: Menjauh dari lingkungan yang burukDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الرَّجلُ على دِينِ خليلِه ، فلْينظُرْ أحدُكم مَن يُخالِلْ“Seseorang di atas agama sahabatnya. Hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa yang hendak ia jadikan sahabatnya.”  (HR. Abu Dawud, lihat Kitab Shahih Abu Dawud hal. 4833, dihasankan oleh Al-Albani)Sebenarnya, kita telah mengetahui karakteristik setiap majelis yang sering kita hadiri, topik apa yang sering dibicarakan, dan bagaimana sifat teman-teman kita yang notabene menyampaikan pikiran dan pendapatnya dalam majelis tersebut. Kemudian, kita pun menyadari bahwa kadangkala percakapan dan diskusi dalam majelis tersebut tidak bisa lepas dari perbuatan gibah.Oleh karenanya, apabila kita telah mengetahui hal tersebut, itu adalah pertanda bahwa majelis tersebut tidak baik untuk kita sehingga kita bisa mengantisipasi diri untuk tidak terlibat dalam perbuatan gibah. Namun, alangkah lebih baik apabila kita mampu mewarnai majelis tersebut dengan mengalihkan setiap pembicaraan kepada hal-hal yang lebih bermanfaat seperti mendiskusikan tentang rencana mengikuti kajian Islam, ide-ide baru tentang bisnis, serta motivasi untuk saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran sehingga majelis tersebut menjadi majelis yang memberikan manfaat bagi diri kita dan para sahabat kita.Kedua: Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaatRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ من حُسْنِ إسلامِ المرءِ تَركَهُ ما لا يَعْنِيهِ“Sesungguhnya tanda kebaikan seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan selainnya, lihat kitab Tarikh Baghdad karya Al-Khatib Al-Baghdadi nomor 12/64, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah hal yang sangat mulia. Di era digital ini, kita mudah hanyut dalam hal-hal yang bahkan tidak bermanfaat sama sekali bagi diri kita, baik terkait urusan dunia maupun akhirat. Utamanya berkaitan dengan pergaulan dalam suatu majelis baik dengan satu, dua, atau banyak manusia. Lagi-lagi, kita lebih mengetahui apakah dengan melibatkan diri dalam majelis tersebut akan mendatangkan manfaat bagi diri kita atau tidak?Saudaraku, seorang muslim yang bertekad untuk menjalani hari-hari dengan penuh manfaat hendaknya membuat rencana detail apa yang akan ia lakukan. Pada hari itu, pekan itu, tahun itu, dan bahkan apa yang akan ia ikhtiarkan untuk kebaikan dunia dan akhiratnya.يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)Seorang muslim adalah visioner. Ia mengetahui apa yang harus ia lakukan dengan berbagai manfaat bagi dirinya dan bagi umat. Dengan rencana detail yang telah kita persiapkan, kita menjadi lebih sibuk dengan muhasabah diri. Dan dengannya kita terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat bagi diri kita khususnya dari perbuatan gibah yang justru mendatangkan dosa.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فطُوبى لمن شغله عيبُه عن عيوب النَّاس“Maka, berbahagialah bagi orang yang menyibukkan dirinya (dengan mengintrospeksi diri) dari aibnya sendiri daripada ia sibuk mencari aib orang lain.” (Lihat Kitab Miftah Darussaadah wa Mansyur Wilayatil Alam wal Iradh karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 344)Menjaga aib orang lain = Menutupi aib diri sendiriSaudaraku, sadarilah bahwa kita sebagai hamba (yang penuh dengan kekurangan, kesalahan, kekhilafan, dan dosa) adalah manusia yang selamanya bergantung pada kasih sayang Allah Ta’ala. Di antara ketergantungan kita tersebut adalah keinginan agar aib-aib dan dosa-dosa kita ditutupi oleh Allah Ta’ala agar kita dipandang mulia di hadapan manusia.Ingat! Sekali Allah Ta’ala membuka aib kita, maka sungguh bisa jadi kita akan jauh lebih hina di mata manusia daripada orang-orang yang selama ini kita sebut-sebut aibnya. Oleh karenanya, janganlah kita menjadi penyebab terbukanya aib diri sendiri dengan menyebut-nyebut aib saudara kita sendiri. Allah Ta’ala Mahatahu siapa hamba-hamba-Nya yang lebih hina atau lebih bertakwa di hadapan-Nya.Muhammad ibnu Wasi’ rahimahullah berkata,وْ كَانَ لِلذُّنُوبِ رِيحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إِلَيَّ“Kalau seandainya dosa ini memiliki bau, niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk denganku.” (Lihat Kitab Muhasabatu An-Nafsi li Ibni Abi Dunya karya Ibnu Abi Dunya, hal. 82)Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Allah Maha Menutupi Aib Hamba-Nya***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.idTags: dosa gibahgibahgosip

Menjauhi Dosa Gibah

Hubungan sosial dalam masyarakat tergambar dari komunikasi yang dibangun dalam pergaulan sehari-hari, khususnya di kalangan anak muda. Hal ini juga tidak terlepas di kalangan kaum tua. Namun sayang, disadari atau tidak, kita kadangkala terjerumus pada perbuatan dosa. Dosa itu dikenal dengan nama “gibah”.Percakapan dan diskusi dalam hubungan sosial tersebut seakan terasa hambar jika tidak membicarakan tentang seseorang, baik dari segi positif maupun negatifnya. Orang yang dibicarakan tersebut umumnya tidak berada di tengah-tengah percakapan atau diskusi tersebut.Kita pun menyadari bahwa sebagian besar topik pembicaraan itu terkadang berkaitan dengan aib seseorang yang semestinya kita jaga dan tidak dibicarakan. Meskipun kita tahu kebenaran tentang aib tersebut. Namun, rasa-rasanya godaan setan dan dorongan nafsu untuk tetap membicarakan aib orang lain seakan tak terbendung sehingga tanpa sadar kita telah melakukan perbuatan menggibahi saudara kita sendiri. Wal’iyadzu billah.Daftar Isi Gibah dalam definisi syariatAgar terhindar dari perbuatan gibahPertama: Menjauh dari lingkungan yang burukKedua: Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaatMenjaga aib orang lain = Menutupi aib diri sendiriGibah dalam definisi syariatPerhatikan hadis berikut:قيل يا رسولَ اللهِ ما الغيبةُ ؟ قال : ذِكرُك أخاك بما يكرهُ . قال : أرأيتَ إن كان فيه ما أقولُ ؟ قال : إن كان فيه ما تقولُ فقد اغتبتَه ، وإن لم يكنْ فيه ما تقولُ فقد بهَتَّهRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Ya Rasulullah, apakah gibah itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “(Gibah) adalah engkau menyebutkan perkara yang tidak disukai saudaramu.” Beliau ditanya, “Bagaimana pendapat engkau, jika yang aku ceritakan tentang saudaraku benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Jika yang engkau katakan benar ada padanya, maka sungguh engkau telah menggibahinya. Namun, jika tidak, maka engkau telah menebarkan kedustaan atasnya.” (HR. Muslim (2589), Abu Daud (4874),  At-Tirmidzi (1934), An-Nasa’i (11518), dan Ahmad (8985), disahihkan oleh Al-Albani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Gibah bersumber dari prasangka. Padahal setiap pikiran memiliki keterbatasan. Hanya saja banyak manusia yang tidak menyadarinya sehingga cukup mudah berprasangka, menghakimi, bahkan menyimpulkan hal-hal yang berkaitan dengan sisi buruk orang lain. Wal’iyadzu billah.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujarat: 11)Saudaraku, renungkanlah! Meski aib orang yang kita bicarakan itu adalah nyata, selama hal itu merupakan perkara yang tidak disukai oleh orang yang kita bicarakan, maka tetap menjadi hal yang terlarang dalam agama. Karena itulah yang disebut dengan gibah. Sedangkan jika hal itu tidak benar adanya, maka kita telah berbuat kedustaan.Prasangka adalah awal mula daripada perbuatan gibah karena prasangka membawa seseorang untuk mencari keburukan orang lain. Bayangkan, dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa perumpamaan orang yang menggunjing (menggibah) adalah bagaikan memakan daging saudaranya yang telah mati. Hal ini menunjukkan bahwa sungguh gibah adalah perbuatan yang menjijikkan yang seharusnya kita jauhi.Baca juga: 3 Rangkaian Dosa: Buruk Sangka, Tajassus dan GhibahAgar terhindar dari perbuatan gibahPertama: Menjauh dari lingkungan yang burukDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الرَّجلُ على دِينِ خليلِه ، فلْينظُرْ أحدُكم مَن يُخالِلْ“Seseorang di atas agama sahabatnya. Hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa yang hendak ia jadikan sahabatnya.”  (HR. Abu Dawud, lihat Kitab Shahih Abu Dawud hal. 4833, dihasankan oleh Al-Albani)Sebenarnya, kita telah mengetahui karakteristik setiap majelis yang sering kita hadiri, topik apa yang sering dibicarakan, dan bagaimana sifat teman-teman kita yang notabene menyampaikan pikiran dan pendapatnya dalam majelis tersebut. Kemudian, kita pun menyadari bahwa kadangkala percakapan dan diskusi dalam majelis tersebut tidak bisa lepas dari perbuatan gibah.Oleh karenanya, apabila kita telah mengetahui hal tersebut, itu adalah pertanda bahwa majelis tersebut tidak baik untuk kita sehingga kita bisa mengantisipasi diri untuk tidak terlibat dalam perbuatan gibah. Namun, alangkah lebih baik apabila kita mampu mewarnai majelis tersebut dengan mengalihkan setiap pembicaraan kepada hal-hal yang lebih bermanfaat seperti mendiskusikan tentang rencana mengikuti kajian Islam, ide-ide baru tentang bisnis, serta motivasi untuk saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran sehingga majelis tersebut menjadi majelis yang memberikan manfaat bagi diri kita dan para sahabat kita.Kedua: Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaatRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ من حُسْنِ إسلامِ المرءِ تَركَهُ ما لا يَعْنِيهِ“Sesungguhnya tanda kebaikan seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan selainnya, lihat kitab Tarikh Baghdad karya Al-Khatib Al-Baghdadi nomor 12/64, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah hal yang sangat mulia. Di era digital ini, kita mudah hanyut dalam hal-hal yang bahkan tidak bermanfaat sama sekali bagi diri kita, baik terkait urusan dunia maupun akhirat. Utamanya berkaitan dengan pergaulan dalam suatu majelis baik dengan satu, dua, atau banyak manusia. Lagi-lagi, kita lebih mengetahui apakah dengan melibatkan diri dalam majelis tersebut akan mendatangkan manfaat bagi diri kita atau tidak?Saudaraku, seorang muslim yang bertekad untuk menjalani hari-hari dengan penuh manfaat hendaknya membuat rencana detail apa yang akan ia lakukan. Pada hari itu, pekan itu, tahun itu, dan bahkan apa yang akan ia ikhtiarkan untuk kebaikan dunia dan akhiratnya.يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)Seorang muslim adalah visioner. Ia mengetahui apa yang harus ia lakukan dengan berbagai manfaat bagi dirinya dan bagi umat. Dengan rencana detail yang telah kita persiapkan, kita menjadi lebih sibuk dengan muhasabah diri. Dan dengannya kita terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat bagi diri kita khususnya dari perbuatan gibah yang justru mendatangkan dosa.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فطُوبى لمن شغله عيبُه عن عيوب النَّاس“Maka, berbahagialah bagi orang yang menyibukkan dirinya (dengan mengintrospeksi diri) dari aibnya sendiri daripada ia sibuk mencari aib orang lain.” (Lihat Kitab Miftah Darussaadah wa Mansyur Wilayatil Alam wal Iradh karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 344)Menjaga aib orang lain = Menutupi aib diri sendiriSaudaraku, sadarilah bahwa kita sebagai hamba (yang penuh dengan kekurangan, kesalahan, kekhilafan, dan dosa) adalah manusia yang selamanya bergantung pada kasih sayang Allah Ta’ala. Di antara ketergantungan kita tersebut adalah keinginan agar aib-aib dan dosa-dosa kita ditutupi oleh Allah Ta’ala agar kita dipandang mulia di hadapan manusia.Ingat! Sekali Allah Ta’ala membuka aib kita, maka sungguh bisa jadi kita akan jauh lebih hina di mata manusia daripada orang-orang yang selama ini kita sebut-sebut aibnya. Oleh karenanya, janganlah kita menjadi penyebab terbukanya aib diri sendiri dengan menyebut-nyebut aib saudara kita sendiri. Allah Ta’ala Mahatahu siapa hamba-hamba-Nya yang lebih hina atau lebih bertakwa di hadapan-Nya.Muhammad ibnu Wasi’ rahimahullah berkata,وْ كَانَ لِلذُّنُوبِ رِيحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إِلَيَّ“Kalau seandainya dosa ini memiliki bau, niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk denganku.” (Lihat Kitab Muhasabatu An-Nafsi li Ibni Abi Dunya karya Ibnu Abi Dunya, hal. 82)Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Allah Maha Menutupi Aib Hamba-Nya***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.idTags: dosa gibahgibahgosip
Hubungan sosial dalam masyarakat tergambar dari komunikasi yang dibangun dalam pergaulan sehari-hari, khususnya di kalangan anak muda. Hal ini juga tidak terlepas di kalangan kaum tua. Namun sayang, disadari atau tidak, kita kadangkala terjerumus pada perbuatan dosa. Dosa itu dikenal dengan nama “gibah”.Percakapan dan diskusi dalam hubungan sosial tersebut seakan terasa hambar jika tidak membicarakan tentang seseorang, baik dari segi positif maupun negatifnya. Orang yang dibicarakan tersebut umumnya tidak berada di tengah-tengah percakapan atau diskusi tersebut.Kita pun menyadari bahwa sebagian besar topik pembicaraan itu terkadang berkaitan dengan aib seseorang yang semestinya kita jaga dan tidak dibicarakan. Meskipun kita tahu kebenaran tentang aib tersebut. Namun, rasa-rasanya godaan setan dan dorongan nafsu untuk tetap membicarakan aib orang lain seakan tak terbendung sehingga tanpa sadar kita telah melakukan perbuatan menggibahi saudara kita sendiri. Wal’iyadzu billah.Daftar Isi Gibah dalam definisi syariatAgar terhindar dari perbuatan gibahPertama: Menjauh dari lingkungan yang burukKedua: Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaatMenjaga aib orang lain = Menutupi aib diri sendiriGibah dalam definisi syariatPerhatikan hadis berikut:قيل يا رسولَ اللهِ ما الغيبةُ ؟ قال : ذِكرُك أخاك بما يكرهُ . قال : أرأيتَ إن كان فيه ما أقولُ ؟ قال : إن كان فيه ما تقولُ فقد اغتبتَه ، وإن لم يكنْ فيه ما تقولُ فقد بهَتَّهRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Ya Rasulullah, apakah gibah itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “(Gibah) adalah engkau menyebutkan perkara yang tidak disukai saudaramu.” Beliau ditanya, “Bagaimana pendapat engkau, jika yang aku ceritakan tentang saudaraku benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Jika yang engkau katakan benar ada padanya, maka sungguh engkau telah menggibahinya. Namun, jika tidak, maka engkau telah menebarkan kedustaan atasnya.” (HR. Muslim (2589), Abu Daud (4874),  At-Tirmidzi (1934), An-Nasa’i (11518), dan Ahmad (8985), disahihkan oleh Al-Albani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Gibah bersumber dari prasangka. Padahal setiap pikiran memiliki keterbatasan. Hanya saja banyak manusia yang tidak menyadarinya sehingga cukup mudah berprasangka, menghakimi, bahkan menyimpulkan hal-hal yang berkaitan dengan sisi buruk orang lain. Wal’iyadzu billah.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujarat: 11)Saudaraku, renungkanlah! Meski aib orang yang kita bicarakan itu adalah nyata, selama hal itu merupakan perkara yang tidak disukai oleh orang yang kita bicarakan, maka tetap menjadi hal yang terlarang dalam agama. Karena itulah yang disebut dengan gibah. Sedangkan jika hal itu tidak benar adanya, maka kita telah berbuat kedustaan.Prasangka adalah awal mula daripada perbuatan gibah karena prasangka membawa seseorang untuk mencari keburukan orang lain. Bayangkan, dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa perumpamaan orang yang menggunjing (menggibah) adalah bagaikan memakan daging saudaranya yang telah mati. Hal ini menunjukkan bahwa sungguh gibah adalah perbuatan yang menjijikkan yang seharusnya kita jauhi.Baca juga: 3 Rangkaian Dosa: Buruk Sangka, Tajassus dan GhibahAgar terhindar dari perbuatan gibahPertama: Menjauh dari lingkungan yang burukDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الرَّجلُ على دِينِ خليلِه ، فلْينظُرْ أحدُكم مَن يُخالِلْ“Seseorang di atas agama sahabatnya. Hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa yang hendak ia jadikan sahabatnya.”  (HR. Abu Dawud, lihat Kitab Shahih Abu Dawud hal. 4833, dihasankan oleh Al-Albani)Sebenarnya, kita telah mengetahui karakteristik setiap majelis yang sering kita hadiri, topik apa yang sering dibicarakan, dan bagaimana sifat teman-teman kita yang notabene menyampaikan pikiran dan pendapatnya dalam majelis tersebut. Kemudian, kita pun menyadari bahwa kadangkala percakapan dan diskusi dalam majelis tersebut tidak bisa lepas dari perbuatan gibah.Oleh karenanya, apabila kita telah mengetahui hal tersebut, itu adalah pertanda bahwa majelis tersebut tidak baik untuk kita sehingga kita bisa mengantisipasi diri untuk tidak terlibat dalam perbuatan gibah. Namun, alangkah lebih baik apabila kita mampu mewarnai majelis tersebut dengan mengalihkan setiap pembicaraan kepada hal-hal yang lebih bermanfaat seperti mendiskusikan tentang rencana mengikuti kajian Islam, ide-ide baru tentang bisnis, serta motivasi untuk saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran sehingga majelis tersebut menjadi majelis yang memberikan manfaat bagi diri kita dan para sahabat kita.Kedua: Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaatRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ من حُسْنِ إسلامِ المرءِ تَركَهُ ما لا يَعْنِيهِ“Sesungguhnya tanda kebaikan seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan selainnya, lihat kitab Tarikh Baghdad karya Al-Khatib Al-Baghdadi nomor 12/64, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah hal yang sangat mulia. Di era digital ini, kita mudah hanyut dalam hal-hal yang bahkan tidak bermanfaat sama sekali bagi diri kita, baik terkait urusan dunia maupun akhirat. Utamanya berkaitan dengan pergaulan dalam suatu majelis baik dengan satu, dua, atau banyak manusia. Lagi-lagi, kita lebih mengetahui apakah dengan melibatkan diri dalam majelis tersebut akan mendatangkan manfaat bagi diri kita atau tidak?Saudaraku, seorang muslim yang bertekad untuk menjalani hari-hari dengan penuh manfaat hendaknya membuat rencana detail apa yang akan ia lakukan. Pada hari itu, pekan itu, tahun itu, dan bahkan apa yang akan ia ikhtiarkan untuk kebaikan dunia dan akhiratnya.يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)Seorang muslim adalah visioner. Ia mengetahui apa yang harus ia lakukan dengan berbagai manfaat bagi dirinya dan bagi umat. Dengan rencana detail yang telah kita persiapkan, kita menjadi lebih sibuk dengan muhasabah diri. Dan dengannya kita terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat bagi diri kita khususnya dari perbuatan gibah yang justru mendatangkan dosa.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فطُوبى لمن شغله عيبُه عن عيوب النَّاس“Maka, berbahagialah bagi orang yang menyibukkan dirinya (dengan mengintrospeksi diri) dari aibnya sendiri daripada ia sibuk mencari aib orang lain.” (Lihat Kitab Miftah Darussaadah wa Mansyur Wilayatil Alam wal Iradh karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 344)Menjaga aib orang lain = Menutupi aib diri sendiriSaudaraku, sadarilah bahwa kita sebagai hamba (yang penuh dengan kekurangan, kesalahan, kekhilafan, dan dosa) adalah manusia yang selamanya bergantung pada kasih sayang Allah Ta’ala. Di antara ketergantungan kita tersebut adalah keinginan agar aib-aib dan dosa-dosa kita ditutupi oleh Allah Ta’ala agar kita dipandang mulia di hadapan manusia.Ingat! Sekali Allah Ta’ala membuka aib kita, maka sungguh bisa jadi kita akan jauh lebih hina di mata manusia daripada orang-orang yang selama ini kita sebut-sebut aibnya. Oleh karenanya, janganlah kita menjadi penyebab terbukanya aib diri sendiri dengan menyebut-nyebut aib saudara kita sendiri. Allah Ta’ala Mahatahu siapa hamba-hamba-Nya yang lebih hina atau lebih bertakwa di hadapan-Nya.Muhammad ibnu Wasi’ rahimahullah berkata,وْ كَانَ لِلذُّنُوبِ رِيحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إِلَيَّ“Kalau seandainya dosa ini memiliki bau, niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk denganku.” (Lihat Kitab Muhasabatu An-Nafsi li Ibni Abi Dunya karya Ibnu Abi Dunya, hal. 82)Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Allah Maha Menutupi Aib Hamba-Nya***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.idTags: dosa gibahgibahgosip


Hubungan sosial dalam masyarakat tergambar dari komunikasi yang dibangun dalam pergaulan sehari-hari, khususnya di kalangan anak muda. Hal ini juga tidak terlepas di kalangan kaum tua. Namun sayang, disadari atau tidak, kita kadangkala terjerumus pada perbuatan dosa. Dosa itu dikenal dengan nama “gibah”.Percakapan dan diskusi dalam hubungan sosial tersebut seakan terasa hambar jika tidak membicarakan tentang seseorang, baik dari segi positif maupun negatifnya. Orang yang dibicarakan tersebut umumnya tidak berada di tengah-tengah percakapan atau diskusi tersebut.Kita pun menyadari bahwa sebagian besar topik pembicaraan itu terkadang berkaitan dengan aib seseorang yang semestinya kita jaga dan tidak dibicarakan. Meskipun kita tahu kebenaran tentang aib tersebut. Namun, rasa-rasanya godaan setan dan dorongan nafsu untuk tetap membicarakan aib orang lain seakan tak terbendung sehingga tanpa sadar kita telah melakukan perbuatan menggibahi saudara kita sendiri. Wal’iyadzu billah.Daftar Isi Gibah dalam definisi syariatAgar terhindar dari perbuatan gibahPertama: Menjauh dari lingkungan yang burukKedua: Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaatMenjaga aib orang lain = Menutupi aib diri sendiriGibah dalam definisi syariatPerhatikan hadis berikut:قيل يا رسولَ اللهِ ما الغيبةُ ؟ قال : ذِكرُك أخاك بما يكرهُ . قال : أرأيتَ إن كان فيه ما أقولُ ؟ قال : إن كان فيه ما تقولُ فقد اغتبتَه ، وإن لم يكنْ فيه ما تقولُ فقد بهَتَّهRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Ya Rasulullah, apakah gibah itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “(Gibah) adalah engkau menyebutkan perkara yang tidak disukai saudaramu.” Beliau ditanya, “Bagaimana pendapat engkau, jika yang aku ceritakan tentang saudaraku benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Jika yang engkau katakan benar ada padanya, maka sungguh engkau telah menggibahinya. Namun, jika tidak, maka engkau telah menebarkan kedustaan atasnya.” (HR. Muslim (2589), Abu Daud (4874),  At-Tirmidzi (1934), An-Nasa’i (11518), dan Ahmad (8985), disahihkan oleh Al-Albani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Gibah bersumber dari prasangka. Padahal setiap pikiran memiliki keterbatasan. Hanya saja banyak manusia yang tidak menyadarinya sehingga cukup mudah berprasangka, menghakimi, bahkan menyimpulkan hal-hal yang berkaitan dengan sisi buruk orang lain. Wal’iyadzu billah.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujarat: 11)Saudaraku, renungkanlah! Meski aib orang yang kita bicarakan itu adalah nyata, selama hal itu merupakan perkara yang tidak disukai oleh orang yang kita bicarakan, maka tetap menjadi hal yang terlarang dalam agama. Karena itulah yang disebut dengan gibah. Sedangkan jika hal itu tidak benar adanya, maka kita telah berbuat kedustaan.Prasangka adalah awal mula daripada perbuatan gibah karena prasangka membawa seseorang untuk mencari keburukan orang lain. Bayangkan, dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa perumpamaan orang yang menggunjing (menggibah) adalah bagaikan memakan daging saudaranya yang telah mati. Hal ini menunjukkan bahwa sungguh gibah adalah perbuatan yang menjijikkan yang seharusnya kita jauhi.Baca juga: 3 Rangkaian Dosa: Buruk Sangka, Tajassus dan GhibahAgar terhindar dari perbuatan gibahPertama: Menjauh dari lingkungan yang burukDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الرَّجلُ على دِينِ خليلِه ، فلْينظُرْ أحدُكم مَن يُخالِلْ“Seseorang di atas agama sahabatnya. Hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa yang hendak ia jadikan sahabatnya.”  (HR. Abu Dawud, lihat Kitab Shahih Abu Dawud hal. 4833, dihasankan oleh Al-Albani)Sebenarnya, kita telah mengetahui karakteristik setiap majelis yang sering kita hadiri, topik apa yang sering dibicarakan, dan bagaimana sifat teman-teman kita yang notabene menyampaikan pikiran dan pendapatnya dalam majelis tersebut. Kemudian, kita pun menyadari bahwa kadangkala percakapan dan diskusi dalam majelis tersebut tidak bisa lepas dari perbuatan gibah.Oleh karenanya, apabila kita telah mengetahui hal tersebut, itu adalah pertanda bahwa majelis tersebut tidak baik untuk kita sehingga kita bisa mengantisipasi diri untuk tidak terlibat dalam perbuatan gibah. Namun, alangkah lebih baik apabila kita mampu mewarnai majelis tersebut dengan mengalihkan setiap pembicaraan kepada hal-hal yang lebih bermanfaat seperti mendiskusikan tentang rencana mengikuti kajian Islam, ide-ide baru tentang bisnis, serta motivasi untuk saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran sehingga majelis tersebut menjadi majelis yang memberikan manfaat bagi diri kita dan para sahabat kita.Kedua: Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaatRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ من حُسْنِ إسلامِ المرءِ تَركَهُ ما لا يَعْنِيهِ“Sesungguhnya tanda kebaikan seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan selainnya, lihat kitab Tarikh Baghdad karya Al-Khatib Al-Baghdadi nomor 12/64, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah hal yang sangat mulia. Di era digital ini, kita mudah hanyut dalam hal-hal yang bahkan tidak bermanfaat sama sekali bagi diri kita, baik terkait urusan dunia maupun akhirat. Utamanya berkaitan dengan pergaulan dalam suatu majelis baik dengan satu, dua, atau banyak manusia. Lagi-lagi, kita lebih mengetahui apakah dengan melibatkan diri dalam majelis tersebut akan mendatangkan manfaat bagi diri kita atau tidak?Saudaraku, seorang muslim yang bertekad untuk menjalani hari-hari dengan penuh manfaat hendaknya membuat rencana detail apa yang akan ia lakukan. Pada hari itu, pekan itu, tahun itu, dan bahkan apa yang akan ia ikhtiarkan untuk kebaikan dunia dan akhiratnya.يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)Seorang muslim adalah visioner. Ia mengetahui apa yang harus ia lakukan dengan berbagai manfaat bagi dirinya dan bagi umat. Dengan rencana detail yang telah kita persiapkan, kita menjadi lebih sibuk dengan muhasabah diri. Dan dengannya kita terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat bagi diri kita khususnya dari perbuatan gibah yang justru mendatangkan dosa.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فطُوبى لمن شغله عيبُه عن عيوب النَّاس“Maka, berbahagialah bagi orang yang menyibukkan dirinya (dengan mengintrospeksi diri) dari aibnya sendiri daripada ia sibuk mencari aib orang lain.” (Lihat Kitab Miftah Darussaadah wa Mansyur Wilayatil Alam wal Iradh karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 344)Menjaga aib orang lain = Menutupi aib diri sendiriSaudaraku, sadarilah bahwa kita sebagai hamba (yang penuh dengan kekurangan, kesalahan, kekhilafan, dan dosa) adalah manusia yang selamanya bergantung pada kasih sayang Allah Ta’ala. Di antara ketergantungan kita tersebut adalah keinginan agar aib-aib dan dosa-dosa kita ditutupi oleh Allah Ta’ala agar kita dipandang mulia di hadapan manusia.Ingat! Sekali Allah Ta’ala membuka aib kita, maka sungguh bisa jadi kita akan jauh lebih hina di mata manusia daripada orang-orang yang selama ini kita sebut-sebut aibnya. Oleh karenanya, janganlah kita menjadi penyebab terbukanya aib diri sendiri dengan menyebut-nyebut aib saudara kita sendiri. Allah Ta’ala Mahatahu siapa hamba-hamba-Nya yang lebih hina atau lebih bertakwa di hadapan-Nya.Muhammad ibnu Wasi’ rahimahullah berkata,وْ كَانَ لِلذُّنُوبِ رِيحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إِلَيَّ“Kalau seandainya dosa ini memiliki bau, niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk denganku.” (Lihat Kitab Muhasabatu An-Nafsi li Ibni Abi Dunya karya Ibnu Abi Dunya, hal. 82)Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Allah Maha Menutupi Aib Hamba-Nya***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.idTags: dosa gibahgibahgosip

Berhala Ketiga di Muka Bumi: Kisah Kaum Tsamud

Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel yang lalu (Berhala Kedua di Muka Bumi). Sebelumnya telah dikisahkan tentang Kaum ‘Ad (keturunan Sam bin Nuh) yang pertama kali menyembah berhala setelah banjir di zaman Nabi Nuh ’alaihis salam yang saat itu hanya menyisakan sedikit manusia yang selamat.Kemudian, karena kesyirikan dan keangkuhan kaum ‘Ad, maka Allah Yang Mahaperkasa menimpakan azab yang mengerikan kepada mereka. Di akhir kisah, tidak ada yang tersisa dari azab dahsyat ini selain Nabi Hud ’alaihis salam dan orang-orang beriman yang berlindung di sebuah lembah. Setelah kaum ‘Ad binasa, Nabi Hud, dan orang mukmin hijrah ke Hadramaut memulai kehidupan baru.Daftar Isi Munculnya kembali penyembahan kepada berhalaMukjizat Nabi SalehUnta Nabi Saleh dibunuhTurunnya azab tiga hari yang dijanjikanMunculnya kembali penyembahan kepada berhalaSebagian keturunan kaum ‘Ad yang beriman di Hadramaut kemudian ada yang berpindah menuju bagian utara Jazirah Arab. Menurut keterangan dari `Abdullah bin ʿUmar radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa daerah tempat tinggal mereka disebut Al-Hijr (letaknya di kota Al-‘Ula, sekitar +-300 km sebelah utara kota Madinah). Anak keturunan kaum ‘Ad di Al-Hijr inilah yang disebut sebagai kaum Tsamud atau disebut juga sebagai sebagai kaum ‘Ad yang kedua (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 439). Sedang kaum ‘Ad sebelumnya disebutkan dalam Qur’an sebagai kaum ‘Ad pertama (Lihat QS. An-Najm: 50).Kaum Tsamud merupakan kaum penyembah berhala selanjutnya. Allah Ta’ala kemudian mengutus Nabi Saleh ’alaihis salam untuk menyeru kaum Tsamud agar menyembah Allah semata, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Saleh berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).’” (QS. Hud: 61)Nabi Saleh ’alaihis salam juga mengingatkan kaumnya agar selalu bersyukur atas berbagai kenikmatan yang telah diberikan. Beliau ’alaihis salam berkata,وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ“Dan ingatlah ketika Tuhan menjadikan kamu khalifah-khalifah (yang berkuasa) setelah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-A’raf: 74)Dari ayat di atas disebutkan bahwa tempat tinggal kaum Tsamud ada di lembah dan gunung-gunung. Di lembah tersebut, mereka membangun rumah yang kokoh dengan memahat gunung-gunung. Bahkan, peninggalannya masih ada hingga saat ini dan menjadi tempat wisata warisan dunia UNESCO.Setelah Nabi Saleh mendakwahkan dan mengingatkan kaumnya agar tidak menyembah berhala, (akan tetapi sama halnya seperti kaum ‘Ad) mereka mendustakan Nabi Saleh sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ. وَآتَيْنَاهُمْ آيَاتِنَا فَكَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ. وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ“Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al-Hijr telah mendustakan rasul-rasul, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling daripadanya, dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman (kokoh, penj.).” (QS. Al-Hijr: 80-82)Dalam ayat yang lain kaum Tsamud berkata,قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ“Wahai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan (menjadi pemimpin). (Tetapi) mengapa engkau melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sungguh, kami benar-benar dalam keraguan dan kegelisahan terhadap apa (agama) yang engkau serukan kepada kami.’” (QS. Hud: 62)Baca juga: Islam Bukan WarisanMukjizat Nabi SalehMeskipun Nabi Saleh ‘alaihis salam didustakan dan diingkari oleh kaumnya, Nabi Saleh tetap berdakwah mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah semata. Hingga akhirnya kaumnya merasa bosan dengan ajakan Nabi Saleh dan meminta untuk didatangkan bukti atas kebenaran kerasulannya. Mereka meminta didatangkan unta dari sebuah batu dengan ciri-ciri putih, tinggi, sedang hamil kembar 10 bulan. Dan jika keluar, mereka berjanji akan beriman. Namun, perlu diketahui bahwa itu hanyalah argumen bagi mereka agar tidak beriman dengan meminta kepada Nabi Saleh melakukan sesuatu yang mustahil.Nabi Saleh kemudian salat dan berdoa kepada Allah. Kemudian meminta unta seperti yang diinginkan oleh kaumnya. Lalu, Allah kabulkan doa Nabi Saleh dengan mengeluarkan unta dari batu persis seperti yang disyaratkan. Ternyata, setelah nampak mukjizat tersebut bagi kaum Tsamud, hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman dan sebagian besar yang lain tetap kafir (Lihat QS. Al-A’raf: 79 dan Tafsir Ibnu Katsir 3: 440). Demikianlah, orang yang sejak awal tidak menghendaki keimanan, mukjizat sehebat apapun tidak akan bisa membuat mereka beriman. Bahkan, Nabi Saleh dianggap tukang sihir sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَالُوٓا۟ إِنَّمَآ أَنتَ مِنَ ٱلْمُسَحَّرِينَMereka berkata, “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir.” (QS. Asy-Syuara: 153)Unta Nabi Saleh dibunuhSingkat cerita, karena kaum Tsamud mulai jengkel terhadap pantangan dan peraturan terhadap unta Nabi Saleh (Lihat QS. Asy-Syu’ara: 155), Maka, mereka dan 9 pembesar kaum Tsamud berencana membunuh unta Nabi Saleh (Lihat QS. An-Naml: 48). Lalu, ada seorang wanita tua membuat sayembara. Bahwa siapa saja yang berani membunuh unta Nabi Saleh, dia boleh memilih salah satu putrinya untuk dijadikan istri. Disebutkan dalam buku tafsir bahwa orang yang bangkit membunuh unta tersebut adalah Qaddar bin Salif (Lihat HR. Bukhari no. 4942,  Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3: 444).Lantas, laki-laki tersebut berdiri membunuh unta tersebut. Allah Ta’ala berfirman,إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا“Ketika orang yang paling celaka bangkit di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا“Lalu, mereka mendustakan (Nabi Saleh) dan menyembelih unta itu. Karena itulah, Tuhan membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah meratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)Ketika mendengar kabar untanya telah dibunuh, Nabi Saleh ‘alaihissalam sangat sedih. Kemudian Nabi Saleh mendatangi mereka dan memberikan peringatan tentang azab yang akan datang tiga hari ke depan.تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ“Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari (karena itu hari-hari terakhir kalian di dunia dan sesungguhnya siksaan akan turun pada kalian setelahnya, penj. tafsir muyasar). Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud: 65)Walaupun mereka menyesal karena telah membunuh unta tersebut (Lihat QS. Asy-Syu’ara: 157), (karena sudah merasa tanggung) mereka berencana juga membunuh Nabi Saleh.Allah Ta’ala berfirman,وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ“Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 50)Pada malam harinya, mereka mendatangi rumah Nabi Saleh untuk membunuhnya. Tetapi, sebelum niat mereka tercapai, Allah mengutus para malaikat untuk menghujani mereka dengan batu hingga kepala mereka pecah. Demikianlah Allah melindungi Rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang ingkar.Baca juga: Hanya Allah Pelindung KitaTurunnya azab tiga hari yang dijanjikanKemudian, kaum Tsamud menunggu selama tiga hari yang dijanjikan dengan ketakutan. Ketika lewat hari pertama, wajah mereka menguning. Pada hari kedua wajah mereka menjadi merah. Dan pada hari ketiga wajah mereka menghitam dan mereka pun bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi. Maka, pada hari keempat tersebut Allah membinasakan mereka semua dengan menimpakan azab dari tanah berupa gempa besar (Lihat QS. Al-A’raf: 78) beriringan dengan suara halilintar yang menggelegar (Lihat QS. Hud: 67 dan Tafsir Ibnu Katsir 3/442).Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ“Maka, tatkala azab Kami datang, Kami selamatkan Saleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia­lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Hud: 66)Setelah kaum Nabi Saleh mati dan binasa, kemudian beliau mendatangi mayat mereka dan berkata,فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ“Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.’” (QS. Al-A’raf: 79)Demikianlah akhir bagi orang-orang yang berbuat syirik lagi sombong. Semoga kisah ini dapat diambil hikmah dan faedahnya, agar kita senantiasa menjadi hamba yang bertauhid dan bersyukur atas segala yang diberikan kepada kita, bukan malah untuk kita sombongkan.Baca juga: Makna Tauhid***Penulis: Arif Muhammad N.Artikel: Muslim.or.idTags: berhalakaum tsamudpatung berhala

Berhala Ketiga di Muka Bumi: Kisah Kaum Tsamud

Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel yang lalu (Berhala Kedua di Muka Bumi). Sebelumnya telah dikisahkan tentang Kaum ‘Ad (keturunan Sam bin Nuh) yang pertama kali menyembah berhala setelah banjir di zaman Nabi Nuh ’alaihis salam yang saat itu hanya menyisakan sedikit manusia yang selamat.Kemudian, karena kesyirikan dan keangkuhan kaum ‘Ad, maka Allah Yang Mahaperkasa menimpakan azab yang mengerikan kepada mereka. Di akhir kisah, tidak ada yang tersisa dari azab dahsyat ini selain Nabi Hud ’alaihis salam dan orang-orang beriman yang berlindung di sebuah lembah. Setelah kaum ‘Ad binasa, Nabi Hud, dan orang mukmin hijrah ke Hadramaut memulai kehidupan baru.Daftar Isi Munculnya kembali penyembahan kepada berhalaMukjizat Nabi SalehUnta Nabi Saleh dibunuhTurunnya azab tiga hari yang dijanjikanMunculnya kembali penyembahan kepada berhalaSebagian keturunan kaum ‘Ad yang beriman di Hadramaut kemudian ada yang berpindah menuju bagian utara Jazirah Arab. Menurut keterangan dari `Abdullah bin ʿUmar radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa daerah tempat tinggal mereka disebut Al-Hijr (letaknya di kota Al-‘Ula, sekitar +-300 km sebelah utara kota Madinah). Anak keturunan kaum ‘Ad di Al-Hijr inilah yang disebut sebagai kaum Tsamud atau disebut juga sebagai sebagai kaum ‘Ad yang kedua (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 439). Sedang kaum ‘Ad sebelumnya disebutkan dalam Qur’an sebagai kaum ‘Ad pertama (Lihat QS. An-Najm: 50).Kaum Tsamud merupakan kaum penyembah berhala selanjutnya. Allah Ta’ala kemudian mengutus Nabi Saleh ’alaihis salam untuk menyeru kaum Tsamud agar menyembah Allah semata, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Saleh berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).’” (QS. Hud: 61)Nabi Saleh ’alaihis salam juga mengingatkan kaumnya agar selalu bersyukur atas berbagai kenikmatan yang telah diberikan. Beliau ’alaihis salam berkata,وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ“Dan ingatlah ketika Tuhan menjadikan kamu khalifah-khalifah (yang berkuasa) setelah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-A’raf: 74)Dari ayat di atas disebutkan bahwa tempat tinggal kaum Tsamud ada di lembah dan gunung-gunung. Di lembah tersebut, mereka membangun rumah yang kokoh dengan memahat gunung-gunung. Bahkan, peninggalannya masih ada hingga saat ini dan menjadi tempat wisata warisan dunia UNESCO.Setelah Nabi Saleh mendakwahkan dan mengingatkan kaumnya agar tidak menyembah berhala, (akan tetapi sama halnya seperti kaum ‘Ad) mereka mendustakan Nabi Saleh sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ. وَآتَيْنَاهُمْ آيَاتِنَا فَكَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ. وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ“Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al-Hijr telah mendustakan rasul-rasul, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling daripadanya, dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman (kokoh, penj.).” (QS. Al-Hijr: 80-82)Dalam ayat yang lain kaum Tsamud berkata,قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ“Wahai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan (menjadi pemimpin). (Tetapi) mengapa engkau melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sungguh, kami benar-benar dalam keraguan dan kegelisahan terhadap apa (agama) yang engkau serukan kepada kami.’” (QS. Hud: 62)Baca juga: Islam Bukan WarisanMukjizat Nabi SalehMeskipun Nabi Saleh ‘alaihis salam didustakan dan diingkari oleh kaumnya, Nabi Saleh tetap berdakwah mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah semata. Hingga akhirnya kaumnya merasa bosan dengan ajakan Nabi Saleh dan meminta untuk didatangkan bukti atas kebenaran kerasulannya. Mereka meminta didatangkan unta dari sebuah batu dengan ciri-ciri putih, tinggi, sedang hamil kembar 10 bulan. Dan jika keluar, mereka berjanji akan beriman. Namun, perlu diketahui bahwa itu hanyalah argumen bagi mereka agar tidak beriman dengan meminta kepada Nabi Saleh melakukan sesuatu yang mustahil.Nabi Saleh kemudian salat dan berdoa kepada Allah. Kemudian meminta unta seperti yang diinginkan oleh kaumnya. Lalu, Allah kabulkan doa Nabi Saleh dengan mengeluarkan unta dari batu persis seperti yang disyaratkan. Ternyata, setelah nampak mukjizat tersebut bagi kaum Tsamud, hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman dan sebagian besar yang lain tetap kafir (Lihat QS. Al-A’raf: 79 dan Tafsir Ibnu Katsir 3: 440). Demikianlah, orang yang sejak awal tidak menghendaki keimanan, mukjizat sehebat apapun tidak akan bisa membuat mereka beriman. Bahkan, Nabi Saleh dianggap tukang sihir sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَالُوٓا۟ إِنَّمَآ أَنتَ مِنَ ٱلْمُسَحَّرِينَMereka berkata, “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir.” (QS. Asy-Syuara: 153)Unta Nabi Saleh dibunuhSingkat cerita, karena kaum Tsamud mulai jengkel terhadap pantangan dan peraturan terhadap unta Nabi Saleh (Lihat QS. Asy-Syu’ara: 155), Maka, mereka dan 9 pembesar kaum Tsamud berencana membunuh unta Nabi Saleh (Lihat QS. An-Naml: 48). Lalu, ada seorang wanita tua membuat sayembara. Bahwa siapa saja yang berani membunuh unta Nabi Saleh, dia boleh memilih salah satu putrinya untuk dijadikan istri. Disebutkan dalam buku tafsir bahwa orang yang bangkit membunuh unta tersebut adalah Qaddar bin Salif (Lihat HR. Bukhari no. 4942,  Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3: 444).Lantas, laki-laki tersebut berdiri membunuh unta tersebut. Allah Ta’ala berfirman,إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا“Ketika orang yang paling celaka bangkit di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا“Lalu, mereka mendustakan (Nabi Saleh) dan menyembelih unta itu. Karena itulah, Tuhan membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah meratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)Ketika mendengar kabar untanya telah dibunuh, Nabi Saleh ‘alaihissalam sangat sedih. Kemudian Nabi Saleh mendatangi mereka dan memberikan peringatan tentang azab yang akan datang tiga hari ke depan.تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ“Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari (karena itu hari-hari terakhir kalian di dunia dan sesungguhnya siksaan akan turun pada kalian setelahnya, penj. tafsir muyasar). Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud: 65)Walaupun mereka menyesal karena telah membunuh unta tersebut (Lihat QS. Asy-Syu’ara: 157), (karena sudah merasa tanggung) mereka berencana juga membunuh Nabi Saleh.Allah Ta’ala berfirman,وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ“Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 50)Pada malam harinya, mereka mendatangi rumah Nabi Saleh untuk membunuhnya. Tetapi, sebelum niat mereka tercapai, Allah mengutus para malaikat untuk menghujani mereka dengan batu hingga kepala mereka pecah. Demikianlah Allah melindungi Rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang ingkar.Baca juga: Hanya Allah Pelindung KitaTurunnya azab tiga hari yang dijanjikanKemudian, kaum Tsamud menunggu selama tiga hari yang dijanjikan dengan ketakutan. Ketika lewat hari pertama, wajah mereka menguning. Pada hari kedua wajah mereka menjadi merah. Dan pada hari ketiga wajah mereka menghitam dan mereka pun bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi. Maka, pada hari keempat tersebut Allah membinasakan mereka semua dengan menimpakan azab dari tanah berupa gempa besar (Lihat QS. Al-A’raf: 78) beriringan dengan suara halilintar yang menggelegar (Lihat QS. Hud: 67 dan Tafsir Ibnu Katsir 3/442).Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ“Maka, tatkala azab Kami datang, Kami selamatkan Saleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia­lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Hud: 66)Setelah kaum Nabi Saleh mati dan binasa, kemudian beliau mendatangi mayat mereka dan berkata,فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ“Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.’” (QS. Al-A’raf: 79)Demikianlah akhir bagi orang-orang yang berbuat syirik lagi sombong. Semoga kisah ini dapat diambil hikmah dan faedahnya, agar kita senantiasa menjadi hamba yang bertauhid dan bersyukur atas segala yang diberikan kepada kita, bukan malah untuk kita sombongkan.Baca juga: Makna Tauhid***Penulis: Arif Muhammad N.Artikel: Muslim.or.idTags: berhalakaum tsamudpatung berhala
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel yang lalu (Berhala Kedua di Muka Bumi). Sebelumnya telah dikisahkan tentang Kaum ‘Ad (keturunan Sam bin Nuh) yang pertama kali menyembah berhala setelah banjir di zaman Nabi Nuh ’alaihis salam yang saat itu hanya menyisakan sedikit manusia yang selamat.Kemudian, karena kesyirikan dan keangkuhan kaum ‘Ad, maka Allah Yang Mahaperkasa menimpakan azab yang mengerikan kepada mereka. Di akhir kisah, tidak ada yang tersisa dari azab dahsyat ini selain Nabi Hud ’alaihis salam dan orang-orang beriman yang berlindung di sebuah lembah. Setelah kaum ‘Ad binasa, Nabi Hud, dan orang mukmin hijrah ke Hadramaut memulai kehidupan baru.Daftar Isi Munculnya kembali penyembahan kepada berhalaMukjizat Nabi SalehUnta Nabi Saleh dibunuhTurunnya azab tiga hari yang dijanjikanMunculnya kembali penyembahan kepada berhalaSebagian keturunan kaum ‘Ad yang beriman di Hadramaut kemudian ada yang berpindah menuju bagian utara Jazirah Arab. Menurut keterangan dari `Abdullah bin ʿUmar radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa daerah tempat tinggal mereka disebut Al-Hijr (letaknya di kota Al-‘Ula, sekitar +-300 km sebelah utara kota Madinah). Anak keturunan kaum ‘Ad di Al-Hijr inilah yang disebut sebagai kaum Tsamud atau disebut juga sebagai sebagai kaum ‘Ad yang kedua (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 439). Sedang kaum ‘Ad sebelumnya disebutkan dalam Qur’an sebagai kaum ‘Ad pertama (Lihat QS. An-Najm: 50).Kaum Tsamud merupakan kaum penyembah berhala selanjutnya. Allah Ta’ala kemudian mengutus Nabi Saleh ’alaihis salam untuk menyeru kaum Tsamud agar menyembah Allah semata, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Saleh berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).’” (QS. Hud: 61)Nabi Saleh ’alaihis salam juga mengingatkan kaumnya agar selalu bersyukur atas berbagai kenikmatan yang telah diberikan. Beliau ’alaihis salam berkata,وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ“Dan ingatlah ketika Tuhan menjadikan kamu khalifah-khalifah (yang berkuasa) setelah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-A’raf: 74)Dari ayat di atas disebutkan bahwa tempat tinggal kaum Tsamud ada di lembah dan gunung-gunung. Di lembah tersebut, mereka membangun rumah yang kokoh dengan memahat gunung-gunung. Bahkan, peninggalannya masih ada hingga saat ini dan menjadi tempat wisata warisan dunia UNESCO.Setelah Nabi Saleh mendakwahkan dan mengingatkan kaumnya agar tidak menyembah berhala, (akan tetapi sama halnya seperti kaum ‘Ad) mereka mendustakan Nabi Saleh sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ. وَآتَيْنَاهُمْ آيَاتِنَا فَكَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ. وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ“Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al-Hijr telah mendustakan rasul-rasul, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling daripadanya, dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman (kokoh, penj.).” (QS. Al-Hijr: 80-82)Dalam ayat yang lain kaum Tsamud berkata,قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ“Wahai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan (menjadi pemimpin). (Tetapi) mengapa engkau melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sungguh, kami benar-benar dalam keraguan dan kegelisahan terhadap apa (agama) yang engkau serukan kepada kami.’” (QS. Hud: 62)Baca juga: Islam Bukan WarisanMukjizat Nabi SalehMeskipun Nabi Saleh ‘alaihis salam didustakan dan diingkari oleh kaumnya, Nabi Saleh tetap berdakwah mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah semata. Hingga akhirnya kaumnya merasa bosan dengan ajakan Nabi Saleh dan meminta untuk didatangkan bukti atas kebenaran kerasulannya. Mereka meminta didatangkan unta dari sebuah batu dengan ciri-ciri putih, tinggi, sedang hamil kembar 10 bulan. Dan jika keluar, mereka berjanji akan beriman. Namun, perlu diketahui bahwa itu hanyalah argumen bagi mereka agar tidak beriman dengan meminta kepada Nabi Saleh melakukan sesuatu yang mustahil.Nabi Saleh kemudian salat dan berdoa kepada Allah. Kemudian meminta unta seperti yang diinginkan oleh kaumnya. Lalu, Allah kabulkan doa Nabi Saleh dengan mengeluarkan unta dari batu persis seperti yang disyaratkan. Ternyata, setelah nampak mukjizat tersebut bagi kaum Tsamud, hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman dan sebagian besar yang lain tetap kafir (Lihat QS. Al-A’raf: 79 dan Tafsir Ibnu Katsir 3: 440). Demikianlah, orang yang sejak awal tidak menghendaki keimanan, mukjizat sehebat apapun tidak akan bisa membuat mereka beriman. Bahkan, Nabi Saleh dianggap tukang sihir sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَالُوٓا۟ إِنَّمَآ أَنتَ مِنَ ٱلْمُسَحَّرِينَMereka berkata, “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir.” (QS. Asy-Syuara: 153)Unta Nabi Saleh dibunuhSingkat cerita, karena kaum Tsamud mulai jengkel terhadap pantangan dan peraturan terhadap unta Nabi Saleh (Lihat QS. Asy-Syu’ara: 155), Maka, mereka dan 9 pembesar kaum Tsamud berencana membunuh unta Nabi Saleh (Lihat QS. An-Naml: 48). Lalu, ada seorang wanita tua membuat sayembara. Bahwa siapa saja yang berani membunuh unta Nabi Saleh, dia boleh memilih salah satu putrinya untuk dijadikan istri. Disebutkan dalam buku tafsir bahwa orang yang bangkit membunuh unta tersebut adalah Qaddar bin Salif (Lihat HR. Bukhari no. 4942,  Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3: 444).Lantas, laki-laki tersebut berdiri membunuh unta tersebut. Allah Ta’ala berfirman,إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا“Ketika orang yang paling celaka bangkit di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا“Lalu, mereka mendustakan (Nabi Saleh) dan menyembelih unta itu. Karena itulah, Tuhan membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah meratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)Ketika mendengar kabar untanya telah dibunuh, Nabi Saleh ‘alaihissalam sangat sedih. Kemudian Nabi Saleh mendatangi mereka dan memberikan peringatan tentang azab yang akan datang tiga hari ke depan.تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ“Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari (karena itu hari-hari terakhir kalian di dunia dan sesungguhnya siksaan akan turun pada kalian setelahnya, penj. tafsir muyasar). Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud: 65)Walaupun mereka menyesal karena telah membunuh unta tersebut (Lihat QS. Asy-Syu’ara: 157), (karena sudah merasa tanggung) mereka berencana juga membunuh Nabi Saleh.Allah Ta’ala berfirman,وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ“Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 50)Pada malam harinya, mereka mendatangi rumah Nabi Saleh untuk membunuhnya. Tetapi, sebelum niat mereka tercapai, Allah mengutus para malaikat untuk menghujani mereka dengan batu hingga kepala mereka pecah. Demikianlah Allah melindungi Rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang ingkar.Baca juga: Hanya Allah Pelindung KitaTurunnya azab tiga hari yang dijanjikanKemudian, kaum Tsamud menunggu selama tiga hari yang dijanjikan dengan ketakutan. Ketika lewat hari pertama, wajah mereka menguning. Pada hari kedua wajah mereka menjadi merah. Dan pada hari ketiga wajah mereka menghitam dan mereka pun bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi. Maka, pada hari keempat tersebut Allah membinasakan mereka semua dengan menimpakan azab dari tanah berupa gempa besar (Lihat QS. Al-A’raf: 78) beriringan dengan suara halilintar yang menggelegar (Lihat QS. Hud: 67 dan Tafsir Ibnu Katsir 3/442).Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ“Maka, tatkala azab Kami datang, Kami selamatkan Saleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia­lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Hud: 66)Setelah kaum Nabi Saleh mati dan binasa, kemudian beliau mendatangi mayat mereka dan berkata,فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ“Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.’” (QS. Al-A’raf: 79)Demikianlah akhir bagi orang-orang yang berbuat syirik lagi sombong. Semoga kisah ini dapat diambil hikmah dan faedahnya, agar kita senantiasa menjadi hamba yang bertauhid dan bersyukur atas segala yang diberikan kepada kita, bukan malah untuk kita sombongkan.Baca juga: Makna Tauhid***Penulis: Arif Muhammad N.Artikel: Muslim.or.idTags: berhalakaum tsamudpatung berhala


Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel yang lalu (Berhala Kedua di Muka Bumi). Sebelumnya telah dikisahkan tentang Kaum ‘Ad (keturunan Sam bin Nuh) yang pertama kali menyembah berhala setelah banjir di zaman Nabi Nuh ’alaihis salam yang saat itu hanya menyisakan sedikit manusia yang selamat.Kemudian, karena kesyirikan dan keangkuhan kaum ‘Ad, maka Allah Yang Mahaperkasa menimpakan azab yang mengerikan kepada mereka. Di akhir kisah, tidak ada yang tersisa dari azab dahsyat ini selain Nabi Hud ’alaihis salam dan orang-orang beriman yang berlindung di sebuah lembah. Setelah kaum ‘Ad binasa, Nabi Hud, dan orang mukmin hijrah ke Hadramaut memulai kehidupan baru.Daftar Isi Munculnya kembali penyembahan kepada berhalaMukjizat Nabi SalehUnta Nabi Saleh dibunuhTurunnya azab tiga hari yang dijanjikanMunculnya kembali penyembahan kepada berhalaSebagian keturunan kaum ‘Ad yang beriman di Hadramaut kemudian ada yang berpindah menuju bagian utara Jazirah Arab. Menurut keterangan dari `Abdullah bin ʿUmar radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa daerah tempat tinggal mereka disebut Al-Hijr (letaknya di kota Al-‘Ula, sekitar +-300 km sebelah utara kota Madinah). Anak keturunan kaum ‘Ad di Al-Hijr inilah yang disebut sebagai kaum Tsamud atau disebut juga sebagai sebagai kaum ‘Ad yang kedua (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 439). Sedang kaum ‘Ad sebelumnya disebutkan dalam Qur’an sebagai kaum ‘Ad pertama (Lihat QS. An-Najm: 50).Kaum Tsamud merupakan kaum penyembah berhala selanjutnya. Allah Ta’ala kemudian mengutus Nabi Saleh ’alaihis salam untuk menyeru kaum Tsamud agar menyembah Allah semata, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Saleh berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).’” (QS. Hud: 61)Nabi Saleh ’alaihis salam juga mengingatkan kaumnya agar selalu bersyukur atas berbagai kenikmatan yang telah diberikan. Beliau ’alaihis salam berkata,وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ“Dan ingatlah ketika Tuhan menjadikan kamu khalifah-khalifah (yang berkuasa) setelah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-A’raf: 74)Dari ayat di atas disebutkan bahwa tempat tinggal kaum Tsamud ada di lembah dan gunung-gunung. Di lembah tersebut, mereka membangun rumah yang kokoh dengan memahat gunung-gunung. Bahkan, peninggalannya masih ada hingga saat ini dan menjadi tempat wisata warisan dunia UNESCO.Setelah Nabi Saleh mendakwahkan dan mengingatkan kaumnya agar tidak menyembah berhala, (akan tetapi sama halnya seperti kaum ‘Ad) mereka mendustakan Nabi Saleh sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ. وَآتَيْنَاهُمْ آيَاتِنَا فَكَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ. وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ“Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al-Hijr telah mendustakan rasul-rasul, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling daripadanya, dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman (kokoh, penj.).” (QS. Al-Hijr: 80-82)Dalam ayat yang lain kaum Tsamud berkata,قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ“Wahai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan (menjadi pemimpin). (Tetapi) mengapa engkau melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sungguh, kami benar-benar dalam keraguan dan kegelisahan terhadap apa (agama) yang engkau serukan kepada kami.’” (QS. Hud: 62)Baca juga: Islam Bukan WarisanMukjizat Nabi SalehMeskipun Nabi Saleh ‘alaihis salam didustakan dan diingkari oleh kaumnya, Nabi Saleh tetap berdakwah mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah semata. Hingga akhirnya kaumnya merasa bosan dengan ajakan Nabi Saleh dan meminta untuk didatangkan bukti atas kebenaran kerasulannya. Mereka meminta didatangkan unta dari sebuah batu dengan ciri-ciri putih, tinggi, sedang hamil kembar 10 bulan. Dan jika keluar, mereka berjanji akan beriman. Namun, perlu diketahui bahwa itu hanyalah argumen bagi mereka agar tidak beriman dengan meminta kepada Nabi Saleh melakukan sesuatu yang mustahil.Nabi Saleh kemudian salat dan berdoa kepada Allah. Kemudian meminta unta seperti yang diinginkan oleh kaumnya. Lalu, Allah kabulkan doa Nabi Saleh dengan mengeluarkan unta dari batu persis seperti yang disyaratkan. Ternyata, setelah nampak mukjizat tersebut bagi kaum Tsamud, hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman dan sebagian besar yang lain tetap kafir (Lihat QS. Al-A’raf: 79 dan Tafsir Ibnu Katsir 3: 440). Demikianlah, orang yang sejak awal tidak menghendaki keimanan, mukjizat sehebat apapun tidak akan bisa membuat mereka beriman. Bahkan, Nabi Saleh dianggap tukang sihir sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَالُوٓا۟ إِنَّمَآ أَنتَ مِنَ ٱلْمُسَحَّرِينَMereka berkata, “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir.” (QS. Asy-Syuara: 153)Unta Nabi Saleh dibunuhSingkat cerita, karena kaum Tsamud mulai jengkel terhadap pantangan dan peraturan terhadap unta Nabi Saleh (Lihat QS. Asy-Syu’ara: 155), Maka, mereka dan 9 pembesar kaum Tsamud berencana membunuh unta Nabi Saleh (Lihat QS. An-Naml: 48). Lalu, ada seorang wanita tua membuat sayembara. Bahwa siapa saja yang berani membunuh unta Nabi Saleh, dia boleh memilih salah satu putrinya untuk dijadikan istri. Disebutkan dalam buku tafsir bahwa orang yang bangkit membunuh unta tersebut adalah Qaddar bin Salif (Lihat HR. Bukhari no. 4942,  Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3: 444).Lantas, laki-laki tersebut berdiri membunuh unta tersebut. Allah Ta’ala berfirman,إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا“Ketika orang yang paling celaka bangkit di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا“Lalu, mereka mendustakan (Nabi Saleh) dan menyembelih unta itu. Karena itulah, Tuhan membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah meratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)Ketika mendengar kabar untanya telah dibunuh, Nabi Saleh ‘alaihissalam sangat sedih. Kemudian Nabi Saleh mendatangi mereka dan memberikan peringatan tentang azab yang akan datang tiga hari ke depan.تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ“Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari (karena itu hari-hari terakhir kalian di dunia dan sesungguhnya siksaan akan turun pada kalian setelahnya, penj. tafsir muyasar). Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud: 65)Walaupun mereka menyesal karena telah membunuh unta tersebut (Lihat QS. Asy-Syu’ara: 157), (karena sudah merasa tanggung) mereka berencana juga membunuh Nabi Saleh.Allah Ta’ala berfirman,وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ“Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 50)Pada malam harinya, mereka mendatangi rumah Nabi Saleh untuk membunuhnya. Tetapi, sebelum niat mereka tercapai, Allah mengutus para malaikat untuk menghujani mereka dengan batu hingga kepala mereka pecah. Demikianlah Allah melindungi Rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang ingkar.Baca juga: Hanya Allah Pelindung KitaTurunnya azab tiga hari yang dijanjikanKemudian, kaum Tsamud menunggu selama tiga hari yang dijanjikan dengan ketakutan. Ketika lewat hari pertama, wajah mereka menguning. Pada hari kedua wajah mereka menjadi merah. Dan pada hari ketiga wajah mereka menghitam dan mereka pun bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi. Maka, pada hari keempat tersebut Allah membinasakan mereka semua dengan menimpakan azab dari tanah berupa gempa besar (Lihat QS. Al-A’raf: 78) beriringan dengan suara halilintar yang menggelegar (Lihat QS. Hud: 67 dan Tafsir Ibnu Katsir 3/442).Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ“Maka, tatkala azab Kami datang, Kami selamatkan Saleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia­lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Hud: 66)Setelah kaum Nabi Saleh mati dan binasa, kemudian beliau mendatangi mayat mereka dan berkata,فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ“Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.’” (QS. Al-A’raf: 79)Demikianlah akhir bagi orang-orang yang berbuat syirik lagi sombong. Semoga kisah ini dapat diambil hikmah dan faedahnya, agar kita senantiasa menjadi hamba yang bertauhid dan bersyukur atas segala yang diberikan kepada kita, bukan malah untuk kita sombongkan.Baca juga: Makna Tauhid***Penulis: Arif Muhammad N.Artikel: Muslim.or.idTags: berhalakaum tsamudpatung berhala

Lebih Baik Qurban 1 Kambing ataukah Patungan 1/7 Sapi?

Manakah yang lebih dipilih qurban 1 kambing ataukah patungan 1/7 sapi? Manakah yang lebih utama sehingga pahalanya lebih besar? Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ, أَقْرَنَيْنِ, وَيُسَمِّي, وَيُكَبِّرُ, وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا. وَفِي لَفْظٍ: ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ  . وَفِي لَفْظِ: – سَمِينَيْنِ –  وَلِأَبِي عَوَانَةَ فِي “صَحِيحِهِ” : – ثَمِينَيْنِ – . بِالْمُثَلَّثَةِ بَدَلَ اَلسِّين “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berqurban dengan dua kibas (domba) putih yang bertanduk, lalu beliau mengucapkan nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kedua kakinya di leher kedua kibas tersebut (saat menyembelih). Dalam lafazh lain disebutkan bahwa beliau menyembelihnya dengan tangannya (Muttafaqun ‘alaih) . Dalam lafazh lain disebutkan, “Saminain, artinya dua kibas gemuk.” Dalam lafazh Abu ‘Awanah dalam kitab Shahih–nya dengan lafazh, “Tsaminain, artinya  kibas yang istimewa (berharga).” (HR. Bukhari, no. 5565 dan Muslim, no. 1966) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ, يَطَأُ فِي سَوَادٍ, وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ, وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ; لِيُضَحِّيَ بِهِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan agar diambilkan kibas (domba) bertanduk, kuku dan perutnya hitam, dan sekeliling matanya hitam. Lalu kibas tersebut dibawa ke hadapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dijadikan qurban.” (HR. Muslim, no. 1967) Dari dua hadits di atas, ciri-ciri hewan yang terbaik untuk qurban adalah: (1) gemuk, (2) warna putih atau warna putih lebih mayoritas, (3) berharga, (4) bertanduk, (5) jantan, (6) berkuku dan berperut hitam, dan (7) sekeliling mata hitam. Namun, berqurban dengan hewan yang tidak bertanduk tetap sah. Begitu pula, berqurban dengan hewan betina juga sah.   Afdal sapi ataukah kambing untuk qurban? Dilihat dari sisi penumpahan darah Satu kambing lebih afdal dari patungan unta atau sapi karena satu kambing berarti bersendirian dalam penyembelihan atau penumpahan darah. Dilihat dari sisi banyaknya daging Umumnya daging unta lebih banyak daripada daging sapi, daging sapi lebih banyak daripada daging kambing. Dilihat dari sisi enaknya daging Daging domba lebih enak dari kambing jawa (ma’iz). Dilihat dari sisi banyaknya darah yang keluar Tujuh kambing lebih utama dari satu unta atau satu sapi. Dilihat dari sisi warna Urutan warna yang afdal adalah putih, lalu kuning, lalu abu-abu, lalu merah, lalu balqa’ (belang-belang, hitam-putih), lalu hitam. Lihat Hasyiyah Al-Baajuuri, 4:367.   Jawaban lengkapnya ada di video instagram berikut ini.     Lihat postingan ini di Instagram   Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal (@mabduhtuasikal) – Bahasan ini diambil dari buku FIKIH QURBAN, AQIQAH, DAN SUNNAH SAAT BAYI LAHIR, bisa dipesan link Ruwaifi Store atau ke 085200171222.   – Jumat Kliwon, 28 Syawal 1444 H Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdaging qurban hukum qurban kesalahan qurban keutamaan qurban patungan qurban tebar qurban

Lebih Baik Qurban 1 Kambing ataukah Patungan 1/7 Sapi?

Manakah yang lebih dipilih qurban 1 kambing ataukah patungan 1/7 sapi? Manakah yang lebih utama sehingga pahalanya lebih besar? Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ, أَقْرَنَيْنِ, وَيُسَمِّي, وَيُكَبِّرُ, وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا. وَفِي لَفْظٍ: ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ  . وَفِي لَفْظِ: – سَمِينَيْنِ –  وَلِأَبِي عَوَانَةَ فِي “صَحِيحِهِ” : – ثَمِينَيْنِ – . بِالْمُثَلَّثَةِ بَدَلَ اَلسِّين “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berqurban dengan dua kibas (domba) putih yang bertanduk, lalu beliau mengucapkan nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kedua kakinya di leher kedua kibas tersebut (saat menyembelih). Dalam lafazh lain disebutkan bahwa beliau menyembelihnya dengan tangannya (Muttafaqun ‘alaih) . Dalam lafazh lain disebutkan, “Saminain, artinya dua kibas gemuk.” Dalam lafazh Abu ‘Awanah dalam kitab Shahih–nya dengan lafazh, “Tsaminain, artinya  kibas yang istimewa (berharga).” (HR. Bukhari, no. 5565 dan Muslim, no. 1966) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ, يَطَأُ فِي سَوَادٍ, وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ, وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ; لِيُضَحِّيَ بِهِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan agar diambilkan kibas (domba) bertanduk, kuku dan perutnya hitam, dan sekeliling matanya hitam. Lalu kibas tersebut dibawa ke hadapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dijadikan qurban.” (HR. Muslim, no. 1967) Dari dua hadits di atas, ciri-ciri hewan yang terbaik untuk qurban adalah: (1) gemuk, (2) warna putih atau warna putih lebih mayoritas, (3) berharga, (4) bertanduk, (5) jantan, (6) berkuku dan berperut hitam, dan (7) sekeliling mata hitam. Namun, berqurban dengan hewan yang tidak bertanduk tetap sah. Begitu pula, berqurban dengan hewan betina juga sah.   Afdal sapi ataukah kambing untuk qurban? Dilihat dari sisi penumpahan darah Satu kambing lebih afdal dari patungan unta atau sapi karena satu kambing berarti bersendirian dalam penyembelihan atau penumpahan darah. Dilihat dari sisi banyaknya daging Umumnya daging unta lebih banyak daripada daging sapi, daging sapi lebih banyak daripada daging kambing. Dilihat dari sisi enaknya daging Daging domba lebih enak dari kambing jawa (ma’iz). Dilihat dari sisi banyaknya darah yang keluar Tujuh kambing lebih utama dari satu unta atau satu sapi. Dilihat dari sisi warna Urutan warna yang afdal adalah putih, lalu kuning, lalu abu-abu, lalu merah, lalu balqa’ (belang-belang, hitam-putih), lalu hitam. Lihat Hasyiyah Al-Baajuuri, 4:367.   Jawaban lengkapnya ada di video instagram berikut ini.     Lihat postingan ini di Instagram   Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal (@mabduhtuasikal) – Bahasan ini diambil dari buku FIKIH QURBAN, AQIQAH, DAN SUNNAH SAAT BAYI LAHIR, bisa dipesan link Ruwaifi Store atau ke 085200171222.   – Jumat Kliwon, 28 Syawal 1444 H Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdaging qurban hukum qurban kesalahan qurban keutamaan qurban patungan qurban tebar qurban
Manakah yang lebih dipilih qurban 1 kambing ataukah patungan 1/7 sapi? Manakah yang lebih utama sehingga pahalanya lebih besar? Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ, أَقْرَنَيْنِ, وَيُسَمِّي, وَيُكَبِّرُ, وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا. وَفِي لَفْظٍ: ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ  . وَفِي لَفْظِ: – سَمِينَيْنِ –  وَلِأَبِي عَوَانَةَ فِي “صَحِيحِهِ” : – ثَمِينَيْنِ – . بِالْمُثَلَّثَةِ بَدَلَ اَلسِّين “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berqurban dengan dua kibas (domba) putih yang bertanduk, lalu beliau mengucapkan nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kedua kakinya di leher kedua kibas tersebut (saat menyembelih). Dalam lafazh lain disebutkan bahwa beliau menyembelihnya dengan tangannya (Muttafaqun ‘alaih) . Dalam lafazh lain disebutkan, “Saminain, artinya dua kibas gemuk.” Dalam lafazh Abu ‘Awanah dalam kitab Shahih–nya dengan lafazh, “Tsaminain, artinya  kibas yang istimewa (berharga).” (HR. Bukhari, no. 5565 dan Muslim, no. 1966) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ, يَطَأُ فِي سَوَادٍ, وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ, وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ; لِيُضَحِّيَ بِهِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan agar diambilkan kibas (domba) bertanduk, kuku dan perutnya hitam, dan sekeliling matanya hitam. Lalu kibas tersebut dibawa ke hadapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dijadikan qurban.” (HR. Muslim, no. 1967) Dari dua hadits di atas, ciri-ciri hewan yang terbaik untuk qurban adalah: (1) gemuk, (2) warna putih atau warna putih lebih mayoritas, (3) berharga, (4) bertanduk, (5) jantan, (6) berkuku dan berperut hitam, dan (7) sekeliling mata hitam. Namun, berqurban dengan hewan yang tidak bertanduk tetap sah. Begitu pula, berqurban dengan hewan betina juga sah.   Afdal sapi ataukah kambing untuk qurban? Dilihat dari sisi penumpahan darah Satu kambing lebih afdal dari patungan unta atau sapi karena satu kambing berarti bersendirian dalam penyembelihan atau penumpahan darah. Dilihat dari sisi banyaknya daging Umumnya daging unta lebih banyak daripada daging sapi, daging sapi lebih banyak daripada daging kambing. Dilihat dari sisi enaknya daging Daging domba lebih enak dari kambing jawa (ma’iz). Dilihat dari sisi banyaknya darah yang keluar Tujuh kambing lebih utama dari satu unta atau satu sapi. Dilihat dari sisi warna Urutan warna yang afdal adalah putih, lalu kuning, lalu abu-abu, lalu merah, lalu balqa’ (belang-belang, hitam-putih), lalu hitam. Lihat Hasyiyah Al-Baajuuri, 4:367.   Jawaban lengkapnya ada di video instagram berikut ini.     Lihat postingan ini di Instagram   Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal (@mabduhtuasikal) – Bahasan ini diambil dari buku FIKIH QURBAN, AQIQAH, DAN SUNNAH SAAT BAYI LAHIR, bisa dipesan link Ruwaifi Store atau ke 085200171222.   – Jumat Kliwon, 28 Syawal 1444 H Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdaging qurban hukum qurban kesalahan qurban keutamaan qurban patungan qurban tebar qurban


Manakah yang lebih dipilih qurban 1 kambing ataukah patungan 1/7 sapi? Manakah yang lebih utama sehingga pahalanya lebih besar? Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ, أَقْرَنَيْنِ, وَيُسَمِّي, وَيُكَبِّرُ, وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا. وَفِي لَفْظٍ: ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ  . وَفِي لَفْظِ: – سَمِينَيْنِ –  وَلِأَبِي عَوَانَةَ فِي “صَحِيحِهِ” : – ثَمِينَيْنِ – . بِالْمُثَلَّثَةِ بَدَلَ اَلسِّين “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berqurban dengan dua kibas (domba) putih yang bertanduk, lalu beliau mengucapkan nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kedua kakinya di leher kedua kibas tersebut (saat menyembelih). Dalam lafazh lain disebutkan bahwa beliau menyembelihnya dengan tangannya (Muttafaqun ‘alaih) . Dalam lafazh lain disebutkan, “Saminain, artinya dua kibas gemuk.” Dalam lafazh Abu ‘Awanah dalam kitab Shahih–nya dengan lafazh, “Tsaminain, artinya  kibas yang istimewa (berharga).” (HR. Bukhari, no. 5565 dan Muslim, no. 1966) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ, يَطَأُ فِي سَوَادٍ, وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ, وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ; لِيُضَحِّيَ بِهِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan agar diambilkan kibas (domba) bertanduk, kuku dan perutnya hitam, dan sekeliling matanya hitam. Lalu kibas tersebut dibawa ke hadapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dijadikan qurban.” (HR. Muslim, no. 1967) Dari dua hadits di atas, ciri-ciri hewan yang terbaik untuk qurban adalah: (1) gemuk, (2) warna putih atau warna putih lebih mayoritas, (3) berharga, (4) bertanduk, (5) jantan, (6) berkuku dan berperut hitam, dan (7) sekeliling mata hitam. Namun, berqurban dengan hewan yang tidak bertanduk tetap sah. Begitu pula, berqurban dengan hewan betina juga sah.   Afdal sapi ataukah kambing untuk qurban? Dilihat dari sisi penumpahan darah Satu kambing lebih afdal dari patungan unta atau sapi karena satu kambing berarti bersendirian dalam penyembelihan atau penumpahan darah. Dilihat dari sisi banyaknya daging Umumnya daging unta lebih banyak daripada daging sapi, daging sapi lebih banyak daripada daging kambing. Dilihat dari sisi enaknya daging Daging domba lebih enak dari kambing jawa (ma’iz). Dilihat dari sisi banyaknya darah yang keluar Tujuh kambing lebih utama dari satu unta atau satu sapi. Dilihat dari sisi warna Urutan warna yang afdal adalah putih, lalu kuning, lalu abu-abu, lalu merah, lalu balqa’ (belang-belang, hitam-putih), lalu hitam. Lihat Hasyiyah Al-Baajuuri, 4:367.   Jawaban lengkapnya ada di video instagram berikut ini.     Lihat postingan ini di Instagram   Sebuah kiriman dibagikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal (@mabduhtuasikal) – Bahasan ini diambil dari buku FIKIH QURBAN, AQIQAH, DAN SUNNAH SAAT BAYI LAHIR, bisa dipesan link Ruwaifi Store atau ke 085200171222.   – Jumat Kliwon, 28 Syawal 1444 H Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdaging qurban hukum qurban kesalahan qurban keutamaan qurban patungan qurban tebar qurban

Dua Hal yang Menjauhkan Kita dari Al-Qur’an

Saudaraku, pernahkah engkau meluangkan waktu khusus dengan Al-Qur’anmu? Bersuci sebelum menyentuhnya? Bersiwak sebelum melantunkannya? Dan berniat untuk mendapatkan rida Allah sebelum membaca dan mentadabburinya? Kemudian, pernahkah engkau bertekad untuk dirimu sendiri bahwa setiap kata yang engkau lantunkan dari kalimat-kalimat Allah itu terlebih dahulu engkau pahami maknanya dan memperdalam tafsirnya sebelum beranjak ke ayat-ayat berikutnya?Saudaraku, jika engkau belum pernah melakukannya, maka mulai saat ini didiklah diri untuk mengamalkannya. Bulan suci Ramadan telah berlalu. Kita begitu sangat antusias berinteraksi dengan Al-Qur’an di bulan mulia tersebut. Akan tetapi, adakah kita berkomitmen untuk menjaga interaksi itu di bulan-bulan lainnya? Bukankah tanda amalan diterima adalah mudahnya kita melakukan amalan-amalan saleh setelahnya?Daftar Isi Ajaibnya Al-Qur’anHal yang membuat kita jauh dari Al-Qur’anPertama: Belum mengenali Al-Qur’anKedua: KemaksiatanAzam untuk Al-Qur’an dan meninggalkan maksiatAjaibnya Al-Qur’anAl-Qur’an ketika dibawa oleh Malaikat Jibril, maka beliau ‘alaihissalam menjadi sebagai sayyidul malaikah (Pemimpin para malaikat). Ketika Al-Qur’an turun di kota Makkah dan Madinah, maka jadilah kota tersebut sebagai tempat paling suci bagi umat. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jadilah beliau sebagai sayyidul anbiya’ (pemimpin para nabi). Ketika Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadan, maka jadilah bulan tersebut sebagai sayyidul asyhur (bulan paling utama). Dan ketika Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatulqadar, maka jadilah malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana pula jika Al-Quran itu ada di hati kita?خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain).” (HR. Bukhari no. 4739)Syekh Syamsuddin Al-Barmawi menjelaskan tentang maksud hadis di atas dengan berkata,“Bahwa sebaik-baik manusia yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah mereka yang hanya mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, bukan selainnya. Karena, apabila sebaik-baik ‘kalam’ adalah ‘kalam’ Allah Ta’ala, maka begitu pula dengan sebaik-baik manusia setelah para nabi adalah mereka yang menyibukkan diri dengan Al-Qur’an.” (Lihat Kitab Al-Lami’ As-Shabih Bi Syarhi Al-Jami’ As-Shahih, Nomor 13: 129 )Saudaraku, renungkanlah! Ketika kita membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, menghafalnya, dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah yang termaktub dalam kandungannya? Bukankah engkau akan menjadi hamba Allah yang terpuji?Baca juga: Keutamaan Membaca Al Qur’anHal yang membuat kita jauh dari Al-Qur’anPertama: Belum mengenali Al-Qur’anKetertarikan kita terhadap sesuatu tentu saja karena kita mengenal dan mengetahui dengan baik apa yang kita sukai tersebut. Begitu pula dengan Al-Qur’an, bagaimana kita dapat mencintai kitab suci mulia ini jika kita belum mengenal dan mengetahui dengan pemahaman yang baik tentang Al-Qur’an?!Oleh karenanya, hal pertama kali yang wajib kita yakini adalah bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamullah sebagaimana firman-Nya,الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ“Alif lam ra, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Mahatahu.” (QS. Hud: 1)Bagaimana perasaan kita jika membaca kalimat-kalimat yang bersumber langsung dari Allah Ta’ala Rabbul ‘Alamin?! Di dalamnya terdapat petunjuk bagi umat manusia. Bukankah dengan hanya mendengarnya saja, seorang yang beriman hatinya akan bergetar?!Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, iman mereka bertambah karenanya. Dan mereka bertawakal hanya kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)Selain itu, kita perlu menyadari bahwa Allah Ta’ala telah memberikan anugerah kepada kita berupa kemudahan-kemudahan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Oleh karena itu, jemput dan ambillah anugerah itu dan jadilah ahli Al-Qur’an!Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran.” (QS. Al-Qamar:17)Maka, mengenal Al-Qur’an melalui jalan pemahaman para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum adalah bagian dari cara agar kita tidak jauh dari Al-Qur’an.Kedua: KemaksiatanSaudaraku, sadarilah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita jalan terbaik, mudah, dan terjangkau untuk menuju keridaan-Nya. Yaitu, dengan meninggalkan segala hal yang dilarang, dan mengerjakan segala yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأْتُوا منه ما استطعتم، فإنما أَهلَكَ الذين من قبلكم كثرةُ مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم“Apa yang telah aku larang untuk kalian, maka jauhilah! Dan apa yang telah aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa disebabkan oleh banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat kitab Takhrij Musykil Al-Atsar, hal. 548.)Perhatikanlah kalimat pertama pada hadis di atas! Larangan adalah yang terlebih dahulu diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Artinya, tidak ada tawar-menawar dalam kemaksiatan sekecil dan sebesar apapun jenisnya. Sementara untuk perintah, kita diminta untuk melaksanakan sesuai kemampuan kita.Oleh karenanya, mohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar diberikan kekuatan untuk menjaga diri dari segala perbuatan maksiat. Sehingga dengannya kita lebih dimudahkan untuk dapat berinteraksi dengan kalamullah (Al-Qur’an).Baca juga: Jangan Cuek Ketika Melihat MaksiatAzam untuk Al-Qur’an dan meninggalkan maksiatSaudaraku, telah kita ketahui bahwa di antara hal-hal yang dapat menjauhkan kita dari Al-Qur’an adalah karena belum mengenal lebih jauh tentang Al-Qur’an dan kemaksiatan yang selalu menguasai diri. Maka, saat ini juga, mohonlah pertolongan kepada Allah untuk dua hal ini. Kemudian, berikhtiarlah dengan semaksimal mungkin mempelajari lebih dalam faedah dan keutamaan Al-Qur’an. Serta bertekadlah untuk membaca, mentadabburi, dan menghafalnya setiap hari semampu yang kita bisa.Terhadap kemaksiatan yang dapat menghalangi ikhtiar kita, hal yang perlu kita lakukan adalah menyibukkan diri dengan berbagai macam aktivitas ketaatan kepada Allah Ta’ala. Jauhi lingkungan yang berpotensi membawa kita kepada jurang kemaksiatan.Namun, apabila kita saat ini sedang terjatuh dalam bermaksiat kepada Allah, segeralah bertobat dan bertekadlah untuk tidak mengulangi. Yakinlah bahwa Allah Ta’ala Maha Pengampun dan akan memberikan jalan terbaik bagi kita untuk kehidupan dunia dan akhirat.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWallahu a’lam.Baca juga: Menempuh Jalan Tobat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.idTags: Al-Quranmaksiatmenjauhi Al-Qur'an

Dua Hal yang Menjauhkan Kita dari Al-Qur’an

Saudaraku, pernahkah engkau meluangkan waktu khusus dengan Al-Qur’anmu? Bersuci sebelum menyentuhnya? Bersiwak sebelum melantunkannya? Dan berniat untuk mendapatkan rida Allah sebelum membaca dan mentadabburinya? Kemudian, pernahkah engkau bertekad untuk dirimu sendiri bahwa setiap kata yang engkau lantunkan dari kalimat-kalimat Allah itu terlebih dahulu engkau pahami maknanya dan memperdalam tafsirnya sebelum beranjak ke ayat-ayat berikutnya?Saudaraku, jika engkau belum pernah melakukannya, maka mulai saat ini didiklah diri untuk mengamalkannya. Bulan suci Ramadan telah berlalu. Kita begitu sangat antusias berinteraksi dengan Al-Qur’an di bulan mulia tersebut. Akan tetapi, adakah kita berkomitmen untuk menjaga interaksi itu di bulan-bulan lainnya? Bukankah tanda amalan diterima adalah mudahnya kita melakukan amalan-amalan saleh setelahnya?Daftar Isi Ajaibnya Al-Qur’anHal yang membuat kita jauh dari Al-Qur’anPertama: Belum mengenali Al-Qur’anKedua: KemaksiatanAzam untuk Al-Qur’an dan meninggalkan maksiatAjaibnya Al-Qur’anAl-Qur’an ketika dibawa oleh Malaikat Jibril, maka beliau ‘alaihissalam menjadi sebagai sayyidul malaikah (Pemimpin para malaikat). Ketika Al-Qur’an turun di kota Makkah dan Madinah, maka jadilah kota tersebut sebagai tempat paling suci bagi umat. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jadilah beliau sebagai sayyidul anbiya’ (pemimpin para nabi). Ketika Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadan, maka jadilah bulan tersebut sebagai sayyidul asyhur (bulan paling utama). Dan ketika Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatulqadar, maka jadilah malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana pula jika Al-Quran itu ada di hati kita?خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain).” (HR. Bukhari no. 4739)Syekh Syamsuddin Al-Barmawi menjelaskan tentang maksud hadis di atas dengan berkata,“Bahwa sebaik-baik manusia yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah mereka yang hanya mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, bukan selainnya. Karena, apabila sebaik-baik ‘kalam’ adalah ‘kalam’ Allah Ta’ala, maka begitu pula dengan sebaik-baik manusia setelah para nabi adalah mereka yang menyibukkan diri dengan Al-Qur’an.” (Lihat Kitab Al-Lami’ As-Shabih Bi Syarhi Al-Jami’ As-Shahih, Nomor 13: 129 )Saudaraku, renungkanlah! Ketika kita membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, menghafalnya, dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah yang termaktub dalam kandungannya? Bukankah engkau akan menjadi hamba Allah yang terpuji?Baca juga: Keutamaan Membaca Al Qur’anHal yang membuat kita jauh dari Al-Qur’anPertama: Belum mengenali Al-Qur’anKetertarikan kita terhadap sesuatu tentu saja karena kita mengenal dan mengetahui dengan baik apa yang kita sukai tersebut. Begitu pula dengan Al-Qur’an, bagaimana kita dapat mencintai kitab suci mulia ini jika kita belum mengenal dan mengetahui dengan pemahaman yang baik tentang Al-Qur’an?!Oleh karenanya, hal pertama kali yang wajib kita yakini adalah bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamullah sebagaimana firman-Nya,الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ“Alif lam ra, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Mahatahu.” (QS. Hud: 1)Bagaimana perasaan kita jika membaca kalimat-kalimat yang bersumber langsung dari Allah Ta’ala Rabbul ‘Alamin?! Di dalamnya terdapat petunjuk bagi umat manusia. Bukankah dengan hanya mendengarnya saja, seorang yang beriman hatinya akan bergetar?!Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, iman mereka bertambah karenanya. Dan mereka bertawakal hanya kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)Selain itu, kita perlu menyadari bahwa Allah Ta’ala telah memberikan anugerah kepada kita berupa kemudahan-kemudahan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Oleh karena itu, jemput dan ambillah anugerah itu dan jadilah ahli Al-Qur’an!Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran.” (QS. Al-Qamar:17)Maka, mengenal Al-Qur’an melalui jalan pemahaman para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum adalah bagian dari cara agar kita tidak jauh dari Al-Qur’an.Kedua: KemaksiatanSaudaraku, sadarilah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita jalan terbaik, mudah, dan terjangkau untuk menuju keridaan-Nya. Yaitu, dengan meninggalkan segala hal yang dilarang, dan mengerjakan segala yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأْتُوا منه ما استطعتم، فإنما أَهلَكَ الذين من قبلكم كثرةُ مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم“Apa yang telah aku larang untuk kalian, maka jauhilah! Dan apa yang telah aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa disebabkan oleh banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat kitab Takhrij Musykil Al-Atsar, hal. 548.)Perhatikanlah kalimat pertama pada hadis di atas! Larangan adalah yang terlebih dahulu diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Artinya, tidak ada tawar-menawar dalam kemaksiatan sekecil dan sebesar apapun jenisnya. Sementara untuk perintah, kita diminta untuk melaksanakan sesuai kemampuan kita.Oleh karenanya, mohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar diberikan kekuatan untuk menjaga diri dari segala perbuatan maksiat. Sehingga dengannya kita lebih dimudahkan untuk dapat berinteraksi dengan kalamullah (Al-Qur’an).Baca juga: Jangan Cuek Ketika Melihat MaksiatAzam untuk Al-Qur’an dan meninggalkan maksiatSaudaraku, telah kita ketahui bahwa di antara hal-hal yang dapat menjauhkan kita dari Al-Qur’an adalah karena belum mengenal lebih jauh tentang Al-Qur’an dan kemaksiatan yang selalu menguasai diri. Maka, saat ini juga, mohonlah pertolongan kepada Allah untuk dua hal ini. Kemudian, berikhtiarlah dengan semaksimal mungkin mempelajari lebih dalam faedah dan keutamaan Al-Qur’an. Serta bertekadlah untuk membaca, mentadabburi, dan menghafalnya setiap hari semampu yang kita bisa.Terhadap kemaksiatan yang dapat menghalangi ikhtiar kita, hal yang perlu kita lakukan adalah menyibukkan diri dengan berbagai macam aktivitas ketaatan kepada Allah Ta’ala. Jauhi lingkungan yang berpotensi membawa kita kepada jurang kemaksiatan.Namun, apabila kita saat ini sedang terjatuh dalam bermaksiat kepada Allah, segeralah bertobat dan bertekadlah untuk tidak mengulangi. Yakinlah bahwa Allah Ta’ala Maha Pengampun dan akan memberikan jalan terbaik bagi kita untuk kehidupan dunia dan akhirat.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWallahu a’lam.Baca juga: Menempuh Jalan Tobat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.idTags: Al-Quranmaksiatmenjauhi Al-Qur'an
Saudaraku, pernahkah engkau meluangkan waktu khusus dengan Al-Qur’anmu? Bersuci sebelum menyentuhnya? Bersiwak sebelum melantunkannya? Dan berniat untuk mendapatkan rida Allah sebelum membaca dan mentadabburinya? Kemudian, pernahkah engkau bertekad untuk dirimu sendiri bahwa setiap kata yang engkau lantunkan dari kalimat-kalimat Allah itu terlebih dahulu engkau pahami maknanya dan memperdalam tafsirnya sebelum beranjak ke ayat-ayat berikutnya?Saudaraku, jika engkau belum pernah melakukannya, maka mulai saat ini didiklah diri untuk mengamalkannya. Bulan suci Ramadan telah berlalu. Kita begitu sangat antusias berinteraksi dengan Al-Qur’an di bulan mulia tersebut. Akan tetapi, adakah kita berkomitmen untuk menjaga interaksi itu di bulan-bulan lainnya? Bukankah tanda amalan diterima adalah mudahnya kita melakukan amalan-amalan saleh setelahnya?Daftar Isi Ajaibnya Al-Qur’anHal yang membuat kita jauh dari Al-Qur’anPertama: Belum mengenali Al-Qur’anKedua: KemaksiatanAzam untuk Al-Qur’an dan meninggalkan maksiatAjaibnya Al-Qur’anAl-Qur’an ketika dibawa oleh Malaikat Jibril, maka beliau ‘alaihissalam menjadi sebagai sayyidul malaikah (Pemimpin para malaikat). Ketika Al-Qur’an turun di kota Makkah dan Madinah, maka jadilah kota tersebut sebagai tempat paling suci bagi umat. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jadilah beliau sebagai sayyidul anbiya’ (pemimpin para nabi). Ketika Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadan, maka jadilah bulan tersebut sebagai sayyidul asyhur (bulan paling utama). Dan ketika Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatulqadar, maka jadilah malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana pula jika Al-Quran itu ada di hati kita?خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain).” (HR. Bukhari no. 4739)Syekh Syamsuddin Al-Barmawi menjelaskan tentang maksud hadis di atas dengan berkata,“Bahwa sebaik-baik manusia yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah mereka yang hanya mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, bukan selainnya. Karena, apabila sebaik-baik ‘kalam’ adalah ‘kalam’ Allah Ta’ala, maka begitu pula dengan sebaik-baik manusia setelah para nabi adalah mereka yang menyibukkan diri dengan Al-Qur’an.” (Lihat Kitab Al-Lami’ As-Shabih Bi Syarhi Al-Jami’ As-Shahih, Nomor 13: 129 )Saudaraku, renungkanlah! Ketika kita membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, menghafalnya, dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah yang termaktub dalam kandungannya? Bukankah engkau akan menjadi hamba Allah yang terpuji?Baca juga: Keutamaan Membaca Al Qur’anHal yang membuat kita jauh dari Al-Qur’anPertama: Belum mengenali Al-Qur’anKetertarikan kita terhadap sesuatu tentu saja karena kita mengenal dan mengetahui dengan baik apa yang kita sukai tersebut. Begitu pula dengan Al-Qur’an, bagaimana kita dapat mencintai kitab suci mulia ini jika kita belum mengenal dan mengetahui dengan pemahaman yang baik tentang Al-Qur’an?!Oleh karenanya, hal pertama kali yang wajib kita yakini adalah bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamullah sebagaimana firman-Nya,الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ“Alif lam ra, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Mahatahu.” (QS. Hud: 1)Bagaimana perasaan kita jika membaca kalimat-kalimat yang bersumber langsung dari Allah Ta’ala Rabbul ‘Alamin?! Di dalamnya terdapat petunjuk bagi umat manusia. Bukankah dengan hanya mendengarnya saja, seorang yang beriman hatinya akan bergetar?!Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, iman mereka bertambah karenanya. Dan mereka bertawakal hanya kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)Selain itu, kita perlu menyadari bahwa Allah Ta’ala telah memberikan anugerah kepada kita berupa kemudahan-kemudahan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Oleh karena itu, jemput dan ambillah anugerah itu dan jadilah ahli Al-Qur’an!Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran.” (QS. Al-Qamar:17)Maka, mengenal Al-Qur’an melalui jalan pemahaman para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum adalah bagian dari cara agar kita tidak jauh dari Al-Qur’an.Kedua: KemaksiatanSaudaraku, sadarilah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita jalan terbaik, mudah, dan terjangkau untuk menuju keridaan-Nya. Yaitu, dengan meninggalkan segala hal yang dilarang, dan mengerjakan segala yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأْتُوا منه ما استطعتم، فإنما أَهلَكَ الذين من قبلكم كثرةُ مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم“Apa yang telah aku larang untuk kalian, maka jauhilah! Dan apa yang telah aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa disebabkan oleh banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat kitab Takhrij Musykil Al-Atsar, hal. 548.)Perhatikanlah kalimat pertama pada hadis di atas! Larangan adalah yang terlebih dahulu diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Artinya, tidak ada tawar-menawar dalam kemaksiatan sekecil dan sebesar apapun jenisnya. Sementara untuk perintah, kita diminta untuk melaksanakan sesuai kemampuan kita.Oleh karenanya, mohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar diberikan kekuatan untuk menjaga diri dari segala perbuatan maksiat. Sehingga dengannya kita lebih dimudahkan untuk dapat berinteraksi dengan kalamullah (Al-Qur’an).Baca juga: Jangan Cuek Ketika Melihat MaksiatAzam untuk Al-Qur’an dan meninggalkan maksiatSaudaraku, telah kita ketahui bahwa di antara hal-hal yang dapat menjauhkan kita dari Al-Qur’an adalah karena belum mengenal lebih jauh tentang Al-Qur’an dan kemaksiatan yang selalu menguasai diri. Maka, saat ini juga, mohonlah pertolongan kepada Allah untuk dua hal ini. Kemudian, berikhtiarlah dengan semaksimal mungkin mempelajari lebih dalam faedah dan keutamaan Al-Qur’an. Serta bertekadlah untuk membaca, mentadabburi, dan menghafalnya setiap hari semampu yang kita bisa.Terhadap kemaksiatan yang dapat menghalangi ikhtiar kita, hal yang perlu kita lakukan adalah menyibukkan diri dengan berbagai macam aktivitas ketaatan kepada Allah Ta’ala. Jauhi lingkungan yang berpotensi membawa kita kepada jurang kemaksiatan.Namun, apabila kita saat ini sedang terjatuh dalam bermaksiat kepada Allah, segeralah bertobat dan bertekadlah untuk tidak mengulangi. Yakinlah bahwa Allah Ta’ala Maha Pengampun dan akan memberikan jalan terbaik bagi kita untuk kehidupan dunia dan akhirat.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWallahu a’lam.Baca juga: Menempuh Jalan Tobat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.idTags: Al-Quranmaksiatmenjauhi Al-Qur'an


Saudaraku, pernahkah engkau meluangkan waktu khusus dengan Al-Qur’anmu? Bersuci sebelum menyentuhnya? Bersiwak sebelum melantunkannya? Dan berniat untuk mendapatkan rida Allah sebelum membaca dan mentadabburinya? Kemudian, pernahkah engkau bertekad untuk dirimu sendiri bahwa setiap kata yang engkau lantunkan dari kalimat-kalimat Allah itu terlebih dahulu engkau pahami maknanya dan memperdalam tafsirnya sebelum beranjak ke ayat-ayat berikutnya?Saudaraku, jika engkau belum pernah melakukannya, maka mulai saat ini didiklah diri untuk mengamalkannya. Bulan suci Ramadan telah berlalu. Kita begitu sangat antusias berinteraksi dengan Al-Qur’an di bulan mulia tersebut. Akan tetapi, adakah kita berkomitmen untuk menjaga interaksi itu di bulan-bulan lainnya? Bukankah tanda amalan diterima adalah mudahnya kita melakukan amalan-amalan saleh setelahnya?Daftar Isi Ajaibnya Al-Qur’anHal yang membuat kita jauh dari Al-Qur’anPertama: Belum mengenali Al-Qur’anKedua: KemaksiatanAzam untuk Al-Qur’an dan meninggalkan maksiatAjaibnya Al-Qur’anAl-Qur’an ketika dibawa oleh Malaikat Jibril, maka beliau ‘alaihissalam menjadi sebagai sayyidul malaikah (Pemimpin para malaikat). Ketika Al-Qur’an turun di kota Makkah dan Madinah, maka jadilah kota tersebut sebagai tempat paling suci bagi umat. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jadilah beliau sebagai sayyidul anbiya’ (pemimpin para nabi). Ketika Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadan, maka jadilah bulan tersebut sebagai sayyidul asyhur (bulan paling utama). Dan ketika Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatulqadar, maka jadilah malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana pula jika Al-Quran itu ada di hati kita?خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain).” (HR. Bukhari no. 4739)Syekh Syamsuddin Al-Barmawi menjelaskan tentang maksud hadis di atas dengan berkata,“Bahwa sebaik-baik manusia yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah mereka yang hanya mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, bukan selainnya. Karena, apabila sebaik-baik ‘kalam’ adalah ‘kalam’ Allah Ta’ala, maka begitu pula dengan sebaik-baik manusia setelah para nabi adalah mereka yang menyibukkan diri dengan Al-Qur’an.” (Lihat Kitab Al-Lami’ As-Shabih Bi Syarhi Al-Jami’ As-Shahih, Nomor 13: 129 )Saudaraku, renungkanlah! Ketika kita membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, menghafalnya, dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah yang termaktub dalam kandungannya? Bukankah engkau akan menjadi hamba Allah yang terpuji?Baca juga: Keutamaan Membaca Al Qur’anHal yang membuat kita jauh dari Al-Qur’anPertama: Belum mengenali Al-Qur’anKetertarikan kita terhadap sesuatu tentu saja karena kita mengenal dan mengetahui dengan baik apa yang kita sukai tersebut. Begitu pula dengan Al-Qur’an, bagaimana kita dapat mencintai kitab suci mulia ini jika kita belum mengenal dan mengetahui dengan pemahaman yang baik tentang Al-Qur’an?!Oleh karenanya, hal pertama kali yang wajib kita yakini adalah bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamullah sebagaimana firman-Nya,الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ“Alif lam ra, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Mahatahu.” (QS. Hud: 1)Bagaimana perasaan kita jika membaca kalimat-kalimat yang bersumber langsung dari Allah Ta’ala Rabbul ‘Alamin?! Di dalamnya terdapat petunjuk bagi umat manusia. Bukankah dengan hanya mendengarnya saja, seorang yang beriman hatinya akan bergetar?!Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, iman mereka bertambah karenanya. Dan mereka bertawakal hanya kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)Selain itu, kita perlu menyadari bahwa Allah Ta’ala telah memberikan anugerah kepada kita berupa kemudahan-kemudahan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Oleh karena itu, jemput dan ambillah anugerah itu dan jadilah ahli Al-Qur’an!Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran.” (QS. Al-Qamar:17)Maka, mengenal Al-Qur’an melalui jalan pemahaman para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum adalah bagian dari cara agar kita tidak jauh dari Al-Qur’an.Kedua: KemaksiatanSaudaraku, sadarilah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita jalan terbaik, mudah, dan terjangkau untuk menuju keridaan-Nya. Yaitu, dengan meninggalkan segala hal yang dilarang, dan mengerjakan segala yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأْتُوا منه ما استطعتم، فإنما أَهلَكَ الذين من قبلكم كثرةُ مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم“Apa yang telah aku larang untuk kalian, maka jauhilah! Dan apa yang telah aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa disebabkan oleh banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat kitab Takhrij Musykil Al-Atsar, hal. 548.)Perhatikanlah kalimat pertama pada hadis di atas! Larangan adalah yang terlebih dahulu diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Artinya, tidak ada tawar-menawar dalam kemaksiatan sekecil dan sebesar apapun jenisnya. Sementara untuk perintah, kita diminta untuk melaksanakan sesuai kemampuan kita.Oleh karenanya, mohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar diberikan kekuatan untuk menjaga diri dari segala perbuatan maksiat. Sehingga dengannya kita lebih dimudahkan untuk dapat berinteraksi dengan kalamullah (Al-Qur’an).Baca juga: Jangan Cuek Ketika Melihat MaksiatAzam untuk Al-Qur’an dan meninggalkan maksiatSaudaraku, telah kita ketahui bahwa di antara hal-hal yang dapat menjauhkan kita dari Al-Qur’an adalah karena belum mengenal lebih jauh tentang Al-Qur’an dan kemaksiatan yang selalu menguasai diri. Maka, saat ini juga, mohonlah pertolongan kepada Allah untuk dua hal ini. Kemudian, berikhtiarlah dengan semaksimal mungkin mempelajari lebih dalam faedah dan keutamaan Al-Qur’an. Serta bertekadlah untuk membaca, mentadabburi, dan menghafalnya setiap hari semampu yang kita bisa.Terhadap kemaksiatan yang dapat menghalangi ikhtiar kita, hal yang perlu kita lakukan adalah menyibukkan diri dengan berbagai macam aktivitas ketaatan kepada Allah Ta’ala. Jauhi lingkungan yang berpotensi membawa kita kepada jurang kemaksiatan.Namun, apabila kita saat ini sedang terjatuh dalam bermaksiat kepada Allah, segeralah bertobat dan bertekadlah untuk tidak mengulangi. Yakinlah bahwa Allah Ta’ala Maha Pengampun dan akan memberikan jalan terbaik bagi kita untuk kehidupan dunia dan akhirat.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWallahu a’lam.Baca juga: Menempuh Jalan Tobat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.idTags: Al-Quranmaksiatmenjauhi Al-Qur'an

Berhala Kedua di Muka Bumi: Kisah Kaum ‘Ad

Pada artikel sebelumnya (Berhala Pertama di Muka Bumi) telah dibahas mengenai asal usul berhala pertama di dunia yang menjadi sumber dosa yang paling besar, yaitu kesyirikan yang terjadi pada zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam. Beberapa riwayat menerangkan bahwa jarak antara Nabi Adam ‘alaihis salam dan Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah 10 generasi. Padahal umur manusia kala itu bisa mencapai ribuan tahun. Selama itu pula, tidak ada rasul yang diutus di muka bumi. Kemudian, Allah Ta’ala mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam sebagai rasul pertama ke muka bumi kepada kaum Bani Rasib karena semakin merebaknya penyembahan terhadap berhala yang dilakukan.Dikisahkan dalam hadis Bukhari bahwa pada masa Nabi Nuh ‘alaihis salam, ada orang-orang saleh dari kaumnya. Ketika orang-orang saleh tersebut meninggal, maka setan membisikkan kepada kaumnya, “Buatlah patung-patung di bekas majelis-majelis pertemuan mereka (sebagai simbol dan untuk mengenang kesalehan mereka)! Kemudian namailah patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka!” Maka, kaumnya melaksanakannya dan belum menyembah patung-patung tersebut. Ketika mereka meninggal, dan ilmu telah hilang, maka patung-patung tersebut disembah oleh generasi setelahnya.Selama Nabi Nuh ‘alaihis salam hidup (menurut Ibnu Abbas, beliau berumur 1.050 tahun), beliau tinggal di tengah-tengah kaumnya untuk berdakwah dan mengajak kaumnya menyembah Allah selama 950 tahun. Karena hanya sedikit sekali yang beriman, maka Allah memberikan azab berupa thufan (banjir bandang).Allah Ta’ala berfirman,  وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ (١٤)فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ (١٥“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Maka, dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim. Maka, Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang berada di kapal itu, dan menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran bagi semua manusia.” (QS. Al-Ankabut 14-15)Di antara orang-orang mukmin yang selamat dan Nabi Nuh ‘alahis salam tersebut, hanya dari beliaulah yang Allah karuniakan keturunan. Ham, Sam, dan Yafits membawa keturunan manusia selanjutnya. Sam adalah kakek moyang bangsa Arab. Ham adalah moyang orang Habsy/Afrika (termasuk India). Dan Yafits adalah moyang Ya’juj-Ma’juj, Turki, Rusia, dan negara pecahan Uni Soviet sekarang, Perancis, Yunani, Amerika, Salves, Cina, Jepang, dan bangsa Melayu. Oleh karenanya, Nabi Nuh juga disebut Bapaknya atau nenek moyangnya seluruh umat manusia.Allah Ta’ala berfirman,(77) وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ (76) وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ“Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya dari bencana yang besar. Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan”. (QS. Ash-Shaffat: 76-77)Baca juga: Kisah-Kisah Peringatan Tuk Penghina NabiDaftar Isi Kisah adanya berhala kedua di muka bumiNgerinya azab kaum ‘AdKisah adanya berhala kedua di muka bumiKaum ‘Ad (keturunan Sam bin Nuh) adalah kaum yang pertama menyembah berhala setelah banjir di zaman Nabi Nuh ’alaihis salam yang saat itu hanya menyisakan sedikit manusia yang selamat. Kemudian Allah mengutus Nabi Hud ’alaihis salam untuk menyeru kaum ‘Ad agar menyembah Allah Ta’ala semata. Akan tetapi, mereka mendustakannya sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَالُواْ يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata, “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)Dalam ayat yang lainnya Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ (65) قَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِين(66)   “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta.'” (QS. Al-Araf: 65-66)Selain menyembah berhala, kaum ‘Ad juga menyombongkan diri dengan berbagai kelebihan yang mereka miliki. (Lihat QS. Al-A’raf: 69, QS. Al-Fajr: 7, QS. Fushshilat: 15). Sehingga dengan kelebihan fisik, bangunan, harta, dan kekayaan alam yang melimpah menjadikan mereka kejam dan bengis terhadap kaum yang lemah. (Lihat QS. Asy-Syu‘ara’: 130)Akhirnya Allah sebagai Zat Yang Mahaperkasa dan Mahakuasa, menimpakan azab kepada mereka.Ngerinya azab kaum ‘AdAzab yang pertama diberikan kepada kaum ‘Ad adalah tanah mereka dijadikan sangat tandus dan kekeringan yang berkepanjangan. Lalu mereka meminta diturunkan hujan. Mereka menyaksikan sesuatu yang muncul di langit yang dikira air sebagai rahmat, tetapi ternyata itu adalah siraman azab kedua yang datang dalam bentuk badai angin yang sangat dingin dan bersuara keras. Terlihat laksana lidah api (petir yang menyambar-nyambar). (Lihat QS. Fushshilat: 13) Azab ini berlangsung tanpa henti selama tujuh hingga delapan hari sehingga menyebabkan kaum ‘Ad semuanya mati bergelimpangan.Allah Ta’ala juga berfirman,سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَّثَمٰنِيَةَ اَيَّامٍۙ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰىۙ كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍۚ“Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus, maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al-Haqqah: 7)Allah mengumpamakan mereka dengan tunggul-tunggul pohon kurma yang telah tidak berkepala lagi. Hal itu karena badai yang bertiup menuju salah seorang dari mereka. Lalu membawanya terbang dan menjadikan kepalanya tertunduk hingga akhirnya pecah berantakan, sampai-sampai ia menjadi tidak berkepala lagi.Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa saking kuatnya badai yang menimpa mereka, sampai membelah dada-dada mereka. Sehingga keluarlah isi dari perut mereka. Dan ketika mereka dijatuhkan, yang pertama kali sampai ke tanah adalah kepala mereka yang membuat kepala mereka pecah. Maka dari itu, Allah mengumpamakan kondisi jasad mereka seperti batang pohon kurma yang telah kosong. Maka setelah itu,  kaum ‘Ad binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 479)Tak ada yang tersisa dari bencana besar ini, selain Nabi Hud dan orang-orang beriman yang berlindung di sebuah lembah. Setelah kaum ‘Ad binasa, Nabi Hud dan orang mukmin hijrah ke Hadramaut memulai kehidupan baru.Demikian kisah singkat yang dapat kami tulis. Semoga kita dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan dan kesombongan.Baca juga: Kisah Taubatnya Penyembah Berhala***Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.Artikel: Muslim.or.idTags: berhalakaum adpatung berhala

Berhala Kedua di Muka Bumi: Kisah Kaum ‘Ad

Pada artikel sebelumnya (Berhala Pertama di Muka Bumi) telah dibahas mengenai asal usul berhala pertama di dunia yang menjadi sumber dosa yang paling besar, yaitu kesyirikan yang terjadi pada zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam. Beberapa riwayat menerangkan bahwa jarak antara Nabi Adam ‘alaihis salam dan Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah 10 generasi. Padahal umur manusia kala itu bisa mencapai ribuan tahun. Selama itu pula, tidak ada rasul yang diutus di muka bumi. Kemudian, Allah Ta’ala mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam sebagai rasul pertama ke muka bumi kepada kaum Bani Rasib karena semakin merebaknya penyembahan terhadap berhala yang dilakukan.Dikisahkan dalam hadis Bukhari bahwa pada masa Nabi Nuh ‘alaihis salam, ada orang-orang saleh dari kaumnya. Ketika orang-orang saleh tersebut meninggal, maka setan membisikkan kepada kaumnya, “Buatlah patung-patung di bekas majelis-majelis pertemuan mereka (sebagai simbol dan untuk mengenang kesalehan mereka)! Kemudian namailah patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka!” Maka, kaumnya melaksanakannya dan belum menyembah patung-patung tersebut. Ketika mereka meninggal, dan ilmu telah hilang, maka patung-patung tersebut disembah oleh generasi setelahnya.Selama Nabi Nuh ‘alaihis salam hidup (menurut Ibnu Abbas, beliau berumur 1.050 tahun), beliau tinggal di tengah-tengah kaumnya untuk berdakwah dan mengajak kaumnya menyembah Allah selama 950 tahun. Karena hanya sedikit sekali yang beriman, maka Allah memberikan azab berupa thufan (banjir bandang).Allah Ta’ala berfirman,  وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ (١٤)فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ (١٥“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Maka, dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim. Maka, Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang berada di kapal itu, dan menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran bagi semua manusia.” (QS. Al-Ankabut 14-15)Di antara orang-orang mukmin yang selamat dan Nabi Nuh ‘alahis salam tersebut, hanya dari beliaulah yang Allah karuniakan keturunan. Ham, Sam, dan Yafits membawa keturunan manusia selanjutnya. Sam adalah kakek moyang bangsa Arab. Ham adalah moyang orang Habsy/Afrika (termasuk India). Dan Yafits adalah moyang Ya’juj-Ma’juj, Turki, Rusia, dan negara pecahan Uni Soviet sekarang, Perancis, Yunani, Amerika, Salves, Cina, Jepang, dan bangsa Melayu. Oleh karenanya, Nabi Nuh juga disebut Bapaknya atau nenek moyangnya seluruh umat manusia.Allah Ta’ala berfirman,(77) وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ (76) وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ“Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya dari bencana yang besar. Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan”. (QS. Ash-Shaffat: 76-77)Baca juga: Kisah-Kisah Peringatan Tuk Penghina NabiDaftar Isi Kisah adanya berhala kedua di muka bumiNgerinya azab kaum ‘AdKisah adanya berhala kedua di muka bumiKaum ‘Ad (keturunan Sam bin Nuh) adalah kaum yang pertama menyembah berhala setelah banjir di zaman Nabi Nuh ’alaihis salam yang saat itu hanya menyisakan sedikit manusia yang selamat. Kemudian Allah mengutus Nabi Hud ’alaihis salam untuk menyeru kaum ‘Ad agar menyembah Allah Ta’ala semata. Akan tetapi, mereka mendustakannya sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَالُواْ يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata, “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)Dalam ayat yang lainnya Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ (65) قَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِين(66)   “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta.'” (QS. Al-Araf: 65-66)Selain menyembah berhala, kaum ‘Ad juga menyombongkan diri dengan berbagai kelebihan yang mereka miliki. (Lihat QS. Al-A’raf: 69, QS. Al-Fajr: 7, QS. Fushshilat: 15). Sehingga dengan kelebihan fisik, bangunan, harta, dan kekayaan alam yang melimpah menjadikan mereka kejam dan bengis terhadap kaum yang lemah. (Lihat QS. Asy-Syu‘ara’: 130)Akhirnya Allah sebagai Zat Yang Mahaperkasa dan Mahakuasa, menimpakan azab kepada mereka.Ngerinya azab kaum ‘AdAzab yang pertama diberikan kepada kaum ‘Ad adalah tanah mereka dijadikan sangat tandus dan kekeringan yang berkepanjangan. Lalu mereka meminta diturunkan hujan. Mereka menyaksikan sesuatu yang muncul di langit yang dikira air sebagai rahmat, tetapi ternyata itu adalah siraman azab kedua yang datang dalam bentuk badai angin yang sangat dingin dan bersuara keras. Terlihat laksana lidah api (petir yang menyambar-nyambar). (Lihat QS. Fushshilat: 13) Azab ini berlangsung tanpa henti selama tujuh hingga delapan hari sehingga menyebabkan kaum ‘Ad semuanya mati bergelimpangan.Allah Ta’ala juga berfirman,سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَّثَمٰنِيَةَ اَيَّامٍۙ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰىۙ كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍۚ“Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus, maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al-Haqqah: 7)Allah mengumpamakan mereka dengan tunggul-tunggul pohon kurma yang telah tidak berkepala lagi. Hal itu karena badai yang bertiup menuju salah seorang dari mereka. Lalu membawanya terbang dan menjadikan kepalanya tertunduk hingga akhirnya pecah berantakan, sampai-sampai ia menjadi tidak berkepala lagi.Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa saking kuatnya badai yang menimpa mereka, sampai membelah dada-dada mereka. Sehingga keluarlah isi dari perut mereka. Dan ketika mereka dijatuhkan, yang pertama kali sampai ke tanah adalah kepala mereka yang membuat kepala mereka pecah. Maka dari itu, Allah mengumpamakan kondisi jasad mereka seperti batang pohon kurma yang telah kosong. Maka setelah itu,  kaum ‘Ad binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 479)Tak ada yang tersisa dari bencana besar ini, selain Nabi Hud dan orang-orang beriman yang berlindung di sebuah lembah. Setelah kaum ‘Ad binasa, Nabi Hud dan orang mukmin hijrah ke Hadramaut memulai kehidupan baru.Demikian kisah singkat yang dapat kami tulis. Semoga kita dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan dan kesombongan.Baca juga: Kisah Taubatnya Penyembah Berhala***Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.Artikel: Muslim.or.idTags: berhalakaum adpatung berhala
Pada artikel sebelumnya (Berhala Pertama di Muka Bumi) telah dibahas mengenai asal usul berhala pertama di dunia yang menjadi sumber dosa yang paling besar, yaitu kesyirikan yang terjadi pada zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam. Beberapa riwayat menerangkan bahwa jarak antara Nabi Adam ‘alaihis salam dan Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah 10 generasi. Padahal umur manusia kala itu bisa mencapai ribuan tahun. Selama itu pula, tidak ada rasul yang diutus di muka bumi. Kemudian, Allah Ta’ala mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam sebagai rasul pertama ke muka bumi kepada kaum Bani Rasib karena semakin merebaknya penyembahan terhadap berhala yang dilakukan.Dikisahkan dalam hadis Bukhari bahwa pada masa Nabi Nuh ‘alaihis salam, ada orang-orang saleh dari kaumnya. Ketika orang-orang saleh tersebut meninggal, maka setan membisikkan kepada kaumnya, “Buatlah patung-patung di bekas majelis-majelis pertemuan mereka (sebagai simbol dan untuk mengenang kesalehan mereka)! Kemudian namailah patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka!” Maka, kaumnya melaksanakannya dan belum menyembah patung-patung tersebut. Ketika mereka meninggal, dan ilmu telah hilang, maka patung-patung tersebut disembah oleh generasi setelahnya.Selama Nabi Nuh ‘alaihis salam hidup (menurut Ibnu Abbas, beliau berumur 1.050 tahun), beliau tinggal di tengah-tengah kaumnya untuk berdakwah dan mengajak kaumnya menyembah Allah selama 950 tahun. Karena hanya sedikit sekali yang beriman, maka Allah memberikan azab berupa thufan (banjir bandang).Allah Ta’ala berfirman,  وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ (١٤)فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ (١٥“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Maka, dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim. Maka, Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang berada di kapal itu, dan menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran bagi semua manusia.” (QS. Al-Ankabut 14-15)Di antara orang-orang mukmin yang selamat dan Nabi Nuh ‘alahis salam tersebut, hanya dari beliaulah yang Allah karuniakan keturunan. Ham, Sam, dan Yafits membawa keturunan manusia selanjutnya. Sam adalah kakek moyang bangsa Arab. Ham adalah moyang orang Habsy/Afrika (termasuk India). Dan Yafits adalah moyang Ya’juj-Ma’juj, Turki, Rusia, dan negara pecahan Uni Soviet sekarang, Perancis, Yunani, Amerika, Salves, Cina, Jepang, dan bangsa Melayu. Oleh karenanya, Nabi Nuh juga disebut Bapaknya atau nenek moyangnya seluruh umat manusia.Allah Ta’ala berfirman,(77) وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ (76) وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ“Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya dari bencana yang besar. Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan”. (QS. Ash-Shaffat: 76-77)Baca juga: Kisah-Kisah Peringatan Tuk Penghina NabiDaftar Isi Kisah adanya berhala kedua di muka bumiNgerinya azab kaum ‘AdKisah adanya berhala kedua di muka bumiKaum ‘Ad (keturunan Sam bin Nuh) adalah kaum yang pertama menyembah berhala setelah banjir di zaman Nabi Nuh ’alaihis salam yang saat itu hanya menyisakan sedikit manusia yang selamat. Kemudian Allah mengutus Nabi Hud ’alaihis salam untuk menyeru kaum ‘Ad agar menyembah Allah Ta’ala semata. Akan tetapi, mereka mendustakannya sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَالُواْ يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata, “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)Dalam ayat yang lainnya Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ (65) قَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِين(66)   “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta.'” (QS. Al-Araf: 65-66)Selain menyembah berhala, kaum ‘Ad juga menyombongkan diri dengan berbagai kelebihan yang mereka miliki. (Lihat QS. Al-A’raf: 69, QS. Al-Fajr: 7, QS. Fushshilat: 15). Sehingga dengan kelebihan fisik, bangunan, harta, dan kekayaan alam yang melimpah menjadikan mereka kejam dan bengis terhadap kaum yang lemah. (Lihat QS. Asy-Syu‘ara’: 130)Akhirnya Allah sebagai Zat Yang Mahaperkasa dan Mahakuasa, menimpakan azab kepada mereka.Ngerinya azab kaum ‘AdAzab yang pertama diberikan kepada kaum ‘Ad adalah tanah mereka dijadikan sangat tandus dan kekeringan yang berkepanjangan. Lalu mereka meminta diturunkan hujan. Mereka menyaksikan sesuatu yang muncul di langit yang dikira air sebagai rahmat, tetapi ternyata itu adalah siraman azab kedua yang datang dalam bentuk badai angin yang sangat dingin dan bersuara keras. Terlihat laksana lidah api (petir yang menyambar-nyambar). (Lihat QS. Fushshilat: 13) Azab ini berlangsung tanpa henti selama tujuh hingga delapan hari sehingga menyebabkan kaum ‘Ad semuanya mati bergelimpangan.Allah Ta’ala juga berfirman,سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَّثَمٰنِيَةَ اَيَّامٍۙ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰىۙ كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍۚ“Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus, maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al-Haqqah: 7)Allah mengumpamakan mereka dengan tunggul-tunggul pohon kurma yang telah tidak berkepala lagi. Hal itu karena badai yang bertiup menuju salah seorang dari mereka. Lalu membawanya terbang dan menjadikan kepalanya tertunduk hingga akhirnya pecah berantakan, sampai-sampai ia menjadi tidak berkepala lagi.Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa saking kuatnya badai yang menimpa mereka, sampai membelah dada-dada mereka. Sehingga keluarlah isi dari perut mereka. Dan ketika mereka dijatuhkan, yang pertama kali sampai ke tanah adalah kepala mereka yang membuat kepala mereka pecah. Maka dari itu, Allah mengumpamakan kondisi jasad mereka seperti batang pohon kurma yang telah kosong. Maka setelah itu,  kaum ‘Ad binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 479)Tak ada yang tersisa dari bencana besar ini, selain Nabi Hud dan orang-orang beriman yang berlindung di sebuah lembah. Setelah kaum ‘Ad binasa, Nabi Hud dan orang mukmin hijrah ke Hadramaut memulai kehidupan baru.Demikian kisah singkat yang dapat kami tulis. Semoga kita dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan dan kesombongan.Baca juga: Kisah Taubatnya Penyembah Berhala***Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.Artikel: Muslim.or.idTags: berhalakaum adpatung berhala


Pada artikel sebelumnya (Berhala Pertama di Muka Bumi) telah dibahas mengenai asal usul berhala pertama di dunia yang menjadi sumber dosa yang paling besar, yaitu kesyirikan yang terjadi pada zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam. Beberapa riwayat menerangkan bahwa jarak antara Nabi Adam ‘alaihis salam dan Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah 10 generasi. Padahal umur manusia kala itu bisa mencapai ribuan tahun. Selama itu pula, tidak ada rasul yang diutus di muka bumi. Kemudian, Allah Ta’ala mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam sebagai rasul pertama ke muka bumi kepada kaum Bani Rasib karena semakin merebaknya penyembahan terhadap berhala yang dilakukan.Dikisahkan dalam hadis Bukhari bahwa pada masa Nabi Nuh ‘alaihis salam, ada orang-orang saleh dari kaumnya. Ketika orang-orang saleh tersebut meninggal, maka setan membisikkan kepada kaumnya, “Buatlah patung-patung di bekas majelis-majelis pertemuan mereka (sebagai simbol dan untuk mengenang kesalehan mereka)! Kemudian namailah patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka!” Maka, kaumnya melaksanakannya dan belum menyembah patung-patung tersebut. Ketika mereka meninggal, dan ilmu telah hilang, maka patung-patung tersebut disembah oleh generasi setelahnya.Selama Nabi Nuh ‘alaihis salam hidup (menurut Ibnu Abbas, beliau berumur 1.050 tahun), beliau tinggal di tengah-tengah kaumnya untuk berdakwah dan mengajak kaumnya menyembah Allah selama 950 tahun. Karena hanya sedikit sekali yang beriman, maka Allah memberikan azab berupa thufan (banjir bandang).Allah Ta’ala berfirman,  وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ (١٤)فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ (١٥“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Maka, dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim. Maka, Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang berada di kapal itu, dan menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran bagi semua manusia.” (QS. Al-Ankabut 14-15)Di antara orang-orang mukmin yang selamat dan Nabi Nuh ‘alahis salam tersebut, hanya dari beliaulah yang Allah karuniakan keturunan. Ham, Sam, dan Yafits membawa keturunan manusia selanjutnya. Sam adalah kakek moyang bangsa Arab. Ham adalah moyang orang Habsy/Afrika (termasuk India). Dan Yafits adalah moyang Ya’juj-Ma’juj, Turki, Rusia, dan negara pecahan Uni Soviet sekarang, Perancis, Yunani, Amerika, Salves, Cina, Jepang, dan bangsa Melayu. Oleh karenanya, Nabi Nuh juga disebut Bapaknya atau nenek moyangnya seluruh umat manusia.Allah Ta’ala berfirman,(77) وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ (76) وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ“Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya dari bencana yang besar. Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan”. (QS. Ash-Shaffat: 76-77)Baca juga: Kisah-Kisah Peringatan Tuk Penghina NabiDaftar Isi Kisah adanya berhala kedua di muka bumiNgerinya azab kaum ‘AdKisah adanya berhala kedua di muka bumiKaum ‘Ad (keturunan Sam bin Nuh) adalah kaum yang pertama menyembah berhala setelah banjir di zaman Nabi Nuh ’alaihis salam yang saat itu hanya menyisakan sedikit manusia yang selamat. Kemudian Allah mengutus Nabi Hud ’alaihis salam untuk menyeru kaum ‘Ad agar menyembah Allah Ta’ala semata. Akan tetapi, mereka mendustakannya sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَالُواْ يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata, “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)Dalam ayat yang lainnya Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ (65) قَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِين(66)   “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta.'” (QS. Al-Araf: 65-66)Selain menyembah berhala, kaum ‘Ad juga menyombongkan diri dengan berbagai kelebihan yang mereka miliki. (Lihat QS. Al-A’raf: 69, QS. Al-Fajr: 7, QS. Fushshilat: 15). Sehingga dengan kelebihan fisik, bangunan, harta, dan kekayaan alam yang melimpah menjadikan mereka kejam dan bengis terhadap kaum yang lemah. (Lihat QS. Asy-Syu‘ara’: 130)Akhirnya Allah sebagai Zat Yang Mahaperkasa dan Mahakuasa, menimpakan azab kepada mereka.Ngerinya azab kaum ‘AdAzab yang pertama diberikan kepada kaum ‘Ad adalah tanah mereka dijadikan sangat tandus dan kekeringan yang berkepanjangan. Lalu mereka meminta diturunkan hujan. Mereka menyaksikan sesuatu yang muncul di langit yang dikira air sebagai rahmat, tetapi ternyata itu adalah siraman azab kedua yang datang dalam bentuk badai angin yang sangat dingin dan bersuara keras. Terlihat laksana lidah api (petir yang menyambar-nyambar). (Lihat QS. Fushshilat: 13) Azab ini berlangsung tanpa henti selama tujuh hingga delapan hari sehingga menyebabkan kaum ‘Ad semuanya mati bergelimpangan.Allah Ta’ala juga berfirman,سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَّثَمٰنِيَةَ اَيَّامٍۙ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰىۙ كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍۚ“Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus, maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al-Haqqah: 7)Allah mengumpamakan mereka dengan tunggul-tunggul pohon kurma yang telah tidak berkepala lagi. Hal itu karena badai yang bertiup menuju salah seorang dari mereka. Lalu membawanya terbang dan menjadikan kepalanya tertunduk hingga akhirnya pecah berantakan, sampai-sampai ia menjadi tidak berkepala lagi.Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa saking kuatnya badai yang menimpa mereka, sampai membelah dada-dada mereka. Sehingga keluarlah isi dari perut mereka. Dan ketika mereka dijatuhkan, yang pertama kali sampai ke tanah adalah kepala mereka yang membuat kepala mereka pecah. Maka dari itu, Allah mengumpamakan kondisi jasad mereka seperti batang pohon kurma yang telah kosong. Maka setelah itu,  kaum ‘Ad binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 479)Tak ada yang tersisa dari bencana besar ini, selain Nabi Hud dan orang-orang beriman yang berlindung di sebuah lembah. Setelah kaum ‘Ad binasa, Nabi Hud dan orang mukmin hijrah ke Hadramaut memulai kehidupan baru.Demikian kisah singkat yang dapat kami tulis. Semoga kita dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan dan kesombongan.Baca juga: Kisah Taubatnya Penyembah Berhala***Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.Artikel: Muslim.or.idTags: berhalakaum adpatung berhala

Nasihat bagi Penuntut Ilmu

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسوله، نبينا محمد وآله وصحبهTidak ada keraguan lagi bahwa menuntut ilmu (agama) merupakan metode terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Menuntut ilmu menjadi sebab kesuksesan di akhirat kelak dengan balasan surga serta menjadi sebab kemuliaan bagi mereka yang mengamalkan ilmunya. Di antara poin penting dalam menuntut ilmu adalah ikhlas. Belajar agama dengan niat karena Allah Ta’ala semata, bukan selain-Nya. Karena hal tersebut yang akan menjadikan ilmu itu bermanfaat dan menjadi sebab datangnya taufik agar meraih kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat.Telah datang hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda,من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة“Barangsiapa yang mempelajari ilmu agama dengan apa yang seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Allah Ta’ala, namun ia mempelajarinya untuk mendapat bagian dari kehidupan dunia, maka tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Daud dengan sanad hasan)Hadis diriwayatkan dari Tirmidzi dengan sanad dha’if, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من طلب العلم ليباهي به العلماء أو ليماري به السفهاء أو ليصرف به وجوهه الناس إليه أدخله الله النار“Barangsiapa menuntut ilmu agama dengan niat untuk mendebat ulama atau berbangga di depan orang dungu atau agar memalingkan wajah manusia kepadanya, Allah akan masukkan dia ke dalam neraka.”Maka, aku wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan kepada setiap muslim yang membaca tulisan ini, hendaknya kalian mengikhlaskan seluruh amal karena Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.’ Maka, barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Dalam Shahih Muslim, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,يقول الله عز وجل: أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه“Allah ‘Azza Wajalla berfirman, “Aku paling tidak butuh terhadap sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang dalam amalan tersebut menyekutukan-Ku pada sesuatu selain-Ku, maka Aku akan tinggalkan dia bersama sekutunya.”Begitu pula aku wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan setiap muslim, untuk takut kepada Allah Ta’ala dan merasa selalu diawasi oleh Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Hal ini mengamalkan firman Allah Ta’ala, اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka yang tidak terlihat, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk: 12)وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ جَنَّتٰنِۚ“Dan untuk yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga.” (QS.Ar-Rahman: 46)Sebagian salaf berkata,رأس العلم خشية الله“Puncak ilmu adalah rasa takut kepada Allah.”Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,كفى بخشية الله علما، وكفى بالاغترار به جهلا“Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai (wujud) ilmu. Dan cukuplah terperdaya darinya sebagai (wujud) kebodohan.”Sebagian salaf berkata,من كان بالله أعرف كان منه أخوف“Barangsiapa yang lebih mengetahui tentang Allah, maka lebih besar pula rasa khaufnya (takut, pent).”Hal yang menunjukkan benarnya makna perkataan salaf di atas adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya,أما والله إني لأخشاكم لله وأتقاكم له“Demi Allah, aku (Muhammad, pent) adalah orang yang paling takut (kepada Allah) dan paling bertakwa di antara kalian.”Maka, setiap bertambah kuatnya ilmu seorang hamba tentang Allah Ta’ala akan menjadi sebab kesempurnaan takwa dan ikhlasnya kepada Allah Ta’ala, dan menahan diri dari larangan serta memperingatkannya akan maksiat.Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُا“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Al-Fatir: 28)Seorang yang alim tentang Allah Ta’ala dan juga dengan agamanya adalah orang yang paling takut kepada Allah Ta’ala di antara para manusia, paling bertakwa, dan paling depan dalam menegakkan agamanya. Pemimpin mereka adalah para rasul dan nabi ‘alaihim shalatu wasalam dan para pengikut mereka dengan ihsan.Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengabarkan bahwa di antara tanda kebahagiaan adalah seseorang yang dipahamkan dalam perkara agamanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, akan dipahamkan dalam perkara agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu)Hal tersebut (paham agama) akan memandu hamba dalam menegakkan perintah Allah Ta’ala, menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, membantu untuk melaksanakan kewajibannya, waspada terhadap murka-Nya, mengajaknya untuk berakhlak mulia, memperbaiki amal ibadahnya, dan nasihat untuk Allah dan hamba-hamba-Nya.Aku memohon kepada Allah ‘Azza Wajalla agar melimpahkan kepada kami dan seluruh penuntut ilmu dan seluruh kaum muslimin pemahaman agama, istikamah di atasnya, dan menjauhkan dari segala keburukan diri dan amal-amal kami. Sesungguhnya Allah Zat yang mampu melakukan segala sesuatunya.وصلى الله وسلم على عبده ورسوله محمد وعلى آله وصحبهBaca juga: 60 Adab Dalam Menuntut Ilmu***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Sumber:نشرت في مجلة التوحيد المصرية، ص 11- 12، (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 2/ 322).Diterjemahkan dari: https://binbaz.org.sa/articles/64/ نصيحة-لطلبة-العلمTags: ilmu agamanasihatpenuntut ilmu

Nasihat bagi Penuntut Ilmu

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسوله، نبينا محمد وآله وصحبهTidak ada keraguan lagi bahwa menuntut ilmu (agama) merupakan metode terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Menuntut ilmu menjadi sebab kesuksesan di akhirat kelak dengan balasan surga serta menjadi sebab kemuliaan bagi mereka yang mengamalkan ilmunya. Di antara poin penting dalam menuntut ilmu adalah ikhlas. Belajar agama dengan niat karena Allah Ta’ala semata, bukan selain-Nya. Karena hal tersebut yang akan menjadikan ilmu itu bermanfaat dan menjadi sebab datangnya taufik agar meraih kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat.Telah datang hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda,من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة“Barangsiapa yang mempelajari ilmu agama dengan apa yang seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Allah Ta’ala, namun ia mempelajarinya untuk mendapat bagian dari kehidupan dunia, maka tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Daud dengan sanad hasan)Hadis diriwayatkan dari Tirmidzi dengan sanad dha’if, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من طلب العلم ليباهي به العلماء أو ليماري به السفهاء أو ليصرف به وجوهه الناس إليه أدخله الله النار“Barangsiapa menuntut ilmu agama dengan niat untuk mendebat ulama atau berbangga di depan orang dungu atau agar memalingkan wajah manusia kepadanya, Allah akan masukkan dia ke dalam neraka.”Maka, aku wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan kepada setiap muslim yang membaca tulisan ini, hendaknya kalian mengikhlaskan seluruh amal karena Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.’ Maka, barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Dalam Shahih Muslim, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,يقول الله عز وجل: أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه“Allah ‘Azza Wajalla berfirman, “Aku paling tidak butuh terhadap sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang dalam amalan tersebut menyekutukan-Ku pada sesuatu selain-Ku, maka Aku akan tinggalkan dia bersama sekutunya.”Begitu pula aku wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan setiap muslim, untuk takut kepada Allah Ta’ala dan merasa selalu diawasi oleh Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Hal ini mengamalkan firman Allah Ta’ala, اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka yang tidak terlihat, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk: 12)وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ جَنَّتٰنِۚ“Dan untuk yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga.” (QS.Ar-Rahman: 46)Sebagian salaf berkata,رأس العلم خشية الله“Puncak ilmu adalah rasa takut kepada Allah.”Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,كفى بخشية الله علما، وكفى بالاغترار به جهلا“Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai (wujud) ilmu. Dan cukuplah terperdaya darinya sebagai (wujud) kebodohan.”Sebagian salaf berkata,من كان بالله أعرف كان منه أخوف“Barangsiapa yang lebih mengetahui tentang Allah, maka lebih besar pula rasa khaufnya (takut, pent).”Hal yang menunjukkan benarnya makna perkataan salaf di atas adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya,أما والله إني لأخشاكم لله وأتقاكم له“Demi Allah, aku (Muhammad, pent) adalah orang yang paling takut (kepada Allah) dan paling bertakwa di antara kalian.”Maka, setiap bertambah kuatnya ilmu seorang hamba tentang Allah Ta’ala akan menjadi sebab kesempurnaan takwa dan ikhlasnya kepada Allah Ta’ala, dan menahan diri dari larangan serta memperingatkannya akan maksiat.Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُا“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Al-Fatir: 28)Seorang yang alim tentang Allah Ta’ala dan juga dengan agamanya adalah orang yang paling takut kepada Allah Ta’ala di antara para manusia, paling bertakwa, dan paling depan dalam menegakkan agamanya. Pemimpin mereka adalah para rasul dan nabi ‘alaihim shalatu wasalam dan para pengikut mereka dengan ihsan.Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengabarkan bahwa di antara tanda kebahagiaan adalah seseorang yang dipahamkan dalam perkara agamanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, akan dipahamkan dalam perkara agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu)Hal tersebut (paham agama) akan memandu hamba dalam menegakkan perintah Allah Ta’ala, menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, membantu untuk melaksanakan kewajibannya, waspada terhadap murka-Nya, mengajaknya untuk berakhlak mulia, memperbaiki amal ibadahnya, dan nasihat untuk Allah dan hamba-hamba-Nya.Aku memohon kepada Allah ‘Azza Wajalla agar melimpahkan kepada kami dan seluruh penuntut ilmu dan seluruh kaum muslimin pemahaman agama, istikamah di atasnya, dan menjauhkan dari segala keburukan diri dan amal-amal kami. Sesungguhnya Allah Zat yang mampu melakukan segala sesuatunya.وصلى الله وسلم على عبده ورسوله محمد وعلى آله وصحبهBaca juga: 60 Adab Dalam Menuntut Ilmu***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Sumber:نشرت في مجلة التوحيد المصرية، ص 11- 12، (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 2/ 322).Diterjemahkan dari: https://binbaz.org.sa/articles/64/ نصيحة-لطلبة-العلمTags: ilmu agamanasihatpenuntut ilmu
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسوله، نبينا محمد وآله وصحبهTidak ada keraguan lagi bahwa menuntut ilmu (agama) merupakan metode terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Menuntut ilmu menjadi sebab kesuksesan di akhirat kelak dengan balasan surga serta menjadi sebab kemuliaan bagi mereka yang mengamalkan ilmunya. Di antara poin penting dalam menuntut ilmu adalah ikhlas. Belajar agama dengan niat karena Allah Ta’ala semata, bukan selain-Nya. Karena hal tersebut yang akan menjadikan ilmu itu bermanfaat dan menjadi sebab datangnya taufik agar meraih kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat.Telah datang hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda,من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة“Barangsiapa yang mempelajari ilmu agama dengan apa yang seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Allah Ta’ala, namun ia mempelajarinya untuk mendapat bagian dari kehidupan dunia, maka tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Daud dengan sanad hasan)Hadis diriwayatkan dari Tirmidzi dengan sanad dha’if, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من طلب العلم ليباهي به العلماء أو ليماري به السفهاء أو ليصرف به وجوهه الناس إليه أدخله الله النار“Barangsiapa menuntut ilmu agama dengan niat untuk mendebat ulama atau berbangga di depan orang dungu atau agar memalingkan wajah manusia kepadanya, Allah akan masukkan dia ke dalam neraka.”Maka, aku wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan kepada setiap muslim yang membaca tulisan ini, hendaknya kalian mengikhlaskan seluruh amal karena Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.’ Maka, barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Dalam Shahih Muslim, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,يقول الله عز وجل: أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه“Allah ‘Azza Wajalla berfirman, “Aku paling tidak butuh terhadap sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang dalam amalan tersebut menyekutukan-Ku pada sesuatu selain-Ku, maka Aku akan tinggalkan dia bersama sekutunya.”Begitu pula aku wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan setiap muslim, untuk takut kepada Allah Ta’ala dan merasa selalu diawasi oleh Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Hal ini mengamalkan firman Allah Ta’ala, اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka yang tidak terlihat, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk: 12)وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ جَنَّتٰنِۚ“Dan untuk yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga.” (QS.Ar-Rahman: 46)Sebagian salaf berkata,رأس العلم خشية الله“Puncak ilmu adalah rasa takut kepada Allah.”Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,كفى بخشية الله علما، وكفى بالاغترار به جهلا“Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai (wujud) ilmu. Dan cukuplah terperdaya darinya sebagai (wujud) kebodohan.”Sebagian salaf berkata,من كان بالله أعرف كان منه أخوف“Barangsiapa yang lebih mengetahui tentang Allah, maka lebih besar pula rasa khaufnya (takut, pent).”Hal yang menunjukkan benarnya makna perkataan salaf di atas adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya,أما والله إني لأخشاكم لله وأتقاكم له“Demi Allah, aku (Muhammad, pent) adalah orang yang paling takut (kepada Allah) dan paling bertakwa di antara kalian.”Maka, setiap bertambah kuatnya ilmu seorang hamba tentang Allah Ta’ala akan menjadi sebab kesempurnaan takwa dan ikhlasnya kepada Allah Ta’ala, dan menahan diri dari larangan serta memperingatkannya akan maksiat.Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُا“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Al-Fatir: 28)Seorang yang alim tentang Allah Ta’ala dan juga dengan agamanya adalah orang yang paling takut kepada Allah Ta’ala di antara para manusia, paling bertakwa, dan paling depan dalam menegakkan agamanya. Pemimpin mereka adalah para rasul dan nabi ‘alaihim shalatu wasalam dan para pengikut mereka dengan ihsan.Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengabarkan bahwa di antara tanda kebahagiaan adalah seseorang yang dipahamkan dalam perkara agamanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, akan dipahamkan dalam perkara agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu)Hal tersebut (paham agama) akan memandu hamba dalam menegakkan perintah Allah Ta’ala, menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, membantu untuk melaksanakan kewajibannya, waspada terhadap murka-Nya, mengajaknya untuk berakhlak mulia, memperbaiki amal ibadahnya, dan nasihat untuk Allah dan hamba-hamba-Nya.Aku memohon kepada Allah ‘Azza Wajalla agar melimpahkan kepada kami dan seluruh penuntut ilmu dan seluruh kaum muslimin pemahaman agama, istikamah di atasnya, dan menjauhkan dari segala keburukan diri dan amal-amal kami. Sesungguhnya Allah Zat yang mampu melakukan segala sesuatunya.وصلى الله وسلم على عبده ورسوله محمد وعلى آله وصحبهBaca juga: 60 Adab Dalam Menuntut Ilmu***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Sumber:نشرت في مجلة التوحيد المصرية، ص 11- 12، (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 2/ 322).Diterjemahkan dari: https://binbaz.org.sa/articles/64/ نصيحة-لطلبة-العلمTags: ilmu agamanasihatpenuntut ilmu


الحمد لله، والصلاة والسلام على رسوله، نبينا محمد وآله وصحبهTidak ada keraguan lagi bahwa menuntut ilmu (agama) merupakan metode terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Menuntut ilmu menjadi sebab kesuksesan di akhirat kelak dengan balasan surga serta menjadi sebab kemuliaan bagi mereka yang mengamalkan ilmunya. Di antara poin penting dalam menuntut ilmu adalah ikhlas. Belajar agama dengan niat karena Allah Ta’ala semata, bukan selain-Nya. Karena hal tersebut yang akan menjadikan ilmu itu bermanfaat dan menjadi sebab datangnya taufik agar meraih kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat.Telah datang hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda,من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة“Barangsiapa yang mempelajari ilmu agama dengan apa yang seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Allah Ta’ala, namun ia mempelajarinya untuk mendapat bagian dari kehidupan dunia, maka tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Daud dengan sanad hasan)Hadis diriwayatkan dari Tirmidzi dengan sanad dha’if, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من طلب العلم ليباهي به العلماء أو ليماري به السفهاء أو ليصرف به وجوهه الناس إليه أدخله الله النار“Barangsiapa menuntut ilmu agama dengan niat untuk mendebat ulama atau berbangga di depan orang dungu atau agar memalingkan wajah manusia kepadanya, Allah akan masukkan dia ke dalam neraka.”Maka, aku wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan kepada setiap muslim yang membaca tulisan ini, hendaknya kalian mengikhlaskan seluruh amal karena Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.’ Maka, barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Dalam Shahih Muslim, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,يقول الله عز وجل: أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه“Allah ‘Azza Wajalla berfirman, “Aku paling tidak butuh terhadap sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang dalam amalan tersebut menyekutukan-Ku pada sesuatu selain-Ku, maka Aku akan tinggalkan dia bersama sekutunya.”Begitu pula aku wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan setiap muslim, untuk takut kepada Allah Ta’ala dan merasa selalu diawasi oleh Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Hal ini mengamalkan firman Allah Ta’ala, اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka yang tidak terlihat, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk: 12)وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ جَنَّتٰنِۚ“Dan untuk yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga.” (QS.Ar-Rahman: 46)Sebagian salaf berkata,رأس العلم خشية الله“Puncak ilmu adalah rasa takut kepada Allah.”Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,كفى بخشية الله علما، وكفى بالاغترار به جهلا“Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai (wujud) ilmu. Dan cukuplah terperdaya darinya sebagai (wujud) kebodohan.”Sebagian salaf berkata,من كان بالله أعرف كان منه أخوف“Barangsiapa yang lebih mengetahui tentang Allah, maka lebih besar pula rasa khaufnya (takut, pent).”Hal yang menunjukkan benarnya makna perkataan salaf di atas adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya,أما والله إني لأخشاكم لله وأتقاكم له“Demi Allah, aku (Muhammad, pent) adalah orang yang paling takut (kepada Allah) dan paling bertakwa di antara kalian.”Maka, setiap bertambah kuatnya ilmu seorang hamba tentang Allah Ta’ala akan menjadi sebab kesempurnaan takwa dan ikhlasnya kepada Allah Ta’ala, dan menahan diri dari larangan serta memperingatkannya akan maksiat.Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُا“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Al-Fatir: 28)Seorang yang alim tentang Allah Ta’ala dan juga dengan agamanya adalah orang yang paling takut kepada Allah Ta’ala di antara para manusia, paling bertakwa, dan paling depan dalam menegakkan agamanya. Pemimpin mereka adalah para rasul dan nabi ‘alaihim shalatu wasalam dan para pengikut mereka dengan ihsan.Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengabarkan bahwa di antara tanda kebahagiaan adalah seseorang yang dipahamkan dalam perkara agamanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, akan dipahamkan dalam perkara agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu)Hal tersebut (paham agama) akan memandu hamba dalam menegakkan perintah Allah Ta’ala, menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, membantu untuk melaksanakan kewajibannya, waspada terhadap murka-Nya, mengajaknya untuk berakhlak mulia, memperbaiki amal ibadahnya, dan nasihat untuk Allah dan hamba-hamba-Nya.Aku memohon kepada Allah ‘Azza Wajalla agar melimpahkan kepada kami dan seluruh penuntut ilmu dan seluruh kaum muslimin pemahaman agama, istikamah di atasnya, dan menjauhkan dari segala keburukan diri dan amal-amal kami. Sesungguhnya Allah Zat yang mampu melakukan segala sesuatunya.وصلى الله وسلم على عبده ورسوله محمد وعلى آله وصحبهBaca juga: 60 Adab Dalam Menuntut Ilmu***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JPArtikel: Muslim.or.id Sumber:نشرت في مجلة التوحيد المصرية، ص 11- 12، (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 2/ 322).Diterjemahkan dari: https://binbaz.org.sa/articles/64/ نصيحة-لطلبة-العلمTags: ilmu agamanasihatpenuntut ilmu
Prev     Next